Raja Silat 01 - 25
Raja Silat
Tjan Ing Djoe
Jilid 1 : Liem Tou kembali ke Ie Hee cung
Puncak Ha Mo Leng yang terletak dekat kota Ceng Shia dalam propinsi Coan See merupakan sebuah gunung yang sangat tinggi, curam serta berbahaya. Batu-batu cadas menghiasi seluruh puncak gunung disamping jurang yang tak terhingga dalamnya, sedang jalan-jalan yang menghubungi tempat itu pun tak ada, dengan demikian hubungan dengan dunia luar boleh dikata putus sama sekali.
Sebaliknya pada lereng gunung banyak terdapat sungai serta air terjun yang penuh dengan batu cadas yang tajam disamping pusaran air yang amat dahsyat. Perahu yang berani melayari tempat itu tak lebih hanya mencari mati saja.
Saat itu merupakan tengah malam pada pertengahan musim gugur, bulan purnama yang berada jauh ditengah awan menyinarii seluruh jagad dengan terangnya. Suasana pada saat itu begitu sunyi serta tenangnya, hanya terlihat mengalirnya air sungai mengisi keheningan malam yang semakin kelam, tak ubahnya seperti irama surga membelah bumi.
Tiba-tiba ditengah sungai yang tenang serta berkilauan memantulkan cahaya rembulan itu beriak dan memecah keempat penjuru disertai dengan suara deburan ombak yang keras, pancaran air sungai memancar keatas setinggi beberapa kali yang kemudian jatuh kembali kedalam sungai yang saat itu mulai menjadi tenang kembali.
Tak selang lama kemudian dari permukaan sungai muncullah seorang pemuda yang baru berusia kurang lebih lima enam belas tahun. Tampak dia terus berenang hingga mencapai tepi sebuah batu cadas, sambil menengadah keatas, mulutnya berkemak-kemik dengan perlahan:
‘Sungai kematian, Tebing maut, Jembatan pencabut nyawa, bagaimana aku harus melalui tempat-tempat itu?’
Dia duduk sejenak diatas batu cadas tersebut, beberapa saat kemudian mendadak meloncat bangun lagi, ujarnya dengan nada yang penuh semangat.
‘Bagaimanapun juga aku harus pergi sekalipun dipukul atau dibinasakan oleh mereka aku tetap akan menemui cici Siauw Ie’
Sehabis berkata kakinya menjejak tanah, sekali lagi tubuhnya meluncur ketengah sungai yang kemudian berenang dengan cepatnya kedepan.
Pada saat yang bersamaan ruangan Cie Eng Tong atau ruangan para orang gagah didalam perkampungan Ie Hee Cung diatas puncak Ha Mo Leng terlihat terang benderang oleh sorotan sinar lampu.
Cungcu atau ketua perkampungan yang bergelar Ang in sin piau atau si cambuk mega Pouw Sak San sedang berkumpul dengan keempat jago penjaga kampungnya yang paling diandalkan, Liong ciang atau lengan naga, Houw jiauw atau si Kuku harimau, Siang hui kok atau sepasang bango terbang serta putranya yang bernama Pouw Siauw Ling guna merundingkan siasat penjagaan ketiga tempat-tempat berbahaya tersebut.
Tetapi, mereka sama sekali tidak menduga kalau putri dari cungcu yang bernama Pouw Jin Cui bersembunyi dibalik horden mencuri dengar perundingan mereka dengan hati yang kebat-kebit, keringat dingin mengalir keluar membasahi seluruh bajunya, sedang jantungnya hampir-hampir terasa copot dibuatnya.
Beberapa saat kemudian tak tersadar olehnya dengan perlahan ujarnya berkali-kali.
“Sungai kematian, Tebing maut, Jembatan Pencabut nyawa….Sungai kematian, Tebing maut, Jembatan Pencabut nyawa…”
Kemudian pikirnya lagi:
“Biasanya ayah sangat welas asih dan ramah terhadap siapa pun, kenapa terhadap seorang anak yang tidak memiliki kepandaian serta yatim piatu semacam Liem Tou dapat bersikap demikian kejam serta tanpa perikemanusiaan? Apalagi pada saat ayah Liem Tou yaitu Liem Han San masih hidup telah diakui oleh ketua perkampungan yang terdahulu Lie Cungcu sebagai warga perkampungan Ie he cung ini. Dulu dengan menggunakan alasan ayah telah mengusir Liem Tou dari kampong tindakannya ini sudah tak pantas, ini hari merupakan hatri yang telah ditetapkan baginya untuk balik keatas perkampungan, tetapi kenapa ayah akan mencelakakannya? Bukankah tindakannya ini kelewat kejam?”
Pada saat Pouw Jin Cui sedang berpikir dengan perasaan sangat bingung, Cungcu dari Ie hee cung telah meneruskan pesannya pada para jago berkepandaian tinggi dari perkampungan itu.
“Ingat, bilamana Liem Tou si cecunguk itu benar-benar berani menempuh bahaya mendaki atas puncak ini harap saudara sekalian tanpa perasaan was-was membinasakan dirinya. Tindakanku ini semata-mata hanya dikarenakan aku tidak ingin melihat perkawinan diantara keluarga Lie dan keluarga Pouw kami diberantakkan oleh campur tangan seorang bocah dungu”
Sehabis berkata dia menoleh memberi perintah kepada putranya Pouw Siauw ling.
“Siauw Ling, saat tengah malam hampir tiba lekas turun gunung melakukan pemeriksaan apakah bocah itu telah datang atau belum? Tetapi bila sampai bertemu dengan dia jangan sampai diketahui olehnya. Lekas pergi dan cepat balik kembali”
Pouw Siauw Ling menyahut, tubuhnya dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat melayang meninggalkan ruangan itu.
Pouw Jin cui yang mencuri dengar dibalik horden menjadi bingung dan tidak mengerti kenapa ayahnya dapat mengambil tindakan sedemikian kejamnya terhadap Liem Tou, bagaimana pula dia merasakan sedih bagi Lie Siauw Ie yang hidup bagaikan kakak beradik dengan dirinya itu.
===ooo===
Sementara di puncak sebelah timur Ha Mo Leng seorang gadis berbaju putih berusia enam tujuh belas tahun sedang berdiri tertekur dibawah sorotan sinar rembulan, wajahnya sangat cantik, bibirnya kecil mungil berwarna merah muda, hidungnya mancung sedang alisnya kelihatan hitam, hanya sayang wajahnya sedikit pucat, rambutnya riap-riap bergoyang tertiup oleh angina malam sedangkan matanya yang sayu serta mengandung kesedihan yang amat sangat itu dengan terpesona memandang ke bawah gunung dengan tak berkedip.
Tak selang berapa lama dari bawah gunung terdengar siulan panjang yang memecahkan kesunyian, tak terasa alisnya dikerutkan, sedang dari air mukanya menampilkan perasaan yang sangat girang, ujarnya seorang diri.
“Adik Tou…Adik Tou, kau benar-benar dating, cicimu telah sangat lama menantikan kedatanganmu disini, sekali pun cicimu tidak percaya kalau dalam setahun ini kau berhasil memiliki kepandaian silat guna menerobos tiga tempat berbahaya itu untuk bertemu denganku tetapi dengan melalui siulan yang panjang dengan jurang atau lembah sebagai penghalang, kita masih bisa saling berhubungan, bukankah itu sangat bagus?”
Sehabis berkemak-kemik seorang diri dipetiknya sehelai daun dan ditiupnya kencang-kencang sehingga mengeluarkan suara siulan yang panjang, hal ini diulangi beberapa kali. Mendadak dia berhenti meniup, teriaknya:
“Adik Tou…Adik Tou…dengarkah kau cicimu sedang menantimu disini?”
Sekali pun teriakan dari Lie Siauw Ie sangat tinggi sehingga menembus awan tetapi suaranya mana mungkin menandingi suara siulan dari daun itu sehingga dapat berkumandang hingga tempat yang sangat jauh?
Setelah berteriak beberapa kali dia mulai sadar kembali, sekalipun berteriak hingga tenggorokannya pecah juga tak mungkin suaranya bisa terdengar kebawah gunung.
Pikirannya segera berubah, dengan perlahan kain putihnya dilepaskan dan disentakkan keatas hingga berkibar-kibar. Dibawah sorotan rembulan dipertengahan musim gugur yang cerah kain putih itu melambai-lambai dengan indahnya, tak ubahnya bidadari yang turun dari khayangan sambil menari-nari .
Tak selang lama dari bawah gunung terlihat berkelebatnya sinar api yang bergerak dari arah sebelah kiri ke sebelah kanan, ditengah berkelebat sinar api itu Siauw Ie dapat melihat sesosok bayangan manusia yang bergerak dengan perlahan, sudah tentu dia tahu kalau bayangan itu tak lain dan tak bukan adalah Liem Tou, kekasihnya yang dirindukan siang dan malam, hanya saja karena jaraknya terlalu jauh hingga dia tak dapat melihat lebih jelas lagi.
Mendadak dibawah sinar rembulan Siauw Ie melihat bayangan berkelebat dengan cepatnya dari dalam perkampungan Ie hee cung, gerakan tubuhnya begitu gesit serta tangkasnya sedang pada tangannya membawa dua buah benda persegi panjang, segera dia paham kalau benda tersebut merupakan benda yang biasa digunakan untuk melalui sungai kematian.
Terlihat bayangan manusia itu dengan kecepatan yang luar biasa meneruskan larinya kebawah gunung.
Siauw Ie yang sedang mengumpulkan seluruh perhatiannya dapat melihat bayangan itu agak merandek sesampainya diatas Jembatan pencabut nyawa, tetapi dengan cepat dia meloncat kembali sebanyak beberapa kali diatas tempat itu, tebing curam setinggi beberapa kai tersebut dengan mudahnya berhasil dilalui. Adapun jembatan Pencabut nyawa itu luasnya tak kurang dari dua puluh lima depa yang menghubungkan dua tebing diantara sebuah jurang sedalam ratusan kaki. Kedua tebing itu dihubungkan dengan seutas tali baja sebesar jari kelingking, selain orang yang memiliki ilmu meringankan tubuh yang sempurna, jangan harap bisa melewati tempat itu dengan selamat.
Siauw Ie yang melihat ilmu meringankan tubuh dari orang itu telah mencapai demikian tingginya bahkan tidak dibawah kepandaian keempat jago penjaga perkampungan, hatinya menjadi bergerak segera ia tahu kalau orang itu tak lain adalah Pouw Siauw ling, putra dari Cungcu Ie Hee cung, tak terasa pikirnya:
“Untuk apa dia turun gunung disaat begini?”
Ketika memandang lagi daerah tebing sebelah sana tampaklah sinar api dibawah gunung itu masih tetap bergerak-gerak terus, mendadak olehnya teringat akan sesuatu hal dan hatinya menjadi sangat cemas sekali karena dia mengetahui dengan sangat jelas bahwasanya Liem Tou serta Pouw Siauw Ling selamanya bermusuhan terus. Selagi Liem Tou masih berada di perkampungan, Pouw Siauw Ling lah yang sering menganiaya dirinya. Kini dia telah turun gunung bilamana bertemu dengan Liem Tou tak dapat dihindarkan lagi suatu pertarungan sengit pasti akan terjadi dan sudah tentu pula Liem Tou lah yang akan menderita kalah.
Berpikir sampai disini tak ayal lagi dengan cepat Siauw Ie membunyikan siulannya susul menyusul. Inilah tanda rahasia yang digunakan mereka berdua sejak dahulu bila hendak berhubungan.
Benar saja begitu siulan itu berbunyi, sinar api dibawah gunung itu dengan sekonyong-konyong menjadi kecil. Melihat hal itu Siauw Ie menjadi sedikit lega. Tetapi pada saat ini dia tahu Liem Tou telah datang hanya dia tidak tahu apakah dia akan mendaki gunung atau tidak, bersamaan pula apabila dia benar-benar naik keatas gunung bagaimana sikap tindakan cungcu dengan dirinya? Atas beberapa hal ini membuat hatinya tetap merasa tak tenang.
Didalam beberapa saat itulah Pouw Siauw Ling telah selesai melakukan pemeriksaannya dan kembali keatas gunung. Siauw Ie hanya merasakan berkelebatnya sesosok bayangan dihadapan matanya. Pouw Siauw Ling telah berdiri kira-kira dua depa dihadapannya sambil tersenyum licik ujarnya:
“Siauw Ie moay, kiranya kau seorang diri sedang berdiri di tempat ini. Tampaknya kau belum juga bisa melupakan Liem Tou si bocah dungu itu? Ha..ha..”
Siauw Ie yang merasa ia sedang menyindir dirinya, air mukanya segera berubah dengan dingin sahutnya:
“Apa hubungannya aku berdiri seorang diri disini denganmu? Kau tak usah banyak omong”
Siauw Ling dengan sikap yang ceriwis perlahan-lahan mendekati tubuh Siauw Ie ujarnya sambil tersenyum tengik.
“Justru aku tidak mengerti Liem Tou si bocah dungu yang sangat goblok, sifatnya pemurung serta tak memiliki kepandaian silat sedikitpun bahkan boleh dikata seluruh anggota perkampungan jauh lebih lihay sepuluh kali lipat dari dirinya, bagaimana Siauw Ie moay bisa demikian memperhatikan dirinya? Aku kira Ie moay-moay seorang yang cerdik, lupakan saja si bocah dungu itu”
Siauw Ie mendengar ocehan yang makin lama makin tidak karuan itu menjadi amat gusar, seluruh tubuhnya menjadi gemetar dengan keras menahan pergolakan didalam dadanya, teringat kembali olehnya ketika Liem Tou masih berada didalam perkampungan, beberapa kali dia dianiaya oleh Pouw Siauw Ling hingga babak belur dan seluruh tubuhnya penuh dengan luka-luka hanya dikarenakan sifatnya yang keras kepala serta ketus itulah membuat dia merintih pun tidak. Teringat pula olehnya kalau dia adalah seorang anak yang sangat kuat tetapi bandel, biarpun lagaknya ketolol-tololan tetapi sepasang matanya memancarkan sinar yang terang dan bening, dikarenakann seringnya dia menerima siksaan serta aniaya dari seluruh anggota perkampungan itulah membuat perasaan kasihan dari dirinya lama kelamaan menjadi perasaan cinta kasih.
Kini dia mendengar ocehan serta cemoohan dari Siauw Ling membuat amarahnya meledak tanpa tertahan lagi, bentaknya dengan keras.
“Tutup mulut, manusia yang tak tahu malu kau masih bisa menganiaya Liem titi, tetapi jangan coba-coba main-main denganku”
Pouw Siauw Ling melihat Siauw Ie dibuat gusar olehnya, dengan cepat dia tersenyum-senyum tengik, ujarnya dengan cepat:
“Oh Ie moay-moay jangan marah adikku yang manis, kakakmu hanya guyon saja”
Perkataannya belum sempat diucapkan, mendadak Siauw Ie membentak lagi dengan nyaring:
“Siapa yang mau menjadi adikmu?” Muka tebal tak tahu diri, lekas bergelinding dari hadapanku!”
Selesai berkata, tangannya diayun dengan cepatnya, “Plaak” tamparan dari Siauw Ie itu dengan tepat mengenai pipi dari Pouw Siauw Ling , air mukanya berubah menjadi sangat keren, sepasang matanya melotot keluar, dengan gusarnya dia memandang wajah Pouw Siauw Ling yang telah menjadi merah karena gaplokan tadi dengan gemetar makinya:
“Jika bukannya karena kau si muka tebal, Liem Tou tak mungkin akan diusir dari perkampungan, lekas pergi dari sini, aku sebal..sebal melihat tampangmu lagi..cepat bergelinding dari sini”
Sekali lagi tangan yang putih mulus melayang kedepan siap melancarkan tamparan berikutnya, sekali ini Pouw Siauw Ling telah siap sedia, dengan cepat dia mundur beberapa langkah ke belakang sambil mendengus dengan dingin balas makinya:
“Kau budak yang tidak tahu diri, kapankah aku Pouw Siauw Ling pernah menderita rugi darimu? Kini kau berani turun tangan memukul orang”
Dia berhenti sejenak, kemudian ujarnya lagi:
“Baiklah, akan kuberitahukan padamu ini hari bila Liem Tou si bocah dungu itu tidak berusaha naik gunung masih tidak mengapa, bila dia sungguh berani akan kubunuh cecunguk itu, aku mau lihat engkau bisa berbuat apa?”
Siauw Ie begitu mendengar ancaman tersebut hatinya terasa tergetar dengan keras, tetapi pada air mukanya sedikitpun tidak memberi reaksi apapun apalagi memperlihatkan kelemahannya, mendadak dari dalam tubuhnya dia meraup segenggam senjata rahasia yang berupa jarum perak, bentaknya dengan keras:
“Cepat bergelinding dari hadapanku..hmm..hmmm, jangan salahkan aku berlaku kurang sopan terhadapmu bila mukamu masih tebal”
Kiu cu gin ciam atau Sembilan jarum perak maut merupakan senjata rahasia yang ampuh dari keluarga Lie, sudah tentu Pouw Siauw Ling mengenal kelihayannya. Mendengar ancaman itu air mukanya segera berubah dengan hebatnya, dengan cepat dia mundur beberapa depa dari tempat semula, tetapi didalam sekejap saja marahnya memuncak, tangannya dengan cepat mencabut keluar Joan pian yang melilit dipinggangnya dengan gusar makinya:
“Budak tebal, kau kira benar-benar aku takut denganmu? Seluruh kepandaian yang kau miliki boleh dikeluarkan semua, coba kau lihat apakah aku Pouw Siauw Ling bisa berlaga seperti Liem Tou si cecunguk yang menjadi cucu kura-kura”
Selesai berbicara dengan cepat joan piannya diputarnya, sehingga menjadi bayangan yang menyilaukan mata, terdengar angin serangan menderu-deru memekik telinga dengan cepat dia mulai melancarkan jurus-jurus serangan menurut ajaran ayahnya Ang in sin pian.
Seorang yang bertabiat berangasan seperti Siauw Ling mana mau menerima hinaan serta pandangan rendah dari musuhnya, saking gusarnya dia mendepak-depakkan kakinya keatas tanah sedang mulutnya tak henti-hentinya memaki. Tangannya digerakkan dengan kecepatan yang luar biasa, senjata rahasia Kiu cu gin ciam yang berada di tangannya segera dilancarkan di depan dengan menggunakan jurus ‘Man thian hoa ie’ atau seluruh jagad menjadi hujan bunga.
Tampak sinar berwarna keperak-perakan berkelebat dengan kecepatan luar biasa keseluruh penjuru tempat itu.
Pouw Siauw Ling memiliki kepandaian yang tidak rendah, dengan cepat menyentak serta memutar joan pian ditangannya melindungi seluruh tubuhnya, terlihat sinar tajam memancar disekeliling tubuhnya, jarum-jarum yang melayang mendekati tubuhnya dengan cepat berhasil dipukul jatuh, tak terasa dia memperlihatkan perasaan bangganya, sambil tertawa terkekeh-kekeh godanya:
“Bagaimana? Hanya cukup kepandaian ini saja sudah lebih dari cukup bagi si bocah dungu itu untuk berlatih selama berpuluh-puluh tahun. He..he…aku heran gadis cantik seperti kau masa mau dengan bocah goblok, tak ubahnya seperti bunga segar tertancap diatas tahi kerbau, sungguh sayang..sungguh sayang.”
Siauw Ie yang mendengar cemoohan itu saking gusarnya wajahnya telah berubah menjadi putih kehijau-hijauan, baru saja dia siap sedia hendak menerjang kedepan beradu jiwa dengan dia, pada saat itu pula Pouw Jin Cui muncul secara tidak terduga di tempat itu.
Pouw Jin Cui yang tampak mereka berdua sedang bertempur dengan serunya, segera makinya terhadap Pouw Siauw Ling:
“Adik Ling, lagi-lagi kau mengganggu dan menyiksa Ie moay. Masih tidak lekas pulang, ayah sedang menanti kedatanganmu”!
Pouw Siauw Ling hanya tersenyum mengejek mendengar perkataan itu, segera dia melibatkan kembali senjatanya kedalam pinggang, setelah memandang sekejap lagi kearah Siauw Ie barulah meninggalkan tempat itu.
Siapa tahu pada saat itu Siauw Ie telah membenci dirinya hingga menusuk kedalam tulang sumsum, sebuah jarum perak yang tergenggam ditangannya segera dilancarkan kedepan sambil membentak dengan keras:
“Cepat menggelinding dari sini!”
Pouw Siauw Ling sama sekali tidak pernah menduga akan terjadi peristiwa seperti ini, ketika dia merasa adanya sambaran dari senjata rahasia dengan cepat dia mengangkat tangannya berusaha menangkis serangan tersebut, tetapi keadaan sudah terlambat, jarum Kiu cu gin ciam tersebut telah berada dihadapannya sehingga tak ampun lagi pundaknya kena terhajar jarum itu.
Pouw Jin Cui menjadi sangat terkejut, baru saja hendak mencegah perbuatan dari Siauw Ie itu tak tersangka olehnya setelah dia melancarkan serangan senjata rahasianya ternyata telah balik menubruk kedalam pangkuannya dan menangis tersedu-sedu dengan sedihnya.
Untuk sesaat Pouw Jin Cui dibuat gugup dan melongo kesana itu, setelah tertegun untuk beberapa saat lamanya barulah Pouw Jin Cui menjadi sadar kembali dari lamunannya, sambil memeluk tubuh Siauw Ie bentaknya terhadap diri Pouw Siauw Ling.
“Kau masih tidak cepat meninggalkan tempat ini untuk minta obat dari Lie Pe bo, apa kau ingin mencari mati?”
Pouw Siauw Ling setelah terkena serangan senjata rahasia sebenarnya merasa sangat gusar sekali, tetapi kini malah sebaliknya tersenyum sambil memandang tajam kearah kedua orang gadis itu.
Pouw Jin Cui yang melihat keadaan tersebut segera tahu kalau dia sedang menaruh niat untuk membalas dendam, oleh sebab itu sengaja dia membentak dengan keras memaki dirinya.
Begitu diperingatkan oleh kakaknya Pouw Siauw Ling menjadi teringat kalau senjata rahasia Kiu cu gin ciam dari keluarga Lie mempunyai dua macam, yang satu beracun sedang yang lain tak beracun. Ketika dia terkena senjata rahasia tadi oleh karena sedang dalam keadaan gusar sehingga tidak merasakan macam yang manakah senjata rahasia yang terkena didalam tubuhnya, ingin dia menanyakan pada diri Siauw Ie tapi kuatir dia tak mau memberi jawaban terpaksa dia tetap membungkam.
Terpikir sampai disini dia tak berani mengulur waktu lebih lama lagi, dengan hati yang mendongkol dengan cepat dia berlalu dari tempat itu.
Pouw Jin Cui tampak Siauw Ling telah meninggalkan tempat itu, sambil menghibur tanyanya kepada Siauw Ie.
“Ie moay, jangan menangis lagi beritahu kepada diriku apa adik Tou telah datang? Kita harus mencegah dia untuk melanjutkan usahanya menempuh bahaya mendaki keatas gunung”
Mendengar perkataan itu, Siauw Ie berhenti menangis, dengan tertegun tanyanya:
“Mereka mau berbuat apa atas dirinya?”
“Mereka…aku kuatir mereka…mereka..hendak….”
Agaknya sukar baginya untuk meneruskan perkataan selanjutnya, tetapi dengan menggigit kencang bibirnya ujarnya lagi:
“Mungkin mereka akan menghabiskan nyawanya”
Mendengar penjelasan tersebut Siauw Ie hanya merasakan dadanya terasa menjadi sesak hingga sukar untuk bernapas, bagai baru saja terpukul suatu serangan dahsyat hingga sakit sukar ditahan, air mukanya berubah menjadi pucat kehijau-hijauan, tetapi dengan paksa dirinya dia tetap mempertahankan pergolakan didalam benaknya, tanyanya lagi:
“Cici Cui, benarkah perkataannmu itu? Kenapa mereka bisa bertindak demikian kejamnya?
Bukankah cungcu yang terdahulu mengakui mereka ayah beranak sebagai warga Ie he cung ini dan mereka mempunyai hak untuk menerima hukuman sepantas dengan peraturan perkampungan tetapi berhak juga untuk merasakan kebahagiaan serta hak untuk melindungi perkampungan ini? Lagi pula menurut peraturan perkampungan orang-orang yang sudah diusir dari perkampungan ini masih mempunyai kesempatan kembali kedalam perkampungan sebanyak tiga kali dan bilamana didalam ketiga kesempatan itu dia berhasil melewati ketiga rintangan berbahaya yang berupa Sungai kematian, tebing maut dan Jembatan pencabut nyawa, bukan saja dia diperbolehkan berdiam kembali didalam perkampungan bahkan kedudukan sebagai cungcu pun harus diserahkan kepadanya. Kenapa sekarang baru saja pertama kali dia mencoba kembali kedalam perkampungan mereka telah siap hendak mencelakai dirinya? Bukankah dengan demikian peraturan perkampungan Ie hee cung telah diinjak-injak sendiri secara keji oleh mereka?”
“Dalam hal ini aku pun tidak mengerti, aku hanya tahu tentang perundingan penjagaan ketiga tempat bahaya tersebut dengan mencuri dengar dibalik horden, karena pentingnya serta kritisnya keadaan dengan cepat aku lari kemari beritahu padamu, bagaimanapun juga kita harus mencari akal untuk berusaha mencegah adik Tou menghantarkan nyawanya secara percuma”
Perkataan ini sudah tentu masih banyak terdapat hal-hal yang tidak disebutkan olehnya, karena bagaimana pun juga Cung cu yang sekarang adalah ayahnya sendiri, bila dia berbicara terus terang seluruh apa yang diketahuinya sudah tentu terdapat banyak tempat yang akan memaksa dia tak enak untuk membicarakannya.
Setelah mendengar penjelasan itu, Siauw Ie hanya berdiam diri tak berbicara, hatinya terasa ditusuk oleh beribu-ribu batang jarum.
Tiba-tiba air matanya meleleh keluar membasahi pipinya, sambil menahan isak tangis ujarnya lagi:
“Cici Cui, habis bagaimana sekarang? Bilamana adik Tou mendapatkan cidera atau binasa Cici Cui, adik Ie mu juga tak mau hidup lebih lama lagi didalam dunia ini..”
Untuk sesaat Pouw Jin Cui pun merasa bingung harus berbuat bagaimana untuk mencegah usaha Liem Tou untuk menghantarkan nyawanya dengan percuma, sedang Siauw Ie dengan perlahan menundukkan kepalanya kembali, agaknya sedang memikirkan sesuatu.
Tak lama kemudian terdengar ia berkata lagi dengan terisak-isak:
“Sungguh kasihan benar dia, hei… kasihan benar adik Tou yang malang”
Mendadak dia mengangkat kepalanya keatas, dengan keras lanjutnya:
“Cici Cui, kau harus menolong dia, kau pasti bisa menolong dia, kau lihat dia sebatang kara tanpa sanak keluarga, sungguh amat kasihan”
Perkataan Siauw Ie ini membuat seluruh tubuh Pouw Jin Cui terasa berdesir, tak tertahan air matanya pun keluar meleleh membasahi seluruh wajahnya, tapi mendadak teringat olehnya kenapa tadi Siauw Ie bisa bilang kalau pasti bisa menolongnya? Apa mungkin dia sudah menemukan cara untuk menolongnya.
Pada saat Pouw Jin Cui terbenam dalam lamunannya itu, dari samping tunuhnya, suara tajam memekikkan telinga memecahkan kesunyian yang mencengkam disekitar daerah itu, ketika dia menoleh terlihat Siauw Ie sedang meniup daun ditangannya dengan keras, sedang suara yang memekikkan telinga itu terdengar berasal dari daun tersebut.
Begitu suara suitan itu berkumandang beberapa saat lamanya dari arah bawah terlihat munculnya sinar api yang bergerak-gerak, dengan cepat ujarnya pada Pouw Jin Cui.
“Cici Cui, lihatlah…dia, Liem Tou, antara kita berdua kepandaianmu telah mencapai taraf yang sangat tinggi tentu kau sanggup untuk melewati ketiga tempat berbahaya itu. Bilamana cici Cui punya niat untuk menolong nyawa adik Tou, saat ini juga cepatlah turun gunung memberi tahu padanya agar dia jangan sampai menempuh bahaya dengan percuma, bilamana kepandaianku sudah berhasil kulatih tentu aku bisa turun gunung mencari dia. Cici Cui maukah kau? Adik Ie mu selamanya tak akan melupakan budimu yang besar ini”
Sambil berkata tak tertahan butiran air mata menetes keluar semakin deras, sudah tentu Pouw Jin Cui tak tega untuk menolaknya.
Dalam hati dia tahu jelas bilamana ayahnya mengetahui perbuatannya ini kemungkinan kecil harapan untuk bisa lolos dari suatu makian serta hukuman yang berat tapi urusan ini telah menjadi begini, berpikir panjang juga tiada gunanya. Sekalipun akhirnya akan mendapatkan hukuman yang sangat berat dari ayahnya juga tidak mengapa. Tak disangka olehnya ketika dia hendak mengabulkan permintaan dari Siauw Ie itu, dari dalam perkampungan Ie hee cung terlihat berkelebat datang empat lima buah bayangan manusia, sekali pandang saja segera dia tahu kalau bayangan manusia itu terdiri dari ayahnya serta beserta keempat orang penjaga perkampungan yang paling diandalkan. Tak terasa teriaknya:
“Celaka, adik Ie aku pergi dulu”
Perkataannya baru saja keluar dari mulut, tubuhnya melayang jauh beberapa kaki tetapi dia tak berani terlalu memperlihatkan gerak tubuhnya, terpaksa dengan membungkukkan tubuhnya melayang dengan cepatnya kedepan, tidak selang lama Siauw Ie telah melihat Pouw Jin Cui sudah berada disamping jembatan pencabut nyawa, dengan beberapa kali lompatan saja dia sudah berhasil lompati jembatan tersebut.
Tetapi setelah melewati jembatan pencabut nyawa itu, ditengahnya masih terdapat jarak yang cukup panjang, merupakan sebuah tebing yang kosong, sebaliknya cung cu beserta Liong ciang Houw jiauw Siang hui hok sekalian telah berada tidak jauh dari jembatan pencabut nyawa itu, dengan demikian sekali sebelum Pouw Jin Cui tiba di ujung tebing untuk menyembunyikan diri telah diketahui oleh mereka.
Tanpa sadar seluruh tubuh Siauw Ie basah kuyup oleh mengalirnya keringat dengan derasnya, diam-diam pikirnya:
“Apabila cici Cui diketahui oleh mereka, semuanya tentu akan berantakan”
Dalam keadaan yang sangat cemas, mendadak tanpa berpikir panjang lagi teriaknya dengan keras:
“Tolong…Tolong…!”
Dugaannya ternyata benar, begitu suara teriaknya berkumandang segera terlihatlah beberapa orang itu memutar kembali arahnya menuju kearah dia berdiri dengan gerakan yang sangat cepat, dia tahu kalau siasatnya berhasil, segera dengan nada yang keras teriaknya lagi:
“Ada ular…ada ular…!”
Sambil berteriak tubuhnya ikut berloncat-loncatan dan melayang kearah perkampungan Ie hee cung dengan gerakannya yang amat lincah, setelah dilihatnya tempat itu tertutup dan sukar untuk melihat keadaan dibawah gunung, barulah dia pura-pura membungkuk berlagak seperti sedang memandang sesuatu sedang kakinya menjejak dengan kerasnya kearah dedaunan diatas tanah.
Begitu cung cu sekalian tiba dihadapannya segera dia dihujani dengan pertanyaan-pertanyaan:
“Siauw Ie, telah terjadi urusan apa?”
“Ooh, paman-paman, bagaimana sampai disini? Seekor ular, ooh.., ular beracun yang amat besar, kurang sedikit saja aku tergigit olehnya untung saja ketika itu aku melepaskan senjata rahasia hingga dia melarikan diri karena kesakitan”
Apa yang diucapkan Siauw Ie begitu lancar, lincah serta menyenangkan membuat beberapa orang itu sama sekali tidak menaruh curiga apa pun. Lebih-lebih si telapak naga yang bernama Lie Kian Po yang merupakan satu she dengan diri Siauw Ie, dengan penuh perasaan kuatir tanyanya:
“Siauw Ie, hari telah demikian malamnya tapi mengapa dan kenapa kau masih berada disini. Andaikata benar-benar kau sampai dipagut ular beracun bukankah hal ini hanya akan menyusahkan ibumu?”
Siauw Ie telah mendengar nasehat itu sekali pun dalam hati dia merasa sangat berterima kasih atas perhatiannya, tetapi diam-diam dia pun merasa geli. Sambil tersenyum dia menutup mulutnya tidak menjawab.
Tak disangka tiba-tiba terlihat Cung cu Pouw Sek San mendengus dengan dinginnya sambil mendesak dia memandang gusar kearah Siauw Ie.
Siauw Ie yang merupakan seorang gadis cilik yang sangat cerdik begitu melihat perubahan wajahnya segera teringat kemungkinan sekali dia gusar karena dirinya telah menyambitkan sebuah senjata rahasia Kiu cu gin ciam kearah Pouw Siauw Ling, dalam hati dia semakin gusar bercampur cemas sedang pikirannya terus berputar, pikirnya:
“Kenapa tidak sejak sekarang juga aku berusaha menguasai dirinya? Disamping bisa memaki dia dengan beberapa kata hingga rasa mangkal dalam hati menjadi berkurang, dengan demikian aku pun bisa mengulur waktu lebih lama lagi agar cici Cui mempunyai kesempatan untuk balik kembali”
Berpikir sampai disitu dia tidak ambil diam, air mukanya segera berubah menjadi sangat dingin, dengan nada yang serius ujarnya pada diri Pouw Cung cu:
“Paman cung cu, keponakan ada suatu hal yang perlu disampaikan kepadamu, entah paman mau tidak memberi kesempatan kepada keponakanmu ini?”
Cung cu tidak pernah menyangka dia bisa berbuat demikian, setelah tertegun beberapa saat lamanya barulah sahutnya:
“Ada urusan apa cepat kau katakana?”
“Sejak kecil keponakanmu ini telah kehilangan ayah dan aku menjadi besar berkat rawatan serta didikan dari ibu, aku sadar kalau tidak punya kekuatan didalam membantu melakukan pekerjaan yang menguntungkan bagi perkampungan kita dalam hatiku sering merasa sangat menyesal, aku semakin sedih…”
“Tentang ini aku sudah tahu jelas, buat apa kau banyak bicara?” potong Cung cu ketika dia mendengar yang dibicarakan semakin jauh.
“Bila semua menolong dan memberi bantuan kepada kalian ibu beranak sebenarnya sudah merupakan tugas kami, kau tak perlu berpikir lebih jauh lagi”
Siauw Ie menjadi mendelik, dengan gusar ujarnya lagi:
“Sekali pun paman sekalian dengan setulus hati menjaga serta membantu kami, tapi kakak Siauw Ling selamanya berpura-pura baik, pada hal pekerjaannya hanya melulu mengganggu aku serta mencemooh diriku, bahkan adakalanya gerak-geriknya kurang sopan. Oleh karena itu tadi didalam keadaan yang amat gusar, keponakanmu telah menghadiahkan sebuah jarum Kiu cu gin ciam kepadanya, aku kira paman sekalian serta Cung cu tidak sampai menyalahkan tindakan kasar dari keponakanmu ini”
Atas dari kata-kata dari Siauw Ie yang tajam dan sukar dibantah itu membuat Pouw Sek San untuk sesaat lamanya tidak bisa menjawab. Siauw Ie yang melihat Cung cu dibuat tidak bisa berkutik oleh kata-katanya yang pedas serta tajam itu segera menambahnya lagi:
“Masih ada lagi, keponakanmu tahu kalau paman Pouw Cung cu telah mengutus orang untuk bertemu dengan ibu guna meminang diriku bagi kakak Siauw Ling, aku ingin paman menghapuskan niatmu ini untuk selamanya, aku merasa tidak sanggup untuk menerima penghargaan yang demikian tingginya”
Saking gusarnya air muka Pouw Sek san berubah menjadi putih kehijau-hijauan sekali pun hanya disoroti oleh sinar rembulan yang remang-remang, tetapi dapat terlihat dengan jelas, agaknya hawa amarahnya telah mencapai pada puncaknya, seluruh tubuhnya gemetar dengan keras, sedang untuk sesaat lamanya membuat dia merasa bingung harus berbuat bagaimana untuk memberi jawaban atas perkataan dari Siauw Ie itu.
Untung saja si telapak naga Lie Kiam Po yang melihat keadaan bertambah tegang segera memakinya:
“Siauw Ie, kenapa kau?”
Tak tertahan lagi Siauw Ie menangis tersengguk, sambil menahan isak tangisnya menyahut:
“Paman Kiam Po aku tidak apa-apa, aku benar-benar tidak tahan”
Beberapa orang lainnya melihat dia bersikap demikian, hanya bisa saling pandang memandang tanpa berkata-kata, untung saja pada saat itu Pouw Jin Cui muncul secara mendadak di tempat itu, dengan cepat dia menarik Siauw Ie menyingkir sambil ujarnya:
“Adik Ie, coba lihat sikapmu seperti anak kecil saja, mari kita pulang saja”
Siauw Ie melihat Pouw Jin Cui telah kembali keinginan untuk mengetahui keadaan Liem Tou mendesak dia untuk mengakui ajakan Pouw Jin Cui tanpa membantah.
Cung cu yang menerima makian tersebut juga tak dapat berbuat apa apa hingga terpaksa dengan hati yang mendongkol mengaajak keempat anak buahya melanjutkan untuk menjaga Sungai kematian tebing maut atau jembatan pencabut nyawa.
Lie Siauw le setelah meningalkan tempat semula dengan diri Pouiw Jin Cui tak tertahan lagi dengan gugup tanyanya.
“Cici Cui, kau sudah bertemu dengan dia ?”
Pouw Jin Cui mengangguk dengan sahutnya perlahan:
“Bagaimana juga, dia tetap ingin menemui mu, sekalipun aku sudah bilang keadaan sangat berbahaya tetapi dia tetap menggelengkan kepala bahkan kukuh dengan pendiriannya untuk bertemu dengan kau.”
Mendengar perkataan itu bukan main rasa girang dalam hati Siauw Ie, tapi dibalik kegembiraannya itupun merasa sangat cemas, teringat olehnya dalam keadaan bahaya didalam saat men daki ketiga tempat bahaya itu, tak terasa jantungnya berdebar dengan keras, teriaknya dengan keras.
“Tidak, bagaimanapun juga dia tidak boleh datang, Cici Cui, sebelum tiba diatas gunung tentu dia telah dibunuh mati oleh mereka.”
“Adik le, untuk sementara kau tidak perlu cemas sekalipun adik Tou bilang pasti ingin menemui kau, tetapi dia juga bilang tidak akan sampai menemul bahaya.”
Mendengar itu Siauw le menjadi sangat he¬ran tanyanya:
“Jika demikian adanya apa boleh dikata, benar-benar dia telah memiliki kepandaian untuk melewati ketiga tempat bahaya itu? Selain itu masih ada cara apalagi dia bisa datang menemui aku”
Pouw Jin Cui menggelengkan kepala tidak menjawab, padahal dalam hatinya diapun tidak tahu dengan cara apa Liem Tou bisa bertemu dengan Siauw Ie.
Terdengar Siauw Ie telah bertanya lagi:
“Katau begitu dia bilang kapan mau datang?”
“Katanya begitu terang tanah segera dia naik kegunung menemui kau.”
Ketika mengetahui kalau Liem Tou baru akan naik gunung setelah terang tanah, kedua orang itu setelah berunding sebentar segera pulang untuk beristirahat dan siap pada hari esoknya naik kepuncak menanti kedatangan Liem Tou.
Setelah sampai dirumah tanpa tukar pakaian Siauw le segera naik kepembaringan, tetapi mana dia bisa tidur? Dalam otaknya telah penuh dengan bayangan Liem Tou, sepasang matanya melotot hingga jauh malam.
Tetapi akhirnya saking lelah serta sedihnya ketika hari mendekati fajar tanpa dapat tertahan lagi dia tertidur pulas.
Menanti dia mendusin kembali matahari telah jauh tinggi sekonyong konyong terdengar olehnnya suara ribut yang amat berisik dari orang orang perkampungan, agaknya telah terjadi sesuatu hal.
Dengan kecepatan yang luar biasa segera dia meloncat bangun dan lari keluar rumah, tetapi sebelum dia mencapai luar pintu secara tiba-tiba terdengar diantara suara yang amat ribut itu terdengar seorang menjerit kaget sambil ujarnya dengan keras:
"Aah, si Liem Tou yang malang telah tenggelam didalam sungai, Ooh..matinya sungguh mengenaskan sekali".
Ada pula yang berteriak:
“Jenazahnya segera akan dibawa balik keatas gunung oleh si Telapak naga paman Lie. 0oh Penguasa Liem hanya meninggalkan seorang putra dungu itu, kini dia telah mati tenggelam dalam sungai — - Ooh Thian sungguh kau tidak adil, kenapa penguasa Liem yang begitu baiknya diberi hukuman demikian beratnya."
Siauw le yang mendengar perkataan itu bagaikan disambar petir disiang hari bolong telinganya terasa berdengung dengan keras sedang darah didalam dadanya bergolak dengan kerasnya, seluruh tubuhnya gemetar dengan keras, air mukanya berubah menjadi putih kehijau-hijauan. Sedang tubuhnyo. dengan tertegun berdiri mematung ditempat, pada mulutnya tak henti hentinya berkemak-kemik:
-Mungkin aku sedang bermimpi, apa mung¬kin aku bermimpi?? Mimpi ini sungguh menakutkan. Aku tidak ingin mimpi lagi , . ah . bagaimana adik Tou bisa mati tenggelam dalam sungai?? Orang lain menganggap dia tolol padahal sama sekali dia tidak bodoh, bagaimana bisa tenggelam dalam sungai? Tidak, tidak ,tentu aku sedang bermimpi..”
Sambil berkemak kemik mendadak dengan keras dia menjambak rambutnya sendiri, teriaknva dengan keras:
“Aku tidal mau mimpi lagi .. aku tidak mau... mimpi lagi ..Ooh aku sedang bermimpl."
Mendadak rambutnya yang dijambak menjadi rontok, sedang darah segar menetes keluar membasahi wajahnya, pada saat itulah dia baru tahu kalau dirinya sebenarnya bukan sedang bermimpi, pukulan batin kali ini semakin berat rasanya. Tiba-tiba sepasang matanya melotot keluar bagaikan seorang gila dengan cepat berlari kedepan sambil teriak dengan keras:
“Adik Tou. Kau sungguh kejam. Kiranya kau bilang pada fajar menyingsing hendak menemui aku ternyata dengan jalan ini, baiklah, kita akan segera bertemu, aku akan segera bertemu, aku segera akan menyusul dirimu”
“Adik le, kau jangan pergi, untuk sementara kau jangan pergi, Ie moay-moay, dengarlah perkataanku, untuk sementara kau jangan pergi”
Ketika berkata sampai disitu air matanya tak tertahan lagi menetes keluar membasahi wajahnya, pada saat seperti ini mana mungkin Siauw Ie mau mendengar perkataannya sambil berlari terus kedepan mulutnya tetap berteriak-teriak:
“Aku mau menemui dia, aku mau menemui dia”
Pouw Jin Cui melihat, mencegahpun tak ada gunanya terpaksa melepaskan Siauw Ie yang meneruskan larinya, sedang dirinya sambil meneteskan air mata berjalan disamping tubuhnya untuk mencegah terjadinya sesuatu hal yang tidak diinginkan.
Dengan melototkan sepasang matanya serta air muka yang telah berubah hijau membesi, Siauw Ie terus lari menerjang kedepan, tidak perduli dimukanya ada orang atau tidak dia tetap menerjang kedepan. Semua orangyang melihat perubahan wajahnya tak terasa lagi pada menyingkir dengan sendirinya.
Baru saja dia berlari sampai didepan perkampungan dilihatnya si Telapak naga Lie Kiam Po dengan membawa sesosok mayat yang basah kuyup berjalan mendatang, kedua belah sampingnya berjalanlah Cung cu perkampungan Ie hee cung, Houw jiauw, Sian hui hok serta Pouw Siauw Ling lima orang, air muka semua orang terlihat sangat serius serta berat kecuali Pouw Siauw Ling seorang yang masih menampilkan senyuman ejeknya.
Siauw Ie begitu tiba pada jarak yang tidak begitu jauh dari beberapa orang itu, secara mendadak dia memperlambat langkah kakinya, bahkan boleh dikata saking lambatnya hingga sukar dilukiskan.
Pouw Jin Cui yang berdiri disampingnya pun merasa hatinya berdebar dengan keras, dia tak dapat menduga bakal terjadi peristiwa apa.
Rombongan Cung cu sekalian ketika sampai di hadapan Siauw Ie dan melihat air mukanya sangat aneh, tanpa disadari oleh mereka bersama-sama menghentikan langkah kakinya, sepasang mata Siauw Ie terlihat makin memancarkan sinar merah berapi-api menahan kegusarannya, sambil menuding kearah si Telapak naga bentaknya:
“Lepaskan dia keatas tanah”
Si Telapak naga Lie Kiam Po yang dibentak secara demikian dihadapan orang banyak semula menjadi tertegun, kemudian disusul dengan hawa amarah yang meluap. Baru saja dia hendak memaki atas kekurang ajaran dari Siauw Ie itu, dilihatnya Pouw Jin Cui yang berdiri disampingnya telah memberi kerdipan mata sebagai tanda, sambil berebut maju satu langkah kedepan ujarnya:
“Paman Kian Po, jangan gusar, ikutilah permintaan dari Siauw Ie moay itu”
Lie Kian Po melihat air muka kedua orang gadis itu berbeda dari keadaan biasa segera tahu kalau didalam hal ini pasti terselip suatu sebab tak terasa dia menoleh memandang kearah cung cu minta persetujuannya, dengan perlahan cung cu mengangguk menyetujui, kemudian membalikkan tubuhnya berlalu dari tempat itu.
Terpaksa Lie Kian Po melepaskan mayat yang telah menjadi kaku itu, Siauw Ie segera mengenali mayat itu bukan lain dari Liem Tou adanya.
Terlihat perutnya kembung menandakan kalau dia baru saja kenyang minum air sungai, hanyalah biarpun dia suduh putus napas dan matanya tertutup rapat, air mukanya masih tetap segar bugar, sedikit pun tidak memperlihatkan tanda seorang yang telah binasa, hanya rambutnya saja yang tidak karuan sedang warna kulitnya pun sedikit berubah kehitam-hitaman.
Siauw Ie yang memandang kearah jenazah itu makin dilihat hatinya semakin sedih, terasa suatu aliran yang amat panas dengan cepat mengalir keseluruh tubuhnya, tak terasa seluruh tubuhnya gemetar dengan keras. Dia tak dapat mempertahankan dirinya lagi bagaikan seluruh tubuhnya serasa hendak meledak mendadak dengan menjerit keras dengan cepat dia menubruk keatas tubuh Liem Tou yang telah berubah menjadi mayat sedang air matanya menetes keluar dengan derasnya, teriaknya dengan keras.
“Adik Tou..adik Tou kau tak boleh mati, aku disampingmu, bukalah matamu, aku berada disampingmu..Ooh..adik Tou..”
Suara tangisannya yang demikian sedih membuat suasana disekeliling tempat itu diliputi oleh kesedihan, sedang Pouw Jin Cui pun tak dapat menahan menetesnya air mata demikian juga sekalian orang-orang juga merasa sangat sedih akan terjadinya kisah ini, hanya Pouw Siauw Ling yang merasa senang, pada bibirnya tersungging suatu senyuman mengejek, sedikitpun tak tergerak hatinya melihat kepedihan itu.
Setelah menangis dengan sedihnya beberapa waktu lamanya dengan keadaan yang tak sadar benar dia membopong jenazah dari Liem Tou dan meninggalkan tempat itu dengan cepat. Beberapa orang yang berada disekeliling tempat itu menjadi sangat terkejut dengan cepat mereka berusaha menghalangi tindakan dari Siauw Ie itu sedang Pouw Jin Cui dengan cepat bertanya:
“Adik Ie kau hendak kemana?”
Tapi Siauw Ie hanya sedikit mengangkat kepalanya saja dengan dinginnya dia memandang sekejap kearah beberapa orang itu, kemudian melanjutkan lagi berjalan kedepan.
Orang-orang itu menjadi semakin bingung harus berbuat bagaimana baiknya, ketika Siauw Ie berjalan sampai dihadapannya dengan tanpa sadar mereka menyingkir memberi jalan, kemungkinan sekali mereka terpengaruh oleh sikapnya yang serius, berwibawa serta dapat menguasai orang lain tanpa sadar.
Sambil membopong jenazah dari Liem Tou, dengan langkah yang perlahan Siauw Ie berjalan melewati perkampungan Ie hee cung kemudian meneruskan perjalanannya menuju kebelakang kampong ditengah sebuah hutan yang sunyi.
Setelah berjalan keluar dari perkampunga, Pouw Jin Cui kuatir terjadi sesuatu hal dengan diri Siauw Ie segera mengikuti terus dibelakang tubuhnya, tetapi tiba-tiba terdengar dengan nada yang rendah ujar Siauw Ie:
“Cici Cui, aku sangat berterima kasih atas perasaan simpatikmu. Kini kau boleh kembali, adik Ie mu tak mungkin akan berbuat hal-hal yang nekad”
Sekalipun Pouw Jin Cui mendengar dia berkata dengan tegas, tetapi hatinya tetap merasa kuatir, baru saja mau memberikan jawabannya Siauw Ie telah melanjutkan lagi:
“Cici Cui, coba pikirlah dirumah aku masih ada ibu, apa mungkin aku bisa berbuat sesuatu yang nekad? Aku hanya ingin berdua dengan Liem Tou ditempat yang sunyi, lebih baik kau pulang terlebih dulu, orang-orang yang mengikuti dibelakangku tolong cici uruskan, adikmu tentu akan merasa sangat berterima kasih”
Setelah mendengar perkataan dan dipikirnya bolak-balik, Pouw Jin Cui merasakan kalau perkataannya sangat beralasan, segera dia mengikuti apa yang diucapkan untuk melaksanakannya, terlihatlah dengan perlahan-lahan Siauw Ie berjalan masuk kesebuah hutan yang lebat dibelakang perkampungan Ie hee cung.
Siauw Ie segera membawa jenazahnya Liem Tou yang telah kaku kedalam hutan yang berada disitu, ketika itu juga didalam pikirannya timbui kenangan lama sewaktu masih bermain main dan berjalan jalan bersama dirinya terasa air matanya menetes keluar semakin deras, setelah terpekur beberapa saat kemudian ujarnya seorang diri:
"Adik Tou, masih ingatkah dulu ketika kau bermain bersama ditempat ini derganku? Suara siulan dari dedaunan juga kau belajar dari aku ditemnat ini. Mereka bilang kau anak gobloke padahal hanya cukup dua kali saja aku memberitahu padamu kau sudah bisa."
Sambil berkata tak terasa air mukanya jatuh menetes keatas wajah Liem Tou dia mengawasi kekasihnya dengan penuh haru. Pada saat itulah tubuh yang semula telah mulai kaku kini menjadi lemas secara tiba tiba. Tak terasa Siauw le menjadi sangat terkejut. Tetapi dari dalam hatinya segera terlintaslah suatu pikiran, diam-diam batinnya:
'Apa mungkin adik Tou telah, merasakan kesedihanku, hingga roh halusnya hendak munculkan diri dihadapanku?”
Ketika berpikir sampai disitu dia tidak merasa terkejut lagi, sambil meneruskan perjalanannya menuju kedalam rimba mulutnya bergumam dengan perlahan:
“Adik Tou. Mari kita pergi lihat tempat kita beristirahat sewaktu telah lelah, tempat itu hingga kini tak seorang pun yang mengetahuinya. Adik Tou, mau tidak? Lihatlah, sudah hampir tiba!”
Pada saat itu Siauw Ie telah berjalan kearah lereng dibelakang puncak Ha Mo Leng, sesampainya dibawah sebuah pohon yang amat lebat dia berhenti ujarnya lagi:
“Adik Tou, kita telah sampai..”
Sambil berkata dia meletakkan jenazah Liem Tou kebawah pohon, sedang dia sendiri duduk termenung disampingnya, dengan terpesona memandang awan awan yang bergerak dan beriring itu diten gah udara, sebentar dia tertawa sendiri sebentar meneteskan air matanya dan menangis dengan sedihnya.
Sekonyong konyong...... dilihatnya dedaunan serta cabang pada pohon yang besar diatas kepalauya tanpa sebab ternyata bargoyang sendiri padahal waktu itu tak ada angin yang sedang bertiup, dia merasa sangat heran dan bingung, apa yang telah terjadi? Dengan cepat dia melompat bangun dan termangu-mangu memandang kearah jenazah Liem Tou keatas tanah perutnya yang kencang dengan air sungai masih terlihat mengembang dengan besarnya hingga menyerupai sebuah gundukan gunung kecil, siapa tahu dalam sekejap saja telah lenyap tak tanpa bekas.
Setelah termangu-mangu memandang beberapa saat ketika Siauw Ie melihat perubahan dari perut Liem Tou tidak menampilkan perubahan aneh lainnya barulah dia merasa lega dan berjalan ketempat semula, setelah berpikir bolak-balik sambil menghela napas ujarnya lagi:
“Adik Tou kau pergilah dengan hati yang tenang, selama hidup cicimu akan selalu mengingat dirimu, tetapi dunia dan alam baka berpisah jauh, entah titik apa akan selalu mengingat cicimu?” Sambil berkata dia menghela napas panjang.
“Akan kuingat selalu. Sekalipun aku teiah berubah menjadi setan aku akan selalu ingat diri Cici. Ciciku yang tercinta kau tak usah kuatir tak akan kulupa diri Clci untuk selamanya”
Siauw Ie merasakan kalau suara itu berasal dari tubuh Liem Tou yang berbaring disampingnya, dia rnenjadi sangat kaget, tak terasa bulu tengkuknya pada berdiri semua.
Tiba tiba dilihatnya Lim Tou mulai meluruskan kakinya dan merangkak bangun dengan perlahan-lahan dari atas tanah, rasa terkejutnya kali ini bukan alang kepalang dengan kecepatan kilat dia segera meloncat bangun tangannya dengan kencang mencekal beberapa batang jarum perak dengan keraas bentaknya:
"Kau--- kau manusia atau setan!"
Dengan lagak yang ketolol-tololan Liem Tou tersenyum setelah membereskan rambutnya yang basah ujarnya:
“Cici Ie kau jangan demikian galaknya, adik mu adalah manusia bukan setan"
Siauw Ie tetap tidak mau percaya satelah berdiam diri selama beberapa waktu dengan perlahan barulah dia memegang Liem Tou, tapi dengan cepat ditariknya kembali ujarnya:
“Kalau manusia kenapa tanganmu demikian dinginnya?”
"Adikmu telah merendamkan diri didalam air sangat lama sekali hingga sekarang merasa kedinginan. Cici maukah sekarang kau memberi kehangatan tubuh kepadaku?"
Slauw le tersipu sipu karena malunya, sambil tersenyum manis dia memandang tajam ke arah Liem Tou, tetapi tiba tiba dia melelehkan air matanya kembali ujarnya dengan sedih:
"Apabila adik Tou benar-benar binasa, Cici mu juga tak mau hidup lebih lama lagi.”
Liem Tou tidak menjawab, hanya dengan senyuman yang ketolol-tololan memandang diri Siauw Ie.
ooooOOoooo
Adapun perkumpulan Ie Hee Cung yang terdiri dari keluarga Lie serta keluarga Pouw, pada ratusan tahun yang lalu mereka merupakan suatu keluarga yang bekerja sebagai pengusaha Piau kok atau pengawal barang-barang angkutan.
Oleh karena hasil usaha mereka banyak menanam permusuhan, untuk menghindarkan diri dari pembalasan dendam orang-orang jahat terpaksa dengan membawa seluruh keluarga mengasingkan diri ketempat yang sunyi.
Tahun ketemu tahun anak beranak mereka semakin banyak akhirnya dari perkampungan yang kecil berubah menjadi perkampungan besar.
Sedangkan ayab dari Liem Tou yaitu Liem Han San merupakan seorang Siucay atau terpelajar yang mempunyai kepandaian sangat tinggi didalam bidang Bun atau surat menyurat. Oleh Lie Ek Beng Cung Cu yang terdahulu dia diundang datang kedalam perkampungan untuk memberikan pelajaran surat kepada penduduk kampung pada saat itu Liem Tou baru berusia lima enam tahun, sifatnya yang pendiam serta alim itu membuat dia suka menyendiri. Padahal anak-anak yang sebaya dengannya semuanya telah memperoleh pelajaran silat, sudah tentu tubuhnya jauh lebih kekar serta gesit dari dirinya
Hanya dia seorang diri yang paling lemah tanpa memiliki kepandaian apa pun, lagipula penduduk kampung itu sangat benci terhadap orang luar, tak heran kalau Liem Tou sama sekali tidak diberi pelajaran silat.
Jilid 2 :
Tahun ketemu tahun akhirnya dia jadi besar, biarpun tampangnya ganteng dan cakap, tetapi kelihatan sekali sifatnya yang masih ke tolol-tololan.
Pada waktu itulah oleh karena perasaan kesatuan dan simpatiknya dari Siauw Ie yang selalu melindungi dirinya, akhirnya mereka menjadi sepasang kekasih yang saling sayang
menyayangi.
Tak terkira pada suatu malam, pertengahan musim salju ayah Liem Tou yaitu Liem Han San meninggal dunia secara mendadak, sewaktu dia mau menarik napas yang penghabisan telah memberikan sejilid kitab kepada anaknya bahkan memesan untuk dipelajari dengan baik, di samping itu dia memesan juga, agar kitab itu jangan sampai diketahui oleh orang lain.
Setelah meninggalkan pesan-pesannya dia menghembuskan napasnya yang penghabisan.
Karena kesedihan atas meninggalnya Liem Han San, membuat Liem Tou tak terlalu memperhatikan hal itu. Pada saat itu juga Lie Ek Hong dihadapan orang-orang kampong telah mengangkat Liem Tou ayah beranak sebagai warga perkampuugan le Hee Cung bahkan dengan segala upacara besar mengubur jenazah Liem Han San.
Siapa tahu Lie Ek Beng pun menyusul kealam baka, dengan menurut peraturan2 perkampungan sesudah diadakan pibu atau pertandingan silat Pauw Sak San menjadi cungcu yang baru.
Sejak malam itu juga Liem Tou mulai mempelajari kitab peninggalan ayahnya.
Pada suatu malam ketika Liem Tou sedang mempelajari kitab peninggalan ayahnya, dari luar jendela terdengar suara tertawa dingin, begitu mendengar suara tertawa mengejek itu
segera Liem Tou tahu kalau orang itu tak lain adalah Pouw Siauw Ling, dengan cepat dia
menyembunyikan kitabnya.
Pada waktu itu juga terdengar dari luar Pouw Siauw Ling telah menggape kearahnya sambil serunya dengan keras:
"Liem Tou ! Ayahku memanggilmu untuk menghadap."
Karena perjntah dari Cung-cu, Liem Tou terpaksa keluar dari rumah. Siapa tahu baru saja dia melangkah keluar dari pintu secara mendadak Pouw Siauw Ling telah memberikan hajaran yang hebat keatas tubuhnya, tangannya melayang tak henti2-nya memukuli seluruh tubuhnya bahkan ancamnya:
“Adik Siauw Ie merupakan menantu dari keluarga Pouw kami, coba pikir macam apakah kau ini berani demikian kurang ajarnya, harus kuberi hajaran yang setimpal pada kau cecunguk busuk, rasakanlah kelihayanku"
Pada waktu itu sekalipun dia menerima pukulan yang amat kejam hingga tubuhnya babak
belur oleh pukulan tangan serta terdangan keras dari Pouw Siauw Ling tetapi merintihpun ia tidak. Kelakuan tersebut sudah menjadi kebiasaan baginya sejak kecil bahkan dia pun tahu dengan jelas sekalipun didalam perkampungan punya paraturan bahwa keluarga Lie harus dikawinkan dengan keluarga Pouw, tetapi pada saat itu dia telah diizinkan dan dianggap sebagai warga dari perkampungan Ie Hee Cung oleh Cung cu yang terdahulu, sudah tentu dia tak dapat dianggap sebagai orang luar lagi.
Sesudah dipukuli babak belur oleh Pouw Siauw Ling, segera dia digusur kehadapan Pouw Sak San. Tampak dengan mandelikkan matanya Cung cu memandang gusar kearahnya, air mukanya amat keren, bentak dia kemudian.
"Liem Tou. Disini tak dapat menampungmu lagi, kau harus cepat2 turun gunung."
Begitu mendengar perkataan dari Cung cu itu Liem Tou merasa terkejut sekali bagaikan diguyur dengan air dingin air matanya hampir-hampir meleleh keluar membasahi wajahnya, tetapi dengan paksakan dirinya dia tetap bersabar, diam2 pikirnya:
"Liem Tou, Liem Tou, kau tak boleh menangis, walaupun mereka bersikap bagaimanapun juga kau tak boleh menangis, sekalipun mereka melihat kau meneteskan air mata."
Berpikir sampai disitu pula, dengan cepat dia menahan mengalirnya air mata dari kelopak
matanya, dengan tersengguk-sengguk tanyanya:
"Cung cu aku kenapa aku diusir dari perkampungan ? ? ? ?"
"Apa kau tidak mau mendengar perkataan dari Cung cu ? ? ? Menyuruh kau turun gunung.Buat apa kau tanya sebab2-nya ??" bentak Cung cu dengan gusarnya.
Liem Tou yang dibentak seperti itu hatinya menjadi membeku, sama sekali tak disangka olehnya kalau Cung cu ini bisa bartindak demikian tak tahu aturannya, pada saat itu terpikir kembali Lie Siauw Ie yang sangat menyayang dirinya. Mandadak entah dari mana datangnya suatu semangat jantan membuat nyalinya menjadi semakin besar, dengan keras sahutnya.
"Baik. Turun gunung yah turun gunung . .? Tetapi bolehkah aku menemui Siauw le cici
terlebih dahuIu ?"
Sama sekali Cung cu tak pernah menduga kalau nyali Liem Tou demikian besarnya, tak terasa dia menjadi tertegun dibuatnya. Setelah berpikir bolak balik dengan tegas sahutnya.
"Tidak bisa, segera aku akan menghantar kau turun gunung. Ingat perkampungan Ie Hee
Cung ini tidak akan membiarkan seorang asingpun berdiam terus menerus ditempat ini."
Liem Tou tak bisa berbuat apa-apa lagi, pada malam itu juga dia diusir dari perkampungan Ie
Hee Cung. Menanti setelah Cung Cu balik dari atas gunung tak tertahan lagi dia menangis
tersedu-sedu dipinggir sungai.
Setelah puas mengeluarkan air matanya rasa mangkal didalam hatinyapun lenyap, dengan
berlutut diatas tanah segera ia angkat sumpah.
"Aku Liem Tou pasti akan menemui Cici Ie lagi, Pasti… pasti kulakukan."
Hari-hari selanjutnya Liem Tou bekerja sebagai pengangon sapi ditepi sungai dibawah
gunung Ha Mo leng bahkan disamping mengangon sapi sering juga dia belajar berenang
didalam sungai serta mempelajari kitab peninggalan ayahnya.
Tak disangka olehnya ternyata kitab tersebut berisi tulisan2 yang tak dimengerti olehnya,
maksudnyapun sangat mendalam. Tetapi dia tidak menjadi putus asa karena hal tersebut,
akhirnya setelah berjerih payah selama beberapa bulan barulah dia berhasil memahami
maksud dari bagian keenam dari kitab tersebut yaitu ilmu pernapasan. Pada waktu itu pula
dia baru tahbu kalau kitab itu merupakan sebuah kitab pelajaran silat yang amat hebat,
hatinya menjadi sangat girarg, dengan demikian dia setiap hari berlatih dengan kerasnya,
tetapi bagaimanapun juga dikarenakan tak ada orang yang memberi petunjuk sehingga
rahasia dari ilmu pernapasan itu tetap tak dipahaminya, tenaga murni yang tersimpan
didalam tubuhnyapun, tak berhasil dialirkan mengitari seluruh tubuhnya.
Oleh karena itu sekalipun dia berlatih dengan rajin juga tak lebih baru bisa mengembangkan
perutnya sehingga besar sesuai dengan kehendaknya, sekalipun demikian sebaliknya ilmunya
itu malah membantu didalam ilmu berenangnya, sekali dia menghirup udara maka dapat
menyelam didalam air selama dua tiga jam lamanya.
Disaat itu dengan menggunakan ilmu pernapasan tersebut dia segera menutup seluruh
pernapasannya pura2 mati tengggelam, bukan saja berhasil menipu Cung cu sakalipun
hingga bisa melewati ketiga tempat berbahava tanpa rintangan bahkan dapat berjumpa pula
dangan diri Siauw Ie.
Liem Tou melihat dengan wajah yang amat girang Siauw Ie mencekal tangannya, tak terasa
hatinya malah menjadi sedih, ujarnya.
"Ci ci Ie, adiktmu berhasil menipu mereka hingga bisa tiba disini bertemu dengan Cici, tetapi
aku tak bisa bardiam terlalu lama ditempat itu, kini aku harus berbuat bagaimana untuk
turun gunung?"
Sepasang mata Siauw le dengan sangat tajam memandang kewajahnya, dengan cepat dia
menggelengkan kepalanya ujarnya,
"Adik Tou, untuk sementara kita tak usah menyebutkan hal ini, selama satu tahun kita tidak
bertemu kita harus menggunakan waktu ini sebaik2nya coba pikirlah selama satu tahun cici
mu tidak bisa bertemu dengan kau setiap hari aku selalu merindukan dirimu."
"Adikmu juga begitu." sahut Liem Tou dengan perlahan. "Didalam dunia ini dalam hatiku
hanya terisikan cici seorang bilamana aku, bisa hidup bersama cici untuk selamanya diatas
gunung ini tentu akan sangat bahagia sekali.”
Dia berbenti sejenak sedang air mukanya berubah, terlintaslah perasaan gemas serta
dendamnya, tetapi didalam sekejap saja telah lenyap ujarnya lagi.
"Cici. Nasib adikmu sungguh sangat buruk, setelah turun gunung kali ini kemungkinan sekali
akan mengembara kesemua tempat, bila aku berhasil mempelajari kepandaian silat tentu
adikmu akan datang kembali keatas gunung, tetapi masa depan sukar diduga, mungkin juga
aku menemui ajal ditengah jalan."
Tak tertahan lagi titik2 air mata menetes keluar tetapi dengan cepat dia menahan
mengalirnya cucuran air mata yang semakin deras itu, ketika dia menoleh memandang
kearah Siauw le lagi, terlihatlah sepasang matanya dipejamkan rapat2, dengan wajah yang
penuh air mata ujarnya,
"Adikku, teruskanlah, ucapanmu cici suka mendengarkan perkataanmu "
Sambil berkata dengan cepat dia menubruk menjatuhkan diri kedalam rangkulan Liem Tou,
isak tangisnya semakin menjadi. Dengan sekuat tenaga Liem Tou berusaha mempertahankan
dirinya, batinnya.
"Liem Tou . . , Liem Tou. Tahanlah rasa sedihmu. Dihadapan Ie Cici jangan menangis,
siapapun jangan harap memaksa aku meneteskan air mata, tahanlah perasaan sedihmu.
Tahanlah . tahan terus. Sampai tua.”
Setelah menangis dengan sadihnya beberapa saat lamanya, mendadak terdengar dengan
nada yang halus ujar Siauw Ie:
“Adik Tou. Cicimu selalu akan menantikan pulang keatas gunung, tidak perduli kau kembali
atau tidak, pokoknya Cicimu pasti menantikan kedatanganmu untuk selamanya”
Baru saja Liem Tou mau menjawab, mendadak saja dari puncak gunung itu terdengar suara
panggilan Pouw Jin Cui dengan nada yang keras : “Ie moay moay..ibumu suruh kau cepat
pulang”
Dengan cepat Siauw Ie bangun, sambil mengusap keringat bekas air matanya ,dengan cemas
ujarnya.
"Adik Tou dengan tipu daya aku berhasil naik gunung, rahasia ini jangan sampai diketahui
orang lain. Cepat kau menyembunyikan diri kedalam gua kita yang dahulu, aku akan pulang
sebentar bilang kalau kau telah dikubur, nanti malam aku akan datang kembali
membawakan makan malam bagimu"
Sehabis berkata dengan cepat Lie Siauw le loncat dan lari keatas puncak gunung Ha Mo Leng.
Liem Tou segera mengusik rumput2 didekat akar pohon yang amat besar itu, disitu
terdapatlah sebuah liang gua yang cukup untuk seorang, tanpa ragu2 lagi deugan cepat dia
menerobos masuk ke dalam.
Kurang lebih setelah berjalan puluhan tindak, gua itu semakin lama semakin melebar makin
luas, mendadak bau yang sangat apek dan amis bertiup datang, tak tahan lagi dia bersin
beberapa kali, diam2 pikirnya.
"Tempat ini bagaimana bisa demikian dinginnya, moga-moga saja Cici le tidak lupa
membawakan api untuk membuat api unggun hing¬ga bajuku bisa kering"
Berpikir sampai disitu segera dia duduk bersandar didinding gua, terlihatiah gua itu makin
kedalam makin seinpit, agaknya sangat dalam sekali sehingga sukar diukur ditambah
keadaannyapun sangat gelap, tetapi dia tak mau mengurusi hal itu, dengan memejamkan
mata ia menantikan kedatangan Siauw Ie.
Sepertanak nasi kemudian rasa dingin yang menerjang tubuhnya terasa semakin menusuk
tulang hingga terasa sangat tidak enak dibadan.
Segera ia bangkit berdiri pikirnya hendak berjalan keluar dari gua tersebut. Siapa tahu baru
saja berjalan beberapa langkah dari luar gua tiba terdengar suara. "Kok .. . Kok . ."
Suara itu kedengaran sangat aneh sekali tetapi waktu itu Liem Tou tidak begitu
memperhatikannya dan tetap melanjutkan perjalanannya kearah depan.
Kelihatannya tinggal dua langkah lagi dia berhasil keluar dari gua itu, mendadak suara yang
sangat aneh itu berbunyi lagi yang kemudian disusul munculnya sepasang kepala berwarna
merah darah yang amat aneh sekali didapan gua itu.
Liem Tou melihat munculnya seekor binatang aneh saking terkejutnya hingga menjerit keras,
dengan cepat dia mundur kebelakang balik ketempat semula.
Dengan sepasang matanya yang dipentangkan lebar-lebar, Liem Tou mengawasi luar gua,
napas pun tak berani keras-keras. Tampak dua buah kepala merah darah yang sangat aneh
itu dengan empat buah mata mendesiskan lidahnya yang mirip dengan desisan ular berjalan
makin mendekat,hanya bentuknya amat aneh serta menakutkan sekali.
Liem Tou yang melihat bentuk binatang itu segera mengetahui kalau binatang itu merupakan
binatang beracun, dia semakin mempertajam matanya memandang kearah tempat itu,
ketika itulah binatang aneh berkepala dua tersembur setelah mengeluarkan suara, kok, kok,
yang aneh dengan perlahan mulai menjulurkan kepalanya masuk kedalam gua.
Pada waktu itu juga Liem Tou baru dapat melihat binatang aneh berkepala dua itu
mempunyai bentuk tubuh yang sangat besar dan bulat, seluruh tubuhnya penuh bersisik
merah darah, pada perutnya terlihat empat buah kakinya hanya sayang sangat pendek sekali
sehingga kelihatan sangat tidak sesuai dengan tubuhnya yang sangat besar.
Dengan perlahan binatang aneh itu mulai merangkak masuk kedalam gua, terpaksa Liem Tou
setindak demi setindak mundur kebelakang.
Tetapi justru semakin dia mundur kedalam gua yang sangat gelap itu binatang aneh itu tetap
tak henti2nya merangkak maju mendekati dirinya.
Entah telah lewat berapa saat lamanya Liem Tou barulah merasakan kalau dia semakin
terjerumus lebih dalam lagi kedalam gua yang sangat sempit lagi apek itu, pandangannya
makin lama makin gelap. Kiranya dia telah berada di tengah2 dari gua tersebut.
Mandadak hatinya menjadi tergerak teriaknya "Celaka. . ."
Selamanya dia belum pernah memasuki jauh kedalam gua itu, sudah tentu tak tahu pula gua
tersebut menembus kearah mana, jika bergerak mundur terus kebelakang bukankah dengan
begitu secara tidak langsung dirinya masuk kedalam parangkap binatang aneh berkepala dua
tersebut ????
Berpikir sampai disitu dia menyedot napas dalam2, perutnya dengan perlahan mulai
berkembang menjadi sangat besar, dengan sekuat tenaga disemburkannya kearah binatang
aneh itu.
Sepasang kepala dari binatang aneh itu segera berpisah kesamping dan mangeluarkan jeritan
aneh, tapi ternyata tak mengalami cedera apapun bahkan kakinya yang berada di depan
menjangkau meloncat beberapa depa tingginya manubruk kearah Liem Tou.
Liem Tou yang ditubruk demikian hebataya segera menjerit kaget tanpa pikir panjang lagi
tergesa2 dia mundur tapi binatarng itu sedikitpun tak mau melepaskannya, sedikitpun tak
mau melepaskan sekalipun perutnya agak besar hingga gerakannva agak terintang tapi
langkahnya sangat cepat sekali diluar dugaan Liem Tou.
Sampai waktu itu Liem Tou juga tak dapat berbuat lagi sekalian semakin dia berjalan jauh
kedalam gua keadaan semakin gelap, ter-paksa dengan sepenuh tenaga lari kearah dalam,
bahkan beberapa kali dia jatuh terguling2 hingga menumbuk dinding gua, tapi dia tak mau
ambil perduli, hanya terdengar suara aneh yang makin lama makin mendekat membuat
keringat dingin mengucur keluar semakin deras membasahi seluruh tubuhnya.
Setelah lari lagi beberapa saat lamanya keadaan gua itu makin lama makin menjarok ke
bawah, bahkan dari tanah pasir telah barubah menjadi tanah lumpur yang tebal membuat
langkahnya makin lama makin bertambah perlahan.
Ketika dia menoleh kebelakang lagi terlihatlah keempat buah mata yang barwarna hijau
mengkilat memancarkan sinar yang tajam memandang kearahnya sedang tubuhnya tetap
barada tidak jauh dari tubuhnya. Tak terasa pikirnya.
"Kali ini habis sudah, entah tempat didepan itu menembus kemana, kini binatang aneh itu
pun terus mengejar."
Tapi sejenak kemudian pikirnya lagi.
"Tak perduli gua ini menembus kearah mana bagaimanapun juga aku tak bisa tunggu disini
saat kematian."
Berpikir sampai disitu segera dia mcnyedot hawa dalam2 sekali lagi menerjang kedepan,
makin lama tanah didalam gua itu terasa mulai ada airnya, bahkan makin lama makin dalam,
didalam sekejap saja air itu telah mencapai lututnya, setelah berjalan beberapa langkah lagi
air itu telah mencapai dipinggangnya, pada saat itu dia menjadi sadar, kiranya gua tersebut
menghubungkan diri dengan sungai yang mengalir dipuncak Ha Mo Leng, dia yang mengerti
akan ilmu dalam air tak terasa menjadi sanagat girang dengan cepat dia merendamkan
seluruh tubuhnya kedalam air dan menyelam lebih dalam lagi.
Setelah merasa kalau binatang aneh itu tak mengejar dirinya lagi barulah dia muncul kembali
keatas permukaan, tapi dia tak berani balik ketempat semula, dengan cepat mangikuti
mengalirnya arus sungai itu barenang kearah depan.
Tak lama kemudian tiba2 arus yang sangat santar menerjang, kaki kirinya maju kedepan,
didalam keadaan yang sangat terkejut segera dia munculkan dirinya untuk melihat. Kiranya
dia telah berada didepan gua tarsebut dan sama sekali tak diduga olehnya kalau gua itu
ternyata menghubungkan puncak gunuag dengan kaki gunung Ha Mo Leng.
Hatinya menjadi demikian girangnya, pikirnya kemudian.
"Bila aku ingin naik gunung lagi bukankah akan sangat gampang sekali ?"
Tapi tiba-tiba dalam otaknya berkelebat bayangan dari binatang aneh berkepala dua
tersebut, hatinya segera menjadi beku separuh, bila binatang aneh itu masih tetap hidup
didalam gua tersebut maka seluruh keinginannya akan buyar menjadi bayangan saja.
Sekonyong2 teringat pula olehnya.
'Nanti malam Siauw Ie akan menghantarkan makan malam bagiku, bila dia sampai bertemu
dengan binatang aneh berkepala dua itu bukankah akan runyam ??"
Tapi teringat pula kalau Lie Siauw Ie memiliki kepandaian silat yang sangat tinggi, apalagi
dalam tubuhnya menggembol senjata rahasia Kin cu gin ciam, tak terasa hatinya menjadi
lega kembali.
Ketika dia munculkan dirinya pada permukaan sungai hari telah jauh siang, matahari tepat
berada diatas kepalanya memancarkan sinarnya dengan sangat terang, angin sepoi-sepoi
bertiup menyejukkan tubuh mcmbuat setiap orang merasakan sangat nyaman sekali.
Setelah mengingat benar-benar letak dari gua rahasia itu dengan cepat dia berenang ketepi
sungai, pikirnya lagi.
"Ketika ini bisa meninggalkan Siauw Ie untuk sementara waktu juga jauh lebih baik, diatas
gunung akupun tak bisa tinggal terlalu lama akhirnyapun aku harus meninggalkan tempat itu
jua.”
Berpikir sampai disitu tiada pikiran lagi yang berada dalam otaknya, terlihat gunung yang
berwarna biru serta sawah yang berwarna hijau membentang dengan indahnya, air sungai
mengalir dengan tenangnya disamping burung yang berkicau mengisi suasana yang kosong
tapi ditempat yang kosong demikian luasnya haruskah dia pergi ketempat mana ??
Dengan menundukkan kepalanya dengan perlahan dia mulai berjalan kedepan terasa
tubuhnya yang basah kuyup tak enak dibadannya. Apalagi perutnya pun terasa mulai lapar
dengan pikiran yang bingung sekali lagi dia menerjun sekali lagi dia menerjunkan dirinya
kedalam sungai untuk menangkap beberapa ekor ikan sebagai menangsal perutnya,
kemudian dengan tergesa-gesa kembali kerumah majikan dimana selama kurang lebih
beberapa tahun dia bekerja sebagai pengangon sapi.
Malam harinya dia tak bisa memejamkan matanya, otaknya penuh diliputi oleh soal-soal
yang terasa amat rumit baginya terpikir olehnya alangkah baiknya kalau dia bisa terus
menerus tinggal bersama sama dengan Siauw Ie, tapi pikirannya menjadi sadar lagi satusatunya
jalan mencapai cita-cita itu hanyalah harus belajar ilmu silat hingga mencapai
kesempurnaan.
Keesokan harinya pagi-pagi sekali Liem Tou telah pamitan dengan majikannya untuk
meninggalkan rumah itu sekalipun sang majikan berkali-kali mencoba untuk menahannya
tapi tetap ditolak olehnya dengan bulatkan semangat Liem Tou meninggalkan rumah itu
pergi mencari suhu untuk belajar silat.
Dua hari semenjak dia meninggalkan rumah majikannya, Liem Tou masih tetap berjalan
tanpa arah, dia tak tahu harus menuju kemana baiknya, dalam perjalanan yang tak menentu
itu pada malam hari dia tidur di k elenting, sedang makan pun hanya ikan-ikan yang
ditangkap sendiri olehnya, dalam hatinya dia hanya terpikirkan satu tujuan, cepat-cepat
berhasil melatih ilmu silatnya dan balik keatas gunung menemui Cici Siauw Ie-nya.
Hari itu setelah manempuh perjalanan selama setengah harian dia mulai merasakan
tubuhnya sangat penat, didalam sebuah rimba yang lebat dan rindang dia manyatukan diri
duduk bersandar pada sebuah pohon untuk beristirahat, tak terasa lagi saking letihnya dia
jatuh tertidur dengan nyenyaknya.
Ketika mendusin kembali matahari telah jauh condong kearah barat, haripun hampir gelap,
Liem Tou yang melihat keadaan cuaca itu segera bangkit siap meninggalkan tempat itu
mendadak dari dalam rimba berkumandang keluar suara tertawa yang sagat keras sambil
berkata.
"Hee. Pembesar Buta, rasakanlah langkah bentengku menghancurkan pertahananmu, Bagus,
Bagus sekali hanya sayang kau masih belum punya kepandaian untuk menahan aku si orang
siucay, hati-hatilah."
Mandadak sebuah suara yang tajam melengking memotong ucapannya.
"Hati-hati dengan kudaku mengepung rajamu siucay rudin yang tak tahu malu, jangan
sombong dulu, lihatlah kelihayanku ini "
"Pembesar sombong, hati2 dengan bentengku menghancurkan kubu pertahananmu he.. he
jangan keburu girang kau" Sahut suara yang pertama sambil tertawa terbahak- bahak.
"Haim, . , tak usah banyak omong rasakan kelihayanku."
"He... he. . . kau tak mau menghindar malah menggunakan siasat keras lawan keras. Hm...
hm. . kau kira aku siucay buntung takut padamu?”
Liem Tou ketika mendengar suara teriakan itu seperti orang yang sedang main catur rasa
ingin tahunya meliputi seluruh otaknya, oleh karena sejak keciI dia sering bermain catur
dengan ayahnya Liem Han San kini mendenger ada orang sedang bermain catur tak terasa
dengan mengikuti jalan kecil disamping rimba itu berjalan makin masuk kedalam rimba
tersebut.
Semakin dia berjalan kedalam suara bentakan dua orang yang sedang main catur semakin
terdengar makin keras bahkan keadaannya kelihatanya seimbang dan telah mencapai
puncak ketegangan.
Liem Tou yang mcndengar suara itu begitu jelasnya tak merasa hatinya makin tertarik, segera
langkah kakinya dipercepat dengan setengah berlari dia berjalan masuk kedalam rimba
dimana suara tersebut berasal.
Tak lama kemudian dimana suara berkumandangnya orang sedang main catur secara samar2
terdengar pula suara angin yang menyambar dengan kerasnya, sebuah batu cadas sebesar
gentong air dengan kecepatan yang luar biasa melayang melalui atas kepalanya, malihat hal
itu dengan tergesa2 Liem Tou menghindarkan diri sedang dalam hatinya terasa semakin
heran.
Pada saat itu pula dia lebih hati-hati dan waspada, sekalipun langkah kakinya tetap berjalan
menuju kedepan tapi matanya tetap memandang tajam sekitar tempat itu, takut ada batu
besar lagi menyambar kearahnya.
Semakin lama dia berjalan makin dekat pula dengan tempat berasalnya suara itu, kalau tak
melihat kedua orang yang sedang bermatn catur tersebut tak terasa saking terkejutnya
keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, dia semakin tak berani munculkan dirinya,
dengan cepat menyembunyikan diri dibelakang sebuah pohon besar memandang kearah
kedua orang itu.
Kiranya ditengah rimba yang lebat itu terlihatlah sebuah tanah lapang yang luas dan kosong
dimana terdapat dua orang yang semula Liem Tou menduga sedang bermain catur itu
tetapi mereka bukannya sedang bermain catur, sebaliknya sedang bertempur dengan seru
dan dahsyatnya, pasir beterbangan keempat penjuru, bayangan tangan berkelebat
menyilaukan mata serta angin pukulan yang menyesakkan dada.
Yang aneh adalah dikedua orang itu yang satu memakai jubah kebesaran berwarna merah
tua yang telah kumal, kepalanya memakai kopiah kebesaran pula hal ini memperlihatkan
kalau dia merupakan seorang pembesar kerajaan hanya sayang kedua matanya telah buta,
pada tanganya mencekal sebuah tongkat besi yang berkepalakan naga dengan ganasnya
menusuk dan menyambar pihak lawannya, sedang yang seorang lagi adalah seorang tua
yang mengenakan pakaian model seorang Siucay, pada janggutnya terurai janggut yang
panjang berwarna hitam pekat sepanjang dada, wajahnya masih terlihat sisa-sisa
ketampanannya semasa muda sedang tangannya mencekal sebuah kipas berwarna putih
cuma yang heran orang ini hanya mempunyai kaki tunggal, demikian juga dengan tangannya
yang tinggaI sebelah. Usia kedua orang aneh itu kelihatan lebih dari lima puluh tahunan.
Liem Tou yang melibat kejadian itu segera merasa heran bercampur curiga, diam2 pikirnya:
Orang buntung berkelahi dengan orang buta, sungguh merupakan peristiwa yang jarang
terdengar didunia ini, bahkan setiap kaii mereka melancarkan serangannya pada mulutnya
tentu mengucapkan langkah2 dari jalanan catur, sedang apa-apaan mereka itu sebenarnya.
Rasa curiganya semakin tebal meliputi dirinya, ketika dia memandang lagi kearah langkah
kaki mereka tak terasa perasaan herannya makin menjadi-jadi, kiranya tempat dimana kedua
orang itu bergebrak dengan sangat jelas tergoreskan kotak-kotak catur, sedang kedua orang
itu meloncat loncat dan saling serang menyerang diantara kotak kotak catur tersebut.
Pada saat itu Siucay buntung itu sedang berdiri di perbatasan kotak-kotak caturnya, tiba-tiba
kakinya yang tinggal sebelah itu mentul keatas tanah dan meloncat tinggi beberapa depa
sambil bentaknya dengan keras.
“Hey pembesar buta, hati hati bentengku maju enam langkah”
Liem Tou yang melihat mereka bergebrak sesuai dengan jalannya biji catur segera menduga
kalau Siucay buntung itu telah meloncat ketengah udara tentu akan menubruk dengan
ganasnya kearah pembesar buta tersebut, siapa tahu mendadak tubuhnya dimiringkan
kesamping kemudian dengan ringannya melayang turun keatas tanah, sedikitpun tidak
menmbulkan suara.
Siapa duga telinga dari pembesar buta itu sangat tajam dan jauh lebih tajam dari semua
orang, dengan amat gusar bentaknya dengan nada yang melengking:
“Budak yang tak tahu diri, kau sedang menggunakan siasat apa?"
Sehabis berkata tongkatnya diangkat siap menyerang kearah pihak musuhnya, pada saat
itulah Siucay buntung itu secara mendadak meloncat maju Iagi beberapa tindak bentaknya
dengan keras:
“Kudaku maju tiga langkah, suara ditimur memukul Barat, aku sedang melancarkan siasat
macam apa coba kau katakan"
Kipas putih ditangannya dilipat menotok kearah jalan darah didepan dada Pembesar buta
tersebut, gerakannya sangat cepat bagaikan sambaran, kilat.
Liem Tou hanya melihat berkelebatnya sebuah bayangan manusia segera terdengar
pembesar buta itu telah membentak dengan keras.
"Sungguh bagus seranganmu. Menteri maju lima langkah benteng mundur empat langkah
pembawa bunga menyembah Budha”
Tangan kiri Pembesar buta itu dengan cepat diangkat menutup serangan kipas dari Siucay
buntung tersebut, sedang tongkat besi ditangan kanannya mendadak digetarkan dengan
menggunakan ujung tongkat bergambarkan naga2an dia menotok punggung Siucay buntung.
Siucay buntung itu segera memutarkan tubuhnya, kakinya yang tinggal sebelah dengan tidak
menimbulkan suara sedikitpun menutul permukaan tanah kemudian meloncat beberapa
depa dibelakang sambil tertawa keras ujarnya.
"Benteng maju sembilan langkah dengan berkecepatan luar biasa mundur kebelakang. Hei
pembesar buta kita tidak bertemu hanya beberapa tahun saja kepandaian bermain caturmu
ternyata telah maju satu tingkat.”
“Apa kau kira sejak mataku kau butakan, sejak itu pula aku benar2 menjadi cacat!,"Sahut
pembesar buta itu sambil tertawa terkekeh2.
Sebabis berkata wajahnya mendadak berubah menjadi pucat pasi, tongkat berkepala
naganya pun dengan secara mendadak melancarkan serangan dahyat ketengah udara sambil
bentaknya dengan keras.
“Aku beritahu padamu hei si buntung bangkotan, pada suatu hari tentu aku akan membalas
dendam atas butanya sepasang mataku ini, kau tunggu saja peristiwa ini baru terbukti kau
mengundurkan diri, sudah tentu telah kalah satu tingkat dari aku. Kitab rahasia To Kong Pit
Liok sudah tentu menjadi milikku."
Mendengar perkataan itu si Siucay buntung itu segera mengebutkan lengannya yang tinggal
sebelah. sambil tertawa keras ujarnya.
"He .. he Pembesar buta, matamu buta kau mau balas dendam, lalu aku harus balas
dendam pada siapa atas hilangnya sebuah langan serta kakiku ini? Pada waktu yang lalu bila
kau menginginkan pangkat dan kedudukan terhormat kita sebenarnya merupakan sepasang
kawan karib yang disegani oleh setiap orang, kini coba jadi apa kita sekarang?. Kitab rahasia
To Kong Pit Liok dengan cara demikian saja diserahkan kepadamu, he.. he, . kau jangan
mimpi di siang hari”
Liem Tou yang bersembunyi dibalik pohon setelah mendengar ucapan dari kedua orang itu
barulah menjadi sadar. Kiranya kedua orang itu sebenarnya merupakan sepasang kawan
karib, kamudian karena pembesar buta itu gila pangkat dan menjadi Pembesar Kerajaan
mereka berbalik menjadi saling bermusuhan dan saling serang menyerang dengan mengadu
jiwa yang akhirnya menjadi musuh bebuyutan. Bahkan pertempuran ini hari agaknya sedang
memperebutkan sebuah kitab rahasia yang bernarna “To kong Pit Liok"
Tetapi kepandaian kedua orang itu sama-2 mengejutkan sekali bahkan Liem Tou mengira
kalau kepandaian mereka jauh lebih liehay beberapa kali lipat dari Ang in sin pian si cung cu
dari perkampungan le Hee Cung itu.
Ketika Liem Tou sedang melamun itulah mendadak dari tempat kejauhan berkumandang
datang suara siulan yang amat panjang dan nyaring sehingga menembus awan. Liem Tou
yang mendengar suara siulan itu menjadi sangat heran sekali, pada saat itu Pembesar buta
telah angkat bicara, ujarnya.
“Hm..bagaimana sisetan ramal Thiat Sie Poa bisa datang juga kesini? Urusannya bisa berabe
nih".
“Heei Pembesar buta kau takut? tanya si siucay buntung dengan nada yang mengejek.
“Apa yang harus kutakutkan? Balas si pembesar buta dengan seramnya.
Pada waktu itu juga Liem Tou dapat melihat dengan sangat jelas sekali kedua alis dari
pembesar itu dikerutkan dalam2 sedang tongkat berkepala naga ditangannya dengan secara
telak menyambar dengan datar kedepan dengan gerakan yang meneter melancarkan
serangan dashsyat mendesak si siucay buntung tersebut. Tongkatnya dengan tak henti2nya
mengancam tenggorokan, dada serta perut.
Melihat kejadian itu Liem Tou menjadi sangat terkejut.
Sungguh kejam dan licik si mata picik itu.
Menanti si siucay buntung itu merasakan adanya serangan membokong yang mengancam
tubuhnya tongkat berkepala naga dari sipembesar itu telah mencapai tenggorokannya tidak
lebih beberapa coen untuk menghindarkan diri tak sempat lagi terpaksa mau tak mau
didalam keadaan yang sangat kritis itu dengan keras dia membentak sedang kipas yang
berada ditangannya dengan kerasnya, mengancam ulu hati sipembesar buta tersebut, pikirya
dengan demikian mungkin dirinya juga bisa membalas kekalahan tersebut.
Pada saat yang sangat kritis itulah mendadak terasa sesuatu gulungan angin pukulan yang
sangat dahsyat menyambar datang dari tengah udara kemudian disusul dengan
berkelebatnya suatu bayangan manusia, seorang yang mempunyai bentuk tubuh pendak
gemuk telah muncul ditengah kalangan, ujarnya.
“He --- he siucay buntung, Pembesar picik makin bertempur makin jadinya tidak karuan apa
mungkin kalian tidak mau berhenti juga.”
Tongkat serta kipas dari kedua orang itu begitu ditekan oleh angin pukulan dari orang
pendek gemuk itu segera mencapai pada sasaran yang kosong.
“Hei Thiat Sie poa kau pergi urus untung rugimu sendiri saja, jangan mencampuri urusan
orang lain apalagi dari tubuh kami berdua kaupun tidak mungkin akan berhasil mendapatkan
keuntungan apapun juga.”
Sebaliknya siucay buntung begitu melihat munculnya si gemuk pendek itu segera tertawa
keras ujarnya.
“Thiat Sie heng kedatanganmu sungguh sangat tepat, kalau tidak sejak tadi Siauw te telah
binasa dibawah serangan bokongan dari pembesar picik yang rakus itu, kedatangan dari
Thiat Sie heng kali ini apa juga karena mempunyai perhatian tarhadap kitab rahasia To Kong
pit Liok tersebut?”
Liem Tou melihat bentuk dari si gemuk pendek itu bukan saja cara berpakaiannya sangat
mirip sekali dengan seorang pedagang besar bahkan pada tangannya mencekal sebuah Sie
poa tak terasa menjadi sangat tertarik, dengan perlahan-lahan dia mulai merangkak maju
beberapa tindak kedepan, sekalipun saat itu cuaca dengan perlahan-lahan mulai menjadi
gelap tetapi dia tidak mau ambil perduli, dengan berdiam diri dia meneruskan
pengintaiannya.
Thiat Sie poa itu setelah mendengar perkataan dari si siucay buntung segera tertawa
tergelak, sahutnya,
“Bukan saja aku si Thiat Sie sianseng yang menginginkan kitab rahasia To Kong Pit Liok" itu,
aku lihat Tionggoan Ngo Koay kini sudah pada datang semuanya, selain kalian berdua Siucay
buntung, Pembesar buta serta aku sendiri masih ada si mayat hidup serta Pengemis
pemabok yang masing-masing dengan membawa anak buahnya telah datang semua, bahkan
hampir-hampir terjadi pertempuran."
Begitu Si Pembesar buta mendengar perkataan dari Thiat Sie poa, mukanya segera be¬rubah
hebat, dengan sombong tanyanya.
"Hee - he - si pengemis pemabok itu juga ikut datang??" ejek siucay buntung tersebut.
“Kalau tahu begitu adanya aku gemas kenapa sejak dulu tidak bereskan saja anjing Tar-tar
itu.”
Si Pembesar buta itu menjadi sangat gusar sambil membentak keras tongkatnya diayunkan
menyerang kearah siucay buntung tersebut, tetapi keburu ditangkis oleh Thiat Sie poa,
sambil tertawa ujarnya.
"Eh - e - - Pembesar buta kau memangnya masih memiliki kegagahan pada waktu yang lalu,
kini kenapa harus main kasar??"
Ketika si pembesar buta mendengar perkataan itu segera dia sadar kalau Si Thiat Sie poa itu
berdiri dipihak si siucay buntung, kegusarannya tak dapat ditahan lagi hanya pada saat ini tak
dapat berbuat apa-apa, saking gemasnya tongkat berkepalakan naga itu diketukkan dengan
kerasnya keatas tanah kemudian dengan cepat melayang pergi menerobos kedalam rimba
yang mulai menggelap itu.
Begitu si pembesar buta pergi, si siucay buntung bersama dengan Thiat Sie poa segera
bertepuk tangan sambil tertawa keras sejenak kemudian barulah tanya si siucay bunting itu.
"Thiat Sie-heng, perhitungan Sie-poa mu ini selamanya sangat cocok, kini kita hanya tahu
kalau buku pusaka "To Kong Pit Liok" itu berada ditangan Siok To Siang mo atau sepasang
iblis dari daerah Siok To yang kini bersembunyi didalam daerah Cong-teng ini, sedangkan
manusianya bersembuuyi dimana kita sama se-kali tidak mengetahuinya, apalagi golongan
Pek to maupun golongan Hek to didalam dunia kangouw berduyun duyun telah datang
mambanjiri daerah ini, sebenarnya kitab pusaka itu akhirnya akan jatuh ketangan siapa, apa
kau pernah melihatnya dengan perhitungan sie-poa mu itu?"
"Jika aku ceritakan memang sangat mengherankan sekali". Sahut Thiat Sie poa sambil
tertawa pahit. "Biasanya perhitungan Sie poaku ini sangat manjur, tetapi entah bagaimaaa
sekali ini biarpun sudah kuhitung pulang pergi selama tiga hari tiga malam, hasilnya
membuat aku benar benar sangsi. Aku hanya dapat melihat buku pusaka itu kini sedang
terkurung dalam suatu tempat yang tertutup dan akhirnya orang yang akan berhasil
mendapatkan kitab pusaka itu tak lebih hanya seetor kerbau adanya. bukankah ini
merupakan suatu peristiwa yang sangat aneh."
Liem Tou yang mencuri dengar dibalik pohon, begitu mendengar perkataan itu tak terasa
tertawa keras, Si siucay buntung serta Thiat Sie poa begitu mendengar suara tertawa
tersebut, dengan cepat memutar tubuhnya, terlihatlah seorang anak lelaki barusia enam
belas tahunan dengan memakai baju yang compang camping bersembunyi dibalik pohon,
segera bentaknya dengan berbareng.
"Kau siapa? Kenapa mencuri dengar pembicaaraan orang lain?"
Liem Tou yang secara tidak sengaja mengeluarkan suara tertawanya sehingga diketahui oleh
kedua orang itu segera dia sadar kalau kedua orang itu memiliki kepandaian yang sangat
tinggi dan tak boleh diusik seenaknya, terpaksa dengan sejujurya dia menceritakan
pengalamannya dimana dia terpancing datang oleh suara permainan catur sehingga dirinya
tiba ditempat itu.
Si siucay buntung itu begitu selesai mendengar kisahnya segera tersenyum, ujarnya kepada
Thiat Sie-poa.
"Hitung hitung dia punya rejeki yang besar, mari kita pergi saja.”
Thiat Sie poa mengangguk, baru saja hendak berangkat mendadak seperti teringat akan
sesuatu segera dia manoleh lagi memandang sekejap kearah Liem Tou, tanyanya.
"Siapakah namamu, kau tinggal dimana?"
Liem Tou yang melihat tubuh Thiat Sie poa yang gemuk pendek itu apalagi seluruh tubuhnya
berlapiskan minyak merasa tidak begitu simpatik, tetapi jawabnya juga.
"Aku bernama Liem Tou, tidak punya rumah"
Si siucay buntung itu melihat Thiat Sie poa mengajukan partanyaan tersebut tidak terasa
memandang juga kearah Liem Tou dengan teliti, kemudian sambil tersenyum ujarnya.
“Thiat Sie heng, orang ini sangat bagus dan berbakat alam, apa mungkin Thiat Sie heng
punya minat terhadap dirinya?”.
Thiat Sie poa tidak memberikan jawaban, mendadak dia mengambil keluar Sie poanya dan
dihitungnya pulang pergi selama beberapa saat lamanya, tampak kelimaa jari tangannya
dengan tak henti2nya bergoyang diatas Sie poa tersebut, setelah menghitung sekali diulangi
sekali lagi kemudian berulah dengan perlahan dia angkat kepalanya melirik sekejap kearah
Liem Tou, tangannya memungut sebuah ranting kayu lantas melukis satu bulatan berangkai
sebanyak tiga puluh enam buah diatas tanah.
Setelah itu dia menoleh pada Si siucay buntung, sambil menghela napas panjang dia
menggelengkan kepalanya, sahutnya:
"Aku tidak punya rejeki begitu besarnya, mari berangkat."
Sesaat sebelum meninggalkan tempat itu entah secara sengaja atau tidak mendadak Thiat
Sie poa itu menoleh dengan memandang ke arah Liem Tou s ambil teriaknya dengan keras:
“Bocah ingatlah, pikiran harus lurus jangan sembarangan pergi ketempat yang tak berguna,
karena akan mencelakai dirimu sendiri."
Sehabis berkata jubahnya yang lebar itu dikebutkan, bersama2 dengan Si siucay buntung
meloncat kcatas pohon dan melayang pergi, tidak selang lama telah lenyap dari pandangan.
Sesudah kepergian dari si Siucay bunturg serta Tniat Sie poa itu Liem Tou menjadi tertegun
untuk sesaat lamanya, ketka teringat kembali akan siucay buntung serta Thiat Sie poa
mendadak dia tepok batok kepalanya sendiri teriaknya.
"Ooh sungguh sayang, kenapa tidak terpikirkan waktu tadi'? Bukankah aku sedang mencari
guru pandai untuk belajar ilmu? sebenarnya tadi merupakan kesempatan yang sangat bagus
bagi diriku, ternyata kubuang dengan percuma, hai - - sungguh konyol aku ini. Untuk pergi
mengejar sudah tentu tidak mungkin bisa terjadi, tiba2 teringat oleh gambaran lingkaran
yang dilukis Thiat Sie poa diatas tanah, sebenarnya gambar apakah? Achirnya dengan
perlahan dia mulai mendekati itu dan memandangnya lebih teliti, mendadak terasa olehnya
gambaran itu pernah dilihatnya bahkan mirip sekali dengan apa yang pernah dia dengar,
cepat dia berpikir lebih teliti lagi dan teringatlah olehnya kitab pusaka peninggalan ayahnya
memang terdapat gambaran seperti itu didalamnya.
Untung saja saat itu cuaca belum sampai gelap seluruhnya, dengan cepat dia mengambil
keluar kitabnya dicocokkan dengan tulisan itu ternyata sangat persis tak ada bedanya, hanya
dia tak tahu apa gunanya gambaran itu bahkan dia anggap tentu hal itu merupakan
perhitungan aneh yang sangat mendalam dari Thiat Sie poa, tetapi jika menurut kitab pusaka
peninggalan ayah, gambaran itu termasuk didalam hal ilmu langkah kaki.
Mendadak hatinya menjadi bergerak pikirnya:
"Thiat Sie Poa itu membuatkan gambaran lingkaran ini diatas tanah tentu punya maksud
bahkan didalam kitap pusaka ini tertuliskan ilmu langkah kaki, kenapa aku tidak
mencobanya??.”
Perasaan ingin tahu dari Liem Tou segera meliputi seluruh pikirannya, dengan mengikuti
lingkaran yang terdapat diatas tanah itu dia mulai berjalan berputar putar, siapa tahu baru
saja berjalan dua tindak kakinya tergelincir dan jatuh terjengkang keatas tanah. Melihat
kejadian itu diam-diam Liem Tou memaki ketololan dirinya sendiri, dengan cepat dia
merangkak bangun lagi, sedang mulutnya bergumam.
“Bagaimana jadinya ini, jalan datar saja terjungkir seperti ini?”
Sekali lagi dia mulai berjalan mengikuti lukisan itu, siapa tahu seperti pertama kali tadi dia
jatuh terjungkir kembali keatas tanah, sedang kali ini jatuhnya lebih keras lagi.
Kali ini dia mulai sadar kalau didalam lukisan itu tentu memiliki keajaiban lainnya, Kiranva
jangan dipandang lukisan lingkaran yang tidak rata diatas tanah itu sekalipan sangat kacau
tetapi memiliki kesaktian serta ke lihayan yang tidak terkira dalamnya, jangan di kata Liem
Tou seorang bocah cilik yang tak tahu apa apa sekalipun orang lain yang memiliki ilmu
silatpun juga tidak akan ada yang bisa mempertahankan tubuhnya hingga tidak sampai
terjatuh.
Liem Tou yang berturut turut jatuh dua kali. segera merangkak bangun kembali, sambil
menggigit kencang bibirnya ujarnya.
“Aku tidak akan pecaya kalau demikian gaibnya, sekalipun malam ini tidak tidur aku juga
harus bisa berjalan sampai bisa,"
Keputusan itu begitu diambil didalam hatinya dengan segera dia mengulangi lagi berjalan
diantara lingkaran lingkaran itu, tidak lama kemudian akhirnya ditemuinya juga sedikit titik
terang dan berhasil menerobos satu langkah, hatinya menjadi sangat girang sekali,
demikianlah selama semalam suntuk dia terus menerus belajar berjalan diantara lingkaran
itu hingga sampai hapal.
Saat itu seluruh tubuhnya terasa amat lelah sekali, keringat mengucur keluar membasahi
seluruh tubuhnya, saking lelahnya tidak terasa lagi dia jatuh tertidur dengan pulasnya
dibawah sebuah pohon yang besar.
Menanti dia mendusin dari tidurnya, hari telah jauh siang, matahari memancar sinarnya
dengan sangat terang Mendadak terlihat olehnya tidak jauh dari dirinya berbaring, berdiri
seekor kerbau yang sangat tenangnya memakan rumput.
Sejak Liem Tou diusir dari puncak Ha Mo Leng selama beberapa tahun lamanya dia hidup
sebagai pengangon sapi, begitu melihat sapi ia menjadi sangat girang sekali. Dengan
perlahan dia berjalan mendekati sambil menepuk nepuk tubuh kerbau itu, ujarnya.
"Kakak kerbau; bagaimana kau bisa seorang diri ditempat ini? Apa kau telah tersesat? Mari
aku temani kau bermain”
Kerbau itu agaknya mengerti akan perkataannya dengan suara perlahan mengeluarkan
desiran. Liem Tou yang sejak kecil dianiaya terus oleh orang, begitu ada orang yang sedikit
baik sraja terhadap dirinya maka dia seperti akan merasakannya, kini tak terasa menjadi
sangat girang, dengan cepat ditepuk-tepuknya pundak kerbau itu.
Sekonyong konyong dari belakang tubuhnya muncul seorang lelaki kasar yang sangat
gusarnya membentak.
"He, kau cecunguk kecil cepat pergi!, he he kau mau mencuri kerbauku?"
Siapa yang mau mencuri kerbaumu?, balas maki Liem Tou dengan gusarnya. "Kau jangan
sembarangan memfitnah. Kau barulah mirip sebagai seorang pencuri kerbau"
Lelaki kasar itu menjadi sangat gusar sekali, bentaknya.
"Bocah edan, kau berani menaaki Jieya mu? Aku harus memberi pelajaran padamu biar kau
tau rasa kellhayan dari Jieya mu ini"
Sehabis berkata tubuhnya maju satu langkah kedepan; dengan cepat Liem Tou
mengundurkan dirinya kebelakang, tetapi gerakan dari lelaki kasar itu jauh lebih cepat dari
dirinya, tamparannya dengan cepat mengenai pipi sebelah kirinya.
Liem Tou menjadi sangat gusar sekali bentaknya.
“Bagus, Kau berani pukul aku"
Pada saat kegusarannya sedang memuncak itulah mendadak dari luar rimba terdengar suara
hiruk pikuk yang sangat ramai sekali, terdengar ada salah satu orang yang berteriak dengan
kerasnya.
“Cepat semua datang kemari, orang yang mencuri kerbau berada disini. Cepat tangkap,
jangan sampai pencuri kerbau itu melarikan diri"
Lelaki kasar itu begitu mendengar ada banyak orang mengejar datang, sambil mendepakkan
kakinya keatas tanah makinya.
"Sialan. Hu.."
Dengan cepat ia memutar tubuhnya dan melarikan diri kedalam rimba tersebut.
Kini tinggal Liem Tou seorang diri tertegun ditempat itu dia merasa bingung entah telah
terjadi urusan apa ditempat itu, pada saat itu juga orang-orang kampung telah meluruk
datang kedalam rimba itu, beberapa orang yang berada dipaling depan telah berhasil
mencekal diri Liem Tou dan ditekannya kebawah tanah, tangannya dengan tak hentihentinya
mengirim jotosan serta tendangan yang keras.
Diperlakukan seperti itu Liem Tou berteriak, serunya.
"Siapakah kalian semua? Kenapa tanpa bilang merah atau hijau sembarangan memukul
orang? Aduh, kalian pukullah aku sampai mati, Ooh .. aduh!"
Orang kampung yang datang itu makin lama makin banyak, dengan tepatnya mereka
mengurung diri Liem Tou sedang mulutnya tak henti- hentinya memaki, mencelah, sehingga
suasana menjadi sangat ramai sekali, bahkan diantaranya ada seorang wanita dusun yang
berteriak.
"Kau cecunguk kecil tidak terlihat usiamu yang begitu masih muda telah melakukan
perbuatan mencuri kerbau yang sangat memalukan ini, banyak waktu ini didusun kita telah
kehilangan beberapa ekor kerbau secara berturut turut, kau maling kecil sebenarnya telah
kau bawa kemana semua kerbau-kerbau itu?”
Seluruh tubuh Liem Tou yang dipukuli tak hentinya oleh orang orang kampung itu mulai
terasa amat sakit segera dia ber-teriak2 dengan keras.
“Kalian jangan pukul aku, aku tidak mencuri kerbau kalian, aku bukan pencuri yang mencuri
kerbau kalian"
Orang lelaki pertama yang menangkap dirinya segera membentak keras.
"Bukti hasil pancurianmu telah berada didepan mata kau masih berani mungkir he .. he .
rasakan kepalanku ini"
Liem Tou hanya merasakan kepalan orang itu dengan kerasnya menghajar pundaknya, saking
sakitnya hingga sukar ditahan.
"Aduh .." teriaknya sambil napasnya mengenggas-enggos, "Aku tidak mencuri, aku bukan
orang yang mencuri kerbau kalian “
Orang-orang kampung itu tidak memperdulikan mati hidup dari Liem Tou lagi, mereka semua
mengira kerbau itu kini berada bersama dengan Liem Tou sudah tentu orang yang mencuri
kerbau itu tidak ragu-ragu lagi adalah Liem Tou yang melakukannya, sehingga tanpa merasa
sedikit kesihanpun kepalan serta tendangan mereka semakin menghebat, membuat seluruh
tubuh Liem Tou luka-luka dan membengkak.
Semakin lama Liem Tou mulai merasa tidak dapat bertahan lebih lama lagi untuk
menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnyapun tidak ada gunanya terpaksa sambil
memejamkan matanya dia menahan terus kesakitan yang luar biasa itu, diam diam pikirnya.
"Terus pukullah, aku Liem Tou memang memiliki nasib buruk, sekalipun begitu aku juga tidak
dapat barbuat apa lagi, untung aku masih ada le cici yang sangat baik terhadap diriku.
Dia memejamkan matanya sedang pada mulutnya tersungging suatu senyuman yang manis,
mendadak dadanya terhajar satu pukulan tak tertahan Liem Tou mengerutkan alisnya
setelah mendengus berat dia jatuh tak sadarkan diri.
ooOoo
Entah telah lewat beberapa lamanya ketika dia sadar kembali terasalah olehnya orang orang
dusun itu teriaknya.
"Hi--- pencuri kerbau itu telah sadar kembali, biar dia jalan sendiri.”
Orang yang menyeret tubuh Liem Tou itu begitu mendengar teriakan tersebut segera
melepaskan tangannya. Tetapi Liem Tou setelah dihajar habis habisan oleh orang orang
dusun itu selain seluruh tubuhnya sangat linu dan sakit hingga sukar ditahan tubuhnyapun
menjadi sangat lemas tak bertenaga, kini begitu dilepaskan mana dia berhasil berdiri tegak,
kakinya tertekuk kedepan sedang tubuhnya sekali lagi rubuh keatas tanah.
Dua orang yang melihat Liem Tou benar-benar tidak kuat untuk berjalan sendiri segera
menarik, kembali makinya dengan gusar.
"Hai bocah bangsat ayoh jalan, kita harus menyerahkan dirima kepada pembesar negeri biar
kau dihajar hingga mati tidak dapat hidup-pun susah, Hmm..hmm bangsat cilik dengar
tidak!”
Liem Tou tetap tidak mengeluarkan sepatah katapun, entah setelah ditarik oleh orang itu
beberapa lama dan entah telah melakukan perjalanan beberapa jauhnya sampailah
rombongan orang dusun itu pada sebuah kota dusun yang tidak begitu besar.
Liem Tou tetap diseret jalan ditengah jalan raya itu, orang-orang dalam kota, tersebut
dengan terheran-heran menyaksikan kejadian tersebut sambil menggelengkan kepala
makinya.
“Ha --- bocah secilik ini sudah mencuri kerbau, sungguh memalukan harus dihajar biar tahu
rasa. . . “
Tidak selang lama seluruh penduduk diluar kota telah tahu kalau Liem Tou adalah seorang
pencuri kerbau, sambil menuding mereka mencaci maki, meludahi wajahnya bahkan ada
yang melempari batu2 kearah tubuhnya, sekalipun diperlakukan seperti itu Liem Tou juga
tidak dapat berbuat apa apa, terpaksa sambil manahan seluruh penderitaan itu dia
meneruskan jalannya dengan diseret.
Tidak seberapa lama kemudian sampailah mereka disebuah pengadilan, tetapi sekalipun
telah ditunggu seberapa lama juga tidak muncul2 pembesar pengadilan itu, bahkan ada
beberapa orang yang telah mulai ribut dan berteriak-teriak.
Seperminum teh kemudian munculah dua orang pengawal pengadilan dari dalam ruangan
itu, ujarnya terhadap mereka.
“Pembesar kota itu sedang mengadakan pemeriksaan diluar dan kini masih belum kembali,
pencuri ini biar ditinggal saja menunggu keputusan.”
Semua orang setelah mendengar perkataan itu segera bubaran, sedang kedua pengawal itu
bagaikan mencincing seekor anak ayam membawa Liem Tou kedalam Bui sambil bentaknya.
“Heei bangsat kecil, ayo jalan.”
Sesampainya kedalam penjara segera didorong kesebuah kamar yang sangat gelap sekali
keadaannya, bahkan untuk melihat sesuatu apa pun sangat sukar sekali, tak tertahan dia
menjadi sangat terkejut dan berturut-turut mundur kebelakang beberapa tindak.
Kiranya dihadapannya telah berdiri seorang sipir bui yang sangat tinggi besar, dan kuat sekali
saat itu orang sambil bertolak pinggang mendelik kearahnya, seluruh wajahnya ditumbuhi
dengan berewok yang sangat tebal sedang matanya besar bagaikan bola.
Liem Tou melihat orang itu tidak mengucapkan apapun, dengan membesarkan nyalinya
ujarnya dengan gemetar.
“Loo ya, aku tidak mencuri kerbau mereka, mereka telah salah menangkap orang.”
Sipir bui itu hanya mendelikkan sepasang matanya, didalam sekejap saja tangannya telah
bertambah dengan sebuan pecut yang dibuat dari kulit berwarna hitam, sedang mulutnya
mendenguspun tidak.
Sejak Liem Tou dilahirkan selamanya dia dibesarkan diatas perkampungan tetapi tidak
sampai pergi tertalu jauh sehingga pengalamannya didalam dunia kangouw boleh dikata
sangat cetek sekali, jangan dikata penderitaan didalam bui, hanya cukup sikap yang seram
dari sipir bui itu sudah cukup membuat hatinya sungguh merasa sangat terkejut bercampur
takut dengan paksaan diri.
“Loo ya…”
Tak disangka baru saja dia memanggil Looya dua buah kata, pecut kulit yang berada
ditangannya dengan mengeluarkan suara yang keras siap dihajarkan keatas tubuhnya,
didalam saat itulah mendadak dari samping orang ini muncullah seorang pengemis cilik yang
sangat dekil, Liem Tou belum sempat melihat jelas keadaan serta bentuknya segera dia
merasa tubuhnya telah ditumpuk kesamping sehingga tergeser beberapa langkah dari
tempat semula, makinya.
“Hee,..bocah cilik yang baru datang, bilamana kau mengetahui sedikit aturan panggilah
Toako padanya, dan serahkan seluruh uang perak yang ada didalam sakumu.”
Ketika Liem Tou mendengar perkataan itu segera dibuat menjadi melongo dan bingung atas
sikapnya itu, entah harus berbuat bagaimana baiknya, saat itulah orang itu dengan tanpa
sungkan sungkan lagi merogo kedalam sakunya Liem Tou dan mengambil seluruh uang yang
berada didalam sakunya, sambil tersenyum ujarnya pada sipir bui itu.
“Harap Toako jangan marah atas kelancangan dari aku si pengemis, silahkan Toako terima
sedikit uang ini.”
Sipir bui ini berkedippun tidak, setelah memandang sekejap kearah pengemis cilik itu segera
disambarnya uang ditangannya, kemudian memutar tubuhnya siap hendak memborgol
tangan dari Liem Tou.
( Bersambung ke jilid 3 )
JILID KE 3
LIEM TOU yang selamanya diperlakukan tidak adil membuat sifatnya penurut, kini baru saja sepasang tangannya diulur kedepan siap menerima borgolan tersebut, tiba tiba sipengemis kecil itu sambil tertawa ujarnya lagi pada Sipir Bui itu.
“Toako, coba kau lihat bangsat kecil itu seluruh tubuhnya telah luka parah, untuk berdiri saja sudah tidak sanggup buat apa harus diborgol tangannya apa dia takut melarikan diri?."
Liem Tou sama sekali tidak pernah menyangka kalau didalam penjara dapat bertemu dengan seorang yang selalu menolong dirinya tak terasa dia melirik kearah pengemis kecil itu, diam diam pikirnya.
“Aku Liem Tou selama hidupku ini orang yang terbaik denganku kecuali ayah serta le Cici selamanya tidak terdapat orang ketiga lagi, pengemis cilik ini ada sedikit aneh?”
Baru saja dia berpikir sejenak, tidak disangka si pengemis cilik itu telah menoleh kearahnya sambil membentak keras.
“Hei bocah cilik kau sedang memikirkan apa, cepat kesudut sebelah sana buka baju dan rawatlah luka lukamu itu.”
Liem Tou ketika melihat si pengemis cilik sangat keren dan berwibawa tetapi secara samar samar memperlihatkan sikapnya yang sangat ramah dan halus segera menerima teguran itu dengan berdiam diri dia merasa bahwa pengemis cilik itu sedang melindungi dirinya, tak terasa lagi seperti seorang dewasa yang memarahi anak kecil dengan tanpa banyak komentar dia berpindah kearah sudut ruangan itu.
Siapa tahu baru saja dia duduk diatas tanah mendadak terdengar suara rintihan yang sangat lemah berkumandang keluar dari samping tubuhnya, dengan cepat menoleh untuk memandang, air mukanya segera berubah hebat agaknya dia merasa sangat terkejut sekali, tampaklah seorang buronan tua yang rambutnya terurai panjang sepundak dengan air mukanya yang pucat pasi bagaikan mayat sedang berbaring disamping sudut tembok dan merintih tak henti hentinya.
Ketika Liem Tou memandang lagi kearah kakinya, terlihatlah kudis serta koreng yang penuh tumbuh diseluruh permukaan kulit, baunya bukan buatan sehingga sukar untuk bertahan lebih lama.
Beberapa saat kemudian Liem Tou melihat si pengemis kecil itu berbicara beberapa patah kata kearah sipir bui itu, terlihatlah sipir bui itu amat girang sekali sambil tertawa terbahak bahak, setelah itu berjalan kearah sebuah kursi dan tertidur dengan pulasnya.
ooOOoo
7
Dengan langkah yang perlahan sipengemis kecil itu berjalan kesamping tubuh Liem Tou tanyanya kemudian
"Hei--- bocah cilik yang baru datang siapa namamu? Kenapa dimasukkan kedalam penjara oleh orang?"
Dalam hati Liem Tou masih merasa sangat gemas dan mangkal mendengar pertanyaan itu dengan gemasnya menyahut.
“Mereka bilang aku mencuri kerbau mereka.,"
Tiba-tiba si pengemis kecil itu tertawa terbahak bahak, ujarnya.
"Ha ha ha . kalau begitu engkau melanggar hukum yang serupa dengan diriku, kau sudah merupakan kawan sejalan aku kira kita lebih baik bekerja sama terus kalau sudah keluar dari penjara ini,"
“Aku tidak mencuri," Teriak Liem Tou dengan keras, "Mereka yang secara seenaknya menuduh aku yang mencuri."
Si pengemis kecil itu masih tertawa terus tak henti-hentinya, mendadak dia bangktt berdiri, ujarnya,
"Perduli kau mencuri atau tidak pokoknya kini kau sudah ditangkap oleh mereka sekalipun tidak mencuri yah sudah mencuri, kau tunggu sebentar, aku akan pergi beli sedikit arak serta sayuran untuk menyambut kedatanganmu."
Liem Tou yang mendengar perkataannya ini merasa sangat bingung, didalam penjara seperti ini darimana datangnya sayur serta arak? baru saja akan buka mulut untuk bertanya si pengemis kecil itu sudah berlari kesamping tubuh Sipir bui itu, dengan perlahan dia mulai mendorong tubuhnya sambil ujarnya.
“Toako kepala penjara, aku akan keluar sebentar.”
Menanti Sipir bui mendusin dan membuka matanya dia telah lari, keluar dari pintu penjara dan lari terus keluar.
Dalam hati Liem Tou menduga tentunya Sipir bui itu akan merasa terkejut bercampur gugup, siapa tahu dia hanya membuka mulutnya dengan suara yang sangat serak barteriak.
“Hei pengemis bangsat. Tetapi pulang kembali, gentong araknya diangkut sekalian kesini.”
Sehabis berteriak gumamnya seorang diri.
“Neneknya, beberapa hari ini perutku terus menerus kosong, sikap dari Loo ya terhadap dirikupun sedikit berubah.”
Mendadak dia memutarkan tubuhnya dengan matanya yang mendelik besar itu mendatangi kearah Liem Tou, ketika Liem Tou melihat kedatangannya amat galak dan seram segera tahu tentu dia akan turun tangan jahat, hatinya terasa berdebar dengan kerasnya sedang matanya tak terasa lagi memandang tajam kearahnya, pikirnya: Apa mungkin mau menggunakan pecut kulitnya untuk memukul tubuhnya.
Berpikir sampai disini segera dia menyusupkan seluruh tubuhnya menjadi satu sampai bernapas keraspun tidak berani.
Sebenarnya Liem Tou merupakan seorang yang tidak takut dipukul, oleh karena saat ini seluruh tubuhnya telah terluka hingga pecah pecah bila dipukul serangan apa pun juga tentu sukar untuk ditahan Iagi, disamping itu setelah dirinya dijebloskan kedalam bui dan bilamana mengadakan perrlawanan maka waktu bagi dirinya keluar dari bui tentu akan sangat lama sekali.
Sipir bui itu baru saja berjalan tidak jauh dari tubuhnya terlihatlah tangannya membalik melancarkan pecutannya memukul keras keatas sedang hidungnya tak henti-hentinya mendengus dengan sangat dinginnya.
Penjara itu sebenarnya sudah sangat gelap sekali, lagi pula lembab menyeramkan pula kini ditambah dengan wajahnya yang meringis menakutkan bayangan pecut serta aungan keras membuat suasana semakin mengerikan, tak tertahan lagi seluruh tubuh Liem Tou menggigil dengan kerasnya, sedang dalam hatinya merasa takut kalau pecut itu melayang menghajar tubuhnya.
Pada waktu itulah dari samping tubuhnya mendadak terdengar suara sahutnya.
"Aku tidak akan barbicara, sekalipun kalian menyiksa aku sampai mati aku juga tidak akan memberi tahukan kepada kalian."
Sipir bui itu mendengus dingin lagi, sambil berjalan dua langkah kedepan tangannya menyambar menjinjing tubuh tawanan tua itu dan dibanting ketengah ruangan bentaknya:
“Neneknya… Kakekmu tidak perduli kau mau bicara apa dengan Loo ya aku hanya terima perintah untuk setiap hari hajar kau sehingga setengah mati, hee tua bangkotan she Kan. Aku sungguh sangat sial, karena kau seorang membuat aku pun ikut serta tersiksa salama tiga tahun lamanya, cepat kau tahan hajaranku ini."
Sehabis berkata dia mulai melucuti seluruh baju kakek tua itu, ketika Liem Tou memandang tubuhnya terlihatlah bekas bekas luka yang memenuhi seluruh tubuhnya bahkan warnanya telah berubah menjadi matang biru, saking terkejutnya dengan cepat dia memejamkan matanya diam diam teriaknya.
“Ooh Thian, kau berada dimana?"
Disebelah sini dia sedang ketakutan setengah mati sedang disebelah sana sipir bui itu sudah mulai melancarkan pecutannya menghajar seluruh tubuh kakek tua itu, setiap kali pecutnya menyambar segera terdengar suara dengusan kesakitan dari mulut kakek tua itu. Hanya saja suara kesakitan itu kini didengar dalam telinga Liem Tou mirip sekali dengan teriakan ngeri yang mendirikan bulu roma. bahkan jauh lebih tidak enak dari tubuhnya sendiri, tak tertahan lagi seluruh tubuhnya gemetar tak henti-hentinya.
Sejenak kemudian seluruh tubuh sipir bui itu sudah penuh dibasahi oleh keringat yang mengucur keluar dengan derasnya, tetapi hajarannya masih terus berlangsung tak hentinya. Sekalipun Liem Tou sejak kecil selalu dianiaya oleh orang lain tetapi belum pernah dia merasakan hajaran yang demikian kejam serta mengerikan. Baru saja dia hendak mencegah perbuatan itu mendadak terdengar sipengemis kecil itu telah berteriak keras dari depan pintu penjara.
“Toako kepala bui, cepat hentikan hajaranmu, kenapa kau pukul dirinya lagi?".
Begitu sipir bui itu mendengar pengemis cilik kembali, segera dia menyimpan kembali pecut kulitnya, dengan sangat dingin dia memandang sekejap kearah kakek tua yang aneh itu, dengan kasar makinya.
“Neneknya kenapa kau tidak cepat cepat mati saja ?".
Sehabis berkata kakinya melayang menendang tubuh kakek aneh itu kemudian lari kearah pintu penjara menyambut datangnya sayur arak yang dibawa oleh pengemis cilik itu.
Liem Tou melihat sipir bui itu sudah pergi segera membawa kakek aneh itu bersandar ditempatnya semula bahkan memakaikan pakaian yang tadi dilucuti oleh sipir bui tersebut kemudian barulah tanyanya dengan perlahan.
“Orang tua, kau masih bertahan tidak, Kenapa mereka memukuli dirimu demikian kejamnya?”
Siapa tahu kakek aneh itu tidak memperdulikan dirinya, bahkan seperti tidak mendengar pertanyaan Liem Tou, hanya tangannya merogoh kedalam pinggangnya mengambil keluar sebuah benda, tetapi sampai ditengah jalan berhenti lagi agaknya dia merasa ada Liem Tou disampingnya sehingga tidak mengambil keluar, sepasang matanya dengan sangat tajam memandang kearahnya.
Ketika sinar mata Liem Tou bertemu dengan sinar matanya dengan tak terasa menjadi sangat terkejut sekali dan tak tertahan bersin beberapa kali. Kiranya sepasang matanya memancarkan sinar yang sangat keren, buas serta benci, membuat setiap orang merasa pada berdiri bulu kuduknya.
Pada ketika itulah waktu kakek tua itu melihat Liem Tou agaknva tidak punya maksud berbuat jahat terhadap dirinya segera mengambil keluar sebuah benda dari dalam pinggangnya, waktu Liem Tou melihat benda itu ternyata adalah sebuah tali dari celananya segera pikirnya dalam hati.
“Apa mungkin kakek aneh itu mau bergerak? Didalam sebuan ruangan penjara ini bila dia mau buang kotoran bukankah akan berabe?”
Berpikir sampai disini dia bermaksud hendak memberitahu pada sipir bui itu, tetapi ketika dia menoleh melihat lagi tak terasa dia menjadi tertegun dibuatnya, kiranya kakek aneh itu telah menelan tali celana tersebut, tanyanya dengan cepat,
'Kau orang tua sedang makan apa? Bagaimana bisa dimakan benda seperti itu?"
Begitu kakek aneh itu mendengar pertanyaan dari Liem Tou itu seperti takut kalau dia merebut bendanya dengan cepat tali celana itu disimpan dan disembunyikan kedalam pinggangnya sedang mulutnya tak henti hentinya mulai merintih kembali, sama sekali dia tidak mau perduli terhadap sikap dari Liem Tou itu.
Liem Tou terpaksa hanya bisa menggelengkan kepalanya saja tanpa bisa berbuat apa apa lagi, tiba-tiba terdengar sipengemis kecil itu berteriak:
“Toako kepala bui agaknya masih sangat banyak cepat kau teguk segentong ini aku sipengarnis kecil tentu akan mengiringi kau untuk menghabiskan arak ini"
Ketika Liem Tou menoleh memandang kesana terlihatlah tubuh sipir bui itu sudah bergoyang tak hentinya agaknya dia sudah dibuat mabuk oleh pengemis cilik itu, bahkan mulutnya berbicara tak karuan.
"Baiklah, mari minum, kau sunggah baik sekali, Loo-ya agaknya telah berubah sikap terhadap diriku.”
Si pengemis itu segera mengangkat sebuab gentong arak lagi dan diloloh kedalam mulut sipir bui itu, ujarnya.
“Toako kepala bui mari teguk lagi".
Tidak disangka perkataannya baru selesai diucapkan tubuh sipir bui itu telah rubuh tak sadarkan diri diatas tanah, saat itulah dengan perlahan lahan sipengemis cilik itu baru bangkit berdiri, tangannya dengan perlahan mengangkat tubuh lelaki itu dan dilemparkan kedepan, dengan mengeluarkan suara yang amat keras tubuh Sipir bui itu sudah terjatuh keatas sebuah pembaringan sehingga hampir hampir rubuh kembali keatas tanah.
Diam-diam Liem Ton yang melihat kejadian itu merasa sangat heran pikirnya:
“Jika dilihat usianya yang tidak begitu berbeda dengan usiaku, darimana datangnya tenaga yang begitu besarnya?"
Pada waktu itulah sipengemis cilik itu sudah menggape kearahnya sambil parggilnya.
"Hee . Pencuri kerbau. kau demikian sungkannya?? Sayur serta arak ini sengaja aku buatkan untuk menyambut kedatanganmu, cepat kemari”
Liem Tou yang mendengar begitu dia pentang mulutnya ternyata memanggil dirinya sebagai sipencuri kerbau dalam hati sudah merasa kekhie tetapi diapun merasa berterima kasih atas bantuannya untuk menghapuskan dirinya dari hajaran pecut kulit itu segera dia maju kedepan, dengan dingin ujarnya.
"Kita selamanya tidak saling mengenal dan bukan merupakan kawan senasib pula, buat apa kau mengadakan perjamuan ini untuk menjamu diriku ?"
Ternyata si pengemis cilik itu tertawa merdu sahutnya.
"Hee .. siapa yang menyuruh kau memiliki ilmu surat yang begitu sempurna?? Aku sipengemis cilik tidak akan paham akan hal tersebut, sudahlah, mari cepat makan."
Liem Tou yang mendengar nada suara tertawanya ternyata telah bcrubah bahkan hampir mirip dengan suara tertawa dari Ie cicinya tak terasa menjadi tertegun dibuatnya, urusan ini rungguh sangat aneh.Tak terasa lagi dia melotot matanya dengan tajam memandang kearahnya.
Si pengemis cilik itu begitu melihat sikapnya sangat aneh sepasang matanya segera berputar, sambil tertawa ujarnya lagi.
“Bagaimana? Kau takut makan apa karena jeri dengan setan itu? Kuberitahukan kepadamu. Hei si pencuri kerbau, didalam arak yang diminum telah kucampuri dengan obat tidur, tidak sampai besok pagi jangan harap dia bisa mendusin kembaii."
Mendengar perkataan itu Liem Tou merasa sangat terkejut sekali, dahulu dia pernah mendengar cerita ayahnya yang mengatakan bahwa obat bius itu biasanya digunakan oleh kedai-kedai gelap didalam membius tamu tamunya. Kini si pengemis cilik itu ternyata menggunakan benda itu membuat Liem Tou benar benar merasa sangat curiga sekali.
Agaknya si pengemis cilik itu tahu apa yang sedang dipikir dalam hatinya, mendadak tertawa semakin merdu ujarnya.
“Hee si pencuri kerbau, kau berlega hatilah, kita merupakan kawan dari satu jalan tidak mungkin kita bisa menggunakan obat bius membius dirimu, apalagi sampai namamupun aku masih tidak tahu buat apa aku membius kau? Heee. Cepat makanlah. Aku dengan setulus hati hendak berkawan denganmu.”
Sehabis berkata dia mengambil poci itu dan diisi penuh dengan arak wangi kemudian diteguknya hingga habis, ujarnya.
“Aku si pengemis cilik menghormati kau si pencuri kerbau agar sukses selalu, Hee. sipencuri kerbau, sebenarnya siapa namamu?”
Liem Tou yang dibegitukan oleh si pengemis cilik membuat ia tertawa tak dapat menangispun susah, terpaksa dia meneguk habis secawan arak kemudian sahutnya.
“Aku bernarna Liem Tou.”
Mendadak teringat olehnya kalau si pengemis cilik itu memanggil dirinya sebagai si pencuri kerbau, tak terasa teriaknya dengan keras.
“Aku beritahu padamu, aku tidak pernah mencuri kerbau jangan panggil aku sebagai pencuri kerbau.”
“Sungguh gagah sekali namamu,” ujar si pengemis cilik sambil tertawa lagi, “Kau mencuri atau tidak mencuri apa bedanya? Aduh. Aku sungguh tolol kurang sedikit saja telah melupakan iblis tua itu.”
Sehabis berkata dia menyobek sekeras paha ayam dan di lemparkan kearah sudut penjara itu sambil teriaknya.
“Hee - - - Loo toa apa benar benar kau tidak mau memberitahukan kepadaku, ayahku pernah beritahu pada kau katanya pada puluhan tahun yang lalu Siok To Siang Mo pernah malang melintang di daratan maupun lautan bahkan pernah berbuat kejahatan yang tak terhingga banyaknya sehingga anak kecil pun tahu kejahatan kalian, tetapi pada tiga tahun yang lalu mendadak Siang Mo telah melenyapkan diri tanpa bekas, baru kini barulah didalam dunia kangouw tersiar berita katanya Siang Mo telah mendapatkan sebuah kitab pusaka To Kong Pit Liok peninggalan Thio sucouw kemudian menyembunyikan diri untuk berlatih, sejak semula berita itu telah menggemparkan seluruh dunia kangouw, berbagai jago dari berbagai aliran mulai mencari jejak orang tersebut sampai dimana untuk merebut buku pusaka tersebut, akupun setelah melakukan pengejaran yang jauh serta tenaga yang amat besar akhirnya baru menemukan dirimu di tempat ini bahkan mengetahui kalau urat nadi kakimu telah diputus. Sekalipun kepandaian silatmu tidak sampai hilang tetapi juga tidak dapat digunakan, maka itu coba kau pikirlah secara masak-masak. Bilamana kau mau menyerahkan kitab rahasia itu aku akan segera menolong kau keluar hingga dapat hidup ja¬uh lebih bahagia, kalau tidak coba kau rasakanlah siksaan atau pecutan dari Loo Jiemu yang sangat kejam itu.”
Sehabis berkata dia menoleh memandang kearah Liem Tou dan ujarnya lagi.
“Aku heran didalam dunia ini ternyata masih ada juga manusia setolol dia, mau menolong malah ditolak bahkan mau menerima siksaan serta penderitaan didalam penjara. Hee si pencuri kerbau..Oooh..tidak, Tou loote mari kita makan punya kita sendiri, jangan urusi dia lagi”
Perkataan dari pengemis cilik tentang kakek aneh itu telah menarik perhatian diri Liem Tou, teringat kembali olehnya perkataan dari si siucay buntung serta pembesar buta sewaktu mereka bertempur dengan sengitnya itu kemudian teringat pula perkataan antara si siucay buntung serta Thiat Sie poa, apa mungkin orang yang sedang mereka cari itu adatah kakek aneh ini?
Baru saja dia berpikir sampai disitu kakek tua yang aneh itu telah menggumam sendiri.
“Aku tidak akan memberi tahu pada kalian, siapa yang akan mendesak djriku, aku juga tidak akan membuka mulut.”
Mendadak dengan suara yang amat keras bentak kakek aneh itu lagi.
“Apa kau kira penderitaan siksaan serta cambukan selama tiga tahun ini telah membuat aku jeri?”
Liem Tou sagera menoleh memandang kearahnya, terlihatlah sepasang mata kakek aneh itu memancarkan sinar yang amat tajam tetapi sangat dingin, air mukanya yang pucat pasi segera berubah menjadi kehijau-hijauan, pada saat itulah si pengernia cilik sambil tertawa telah berkata.
“Aku bilang Loo toa tentang hal ini kau salah menduga, menurut apa yang kuketahui sekarang ini, para jago dari golongan Pek to maupun dari golongan Hek to sekarang ini telah pada berkumpul didalam kerisidenan Ciong ling ini sedang Loo jie mu yang kejam serta berhati binatang itu sekalipun sifatnya sangat licik dan banyak aka! telah menyembunyikan dirimu di dalam penjara yang sangat gelap tanpa menimbulkan suara apapun, orang lain aku tidak berani bilang tetapi Tionggoan Ngo Koay terutama sie poa itu apa kau kira bisa berhasil mengelabui dirinya?"
"Dia datang mencari diriku bilamana tidak mau bilang, dia bisa berbuat apa lagi" sahut kakek itu sambil tertawa serak.
“Kitab pusaka To Kong pit Liok itu apabila terjatuh ketangan orang jahat bukankah akan menimbulkan gelombang yang dahsyat didalam Bu-lim, coba kau pikir sekali lagi kini dia sudah tahu kalau kau berada disini apa mungkin dia mau melepaskan dirimu begitu saja ? Sekalipun sekarang kau punya perasaan menyesal atas perbuatanmu yang dahulu dahulu dan bertaruh dengan nyawa juga tidak mau menyerahkan kitab rahasia Tok Kong pit Liong itu kepada Loo jie mu itu tetapi Thiat Sie Sie sianseng yang mempunyai sepasang mata yang tajam apa dia mau mempercayainya? Pada saat itu kau boleh merasakan tindakan yang diambil dari tangannya.”
Omongan dari sipengemis cilik itu ternyata membuat kakek aneh itu termenung berpikir keras.
Liem Tou yang mendengar seluruh perkataan yang diucapkan oleh si pengemis cilik itu sangat beralasan bahkan dia dengan mata kepala sendiri melihat kalau si siucay buntung serta sipembesar buta telah datang ditambah simayat hidup serta pengemis pemabok pun te¬lah tiba segera timbrungannya.
"Aee orang tua. Sekalipun aku tidak tahu ia menghendaki benda berharga apa dari tanganmu tetapi ketika aku mendengar perkataannya segera ia tahu kalau benda itu bukan merupakan benda yang berharga, lebih baik kau berikan kepadanya."
"Kiranya kaupun sekomplotan dengan pengemis cilik itu" maki kakek aneh itu dengan sangat gusar. "Hm . . . hm . . . kalau kalian punya kepandaian gunakanIah terhadap diriku, saya mau lihat seberapa lihay kepandaian kalian itu."
“Orang tua…” bantah Liem Tou dengan cemas, “Harap kau jangan salah paham, aku berkata demikian sebenarnya punya maksud baik terhadap dirimu sedang saudara ini sama sekali tidak percaya padanya, mana mungkin aku bisa sekomplotan dengan dirinya?”
Liem Tou baru saja habis berkata segera terlihatlah kakek tua yang aneh itu sudah memalingkan kepalanya tidak mau bicara lagi, sebaliknya terlihatlah si pengemis cilik itu sambil tersenyum manis menepuk nepuk pundaknya, ujarnya.
"Tou Loo te kau sungguh merupakan kawan karibku yang sangat baik, marl kita teguk arak ini."
Liem Tou yang dikatai seperti ini mana mau menerima araknya, dengan sangat serius sahutnya.
"Apa maksudmu yang sebenarnya ? Apa kau neminta aku menampar mulutku sendiri ? Aku Liem Ton bukanlah orang semacam itu."
Si pengemis cilik itu melihat sikapnya berubah sccara mendadak juga ujarnya dengan keras.
"Ini apa-apaan? Hemm kau bicara apa ? Bukankah kau sedang menasehati iblis tua itu untuk menyerahkan kitab pusaka To Kong Pit Liok kepadaku, bagaimana kini malah mungkir ? Demikianpun juga boleh, aku lihat kau bukanlah orang dari kalangan dunia kangouw lebih baik janganlah terlalu mencampuri urusan ini, kalau tidak aku bukannya orang yang terlalu baik. bila waktu aku sampai dibikin marah, he he he hati-hati dengan batok kepalamu."
Liem Tou yang melihat sipengemis cilik itu ternyata hendak menakuti dirinya menjadi sangat gusar, apalagi dirinya sejak kecil dianiaya terus orang lain kemudian tak ada hujan tak ada angin dirinya dianggap sebagai sipencuri kerbau, dalam dadanya sudah amat mangkel, sekarang dibegitukan lagi oleh pengemis cilik kegusarannya tak dapat ditahan lagi, dengan gemas dia berdiri dan bentaknya.
"Sekarang aku akan membuat kau merasa tak senang. kau mau berbuat apa ?'
Sebaliknya bukannya marah si pengemis cilik itu tertawa terbahak-bahak, dengan halus sahutnya.
"He ... he . . coba kau lihat sikapmu amat kasar sehingga kelihatan ketololannya, kau punya kepandaian apa silahkan keluarkan semua, ini hari aku tidak ingin menyusahkan dirimu.”
Liem Tou yang melihat dia sama sekali tidak menggubris dirinya bahkan memandangpun tidak, semakin merasa gusar, diam diam pikirnya.
"Ini hari aku harus menghilangkan kemangkalanku ini, aku melihat dia bisa berbuat apa terhadap diriku?”
Berpikir sampai disini segera dia mengangkat cawannya dan menyedot isi cawan itu sekeras-kerasnya kemudian dengan dibarengi dengan hawa murninya disemprotkan kedepan Si pengemis itu sama sekali tidak mengadakan persiapan disemprot seperti itu segera seluruh
wajahma basah oleh arak dari mulut Liem Tou,
Tak terasa lagi dia menjadi sangat gusar, dengan cepat dia bangkit berdiri dan bentaknya dengan keras.
"Bangsat cilik, 'kau bosan hidup lebih lama lagi yah ?"
Tengannya diulur kedepan, jari tengah serta telunjuknya dengan bentuk seperti gunting mencukil kearah mata Liem Tou serangannya pertama saja sudah amat kejam, sedikitpun tidak memperlihatkan belas kasihannya.
Tak disangka begitu dia mengeluarkan jurus itu, kakek aneh yang berada disamping itu segera menjerit tertahan, ujarnya.
"Hee - - Yan wie tui hun ci atau ilmu jari pengejar ayawa, kiranya kau adalah anak buah dari partai Kiem Tian pay dari telaga Auh Lay, hee . bocah cilik pencuri kerbau kau haruslah berhati hati untuk menghadapi dirinya,”
Liem Tou yang melihat serangan jari dari si pengemis cilik itu digerakkan demikian cepatnya dan tahu-tahu telah sampai dihadapannya segera miringkan kepalanya menyingkir sedepa, langkah kakinya secara tidak sadar telah mengeluarkan suatu langkah-langkah yang sangat aneh yang dipelajari kemarin malam ditengah hutan menurut lukisan lingkaran sebanyak tiga puluh enam buah itu, sedang diriya entah secara bagaimana dan entah dengan cara apa namanya ternyata hanya cukup dua langkah saja telah berhasil bergeser kebelakang tubuh sipengemis cilik itu.
Melihat hal itu dia manjadi amat girang sambil mencubit keras keleher sipengemis itu ujarnya.-
"Kau boleh galak, sekarang galaklah kepadaku”
Kakek tua aneh yang berada disamping begitu melihat langkah ajaibnva segera teriaknya.
"Ha . . . bocah pencuri kerbau tak ku sangka kalau kaupun merupakan jago dari dunia kangouw ilmu Iangkah ajaib Sah cap lak Thian Kang Hwie Sian Poh atau tiga puluh enam langkah badai memutar ternyata kau telah memahaminya, tentunya kau ahli waris dari Lie Loo jie Tun si pay, kalau tidak tentu murid dari pedagang terkutuk itu.”
Sipengemis cilik itu setelah dicubit sekali oleh Liem Tou dari belakang tubuhnya semakin gusar sekali, tapi baru saja dia hendak memutar tubuhnya sejak tadi Liem Tou telah memutar lagi kebelakang tubuhnya.
llmu silat dari partai Kiem Tian Pay dari telaga Auh Hay selamanya mengandalkan ilmu jari serta ilmu meringankan tubuhnya sehingga bisa menjagoi selururuh Bu-lim, bahkan si pengemis itu mempunyai kedudukan yang sangat terhorrmat di dalam partai Kim Tian Pay sehingga bolehh dikata dia telah mewarisi seluruh kepandaian dari partai itu, siapa tahu ini hari ternyata telah terpedaya dibawah tangan seorang pencuri kerbau seperti Liem Tou itu, mana mungkin dia tidak gusar benar-benar?
Didalam headaan yang sangat cemas itu memandang sipengemis cilik itu mendapat akal, segera dia mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dan meloncat keatas tonggak diatas penjara itu, kelihatannya dia siap hendak menubruk kebawah.
Terdengar kakek aneh itu mendadak mengeluarkan suara tertahan lagi, agaknya secara tak sadar terus rnemperingatkan keadaan yaug sangat bahaya bagi keselamatan Liem Tou. Sebenarnya Liem Tou sendiri memangnya tak memiliki kepandaian silat sedang jurus-jurus yang dilancarkan juga merupakan ketepatan saja kini ketika telah menjerumus kedalam keadaan yang sangat kritis itu barulah sadar kembali dan memandang tajam keatas tiang tonggak diatas ruangan itu sedang dalam hatinya merasa amat cemas.
Terpaksa dia hanya dapat berlari secara ngawur didalam ruangan penjara itu agar sipengemis itu tIdak dapat turun kembali.
Pada air mukanya sekalipun Liem Tou kelihatan ketolol-toiolan padahal seperti perkataan dari si siucay buntung itu dia merupakan seorang yang amat cerdik dan memiliki bakat yang sa¬ngat bagus sekali.
Sambil berdiri mengitari ruangan penjara itu dia terus menerus berpikir mencari daya untuk meloloskan diri, mendadak pikiraanya berkelebat suatu cara yang bagus teringat olehnya akan perkataan dari kakek tua yang aneh itu, mendadak bentaknya dengan keras.
"Aku ahli waris dari Thiat sie poa takkan takut padamu, sekalipun kau merupakan orang partai dari Kiem Tian Pay paling banyak aku akan bertempur mati-matian melawan kau."
Sehabis berkata ternyata dangan mengarah tepat dibawah sipengemis cilik itu dia membaringkan dirinya, sedang hawa murninya segera dipusatkan pada perutnya hingga mengembung besar ujarnya lagi.
"Marilah kalau kau benar-benar punya kepandaian turunlah untuk coba-coba kelihayanku,”
Perbuatan dari Liem Tou kali ini ternyata mendatangkan hasil, sipengemis itu tak dapat meraba apa yang hendak diperbuat olehnya ternyata tak berani menggunakan nyawanya sebagai taruhan untuk menerjang turun kebawah terpaksa dengan sangat mangkal mendelik memandang kearah Liem Tou dari atas tiang penjara itu.
Bersamaan pula kakek aneh itu juga tidak berteriak lagi, terdengar dia seorang diri gumamnya.
"Bagaimara ini bisa jadi ?? Jika dilihat cara mengerah tenaga barusan ini terbukti sangat jelas sekali kalau merupakan ilmu pernapasan dari perguruanku, apa mungkin Lao jie yang mewarisi padanya ?? Tidak benar, Tidak benar. Kalau memangnya Loo jie yang mewarisi dia dalam ilmu pernapasan itu dia tak mungkin akan mengangkat pedagang terkutuk itu menjadi gurunya. Kalau demikian adanya tentu dia merupakan ahli waris Lie Loo jie dari partai Tun Si Pay, hanya dari kitab pusakanya saja barulah termuat berbagai macam ilmu silat dari setiap partai. Tapi .. tapi, kenapa dia mengaku sebagai anak murid dari pedagang terkutuk itu.
Mendadak tanyanya dengan keras.
“Hee.. bocah cilik pencuri kerbau, aku mau tanya padamu, sebenarnya kau punya hubungan apa dengan Lie Loo jie dari partai Tun Si pay itu
Mendengar pertanyaan itu diam-diam pikiran Liem Tou mulai bekerja, “urusan telah menjadi begini, aku seharusnya mengatakan kalau kepandaianku semakin tinggi semakin baik bilamana kakek aneh ini menyebut Lie Loo jie dari partai Tun Si Pay itu tentunya dia merupakan seorang yang memiliki kepandaian sangat tinggi aku tak dapat melepaskan kesempatan ini”
Berpikir sampai disini segera sahutnya dengan cepat.
"Dia adalah paman Lie Ku."
"Ooooh kiranya begitu."
Si pengemis cilik yang mendengar perkataan itu diatas tonggak kayu segera memejamkan matanva tak membuka mulut lagi ketika memandang lagi kearah Liem Tou terlihatlah perutnya masih tetap mengembang besar dan berbaring diatas tanah, keadaannya mirip sekali dengan mayat yang ditemukan tenggelam dalam laut.
Sekarang dia tak ingin bergebrak mati-matian melawan Llem Tou lagi, mendadak sambil tersenyum ujarnya.
"Sudahlah Tou Loo te. Kau jangan membuat aku tertawa sampai mati, cepat bangun, aku takkan memukul kau lagi "
Liem Tou yang berbaring diatas tanah, mana mau percaya terhadap perkataaanya sahutnya dengan cepat,
"Kau turunlah terlebih dulu."
Terpaksa sipengemis cilik itu meloncat terlebih dulu dari samping sedang pada saat itu dalam hati pikir Liem Tou.
"Hm. . . aku harus memperlihatkan sediklt kelihayanku dihadapan sipengemis busuk itu agar dia tak berani terlalu memandang rendah diriku lagi."
Mendadak hawa murni yang dikumpulkan perutnya itu dikerahkan keatas.
"Braaaak..." genting ruangan penjara itu segera dipukul oleh hawa murninya hingga menimbulkan sebuah lubang yang sangat besar, debu beterbangan mengotori empat penjuru sedang orang orang yang berada disanapun sangat terkejut akan kelihayannya itu. Setelah itu baru Liem Tou dengan perlahan bangkit berdiri.
Melihat kejadian itu dalam hati si pengemis cilik itu merasa sangat terperanjat, pikirnya.
“Untung saja aku tak sampai bergebrak melawan dia, kalau tidak susah juga. . ."
Tidak selang lama, matahari sudah terbenam diarah barat sedang malampun telah tiba.
Dengan melototkan matanya kakek aneh itu tiba2 memanggil diri Liem Tou sambil ujarnya:
"Dua buah kitab pusaka didalam dunia ini kini yang satu telah didapatkan oleh Lie Loo jie, apa mungkin kau datang kedalam penjara ini bertujuan meminta kitab pusaka yang satunya lagi?"
Pada saat ini Liem Tou telah amat terkejut serta kagum terhadap kakek aneh itu kini mendengar perkataan itu itu dengan gugup sahutnya:
“Mana aku berani, aku benar benar dikarenakan orang lain menganggap aku telah mencuri kerbaunya hingga ditangkap dan dimasukkan kedalam penjara, mana aku berani punya niat serakah terhadap barang dari cianpwee?”
“Ehm. . sahut kakek aneh itu perlahan kemudian ujarnya lagi. "Kalau begitu kau kemarilah "
Liem Tou tahu kalau kakek aneh itu sekalipun memiliki kepandaian silat yang sangat tinggi tapi tak dapat digunakan lagi, dengan membesarkan nyalinya dia berjalan mendekat.Tidak disangka baru saja dia menggerakkan kakinya untuk bergerak maju dari depan penjara itu berkumandang suara gemerisik yang sangat nyaring kemudian disusul dengan suara tertawa tergelak yang sangat keras, ujarnya.
"Hek Lootoa.. kiranya selama puluhan tahun ini kau telah menyembunyikan diri ditempat ini tak dapat disalahkan iagi kalau aku tak berhasil mendapatkan dirimu. Kawan karibmu dari gunung Im San datang menyambangi."
Mendengar perkataan itu kakek aneh itu merasa amat terkejut, air mukanya berubah hebat sedang rambutnya pada berdiri menahan kegusarannya. Mendadak bagaikan orang gila tubuhnya meloncat keatas beberapa depa tingginya, belum saja tubuhnya mencapai tanah tiba-tiba dengan mengeluarkan suara kesakitan tubuhnya rubuh keatas tanah katanya dengan gusar makinya:
“Kalian enyahlah dari sini, tempat ini tidak ada yang bernama Hek Lootoa, Hek Lootoa sudah mati”
Sipengemis cilik yang setelah meloncat turun dari atas tonggak sebenarnya sedang menyulut lampu pada saat itu dengan cepat meniup padam lampu itu sambil ujarnya dengan perlahan.
"Aku bilang Loo toa, lebih baik cepat-cepat ambil keputusan didalam hatimu dan serahkan kittab pusaka To Kong Pit Liok itu kepadaku. 0rang yang berada diatas genting saat ini adalah Kioe Long dari gunung Im san didaerah Mo Pak. Bila benar-benar dia yang datang mungkin juga si Wan Kouw juga ikut datang, aku dengar kedua orang itu sangat jarang memasuki daerah Tiouggoan, kali ini mereka datang juga tentu ada urusan yang penting. He …tindakan dari Kioe Liong Wan Kouw sangat kejam dan gusar, lebih baik kau pikir lebih masak !agi.”
Kakek aneh itu hanya mendengus dingin saja sedikitpun tidak memberikan jawabannya.
"Saat ini !” ujar sipengemis cilik itu lagi. “bilamana kau mau menyerahkan kitab pusaka itu aku masih bisa menolong kau untuk keluar dari penjara ini, tetapi sejenak lagi kemungkinan sekalipun aku sanggup juga belum tentu punya tenaga yang besar untuk menolong kau kini cepatlah ambil keputusan”
Mendengar perkataan itu kakek aneh tersebut semakin gusar, bentaknya dengan keras.
"Cepat kau menggelinding dari sini."
Tiba-tiba orang yang berada diluar penjara itu telah melanjutkan lagi ucapannya.
“Hek Loo toa, cara bekerja serta sifat dari aku Kioe Long dari gunung Im San tentu kau telah sangat jelas sekali ini hari aku telah berhasil menemukan dirimu bilamana kau ingin mengenyahkan diriku dengan gampang sebenarnya bukan sebuah urusan yang amat susah asalkan kau mau memperlihatkan sekejap kitab pusaka yang kau dapatkan itu, aku akan segera pergi dari sini dan tidak akan menyusahkan dirimu lagi.”
Saat itu tiba-tiba terdengar suara dari seorang wanita menyambung ucapan itu.
“Benar, Hek Loo toa - - - sekalipun boleh dikata kita tidak punya hubungan persahabatan yang sangat erat tetapi juga pernah bertemu beberapa kali, ini kali kami banya ingin meminjam sebentar apa kau merasa keberatan?"
"Loo toa kau dengar dengan jalas bukan?” ujar sipengemis kecil itu dengan suara yang perlahan sambil melirik sekejap kearahnya. “Bukankah perkataanku sedikitpun tidak salah? Kioe Long Wan Kouw selamanya tidak pernah melakukan gerakan dan pekerjaan dengan seorang diri, sekarang coba kau akan menggunakan cara apa untuk menghadapi mereka berdua?."
Kakek aneh itu masih tetap tidak memperdulikan diri sipengemis cilik itu, sedang pada saat itu Kioe Long yang berada diatas genting ruangan penjara itu sudah tidak sabar lagi, dengan berat ujarnya.
“Hek Loo toa, kau sebenarnya hendak berbuat bagaimana? Aku Kioe Long merupakan seorang berangasan yang sudah terkenal, he he he .. aku tidak akan sabar untuk menanti lebih lama lagi."
Entah kenapa tiba-tiba kakek aneh itu memandang dengan tajam kearah sipengemis cilik itu agaknya pikirannya telah berubah tanyanya.
“Apa benar kau menginginkan kitab pusaka To Kong Pit Liok itu? Aku akan memberitahukan padamu, benda aneh yang terdapat didalam dunia ini pasti terdapat pemilik yang sebenarrya, bilamana bukannya pemilik yang sesungguhnya maka mendapatkan benda itu sama saja dengan mendatangkan . . . bencana untuk diri sendiri, kau apa sudah pikir masak-masak menghadapi bencana-bencana tersebut?, Hmm.. "
Si pengemis cilik itu begitu mendengar ucapan dari kakek aneh segera tahu kalau dia punya niat untuk menyerahkan kitab pusaka To Kong Pit Liok itu kepadanya, tak terasa lagi menjadi sangat girang, cepat sahutnya.
"Loo cianpwee punya perintah apa, boanpwee tentu akan melaksanakannya tanpa membantah."
"Sebelum kita membicarakan kitab pusaka itu terlebih dahulu aku hendak memberitahukan padamu dengan jelas. Bilamana kau berhasil mendapatkan batok kepala dari Kioe Long serta Wan Kouw sehingga dapat membasmi dua orang penjahat dari dunia ini maka Loolap akan segera menyerahkan kitab pusaka To Kong Pit Liok itu kepadamu tanpa membantah, bagaimana kau sanggup?"
Mendengar perkataan itu air muka sipenge¬mis cilik itu sedikit berubah, ujarnya.
“Ini , .ini... „"
Dengan keras barkata kakek aneh itu lagi.
“Kalau kau tidak sanggup untuk melaksanakan tugas ini lebih baik sekarang juga menghilangkan pikiran itu dan cepat pergi dari sini”
Saking khekinya air muka si pengemis cilik itu telah berubah menjadi merah padam, sambil mendepak kakinya keatas tanah sahutnya:
"Baiklah."
Dangan cepat dia membuka pintu penjara dan meloncat kaluar. Tidak selang lama diatas atap penjara itu agaknya terdengar orang yang bergerak disertai dengan suara bentakan yang tidak henti-hentinya. Sejenak kemudian terdergar suara terbentaknya senjata tajam sehingga suasana amat ramai.
Saat itulah kakek aneh itu tertawa terbahak-bahak ujarnya terhadap Liem Tou.
'Cepat tutup penjara itu, kau masih tunggu apa lagi?"
"Hanya demikian saja bisa menahan serangan mereka?" diam-diam pikiran Liem Tou terus berputar.
Tetapi dia tidak mengucapkan apapun dengan mengikuti permintaannya mengunci pintu penjara tersebut. Siapa tahu pada saat itu juga mendadak terdengar suara tertawa terbahak dari si siucay buntung serta Thiat Sie sianseng, ujar si Thiat Sie poa itu dengan keras.
"Hee siucay buntung Loo te, aku bilang disini telah ada yang mendahului kita tidak salah bukan?. Haa . . , kiranya sepasang binatang itu , bagaimanapun juga bangsa binatang jauh lebih tajam penciumannya dari manusia."
Tidak disangka baru saja dia mengucapkan perkataan itu, Liem Tou telah mendengar lagi seorang yang memiliki suara yang serak tapi keras melanjutkan lagi.
"Si siucay bunting Loo te, tidak disangka aku yang merupakan seorang yang cerdik kini telah menjadi demikian tololnya. Sie poa dari pedagang terkutuk itu selamanya hanya menghitung yang masuk dan tidak akan menghitung yang keluar, apa kau tidak tahu bilamana jalan bersama dengan dia selamanya tidak akan mendapatkan keuntungan apa pun?”
"Heee, kamu pengemis pemabok yang tldak mati-mati, bukannya pergi menangkap cacing, laba-laba serta kodok untuk teman arakmu, kini lari kemari mau apa?" balas si siucay buntung itu.
Mendengar suara itu Liem Tou segera tahu kalau sipengemis pemabokpun telah tiba, diam-diam pikirnya.
“Malam ini selain Koen Long Wan Kouw yang datang terlebih dahulu, Tionggoan Ngo Koay telah hadir tiga orang, aku kira didalam sekejap lagi kaum jago dari dunia kangouw tentu akan bertambah banyak yang sampai didini. Pertempuran sengit ini tentu segera menarik sekali.”
Saat dia sedang melamun itulah tiba tiba terdengar suara panggilan dari kakek aneh itu:
“Bocah cilik cepat kemari”
“Cian pwee mau member perintah apa lagi?” tanya Liem Tou dengan kaheranan tetapi kakinya tetap berjalan mendekati kaarahnya.
Agaknya kakek aneh itu mau mengucapkan sesuatu tetapi dibatalkan kembali, hanya sepasang matanya dengan sangat tajam memandang kearah Liem Tou, mendadak dia menunjuk kedepan tubuhnya sambil ujarnya dengan perlahan:
"Kau duduklah disini, dan cobalah mengerahkan tenaga murnimu untuk aku lihat."
Liem Tou ketika melihat air muka kakek aneh itu sangat serius dan kerena sekali dia tidak berani membangkang, dengan mengikuti perintahnya dia duduk didepan tubuhnya kemudian mulai memusatkan selurah hawa murni dalam pusat.
Dengan perlahan kakek aneh itu meletakkan tangannya diatas perutnya kemudian ujarnya lagi:
"Bagus, sekarang mulailah."
Liem Tou segera mengikuti cara mengerahkan tenaga murni yang dipelajarinya dari kitab peninggalan ayahnya itu, dengan cepat dia menarik napas panjang panjang sehingga membuat perutnya membesar seperti bola setelah itu ditarik kembali seperti biasa. Tidak disangka kakek aneh itu tertawa terbahak ujarnya.
"Aku kira kitab pusaka"Tou Loo Cin Keng" benar benar memuat berbagai jurus silat dari semua aliran, tidak disangka ternyata hanya begini saja, boleh dikata aku orang tua tidak sia sia mengetahui rahasia ini sehingga matipun tidak sayang"
Liem Tou yang melihat sikapnya itu menjadi bingung dan tidak tahu sedang berbuat apa dia itu, kakek aneh itu setelah tertawa keras beberapa saat lamanya barulah berhenti dan tanyanya lagi.
"Lie Loo Jie dari partai Tun Si Pay apa benar merupakan pamanmu? Aku dengar sipedagang terkutuk itupun kini telah tiba disini apa dia benar benar suhumu?"
Tadi Liem Tau secara ngawur mengaku sebenarnya hanya bertujuan menipu sipengemis cilik itu saat ini urusan telah berlalu sehingga untuk berbohong baginya tidak berguna lagi, akhirnya dengan terpaksa dia menceritakan keadaan yang sesungguhnya.
'Oooh..begitulah agaknya" sahut dari kakek yang aneh itu setelah dia mendengar kisah yang sesungguhnya dari Liem Tou ini, kali ini dia tidak berani tertawa lagi. Setelah termenung berpikir keras beberapa saat lamanya barulah ujarnya dengan perlahan.
"Apa kau mau meminjamkan kitab pusaka peninggalan ayahmu itu untuk aku lihat sebentar?”
Begitu perkataan ini keluar dari mulutnya, Liem Tou segera merasakan serba susah, oleh karena pesan terakhir dari ayahnya meninggalkan wanti-wanti pesan baginya untuk tidak secara sembarangan memperlihatkan kitab pusaka itu kepada siapapun juga.
Kakek aneh itu begitu melihat sikapnya yang serba salah segera mengira kalau mungkin dia merasa kuatir terhadap dirinya, dan ujarnya.
"Kau tidak usah merasa kuatir, Loo lap jadi orang selamanya pegang janji apa lagi seluruh jalan darah terpenting ditubuh Loolap telah di totok oleh orang lain sedang urat nadi kakipun telah dipotong bagaimana Loolap berani punya niat serakah?”
"Cianpwee telah salah menduga" sahut Liem Tou. Bukannya aku punya maksud demikian hal ini tidak dapat dilakukan karena menurut pesan yang ditinggalkan ayahku almarhum tidak memperkenankan aku untuk meminjamkan kitab ini kepada orang lain secara sembarangan.
Mendengar perkataan ini diam-diam pikir kakek aneh itu.
“Ternyata bocah cilik ini benar-benar jujur dan menurut perkataan, orang ini patut dipuji”
Berpikir sampai disitu segera ujarnya.
"Sebenarnya Loolap tidak punya maksud untuk memaksa orang lain, tetapi jika didengar dari perkataanmu agaknya kau sama sekali tidak paham terhadap isi dari kitab pusaka Toe Loo Cin keng itu kini kau perlihatkan kepadaku bila buku itu benar benar asli kemungkinan sekali kepandaian yang terdapat didalamnya aku pernah melatihnya dengan meminjam kesempatan ini aku akan menurunkannya padamu, perkataan dari Loolap ini surgguh sungguh dan tidak akan membohongi dirimu.”
Pada saat itu orang orang yang berada diatas atap penjara itu agaknya telah mencapai pada sengit sengitnya bertempur, bahkan kedengarannya telah bertambah lagi dengan beberapa jago, suara bantakannya disertai dengan suara angin pukulan semakin santar, membuat suasana semakin kacau.
Diam diam Liem Tou memikirkan perkataan dari kakek aneh itu dan merasakan kalau perkataannya sedikitpun tidak salah, segera dia tidak kukuh lagi dengan pendiriannya, dan mengambil keluar kitab pusaka itu untuk diperlihatkan pada sikakek aneh.
Setelah dia menerima kitab itu segera terlihatlah perasaan yang sangat bergolak, sepasang tangannya terlihat sedikit gemetar, sedang dari sepasang matanya memancarkan sinar yang sangat tajam, didalam kegelapan itulah selembar dami selembar dibukanya, semakin dia melihat isi dari kitab itu gemetarnya semakin keras hingga akhirnya giginyapun gemerutuk dengan kerasnya, tiba tiba bentaknya dengan keras:
"He ... aku Hek Loo- toa sekalipun harus mati juga akan mati dengan meramkan sepasang mataku ."
Sehabis berkata, buku itu segera diangsurkan ditangan Liem Tou sambil ujarnya.
"Keuntunganmu tidak kecil, mulai saat ini aku akan memberitahukan rahasia dari ilmu pernapasan yang termuat didalam kitab pusaka itu, tetapi yang kuketahui juga tidak lebih hanya sebagian dari "Ilmu pernapasan” tersebut oleh karena ilmu tersebut merupakan ilmu dari perguruanku sehingga aku baru dapat mewariskannya padamu, tetapi sisanya harus melihat kau punya kepandaian serta kecerdikan untuk mempelajarinya".
Liem Tou berdiam diri mendengarkan saluruh uraiannya. Sekonyong konyong dari luar penjara itu terdengar suara teriakan orang yang sangat ramai kemudian disusal dari luar jendela itu bermunculan sinar api yang menerangi tempat itu, bahkan ada yang berteriak teriak.
"Tangkap penjahat, tangkap penjahat, ada penjahat berani mengacau pengadilan."
Mendengar teriakan itu Liem Tou segera tahu kalau orang orang yang sedang bertempur diatas genting itu telah mengejutkan pengawal dari pengadilan itu sehingga mereka terjaga dan mengadakan pengepungan disekeliling tempat itu.
Kakek aneh yang mendengar suara itu segera terlihatlah air mukanya berubah menjadi kehijau-hijauan, dengan cepat ujarnya pada Liem Tou.
“Loo jie bila tahu jejak Loolap telah diketahui oleh orang lain, tentu tidak akan melepaskan diriku lagi, kini waktunya tidak banyak lagi cepat pusatkan seluruh perhatianmu untuk mendengarkan penjelasan dari diriku."
Dengan tergesa gesa Liem Tou metnusatkan seluruh perhatiannya untuk mendengarkan penjelasan dari ilmu pernapasan itu urusan yang semula diketabui hanya setengah saja kini setelah mendapatkan penjelasan dari kakek aneh itu menjadi bertambah paham.
Tidak lama kemudian kakek aneh itu telah selesai menjelaskan inti sari semua rahasia dari ilmu pernapasan sedang Liem Tou sendiripun semakin paham terhadap ilmu itu, tak terasa lagi pada wajahnya menampilkan perasaan yang amat girang.
Tidak disangka kakek aneh itu mendadak melototkan sepasang matanya, dengan gusar bentaknya pada diri Liem Tou.
“Bocah yang tak tahu diri kau jangan merasa bangga terlebih dahulu, ilmu yang tersebut di dalam kitab pusaka Toa Loo Cin Keng ini sangat luas sekali sehingga laksana samudra luas. Apa yang aku Hek Loo toa turunkan pada mu tak lebih hanya merupakan ilmu dari aliran hitam terhadap dirimu sebenarnya hanya akan membawa celaka saja hanya dikarenakan waktu yang amat mendesak untuk sementara waktu masih bisa digunakan untuk melindungi diri sendiri bilamana kau menginginkan nama yang cemerlang didalam Bu-lim dan menjadi seorang jago yang tanpa tandingan sebenarnya harus melihat kejodohanmu sendiri, kau sekarang tidak perlu girang dulu.”
Dengan cepat Liem Tou menarik kembali perasaan girangnya, dengan serius sahutnya.
“Silahkan cianpwee memberikan petunjuk.”
Sikap dari kakek aneh itu semakin bertambah serius dan keren, lama sekali tidak mengeluarkan sepatah katapun juga.
Diam-diam dalam hati Liem Tou berpikir: “Kenapa dia harus berbuat demikian?”
Tiba-tiba terdengar kakek aneh itu bergumam sendiri:
“Mo Ku Tiauw Cong Ci cien Tong..”
Sejak kecil Liem Tou telah belajar ilmu surat dari ayahnya Liem Han San oleh sebab itulah terhadap segala syair maupun pantun dia paham benar-benar, begitu mendengar perkataan itu dengan cepat perasaan herannya memenuhi seluruh otaknya, pikirnya:
“Kenapa tidak ada angin tidak ada hujan dia membaca syair dari Tong Po Ci Su?”
Karena perasaan keheranan itulah tak terasa olehnya telah menyambung syair selanjutnya. "Pit Hun Kong Cen Tui Jan Kang . . "
Kakek aneh itu ketika mendengar syair selanjutnya ini mendadak sepasang matanya melotot keluar, dengan cepat lanjutnya lagi:
“Pek Hwie Sian Po Tong Ang Hwie”
“Wu Ting Siauw Soat Ta Cuang..”
Tidak disangka baru saja dia selesai mengucapkan syair itu, mendadak kakek aneh itu dengan cepat meloncat bangun sambil bentaknya dengan keras:
“Siapa kau?”
Didalam keadaan yang terkejut itulah tidak terasa lagi Liem Tou mengundurkan diri dua langkah kebelakang dan dengan tertegun memandang kearah air muka kakek aneh telah berubah menjadi sangat menyeramkan itu, mana dapat memberikan jawabannya.
Ketika kakek aneh itu melihat Liem Tou sama sekali tidak memperlihatkan sikap permusuhannya mendadak dia tertawa sedih kemudian duduk kambali ditempat semula dan memejamkan sepasang matanya.
Pada ketika itulah diluar penjara terdengar suara yang sangat berat berkumundang datang.
“Loo toa . . Loo-toa .tiga tahun siksaan pecut ternyata belum juga membuat kau benar-benar takluk kepadaku, janganlah kau menyalahkan aku Loo Jie akan turun tangan lebih kejam dan ganas lagi. Sebenarnya kau mau menyerahkan kitab pusaka To Kong pit Liok itu atau tidak?”
Ketika mendengar perkataan dari orang itu segera terlihatlah orang aneh itu membuka matanya lebar lebar, tetapi Liem Tou yang berdiri disampingnya dapat melihat seluruh tubuhnya gemetar tak henti hentinya sedang giginya gemerutuk dengan kerasnya, dengan cepat Liem Tou mendekati tubuhnya sambil tanyanya, “Siapakah dia?”
Siapa tahu kakek aneh itu ternyata telah mendorong tubuh Liem Tou dengan kerasnya sambiI ujarnya.
“Pergi …. pergi .!”
Liem Tou tidak tahu akan sebabnya tetapi dia tahu tentu telah terjadi sesuatu peristiwa. Diam diam dia mulai menggeserkan dirinya ke sudut penjara itu pada ketika itulah dari atas genting telah terdengar suara pembicaraan dari Kioe Long yang sedang berteriak:
“Hee .. . Hek Loo Jie, kau jangan ikut campur.”
“Didalam daerah Ciong ling ini aku tidak akan membiarkan Im San Siang Koay membikin huru hara, cepat kau bergelinding dari tempat ini” bentak orang itu dengan gusarnya.
Dibentak seperti itu Kioe long itu segera tertawa dingin yang tidak enak didengar membuat seluruh bulu kuduk Liem Tou pada berdiri, terdengar dengan sangat dingin ujarnya.
“Hek loo Jie, tidak disangka hanya berpisah selama beberapa tahun saja kini kami harus memandang dengan cara lain kapadamu.”
Tiba tiba dengan gusar tambahnya lagi.
“Hek Loo Jie apa kau dapat melakukannya? Kau bangsat cilik yang tidak tahu budi, semua orang didalam dunia ini boleh kau basmi tetapi tak akan seorangpun yang mau memandang wajahmu lagi.”
Agaknya Si Hek Loo Jie itupun telah dibuat gusar oleh perkataannya sambil membentak keras dia melancarkan serangan dahsyat. Serunya.
“Hee - - he - - lihat pukulan.”
Suara perkataan baru saja berhenti sagera terdengar suara bentrokan yang amat dahsyat membuat atap pada rontok kebawah.
Kioe Long itu tertawa aneh lagi, kemudian diikuti dengan suara suitan nyaring yang memekikkan telinga memecahkan kesunyian, menembus awan, dengan gusar bentaknya lagi.
“Hek Loo jie, kami lm San Siong Kioe Long selamanya selalu melakukan pekerjaan sesuai dengan perkataan. Ini hari kami telah turun tangan sebelum mencapai hasil tidak akan mengundurkan diri. Hmm sampai waktu itu janganlah kau manyalahkan aku Kioe Long turun tangan terlalu kejam sehingga membasmi habis pengawal pengawal kerocomu itu.”
Ternyata suara ucapan itu baru saja selesai dari tempat kejauhan berkumandang datang suara suitan panjang yang amat nyaring, diikuti dengan suara suitan pertama yang makin lama makin jauh.
Liem Tou yang sedang mendengarkan dengan penuh perhatian itu tiba-tiba dibuat kaget oleh perkataan kakek aneh itu ujarnya.
“Loo Jie telah dipancing pergi oleh Kioe long, bocah cilik itu cepat kemari, aku akan menurunkan beberapa macam ilmu pukulan kepadamu, asalkan kau bisa belajar rajin pada kemudian hari sekalipun dikejar oleh Loo Jie pasti bisa mempertahankan jiwamu”
Mendengar perkataan itu dengan cepat Liem Tou bangkit berdiri tetapi baru saja berjalan satu langkah terdengar suara jeritan ngeri dari pengawal yang berada diluaran, kemudian disusul dengan suara sipengemis cilik itu yang sedang membentak.
"He .. Nenek kera ! turun tangan kejam ter¬hadap gentong-gentong nasi itu apa gunanya? Coba kau terima pukulanku ini."
Sejak sipengemis cilik itu keluar dari penjara mulai saat itulah bagaikan batu yang tenggelam dalam lautan bebas, sedikitpua tidak mengeluarkan suara, kini secara tiba-tiba terdengar suaranya tak tarasa lagi ujar Liem Tou dengan cepat.
"Locianpwee coba kau dengar, dia benar-benar telah bergebrak melawan orang orang itu.”
Tetapi teringat pula akan Si siucay buntung, Thiat Sie Sianseng serta pengemis pemabokan yang datang terakhir, entah dimana mereka-mereka ini?
Baru berpikir sampai disitu langkah kaki pun tidak terasakan telah menjadi lambat lagi, dengan sangat gusar bentak kakek aneh itu.
“Hei bocah cilik kau tidak bersungguh-sungguh hati, jodohmu hanya sampai disini"
Mendengar ancaman itu dengan cepat Liem Tou lari menghampiri kakek itu, siapa tahu sepasang matanya telah dipejamkan rapat rapat, sekalipun Liem Tou telah berulang kali memanggil Locianpwee tetapi kakek aneh itu masih tetap berdiam diri tidak menjawab.
Saat itulah Liem Tou baru menyesal karena telah menghilangkan kesempatan yang baik, terpaksa dia kemball ketempat semula dan mulai bersemedi sesuai dengan petunjuk dari kakek aneh itu.
Ternyata tidak salah, kali ini dia merasa jauh berbeda dengan waktu semula, hawa murninya tidak mengumpul didalam pusar lagi sebaliknya telah mulai menyebar keseluruh tubuh sehingga terasa olehnya tubuhnya menjadi sangat nyaman.
Semula ketika Liem Tou mulai melakukan semedinya dia masih dapat mendengar suara bentrokan senjata yang berada diluar, tetapi lama-kelamaan akhirnya terasa seluruh tubuhnya menjadi kosong, sehingga membuat lupa akan segala-galanya.
Keesokan harinya ketika dia mendusin kembali, terdengarlah suara kokokan ayam yang memecahkan kesunyian, sinar matahari dengan perlahan-lahan memancarkan sinarnya menembus jendela penjara itu tetap keadaan diluar penjara sangat sunyi, ketika dia mengalihkan pandangannya terlihatlah kakek aneh itu masih tetap duduk ditempat semula agaknya dia belum sadar dari pulasnya,
(Bersambung ke-jilid 4 )
JILID KE: 4
Dengan cepat dia merangkak bangun, terasa olehnya seluruh tubuhnya merasa sangat nyaman, ketika melirik kearah sipir bui itu terlihatlah dia masih mendengkur dengan enaknya, dengan perlahan dia mulai berjalan keluar terlihatlah diatas tanah darah segar berceceran memenuhi seluruh ruangan, teringat kembali olehnya pengalaman kemarin malam tak terasa bulu kuduknya pada berdiri.
Baru saja dia hendak melangkah keluar lagi tiba tiba terdengar suara peringatan dari si pengemis cilik itu .
"Hei, pencuri kerbau cepat bersembunyi, Hek Loo jie mau datang memeriksa tempat ini”
Mendengar perkataan itu dengan tergesa gesa Liem Tou memeriksa sekeliling tempat itu tapi tetap tak melihat bayangan dari sipengemis cilik itu, baru saja mau menyusup mengundurkan dirinya kebelakang terdengar sipengemis cilik itu berteriak lagi.
"Keadaan disekeliling tempat itu sekarang sangat bahaya, baik jago dari kalangan Hek to maupun dari kalangan Pek To pada bersembunyi disekeliling tempat ini siap munculkan dirinya, cepat kau balik bilang sama itu Hek Loo toa bilamana nanti Loo jie datang memeriksa bui dia harus sedikit berhati-hati karena dia secara diam-diam mau turun tangan jahat terhadap dirinya."
Setelah mendengar perkataan itu tak tertahan lagi seluruh tubuh Liem Tou gemetar dengan keras dia sama sekaIi tak menyangka kalau di tempat yang semakin sunyi suasananya keadaannya makin bahaya dan semakin mengerikan.
Dia tahu saat ini telah sangat mendesak sekali, dengan tergesa gesa dia putar tubuhnya lari kesamping tubuh kakek tua yang aneh itu sambil dorong tubuhnya serunya.
"Locianpwee cepat bangun, Locianpwee cepat bangun."
Pada saat yang bersamaan itu pula mendadak dari luar penjara terdengar suara digetarkannya pecut kulit sehingga mengeluarkan suara yang nyaring kemudian disusul dengan teriakan seorang dengan suara yang amat keras.
"Pembesar kota datang mengunjungi penjaga bui harap keluar menyambut"
Dalam hati Liem Tou tahu dengan jelas yang dimaksud sebagai pembesar kota itu tentunya bangsat Hek Loo jie itu, hatinya semakin cemas tapi justru kakek aneh itu sudah di dorong beberapa kali tetap saja tak mau sadar dari pulasnya didalam keadaan yang sangat cemas dan terdesak itu dengan tak memperdulikan peraturan serta adat istiadat lagi sepasang tangannya mencekal batok kepala kakek aneh itu dan menggoyang-goyangkan beberapa kali sedang mulutnya teriaknya dengan keras.
"Loocianpwee cepat bangun, apa kau tak ingin nyawamu."
Saat itulah dengan perlahan kakek aneh itu baru sadar kembali dari pulasnya, sambil me-mandang kearah LiemTou yang berdiri disampingnya dengan amat dingin ujarnya.
"Siauwcu kau tak bersungguh sungguh hati pikiranmu pun tak menentu sekarang datang kesini mau apa ?”
Segera Liem Tou menyampaikan apa yang dikatakan sipengemis cilik itu kepadanya, dalam hatinya dia mengira setelah kakek aneh itu mendengar perkataan itu air mukanya tentu akan berubah menjadi tegang.
Siapa tahu sesudah mendengar perkataan tersebut keadaannya masih tetap saja seperti semula, sahutnya sambil tertawa tawar.
-Oooh. . . loo jie mau datang ? Itulah sangat bagus sekali. Aku Hek Loo toa sudah dapat melihat kedua buah kitab rahasia didalam dunia ini sekalipun binasa juga rela."
Perkataan ini diucapkan dengan nada yang demikian menyedihkan mcmbuat hati Liem Tou yang mendengar disampingnya tak tertahan Iagi bergidik, tiba tiba sepasang matanya yang sangat tajam itu dengan tak berkedip kedipnya memandang sekejap kearah Liem Tou, tanyanya.
"Heei bocah cilik, kenapa kau demikian cemasnya?”
"Selama tiga tahun lamanya Loocianpwee merasakan siksaan didalam penjara gelap serta merasakan penderitaan pecut yang setiap hari menghajar tubuh cianpwee semuanya ini tidak lebih hanya dikarenakan sejilid ilmu kitab silat yang tak mau diserahkan kepada orang jahat, hal ini memang membuat hati satiap orang merasa kagum juga merasa sedih kini situasi telah demikian mendesak serta bahayanya kenapa boanpwee tak ikut cemas melihatnya?"
Atas perkataannya ini rnenbuat air muka kakek aneh itu segera berubah jadi sangat serius agaknya hatinya sangat berterima kasih sekali atas ucapannya, sepasang matanya bersinar dengan sangat tajam memandang muka Liem, tanyanya kemudian:
"Hei bocah cilik, perkataanmu ini apa sungguh-sungguh keluar dari dasar hatimu ? Hek Loo toa pada masa yang lalu merupakan seorang iblis yang paling ditakuti didaerah Siok lo, tapi benar-benar aku merupakan seorang yang patut dipuji patut dikasihani?"
Seseorang yang berhasil melepaskan dirinya dari kejahatan dan kemhali kejalan yang benar bahkan telah melalui penderitaan serta siksaan yang maha berat maka orang itu secara tidak sadar akan, merasakan suatu pergolakan yang hebat, begitu mendengar perkataan yang menghibur dirinya, demikian juga halnya dengan Hek Iootoa ini sesudah dia menderita siksaan selama tiga tahun lamanya achirnya dari jalan yang sesat dia telah berhasil kemball kejalan yang benar, dan kini setelah mendengar perkataan dari Liem Tou ini sudah tentu hatinya segera bergolak dengan kerasnya.
Liem Tou yang melihat sikap dri kakek aneh itu tidak terasa lagi menganggukkan kepalanya, sahutnya:
"Tidak salah, bukan saja boanpwee seorang diri yang merasa kagum terhadap loocianpwee, aku kira sekalipun para jago dalam dunia persiiatan pun seharusya menaruh rasa kagum terhadap diri loocianpwee."
Semakin mendengar perkataan dari Liem Tou ini air muka dari kakek aneh itu berubah semakin cepat, sebentar terlihat perasaan girangnya sebentar lagi timbul perasaan ragu ragu tetapi sepasang matanya dengan sangat tajam tetap memperhatikan wajah Liem Tou.
Tiba tiba . , tangannya yang kurus kering itu diulur kedepan mencekal kencang-kencang pundak dari Liem Tou, dari kelopak matanya yang teJah menekuk kedalam itu secara mendadak menetes keluar titik-titik air mata dengan derasnya, sambil tertawa girang ujarnya.
“Hei bocah cilik, Hei bocah cilik apa sungguh sungguh perkataanmu ini ? Maukah kau ulang sekali lagi perkataanmu itu ?? Ha ... ha . .Hek Loo toa tidak sia-sia menerima siksaan selama tiga tahun ini,"
"Perbuatan dari cianpwee sedikitpun tidak salah, bagaimana bisa bilang siksaan ini tidak sia-sia?”.
Kakek anek itu dengan cepat melepaskan cekalannya dan bangkit berdiri, mulutnya tetap tertawa ternahak bahak denga kerasnya tetapi suara tertawa ini jika didengar didalam telinga Liem Tou penuh mengandung perasaan sedih serta dukanya yang amat sangat.
Suara tertawa dari kakek aneh itu bukannya tambah berhenti sebaliknya semakin lama suaranya semakin keras pada saat itulah suara sambatan pecut diluar panjara berbunyi kembali, Liem Tou menjadi sangat terkejut, teriaknya.
"Loocianpwee hati hati!, dia sudah hampir datang.”
"Ha ha ha ha . . - Loo jie mau datang ??? biar dia datang aku tidak takut padanya lagi, aku tidak akan takut padanya lagi.”
Sehabis herkata terlihatlah tubuhnya mendadak merendak kebawah, sepasang tangannya dipentangkan keluar sedang air mukanya berubah kembali menjadi amat seram, serius keren serta menakutkan, sikapnya mirip sekali dengan seorang dari angkatan yang lebih tua.
Liem Tou yang melihat perubahan wajahnya menjadi tertegun untuk beberapa saat lamanya sedang dalam hati diapun semakin menghormat dan kagum lagi terhadap kakek ini.
Kakek aneh itu sesudah merentangkan tangannya terhadap Liem Tou tiba tiba ujarnya.
"Kau perhatikanlah dengan teliti, inilah tiga jurus terakhir yang merupakan jurus paling lahay dari ilmu Sam In Chiat Cuang Cing atau ilmu telapak dingin penjebol hati yang telah mengangkat namaku atau ilmu didalam Bu lim pada waktu yang lalu, pada masa yang lampau suhuku hanya menurunkan ilmu ini pada aku seorang saja Loo jie sama sekali tidak mendapatkan, didalam kitab silat Toa Lo Cin keng sekalipun terdapat juga ilmu ini tetapi tidak lebih juga garis besarnya saja sadang perubahan yang penting justru tidak terdapat. Sabenarnya aku tidak ingin menurunkan ilmu ini kepadamu tetapi saat ini entah apa sebabnya aku sendiri juga tak tahu mendadak telah berubah pendapat, sekarau kau lihatlah dengan teliti."
Tiba tiba telapak tangan kirinya didorong setengah lingkaran kedepan kemudian sambil menebas ditarik kebelakang kembali sedang tangannya, mendadak bagaikan kilat cepatnya mambabat dari atas turun kebawah dengan kerasnya, teriaknya dengan keras.
"Jurus pertama In Hun Put San atau sukma halus tidak buyar”
Diikuti tubuhnya berputar setengab lingkaran ditengah udara, kedua buah pundaknya diangkat secara mendadak men jatuhkan diri kebawah dan bersalto. Liem Tou yang melihat disamping merasa sangat heran, diam diam pikirnya.
"Ilmu telapak macam apa ini?"
Pada saat ini pundak dari kakek aneh itu belum sempat mencapai pada permukaan tanah tiba tiba pinggangnya memutar ternyata bagaikan seekor ular menggeliat keatas dan mumbul keatas dengan cepatnya, bersamaan pula sekarang telapaknya didorong kedepan, teriaknya.
"Jurus kedua Ooh Koei Ciat Hun atau setan lapar menubruk sukma."
Sesudah itu dia berdiri tegak tak bergerak sedang napasnya terengah engah, ujarnya lagi kepada Liem Tou.
"Jurus ketiga Chie Mey Hang atau siluman iblis bergoyang baru dilakukan bilamana memiliki IImu meringankan tubuh yang agak lumavan, kini otot-otot kakiku sudah diputar oleh Loo Jie sekalipun dalam hati punya kemauan apa daya kekuatan tidak memadainva, apa boleh buat.?”
"Hanya cukup sampai disini saja budi yang loocianpwee sedikit kalau memangnya demikian biarlah boanpwee pada kemudian hari belajar sendiri dari atas kitab silat Toa Loo Cin Keng itu saja ."
“Hmm … “ sahut kakek aneh itu sambil mengangguk, memang terpaksa harus berbuat begini.
Sehabis berbicara menundukkan kepalanya termenung berpikir sebentar mendadak kepalanya diangkat memandang wajah Liem Tou ujarnya dengan terengah engah.
“Sedang mengenai . .. mengenai tempat penyimpanan kitab silat To Kong pit Liok .. “
Liem Tou begitu mendengar kalau kakek aneh itu ternyata mau memberi tahu padanya tempat penyimpanan kitab rahasia To Kong pit L,ok itu mcnjadi sengat girang sekalt dia samna sekali tak pernah menyangka kalau dirinya bisa kejatuhan untung yang demikian besar, tak tahan lagi wajahnya memperlihatkan sikap yang sangat dan berubah dengan hebatnya, sikap yang ketololan muncul kembali pada wajahnya disaat amat tegang ini.
Baru saja kakek aneh itu mau mengucapkan sesuatu ketika melihat sikap dari Liem Tou yang ketolol tololan itu mendadak matanya dipejamkan kembali, sambil menggelengkan kepalanya sahutnya,
“Aku tidak akan bicara, siapa tahu kalau kau bocah cilik mau juga dengan sipengemis busuk itu sesgaja datang dengan bertujuan benda itu.”
Liem Tou juga tidak dapat berbuat apa spa, sebenarnya dia memang tidak punya minat un tuk mendapatkan kitab rahasia ilmu silat ini, hanya saja karena secara kebetulan menemuinya saja membuat hatinya merasa tertarik, kini dia tidak mau bicara tentu dia juga tidak mau terlalu mendesak.
Pada saat ini suara gendereng berbunyi untuk ketiga kalinya kemudian dari luar pen jara disusul dengan suara bentakan keras, segera terlihat petugas penjara sebagai petunjuk jalan membentang pintu penjara dan berjalan masuk.
Begitu kakek aneh itu melihat masuknya penjaga penjara itu segera terlihatlah alisnya dikerutkan dalam dalam, mendadak tangannya dengan keras mencengkeram tubuh Liem Tou dan dilemparkan kearah pojokan yang gelap, ujarnya.
“Bocah cilik, disini tidak ada urusanmu lagi cepat pejamkan matamu pura pura tidur.”
Liem Tou yang didorong dengan tenaga besar oleh kakek aneh itu segera terhuyung beberapa tindak kedepan baru berhasil menegakkan tubuhnya kembali tetapi saat itu kakek aneh tersebut memalingkan kepalanya memandang kearah pintu luar penjara yang berjeruji besi itu sejak tadi telah terlihat beberapa orang petugas penjara memasuki penjara dan berdiri didepan dengan tegapnya.
Terpaksa Liem Tou mengikuti ucapannya duduk bersandar dipojok dinding penjara tetapi hatinya tetap berdebar dengan kerasnya, dia tahu kini tempat persembunyiannya dari Hek Loo Toa telah diketahui orang lain kemungkinan sekali setiap saat dia akan diculik untuk dibawa ketempat lain, kali ini Hek Too Jie sendiri yang menjenguk kedalam penjara sudah tentu dia tidak akan melepaskan dia dengan demikian mudahnya, bahkan diluar penjara secara diam diam sudah ada beberapa orang yang siap turun tangan, dengan demikian agaknya Hek Loo-toa sukar untuk meloloskan diri dari bencana itu.
Berpikir sampai disai tidak tertahan lagi teriaknya.
"Cianpwe kau baik2 jaga diri" Didalam nada ucapan itu agaknya masih mengandung maksud yang rnerdalam, kakek aneh itu mendengar per kataannya segera menoleh tanyanya.
“Bocah cilik, kau bicara apa?.”
Tidak disangka baru saja perkataannya selesai diucapkan dua orang petugas penjara telah menggotong sebuah anggun api yang sangat panas berjalan masuk kedalam penjara, api yang bergolak didalam angun itu berkobar dengan sangat besarnya ditangan petugas penjara lainnya terlihatlah sebuah japitan besi yang besar diangkat masuk pula, begitu melihat melihat besar tersebut tat tertahan lagi Liem Tou serta kakek aneh itu merasa bergidik sedang hatinya te rasa berdesir.
000O000
3
Pada saat itu sipir bui yang diberi obat tidur oleh pengemis cilik mendadak dicekal oleh penjaga penjara itu kemudian pipinya diga¬plok dengan kerasnya terdengar suara yang amat nyaring berkumanding datang tetapi dia masih tetap belum sadarkan diri dari tidurnya yang sangat nyenyak .
Terdengar dari luar penjara seseorang telah berteriak dengan keras.
“Thay ya tiba.”
Liem Tou segera menoleh memandang kearah sana terllihatlah seorang lelaki berusia kurang lebih tiga puluh tahunan dengan memakai kopiah pembesar serta jubah pembesar dengan senyuman berjalan masuk kedalam penjara, tubuhnya tak begitu besar sedang wajahya licin, diam diam dalam hati Liem Tou berpikir.
“Jika dilihat dari sikapnya yang halus bagaikan seorang siucai ini sedikitpun tidak mirip dengan penjahat yang suka main bunuh tanpa pilih bulu”
Sebaliknya kakek aneh itu begitu melihat dia beralan masuk sepasang matanya dengan sangat tajam memandang dirinya tanpa berkedip, bahkan sepasang tangannya disiapkan sehingga terlihatlab sepuluh jarinya yang runcing bagaikan cakar garuda.
Dengan langkah yang sangat perlahan sekali pembesar kota itu setindak demi setindak berjalan mendekati arahnya tetapi sepasang matanya tak memandang sekejappun kearahnya, sebaliknya sepasang mata kakek itu tetap memandang tak berkedip.
Pembesar kota itu berjalan maju dua langkah lagi, mendadak sambil balikkan tubuhnya dia membentak dengan keras.
“Kau mau brabuat apa?”
Jubahnya dikebitkan kemudian dibabat kebawah dalam sekejap saja dia berhasil mencekal urat nadi dari tangan kiri kakek aneh itu, serangan yang dilakukan didalam keadaaan yang tidak terduga ini membuat Liem Tou yang hendak disampingpun saking terkejutnya tak terasa Iagi keringat dingin mengucur keluar dengan derasnya.
Kakek aneh itu mana mau menyerah dengans begitu saja terdengar sambil membentak yang sangat mengerikan dengan seluruh kekuatannya dia berusaha membebaskan urat nadinya yang dicekal oleh pihak musuh ini, diam-diam Liem Tou merasa amat cemas melihat keadaannya ini.
Tiba tiba tangan kanannya membalik dengan cepat salah satu jurus serangan dahsyat dari ilmu telapak dingin penjebol hati yakni jurus lh Hun Put San atau sukma halus tak buyar dilancarkan kedepan, serangan ini dilakukan demikian cepatnya sehingga sukar untuk dilihat dengan pandangan mata biasa. terdengar pembesar kota itu menjerit kesakitan tanpa bisa menghindarkan diri lagi dadanya kena hajar serangannya yang dahsyat ini, sedang kakek aneh itu pun dengan mengambil kesempatan ini melarikan diri kesamping.
Tetapi langkah kakinya kelihatan sedikit terhuyung huyung sehingga sukar untuk berdiri tegak. Liem Tou yang memandang wajahnya terlihatlah menjadi pucat kehijau-hijauan sungguh menakutkan sekali, dia tahu seluruh jalan darah penting didalam tubuhnya telah tertotok ditambah lagi serangan dilancarkan dengan sepenuh tenaga membuat dia menjadi kehilangan keseimbangan.
Ketika memandang lagi kearah pembesar kota itu terlihatlah sepasang tangannya mencekal kencang-kencang dadanya, tetapi dari atas wajahnya yang putih halus itu memancarkan sepasang sinar mata yang amat buas, melihat hal itu diam diam pikir Liem Tou didalam hati.
"Hm . . bukannya saat ini Koay Loo tauw tak punya tenaga, mana mungkin kau bisa hidup lebih lama lagi."
Pcmbesar kota atau si Hek Loo jie itu sesudah berdiri beberapa saat lamanya saling berhadapan dengan kakek aneh itu selangkah demi selangkah dia maju kembali dengan dingin bentaknya.
“Loo toa, aku memandang diatas hubungan persaudaraan diantara kita memberikan kesempatan sekali lagi bagimu untuk berpikir kau mau menyerahkan itu kitab atau tidak ? Sebentar lagi aku akan mengambil keputusan.”
"Kau binatang yang tak tahu malu, enyahlah dari sini."
Hek Loo jie hanya tertawa dingin saja sama sekali tak ambil perduii atas makiannya, sambungnya lagi.
"Siok To Siang Mo sudah terkenal sabagai penjahat gemar bunuh orang, sekalipun kau tidak mau menyerahkan kitab silat orang-orang dari dunia kangouw juga tidak akan mengampuni dosa- dosamu ?”
Sambil berkata setindak demi setindak Hek Loo jie mulai mendekati tubuh kakek aneh itu lagi.
Liem Tou yang menyembunyikan dipojokan penjara, dengan sangat jelas sekali melihat seluruh peristiwa yang terjadi sejak dia melancarkan cengkeraman mencekai urat nadi Loo-toa sampai saat ini dalam hatinya segera dia sadar kalau dia merupakan seorang manusia yang berhati kejam, licik serta banyak akal, saat ini sekali lagi dia melangkahkan kakinya mendekati tubuh Loo toa, kebanyakan dalam hatinya sudah mengandung maksud jahat.
Siapa tahu ketika Hek Loo jie itu melihat sipir bui masih tidur terlentang dengan nyenyaknya itu, mendadak dia barjalan kearahnya, sesudah memandang beberapa saat kearahnya barulah dia mengulurkan tangan memeriksa dadanya, bentaknya.
"Seret dia keluar dari sini."
Sejak Hek Loo jie masuk kedalam ruangan penjara tak seorangpun diantara penjaga bui itu yang angkat bicara, agaknya mereka amat jeri terhadapnya,
Saat ini seorang diantara para penjaga itu menyahut dan mulai berjalan keluar sambil menyeret sipir bui yang kekar besar itu.
Siapa duga begitu dia menyeret turun dari sipir bui itu Liem Tou yang berada disamping hamper-hampir saja menjerit keras saking kagetnya. Kiranya tubuh dari sipir itu begitu digerakkan dari mulutnya mendadak menyemburkan darah segar membuat penjara yang menyeret tubuhnya itu saking terkejutnya hampir saja melemparkan tubuhnya.
Tetapi begitu dilihatnya Hek Lok Jie dengan mata yang melotot sedang memandang kearahnya sekalipun mau dilepaskan juga tidak berbuat demikian.
Dengan perlahan Hek Loo jie memutar tubuhnya kembali kearah Loo-toa, bentaknya sambil tertawa dingin.
“Loo toa, bagaimana?, aku lihat lebih baik kau serahkan padaku saja.”
Kakek aneh itu tetap tidak mau menggubris dirinya dengan tenangnya dia berdiri mematung ditempat.
Tiba-tiba sinar mata yang amat tajam dari Hek Loo-jie dengan perlahan lahan mulai bergeseser kearah tubuh Liem Tou yang bersembunyi dipojokan ruangan. Liem Tou yang dipandang seperti itu tidak terasa lagi jadi meringkik saking takutnya seluruh tubuhnya gemetar dengan sangat keras, sedang dalam hatinya diam diam berteriak.
"Dia turun tangan padamu seperti juga pada saat turun tangan pada sipir bui itu, aku harus menggunakan cara apa untuk meladeni dirinya.”
Tidak salah dengan langkah yang perlahan tapi mantap, setindak demi setindak Hek Loo¬jie mulai mendekati tubuhnya, hati Liem Tou semakin bardesir bibirnya digigit kencang kencang sedang dalam hatinya secara mendadak teringat akan Lie Siauw Ie, doanya.
"Ie cici, kau dimana, aku adik Tou sekarang sedang menemui bahaya! mungkin selama hidup kita tidak akan dapat berjumpa kembali”
Bersamaan waktunya pula sepasang kakinya yang lurus kedepan ditarik kembali, sikapnya menjadi duduk bersila sedang hawa murninya pun secara diam diam dipusatkan pada pusarnuya siap menghadapi musuh, sehingga setiap saat dapat melancarkan serangan untuk melindungi dirinya sendiri.
Saat itu Hek Loo jie semakin berjalan satu tindak mendekat, hatinya semakin tegang satu kali lipat, tidak lama kemudian jarak dariHek Loo jie dengan tubuhnya tidak lebih tinggal tiga lima langkah lagi, seluruh bulu kuduknya menjadi berdiri peluh dingin mengucur dengan derasnya sedang sepasang matanya dengan melotot memandang tak berkedip atas wajahnya, mana berani berlaku ayal didalam saat seperti itu, teriaknya didalam hati.
"Jangan dekati aku .jangan dekati aku lagi.."
Waktu itu sekalipun jumlah orang yang berada didalam penjara itu tidak sedikit tetapi suasananya sunyi senyap tak terdengar suara sedikitpun juga, siapapun tidak berani mengeluarkan suara sehingga keadaan pada saat itu ngeri menyeramkan.
Pada saat yang kritis itulah tiba tiba terdengar teriakan dari kakek aneh itu dengan keras.
“Hei kau binatang, kau kira dengan bunuh babi jagal kambing bisa membuat aku ketakutan?, jangan mimpi!”
Suara makiannya makin lama makin keras, bentaknya lagi dengan semakin keras.
"Aka beri tahu hei binatang, sekalipun kitab silat To Kong Pit Liok" aku beri padamu kau kira bisa dengan aman lolos dari daerah Cong Ling ini?"
Mendengar perkataan itu, Hek Loo jie segera menghentikan langkahnya dan membalik tubuhnya kembali, waktu itulah Liem Tou baru bisa menghembuskan napas lega.
"He .. hei ..! bentak Hek Loo jie, apa maksud ucapan itu? Apa mungkin sudah berubah maksud untuk menyerahkan kitab silat itu padaku?"
Kakek aneh itu tertawa serak, dengan perlahan lahan jarinya yang kurus kering ditudingkan keluar penjara sambil ujarnya.
"Sekalipun akal dan sifat diri Hek Loo jie sangat keji dan kejam, dengan tersenyum bisa membunuh orang tetapi selamanya terhadap kecerdikan serta akal dari Loo toa sangat jeri sekali oleh karena itulah begitu Loo toa bicara demikian diapun terpaksa secara diam diam mengambil kewaspadaan lagi."
Saat ini air muka Hek Loo jie berubah pucat kehijau hijauan, hatinya setengah percaya setengah tidak terhadap perkataan dari Lao toanya itu, sebentar sebentar dia memandang keluar penjara sebentar lagi beralih memandang terpesona keatas wajah Loo toa.
Air muka kakek aneh itu mendadak berubah menjadi amat keren, bentaknya.
“Kau mau coba coba ?"
Sesaat sesudah Hek Loo jie mendengar perkataan dari Loo toanya itu sebenarnya didalam hatinya sudah timbul perasaan curiga kini melihat sengaja dia memperbesar omongannya tak terasa lagi tertawa dingin tak henti hentinya, sahutnya.
"He .. he .. he . agaknya kau tidak mau padam hatimu sebelum melihat sungai Hoang Hoo, tidak akan melelehkan air mata, sebelum melihat peti mati, sudah sampai keadaan seperti ini masih ingin menggunakan perkataan apa lagi?"
"Hmm..hmm baiklah," sahut kakek aneh itu sambil mengangauk." Bagus sekali, kau tunggu saja.”
Sekonyong konyong . . terdengarlah kakek aneh itu dengan suara yang keras berteriak ke arah luar penjara, serunya.
“Kitab silat To Kong Pit Liok merupakan salah satu kitab rahasia pada saat ini seharusnya dimiliki oleh orang yang budiman dan berhati luhur, Loo jie kau binatang bilamana kau terus menerus mendesak jangan salahkan aku kalau segera akan merobek robek kitab ini, siapa saja jangan harap bisa memilikinya kembali.”
Liem Tou sesudah mendengar perkataan itu tidak terasa lagi menjadi sangat heran dengan sangat jelas diketahui olehnya kalau kitab silat "To Kong pit Lok " tidak berada didalam tubuhnya bagaimana dia kini bisa bicara demikian ??"
Tidak disangka baru saja pikiran ini berkelebat didalam benak Liem Tou dari luar penjara terlihatlah melayang datang bayangan manusia dengan kecepatan luar biasa, tahu tahu didepan pintu penjara telah berdiri dua orang menghadang jalan perginya, bersama sama mereka membentak dengan keras.
"Hek Loo toa, tahan.",
Liem Tou yang bersembunyi ditempat gelap dipojokan ruangan penjara dengan sangat jelas sekali segera dapat mengenal salah seorang diantaranya merupakan pembesar buta yang memakai baju kebesaran serta kopiah kebesaran itu sedang orang yang satunya lagi mempunyai bentuk tubuh kurus kering tetapi sangat tinggi, air mukanya pucat pasi kehijau hijauan wajahnya kurus lancip sedang pada tangan kirinya membawa tasbeh melihat hal itu tak terasa hatinya menjadi tergerak diam diam pikirnya,
"Apa mungkin orang ini adalah hweesio yang disebut sebagai mayat hidup oleh Thiat Sie sianseng?"
Begitu kedua orang itu munculkan dirinya didepan pintu penjara sesudah merandek segera berjalan masuk kelalam ruangan penajara.
Liem Tou yang memperhatikan hweesio itu secara diam diam segera dapat melihat sewaktu dia berjalan tubuhnya memang sangat kaku bagaikan mayat hidup, setiap langkahnya tentu kedua kakinya bersama sama meninggalkan permukaan tanah, boleh dikata dia sedang meloncat, melihat hal ini Liem Tou segera sadar kalau dugaannya ternyata tidak meleset, orang ini tentu adalah hweesio mayat hidup.
Perasaan terkejut yang mencekam hati Hek Loa jie jauh lebih hebat lagi, mimpipun dia tidak pernah mengira kalau ditengah hari siang bolong seperti ini masih terdapat juga orang-orang yang menyatroni dirinya.
Jangan dikata hweesio mayat hidup serta pembesar buta itu turun tangan bersama-sama sekalipun salah seorang turun tangan sendiripun dia tidak akan sanggup melayaninya, didalam keadaan terkejut bercampur cemas tangan diulapkan memberi tanda para penjaga penjara, sambil teriaknya.
"Kalian gentong nasi, cepat tangkap mereka!"
Para penjaga penjara itu mana tahu kelihayan dari kedua orang, ditengah suara bentakan yang keras bersama sama mereka menerjang maju.
Si hweesio mayat hidup dengan pembesar buta itu sama sekali tidak bergerak, kakinya tidak bergeser, sampai kepalanyapun tidak diputar sedikitpun. Terdengar sihwcesio mayat hidup itu dengan perlahan berdoa.
"Omintohud."
Tasbeh yang berada ditangannya diayunkan, Liem Tou hanya melihat suatu bayangan hitam berkelebat dengan sangat cepat, penjaga yang berada dipaling depan segera menjerit ngeri, kepalanya hancur luluh, sedangkan tubuhnya rubuh keatas tanah binasa seketika itu juga.
Begitu dia memperlihatkan kepandaiannya bagaikan anjing yang kena kemplangan, penjaga penjaga lainnya saking ketakutan air mukanva berubah menjadi pucat pasi, kaki tangannya berubah menjadi lemas mana berani maju setengah tindak lagi.
Dalam hati Hek Loo jie tahu kalau keadaan tidak mengijinkan, baru saja hendak meminjam kesempatan ini untuk melarikan diri siapa tahu begitu matanya melirik keluar penjara hatirya menjadi sangat terkejut sekali.
Kiranya entah mulai kapan, si Siucay buntung, pengemis pemabok dan Thiat Sie Sian¬sang sekalian dengan tidak manimbulkan suara sedikitpun telah berdiri diluar penjara, hanya dalam sekejap saja tempat itu telah dihadiri oleh Tionggoan Ngo Koay coba kau pikir dia merasa terkejut tidak akan kejadian ini ?
Si pembesar buta yang memiliki telinga yang sangat tajam saat ini agaknya juga merasakan sesuatu, dengan cepat dia putar tubuhna sambil bertanya.
'Siapa ?”
Mendengar suara bentakan itu si hweesio mayat hidup dengan cepat putar tubuhnya berpaling saat itulah terdengar suara tertawa tergelak yang sangat nyaring dari sisiucay buntung, pengemis pemabok dan Thiat Sie Sianseng, sambil mengayunkan Tha Kauw Pang-nya maki pengemis pemabok itu.
“Hei mayat hidup, pembesar picek, kemarin malam kita belum puas bertanding mari hari ini kita lanjutkan pertandingan ini”
Si hweesio mayat hidup yang diejek dengan perkataan ini tetap tidak ambil perduli, air mukanya yang pucat pasi sedikitpun tidak menampilkan perubahan sabaIiknya saking kekhira si pembesar buta itu membentak keras tongkat, tongkat besi ditangannya dengan cepat diayunkan ke depan secara mendadak sekali mengancam tenggorokan sipengemis pemabok itu serangannya amat ganas, bertenaga dan dilakukan bagaikan kilat cepatnya.
Tetapi sekalipun dia cepat, orang Iain lebih cepat dari dirinya baru saja tongkat penggebuk anjing dari pengemis pemabok hendak memunahkan serangannya itu, sie poa ditangan Thiat Sie Sianseng dengan cepat telah dibalik menahan serargannya, ujarnya dengan kalem.
"Kau pembesar picek, tunggu sebentar, dengar dulu omonganku.”
Kepada si Siucay buntung dan Thiat Sie Sianseng Liem Tou memangnya pernah bertemu sekali dan terhadap mereka berdua pun didalam hatinya telah timbul rasa simpatiknya, kini melihat mereka berdua munculkan dirinya ditempat ini bahkan saat ini mendengar Thiat Sie Sianseng hendak berbicara tanpa terasa lagi semangatnya menjadi terbangun kembali sedang seluruh perhatannyapun dipusatkan padanya, perhatiannya terhadap kakek aneh serta Hek Loo jie pun tidak terasa menjadi semakin kendor.
Kedengaran Thiat Sie Sianseng dengan perlahan telah berkata kembali.
“Selama berpuluh tahun lamanya Tionggoan Ngo Koay mengasingkan dirinya masing-masing, ini hari bisa berkumpul kambali ditempat ini tidak lebih karena sejilid kitab silat To Kong pit Liok, kini kali bukannya memusatkan seluruh perhatian untuk mendapatkan kitab silat bahkan sebaiiknya berebut kembali soal dendam sakit hati pada masa yang lalu, bukannya ini sangat aneh sekali, kemarin malam kalianpun sudah melihat sendiri orang orang yang menghendaki kitab silat ini bukan kami Tionggoan Ngo Koay saja, bahkan para jago dari partai-partai lain pun sudah pada berdatangan disamping itu menurut apa yang aku ketahui Partai Kiem Tian pay dari Telaga Auh Hay serta partai Tun Sin pay yang tidak pernah mencampuri urusan dunia luarpun telah mengirim orang datang”
Sipembesar buta yang melihat dia berbicara tidak henti-hentinya sejak tadi sudah merasa tidak sabaran, kini potongnya dengan nada yang sangat keras.
“Persetan mereka mau mengirim berapa banyak orang, kitab silat To Kong pit Liok ini bila kalau bukannya milikku maka kau peda¬gang licik jangan harap bisa mendapatkannya, dengan mengandalkan Siepoa bututmu tidak usah banyak omong.
“Ha ha ha - - . “ ujar Thiat Sie Sianseng sambil tertawa terbahak-bahak, “Kau sudah buta sepasang matamu sekalipun mendapat kitab silat To Kong pit Liok, apa gunanya? Tidak perlu terlalu berangasan dengar dulu omonganku. Sekalipun jago dari Bu lim maupun dari lain perkumpulan disini juga tidak akan membuat kita jeri hanya saja tali hubungan yang paling penting sekarang ini terletak diatas tubuh Hek Loo Jie, sejak dahulu dia sudah punya maksud membunuh dan mencelakai Hek Loo toa, bilamana dia sampai binasa lalu siapa lagi yang tahu kitab silat To Kong pit Liok, disimpan dimana?”
Begitu dia mengucaplan kata kata ini diam-diam Liem Tou merasa sangat kagum atas kecerdikannya, dengan cepat sinar matanya digeser keatas wajah Hek Loo Jie, dalam hati dia mengira tentunya air mukanya telah berubah pucat kehijauan, siapa tahu air muka dari Hek Loo Jie saat ini masih seperti semula memasuki penjara, senyumannya menghiasi seluruh wajahnya sedang sikapnyapun tenang-tenag saja tidak terasa lagi hatinya menjadi sangat heran.
Pada saat itulah terdengar Thian Sie Sianseng membentak dengan keras.
“Hati hati tangkap dia!”
Perkataan dari Thiat Sie Sianseng belum diucapkan selesai sejak semula Hek LooJie membentak keras, tubuhnya berputar ditengah udara kemudian dengan meminjam kesempatan tersebut dia melancarkan suatu serangan yang dahsyat kearah dada dari Hek Loo toa membuat dia saking tak tertahan tubuhnya terjengkang kebelakang, darah segar memancar keluar dengan derasnya dari mulut, sedang tubuhnya bergelinding hingga kesamping tubuh Liem Tou.
Setelah itu dengan tidak membuang kesempatan lagi tubuhnya bagaikan kilat cepatnya mererobos keatas membuat genting pada rontok kebawah sedang tubuh dari Hek Loo jie itu dengan cepat keluar dari atas genting dan melarikan diri.
Keadaan yang berubah dengan demikian cepatnya inilah mem buat Tionggoan Ngo Koay dibuat bingung secara mendadak, dengan tidak memperdulikan lagi pada diri Hek Loo toa dengan cepat mereka mangejar kearah Hek Loo Jie yang melarikan diri itu, inipun termasuk perhitungan bintang atau takdir mengharuskan Liem Tou yang mendapatkan kitab silat ini secara tidak disengaja.
Kita balik lagi pada tubuh Hek loo toa yang terkena pukulan dahsyat dari Hek Loo Jie hingga terpental jatuh kesamping tubuh Liam Tou. Dengan tergesa gesa Liem Tou mentangkan tubuhnya, sehingga untuk sementara masih bisa mempertahankan tubuhnya untuk sekejap hanya saja saat ini darah segar mengucur keluar dengan derasnya, dia telah terluka dalam parah sekali, sekalipun dewa turun dari kahyangan pun tidak mungkin bisa menolong jiwanya lagi.
Dengan sangat berhati-hati Liem Tou meletakan tubuh Loo toa keatas tanah, memandang keadaan yang sangat mengenaskan itu dia dibuat men jadi bingung, tanyanya dengan gugup.
“Loocianpwee, aku Liem Tou, lukamu sangat parah masih bisa disembuhkan tidak?”
Saat itu mendadak terlihat dua orang penjaga penjara berjalan mendekat kearah mereka Liem Tou yang melihat hal itu saking gusarnya seluruh wajahnya berubah menjadi merah padam bentaknya dengan keras.
“Kalian cepat menggelinding dari sini kalau tidak hemm , .. hem . . . jangan menyalahkan aku turun tangan kejam.”
Begitu selesai berbicara tangannya diajukan melancarkan serangan, angin pukulan yang dikerahkan keluar sekalipun tidak begitu dahsyat tapi kedua orang penjaga penjara itu tidak sanggup untuk menerimanya dengan cepat dan tergesa gesa mereka mengundurkan dirinya kebelakang.
Dengan cemas ujar Liem Tou lagi sambil menggoyang-goyangkan tubuh dari Hek Lao toa,
"Loocianpwee, kau bicaralah dengan cara apa aku harus menolong untuk menyembuhkan luka mu ini ?”
Dia tidak tahu saat ini Hek Loa toa sudah amat susah untuk barbicara terlihatlah dengan paksakan dirinya dia menggelengkan kepalanya tak terasa lagi Liem Tou menjadi amat sedih ujarnya.
"Kalau begitu Loocianpwee memang sungguh tak ada harapan lagi?” Loo cianpwee, aku adalah Liem Tou bilamana Loo cianpwee punya urusan yang penting sampaikanlah kepadaku , aku pasti akan melaksanakan harapan Loo cianpwee hingga berhasil."
Tidak disangka begitu Liem Ton mengucapkan kata-kata itu sepasang mata dari Hek loo toa yang tadinya dipejamkan rapat rapat itu secara mendadak dipentangkan lebar lebar sesudah me¬mandang beberapa saat lamanya kearah Liem Tou barulah dengan perlahan dia mengangguk sedang dari kelopak matanya tak tertahan lagi melelehkan titik air mata.
Liem Tou yang melihat dia me!elehkan air mata semakin dibuat bingung baru saja hendak buka mulut untuk bicara mendadak terlihatlah tangan kanan dari Hek Lao toa dengan perlahan menggeser pada pinggangnya.
Hati Liem Tou segera bergerak teringat lagi ketika kemarin hari sesudah dia dihajar dengan pecut dan makan tali pinggangaya maka lukanya segera sembuh hatinya menjadi girang de¬ngan cepat tanyanya.
“Loo cianpwee apa mau cari tali pinggang itu?"
Hek Loo toa mengangguk kembali dengan cepat Liem Tou melepaskan tali pinggang itu dan menghantarkan kepinggir mulutnya, dengan tak menunggu nunggu lagi kira-kira dua coen dari tali pinggang itu telah ditelan kedalam perutnya.
Tak lama lagi Hek Loo ton sudah tidak muntah darah, sedang suara rintihannyapun mulai terdengar, Liem Tou menjadi sangat girang sambil berlutut disampingnya serunya.
"Loocianpwee, kau merasa baikan bukan?"
Hek Loo toa hanya menggelengkan kepalanya sambil memejamkan matanya dengan perlahan gumamnya.
“Mo Ku Tiauw Cong Ci Cie Tong."
Liem Tou yang mendengar perkataan itu diam-diam merasa sangat bingung pikirnya dalam hati.
"Ehm- - kematiannya sudah diambang pintu ternyata dia masih punya niat untuk membaca syair ini Aaaai sungguh kasiban sekali."
Siapa tahu begitu Hek Loo toa selesai mambaca kalimat pertama tetap tak mendengar sahutan dari Liem Tou mendadak sepasang matanya melotot keluar memandang kearah Liem Tou, sedang air mukanyapun telah terjadi perubahan besar.
Liem Tou menjadi tertegun secara tiba-tiba dia sadar kembali, dengan cepat lanjutnya dengan suara perlahan.
"Pit Bun Kong Can Tui Jan Kang."
Saat itu barulah terlihat pada bibir Hek loo toa tersungging suatu senyuman, lanjutnya lagi.
"Pak Hwie Sian Po Tong Ang Hwee."
"Wu Ting Stauw Liauw Soat Ta Cuang."
Seperti juga pada semula menanti Liem Tou selesai membaca syair ini tanyanya dengan -cepat, “Siapa kau?"
"Boanpwee Liem Tau" sahut Liem Tou tanpa ragu-ragu. "Cianpwee punya perintah apa lagi terhadap diriku?"
"Bukan . . bukan” ujar Hek Loo toa sambil gelengkan kepalanya, "Bukan bukan Liem Tou ingat kau bukan Liem Tou, kau adalah….”
Agaknya secara mendadak Liern Toupun telah merasa kalau perkataan ini masih mengandung mak sud yang sangat mandalam dengan cemas tanyanya.
"Locianpwee, slapa kau?”
Bukannya menjawab tiba-tiba pada mulut Hek- Loo toa tersungging suatu senyuman yang amat dingin, ujarnya dengan tawar.
"Sanggupi aku untuk bunuh binatang itu, maka aku akan segera beri tahu padamu."
"Hek Loo jie jadi orang licik menganiaya saudara sendiri siapapun yang tahu tentu akan berusaha membasmi dirinya."
"Aku minta kau bunuh dia" bentak Hek loo toa sambil melototkan matanya.
"Asalkan boanpwee berbasil melatih ilmu silat tentu akan membantu cianpwee membalaskan dendam ini."
Setelah rnendengar perkataan itu Hek Loo toa barulah menjadi puas sambil mengangguk sahutnya:
"Siapa kau ? Makan tanpa ikan, pergi tanpa kereta, mana-mana tiada rumah tinggal, hamba bukan manusia."
Diam diam Liem Tou mengingat ingat perkataan ini didalam hatinya, terdengar dengan paksakan diri ujar Hek Loo toa lagi.
"Akt sudah tak bisa bertahan lebih lama lagi untuk mendapatkan kitab rahasia To Kong Pit Liok" itu kau harus ingat perkataan tadi, kitab itu disembunyikan di . .."
Parkataan selanjutnya belum sempat diucapkan tiba tiba terlihatlah sipengemis cilik itu dengan cepat lari masuk kedalam penjara, tangannya dengan cepat mencengkeram tubuh Hek Lo toa sambil bentaknya dengan keras.
"Hek Lao toa, kau tak bisa binasa dengan demikian saja, kitab silat "To Kong Pit Liok" kau semunyikan dimana? Cepat bicara. Karena perbuatan jahatrnu selama puluhan tahun lamanya ditambah lagi dengan dosamu yang sudah tumpuk tumpuk sekalipun harus binasa juga tidak sayang, tapi bilamana kitab silat "To Kong Pit Liok" itu sampai musnah dikarenakan kematianmu maka dosa ini sangat besar sekali, kau harus binasa dengan keadaan yang mengerikan.”
Liem Tou yang mendengar ucapannya yang kasar itu tak terasa menjadi sangat gemas, dengan gusar bentaknya.
"Kini Loo cianpwee sedang mederita luka parah bagaimana kau berani bertindak demikian kasarnya ? Cepat lepaskan."
Sejak Hek Loo toa menelan tali pinggang itu sebenarnya dengan paksakan diri dia masih sanggup untuk mempertahankan dirinya, saat ini begitu dicengkeram oleh sipengemis cilik dadanya terasa sangat sesak dan kesakitan tak kuasa lagi darah segar menyembur keluar dari mulutnya dengan sangat deras sedang dia sendiri jatuh tak sadarkan diri .
Baru saja Hek Loo toa mau memberitahukan tempat penyimpanan kitab silat "To Kong Pit Liok" kepadanya secara mendadak telah terjadi perubahan demikian besarnya, membuat hawa amarah didalam tubuh Liem Tou tak kuasa lagi memuncak, tangannya menyambar , Plaaak.. . dengan tidak dapat dihindar lagi pipi dari pengemis cilik itu telah terkena gaplokannya yang sangat keras ini dengan gusar bentaknya.
"Bangsat tak tahu malu terjun sumur mengangkat batu, menyiram minyak menyulut api cepat menggelinding dari sini."
Sipengemis cilik yang merupakan jago yang memiliki kedudukan sangat tinggi didalam partai Kiem Tian Pay ditelaga Auh Hay ditambah lagi disekitar daerah telaga Auh Hay kecuali Auh Hay Ong sendiri siapapun jeri tiga bagian terhadapnya siapa sangka ini hari merasakan gaplokan dari Liem Tou membuat wajahnya segera berubah menjadi hijau seperti besi saking gusarnya dengan suara yang melengking tinggi bentaknya.
'Bangsat anjing busuk, kau berani pukul aku”
Tangannya diangkat melancarkan ilmu yang paling lihay, Yan Wie Cui Hun Cie atau ilmu dari burung walet mengejar nyawa menotok wajah Liem Tou, sedang pada saat yang bersamaan pula Liem Tou yang melihat tubuh Hek Loo toa bergoyang sedang membungkukkan tubuhnya sehingga dengan tepat terhindar dari serangan jari dari pengemis cilik itu, tanyanya.
"Loocianpwee, kau kenapa ? Kau belum sempat berbicara dengan ku."
Dari tenggorokan Hek Lootoa hanya terdengar suara serak yeng tidak enak didengar sedang sepatah katapun tidak sanggup untuk dibicarakan lagi.
Si pengemis cilik yang berdiri disamping begitu mendergar perkataan Liem Tou ini segera berhenti menyerang, bentaknya.
He .. . he .bagus sekali, kiranya sejak tadi sudah beritahu padamu "
Liem Tou tidak mau perduli terhadap dirinya tetap saja dia melanjutkan bertanya pada Hek Loo toa, tapi keadaan dari Hek Lootoa sudah parah benar-benar, terIihatlah tubuhnya mendadak berkerut, sepasang kakinya diluruskan kedepan napasnya putus dan demikianlah dia menemui kematiannya dengan sangat mengenaskan.
Hubungan antara Liem Tou dengan Hek Lao toa selama dua hari ini sekalipun tidak dapat dikatakan sangat rapat tetapi bagaimnapun juga budi menurunkan kepandaian silat serta pemberitahuan untuk menemukan kitab silat To- Kong Pit Liok membuat hatinya tak terasa lagi timbul perasaan simpatiknya, apalagi terhadap kematian dari Hek Lootoa yang kembali ke jalan yang lurus membuat hatinya sangat kagum. Sekarang sudah tentu merasa amat sedih sekali, tanpa sadar dengan periahan dia menjatuhkan diri berlutut disamping tubuhnya, untuk beberapa saat lamanya tidak mengucapkan sepatah katapun juga.
Si pengemis cilik yang menunggu disampingnya mana bisa bersabar lebih lama lagi teriak nya:
"Hei bangsat cilik, tamparanmu tadi untuk sementara aku tidak mau menraih, aku mau tanya padamu tempat penyimpanan kitab silat To Kong Pit Liok apa Hek Lootoa benar benar sudah beritahukan pada dirimu?”
Saat ini Liem Tou yang berlutut disamp;ng jenazah Hek Loo toa secara tiba- tiba menemukan tangan kanan dari mayat Hek Loo toa masih tergetar dengan keras, dengan tidak memperdulikan lagi perkataan dari si pengennis cilik itu seluruh perhatiannya dipusatkan.
Kiranya entah pada saat kapan tangan kanan Hek Lootoa telah menuliskan sebuah kata “Wu" pada tanah dengan menggunakan darah segar yang dimuntahkan itu.
Liem Tou yang melihat tulisan itu dalam hatinya segera berputar, pikirnya.
"Wu? Bukankah yang dimaksud gunung Wu San? Hek Loo toa merupakan saIah satu iblis dari Siok To Siang Mo, pada masa yang lampau seluruh kejahatan yang dilakukan juga hanya terbatas pada daerah Siok To ini saja, sudah tentu tulisan Wu yang dimaksudkan sesaat menjelang kematiannya adalah gunug Wu San”
Liem Tou yang berpikir sampai disini segera menjadi paham semuanya dengan cepat dan sa¬ngat hormat dia menganggukkan-kepalanva didepan jenasah Hek Loo toa sambil ujarnya.
“Terima kasih atas petunjuk Loocianpwee, boanpwce sudah benar benar paham,."
Dengan perkataan dari Liem Tou ini semakin mcmbuat kecurigaan didalam hati si pengemis cilik bertambah tebal, dengan cemas tanyanya.
"He bangsat cilik, dia sungguh-sungguh sudah beri tahu padamu tempat penyimpanan kitab silat To Kong Pit Liok itu?"
Saat ini Liem Tou sudah benar-benar benci terhadap sipengemis cilik ini, dengan periahan-lahan dia bangkit berdiri dan siap berjalan keluar dari penjara itu, bagaimananun juga saat ini sudah tidak ada orang lagi yang bisa mengurusi dirinya bilamana tidak pergi maka akan tunggu kapan lagi?"
Baru saja dia berjaIan dua langkah tiba-tiba teringat kembali akan ikat pinggang dari Hek Lao toa itu, dalam hati pikirnya.
"Ehm .. tali ikat pingaarg itu tentu merupakan obat yang sangat mujarab sekali, lebih baik aku simpan untuk digunakan dikemudian hari.
Berpikir sampai disitu segera dia putar tubuhnya memungut kembali ikat pinggang itu yang ditalikan pada tubuh sendiri.
Si-pengemis cilik ying sudah tahu kalau Liem Tou telah mengetahui tempat penyimpanan kitab silat "To Kong Pit Liok", mana mau malepaskan dia dengan demikian mudahnya, tubuhnya berkelebat dengan cepatnya menghalangi jalan pergi Liem Tou bentaknya lagi.
"Bangsat cilik, bilamana kau tidak mau beritahu tempat penyimpanan kitab silat “To Kong pit Liok” ini hari jangan harap bisa lolos dari tempat ini dengan selamat.”
"Hmm.. pengemis busuk, siapa yang bilang aku tahu tentang kitab silat itu, engkau jangan edan.”
Dalam hati Liem Tou tahu urusan ini menyangkut perebutan benda didalam dunia kang ouw, bilamana dia sampai mengakuinya secara terus terang maka pasti akan menemui bencana kematian, oleh karena itu bagaimanapun juga ia tidak berani mengakuinya secara terus terang, tetapi pengemis cilik yang mendengar dari Liem Tou dengan mata telinga sendiri mana mau mempercayainya dengan begitu saja, sudah tentu tidak akan melepaskan dirinya dengan demkian mudahnya.
Hal ini membuat hawa amarah Liem Tou sekali lagi memuncak, sambil mendelik ujarnya.
"Kau mau paksa aku?"
Tetapi didalam hati Liem Tou tahu dengan jelas bilamana dia benar benar bergebrak melawan pengemis cilik, sudah tentu bukanlah tandingannya, oleh sebab itulah sekalipun pada mulutnya dia bicara membuat amat gusar, tetapi tetap saja tidak mau turun tangan.
Dalam hati sipengemis cilik sendiri juga ragu-ragu, jika dilihat dari sikapnya yang ketolol-tololan serta langkah kakinya yang berat slapapun tidak akan percaya kalau kepandaian silatnya lumayan, tetapi dia sendiri sudah dua kali mengalami kerugian ditangannya, oleh karena itu diapun tak berani turun tangan dengan segera.
Demikianlah kedua orang itu saling berdiri berhadap-hadapan, sepasang mata dari masing masing pihak melotot saling memperhatikan gerak gerik musuhnya, sipengemis cilik yang memandang wajah Liem Tou itu semakin dipandang dia semakin merasa wajahnya yang tampan, kulitnya yang putih bersih serta pengetahuannya yang luas, sekalipun lagaknya seperti orang ketolol-tololan tetapi juga tidak kehi¬langan sifat jantan dari seorang lelaki sejati, sebaliknya Liem Tou yang memandang wajah pengemis cilik itu semakin dilihat terasa olehnya semakin mangkal terasa olehnya sekalipun wajahnya kotor pakaiannya yang dipakai sangat dekil tetapi pancainderanya sangat indah, giginya yang rata putih bersih serta kulitnya yang halus lembut sungguh sangat indah dan menarik sekali.
Tiba tiba bayangan dari Lie Siauw Ie berkelebat didalam hatinya pikirnya.
"Bagaimana aku bisa membuang waktu dengan percuma ditempat ini?. le cici setiap hari tentu sedang menanti kedatanganku di perkampungan Ie Hee Cung, bilamana aku harus menyia-nyiakan kesempatan menyerang gunung pada dua tahun mendatang maka aku harus mananti tiga tahun lagi, bukankah membuat Ie cici semakin sedih?"
Berpikir sampai disini tidak tertahan lagi hatinya berdebar dengan sangat kerasnya, saat ini dia tidak ingin membuang waktu lagi, didalam ruangan penjara itu sambil mementangkan sepasang matanya yang jeli bentaknya dengan amat gusar.
"Minggir, bilamana kau tetap menghadang jangan salahkan aku akan berbuat kesalahan°
Sambil berkata dengan Iangkah yang lebar dia berjalan keluar penjara, si pengemis cilik yang diterjang dengan cepat mementangkan tangannya menghalau, melihat hal ini Liem Tou semakin gusar, bentaknya lagi:
"Minggir."
Tangan kirinya diulur kedepan mencengkeram tangan dari si pengemis cilik itu sedang tubuhnya maju lagi kedepan.
Pengemis cilik itu tertawa dingin, ejeknya.
"Hmmm .. dengan kepandaianmu apa kau kira dengan mudah bisa keluar dari sini ?”
Tangannya yang hendak dicengkeram itu mendadak dibalik mencekal urat nadi tangan kiri Liem Tou, siapa tahu jurus yang dilancarkan oleh Liem Tou ini merupakan salah satu jurus dari ilmu telapak Sam In Ciat Cuang Ciang yaitu jurus In Hum Put Sam atau sukma halus tidak buyar, tangan kiriaya hanya dikembangkan sedikit kemudian secara tiba-tiba ditarik kembali, telapak kanannya dengan tenaga murni yang amat dahsyat secara mendadak menyambar dari bawah keatas, kekuatannya ternyata tidak lemah.
Sebenarnya seluruh perhatian dari pengemis cilik itu sedang dipusatkan pada urat nadinya, siapa tahu serangan ini datangnya amat ganas dan aneh ketika dia merasakan datangnya serangan telapak tangan dari Liem Tou sudah berada didepan dadanya, tidak terasa lagi dia menjerit kaget dengan kerasnya dan dengan tergesa gesa meloncat mundur, tetapi sekalipun serangan dari Liem Ton ini tidak sampai menyebabkan dia teriuka parah tetapi dadanya sudah ditekan dengan keras.
Berturut turut pengemis cilik itu mundur beberapa langkah kebelakang seluruh tubuhnya gemetar saking gusarnya, tetapi air mukanya telah berubah menjadi merah padam sampai pada lehernya dengan termangu-mangu dia berdiri mamatung beberapa saat lamanya memandang diri Liem Tou, tiba-tiba perasaan sedihnya mencekam seluruh hatinya tidak tertahan lagi menangis tersedu-sedu dengan sedihnya, sedang tubuhnya bagaikan seekor burung walet dengan cepat melayang keluar.
Liem Tou yang melihat kepergian dari pengemis cilik itu begitu cepatnya menjadi sedikit tertegun, tetapi sebentar saja dia merasa geli sekali dengan perlahan diamenoleh memandang sekali lagi ke jenazah Hek Loo toa yang terlentang ditengah darah yang berceceran membasahi lantai, ujarnya dengan sedih.
“Loocianpwee beristirahatlah dengan tenang, Liem Tou minta diri”
Sehabis barkata dengan langkah tenang dia berjalan keluar dari penjara terus kejalan raya, dalam hatinya diam diam dia merasa sangat heran ruangan pengadilan yang menjadi satu dengan penjara itu sekalipun sangat luas tetapi tak nampak sesosok bayangan manusiapun, agaknya pertempuran kemarin malam membuat para penjaga dibikin kalang kabut oleh para jago yang datang menyerang sehingga sekarang pada melarikan dirinya.
Liem Tou juga tidak mau menggubris hal ini, dengan langkah perlahan dia berjalan keluar jalan raya terlihat orarg yang sedang lalu Ialang ditengah jalan hampir sebagian besar merupa kan jago-jago Bu lim yang membawa senjata ta jam sekali, sedang saja sudah tahu kalau mereka merupakan jago pasaran yang tidak boleh disalahi, tidak aneh lagi kalau kaum pengemis serta hwesio banyak yang muncul disitu.
Liem Tou yang kini sudah mengetahui tempat penyimpanan kitab silat To Kong Pit Liok, malah membuat dia merasa tidak tentram, hatinya berdebar terus dengan kerasnya.
Begitu dia bertemu dengan orang orang itu tidak dia sadari lagi kepalanya ditundukan rendah-rendah sinar matanya memandang kebawah dan jalannyapun semakin tergesa gesa.
Sambil berjalan hatinya terus berputar sesudah ini dia harus pergi kemana? langsung ke gunung Wu san atau pergi kelain tempat terlebih dahulu ? Sebagai pengangon sapi untuk menabung uang guna berangkat ke gunung, Wu san mencari itu kitab silat To Kong Pit Liok pada waktu-waktu yang senggang dalam mengangon sapi itu mungkin juga dia bisa memperdalam ilmu silatnya dari kitab To Loo Cin Keng, mungkin juga dengan demikian kepandaiannya mendapatkan kemajuan.
Sambil berpikir sambil berjalan tidak terasa lagi dia sudah berada jauh diluar kota, sawah yang luas terbentaag disekelilingnya, dia tidak mau ambil perduli terus saja dia melanjutkan perjaIanannya kedepan.
Tidak lama kemudian di tempat kejauhan terlihatlah olehnya seorang petani yang sedang mencangkuli sawahnya, dengan cepat berjalan mendekat sambil ujarnya.
"Tolong tanya, disekitar dusun ini apa terdapat orang yang sedang butuhkan seorang pengangon sapi ?"
Petani itu ketika mendengar ada orang sedang mengajak dia bicara dengan perlahan menoleh memandang tapi segera ia jadi tertegun sesaat lamanya, kiranya petani itu tak Iain adalah pemimpin para petani yang pada dua hari yang lalu membawa Liem Tou masuk kedalam penjara.
Pada saat dia melihat Liem Tou yang sedang bicara dengan dirinya tak tertahan lagi mendadak mementangkan mulutnya sambil menjerit keras.
"Tolong.. , tangkap maling sapi”
(Bersambung ke Jilid 5)
LIEM TOU yang melihat itu menjadi amat terperanjat, didalam keadaan yang cemas serta bingung itu air mukanya berubab menjadi amat keren, dengan amat gusar bentaknya. ”Tutup mulutmu” Bersamaan pula tubuhnya maju satu tindak ke depan dan mencengkeram pakaian dari kakek petani itu sambil ujarnya lagi. “Persetan dengan maling atau bukan maling, kau jangau coba coba memfitnah orang baik2, pada waktu kemarin aku masih belum buat perhitungan dengan kau, ini hari kau tidak sopan lagi..Hmm..Hmm.. jangan salahkan aku kalau bertindak tidak sopan kepadamu”
Saat ini Liem Tou merupakan seorang yang sangat besar oleh sebab itulah begitu dia mencengkram pakaian kakek itu kemudian diangkatnya membuat wajah dari petani itu segera berubah menjadi merah padam sedang napasnya tersengkal sengkal
Dengan perlahan Liem Tau melepaskan cekalannya, petani itu berubah menjadi bisa menghembus nafaf lega dengan perasaan terkejut bercapur gusar, bentaknya: “Hai maling kerbau kau ingin bagaimana?
“Siapa yang mencuri kerbaumu? Kau melihat sendiri aku mencuri kerbaumu?” Kakek tua yang dibentak seperti itu menjadi tertegu, dengan sinar mata yang cermat dia memandang sekejap seluruh tubuh Liem Tou, melihat wajahnya yang tampan serta bersih memang tidak mirip sebagai pencuri. Hanya saja sampai saat ini dia masih tak mau percaya penuh atas perkataannya itu, tanyanya lagi : “Tetapi bagaimana kerbau itu bisa bersama-sama kau?”
Terpaksa dengan hati yang mangkel bin mendongkol Liem Tou sekali lagi menceritakan pengalamannya pada hari itu, bahkan maki2 ketololan orang-orang desa itu. Kakek itu setelah mendengar kisahnya segera termenung berpikir sejenak, barulah kemudian sambil mengangguk sahutnya. “ Oh.. kiranya demikian adanya memang hal ini bisa saja terjadi begini, kalau begitu memang diantara kita telah menjadi kesalahan.
Liem Tou yang mendengar nada ucapannya segera tau kalau dia masih setengah percaya itu saking gemasnya hampi-hampir saja perutnya pecah dengan cepat dia putar tubuhnya siap meninggalkan tempat itu, baru saja berjalan beberapa langkah tiba2 terdengar kakek yang berada dibelakang tubuhnya berseru dengan keras.
“Hei..balik, kau mau kemana?”
Liem Tou yang sedang gusar dan mangkel, dengan ketus segera sahutnya: “ Aku sudah kalian pukul sehingga seluruh tubuhku sampai kini masih belum sembuh apa kau mau mengumpulkan kawan2mu untuk mengeroyokku lagi?”
“Hei… Kau yang tidak tau, pada masa dekat ini disekitar tempat ini sering kehilangan kerbau sehingga bisa timbul kesalah pahaman seperti itu, tempat meneduhpun kau tidak milik daripada malam ini kau menginap didalam hutan lebih baik tinggal dirumahku saja, bagaimana?”
Liem Tou mendengar ucapannya yang ramah itu segera membuat perasaan mengkel didalam hatinya lenyap separuh. Pikirnya dalam hati “Hmm…kini aku tak ada tujuan yang tetap, tempat tidurpun tak punya lebih baik ikut saja”Pikirnya.
Sesudah berpikir sejenak barulah dai menyanggupi. Kakek itu segera membereskan dengan memimpin Liem Tou berjalan kea rah kesebuah dusun yang berpenghuni kurang lebuh puluhan keluarga saja.
Orang2 dusun yang tempo hari ikut menangkap Liem Tou sebagai pencuri kerbau ketika melihat Liem Tou yang saat ini diajak kakek itu masuk dusun segera menjadi gempar, tidak lama berselang berpuluh-puluh orang membanjiri rumah kakek itu sehingga suasana menjadi ramai, tetapi setelah diberi penjelasan dengan kakek itu urusan menjadi tenang dengan sendirinya.
Dengan keramah tamahan kakek itu yang terus menerus menyuruh Liem Tou tinggal di rumahnya memaksa dia terpaksa berdiam disana tiga hari lamannya, dalam tiga hari ini Liem Tou dengan mengikuti petunjuk dari Hei Loo Jie melatih ilmu pernafasannya sedang oada siang harinya membantu kakek itu mengangonkan sapinya.
Hari keempat pagi2 dengan paksakan diri Liem Tou minta diri pada kakek tua itu, siapa tahu dengan perasaaan iba hari dan hati yang jujur ujar petani tersebut “ Kau tidak punya rumah, tidak punya tujuan, sekarang mau kemana? Lebih baik tinggal saja dirumahku bilamana kau merasa tidak enak biarlah bekerja sebagai pengagon sapi disini saja”
Agaknya kakek itu telah tahu maksud dair Liem Tou yang sebernarnya, sebenarnya dia memang tidak mau meninggal tempat itu kini sesudah mendengar perkataan itu Liem Tou pun tidak menapik lagi.
Tidak disangka pada hari kelima didalam dusun itu secara mendadak berturut-turut muncul pengemis-pengemis serta hweesio yang dandanannya sangat aneh sebang dimalam harinyapun sering dengan jelas Liem Tou mendengar suara dari orang2 sedang berjalan malam.
Dengan demikian Liem Tou yang tinggal didalam dusun itu menjadi tidak tenang, jantungnya terus menerus berdebar dengan keras, tetapi untuk sesaat diapun tidak dapat minta ijin dari kakek itu untuk meninggalkan dusun tersebut.
Suatu hari Liem Tou dengan membawa kerbau menuju kebelakang gunung makan rumput, dia sendiri duduk disamping sebuah batu besar meng ingat2 kembali jurus2 dari ilmu pukulan dari kitab rahasia Toa Loo Gin Keng, mendadak dari samping muncul seorang tousu berusia pertengahan yang dengan perlahan berjalan mendekati dirinya, terlihatlah toosu itu memberi hormat padanya sambil Tanya.
“ Hei bocah cilik, didalam beberapa hari ini didalam kampungmu apa melihat munculnya seorang asing?”
Liem Tou mendengar pertanyaan itu hatinya menjadi bergerak, dengan tidak berubah wajah balas tanyanya.
“ Orang asing macam apa?”
“ Oh.. orang itu aku sih belum menemuinya, hanya aku tahu dia bernama Liem Tou”
Liem Tou yang tau namanya disebut hampir saja air mukanya berubah menjadi hijau sangking terkejutnya, tubuh meloncat mundur beberapa tindak. Sahutnya sedikit gugup “ aku juga belum pernah mendengar nama orang ini, hanya hal ini sangat aneh bilamana tooya tidak kenal dengannya mengapa mencarinya?”
Toosu itu memandang sekejap kearah Liem Tou kemudian bentaknya “Buat apa kau tanya ini, sudah tentu aku punya urusan cari dia”
“lalu siapa sebutan dari tooya? Bilamana pada kemudian hari aku bertemu dengan orang bernama Liem Tou akan kusampaikan kalau seorang tooya sedang mencari dia”
“hmm… tentang hal ini tidak perlu”
Sesudah itu dia lalu putar tubuh dan berlalu dari tempat itu, tetapi baru saja dia berjalan beberapa langkah dari tempat semula dari bawah bukit telah berkumandang suara tertawa ter galak2 dari seorang sambil ujarnya “ ha..ha..ha..Ciangbujin dari Butongpay Leng Ceng Cu juga dating.. wakakakak.. selamat bertemu.. tentu kaupun sendang mencari berita dari Liem Tou, bukan?”
Liem Tou yang mendengar suara tertawa itu sangat dikenal olehnya segera angkat kepala memandang, terlihatlah Thiat Sie Sian Seng dengan langkah lebar sedang jalan mendekat, hatinya menjadi sangat teperanjat saat ini dia baru tau kalau toosu tadi tidak lain ciangbujin dari Butongpay.
Ling Ceng Cu yang melihat munculnya Thiat Sie Sian Seng secara mendadak ditempat itu semula dibuat tertegun untuk beberapa saat lamanya, kemudian diapun tertawa tergelak sahutnya “ Haha..ha.. aku kira siapa kiranya Tiat sie heng yang telah dating selamat bertemu.. selamat bertemu. Kitab silat To Kong Pit Liok merupakan sebuah kitab silat yang berisikan ilmu silat yang sakti dan dahsyat, siapapun dari dunia kang ouw tentu mengunginkan kitab ini tidak terkecuali aku Leng Ceng Cu, Thiat sie heng kau kira bukankah begitu?”
“Bagus..bagus…memang tepat memang tepat”
Bersamaan pula kedua orang itu tertawa terbahak bahak nampak mereka berdua sangat girang sekali.
Liem Tou sejak melihat munculnya Thias sie Sianseng ditempat itu hatinya sudah amat kuatir kini melihat mereka berdua tertawa terbahak bahak dengan diam2 mengambil kesempatan ini melepaskan tali kerbau dan siap melarikan diri dari tempat itu. Pada saat itu terdengar olehnya Leng Ceng cu berkata “ pada kemudian hari bila ada kesempatan harap Thiat Sie heng segera naik keatas Butong untuk berkunjung,haha..ha selamat tinggal”
Liem Tou tahu Leng Ceng cu telah meninggalkan tempat itu diapun meminjam kesempatan itu lari dari tempat tersebut, siapa tahu pada saat itu juga terdengar suara bentakan keras dari Thiat Sie Sianseng.
“Liem Tou kembali..”
Ketika Liem Tou memalingkan wajah memandang, wajah dari Thiat Sie Sianseng pada waktu mana seperti Thiat Sie Sianseng tempo hari yang wajahnya selalu tersungging senyuman manis. Terlihat air mukanya berubah sangat keren sepasang matanya yang tajam bagaikan pisau dengan tak berkedip memandang dirinya.
Tak tertahan lagi Liem Tou merasa mengkirik, pikirnya “ agaknya diapun akan memaksa aku memberitahukan tempat penyimpanan kitab To Kong Pit Liok itu, bilamana dia mendesak sunguh2 bagaimana harus kuperbuat?? Hai..lebih baik kuberitahukan saja padanya, bagaimanapun juga dua merupakan jago yang berbudi luhur dan berhati baik”
Berpikir sampai disini hatinya menjadi terasa tentram, dengan langkag mantap dia berjalan sampai dihadapan Thiat Sie Sianseng, dengan hornat ujarnya “ Cianpwee ada pesan apa. Siaweu Liem Tou pasti akan melaksanakannya” siapa tahu dengan gusar bentak Thiat Sie Sianseng.
“Liem Tou kau dengan tidak sengaja mendapatkan kitab silat kenapa masih tidak melarikan diri jauh2 untuk bersembunyi dari becana? Kau tetap berada didaerah Cong Ling ini apa sedang menanti saat kematianmu?”
Semula kitaka Liem Tou melihat wajah Thiat Sie Sianseng yang penuh dengan hawa amarah hatinya merasa amat takut, tetapi kini setelah mendengat perkataannya yang demikian memperhatikan dirinya tak terasa lagi timbul perasaan terima kasihnya yang mendalam, dia tahu saat para jago baik dari kalangan Hek to maupun dari kalangan Pek To sedang mencari jejaknya, dirinya sendiri sedang berada dalam keadaan yang sangat kritis dan bahaya bahkan kemungkinan sekali setiap saat diculik oleh orang, makin lama makin ketakutan sedang keringat dingin mengucur bertambah deras.
Tak tahan lagi dia menjatuhkan diri berlutut dihadapan Thiat Sie Sianseng, ujarnya “Boanpwee berita kita ini tentu bersumber dari pengemis laknat itu, harap cianpwee mau menolongku” Thiat Sie Sianseng hanya berdiam diri saja, dengan pandangan tajam dia memperhatikan seluruh tubuh Liem Tou.
Tiba2 didalam pikiran Liem Tou terbayang kembali tujuan dirinya sekarang yaitu mecari guru pandai untuk belajar ilmu, kemudian sekali lagi dia naik kepuncak Hi Mo Ling untuk bertemu dengan Ie Cicinya, kini kesempatan baik sudah berada didepanya kenapa juga dia memohon Thiat Sie Sianseng mengangkat dia sebagai muridnya””
Berpikir sampai disini tanpa berpikir panjang lagi segera dia menggangguk anggukkan kepalanya sembilan kali sebagai upacara pengakatan guru. Semula agaknya Thiat Sie Sianseng masih tak merasakan akan hal ini tetapi anggukan Liem Tou belum habis sembilan kali Thiat Sie sudah merasakannya, dengan cepat dia melayang kesamping dan mencekal tangan Liem Tou untuk ditarik bangun, bentaknya dengan gusar
“ Kau ingin berbuat apa?”
“Cianpwee merupakan orang aneh yang berilmu tinggi, harap mau menerima aku Liem Tou sebagai murid, selama hidup melayani kebutuhan cianpwee” Sepasang mata Thiat Sie Sianseng melotot keluar, dengan gusar bentaknya lagi.
“ Hei bocah cilik kau masih tak terima dengan kepandaian yang bakal kau terima? Hmm… sungguh kurang ajar, bilamana aku ingin gurumu sejak dulu aku sudah pergi mencari kau buat apa kau mencari aku? Hmm..lain kali jangan coba2 untuk berbuat demikian lagi”
Liem Tou dimaki secara begini menjadi sangat murung, terpaksa ujarnya lagi. “ Sekarang cianpwee mau datang memberi peringatan Liem Tou merasa berterima kasi sekali. Kini situasi dari hamba sangat berbahaya, sekeliling tempat ini penuh dengan jebakan2 yang setiap saat dapat mencabut nyawa hamba, bilamana cianpwee memangnya tak punya niat menerima harap mau kasih keterangan untuk meloloskan diri dari bahaya kepungan ini”
Ketika Thiat Sie Sianseng melihat nada suara berubah barulah mengangguk, bagaikan keadaan semula dai mengambil Siepoanya dan dipukul pulang pergi beberapa kali sedang seluruh perhatiannyapun dipusatkan kesana. Liem Tou dengan tenang menati hasilnya disamping, terlihatlah jari2 tangan Thiat Sie Sianseng dengan cepat dan lembut menari diantara biji2 siepoanya, sedang air muka sebentar murung sebentar girang akhirnya tangannya pada pojokan dan berhenti sambil tertawa terbahak2 dia memandang wajah Liem Tou, dengan tajam membuat yang dipandang itu menjadi tertegun tak menentu.
Siapa tahu tiba2 suara tertawa dari Thiat Sie sianseng berhenti agaknya dia telah teringat akan sesuatu, jari tengah serta jari telunjuk sekali lagi dimainkan dari baris ketiga Sinpoanya lama sekali dia berpikir tanpa mengucapkan sepatahkatapun.
Beberapa saat kemudian terlihat keningnya sudah penuh dibasahi oleh keringat yang mengucur bagaikan hujan sendang mulut tetap membaca dengan perlahan. “Tiga kali tiga sama dengan sembilan, tiga kali tiga sama dengan sembilan, naik sembilan binasa, mata buta satu masih dapat melihat ditengah matahari melihat bintang, sapi berputar manusia budiman berjalan tiga hari tidak makan”
Thiat sie sianseng yang membaca terus dengan perlaha itu menjadi berhenti ari mukanya berubah hebat, serunya dengan keras. “ Hai bocah cepat lari”
Liem Tou yang melihat sikapnya yang sangat tegang itu menjadi ributkan cemas dengan sendirinya dengan gugup tanyanya.
“aku harus pergi kemana?”
“Cepat naik kerbaumu lari kearah timur laut. Cepat…cepat terlambat sedikit kau tidak punya nyawa lagi”
Mendengar teriakan ini tak tertahan lagi Liem Tou menjerit keras. Dengan cepat dia meloncat naik keatas punggung kerbaunya dan melepaskan tali pengikat dengan kecepatan yang luar biasa dia melarikan kerbaunya kearah timur laut tetapi baru saja lari kurang lebih ratusan tindak terdengarlah suara bentakan orang banyak yang semakin lama makin mendekat, terdengar salah seorang berteriak.
“Hai Liem Tou kamu mau lari kemana?”
“hai bocah cilik, sekalipun kau terbang keangkasa atau masuk kedalam tanah kami juga tetap akan mengejar, kitap To Kong Pit Liok jangan harap kau bisa miliki seorang diri”
Bahkan saat itu terdengar pula suara teriakan dari Thiat Sie Sianseng yang sedang memeperingatkan dirinya. “hai bocah cilik cepat lari, terlambat satu tindak berarti binasa”
Liem Tou semakin merasa ketakutan sambil menggigit kencang bibirnya sepasang kakinya dengan sekuat-kuatnya mengapit perut kerbau sedang ujung kakinya dengan seluruh kekuatannya menedang peru kerbau tersebut, serunya dengan keras. “Gouw ko, cepat lari…oh..kakak kerbau yang baik lari cepatttttttttttttttttttt”
Kerbau itu sesudah ditendang dengan keras Liem Tou saking kesakitan sambil cawat ekor bagaikan sambaran kilat cepatnya dengan tidak perduli apa2 lagi melarikan diri 80KM/jam dengan sangat cepatnya. Didalam sekejap saja Liem Tou sudah merasa sambaran angin men deru2 disamping telinganya, sedang pemandangan kedua belah sampingnyapun sangat cepat berkelebat menghilang kebelakang.
Tidak lama mereka sampailah disebuah tanah lapang rumput luas dihadapan dari lapangan rumput itu menjulang tinggi puncak2 gunung uang tersebar disekelililingnya, sehingga bentuknya seperti melingkar dengan perlahan2 Liem Tou menoleh memandang kebelakang dilihatnya orang2 yang mengejat sudah tidak Nampak sama sekali hatinya menjadi sedikit lega, sedangkan kerbau itupun sudah melihat rumput yang segar tidak mau lari lagi dengan menunduk kepalanya mulai mendahar dengan enaknya.
Liem Tou yang dibawa lari kerbau itu selama beberapa saat lamanya dengan lari yang demikian kencangnya semula masih tidak mengapa tetapi sesudah berhenti mulailah terasa seluruh tulangnya pada linu dan kaku, tak tertahan lagi dia menjatuhkan diri rebah diatas tanah rumput itu.
Baru saja duduk tidak lama tiba2 dari sekitar tanah lapang itu berkumandang datang suara bentakan yang sangat ramai kemudian disusul pula dengan suara tertawa yang terbahak2 memekikkan telinga, terdengar suara teriakan seseorang.
“Liem Tou, Liem Tou…dimana mana ada jalan kau tidak mau lewat sebaliknya sengaja memasuki lembah cupu2 ini, kali ini aku mau lihat kay bisa lari kemana lagi?” mendengar perkataan ini saking terkejutnya Liem Tou menjadi meloncat bangun kembali dan memandang kearah berasalnya suara itu tidak terasa lagi dia menjadi berdesir.
Kiranya kitab silat To Kong Pit Liok ini merupakan kitab rahasia yang turun temurun dari Sucouw keluarga Thio, sucouw sendiri sebenarnya bernama Ling Hu Han berasal dari kerajaan Bu Kong Hong, menurut berita turun termurun katanya dia merupakan turunan dari Thio Liang yang termasur itu, oleh orang2 selanjutnya yang mengikuti ajaran tersebut disebutnya sebagai Thio Too Leng.
Thio Too Leng sejak kecil sudah pandai mengusai seluruh kepandaian yang ada pada masa itu, ketika pada masa mendekati tua dia secara tidak sengaja telah bertemu dengan orang aneh yang memberikannya kepandaian silat kepadanya dan menetap diatas gunung Ho Uh Sar.
Sampai jaman kerajaan Song dimana perkumpulan Ceng Ie Kauw ini sedang jaya2nya didalam dunia kang ow, perkumpulan Ceng Ie Kauw ini merupakan yang didirikan pengikut2 Thio Too Leng dan mendapat hak untuk melindungi kitab rahasia, To Kong Pit Liok, padahal yang sebenarnya perkumpulan Ceng Ie Kauw itu sama sekali tidak memiliki kitab silat To Kong Pit Liok itu, meraka hanya sengaja membual untuk meluaskan pengaruhnya didalam dunia kang ouw. Akhirnya perkumpulan itu berakhir dengan dimusnahkan oleh orang2 dari golongan lurus.
Tidak disangka saat ini kitab silat, To Kong Pit Liok sekali lagi munculkan diri bahkan jatuh ketangan Hel Loo Toa dari Siok To Siang Mo yang mengakibatkan seluruh dunia kangouw menjadi gempar para jago bail dair kalangan pek to maupun dari kalangan hek to pada keluar dari sarangnya, hanya sayang kedatangan mereka telah terlambat satu tindak, tempat penyimpanan kitab silat To Kong Pit Liok sudah didapat oleh Liem Tou ketika mereka mendengar berita ini mana mau berdiam diri masing2 berusaha untuk mendapakan jejak selanjutnya dari Liem Tou, tetapi baru saja ditempat itu mereka hendak turun tangan diketahui oleh Thiat Sie Sianseng terlebih dahulu dan memperingatkan Liem Tou untuk melarikan diri.
Kini mereka semua sesudah mengejar setengah harian lamanya dan melihat Liem Tou dengan sendirinya memasuki lembah cupu-cupu yang buntu sudah tentu mereka sangat girang sekali.
Liem Tou dapat melihat orang2 yang datang hari itu sangat banyak sekali selain yang dia kenal yaitu Tiong goan Ngo Koay, Ciangbujin Butong Pay Leng Cen Cu, Hek Looji serta pengemis cilik lainnya masih sangat banyak sekali yang belum dia kenal maupun ditemuinya.
Pada saat ini setiap orang dengan wajah yang iri dan pingin ber sma2 berjalan mendekati dirinya, sedang Liem Tou yang melihat orang2 yang datang semakin lama semakin banyak saking takutnya membuat air mukanya berubah menjadi pucat pasi sedang tubuhnya berdiri mematung disana entah harus berbuat bagaimana baiknya, dalam hati diam2 merasa sedih pikirnya.
“Aku harus berbuat bagaimana? Aku harus berbuat bagaimana?”
Rombongan orang2 sesudah berjalan kurang lebih dua kaki dari dirinya barulah berhenti. Diantara orang2 itu yang belum melihat wajah Liem Tou tentunya mengira dia merupakan jagi yang memiliki kepandaian tinggi, siapa tahu begitu melihat bentuk serta sikapnya yang ke tolol2an sedang dandanannya pun merupakan seorang anak dusun pengembala kerbau tak terasa lagi dalam hatinya merasa sedikit ragu2, dengan sinar mata yang kurang percaya mereka memandang wajah Liem Tou tak berkedip.
Perasaan diluar dugaan ini terasa dalam hati Ciangbujin Botongpay Leng Ceng Cu ini sebenarnya dia sebanrnya sudah meninggalkal Liem Tou untuk pergi tapi ketika mendengar suara bentakan serta teriakan yang ramai itu segera membalikkan tubuh mengejar datang kembali. Kini ketika melihat Liem Tou ternyata adalah bocah pengembala kerbau yang ditanyainya tadi tak terasa menjadi tertegun, Tanya dengan cepat.
“Ooh…kaukah yang dimanakan Liem Tou”
Dua orang toosu yang berdiri disamping Leng Ceng Cu segera bertanya dengan nada yang heran. “ Leng Ceng Cu toosu apa mungkin pada sebelumnya sudah kenal dengan orang ini? Tahukah kau berasal dari partai mana?”
“Hei…heng San Jie Ya, jika dibicarakan sungguh menggelikan sekali, ketika tadi aku mencari berita mengenai jejak dari Liem Tou siapa tahu ternyata telah bertanya pada orangnya sendiri masih tidak merasa, bukankah hal ini sangat mengelikan sekali?”
Saat ini diatara orang2 itu mendadak mucul dua orang lelaki dan perempuan yang kepalanya seperti burung elang serta kepala kera, dandannanya sangat aneh sedang wajahnya jelek sekali, mereka sambil menunding kea rah Liem Tou bentaknya.
“Kamu bocah cilik busuk dari mana, apa kitab silat To Kong Pit Liok berhak kau dapatkan? Cepat serahkan padaku”
Liem Tou tidak mengucapkan sepatah katapun diam2 dia berpikir tentunya kedua orang ini adalah Lo San Kioe Long serta Wan Kauw, baru saja berpikir demikian terdengar pembesar buta angkat bicara.
“Siapa yang sedang bicara itu? Menurut kata2mu kita silat To Kong Pit Liok itu harus kau yang dapatkan?”
Kioe Long segera menoleh memandang, terlihat pembesar buta dari Tionggoan Ngo Koay berdiri sejajar dengan Hwesio manyat hiduo, ketika sinar matanya beralih menyapu kearah orang2 lain terlihat sinar maata orang dengan penuh perasaan gusar sedang memandang dirinya, tidak terasa hatinya menjadi berdesir dia tahu dirinya sekalipun mempunyai kepandaian yang lebih tinggipun juga suka untuk memusuhi jago2 dunia kangouw yang puluhan banyaknya ini, berpikir sampai disini bagaikan kepalanya secara mendadak diguyur dengan air dingin, niatnya pun mejadi dingin separuh. Bersamaan waktunya pula menjadi sadar akan situasi dirinya segera menarik lengan Wan Kauw mundur kebelakang dan ujarnya terhadap pembesar buta itu dengan sangat dingin.
"Kitab silat To Kong Pit Liok sekarang sudah jadi banda tanpa pamilik, kita harus mengunakan kepandaian dan kecerdikan kita sendiri untuk meadapatkannya."
Sehabis berbicara dia menari Wan Kauw kesamping dan secara diam2 merundingkan siasat untuk mendapatkan kitab silat tersebut. Liem Tou sendiri sesudah mendengar perkataannya dalam hatinya merasa semakin terkejut, pikirnya “ hei…hanya cukuo salah seorang dari mereka saja aku tidak sanggup untuk melawannya, apalagi sekarang berjumlah puluhan orang banyaknya. Bilamana sunguh2 mereka menggunakan kepandaian maju merubut bukankah badanku segera akan menjadi hancur lulu oleh keroyokan mereka ini?”
Baru saja Liem Tou berpikir sampai disini terlihat orang2 itu dengan perlahan-lahan mulai menyebar secara tidak langsung pula mengepung Liem Tou ditengah kalangan membuat Liem Tou sekalipun punya maksud untuk melarikan diri juga tidak berani untuk melakukannya.
Liem Tou yang melihat situasi sekelilinya telah berubah menjadi begini segera dia tahu kalau harapannya untuk melarikan diri tidak mungkin bisa tercapai lagi, satu2nya harapan baginya adalah mengharapkan petunjuk dari Thiat Sie Sianseng untuk sementara melindungi dirinya, oleh karena itulah sinar matanya dengan per lahan2 beralih ke arah Thiat Sie Sian Seng yang berdiri disebelah kirinya, pikirnya lagi.
“Thian Sie Sianseng merupakan satu rombongan dengan si sincay bunting serta pengemis pemabok, tetapi sekarang kenapa mereka tidak jadi satu?” Ketika dia memandang lagi terlihatlah si sincay bunting berada disebelah kanannya sedangkan pengemis pemabok berada dibelakangnya, mereka bertiga telah berdiri dengan bentuk segitiga.
Liem Tou melihat hal ini hatinya menjadi sadar, bersamaan pula ketika matanya melirik terlihatlah sipengemis cili itu berdiri sejajar dengan seorang pemuda tanpan yang memakai pakaian singset, saat ini perasaan bencinya terhadap pengemis cilik sudah meresap ketulang sumsuny, pikirnya dalam hati. “ Bencana ini semuanya tentu disebabkan oleh pengemis busuk yang banyak mulut”
Mendadak pada otaknya berkelebat sesuatu akan, teringat kembali ketika masih berada didalam penjara Hek Lo Toa pernah membuat gusar pengemis cilik itu dan menyuruhnya dia menghadapi Kiow Long Wan terlebih dahulu sebelum menginginkan kitab silat itu. Kini tak terasa lagi berkelebat memenuhi pikirannya, mendadak sambil menunding kearah pengemis cilik itu teriaknya.
“Kitab silat To Kong Pit Liok hanya sebuah, mana mungkin bisa dibagi rata pada saudara sekalian yang demikian banyak jumlahnya, kini aku Liem Tou sudah ambil keputusan untuk menyerahkan kitab silat itu kepada kalian. Asalkan siapa saja yang sanggup menangkap pengemis cilik itu dan serahkan kepadaku untuk diberi hukuman, maka kitab silat itu akan segera kuserahkan kepadanya.”
Begitu perkataan ini diucapkan segera memancing perundingan diantara orang2 di sekeliling tempat itu, ketika Liem Tou memandang kearah sipengemis cilik terlihat dengan mata melotot gusar dia sedang memandang kearahnya, sedang air mukanya kelihatan sangat jelek sekali menahan perasaan marah dan gusar dalam hati, tapi diikuti pula menengok kekanan kiri agaknya takut ada orang yang turun tangan terhadap dia sehingga sikapnyapun semakin bertambah tegang. Saat itulah dari belakang tubuh Liem Tou terdengar seorang berteriak dengan keras.
“Perkataanmu itu sunggu sungguh??”
“Perkataan seorang laki-laki sejati sebesar gunung thaysan, sekali diucapkan tidak ditarik kembali”
Bersamaan pula Liem Tou menoleh kearah dimana berasal suara itu, terlihatlah tidak jauh dari sipengemis pemabok berdiri lima orang berwajah menyeramkan dengan memakai pakaian serta celana dari kain blaco, orang yang baru saja angkat bicara adalah salah satu dari lima orang tersebut.
Orang itu melihat Liem Tou menoleh kearahnya segera memperlihatkan sebaris giginya yang putih runcing serta menyeramkan, itu membuat tubuh Liem Tou segera merasakan bergindik sedang perasaan berdesir muncul dari dasar lubuk hatinya.
Bersamaan waktunya pula salah seorang diantara mereka tanya kepada empat orang yang lainnya kemudian ber sama2 mendekati sipengemis cilik itu. Mendadak seorang pemuda tanpan yang selama ini berdiri disisi pengemis cilik itu memperdengarkan suara yang sangat menyeramkan kepada kelima orang lelaki jelek berbaju blaco itu, bentaknya dengan amat gusar.
“Cian Pia Ngo Koei agaknya kalian sudah makan nyali macan..hmm…hmm…siapa saja yang berani mengganggu seujung rambutnya jangan salahkan aku Tok Ci Kiam Tan (sijari beracun jarum emas) Song Beng Lan berlaku terlalu ganas”
Cian Pian Ngo Koei (silima setan dari daerah Cian Pian) sama sekali tidak memperdulikan omongannya, langkahnya masih tetap melajutkan menuju pengemis cilik itu, sahutnya. “Sijari beracun jarum emas Song Beng Lan tidak lebih hanya seorang Jay Hoa Cat (penjahat pemetik bunga) yang gemar dupa pemabok, kita orang mau lihat kau mau berbuat apa?”
Air muka pemuda itu segera berubah menjadi ke hijau2an menahan perasaan gusar yang memuncak, bentaknua dengan keras.
“Kowncu harap berhati hati, Siauw Jin akan turun tangan”
Sehabis berkata terlihat tubuhnya berkelebat dengan cepatnya menyambut datangnya tubuh Cian Pian Ngo Koei, bersamaan pula jarinya di keraskan, kemudian dengan kekuatan dahsyat jarinya menyerang dada dari salah satu dari lima orang tersebut. Orang yang diserang itu bukan lain adalah yang disebut sebagai Bo Beng Koei atau setan tanpa nama Loo Toa, terlihat dengan ter gesa2 dia mundur satu langkah kebelakang kemudian bentaknya.
“Song Beng Lan, kamu sendiri yang datang cari mati, jangan salahkan aku turun tangan kejam. Saudara2 sekalian bereskan dia dulu baru bicara lagi” sambil berkata tubuh dari Bo Beng Koei itu miring kesamping, tangan kirinya mendadak dibalik menotok jalan darah pada pundak Song Beng Lan sedang tangan kanannya bagaikan sambaran angina dahsyat menghantam iganya.
Song Beng Lan berani dengan seorang diri menyambut datangnya serangan lima setan sudah tentu bukanlah orang yang lemah, tubuhnya maju kedepan kemudian sedikit berputar dengan tangan dia menangkis datangnya pukulan dari Bo Beng Koei, jari kanannya tetap dengan jurus semula menotok kedadanya.
Tapi Bo Beng Koei sama sekali tidak menghindar maupun berkelit dari serangan ini bahkan melancarkan serangan balasanpun tidak, hanya dengan wajah yang dingin kaku memandang kearah Song Beng Lan.
Song Bengk Lan menjadi tertegun dibuatnya, saat itulah mendadak dari balik punggungnya terasa tiga gulungan angina pukulan yang sangat dahsyat menyerang datang, tidak terasa teriaknya.
“Celaka”
Ujung kakinya dengan seluruh kekuatan menutul tanah sehingga tubuhnya mumbul keatas setinggi tujuh delapan depa tingginya dan dengan berhasil menghindarkan diri dari serangan gabungan dari Ngo Koei itu, tangannya dengan cepat meraut segenggam jarum emas siap disabit kedepan, saat itulah mendadak dari sebelah utara terdengan seseorang berteriak dengan keras.
“Pengemis cilik mau kabur, cepat cegah dia, tangkap dia”
Didalam keadaan yang sangat terkejut Song Beng Lan jarun emasnya tidak jadi disebarkan kedepan, tubuhnya dengan cepat melayang sejauh puluhan kaki kemudian melayang turun kebawah, ketika memandang kesana terlihatlah si pengemis cilik itu sudah terdesak oleh serangan lima orang sekaligus, dengan cemas dia meninggalkan Ngo Koei untuk lari menolong si pengemis cilik meloloskan diri dari acaman bahaya.
Didalam sekejap mata seluruh perhatian orang2 yang hadir disana tertuju pada pengemis cilik serta Song Beng Lan didalam menghadapi serangan para jago, terlihatlah tubuh si pengemis cilik itu bagaikan melentiknya ikan dengan sangat lincahnya berkelebat dan meloncat diantara sambaran bayangan serta diselingi sambaran angina pukulan yang dahsyat membuat beberapa saat lamanya para jago nomor wahid dari Bulim ini sulit untuk berbuat sesuatu terhadap dirinya.
Liem Tou yang melihat hal ini diam2 dalam hatinya merasa girang, karena siasat licin yang diatur ternyata termakan juga hingga sebagian besar orang2 yang mengepung dirinya berhasil terpancing pergi, kini tinggal dia memancing pergi si hweesio manyat hidup serta sipembesar buta dari Tionggoan Ngo Kay, Ciangbujin dari Butongpay, Heng San Jie Yu, serta seorang hweesio, maka segera dia akan berhasil lolos dari kepungan melarikan diri dari situ.
Sesudah berpikir bolak balik akhirnya dia tertawa ter mehek mehek sangat keras, dengan nada menyindir ujarnya.
“hei..simata picek, kamu orang juga mau merebut kitab pusaka To Kong Pit Liok> kamu sungguh tak tahu kekuatan sendiri, sekalipun aku beri itu kitab pusaka kepadamu, kamu juga tak bisa lihat isinyam lalu apa gunanya?”
Sipembesar buta mendengar ejekan itu segera mengaum gusar, kakinya bagaikan kilat cepatnya tahu2 sudah berkelebat mendekati tubuh Liem Tou, tingkat besi ditangannya dengan cepatnya ditusuk kedepan menotok tubuh Liem Tou. Bersamaan pula teriaknya dengan gusar.
“Bocah busuk tutup bacotmu, kitab pusaka To Kong Pit Liok tidak mungkin bisa didapatkan orang lain”
Liem Tou sama sekali tidak mengira kalau gerak gerik sipembesar buta itu bisa secepat sambaran kilat, gerakannyapun sangat lincah sejak tadi saking terkejutnya dia sudah dibuat menjadi melongo, kini tongkat besinya sudah tiba didepan dadanya, untuk menghindarkan diripun tidak mungkin lagi didalam saat yang sangat kritis inilah terdengar suara gulungan angin yang sangat keras, sincay buntung tepat pada waktunya tiba disampingnya, kipas ditangannya dengan cepat menangkis serangan tongkat besi itu sambil ujarnya.
“Pembesar rakus yang buta, aku kira belum tentu”
Serangan pembesar buta yang ditinggalkan oleh kipas sincay buntung menjadi sangat gusar, dengan keras2 dia menancapkan tongkat besinya keatas tanah, sehingga terbenam beberapa depa didalam tanah, ujarnya dengan gusar bercampur keki.
“Buntung bangkotan!..ini hari tidak mati kita akan buyar”
Sambil berkata tongkat besinya sekali lagi diangkat dengan mengunakan juru Thaysan Jah Ting (gunung Thaysan ambruk) menghajar wajah dari sincay buntung itu, si sincay buntung tidak melihat datangnya serangan itu hanya tertawa ringan saja, kakinya yang tinggal sebelah sedikit menutul ketanah tubuhnya dengan sangat ringan berhasil meloncat sejauh beberapa depa terhindar dari serangan itu, lengannya yang tinggal sebelah segera menggerakkan kipasnya, dengan kekuatan yang luar biasa dia menghajar ujung tongkat besi bersamaan pula tangannya menggelincir dengan mengikuti gerakan dari tongkat besi tersebut melancarkan jurus Hoa Liam Tiam Cing (mengambar naga menutul mata) dari gerakan menjaga jadi gerakan menyerang dan menotok jalan darah Khie Ban Hiat didada sebelah kiri dari pembesar buta itu.
Sipembesar buta segera berteriak membentak keras
“Bagus sekali!””Buntung bangkotan ini hari apa kau tidak akan ada aku”
Tongka besinya tidak ditari kembali bahwa diteruskan membacok kedepan, bacokan ini bilamana mengenai sasarannya mungkin pundak serta lengan dari sincay buntung yang tinggal sebelah itu akan terpotong menjadi dua bagian pula.
Si sincay buntung yang gagah didalam keadaan yang sangat kritis ini tidaknya mundur atau menghindar sebaliknya berteriak dengan keras.
“Loo Kiem buta, bagus sekali seranganmu ini”
Kelihatannya tongkat besi itu akan mencapai pada sasarannya tapi entah dengan mengunakan ilmu apa tanpak tubuhnya sedikit mendak kebawah kakinya tidak meloncat hanya dengan sedikit berputar dia sudah berhasil berdiri dibelakang tubuh pembesar buta itu.
Pembesar buta merasa pukulannya meleset segera merasakan jalan darah Giok Liang Hiat dipunggungnya terancam bahaya kali ini mau tidak mau terpaksa dia harus maju satu langkah kedepan dengan kekuatan yang luar biasa tongkat besinya menyambar lagi kebelakang dengan menggunakan jurus Tag To Kiem Cong (memukul rubuh lonceng emas) berebut menyerbu ketubuh pihak musuh.
Liem Tou yang berhasil dibebaskan sincay buntung dari bahaya sambaran tongkat pembesar buta kini melihat dua orang iru saling serang menyerang tanpa loncat kesamping kerbaunya, disamping memperhatikan seluruh gerak gerik dari jalan pertempuran yang sangat seru itu diam2 dia memikirkan siasat untuk melarikan diri secara diam2.
Pada waktu itu pula mendadak didalam ingatannya berkelebat ilmu silat yang tercantum dan tertera diatas kitab pusaka Toa Lo Kin Keng ketika memandang lagi kearah jurus serangan maupun jurus bertahan si sincay buntung serta pembesar buta ternyata ada beberapa bagian yang rasanya pernah diketahui olehnya, tidak tertahan lagi dia semakin menaruh perhatian terhadap jalannya pertempuran itu, akhirnya dia menyadari juga tidak tidak tertahan lagi perasaan girang meliputi seluruh wajahnya sendang ingatan untuk melarikan diripun segera tersapu bersih dari dalam benaknya.
Tidak disangka pada saat dia sedang memusatkan perhatiannya itulah mendadak lehernya terasa menjadi dingin dengan cepat dia menoleh memandang kebelakang, tak tertaha teriaknya dengan keras.
“Ooh….tolong!!!” saking takutnya seluruh tubuhnya menjadi lemah tanpa tenaga. Kiranya hweesio berbentuk manyat hidup itu entah sehak kapan secara diam2 tanpa mengeluarkan suara sudah berada dibelakang tubuh Liem Tou kemudian mengulurkan cakar mencengkeram tubuhnya.
Saat itulah hweesio manyat hidup itu tertawa terkekeh kekeh dengan anehnya, suara itu membuat semua orang yang mendengar tidak terasa menjadi pada bergindik. Sesudah tertawa beberapa saat lamanya barulah ujarnya terhadap Liem Tou dengan nada yang sangat dingin.
“Liem Tou kau ingin hidup atau modar?”
Saat ini Liem Tou merasa tubuhnya bergindik sedang bulu romanya pada berdiri semua, keringat dingin yang mengucur dengan derasnya membuat keningnya serta perutnya basah kuyup dia sangat terkejut bercampur takut apalagi dari hweesio manyat hidup yang mencengkeram tengkuknya dengan sangan kencang terasa sangat dingin dan keras, saat ini sepatah katapun tidak sanggup untuk diucapkan keluar.
Tetapi sepasang matanya menjadi bisa memandang keadaan disekeliling tempat itu, hanya didalam waktu yang sangat singkat itulah seluruh jago yang ada ditempat itu tanpa terasa sudah pada berhenti dari pertempuran, dengan perasaan tertegun mereka semua pada memandang kemari sedang air muka setiap orang dengan jelas memperlihatkan perasaaan kecewa bercampur gusar yang tak terhingga.
Sekonyong konyong dalam benaknya teringan akan si Thiat Sie Poa (Thiat Sie Sianseng) dengan cepat dia menoleh kearah sebelah kiri saat itu kelihatan sekali air mukanya berubah sangat serius dan keren dengan kencang tangannya merangkul siepoanya yang sedang dipukul bolak balik, agaknya dia sedang berusaha mencari suatu jalan hidup bagi Liem Tou.
Saat itu dengan setengah berbisik ujar hweesuo manyat hidup itu dengan perlahan. “Liem Tou jika kau kepingin modar cukup dua jariku ini aku tekan maka batok kepalamu segera pidan kerumah hingga kau akan menjadi satu setan tanpa kepala. Tapi jika kau pingin hidup terus cepat beritahukan tempat penyimpanan kitab pusaka To Kong Pit Liok itu kepadaku, maka aku beri satu jalan hidup kepadamu”
Sambil berkata hweesio manyat hidup itu dengan tidak henti hentinya meniup hawa murninya kedepan membuat leher Liem Tou merasa dingin dan seperti suatu hawa dingin menyusup masuk kedalam tulang sumsum, Liem Tou hanya merasa tubuhnya sangat tidak enak dengan paksakan diri sahutnya kemudian.
“Tanganmu sangat dingin seperti es aku merasa sangat susa cepat lepaskan tanganmu, nanti aku akan beritahukan kepadamu”
Tetapi manyat hidup itu hanya tertawa terkekeh kekeh dengan anehnya.pada waktu itulah puluhan jago jago sudah mengepung kalangan itu seperti semula, hweesio manya hidup itu segera berteriak dengan nadanya yang serak dan aneh.
“he…he…he kamu semua boleh maju lagi, tapi jangan salahkan aku akan pencet bocah cilik ini sampai mati sehingga kitab pusaka To Kong Pit Liok akan ikut terkubur bersama dia”
Semua orang begitu mendengar ancamannya yang kelihatannya bersunguh sungguh itu tidak berani membangkang, terpaksa mereka berdiri dua kaki jauhnya dari tempat dimana hweesio manyat hidup itu berdiri.
Terdengar hweewi manyat hidup bertanya sekali lagi. “Liem Tou sebenarnya kau sudah ambil kepurusan belum? Kalau tidak jangan salahkan tooyamu akan pencet batok kepalamu ini”
Sambil berkata tenaganya benar2 ditambahi dengan beberapa bagian tenaga murni, Liem Tou merasakan kesakitan yg luar biasa sehingga menusuk kedalam tulang sumsumnya, sedang air yang berada dimukanyapun makin lama mulai kelihatan semakin berubah menjadi pucat pasi. Tapi dengan sekuat tenaga dia tetap mempertahankan dirinya, untung sejak lama kemudian si hweesio manyat hidup itu sudah mengendor kembali pencetannya, saat itulah Liem Tou baru bisa menghembus nafas lega.
Tiba2 pojokan matanya terbentur dengan air muak Thait sie sianseng yang penuh dihiasi oleh senyuman manis dan sedang berjalan mendekat, tak terasa hatinya berpikir. “mungkin aku ada harapan tertolong, kalau tidak kenapa dia begitu girang” siapa sangka Thiat Sie Sianseng sama sekali tak memandang kearahnya sampai melirik sekejappun tidak, hanya dengan tenangnya dia berjalan menuju kebelakang tubuh salah satu dari Heng San Jie Yu, mendadak bentaknya dengan keras.
“Heng San jie Yu. Hutang piutang diatara kita harus diperhitungkan sekarang juga” sambil berkata tangannya dengan kecepatan luar biasa melancarkan serangan menotok kearah jalan darah Thian Cu Hian di leher bagia belakang orang itu.
Agaknya orang itu sama sekali tak menduga akan adanya serangan ini, dalam keaadan yang sangat terkejut terpaksa dia merendahkan tubuhnya kebawah, tubuhnya tanpa berputar, kepalanya tanpa menoleh segera melancarkan ilmu Hwee in Su (membalik tangan mencekal mega) sedang tangan kanannya dari ketiak sebelah kiri menerobos kebelakang dengan menggunakan jurus Hwee Kuang Huan Cao (Sinat terakhir bercahaya) memukul kedepan secara bersamaan. Thiat Sie Sianseng segera tertawa besar serunya.
“Ilmu Hwee In Su yang sangat lihay”
Liem Tou yang mendengar hal itu tak terasa hatinya menjadi tergerak, segera teringat kembali kalau dalam kitab silat Toa Loo Cin Keng memang termuat ilmu telapak macam itu dengan cepat dia mengingat kembalu gerakan yang dilakukan orang itu kedalam benaknya sedang dalam hatinyapun dengan cepat menjadi paham lagi.
x
x x
x
ketika memandang kembali kearah Thiat Sie Sianseng ternyata telah melenyapkan diri entah kemana. Saat ini Thiat Sie Sianseng merupakan satu satunya orang yang paling diandalkan oleh Liem Tou, kini begitu kehilangan dia tidak terasa hatinya menjadi sangat cemas, pikirnya “habis sudah nyawaku hari ini”
bertepatan dengan waktu itu tiba2 terdengar suara Thiat Sie Sianseng sudah mucul dibelakang tubuhnya, terdengar dia dengan suara keras sedang berteriak. “hweesio manyat hidup…kamu orang tidak mau lepas tangan, aku segera akan memperlihatkan kamu akan kelihayanku, lihat senjata rahasia”
Liem Tou yang mendengar perkataan itu segera tahu Thiat Sie Sianseng sedang bantu dia untuk meloloskan diri, terpikir olehnya dengan perbuatannya yang sama sekali tidak terduga ini si hweesio manyat hidup itu tentu terpecah juga perhatiannya, pada saat dia kurang perhatian dirinya itulah segera gigit bibirnya dengan seluruh kekuatan yang ada dia paksakan tubuhnya menekan kebawah, sekalipun lehernya terasa sangat sakil tetapi akhirnya dia lolos juga dari jepitan keras hweesio manyat hidup itu.
Diikuti pula segera denga melancarkan ilmu Hwee In Su (membalik tangan mencekal mega) dari Heng Su dari Heng San pay yaitu tangan kirinya menggunakan jurus Huan Su Liauw In sedangkan tangan kanannya melancarkan Hwee Koang Huan Cao (Sinat terakhir bercahaya) yang secara bersamaan dilancarkan kedepan. Si hweesio manyat hidup segera mengaum keras, mau tidak mau harus meloncat mundur dua langkah kebelakang.
Liem Tou yang sudah merasakan kesakitan dari tangannya segera mengeraskan niatnya, mendadak dia melancarkan serangan kembali dengan menggunakan jurus serangan Ooh Koei Ciat Hun (Setan lapar menubruk sukma) dari ilmu Sam In Ghiat Ciang yang diajarkan Hek Loo Toa kepadanya, baru saja hweesio manyat hidup itu mundur kebelakang tiba2 Liem Tou menjerit kesakitan kemudian rubuh kebelakang. Rubuhnya dia tanpa sebab musabab ini membuat semua jago yang ada disitu dibuat menjadi terkejut bercampur tercengang.
Siapa tahu belum sampai tubuh Liem Tou yang rubuh keatas tanah itu mencapai permukaan tanah hingga mendadak bagaikan seekor ular beracun yang besar mengeliat keatas tanah dan memutar tubuhnya, bersamaan pula waktunya bagaikan kilat cepatnya meluncur kea rah hweesio manyat hidup itu.
Jarak dari hweesio manyat hidup itu dengannya tidak lebih hanya dua tiga kaki saja sedang diapun pada saat itu berada dalam keadaan tanpa bersiap siaga, terdengar suara gebukan yang sangat keras tanpa ampun lagi dada hweesio manyat hidup yang kekar itu terhajar oleh kepalan Liem Tou dengan kerasnya, tak terasa lagi…berturut turut dia melompat mundur tujuh delapan kaki baru bisa berdiri tegak. Waktu itulah Liem Tou baru bisa menghembuskan nafas panjang, makinya:
“melihat kamu orang manusia tidak mirip manusia, setan tidak mirip setan. Hmm…berani juga membohongi toaya-mu. Lain kali terjatuh ketanganku lagi jangan harap aku dapat lepaskan kamu orang yang dengan mudahnya”
Hweesio manyat hidup ini sejak mencukur gundul rambutnya diatas gunung Ngo Thaysan kemudian mendapatkan warisan dari ilmu silat Liauw In Hweesio bersama sama mengangkat namanya dengan sincay buntung, pembesar buta, pengemis mabok dan Thiat Sie Sian Seng sehingga namanya disebut sebagai Tionggoan Ngo Koay, didalam ilmu silat yang paling diandalkan adalah ilmu Han Tiauw Kang-nya (ilmu cakar maut), jago jago Bulim yang terbasmi dibawah cakar mautnya entah berapa banyak jumlahnya, siapa tahu ternyata ini hari dapat dihajar bocah ingusan seperti Liem Tou ini sehingga terpukul semponyongan, tak tertahan lagi hawa amarahnya memucak dari mulutnya segera memperdengarkan suara jeritan aneh seperti pekikan setan dimalam hari.
Didalam waktu yang singkat dari antara kepungan Liem Tou bertiga itu muncul ber puluh2 hweesio yang bersama sama melaruk datang, tanpa ditanya sudahlah sangat jelas kalau hweesio2 itu merupakan murid2 serta cucu2 murid hweesio manyat hidup. Hweesio2 itu begitu sampai dihadapan hweesio manyat hidup segera bersama sama memberi hormat kemudian berdiri berjajar disampingnya.
Mendadak …hweesio manyat hidup itu menunding kearah Liem Tou sambil teriaknya sengah menjerit. “cepat tangkap bocah setan itu”
Ber-puluh2 hweesio itu segera menyahut dengan serentak kemudian bersama sama berjalan mendekat kearah Liem Tou.
Liem Tou yang melihat datangnya berpuluh puluh hweesio sekaligus menjadi sangat terperanjat, baru saja dia mau cari akal untuk loloskan diri waktu itulah terdengar Thiat Sie Sian Seng tertawa nyaring kembali ujarnya.
“Hey pengemis bau, aku bilang urusan kali ini haru kuserahkan padamu bila dia sampai menderita rugi seujung rambutpun aku tak cari kamu untuk minta ganti rugi”
Liem Tou mendengar perkataan itu diam diam menjadi sangat girang, terlihat pengemis pemabok itu dengan mementangkan mulutnya yang besar seperti baskom tertawa termehek mehek sedang pentung Tah Kauw Pangnya yang besar kasar serta panjang disabetkan ketengah udara, ujarnya kalem.
“Hey pedangang licik, bocah cilik itu aneh sekali!... he..he..he kamu orang tahu ilmu apa yang digunakan dia untuk menghadiahkan satu bogem mentah kepada hweesio manyat hidup tua bangkotan itu? He he aku mau lihat dia punya ilmu apa lagi yang akan digunakan…nanti turun tangan juga belum terlambat.
“Eh ehe, tidak mungkin” sahut Thiat Sie Sian Seng dengan cepat.
“jurus serangan dari bocah cilik aku juga tidak tahu ilmu apa tapi menurut serangan waktu terdesak…he he tidak mungkin bisa digunakan lagi, cepat kau suruh kesayanganmu turun kegelanggang”
Pengemis mabok itu tertawa besar lagi, ujarnya:
“Pedagang licik kau cemas apakah? Coba kau lihat bocah cilik itu memang punya simpanan”
Kiranya saat itulah seorang hweesio mendadak melancarkan serangan kearah Liem Tou untuk mencengkeram dadanya.
Sebenarnya Liem Tou sedang menantikan bantuan dari sipengemis mabok sehingga perhatiannya tidak ditujukan pada hweesio2 itu, siapa tahu pada saat dia lengah itulah hweesio tersebut berhasil mencekeram baju dibagian dadanya bahkan jarinya yang seperti papaya dengan sangat tepat sekali menotok jalan darah Sim Kan Hiat.
Jalan darah Sim Kan Hiat ini merupakan salah satu jalan darah penting lainnya, bilamana salah satu saja dari jalan darah itu tertotok maka nyawanya segera melayang.
Didalam keadaan yang sangat terkejut dengan cepat Liem Tou menarik kembali dadanya kedalam, tangan kirinya mendadak menyambar kedepan, agaknya hweesio itu mempunyai dugaan Liem Tou akan mencekal urat nadinya baru saja berganti jurus siap menahan serangannya itu, siapa tahu gerakan tangan kiri dari Liem Tou jauh lebih cepat darinya, sejal semula sudah ditarik kembali ketempat semula.
Tidak terasa lagi hweesio itu menjadi tertegun, pikirnya: “jurus serangan apa ini? Menurut keadaan yang sebenarnya gerakannya ini dengan jelas akan memaksa cengkeramanku ini ditarik kembali tetapi kenapa sebelum aku menarik kembali jurus serangannya sebaliknya dia mendahului menarik kembali serangannya?”
Pada saat dia dibuat tertegun itul telapak tangan kana dari Liem Tou dengan tanpa mengeluarkan suara sedikitpun sudah menyerang datang dari bawah keatas bagaikan kilat cepatnya menghajar dada orang itu, jurus ini tidak lain merupakan jurus Un Hun Put San (sukma halus tidak buyar) dari Ilmu silat Hek Lootoa yang diturunkan kepadanya sesaat menjelang kematiannya.
Hweesio itu sama sekali tidak pernah menyangka didalam keadaan yang sangat menguntungkan baginya itu dia bisa kena hajar oleh kepalan pihak lawan, tidak tertahan lagi dia mundur semponyongan sejauh lima enam tindak kebelakang, dadanya terasa sakit dan mual hampir2 tidak tertahan akan muntah2 disana, tetapi akhirnya tak tertahankan lagi tubuhnya rubuh terjengkang kebelakang.
Peristiwa yang sangat diluar dugaan ini sekalipun Liem Tou sendiri juga merasa bingung sama sekali dia tidak percaya kalau disaat seperti ini dia bisa melancarkan serangan dahsyat membuat orang lain terpukul hingga terluka parah.
Pukulan itu sendiri masih tidak mengapa tetapi dengan demikian memancing hawa amarahnya dari hweesio lainnya segera mereka bersama sama berteriak marah dan mengerubut maju secara bersamaan, bagaikan air bah ditengah samudera mereka melaruk maju terus tanpa pikirkan keselamatan sendiri.
Liem Tou yang melihat sipengemis pemabok itu tetap saja tidak turun tangan menolong dia, didalam keadaan yang apa boleh buat terpaksa dia memperkeras niatnya, sedangkan kakinya dengan menggunakan ilmu Sah Cap Lak Thian Kang Hwee Sian Poh (ilmu langkah tiga puluh enam langkah badai) memutar menerjang ketengah larukan hweesio itu, sebentar dia meloncat sebentar lagi maju kemudian mundur tetapi sedikitpun tidak kelihatan terhalang, bahkan tangan kanan dan tangan kiri serta kakinya tidak mau ambil diam, membuat para hweesio yang melaruk maju itu terpukul hingga kocar kacir.
Begitu Liem Tou memperlihatkan ilmu gerakan ini, sipengemis pemabok yang berada disamping hampir hampir tidak mempercayai pandangannya sendiri, teriaknya dengan keras”
“HEI..PEDAGANG LICIK!!! Coba lihat, gerakan langkah kakinya sangat aneh sekali aduh sepertinya mirip sekali dengan permainanmu itu?”
Si Thiat Sie Sian Seng yang melihat gerakan kaki Liem Tou itu segera tahu kalau ilmu itu merupakan ilmu Thian Kong Poh yang pernah dia ajarkan padanya lewat corat coret ditanah tanpa memberi petunjuk padanya, bahkan sekarang ini dilakukan tanpa sedikitpun salah. Didalam hatinya tidak terasa menjadi terkejut bercampur heran, diam diam dia memuji tak henti hentinya.
Saat ini Liem Tou yang berkelebat dengan sangat aneh membuat perasaan girang muncul didalam hatinya tanpa memikirkan akibatnya lagi segera dia mengubar seluruh hawa amarah serta kemengkelannya keatas tubuh hweesio2 itu, tangan serta kakinya yang melancarkan serangan semakin keras lagi, sedikitpun tidak menaruh belas kasihan.
Mendadak…Pengemis Pemabok yang berada disamping berteriak lagi dengan keras.
“Hei pedangan licik, kau sudah lihat dengan jelas belum? Kedua jurus yang dilancarkan itu dengan jelas merupakan ilmu telapak Lian Hian Ciang dari kunlunpay, coba lihat ini jurus Peng Jut Tiauw Ciauw (ombak menggulung tubuh ular), coba lihat lagi jurus Hong Hut Po Haua (perempuan menangkap macan).
Perkataan ini baru selesai diucapkan dia menjerit kaget lagi
“Aduh mak…pedangang licik bagaimana sebenarnya urasan ini? Ilmu kepalan dari bocah itu berubah lagi. Neneknya, Ilmu telapak Hauw Pauw Tauw dari Siauwlim Liok Lo Heng Ciang, hey pedagang licik coba lihat lagi Ilmu telapak, Su Leng dari Butong Tiang Ciang, haaa?? Ilmu telapak Hong Hwei Thian Hui dari Gak Jie Sam Su, Ilmu kepalan Jie Cu Tong Kwei dari Kang Lam Cu Uh Cian, Haah…Haaah?? Coba lihat lagi. Tung Mo Ciang dari Tay Ie Ciang, Cau Siang Ciang, Neneknya…pedangang licik sebenarnya dia anak murid dari partai mana??”
Saat itu agaknya Thiat Sie Sian Seng juga merasa terperanjat, sahutnya dengan cepat.
“Pengemis busuk kau jangan sembarangan berteriak teriak seperti setan kelaparan, aku sendiri juga tidak tahu, bocah cilik ini memang sedikit aneh, jurus ini merupakan jurus Yeh Be Hun Lieh dari Thay Khek Ciang, coba lihat lagi jurus ini merupakan jurus Jie Lang Tan San dari Ngo Heng Ciang, kau lihat…tentu dia punya hubungan yang rapat dengan Lie Loo Jie dari partai Tun Si Pay, kalau tidak siapa lagi yang bisa menurunkan ilmu sebanyak ini kepadanya?”
“Ehmm..ehm…benar benar” sahut pengemis mabok sambil mengangguk
“aku lihat memang beberapa bagian mirip, bilamana benar asal usul bocah cilik ini tidak kecil ini tidak kecil juga”
Saat itu kawanan hweesio tersebut sudah dipukul Liem Tou hingga kocar kacir, setiap orang pada bengkak mukanya dan berubah kehijau hijauan saking kerasnya kepala yang bersarang dimukanya.
Padahal……(bersambung ke jilid 6)
Bagaimana nasib Liem Tou setelah dikepung jago jago kangouw?? Berhasilkan lolos?? Silahkan nantikan sambungan jilid selanjutnya…
PADAHAL yang benar Liem Tou banya tahu kalau ilmu langkah Sah cap Lak Thian Kang Poh hoat yang dilakukan itu tidak mungkin bisa terkalahkan, sedang mengenai turun tangan memukul para hwesio itu menurut penglihatannya sendiri bukanlah merupakan suatu jurus serangan yang sesungguhnya, kesemuanya ini tidak lain hanya merupakan suatu pukulan serabutan yang tidak menurut peraturan.
Tetapi siapa sangka dia pernah membaca dan mempeladjari bagian dari kitab silat Toa Koe Cin Keng pada halaman ilmu pukulan sehingga tanpa sadar olehnya didalam melancarkan serangannya itu secara tidak langsung sudah mengandung jurus jurus serangan, hanya saja jurus jurus serangan itu dilakukan sangat kacau sekali, sebentar lempeng sebentar berbelok, bahkan Im serta Yang nya tidak dibedakan sebaliknya hal ini didalam pandangan orang lain hanya didalam waktu sepertanak nasi saja dia bisa mengeluarkan ilmu ilmu pukulan dari berbagai partai serta perguruan yang ada didalam Bu lim sudah tentu membuat para jago yang hadir ditempat ini menjadi sangat terkejut, heran bercampur kagum.
Sebenarnya si hwesio mayat hidup itu sudah melihat situasinya sangat tidak menguntungkan bagi pihaknya, tetapi sekalipun dia meiihat perubahan jurus jurus serangan dari Liem Tou sangat banyak dan lihay ketika terpukul ditubuh anak muridnya tidak terlatu berat sekali, selain tempat tempat yang berbahaya paling banyak juga terpukul hingga sampoyongan saja atau terjungkir balik roboh ketanah, sehingga sampai saat itu dia hanya berdiam diri saja memandang setiap jurus serangan yang digunakan oleh Liem Tou itu, agaknya dia ingin mengetahui asal usul dari permainan silatnya.
Tetapi akhirnya hasil yang dia inginkan tetap tidak berkunjung datang sebaliknya itu murid2 serta cucu2 muridrya dipukul dan dihajar oleh Liem Tou hingga berkaok kaok kesakitan.
Saat ini dia benar benar tidak dapat menahan kemarahan serta pergolakan didalam hatinya, mendadak bagaikan segulung angin keras bertiup datang dengan sangat cepat dia sudah berdiri dihadapan Liem Tou, teriaknya dengan keras.
"Liem Tou, serahkan nyawamu."
Perkataannya belum sampai tubuhnya sudah menerjang kedepan, tangannya dengan kekuatan tenaga murni yang sangat dahsyat mencengkeram kedepan wajah Liem Tou, dengan cepat Liem Tou nguab tubuhnya kebelakang, kakinya merasa tergelincir dengan sangat manisnya dia berhasil menghindarkan diri dari serangan ini.
Thiat Sie sianseng yang saat ini melihat hweesio mayat hidup itu sudah dibuat kalap saking gusarnya segera berteriak dengan sangat cemas.
"Hey pengemis busuk, celaka, celaka cepat turun tangan . cepat turun tangan kali ini bocah cilik itu tentu akan merasakan kerugian yang besar dibawah serangan mayat hidup tua itu,"
Hweesio mayat hidup itu melihat cengkeramannya yang pertama menemui sasaran kosong dengan cepat cengkeramannya yang kedua, gerakannya ini dilakukan dengan sangat cepat sekali sehingga hanya kelihatan bayangan buram yang berkelebat tahu-tahu cengkeramannya ini sudah menempel dihadapan dadanya:
Dengan perasaan cemas kaki Liem Tou sekali lagi berputar, sekalipun kali ini dia berhasil juga menghindarkan diri tetapi wajah serta kulit dadanya terasa angin dingin yang sangat menyesakkan dadanya memancar keluar dari cengkeramannya yang seperti kuku garuda itu, hampir-hampir membuat dia saking terkejutnya sepasang kakinya menjadi lemas tidak bertenaga jurus serangan apapun kini tidak sanggup digunakan kembali didalam pikirannya hanya mengharapkan bantuan dari pengemis pemabok itu menolong dirinya meloloskan diri dari ancaman bahaya maut ini.
Siapa tahu justru saat itu si pengemis pemabok sedang menyahut:
"Hey pedagang licik kau cemas apa? Dengan kelihayan dari ilmu yang dimiliki bocah cilik itu untuk beberapa saat lamanya mayat bangkotan tidak mungkin bisa berbuat apa2 terhadapnya, coba kita lihat lagi."
Liem Tou yang melihat sipengemis pemabok itu beberapa kali menolak untuk menolong dirinya didalam hati benar2 merasa gemas, makinya,
"Ingat kau pengemis bau, pada satu hari tentu aku akan suruh kau orang rasakan siksaan seperti ini, aku melihat bagaimana kau melewati siksaan seperti ini”
Pada saat itu mendadak tubuh dari hweesio mayat hidup itu mumbul ketengah udara kemudian berjumpalitan beberapa kali, kepalanya kini berganti dibawah dengan kaki sebelah atas sedang sepuluh jarinya yang runcing bagaikan kuku garuda dengan kecepatan yang luar biasa menubruk kebawah, sehingga dalam waktu yang sangat singkat beberapa kaki disekeliling tubuh Liem Tou sudah berada dibawah lingkaran bayangan cengkeram mautnya.
Liem Tou yang melihat hal itu segera menjerit kaget.
"Celaka, aduh mak tolong . . . "
Seluruh tubuhnya segera dijatuhkan keatas tanah, mendadak hawa murninya disedot dalam2 sehingga terkumpul didalam perutnya, didalam sekejap mata perutnya membesar sebesar gentong, dengan mengerahkan seluruh kekuatan tenaga murni yang berhasil dilatihnya begitu menanti tubuh hweecio mayat hidup itu tepat menubruk diatas tubuhnya, mendadak...
"Phuuu .." hawa murni yang dipusatkan dipusarnya segera disemburkan keatas dengan dahsyatnya.
"Oooh...aduh, neneknya . " Dangan disertai suara jeritan yang sangat mengerikan tubuh hweesio mayat hidup itu segera terpental keatas kemudian rubuh kembali keatas permukaan tanah dengan menimbulkan suara yang sangat keras sepasang tangannya dengan kencang2 ditutupkan keatas wajahnya sedang tubuhnya dengan terlentang rubuh diatas tanah untuk beberapa waktu lamanya tidak sanggup untuk merangkak bangun.
Pada hal tubuh hweesio mayat hidup yang rubuh keatas tanah dan tidak bisa bangun kembali itu bukannya kerena dia terluka parah oleh semprotan hawa murni itu, hal yang sebenarnya adalah karena tubuhnya yang kaku seperti balok kayu itu dengan sangat tepat rubuh terlentang sehingga sedikitpun tidak punya tenaga untuk merangkak bangun.
Keadaannya yang sangat lucu itu membuat perasaan anti dari para jago dunia Kangouw yang kumpul ditempat itu tidak bisa ditahan lagi, mereka bersama-sama tertawa terbahak-bahak sambil memegang kencang perutnya, apa lagi sisiucay buntung, pengemis pemabok serta Thiat Sie sianseng dari Tionggoan Ngo Koay, mereka tertawa sangat keras sekali sehingga hampir-hampir melelehkan air matanya.
Sipembesar buta itu selamanya mempunyai sifat kasar, serta berangasan apalagi dia merupakan satu kornplotan dengan si hweesio mayat hidup itu kini lihat semua orang tertawa ia bukannya ikut tertawa sebaliknya mengerutkan alisnya, air mukanya berubah membesi dengan sangat gusar bercampur gemas berdiri disamping sedang dari hidungnya tak henti hentinya mendengus dengan sangat dingin.
Suara tertawa keras dari puluhan jago Bu lim secara berbareng ini membuat seluruh lembah cupu cupu yang terkurung diantara gunung gunung yang berdiri menjulang tinggi keangkasa itu bergema tak henti hentinya.
Tak lama kemudian suara tertawa dari para jago itu dengan perlahan mulai berhenti kembali, tapi suara tertawa keras yang bergema di lembah cupu cupu itu tetap saja berkumandang tak henti2nya bahkan semakin lama semakin meninggi.
Lama kemudian barulah suara tersebut merendah dan akhirnya lenyap. tapi pada saat suara sebut hampir lenyap itulah sekali lagi suara tertawa tersebut makin lama makin meninggi dan akhirnya tinggi melengking memekikkan telinga semua hadirin yang mendengar suara itu tak terasa pada termangu mangu dan berdiri mematung ditempatnya masing-masing.
Dengan perlahan suara tertawa itu makin meninggi bersamaan pula nadanya semakin nyaring dan akhirnya tinggi melengking memekikkan telinga, membuat Liem Tou segera dibuat menjadi bingung, ketika menoleh memandang orang orang lain tak tertahan lagi dia menjadi tertegun dibuatnya.
Kiranya saat ini setiap air muka para jago yang ada dilembah itu sudah berubah menjadi pucat pasi bagaikan mayat, wajah yang pucat dengan mengikuti suara tertawa itu perlahan lahan berubah kembali menjadi kehijau-hijauan, bahkan ada pula yang Iangkah kakinya dengan perlahan mulai bergeser mendekati lembah cupu cupu.
Suatu keistimewaan yang paling menyolok di antara peristiwa itu adalah siapapun tiada yang berani mengeluarkan suara sekecappun, masing masing berkumpul dengan kawan-kawannya atau kelompoknya sendiri kemudian mengundurkan diri dari lembah itu dengan tergesa gesa, tapi siapapun tak berani berlalu sangat cepat dibawah telapak kaki mereka seperti sedang dirembeti oleh seekor ular beracun, takut sekali mengejutkan dia sehingga terpagut.
Liem Tou yang melihat kejadian sangat aneh ini merasa sangat heran sekali, dengan tergesa gesa dia menoleh memandang kearah Tionggoan Ngo Koay, tampak merekapun sama halnya dengan yang lain air mukanya telah berubah menjadi sangat serius dan heran bahkan suatu hal yang membuat Liem Tou merasa terkejut dan heran adalah diantara Tionggoan Ngo Koay itu sebenarnya Sisiucay buntung, pambesar buta, hweesio mayat hidup serta pengemis pemabok musuh2 yang tak pernah bisa hidup rukun dan damai tapi entah karena apa begitu suara tertawa yang sangat aneh itu muncul maka mereka berlima segera bersatu padu dan berdiri berjajar menjadi satu.
Sepasang mata dari sisiucay buntung, pengemis pemabok serta hweesio rnayat hidup dengan tajamnya memandang kearah sekeliling gunung yang menjulang tinggi serta pintu rembah cupu cupu itu sebaliknya sipembesar buta dengan mengandalkan sepasang telinganya yang sangat tajam melebihi mata itupun dengan memusatkan seluruh perhatiannya mendengarkan gerak-gerik pihak musuh.
Hanya si Thiat sianseng saja yang tetap menundukkan kepalanya memukul pulang pergi biji biji sie poanya, air mukanya yang murung dan dikerutkan kencang2 itu seperti sedang menggambarkan suatu bencana besar yang bakal menimpa dan merupakan suatu kejadian yg sangat mengenaskan selama hidupnya .
Dengan sikap dari setiap jago dilembah itu membuat Liem Tou yang tak tahu urusan apa yang terjadi itu merasa tegang juga tidak tertahan keringat dingin mengucur keluar dengan derasnya.
Lewat beberapa saat kemudian suara tertawa itu mendadak berhenti sama sekali kemudian di ikuti dengan suara pekikan ngeri dari burung elang.
Dari atas kepala para jago segera munculkan dua ekor burung elang yang sangat besar sekali dengan tak henti2nya menyambar diatas kepala para jago itu.
Sayap dari kedua elang itu kelihatan begitu besarnya sehingga hanya cukup bergoyang beberapa kali saja didalam sekejap mata mengitari lembah cupu2 itu sebanyak empat kali, hal ini bisa dibayangkan betapa cepatnya gerakan dari binatang itu.
Saat ini setiap orang memusatkan seluruh perhatiannya keatas, sedang sinar matanya pun dengan tajamnya mengikuti setiap putaran serta setiap gerak gerik dari kedua ekor burung elang tersebut, orang2 yang semula mulai menggeserkan kakinya mendekati pintu lembahpun saat ini menghentikan gerakan tubuhnya dan berdiri mematung dan tak berani bergerak sedikitpun.
Jelas sekali kelihatan air muka dari Tionggoan Ngo Koay makin berubah tegang lagi bahkan keringat sebesar kacang kedelai sudah tampak mulai menetes keluar membasahi keningnya.
Pada saat yang sangat tegang itulah mendadak diantara para jago itu terdengar suara yang sangat aneh sekali. " Sreet " suara yang sangat nyaring memecahkan kesunyian ini membuat Liem Tou hampir loncat saking terkejutnya, dia menoleh kebelakang terlihatlah seorang lelaki berusia pertengahan secara mendadak mencabut keluar pedang yang tersoren dipunggungnya, suara yang sangat nyaring serta aneh itu kiranya berasal dari suara sesaat dia mencabut keluar pedangnya itu.
Siapa tahu begitu pedang panjangnya keluar dari sarung sesorot sinar matahari tepat menyoroti tubuh pedang itu sehingga memantulkan suatu sinar pedang yang sangat menyilaukan mata, suara tertawa keras yang tadi sudah berhenti sekali lagi bergema ditengah lembah cupu cupu serta sekeliling gunung yang tinggi itu bahkan secara samar samar diikuti dengan suara suitan yang keras.
"Kuak ... kuak .. " dengan beberapa kali pekikan mengerikan kedua ekor burung elang itu secara mendadak muncuI dari antara awan kemudian menukik kebawah dengan kecepatan yang luar biasa menubruk kearah orang itu.
Semua jago yang melihat hal itu tidak bisa menahan pergolakan didalam hatinya lagi tak tertahan mereka pada menjerit kaget, tetapi di antara suara jeritan yang sangat mengerikan memecahkan jeritan kaget lainnya, kedua ekor burung elang itu dengan diikuti segulung angin sambaran yang sangat kuat sudah melayang kembali keangkasa menghilang dibalik awan.
Ketika keadaan menjadi jelas kembali para jago hanya melihat orang itu sudah binasa diatas tanah dengan badan yang hancur serta darah segar yang berceceran diatas tanah, kiranya tulang tulang batok kepalanya sudah hancur sedang tubuhnyapun koyak koyak oleh kuku elang yang sangat tajam itu.
Keadaan yang sangat mengerikan dan menggoncangkan hati setiap orang ini membuat para jago tidak tertahan lagi pada bergidik sedang bulu roma pada berdiri semua.
Liem Tou yang melihat hal itu dalam hatinya sudah merasa ngeri, pikirnya.
"Siapa orang itu ?? wow . . . sungguh galak dan ganas benar".
Tanpa sadar lagi dia mulai berdiri bersandar pada punggung kerbaunya itu, sedang dalam hati diam diam doanya.
"Moga moga aku bisa menaiki punggung kerbau ini dan menerjang keluar dari lembah terkutuk ini, . . . Oooh Thian tolonglah aku”
Tetapi didalam hatinya mendadak berkelebat kembali keadaan yang mengerikan dari lelaki yang terkoyak oleh dua ekor elang raksasa itu, dalam hatinya sekali lagi timbul perasaan yang mencegah niatnya ini, ujarnya lagi.
"Tidak mungkin .tidak mungkin Liem Tou, Liem Tou, kau tidak mungkin bisa lolos dari lembah ini, sebelum kau orang mencapai depan lembah mungkin kedua binatang itu sudah menghancurkan dan mengoyak-oyak tubuhmu..... tidak mungkin . ..tidak mungkin, Oooh . siapa dia? Kenapa sampai Tionggoan Ngo Koay juga takut seperti itu ? siapa orang itu?”
Dengan kejadian yang sangat mengerikan itu membuat hawa disekeliling lernbah itu berubah menjadi semakin berat dan semakin menyesakkan napas setiap orang, hanya cukup sekejap saja ternyata mirip dengan satu hari lamanya.. . . yang paling menggemaskan kedua ekor elang raksasa itu dengan tidak henti hentinya terus menerus berputar dan berkeliling di sekitar lembah itu .
Tidak lama kemudian Liem Tou benar benar tidak sanggup untuk bersabar menanti dengan keadaan seperti itu, perasaanaya sekarang ini jauh lebih gemas dari pada tubuhnya dihajar atau dipukuli setengah mati.
Tangan kanannya dengan perlahan lahan mulai diletakkan diatas punggung kerbaunya sedang tubuhnya siap siap meloncat keatas punggung kerbau untuk kemudian dengan cepat cepat menerjang keluar dari lembah itu.
Mendadak ... pada saat yang bersamaan pula si pembesar buta mendadak bersuit nyaring dengan tingginya membuat seluruh lembah tergetar dengan kerasnya, bersamaan pula bentaknya dengan keras.
"Kamu iblis terkutuk..iblis elang yang terkutuk aku kira sejak dulu sudah modar tidak kusangka sama sekali ini baru bisa berada ditempat ini he he ... kalau sudah datang kenapa tidak muncul muncul? buat apa main sembunyi sernbunyi seperti anak kura kura?? cepat gelinding keluar biar semua orang bisa lihat batang hidungmu.”
Si pembesar buta sesudah berteriak demikian, ujarnya pula dengan nada yang perlahan dengan kawan kawannya.
“Hey buntung bangkotan, mayat hidup pengemis busuk serta Sie poa butut dengarkan dulu. . iblis anjing ini sekali lagi munculkan diri didalam bu lim terpaksa dendam kesumat diantara kita ditunda dahulu untuk bersama sama mengusir iblis busuk itu, pada masa yang lalu kita Tionggoan Ngo Koay bisa menahan serangan iblis itu kiranya ini haripun masih sanggup ..,hem. hemmm heran buat apa kita takut dia juga?”
“Ehmm. perkataan kamu sibuta sekalipun tidak salah" sahut si Thiat Sie sianseng, "tetapi masa yang silam tetap merupakan masa yang silam, masa yang silam sibuntung bukanlah buntung, sipicik bukarlah buta simayat hidup tidak kaku tetapi ini hari diantara Tionggoan Ngo Koay ada yang sudah bunturg, buta ditambah lagi sudah kaku seperti mayat hidup he- he he tidak disamakan lagi."
Sipembesar buta yang mendengar perkataan itu menjadi sangat gusar, ujarnya.
“Haaa - - - perkataan apa ini hey pedagang terkutuk? Kamu kira aku semua harus korbankan nyawa untuk dia orang?? Sekalipun pada masa yang lalu kita tidak buntung, tidak kaku tidak buta tetapi kepandaian yang kita miliki sekarang jauh lebih lihay dari pada kita semasa belum buntung, belum buta, belum kaku.”
"Tidak salah - - tidak salah” sahut Thiat-Sie sianseng tenang, tetapi sekarang aku mau tanya pada waktu yang lalu kamu masih bisa menahan serangan dari kedua binatang terkutuk itu, lalu ini hari kamu masih sanggup tidak?"
Beberapa perkataan ini membuat sipembesar buta bungkam seribu bahasa tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun, tetapi dengan cepat Thiat Sie sianseng mengubah pokok pembicaraannya, ujarnya lagi.
"Tetapi kalian tidak usah kuatir tadi aku sudah menghitung dengan teliti, asalkan kita orang bisa menghadapi dia cukup seperempat jam saja maka kita akan dapat tertolong"
Sehabis berbicara dengan perlahan dia melirik sekejap kearan Liem Tou, tanyanya mendadak.
"Hey, Liem Tou! Sebenarnya kamu punya hubungan apa dengan Siok Li Sin Ken atau sicangkul pualam Lie Sang Loo jie dari partai Tun Si Pay? cepat beritahukan kepadaku"
Liem Tou yang ditanya seperti itu menjadi tertegun dibuatnya, sambil gelengkan kepalanya, sahutnya.
“Aku tidak tahu.”
Si Thiat Sie sianseng yang mendengar jawabannya itu menjadi gemas, sambil melototkan sepasang mata ujarnya lagi.
"Kamu bohong, aku sudah hitung pasti punya hubungan dengan dia orang"
"Cianpwee.. cianpwee harus percaya omonganku" ujar Liem Tou sambil gelengkan kepalanya dengan keras.
Selamanya Liem Tou belum pernah omong kosong, aku benar2 tidak kenal dengan si Lie-Sang dari Tun Si Pay itu ."
Thiat Sie sianseng yang melihat Liem Ton menjawab begini tidak terasa gumamnya seorang diri.
"Haaaa ? kalau begini aneh sekali memang aneh sekali .”
Sekonyong konyong teriaknya dengan keras. "Binatang itu menyerang lagi…semua waspada.”
Saat itu juga dari tengah awan kelihatan sekali kedua ekor elang raksasa dengan ganasnya menukik turun kemudian menubruk kearah para jago itu. Si siucay buntung, pembesar buta. pengemis mabok hweesio mayat hidup serta Thiat Sie sianseng lima orang segera bersama sama membentak keras, sambaran kipas- tusukan toya besi, sambitan tasbeh, kebasan toya serta kemplangan Sie poa bersama sarna menutup kedepan menahan serangan dari elang pertama yang malah mementangkan cakar mautnya untuk mencari mangsa.
Saat itulah serangan maut dari elang raksasa yang kedua mendesak datang, dengan diikuti oleh segulung angin sambaran yang kuat elang tersebut menyambar tidak lebih dua kaki dari atas kepala semua orang kemudian melayang naik kembali.
Seluruh perhatian dan tenaga dari Tionggoan Ngo Koay mau tak mau terpaksa harus dipusatkan pada gerak gerik serta serangan dari elang2 raksasa itu kendor sedikit berarti maut menjelang datang karena itulah makin lama pada kening masing2 mulai di basahi oleh keringat yang mengucur keluar dengan derasnya.
Saat ini Liem Tou juga sedang memusatkan seluruh perhatiannya melihat seluruh gerak gerik dari elang raksasa itu, pada saat yang sangat tegang dan sangat kritis itulah mendadak muncul seseorang yang berseru dengan keras.
“Tionggoan Ngo Thay hiap, Jangan terlalu tidak tahu diri."
Liem Tou yang mendengar perkataan itu tidak tertahan lagi segera bergidik, dengan cepat dia mengalihkan pandangannya kearah dimana berasalnya suara itu kiranya dua kali dari Tionggoan Ngo Koay berdiri muncullah seorang lelaki berbaju hijau yang berdiri dengan angkernya air mukanya sangat tampan sedang tubuhnyapun tegap.
Tetapi dari Tionggoan Ngo Koay begitu mendengar suaranya orang itu seperti manusia yang bertemu dengan setan tidak tertahan pada menjerit kaget.
“Haaah - ?”
"Aduh . . . "
Karena perasaan terkejut itulah membuat perhatian mereka menjadi sedikit bercabang, agaknya kesempatan yang sangat baik itu tidak mau disia-siakan dengan begitu saja oleh elang raksasa tersebut, dengan mementangkaa sepasang cakarnya yang sangat tajam bagaikan pisau dengan kecepatan yang luar biasa menubruk kebawah, agaknya serangan itu akan membuat tubuh Tionggoan Ngo Koay terpukul hancur atau terkoyak koyak oleh serangan dahsyat ini membuat Liem Tou yang melihat hal ini merasa sangat terkejut sehingga tidak tertahan menjerit kaget.
Saat itulah sipendekar aneh berbaju hijau itu sudah mengebutkan ujung bajunya, sambil bentaknya.
“Kiem jie tunggu dulu.”
Serangan yang dilakukan oleh elang raksasa itu dilakukan dengan sangat cepat sekali tetapi perginyapun sangat cepat bagaikan kilat, baru saja suara bentakan dari pendekar aneh berbaju hijau itu keluar dari mulut, sayapnya sudah di pentangkan kembali kemudian meluncur ke tengah awan dengan cepatnya. hanya didalam sekecap mata dia sudah mengejar kearah elang lainnya untuk kemudian melanjutkan terbang kelilingnya mengitari lembah tersebut.
Liem Tou sesudah melihat elang raksasa itu terbang pergi burulah dalam hatinya merasa lega, teriaknya dalam hati.
"Huuh . - - sungguh berbahaya . .. sungguh berbahaya - -“
Terdengar sipendekar aneh berbaju hijau sudah membuka mulut ujarnya kepada Tionggoan Ngo Koay dengan wegah-wegahan.
"Sehabis perpisahan kita diatas Tiong Lam san hanya didalam sekejap mata beberapa tahun sudah lewat, kiranya kalian Tionggoan Ngo Koay hiap masih belum melupakan Thian Pian Siauwcu aku orang Kie bukan?"
Sipembesar buta sesudah mendengar perkataannya segera membalikkan bola matanya yang tinggal putihnya saja itu, tongkat besi ditangannya dengan keras diketukkan diatas tanah baru akan buka bicara, Thiat Sie sianseng dengan cepat sudah berebut omong sahutnya.
"Nama besar dari Thian Pian Siauw cu atau rnajikan elang sakti dari daerah Thian Pian, Ke Hong sudah terkenal didalam Bu lim, bagaimana kita bisa melupakannya. Ke Siauwcu beberapa tahun tidak ketemu kelihatan sekali makin lama kau semakin keren dan semakin serius, entah kali ini datang kemari punya petunjuk apa?"
"He He He..” sahut Thian Pian Siauw cu sambil tertawa tawar. "Kitab pusaka To Kong Pit Liok merupakan sebuah kitab pusaka yang sangat sakti, aku kira orang orang Bu lim tidak ada seorangpun yang tidak ingin untuk mendapatkan kitab itu dengan cepat, apalagi kini kedatanganku tepat wakunya buat apa kau bertanya lagi?”
Sambil berkata dia putar tubuhnya sambil menggendong sepasang tangannya dia berjalan kedepan dengan perlahan, air mukanya masih tetap tersungging suatu senyuman yang sangat dingin, sikapnya sangat sombong dan tidak memandang sebelah matapun terhadap orang lain sesudah berjalan ketengah antara para jago itu ujarnya sambil menuding satu persatu.
"Ciangbunjin dari Bu tong pay, Ciangbunjin dari Siauw lim Pay. Hang san Jie Yu. In San Siang koay, Cian Phu Ngo Koei, Siok To Siang Mo..”
Berbicara sarnpai disini mendadak tanyanya kepada Hek Loo Jie.
"Mana Hek Loo toa?”
Saat itu air rnuka dari Loo Jie sudah menjadi pucat pasi seperti rnayat, sesudah membuka mulut setengah harian lamanya barulah sahutnya dengan gemetar.
“Loo toako kemana selamanya aku Loo jie tidak tahu, bilamana Siauw cu ingin rnemanggil dia datang, biarlah sekarana juga aku pergi cari "
Sambil berkata ia balikkan tubuhnya siap meminjam kesempatan yang bagus ini untuk melarikan diri dari lembah itu, siapa tahu baru berjalan satu langkah, terdengar Thian Pian Siauw cu sambil tertawa dingin sudah mernbentak.
"Aku tidak pernah suruh kamu orang pergi cari Hek Loo toa, buat apa kamu cemas begitu? cepat kembali"
Pada saat dia mengucapkan "Cepat kembali” dua kata, tangannya yang sebelah dengan sangat mudahnya sedikit menjawil kearah Hek Loojie, ternyata sangat aneh sekali tubuh Hek Loo jie yang sebenarnya sedang lari kedepan saat ini ternyata dengan sempoyongan beberapa langkah kebelakang, akhirnya dia tidak sanggup untuk berdiri tegak lagi, tidak ampun tubuhnya terjengkang keatas tanah dengan kerasnya.
Keadaan dari Hek Loo jie saat ini sudah mengenaskan sekali, keganasan serta kekejamannya tempo hari saat ini sudah hilang lenyap seperti tertiup angin kencang, sesudah berhasil merangkak bangun dia menjatuhkan diri berlutut dihadapan tubuh Thian Piauw Siauw cu itu ujarnya sambil meringis ringis menahan sakit.
"Bila aku telah membuat kesalahan terhadap Siauw cu, harap kamu orang mau memaafkan dosa dosa ku itu.”
Thian Plan Siauw cu sama sekali tidak mau ambil perduli atas ratapannya itu setindak demi setindak dia mulai berjalan kedepan tubuhnya.
Air muka Hek Loo jie segera berubah sangat hebat, kelihatan jelas sekali gigi serta bibir-nya gemetar sehingga saling terbentur satu sama lainnya bahkan tubuhnya seperti kena penyakit demam dengan kerasnya gemetar, sambil berjalan kaki merangkak mundur kebelakang teriaknya sambil meratap ratap.
“Siauw cu jangan ° . Siauw cu jangan”
Jubah hijau dari Thian Pian Siauw cu yang longgar itu kelihatan berkibar tertiup angin tetapi langkahnya masih tetap dilanjutkan kedepan,
sedang air muka tetap dingin kaku dan sombong sedikitpun tidak kelihatan perobahan apa pun, gerak geriknya seperti tidak pernah terjadi suatu urusan.
Hek Loo jie yang mundur terus menerus ke belakang akhirnya tidak tertahan juga, teriaknya:
“Hey orang she Ke aku dengar kamu orang tidak pernah mengikat tali dendam maupun sakit hati”
Parkataannya belum selesai diucapkan mendadak tubuhnya meloncat bangun, telapak telapak tangannya dengan menggunakan jurus Tui Juang Jung Gwat atau mendorong jendela memandang bulan dengan kekuatan yang besar menghajar tubuh Thian Pian Siauw cu.
Sekali lagi si Thian Pian Siauw cu tertawa dingin, sambil rnengebutkan jubahnya yang ber warna hIjau ujarnya.
“Hek Loo jie sebetulnya aku tidak punya niat rnenyusahkan kamu orang kamu mau cari mati sendiri yaaah??”
Kebutannya memang kelihatan sangat enteng dan ringan sekali tetapi hal yang sebenarnya segulungan tenaga murni yang sangat dahsyat dengan mengikuti kebutan itu menyerang kedepan terdengar Hek Loo jie mendengus berat tubuhnya sudah terlempar sejauh satu kaki kedepan demikian menggeletak diatas tanah tidak bisa berkutik kembali.
Sejak semula hingga saat terakhir Liem Tou terus menerus melihat setiap kejadian yang mendebarkan dan mengejutkan hati itu, saat ini tidak terasa pikirnya,
“Mungkinkah Hek Loo jie terbinasa hanya degan satu kebutan pendekar aneh berbaju hijau itu? kalau begitu pesan terakhir dari Hek Loo toa yang minta aku bunuhkan itu manusia terkutuk Hek Loo jie men jadi tidak bisa terlaksana”
Baru saja pikirannya terpikir demikian terdengar Thian Pian Siauw cu sudah bicara lagi,ujarnya.
“Hek Loo jie dengan kekurang ajaranmu ini harusnya kau dihukum mati tetapi bilamana kau mau beritahu itu kitab pusaka To Kong Pit Liok sekarang berada ditangan siapa, maka aku Thian Pian Siauw cu segera akan buka satu jalan kehidupan bagi dirimu.”
LiemTou yang mendengar perkataan itu segera tahulah dia kalau Hek Loo Jie belum binasa, kiranya dia hanya terluka dalam saja, sejenak kemudian terlihatlah sambil merintih kesakitan dengan paksakan diri Hek Loo jie merangkak bangun, sedang mulutnya dengan nada yang rendah mengucapkan sasuatu hanya karena jarak yang jauh sehingga Liem Tou tidak bisa dengar dengan jelas.
Ujar Thian Pian Siauw cu lagi dengan keras.
' Hek Loo jie kamu orang tidak usah ucapkan terima kasih kepadaku, cepat katakan kitab pusaka To Kong Pit Liok sebetulnya berada ditangan siapa?”
Dengan perlahan sinar mata dari Hek Loo jie beralih keatas tubuh Liem Tou yang dipandang seperti itu tidak tertahan dalam hati merasa berdesir pikirnya.
“Aduh mak ...Tolong..Thian. .. kelihatannya kali ini aku sukar untuk loloskan diri.”
Mendadak sisiucay buntang yang berada di samping membuka mulut, ujarnya:
“Dari tempat kejauhan Ke Siauw cu datang kemari agaknya sudah punya pegangan yang tebal untuk mendapatkan kitab pusaka itu tetapi menurut penglihatanku sekalipun Siauw cu tahu kitab pusaka itu berada ditangan siapa belum tentu dengan mudah mendapatkannya.”
“Kenapa?” 'ujar Thian Pian Siauw cu dengan sangat dinginnya sedang kepalanya dengan per ahan ditolehkan kebelakang. “Apakah mungkin orang yang mendapatkan kitab pusaka itu mempunyai asal usul yang besar yang tidak bisa diganggu dengan seenaknya.?”
Dengan perlahan sisiucay buntung itu menudingkan tangan tunggalnya kearah Liem Tou, kemudian barulah sahutnya.
“Tentang itu masih belum memadahi, coba kamu lihat kitab pusaka itu berada ditangan orang ini, tetapi pernahkah kau terpikirkan bahwa orang yang kecil justru sukar dihadapi?"
Semula ketika Thian Pian Siauw cu melihat sisiucay buntung itu menuding Liem Tou dan melihat keadaan Liem Tou yang demikian, tidak terasa menjadi tertegun, kemudian setelah mendengar sisiucay buntung itu menyebutkan kalau orang yang kecil justru sukar dihadapi mendadak angkat kepalanya tertawa terbabak bahak, kemudian dengan perlahan dia menoleh kearah ciangbunjin dari Bu tong pay, ciangbunjin dari Siauw lim Pay, Heng San Jie Yu, In San-Siang Koei serta Tian Pian Ngo Koei sekalian dengan perlahan tanyanya.
"Kitab pusaka To Kong Pit Liok sudah men jadi milik aku orang she Ke, kalian siapa saja yang tidak puas”
Sambil berkata sepasang tangannya bertolak pinggang menantikan jawaban dari orang orang itu, tapi suasana masih tetap sunyi senyap para jago yang diajak bicara tetap membungkatn seribu bahasa.
Sesudab menanti sepertanak nasi lamanya, Thian Pian Siauw cu tetap tidak dengar sahutan mendadak bentaknya lagi:
"Kalian semua gentong nasi, cepat menggelinding dari sini."
Samba berkata ujung bajunya dikebutkan dan disambarkan kedepan segulung angin serangan yang sangat dahysat segera menggulung kedepan dengan kerasnya, tidak seorangpun yang tidak sempoyongan terkena sambaran angin ini. Meiihat kejadian ini para jago mana berani melawan dia lagi ? Dengan suatu gerakan yang sangat cepat mereka bersama semua pada bubaran keluar dari lembah cupu cupu itu.
Ditengah lembah kini hanya tinggal ciangbunjien dari Bu- tong Pay. Ciangbunjin dari Siauw lim pay, Heng San Jie Yu sekalian karena kedudukannya sebagai seorang cianpwee dari satu partai yang besar sudah tentu rnereka mera sa malu untuk ikut bubaran dengan lainnya tetapi meskipun demikian mereka hanya herdir ditempat kejauhan tanpa berani ikut mengangkat bicara lagi. Thian Pian Siauw cu yang malihat hal itu juga tidak ambil perduli lagi.
Menanti setelah para jago pada lari terbirit birit meninggalkan lembah itu Thian Plan Siauw cu barulah dengan perlahan membalikkan tubuhnya dan melirik sekejap kearah Liem Tou, ujarnya lagi terhadap Tionggoan Ngo Koay.
"Aku sudah mengambil kepastian untuk nahan orang ini, dari pihak Ngo Hiap masih punya petunjuk apa ?"
Si siucay buntung yang sudah kadung bicara saat ini untuk menarik kembali perkataannya sudah tentu tidak mungkin laga, terpaksa sahutnya dengan perlahan.
"Aku kira tidak begitu mudahnya, sekalipun pada pertemuan besar diatas gunung Tiong Lam san tempo hari Ke Siauwcu bisa mengalabkan para jago dengan mengandalkan sepasang telapal tangan, mengalahkan raja Auh Hay ClangCau, melukai Kiem Ko It Tiauw atau sipancing emas sakti Liem Tiong babkan dengan si- Giok Li Sin Koen Lie Loojie bertempur tiga hari dan tiga malam tanpa ada yang menang sehingga nama besarnya menggetarkan seluruh dunia kangouw dan terkenal hingga seluruh pelosok dunia, tetapi keganasan serta kekejamanmu jauh lebih manggetarkan seluruh jago-jago jago berkepandaian tinggi yang binasa ditanganmu semasa pertemuan besar diatas gunung Tiong Lam san entah barpuluh puluh orang banyaknya, bilamana kini kitab pusaka To Kong Pit Liok itu jatuh ketanganmu pula he he be . . . kiranya diseluruh dunia kangouw maupun disekitarnya akin menemui bencana yang sangat besar. Dari pada saat itu kami lima orang menemui bencana ditanganmu jauh lebih balk sekarang juga adu jiwa dengan kamu orang. Hey orang she Ke. Untuk medapat kitab To Kong Pit Liok itu tidak sukar tapi harus singkirkan kami berlima dulu."
Thian Pian Siauw cu begitu mendengar perkataan itu air mukanya masih tetap tenang tenang saja tanpa terjadi perubahan sedikitpun, hanya saja jubah hijau yang dipakai itu secara mendadak bergoyang terus menerus. Tiong-goan Ngo Koay begitu melihat hal itu secara diam-diam mengadakan persiapan juga, mereka tahu tenaga dalam yang dilatih Thian Pian Siauw cu ini sudah mencapai pada tarap kesempurnaan, apalagi tawa khikang yang tarpa berwujud sekalipun Giok Li Sin Kun, itu Lie loojie sendiri juga tidak mau berhadapan langsung karena kelihayaianya tdak usah diceritakan sudah sangat jelas sekali, Thian Pian Siauwcu sesudah selesai memusatkan hawa murninya, u jarnya kemudian dengan sangat dingin.
"Hemmn ... hem. jika dengar pembicaraanmu mungkin kalian akan memaksa aku turun tangan juga?? aku lihat Tiong goan Ngo Thay hiap untuk angkat nama bukanlah urusan yang gampang lebih baik kalian pikirkan lagi dengan masak masak".
Sipembesar buta yang mempunyai sifat paling berangasan menjadi sangat gusar sesudah dengar perkataan itu bentaknya.
“Perkataan dari buntung tua itusedikitpan tidak salah, turun tangan jauh turun tangan buat apa kamu orang banyak bicara ?"
Mendadak Thian Pian Siauw cu tertawa terbahak bahak kembali, air mukanya berubah menjadi membesi sedang mulutnya dengan cepat bersuit panjang dengan nyaringnya, ujarnya kemudian dangan keras.
"Bagus, aku akan hadapi kalian berlima seorang diri, jangan kalian kira lima orang bersatu padu bisa merajai seluruh daratan tiong goan lalu aku tidak bisa kalahkan kamu orang, ini hari dengan bekerja sama kalian berlima boleh terima tiga jurus seranganku, bila aku gagal sejak ini hari juga didalam dunia kang ouw tidak akan dengar nama Thian Pian Siauw cu lagi".
Sambil berkata seluruh tubuhnya digetarkan sehingga secara mendadak tubuhnya membesar satu kali lipat dari keadaan biasanya, Liem Tou yang melihat keadaan ini dalam hati diam-diam merasa terkejut bercampur kuatir atas keselamatannya Tiong goan Ngo Koay, tidak terasa keringat dingin mulai mengucur keluar.
Saat ini Tionggoan Ngo Koay mulai bersiap sedia, mereka semua tidak berani berlaku terlalu gegabah lagi didalam menghadapi musuh yang sangat tangguh ini. Terlihatlah sipengemis pemabok berdiri ditengah tengah sedang sisiucay buntung serta Thiat Sie sianseng berdiri disamping kirinya kemudian si hweesio mayat hidup serta si pembesar buta berdiri disamping kanannya mereka bersama sama berdempet dempetan satu sama lainnya. Bersamaan pula kelima orang itu mendadak sedikit merendahkah tubuhnya, sedang kuda kudanya diperkuat, selain sipembesar buta yang memejamkan mata lainnya empat orang bersama sama memusatkan perhatiannya dan pandangannya kedepan .
Thian Pian Siauwcu mendadak mendengus dengan dinginnya, sepasang telapak tangannya dengan perlahan lahan diangkat sejarak dengan dada, pada jarak kurang lebih beberapa kali dari kelima orang itu berdiri mendadak sepasang telapak bersama sama didorong kedepan.
Segulung angin serangan yang sangat dahsyat bagaikan menggulungnya ombak ditengah amukan topan ditengah samudra babas dengan tidak hentinya mengalir kedepan menekan dari atas kepala kelima orang itu.
Segera terdengarlah Tionggoan Ngo Koay berlima sama membentak keras, lima orang sembilan tangan bersama sama melancarkan serangan balasan.
Pada saat telapak tangan masing masing terbentur satu sama lainnya itulah mendadak tubuh Thian Pian Siauwcu berjumpalitan ditengah udara kemudian tertawa terbahak bahak dengan kerasnya.
Saat itu air muka dari Tionggoan Ngo Koay sudah berubah menjadi pucat pasi bagaikan mayat sedang dari wajahnya secara samar2 memperlihatkan perasaan kesakitannya yang luar biasa, sedang kesembilan buah tanganpun dengan tidak henti-hentinya gemetar dengan sangat hebat.
Liem Tou yang melihat keadaan mereka men jadi seperti tidak terasa dari dalam hatinya timbul perasaan simpatik, sekalipun sihwesio mayat hidup serta pembesar buta itu mempunyai niat untuk mencelakai dia dan merebut kitab pusakanya tetapi didalam keadaan yang sangat kritis dan menentukan mati hidupnya seorang ini ternyata Tionggoan Ngo Koay bisa berhasil menyatukan kekuatan tenaga murni mereka untuk bersama-sama menghadapi musuh tangguh hal lni sudah sangat jelas memperlihatkan kalau diantara Tionggoan Ngo Koay sebenarnya merupakan pasangan teman yang sangat akrab sekali hanya entah akhirnya karena apa mereka menjadi bentrok sendiri dan menganggap kawan sebagai musuh bebuyutan, kini didalam menghadapi musuh tangguh bisa juga bersatu padu menghadapi musuh, keluhuran hatinya boleh dipuji, Liem Tou yang punya pikiran demi kianpun tidak terasa lagi perasaan benci serta perasaan bermusuhan didalam hatinya menjadi hilang dengan sendirinya.
Didalam sekejap mata saja pukulan yang kedua sudah dilancarkan oleh Thian Pian Siauw cu itu, didalam hati sekalipun Liem Tou merasa sangat cemas tetapi dia sama sekali tidak punya cara untuk memberi pertolongan terpaksa dengan melongo dia memandang jalannya pertempuran.
Tampak sepasang telapak tangan dari Thian Pian Siauw cu sesudah didorong kedepan kali ini keadaannya jauh berbeda dengan keadaan pertama, pukulannya sesudah dilancarkan sedikit pun tidak membawa sambaran angin maupun kebulan debu tertiup angin keadaannya sangat tenang dan sunyi hanya saja keadaan dari Tionggoan Ngo Koay jauh lebih menegangkan lagi, seperti juga semula mereka berlima bersama-sama dengan sembilan buah telapak bersama2 menyambut datangnya serangan musuh ini.
Liem Tou yang sedang merasa heran mendadak melihat seluruh bulu roma dari Tionggoan Ngo Koay pada berdiri semua sepasang matanya melotot keluar, sedang keringat sebesar biji kedelai dengan derasnya mengucur keluar dari keningnya, apalagi kesembilan buah tangan yang sedang diulur kedepan itu ternyata tidak sanggup untuk ditarik kembali. telapaknya menghadap keluar sedang jari jarinya membuka dengan kakunya
Didalam sekejap saja membuat Liem Tau yang melihat pertempuran itu menjadi sangat terperanjat sedang hatinya camas seperti ditusuki beribu ribu jarum kecil, dia tahu kedua belah pihak sedang menggunakaa seluruh tenaga yang dimilikinya untuk mengadu jiwa, bahkan masing masing pihak sediktpun tidak mau mengalah terhadap pihak lainnya.
Ketika memandang lagi kearah Thian PianSiauw cu kelinatan dengan jelas pada bibirnya tersungging suatu senyuman yang sangat dingin, sepasang telapaknya dengan sejajar didada dengan tenangnya mengnadap kedepan kelihatannya dia sama sekali tidak terialu ngotot.
Dalam hati Liem Tou semakin merasa sedih lagi, dia tahu saat ini Thian Pian Siauwcu sama sekali tidak menggunakan tenaga penuh tetapi Tionggoan Ngo Koay sudah kelihatan demikian ngotot dan beratnya, bilamana dia sampai menggerakkan seluruh tenaga murninya lalu bagaimana keadaan dari Tionggoan Ngo Koay saat itu? dan mana mungkin mereka sanggup menahan serangan itu??"
Berpikir sampai disini tak tertahan lagi semangat kependekarannya rnuncul dari dasar lubuk hatinya dengan tidak perduli kelihayan pihak musuh rnendadak bentaknya.
"Hey orang she Ke lihat serangan."
Thian Pian Siauwcu begitu mendengar bentakan ini tidak terasa tubuhnya sedikit tergetar, pada saat itulah Tionggoan Ngo Koay bersama sama membentak nyaring dengan paksakan di ri mereka berhasil rnendesak kembali serangan Khie kang tanpa berwujud yang dilancarkan oleh Siauw cu itu.
"Gelegar . “ Thian Pian Siauw cu tidak sempat untuk menarik kembali serangannya,suatu tenaga Khie kang yang sangat dahsyat tanpa bisa dicegah lagi menghantan tanah disisi tubuh Tionggoan Ngo Koay, terlihatlab abu dari pasir pada berterbangan, permukaan tanah yang ditumbuhi dengan suburnya oleh rerumput, didalam sekejap saja berubah menjadi liang yang dalam oleh pukulan dahsyat tenaga Khie kang itu.
Thian Plan Siauw cu melihat serangannya yang hampir mengenai sasaran ternyata telah dikacau oleh bentakan Liem Tou bahkan dengan demikian Tionggoan Ngo Koay berhasil meloloskan diri dari kurungan hawa pukulannya, tidak terasa menjadi sangat gusar sekali, dengan wajah yang merah padam dia menoleh kearah Liem Tou, makinya.
"Bangsat cilik, saat kamatianmu tidak jauh lagi"
Tetapi dia tidak melancarkan serangannya ke arab Liem Tou, hanya kepada Tionggoan Ngo Koay ujarnya dengan keras.
"Terima kembali satu jurus yang terakhir°.
Dengan menggunakan hawa Khie kangnya yang tak terwujut sekali lagi Thian Pian Siauwcu melancarkan serangan dahsyatnya, didalam sekejap saja dua gulung tenaga pukuien yang sangat kuat manempel satu sama lainya.
Dengan memandang dari perubahan wajah masing masing Liem Tou segera tahu bahwa walaupun Tiongoan Ngo Koay masih sanggup untuk menahan serangan dari Thian Pian Siauw cu itu tetapi lama kelamaan tidak akan sanggup bertahan dan akhirnya akan terluka dibawah serangan dahsyat dari Thian Pian Siauw cu.
Untuk menolong nyawa dari kelima orang ttu mendadak dalam pikirnya berkelebat suatu ingatan, dengan cepat dia meloncat naik ke atas punggung kerbaunya, sambil serunya dengan keras.
Orang she Ke, kitab pusaka To Kong Pit Liok kamu orang, jangan harap bisa mendapatkan kembali."
Sambil berkata sepasang kakinya menjepit kencang kencang perut kerbau itu sedang tangannya dengan cepat memukul pantatnya, bentaknya.
“Gouw Koko cepat..!”
Kerbau itu seperti tahu apa yang sedang di rerintahkan kepadanya, kakinya dengan cepat hergcrak kemudian dengan cepat lari keluar da ri le mbah cupu cupu itu.
Dengan perbuatannya ini segera mendatangkan hasil, Thian Plan Siauw cu rnemangnya datang dikarenakan kitab To Kong Pit Liok itu. kini Liem Tou pergi sudah tentu dia tidak punya minat untuk rnelukai nyawa dari Tionggoan Ngo Koay Iagi, sambil menarik kembali telapak tangannya dia tertawa panjang, bentaknya.
"Bangsat cilik kamu orang tidak akan bisa lolos"
Jubah hijaunya dikebutkannya dengan cepat dia mengejar dari belakang.
Gerakan tubuhnya itu sangat ringan bagaikan bertiupnya segulung angin, hanya didalam seke jap mata saja tubuhnya sudah berada beberapa kaki dari tempat semula, saat itulah Tionggoan Ngo Koey baru merasa tidak beres,teriaknya berbareng.
"Celaka!"
Bersamaan pula sembilan buah kaki dengan cepat dipentangkan dan lari dengan cepatnya mengejar dari belakang.
Liem Tou yang merasa tubuh Thian Pian Siauw cu mulai mengejar dan mendekati belakang tubuh kerbaunya tidak dapat lari dengan cepat, dia merasa gemas kepada kerbaunya tidak punya sayap sehingga bisa terbang dari situ.
Setelah berlari beberapa waktu lamanya akhirnya Liem Tou berhasil juga keluar dari lembah itu, mendadak terdengar Thian Pian Siauw cu dengan suara, yang tinggi rnelengking sedang bersuit panjang, kemudian teriaknya.
"Hay bangsat cilik. Cepat berhenti dan serahkan itu kitab pusaka To Kong Pit Liok kepadaku, kalau tidak . . . Hemmm hemmm .. . coba bayangkan saja seekor kerbau bodoh mana mungkin bisa memadahi kecepatan dart Kiem Giok jieku itu?? Saat itu aku akan perintah mereka untuk mengoyak oyak tubuhmu sehingga hancur .. -hemm hemm saat itu walaupun kamu orang menyesal juga tidak berguna.”
Liem Tou yang mendengar suara dari Thian Pian Siauw cu itu sangat dekat dengan dirinya segera menoleh kebelakang terlihatlah dua kaki dibelakang tubuhnya sesosok bayangan hijau dengan cepatnya lari mendatang tidak terasa hatinya menjadi sangat cemas, bentaknya.
-Ooh . . kakak sapi yang baik cepat sedikit larinya."
Pada saat hatinya sedang cemas dan bingung itulah mendadak terdengar suara pekikan ngeri dari dua ekor burung elang yang sedang terbang, ketika diangkat kepalanya memandang, terlihatlah kedua ekor elang itu entah sejak kapan sudah terbang mengelilingi disekitar kepalanya.
Waktu itu Liem Tou sudah berhasil lari hingga diluar lembah, sebelah kirinya merupakan jalan kecil sewaktu dia datang kemari, sedang sebelah kanannya merupakan jalan dekat dengan bukit, pepohonan tumbuh dengan rapatnya sehingga kelihatan sangat rimbun, Liam Tou dengan cepat menarik tali kerbaunya dan menariknya kesebelah kanan.
Sesaat kerbaunya berhenti sebentar itulah suara tertawa dingin dibelakang tubuhnya semakin dekat. dengan cepat Liem Tou menoleh kebelakang begitu kepalanya menoleh tidak tertahan lagi dia menjerit keget.
“Aduh mak .. . tolong . . tolong .. .”
Kiranya saat ini tubuh Thian Pian Siauw cu tidak labih hanya tinggal dua tiga langkah darinya sedang tangannya disambarkan kedepan berusaha rnencengkeram ekor dari kerbau tersebut, keadaan yang demikian bahaya dan mengerikan ini mana tidak membuat Liem Tou menjerit kaget saking ketakutan dan terkejut??
Dengan sekuat tenaga Liem Tou paksa kerbaunya lari lebih cepat lagi, sepasang kakinya yang rnengapit perut kerbau semakin diperkencang sehingga kerbau itu merasa kesakitan, mendadak kecepatan larinya semakin bertambah hingga samping telinganya hanya terasa angin menyambar dengan kerasnya.
Ketika sekali lagi menoleh kebelakang tubuh Thian Pian Siauw cu yang tadinya tinggal dua tiga langkah sekali lagi ditinggal sejauh dua kaki dibelakang .
Tetapi baru menoleh kepalanya mendadak sesosok bayangan abu abu dengan kecepatan bagaikan menyarnbar sebuah anak panah dengan cepatnya, saat itu gerakan dari bayangan tersebut begitu cepatnya sehingga bagi Liem Tou sarna sekali tidak sanggup membedakan apakah bayangan itu manusia apa seekor binatang.
Liem Tou yang melihat bayangan abu-abu itu dengan kecepatan yang Iuar biasa terus menerjang kearahnya segera menjadi bingung, apa tujuannya? Sesaat dia men jadi tertegun itulah bayangan abu abu itu sudah menubruk kearah kepala kerbaunya yang tidak tertahan lagi dia menjerit kaget sedang dalam hati pikirnya.
Tidak perduli karnu manusia atau binatang sesudah menubruk kepala kerbau ini tentu akan runyam.
Siapa tahu gerak gerik dari bayangan abu-abu itu sangat Iincah sekali ketika kelihatan hampir saja tubuhnya menubruk kepala kerbau itu pada saat yang sangat kritis itulah mendadak tubuh dari bayangan itu sedikit mengerut dengan tepat sekali berhasil menerobos melalui bawah perut kerbau tersebut.
Setelah itu dibelakang tubuhnya terdengar suara benturan yang sangat keras sekali diikuti dengan suara bentakan gusar dari Thian Pian Siauw cu. Ketika Liem Tou menoleh kebelakang tampaklah dua sosok bayangan berwarna hijau dan abu-abu sudah bergumul menjadi satu walau pun Liem Tou sudah pentangkan seluruh kekuatan matanya tetap tidak berhasil melihat dengan jelas wajah bayangan itu.
Terlihat kedua orang itu makin bertempur semakin cepat dan akhirnya sampai bayangan manusia pun sukar untuk dibedakan.
Saat itulah dari tengah awan terkumandang datang suara pekikan ngeri yang sernakin lama semakin mendekat, mendengar suara itu Liem Tou mana berani melihat jalannya pertempuran lebih lanjut dengan cepat kakinya mengapit kencang perut kerbaunya sekali lagi lari dengan cepatnya kedepan seperti diuber setan.
Beberapa menit kemudian mendadak terasa olehnya pandangan matanya telah menjadi gelap sedang angin dingin yang menyambar diatas kepalanya pun semakin santar tidak perlu ditanya sudah sangat jelas katau elang raksasa itu sudah berada diatas kepalanya.
Waktu itu Liem Tou tidak punya keberanian untuk angkat kepalanya memandang lagi didalam keadaan yang sangat kritis itu dalam benaknya segera barkelebat suatu akal, tubuhnya dengan cepat ditekuk kedepan kemudian menggelintir menyusup kebawah perut kerbaunya, dengan memegang kencang kaki bagian belakang dari kerbau itu dia melanjutkan melarikan diri dengan cepatnya kemuka, sesaat dia berhasil menyusupkan tubuhnya kebawah itulah kuku elang raksasa seperti capitan besi itu sudah menyambar datang tepat diatas punggung kerbau.
Kerbau ini hidup bersama sama dengan Liem Tou tidak lebih baru beberapa hari malamnya bukannya dia punya kepandaian khusus didalam mengangon kerbau sebaliknya karena kepandaian dari Liem Tou yang sudah terbiasa berguling dan bergurau diatas punggung kerbau sehingga
membuat kepandaiannya menyusup kebawah perut kerbau sangat mahir sekali.
Saat ini secara mendadak Liem Tou memegang kencang sebelah kaki bagian belakangnya membuat kerbau itu saking terkejutnya menjadi meloncat kedepan sedang tanduknya yang diangkat keatas tepat sekali menyambut datangnya sambaran dari elang raksasa itu.
Dengan demikian asalkan cakaran dari elang raksasa itu mencapai pada punggung kerbau itu sudah tentu ujung tanduk dari kerbau tersebut
akan dengan tepat menghajar perut dari elang itu.
Elang raksasa itu ketika siap menerkam punggung kerbau tersebut begItu melihat tanduk yang runcing siap menerima perutnya segera berpekik nyaring dan melayang kembali ketengah angkasa.
Liem Tou sesudah melihat elang itu terbang keangkasa sekali lagi merangkak bangun keatas punggung kerbaunya, tali lesnya ditarik dengan cepatnya mereka rnenerjang ketengah hutan yang sangat lebat.
Tetapi elang raksasa itu tidak mau melepaskan mangsanya dengan begitu saja beberapa kali memperoleh kesempatan baik segera menerjang kembali kebawah membuat Liem Tou beberapa kali hampir2 terluka oleh kuku elang yang sangat runcing dan tajam itu. Untung saja Liem Tou sudah lama bergaul dengan sapi sehingga kepandaian dan kemahirannya menunggang kerbau sudah mencapi taraf kesempurnaan, setiap kali menghadapi bahaya yang kritis berhasil menghindarkan diri sendiri.
Dengan keadaan seperti inilah Liem Tou terus menerus melarikan dirinya dari kejaran ke dua ekor elang raksasa itu sebaliknya kedua ekor elang itu pun tak mau melepaskan mangsanya dengan mudah. Saat itu sudah amat siang perut Liem Tou pun mulai keruyukan minta di isi tak terasa dalam hati pikirannya.
"Hei . binatang terkutuk itu kenapa tidak pergi ? ? perutku sudah mulai lapar sedang per jalanan harus ditempuh beberapa jauhnya ? ?? Nanti aku akan sampai dimana ?
Bilamana kedua ekor elang raksasa itu tidak enyah dari sana cepat atau lambat Thian Pian Siauwcu tentu akan mengejar sampai disitu juga, saat itu dia harus berbuat bagaimana untuk menghadapi 'Thian Pian Siauwcu ? untuk bertempur dengannya ?? tidak mungkin ? Hal itu sama saja dengan telur di adu mencari jalan kematian diri sendiri.
Berpikir sampai disini pikirannya segera bekerja untuk menghindarkan diri dari kuntitan kedua ekor elang raksasa itu, terpikir olehnya kalau tempat itu dekat sungai tentu keadaannya jauh lebih bagus, asalkan dia menceburkan diri kedalam sungai tentu kedua ekor elang raksasa itu tak akan dapat berbuat apa-apa terhadap dirinya, tetapi justru sekarang sekitarnya merupakan tanah pegunungan yang tinggi dan terjal membuat pikirannya sekali pun sudah di peras tetap tak sanggup mencari suatu jalan baik.
Sambil berpikir dia tetap melanjutkan perjalanannya melarikan diri, setibanya pada sebuah hutan yang lebat mendadak suatu bayangan berkelebat dalam hatinya, tak terasa dia menjadi sangat girang pikirnya.
“Haaa…sudah ada… kenapa aku tidak mau menyembunyikan diri untuk sementara didalam hutan rimba yang lebat ini ? Menanti sesudah elang terkutuk itu pergi bukankah aku masih punya kesempatan untuk melarikan diri lagi ?"
Dengan cepat dia menepuk pantat kerbaunya sehingga larinya makin cepat, akhirnya tercapai juga tepi hutan rimba yang lebat itu.
Terlihattah pepohonan sebesar beberapa kaki Iebarnya tumbuh dengan suburnya di sekeliling tempat itu dedaunan yang lebat menutupi masuknya sorotan sinar matahari sehingga keadaan sangat lembab tapi dengan begitu terhindar juga dari serangan elang dari atas angkasa.
Liem Tou yang melihat keadaan disana tidak terasa menghembuskan napas lega, dengan perlahan dia meloncat turun dari punggung kerbaunya kemudian beristirahat disamping sebuah pohon yang sangat besar, telinganya masih tetap mendengar dengan jelas suara pekikan ngeri kedua ekor elang raksasa yarg tetap terbang disekeliling tempat itu.
Dengan perlahan kepalanya disandarkan pada dahan pohon sedang ingatannya melayang pada peristiwa yang mengerikan, mendebar serta mengejutkan yang baru saja terjadi dilembah cupu-cupu, saat yang menegangkan itu membuat tubuhnya terasa sangat letih, kini dapat sedikit beristirahat tidak terasa perasaan mengantuk yang sukar ditahan menjalar keseluruh tubuhnya, seluruh anggota tubuh merasa lemas, sedang matanyapun mulai terkatup sukar dipentangkan kembali.
Tak lama kemudian Liem Tou tak bisa nahan lagi perasaan ingin tidurnya dengan perlahan tubuhnya mulai rubuh keatas tanah.
Sesaat mencapai pada kepulasannya itulah tiba tiba. . . batang kayu serta daun pada berguguran keatas tanah diikuti dengan rubuhnya batang kayu yang besar dengan menimbulkan suara yang sangat keras, suara itu begitu keras dan begitu dekatnya dengan sisi tubuh Liem Tou membuat dia yang baru saja hendak pulas saking terkejutnya hingga meloncat bangun. sambil mengangkat kepalanya keatas bentaknya.
"Siapa ?? kurang ajar. . binatang terkutuk kamu berani membokong aku dari atas pohon?”
Sesudah membentak keras dia menengok ke atas pohon dan makinya lagi dengan suara seperti geledek.
"Burung terkutuk; suatu hari tentu aku putuskan sayap-sayapmu itu dan pegal cakar cakarmu yang tajam."
Pada benaknya terbayang, kembali keganasan serta kekejaman dari Thian Pian Siauwcu teringat pula pada bayangan abu abu yang menerjang kerbaunya, siapa sebetulnya orang itu?? bagaimana bisa sanggup untuk bertempur melawan Thian Pian Siauwcu ??? kini elang elang raksasa terus menerus terbang keliling disekitar hutan bilamana si Thian Pian Siauwcu itu sampai terpancing datang lagi bukankah urusan akan semakin, tidak karuan???
Semakin berpikir Liem Tou merasa semakin takut dengan cepat dia memanjat kepuncak pohon, dengan menggunakam dedaun yang lebat sebagai penutup tubuh dengan cepat dia memandang keatas saat itu terlibat elang tersebut sedang terbang tinggi diangkasa,hanya dengan beberapa kali kebasan sayap dia sudah lenyapkan diri ditengah awan.
Tapi saat itu elang itu hanya tinggal seekor saja sedang yang lainnya entah pergi kemana. Liem Tou yang melihat hal ini menjadi bergerak hatinya, pikirnya dalam hati,
“Celaka yang seekor tentu sedang mengundang Thian Pian Siauw cu kemari"
Dia tak berdiam disitu lebih lama lagi sekalipun harus menempuh serangan elang rakasasa yang ganas itupun dia harus melanjutkan perjalanan juga, dengan tergesa gesa dia merambat turun dari pohon dan jalan kesamping kerbau ujarnya kemudian.
“Kakak sapi yang baik kau seperti aku juga selalu menerima penderitaan, kita harus menempuh bahaya untuk lari keluar dari hutan ini”
Sambil berkata dia merangkak keatas punggung kerbaunya, waktu itulah mendadak dari belakang tubuhnya berkumandang datang suara langkah kaki manusia dengan cepat dia menoleh, terlihatlah seoraag kakek tua berbaju warna abu-abu dengan celana pendek dan kaki yang telanjang sedan berjaIan mendatangi, celana pendek yang dipakai itu ternyata sangat aneh sekali, yang sebelah lebih tinggi dari lainnya. Begitu dia melihat LiemTou menoleh segera digapenya sambil terrtawa tanyanya.
"Hei . bocah cilik, kamu mau kemana?”
Saat ini Liem Tou sudah mirip dengan burung yang dikejutkan oleh anak panah begitu melihat orang asing pada air mukanya segera memperlihatkan perasaan terkejut, takut serta ngerinya, dengan perasaan sangat takut dia memandang kakek tua itu beberapa saat lamanya kemudian barulah sahutnya.
"Aka tak kenal kamu orang, buat apa kamu tanya tujuanku ??"
"Aku orang tua sedang melakukan perjalanan" ujar kakek tua itu sambil berjalan mendekati samping tubuhnya.
“Siapa tahu sudah sampai ditempat ini ternyata tersesat, hei bocah cilik tahu tidak tempat apakah ini ??"
Ketika Liem Tou mendengar dia berbicara begini dan mellhat pula kakinya telanjang tak terasa perasaan curiga didalam hatinya timbul semakin tebal, sambil gelengkan kepala ujarnya singkat.
°Aku tidak tahu."
Sehabis berbicara dengan cepat dia menarik tali les kerbaunya dan putar tubuh melanjutkan perjalanan kedepan.
"Hey bocah cilik " seru kakek tua itu mendadak "Tunggu, tunggu aku sebentar, bagaimana jika kita melakukan perjalanan bersama sama"
(Bersambung ke jilid 7)
Dalam hati Liem Tou merasa curiga kalau orang ini tidak punya niat baik sudah tentu tidak menggubris omongannya lagi, dengan cepat dia pukul pantat kerbaunya dan lari menuju keluar hutan dengan sangat cepatnya.Si kakek tua yang berada dibelakang segera berseru dengan semakin keras.
“Hey bocah cilik jangan lari, jika kamu pergi bukankah aku semakin tersesat? Hey…tunggu”
Ketika Liem Tou menoleh dan melihat kakek itu lari terpontang panting mengejar dirinya.
“Jika dilihat dari gerak geriknya mana mungkin dia berhasil mengejar kerbauku yang lari dengan kecepatan penuh?”
Sambil berpikir dia mengapit perut kerbau semakin kencang membuat larinya kerbaupun semakin kencang, didalam beberapa saat dia sudah hampir keluar dari hutan itu, asalkan sudah keluar dari hutan mau tak mau terpaksa Liem Tou harus menjaga serangan dari elang raksasa itu lagi, membuat hatinya saat ini semakin tegang.
Tanpa sadar dia menoleh kebelakang melihat si kakek tua yang sedang mengejar kearahnya, siapa tahu bukan saja kakek tua itu tidak ketinggalan bahkan jaraknya semakin dekat dengan dirinya, ketika dia melihat Liem Tou menoleh sambil tertawa hingga kelihatan gigi, ujarnya.
“Hey bocah cilik, jika kamu lebih cepat dari aku orang tua tidak akan sanggup untuk mengejar”
Liem Tou melihat dua kali gagal meninggalkan kakek tua itu tidak terasa dalam hati timbul perasaan gusarnya, dengan cepat dia menarik tali kerbaunya sehingga berhenti, kemudian makinya dengan gusar.
“Kamu kakek tua sungguh menjengkelkan sekali, bicara sesungguhnya aku sendiri juga orang yang tersesat, buat apa kamu orang terus ikuti aku?”
“Perkataanmu bagaimana bisa membuat aku percaya?”. Ujar kakek tua itu sambil geleng kepalanya tidak percaya.
“Kalau memang kamu tersesat kenapa tidak boleh membiarkan aku berjalan bersama sama kamu orang? Dua orang jalan bersama sama bukankah semakin baik?”
Liem Tou yang mendengar perkataan ini hampi2 tidak ada perkataan lain untuk diucapkan lagi, dengan sangat gusar ujarnya dengan keras.
“Aku tidak ingin jalan ber sama2 kamu orang semuanya demi keselamatanmu sendiri, tahu tidak? Mukin kamu sudah bosan hidup”
Kakek tua itu menjulur lidahnya, sepasang matanya melotot keluar dengan besarnya lama kemudian baru ujarnya.
“Kalau begitu kamu bukannya seorang pencuri tentu seorang perampok”
“Ha..ha..ha” ujar Liem Tou dengan gugup, sedang sepasang matanya melotot keluar. “Hati hati kalau bicara, siapa yang pencuri? Siapa yang jadi perampok?”
“Bukankah kamu orang bilang sendiri, kalau bukan kamu orang jadi pencuri apa perampok bagaimana aku bisa kehilangan nyawa hanya karena jalan bersama sama?”
Liem Tou dengar dia sudah salah tangkap pembicaraannya tak terasa geli juga, sahutnya:
“Aku bukan pencuri juga bukan perampok, sekalipun jadi pencuri aku juga tidak mau merampok seorang kakek tua miskin seperti kamu hingga sebuah sepatupun tidak kau punya”
Sambil berkata dia tunding keatas langit dan sambungnya “Sudah lihat jelas belum? Binatang terkutuk itu?”
Dengan cepat kakek itu angkat kepala melihat, mulutnya dipentang lebar2 lama kemudian baru sahutnya sambil gelengkan kepalanya.
“Binatang apa yang dapat begitu ganasnya?” Liem Tou semakin gusar, cemas, dan geli, sahutnya:
“Kkau lihat dengan keras, seekor burung elang raksasa yang suka makan manusia, asalkan kamu keluar dari hutan ini segera dia menubruk kebawah, sudah dengar jelas belum?”
Sehabis berkata dengan cepat dia meloncat dari punggung kerbau untuk mematahkan setangkai kayu kemudian meloncat naik kembali keatas punggung kerbaunya, serunya.
“Cepat lari”
Kerbau itu dengan cepat menerjang keluar hutan dan lari dengan cepatnya kedepan.
“Koak..koak!!!” dugaan Liem Tou sedikitpun tidak meleset, baru saja dia keluar dari dalam hutan burung elang raksasa itu dengan mengeluarkan suara pekikan ngeri sudah menubruk kebawah dengan dahsyatnya, saat itu Liem Tou sudah siap sedia, baru saja dia akan mengelincir masuk kebawah perut kerbau saat itulah terdengar jeritan kaget suara kakek tua itu.
“Aduh mak…sungguh ganas binatang terkutuk ini…tolong dia mau makan tubuhku”
Liem Tou menjadi sangat terkejut dengan cepat dia menoleh kearah kakek tua yang terus mengikuti kerbaunya itu, saat ini elang raksasa ini sudah menubruk kedepannya Liem Tou tak bisa pikirkan lainnya lagi dengan cepat dia menerobos kebawah perut kerbaunya.
Kelihatan sekali cakar maut dari elang itu sudah berada kurang lebih beberapa depa saja dari atas kepala kakek itu, mendadak kakek itu menjerit kaget, sepasang tangannya dengan kencang menutupi kepalanya, saat itulah terdengar elang raksasa itu dengan mengeluarkan suara pekikan ngeri yang sangat keras, sayapnya sekali lagi dipentangkan dan terbang keatas awan dengan cepatnya, kiranya sebuah batu besar bagaikan kilat cepatnya sudah menyambar keatas tubuh elang itu dan menghajar perutnya dengan keras.
Baru saja elang raksasa itu terbang sampai di tengah perjalanan mendadak tubuhnya meluncur dengan cepat menuju kebawah dengan cepatnya dan bisa seketika itu juga, kiranya batu tadi dengan cepat menghajar tubuhnya sekaligus mencabut nyawanya.
Melihat hal itu kakek tua tersebut menjadi sangat girang, ujarnya:
“Hey…bocah cilik, binatang yang maka orang itu sudah jatuh kebawah, mari kita lihat”
Liem Tou segera menghentikan kerbaunya yang hendak lari kedepan itu dalam hatinya ia merasa mengkel, mendadak sambil memandang tajam kewajah kakek tua itu, tanyanya dengan nada keras.
“Siapa kamu sebenarnya?”
“Sudah tentu aku orang yang tersesat jalan” sahut kakek tua itu sambil tersenyum heran. “Bocah cilik, agaknya kamu orang pelupa, cepat kita pergi lihat elang itu”
Semakin lama Liem Tou semakin merasa kalau kakek tua itu semakin mencurigakan, tanyanya lagi.
“Elang itu bagaimana bisa rubuh kebawah? Tahukah kamu siapa yang memelihara elang tersebut?”
“Haa?...jika didengar perkataanmu agaknya elang itu dipelihara orang?” tanya kakek tua itu sedikit tidak percaya.
“Benar, jika kamu orang mau pergi lihat pergilah lihat sendiri, aku mau pergi”
“Kamu orang tidak jadi pergi?”ujar kakek tua itu dengan gugup. “ayolah jalan tapi kamu jangan lari terlalu cepat, usiaku sudah demikian tingginya, larikupun tidak secepat dahulu lagi, orang lain panggil aku sebagai Hui Tui Jie”
Liem Tou tidak ambil komentar apa2, hanya dalam hati pikirnya:
“Sekalipun kakek tua itu sedikit aneh tetapi agaknya tidak mengandung maksud jahat, kiranya untuk jalan bersama-sama dia juga tidak mengapa”
Berpikir sampai disitu segera ujarnya.
“Kalau begitu kita jalan pelan2 saja, tapi kamu orang mau pergi kemana?”
“Sebelumnya aku mau pergi kegunung Gobie tapi kini sudah tersesat jalan terpaksa kemana pun jadi”
Liem Tou yang mendengar perkataan ini tidak tahan tertawa geli, ujarnya:
“kalau begitu baiklah, Hui Tui Jie, aku seperti juga kamu orang kemanapun boleh juga tapi kamu punya uang tidak?”
“Ada sih ada” sahut si kakek sambil mengerut alis “kenapa? Kamu niat turun tangan terhadap aku?”
Liem Tou dengar dia punya uang hatinya menjadi mantap lagi segera dengan menarik tangan kakek tua itu mereka melanjutkan perjalanan bersama-sama.
Saat itu matahari sudah condong ke barat agaknya tak lama kemudian malam akan tiba tapi Liem Tou sama sekali tak gubris akan hal itu, yang penting baginya sekarang isi perutnya yang sudah satu harian lamanya belum diisi.
Untung saja tak lama kemudian kelihatan atap rumah mengepul, tidak sadar lagi Liem Tou mempercepat langkahnya, ujarnya.
“Hey, Hui Jie coba lihat didepan ada rumah orang, bagaimana kalau malam ini kita nginap disana?”
“Kenapa tidak? Selain mencangkul sawah pekerjaan apaun aku tak tahu, jika dibandingkan dengan kamu pengalamanku jauh ketinggalan baiknya kamu saja ambil putusan”
“Hui jie” ujar Liem Tou
“Aku sendiri juga hanya tahu menggembala kerbau saja, bagaimana pengalamanku bisa luas? Lebih baik kita berunding saja, aku bicara terus terang saja sekarang setahil perak pun aku tidak punya”
“Kalau begitu aku akan beri pinjam kau terlebih dahulu” ujar kakek tua itu dengan ramah.
“Lain kali kalau kamu sudah punya uang boleh kembalikan kepadaku, tapi pokoknya kita makan dan tidur dulu”
Sesudah berjalan beberapa lama kemudian sampailah mereka disebuah kota kecil, sesudah bertanya tanya barulah mereka ketahui tempat itu sudah masuk daerah Oen Kiang sendag kota itu disebut Toan Bok Ceng segera Liem Tou dengan kakek tua itu mencari sebuah penginapan untuk tinggal.
Malam itu kedua orang tsb memangil semeja perjamuan dan dahar didalam kamar, Liem Tou yang satu hari penuh tidak makan sebutir nasihpun saat ini benar2 sudah lapar dengan lahapnya, sebaliknya kakek tua itu dengan memegang cawan arak sepasang matanya memandang Liem Tou dengan terpesona, tak tahan Liem Tou dibuat heran juga, tanyanya:
“Hey Hui Jie kenaoa kamu orang pandang aku terus menerus?”
Dengan perlahan kakek tua itu meletakkan cawan araknya keatas meja sambil memandang ke wajah Liem Tou ujarnya dengan perlahan:
“Aku sedang heran kenapa kamu tersesat jalan? Apalagi jika dilihat keadaaan kamu orang juga bukan orang daerah sini, hal ini membuat aku merasa bingung, hei bocah cilik sebetulnya siapa namamu?”
Saat ini Liem Tou sudah merasa kenyang hingga hatinyapun merasa sangat gembira, perasaan curiganya terhadap kakek ini makin lama makin hilang kini mendengar dia bertanya segera sahutnya tanpa ragu ragu.
“Aku bernama Liem Tou bertempat tinggal diatas gunung Ha Mo San didaerah Cing Cen, sesudah ayahky meninggal secara turun gunung bekerja sebagai pengangon sapi tidak disangka dituduh orang sebagai pencuri sapi hngga mereka tangkap aku kedalam penjara, ditempat itulah aku bertemu dengan seorang yang bernama…”
Agaknya kakek tua itu sudah dibuat terpesona oleh cerita Liem Tou ini, dengan cemas tanyanya:
“Kamu ketemu dengan siapa? Lalu bagaimana?”
Liem Tou tidak segera menjawab, dengan tertegun dia pandang kakek tua itu mendadak tanyanya:
“Hui Tui Jie sebetulnya siapa namamu?”
Agaknya kekek tua iru menemukan sesuatu persoalan yang rumit, sesudah berpikir beberapa waktu lamanya barulah sahutnya:
“Waktu kecil semua orang panggil aku sebagai Hui Tui Jie mungkin juga aku orang memang she Lie”
Sehabis berkata dia segera mengubah pembicaraannya, tanyanya lagi.
“Siapa nama ayahmu?”
“Liem Han San” sahut Liem Tou cepat tanpa pikir panjang lagi.
Mendadak Liem Tou merasa bahwa pertanyaan yang diajukan oleh kakek tua itu terlalu banyak, membuat pertanyaan curiga didalam hatinya timbul kembali, dalam hati segera dia memperingatkan diri sendiri, pikirnya.
“Orang ini kelihatanya sangat aneh, aku jangan sampai terpancing”
Sedang dia berpikir begitu mendadak kakek tua itu dengan mencekal cawan araknya seorang diri berguman.
“Peng Liem Mo Mo Jan Lu Sie, Han San It Sang Sim Pek…”
Sehabis bicara mendadak dia angkat kepalanya, dari sepasang matanya memancarkan sinar yang sangat tajam tapi hanya dalam sekejap saja sudah lenyap kembali sedang matanya pun memandang terpesona kearah Liem Tou.
Liem Tou ketika mendengar dia mengucapkan syair dari Sian Jien Lie Pek segera dalam harinya memastikan kalau dia bukanlah seorang kakek tua yang sedang tersesat jalan, bahkan namanya Hui Tui Jie pun tak bisa dipertanggung jawabkan.
Tapi pada saat ini dia sama sekali tidak mau bongkar rahasia ini sebaliknya sambil tertawa ujarnya.
“Ooh…ooh..sungguh rak disangka Hui Tui Jie juga seorang siucay yang senang dengan syair terkenal, sungguh mengagumkan…sungguh mengagumkan”
“Ha..ha..aku orang tua mana bisa disebut seorang siucay??” ujar si kakek sambi tertawa pahit.
“Hanya secara tiba tiba teringat akan seorang yang sudah meninggal dia sering membaca syair ini, sudah tentu dengan sendirinya aku jadi ikut2an membaca syair itu juga, hey bocah cilik kau juga pernah dengar syair ini?”
“Pada masa yang lalu ayahku paling suka syair ini”
Sesudah Liem Tou menjawab pertanyaan ini mendadak hatinya tergerak terhadap kakek tua inipun seara tiba2 timbul perasaan yang sangat aneh sekali, dia merasa walaupun kakek tua ini sedikit ketolol tololan dan aneh tapi merupakan seorang yang sangat ramah
Tidak lama kemudian kedua orang itu selesai dahar, sesudah pelayan membersihkan sisa2 makanan Liem Tou naik keatas pembaringan untuk istirahat sedang kakek tua dengan alasan mau nanya jalan menuju gunung Gobie berlalu dari kamar.
Liem Tou buka pakaiannya untuk istirahat, pada waktu itulah dia mendadak merasa kitab Toa Loo Cin Keng –nya sudah lenyap. Tidak terasa hatinya sangat terperanjat, dengan cepat dia periksa lagi dengan telitinya disekeliling tempat itu tapi tetap tidak nampak bahkan kapan hilangnyapun tidak diketahui olehnya.
Liem Tou yang kehilangan kitab pusaka menjadi sangat bingung sekali, sesudah berdiri mematung beberapa saat lamanya didalam kamar dengan perlahan lahan dia baru merasa kalau urusan ini sangat mencurigakan sekali, mendadak teringat akan gerak gerik yang aneh dari kakek tua itu pikirnya diam diam.
“Urusan ini mungkin ada hubungan yang erat dengan dia, sekarang dia sedang keluar untuk mencari berita jalan menuju kedaerah gunung Gobie..”
Teringat sampai disini mendadak hatinya semakin terperanjat dia memakai baju dan lari keluar sedang pada mulutnya gumamnya seorang diri.
“Tua bangka bangkotan, mana dai sedang tanya jalan? Sudah berhasil mendapatkan kitab pusaka dengan sendirinya meminjam kesepatan ini untuk melarikan diri”
Sesudah sampai dipintu depan penginapan itu terlihat kakek tua itu sudah berada ratusan tindak dari pintu penginapan kakinya masih tetap telanjang sedang tubuhnya berjalan menuju kearah sebelah timur.
Melihat kakek itu belum kabur dalam hati Liem Tou merasa sangat girang, teriaknya keras keras.
“Hey, Hui Tui Jie tunggu sebentar aku ada perkataan yang hendak disampaikan”
Tapi kakek itu sama sekali tidak mau gubris, dia tetap melanjutkan perjalanan kearah timur.
Seru Liem Tou lagi
“Hey, Hui Tui Jie tunggu aku sebentar…hey…tunggu sebentar!!!!”
Kakek itu tetap tak ambil peduli dirinya seolah olah dia tuli
Liem Tou menjadi cemas dengan cepat dia lari lagi mengejar kearahnya tapi kejadian aneh terjadi didepan matanya. Liem Tou yang lari dengan cepat kedepan walaupun belum bisa dikatakan cepat bagaikan kilat tapi jauh lebih cepat jika dibandingkan dengan orang biasa, kelihatan sekali kakek itu berjalan dengan langkah yang sangat perlahan tapi tetap saja dia tidak berhasil mengejarnya.
Makin lama kakek itu sudah semakin dekat dengan ujung jalan tapi Liem Tou masih tetap berada ratusan tindak dibelakangnya, saat ini Liem Tou baru tahu dan sadar bahwa kakek tua iru sama sekali bukan orang yang sedang tersesat jalan, sikapnya yang pura2 itu kesemuaanya hanya bertujuan mencari kirab pusaka tersebut saja.
Dalam hatinya dia tahu kalau tujuan yang sebetulnya dari kakek tua itu tentunya kitab pusaka To Kong Pit Liok, siapa tau yang dicuri merupakan Toa Loo Cin Keng peninggalan ayahnya, sungguh merupakan kejadian yang sangat sial.
Kini melihat kakek itu makin pergi makin jauh dan akhirnya lenyap ditengah kegelapan, Liem Tou tahu sekalipun dia mengejar juga tidak ada gunanya, teringat kembali situasi sesaat ayahnya menyerahkan kitab pusaka Too Loo Cin Keng, kepadanya tak terasa hatinya menjadi sangat sedih, air mata bercucuran denga langkah yang sempoyongan dia kembali ke penginapan.
Dalam hati dia merasa sangat gemas dan benci kepada kakek tua itu, makinya:
“Tak tahu malu, bangsat tua, cucu kura2, anak haram jadah…tunggu saja sesudah aku berhasil melatih ilmu silatky sekalipun kau lari keujung langit aku tetap akan cari kau dan merampas kembali kitab pusaka peninggalan ayahku itu”
Diam-diam Liem Tou memaki maki terus, lewat beberapa saat kemudian tiba tiba teringat olehnya kalau isi dari kitab Toa Loo Cin Keng itu walaupun belum berhasil dpahami tetapi semua perkataannya sudah dia hafalkan, kini sekalipun kitab tersebut hilang tetapi tidak sampai mengganggu latihannya tidak tertahan dia merasa untung juga.
Liem Tou yang sembari jalan sembari memaki mendadak dikejutkan oleh suara derapan kuda dibelakang tubuhnya yang sangat ramai bersamaan pula terdengar suara tentakan keras dari seseorang.
Ditengah ramainya pasar malam mendadak terdapat orang yang bertindak kasar dengan menerjang orang yang berada ditengah jalan membuat Liem Toa seketika itu juga merasa sangat terkejut, dengan cepat dia menoleh kebelakang, empat lima ekor kuda jempolan dengan cepat sedang menerjang datang.
Dengan tergesa gesa Liem Tou menghindar kesamping ketika dia memandang lebih teliti lagi kearah penunggang kuda itu tidak tertahan saking terkejutnya dia dibuat tertegun seketika itu juga, kiranya orang2 itu adalah Cungcu dari Ie Hek Cung, si Ang In Sin Pian Pouw Sak San beserta keempat jagonya
Dengan cepat Liem Tou bersembunyi ditempat kegelapan, menanti sesudah kelima orang itu lewat barulah dengan tergesa gesa dia balik ke dalam penginapan.
Waktu dia sampai didapan pintu penginapan justru waktu juga terdengar suara bentakan yang keras dari si Ang In Sin Pian Pouw Sak San dari dalam rumah penginapan, jika dengan begitu saja Liem Tou berjalan masuk bukankah dengan tepat bertemu dengan mereka? Sudah tentu dia tidak berani masuk dengan begitu saja dengan cepat tubuhnya menyelinap kesamping tempat kegelapan.
Beberapa waktu kemudian akhirnya Liem Tou teringat juga sesaat dia meninggalkan rumah penginapan itu dia sudah memandang situasi dari tempat tersebut dengan teliti terpaksa dengan merangkak dari jendela dia masuk kembali kedalam kamarnya.
Untung saja waktu itu tidak ada seorangpun yang melihat perbuatannya itu, Liem Tou yang didalam satu hari penuh mengalami berbagai kejadian yang menegangkan kemudian kehilangan pula kitab pusaka Toa Loo Cin Kengnya tidak tertahan membuat hatinya sangat kecewa, dengan lemasnya dia menjatuhkan diri berbaring diatas pembaringan.
Mendadak matanya terbentur dengan sebuah sampul surat beserta sekarat uang perak yang terletak diatas bantal, diatas sampul itu tertulis beberapa kata dengan terangnya.
Pinjam kerbaumu satu malam, besok pagi pergilah kesebelah utara disana kau bisa menerima kembali kerbau itu, To Jen. Yu Heng, Hoo- Beng, Cian Cie, Tu tong Ti Pian, Pen Hoa, Ting Su, kitab pusaka Toa Loo Cin Keng sekalian dikembalikan.
Dibawahnya hanya terlihat satu tulisan Lie saja.
Liam Tou yang membaca surat itu walaupun sudah melihat setengah harian lamanya tetapi semakin melihat semakin bingung kata kata Co Jen, Yu heng, Ho beng, Cian cin, Tu Tong, Ti Pian, Pen hoa serta Ting Su itu sebetulnya punya arti apa? Tetapi sedikit dikitnya dia tahu kalau surat ini ditulis oleh kakek tua tersebut jika di lihat dari isi surat agaknya kitab pusaka Toa Loo Cin Keng pun akan dikembalikan kepadanya, hal ini ssuatu kcjadian yang jauh diluar dugaan dari Liem Tou.
Sedang kata kata pinjam kerbaumu satu malam panya tujuan apa lagi? Sedang dia berpikir keras saat itulah terlihat seorang pelayan dengan tergesa gesa datang menghampiri kamarnya sambil mengetuk pintunya dengan gencar, dengan perasaan penuh ketakutan ujarnya.
“Khek koan. kerbaumu itu entah sejak kapan sudah menghilang.”
Liem Tou yang mendengar perkataan itu menjadi sedikit tertegun dia tahu kalau perkataan dari diri kakek tua itu sedikirpun tidak bohong, dia tidak ingin ribut, ulapkan tangan ujarnya.
“Pergi ...pergi, aku sudah tahu.”
***
LIMA
Air muka dari pelayan itu segera memperlihatkan perasaan bingungnya, sambil membuka pintu berjalan keluar, gumamnya seorang diri.
“Apa yang terjadi dcngan urusan ini?"
Mendadak pada ingatan Liem Tou terbayang kembali si cambuk sakti Pouw Sak San sekalian dengan cepat ujarnya kepada pelayan ini.
"Hey tunggu sebentar, aku mau tanya itu kelima penunggang kuda yang baru saja datang apa menginap disini juga?"
"Benar" sahutnya sambil mengangguk.,
"Mereka tinggal dikamar sabelah mana?"
"Eh! Mungkin Khek koan kenal dengan mereka?" Tanya pelayan itu sambil mengerdipkan matanya. "Mereka istirahat dikamar yang berpisah, salah satu diantara mereka tinggal dikamar sebelah ini, apa perlu harnba panggil?"
"Tidak perlu . tidak perlu" sahut Liem Tou cemas. "Kamu boleh pergi."
Sesudah pelayan itu pergi barulah Liem Tou berbaring diatas pembaringan untuk beristirahat tetapi walaupun sudah berbolak balik namun tetap tak bisa tertidur nyenyak, pikirannya terus menerus bekerja teringat kembali akan pencurian kitab pusaka Toa Loo Cin Keng oleh kakek tua itu beserta kata kata yang ditinggalkannya, apa maksud yang: sebenarnya dari dia orang? Kenapa secara mendadak si cambuk sakti Pouw Sak San turun gunung bersama sama dengan keempat jago jagonya? Bagaimana dengan keadaan Siauw Ie cici saat ini?"
Pikirannya terus menerus diperas tidak terasa lagi kentongan kedua sudah berlalu, saat itu baru saja siap memejamkan matanya mendadak diluar rumah penginapan itu berkumandang datang suara ringkikan kuda kemudian disusul dengan suara seseoraug yang sangat dikenal olehnya sedang berteriak dengan keras.
"Hey pelayan buka pintu!"
Segera Liem Tou bisa membedakan kalau suara itu berasal dari suara Pouw Siauw Ling putra dari Pouw Cungcu, tidak terasa dalam hatinya muncul kembali perasaan benci, dendam serta gemas, pikirnya dengan gusar.
"Hem dia lagi, yang memisahkan aku denga Ie cici juga dia."
Liem Tou yang teringat akan sakit hatinya ini membuat niatnya untuk tidur segera lenyap tanpa bekas, dengan perlahan lanan dia turun dari pembaringannya dan mendorong jendela luar hingga terpentang, terlihatlah sinar rembulan memancarkan sinarnya dengan remang2, suara gemerisiknya binatang kecil memberikan suatu suasana yang sangat mengharukan, buat perasaan sedih muncul meliputi seluruh benaknya.
Saat itulah pintu dari rumah penginapan itu terbuka kemudian disusul dengan langkah kaki yang berhenti dikamar sebelah, sambil mengetuk pintu ujarnya.
"Tia. kamu orang tua belum tidur? Ling jie datang".
Segera Liem Tou dapat mengetahui kalau orang yang berdiam dikamar sebelah adalah Cungcu, tidak terasa lagi dengan perlahan dia menutup jendelanya kembali dan pusatkan perhatiannya untuk mendengarkau apa yang hendak mereka bicarakan.
Saat itu terdengar dibukanya pintu kamar disusul dengan suara dari Pouw Cungcu yang sedang bertanya.
"Ling jie, kenapa sampai waktu ini baru datang? Sudah kamu temui kawan kawan sealiran kita?"
"Orarg lain sudah menganggap anakmu sebagai seorang tamu yang sangat terhormat tentang hal ini tidak bisa salah lagi, hanya saja di tangah perjalanan kali ini aku sudah dengar suatu berita yang sangat aneh, membuat anakmu merasa bingung.”
“Urusan aneh apa?" Tanya Pouw Cungcu, “Cepat kamu orang ceritakan."
"Tia, tahukah kamu orarg tua siapa yang sudah mendapatkan kitab pusaka To Kong Pit Liok yang sangat menggetarkan sungai telaga itu?
"Ohhh.. aku kira urusan aneh apa tidak tahunva tentang kitab pusaka itu, bukankah sejak dulu aku sudah bilang kitab pusaka To Kong Pit Liok itu sudah berada ditangan Siok to Siang Mo?? Apanya yang aneh?"
"Bilamana sungguh sungguh terjatuh ditangan Siang to Siang Mo anakmu juga tidak akan merasa heran, yang paling aneh barang itu adalah sudah berpindah tangan lagi bahkan jika dikatakan sukar membuat orang percaya, katanya majikan yang baru dari kitab pusaka itu adalah seorang bocah cilik yang bernama Liem Tou”
“Siapa!" seru Pouw Cungcu dengan sangat terperanjat, "Liem Tou? mana mungkin bisa terjadi peristiwa ini? tentu kamu orang sudah salah dengar, saat ini mungkin mayat dari Liem Tou tinggal tulang tulang putih saja"
Liem Tou yang sedang mencuri dengar pembicaraan mereka saat ini tidak bisa menahan pergolakan didalam hatinya lagi air mukanya bcrubah sangat keren sedang dalam hati dengan gemas sumpahnya.
"Lihat saja, asalkan suatu hari Liem Tou masih bernapas dendam ini tidak akan aku lupakan sedikitpun, tunggu saja permainan yang kalian terima.”
Saat itu terdergar Pouw Cungcu menghela napas panjang ujarnya.
"Heei..bila kita ungkap Liem Tou bocah bangsat itu sampai ini hari juga aku masih merasa gemas dan benci. Hei Lie Siauw Ie itu budak juga keterlaluan sekalian hanya kematian dari bocah bangsat itu dia sudah berubah menjadi gila seperti tni, kalau tidak boleh dikata kau dengan dia merupakan sepesang jodoh yang sangat setimpal.”
Liem Tou yang mendengar sampai disitu tidak tertahan menjadi sangat terperanjat sekali. Ie cicinya sudah gila, Ie cicinya sudah gila bagaimana mungkin?
Terdengar Pouw Siauw Ling saat itu sedang terkata.
"Tia, kgmu orang tua jangan mengungkap urusan ini lagi, Siauw Ie memang seharusnya jadi gila, semakin gila semakin baik dan lebih tepat lagi kalau saat ini dia binasa saja".
Beberapa perkataan ini sungguh sungguh seperti beribu ribu batang anak panah yang menembus hati Liem Tou membuat dia sangat menderita... sargat sedih, sekali lagi gumamnya seorang diri.
"Ie cici sudah jadi gila, Ie cici sudah jadi gila, tidak mungkin bisa terjadi urusan ini, aku tidak percaya, aku tidak percaya, dia sama sekali belum binasa"
Tetapi dengan sangat jelas sekali bahkan dengan mata kepala sendiri dia mendengar perkataan dari si cambuk sakti Pouw Sak San serta Pouw Siauw Ling yang mengatakan Lie Siauw Ie sudah gila, walaupun dalam hati ia tak percaya tetapi saat ini mau tak mau dia harus mempercayainya.
Didalam sekejap mata dia dibuat tertegun dan duduk termangu mangu ditengah kamar yang gelap, perkataan selanjutnya Pouw Sak San serta dari Pouw Siauw Ling tidak ada yang masuk kedalam telinganya lagi didalam hatinya setiap kali hanya sedang berkata.
"Aku tidak percaya . . aku tidak percaya . . aku tidak akan percaya."
Lama kelamaan, dia tidak bisa menahan perasaan sedihnya lagi, air matanya setetes demi setetes jatuh membasahi wajahnya menetes keluar dengan derasnya.
Dia membiarkan butiran air matanya menetes melalui wajahnya, pada saat seperti ini dia sama sekali tidak bisa memikirkan benda apa yang bisa kekal didalam dunia ini, benda apa yang ada didalam dunia ini, bahkan penderitaaanya, siksaan yang pernah diterima kesukaran, kepedihan serta macam2 penderitaan lainnya.
"Aku tidak percaya, aku tidak percaya, aku tidak percaya, aku tidak percaya"
Aumannya kali ini merupakan suatu pekikan yang paling keras paling nyaring selama hidupnya bahkan membuat seluruh ruangan tergetar dengan sangat keras, membuat seluruh tamu rumah penginapan itu terbangun dari tidurnya, bahkan suara bentakan serta teriakan muncul dari seluruh penjuru.
"Siapa yang sedang gembar gembor?"
“Hey pelayan, sudah terjadi urusan apa?”
"Kurang ajar, bangsat mana yang tidak tahu diri, ditengah malam seperti ini gembar gembor tidak karuan."
Apa lagi si cambuk sakti Pouw Sak San serta Pouw Siauw Ling sejak semula sudah meloncat keluar dari kamarnya, "dok .. dok . . suara ketokan yang semakin keras berbunyi terus di atas pintu kamarnya bahkan ada yang bertanya.
"Hey siapa yang berdiam didalam? Sudah terjadi urusan apa?"
Liem Tou yang mendengar Pouw Cungcu serta Pouw Siauw Ling sudah menggedor pintu kamarnya seperti bari saja sadar dari suatu impian segera dia merasa sangat terkejut, dia sadar kalau dirinya sudah telanjur berteriak sehingga mengejutkan mereka sedang saat inipun dia tidak bisa buka pintu untuk menemui mereka berdua bagaimana baiknya?
Untuk sesaat lamanya membuat Liem Tou menjadi kalang kabut dan bingung, untuk melarikan diri dari jendela dia merasa bukanlah suatu cara yang sempurna, bilamana mereka berdua mendorong pintu masuk dan melibat orang didalam kamar sudah melarikan diri tentu akan segera mengadakan pengejaran, waktu ini ketukan dari Pouw Cungcu serta Pouw Siauw Ling semakin gencar, mendadak dalam benak Liem Tou berkelebat suatu akal dengan cepat dia menekuk lidahnva keatas sengaja mempertinggi nada suaranya dan lanjut berteriak.
"Aku tidak percaya, aku tidak percaya tidak berhasil tangkap kamu hey ikan bodoh kamu mau lari kemana lagi?"
Kemudian tambahnya lagi.
"Cici cepat ambil jala, Ooh .. seekor ikan yang sangat besar sekali”
Sesudah dia bicara begini ternyata mendatangkan hasil yang gemilang, terdengar Pouw Siauw Ling yang berada diluar kamar sedang memaki.
"Huuu, Setan, kiranya seorang manusia malas yang sedang mengigau."
Sehabis berkata dia berjalan kembali kedalam kamar sebelah.
Liem Tou yang berhasil meloloskan diri disaat yang sangat kritis saat ini tidak berani banyak omong lagi, dengan perlahan lahan dia kembali keatas pembaringannya dan merebahkan diri.
Tetapi sesudah mendapat berita kalau Siauw Ie menjadi gila mana bisa memaksa dia memejamkan matanya? dengan mata yang melotot besar dengan termangu mangu dia memandang kearah sinar matahari yang mulai muncul dari ufuk Timur, lama sekali barulah dengan perlahan dia bangkit kembali dari atas pembaringan.
Tetapi dalam hati dia sadar asalkan dia keluar dari pintu kamar tentu akan ditemui oleh Pouw Cung cu sekalian, karena itulah dia tidak berani berjalan keluar, dengan diam diam dia meletakkan sekeping uang perak itu keatas meja kemudian dengan tidak menimbulkan suara sedikitpun ngeloyor pergi melalui jendela, dengan mengikuti petunjuk perjalanannya kearah Utara.
Dalam perjalanan didalam hati Liem Tou hanya punya satu pikiran saja yaitu memikirkan keselamatan Siauw Ie, sambil berjalan pikirnya.
“Aku pasti akan naik keatas gunung Ha Mo San untuk bertemu dengan Ie cici, betulkah dia sudah gila? Mana aku bisa percaya? Aku harus kesana untuk melihat sendiri”
Tidak lama kemudian dia sudah meninggalkan kota Toan Bok Ceng tersebut, dikala itu cuaca baru saja terang tanah, burung-burung yang terbang diatas pohon disamping jalan berkicau dengan ramainya membuat semangat Liem Tou bangkit kembali, tak terasa langkah kakinya pun bertambah cepat.
Dalam waktu yang sangat singkat dia sudah berjalan kurang lebih sepuluh lie lebih, dari tempat kejauhan mendadak terdengar suara dengusan kerbau, tidak terasa hatinya menjadi tergerak, dengan cepat dia berhenti dan menengok kesekeliling tempat itu, terlihatlah disebelah depannya berdiri sebuah kuil yang sudah hampir rusak dengan cepat dia berjalan mendekat.
Terlihatlah seekor kerbau sedang menundukkan kepalanya makan rumput, melihat hal itu Liem Tou menjadi sangat girang sekali dengan cepat dia berjalan kesamping kerbau tersebut, sambil menepuk lehernya ujarnya dengan perlahan.
"Gouw koko, bagaimana kamu bisa lari sampai sini?”
Begitu dia menepak leher kerbaunya segera terasalah air keringat membasahi tangannya itu tak terasa dia menjadi sangat heran, tanyanya.
"Hey . . kenapa kamu ?? mungkin satu malaman kamu lari terus ? "
Kerbau itu begitu melihat munculnya Liem Tou secara mendadak merasa sangat girang sambil mendengus perlahan, dengan perlahan dia bergeser kesamping tubuh Liem Tou.
Mendadak . . . matanya tertumbuk dengan daun yang tergantung diatas tanduk kerbau itu, dengan cepat diambil benda itu terlihatlah diatasnya tcrtuliskan delapan huruf dengan jelasnya"Jien, Heng, Cu, Beng, Tong, Pian, Hua, Su"
Dengan perlahan Liem Tou mengulangi perkataan itu beberapa kali walaupun tidak tahu apa arti kata kata itu tetapi teringat kembali olehnya pada surat kemarin malam kakek tua itu pun pernah menuliskan delapan huruf yang membingungkan itu, dalam hati dia tahu tentu kata kata itu punya suatu arti yang sangat mendalam hanya saja saat ini tak mungkin dapat di pahami olehnya.
Ketika itu Liem Tou juga tak mau terlalu banyak menghamburkan waktu untuk memikirkan tulisan itu, dengan langkah yang perlahan dia menarik kerbaunya meninggalkan kuil itu untuk melanjutkan perjalanannya.
00000000
SEPERTANAK nasi kemudian sampailah mereka disamping lereng gunung. waktu kelihat ada seorang penebang kayu dengan perlahan sedang berjalan mendatang, dengan cepat Liem Tou menyongsong kedepan sambil ujarnya.
"Toasiok tolong tanya jalan menuju ke Cing Cen harus melalui mana ?"
"Ooh kamu man ke Cing Cen?" ujar penebang itu dengan penuh keheranan.
"Tempat itu tidak dekat, dari tempat ini harus menuju ke daerah Pi Sian dulu kemudian dengan mengikuti pinggiran sungai menuju ke daerah Cian Sian. Baru dari sana menuju kekaki gunung Cing Cen.Saudara kecil jalan ini merupakan aatu satunya jalan brsar menuju ke daerah Pi Sian."
Sesudah mengucapkan terima kasih pada penebang itu Liem Tou pergi mencari sebuah sungai kecil untuk membersihkan kerbaunya sesudah itu barulah dia menaiki punggung kerbaunya untuk melanjutkan perjalanan.
Kini didalam hati Liem Tou sudah mengambil keputusan untuk kembali keatas gunung Ha Mo San untuk bertemu dengan Ie-cicinya.
Sesudah berjalan beberapa lama kemudian mendadak teringat kembali akan parkataan kakek tua itu yang menyatakan kitab pusaka Toa Loo Cin Keng akan dikembalikan kepadanya. Kitab pusaka Toa Loo Cin Keng merupakan kitab pusaka yang sama-sama berharganya dengan kitab To Kong Pit Liok, kitab pusaka tersebut sudah dicuri tetapi katanya akan dikembalikan lagi kepadanya membuat hatinya tidak terasa berdebar dengan sangat keras, sambil melanjutkan perjalanannya dengan nunggang kerbau matanya menengok kekiri kanan untuk menanti munculnya kakek tua itu.
Tetapi walaupun sudah lewat beberapa jauh pun tetap tidak tampak bayangan dari kakek tua tidak tertahan gumamnya.
"Terang-terangan . . .”
Tidak disangka baru saja dia bilang terang-terangan, atau huruf 'Beng' dan belum selesai mengucapkan `menulis demikian' kerbau tunggangannya mendadak berhenti kemudian berjalan mundur kebelakang.
Liem Tou menjadi sangat heran dengau cepat dia meloncat turun dari kerbaunya, tetapi kerbau itu masih tetap berjalan mundur kebelakang.
Semakin melihat Liam Tou semakin merasa heran, teriaknya keras.
"Gouw koko . . . kenapa ? sudah . . sudah cukup jangan mundur 1agi, cepat berhenti jangan bergerak"
Siapa tahu baru saja dia mengucapkan bergerak atau ‘tong` terlihatlah kerbau itu menundukkan kepalanya, tandukuya secara mendadak disiapkan didepannya sedang suaranyapun semakin keras, bahkan boleh dikata sifat liarnya kembali lagi pada tubuhnya.
Liem Tou yang melihat hal ini menjadi semakin bingung, jika dilihat dari perubahan wajahnya boleh dikata dalam hati kian merasa sangat terperanjat, sambil berdiri disamping dengan tak henti hentinya bergumam seorang diri.
“Didalam satu malaman saja bagaimana kerbau ini bisa berubah. .”
Perkataan "berubah' atau "Pian" baru saja keluar dari mulutnya kerbaunya mendadak menghentikan dengusannya kemudian menendangkan kakinya kebelakang dengan sangat hebat membuat pasir dan tanah beterbangan memenuhi angkasa. Sampai disini barulah dengan perlahan lahan Liem Tou sadar kembali apa yang sudah terjadi, sedang pada air mukanyapun dengan perlahan lahan mulai menampilkau perasaan terkejut bercampur girangnya, dalam hati pikirnya.
"Apa sungguh begini?? Didunia ini apa betul ada orang yang berkepandaian sedemikian tingginya.”
Berpikir sampai disini mendadak serunya dengan keras.
"Su" Kerbau itu dengan cepat menghentikan seluruh gerakannya dan berdiri mematung disana, seketika itu juga membuat Liem Tou berdiri mematung ditempat dengan melongo dia memandang kerbaunya itu, saking girangnya tidak tertahan lagi dia lari kedepan untuk memeluk kencang kerbau itu, ujarnya.
“Ooo Gouw koko. Kamu sunguh hebat sekalih, tidak aneh kalau tubuhmu penuh dengan keringat busuk, kiranya satu malaman kamu terus menerus berlatih dengan giat”
Sambil berkata dia meloncat naik keatas punggung kerbaunya kembali, bentaknya.
"Hoa" Kerbau itu dengan cepat mementangkan kakinya kemudian lari dengan kencang kedepan.
Waktu ini Liem Tou betul betul merasa sangat girang, dalam hati terus menerus dia mengingat ingat delapan kata itu.
‘Jen, Heng, Ci, Bang, Tong, Pian, Hoa, Su’
Karena perasaan girang yang meluap luap itulah membuat perasaan ingin tahu meliputi seluruh tubuhnya, waktu itu kerbaunya sedang lari kencang, mendadak Liem Tou sudah berseru.
"Jen " Kerbau itu dengan cepat memutarkan seluruh tubuhnya dan lari dengan kencangnya kesebalah kiri, sebelah kirinya itu merupakan sebuah bukit kecil tetapi hanya dua tiga lompatan saja kerbau itu sudah barhasil menerjang hingga puncak bukit.
Ketika itulah Llem Tou baru mengetahui kalau bukit iiu merupakan sebuah tebing curam yang banyak batu bau cadasnya bahkan tingginya beberapa kaki, didalam keadaan yang sangat terkejut itulah dengan cemas teriaknya lagi.
"Beng" Dengan cepat kerbau itu menghentikan larinya dan mundur beberapa langkah kebelakang, untung saja Liem Tou berteriak dengan cepat kalau tidak dua langkah lagi mereka akan terjatuh kedalam jurang.
Sesudah menghembuskan napas lega barulah Liem Tou berseru lagi.
"Su " Dengan cepat kerbau itu menghentikan larinya, dengan hati yang masih berdebar keras Liem Tou meloncat turun dari punggung kerbaunya dalam hati betul betul dia merasa terperanjat bercampur ngeri, diam-diam pikirnya.
"Sungguh berbahaya.”
Kini Liem Tou tahu jelas kalau kerbaunya sudah mendapatkan latihan yang masak hanya didalam satu malaman saja kerbaunya sudah berubah menjadi seekor kerbau sakti bahkan disamakan dengan seekor kuda jempolan, tanduknya bisa digunakan untuk mengadakan penyerang an punggungnya bisa ditunggangi apalagi ketika kerbau itu lari dengan kencangnya kecepatan luar biasa, ditambah lagi bisa mundur secara mcndadak membuat orang lain sama sekali tidak menduga.
Liem Tou melihat kerbaunya sudah lelah segera merasa sayang dengan perlahan dia menarik kerbaunya berjalan kesebelah lapangan rumput untuk beristirahat.
Baru saja dia duduk melamun memandang ke arah awan yang melayang jauh ditengah awan sekonyong konyong. . , dari tempat kejauhan kelihatan debu mengepul dengan tebalnya dalam hati Liem Tou menjadi terasa terkejut sekali, tidak terasa perasaan tubuhnya sudah berubah menjadi tegang, pikirnya.
“Mungkin Pouw Cung cu sudah sampai disini? Ditempat yang terbuka seperti ini tentu mereka menemukan aku.”
Berpikir sampai disini dengan cepat keinginan untuk kaburkan diri meliputi seluruh benaknya, tetapi sesaat hendak menaiki punggung kerbaunya dengan tanpa sadar kepalanya sudah menoleh kearah dimana munculnya debu yang mengepul itu, begitu memandang tidak tertahan dia tertawa geli sendiri.
Kiranya suara derapan serta debu yang mengepul jauh keangkasa itu bukan berasal dari kuda tunggangan Pouw Cung cu sakalian melainkan beratus ratus ekor domba yang bersama sama lari mendatang.
Domba itu berwarna hitam gelap semua sehinga dari tempat kejahuan kelihatan bertumpuk warna hitam yang makin lama berlari mendatang, kedatangan domba2 yang secara mendadak itu membuat Liem Tou merasa tertarik, tidak terasa dia sudah duduk sendirian disamping kerbaunya sambil memandang dengan terpesona kearah kawanan domba tersebut.
Lewat beberapa saat kemudian kawanan domba itu sudah berada dibawah bukit, mendadak Liem Tou melihat seorang gadis cantik berbaju putih dengan menunggang seekor kambing yang besar mengikuti dari belakang kawanan kambing itu.
Tidak terasa Liem Tou menjadi tertegun di buatnya, pikirnya dalam hati.
“Seorang gadis yang sangat aneh sekali, aku menunggang kerbau sebagai pengganti kuda sudah termasuk hal yang aneh, tetapi dia menggunakan kambingnya sebagai pengganti kuda hal ini sungguh merupakan suatu peristiwa yang sangat mencengangkan hati orang.”
Dengan tidak terasa lagi Liem Tou menoleh memandang beberapa kejap lagi kearah gadis cantik berbaju putih yang menunggang kambing itu. Terlihatlah ujung baju putihnya menari-nari tertiup angin, gayanya mirip sekali dengan bidadari yang baru saja turun dari kahyangan, cantiknya luar biasa. Pada tangan kirinya dia mencekal sebuah seruling yang terbuat dari batu pukulan yang digunakan sebagai pengganti cambuk, dengan gaya yang sangat lembut dia sedang mengiring kawanan dombanya menaiki bukit itu.
Gadis cantik berbaju putih itu benar2 membuat Liem Tou terpesona tetapi hanya dalam beberapa waktu saja Liem Tou sudah sadar kembali dari lamunannya, sambil menoleh kearah lain dalam hati teriaknya.
"Oooh - Liem Thu, Liam Tou kamu tidak boleh lihat gadis itu lagi, didalam dunia ini tidak akan ada gadis yang lebih cantik dari Ie ci ci, kamu orang tidak boleh lihat dia tidak boleh . . . tidak boleh . . . "
Dia berusaha untuk tiadk lihat kecantikan wajahnya, keagungan sikapnya serta keanehan dari gerak geriknya membuat Liem Tou terpesona bahkan benar benar di buat terpesona.
Mendadak suatu suara yang empuk halus serta lembut sekali berkumandang masuk kedalam telinga Liem Tou membuat dia tersadar kembali dari lamunannya.
"Hey.. Siauwko yang ada diatas bukit tolong tanya kamu orang apa melibat ayahku?”
Liem Tou yang mendengar perkataan itu di dalam hati merasa sangat geli, pikirnya.
"Siapa yang tahu ayahmu itu macam apa ?”
Tanpa sadar lagi dia menoleh dan memandang lagi kearah gadis cantik berbaju putih itu, mendadak pandangannya menjadi terang benderang, pada saat dia menoleh itulah gadis cantik berbaju putih itu sudah berjalan naik keatas bukit dengan langkah yang sangat perlahan sekali jaraknya saat ini dengan dirinya berdiri sangat dekat sekali. Terlihatlah wajah si gadis itu cantik dan sangat halus sepasang matanya yang bening dan menggiurkan ditambah dengan bibirnya yang kecil mungil berwarna merah membuat hati setiap orang merasa benar-benar terpesona apalagi ketika dia tersenyum boleh dikata kecantikannya melebihi bidadari manapun juga.
Tidak tertahan lagi hati Liem Tou berdebar dengan kerasnya, dengan cepat dia memandang kearah lain sedang pada mulutnya menyahut dengan keras.
“Aku tidak pernah melihat ayahmu, kamu orang jangan berjalan terlalu dekat”
“Ayahku berjalan melalui jalan ini, kamu sudah pasti melihatnya” ujar gadis itu dengan manjanya.
Ketika Liem Tou mendengar suaranya semakin dekat lagi dalam hati semakin merasa cemas, teriaknya lagi.
“Aku beritahu padamu aku belum pernah lihat ayahmu, kamu jangan maju lagi sekalipun maju lebih dekat aku juga tak pernah melihat ayahmu”
"Tidak mungkin” ujar gadis cantik berbaju putih itu dengan nada yang tak percaya, “"Ayah sudah bilang dia mau menunggu aku dijalan ini, kamu orang tentu sedang menipu aku sudah melihat tapi tak mau beritahu.”
Liem Tou tak berani menoleh lagi dalam hati dia pingin marah tapi entah kenapa sekali pun kena marah juga tak berhasil dilampiaskan terpaksa teriaknya lagi.
"Oooh. . kamu gadis datang dari mana. . kenapa tak mau pakai aturan, cepat kamu orang turun dari bukit ini kalau tidak aku akan berlaku tidak sungkan2 lagi.”
"Oooh Ie cici kamu lihat dia orang tetap tak mau pergi, dia sangat cantik sekali . memang sungguh2 cantik tapi aku tak mau lihat dia, aku tak mau lihat..”
Saat itu gadis cantik berbaju putih tersebut sudah berjalan hingga samping lapangan rumput itu, Liem Tou hanya merasakan bayangan putih berkelebat didepannya dengan cepat dia pejamkan matanya rapat rapat sambil ujarnya dengan keras.
“Kamu jangan kedepanku . sebetulnya kamu orang datang dari mana?? Jangan. . . jangan kedepanku "
Padahal waktu ini didalam hati Liem Ton merasa sangat canggung sekali, dia tak ingin melihat gadis cantik berbaju putih itu karena kecantikannya boleh dikata hampir2 menutupi seluruh kecantikan dari Ie cici idaman hatinya„ tapi walaupun begitu kenapa dia tak mau pergi dari sana dengan menunggang kerbaunya ? Sifat menyenangi yang indah, yang cantik merupakan sifat manusia pada umumnya, kini seorang gadis yang sangat cantik muncul dibadapan matanya walaupun dia sama sekali tak punya niat jahat tapi dalam hati juga merasa sayang untuk ditinggal pergi.
Sesudah ditunggu beberapa waktu lamanya Liem Tou tetap tak mendengar suara jawaban dari gadis itu dalam hati dia mengangpap gadis tersebut sudah pergi; tak terasa sambil menghela napas panjang ujarnya.
"Oooh- - - tak kusangka didalam dunia bisa muncul seorang gadis yang demikian cantiknya.”
Dengan sendirinya dia membuka matanya kembali untuk melihat keadaan sesungguhnya,
Siapa tahu baru saja dia membuka matanya terlihatlah gadis cantik berbaju putih itu sedang duduk diatas batu cadas didepan tubuhnya bahkan pada waktu itu sedang memandang dirinya sambil tersenyum manis.
***
Liem Tou menjadi sangat terkejut tidak terasa lagi dia menjerit kaget, dengan cepat mata nya dipejamkan kembali dan menoleh kearah lain.
Terdengar gadis cantik berbaju putih itu tertawa cekikikan dengan merdunya kemudian ujarnya.
"Kamu orang sungguh naenyenangkan sekali, kenapa kalau lihat aku tentu pejamkan mata? Ayahku sering panggil aku sebagat budak jelek, mungkin aku sungguh sungguh orang yang sangat jelek ?"
"Bukan . bukan, aku cuma tidak mau lihat kamu, cepat pergi.cepat pergi dari sini."
"Kalau begitu kamu takut sama diriku ? bapakku sering juga takut sama aku."
Liem Tou menjadi jengkel, ujarnya dengan keras.
"Tadi sudah aku beritahu, aku takut sama kamu orang. Aku cuma tidak mau lihat kamu . . tidak usah banyak tanya lagi cepat pergi."
“He hi hi hi kalau tak mau lihat jangan lihat, bukankab sudah beres ? ? Buat apa kamu orang harus usir aku ? 00oh . . benar. kamu belum bilang dimana ayahku sekarang ?"
Kini Liem Tou betul betul dibuat gemas tak bisa tertawapun, sesudah berdiam beberapa saat lamanya barulah pikirnya.
“Heei..aku harus berbuat bagaimana untuk menghadapi gadis cantik ini?”
Yang membuat dia semakin menemui kesulitan adalah perkataan gadis itu yang masih amat polos bagaikan sekerat batu giok yang belum digosok, jika dibandingkan dengan kecerdikan dan kelincahan dari Ie cicinya boleh dikata kelainan yang berbeda, terhadap seorang gadis dia juga tidak bisa berbuat kasar apalagi mengusirnya dari sana.
Mendadak suatu akal bagus herkelebat dalam benaknya, ujarnya kemudian.
"Baiklah, aku tidak mengusir kau pergi tetapi aku tak mengijinkan kamu orang berdiri dihadapanku, kalau kau mau baru aku mau bicara, baiklah sekarang kamu boleh bilang siapakah bapakmu”
Agaknya gadis itu juga sedikit merasa jeugkel, dengan menggerutu ujarnya.
"Hmm, kalau bukannya sedang cari ayah, aku juga tak mau mengalah padamu, baiklah lain kali jangaa harap kamu bisa melihatku lagi”
Liam Tou yang mendengar perkataan itu menjadi bingung, apa arti dari perkataannya ini? dengan tidak terasa lagi dia melirik sekejap kebelakang, terlihatlah gadis itu walaupun masih tetap menggunakan pakaian putih tetapi kecantikan wajahnya yang melebihi bidadari itu hanya didalam sekejap mata saja sudah berubah menjadi seorang nenek barwajah kuning yang penuh dengan keriputan.
Liem Tou yang melihat hal itu menjadi melongo dibuatnya, sesudah memandang setengah harian lamanya barulah diketahui olehnya kaau dia sedang memakai sebuah topeng dari kulit kambing, hanya saja topeng itu dibuat demikian teliti dan sempurnanya sehingga sukar untuk diketahui kalau bukannya dipandang dengan teliti.
Ketika gadis berbaju putih itu melihat LiemTou dibuat melongo olehnya tidak terasa tertawa geli, ujarnya.
“Bukankah begini bagus? Sekaraug kamu harus beritahu ayahku berada dimana?"
Sebetulnya siapakah ayahmu itu? Kamu harus beritahu dulu sehingga aku bisa pikir pernah bertemu atau tidak."
Gadis berbaju putih itu berpikir beberapa saat lamanya, kemudian barulah sahutnya.
"Ayahku bilang dia mau melalui jalan ini bahkan dia bilang juga ada sebuah kitab yang sudah didapati oleh seorang yang bernama Liem Tou dia bilang Liem Tou itu tidak seharusnya mendapatkan kitab itu maka dia hendak pergi cari Liem Tou."
Berbicara sarnpai disini mendadak sambungnya lagi.
"Oooh ... siauw-ko, aku lihat kamu jadi orang sangat baik, aku harus panggil kamu bagaimana?? Tentu kau mau bukan menolong aku menceritakan ayahku?"
Ketika Liem Tou mendengar sesudah dia bicara setengah harian lamanya kiranya ayahnya adalah salah seorang yang ingin merebut kitab pusaka "To Kong Pit Liok”-nya dalam hati benar benar merasa gemas bercampur jengkel, didalam beberapa hari ini karena didesak oleh jago jago dari berbagai partai yang menginginkan kitab pusaka To Kong Pit Liok" nya mendesak dia hingga berkali kali menemui bahaya, sudah tentu kini dia merasa benci terhadap setiap orang yang menginginkan kitabnya itu.
Mendadak air mukanya berubah, ujarnya.
“Maaf nona aku tidak pernah melihat ayahmu„ waktuku sudah terbuang terlalu banyak, aku pergi dulu.'
Sambil berkata dia berjalan kesamping kerbaunya. Melihat hal itu gadis berbaju putih menjadi cemas, serunya.
"Hey siauw ko, tunggu dulu aku masih ada perkataan lain!"
Terpaksa Liem Tou berjalan kembali, terlihatlah gadis itu mengambil keluar selembar topeng dari dalam sakunya, ujarnya sambil mengacungkan topeng tersebut.
"Siauw ko asalkan kau menyanggupi untuk menemani aku mencari ayahku maka barang ini akan kuberikan kepadamu, bagaimana?”
Liem Tou yang melihat seorang gadis cantik hanya cukup memakai selembar topeng saja maka wajahnya segera berubah menjadi orang nenek yang penuh keriputan tidak terasa hatinya menjadi tergerak pikirnya.
"Asalkan aku jaga punya benda itu maka di tengah perjalanan tidak akan takut lagi dikejar dihadang oleh orang"
Berpikir sampai disini dengan berdiam diri ia melirik sekejap kearah gadis berbaju putih itu tetapi dimulutnya tetap membungkam.
Sigadis berbaju putih tersebut ketika melihat perubahan wajah Liem Tou ini menjadi amat girang serunya.
'Kau tentu sudah setuju bukan? Baiklah mari berangkat.-“
Tanpa perduli apapun gadis tersebut segera melemparkan topeng itu ketangan Liem Tou, ditengah berkelebatnya bayangan putih dia sudah berjalan kebawah bukit meninggalkan Liem Tou yang memegang topeng itu sambil berdiri tertegun beberapa saat Iamanya, gumamnya seorang diri.
"Gadis ini memang sangat cantik hingga melebihi batas hanya saja membuat orang menjadi bingung "
Dia yang sudah menerima topeng pemberianaya sudah tentu tak bisa menampik lagi, sambil menuntun kerbaunya dengan perlahan berjalan menuruni bukit itu.
Saat ini gadis berbaju putih itu sudah menunggang diatas punggung kambingnya menanti kedatangan Liem Tou, Liem Tou yang menunggang kerbaunya itu dengan perlahan berjalan kesamping tubuh gadis itu, ujarnya mendadak.
“Nona, terus terang saja aku beritahu padamu, setiap waktu dan setiap saat selalu aku dibuntuti dengan maut bahkan orang dari Bu-lim semuanya punya niat untuk menahan aku, bilamana nona jalan bersama-sama dengan aku mungkin saja akan ikut tertimpa bencana”
(Bersambung ke Jilid 8)
Perkataannya Liem Tou ini sebetulnya keluar dari hati sanubarinya siapa tahu gadis berbaju putih itu hanya tertawa ringan ujar nya.
"Siauwko, apa itu jago2 dari Bu Lim ?? Apa mereka lihay semua, tapi aku takkan takut."
Liem Tou tak bisa bicara apa apa lagi sambil berjalan disamping tubuhnya mereka melanjutkan perjalanannya kedepan sedang gadis itu pun mulai menggerakkan seruling pualam di tangannya memberi tanda pada kawanan domba dibelakangnya, demikianlah mereka mulai melanjutkan perjalanannya menuju keluar.
Terlihatlah jalan raya dipenuhi dengan kawanan donba yang sangat banyak sehingga mengganggu perjalanan dari orang orang lain seluruh jalan raya hanya terlihat serombongan berwarna hitam yang berjalan dengan perlahan-lahan.
Gadis berjubah putih itu sambil berjalan sambil tertawa, dia sungguh sungguh menganggap Liem Tou sebagai saudaranya sendirl sedang terhadap domba dombanya yang menutupi jalan raya sama sekali tak mau ambil perduli.
Sebaliknya dalam hati Liem Tou terus menerus sedang memikirkan hilangnya kitab pusaka "Toa Loo Cin Keng serta `gilanya' Ie Cicinya itu bahkan dalam hati sedang memikirkan cara yang baik dan sempurna untuk kembali keatas gunung Ha Mo San untuk bertemu dengan Ie cicinya, karena itulah dengan berdiam diri dia melanjutkan perjalanan bersama sama dengan gadis berbaju putih itu.
Lewat lagi beberapa waktu lamanya mendadak dari belakang tubuh mereka berkumandang datang suara derapan kaki kuda yang sangat ramai sekali, untung saja telinga dari gadis berbaju putih itu sangat tajam, ujarnya dengan cepat sambil tersenyum.
"Siauwko dari belakang kita muncul enam penunggang kuda.
Mendengar perkataan itu Liem Toa menjadi sedikit heran, pikirnya.
"Bagaimana dia bisa mendengar kalau yang datang adalah enam ekor kuda?"
Tidak terasa matanya dipentangkan lebar lebar agaknya dia tidak percaya terhadap perkataan ini. Mendadak gadis berbaju putih itu seperti juga sedang teringat sesuatu ujarnya lagi.
“Koko, kamu orang apa mau menghilangkan kemangkalan didalam hati?"
Liem Tou semakin dibuat bingung oleh perkataannya ini, dengan melongo dia memandangi wajah gadis yang terlapis oleh topeng berwarna kuning itu, saat itu suara derapan kuda semakin santar baru saja Liem Tou menoleh kebelakang terlihatlah tidak lebih tidak kurang enam orang penunggang kuda dari jauh berlari mendatang membuat debu mengepul memenuhi angkasa.
Melihat mereka itu tidak terasa hati Liem Tou menjadi bergerak, pikirnya.
"Apa mungkin mereka?"
Begitu terpikir akan hal ini tanpa sadar lagi air mukanya sudah terjadi perubahan yang sangat hebat sedang hatinyapun ikut berdebar dengan keras, gadis berbaju putih yang berada disisinya ketika melihat perubahan itu dengan gugup tanyanya.
"Hey Siauw ko sudah terjadi urusan apa? Ooooh aku teringat kembali, mungkin yang kau ceritakan itu sudah datang?"
Liem Tou yang sedang memusatkan seluruh perbatiannya pada para penunggang yang makin lama makin mendekat itu hanya menjawab seenaknya saja terhadap perkataan gadis berbaju putih itu.
"Mungkin benar, tapi sebelum melihat dengan jelas siapa mereka mereka itu aku tidak mau ambil kesimpulan dengan cepat."
"Yang datang ada enam orang" ujar gadis itu dengan cepat" yang pertama agaknva usianya paling muda kurang lebih baru dua puluh tahunan sedang yang berada dibelakang merupakan orang orang dari usia pertengahan, Oooh . .. . ada orang yang sudah berusia lima puluh tahunan pada pingganguya terikat seuntai kain merah.”
Mendengar perkataan itu Liem Tou menjadi sangat terkejut. tanyanya dengan penuh perasaan heran.
“Bagairnana?? apa kamu sungguh sungguh bisa melihat? orang itu apa betul punya beutuk seperti apa kamu bicarakan sekarang ini??”
“Aku tidak akan menipu kamu” ujar gadis berbaju putih itu dengan manja.
Semua ini memang sungguh2 jika dilihat sikapmu yang sangat cemas agaknya kamu orang takut dengan mereka yaaah?? jangan takut, Siauw ko kita harus melanjutkan perjalanan seperti tidak ada urusan apapun, semua urusan serahkan saja pada diriku.”
“Orang orang itu semuanya memiliki kepandaian silat yang sangat tinggi, kamu merupakan seorang gadis yang lemah bagaimana bisa menahan serangan mereka, tidak mungkin , tidak mungkin, saat ini aku masih tidak ingin dikenal oleh mereka.”
"Hi hi.. kiranya kamu adalah seorang gentong nasi" ujar gadis itu sambil tertawa ringan. “Seorang lelaki sejati kenapa harus takut pada
manusia?"
Liem Tou yang disindir demikian tidak tertahan saking jengkelnya membuat seluruh tubuhnya gemetar keras, ujarnya dengan suara
seperti geledek.
"Kamu orang tidak usah menyindir diriku, kalau nanti mereka datang kamu orang tidak usah ikut campur biarpun ini hari aku harus binasa ditangan mereka tetapi aku Liem Tou tak akan jeri sedikitpun juga"
Liem Tou yang tanpa sadar sudah menyebutkau namanya sendiri, membuat hatinya secara mendadak merasa sangat terkejut, pikirnya.
"Aduh . kenapa aku menyebutkan namaku sendiri?"
Siapa tahu gadis berbaju putih itu mendadak tertawa manis ujarnya.
"Perkataan Liem koko sendiripun tidak salah ayahku sendiri pernah bilang bahwa seorang lelaki sejati memang harus bersikap begini, biarlah aku beritahu padamu, aku bernama Lie Wan Giok puteri dari ayahku, karena satiap harinya pekerjaanku hanya mengangon domba, maka orang lain menyebut aku sebagai Mu Jang Giok Li atau gadis cantik pengangon kambing".
"Apa maksud dia memberi tahu namanya?? "Pikir Liem Tou dalam hati, belum sempat dia buka mulut untuk bicara, sigadis cantik pangangon kambing itu sudah menampakkan lagi sambil tertawa.
"Liem koko, kau legakanlab hatimu ayahku pergi merebut kitabmu itu tidak lain hanyalah omongan guyon saja, bahkan ayahku mamerintahkan diriku untuk mengambilkan kitab tersebut kepadamu."
Sambil berkata dari dalam sakunya dia mengambil sejilid kitab yang sangat tipis dan diserahkan Liem Tou, ujarnya.
"Liem koko coba kau lihat, bukankah ini?"
Dengan cepat Liem Tou rnenerima kitab tersebut dari tangan gadis itu, ketika memandang terlihatlah kitab itu tidak lain adalah kitab pusaka "Toa Loo Cin Keng" yang dicuri kakek tua kemarin malam membuat dia segera menjadi tertegun dan memandang sigadis cantik pengangon kambing Lie Wan Giok dengan melongo sedang dalam hatinya berpikir ubek ubekan mencari maksud yang sebenarnya dari gadis tersebut.
Saat itu sigadis cantik berbaju putilt itu sudah bicara lagi.
"Liem koko bila ada pertanyaan lain kali saja bicarakan, coba kamu dengar mereka sudah semakin dekat. Kalau kamu tidak ingin dikenali oleh mereka cepat pergunakan topengmu itu. sekalipun dalam hati kamu orang gemas dan benci kepada mereka tapi kesempatan dikemudian hari masih sangat banyak, biarlah kali ini Siauw moay yang menggoda mereka.”
Dalam hati Liem Tou tahu benar benar kalau Pouw Cungcu sekalian sudah menganggap kalau dirinya sungguh sungguh sudah binasa tenggelam disungai bilamana sampai saat ini ditemui mereka mungkin sekali akan mendapatkan cemoohan dan ejekan yang menusuk hati, daripada harus menerima penderitaan itu jauh lebih baiknya kini sembunyikan wajahnya terlebih dahulu dikemudian hari bilamana kepandaian silatnya sudah berhasil dilatih untuk membalas sakit hsti masih punya banyak kesempatan.
Sesudah berpikir sampai disini Liem Tou tidak kukuh lagi dengan pendiriannya, dengaa cepat topengnya dipakai diatas wajahnya membua air mukanya didalam sekejap saja sudah berubah menjadi seorang lelaki berusia partengahan dengan wajah berwarna kehijau hijauan bahkan kelihatan sekali keseramannya.
Sesaat dia selesai menggunakan topeng itu derapan kaki kuda sudah semakin dekat lagi hanya didalam sekejap saja si cambuk sakti sekalian akan tiba disana, mau tak mau hati Liem Tou berdebar keras juga.
Ujar Lie Win Giok dengan perlahan.
"Kita harus jalan seperti biasa, jangan sekali kali melihat mereka walau sekejap pun"
"Kamu orang akan menggunakan cara apa untuk menghadapi mereka?"
"Ini urusanku!'
Mendadak suara ringkikan kuda yang panjang berkumandang dari belakang tubuh mereka, ujar Lie Wan Giok lagi dengan perlahan,
"Liem koko, ilmu menunggang kuda dari mereka sungguh sangat sempurna walaupun didalam keadaan yang sangat cepat mereka masih bisa menahan kendali mereka"
Pembicaraannya ini seperti saja dia melihat dengan mata kepala sendiri, membuat Liem Tou tidak tertahan menoleh sekejap kebelakang, terlihatlah Pouw Siauw Ling sudah berada dibelakang tubuh mereka berdua, begitu
melihat Liem Tou menoleh, mendadak bentaknya,
"Cepat minggir!”
“Hey Siauwko" seru sigadis cantik pengangon kambing itu dengan nada sedikit mengomel “Sudah aku katakan jangan menoleh, kenapa sengaja kamu menoleh juga?"
Pouw Siauw Ling yang tidak mendengar suara sahutan dari mereka berdua segera teriaknya lagi dengan keras.
"Hee..kalian berdua cepat singkirkanlah kambing kambing kalian kepinggir, dengan menghalangi jalanan begini kalian suruh kami harus lewat dengan cara bagaimana ?"
Liem Tou serta sigadis cantik pengangon kambing itu dengan masing masing menunggang kerbau serta kambingnya dengan langkah perlahan tetap melanjutkan perjalanannya kedepan, mereka sama sekali tak mau ambil perduli terhadap teriakan Pouw Siauw Ling itu.
Melihat mereka sama sekali tak mau gubris hawa amarah dari Pouw Siauw Ling semakin memuncak, bentaknya dengan gusar.
"Hey dua anjing didepan cepat menyingkir, Toayamu sekalipun _mau lewat kalau tidak jangan salahkan kami akan menerjang kawanan kambing kalian hingga binasa semua."
Dua orang itu tetap tidak menggubris. Dengan mengerang gusar teriak Pouw Siauw Ling lagi,
“Dua manusia laki perempuan yang tak tahu diri, kalian jangan menyesa1"
Mendadak terdengar suara pekikan kuda yang sangat panjang disusul dengan suara bentakan Pouw Siauw Ling.
Liem Tou hanya merasakan sambaran segulung angin yang keras berkelebat dibelakang tubuhnya, dia tahu begitu bicara biasanya Pouw Siauw Ling tentu melaksanakan perkataannya dan kini sungguh2 dia menerjang kearah kawanan kambing tak terasa hatinya merasa sangaz terperanjat.
Ketika ia menoleh kearah sigadis cantik pengangon kambing itu terlihat sikapnya masih tenang tenang saja tanpa gugup sedikitpun, bahkan masih tetap melanjutkan perjalanannya ke depan.
Pada saat pikiran Liem Tou sedang berputar keras itulah Pouw Siauw Ling sudah menerjarg hingga dibelakang tubuh orang itu, Liem Tou hanya merasakan sambaran angin yang sangat tajam kearah tubuhnys.
Mendadak si gadis cantik pengangon kambing itu tertawa ujarnya.
"Liem koko, coba kau libat."
Sambil berkata pinggangnya yang ramping sedikit ditarik kebelakang sehingga pundaknya sekonyong konyong menempel pada punggung kambing dan pada waktu yang bersamaan pula Pouw Siauw Ling sudah menerjang datang pada saat kritis itulah tangan dari gadis cantik pengangon kambing itu diangkat, seruling pualam ditangannya dengan tepat menotok kepala dari kuda tersebut.
Kuda tersebut yang secara mendadak mendapatkan serangan dahsyat menjadi sangat terkejut sambil meringkik panjang dua kaki depannya mendadak mengangkat keatas, gadis cantik pengangon kambing itu tidak mau membuang kesempatan ini, tangannya sedikit digetarkan seruling pualamnya sudah menotok kearah perut kuda tersebut, memaksa kuda ttu menjungkir dan rubuh keatas tanah dengan empat kaki diatas.
Pouw Siauw Ling yang melihat kudanya rubuh dengan gerakan tubuh yang sangat lincah mendadak melayang keatas dengan cepatoya sehingga terhindar dari tindihan tujuh kuda itu, air mukanya sudah berubah merah padam saking gusarnya.
Tetapi hanya sekejap saja air mukanya sudah pulih pada senyuman riangnya, waktu itulah tepat Liem Tou sedang menoleh kearahnya begitu
melihat senyuman tersebut hatinya jadi panas dia ingat betul betul akan senyumnya ini hanya didalam sekejap saja bayangan ketika dia dianiaya oleh Pouw Siauw Ling memenuhi seluruh benaknva, mendadak mulutnya dengan capat mengucapkan kata "Beng" dari delapan kata rahasia itu.
Kerbau tunggangannya dengan cepat mundur kebelakang hingga Liem Tou merasa sudah cukup mendadak bentaknya dengan keras.
"Beng" Kerbaunya dengan cepat memutar kebelakang dan tepat menerjang dimana Pouw Siauw Ling berdiri, bentak Liem Tou lagi.
"Tong” Kerbaunya menundukkan kepalanya sehingga tanduknya dipersiapkan kedepan, kemudian dengan ganasnya menanduk tubuh Pouw-Siauw Ling, melihat keadaan yang sangat barbahaya dengan seluruh kekuatan Pouw Siauw Ling meloncat kesamping serunya dengan gusar.
“Kurang ajar . . , . kurang ajar ...”
Dari pinggangnya dengan cepat dia menurunkan cambuk panjangnya tangannya sedikit digerakkan cambuknya siap disapu kedepan, mendadak dari tempat kejauhan terdengar suara teriakan seseorang.
“Ling Jie, tahan..”
Terlihat si cambuk sakti basarnya Liong Ciang Houw Jiauw, Siang Hui Hok berlari mendatang tanyanya dengan cemas.
"Ling jie, sudah terjadi urusan apa?"
Saat ini saking gemasnya Pouw Siauw Ling tidak bisa mengucapkan sepatah katapun lama lekali barulah sahutnya.
“Mereka - mereka terlalu menghina orang."
Pouw Peng, Pouw Liang dari Siang hui hok yang selamanya jadi orang paling berangasan begitu mendengar perkataan ini segera menjadi gusar, masing2 meloncat turun dari kudanya dari berjalan menerjang kearah Liem Tou.
Baru saja Liem Tou akan memberi perintah pada kerbaunya untuk melancarkan serangan mendadak si gadis cantik pengangon kambing itu muncul dari belakang tubuhnya, sambil menghalangi perjalanan dari Siang Hui Hok, ujarnya sambil menuding kearah Pouw Siauw Ling.
“Kalian jangan mau dengar omongannya, dengan jelas tanpa perduli mati hidup orang lain dia memerintahkan kudanya menerjang kami kini masih bilang orang lain yang menghina dia sungguh tidak tahu malu.”
Sambil berkata ujarnya pada Liem Tou.
“Koko muka hijau tidak usah peduli mereka lagi mari kita pergi.”
Sejak kecil Pouw Siauw Ling sudah terbiasa dengan sifat ingin menang dan sombong, kini dihina secara begini mana bisa meuerima, sambil membentak keras ujarnya .
“Hui Hok Jie siok harap tunggu sebentar, ini hari keponakanmu harus membasmi kedua anjing laki perempuan ini” sambil berkata cambuknya dengan menggunakan jurus Sin Liong Pok Wi atau naga sakti menggoyangkan ekor menghajar kearah leher Liem Tou yang masih berada diatas punggung kerbau.
Sebenarnya sigadis cantik pengangon kambing itu memang berdiri ditengah antara Liem Tou serta Siang Hui Hok.. begitu serangan cambuk dari Pouw Siauw Ling dilancarkan kearah Liem Tou maka serangan itu harus melewati samping tubuh Lie Wan Giok terlebih dulu terlihatlah secara meadadak dia mengangkat serulirg pualamnya dan diketuk dengan perlahan disamping cambuknya, ujarnya sambil tertawa.
"Koko muka hijau kamu orang turun tangan terlalu berat, sedikit-sedikit saja sudah bunuh orang kali ini biarlah siauw moay yang menerima."
Serangan dari Pouw Siauw Ling ini sebetulnya sudah menggunakan tenaga penuh, dalam anggapannya dalam satu kali serangan saja sudah cukup menjirat Liem Tou, hingga jatuh dari punggung kerbaunya, tahu hanya cukup ketokan perlahan dari seruling pualam Lie Wan Gok seperti juga secara mendadak canmbuknya diputus dari tengah dengan dahsyat sekali
ujung cambuknya melibat kembali menyapu kesamping tubuh Siang Hui Hok.
Pouw Siauw Ling segera sadar sudah bertemu dengan musub tangguh, didalam keadaan yang tergesa gesa itu dengan cepat disentaknya kembali cambuk bajaya, teriaknya dengan keras.
"Tia, paman2 sekalian harap berhati hati, kepandaian dari sepasang laki perempuan sangat dahsyat . mereka bukan tandingan kita."
Mendcngar perkataan itu si gadis cantik pangangon kambing menjadi tersenyum ujarnya.
"Ling jie, jadi kamu baru tahu akan hal ini?? ooh - kasihan . . kasihan . , mari coba lagi"
"Nenek muka kuning …kamu bilang saya apa ?" teriak Pouw Siauw Ling aemakin gusar.
"Bukankah kamu bernama Ling-jie ?"
Saking gusarnya kontan saja air muka Pouw Siauw Ling berubah menjadi kehijau hijauan, tanpa perduli musuhnya itu lihay atau tidak tubuhnya dengan cepat berkelebat cambuk baja di tangannya dengan sekuat tenaga diayun kedepan, tenaga murninya dipusatkan pada cambuk sehingga cambuk itu berubah menjadi sebuab tombak panjang berwarna kehijau-hijauan, kemudian dengan menggunakan jurus Tok Coa To Sim atau ular beracun mengulur lidah dengan sangat dahsyat menusuk tenggorokan si gadis cantik pengangon kambing itu.
Dengan sangat cepat sekali cambuk baja itu mendekati tubuhnya, tetapi sigadis cantik pengangon kambing itu tidak ambil gubris, sambil tetap tertawa ujarnya lagi.
"Aaai . . tidak kusangka kepandaianmu lumayan juga.”
Perkataan sigadis cantik pengangon kambing itu baru saja selesai ujung cambuk tersebut sudah tiba, jika dia betul2 membiarkan cambuk itu menusuk tubuhnya walaupun kepandaian gadis cantik pengangon kambing itu jauh
Lebih tinggi juga sukar untuk menahannya.
Pada saat ujung cambuk Pouw Siauw Ling hampir mangenai tubuhnya itulah didalam keadaan yang sangat kritis tangan gadis itu diulur kedepan, kecepatannya sangat luar biasa sehingga orang2 yang hadir dikalangan tak ada yang melihat dengan jelas.
Pouw Siauw Ling hanya merasa ujung cambuknya sudah terjepit oleh dua jari gadis tersebut.
Pouw Siauw Ling menjadi sangat terperanjat, dengan cepat dia berusaha menarik kembali cambuk bajanya, siapa tahu walau pun sudah mengerahkan tenaga dalam yang dia miliki itu cambuk tetap tidak bergeming sedikitpun.
Sampai waktu itulah gadis cantik pengangon kambing itu baru tersenyum ujarnya,
"Eh eh .. Ling jie kenapa kau?? masih tidak kau lepas tangan? dengan i1mu silat cakar ayammu itu masih terpaut jauh jika ingin mengadu tenaga dalam dengan aku"
Waktu itu Pouw Siauw Ling benar2 serba salah untuk lepas tangan sudah tentu tidak mungkin bisa dilakukan sebaliknya untuk mencabut kembali cambuknya tidak sanggup, saking cemas dan bingungnya tidak terasa !agi air mukanya berubah merah padam. Mendadak dengan gusar bentaknya dengan keras.
“Nenek muka kuning..aku mau adu jiwa sama kamu orang.”
Sehabis berkata dia menggigit kencang bibirnya dengan memperlihatkan wajah mau mengadu jiwa dengan seluruh kekuatan dia menarik cambuknya kebelakang, mendadak tenaga dalamnya berubah dengan meminjam tenaga si gadis cantik pengangon kambing yang sedang bertahan mendadak tenaganya didorong kedepan.
Si gadis cantik pengangon kambing itu tidak disangka Pouw Siauw Ling bisa menggunakan siasat busuk seperti itu, tangannya sedikit tergetar hampir hampir saja tak sanggup untuk bertahan dan kena siasat beracunnya.
"Hmm..kamu sendiri yang cari penyakit”
Mendadak„..tangan sebelahnya yang mencekal seruling pualam dengan sangat dahsyat, memukul keatas cambuk bajanya itu. Criing . . . , kemudian disusul dengen jeritan mengaduh dari Pouw Siang Ling sepasang tangannya tergetar oleh tenaga pantulan itu membuat telapak kontan pecah mengucur keluar darah segar dengan derasnya.
Liem Tou yang berdiri disamping bisa melihat kajadian ini dengan sangat jelas sekali, dia melihat Pouw S:auw Ling yang selalu menyiksa dan menganiaya dirinya sejak kecil kini memperoleh penderitaan dalam hati menjadi sangat girang sekali, bersamaaan pula dia punya anggapan yang lain terhadap gadis cantik pengangon kambing ini.
Tidak disangka olehnya seorang gadis cantik yang bagitu lemah lembut bisa memiliki tenaga dalam yang begitu sempurnanya, diam-diam dia merasa terkejut bercampur heran bahkan ketika teringat kembali pada sikakek tua yang tersesat "Hui Tui Jie" jika betul betul dia adalah ayahnya maka kepandaiannya sudah tentu jauh lebih luar biasa lagi.
Sampai saat ini barulah dia teringat kembali perasaan herannya sewaktu mendadak melihat elang raksasa yang menguntit dirinya sejak dari lembah cupu cupu secara mendadak bisa rubuh binasa dengan sendirinya, hal ini tentu merupakan pekerjaan dari kakek aneh" Hui Tui Jie" itu secara diam diam.
Sewaktu Liem Tou berpikir dengan nikmatnya itu mendadak terdengar si Ang in sin pian Pouw Sak San sudah angkat bicara ujarnya.
"Cayhe adalah Sak San Cung cu dari Ie Hee Cung diatas Cing Jan, putraku tidak hormat harap nyonya memaafkan. Tolong tanya juga siapa nama besar dari nyonya?”
Dengan cepat Liem Tou menoleh, tampaklala saat itu si Ang in sin pian sedang merangkap tangannya memberi hormat sedang sigadis cantik pengangon kambing itu sedang merasa bingung, bagaimana seharusnya berbuat, hatinya
kelihatan sangat tidak tenang juga tidak berbicara sepatah katapun, mendadak dia putar tubuhnya bertanya kepada Liem Tou.
"Koko muka hijau, dia minta maaf kepadaku kamu orang kira bagaimana enaknya?"
Teringat kembali oleh Liem Tou keadaan sewaktu dia diusir dari atas gunung Ha Mo San, segera teriaknya dengan keras.
"Moay moay muka kuning, orang ini pura - pura gagah . . pura pura berbudi kamu harus berhati hati terhadap bokongannya."
"Baiklah. " sigadis cantik pengangon kambing itu kemudien ."Kalau begitu biar aku coba coba kepandaiannya, aku mau lihat dia bisa berbuat apa”
Sesudah mengucapkan kata kata itu barulah dia putar tubuhnya kembali, kepada si Ang in sin pian sahutnya.
“Kamu tidak usah tanya aku lagi. sekalipun kamu orang merengek rengek aku juga tidak akan menyebut namaku, jika kamu ingin bergebrak, tentu aku melayani ."
"Aku bukan maksudkan begitu," ujar Ang sin pian dengan suara halus.
"Nyonya kepandaian silat yang sangat tinggi saat ini juga sudah berada diatas angin. kenapa tidak mau meminggirkan kambing kambing itu sedikit
kesamping agar cayhe bisa lewat? Buat apa karena urusan yang sangat sepele sampai terjadi bentrokan satu sama lainnya? "
“Tidak mungkin, kalian semua merupakan manusia manusia tidak berbudi manusia manusia kasar, kalian ingin merebut jimat koko muka hijauku, aku harus hajar kalian semua."
Ketika Si Ang in sin pian Pouw Sak San melihat gadis cantik pengangon kambing itu bicara tidak pakai aturan air mukanya segera berubah sangat hebat, pada alisnya pun secara samar samar mulai muncul hawa napsu untuk membunuh, sambil memandang tajam gadis cantik pengangon kambing itu ujarnya„
"Kamu orang sungguh sungguh mau berhantam? siapa betulnya kamu? diantara kita tidak ada ganjelan dan sakit hati apa, buat apa kalian begitu ngotot mau memaksa orang??"
Sambil berkata dengan perlahan lahan dia melepaska cambuk merahnya yang dilititkan pada pinggang, melihat hal itu gadis cantik pengangon kambing itu menjerit tertahan, diam diam pikirnya.
“Ohh..kiranya ahli waris dari partai itu ."
Semangatnya menjadi berkobar kembali, pecut baja yang dirampas dari Pouw Siauw Ling tadi dengan cepat disentakkan keatas udara sehingga menimbulkan suara yang menderu- deru, kenada Ang in sin pian Pouw Sak San teriaknya.
"Ayahku pernah bilang pada dua puluh tahun yang lalu pernah muncu1 sebuah cambuk merah didalam Bu Lim, kepandaiannya sangat lihay sekali sehingga banyak jago2 dari dunia kangouw yang dikalahkan ditangannya, kemudian secara mendadak melenyapken diri dari keramaian Bu lim, kini kamu juga menggunakan cambuk merah ini, apa mungkin kamu orang punya hubungan dengan dia ?"
Mendengar perkataan itu Ang in sin pian Pouw Sak San menjadi melengak, ujarnya.
"Jika didengar perkataanmu itu dia memang suhu cayhe, siapa ayahmu?”
"Ha ha ha . bicara selama setengah harian lamanya tak tahu kiranya kamu marid dari bajingan besar perampok kaki tunggal itu, kamu mau tanya siapa ayahku belum memadahi."
Beberapa patah perkataan ini seketika mernbuat Ang in sin Pouw Sak San menjadi sangat gusar, seluruh rambutnya pada berdiri matanya melotot keluar dengan besarnya sedang mulutnya tak henti2nya mendesis.
Ujar gadis cantik pengangon kambing itu lagi.
“Entah kamu orang punya kepandaian silahkan keluarkaa semua, ayahku bilang pada tiga puluh tahun yang lalu dia tak sempat menemui perampok besar itu, ini hari aku bisa bertemu dengan muridnya sudah seharusnya minta pelajaran beberapa jurus cambuk merahnya, aku mau lihat apa betul dia sangat lihay."
Kemudian bentaknya nyaring.
"Cepat keluarkan jurus2mu."
Ang in sin pian Pouw Sak San tidak bisa menahan diri lagi, tangannya diulapkan menyuruh Pouw Siauw Ling serta para pembantunya mundur kebelakang, kemudian sambil tertawa dingin ujarnya.
“Nenek muka kuning kamu kira aku betul2 jeri sama kamu orang ??? kali ini kamu yang cari gara gara terhadap diriku jangan salahkan aku Ang In Sin Pian Pouw Sak San berlaku telengas dan kejam terhadap kamu."
Sehabis berkata bentaknya dengan keras, "Terimalah seranganku."
Cambuk merahnya diayun kedepan mendadak terpancar sinar merah yang memenuhi angkasa. Gadis pengangon kambing itu tidak berani berayal lagi cambuk bajanya digetar keatas, dengan menimbulkan bayangan cambuk yang bersusun2 menyambut datangnyaserangan itu semuanya.
"Jurus ini merupakan ilmu cambuk buntut harimau, tiada keindahannya sama sekali."
Tubuh Ang in sin pian Pouw Sak San dengan cepat berputar. ujung cambuknya diputar kemudian ditarik didalam sekejap mata saja cambuk panjangnya dengan mengeluarkan 'selapis sinar merah’ dengan lurus menusuk kedepan, gerakkannya mirip seekor ular emas yang sedang mematuk mangsanya, dengan tepat menerjang masuk tubuh gadis cantik pengangon kambing itu.
Gadis cantik pengangon kambing itu hanya tersenyum saja, tubuhnya berturut-turut mundur dua langkah kebelakang mendadak bayangan putih berkelebat dengan satu gerakan yang sangat indah tubuhnya melayang beberapa kali di tengah angkasa. cambuk bajanya dengan meminjam gerakan ita menekan keatas kepala Pouw Sak San ujarnya.
“Ilmu cambuk ular malas juga tidak aneh."
Perkataannya belum selesai angin serangan Ang in sin pian Pouw Sak San menarik kembali cambuk merahnya, tenaga dalamnya dengan cepat dikerahkan pada pargelangan tangan cambuk panjang itu sekali lagi melilit keatas kepalanya, tatapi baru saja melilit satu lingkaran cambuk panjang itu mendadak melurus kedepan dengan jurus "Kie Hwee Sauw Thian' atau menyulut api membakar langit cambuknya membumbung tinggi keangkasa kemudian menekuk menotok tubuh gadis cantik pengangon kambing itu.
Liem Tou yang berdiri disamping ketika melihat tubuh gadis itu masih berada diangkasa sudah mendapatkan serangan dahsyat tidak terasa merasa sangat kuatir sekali.
Siapa tahu kepandaian silat dari gadis cantik pengangon kambing itu betul2 sangat lihay dan sudah mencapai pada kesempurnaan, bayangaa cambuk Pouw Sak San baru saja tiba seruling pualam ditangan kiri gadis dengan tidak menimbulkan sedikit suarapun sudah sedikit menutul diatas tubuh cambuk merah itu, dengan meminjam tenaga ini tubuhnya melayang pergi bersamaan pula cambuk baja ditangan kanannya mendadak melilit keatas pergelangan Pouw cungcu, mulutnya tetap berteriak.
"Jurus Kiem Ling Pian Hoat ini masih belum sanggup untuk menahan diriku.”
Saat itu berturut-turut Ang in sin pian Pouw Sak San melancarkan tiga serangan sekaligus dengan menggunakan tiga macam ilmu cambuk yang berbeda, bukan saja semua jurus serangannya mencapai sasaran kosong bahkan setiap ilmu cambuk yang dia gunakan bisa diketahui orang lain dengan begitu jelasnya tidak tertahan hatinya merasa terkejut juga, pikirnya.
"Nenek muka kuning ini sungguh hebat sekali dengan kepandaian silat yang dimilikinya sekarang ini boleh dikata merupakan seorang jago yang sangat terkenal didalam dunia kangouw, bisa kuingat slapa yang bisa memadahi kepandaian silatnya ini."
Berpikir sampai disini mendadak ilmu cambuknya berubah lagi, hanya didalam sekejap mata saja bayangan cambuk bagaikan gunung, mendadak berubah kembali bagaikan mega2 merah yang melayang rendah dipermnukaan tanah dengan perlahan lahan mengurung tubuh sigadis cantik pangangon kambing itu.
Melihat serangan yang sangat dahsyat inilah gadis cantik pengangon kambing ini baru memuji.
"Hmm cambuk yang hebat."
Dengan cepat cambuk bajanya melancarkan serangan dahsyat pula dengan gerakan cepat menyambut gerakan cepat menahan serangan musuh, didalam sekejap saja beberapa kaki sekeliling tempat itu hanya terasa angin cambuk yang menderu deru, diantara bayangan merah dan kuning bayangan manusia bergebrak tidak terpisahkan, sampai akhirnya samakin bertempur semakin cepat - - - semakin cepat semakin seru sehingga bayangan dari Pouw Sak San serta gadis cantik pengangon kambing itu tidak bisa dibedakan lagi, pasir serta kerikil pada beterbangan. Debu mengepul naik membumbung ke angkasa membuat pandangan hadirin menjadi buram, untuk membedakan mana hitam mana merah sudah sangat sukar sekali.
Liem Tou, Pouw Siauw Ling, Siang hui hok, Hauw jiauw serta Liong ciang yang menonton jalannya pertempuran disamping menjadi begitu
terpesonanya, mareka mamandang ketengah termangu mangu matanya melotot keluar dengan bulatnya, hatinya berdebar debar keras sedang keringat dingin mengucur keluar dengan derasnya.
Beberapa ssat kemudian tiba tiba Ang in sin pian Pouw Sak San mnjerit keras kedua orang yang sedang bertempur dengan serunya itu secara mendadak berpisah. Gadis cantik pengangon kambing itu dengan tertawa merdu berdiri disamping dengan tenangnya sedang si Ang in sin pian Pouw Sak San dengan air muka yang sudah berubah dingin kaku bardiri tertegun disana, untuk sesaat tidak sepatah katapun yang bisa diucapkan keluar, sepasang matanya itulah yang sudah kehilangan sinar terang, yang melotot keluar dengan besarnya.
"Budi kebaikan nyonya tidak sampai turun tangan jahat cayhe merasa sangat berterima kasih. Tapi aku Ang in sin pian sejak berpisah dari suhuku sekalipun sangat jarang berkelana didalam dunia kangouw tetapi mengingat kebesaran dari nama suhuku pada masa yang silam aku parcaya didalam dunia kangouw selain beberapa orang cianpwee yang bisa mengeluarkau ilmnu cambuk Ang In Pian hoat sukar untuk dicari yang lain, sebetulnya nyonya berasal dari partai mana ??? apa boleh cayhe ketahui ?"
"Ayahku pernah bilang kalau kami tidak suka berebut dengan orsng2 dunia kangouw, karenanya tidak punya perguruan maupun partai. Kalau ada juga karena orang lain yang paksa beri kepadakami tetapi orang lain panggil aku sebagai gadis cantik pengangon kambing, kamu boleh ingat2 nama itu saja.”
Mendengar nama sebutan itu dengan mata yang melotot keluar Ang in sin pian Pouw Sak San memandang beberapa saat kearahnya baru saja mau buka mulut memberi jawaban mendadak terdengar Pouw Siauw Lirg yang berada disampingnya sudah berteriak.
"Ayah kamu orang tua jangan mau mendengar omongan setannya, dengan wajahnya yang sudah keriputan dan berwarna kuning bagaimana bisa disebut gadis cantik ? sungguh suatu omong kosong yang sangat besar sekali."
Ketika gadis cantik pengangon kambing mendengar perkataan yang begitu menghina dari Pouw Siauw Ling tidak menjadi marah, kepada Liem Tou ujarnya.
"Koko muka hijau, cepat kamu pejamkan matamu aka mau perlihatkan kembali asalku.”
"Jangan jangan . .." seru Liem Tou dengan cemas. "Kamu jangan sembarangan . . ."
Tetapi seorang gadis muka yang cantik siapa yang tidak suka dipuji, tangannya dengan cepat sudah mengusap wajahnya mencopot topeng dari kulit kambing itu, kemudian dengan perlahan lahan menoleh.
Ang in sin pian Pouw Sak San, Pouw Siauw Ling, Siang hui hok, Liong ciang serta Hauw jiauw hanya merasakan pandangannya mendadak menjadi terang, tidak terasa lagi pada menjerit kaget.
"Haaaa???"
“Aaah . . . sungguh cantik. "
"Heeey . tidak kusangka."
"Ooh Thian begitu cantik gadis ini."
Enam orang dengan dua belas mata memandang dengan tajamnya memandang gadis cantik pengangon kambing itu tanpa berkedip sedikit pun juga.
Terdengar gadis cantik itu tersenyum, ujarnya. "Eh eh . . . kenapa kalian ? ada apanya yang baik dari aku nenek muka kuning ??"
"Tidak kusangka kamu masih seorang nona yang amat muda."
Sedang Pouw Siauw Ling tidak bisa mengucapkan kata kata lagi, air mukanya sebentar berubah putih kehijau hijauan sebentar berubah kembali jadi merah padam, dengau tajamnya memandangi terus menerus wajah gadis cantik pengangon kambing itu, lama sekali barulah dengan perlahan muncul kembali senyuman ringannya. Dengau perlahan dia berjalan maju kedepan dan membisikkan sesuatu kedalam telinga Ang in sin pian Pouw Sak San.
Sesudah mendengar bisikan itu si Ang in sin pian, Pouw Sak San termenung sebentar, kemudian barulah mangangguk memberi hormat kepada gadis cantik pengangon kambing itu ujarnya.
"Gadis cantik pengangon kambing wajahmu sangat cantik sekali kepandaian silatnyapun sangat tinggi aku Ang in sin pian orang she Pouw
dapat berkenalan kamu orang sungguh merupakan suatu keuntungan, kali ini aku membawa putra serta pembantu2 ku turun gunung sebetulnya bertujuan menyambangi setiap enghiong hoohan yang terkenal didalam dunia kang ouw beserta para Poo Touwcu dari daratan maupun lautan untuk menyetujui usaba cayhe yang baru, yaitu pembukaan ekspedisi "Ang in Piauw Kiok" pada bulan sepuluh yang akan datang cayhe mengundang enghiong hoohan untuk menghadiri perjamuan yang diadakan didesa Ie Hee Cung diatas gunung Ha Mo San, cayhe sampai waktunya sangat mengharapkan saudari gadis cantik pengangon kambing serta Hengtay ini mau menghadiri kampung kami; bagaimana pendapat kalian ?"
Sambil berkata dia mengambil keluar dua pucuk surat undangan besar berwarna merah, dan menanti jawaban dari gadis cantik pengangon kambing itu.
Dengan cepat gadis itu menyambut surat undangan itu kemudian menoleh memandang sekejap kearah Liem Tou, saat itu sepasang mata Liem Tou yang berada dibalik topeng dari kulit kambing itu sedang dipejamkan rapat rapat sedang tubuhnya pun gemetar dengan sangat keras sekali, agaknya dalam hati dia merasa sangat tegang.
Gadis cantik pengangon kambing itu sesudah menerima surat undangan dan melihat keadaan Liem Tou begitu tegangnya tidak terasa tanyanya.
"Koko muka hijau, bagaimana? Kita pergi tidak ?"
Liem Tou yang mendengar si Ang in sin pian Pouw Sak San punya maksud mendirikan usaha ekspedisi "Ang In Piauwkok " bahkan mau dibuka diatas kampung Ie Hee Cung dalam hati betul betul merasa sangat terperanjat. hingga mengenai diundangnya mereka untuk menghadiri pertemuan itu sama sekali tidak dipikirkan kini begitu ditanyai gadis cantik pengangon kambing itu membuat dia menjadi bingung.
Dalam hati diam diam pikirnva.
"Jaraknya dari sekarang hingga bulan sepuluh sangat dekat, saat itu jika kepandaianku belum cukup tidak mungkin bisa melewati tiga rintangan mereka dengan selamat, buat apa aku sanggupi mereka terlebih dulu? Jika waktu itu kepandaiannya sudah berhasil dilatih sekalipun mereka tidak mengundang aku juga mau pergi lihat."
Berpikir sampai disini segera sahutnya. "Pergi atau tidak sampai waktunya baru kita bicarakan lagi.”
"Betul "ujar gadis cantik pengangon kambing itu sambil tersenyum. "Perkataan dari koko muka hijau sedikit pun tidak salah, pergi atau tidak sampai waktunya baru dibicarakan lagi.
Sehabis berbicara seruling pualamnya ditempelkan pada bibirnya dan mulai ditiup, segera terdengariah suara seruling yang lembut dan halus berkumandang diseluruh penjuru, terlihatlah kawanan kambing kambing itu dengan perlahan lahan menyahut dan menyingkir kesamping jalan.
Setelah itu barulah dia melemparkan cambuk bajanya kepada Pouw Siuw Ling, ujarnya. "Ini aku kembalikan senjata rongsokkanmu, cepat ….cepat pergi, lain kali berani kurang ajar lagi hemmm hemmm tidak semudah hari ini."
Dengan perasaan sangat malu dan air muka yang sudah berubah merah padam Pouw Siauw. Ling menerima kembali cambuk bajanya, dengan cepat Ang in sin pian maju kedepan memberi hormat, ujarnya.
“Terima kasih atas kemurahan nona, cayhe sekalian dengan ini mohon diri terlebih dulu, kampung Ie Hee Cung diatas gunung Ha Mo San di Cing Jan kami dengan hormat menanti kunjungan saudara saudara sekalian”
Sehabis berkata dia memberi hormat lagi berulang kali, sesudah itu barulah mengulap tangannya memberi tanda kepada yang lain untuk, segera berangkat.
ooOoo
TERLIHATLAH debu membumbung tinggi keangkasa, suara derapan kuda yang amat ramai dengan perlahan semakin menjauh dan akhirnya lenyap dari pendengaran.
Sesudah bayangan Pouw Sak San sekalian lenyap dari pandangan barulah Liem Tou melepaskan topeng kulit kambingnya itu, dengan memandang bayangan Pouw Sak San sekalian dengan termanngu mangu gumamnya seorang diri.
"Ehmmm akhirnya pergi juga"
Mendengar suara gumaman itu gadis cantik pengangon kambing tersebut mennjadi bingung, tanyanya.
“Liem koko kamu kenal dengan mereka itu?? Jika kamu tidak pakai topeng bagaimana mereka bisa tahu kamu adalah Liem Tou?
Liem Tou yang sedang melamun ketika mendengar perkataan gadis cantik pengangon kambing itu segera meno!eh. Terlihatlah sepasang biji matanya yang bening sedang memandangi dirinya menanti jawaban. Hatinya dengan cepat berputar teringat kembali kalau kepandaian gadis ini sangat tingggi sekali sehinggs Pouw Sak San pun bukan tandingannya, kedatangannya yang sangat mendadak ditambah lagi dengan alasan yang berbeda beda, pertama dia bilang mau cari ayahnya kemudian bilang sedang mengembalikan kitab pusaka " Toa Loo- Cin Keng kepadanya, hal ini jelas sekali sedang berpura pura dan punya maksud tertentu.
Berpikir sampai disini perasaan curiga didalam hatinya segera timbul kembali mendadak teriaknya dengan keras.
"Kalau betul nona datang kemari bertujuan mengembalikan kitab pusaka Toa Loo Cin Keng yang diambil ayahmu, aku Liem Tou merasa sangat berterima kasih sekali, kini didepan masih ada urusan yang harus aku selesaikan secepat mungkin, terpaksa aku mohon diri terlebih dulu.”
"Liem Koko," seru gadis itu dengan cemas. 'Kamu mau pergi kemana? Ayahku perintahkan aku sesudah kembaiikan kitab pusaka Toa Loo Cin Keng itu harus mengikuti dirimu, kamu tidak bisa tinggalkan aku seorang diri.”
Liem Tou yang mendengar perkataan dari gadis cantik pengangon kambing itu sangat polos jujur segera berpikir kembali.
“Kakek Hui Tui Jie itu suruh dia mengikuti aku terus sudah tentu sedang mengincar kitab pusaka To Kong Pit Liok-ku itu, kalau tidak masih ada urusan apa?”
Berpikir sampai disini dengan cepat dia menepuk kepala kerbaunya, serunya.
"Hoa”
Kerbaunya serera menyahut dan lari dengan sangat cepatnya kedepan, bersamaan pula Liem Tou menoleh kebelakang sambil sahutnya.
"Kita bukan sanak bukan saudara buat apa berjalan bersama-sama? lebih baik kamu cari bapakmu saja”
Sehabis berkata dengan tidak menoleh 1agi dia melanjutkan perjalanannya, siapa tahu begitu si gadis cantik pengangon kambing itu melihat Liem Tou lari pergi dengan cepat seruling pualamnya ditiup, kawanan kambingnya pun dengan cepat mengikuti dibelakang tubuhnya.
Liem Tou yang menunggang kerbau dalam hati merasa sangat geli atas kelakuan gadis cantik pengangon kambing yang mau bertanding lagi dengan kerbaunya, hal ini boleh dikata sedang mimpi, siapa tahu pikiran itu baru berkelebat didalam batinya kemudian terdergarlah suara derapan kaki yang sangat ramai sekali menggetarkan seluruh permukaan tanah. Dengan cepat dia menoleh kawanan kambing yang berjumlah ratusan ekor itu dengan kencangnya lari kedepan membuat debu mengepul memenuhi angkasa bahkan kali ini gadis cantik pangangon kambing itu berada dipaling depan memimpin kawanan kambing peliharaannya.
Melihat kedahsyatannya dari gerakan gadis itu perasaan ingin menang dalam hati Liem Tou segera timbul, sambil mengapit kencang perut kerbaunya dia terus menerus berteriak dengan keras.
"Hoa, hoa, hoa, . "
Sebetulnya kerbau itu memang sedang lari dengan kencangnya kini mendapatkan perintah yang sangat gencar membuat larinya semakin cepat lagi, seperti anak panah yang lepas dari busurnya dengan sangat cepat dia lari kedepan.
Gadis cantik pengangon kambing yarg berada dibelakang ketika melihat kerbaunya Liem Tou lari semakin cepat, seruling pualam yang ditiuppun semakin nyaring lagi. Dalam sekejap mata kawanan kambing itu bagaikan meletusnya gunung berapi seperti juga mengamuknya samudra tertiup angin topan dengan suara memekikkan telinga menguruk kedepan semakin cepat lagi.
Demikianlah kedua orang itu saling kejar mengejar dan lari kedepan dengan kecepatan bagaikan kilat, apalagi gerakan kawanan kambing yang jumlahnya mendekati ratusan itu semakin mengejutkan setiap orang.
Gerakan ini bukan saja mengejutkan rakyat yang tinggal disekitar sana bahkan orang orang yang sedang melakukan perjalananpun merasa sangat terperanjat sehingga air muka mereka pada berubah menjadi pucat pasi, rumah pada ditutup dengan rapatnya sedangkan orang orang pada lari serabutan mencari perlindungan.
Didalam anggapan mereka ada berlaksa laksa tentara sedang menyerbu tempat itu, suasana begitu kacaunya tidak kalah seperti keadaan zaman peperangan.
**o**
6
Sesudah barlari lagi beberapa waktu lamanya didalam anggapan Liem Tou kali ini berhasil meloloskan diri dari kejaran gadis cantik pengangon kambing itu, siapa tahu suara derapan kaki kambing-kambing gadis cantik pengangon kambing itu semakin lama makin mendekat. Saat itulah dia baru tahu kecepatan dari kawanan kambing itu sehingga kini dia sudah kalah satu gerakan darinya, dalam hati benar2 merasa jengkel dan mangkel, mendadak dia menarik kembali tali kerbaunya sambil serunya.
Kerbaunya segera berbenti berlari, terdengar kawanan kambing serta gadis yang berada dibelakangnya dengan cepat sudah menyusul datang.
Sesampainya disamping tubuh Liem Tou seruling pualam itu sekali lagi ditiup gadis cantik pengangon kambing itu untuk menghentikan kambing kambingnya, ujarnya kemudian sambil tertawa.
"Liem koko, sungguh menarik sekali permainan ini. Bagaimana? Kenapa berhenti?"
"Hey!" ujar Liem Tou yang hatinya semakin jengkel. "Siapa yang mau guyon dengan kamu orang? Aku beritahu padamu sekarang aku tidak punya waktu lagi, kenapa kamu terus menerus saja mengikuti diriku?”
'Liem koko, buat apa kamu marah marah?" ujar gadis itu dengan tersenyum, "Ayahku betul betul suruh aku ikuti dirimu, kalau tidak dengan melihat wajahmu itu aku tidak akan mau bermain dengan kamu"
Liem Tou yang dikatai begitu hatinya semakin mangkel, serunya.
“Ayahmu suruh kamu ikuti aku tidak lebih seperti juga maksud orang yang lain ingin menipu kitab pusaka "To Kong Pit Liok" ku, aku beri tahu padamu, kamu orang jangan harap bisa mendapatkan barang itu”
"Tapi.." bantah gadis itu dengan cepat.
“Ayahku belum pernah suruh aku menipu kitab pusaka 'To Kong Pit Liok" mu itu. Oooh..Liem koko, aku bermain bersama sama kamu tidak akan mandatangkan kerugian terhadap dirimu.
Semakin bicara Liem Tou semakin gusar mendadak bentaknya. “Omonganmu semuanya menipu, aku tidak mau dengar. aku tidak mau deugar lagi, ayahmu mencuri kitab pusaka "Toa Loo Cin Keng" ku tentu dia mengira kitab itu adalab kitab pusaka " To Kong pit Liok" siapa tahu kitab itu bukan, makanya kini suruh kamu datang kesini menipu aku, kamu kira aku bisa ditipu mentah mentah cepat cepat pergi dari sini aku tidak mau bertemu lagi dengan manusia2 tidak jujur hatinya separti kalian.”
Perkataaan yang tajam ini, memaksa gadis cantik pengangon kambing itu hampir hampir menangis dibuatnya tetapi perkataan dari Liem Tou itu memang beralasan dan merupakan urusan yang betul betul sudah terjadi sehingga gadis cantik pengangon kambing betul betul tidak bisa membantah barang sepatah katapun.
Liem Tou yang melihat gadis cantik pengangon kambing itu tetap bungkam ejeknya.
“Cantiknya memang cantik seperti bidadari yang turun dari kahyangan, hanya saja hatinya licik sukar diduga.”
Sehabis bicara dia angkat kepalanya memandang keatas udara kemudian siap menjalankan kerbaunya lagi, mendadak ditengah udara yang berwarna biru itu dari tempat jauh muncul suatu titik hitam yang bagaikan kilat cepatnya meluncur datang kemari. Melihat hal itu Liem Tou menjadi tertegun, pikirnya.
“Apa mungkin elang jahanam itu datang lagi?”
Pada saat pikirannya sedang berputar itulah titik hitam itu semakin lama semakin besar, menanti Liem Tou berhasil melihat jelas benda itu hatinya menjadi berdesir serunya dalam hati lagi.
"Celaka baru saja dia mau merintahkan kerbaunva lari kencang ketika dia menoleh terlihatlah gadis cantik pengangon kambing itu sedang mengucurkan air mata dengan derasnya dan duduk tidak bergerak diatas kambingrya sambil memandang kearahnya membuat Liem Tou merasa kasihan. Sesudah disemprot dengan kata kata yang tajam tadi hatinya betul betul merasa sangat sedih, untuk membawa kambingnya meninggalkan tempat itu sudah tentu tidak mungkin bisa, tetapi untuk tetap mengikuti, Liem Tou juga serba salah.
Bagaimana juga Liem Tou masih tetap sangat welas kasih, melihat keadaan gadis cantik pengangon kambing yang sangat kasihan itu tak tertahan ujarnya dengan cemas.
"Nona aku tahu kamu tidak punya maksud jahat terhadap diriku, tetapi aku selalu menemui bahaya dimanapun banyak jejak musuh yang sedang mengintai jika kamu tetap ikut aku maka bahaya selalu akan mengancam tubuhmu, hal ini buat apa? Coba kamu lihat saja binatang jahanam itu datang lagi”
Gadis itu ketika mendengar nada suara Liem Tou sudah berubah menjadi sangat halus, hatinya menjadi sangat girang, ujarnya.
"Liem koko kalau begitu kamu sudah setuju kita jalan bersama sama bukan? Apa itu?"
"Jangan banyak bicara lagi, cepat pergi.”
Pada saat dia sedang bicara dengan gadis cantik peugangon_kambing itulah mendadak dihadapannya menjadi gelap, tak terasa dia menjadi sangat terkejut, teriaknya.,
"Hati hai..."
Tidak salah lagi elang raksasa yang sangat menyeramkan itu dengan sangat dahsyat sudah menyambar diatas kepala kedua orang itu tetapi dengan cepat sudah melayang kembali ketengah udara dan melenyapkan diri dibalik awan yang tebal.
Dengan tergesa gesa Liem Tou menepuk-nepukkan kerbaunya untuk melanjutkan perjalanan. Gadis cantik pengangon kambing yang berjalan disampingnya tidak tahan tanyanya.
"Liem koko, apakah binatang2 juga memusuhi kamu ?"
“Kamu pernah dengar manusia yang bernama Thian Pian siauwcu ? aku dengan mata kepala sendiri pernah melihat dia mengalahkan para jago dari dunia kangouw hanya dengan satu pukulan saja bahkan sekalipun Tionggoan Ngo Koay sudah bekerja sama masih belum sanggup menahan serangannya, elang itu adalah binatang peliharaannya, keganasannya luar biasa. Kini aku sudah diketahui jejaknya oleh binatang terkutuk itu mungkin sekali sebentar lagi Siauwcu itu sudah akan tiba disini."
"Haaaa ?” seru gadis itu dengan sangat terkejut. “Kiranya dia . tidak aneh kalau ayahku benar serius.”
Sehabis bicara dia bungkam diri tidak bicara lagi. Sebetulnya Liem Touw merasa sangat curiga terhadapnya tetapi dikarenakan ditengah perjalanan dia hanya memikirkan gilanya Ie Cici maka hatinya sedang merasa gemas tidak bisa dengan cepat tiba dibawah kaki gunung Ha Mo San kemudian dengan mengikuti jalan rahasia menaiki gunung itu untuk mengetahui keadaan yang sesungguhnya, sehingga dengan demikian perasaan kuatir terhadap gadis itu tidak dipikirkan lagi.
Sesudah melakukan perjalanan beberapa waktu lamanya elang itu tetap saja belum munculkan dirinya kembali, hal ini membuat hatinya jauh lebih lega. Tidak lama kemudian sampailah mereka disuatu sungai yang sangat lebar, ombak bergulung dengan santarnya sedang angin sepoi-sepoi, hati Liem Tou betul2 merasa sangat girang pikirnya.
“Kali ini sekalipun elang itu jauh lebih besar dan lebih ganas beberapa kali-lipatpun aku tidak akan merasa takut !agi.”
Hatinya betul2 merasa sangat gembira, dengan cepat dia meloncat turun dari punggung kerbaunya dan lari menuju ketepi sungai, tanpa membuka pakaian lagi dia ceburkan diri kedalam sungai. Menanti gadis cantik pangangon kambing itu tiba ditepi sunngai, bayangan dari Liem Tou sudah lenyap tanpa bekas lagi.
Lewat beberapa menit kemudian gadis cantik pengangon kambing itu baru melihat Liem Tou munculkan diri ditengah sungai tetapi didalam sekejap saja sudah lenyap lagi ditengah sungai.
Terpaksa gadis itupun turun data tunggangannya dan menanti ditepi sungai, saat itu siang hari sudah lewat, satu hari penuh tidak dahar membuat perutnya terasa sangat lapar sekali.
Siapa tahu walaupun sudah ditunggu sangat lama tetap tidak tampak Liem Tou munculkan dirinya keatas permukaan dalam hatinya betul2 merasa sangat kesal baru saja dia mendengar deburan yang sangat keras Liem Tou sudah munculkan dirinya lagi diatas permukaan bahkan tangannya mencekal seekor ikan yang sangat besar.
Melihat hal itu gadis cantik pengangon kambing itu menjadi sangat girang, ujarnya.
"Liem koko, tidak kusangka kamu punya kepandaian menyelam yang sangat hebat sekali, ikan itu cukup buat kita menangsal perut Hey..Liem koko .aku benar2 lapar."
"Kalau tidak lapar buat apa aku tangkap dia? kamu apa bawa api?
"Oh ada.. ada, biar kuambilkan untukmu"
Tempat penyimpanan barang barangnya juga merupakan tempat tempat yang cukup aneh,dari atas tanduk seeaor kambingnya dia mengambil keluar korek apinya yang kemudian diangsurkan kepadanya. Melihat hal itu diam diam Liem Tou memuji, pikirnya.
"Cara ini sangat bagus sekali, entah kerbauku apa bisa digunakan juga seperti milik dia? jika dapat digunakan uutuk menyembunyikan kitab pusaka “Toa Loo Cin Keng" hal itu sungguh bagus sekali, dengan begitu bisa juga digunakan untuk menghindari pencuri pencuri yang punya maksud tertentu"
Sambil berpikir dia menerima korek api setelah memungut ranting ranting kering menyulut api membakar ikan, maka mulailah dahar. Walaupun ikan itu tanpa diberi bumbu apapun dikarenakan perut yang sangat lapar membuat
mereka menghabiskan seluruh ikan itu dengan nikmatnya.
Selesai dahar Liem Tou naik kembali keatas kerbaunya melanjutkan perjalanan mengikuti aliran sungai itu, gadis cantik pengangon kambing yang melihat Liem Tou tidak gubris dirinya lagi sekalipun hatinya merasa tidak gembira terpaksa mengikuti mereka dari belakang.
Berjalan beberapa waktu lagi sampailah mereka disebuah jalan raya yang lebar, tetapi Liem Tou tidak mengambil jalan itu hanya dengan mengikuti tepian sungai melanjutkan perjalanannya, melihat hal yang sangat aneh ini tidak terasa tanya gadis itu.
"Liem koko, sebetulnya kamu mau pergi ke mana?"
"Aku mau pergi Cing Jan"
"Kenapa tidak menggunakan jalan raya?"
"Tidak!" ujar Liem Tou sambil gelengkan kepalanya. "Aku tidak akan meninggalkan pinggiran sungai lagi, aku tahu dengan mengikuti
tapian sungai ini akhirnya akan sampai juga di Cing Jan, aku sudah beritahu padamu ikut aku tidak ada gunanya, kitab pusaka „To Kong Pit Liok" yang kau inginkan saat ini tidak berada didalam tubuhku, sekalipun ingin juga percuma.”
Gadis cantik pengangon kambing itu tidak mau beribut lagi dengannya,sesudah melakukan perjalanan beberapa waktu matahari sudah condong kearah barat, magrib menjelang datang haripun makin lama semakin gelap, jalan yang tidak rata dan liar memaksa mereka berdua tidak sanggup melanjutkan perjalanan lagi terpaksa mereka mencari sebuah hutan kecil ditepi sungai untuk beristirahat.
Malam itu bulan muncul remang remang, beberapa detik bintang memancarkan sinarnya samar samar, Liem Tou yang banyak urussn didalam hatinya tidak sanggup untuk memejamkan mata barang sekejap pun. Kurang lebih mendekati kentongan tengah malam mendadak dia duduk kembali ditengah kegelapan ujarnya.
“Hey nona Wan Giok, kamu sudah tertidur?” Tetapi pertanyaan itu tidak memperoleh jawaban, tanyanya lagi.
“Hey nona Wan Giok kau dengar apa tidak? Aku mau tanya padamu kenapa kau terus menerus mengikuti aku?”
Tetap saja suasana tenang tenang tidak memperoleh jawaban, tak terasa dalam hati Liem Tou berpikir. "'Heei . . .. mungkin kalakuanku yang kasar tadi siang membuat hatinya tidak senang sehingga kini tidak mau beri jawaban.”
Berpikir sampai disitu tidak terasa otaknya berputsr kembali, terasalah olehnya kalau gadis cantik pengangon kambing ini memang merupakan seorang nona yang betul2 berhati tulus bahkan tidak mergandung maksud jahat apapun terhadap dirinya, perasaan curiga yang muncul didalam hati tidak lain dikarenakan ayahnya yang pernah mencuri kitab pusaka Toa Loo Cin Keng-nya itu sehingga tidak punya pikiran begitu.
Berpikir sampai disitu tidak terasa ujarnya lagi.
“Nona Wan Giok, aku Liem Tou betul betul tidak tahu maksud tujuanmu yang sebenarnya sehingga berbuat tidak sopan, harap nona mau beri maaf atas kesalahanku itu.”
Tetapi dari arah tempat tidur gadis cantik pengangon kambing itu tetap sunyi senyap tak terdengar sedikit suarapun, Liem Tou menjadi sangat heran dengan perlahan lahan dia bangkit dan berjalan menuju kearah dimana gadis tadi merebahkan diri, tetapi sesampainya disana tidak tampak bayangannya terlihat hanya kambing2 sedang tertidur dengan nyenyak tapi jejaknya sama sekali tidak kelihatan.
Dalam hati Liem Tou menjadi sangat heran lagi, pikirnya.
“Ditengah malam buta dia pergi kemana?”
(Bersambung ke Jilid 9)
Jilid 9 : Perampokan Cing Liong Piauw kiok
MENDADAK terasalah olehnya disamping tubuhnya terdapat bayangan putih sedang berkibar nan berputar dengan cepatnya bahkan terdengar suara tersampoknya pakaian terkena angin, dengan cepat dia menolea kearah sana entah sejak kapan gadis cantik pengangon kambing itu sudah berada ditepi sungai dan sedang memutarkan tububnya dengan cepat, tangannya yang halus dengan lemah lembut sedang berputar menari.
Melihat kejadian itu Liem Tou menjadi heran, tanyanya.
"Nona Wan Giok, kamu sedang berbuat apa?" Gadis itu tetap bungkam, sedang gerakannya tetap dilanjutkan tanpa berhenti
Liem Tou melihat dia tidak diberi jawaban juga tidak bertanya lagi, dengan tenangnya dia berdiri disamping memandang seluruh gerakannya, sejenak kemudian barulah dia sadar kalau gadis cantik pengangon kambing itu sedang berlatih silat, terlihat jurus jurus serangannya berubah dengan cepat bahkan tangan serta kakinya melancarkan serangan serangan dengan kecepatan luar biasa.
Liem Tau yang menandingi jurus jurus serangan itu semakin dilihat terasa olehnya seperti pernah ditemui disuatu tempat, setiap jurus yang dimainkan sangat hafal dalam ingatannya.
Pikirnya dalam hati.
"Dia sedang berlatih ilmu silat, kenapa aku tidak melihat lagi beberapa saat ?"
Karenanya dia tetap berdiri disana tanpa mangucapkan kata kata lagi, seluruh perhatiannya di tujukan pada gerakan jurus jurus serangannya, semula jurus itu memang mudah, tetapi makin lama jurus jurus serangan yang dilatih gadis cantik pengangon kambing berubah semakin mendalam bahkan perubahannya pun semakin rumit.
Liem Tou semakin memusatkan perhatiannya lagi, dengan matanya yang melotot keluar sangat besar dia memperhatikan gerakan itu, bahkan ketika diam diam mengingat kembali jurus jurus serangan yang tercantum dalam kitab pusaka "Toa Loo Cin Keng" dalam bagian "ilmu pukulan serta telapak" terasa olehnya itu sangat mirip bahkan boleh dikata persis dengan jurus yang dimainkan gadis ini.
Liem Tou tidak berpikir panjang lagi, dengan cepat dia menghafalkan huruf yang pernah dihafalkan dari kitab itu.
Setiap kali Liem Tou mengucapkan sepatah kata tubuh gadis itu pun memainkan jurus-jurus sesuai dengan kata kata Liem Tou itu.
Waktu itulah Liem Tou baru sadar kalau gadis itu mempunyai niat untuk membantu dia melatih ilmu silatnya tidak terasa hatinya betul - betul merasa sangat berterima kasih, siapa tahu ketika dia selesai membaca huruf itu gadis itupun berhenti melatih, sambil berjalan ke arahnya bentaknya dengan nyaring.
“Liem Tou aku kira kau seorang lelaki sejati yang betul-betul bijaksana, tidak tahunya kamu berani mencuri lihat orang lain sedang berlatih ilmu silat.”
Sekalipun Liem Tou merasa sangat diluar dugaannya atas semprotan kata-katanya ini tetapi dia tahu dalam hatinya punya niat mengajari jurus jurus silat itu karenanya sambil tersenyum sahutnya.
"Nona Wan Giok. kamu bantu aku memahami bagian ilmu pukulan dari kitab pusaka "Toa Loo Cin Keng" dalam hatinya merasa sangat berterima kasih, tetapi perkataan tadi yang menuduh aku mencuri belajar ilmumu seharusnya dibalik menjadi kamu yang mencuri belajar ilmuku”
Gadis cantik pengangon kambing itu menjadi sangat gusar ujarnya lagi.
“Jelas sekali kau yang mencuri belajar ilmu silatku kini balik biiang aku yang curi belajar IImumu , kamu punya kepadaian apa sehingga berharga bagiku untuk mencuri belajar."
“Ayahmu mencuri kitab pusaka Toa Loo Cin Keng-ku dan baru dikembalikan pagi tadi, kepandaian silat yang termuat didalamnya sejak lama kalian sudah curi belajar, masih ada apanya yang bisa diributkan lagi ?”
Gadis cantik pengangon kambing itu semakin gusar lagi, ujarnya.
“Kepandaian silat yang temuat dalam kitab pusaka Toa Loo Cin Keng sudah aku pelajari sampai tidak sudi belajar lagi, buat apa aku harus curi ilmumu itu ? Baiklah kalau memangnya kamu tidak pakai aturan seperti itu. Hey LiemTou, terimalah seranganku ini .”
Liem Tou tahu sampai Ang-in sin pian Pouw Sak San pun bukan tandingnnnya apa lagi dirinya, kini dengar dia sungguh sungguh mau turun tangan tidak terasa teriaknya.
“Nona tunggu dulu aku hanya bicara guyon saja”
Tubuh gadis itu dengan sangat cepat sudah berkelebat mendekati tubuhnya, dengan menggunakan jurus serangan "To Ju Cin Ciauw" atau Cu Ju meninggal ular menyerang kedepan bentaknya.
"Siapa yang sedang main main dangan kamu?"
Liem Tou yang terdesak terpaksa mengundurkan diri dua langkah kebelakang, siapa tahu jurus serangan yang digunakan gadis cantik pengangon kambing saat ini merupakan jurus serangan Lian Huan Ciang atau pukulan berantai dari partai Kun lun pay, jurus pertama baru saja dilancarkan jurus kedua Hang Hu To Hauw atau orang wanita pukul harimau sudah tiba. "Bluuk: . ." dengan tepat sudah berhasil menghajar jalan darah Can Ching Hiat pada pundak Liem Tou membuat Liem Tou marasa tubuhnya linu dan kaku, teriaknya kemudian.
"Nona. .. kau mau sungguh-sungguh bertempur ?? "
Gadis cantik pengangon kambing itu tidak mau ambil perduli lagi, jurus jurus serangan Liauw Hay Tiauw Tan atau Liauw Hay kail katek serta Ping Ci Bun Gouw atau Ping Ci tanya kerbau dengan cepat dilancarkan keluar, "Bluk .. ," Bluuk . jalan darah Kie Bun Hiat dikanan kiri tubuh Liem Tou kena hajar lagi dengan sangat keras.
Liem Tou yang terkena dua hajaran lagi karena tak merasa sakit makanya ia bangkit lagi kerena ia mengira gadis cantik pengangon kambing itu tentu bisa berhenti sendiri, siapa tahu jurus serangan gadis itu berubah lagi, dengan gencarnya dia melancarkan serangan dahsyat bahkan tangan kakinya dengan cepat menghajar seluruh tubuh Liem Tou tak bisa bersabar lagi, dengan gusar bentaknya.
"Kamu sudah gila ?"
Sehabis membentak dengan mengepal sepasang tangannya ia mengerahkan gerakan kaki tiga puluh enam langkah badai memutar dengan gencarnya melancarkan serangan keseluruh tubah gadis itu.
Saat inilah gadis cantik pengangon kambing itu baru tertawa, ujarnya.
"He he he .. . tidak takut kamu turun tangan."
Sambil berkata dengan tidak perduli Liem Tou menggunakan langkah badai memutarnya asalkan pinggangnya sedikit berputar tangannya dengan cepat sudah menghajar lagi jalan darah "Giok Liong Hiat" pada punggungnya membuat
Liem Tou merasa seluruh tubuhnya menjadi kaku, ujar gadis itu lagi sambil tertawa besar.
"Liem Tou, ini hari aku harus menghajar seluruh tubuhmu hingga lecet."
Dengan gusar Liem Tou mengaum keras angin pukulan semakin santar, sekali pun tidak berhasil menjamah tubuh gadis itu barang satu kalipun tapi semakin bergebrak dia semakin girang, seluruh jurus jurus serangan yang termuat didalam kitab pusaka "Toa Loo Cin Keng dengan demikian semakin maju lagi setingkat.
Sesaat Liem Tou sedang dibuai dalam kegembiraan itulah mendadak gadis cantik pengangon kambing itu menarik kembali serangannya. dengan serius ujarnya.
“Liem Tou kau ingat, aku bukan musuh besarmu”
Sehabis berbicara mendadak dia membentak keras, sambungnya lagi.
"Lain kali kamu akan tahu sendiri, terima seranganku ini”
Mendadak tubuhnya meloncat kedepan, angin pukulan yang sangat dahsyat segera memenuhi angkasa, didalam keadaan yang sangat terkejut itulah Liem Tou sudah terkurung ditengah sambaran angin pukulan gadis cantik pengangon kambing yang sangat dahsyat tersebut menanti Liem Tou sadar akan bahaya serangan gadis itu sudah begitu santarnya sehingga memaksa seluruh urat nadi didalam tubuhnya terasa hancur dan linu, tenaganya sama sekali hilang lenyap bahkan daya untuk bertahan pun lenyap tanpa bekas.
Walaupun begitu justru tubuhnya terkurung ditengah sambaran angin pukulan yang sangat hebat sehingga mau rubuh pun tidak sanggup, didalam sekejap saja seluruh tubuhnya serasa ditusuk dengan berjuta juta batang jarum tajam panas, linu sakit dan sangat perih tak tertahan lagi dia menjerit keras kesakitan.
Gadis cantik pengangon kambing itu tetap tidak gubris terhadap keadaannya, makin lama Liem Tou merasa seluruh tubuhnya penuh dengan bayangan tubuh gadis cantik pengangon kambing itu, sesudah lewat sesaat kemudian sampai bayangannya pun tidak kelihatan.
Sesaat ini dia hanya bisa bernapas tersengkal sengkal saja, tubuhnya terasa begitu panas sehingga sukar ditahan, tidak terasa teriaknya dengan keras.
“Aduh.. panas sekali”
Begitu dia berteriak, hawanya tidak bisa mengalir lagi sehingga tanpa bisa ditahan lagi dia jatuh tak sadarkan diri.
Sekarang walaupun Liem Tou sudah berhenti bernapas tapi dia merasa gadis itu terap tidak menghentikan gerakannya, akhirnya dia hanya merasa perut serta punggungnya sangat sakit waktu itulah tubuhnya baru rubuh ketanah.
Ujar gadis cantik pengangon kambing itu.
“Liem Koko ingatlah delapan buah urat nadimu kini sudah terbuka, lain kali asalkan bisa mundur ke In Hu kemudian memasuki Yang Hwee dengan menggunakan cara Hung Ho Ci Ing Coan mempertahankan hawa murni jangan sampai tersebar kemana-mana tentu mendatangkan kebaikan untukmu, siauw moay kini pergi dulu lain waktu bertemu lagi.”
Dengan mengalunnya suara seruling pualam kawanan kambingnya dengan menimbulkan suara derapan yang ramai makin lama makin pergi jauh dan akhirnya suasana sunyi kembali, bersamaan waktunya pula Liem Tou merasakan kepalanya sangat pening kemudian tidak tahu apa apa lagi.
Entah lewat berapa lamanya mendadakLiem Tou merasakas sinar matahari yang sangat tajam menusuk matanya, membuat dia sadar kembali dengan terkejut, saat itu merupakan pagi hari yang amat cerah matahari memancarkan sinarnya yang sangat tajamnya suara air yang mengalir tenang menambah keindahan suasana saat itu, dengan cepat dia bangkit berdiri.
Dia merasakan tubuhnya sangat nyaman sekali sedikitpun tidak merasakan linu kaku serta kesakitan itu, waktu inilah dia teringat kembali akan gadis cantik pengangon kambing itu tetapi walau sudah mencarinya kemanapua tetap tidak tampak bayangannya.
Saat itulah dia baru tahu gadis cantik pengangon kambing itu memang betul betul berniat datang memberi pelajaran silat kepadanya, sebaliknya dirinya sudah anggap dia sebagai orang orang kangouw biasa yang akan bertujuan merebut kitab pusaka "To Kong Pit Liok' nya, hal ini sungguh merupakan satu kesalahan besar diantara kesalahan.
Berpikir sampai disini dia merasa betui betul menyesal atas tindakannya kemarin hari, tetapi gadis itu sudah pergi..entah pergi kemana…walaupun menyesal tetapi sudah terlambat.
Teringat kembali olehnya akan kata kata gadis cantik pengangon kambing itu sesaat meninggalkan dirinya.
Delapan buah urat nadi aneh kini sudah terbuka asalkan lain kali bisa mundur ke In Hu kemudian memasuki Yang Hwee dengan menggunakaa cara Heng Ho Ci Ing Coan mempertahankan hawa murni jangan sampai tersebar kemana mana.
Berpikir sampai disini hatinya menjadi bargerak dengan cepat dia mengambil kembali kitab pusaka "Toa Loo Cin Keng" nya pada halaman bagian urat nadi disana tertuliskan.
'Urat urat nadi didalam tubuh manusia yang biasa ada dua belas buah yang aneh ada delapan, Wie Jin Tu dua buah urat mempunyai hubungan yang erat dengan mati hidup seorang msnasia, dua buah urat itu terletak didepan dan belakang yang dipisahkan sehingga terdapat perubahan perubahan yang sangat banyak, hawa yang terdapat disana mempengaruhi panjang panjangnya usia manusia, jika urat nadi pusat bisa bertemu dengan urat urat nadi yang tersebar maka ratusan urat yang lain akan tertembus juga karenanya harus mundur ke In Hu kemudian memasuki Yang Hwee, sedang cara Heng Ho Ci Ing Coan bisa memusatkan hawa pada satu titik tertentu yang disebut sebagai akarnya, dengan tidak menyebarkan hawa hawa ini maka hawa itu akan berusaha menerjang ke atas, dengan demikian seluruh urat didalam tubuh bisa tertembus.’
Melihat hal itu Liem Tou menjadi sangat girang mendadak dia menjatuhkan diri duduk bersila diatas tanah untuk mencoba mengerahkan tenaganya, ternyata tidak salah lagi seluruh tubuhnya terasa sangat nyaman, dengan cepat dia merangkak bangun sambil gumannya.
“Liem Tou..Liem Tou, coba coba kekuatanmu, apakah kamu sudah bisa naik keatas gunung untuk bertemu dengan Ie cici, semua harapanmu hanya tergantung tindakanmu kali ini"
Tenaga murninya dengan cepat dipusatkan pada lengannya, dengan mengarah sebuah pohon sebesar mangkak dengan cepat dia melancarkan serangan membabat pohon itu.
Dalam anggapannya tebasan inl sekalipun tidak sanggup mematahkan pohon itu tetapi sedikitpun juga berhasil merontokkan daun serta ranting rantingnya. Siapa tahu pohon itu tetap tidak gemilang sedikitpun bahkan bekas seperti ditiup angin pun tidak ada.
Tidak terasa Liem Tou menjadi sangat kecewa dan berdiri mematung disana beberapa waktu lamanya. Padahal dia mana tahu sekali pun urat nadinya sudah tertembus tapi hawa murninya belum sampai terpusat pada satu tempat sudah tentu tidak mungkin bisa melancarkan serangan. Sesaat dia sedang merasa kecewa itulah mendadak dari samping tubuhnya terdengar suara tertawa dingin yang sangat menyeramkan ujarnya.
“He he..bangsat cilik kiranya kamu jadi orang cepat putus asa, kunanti kamu setengah harian lamanya, jika bukannya kamu sebut namamu sendiri hampir hampir saja aku tertipu olehmu”
Liem Tou dengan cepat menoleh memandang terlihat pada dua kaki pada dirinya Thian Pian Siauw cu dengan tindakan perlahan berjalan mendatang. Keadaannya saat ini jauh berbeda dengan keadaannya sewaktu masih berada dilembah cupu cupu kecuali pada punggungnya bertambah dengan sebilah pedang panjang, terdapat pula tiga ekor elang yang mengikuti dirinya dua ekor berputar pada kurang Iebih beberapa kaki diatas kepalanya sedang seekor lagi berada diatas pundak kanannya.
Ketiga ekor elang itu bentuknya jauh lebih kecil dari elang biasa, tetapi matanya berwarna biru tua, seluruh bulu tubuhnya berwarna hitam pekat, sekali pandang saja sudah tahu kalau elang itu termasuk binatang yang sangat buas.
Dalam hatinya ia sangat terperanjat, hatinya berdebar dengan sangat keras seluruh perhatian dicurahkan pada tubuh Thian Pian Siauw cu yang berjalan mendekatinya dengan langkah perlahan, ketegangannya sudah mencapai pada puncaknya tidak tertahan lagi selangkah demi selangkah dia mengundurkan dirinya kebelakang.
Thian Pian Siauw cu hanya tertawa dingin terus menerus, ujarnya lagi dengan perlahan.
"Sampai waktu seperti ini kamu masih mau berusaha lari? Lebih baik cepat cepat kamu orang berlutut dan kamu serahkan itu kitab pusaka 'To Kong Pit Liok" kepadaku, kemungkinan sekali aku masih bisa mengampuni jiwamu".
Sambil mengundurkan diri kebelakang, pikiran Liem Tou terus menerus berputar, berbagai ingatan dengan cepat muncul didalam benakvya, ketika dia menoleh kearah kerbaunya justru saat itu berada beberapa kaki dari tempat dimana berada dan sedang makan rumput dengan tenangnya. Jika dirinya berlari kesana mungkin sekali sebelum mencapai tujuan sudah berhasil ditangkap oleh Thian Pian Siauw cu itu.
Tetapi jika harus berbuat demikian bukanlah suatu cara yang bagus, diam-diam matanya berputar kembali memandang keadaan sekeliling tempat itu. Tempat dimana dirinya berada sekarang masih ada kurang lebih dua kaki jauhnya dari tepi sungai, asalkan dia bisa meloncat ke dalam air maka nyawanya pun akan berhasil diselamatkan.
Sesudah berpiki begitu hatinya semakin tenang sambil berhenti ditempat ujarnya dengan keren.
"Ke Siauw cu tunggu sebentar, dengarlah kata kataku orang she Liem dulu. Dengan kepandaian silat dari Siauw cu saat ini sampai Tiong goan Ngo Koay yang bekerja samapun sukar untuk menahan tiga jurus serangan dari Siauw cu apalagi aku, kini aku sudah ditemui kembali aku mengakui memang nasibku yang buruk, perhitungan manusia tidak bisa menangkan kemauan Thian. Hal ini boleh dikata memang nasibku. Tetapi suruh aku dengan begitu saja serahkan diri Liem Tou sekalipun harus mati juga tidak meram."
Mendengar perkataan itu Thian pian siauw cu segeta menghentikan langkahnya bertanya dengan dingin.
"Lalu apa maumu?”
"Begini .. . " ujar Liem Tou dengan tegas, “Jika Ke Siauw cu inginkan aku orang serahkan itu kitab pusaka To Kong Pit Liok kepadamu sebetulnya tidak sukar tapi kamu harus bisa menahan tiga kali seranganku terlebih dulu setelah itu barulah aku serahkan itu kitab pusaka kepadamu, bahkan terserah Siauw cu mau kasih hukuman apa padaku "
Mendengar kata itu Thian Pian Siauw cu menjadi melengak, sapasang matanya dengan sangat tajam memperhatikan seluruh tubuh Liem Tou dari atas sampai kebawah. Satu kali pandangannya ini membuat air mukanyapun ikut berubah berulang ulang, sesudah termenung beberapa saat lamanya dengan air muka kecut tanyanya.
"Hey Lie Loojie itu apa suhumu ?"
Pikiran Liem Tou dengan cepat berputar beberapa kali, diam-diam dia pikirkan kata kata apa yang tidak sampai mendatangkan kesukaran baginya akhirnya ujarnya pula.
"Kamu jangan tanyakan hal ini, aku berani saling bergebrak dengan kamu sudah tentu tidak usah aku banyak bicara lagi.”
Didalam benaknya teringat kembali peristiwa ketika elang raksasa itu terluka dan jatuh ke atas tanah sambungnya kemudian.
"Jika kamu tidak percaya, aku mau tanya padamu elangmu yang kemarin ikuti aku sudah pulang kesamping Siauw cu belum?"
Mendengar kata ini air muka Thian Pian Siauw cu berubah sangat hebat sekali, teriaknya.
"Lenyapnya Giok jie kiranya hasil kaki tanganmu, hmmm, hemm.."
Sepasang matanya menjadi sangat tajam dengan wajah yang meringis menyeramkan dia maju selangkah kedepan jelas sekali napsu membunuhnya sudah timbul.
Melihat air muka yang begitu menyeramkan itu Liem Tou menjadi sangat terperanjat, diam diam teriaknya.
"Celaka.”
Dengan capat dia pusatkan seluruh perhatiannya siap menerima serangannya, ujarnya lagi.
"Ke Siauw Cu, pada masa yang lalu kita tidak ada ganjalan apa apa ini haripun tidak ada dendam sakit hati tetapi bila bertemu selalu saja terjadi pertarungan, sepertinya pada penghidupan yang lalu merupakan musuh buyutan saja. Baiklah, biar aku adu jiwa sama kamu orang kita tentukan siapa yang akan binasa kali ini."
Sehabis berkata dengan perlahan Liem Tou mengerahkan tenaganya dan angkat telapaknya siap siap melancarkan satu serangan, sikapnya mirip dengan orang yang sedang mengerahkan tenaga murni sebaliknya dalam hati diam-diam sedang merencanakan untuk melarikan diri dengan ceburkan diri kedalam sungai.
Thian Pian Siauwcu melihat sikapnya yang sungguh-sungguh itu segera menganggap dia betul-betul mau melancarkan serangan, dia tidak berani berlaku ayal dengan berdiri tegak ditempat matanya dengan tajam memperhatikan seluruh gerak gerik dari Liem Tou padahal dalam tubuh dengan perlahan lahan mengerahkan hawa khiekangnya untuk melindungi badan.
"Aaah, Siauw cu aku masih ada perkataan",
Thian Pian Siauw cu tidak tahu tindakannya itu hanya merupakan satu siasat saja mau menunggu perkataan selanjutnya mendadak Liem Tou berseru.
"Siauw cu selamat tinggal."
Ujung kakinya dengan keras menutul tanah kemudian dengan cepatnya lari menuju ketepi sungai. Menanti Thian Pian Siauwcu sadar apa yang sudah terjadi sejak tadi dia sudah tiba ditepi sungai untuk mencegah tidak keburu lagi.
Dalam hati diam diam Liem Tou merasa sangat girang, mendadak depan matanya berkelebat bayangan hitam kemudian kepalanya terasa seperti dipukul dengan sebuah martil berat sakitnya luar biasa, hampir hampir saja dia tidak
kuat dan tiba tiba jatuh tidak sadarkan diri, ketika kepalanya ditoleh kebelakang
kiranya yang melancarkan serangan itu tidak lain adalah elang yang dibawah Thian Pian Siauw cu itu.
Didalam sekejap saja elang yang kedua sudah menubruk datang Liem Tou menjerit keras tangannya dipentangkan melancarkan serangan kearahnya , tetapi gerakan dari elang itu jauh lebih gesit sayapnya dengan sangat kuat berhasil menghajar lengannya.
Kelihayan dari elang itu justru terletak pada kedua sayapnya ini, pada ujung sayap mereka masing masing tumbuh sebuah gumpalan daging yang bulat dan keras sekali, sewaktu bertarung kehebatannya luar biasa. Jangan dikata tubuhnya tidak sebesar elang biasa kenyataannya elang elang lain begitu melihat dia seperti juga macan bertemu dengan macan tutul sebelum tarung sudah jeri tiga bagian terlebih dulu.
Saat ini kedua pundak Liem Tou masing masing sudah terhajar satu kali oleh sayap elang itu, didalam keadaan tidak sadar kakinya pun sudah bergeser menjauhi tepi sungai. Terdengar Thian Pian Siauwcu berteriak dengan keras.
“Bangsat cilik, kamu tidak akan bisa lolos lagi”
Segulung angin santer berkelebat dengan cepatnya, air sungai segera terpukul hingga ombak bergulung dengan sangat keras. Liem Tou sadar jika saat ini dia meloncat kedalam sungai lagi sebelum mencapai permukaan air tentu akan terpukul binasa oleh angin pukulannya yang sangat dahsyat, sudah tentu dia tidak berani menempuh bahaya lagi.
Diam diam dia gigit kencang bibirnya, tubuhnya dengan cepat menjatuhkan diri kebelakang, kakinya dengan mengerahkan seluruh tenaga yang dimiliki bergelinding kesamping, dia merasa seluruh badannya menjadi jauh lebih ringan lagi sekali gelinding berhasil menerobos sejauh satu dua kali lebih, dengan cepatnya bersalto bangkit berdiri.
Waktu itulah Thian Pian Siauwcu sudah tiba dan melancarkan cengkeraman maut kebadannya, didalam keadaan yang sangat cemas sekali lagi dia menerjang kedepan hingga mencapai pinggiran hutan.
Thian Pian Siauw cu mana mau melepaskan begitu saja dengan cepat tubuhnya berkelebat mengikuti dari belakangnya.
Langkah Liem Tou dengan cepat berubah dan bergeser kesamping, sepasang pundaknya sedikit merendah dengan tanpa sadar dia sudah mengeluarkan ilmu tiga puluh enam langkah badai memutar, tubuhnya kelihatan dengan sangat cepat berkelebat mencapai ketengah hutan kemudian mengelilingi ketengah hutan, Thian Pian Siauw-cu tidak melepas, dengan kencangnya membuntuti dari belakangnya.
Liem Tou yang lari dengan cepat itu diam-diam dalam hatinya merasa sangat heran, kenapa larinya ini hari bisa begitu cepatnya ? Mana dia tahu hal ini adalah hasil dari gadis cantik pengangon kambing yang membantu dia menembuskan kedelapan urat nadi anehnya ? jika saat ini dia mencoba untuk meloncat mungkin bisa mencapai setinggi satu kaki. Jika hal ini ditambah lagi dengan hasil semedinya maka kehebatannya jauh lebih hebat lagi.
Dengan mengandalkan penemuannya yang tidak terduga Liem Tou melarikan diri mengelilingi hutan itu. Tapi kelamaan caranya ini diketahui juga oleh Thian Pian Siauwcu sebagai seorang iblis sakti yang kenamaan. Sehingga sekalipun dia mau melarikan diri dengan cara apapun akhirnya akan tertangkap juga.
Semakin jauh larinya Liem Tou merasa hatinya semakin merasa berdebar keras, waktu itulah terlihat kerbau tunggangannya berdiri dengan tenangnya disana, pikiran bagus segera terbayang dalam benaknya.
Begitu terpikir akan hal ini dengan tanpa banyak pikir lagi dia mengeluarkan kitab pusaka. "Toa Loo Cin Keng-nya dari dalam saku kemudian berlari mendekati kerbaunya, tangannya diulurkan dengan tidak perduli lagi kitab pusaka Toa Loo Cin Keng merupakan salah satu kitab aneh dalam Bu lim, dengan keras ditancapkan keatas tanduk kerbaunya, setelah itu barulah teriaknya berulang kali.
"Hoa hoa hoa. .”
Melihat kejadian itu Thian Pian Siauw cu jadi sangat gusar, mendadak dia berhenti berlari ujarnya kepadaLiem Tou.
"Hmm hmm bangsat cilik benda apa yang dibawa kerbau itu?"
Sambil berkata sepasang matanya memandang tajam kearah Liem Tou, kelihatan sekali hatinya yang tidak tenang.
Dengan bersembunyi dibalik pohon yang besar Liem Tou munculkan kepalanya balik tanyanya dengan perlahan.
“Kamu terka benda apa itu?”
“Bangsat cilik” ujar Thian Pian Siuwcu tiba-tiba dengan gusarnya.
“Jika kitab pusaka To Kong Pit Liok itu sampai terjatuh ketangan orang lain, aku mau hancurkan tubuhmu hingga berkeping-keping”
Sambil berkata dia mencabut keluar padang yang memancarkan sinar keemas-emasan yang sangat menyilaukan mata, pedangnya memang terlihat sebilah pedang yang bagus, sedikit tangannya digerakkan sebuah pohon sebesar mangkok dengan mengeluarkan suara yang gemerisik roboh keatas tanah dalam keadaau dua bagian yang terpisah.
Kepandaian yang sangat tinggi ini membuat Liem Tou sangat terkejut, dengan cemas ujarnya.
"Siauwcu kamu tanyakan itu kitab pusaka To Kong Pit Liok ? mungkin saat ini sudah dibawa pergi kerbau itu sangat jauh”
“Perkataan itu sungguh-sungguh?” bentak Thian Pian Siauwcu dengan sangat gusar.
“Siapa yang mau menipu kamu, kamu tidak percaya ya sudah”
Thian Pian Siauwcu tetap ragu-ragu akan perkataannya, untuk membuat dia percaya Liem Tou dengan gusar bentaknya lagi.
"Hey orang she-Ke, aku beritahu kepadamu kepandaian silat didalam kitab pusaka To Kong Pit Liok itu merupakan kepandaian silat yang sangat hebat, siapapun didalam dunia ini ingin memperolehnya, tetapi aku Liem Tou melihat keganasan atau kekejamanmu sudah merasa muak, makanya sekalipun didapatkan orang lain juga tidak mengijinkan kitab itu sampai jatuh ke tanganmu."
Mendeagar sampai disana, Thian Pian Siauw cu tidak bicara lagi, mendadak dengan sangat cepat tubuhnya berkelehat, dengan tidak menoleh lagi dia mengejar kearah dimana kerbau itu melarikan diri.
Liem Tou melihat dia pergi dalam hati diam diam merasa sedih dan sayang atas hilangnya kitab pusaka Toa Loo Cin Keng itu, tapi dia tak dapat berbuat apa apa kecuali merasa sayang saja.
Dengan cepat dia lari ketepi sungai siap terjunkan diri kedalam air, karena dia tahu sabentar lagi Thian pian Siauw cu tentu kembali, sekonyong konyong dari belakang tubuhnya terdengar seseorang berteriak.
"Hey Engkoh cllik tunggu sebentar."
Liem Tou dengan cepat menoleh dilihatnya kakek aneh yang ditemuinya kemarin dengan menuntun kerbaunya berjalan mendatang, ujarnya lagi sambil tertawa tawa.
"Hey Engkoh cilik perbuatanmu sungguh bagus sekali. Bagus..bagus "
Liem Tou menjadi terlengak, dia tahu jika kerbau itu tertangkap olehnya sudah tentu kitab pusaka "Toa Loo Cin Keng" itu ddapatnya, karena sambil ulur tangannya kedepan ujarnya.
"Hey Tui Jie kiranya kamu, kamu sudah curi taku punya kerbau dan kitab pusaka "Toa Loo Cin Keng kenapa berani muncul lagi didepan aku?? cepat cepat kembalikan barangku itu, ayo cepat bawa sini”
Mendengar omongannya itu si kakek tua menjadi tertawa lebar ujarn ya.
"Ha ha ... Liem Tou bagus sekali kamu, jika dilihat wajahmu kelihatannya memang seorang yang jujur tidak tahunya sifatmu juga licik Baiklah kamu orang boleh dihitung aku yang curi kerbau serta kitab pusaka Toa Loo Cin Keng-mu itu.
Tapi aku mau tanya itu kitab pusaka Toa Loo Cin Keng apa barang peninggalan ayahmu buat kamu orang? pada pipi sebelah kiri dari muka ayahmu apa ada tahi lalat hitam? ? ? sewaktu main catur apa sering menggunakan benteng terlebih dahulu untuk rebut menyerang?"
Liem Tou teringat kembali keadaan dari ayahnya semasa hidup, lama kelamaan barulah sahutnya dengan sedih.
“Hui Tui Jie aku tahu kamu seorang yang luar biasa, tapi kenapa kamu orang menanyakan wajah ayahku terus menerus”
Kakek tua Hui Tui Jie melihat Liem Tou tidak mau mengaku tapi juga tidak mungkir diam-diam mengangguk, ujarnya.
“Liem Tou jika aku beri tahu padamu saat ini hanya mendatangkan bencana saja, kemarin malam Wan jie sudah beritahu padamu kami ayah beranak bakanlah musuhmu. Sekarang aku lihat kesalahanmu semakin tebal hal ini perlihatkan bencana yang akan menimpa belum lenyap didepan mata masih banyak berbahaya yang harus kamu tempuh, tapi jika tidak berani tidak mungkin, karenanya kerbau serta kitab pusaka Toa Loo Cin Keng tidak berguna dibadanmu, bahkan malah memancing perhatian orang banyak, karenanya untuk sementara waktu kamu boleh pergi ke tebing Ling-Ai di gunung Go-bie san untuk minta kembali barang-barang itu”
Dia berhenti sebentar, sesudah menghela napas panjang sambungnya lagi.
"Heey . . . sebentar lagi iblis itu mungkin akan kembali kesini, kamu cepatlah pergi."
Sehabis berkata dia lalu meloncat naik punggung kerbau itu, sambil goyangkan tangannya dia menjalankan kerbaunya kearah dalam hutan tidak lama kemudian sudah lenyap dari pandangan.
Dengan termangu-mangu Liem Tou berdiri disana beberapa saat lamanya teringat kembali kata-kata yang diucapkan kakek tua Hui Tui Jie itu, dalam hati dia merasa kakek itu tentu punya hubungan yang sangat erat dengan ayahnya, kalau tidak bagaimana terus menerus dia menanyakan asal usul dirinya.
Tapi kakek tua itu tidak mau beritahu dengan terus terang bahkan meninggalkan tempat itu dengan tergesa gesa, sudah tentu Liem Tou tidak bisa berbuat apa apa lagi dan sementara tidak mau pikirkan urusan itu nanti sesudah bertemu dengan le Cici diatas gunung Ha Mo San baru pikirkan lagi.
Berpikir sampai disini dengan cepat dia menyeburkan dirinya dalam sungai dengan mengikuti aliran air yang cukup deras tubuhnya mengalir terus kedepan. Untung saja kepandaiannya bermain didalam air sudah mencapai pada taraf kesempurnaan sehingga gerakkannyapun sangat lincah tapi cepat.
ooo0Oooo
Ditengah jalan kecuali beristirahat tidak ada peristiwa yang terjadi lagi, ketika cuaca mendekati magrib dia sudah berenang sejauh puluhan li, saat itu udara menjadi sangat gelap, ketika Liem Tou melihat ditepi hadapannya terdapat sebuah perahu layar yang sedang berhenti disana, segeta didalam hati pikirnya.
"Kenapa malam ini aku tidak menginap diatas perahu itu saja??"
Berpikir sampai disitu dengan cepat dia berenang kesana dan mohon pemilik perahu itu untuk menginap satu malam diatas perahunya. Orang orang didalam perahu begitu melihat keadaannya yang begitu kasihan segera dia diberi makan dan dibiarkan dia tidur dibelakang buritan bahkan membiarkan dia tidur bersama-sama orang lain.
Ketika itulah dia baru tahu kedua buah perahu itu milik dari suatu perusahaan ekspedisi yang bernama Cing Liong Piauw kiok, dengan diam diam dia melihat kalau diatas setiap perahu ada dua orang pengawal yang menjaga perahunya, pada perahu dimana dia menginap terdapat dua orang yang menjaga yang seorang tua yang lain muda, jika dilihat dari sikap mereka agaknya hubungan mereka sangat erat sekali.
Hari itu Liem Tou sudah melakukan perjalanan mendekati ratusan li jauhnya karenanya saking lelahnya tidak lama kemudian sudah tertidur dengan nyenyaknya.
Malam itu udara sangat gelap tidak terlihat bintang atau bulan yang menyinari jagad, angin bertiup sangat kencang membuat udarapun semakin dingin, ditepi pantai dimana kedua buah perahu itu berlabuh terdapat tiga orang berpakaian malam dengan gerak gerik mencurigakan mendekati perahu.
Saat itu orang yang berdiri diujung kiri bertanya.
"Tia kamu lihat malam ini apa mereka mengadakan persiapan?”
"Cing Liong Piauw kiok selamanya berlaku sumbar" sahut orang yang ditanyai itu, “Dia mengira sesudah Siok to Siang Mo dibasmi, maka didaratan maupun lautan sudah aman, dimaaa bendera Cing Liong Piauw Kiok berada maka tak akan ada orang yang berani turun tangan lagi, sudah tentu tidak akan ada persiapan diantara mereka”
“Tia” ujar orang itu lagi, “Aku dengar orang bilang kepala pengawal dari Cing Liong Piauw kiok si pemetik bintang Kwan Piauw sangat hebat didalam penrmainan sepasang martilnya, nanti bolehkah aku hadapi dia??"
"Ling jie kamu jangan bicara tidak karuan" bentak orang itu dengan nada memberi peringatan, "Gerakan malam ini punya hubungan yang sangat besar dengan bukanya Aug In Piauwkiok dikemudian hari, untuk bereskan malam ini semakin cepat semakin baik, jika ini hari sampai loloskan salah seorang saja diantara mereka, pada hari kemudian jika mereka sampai bisa ketahui hal ini perbuatan kita lalu bagaimana kita tancapkan kaki lagi didalam dunia
kangouw ??"
Diantara ketiga orang yang berada diseberang tepi ketiga orang semula salah seorang angkat bicara pula dengan perlahan.
"Kian Po hang, coba kamu lihat pekerjaan yang Cung cu kita kerjakan selalu sangat terlatih dan rapat, sungguh membuat orang lain menjadi kagum."
Lama sekali orang itu baru menjawab, ujarnya sambil mengangguk.
"Ehm . tapi Toa Toang heng. Apa kamu tidak merasa pekerjaan ini sangat bertentangan dengan peraturan Bu lim ?" Saat itulah mendadak orang ketiga sudah buka omongan .
"Coba lihat, Cung cu sudah kirim tanda.”
Kedua orang itu tidak bicara lagi dan angkat kepalanya memandang kearah tepian seberang, terlihatlah suatu sinar berwarna kehijau hijauan dengan cepat lenyap ditengah kegelapan. Saat itulah dengan perlahan mereka bertiga bangkit berdiri membereskan pakaiannya dan mengambil keluar senjata tajam masing- masing.
Ketiga orang yang berada ditepi sebelah kiri saat itu sudah menyebrangi sungai dengan menggunakan dua buah papan persegi empat yang diinjak pada kedua kakinya, dengan demikian mereka bisa meluncur ketengah sungai dengan Iancarnya.
Ketiga orang yang berada disini ketika secara samar-samar melihat ketiga orang itu sudah bampir mendekati perahu dengan cepat meloncat naik keatas perahu tersebut ilmu meringankan tubuh dari mereka bertiga walaupun sangat tinggi tapi perahu itu tidak urung sedikit oleng juga.
Dua orang dari tepi sebelah sini bertepatan waktu juga sudah tiba, mereka masing-masing meloncat naik perahu dengan sangat cepat.
Mendadak dari dalam ruangan perahu terdengar suara menjerit kaget kemudian disusul dengan bentakan sedang bertanya.
"Siapa?"
Suara bentakan itu begitu kerasnya membuat Liem Tou yang tertidur nyenyak segera sadar kembali dari pulasnya.
Ketika dia buka mata terlihatlah cuaca masih sangat gelap mungkin baru kentongan ketiga, dua orang berbaju hitam yang memakai kerudung mendadak menerjang masuk kedalaun bilik itu bahkan salah satu diantaranya tepat berdiri disisinya.
Waktu itu baru saja dia sadar dari pulasnya sehingga pikirannyapun belum begitu sadar, atas kejadian yang muncul secara tiba tiba dihadapannya membuat dia menjadi sangat terkejut, dengan cepat dia mengusap beberapa matanya sehingga terang ternyata tidak salah lagi, kejadian itu memang betul-betul sudah terjadi bahkan berada dihadapan matanya tak terasa lagi hatinya berdebar dengan sangat keras.
Pada waktu hatinya sedang merasa sangat terkejut itulah mendadak dari dalam ruangan perahu berkumandang datang suara jeritan yang amat ngeri yang sangat memilukan kemudian di susul dengan suara tertawa dingin yang keras, ujarnya,
"Hemm. , . Hemmm. . – gentong-gentong nasi seperti ini juga mau jadi pengawal barang."
Liem Tou mendadak menjadi sangat terkejut karena suara itu tidak lain adalah suara Pouw Siauw Ling. Kemudian disusul dengan suara bentrokan senjata tajam yang sangat ramai teriak seorang dengan keras.
"Kalian siapa ? Kami Cing Liong Piauw kiok punya dendam sakit hati apa dengan kalian ?"
"Tidak usah banyak bicara, serahkan nyawamu" Bentak Pouw Siauw Ling dengan gusar..
Setelah itu teriaknya lagi.
"Jangan berada diluar apa Liok Siok siok ? Sampai waktu ini kenapa tidak juga turun tangan ? Kamu orang mau tunggu sampai kapan lagi?"
Orang yang berdiri disamping Liem Tou ketika mendengar perkataan itu segera menggeserkan kakinya lagi, Liem Tou tahu keadaan saat itu betul-betul amat kritis dan membahayakan jiwanya sehingga tubuhnya tanpa terasa sudah meringkuk kepojokan perahu tanpa berani bergerak lagi, tapi sepasang matanya dengan memperhatikan gerak gerik dari orang itu hatinya berdebar keras, hampir-hampir terasa mau copot dari dalam tubuhnya.
Pengemudi perahu yang semula berbaring di samping Liem Tou mendadak meloncat bangun sambil berteriak keras.
'Aduh...mak.. tolong ada penjahat”
Melihat hal itu diam diam pikir Liem Tou dalam hati.
"Hemmm ... cari mati sendiri."
Ternyata dugaannya tidak salah, terdengar penjahat berkerudung yang berdiri disampingnya itu mendadak membentak keras dengan gusarnya.
"Pergi temui makmu "
Golok ditangannya dengan cepat berkelebat, terlihatlah sinar golok yang menyilaukan mata menyambar tubuh pengemudi itu, tanpa sempat menjerit kesakitan lagi tubuhnya rubuh keatas perahu dan binasa seketika itu juga.
Melihat kejadian yang sangat mengerikan itu hati Liem Tou menjadi tergetar dalam hati dia tahu saat inilah kesempatan yang paling bagus baginya untuk melarikan diri, tanpa pikir panjang lagi tubuhnya dengan sekuat tenaga menggelinding ketepi perahu. Menanti penjahat berkerudung itu merasa dan membacok tubuhnya. Liem Tou sudah menceburkan dirinya kedalam sungai sepasang tangannva dengan cepat digerakkan menyelam kedasar perahu tersebut.
Waktu itulah hatinya baru berasa agak tenang, teringat akan kata tadi dengan jelas didengar olehnya berasal dari Pouw Siauw Ling; hal ini membuat hatinya merasa terkejut bercampur heran, pikirnya.
"Kemarin sewaktu bertemu dengan mereka, dia masih bilang mau mendirikan sebuah perusahaan ekspedisi, bagaimana sekarang malah berbuat kejahatan menjadi perampok ?? bahkan merampas barang barang kawalan orang lain ??..
Semakin berpikir Liem Tou merasa semakin bingung, dengan perlahan lahan dia munculkan diri kembaii keatas permukaan dan bersembunyi dibelakang kemudi , saat itu malam semakin kelam cuacapun begitu gelap hingga sukar untuk ditemui tempat persembunyian itu, ditambah lagi saat ini Liem Tou sudah berada didalam air, sekalipun ditemui dia juga tidak merasa takut .
Sesudah muncul keatas permukaan air Liem Tou segera mendengar suara teriakan teriakan yang memilukan hati serta bentrokan bentrokan senjata senjata tajam yang sangat ramai berkumandang dari kedua buah perahu itu, keadaannya demikian mengerikan membuat hati setiap orang terasa bergidik.
Tidak lama berselang dari atas perahu sebelah tidak terdengar suara lagi, keadaan begitu tenang sunyi serta menyeramkan, sebalikaya dari atas perahu dimana dia menyembunyikan dirinya sekarang masih terdengar suara bentakan bentakan senjata tajam yang sangat ramai.
Hati Liem Tou menjadi tergerak, dengan perlahan-lahan dia merangkak naik melalui tali yang ada dan mengintip dari celah lobang yang sangat kecil pada perahu itu, terlihatlah tiga orang perampok berkerudung dengan rapatnya sedang mengepung Piauwsu yang masih muda itu, ditengah remang-remangnya cuaca terlihatlah tubuh pemuda sudah basah oleh darah segar yang mengucur keluar dengan derasnya, tapi dia tidak mengucapkan sepatah kata pun dengan mencekal pedang panjangnya dia melawan ketiga orang itu dengan seluruh tenaga.
Melihat situasi seperti itu tidak tertahan lagi Liem Tou merasa sangat gemas, dendam dan sakit hati. Mendadak terdengar Pouw Siauw Ling yang berada salah satu diantara ketiga orang berkerudung itu berkata dengan keras.
"Tia, bangsat cilik ini semakin bertarung semakin menggila, biar aku bunuh dia saja"
Salah satu diantara ketiga perampok berkerudung yang melawan musuhnya dengan menggunakan sepasang telapaknya, membuka mulut sahutnya.
"Hmm..hm..sekalipun kepandaian silatnya lebih tinggi ini hari tidak mungkin bisa meloloskan diri dari bencana.”
Mendangar perkataan itu Liem Tou yang sedang bersembunyi menjadi terkejut karena suara itu bukan lain berasal dari Pouw Sak San itu Cungcu dari le Hee Cung. Tentang urusan ini dia tidak ragu ragu lagi karenanya didalam hati dia merasa sangat enak, dendam sakit hati dan gemas, bersamaan pula merasa sedih atas nasib para rakyat yang hidup dalam kampung Iee Hee Cung diatas gunung Ha Mo San.
Saat ini dendam dan sakit hati pribadinyapun muncul bercampur dengan perasaan gemasnya, darah segarnya serasa bergolak dengan keras, dalam hati dia punya niat untuk menolong pengawal itu lolos dari kematiannya.
Mendadak dengan mengerahkan seluruh terra ga Nang dimilikinya berteriak dengan keras.
"Hey bangsat, bangsat tahan!"
Ditengah sungai yang lebar dan jauh dari keramaian ditambah lagi ditengah malam buta yang sunyi tenang, suara bentakannya ini membuat para penjahat itu merasa sangat terperanjat apalagi itu Ang in sin pian Pouw Sak San serta Pouw Siauw Ling mereka sama sekali tidak menduga ditempat itu bisa muncul seseorang, pada waktu mereka bertiga sedang tertegun itulah piauw su yang masih muda itu menggerakkan pedangnya kedepan, seraya teriaknya dengan gusar.
“Dendam sakit hati ini kami dari Cing Liong Pauw kiok bersumpah akan membalas dendam"
Sambil berkata tubuhnya meloncat setinggi dua kaki lebih kemudian menceburkan diri ke dalam sungai.
Gerakan ini dilakukan hanya pada sekejap mata saja, Liem Tou pun dengan cepat ikut menyusupkan tubuhnya kedalam air. Cuaca yang gelap gulita sudah cukup membuat mereka tidak melihat jelas apalagi kini berada didalam air. Walaupun dalam hati Liem Tou punya niat mencari Piauw su muda itu untuk mcmbantu dia meloloskan diri dari bahaya tapi karana takut terjadi salah paham makanya terpaksa tidak berani bergerak, dalam hati diam diam dia berdoa agar dia bisa lobos dari mara bahaya ini.
Dengan kejadian ini niatnya untuk bertemu Lie Siauw Ie semakin menebal lagi. Sesudah berenang hingga ketengah sungai barulah dia munculkan diri kembali keatas permukaan sungai sambil memandang kearah dua buah perahu itu makinya.
"Hmmm..kiranya bajingan-bajingan itu adalah kawanan perampok yang tidak tahu malu, manusia macam binatang seperti itu harus dibunuh”
Sambil memaki badannya mengikuti aliran air sungai melanjutkan berenang kedepan, bersamaan pula pada benaknya teringat akan kejujuran serta budi halus dari rakyat dusun Ie Hee hiung. Teringat pula kehidupan didalam dusun sewaktu masa kecilnya tidak terasa saking sedihnya air mata menetes keluar dari kelopak matanya.
Suasana ditengah sungai begitu sunyi senyap tidak terdengar suara bisikan sesosok manusiapun, Liem Tou dengan seorang diri perlahan-lahan berenang menuju kedepan. Sebentar bentar dia memandang bintang-bintang yang tersebar luas diatas langit hatinya beratus ratus macam kesedihan yang sekaligus memenuhi pikirannya, mendadak tangannya ditepukkan keatas kepalanya sendiri sembari tangannya yang sebelah mencopot topeng kulit yang dikenakan pada wajahnya, kepada langit sumpahnya dengan sungguh sungguh.
"Pada suatu hari jika aku Liem Tou berhasil melatih ilmu silat yang lihay aku bersumpah akan membunuh kaum bajingan itu hingga binasa, sebelum tercapai cita cita ini aku tidak akan berdiam diri"
Sambil berkata dia manyimpan kembali topeng kulitnya kedalam saku sedang titik air matanya mengucur keluar dart kelopak matanya dengan deras.
Beberapa saat kamudian haripun menunjukkan saat kentongan kelima. Liem Tou pun merasakan sepasang lengannya mulai terasa linu kaku dan capai sedikitpun tidak bertenaga lagi, mendadak ditengah sungai dihadapannya secara samar samar muncul sebuah perahu kecil dengaa perlahan lahan bergerak mendatang, bahkan dari atas perahu kelihatan sinar lampu berkedip kedip.
Perahu itu mungkin milik seorang nelayan yang sedang inenangkap ikan dimalam hari, kenapa aku tidak beristirahat sebentar disana?? bila mereka ada makanan kemungkinan sekali sedikit menangsal perutku yang lapar?"
Tidak lama kemudian dia sudah mendekati perahu kecil itu, Liem Tou dengan cepat mencekal pinggiran perahu dengan kencang.
Waktu itulah terdengar dari dalam perahu berkumandang suara pertanyaan yang disusul dengan jeritan kaget.
"Heey siapa diluar ??"
"Seorang yang kecebur dalam sungai karena bertemu perampok, dapatkah aku beristirahat sebentar diatas perahu saudara ?"
Dari dalam perahu tak terdengar suara sahutan - - lama sekali ditunggu tetap saja tidak terdengar sedikit suarapun.
Pada saat Liem Tou sedang merasa kecewa itulah mendadak terdengar pertanyaan lagi dari dalam perahu.
"Siapa namamu? bertemu perampok dimana?"
"Aku bernama Liem Tou, baru saja bertemu dengan perampok diatas dua buah perahu pangawal barang disungai sebelah depan. Hey pemilik perahu bolehkah aku beristirahat sebentar ??"
"Ehm . . .kalau begitu naiklah.”
Mendengar pemilik perahu itu menyanggupi Liem Tou dengan cepat meloncat naik keatas perahu, Tapi . . . belum tubuhnya berdiri tegak mendadak jalan darah "Hong Hui Hiat" serta jalan darah gagunya sudah tertotok oleh orang lain, tak tertahan lagi tubuhnya rubuh keatas perahu dengan keras kemudian disusul dengan suara tartawa keras dari orang ini sambil ujarnya.
"Liem Tou . Liem Tou, kami cari kamu kemanapun tak bertemu, tidak disangka kamu hantarkan diri sendiri kemari ha ha ha ha . aku tidak bisa banyak bicara lagi ha ha..”
Jalan darah " Hong Hui Hiat” serta jalan darah gagu Liem Tou sekalipun tertotok sehingga tidak dapat bergerak dan berbicara tetapi sepasang matanya masih bisa memandang kearah orang yang menotok jalan darahnya itu.
Orang itu tidak lain adalah Si jari beracun jarum cams Song Beng Lan yang ditemui dilembah cupu cupu bersama sama pengemis busuk itu. Dalam hati dia tahu orang ini tentu sangat benci kepadanya hingga tidak terasa diam diam menghela napas panjang, pikirnya.
"Heei ..kemauan Thian sudah begitu aku juga tidak bisa berbuat apa apa lagi mau dibunuh mau disiksa aku terpaksa ikuti saja kemauannya."
Sepasang matanya segera dipejamkan rapat rapat tanpa berbicara sepatah kata lagi.
Mendadak Liem Tou merasakan badannya di tendang hingga berguiing dengan keras diatas perahu kemudian terdengar suara Song Beng Lan sedang berkata.
"Hey Liem Tou kamu orang tidak usah pura pura mati, coba kamu lihat siapa yang berada dihadapanmu ?"
Mendengar perkataan itu barulah Liem Tou membuka matanya dengan perlahan, mendadak pandangannya menjadi terang terasa olehnya badannya sekarang sudah terlenteng didepan pintu ruangan perahu ditengah ruangan dalam perahu duduklah seorang gadis berbaju hijau yang tipis dengan usia kurang lebih baru tujuh belas delapan belas tahunan, alisnya yang melengkung tipis dengan bibirnya yang kecil mungil sungguh merupakan seorang gadis yang cantik menarik sekali .
Melihat hal itu Liem Tou menjadi melengak, mendadak teringat makian Cian Pian Ngo Koei sewaktu berada didalara lembah cupu cupu yang mengatakan Song Beng Lan ini adalah Jay Hoa Cat, tidak terasa pikirnya.
"Hemmnm ternyata dia memang seorang bangsat cabul, ditengah sungai yang begini jauh dari keramaian serta sunyi masih menyembunyikan seorang gadis cantik juga hemmm sungguh tidak malu, Konyol . "
Baru raja pikiran itu berkelebat dalam bcnaknya, mendadak gadiscantik berbaju hijau Nang ducluk didalarn ruangsn perahu sudah tar senaum kearabuya, kemudian ujarnya
"Hey Liem Tou, orang yang berjodoh dimanapun selalu bertemu, kamu masih kenal aku tidak?”
Mendengar perkataan itu tak terasa Liem Tou merasa sangat heran, pikirnya dalam hati.
"Aku Liem Tou merupakan seorang lelaki sejati, salamanya belum pernah main perempuan diluaran bagaimana bisa kenal dia ?”
Sekalipun didalam benaknya dia berpikir begini tetapi tanpa terasa matanya memandang teliti kearah gadis berbaju hijau itu, saat itulah gadis berbaju hijau itu sedang memandang dirinya sambil tersenyum manis.
Semakin dilihat Liem Tou merasakan gadis ini seperti pernah ditemuinya disuatu tempat, matanya semakin memandang tajam kearahnya…. . . lama sekali mendadak pikirannya menjadi sadar.
Gadis berbaju hijau itu melihat air muka Liem Tou sedikit berubah segera tahu kalau dia sudah mengenal dirinya kembali maka ujarnya dengan merdu.
"Hey Beng Lan, cepat bebaskan jalan darahnya yang tertotok."
Mendengar pekataan itu Song Beng Lan dengan cepat maju dan menepuk dengan perlahan leher Liem Tou. Saat itulah dengan keras teriak Liem Tou.
"Aaaah . . . bukankah kamu orang pengemis busuk itu?”
Gadis cantik berbaju hijau itu begitu mendengar dia memaki dirinya sebagai pengemis busuk tidak terasa alisnya dikerutkan rapat rapat. Song Beng Lan yang berdiri disampingnya seketika itu juga melancarkan satu tendangan membuat tubuhnya sekali lagi berguling diatas permukaan perahu, bentaknya.
"Hey bangsat cilik kamu orang sungguh tak tahu sopan, hati-hati aku tendang badanmu sampai tulangmu copot."
Tiba tiba gadis cantik berbaju hijau itu mencegah perbuatan Song Beng Lan, ujarnya.
“Beng Lan, kamu orang jangan menyakiti dia sampai keterlaluan, lebih baik kamu ikat kaki tangannya dengan tali dulu kemudian baru membebaskan jalan darahnya, setelah itu naikkan jangkar lanjutkan parjalanan sekarang juga.”
Sikap Song Beng Lan terhadap gadis cantik berbaju hijau itu agaknya begitu menghormatnya, sesudah memberi hormat, dengan sangat patuhnya baru sahutnya dengan perlahan.
"Baik Kungcu.”
Dengan mengikuti perintahnya dia mengikat kaki tangan Liem Tou dengan tali kemudian membebaskan jalan darah Hong Hui Hoat-nya setelah itulah baru menaikkan jangkar untuk melanjutkan perjalanannya.
Saat itu berkatalah gadis cantik berbaju hijau itu kepada Liem Tou sambil tertawa.
"Liem Tou, kamu merasa sangat heran bukan? Aku beritahu padamu, aku bernama Ciang Beng Hu dan bertempat tinggal dipantai Say Kiem Thay tepi danau Au Hay didaerah In Lam”
Sejak Liem Tou mengetahui kalau gadis cantik berbaju hijau yang berada dihadapannya ini adalah pengemis busuk yang ditemuinya di dalam bui segera teringat kembali keganasan serta kelakuannya yang kasar dalam hati tidak tertahan muncul kembali perasaan benci serta gemasnya, dengan gusar sahutnya.
"Siapa yang mau dengar namamu yang sangat memalukan itu, ini hari aku Liem Tou sudah terjatuh ketanganmu, mau dibunuh mau disiksa silahkan kamu orang lakukan, aku Liem Tou tidak akan takut dan bukan seorang manusia pengecut yang takut mati.”
Mendengar hal itu Ciang Beng Hu tertawa nyaring, ujarnya.
"Cis. Liem Tou - - - Liem Tou, binasa dengan begini mudah apa kamu tidak merasa sayang?? kalau kamu orang memang kepingin mati tapi jangan begitu cemasnya.”
Sepasang mata dari Liem Tou mendelik melotot kearahnya dengan gusar ujarnya lagi dengan jengkel.
"Kau ingin apakan aku ?”
"Kamu boleh pikirkan sendiri” sahutnya sambil tertawa ringan sedang kepalanya dimiringkan kesamping.
Tetapi air muka dengan ceoat berubah menjadi serius kembali, dengan pandangan tajam dia memandang sekejap kearah wajah Liem Tou kemudian ujarnya lagi dengan keren.
“Liem Tou, perkenalan kita didalam bui walaupun belum begitu lama tapi aku tahu dengan jelas kamu merupakan seorang yang sangat cerdik. Aku tidak perlu bicara tentunya kamu orang sudah tahu sendiri. Buat apa aku yang hidup enak-enak didaerah Cian Pian sebelah selatan dengan susah payah pergi kemari, hey Liem Tou aku belum gila ??.
"Siapa yang mau urus kamu gila atau tidak, hey pengemis gila kau mau bawa aku kemana?”
Ciang Beng Hu hanya memandang sekejap kearahnya sambil tersenyum sedang mulutnya tetap membungkam.
Tidak terasa hawa amarah Liem Tou muncul kembali, teriaknya keras dengan amat gusar.
“Terhadap kawanan bajingan yang tidak tahu malu seperti kalian aku Liem Tou walaupun binasa juga tidak akan menyerah, aku omong terus terang saja padamu, jika kalian mau paksa aku barterus terang mengakui tempat penyimpinan kitab pusaka To Kong Pit Liok itu.. hemm hemm jangan harap."
"Hemm, , kau tak usah banyak bacot, tunggu saja" ujar Ciang Beng Hu dengan amat dingin.
Sehabis berkata teriaknya denagn keras.
"Beng Lan masuk, bangsat cilik ini sampai sekarang masih tetap bandel saja kelihatannya dia belum merasakan kelihayan kita. Hemm totok jalan darah pulasnya dulu."
Song Beng Lan segera menyahut dan menotok jalan darah pulas dari Liem Tou. Saketika itu juga Liem Tou hanya merasakan matanya menjadi kabur kemudian tertidur dengan nyenyaknya .
Menanti dia sadar kembali entah sudah lewat berapa saat lamanya, juga tidak tahu kini sudah berada dimana. Dia hanya merasa tempat itu begitu gelap gulitanya sehingga tak sanggup untuk melihat lima jarinya sendiri. Tempat itu begitu gelap serta apeknya sehingga terasa susah untuk bernapas.
Dengan cepat Liem Tou menggerakkan badannya, kiranya seluruh tubuhnya sudah terlepas dari totakan maupun ikatan tali, tidak terasa gumamnya seorang diri.
“Mereka bawa kemana aku ini ?"
Perlahan lahan dia bisa melihat juga keadaan ditempat itu, ditengah keadaan yang sangat gelap secara samar-samar terlihat olehnya kalau dia kini berada dalam sebuah gua yang penuh lumpur didepan gua terdapat sebuah ruji-ruji kayu yang sangat besar sekali sebagai penghalang jaIan, tapi diluar gua itupun kelihatan tidak terdapat sedikit sinarpun juga.
Tangannya dengan perlahan lahan didorong kearah kayu-kayu perintang jalan itu, tapi walau sudah didorong sekuat tenaga kayu tersebut tetap tidak gemilang sedikit pun juga kuatnya laksana batu. Melihat hal itu Liem Tou menjadi amat gusar, campur dahaga yang makin lama semakin tidak kuat untuk ditahan, teriaknya dengan gusar.
“Hey kalian manusia bangsat yang tidak tahu malu. . . kamu bawa aku ketempat apa ini ?” Hey pengemis busuk kamu jangan bersembunyi aku Liem Tou tak kan memberikan kitab pusaka To Kong Pit Liok itu kepadamu."
Sekalipun dia sudah berteriak sehingga tenggorokannya terasa sakit tiada seorangpun yang menyahut atau menggubris, bahkan suara yang aneh sedikitpun tak terdengar. Hal ini membuat Liem Tou menjadi gemas pikirnya dalam hati.
“Jika mereka kurung aku ditempat ini tanpa mau gubris aku lagi lama kelamaan aku bisa dimatikan dengan perlahan.. Aduh. . . Aduh... . perutku mulai merasa lapar”
Baru saja dia berpikir sampai disini mendadak dari tempat kejauhan secara samar-samar berkumandang datang suara tindakan kaki yang sangat perlahan kemudian disusul dengan munculnya sinar merah yang samar-samar.
Semangat Liem Tou tidak terasa muncul kembali dengan tergesa gesa dia bangkit berdiri menempel pada pagar kayu yang besar itu untuk menengok kedepan, sinar merah itu makin perlahan semakin menajam semakin lama semakin mendekat. Tidak tertahan lagi teriak Liem Tou dengan keras.
"Hey Siapa itu ? cepat kalian lepaskan aku keluar”
Terlihat sesosok bayangan manusia berkelebat Song Beng Lan dengan membawa dua orang lelaki kasar yang bertubuh kuat dengan membawa obor berjalan mendekat, melihat hal itu Liem Tou semakin gusar, teriaknya.
"Hey kamu bajingan cabul kenapa kurung aku ditempat ini ?"
(Bersambung ke jilid 10)
“Hmm, dengus Song Beng Lan dengan sangat dingin. "Liem Tou, mati hidupmu kini berada ditanganku, buat apa kamu ngotot terus?”
Sehabis berkata dia mengulap tangannya, kedua orang lelaki berbadan kuat itu segera berjalan mendekati pagar kayu itu dan membuka pintunya, melihat hal ini Liem Tou bertambah gusar lagi, bentaknya dengan keras.
"Kalian pingin berbuat apa?"
Sehabis berkata dia mundur dua langkah kebelakang, sepasang telapaknya dikencangkan siap memberikan perlawanannya.
Dengan langkah yang sangat perlahan Song Beng Lan berjalan ketepi pagar kayu itu sambil mengangkat tinggi tinggi obornya dengan nada yang sangat dingin.
"Liem Tou aku lihat lebih baik kau ikuti perintahku tanpa membantah. Pada saat ini sekalipun kau mau melawan juga tidak berguna ."
"Huuh..tutup mulut anjingmu Hey bangsat cabul."
Mendadak ..dua orang lelaki kesar bertubuh kuat itu dengan cepat maju dua langkah kedepan tangannya dengan kecepatan bagaikan kilat mencengkeram tubuh Liem Tou.
Melibat datangnya serangan itu Liem Tou menjerit keras sepasang kepalannya dengan cepat melancarkan serangan kedepan untuk menahan datangnya cengkraman itu, siapa tahu baru saja tangannya diangkat terasa olehnya kepalan itu lemas sedikitpun tidak bertenaga, serangannya belum sempat mencapai pada sasarannya badannya sudah berhasil dicengkram oleh lelaki kasar lainnya, tidak tertahan lagi Liem Tou dengan sempoyongan maju kedepan, kesematan itulah digunakan oleh kedua lelaki kasar itu untuk mcnangkap tubuh Liem Tou kemudian mengikatnya dengan tali.
Sekalipun Liem Tou saking gemas dan jengkelnya berteriak teriak dan memaki dengan enaknya tapi apa gunanya ?"
Tubuh Liem Tou sesudah diikat dengan kencang kedua lelaki kasar itu segera menggotong tubuhnya keluar gua, sesudah berputar putar beberapa saat lamanya sampailah mereka disebuah lorong gua yang sangat panjang sekali.
Dengan membawa obor Song Beng Lan berjalan didepan membuka jalan.
Kurang lebih sesudah berjalan berpuluh puluh kaki jauhnya gua itu perlahan lahan semakin sempit dan semakin sampai akhirnya, tempat itu hanya bisa dilalui oleh seseorang dengan membungkukkan badan.
Kurang lebih berjalan lagi dua kaki jauhnya sampailah mereka dimulut gua.
Liem Tou dengan cepat memandang sekeliling tempat itu waktu itulah dia baru tahu kalau dirinya sudah berada dipunggung gunung, dibawahnya terlihat air selokan mengalir dengan derasnya keadaan amat bahaya sekali, ketika memandang kesamping lagi terlihatlah sebuah air terjun yang amat besar sedang memuntahkan airnya kepunggung gunung, keadaannya mirip dengan seekor naga terbang yang ganas, sungguh amat angker dan agung sekali.
Song Beng Lan segera mematikan obornya dan putar tubuh berjalan mendekati samping air terjun itu, didalam sekejap saja tubuhnya sudah lenyap dari pandangan.
Liem Tou melihat hal itu dengan amat jelas dalam hati diam diam merasa sangat heran, pikirnya.
"Aaah bangsat cabul itu sudah kemana perginya?"
Baru saja dia berpikir sampai disitu kedua lelaki kasar berotot kuat itu sudah mengangkat tubuhnya mendekati samping air terjun tersebut.
Kiranya dibalik tebing air terjun itu sedikitpun tidak ada air yang mengenai tempat itu dibelakang air terjun yang sangat dahsyat itulah terdapat sebuah gua yang sangat besar sekali.
Liem Tou dengan cepat diseret masuk kesana, dalam gua itu sangat besar dan megah sekali, empat penjuru dindingnya terbuat dari batu porselen yang berbentuk tumpuk menumpuk tidak teratur, kelihatan sekali kalau dinding itu merupakan kejadian alam.
Sesudah masuk lagi beberapa kaki mendadak Liem Tou dapat melihat didepannya berdirilah sepuluh orang lelaki dengan rapinya, jika ditinjau dari pakaian dan dandannya serta usianya dapat dilihat diantara mereka terdapat perbedaan yang sangat menyolok sekali, ada kakek-kakek yang usianya sudah amat lanjut sehingga rambutnya sudah pada memutih, ada pula anak anak kecil yang masih ingusan, bahkan dandanan mereka serta kedudukannyapun sangat berbeda.
Hweesio, Nikouw, pengemis, kuli, serta nelayan nelayan semuanya ada ditempat itu. Sedang ditengahnya duduklah seorang nyonya berusia pertengahan dengan pakaian yang amat perlente, di samping kanannya berdirilah itu gadis cantik berbaju hijau Ciang Beng Hu.
Kedua orang lelaki itu segera meletakkan Liem Tou keatas tanah kemudian menyingkir berdiri kesamping.
Nyonya berusia pertengahan itu dengan perlahan bertanya .
"Orang itukah yang bernama Liem Tou"
Liem Tou tetap membungkam, sekali lagi nyonya itu bertanya tetapi Liem Tou tetap menutup mulutnya rapat rapat.
Melihat hal itu Ciang Beng Hu segera ikut berbicara, ujarnya.
"Hey Liem Tou kamu tuli yaah?? Ratu Au Hay Au Hay Ong Bo sedang menanyai kamu tetap membisu ?"
“Hmm..” Dengus Liem Tou dengan gusar. Kalian bajingan- bajingan yang tidak tahu malu, dengan mengikat badanku seperti ini bagaimana suruh aku bicara ?”
"Liem Tou "Bentak Ciang Beng Hu sambil melotot kearahnya. "Didepan Ong Bo kamu orang berani berlaku tidak sopan hay Beng Lan pukul dia terlebih dulu sehingga dia rasakan sedikit pelajaran, sesudah itu barulah kau lepaskan tali yang mengikat kakinya".
Song Beng Lan segera menyahut, dengan mengikuti perintahnya dia cambuk seluruh tubuh Liem Tou dengan kerasnya, membuat badannya terluka dan mengucurkan darah segar, tetapi Liem Tou dengan menggigit kencang bibirnya terus bertahan, sedikit suara dengusan pun tidak kedengaran.
Melihat kegagahan serta keketusan Liem Tou yang jadi orang keras kepala itu Ciang Beng Hu tertawa dingin tak henti-hentinya, ujarnya lagi.
"Liem Tou, sekalipun ini hari kau tetap keras kepala, aku mau lihat besok hari kamu masih bisa keras kepala tidak?"
Sekali lagi Song Beng Lan pukul tubuh Liem Tou dengan cambuknya setelah itu barulah lepaskan tali yang mengikat kakinya.
Dengan perlahan-lahan dia bangkit berdiri, sepasang matanya dengan berapi-api menahan hawa amarahnya yang sudah meluap pandang tubuh Ciang_Beng Hu dengan amat gusarnya.
Dengan perlahan Au Hay Ong Bo barulah buka bicara lagi, ujarnya.
"Liem Tou, kesemuanya ini karena kebandelanmu sendiri, jika kamu mau katakan tempat persembunyian kitab pusaka To Kong Pit Liok itu maka kamu orang tidak akan merasakan siksaan serta penderitaan seperti ini"
Perkataan dari Au Hay Ong Bo ini diucapkan sangat perlahan dan halus bahkan air mukanya membawa senyuman yang amat ramah, sikapnya jauh lebih halus dan lebih lunak dari Ciang Beng Hu.
Waktu itu Liem Tou sudah membenci diri Song Beng Lan serta Ciang Beng Hu hingga menusuk ketulang samsumnya, pikirnya didalam hati.
"Hmmm..hmm..asalkan aku Liem Tou bisa lolos dari cengkeramanmu, tunggu saja pada suatu hari aku bisa datang menuntut balas sakit hati hari ini"
Terhadap situasi yang dihadapinya sakarang ini dalam hati dia sudah ambil keputusan untuk tidak mengeluarkan sepatah katapun, karenanya walaupun Au Hay Ong Bo sudah bertanya berkali-kali dia tetap bungkam tidak mengucapkan sepatah katapun juga.
Au Hay Ong Bo tetap tidak menjadi marah karena keketusannya itu, ujarnya lagi.
"Liem Tou, manusia cerdik tidak akan menelan kerugian didepan mata sendiri, kamu sudah jatuh katangan orang lain menurut pangihatanku jauh lebih baik sedikit penurut dan lunak sehingga tidak sampai merasakan penderitaan dari siksaan siksaan kejam, tidak urung kamu orang sudah sampai didalam istana terlarang dari partai Kim Tian Pay diatas puncak gunung Ngo Lian Cong, untuk pikir melarikan diri ehmm.. ehmm..itu urusan yang sangat mudah asalkan kamu orang bisa melaksanakannya saja.”
Ciang Beng Hu meluap hawa amarahnya terhadap Au Hay Ong Bo ujarnya.
"Ibu, bangsat cilik itu keterlaluan sekali, lebih
baik kita pukul dia dulu sampai kapok baru ditanyai lagi"
"Hu jie!" ujar Au Hay Ong Bo dengan halus. "Kamu salah besar jika dilihat sifat orang ini sungguh bersemangat sekali, tidak mungkin dia berbuat begini hanya pura pura saja, jika kamu orang hendak manggunakan cara kekerasan untuk menaklukkan dia, hei tidak mungkin"
Dia berbenti sebentar, kemudian sambungnya lagi.
"Jika kamu bertamtah kejam dengan menggunakan cara ini, sekalipun mati tidak akan dia mau bicara, lebih baik untuk sementara simpan saja didalam penjara kemudian dengan perlahan-lahan kita cari suatu cara untuk menaklukkan dia.
"Ibu lebih baik kamu orang tua serahkan padaku saja, aku mau lihat dengan siksaan berat dia masih mau mengaku tidak”
Au Hay Ong Bo segera gelengkan kepalanya, sambil mengulap tangan ujarnya.
"Hu jie kamu harus dengar omonganku, kamu kira ibumu bisa salah bertindak?”
Saat inilah Ciang Beng Hu baru tidak mengucapkan kata-kata lagi.
Liem Tou pun segera dibawa kedalam penjara didalam gua yang sangat gelap itu kembali.
Hanya saja kali ini ada orang yang menghantar makanan untuk dirinya.
Semula Liem Tou yang dikurung didalam gua merasa sangat gemas dan berteriak teriak tidak karuan, akhirnya karena tidak ada orang yang manggubris dirinya, lama kelamaan dia sendiri merasa sekalipun kemarahannya memuncak bagaimanapun tidak ada gunanya karena itulah dia mulai menjadi tenang kembali, dengan mengikuti cara mengatur pernapasan yang diajarkan He Loo toa perlahan dia melatih dirinya.
Tiga hari kemudian hatinya semakin tenang lagi, didalam keadaan yang tidak disadari napsu kemarahannya mulai lenyap dari dalam hatinya. Selain kadang-kadang teringat akan Lie Siauw Ie hatinya terasa sedikit goncang, terkurungnya dia didalam gua sama sekali tidak membingungkan dirinya bahkan membuat hatinya semakin tenang.
Diantara saat ini baik Au Hay Ong Bo mau pun Ciang Beng Hu tidak ada yang datang untuk mencari dia lagi. Sampai hari yang keenam pada waktu Liem Tou sedang enak-enaknya bersemedi, mendadak terasa oleh dirinya segulung hawa yang sangat panas muncul dari daerah Hiat hay terus menerjang naik hingga Ni-Tan. Keringat mengucur dengan amat derasnya pikirannya menjadi kosong badannya merasa sangat nyaman, hawa panas itu dengan perlahan naik dari Ni Tan menuju ke Yan Hay, hawa murninya berhasil mengelilingi tubuhnya satu kali.
Dalam hati Liem Tou tahu bahwa saat ini merupakan saat yang paling penting dan paling kritis didalam seorang melatih ilmu pernapasannya, segera dia tidak berani barkhayal lagi dan melanjutkan latihannya hingga berturut-turut hawa murninya mengitari tiga pulah enam barulah berhenti.
Mencapai hari yang kasepuluh tenaga murni yang dilatih Liem Tou sudah mencapai pada hasilnya, dirinya pun merasa didalam tubuhnya terjadi perubahan yang luar biasa karenanya dia berlatih terus hingga hawa murninya sambil menerobosi tiga urat nadi terpenting lagi.
Hari itu baru saja Liem Tou selesai bersemedi, mendadak terlihatlah Ciang Beng Hu dengan membawa obor berjalan masuk, ujarnya terhadap diri Liem Tou.
"Liem Tou, ibuku boleh dikata menghormati kamu orang dengan amat ramah selama sepuluh hari ini agar kamu orang bisa sadar dari kesalahan. Bagaimana sudah berpikir matang ?"
“Hmmm . . hmmm.. !” Liem Tou tertawa dingin tak henti- hentinya.
"Walaupun kamu orang bilang baik atau buruk aku Liem Tou tidak akan menggubris kamu orang lagi, aku mau lihat bisa berbuat apa terhadap diriku ?"
"Sejak dulu aku sudah tahu kamu harus merasakan siksaan dulu barulah tahu rasa," seru Ciang Beng Hu dengan gusarnya.
Segera dia menoleh kebelakang sambil teriaknya.
"Hey pengawal kemari."
Segera terlihatlah empat lima orang lelaki dengan cepat berjalan mendekati jeriji kayu itu dari belakang tubuh Ciang Beng Hu, agaknya mereka mau menangkap Liem Tou lagi.
Dalam hati Liem Tou sudah tahu kalau kepandaiannya saat ini sudah tidak seperti waktu yang lalu, dia percaya ketiga empat orang ini bukanlah tandingannya jika dia mau memberontak hanya beberapa orang ini tidak mungkin bisa menangkan dia. Persoalan yang membingungkun dia adalah apakah saat ini dia punya pegangan yang kuat untuk menerobos keluar dari goa untuk melarikan diri?? Karenanya dia membiarkan orang orang itu menangkap dirinya tanpa memberikan sedikit perlawanan pun.
Siapa tahu setelah orang-orang itu berhasil menangkap dirinya kemudian menekan badannya keatas tanah dan diikatnya dengan tali kuat ujar Ciang Beng Hu lagi.
"Pukul badannya sampai hancur!"
Orang itu segera menyahut, dari pinggangnya mengeluarkan sebuah cambuk berwarna hitam.
Liem Tou yang melihat diatas cambuk itu penuh dengan duri yang tajam dalam hati merasa aangat terkejut sekali. Didalam keadaan tidak sadar dia sudah mengerahkan tenaga murninya, tangan serta kakinya sedikit disusutkan, tali-tali yang mengikat tubuhnya itu segera terputus sama sekali, dengan cepat dia meloncat bangun melancarkan serangan dahsyat, angin pukulan menyambar segulung demi segulung membuat orang orang yang berada didalam goa penjara itu segera terpental dan jatuh terlentang diatas tanah.
Bersama pula bentaknya keras.
"Hmmm..siapa yang berani bergerak aku segera minta nyawanya" Sambil berkata dia berdiri bertolak pinggang disana, sepasang matanya melotot keluar dengan bulatnya.
XXX
Ketika Ciang Beng Hu yang berada diluar pagar kayu yang melihat keadaan yang demikian gagahnya dari Liem Tou, dalam hati diam-diam sedikit merasa terperanjat, dia tahu sekalipun dirinya sendiri masuk kedalam belum tentu bisa menguasai dirinya. Sedang dia merasa serba salah terlihat Song Beng Lan berjalan mendatang sambil ujarnya.
"Oooh kiranya kuncu berada disini, Ong Bo sedang mencari kamu orang."
“Kedatanganmu sangat tepat sekali, mari kita masuk kedalam menguasai bangsat cilik itu terlebih dahulu."
Sambil berkata dia menarik Song Beng Lan masuk kedalam pagar kayu dan berdiri dikedua samping yang berlawanan, ujarrya.
"Hey Liem Tou, ini hari mari kita bertempur dikandang binatang, aku mau lihat seberapa kelihayanmu."
o000o0000o00000
7
Begitu Ciang Beng Hu masuk kedalam pagar kayu itu, lelaki-lelaki kasar yang dipukul rubuh Liem Tou tadi dengan cepat merangkak bangun untuk mengepung kembali.
Liem Tou begitu melihat sekelilingnya sudah dikepung rapat-rapat oleh pihak musuh bahkan kedua orang jago berkepandaian tinggi satu berada didepan yang lain dibelakang mengepung dirinya mombuat hatinya merasa sedikit jeri juga.
Bagaimana juga pengalamannya didalam menghadapi musuh masih terlalu cetek sehingga sebelum turun tangan keadaannya sudah amat bingung dan gugup, teringat akan kekejaman, keganasan serta penghinaan yang dilontarkan Ciang Beng Hu kepadanya tidak terasa hawa amarahnya memuncak, bentaknya dengan keras.
“Pelacur bau, terima seranganku ini.”
Mendadak ...hawa murninya dipusatkan pada telapak tangannya kemudian dengan hebat dibabat kearah dada Ciang Beng Hu, dengan cepat bahu Ciang Beng Hu sedikit miring kesamping Liem Tou hanya merasakan secara tiba-tiba belakang punggungnya ada segulung angin yang santer membokong tubuhnya, pinggangnya dengan cepat ditekuk kedepan gerakannya berubah dengan jurus serangan yang lain telapak kirinya menyerang ketubuh Ciang Beng Hu.
Ciang Beng Hu melihat Liem Tou hanya khusus menyerang dirinya saja membuat hawa amarahnya berkobar kobar, air mukanya berubah sangat hebat kuda-kudanya diperkuat tanpa menghindarkan diri lagi sepasang telapaknya didorong kedepan secara berbareng.
“Bluuk . . . " Dengan keras lawan keras dia menerima datangnya serangan Liem Tou itu.
Ciang Beng Hu merupakan Putri kedua dari Au HAy, sejak kecil dia sudah dimanja oleh orang tuanya, kepandaian silat yang diterima dari partai Kiem Tian Pay sekalipun belum berhasil dilatih hingga mencapai kesempurnaan tetapi boleh lihay juga.
Kalau tidak bagaimana didalam pengadilan kota Tiong Leng bisa menahan serangan dan Kioe Long Wan Kauw yang sudah lama punya nama besar didalam dunia kangouw?
Sabaliknya kapandaian silat Liem Tou sekalipun baik, tenaga murninya bagaimanapun juga masih merupakan hasil latihannya selama sepuluh hari ini saja, sekalipun boleh dibilang tenaga murninya boleh juga tetapi didalam keras lawan keras ini dengan sangat jelas sekali boleh diketahui siapa yang lemah siapa yang kuat.
Begitu sepasang telapak tangan Ciang Beng Hu dilancarkan berbareng Liem Tou segera merasakan segulung hawa pukulan yang sangat keras sekali dan berat menekan tubuhnya dengan sangat dahsyat, tidak tertahan lagi tubuhnya bergoyang mundur kebelakang dengan cepat, sebaliknya Ciang Beng Hu masih tetap saja berada ditempat semula.
Baru Liem Tou terdorong dua langkah kebelakang mendadak jalan darah "Ie Sun Hiat" pada punggungnya serta jalan darah "Cing-Ju Hiat" pada pinggangnya terasa menjadi kaku, tidak kuasa lagi badannya rubuh keatas tanah dengan sangat keras, mulutnya terbuka lebar lebar lidahnya menjulur keluar tidak sanggup untuk bangun kembali.
Terdengar Song Beng Lan sambil tertawa dingin ujarnya.
"Hmmm . .. aku mau lihat kamu orang bisa galak seperti apa lagi”
Ciang Beng Hu pun dengan girang berteriak.
“Ha ha ha , . aku sudah salah duga dirimu pada waktu yang lalu, kiranya kamu orang hanya macan-macanan dari kertas hanya bisa mengejutkan kamu orang saja."
Sehabis berkata dia lalu merebut cambuk hitam dari orang itu, tanpa mengucapkan sepatah kata lagi dengan sekeras kerasnya dia menghajar seluruh tubuh Liem Tou dengan menggunakan cambuk berduri tersebut.
Saat ini kedua jalan darah penting pada tubuh Liem Tou sudah tertotok sehingga untuk bersuara tidak bisa bergerak pun tidak murgkin terpaksa sambil menggigit kencang bibirnya menahan siksaan dan perasaan sakitnya.
Beberapa saat kemudian seluruh tubuh Liem Tou sudah basah kuyup oleh darah segar yang mengucur keluar dengan derasnya terkena cambuk yang berduri tajam itu, sakitnya luar biasa hingga meresap di dalam tulang sumsumnya, saat ini dia sudah membenci Ciang Beng Hu sehingga meresap dalam hatinya, dia pingin menelan bulat-bulat tubuhnya semakin dia memukul lebih keras sepasang matanya yang merah darah dipentangkan semakin lebar lagi dalam hati diam-diam sumpahnya.
“Dalam sepuluh hari ini aku Liem Tou tentu akan membalas dendam sakit hati ini.”
Tapi Ciang Beng Hu tetap memukul tanpa berhenti sebentarpun juga, akhirnya Liem Tou tidak dapat menahan perasaan sakit yang luar biasa ini tidak tertahan lagi dia jatuh tidak sadarkan diri.
Sekali pun dia sudah jatuh pingsan tetapi sepasang matanya masih tetap melotot betul betul dengan besarnya.
Menanti dia sadar kembali dari pingsannya, orang itu sejak semula sudah meninggalkan tempat itu, dengan perlahan dia mulai mencoba menggerakkan tubuhnya dia tahu jalan darahnya sudah dibebaskan hanya saja kulit serta tubuhnya penuh dengan luka yang merekah lebar, sedikit bergerak saja terasa begitu sakitnya hingga sukar ditahan.
Mendadak dalam ingatannya terbayang kembali tali pengikat pinggang dari Hek Loo Toa itu dengan cepat dia lepaskan tali itu dari pinggangnya sendiri tanpa parduli apa-apa lagi, dengan cepat digigitnya satu utas.
Semula didalam anggapannya tentu sukar sekali dalam menelan tali itu, siapa tahu begitu masuk kedalam mulutnya terasa sangat mujarab sekali tidak terasa lagi diam-diam dia sudah menghabiskan satu kerat.
Jangan dikira tali itu tidak berguna, kiranya benda itu merupakan barang berharga yang sangat mujarab sekali, begitu dia menelan tali itu didalam sekejap saja seluruh bekas pukulan cambuk berduri itu tidak terasa sakit lagi, sekalipun bekas lukanya belum tertutup sama sekali.
Mana dia tahu kalau tali yang kelihatannya sangat sederhana itu sudah membuang waktu serta tenaga yang besar dari Hek Loo toa untuk membuatnya, disamping beratus ratus macam tumbuhan obat yang sukar dicari didalamnya juga mengandung obat kuat serta jien som yang berusia ribuan tahun. Kalau tidak penderitaan dari Hek Loo toa didalam penjara yang gelap itu dimana setiap hari menerima cambukkan yang kejam, jangan dikata tiga tahun sekalipun tiga hari saja dia tidak mungkin bisa bertahan.
Luka cambukan yang diderita Liem Tou sudah tidak sakit lagi teringat kembali kekejaman dari Ciang Beng Hu membuat Liem Tou tidak mau melepaskan sedetik waktupun dengan sia-sia setiap detik, setiap waktu dia duduk bersemedi melatih ilmunya, jika ada orang yang menengok kedalam penjara itu segera dia pura-pura rebahkan diri diatas tanah seperti orang yang sakit parah, merintih kesakitan tidak henti-hentinya.
Dengan tidak henti-hentinya Liem Tou melatih tenaga dalamnya ditambah dengan obat dari Hek Loo toa yang sangat mujarab lama kelamaan pendengaran telinganya secara mendadak menjadi sangat tajam dengan sendirinya
ditengah gua penjara yang sangat gelap sekali bukan saja dapat melihat benda yang ada disana dengan amat jelas sekali bahkan seperti di siang bari saja. Bahkan suara terjunan air diluar gua bisa didengarnya sangat jelas sekali.
Sampai waktu itu asalkan ada orang yang mau masuk gua memeriksa keadaannya sejak mereka masuk kemulut gua dia sudah tahu terlebih dahulu, karenanya beberapa kali Ciang Beng Hu menjenguk dirinya setiap kali dia rebah terlentang ditanah pura-pura sakit parah.
Tidak terasa sepuluh hari lewat lagi, hari itu sewaktu Liem Tou duduk barsemedi melatih tenaga dalamnya mendadak terasa olehnya hawa panas yang menerjang naik didalam tubuhnya secara tiba-tiba lenyap tanpa bekas, dalam hati terasa dibuat tertegun.
Dengan cepat dia menarik kemudian menyerahkan seluruh tenaga murninya yang berada didalam tubuhnya, siapa tahu tubuhnya yang sedang duduk bersila diatas tanah itu secara mendadak melayang meninggalkan permukaan tanah. Perasaan terkejut kali ini benar-benar membuat Liem Tou hampir jatuh pingsan, dengan cepat pikirannya berputar memikirkkan akan hal ini tetapi walaupun sudah berputar beberapa lama tetap tidak paham apa yang sudah terjadi.
Tetapi semakin lama dia merasa penglihatannya semakin tajam, keadaan gua itu jauh lebih terang lagi seperti disiang hari bolong, ketika dilihatnya atap gua itu tidak lebih hanya beberapa kaki tingginya dari permukaan tanah suatu pikiran aneh mancul didalam benaknya.
Dengan cepat tubuhnya sedikit menutul permukaan tanah badannya dengan sangat ringan sudah mencapai atap gua itu, hatinya merasa sangat girang sekali, baru saja tubuhnya mencapai permukaan tanah telapak
tangannya dengan sangat dahsyat menghajar kayu itu.
Didalam anggapannya dia hanya ingin mencoba-coba kekuatan telapak tangannya sudah mencapai tingkat yang bagaimana siapa tahu pukulannya ini jauh berada diluar dugaannya.
"Bluuk - - -“ pagar kayu sebesar mangkok itu secara mendadak terpukul patah menjadi tiga empat bagian.
Saking girang dengan hasil yang dicapainya ini sekali lagi Liem Tou melancarkan serangan dahsyat dengan mengguaakan tangan kirinya suatu suara yang sangat nyaring berkumandang kembali pagar kayu itu sekali lagi terputus menjadi beberapa bagian.
Melihat hal ini dia meloncat-loncat saking girangnya sepasang telapaknya berbareng melancarkan serangan bersama-sama . . Blummm . . . seluruh pagar yang tersiap terpukul hingga melayang keempat penjuru.
Saat ini kegembiraannya sudah memuncak tanpa perduli apa-apa dia meninggalkan gua itu.
Padahal beberapa hari sebelumnya dia sudah sanggup meninggalkan goa itu, hanya saja sewaktu melatih ilmunya tadi dia baru merasakan akan hal ini. Padahal dengan ketiga urat nadi terpentingnya yang sudah ditembus ditambah dengan latihannya siang malam secara giat selama beberapa hari ini mungkin hanya untuk memberikan suatu tenaga murni untuk melindungi badannya sudah jauh lebih cukup.
Gerakkannya menerjang keluar gua itu sudah mengejutkan orang-orang yang menjaga goa tersebut dengan cepat terlihatlah beberapa orang dengan cepat berlari masuk gua untuk melihat apa yaag sudah terjadi tidak menanti mereka berlari mendekat dari tempat jauh dia sudah melancarkan satu serangan kilat, gua itu sangat kacil sekali ditambah datangnya serangan sangat dahsyat membuat orang-orang itu tidak bisa bertahan lagi, berturut turut terdengar suara dengusan berat orang-orang itu rubuh keatas tanpa bisa bangkit kembali. Tanpa ambil perduli lagi dia melewati orang orang itu berjalan keluar dari gua itu, ketika kepalanya memandang keangkasa terlihatiah bulan dan bintang bertebaran dilangit, saat itu sedang di tengah malam yang buta, kiranya dia yang tertawan didalam gua yang gelap gulita sadar untuk menentukan saat itu siang atau malam karenanya dia tak tahu kalau saat dia keluar gua ini adalah ditengah malam buta.
Satu satunya keinginan pada saat ini adalah mencari Ciang Beng Hu untuk balas dendam dengan mengikuti jalanan kecil disamping air terjun itu dia memasuki gua yang amat besar dibalik tempat itu, tapi disana tak terlihat sesosok bayangan manusiapun, tak terasa dia jadi sangat heran pikirnya.
"Apa mereka tidak bertempat tinggal disini?”
Dengan cepat dia mengundurkan diri dari tempat itu dan berdiri disamping air terjun tersebut, lama sekali dia herpikir keras tapi belum dapat bayangan juga pergi kekanan untuk mencari Ciang Beng Hu itu mendadak suatu pikiran bagus berpikir dalam benaknya, dengan cepat dia putar tubuhnya memeriksa sekeliling tempat itu, tak salah lagi dibawah gunung disamping selokan yang mengalir itu terlihatlah titik sinar yang sangat samar-samar hatinya menjadi bergerak pikirnya.
"Ditengab gunung yang demikian sunyi dan liar bagaimana ada orang yang berdiam disana?”
Berpikir sampai disini dengan cepat tubuhnya bergerak menuruni bukit itu, tapi ditengah gunung yang terjal ditambah dengan batu batu cadas yang tajam mana ada jalan baik untuk dilalui ? Terpaksa dengan sangat berhati hati dia merambat turun dengan pegangan dinding tebing yang curam saat itulah mendadak sebuah batu cadas yang dipegang olehnya jatuh menggelinding kebawah, agaknya badannya akan ikut terjatuh kedalam jurang, saat yang sangat kritis itulah mendadak kakinya menutul batu itu dengan cepat tubuhnya melayang keatas sebuah batu cadas yang menonjol keluar, saking terkejutnya keringat dingin sudah mulai mengucur keluar.
Ketika dia menoleh kebelakang terlihatlah batu dimana dia berdiri tadi ada dua tiga kaki jauhnya dari tempat sekarang ini puluhan dirinya tidak mengerahkan tenaga yang sangat besar saat itulah dia baru tahu tenaga dalam yang dilatihnya selama ini sudah mendapatkan kemajuan yang sangat pesat sehingga tanpa dia sadari tubuhnya bertambah ringan lagi.
Didalam keringanan itu dia tak berpikir panjang lagi dengan cepat dikerahkannya lagi, ilmu meringankan tubuhnya berlari menuruni tebing itu dengan lincahnya, sekarang dihadapannya sudah muncul sebuah bangunan besar yang sangat megah sekali pikirnya dalam hati.
"Ciang Beng Hu itu pasti berdiam dirumah ini."
Dengan cepat dia berlari kesamping tembok pagar, dengan satu kali loncatan tubuhnya sudah melayang keatas atap bangunan itu. Tubuhnya begitu ringan sehingga gerakannya ini tidak menimbulkan suara sedikitpun juga.
Sesudah melewati dua buah bangunan dari tempat kejauhan terlihatlah sinar lampu yang dilihatnya itu berasal dari bangunan sebelah selatan, dengan tidak berpikir panjang lagi tubuhnya melayang kearah sana.
Dari luar jendela terlihatlah keadaan dalam ruangan itu dengan sangat jelas, kiranya orang-orang dengan dandanan yang berbeda yang ditemuinya waktu yang lalu kini sedang duduk berkumpul disana dan bermain judi dengan ramainya.
Melihat orang-orang itu mendadak dalam ingatan Liem Tou berkelebat suatu bayangan bagus pikirnya.
“Ehmm . aku harus menggunakan orang-orang ini baru bisa memancing keluar Ciang Beng Hu pengemis terkutuk itu.”
Matanya dengan cepat berkelebat memeriksa keadaan disekeliling itu sesudah didapatkan satu tempat persembunyian yang sangat bagus barulah diangkatnya sebuah batu besar itu ke arah orang-orang yang sedang berkumpul bentaknya dengan sangat keras.
"Cepat suruh Kuncu terkutuk kalian keluar".
Sambil berkata tubuhnya dengan cepat melayang bersembunyi pada tempat persembunyian yang sudah dicarinya terlebih dahulu.
Terdengar dua kali jeritan yang sangat mengerikan, dua orang diantara orang yang sedang berjudi itu seketika itu juga binasa dengan kepala yang pecah hancur berantakan terkena sambitan batu besar dari Liem Tou yang dilakukan tanpa mereka sadari, suasana menjadi kacau balau.
Dengan tergesa-gesa mereka pada lari keluar ruangan dan meloncat naik keatas atap rumah.
Pada saat yang bertepatan juga dari ruang sebelah berkelebat keluar dua sosok bayangan manusia yang melayang datang, tanyanya.
"Saudara saudara sekalian, telah terjadi urusan apa?”
Liem Tou yang bersembunyi dibelakang gunung-gunungan ditengah taman bagitu mendengar suara itu darah panasnya segera bergolak, orang itu tidak lain adalah Ciang Beng Hu yang paling dia benci itu, kemudian telah terdengar suara suara yang ribut dari orang itu sedang menceriterakan keadaan yang sebenarnya, terdengar suara dari Au Hay Ong Bo sedang berkata.
"Kalau memang begitu, tentu orang itu belum meninggalkan tempat ini..bangsat dari mana yang bernyali besar berani lari kesini mengacau ?”
"Ibu" ujar Ciang Beng Hu pula yang berdiri disampingnya, "Apa mangkin kawan-kawan dari Bu Lim sudah dapat berita kalau Liem Tou berhasil kita tawan kemari sehingga datang mengacau ??"
Mendengar perkataan itu didalam hati diam-diam Liem Tou tuerasa sangat geli sekaii.
Liem Tou yang bersembunyi ditempat kegelapan mendadak sangat terkejut, kiranya saat itu terlihatlah seorang dengan langkah yang mantap berjalan mendekati tempat persembunyiannya, segera pikirnya dengan cepat.
"Aduh..dia datang kesini, agaknya tempat ini tidak mungkin bisa aku gunakan lag!, jika mereka tahu aku bersembunyi disini dengan jumlah yang banyak aku tidak akan bisa lobos dari kepungan mereka, lebih baik kini juga aku mengundurkan diri kemudian baru cari kesempatan mencari balas."
Berpikir sampai disini dengan tidak perduli disana banyak orang atau tidak, mendadak tubuhnya meloncat keluar dari tembok pagar kemudian lari dengan cepatnya keluar dari bangunan itu mendekati sebuah sungai yang amat deras.
Begitu dia munculkan diri, jejaknya segera diketahui orang-orang itu terdengar suara teriakan yang sangat ramai.
"Bangsat itu melarikan diri keluar perkampungan, cepat kejar."
Liem Tou yang berlari hingga tepi sungai hatinya menjadi mantap, sambil putar tubuhnya ia membentak dengan keras.
"Hey Ciang Beng Hu, kamu kemari."
Orang-orang itu ketika melihat orang tersebut tidak lain adalah Liem Tou yang dipenjarakan didalam gua yang gelap tak terasa dibuat tertegun dibuatnya, Au Hay Ong Bo serta Ciang Beng Hu pada saat itu juga tepat sedang tiba disana, begitu melihat orang itu Liem Tou pada air mukanya jelas memperlihatkan perasaan herannya.
Teriak Liem Tou lagi dengan keras
"Ciang Bang Hu, aku Liem Tou sudah merasakan penderitaaa dan siksaan yang kejam dari kamu manusia tidak tahu malu sekarang kamu berani tidak menerima satu kali pukulanku ?"
Mendengar tantangan itu Ciang Beng Hu tertawa cekikikan kegelian, sahutnya sambil tertawa.
"Liem Tou, kepandaian cakar ayammu itu aku sudah merasakan kehebatannya, kini walau pun aku mengikat salah satu tanganku kiranya kamu orang juga tidak akan bisa lolos dari cengkeramanku."
Sehabis berkata tangannya yang sebelah ditekuk kebelakang kemudian dengan langkah perlahan berjalan mendekati kearah Liem Tou.
Melihat sikapnya yang pandang rendah pihak musuh Au Hay Ong Bo segera berteriak memberi peringatan.
“Hu jie kamu harus sedikit berhati-hati jangan terlalu gegabah sehingga terkena pukulan mematikannya."
"Ibu kamu orang tua harap berlega hati” sahut Ciang Beng Hu sambil berjalan sembari menjawab. "Dia tidak lebih hanya sebuah macan kertas saja, kelihatannya memang galak padahal sedikitpun tidak berguna"
Melihat Ciang Bang Hu itu begitu tidak melihat sebelah matapun kepada Liem Tou dia merasa sangat girang, pikirnya.
“Hmmm..kebetulan sekali, kini mau kuperlihatkan suatu pemandangan indah kepadamu."
Diam-diam tenaga dalamnya segera disalurkan kedalam telapak tangannya sedangkan pada air mukanya sengaja memperlihatkan perasaannya yang sangat tegang, teriaknya lagi dengan keras.
"Ciang Beng Hu, kau berdiri saja disana jangan bergerak, kalau kamu berani maju mendekati lagi jangan salahkan aku segera turun tangan membinasakan kamu orang"
Bersamaan pula tubuhnya dengan perlahan-lahan mulai bergeser mundur kebelakang.
Melihat sikapnya yang ketakutsn itu tak terasa lagi Ciang Beng Hu tertawa keras, ujarnya.
"Liem Tou kamu orang jangan takut sebelum memberitahukan tempat penyimpanan kitab To Kong Pit Liok itu aku takkan membiarkan kau binasa dengan cepat."
Sambil berkata tubuhnya setindak demi setindak maju mendesak mendekati tubuh Liem Tou.
Sekali lagi Liem Tou mundur dua langkah ke belakang sehingga sekarang badannya sudah sangat dekat dengan sungai itu, saat itulah baru dia membentak dengan sangat keras.
"Hmmm - - - hmmm — - jika kamu berani maju satu langkah lagi, aku segera akan turun tangan”
"Kamu turun tanganlah," ujar Ciang Beng Hu sambil tertawa, "Aku akan menyambut semua seranganmu itu."
Dalam hati Liem Tou tahu siasatnya sudah termakan oleh pihak lawannya, kini melihat jarak Ciang Beng Hu dengan dirinya tidak lebih hanya terpaut tiga lima tindak saja mendadak telapak kirinya diangkat bentaknya.
"Terima seranganku ini"
Dengan cepat Ciang Beng Hu mengangkat telapaknya menutup seluruh tubuhnya siapa tahu serangan dari Liem Tou ini tidak lebih hanya gertakan kosong saja, mendadak tangannya ditarik kembali sedang telapak kanannya secara mendadak melancarkan satu serangan dahsyat.
Dengan cepat Ciang Beng Hu menghindarkan diri ke samping, tetapi jurus serangan Liem Tou ini entah didapatkan dari mana sedikit tenaga pukulan tidak tampak.
Segera terdengarlah suara tertawa ejekan serta makian dari orang orang disekitar tempat itu.
"Bangsat cilik ini sungguh tidak tahu kekuatan sendiri, dengan kebodohan seperti ini masih berani bergebrak lawan Kuncu kita . , ha ha ha ha . .”
Pada saat itulah mendadak Liem Tou miringkan badan kesamping, seluruh tenaga dalamnya disalurkan pada sepasang telapak tangannya kemudian didorongnya segera bersama-sama kedepan, bentaknya.
"Ciang Beng Hu jangan keliwat kegirangan dulu, terimalah serangan mautku ini”
Ciang Beng Hu tetap dengan menggunakan tangan tunggalnya menerima serangan tersebut, sahutnya sambil tertawa ewa.
"Tidak lebih sama juga.”
Perkataannya belum selesai diucapkan mendadak air mukanya berubah sangat hebat, teriaknya.
"Celaka."
Perkataannya baru saja keluar dari mulutnya segulung angin serangan yang sangat dahsyat sudah menggulung datang bagaikan menggulungnya ombak besar ditengah samudra.
'Bluuk..bluuuk..”
Terdengar suara dengusan yang sangat berat tubuh Ciang Beng Hu seketika itu juga terpental sejauh tiga kaki lebih dan roboh keatas tanah dengan sangat kerasnya dari mulutnya kelihatan darah segar menyembur keluar dengan derasnya disertai dengan jeritan melengking yang sangat mengerikan.
“Liem Tou.. . . kau . .”
Suaranya mendadak terputus dan suasana jadi hening sejenak.
Au Hay Ong Bo sekalian dengan cepat menyerbu kedepan mengurung tubuh Liem Tou rapat-rapat, tetapi saat itu juga Liem Tou sudah menyeburkan badannya kedalam sungai, terlihat percikan air memancar keempat penjuru bayangan tubuh Liem Tou sudah lenyap ditelan oleh aliran air sungai yang sangat deras itu.
Kota Li Cian Ko dibawah gunung Cin Jan hari ini mendadak kedatangan berbagai jago-jago berkepandaian tinggi dari dunia kangouw pada umumnya, semua jago jago itu secara serentak bersama-sama menginap dirumah penginapan di dalam kota tersebut sehingga suasana menjadi sangat ramai sekali.
Kiranya mereka adalah jago-jago yang mendapat undangan dari si Ang in sin pian Pouw Sak San untuk menghadiri pembukaan serta peresmian dibukanya Ang In Piauw kiok diatas gunung Ha Mo San.
Hari itu diperkampungan Ie Hee Cung diatas gunung Ha Mo Leng suasana pun tidak kalah ramai serta repotnya ruangan Cie Eng Toug sudah dihiasi dengan alat-alat perlengkapan yang sangat mewah khusus diperuntukkan perjamuan yang diadakan untuk para jago-jago dari dunia kangouw itu.
Malam itu Si Ang In Sin pian Pouw Sak San akan membuka perjamuan itu dengan segala kemegahan serta kemewahannya karena suasana sangat kacau dan ribut, siapapun tidak memperhatikan gerakan-gerakan yang terdapat disekeliling tampat itu.
Mendadak dibelakang perkampungan Ie Hee Cung itu terlihat sesosok bayangan manusia dengan gerakan yang mencurigakan dan bersembunyi-sembunyi menyelinap kedalam perkampungan itu.
Kiranya orang itu adalah Liem Tou yang baru saja meloloskan diri dari ceragkeraman raja Au Hay dari partai Kiem Tian Pay, siang malam dia melakukan perjalanan dari daerah Chuan Tien melalui Ngo Lian Hong terus menuju kearah gunung Cing Jan hingga mencapai bawah gunung Ha Mo Leng, kemudian dengan tidak pikir-pikir panjang lagi, dengan melalui jalan rahasia ditengah sungai itu dia terus lari menaiki puncak gunung.
Ketika dia tiba dimulut gua hari masih terlalu pagi karenanya dia tidak berani munculkan dirinya, dia takut ditemui orang lain sehingga niatnya untuk menemui Ie cici menjadi gagal total, karenanya menanti cuaca sudah menjadi gelap dengan merindip-rindip mulai melakukan perjalanan menuju kernmah Lie Siauw Ie.
Jalanan didalam perkampungan Ie Hee Cung boleh dikata sudah sangat hapal sekali, beberapa saat kemudian dia sudah tiba didepan pintu rumah Lie Siauw Ie, dia menemukan tempat itu masih terang benderang oleh sinar lampu dengan perlahan dia mulai mendekati rumah itu dan mengintip kedalam melalui celah-celah jendela, terlihatlah waktu itu Lie Siauw Ie sedang duduk sendirian didalam rumah wajahnya penuh dengan bekas-bekas air mata.
Dengan perlahan-lahan Liem Tou mengetuk pintu rumahnya baru saja mau berteriak memanggil mendadak terlihatlah Lie Siauw Ie dengan sangat terkejut meloncat bangun, sepasang matanya dengan melotot bulat bulat memandang tajam luar jendela, teriaknya kemudian.
"Ibu . - - setan itu datang lagi, setan itu datang lagi.”
Melihat sikapnya yang begitu, dalam hati Liem Tou betul-betul merasa sedih, ujarnya dengan perlahan.
“Ie cici aku bukan setan aku Liem Tou aku adalah adik Tou mu - - - Tou titimu.”
Mendengar perkataan itu agaknya Lie Siauw Ie menjadi melengak, tapi segera tertawa kalap lagi, ujarnya.
“Ha ha ha ha , . ibu, kau sudah dengar belum, setan itu bilang dia adalah Tou titi, Tou titi sudah binasa sangat lama sekali.”
Mendadak . . air mukanya berubah sangat hebat, dengan wajah yang sangat menyeramkan bentaknya keras.
"Pouw Siauw Ling, aku mau adu jiwa sama kamu orang.”
Sehabis membentak tangannya diayunkan kedepan beberapa sinar keperak-perakan berkelebat menyilaukan mata berpuluh batang jarum Kioe Cu Gin Ciam sudah disambit keluar sehingga menancap pada jendela itu.
Dalam hati Liem Tou betul-betul merasa sangat sedih seperti diiris-iris baru saja mau berteriak memanggil namanya, mendadak Lie Siauw Ie menyambar bangku didepannya kemudian dilemparkan keluar jendela dengan kerasnya.
"Bruuk . . .” Suara yang sangat nyaring segera memecahkan kesunyian, terlihatiah ibu dari Lie Siauw Ie dengan tergesa-gesa masuk kedalam kamarnya sambil ujarnya kepada Lie Siauw Ie.
"Siauw Ie ada apa? Dia datang lagi?"
Lie Siauw Ie memandangi ibunya sejenak kemudian mengangguk.
Melihat gerak-gerik dari Ibu beranak itu Liem Tou menjadi bingung dibuatnya, dalam hati diam-diam pikirnya.
“Haaa bagaimana sebetulnya? Kenapa didalam sekejap saja Ie cici sudah sadar kembali??”
Baru saja pikirannya berputar mendadak dari samping tembok diujung tempat itu secara samar-samar muncul sesosok bayangan manusia yang dengan langkah perlahan berjalan mendekat, saat ini dia bisa melihat benda ditempat gelap seperti melihat pada siang hari saja karenanya begitu memandang segera mengetahui kalau orang itu tidak lain adalah Pouw Siauw Ling, hatinya menjadi sangat terkejut sekali, tanpa berpikir panjang lagi tubuhnya menyusup kesamping hendak menyembunyikan diri.
Begitu dia bergerak Pouw Siauw Ling segera sadar, mendadak dengan suara yang keren bentaknya.
"Siapa yang sedang mengintip rumahnya Ie moay moay?"
Sebetulnya Liem Tou hanya ingin bertemu dengan Ie cicinya saja, tetapi kini jejaknya sudah diketahui oleh Pouw Siauw Ling mau tak mau terpaksa berhenti juga, pikirannya dengan cepat berputar pikirnya.
"Kini dia sudah mangejar datang, kenapa aku tidak permainkan dirinya terlebih dulu?"
Berpikir sampai disini tubuhnya dengan cepat meloncat keatas kemudian melayang kearah belakang kampung melihat hal ini Pouw Siauw Ling tidak mau melepaskan dengan begitu saja dengan cepat menyusul dari belakangnya.
Liem Tou segera mengerahkan tenaga murninya, dengan menutul tanah tubuhnya melayang pergi, makin lama Pouw Siauw Ling semakin ketinggalan sehingga akhirnya sampailah mereka didalam hutan dibelakang perkampungan itu.
Liem Tou pun semakin lari semakin bertambah perlahan Pouw Siauw Ling sudah sangat dekat dengan dirinya mendadak dia putar tubuhnya dan berdiri tidak bergerak disana.
Didalam sekejap saja Pouw Siauw Ling sudah tiba disana, bentaknya dengan keras.
"Manusia pengecut dari mana berani mengacau ditempat ini, cepat sebut namamu untuk terima kematian."
Liem Tou tetap tidak bergerak dari tempat semula, mendadak sepasang matanya melotot keluar dengan bulatnya. Phuuu ... . segulung angin yang sangat dingin segera disemburkan kearah Pouw Siauw Ling yang semakin mendekati kearahnya itu, sengaja dengan nada yang menyeramkan ujarnya.
"Pouw Siauw Ling, ini hari aku sengaja datang hendak mencabut nyawamu kau coba lihat siapa aku ini?”
Sesudah mendengar perkataan itu barulah Pouw Siauw Ling memperhatikan kearah Liem Tou dengan cermat, mendadak teriaknya setengah kalap.
"Ada setan. Ada setan."
Dengan cepat dia putar tubuh dan lari meninggalkan tempat itu dengan terbirit-birit. Liem Tou tidak mau melepaskan begitu saja dengan segera dia mengejar dari belakang, ujarnya.
"Pouw Siauw Ling kamu orang jangan pergi. Perbuatanmu sungguh bagus sekali, ditengah sungai kamu orang membegal barang kawalan orang kemudian bunuh orangnya . Hmmmm orang-orang didunia tidak akan tahu tapi kami yang berada diakhirnya tahu semua perbuatanmu dengan sejelas jelasnya."
Beberapa saat kemudian Liem Tou dapat melihat Pouw Siauw Ling sambil terkencing kencing saking ketakutannya sudah memasuki dalam perkampungan, makanya dia berhenti mengejar ujarnya kemudian.
"Hmmm . , ma!am ini aku biarkan kamu orang melarikan diri, besok pagi sesudah dibukanya perjamuan aku akan cari kamu untuk hitung hutang-hutang kita yang lalu.”
Sehabis berkata dia berkelebat kesamping dan menyambunyikan diri ditengah hutan yang lebat dipingiran perkampungan itu.
Kita balik pada Pouw Siauw Ling yang melarikan diri kembali kerumahnya, dengan air muka yang sudah berubah pucat pasi dengan perlahan-lahan dia masuk kedalam ruangan, tubuhnya gemetar sangat keras untuk setengah harian lamanya tidak sepatah katapun yang sanggup diucapkan keluar.
Menanti sesudah dia menceritakan urusan ini dengan jelas maka keesokan harinya urusan munculnya roh Liem Tou dibelakang perkampungan sudah tersebar luas didalam perkampungan itu, bahkan kata-kata itu menyebutkan juga kemungkinan Liem Tou akan munculkan diri pula disiang hari ini untuk menghadiri pertemuan yang akan diadakan itu.
Tetapi perkataannya ini siapa yang mau percaya? Sampai Si Ang in sin pian Pouw Sak San yang melihat dengan mata kepala sendiri parasaan takut yang tergambar pada air mukanya tidak percaya juga, hanya saja secara mendadak dia teringat akan perkataan dari Pouw Siauw Ling sewaktu membagi-bagikan kartu undangan pada para jago itu, tanyanya kemudian pada Pouw Siauw Ling.
“Ling jie, yang kamu temui kemarin adalah Liem Tou sungguh-sungguh atau setan?”
"Setan, pasti setan."
“Menurut penglihatanku, jika betul betul kamu melihat dia terang dia adalah manusia, di dalam dunia ini mana bisa ada setan?"
"Tapi Tia,” Bantah Pouw Siauw Ling lagi dengan ngotot. “Hal ini tidak mungkin bisa salah, bangsat cilik Liem Tou itu kita melihat sendiri dengan mata kepala kita kalau dia sudah mati bagaimaua bisa hidup kembali, bahkan ..“
Mendadak Pouw Siauw Ling merendahkan nada ucapannya, ujarnya lagi.
"Tia, Peristiwa kita membegal barang-barang kawalan itu dia ternyata tahu juga. Lingjie dengan telinga sendiri mendengar perkataan itu dengan sangat jelas, coba kamu pikir dia manusia atau setan.?”
Perkataan ini seketika itu juga membungkamkan si Ang in sin pian Pouw Sak San. Lama kemudian barulah sahutnya sambil gelengkan kepalanya.
"Kalau begitu sangat aneh sekali.”
Tapi rakyat didalam perkampungan Ie Hee Cung itu hanya seorang saja yang percaya Liem Tou sudah munculkan dirinya, orang itu tidak lain adalah Lie Siauw Ie sendiri.
Pagi pagi itu begitu dia dengar berita tentang bertemunya Pouw Siauw Ling dengan roh halus Liem Tou semangatnya tidak terasa berkobar kembali didalam dadanya, dengan cepat dia lari menuju kearah luar perkampungan bahkan berteriak-teriak memanggil nama Liem Tou dengan tidak henti-hentinya.
Setelah dilihatnya tidak ada orang yang menguntit dirinya dengan diam-diam dia memeriksa keadaan gua yang tersembunyi itu, terlihatlah diatas permukaan tanah didalam gua itu masih terlihat bekas-bekas air yang masih belum mengering, dia semakin percaya kalau Liem Tou sudah munculkan dirinya disana, teringat juga percakapan kemarin malam diluar jendela, dengan jelas suara itu adalah suara dari Liem Tou tapi dia sudah salah menduga kalau Pouw Siauw Ling yang sudah munculkan dirinya kenapa waktu itu dia tidak bisa membedakan suara-suara tersebut??
Kiranya hari itu sesudah Liem Tou pura-pura mati naik ke gunung dan bersembunyi didalam gua, malamnya secara diam-diam Lie Siauw Ie menghantar makanan dan minuman kepadanya tetapi begitu tiba disana tidak ditemui jejaknya lagi, semalaman itu dia merasa
sangat cemas dan menangis hingga menjelang pagi hari.
Keesokan harinya dia kembali lagi kedalam gua itu, ketika dilihatnya jejak kaki Liem Tou berjalan menuju kearah dalam gua maka dia pergi cari Pouw Jien Coei, kemudian bersama-sama memasuki gua itu.
Ditengah perjalanan mereka bertemu dengan ular aneh berkepala dua itu dengan tenaga gabungan mereka berhasil membasmi binatang tersebut dan akhirnya ditemui juga kalau gua itu menghubungkan puncak dengan sungai, waktu itulah Lie Siauw Ie baru tahu Liem Tou sudah pergi melewati tempat itu sehingga hatinya menjadi sangat girang sekali.
Siapa tahu beberapa hari kemudian si Ang in sin pian Pouw Sak San mendadak mendatangi ibunya kembali untuk membicarakan perkawinannya, sedang Pouw Siauw Ling pun setiap hari tentu pergi mengacau kerumahnya, didalam keadaan gusar dan apa boleh buat terpaksa Lie Siauw Ie mendatangi rumah Ang in sin pian Pouw Sak San dan memaki-maki disana dengan pinjam kesempatan ini pura- pura menjadi gila dibuatnya.
Pouw Siauw Ling sendiri walaupun melihat gerak geriknya yang seperti orang gila padahal didalam hati dia sangat tidak percaya, maka selalu menyelidiki kerumah Lie Siauw Ie secara diam-diam.
Walaupun begitu Lie Siauw Ie juga bukan seorang yang tolol, sejak semula dia sudah mempersiapkan dirinya, karena itulah sampai saat ini rahasianya tetap tidak sampai terbongkar.
Tetapi dengan sebab-sebab ini pula dia sudah membuang suatu kesempatan yang sangat baik untuk bertemu dengan Liem Tou.
Kita balik pada Lie Siauw Ie yang menuju keluar parkampungan mencari jejak Liem Tou, padahal saat itu Liem Tou menyembunyikan dirinya ditengah rerumputan tidak jauh dari tempat dimana Lie Siauw Ie berdiri, tapi saat ini dia melihat sikap serta gerak gerik dari
Lie Siauw Ie yang kegila-gilaan menjadi tidak berani keluar.
Pikirnya didalam hati.
"Ehmmm... sejak Ie cici menjadi gila tentu secara diam diam ada orang yang mengawasi gerak-geriknya secara diam-diam. Untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan yang tidak menyenangkan aku tidak boleh menempuh bahaya untuk menemui dia ..."
Tidak lama kemudian pagi yang cerah sudah berlalu dengan cepat, siang haripun menjelang didalam sekejap mata, Lie Siauw Ie, sekalipun sudah pulang kedalam perkampungan, pikirnya lagi dalam hati.
"Mungkin saat ini sudah banyak jago yang naik keatas gunung menghadiri pertemuan itu, aku harus hadir juga kesana."
Dengan perlahan dia mengambil keluar topengnya dari dalam saku kemudian dikenakan pada wajahnya, setelah itu secara diam-diam mengitari belakang perkampungan menuju kepuncak gunung itu, dari sana terlihatlah sangat jelas sepasang binatang, sepasang bangau beserta Pouw Siauw Ling secara berpisah sedang menyambut para tamu-tamunya dipinggiran ketiga rintangan yang paling diandalkan Ie Hee Cung tersebut.
Disamping sungai sebelah sana terlihatlah berpuluh- puluh orang sudah berkumpul, hanya saja setelah dilihatnya cara menyeberangi sungai dan mendaki gunung ada beberapa yang merasa sulit, sedangkan orang-orang yang dapat melewati ketiga buah rintangan itupun hanya setengah dari jumlah seluruhnya, orang-orang yang tidak sanggup terpaksa dengan menahan malu meninggalkan tempat itu dengan cepat.
Setelah melihat beberapa saat lamanya kesana, Liem Tou segera teringat kembali para jago-jago yang sudah berkumpul didalam ruangan Cie Eng Tong pikirnya.
"Kenapa aku tidak meminjam kesempatan ini menyelundup kedalam ruangan dan melihat-lihat siapa saja yang menghadiri perjamuannya ini?”
Pikiran ini baru saja berkelebat didalam hatinya, mendadak dari pantai seberang terlihatlah munculnya segerombolan kawanan kambing sangat banyak sekali, itulah gadis cantik pengangon kambing dengan perlahan-lahan munculkan dirinya dibalik hutan, melihat hal ini
Liem Tou segera menyembunyikan dirinya agar gadis pengangon kambing itu jangan sampai dapat mengetahui dirinya.
Pada saat Liem Tou mengalihkan pandangannya kedalam ruangan Cie Eng Tong tanpa disadari olehnya gadis pengangon kambing yang dilihatnya telah menghampiri dirinya.
Setelah gadis pengangon kambing telah berada semakin mendekat dengan dirinya, Liem Tou baru dapat menyadari bahwa didekat dirinya ada terdengar suara derap kaki orang mendekat kepadanya.
Waktu itu gadis cantik pengangon kambing sedang memanggil Liem Tou dengan cepat ia menoleh kebelakang terlihatlah lelaki kasar berwajah hijau yang ditemuinva ditengah jalan pada tempo hari kini sudah berada dibelakang badannya tidak terasa dia menjadi melengak pikirnya.
"Eh. .. . kapan dia naik keatas gunung ? kenapa aku tidak melihat dia ?"
Gadis cantik pengangon kambing itu dengan cepat menyongsong Liem Tou sambil mencekal tangannya.
"Oooh. . . Koko muka hijau ayahku bilang kamu orang menemui kesusahan, aku merasa sungguh amat cemas."
Liem Tou melihat perhatian dari gadis cantik pengangon kambing itu kapadanya begitu mendalam teringat pula kebaikan budi serta kejujurannya tidak terasa dalam hati merasa sangat berterima kasih sekali tapi mendadak didalam ingatannya berkelebat bayangan dari Lie Siauw Ie serta sikap gerak-geriknya, tidak terasa hatinya merasa amat sedih dengan cepat dia menarik kembali tangannya sambil ujarnya dengan dingin.
"Ayo jalan"
Segera dia berjalalan lebih dulu menuju keruangan Cie Eng Tong, ketika dia berjalan masuk kedalam ruangan terlihatlah didalam ruangan itu sudah terdapat berpuluh-puluh orang yang duduk ditempat masing-masing. Diam-diam gadis cantik pengangon kambing menarik ujung baju Liem Tou sambil ujarnya dengan perlahan.
"Liem Koko orang-orang itu bukan orang baik-baik, kita duduk disebelah sini saja."
Kedua orang itu segera mencari suatu tempat dekat pojokan ruangan.
Ujar Liem Tou kemudian.
"Nona aku terus terang beritahu padamu. Sejak kecil aku dibesarkan diatas gunung Ha Mo san ini sehingga seluruh rakyat disini tiada seorang pun yang tidak kenal dengan aku tapi Cung cu itu tak punya maksud baik terhadap diriku sehingga tidak sampai diketahui oleh mereka."
"Agaknya kau orang takut sama mereka yaah?”
"Bukannya aku takut pada mereka" sahut Liem Tou sambil gelengkan kepalanya."Hanya saja dikarenakan peraturan gunung ini sudah menentukan sebelum tiba pada waktunya meyambangi gunung tidak boleh mencuri naik keatas gunung secara diam diam."
“Ooh... kiranya begitu, kalau begitu kamu orang tak usah bicara lagi, semuanya biar aku yang uruskan.”
Dengan perlahan Liem Tou mangalihkan pandangannya kesekeliling tempat itu, mendadak dari luar pintu ruangan berjalan masuklah seorang lelaki, yang satu tua yang lain muda.
Dengan cepat Liem Tou memandang sangat teliti kearah orang itu ternyata pemuda tersebut bukan lain adalah Piauwsu muda yang berhasil melarikan diri dari perahunya malam itu, ketika melihat kearah kakek tua itu lagi terlihatlah pada janggutnya sudah penuh tumbuh jenggot putih tapi kakinya masih tetap mantap, matanya memancarkan sinar yang sangat tajam sedang kedua buah keningnya menonjol keluar, sekali pandang sudah tahu kalau kakek tua itu sudah berhasil melatih tenaga dalamnya hingga mencapai pada taraf kesempurnaan.
Tanyanya Liem Tou pada gadis cantik pengangon kambing sesudah melihat munculnya kedua orang itu.
"Nona kau tahu siapa kedua orang itu?"
Dengan perlahan gadis cantik pengangon kambinq itu menoleh memandang kearah dua orang tersebut.
"Aku juga belum pernah bertemu dengan orang ini, tapi jika ditinjau dari dandanan serta usianya mungkin dia adalah pemilik ekspedisi barang Cing Liong Piauw kok dikota Yong Jan itu golok naga hijau atau Cing Liong To Sie, kau tanya dia ada perlu apa ?”
"Kalau begitu memang betul, kalau begitu memang betul” gumam Liem Tou seorang diri.
Mendadak ujarnya lagi kepada gadis cantik pengangon kambing itu.
"Nona, kau pernah dengar tidak kalau ekspedisi Cing Liong Piauw kiok dibegal orang?”
“Bukan dibegal barang kawalannya saja bahkan semua Piauw su yang mengawal perahu itu dibunuh habis."
"Tidak.. . salah kau salah, sudah lolos satu orang."
"Bagaimana kau bisa tahu?” tanya gadis cantik pengangon kambing itu dengan nada terkejut bercampur heran.
Liem Tou sebenarnya mau bicara terus terang tetapi hatinya tetap ragu-ragu karenanya dia hanya gelengkan kepalanya tetap membungkam.
Waktu itu didalam ruangan bertambah lagi dengan berpuluh-puluh orang banyaknya, Liem Tou dapat melihat diantara orang-orang itu terdapat juga Hek Loojie serta Tian Pian Ngo Koei.
(Bersambung ke jilid 11)
BEGITU Hek Loojie masuk dalam ruangan, mendadak matanya dengan tajamnya memandang kearah gadis cantik pengangon kambing, sehingga memaksa dia menoleh kearah Liem-Tou sambil ujarnya dengan perlahan.
"Liem koko, coba kau lihat sepasang mata bangsatnya."
Liem Tou segera teringat kembali pesan terakhir dari Hek Lootoa sesaat menjelang kematiannya, tidak terasa lagi dia tertawa dingin tak ada henti hentinya.
"Nona kau tidak usah urus dia, lain kali dia akan binasa ditanganku."
Terpaksa gadis cantik pengangon kambing itu hanya tersenyum senyum saja.
Siang haripun sudah lewat, si Ang in sin pian Pouw Sak San dengsn membawa Siang Hui Hok, Liong Ciang, Hauw Jiauw serta Pouw-Siauw Ling berjalan masuk kedalam ruangan Cie Eng Tong, sambil memberi hormat ujarnya.
"Maaf . . . maaf sudah menanti lama?"
Sepasang mata Liein Tou dengan tajamnya memperhatikan segala gerak gerik dari Piauw su muda dari perusahaan ekspedisi Cing Liong Piauw kiok itu, terlihatlah ketika dia mendengar si Ang In Sin Pian buka mulut, air mukanya berubah sangat hebat, sepasang matanya dengan berapi api memandang tajam semua gerak gerik si Ang in sin pian Pouw Sak San,
Dalam hati Liem Tou tahu tentunya saat ini dia mengenal kembali nada suara dari si Ang in sin pian Pouw Sak San sangat mirip dengan orang berkerudung yang membegal barang kawalannya malam itu, tidak terasa dalam hati pikirnya.
“Jika dia betul betul sudah mengenal orang berkerudung itu adalah dia, ini hari tentu ada pertunjukan yang sangat menarik.”
Baru saja dia berpikir sampai disitu mendadak terlihatlah Lie Siauw Ie masuk bersama sama Pouw Jien Coei berjalan masuk kedalam ruangan.
Begitu Lie Siauw Ie masuk kedalam ruangan matanya segera memandang sekeliling tempat itu memeriksa setiap tamu yang hadir disana.
Melihat hal itu tidak terasa lagi hati Liem-Tou berdebar sangat keras sekali, tanpa terasa lagi dia sudab bangkit berdiri hendak menyambut kedatangan mereka.
Melihat dia bangkit berdiri, gadis cantik pengangon kambing yang berada disampingnya menjadi sangat heran. Dengan cepat tanyanya.
"Hey Liem Koko, kau mau pergi kemana??"
Begitu ditanyai Liem Tou baru merasa sangat terkejut dan duduk kembali ketempat semula. Waktu itulah Lie Siauw Ie sedang memandang kearah mereka, mendadak gadis cantik pengangon kambing itu tersenyum dan menggape kearah mereka.
Liem Tou msnjadi sangat terkejut, tanyanya dengan cepat.
"Kau mau berbuat apa?"
"Coba kau lihat kedua orang nona itu sangat cantik sekali, aku pingin berkawan dengan mereka berdua."
Lie Siauw Ie serta Pouw Jien Coei segera berjalan menuju kearah mereka, melihat hal ini hati Liem Tou berdebar semakin keras lagi bah kan dia merasa juga kenapa sekarang Lie Siauw Ie sudah sembuh kembali seperti sedia kala??? sedikitpun tidak terlihat bekas jadi gila??
Begitulah Lie Siauw Ie serta Pouw Jien Coei kini duduk disamping mereka berdua. Walaupun Liem Tou tidak berusaha memandang kearah Lie Sieuw Ie atau Ie cicinya itu tapi tanpa terasa matanya memandang juga kearahnya tanpa bisa ditahan lagi, bertepatan juga waktu itu Lie Siauw Ie sedang memandang kearahnya, tanpa terasa lagi mereka berdua pada tertegun dibuat nya.
Mendadak Lie Siauw Ie berseru degan keras. "Tou titi .... !"
Tangannya dengan cepat mencengkeram wajahnya untuk melepaskan topeng itu. Liem Tou tidak berani munculkan dirinya di depan umum karenanya dengan cepat ia kesamping.
Saat ini dia tak bisa membuka mulutnya melawanpun tidak mungkin karenanya dia melirik kearah gadis cantik pengangon kambing itu untuk meminta bantuannya.
Mendadak . .. Pouw. Siauw Ling dengan cepat berlari kesana sambil tanyanya dengan cepat.
"Ie Moay, terjadi urusan apa?"
Begitu Liem Tou melihat murculnya Pouw-Siauw Ling disana hatinya menjadi semakin cemas lagi, diam diam pikirnya.
"Aduh .. . jika Ie cici tidak lepas tangan, urusan akan menjadi runyam."
Waktu itu Liem Tou bisa melihat kalau pada sir muka Lie Siauw Ie sama sekali tidak tampak bekas bekas sakit atau gila sehingga tanpa terasa matanya sekali lagi terbentur dengan mata Lie Siauw Ie.
Walaupun kini Liem Tou memakai topeng, akan tetapi dari air muka serta pandangan matanya dikenali juga oleh Lie Siauw Ie, karenanya dia berteriak lagi.
"Adik Tou ..."
Sekali lagi tangannya menyambar berusaha melepaslan topeng yang dikenakan psda wajahnya itu, Liem Tou menjadi cemas bercampur gugup saat ini tak mungkin dia bisa memperlihatkan wajah sesungguhnya dihadapan umum, apalagi didalam ruangan terdapat si Ang in sin pian Pouw Sak San, Pouw Siauw Ling, Hek Loo jie serta Tian Pian Ngo Koei, jika mereka mengetahui siapa sebetulnya dia maka urusan akan semakin runyam lagi.
Pouw Siauw Ling yang tak mendapat kesempatan untuk lebih dekat lagi menggauli gadis cantik pengangon kambing kini melihat suatu kesempatan yang sangat bagus segera berjalan mendekat sambil tanyanya.
"le moay, terjadi urusan apa ?"
Lie Siauw Ie begitu melibat Pouw Siauw Ling berjalan mendekat air mukanya segera berubah sangat hebat, bukannya memberi jawaban kepadanya mendadak telapak tangannya dibalik membabat ketubuhnya dengan sangat hebat.
"Lingte" cepat cepat Pouw Jien Coei lari sambil bentaknya kepada Pouw Siauw Ling. “Di sini tidak ada urusanmu, lebih baik kau kesana saja membantu Tia menyambut tamu2 itu.”
Saat itu tujuan Pouw Siauw Ling tidak berada pada Lie Siauw Ie, walau Pouw Jian Coei sudah bicara begitu hanya tersenyum senyum saja sambil putar tubuh kearah gadis cantik pengangon kambing serta Liem Tou dia beri hormat ujarnya.
"Gadis cantik pengangon kambing serta Heng tay ini sungguh dapat dipercaya, kunjungan kalian berdua kedalam perkampungan kami betul betul merupakan kebanggaan bagi kami, sewaktu di jalan raya tempo hari karena urusan yang perlu dibereskan cepat cepat sehingga menyalahi kalian berdua harap kalian memaafkan"
Liem Tou didalam hati sudah kepingin menghajar Pouw Siauw Ling hingga hancur sudah tentu kini tidak mau ambil perduli lagi, dengan cepat dia melengos kesamping.
Sebaliknya itu gadis cantik pengangon kambing yang sifatnya periang segera menyahut sambil tertawa.
"Ooh . ,. aku juga sudah lupa minta maaf kepada kau ketika itu hari merebut cambukmu dan menggetar pecah talapak tanganmu"
Air muka Poaw Siauw Ling seketika itu juga berubah merah padam, dengan penuh perasaan malu dia menundukkan kepalanya rendah-rendah.
"Kepandaian dari nona sungguh sangat sempurna, sekalipun Cayhe ada sepuluh orang juga bukan musuh dari kamu orang jika tempo hari bukannya nona sudah mengampuni jiwa Cayhe kemungkinan sekarang sudah tidak berjiwa lagi, sebetulnya Cayhe lah seharusnya yang mengucapkan terima kasih kepada nona atas budi tersebut.”
Sehabis bicara dengan sangat terhormat dan sopan sekali dia membungkukkan badannya mem beri hormat, sikap serta gerak geriknya yang sombong pada hari biasa sudah tidak kelihatan lagi.
Ketika Liem Tou melihat sikapnya yang sangat tengik itu kepingin sekali tendang membunuh mati dia, mendadak didalam ingatannya berkelebat akan sesuatu bayangan, selama diatas puncak Ngo Lian Hong dia sudah melatih tenaga dalamnya hanya saja entah sudah sampai tingkat yang bagaimana, kenapa tidak pinjam kesempatan ini menjajal tenaga dalamnya sendiri ?
Berpikir sampai disini mendadak dia mundur satu langkah kedepan, seluruh tenaga murninya dipusatkan pada sepasang telapak tangannya kemudian bagaikan kilat cepatnya melancarkan satu cengkeraman maut kepergelangan tangan Pouw Siauw Ling.
Pouw Siauw Ling yang secara mendadak dicengkeram sepasang pergelangan tangannya dalam hati merasa terkejut sekali dengan cepat tangannya ditari k kembali sekuat tenaga.
Sudah tentu Liem Tou tidak akan membiarkan dia berhasil melepaskan cekalan tersebut, diam2 tenaga murninya diperlambat kelima jarinya semakin mengencang ketika itu Pouw. Siauw Ling merasakan sakit yang luar biasa sehingga sukar ditahan, bersamaan pula dia mengerahkan tenaga dalamnya tertahan, tanyanya sedikit gusar.
"Entah Heng thay punya petunjuk apa?"
Liem Tou tetap membungkam, hanya saja tenaga murni yang disalurkan ke tangannya semakin diperhebat, perasaan sakit yang menerjang diri Pouw Siauw Ling semakin hebat lagi, dia tidak berani berteriak, untuk minta tolong pun maiu terpaksa dengan menggigit kencang bibirnya diam diam menahan perasaan sakit yang luar biasa itu.
Saat ini Liem Tou sudah mengerahkan empat Iima bagian tenaga dalamnya sedang Pouw Siauw Ling pun dengan paksakan diri masih sanggup untuk bertahan untuk beberapa saat lamanya.
Walaupun ucapannya bernada musuhan tapi perasan sakit pada pergelangan tangannya tidak sanggup untuk ditahan lebih lama lagi, badannya mendadak merendah kebawah dan menjadi berjongkok diatas tanah.
Liem Tou ketika melihat tenaga dalam yang dilatihnya selama ini tak sia2 dalam hati baru merasa amat girang, dengan demikian dia-pun sudah melepaskan cekalannya.
Dengan meminjam kesempatan ini Pouw-Siauw meloncat bangun, perasaan malu yang diterimanya kali ini cukup memalukan dirinyanya, karena itu didalam hati dia merasa sangat tak puas, baru saja dia mau umbar hawa amarahnya, mendadak gadis cantik pengangon kambing sudah bangkit berdiri, ujarnya sambil tertawa.
“Koko muka hijau hanya mau jajal tenaga dalammu saja tanpa ada maksud yang lain, harap kau jangan salah paham”
Di dalam hati Pouw Siauw Ling tahu kalau tenaga dalamnya sudah jauh tertinggal jika dibandingkan dengan tenaga dalam pihak lawannya, sekalipun kini dia umbar hawa amarahnya didalam sepuiuh bagian ada sembilan bagian yang merugikan dirinya, terpaksa dengan menahan perasaan mangkel, jengkel dan marah dia mendelik sekejap kearah Liem Tou kemudian berlari dari tempat itu.
Setelah itu barulah gadis cantik pengangon kambing mempersilahkan Lie Siauw Ie serta Pouw Jien Coei duduk, ujarnya.
"Kedua orang cici ini silahkan duduk."
Pouw Jien Coei yang melihat gadis cantik pengangon kambing ini merupakan seorang gadis muda yang sangat cantik sekali didaiam benaknya mendadak berkelebat suatu ingatan, pikirnya.
"Ini hari Tia buka perjamuan diatas gunung untuk meresmikan dibukanya perusahaan ekspedisi Ang In Piauw kiok, tamu tamu yang diundang sebagian besar merupakan para jago berkerandaian tinggi yang punya nama besar didalam Bu lim, dilhat usianya baru lima belas tahun apa mungkin merupakan salah seorang jago yang sudah punya nama besar didaiam kalangan Bu lim ??
Sambil berpikir ujarnya sambil tersenyum,
"Nona masih demikian muda ternyata sudahi menjadi seorang jago Bu lim kenamaan sungguh merupakan burung Hong didaiam manusia,, entah nama besar dari nona apa bisa diberitahu?
"Siauw moay bernama Lie Wan Giok merupakan seorang gadis desa yang tolol, bukan seorang jago bernama besar didaiam Bu lim seperti yang cici katakan tadi, harap dikemudian hari cici mau banyak beri petunjuk."
Dengan cepat Pouw Jien Coei mengecapkan beberapa kata rendah kemudian menyebutkan juga namanya serta nama dari Lie Siauw Ie, semakin lama pembicaraannya dengan gadis cantik pengangon kambing itu semakin menjadi rapat lagi.
Sebaliknya Lie Siauw Ie saat ini dengan mata yang melotot lebar sedang memandang air muka Liem Tou yang berwarna hijau menyeramkan itu dengan termangu mangu jelas sekali air mukanya menggambarkan perasaan ragu ragu, curiga serta sedihnya.
Air mukanya ini yang patut dikasihani ini di dalam pandangan Liem Tou sangat memalukan hatinya, kekasih hatinya kini sudah berada di hadapan matanya tapi justru tidak bisa berkasih kasihan, dalam hatinya diapun merasa sangat kasihan terhadap Lie Siauw Ie ini.
Tapi apa boleh buat musuh2 tangguh yang sedang mencari dirinya kini berkumpul didalam ruangan, asalkan sedikit dia membuat gerakan yang mencurigakan maka nyawa akan menjadi sangat bahaya sekali.
Karenanya terpaksa Liem Tou menahan pergolakan didalam hatinya, dalam hati dia tahu walaupun kini tidak bisa bertemu tapi dikemudian hari kesempatan untuk bertemu dengan Ie cicinya ini masih sangat banyak.
Terlihatlah si Ang In sin pian Pouw sak san dengan muka penuh senyuman berjalan ke tengah ruangan kemudian memberi hormat pada hadirin yang berada ditempat penjuru tempat, ujarnya dengan suara lantang.
"Cayhe Pouw Sak San dengan mendapatkan persetujuan seluruh rakyat perkampungan Ie-Hee Cung dengan menggunakan atas nama cayhe hendak mendirikan usaha ekspedisi Ang ln I Piauw kiok, ini hari bisa mendapatkan kunjungan dari para enghiong hoohan sekalian cayhe betul betul merasa sangat bangga dan berterima kasih, sedikit arak serta hidangan yang ada harap saudara sekalian mau menerima ala sekedarnya.”
Para hadirin yang berjumlah dua tiga puluhan segera pada berdiri begitu mendengar perkataan itu, kemudian bersama sama mengucapkan terima kasih .
Diantara mereka hadir hanya terlihatlah pemimpin dari usaha ekspedisi Cing Liong Piauw kiok serta Piauwsu muda itu saja yang tetap duduk ditempat semula tanpa bergerak, melihat hal ini air muka Si Ang in sin pian Pouw Sak- San segera berubah sangat hebat dalam hati dia I merasa sangat tidak senang tapi perasaan gusarnya itu tidak sampai diperlihatkan pada wajahnya, dengan tetap tersenyum ujarnya lagi.
"Oooh . . . Cayhe masih ada beberapa perkataan yang hendak dijelaskan kepada saudara-saudara sekalian, dikota Yong Jan sebetulnya sudah ada usaha ekspedisi Cing Liong Piauw-kiok bahkan ini hari pimpinan Piauw kiok si-golok naga hijau Sie Piauw tauw sudah hadir didalam perkampungan cayhe ini, dalam hati cayhe betul betul merasa sangat berterima kasih sekali. Tapi Ang In Piauw kiok kita juga hendak didirikan dikota Yong Jan yang bersamaan maka itulah sebelumnya cayhe jelaskan dulu, didalam usaha ini kita berjalan sendiri sendiri harap Sie heng mau memaafkan akan hal ini."
Begitu dia berbicara segera ada seorang lelaki berusia pertengahan dengan bentuk tubuh tinggi kurus bangkit berdiri, ujarnya. "Didalam sebuah kota Yong Jan yang sangat besar apalagi daerah Chuan Si yang sangat ramai perhubungan darat maupun airnya, jika hanya terdapat sebuah usaha ekspedisi Cing Liong Piauw kiok saja yang melayani sebetulnya tidak cukup harap Pouw Cung cu jangan begitu merendahkan diri.”
Begitu lelaki kurus berbicara segera terlihatlah sepuluh dua puluh orang bersama sama memberi tanggapannya.
"Perkataan dari Ming sao Touw cu ChinKhie sedikitpun tidak salah, lebih baik Pouw Cung cu tidak usah berlaku banyak adat lagi, kami kira Shie Piauw tauw pun takkan menyalahkan hal ini kalau tidak ini hari dia juga tidak akan datang.”
Mendadak sigolok naga hijau Shie Piauw tauw mendengus dengan amat dingin bentaknya dengan keras.
"Perkataan dari kawan-kawan sekalian sedikitpun tak salah kota Yong Jan itu memangnya bukan milikku seorang bagaimana bisa menyalahkan orang lain ?? tapi demi kepentingan diri sendiri demi kemajuan dan kemakmuran perusahaan ekspedisi yang akan didirikan dengan tidak perduli kerugian orang lain, coba kalian jawab itu menurut aturan dunia?”
Suasana dalam ruangan seketika Itu juga bcr ubah menjadi sunyi senyap, berpuluh puluh pasang ma'a dengan tanpa terasa dialihkan pada diri Sie Piauw tauw untuk menantikan ucapan selanjutnya.
Sebaliknya Liem Tou saat ini secara diam2 sudah memperhatikan perubahan air muka dari Si Ang in sin pian Pouw Sak San, terlihatlah semula dia melengak kemudian dengan sinar pandangan penuh napsu membunuh dialihkan pada Piauw su muda itu.
Dalam hati Liem Tou menjadi tergerak, terdengar si Ang in sin pian sudah angkat bicara lagi.
"Sie heng bagaimana bisa bicara begitu ?? apa mungkin cayhe pernah menyerang Cing Liong Piauw kok kalian ??"
Sambil berkata selangkah demi «elangkah ia bergeser kearah Piauw su muda itu.
Air muka sigolok naga hijau Sie Ie segera berubah sangat keren, sambil menuding wajah Ang in sin pian Pouw Sak San bentaknya dengan amat gusar.
"Sungguh bagus perbuatanmu, kau tua bangka yang licik masih mau pura2 apa lagi? Barang kawalan Cing Liong Piauw kok kami dibegal orang di tengah sungai siapa yang tidak tahu? Ini hari aku baru tahu kiranya kau manusia kura kura yang melakukan . . ."
Mendadak golok naga hijaunya dicabut keluar teriaknya dengan keras.
"Hey orang she Pouw, kembalikan barang kawalanku."
Waktu Pauw Sak San sudah berdiri kurang lebih lima depa dari Piauw su muda itu selesai mendengar perkataan dari sigolok naga hijau Sie Piauw tauw yang penuh hawa amarah itu ia tetap tenang tenang saja bagaimana juga dia tetap merupakan seorang yang licik, banyak akal dan punya pengalaman yang sangat luas mendengar perkataan itu bukannya menjadi marah sebaliknya bertambah hormat lagi, sambil tersenyum ramah ujarnya.
"Sie heng harap jangan marah dulu coba dengar perkataan cayhe terlebih dulu dibegalnya barang kawalan Cing Liong Piauw kiok di tengah sungai Yang tze Kiang siapapun sudah tahu dan percaya peristiwa ini memang sungguh sungguh terjadi, tapi jika didengar perkataan dari Sie heng tadi terus menerus menuduhku orang yang kerjakan sekarang tolong tanya bukti apa Sie heng bicara begitu ?
Kau jadi orang jangan terlalu menekan orang lain. Kalau memangnya dalam hati Sie heng senang kalau cayhe membuka usaha ekspedisi dalam kota Yong Jan lebih baik terus terang dikatakan, jangan lah menggunakan cara yang paling kejam ini memfitnah orang lain sehingga meiukai hubungan diantara sesama kawan, baiklah biar sekarang juga dengan kesaksian para enghiong hoohan kita bicara dengan baik2.”
Perkataan dari si Ang in sin pian Pouw Sak San ini sangat lihay sekali, bukan saja perkataannya ini sangat beralasan dan pakai aturan bahkan menuduh Sie Piauw tauw lah sedang menggunakan cara ini hendak memfitnah dirinya. Semua hadirin yang mendengar perkataan itu tanpa terasa pada mengangguk tanpa setuju, sedang suasana yang semula sunyi senyap kini menjadi sedikit gaduh dengan bisikan2 para hadirin yang sama sama membicarakan soal ini, jika dilihat situasinya sedikitpun tidak menguntungkan pihak Sigolok naga hijau Sie Ie.
Hal ini membuat kegusaran Sie Piauw tauw memuncak, baru saja membuka mulut bicara terdengar Pouw Siauw Ling sudah menggunakat kesempatan ini membentak.
"Ini hari sebenarnanya merupakan perjamuan kita kepada para jago tidak tahunya kau sebagai pimpinan Cing Liong Piauw kiok menuduh kami dengan hal yang bukan2, jika hal ini kau teruskan lagi jangan salahkan kami ayah beranak akan perintah orang mengusir kau dari atas gunung.”
Dengan perkataan ini semakin membuat kegusaran Sie Piauw tauw sukar ditahan lagi, sambil mengobat abitkan golok naga hijaunya dia membentak dengan sangat keras.
“Orang she Pouw, kau jangan mengandalkan jumlah yang banyak hendak menekan aku orang, kau boleh cari berita didalam Bu lim kami dari Cing Liong Piauw kiok kapan pernah memfitnah orang lain?"
Sambil berkata dia menuding kearah Piauw su muda itu, sambungnya lagi.
"Waktu itu diatas perahu sebetulnya ada empat orang Piauw su yang mengawal barang. Hu Piauw tauw sipemetik bintang Kwan Piauw juga termasuk salah satu diantaranya. Tidak disangka dengan mereka bertiga berhasil kalian bunuh hanya tinggal dia seorang saja yang berhasil melarikan diri dengan badan terluka parah, ini hari dia dapat mengenal kembali kalau nada suara bangsat yang membegal barang kawalan pada malam itu adalah kau orang, hey orang she Pouw kau ada perkataan apa lagi ?”
Semua hadirin setelah mendengar perkataan itu menjadi gaduh kembali, masing masing pada berbicara dan bertukar pikiran akan hal itu.
Ang in sin pian Pouw Sak San bukannya menjadi marah sebaliknya tertawa terbahak bahak, "Liem Tou yang memusatkan seluruh perhatiannya mengawasi gerak-gerik Ang in sin pian Pouw Sak San segera melihat pada saat dia sedang tertawa terbahak bahak itulah sepasang matanya beberapa kali melirik kearah Piauw su-muda itu, segera dalam hati dia tahu kalau dia hendak melakukan suatu gerakan, tidak terasa lagi darah panas bergolak didalam dadanya tanpa hiraukan dirinya lagi mendadak dia meloncat bangun sambil membentak keras.
"Awas ! "
Tapi peringatannya terlambat satu langkah tubuh Ang in sin pian Pouw Sak San lantas ditengah suara tertawanya yang amat keras bagaikan kilat cepatnya sudah mencengkeram urat nadi Piauw su muda itu.
Sebaliknya Lie Siauw Ie yang selama ini terus menerus memandangi wajah Liem Tou begitu mendengar dia berteriak segera mengenal akan suaranya, tanpa tertahan lagi dia berseru.
"Ooh . - - adik Tou."
Air matanya tidak bisa ditahan lagi mengucur keluar dengan sangat derasnya.
Saat ini walaupun Liem Tou mau rahasiakan asal usulnya tidak mungkin bisa lagi, baru saja mau memberi alasan kepada Lie Siauw Ie di sebelah sana terdengar si Ang Ie Sin Pian Pouw Sak San sudah tertawa nyaring lagi.
"Saudara2 sekalian apa kalian kenal siapakah saudara ini?"
Seorang hadirin segera berdiri, sahutnya dengan lantang.
"Dia adalah murid terkecil dari golok naga hijau Sie Piauw tauw yang bernama Oei Poh."
Baru saja orang jiu selesai bicara ada berpuluh puluh hadirin didaiam ruangan itu segera meledak suara tertawa yang amat keras sekali dengan meminjam kesempatan ini sindir Pouw Siauw Ling.
"Muridnya bertindak sebagai saksi suhunya, hal itu memang suatu hal yang paling cocok.”
Ang In Sin pian segera melapaskan cenkeramannya kepada Piauwsu muda itu, air mukanya yang dihiasi senyuman mendadak berubah amat dingin kaku, sambil menuding kearah golok naga hijau Sie Ie makinya.
“Sie le, kamu orang jangan salahkan aku Ang In Sin pian tidak pakai aturan, cepat bawa muridmu meninggalkan gunung ini, cepat."
Kemudian teriaknya dengan keras.
"Pouw Beng. Pouw Liang hantar tamu."
Air muka golok naga hijau Sie Ie waktu ini sudah berubah menjadi pucat kehijau-hijauan, badannya gemetar amat keras menahan hawa amarahnya yang sukar ditahan lagi, hampir hampir golok naga hijau di tangannya tidak sanggup dipegang lagi, sudah tentu untuk memberikan jawaban tidak mungkin lagi.
Para hadiran ketika melihat kegusarannya yang amat memuncak itu suasana y»ng semula penuh dengan suara tertawa pun kini berubah menjadi sunyi kembali, ada dua orang diantara mereka yang pada biasanya mempunyai hubungan persahabatan yang agak erat dengan golok naga hijau Sie Ie segera bangkit berdiri mendekatinya berusaha untuk menasehati beberapa patah kata.
Siapa tahu baru saja mereka berdua berjalan hingga kesampingnya belum sempat mengucapkan kata-kata mendadak Sie Piauw tauw bagaikan seorang gila membolang balingkan goloknya sambil membentak dengan gusar.
"Minggir."
Golok Cing Liong Tocu sedikit diangkat pundaknya direndahkan kebawah, dengan disertai sambaran angin yang sangat keras tubuhnya me layang kedepan badan si Ang in sin pian Pouw Sak San.
Serangan yang datangnya diluar dugaan ini seketika itu juga mengacaukan suasana didalam perjamuan itu masing-masin hadirin pada meninggalkan tempat duduknya dan bangkit berdiri.
Dalam keadaan yang sangat kalut itulah mendadak dari pojokan ruangan berkumandang suara bentakan yang amat keras.
"Sie Piauw tauw tunggu sebentar."
Bentakan ini sangat nyaring sehingga menggetarkan seluruh ruangan itu, si golok naga hijau, Ang in sin pian serta hadirin menjadi meIengak ketika mendengar suara bentakan nyaring itu, ketika menoleh kearah berasalnya suara terlihatlah seorang lelaki dengan air muka yang sangat menyeramkan sudah berdiri ditengah ruangan itu, dengan air muka yang berwarna hijau menyeramkan terlihatlah sepasang biji mata yang bulat lagi bening sedang memandang keempat penjuru ruangan itu.
Para jago yang hadir disana rata-rata tidak tahu siapakah orang itu dan berasal dari golongan mana, seketika itu juga ruangan menjadi sunyi senyap, seluruh sinar mata para jago ditujukan ke arahnya menantikan gerakan selanjutnya.
Sebaliknya Ang in sin pian dalam hati tahu kalau orang itu adalah kawan dari gadis c»ntik pengangon kambing itu kepandaian silat dari gadis cantik pengangon kambing itu dia sudah menjajal sedang orang inipun berjalan jalan bersama dia sudah tentu kepandaian silatnya tidak berada di bawahnya.
Tapi manusia berwajah hijau kini tampilkan dirinya secara di luar dugaan, apa yang mau di katakan lagi.
Sebaliknya didalam perasaan serta pandangan Pouw Siauw Ling sama sekali berbeda dengan dugaan Ang in sin pian itu, ketika suara bentakan tadi bergema didaiam ruangan segera dia merasa kalau suara itu sangat dikenal olehnya hanya saja didaiam waktu singkat ini dia tidak bisa mengingatnya kembali, karenanya dia dibuat tertegun olehnya, dengan melototkan sepasang matanya dia memandang tajam kearah manusia berwajah hijau itu,
Waktu ini manusia berwajah hijau itu sudah berdiri ditengah, matanya diputar kesekeliling tempat itu sedang terhadap ada Ang in sin pian disana sama sekali tidak digubris. Mendadak tangannya menunjuk kearah seorang yang berdiri disisi kiri, bentaknya.
Orang yang ditunjuk itu tidak lain adalah Liong Ciang Lie Kian Po, begitu mendengar omongan tersebut hatinya merasa sangat terperanjat. Baru saja mau membantah manusia berwajah hijau itu sudah putar tubuhnya sambil menuding keerah Pouw Siauw Ling ujarnya lagi.
'Yang membunuh mati Hu Piauw-tauw si pemetik bintang Kwan piauw adalah kamu orang, bagaimana ? mau membantah juga ? ?"
Sehabis bicara tanpa menanti jawaban dari Povw Siauw Ling dia sudah menyambung lagi dengan suara amat keras.
"Pembegalan barang barang kawalan Cin-Liong piauw kiok semuanya dilakukan oleh bajingan bajingan tak tahu malu itu, malam itu tepat aku sedang menginap didalam perahu tersebut, kalau bukannya dengan cepat aku bergelinding ke dalam sungai mungkin akupun ikut terbunuh ditangan mereka, piauw su muda ini bisa melarikan diri semuanya juga karena aku menolong dia hingga tak sampai ikut kehilangan nyawa Ang in sin pian Pouw Sak San ayah beranak semuanya berhati kejam dan ganas membuat aku merasa tak puas sehingga kini munculkan diri membuka rahasia ini, dengan tak perduli akibat apa yang akan terjadi aku dengan pertaruhan nyawaku bertindak sebagai bukti dan saksi harap para saudara saudara sekalian suka melakukan keadilan bagi Sie piauw-tauw ini."
Seketika itu juga suasana menjadi sangat gaduh, masing2 orang pada membicarakan soal soal ini sedang sinar matanya tanpa terasa sudah beralih kearah si Ang-in-sin pian Pouw Sak San, walaupun mereka tak mengucapkan sepatah katapan tapi dari air mukanya jelas mereka sudah mulai curiga terhadap dirinya.
Sewaktu suasana sangat kacau itulah mendadak Pouw Siauw Ling meloncat mendekati ayahnya Pouw Sak San sambil berseru dengan keras.
"Tia, dia adalah Liem Tou. Dia adalah Liem Tou. Dia adalah Liem Tou."
"Apa Liem Tou ?? Dia adalah Liem Tou? “ seru pouw Sak San dengan sangat terkejut disertai dengan suara jeritan kaget dari hadirin lainnva.
Segera terlihatlah Hek Loojie, Tian Pian Ngo Koei serta beberapa orang jago yang pernah ikut mengepung Liem Tou dilembah cupu cupu pada bangkit berdiri dan mulai mendesak kearahnya.
Ang in sin pian Pouw Sak San serta Pouw Siauw Ling pun mencabut senjata tajamnya bersama sama mendekati kearah Liem Tou dengan air muka penuh kegusaran.
Liem Tou berani munculkan dirinya sudah tentu dalam hati sudah menduga terlebih dulu bahaya yang akan diterimanya sehingga didalam hati tak begitu tegang lagi, selain diam2 mengerahkan tenaga dalamnya mempersiapkan diri, tangannya dengan cepat mengusap melepaskan kembali topengnya.
"Bukan salah," teriaknya dengan keras. "Aku adalah Liem Tou, mereka mau celakai dirimu, kamu harus berhati hati."
Sepasang mata Liem Tou dengan sangat tajam sekali memperhatikan setiap lawannya yang sedang mendelik kearahnya dengan penuh nafsu, sudah tentu dia tak berani memecahkan perhatian untuk memberikan jawaban.
Terdengar Ang in sin pian dengan sangat dingin berkata.
"Liem Tou, aku tidak sangka manusia berwajah hijau itu adalah samaranmu, bangsat cilik yang licik jika bukannya kau sesdiri yaug membuka rahasiamu sediri, hampir hampir akupun berhasil kau kelabuhi.Waktu untuk naik gunung belum tiba saatnya kau berani melanggar peraturan kita. Hmm hmm ... ini hari aku mau buat kamu orang menyesal untuk selamanya."
Mendadak hatinya bergerak secara tiba t iba teringat akan sesuatu hal, nada ucapannyapun segera berubah.
"Bagus sekali! Hey Liem Tou kiranya kitab pusaka "To Kong PitLiok" yang diberitakan di dalam dunia kangouw sudah kau dapatkan, tidak aneh kalau nyalimu begitu besar."
Seluruh perhatian Liem Tou dipusatkan pada gerakan para hadirin lainnya, walaupun dia mendengar seluruh perkataan dari si Ang-in-sin pian Pouw Sak San dia tetap tak berani buka mulut memberi jawaban.
Ang in sin pian sekali lagi maju satu langkah kedepan, baru saja bahu kanannya sedikit bergerak hendak melancarkan serangan kearah Liem Tou mendadak terdengar suara bentakan yang amat keras dari si golok naga hijau Sie Piauw tauw.
"Bangsat tua yang tidak tahu malu, kemalikan uang kawalanku .... kembalikan nyawa Hu Piauw tauw kami”
Sinar hijau berkelebat, segulung sinar golok yang amat menyilaukan mata mengurung seluruh tubuh Ang in sin pian Pouw Sak San, melihat hal itu si Ang in sin pian segera menggerakkan tubuhnya menggunakan cambuk mautnya menggulung kearah sinar terssbut, dengan demikian terjadilah satu pertempuran yang sangat seru antara Pouw Sak San dengan si golok naga hijau itu.
Tian Pian Ngo Koei yaag melihat waktu yang sangat mendesak segera terdengarlah Toa Koei berteriak keras.
"Saudara saudara sekalian, serang."
Lima setan itu segera pada mengerahkan tenaga dalamnya, dengan menggunakan ilmu serangan yang memekikkan telinga bersama sama menerjang kedepan. Gerakan mereka amat cepat tapi ada orang yang jauh lebih cepat dari dia.
Mendadak terlihatlah sesosok bayangan putih berkelebat menerjang ketengah antara Ngo-Koei serta Liem Tou itu, secara tiba tiba pandangannya menjadi kabur segulung angin sangat dahsyat sudah menerjang datang disusul dengan bentakan yang sangat nyaring dari seorang gadis.
"Siapa yang berani mengganggu seujung rambut Liem Koko ku, hmmmm . , .aku gadis cantik pengangon kambing segera akan mencabut nyawamu kembali."
Ke lima setan itu hanya merasakan segulung angin pukulan yang amat kuat menekan ke tubuh mereka, memaksa mereka tidak sanggup untuk bergerak lagi.
Datangnya cepat perginyapun semakin cepat, tubuh ke lima setan itu terkumpul terpental sejauh satu kaki lebih oleh pukulan gadis cantik pengangon kambing itu, saking terkejutnya kelima setan itu hanya bisa saling tukar pandangan sambil merangkak bangun dengan perlahan.
Pouw Siauw Ling yang melihat ayahnya Ang in sin pian Pauw Sak San beserta Thian-pianNgo Koci hampir bersamaan waktunya melancarkan serentan tapi bersama sama pula serangannya berhasil ditahan oieh si golok hijau serta si gadis cantik pengangon kambing, dalam hati diam diam merasa sangat terkejut, sedang diapun melihat selama ini Liem Tou tidak pernah bergerak dengan siapapun, diam diam dalam pikirannya.
"Hmmm . . - sampai sekarang dia tak turun tangan juga, tentunya dia sama sekali tak punya kepandaian siat, walaupun ada juga tak mungkin akan sangat lihay ..."
Berpikir sampai disini diam diam tubuhnya mulai bergerak kedepan dengan mengerahkan tenaga dalam sepenuhnya dia mulai mendekati belakang tubuh Liem Tou.
Semua kejadian ini dapat dilihat Lie Siauw Ie dengan amat jelas, begitu melihat dia hendak melancarkan serangan bokongan segera teriaknya dengan keras.
"Adik Tou, awas belakang tubuhmu."
Begitu Liem Tou mendengar peringatan dari Lie Siauw Ie segera merasakan adanya sambaran angin serangan yang membokong beIakang tubuhnya, dalam hati diam diam dia agak terperanjat, tapi Liem Tou sekarang jauh oerbeda dengan Liem Tou sewaktu masih berada didalam Lembah cupu cupu, seluruh jalan darahnya sudah lancar atas bantuan gadis cantik pengangon kambing itu ditambah dengan tenaga latihan selama beberepa hari ini, sehingga boleh dikata kepandaian silatnya lumayan juga.
Dengan cepat tubuhnya tanpa melihat siapa yang berada dibelakangnya tenaga murninya segera dikerahkan pada telapak tangan kemudian dengan keras mematahkan serangan tersebut.
"Aduh . . ." jeritan kesakitan dari Pouw Siauw Ling segera bergema didalam ruangan, tubuhnya seketika itu juga terpental sejauh satu kaki lebih kemudian menggeletak diatas tanah tanpa bisa bergerak lagi.
Ditiga tempat bersamaan waktu yang terjadi tiga pertempuran yang amat seru sedang pada waktu yang bersamaan juga hasilnya sudah kelihatan. Tian Pian Ngo Koei berhasil dikalahkan gadis cantik pengangon kambing, Pouw Siauw Ling berhasil dipukul rubuh oleh Liem Tou, hanya didalam satu gerakan saja, sedang Ang in sin pian Pouw Sak San pun bertempur dengan amat serunya melawan si golok naga hijau.
Serangan Liem Tou yang berhasil memukul rubuh Pouw Siauw Ling ini seketika itu dengan menggusarkan keempat jago berkepandaian tinggi dari perkampungan Ie Hee Cung. bersama sama mereka meloncat kedepan Liem Tou sambil membentak sangat keras.
“Liem Tou kau sudah melanggar peraturan perkampungan ini melukai Pouw Siauw Ling juga, aku mau lihat kau bisa turun gunung dengan selamat tidak ?”
"Hmm . . hmm „ . . kalau begitu kita coba coba saja" seru Liem Tou dengan amat dingin. “Kalian mau bertempur seorang demi seorang secara berbareng?? Hmm . . . aku lihat kalian berempat maju ber sama-sama saja.”
Dtantara mereka berempat sifat Hauw Jiauw Pouw Toa Tong paling berangasan begitu mendengar perkataan yang sangat menghina itu dia menjadi amat gusar,
“Liem Tou, aku masih mengira sewaktu itu kau sudah binasa tenggelam dalam sungai , . tak disangka ini hari kau munculkan dirinya kembali. . agaknya nyawamu memang amat untung sekali. . . tapi ini hari walaupun kau punya tujuh nyawa cadangan akan kuhabiskan juga, lihat serangan."
Lima jarinya mendadak dikencangkan sehingga seperti cakar kuku garuda, kemudian dengan dahsyatnya mencengkeram keatas kepala batok Liem Tou.
Liem Tou tak berani berayal, dengan cepat dia mengeluarkan gerakan langkah tiga puluh enam langkah badai mutar ke belakang tubuhnya.
Melihat ilmu itu Pouw Toa Tong sedikit merasa terkejut, tanpa perduli Liem Tou berada disebelah mana mendadak tubuhnya memutar sepasang cakaran mencengkeram kebelakaag tubuhnya.
Siapa tahu baru saja Pouw Toa Tong putar tubuh melancarkan serangan kebelakang sekali lagi serangan itu mencapai pada sasaran yang kosong, waktu inilah dia baru sadar Liem Tou bukanlah Liem Tou yang dahulu,hanya didalam
beberapa tahun saja dia berkelana didaiam dunia kangouw sudah berhasil melatih kepandaian yang demikian hebatnya dalam hati diam2 me rasa terkejut juga.
Baru saja pikiran ini berkelebat didalam benak Poa Toa Tong mendadak terdengar suara dari Liem Tou sudah berkumandang dari belakang tubuhnya.
"Toa Tongsiok. bagaimana ? Jangan ragu ragu ayoh. Aku melihat Toa Tong siok jarang melakukan kejahatan kini aku kalahi tiga jurus kepadamu . . sekarang baru dua jurus."
Kegusaran Pouw Toa Tong memuncak sambil meloncat ketengah udara katanya.
"Liem Tou saat kematianmu sudah tiba..”
Mendadak tubuhnya yang berada ditengah udara berputar setengah lingkaran kemudian bersalto beberapa kali dan menubruk kebawab bagaikan seekor harimau kelaparan.
Sekarang dia bisa melihat dengan jelas kalau Liem Toa berada kurang lebih tujuh delapan tindak dari dirinya, dan kini dengan mata yang melotot sedang memandang dirinya sambil tersenyum.
Kegusarannya tak bisa ditahan lagi tubuhnya bagaikan kilat cepatnya menubruk keatas tubuhnya sedang sepasang cakarnya dengan sangat dahsyat mengancam batok kepalanya.
Jurus harimau lapar ini merupakan salah satu jurus andalan dari Pouw Toa Tong, melihat datangnya serangan yang amat dahsyat ini Liem Tou segera tahu kelihayannya dengan cepat tubuhnya menyingkir ke samping beberapa kaki dari tempat semula,
Lie Siauw Ie yang berada disamping begitu melihat datangnya serangan dahsyat saking terkejutnya air mukanya sudah berubah menjadi pucat pasi, teriaknya kaget.
"Adik Tou hati hati, Toa Tong siok sedang menggunakan jurus yang mematikan, cepat menghindar kesamping."
Pouw Toa Tong tak mau melepaskan mangsanya begitu saja, melihat Liem Tou menyingkir kesamping sekali lagi dia melancarkan serangan mautnya dan menubruk kembali keatas tubuh Liem Tou.
Kali ini Liem Tou tidak sempat lagi untuk menghindarkan diri, baru menggunakan langkah tiga puluh enam langkah badai memutarnyapun tidak mungkin lagi, didalam keadaan yang amat kritis itulah mendadak dia menarik hawa murninya dari atas pusar.
Sepasang cakar dari Pouw Toa Tong kini sudah berada dihadapan mukanya, tubuh Liem Tou dengan cepat merendah kebawah sepasang tangannya bersama sama didorong kedepan, telapak kirinya dengan menggunakan jurus"Pah-Ong Khie Tian" atau raja bengis mengangkat hioloo sedang telapak kanannya membabat dengan menggunakan jurus Pit Gwat Lui Cuang atau menutup bulan mendorong jendela, dalam satu serangan menggunakan dua gerakan yang berlainan, terdengarlah sambaran angin yang amat dahsyat menyambut datangnya serangan pihak musuh .
Serangan menolong diri dari bahaya yang digunakan Liem Tou ini sudah tentu menggunakan tenaga dalam yang ada didalam tubuhnya. Sekalipun Pouw Toa Tong memiliki kepandaian lebih tinggipun tidak terasa merasa sangat terkejut juga, karena jika dia meneruskan serangannya maka kedua belah pihak akan sama-sama terluka parah.
Bagaimanapun juga pengalaman dari Pouw-Toa Tong sangat luas sekali, didalam keadaan yang amat kritis itulah mendadak dia membuyarkan serangannya kemudian dengan menerobos angin serangan melayang turun keatas permukaan tanah, sepasang matanya melotot bulat-bulat memandang tajam kearah Liem Tou, untuk beberapa waktu lamanya tidak sanggup mengucapkan sepatah katapun .
Liem Tou yang berhasil meloloskan diri dari serangan maut kini pun sedikit termangu mangu, tapi sebentar kemudian sudah angkat bicara .
"Toa Tong siok, tiga jurus sudah lewat, kini aku tidak akan berlaku sungkan sungkan lagi.”
Perkataan dari Liem Tou ini benar benar keluar dari hati nalurinya, tapi didengar dalam pendengaran Pouw Toa Tong sangat tidak enak sekali. Kemarahannya sekali lagi memuncak tanpa mengucapkan kata kata lagi mendadak tubuhnya menubruk kearah Liem Tou .
Liem Toupun sudah dibuat gusar oleh tindakan Pouw Toa Tong ini, sepasang alisnya di kerutkan rapat rapat teriaknya .
"Toa Tong siok kau jangan menyesal."
Mendadak tubuhnya menyingkir kesamping, menghindarkan diri dari datangnya serangan musuh, telapak tangan sebelah kirinya dengan menggunakan jurus Pek Lok Heng po atau Bangau putih menimbulkan ombak dari jurus maut partai Kun lun pay menyerang kedepan sedang badannya mendadak meloncat tiga langkah kedepan dengan menggunakan langkah tiga puluh enam langkah badai memutar.
Baru saja Pouw Toa Tong berhasil menghindarkan diri dari serangan pertama mendadak telapak tangan kanan dari Liem Tou melancarkan serangan dahsyat lagi dengan menggunakan jurus serangan mematikan dari partai Khong tong pay. "Heng In Toan Hong "aiau mega datar memotong puncak.
Semakin bertempur kegembiraan LieonTou semangkin memenuhi benaknya .
Telapak tangannya dengan cepat bergerak menggunakan jurus-jurus serangan yang berbeda-beda terlihatlah pergelangan tangannya sedikit bergeser serangannya segera berubah lagi dengan menggunakan jurus serangan dari partai Go bie,"Tong In Mie puh" atau mega merah terbesar rapat tubuhnya berputar dengan kencang telapak kirinya bagaikan kilat cepatnya melancarkan serangan dengan menggunakan jurus "Ie Hun put San " ajaran Hek Loo toa, dengan menimbulkan angin yang amat dahsyat membabat ke depan.
Baru saja Pouw Toa Tong menbruk kedepan siapa sangka didaiam sekejap mata Liem Tou melancarkan tiga buah serangan dahsyat dari tiga perguruan yang berlainan tidak terasa dia menghembuskan napas dingin .
Seketika itu juga dia menjadi kalang kabut hampir hampir terkena serangan hebat itu, hanya untung saja Liem Tou sekalipun bisa menggunakan jurus jurus serangan itu tapi belum memahami betul betul kalau tidak jangan dikata tiga jurus serangan sekali pun hanya satu serangan saja Pouw Toa Tong jangan harap bisa tahan.
Tetapi jurus terakhir yaitu "In Hun put san" sudah berulang kali digunakan oleh Liem Tou sehingga hampir boleh dikatakan sangat hafal sekali.
Mendadak .... "Aduh. .. "dada Pouw Toa Tong terhajar sangat keras oleh serangan dahsyat Liem Tou ini, tak tertahan lagi tubuhnya terjengkang kebelakang kemudian menggeletak diatas tanah tak dapat bergerak lagi.
ooOOoo
Pada saat tubuh Pouw Toa Tong roboh keatas tanah itulah mendadak suasana ditengah ruangan menjadi sangat gaduh sekali.
Mendadak hasil Liem Tou menjadi bergerak pikirnya.
"Haaa . aneh sekali. Ketika Hauw jiauw Pouw Toa Tong terpukul roboh kenapa bisa ada suara mengaduh yang berbeda?”
Dengan cemas dia menoleh kebelakang kiranya Ang in sin pian Pouw Sak San dengan si golok naga hijau Sie sudah mencapai pada titik penentuan, golok naga hijau yang berada ditangan Sie piauw tauw tadi entah kini sudah terbang kemana oleh lilitan cambuk maut Pouw Sak San, saat ini terpaksa dengan mengandalkan sepasang telapak tangannya berkelebat dan berusaha meloloskan diri dari kepungan bayangan cambuk maut Pouw Sak San.
Ketika dipandang lebih teliti lagi tanpa bisa ditahan lagi Liem Tou menjerit kaget, kiranya saat iui Sie piauw tauw sudah kehabisan tenaga dan hanya bisa bertahan saja, keringat yang mengucur keluar membasahi keningnya semakin deras lagi, kelihatannya sebentar lagi akan terIuka dibawah serangan cambuk Ang in sin pian.
Liem Tou tak bisa berpikir panjang lagi segera teriaknya.
"Celaka."
Ujung kakinya menutul permukaan tanah siap menyusup kedepan menolong si golok naga hijau Sie Piauw tauw lolos dari bahaya itu.
Baru saja pikiran ini berkelebat didalam benaknya, belum sempat badannya meloncat ke depan mendadak sesosok bayangan manusia sudah berkelebat menghadang didepan badannya, bayangan itu tanpa mengucapkan sepatah kitapun, segera melancarkan serangannya meng hajar dadanya.
Di dalam keadaan yang sangat terkejut Liem Tou dengan tergesa gesa meloncat kesamping menghindarkan diri dari serangan tersebut,
"Bluuuk. . ." angin serangan bayangan itu mencapai sasaran yang kosong dan manghajar permukaan tanah sehingga timbullah sebuah liang yang cukup lebar, jika dipandang dari kekuatan serangan ini mungkin orang itu sudah menggunakan sepuluh bagian tenaga murninya.
Dengan cepat Liem Tou menoleh kearah bayangan itu, ternyata orang itu tidak lain adalah Hek Loojie adik dari Hek Lootoa.
Sambil tertawa dingin tak henti hentinya Hek Loojie berjalan maju mendesak kearahnya, matanya melotot lebar lebar mulutnya meringis rnenyeramkan, ujarnya dengan dingin.
"Hey Liem Tou, tidak disangka hanya satu bulan kepandaian silatmu mendapatkan kemajuan yang amat pesat, ini hari jika sampai membiarkan kau lolos kembali . . .Hmmm lain kali siapapun jangan harap bisa kuasahi dirimu lagi.”
Dalam hati Liem Tou hanya bertujuan membebaskan si golok naga hijau dari mara bahaya, baru saja Hek Loo jie selesai berbicara mendadak Liem Tou menerjang kembali kedepan siap menerobos dirinya menolong Sie piauw Tauw.
HekLoo jie tahu maksud dan tujuannya dari Liem Tou ini, dia hanya tertawa riang saja.
"Bruuk - - - " satu serangan mendatar dengan dahsyat menghalangi perjalanan Liem Tou ujar nya sambil tertawa.
"Bencana ada sebabnya hutang ada pemiliknya mereka bertempur biarlah mereka yang selesaikan apa hubungannya dengan kau?? Hey Liem-Tou. hutang kitapun harus kita selesaikan"
Dengan perbuatan Hek Loo jie ini membuat Liem Tou saking jengkelnya mendepak depakkan kakinya keatas tanah, apa lagi waktu itu cambuk maut dari Ang in sin pian sudah menekan kepala Sie Piauw tauw sedang nyawa pun hanya tinggal beberapa saat saja.
Terlihatlah murid Sie Piauw tauw yang masih muda itu dengan menggunakan pedangnya berusaha menyerang dari sisi tubuh Angin sin pian menolong suhunya dari bahaya, tapi gerakannya ini sama sekali tidak berguna. Pouw cungcu hanya cukup memberikan satu serangan yang ringan dia sudah tidak sanggup untuk menerima.
Disaat yang amat kritis itulah mendadak seso sok bayangan putih berkelebat menubruk ketengah lingkungan bayangan merah cambuk maut Pouw Sak San, kemudian disusul dengan bentakan yang nyaring tapi sangat merdu,
"Tahan."
Terdengar Ang in sin pian Touw Sak San men jerit sangat keras, cambuk mautnya dengan cepat ditarik kembali sadang tubuhnya dengan sempoyongan mundur lima enam langkah kebelakang.
Ditengah kalangan pertempuran terlihatlah gadis cantik pengangon kambing itu dengan mencekal seruling pualamnya berdiri disana, sedang tangannya yang sebelah lagi sedang membimbing tubuh si golok naga hijau Sie Piauw tauw yang usianya sudah mendekati enam puluh tahunan itu.
Begitu Liem Tou melihat gadis cantik pengangon kambing sudah berhasil menolong Sie Piauw tauw lolos dari mara bahaya hatinya menjadi lega kembali, dengan perlahan lahan dia putar tubuhnya menghadap kearah Hek Loo jie ujarnya sambil tertawa dingin.
"Kau manusia berhati srigala. sudah mencelakai kakaknya sendiri kini masih punya muka berkelana didalam dunia kangouw . - - Hmmm .., Hek Loo toa Ioocianpwe sejak semula sudah serahkan nyawamu ketanganku, kalau tadi kau tidak bilang mau melunasi hutang masih tidak mengapa, kini kau akan sudah berani bilang - -ini hari aku akan membalaskan dendam bagi Hek Loo Toa Loo cianpwe.”
Sehabis berkata seluruh tenaga daiamnya segera dikerahkan pada telapak tangannya jeritnya. "Hak Loo jie terima seranganku."
Satu serangan telapak yang amat dahsyat mengarah dada Hek Loo Jie dipukul kedepan. Hek Loo Jie yang merupakan seorang jago yang sudah memiliki nama besar didalam dunia kangouw sudah tentu tidak mau anggap Liem didalam pandangannya begitu melihat datangnya serangan Liem Tou ini dengan tidak gugup sedikitpun mengangkat telapak tangannya mematahkan serangan itu.
Dua gulung angin yang sangat dahsyat bertemu.
"Bruuk - - - Liem Tou maupun Hek Loo jie hanya merasakan lengannya menjadi kaku sedang tubuhnya tak tertahan lagi pada mundur bebera pa langkah kebelakang.
Semula Hek Loo jie bilang kepandaian Liem Tou medapatkan kemajuan yang pesat sebetulnya mengandung nada mengejek siapapun tahu begitu bentrokan angin pukulan barusan ini seketika itu juga membuat hatinya merasa sangat terkejut sekali, pikirnya.
"Sewaktu bangsat cilik ini bertempur melawan hweesio-hwesio bau di dalam lembah cupu-cupu waktu itu, sekalipun jurus serangannya sangat banyak dan bermacam-macam tapi jalas tenaga dalamnya belum berhasil dilatih. Bagaimana hanya didalami waktu satu bulan saja dia bisa berhasil melatih tenaga dalamnya setinggi begini ? Apa mungkin kitab pusaka To Kong Pit Liok sudah ber hasil dia dapatkan kemudian melatihnya di dalam beberapa waktu ini ?"
Liem Tou yang d dalam beberapa waktu saja berhasil mengajar rubuh Pouw Siauw Ling serta Pouw Toa Tong kemudian menggetarkan Hek Lo jie, kepercayaan pada dirinya semakin menebal teriaknya lagi.
“Hek Loo jie, terima serangan ini lagi.”
Sepasang telapak tangannya diputar, tenaga murninya disalurkan ketelapaknya kemudian dengan sekuat tenaga didorong sejajar dengan dadanya.
Baru saja Hek Loo jie hendak menerima serangan itu mendadak satu bayangan berkelebat didalam benaknya.
“Para jago yang hadir dalam ruangan ini siapa pun tahu kalau di tubuh Liem Tou membawa kitab pusaka yang sangat berharga sekali, tapi mereka tetap tidak mau turun tangan dan menonton saja tentunya punya maksud maksud tertentu, mereka mau menunggu aku dengan Liem Tou bergebrak hingga sama sama lelah kemudian merekalah yang dapat hasilnya.”
Berpikir sampai disini dengan cepat dia menarik kembali telapak tangannya dan menghindarkan diri kesamping,
Liem Tou dapat melihat semua gerakannya dengan amat jelas, tanpa terasa lagi tenaga pukulannya yang dikerahkanpun berkurang tiga bagian lagi, walaupun begitu angin pukulannya tetap mendengung memekikkan telinga.
Ketika dia sedikit berayal itulah mendadak Liem Tou hanya merasakan segulung angin pukulan yang sangat hebat membokong dirinya dari samping tempat menghajar sisi tubuhnya.
Di dalam keadaan yang amat bingung Liem Tou menjadi sangat gugup, sambil membentak keras dengan tergesa gesa dia meloncat beberapa langkah kebelakang.
Walaupun dia berhasil meloncat kebelakang tapi tenaga pukulan yang amat kuat itu tetap mengikuti dirinya . . . "Bluum .. tidak ampun lagi tubuhnya terpental hingga sejauh dua kaki lebih tepat terjatuh disamping tubuh gadis can tik pengangon kambing itu, hanya saja dia se gera merasakan lengan kirinya kaku, linu dan sakit sekali.
Masih untung saja dia melayang sesuai dengan arah datangnya angin pukulan itu, kalau kebalikannya . . . entahlah.
Dengan tergesa gesa Liem Tou merangkak bangun kemudian memandang kearah berasalnya angin pukulan itu, tapi .. . dia menjerit kaget dengan amat kerasnya.
Didaiam sekejap saja ditengah ruangan itu sudah bertambah dengan seorang perempuan berusia pertengahan dengan air muka yang dingin kaku menyeramkan, rambutnya terurai memanjang sedada, sedang pada tangannya menggendong sesosok mayat gadis berbaju hijau yang sangat tipis sekali.
Ketika Liem Tou memandang lebih teliti lagi segera dikenal olehnya orang itu tidak lain adalah Au Hay Ong Bo yang ditemuinya sewaktu berada diatas puncak Ngo Liong Hong, sedang mayat gadis berbaju hijau yang berada dipangkuannya itu adalah Ciang Beng Hu yang berkali kali menganiaya dirinya tapi kemudian terkena satu pukulannya yang sangat dahsyat.
Melibat hal itu diam diam pikirnya.
"Apa pukulanku itu bisa membinasakan dirinya?"
Jika dipikirkan Liem Tou sedikit tidak percaya, tetapi kenyataan sudah berada didepan matanya sekalipun tidak percaya kini juga harus percaya.
Melihat dandanan dari Au Hay Ong Bo yang menyeramkan itu, dalam hati Liem Tou merasa berdesir tapi dengan membesarkan nyali tanyanya juga.
"Yang datang apakah Au Hay Ong Bo?"
Sewaktu tadi Au Hay Ong Bo munculkan diri, para jago yang berada didaiam ruangan sudah merasa terkejut, hanya saja mereka sama sekali tidak tahu siapakah wanita berusia pertengahan yang berwajah dingin kaku dan menyeramkan itu, kini sesudah Liem Tou menyebut namanya seketika itu juga memancing kegaduhan didalam ruangan.
Air muka setiap jago yang hadir disana pada menampakkan perasaan terkejut, bingung serta ragu ragu, karena sekalipun mereka tahu Au-Hay Ong Bo merupakan seorang manusia yang lihay dan berbahaya tapi selamanya belum pernah munculkan dirinya didalam Bu lim. Tidak disangka pada saat seperti ini bisa munculkan dirinya secara mendadak, dari hal ini bisa ditinjau kalau urusan yang sudah terjadi merupakan urusan yang di luar dugaan.
Sepasang mata Au Hay Ong Bo dengan sinar berapi api memandang sekejap kearah Liem Tou mendadak dengan memperlihatkan sebaris giginya yang putih menyeramkaa dia menjerit ngeri, sesudah meletakkan mayat Ciang Beng Hu keatas tanah dengan perlahan mulai berjalan mendekati Liem Tou.
Seluruh tubuh Liem Tou gemetar sangat keras, mendadak bentaknya .
"Au Hay Ong Bo, aku Liem Tou sudah kau kurung mendekati satu bulan lamanya setiap hari mendapat siksaan serta cemoohan apa kau masih merasa kurang ?Sebetulnya aku dengan kalian manusia manusia dari partai Kiem Thian Pay punya dendam sakit hati apa sehingga kalian terus menerus mengejar aku ??"
"Ada dendam sakit hati apa . . . ada dendam sakit hati apa . . .."
Mendadak dia tertawa panjang dengan sangat keras sekali, sambil menunding mayat dari Ciang Beng Hu ujarnya .
"Hu jie ada dendam sakit hati apa dengan kau? Kenapa kau turun tangan jahat terhadap dirinya sehingga binasa?? Liem Tou .- . anjing-kecii . . . aku mau telan kau hidup hidup,"
Sehabis berkata dengan rambut yang pada berdiri seperti duri, sepasang matanya dengan penuh kemarahan mendelik bulat bulat, keagungan serta kewibawaannya ketika masih berada diatas puncak Ngo Lian Hong sama sekali tidak kelihatan lagi, bahkan boleh dikata mirip dengan peri yang sangat jelak dan sangat kejam .
Musuh tangguh kini berada didepan mata, Liem Tou tidak berani berbuit gegabah lagi dengan cepat dia mengarahkan tenaga dalamnya melakukan persiapan .
Gadis cantik pengangon kambing yang berada disisinya ketika melihat ketegangannya memuncak, mendadak bertanya .
'Liem Koko, apa orang itu betul betul Au-Hay Ong Bo? Tia pernah bilang dia berhasil melatih ilmu pukulan Kioe In Thiat Siu Kang yang amat lihay sekali, bagaimana kau bisa bunuh putrinya ?"
Seluruh perhatian Liem Tou sedang dipusatkan pada gerak gerik Au Hay Ong Bo, mendengar perkataan itu terpaksa dia hanya menganggukkan kepalanya saja sedang mulutnya tetap membungkam .
Saat ini suasana didaiam ruangan itu sunyi senyap, masing masing hadirin pada nenahan pernapasannya masing masing menanti dengan tenang gerakan selanjutnya dari Au Hay Ong-bo yang sedang berdiri berhadap hadapan dengan Liem Tou itu .
Mendadak . .. Liem Tou hanya melihat sepasang mata Au Hay Ong Bo sedikit berputar tubuhnya dengan cepat sudah berputar setengah lingkaran ditengah udara, ujung bajunya dikebutkan kedepan bersamaan pula membentak sangat keras.
"Siapa berani membokong Loo nio?"
Pada saat Liem Tou melengak mendengar perkataan itu terdengarlah Lie Siauw Ie yang berada d ihadapannya sudah menjerit amat keras, seketika itu juga bagaikan sebuah logam mentah yang amat keras menimpa dada Liem Tou, tanpa memperdulikan nyawanya lagi dengan cepat dia menubruk kedepan.
"Jangan...!" teriak gadis cantik pengangon kambing dengan kaget.
Belum habis dia berteriak Au Hay Ong Bo sudah memutar tubuhnya kembali, dan dengan tepat menyambut datangnya tubrukan Liem Tou.
Tubuhnya sedikit merendah, telapak kirinya dengan cepat dikebutkan kedepan. segulung angin pukulan yaug amat dingin segera menghantam keluar.
Sebetulnya Liem Tou tadi menubruk kedepan sudah tidak memikirkan nyawanya lagi, kerena-nya untuk menarik diri tidak mungkin lagi.
Didalam keadaan yang sangat kritis itu walaupun dia tahu dirinya bukan tandingannya terpaksa dengan diam diam menggigit kencang bibirnya, sepasang telapak tangannya dengan meminjam kekuatan menubruk kedepan itu mendadak melancarkan satu serangan dahsyat dengan menggunakan seluruh tenaga murninya.
(Bersambung ke Jilid 12)
Angin serangan dari Au Hay Ong Bo itu datangnya memang sangat aneh sekali, baru saja sepasang tangan Liem Tou separuh di dorong kedepan segera sudah terbentur dengan angin pukulan pihak lawannya, terasa suatu hawa yang amat dingin tinggi menusuk kedalam tulang menyerang dirinya hamper-hampir dia sukar untuk menahan hawa yang amat dingin itu.
Walaupun telapak tangannya didorong dengan cara bagaimanapun tetap tangannya tidak bisa maju satu coen pun, saat itulah Liem Tou baru merasa terkejut pikirnya cemas.
"Aduh - - - habis sudah kali ini.”
Sekonyong konyong - . . tenaga tekanan pihak lawannya semakin memberat, segera Liem Tou hanya merasakan kepalanya pening, matanya berkunang kunang dan dadanya terasa sangat mual.
Dalam hati dia tahu saat inilah saat yang paling kritis,bagi jiwanya, bagaimanapun juga dia harus mempertahankan dirinya.
Berpikir sampai disini semangatnya bangkit kembali, dengan sekuat tenaga dia menarik hawa murninya kemudian dengan paksakan diri menerjang kedepan.
Mendadak terdengar gadis cantik pengangon kambing itu membentak nyaring.
"Siluman tua, kau berani.”
Liem Tou hanya merasakan sepasang telapak tangannya sedikit tergetar, tenaga tekanan pihak lawannya sedikit kendor membuat tubuh Liem Tou tidak tertahan lagi mundur dua tiga langkah kebelakang dengan semponyongan, untung saja tidak sampai jatuh terduduk diatas tanah.
Ketika dia menoleh memandang terlihatlah gadis cantik pengangon kambing itu sudah bertempur dengan amat serunya melawan Au Hay Ong Bo.
Terlihat ujung baju gadis cantik pengangon kambing yang berwarna putih itu berkibar tertiup angin, seruling pualam ditangannya bagaikan kilat cepatnya melancarkan serangan.
Didalam sekecap mata dia sudah melancarkan tujuh kali serangn dahsyat bahkan setiap serangan yang digunakan terdapat perubahan gerakan yang sangat ruwet sekali, ketika dipandang dari depan hanya terlihat segulung bayangan seruling yang berputar dengan sangat rapatnya melindungi seluruh tubuh.
Sebaliknya Au Hay Ong Bo pun sudah mengeluarkan jurus-jurus serangan andalannya sebentar dia berkelebat kekiri sabentar lagi menahan serangan apa saja hanya terlihat ujung bajunya berkelebat dan menari dengan kencangnya.
Walaupun gadis cantik pengangon kambing itu sudah melancarkan berpuluh puluh serangan dengan menggunakan jurus seragnan yang berbeda, jangan dikata memukul hanya menyenggol saja sukar untuk tercapai.
Waktu itu Liem Tou punya niat untuk melihat jalannya pertempuran yang amat seru itu, dengam cepat dia berlari kesampingnya. Terlihatlah air muka Lie Siauw Ie sudab be rubah pucat pasi bagaikan mayat, bibirnys yang kecil mungil gemetar terus menerus. Waktu itu Pouw Jien Coei sedang membimbing tubuhnya berdiri sedang dari kelopak matanya air mata mulai mengucur keluar dengan derasnya.
Dengan setengah berlutut Liem Tou berjongkok didepan tubuh Lie Siauw Ie tanyanya dengan cemas.
"Ie cici, kau terluka parah??"
"Adik Tou" seru Lie Siauw Ie begitu melihat Liam Tou berjalan mendekati tubuhnya. “Kau tidak usah ikut, tempat ini tidak bisa ditahan lebih lama lagi cepat kau lari.”
"Tapi luka cici sangat parah, bagaimana aku bisa pergi?"
Mendengar perkataan itu Lie Siauw le segera bangkit berdiri dari bimbingan Pouw Jien Coei makinya.
"Adik Tou, aku hanya terkena jarum Kioe Cu tok cianku sendiri, asalkan makan obat penawar segera akan sembuh kembali, jika kau tidak mau dengar omonganku lain kali jangan datang cari aku lagi."
Sehabis berkata dia paling kearah lain kemudian dengan terhuyung huyung lari keluar dari ruangan itu.
Dengan cepat Pouw Jien Coei lari membimbing lengannya dan bersama-sama meninggalkan ruangan tersebut, sesampainya diluar ruangan, sekali lagi dia menoleh mendelik kearah Liem Tou, agaknya ada perkataan yang hendak disampaikan, hanya saja karena Ang in sin pian sekarang masih berada disana akhirnya dia tidak jadi bicara dan lari keluar dengan cepat.
Sesudah Lie Siauw Ie meninggalkan ruangan itu dalam hati Liem Tou hanya merasakan hatinva yang hampa dengan termangu-mangu tanpa mengucapkan sepatah katapun berdiri disana.
Kiranya Lie Siauw Ie memang betul terluka oleh senjata rahasia Kioe Cu gin Ciam-nya sendiri, ketika dia melihat Au Hay Ong Bo mendesak kearah Liem Tou terus menerus karena takut Liem Tou cedera oleh serangannya maka sengaja dia melancarkan serangan dengan menggunakan senjata rahasianya.
Siapa tahu Au Hay Ong Bo yang merupakan seorang jago yang berkepandaian tinggi serta tenaga dalamnya sudah mencapai kesempurnaan panca indranya yang terlatih amat tajam sekali. Begitu didengarnya ada sambaran senjata rahasia mengancam tubuhnya dengan cepat dia berkelebat balikkan tubuhnya sambil mengebut dengan menggunakan ujung bajunya, begitulah jarum jarum perak itu terpukul balik segera menghajar badan Lie Siauw Ie tanpa ampun lagi.
Untung saja waktu itu Liem Tou sempat menubruk kedepan sehingga bisa terhindar dari mara bahaya, jika waktu itu Au Hay Ong Bo menambah dengan satu serangan lagi begitu badan Lie Siauw Ie terkena pukulan Kioe Im thiat Siu-nya - - entah bagaimana jadinya.
Sedang Liem Tou berdiri termangu mangu mendadak terdengar Au Hay Ong Bo sudah membentak dengan amat keras.
"Siapa kau ??"
Liem Tou menjadi amat terkejut sekali, baru saja dia mau putar tubuhnya mendadak segulung angin pukulan yang amat tajam menyambar dari belakang tubuhnya tanpa menoleh lagi ujung kakinya dengan cepat menutul permukaan tanah dengan tergesa-gesa3 meloncat beberapa langkah kedepan kemudian baru menoleh ke belakang.
Kiranya orang yang baru melancarkan serangan bokongan itu tidak lain adalah Hek Loo jie itu manusia yang paling pengecut didunia saat itu
Liem Tou menjadi amat gusar, kuda kudanya sedikit diperkuat, badannya sedikit merendah siap melancarkan balasannya. Baru saja dia mengerahkan tenaga dalamnya mendadak terasa olehnya seluruh tubuhnya gemetar amat keras, hawa murni yang dikerahkan keseluruh badan tiba tiba buyar ditengah jalan, sampai saat itulah dia baru tahu dirinya sedang dalam terluka sedang saat itu Hek Loo jie semakin lama semakin mendekati badannya.
Ketika matanya melirik kesamping terlihat para jago yang berada didalam ruangan itu sudah meninggalkan tempatnya masing masing dan bergeser mendekati dirinya. Siang hui hok Pouw Beng serta Pouw Liang dengan melototkan matanya memandang dirinya mereka berdiri tegak menjaga pintu keluar ruangan tersebut.
Liem Tou yang dikurung ditengah kepungan musuh yang berada di empat penjuru sedang dirinyapun terluka, teringat kembali Lie Siauw Ie yang ikut terluka karena dirinya tidak tertahan lagi batinnya sangat sedih sekali, jika dibadannya membawa senjata tajam kemungkinan waktu itu dia sudah cabut pisaunya untuk bunuhdiri.
Sesaat Liem Tou sedang merasa sangat sedih dan putus asa itulah mendadak terdengar Au- Hay Ong Bo membentak dengan amat gusarnya.
“Hay budak liar, Lie Loo jie itu apamu cepat bilang?”
Mungkin waktu itu gadis cantik pengangon kambing sudah melihat keadaan Liem Tou yang amat barbahaya itu, sambungnya.
“Liem koko kau masih tak pergi, kau mau tunggu kapan lagi ??"
"Enmm..." pikir Liem Tou diam diam.
“Jika aku bisa melarikan diri buat apa tunggu kau bilangi aku dulu. . ."
Terdengarlah Au Hay Ong Bo tertawa terbahak bahak dengan sangat seramnya.
"He he he.., Loo nio atur jebakan seluruh penjuru tempat ini. Bangsat anjing kau mau melarikan diri kemana ??"
"Hey siluman tua kau jangan sombong dulu” Seru gadis cantik pengangon kambing dengan amat gusarnya. "Aku sengaja mau suruh Liem koko melarikan diri dari sini, aku mau lihat kamu orang bisa berbuat apa".
Kemudian gapenya kepada Lem Tou.
Waktu itu Liem Ton tidak tahu sudah terjadi urusan apa, baru saja dia menoleh mendadak di depan matanya berkelebat sebuah sinar yang amat menyilaukan mata sebilah pisau belati yang amat tajam sudah melayang kehadapannya dengan cepat dia ulur tangan menyambutnya.
Ujar gadis cantik pangangon kambing itu "Liem koko, siapa yang berani ganggu kamu orang bunuh terlebih dulu, cepat pergi."
Liem Tou yang didalam genggamannya telah bertambah dengan sebilah pisau belati yang amat tajam perasaan sedih serta putus asa yang menghiasi air mukanya tadi kini secara mendadak hilang lenyap tanpa bekas, semangat kejantanannya muncul kembali didalam hatinya, bagaikan meeyambarkan segulung angin taufan dengan sebilah pisau belati yang kecil tapi memancarkan sinar yang amat tajam ini dia melancarkan serangan kedepan, sambil bentaknya dengan keras.
"Siapa yang berani menghalangi perjalanan aku Liem Tou ?”
Tubuhnnya dengan cepat menyusup dan lari dengan cepatnya keluar ruangan.
Sejak tadi Hek Loojie sudah buat persiapan sudah tentu dia tidak akan membiarkan dia pergi dengan begitu mudahnya, sambil mendengus dengan amat dingin dia melancarkan satu serangan dahsyat dari samping tubuh Liem Tou, ujarnya.
“Hey Liem Tou kalau kamu orang seorang lelaki sejati jangan pergi".
Padahal didalam hati Liem Tou sudah punya rencana yang sangat teguh, gerakannya menyusup keluar dari ruangan tadi, tidak lain hanya siasatnya, suara di timur menyerang ke barat.
Baru saja Hek Loo jie selesai berbicara mendadak dia menjatuhkan diri ke arah belakang, serangan yang dilancarkan Hek Loo jie tepat lewat dari atas kepalanya.
Sungguh ilmu Thiat Pian Ciauw yang sangat bagus" teriak Hek Loo jie ketika serangannya mancapai pada sasaran yang kosong.
Serangan kedua segera menyusul lagi, Liem Tou sudah tentu tidak membiarkan dia berlaga kuasa mendadak dia membalikkan badannya, pisau belati di tangannya sedikit digetarkan kemudian didorong kedepan, tubuhnya dengan mengikuti gerakan tersebut bagaikan kilat cepatnya menerobos kedepan badan Hek Loo jie dan menusuk tubuhnya
Jurus ini merupakan jurus serangan Ooh Koei Ciat Hun atau Setan lapar menubruk sukma, salah satu jurus serangan yang dahsyat dari Hek Loo toa khusus unruk menghadapi Hek Loo jie menjadi amat terperanjat, teriaknya.
"Sungguh hebat”
Bagaimanapun juga dia merupakan salah soorang dari Siok To Siang Mo yang mempunyai nama sangat terkezal didalam Bu lim sehingga gerakan untuk meloloskan diripun sudah dilatihnya amat sempurna. Ditambah lagi serangan dari Liem Tou ini dilancarkan terialu jauh dari sasarannya.
"Sekalipun dia merasa terkejut oleh serangan ini tapi didalam keadaan yang amat tergesa-gesa itu serangan kedua yang dilancarkan secara mendadak diubah menjadi cengkeraman maut.
Tangannya dibalik dengan cepat mencekal pergelangan tangan Liem Tou yang menggenggam pisau belati itu, gerakannya dilakukan amat cepat ketepatan mencengkeram urat nadipun sangat hebat.
Liem Tou pernah berhasil menggunakan jurus ini untuk melawan Ciang Beng Hu yang waktu itu sedang menyamar sebagai pengemis cilik serta hweesio mayat hidup siapa tahu ini hari telah mencapai sasaran kosong ketika melawan Hek Loo jie sendiri tanpa terasa hatinya merasa terheran heran juga.
Di dalam keadaan yang amat tergesa-gesa dia menutul permukaan tanah meloncat ketengah udara, pisau belati di tangannya diputar kemudian bagaikan kilat cepatnya melancarkan serangan dengan menggunakan jurus-jurus Pek In Jut Siuw atau mega putih muncul dari bukit, Toan In Jan Gwat atau mega terputus putus menutupi hutan, serta jurus cong In Pau Huang atau mega merah didelapan penjuru.
"Sreet...sreet...- sreet...” sinar keperak perakan memenuhi angkasa sebingga mengacaukan pandangan setiap orang, tanpa dipikir lebih panjang lagi dia melanjutkan serangannya dengan menggunakan ilmu pedang dari Kun lun Pay Hong In Chiat Kiam atau ilmu pedang angin dan mega dengan dahsyatnya mengurung seluruh tubuh Hek Loo jte.
Terhadap jurus jurus serangan yang aneh dari pisau belati itu selama ini Hek Loo jie belum pernah menemuinya sudah tentu dia tidak sanggup untuk melawannya, terpaksa berturut turut dia mundur beberapa langkah kebelakang. Melinat kesempatan yang sangat bagus Liem Tou tidak mau membuangnya dengan percuma, tubuhnya berputar ditengah udara pisau belatinya dengan memancarkan sinar keperak-perakan menerjang keluar dari ruangan itu.
Siang Hui hok begitu melihat Liem Tou menerjang kearah mereka, satu dari kanan yang lain dari kiri bersama sama menubruk kedepan menghalangi perjalanan Liem Tou selanjutnya.
Secara tiba tiba Pouw Beng serta Pouw Liang merasakan pisau belati ditangan Liem Tou di dalam satu kali tebasan itulah sudah berubah menjadi tiga bilah pilau yang secara bersama- sama menyerang kearah mereka, hal ini memaksa mereka berdua terpaksa menyingkir kesamping dan pada saat yang bersamaan pula Liem Tou sudah menerjang keluar.
Dia tidak berani berhenti terlalu lama, untuk berpikir panjang pun tidak akan berani lagi dengan tidak menghiraukan keadaan sekitarnya dia melarikan diri dengan cepat ke arah belakang perkampungan.
Baru saja beberapa langkah meninggalkan tempat semula tiba-tiba dirasanya keadaan sedikit tidak beres, dengan cepat dia angkat kepalanva memandang ternyata yang mengepung sekitar tempat itu, saat itu secara serempak mereka sedang berteriak teriak.
“Liem Tou. Kau tidak malu, tidak punya kemampuan untuk mengunjungi gunung secara terang terangan sekarang berani menyelundup secara sembunyi sembunyi,”
"Liem Ton, kau manusia goblok juga mau sebut dirimu sebagai seorang enghiong"
“Liam Tou. Kau mencemarkan nama baik ayahmu."
Liem Tou benar semua orang itu adalah para pemuda perkampungan yang sebaya usianya dengan dia, sedang mereka pun merupakan kawan-kawan karib dari Pouw Siauw Ling yang sering mengejek dan menganiaya dirinya.
Kini melihat orang-orang itu menghalangi perjalanannya dengan gusar bentaknya keras.
"Cepat menyingkir Kalian mau cari mati yaa?”
Segera dia menerjang kedepan, orang itu ketika melihat keganasan dan kehebatannya di tambah lagi dengan berita yang tersiar mengatakan Pouw Siauw Ling serta Pouw Toa Tong sudah terluka ditangannya dengan tanpa berani mengganggu lagi pada menyingkir ke samping memberi jalan.
Mendadak terlihatlah seorang pemuda yang tak tahu,diri sudah tunjukkan diri menghalangi perjalanannya, dia menganggap Liem Tou masih seperti Liem Tou yang dahulu mudah untuk dianiaya, dengan mengandalkan ilmu silat yang dilatihnya dia menyambut kedatangan Liem Tou.
Bagaimana pun juga Liem Tou bukanlah seorang yang bodoh, ketika melihat orang itu begitu nekat hendak mengadu tenaga dengan dirinya dengan cepat dia mengerem gerakannya.
"Cepat menyingkir " teriaknya keras.
"Apakah kau betul betul mau cari mati?”
“Liem Tou kau jangan membual terlalu besar" bentak orang itu sembari menuding kearah Liem Tou dengan menggunakan pedangnya. "Hanya didalam satu tahun saja kau sudah melatih kepandaianmu seberapa tinggi
Liem Tou tak mau gubris orang itu dengan cepat dia menoleh kebelakang, terlibatlah dengan dipimpin Pou Liang serta Pouw Beng semua tamu serta hadirin termaauk juga Hek Loojie sudah pada mengejar lebih dekat, apalagi itu Pouw Liang yang mendapatkan julukan sebagai Siang hui houw, ilmu meringankan tubuhnya sudah dilatih mencapai pada taraf kesempurnaan hanya didalam satu kali loncatan saja mereka sudah hampir mencapai belakang tubuhnya.
Melihat keadaan yang begitu bahaya Liem Tou segera membentak
"Kau cari mati sendiri."
Pisau belatinya dibabat kedepan menyambar dada orang itu, dengan cepat pemuda tersebut angkat pedangnya menangkis.
"Peletak.." seketika itu juga pedang ditangannya berhasil dibabat putus menjadi dua bagian, asalkan pisau belati Liem Tou didorong satu coen lagi kedepan maka pemuda itu tanpa ampun segera binasa seketika itu juga.
Tapi bagaimana pun juga Liem Tou tak tega untuk turun tangan jahat terhadap orang itu, telapak kirinya segera melancarkan satu serangan memukul mundur tubuhnya sejauh tujuh delapan langkah kebelakang.
Pada saat dia sedikit berayal itulah Pouw Liang serta Pouw Beng sudah berada dibelakang tubuhnya.
"Breeet. . ." Liem Ton hanya merasakan punggungnya menjadi dingin kemudian disusul dengan panas, perih, sakit dan amat linu dia tahu pundaknya sudah terluka oleh goresan pedang pihak lawannya, tanpa terasa dia menagembor dengan keras, pisau belatinya dibalik menyambar kebelakang segera terdengarlah suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati dari Pouw Liang tubuhnya menggeletak keatas tanah tidak berkutik lagi.
"Pouw Liang," Suara teriakan dari Pouw Beng memecahkan kesunyian disekeliling tempat "Pouw Liang, oh .. adikku”
Liem Tou tidak mau ambil perduli lagi, dengan cepat dia melarikan dirinya kedepan. Baru saja lari beberapa ratus kaki dari tempat semula terasalah olehnya pundak yang terluka terasa sakit luar biasa, darah didepan dadanya terasa bergolak dengan amat kerasnya membuat terasa amat pening.
Dia tahu pukulan dari Au Hay Ong Bo tadi sudah membuat badannya terluka amat parah, kini terasalah olehnya seluruh badan lemas tak bertenaga, rasa mual yang sukar ditahan menyerang dadanya membuat dia hamper-hampir jatuh tak sadarkan diri.
Pada waktu itulah dia mendengar suara teriakan serta bentakan dari orang yang mangejar dirinya semakin mandekat, dia mana mau begitu saja tnenyerah kepada mereka, hatinya mendadak menjadi agak mantap dengan menggigit kencang bibirnya dan melarikan diri kearah sebelah belakang perkampungan.
Dalam hati diam-diam pikirnya lagi.
"Asalkan aku berhasil melarikan diri ke dalam lorong yang menghubungkan tempat ini dengan sungai tanpa berhasil ditangkap oleh mereka, waktu itu aku tidak usah takut pada mereka lagi.”
Tak selang berapa lamanya sampailah dia di dalam hutan di belakang perkampungan tersebut, hatinya saat ini semakin mantap lagi.
Mendadak . kuburan dari ayahnya Liem Han San muncul di hadapannya, bagaimana pun juga hubungan ayah beranak jauh lebih erat sehingga walaupun kini berada di saat-saat yang amat kritis hatinya terasa sedih juga, apalagi sejak ditinggal oleh ayahnya dan selalu menemui penderitaan yang amat hebat, tidak punya tempat tinggal yang tetap, ditambah lagi kini dalam keadaan terluka dalam yang amat parah masih dikejar kejar orang sehingga tidak ada jalan lain lagi. Penderitaan serta perih getir yang terlintas didalam pikiran kini mernbuat lututnya terasa amat lemas. Mendadak dia jatuhkan diri berlutut di hadapan kuburan ayahnya, tidak bisa ditahan lagi dia menangis amat sedihnya.
Saat itu dia sudah lupa akan keadaannya yang amat bahaya. Terdengar disamping badannya berkumandang suara pujian kepada Buddha yang amat nyaring.
"Omitohud"
Bersamaan pula terdengar suara yang bargema memenuhi seluruh angkasa.
"Buliang sohud".
Ada pula yang sudah membentak dengan amat keras.
“Liem Tou, saat ajalmu sudah diambang pintu, menangis apa gunanya ?"
Mendengar bentakan yang amat keras itulah Liem Tou baru sadar kembali dari sedihnya, ketika mengangkat kepalanya memandang terlihatlah lima enam orang sudah mengepung dirinya rapat- rapat diantara mereka ada Hwesio, tosu, pengemis termasuk juga Tok Ci Kiem Ciam atau si jari beracun jarum emas Song Beng Lan beserta Hek Loo jie.
Kepungan berlapis disekelilingnya itu mengenal semuanya adalah orang orang penjaga Au Hay Ong Bo sewaktu masih ada didalam gua besar di atas puncak Ngo Lian Hong, ketika dia memandang keluar kembali terlihatlah diluar orang-orang itu masih ada para pemuda dari perkampungan sudah mengepung rapat-rapat tempat itu.
Didalam keadaan yang amat berbahaya seperti ini seharusnya Liem Tou merasa terkejut tapi dia yang baru saja menangis dengan amat sedihnya kini malah berubah semakin tenang.
Sambil berpikir didalam hati dengan perlaban dia bangkit berdiri.
“Kenapa kau tidak mau pukul aku sampai binasa ??”
Dia menyapu sekejap kearah orang orang itu kemudian menggerutu.
“Liem Tou kali ini sudah berada disini kalian mau berbuat apa lakukanlah sekehendak kalian”
Perkataannya ini membuat semua orang yang mengepung dirinya menjadi melengak dibuatnya, terlihat Song Beng Lan, Si Hwesio gundul, tosu serta pengemis itu saling bertukar pandangan kemudian baru ujarnya.
“Sejak partai Kiem Thian pay diresmikan selamanya belum pernah terjadi suatu sakit hati seperti kematian Kuncu kami. Hmmm, kau bangsat licik banyak akal aku linat lebih baik kita tidak usah tunggu kedatangan Ong Bo lagi, rubuhkan dia terlebih dulu baru bicara kemudian bagaimana pendapat kalian bertiga ??"
Perkataan dari Song heng sudah salah besar" timbrung tosu itu. "Ong Bo sudah ada perintah demikian, janganlah kau menyalahi, kau kan sudah tahu bagaimana sifat dari Ong Bo kita."
Liem Tou yang mendengar tanya jawab antara Song Beng Lan serta tosu itu segera menjadi radar kembali, kiranya selama ini mereka ragu-ragu tidak mau turun tangan membinasakan dirinya dikarenakan Au Hay Ong Bo sendiri yang mau balaskan dendam bagi putrinya, tetapi ketika teringat akan luka yang diderita oleh Lie Siauw Ie kemudian teringat pula kalau Au-Hay Ong Bo sudah tertahan oleh sigadis cantik pengangon kambing tanpa terasa keinginan untuk hidup muncul kembali didalam hatinya, semangat jantannya berkobar kembali, pikirnya kemudian.
"Bagaimana aku bisa setolol begini, kenapa aku harus serahkan nyawaku kepada orang-orang semacam begitu?"
Seketika itu juga dalam hatinya mulai memikirkan cara untuk meloloskan diri dari kepungan tersebut, walaupun bekas luka goresan pedang pada punggungnya kini tcrasa begitu sakitnya tapi dengan keteguhan hati yang sudah dilatih sejak dia masih kecil, dengan paksakan diri itu dia menahan perasaan sakit hati itu, sepasang matanya dengan cepat segera berputar memandang sekeliling tempat tersebut.
“Hati-hati anjing kecil ini mau melarikan diri.”
Tiba tiba Song Beng Lan berteriak memberi peringatan ketika melihat keadaan dari Liem Tou itu.
Tangan kanannya dengan cepat didorong kedepan siap siap melancarkan serangan sedang matanya dengan melotot lebar lebar memperlihatkan seluruh gerak gerik dari Liem Tou ini.
Liem Tou tertawa dingin tak henti-hentinya, pisau belati di tangannya diperkencang kakinya dengan cepat berputar kemudian secara tiba tiba melancarkan satu tusukan kearah manusia berpakaian pengemis itu.
Pengemis itu sama sekali tak mau mambalas serangan itu, dia mengundurken dirinya satu langkah ke samping untuk menghalangi kembali perjalanan Liem Tou.
Sebaliknya Song Beng Lan, si Hwesio gundul serta tosu itu tidak bersabar lagi, tiga orang bersama-sama membentak, lalu sepasang tangannya bersama-sama menyerang kedepan secara berbareng.
Siapa tahu jurus serangan dari Liem Tou ini merupakan salah satu dari ilmu pedang Thian San Hwe Sian Kiam, serangan yang menusuk ke arah si pengemis tadi hanya merupakan satu serangan kosong belaka, tujuan yang sebetulnya dari jurus itu tidak bukan adalah Song Beng-Lan
Terlihatlah serangan pukulan atau jari Sakti dari Song Beng Lan serta Hwesio dan Tosu itu hampir mengenai badannya, mendadak Liem Tou membentak keras, tubuhnya secara tiba-tiba berubah arah bagaikan kilat cepatpya berputar kcsamping sedang pisau belati di tangannya dengan mengeluarkan sinar bagaikan busur membuat perhalangan tangan dari si Hwesio, Toosu serta Song Beng Lan.
Ketiga orang itu menjadi amat terperanjat, dengat cepat mereka mengundurkan dirinya ke belakang kemudian dengan pandangan terpesona memandang ke arah Liem Tou.
“Hey bangsat cilik” teriak Song Beng Lan dengan perasaan geram dan ragu-ragu.
"Jurus-jurus serangan yang begitu aneh ini kau dapatkan dari mana?”
“Hey Mou heng” serunya kemudian sembari menoleh kea rah manusia berdandan tosu, “Apa kau juga mau menunggu sampai Ong Bo datang kemari?”
Tosu itu melirik sekejap kea rah hwesio-hwesio itu, kelihatan sekali kalau dalam hati dia merasa sangat ragu-ragu.
Sedangkan hwesio itu dengan pandangan penuh arti memandang kea rah Liem Tou, lama sekali baru tanyanya.
“Hey bangsat cilik, kau bisa menggunakan jurus-jurus sakti dari Thian San Hwee Sian Kiam tentunya mempunyai hubungan yang sangat erat dengan partai Thian San?”
Liem Tou yang mempelajari semua jurus serangan itu dari kitab pusaka "Too Loo-Cin Keng" sudah tentu tidak tahu jurus-jurus serangan tersebut berasal dari partai mana, kini ditanyai begitu dia hanya membungkam dalam seribu bahasa, sedangkan di dalam hati dia terus menerus memikirkan cara untuk melarikan diri dari sana.
“Hey bangsat cilik” tiba-tiba hwesio gundul itu membentak lagi dengan suara seperti geledek. “Kalau kau adalah anak murid Thian san pay sudah tentu mengenal juga Soat Hu Li atau si Rase salju Jien Hui, bukan?”
Selesai berkata dia menoleh kepada ketiga orang temannya, kemudian sambungnya lagi.
“Kalian bertiga hengthay silahkan turun tangan, jika nanti Ong Bo menyalahkan kalian biarlah aku yang menanggung semua”
Tidak menanti ketiga orang kawannya memberikan jawaban dia sudah melancarkan satu serangan dahsyat ke arah Liem Tou.
Liem Tou menjadi amat terkejut, baru saja dia mau menghindarkan diri dari serangan dahsyat tersehut, Hek Lao jie yang sampai saat itu terus menerus menanti saat-saat yang baik untuk turun tangan secara tiba-tiba bagaikan kilat cepatnya sudah melancarkan suatu serangan dahsyat menahan angin pukulan dari Soat Hu Li itu.
"Jien-heng tahan dulu." Teriaknya dengan keras. “Sewaktu bangsat cilik Liem Tou ini melawan cayhe tadi jurus-jurus serangan yang digunakan semuanya merupakan jurus serangan dari ilmu pedang Hong In Kiam nya partai Kunlun, kini dia menggunakan juga ilmu pedang Hwee Sian Kiam dari aliran Thian San Pay, menurut pendapatku dia bukanlah anak murid dari partai mana pun, tapi agaknya sedikit punya hubungan dengan Lie Loojie."
Mandengar omongan dari Hek-loojie ini air muka Soat hu li segera berubah amat hebat.
"Hek loojie." Teriaknya gusar.
"Kami dengan kalian Siok to Siang Mo selamanya tak punya ganjalan sakit hati apapun, lebih baik kau berdiri disamping. Bangsat cilik ini punya dendam sakit hati dengan kami dari partai Kiem Thian Pay, jika kau adalah kawan kami maka harap berdiri di samping jangan turut campur, tapi jika musuh…Hmm..hmmm..”
Hek Loojie tertawa licik, sambil memandang ke arahnya dia berkata lagi.
"Aku Hek Loojiee bukan kawan juga bukan lawan kalian partai Kiem Thian Pay, hanya saja aku mau peringatkan kepadamu saja kalau ia punya hubungan dengan Lie Loojie, Siapa yang tidak tahu kalau kau Soat Hu Li kenapa mau meuggabungkan diri dengan partai Kiem Thian.Hmm, kau mau mempelajari ilmu jari sakti Yan Wi Toan Hok Ci Kong nya Au Hay Ong Bo kemudian hendak kau gabungkan dengan ilmu telapak Toa Su Log Cing hoat yang kamu pelajari dari hweesio Tibet kemudian bendak kau gunakan balas sakit hati atas diusirnya kau dari perguruan Thian San Pay.”
“Hmmmm, apa kau tidak tahu kalau Liem Tou memiliki juga kitab pusaka To Kong Pit Liok-nya Cio Coesu ? Jika kau berhasil memiliki kitab pusaka tersebut maka kepandaianmu akan jauh lebih tinggi sepuluh kali lipat dari pada mempelajari ilmu jari Yan Wei Toan Hun Ci”
Hek Loojie bisa berbicara begitu telah tentu punya rencana hendak menculik pergi Liem Tou untuk memperoleh kitab pusaka To Kong Pit Liok tersebut, makanya dia berusaha keras untuk mencegah Soat Hu Li ini turun tangan jahat terhadap Liem Tou sehingga dia jadi binasa.
Setelah mendengar omongan dari Hek Loojie ini agaknya Soat Hu Li tertarik juga, dengan cepat dia menarik serangannya dan berpikir keras.
"Jien-heng " Teriak Song beng Lan dengan cepat. "Kau jangan mau dengar omongannya, siapa yang tahu hatinya sedang merencanakan apa ? Lebih baik kita kuasai dulu bangsat cilik ini."
Sambil berkata dia maju dua langkab ke depan, jarinya dengan cepat melancarkan suatu serangan kilat mengarah jalan darah di pundak Liem Tou.
Gerakan dari Song Beng Lan ini dilakukan dengan amat cepat tapi gerakan dari Soat Hu Li jauh lebih cepat lagi, tetapi begitu dia meiihat Song Berg Lan melancarkan serangan dahsyat
dengan cepat dia mengibaskan ujung bajunya.
"Saudara Song tahan dulu" serunya,”Biarlah aku pikir pikir dulu baru kita bicarakan lagi."
Waktu itulah Hek Loo jie merasa waktunya sudah tiba, dengan meminjam kesempatan sewaktu Soat Hu Li mengibaskan ujung bajunya itulah secara tiba tiba dia membentak keres, telapak kirinya melancarkan satu serangan dahsyat membabat ketiga orang itu sedang tangan kanannya dengan cepat bagaikan kilat mencengkeram pundak dari Liem Tou.
Orang orang dari partal Kiem Thian Pay ini walaupun berjumlah banyak sekali tetapi berada di dalam keadaan tidak bersiap sedia ketika itu juga mereka berhasil memukul mundur lima enam langkah oleh angin pukulan itu hahkan Liem Tou pun terserang secara mendadak itu membuat dia menjadi kalang kabut, untuk menyerang dengan menggunakan pisau belatinya,
guna meuolong diri tidak sempat lagi dengan cepat dia melancarkan serangan dengan menggunakan ilmu "Hwe In Su" yang pernah diingatnya dari Heng San Ji Yu sewaktu masih berada di dalam lembah Cupu-cupu, telapak kirinya tiba-tiba menerobos diantara ketiak, dengan cepat menyambut datangnya serangan maut dari Hek Lao Jie itu.
Walaupun dengan gerakan ini Liem Tou berhasil menghindarkan diri dari serangan serangan yang menuju punggungnya tapi kepandaian Hek Loo Jie didalam ilmu cengkeraman mautnya ini berada diatas dugaannya, begitu dia melihat Liem Tou melihat datangnya serangan itu menjadi amat girang di dalam hatinya memang dia tidak punya minat untuk mencelakai nyawanya, pergelangan tangannya dengan cepat ditekan kebawah kemudian mencengkeram pergelangan tangan Liem Tou.
Ketika itu juga Liem Tou merasakan pergelangan tangannya seperti dijepit dengan jepitan besi, sakitnya sampai terasa diulu hatinya.
Mendadak dia membentak keras pisau belati ditangan kanannya dengan seluruh tenaga dibacok kearah pergelangan tangan Hek Loo jie.
Dengan dinginnya Hek Loo ji mendengus, tangannya sedikit ditarik kebelakang membuat badan Liem Tou menjadi sempoyongan, biar bagaimanapun juga dia menusuk membabat dan membacok dengan sekuat tenaga hanya cukup Hek Loo ji menarik lengannya membuat dia tidak sanggup untuk mendekati badannya.
Hek Loo ji yang melihat Liem Tou mencak mencak terus menerus membuat kegusarannya memuncak, dia membentak keras cengkeramannya diperkencang lagi membuat Liem Tou yang sebelumnya sudah menderita luka dalam kini merasa tidak sanggup untuk bertahan lebih lama lagi.
Saking sakitnya air muka Liem Ton sudah berubah menjadi pucat kehijau hijauan, giginya menggerutuk menahan perasaan sakit yang luar biasa, dari perubahan wajahnya yang begitu ngeri sudah cukup diketahui bagaimana perasaan sakit yang dideritanya pada saat itu.
Waktu ini si Soat Hu Li, Lie Hui, si jari beracun jarum emas Song Beng Lan, Toosu, serta pengemis sekalian menjadi amat gusar kali, mereka sama sekali tak menyangka hanya didalam satu pukulan saja Hek Loo ji berhasil pukul mundur mereka semua bahkan berhasil menguasai Liem Tou untuk dipaksa nunjukkan tempat penyimpanan Kitab pusaka To Kong Pit Liok bersama sama mereka melancarkan serangan dahsyat mengancam seluruh tubuhnya.
Didalam hati Hek Loo ji tahu dengan jelas jika dirinya berani melawan jago jago berkepandaian tinggi yang mengepung dirinya saat ini maka tidak ampun dia akan menderita kerugian, didalam keadaan seperti itu segera dia menarik badan Liem Tou sehingga bergeser kekanan menutupi seluruh badan sendiri, kiranya dia hendak menggunakan badan Liem Tou untuk dipergunakan sebagai perisai dirinya.
Liem Tou yang berturut turut menderita luka sejak tadi sudah kehilangan tenaganya untuk melawan, untuk meloloskan diripun tak ada cara terpaksa dengan hati yang cemas dia memandang sekelilingnya.
Keringat dingin mulai mengucur keluar membasahi seluruh badannya apa lagi kini di hadapannya terdapat empat orang jago berkepandaian tinggi dari Kiem Thian Pay yang selalu melancarkan serangan dahsyat ke arah Hek Loo ji setiap serangan mereka besar kemungkinan bisa mampir dan bersarang dibadan sendiri membuat dia merasa sangat terkejut sekali hanya cukup satu serangan saja dari mereka mungkin sudah cukup mencabut nyawanya sendiri.
Siapa tahu entah disebabkan oleh apa, mereka empat orang yang semula hendak membinasakan diri Liem Tou kini malah menganggap dia sebagai penghalang saja setiap serangan yang mereka lancarkan asalkan sudah mendekati dengan badan Liem Tou dengan cepat ditarik kembali, sepertinya mereka sangat takut sampai melukai dirinya.
Dengan kejadian ini kegusaran keempat orang jago dari Kiem Thian Pay ini semakin memuncak lagi.
Kurang lebih lewat seperminum teh lagi waktu itu Liem Tou yang dibawa berputar sudah mulai merasakan kepalanya sangat pening, pandangannya mu1ai menjadi kabur sedang perasaan mual didalam dadanya sukar ditahan lagi, napasnya ngos-ngosan sedang keringat yang mengalir keluar seperti air bah yang mengalir deras.
Tita .tiba. , . "Krooook. . " dari pusarnya mengeluarkan suatu suara yang ringan tapi nyaring, hawa murninya dengan cepat menerjang keatas kemudian mengitari seluruh tubuhnya.
Dalam hati Liem Tou menjadi bergerak dengan cepat dia tarik napas panjang membuat seluruh badannya terasa amat nyaman tenaga dalamnya pulih kembali seperti sedia kala membuat hatinya betul betul merasa teramat girang bercampur heran, dengan cepat dia pejamkan matanya mengatur pernapasan.
Saat ini keempat jago dari Kiem Thian Pay yang sedang bertarung melawan Hek Loo ji semakin bertempur semakin seru sedang pergelangan tangan kiri dari Liem Tou yang di cengkeram oleh Hek Loo ji pun ikut bergoncang semakin keras membuat pisau belati ditangan sebelah kanannya ikut manari dan berputar dengan amat santarnya.
Kini racun pukulan dingin Kiem Im Han Tok Ciang dari Au Hay Ong Bo sudah berhasil di paksa keluar oleh keringat yang mengucur keluar dengan amat derasnya itu sehingga luka dalamnya sudah dia sembuhkan tanpa dia sadari ditambah lagi dengan pengaturan napas beberapa lamanya membuat tenaga dalam dari Liem Tou jadi pulih kembali. Saat ini dia tidak mau bergerak banyak banyak, dia ingin menunggu kesempatan yang bagus untuk melancarkan serangan dengan menggunakan pisau belatinya membuat Hek Loo Ji menemui ajalnya.
Mendadak, "Berhenti" Suatu suara yarg memekikkan telinga bergema disekeliling tempat itu.
Terlihat sesasok bayangan manusia berkelebat, Au Hay Ong Bo sudah memunculkan dirinya disana. Ujung bajunya yang seperti baja dengan manimbulkan angin pukulan yang amat dingin menggulung kearah Hek Loo ji, serangan ini dilakukan begitu cepatnya sehingga sukar diketabui oleh pandangan mata.
Walaupun kepandaian silat dari Hek Looji tidak begitu liehay tapi jaraknya berdiri dengan diri Au Hay Ong Bo masih agak jauhan, melihat dia melancarkan satu serangan kearahnya dengan cepat dia lepaskan cengkeramannya pada Liem Tou lalu melayang mundur beberapa kaki kearah belakang.
Melihat hal ini Soat Hu Li sekalian berempat dengan gusarnya membentak keras, dengan cepat mereka melancarkan satu serangan dahsyat kearahnya membuat Hek Looji saking takutnya cepat-cepat melarikan diri terbirit birit.
Baru saja Liem Tou merasa lega karena lolos dari cengkeraman Hek Looji kini musuh tangguh muncul kembali dihadapan matanya didalam keadaan ketakutan dan terkejut pisau belati ditangan kanannya bersamaan dengan pukulan dengan menggunakan telapak kirinya bersama sama melancarkan serangan ke arah Au Hay Ong Bo, dia tahu dirinya bukanlah tandingan dari Ay Hay Ong Bo tapi dia sadar siapa yang cepat dialah yang menang, karena itulah tanpa pikir-pikir panjang lagi dia sudah melancarkan suatu serangan kearahnya.
"Heey..“ Pikirnya pula didalam hati. “Kenapa siluman tua ini bisa kesimi? apa mungkin gadis cantik pengangon kambing nona Lie sudah dikalahkan olehnya?”
Tidak perduli si gadis cantik pengangon kambing itu menang atau kalah terbukti dia tidak muncul ditengah kalangan pada saat ini sama artinya Au Hay Ong Bo tidak ada yang bisa menandingi lagi.
Karenanya segera dia melancarkan serangan gencar kearahnya dengan menggunakan berbagai macam jurus yang tidak menentu membuat Au Hay Ong Bo seketika itu juga dibuat tertegun.
Dengan menggunakan kesempatan Au Hay Ong Bo sedang tertegun itulah dengan cepat Liem Tou meloncat beberapa kaki dari sana kemudian melarikan diri dengan cepatnya kedepan.
Menanti Au Hay Ong Bo sadar kembali dia sudah berada kurang lebih dua tiga kaki dari tempatnya berdiri, dengan cepat dia membentak keras kemudian mengejar dari belakang.
Kali ini Liem Tou sudah sadar bahwa dirinya tidak mungkin berhasil mencapai gua rahasia yang menghubungkan puncak gurung dengan tepi sungai itu, karenanya dia berbalik melarikan diri kearah dalam perkampungan, untung saja jarak antara sana kearah perkampungan tidak jauh, tidak lama kemudian dia sudah sampai sedangkan waktu itu Au Hay Ong Bo sudah berada satu dua langkah dari dirinya.
Didalam keadaan amat terkejut bercampur terperanjat Liem Tou tanpa pikir panjang lagi sudah menerjang masuk kedalam rumah rakyat perkampungan yang berada dihadapannya.
Tubuhnya dengan cepat bagaikan kilat menerobos kedalam pintu rumah itu sedang Au Hay Ong Bo dengan kencangnya menguntit terus dari belakangnya memaksa Liem Tou melarikan diri lebih cepat lagi sesudah berputar putar beberapa tikungan begitu dilihatnya ada jendela di depannya tanpa pikir panjang lagi dia sudah menerobos keluar dari jendela tersebut.
Ketika dia menoleh kebelakang terlihatlah Au Hay Ong Bo masih berada didalam ruangan rumah itu, dengan cepat dan gugup dia menerobos kembali ke rumah yang lain, untung saja rakyat di dalam perkampungan itu rata rata sudah kenal dengan diri Liem Tou, begitu melihat dia muncul didalam rumah mereka sakalipun merasa kedatangannya itu secara tiba tiba tapi tidaklah terlalu merasa heran dan aneh bahkan di antara mereka ada yang berusaha membantu Liem Tou untuk menyembunyikan dirinya.
Tetapi saat ini Liem Tou yang merasa musuh musuh yang mengejar dirinya terlalu tangguh tidak mau menyusahkan orang orang yang berbaik hati itu, apalagi didalam pikirannya sudah punya maksud untuk melarikan diri kerumah kediaman Lie Siauw Ie guna melihat keadaan lukanya, karena itu dia tidak mau menerima kebaikan hati orang orang itu dengan meminjam kesempatan untuk secepat cepatnya dia menerobos keluar kemudian meloncat keatas tiang-tiang untuk melanjutkan melarikan dirinya kedepan.
Sesudah mengalami berbagai kesusahan dan rintangan akhirnya Liem Tou berhasil tiba di depan rumah Lie Siaue Ie tanpa pikir lagi dia sudah menerobos kedalam rumah.
Dengan terlihatnya Lie Siauw Ie sedarg berbaring di atas pembaringannya, melihat hal itu di daiam hatinya menjadi amat terkejut bercampur girang segera dia maju menubruk sambil teriaknya,
"Ie Cici."
Air matanya tidak bisa ditahan sudah meleleh keluar dengan derasnya, bersamaan pula secara tiba tiba dia merasakan kepalanya amat pening, tanpa bisa ditahan lagi dia rubuh keatas tanah jatuh tidak sadarkan diri.
Kiranya sekalipun luka dalamnya sebagian besar sudah hampir sembuh, hal ini dikarenakan sewaktu tadi manahan serangan telapak tangan dari Au Hay Ong Bo dia mendapatkan pukulan Kioe Im Han Tok Ciang tidak terlalu parah, sesudah mengeluarkan keringat boleh dikata racun tersebut sudah dipaksa keluar dari badannya, tapi bekas luka goresan pada punggungnya tetap terus mengalir darah segar tak henti-hentinya tadi waktu dia melarikan diri karena suasana tegang membuat dia tak begitu terasa, tapi sekarang sesudah keadaan tenang kembali membuat dia seketika itu juga merasakan keperihannya sehingga tanpa terasa lagi dia jatuhkan diri dengan tidak sadar.
Lie siauw Ie yang melihat dia jatuh pingsan menjadi amat terkejut, dengan cepat dia meloncat turun dari pembaringannya sambil berteriak dengan nada yang amat cemas.
"Adik Tou kau kenapa ?"
Saking cemasnya air matanya meleleh dengan amat derasnya, dengan cepat dia meloncat turun dari pembaringan kemudian membopong tubub Liem Tou ke atas pembaringannya.
Baru saja tangannya mulai bergerak menepuk seluruh tubuhnya guna menyadarkan dirinya dari pingsan mendadak dari luar kamar terdengar suara terikan yang amat ramai sekali mulai mendekati tempat tersebut, mendengar akan suara itu Lie Siauw Ie segera sadar kalau orang orang perkampungan sudah mengejar hingga kemari.
Dalam hati Lie Siauw Ie tahu bahwa orang tidak akan melepaskan rumahnya dengan begitu saja, mereka tentu akan mengadakan pemeriksaan yang amat teliti disekeliling rumahnya, karena itu kepada ibunya dia berkata.
"Ibu, jika mereka mencari sampai disini berusahalah mencegah gerakan mereka selanjutnya, jangan sekali-kali melepaskan mereka masuk ke dalam kamar, mereka mempunyai niat yang tidak baik terhadap adik Tou"
Sambil berkata dia menarik selimut dan menutupi seluruh tubuh dari Liem Tou, sedang dirinyapun ikut berbaring di sampingnya.
Tidak selang lama kemudian segerombolan suara tindakan kaki yang amat ramai sudah berhenti didepan pintu rumah, bahkan diantara mereka sudah ada beberapa orang yang mulai berteriak.
"Liem Pek Bo. bangsat cilik Liem Tou sudah datang mengacau perkampungan, bukan saja sudah melukai Siauw Ling ko serta Toa Tong- siok bahkan sudah bunuh mati Pouw Liang Jiesiok, aptkah bangsat cilik itu sudah bersembunyi didalam rumah Pek Bo?”
Lie Siauw Ie berbaring didalam kamar ketika mendengar berita itu didalam hatinya diam diam merasa terkejut, dia tak menyangka sama sekadi Liem Tou bisa menimbulkan bencana begitu besarnya.
"Oooh bukan, bukan…" sahut seorang pemuda diantara orang orang kampung itu, "apakah dia betul betul tidak kemari ? ? Anjing kecil itu sudah menderita luka yang amat parah dia bisa lari ke mana lagi ??"
Gerombolan pemuda itu akhirnya tanpa mengucapkan terima kasih sudah meninggalkan tempat itu uutuk mencari jejak ditempat yang lain.
Lie Siauw Ie yang mendengar mereka sudah pada meninggalkan tempat ini hatinya menjadi amat lega, dia putar tubuhnya memandang ke arah Liem Tou yang terbaring dibalik selimut, terlihatlah dia tertidur di sampingnya dengan sangat pulasnya.
Dalam hati Lie Siauw Ie hanya merasakan hatinya amat kecut dan sedih, gumamnya seorang diri.
"Ooh adik Tou, selama beberapa waktu ini tentu menderita siksaan serta penderitaan sangat hebat, kau tidurlah dengan tenang, cicimu bisa melindungi dirimu dengan mempertaruhkan nyawa cici, sejak saat ini kita berdua tidak akan berpisah kembali"
Sudah bergumam beberapa saat lamanya sekali lagi memandang ke arah Liem Tou yang jatuh pulas dengan nyenyaknya itu. Mendadak terlihatlah olehnya diujung kelopak mata Liem Ton mengucur keluar titik-titik air mata, melihat hal itu tanpa terasa lagi dari kelopak matanya sendiri mengucur keluar juga air mata dengan derasnya.
Lewat dua tiga jam kemudian suasana didalam ruangan itu semakin lama semakin redup dan mulai menggelap, saat itu merupakan permulaan musim salju pada bulan ke sepuluh tidak selang lama magrib pun sudah menjelang tiba. Saat itu Liem Tou masih tidur dengan sangat pulasnya. Lie Siauw Ie yang lukanya sudah sembuh dengan perlahan lahan turun dari pembaringan dan berjalan menuju ke dapur untuk mempersiapkan makanan malam.
Pada saat itulah gerombolan pemuda yang tadi mencari jejak Liem Tou kini mendatangi kembali tempat itu bahkan kali ini dipimpin langsung Ang ing-sin pian Pouw Sak San itu Cungcu dari perkampungan Ie Hee Cung.
Sesampainya didepan pintu rumah dia tak terus menggedor pintu, sebaliknya dengan amat teliti dia memeriksa keadaan di sekeliling rumah tersebut.
Begitu melihat munculnya gerombolan orang itu perasaan tegang mulai meliputi kembali di hati Lie Siauw Ie beserta ibunya diam diam keringat dingin mulai mengucur keluar dengan sangat derasnya.
Perlahan lahan Lie Siauw Ie mendekati pintu rumah itu, dengan meminjam sinar yang ada dia mulai mengintip dari celah-celah lubang. Terlihatlah, Si Ang in sin pian Pouw Sak San Cungcu dari perkampungan Ie Hee Cung dengan air muka penuh diliputi dengan napsu membunuh memimpin diri Liong ciang Lie Kian Poo, Pouw Beng serta pemuda perkampungan berdiri di depan rumah dengan angkernya.
Ketika melihat lagi ke arah lain terlihatlah ditempat kejauhan si Au Hay Ong Bo dengan memimpin Soat Hu Lie beserta anak buahnya dan seluruh jago yang menghadiri parjamuan sudah berdiri menyebar sekeliling tempat itu.
Dalam hati segera tahu tentunya orang orang itu sedang mengincar diri Liem Tou tanpa terasa lagi perasaan cemas dia sudah menoleh ke arah ibunya lagi.
"Ibu" teriaknya dengan sedih, "Bigaimana? "Bagaimana dengan baiknya ?"
Orang tua itu agaknya juga dibuat cemas untuk beberapa saat lamanya, tapi sebentar kemudian sudah bisa menenangkan pikirannya lagi.
"Aku sendiri juga tak tahu harus berbuat bagaimana" Sahutnya dengan menghela napas panjang. "Ie-jie, aku pikir perlahan lahan tentu kita mendapatkan cara juga untuk meloloskan diri, untuk sementara kau janganlah kuatir dulu."
"Ibu”seru Lie Siauw Ie kembali, "Jika mereka ngotot mau masuk rumah untuk mengadakan pemeriksaan bagaimana kita harus berbuat? Jika Liem Tou sampai ditawan mereka nyawanya sukar untuk ditahan lagi"
Semakin berkata Lie Siauw Ie semakin cemas dan semakin sedih lagi sehingga air mata mengucur keluar lebih deras lagi, melihat hal itu ibu Lie Siauw Ie dengan gugup memberi hiburan.
"Kau janganlah murung dulu," ujarnya. "Urusan sekarang belum terjadi buat apa kau murung??? Mungkin juga sebentar lagi mereka akan pergi"
Baru saja perkataan itu diucapkan terdengarlah diluar rumah berkumandang suara teriakan seseorang secara tiba tiba.
"Lapor Cungcu, Cepat kemarilah. Darah darah Liem Tou bangsat cilik itu pasti berada didalam rumah ini!”
Mendengar teriakan itu air muka Lie Siauw Ie segera berubah menjadi pucat pasi, dengan cepat dia menubruk ke dalam rangkulan ibunya.
"Oooh ibu!" Serunya setelah gemetar. "Bagaimana baiknya? Sebentar lagi pasti mereka masuk kemari."
Seperti orang gila Lie Siauw Ie segera melepaskan dirinya dari rangkulan ibunya kemudian lari masuk ke dalam kamarnya, dengan amat gugup sekali dia menggoyangaan tubuh Liem Tou yang masih pulas.
"Adik Tou!" teriaknya dengan amat cemas, "Cepat bangun.Bencana sudah berada diambang pintu, kau cepatlah bangun”
Saat itulah dengan suara yang amat kasar dan keras Si Ang in sin pian Pouw Sak San itu cungcu dari perkampungan Ie Hee Cung sudah mulai menggedor pintu sembari berteriak.
"Liem Tou bangsat cilik, cepat mengelinding keluar!"
Dengan perlahan Liem Tou membuka matanya kembali, tapi begitu mendengar suara bentakan dari Pouw Sak San dengan pandangan tertegun dia memandang Lie Siauw Ie yang sedang berdiri disampingnya.
"Adik Tou, kau cepat bangun." teriak Lie Siauw Ie dengan amat cemas, "Mereka sudah mencari sampai disini, kita harus mencari cara untuk menghadapi mereka. Oooh bagaimana baiknya sekarang?”
Dengan cepat Liem Tou meloncat bangun, sesudah tertidur dengan amat nyenyaknya beberapa saat lamanya semangatnya kini sudah pulih kembali.
"Cici" tanyanya dengan cemas. "Siapa? Siapa yang datang cari aku?"
"Cungcu" Sahut Lie Siauw Ie singkat tapi cukup menimbulkan getaran yang amat kuat.
Mendadak sinar mata Liem Tou meemancarkan sinar yang amat tajam, dengan cepat bagaikan kilat tubuhnya bergerak lari keluar.
Melihat gerak gerik Liem Tou ini Lie Siauw Ie menjadi amat terperanjat, dengan cepat dia menyambar menahan diri Liem Tou sembari bertanya.
"Adik Tou." Kau mau pergi kernana?"
“Bangsat anjing itu harus kubunuh sekarang juga " Teriaknya dengan amat gusar sedang air mukanya berubah membesi. "Aku.. aku tidak akan takut padanya"
"Adik Tou, kau tidak boleh pergi"
Lie Siauw Ie dengan suara yang amat lirih. "Selain Cungcu sendiri beserta siluman perempuan beserta seluruh tamu yang diundang Cungcu sudah berada di sekeliling ternpat ini, jika kau keluar bukankah hanya mengantar diri ke mulut macan?"
Mendengar omongan dari Lie Siauw Ie ini hati Liem Tou seketika itu juga menjadi dingin separuh, lama sekali dia tidak meagucapkan sepatah katapun. Tapi beberapa saat kemudian secara tiba-tiba teringat akan sesuatu hal, ujarnya kemudian.
"Kalau begitu apakah cici melihat nona pengangon kambing nona Lie itu? Dia sekarang pergi kemana? Apa dia sudah turun gunung terlebih dulu?"
Air muka Lie Siauw Ie segera berubah hebat, sepasang matanya yang jeli dan bening menarik itu dengan tajamnya memandang wajah Liem Tou, lama kemudian barulah tanyanya secara
Tiba-tiba.
"Siapa dia? Apa hanya dia seorang yang bisa menolong kau?"
Sejak kecil Liem Tou sudah terbiasa dipandang rendah orang dan diejek kanan kiri sehinaga tanpa terasa dia sudah paham sekali terhadap perubahan wajah serta perasaan seseorang begitu melihat sikap serta perubahan Lie Siauw Ie tanpa terasa hatinya sudah berdesir.
"Cici, kau jangan salah paham,” Sahutnya dengan nada yang sangat berhati hati. "Dia hanyalah gadis pengangon kambing yang sedang mengangon kambingnya, aku baru saja mangenal dia ketika bertemu ditengah jalan, Tapi kepandaian silat yang dimilikinya amat tinggi sekali, bukankah ketika masih berada didalam ruangan Cie Ie Tong kau sudah melihat sendiri bagaimana tingginya kepandaian silat yang dimilikinya?”
Dengan perasaan amat tidak puas Lie Siauw Ie mendengus, kemudian tidak mengucapkan kata kata lagi.
Waktu itu Si ang in sin pian Pouw Sak San itu cungcu dari perkampungan Ie Hee Cung sudah gembar gembor dan menggedor pintu semakin keras lagi. Ibu Siauw Ie segera berteriak memberi sahutan.
"Sejak tadi aku sudah bilang Liem Tou tidak berada disini, Siauw Ie masih terluka dan berbaring diatas pembaringan, baru saja dia tertidur dengan pulas, buat apa kalian gembar gembor tidak karuan di luaran sana?"
"Lie Toa so!" Teriak Pouw Sak San pula tidak mau kalah "Kami betul betul karena terpaksa harus menemui dia barulah memeriksa ditempat ini, sedang itu Au Hay Ong Bo pun harus mau temui dia terlebih dahulu baru meninggalkan tempat ini. Toa so, bukankah kau sudah tahu kalau Au Hay Ong Bo itu merupakan jagoan yang paling telengas didalam Bu lim saat ini? jika sampai dia marah didalam perkampungan ini tidak ada orang yang sanggup menahan dirinya. Liem Tou ada atau tidak asalkan aku melihat sebentar saja segera akan tahu. Toa so harap kau buka pintumu."
Liem Tou serta Lie Siauw Ie segara berjalan mendekati samping badan Ibu dari Siauw Ie itu.
"Pouw Sak San!" Teriak ibu Siauw Ie pura-pura marah sesudah mendengar omongan dari Ang in sin pian Pouw Sak San itu.
"Kau bertindak sebagai seorang Cungcu perkampungan yang sangat terhormat apakah demikian perbuatannya? aku sejak tadi sudah bilang kalau Liem Tou tidak berada disini, apa kau kira aku biasa ngomong bohong? Apa kau mau menganiaya aku ibu beranak yang sudah lama ditinggal mati oleh suamiku? Hmmm .. Hmmm. jikalau memangnya mau berbuat begitu silahkan hajar pintu depan, kami ibu beranak akan menyerahkan diri kepada kalian tanpa melawan.”
Beberapa patah katapun dari ibunya Siauw Ie betul betul amat lihay sekali, seketika itu juga membuatnya si Pouw Sak San itu hanya membungkam dalam seribu bahasa, agaknya dia sudah dibuat tidak berkutik oleh omongan-omongan tersebut.
"Toaso" Lama sekali barulah terdengar seseorang yang lain membuka mu!ut secara tiba-tiba.
"Aku adalah Lie Kian Poo, kalau memangnya Liem Tou tidak berada didalam kamar bukan kah tidak ada halangannya Toaso buka pintu agar Cungcu bisa melihat dengan mata kepala sendiri?"
Begitu Lie Kian Poo mulai angkat bicara seketika itu juga membuat ibunya Siauw Ie menjadi tertegun, karena Lie Kian Poo jadi orang paling jujur dan paling pegang peraturan. Semua orang di dalam perkampungan rata-rata pada menghormati dirinya sebagai pemimpin, karena itulah seketika itu juga membuat ibunya Siauw Ie tidak bisa memaki lagi.
"Ooh . . . Kian Poo siok juga ikut datang " Serunya terpaksa dengan nada mendatar "Kalau memangnya tak percaya lagi dengan omonganku apa kini Kian Poo Siok tidak mau percaya lagi terhadap omonganku ?"
"Toaso kau tak tahu keadaan yang sebenarnya." bantah Lie Kian Poo dengan cepat. "Kini bukanlah Cungcu berlaku sebagai pemimpin, tentunya dari dalam rumah Toaso juga bisa
lihat itu Au Hay Ong Bo berdiri mengawasi gerak gerik kita dari tempat kejauhan, karena itulah harap Toaso jangan salah artikan bila Cungcu kita sudah tak mau percaya dengan omongan Toaso, hal ini kami lakukan karena terpaksa."
Beberapa perkataan dari Lie Kian Poo ini sangat pakai aturan dan merupakan kejadian yang terbukti, ibunya Siauw Ie yang juga merupakan seorang yang pegang teguh aturan dalam hatinya diam-diam merasa camas, dengan perlahan dia menoleh memandang kearah Liem Tou serta Lie Siauw Ie.
Terlihatlah kedua orang itu yang satu berwajah tampan menarik sedang yang lain cantik menggiurkan dengan mesranya sedang bersandar dipelukan Liem Ton apalagi sepasang matanya yang bulat menarik itu sedang memandang dirinya dengan perasaan penuh kasihan.
Teringat akan kedua orang itulah membuat ibunya Siauw Ie terpaksa dengan gigit kencang bibirnya sendiri memberi sahutan.
“Kian Poo-siok, pintu ini aku tidak akan membukanya, jikalau Cungcu sudah tidak menyukai berdua ibu beranak, sekarang juga meninggalkan kampung ini untuk selamanya, kalau tidak silahkan menghancurkan pintu ini kemudian cabut sekalian nyawa kami berdua."
Perkataan yang penuh perasaan pedih dan sedih membuat keadaan diluar pintu sunyi senyap, agaknya Lie Kian Poo sedang berunding dengan Cungcu bagaimana caranya untuk manghadapi keadaan salanjutnya.
Mendadak.. salah satu dari Siang hui hok itu yang bernama Pouw Beng dengan amat gusarnya sudah berteriak keras.
"Hey Cung cu, kamu orang tidak bisa berbuat begini, dengan terang-terangan Liem Tou berada didalam rumah kenapa kau tidak langsung masuk ke dalam untuk tawan dia keluar?? Apa kau kira nyawa saudara bisa dibuang dengan sia-sia saja ? ? Haaa ? Jika kamu tak mau turun tangan biar aku yang kerjakan sendiri,”
"Pouw Beng," teriak ibunya Siauw Ie dengan amat gusar sedang dalam hati diam-diam merasa amat terperanjat. "Menghormati yang tua membantu yang muda, melindungi yang tua melindungi kaum pelajar itulah peraturan dari perkampungan kita, kau berani."
"Kau jadi orang tidak pakai aturan perkampungan dengan kamu ?" Bentak Pouw Berg yang berada diluar rumah dengan amat gusarnya.
"Braaak . . " terdengar suara yang amat keras bergema memenuhi sekeliling tempat itu, pintu rumah dari Lie Siauw Ie sudah terhajar oleh bogem mentahnya Pouw Bang, seketika itu juga debu serta pasir memenuhi angkasa sedang pintunya sendiri hanya berbunyi dengan sangat keras, pintu yang terbuat dari kayu keras itu tetap utuh tak sampai terhajar bobol oleh pukulan tersebut.
Keahlian pertama dari Pouw Beng terletak pada ilmu meringankan tubuh saja sedangkan tenaga pukulannya tidak begitu hebat, karena itu biar pun dia sudah melayangkan bogem mentahnya pada atas pintu tapi tidak sampai berhasil menghancurkan pintu tersebut.
Tetapi dengan terjadinya peristiwa ini membuat suatu perasaan yang ngeri meliputi tiga orang yang terkurung dalam rumah itu, suatu perasaan aneh muncul di dasar lubuk hati mereka, di dalam keadaan yang amat terperanjat serta cemas itulah tanpa terasa, mereka bertiga sudah diikuti oleh ketegangan yang sukar dikatakan, air muka mereka dengan sendirinya juga ikut berubah menjadi amat keren.
Tangan kiri Liem Tou dengan kencang memegang pisau belati sedang tangan kanannya melindungi dadanya, sebaliknya Lie Siauw Ie melintangkan pedangnya di depan siap menghadapi serangan musuh bersamaan pula meraup senjata rahasia Kioe Cu Kien Ciam siap disambitkan keluar.
(Bersambung ke jilid 13)
Sampai waktu seperti ini mau tak mau ibunya Siauw Ie pun terpaksa siap mengadu jiwa, sepasang golok tipisnya dicabut keluar siap menghadapi musuh.
Mereka bertiga sama-sama memusatkan seluruh perhatiannya menanti serangan musuh selanjutnya, asalkan pintu itu sedikit terbuka maka secara serentakan dan tiba tiba mereka akan melancarkan serangan untuk seIanjutnya menerjang keluar bagaimana kemudian mereka tidak berani berpikir lanjut bahkan memangnya tidak punya waktu untuk berpikir hal itu lebih teliti bagi.
"Dak . . . duk . . duk . . . suara gedoran dari Pouw Beng sekali lagi bergema diseluruh ruangan, jika situasi pintu itu agaknya sebentar lagi tidak akan sanggup untuk menerirna gemparan telapak Pouw Beng.
Pada saat yang amat kritis itulah tiba-tiba dari belakang Perkampungan berkumandang bentakan serta suitan yang amat nyaring bagaikan kicauan burung kenari memecahkan kesunyian yang mencekam kemudian disusul dengan suara teriakan si gadis cantik pengangon kambing dengan suaranya yang amat keras.
"Liem Tou koko.” Serunya. ”Tunggu aku sebentar, kau jangan lari begitu cepat.”
Begitu teriakan itu muncul sesaat kemudian suara gedoran di pintu luar menjadi tenang kembali, sedang Liem Tou yang berada didalam ruangan pun dibuat menjadi melengak.
"Liem Tou koko. “Suara teriakan dari gadis cantik pengangon kambing itu berkumandang kembali. “Tadi kamu orang pergi kemana? Aduh..kau membuat aku merasa tersiksa dan menderita hanya karena mencari dirimu”
Dengan omongannya itu dengan amat jelas dia sudah beritahu pada orang lain kalau Liem Tou tidak berada disana. Pouw Beng, Ang in sin pian beserta para jago lainnya yang berada diluar rumah mendengar perkataan itu dengan sangat jelas, kalau memangnya begitu buat apa mereka buang tenaga dan waktu di luar rumah keluarga Lie ini?
"Ayoh jalan.” Suara teriakan yang amat keras segera bergema disana.
Serentetan suara langkah manusia yang amat keras berkumandang kemudian semakin lama semakin perlahan dan akhirnya lenyap dari pendengaran.
Bagaimana secara mendadak gadis cantik pengangon kambing itu bisa muncul di situ membantu Liem Tou lolos dari ancaman bahaya? Kiranya waktu itu sesudah Liem Tou berhasil menerjang keluar dari pintu ruangan Cie Eng Tong antara dirinya segera terjadilah suatu pertempuran yang amat sengit melawan Au Hay Ong Bo itu, karena kepandaian mereka seimbang karena itu untuk beberapa waktu lamanya tidak ada seorang diantara mereka yang menderita kalah.
Au Hay Ong Bo yang di dalam hatinya hanya punya tujuan terhadap Liem Tou seorang, ketika melihat Liem Tou melarikan diri dari dalam ruangan itu bagaimana pun juga membuat pikirannya sedikit bercabang, dengan kesempatan itulah gadis cantik pengangon kambing untuk beberapa saat lamanya berhasil menduduki diatas angin.
Siapa tahu dengan menggunakan kesempatan itulah si Ang in sin pian itu cungcu dari perkampungan Ie Hee Cung sudah melancarkan serangan kembali ke arah si golok naga hijau Sie Piauw tauw, bagaimana pun juga karena usia yang sudah tinggi ditambah lagi kepandalan silatnya memang sudah kalah satu tingkat dari Ang in sin pian itu tidak sampai mencapai dua puluh jurus sekali lagi si golok naga hijau sudah terjerumus kedalam keadaan yang sangat berbahaya.
Muridnya yang tertua Oei Poh ketika melihat suhunya terdesak dibawah angin bahkan keadaannya sangat bahaya segera menerjunkah diri ke dalam kancah pertarungan, pada saat yang bersamaan pula Lie Kian Poo sudah munculkan diri menahan serangannya mau tak mau terjadilah suatu pertempuran yang amat sengit antara Oei Poh dengan Lie Kian Poo.
Waktu semakin lama keadaan dari si goloknaga hijau Sie Piauw tauw semakin babaya lagi, pecut sakti yang berada ditangan Ang in sin pian sudah menutupi seluruh tubuhnya bahkan menekan badannya makin lama semakin berat, setiap saat nyawanya mungkin bisa melayang di bawah serangan cambuk tersebut.
Gadis cantik pengangon kambing yang melihat keadaannya itu terpaksa harus melepaskan diri Au Hay Ong Bo untuk memberikan bantuannya.
Di dalam hati Au Hay Ong Bo hanya punya satu tujuan saja yaitu membalaskan sakit hati putri kesayangannya, begitu gadis cantik pengangon kambing itu menghindar ke samping dengan cepat dia merebut keluar dari pintu untuk mengejar Liem Tou.
Setelah gadis cantik pengangon kambing berhasil menolong golok naga hijau Sie piauw tauw itu keluar dari bencana kematian segera terjadilah pertempuran sengit melawan diri Pouw Sak San, tapi sewaktu dilihatnya Au Hay Ong Bo sudah tidak berada dalam ruangan dengan tergesa-gesa dia pimpin si golok naga hijau bersama muridnya turun dari gunung itu.
Sesudah meloloskan diri dari cengkeraman Ang in sin pian inilah dia baru bisa lari kearah Liem Tou dimana tadi melarikan dirinya sedang saat itu bertepatan sewaktu Au Hay Ong Bo menerobos setiap rumah untuk mencari jejak Liem Tou, dengan cepat dia mengerahkan ilmu meringankan tubuh Hui Si Ya In atau terbang layang bagaikan mega meloncat naik ke puncak pohon yang lebat, dari sanalah dia bisa melihat semua pemandangan di dalam perkampungan itu sehingga sewaktu Liem Tou bersembunyi di rumah Lie Siauw Ie orang lain tidak bisa tahu sebaliknya dia bisa melihat semuanya dengan teramat jelas.
Dia terus manyembunyikan dirinya sehingga dilihatnya Pouw Beng menggedor pintu dan Liem Tou di dalam keadaaan yang amat berbahaya, sampai waktu itulah dia baru bersuit nyaring kemudian mengeluarkan kata kata tersebut, dia sengaja berbuat begitu untuk memancing pergi Ang in sin pian serta Au Hay Ong Bo sekalian sehingga dengan begitu Liem Tou memperoleh kesempatan untuk melarikan diri.
Sewaktu Liem Tou tadi mendengar suara seruan dari gadis cantik pengangon kambing itu semula dia dibuat ragu ragu untuk beberapa saat lamanya kini mendengar cungcu sekalian sudah pada bubaran dan mengejar kearah mana datangnya suara tadi pikirnya segera berputar kembali, saat ini dia sudah sadar peristiwa apa yang sudah terjadi, karenanya dengan amat cemas ujarnya kepada Lie Siauw le serta ibunya.
"Pek-bo, cici, aku mau pergi harap Pekbo serta Cici baik-baik jaga diri.”
sambil berkata dia putar tubuhnya siap berlari dari sana.
"Adik Tou tunggu sebentar" mendadak Lie Siauw Ie rnembentak dengan keras menahan kepergiannya.
Liem Tou menjadi bingung dengan cepat ia menoleh kebelakang, terlihatlah Lie Siauw le dengan wajah penuh air mata sedang berlutut di hadapan ibunya memberi mohon dengan suara yang amat pedihnya,
"Ibu, hari ini le jie mau turun gunung bersama sama adik Tou, tentu ibu bisa mengabulkan bukan?"
Mendengar permintaan anaknya ini ibunya Siauw Ie menjadi amat terperanjat tanpa disadari dia sudah mundur setengah langkah kebelakang.
"Kau . . . . kau bilang apa?? " tanyanya dengan suara gemetar sedang pedangnya dengan tertegun memandang wajah Lie Siauw le.
Dalam hati Lie Siauw Ie merasakan hatinya begitu hancur, tapi ketika teringat akan waktu, waktu yang lalu mendesak paksaan dengan paksakan diri sambungnya.
"Ibu, putrimu tahu saat ini kau orang tua merasa sangat terkejut, tapi sikap dari orang-orang keluarga Pouw betul-betul membuat putrimu tidak tahan lagi, jika putrimu berada di sini malah sebaliknya mendatangkan berbagai kesulitan kepada ibu, ini hari aku aku mau turun gunng bersama-sama adik Tou tentunya ibu bisa mengabulkan permintaanku ini,bukan? paling lama satu tahun asalkan kepandaian silat adik Tou sudah berhasil dilatihnya pasti putrimu akan kembali lagi."
Lie hujien ketika mendengar perkataan dari putrinya ini dalam hati betul-betul merasa sangat sedih sekali, selama ini dia hidap bersama-sama dengan Lie Siauw Ie sudah tentu tidak akan reIa ditinggal pergi oleh putrinya, tanpa terasa air matanya sudah meleleh keluar dengan derasnya, sambil bungkam seribu bahasa dia gelengkan kepalanya.
Tetapi bagaimana pun juga perasan seorang ibu jauh lebih tajam dan mengerti akan perasaan putrinya, cintanya terhadap Lie Siauw Ie boleh kata cinta yang muncul dari dasar lubuk hatinya, kini melihat dia bersama Liem Tou memangnya sepasang manusla yang setimpal walaupun di dalam hati dia merasa seperti diiris-iris tanpa terasa gelengkan kepalanya sudah berubah anggukkan tanda setuju sedang pada airmukanya pun muncul senyuman yang amat manis, sahutnya dengan suara yang rendah.
"Kalian pergilah, asalkan kalian berdua bisa berkumpul menjadi satu, hatiku sudah merasa amat gembira.”
Dengan wajah penuh air mata Lie Siauw le mendongakkan kepalanya memandang wajah ibunya yang amat ramah dan kasih penuh kasih sayang itu, mendadak sepasang tangannya sudah menubruk sepasang lutut ibunya.
"Oooh . . . ibu, wajahmu mengapa bisa berubah menjadi begini rupa?" teriaknya sambil menangis tersedu sedu "Kau bukannya sedang tertawa sungguh-sungguh, aku tidak akan pergi, tidak jadi pergi, kau jangan salahkan aku"
Perasaan antara cinta kasih ibu dengan anak yang mucul secara tiba-tiba membuat Lie-si tidak kuat menahan gejolak hatinya, dengaa cepat dia merangkul badan Lie Siauw le sembari menangis dengan amat sedihnya, untuk beberapa saat lamanya dia tak sanggup untuk mengucapkan sepatah katapun.
Waktu itu Liem Tou yang melihat sikap mereka ibu beranak, tanpa terasa juga meneteskan air matanya, teringat olehnya keadaan dirinya yang sejak kecil sudah ditinggal mati oleh kedua orang tuanya, segera dia mendorong pintu sambil ujarnya kepada mereka berdua.
"Pek bo, cici aku mau pergi dulu."
Sehabis berkata dia putar tubuhnya kembali berlari keluar.
Baru saja berjalan dua langkah dari tempat semula mendadak Lie Siauw Ie dengan wajah penuh air mata mendongak keatas.
"Cici." teriaknya dengan suara yang menyedihkan sekali.
Mendengar suara panggilan yang penuh perasaan duka itu Liem Tou hanya merasakan hatinya diiris-iris dengan pisau tajam tubuhnya yang bergerak maju dengan sendirinya tertahan kembali ketempat semula. Dengan pandangan penuh perasaan sedih dia memandang wajah Lie Siauw le lama sekali mereka berdua saling berpandang-pandangan. Agaknya di dalam hati mereka berdua siapa pun tidak ada yang mau berpisah kembali hal ini bisa dilihat dari sinar mata mereka yang penuh kesedihan.
Lie-si yang melihat keadaan mereka dari samping dalam hatinya serasa tergetar amat keras sekali, pikirnya diam-diam.
"Kenapa aku harus berbuat demikian kejam? Sudah jelas cinta mereka berdua sudah mencapai pada titik puncak, sekali pun le-jie amat ku sayangi tapi bagaimana aku bisa berbuat demikian sehingga mereka berdua menjadi berpisah kembali?? Apalagi perkataan dari le-jie tadi memang ada betulnya, kenapa aku bisa berbuat demikian tolol”
Berpikir sampai disitu segera dia melepaskan kembali rangkulannya pada diri Lie Siauw Ie.
"Liem Tou." teriaknya sembari mengangkat kepalanya memandang tajam ke arah Liem Tou,
"Kau tunggulah sebentar, aku ada perkataan yang hendak kusampaikan kepadamu"
Waktu ini perasaan cinta kasihnya sudah berubah menjadi kemantapan dengan demikian air muka yang sangat angker pun berubah menjadi penuh kewibawaan.
"Liem Tou" sambungnya kembali. "Aku tahu sifatmu sangat jujur dan merupakan seorang yang bisa dipercaya. Mulai saat ini juga aku akan serahkan Siauw Ie kepada dirimu walau pun dia jauh lebih tua dua tahun dari dirimu tapi bagaimana pun juga dia masih merupakan seorang gadis suci, sesudah turun gunung kau harus betul-betul jaga dan melindungi dirinya. Semoga saja sejak kini kau bisa berlatih ilmu silat lebih giat lagi sehingga bisa kembali ke atas gunung secepat mungkin agar aku yang menunggu pun tak usah menanti Iebih lama lagi"
"Ibu aku tidak jadi pergi " teriak Lie Siauw Ie kemudian sesudah mendengar omongan ibunya ini.'Aku mau tinggal disini untuk mngawani ibu hidup hingga akhir jaman."
Cinta kasih serta keagungan dari kasih sayang seorang ibu walau pun harus berbuat bagaimana pun rela berkorban demi putrinya yang tercinta.
“Boanpwee takkan membiarkan Ie cici diganggu”
"Ie jie, kau harus dengar omonganku " ujarnya lagi dengan penuh rasa sayang. "Kau bisa pergi bersama-sama Liem Tou hal ini sudah menjadi keinginanmu, apalagi dnegan berbuat begini kau akan lolos dari siksaan orang-orang keluarga Pouw, kau bisa lolos dari bencana sudah tentu ibumu pun ikut bergembira. Pergilah, ibumu masih bisa menjaga dan mengurusi diriku sendiri. Ie-jie, kau tak perlu kuatir lagi”
Lie Siauw Ie hanya bisa menundukkan kepalanya saja sambil melelehkan air mata, sepatah kata pun tak bisa diucapkan kembali.
Liem Tou yang berdiri disamping melihat dia tak berbicara lagi segera tahu kalau Lie Siauw Ie sudah menyetujui untuk pergi bersama-sama dia, karena itulah dengan sangat hormat sekal dia bungkukkan diri didepan Lie si untuk memberi hormat.
“Pekbo, harap kau berlega hati” ujarnya dengan penuh perasaan hormat.
“Sekali pun tubuh boanpwee hancur lebur pasti akan melindungi keselamatan Ie-cici. Boanpwee tak akan membiarkan Ie-cici diganggu orang lain sehingga mendapatkan cidera, bilamana Ie-cici terjadi urusan silahkan pekbo cari boanpwee untuk dimintai pertanggungjawaban”
Melihat perkataan dari Liem Tou yang penuh semangat dan lucu itu tanpa terasa Lie-si sudah anggukkan kepala sembari tertawa.
“Begitu pun juga baik,” sahutnya sambil tersenyum, “Keadaan di dalam dunia kangouw sangat berbahaya sekali, orang-orang banyak yang licik dan kejam jauh berbeda dengan di rumah, sehingga jangan sampai terjerumus ke dalam lembah kehinaan. Nah..sekarang kalian cepatlah pergi.”
Sekali lagi Liem Tou bungkukkan badan memberi hormat sembari tambahnya.
“Cukup Pekbo tunggu satu tahun saja, boanpwee serta Ie-cici tentu akan kembali ke perkampungan untuk menyambangi diri Pekbo”
Segera dia menarik tangan Lie Siauw le dan ujarnya.
"Cici waktu sangat mendesak sekali kita tak bisa buang-buang waktu kembali, ayoh jalan."
Lie Siauw Ie tak memberikan jawabannya mendadak dia jatuhkan diri berlutut dihadapan ibunya kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya memberi hormat lama sekali baru panggilnya.
“Ibu…” perkataan selanjutnya tak sanggup diucapkan kembali.
Waktu Liem Tou benar-benar merasakan waktu yang amat mendesak dia tak berani menunda waktu kembali, dengan sekuat tenaga ditariknya badan Siauw le untuk bangkit kemudian meninggalkan tempat itu dengan cepat.
Waktu itu Lie si pun ikut bantu mendesak Lie Siauw le agar cepat meninggalkan tempat itu sampai saat itulah dengan perasaan berat ia baru bangkit berdiri, satu Iangkah bergerak maju satu kali menoleh kebelakang, dengan perasaan hati yang amat berat dia mengikuti diri Liem Tou meninggalkan tempat itu.
Begitu sampai di luaran segera dia tahu kalau orang-orang yang mengepung di sekeliling tempat itu sudah dipancing itu gadis cantik pengangon kambing ke perkampungan bagian belakang, dergan begitu jika dia mau turun gunung haruslah melalui tiga tempat rintangan maut yang berada di depan.
Diam-diam pikirnya dalam hati.
"Dengan kepandaianku pada saat ini untuk melewati sungai kematian serta tebing maut mungkin masih sanggup tapi jembatan pencabut nyawa itu. . ."
Tapi urusan sudah sampai begitu rupa walau pun di dalam hati dia tahu tidak punya pegangan yang kuat terpaksa dengan menempuh bahaya harus dicoba juga.
Sesudah mengambil keputusan di dalam hatinya, dengan menggandeng tangan Lie Siauw Ie dia melanjutkan perjalanannya kedepan. “Cici, ayoh jalan," teriaknya.
Saat ini malam hari sudah menjelang datang cuaca amat gelap sehingga sukar melihat tempat jauh. Liem Tou serta Lie Siauw le segera melayangkan badannya ke depan menuju ke gunung bagian depan.
Tidak selang beberapa lama sampailah mereka berdua ditepi jembatan pencabut nyawa.
"Cici " Tanya Liem Tou dengan suara perlahan.: "Sungai kematian serta Tebing maut sudah sukar untuk menahan diriku, tapi Jembatan pencabut nyawa ini keadaannya memang sungguh luar biasa bahayanya, cukup tidak tenang sedikit saja badan kita bisa hancur ditelan dasar jurang yang teramat dalam itu, bagaimana baiknya kita melewati tempat ini?"
“Adik Tou " sahut Lie Siauw Ie sembari menghela napas panjang. "Sejak kau meningalkan atas gunung waktu itu di dalam hatiku sudah punya maksud untuk turun gunung mencari dirimu. Jien Cui cici pernah memberi pelajaran ilmu meringankan tubuh kepadaku mungkin kini sudah bisa digunakan untuk melewati tempat ini, biarlah aku lewat dulu."
Liem Tou yang mendengar perkataan dari Lie Siauw Ie ini segera tahu bahwa sekali pun ilmu meringankan tubuhnya sudah mendapatkan kemajuan tapi selama ini belum pernah sungguh-sungguh mencoba untuk melewati jembatan pencabut nyawa ini, karenanya dengan perasaan tidak tenan jengahnya.
“Cici tempat ini bukanlah tempat untuk main-main biarlah adik Tou mencoba terlebih dulu”
"Tadi dia sudah bilang tak punya pegangan jika.. "
Berpikir sampai disini tanpa terasa lagi Lie Siauw Ie sudah menghembuskan napas dingin, dengan cepat ujarnya.
"Jangan... jangan. . Iebih baik kita cari cara yang lain saja untuk turun gunung ."
Dengan perkataan Lie Siauw Ie ini agaknya Liem Tou sudah dibuat ragu-ragu juga oleh kemampuan dirinya untuk balik ke perkampungan bagian belakang sudan tidak mungkin terjadi apalagi satu satunya jalan baginya sekarang untuk meloloskan diri hanya jalan ini saja membuat hatinya seketika itu juga dibuat bingung sekali.
Tapi ketika mengingat kekejamam dari Au Hay Ong Bo serta si Ang in sin pian itu Cung cu dari perkampungan le Hee Cung hatinya jadi mantap kembali, segera dia maju ke pinggir jembatan siap untuk menyeberanginya.
Melihat hal itu Lie Siauw Ie menjadi terperanjat.
"Adik Tou, jangan" teriaknya dengan keras.
Tetapi Liern Tou sudah pusatkan tenaga dalamnya, dengan satu kali loncatan dia telah meloncat ke atas kawat baja yang menghubungkan tebing yang satu dengan tebing yang lain ini, dengan menutulkan kakinya bagaikan burung walet Liem Tou sudah berhasil menyeberangi jembatan pencabut nyawa itu.
Lie Siauw Ie menjadi sangat girang sekali, dengan cepat dia bergerak siap menyeberangi juga jembatan itu,
"Cici tunggu dulu," mendadak Liem Tou berteriak dengan keras.
Dengan dua kali loncatan dia berbalik kembali ke sisi Siauw le, sambungnya lagi. "Beruntung aku bisa melewati jembatan ini tapi cici dapat menyeberangi atau tidak belum bisa ditentukan sekarang.Kini aku sudah dapatkan cara harap cici mau mencobanya terlebih dulu, bisa menyeberangi atau tidak dapat kita ketahui.”
Siauw Ie menjadi sangat heran, dengan perasaan ingin tahu dia pandang wajah Liem Tou, lama kemudian barulah tanyanya.
"Kau punya cara apa untuk mengetahui aku bisa menyeberangi jembatan ini atau tidak ?”
"Itu soal gampang," sahut Liem Tou sembari tersenyum. "Asalkan ilmu meriangankan tubuh cici bisa mengalahkan ilmuku sudah tentu cici bisa menyeberangi tempat ini. Sekarang baiklah kita masing masing meloncat ke atas sekali, jika cici bisa meloncat !ebih tinggi dari diriku itu tandanya ilmu cici lebih tinggi dari diriku.”
"Baiklah" sahut Lie Siauw Ie menyetujuinya.
Demikianlah mereka berdua segera mengerahkan tenaga dalamnya untuk kemudian bersama sama meloncat ke atas udara.
Dengan loncatan ini segera terlihatlah kalau Lie Siauw Ie ternyata bisa meloncat sama tingginya dengan loncatan Liem Tou hal ini menunjukkan kalau kepandaian ilmu meringankan tubuh dari Lie Siauw Ie memang seimbang dengan kepandaiannya Liem Tou membuat dalam hati mereka berdua diam-diam merasa amat girang sekali.
Pada saat mereka sedang merasa gembira itulah mendadak . . . dari ujung jembatan pencabut nyawa sebelah sana secara samar samar berkumandang datang suara manusia yang makin lama semakin mendekat.
“Hmmm . hmmm .. . bangsat Hek Loo jie dari Siok-to siang Moo ternyata begitu berani mencari gara-gara dengan partai Kiem Thian Pay kita, ini hari dia dapat loloskan diri boleh dikata keuntungan yang besar bagi dirinya,
hmmm . . . "
Mendengar perkataan itu Liem Tou serta Lie Siauw Ie menjadi amat terkejut, tanpa terasa lagi mereka berdua sudah mengeluarkan suara tertahan, masing-masing segera meloncat ke samping batu batu cadas dan menyembunyikan dirinya.
Beberapa saat kemudian dari bawah tebing kelihatan meluncur datang beberapa sosok bayangan manusia yang amat cepat, ditinjau dari gerakannya yang begitu ringan dan lincah sudah jelas kalau mereka merupakan jagoan yang berkepandaian sangat tinggi dan terkenal di dalam dunia kangouw saat ini, saat ini jarak mereka dengan tempat persembunyian Liem Tou masih sangat jauh sehingga sangat sukar untuk melihat jelas wajah mereka.
Perlahan-lahan beberapa sosok bayangan itu makin mendekat lagi akhirnya sudah tiba di ujung jembatan pencabut nyawa itu, saat inilah Liem Tou baru melihat mereka ternyata adalah si Soat Hu Li serta Song beng Lan sekalian dari Kiem Thian Pay.
"Cici" ujarnya kemudian kepada Lie Siauw Ie dengan suara yang amat lirih.
"Mereka-mereka itu semua adalah jago-jago dari Kiem Thian Pay yang berpusat di daerah Au Hay, orang orang itulah yang ditugaskan oleh Au Hay Ong Bo untuk datang menawan diriku."
"Adik Tou" tanya Lie Siauw Ie dengan parasaan heran. "Bagaimana kau bisa kenal dengan orang orang itu ? Jika didengar dengan perkataan siluman tua itu agaknya kau pernah mematikan putrinya, sebetulnya kau sudah terjadi urusan apa ?"
Ditanyai begitu oleh Lie Siauw Ie seketika itu juga mengingatkan Liem Tou atas peristiwa yang terjadi, dengan perasaan amat gusar sahut nya.
"Hmmm . . kurang sedikit budak anjing itu menyebabkan nyawaku hilang ditangannya, karena dia membuat jago-jago dari golongan Pek-to maupun Hek- to pada mencari diriku, bukan saja dia sudah kurung aku di dalam sebuah gua yang siang malam tidak melihat udara di tengah gunung Ngo Lian Hong bahkan sering dia pukul hingga aku terluka parah, akhirnya aku kirim satu pukulan maut yang mencabut nyawanya sehingga dendamku selama ini bisa kubalas.”
"Adik Tou" ujar Lie Siauw Ie sembari menghe!a napas perlahan. 'Sejak saat itu kau turun gunung, siang malam aku selalu memikirkan keselamatan dirimu tidak kusangka kau betul-betul menemui kesulitan dan berbagai siksaan yang begitu hebat. Heei . ."
Dengan peruh kemesraan Liem Tou memeluk pinggang Lie Siauw Ie, ujarnya dengan nada penuh kasih sayang.
"Cici, aku pun selalu merindukan diri cici sejak aku dengar berita yang mengatakan cici menjadi gila, aku.. tahukah.. adikmu menjadi sedih sekali, hanya aku gemas tidak punya sayap sehingga bisa cepat terbang ke sisi cici dan melihat keadaan yang sesungguhnya."
"Waktu itu aku hanya pura-pura gila," sahutnya sembari tersenyum. "Saat itu aku betul-betul galak sekali, orang-orang keluarga Pouw yang tidak tahu malu itu setiap hari datang ke rumah ku mendesak ibuku agar aku dijodohkan dengan Pouw Siauw Ling, karena gusarnya aku terus saja pura- pura menjadi gila dan kasih hajaran pada mereka, jika bukannya saya mau dengar omongan ibuku serta Jien Coei cici hendak ngasih hajaran mereka dengan senjata rahasianya Cu Gien Ciam."
Setelah mendengar kisah inilah Liem Tou baru sadar kembali kejadian apa yang sudah terjadi.
Saat ini si Soat Hu Li serta Song Beng Lan sudah berhasil melewati jembatan Pencabut nyawa itu dan melanjutkan perjalanan mereka menuju ke dalam perkampungan le Hee Cung.
oooXooo
9
Sesudah melihat bayangan mereka sekalian lenyap dibalik perkampungan barulah Liem Tou berani munculkan dirinya, sembari menarik tangan Lie Siauw Ie ujarnya.
"Cici, meminjam kesempatan tidak ada orang yang menyeberangi jembatan in marilah kita cepat berlalu”
Kedua orang itu dengan cepat meloncat bangun dan berdiri menuju ke tepi jembatan.
“Cici”ujar Liem Tou kembali. “Kau meloncatlah terlebih dulu tapi harus berhati-hati”
“Tidak” bantah Lie Siauw le dengan cepat. “Kau menyeberanglah terlebih dulu.”
Siapa tahu perkataan ini diucapkan dari dalam Perkampungan secara tiba- tiba berkumandang datang beberapa kali suitan yang amat nyaring dan memekikkan telinga kemudian disusul dengan suara suitan yang saling susul-menyusul dari segala penjuru.
Dengan cepat Liem Tou menoleh ke belakang terlihatlah sinar obor yang terang benderang sudah mulai muncul di seluruh penjuru sekitar perkampungan itu kemudian dengan cepat bergerak menuju ke arah mereka berada bahkan di depan gerombolan orang-orang yang membawa obor itu berkelebat sesosok bayangan putih yang amat jelas sekali.
Dibelakang bayangan putih itu muncullah berpuluh puluh bayangan hitam yang mengejar dari belakangnya gerakan mereka ketat cepat bagaikan bertiupnya angin taupan, hanya di dalam sekejap saja titik-titik hitam itu sudah mula mendekat.
Segera Liem Tou menjadi sadar kembali bahwa mereka-mereka itu pastilah orang orang yang sedang mengejar diri gadis cantik pengangon kambing yang memakai pakaian warna putih itu, tanpa terasa lagi dia menjadi sangat terkejut, perasaan terperanjat ini bukanlah dikarenakan kuatir atas keselamatan gadis cantik pengangon kambing itu melainkan karena arah yang dituju mereka semua justru mengarah dimana kini dia berdua berada.
Dia tahu walau pun usia dari gadis cantik pengangon kambing itu masih sangat muda tapi kepandaian silatnya betul-betul sudah mendapatkan warisan dari ayahnya Lie Loo jie, ayahnya Lie Loo jie terbukti bisa melawan
Thian Pian Siauw cu dengan seimbang sudah tentu Au Hay Ong Bo tidak mungkin berhasil melukai dirinya.
Tapi yang membuat pikirannya menjadi bingung adalah arah yang jurusan mereka tempuh, jika mereka berdua tidak lekas-lekas meninggalkan tempat ini pastitah jejak mereka segera akan ditemukan, sampai waktu itu sudahlah mesti tidak mungkin baginya untuk melarikan diri.
Berpikir sampai disini tanpa berpikir lebih panjang lagi dengan cemas teriaknya.
“Cici, mereka sudah datang, kalau kau tidak mau lawan terlebih dulu baiklah aku yang menyeberangi dulu."
Sehabis berkata segera dia pusatkan tenaga dalamnya kemudian meloncati Jembatan Pencabut nyawa itu.
Tanpa mereka duga sesosok bayangan hitam sejak tadi sudah mengincar diri mereka bahkan semua perkataan yang mereka berdua katakan
sudah didengar olehnya, orang itu dengan rapatnya menyembunyikan dirinya di samping Liem Tou berada di tengah jembatan baru melancarkan serangan mengganggu dirinya.
Orang yang sembunyi di sisi jembatan pencabut nyawa itu bukan lain adalah salah satu anggota dari Siok to Siang Mo, Hek Loo-jie adanya.
Tadi sesudah dikejar oleh Soat Hu Li serta Song Beng Lan sekalian dari Kiem Thian Pay sehingga memaksa dia melarikan diri turun gunung dengan cepat dia menyelinapkan dirinya di suatu tempat kegelapan, dengan tidak perduli hubungan persaudaraan selama tiga tahun lamanya dia menyiksa dan menganiaya Hek Lotoa hanya bertujuan merebut kitab pusaka To Kong Pit Liok, ternyata sebelum dia peroleh sudah keburu didapatkan oleh Liem Tou, sudah tentu saat ini dia tidak rela meninggalkan puncak gunung Ha Mo San ini begitu saja.
Menanti sesudah beberapa orang jago dari Kiem Thian Pay ini naik kembali ke atas gunung dengan perlahan barulah dia meloncat keluar dari tempat persembunyiannya untuk selanjutnya meloncat ke pinggir tebing di samping Jembatan pencabut nyawa tersebut.
Saat itulah secara tiba-tiba dia merasa di samping jembatan ada orang yang sedang bersembunyi, dengan cepat dia menyingkir ke samping untuk melihat jelas orang tersebut.
Tak terkira girang hatinya setelah diketahui mereka ternyata adalah sepasang muda-mudi yang tidak bukan adalah Liem Tou serta Lie Siauw Ie. Diam-diam dalam hatinya mulai mengambil perhitungan, pikirnya:
“Hmmm..kali ini jika itu kitab pusaka To Kong Pit Liok sekali lagi lolos dari tanganku maka bangsat cilik she Liem itu harus dimusnahkan agar itu kitab pusaka untuk selamanya terkubur di dasar jurang "
Begitulah ketika dilihatnya Liem Tou sudah berada di tengah jembatan Pencabut nyawa itu secara tiba-tiba dia tertawa tergelak dengan amat kerasnya.
"Hey Liem Tou "teriaknya dengan berang. “Kali ini aku mau lihat kau lolos tidak dari cengkeraman aku orang tua."
Bersamaan suara bentakan tersebut Hek Looji meloncat keluar dari tempat persembunyiannya kemudian meloncat ke atas rantai jembatan pencabut nyawa itu siap menghadapi serangan musuh.
Munculnyr Hek Looji secara mendadak ini membuat Liem Tou betul-betul merasa amat terperanjat, bila Lie Siauw Ie yang berada di belakangnya begitu dilihatnya Hek Looji muncul secara tiba-tiba menghalangi kepergian mereka segera menjerit keras.
"Adik Tou cepat kembali ... adik Tou cepat kembali..."
Liem Tou seudiri juga tahu kalau Hek Looji sedang menghalangi perjalanan mereka, segera dia tarik napas panjang untuk memberatkan badannya di atas kawat sedang dalarn hati diam-diam mulai mengambil keputusan.
Dia tahu jika saat itu Hek Looji melancarkan serangan ke arahnya, bagi dirinya tempat untuk menghindarkan diri tidak mungkin ada bahkan jika menerima serangan musuh dengan keras lawan keras hal ini akan mengakibatkan berat badannya semakin bertambah sehingga kemungkinan kawat yang diinjak akan putus.
Didalam keadaan yang amat kritis itulah suatu pikiran berkelebat didalam hatinya, tanpa berpikir panjang lagi dia sudah mengikutr suara teriakan dari Lie Siauw le, tubuhnya dengan cepat meloncat ke atas udara kemudian bersalto beberapa kali, ujung kakinya menutul kawat rantai siap meloncat balik ke tempai semula.
Dengan gerakannya ini sama saja suatu kesalahan di tambah lagi dengan kesalahan yang lain, segera terdengar Hek Looji tertawa keras sambil bentaknya."
"He he he .. Liem Tou, jika kau betul-betul berani meloncat ke sini kemungkinan karena memandang pada itu kitab pusaka To Kong Pit Liok aku tidak akan sampai mencelakai nyawamu, tapi kini kau malah balik ke arah sebelah sana, kau jangan salahkan hatiku terlalu kejam. Hey Liem Tou , ini hari pada setahun lagi merupakan ulang tahun kematianmu yang pertama, he he . pergilah."
"Cring .." Suatu suara yang sangat nyaring segera berkumandang dari bawah kaki Liem Tou.
Mendengar suara itu Liem Tou menjadi sangat terperanjat, dalam anggapannya tentu Hek Loo jie sedang menyambit senjata-senjata rahasia yang amat berbisa, tubuhnya dengan cepat melompat ke tengah udara untuk kemudian melayang kembali ke tempat semula.
Pada saat itulah dia memandang ke bawah, terlihatlah kegelapan di bawah kakinya gelap gulita kawat rantai yang semula terbentang di bawah kakinya kini sudah lenyap tanpa bekas, yang ada hanyalah suatu jurang yang dalamnya sampai tak tampak dasarnya.
"Celaka!” teriaknya dengan keras.
Dengan cepat dia menarik hawa murninya dalam pusar, walaupun kini kawat sudah terputus, dia tetap berusaha untuk bersalto dan berjumpalitan ditengah udara.
Apa daya kemauan ada tapi tenaga kurang, apalagi jarak dimana dia kini berada dengan tepi tebing ada berpuluh puluh kaki jauhnya, tubuhnya dengan cepat meluncur ke bawah dengan kecepatan yang luar biasa.
Melihat keadaan dari Liem Tou, Lie Siauw le merasa betul-betul seperti disambar petir, tanpa terasa lagi dia sudah berteriak amat keras.
"Adik Tou..Adik Tou !"
Teriaknya belum sampai terdengar, Liem Tou dengan menggunakan tenaganya yang terakhir juga sedang berteriak.
"Cici..! "
Tapi kata cici yang terakhir sudah berkumandang keluar dari dalam jurang yang dalamnya puluhan kaki dari atas tebing.
Perubahan yang terjadi secara taba-tiba itu membuat Lie Siauw le seketika itu juga kehilangan kesadarannya, di tengah suara tertawa Hek loo jie yang amat keras itu sekali lagi teriaknya.
"Adik Tou .. adik Tou .. "
Tubuhnya dengan cepat berkelebat terjun ke dalam dasar jurang yang sangat dalam itu.
Pada waktu Lie Siauw le terjun kedalam jurang menyusul diri Liem Tou itulah dari tepi jurang secara mendadak berkumandang suara bentakan yang sangat nyaring disusul dengan berkelebatnya bayangan putih yang amat cepat melayang kedalam jurang, hanya di dalam sekejap saja bayangan itu sudah lenyap dari pandangan.
Menanti Au Hay Ong Bo serta Ang in sin pian sekalian tiba di tepi jurang terlihatlah suasana di dalam jurang sudah berubah tenang kembali, diantara mereka hanya Au Hay Ong Bo seorang saja yarg memiliki kepandaian silat paling tinggi masih sempat melihat sesosok bayangan putih yang berkelebat dengan amat cepatnya kemudian lenyap.
Keesokan harinya, berita kematian Liem Tou, Lie Siauw Ie serta gadis cantik pengangon kambing yang binasa di dasar jurang tepi Jembatan pencabut nyawa dari sekarang tersebar kepada orang yang lain, tidak sampai satu dua jam seluruh perkampungan Ie Hee Cung sudah tahu akan berita tersebut.
Lie si itu ibunya Lie Siauw le sejak ditinggal pergi oleh puterinya berserta Liem Tou selama semalaman sudah merasa sedih kini mendengar kematian mereka berdua di dasar jurang seperti juga guntur yang menyambarnya disiang hari bolong.
Semula dia masih tidak mau percaya atas berita itu, tetapi sesudah melihat dengan mata kepala sendiri kalau rantai jembatan pencabut nyawa itu betul-betul sudah putus barulah dia mau percaya dengan berteriak keras dia sudah jatuh tak sadarkan diri.
Akhirnya walau pun berhasil ditolong oleh orang lain tapi tetap tak mau meninggalkan tempat itu. Selama tiga hari tiga malam lamanya dia terus menangis saja, bila bukannya ada orang yang menjaga di sampingnya mungkin sejak semula dia sudah ikut terjunkan diri ke dalam jurang menyusul putrinya.
Sampai hari keempat tangisan dari ibunya Lie Siauw le sudah mulai serak sedang air matanya pun sudah kering, karena itulah sepasang matanya menjadi buta. Pada hari kelima dia meninggal dunia dengan tenang semua rakyat di dalam perkampungan tidak ada yang merasa sedih dan menghela napas atas peristiwa ini.
Kira balik kepada Liem Tou yang menggunakan tenaganya yang terakhir berteriak "Cici” tubuhnya dengan cepat bagaikan kilat meluncur ke kebawah dengan amat santarnya.
Waktu ini dia merasakan angin dingin yang menyambar badannya hingga menusuk ke tulang sumsum, pada waktu itu dia tidak sanggup membuka matanya hanya di dalam hati secara diam-diam dengan sedih menghela napas panjang.
“Habislah sudah, kali ini habislah sudah diriku!”
Tetapi walau pun dia tidak punya harapan lagi untuk hidup di dalam benaknya masih pikirkan suatu keinginan untuk meloloskan diri dari bencana ini.
Tanpa terasa lagi semangatnya menjadi berkobar kembali dengan paksakan diri dia pentangkan matanya lebar-lebar.
Mendadak pandangan matanya terbentur dengan berjuta-juta bintang yang memancarkan sinar gemerlapan di angkasa, hatinya menjadi teramat heran, pikirnya.
“Waktu ini aku sedang jatuh ke dalam jurang dan meluncur dengan cepatnya mengarah dasar jurang yang amat curam, darimana datangnya bintang-bintang di hadapanku ini?”
Pada waktu pikirannya sedang berputar itulah cepat cepat dia tutup semua pernapasannya diikuti suatu gerakan yang amat keras sekali.
Liem Tou hanya merasakan punggungnya terbentur dengan benda yang amat keras sehingga menggetarkan seluruh isi badannya, pandangannya menjadi kabur dan berkunang-kunan ketika itu juga dia jatuh tidak sadarkan diri.
Entah lewat beberapa waktu lamanya, di tengah pingsannya dia merasakan pinggangnya teramat sakit sehingga dia menjadi sadar kembali tanpa bisa mencegah darah segar segera memancar keluar dari mulutnya dengan amat keras.
Waktu itulah dia baru sedikit merasakan badannya menjadi segar, perlahan lahan suaranya dipentang lebar-lebar dan memandang keadaan sekeliling tempat itu. Terlihatlah tepat disisi dimana dia berbaring terdapatlah sebuah sungai lebar yang airnya mengalir dengan amat deras, bilamana dirinya terjatuh tepat di atas sungai apa yang akan terjadi selanjutnya? hal ini
membuat Liem Tou merasa bulu kuduknya pada berdiri.
Perlahan-lahan dia merangkak bangun dari atas batu cadas, dimana tadi dia berbaring kemudian memandang keadaan sekitar tempat itu.
Terlihatlah dua buah puncak yang amat tinggi mengelilingi suatu lembah yang sempit, pohon rotan tumbuh dengan lebatnya diseluruh tebing sehingga menyerupai naga yang sedang berkelompok ditambah dengan suara teriakan kera-kera, pemandangannya sangat indah sekali.
Melihat pemandangan ini Liem Tou yang baru sadar dari pingsannya menjadi termangu-mangu.
“Tempat manakah ini?” pikirnya dalam hati.
Mendadak dalam ingatannya berkelebat suatu syair dari penyair terkenal" Lie Thay Pak” didalam syairnya "Ha Kiang Ling" yang memuat kata-kata.
“Suara kera saling sahut-menyahut memenuhi dua tebing, perahu layar berdayung melalui gunung curam".
“Apa mungkin aku sudah sampai di selat Sam Shia?? kalau begitu gunung yang berada di depan pastilah gunung Wu San.?”
Dia pandang sebentar keadaan cuaca, awan berkumpul dan bertumpuk-tumpuk amat tebal meinbuat cuaca agak gelap sehingga mirip sekali hendak turun hujan lebat, perlahan-lahan dia bangkit berdri dan melemaskan ototnya, semua badan terasa amat linu dan kaku bahkan terasa amat sakit apalagi badannya yang tadi separuh terpendam di dalam air kini terasa mulai mengejang dan memutih.
Dia tidak berani meloncat kembali ke dalam sungai, selangkah demi selangkah dia mulai berjalan melalui batu cadas yang amat curam, belum sampai beberapa kaki jauhnya terasa mulai tergoyang dan terhuyung-huyung, tak tertahan sekali lagi dia menjatuhkan diri keatas tanah tidur di atas batu itu.
Mananti dirasanya suatu hawa dingin menusuk ke dalam badannya barulah dia sadar kembali dari pulasnya, saat itu hujan sedang turun dengan amat derasnya cuaca amat gelap agaknya malam hari sudah tiba sahingga empat penjuru hanya terlihat kegelapan saja air sungai mendebur memecahkan ombak di tepian membuat suasana begitu sunyi sangat menyeramkan.
Liem Tou yang kejauhan kini benar benar di buat bingung oleh keadaan yang dihadapinya, perutnya lapar, badannya dingin apalagi di tengah selat yang sunyi di antara kedua gunung yang amat tinggi, harus kemanakah dia pergi? kemana dia harus meneduh menangsal perutnya yang lapar?
Waktu ini biar pun badannya terasa amat linu dan lelah mau tak mau dia harus berdiri juga, waktu ini buat dirinya hanya dua jalan saja untuk melanjutkan hidupnya pergi dari sana atau tetap berbaring di tempat itu tetapi kedua jalan ini pun harus menempuh bahaya.
Pada waktu Liem Tou sedang ragu-ragu itulah dari tempat kejauhan secara samar-samar terdengar suara orang yang sedang bersembahyang dan memuji Budha, suara ini perlahan sekali tetapi cukup membuat semangat Liem Tou berkobar kembali pikirannya.
Di tengah selat yang begitu sunyi begini liarnya bagaimana bisa ada suara sembahyangan jika didengar dari suara itu di sekitar tempat ini pasti ada kelenting.
Berpikir sampai disini matanya mulai berkeliaran memandang sekeliling tempat itu, walau pun waktu ini cuaca sangat gelap tapi dia bisa melihat sekitar tempat itu dengan amat jelas, hal ini disebabkan latihan yang diperoleh secara tidak sengaja sewaktu dikurung didalam gua gelap diatas puncak Giok Lian Hong.
Tetapi walau pun sudah dipandang beberapa waktu, jangan di kata kelenting sakalipun bayangannya juga tidak tampak. Tetapi dia tidak menjadi putus asa, disaat ini dia membutuhkan tempat berteduh, tempat untuk mendahar karenanya dengan lebih teliti lagi dia pandang dan mendengar benar juga dari samping sebelah kanannya secara samar samar mulai terdengar kembali suara sembahyang itu.
Cepat cepat dia meraba keatas dengan mencekal ranting ranting yang tumbuh disekeliling tempat itu untung saja pisau pusaka pemberian gadis cantik pengangon kambing masih ada sehingga banyak membantu gerakannya kali ini.
Beberapa saat kemudian mendadak tempat yang diinjak berubah, tangga tangga batu yang masih utuh muncul dihadapannya, walaupun waktu ini tangga tangga batu itu tertutup oleh rerumput tetapi keadaaanya amat bersih dan terawat, melihat hal tai Liem Tou segera sadar di tempat itu pasti ada penghuninya.
Ternyata dugaannya sedikitpun tidak salah semakin dia berjalan dengan mengikuti tangga-tangga batu itu suara sembahyangan tersebut semakin terdengar jelas, bahkan bisa terdengar setiap kata kata yang diucapkan, suara orang itu amat rendah dan berat bahkan memiliki suatu daya tarik yang menggidikkan.
Waktu ini Liem Tou betul-betul merasa lapar dan dahaga ditambah lagi mendengar suara sembahyangan yang mempunyai daya pengaruh aneh, kontan saja badannya mulai terhuyung- huyung dan jatuh terduduk.
Cepat-cepat dia duduk bersila dan mulai mengatur pernapasannya dengan mengikuti petunjuk dari kitab pusaka Toa Loo Cin Keng dalam bagian pernapasan. Tidak selang lama kemudian seluruh badannya mulai terasa menjadi segar dan bertenaga kembali.
Tetapi pada saat itu juga terdengar suara jeritan serta cit-citan kera-kera yang amat santar kemudian disusul dengan suara berlarinya kera-kera itu untuk menyembunyikan dari keempat panjuru. Melihat hal ini diam diam pikir Liem Tou didalam hatinya.
“Kera-kera itu melarikan diri dengan begitu gugup, apa mungkin sudah kedatangan binatang buas lainnya?"
Berpikir sampai disini tanpa terasa hatinya menjadi berdebar dengan amat keras sedang pisaunya pun dipegang semakin kencang, matanya bagaikan mata elang dengan tajam memperhatikan sekeliling tempat itu.
Mendadak terlihat olehnya dari ujung puncak penyeberangan berkelebat bayangan manusia dengan cepatnya, hanya di dalam sekejap mata sudah lenyap dari pandangan.
Liem Tou menjadi melengak.
"Siapa mereka itu ?" pikirnya di dalam hati.
Mcndadak suara sembahyangan yang tadi terdengar berhenti secara tiba tiba disusul suara bentakan seseorang dengan nadanya yang amat rendah dan berat.
"Sicu dari mana yang sudah datang ? ? Cepat sebutkan namamu."
"Siapa orang ini ?" Pikir Liem Tou dengan amat terperanjat."Jika didengar dari nada suaranya kini dia berada kurang lebih seratus langkah dari tempat aku berdiri sekarang tetapi bagaimana dia bisa tahu kedatanganku ini? Hmmm tenaga dalamnya tentu amat sempurna sekali, kalau tidak bagaimana dia bisa tahu tempat persembunyianku ? Lebih baik aku keluar saja untuk minta bertemu."
Baru saja dia mau keluar dari tempat persembunyiannya mendadak suara tertawa yang amat panjang memekikkan telinga kemudian disusul jawaban dari seseorang.
“Pengemis busuk serta aku Thiat Sie-poa rongsokan dari daerah Tionggoan ingin bertemu dengan Chie Liong To atau Penjahat naga merah yang terkenal pada dua puluh tahun yang lalu."
Sekali lagi Liem Tou dibuat terperanjat setelah mendengar suara orang itu karena orang itu adalah Thiat Sie sianseng serta pengemis pemabok, ada dua orang itu disini berarti dirinya juga mendapatkan pertolongan karenanya hatinya menjadi amat girang sekali, cepat-cepat dia siap keluar untuk berteriak.
Tetapi pikirannya segera berubah, pikirnya,
“Lihat-lihat dulu mereka bardua datang kemari ada urusan apa?” karenanya pandangannya mendadak berubah terlihatah sebuah selat yang amat kecil muncul dihadapannya selat itu bentuknya amat aneh sekali dan berbentuk amat sempit sehingga bila dilihat dari atas sangat mirip sebuah retakan kecil diantara dua gunung tinggi.
Liem Tou merangkak semakin mendekat lagi, terlihatlah sebuah rumah yang amat besar bentuknya muncul di hadapannya, rumah itu tidak mirip sebagai sebuah kelenting tempat beribadah melainkan sebuah rumah hartawan yang sangat besar dan kokoh.
Waktu ini didepan pintu rumah berdirilah si pengemis pemabok serta si Thiat Sie poa sedang dihadapannya berdirilah seorang hwesio gundul dengan bentuk badan tinggi besar. Walaupun pandangan mata Liem Tou amat tajam tetapi waktu ini tak dapat melihat lebih jelas lagi bagaimana bentuk wajah hwesio gundul itu, hanya saja sepasang matanya memancarkan sinar yang amat tajam dan menyilaukan saban orang yang memandang ke arahnya.
Liem Tou tahu orang itu pastilah seorang Bu lim yang mempunyai kepandain sillat yang amat tinggi, dia tak berani berlaku gegabah maka dengan perlahan tubuhnya mundur kemball dua langkah kebelakang, dua langkah untuk menyembunyikan diri.
Siapa tahu baru saja badannya mundur dua langkah ke belakang mundadak tubuhnya menginjak suatu benda yang amat Iemas dan empuk, cepat-cepat dia tundukkan kepalanya memandangnya.
"Haaa . . . ." Sesosok mayat menggeletak di atas tanah dengan keadaan mengenaskan.
Liem Tou benar-benar terperanjat melihat keadaan mayat itu, dengan memberanikan diri dia menjongkok dihadapan mayat tersebut dan meIihat lebih jelas lagi, kiranya dia adalah ciangbunjin dari partai Bu Toug pay Leng Ceng Cu adanya.
Keadaan mayat dari ciangbunjin Bu Tong pay ini masih segar hal ini membuktikan baru saja dia binasa belum lama hanya saja badannya sudah hancur oleh pukulan yang amat hebat. Liem Tou segera tahu kalau tempat ini adalah tempat berbahaya.
Seketika itu juga dia memandang kembali ke arah si pengemis pemabok dan Thiat Sie poa kelihatan mereka bertiga sedang membicarakan sesuatu, agaknya mereka berdua tidak mangetahui kalau Leng Ceng Cu sudah binasa pikirnya.
"Buat apa meraka datang kemari mencari hweesio gundul itu ?"
Terdengar hweesio gundul itu dengan suaranya yang amat rendah dan berat sudab angkat bicara kembali.
"Orang budiman tak berbohong, kalian kemari ada urusan apa ? Si penjahat naga merah sekali pun berupa bajingan besar pada tempo hari tapi kini sudah menjadi pendeta. Aku sangat tidak senang melihat kalian beberapa kali datang mengacau ketenangan padaku"
"Terhadap kau kami berdua masih bisa menyebut kau sebagai seorang Cianpwee" jawab si Thiat Sie-poa.” Tapi kami berdua terang-terangan baru kali ini datang berkunjung bagaimana kau mengatakan sudah berkali kali? Omong terus, terang saja kami datang kemari hanya bertujuan pada kitab pusaka To Kong Pit Liok itu saja”
Mendengar disebutkannya kitab pusaka To Kong Pit Liok pikirnya Liem Tou seketika itu juga berkelebat suatu ingatan pikirnya.
“Sewaktu Hek Loo toa menjelang kematiannya dia pernah menulis sebuah hurup Wu dengan darahnya, apa mungkin gunung Wu san ini yang ditunjuk ?"
Setelah mendengar perkataan dari si Thiat siepoa ini agaknya si penjahat naga merah dibuat gusar.
"Siapa yang beritahukan urusan ini kepada kalian ?” bentaknya.
"Selain dia siapa lagi ?" Seru Thiat Siepoa sembari memukulkan siepoanya pulang pergi.
Dia berhenti sebentar lalu sambungnya lagi.
"Tapi, agaknya kitab pusaka To Kong Pit Liok itu sampai kini belum kau dapatkan, bukan begitu ?"
Saat ini si pengemis pemabok yang berada di sampingnya ikut angkat bicara.
“Haa... haaa, . . hey Thiat Sie heng aku tidak percaya sie poa rongsokanmu itu bisa begitu lihay"
"Ha ha ha. . . kalau tidak percaya nanti kau boleh lihat sendiri” jawab Thiat sie poa tertawa terbahak-bahak. “Kenapa kau tidak pikir bila dia sudah peroleh kitab pusaka To Kong Pit Liok itu buat apa masih berada disini ?"
"Hmm, cukup " dengus si penjahat naga merah memotong pembicaraan mereka. "Walau pun saat ini kitab pusaka To Kong Pit Liok belum aku dapatkan tapi sudah berada di dalam cengkeramanku, ini hari kalian sudah mangetahui rahasia ini jangan harap bisa meninggalkan tempat ini dalam keadaan hidup. Leng Ceng Cu dari Bu Toug pay juga seperti kalian tidak tahu diri kini sudah binasa ditanganku, aku kira kalian berdua pun sebentar lagi akan seperti dia"
Si Thiat Siepoa serta si pengemis pemabok menjadi amat terperanjat, bersama-sama tanyanya.
“Apa benar perkataanmu itu?”
“Hm..hm..siapa yang menipu kalian?”
Mendadak dengan disertai suara bentakan yang keras dia melancarkan satu serangan dahsyat.
“Lihat serangan”
"Blaaam. . "suara yang dahsyat memecahkan kesunyian menyerang Thiat sie poa berdua.
Bersamaan dengan serangan dahsyat itu Thiat sie poa berteriak keras.
"Hey pengemis busuk hati-hati."
Liem Tou yang bersembunyi dibalik batu tahu bahwa diantara mereka bertiga sudah melakukan pertempuran karenanya dia bergerak lebih mendekat lagi. Terlihatlah si penjahat naga merah berdiri tegak ditempat semula sedang si Thiat sie poa serta si pengenais pemabok berdiri berpisah, yang satu di sebelah kiri yang lain di sebelah kanan dengan pandangan tajam memandang gerak-gerik si penjahat naga merah itu.
Terdengar sipenjabat naga merah itu tertawa dingin lagi, ujarnya.
"Didalam Bu lim waktu ini selain Lie Loojie, si majikan elang sakti serta Loo Ciang dari partai Kiem Thian Pay, seperti kalian-kalian ini hanya gentong-gentong nasi semua, buat apa hantar kematian dengan sia-sa”
Selesai berkata tangannya dengan mangerahkan tenaga pukulan yang amat dahsyat melancarkan satu pukulan hebat mengarah si Thiat sie poa yang berada disebelah kanan agaknya si Thiat sie sianseng tahu bahwa dia bukan tandingannya, badannya dengan cepat melayang dua kaki kebelakang menghindari datangaya serangan tersebut.
Sedangkan sipengemis pemabok dengan meminjam kesempatan sewaktu dia sedang melancarkan satu serangan kearah Thiat sie sianseng tadi segera melancarkan satu serangan mengarah perutnya.
Siapa tahu si penjahat naga merah sama sekali tak manggubris datangnya serangan itu, menanti serangan tersebut hampir mengenai tubuhnya mendadak si penjahat naga merah mengebutkan ujung bajunya.
"Hey pengemis tua, jangan " teriak si Thia sie sianseng ketika melihat keadaan yang sangat kritis itu.
Tapi keadaan sudah terlambat, tubuh si pengemis pemabok seketika itu juga dipukul mundur tujuh delapan langkah ke belakang oleh serangan tak berwujud itu.
Tanpa terasa Liem Tou merasa kuatir juga atas keselamatan si pengemis pemabok, agaknya dia sudah terluka parah oleh serangan itu, begitu badannya mundur kebelakang dengan terbuyung-huyung kemudian jatuh duduk ketanah,tidak bergerak lagi.
Hal ini jauh berada diluar dugaan semua orang. Liem Tou sendiri juga amat terperanjat, dia sama sekali tidak menduga kepandaian silat dari si penjahat naga merah bisa begitu lihaynya, bersamaan pula dia merasa cemas terhadap keselamatan dari si pengemis pemabok, kini dia sudah jatuh terduduk, jika misalnya si penjahat naga merah melancarkan satu serangan kembali apa yang akan terjadi atas diri si pengemis pemabok?
Untung saja sipeniahat naga merah tidak melakukan hal ini, mendadak dia putar badannya mendesak kearah si Thiat sie poa.
“Kali ini habis sudah” pikir Liem Tou di dalam hati, “Tadi sekali pun si Thiat Sie sianseng serta si pengemis pemabok bergabung pun masih bukan tandingannya, apalagi kini yang satunya sudah terlalca parah mana mungkin Thiat sie-sianseng kuat menahan serangannya?”
Mendadak si Thiat si non bersuit panjang dengan amat nyaringnya sehingga menggetarkan seluruh selat, badannya dengan cepat bagaikan kilat melayang dan melarikan diri keluar selat.
Waktu itu Liem Tou sedang memusatkan semua perhatiannya menonton jalannya pertempuran, ketika dilihatnya Thiat sie poa melarikan diri kearahnya cepat cepat dia menyembunyikan dirinya kesamping dan pada saat yang bertepatan pula tubuh Thiat sie poa sudah berkelebat melalui sisi badannya.
"Hmmm. Kau mau melarikan diri?" bentak si penjahat naga merah dengan suaranya yang dingin rendah dan amat berat.
Badannya dengan cepat mengejar dari arah lakang, hanya didalam sekejap mata kedua bayangan itu sudah lenyap dari pandangan, harya terdengar suara kera-kera yang ribut berteriak dan melarikan diri diseberang sana.
Setelah melihat kedua bayangan itu lenyap dari pandangan, barulah Liem Tou berani menghunjukkan dirinya untuk menolong diri si pengemis pemabok, badannya dengan cepat bangkit berdiri dari tempat persembunyiannya dan berjalan menuju kesisi badan si pengemis pemabok, ujarnya.
“Cianpwee bagaimana keadaan lukamu?”
Waktu ini si pengemis pemabok sedang duduk bersila mengerahkan tenaganya untuk menyembuhkan luka yang diseritanya, karena itu terhadap semua perkataan dari Liem Tou dia sama sekali tidak mendengarkan.
Melihat hal ini Liem Tou betul-betul menjadi amat cemas sekali, jika tiba-tiba si penjahat naga merah balik kembali apa yang akan terjadi?
Terpaksa Liem Tou berdiri di sisinya menanti dengan cemas, dia akan menunggu si pengemis pemabok selesai menyembuhkan lukanya untuk kemudian bersama-sama meninggalkan tempat bahaya ini.
Pandangannya perlahan-lahan dialihkan ke atas bangunan besar di hadapannya, kelihatan rumah itu dibuat dari tembok yang kokoh, pintunya bercat merah dan kelihatan sangat megah sekali.
Suatu keiuginan untuk tahu segera, muncul meliputi hatinya tanpa terasa Iagi dia sudah berjalan mendekati pintu bangunan itu.
Baru saja kakinya menginjak pintu rumah, segera terilhatlah keadaan di dalam ruangan amat bersih sekali hanya saja secara samar-samar terdengar suara rintihan yang amat perlahan.
Tanpa terasa Liem Tou menjadi terte gun dibuatnya, cepat cepat dia hentikan langkahnya dan mendengarkan suara itu dengan seluruh perhatiannya.
Agaknya suara rintihan tersebut berasal dari ruangan sebelah kiri, hatinya segera berpikir dan mengambil keputusan, sedang langkah kakinya pun sudah berputar ke arah sebelah kiri.
Baru saja berjalan dua langkah, mendadak suara rintihan berubah menjadi perkataan yang tidak jelas, hanya saja suara itu amat lama dan perlahan sehingga Liem Tou harus menghentikan langkahnya dan mendengar lebih teliti lagi.
Lama sekali barulah dia bisa mendengar kaa kata itu.
"Mo Ku Tiauw Cong Ci Cie Tong. . .”
Mendengar kata-kata itu Liem Tou saking terperanjatnya hampir-hampir menjerit kaget, inilah kata-kata atau kode rahasia untuk mendapatkan kitab pusaka "To Kong Pit Liok” itu, semangatnya tanpa terasa berkobar kembali, cepat-cepat jawabnya.
"Pak Bun Kong Cen Tui Ja Kang ."
Selesai dia mengeluarkan kata-kata ini orang di sebelah sana segera memperkeras suaranya bahkan kali ini Liem Tou sudah mendengar suara itu berasal dari seorang perempuan sambungnya.
"Pek Hwie Sian Po Tong Ang Hwee."
"Wu Ting Liau Soat Ta Cuang."
"Siapa kau ?” tanya orang itu lagi.
"Makan tanpa ikan, pergi tanpa kereta tak punya rumah tinggal, hamba bukan manusia," jawab Liem Tou cepat.
Segera terdengarlah suara orang itu berubah menjadi amat nyaring dan penuh diliputi kegembiraan.
"Ooh. sudah datang. . sudah datang " serunya kegirangan.”Akhirnya, datang juga orangnya, tapi kau bukan In-jien ku aku tahu kau bukan tuan penolongku bukan begitu ? sekarang beritahukan kepadaku. Apakah tuan panolongku baik baik saja ?"
Mendengar pertanyaan ini Liem Tou betul-betul dibuat bingung harus memberi jawaban yang bagaimana, akhirnya sesudah berpikir keras beberapa waktu lamanya barulah sahutnya.
"Caybe bernama Liem Tou dan Hek Loo cian pwee-lah yang perintahkan aku datang kemari, entah bigaimana sebutan dari cianpwee disana, sekarang berada dimana, apakah cayhe boleh bertemu ?"
( Bersambung ke jilid 14 )
“Oooh kau.. kau bernama Liem Tou ???„ Seru orang itu. "Baiklah tapi kau tak usah bertemu, aku hanya seorang nenek yang buta sepasang matanya, pada lima tahun yang lalu berkat pertolongan tuan penolongku nyawaku berhasil diselamatkan hingga hari ini maka aku mau dengan rela menjagakan harta kekayaannya di tempat ini dan menanti orang yang menggunakan kode rahasia itu datang mengambil barang tersebut sekarang kau sudah datang, aku boleh serahkan barang itu kepadamu."
Hati Liem Tou terasa bergetar oleh kata-katanya ini, dia merasa ikut berduka atas kejadian yang menimpa padanya karena itu segera sahutnya:
“Kalau memangnya cianpwee tidak ingin bertemu dengan cayhe, cayhe akan turut perintah.”
"Sekarang aku mau beritahukan tempat simpannya barang barang tuan penolongku, ujar orang itu lagi. "Barang itu sekarang disimpan didalam sebuah sumur kering di belakang halaman rumah ini, karena mataku sudah buta belum perlu aku kesana untuk melihat dan tak tahu barang barang berharga apa saja yang berada disana, tapi aku hanya tahu di dalam sumur kering itu ada sebuah jalan rahasia yang menghubungkan tempat itu dengan sungai. Baiklah perkataan sudah kujelaskan sekarang aku mau pergi."
Mendadak terdengarlah orang itu menangis dengan amat sedihnya, Liem Tou yang teringat akan kata-kata terakhir mendadak hatinya menjadi bergidik, cepat tanyanya.
"Cianpwee, kau kenapa ??"
"Bagaimana pun aku tak bisa hidup lebih lama lagi " jawab orang itu dengan nada gemetar.
"Dulu aku terus menerus menahan siksaan dari hweesio gundul terkutuk itu hal ini dikarenakan
urusan dititipkan tuan penolong padaku belum selesai kerjakan kini urusan sudah selesai kerjakan kini urusan sudah selesai berarti hari siksaan bagiku juga sudah habis. Hanya saying aku tidak pernah melihat wajah puteraku dan menceriterakan ayahnya dan membutanya mataku sehingga sampai akhir hidupku aku benar-benar merasa sayang.”
Liem Tou segera termenung berpikir sebentar, sahutnya kemudian.
“Asalkan boanpwee berhasil mendapatkan kitab pusaka To Koan Pit Liok itu dan berhasil
memperoleh kepandaian silatnya, sesudah keluar dari selat ini boanpwee akan bantu menyelesaikan urusan cianpwee itu, asalkan cianpwee ada perintah aku Liem Tou pasti akan mengerjakannya, hanya saja siapa nama puteramu itu?”
"Putraku bernama Sun Ci Sie" jawab orang itu dengan suara yang penuh berterimakasih. “Musuh besarnya adalah Kioe Lang Wan Kouw dari gunung Im San tolong sampaikan urusan ini kepada putraku."
Terhadap nama Sun Ci Sie ini Liem Tou sama sekali belum pernah mendengar tapi Kioe Lan Wan Kouw dari gunung Im san dia pernah bertemu sewaktu berada di lembah cupu-cupu, dia tahu urusan ini pasti menyangkut suatu pembunuhan yang berdarah tapi mendadak dia teringat kembali si hwcesio gundul yang sedang keluar dari selat itu, ujarnya kemudian.
“Boanpwee sudah tahu harap cianpwee legakan hatimu, hweesio bangsat itu mungkin segera akan kembali, boanpwee saat ini bukan tandingannya. Selamat tinggal."
Baru dia selesai berbicara mendadak suara jeritan ngeri berkumandang datang dari arah kamar itu. Liem Tou menjadi amat terperanjat, teriaknya.
“Cianpwee..cianpwee…”
Suasana tetap sunyi tak terdengar suara jawaban dari orang itu, hal ini membuktikan kalau orang itu sudah menemui ajalnya, tanpa disadari Liem Tou sudah meneteskan air matanya saking sedih melihat kejadian yang menyedihkan itu
Sesudah lewat beberapa waktu kemudian pikirmya kemudian didalam hati.
“Tempat harta dari Hek Loo toa birada di-tempat ini, tentunya kitab pusaka To Kong-Pit Liok berada ditempat ini pula, kini harus cepat-cepat keluar dari rumah bangunan ini kemudian bersama sama dengan si pengemis pemabok yang terluka masuk kedalam sumur kering itu, apalagi sumur itu menembus kedalam sungai, aku tak takut sampai menjadi lapar karena ini."
Selesai mengambil keputusan segera dia berjalan keluar dari rumah bangunan itu mendadak
dia berdiri melongo.
Kiranya si pengemis pemabok yang semula duduk semudi didepan bangunan itu kini sudah
lenyap dari tempat itu. cepat cepat dia berlari mencari dirinya disekeliling tempat itu.
Walaupun sudah dicari setengah harian jangan dikata si pengemis pemabok sampai di bayangannya pun tak kelihatan, pada perjalanan kembali itulah dia menjumpai pohon buah-buahan yang amat banyak, selesai menangsal perutnya dipetiknya lagi beberapa buah untuk bekal.
Sedang dia enak-enaknya mendahar buah-buahan itu, dari seberang hutan sebelah sana tiba tiba terdengar suara pekikan kera yang amat ramai, Liem Tou tahu tentu si penjahat naga merah itu sudah kembali.
Dia tidak berani berayal, bagaikan kilat cepatnya dia berkelebat melalui rumah bangunan itu menuju ke belakang halaman di samping sumur kering.
Semula dia menggunakan sebuah buah yang dilemparkan kedalam untuk mengukur dalamnya sumur kering itu, setelah dirasanya tidak terlalu dalam dengan tangan kiri mencekal pisau belati untuk melindungi dirinya, tanpa berpikir panjang lagi dia meloncat masuk ke dalam.
Sesampainya didasar sumur terlihatlah olehnya ditempat itu terdapatlah sebuah lubang kecil yang cukup untuk seorang saja, karena takut ada binatang binatang berbisa yang berada didalam sesudah dipandangnya beberapa saat baru dia mecorobos masuk ke dalam.
Belum jauh dia menerobos sampailah di sebuah tempat yang tempat itu tertutup dengan pintu yang terbuat dari kayu, perlahan lahan dia mendorong pintu itu dan masuk kedalam.
Begitu pintu tersebut terbuka, segera terlihatlah sinar yang cemerlang dan menyilaukan mata berkelabat menyinari ruangan, Liem Tou yang baru saja keluar dari tempat kegelapan seketika itu juga merasa matanya pedas dan perih oleh sinar tajam tersebut.
Lama sekali barulah Liem Tou membuka matanya dengan perlahan, saat itulah dia baru melihat sebuah ruangan batu yang mewah muncul dihadapannya, disebuah pojok ruangan terdapat sebuah intan sebesar batu kepalan memancarkan sinarnya, semuanya berjumlah sembilan buah.
Disamping sebelah kiri itu terdapat pembaringan, disamping pembaringan berjejer lima buah peti besar berwarna merah darah.
Melihat hal itu pikiian Liem Tou segera bekerja dia tahu basil rampokan Hek Lootoa selama hidupnya tentu disimpan didalam kelima peti besar berwarna merah darah itu.
Perlahan lahan pandangannya dialihkan ke samping, dinding ruangan sebelah kanan tergantung sebuah lukisan pemandangan yang indah.
Sesudah dipandangnya beberapa waktu lukisan itu, mendadak dalam pikirannya berkelebat suatu ingatan, cepat cepat dia berjalan mendekati lukisan itu dan mengangkatnya kesana ke samping. Tidak salah di belakang lukisan itu terdapat sebuah pintu kecil pada dinding itu, dia tahu pintu inilah yang menghubungkan ruangan ini dengan sungai.
Sekali lagi dia memeriksa isi ruangan ini dengan amat teliti, sesudah dirasanya tidak ada tempat lain yang mencurigakan barulah dia mulai membuka peti peti besar berwarna merah itu, didalam sebuah peti semuanya berisikan intan intan permata serta mutu manikam yang indah dan berharga, harganya jauh melebihi sebuah kota, tetapi terhadap semuanya ini dia tidak ambil perduli.
Akhirnya didalam peti keempat dia menemukan kotak pualam yang berwarna hijau mengkilap, cepat-cepat dijemputnya kotak itu dan dibuka. Isinya tak lain dan tak bukan kitab pusaka "To Kong Pit Liok" yang sudah menggegerkan dunia kangouw.
Saking girangnya Liem Tou sudah lupa daratan, dia berteriak teriak dan meloncat didalam ruangan itu serunya.
"Oooh akhirnya aku dapatkan juga."
Mendadak teringat kembali olehnya waktu dia terjatuh dari atas jembatan pencabut nyawa itu, bagaimana keadaan Ie cicinya sekarang??? Jika dia mengira dirinya sudah binasa, didalam keadaan amat sedih bilamana mengambil keputusan pendek apa jadinya???"
Ketika berpikir sampai disini perasaan girang yang meluap luap seketika itu juga lenyap tanpa bekas, perasaan bergidik muncul memenuhi seluruh benaknya, hampir hampir dia mau membuka pintu rahasia itu untuk berlari keluar dan kembali keatas gunung Ha Mo leng untuk melihat hal yang sesungguhnya.
Setelah melalui suatu pemikiran yang lebih mendalam dan lebih teliti akhirnya dia berhasil menguasai golakan di dalam hatinya, dia harus berhasil memiliki kepandaian silat yang termuat didalam kitab pusaka To Kong Pit Liok itu terlebih dahulu kemudian baru pergi mencari dia.
Demikianlah sejak hari itu Liem Tou berdiam didalam ruangan batu didasar sumur kering iiu untuk mempelajari ilmu sakti yang termuat di dalam kitab pusaka To Kong Pit Liok tersebut.
Hari berganti hari bulan berganti bulan, di dalam sekejap saja satu tahun sudah berlalu dengan amat cepatnya . . .
Didalam satu tahun ini topan yang melanda dunia kangouw bergolak semakin merghebat, di setiap kota kota besar selalu terjadi beberapa kejadian perampokan yang menggetarkan seluruh dunia kangouw bahkan gerak gerik dari perampok itu sangai gesit dan amat misterius. Siapa saja tidak ada yang pernah melihat wajah sesungguhnya dari perampok itu, hal ini membuat setiap pelancongan dan hartawan-hartawan disetiap kota dan disetiap karesidenan menjadi kacau dan setiap hari merasa hatinya tidak tenteram.
Bersamaan dengan kejadian itn pembunuhan serta bentrokan yang terjadi antara orang orang golongan Pek to maupun dari Kalangan Hek to semakin hari semakin menghebat membuat seluruh dunia kongauw menjadi lautan darah,
Setiap orang yang hidup pada waktu itu hanya merasakan hatinya terus menerus berdebar, tidak ada sehari pun bisa hidup dengan tenang.
Hari itu cahaya matahari memancarkan sinarnya dengan amat tenang menerangi seluruh tebing curam diatas gunung Go bie yang juga merupakan tempat kediaman dari si cangkul pualam Lie Sang beserta putrinya si gadis cantik pengangon kambng Lie Wan Giok, pemandangan yang indah ditambah dengan kicauan burung memecahkan kesunyian di pagi hari membuat suasana betul betul terasa nyaman dan menyegarkan.
Tebing Leng Ay tempat kediaman Lie Sang terletak dipuncak yang teratas dari gunung Go bie ini, awan bersih berkelompok kelompok berjubal jubal memenuhi angkasa sehingga laksana ombak yang menggulung ditengah samudra, puncak Go bie lainnya muncal ditengah mega laksana kelompok naga yang sedang menari, pemandangannya amat indah sekali.
Saat itu Lie Loo jie dengan menggendong tangan berdiri ditepi tebing, sambil memandang awan yang berkejar kejaran senandungnya dengan suara yang nyaring.
"Hutan belantara (Liem) lebat bagaikan sutera, gunung bersalju (Han San) dan daerah sekitarnya membawa keperihan hati. ...".
Kiranya dia sedang merindukan sutenya Liem Cong yang karena dikalahkan oleh Thian Pian Siauw cu kemudian bersama sama putranya meninggalkan keramaian Bu lim untuk mengasingkan diri ditempai pegunungan yang sunyi.
Mendadak. , . dari bawah tebing terdengar suara dengusan kerbau yang amat keras kemudian disusul berkelebatnya dua orang gadis cantik berbaju putih dengan masing masing menunggang seekor kambing yang tinggi besar dengan menerjang awan berlari mendatang, gadis gadis cantik yang berada diatas kerbau serta kambing itu kelihatan sedikitpun tidak terasa payah di dalam mendaki pegunungan Go bie yang amat terjal dan berbahaya itu, bahkan bagaikan kilat cepatnya berlari mendatang.
Sesampai diatas tebing mereka berdua bersama sama menghentikan tunggangannya masing masing. Terdengar si cangkul pualam Lie Sang dengan tertawa ujarnya.
"Wan jie. le jie, kalian berdua bukannya berlatih silat sebaliknya berlari lari turun tebing jika sampai bertemu kembali dengan Siauw cu di jalanan yang naik kegunung Go bie untuk mencari balas aku mau lihat dengan menggunakan cara apa kalian hendak menghadapi dia??"
"Tia." Jawab si gadis cantik pengangon kambing sembari tertawa manis. "Jangan dikata Siauw cu jahanam itu tidak berani datang lagi, sekali pun datang dengan kepandaian silat yang dimiliki Ie cici sekarang ini ditambah dengan tenaga gabungan kami berdua aku kira cukup untuk menahan serangannya."
Selesai berkata dia menoleh kearah gadis cantik berbaju putih lainnya kemudian tambahnya sembari tertawa.
"Ie cici, kau bilang betul tidak??"
Kiranya gadis cantik berbaju putih itu bukan lain adalah Lie Siauw le tempo hari sewaktu dia meloncat kedalam jurang disamping Jembatan pencabut nyawa itu untuk menyusul Liem Tou untung berhasil, ditolong oleh si gadis cantik pengangon kambing yang tepat pada waktunya tiba ditempat kejadian kemudian membawanya ke atas gunung Go-bie, saat ini dia sudah mengangkat si cangkul pualam Lie Sang sebagai suhunya dengan sendirinya terhadap si gadis cantik pengangon kambing boleh dikata sebagai suci-moay .
"Perkataan dari suhu sedikitpun tidak salah” terdengar Lie Siauw le menjawab sembari tertawa. “Lain kali kita lebih baik tidak usah bermain main lagi kebawah puncak.”
'Hmma .... Wan jie coba kaulihat Ie cicimu sangat penurut” Puji Lie Sang sembari mengangguk. “Dengan kepandaian silat yang kalian miliki saat ini walaupun untuk beberapa waktu Siauw cu jahanam itu tidak sanggup melukai kalian terapi lebih baik sadikit berhati hati lagi.”
Belum selesai dia berbicara ditengah lautan awan di bawah puncak secara tiba-tiba muncul berpuluh puluh bintik hitam disertai dengan suara tertawa panjang yang memekikkan telinga berkelebat mendatang.
Begitu si cangkul pualam Lie Seng mendengar suara panjang itu ditambah dengan beberapa titik hitam tersebut segera ujarnya kepada si gadis cantik pengangon kambing serta Siauw Ie yang berada disisinya.
"Coba kalian lihat, baru saja membicarakan Cau Chau, Cau Chau sudah datang. Ini hari aku mau lihat kalian berdua melawan dia secara berbareng.”
Selesai berkata diapun tertawa terbahak-bahak kepada banyangan hitam yang berada di bawah tebing serunya.
“Untuk kedua kalinya Ke Siauw cu mendatangi Tebing Leng Ay ku ini. aku kira pasti ada petunjuk petunjuk lainnya, aku Lie loo jie sudah menduga kedatangamu sejak tadi sudah menanti di tempat ini."
“Perkataanku sudah aku jelaskan pada waktu yang lampau” Terdengar suara jawaban dari Thian Pian Siauw-cu dari bawah tebing. “Bilamana bukannya kau terus menerus mengganggu urusanku aku juga tidak dua kali mangganggu ketenanganmu, waku ini kita berdua boleh dikata merupakan pimpinan dari seluruh jago didalam Bu-lim, untuk mencari orang ketiga yang bisa melawan kita agaknya merupakan urusan yang mustahil, pada waktu yang lalu didalam perubahan jurus serangan kau sudah menemui sedikit kemenangan, ini hari bagaimana jika kau mene ima tiga kali pukulan telapakku kembali?? jika sekali kau peroleh kemenangan maka aku takluk kepadamu bahkan sejak ini hari tidak akan datang mengganggu tempat tinggalmu ini”
"Ha ha ha . . . Perkatasn dari Ke Siauw-cu apa tidak merasa terlalu berlebih lebihan?” Seru si cangkul pualam Lie Sang sambil tertawa terkekeh-kekeh. “Jangan dikata diluar orang ada orang diluar langit ada langit, cukup kita bicarakan urusan yang berada dihadapan kita. Loo ciang dari partai Kiem Thian Pay sesudah melakukan latihan bertahun-tahun sekarang bukanlah Loo ciang dahulu sewaktu berada dipertemuan Tiong Lam san. saat ini daerah sekitar Thien Ling sudah berada dalam kekuasaannya bahkan orang didalam Bu lim tidak ada yang berani bermusuhan secara terang-terangan dengan mereka”
Dia berhenti sebentar kemudian sambungnya lagi.
“Apalagi perampokan-perampokan yang terjadi baru baru ini ada orang yang mengatakaa itu semua perbuatan dari si penjahat naga merah yang sudah lenyap pada tahun yang lalu, kepandaiannya sangat tinggi dan lihay sekali, apa kau berani berkata selain kau serta aku Lie Loo Jie sudah tidak dapat orang yang merupakan tandinganmu?"
Waktu itu titik titik hitam terbang diatas mega ini sudah menyebar keempat penjuru kemudian mengepung seluruh puncak Leng Ay dengan rapatnya, kiranya titik titik hitam itu adalah sejenis burung elang yang besar kecil banyak sekali. Sebentar kemudian terlihatlah bayangan hijau berkelebat si Thian Pian Siauw cu sudah berdiri dihadapannya Lie Loo jie.
Dandanannya saat ini persis dengan dandanannya sewaktu berada di dalam lembah cupu cupu, dengan memakai jubah berwarna hijau dia menuding tajam wajah Lie Loo jie, sahutnya.
“Perduli amat bagaimana dengan si penjahat naga merah atau si Loo Ciang, ini hari aku biar menganggap Lie Sang seorang sebagai musuhku”
“Mereka berdua yang satu adalah musuh yang dikalahkan dibawah serangan aku orang she Ke yang lain adalah cecunguk yang tidak berani menongol di siang hari, hal ini sama sekali tidak perlu aku orang sbe Ke pikirkan, mari . mari . . . mari. Sebetulnya kau berani tidak menerima tiga kali puhulanku??”
Lie Sang yang melihat sikap Thian pian Siauw cu begitu congkak tanpa terasa hatinya merasa sedikit gusar juga, air mukanya berubah semakin keren baru saja mau buka suara untuk berbicara, mendadak dari antara awan yang berbaris itu berkumandang datang suara yang amat nyaring sekali.
"Hey Ke Siauwcu, omonganmu sungguh besar sekali, ini hari aku mau buktikan kepadamu kalau didalam dunia kangouw saat iai masih ada orang yang bisa mengalahkan dirimu."
Perkataan ini diucapkan amat tegas dan kuat sekali, setiap kata diucapkan penuh disertai tenaga dalam yang kuat, hal ini memperlihatkan kalau tenaga dalam orang itu sudah dilatih mencapai pada taraf kesempurnaan.
Lie Sang maupun Thian Pian Siauwcu yang mendengsr perkatan itu bersama-sama merasa terperanjat, tanyanya berbareng.
"Jago dari mana yang sudah berkunjung, silahkan munculkan diri untuk bertemu.”
"Seorang Bubeng Siauwcut, tidak berani mengutarakan nama sebutanku," Sahut orang itu cepat.
Terdengar orang itu secara tiba-tiba mempertinggi suaranya.
"Ke Siauwcu " bentaknya dengan keras. "Sekarang juga aku mau minta petunjuk dari dirimu."
Pada saat dia selesai berbicara itulah mendadak kawanan elang yang berteriak ngeri kemudian disusul satu demi satu rontok jatuh ke bawah dan binasa seketika itu juga.
Melibat hal ini Thian Pian Siauwcu menjadi teramat kaget, sembari teriak keras badannya bagaikan kilat cepatnya berkelebat kebawah menubruk kearah dimana berasalnya suara itu. Saat itu sigadis cantik pcngangon kambing mau pun Lie Siauw le sesudah melihat ada beberapa elang yang terjatuh di depannya, cepat-cepat dijemputnya beberapa ekor. Tanpi berasa mereka bersama sama menjulurkan lidahnya.
Kalian tahu apa yang sudah terjadi?
Bilamana ada burung elang yang rontok terkena senjata rahasia hal itu bukankah urusan yang aneh, tetapi hal ini sudah terjadi. Burung burung elang yang sedang terbang di angkasa itu terkena sambaran senjata rahasia dan binasa seketika itu juga bahkan senjata rahasia yang digunakan bukao lain adalah butiran butiran mutiara yang mengeluarkan sinar cahaya yang amat terang dan sangat berharga sekali, sudah tentu gadis cantik pengangon kambing maupun Lie-Siauw le dibuat menjulurkan lidahnya.
Sampai si cangkul pualam Lie Sang yang memiliki pengalaman amat luaspun tidak tahu asal usulnya dari orang itu, jangan dikata siapa yang sudah dating pun dia tidak tahu. Kemisteriusan orang itu betul betul membuat orang menjadi bingung dan diliputi oleh tanda tanya. Setelah termenung, pikirnya kemudian.
"Apa mungkin Au Hay Ong dari Kiem Thian Pay sudah tiba? Tapi Au Hay Ong pernah bertemu satu kali dengan aku sewaktu diadakan pertemuan diatas gunung Tiong Lam San, agaknya nada suaranya bukan dia.
Sewaktu dia sedang termenung berpikir, keras itulah tampak bayangan hijau itu berkelebat kembali. Thian Pian Siauwcu sekali lagi meloncat naik kepuncak gunung dari antara lautan mega yang tebal itu. Terlihatlah air mu kanya sudah berubah hijau membesi, dengan pandangan mata amat tajam dia pandang diri Lie Loo jie.
"Tentu Keheng sudah berjumpa dengan orang itu bukan?" Tanya si cangkul pualam Lie Sang dengan nada lembut. "Dia orang sebenarnya macam apa? Jika dilihat ternyata dia berani mencari setori dengan kamu orang, manusia itu pastilah memiliki kepandaian yang amat lihay."
Mendengar perkataan sicangkul pualam Lie-Sang ini, sepasang mata dari Thian Pian Siauw cu melotot keluar dengan amat bulat, teriaknya gusar.
"Lie Sang, kau tidak perlu ikut bersusah atas bencana yang kualami, ini hari aku orang she Ke kecundang ditangan orang lain bahkan sampai bayangan orang lain pun tidak kelihatan sungguh memalukan sekali.”
"Hmm. hmm, manusia yang beraninya bersembunyi sembunyi bisa terhitung Hoohan macam apa?"
Baru saja dia selesai berbicara mendadak orang orang yang berada dibawah puncak sudah mengangkat bicara kembali.
"Ke Siauwcu!" serunya. "Aku bukannya takut kepadamu, ini hari karena ada urusan yang harus aku bereskan tak bisa melayani kau lebih lama lagi, tapi bilamana kau merasa tidak puas boleh kita tentukan saja waktu untuk bertanding. Heee , . heee . . bagaimana?"
"Siapa sebetulnya kau orang?" Teriak Thian Pian Siauwcu keras keras.
"Maaf hal ini tidak bisa kuberitahukan."
"Baiklah, kalau begitu tanggal lima bulan kelima aku menanti kau dipuncak pertama daerah| Cing Jan."
Sehabis berkata kepada Lie Loojie ujarnya pula.
"Lie Sang, sampai waktunya kau pun datang juga, perkataan yang aku orang she Ke katakan selamanya tak akan diubah kembali. Tiga kali pukulan telapak sampai pada waktunya aku mau menjajal juga"
Selesai berkata dia tidak menanti jawaban dari Lie Loojie segera dia putar tubuh dan meloncat setinggi tiga kaki kedepan lalu berjumpalitan beberapa kali ditengah udara hanya di dalam sekejap mata dia sudah lenyap tanpa bekas.
Si cangkul pualam yang melihat kedatanganya amat cepat perginya pun amat cepat tanpa terasa sudah tertawa. Ujarnya kepada orang yang berada dibawah puncak.
"Jago berkepandaian tinggi darimana yang sudah datang berkunjung, kenapa tidak munculkan diri untuk bertemu?"
Sekalipun berulang kali perkataan itu diucap tapi keadaan dari bawah puncak tetap sunyi sunyi saja sedikitpan tidak ada suara sahutan.
Dalam anggapan Lie Looojie tentu orang itu sudah pergi karenanya sehabis berdiri beberapa saat lamanya dia menoleh kebelakang.
Waktu itulah mendadak dia merasakan segulung angin yans amat ringan berkelebat dari sisi tubuhnya, bagaimanapun juga kepandaian silat dari si cangkul pualam ini sangat lihay sekali. Mendadak dia hanya merasakan sesosok bayangan manusia berkelebat, belum sempat dia melihat jelas wajah orang itu bayangan tersebut sudah lenyap, cepat cepat dia menoleh kembali kebelakang terlihatlah kambing yang semula berdiri sejajar dengan kerbau itu tiba tiba berpekik nyaring kemudian lari keempat penjuru dan menerjang terus kebawah tebing.
"Siapa kau berani mengacau di atas puncak Leng Ayku ini!" bentak Lie Loo jie dengan keras.
Tubuhnya dengan cepat menerjang kebawah tebing mengejar kearah dimana berlarinya kerbau tersebut. Tenaga dalam mau pun ilmu meringankan tubuh yang diiatih Lie Loojie waktu ini boleh dikata sudah mencapai pada taraf kesempurnaan dan jauh berada diatas jago jago berkepandaian tinggi dari Bu lim lainnya.
Sesudah dilihatnya ada orang yang mengajak guyon didepannya dengan tak sadar dia tidak mau melepaskannya dengan begitu saja, siapa tahu ternyata kejadian kali ini diluar dugaannya, kerbau yang semula menerobos ketengah gumpalan mega kini larinya semakin cepat lagi hanya di dalam sekejap mata kecepatannya bertambah puluhan kali lipat. Jangan dikata untuk menangkap, hanya untuk mengejar saja sudah tidak sanggup.
Tanpa disadari si cangkul pualam Lie Sang sudah berdiri tertegun ditepi puncak, perasaan gusar mulai membakar hatinya tetapi ketika teringat akan kepandaian silat orang itu ternyata bisa lewat disamping badannya tanpa dia sadari hatinya terasa tergetar juga, dalam hati diam diam pikirnya.
"Didalam Bu Iim waktu ini masih ada siapa lagi yang memiliki kepandaian silat begitu tingginya? Apa mungkin Au Hay Ong Bo dari Kiem Thian Pay. Ciang Can adanya? Tetapi kelihatannya tidak mirip sewaktu didalam pertemuan diatas gunung Tiong Lam san kepandaiannya bisa sejajar dengan suteku Liem Coe sekalipun didalam beberapa tahun ini dia berlatih mati matian belum tentu bisa mencpaai taraf yang seperti ini selain dia hanya ada seorang penjahat naga merah saja yang memiliki kepanduan yang sedemikian tingginya. Tetapi aku tidak percaya kepandaian silatnya sudah berhasil dilatih sebegitu lihaynya, apa mungkin seorang penjahat bisa memiliki kepandaian yang demikian lihaynya "
Sedang dia berpikir dengan amat serius terdengar si gadis cantik pengangon kambing sudah berteriak dangan keras.
"Tia, Tia cepat kembali."
Didalam anggapan Lie Sang, ditempat sana pasti sudah terjadi suatu urusan, dengan gugup ia meloncat naik ke atas puncak kemudian berlari ke samping badan si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw le.
Terlihatlah mereka berdua waktu ini sedang berdiri mematung disana sedang pada tangan masing-masing mencekal sebuah kantongan kecil yang terbuat dari kulit.
"Wan jie, le jie sudah terjadi urusan apa ?” tanya si cangkul pualam dengan perasaan cemas.
Perlahan lahan gadis cantik pengangon kambing mengangsurkan kantong kecil yang dibuat dari kulit itu ke tangan Lie Loo jie.
Lie Loojie segera menerima dan membuka buntalan tersebut, serentetan sinar yang amat menyilaukan mata segera memancar keluar dari dalam kantongan, itu berisikan intan permata yang sangat indah indah dan mahal harganya.
Hal ini berada jauh diluar dugaan Lie Loojie semula, seketika itu juga membuat dia berdiri termangu mangu, sesaat kemudian barulah tanyanya.
"Wan jie, ini ini . . . sebetulnya sudah terjadi urusan apa ? Barang barang ini berasal dari siapa ?“
"Tia, kantongan kantongan ini digantungkan diatas tanduk kambing itu, putrimu sama sekali tidak memperhatikan orang yang menghantarkan barang-barang ini."
"Haaa ?" Teriak Lie Loojie keheranan. "Hal ini amat aneh sekali. Ehmm ..... sungguh aneh sekali."
Segera tanyanya pula kepada Lie Siauw Ie. "Didalam kantonganmu itu apa juga berisikan intan permata yang mahal harganya ?"
Lie Siauw Ie segera mengangsurkan kantongan itu ke tangan Lie Loo jie sembari sahutnya.
“Tecu belum melihatnya."
Cepat Lie Loojie membuka kantangan itu dan melihat isinya, didalam kantongan itu selain berisikan intan permata yaug mahal harganya masih terdapat juga dua buah lempengan besi yang besar. Melihat benda itu Lie Loojie menjadi tertegun bercampur terperanjat.
Sebelum dia sempat angkat bicara si gadis cantik pengangon kambing yang berdiri disisinya sudah berkata.
"Tia, ke dua buah lempengan besi itu bukankah barang yang tidak pernah menjauhi badanmu ? Bagaimana bisa berada di kantongan itu?"
Waktu itulah si pacul pualam baru sadar kembali cepat cepat dia merogoh kedalam sakunya Ternyata kedua lempengan besi yang berada di dalam sakunya itu entah sejak kapan sudah lenyap dan muncul di dalam kentongan kulit itu. Walaupun dia tahu hal ini pasti kerjaan tangan tangan jahil tetapi tidak usah dikatakan sudah jelas tertera, dia sudah menemui kekalahan ditangan orang lain.
Teringat akan hal ini tanpa terasa dia merasa bergidik dan berdiri mematung beberapa waktu lamanya disana, air mukanya perlahan demi perlahan berubah menjadi amat angker.
Si gadis cantik pengangon kambing maupun Lie Siauw Ie yang berdiri disisinya setelah melihat kejadian ini pun didalam hati diam-diam merasa ngeri bercampur sedih.
Lama sekali baru terdengar Lie Loo jie bergumam seorang diri.
"Siapa yang begitu berani mempermainkan aku? aku pasti akan cari dia umtuk menjajal ilmunya.”
Walaupun perkataan ini diucapkan dengan amat perlahan sekali tetapi agaknya orang yang berada di bawah tebing itu dapat mendengar dengan amat jelas.
Baru saja dia selesai berbicara terdengar orang itu dengan nada yang kuat bagaikan pukulan martil tertawa tergelak ujarnya.
"Bilamana bukannya kau berani mempermainkan orang lain terlebih dulu, orang lain masa berani mempermainkan dirimu? Lie Loo jie waktu ini didalam Bu lim sudah bergolak dengan amat dahyatnya, banjir darah mulai membasahi seluruh daratan Tionggoan bagaimana kau bisa tenangnya bisa hidup disini? sungguh membuat orang merasa menyesal"
"Kau orang kalau memangnya tidak ingin hunjukkan diri apa tidak mau meninggalkan nama juga?" teriak Lie Loo jie kemudian. "Siapa sebenarnya kamu orang, dengan aku Lie Sang merupakan kawan atau lawan?"
“Ha ha ha. . Lie Loo jie, asalkan kau mau melakukan perjalanan di daerah Tionggoan sudah tentu kenal siapakah aku, tapi maaf ini kali aku tak bisa memberitahukan.”
"Baiklah" seru Lie Loo jie kemudian sesudah termenung berpikir sebentar.
"Tidak perduli bagaimanapun aku mau temui kau orang.
Besok pagi aku akan melakukan perjalanan ke arah Tionggoan, coba kau bicara kita mau bertemu dimana.”
"Saat itu aku percaya bisa bertemu kembali dengan kau buat apa kita tentukan waktu dan tempat saat ini juga? masih ada lagi aku mendapat pesan dari kawanku katakan kepada muridmu supaya dia jangan lupa akan janjinya untuk bertemu pada musim rontok yang akan datang.”
Lie Siauw le yang mendengar omongan itu segera merasakan badannya tergetar dengan amat kerasnya didalam dada, urusan yang dipikirkan siang malam selama satu tahun ini ternyata bisa diucapkan orang lain pada hari ini juga membuat dia menjadi lupa, teriaknya dengan keras, "Siapa nama kawanmu itu?? cepat katakan,” Lie Siauw le ingin cepat-cepat mengetahui nama orang itu sebaliknya jawab dari orang yang berada dibawah tebing amat lambat sekali baru terdengar dia memberikan jawabannya.
"Dia she Liem, namanya apa kiranya kau tahu bukan".
Ketegangan dari Lie Siauw le betul betul mencapai pada puncaknya, mendadak dengan mengeluarkan suara teriakkan keras dia menangis dengan amat keras, kemudian dengan cepat menubruk kearah diri gadis cantik pengangon kambing, ujarnya dengan perasaan amat girang.
"Oooh, benar benar dia masih hidup. Adik Tou masih hidup”
Mendadak dia putar kepalanya kembali, dengan menahan melelehnya air mata teriaknya kembali kearah lautan mega itu.
"Kawanmu itu kini berada dimana? cepat beritahukan kepadaku, aku mau bertemu dengan dia".
Dari bawah puncak tetap tenang tidak terdengar suara jawaban.
"Hey . , . . dimana temanmu sekarang berada??" Sekali lagi Lie Siauw le berteriak keras.
Tetapi walaupun dia berteriak berkali kali tetap tidak terdengar suara jawaban dari bawah tebing, agaknya orang itu sudah pergi dari sana membuat Lie Siauw le merasa sangat kecewa.
Tetapi tiba tiba didalam benaknya berkelebat suatu ingatan, kepada Lie Loo jie ujarnya.
"Suhu, kapan kau orang tua melakukan perjalanan kedaerah Tionggoan? dapatkah le jie ikut dengan suhu??"
Lie Loojie melirik sekejap kearahnyn, didalam hati dia tahu kali ini dia mau ikut berkelana sudah tentu bermaksud hendak mencari berita dari Liem Tou.
Sebetulnya bagi dia untuk melakukan perjalanan bersama sama dengan gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw le bukanlah urusan yang berat, tetapi ketika teringat akan gerak gerik yang misterius dari orang itu ditambah lagi kepandaian silatnya yang amat lihay membuat hatinya mendadak ragu ragu.
Ujarnya kemudian dengan serius.
"Apa yang le pikirkan loohu sudah tahu semua, sejak dari dulu aku sudah beritahukan kepadamu, Liem Tou punya sangkut paut dan hubungan yang sangat erat dengan aku orang tua, kali ini aku melakukan perjalanan kedaerah Tionggoan sudah tentu sekalian mencari berita tentang dirinya, lebih baik kau bersama sama Wan jie tinggal disini untuk berlatih ilmu silat bilamana aku memperoleh berita tentang Liem Tou maka akan segera kembali memberi kabar kepadamu"
Mendengar perkataan dari Lie Loo jie ini Lie Siauw le tidak berani membantah, dengan berdiam diri dia menyingkir kesamping.
Ujar Lie Loo jie kembali kepada mereka berdua.
"Wan jie, sekalipun terhadap kepandaian silat yang dimuat dalam kitab pusaka Toa Loo-Cin Keng kau sudah pernah belajar tetapi belum sampai pada taraf kesempurnaan, ini hari aku pergi bilamana dalam waktu tiga bulan belum kembali, kalian berdua boleh pergi ke puncak pertama di daerah Cing jan pada tanggal lima bulan lima, tetapi didalam waktu waktu ini kalian harus berlatih dengan sungguh sungguh ilmu kalian."
Si gadis cantik pangangon kambing mau pun Lie-Siauw le berkail kali menyahut atas nasehat tersebut.
Selesai memberikan pesan pesannya, bagaikan kilat cepatnya Lie Loo jie melayang turun ke bawah puncak, laksana seekor burung elang hanya didalam sekejap saja dia sudah ditelan lautan mega yang amat tebal itu.
Setelah dilihatnya bayangan dari Lie Loo jie lenyap dari pandangan barulah sigadis cantik pengangon kambing beserta Lie Siauw le dengan masing maiing membawa kantongan kulit berjalan kembali kedalam gua.
"Ie Cici aku benar benar merasa kuatir atas keselamatan Tia" ujar Lie Wan Giok sesampainya didalam gua "Orang yang datang ini hari entah berasal dari aliran mana? Pertama tama dia mengejutkan Thian Pian Siauw cu sehingga membuat dia melarikan diri kemudian mencuri lempengan besinya Tia, hal ini memperlihatkan kalau kepandaian orang itu amat lihay sekali, bilamana dia adalah musuh ayahku mungkin dengan berkelananya Tia kali ini bisa menemui suatu urusan"
Lie Siauw Ie yang melihat kekuatiran dari gadis cantik pengangon kambing cepat cepat menghibur.
“Wan moay, perkataanmu ini memang tidak salah, tetapi aku berani memastikan orang itu bukan musuh ayahmu, bahkan mungkin ayahmu adalah tuan penolongnya? kalau tidak kenapa tidak ada angin tidak ada hujan dia memberi dua kantongan intan berlian? bahkan jika di dengar dari nadanya agaknya dia sama sekali tidak punya maksud bermusuhan dengan kita. Wan moay, harap kau bisa berlega hati.”
Biasanya Lie Siauw le jadi orang berpikiran tajam, dengan diucapkannya perkataan ini segera membuat gadis cantik pengangon kambing itu menjadi tenang kembali, tetapi pada saat itulah sewaktu ia mengangkat kepalanya terlihatlah diatas dinding gua tertancap sebuah pisau belati yang amat tajam.
"Haaa . . “ teriak gadis cantik pengangon kambing itu dengan amat terperanjat, “Ie cici hati- hati dalam gua ini sudah kedatangan orang.”
Dengan cepat dia meloncat keatas mencabut kembali pisau belati itu, sesudah dilihatnya dengan teliti sekali lagi dia berteriak keras.
"le cici, pisau belati ini milikku, pada tempo hari ini pisau belati ini aku berikan kepada Tou koko, bagaimana sekarang bisa tertancap di sini?"
Mendengar perkataan ini dalam hati Lie-Siauw Ie merasa tergetar dengan keras, serunya.
"Wan moay moay kau harus memeriksa lebih teliti lagi, pisau belati ini apa betul betul pisau belati yang kau berikan kepada adik Tou?"
"Barangku sendiri bagaimana aku bisa salah, tapi . . sungguh aneh urusan ini" Mendadak suatu ingatan berkelebat didalam benaknya, sinar matanya yang indah memancarkan suatu sinar yang amat aneh.
"Ie cici, aku punya suatu pikiran yang aneh entah benar atau tidak?" Ujarnya kemudian sambil memandang tajam wajah Lie Siauw le.
“Kenapa.? Yang sedang kau pikirkan urusan apa?"
"Aku pikir orang yang baru saja datang itu apa mungkin . . "
"Kau bilang dia adalah adik Tou?" sambung Lie Siauw le dengan cepat.
Teringat akan diri Liem Tou sepasang mata dari Lie Siauw le memerah kembali dan meneteskan air matanya.
Hal ini membuat gadis cantik pengangon kambing yang berada disisinya menjadi bingung, ujarnya.
"Ie cici, kenapa kau menangis? Kalau pisau belati ini bisa muncul disini berarti juga Liem Tou koko masih hidup, seharusnya kau bergembira bagaimana malah menjadi menangis?"
"Adik Wan pikiranku tidak sama dengan pikiranmu" sahut Lie Siauw le sembari menahan isak tangisnya. "Sekalipun adik Tou tidak mati sewaktu jatuh dari Jembatan pencabut nyawa, tetapi orang yang datang ini hari pasti bukanlah dia, coba kau pikir hanya di dalam satu tahun apa mungkin dia berhasil melatih kepandaian silatnya sebegitu tinggi? Jika bukan dia yang datang tapi pisau belati ini bisa muncul disini berarti juga dia. . dia . . "
Bicara sampai disini dia tidak bisa menahan perasaan sedihnya lagi, suara tangisan yang lebih menyedihkan bermunculan dari mulutnya.
"Cici" hibur gadis cantik pengangon kambing itu dengan lembut sedang tangannya mulai membimbing badannya. "Kiranya kau berpikir begitu, tetapi terang terangan orang tadi mengatakan supaya kau jangan melupakan perjanjian pada musim Rontok yang akan datang, apakah hal ini adalah palsu??"
Mendengar peringatan dari gadis cantik pengangon kambing ini, Lie Siauw le menjadi sadar kembali, segera dia menghentikan tangisnya dan berganti dengan senyuman malu.
"Wan moay" ujarnya dengan perlahan. "Aku punya satu permintaan entah kau mau mengabulkan atau tidak. Setelah aku tahu kalau adik Tou tidak binasa didasar jurang Jembatan pencabut nyawa itu hatiku menjadi kacau, aku rencana besok pagi mau turun gunung untuk mencari dia, apakah Wan moay mau menemani aku turun gunung?"
"Ie cici, bukankah Tia menyuruh kita berlatih kepandaian silat?" bantah gadis cantik pengangon kambing tersebut. "Bukankah sama saja dengan sewaktu kita bersama-sama turun gunung menghadiri diatas puncak pertama daerah Ciog Jan pada bulan lima tanggal lima saat itu masih ada kesempatan untuk mencarinya?"
Lie Siauw le menggelengkan kepalanya perlahan.
"Suhu memang berpesan begitu, tetapi aku . Ooh, Wan Moay. Aku benar benar tidak punya cara yang lain lagi, aku hanya ingin cepat cepat bertemu kembali dengan adik Tou, Wan Moay mari temani aku turun gunung, nanti bilamana suhu menegur bisa aku yang memikul semuanya.”
Si gadis cantik pengangon kambing tahu walau pun dia mencegah Lie Siauw le untuk turun gunung juga percuma, dia pasti tak akan bisa pusatkan perhatiannya uatuk berlatih silat, setelah termenung beberapa waktu lamanya akhirnya mengangguk juga.
"Baiklah, besok pagi kita turun gunung."
Saking girangnya Lie Siauw le segera menubruk memeluk diri gadis cantik pengangon kambing erat erat.
“Ooo .... kau betul betul adik yang baik”
Kedua orang gadis itu segera bersama-sama tertawa riang.
Keesokan harinya menyiapkan buntalannya si gadis cantik pengangon kambing maupun Lie Siauw le segera turun gunung bersama sama dengan kawanan kambingnya sesudah menutup pintu gua terlebih dahulu.
Kedua orang yang membawa bekal butiran intan permata yang mahal harganya sudah tentu tidak takut kekurangan biaya ditengah jalan.
Dengan menumpang sebuah perahu layar mereka melanjutkan perjalanannya menuju kearah le Cho, melalui selat Sam Shia setelah mengarungi sungai selama tiga hari akhirnya sampai juga di daerah keresidenan Oh Cing.
Hari itu perahu yang mereka tumpangi berlabuh dttepi pantai, pemandangan tempat itu amat indah sekali.
Sewaktu gadis cantik pengangon kambing beserta Lie Siauw le menikmati keindahan alam
itulah mendadak dari tepian sebelah kiri berkumandang datang suara bentrokan senjata yang amat ramai sekali diselingi dengan suara jeritan ngeri yang amat menyeramkan.
"Ie cici" ujar gadis cantik pangangon kambing itu. "Coba kau dengar ditepi sebelah kiri ada orang yang sedang melakukan pertempuran sengit, kedengarannya tidak kurang dari puluhan orang banyaknya, entah mereka bertempur disebabkan urusan apa. Bagaimana kalau kita pergi melihat sebentar?”
Keinginan dari gadis cantik pengangon kambing ini timbul karena ingin tahunya, tetapi Lie Siauw le tidak sama dengan jalan pikirannya. Dia tahu Liem Tou punya banyak musuh, kini dia masih hidup didunia sudah tentu setiap saat bisa berjumpa dengan musuh musuh tangguhnya itu, kini setelah mendengar ada orang sedang bertempur dengan amat seru hatinya menjadi tertarik, kemungkinan sekali orang yang sedang bertempur itu adalah diri Liem Tou. Tidak menanti gadis cantik pengangon kambing itu mendesak untuk kedua kalinya dia sudah siap meloncat turun dari perahu.
"Baiklah, Wan moay ayoh kita kesana” serunya.
Cepat cepat mereka perintahkan pemilik perahu itu untuk minggir ketepi, belum sampai perahu itu betul betul mepet dengan tepian, mereka berdua bagaikan burung walet dengan sangat ringannya sudah meloncat ke daratan dan lari menuju kearah pertempuaran itu.
Setelah melewati tanah bekas sawah sampailah disebuab kaki gunung yang ditumbuhi dengan rerumput yang amat subur terlihatlah berpuluh puluh orang toosu dengan pakaian hijau kuning tak menentu sedang mengurung tiga orang yang melawan serangan pedang mereka dengan menggunakan seluruh tenaga yang ada.
Gadis cantik pengangon kambing maupun Lie Siauw Ie siapa pun tidak tahu asal usul mereka, karenanya saat ini hanya menonton jalannya pertempuran dari samping.
Terhadap nama nama jagoan Bu lim gadis cantik pengangon kambing ini pernah mendapat tahu dari ayahnya Lie Loo jie, sekali pun dia tidak tahu semuanya, tetapi sebagian besar kenal juga karenanya setelah melihat dandanan ketiga orang itu tanpa terasa lagi saking herannya dia sudah menjerit tertahan, pikirnya.
"Orang yang dikurung di tempat itu bukankah anggota anggota dari Tionggoan Ngo Koay yaitu sisiucay bunutung, si pengemis pemabok serta Thiat Sie sianseng?? selamanya mereka bertiga melakukan pekerjaan bajik, kenapa kini dikeroyok oleh kawanan toosu itu?"
Berpikir sampzj disini s;gera ujarnya kepada Lie Siauw Ie.
"le cici, coba kau lihat orang yang dikeroyok itu bukankah si siucay buutung, pengemis pemabok serta si Thiat sie sianseng dari Tionggoan Ngo Koay?"
Swwaktu Liem Tou bersembunyi didalam rumahnya di gunung Ha Mo Leng dia telah mendengar cerita tentang Tionggoan Ngo Koay ini dari mulut Liem Tou, karenanya tanpa terasa diapun menjerit tertahan, ujarnya.
"Kawanan toosu ini pasti bukan orang baik-baik, selamanya Tionggoan Sam Koay ini melakukan kebajikan, mari kita tolong mereka"
"Ie cici kau belum pernah melakukan perjalanan didalam dunia kangouw bagaimana bisa tahu kalau toosu itu bukan manusia baik-baik?" tegur gadis cantik pengangon kambing itu, “Lebih baik kita menonton saja.”
Air muka Sie Siauw le segara berubah merah dan tak bisa mengucapkan sepatah katapun, sedang didalam hatinya dia merasa kuatir dan risau atas keselamatan dari si siucay buntung, si pengemis pemabok serta si Thiat sie sianseng.
Keadaan dari si pengemis berserta kawan-kawannya waktu ini memang benar benar amat berbahaya, tampak mereka bertiga dengan pundak menempel pundak masing masing melawan musuh musuh yang menyerang dari arah depannya, kipas si siucay buntung, tongkat Tah Kauw Pang dari pengemis pemabok serta siepoa dari Thiat sie lianseng dengan menimbulkan suara santar dan sambaran angin yang amat tajam mempertahan dirinya dari serangan musuh, membuat toosu-toosu itu tidak berani berlaku gegabah.
Sebaliknya juitru toosu-toosu itu menyerang dengan tidak mernperdulikaa nyawanya sendiri, terlihatlah diantara puluhan orang itu hanya ada tiga orang saja ilmu kepandaiannya agak tinggian. Tetapi siapapun diantara setiap toosu tooosu itu tidak mau mundur, dengan nekat dia menerjang terus kedepan membuat pertempuran kali ini benar benar sengit dan jatuh korban amat banyak sekali.
Si siucay buntung, pengemis pemabok mau pun Thiat Sie Sianseng dengan air muka sangat serius menghadapi terus musuh musuhnya yang kalap ini, agaknya pertempuran sengit ini ditimbulkan aleh suatu urusan yang amat besar.
Pada saat yang amat kritis itulah dari kaki gunung sebelah kiri secara tiba tiba muncul kembali dua puluh orang Toosu dengan dandanan sama berlari mendatang.
Salah seorang Toosu berpakaian warna kuning yang bertindak sebagai pimpinan didalam rombongan itu dari kejauhan, sudah berteriak keras.
“Saudara-saudara sekalian ayoh pada maju tangkap bangsat terkutuk ini, walaupun ini hari anak murid dari Bu tong Pay harus binasa semua kita harus tangkap juga ketiga orang bangsat terkutuk ini untuk membalaskan dendam sakit hati dari Ciangbunjin kita."
Toosu toosu itu segera berteriak keras menyambut perintah pimpinan mereka kemudian maju menyerang lebih nekad lagi.
Si gadis cantik pengangon kambing beserta Lie Siauw te yang mendengarkan percakapan mereka dari pinggiran saat ini baru merasa sedikit tidak sabaran, kini mereka baru tahu si siucay buntung, pengemis pemabok serta si Thiat Sie sianseng sudah membunuh mereka punya ciangbunjin dan kini mereka bersama-sama mengerubuti diri mereka bertiga untuk membalaskan sakit hati Ciangbunjin mereka.
Tiba tiba terdengar pengemis pemabok menggembor dengan suara keras.
"Kalian hidung hidung kerbau dari Bu tong pay yang tidak tahu diri, sebetulnya dari antara kalian siapa yang sudah melihat kalau Ciangbunjin si hidung kerbau kalian itu kami yang bunuh! Mata kalian sudah buta semua yaaah!"
"Anak jadah yang harus dicacah tutup mulut anjingmu!" balas bentak salah seorang toosu dari antara gerombolan toosu toosu lainnya. “Pada waktu ini didalam Bu lim siapa yang tidak tahu kalau Ciangbun suheng kami dibunuh oleh kalian bertiga? serahkan nyawamu"
Diikuti suara teriakan yang membakar semangat kawan kawannya.
"Ayoh murid murid Bu tong pay. terjang terus maju bunuh mereka mereka ini.”
Diikuti dengan suara bentakan yang nyaring Toosu Toosu sekalian yang mengepung di empat penjuru segera bersama sama membentak nyaring sehingga menggetarkan seluiuh dataran pegunungan itu.
"Ayoh bunuh!" Bagaikan air bah yang menerjang pantai mirip juga geiombang dahsyat yang menggulung ditengah samudra bebas, para Toosu itu dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri melancarkan serangan bergabung mengarah si siucay buntung, pengemis pemabok serta Thiat Sie sianseng bertiga.
Keadaan yang demikian menegangkan dan mengerikan ini membuat si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw le yang menonton di pinggir merasa ikut tegang, keringat dingin mengucur dengan amat derasnya sedang air mukanya perlahan demi perlahan berubah menjadi pucat pasi, pikirnya.
"Habis . . habis sudah, walaupun kepandaian mereka bertiga jauh lebih tinggipun tak akan sanggup untuk menshan serangan gabungan Toosu-toosu itu yang laksana menggulungnya ombak dahsyat ditengah samudra bebas."
Tetapi urusan ternyata sudah terjadi jauh diluar dugaan mereka berdua, sekali pun Bu-tong serta Siauw lim merupakan dua partai besar yang disegani didalam Bu lim dan kepandaian silat mereka mempunyai kemampuan yang meyakinkan tetapi pada saat ini merupakan saat saat lemahnya kedua partai besar tersebut, sehingga walaupun mereka mempunyai anak murid yang berjumlah sangat banyak tetapi kini justru bertemunya dengan tiga orang anggota Tionggoan Ngo Koay sudah tentu tak sanggup untuk mengapa apakah mereka.
Ketika mereka bertiga milihat para Toosu-Toosu dari Butong pay itu menyerang mereka dengan tidak memperdulikan nyawanya sendiri, si siucay buntung, pengemis pemabok mau pun Thiat Sie sianseng pun terpaksa menggerakkan senjata andalannya, masing masing orang sendiri-sendiri,
Terdengar suara bentakan yang amat keras masing masing pihak segera bertemu muka dan terjadilah suatu pertempuran yang amat sengit.
Suara teriak-teriakan ngeri bermuncullan iring mengiring disertai dengan muncratnya darah segar membasahi empat penjuru, murid murid Bu tong pay ada tujuh delapan orang lagi yang celaka di tangan senjata mereka bertiga.
Pertempuran yang sangat menyeramkan inilah membuat gadis cantik pengangon kambing mau pun Lie Siauw le yang menonton hampir saja merasa tidak tahan, ujar gadis cantik pengangon kambing itu tiba tiba.
"le ciei mereka bunuh membunuh dengan demikian mengerikannya, cepat kita carikan jalan untuk menghindarkan hal hal yang tidak di inginkan"
“Omonganmu sedikitpun tidak salah," sahut Lie Siauw le mengangguk. "Kita harus cepat-cepat cari cara yang lain untuk memisah pertempuran yang mengerikan ini”
Mendadak didalam benaknya berkelebat suatu ingatan, tambahnya lagi.
"Tetapi urusan ini sangat bahaya sekali, sedikit kita salah bertindak bisa bisa api yang berkobar akan membakar badan kita sendiri."
"Hhmmm . . , benar, bilamana bukannya karena hal itu sejak tadi aku sudah turun tangan.”
Berpikir akan hal ini membuat mereka berdua ragu ragu, masing masing saling pandang memandang untuk beberapa waktu lamanya, mereka betul betul dibuat gugup dan kelabakan sendiri.
Mendadak . . suara dengusan kerbau yang berat tetapi sangat dikenal olehnya berkumandang datang dari tempat kejauhan, mendengar suara itu baik gadis cantik pengangon kambing itu maupun Lie Siauw le sendiri masing masing dibuat melengak, walaupun sampai waktu ini mereka tidak mengucapkan sepatah katapun juga tetapi anggapan mereka sudah merasa kalau dengusan kerbau itu mirip sekali dengan suara dengusan kerbau milik mereka.
Baru saja Lie Siauw le mau membuka mulutnya untuk berbicara mendadak dari sebelah pinggiran pegunungan itu terdengar suara derapan kaki yang amat ramai tetapi mantap berlari mendatang, mereka berdua cepat cepat menoleh kearah mana ... sedikitpun tidak salah, kerbau itu memang milik mereka, kerbau yang berada dipuncak Leng Ay gunung Go bie tempo hari tetapi larinya kali ini amat aneh sekali bahkan amat cepat sekali.
Terang-terangan tadi terdengar suara dengusannya masih jauh bagaimana didalam sekejab mata saja sudah tiba disini? Saking heran dan tertegunnya mereka berdua seketika itu juga dibuat olehnya melongo longo dan melompong sambil memandang datangnya kerbau itu dengan pandangan terpesona.
Tampak kaki kerbau itu berlari dengan cepatnya tanpa menempel tanah, hanya didalam sekejap mata sudah menerjang ketengah kalangan pertempuran yang sedang mencapai pada puncak ketegangannya bahkan menerjang kiri dan kanan samping dengan seenaknya laksana ditempat itu tak ada orangnya saja.
Kalau hanya menerjang saja masih biasa, kali sambil menerjang kerbau itu menyepak dan menanduk orang orang itu, seekor kerbau bagaikan bayangan setan saja menerjang kesana menerjang kemari tanpa ada yang bisa menahan serangannya dalam sekejap saja membuat orang-orang yang sedang bertempur itu menjadi kalang kabut dibuatnya sehingga suasana menjadi kacau balau termasuk juga Tionggoan Sam Koay mereka dibuat terheran heran oleh munculnya kerbau secara misterius ini.
Kerbau ini seperti ada sukmanya saja tidak perduli dia menerjang menyepak maupun menanduk orang orang yang sedang bertempur itu ditepi tidak seorangpun yang terluka oleh terjangannya yang kalap ini bahkan senjata senjata tajam yang dicekal oleh toosu toosu itu hanya cukup didalam seperminuan teh saja sudah pada terlepas dari tangan mereka, seorang pun tak ada yang lolos.
Toosu-toosu itu menjadi benar benar terperanjat oleh munculnya keajaiban ini. ketika mereka berusaha untuk memandang kerbau itu lebih teliti lagi kerbau itu sudah berkelebat bagaikan angin yang berlalu, sehingga mereka hanya bisa melihat bayangan kerbau yang kerkelebat menyambar kesana menyambar kesini saja.
Seketika itu juga membuat Tionggoan Sam-Koay, gadis cantik pesangon kambing serta
Lie Siauw Ie menjadi melongo dibuatnya, bagaimana pun juga mereka percaya kalau seekor kerbau yang bodoh dan tidak berakal itu bisa melakukan pekerjaan seperti ini bahkan sudah terjadi di depan matanya sendiri, mau tidak percaya juga tak mungkin bisa.
Sewaktu Tionggoan Sam Koay sedang termangu mangu itulah mendadak kerbau itu dengan k-kecepatan yang luar biasa sudah menerjang kearah mereka bertiga.
“Celaka. . . " teriaknya tertahan, mereka belum habis diteriakkan senjata kipas pentungan Tah Kau Pang serta Sie Poa mereka bertiga sudah dipukul jatuh oleh terjangan kerbau itu.
Tanpa terasa mereka bertiga menjadi amat gusar sekali, cepat cepat tubuhnya menubruk kedepan merebut kembali senjatanya masing-masing kemudian putar tubuhnya siap menerjang ke arah kerbau itu, siapa tahu kerbau tersebut sudah lari dengan amat cepatnya dari sana dan berada kurang lebih puluhan kaki jauhnya dan kemudian terdengar lagi suara derapan kakinya yang amat ramai diselingi dengan suara dengusan beratnya, hanya dalam sekejap mata dia sudah lari tanpa bekas.
Kini ditengah lapangan itu hanya tinggal para toosu-toosu. Tionggoan Sam Koay, gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie yang berdiri terpaku di tempat masing masing.
Lama sekali . . . tiba tiba terdengar salah seorang murid Bu tong pay berteriak dengan keras.
"Ayoh maju, bunuh" seketika itu juga mem buat semua orang menjadi sadar kembali dari lamunannya.
Dengan menggunakan kesempatan itu juga Thiat Sie sianseng cepat cepat berteriak kepada si siucay buntung serta si pengemis pemabok.
"Ayoh jalan, kita cari si penjahat naga merah untuk bikin perhitungan."
Seketika itu juga mereka bertiga menggerakkan kakinya bagaikan kilat cepatnya berlari melewati gunung itu untuk melarikan djri dari sana.
Anak murid dari Bu tong pay sudah tentu tidak mau untuk melepaskan mereka bertiga dengan begitu saja, bagaikan kawanan tawon mereka bersama-sama melakuka pengejaran dengan kencangnya, hanya didalam sekejap mata semua orang sudah pada pergi dari sana dan kini hanya tinggal beberapa sosok mayat serta Toosu-toosu yang terluka parah, mereka yang terluka pada merintih dan mengaduh dengan lemahnya, keadaannya sangat ngeri dan menyeramkan.
Si gadis cantik pengangon kambing maupun Lie Siauw le yang memiliki hati yang welas kasih kini melibat pemandangan yang demikian mengerikan sudah tentu tidak mau berdiam diri, cepat cepat mereka mendskati Toosu-toosu yang terluka itu untuk membantu membalut luka luka mereka.
Setelah semuanya selesai barulah mereka berdua kembali keperahu.
Lama sekali Lie Siauw Ie tundukkan kepalanya termenung terus, si gadis cantik pengangon kambing yang melihat keadaannya segera mendekati dirinya.
"Cici, kau sedang pikirkan apa ? " tanyanya.
"Urusan tadi sungguh aneh sekali," sahut Lis Siauw Ie sambil memandang kearah tempat kejauhan. "Kau merasa tidak kalau kerbau itu sedikit mencurigakan ?"
"Ehmmm . . . aku kira peristiwa tadi pasti ada sangkut pautnya dengan orang yang menghadiahkan intan permata kepada kita ini, sewaktu kerbau tadi menerjang ke tengah kalangan pertempuran kecepatannya luar biasa, sebelum aku melihat lebih jelas lagi kerbau itu sudah berhasil menjatuhkan senjata senjata orang itu, kemungkinan sekali disamping kerbau ada seseorang bersembunyi."
“Betul" Teriak Lie Siauw Ie kemudian. "Kenapa aku tak berpikir sampai disana? Orang itu pasti bersembunyi disamping kerbau tersebut hanya saja kita tak sempat untuk meiihat lebih jelas lagi."
Dia berhenti sebentar lalu sambungnya lagi "Wan Moay, aku lihat memangnya kerbau itu muncul di tempat ini maka orang itu pun pasti berada tidak jauh dari tempat sini, bagaimana kalau kita melanjutkan perjalanan melalui darat saja ?"
Gadis cantik pengangon kambing itu tidak punya usul lagi maka kedua orang itu lalu mendarat di tempat itu, sesudah menyuruh tukang perahu itu pergi mereka berdua dengan menunggang seekor kambing melakukan perjalanan kedepan.
Belum jauh mereka berjalan mendadak si gadis cantik pengangon kambing itu menghentikan tunggangannya.
"Cici, kita mau kemana??" tanyanya tiba tiba. Diingatkan akan hal ini Lie Siauw Ie menjadi melengak, tetapi pikirnya cepat berputar.
“Wan moay , bukankah kerbau tadi berlari ke sana?" ujarnya kemudian sembari menunding kearah Utara, “Lebih baik kita melanjutkan perjalanan kearah sana."
“Benar. ... benar” jawab gadis cantik pengangon kambing itu sembari mengangguk. "Bagaimanapun juga kita harus mengadu nasib, bilamana bisa bertemu yah syukur kalau tidak bertemu dengan melalui berbagai daerah keresidenan di daerah Tionggoan ini kita bisa menanti sekalian pertemuan di puncak pertama di daerah Cing Jan pada bulan kelima tanggal lima yang akan datang."
Baru saja dia selesai berbicara mendadak di atas tanah ditepi jalan terlihatlah gambar seekor kerbau dengan dua tanduknya yang runcing menunjuk kearah Utara tanpa terasa gadis cantik pengangon kambing itu menjerit tertahan, serunya.
( Bersambung ke jilid 15 )
ClCI, COBA KAU LIHAT APA INI ? ?
Dengan cepat Lie Siauw Ie bungkukkan badannya dan memeriksa dengan lebih teliti lagi, tampaklah olehnya bahwa lukisan kerbau itu sedikitpun tak ada tanda tanda yang istimewa, ujarnya kemudian sesudah berpikir sebentar.
"Aku lihat lukisan ini pasti ada kegunaannya, hanya tak tahu siapa yang menggambar? Agaknya tanduk kerbau ini menunjukkan satu arah tertentu, pastilah orang itu menunjukkan arah sana.
Tidak urung arah yang kita tuju adalah sama mari kita ikuti saja terus."
Kedua orang itu segera meloncat turun dari punggung kambing dan melanjutkan perjalanannya dengan berlari sedang dibelakang mereka berlari mengikuti terus kawanan kambing tersebut. Dengan wajah mereka berdua yang amat cantik dan menggiurkan ditambah kawanan kambing yang menimbulkan suara gemuruh yang menggetarkan seluruh bumi, tak perduli mereka tiba ditempat manapun pasti menarik perhatian orang banyak.
Ternyata dugaan mereka tidak salah setelah mengikuti tanda panah itu ditempat yang menyolok tampak lagi dua buah gambar tanduk kerbau dan akhirnya disebuah pohon basar juga tumbuh dengan dedaunan yang amat lebat terlihatlah sebuah benda putih persegi panjang yang digantungkan pada ranting dan berkibar tak henti-hentinya ditiup angin.
Mereka berdua cepat-cepat lari ke sana, setelah dekat barulah melihat yang semula diduga sebagai benda putih itu ternyata tak lain adalah kulit pohon yang disayat oleh orang, sedang diatas pohon itu jelas terlihat beberapa buruf kata yang ditulis dengan amat jelasnya.
Tulisan itu diukir sedalam beberapa coen hal itu membuktikan kalau tenaga dalam orang itu sudah mencapai pada taraf kesempurnaan, si gadis cantik pengangon kambing itu setelah melihat hal itu diam diam merasa terperanjat pikirnya.
Tulisan ini jalas ditulis dengan menggunakan ilmu jari Kiem Kong Cie, jika dilihat dari dalamnya tulisan ini jelas tenaga dalamnya sudah mecapai pada puncaknya, sekalipun Tia sendiri belum tentu bisa melakukannya.
Ujarnya kemudian kepada Lie Siaw Ie.
"Cici orang yang meninggalkan tulisan ini pasti merupakan cianpwee yang berkepandaian tinggi, kalau tidak siapa lagi yang bisa memiliki kepandaian begitu tinggi ??"
"Wan moay cepat berangkat " Tiba tiba Lie Siauw Ie berteriak dengan keras.
"Malam ini dikota Tang Yang suhu mau berunding dengan orang."
Si gadis cantik pengangon kambing menjadi melengak.
"Cici kau bilang apa ?" "Coba kau baca tulisan ini," sen Lie Siaw Ie sambil menuding kearah tulisan itu.
Waktu itulah si gadis cantik pengangon kambing baru memperhatikan tulisan pada kulit pohon itu yang kira kira bermaksud.
"Malam ini diluar kota Tang Yang Lie Loo jie akan berkelahi dengan si penjahat naga merah dikuil Siang Liang Sie, cepat pergi menonton."
Agaknya Lie Siauw Ie tak tahu siapakah si penjahat naga merah itu, tanyanya kemudian.
"Wan-moay, siapakah si penjahat naga merah itu ??"
"Pada duapuluh tahun yang lalu si penjahat naga merah ini sudah menggetarkan seluruh dunia kangouw. Pekerjaan pekerjaan busuk yang dilakukan bukan saja merampok bahkan membunuh orang semau hatinya. Pada waktu dekat ini tiba tiba muncul kembali didalam Bulim dan mengganggu banyak kota besar. Pada dua puluh tahun yang lalu Tia pernah pergi mencari dia tapi dengan secara tiba tiba dia menyembunyikan dirinya, tak disangka kali ini bisa bertemu muka kembali, pertempuran malam ini pasti amat sengit"
"Wan moay kau pernah bertemu dengan orang ini ?" tanya Lie Siauw Ie kembali.
Si gadis cantik pengangon kambing gelengkan kepalanya
"Jago jago pada dua puluh tahun yang lalu mana mungkin aku pernah menjumpainya, hanya saja . . . ."
Mendadak didalam benaknya berkelebat kembali bayangan dari Ang in sin pian itu Cungcu dari Ie He Cang, sambungnya kembali.
"Hanya saja Cungcu adalah ahli warisnya, apa kau masih tak mengerti ??"
"Oooh . . . kiranya Cungcu adalah ahli waris dari seorang penjahat terkenal dari Bu lim, bilamana orang orang perkampungan tahu masalah ini mereka pasti tidak akan membiarkan dia merebut kedudukan sebagai Cungcu. Wan Moay ayoh berangkat, malam ini kita harus bisa melihat bagaimana bentuk wajahnya itu penjahat naga merah"
Mareka berdua segera membawa kawanan kambingnya melakukan perjalanan kembali menuju ke kota Tang Yang, tak sampai dua jam mereka tiba di dalam kota tersebut. Bukannya mereka langsung menuju ke dalam kota sebaliknya mencari terlebih dahulu sebuah rumah penginapan diluar kota untuk beristirahat bahkan menanyakan pula letak kuil Siang Lian Si yang letaknya kurang lebih dua puluh li diluar kota sebelah barat itu.
Menanti matahari sudah lenyap dan dibalik gunung berganti cuaca yaog agak remang remang barulah si gadis cantik pengangon kambing berpesan kepada si pelayan rumah penginapan itu:
"Kawanan kambing ini untuk sementara kami titipkan disini, malam ini kami berdua mau masuk ke dalam kota dan belum tentu kembali., kalian tak usah menunggu."
Pelayan itu segera menyahut dan melaksanakan apa yang telah diperintahkan.
Selesai membereskan pakaian serta tidak lupa menggembol senjata rahasia, sigadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie segera berangkat menuju ke kota sebelah barat dan dari sana berlari menuju kekuil Siang Lian Si.
Jarak dua puluh li bagi orang yang berkepandaian bukanlah jauh. Tidak sampai satu jam kemudian sudah terlihatlah bangunan kuil yang berdiri dengan angkernya dipinggiran sebuah bukit, bangunan kuil tersebut kelihatan amat kokoh dan angker sekali, apalagi atapnya yang berwarna merah darah membuat keadaannya semakin serem.
Dengan cepat mereka berdua berkelebat menuju keluar kuil, ujar si gadis cantik pengangon kambing kemudian dengan suara lirih.
"Ayo kita masuk dan melihat apakah Tia sudah tiba?"
"Wan moay, kita harus lebih berhati hati" Ujar Lie Siauw Ie. "Jikalau si penjahat naga merah itu datang terlebih dahulu dan sampai di temui oleh dia sekalipun kita turun tangan bersama belum tentu bisa menangkan dirinya"
"le cici, kau tidak usah terlalu pandang tinggi dirinya" Sahut gadis cantik pengangon kambing itu tertawa geli. Ini hari bisa memperoleh kesempatan seperti ini kita harus coba coba juga kepandaiannya. Saat itu bilamana siauw-moay sudah tidak kuat kau baru turun tangan membantu. Dengan keganasan serta kelihayan dari Thian Pian Siauw cu pun kita herdua tidak ada gunanya harus takuti dia orang? bagaimana hebatnya kepandaian silat si penjahat naga merah ini siapapun tidak ada yaag tahu, kemungkinan sekali dia hanya sebuah macan kertas juga belum tentu."
'Bukannya kita takut padanya, hanya saja didalam melakukan pskerjaan kita harus selalu berhati hati.
Gadis cantik psngangon kambing itu tertawa kembali, dia tidak banyak bicara lagi tubuhnya segera amelayang masuk kedalam kuil dan disusul oleh Lie Siauw Ie dari belakang.
Sesudah masuk kedalam halaman kuil Siang Lian si itu tampaklah sebuah jalan kecil yang panjangnya beberapa kaki terbentang di tengah halaman, sedang disampingnya tumbuhlah pohon pobon siong dengan amat lebatnya, keadaan begitu sunyi tak terdengar sedikit suarapun, suasana serta keadaan yang begitu sunyi dan begitu menyeramkan membuat gadis cantik pengangon kambing maupun Lie Siauw Ie merasa di dalam hatinya merasa berdesir juga. Sedang perasaan tegangpun mulai mencekam tubuh mereka berdua, langkah kakinya semakin diperingan sedang semua perhatiannya ditujukan pada gerak gerik disekelilingnya.
Selesai melewati jalan kecil yang amat panjang itu dihadapannya muncullah sebuah ruang bangunan yang amat angker dan megah, pintu ruangan tersebut tertutup dengan rapat, baru saja gadis cantik pengangon kambing itu mau memberi tahu kepada Lie Siauw le untuk meloncat naik ke atas atap mendadak dari luar kuil terdengar suara pembicaraan beberapa orang.
Gadis cantik pengangon kambing itu tidak berani berlaku ayal lagi, cepat cepat dia menarik tangan Lie Siauw Ie untuk bersembunyi dibelakang sebuah pohon besar, ujarnya deagan suara perlahan.
"Ie cici, coba kau dengar, agaknya diluar kuil ada orang yang sedang berbicara, apakah mungkin Tia atau si panjahat naga merah sekalian yang sudah datang?"
Lie Siauw Ie hanya gelengkan kepalanya dan mendengarkan lebih cermat lagi, mendadak pintu kuil terbuka lebar dan masukklah tiga orang.
Pandangan sigadis cantik pengangon kambing yang lebih tajam di dalam sekali pandang saja segera bisa melihat kalau mereka itu adalah si-Thiat sie poa, si siucsy buntung serta si pengemis pemabok.
Terdengar suara dari si siucay buntung sedang berkata.
'Benar, memang ada disini, dahulu aku masih menganggap si penjauat naga merah ini adalah seorang lelaki sejati tak disangka dia bisa melakukan pekerjaan yang mencelakai orang lain ..'
"Hmmm, jika ini hari kita bertemu muka lagi jangan sampai membiarkan dia lolos kembali, kepandaian bangsat itu sangat lihay."
Thiat Sie sianseng tertawa, ujarnya.
"Aku juga. Tidak sampai kentongan ketiga mereka pasti datang, sejak pertemuan kita setahun yang lalu digunung Wu san dan si pengemis busuk terluka ditangannya tentu ini hari kepandaiannya lebih lihay lagi, waktu itu jikalau bukannya aku mengandalkan gerakan dari Sah cap lak Thian Kang Hwee Sioe Poo yang punya perubahan aneh dan memancing dia berlari disekeliling gunung tenteu si pengemis busuk tidak akan sempat mengobati lukanya dan meloloskan diri dari sana"
Dia berhenti sebentar kemudian sambungnya lagi.
"Jika ditinjau dari keadaan seperti ini lebih baik kita jangan berhadapan secara langsung dengan dia. Untung saja ini hari bertambah dengan Lie Loo jie seorang sehingga kedudukan kita lebih menguntungkan."
"Ha la ha . . . tidak disangka sie poa rongsokanmu itu masih mempunyai pikiran untuk membokong orang, sungguh aneh, sungguh sangat aneh ..."
Mendengar omongan itu Thiat Sie sienseng tertawa terbahak bahak.
"Si penjahat naga merah mencelakai orang terlebih dahulu sehingga membuat para hidung kerbau itu mengejar kita terus menerus bilamana ini hari kita bisa menguasai dia dengan menggunakan akal, aku kira hal ini tidak melanggar peraturan Bu lim.
Saat itu mereka sudah berjalan sampai didepan pintu ruangan yang amat megah itu. Gadis cantik pengangon kambing maupun Lie Liauw Ie sekarang baru tahu kiranya toosu toosu Bu tong pay bisa cari mereka untuk balas dendam, hal ini dikarenakan fitnahan dari si penjahat naga merah, tidak aneh kalau mereka mau cari si penjahat naga merah untuk mencari balas.
Ketiga orang itu setelah mengetahui pintu ruangan tertutup rapat, masing masing saling memandang sekejap, setelah itu tampak si siucay buntung yang pertama tama menutulkan ujung kakinya yang tinggal sebelah melayang ke atas atap rumah disusul si pengemis pemabok serta Thiat Sie sianseng dan bersembunyi di balik wuwungan rumah.
Dengan tidak mengucapkan sepatah katapun si gadis cantik pengangon kambing itupan menutulkan kakinya dan meloncat naik keatas rumah untuk selanjutnya bersembunyi dibalik wuwungan rumah.
Lie Siauw Ie yang melibat gadis cantik peengangon kambing ikut meloncat naik, diapun siap siap meloncat pula, siapa tahu mendadak dari luar kuil terdengar suara dengusan kerbau yang amat berat, seketika itu juga membuat dia melengak, pikirnya,
"Ternyata dia datang juga, ternyata dia dalangnya juga"
Di dalam hati Lie Siauw Ie terus menerus memikirkan diri Liem Tou dengan sendirinya terhadap manusia misterius itu diapun menaruh perhatian penuh, kini mendengar suara dengusan dari seekor kerbau sudah tentu membuat pikirannya segera berubah.
Bukannya dia ikut meloncat naik keatas wuwungan rurmh sebaliknva malah berlari keluar dari kuil, tidak salah lagi kurang lebih beberapa kaki diluar kuil berdirilah seekor kerbau.
Cepat cepat Lie Siauw Ie berlari mendekat ke arah kerbau tersebut, tetapi pada saat yang bersamaan pula kerbau itu mendadak putar tubuh dan lari dari sana
Lie Siauw Ie menjadi gusar, bentaknya nyaring
"Binatang, kau mau lari kemana?"
Dengan cepat dia kerahkan tenaga dalamnya untuk mengejar dari belakang, siapa tahu larinya kerbau itu makin lama semakin kencang semakin cepat, lama kelamaan Lie Siauw Ie yang mengejar dari belakang semakin mengejar semakin menjauhi kuil itu.
Lie Siauw Ie menjadi amat gemas, dengan cepat dia mengeluarkan ilmu meringankan tubuhnya dengan "Liu Im Hui Sie atau terbang layang mengitari selat dari kitab pusaka Toa Loo Cin Keng, laksana bertiupnya angin kencang dia mengejar lebih cepat lagi kearah larinya kerbau itu.
Agaknya kerbau itu mendengar adanya sambaran baju dibelakangnya, terdengar dia mendengus berat mendadak larinya dua kali lipat lebih cepat dari semula, membuat Lie Siauw-Ie sikali lagi ketinggalan lebih jauh.
Lie Siauw Ie menjadi amat gusar, dengan cepat dirautnya segenggam senjata rahasia Kioe Cu Gien Ciam dan disambit dengan dahsyatnya kearah kerbau itu.
Siapa tahu seperti juga dibelakang punggungnya ada mata, mendadak kerbau itu putar tubuhnya dan menyusup ke sebelah kiri, hanya di dalam sekejap saja sudah lenyap ditengah gerombolan pohon.
Sekali lagi Lie Siauw Ie membentak dengan keras tubuhnya dengan cepat ikut menyusup ke dalam semak semak itu, tetapi pada waktu itulah kerbau tersebut sudah lenyap tanpa bekas.
Tanpa terasa lagi dia menundukkan kepalanya dengan lemas, dalam bati dia tahu sekalipun mengejar juga tiada guna karenanya segera dia putar tubuh siap kembali ke arah kuil Siang Lian Si.
Mendadak... suara rintihan yang amat perlahan berkumandang datang dari sebelah kirinya. Lie Siauw Ie menjadi amat heran, cepat-cepat dia mencari dimana berasalnya suara tersebut. Belum sampai puluhan kaki dia berjalan terlihatlah sesosok tubuh menggeletak di atas tanah, sedang kerbau tersebut berdiri disamping tubuhnya dan makan rumput dengan amat tenangnya.
Dalam hati Lie Siauw Ie hanya merasakan hatinya tergetar amat keras, pikirnya.
"Apakah orang ini adalah manusia misterius itu?
Dengan meminjam sinar bintang yang memancarkan sinarnya remang remang dia pandangi wajah orang itu lebih teliti lagi, mendadak dia menjadi amat terperanjat, teriaknya.
"Adik Tou, kau . . . kau . . . bagaimana kau berada disini ?"
Tapi . . . tiba tiba bayangan sewaktu Liem Tou jatuh ke dalam jurang di bawah Jembatan pencabut nyawa terbayang kembali didalam be naknya, teriaknya lagi.
"Oooh .... adik Tou, kau sungguh sungguh tidak mati, kau sungguh tidak mati ??? Bagaimana kau bisa lolos dari maut ? ? "
Sambil berteriak serta merta tubuhnya menubruk ke dalam pangkuan Liem Tou yang sedang berbaring di atas tanah, sedang air mata mengucur keluar dengan amat derasnya.
"Oooh Ie cici, kau ? Aku sudah naik ke atas Ie Hee Cung tapi disana aku tak melihat kau, kiranya kau berada disini . .
"Kau sudah naik ke Ie Hee Cung?" Potong Sie Siauw Ie cepat. Apa kau telah bertemu dengan ibuku 1"
Perlahan lahau Liem Tou bangun dan duduk kembali, mendadak Lie Siauw Ie melihat sinar matanya amat tajam sekali bahkan amat berbeda dengan setahun yang lalu tanpa terasa dia jadi tertegun, pikirnya.
"Apakah didalam satu tahun ini adik Tou betul betul sudah barhasil melatih ilmu silatnya ? Kalau tidak bagaimana sinar matanya bisa begitu tajam dan bersinar ? ?"
Waktu ini Liem Tou sedang memandangi wajah Lie Siauw Ie dengan terpesona agaknya dia mau mengucapkan sesuatu mandadak dibatalkan kembali.
Melihat perubahan wajahnya itu dalam hati Lie Siauw Ie merasa berdesir, teriaknya.
"Adik Tou kenapa kau tidak mau berbicara?? Ibuku kenapa ?"
Sekali lagi Liem Tou dibuat ragu ragu oleh pertanyaan ini. akhirnya sahutnya sambil mengangguk.
"Aku sudah bertemu dengan beliau, dia sekarang masih sehat waalfiat."
Agaknya Lie Siauw Ie bisa mepercayai perkataanaya ini, terdengar dia bertanya kembali.
"Adik Tou. bagaimana kau bisa berbaring disini seorang diri ???"
"Sesudah aku naik ke atas gunung Ha Mo san dan mencari kau dimana mana tidak disangka ditengah jalan sudah bertemu dengan kerbau ini, agaknya dia masih ingat dengan majikannya melibat aku ada di sana segera dia berjalan mendekati aku demikianlah dengan menunggang kerbau ini aku bisa berkelana ke mana mana, setiap kali aku bertemu dengan orang pasti kutanyakan apakah sudah bertemu dengan kau, siapa tahu larinya kerbau ini lebih cepat beberapa kali lipat dari dahulu karena saking lelahnya tak terasa aku sudah tertidur ditempat ini"
Liem Tou sama sekali tak bicara jujur Kiranya dia yang sudah mempelajari ilmu dari kitab pusaka "To Kong Pit Liok" di ruangan sumur kering itu dia tidak memperoleh suatu kesukaran apa apa dikarenakan dia pernah mempelajari ilmu silat dari kitab pusaka "Toa Loo Cin Keng' ditambah lagi latihan tenaga dalamnya sewaktu berada di gua gelap diatas puncak Ngo Lian-Hong memberikan dasar yang amat bagus buat dirinya, karena itu tak sampai sebulan lamanya dua jalan darahnya sudah berbasil ditembusi sehingga kepandaiannya pun bertambah lipat ganda
Ketika mencapai setahun lamanya baik tenaga dalam maupun ilmu meringankan tubuhnya sudah mencapai taraf paling atas. diapun dengan tekun mempelajari isi dsri kitab pusaka "Toa Loo Cin Keng" sehinggi tanpa dia sadari ilmu silanya sudah mencapai pada tingkatan paling atas dan boleh dikata sudah terhitung sebagai jago nomor wahid di dalam Bu lim.
Sebetulnya kitab pusaka To Kong Pit Liok ini berisikan ajaran rahasia dari ilmu silat ting atas, mana mungkin Lem Tou bisa berbasil menguasai seluruh isinya hanya di dalam satu tahun saja ? ? Dikarenakan di dalam batinya dia terus menerus merindukan diri Lie Siauw Ie walaupun dia benar benar belum menguasai dari kitab pusaka "To Kong Pit Liok" dia keluar juga dari dasar sumur kering itu.
Waktu itu suasana didalam bangunan tersebut amat sunyi sekali, setelah diperiksa sekali disekitar tempat itu pada sebuah ruangan kamar ditemuinya sesosok mayat yang kini tinggal tulang belulangnya saja, dia tahu tengkorak itu pasti tengkorak wanita yang memberi tahukan tempat disimpannya kitab pusaka "To-Kong Pit Liok" itu. bahkan dirinya sudah menyanggupi untuk mencarikan puteranya dan beritahukan siapakah musuh besarnya.
Dia berdiam beberapa waktu lamanya di dalam ruangan itu, mendadak dibagian dada tengkorak tersebut kelihatan tertinggal sebuah lempengan perak, cepat cspat dipungutnya benda itu.
Terlihatlah psda sebuah lempengan perak itu terukir sebuah gambar burung hong yang berkaki tunggal, dia tidak tahu apa maksud gambar itu dengan perasaan heran disimpannya benda itu ke dalam saku lalu keluar dari sana.
Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya hanya di dalam sekejap mata dia telah sampai disamping sungai dibawah gunung Wu san itu.
Waktu itu cuaca sudah menunjukkan tengah malam, dikarenakan gembira dan inginnya segera berjumpa dengan Lie Siauw Ie secepat mungkin membuat dia sedikit lupa daratan suara suitan panjang segera memecahkan kesunyian, dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya Liem Tou berlari mengikuti tepian sungai, hanya terlihat bayangan hitam ysug berkelebat dengan cepatnya, dalam sekejap mata saja lima puluh li sudah dilalui tanpa terasa.
Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang amat cepat inilah didalam satu malam dia sudah menempuh suatu perjalanan yang jauh sekali, pada keesokan harinya dia telah berada didalam kota Ciang Kong dibawah gunung Cing Jan.
Tanpa beristirahat lagi dia melanjutkan perjalanannya menuju ke atas gunung Ha Mo San.
Dengan kepandaian siat yang dimiliki sekarang ini untuk melewati ketiga rintangan bahaya itu sudah tentu tidak dipandang sebelah matapun olehnya, hanya didalam satu kali loncatan rintangan maut itu: Sungai Kematian, Tebing maut serta Jembatan pencabut nyawa sudah dilalui tanpa susah susah.
Hari itu juga dia sudah tiba di perkampungan Ie Hee Cung di atas gunung Ha Mo Leng, dengan kecepatannya gerakan waktu ini sudah tentu tak seorang pun yang merasa akan kunjungannya ini.
Pertama tama dia berlari menuju ke rumahnya Lie Siauw Ie, ketika dilihatnya pintu maupun jendela dikunci dengan amat rapatnya tanpa disadari dia sudah berdiri tertegun.
Sekalipun dia sudah mencarinya diseluruh pelosok perkampungan itu jangan dikata Lie Siauw Ie serta ibunya sekalipun bayangannya pun tak kelihatan, di dalam keadaan yang apa boleh buat terpaksa dia harus munculkan diri untnk bertanya kepada seorang rakyat dari perkampungan.
Ketika orang itu melihat kalau yang muncul adalah Liem Tou walaupun didalam hati dia merasa heran tetapi dengan sejujurnya mau juga dia menceritakan keadaan yang telah terjadi atas diri Lie Siauw Ie serta ibunya.
Pada waktu diketahuinya bagaimana Lie Siauw Ie mengikuti dirinya terjun ke dalam jurang di bawah Jembatan pencabut nyawa, kemudian ibunyapun ikut binasa karena sedihnya, untuk beberapa waktu lamanya hampir hampir dia dibuat jatuh pingsan. Demikianlah sejak hari itu dia tentulah menangis dengan amat sedihnya didepan kuburan ayahnya.
Karena kejadian itu setiap malam rakyat dari Perkampungan Ie Hee Cung tentu mendengar adanya suara tangisan seseorang yang tidak di arah munculnya sehingga membuat seluruh perkampungan menjadi gempar, tetapi Liem Tou tidak ingin diketahui kemunculannya disana karenanya hingga saat ini seluruh rakyat dari perkampungan masih menganggap peristiwa tersebut sebagai suatu teka teki.
Tiga hari kemudian perasaan masgul yang mengganjal hati Liem Tou sudah agak mengendor, Waktu itulah dia baru meninggalkan gunung Ha Me Leng. Disebabkan diapun mendengar kalau sigadis cantik pengangon kambing ikut terjun bersama sama Lie Siauw Ie, di didalam hati segera mengambil keputusan untuk naik keatas gunung Go bie. Didalam perjalanan ini dia mendengar adanya perampokan perampokan yang amat dahsyat didalam Bu lim, membuat hatinya semakin mendendam pada orang orang yang bermaksud jahat.
Diapun heran kenapa siapa s'cangkul pualam Lie Sang sebagai seseorang dedengkotnya Bu lim hanya berpeluk tangan saja didalam peristiwa ini.
Karena itulah sewaktu dia tiba diatas gunung Go bie dengan kata kata pedas dia membuat Thian Pian Siauw cu menjadi jengkel dan pergi dari sana, kemudian menghadiahkan intan dan membawa pergi kerbaunya, disampmg itu mencuri lempengan besi milik Lie Loo jie untuk mancing dia muncul kembali dalam Bu lim.
Karena tak ingin muncul kembali diantara Lie Loo jie sekalian makanya sewaktu berada dikuil Siang Lian si dia hanya memancing Lie-Siauw Ie seorang saja untuk bertemu dan melepaskan rindunya.
Sekalipun saat ini Liem Tou tak mau bicara terus terang sehingga membuat Lie Siauw Ie menaruh sedikit perasaan curiga karena cintanya kepadanya membuat dia tidak mau pikirkan hal ini lagi di dalam hatinya, dia hanya menganggap dikarenakan banyaknya musuh di dalam Bulim memang seharusnya dia sedikit menyembunyikan kepandaian silatnya.
Kini berganti Lie Siauw Ie yang menceritakan kisahnya bagaimana dia ditolong oleh gadis cantik pengangon kambing kemudian mengangkat Lie Loo jie sebagai suhunya dan berhasil mempelajari isi dari kitab pusaka Toa Loo Cin Keng, lalu bagaiman mereka dipancing oleh seorang manusia misterius sehingga terpaksa turun gunung.
Selesai mendengar kisahnya ini mendadak Liem Tou menjerit keras.
"Oooh Ie cici, kenapa tidak kau katakan sejak tadi? Pertempuran antar dua jago Bu lim yang memiliki kepandaian silat yang amat tinggi pasti menarik sekaii, ayoh kita berangkat"
Lie Siauw Ie angkat kepalanya memandang terlebih dulu keadaan cuaca, setelah diketahui waktu itu sudah menunjukkan kentongan yang kedua dan takut gadis cantik pengangon kambing mencari dia ditempat lain, sabutnya.
"Baiklah ayoh kita berangkat"
Mereka berdua segera berjilan keluar dian-tara semak semak, terlihatlah kerbau itu mengikuti dengan tenangnya dari belakang.
"Entah bagaimana kerbau itu bisa berubah menjadi amat cerdik dan sakti" ujar Liem Tou lagi. "Ayoh kita naiki saja"
"Sungguh!" seru Lie Siauw Ie ragu, karena dia sudah dua kali melihat gerak gerik yang aneh dari kerbau itu "Apa ada kalanya dia meninggalkan dirimu seorang diri?''
Dalam hati diam diam Liem Tou merasa geli, dia tahu tentu dalam hatinya sudah menaruh perasaan curiga, dengan wajah yang kebingungan ujarnya. "Cici bagaimana kau bisa bertanya begini? aku kira dia akan pergi sendiri sewaktu aku tertidur pulas, kecuali itu dia belum pernah meninggalkan samping tubuhku"
Lie Siauw Ie diam diri tidak berbicara lagi, demikinlah kedua orang itu segera naik keatas punggung kerbau dan melarikannya memenuju ke kuil Siang Lian Si.
Sesampainya di depan kuil, terlihatlah suasana di sekeliling tempat itu masih tetap sunyi senyap saja, ujarnya dengan suara perlahan.
"Adik Tou, entah mereka sudah datang atau belum? Lebih baik gerak gerik kita sedikit berhati hati"
Liem Tou mengangguk tanda setuju, sesudah meloncat turun dari tunggangannya dia menepuk punggung kerbau itu.
"Sana pergi sendiri!"
Kerbau itu seperti juga mengerti atas perkataannya, dengan mendengus perlahan dia meninggalkan tempat itu.
Sesudah memasuki pintu kuil mendadak Lie-Siauw Ie berkelebat melanjutkan langkahnya dengan bersembunyi dibalik pohon pohon siong. Liem Tou pun segera mengikuti dari belakangnya.
Terdengar suara yang perlahan ujar Lie Siauw Ie:
"Wan-moay menguntit diri Tionggoan Sam-Koay menuju kebelakang ruangan ketika dia tidak tampak diriku hatinya tentu sedang risau dan bingung."
Dengan ketajaman telinga Liem Tou saat ini mendadak dia dapat mendengar dibalik tembok ada orarg yang sedang berbicara dengan suara perlahan, ketika di dengar lebih teliti lagi dia baru tahu itu adalah suara dari Tioag-goan Sam Koay pikirnya
Si pengemis pemabok sudah pernah bertemu dengan aku ketika masih berada digunung Wu san, walaupun saat itu dia sedang pusatkan perhatiannya untuk menyembuhkan luka dalamnya tapi dia tahu atas kehadiranku, jika aku munculkan diriku saat ini maka rahasiaku pasti akan kebongkar saat ini juga, untuk mengelabui orang lain akan menjadi lebih sukar lagi.
Berpikir akan hal ini segera ujarnya kepada Lie Siauw Ie.
'Cici kau pergilah kesana, coba lihat dia bersembunyi dimana, biariah aku bersembunyi disini saja untuk menanti Kedatangan cici" Lie Siauw Ie segera mengangguk, tampak tubuhnya dengan amat ringan melayang naik keatas wuwungan kemudian berlari menuju ke halaman belakang.
Liem Tou yang melihat gerak gerik Lie Siauw Ie amat ringan dan memang jauh berbeda dengan setahun yang lalu di dalam hati diam diam ikut bergembira juga, segera dia tidak mau berdiam diri dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi berkelebat mengikuti dengan kencang dari belakangnya.
Liem Tou yang sudah ada diatas wuwungan rumah hanya dalam sekali pandangan sudah melihat kalau Tionggoan Sam Koay bersembunyi di balik wuwungan rumah sebelah belakang dan saat ini sedang guyon, sedang gadis cantik pengangon kambing bersembunnyi dibalik tembok kurang lebih tiga kaki dari tempat persembunyian Tionggoan Sam Koay, saat ini dia sedang melihat ke kanan melihat ke kiri dengan bingungnya.
Liem Tou tahu waktu ini dia pasti sedang risau karena Lie Siauw Ie tak mengikuti dirinya.
Pada saat itulah Lie Siauw Ie sudah muncul disana, gadis cantik pengangon kambing itu menjadi semakin bingung dibuatnya mau panggil takut tempat persembunyiannya diketahui tidak memanggil tidak mungkin.
Mendadak si siucay buntung membentak dengan amat keras.
"Siapa yang datang 7"
"Aduh celaka " Pikir gadis cantik pengangon kambing di dalam hati. Bila ditemui oleh mereka kita pasti celaka"
Terlihatlah tubuh Lie Siauw Ie berkelebat dengan amat cepatnya, laksana dengan seekor kucing dengan lincahnya sudah meloncat turun dari atas wuwungan dan bersembunyi dipojokan yang gelap
Tampak tiga sosok bayangan berkelebat Tionggoan Sam Koay sudah muncul diatas atap rumah dan mulai memeriksa disekeliling tempat itu.
Terdenngar si siucay buntung dengan nada keheranan sedang berkata.
. "Terang terangan aku dengar suara langkah manusia, bagaimana melihat orangnya?"
"Perkataan dari kau si siucay buntung sedikit pun tidak salah," sambung si pengemis pemabok. "Apa mungkin si penjahat naga merah atau Lie Loo jie?
Mendengar perkataan dari si pengemis pemabok ini tanpa terasa mereka bertiga sudah putar tubuhnya kembali dan berdiri bersama sama, saat ini dengan saling pandang memandang berdiri melongo disana.
Liem Tou yang melihat keadaan mereka segera tahu, tentunya setelah merasakan pahit getirnya sewaktu melawan si penjahat naga merah digunung Wu san mereka sudah tahu kelihayannya dan tidak berani berlaku gegabah. Diam diam didalam hati merasa geli juga kepingin sekali dia melihat dengan cara bagaimana mereka bertiga mau menghadapi diri si penjahat naga merah itu.
Berpikir sampai disini Liem Tou tidak mau berpikir panjang lagi, segera dia meninggalkan tempat itu untuk bersembunyi diatas pohon siong.
Kentongan ketiga dengan cepat menjelang, tiba tiba dari dalam kuil Siang Liap si berkumandang suara genta yang dipukul bertalu talu
Dengan perlahan pintu ruangan tengah terbuka dan muncul puluhan Hweesio gundul dari dalam, masing masing pada merangkap tangannya didepan dada, semangatnya tinggi dan mempertahankan keangkeran dari wajahnya masing masing.
Terakhir muncullah seorang Hweesio tua yang kurus kering seperti lidi dengan kulit badan hitam gelap.
Sesampainya di depan pintu kepalanya yang semula ditundukkan rendah rendah tiba tiba di angkat keatas dan memancarkan sinar yang tajam memandang kesekeliling tempat itu kemudian disusul dengan suatu senyuman yang amat dingin menghiasi bibirnya.
Dalam hati Liem Tou merasa tergetar amat keras, pikirnya.
"Ini sungguh amat aneh, dengan ketajaman mata dari Hwiesio tua ini boleh dikata kepandaian silatnya sudah memcapai taraf kesempurnaan, bagaimana didalam Bulim tidak pernah terdengar namanya?"
Belum selesai dia berpikir mendadak dari luar kuil muncul sesosok bayangan hitam yang berkelebat dengan amat cepatnya menuju kearah kuil, setiap lompatannya bisa mencapai puluhan kaki jauhnya bahkan secara samar samar terdengar suara dengusan kerbaunya yang amat nyaring. Liem Tou tahu orang ini pasti Lie Loo jie atau diri si penjahat naga merah, dengan sendirinya diapun ikut bersiap diri.
Gerakau orang itu amat cepat sekali, hanya di dalam sekejap mata dia sudah memasuki pintu kuil, waktu inilah Liem Tou baru bisa melihat jelas kalau orang itu tidak lain adalah si penjahat naga merah. Tampak tubuhnya yang kokoh kekar begitu masuk ke dalam kuil segera jatuhkan diri berlutut dihadapan Hweesio berwajah hitam itu.
Belum sampai tubuh penjahat naga merah itu mencapai permukaan tanah Hweesio tua itu sudah kebaskan tangannya
"Tidak perlu!"
Sedang matanya diam diam mulai memberi tanda kepada si penjahat naga merah ita, ujung jarinya dengan gerakan cepat menunjuk keatas wuwungan rumah.
Melihat kelakuannya itu Liem Tou merasa hatinya tergetar amat keras, dia tahu Hwsesio tua itu amat lihay sekali dan kini sedang memberi tahu tempat persembunyian dari gadis cantik pengangon kambing. Lie Siauw Ie beserta Tionggoan Sam Koay.
Dengan gugup dia mengerahkan kepandaian saktinya, dengan ilmu untuk menyampaikan suara, ujarnya kepada orang orang itu.
"Hwesio kurus berwajah hitam itu smat lihay. Dia sudah tahu tempat persembunyian kalian, cepat cepat menyingkir dan jangan berlaku gegabah"
Baru saja selesai berbicara suara dengusan kerbaunya berkumandang kembali, tampak sesosok bayangan hitam bsrkelebat hanya didalam sekejap mata saja sudah memasuki pinta kuil.
"Hmmm .. . sungguh lihay sekali" puji Liem-Tou di dalam hati.
Terdengar Hweesio kurus berwajah hitam berbisik bisik kepada si penjahat naga merah.
"Dia sudah datang, kau harus hadapi dirinya sebaik mungkin."
Si penjahat naga merah sedikit mengangguk, mendadak dia tertawa panjang dengan amat kerasnya sehingga menggetarkan seluruh bumi, ujarnya keras.
"Loolap menanti kedatangan dari Lie sicu!" Baru saja dia selesai berkata, tampak sesosok bayangan abu abu berkelabat, si cangkul pualam Lie Sang dengan dandanan seorang petani sudah muncul disini, sahutnya.
"Hey penjahat naga merah kau sungguh lihay sekali, apa yang disiarkan dalam Bu lim agak nya bukanlah omongan kosong belaka. disini aku Lie Loo jie beri hormat terlebih dulu "
Selesai berkata dia merangkap tangannya memberi hormat bersamaan pula mataaya berkelebat memandang keadaan disekeliling tempat itu.
Mendadak matanya berhenti diatas tubuh Hweesio tua berwajah hitam itu, air mukanya segera berubah amat hebat. Kelihatannya dia dibuat terkejut oleh ketajaman matanya.
Lama sekali dia baru terdengar dia buka mulut berkata.
"Tolong tanya apakah Thaysu adalah Thiat-Bok Taysu yang pernah menggetarkan Bu lim pada tiga puluh tahun yang lalu??
Hweesio kurus berwajah hitam itu membuka sedikit matanya kemudian dipejamkan kembali.
"Kalau kau sudah tahu Loolap pada tiga puluh tahun yang lalu sudah punya nama tentu kau akan melaporkan diri sebagai boanpwee. kenapa tidak berlaku hormat?" serunya dengan dingin, "Kau apa tidak tahu kuil Siang Lian si ini adalah tempat semediku selama tiga puluh tahun ini, selamanya aku tidak akan membiarkan manusia semacam kau masuk disini dengan seenaknya."
Si pacul pualam Lie Sang ketika melihat dia memaki dirinya, sekalipun tahu kelihayannya tapi dalam hati merasa mengkel juga, baru saja mau balas memaki mendadak dari ujung kuil berkelebat sesosok bayangan putih, gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ia sudah muncul dihadapannya.
Gadis cantik pengangon kambing itu mana tahu kelihayan dari Thiat Bok Thaysu, lantas dia tertawa dingin balas makinya.
Hmmm, namamu tidak sesuai dengan sebutannya, apa itu Thiat Bok Thaysu segala macam.
Hnmm, tidak lebih hanya manusia pandai bicara besar. Bilamana bukannya ayahku diajak bertanding dengan muridmu yang suka merampok si penjahat naga merah, kami tidak akan menginjak tempatmu yang menyeramkan ini."
Si pacul pualam Lie Sang sama sekali tidak menduga kalau gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie bisa muncul ditempat itu, segera makinya.
"Wan jie, Ie jie kenapa kalian juga datang?? bukankah sebelum aku pergi sudah memberi tahu padamu untuk jangan turun gunung???"
Waktu itulah si penjahat naga merah sudah membentak dengan amat gusar.
"Budak darimana berani mengacau disini!"
Sebelumnya si gadis cantik pengangon kambing sudah siap mau menjawab perkataan ayahnya, kini mendadak mendengar si penjahat naga merah itu memaki dirinya dia menjadi jengkel, bentaknya keras
"Kau bajingan perampok, aku suruh kau gelinding terlebih dulu dari sini!'
Mendadak tubuhnya dengan kectpatan luar biasa menerjang ke depan melancarkan serangan dahyat mengarah lambung si penjahat naga merah itu, melihat datangnya serangan, si naga merah tidak menjadi gugup, dia membetak keras ujung bajunya dikebut ke depan mendadak dengan disertai angin pukulan yang amat santar balas menyerang diri gadis cantik pengangon kambing itu.
Si cangkul pualam Lie Sang menjadi amat terperanjat, belum sempat dia membentak untuk putrinya berkelahi, dari atas atap mendadak berkelebat angin pukulan yang amat dahsyat menahan datangnya serangan dari penjahat naga merah itu kemudian disusul munculnya si siucay buntung, si pengemis pemabok serta si Thiat sie siaaseng tiga orang.
Baru saja mereka bertiga muncul terdengar si siucay buntung sudah memaki sambil menuding karah penjahat naga merah.
"Kau mau bermusuhan dengan Lie Loo-cianpwee dari partai Toen si pay, kami tidak mau ikut campur, tetapi ini hari kita harus selesaikan hutang-hutang kita lebih dulu terang terangan Ciangbunjin dari Bu tong pay Leng Cing-Cu sudah dibinasakan dibawah tanganmu kenapa kau memfitnah orang lain ?? Kenapa kau menuduh kami sehingga hidung hidung kerbau itu pada mencari kami . . . apa ini termasuk peraturan Bu lim ? ?"
Si penjahat naga merah ketika melihat yang muncul adalah si siucay buntung bertiga segera tahu kalau mereka bertiga bukanlah tandingannya sendiri, sama sekali dia tak mau menggubris mereka, kepada Lie Loo jie ujarnya,
"Hey orang she-Lie, kau adalah pimpinan Bu-lim pada waktu ini Loolap ikut merasa gembira, tetapi omonganmu harus sedikit genah, kau bilang perampokan perampokan yang sudah terjadi didaerah Tionggoan adalah perbuatanku bahkan menganjurkan jago jago didalam Bu-lim memusuhi aku, aku mau tanya kau berdasarkan apa bisa ngomong begitu ? Dan apa kamu tahu kalau itu pekerjaan dari Loolap ?"
"Ha ha ha ha . . . nama dari si penjahat naga merah siapapun telah mengenal, selamanya sesudah melakukan perampokan tidak pernah meninggalkan kehidupan bahkan meninggalkan ular merah sebagai tanda perampokan. Perampokan yang telah terjadi baru baru ini semuanya ada tanda ular merah coba kau pikir jika bukan kau yang berbuat, siapa lagi ?".
"Tidak salah pada dua puluh tahun yang lalu aku pernah melakukan pekerjaan itu. Bantah si penjahat naga merah itu Tetapi dua puluh tahun kemudian apa kau berani pastikan aku yang melakukan pekerjaan itu ? Kau berani pastikan tidak ada orang yang meminjam namaku ?"
Si cangkul pualam Lie Sang yang melihat dia mau mungkir terus menjadi amat gusar.
"Pinjam namamu atau tidak aku Lie Loo jie tidak mau tahu, ini hari kita sudah bertemu muka disini, sedikit dikitnya aku harus basmi kau dari muka bumi."
Liem Tou yang mendengar perkataan ini diam diam memuji :
"Bagus, seharusnya memang begitu."
Si siucay buntung yang melihat selama ini perkataannya tak digubris tak merasa menjadi gusar juga, mendadak bentaknya.
"Bajingan perampok, lebih baik kita bereskan perhitungan kita terlebih dahulu."
Kipas ditangannya dengan disertai angin sambaran yang dahsyat menyambar ke depan, bersama pula teriaknya kepada kawan kawan lainnya
"Hey pengemis busuk, Sie poa rongsokan mari terjang."
Si pengemis pemabok maupun Thiat sie sian iseng tidak mau berayal lagi, tongkat Tah Kauw Pang serta Sie poa besinya dengan menerjang dari sebelah kiri dan kanan bersama sama menerjang ke arah musuhnya.
Melihat datangnya serangan gabungan itu penjahat naga merah seperti tak melihat sepasang dari sebuah ujung bajunya yang dikebut kedepan sedang tubuhnya meloncat mundur dua tiga kaki kebelakang, agaknya dia tidak ingin bertempur melawan mereka.
Pada saat inilah hweesio berwajah hitam yang bernama Thiat Bok Thaysu merangkap tangannya memuji pada Buddha.
"O-min to hud"
Suarananya walaupun tidak keras tapi di dalam pendengaran masing masing terasa bagai auman singa yang amat keras sehinhga menggetarkan hati masing masing.
Liem Tou yang sudah mempelajari ilmu sakti sudah tentu tidak sampai terpengaruh oleh suara itu, tapi diam diam diapun merasa terperanjat juga oleh kedahsyatan ilmu itu, pikirnya.
"Bilamana orang ini ikut campur di dalam pertempuran ini, bukan saja Tionggoan Sam-Koay bukan tandingannya sekalipun Lie Loo jie sendiri belum tentu bisa memperoleh kemenangan dari dirinya"
Berpikir sampai disini tanpa terasa lagi seluruh perhatiannya sudah dipusatkan pada diri Thiat Bok Thaysu, asalkan dia perlihatkan sedikit gerak gerik maka Liem Tou bersiap siap turun tangan untuk menolong orang.
Terdengar si siucay buntung sudah membentak kembali.
"Hay bajingan perampok jangan lari aku dengar kau pernah menggetarkan dunia kangouw dengan mengandalkan cambuk Cie lion pian, ini hari aku ingin menjajal kepandaianmu didalam permainan cambuk Cie liong pian ini."
Selesai berkata dengan suara yang lebih dipertinggi teriaknya.
"Pengemis busuk, Sie poa rongsokan ayo serang, hey bajingan perampok cepat cabut senjatamu!"
Selesai berkata ujung kakinya yang tinggal sebelah sedikit menutul keatas permukaan tanah kipasnya dengan menggunakan jurus "Thian-Way Lay Im" atau luar langit, muncul mega menyerang bawah ketiak dari naga merah itu.
Si pengemis pemabok maupun Thiat Sie Sian seng tidak akan membiarkan si siucay buntung akan bertempur satu lawan satu dengan penjahat naga merah itu, mereka berdua cepat cepat maju menyerang kedepan.
Si penjahat naga merah yang dua kali dikerubuti kini benar benar dibuat gusar oleh tingkah laku mereka itu, tubuhnya dengan cepat berputar dua jari tangan kirinya dengan dahsyatnya.
Menjepit datangnya serangan kipas dari si siucay buntung, sedang telapak kanannya dengan melancarkan dua serangan berturut turut menyambut datangnya serangan dari si pengemis pemabok serta Thiat Sie sianseng hanya di dalam sekejap mata dia harus menahan serangan dari tiga jago berkepandaian tinggi dari Bu lim kelihatannya sedikitpun tidak merasa berat.
Mendadak Thiat Bok Thaysu mementangkan matanya lebar lebar, dengan suara yang berat bentaknya.
"Tahan, kuil Siang Lian Si ini bukan tempat untuk bertempur".
Si penjahat naga merah yang mendengar perkataan itu dengan cepat menarik kembali serangannya dan meloncat kebelakang.
"Benar hey orang she Lie, bentaknya mendadak. Kau tidak perlu menggunakan dengan menunjuk ketiga manusia aneh ini untuk bertempur terlebih dulu dengan aku Hmm. .. hmm. .-jangan harap kau bisa memperolah keuntungan dari kelicikanmu ini.
Si cangkul pualam Lie Sang menjadi amat gusar sekali.
"Bajingan perampok naga merah kau tidak usah memnfitnah orang dengan kata kata itu, Tionggoan Sam Koay adalah lelaki sejati tidak mungkin mereka mau diperalat orang lain. Kau sendiri yang sudah melakukan kecurangan dengan memfitnah mereka kini malah bilang orang lain yang curang. Mari. .. mari. . . aku mau coba coba kepandaian silat dari penjahat naga merah yang pada dua puluh tahun yang lalu pernah menggetarkan dunia kangouw"
.
Selesai berkata mendadak sepasang tangannya mencabut kearah pinggangnya.
Sreet . ." pada tangan kanannya sudah bertambah dengan sebilah golok tipis yang memacarkan sinar mata tajam sedang pada tangan kirinya bertambah dengan sebuah lempengan besi sebesar telur itik ujarnya.
"Bajingan perampok naga merah cepat cabut senjatamu ...cambuk Cie liong pian, mari kita bertempur sebanyak tiga ratus jurus, kita lihat siapa yang lebih kuat di antara kita".
Agaknya si penjahat naga merah itu tidak berani mengambil keputusan sendiri, dia menoleh sekejap memandang ke arah Thiat Bok Thaysu, dengan perlahan Thiat Thiok Thaysu mengangguk, setelah itu barulah dia berani memberikan jawabannya.
"Baiklah orang she Lie, bilamana kau bisa bertahan sampai kalah dibiwah serangan cambuk Cie Liong pian ku ini sebanyak tiga ratus jurus maka aku akan mengaku kalah dan mulai saat ini tidak akan bertemu kembali dengan kau. Tetapi sebelum itu kau harus tahu perampokan berkali kali yang terjadi didalam Bu lim bukanlah aku yang melakukan, sudahlah ayoh kita mulai bertempur."
Dengan cepat tangannya mencabut keluar cambuk Cie Liong piannya dari pinggang, sedikit pergelangan tangannya digerakkan cambuk yang semula lemas, seketika itu juga menjadi tegang laksana sebuah tombak.
Lie Loo jie yang melihat penjahat naga merah itu sudah mencabut keluar senjatanya, dia tidak berlaku sungkan sungkan lagi, segera tubuhnya mendesak kedepan melancarkan serangan dahsyat.
Pada saat yang bersamaan itulah mendadak gadis cantik pengangon kambing itu berkelebat sambil melintangkan ssruling pualam didepan dada bentaknya dengan keras.
"Sebelum kau melawan ayahku terlebih dulu harus mengalahkan seruling pualamku terlebih dulu, kalau tidak . .. Hmmm kau manusia semacam apa berani melawan ayahku???"
Agaknya si penjahat naga merah sama sekali tidak menduga kalau gadis cantik pengangon kambing itu bisa menghalangi serangannya, untuk sesaat hawa amarahnya semakin memuncak.
Cambuk Cie Liong piannya dengan tidak menimbulkan angin sambaran sedikitpun meluncur ke depan laksana sambaran kilat. Tampak sinar merah berkelabat ujung cambuk tersebut sudah berada didepan gadis cantik pengangon kambing itu
Menanti Lie Wan Giok sadar, kembali bayangan cambuk itu laksana seekor ular dengan dahsyatnya sudah mengurung seluruh tubuhnya. Untuk menghindar tidak sempat untuk melancarkan seranganpun tidak sanggup, di dalam keadaan yang amat kritis itu dia menjerit keras, tangannya diangkat keatas siap siap menahan serangan tersebut dengan keras lawan keras.
Dalam hati si penjahat naga merah itu menjadi amat girang, dia mengira bahwa serangannya kali ini pasti memenuhi sasarannya, siapa tahu pada saat yang amat kritis itulah ....
Plaaak.. . "disertai suara yang amat nyaring telapak tangannya terasa tergetar dengan amat kerasnya, sebuah ranting pohon siong pada saat yang bersamaan jatuh keatas tanah.
Diam diam di dalam hati dia merasa amat terperanjat, pada saat dia menjadi tertegun itulah mendadak sinar yang amat dingin berkelebat di depan matanya, golok tipis dari Loo jie dengan disertai sinar gemerlapan yang menyilaukan mata bagaikan kilat cepatnya mengurung seluruh tubuhnya.
Si penjahat naga merah tidak berani berlaku ayal, dengan gusar dia mendengus pergelangan tangannya mengencang cambuk Ci Liong Piannya dengan memancarkan kabut merah membalik keasal semula kemudian menangkis datangnya sinar yang menyilaukan mata itu.
"Traang.. ." cambuk Cie Liong Pian serta golok tipis itu terbentur menjadi satu membuat percikan bunga api memenuhi empat penjuru. Lie Loo jie maupun si penjahat naga merah masing masing mundur dua langkah ke belakang.
Cepat cepat Lie Loo-jie memeriksa goloknya, ketika dilihatnya tidak mengalami cidera, baru ujarnya dengan serius.
"Bajingan perampok naga merah, permainan cambukmu sangat hebat dan bukan nama kosong belaka. Dengan kepandaian silatmu sekarang ini memang didalam Bu lim sukar ada tandingan kenapa kau gemar melakukan perampokan yang merupakan pekerjaan rendah ? sungguh aku orang She Lie tidak paham"
Saat ini si penjahat naga merah sedang melintangkan cambuknya didepan dada siap menerima serangan musuh, ketika mendengar perkataan itu dia semakin gusar.
"Orang she Lie kau jangan memfitnah orang seenaknya saja" bentaknya dengan keras. "Sejak tadi aku sudah jelaskan, perampokan yang terjadi didaerah Tionggoan bukan aku yang melakukan, kau dengar tidak"
Lie Loo jie menjadi melengak Sebenarnya dia bisa turun dari gunung Go bie dan melakukan perjalanan dikarenaka hatinya terbakar oleh kata kata Liem Tou. Sesudah bsrada didaerah Tionggoan dia dengar kalau setiap tempat yang mengalami perampokan tentu tertinggal tanda ular merah dia pastikan hal itu pekerjaan si penjahat naga merah, ini hari dia berjanji untuk bertempur disini sebetulnya memang dikarenakan urusan itu.
Ketika si penjahat naga merah melihat Lie Loo jie dibuat tertegun oleh perkataannya dengan gusar sambungnya lagi.
"Loolap berani berjanji dengan kamu orang sudah tentu tidak akan takut kau menggunakan akal licik sekalipun akalmu jauh lebih hebat aku juga takkan takut padamu."
Bersamaan waktu selesainya dia berbicara cambuk Cie Liong Piannva digetarkan sedang tubuhnya maju dua langkah kedepan dan melototi musuhnya dengan amat gusar.
Lie Loo jie merupakan jagoan Bu Lim angkatan tua, kini dihadapan Tionggoan Sam Koay, gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie mendapat malu serta makian dari si penjahat naga merah itu tak urung merasa gusar juga.
"Bajingan perampok naga merah kau jangan sembarangan memaki orang, aku si cangkul pualam Lie Siang jadi orang suk terang terangan mana mau menggunakan akal licik melukai dirimu ? ??
Mendadak si penjahat naga merah tertawa terbahak bahak, dengan wajah yang amat adem serunya.
"Orang she Lie, kau tak perlu menempelkan emas pada wajah sendiri, sebelum malam ini karena mendengar kata orang aku menganggap kau sebagai seorang jagoan yang patut dihormati tak disangka kaupun merupakan manusia rendah yang tak tahu malu . . .."
Sekonyong konyong dia mempertinggi suara nya, bentaknya dengan keras "Orang she Lie aku mau tanya, perjanjian kita malam ini untuk bertanding didalam kuil Siang Lian si sama sekali tak diketahui oleh ketiga orang itu kedua perempuan itu adalah muridmu aku tidak mau ungkap lagi tetapi ketiga orang anggota dari Tionggoan Ngo Koay itu sudah bersembunyi disini, terang terangan kau sengaja mengatur rencana untuk membokong aku apa hal ini tak bisa dikatakan manusia rendah?"
Pikiran Lie Loo jie segera berputar, setelah lewat beberapa lama waktu dia pikir memang benar perkataan dia itu, karena tidak sanggup memberikan jawabannya dengan amat gusar jawabnya.
, "Tionggoan Ngo Koay dengan aku Lie Sang tak ada sangkut pautnya, dia mau datang kesini apa hubungannya dengan aku orang ? Kau bajingan rampok tidak usah banyak putar lidah lagi menambah dosa orang lain. Bila kau sudah merasa jeri lebih baik ini hari mengundurkan diri dari Bu lim saja dan tidak melakukan pekerjaan jahat lagi, maka aku Lie Sang tidak akan mengapa apakan kamu orang apabila tidak, jangan salahkan aku turun tangan berat terhadap dirimu, perkataanku sudah cukup jelas sekarang kau pikirlah lebih jelas lagi"
Si penjahat naga merah tertawa terbahak bahak baru saja mau mengucapkan beberapa patah kata yang menyindir diri Lie Loo jie mendadak si siucay buntung, pengemis pemabok dan Thiat Sie sianseng sudah melayang ke hadapannya, sambil menuding ke depan wajahnya maki mereka.
"Bangsat gundul yang tidak tahu malu, hutang lama di antara kita belum dilunasi sudah mau mencari gara cara lagi, kau sungguh keterlaluan. Ayoh serang."
Berkali kali Tionggoan Sam Koay melancarkan serangan mendesak terus terhadap dirinya, tak urung si penjahat naga merah itu menjadi gusar juga. napsu membunuhnya timbul dengan gusarnya ia membentak keras.
Jubah bajunya berkilat laksana kilat cepatnya dia berkelebat ke samping menghindarkan diri dari semua ancaman serangan ketiga senjata tajam itu, kakinya sedikit miring kesamping tubuhnya mendadak menjatuhkan diri kebelakang sedang cambuk Cie Liong piannya dengan disertai sambaran angin yang amat santar menotok ke arah si siucay buntung yang berada paling depan.
Si siucay buntung yang punya pengalaman luas di dalam menghadapi lawan sudah tentu tahu akan kelihayannya, kipasnya disontek keatas sedang tubuhnya tetap bergerak dengan meminjam kesempatan ini meloncat mundur beberapa kaki jauhnya
Agaknya si penjahat naga merah memang sengaja mencari gara gara pada dia seorang saja, si pengemis pemabok maupun si Thiat Sie sian seng dia tidak mau gubris sama sekali. Tampak tangannya sedikit digetarkan ujung cambuknya segera berubah menjadi suatu bunga bunga berwarna merah darah yang amat banyaknya, sedikit ujung baju sebelah kirinya dikebutkan, bunga bunga warna merah darsh itu dengan dahsyatnya mengurung seluruh tubuh si siucay buntung itu.
Si pengemis pemabok serta Thiat Sie sianseng yang melihat penjahat naga merah itu hanya mencari gara gara pada si siucay buntung seorang didalam hati merasa amat terperanjat, mereka tahu seluruh kepandaian silatnya yang paling diandalkan adalah permainan cambuk Cie liong Pian ini bahkan permainannya amat ganas, dahsyat dan mengerikan, sudah pasti si siucay buntung bukan tandingannya.
Segera mereka bersama sama membentak keras toya Tah Kauw Pang dari si pengemis pemabok menyerang dari sebelah kiri sedang Sie Poa dari Thiat Sie sianseng menyerang dari kanan, bersama sama dengan mempertaruhkan nyawa masing masing menerjang dengan hebatnya mengancam punggung penjahat naga merah itu.
Saat ini dalam hati Lie Loo jie tahu kalau mereka tahu bertiga bukanlah tandingan dari penjahat naga merah itu, tetapi dia sudah berjanji terlebih dulu untuk tidak turun tangan sudah tentu tidak leluasa, buatnya untuk membantu makanya dia terpaksa hanya monoton jalannya pertempuran dari samping tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Liem Tou yang menyembunyikan diri di balik pohon siong disamping terus menerus memperhatikan dan bersiap diri terhadap hweesio kurus berwarna hitam si Thiat Bok Thaysu itu dia pun sudah bersiap sedia untuk turun tangan menolong orang setiap saat, kini ketika dilihatnya si pengemis pemabok serta Thiat Sie sian seng menyerang punggung penjahat naga merah itu dengan hebatnya, segera dia tahu sekalipun Si siucay lolos dari bahaya tetapi penjahat naga merah itupun akan berusaha menolong dirinya pula.
Ternyata dugaannya sedikitpun tidak salah. ketika penjahat naga merah mendengar dari belakang badannya menyambar datang suara angin serangan dia segera tahu dirinya tidak mampu untuk menahannya, bilamana dirinya tidak mau menggubris serangan itu sekalipun cambuknya akan berhasil melukai diri siucay buntung itu tetapi dirinyapun tidak terhindar akan terluka parah juga.
Berpikir sampoi disini dia segera menyentak kembali cambuknya pergelangan tangannya diputar dengan jurus "Kim Liong Ban Cou" atau naga emas mengebas tiang, tubuhnya tanpa berputar lagi cambuk Cie Liong Piannya diputar disekeliling tubuhnya untuk melindungi tubuhnya.
Walaupun kepandaian silat dari pengemis pemabok serta Thiat Sie sianseng bukan tandingan dari penjahat naga merah itu tetapi mereka pun sudah memiliki kepandaian yang amat lama di dalam menghadapi musuh musuhnya, begitu dilihatnya penjahat naga merah itu menghindarkan diri dari serangan tersebut dengan putarkan cambuknya di sekeliling tubuhnya mereka segera tahu mungkin di dalam hal ini sudah tersembunyi suatu serangan mematikan.
Ketika dilihatnya si siucay buntung sudah lolos dari bahaya merekapun cepat cepat menarik kembali serangan serangan yang mendesak.
Tubuh mereka cepat cepat diperendah, kuda kudanya diperkuat oleh senjata senjata yang semula menyerang musuh mendadak ditarik kembali kebelakang sedang ujung kakinya dengan bersamaan waktunya menutul permukaan tanah dan melayang mundur kedua belah sisi.
Ketika menoleh kembali ke arah penjahat naga merah itu tampaklah dia masih berdiri ditempat semula, saat ini cambuk Cie Liong Piannya sudah ditarik kembali dan dilipatkan pada pergelangan tangannya hanya saja sepasang matanya dengan memancarkan sinar kemarahan yang memuncak memandang dengan gusarnya kearah mereka bertiga, sepatah kata pun tidak diucapkan.
Tiga orang yang kini sudih menduduki tiga tempat dengan bentuk segitigapun dengan tajamnya memperhatikan terus gerak gerik dari penjahat naga merah itu. Diam diam Tiat Sie-sianseng mulai memukul pulang pergi bijii biji Sie poanya untuk melihat bahaya atau tidaknya.
Wajahnya kelihatan sebentar berubah girang sebentar berubah murung dan sebentar lagi berubah menjadi agak kebingungan, agaknya dia menemui suatu urusan yang rumit. Baru saja dia berpikir dengan keras mendadak terdengar penjahat naga merah sudah membentak dengan keras.
"Orang she Lie, kau tunggulah sebentar Ketiga manusia aneh ini sudah bosan hidup, biarlah aku bereskan mereka terlebih dulu kemudian baru cari kau kembali!"
Suaranya mendadak berubah menjadi amat dingin sambungnya kembali.
"TIONGGOAN NGO KOAY JUGA merupakan jagoan yang sudah ternama didalam Bu lim, dua puluh tahun yang lalu sewaktu kalian baru saja muncul aku sudah pernah dengar nama kalian, ini hari apa kalian bertiga betul betul mau mencari gara gara dengan aku orang?"
Selesai berkata sapasang matanya dengan tidak henti2-nya berkelebat memandang ketiga orang itu bergantian.
Sekalipun Thiat Sie sianseng belum selesai menghitungkan nasib mereka tapi mendengar perkataan itu segera sahutnya.
"Penjahat naga merah hanya seorang bajingan saja didalam Bu lim, kini kami bertiga berani mencari kau entah itu bencana atau bahagia kau takkan menjerikan hati siapapun, semua ini dikarenakan hati bajinganmu yang tidak jujur dan sudah memfitnah orang lain sehingga hidung hidung kerbau dari Bu tong pay mengejar kami terus. Hmm, kau mau menakutkan siapa lagi."
"Hmm, baiklah," teriak penjahat naga merah itu sambil mendengus dingin.
"Mari kalian rasakan kelihayan dari permainan cambuk Cie Liong Pian ku ini, bila aku kecundang ditangan kalian sejak ini hari takkan muncul kembali didalam Bu lim"
"Bagus" sambung Thiat Sie siauseng dikalahkan oleh permainan cambukmu itu didalam tiga puluh jurus, bukan saja kami serahkan nyawa kami bahkan sejak ini hari didalam Bu lim kekurangan nama kami bertiga"
Si cangkul pualam yang mendengar percakapan mereka berempat diam diam pikirnya didalam bati.
"Salah, salah. Jika ditinjau dari permainan cambuk naga merah ini dia memang mempunyai kelihayan yang melebihi orang lain, seharusnyalah Thiat Sie sianseng itu hanya dikarenakan gusarnya tetapi dengan ucapannya ini berarti juga dia sudah terlaiu memandang rendah musuhnya"
Berpikir sampai disini dalam hati Lie Loo jie segera muncul keinginannya untuk membantu Tionggoan Sam Koay, ujarnya kemudian.
"Pertemuan malam ini sebetulnya merupakan urusan kami berdua dengan penjahat nga merah. siapa yang mau kalian kacau dengan jalan? Bilamana kalian benar benar punya minat untuk bertempur lawan bajingan tua ini kenapa kau sebelum ada rencana bertempur tidak janjikan lain waktu ditempat lain juga? Buat apa kalian mengganggu perjanjianku dengan dirinya ? ?"
Beberapa patah perkataan dari Lie Loo jie ini bila didengar kelihatan kalau mengandung nada teguran, si siucay buntung yang sifatnya agak keras dan kasar ketika mendengar perkataan itu didalam hatinya merasa tidak puas, baru saja dia membuka mulutnya membantah, Thiat Sie sianseng yang diantara mereka bertiga mempunyai pikiran amat cermat segera tahu maksud hati dari Lie Lo jie itu, dengan gugup dia membungkuk untuk memberi hormat.
Lie Loo jie loocianpwae tak tahu kejahatan hati diri penjahat naga merah itu sudab mencapai puncaknya, pada tahun yang lalu bukan saja sudah melukai pengemis tua diatas gunung Wu san bahkan setelah membinasakan ciangbunjin Bu tong pay Leng Cing Ci dan membiarkan mayatnya mengggeletak ditengah hutan dia memfitnah urusan itu kepada kami. Hal ini membuat hidung hidung dari kerbau Bu tong Pay menjadi percaya benar benar dan mengejar kami terus untuk menuntut balas.
Dia berhenti sebentar untuk menghela napas panjang, kemudian sambungnya lagi.
"Ini hari mendadak kami menemukan tanda kepala kerbau yang cianpwee tinggalkan, waktu itulah kami baru tahu cianpwee sudah berjanji dengan penjahat naga merah untuk bertempur disini, kami bertiga memangnya sedang mencari dia maka segera kami bertiga berangkat kesini untuk mencari balas, sama sekali kami tidak punya maksud untuk mengganggu cianpwee, harap dimaafkan. . . dimaafkan.
Beberapa perkataan ini seketika itu membuat Lie Loo jie berdiri tertegun, apa itu tanda kepala kerbau????
Tia benar." Ujar gadis cantik pengangon kam bing itu mendadak ketika melihatnya Wajah ayabnya diliputi oleh perasaan amat bingung." Wan jie serta le cici bisa menemui tempat ini semuanya dikarenakan bantuan tanda kepala
kerbau itu kalau tidak mana mungkin kami tahu kalau Tia ada disini???"
Liem Tou yang mendengarkan omongan mereka itu diam diam merasa amat geli pikirnya
"Bilamana bukannya tindakanku itu malam ini kau Lie Loo jie akan menemui kesulitan untuk keluar dari kuil Siang lian si ini".
Lie Loo jie segara termenung berpikir beberapa saat lamanya dia benar benar merasa tidak paham bagaimana bisa timbul urusan ini.
Mendadak makinya kepada penjahat naga merah itn dengan gusar.
Bajingan tua, kau sedang mempersiapkan permainan apa terhadapku aku orang? aku kira perbuatan itu tentu kau yang lakukan kalau tidak mana mungkin ada orang ketiga yang tahu?'
Penjahat naga merah itu ketika mendengar Lie Loo jie menyalahkan peristiwa ini kepada dirinya dalam hati menjadi amat gusar sekali.
Sebetulnya perjanjian untuk bertempur didalam kuil Siang lian si ini adalah siasat liciknya, karena Thiat Bok Thaysu adalah susiok-nya dia bersiap siap untuk mengerubuti Lie Loo jie hingga binasa setelah itu Thian Pian Siauw cu serta Au Hay Ong Bo dari Kiam Thian Pay dia tidak akan takut lagi.
Siapa tahu siasatnya yang licik ini sudah diganggu oleh munculnya Tionggoan Sam Koay, gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw le bahkan kini Lie Loo jie malah melemparkan kesalahan itu kepadanya sudah tentu kegusarannya tidak bisa ditahan lagi.
Saking gusarnya penjahat naga merah ini tidak sanggup untuk mengucapkan sepatah kata pun hawa murninya segera dikerahkan keseluruh tubuhnya, telapak kirinya mendadak dibabat kearah Lie Loo jie dengan dahsyatnya segera terasalah segulung angin pukulan yang amat dahsyat membelah bumi.
Bersamaan waktunya pula cambuk Cie Liong Pian ditangan kanannya dengan amat cepat di sontek menotok dada Lie Loo jie.
Lie Loo jie ying melihat penjahat naga merah itu menyerang dirinya dengan tidak bersuara, segera berteriak
"Bagus sekali!'
Kuda kudanya segera diperkuat, bersamaan pula telapak kirinya didorong kedepan naenyambut datangnya serangan tersebut dia bersiap-siap untuk menerima serangan musuh dengan keras lawan keras.
Siapa tahu baru saja Lie Loo jie mendorong telapak tangannya mendadak terasa olehnya datangnya angin serangan amat aneh sekali, dalam hati dia menjadi amat terperanjat, dengan gusarnya dia berteriak keras, sinar golok segera berkelebat diikuti berkelebatnya bayangan abu abu, tubuhnya dengan amat cepat sudah melayang sejauh dua puluh kaki jauhnya. Saking gusarnya selutuh tubuh Lie Loo jie kelihatan gemetar dengan amat keras.
Kiranya serangan telapak dari penjahat naga merah tadi adalah sebuah serangan kosong belaka, sedang serangan cambuk Cie Liong Pian yang disusul dari belakang merupakan serangan yang sungguh sungguh, menanti setelah Lie-Loo jie angkat telapak tangannya untuk menyambut datangnya serangan cambuk Cie Liong Piannya mendadak dengan menembus angin pu kulan menyambut datangnya serangan tersebut.
Jika bukannya Lie Loo jie mengubah gerakanannya yang berbenturan dengan ujung cambuk pasti akan menemui kerugian besar.
Lie Loo jie sama sekali tidak menduga kalau penjahat naga merah itu amat licik, setelah termenung sebentar dari dalam sakunya dia mengambil keluar lempengan besinya.
Golok tipis ditangan kanannya dengan menggunakan jurus "Pek Liong Hwee Thian" atau naga putih kembali ke langit berjalan kekedudukan Hong pintu ke Tong Kong menusuk dada penjahat naga merah itu.
Ujung cambuk dari penjahat naga merah itu dengan cepat dikibaskan kedepan dengan menggunakan jurus "Yu Liong Tiauw Su" ntau naga berputar kehilangan kepala tepat menutupi dadanya, kaki kirinya segera bergeser satu langkah kedepan sedang cambuk dengan disertai angin serangan yang amat santar dengan datar membabat kedepan.
Lie Loo jie tidak mau memperlihatkan kelemahannya entah dengan menggunakan gerakan apa tiba tiba tubuhnya dengan mendatar melayang keatas dan dengan mudahnya berhasil menghindarkan diri dari serangan tersebut. Begitu kakinya mencapai permukaan tanah golok tipis segera memainkan ilmu golok "Toa Loo Ciet cap Jie To Hoat" yang meliputi ilmu golok dari berbagai aliran, terlihat sinar yang menyilaukan mata memenuhi angkasa hanya didalam sekejap mata dia sudah melancarkan sembilan jurus banyaknya bahkan setiap jurus memiliki perubahan yang amat aneh sekali
Liem Tou yang bersembunyi dibalik pohon Siong diam diam memuji atas kelihayan permainan goloknya.
"Ilmu golok yang bagus"
Penjahat naga merah itu agaknya juga tahu kelihayan musuhnya, ketika melihat serangan ter sebut segera dia tahu Lie Loo jie sudah mengeluarkan ilmu "Toa Loo To Hoat" yang dia pingin menjajalnya dia tidak berani berlaku ayal lagi cambuk Cie Liong Piannya diputar ke atas dengan menggunakan ilmu "Liong Hwee Pian Hoat" cambuk diputar sehingga berubah menjadi gulungan merah yang amat berkelebat diantara sambaran golok yang menyilaukan mata itu.
Pertempuran sengit antara Lie Loo jie serta penjahat naga merah saat ini dilakukan dengan amat cepatnya, didalam pandangan Tiongoan Sam Koay, gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie mereka hanya melihat bayangan berkelabat simpang siur tanpa bisa lihat lihat jurus jurus apa yang sudah mereka gunakan.
Tetapi Liem Tou yang sudah berhasil mempelajari kitab pusaka To Kong Pit Liok adalah lain, dia dapat melihat setiap jurus jurus serangan yang dimainkan kedua orang itu, bahkan setiap orang tidak ada jang mau mengalah masing masing dengan menggunakan jurus jurus yang ampuh uotuk nengalahkan pihak lawannya, keadaaan waktu itu betul batul amat bahaya sekali.
Liem Tou yang menonton jalannya pertempuran tersebut diam diam dalam hati merasa amat terperanjat.
Dia tahu kepandaian silat dari mereka berdua seimbang apalagi kini bertemu musuh tangguh, untuk beberapa saat lamanya tentu tidak mungkin bisa diputuskan siapa yang menang, dia yang berdiri disamping dengan tenangnya mulai memperhatikan setiap jurus jurus serangan mereka kemudian secara diam diam mengingatnya didalam hati.
Kurang lebih seperminum teh kemudian Lie Loo jie serta penjahat naga merah itu sudah bertempur mencapai dua ratus jurus banyaknya.
Akhirnya Liam Tou dapat melihat juga gerakan dari penjahat naga merah itu semakin lama semakin perlahan, sebaliknya serangan dari Lie Loo jie semakin mengencang bahkan berkali kali berubah dengan, berbagai macam ilmu golok yang berbeda beda.
Liem Tou yang melihat akan hal itu diam-diam merasa amat girang pikirnya.
"Akhirnya Lie Loo jie bisa menangkan satu tingkat dari penjahat naga merah itu"
Pada saat yang amat tegang itulah mendadak .... Thiat Bok Thaysu yang berdiri dipinggiran memuji keagungan Bnuda.
"O-min-to-hud"
Dengan perlahan lahan dia mulai berjalan mendekati kalangan dimana Lie Loo- jie serta penjahat naga merah sedang bertempur dengan amat sengitnya, setelah terdengar puluhan hwee sio yang selama ini berdiam diri terus menerus mulai bersama sama memuji Budha.
"O . . Min . . To . . Hud . . "
Mendadak mereka mulai membaca doa doa untuk kematian.
"Doa kematian" ini biasanya dibaca oleh para hweesio hweesio sebelum jenazah yang hendak dikebumikan itu dimakamkan, tapi bagaimana bisa dibaca pada saat ini???"
Kalau cuma itu masih tidak mengapa, bersamaan waktu itu juga didalam sekejap mata puluhan hweesio hweesio itu mulai menyebar disekeliling kuil Siang Lian Si itu, setiap termbok setiap pintu semuanya ada hweesio yang menjaga hanya saja mereka sama sekali tidak mencabut senjata tajam masing masing tetapi dengan tenangnya terus membaca doa kemattan itu.
Liem Tou yang melihat adanya perubahan secara tiba tiba ini segera merasa ada sedikit urusan yang tidak beres, ketika melihat ketengah kalangan lagi terlihatlah kekalahan penjahat naga merah sudah mulai kelihatan dengan nyata, permainan cambuknya mulai kacau sedangkan keringat dingin dengan sangat derasa mengucur keluar membasahi seluruh badannya.
Sambaran angin dari golok tipis Lie Loo jie pun semakin lama semakin dahsyat, bukan saja menimbulkan hawa sambaran yang menggidikkan bahkan puluhan kaki disekelilingnya dilindungi oleh sinar golok yang amat rapat itu.
Tapi Thiat Bok Thaysu semakin berjalan semakin mendekat, pada luarnya sekalipun kelihatan dia masih pejamkan matanya seperti tidak ada urusan padahal Liem Tou tabu setiao tindak dia maju kedepan berarti Lie Loo jie semakin bertambah bahaya lagi keadaannya.
Pada saat inilah sisiucay buntung, pengemis pemabok, Thiat Sie Sianseng, gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie sudah melihat adanya perubahan, secara mendadak itu, mereka tahu semua sudah terjatuh didalam ku rungan orang lain.
Tanpa terasa lagi mereka menjadi amat gusar, bersama sama dengan amat dahsyatnya menubruk kearah Thiat Bok Thaysu.
Thiat Bok Thaysu sama sekali tidak ambil perduli, hanya dengan perlahan lahan pujinya lagi.
O mi to hud"
Sepasang mata dari Liem Tou segera berputar dengan amat tajamnya, mendadak dari aats ubun ubun Thiat Bok Taysu itu muncul segumpul hawa hitam yang amat tipis, dia tahu tentunya dia sedang mengerahkan ilmunya yang beracun, tanpa terasa lagi hatinya semakin me rasa terkejut.
Pikirannya dengan cepat berkelebat, tanpa pikir panjang lagi tenaga dalamnya dikerahkan segera terasalah segulung sambaran angin amat dahsyat menggulung keluar.
Ternyata Thiat Bok Thaysu amat libay sekali, hanva sedikit Liem Tou bergerak dia segera sudah berasa, bahkan tahu kalau musuhnya memiliki ilmu silat yang amat lihay, air mukanya segera berubah amat hebat, sepasang matanya yang semula dipejamkan rapat rapat kini dipentangkan lebar lebar dengan pandangan yang amat dingin bentaknya.
"Siapa!"
Seluruh jarinya yang smat tajam dengan cepat dipentangkan, bagaikan meluncurkan jarum jarum kecil dari ujung jarinya segera tampaklah segulung hawa hitam meluncur kearah po hon siong itu dengan cepat menyambut datangnya sambaran angin dari Liem Tou itu.
Mendadak Thiat Bok Thaysu mendengus dengan berat, sepasang telapaknya dibalik dengan menghadap keatas dia melancarkan dua gulung angin yang dahsyat membantu hawa hitamnya tadi, dengan paksa akhirnya berhasil juga menahan datangnya angin serangan dari Liem Tou tadi.
Pada waktu itulah senjata senjata tajam dari Tionggoaa Sam Koay, gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie sudah menubruk kearah tubuhnya.
Thiat Bok Thaysu yang baru saja turun tangan siapa akan tahu sudah bertemu dengan musuh yang tangguh didalam hatinya benar benar merasa amat terkejut bercampur gusar, sebetulnya dia ingin melemparkan kemangkelan ini pada tubuh ke lima orang tersebut, tetapi pukulan yang amat dahsyat dari Liem Tou tadi sudah membuat hatinya merasa sedikit jeri.
Akhirnya dia terpaksa manahan sabar, tubuhnya melayang mundur tiga kaki dari tempat itu dan berdiri tertegun.
Gadis cantik pengangon kambing yang melibat Thiat Bok Thaysu sudah berhasil dipaksa mundur sedang si penjahat naga merah itupun sudah dibuat kalang kabut oleh serangan gencar golok tipis ayahnya di dalam hati merasa amat girang sekali, dia tahu sipenjahat naga merah sudah berhasil dikuasai ayahnya.
Mendadak Thiat Bok Thaysu membentak dengan keras juga, tubuhnya yang kurus kering dan berwarna hitam gelap itu bagaikan kilat cepatnya sudah melayang kedepan, bersamaan pula waktunya hweesio hweesio yang berdiri ditempat keempat penjuru mulai membentak keras, mereka bersama sama mencabut keluar senjatanya mating masing kemudian dengan ganasnya mulai mengurung tempat itu.
Tionggoan Sam Koay, gudis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw le sama sekali tidak menduga kalau Thiat Bok Thaysu bisa melakukan hal ini dengan amat cepat, baru saja mendengar suara bentakannya bayangan manusia sudah berkelebat dengan amat rapat disekeliling tempat itu.
Ketika mereka berlima sadar kembali hendak mencabut keluar ssnjatanya untuk menangkis waktu sudah terlambat, sepasang telapak tangan dari Ihiat Bok Thaysu sudah berkelebat dihadapan mereka berlima siap untuk mencabut nyawanya.
Mendadak . . . , disaat yang amat kritis itu dari belakang tubuhnya secara tiba tiba terdengar suara dengusan yang amat berat, seketika itu juga beberapa orang merasakan telinganya amat panas sekali.
Thiat Bok Thaysu merasa amat gusar sekali selagi dia membentak keras, matanya dengan cepat kelihatannya memandang ke empat penjuru sedang air mukanya jelas memperlihatkan perasaan heran dan ragu ragunya.
Para hweesio yang maju menyerang kini sudah berada tepat dihadapan Tionggoan Sam-Koay, gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie, seketika itu juga terjadilah pertempuran sengit diantara mereka.
Sebaliknya pertempuran Lie Loo jie dengan si penjahat naga merah itupun telah mencapai pada puncaknya, terdengar Lie Loo jie membentak dengan amat kerasnya.
"Lepas !"
Terlihat sinar merah berkelebat, cambuk Cie Liong Pian ditangan penjahat naga merah itu segera terlepas dari tangannya dan melayang tersangkut diatas dahan pohon siong.
Tetapi disaat yang bersamaan pula Thiat Bok Thayau sudah membentak keras
"Tahan."
Para hweesio yang sedang bertempur segera menarik kembali senjatanya masing-masing dan mundur kebelakang.
Terdengar Lie Loo jie sembari tertawa panjang dengan amat nyaring ujarnya.
Bajingan tua, pada dua puluh tahun yang lalu untung kau cepat cepat bersembunyi sehingga aku tidak sempat bertemu muka dengan kau, tapi ini hari boleh dikata aku benar banar merasa puas."
Selesai berkata dia tertawa panjang dengan nyaring membuat penjshat naga merab saking jengkelnya mendengus tak henti hentinya. Seluruh tubuhnya seperti dikerumuni berjuta juta semut gemetar dengan amat kerasnya. Lama sekali barulah ujarnya.
"Sen.. senjata. . .senjata Loolap. . .Loolap sudah terlepas, kita.. .kita. . .coba coba lagi dalam ..dalam permainan ilmu pukulan".
"Ha ha ha.. .hey bajingan tua, jika kau merssa tidak puas marilah aku menyambut seranganmu kembali."
"
Bagus"
Kuda kudanya ditekan kebelakang, mendadak telapak tangannya dengan disertai angin pukulan yang amat dahsyat menggulung kedepan.
Tiba tiba Lie Loo jie menyingkir kesamping dua langkah, bentaknya.
"Tahan, biar aku bicara lebih dulu. Bajingan tua, malam ini aku tidak ada kesempatan buat bertanding kembali, jika kau benar benar ingin mengadu ilmu pukulan baiknya pada bulan lima tanggal lima kita bertemu kembali diatas puncak pertama didaerah Cing Jan."
Agaknya pertempuran tadi cukup melatih dirinya ysng untuk pertama kali sejak puluhan tshun yang lalu bertemu dengan musuh amat tangguh ketika mendengar Lie Loo jie berkata begitu hatinya menjadi amat girang.
"Baik, Loohu sampai waktunya pasti datang." Mendadak Thiat Bok Thaysu yang berdiri disamping tertawa dingin.
"Sutit harap jangan percaya omongannya sehingga tidak terjatuh didalam siasatnya yang licin, menurut pendapat susiokmu pertempuran senjata tadi sedikit mencurigakan, bukannya sutit betul betul dikalahkan olehnya".
Sipenjahat naga merah yang secara tiba tiba mendengar perkataan yang sama sekali tidak genah dari Thiat Bok Tbaysu ini tak terasa lagi sudah dibuat melengak, pikirnya didalam hati:
"Hmm. . . dia orang sedang menerangkan soal apa kepadaku dengan melalui kata kata itu?? Terpaksa dia bungkam dalam seribu bahasa.
Lie Loo jie sendiripun merasa datangnya perkataan tersebut terlalu mendadak.
"Lalu menurut pendapat dari Thaysu kau orang merasa ada sebab sebab lain apa lagi??" tanyanya dingin.
"Hey si cangkul pualam Lie Sang, namamu terkenal diseluruh dunia kangouw, tetapi aku orang sama sekali tidak menduga kalau namamu itu kosong belaka tidak sesuai dengan orangnya, urusanmu sendiri tidak tahu malah tanya orang lain, apa macamnya itu???" Maki Thiat Bok Tbaysu sambil melototkan matanya. "Secara terang terangan kau orang sudah sembunyikan pembantu yang bersembunyi ditempat kegelapan lalu secara diam diam membokong orang lain kenapa kau sekarang mungkir kembali?? he ...hee . . . mungkin kau masih bisa mengelabuhi mata orang lain, tetapi jangan harap bisa lolos dari pandangan Loolap."
Lie Loo jie yang mendengar perkataan itu semakin dibuat bingung.
"Hmm jika kau memastikan disekitar tempat ini ada orang yang hadir akan tetapi dengan cara bersembunyi, sekarang saja coba engkau katakan siapa siapa orang yang hadir tanpa diundang ? ?
Ayoh jawab dan tunjukkan? ?? ?? Hmmm ? ? Kalau bicara jangan sembarangan tanpa ujung tanpa ekor sehingga membuat semua orang kebingungan."
Siapa tahu dia berbicara mendadak dari luar kuil Siang Lian Si berkumandang datang suara derapan kaki yang amat santer sekali dari tempat kejauhan yang semakin lama semakin mendekat, pikiran Lie Looajie segera berputar, pikirnya.
"Eeeeei ..... apa sungguh sungguh ada beberapa orang yacg hadir kesini ?"
Suara derapan kaki itu dengan amat cepatnya sudah sampai di depan kuil membuat para hweesio, Lie Loo jie maupun Tionggoan San Koay sekalipun yang mendengar suara aneh itu menjadi melengak semua dibuatnya.
"Hmmm . ? Silahkan kawan kawan tampakkan diri untuk bertemu dengan Loolap ? seru Thiat Bok Thaysu dengan suara yang amat dingin.
Baru saja dia selesai berkata mendadak . .-"Braaak ?" dua buah pintu kuil yang semula tertutup rapat secara tiba tiba terbuka lebar lalu dari luar kuil menerjang masuk seekor binataeg yang agak samar samar.
Semua orang yang melibat masuknya seekor binatang ke dalam kuil dongan gerakan yang begitu ganas dalam hati diam diam merasa sangat terkejut sekali, wslapun masing masing orang memiliki kepandaian silat yang amat lihay tetapi kejadian yang muncul diluar dugaan ini membuat hati mereka merasa keder juga, masing masing dengan cepat mempersiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan.
Tetapi ketika binatang aneh itu sudah melewati pintu mendadak dia berhenti tidak bergerak sama sekali bahkan secara perlahan lahan ia mulai memperdengarkan suara dengusan yang sangat rendah, saat itulah semua orang baru dapat melihat kalau binatang tersebut adalah seekor kerbau.
Seketika itu juga Thiat Bok Thaysu maupun si penjahat naga merab menjadi tersipu sipu sedangkan Lie Loo jie serta Tionggoan Sam Koay bersama sama tertawa terbahak bahak.
"Oooh . . . kiranya yang Thaysu maksudkan dengan orang yang bersembunyi ditempai kegelapan dan membuantu aku secara diam diam adalah manusia macam ini ? ejek Lie Loo jie dengan cepat. "Haaa, haaa . . . kalau memangnya demikian bukankah Thaysu kau orang sudah terlalu pandang hina Sutemu sendiri"
Walaupun beberapa perkataan dari Lie Loo jie hanya bernada guyon tetapi dihadapan hweesio yang begitu banyak mana mau Thiat Bok Thaysu berdiam diri saja ?
"Hey orang she Lie" Bentaknya dengan amat gusar, kau manusia anjing . . . jangan salahkan bencana yang menimpa kau orang saat ini adalah disebabkan kesalahanmu sendiri, ayoh pada cabut keluar senjata tajam kalian ... kita jangan kasih mereka lolos barang seorang pun."
Tubuhnya segera menubruk kedepan terlebih dahulu sambil meluncurkan satu pukulan menghajar tubuh Lie Loo jie, sedangkan para hweesio yang ada diempat penjurupun dengan disertai suara bentakan yang gegap gempita sehingga menggetarkan seluruh permukaan bagaikan menggulungnya air bah dengan dahsyatnya menghantam diri Tiongoan Sam Koay serta si gadis cantik pengangon kambing.
Melihat suasana tersebut Lie Loo jie segera tahu bahwa suatu pertempuran yang amat sengit bakal terjadi, buat dirinya sendiri dia orang sama sekali tidak kuatir tetapi hatinya merasa amat cemas terhadap diri Lie Siauw le serta si gadis cantik prngangoH kambing, teriaknya kemudian dengan suara keras.
"Wan jie, Ie jie.. . hati hati kalian menghadapi musuh."
Saat ini angin pukulan dari Thiat Bok Thaysu sudah sampai, untuk menghindarkan diri tidak sempat lagi terpaksa dengan memperkuat kuda-kuda dia menerima datangnya serangan tersebut dengan keras lawan keras.
"Braak. . ." dua gulung angin pukulan yang amat dahsyat menghantam menjadi satu sehingga mengakibatkan getarnya seluruh permukaan.
Tampak tubuh Thiat Bok Thaysu cuma sedikit bergoyang sebaliknya Lie Loo jie terdesak mundur dua langkah kebelakang bahkan kedua belah lengannya mulai terasa amat linu sekali, tak tertahan dalam hati dia merasa bergidik juga, pikirnya.
"Bajingan tua itu tidak kusangka sekali dia orang bisa memiliki tenaga dalam yang demikian dahsyat. . . kelihatannya pertempuran malam ini agak merugikan pihakku.
Baru saja dia berpikir sampai disitu mendadak-terasa segulung angin pukulan yang jauh lebih dahsyat dari tadi menghantam tubuhnya dengan amat keras, dia menjadi terkejut dan menggeliat kesamping.
Kiranya dengan mengambil kesempatan itu Thiat Bok Thysu sekali lagi melancarkan serangannya yang amat dahsyat sedangkan mulut nya berteriak,
"Hcy tua bangka kau orang masih tunggu apa lagi??"
Sipenjahat naga merah yang mendengar teriakan dari paman gurunya ini tidak berani ber laku ayal lagi, ujung jubahnya dikebut kedepan dengan disertai hawa pukulan yang amat dahsyat dia melancarkan bokongan dari sebelah samping.
Melihat serangan gabungan dari mereka berdua dalam hati Lie Loo jie segera menjadi paham kembali, kiranya si penjahat naga merah sengaja mengundang dirinya untuk bertanding dikuil Siang Liang Si karena ditempat itu sudah diatur satu jebakan yang amat kejam sekali, dalam hati diapun sadar bahwa pertempurannya malam ini sangat mempengaruhi nama baiknya dikemudian hati, sedikit dia berbuat ceroboh maka nama besar yang didapatkannya selama puluhan tahun ini akan hancur berantakan sama sekali, bahkan nyawapun sukar untuk dipertahankan.
Karenanya dia tidak berani menghadapi dua orang musuh tangguh sekaligus hatinya terus menerus mengkuatirkan keselamatan si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie, secara diam diam dia melirik sekejap ke arah mereka.
Walaupun musuh musuhnya dengan saling berhadapan, ujung kakinya dengan cepat menutul permukaan tanah untuk menghindarkan diri dari serangan gabungan dari Thiat Bok Thaysu serta si penjahat naga merah.
Kelihatannya si gadis cantik pengangon kambing, Lie Siauw Ie serta Tionggoan Sam Koay sekalian sedang bertempur dengan sengitnya melawan hweesio hweesio itu, tetapi hal yang bikin benar benar hatinya merasa terperanjat ada lah kepandaian silat yang demikian tingginya dari pada hweesio hweesio itu, walaupun saat ini mereka berlima masih bisa mempertahankan dirinya tetapi jika waktu berlangsung lebih lama lagi urusan tentunya akan menjadi berubah.
Lie Loo jie yang melihat situasi yang sangat tidak menguntungkan bagi dirinya segera memikirkan satu akal didalam benaknya saat ini dia tidak banyak bertingkah dengan Thiat Bok Thaysu sekalian, tiba tiba tubuhnya meloncat ke tengah udara lalu berjumpalitan dan berlalu dari sana.
'Thiat Bok Thaysu serta si penjahat naga merah mana mau melepaskan dia orang begitu saja dengan cepat mereka mengejar dari belakang, empat buah telapak tangan bersama sama melancarkan tenaga pukulan laksana menggulungnya ombak ditengah samudra.
Lie Loo jie segera mengerahkan tenaga murninya, mendadak dia bersuit panjang sehingga laksana pekikan naga sakti membuat suaranya bergema sampai beberapa li jauhnya, terhadap datangnya serangan dari kedua orang itu dia sama sekali tak menggubris, ujang kakinya menutul permukaan tanah lagi lalu meloncat naik ke atas wuwungan rumah.
"Ayoh pergi dari sini." Serunya dengan keras. "Kita cari tempat yang sunyi untuk menggebrak sepuas hati."
Diikuti dengan beberapa kali loncatan dia berlalu menuju ke halaman belakang dari kuil tersebut.
Ternyata Thiat Bok Thaysu serta si penjahat naga merah tidak berpikir panjang lagi dan mengikuti dari belakang, walaupua mereka berdua tidak percaya atas perkataan dari Lie-Loo jie itu tetapi dalam hati menganggap Lie Loo jie mau melarikan dirinya karena itu masing masing segera meloncat ke atas wuwungan rumah untuk melakukan pengejaran dengan sangat cepatnya, Lie Loo jie yang melihat akalnya termakan oleh pihak musuh hatinya merasa sangat senang sekali, dia berlari terus dengan sangat cepatnya menuju kedepan.
Kurang lebih seperminum teh kemudian sudah dirasakan mereka telah jauh meninggalkan kuil Siang Lian Si mendadak sambil putar badannya dia berhenti berlari dan pada saat itulah terlihat Thiat Bok Thaysu serta si penjahat naga merah sedang menyusul datang dari puluhan kaki dibelakang tubuhnya.
Lie Loo jie tidak ragu ragu legi, hawa murninya segera disalurkan dari pusar mengelilingi seluruh tubuhnya dengan disertai suatu pukulan angin yang sangat dahsyat dia melancarkan suatu pukulan menghantam ke arah depan sehingga membuat dua kaki disekeliling tempat itu segera terkurung didalam angin pukulannya.
Thiat Bok Thaysu yang pandawgan serta penglihatannya lebih tajam segera merasakan situasi yang berbeda, teriaknya dengan cepat.
"Awas !"
Bersama sama sipenjahat naga merah mareka berpencar menjadi dua dengan berdiri pada suatu arah yang berlawanan.
Tetapi saat ini Lie Loo jie sudah punya suatu pegangan yang kuat. tubuhnya mendadak maju dua langkah ke depan dan gerakan itu khusus mencari penjahat naga merah tak menunggu sampai dia orang berdiri dengan tegak berturut turut dia melancarkan tiga pukulan gencar menghantam tubuhnya.
Si penjahat naga merah yang berada didalam situasi semacam ini boleh dikata berwda ditengah keadaan yang amat berbahaya, tetapi bagaimanapun dia bukanlah manusia yang memiliki kepandaian rendah dengan susah payah dia ber hasil juga menghindarkan diri dari dua buah serangan yang pertama tetapi ketika serangan yang ketiga menyusul dia tidak sanggup untuk menghindar kembali, terpaksa dengan keras lawan Keras dia menerima datangnya serangan tersebut.
Tetapi didalam keadaan amat gugup mana dia orang sanggup menerima datangnya serangan yang amat dahsyat itu??"
"Braak," ditengah suara bentrokan yang amat keras tubuhnya dengan sempoyongan mundur tujuh, delapan langkah kebelakang darah segar muncrat keluar dari mulutnya dengan kepala berasa pening sekali, jelas sekali dia sudah menderita luka dalam yang tidak ringan.
Thiat Bok Thaysu sama sekali tidak menyangka Lie Loo jie bisa memperlihatkan permainan ini, melihat si penjahat naga merah sudah mendapatkan kerugian yang tidak ringan, dengan amat gusarnya dia membentak keras, tubuhnya secara tiba tiba mendesak maju lebih dekat lagi lalu melancarkan pukulan menghajar tubuh Lie Loo jie.
Dalam hati Lie Loo jie memangnya tidak bermaksud mencelakai nyawa dari si penjahat naga merah itu karenana dia tidak perlu menambahi dengan satu pukukn kembali, melihat datangnya serangan yang begitu gencar dari Thiat Bok Taysu dia segera tertawa ter bahak-2 dan mengundurkan diri dua kaki jauhnya kebelakang.
"Haaa . . haaa . . Thiat Bok Thaysu!" teriaknya dengan suara yang amat nyaring. Pada dua tiga puluh tahun yang lalu sipenjahat naga merah pernah menggetarkan seluruh dunia persilatan, waktu itu aku betul hetul kagum atas nama besarnya tetapi siapa iahu. siapa tahu dia cuma seorang manusia rendah yang tidak tahu malu. Hadiahku pada malam ini bilamana ingin membalasnya aku siorang tua akan menantinya pada puncak pertama diatas Cing Jan bulan lima tanggal lima yang akan datang, selamat tinggal
Selesai berbicara mendadak dia pntar tubuhnya, dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya "Liu Im Hwee Si" atau mengikuti awan terbang melayang dia berlalu dari tempat itu dengan cepatnya.
Menanti Thiat Bok Thaysu sadar kembali dari lamunannya hendak melakukan pengejaran Lie Loo jie sudah meninggalkan tempat itu amat jauh sekali.
Dia menjadi sangat gusar sekali, sambil mendepak depakkan kakinya ke atas tanah dia Orang memaki tak henti hentinya, terpaksa dia balik kembali untuk memeriksa keadaan luka dari penjahat naga merah.
Kita balik pada Lie Loo jie yang berhasil meloloskan diri dari gencetan Thiat Bok Thaysu serta si penjahat naga merah, hatinya yang terus menerus memikirkan keselamatan dari gadis esntik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie sewaktu dilihatnya Thiat Bok Thaysu tidak melakukan pengejaran, dengan cepat dia me mengerahkan ilmunya berlari balik kedalam kuil Siang Lian Si.
Beberapa saat kemudian kuil Siang Lian Si secara samar samar sudah muncul dihadapannya, saat itulah dia dapat mendengar suara pertempuran yang amat sengit diselingi dengan suara kesakitan yang menyayatkan hati berku-mandang datang dengan jelasnya, dia orang segera tahu pertempuran didalam kuil itu sudah mencapai pada puncaknya.
Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang lebih dahsyat dia berlari semakin cepat lagi menuju kearab kuil.
Mendadak .. .
Suara dengusan kerbau yang amat keras bergema memenuhi seluruh permukaan, suara itu semakin lama semakin keras,,dan semakin laa semakin mengerikan kedengarannya, jelas sang kerbau sudah dibuat kalap.
Sebetulnya sejak kerbau itu menerjang masuk kedalam kuil, Lie Loo jie sudah mengenal kembali kalau kerbau tersebut adalah kerbau yang diberikan kepada Liem Tou lalu menghilang secara mendadak itu, kini mendengus suara dengusan yang amat cemas dari kerbau itu dia orang segera tahu kalau gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw le sudah menemui bahaya, dengan semakin cepat lagi dia berlari kearah dapan.
Sebentar saja dia sudah tiba didalam kuil Siang Lian Si, ketika dia mendongakkan kepala tetlihatlah diatas wuwungan rumah terdapat bayangan manusia yang sedang berkelebat diselingi sambaran sinar golok yang gemerlapan. Tionggoan Sam Koay. gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw le mereka itu masing masing orang sedang melawan dua orang musuh.
Hanya didadam sekali pandang dia bisa melihat siapa menang siapa kalah, dengan disertai suara bentakan yang amat keras sesosok bayangan manunusia dengan cepatnya melayang keatas dan menuburk kearah Lie Siauw Ie, hanya dalam sekali gebrakan saja dimana angin pukulannya menyambar dua orang hweesio dengan disertai suara jeritan kesakitan tersapu jatuh dari atas wuwungan rumah.
"Suhu!" teriak Lie Siauw Ie kemudian setelah dilihatnya siapa orang yang baru saja me nolong dirinya.
Lie Loo jie mana ada kesempatan untuk menjawab, dia cuma mendengus perlahan sedang tubuhnya dengan amat cepat melayang kesamping tubuh si gadis cantik pengangon kambing itu, dengan menggunakan cara yang sama pula dia membereskan dua orang hweesio yang sedang mendesak putrinya mati matian itu.
"Ayah, coba kau lihat kerbau itu" teriak gadis cantik pengangon kambing itu, kemudian setelah si Lie Loo jie berhasil menyingkirkan ke dua orang hweesio itu.
Lie Loo-jie tidak menyahut, setelah dilihatnya baik si gadis cantik pengangon kambing maupun Lie Siauw Ie tidak menemui cidera segera dia memaki.
"Lihat kerbau, kerbau apa ? Suruh kalian jangan ikut turun gunung kenapa kamu orang tidak mau dengar omonganku ??? Ayoh cepat pergi dari sini"
Tetapi sewaktu mendengar perkataan dari gadis cantik pengangon kambing tak terasa dia pun menunduk ke bawah, jika tidak masih melihat mengapa begitu dia melihat ke bawah terasa hatinya berdebar debar dengan amat keras nya, seluruh tubuhnya terasa mendingin.
Kiranya dibawah ruangan tersebut telah dipenuhi dengan mayat mayat yang bergelimpangan memenuhi seluruh permukaan tanah menyerupai sebuah selokan kecil.
Beberapa puluh hweesio lainnya yang masih hidup tampak sedang melarikan diri dikejar oleh kerbau tersebut dengan amat kencangnya.
Diantara terjangan serta injakkannya yang amat keras beberapa puluh hweesio tersebut hanya didalam sekejap saja sudah tinggal beberapa orang saja yang berlari dengan terbirit-birit sambil berteriak teriak ketakutan,
Dengan perlahan pandangan Lie Loo jie beralih ketempat lain. seketika itu juga dia menemukan juga kalau diatas pohonpun sudah di penuhi dengan hweesio yang sedang bersembunyi disana sambil mulutnya komat kamit membaca doa minta keselamatan.
Situasi yang benar benar sangat mengerikan ini membuat Lie Loo jie merasa agak tidak tega, baru saja dia hendak membentak kerbau itu untuk menghentikan gerakannya meudadak terdengar sipengemis pemabok membentak keras.
"Pergi"
Bluuuk.. ."sipengemis pemabok itu dengan amat cepatnya berhasil menghajar jatuh seorang bweesio kebawah atap.
Ketika..kerbau tersebut melihat adanya manusia yang jauh dari atas dengan cepat tubuhnya menerjang maju kedepan, ditengah injakan injakan yang anat keras serta suara jenian ngeri yang menyayat hati, perut hweesio itu sudah pecah dan terkoyak koyak sehingga isi perut pada berhamburan, seketika itu juga hweesio itu menemui ajalnya.
Terasa lagi Lie Loo jie gelengkan kepalanya, teriaknya kemudian dtngan suara yang amat nyaring.
"Tiongoan Sam Hiap su?? biarkan mereka pergi saja.
Sisiucay buntung, pengemis pemabok serta Thiat Sie Sianseng ketika mendengsr suara seruan dari Lie Loo jie dengan cepat meloncat mundur kebelakang membiarkan kelima orang hweesio tersebut berlari terbirit birit dari sana.
L'e Lno jie segera membentak kembali.
"Su???"
Agaknya dia punya maksud untuk menghentikan gerakan dari kerbau tersebit, siapa tahu setelah mendengar teriakan tersebut bukannya berhenti bergerak kerbau tersebut malah semakin mempercepat kejarannya kearah beberapa orang hweesio itu,
Lie Loo jie menjadi keheran heranan.
"Haaa apakah kerbau ini sudah berubah sifatya?? sebetulnya kerbau adalah sama dengan anjing yang merupskan binatang paling setia terhadtp majikannya, kenapa kali ini pengalaman tersebut tidak cocok.
Pada saat pikirannya berputar itulah kerbau tersebut berhasil menerjang seorang hweesio kembali, terdengar hweesio itu menjerit kesakitan darah segar segera mengucur -keluar dengan amat derasnya, pada punggunguya sudah bertambah dengan dua lubang besar terkena tanduknya kerbau itu, seketika itu dia juga jatuh binasa.
Lie Loo jie semakin cemas lagi, berturut turut dia beiteriak beberapa kali untuk berusaha menghentikan sang kerbau yang sudah kalap itu.
"Su.Su. Su."
Lalu gumamnya seorang diri. Jika tidab berhenti lagi, aku segera akan membinasakan dirinya,"
Tetapi kerbau itu sama sekali tidak mau mendengar bentakannya, dia masih meneruskan terjangannya.
Saat ini. Lie Loo jie benar benar sudah tidak bisa menahan sabar lagi, bentaknya keras.
Binatang, hutang nyawa harus diganti nyawa kau jangan salahkan aku siorang tua akan turun tangan jahat kepadamu?"
Tubuhnya dengan cepat melayang turun ke-bawah telapak tangannya bagaikan kilat cepatnya sudah melancarkan serangan menghajar punggung ketbau itu.
Jika dibicarakan dari kehebatan serta kesempurnaan dari ilmu silat Lie Loo jie untuk menbinasakan kerbau itu sama gampangnya dengan mengsmbil barang dari sakunya sendiri saja, hal itu merupakan suatu pekerjaan yang sederhana sekali.
Siapa duga kerbau itupun mempunyai perasaan yang amat tajam sekali, baru saja Lie Loo jie melancarkan serangannya kedepan mendadak kerbau itu menarik punggungnya kembali kedalam, dengan disertai suara desiran yang berat kaki belakangnya melancarkan tendangan lalu kabur dengan amat cepatnya kedepan.
Hanya didalam beberapa kali lompatan saja dia sudah berada sangat jauh dari kakek itu membuat pukulan dari Lie Loo jie seketika itu juga menyambar permukaan tanah membuat pasir serta kerikil pada melayang memenuhi angkasa.
Beberapa saat kemudian kembali kerbau itu berhasil menyandak seorang hweesio yang sedang lari ketakutan.
"Binatang terkutuk" bentak Lie Loo jie dengan amat gusarnya.
Tubuhnya dengan cepat melayang kedepan mengejar dibelakang tubuh kerbau itu, dengan tepat mengarah pantat kerbau tersebut, dia melancarkan dua buah serangan dahsyat tanpa ada ampun.
Kerbau itu seperti dibelakang ada pantatnya, ternyata dengan cepat sudah menggelindingkan badannya keatas tanah dan dengan persis berhasil menghindarkan datangnya serangan tersebut.
Terdengar suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati, angin pukulan dari Lie Loo jie bukannya berbasil membinasakan kerbau itu sebaliknya dengan tepat menghatam tubuh hweesio yang sedang lari ketakutan itu, darah segar segera muncrat dari tubuhnya dan seketika itu juga menemui ajalnya.
Kali ini Lie Loo jie benar benar dibuat kheki sampai wajahnyapun berubah menjadi pucat ke hijau hijauan, tangannya dengan cepat melayang kedepan, dua buah lempengan besi yang selamanya tidak pernah dipergunakan dengan meninggalkan suara desiran yang amat keras menyambar kedepan mengancam sepasang mata dari kerbau itu.
Kelihatannya lempengan besi itu segera akan menghajar sepasang mata dari sang kerbau itu, mendadak dia menolehkan kepalanya disertai suara ringkikan perlahan, lempengan besi terse but dengan tepatnya berhasil menghajar lehernya tetapi sama sekali tidak menimbulkan perubahan apapun bagi dirinya serangan itu lenyap bagaikan ditelan gelombang samudra.
Sekalipun Lie Loo jie mempunyai pengalaman yang amat luas dengan pengetahuan tentang kejadian aneh yang amat banyak kali ini benar berar dibuat tertegun juga oleh kejadian yang baru saja ditemuinya ini dengan mata terbelalak mulut melongo dia berdiri tertegun memandangi kerbau itu.
Sedangkan kerbau itupun tidak merasa takut lagi dengan cepat menghentikan larinya bahkan sepasang matanya yang bulat dengan gayanya mengejek memandangi dirinya.
Melihat hal itu Lie Loo jie semakin mendongkol, tetapi kali ini dia bergerak maju dengan langkah yang amat perlahan sekali, kemudian pikirnya.
"Hmmm. asalkan aku berhasil mendekati badanmu, tidak akan terlalu sukar lagi untuk menawan kau binatang."
Siapa tahu kejadian yang aneh sekali lagi muncul dihadapan mukanya .... setiap kali dia maju satu langkah maka kerbau itu ikut mundur satu langkah kebelakang. boleh dikata dia tidak bisa mengapa apakan dirinya.
Tidak terasa lagi Lie Loo jie merasa hatinya seperti dibakar, pikirnya dengan gemas.
"Aku si cangkul pualam Lie Sang sudah pernah manjagoi seluruh dunia persilatan selama puluhan tahun lamanya ternyata hari ini tidak sanggup untuk menguasai seekor kerbau saja. Aiii hal ini sungguh memalukan namaku yang sudah terkenal tersebut."
Berpikir akan hal ini nafsu membunuhnya menjadi timbul kembali, dengan cepat dia menyalurkan seluruh hawa murninya pada kedua belah telapak tangannya, dia bersiap siap menbinasakan kerbau tersebut didalam satu kali pukulan saja sehingga mukanya sedikit dapat terlindung
Tiba-tiba . .. .
Suatu suitan nyaring dari Thiat Bok Thaysu telah menembus awan berkumandang datang, Lie Loo jie menjadi kaget, disadari kembali apa yang akan terjadi, dengan cepat memrandang ke arah Tionggoan Sam Koay, si gadis cantik pengangon kambing serta Lis Siauw-Ie berseru dengan keras.
"Kalian kenapa tidak pergi dari sini ??? Mau tunggu apa lagi hasa ? ?"
"Suhu, bagaimana dengan Liem Tou?" tanya Lie Siauw Ie mendadak ketika teringat kembali kepada diri Liem Tou.
"Apa ? tanya Lie Loo jie keheranan. "Kau sedang bicara apa ? Kau sudah bertemu dengaa Liem Tou?"
"Benar," sahut Lie Siauw Ie membenarkan. "Semula dia berada diatas pohon siong tetapi sekarang telah ienyap, kemungkinan sekali dia bersembunyi ditempat lain. jika kita pergi semua bagaimana dia orang ?"
Perkauan dari Lie Siauw Ie ini diucapkan terlalu mendadak, membuat Lie Loo jie setengah percaya setengah tidak, untuk beberapa saat lamanya pikirannya berputar terus dengan amat kerasnya.
Tiba tiba . . . sepertinya dia sedang memahami sesuatu, dengan tanpa dia sadari kepalanya sudah ditolehkan ke arah kerbau itu mendatanginya dengan melotot.
Meiihat Lie Loo jie memandangi dirinya dengan mata melotot terdengar kerbau tersebut segera meringkuk keras lalu jejakkan empat buah kakinya kebelakang dan hanya dalam beberapa kali loncatan saja dia sudah mengelilingi satu kali dalam halaman itu lalu dengan kencangnya menerjang keluar dari pintu kuil.
Cuma didalam beberapa saat saja suara derapan kakinya makin lama semakin menjauh dan akhirnya lenyap dari pendengaran.
Saat ini suara suitan dari Thiat Bok Thaysu berkumandang kembali, agaknya sebentar lagi dia sudah akan tiba disana
Dangan cepat Lie Loo jie mendesak Tiong goan Sam Koay. sigadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw le untuk cepat meninggalkan tempat itu.
Tampak Thiat Si sianseng merangkap tangan nya menjura lalu ujarnya.
Cian pwee kalau memangnya memerintahkan kami berbuat demikian, boapwee sekali tidak akan berani membantah, selamat tinggal."
Selesai berkata bersama sama dengan kedua orang temannya mereka meioncat turun dari wuwungan runah kemudian dengan amat cepat nya berlalu dari sana, hanya di dalam sekejap saja mereka sudah lenyap dari pandangan.
Sebaliknya sigadis cantik pengangon Kambing serta Lie Siauw le yang sudah bertemu kembali dengan Lie Loo jie mana mau pergi dari sana seperti halnya dengan Tionggoan Sam Koay? mereka tetap berdiri disana dengan ragu ragu.
"Wan jie, Wie jie kenapa kalian tidak pergi juga???" Teriak Lie Loo jie kembali dengan keras." Tenaga dalam dari Thiat Bok hweesio amat kuat sekali bahkan aku sendiripun tidak sanggup untuk menandingi dirinya apa kalian kira dengan kepandaianmu masih bisa bertahan terhadap serangan nya?"
Si gadis cantik pengangon kambing yang melihat Lie Loo jie menjadi marah dia segera memperlihatkan sifat alemannya, dia menganggap asalkan dia berbuat demikian tentu ayahnya akan segera menjadi gembira kembali.
"Tia." ujarnya dengan nada aleman. "Aku serta Ie cici memangnya mau ikut kau orang tua melakukan perjalanan."
"Tutup mulut." mendadak Lie Loo jie membentak dengan amat gusarnya.
"Apa yang sudah aku pesankan kepada kalian?? Haaa?? kenapa kalian sengaja tidak mau mendengarkan omonganku?? sekarang aku tidak mau mengurus kalian lagi, ayoh cepat pergi dari sini."
Suaranya keras nadanyapun amat kasar, sama sekali berbeda dengan sifatnya pada hari hari biasa.
Sigadis cantik pengangon kambing menjadi sedikit melengak, lalu dengan mata memerah hampir hampir menangis serunya.
"Tia, kau tidak tahu, , . ."
Sebenarnya dia menceritakan suatu yang ditinggalkan didalam gua mereka, siapa tahu baru saja dia mengucapkan sepatah kata suara dengusan kerbau dari luar kuil sudah bergema kembali tak henti hentinya diikuti suara derapan kaki yang keras mulai mendekati dari arah jauh
Beberapa orang itu tak terasa lagi sudah mengalihkan pandangannya keluar kuil sedangkan sigadis cantik pengangon kambing itupun dengan sendirinya menghentikan pembicaraan selanjutnya.
Didalam sekejap saja kerbau yang telah pergi tadi sudah menerjang masuk kembali kedalam kuil, tetapi pada tanduknya kali ini sudah tergantung seseorang.
Meiihat kejadian itu mereka bertiga jadi kebingungan dan merasa amat terkejut sekali, "Mendadak" ....,"
"Touw titi, itu dia Touw titi," teriak Lie Siauw Ie dengan amat keras.
Tubuhnya dengan cepat melayang turun dari wuwungan rumah dan dengan menyambut datangnya kerbau tersebut dia menerjang ke depan, agaknya dia bermaksud menyambar orang yang sudah tergantung pada tanduk kerbau itu
Kiranya hanya dalam sekali pandang itulah Lie Siauw le sudah mengenal kembali, kalau orang itu adalah Liem Tou.
"Ie jie, jangan." teriak Lie Loo jie dengan terperanjat sewaktu dipandangnya Lie Siauw Ie menubruk ke arah kerbau tersebut.
Tetapi saat ini Lie Siauw Ie sudah berada kurang lebih beberapa depa dari kerbau itu, untuk mencegah sudah tidak sempat lagi kelihatan nya Lie Siauw Ie segera akan kena sambar oleh kerbau yang sedang menerjang ke arahnya dengan amat ganasnya itu.
Pada saat Lie Loo jie serta Lie Siauw Ie merasa terperanjat sehinga keriingat dingin mengucur keluar membasahi bajunya itulah tiba tiba kerbau itu mundur dua langkah kebelakang, de ngan bentakan rendah mendadak kerbau itu meloncat melalui atas kepala lalu menerjang kedalam ruangan kuil yang amat megah itu.
"Suhu .... suhu ..." teriak Lie Siauw Ie dengan amat cemas. "Dia adalah Liem Tou, suhu kau tolonglah dirinya."
Tanpa menanti jawaban lagi dia pun berlari mengikuti kerbau tersebut menerjang masuk ke dalam ruangan megah itu.
Lie Loo jie tahu dia mau tidak mau harus turun tangan untuk memberi bantuan, melihat si gadis cantik pengangon kambing masih ada di-atas genteng cepat gapenya.
"Ayoh ikut aku turun ke bawah."
Si gadis cantik pengangon kambing dengan cepat melayang turun ke bawah mengikuti diri Lie Loo jie masuk kedalam ruangan megah itu.
Terasa keadaan didalam ruangan megah itu amat seram dan dingin sekali, suasananya amat sunyi dan gelap, cuma ada serentetan sinar yang amat samar memancar keluar secara samar samar dari patung Budha diatas meja sembahyangan
Lie Loo jie yang terang terangan melihat Lie Siauw Ie dengan mengikuti kerbau itu menerjang masuk kedalam ruangan ternyata kini sudah lenyap tak tampak hatinya menjadi amat keheranan kepada sigadis cantik pengangon kambing ujarnya dengan suara perlahan-
"cepat perhatikan lebih teliti lagi Lie Siauw Ie sudah pergi kemana??"
Selesai berkata kepadanya segera berputar menyapu sekejap kearah sekeliling tempat itu. mendadak disebelah kiri dekat ujung tembok dia melihat adanya sebuah genta besar yang tergantung ditengah udara genta itu cuma ditahan dengan seutas tali tanpa adanya rak untuk menyimpannya, barang barang yang diatur seperti ini memang sangat mencurigakan sekali tak terasa lagi Lie Loo jie menjadi curiga juga sarunya.
Didalam kuil ini tantu ada barang barang yang mencurigakan sekali, awas jangan sampai kena terjebak."
Baru saja dia merasa amat curiga mendadak dari belakaag badannya terdengar suara benturan yang amat karas sekali dua buah pintu ruangan itu mendadak sudah tertutup dengan sangat rapatnya diikuti suara tertawa yang sangat menusuk telinga bergema melalui seluruh ruangan tersebut.
Lie Loo jie segera bisa menangkap kalau suara itu berasal dari Thiat bok Thaysu, air mukanya berubah sangat hebat sambil menyambar tangannya si gadis cantik pengangon kambing dia meloncat ke kanan,
"Lie sicu kau orang tidak usah gugup, terdengar suara dari Thiat Bok Thaysu beigema datang, "Kau telah memasuki kuil Siang Lian si-ku. Kau orang sudah tidak pandang sebelah mata-pun terhadap kuil Siang Lian si kami ini, kenapa sekarang menjadi gugup ?" tetapi . .Hee hee, urusnj yang terjadi didalam
dunia memang sukar untuk diduga semula."
Selesai berkata dia kembali tertawa serak, diikuti suara keagungan Budha yang membetot-kan nyawa.
Omintohud . . Omintohud."
Suaranya itu kedengarannya amat mengerikan sekali sehingga membuat bulu kuduk mereka berdua pada berdiri ditambah pula suasana didalam kuil itu amat menyeramkan seperti berada diakherat saja wembuat hati mereka berdua semakin bergidik.
Saat ini gadis cantik pengangon kambinglah yang merasa paling kaget bercampur ketakutan sambil menarik narik tangan Hek Loo jie tanya nya dengan suara yang amat lirih.
"Tia, kau dengar hweesio kurus kering itu ber bicara dari mana? kenapa kita tidak bisa melihat dirinya?"
Dalam hati Lie Leo jie tahu dirinya sudah terjerumus kedalam situasi yang sungguh sungguh membahayakan keselamatan jiwanya, oleh sebab itu seluruh perhatiannya sudah dipusatkan pada gerak gerik yang terjadi diruangan itu, terhadap perkataan itu dari gadis cantik pengangon kambing itu dia orang sama sekali tidak memberikan jawabannya.
"Sreet" tiba tiba dia orang mencabut keluar goloknya yang amat tipis dan dicekal kencang kencang ditangannya, sedangkan sepasang matanya dengan amat tajam sekali menyapu beberapa kali keseluruh ruangan.
Sikapnya yang amat tegang dari Lie Loo jie baru dilihat gadis cantik pengangon kambing untuk pertama kalinya, tak terasa diapun merasa hatinya berdebar dengan amat kerasnya, dalam hati dia berpikir.
"Apakah hweesio kurus dan hitam pekat itu benar benar lihay sekali?''
Ketika pikiran ini berkelebat didalam benak nya, mendadak dia teringat kembali terhadap keselamatan dari Lie Siauw Ie serta Liem Tou yang tersangkut diatas tanduk kerbau, sebenar nya mereka telah pergi ke mana??? apakah merekapun juga terjebak oleh alat rahasia yang ada didalam kuil ini?"
Teringat akan hal ini seperti juga baru saja disiram dengan sebaskom air dingin hatinya merasa berdesir, bisiknya kembali kepada Lie Loo jie.
"Tia, apakah didalam kuil ini benar benar ada alat rahasianya"
"Wan jie, kau jangan bertanya terus terusan" "seru Lie Loo jie sewaktu mendengar gadis cantik pengangon kambing bertanya untuk kedua kalinya.
"Kita harus memperhatikan sekitar tempat ini apakah ada suatu perubahan yang mencurigakan"
( Bersambung ke jilid: 17 )
"Tia, Lalu Ie Cici apa mungkin sudah.."
"Tidak usah banyak tanya lagi, aku sudah tahu!' Potong Lie Loo jie dangan cepat.
Berbicara sampai disitu dia segera menarik tangan si gadis cantik pengangon kambing untuk menyusup dengan cepatnya kedepan, dia bisa melihat pada dinding pintu itu ternyata telah terbuka sebuah pintu yang menghubungkan tempat itu dengan sebuah lorong yang sangat panjang sekali.
Si gadis cantik pengangon kambing menjadi amat girang, dengan gerakan badan yang Cepat dia siap siap hendak menerjang masuk terlebih dulu ke dalam lorong.
"Jangan terburu buru, jangan sampai terkena bokongannya" mendadak teriak Lie Loo jle sambil menarik tangannya kebelakang.
Tubuh gadis cantik pengangon kambing itu segera mundur baberaba laagkah kebelakang, dan pada saat itu pula terdengar Thiat Bok Thaysu tertawa kembali dengan amat seramnya.
"Hee .. hee . . heee .. sungguh hebat sekali kau orang, tidak kuduga si cangkul pualam Lie Sang jadi orang amat teliti sekali, tapi sekalipun begitu apa gunanya?? saat ini walaupun kau punya sayappun jangan harap bisa terbang lolos dari tempat ini."
Dengan perlahan pintu tadi ditutup kembali dengan rapatnya disusul dengan bergemanya suara lonceng yang berbunyi tak henti hentinya didalam ruangan tersebut.
Kiranya genta yang semula digantung pada ujung tembok sebelah kiri saat ini secara otomatis sudah bergoyang dengan amat kerasnya sehingga suaranya memekikkan telinga.
Didalam ruangan kuil yang demikian besar dan ditutup dengan begitu rapatnya suara pantulan dari gema tersebut benar benar dahsyat sekali, membuat Lie Loo jie serta gadis cantik pengangon kambing benar benar kewalahan, untuk berbicarapun terpaksa harus berteriak teriak keras
Ditengah bergemanya suara genta yang mengacaukan pikiran terdengar suara tertawa yang mengerikan dari Thiat Bok Thaysu berkumandang kembali, makinya:
"Hey orang she Lie, tidak kusangka sama sekali kamu orang ternyata begitu kejamnya, seluruh hweesio dari Siang Lian Si ku hampir-hampir sudah terbinasa ditanganmu semua, jika tidak berhasil membalas dendam ini hari aku bersumpah tidak akan jadi manusia."
Saat ini Lie Loo jie benar benar memperhatikan berasalnya suara dari Thiat Bok Thaysu, akan tetapi walaupun dia sudah memperhatikan dengan amat teliti jsngan dikata bayangan manusia sekalipun letak berasalnya suaranya pun dia tidak bisa mengetahui. "Mendadak . . ."
"Kraaak. . .kraaak." suara yang amat berisik sekali bergema memenuhi seluruh ruangan tersebut.
"Tia, coba kau lihat" terdengar si gadis cantik pengangon kambing itu berbisik kepada diri Lie Loo jie.
Dengan mengikuti tudingannya Lie Loo jie segera memandang kesana. tampaklah ketiga buah patung Budha yang ada dibelakang meja sembahyang itu meloncat turun dari tempatnya. Ujung kakinya dengan cepat menutul permukaan lalu dengan gerakan yang amat cepat sekali ketiga buah patuug itu menyerang ke arah si gadis cantik pengangon kambing serta diri Lie Loo jie.
Bersamaan waktunya pula ketiga buah patung Budha itu mementangkan mulutnya secara tiba tiba bagaikan kilat cepatnya tiga rentetan sinar yang berbeda memancar keluar.
Dan mulut patung Budha yang ada ditengah ternyata sudah memancar keluar sinar yang amat dingin, dari patung Budha yang ada disebelah kanan memancar keluar sinar api yang sangat panas sedangkan dari patung sebelah kiri memancar keluar sebuah sumber air berwarna hijau tua, sekali pandang saja sudah tahu bila air itu sangat beracun sekali.
Mendadak Lie Loo jie membentak keras telapak kirinya dengan keras melancarkan Suatu pukulan dahsyat ke depan menghantam ke atas patung Budha itu, serunya dengan cepat.
"Wan-jie, cepat menyingkir !"
Tubuhnya sendiri dengan cepat meloncat sejauh tiga kaki menghindarkan diri dari serangan gabungan dari ketiga buah patung Budha itu, si gadis cantik pengangon kambing yang mendengar suara suara seruan dari ayahnya dia segera tahu bahaya, tanpa berpikir panjang lagi ujung kakinya segera menutul ke permukaan tanah tubuhnya dengan cepat sudah menghindarkan diri dari ketiga buah serangan tersebut, sehingga dengan demikian serangan dari patung patung Budha itu mencapai pada sasaran yang kosong.
Siapa tahu patung patung Budha itupun sangat gesit sekali pada saat mereka berdua meloncat menyingkir itulah patung patung Budha yang semula berdiri sejajar saat ini mendadak memencar ke samping kiri, sedangkan patung yang berada di depan tetap meluncur dengan cepatnya ke arah depan.
Dengan demikian si gadis cantik pengangon kambing benar benar sudah berhasil menghindarkan diri dari serangan patung Budha itu tetapi Lie Loo jie kini sudah terdesak oleh serangan patung Budha yang berada disebelah kiri.
Dia menjadi sangat terperanjat, sama sekali tak terduga kalau di dalam ruangan itu bisa dipasangi suatu alat alat rahasia ysng demikian lihaynya, tetapi kenapa tak ada orang tahu??
Aiii kuil Siang Lian Si ini memang merupakan salah satu kuil yang masih angker dan tidak boleh dengan secara gegabah masuk kedalam kuil tersebut.
Tetapi ketika teringat kembali kalau dirinyapun merupakan seorang jagoan yang terkenal di dalam Bu lim kini ternyata sudah terkurung didalam kuil tak terasa hatinya merasa gusar juga, melihat patung Budha menerjang ke arahnya itu dia segera menyalurkan hawa murninya ke seluruh tubuhnya, setelah patung Budha tersebut menerjang sampai satu depa dari dirinya tangan kirinya yang mencekal golok membabat ke depan sadangkan tangan kanannya dengan mengerahkan tenaga penuh mengejar ke depan.
Pukulan Lie Loo jie kali ini sudah menggunakan tenaga sebesar delapan bagian, kalau dihitung kekuatannya diatas ribuan kati.
Walaupun patung Budha tersebut amat lihay sekali tetapi bagaimana pun juga dia hanyalah barang mati yang tidak tahu menghindar pukulan pukulan tersebut dengan amat dahsyatnya menghantam dada patung itu membuatnya seketika itu juga berhenti tak bergerak kembali.
Lie Loo jie yang melihat patung itu menghentikan gerakannya dia tidak berani berlaku gegabah, sepasang matanya dengan amat tajam sskali memperhatikan terus patung yang berdiri kurang lebih satu depa di depan tubuhnya itu.
Suasana menjadi amat sunyi sekali. . .mendadak dari dada patung itu mengeluarkan suara hiruk pikuk yang amat ramai sekali. Lie Loo jie yang tahu tentu ada permainan lagi dia semakin tidak berani berlaku gegabah. Tampak tangan dari patung itu dengan perlahan direntangkan ke samping lalu dengan perlahan diangkat naik keatas, walaupun suasana didalam ruangan itu amat gelap tetapi Lie Loo jie masih bisa melihat dengan amat jelas seluruh gerak geriknya.
Tiba tiba sepasang tangan dari patung Buddha yang diangkat ini ditetapkan di depan dada, Lie Loo jie segera tahu dia akan berbuat sesuatu di ujung kakinya dengan cepat menutul permukaan tanah dengan menggunakan jurus" Pek Hok Cong Thian" atau bangau putih menerjang langit meloncat ke atas setinggi dua kaki lebib.
Pada saat yang bersamaan dari sepasang tangan patung Buddha itu menyambar keluar senjata senjata rahasia yang amat halus sekali dengan memencar dari kiri kanan menghajar kearah depan.
Melihat kejadian itu Lie Loo jie segera merasakan hatinya bergidik, pikirnya,
Sungguh amat bahaya, asalkan aku sedikit berayal menghindar kesamping kiri atau kanan bukankah aku akan segara terkena permainan busuknya ini??"
Tubuhnya yang masih ada di tengah udara segera berjumpalitan, dengan gerakan "Ku Ing Leng Gong" atau burung elang menembus awan golok tipis ditangan kirinya digetarkan sehingga menimbulkan berbagai bunga golok yang amat menyilaukan mata, dengan dahsyatnya dia membacok kearah patung tersebut.
Di mana sinar golok itu berkelebat patung Buddha tersebut tetap berdiri tidak bergerak.
"Trang...!" dengan menimbulkan suara yarg amat nyaring bagian kepala dari patung Budha itu sudah terkena tusukan dari Lie Loo jie.
Tiba tiba patung itu merendahkan badannya dari punggungnya kembali berhamburan jarum jarum kecil yang menyambar dengan kecepatan luar biasa ke arah atas.
Bokongan senjata rahasia yang meluncur secara tiba tiba ini benar benar luar biasa. hebatnya, jikalau bukannnya Lie Loo jie dapat mengikuti perubahan selekas mungkin dia pun akan terkena serangan tersebut.
Kiranya pada saat Lie Loo jie berhasil menghantam bagian kepala dari patung Budna it dari jurus "Ku Ing Ban Gong" cepat ceoat dia mengubah menjadi "Sian Niauw Hua Sih" burung cerdik mengorek pasir melayang ke arah samping, dengan demikian diapun telah behasil menghindarkan diri dari serangan jarum rahasia itu.
Dia menjadi termangu mangu berdiam disamping, dia orang sama sekali tidak menduga patung Budha itu dipasangi alat rahasia sehingga demikian lihaynya.
Beberapa saat kemudian dari arah patung itu tetap tidak memperlihatkan gerak gerik lainnya, bagian pinggangnya mendadak patah rata jadi dua bagian berbungkuk tidak bangkit berdiri, saat itulah Lie Loo jie baru teringat serangan berturut turut sebanyak tiga kali dari alat alat rahasia yang dipasang di dalam patung tersebut semuanya disebabkan oleh usikannya sendiri, kemungkinan sekali bila dirinya tidak mengganggu, alat itupun tidak akan mencelakai dirinya kembali.
Saat ini dia baru menghembuskan napas lega, dengan perlahan kepalanya menoleh memandang ke arah patung Budha lainnya yang berdiri pada dinding sebelah kanan. Waktu itu si gadis cantik pengangon kambing bagaikan sebuah pa tung saja berdiri termangu mangu ditengah ruangan, agaknya dia dibuat kebingungan oleh gerak gerik yang amat aneh dari ketiga buah patung Budha tersebut.
Baru saja Lie Loo jie mau bergerak maju menuju kearahnya mendadak dia menemukan genta yang besar sejak kapan ternyata sudah bergeser ke atas kepala si gadis cantik pengangon kambing tak terasa lagi dia menjadi amat terperanjat.
"Wan jie cepat mundur." bentak Lie Loo jie dengan suara keras.
Baru saja dia selesai berbicara genta besar yang mengarah tepat di atas kepala si gadis cantik pengangon kambing itu sudah mulai bergerak turun kebawah, tetapi si gadis cantik pengangon kambing masin tetap berdiri tertegun tak bergerak.
Lie Loo jie tidak berani berlaku ayal lagi, tubuhnya dengan cepat meloncat kedepan untuk menyelamatkan kembali putrinya.
Ketika genta tersebut dengan perlahan mulai turun ke bawah, hanya didalem sekejap sudah berada kurang lebih beberapa depa diatas kepala gadis cantik pengangon kambing itu.
Lie Loo jie yang melihat keselamatan putrinya terancam, tubuhnya belum mencapai tempat itu sepasang telapak tangannya sudah didorong ke depan sehingga terasalah segulung angin pukulan yang sangat dahsyat menggulung kedepan.
Agaknya saat itulah si gadis cantik pengangon kambing baru merasakan keadaan yang amat berbahaya bagi dirinya.
"Addduh. . . ."saking kagetnya dia berdiri melongo longo disana.
Untung saja angin pukulan yang dahsyat dari Lie Loo jie tepat pada saatnya berhasil memukul miring kesamping dan berdiri kesamping tubuh Lie Loo jie.
Bersamaan dengan melayangnya gadis cantik pengangon kambing kesamping genta itupun ikut melayang kembali keatas.
Melihat hal itu Lie Loo jie menjadi sangat gusar sekali tubuhnya melayang ke depan, golok tipis di tangannya mendadak membabat ke arah rantai baja yang mengikat genta tersebut sehingga menjadi putus, dengan disertai suara yang amat keras genta itu jatuh ke atas tanah dan hancur berantakan.
Setelah genta itu berhenti berbunyi suasana seketika itu juga berubah menjadi sunyi senyap saking sunyinya sehingga terasa amat menakutkan sekali.
Lie Loo jie dengan tenangnya melayang kembali ke samping tubuh si gadis cantik pengangon kambing, baru ssja tangannya memeriksa pergelangan tangan putrinya mendadak dia merasakan permukaan tanah yang diinjaknya agak kendor batinya menjadi bergerak.
"Celaka.. . pikirnya.
Dengan menarik tangan putrinya dan melayang ke tengah udara.
Saat itulah permukaan tanah yang semula amat kuat mendadak dengan menimbulkan suara gemuruh yang amat keras sudah muncul sebuah liang seluas tubuh, delapan kaki diikuti mengalirnya air yang amat deras menerjang masuk dari empat penjuru,
Hanya di dalam sekejap saja seluruh ruangan kuil yang amat megah itu sudah berubah menjadi kolam yang amat dalam sekali, berapa dalam yang sesungguhnya tidak ada orang yang tabu.
Satu satunya tempat yang tidak tenggelam dalam air cuma ketiga tempat patung Budha tadi.
Saat ini Lie Loo jie serta si gadis cantik pengangon kambing masih ada di tengah udara, melihat keadaan yang begitu mengerikan dari ruangan tersebut serta melihat pula kalau disekeliling tempat sana sama sekali tidak menemui tempat untuk berpijak kaki, hatinya diam diam berseru kaget.
"Aduh celaka, kali ini aku akan terjerumus ke dalam perangkap yang amat lihay dari semua orang orang kuil Siang Lian Si"
Pada saat hatinya terasa amat kacau itulah mendadak matanya dapat menangkap rantai potongan baja yang semula digunakan untuk menggantung genta tadi, pikirannya dengan cepat berputar.
Mendadak dia melancarkan pukulan ke depan, dengan meminjam tenaga pantulan tersebut tubuhnya dengan menembus ketengah udara meluncur kearah sana dan menyambar rantai baja itu.
Si gadis cantik pengangon kambing yang mencekal erat erat tangan ayahnya Lie Loo jie dengan cepat ikut meluncur kesana, sehingga dengan demikian mereka berdua jadi bergantungan dengan hanya mengandalkan rantai baja itu saja.
Keadaan benar benar sangat berbahaya sekali sedikit saja tidak waspada nyawa segera akan melayang, karenanya mereka berdua sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun mereka hanya melihat air bah yang semakin lama semakin memenuhi seluruh ruangan dan berpikir keras untuk mendapatkan suatu cara untuk meloloskan diri dari sana.
Pada saat itu si gadis cantik pengangon kam bing teringat kembali keselamatan dari Lie Siauw Ie, teringat dia sudah masuk kedalam kuil ini hatinya terasa sangat berduka sekali, tak terasa lagi dua titik air mata menetes membasahi wajahnya.
Titik titik air itu menetes jatuh membasahi tangan Lie Loo jie membuat dia agak mendongkol, ujarnya sambil memandang dirinya.
"Wan jie, kenapa kau menangis? pada saat dan tempat seperti ini mana kau orang boleh menangis?"
"Tia, aku teringat kembali kepada Ie cici, maka..."
.aku menangis" kata kata terakhir ini belum sempat diucapkan Lie Loo jie sudah memotong.
"Suruh kau jangan menangis ya jangan menangis, hati hati jangan sampai tercebur kedalam air"
Terpaksa si gadis cantik pengangon kambing berhenti menangis dan mencekal tangan Lie Loo jie semakin kencang lagi.
Sebenarnya saat ini Lie Loo jie serta si gadis cantik pengangon kambing itu sudah memiliki ilmu meringankan tubuh yang amat sempurna sehingha bisa melayang di atas permukaan air, tetapi mereka ragu ragu untuk meloncat turun dikarenakan dalam hati mereka takut kalau diantara air masih ada jebakan jebakan yang lain, karenanya mereka tidak berlaku gegabah, dengan pusatkan perhatian mereka berpegangan pada rantai baja menunggu kesempatan yang baik.
Kita sekarang kembali pada Lie Siauw Ie yang melihat tubuh Liem Tou tersangkut pada tanduk kerbau kemudian dia dibawa lari dengan cepatnya ke dalam ruangan kuil, dengan cepatnya dia mengikuti terus dari belakangnya.
Tampak kerbau itu bagaikan sudah hafal dengan keadaan di tempat itu, dengan cepatnya sudah menerjang kearah kanan lal lenyap tak berbekas.
Lie Siauw Ie yang ada setahun lamanya mengangkat Lie Loo jie dari Toen Si Pay sebagai gurunya sudah tentu kepandaian silatnya memperoleh kemajuan yang sangat pesat, tenaga dalamnya walaupun tidak bisa menandingi si gadis cantik pengangon kambing yang berlatih sejak kecil tetapi dasarnya sangat bagus sekali sehingga ilmu meringankan tubuhpun sudah amat lihay.
Saat ini melihat kerbau itu lenyap dibilik sebelah kanan, karena takut sampai ketinggalan dengan cepat menggunakan ilmu "Liuw Im Hwee Si" dari Toen Si Pay mengejar terus ke depan.
Tampak di balik sebuah pintu tersebut terdapat sebuah lorong kecil yang berbelok belok ke arah kiri tanpa berpikir panjang lagi dia mengerahkan seluruh tenaga dalamuya mengejar terus kedalam.
Kurang lebih tiga depa dia berlari segera terlihat kembali bintang bintang yang penuh menghiasi langit, kiranya tempat itu merupakan sebuah halaman kecil yang amat tenang dan dikelilingi tumbuhan bambu yang amat rapat,dari tumbuhan bambu itu dapat dilihat sebuah bangunan besar dibaliknya, ruangan disana persis seperti ruangan yang dilihatnya didepan tadi.
Cuma saja ruangan itu jauh lebih mewah dan megah sekali, lampu menerangi seluruh ruangan sehingga seperti di siang hari saja, kedua belah pintu terbuka lebar iebar dan tampak banyak perempuan yang berdandan amat menyolok berjalan mondar mandir disana.
Lie Siauw le yang sedang memandang keadaan itu dalam keadaan kebingungan mandadak mendengar suara ringkikan kerbau yang panjang tampak seekor kerbau dengan amat cepatnya menyusup keluar dan menerjang kedalam ruangan yang rerang benderang itu.
Melihat munculnya seekor binatang yang sangat besar ke arah mereka para perempuan itu menjadi amat panik, diiringi suara teriakan teriakan kaget yang amat keras mereka pada lari terbirit birit meninggalkan tempat tersebut.
Lie Siauw Ie yang melibat munculnya kerbau itu segera membentak keras dan ikut munculkan dirinya disana, segera terlihatlah sesosok bayangan putih berkelebat menuju ke tengah ruangan menyusul kerbau tersebut yang pada saat ini sudah menerjang ke tengah kamar.
Ternyata kerbau itu tidak melukai seorangpun, dia hanya berlari kesana kemari menakut nakuti perempuan perempuan dengan dandanan menyolok itu sehingga membuat mereka itu pada jatuh bangun dan melarikan diri terbirit-birit dari sana.
Hanya didalam beberapa saat saja sebuah ruangan yang amat besar sudah ditinggal pergi oleh penghuninya sehingga kosong melompong.
Kerbau itupun sudah berhenti tidak bergerak ditengah ruangan, Lie Siauw Ie cepat cepat berlari mendekat untuk menolong diri Liem Tou.
Tetapi walaupun dia sudah menggunakan ilmu apapun dan menggerakkan badannya sebagai mana cepatnya dia tidak bisa juga mendekati kerbau itu, membuat Lie Siauw Ie saking gemasnya terus menerus mendepakan kakinya berulang kali dan memanggil adik Tou tak henti hentinya.
Liem Tou yang berada di tanduk kerbau itu sama sekali tidak bergerak agaknya dia sudah jatuh tidak sadarkan diri. Sebaliknya kerbau itu kadang kala sengaja menghadapkan pantatnya ke depan tubuh Lie Siauw Ie sekalipun begitu sepertinya dibelakang punggungnya ada mata asalkan Lie Siauw Ie coba merebut maju ia pasti bergerak untuk menhindar.
Lie Siauw Ie tidak berbuat apa apa lagi, mendadak tangannya meraup senjata rahasia Kioe Cu Gien Ciamnya siap disambitkan ke arah kerbau tersebut tapi dia takut sampai terkena badan Liem Tou yang ada di tanduk terpaksa dia pun membatalkan niatnya ini, sambil berteriak gemas dia cuma melototi kerbau itu saja, pikirannya benar benar dibuat bingung oleh kelakuannya itu.
Sekonyong konyong kerbau itu mendengus panjang sepasang matanya yang bulat benar melotot keluar lalu memandang tajam kearah Lie Siaw Ie yang sedang kebingungan.
Lie Siauw Ie yang melihat sifat ganas dari kerbau itu secara mendadak kambuh kembali tanpa terasa lagi dia sudah pusatkan seluruh perhatiannya untuk menghadapi segala kemungkinan.
Pada saat itulah kerbau itu menyepakkan kakinya ke belakang lalu dengan amat cepatnya menerjang ke depan.
Lie Siauw Ie segera membentak keras, pedang panjang di tangan kanannya diangkat dengan menggunakan jurus" Tok Coa Cut Tong" atau ular berbisa keluar goa dia meayambut datangnya kerbau tersebut dengan satu tusukan kilat.
Siapa tahu kerbau itu ternyata sama sekali tidak menhindarkan diri dari serangan tersebut dengan ganasnya ia melanjutkan terjangannya kedepan memaksa Lie Siauw Ie harus menarik kembaii serangannya dan menghindar kesamping.
Pada saat itulah sang kerbau dengan amat cepatnya lewat disamping badannya membuat Lie Siauw Ie bsnar benar dibuat mendongkol.
Tanpa banyak berpikir lagi tangan kirinya diangkat meraup senjata rahasia Kioe Cu Gien Ciam lalu disambitkan menghajar tubuh kerbau tersebut.
Waktu ini jaraknya dengan sang kerbau cuma ada beberapa depa saja, untuk menjawil dengan tanganpun masih sampai apa lagi melancarkan serangan dengan menggunakan jarum rahasia begitu banyaknya, didalam sepuluh bagian ada sembilan pasti mengenai sasarannya.
Tetapi dia cepat, gerakan dari kerbau itu jauh lebih cepat lagi, baru saja pikirannya sedang berputar dan jarum rahasia di tangan kirinya baru akan disambitkan ke depan mendadak ekor dari kerbau itu sudah menyapu ke tangannya dengan amat dahsyat.
Lie Siauw Ie tidak sempat untuk menghindar lagi. Jarum yang ada di tangan kirinya sudah tersampok jatuh keatas tanah tidak ketinggalan barang sebatang pun.
Setelah berhasil menyampok Jatuh senjata r hasia kerbau itu cepat cepat menerjang kembali kedepan dengan amat cepatnya.
Lie Siauw Ie benar benar sangat mendongkol matanya dengan cepat melotot kearah kerbau itu, tiba tiba. . ."
Matanya dapat melihat si hweesio kurus dan berbadan hitam atau Thiat Bok Thaysu dengan membawa beberapa orang hweesio sudah munculkan dirinya di depan pintu ruangan kuil itu, saat itulah sang kerbau sedang berdiri menerjang ke arah mereka dengan amat ganasnya.
Kiranya Thiat Bok Thaysu dapat muncul disini kerena mendapatkan laporan penting dari anak buahnya dan bertepatan pula sewaktu Lie Loo jie serta si gadis cantik pengangon kambing sedang menemui bahaya, jika kalau bukannya Thiat Bok Thaysu berhasil dipancing kemari maka bencana yang akan ditemui Lie Loo jie serta si gadis cantik pengangon kambing itu akan jatuh lebih hebat lagi bahkan keselamatannya pun semakin berbahaya,
Saat ini kerbau itu dengan tidak mengenal lihay sudah menerjang dengan dahsyatnya ke arah Thiat Bok Thaysu. Thiat Bok Thaysu yang sudah mendapatkan laporan dari para hweesio atas kelihayan dari sang kerbau dan tahu pula kaiau banyak anak buahnya sudah mati di atas ujung tanduk kerbau itu dia sudah mengambil keputusan untuk membinasakannya, segera dia tertawa dingin menanti setelah kerbau itu menerjang hingga dekat sekali dengan tubuhnya mendadak dengan kecepatnya bagaikan kilat dia melancarkan suatu pukulan dahsyat menghajar batok kepala kerbau tersebut.
Tidak terduga kerbau itu jauh berbeda dengan kerbau biasa, baru saja pundak dari Thiat Bok Tnaysu bergerak dia agaknya sudah tahu apa yang hendak dilakukan olehnya, tiba tiba tubuhnya yang semula menerjang ke depan kini malah mundur terus ke belakang tanpa putar badan lagi.
Thiat Bok Tiiaysu sama sekali tidak menyangka sang kerbau bisa mundur kebelakag sehingga pukulannya mencapai pada sasaran yang kosong, saking keheranannya dia menjadi berdiri tertegun, sinar matanya dengan amat dinginnya memperhatikan kerbau tersebut.
Yang paling membuat dia heran adalah seorang pemuda gembala berbaju compang camping yang tergantung di antara tanduknya, agak nya saat ini pemuda itu sedang tertidur lelap, tetapi gerakan yang bagaimana cepatnyapun dari sang kerbau sama sekali tidak membuat dia jatuh terguling diatas tanah.
Melihat keanehan dari hal ini tak terasa hatinya menjadi bergerak, dia segera maju lagi beberapa langkah kedalam ruangan
Tampaklah Lie Siauw Ie dengan melintangkan pedangnya berdiri tegak di tengah ruangan. dia segera mendengus dingin tangannya diulapkan segera terlibatlah dua orang bweesio dengan perlahan mendekati diri Lie Siauw Ie.
Lie Siauw Ie yang melihat gerak gerik mereka di dalam sekali pandang saja dia sudah tahu kalau mereka mengandung maksud yang tidak baik, pedangnya segera dicekal kencang kencang lalu bentaknya dengan nyaring
"Berhenti, jika kalian maju setindak lagi nonamu segera akan bunuh kalian!"
Suara Bentakan dari Lie Siauw Ie ini amat keras dan keren sekali padahal di dalam hatinya berdebar debar amat keras. Dia yang melihat munculnya Thiat Bok Thaysu disana segera merasakan keadaannya sangat berbahaya sekali, untuk menghindarkan diri tiada jalan lagi terpaksa dengan paksakan diri menantikan kesempatan yang baik buat meloloskan diri.
Kedua orang hweesio yang baru saja diperintahkan untuk maju ini bukanlah termasuk hweesio yang dibuat kalang kabut oleh terjangan sang kerbau tadi, mereka berdua dengan langkah yaeg mantap terus maju mendekati tubuh Li Siauw Ie.
Melihat hal tersebut Lie Siauw Ie segera tahu kalau keadaannya sangat berbahaya sekali. Diam diam tangannya dimasukkan ke dalam saku meraih kembali segenggam senjata rahasia Kioe Cu Gian Ciem siap menghadapi segala kemungkinan.
Kembali terdengar teriakan dari Thiatt Bok Thaysu, "hati bocah perempuan itu sangat licik sukar diduga, lebih baik biar aku sendiri yaag menawan dirinya."
Lie Siaw Ie yaag melihat Thiat Bok Thaysu mau turun tangan sendiri saking kagetnya air mukanya sudah berubah pucat pasi, pikirnya didalam hati.
"Suhu yang merupakan jago nomor wahid dari Bu lim pun masih bukan tandingannya apa lagi aku ? Untuk melukai diriku bukankah dia orang seperti membalikkan tangan gampangnya ? ? Aku orang mana mungkin berhasil untuk bertahan diri ?"
Baru saja dia berpikir sampai disana kedua orang hweesio yang semula perintahkan untuk maju itu kini sudah mengundurkan dirinya kembali, sedangkan Thiat Bok Thaysu dengan panduangan yang amat tajam menyapu ke arah kerbau tetsebut lalu memandang seluruh badannya membuat Lie siauw Ie bergidik beberapa kali, pedang serta senjata raflasia Kioe Cu Gien Ciam yang dicekalpun semakin mengencang dengan mata yang melotot dia memperhatikan terus seluruh gerak gerik dari Thiat Bok Thaysu.
Mereka saling pandang memandang saling melotot beberapa waktu lamanya tiba tiba tampak Thiat Bok Thaysu berkata kembali sambil tertawa seram.
"Hee... hee... kau bocah perempuan sebetulnya ada hubungan apa dengan tua bangka she Lie itu? sekarang sudah ada di dalam kendiku He . .. hee siapapun jangan harap bisa menolong mereka lolos dari kurungannya.
Sehabis berkata dengan pandangan yang amat aneh dia memandang tajam seluruh lekukan tubuh Lie Siauw Ie.
Bagaimanapun juga Lie Siauw Ie bukanlah seorang yang tolol, dari pandangan mata serta perubahan wajahnya yang amat aneh itu ditambah pula dengan banyaknya perempuan didalam kuil dia segera tahu dinawahnya tentu ada maksud yang tersembunyi, saking malu dan gusarnya dia segera membentak keras, pedangnya dengan melancarkan serangan dahsyat menubruk kearah dirinya.
Thiat Bok Thaysu yang melihat dia orang menjadi malu bercampur gusar segera tertawa terbahak bahak dengan seramnya.
"Hay bocih perempuan," serunya sambil menyengir cabul. "Sebelum aku jelaskan omonganku kau sudah mengerti dengan sendirinya hal ini membuktikan kalau memang pikiranmu cerdik sekali, haaa . . . haaa . . . bagus, bagus sekali, baiknya kau menuruti kemauanku saja, dengan begitu nyawa dari tua bangka she Lie itu pun bisa tertolong.
Lie Siauw Ie yang dibuat amat gusar serangannya menjadi semakin gencar menghajar sang hweesio cabul.
Thiat Bok Thaysa segera tertawa dingin tubuhnya miring ke samping menghindarkan diri dari tusukan tersebut. sedang cengkeramannya yang seperti kuku garuda dengan dahsyatnya mengancam jalan darah pada pergelangan tangan nya.
Pada saat yang bersamaan pula mendadak terdengar suara dengusan dari kerbau itu lalu dengan cepatnya menerjang kearah orang hwee sio yang berada disacapingnya.
Melihat hil tersebut Lie Siauw Ie menjadi sangat girang, bentaknya. "Bagus ... bagus. . .sekarang sambutlah barang ini!"
Senjata rahasia Kioe Cu Gien Ciam yang ada ditangannya mendadak disambitkan keluar mengincar seluruh tubuh dari Thiat Bok Thaysu,
Senjata rahasia Kioe Cu Gien Ciam ini halus sekali seperti bulu kerbau saja, senjata semacam ini paling sukar untuk dihindari tetapi manusia semacam Thiat Bok Thaysu sudah tentu tidak akan memandang dengan sebelah mata, ujung jubah nya dikebut ke depan sehingga menimbulkan segulung angin pukulan yang dahsyat menghajar jatuh puluhan senjata rahasia Kioe Cu Gien-Ciam yang mengancam tubuhnya itu.
Pada saat dia melancarkan serangan pukulan untuk memukul jatuh senjata rahasia itulah mendadak terdengar suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati sehingga menggetarkan seluruh ruangan, seorang hweesio anak buahnya kembali kena sambar tanduk kerbau itu sahingga punggungnya berlubang dan binasa seketika itu juga.
Atas kejadian ini dia tidak mau bergebrak lebih lama lagi melawan Lie Siauw Ie, sepasang lengannya dipentangkan disertai dengan suara bentakan yang amat nyaring ilmu beracun "Hek Khie Cie Kang" yang dilatih selama puluhan tahun untuk kedua kalinya digunakan.
Tampak pada ujung ke sepuluh jarinya secara samar samar muncul bawa hitam yang makin lama semakin menebal meluncur ke atas tubuh kerbau.
Lie Siauw Ie yang melihat hal itu walaupun tidak tahu Thiat Bok Thaysu sedang menggunakan ilmu macam apa tetapi melihat kedahsyatan dari serangan tersebut segera mengetahui kalau serangannya itu tentu sedang menggunakan semacam ilmu yang amat beracun.
Dia orang karena takut kalau serangan tersebut sampai melukai Liem Tou, dengan cemas teriaknya dengan suara keras.
"Ciag Gouw ko, cepat mundur . . cepat mundur."
Bagaimanapun juga binatang tetap binatang, kerbau yah tetap kerbau mana mungkin bisa mengerti perkataan dari manusia? ? Bukannya mengundurkan diri dari belakang sebaliknya dengan disertai dengusannya yang amat panjang dia malah menyambut datangnya serangan kabut hitam yang mengancam tubuhnya itu.
"Binatang saat kematianmu telah tiba, buat apa kau begitu bangga? " pikir Thiat Bok Thaysu sewaktu melihat hal itu.
Baru saja dia orang merasa gembira karena kerbau tersebut bakal terbunuh di bawah serangan beracunnya siapa tahu tiba tiba dia merasakan serangannya seperti terhalang oleh sesuatu, tenaga dalamnya sukar untuk disalurkan lancar, dalam hati dia benar benar merasa keheranan.
Tenaga dalamnya segera dilipat gandakan kelihatan seluruh jalur hitam seketika itu juga mengumpul menjadi segulung awan yang sangat hitam yang amat tebal dengan memecahkan udara menerjang kedepan.
Kerbau itu tetap tidak dibuat jeri, ekornya yang panjang dengan sekonyong konyong dikebaskan sehingga menjadi mengencang bagaikan pit, secara aneh sekali dari ujung kedua belab tanduk kerbau itu mendadak menerjang keluar segulung angin pukulan yang menyambut datangnya serangan dari Thiat Bok Thaysu sehingga punah menjadi angin yang berlalu.
Thiat Bok Thaysu segera merasakan situasi yang tidak mengutungkan bagi dirinya air mukanya segera berubah meringis kejam tububnya mundur tujuh delapan tindak dan dengan cepat menarik kembali hawa pukulan beracunnya.
Sekalipun gerakannya cepat tetapi baru saja berhasil menarik separuh dari tenaga pukulan hawa beracun yang separuhnya lagi sudah berhasil dipunahkan sehingga buyar tak berbekas di dalam seluruh ruangan.
Kali ini Thiat Bok Thaysu benar benar dibuat amat gusar sekali, dia orang sama sekali tidak menyangka ilmunya yang didapatkan dengan susah payah selama puluhan tahun dengan mencari benda benda beracun yang sudah berusia ratusan tahun dan ulat, ulat yang banyak ada di dasar kuburan ternyata sudah punah separuh bagian hanya di dalam sekejap saja
Sepasang matanya dengan amat tajam sekali memperhatikan diri Liem Tou yang tergantucg di atas tanduk kerbau itu, mendadak bentanknya dengan suara yang amat keras. Bangsat cilik, siapa kau orang??"
Dengan pengetahuan serta pengalaman yang luas dari Thiat Bok Thaysu mana mungkin dia orang tidak mengenal para jago jago yang ada didalam Bu lim?? kini melihat sang kerbau ternyata bisa memunahkan ilmu pukulan beracunnya sudah tentu dia orang tidak mau percaya karena itu didalam anggapannya sudah tentu Liem Tou yang tergantung di atas tanduk kerbau itulah yang sudah bermain main dengan dirinya.
Tetapi sekalipun Thiat Bok Thaysu sudah berteriak teriak beberapa kali Liem Tou tetap tertidur dengan amat nyenyaknya sama sekali tidak bergerak.
Pada saat itulah mendadak terdengar kerbau itu mendengus panjang sambil mendepakkan kakinya kebelakang, kepalanya ditundukkan dengan dahsyatnya ia menerjang ke arah tubuh Thiat Bok Thaysu.
Thiat Bok Thaysu menjadi teramat gusar, ujung jubahnya dikebutkan ke depan melancarkan satu pukulan dahsyat menghantam tubuh kerbau itu. pada saat dia sedang augkat tangan nya itulah mendadak terasa segulung angin pukulan yang jauh lebih kuat dengan dahsyatnya sudah menggulung menghantam tubuhnya, dia menjadi terperanjat dengan cepat serangannya ditarik dengan tergesa gesa lalu meloncat kesamping untuk menghindarkan diri.
Tibt tiba kerbau itu miringkan badannya ekornya yang panjang dengan dahsyatnya menghajar scoraug hweesio yang berdiri disampingnya.
"Aduh. .." disertai dengan suara teriakan kesakitan yang amat mengerikan hweesio tersebut terjatuh ke atas tanah tidak dapat bangun kembali.
Gerakan kerbau itu tidak berhenti sampai di situ saja, tubuhnya dengan amat cepatnya menerjang kambali kearah Thiat Bok Thaysu.
Thiat Bok Thaysu yang melihat berturut turut kerbau tersebut berhasil membinasakan dua orang anak buahnya dengan sangat mudah hatinya dibuat benar benar ketakutan, kini melihat datangnya terjangan yang sangat dahsyat dia tidak berani menyambut keras lawan keras.
Tubuhnya meloncat ke samping lalu melirik sekejap ke arah Lie Siauw Ie yang berdiri di depannya, hatinya menjadi bergerak pikirnya.
"Terjangan yang secara mendadak dari kerbau ini sangat aneh sekali, tentunya dia ada sangkut pautnya dengan Lie Loo jie itu, sedangkan perempuan inipun anak murid Lie Loo jie lebih baik aku tawan dia terlebih dulu lalu dengan cara yang lain berusaha untuk menangkan pertempuran kali ini."
Berpikir akan hal ini tubuhnya yang berkelebat ke samping memdekati tubuh Lie Siauw Ie.
Sebaliknya Lie Siauw Ie yang melihat sang kerbau itu terus menerus mendesak, Thiat Bok-Thaysu geser kesamping perhatiannya segera dipusatkan seluruhnya ke sana, terhadap mara bahaya yang bakal mengancam dia orang sama sekali tidak merasakan.
Thiat Bok Thaysu yang mempunyai perawakan kurus kering sewaktu melihat Lie Siauw Ie sama sekali tidak mengadakan persiapan dalam hati diam diam merasa amat girang sekali, dia tahu asalkan kali ini berhasil mencapai hasil maka pertempuran malam ini seluruh kemenangan akan diperoleh dirinya.
Dengan perlahan tenaga dalamnya disalurkan dengan penuh ke atas dua belah telapak tangannya, sewaktu dia melihat kerbau itu menerjang kembali kearahnya dan melihat jaraknya dengan Lie Siauw Ie cuma tinggal beberapa kaki saja tanpa berpikir panjang lagi tubuhnya segera meloncat keatas lalu berjumpalitan ditengah udara mendesak ke arabnya.
"Hey bocah perempuan, terimalah seranganku ini" bentaknya dengan amat keras.
Kedua belah telapak tangannya yang sudah dipersiapkan sejak tadi pada saat inilah bagaikan menggulungnya ombak di tengah samudra menggencet dari kedua belah samping Lie Siauw Ie sedang tuhuhnyapun mendesak lebih mendekat berusaha mencengkram mangsanya.
Menanti Lie Siauw Ie sadar kembali apa yang telah terjadi kedua belah samping badannya sudah terhalang oleh angin pukulan dari Thiat Bok Thaysu itu, untuk menghindarkan kesamping tidak dapat lagi terpaksa dia mundur ke belakang.
Tetapi pada saat dia agak ragu ragu itulah cengkeraman dari Thiat Bok Thaysu sudah tiba dihadapannya membuat dia menjadi amat terperanjat, dengan air muka ketakutan teriaknya keras.
"Aouw adik Tou tolong.. .!"
Melihat untuk menghindarkan diri tiada jalan lain lagi, Lie Siauw Ie segera pejamkan matanya pasrah terhadap semua perbuatan dari Thiat Bok Thaysu.
Pada saat yang amat kritis itulah mendadak terdengar suara dengusan kerbau yang amat berat lalu disusul dengan suara jeritan Liem Tou.
"Toloag .. tolong . . !"
Baru saja suara itu lenyap dari pendengaran mendadak terdengar Thiat Bok Thaysu menjerit ngeri lalu terhuyung huyung mengundurkan diri kebelakang sambil muntahkan darah segar.
Kerbau itu terayata sudah berdiri dengen tenangnya disamping badannya sedangkan Liem Tou berbaring diatas tanduk kerbau sambil tangannya diobat abitkan tidak keruan.
'Aduh tolong . . tolong . ."
Gerak geriknya amat lucu sekali seperti sedang menghadapi bahaya.
Lie Siauw Ie yang melihat hal itu tanpa men perdulik«n keselamatan jiwanya sendiri pedang yang ada ditangannya segera melancarkan tusukan mengancam tubuh kerbau itu sedang tangannya yang lain dengan amat cepatnya menyambar tubuh Liem Tou yang tersangkut diatas tanduk kerbau iiu.
Belum sempat pedangnya melancarkan serangan mendadak dia merasakan pinggangnya seperti dililit dengan sesuatu tahu tahu tubuhnya sudah terangkat oleh lilitan ekor kerbau dan dijatuhkan keatas punggungnya.
"Aaaiih Ie cici, akhirnya kau datang juga" terdengar Liem Tou sambil tertawa girang memeluk pinggangnya kencang kencang. "Kau sudah kemana selama ini??? eeeh sekarang kita berada dimana?"
Lie Siauw le yang melihat Liem Tou sudah sadar kembali dari pulasnya seketika itu juga sudah melupakan kalau baru saja dia lolos dari bahaya dan lupa juga kalau pada saat ini dia sudah berada diatas punggung kerbau, sahutnya dengan amat girang.
"Oooh adik Tou kau sungguh mengagetkan diriku, bagaimana kau orang bisa tergantung diatas tanduk kerbau?"
"Aku sendiripun tidak tahu" jawab Liem Tou sambil gelengkan kepalanya.
"Sewaktu aku melibat hweesio hweesio itu amat lihay sekali, maka cepat cepat aku melarikan diri keluar kuil, siapa sangka aku sudah kena pukul rubuh oleh dua orang hweesio jahanam.
Setelah itu semuanya aku tidak tahu, sampai baru saja aku sadar kembali dan melihat cici baru meloncat kemari."
Mendengar perkataan itu Lie Siauw Ie segera tertawa cekikikan.
"Mana mungkin aku bisa meloncat kemari. Kan terang terangan aku dililit oleh ekor kerbau ini ?.,
Pada mukanya Liem Tou sengaja berpura pura bingung padahal dalam hati diam diam merasa geli, pikirnya.
Jikalau bukannya aku sudah menolong dirimu kemungkinan sekali kau kini sudah berada di dalam cengkeraman Thiat Bok Thaysu ini, tetapi kini aku harus mengelabui dirimu untuk sementara waktu karena musuhku terlalu banyak, jikalau berita ini sampai tersiar diluaran sekalipun pun aku memiliki kepandaian yang lebih tinggi pun belum tentu berhasil menahan kerubutan dari orang orang kalangan Hek to yang begitu banyak."
Setelah tertawa cekikikan Lie Siauw Ie berkata kembali.
"Tidak kusangka kerbau itu yang sudah menolong dirimu, tetapi kerbaumu itu terlalu ganas sekali, seluruh hweesio penghuni kuil Siang Lian Si ini hampir sebagian besar terbunuh oleh serudukan tanduknya."
"Haaa sungguh ?? Dia benar benar mempunyai kepandaian seperti itu ?" tanya Liem Tou keheranan.
Padahal dalam hati dia sedang berpikir.
"Ie cici kau sama sekali tak tahu kejahatan serta kecabulan dari hweesio hweesio penghuni kuil ini, bila sejak tadi kau sudah tiba di dalam ruangan ini dan melihat perempuan perempuan itu maka akan segera tahu kalau mereka it anak gadis orang orang dusun yang ditawan mereka untuk kesenangan, coba kau bayangkan kerbauku atau dia yang lebih jahat dan ganas ?"
Pada waktu itulah kerbau tersebut mendadak meloncat turun dari tempat ketinggian mereka berdua yang sedang berbicara sama sekali tidak memperhatikan akan hal ini hingga hampir hampir saja terlempar jatuh dari atas punggung kerbau, sedangkan Liem Tou pun tahu bila kerbau itu kehilangan tenaga bantuannya mana mungkin bisa memenangkan Thiat Bok-Thuysu yang amat libay?"
Thiat Bok Thaysu yang telah terluka mana berani bertempur dengan kerbau itu, dengan cepat dia ngeloyor pergi dari sana melalui pintu pintu sebelah kanan
Ketika kerbau itu melihat dia lari pergi dengan cepat menyerbu kembali kedepan mengejar dari arah belakang, sedikitpun ia tak mau mengendorkan kejarannya.
Sewaktu tadi Lie Loo jie sedang bertempur dengan amat serunya melawan si penjahat naga merah, Liem Tou melakukan pemeriksaan yang amat teliti sekali terhadap keadaan diseluruh ruangan kuil itu sehingga diapun mengetahui bagaimana sifat yang sebenarnya dari hweesio tersebut.
Kini melihat dia telah melarikan diri melalui pintu sebelah kanan dia orang segera mengetahui kalau tempat itu merupakan sebuah jalan rahasia, karenanya dengan amat kencang dia membuntuti terus dari belakangnya.
Ternyata dugaannya sedikipun tidak salah, tempat tersebut memangnya merupakan sebuah jalan rahasia yang amat panjang sekali dan saat itu Thiat Bok Thaysu sedang melarikan dirinya kedalam.
Pikirnya Liem Tou kemudian.
Orang ini jika kalau dibiarkan tinggal didalam Bu lim terus tentu akan menimbulkan bencana saja, lebih baik aku basmi saja dia orang selekas mungkin."
Berpikir sampai disitu tangannya diam diam segera meraba ke samping telinga dari kerbau itu, sang kerbau segera mengerti dan mendengus panjang.
Dengan meminjam kesempatan itulah diam-diam Liem Tou membalikkan pergelangan tangannya lalu melancarkan satu pukulan dahsyat menghajar belakang punggung Thiat Bok Thaysu.
Seluruh gerakkannya ini dilakukan sangat hati hati sekali sehingga Lie Siauw Ie yang ada dibelaksngnya sama sekali tidak menyangka kalau dia orang sedang mengerahkan tenaga dalamnya untuk menghajar tubuh Thiat Bok Thay su.
Tampak sambil menoleh dia tertawa ringan.
"Adik Tou, ujarnya perlahan. Kiranya didalam kuil inipun ada jalan rahasianya. kerbau ini sangat lihay sekali jangan sampai terkena bokongan dari hweesio keparat itu."
Thiat Bok Thaysu yang benar benar sudah terdesak melihat datangnya serangan tersebut dia orang tidak berani menyambut, dengan menahan getaran yang amat hebat dari luka dalamnya tanpa palingkan kepalanya lagi dengan sekuat tenaga dia meloncat kearah jalan rahasia itu dan di dalam beberapa kali kelebatan saja sudah lenyap dari padangan.
Liem Tou yang takut dia orang lolos dari pengawasannya, segera mengempit kencang kencang perut kerbaunya dengan amat cepatnya kerbau tersebut segera menerjang pula kearah dalam jalan rahasia.
Setelah berbelok belok beberapa kali akhirnya Lie Siauw Ie hanya merasakan pandangannya menjadi terang pemandangan yang dilihatnya sama sekali berubah.
Tampak ruangan tersebut amat mewah dan megah sekali laksana sebuah istana kaisar seluruh dinding serta tiang pilarnya tersebuat dari batu pualam yang amat menyilaukan mata, tempat itu mana mirip dengan sebuah bangunan kuil dari kaum beribadat? tak tertahan lagi dia berseru keras.
"Aaaah, adik Tou tempat ini mirip sekali dengan sebuah istana kaisar. . . ."
Liem Tou yang sedang pusatkan seluruh perhatiannya untuk menangkap Thiat Bok Thaysu mendengar perkataan itu dia cuma mengangguk saja, sahutnya.
"Ehmm . ."tempat itu tidak mirip dengan sebuah kuil, tentunya mereka adalah kaum perampok yang sengaja menyamar sebagai hweesio. ..kiranya kerbauku sudah tidak salah membinasakan orang orang.
Matanya yang jeli dengan amat tajamnya menyapa keseluruh ruangan itu tetapi ditengah bangunan megah laksana istana tersebut sama sekali tidak tampak adanya sesosok bayangan manusia pun membuat Liem Tou diam diam merasa keheranan pikirnya.
Perempuan yang dikumpulkan Thiat Bok Thaysu tadi pada berkumpul disini mencari kesenangan dan melakukan permainan kotornya kenapa sekarang pada lenyap tak tampak seorangpun, mereka sudah pergi ke mana ? Apa mungkin masih ada tempat lainnya ?
Berpikir sampai disitu segera ujarnya kepada diri Lie Siauw Ie.
Tadi kerbau ini membawa kita kemari sudah tentu ia bermaksud untuk menangkap Thiat Bok Thaysu itu, cuma saja tidak tahu dia sudah pergi kemana, Ie cici, coba kau lihat adakah tempat yang patut kita curigai ?"
Tiba tiba tiba Lie Siauw Ie teringat atas perkataan dari Thiat Bok Thaysu yang mengatakan Lie Loo jie sekarang sedang terkurung, ujarnya kepada Liem Tou kemudian.
' "Adik Tou, kelihatan dia sudah pergi dari sini, bagaimana kalau kita lihat lihat di tempat luaran ??"
'Baik," sahut Liem Tou menyetujui. "Tetapi kuil Siang Lian Si ini benar benar sangat kotor dan merupakan tempat mesum yang sangat cabul, nanti setelah aku bertemu dengan itu Si "Hui Tui Jie" aku mau usulkan agar kuil ini dihancurkan dari pada meninggalkan bencana di kemudian hari."
Selesai berkata dia kirim satu ciuman mesra ke atas pipinya Lie Siauw Ie.
"E-eehmmram . . .. kau jangan nakal, seru Lie Siauw le sambil mencubit pahanya. Siapa yang beritahukan kepadamu kalau suhuku mempunyai julukan sebagai Hui Tui Jie ? ? Kau harus ingat ingat terus si cangkul pualam Lie Sang adalah jagoan berkepandaian tinggi nomor wahid pada saat ini, karena dia orang paling suka mengasingkan diri dan tak gemar meucampari persoalan dunia kangouw maka orang orang Bu lim memberikan julukan sebagai partai Toen Si Pay.
Mendengar perkataan teraebut Liem Tou segera berpura pura bertanya.
"Jika didengar dari pembicaraan Ie cici dia orang paling tidak suka mencampuri urusan dunia kangouw kenapa kali ini bisa munculkan diri untuk mencari gara gara dengan si penjahat naga marah ?"
Perkataan ini memang kalau dibicarakan sangat aneh sekali, jawab Lie Siauw Ie kemudian sambil menghembuskan napas panjang. Di dalam Bu lim saat ini muncul seorang jagoan tanpa bernama yang amat misterius sekali, orang itu sudah membuat Thian Pian Siauw cu menjadi mendongkol dan berlalu dari atas gunung bahkan mengolok olok suhu tidak berani turun gunung, oooh, dia masih tinggalkan sepucuk surat"
Berbicara sampai disini mendadak Lie Siauw Ie dengan sinar mata yang aneh mempehatikaa Liem Tou dengan pandangan yang amat tajam.
Dalam hati Lie Toum segera tahu kalau dia orang telah mengingat ingat kembali bal hal yang mencurigakan hatinya, cepat cepat dengan nada kebingungan tanyanya lagi.
"Di mana pisau belati pemberian Wan moay kepadamu itu?" Tiba tiba tanya Lie Siauw Ie sambil memperhatikan wajahnya tajam tajam.
"Aaah . . pisau belati itu sudah hilang sewak tu tempo hari aku terjatuh dari Jembatan pencabut nyawa, waah . . waah pisau belati itu benar benar amat tajam sekali, sungguh amat sayang barang tersebut sudah hilang"
Lie Siauw Ie yang mendengar perkataan itu sama sekali tidak menaruh curiga sedikitpun dan tidak mendesak lebih banyak lagi, sekali lagi dia memperingatkan Liem Tou untuk melarikan kerbaunya kembali ke dalam ruangan kuil yang megah itu,
Liem Tou segera mengangguk dan menepuk-nepuk kepala kerbaunya.
Hey Gouw koko ayoh kembali" serunya keras.
Kerbau itu dengan mengikuti jalan keluar dari jalan rahasia itu berlari ke depan tetapi ketika sampai didepan tampaklah pintu jalan rahasia itu sudah tertutup dengan sebuah pintu besi yang amat kuat
Liem Toa dengan terburu buru meloncat turun dan menariknya, tetapi sedikitpun tidak bergeming, sekalipun sudah kerahkan seluruh tenaga dalamnya pintu itu tetap tidak dapat terbuka.
Terpaksa sambil mengangkat bahu ujarnya. "Waduh. ..pintunya sudah terhalang, terpaksa kita hsrus mencari jalan keluar yang lain".
"Lalu bagaimana baiknya?" Seru Lie Siauw Ie dengan amat cemasnya. Jika kita tidak bisa mencari jalan keluar maka hweesio itupun tidak mungkin sudah lolos dari tempat ini.
Jelas sekali daiam hati Lie Siauw Ie pun merasa gugup sekali, cepat cepat dia meloncat turun dari punggung kerbau untuk mendekati pintu tersebut dan mendorongnya kebelakang, tetapi pintu tersebut tetap tak ber gerak sedikitpun juga.
"Sudah, sudahlah seru Liem Tou kemudian. Sekalipun kau menariknya sekuat tenaga juga tidak berguna, lebih baik kita mencari cara yang lain saja"
Selesai berkata matanya dengan oerJahan menyapu keadaan disekeliling tempat itu mendadak matanya tertumbuk dengan empat buah pilar besar vaug ada di tengah ruangan, hatinya menjadi bergerak.
Pikirnya didalam hati.
Ruangan didalam kuil Siang Lian Si ini dibuat sedemikian bagus dan sempurnanya sudah tentu didalamnya dipasangi alat alat rahasia, asalkan aku orang memeriksanya lebih teliti bukankah segera akan memperoleh jalan keluar?
Berpikir sampai disini dia segera berjalan mendekati pilar pertama yang berukiran naga dari emas, dengan pandangan yang teliti dia memeriksa seluruh bagian dari pilar tersebut.
Pada saat itulah ruangan istana yang semula terang benderang bagaikan disiang hari mendadak menjadi padam sehingga suasana menjadi amat gelap tidak dapat untuk melihat kelima jarinya sendiri.
Liem Tou menjadi sangat terperanjat dia takut Thiat Bok Thaysu sudah menggukan siasatlicik untuk melukai mereka dengan menggunakan alat alat rahasia dengan cepat tubuhnya meloncat mendekati samping tubuh Lie Siauw Ie.
"Ie cici, kita benar benar terkurung ditempat ini" serunya perlahan
Siapa tahu baru saja dia selesai berbicara mendadak terdengar suara mendeburnya air yang amat keras berkumandang memenuhi seluruh ruangan.
Sepasang mata diri Liem Tou tersebut bisa melihat di tempat kegelapan seperti disiang hari saja, sekali sapu saja dia sudah bisa melibat pada dinding sebelah kiri serta sebelah kanan dari ruangan istana itu mendadak sudah terbuka sebuah lubang yang amat besar sekali seluas dua kaki persegi, dua gulung air yang menderu dengan dahsyatnya mengalir keluar dengan amat derasnya memenuhi seluruh ruangan, kederasan disana jika dibandingkan dengan aliran air disungai Sam Sia diatas gunung Wu San boleh dikata dua kali lipatnya.
Didalam sekejap saja air yang menggenangi ruangan istana itu sudah meninggi selutut, melihat keadaan yang amat berbahaya Liem Tou tegera berteriak.
"Ie cici, hweesio jahanam itu sudah mulai melancarkan serangannya, kau tidak mengerti ilmu di dalam air lebih baik cepat cepat naik keatss punggung kerbau saja.
"Adik lalu bagaimana dengan kau? " balas tanya Lie Siauw Ie dengan amat cemas.
"Kau jangan mengurusi diriku, apakah kau sudah lupa kalau aku pandai didalam ilmu menyelam ? Air tidak berhasil mengurung diriku"
Sewaktu mereka berbicara itulah air sudah mulai meninggi sepinggang, mendadak ditengah kegelapan memancar sinar yang amat terang sekali berkelebat datang.
Lie Siauw Ie dengan memegang sebuah mutiara sedang berteriak dengan suara keras.
"Adik Tou kau tidak akan kegelapan lagi, ini aku kasih buat dirimu"
"Tidak usah, kau pakailah sendiri" Sahut Liem Tou sewaktu dilihatnya dia orang mau menghadiahkan barang pusaka dari suhunya itu kepadanya. "Pagi hari maupun malam buat aku orang adalah sama saja, hmm, harus dipukul . . harus dipukul. . . kau ini bagaimana toh? apa kau sudah lupa sewaktu masih ada dipuncak Ngo Lian Hong aku sudah berhasil melatih mataku untuk melihat di tengah kegelapan?"
"Aaah, betul. . . betul . , . aku memang harus dipukul, lalu kita mau keluar dari mana?"
"Kau jangan cemas dulu, kita pasti akan memperoleh cara untuk keluar dari sini"
Dengan mengikuti aliran air yang amat deras dia memperhatikan sejenak keadaan disekelilingnya lalu sambungnya.
"Ie cici, untuk sementara kau tunggulah aku ditempat ini, aku akan pergi sebentar dan segera akan kembali lagi"
Sejak semula Lie Siauw Ie sudah dibuat gugup hatinya oleh keganasan air yang mengalir dengan amat derasnya, segera serunya dengan gugup.
"Aaaah .... kau jangan pergi, kamu mau kemana ? ? Jika air ini menggenangi sampai keatap lalu bagi mana ?"
"Mana mungkin" ujar Liem Tou tertawa. "Kau tidak mengerti ilmu berenang sebaliknya kerbau itu merupakan jagoan di dalam ilmu berenang"
Selesai berkata dia memperendah tubuhnya dan menyelam ke dalam air, sebenarnya dia orang bisa berjalan diatas permukaan air dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya tetapi dia tidak mau berbuat demikian disebabkan dia tidak ingin Lie Siauw Ie tahu akan kepandaian silat yang dimikinya sehingga berita ini tersiar luas dikalangan Bu lim dan mempersulit pekerjaannya dikemudian hari.
Saat ini air sudah meninggi sampai diatas kepalanya! Lie Siauw Ie dengan menunggang kerbaunya mengambang mengikuti aliran air.
Liem Tou sekali lagi mendongakkan kepala nya ke atas permukaan air, ketika dilihatnya Lie Siauw Ie sudah lolos dari mara bahaya segera dia berseru.
"Ie Cici, aku pergi dulu"
Sekali lagi badannya menyusup ke dalam air dan menyelam mengikuti arus air.
Beberapa saat kemudian dikarenakan tekanan air semakin lama semakin deras dia tidak dapat maju kembali barang selangkah langkah pun, pikirannya segera berputar . . . mandadak dia menemukan suatu cara.
Telapak tangannya dengan mengerahkan tenaga dalam melancarkan suatu pukulan dahsyat kedepan sehirgga terbukalah sebuah lorong di tengah air, cepat cepat tubuhnya maju beberapa langkah kedepan menanti air tersebut menutup kembali pukulan yang kedua menyusul kembali .... akhirnya perlahan demi perlahan dia berhasil mendekati gua air tersebut.
Tetapi dia semakin mendekati gua itu kelihatan aliran dari air yang mengalir keluar semakin deras sehingga sukar untuk ditahan bahkan sampai pukulan saktinyapun tidak bisa terhindar sudah tentu tubuhnya tidak dapat ma ju lebih dekat lagi.
Pada sampai saat sekarang ini dia tidak dapat maju kedepan, tidak punya tempat untuk digunakan sebagai tempat mempertahankan diri sehingga tak kuasa lagi tubuhnya terpental mundur kembali beberapa kaki jauhnya.
Bersamaan pula dia mendadak dia merasakan pinggangnya terbentur dengan suatu barang dengan cepat dia menoleh kebelakang terlihatlah barang yang baru saja ditumbuk olehnya adalah badan dari kerbau itu terpaksa sekali lagi dia memukul keatas permukaan.
Terlihatlah saat ini air semakin lama semakin memenuhi seluruh ruangan, Lie Siauw Ie dengan tangan memegang mutiara dan duduk di atas punggung kerbau, sikapnya amat gugup dan ketakutan sikali, sewaktu melihat Liem Tou munculkan dirinya diatas permukaan air segera teriaknya dengan suara yang amat keras.
Adik Tou sebentar lagi air akan meninggi hingga sampai diatas ruangan ini, kita harus berbuat bagaimana??.
Dalam hati Liem Tou pun merasa amat cemas sekali, sembari menjejak air serunya kembali terhadap Lie Siauw Ie.
Ie cici kau jangan cemas, air ini tidak akan menenggelamkan kita.
Selesai berkata sekali lagi tubuhnya menyusup kedalam air dan berenang menuju kearah dimana berasalnya aliran air itu, setelah berenang sampai tidak bisa maju kembali sekali lagi dengan menggunakan angin pukulannya paksakan diri maju lebih dekat lagi.
Tidak lama kemudian dia sudah hampir sampai didepan pintu gua itu, tanpa berpikir panjang lagi tubuhnya dengan cepat miring kesamping mendadak bergeser beberapa langkah kedepan menghindarkan diri dari pintu gua tersebut, ternyata gulungan air disana jauh lebih kecil bahkan tidak terasa adanya tekanan yang amat kuat, diam diam mengerahkan hawa murninya lalu berturut turut melancarkan air pukulan berantai, tubuhnya dengan amit cepat menyusup maju kembali beberapa kaki kedepan dan tepat tiba disamping gua dimana air tersebut mengalir keluar.
Dia tidak berani berlaku ayal lagi, tangannya dengan cepat memegang dinding batu disamping gua tersebut dan memegangnya erat erat lalu dengan cepatnya muncul kembali ke atas permukaan air.
Tampaklah air tersebut saat ini sudah hampir mencapai keatap. Lie Siauw Ie yang ada diatas punggung kerbau sedang bungkukkan badannya menghindarkan diri dari benturan dengan atap ruangan.
Dengan cepat Liem Tou menggapai ke arahnya dan menunjukkan jalan keluar buat dirinya, Lie Siauw Ie menyahut dan memerintahkan kerbaunya untuk berjalan maju.
Beberapa saat kemudian sesudah membuang tenaga yang amat besar akhirnya dia berhasil bersatu kembali dengan Liem Tou untuk siap melewati gua itu mencari jalan keluar.
Kita balik pada Lie Loo jie serta si gadis cantik pengangon kambing yang tergantung di dalam ruangan kuil tersebut, keadaannya pada saat ini benar benar sangat mencemaskan sekali, sepasang mata mereka dengan terbelalak memandang kearah telaga air yang amat tenang sama sekali tidak tampak gerakan yang mencurigakan.
Karena mereka takut didalam air sudah dipasang alat alat rahasia karenanya sampai saat ini mereka masih tidak berani menggunakan ilmu meringankan tubuhnya untuk berjalan di atas permukaan air, mereka takut pula jikalau Thiat Bok Thaysu dengan mengambil kesempatan ini melancarkan serangan yang akan mengancam jiwa mereka.
Lewat beberapa saat kemudian si gadis cantik pengangon kambing sudah merasa tidak sabaran lagi, bisiknya kepada Lie Loo jie.
"Tia, ayolah kita turun ke bawah saja, kita harus bergantungan sampai kapan disini?? apa lagi bergantung seperti begini harus membuang tenaga amat banyak, lebih baik kita meloncat turun saja."
"Wan jie kau bisa bartahan sabar sahut Lie-Loo jie dengan suara yang amat halus, jika lihat dari barang barang yang diatur di dalam kuil Siang Lian si ini kemungkinan sekali di bawah telaga ini sudah dipasang sesuatu alat rahasia yang amat berbahaya, apalagi kita tidak tahu berapa dalamnya air kolam ini jika didalamnya dia sudah pasangi sesuatu benda sedikit kita salah menginjak tentu akan terkena jebakannya, lebih baik kita menunggu sebentar lagi.
Dengan amat tenangnya mereka berdua menunggu kembali entah seberapa lamanya sedangkan sampai saat itu dari pihak Thiat Bok Thay su pun sama sekali tidak memperlihatkan gerak gerik yang mencurigakan.
Keadaan semakin tenang Lie Loo jie semakin dibuat tegang lagi, sedetikpun dia orang tidak pernah memecahkan perhatian untuk mengawasi air kolam serta keadaan di sekeliling ruangan kuil itu.
Beberapa saat kembali berlalu dengan tenangnya, mendadak. . ."
Permukaan air yang semula tenang mendadak beriak dan bergelombang dengan amat kerasnya diikuti gelembung gelembung air yang memenuhi permukaan kolam. Segera terdengar suara dari Thiat Bok Thaysu yang berteriak dengan amat gusarnya.
"Hey orang she Lie, ini hari anggap saja aku kurang waspada sehingga terjatuh ketanganmu asalkan nyawaku masih ada pada bulan lima tanggal lima yang akan datang aku pasti akan mencari dirimu diatas puncak pertama diatas Cing Jan, saat ini aku bisa melepaskan kamu orang satu kali tetapi lain kali. .. Hmmam. kau pasti akan binasa ditanganku".
Selesai berkata suasana kembali menjadi hening sekali, saat ini Lie Loo jie benar benar di buat kebingungan, dia orang mana mau mempercayai perkataannya?? cepat cepat ujarnya kepada putrinya si gadis cantik pengangon kambing.
"Entah si hweesio sedang memainkan permainan setan apa lagi? kita jangan cepat mempercayai perkataannya, lebih baik kita sedikit berjaga jaga.
Saat ini keadaan di dalam ruangan kuil itu sangat gelap sekali sehingga sukar untuk melihat lima jarinya sendiri, baik Lie Loo jie maupun si gadis cantik pengangon kambing dengan perhatian penuh terus menerus memperhatikan gelembung gelembung air yang semakin banyak di atas permukaan air tersebut.
Tiba tiba terdengar si gadis cantik pengangon kambing berseru dengan amat kaget
"Tia coba kau lihat, kenapa di tengah air itu amat terang sekali?"
Padahal sejak tadi Lie Loo jie sudah dapat melihatnya, cuma saja tidak sampai diutarakan keluar. Kini ketika dilihatnya sinar terang itu semakin lama semakin membesar semakin lama semakin jelas hatinyapun terasa semakin menegang di dalam anggapannya Thiat Bok Thaysu sudah mengeluarkan permainan kotornya lagi.
"Wan-jie berhati hati" serunya kepada si gadis cantik pengangon kambing memberi peringatan, kemungkinan sekali hweesio terkutuk itu mengeluarkan permainan terkutuknya."
Siapa tahu baru saja dia selesai berkata mendadak dari permukaan tanah memancar keluer tiang tiang setinggi dua, tiga kaki keatas disusul munculnya seekor binatang besar dari dasar air tersebut.
Melihat binatang itu kembali si gadis cantik pengangon kambing itu berteriak kaget.
"Aduh.. .seekor kerbau, lalu Ie cici serta Liem Tou bocah cilik tukang mencelakai orang sudah pergi kemana??"
Lie Loo jie yang melihat munculnya kerbau itu didalam benaknya segera teringat kembali pemandangan sewaktu ia membinasakan para hweesio di luar kuil, hawa amarahnya sekali lagi berkobar di dalam hatinya.
"Kurang ajar, kembali kerbau terkutuk ini."
Lalu ujarnya kapada si gadis cantik pengangonn kambing.
"Binatang ini jika dibiarkan hidup terus cuma akan mendatangkan bahaya saja buat manusia, kau tunggulah sebentar disini aku mau turun kesana membinasakan dirinya"
Gadis cantik pengangon kambing yang pernah tinggal bersama sama kerbau itu diatas gunung Go bie dalam hatinya tahu benar kerbau ini penurut sekali, terhadap pembunuhan secara besar besaran terhadap para hweesio hweesio di kuil itu sekalipun dia melihat dengan mata kepala sendiri tapi dia masih tidak man percaya kalau sang kerbau telah berubah sifat.
"Tia, kau jangan binasakan kerbau itu, ujarnya dengan gugup. Aku lihat kerbau ini beebuat demikian tentu ada sebab sebabnya, lebih baik kau orang tua ampuni nyawanya sekali ini.
Lie Loo jie tidak mau menggubris, tangannya mengendor melepaskan pegangannya pada rantai baja itu lalu berjumpalitan di tengah udara dan menubruk ke bawah, sahutnya.
Jika dibiarkan hidup lama lagi, kemungkinan tidak ada oraag yang bisa meaguasai dirinya kembali.
Bersamaan dengan gerakannya itu tubuhnya meluncur kebawah sedang tangannya dengan dahsyat melancarkan pukulan gencar menghantam ke bawah membuat permukaan air pada muncrat muncrat ke empat penjuru.
Agaknya kerbau itupun merasakan adanya bahaya yang mengancam, kepalanya segera diangkat mendengus panjang.
Saat itu angin pukulan telah menghantam ke bawah, kelihatannya kerbau itu dengan cepat akan terbinasa di tangan Lie Loo jie.
Tiba tiba dari samping tubuhnya muncrat keluar butiran air yang amat besar, diikuti munculnya Liem Tou sambil meaggendong erat erat tubuh Lie Siauw Ie.
"Hey, Hui Tui Jie, jangan melukai kerbauku" teriak Liem Tou dengan suaranya yang amat keras.
Lie Loo jie menjadi tertegun, dengan cepat dia menarik lagi angin pukulannya, saat itu Liem Tou sudah melempar tubuh Lie Siauw Ie yang kecil ramping itu kearah Lie Loo jie.
Lie Loo jie tidak bisa berbuat apa apa lagi terpaksa dia menyambut datangnya tubuh Lie Siauw Ie sedangkan tubuhnya yang hampir mencapai permukaan air dengan cepat mengerahkan tenaga dalamnya kembali sedikit menutul ujung tanduk sang kerbau itu dengan menggunakan jurus Pek Hok Cong Thian atau bangau putih menerjang ke langit, tubuhnya dengan lurus meloncat keatas dan menyambar kembali rantai baja itu untuk bergantungan.
Dan pada saat bersamaan pula Liem Tou dengan cepat berenang kemudian menaiki pungguug kerbaunya, teriaknya dengan keras kepada Lie Loo jie.
"Hey Hui Tui Jie sudah lama kita tidak bertemu, walaupun larimu sangat cepat sekali tetapi kali ini tidak bisa menandingi kecepatan dari larinya kerbauku, tadi kenapa kau orang mau membinasakan dirinya ?"
Lie Loo jie yang melihat munculnya Liem Tou secara tiba tiba di dalam ruangan itu diam diam hatinya merasa ragu ragu bercampur curiga pikirnya.
Selama setahun ini entah bocah gendeng ini pergi kemana saja? Terang terangan tadi aku melihat dia orang tergantung di atas tanduk kerbaunya dalam keadaan terluka bagaimana sekarang bisa jadi sehat waalfiat kembali ?
Tak terasa lagi dengan mengggunaksn sepasang biji matanya yang jeli dan tajam dia orang memperhatikan diri Liem Tou dengan sanngat telitinya, tampak sinar matanya amat halus sekali, kedua belah keningnya terlihat biasa agaknya sama sekali tidak mengerti akan ilmu silat, Tetapi sewaktu teringat kembali akan keganasan dari kerbaunya dia menjadi khekie juga.
Aku lihat kerbaumu, itu memang cepat sekali, tetapi aku rasa semakin lama kerbaumu itu akan jadi seekor kerbau liar yang ganas.
Hui Tui Jie kau jangan omong guyon. Seru Liem Tou membantah. Kerbauku bukan saja larinya cepat bahkan bisa membedakan mana yang jahat mana yang baik, asalkan orang jahat pasti dia akan bertemu dengan tandingannya.
Mendengar perkataan itu Lie Loo jie menjadi semakin gusar, pikirnya.
Terang terangan bocah cilik ini sedang mencari bahan guyon buat diriku, di badan orang jahat tidak ada tanda tanda yang lain juga tidak ada bau yang istimewa, cuma binatang saja bagaimana bisa membedakan hal itu?"
Baru saja dia mau berbicara untuk memberi sedikit nasehat pada diri Liem Tou mendadak terdengar Lie Siauw Ie sudah menimbrung. Suhu perkataan dari adik Tou sama sekali tidak palsu, hal ini memang benar benar nyata.
Siapa yang suruh kau banyak omong?" maki Lie Loo jie dengan wajah keren, sekalipun kau berbicara lebih banyak akupun tidak akan percaya, manusia saja kadang kala tidak bisa membedakan baik buruknya manusia apalagi seekor kerbau."
Lie Siuuw Ie tidak mau ambil perduli makian dari Lie Loo jie ini timbrungnya kembali.
"Tapi sedikitnya para hweesio dari kuil Siang Lian si tidak ada seorangpun yang baik"
"Sudah. . . sudahlah, si gadis cantik pengangon kambing dengan cepat. Ie cici kau jangan berbicara lagi.
Lagi ujarnya pula kepada Lie Loo jie.
Tia, tidak usah banyak omong lagi, coba kau lihat kita bergantungan di atas rantai baja seperti macam apa?" cepat kita cari akal untuk keluar dari sini "
Lie Loo jie segera merasa bahwa perkataannya sedikitpun tidak salah, ujarnya kemudian kepada Liem Tou.
Liem Tou aku dua kali menolong kau orang lolos dari kematian. Kenapa kau selalu mencari ribut dengan aku si orang tua?" sekarang kau bilang punya kerbau yang berkepandaian lihay coba aku lihat kau bisa keluar kuil ini tidak?
Apa yang sukar?" sahut Liem Tou tertawa. Jika kerbauku ini tidak bisa keluar dari ruangan kuil seperti ini mana mungkin bisa disebut kerbau ajaib?"
"Hee . .. sejak kapan kerbaumu ini mendapat julukan sebagai kerbau ajaib?"
Kerbau yang tidak seperti kerbau biasa sudah tentu disebut sebagai kerbau ajaib. Sembari memberikan jawabannya ia memperhatikan dengan amat teliti di sekeliling tempat itu, terlihatlah dinding empat penjuru dari ruangan itu terbuat dari baja yang amat kuat dan tidak ada jalan yang bisa ditembus.
Jalan semula yang dilaluinya tadi beserta kerbaunyapun kini sudah tertutup oleh pintu baja yang amat kuat, jika ditinjau dari keadaan sekarang ini agaknya satu satunya jalan untuk menerjang keluar hanyalah melalui jalan pintu depan saja.
Liem Tou yang melihat tempat itu dapat di coba coba dengan diam diam dia kerahkan tenaga dalamnya yang disalurkan kearah lengannya, bersamaan pula dengan menggunakan ilmu untuk menyampaikan suara perintahnya kepada sang kerbau.
"Su ". Seperti baru saja mendapat firman kaisar, kerbau itu dengaa cepat dongakkan kepalanya mendengus panjang, dengan berenang dia menerjang terus ke arah pintu depan.
Walaupun gerakannya amat perlahan tetapi jauh berbeda dari binatang biasa, hanya di dalam sekejap saja sang kerbau sudah tiba disamping pintu depan. Diam diam Liem Tou menjepit perutnya sehingga kerbau itu kesakitan dan menundukkan kepalanya menerjang pintu depan dengan mengambil kesempatan inilah Liem Tou melancarkan satu pukulan dahsyat ke depan.
Braak . . . dengan disertai suara bentrokan yang amat keras pintu besar itu berhasil dipukul hancur sehingga terpental lebar lebar.
Lie Loo jie, Lie Siauw Ie serta gadis Cantik pengangon kambing yang melibat kehebatan tersebut sudah menganggap hal itu hasil dari terjangan sang kerbau tak terasa lagi sudah pada merasa bergidik dan menjulurkan lidahnya kekaguman.
Lie Loo jie yang melihat pintu ruangan kuil itu terbuka dengan amat girangnya cepat-cepat berseru. Ie jie Wan jie, cepat lari keluar.
Perkataannya baru saja salesai diucapkan dengan menggunakan gerakkan tubuh Hwee Yan Cuan Lian atau burung walet melewati pagar dia sudah berkelebat keluar diikuti oleh si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie dari belakangnya.
Siapa tahu baru saja Lie Loo jie mencapai pinggiran pintu mendadak dari bawah permukaan tanah terdengar suara desiran yang keras di dalam sekejap saja seluruh air yang menggenangi ruangan itu lenyap tak berbekas sebaliknya permukaan tanah dari ruangan kuil yang sebenarnya secara tiba tiba menaik lebih tinggi sedang pada saat yang bersamaan pula Lie Loo jie sedang melewati pintu, kurang sedikit saja dia akan terbentur dengan pintu itu.
Melibat hal itu gadis cantik pengangon kambing menjadi sangat kaget sekali.
"Tia hati hati teriaknya dengan keras."
Dia menjadi agak tertegun, tampaklah bayangan hitam berkelebat di depannya, patung Buddha yang semula berada di depan pintu kini sudah mumbul kembali ke atas dan menghalangi di depan tubuhnya.
Saat ini sepasang lengannya yang terbuat dari besi sedang dipentangkan siap merangkul pinggang dari Lie Loo jie.
Lie Loo jie benar benar amat terperanjat sekali.
"Celaka ..." teriaknya keras.
Di dalam keadaan yang amat kritis tubuhnya dengan cepat melayang beberapa kali menjauh tempat tersebut sedangkan hatinya merasa berdebar debar amat kerasnya.
Pikiran kagetnya belum lenyap dari benaknya tiba tiba ....
"Braak..." terdengar suara bentrokan yang amat keras patung Buddha itu sudah kena tubruk kerbau yang sedang menerjang dari belakangnya sehingga seketika itu juga hancur berantakan menjadi lima bagian kecil kecil.
Bersamaan dengan itu pula terdengar suara tertawa terbahak bahak yang amat keras dari Liem Tou.
"Huui Tui Jie jangan takut, asalkan ada kerbau ajaibku disini tanggung kau tidak akan menemui kerugian".
Lie Loo jie yang dikatai begitu mau tertawa tidak dapat mau marahpun sungkan dengan wajah yang adem dia berjalan keluar dari pintu ruangan lalu memandang kearah Liem Tou tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Saat ini si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie pun mengikuti dari belakangnya berjalan keluar, setelah memandang cuaca yang mendekati fajar pandangannya segera beralih ke arah Liem Tou yang sedang duduk diatas punggung kerbaunya.
Selama setahun ini kelihatannya dia bertambah tampan dan gagah, sepasang matanya walaupun tidak memancarkan sinar aneh tetapi bening bagaikan kaca jeli laksana mutiara cuma saja pakaian yang dipakai terlalu kotor dan sudah koyak koyak sehingga tidak sedap dipandang.
Melihat potongannya si gadis cantik pengangon kambing segera tertawa cekikikan, ujarnya.
"Koko muka hijau selama setahun ini Ie cici setiap hari merindukan dirimu kau sudah pergi ke mana saja??"
Begitu perkataan tersebut diucapkan keluar baik Lie Siauw Ie maupun Liem Tou menjadi amat malu, air mukanya seketika itu juga berubah memerah, mereka merasa amat malu bercampur gembira sedangkan Liem Tou juga tidak banyak membantah cuma dengan tertawa malu malu dia bungkam dalam seribu bahasa.
Lie Siauw Ie segera memberitahukan apa yang diketahuinya kemarin malam dari Liem Tou.
Seiama setahun ini adik Tou berlontang lantung di dalam dunia kangouw dan berkelana ke seluruh daerah Tionggoan ini.
"Hmmm, Liem Tou" tiba tiba Lie Loo jie mendengus dengan amat dinginnya, orang budiman tidak akan main umpet umpetan, sejak kapan kitab pusaka To Kong Pit Liok kau dapatkan ? ? Ayoh cepat bilang !"
Mendengar perkataan tersebut Liem Tou jadi sangat terperanjat, diam diam pikirnya.
"Aku masih mengira dia tidak dapat melihat keadaanku yang sebenarnya, kiranya dia tidak ingin membuka kartu di tengah orang banyak.
Baru saja dia mau menceritakan kisah yang sebenarnya terdengar Lie Loo jie sudah melanjutkan kata katanya.
"Jikalau kitab pusaka To Kong Pit Liok itu tidak kamu ambil ambil kemungkinan sekali barang itu akan diambil oleh orang lain."
Dengan perkataannya ini jelas membuktikan kalau perkataannya tadi cuma merupakan dugaannya saja dan bukan karena dia sudah bisa melihat kalau dirinya telah memiliki kepandaian silat yang amat tinggi sekali.
Tetapi kini Lie Loo jie sudah berbicara kalau tidak diberitahu tidak enak tetapi kalau di beri tahu juga tidak baik sekalipun dia adalah seorang yang cerdik tetapi di dalam keadaan yang kepepet dia tidak dapat mengucapkan sepatah katapun juga, dengan wajah yang berubah merah seperti kepiting rebus duduk dengan malunya di atas punggung kerbau.
Lie Loo jie sekalian yang melihat lama sekali dia tidak mengucapkan sepatah katapun tak terasa pada menengok ke arahnya dengan disertai penuh harapan, mereka sangat mengharapkan Liem Tou sudah berhasil memperoleh kitab pusaka To Kong Pit Liok itu.
Mendadak Lie Loo jie mendepakkan kakinya ke atas tanah lalu makinya terhadap si gadis cantik psngangon kambing serta Lie Siauw Ie.
"Kalian berdua bisa mengambil keputusan sendiri untuk turun gunung, sudah tentu kalian tidak membutuhkan aku orang lagi yang ikut mengurus bukan?"
Sambil berkata mendadak sepasang telapak tangannya melancarkan serangan ke depan sehingga terasalah segulung angin pukulan laksana bertiupnya topan melanda permukaan tanah di samping badannya sehingga membuat pasir dan batu krikil pada berterbangan memenuhi angkasa.
Tubuhnya pada saat itu pula dengan kecepatan bagaikan kilat meloncat ke atas lantas berlalu dari tempat itu.
Ketika si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie sadar kembali Lie Loo jie sudah ada puluhan kaki jauhnya dari sana.
Didalam keadaan lemas, tak terasa lagi si gadis cantik pengangon kambing melelehkan air matanya, panggilnya dengan keras.
"Tia ...!"
Belum selesai dia mengucapkan kata kata selanjutnya Lie Loo jie sudah berjumpalitan kembali di tengah udara lalu lenyap dibalik tembok pekarangan kuil Siang Lian Si.
Kini tinggal gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie saling berpandangan, tertawa si gadis cantik pengangon kambing itu dengan setengah berbisik ujarnya.
"Ie Cici selamanya ia belum pernah marah seperti bal ini, aku ingin pulang ke gunung."
Wan moay semuanva ini aku yang salah ujar Lie Siauw Ie dengan nada menyesal.
Lain kali jika bertemu kembali dengan suhu aku tentu akan memberitahukan kepada suhu dia orang tua untuk tidak menyalahkan dirimu lagi, semua ini hanyalah kesalahanku seorang.
Sambil berkata tak terasa lagi dari ujung matanya yang jeli menetes keluar titik air mata yang membasahi pipinya.
Liem Tou yang melibat mereka berdua pada menangis, dengan bingung hiburnya.
"Wan moay, Ie cici kalian jangan menangis lagi, lain kali jika bertemu kembali dengan Lie Loo cianpwee biarlah aku membantu kalian berbicara, aku tentu akan menyuruh dia orang jangan menyalahkan diri kalian kembali, tetapi kalianpun salah kenapa tidak mau mendengar nasehat dia orang tua.
Si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie dapat turun gunung tanpa pamit sebetulnya dikarenakan hendak mencari diri Liem Tou, kini mendengar dari nada ucapannya dia malah sebaliknya menyalahkan tindakan mereka berdua tak terasa lagi si gadis cantik pengangon kambing melototi dirinya sekejap sebaliknya Lie Siauw Ie semakin merasakan hatinya tidak enak sekali.
"Adik Tou bentaknya dengan nyaring.
"Kau sedang bilang apa? kita turun gunung tanpa pamit semuanya dikarenakan kau, tidak kusangka sama sekali kau bisa mengucapkan kata kata seperti ini"
Liem Tou sebenarnyapun sudah tahu dia cuma sengaja berbicara untuk menggoda mereka saja apalagi diapun tahu Lie Loo jie bukan bersungguh sungguh sedang memarahi mereka sebaliknya dikarenakan berturut turut dikalahkan olah kelihayan kerbau ajaibnya ini sehingga untuk melindungi kewibawaan serta mukanya sengaja dia berpura pura marah dan mengambil kesempatan itu untuk berlalu dari sana.
Kini mendengar bentakan dari Lie Siauw Ie, ia segera tertawa kecil, mohonnya dengan suara setengah merengek.
"Oooh Ie cici aku cuma berguyon saja. bagaimana kalian sudah menganggapnya bersungguh sungguh? urusan ini bukanlah dikarenakan kesalahan dari kalian berdua, lain kali jika bertemu kembali dengan Lie Loo cianpwee biarlah aku suruh dia orang pukul diriku satu kali untuk merendahkan hawa amarahnya.
'Hmm, siapa yang mau berguyon dengan dirimu?" bentak Lie Siauw Ie sambil melotot. Jikalau kau orang sampai kena pukul suhu, mungkin tulangpun akan remuk.
"Remuk ya biar remuk toh, siapa suruh kau berdua turun gunung tanpa pamit."
Sekalipun tulangku dipukul remuk aku juga tidak bisa berkata apa apa lagi.
Perkataannya ini diucapkan sangat lucu sekali membuat si gadis cantik pengangon kambing menjadi tertawa cekikikan.
Hujan segera reda dan awan tersapu bersih kelihatan sekali wajahnya semakin cantik. "Wan Moay moay kau mentertawakan apa?" Seru Liem Tou dengan suara yang keras.
Apakah kau kira omonganku sudah salah?"
Sepasang mata yang amat jeli dari si gadis cantik pengangon kambing segera melirik sekejap ke arah Liem Tou lalu melirik pula ke arah Lie Siauw Ie, ujarnya sambil tertawa.
Jika kalau ayahku sampai memukul remuk tulangmu kemungkinan sekali hati Ie cici pun akan ikut hancur lebur. Liem Tou yang mendengar perkataan tersebut benar benar merasa sangat kegirangan.
Eeeeeh.. omongan kok lucu sekali serunya sambil tertawa geli. Lie locianpwee pukul badanku bagaimana sakit di badannya Ie cici??'
Lie Siauw Ie yang mendengar tanya jawab dari si gadis cantik pengangon kambing serta Liem Tou sejak tadi tadi sudah dibuat kemalu maluan, wajahnya memerah hingga sampai dilehernya.
"Sudah. . .sudahlah." serunya dengan manja, Wan moay kau jangan cari gara gara terus, coba kau lihat cuaca sudah mulai terang tanah, orang yang melakukan perjalananpun sudah tidak sedikit ayo kita kembali ke rumah penginapan.
"Ehmmm tetapi kuil Siang Lian si ini merupakan tempat mesum yang amat kotor jika tidak dibakar bukankah hanya meninggalkan bencana buat orang lain??"
Lie Siauw Ie lantas mengangguk tanda menyetujui, baru saja dia mau menjawab Liem Tou sudah keburu berkata.
Menurut penglihatanku para hweesio dari kuil ini kebanyakan sudah mati atau terluka aku kira tidak ada kekuatan lagi buat mereka untuk berbuat jahat aku kira sekalipun kuil Siang Lian si ini tidak kita hancurkan orang lain sama saja akan menghancurkannya, buat apa kita repot-repot membuang tenaga??"
"Betul, perkataannya sedikitnun tidak salah" sela si gadis cantik pengangon kambing menyetujui. Kalau begitu cepat kita berangkat kembali ke rumah penginapan."
Mereka bertiga setelah mengambil Keputusan ini, si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie segera meloncat keluar melewati tembok pekarangan sedangkan Liem Tou dengan menunggang kerbau berjalan keluar melalui pintu depan.
Sesampainya di jalan raya mereka segera mempercepat langkahnya kembali ke kota. Tidak selang lama kemudian sampailah mereka di depan rumah penginapan di luar kota di mana mereka menitipkan kambing kambingnya itu.
Dari tempat kejauhan tampaklah orang yang sedang berkerumun di depun rumah penginapan itu agaknya kurang lebih berada di atas ratusan orang banyaknya.
Melihat hal ini si gadis cantik pengangon kambing menjadi keheranan dibuatnya. "Eeeeh sudah terjadi urusan apa?"
Tubuhnya dengan cepat menerobos terlebih dahulu ke depan seorang kakek yang berada di sana cepat katanya.
"Aeey orang tua. sebenarnya didalam penginapan ini terjadi urusan apa"
Sewaktu si kakek tua itu melihat si gadis cantik pengangon kambing adalah seorang perempuan yang sangat cantik sekali, semula dibuat tertegun tetapi sebentar kemudian sambil menghela napas panjang sahutnya.
"Aaaaiii . . , tahun ini semakin lama semakin berbahaya, nona, pernahkah kamu orang mendengar nama penjahat naga merah ?
Jika kau kepingin mengetahui urusan ini, cuma tahu namanya saja tentu mengetahui sendiri apa yang telah terjadi di tempat ini."
Mendengar disebutnya nama si penjahat naga merah, si gadis cantik pengangon kambing menjadi amat terperanjat sekali. "Apakah kemarin malam si penjahat naga merah sudah menggerayangi rumah penginapan ini ? tanyanya dengan cemas.
Memang aneh sekali, lalu besarkah kerugian yang di derita di dalam rumah penginapan ini ?"
"Kerugian . ? Seru kakek tua itu sambil memandang sekejap ke arah gadis cantik pengangon kambing itu. Kalau tempat yang sudah digerayangi oleh si penjahat naga merah sudah tentu barangnya akan ludas semuanya.
Si gadis cantik pengangon kambing yang secara tiba tiba mendengar kemarin malam si penjahat naga merah sudah melakukan pencuriannya kembali sudah tentu tidak mau percaya, bukankah kemarin malam jelas sekali si penjahat naga merah sedang melakukan pertempuran sengit melawan ayahnya, bagaimana dia melakukan pencuriannya ditempat ini?
Tak tertahan lagi saking herannya pergelangan tangan kakek tua itu dicekal semakin kencang teriaknya.
Didalam dunia ini mana mungkin bisa terjadi urusan ini, coba kau orang tua jelaskan lebih terang lagi.
Kakek tua yang pergelangan tangannya di cekal erat erat oleh gadis cantik pengangon kambing itu segera merasakan kesakitan sehingga menyusup ke dalam tulang sumsumnya, teriaknya dengan keras.
"Aduh tolong ... ! "
Saking sakitnya dia jatuh tak sadarkan diri ke arah belakang, waktu itulah si gadis cantik pengangon kambing menjadi gugup apalagi kakek itu pada saat ini pucat pasi bagaikan mayat.
Saat itulah orang orang yang sedang menonton keramaian dengan suara yang ramai pada berpindah mengerubungi diri gadis cantik pengangon kambing.
Untung saja Lie Siauw Ie serta Liem Tou cepat datang, Lie Siauw Ie yang sejak kecil sudah terbiasa menghadapi segala perubahan yang terjadi secara mendadak dengan cepat maju ke depan menepuk punggung kakek itu.
Sebentar kemudian kakek tua itu baru sadar kembali dari pingsannya, si gadis cantik pengangon kambing segera minta maaf berulang kali mengiringi kakek tua itu berlalu dari sana sambil mengelus elus pergelangan tangannya
si gadis cantik pengangon kambing yang kepingin cepat cepat mengetahui keadaan yang sesungguhnya segera ujarnya kepada Liem-Tou.
"Hay Koko muka hijau kau tunggu sebentar di sini biarlah aku serta Ie cici pergi kesana memeriksa sebentar ."
Liem Tou mengangguk tanda menyetujui, dengan demikian si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie segera mendesak orang orang lainnya untuk maju kedepan.
Sesampainya di depan pintu rumah penginapan baik Lie Siauw Ie maupun si gadis cantik pengangon kambing segera bau amis darah yang sangat menusuk hidung, tak terasa lagi hati mereka berdua pada berdebar debar amat kerasnya.
Tiba tiba. , .mereka menjerit keras saking kagetnya dan berdiri tertegun didalam ruangan itu.
Kiranya didalam rumah penginapan tersebut penuh berceceran darah segar dengan mayat mayat yang bergelimpangan dengan amat ngerinya, suasana sungguh menyeramkan sekali.
Melihat keadaan yang demikian mengerikan ini si gadis cantik pengangon kambing segera memejamkan matanya rapat, serunya dengan terharu.
"Ie cici, sungguh kejam si penjahat naga merah itu."
Bagaimanapun juga Lie Siauw Ie yang usianya jauh lebih tua jadi orang pun semakin tenang, setelah bertanya dengan seorang dia baru mengetahui kalau penghuni penginapan kecil ini hanya didalam satu malaman saja sudah dibinasakan semuanya, bahkan sampai para tamu yang sedang menginap di rumah penginapan itu pun tidak luput dari penjagalan secara besar besaran ini.
Karenanya setelah mengetahui jelas akan hal itu dia tak perlu memeriksa kembali keadaan rumah penginapan tersebut, teringat akan kawanan kambing yang dititipkan di rumah penginapan itu segera dia menarik tangan si gadis cantik pengangon kambing untuk diajak ke kandang,
Si gadis cantik pengangon kambing segera menyambut dan mengikuti dari belakangnya.
Sesampainya di depan pintu rumah penginapan itu mereka berbelok ke sebelah kanan yang merupakan kandang kuda. Lie Siuw Ie masih ingat kalau kawanan kambing mereka ditempatkan di dalam kandang kuda itu.
Hubungan antara si gadis cantik pengangon kambing dengan kawanan kambingnya benar benar sangat erat sekali, tempo hari masih berada diatas puncak Ay Leng diatas gunung Go bie, kecuali ayahnya Lie Loo jie dia cuma berkawan dengan kawanan kambingnya itu.
Saat ini hatinya benar benar merasa sangat ketakutan sekali, dia takut kambing kambingnya itu sudah terbunuh semuanya, diam diam doanya did alam hati.
"Semoga saja kawanan kambingku berada di dalam keadaan sehat sehat saja"
Si Gadis dengan cepat mencabut seruling pualamnya lalu ditiup dengan amat nyaringnya.
Siapa tahu kawanan kambing yang biasanya pasti akan mengembek setelah mendengar tanda itu sekarang sama sekali tak memberikan reaksinya.
si gadis cantik pengangon kambing menjadi amat terperanjat, tanpa perduli disekitarnya banyak orang yang menonton mendadak tubuhnya meloncat ke tengah udara setinggi beberapa kaki lalu melewati atas kepala semua orang dan berkelebat menuju ke kandang kuda itu.
Dengan kejadian ini seketika itu juga memancing kegaduhan di antara para penonton, mereka beribut ribut untuk menuju ke kandang kuda semuanya.
Si gadis cantik pengangon kambing sesampainya di depan pintu kandang kuda itu seketika itu juga merasakan hawa dingin berdesir dari dasar lubuk hatinya, seluruh tubuhnya gemetar dengan amat keras tampaklah kawanan kambingnya sudah pada menggeletak dan ceceran darah membanjiri seluruh permukaan tanah. Tidak ada seekorpun yang berhasil meloloskan diri dari bencana ini.
Dengan termangu mangu si gadis cantik pengangon kambing itu berdiri di sana, semakin dipikir dia merasa semakin sedih tak kuasa lagi titik air mata menetes keluar membasahi pipinya.
Waktu itupun Lie Siauw Ie sudah menyusul di sana, sewaktu melihat keadaan yang sangat mengerikan itu hatinya merasa terjeblos ke dalam jurang yang sangat dalam, apalagi semuanya ini dikarenakan dirinya yang ngotot mau turun gunung mencari Liem Tou sehingga dirinya menemui kerugian yang demikian besarnya, tak terasa lagi hatinya benar benar terasa amat berduka.
Lama sekali mereka berdua berdiam diri tak berbicara, dan pada saat itu orang orang yang menonton keramaian sudah pada mengumpul datang untuk melihat gadis cantik yang baru saja lewat di atas kepala mereka, melihat hal itu Lie Siauw Ie segera menepuk pundaknya dengan perlahan.
"Wan-moay kau jangan bersedih hati, hiburnya. Kesemuanya ini adalah kesalahanku sendiri, sekarang orang orang itu sudah pada ngumpul kemari, lebih baik kita pargi saja."
"Tidak, bal ini tidak ada sangkut pautnya dengan Ie cici!" bentak gadis cantik pengangon kambing itu dengan suara tegas. "Kesemua ya ini disebabkan kekejaman dan keganasan diri si penjahat naga merah itu, aku sangat benci kepadanya, tadi ayah marah marah sebetulnya aku kepingin puiang ke gunung saja tapi sekarang tidak akan puiang lagi, ayahku sudah mengadakan perjanjian dengan si hweesio kurus hitam untuk bertemu di puncak pertama Cing Jan. Waktu itu si penjahat naga merah pasti ikut datang, saat itulah aku akan menyu ruh dia menggantikan kambing kambingku itu"
"Benar, urusan lain kali bisa kita bicarakan di kemudian hari saja, sekarang kita harus berangkat meninggalkan tempat ini terlebih dahulu.
Si gadis cantik pengangon kambing itu lama sekali tidak menjawab, sedangkan waktu itu sudah ada banyak orang yang mengerubungi tempat itu sambil mengutarakan pendapatnya masing masing.
"Aaa. . .sungguh cantik kedua orang gadis muda ini.
"Hmmmn . .cantiknya seperti bidadari yang turun dari kahyangan."
Perempuan itu mempunyai kepandaian yang begitu tinggi sudah tentu perempuan yang lainnya mempunyai kepandaian silat yang tidak jelek"
"Kedua orang perempuan ini sangat aneh sekali, apa mungkin mempunyai hubungan dengan si penjahat naga merah itu??"
Semakin mendengar Lie Siauw Ie semakin tidak puas. terpaksa dia mendesak si gadis cantik pengangon kambing itu untuk cepat cepat meninggalkan tempat itu,
si gadis cantik pengangon kambing tetap tidak menjawab, tiba tiba sambil menunding ke arah mayat kambingnya dia berseru keras.
"Ie cici, coba kau lihat."
"Lihat apanya??" tanya Lie Siauw Ie keheranan.
Coba kau lihat pada leher setiap kambing itu pasti ada satu bekas darah yang memancang, tetapi kambing itu bukan binasa dikarenakan hal itu mereka pasti binasa tertusuk pedang.
"Apa mungkin itulah yang disebut tanda pengenal ular merah?" tanya Lie Siauw Ie setelah termenung sebentar.
"Aku kira mungkin benar" jawab si gadis cantik pengangon kambing sambil mengangguk tetapi ada satu urusan yaug aku merasa kebingungan, kemarin malam si penjahat naga merah yang kita temui menggunakan cambuk Ci Liong pian ssdangkan kawanan kambing ini binasa tertusuk padang, bukankah hal ini sangat aneh sekali ???
Lie Siauw Ie sebera merasakan perkataannya sedikitpun tidak salah, dia mengangguk.
"Kelihatannya ada orang yang memalsukan namanya."
Mungkin, tetapi aku rasa kita harus menginap beberapa hari di dalam kota kemungkinan sekali dengan demikian kita bisa memperoleh sedikit tanda tanda yang jelas.
Demikianpun baik juga, sekarang lebih baik kita cepat cepat meninggalkan tempat ini. Si gadis cantik pengangon kambing itu segera mengangguk, setelah memandang beberapa kejap lagi ke atas mayat kambing kambing kesayangannya dia baru putar badan berlalu dari sana.
"Tiba-tiba". Suara menyambarnya senjata rahasia memecahkan udara mengancam tubuh mereka, si gadis cantik pengangon kambing menjadi sangat terperanjat bentaknya.
"Ie cici, hati hati senjata rahasia." Tubuhnya dengan cepat menyingkir kesamping sedangkan Lie Siauw Ie yang agak terlambat untuk menyingkir segera merasakan adanya sambaran senjata rahasia itu terpaksa cepat cepat menjatuhkan diri ke depan.
"Sreet. sreeet, . dua batang paku pencabut nyawa dengan amat cepatnya menancap pada tiang kandang kuda itu untung saja mereka cepat cepat menyingkir kalau tidak, mungkin, tubuh mereka berdua sudah kena dihajar.
Si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie segera menoleh kebelakang mereka berdua bersama sama mencabut keluar pedang serta seruling pualamnya.
Para penonton yang melihat kedua orang gadis itu secera tiba tiba mencabut keluar senjata tajamnya bahkan dari wajahnya kelihatan sangat mencurigakan sekali segera pada ketakutan dan saling dorong mendorong untuk cepat cepat mengundurkan diri dari tempat itu.
Di dalam keadaan yang sangat kacau itu bila si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ia mau mencari orang yang menyambitkan senjata rahasia itu menjadi sukar sekali.
Mereka berdua berdiri saling berpandangan lama sekali, kelihatannya kita tidak bakal bisa mencarinya Lie Siauw Ie berseru dengan gemas.
Wan Moay bajingan ini sangat licik sekal1 tampaknya kita tak perlu nguber dia lagi, baiklah kita mengikuti perkataanmu tadi untuk sementara tinggal di kota Tang Yang dulu jika dia orang mau mencelakai kita berdua lagi bukankah kita tidak usah pergi mencari dirinya dengan susah ??
"Betul, mari kita berangkat," seru gadis cantik pengangon kambing itu kemudian sambil mengangguk.
Mereka berdua segera menyimpan kembali senjatanya masing masing dan berjalan keluar dari tempat itu.
Saat itulah terdengar Liem Tou sedang tertawa terbahak bahak diikuti dengan suara teriakan "Jan, Seng, Cu, Beng, Tong, Piah Hoan" serta Jan Seng, Seng Beng, Cu Piah, Cu Beng serta Tong Su delapan buah kata secara bergantian, sedangkan orang yang semula menonton keramaian itu pun kedengaran sedang tertawa terbahak bahak dan bersiul dihadapan mereka.
Mendengar suara tersebut Lie Siauw Ie menjadi sangat cemas, ujarnya.
"Wan Moay cepat sedikit, entah adik Tou sudah memancing kegaduhan apa lagi?"
Si gadis cantik pengangon kambing itu segera menarik ujung bajunya.
Ie cici sahutnya. Kita lewat samping sini saja biar sampai lebih cepat.
Lie Siauw Ie, tidak menjawab lagi mereka berdua dengan cepat memutar ke samping jalan lalu berlari dengan cepatnya kedepan.
Beberapa puluh kaki jauhnya kemudian mendadak tampaklah oleh mereka sinar golok yang menyilaukan mata berkelebat dengan tak henti hentinya di bawah sinar matahari.
Sedangkan Liem Tou dengan menggunakan kerbaunya sedang menerjang ke kanan menerjang ke kiri di antara bayangan golok tersebut, tetapi sungguh aneh sekali ternyata tak ada sebilah golokpun yang berhasil mengenai ujung bajunya.
Liem Tou kelihatan sangat bangga sekali, wajahnya riang sedang mulutnya tak hentinya memperdengarkan suara tertawa terbahak bahaknya yang amat keras.
Sewaktu Lie Siauw Ie sera si gadis cantik pengangon kambing itu dapat melihat siapa-siapa yang sudah mengayunkan golok goloknya itu tak terasa lagi pada berseru keheranan.
Kiranya orang orang itu berjumlah delapan orang yang bukan lain adalah Toosu toosu dari Bu tong pay.
"Wan moay, ujar Lie Siauw Ie keheranan Hidung hidung kerbau dari Bu tong pay itu tidak ada ganjalan sakit hati apa apa dengan adik Tou kenapa ini hari sengaja mencari gara gara dengan dirinya ?"
"Mari kita maju bertanya sendiri saja" sahut si gadis cantik pengangon kambing itu "Jikalau mereka tidak tahu aturan dan mau teruskan untuk bergebrak biarlah cukup aku seorang diri pergi mengejar mereka itu biar aku hajar sampai babak belur"
Selesai berkata tanpa ragu ragu lagi dengan menarik tangan Lie Siauw Ie berjalan maju ke tengah lapangan.
"Berhenti" bentak si gadis cantik pengangon kambing keras sambil bertolak pinggang.
Para toosu2 itu sewaktu mendengar ada orang yaag membentak segera pada tertegun dibuatnya, dengan sendirinya gerakannya pun menjadi berhenti.
Bersamaan pula Liem Tou pun membentak keras. "Su"
Kerbau itu segera berhenti bergerak.
"Hey toosu toosu dari Bu tong pay teriak si gadis cantik pengangon kambing itu kemudian setelah kedua belah pihak pada berhenti " Kalian meiakukan perjalanan di tengah jalan raya, sedang Liem Koko dia melewati jambatan kayu (diantara kalian air sumur tidak melanggar air kali, kenapa ini hari tanpa angin tanpa hujan sudah pada mencari Liem Koko untuk diajak berkelahi?"
Beberapa perkataan dari si gadis cantik pengangon kambing itu ada sepuluh bagian merupakan ceng li di dalam Bu lim, tetapi para toosu dari Bu tong pay ini mana tahu macam apakah gadis cantik pengangon kambing ini? segera ada seorang tootiang berbaju kuning yang usianya paling muda merangkap tangannya memberi hormat lalu.
Bu liong so hud . . . . Bu liang so hud siapa yang cari Liem Kokomu untuk diajak berkelahi? yang kami inginkan adalah kerbau tersebut. Apakah Kerbau tersebut adalah Liem Kokomu?.
Pertanyaannya ini boleh dikata merupakan kata kata makian yang amat pedas dan sama sskali tidak pandang sebelah matapun terhadap si gadis cantik pengangon kambing.
Lie Siauw Ie yang mendengar suara toosu muda itu dalam hatinya merasa mendongkol,
Orang yang ada di punggung kerbau itu adalah Liem koko. Wan moay, apakah kalian toosu toosu sudah picak semua matanya?"
Perkataannya semakin tajam lagi membuat air muka kedelapan toosu tersebut berubah dengan amat hebatnya.
Kalianlah dua orang budak liar sungguh kurang ajar sekali teriak salah seorang toosu dengan amat gusarnya. Kalian harus tahu kelihayan dari Bu tong pay kami, ayo cepat menggelinding pergi dari sini, jangan coba coba banyak cerewat lagi dengan kami.
si gadis cantik pengangon kambing segera tertawa tergelak dengan amat kerasnya,
Oooow sungguh lihay sekali kalian toosu bau dari Bu tong pay sehingga dengan ciangbunjin sendiri dibinasakan oleh siapapun tidak tahu, sungguh hebat, memang benar omonganmu toosu toosu dari Bu tong-pay memang semuanya libay.
Kedelapan toosu itu setelah mendengar perkataan dari si gadis cantik pengangon kambing ini pada berteriak dengan amat gusarnya, teriaknya dengan keras.
"Kau budak jelek siapa yang memberitahukan kepada kalian soal terbunuhuhnya ciangbunjin kami? Terang terangan Leng Cen Tojin terbinasa di tangan Tionggoan Sam Koay bagaimana kalian berani bilang kami tidak becus."
"Hiii . . . hiii . . . siapa yang sudah memberitahukan kepada kalian kalau ciangbunjien kalian dibinasakan oleh Tionggoan Sam Koay?"
"Kalian melihat dengan mata kepala sendiri ataukah cuma dengar orang bilang saja ?"
Seketika itu juga kedelapan orang toosu itu dibuat tertegun oleh perkataan si gadis cantik pengangon kambing ini, tetapi urusan ini menyangkitt nama baik mereka di dalam Bu lim. Bagaimana mereka berani percaya atas omongan dari si gadis cantik pengangon kambing itu?"
Terus terang saja aku beritahukan kepada kalian, sambung si gadis cantik pengangon kambing lagi. Tionggoan Sam Koay sama sekali tidak pernah membinasakan ciangbunjien kalian, ciangbunjien kalian itu dibinasakan oleh si penjahat naga merah yang sengaja mau mencelakai diri Tionggoan Sam Koay, kini Tionggoan Sam Koay sedang pergi mencari si penjahat naga merah untuk membuat perhitungan.
Lama sekali mereka kedelapan orang toosu dibuat tertegun dan berdiri termangu mangu beberapa saat kemudian baru terdengar seorang toosu bertanya.
Perkataanmu ini apakah sungguh sungguh?" Kita tidak punya dendam tidak punya sakit bati buat apa kami sengaja menipu kalian??"
Sehabis berkata dia berdiam diri memikirkan sesuatu persoalan kembali, lalu sambungnya.
"Oooh . , . . aku telah melupakan sesuatu, baiklah aku berikan kepada kalian juga, bila kalian mau mencari si penjahat naga merah tidak ada halangannya pada bulan lima tangga lima pergilah ke puncak Cing Jan untuk mencari dirinya."
Lalu tangannya menggape kearah Lie Siauw Ie dan serunya.
"Ie cici, ayoh kita pergi saja dari sini "
"Tahan !" tiba tiba bentak seorang toosu di antara kedelapan orang toosu toosu Bu tong pay itu. "Penjahat naga merah adalah penjahat besar masa kini, jejaknya sangat rahasia dan misterius sekali muncul dan lenyapnya tak seorang pun yang mengetahuinya bagaimana kalian dua orang budak bisa mengetahui jejaknya? kami takkan bisa kau tipu mentah mentah."
"Betul perkataan ini sangat beralasan" sambung toosu yang lainnya, "Terang terangan orang ini sengaja mencari satu akal untuk menolong kerbau yang terkurung sekarang ini"
"He . . he . , jika kalian tidak percaya akupun tidak ada cara lain untuk memaksa kalian harus percaya!" seru si gadis cantik pengangon kambing sambil tersenyum apa boleh buat. "Bagaimanapun juga dengan kekuatan kerbaunya Liem koko itu kalian tidak akan berhasil menandinginya, jika kalian mau menguasainya . .he . . hey toosu kau jangan mimpi disiang hari bolong"
Sejak tadi kedelapan orang toosu ini sudah merasakan kelihayan dari kerbau itu cuma saja sang kerbau tidak melakukan pembunuhan besar terhadap mereka seperti halnya sewaktu ada di dalam kuil Siang Lian Si karenanya walaupun dalam hati mereka agak merasa jeri tetapi tidaklah terlalu takut.
Saat ini si toosu yang usianya jauh lebih lanjut dengan sinar mata yang amat tajam sedang memperhatikan diri gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie.
si gadis cantik pengangon kambing yang melihat mimik wajahnya tak tertahan lagi segera tertawa manis.
"Bagaima ? Ujarnya. Lebih baik kalian percayai omonganku saja dari pada menyesal dikemudian hari"
Toosu itu tetap memperhatikan mereka berdua tanpa berkedip barang sedikitpun juga, saat itulah seorang toosu mendekati dirinya dan membisikan sesuatu kepadanya, toosu itu segera mengangguk bersamaan pula memberi kedipan mata kepada toosu lainnya.
Kiranya para penduduk yang semula mengerubungi rumah penginapan kecil itu saat ini sudah mulai mengerubungi tempat ini untuk menonton keramaian.
Si gadis cantik pengangon kambing yang melihat gerak gerik mereka sangat mencurigakan dengan berbisik ujarnya kepada Lie Siauw Ie.
"Coba kau lihat gerak gerik mereka sangat mencurigakan sekali, apakah mungkin mau me lancarkan serangan bokongan terhadap kerbau itu?"
Lie Siauw Ie gelengkan kepalanya tanda tidak tahu.
"Hey, kalian toosu toosu bau sebetulnya mau berbuat apa ?" teriak si gadis cantik pengangon kambing kemudian dengan suara yang sangat nyaring.
Toosu berusia lanjut itu segera menjura memberi hormat kepada mereka berdua.
Perkataan dari nona, kami tidak benar benar, sahutnya dengan perlahan. Sekalipun perkataan dari nona tadi betul Tionggoan Sam Koay memang bukan pembunuh Ciangbunjien Bu tong pay kami tetapi mereka bertiga sudah melukai banyak anak buah kami, sekalipun tidak ada sakit hati kini pun sudah terikat, kerbau ini punya kesalahan sudah meloloskan itu ketiga orang dari kurungan kami, ini hari kami harus membinasakan dirinya juga."
Selesai berkata tangannya diulapkan memberi tanda, segera terlihatlah kedelapan toosu itu dengan mencekal sebilah pedang mulai memencar diri mengurung tempat tersebut dengan rapat rapat.
"Hey bangsat cilik" bentak toosu toosu itu lagi dengan suara yang amat keras.
Cepat kau orang mengelinding turun dari punggung kerbau tersebut, yang kami mau adalah nyawa kerbau itu bukan nyawamu?"
Liem Tou segera tertawa.
"Nyawa kerbau adalah nyawa juga, jika kalau kalian memang menginginkan nyawa kerbau ini kenapa tidak sekalian menginginkan nyawaku?"
Mendengar perkataan itu para toosu dari Bu tong pay pada melengak dibuatnya, tampak toosu yang berusia agak lanjut itu bergumam seorang diri.
"Eei . .sungguh aneh. . .sungguh aneh sekali, ternyata di dalam dunia ini ada juga orang yang tidak takut mati??"
Tetapi dengan cepat dia bisa mengambil keputusan di dalam hati. Serunya kemudian.
"Baiklah, kalau memangnya demikian, itulah yang dinamakan mencari gebukan buat dirinya sendiri".
Selesai berkata pedang yang semula sudah dicabut keluar kini dimasukan kembali kedalam sarungnya diikuti ketujuh orang toosu lainnya pun pada menyimpan kembali senjata tajamnya.
Si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie yang melihat hal ini dibuat jadi keheranan ujar si gadis cantik pengangon kambing itu.
"Eeei kenapa mereka ini?? katanya mau membinasakan kerbau itu kenapa kini malah menyimpan kembali senjata tajamnya masing masing??"
Lie Siauw Ie pun tidak tahu mereka sedang memainkan permainan setan macam apa lagi, dia cuma melirik sekejap ke arah si gadis cantik pengangon kambing tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Pada saat itulah para toosu bersama sama menyingkap jubah luarnya sehingga terlihatlah kantongan senjata rahasia yang tergantung pa da pinggangnya masing masing. Saat itulah Lie Siauw Ie baru paham kembali.
"Aduh kiranya mereka mau menggunakan senjata rahasia untuk melukai kerbau tersebut waah.. . waah . .tindakan mereka ini sungguh kejam sekali. Wan moay kau lihat bagaimana baiknya??"
Ternyata dugaan mereka sedikitpun tidak salah para toosu itu pada merogoh ke dalam kantong senjata rahasianya mengambil keluar senjata rahasia yang bentuknya masing masing tidak sama, ada piauw mata uang ada jarum Bwee Hoa Tsu, ada lempengan besi tipis ada pula piaaw piauw dalam bentuk yang biasa. . .walau pun senjata senjata rahasia itupun merupakan senjata yang sering ditemui di dalam Bu lim tetapi jika dilancarkan dari arah yang berlawanan secara serentak ada siapa yang sanggup untuk melawannya7? apa lagi cuma seekor kerbau bodoh.
Si gadis cantik pengangon kambing itu segera berseru memberi peringatan kepada Liem Tou.
"Liem koko mereka mau menggunakan senjata rahasia untuk melukai kerbaumu kau cepatlah pergi.
Mau pergi? kau kira begitu mudah? Seru kedelapan toosu itu sambil tertawa dingin.
Mendadak toosu berusia agak lanjut itu membentak kembali.
"Hey bangsat cilik, sebetulnya kau orang mau pergi tidak?"
Liem Tou tetap bungkamkan diri, cuma saja senyuman manis penuh menghiasi bibirnya.
Wajah toosu itu segera berubah menjadi adem napsu membunuh melintasi wajahnya sepasang matanya melotot lebar lebar tiba tiba dia mem bentak keras.
"Serbu"
Tangannya melayang menyambitkan senjata rahasia yang penuh tergenggam ditangannya, ketujuh orang toosu lainnyapua tidak berani barlaku ayal lagi masing masing segera menyambitkan senjata rahasianya ke depan.
Di dalam sekejap mata saja suara berdesirnya senjata rahasia memenuhi seluruh angkasa, tetapi kerbau itu tetap berdiri tidak bergerak bahkan Liem Tou yang ada dipunggungnyapun tetap tidak ambil gubris, dia tetap tersenyum senyum manis.
Sebaliknya hal ini segera membuat si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie jadi kaget bercampur cemas, mereka berdua segera melancarkan satu pukulan dahsyat meng antam ke arah senjata rahasia yang memenuhi angkasa itu.
Pada saat itulah mendadak terdengar kerbau itu mendengus perlahan disusul suara teriakan kesakitan dari empat orang Toosu yang masing masing sepasang matanya sudah terhajar oleh senjata rahasia sehingga menguncurkan darah segar, sakiag sakitnya mereka pada berguling gulingan di atas tanah sambil mengerang ngerang kesakitan, keadaannya sungguh mengerikan sekali.
Si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie yang melibat perubahan yang terjadi secara mendadak ini segera tahu tentu ada sesuatu yang telah terjadi, diam diam mereka gemas atas keganasan dari kerbau itu.
Siapa tahu baru saja pikiran ini berkelebat di dalam benaknya terdengar kerbau itu sekali lagi mendengus hebat disusul kepalanya ditundukkan menerjang ke arah orang orang yang menonton di samping kalangan gerakaannya amat cepat sekali bagaikan berkelebatnya kilat ditengah udara.
Seketika itu juga suasana menjadi amat kacau sekali, orang orang yang semula menonton di samping kalangan menjadi ketakutan dan pada lari serabutan.
"Aduh, mak tolong . . tolong!" Bagaikan air bah mereka pada lari terbirit-birit meninggalkan tempat itu, mereka gemas kenapa orang tua mereka tidak melahirkan mereka dengan kelebihan dua buah kaki, bahkan ada diantaranya yang kurang berhati hati pada berjatuhan di atas tanah dan kena injak orang orang lainnya.
Tetapi dimana kerbau itu menerjang datang semua orang pada menyingkir ke samping memberi jalan kepadanya, sehingga dengan sendirinya kerbau tersebut dapat lari dengan kencangnya ke arah depan.
Kerbau itu berlari dengan amat cepatnya di antara orang orang tersebut tanpa melukai mereka barang seorangpun, dan lama kelamaan orang orang tersebut baru bisa berasa lega hati, cuma saja mereka tidak tahu kerbau itu sedang berbuat apa disana?"
Tampaklah kerbau itu dengan amat cepatnya ia berlari ke depan mengejar seorang pengemis yang sedang melarikan diri terbirit birit.
Pengemis itu dengan amat gesitnya menerobos di sisi antara orang banyak membuat sang kerbau untuk sementara waktu tidak berhasil menyandak dirinya tetapi kelihatan sekali mimik pengemis itu pun sangat tegang sekali dibuatnya.
Pada saat itu para toosu lainnya sudah memeriksa luka dari kawan kawan mereka, kiranya ada jarum pencabut nyawa di luka matanya.
Si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie yang melihat senjata rahasia yang melukai mata para toosu itu
merupakan jarum pencabut nyawa yang ditemuinya sewaktu masih ada dikandang kuda dan kini melihat pula Liem Tou menunggang kerbaunya sedang mengejar seorang pengemis segera paham kembali, pikirnya.
"Sungguh kejam tindakannya ternyata dia ingin memancing dendam sakit bati antara kita dengan pihak Batong pay, untung saja kerbau itu sangat pintar sehingga cepat cepat menemui bajingan tersebut, kalau tidak tentu kita sudah terkena siasat beracunnya.
Berpikir sampai disini si gadis cantik pengangon kambing segera memberikan kedipan mata kepada Lie Siauw Ie dan teriaknya dengan keras.
Hey hidung kerbau dari Bu tong pay cepat kejar si pengemis busuk itu, merekalah yang menyambitkan senjata rahasia melukai keempat orang saudara saudara kalian, ayoh cepat kejar jangan sampai membiarkan dia berhasil meloloskan diri."
Sambil berkata begitu bersama sama dengan Lie-Siauw Ie berdua segera mengerahkan ilmu meringankan badannya bagaikan dua ekor kupu kupu putih dengan amat cepatnya berkelebat melalui atas kepala orang yang menonton jalannya partempuran tadi mengejar kedepan.
Hey hidung kerbau dari Bu tong pay ayoh cepat kejar, teriak si gadis cantik pengangon kambing kembali di tengah udara.
Para toosu dari Bu tong pay agak tertegun sebentar, akhirnya sambil mencabut keluar senjata tajamnya pada berebut menyerbu ke arah orang yang berkumpul di sana itu.
Baru saja gadis cantik pengangon kambing, Liem Tou serta para toosu dari Bu tong pay itu mendekati orang tersebut mendadak terdengar berkumandangnya suara terbahak bahak dari antara orang orang yang badir disana diikuti melayangnya sesosok bayangan manusianya yang dengan amat cepatnya menerjang ke atas atap rumah penginapan itu sambil serunya dengan nyaring.
"Ha a ha a . selamat tinggal"
Ujung kakinya sekali lagi menutul dengan cepat, tubuhnya meluncur ke belakang rumah penginapan itu.
"Ayoh cepat kejar jangan sampai bajingan itu berhasil meloloskan diri seru si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie, berbareng.
Ujung kakinya dengan cepat menutul permukaan tanah dengan cepat tubuhnya meloncat ke tengah udara dan mengejar keatas atap rumah terseout.
Tetapi walaupun gerakan tubuh dari si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie amat cepat, gerakan dari kerbau itu lebih cepat lagi.
Terdengar kerbau tersebut mendengus rendah lagi disusul dengan bentakan Lirm Tou yang sangat keras.
"Bangun !"
Dengan disertai sambaran angin yang amat keras kerbau itu dengan amat cepatnya melewati rumah penginapan itu. menanti setelah si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siaw Ie tiba di atas atap, kerbau yang ditunggangi Liem Tou itu sudah lenyap tak berbekas lagi,
Tak terasa lagi baik si gadis cantik pengangon kambing maupun Lie Siauw Ie dibuat melengak di atas genting, lama sekali baru terdengar si gadis cantik pengangon kambing itu berkata.
"Ie cici, sama sekali tidak kusangka kerbau itu bisa demikian libaynya jikalau tubuhnya berhasil dilatih sampai tak mempan senjata tajam di dalam Bu lim pada saat ini ada siapa lagi yang bisa menangkan dirinya?"
( Bersambung ke jilid: 19 )
Lie Siauw Ie dengan pelan menganguk agaknya di dalam hatinya ada sesuatu urusan sehingga lama sekali dia tidak memberikan jawabannya.
Sepasang matanya dengan termangu mangu memandang kearah tembok kota Tang Yang yang ada di tempat kejauhan, terlihatlah sesosok bayangan manusia melewati tembok itu disusul dengan kerbau tersebut mengikuti dari belakangnya, tak terasa lagi dia menghela napas panjang
"Heey . . . tidak kecandak, tidak kecandak. setelah masuk ke dalam kota jangan barap bisa kecandak" serunya perlahan.
Ternyata dugaannya sedikitpun tidak salah, sebentar kemudian kerbau itu tampak sudan berlari kembali dan tak lama berselang sudah tiba di belakang rumah penginapan itu.
"Ie cici, Wan Moay" terdengar Liem Tou berseru dengan amat kerasnya.
"Tempat ini tidak bisa ditinggalkan lebih lama lagi, mari kita cepat pergi dari sini"
Si gadis cantik pengangon kambing itu segera menoleh ke belakang, sewatktu dilihatnya ada beberapa orang tosu yang meloncat naik ke atas atap rumah lalu ujarnya
"Pengemis busuk itu sudah melarikan diri ke dalam kota Tang Yang, kita pun harus pergi, lebih baik kalian menolong kawan kawan yang terluka untuk dibawa pulang, sedangkan orang yang membinasakan ciangbunjin kalian benar benar adalah si penjahat naga merah itu, mau percaya atau tidak terserah dirimu"
"Sedangkan mengenai pengemis yang melukai kalian kami akan melakukan pemeriksaan setelah setelah tiba dikota Tang Yang" sambung Lie Siauw Ie lagi.
"Jika kami berhasil mengetahuinya tentu kami akan memberi kabar kepada kalian, oh yaah, kalian tinggal dimana?"
Toosu itu tidak langsung menjawab termenung berpikir sebentar lalu baru sahutnya.
'Untuk mencari orang yang sudah membinasakan ciangbunjien kami di seluruh daerah serta keresidenan di seluruh daerah Tionggoan tentu ada anak murid Bu tong pay kami, tiga hari kemudian tentu ada orang yang muncul menemui kalian berdua, selamat tinggal.
Selesai berkata dia segera menjura memberi hormat lalu bersama sama meloncat turun ke bawah dan mengikuti kawan kawannya yang masih mengerang nerang kesakitan berlalu dari sana.
Si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie sehabis mengatur urusan ini sehingga jelas, barulah ujarnya kepada Liem Tou.
"Ayoh perg" dari sini, untuk sementara waktu lebih baik kita menginap beberapa hari dulu di dalam kota Tang Yang untuk menyelidiki asal usul dari pengemis tersebut, apalagi baju yang compang camping dari adik Tou inipun harus diganti.
Liem Tou tertawa, sepasang kakinya menjepit kencang perut kerbaunya dengan memimpin dimuka dia berlari terlebih dahulu sedang si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie pun pada meloncat turun dari atap dan berkelebat mangikuti dari belakangnya.
Sesampainya di dalam kota Tang Yang, Liem Tou tidak bisa terus menerus menunggang di atas kerbaunya sehingga bisa menimbulkan kecurigaan orang lain, terpaksa dia meloncat turun dari kerbaunya bersama sama dengan Lie Siauw Ie serta gadis cantik pengangon kambing berjalan masuk ke dalam kota.
Saat ini hari sudah siang, beberapa orang yang sudah ada satu hari satu malam tidak makan maupun minum segera berjalan memasuki sebuah rumah makan.
Liem Tou mengikat kerbaunya di depan kedai itu lalu bersama sama dengan kedua orang gadis itu berjalan masuk ke dalam rumah makan dan mencari tempat dekat dengan ujung jalan.
Terlihatlah sambil berdahar ujar Lie Siauw Ie dengan suara perlahan.
"Eei jangan makan terlalu banyak, untung sekali kemarin malam bisa bertemu dengan adik Tou, apalagi adik Tou pun sudah pernah pergi ke perkampungan Ie Hee Cung, waktu seperti ini paling bagus kita membicarakan soal soal tersebut, apalagi kitapun harus menentukan langkah langkah selanjutnya bagaimana kalau kita minum arak?"
Si gadis cantik pengangon kambing yang tinggal di atas gunung Go Bie selain tiap hari minum sari buah atau madu belum pernah dia orang merasakan arak yang sesungguhnya, dialah yang pertama berteriak setuju.
Sebaliknya Liem Tou yang mendengar Lie Siauw Ie menyuruh dia menceritakan apa yang dilihatnya di perkampungan Ie Hee Cung hatinya menjadi sangat terperanjat, pikirnya.
Suruh aku bicara? Lie Pek bo sudah meninggal dunia apakah aku harus memberitahukan kepada Ie cici pada waktu ini??"
Berpikir sampai disitu dia segera berseru menolak.
Tidak, lebih baik kita jangan minum arak, Ie cici serta Wan Moay selamanya belum pernah minum arak, kalau sampai mabok lalu bagaimana??"
"Kita minum sedikit saja bukankah tidak mengapa?" ujar Lie Siauw Ie sambil tertawa.
"Betul.. .betul" sahut si gadis cantik pengangon kambing dengan cepat. "Hey pelayan, cepat kemari?"
Segera tampaklah seorang pelayan berlari mendatang, dengan sangat hormat sekali tanyanya.
Khek koan membutuhkan apa?" Ambilkan arak yang paling bagus" seru si gadis cantik pengangon kambing dengan gagahnya.
Pelayan itu segera menyahut dan dengan cepat berlalu dari sana.
Pada saat itulah terdengar suara derapan kaki yang amat ramai tampak dua orang muncul di balik tangga loteng, sekail pandang saja Liem Tou segera mengenali kembali kalau kedua orang itu adalah si hweesio serta si toosu yang pada setahun yang lalu diperintahkan oleh Auw Hay Ong Bo untuk menawan dirinya.
Liem Tou tidak ingin dirinya sampai dikenali, cepat cepat dia melengos keiuar jendela menghindarkan diri dari bentrokan pandangan dengan mereka berdua.
Kedua orang itu segera memilih tempat sewaktu melihat Lie Siauw Ie serta Si gadis cantik pengangon kambing ada disana mereka dibuat tertegun, agaknya merekapun mengenali kembali kalau kedua orang gadis ini adalah orang orang dari perkampungan Ie Hee Cung.
Walaupun Liem Tou tidak melibat ke arah mereka tetapi ketajaman pendengarannya saat ini jauh melebihi orang lain, segera terdengar olehnya si hweesio itu sedang berbisik kepada sang Toosu.
Tidak kusangka mereka bisa demikian cepatnya tiba di dalam kota, bangsat cilik yang melengos itu pastilah Liem Tou.
Betul, sahut Toosu itu dengan suara yang amat lirih. Setahun yang lalu kita tidak berhasil menawan dirinya, kali ini dia sendiri cari jalan mati kita tidak boieh melepaskan dirinya kembali.
Eih.. .bangsat cilik itu sudah melihat kita, cepat kita pergi dari sini kau awasi mereka dari depan pintu biar aku pergi memanggil Kuncu datang.
Selesai berkata dengan tergesa gesa kedua orang bangkit berdiri dan berlalu dari tempat itu.
Saat itulah Liem Tou baru menoleh ke arah si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie, ujarnya.
Ie cici. Wan moay moay kalian kenal dengan mereka berdua??'
"Tidak kenal, jawab Lie Siauw Ie sambil gelengkan kepalanya. Tetapi akupun rasanya pernah bertemu tetapi untuk sesaat sudah lupa entah ketemu dimana.
Pada setahun yang lalu mereka berdua mengikuti Auw Hay Oag Bo mendatangi perkampungan Ie Hee Cung dan memaksa aku lari kalang kabut ini hari Ie cici serta Wan moay harus membalaskan sakit hatiku ini.
Liem koko kenapa tidak kau katakan sejak tadi? Tiba tiba Si Gadis cantik pengangon kambing itu sambil meloncat bangun dari tempat duduknya. Saat ini mereka berdua sudah mengeloyor pergi bagaimana kita bisa membalaskan sakit hatimu tempo hari??
Liem Tou segera bersenyum.
Jangan cemas jangan keburu buru sahutnya. Sebentar lagi mereka bakal kembali lagi, kata mereka mau segera pergi untuk memanggil kuncunya kalu tidak percaya coba kalian lihatlah di depan rumah makan ini kan masih tertinggal seseorang yang sedang mengawasi diri kita.
Si gadis cantik pengangon kambing itu segera menengok keluar jendela ternyata sedikitpnn tidak salah tampaklah sitoosu itu sedang berdiri bolak balik disamping rumah makan mengawasi mereka.
Melihat hal itu Si Gadis cantik pengangon kambing menjadi agak mendongkol, ujarnya kepada Liem Tou serta Lie Siauw Ie sambil lari menuruni tangga loteng.
"Kalian lihat saja, aku segera tawan dirinya"
"Eei .. Wan moay jangan pargi!" Cegah Liem Tou dengan cepat. Bukankah lebih baik kita menanggu kuncirnya terlebih dahulu"
Tetapi si gadis cantik pengangon kambing itu tetap tidak mau tahu dia ngotot mau turun kebawah memberi hajaran kepada orang tersebut.
Melihat hal itu terpaksa ujar Liem Tou kembali.
"Jikalau Wan moay benar benar ingin memberi hajaran kepadanya lebih baik jangan turun tangan sendiri, begini saja kau lepaskan tali pengikat kerbau itu biar dia mencari gara gara dengan dirinya, sedangkan kita menonton permainan bagus dari atas loteng bagaimana?"
Si gadis cantik pengangon kambing itu berpikir pikir sebentar akhirnya dia tertawa.
Baiklah, sahutnya dengan gembira. Selama setahun ini bukannya kau berhasil melatih ilmu silatmu sebaliknya melatih seekor kerbau ajaib sungguh merupakan suatu peristiwa yang sangat mengherankan sekali.
Selesai berkata dia segera turun dari loteng untuk melepaskan tali pengikat kerbau tersebut lalu kembnli lagi ke atas loteng, mereka bertiga dengan serta merta melongokkan kepalanya ke bawah untuk menonton tontonan tersebut.
Padahal seluruh perbuatan kerbau itu turus mengikuti perintah dari Liem Tou yang kirim dengan menggunakan ilmu menyampaikan suara, sudah tentu sebelum diperintah Liem Tou kerbau itu tidak akan menunjukkan gerakan apapun.
Saat ini Liem Tou sama sekali tidak bermaksud untuk melukai toosu tersebut, dia cuma gemas sehingga punya niat untuk mempermainkan dirinya.
Setelah tali yang mengikat kerbau itu dilepaskan oleb si gadis cantik pengangon kambing, Liem Tou secara diam diam lantas mengerahkan ilmu menyampaikan suaranya mnmberi pe rintah.
Tampak kerbau tersebut tenang di tengah jalan lalu pandang keki kekanan, tiba tiba sambil menyentakkan kakinya di atas tanah sehingga membuat debu pada beterbangan memenuhi angkasa dengan amat ganasnya lari menerjang ke arah sang toosu.
Melihat kejadian itu si gadis cantik pengangon kambing menjadi amat girang sekali.
"Ha haa .... haa .... sudah hampir . . . . teriaknya keras, kali ini sang toosu bau pasti akan kehilangan nyawanya.
"Aku kira belum tentu, sabut Liem Tou dengan perlahan. Kelihatannya kerbau itu tak suka melukai dirinya."
"Aku tidak percaya, bantah gadis cantik pengangon kambing itu dengan ngotot. "Bagaimana kalau kita bertaruh siapakah yang kalah harus didenda dengan tiga cawan arak."
Diam diam di dalam hati Liem Tou merasa sangat geli sebab jika betul betul mau bertaruh si gadis pengangon kambing pasti akan menderita kekalahan.
Sebentar saja kerbau itu sudah hampir mendekati tubuh sang toosu tapi dia orang masih iidak merasakan adanya bahaya yang mengancam.
Saat itulah mendadak tampak si hweesio sudah berlari mendatangi sambil berteriak keras.
"Mao heng awas bahaya, cepat nyingkir . . !"
Padahal sejak kerbau itu berhasil membubarkan kepungan toosu toosu Bu tong pay terhadap Tionggoan Sam Koay serta kehebatannya pada waktu berada di rumah penginapan, diluar kota Tang Yang sudah membuat namanya tersebar iuas diseluruh dunia kangouw, orang orang Bu lim yang berada di sekitar tempat itu siapa saja sudah tahu kalau di tempat tersebut sudah kedatangan seekor kerbau yang sangat ajaib dan lihay sekali.
Sang toosu yang diperingatkan oleh sang bweesio atau si rase terbang Jien Hwee tidak terasa lagi menjadi terperanjat, telapak tangannya segera dilintangkan kedepan dada lalu kirim pukulan dahsyat menghajar kerbau tersebut.
Liem Tou yang ada didekat jeadela dapat melibat seluruu kejadian itu dengan jelas, pikirnya.
"Manusia tidak tahu diri . . . aku punya maksud melepaskan dirimu sebaliknya kau malah melancarkan serangan hendak menghajar kerbauku .. "
Melihat itu dia mengeluarkan suaranya dengan nyaring.
"Jadi kau Coe"
"Kerbau itu segera berputar kekiri lalu berbalik kesebelah kanan dengan amat cepat sekali berhasil menghindarkan diri dari serangan pukulan toosu tersehat, disusul berkumandangnya suara jeritan aneh lalu menerjang kembali ke depan.
Sang toosu yang melancarkan pukulannya untuk menghantam kerbau itu dalam bati mengira pukulannya pasti akan mencapai pada sasarannya, dia sama sekali tidak menyangka kalau gerakan dari kerbau itu bisa begitu cepatnya, di dalam keadaan yang amat terperanjat ujung kakinya segera menutul permukaan tanah lalu meloncat naik ke tengah udara.
Agaknya dia kermaksud untuk meloncat naik ke atas punggung kerbau tersebut lalu turun tangan dari atas. Waktu itu sekalipun sang kerbau memiliki kepandaian yang lebih tingipun tidak akan bisa mengapa apakan dirinya.
Sejak semula Liem Tou sudah menduga dia orang bisa berbuat demikian, baru saja sepasang pundak dari toosu itu sedikit bergerak, Liem-Tou sudah kirim perintah lagi.
Tong . . .
Kerbau itu tiba tiba angkat kepalanya sepasang tanduknya diterjangkan kedepan tepat menghajar pada diri toosu itu membuat sang toosu menjerit kesakitan.
"Aduuuh .. disertai suara jeritan yane amat keras, hawa murni yang semula dikumpulkan dibagian kaki seketika itu juga terbuyar lagi.
Braak .. tiada kuasa lagi tubuhnya terjengkang ke atas tanah lalu berguling guling seperti halnya seekor anjing yang kena gebuk, seluruh tubuhnya kotor kena debu.
Seketika itu juga memancing tertawa Si Gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie yang amat keras, secara diam diam Liem Tou pun merasa hatinya sangat puas sekali.
Mendadak . . segulung angin pukulan yang amat tajam sekali menerjang dari belakang tubuhnya disusul berkelebatnya sesosok bayangan hijau dengan amat cepatnya.
Liem Tou menjadi sangat terkejut sekali, pada saat pikirannya berputar hawa murninya dengan cepat disalurkan keselurub tubuhnya untuk menerima datangnya serangan tersebut dengan keras lawan keras.
Dia cuma merasakan hatinya sedikit tergetar hebat, diam diam pikirnya.
"Sungguh lihay ilmu jarinya."
Dengan cepat dia menoleh kebelakang, entah sejak kapan di tempat itu sudah bertambah seorang gadis berbaju hijau, sepasang alisnya dikerutkan rapat rapat dan berdiri termangu mangu disana. Lama sekali baru terdengar dia membentak keras.
"Bangsat cilik, dendam sakit hati atas kematian adikku belum terbalas, hari ini engkau hendak menggunakan kerbaumu untuk melukai orang. Hmm jika punya kepandaian ayoh keluar kita bertempur sebanyak tiga ratus jurus."
Liem Tou yang melihat gadis berbaju hijau yang ada dihadapannya sekarang ini semakin dilihat semakia mirip dengan Ciang Beng Hu itu pengemis cilik yang ditemuinya sewaktu ada di dalam penjara lalu kena hajar mati di tangannya, dalam hati segera menduga tentunya dia orang adalah Toa Kuncu dari Kiem Thia Pay.
"Siapa toh musuh besar pembunuh adikmu?" tanyanya mengejek. Dengan tidak tanya tanya dulu kamu sembarangan melancarkan serangan menotok orang, macam manusia apa itu?"
Saat itu si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie pun sudah menoleh sewaktu mereka berdua melihat wajah gadis berbaju hijau itu amat cantik dengan alis yang hitam lengkat dengan bibir yang kecil muncul diam diam memuji tak hentinya.
Gadis cantik pengangon kambing yang sekali pandang saja sudah menaruh simpatik kepadanya segera berseru.
"Cici ini kenapa harus marah marah?" ada perkataan kita bicarakan dengan perlahan mari. . mari silahkan duduk, jarang sekali aku bisa bertemu dengan manusia seperti cici didalam Bu lim saat ini bagaimana kalau kita saling meneguk satu cawan arak?"
Sehabis berkata dia bangkit berdiri dan mempersilahkan tamunya untuk duduk.
Sebelumnya gadis berbaju hijau itu datang dalam keadaan gusar, setelah melihat sikap gadis cantik pengangon kambing yang amat menarik dan ramah sekali walaupun dia orang dibuat serba susah tapi hawa amarah bisa dipadamkan separuh bagaian.
Dengan paksakan diri dia melemparkan sebuah senyuman pada gadis cantik pengangon kambing itu.
Moay moay ini tentunya adalah Si Gadis cantik pengangon kambing bukan," ujarnya dengan perlahan, aku dengar dari ibu katanya kepandaian silatmu amat tinggi wajahnyapun amat cantik sekali. Ini hari bisa bertemu sendiri dengan kau sudah tak terkira ternyata berita itu tidak bohong.
Ahhh mana mana. . . cici mu mana bersni menerima penghargaan itu. Seru gadis cantik pengangon kambing berulang kali. Siauw moay Lie Wan Giok tidak lebih cuma seorang gadia dusun yang kasar, soal kepandaian silat aku orang tidak lebih cuma memahami sebagian bulu luarnya saja.
Lalu dia memperkenalkan diri Lie Siauw Ie kepadanya. Ini adalah Siauw Ie cici, diapun she Lie yang merupakan suci moay dengan diriku. Gadis berbaju hijau itupun segera tertawa dengan menganggukkan kepalanya kepada Lie Siauw Ie tetapi dia tahu Lie Siauw Ie inilah yang dahulu menerjunkan dirinya ke dalam jurang untuk munyusul kekasihnya.
Tidak terasa lagi dia memperhatikan Siaw Ie dengan pandangan aneh membuat Lie Siauw Ie merasa malu dan melengos ke arah lain.
Saat inilah dengan perlahan gadis berbaju hijau tersebut menoleh ke arah gadis cantik pengangon kambing lagi dan bertanya
"Menurut pandanganku, moay moay dengan usia yang masih amat muda ternyata sudah berhasil mencapai taraf kesempurnaan di dalam hal ilmu silat tentunya kaupun berasal dari perguruan yang sangat terkenal sekali, entah maukah moay moay menyebutkan asal perguruanmu?
Mendengar perkataan itu diam gadis cantik pengaugon kambing berpikir keras. Walaupun dari pihak Kiem Tian pay tidak ada ganjalan sakit hati apa apa dengan Tia tetapi mereka selamanya tidak akur, jika kalau aku terus terang memberi tahu kepadanya tentu dia tidak mau besikap halus lagi terhadap kita, tetapi akupun tidak bisa menipu dirinya.
Berpikir akan hal ini tidak terasa lagi dia berpikir keras beberapa saat lamanya tanpa bisa menjawab.
Si gadis berbaju hijau yang melihat pihak lawan sama sekali tidak memberikan jawaban, sekali pandang saja dia sudah bisa mengetahui tentunya sigadis cantik pengangon kambing itu mempunyai sesuatu kesukaran karenanya dengan cepat ujarnya.
"Jikalau moay moay merasa ada
kesukaran untuk dibicarakan lebih baik jangan dikatakan lagi."
"Tentang hal ini bukannya ada perkataan yang sukar untuk diucapkan sahut si gadis cantik pengangon kambing itu dengan cepat. Cuma saja sesudah Siauw moay katakan kemungkinan sekali cici akan menganggap diri kami sebagai musuh besar, begini saja setelah aku katakan kau jangan menganggap kita sebagai musuhmu. Biarlah urusan mereka diselesaikan oleh mereka urusan kita, kita yang menyelesaikannya sendiri??"
Mendengar perkataan ini mendadak si gadis cantik berbaju hijau itu meloncat bangun, air mukanya berubah amat hebat.
Apa maksud perkataanmu itu? teriaknya keras, jikalau moay moay adalah musuh besar dari kami keluarga Ciang maka maafkan aku orang tidak bisa mengikuti petunjukmu itu
.
Gadis cantik pengangon kambing yang melihat gadis berbaju hijau itu begitu bernafsunya dia segera tersenyum.
Soalnya ini sebenarnya tidak begitu memberatkan, ujarnya perlahan, ayahku adalah si cangkul pualam Lie Sang, tentunya cici mengetahuinya bukan??"
Si gadis berbaju hijau yang mendengar disebutnya nama Lie Loo jie seketika itu juga dia buat berdiri melongo dengan mata terbelalak lebar lama sekali baru ujarnya.
Oooo kiranya kau adalah putrinya tidak aneh kalau harus berbicara demikian.
Tetapi secara tiba tiba gadis cantik pengangon kambing itu menuding ke arah Liem Tou. Lalu tahukah kau siapakah dia orang? tanyanya kepada gadis berbaju hijau.
Liem Tou yang ada disampingnya tak terasa lagi dibuat kebingungan, pikirnya.
Aku bukankah apa apanya ayahmu, buar apa dia bertanya tanya?"
Buat apa kau mengurusi, siapakah dia orang?? terdengar Si Gadis berbaju hijau itu berteriak dengan amat gusarnya. Aku cuma kenal dia adalah musuh besar pembunuh adikku, sekalipun ini hari aku tidak turun tangan membinasakan dirinya tiga hari kemudian dia orang tidak akan berhasil lolos dari tangan kami orang pihak Kiem Thian Bun.
Semakin berbicara Si Gadis berbaju hijau itu semakin marah membuat Lie Siauw Ie yang ikut mendengarkan disamping merasa tidak sabaran lagi sepasang alisnya dikerutkan rapat rapat sedang wajahnya berubah menjadi merah padam.
"Aku kira belum tentu berhasil, serunya dingin. "Cis, bukankah dia adalah kekasihmu? Seru gadis berbaju hijau itu mendadak sambil meloncat bangun. Di dalam urusan ini maaf tidak bisa dihapuskan lagi, waktu itu harap kau orang bisa menahan sakit batimu.
Air muka Lie Siauw Ie berubah memerah, mendadak dia bangkit berdiri wajahnya yang merah padam kini sudah berubah menjadi kehijau hijauan.
Dia betul kekasihku atau bukan kenapa kau orang ikut campar? bentaknya keras. Kau tidak usah banyak berbicara disini jikalau ada kapandaian cepat kerahkan keluar, aku mau coba lihat seberapa kelihayan dirimu"
"Oooh . . oooh . . baru saja belajar ilmu silat beberapa hari dari Lie Loo jie cianpwee sekarang sudah mau menantang orang untuk berkelahi Ejek gadis berbaju hijau itu. Kau orang iihat dulu kekuatanmu sendiri apakah bisa menangkan diriku"
"Tutup mulutmu, bentak Lie Siauw Ie tak dapat menahan sabar lagi"
Tangannya dengan cepat disilangkan ke depan dada lalu kirim satu pukulan menghajar kearah dada lawan.
Gadis berbaju hijau itu tertawa dingin, dia tetap berdiri ditempatnya semula sama sekal tak bergerak menanti serangan dari Lie Siauw Ie mendekati badannya mendadak telapak kirinya menyilang ke depan dada sedangkan tangannya dengan cepat bagaikan kilat menerobos menotok ke depan.
Liem Tou tahu ilmu jari si gadis berbaju hijau itu sangat lihay sekali, tidak terasa dia menjadi amat terperanjat, di dalam keadaan yang amat terdesak untuk menolong jiwa dari Lie Siauw Ie ini tanpa berpikir panjang lagi dia segera membentak keras.
"Jangan melukai Ie ciciku !"
Sreett .... dengan dahsyatnya dia orang kirim satu pukulan menghantam tubuh gadis berbaju hijau itu'
Gerakan masing masing pihak dilancarkan amat cepat sekali bagaikan menyambarnya kilat di tengah angkasa, baik Si Gadis berbaju hijiau serta Lie Siauw Ie tidak bisa menghindarkan diri dari serangan tersebut, segera terdengarlah dua kali jeritan kaget tubuh gadis berbaju hijau maupun Lie Siauw Ie pada waktu yang bersamaan pada rubuh ke atas tanah.
Si Gadis cantik pengangon kambing serta Liem Tou cepat cepat meloncat bangun dari tempat duduknya dan lari menghampiri Si Gadis berbaju hijau serta Lie Siauw Ie untuk memeriksa keadaan lukanya.
Tampaklah gadis berbaju hijau itn terkena pukulan Liem Tou sehingga lengan kirinya patah sebaliknya Lie Siauw Ie berhasil ditotok ja lan darah "Ci Bun Hiat" pada tetek sebelah kanannya oleh serangan gadis berbaju hijau itu.
Jalan darah "Ci Bun Hiat" ini merupakan salab satu jalan darah penting, di dalam keadaan tergesa gesa si gadis berbaju hijau itu melancarkan serangannya bahkan harus melewati hembusan angin pukulan dari Lie Siauw Ie pula membuat serangannya tidak begitu keras lagi, dengan demikian Lie Siauw Ie pun berbasil meloloskan diri dari bahaya maut.
Ilmu silat partai Kiem Thian Pay mengutamakan ilmu jari Yen Wis Tui Hun Ci dapat mengangkat namanya di dalam Bu lim, sekalipun serangan tadi enteng saja tetapi membuat Lie Siauw Ie cukup terpukul pingsan.
Liem Tou tidak menggubris lagi pantangan lelaki dan perempuan lagi, dengan cepat dia salurkan hawa murninya menguruti dada Lie Siauw Ie untuk membebaskan dirinya dari totokan jalan darah tersebut.
Gadis cantik pengangon kambing yang sedang memeriksa keadaan luka dari Si Gadis berbaju hijau itu dapat melihat tangan kirinya sudah patah oleh serangan tadi.
Sekalipun demikian sambil menggigit bibir menahan rasa sakjt dia meronta ronta bangun dengan pandangan rasa mendendam teriaknya pada diri Liem Tou
"Kau . . . kau . . . jika aku tidak bunuh diri mu, aku sumpah tidak mau jadi manusia.
"Ciang cici, cepat hibur gadis cantik pengangon kambing dengan halus. Lebih baik kau mengurusi keadaan lukamu sendiri, buat apa kau mengumbar nafsu pada saat ini?
Sembari berkata dari dalam sakunya dia mengambil keluar sebuah botol batu giok dan mengeluarkan dua butir pil berwarna putih dan didekatkan dengan mulut gadis berbaju hijau itu.
"Cici, ujarnya kembali. Telanlah kedua butir ini, setelah tulangnya disambung segera akan sembuh seperti biasa.
Saat ini si gadis berbaju hijau itu sudah benar benar amat benci terhadap mereka, dia segera gelengkan kepalanya menolak.
Siapa yang mau memakan barangmu itu? Bentaknya kasar. Cepat bawa pergi sekalipun aku Ciaug Beng Hu mati jupa tidak akan mau makan barangmu itu, kalian kucing sedang menangisi tikus . . . Hma? buat apa berbuat susah susah begitu?
Selesai berkata dengan jalan terbuyung huyung dia menuruni anak tangga loteng itu tapi baru saja berjalan dua langkah lengannya terasa amat sakit sekali sehingga sekali lagi berjongkok ke bawah.
Si gadis cantik pengangon kambing dengan cepat bantu membimbing dirinya.
Cici lukamu penting, lebih baik makan dulu pil ini, ujarnya dengan perlahan.
Sekali lagi Si Gadis berbaju hijau itu gelengkan kepalanya, air mata menetes keluar membasahi pipinya.
Cici cepatlah kau makan pil ini, ujar gadis cantik pengangon kambing itu sekali lagi. Sekalipun di antara kita satu sama lain tidak saling mengenal tetapi boleh dikata punya jodoh untuk bertemu.
Si gadis berbaju hijau itu gelengkan kepalanya kembali, dengan tangan kanannya menggendong tangan kiri dia berdiam diri tak menjawab.
Si Gadis cantik pengangon kambing yang melihat dia orang tidak mau menelan pilnya diam diam segera berpikir.
Jika aku membiarkan dia pergi seorang diri maka dendam di antara Liem Tou dengan pihak Kiem Thien Pay akan semakin mendalam lagi apalagi kekuatan serta pengaruh dari pihak Kiem Thien Pay sudah semakin meluas dari daerah Can Tian ke seluruh daerah Tionggoan serta Kanglam, jikalau dendam ini makin mendalam bukankah urusan semakin merepotkan?
Dia yang berpikir sampai disini tak banyak bicara lagi mendadak dia menotok jalan darah pulas dari gadis berbaju hijau itu, sewaktu menoleh ke belakang terlihat Liem Tou sedang mengobati dada Lie Siauw Ie sedangkan Lie Siauw Ie sendiri setelah jalan darahnya terbebas ktni sudah sadar kembali.
Gadis cantik pengangon kambing itu segera memberikan kedua butir pil itu pada Liem Tou.
Kedua butir pil ini berikanlah kepsda cici untuk dimakan, nanti kita bicarakan lagi sesudah kembali ke rumah penginapan.
Selesai berkata dia segera mengambil keluar sebutir mutiara dan diletakkan di atas meja, hal ini membuat para tetamu lainnya menjadi terbelalak dibuatnya.
Gadis cantik pengangon kambing tidak mau membuang waktu lebih banyak lagi, dia segera menggendong tubuh Si Gadis berbaju hijau itu dan lari turus ke bawah loteng, Liem Tou pun dengan cepat memberikan pil itu kepada Lie Siauw Ie lalu menggendong tubuhnya meninggalkan loteng tersebut.
Sesampainya di bawah loteng terlihatlah Toosu itu sudah diinjak oleh sang kerbau sehingga hancur lebur sukar untuk dikenal kembali, sebaliknya di atas punggung dari kerbau itupun jelas sekali tertera dua buah bekas telapak Thay Su Ing yang amat jelas sekali kaki depan nya berlutut di atas tanah sedang mulutnya tak hentinya mendengarkan suara rintihan yang berat.
Sedangkan itu hweesio si rase terbang entah sudah lari kemana?"
Liem Tou yang melihat dikarenakan dirinya harus pecah perhatian atas kedatangan gadis barbaju hijau itu, kerbaunya sudah menerima pukulan Thay Su Ing hatinya merasa gemas juga.
Ilmu pukulan Thay Su Ing ini merupakan ilmu telapak tunggal dari aliran Thian San Pay, jika seseorang kena pukulan ini walaupun diluarnya cuma kelihatan bekas telapak tangan saja padahal di dalam isi perutnya sudah tergoncang hebat, bilamana tidak diobati dengan cepat tentu akan menemui ajalnya.
Liem Tou tahu kerbaunya sudah menderita luka yang tidak ringan, diam diam dia merasa benci terhadap sang hweesio, tetapi saat ini dia sudah meninggalkan tempat itu terpaksa dengan tergesa gesa dia mengambil keluar tali peninggalan Hek Loo toa dan dimasukkan kedalam mulutnya.
Setelah kerbau itu menghabiskan satu ikatan Liem Tou baru menepuk nepuk punggungnya.
Gouw ko, ujarnya. Kau dapat melanjutkan perjalanan dengan menahan sakit bukan?.
Agaknya kerbau itu mengerti apa yang diucapkan olehnya, kaki depan yang semula berlutut di atas tanah kini bangkit berdiri, tetapi baru saja berdiri tidak lama sekali lagi ia jatuh berlutut kembali sedangkan dari mulutnya memperdengarkan suara dengusan yang amat rendah, diantara dengusan itu membawa beberapa bagian rasa sedihnya
Liem Tou yang melihat kerbau itu tidak bisa bangkit berdiri dia menjadi teramat cemas. Gouw ko, ujarnya kembali. Tidak perduli bagaimanapun kau harus paksakan diri untuk berjalan beberapa langkah, tidak jauh . .rumah penginapan disebelah depan sana, nanti aku akan segera menyembuhkan lukamu, coba kau lihat sekarang berlutut di tengah jalan memancing banyak orang yang menonton, bukankah hal itu amat jelek sekali??""
Saking cemasnya sehingga pikirannya buntu memaksa Liem Tou harus berbicara sedemikian rupa terhadap kerbaunya, sang kerbaunya dengan membelalakkan matanya lebar lebar memandang ke arah Liem Ton, setelah mendengus pedih mendadak ia tundukkan kepalanya
Melihat hal itu diam diam pikir Liem Tou didalam bati.
Obat dari Hek Loo toa itu amat sakti dan mujarab sekali, beberapa kali dicoba pasti membawa hasil, kenapa kali ini gagal.?
Dia merasa tentunya daya obat itu belum berjalan karenanya kepada si gadis cantik pengangon kambing, kembali dia minta kembali dua butir pil mujarapnya lalu dimakankan kepada kerbaunya kemudian secara diam diam kerahkan tenaga dalamnya melalui bekas telapak tangan tertera diatas perutnya.
Si gadis cantik pengangon kambing tidak mengetahui kalau Liem Tou sudah memiliki kepandaian silat yang sakti, dia kira kepandaiannya tidak lebih juga seperti setahun yang lalu, saat ini terdengar dia berteriak keras,
Liem Koko, biarlah aku menolong kau, dia tentu terluka karena darahnya menggumpal, aku harus menghancurkan gumpalan darah itu. terlebih dahulu sehingga dengan demikian lukanyapun tidak akan terluka bahaya".
Walaupun di dalam hati Liem Tou merasa geli tetapi dia mengalah juga, gadis cantik pengangon kambing itu segera menempelkan telapak tangannya keatas perut kerbau itu.
Beberapa saat kemudian si Gadis cantik pengangon kambing itu baru berhenti, Liem Tou cepat cepat angkat tangannya ke depan perut kerbau itu sambil membentak keras.
"Ayoh bangun".
Kerbau itu cepat bangkit berdiri cuma saja kedua kakinya masih tetap gemetar dengan amat kerasnya, saat itulah Liem Tou baru tahu kalau kerbau tersebut sudah menderita luka yang amat berat sekali, terpaksa dia tempelkan kembali telapak tangannya ke atas perut kerbaunya lalu secara diam diam mengerahkan tenaganya menahan jangan sampai dia roboh ke atas tanah.
"Wan moay ayoh jalan" serunya kemudian.
Demikianlah masing masing dengan menggendong Si Gadis berbaju hijau serta Lie Siauw Ie dan Liem Tou menyeret juga kerbaunya melanjutkan perjalanannya.
Waktu itu banyak orang orang pendaduk di sekitar tempat ini mengikuti dari belakangnya, bahkan berita ini dengan cepatnya mengalir ke seluruh penjuru kota.
Hanya di dalam sekejap saja berita tentang munculnya seekor kerbau ajaib ini sudah tersebar keseluruh kota Tang Yang bahkan rumah penginapan dimana Liem Tou serta si gadis cantik pengangon kambing berdiam telah di datangi banyak orang yang ingin melihat keanehan kerbau itu.
Melihat hal itu Liem Tou jadi kuatir atas keselamatan dari kerbaunya yang ditaruh di kandang kuda, dia takut kerbaunya yang sedang terluka mendapatkan serangan lagi dari orang lain sehingga menemui ajalnya.
Setelak dia orang mengurusi Lie Siauw Ie dan mengetahui kalau lukanya tidak terlalu bahaya, kepada Si Gadis cantik pengangon kambing lalu ujaraya.
"Wan moay. aku merasa tidak lega hati bila kerbau itu disimpan di dalam kandang kuda, kau pikir baiknya kita taruh di mana ??
"Apa kau punya maksud untuk memasukkan kerbau itu ke dalam kamar tinggal bersama kita ? " goda gadis cantik pengangon kambing sambil tertawa.
"Benar" sahut Liem Tou mengangguk aku punya, maksudnya demikian, cuma saja aku takut Wan moay menggoda diriku.
"Buat apa aku menggoda dirimu?" ujar si gadis cantik pengangon itu sambil tertawa. Sekarang kerbau itu sudah jadi barang wasiatmu, diapun merupakan pengawalmu, memang seharusnya kau bersikap hormat seperti murid bersikap hormat terhadap suhunya.
Dengan pandangan tajam Liem Tou memperhatikan diri gadis cantik pengangon kambing itu, dia takut di dalam perkataannya ini mengandung maksud mengejek, tetapi sewaktu melihat wajah si gadis cantik pengangon kambing itu dihiasi dengan senyuman yang menyenangkan dia baru tidak menaruh curiga lagi, diapun jadi turut tertawa.
"Kalau begitu bagus sekali" biar aku suruh dia kemari.
Baru saja Liem Tou mau keluar pintu mendadak terdengar si gadis cantik pengangon kambing sudah berteriak.
"Kau harus mandikan dia bersih-bersih baru bawa masuk kemari, kalau masih bau aku akan mengusir dia keluar."
"Baik ... baik" sahut Liem Tou sambil tertawa, aku pasti akan mandikan dirinya terlebih dulu, moay moayku yang tercinta."
Seaera dia berjalan keluar dari kamar itu.
Si gadis cantik pengangon kambing yang mendengar dia orang memanggil dirinya dengan kata kata moay moay yaug tercinta dari dalam segera makinya
"Kau orang semakin lama semakin jahat, jika menimbulkan hawa amarahku jangan salahkan aku segera potong lehermu."
Kepada Lie Siauw Ie yang sedang berbaring diatas pembaringan sambil tersenyum memandang dirinya dia berkata lagi.
"Ie cici, inilah hasil dari dirimu yang terlalu memanjakan dirinya, kau harus baik baik mengurusi dirinya.
Lie Siauw Ie yang baru sembuh dari lukanya tidak leluasa untuk menjawab dia hanya kirim satu senyuman kepadanya. Kamar itu sebenarnya adalah dua ruangan yang disambung menjadi satu. Si Gadis cantik pengangon kambing segera berkata kepada Lie Siauw Ie.
"Ie cici, kau berbaringlah disini. Aku akan melihat keadaan dari Ciang cici" Lie Siauw Ie mengangguk.
Dengan langkah yang perlahan Si Gadis cantik pengangon kambing berjalan masuk ke dalam kamar dan membuka kordin yang menutupi tempat tersebut, terlihatlah Ciang Beng Hu masih tidur dengan amat nyenyaknya dia tidak mau mengganggu setelah melihat sejenak cepat cepat dia undurkan diri kembali kesamping pembaringan Lie Siauw Ie dan men bicarakan soal soal di dalam dunia kangouw dan jejak selanjutnya dari mereka bertiga.
Tidak lama kemudian Liem Tou balik lagi ke dalam kamar dengan menuntun kerbaunya itu, begitu sang kerbau masuk kedalam kamar seketika itu juga memancing tertawaannya dari pemilik rumah penginapan itu serta para tamu lainnya, Liem Tou sama sekali tidak menggubris bahkan kirim satu senyuman ketolol tololan kepada mereka.
Seseorang diantara mereka yang melihat Liem Tou tidak dibuat marah oleh ejekan mereka segera mengggoda.
"Hey engkoh cilik, kau membawa kerbau itu ke dalam kamar apakah mau mengajaknya tidur bersama sama satu ranjang kau berhati hatilah jangan sampai dikencingi kerbau tersebut.
Haaa . . haaa . . Liem Tou pun tartawa terbahak bahak dengan kerasnya. Kalian apa tidak tahu kalau kerbau ini kerhau ajaib? kerbau ajaib selamanya tidak pernah kencing dipembaringan, tetapi aaah . . nanti malam sewaktu tidur aku harap kalian mau berhati ha-ti "
Liem Tou sengaja memperhatikan sikap serta gerak geriknya yang amat misterius lalu memperhatikan para tetamu sambil kerutkan alisnya rapat rapat.
Orang itu sewaktu melihat sikap dari Liem Tou amat serius tidak terasa menjadi amat tegas.
"Ada apa?" tanyanya.
Liem Tou berpikir sebentar, akhirnya dia gelengkan kepalanya.
Lebih baik aku tidak berbicara saja nanti jika aku bilang tentu kalian akan ketakutan sehingga satu malaman tidak bisa tidur kalau sampai terjadi urusan itu bukankah kalian semua akan menyalahkan aku?"
Orang orang itu setelah mendengar perkataan ini hatinya semakin tidak lega lagi, mereka pada mendesak Liem Tou untuk mengatakan urusan apa yang akan terjadi.
Melihat suasana yang semakin ribut, Liem Tou baru menjawab dengan suara perlahan.
Jikalau kalian benar mau mengetahui urusan ini akupun tidak bisa bardiam diri terus, tetapi asalkan ada aku disini kalian tidak usah takut. Kerbauku ini tidak ada jeleknya cuma saja ada kalanya sewaktu menjadi marah dan nafsu binatangnya berkorbar dia sering tidak mengenal orang lain sehingga berlarian melukai orang lain secara sembarangan, makanya sebelum urusan terjadi aku beri peringatan dulu kepada kalian, jikalau dia betul betul marah dan menubruk nubruk kalian tak usah menjadi gugup sehingga mengakibatkan bencana besar. waktu itu urusan bisa berabe."
Para pedagang itu sewaktu mendengar perkataan ini ditambah pula berita terinjak matinya seorang toosu serta melayangnya sang kerbau melewati atap rumah membuat mereka menjadi percaya seratus persen, tidak terasa lagi air muka mereka pada berubah menjadi amat hebat, setelah tertegun beberapa saat lamanya mendadak pada berteriak keras.
Haaaduuuh . . payah . . payah . . jikalau di dalam rumah penginapan ada penyebab bencana ini bagaimana suruh kita berdiam disini dengau tenang? hey engkob cilik cepat bawa dia keluar, jikalau kerbau itu sampai melukai orang buat dirimu juga tidak ada gunanya.
Hey pelayan .. pelayan . .! Teriaknya salah seorang di antara mereka. Aku mau batalkan rencanaku tinggal disiai, aku tidak mau tinggal bersama binatang penyebab bencana ini.
Seketika itu juga suasana di dalam ruangan penginapan itu menjadi kacau balau. Liem Tou yang melihat hal ini diam diam merasa amat geli sekali, setelah masuk ke dalam dan bertemu dengan gadis cantik pengangon kambing tidak kuasa lagi dia tertawa terbahak bahak.
Si gadis cantik pengangon kambing yang melihat sikapnya yang amat aneh itu tidak urung dibuat curiga dan ragu ragu.
Hey ada urusan apa yang membuat kau tertawa terbahak bahak? tanyanya keheranan.
Mereka menggoda aku lalu aku balik menggoda mereka dengan menipu yang bukan bukan siapa tahu mereka sudah menganggapnya sungguh sungguh dan pada membatalkan niatnya untuk berdiam ditempat ini, aku rasa rumah penginapan ini bakal sepi.
Baru saja berbicara sampai disini mendadak terdengar suara orang yang sedang mengetuk pintu. Liem Tou segera membukanya terlihat pemilik rumah penginapan itu sedang berdiri dimuka pintu dengan wajah yang serba susah, bibirnya sedikit bergerak mau mengucapkan sesuatu pada Liem Tou, tapi sewaktu dilihat kerbau itu berdiri di samping pinta dia menelan kembali kata katanya.
Liem Tou segera menduga apa yang sudah terjadi, kepada Si Gadis cantik pengangon kambing ujarnya sambil tertawa.
Wan moay mutiaramu apa masih ada?? para tamu sudah dibuat ketakutan oleh kerbau sehingga pada melarikan diri terbirit birit kini si pemilik rumah penginapan mencari aku seharusnya kau orang bantu aku usir dia pergi.
Hmm, aku tidak mau ikut campur urusanmu yang merepotkan ini, seru Si Gadis cantik pengangon kambing sambil mencibirkan bibirnya. Seorang lelaki sejati berani berbuat tentu berani menanggung jawab. Buat apa kau mencari aku??"
Ooooh.. .adikku yang baik, mohon Liem Tou cepat. Kenapa kau begitu teganya melihat aku kesusahan? cukup kau mengambil keluar sebutir mutiara bukankah urusan akan segera menjadi beres?"
Si gadis cantik pengangon kambing segera termenung berpikir sebentar.
Demikian saja, ujarnya kemudian. Asalkan kau menyanggupi diriku untuk melakukan tiga macam urusan maka aku beri kau orang sebutir mutiara, bagaimana?
Diam diam di dalam hati Liem Tou berpikir.
Sungguh lucu sekali, mutiara yang kau miliki sekarang ini bukankah aku yang memberikan kepadamu? padahal saat ini aku masih mempunyainya sangat banyak sekali hanya saja tidak leluasa untuk mengambilnya, entah apakah ketiga syaratnya itu?"
tapi aku kira tentunya tidak sukar lebih baik aku menyanggupinya.
Berpikir sampai disitu segera menyanggupinya.
Kalau memangnya Wan moay yang menghendakinya, jangan dikata cuma tiga macam urusan saja sekalipun tigapuluh atau tigaratus pun aku akan melakukan dengan sepenuh tenaga."
Baiklah, ujar si gadis cantik pengangan kambing itu kemudian sambil tertawa dan mengambil keluar sebutir mutiara.
Tapi kau harus ingat urusan ini kau tak mungkir lagi Ie cici kau harus jadi saksi.
L
iem Tou segera mengangguk
Melihat dia orang sudah menyanggupinya si gadis cantik pengangon kambing beru bicara.
Pertama, untuk selanjutnya kau tidak diperkenankan untuk berbuat kurang ajar terhadap cici, kau bisa melakukannya, bukan?"
Soal itu tak perlu dikuatirkan.
Kedua segera pergi mencari satu stel pakaian yang bersih dan bagus kalau tidak jangan kembali lagi.
Liem Tou segera tertawa terbahak bahak.
Aku kira urusan berat macam apa, soal inipun tidak sukar diselesaikan.
Kau orang jangan gembira dulu, sambung si gadis cantik pengangon kambing dengan perlahan. Urusan yang sulit ada di belakang, ketika di dalam tiga hari ini kau harus mencari berita siapa yang sudah membinasakan kawanan kambingku. Ini bawa pergi.
Sembari berkata dia melemparkan mutiara itu ke tangan Liem Tou, lalu sambungnya lagi.
Sekarang mutiara itu sudah kau dapatkan urusankupun harus kau selesaikan cepat cepat jikalau diantara ketiga urusan ini tidak bisa melaksanakannya jangan harap aku berlaku sungkan lagi terhadap dirimu.
Liem Tou yang mendengar permintaannya yang ketiga itu tidak terasa lagi diam diam merasa kepayahan, pikirnya
Sungguh licik pengangon kambing ini, ternyata aku sudah kena pancingannya, tapi kau tunggu saja nanti ada permainan bagus bakal menyusul di belakang.
Berpikir sampai disitu dia segera tertawa, sahutnya.
" Apa susahnya urusan ini? kau legakanlah hatimu, kalau aku sudah menyanggupi untuk melaksanakan pekerjaan itu orang pasti akan melakukannyanya sampai beres."
Liem Tou segera putar badannya untuk menyerabkan mutiara itu kepada si pemilik rumah penginapan sebagai ganti batalnya para tamu untuk menginap disana.
Saat itulah mendadak.. ."Plaaak" ada sebuah benda berat yang memecahkan jendela melayang masuk ke dalam dan tepat jatuh di tengahi kamar.
Sepasang mata dari Liem Tou yang amat tsjam hanya di dalam sekali pandang saja sudah mengetahui macam benda tersebut, dengan cepat dia menoleh keluar jendela, tampaklah sesosok bayangan hijau dengan amat cepatnya berkelebat lenyap dibalik tembok.
Aaaah emas.. .terdengar si gadis cantik pengangon kambing menjerit keras. Bagaimana bisa ada emas yang melayang masuk ke dalam kamar kita??"
Liem Tou sebenarnya adalah seorang yang cetdik, setelah berpikir sebentar mendadak dia gelengkan kepalanya.
Heee. .Ciang cici sudah pergi serunya sambil menghela napas panjang, ternyata dia orang tidak mau menerima budi kebaikan kita.
Perkataannya ini mana si gadis cantik pengangon kambing mau mempercayainya?? Bukankah tadi dia orang tertidur dengan amat pulasnya bagaimana sekarang bisa pergi? dengan cepat dia berlari masuk ke kamar dalam, tapi sebentar saja dia sudah menjadi tertegun.
Kiranya jendela sudah terbentang lebar sedangkan orangnya telah lenyap tidak berbekas.
Orang itu sungguh aneh sekali., tulangnya yang patah masih belum sembuh jikalau terkena angin lagi bukankah sukar diobati dan semakin mendatangkan kerepotan buat dirinya sendiri?" seru Si Gadis cantik pengangon kambing dengan perlahan. Liem Tou tidak menjawab, dia putar badan memungut emas itu dan ditimang timangnya di atas tangan, segera dia merasa emas itu ada lima, enam kati beratnya, dengan cepat disusupkan ke dalam sakunya.
Waktu itulah Si Gadis cantik pengangon kam-sedang berjalan masuk kedalam kamar, melihat Liem Tou memasukkan emas itu ke dalam sakunya segera berseru.
Eei Liem Tou koko bagaimana kau boleh memasukkan emas itu ke dalam sakumu?"
Liem Tou meagerutkan alisnya rapat rapat.
Perempuan semacam ini tidak ada harganya untuk Wan moay menaruh rasa kuatir kepada nya . . aku mau pergi cari dirinya lalu menggunakan emas ini menimpuk wajahnya.
Mendengar perkataan itu Si Gadis cantik pengangon kambing menjadi amat gusar makinya.
Aku masih mengira kau adalah seorang lelaki sejati, pintu kamar saja belum dilewati sudah mengingkari janji , Hmm, bukankah baru saja kau orang menyanggupi tiga buah permintaanku
Saat ini mutiara tersebut masih ada ditangan Liem Tou, mendengar perkataan tersebut dia segera mengangsurkannya kembali.
Kau ambillah kembali barang ini, ujarnya. Jikalau kau orang suruh aku menganggap tapak seorang perempuan yang begitu tidak tahu diri, aku tidak akan menyanggupinya.
Si gadis cantik pengangon kambing menjadi teramat gusar, dengan cepat dia rebut kembali mutiara yang ada di tangan Liem Tou lalu putar badannya
"Baiklah, ujarnya. Kau mau berbuat apapun terhadap dirinya aku tidak akan ikut mencampurinya kembali, soal siapa yang membinasakan kambing kambingku tidak perlu kau orang bersusah payah menyelidikinya sendiri. Ie cici aku serahkan kepadamu kembali, aku mau pergi dulu.
Selesai berkata dia segera menjejak kakinya dan melayang keluar dari jendela
Liem Tou sama sekali tidak menyangka kalau dia bisa begitu marah, padahal dia orang cuma merasa kheki saja melihat kekasaran dan ketidak tahu aturan dari Ciang Beng Hu itu karena itu berbicarapun agak kasar, kini melihat Si Gadis cantik pengangon kambing mau pergi dia menjadi cemas, tangannya dengan cepat menyambar tangannya sambil berseru.
"Wan-moay kau jangan,pergi, semuanya adalah kesalahanku buat apa kau pergi? " apalagi jika harus pergi. yang pergi seharusnya aku, Ie cici scrta kerbau itu masih ada disini biarlah Wan moay tolong menjaganya, aku pergi dulu.
Kata kata terakhir baru saja diucapkan ke luar dia sudah menarik tandan si gadis Cantik pengangon kambing itu ke belakang menbuat dia orang tidak terasa lagi mundur beberapa langkah kebelakang.
Liem Tou segera maju ke depan lalu menutulkan ujung kakinya diatas permukaan tanah lalu berkelebat keluar dari jendela, ujarnya sambil merangkap tangannya menjura.
"Selamat tinggal."
Dengan cepatnya dia orang sudah melayang pergi tak berbekas.
Si gadis cantik pengangon kambing menjadi cemas, teriaknya.
"Liem koko . . - kau tunggu dulu, aku ada perkataan yang hendak disampaikan kepadamu' Heeey kenapa kau marah terhadap diriku . . . Liem koko . . . ."
Sekalian Liem Tou mendengar suara panggilan tersebut tapi dia orang tidak mau memberikan jawabannya dalam hati dia kepingin memecahkan rahasia pencurian yang dilakukan oleh si penjahat naga merah itu.
Adanya tanda ular di kota yang menemui bencana memang jelas menunjukkan si naga merah lah yang melakukan perampokan tersebut, tapi terang terangan si penjahat naga merah pada malam itu ada di kuil Siang Lian si, bagaimana mungkin dia orang bisa pergi ke kota Tang Yang untuk melakukan perampokan.
Karena itu dengan mengambil kesempatan ini dia meninggalkan rumah penginapan untuk mencari seperangkat pakaian yang berwarna hijau untuk berganti pakaian lalu membeli pula sebuah topi terbuat dari rumput.
Sebentar saja seorang gembala kerbau yang kotor dan dekil kini sudah berubah meujadi seorang kongcu yang amat perlente dan tampan sekali, sedikitpun tidak mirip dengan Liem Tou yang dahulu.
Hari ini Liem Tou berjalan masuk keluar di setiap rumah makan dan mencari berita di dalam kota Tiang Yang tetapi tidak ada sebuah beritapun yang didapatkan, tiba tiba di dalam pikirannya teringat akan sesuatu, pikirnya.
"Orang yang melukai empat orang toosu Bu tong pay sekaligus dengan menggunakan senjata rahasia pada waktu itn adalah pengemis, bila orang itu pula yang melakukan pem bunuhan terhadap kawanan kambing dari si gadis cantik pengangon kambing seharusnya aku pergi ketempat yang banyak pengemisnya, buat apa pergi kerumah makan ?"
Berpikir sampai disini tidak tertahan lagi dia merasa geli sendiri, siasatnya segera dirubah, dia khusus pergi ke dalam kuil yang bobrokan atau tempat tempat yang banyak ditemui pengemis.
Tetapi walaupun sudah dicari setengah harian dan sang suryapun sudah berada di ufuk barat dia orang sama sekali tidak memperoleh sedikit beritapun. Akhirnya sampailah dia orang di sebuah pohon siong yang amat lebat dan tinggi sekali membuat setiap orang yang melalui tempat itu merasa hatinya bergidik.
Diam diam dalam hati Liem Tou berpikir.
Tidak urung ini hari aku orang tidak berhasil mendapatkan jejak dari pengemis itu, kemungkinan juga sejak semula dia sudah meninggalkan kota Tang Yang ini, jikalau memang begitu adanya sekalipun aku harus mencari sepuluh, dua haripun tidak berguna. Dengan bergendong tangan dia segera berjalan memasuki pohon siong itu kurang lebih setengah jam kemudian mendadak dihadapanaya muncul dinding tembok yang amat nyata, agaknya ditempat tersebut merupakan aebuah kuil kaum toosu yang kecil.
Liem Tou segera mempercepat langkahnya menuju kesana, tampaklah olehnya pintu kuil itu setengah terbuka di atas pilar tergantunglah sebuah papan yang bertuliskan Ceng Coen Koan tiga huruf dari emas.
Cepat tubuhnya masuk kedalam ruangan itu, mendadak dia merasakan bau wanginya panggangan ayam berhembus keluar dari dalam kuil tersebut bahkan di dalam kuil tidak nampak adanya dupa maupun lilin yang dipasang, diatas dan di sekitar patung arca tampak debu yang amat tebal menutupi semua tempat, bahkan tidak kelihatan adanya sesosok manusiapun.
Liem Tou memerikasa sejenak keadaan disekeliling tempat itu, baru saja dia mau masuk kedalam kuil mendadak terdengarlah suara seseorang sedang bicara.
Jika demikian adanya kematian dari Leng-Ceng Too heng bukanlah kalian bertiga yang melakukannya, soal ini mungkin aku masih bisa percaya, tetapi kalau memang begitu apakah kitab pusaka To Kong Pit Liok itu juga sudah didapatkan oleh si penjahat naga merah?"
"Semula kamipun punya pikiran begitu sahut seseorang lagi. Tetapi sewaktu kemarin malam kita bertempur sendiri dengan penjahat tua itu kami rasa tenaga dalamnya tidak memperoleh kemajuan seberapa jika dibandingkan dengan setahun yang lalu.
Kitab pusaka To Kong Pit Liok merupakan sebuah kitab yang berisikan ilmu silat yang amat dahsyat sekali, jikalau dia orang betul betul sudah mendapatkan nya jangai dikata kami sekalipun Lie Loo-jie juga belum tentu merupakan tandingannya.
Liem Tou yang mendengar perkataan itu segera bisa membedakan kalau suara itu berasal dari si Thiat Sie Sianseng, dengan demikian si siucay buntung serta si pengemis pemabokpun seharusnya ada disana.
Terdengar orang yang pertama membuka mulut dan berbicara lagi. Jikalau begitu si penjahat naga merah tentu nya belum memperoleh kitab pusaka To Kong Pit Liok itu. lalu kitab pusaka tersebut sudah di dapatkan oleh siapa??"
"Aku tahu akan seseorang" tiba tiba sipengemis pemabok menyambung, sewaktu aku terluka, waktu itu aku sedang mengerahkan tenaga dalamku untuk menyembuhkan luka dari si penjahat naga yang telah pergi mengejar si Thiat Sie Sianseng, aku melihat ada orang berjalan masuk kedalam lembah.
Berbicara sampai disini mendadak si pengemis pemabok meghela napas panjang.
"Jikalau memang benar sudah dia peroleh hey.. rejeki bocah cilik itu sungguh bagus" ujarnya. Hey Heng San Jie Yu, aku dengar kalian berdua pandai berpikir coba kalian terka siapakah orang itu??"
Suasana seketika itu juga dicekam kesunyian yang amat sangat tidak terdengar sedikit suarapun. Liem Tou yang mendengar perkataan dari si pengemis pemabok itu tidak urung di dalam hati diam diam memaki.
"Kau setan arak, ternyata mau membocorkan rahasiaku."
Pada saat itulah mendadak terdengar seseorang berbicara kembali.
"Soal ini tidak sukar untuk diduga, apakah bukan itu si perempuan tunggal atau Ku Li Touw Hong? menurut berita yang tersiar didalam Bulim katanya si perempuan tunggal Touw Hong ini pernah mengalahkan Auh Hay Ong suami isteri dari Kiam Thien Pay hanya di dalam tiga jurus saja, dan kini perempuan tersebut sudah diterima Auh Hay Ong sebagai jagoannya.
Karena itulah pengaruh dari Kiam Thien pay di dalam beberapa hari ini amat dahsyat sekali sehingga sebagian daerah Kang lam sudah dikuasai oleh mereka, aku dengar pula katanya si perempuan tunggal Touw Hong tidak lama kemudian akan membuka cabang cabang diseluruh daerah, jika berita ini benar maka Loolap kira kitab pusaka To Kong Pit Liok itu tentunya sudah didapatkan olehnya.
Mendengar perkataan itu diam diam Liem Tou merasa hatinya amat murung, pikirnya.
Aku belum pernah dengar dari daerah Si Lam sudah muncul seorang perempuan yang demikian jumawanya, jikalau urusan ini benar benar terjadi aku kepingin sekali menemui dirinya, aku benar benar mau lihat dia orang mempunyai kelebihan apa yang patut dibanggakan
Saat ini si pengemis pemabok sudah tertawa lagi, ujarnya.
Perkataan yang Chiet Siauw Thaysu ucapkan sudah terpaut amat jauh sekali, sekalipun si perempuan tunggal, Touw Hong itu aku pernah mendengarnya tetapi belum percaya benar benar, siapa tahu kabar itu juga kabar kosong dari Loociang saja ??
Sebetulnya orang yang sudah memasuki lembah itu memang membuat hatiku sedikit ragu ragu. tetapi setelah kejadian itu kemarin malam dikuil Siang Lian Si ....
Berbicara sampai disini agaknya si siucay buntung sudah tidak sabaran lagi.
Hey sebetulnya siapa?" tanyanya keras. Cepat kau katakan, buat apa putar putar kalangan dulu?
Heeii Loojiau, kenapa kau terburu nafsu?" ujar si pengemis pemabok sambil menghela napas panjang, bukanlah aku orang sengaja memutar kalangan, aku cuma takut kalian tidak mau percaya," tentu kalian ingat dengan Liem Tou si bocah cilik itu bukan?
Mendengar disebutnya nama Liem Tou oleh si pengemis pemabok itu, si siucay buntung segera tertawa terbahak bahak.
Liem Tou sudah lama meninggal terjatuh ke dalam jurang bagaimana dia bisa muncul kembali di gunung Wu san?" serunya keras, bukankah omonganmu terang terangan bohong?
Tetapi terang terangan kemarin malam sewaktu ada didalam kuil Siang Lian si kita mendengar sendiri kalau murid dari Lie Loo jie itu sudah mengatakan baru saja bertemu dengan Liem Tou apa kau tidak mendengar, apalagi kerbau itu milik dari Liem Tou tentang ini tentunya kau tahu bukan," ujar si pengemis pemabok.
Sepasang biji mata dari si siucay buntung berputar berulangkali lalu teriaknya keras.
Kalian tak usah berkata lagi, aku tidak percaya . . . tidak percaya..
Kau tidak percaya yaah sudah, aku kan tidak suruh kau untuk mempercayainya, teriak si pengemis pemabok dengan kerasnya pula, agaknya dia sudah dibuat gusar.
Kalian bedua tidak usah beribut lagi seru Ciat Siauw Taysu dari Siauw lim pay melerai.
Percayi tidak, tak ada keharusan jikalau kau orang percaya yaaah percaya kalau tidak percaya yaah tidak percaya buat apa diributkan? kini ada si jago main sie poa disini kenapa tidak menyuruh dia orang menghitungkannya untuk mengetahui keadaan yang sesungguhnya?
Betul . . .betul . . .sokong Heng san Jie Yu dengan gembira sekali. Memang pikiran dari Loo tayhiap jauh lebih cepat.
Ternyata tidak susah, setelah itu terdengarlah suara dipukulnya biji biji sie poa pulang pergi.
Liem Tou yang mendengar suara tersebut jadi terperanjat, diam diam pikiriya. Sie poa dari Thiat Sie sianseng ini selamanya amat tepat jikalau hal ini sampai terhitung olebnya dan tersiar di tempat luaran, perjanjian di atas puncak pertama Ciang Jan bulan lima tanggal lima yang akan datang bakal berabe juga.
Pikirannya segera berputar untuk memikirkan satu siasat, dengan cepat dia meloncat ke atas atap kuil dan memperhatikan keadaan di dalam ruangan, terlihatlah beberapa orang itu sedang duduk bersila dialas tanah dengan ditengahnya duduk seorang hweesio.
Sudah tentu hweesio itu adalah Chiet Siauw-Thaysu. Dia itu ciangbunjin dari Siauw Lim Pay. Di samping kanan dan kirinya duduklah dua orang toosu berupa pertengahan yang bukan lain adalah Heng san Jie Yu, sedangkan Tionggoan Sam Koay duduk di paling bawah.
Mereka semua duduk mengerubungi sebuah api unggun yang sedang memanggang seekor ayam yang amat gemuk, dan tempat kejauhan saja sudah terciumlah bau harum yang semerbak membuat orang mengiler.
Waktu ini si Thiat Sie sianseng sedang tundukkan kepalanya menghitung pulang pergi biji sie poanya, sisanya lima orang melotot memandangi dirinya, agaknya mereka merasa amat tegang sekali, Liem Too tidak berpikir panjang lagi dengan cepat dia meioncat turun ke belakang meja sembahyang yang terbuat dari batu dan mengerahkan ilmu jarinya yang lihay, membuat batu tersebut seketika itu juga membekas satu gambaran sedalam beberapa coen, jelas memperlihatkan kalau Tenaga dalamnya sudah mencapai taraf yang sangat dahsyat sekali.
Setelah menggambar diam diam Liem Tou tidak tarasa merasa geli juga. mendadak disamping gambaran ini dia menulis.
Burung Hong tidak meninggalkan ayam, ayam tidak meninggalkan burung Hong. Harap pada bulan lima tanggal lima pada berkumpul dipuncak pertama Cing Jan untuk menentukan menang kalah.
Setelah semuanya selesai dia mengerahkan iimu meringankan tubuhnya kembali berkelebat melalui hadapan ke enam orang itu.
Mereka berenam seketika itu juga merasakan aedikit tidak beres saat itulah Liem Tou sudah menyambar ayam yang sudah dipanggang itu dan melarikan diri keluar dari kuil tersebut lalu meloncat naik keatas pohon siong untuk menonton permainan yang lucu.
Ternyata sedikitpun tidak salah, sewaktu Liem Tou menikmati panggangan ayam itu dengan nikmatnya, suasana di dalam kuil menjadi kacau balau, mereka berenam dengan berpisah pada meloncat naik ke atas dari enam penjuru yang berlainan, enam pasang mata dengan amat tajamnya memperhatikan keadaan di sekeliling tempat itu untuk memeriksa setiap pohon siong yang berada disana.
Pakaian yang dipakai Liem Tou berwarna hijau, apalagi suasana diluar sangat gelap sekali sudah tentu mereka tidak bisa menemukan dirinya.
Si pengemis pemabok adalah seorang yang paling doyan makan, kini melihat seekor ayam yang gemuk dan berbau wangi telah dicuri orang bahkan tak tampak jejaknya segera memaki kalang kabut, dari anaknya, bapaknya sampai neneknya dimaki semua.
Tongkat pemukul anjing yang ada ditangannya diketukkan ke atas atap rumah membuat suasana amat ramai, air liur muncrat muncrat ke tengah udara sedang giginya gemeretuk menahan kegemasan hatinya.
Liem Tou yang bersembunyi di atas pohon siong sewaktu melihat si pengemis pemabok memai tidak hentinya walaupun didalam hati merasa geli sekali tetapi terhadap makian dan omongannya yang amat kotor semakin lama merasa tidak tahan juga.
Tulang ayam yang ada ditangannya segera disambit kearahnya dengan disertai desiran angin yang sangat keras, bersamaan waktunya pula tubuhnya meloncat ke arah pohon siong yang lain.
Si pengemis pemabok yang mendengar adanya suara sambaran benda yang mememecahkan kesunyian mengancam tubuhnya dengan cepat dia miringkan kepalanya ke samping untuk menghindarkan diri, dengan santarnya tulang ayam itu lewat di samping telinganya.
Tidak terasa lagi dia menjadi amat gusar sekali, ujung kakinya segera menutul permukaan tanah laksana seekor elang raksasa dengan dahsyataya menubruk ke arah pohon tersebut.
Melihat kehebatan dari ilmu meringankan tubuhnya tidak terasa Liem Tou mengangguk memuji kehebatannya. si siucay buntung, Thiat Sie sianseng, Heng-san Jie Yu serta Thiat Siauw Thaysu yang takut sipengemis pemabok mendapatkan bokongan bersama sama berteriak.
"Hey pengemis busuk hati hati jangan sampai kena dibokong orang"
Diikuti mereka berlima bersama sama berkelebat menuju kearah yang sama, tetapi di tempat itu sama sekali tidak terlihat sesosok manusia pun.
Orang itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang amat tinggi, ujar Thiat Siauw Thaysu kemudian sambil menghela napas panjang. Bahkan boleh dikata sudah mencapai pada taraf kesempurnaan, ayam panggang yang ada dihadapan kita saja sudah berhasil dicuri oleh orang tanpa kita rasakan apalagi untuk mengejar dirinya?? aku lihat sia sia saja pekerjaan kita ini"
Perkataan dari Thaysu sedikitpun tidak salah Sambung Loo toa dari Heng san Jie Yu. Lebih baik untuk sementara waktu kita kembali ke kuil dulu untuk memeriksa apakah ada tanda tanda yang ditinggalkan olehnya, setelah itu kita baru menyelidiki siapakah sebenarnya orang tersebut.
Tionggoan Sam Koay pun mengetahui kalau perkataan ini sedikitpun tidak salah, terpaksa mereka balik ke dalam kuil lagi.
Di antara mereka cuma si pengemis pemabok saja yang masih tidak puas, dia tidak mau ikut turun sebaliknya memaki maki dulu di atas atap dengan kalang kabut lalu baru melayang turun ke dalam kuil.
Mendadak dia menemukan mereka berlima sedang berdiri termangu mangu di depan meja batu tempat sembahyangan, tak kuasa lagi dia berteriak.
Hey .. ayamnya sudah dicuri orang lain apa kalian sedang bersembahyang kepada malaikat malaikat agar bisa membantu kalian merebut kembali ayam itu? kenapa kalian pada termangu mangu disana?"
Sembari berkata diapun berjalan mendekati meja batu tersebut, tetapi sebentar kemudian air mukanya sudah berubah sangat hebat.Matanya terbelalak lebar mulutnya melongo, 'Sungguh dahsyat tenaga jarinya 'lama sekali dia baru berseru. Agaknya di dalam kolong langit saat ini sukar untuk dicarikan keduanya.
Sewaktu melihat pula gambar binatang yang mirip dengan burung hong juga mirip ayam itu dia segera menjulurkan lidahnya ketakutan.
Apa munjkin si perempuan tunggal Touw Hong sudah datang kemari?" tanyanya. Jika dilihat dari ilmu jarinya saja sudah cukup buat dirinya untuk mengangkat nama di dalam Bulim.
Siapa tahu baru saja dia selesai berkata mendadak dari belakang tubuh mereka berkumandang suara tertawa yang amat ringan sekali, ke enam orang itu menjadi sangat terperanjat dan terburu buru putar kepalanya.
Terlihatlah kurang lebih beberapa depa di belakangnya berdirilah seorang gadis berbaju hitam yang amat cantik sekali.
Gadis itu memakai baju maupun celana yang berwarna hitam, alisnya panjang lentik, bibinya kecil mungil matanya bulat sehingga kelihatan amat cantik sekait.
Walaupun pada wajahnya tidak dihiasi dengan senyuman bahkan kelihatan sedikit agak murung tetapi bila ditinjau dari sikapnya bukanlah menyerupai seorang jahat, sebaliknya membuat orang merasa kagum dan menghormat.
Mendadak sinar mata mereka berenam berhenti di atas dadanya dimana tergantung sebuah medali yang bergambarkan burung Hong hitam berkaki tunggal, tak kuasa lagi saking terperanjatnya pada mundur dua langkah kebelakang.
Lama sekali baru terdengar si pengemis pemabok membentak keras.
"Kau, kau adalah perempuan yang bernama Touw Hong? kau . . kau berani mencuri ayam panggang kami? ayoh cepat kembalikan ayam panggangku, kalau tidak kita orang akan menuntut kerugian.
Sembari berkata dia menggebukkan tongkat pemukul anjingnya ke atas tanah sehingga terdengar suara benturan yang amat nyaring sekali.
Si gadis berbaju hitam mendengar suara bentakan dari pengemis pemabok itu diam diam alisnya dikerutkan rapat rapat, dari sepasang matanya yang amat jeli itu memancar keluar sinar yang amat tajam sekali memaksa mereka berenam tidak tahan untuk bergidik, bulu roma pada berdiri semua.
Dengan cepat mereka berenam pada mengerahkan tenaga dalamnya siap siap menghadapi sesuatu, apalagi si pengemis itu.
Walaupun dia orang sedang merasa mendongkol tetapi bagaimanapun juga dis orang adalah seorang jago kawakan yang sudah nempunyai pengalaman yang amat luas sekali ketika melihat kekuatan jari di atas meja batu itu ditambah pula dengan kerlipan sinar mata sang gadis yang amat tajam segera mengetahui kalau tenaga dalam gadis itu sudah mencapai pada tingkat yang paling atas karenanya dia tidak berani banyak bercakap lagi, diam diam tenaga dalam sudah disalurkan keseluruh tubuh siap menghadapi sesuatu.
Lama sekali gadis berbaju hitam itu memperhatikan diri keenam orang itu, mendadak sinar matanya diarahkan ke atas meja batu.
Lama sekali baru terlihatlah gadis berbaju hitam itu menoleh kearah keenam orang itu.
Kecuali kalian berenam ada siapa lagi yang pernah datang kemari?, tanyanya.
Suaranya tidak begitu keras tetapi setiap patah kata bisa didengar dengan amat jelasnya, jelas tenaga dalamnya sudah berhasil dilatih mencapai pada taraf yang amat tinggi sekali.
Mendengar perkataan ini keenam Orang itu pada melengak semua, pikirnya.
"Kecuali kau ada siapa lagi yang pernah datang kesini".
Si Thiat Sie sianseng jadi orang yang paling tenang dan pikirannya pun paling tajam, karena takut si pengemis pemabok berbicara tidak karuan lagi cepat cepat sahutnya.
Entah apa maksud perkataan nona ini, apakah gambar yang terukir di atas meja sembahyangan ini bukan digambar oleh nona sendiri ?
Jika dilihat dari sie poa besi yang ada ditanganmu tentunya kau orang adalah Thiat Sie sianseng salah satu anggota dari Tionggoan Ngo Koay bukan? ujar gadis berbaju hitam itu sambil melirik sekejap ke arah Thiat Sie sianseng. Kau berdasarkaa hal apa mengatakan kalau gambar itu aku yang bikin ?
Nona bukankah si perempuan tunggal Touw Hong yang muncul dari daerah Si Lam dan didalam tiga jurus mengalahkan suami istri she Ciang dari Kiem Thian Pay? tiba tiba si siucay buntung menimbrung.
Si gadis berbaju hitam yang mendengar si siucay buntung itu meyiggung pekerjaannya yaag paling membanggakan hatinya pada wajahnya segera terlintas senyuman kegembiraan, dia segera mengangguk cuma tetap tak mengucapkan sepatah katapun.
si siucay buntung segera menunjuk ke arah gambar ayam bukan ayam burung hong bukan burung hong yang terukir di atas meja sembahyangan itu, lantas ujarnya.
"Pada saat ini orang yang menggunakan burung hong sebagai tanda cuma ada nona seorang saja, jika burung hong yang terukir di atas meja ini bukan nona yang tinggalkan ada siapa lagi yang mengukirnya ?"
Si gadis berbaju hitam itu segera putar kepalanya, memandang ke arah gambar itu lagi, semakin dilihat dia semakin mendongkol, gambar burung hong itu jelas sekali sengaja dibuat seperti ayam membuat air mukanya berubah merah padam kembali.
Mendadak telapak tangannya menyambar ke depan lalu menghapus gambar serta tulisan yang ada di atas meja tersebut.
Seketika itu juga abu pada beterbangan sewaktu telapak tangannya diangkat kembali permukaan batu yang semula ada lima coen tebalnya didalam sekejap sudah tinggal beberapa coen saja, hal ini membuat Tionggoan Sam-Koay, Heng san Jie Yu serta Ciangbunjin dari Siauw Lim Pay pada merasa terperanjat.
"Tenaga dalam yang amat sempurna" tiba tiba teedengar suara pujian yang berkumandang datang dari luar kuil.
Mendengar suara pujian ini si gadis berbaju hitam itu dengan cepat berkelebat keluar dari dalam ruangan, Tionggoan Sam Koay sekalian merasakan matanya menjadi kabur si gadis berbaju hitam yang semula ada di hadapan mereka kini sudah lenyap tak berbekas lagi, dengan gerakan apa dia berkelebat meninggalkan tempat itu siapapun tidak bisa mengetahuinya.
Mereka berenam menjadi tertegun, lama sekali tidak dapat mengucapkan sepatah katapun
"Siapakah kau?" terdengar suara bentakan dari gadis berbaju hitam berkumandang datang dari tempat kejauhan.
"Di luar langit masih ada langit, di atas manusia masih ada manusia, kau orang tidak perlu mengurusi diriku" segera terdengar suara sahutan seseorang yang amat berat sekali.
Gambar yang ditinggalkan di dalam kuil itu apakah hasil perbuatanmu?" bentak gadis berbaju hitam itu lagi.
Orang itu segera tertawa terbahak bahak dengan amat kerasnya.
"Aku yang lakukan juga boleh, bukan aku juga sama saja, selama berada di dalam dunia kangouw aku orang belum pernah bertemu dengan seseorang yang suka mencampuri urusan orang lain semacam kau"
Beberapa perkataannya ini agaknya sudah membuat kegusaran di dalam hati gadis berbaju hitam itu semakin memuncak, segera terdengar suara bentakan yang amat nyaring.
Aku Touw Hong sejak terjunkan kedalam dunia kangouw belum pernah bertemu dengan manusia semacam kau, terimalah seranganku ini.
Setelah itu terdengarlah suara menderunya angin pukulan disusul dengan suara patahan ranting ranting pohon siong yang amat ramai sekali.
Mendengar suara tersebut si siucay buntung tidak bisa menahan sabar lagi, segera teriaknya.
Ayoh jalan, kita pergi melihat.
Keenam orang itu dengan saling susul menyusul pada meninggalkan kuil untuk berkelebat menuju dimana berasalnya suara pertempuran tadi.
Beberapa saat kemudian mereka sudah tiba disebuah tempat yang penuh berserakan patahan ranting ranting pohon siong yang amat banyak tetapi bayangan mereka berdua sama sekali tidak kelihatan, membuat keenam orang itu jadi berdiri termangu mangu.
Kurang lebih seperminuman teh kemudian mendadak terdengar Si Thiat sie sianseng berseru.
Aaaah . . jika ditinjau dari keadaan ini jelas sekali gambar yang terukir di atas meja batu tadi bukan nerbuatan dari Touw Hong, si gadis berbaju hitam tadi, sedang surat tantangan agar kita menghadiri pertemuan di atas puncak pertama Cing Jan pada bulan lima tanggal lima menunjukkan waktu yang sama dengan perjanjian yang diadakan Lie Loo jie, lalu apa mungkin Lie Loo jie yang sudah datang kemari?? tetapi apa maksudnya?? apa dia orang juga mau bertempur dengan kita?"
"Kemungkinan sekali Lie Loo jie sudah tahu kalau Touw Hong ada disini sehingga sengaja berbuat demikian" sahut Loo jie dari Hengsan Jie Yu.
"Tidak benar, .. .tidak benar" seru Loo toa dari Heng san Jie Yu sambil gelengkan kepalanya, jikalau Lie Loo jie mau pergi mencari Touw Hong dia bisa langsung mencari dirinya, kenapa harus berputar putar seperti ini?? apalagi Lie Loo jie jadi orang bersifat pendekar, dia tidak akan mau berbuat demikian.
Sewaktu mereka berbicara dan saling bantah membantah dengan amat ramainya itulah mendadak tampak bayangan hitam berkelebat turun dari sebuah pohon siong, tampaklah si gadis berbaju hitam yang semula pergi kini balik kembali.
Apa Lie Loo jie . .Lie Loo jie" serunya dengan sinis, orang itu tidak lebih seorang bocah cilik yang usianya amat muda sekali, tetapi tenaga dalamnya amat dahsyat. Kalian cianpwee berenam mempunyai pengalaman yang amat luas, apakah kalian tahu dari aliran mana yang akhir ini muncul seorang jago muda yang amat lihay sekali??"
Walaupun wajahnya masih amat murung tetapi nada ucapannya jauh lebih ramah. Si pengemis pemabok yang selalu menaruh curiga terhadap diri Liem Tou mendadak bertanya.
"Bagaimana dandanan orang ini, dan bagaimana wajahnya?"
Entah mengapa setelah mendengar perkataan dari si pengemis pemabok ini mendadak air muka gadis berbaju hitam itu berubah menjadi merah lalu dengan cepat cepat meloncat keatas pohon dan berlalu deraan tergesa gesa.
Tidak terasa lagi keenam orang itu dibuat kebingungan dan saling pandang memandang tak mengucapkan sepatah katapun.
Waktu itu cuaca sudah hampir mendekati terang tanah, Thiat Sie sianseng segera menjura ke arah Ciat Siauw Thaysu serta Heng san jie Yu, ujarnya.
"Kalian bertiga harus cepat cepat datang ke Bu tong pay untuk menyelesaikan urusan ini, atas hal ini kami tidak akan melupakan budi tersebut. Ini hari kami bertiga sudah menjelaskan semua kejadian, maaf kami masih ada urusan yang harus diselesaikan dan harus berpisah, selamat tinggal.
"Untuk mencari si penjahat naga merah pada bulan lima tinggal lima di atas puncak pertama Ciang Jan kalian pasti bisa bertemu sambung si siucay buntung dengan cepat"
Selesai berkata bersama sama dengan Thiat Sie sianseng serta si pengemis pemabok dengan cepatnya berkelebat melewati hutan.
Kita balik kembali pada diri Liem Tou kiranya yang berteriak memuji kebebatan dari tenaga dalam Touw Hong itu perempuan tunggal. Sejak semula dia orang sudah melihat munculnya seorang perempuan tunggal Touw Hong disana dikarenakan dirinya besembunyi di antara pepohonan yang amat lebat karenanya dia tidak sampai diketahui oleh Touw Hong, tetapi ilmu meringankan tubuh yang di perlihatkan olehnya cukup membuat Liem Tou merasa terperanjat.
Akhirnya ketika enam orang itu kembali ke dalam kuil dan berdiri termangu mangu didepan meja batu, Touw Hoog pun turut masuk ke dalam.
Liem Tou segera membuntuti dari belakang, dia mengambil keputusan untuk menemui orang ini.
Tetapi ketika matanya tertumbuk dengan medali yang tergantung di depan dada gadis itu hatinya menjadi bergerak kembali pikirnya.
"Medali perak yang tergantung di depan dadanya mirip sekali dengan medali yang tergantung didepan perempuan di mana tersembunyinya kitab pusaka To Kong Pit Liok apa di antara mereka ada hubungan antara satu dengan lainnya?"
Berpikir akan hal itu dia segera memancing keluar untuk membuktikan pikirannya ini, siapa tahu sifat dari Touw Hong agak congkak sedang Liem Tou pun ingin menjajal kepandaiannya sehingga begitu bertemu dengan mereka sudah saling bertempur dengan amat serunya.
Sejak berhasil mempelajari kitab pusaka To Kong Pit Liok boleh dikata untuk pertama kali Liem Tou bertemu dengan musuh tangguh.
Sebaliknya Touw Hong merasa keheranan, semakin bertempur hatinya semakin terperanjat, akhirnya Liem Tou yang mendengar Tiong goan Sam Koay sudah pada berdatangan dia cepat cepat berkelebat pergi dari sana, sembari berlari dia berseru dangan perlahan
"Ini hari bisa bertemu dengan nona, cayhe betul betul merasa bangga sekali"
Mendadak Liem Tou meloncat ke samping menuding ke arah medali perak yang ada di dadanya, baru saja mau bertanya tiba tiba suatu pikiran berkelebat lagi di dalam benaknya pikirnya.
Saat ini aku masih ada urusan yang harus diselesaikan, jikalau aku menceritakan kepadanya kalau akupun mempunyai medali seperti itu, hal ini tentu akan mendatangkan kerepotan saja, lebih baik untuk sementara waktu jangan membicarakannya dulu.
Sebetulnya si gadis berbaju hitam itu melihat ketampanan wajah Liem Tou dari dalam hatinya sudah muncul suatu perasaan yang sangat aneh sekali, kini melibat dia orang menuding kearah medali perak yang tergantung didepan dadanya senyuman segera menyusuri bibirnya sambil menunggu ucapan selanjutnya dari dia orang siapa tahu Liem Tou bukannya membicarakan hal ini sebaliknya berkata.
Kepandaian dari nona, cauhe sudah menjajalnya, jika ada kesenangan jangan sampai lupa pada bulan lima tanggal lima di atas puncak pertama gunung Cing Jan.
Selesai berkata dia segera putar badannya meninggalkan hutan tersebut.
Si gadis berbaju hitam yang melihat Liem Tou lari pergi bahkan sampai namanya pun dia tidak tahu, pikirannya dengan cepat berputar, tubuhnya pun ikut berkelebat ke depan Liem Tou menghalangi perjalanannya.
"Hey siapa namamu?" tanyanya.
Mendadak air mukanya berubah merah sambil tundukkan kepalanya dia berganti bahan pembicaraan, tanyanya lagi.
'Kepandaian silat dari Kongcu amat dahsyat sekali, dapatkah aku orang mengetahui asal usul perguruanmu?"
Melihat sikapnya itu diam diam Liem Tou berpikir didalam hatinya.
Hmmm . . . sombong ... aku mau lihat kau bisa sombong seperti apa, ini hari aku akan membuat kau orang tidak dapat sombong lagi sehingga tidak lagi terlalu memandang rendah orang lain.
Berpikir sampai disini dia segera melirik sekejap kearah Touw Hong dengan pandangan dingin, tiba tiba dengan menggunakan gerakan sah cap lak Thian Kang Poh Hoat dia berkelebat melewati diri Touw Hong lalu dengan lang kah lebar berjalan keluar dari hutan tersebut.
Tindakannya ini benar benar diluar dugaan Touw Hong, dia berdiri termangu mangu di sana lama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun juga.
Tidak lama kemudian Tionggoan Sam Koay pun pada berdatangan kemudian dia munculkan dirinya seperti apa yang terjadi diatas.
Kini kita berbalik kembali pada Liem Tou yang berjalan keluar dari hutan lalu berangkat menuju ke kota Tang Yang.
Sewaktu tiba di kota tersebut hari sudah menunjukkan tengah malam, suasana di dalam kota amat sunyi sekali bahkan kelihatan sangat mencurigakan sekali, hatinya menjadi keheranan, dengan tergesa gesa dia berlari menuji ke rumah penginapannya.
Saat ini ilmu meringankan tubuhnya sudah mencapai pada taraf kesempurnaan, hanya di dalam sekejap saja dia sudah tiba di depan pintu rumah penginapan tersebut, saat ini pintu rumah sudah tertutup tetapi dari balik kamar terdengar suara dengus kerbaunya yang amat keras.
Kau binatang aku mau melibat bisa berbuat ganas lagi tidak? keganasanmu yang terdahulu kini berada dimana semua?"
Disusul suara cambuknya yang amat keras sekali berkumandang tak henti hentinya dari dalam kamar.
Liem Tou segera mengetahui tentu urusan sudah terjadi perubahan telapak tangannya dengan cepat kirim satu pukulaa menghajar ke atas pintu membuat papan itu terpukul hancur berantakan, terlihatlah olehnya dua orang lelaki berbaju singsat sedang mencambuki kerbaunya yang rubuh di atas tanah di balik pintu itu.
Melihat kejadian itu Liem Tou menjadi amat gusar sekali, dengan cepat dia membentak keras, tangannya segera bergerak dan segera terdengar suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati,tubuh orang itu sudah kena hajar sehingga darah segar muncrat keluar dari mulutnya.
Dia orang tidak mau berdiam sampai di situ saja tangan kirinya berbareng mengirim lagi satu pukulan gencar menghajar lelaki yang satunya lagi.
Mendadak pikirannya bergerak, serangan telapaknya dengan cepat diubah menjadi serangan totokan menotok jalan darah Sian Khiei di atas tubuh lelaki itu, seketika itu juga lelaki itu rubuh jatuh ke atas tanah dan lemes, tetapi tidak sampai membahayakan jiwanya.
Liem Tou mau memeriksa kerbaunya lebih dulu, tampak bayangan hijau berkelebat dia melayang masuk ke dalam kamar, karena di dalam hati dia merasa amat kuatir terhadap keselamatan dari gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie.
Ie cici. ..Wan moay moay. . .teriak berulang kali.
Tetapi tidak terdengar suara jawaban suasana amat sunyi sekali.
Hal ini semakin membuat hatinya cemas dengan cepat dia mendorong pintu kamarnya dan melongok masuk, di dalam kamar tidak tampak adanya sesosok bayangan manusiapun dia menjadi tertegun, tetapi sebentar kemudian dia sadar kembali dan meloncat naik ke atas atap.
Suasana disekeliling tempat itu sunyi senyap tidak terdengar sedikit suarapun mana tampak adanya bayangan manusia?"
Dari cemas hatinya semakin lama berubah semakin gusar, diam diam pikirnya lagi
Aku Liem Tou sungguh merasa malu sudah memiliki ilmu silat yang tinggi, ternyata Ie cici serta Wan moay moay pun tidak bisa dijaga keselamatannya, jika dilihat dari kerbauku yang dicambuki orang lain jelas Ie cici serta Wan moay moay sudah menemui bencana.
Berpikir sampai disini hatinya merasa semakin gemas lagi. dia orang tidak seharusnya meninggalkan rumah penginapan itu sewaktu Ie cicinya sedang terluka sehingga kesempatan ini digunakan oiang lain untuk melancarkan serangannya.
Di dalam sekejap saja hatinya terasa amat bingung sekali, mendadak dia teringat kembali lelaki yang tertotok olehnya tadi dengan cepat tubuhnya melayang turun kembali ke dalam ruangan dan mengurut punggungnya untuk menyadarkan kembali dirinya.
Dengan perlahan lelaki itu pentangkan mata nya kembali, Liem Tou tidak dapat menahan sabar lagi dia segera membentak.
"Ayoh cepat bilang . . ayoh cepat bilang, aku segera berikan jalan hidup buat dirimu."
Di dalam keadaan bingung dia sudah berbicara tanpa ujung pangkalnya membuat lelaki itu merasa kebingungan, apa lagi lelaki itupun baru saja sadar dari pingsannya, kepalanya masih terasa pening sehingga apa yang dibicarakan oleh Liem Tou pun tidak begitu jelas didengarnya.
Mendadak dia jatuhkan diri berlutut dan mengangguk anggukkan kepalanya tak henti hentinya.
Liem Tou semakin marah, dengan cepat dia cengkeram ujung bajunya.
Siapa yang suruh kau berlutut? bentaknya dengan gusar. Aku suruh kau cepat beritahu padaku Ie cici serta Wan moay moayku sudah kalian bawa kemana? kalian bajingan bajingan berasal dari mana? ayoh cepat jawab.
"Baik.. baik aku jawab, aku jawab, harap Siau Hiap ampuni jiwaku" seru lelaki tersebut dengan gemetar.
Liem Tou segera melepaskan cengkeramannya.
Asalkan kau mau berbicara aku sudah tentu akan beri satu jalan hidup buat dirimu ujarnya cepat. Tetapi bilamana omonganmu bohong, kawanmu itulah suatu contoh yang paling bagus buatmu.
Mendengar perkataan tersebut lelaki berbaju singsat itu baru sedikit lega bati.
Untuk membalas dendam terbunuhnya putri tercintanya Ong Bo sudah menawan kedua orang pendekar perempuan itu sahutnya.
Mendengar perkataan itu Liem Tou menjadi benar benar terperanjat sehingga kepalanya terasa pening sekali teriaknya.
"Si pengemis busuk itu sudah seharusnya mati, jika mau membalas dendam balaslah dengan aku Liem Tou apa hubungannya urusan ini dengan Ie cici serta Wan moay moay ?"
Ie cici serta Wan moay moay merupakan murid yang paling lihay dari si cangkul pualam Lie Sang, bagaimana mungkin Oog Bo serta perempuan berbaju hijau itu berhasil menawannya apalagi Wan moay moay sudah memperoleh seluruh Kepandaian silat dari ayahnya, sekalipun terjadi pertempuran sengit tidak seharusnya Auw Hay Ong Bo bisa begitu mudahnya berhasil menawan mereka.
Berpikir akan hal ini dia segera membentak lagi.
"Siapa yang sudah datang ke mari ??" ayoh cepat jawab.
Si jari beracun jarum emas Song Beng Lan si hweesio rase salju, pengemis liar, hweesio mayat hidup dan pembesar buta.
Mendengar disebutnya si hweesio mayat hidup serta pembesar buta tidak terasa lagi Liem Tou menjadi kaget.
Apa si hweesio mayat hidup serta pembesar buta juga ikut datang? ? teriaknya.
Lelaki berbaju singsat itu mengangguk.
Pikiran Liem Tou dengan cepat berputar, sekalipun ada hweesio mayat hidup serta pembesar buta belum tentu si gadis cantik pengangon kambing bisa tertawan dengan begitu mudahnya, dia teringat kembali akan si perempuan tunggal Touw Hong kembali.
Dari perkataan Ciat Siauw thaysu tadi dia tahu perempuan itu sudah punya hubungan dengan pihak Kiem Thien pay, jika perempuan ini pun ikut datang maka ada kemungkinan si gadis cantik pengangon kambing berhasil mereka tawan.
Karenanya dia bertanya kembali.
Aku dengar dari pihak Kiem Thian pay ada seseorang yang bernama perempuan tunggal Touw Hong, apa diapun ikut datang kemari?
Agaknya lelaki berbaju singsat itu amat takut sekali mendengar disebutnya nama itu, seketika itu juga dia orang memandang diri Liem Tou dengan melongo, lama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun.
Liem Tou yang melihat perubahan wajahnya ini didalam hati segera sudah menduga beberapa bagian, karenanya dia mendesak lebih lanjut.
Akhirnya lelaki tersebut mengangguk, dalam hati Liem Tou semakin menyesal lagi, dia tidak seharusnya menghabiskan waktu setengah harian di tengah jalan, kalau tidak mungkin dia masih bisa memberi pertolongan kepada mereka.
Sekarang dia terpaksa menanyakan tempat tinggal dari si perempuan tunggal Touw Hong serta Au Hay Ong sekalian dan berusaha untuk menolong kedua orang itu lolos dari cengkeraman musuh.
"Hey sekarang mereka berada di mana? cepat beritahu kepadaku dan pimpin aku kesana" perintahnya kemudian setelah berpikir sebentar.
Sekalipun pada mulutnya lelaki itu terus menerus memberi jawaban terhadap pertanyaan pertanyaan yang diajukan oleh Liem Tou tapi di dalam hatinya dia sedang berpikir bagaimana caranya untuk meloloskan diri dari sana.
Kini sewaktu didengar Liem Tou sedang menanyakan tempat tinggal dari si perempuan tunggal Touw Hong sedang Auw Yang Ong sekalian menyuruh dia orang pimpin jalan, dalam hati merasa amat girang sekali.
Hmm, cuma mengandalkan kau seorang saja mau pergi ke sana? pikirnya didalam hati. Bukankah sama saja pergi menghantarkan kematiam buat dirimu sediri? aku beritahu kepadamu juga tidak ada halangannya apalagi aku yang menunjukkan tempat itu, setelah sampai di sana tentu aku bisa meloloskan diri.
Tanpa berpikir panjang lelaki itu segera menjawab.
Mereka berdiam tidak jauh dari sini, kurang lebih sepuluh li dari pintu sebelah timur tempat itu bernama . ..
Belum habis dia berbicara mendadak Liem Tou dapat mendengar desiran senjata yang berkelebat menyampok angin mengancam tubuh mereka berdua, dengan cepat tubuhnya berputar ke belakang.
Tampaklah segerombolan sinar yang sangat menyilaukan mata dengan amat cepatnya melanda datang, dia segera membentak keras.
"Kawanan tikus sungguh berani perbuatan kalian."
Telapak tangannya segera didorong ke depan melancarkan satu pukulan dahsyat menghajar ke atas senjata rahasia yang menghantam tubuh mereka.
Sekalipun begitu dikarenakan halusnya jarum jarum emas itu ditambah lagi disebar dalam jumlah yang amat banyak sekali dengan menggunakan cara Man Thian Hoa Yu atau seluruh angkasa penuh dengan bunga hujan, dimana angin pukulan Liem Tou berkelebat walaupun berhasil membebaskan dirinya dari bahaya tetapi si lelaki itu tak dapat terhindar lagi dari serangan tersebut.
"Aaaaaaadddduuuh . ..."
Disertai dengan suara teriakan yang amat keras tubuhnya roboh terjengkang ke belakang.
Dalam hati Liem Tou sedang merasa cemas untuk mengetahui tempat si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie ditawan, terhadap orang yang melancarkan serangan bokongan itu dia orang tidak mengambil perduli lagi, dengan terburu buru dia menarik tubuh lelaki itu sambil tanyanya dengan suara yang keras.
"Mereka berada di tempat mana, cepat katakan."
Lelaki yang bersandar di tangan Liem Tou itu memejamkan sepasang matanya erat erat untuk sesaat lamanya dia tak sanggup untuk mengucapkan sepatah katapun.
Liem Tou lantas tundukkan kepalanya memeriksa, tampaklah di atas badannya sudah terkena delapan, sembilan jarum emas yang menancap pada jalan jalan darah terpenting, tidak terasa lagi dia menghela napas.
Sewaktu diperiksa ternyata orang itu belum menemui ajalnya, tetapi kenapa dia tidak mau bicara.
Liem Tou memeriksa keadaannya lebih teliti lagi, akhirnya dia menemukan juga sebabnya.
Kiranya pada jalan darah bisu di atas tenggorokannyapun sudah tertancap sebatang jarum emas sehingga membuat dia orang tidak dapat berbicara.
Dengan cepat Liem Tou mencabut jarum tersebut, waktu itulah di dalam benaknya mendadak berkelebat satu ingatan, dia merasa orang yang baru saja melancarkan serangan bokongan dengan menggunakan senjata jarum emas ini adalah perbuatan dari si jari beracun jarum emas Song Beng Lan dari Kiem Thien Pay, tak terasa lagi hatinya jadi merasa amat gemas sekali.
Orang ini sungguh amat kejam dan ganas sekali pikirnya apalagi merupakan seorang penja hat pemetik bunga yang sudah terkenal, nanti jikalau aku bertemu kembali dengan dirinya tentu dirinya tidak aku lepaskan kembali.
Kepada si lelaki yang terluka itu dia berkata: "Orang yang melukai kau orang adalah si jari beracun jarum emas Song Beng Lam, kau tahu tidak ?"
Air muka lelaki itu sudah berubah menjadi pucat kehijau hijauan agaknya dia sedang menahan rasa sakit yang amat sangat di dalam tubuhnya, mendengar perkataan tersebut dia mengangguk.
Kalau begitu beritahukanlah kepadaku tempat mereka untuk membalas dendam, sera Liem Tou dengan cepat.
Dari tenggorokan orang itu segera terdengarlah suara yang amat serak sekali disusul matanya dipentangkaa lebar lebar.
Liem Tou yang melihat wajahnya sudah mulai berkerut dia tahu orang tersebut sudah dekat masa ajalnya hal ini membuat batinya semakin cemas lagi.
Cepat katakanlah, cepat katakan! Aku akan pergi cari mereka untuk membalaskan dendanmu.
Akhirnya lelaki itu memejamkan matanya kembali. Sebelum dia orang mengucapkan sepatah katapun dari tenggorokannya kembali terdengar suara yang serak dan keras, sebentar kemudian orang itu sudah menemui ajalnya.
Liem Tou merasa sangat kecewa sekali, mendadak dia mengangkat mayat dan lelaki itu lantas dilemparkan ke atas.
Seketika itu juga mayat tersebut melayang sejauh dua kaki lebih lantas jatuh ke atas tanah dengan amat kerasnya, kepalanya hancur berantakan darah bercampur otak berceceran diatas tanah.
Liem Tou yang usianya masih amat muda apa lagi pengalamannya di dunia kangouwpun masih amat cetek, karena terjadinya perubahan ini segera membuat hatinya amat sedih sekali sehingga dia dibuat termangu mangu beberapa saat lama nya. Saking terpesonanya sampai kerbaunya yang merintih teruspun tidak digubris.
Mendadak dari sepasang matanya memancarkan sinar yang amat aneh sekali ujung kakinya segera menutul permukaan tanah dan meloncat ke atas wuwungan rumah.
Kiranya di atas tembok sebelah atas dia sudah menemukan satu tanda gambar ular merah dengan amat jelasnya, Liem Tou yang melihat munculnya tanda ular merah di sana segera merasakan hatinya amat kaget gumamnya seorang diri.
Apa mungkin si penjahat naga merah sudah datang kemari?? atau mungkin pihak Kiem Thien Pay yang sudah memalsukan tanda dari si penjahat naga merah ini?? perbuatannya ini sungguh membuat orang merasa agak bingung.
Hampir selama setengah harian lamanya dia berpikir keras keras tetapi tidak mendapatkan jawabannya juga, akhirnya dia melepaskan pemikirannya itu untuk memeriksa keadaan luka dari kerbaunya.
Tampaklah seluruh kerbau itu sudah tersayat sayat sehingga hancur dan mengalirkan darah amat banyak sekali, tetapi lukanya tidak lebih cuma luka luar yang tidak membahayakan jiwanya hanya saja luka dalamnya yang terdahulu kini kambuh lagi membuat ia agak sedikit tidak tahan.
Terpaksa Liem Tou mengeluarkan kembali tali obat peninggalan dari Hek Loo toa itu untuk diberikan seutas kepada kerbaunya lantas merawatnya dengan teliti
Saat ini pemilik rumah penginapan pelayan maupun para tetamu yang menginap disana pada tidak kelihatan semua, hatinya agak ragu ragu, pikirnya.
Menurut keadaan biasanya dimana tanda ular merah itu muncul manusia maupun binatang tidak ada yang tertinggal, kerbauku ini bisa tetap hidup boleh dikata amat untung sekali. Tetapi si pelayan serta pemilik rumah penginapan ini sudah pergi kemana? apa mereka sudah menemui bencana?? kenapa tak seorangpun yang kelihatan.
Berpikir sampai disitu dia segera mengadakan pemeriksaan di sekeliling rumah penginapan itu, ternyata dugaannya sedikitpun tidak salah.
Di dalam sebuah kamar dia menemukan pemilik rumah penginapan dan pelayan pelayannya sudah menggeletak diatas tanah dan darahnya berceceran di seluruh lantai, keadaannya amat mengerikan sekali.
Melihat keadaan ini Liem Tou benar benar merasa amat gusar, dengan cepat dia angkat sumpah dengan menghadap dinding.
"Aku Liem Tou jika tidak berbasil menyelidiki pembunuhan malam ini dan menghancurkannya aku sumpah tidak akan jadi manusia"
Saat itupun dia teringat kembali atas keselamatan atas gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie dengan tergesa gesa dia berjalan keluar dari ruman peaginapan itu tanpa memperdulikan lagi kerbau itu yang masih terluka dia segera mengangkat sang kerbau di pundak dan berjalan keluar dari tempat itu.
Untung saja keadaan di seluruh kota Tang Yang amat sepi sekali, agaknya mereka takut dimasuki pencuri sehingga rumah rumah tertutup dengan amat rapatnya. Suasana di tengah jalan amat sunyi sekali tak terlihat seorang manusiapun yang berjalan di tengah jalan kalau tidak dengan perbuatan dari Liem Tou yang menggendong seekor kerbau seberat tiga ratus kati tentu akan menggemparkan seluruh kota.
Ditengah perjalanan tiba tiba Liem Tou teringat kembali dengan kata kata dari lelaki itu dia segera mengambil jalan keluar menuju ke kota sebelah timur.
Tidak lama kemudian pintu kota sudah tampak di depan mata, pintu masih tertutup rapat cuma saja tak kelihatan ada penjaganya.
Liem Tou tidak ambil perduli lagi dengan menggendong kerbaunya dia melewati tembok kota dan melanjutkan perjalanannya ke arah depan.
Sesampainya ditepi sebuah sungai yang tidak dikenal dia segera meletakkan kerbaunya ke atas tanah dan dengan telitinya membersihkan tubuhnya dari bekas darah, lalu gumamnya lagi:
"Aku mau menyembuhkan dulu luka dalam dari Gouw koko lantas baru pergi menyelidiki keadaan dari Ie cici serta Wan moay moay"
Ditengah malam yang buta kelihatan sekali keadaan dari Liem Tou amat menyedihkan sekali, kerbaunya yang ada di samping dengan mata penuh terharu melirik sekejap ke arahnya, agaknya sang kerbau tahu kalau majikannya sedang murung.
Setelah semuanya selesai dengan perlahan Liem Tou duduk bersila dan mulai mengatur pernapasan hawa murninya dengan perlahan di salurkan dari pusar menuju ke sepasang telapak tangannya lantas disalurkan ke perut kerbau itu dengan mengikuti jalan darahnya.
Haruslah diketahui urat urat dan jalan darah yang ada di badan binatang sekalipun berbeda dengan manusia tetapi yang dimaksud delapan nadi denggan dua belas kunci kehidupan tak ada bedanya dengan manusia, sehingga dengan demikian Liem Tou pun dengan lancar dapat menyembuhkan kerbaunya.
Kurang lebih sepertanak nasi kemudian kerbau itu mulai mengangkat kepalanya dan mendengus rendah, saat itulah Liem Tou baru bisa menghembuskan napas lega dan menyeka keringat yang membasahi jidatnya.
Sekali dia pejamkan matanya untuk pulihkan kembali tenaganya lantas baru bangkit berdiri.
Saat itu sang kerbau yang sudah bangkit berdiri dan dengan tenangya sedang makan rumput.
Liem Tou segera menepuk nepuk pundaknya dan tertawa pahit.
Engko kerbau, ujarnya perlahan. Kali ini kau tentunya merasa sedikit menderita bukan ayoh pergilah ke sana dan makanlah rumput sampai kenyang.
Agaknya kerbau itu mengerti perkataan manusia, dia segera mengangguk angguk kepada Liem Tou dan dengan tenangnya pergi makan rumput disamping sungai.
Liem Tou vang melihat kerbaunya begitu penurut tanpa terasa dia semakin menaruh rasa sayang lagi kepadanya, diapun duduk di tepi sungai melihat dia makan rumput.
Terhadap keselamatan si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie di dalam hatinya Liem Ton merasa amat kuatir sekali, lewat beberapa saat kemudian dia benar benar tidak bisa bersabar lagi, kepada kerbaunya dia segera berseru.
Engko kerbau ayoh jalan, orang itu bilang Ie cici serta Wan moay moay ada di suatu tempat sepuluh li dari kota Tang Yang, mari kita ke sana dengan menyeberangi sungai ini.
Walaupun kepandaian silat dari Liem Tou pada saat ini amat tinggi sekali tetapi karena adanya perubahan yang memukul hatinya membuat keadaannya pada saat ini sudah berubah kembali seperti setahun yang lalu, dia orang yang mengajak kerbaunya berbicara sebetulnya adalah suatu pekerjaan yang amat bodoh sekali tetapi dikarenakan sifatnya yang amat peramah apalagi dengan pembicaraan ini dia ingin mencari satu semangat baru di dalam hatinya, maka dia tidak mau perduli atas kesalahannya ini.
Dengan menuntun kerbaunya Liem Tou menyeberangi sungai tersebut, setelah sampai di tepi seberang dia melihat badan sang kerbau amat besar segera di dalam pikirannya segera berkelebat kembali akan satu ingatan.
Gumamnya lagi seorang diri.
Jika dilihat dari keadaannya dia harus dicarikan satu tempat persembunyian yang aman agar bisa istirahat untuk beberapa saat lamanya.
Berpikir akan hal ini Liem Ton segera memandang ke sekeliling tempat itu, dia mencoba memeriksa apakah disekeliling tempat ini ada rumah petani atau tidak.
Dengan mengikuti aliran sungai itu akhirnya dia bisa melihat banyaknya sawah yang tersebar di sana, dengan melalui antara sawah sawah itu terlihatlah satu jalan kecil yang menghubungkan tempat itu dengan dua tiga rumah para kaum petani.
Liem Tou segera menuntun kerbaunya mengikuti jalan tersebut menuju kerumah itu.
Sesampainya di depan pintu rumah, dia orang melihat baik jendela maupun pintunya masih tertutup rapat rapat, dia tahu tenntunya pemilik rumah itu masih tidur deagan nyenyak untuk mengganggu dia merasa tidak eaak, untuk pergi dari sana diapun tidak ingin, hatinya benar benar merasa bingung.
Pada saat dia merasa serba susah itulah mendadak seorang petani muncul keluar dan dua ekor anjing dari dalam rumah itu yang menggonggong tiada hentinya, apalagi setelah dilihatnya ada kerbau disana suara gonggongannya semakin mengeras bahkan tubuhnya siap siap untuk menubruk ke arah sang kerbau.
Kerbau itu agaknya juga dibuat marah oleh keganasan sang anjing, diapun mendengus tak ada hentinya.
Liem Tou takut kerbaunya menjadi marah dengan adanya kejadian itu sehingga menunjukkan kembali sifat binatangnya dia segera menepuk nepuk pundaknya.
"Bersabarlah sebentar, mereka takkan dapat mengganggu dirimu" serunya perlahan.
Kedua ekor anjing itu melibat sang kerbau tak menunjukkan perlawanan suara menggonggongnya semakin keras lagi membuat Liem Tou yaag ada disampingnyapun menjadi rada jengkel.
"Kalian dua ekor binatang yang tidak ber biji mata, cepat megggelinding dari sini" bentaknya dengan gusar.
Sambil berkata dia angkat telapaknya siap melancarkan satu pukulan.
Pada saat itulah dari dalam rumah petani itu tampak berkelebatnya sinar terang disusul suara seseorang sedang bertanya.
"Siapa yang ada di luar rumah di tengah malam buta ini ?"
Liem Tou yang mendengar ada orang yang sudah bangun hatinya merasa girang sekali, tubuhnya dengan cepat melayang mendekati pintu tersebut.
Tanpa terasa pintu itu dengan perlahan-lahan dibuka dan muncullah seorang petani tua yang berdandanan sangat sederhana sekali dengan membawa sebuah lampu minyak, dengan me-ngedipngedipkan matanya yang baru saja bangun dari tidur dia memandang ke arah diri Liem Tou, jelas dari air mukanya memperliihatkan rasa keheranan.
Kerena temanku sakit sacara tiba tiba entah bolehkah paman memberi satu tempat buat dia buat menginap selama beberapa hari.
Si petani yang melihat dandanan Liem Tou sangat polos dan tidak mirip dengan penjahat ia segera mengangguk.
Orang melakukan perjalanan ditempat luaran tidak akan terhindar dari kemalangan, cuma saja tempatku amat kotor dan kalau hujan bocor entah kau orang bisa menempati tidak, jawabnya dengan halus.
Liem Tou yang mendengar petani itu sudah menyanggupi dalam hati merasa sangat berterima kasih sekali, sekali lagi dia menjura memberi hormat.
"Kau orang tidak usah banyak berlaku adat, seru petani itu mencegah. Silahkan kawanmu itu masuk untuk beristirahat."
Liem Tou segera menggape ke arah kerbaunya itu. dan kerbau dengan langkah yang amat perlahan lantas berjalan mendekat.
Melihat kejadian itu si petani tersebut menjadi kaget, dia menjerit tertahan.
"Aaah . . . apakah dia kawan karib yang kongcu katakan tadi?" tanyanya keheranan.
"Benar" sahut Liem Tou mengangguk.
Tidak terasa lagi petani tua itu memperhatikan diri Liem Tou beberapa saat lamanya, melihat dia orang memakai jubah panjang yang terbuat dari sutera dengan sebuah kain pengikat kepala yang terbuat dari sutera pula jelas merupakan seorang si siucay dari kalangan kaya, bagaimana dia bisa bergaul dengan seekor kerbau?? tidak terasa lagi perasaan curiga mulai menyelimuti dirinya.
Mendadak matanya melotot lebar lantas bentaknya keras.
"Silahkan kau orang pergi mencari tempat lain saja, aku disini tidak mau menerima kau orang yang sudah banyak melakukan kejahatan"
Selesai berkata dia putar badan dan menutup pintu rumahnya kembali.
Liem Tou yang melihat petani itu berubah sikap, dia segera tahu kalau dia orang sudah salah paham.
Loo pek tunggu dulu. Serunya dengan cepat. Biarlah cayhe jelaskan terlebih dulu nanti Loo pek baru tutup pintu kembali. cayhe tahu Loo pek tentu sudah salah paham dan menganggap kerbau ini datangnya tidak jujur. Terus terang saja ini kerbau sudah mengikuti diriku selama satu tahun lamanya dan merupakan kawan karib dari cayhe.
Harap Loo pek jangan salah paham karena cayhe ada urusan penting yang harus dikerjakan sedang kerbau inipun sedang sakit maka terpaksa aku datang kemari harap Loo pek mau menerimanya.
Sembari berkata dari dalam sakunya dia mengambil keluar dua butir mutiara yang memancarkan sinar berkilauan lantas diangsurkan ke depan.
Sedikit hadiah harap Loo pak mau menerimanya ujarnya lagi, tentu hal ini bisa membuyarkan rasa curiga di hati Loo pek karena dengan kedua mutiara ini barganya ratusan kali lipat lebih mahal dari kerbau ini, ini hari cayhe mau memberikan barang ini kepada diri Loo pek tentunya kau orang bisa tahu bukan kalau cayhe bukanlah orang jahat.
Si petani yang melihat di tangan Liem Tou ada dua butir mutiara yang amat berharga sekali bahkan memancarkan sinar yang berkilauan dia segera tahu kalau perkataannya sedikiipun tidak bohong, pikirnya.
Di tangannya ada mutiara yang begitu berharga buat apa dia pergi mencuri seekor kerbau? kelihatannya apa yang diucapkannya sedikit pun tidak salah, hanya salah aku terlalu banyak curiga saja.
Berpikir sampai disini dia segera mengangguk dan minta maaf kepada diri Liem Tou, tetapi bagaimanapun juga dia tidak mau menerima pemberian dari Liem Tou sebaliknya Liem Tou pun tetap ngotot mau petani itu menerima kedua butir mutiara tersebut, akhirnya petani tua itu terdesak dan menerimanya.
Saking girangnya tidak kuasa lagi titik titik air mata menetes keluar, karena selama dia bekerja bertani sampai saat ini belum pernah mendapatkan hasil seharga dua butir mutiara tersebut.
Liem Tou melihat urusan sudah selesai dia baru menjura kembali kepada petani itu untuk memberi hormat.
Setelah urusan cayhe selesai dikerjakan aku orang baru kemari lagi, semua urusan harap Look pek suka menguruskannya.
Kepada kerbau itu diapun menepuk nepuk pundaknya.
Engkoh kerbau ujarnya. Kau berdiamlah secara tenang tenang beberapa hari di sini kau jangan melukai orang, beberapa hari kemudian aku akan kembali lagi kesini.
Selesai berkata dia sengaja memperlihatkan kepandaiannya di hadapan petani itu agar dia baik baik merawat kerbaunya, tangannya segera digapaikan sambil berseru.
"Loo pek. ..".
Belum selesai berkata tubuhnya dengan cepat berkelebat dan meloncat setinggi satu dua puluh kaki tingginya dan melanjutkan kembali kata katanya dari udara.
"Cayhe pergi dulu".
Sekali lagi tubuhnya berjumpalitan di tengah udara lalu berkelebat ke depan lenyap di tengah kegelapan.
Dengan kejadian itu si petani tua yang jujur itu segera menganggapnya sebagai dewa yang sudah turun dari kahyangan, saking terkejut dan girangnya dia cepat cepat memanggil bangun seluruh keluarganya dan berlutut didepan pintu untuk bersembahyang ke atas langit, bersamaan pula mereka menganggap kerbau itu sebagai malaikat yang sakti.
Kita balik pada Liem Tou setelah meninggalkan rumah petani itu, saat ini pikirannya benar benar butek dan kuatir sekali atas keselamatan si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie, dengan cepat dia mengeluarkan ilmu meringankan tubuhnya dan dengan cepatnya berkelebat di tengah malam buta.
Hanya di dalam sekejap saja puluhan li sudah dilewati dengan amat cepatnya, sebentar kemudian dia sudah berada di depan sebuah dusun yang amat besar.
Melihat hal itu diam diam dalam hati berpikir. Perkataan dari lelaki itu apa mungkin mengartikan tempat ini??"
Berpikir akan hal ini tubuhnya dengan cepat meloncat naik ke atas atap rumah dan memeriksa di seluruh keadaan desa itu tampaklah tubuhnya dengan amat cepatnya melayang dan meloncat di atas ratusan rumah itu.
Kurang lebih seperminuman teh kemudian dia sudah memeriksa hampir sebanyak tiga kali di seluruh perkampungan tersebut tapi tidak kelihatan juga tanda tanda yang mencurigakan.
Apa mungkin tidak berada disini ? ? apa di sebelah depan masih ada rumah ? pikirnya.
Dia segera meloncat turun kembali ke atas tanah dan melanjutkan larinya menuju ke arah depan.
Mendadak dari arah selatan ditempat kejauhan terlihatlah berkelebatnya sinar lampu yang amat terang sekali, Liem Tou tidak berpikir panjang lagi dengan cepat dia berlari menuju dimana berasalnya sinar terang itu.
Tidak lama kemudian dia sudah sampai disana, kiranya tempat itu bukan lain adalah sebuah halaman bangunan yang amat besar, dikarenakan pada mulanya dia tidak melihat adanya sinar lampu karenanya tidak sampai menemukan tempat tersebut
Dengan penemuannya ini dalam hati segera timbul berbagai pikiran.
Kalau cuma tempat ini saja kiranva tidak perlu membuang tenaga terlalu banyak untuk memasukinya. demikian pikirnya didalam hati.
Dengan cepat meloncat masuk melewati tembok halaman, tembok di balik halaman tersebut adalah sebuah halaman seluas sepuluh kaki persegi dengan di atasnya masih ditumbuhi rumput yang amat lebat amat. agaknya sudah lama sekali tidak pernah dilewati.
Liem Tou dengan cepat melewati kamar tersebut dan berhenti di depan sebuah pintu bangunan yang amat besar dan tertutup rapat, di atas pintu tampaklah dua buah kayu yang memantek pintu tersebut dengan bentuk silang dan pada waktu itulah Liem Tou baru tahu kalau tempat itu adalah sebuah bangunan rumah yang telah tak berpenghuni lagi dan membuat hatinya rada kecewa.
Tubuhnya dengan cepat meloncat naik ke atas dan memeriksa sekejap di sekeliling tempat itu melihat. Di dalam rumah sama sekali tak ada gerak gerik yang mencurigakan dengan hati yang kecewa dia meloncat turun kembali ke atas tanah.
Dia lantas meloncat keluar dari rumah itu dan melanjutkan perjalanannya menuju kearah depan, selama perjalanan ini keadaan disekelilinguya cuma ada pegunungan belaka dan akhirnya tibalah dia di di ujung dan tidak bisa dilalui lagi.
Liem Tou jadi merasa heran, pikirnya.
Apa mungkin orang orang Kiem Tnien Pay berdiam juga di dalam gua gua gunung seperti halnya diatas puncak Ngo Lian Hong?
jika didengar dari pembicaraan Thaysu dari Siauw lim pay itu agaknya berkembangnya pengaruh Kiem Tnien pay didaerah Tionggoan masih baru bisa saja terjadi tidak lama bagaimana mungkin dengan begitu cepatnya mereka sudah berhasil menggali gua? sebagai tempat tinggai?"
Walaupun Liem Tou tidak mau percaya terhadap apa yang dipikir di dalam hatinya itu tetapi dia mau tidak mau harus melakukan pemeriksaan juga di sekeliling pegunungan tersebutt. dia orang sudah mengambil keputusan bagaimanapun juga keadaannya dia harus mencari si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie sampai dapat.
Dengan cepat dia tarik napas panjang panjang dan salurkan hawa murninya mengelilingi tubuh, dengan amat cepatnya bagaikan berkelebatnya sinar kilat dia berlari naik ke atas gunung hingga mencapai pada puncaknya, dari sana dia memandang keempat penjuru tetapi tidak menemukan sesuatu apapun.
Saking gusarnya dia segera berlari seenak nya saja mengelilingi tempat itu, tetapi telah lama tidak menemukan sesuatu juga.
Saat ini waktu sudah menunjukkan kentongan keempat, terpaksa Liem Tou balik kembali ke perkampungan tadi untuk siap siap pada keesokan harinya bertanya kembali dengan penduduk disana apakah ada oraag asing yang mendatangi tempat tersebut.
"Kalau memangnya di tempat ini tidak ditinggali oleh orang orang asing maka sudah pasti perkataan dari lelaki itu adalah bohong, terpaksa dia orang harus pergi mencari ke tempat yang lain"
Kini tinggal satu kentongan lagi sebelon hari akan terang tanah, Liem Tou yang sudah berlari semalaman sekarang merasakan badannya amat lemah sekali, dia segera mencari pintu rumah yang rada bersih untuk beristirahat.
Karena lenyapnya si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie ditawan orang, dalam hati Liem Tou benar benar merasakan hatinya amat bingung sekali, sekalipun dia sudah bolak balik tapi tetap tidak bisa tidur juga.
Beberapa saat kemudian dia mulai merasakan matanya memberat, baru saja dia mau tertidur pulas tiba tiba .. ...
Suara Khiem yang amat merdu dengan halusnya mengalun memecahkan kesunyian, walaupun Liem Tou sama sekali tidak mengerti akan ilmu bunyi bunyian tetapi ditengah malam yang begitu sunyi mendadak berkumandang alunan Khiem, tak terasa lagi membuat hatinya merasa amat curiga sekali.
Aaah suara itu berasal dari mana? pikirnya. Terang terangan aku sudah memeriksa setiap rumah jangan dikata orang bermain Khiem sekalipun lampu jaga tidak kelihatan disulut, hal ini sungguh aneh sekali.
Berpikir sampai disitu dia segera menghubungkan peristiwa itu dengan orang orang dari Kiem Thien Pay, tidak terasa lagi semangatnya berkobar kembali dan meloncat dari atas tanah.
Tubuhnya dengan amat cepatnya lantas berlari menuju ke arah dimana berasalnya suara Khiem tersebut.
Tidak jauh dia meninggalkan perkampungan dia sudah bisa membedakan kalau suara Khiem itu mengalun keluar dari ruanah bangunan besar yang tak berpenghum itu Liem Toa semakin dibuat keheranan.
Dia teringat kalau bangunan besar itu sama sekali tidak berpenghuni, rumput tumbuh setinggi lutut pintu serta jendela terpantek kuat bahkan secara samar samar membawa keseraman yang mendirikan bulu roma. Bagaimana suara khiem tersebut bisa mengalun keluar dari tempat itu? Walaupun dia orang tidak percaya terhadap setan tak urung bulu romanya pada saat itu pada berdiri juga.
Tetapi dikarenakan urusan ini penting sekali dan mempunyai hubungan yang erat dengan lenyapnya si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie dengan cepat tubuhnya melanjutkan perjalanannya kembali menuju ke dalam rumah bangunan itu.
Sesampai di depan tembok halaman dia berhenti sebentar untuk mendengarkan dari mana berasalnya suara khiem tersebut, setelah benar yakin kalau suara tersebut berasal dari dalam bangunan tubuhnya baru melayang dengan cepatnya menuju ke arah dalam.
Siapa tahu baru saja dia tiba di depan halaman suara mengalunnya khiem mendadak berhenti sama sekali. Liem Tou jadi tertegun. Tetapi dengan cepatnya pula dia sudah berkelebat naik ke atas atap rumah lalu meluncur ke bangunan sebelah belakang.
Dengan tanpa mengeluarkan sedikit suarapun dia sudah ada di bangunan yang paling belakang di sana dia sudah menemukan sebuah kebun bunga yang amat besar sekali, ada gunungan, gardu, jembatan kolam teratai cuma saja keadaannya seperti juga di halaman depan sama sekali tidak terawat bahkan tidak tampak sesosok bayangan manusiapun.
Liem Tou segara meloncat naik ke atas gunungan dan berpikir bebarapa saat lamanya terhadap munculnya suara khiem yang secara mendadak itu dia merasa sangat tidak paham, sehingga hatinyapun terasa amat murung sekali.
Mendadak. . .dia menemukan di sebelah kiri dari kebun bunga itu terdapat serentetan tembok berwarna putih, di tengah tembok muncullah sebuah pintu berbentuk bulat, pikirannya segera menjadi tenang kembali.
Tubuhnya dengan cepat berkelebat menuju ke sana dia bisa melihat sebuah bangunan loteng yang amat indah sekali dengan ukiran yang menawan muncul dihadapannva, bangunan itu sangat megah dan di ke dua sampingnya tumbuh dengan sebuah pohon siong yang amat besar sekali, maka diam diam Liem Tou berpikir.
Tidak disangka ditempat yang demikian tidak terurusnya bisa muncul sebuah bangunan yang demikian indahnya, hal ini sungguh berada di luar dugaan.
Dia lantas meloncat naik keatas loteng dan memeriksa keadaan di sekitar tempat itu, tampak pintu serta jendela tertutup rapat, sama sekali tidak menemukan sesuatu apapun, dia meloncat pula ke atas pohon siong yang lebat itu dan memeriksa kembali dengan telitinya, tetapi tetap saja tidak tampak adanya tanda-tanda yang mencurigakan.
Jikalau ditinjau dari keadaan ini jelas sekali tempat ini suduh tak berpenghuni lagi, tidak di sangka dalam setengah malaman dia harus menubruk angin saja, sungguh menggelikan sekali.
Berpikir akan hal ini semangat Liem Tou pun mengendor kembali, dengan lemasnya dia meloncat turun kepermukaan tanah lalu kembali ke desa dengan langkah perlahan.
Sesampainya didusun sinar surya sudah muncul di ufuk sebelah barat, orang dusun pun sudah mulai bangun dan pada berangkat bekerja.
Liem Tou yang masih tetap menaruh curiga terhadap perkampungan tersebut kepada seorang petani yang hendak ke sawah dia menanyakan bangunan rumah itu.
Orang itu ketika mendengar Liem Tou menanyakan bangunan itu dia melirik sekejap ke arahnya lantas dengan tidak semangat sahutnya.
"Rumah setan."
Sewaktu Liem Tou hendak bertanya kembali orang itu tanpa menoleh lagi sudah melanjut kembali perjalanannya menuju ke depan.
Liem Tou tidak bisa berbuat apa apa lagi sesampainya di dalam dusun itu dia berjalan masuk ke sebuah rumah makan yang baru saja buka pintu.
Ketika pelayan rumah makan itu melibat Liem Tou berjalan masuk ke kedainye dengan agak tertegun dia segera bertanya.
"Khek koan kau datang sebegitu paginya kami tak ada barang yang bisa dijual."
"Tidak mengapa" sahut Liem Tou sambil tertawa. Aku mau menunggu sampai kalian ada makanan yang dijual.
Dia berhenti sebentar untuk tukar napas lalu tanyanya lagi.
"Dagangan dari kalian dalam waktu dekat ini tentunya ramai bukan ?"
Maksud Liem Tou dia ingin memancing jawaban dari pelayan itu apakah di tempat ini telah kedatangan orang asing.
Pelayan itu agak melengak.
Perkataan dari Khek koan terlalu berlebihan dagangan kedai kami sepi sekali bahkan boleh dikata pada waktu waktu dekat ini sama sekali tidak ada dagangan. . Heeei . . tahun ini dagangan sungguh amat sepi sekali.
Berbicara sampai disini dia menghela napas lagi dengan perlahan.
Eeei . . aku dengar pada beberapa hari ini ada banyak orang asing yang datang kemari dan menginap di bangunan rumah besar itu, apa kau tidak pernah mendengar? tiba tiba kata Liem Tou dengan wajah serius.
Mendengar perkataan tersebut, dengan sepasang mata melotot lebar lebar pelayan itu lama sekali memperhatikan diri Liem Tou.
"Siapa yang bilang?" tanyanya. Sejak tiga tahun yang lalu Cing Hoa Cung sudah tak ada yang berani tinggali lagi, katanya ada siluman rase yang main gila di sana, pada hari yang lalu bahkan ada yang melihat siluman rase itu main Khiem di bawah sorotan sinar bulan purnama katanya siluman rase itu adalah seorang gadis yang amat cantik sekali.
Mendengar omongan itu diam diam dalam hati Liem Tou berpikir.
Apa sungguh sungguh terjadi urusan ini??? Hmm, aku Liem Tou tidak akan mau percaya omongan tersebut, malam ini aku harus pergi ke sana untuK mengadakan penyelidikan, sekali pun dia adalah siluman rase, setan atau iblis aku juga harus melihatnya sampai jelas.
Satelah mengambil keputusan didalam hati dia pun tidak bertanya lebih lanjut, denpan tenangnya dia menanti adanya makanan yang dihidangkan kepadanya.
Selesai itu dia baru melanjutkan perjalanannya menuju ke arah timur dan duduk beristirahat di bawah sebuah pohon besar di bawah kaki gunung.
Malamnya dia kembali lagi ke perkampungan tersebut, kurang lebih setelah kentongan kedua suara khiem yang muncul dari dalam perkampungan Cing Hoa Cung tersebut mulailah mengalun kembali dengan tenangnya, walaupun suara khiem itu amat halus merdu dan enak didengar tetapi membawakan nada yang amat sedih sekali, saking sedihnya sampai Liem Tou pun bisa merasakan.
Dia sudah hafal dengan jalan di sana, hanya di dalam sekejap saja sudah tiba di depan perkampungan tersebut dan meloncat melewati tembok pekarangan langsung menuju ke kebun belakang, setelah itu dengan langkah yang amat perlahan baru berjalan melewati pintu bundar tersebut.
Tubuhnya bersembunyi di tempat kegelapan, dengan meminjam sinar rembulan yang samar dia memandang keatas.
Seketika itu juga tampaklah seorang gadis dengan rambut yang terurai panjang sedang duduk di atas loteng tersebut bermain khiem, jari jari tangannya yang putih dan halus seperti salju dengan tak henti hentinya bergerak diantara tali khiem, kepalanya di dongakkan ke atas memandang rembulan sehingga keadaannya amat mempesonakan.
Tidak lama kemudian sembari bermain khiem dia mulai menyanyi dengan suaranya yang amat merdu.
Angin malam bertiup menyapu bintang. Duduk termenung di atas loteng menanti kekasih.
Sepasang burung hong terbang berpasangan. Membuat hati terasa amat sedih. . .
Liem Tou dapat melihat seluruh keadaan itu dengan amat jelas sekali, dia tidak ragu ragu lagi kalau orang itu adalah seorang gadis benar, dia tahu cepat atau lambat tentu dirinya akan menganggu dia orang juga kerena itu jauh iebih baik munculkan dirinya pada saat ini juga.
berpikir sampai disitu dia orang lantas munculkan dirinya ke tempat yang lebih terang, lalu dengan hormatnya dia menjura kearah sang gadis yang ada diatas loteng itu
Siauwseng Liem Tou tidak sengaja datang kemari sehingga bisa melihat kecantikan wajah nona, sungguh merupakan satu keberuntungan selama hidupku, ujarnya dengan perlahan.
Liem Tou sebetulnya adalah seorang lelaki sejati yang berhati polos suka berterus tersng, saat ini dia harus memperlihatkan sikap yang ramah taman dan menarik perhatian perempuan tidak urung kelihatan kaku juga, sekali pun wajahnya amat tampan tetapi senyuman yang menghias bibirnya pada saat ini jauh lebih mirip dengan keadaan seorang desa yang merasa malu.
Begitu suara dan Liem Tou berkumandang ke luar agaknya perempuan yaag ada di atas loteng merasa sangat terkejut sekali, suara khiemnya mendadak bernenii lalu dia tunjukkan kepalanya memandang ke arah Liem Tou dengan menggunakan sepasang matanya yang amat jeli itu.
Dengan gugup sekali Liem Tou menjura.
"Malam ini Siauw seng bisa menemui wajah nona. dalam hati aku merasa kagum sekali entah siapakah nama nona itu ? Dapatkah di beri tahukan ?
Semula gadis itu memang rada terkejut tetapi saat ini sewaktu melihat keadaan Liem Tou yang sangat lucu sekali tidak tertahan lagi dia tertawa geli sehingga kelihatan sebaris gigi yang putih bersih, dengan perlahan dia putar badannya dan lenyap di balik loteng.
"Asal aku tahu kau berada dimana apa kau kira kau bisa meloloskan diri ?" Pikir Liem Tou di dalam hatinya. Kau orang adalah siluman rase atau setan aku pasti akan menyelidikinya sampai jelas.
Berpikir sampai di sini dengan menyalurkan hawa murninya melindungi seluruh tubuh dan menyilangkan telapak tangannya di depan dada tubuhnya deagan gaya bangau sakti menembus awan dengan cepat meluncur naik ke atas loteng itu.
Siapa tahu baru saja tubuhnya hampir mencapai permukaan loteng terdengarlah perempuan itu sudah memaki sambil tertawa.
"Dari mana datang seorang lelaki bau, ayob cepat menggelinding dari kamar nonamu"
Bersamaan dengan kata katanya itu Liem Tou segera merasakan adanya segulung angin pukulan yang amat keras sekali menghajar badannya.
Walaupun di dalam hati diam diam dia merasa amat terperanjat tetapi pikirannya juga di dalam hati.
Dengan mengandalkan kau seorang perempuan apa bisa menahan serangan dari diriku?"
Ternyata dia orang sama sekali tidak menghindarkan diri dari datangnya serangan yang menghajar dadanya itu, telapak tangan yang di pentangkan di depan dada dengan keras lawan keras menerima datangnya serangan tersebut.
Dua gulung angin pukulan yang amat dahsyat segera bertemu di tengah angkasa, akhirnya Liem Tou yang sepasang kakinya belum menempel tanah terkena getaran dari pihak lawan sehingga berjumpalitan melayang turun kembali, keatas tanah..
Diikuti belum sampai badannya mencapai tanah sekali lagi dia bersalto di tengah udara kemudian baru melayang dengan tenangnya ke atas tanah.
Sungguh berbahaya, seru Liem Toa diam diam.
Dengan termangu mangu dia berdiri tertegun di sana beberapa saat lamanya, dia cuma merasakan perbagai macam persoalan bersama sama memenuhi benaknya, pikirnya kembali.
Sungguh lihay orang itu, aku dengar siluman rase cuma bisa melatih ilmu ilmu yang tidak bisa mati tetapi apakah merekapun bisa berhasil melatih ilmu Iweekang untuk melindungi badan dan menyerang orang.
Liem Tou yang menerima serangan tadi dengan keras lawan keras segera merasakan kalau pihak lawan sama sekali tidak menggunakan ilmu hitam lainnya tetapi tertahan oleh ilmu pukulan dengan tenaga khiekang yang amat dahsyat, karenanya dia merasa kebingungan.
Lama sekali dia berdiri termangu di atas tanah keadaannya seperti juga seseorang yang dimasuki oleh setan.
Pada saat Liem Tou berdiri tertegun dai tidak paham atas beberapa persoalan yang membingungkan hatinya itulah mendadak pandangannya menjadi terang benderang, diatas loteng itu mendadak tampak lampu yang menerangi seluruh ruangan.
Liem Tou segera mendongakkan kepalannyi memandang tampaklah sekalipun pintu serta jendela dari loteng itu masih tertutup tetap dsri celah celah yang agak besar serta dari bilik korden dia melihat munculnya bcberaps dosok bayangan perempuan dengan rambutnys yang terurai panjang.
Dalam hati Liem Tou jadi terperanjat, pikirnya.
Bagaimana hanya di dalam sekejap saja sudah muncul empat orang perempuan?? tempat ini sungguh berbau hawa setan.
Baru saja dia berpikir sampai disitu mendadak terdengarlah suara kbiem itu berkumandang kembali disusul dengan suara alunan seruling yang amat merdu mengiringinya.
Liem Ton yang mendengar suara seruling itu segera merasa kalau seruling itu bukan lain berasal dari seruling pualam milik si gadis cantik pengangon kambing, tidak terasa lagi semangatnya berkobar kembali, gumamnya seorang diri.
Liem Tou . . Liem Tou. . malam ini untuk pertama kalinya kau bertemu dengan musuh tangguh, tidak perduli dia orang siluman rase atau malaikat iblis yang bigaimana lihaynya pun malam ini kau harus pergi mencoba ilmunya.
Setelah mengambil keputusan ini dia segera bersiap untuk meloncat kembali ke atas loteng.
Pada saat itulah pintu serta jendela dari loteng itu mendadak terpentang lebar. Lism Tou merasa matanya agak silau kemudian jelaslah si gadis cantik pengangon kambing serta Li -Siauw Ie berada di antara keempat orang perempuan itu.
Pada tangan dari gadis cantik pengangon kambing mencekal seruling pualamnya, tatapi
dia tidak meniupnya melainkan cuma dipegang ditangannya saja.
Urusan ini benar benar berada diluar dugaan Liem Tou semula membuat dia menjadi sangat terperanjat sekali dengan cepat dia mengirimkan ilmu untuk menyampaikan suaranya bertanya depada si gadis cantik pengangon kan bing serta Lie Siauw Ie.
Ie cici, Wan moay moay bagaimana kau bisa ada disini? siapakah kedua orang perempuan itu.
Sembari berkata sepasang matanya dengan amat tajam sekali memperhatikan diri si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie melihat mereka berdua itu sama sekali tidak memberikan jawabannya bahkan si gadis cantik pengangon kambing yang memegang seruling itu duduk seperti patung, dalam hati dia jadi amat kaget.
Liem Tou yang melihat kejadian itu semakin lama merasa keadaan semakin tidak beres, dengan cepat dia membentak keras.
Ie cici, Wan moay moay.
Bagaikan bertiupnya angin taufan yang berlalu dengan amat cepat tubuhnya meloncat naik ke atas loteng kemudian menubruk Lie Siauw Ie serta si gadis cantik pengangon kambing.
Gadis berambut panjang yang ada di sebelah kanan mendadak bangun bsrdiri.
Mereka berdua cuma tertotok tidur pulas saja, bust apa kau orang begitu cemasnya ? Ujarnya sambil mengibaskan kedua tangannya.
Liem Tou segera merasakan tekanan sagulung angin yang amat dahsyat seperti semula menahan gerakannya untuk mendekati diri Lie Siauw Ie serta si gadis cantik pengangon kambing itu.
Dia yang mendengarkan kedua orang itu cuma tertotok tidur, di dalam hati segera rada lega juga.
Terhadap datangnya serangan dari si gadis yang amat dahsyat itu dia tak berpikir panjang lagi, mendadak telapak tangannya di dorong ke depan sehingga terasalah segulung angin pukulan laksana menggulungnya ombak di tengah samudra dengan dahsyatnya menekan gadis itu.
Kau manusia atau setan??" bentaknya keras
Agaknya gadis itu tahu kalau serangan dari Liem Tou itu amat dahsyat sekali sehingga tidak berani menyambut dengan keras lawan keras, tubuhnya segera menyingkir ke samping menghindarkan diri dari serangan tersebut bersamaan pula dia menarik seorang perempuan berbaju hijau yang lantas berdiri di samping.
Piaak. , ."pukulan dari Liem Tou seketika itu juga menghajar di atas jendela berukir diatas loteng itu sehingga hancur berantakan.
Melihat hal itu si gadis segera tertawa dingin.
Kalau mau berkelahi benar benar siapa yang takut dengan dirimu?? buat apa kau orang memperlihatkan kelihayan dihadapanku??"
Liem Tou segera putar badannya siap melancarkan serangannya kembali, tetapi secara tiba tiba dia menyadari kalau perempuan berbaju hijau itu bukan lain adalah Toa Kong cu dari Kiem Ihien pay, Ciang Beng Hu yang tempo hari sudah terluka di bawah serangannya.
Sewaktu dia memandang pula ke arah gadis yang rambutnya terurai ke bawah itu mendadak dia merasa kalau dia orang pernah bertemu dengan dirinya di suatu tempat.
Saat ini perempuan dengan rambut terurai ke bawah itu sudah membereskan rambutnya ke belakang dan melepaskan pakaian luarnya sehingga tampaklah pakaian singsat berwarna hitamnya dengan sebuah medali tergantung didepan dadanya.
Seketika Itu juga Liem Tou menjadi sadar kembali, mendadak dia tertawa terbahak bahak.
Sungguh tajam sekali perasaanmu . .haa..haa haa, kiranya adalah kau seorang.
Perempuan itu memangnya si perempnsn tunggal Touw Hong adanya, mendengar perkataan itu tak terasa lagi wajahnya berubah memerah tetapi di dalam sekejap saja sudah lenyap kembali seperti biasa.
Kalau memang aku adanya kau orang mau berbuat apa? tanyanya dingin.
Aku kira dengan menyaru sebagai siluman rase bisa menakuti diriku?? tanya Liem Tou sambil tertawa dingin.
Tetapi sebentar kemudian di dalam benaknya, sudah berkelebat kembali satu ingatan.
Aku orung kenapa tidak menggunakan medali yang sama untuk membuat dia orang menjadi gusar ? ?
Segera ujarnya lagi.
Kau kira setelah menggantungkan medali perak itu lantas boleh unjuk gigi di depan orang lain ? ? Heee . heee . sungguh menggelikan sekali, kau kira barang itu menarik hati?"
Sembari berkata dari dalam sakunya ia mengambil medali perak yang ditemunya didaiam rumah yang besar di atas gunung Wu san itu lantas digantungkan di depan dadanya.
Di atas medali perak itu terukir juga sebuah gambar burung houg berkaki tunggal persis dengan yang digantungkan di depan dada perempuan tunggal Touw Hong itu, cuma yang tidak sama yang satu pincang kaki kanannya sedang yang lain pincang kaki kirinya.
Si perempuan tunggal Touw Hong sewaktu melihat medali perak yang tergantung di depan dada Liem Tou itu mukanya segera berubah sangat hebat, diikuti air mata mengucur keluar dengan derasnya.
Mendadak dari empat penjuru loteng tersebut terdengar suitan yang saling sahut menyahut memenuhi angkasa, belum sempat Liem Tou berpikir lebih panjang lagi.
Sret . . Sreet, . di dalam sekejap saja terlibatlah berpuluh puluh sosok bayangan manusia dengan cepatnya melayang ke atas loteng dan mengepung tempat itu rapat rapat.
Setelah orang itu berdiri tegak, Liem Tou segera dapat mengenali kalau orang orang itu bukan lain adalah Auw Hay Ong Bo si jari beracun jarum emas, si rase salju, si pembesar buta, si hweesio mayat hidup, si pengemis liar serta seorang manusia tinggi besar yang berjubah lebar bersulamkan naga emas di bawah lindungan empat orang lelaki berbaju hitam yang menyoren pedang pada pinggangnya.
Si orang tua berjubah sulaman naga emas itu berumur kurang lebih lima puluh tahunan dengan alis yang tebal, mata bulat besar, cambang memenuhi seluruh wajah, keningnya menonjol ke depan jelas dia memilik tenaga dalam yang amat lihat sekali, sepasang matanya amat tajam dan memancarkan sinar yang berkilauan sehingga membuat orang yang melihat merasa bergidik.
Pada ujung bibirnya tersungginglah satu senyuman dingin dan memandang ke arah Liem Tou dengan gusar.
Keempat orang lelaki berjubah hitam yang ada dibelakangnya mempunyai wajah yang tampan, yang usianya belum sampai dua puluh tahun.
Tetapi keempat orang itupun memandang ke arah Liem Tou dengan pandangan yang amat gusar, nafsu membunuh menyelimuti wajahnya empat pasang mata dengan mengandung ras benci yang meluap luap memandang ke arahnya tanpa berkedip.
Liem Tou yang melihat situasi dihadapannya pada saat ini segera mengetahui kalau mereka sengaja datang mencari gara gara dengan dirinya di dalam hati diam dia dia merasa sedikit tergetar juga, dia tahu dirinya sudah masuk ke dalam jebakan musuh karenanya seluruh perhatiannya segera dipusatkan untuk menghadapi musuh.
"Saudara sekalian harap tahan dulu, aku ada perkataan yang mau ditanyakan kepada dia orang" seru si perempuan tunggal Touw Hong secara tiba tiba sambil melelehkan air mata.
Sehabis berkata dia melirik sekejap kearah si kakek berjubah sulam naga emas serta Auw Hay Ong Bo dua orang, sekalipun mereka nerdia agak ragu ragu dan keberatan tetapi bersama sama mengangguk juga.
Setelah melihat mereka setuju perempuan tunggal Touw Hong dengan cepat segera menuding ke atas medali perak yang tergantung di dada Liem Tou dan tanyanya.
Liem Tou, kau dapatkan benda itu dari mana?
Liem Tou tahu kalau medali perak itu ada sangkut paut dan hubungan yang sangat erat dengan sinar matanya dengan perlahan menyapu sekejap ke arahnya lantas balik tanya dengai suara yang amat dingin.
Lalu kau sendiri dapatkan barang itu dari mana?"
Si perempuan tunggal Touw Hong sama sekali tidak menyangka kalau Liem Toa bisa balik bertanya kepadanya dia agak melengak.
Kau tanya aku, sudah tentu barang ini adalah milikku.
Medali perak ini ada di badanku, sudah tentu milikku juga.
Sembari berkata dengan cepatnya dia bergeser ke samping badan si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie.
Segera terdengarlah dari antara orang yang mengepung dirinya ada yang berkata dengan suara yang perlahan.
He . . he . . lihatlah si malaikat tanah mau menyebrang sungai, untuk melindungi dirinya saja tidak sanggup dia masih mau menolong orang lain.
Liem Tou tidak ambil gubris dia melirik sekejap ke arah si perempuan tunggal Touw Hong dia menduga dia orang tentu marah.
Siapa tahu si perempuan tunggal Touw Hong cuma tertawa saja kepada dirinya sehingga kelihatan sangat menggiurkan sekali. Liem Tou baru untuk pertama kalinya melihat si perempuan tunggal Touw Hong ini memperlihatkann seanyumnya dengan memakai pakaian singsat berwarna hitam, dia merasa mungkin sekali di balik senyumannya ini tersembunyi suatu siasat licik, karenanya dia orang segera mengerahkan tenaga dalamnya siap siap menghadapi segala kemungkinan
Kalau begitu kau adalah putra dari enciku ujar si perempuan tunggal Touw Hong sambil tartawa manis Kalau bsgitu aku adalah bibimu lalu kenapa kau orang she Lie bukannya she Sun??
Begitu perkataan dari si perempuan tunggal itu diucapkan keluar, Auw Hay Ong sekalian yang mengerubuti tempat itu dengan mata yang terbelalak lebar segera memandang diri si perempuan tunggal itu dengan rasa amat terperanjat, tetapi di antara mereka siapapun tidak ada yang mengucapkan sepatah katapun, pandangannya dengan perlahan dia memperhatikan wajah
Liem Tou menantikan jawabannya.
Si perempuan tunggal pun bisa melihat bagaimana rasa takut orang orang itu atas jawaban yang diberikan oleh Liem Tou, wajahnya dengan perlahan dialihkan ke arah si kakek berjubah sulaman naga emas itu.
Bilamana Liem Tou benar benar adalah saudaraku maka dendam atas terbunuhnya putrimu terpaksa kau orang harus membalasnya sendiri, ujarnya sambil tertawa.
Dengan perlahan si kakek tua berjubah sulaman naga emas itu menyapu sekeliling tempat itu mendadak dia tertawa serak.
Dendam ada penyebabnya, hutang ada pemilik nya. Hu ji kami bukannya teriuka ditanganmu bagaimana dendam ini bisa ditempuh pada diri nona Hong? apalagi kami orang orang dari Kiem Thien pay pun berani datang dengan terus terang tentunya berani menghadapinya sendiri, lebih baik nona Hong jangan omong geguyon.
Sembari berkata dia memperlihatkan satu senyuman yang amat seram sekali.
Liem Tou yang mendengar dia berbicara begitu, saat itulah baru tahu kalau si kakek tua berjubah sulaman naga emas itu bukan lain adalah ciangbunjeu dari Kicm Thien pay. Auw Hay Ong Ciang Cau adanya, dia sama sekali tidak menyangka kalau orang yang mempunyai wajah alim itu ternyata mempunyai hati yang licik sukar untuk diduga, cukup dari senyuman serta pembicaraannya saja Liem Tou bisa menduga delapan sembilan bagian.
Si perempuan tunggal Touw Hong sewaktu mendengar perkataan dari Auw Hay Ong itu Air mukanya segera berubah jadi adem.
Ciss..,perkataanku sama sekali bukan omongan guyon belaka, ujarnya dengan serius. Terus terang saja aku beritahukan kepadamu.aku bisa turun gunung semuanya dikarenakan atas undanganmu untuk datang ke daerah Tionggoan dengan menggantungkan medali perak ini.
Tetapi yang didapatkan bukannya mencari ciciku melainkan cari gara gara terus sekarang medali perak dari ciciku sudah muncul sudah tentu berarti juga aku telah menemukan separuh dari ciciku sejak kini aku pun tidak usah menemui banyak urusan lagi.
Liem Tou sama sekeli tidak menyangka kalau medali perak itu bisa menghapuskan ikatan musuh dengan perempuan tunggal ini, tetapi dia mana mungkin adalah putra dari cicinya? yang dimaksudkan sebagai cicinya itu kemungkinan sekali adalah perempuan berbaju putih yang ditemuinya di dalam rumah besar diatas gunung wusan itu, dia orang sudah menyanggupi untuk menceritakan satu satunya putra kesayangannya Sun Ci Sie bahkan mendapat beban juga untuk memberitahu kepadanya kalau musuh besarnya adalah Kioe Lang Wau Kauw sungguh tidak disangka sama sekali ternyata ini hari dia orang sudah dianggap sebagai Sun Ci Sie bukankah satu kesusahan dditambahi dengan satu kesalahan lagi?"
Sebetulnya dia orang mau memberitahu keadaan yang sesungguhnya kepada perempuan itu tetapi di dalam sekejap saja dia melihat air muka Auw Hay Ong serta Auw Hay Ong Bo berubah amat hebat.
"Sekarang perkataanku sudah aku ucapkan dengan jelas terdengar si perempuan tunggal Touw Hong melanjutkan kembali kata katanya dengan amat dingin. Siapa saja diantara kalian kalau ada yang berani mengganggu seujung rambutnya aku segera turun tangan membinasakan dirinya.
Liem Tou yang mendengar perkataan itu diam diam merasa geli, dengan mengambil kesempatan ini dia bergeser kembali dua langkah ke belakang.
Waktu itulah dia bisa melihat keadaan si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie, wajah mereka tenang tenang saja dan berwarna merah padam, sedikitpun tidak kelihatan luka.
Tujuan kedatangannya kali ini sebetulnya memang ingin menolong kedua orang itu tetapi jikalau mereka tertidur terus dengan nyenyaknya dia harus menolong mereka dengan apa?? baru saja dia orang hendak menyadarkan kedua orang itu mendadak terdengar si peremnuan tunggal Touw Hong sudah berkata kembali.
Liem Tou. dimanakah ibumu? ?
Aku tidak punya ibu, sahut Liem Tou sembari menoleh ke arahnya.
Tangan kanannya dengan cepat ditepukkan ke atas punggung diri si gadis cantik pengangon kambing.
Mendadak dari samping badannya bergulung mendatang serentetan hawa pukulan yang amat dahsyat sekali menghajar badannya, dengan tergesa gesa Liem Tou kirim satu pukulan menangkisnya.
Tahan, terdengar si Auw Hay Ong berteriak keras.
Kemudian kepada si perempuan tunggul ujarnya.
Perkataan dari nona Hong sedikitpun tidak salah, tetapi jikalau dia orang adalah putra dari encimu kenapa sama sekali tidak kelihatan terharu? apa mungkin ini hanya siasatnya saja? nona Hoag kau orang jangan sampai termakan siasatnya.
Mendengar perkataan tersebut si perempuan tunggal Touw Hong sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun dengan perlahan dia berjalan kurang lebih beberapa depa di depan Liem Tou.
Liem Tou, ujarnya kembali. Sebetulnya apa betul medali perak itu kau dapatkan dari ibumu?
Dalam hati Liem Tou tahu kalau malam ini urusan tidak bisa diselesaikan dengan mudah, jikalau tebalkan muka dia mengaku sebagai anak oraag lain bukankah urusan ini sangat memalukan sekali? tetapi diapun tabu jikalau dia orang berbicara terus terang kemungkinan sekali si perempuan tunggal itu segera akan mmenganggap musuh dengan dirinya.
Kepandaian silat dari parenpum ini sangat tinggi sekali, Walaupun dia orang sama sekali tidak takut dengan dirinya tetapi untuk turun tangan menolong si gadis cantik pengangon kambing dan Lie Siauw Ie tentu bakal menemui kesukaran.
Tidak terasa lagi Liem Toa termenung dan berpikir keras.
"Kau orang minta aku beritahu soal apa??" Akhirnya dia berkata juga sambil angkat kepalanya.
Sepasang mata dari Si perempuan tunggal itu dengan tajamnya memperhatikan dirinya terus, sedang semua jago yang ada disekeliling tempat itupun pada melototi dirinya dengan tajam, hai ini membuat Liem Tou agak bergidik juga.
"Aku mau kau orang ngonaong terus terang" sahut si perempuan tunggal Touw Hong dengan cepat.
"Baiklah" sahut Liem Tou kemudian tidak ragu ragu lagi. Aku memperoleh medali perak ini dari dada sebuah kerangka manusia.
Mendengar perkataan tersebut si perempuan tunggal Touw Hong merasakan kepalanya seperti dipukul dengan martil besar, seperti juga disambar petir di siang hari bolong, segera dia berteriak kalap.
"Liem Tou, kau ulangi sekali lagi" Medali perak itu aku dapatk in di atas dada sebuah kerangka manusia di atas pegunungan yang amat sunyi.
Seketika itu juga si perempuan tunggal Touw Hong menangis tersedu sedu air matanya mengucur keluar dengan derasnya sehingga laksana air sungai Tiang Kang yang meluap.
"Ah .. dialah ciciku . . dialah ciciku ooh . . cici, kiranya kau orang sudah meninggal, aku sampai sekarang masih mencari dirimu" teriaknya dengan sedih.
Sembari menangis dia berteriak teriak dengan amat kerasnya, seketika itu juga membuat semua orang dari Kiem Tian Pay yang berada disekeliling tempat itu menjadi tertegun.
Dengan mengambil kesempatan itu Liem Tou segera maju lagi satu langkah menepuk sadar diri si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie.
Baru saja kedua orang itu menjerit kaget dan sadar kembali dari pulasnya pada saat yang bersamaan pula terdengar si perempuan tunggal Touw Hong sudah berteriak gusar.
"Liem Tou kau sudah mencelakai ciciku!"
Baru saja Liem Tou mau membantah mendadak dia merasakan adanya segulung angin pukulan yang amat dahsyat sekali menggulimg datang.
Liem Tou sama sekah tidak menduga kalau si perempuan tunggal Touw Hong bsa melancarka serangan dengan begitu cepatnya. Jikalau dia menghindarkan diri tentu si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie yang berada di belakangnya akan terkena serangan tersebut, terpaksa dia kirim satu pukulan juga menerima datangnya serangan tersebut dengan keras lawan keras.
Dua gulung angin pukulan segera bertemu di tengah udara. Braaak seketika itu juga angin topan melanda seluruh loteng membuat atap serta jendela pada beterbangan. Para jago yang hadir di sanapun tidak terasa pada berubah air mukanya.
Walaupun Liem Tou tahu kedudukan dari pihak musuh amat tangguh sekali, teapi melihat keberangasan dari si perempuan tunggal Touw Hong tidak terasa menjadi gusar juga, sepasang matanya melotot lebar lebar memancarkan sinar yang amat tajam, diapun membentak dengan keras.
Nona Touw Hong sungguh ganas dan berangasannya, mungkin orang orang Kiem Thien Pay takut akan dirimu, tetapi aku Liem Tou sama sekali tidak akan takut kepadamu.
Sambil berkata dia menyapu sekejap ke arah sekeliling tempat itu, ketika dilihatnya sepasang mata dari Auw Hay Ong serta Auw Hay Ong Bo sedang memandangi dirinya dengan amat gusar dia segera tertawa dingin.
"Hmmm... He...he..." Liem Tou, tiba tiba terdengar seseorang berseru sambil tertawa serem. Kau orang tidakusah memperlihatkan sifatmu yang begitu keren, jangan dikata kau adalah panglima yang pernah dikalahkan ditangan kamu sekalipun bukan, dihadapan kami orang kau janganlah harap bisa bermain gila.
Sambil berkata dia berjalan keluar dari barisan dan sambungnya lagi.
Biarlah aku menjajal kepadaian silat dari kawan yang sudah setahun tidak bertemu muka, apakah ketajaman lidahnya sesuai dengan kepandaian yang dimilikinya.
Liem Tou dengan cepat putar kepalanya memandang ke arah senjata orang itu, ternyata bukan lain adalah si jari beracun jarum Song Ceng lam, melihat wajah yang menyengir kejam serta senyuman dingin yang
menghiasi bibirnya diam diam di dalam hatinya merasa terperanjat.
Bajingan cilik, makinya di dalam bati. Malam ini jikalau kau orang kembali lolos dari tanganku makan orang tidak akan she Liem lagi.
Si gadis cantik pengangon kambing yang melihat wajah orang itu amat seram, karena takut Liem Tou kena kecundang di tangannya dia orang segera memberi peringatan.
Liem koko, serunya dengan keras. Biarlah Siauw moay yang menyambut orang itu, aku mau lihat dia orang mempunya kepadaian berapa tingginya.
Musuh tangguh ada di depan mata, nanti kaupun akan mendapat bagian, ujar Liem Tou segera dengan wajah serius. Lebih baik kau berjaga jaga terhadap dirimu, janganlah sampai dipecundangi orang lain dengan pinjam kesempatan ini, urusan yang ada disini lebih baik kau jangan ikut campur.
Tou titi, kau lebih baik jangan menempuh bahaya, terdengar Lie Siauw Ie memberi peringatan pula.
Ie cici, Wan moay moay terima kasih atas rasa kuatir kalian, teriak Liem Tou dengan keras. Aku seorang lelaki sejati kenapa harus takut menempuh bahaya?? Hey orang She Song kalu kau benar benar punya kepadaian ayohh keluarkan, aku Liem Tou akan mengalah tiga jurus kepadamu.
Si jari beracun jarum emas, Song Beng lan segera mendengus dengan amat dinginnya, mendadak tubuhnya maju dua langkah ke depan, telapak kiri serta kepalan tangan kanannya dengan amat dahsyat dipentangkan melancarkan satu pukulan dahsyat menghajar dada dari Liem Tou, sedang yang lain mengancam jalan darah diatas keningnya.
Liem Tou dengan cepat menggeserkan badannya ke samping tanpa mengubah kedudukan kakinya yang semula, dengan amat mudahnya dia berhasil menghindarkan diri dari serangan tersebut.
Si jari beracun jarum emas dengan cepatnya mengubah serangannya, telapak tangan kanannya mendadak berubah jadi totokan bagaikan kilat cepatnya menghajar pusar dari Liem Tou sedangkan tangannya yang sebelah lagi mengambil kesempatan itu meraup segenggam senjata rahasia.
Liem Tou yang melihat hal itu cuma mendengus dingin saja, dengan cepat dia menarik dadanya kebelakang menghindarkan diri dari serangan tersebut.
Si jari beracun emas yang melihat jari tangannya yang hampir mengenai dada Liem Tou mendadak hanya mencapai sasaran yang kosong, dia menjadi amat gusar sekali.
Liem Tou, teriaknya dengan gusar, saat kematianmu sudah tiba, hari ini pada setahun kemudian adalah ulang tahunmu yang pertama dari kematianmu.
Sewaktu dia orang melancarkan jurus yang kedua itu, Liem Tou sudah mengadakan persiapan. Diapun segera tertawa dingin.
Aku k'ra belum tentu" sahutnya.
Tenaga sakti yang ada di badannya segera disalurkan mengelilingi seluruh tubuh lantas teriaknya dengan keras.
Ie cici, Wan Moay Moay. baik baiklah kalian berjaga diri.
Tidak berpikir panjang lagi, bukannya tidak menghindar bahkan dia memapaki datangnya serangan dahsyat yang dilancarkan oleh Song Beng Lan itu.
Tubuhnya segera melayang ke atas udara ternyata jarum jarum racun yang dilancarkan oleh Song Beng Lan sama sekali tidak berguna terhadap dirinya membuat Auw Hay Ong Bo yang melihat jelas keadaan itu segera berteriak kaget.
Belum sempat dia memberikan pertolongannya, Liem Tou yang ada diatas udara sudah berhasil mencengkram belakang leher dari Song Beng Lan lantas putar setengah lingkaran di tengah udara dan melayang turun kembali ke atas permukaan tanah.
Dia orang lantas kirim satu senyuman mengejek ke arash si perempuan tunggal Touw Hong, Auw Hay Ong serta Auw Hay Ong Bo.
Beberapa orang itu ketika melihat Liem Tou hanya di dalam sekali gebrak saja sudah berhasil menguasai diri Song Beng Lan, dalam hati merasa terperanjat sekali mereka sama sekali bukannya kaget karena keselamatan dari Song Beng Lan terancam melainkan karena melihat ilmu sakti dari Liem Tou yang sama sekali tidak takut terhadap serangan jarum emas itu.
Liem Tou yang melihat orang orang itu memandang kearahnya dengan termangu mangu segera mengetahui kalau ada orang turun tangan membinasakan Song Beng Lan maka para jago lainnya segera akan turun tangan mengerubuti dirinya, tetapi sejak tadi dia orang sudah mengambil keputusan untuk membinasan si jari beracun emas ini. Sudah tentu dia tidak mau melepaskan dirinya dengan begitu saja.
Berpikir akan hal itu napsu untuk membunuh segera menyelimuti wajahnya, pikirnya kembali.
Jikalau ini hari aku tidak mengobrak abrik mereka sehingga kacau balau, tentu mereka masih mengira aku Liem Tou adalah seorang manusia yang mudah dipermainkan.
Dia segera menggigit kencang bibirnya lantas berteriak dengan amat keras.
"Hey orang orang Kiem Thien Pay kalian dengarlah semua, sakit hati ada panyebabnya hutang ada pemiliknya, kalian lebih baik turun tangan bersama sama saja."
Dsngaa cepat dia mencekal ujung kaki dari Song Beng Lan dan digunakan sebagai senjata yang secara tiba tiba dibabat dari arah Auw Hay Ong dari Kiem Thien Pay itu.
Dengan perbuatannya Ini seketika itu juga memancing rasa gusar dari seluruh oraag Khiem Thien pay terdengarlah suara bentakan gusar dari seluruh orang Khiem Thien Pay terdengarlah suara bentakan gusar memenuhi seluruh angkasa disusul berkelebatnya sinar tajam yang menyilaukan mata. Berbagai senjata tajam segera pada menyerang dari empat penjuru.
Dengan amat lincahnya Liem Tou mengobat ngabitkan tubuh si jari beracun jarum emas untuk menerjang ke kanan menghajar ke kiri, lagaknya mirip sekali dengan singa ganas yang terlepas dari kandangnya.
Siapa saja yang berani mendekati badannya seketika itu juga akan terhajar oleh serangannya membuat orang orang dari Kiem Thien pay menjadi kebingungan dan pada mundur berantaran.
Melibat kejadian itu Liem Tou segera tertawa, terbahak bahak.
Haa. .. .haa. .. .haa Hay orang Kiem Thien Pay kaiian semua adalah gentong gentong nasi yang sama sekali tidak berguna, kau goblok, dungu has. . .buat apa kalian datang ke daerah Tionggoan?? kalian jangan sampai membuat orang kang ouw kegelisahan sehingga tertawa kelepasan gigi depannya.
Baru saja dia berbicara sampai disitu mendadak terdengarlah suara bentakan yang amat keras sehingga menggetarkan seluruh ruangan dari loteng lersebut.
Liem Tou jadi terperanjat, dengan cepat dia melirik sekejap ke arah orang itu yang ternyata bukan lain adalah Auw Hay Ong, diam diam pikirnya.
Nama besar dari Auw Hay Ong ternyata bukanlah berita kosong belaka, cuma sayang kehebatannya masih tidak seberapa, tenaga dalam yang kau miliki saat ini masih tetap kalah satu tingkat dengan tenaga dalamnya Thian pian Siauw cu, kenapa aku harus takuti dirimu?"
Baru saja Liem Tou berpikir akan hal itu, terlihatlah berkelebatnya sinar emas yang menyilaukan mata tubuh Auw Hay Ong bagaikan bertiupnya angin berlalu dengan amat cepatnya sudah menerjang ke depan.
Para jago dari Kiem Thien Pay lainnya sewaktu melibat pimpinannya sudah turun tangan tentu cepat cepat pada mengundurkan dirinya ke belakang dan menonton di samping kalangan
Terhadap para jago yang ada disana Liem Tou sama sekali tidak mengambil perhatian di dalam hatinya diam diam cuma memperhitungkan serangan bokongan dari si perempuan tunggal Touw Hong itu.
Pada saat dilihatnya si perempuan tunggal Touw Hong cuma berpeluk tangan saja berdiri di samping tanpa bermaksud turun tangan hatinya baru merasa rada lega.
Dengan perlahan kepalanya ditoleh kembali ke arah Auw Hay Ong yang saat ini saking khekhienya sudah berkaok kaok seperti halnya tiga ekor babi yang disembelih.
Oooh . . kau orang ternyata Ciang Tiau itu manusia yaug sudah dikalahkan oleh Thian Piu Siauw cu, haa . . ha . , bagus bagus sekali. Seru Liem Tou dengan nada tenang ejek. Coba kau beritahu kepadaku dengan cara bagaimana kau orang bisa terluka? ini hari aku juga mau melukai dirimu seperti apa yang dilakukan oleh dia kemarin hari.
Kekalahan yang diterimanya sewaktu bertempur dengan Thian Pian Siauw cu merupakan suatu peristiwa yang paling memalukan buat dirinya.
Kini lukanya dikorak korek kembali oleh Liem Tou bagaimana tidak membuat orang merasa kegusaran?
Jambangnya yang memenuhi wajahnya pada berdiri seperti kawat, sepasang matanya dipentangkan lebar lebar seperti dua buah bola dengam diiringi suara teriakannya yang amat keras sepasang telapak tangannya bersama didorong ke depan menghajar badan musuhnya.
Segera terasalah segulung angin pukulan laksana melandanya angin taufan dibarengi dengan deburan ombak yang dahsyat menggulung mendatang, Liem Tou segera tertawa geli.
Hawa murninya dikerahkan melalui sepasang kaki dari Song Beng lan dan menyambut datangnya serangan tersebut.
Sebetulnya Auw Hay Ong tidak bermaksud untuk melukai diri dari si jari beracun jarum emas melainkan cuman mau bertempur dengan dirinya, kini melihat Liem You sengaja menggunakan tubuh Song Beng lan untuk menyambut datangnya serangan itu dia menjadi amat terperanjat.
Tetapi dengan cepat dia menambahi lagi tenaganya dengan dua bagian. Pikirnya.
Tenaga dalamku yang sudah berhasil dilatih sehingga bisa melukai orang dengan melewati halangan, pukulan ini sekalipun menghajar tubuh Song Beng lan tetapi yang luka adalah Liem Tou.
Di dala sekejap mata itulah pukulan dari Auw Hay ong ini dengan cepatnya sudah berhasil menghajar ubun dari Song Beng lan, tetapi sebejar saja dia sudah merasakan adanya segulung angin pukulan yang jauh lebih dahsyat mengalir dari ubun Song Beng lan itu memukul balik serangannya itu, dia menjadi amat terkejut sekali.
Di tengah suara teriakan yang memekikkan telinga, tenaga dalamnya dikerahkan sampai sepuluh bagian dan disalurkan keluar melalu pukulannya tersebut.
"Rraaak . . . !" ditambah suara benturan yang amat nyaring terasalah suara ledakan yang keras disusul dengan melandanya hawa murni yang menyesakkan dada memenuhi seluruh ruangan dan tiba tiba terlihatlah diantara desiran angin pukulan itu bercampur dengan muncratnya darah mengotori seluruh loteng bahkan setiap orang yang hadir di sana tidak ada yang bisa terhindar dari cipratan darah tersebut.
Bau amis darah bercampur aduk dengan darah membuat membuat orang merasa semakin mual.
Kiranya bentrokan yang terjadi antara Auw Hay Ong dengan Liem Tou tadi terhalang dengan tubuh Song Beng Lan yang ada di tengah.
Karena dahsyatnya bentrokan hawa murni itu, seketika itu juga membuat tubuh Song Beng lan tidak kuat menahan tekanan yang demikian dahsyatnya dan meledak sehingga darah segar beserti isi perutnya pada melayang memenuhi angkasa.
Liem Tou yang melihat Song Beng Lan sudah menemui ajalnya dalam keadaan yang begitu mengerikan sekali, dalam hati tahu mayat tersebut sudah tidak berguna lagi, karenanya dia segera berteriak keras.
"Hey orang she Ciang, sambutlah barangmu ini!"/
Begitu dia selesai berbicara mayat dari Song Beng lan dengan membawa serti isi perutnya yang pada meledak keluar melayang ke arah diri Auw Hay Ong.
Belum sampai mayat itu tiba potongan daging serta isi perut sudah pada meluncur ke depan. Auw Hay Ong sama sekali tidak menyangka Liem Tou bisa melakukan serangan dengan menggunakan cara seperti ini, tubuhnya dengan cepat menyingkirkan ke samping dibarengi dengan satu pukulan menghajar mayat keluar dari ruangan loteng.
Sekalipun tidak sampai terkena, tidak urung saking gusarnya dia berkaok kaok juga sambil mencak mencak menahan hawa amarahnya.
Sebaliknya Liem Tou malah tertawa terbahak bahak.
Sampai saat ini Auw Hay Ong baru tahu kalau Liem Tou adalah satu satunya musuh yang paling sukar untuk dihadapi, air mukanya segera berubah asem kemudian dengan pandangan yang amat gusar bercampur benci dia orang melototi diri Liem Tou.
Dengan Kejadian ini Auw Hay Ong Bo pun tidak berani berlaku gegabah lagi, dia tahu suaminya Auw Hay ong kembali sudah menemui musuh yang amat tangguh, dia tahu kebiasaan dari Auw Hay Ong jikalau tidak berada dlam keadaan yang kepepet sehingga sama sekali tidak punya pegangan untuk memenangkan pihak lawannya dia orang tidak akan memperlihatkan sikapnya secara begini.
Dengan kejadian ini bersama sama dengan para jago lainnya dia segera berdiri disamping Auw Hay Ong, tanpa mengucapkan sepatah katapun mereka bersiap sedia menghadapi serangan selanjutnya dari Liem Tou.
Mendadak si perempuan tunggal Touw Hong yang berdiri disamping tertawa ringan ujarnya.
Kalian berdua apakah hendak mempergunakan cara lama seperti sedang menghadapi diriku dulu untuk menghadapi dia orang?*
Auw Hay Ong melirik sekejap ke arah si perempuan tunggal Touw Hong, air mukanya segera berubah memerah.
Kepandaian orang ini amat tinggi tenaga dalamnyapun amat dahsyat, agaknya tidak berada dibawah kepandaian dari nona Hong ujarnya rikuh.
Kalau memangnya begitu sekalipun kalian berdua turun tangan juga tak ada gunnya, ujar si perempuan tunggal Touw Hong dengan dinginnya.
Beberapa perkataannya ini seketika itu juga membuat air muka Auw Hay Ong serta Auw-Hay Ong Bo berubah jadi pucat pasi. untuk beberapa saat lamanya mereka tidak dapat mengucapkan sepatah katapun.
Dengan menggendong Khiemnya dengan perlahan si perempuan tunggal Touw Hong berjalan meadekati Liem Tou, lantas tanyanya dengan nada serius.
"Liem Tou, apakah ciciku sudah kau binasakan??
Walaupun wajahnya amat tenang tetapi nada suaranya jelas amat mendesak dirinya, Liem Tou mana mau tunduk terhadap dirinya dia malah tertawa dingia.
"Terserah kau orang mau bicara secara bagaimana" sahutnya seenaknya.
"Liem Tou, aku bertanya sungguh sungguh" ujarnya si perempuan tunggal lagi.
"Lalu siapa yang mengajak guyon dengan dirimu?"
Sehabis berkata dia melirik sekejap kearahnya lantas menoleh ke arah si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie.
Orang ini berhawa setan, lebih baik kita cepat cepat pergi dari sini ujarnya dengn cepat.
"Ooooh mau pergi ?" tidak begitu mudah, tiba tiba si perempuan tunggal Touw Hong nyeletuk
Mendengar perkataann itu seketika itu juga Liem Tou tertawa terbahak bahak.
Aku Liem Tou, bila ada yang bisa menghalangi diriku? Bentaknya dengan keras.
Saat ini ia benar benar sudah teramat gusar kepada si gadis cantik pengangon kambing serti Lie Siauw Ie ujarnya lagi.
"Ie cici. Wan moay moay kau berangkatlah terlebih dulu" biar aku yang barjaga jaga dari belakang, aku mau lihat dia orang bisa berbuat apa terhadap diriku ?
"Liem Koko, terdengar si gadis cantik pengangon kambing itu tiba menyela, Ciang cici serta Hong cici sangat baik sekali menghadapi diriku, kau janganlah membuat dia terlalu sedih."
"Tidak usah banyak urusan lagi" ayoh jalan seru Liem Tou sambil kirim satu kerlingan mata kepadanya.
Liem Koko, kau kenapa begitu galak ? teriak si gadis cantik pengangon kambing tiba tiba.
Walaupun dia berkata begitu tetapi kakinya bersama sama Lie Siauw Ie bergeser meninggalkan loteng tersebut.
Jangan pergi, mendadak terdengar suara bentakan dari si perempuan tunggal Touw Hong serta Toa kongcu dari Kiem Thien Pay, Ciang Beng Hu secara berbareng.
Baik si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie jadi amat terperanjat sekali, saat itulah mereka baru tahu kalau masing masing orang sudah diliputi hawa amarah yang berkobar kobar.
Lie Siauw Ie yang lebih tua bagaimanapunn juga lebih cermat daripada diri si gadis cantik pengangon kambing melihat kejadian itu, dia segera tahu suatu bentrokan sudah hampir meledak, dirinya yang berjumlah kecil memang lebih baik berlalu saja dari sini.
Nona Ciang, Nona Hong kenapa kalian maah marah?? tanyanya sambil tertawa. Bilamana bukannya atas bantuan dari kedua orang cici, kemungkinan sekali Ie moay moay sudah menemui bencana. Jikalau nona berdua ada perintah silakan berbicara buat apa berteriak teriak begitu ??
Dengan menggandeng tangan si gadis cantik pengangon kambing, dia berjalan ke tempat semula, si perempuan tunggal Touw Hong yang melihat mereka sudah ke tempat asalnya segera dia tertawa dingin.
Bagaimana ?? Kenapa tidak pergi ?? ujarnya kepada diri Liem Tou.
Tindakan yang dilakukan oleh Lie Siaw Ie ini seketika itu juga membuat Liem You menjadi termangu mangu dia memandang ke arash si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siaw Ie yang berdiri di sana sambil tersenyum senyum.
Terlihatlah Lie Siaw Ie serta si gadis cantik pengangon kambing itu mendadak bungkukkan badannya menjura.
Budi kebaikan yang begitu besarnya, kami berdua untuk sementara tidak bisa ...
belum habis dia berkata mendadak teriaknya dengan keras.
" Ayoh lari!"
Bagaikan dua gulung sinar kilat yang berkelebat di tengah udara mereka berdua dengan cepatnya melayang keluar dari tempat itu.
Menanti si perempuan tunggal serta Kiem Thien Pay sadar, mereka berdua sudah meloncar turun dari loteng tersebut.
Si perempuan tunggal menjadi amat gusar sekali, dia mencak mencak menahan hawa amarahnya yang bergolak semakin membara di dalam dadanya.
Kalian mau lari kemana?? bentaknya dengan keras.
Tubuhnay dengan cepat bergerak siap untuk mengejari. Saat itulah Liem Tou sudah sadar kembali dari lamunannya mendadak dia melancarkan satu pukulan menghalangi perjalannnya, bentaknya dengan keras.
Mari sini, aku mau bertempur tiga ratus jirus dengan dirimu.
Segulung angin pukulan yang amat kencang segera berkelebat menghalangi perjalanan dari si perempuan tunggal Touw Hong membuat dia orang jadi benar benar mendongkol.
Liem Tou, bentaknya sembari putar tubuh, malam ini ada aku tidak akan ada kau.
Sepasang telapak tangannya segera di dorong ke depan, seketika itu juga bagaikan titikan air hujan yang diselingi angin topan berturut turut dia melancarkan dua belas pukulan dahsyat. Serangannya ganas tenaga dahsyat seketika itu juga membuat seluruh ruangan loteng itu dipenuhi dengan suara angin pukulan yang menderu deru bercampur deagan suara ambruknya jendela dan pintu, membuat suasana menjadi amat kacau sekali.
Liem Tou pun agaknya dibuat terperanjat pula oleh serangan yang amat gencar dari si perempuan tunggal Touw Hong ini, dia tidak berani berlaku gegabah tubuhnya dengan cepat menyingkir ke kiri dan ke kanan menghindar diri dari serangan serangan tersebut.
Tetapi serangan yang dilancarkan perempuan tunggal Touw Hong ini tak ada hentinya, semakin bertempur dia melancarkan serangan semakin gencar membuat Liem Tou lama kelama menjadi gusar juga.
Sepasang alisnya dikerutkan rapat rapat lalu bentaknya dengan keras.
Dimana bisa mengampuni orang laim ampunilah dia orang, kau kira aku betul betul takut kepadamu.
Dengan cepat dia salurkan hawa murninya ke sepasang telapak tangannya tanpa menyingkir dan menghidar lagi dengan mengerahkan tujuh bagian tenaga dalamnya dia menangkis datangnya serangan musuh.
Ternyata sedikit pun tidak salah dengan gerakannya ini angin serangan dari si perempuan tunggal Touw Hong itu semakin lama semakin perlahan.
Liem lou yang melihat dia orang berhasil merebut posisi baik mana mau dia membuang waktu dengan begitu saja, dari kedudukan bertahanu dengan cepat dia merubah jadi kedudukan menyerang, tenaga dalamnya ditambahi dengan dua bagian berturut turut melancarkan delapan buah serangan gencar.
Setiap serangannya pastilah diikuti dengan suara menderunya angin yang amat rapat, jurus yang digunakan semakin aneh dan sakti sekali.
Hanya di dalam sekejap saja si perempuan tunggal Touw Hong itu benar benar sudah terdesak, keringat dingin mulai mengucur keluar membasahi selurun tubuhnya, saat ini dia cuma mempunyai tenaga untuk menangkis saja tanpa ada kesempatan untuk balas menyerang.
Pada wakiu itulah tiba tiba Liem Tou menyapu sekejap ke arah sekeliling tempat itu, dia menemukan semua jagoan dari Kiem-Thien pay sudah lenyap tak berbekas batinnya jadi sedikit berdesir.
Celaka, pikirnya di dalam hati. Mereka tentu pergi mengejar Ie cici serta Wan moay moay.
Berpikir akan hal ini mana dis orang mempunyai niat untuk bertempur lebih lanjut dengan si perempuan tunggal Touw Hong itu?" dia menarik napas panjang panjang bagaikan menyambarnya geledek dan berkelabatnya sinar kilat, dengan dahsyatnya Liem Tou melancarkan tiga buah serangan sekaligus.
Si perempuan tunggal Touw Hong yang harus menahan serangan dahsyat itu baru saja berhasil menangkis serangan kedua air mukanya berubah jadi pucat pasi, Liem Tou yang melihat kejadian itu dalam hati segera paham, asalkan dia melanjutkan serangannya yang ketiga maka si nerempuan tunggal Touw Hong ini tentu akan terluka kena serangannya.
Perempuan ini tidak ada dendam sakit hati apapun dengan dirinya, kepada dia orang harus turun tangan jahat terhadap dirinya? berpikir akan hal ini serangan yang ketiga cuma dilancarkan sampai separuh jalan saja lalu ditarik kembali.
Kehebatan dari nona aku Liem Tou sudah menjajalnya, teriaknya keras. Jikalau kau orang masih tidak puas pada bulan lima tanggal lima kita bertemu kembali diatas puncak pertama Cing Jan.
Selesai berkata tampak berkelebatnya bayangan hijau, hanya dalam sekejap saja dia sudah lenyap tak berbekas.
( Bersambung ke jilid 22 )
Kini tinggal si perempuan tunggal Touw Hong seorang saja yang berdiri mematung di atas loteng, lama sekali baru kelihatan air mata mengucur keluar dengan amat derasnya, mendadak dia jatuhkan diri berlutut dan bergumam seorang diri.
Suhu. . .aku ternyata sudah sia siakan harapan kau orang tua selama sepuluh tahun ini, ini hari ternyata aku orang sudah dikalahkan oleh bocah cilik itu.
Dia berhenti sebentar lantas tambahnya lagi.
Sukma Cici apa tahu, aku akan membinsakan bangsat cilik itu untuk membalaskan dendam sakit hati cici.
Tetapi sebentar kemudian dia sudah bergumam kembali dengan suara yang amat lirih.
Tetapi semoga saja cici bukan dibunuh oleh orang ini, panca indranya bagus wajahnya tidak membawa sedikit hawa jahat kemungkinan sekali bukan dia orang yang sudah membunuh clciku, mungkin kesemuanya ini cuma kesala pahamanku.
Di atas loteng yang indah itu kini cuma tinggal suara gumaman, yang tak ada henti hentinya diselingi suara tangisan.
Sewaktu dia tundukkan kepalanya menangis dengan amat sedihnya itulah mendadak dia merasakan dari punggungnya menyambar datang suara desiran senjata tajam yang amat santar sekali, si perempuan tunggal Touw Hong jadi terperanjat ujung jubahnya dengan cepat dikebutkan ke belakang menangkis dalangnya serangan tersebut.
Sreeet . . dengan disertai suara yang amat nyaring ujung jubahnya itu sudah kena babat sehingga putus jadi dua bagian, sedangkan si perempuan tunggal Touw Hong pun bisa melihat orang yang baru saja melancarkan serangan bokongan itu bukan lain adalah seorang manusia berbaju hitam dengan wajah berkerudung yang membawa sebilah pedang pusaka memancarkan sinar yang berkilauan.
"Siapa kau!" bentak si perempuan tunggal Touw Hong dengan amat kerasnya.
Tetapi orang itu tidak memberikan jawabannya, pedang Hitamnya kembali berkelebet menusuk ke tubuh si perempuan tunggal Touw Hong.
Si perempuan tunggal Touw Hong tahu kalau pedaag pusaka yang ada ditangannya adalah sebilah pedang wasiat yang amat tajam sekali. dia tidak berani menangkis datangnya serangan tersebut dengan menggunakan telapak tangannya, tubuhnya dengan cepat berkelebat menghindarkan diri dari tempat tersebut.
Tetapi ilmu meringankan tubuh dari orang itu juga amat sempurna sekali. dia orang tetap tidak mau melepaskan si perempuan tunggal itu dengan begitu saja membuat Touw Hong benar benar terdesak dan berada di dalam keadaan yang sangat berbahaya sekali.
Untung saja tenaga dalam dari si perempuan tunggal Touw Hong sudah berhasil dilatih hingga mencapai pada taraf yang sempurna sekali, karenanya dengan bersusah payah dia akhirnya barhasil juga meloloskan diri dari bahaya yang mendesak dirinya terus menerus itu.
Siapa tahu orang itu tidak mau lepas tangan dengan begitu saja, pedang pusakanya dengan melancarkan serangan gencar mengancam terus jalan darah penting serta pada tempat berbahaya di tubuh si perempuan tunggal itu, sewaktu turun tangan ternyata sama sekali tidak ragu ragu.
Waktu ini sebetulnya si perempuan tunggal Touw Hong sudah kelelahan karena pertempurannya tadi melawan Liem Tou apalagi kini didesak terus oleh serangan serangan ganas dan dahsyat yang dilancarkan oleh lelaki berkerudung hitam itu, semakin lama si perempuan tunggal merasa hatinya semakin terperanjat.
Mendadak terdengar manusia berkerudung hitam itu mendengus dingin, ilmu pedangnya tiba tiba berubah.
Si perempuan tunggal seketika itu juga merasakan empat penjuru di sekelilingnya sudah di kelilingi bayangan pedang yang amat rapat sekali bahkan dari ujung pedangnya secara samar samar terasa ada segulung angin pukulan yang makin lama semakin mendesak dirinya.
Si perempuan tunggal tahu keadaannya benar benar kepepet, jikalau dia tidak berusaha untuk mendesak keluar dari kurungan tersebut dia orang tentu akan menemui bencana.
Siapa tahu justru pada saat itu hasrat ada tetapi tenaga berkurang, dia orang cuma bisi menyingkir ke kanan menghindar ke kiri saja ditengah kurungan bayangan pedang laksana sebuah gunung Thay san itu, untuk beberapa saat lamanya dia tidak berhasil meloloskan diri dari dalam kurungan.
Si manusia aneh berkerudung bitam itu ketika melibat semangatnya lama sekali tidak berhasil mengalahkan diri perempuan tunggal itu daiam hati agaknya merasa cemas juga, mendadak jurus pedangnya sekali lagi diubah. . .
Sreeet . , sreeet., sreeet .. berturut turut dia melancarkan tiga serangan gencar ke depan, si perempuan tunggal Touw Hong segera meloncat ke atas udara dan berputar putar lasana seekor burung walet yang terbang ke langit, dengan bersusab payah dia berhasil juga menghindarkan diri dari dua serangan yang pertama.
Ketika mencapai pada jurus ketiga terlihatlah manusia aneh berkerudung hitam itu menggetarkan pergelangan tangannya lalu deagan mendadak ditusukkan ke depan.
Setelah melalui getarannya tadi mendadak ujung pedangnya terpecah menjadi tiga dan menyerang tiga tempat yang berbeda dalam waktu yang bersamaan. Perrubahan hawa khie khang yang amat lihay ini sudah tentu si perempuan tunggal tahu jelas bagaimana lihaynya.
Dengan cepat tubuhnya meloncat mundur ke belakang untuk menghindar, siapa tahu ujung pedang itu bagaikan bayangan saja terus menerus mengejar ke depan, belum sempat si perempuan tunggal itu berdiri tegak ujung dari pedang itu sudah mengancam kembali ke tubuhnya.
Si perempuan tunggal Touw Hong menjadi sangat terperanjat sekali sehingga wajahnya berubah jadi pucat pasi. Hatinya menjadi kacau sekali.
Dia semakin tidak sanggup untuk menahan serangan serangan dari musuh lagi, dengan paksakan diri tubuhnya menggelincir ke kiri, dengan menggunakan gaya kedelai malas menggelinding di tanah yang merupakan jurus yang paliug memalukan di dalam dunia kangouw dia orang cepat menjatuhkan diri bergelinding di atas tanah
.
Siupa tahu mendadak dia merasakan pandangannya menjadi gelap, pedang hitam yang amat tajam itu sudah muncul kembali beberapa depa di depan dadanya seadiri, kelihatannya dia segera akan bermandikan darah segar dan menemui ajalnya.
Pada saat yang paling kritis itulah mendadak terasa adanya segulung angin pukulan yang sangat dahsyat sekali menghajar ke arah manusia berkerudung hitam itu disusul melayang datang sesosok bayangan manusia.
Di dalam keadaan terpaksa lelaki berkerudung itu menarik kembali serangannya dan mundur ke belakang.
Orang itu mana mau memberi kesempatan buat dia untuk berganti napas.
Sreeet . . . sreeet . . . berturut turut dia melancarkan beberapa serangan kencang ke depan membuat sebuah loteng kecil itu jadi bergoyang tak henti hentinya terkena sambaran angin pukulan yang menderu deru itu.
Kepandaian silat dari manusia aneh berkerudung hitam itu ternyata libay juga di tengah kurungan angin pukulan yang begitu gencar dan dahsyatnya ternyata dia berhasil juga mundur beberapa langkah ke belakang , pedangnya sekali berkelebat dengan memancarkan sinar yang amat tajam sekali dia menubruk kembali ke. depan berusaha merebut posisi yang lebih baik.
Saat ini dengan perasaan terkejut dan bati berdebar debar keras si perempuan tunggal sudah bangkit berdiri, dia menghembuskan napas panjang dan memandang ke tengah kalangan.
Waktu itulah dia bisa melihat orang yaag baru saja menolong dirinya itu adalah seorang kakek tua berpakaian abu abu dengan kaki telanjang.
Tidak terasa lagi pikirannya jadi sedikit bergerak.
Jika dilihat dari potongannya apa mungkin dialah si cangkul pualam Lie Sang yang merupakan nomor wahid di dalam Bu lim pada saat ini? pikirnya di dalam hati. Jika orang itu benar Lie Sang, lalu siapakah manusia aneh yang berkerudung hitam bertempur dengan dirinya itu?
Sewaktu pikirannya berputar dengan amat cepatnya itulah Lie Loo jie serta manusia aneh berkerudung hitam itu sudah saliog bergebrak sebanyak dua puluh jurus lebih, yang aneh dari kedua orang itu tak ada yang mengucapkan sepatah katapun, tetapi semakin bertempur suasana semakin ramai dan semakin seru ....
Semula agaknya Lie Loo jie menemui kerugian karena harus memberikan perlawanan dengan menggunankan tangan kosong tetapi setelah dia mencabut keluar golok tipisnya keadaan jadi seimbang.
Dalam sekali pandang saja si perempuan tunggal Touw Hong bisa melihat kalau golok yang ada di tangan Lie Loo jie itu tidak kalah tajam nya dengan pedang hitam yang ada di tangan manusia aneh berkerudung hitam itu, kelihatan sekali bahwa orang itu sudah mendapat tandingannya.
Terlihatlah dua bayangan, yang satu hitam sedang yang lain putih semakin bertempur semakin seru untuk beberapa saat lamanya tidak bisa diketahui siapa yang kalah dan siapa yang menang.
Walaupun mereka berdua semakin bertempur makin seru dan kelihatan semakin menghebat tetapi di antara mereka berdua siapspun tidak ada yang mengeluarkan sedikit suarapun, Si perempuan tunggal Touw Hong yang menoton disamping di dalam bati diam diam segera berpikir.
Lie Loji dia orang mempunyai kepandaian silat yang demikian tingginya, tidak aneh kalau di dalam dunia kangouw tidak mendapatkan tandingan. Perkataan dari suhu ternyata sedikitpun tidak salah ilmu silat yang termuat didalam kitab pusaka Toa Loo jin Keng memang benar benar amat dahsyat sekali, sekalipun bukan termaksuk ilmu silat yang paling sakti tetapi hebat juga.
Kiranya si perempuan tunggal Touw Hong itu sebenarnya adalah putri seorang pembesar pada beberapa puluh tahun yang lalu dengan mengikuti orang tuanya dari daerah Kang Lam dia kembali ke desa dan memasuki sebuah pegunungan yang sunyi, saat itu usianya baru tujuh delapan tahun tanpa ada saudara seorangpun.
Dia cuma tahu dari ayahnya lain ibu bahwa dia masih mempunyai seorang kakak perempuan yang sudah kawin dengan Siang Auw Khiam Khek atau si jagoan pedang dari telaga Siang-Aow, Su Boen Liang dan memperoleh seorang, putra, sedangkan kakak perempuannya ini dia sama sekali bcium pernah bertemu.
Siapa tahu begitu memasuki daerah Tbian-Kang orang tuanya saling susul menyusul pulang ke alam baka, sesaat mendekati ajalnya kecuali memesan kepadanya untuk memakai medali perak itu di depan dada dan mencari kakaknya, mereka sama sekali tidak memesan kata kata lainnya lagi.
Si perempuan tunggal Touw Hong yang didalam usia yang begitu mudanya sudah kehilangan orang tuanya kini hidup seorang diri saja, terpaksa setiap hari dia kerjanya cuma menangis saja sehingga pada suatu hari jatuh sakit dengan amat payah sekali. ..."
Untung saja waktu ayahnya menjabat sebagai Pembesar sifat nya amat jujur dan adil sekali sehingga mendapatkan rasa simpatik dari penduduk di sekitar tempat itu, mereka pada turun tangan memberi pertolongan kepada gadis ini bahkan sewaktu sakitnya semakin parah berita ini dengan amat cepatnya sudah tersebar ke seluruh penjuru desa.
Pada saat si perempuan tunggal Touw Hong ini berada di dalam keadaan yang amat kritis itu lah mendadak ditengah malam di samping pembaringannya kedatangan seorang nikouw tua. Ketika nikow tua itu melihat keadaan si perempuin tunggal Touw Hong yang begitu parahnya tidak kuasa lagi sudah menyebut keagunangan Budha.
Omintohud....
Bagaikan seekor burung elang yang mencengkeram anak ayam Nikouw tua itu segera membawa tubuh perempuan tunggal ini meninggalkan rumah, sejak itulah si perempuan cilik yang amat kasihan itu lenyap tak berbekas meninggalkan satu teka teki yang membingungkan penduduk disekeliling tempat itu.
Nikouw tua itu adalah suhu dari s1 perempuan tunggal ini, empat puluh tahun yang lalu dia merupakan salah satu anggota dari How Hay Siang Pian yang bernama Lok Yong dan bersama sama dengan suhunya si cangkul pualam Lie Sang seperti pula suhunya dari Liem Cong si pancingan emas sakti mereka bersama sama mengangkat namanya didalam Bu lim.
Pada tempo hari dikarenakan si hweesio tujuh jari dari gunung Ai Lau San menimbulkan gelombang didalam Bu lim dengan mengadakan pembunuhan secara masal, mereka bersepakat untuk bersama sama bersatu padu membasmi dirinya, siapa tahu saat itu si hwcesio tujuh jari sudah mengandalkan jumlah yang banyak apa lagi mendapat bantuan dari Siauw kok Mo Pian atau si cambuk iblis merengut tulang serta Thiat Bok Tbaysu di dalam keadaan yang kurang waspada Hoa Siong itu suhunya si pancing emas sakti Liem Cong sudah terkena luka dibawah serangan pedang hitam dari si hweesio tujuh jari dan binasa, sedangkan Siauw Kok Thaysu serta Thiat Bok Thaysu diam diam mempunyai rencana sendiri, akhirnya di dalin hari satu pertempuran yang amat sengit si hweesio tujuh jari berhasil dipukul jatuh ke dalam jurang oleh cambuk iblis dari Siauw Kok Tnaysu.
Sejak kejadian itu di antara Auw Hay Siang Hiat sudah kehilangan satu orang, di dalam keadaan yaug amat sedih Lok Yong sudah kembali ke Tionggoan lagi tetapi di sebelah barat dari gunung Ai Lan san yaitu Boe Liang san dia cukur rambut sebagai Nikouw dengan gelar Gong Gong Ni kouw.
Boleh dikata rejeki dari si perempuan tunggal memang bagus, pada saat dia sedang sakit keras itulah Gong Gong Ni kouw sedang melakukan perjalanan melewati tempat tersebut, ketika mendengar suara tangisan yang memedihkan hati dari si perempuan tunggal ini dia orang segera turun tangan menyembuhkan sakitnya bahkan ketika dilihatnya bakat yang dimilikinya amat bagus lantas dibawanya kembali ke atas gunung.
Akhirnya setelah sepuluh tahun ada di atas gunung belajar ilmu silat, ia turun gunung untuk mencari kakak perempuanya. Ia bertemu Auy Hay Ong dan di dalarn tiga jurus dia sudah mengalahka Auw Hay Ong suami istri dan mengangkat namanya didalam Bu lim.
Siapa sangka malam ini berturut turut di harus menderita kekalahan di tangan dua orang, jika membicarakan dari nama besarnya boleh dikata seperti diguyur dengan sebaskom air dingin.
Saat ini pertempuran antara Lie Loo jie dengan manusia aneh berkerudung hitam itu sudah mencapai ratusan jurus banyaknya tanpa terasa pertempuran di antara merekapun makin lama semakin perlahan, tampaklah Lie Loo jie mendadak melancarkan serangan dengan menggunakan jurus pek Im Siauw atau awan putih muncul di puncak dari aliran Kun lun pay. Dengan cepat manusia aneh berkerudung hitam itu menggerakkan pedangnya dengan menggunakan jurus Cho Ih Teng Ie atau sungai gunung berdiri megah yang dengsn amat tepat sekali menghalau datangnya serangan tersebut.
Bangsat cilik sungguh ganas dan buas tindakanmu, terdengar Lie Loo ji membentak dengan amat gusar. Kau jangan kira orang lain belum tahu tindak tandukmu, sudah ada dua hari dua malam aku membuntuti dirimu terus. Hsy bangsat, aku mau tanya, orang orang kangouw ada dendam sakit hati apa dengan dirimu kenapa kau orang membasmi diri mereka sampai keakar akarnya ?
Dengan cepat dia melancarkan serangannya kembali dengan menggunakan jurus Tong Im Jan Gwat, atau awan buyar bulan musnah serta Tiauw Im pat Hong, atau mega tebal delapan penjuru yang merupakan jurus jurus serangan dari ilmu pedang Kun Lun Pay cuma saja serangannya ini bukannya dilancarkan dengan menggunakan pedang melainkan dengan menggunakan golok.
Si manusia aneh berkerudung hitam itu segera putar pedang hitamnya setengah lingkaran lantas ditarik kembali dan berdiri sama sekali tidak bergerak, kelihatannya dia ingin menggunakan ketenangan untuk menggagalkan serangan pihak lawan.
Lie Loo jie segera tertawa dingin lagi
Aku mau tanya padamu, ujarnya lagi. Kau orang mempunyai hubungan apa dengan si penjahat naga merah itu? kenapa kau menyaru nam jahatnya yang pernah digunakan pada dua puluh tahun yang lalu? kenapa kau meninggalkan tanda tanda pembunuhan dimana mana?"
Sembari berkata dia melintangkan goloknya di depan dada dan berhenti menyerang.
Hmm, urusan ini tidak ada sangkut pautnya dengan kau. mendadak terdengar manusia aneh berkerudung hitam itu menyahut sambil memperdengarkan suara dengusannya yang amat dingin.
Pedang hitamnva bagaikan kilat cepatnya mendadak melancarkan serangan kembali menghajar tubuh Lie Loo jie.
Dengan cepat Lie Loo jie menyingkir ke samping goloknya dengan menggunakan ilmu pedang "Hwee Ting Kiam Hoat" dari aliran Thian San Pay. Dia menutup serangan pedang tersebut lantas membabat dengan dahsyatnya ke arah pundak lawan.
Jika harus menghadapi orang lain dengan menggunakan ilmu golok yang begitu dahsyatnya orang tersebut tentu sudah terluka di bawah serangannya. Tetapi ilmu pedang dari manusia aneh berkerudung hitam itu tidak ada di bawah kepandaian Lie Loo jie. Di dalam keadaan yang amat kepepet pedangnya di sapu kedepan kembali mencukil pergi golok dari Lie Loo jie.
Dsngan cepat Lie Loo jie menyingkirkan goloknya ke samping lantas meloncat dua laugkah ke belakang.
Dia melirik sekejap kearah si perempuan tunggal Touw Hong kemudian memandang lagi ke arah manusia aneh berkerudung hitam itu.
Setelah itu matanya dengan amat tajamnya memperhatikan pedang hitam di tangan orang tersebut, agaknya dia sedang berpikir akan sesuatu sedang bibirnya sedikit bergerak mau mengucapkan kata kata, air mukanya berubah jadi amat susah sekali untuk dilihat, agaknya di dalam hati dia hendak megutarakan sesuatu.
"Kaok . . kaok . . keok" tiba tiba terdengar suara teriakan yang sangat aneh bergema datang dengan amat kerasnya.
Selama hidupnya si perempuan tunggal mi) belum pernah mendengar jeritan yang demiki anehnya, saking bergidik seluruh bulu kuduknya pada berdiri, dengan cepat dia putar kepalanya memandang ke arah dimana berasalnya suara tadi.
Tampaklah di depan loteng sudah bertambah lagi dengan dua orang hweesio, yang satu tinggi yang lain kurus kering.
Melihat kedatangan kedua orang itu, Lie Loo jie agak melengak, tetapi sebentar kemudian sudah berteriak keras.
"Hey Thiat Bok Loo ji, si penjahat naga merah, kedatanganmu sangat bagus sekali'
Terhadap diri si penjahat naga merah, perempuan tunggal pernah mendengar dari orang lain setelah dia turun dari gunung tetapi terhadap Thiat Bok Thaysu ini sejak dahulu dia sudah mengetahui dari mulut suhunya yang merupakan salah satu pembantu dari si hweesio tujuh jari yang kemudian mencelakai diri Auw Hay Siang Hiap.
Si perempuan tunggal ini memangnya punya maksud untuk mencari orang ini. Kini setelah mendengar perkataan tersebut dia orang sama sekali tidak mempsrlihatkan perubahan apapun. Dengan amat tenangnya dia memandang diri mereka.
Thiat Bok Thaysu serta si penjahat naga mrrah sewaktu mendengar perkataan dari Lie Loo jie ini mereka cuma memperdengarkan suara dengusannya yang amat dingin, empat buah mata dengan amat tajamnya memperhatikan dirinya lantas dengan perlahan mulai berjalan mendesak kearahnya.
Hmm..Hmm dendam satu kali pukulan tentunya kau masih ingat bukan ?
Sekarang aku mau libat ini hari kau orang mau lari kemana lagi??
Dalam hati Lie Loo jie merasakan hatinya bergetar dengan amat kerasnya, dia tahu keadaan sama sekali tidak menguntungkan dirinya.
Aaah mereka sengaja datang untuk mencari gara gara dengan diriku, pikirnya di dalam hati.. Ternyata dia orang bukan bertujuan untuk mencari orang yang sudah menyaru sebagai si penjahat naga merah itu., jikalau malam ini mereka turun tangan dengan bekerja sama, he . urusan ini tentu sangat merepotkan sekali,
Berpikir sampai disitu tidak terasa lagi hawa murninya segera disalurkan keluar dari pusat ke seluruh badan, dengan pusatkan seluruh perhatiannya dia mencekal kencang kencang golok tipisnya, sepasang matanya dengan tajam tak berkedip memperhatikan seluruh gerak gerik pihak musuh.
Hmm.Hmmm... akhirnya kalian datang juga, heee . . heee .... dengan begitu akupun tidak usah pergi mencari kalian lagi, mendadak terdengar suara seseorang berbicara dengaa sangat dinginnya.
Orang yang baru saja berbicara itu bukan lain adalah si lelaki berkerudung hitam itu,
Thiat Bok Thaysu serta si penjahat naga merah segera bersama sama melirik sekejap kearahnya dengan pandangan menghina.
Tetapi sewaktu Thiat Bok Thaysu dapat melihat pedang hitam yang ada di tangannya tampak tubuhnya gemetar dengan amat kerasnya, dari sepasang matanya secara tiba tiba memancar keluar serentetan sinar yang berwarna hijau yang dengan amat tajamnya memperhatikan pedang tersebut.
Ketika si penjabat naga merah melihat wajah susioknya agak aneh diapun segera memandang ke arahnya dengan tajam.
"Hey Thiat Bok Hweesio" terdengar manusia aneh berkerudung hitam itu berkata lagi dengan suara yang amat dingin sekali, kiranya kalian sehat sehat saja sudah tentu pedang Uh Kien Kiam ini kalian kenal bukan?"
Pada air muka Thiat Bok Thaysu tampak terlintas satu perubahan yang amat aneh, dia termenung berpikir sebentar lantas baru ujarnya.
"Apa mungkin si hweesio tujuh jari masih bidup di dunia ini?"
Ketika Lie Leo jie serta si penjahat naga merah mendengar perkataan yang diajukan tersebut, bagaikan terkena aliran listrik bersama sama berteriak kaget dalam hati mereka lantas timbul kembali rasa benci yang sudah terkubur lama sekali di dalam hati mereka.
Cuma saja apa yang dipikirkan oleh Kedua orang itu sama sekali berbeda, Lie Loo jie adalah ahli waris dari Hoa Siong salah satu dari Auw Hay Siang Hiap, pada tempo han si hweesio tujuh jari sudah membinasakan diri Hoa Siong berarti pula si hweesio tujuh jari ini adalah musuh besar dari Lie Loo jie.
Selama ini Lie Loo jie sama sekali tidak pernah membalas dendam karena menurut apa yang ia ketahui musuh besarnya sudah binasa, kini mendengar perkataan tersebut sudah tentu dia orang merasa terperanjat sekali.
Sebaliknya di jalan pikiran si penjahat naga merah malah sebaliknya si hweesio tujuh jari terjatuh ke dalam jurang karena terpukul oleh cambuk iblis dari Suo Kok Thaysu, sedangkan si penjahat naga merah adalah anak murid dari Suo Kok Thaysu itu berarti juga si penjahat naga merah ini adalah anak murid dari musuh besar pembunuh si hweesio tujuh jari.
Sebaliknya si perempuan tunggal Touw Hong pun sudah berpikir dengan amat kerasnya, karena si hweesio tujuh jari ini adalah satu satunya musuh bebuyutan dari suhunya Lok-Yong.
Mereka bertiga tanpa terasa lagi sudah merasa tegang, dan kini pada menanti jawaban dari manusia aneh berkerudung hitam itu.
Terdengar manusia aneh berkerudung hitam itu sekali lagi tertawa dingin, dengan perlahan lahan dia melepas kerudung yang menutupi wajahnya sehingga seketika itu jaga tampaklah sebuah wajah yang putih bersih dengan mulut yang kecil hidungnya mancung dan merupakan seorang pemuda yang sangat tampan sekali.
Cuma sayang di atas wajahnya yang putih bersih iru secara samar samar tampak warna kehijau bijauan yang menghiasi pipinya, walaupun senyuman menghiasi bibirnya tetapi tampaklah senyuman itu amat dingin dan kaku sekali.
Si hweesio tujuh jari ada atau tidak, di dalam dunia ini adalah sama suja. Dendam berdarah tersebut dapat dihituug oleh aku orang, ujarnya dengan perlahan.
Selesai berbicara dia melirik sekejap ke arah Lie Loo jis, lantas sambungnya lagi.
Si hweesio tujuh jari mempunyai dendam dengan dirimu, kau orang boleh cari aku orang saja . aku tidak menolak, tetapi kau harus tunggu dulu, biar aku bereskan hutang piutang dengan orang itu terlebih dahulu kemudian baru pergi mencari kau.
Lie Loo jie sama sekali tidak menyangka kalau dia orang akan mengatakan hal itu seperti sudah merencanakan hal ini masak masak tak terasa lagi dia mengerutkan alisnya rapat rapat.
Lalu kau adalah apanya si hweesio tujuh jari itu? tanyanya.
Soal ini kau orang tidak usah ikut campur sambut pemuda itu sambil memperlihatkan satu senyuman yang amat tawar dan dingin sekali. Aku orang berani memikul bebannya sudah tentu tidak akan ada sebabnya mencari gara gara buat diriku sendiri.
Baiklah ujar Lie Loo jie kemudian dengan ketus Aku tentu akan khusus mencari dirimu untuk membalas dendam ini.
Selesai berkata dia kebutkan ujung bajunya lantas hendak berlalu dari loteng tersebut.
Tahan tiba tiba terdengar Thiat Bok Thaysu membentak dengan suara yang amat keras.
Sambil membentak tangannya dia diayunkan ke depan sehingga terasalah segulung angin pukulan yang amat dahsyatnya menghalangi Lie Lo jie.
.
Lie Loo jie segera menghentikan lanngkahnya dengan gusar.
Hae . hee . .Thiat Bok Hweesio kau orang tidak usah jual lagak dihadapanku, mendadak terdengar pemuda berbaju hitam itu membentak dengan suara yang amat keras.
Pedang hitam dengan cepat berputar hingga membentak hawa pedang yang amat rapat sekali mendesak kearah depan tetapi baru saja sampai di tengah jalan mendadak dia sudah menarik kembali serangannya dan maju satu langkah ke depan.
Tubuhnya berputar dengan amat cepatnya ke samping sedangkan tangannya dengan mengikuti gerakan tersebut kirim satu tamparan yang amat nyaring ke atas pipi dari si penjahat naga merah yang berdiri disampingnya itu.
Tiga hari kensudian diatas puncak gunurg Hauw Ya san aku orang akan khusus menantikan datangan kalian berdua, ujarnya kemudian. Jika kalian tidak berani datang . .H m m, aku rasa kalian tidak akan mudah lolos dari bawah serangan pedangku.
Si penjabat naga merah yang kena ditampar sehingga pipinya terasa amat sakit dalam hatinya menjadi amat gusar, dia meraung keras. Cambuk naga merah ditangannya dengan cepa dibabat ke depan menerjang tubuh pemuda berbajuhitam itu.
Tubuh pemuda berbaju hitam itu sama sekali tidak bergerak, dia cuma memandang dirinya sambil tertawa dingin.
Kelihatannya serangan dari si penjahat naga merah sudah hampir mengenai sasarannya, mendadak Thiat Rok Thaysu yang ada disampingnya bergeser satu langkah ke depan dan menyambar cambuk naga merah tersebut.
"Ayoh pergi !" bentaknya dengan keras.
Selesai berkata dengan cepat tubuhnya meloncat ke atas lalu melayang pergi dari loteng tersebut dan lenyap ditengah kegelapan.
Di kala petnuda berbaju hitam itu melihat kedua orang itu sudah pergi dia segera mendengus dengan amat dinginnya lalu putar badannya dan melirik sekejap ke arah Lie Loo jie serta si perempuan tunggal Touw Hong, mulutnya sedikit bergerak agaknya mau membicarakan sesuatu tetapi kemudian ditutup kembali dan putar kepalanya berjalan pergi dari sana.
Kini tinggal Lie Loo jie serta si perampuan tunggal Touw Hong yang saling pandang memandang tanpa ada yang mengucapkan sepatah katapun.
Akhirnya si perempuan tunggallah yang menjatuhkan diri ke depan memberi hormat kepada diri Lie Loo jie.
"Terima kasih atas budi pertolongan dari suheng" ujarnya dengan sangat hormat.
Lie Loo jie yang mendengar perkataan dari gadis yang ada dihadapannya ini memanggil dirinya dengan sebutan suheng dia orang menjadi melengak dan berdiri melongo, lama sekali dia tidak mengucapkan sepatah katapun tetapi matanya dengan terpesona memperhatikan diri si perempuan tunggal Touw Hong itu.
Akhirnya sinar matanya berhenti diatas medali perak yang tergantung dibagian dada perempuan tunggal tersebut, mendadak dia menjadi sadar kembali.
Nona apakah bukan si perempuan tunggal Touw Hong yang baru saja mengalahkan lociang suami istri dari Kiem Thien Pay di daerah Selatan? tanyanya kemudian. Kepadaku kau orang memanggil si orang tua dengan sebutan suheng?
Dengan sedihnya si perempuan tunggal menundukkan kepalanya.
Pada empat puluh tahun yang lalu suhu sudah menyepi di atas gunung Boe Liang san tidak mau mencampuri urusan dunia kangouw lagi sudah tentu suheng sudah tidak mengenalnya lagi, sedangkan tindakan dari sumoay untuk mengalahkan si Auw Hay Ong suani istri di dalam tiga jurus kemudian menuju kearah Selatan tidak bukan karena sumoay ingin mencari jejak dari ciciku, aku tidak bisa berbuat apa lagi dan terpaksa harus melakukan tindakan ini
Mendengar perkataan itu tampak sepasang mata dari Lie Loo jie sedikit bsrkedip kedip mendadak dia menjerit kaget
Ahhh...apakah Lok susiok masih ada di dalam dunia? tanyanya dengan cepat.
Si perempuan tunggal Touw Hong yang teringat kembali dengan jerih payah suhunya Gong Gong Ni Kouw selama sepuluh tahun mendidik dirinya tidak disangka belum lama turun gunung berturut turut di dalam satu malaman sudah menderita kekalahan di tangan Liem Tou serta pemuda berbaju hitam itu.
Mendengar perkataan tersebut dia jadi amat sedih sehingga tidak tertahan lagi air matanya mengucur dengan amat derasnya.
Dia orang tua masih berada dalam keadaan sehat walafiat. sahutnya sambil mengangguk.
Lie Loe jie sama sekali tidak menyangka kalau angkatan tua yang sudah lenyap empat puluh tahun lamanya, secara tidak disengaja sudah diperoleh beritanya. Saat ini di dalam hatinya tidak terkira girangnya dia segera tertawa terbahak bahak dengan amat kerasnya, lantas mencekal sepasang tangan dari si perempuan tunggal kencang kencang.
Sungguh tidak disangka dia orang tua masih hidup di dalam dunia, serunya sambil melelehkan air matanya Pada puluhan tabun yang lalu I heng beserta Cong te pernah menjelajahi seluruh tempat untuk mencari berita dari kedua orang loocianpwee kurang lebih kami berkelana selama tiga tahun lamanya tetapi tidak memperoleh hasil juga.
Akhirnya kami menganggap mereka berdua orang tua sudah menemui ajalnya, karena itu aku lantas berdiam di atas gunung Wo bie heeei . . siapa sangka Lok Susiok masih dalam keadaan sehat sehat saja sungguh hal ini sangat di luar dugaan.
Si perempuan tunggal Touw Hong yang mendengar perkataan ini hatinya merasa amat terharu, dengan cepat dia berusaha menahan rasa sedih yang mencekam di dalam hatinya lantas bertanya.
' Sumoay pernah mendengar perkataan dari suhu, kecuali suheng seorang masih ada jie suheng dia orang sekarang berada dimana?
Lie Loo jie yang ditanyai dengan pertanyaan tersebut akhirnya tidak kuasa lagi menahan menetesnya titik titik air mata dari kelopak matanya.
Jie suhengmu aku rasa sudah lama meninggal, sejak Jie suso meninggal dia orang sudah uring uringan terus akhirnya di atas pertemuan puncak para jago diatas gunung Hoa san dia menemui kekalahan di tangan Thian pian Siauw cu membuat hatinya semakin tidak keruan, sejak kepergiannya sampai saat ini tidak kembali juga, aku rasa suhengmu itu tentu sudah menemui ajalnya.
Tetapi. . .sambungnya kemudian setelah menghembuskan napas panjang. Sekalipun Cong te sudah pergi tetapi pada waktu waktu dekat ini dia mempunyai seorang keturunan yang bisa mengangkat tinggi nama keluarganya, hal ini boleh dikata merupakan satu peristiwa yang patut digembirakan.
Mendengar perkataan tersebut si perempuan tunggal segera merasakan hatinya tergetar amat keras, tidak kuasa lagi dia nyaletuk.
Keturunan yang Lie Loo jie suheng maksud, apakah dia bernama Liem Tou?"
Mendengar disebutnya nama Liem Tou dengan pandangan yang amat tajam Lie Loo jie memperhatikan diri si perempuan tunggal membuat dia orang saketika itu juga menjadi malu sehingga air mukanya berubah memerah.
Bagaimana kau orang bisa tahu? apa kau sudah bertemu dengan dia orang? tanya Lie Loo-jie kemudian.
Si perempuan tunggal yang teringat kembali sifat dari Liem Tou yang amat jumawa itu dalam hati segera merasa mendongkol lagi.
"Bagus sekali" serunya keras. Ternyata Jie-suheng mempunyai seorang putra yang begitu baiknya, aku hampir hampir saja terluka ditangannya. Hmm, kepandaian silat yang dia orang miliki sungguh amat lihay sekali.
Aaaa. . .tentu kau orang sudah salah melihat bantah Lie Loo jie dengan cepat dia gelengkan kepalanya berulang kali. Mana mungkin kepandaian silat yang dimilikinya pada saat ini sangat lihay?? tetapi bakatnya memang sangat bagus.
Si perempuan tunggal yang mendengar Lie-Loo jie berkata kalau kepandaian silat dari Liem Tou tidak tinggi dia orang segera membantah dengan ngotot.
Subeng terlalu memandang rendah dirinya, bila dia orang disuruh bertempur melawan pemuda berbaju hitam itu mungkin dia masih dapat merebut kemenangan.
Lie Loo jie memang tidak mengetahui kalau Liem Tou sebetulnya memiliki kepandaian silat yang amat tinggi, ketika teringat kalau kepandaian silat pemuda berbaju hitam itu seimbang dengan dirinya tidak terasa lagi dia tertawa terbahak bahak.
Aku bilang, sekalipun Cong te mempunyai seorang keturunan yang bagus tetapi kepandaian silatnya belum jadi, bagaimana sumoay memandang begitu tinggi terhadap dirinya.
Si perempuan tunggal yang mendengar Lie-Loo jie terus menerus tidak mau percaya, dia lantas mengganti dengan bahan pembicaraan yang lain.
"Suheng, kau mau pergi ke mana?" tanyanya. Dengan perlahan Lie Loo jie menghembuskan napas panjang.
Aku telah menguntit si penjahat naga merah palsu selama sebulan dan boleh dikata ini hari baru dianggap selesai.
Setelah ini aku mau pergi memenuhi janji dengan si pemuda berbaju hitam keturunan dari hweesio tujuh jari itu lantas pergi juga ke Cing Jan untuk memenuhi janji seorang jagoan berkepandian tinggi. Sumoay maukah kau orang berjalan bernama sama dengan I-heng?
Si perempuan tunggal segera mengangguk dan tersenyum, dengan bergandengan tangan mereka berdua segera meninggalkan loteng setan tersebut
Malam semakin kelam . , , angin musim semi sepoi sepoi . . . bintang yang kecil memancarkan sinar yang terang dari tengah udara menyinari permukaan tanah secara samar samar.
Suara gonggongan anjing dengan ramainya bergema memecahkan kesunyian dan menambah keseraman pada malam hari itu.
Diatas jalan raya yang amat sunyi itu mendadak tampaklah dua sosok bayangan hitam yang lerkelebat dengan amat cepatnya, kedua sosok bayangan itu walaupun kelihatan sangat enteng tetapi gerakannya sangat cepat sekali laksana berkelebataya sinar kilat, mereka berdua adalah Lie Loo jie serta si perempuan tunggal Touw Hong.
Si perampuan tunggal tersebut sejak kecil yang sudah kehilangan orang tua sejak turun gunung belum pernah merasa gembira seperti hari ini. dia telah menganggap Lie Loo jie sebagai orang tuanya sendiri, sambil tersenyum dia mencekal erat erat lengan dari Lie Loo jie sedang mulutnya tiada hentinya berbicara.
Suheng, bukankaa kau orang mau pergi ke Cing Jan untuk menemui jagoan berkepandaian tinggi itu, sabetulnya kepandaian dia orang telah mencapai seberapa tingginya ?
Lie Loo jie yang melihat perempuan tunggal itu memandang dirinya dengan begitu mesra diapun sudah menganggap dirinya sebaga putrinya sendiri, mendengar pertanyaan tersebut dia segera tertawa.
Heeeiii . . . jika dibicarakan sungguh hatiku merasa kecewa sekali, bukan saja I heng tidak mengetahui bagaimana macamnya orang itu bahkan sampai seberapa tinggi kepandaian silat yang dimiliki olehnya aku sendiripun tidak tahu, cukup kita bicarakan tentang aku yang cuma mendengar suaranya saja hal ini sudah jelas memperlihatkan kalau ilmu meringankan tubuhnya sudah dilatih hingga mencapai pada taraf kesempurnaan, ternyata I heng telah kehilangan sebuah tameng baja tanpa aku rasa, coba kau pikir seberapa tingginya kepandaian orang ini.
Sampai waktunya aku pun ingin menemu orang ini, ujar perempuan tunggal setelah mendengar perkataan tersebut. Aku tidak percaya dengan ketajaman mataku dia orang masih bisa lolos juga.
Lie Loo jie cuma tersenyum tidak mengucapkan kata kata lagi.
"Suheng, seru si perempuan tunggal Touw-Hong medadak, agaknya dia sudah teringat akan sesuatu Pertemuan di atas puncak pertama Cing Jan bukankah pada tanggal lima bulan lima?"
Mendengar perkataan ini Lie Loo jie jadi terperanjat.
Aku tidak memberi tahu waktunya kepadanya bagaimana dia bisa tabu? pikirnya. Tetapi dia mengangguk juga.
Sumoay mengetahui dari mana? tanyanya.
Bukankah taggal itu adalah janji Liem Tou kepadaku, aku melihat dengan mata kepala sendiri dia orang mengerahkan tenaga saktinya mengukir di atas batu sedalam beberapa coen, jelas kepandaian silatnya amat tinggi sekali, bagaimana kau orang bisa berkata demikian kalau ilmu silat yang dimilikinya biasa saja.
Lie Loo jie yang mendengar dua tiga kali si perempuan tunggal Touw Hong mengatakan kalau kepandaian yang dimiliki Liem Tou sangat tinggi, pula keanehan dari sang kerbau waktu ada di kuil Siang Lian si kemarin malam, pikiran di dalam hatinya jadi goyang juga.
Bangsat cilik, kau berani juga mempermainkan diriku?"
Dia segera mendengus dingin dan tidak mengucapkan sepatah katapun
Si perempuan tunggal yang melihat air muka Lie Loo jie memperlihatkan sikapnya yang kurang sanang dia segera menyingkirkan urusan itu jauh dari pembicaraan, sejak waktu itu dia cuma menceritakan bagaimana sewaktu dia belajar ilmu silat dari suhunya di atas gunung Bo Liang san.
Kedua orang itu kembali berlari lagi beberapa saat lamanya. Mendadak di hadapan mereka sudah terhalang kembali dengan sebuah gunung yang amat besar sekali.
Mendadak Lie Loo jie seperti sudah teringat akan sesuatu hal, dia segera menghentikan langkahnya lalu berkata kepada si perempuan tunggal.
Sumoy, tiga hari kemudian aku mau pergi kegunung Hauw Ya san untuk melihat pertempuran antara utusan dari hweesio berjari tujub serta Thiat Bok Thaysu dan si panjahat naga merah, di sana aku mau melihat dulu kepandaian dari pemuda itu, kau rasa bagaimana?"
Jikalau suheng mau pergi sudah tentu sumoay akan mengiringinya, sahut si perempuan tunggal sambil tertawa. Tetapi aku harus pergi meninggalkan pesan dulu dsngau Ciang Cau suami istri kalau sejak hari ini aku tidak kembali lagi ke sana.
Kau orang memang seharusnya berbuat demikian sahutnya membenarkan.
Siapa tahu baru saja dia selesai berkata mendadak dari belakang gunung terdengar suara bentrokan senjata tajam amat ramai sekali, tidak terasa lagi dia jadi merasa sangat heran sekali.
Di tengah malam buta seperti ini siapa yang sedaag bertempur di tempat itu??"
Pada saat itulah dari puncak gunung tampaklah sesosok manusia meloncat turun dengan amat cepatnya, walaupun berada i kegelapan malam yang amat buta tetapi mereka bisa melihat jelas sewaktu orang itu memainkan ujung jubahnya tampaklah jubahnya berwarna merah yang dipakainya berkibar tertiup angin, diikuti dari belakang badannya kembali ada orang yang menguntit.
Orang itu mempunyai perawakan yang kurus tinggi dan amat kaku, sekali pandang saja Lie Loo jie sudah tahu siapakah orang itu sehingga tanpa terasa lagi sudah menjadi kaget.
Aaaah.. si pembesar buta serta si hweesio mayat hidup, bagaimana mereka bisa berada disini? pikirnya keheranan.
Si perempuan tunggal yang tiba tiba melihat orang yaug sedang dikejar oleh si pembesar buta serta si hweesio mayat hidup itu tak terasa serunya dengan keras.
Suheng cepat pergi, malam ini aku orang mau suruh kau melihat sendiri bagaimana lihaynya kepandaian silat dari Liem Tou.
Di tempat kejauhan terlihatlah si pembesar buta serta si hweesio mayat hidup itu berkumpul jadi satu.
Tunggu dulu, ujar Lie Loo jie dengan cepat. Kita coba dengarkan dulu apa yang sedang mereka katakan.
Sambil berkata dengan cepat dia membawa si perempuan tunggal untuk bersembunyi di balk sebuah batu gunung yang besar di bawah kaki gunung itu.
Tidak lama kemudian tubuh si pembesar buta serta si hweesio mayat hidup sudah semakin mendekat.
Terdengar sihweesio mayat hidup dengan amat gusar memaki.
Kurang gajar, malam ini aku sudah bertemu dengan setan.
Si pembesar butapun menghembuskan napas panjsng.
Heeei ombak belakang dari sungai Tiang-Kiang mendorong ombak didepan orang. orang lama sudah diganti dengan orang orang baru. Tidak kusangka cuma beberapa saat saja Liem Toa si bocah pengangon kerbau itu sudah memiliki kepandaian silat yang demikian lihaynya
Hemm, jikalau orang ini tidak dibasmi secepatnya, aku lihat sekalipun Ong ya sendiri juga tidak akan sanggup menandingi dirinya seru si hweesio mayat hidup dengan gusarnya. Jikalau dibiarkan terus, maksud kita untuk menjagoi seluruh Bu lim tentu merupakan satu urusan yang sukar untuk dilaksanakan.
Perkataanmu sedikitpun tidak salah sahut si pembesar buta sambil menghela napas panjang. Jika dlihat dari situasi ini hari, kita orang bisa loloskan diri saja sudah boleh dikata sangat untung.
Saat itulah si perempuan tunggal yang bersembunyi di baiik batu besar sudah menyenggol diri Lie Loo jie
Suheng sudah dengar sendiri bukan.? ujarnya sambil tertawa. Aku bilang tenaga dalam dari Lim Tou sudah mencapai pada taraf kesempurnaan dan bukanlah omongan kosong bukan.?
Lie Loo jie cuma merasa amat mengkel sekali terhadap diri Liem Tou tidak seharusnya dia orang menyelimuti dirinya tetapi saat ini dia cuma mengangguk tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Jarak dari si pembesar buta serta hweesio mayat hidup saat ini tinggal dua kaki saja dari tempat persembunyian mereka sehingga tasbeh serta tongkat besi yang mereka bawa bisa kelihatan dengan amat jelasnya.
Mendadak terlihatlah si pembesar buta menghajarkan tongkat besinya ke atas tanah.
"Saudara mayat hidup" ujarnya dengan amat gusar. Jikalau mataku tidak buta, sekalipun Lien Tou si bangsat cilik itu mempunyai tiga kepala enam tanganpun aku pasti akan menantang dia untuk bertempur satu lawan satu.
Siapa tahu baru saja dia selesai berbicara mendadak tongkat besinya dihajarkan keatas batu besar yang ada disampingnya bersamaan pula bentaknya gusar.
"Bajingan kau jangan mengira aku orang buta bisa dipermainkan sesukanya.
Si pembesar buta ini memang benar benar sangat lihay sekali, sekalipun sepasang matanya sudah buta tetapi ketajaman telinganya jauh lebih tajam beberapa kali lipat dari orang biasa, karena itu begitu si perempuan tunggal memperdengarkan suaranya dari tempat kejauhan dia sudah mendengarnya.
Cuma saja karena sifatnya yang amat licik dan tidak pernah memperlihatkan perubahan pada wajahnya sehingga sekalipun mau turun tangan dia berbicara dulu soal urusan lain untuk menutupi maksud tersebut kemudian dengan mengambil kesempatan sewaktu orang tidak bersiap siap dia melancarkan serangan bokongannya.
Jikalau caranya ini ditujukan pada orang lain mungkin bisa berhasil tetapi sayangnya kedua orang itu bukanlah manusia sembarangan.
Dengan cepat Lie Loo jie menarik tangan perempuan tunggal untuk diajak muncul, siapa sangka tarikannya ini ternyata sudah mencapai sasaran yang kosong.
Lie Loo jie tidak berani berdiam terlalu lama lagi, tubuhnya dengan cepat meloncat mudur ke belakang menghindarkan diri jauh jauh dari batu besar tersebut.
Belum sampai dia berhasil berdiri tegak terdengar suara ledakan yang amat keras, batu yang amat besar itu segera hancur berantakan jadi empat lima bagian oleh gebukan tongkat besi dari pembesar buta ini.
Lie Loo jie yang merasa khawatir terhadap keselamatan dari si perempuan tunggal Touw Hong itu, dengan cepat dia menoleh ke arah sana untuk mencari dirinya dan siapa tahu jejaknya sudah tidak tampak lagi, ketika dia angkat kepalanya ke atas, saat itulah dia baru bisa melihat sesosok bayangan hitam yang berkelebat dengan amat cepatnya menuju puncak gunung itu.
Saatt itulah dia baru sadar kembali, pikirnya.
Sungguh menyesal sekali, tidak kusangka ilmu silat dari sumoay bisa begitu dahsyatnya.
Dia tidak mau berdiam lebih lama lagi ditempat itu, hawa murninya dengan cepat ditarik lalu dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh yang paling lihay dia mengejar dirinya ke atas.
Sebaliknya si pembesar buta serta si hweesio mayat bidup hampir hampir boleh dikata tidak dapat melihat jelas keadaan dari bayangan manusia itu mereka menganggap tongkat besinya itu sudah menghajar batu sehingga mengejutkan dua ekor burung yang lantas terbang keangkasa karena kaget.
Sewaktu Lie Loo jie tiba di atas puncak, Touw Hongitu sudah menantinya di atas, begitu dia sampai tiba di sana sambil menuding ke arah sebuah bukit kecil.
ujar si perempuan tunggal dengan cepat. Suheng, kita tidak boleh membuang waktu lebih lama, tidak perduli bagaimana pun sebelum meninggalkan Kiem Thien Pay, Ciang Cau suami istri tidak dapat menderita luka di tangan Liem Tou.
Lie Loo jie mengangguk.
Memang seharusnya begitu, ayoh cepat pergi ke sana.
Mereka berdua tidak berani membuang waktu, dengan cepat tubuhnya meloncat setinggi satu dua puluh kaki lantas berjumpalitan di tengah udara amat lincahnya, bagaikan dua ekor burung malam dengan cepatnya mereka menuju ke arah lembah gunung tersebut.
Ketika hampir tiba di tempat itu mendadak Lie Loo jie bisa melihat si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie sedang duduk di atas sebuah batu besar dengan tenangnya, mereka pada saat itu sedang ngobrol dengan gembira, sedikitpun tidak kelihatan rasa kaget atau jeri.
Tetapi pada jarak beberapa kaki dari kedua orang itu tampaklah delapan, sembilan puluh orang sedang berputar putar saling desak mendesak dengan amat kacaunya, senjata tajam yang ada di tangan setiap orang tampak berkelebat saling tusuk dengan ramainya, keadaan mirip sekali dengan pertempuran yang amat sengit, tapi sama juga seperti dengan satu permainan belaka.
Lie Loo jie dengan perempuan tunggal dengan cepat melayang turun di samping badan si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie.
Si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie yang melihat dari tengah udara mendadak melayang turun dua orang dalam hati mereka merasa terperanjat sekali, tetapi setelah mengetahui siapa yang baru datang itu mereka jadi amat terperanjat bercampur girang.
Belum sempat mereka mengucapkan sesuatu Lie Loo jie sudah keburu berkata.
Wan jie, Ie jie nyali kalian berdua sungguh besar sekali, kenapa kalian duduk tenang tenang di sini??
Tia, bagus sekali kedatanganmu, coba kau lihat Liem koko sedang bermain dengan kera, serunya sambil menunjuk ke tengah kalangan.
Wan jie, kau jangan sembarangan ngomong, seru Lie Loo jie kebingungan. Siapa yang sedang main dengan kera?
Coba kau lihat disana! Sahut si gadis cantik pengangon kambing sambil menunjuk kembali ke tengah kalangan itu. Orang itu dibikin kocar kacir oleh Liem koko, mereka tidak sanggup mengalahkan Liem koko tetapi untuk melarikan diripun tidak sanggup .... Aaaah-
Kepandaian silat dari Liem koko sungguh lihay sekali.
Lie Loo jie yang mendengar perkataan tersebut segera mendengus, ketika memandang ke tengah kalangan dia bisa melihat Auw Hay Ong suami istri, si gadie berbaju hijau Ciang Beng Hu, Hweesio, pengemis serta empat orang pemuda berbaju hitam cuma bisa berputar putar seluas beberapa kaki saja, bahkan pada kening setiap orang sudah dibasahi oleh keringat yang mengucur keluar dengan derasnya.
Dibawah sinar rembulan yang samar samar dia orang hanya dapat melihat jago jago yang terkurung itu sedangkan bayangan dari Liem Tou sama sekali tidak kelihatan.
Saat itu terdengar si Auw Hay Ong Ciang Cau dengan amat gusarnya berkoak koak keras.
"Liem Tou" teriaknya keras. "Kau bangsat cilik liar, kalau mau bunuh cepatlah bunuh diri kami, aku orang sekalipun sudah tua tapi tidak takut mati.. Hum, jikalau pada suato hari aku tidak hancurkan badanmu sampai berkeping keping aku orang tidak akan puas dengan dendam ini.
Hmra, cuma gemas aku Loo nio tidak berhasil melatih ilmuku sehingga mencapai kesempurnaan terdengar Auw Hay Bong pun sedang berteriak. Jikalau kau orang mempunyai nyali lepaskanlah kami saat ini, tiga tabun kemudian jikalau aku tidak berhasil mengorek keluar jantungmu aku sumpah tidak akan jadi manusia.
Jika di dengar dari suara makian Auw Hay Ong suami istri, sekalipun ditengah kalangan tidak kelihatan bayangan dari Liem Tou tetapi si perempuan tunggal serta Lie Loo jie percaya kalau orang yang sedang bertempur ditengah kalangan itu bukan lain adalah diri Liem Tou tidak terasa lagi beratus ratus macam pikiran bersama sama kerkumpul di dalam benaknya, diam diam dia menduga tentunya Liem Tou si bocah cilik ini sudah mempelajari kitab pusaka To Kong Pit Liok.
Baru saja dia berpikir sampai di sini mendadak dari tengah kalangan pertempuran terdengar suara tangisan yang amat keras si hweesio itu, sembari menangis keras dia menggerak gerakkan keki tangannya yang tidak leluasa itu dan memohon tak henti hentinya.
Kongcu ya, kau lepaskan diriku, coba bayangkan aku masih punya sakit hati yang belum terbalas jikalau ini hari aku menemui ajalku karena kecapaian bukankah aku mati dengan hati tidak tenteram.
Dari tengah kalangan pertempuran segera terdengarlah suara tertawa yang amat ringan sekali.
Plaaak. . .Di atas pipi si rase salju secara tiba tiba sudah kena tamparan yang amat keras sekali sehingga membuat wajahnya ketika itu juga membekas lima jari dengan amat jelasnya.
Para pembaca sekalian tentu menganggap Liem Tou sudah memiliki ilmu melenyapkan diri bukan? padahal pikiran saudara saudara sekalian salah besar, gerakan tubuhnya tidak sampai kelihatan hal ini disebabkan saking cepatnya gerakan tubuh dari dia orang sehingga pandangan mata orang yang menonton serasa kabur dibuatnya.
Saat ini Lie Loo jie benar benar sudah merasa tidak tega, dia melirik sekejap ke arah si perempuan tunggal.
Suheng, terdengar si perempuan tunggal memohon dengan perlahan, cepatlah suruh dia orang berhenti.
Liem Tou. Teriak Lie Loo jie dengan cepat Memandang di atas wajah ayahmu si pancingan emas sakti Liem Cong yang mempunyai persahabatan sama seorang musuh besar kau lepaskanlah dirinya satu kali.
Selesai berkata Lie Loo jie menganggap tentunya Liem Tou akan memberi jawaban, siapa tahu sekalipun sudah ditunggu beberapa saat lamanya tetap tidak mendengar jawabannya, pikirannya segera berputar, teriaknya kembali dengan lantang.
Liem Tou aku tahu tentu dalam hatimu masih ragu ragu, jikalau kau tidak per caya cobalah pikirkan kata kata ini.
Hutan Belantara (Liem) lebat bagaikan sutera gunung bersalju (Han San) dan daerah sekitarnya membawa ke pedihan hati . . bukankah syair itu ayahmu Liem Ham San paling suka membacanya? syair itu ayahmu si pancingan emas sakti setelah istrinya meninggal dia sering baca dan akhirnya dengan membawa putranya dia orang meninggalkan gunung Go bie aku pikir dia orang mengubah dirinya dengan Liem Han San dan sudah tentu hasil gubahan dari kedua patah syair tersebut coba kau pikir . . . betul tidak perkataanku itu?
Selesai berkata Lie Loo jie memandang kembali ke tengah kalangan untuk menantikan jawaban dari Liem Tou.
Mendadak dari tengah kalangan berkumandang suara suitan panjang yang menggetarkan seluruh lembah tersebut membuat setiap orang telinganya terasa sakit sekali, seluruh dedaunan serta ranting pada berguguran sedang pepohonan pada bergetar dengan amat keras sekali.
Sebentar kemudian segera terlihatlah sesosok bayangan hijau yang datang bagaikan kilat cepatnya meluncur ke tengah udara, hanya di dalam sekejap saja dia sudah melewati punca gunung dan berlalu dari sana diiringi suitan panjangnya yang amat mengerikan itu.
Si perempuan tunggal yang melihat Liem Tou tidak mau bertemu babkan berlalu dari sana dengan diiringi suara suitan panjang yang secara samar samar membawa kepedihan hatinya dia segera tahu kalau dia orang sudah teringat akan ayahnya setelah mendengar penjelasan tersebut, dia merasa bahwa orang ini rada aneh sekali .
Ketika teringat pula kalau dia orangpun mempunyai medali perak, hatinya semakin dibuat bingung lagi, hanya di dalam sekejap saja berpuluh puluh pikiran bersama sama saling desak mendesak dalam benaknya.
Mendadak dia sadar kembali dan serunya pada Lie Loo jie yang ada disampingnya.
Suheng sumoay mau pergi mengejar dirinya.
Kemudian serunya kepada Auw Hay ong yang berdiri termangu mangu di tengah kalangan, ujarnya dengan keras.
Budi kebaikan dari kalian suami istri berdua aku orang merasa sedih tidak bisa membalasnya, keagungan serta perkembangan dari Kiem Thien Pay selanjutnya aku serahkan pada kalian, kalian berusahalah untuk tancapkan kaki kalian di dalam Bu lim dengan mengandalkan kepandaian sendiri. Aku orang disini minta diri dulu, nanti lain waktu jika ada jodoh kita bertemu bembali.
Selesai berkata tanpa menanti jawaban dari orang Kiem Thien Pay lagi dia segera tersenyum kepada Lie Siauw Ie serta si gadis cantik pengangon kambing lantas bagaikan sambaran kilat cepatnya dia berkelebat menuju dimana Liem Tou tadi pergi.
Kita balik kepada diri Liem Tou setelah berhasil mengalahkan si perempuan tunggal di atas loteng. lar>ias melihat orang orang dari Kiem Thian Pay pada lenyap, dia tahu mereka tentulah sedang pergi mengejar si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie dua orang.
Karena takut mereka berdua menemui bencana, dia melepaskan diri dari si perempuan tunggal untuk mengejar keluar.
Tsrayata dugaannya sedikitpnn tidak salah, orang orang dari Kiem Thien Pay dengan mengandalkan jumlah banyak telah mengerubuti si gidis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie didalam sebuah lembah gunung.
Dikarenakan Auw Hay Ong mengingat hubungannya dengan Lie Loo jie. maka dia orang tidak sampai turun tangan jahat terhadap mereka. Dia cuma memerintankan anak buahnya untuk menawan mereka hidup hidup, waktu itulah keadaan dari si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie jadi amat bahaya.
Pada saat yang amat kritis itulah Liem Tou tiba di tempat tersebut, untung saja dikarenakan pikiran yang baik dari Auw Hay Oog ini, Liem Tou pun tidak ingin turun tangan jahat terhadap diri mereka, sebaliknya dengan menggunakan ilmu sakti meringankan tubuh yang amat libay yang berhasil dipelajari dari kitab pusaka To Kong Pit Liok dia mengurung dan mempermainkan mereka.
Sat itulah setelah Liem Tou mendengar suara dari Lie Loo jie yang meminta dia orang melepaskan diri Auw Hay Ong, dalam hati dia merasa amat keheranan. Setelah mendapat penjelasan dari Lie Loo jie yang menerangkan asal usul dari ayahnya dan dia pikir perkataan tersebut sedikitpun tidak salah, waktu itulah dia merasakan kepalanya seperti dipukul dengan martil dan terasa di dalam hatinya amat sedih sekali.
Dia teringat kembali pesan ayahnya yang melarang dia orang belajar silat tetapi menjelang kematiannya dia sudah menyerahkan kitab pusaka Toa Loo Cin Keng dan dia disuruh mempelajari dengan teliti, bukankah semua urusan itu ada sebab sebabnya?
Kiranya sejak kekalahan di tangan Thian Pian Siauw cu mulai saat itu dia tidak pernah mempelajari lagi ilmu silat malah sebaliknya dia terus menerus mempelajari ilmu surat . .
Liem Tou dengaa amat cepatnya berlari terus, entah sudah seberapa jauh dia berlari tetapi dia orang tidak tahu juga ...
Saat iti cuaca sudah terang . . . pandangan di depannya cuma tampak sinar keemas emasan yang mulai menyinari empat penjuru disertai suara deburan ombak yang amat perlahan.
Kiranya dia sudah tiba ditepi sungai, taapa banyak berpikir panjang lagi dia segera jatuhkan diri ditepi sungai itu dan tidur dengan nyenyaknya.
( Bersambung ke jilid 23 )
Satu jam kemudian burung burung pada berkicauan memecahkan kesunyian di pagi hari. Bayangan layar dari perahu yang berlalu lalang di atas sungai pun mulai berlalu dengan tidak henti hentinya, dengan perlahan Liem Tou sadar kembali dari pulasnya dan menghembuskan napas panjang, dengan pandangan terpesona dia memandang ke arah burung yang beterbangan di atas langit dengan perahu layar yang laju bergerak diatas sungai.
Tiba tiba dia melihat beberapa kaki dari tepi sungai tampaklah seorang pemuda tampan berbaju hitam dengan seorang diri berdiri di atas sebuah sampan yang sedang laju bergerak dengan lincahnya.
Yang mengherankan di atas perahu itu ternyata tidak berlayar tidak ada pula yang mendayung sebaliknya pemuda yang berdiri di ujung perahu itu tidak memperlihatkan gerakan apapun, jelas tenaga dalam yang dimilikinya amat tinggi sekali sehingga cukup menggerakkan tenaga dalamnya perahu tersebut sudah dapat bergerak sendiri.
Sudah tentu dengan kepandaiannya seketika itu juga mendapat tepukan serta pujian dari para nelayan lainnya.
Tetapi hanya dalam sekejap saja suara pujian itu sudah berubah menjadi suara teriakan kaget dan kagum, karena para tetamu yang semula ada didalam perahu kini pada keluar semua dan menonton kejadian yang amat aneh itu dengan mata terbelalak lebar lebar.
Liem Tou yang berdiri di tepi sungai dapat melihat setiap kali pemuda berbaju hitam itu mengayunkan tangannya kebelakang sehingga sampan itupun bergerak ke depan dengan amat lajunya, tidak bisa diragukan lagi gerakan perahu tersebut tentunya disebabkan oleh tekanan angin pukulan itu diam diam pikirnya.
Orang ini sungguh keterlaluan sekali, di hadapan orang banyak ternyata dia sudah pamerkan ilmu silatnya.
Saat itu tetapi si lelaki berbaju hitam itupun sedang menoleh ke arah tepi sungai, ketika dilihatnya seorang berbaju hijau berdiri disana dia agak tertegun sebentar.
Liem Tou segera tersenyum dan anggukkan kepalanya, siapa tahu orang itu bukannya membalas anggukan kepala, sebaliknya malah melengos keluar bahkan secara samar samar Liem Tou bisa mendengar orang itu sudah memperdengarkan suara dengusannya yang amat dingin sekali.
Liem Tou yang ketanggor batu dalam hati merasa sangat mendongkol sekali, pikirnya lagi.
Jikalau orang ini berasal dari aliran lurus dia orang tentulah tidak akan memperlihatkan sikapnya yang demikian jumawa, apalagi sikapnya yang amat sombong itu bukanlah sifat dari orang orang dunia kangouw sejati dia bangga atas kepandaian silat yang dimilikinya dan tidak memandang sebelah matapun kepada orang lain, Hmmm.. .hmm.. .ini hari aku mau lihat kau orang sebenarnya seberapa lihaynya? aku harus ngasih sedikit hajaran kepadanya.
Berpikir akan hal ini dia orang cepat cepat menyelinap masuk ke dalam semak dan melepas jubah panjangnya, ketika dilihatnya orang itu suaah berada pada ratusan kaki jauhnya dalam hati dia segera mengambil satu keputusan.
Aku harus dapat mengejar dirinya, demikian pikirnya dalam hati.
Tubuhnya dengan cepat terjun ke dalam sungai dan meyelam ke dalam dasar sungai untuk melakukan pengejaran dengan amat cepatnya.
Sejak Liem Tou berhasil mempelajari kitab pusaka To Kong Pit Liok. ilmu menyelamnya sudah tentu memperoleh kemajuan yang amat pesat sekali, tidak sampai seperminum teh kemudian dia sudah berhasil menyandak beberapa kaki di belakang sampan tersebut.
Saat itulah dia bisa melihat ombak yang dihasilkan oleh tenaga pukulan orang itu terasa amat hebat sekali, melihat hal tersebut di dalam hati dia merasa terperanjat sekali, pikirnya.
Ombak yang dihasilkan oleh tenaga pukulan orang ini di atas permukaan sungai kelihatan kecil sekali, siapa tahu ombak yang terjadi di dalam air sungguh begitu dahsyat, jelas sekali tenaga dalamnya benar benar amat sempurna.
Tetapi diapun merasa kalau orang itu sedikit keterlaluan.
"Biar aku coba coba tenaga pukulannya secara diam diam" pikirnya lagi.
Berpikir sampai disini badannya dengan Cepat berenang mencapai di belakang perahunya, melihat dari atas permukaan air menggulung datang angin pukulan yang amat keras mendadak dia mengangkat telapak tangannya menyambut - ..
"Byuuurrr . . . seketika itu juga dari permukaan air muncul semburan tiang air setinggi dua kaki lebih ke atas udara.
Pemuda berbaju hitam yang ada di ujung perahu agaknya sama sekali tidak siap, mendapat serangan tersebut badannya segera terhuyung huyung dan mundur tiga langkah ke belakang dan hampir hampir jatuh terduduk di atas perahu teesebut.
Tidak terasa lagi di dalam bati dia merasa sangat terperanjat dan memandang ke atas permukaan air secara terpesona, perlahan lahan pada wajahnya yang pucat pasi secara lambat laun timbul warna kehijau hijauan yang samar samar, dari sinar matanya muncullah nafsu untuk membunuh.
Siapa yang berani membokong Kongcuyamu dari dalam air? bentaknya dengan amat gusar.
Jikalau betul betul bernyali ayoh keluar., .-dan naik ke sini untuk bergebrak seribu jurus dengan aku orang.
Tetapi walaupun dia sudah memperhatikan permukaan air itu beberapa saat lamanya tetapi keadaan disekeliling tempat itu masih tenang tenang saja sampai gelembung udarapun tidak tampak.
Sekali lagi dia menanti beberapa saat lamanya, sewaktu melihat tidak ada gerakan yang mencurigakan dan melihat pula sampannya sudah terkena cipratan air sehingga basah kuyup terpaksa dengan melancarkan pukulan melanjutkan kembali perjalanannya ke depan.
Siapa tahu begitu perahunya mulai bergerak mendadak dari ujung perahu serta buritan terjadi getaran yang amat keras lagi. Dia orang yang sama sekali tidak mengerti ilmu di dalam air saking khekinya seluruh tubuhnya jadi gemetar amat keras, diiringi suara bentakan yang amat keras, dari pingangnya dia mencabut keluar sebilah pedang hitam yang amat tajam sekali dan ditebaskan sekeliling perahu.
Jikalau dia tidak melancarkan serangan masih baikan. Begitu dia bergerak tubuh perahu itu goncang semakin keras lagi.
Pemuda berbaju hitam itu tidak bisa berbuat apa apa lagi, terpaksa dia meloncat ke bagian tengah dari perahu itu dan mengerahkan ilmu bobot seribu kati untuk menenangkan goncangan tersebut.
Pada saat itulah tiba tiba tubuh perahu miring ke samping dan mendadak terbalik ke dalam air.
Untung saja pemuda berbaju hitam itu bisa melakukan tindakan dengan cepat. Sambil ber teriak keras dia menutul ujung perahu lantas melayang setinggi tiga kaki ke atas kemudian bersalto ke atas beberapa kali.
Dengan berjalan di atas permukaan air dia melirik sekejap kearah perahu tersebut kemudian tertawa tawar, hanya di dalam beberapa kali lompatan saja dia sudah melayang ke tepi sungai tanpa badannya terkena cipratan sedikit air pun.
Dengan gerakannya ini secara tidak disengaja sudah mendemonstrasikan semacam ilmu kepandaian,seketika itu juga membuat orang yang ada di atas perahu disekeliling tempat itu pada sorak memuji.
Tetapi air mukanya sama sekali tidak memperlihatkan perubahan apapun dengan termangu mangu dia memperhatikan perahu kecil yang tenggelam separoh itu, dia orang benar benar dibuat keheranan daa jengkel oleh kejadian ini.
Sudah tentu kesemuanya itu hasil perbuatan dari Liem Tou yang ada didalam air sungai, akhirnya sewaktu dilihatnya pemuda berbaju hitam itu sudah mendemontrasikan ilmu men agankan tubuh berjalan diatas permukaan air di dalam hati diam diam merasa sangat kagum se kali, pikirnya.
Tida kusangka perbuatanku ini sama sekali tidak bisa memberi kelihayan kepadanya, aku harus mencari cara yang lain untuk mempermainkan dirinya, pokoknya mulai hari ini aku mau paksa dia uatuk mengetahui kalau orang sakti yang ada di dalam dunia kangouw sangat banyak jumlahnya sehingga dia orang sampai begitu sombong dan tidak memandang sebelah matapun kepada orang lain.
Berpikir sampai disitu, dengan cepat telapak tangannya ditempelkan ke dasar perahu tersebut kemudian dengan mengerahkan tenaga saktinya perahu di dorong ke atas.
Dorongannya kali ini sama dengan kekuatan seribu kati, seketika itu juga perahu tersebut didorong dari permukaan sungai dan melayang setinggi satu kaki lebih di tengah udara, tubuhnya membalik lagi menumpahkan air sungai yang memenuhi ruangan perahu tersebut kemudian kembali ke atas permukaan sungai di dalam keadaan semula.
Dengan kejadian ini walaupun sudah membuat pemuda berbaju hitam itu menjadi amat gusar tetapi dia orang yang mengetahui telah bertemu dengan lawan tangguh tidak berani banyak bertingkah, dengan diam diam dia mempersiapkan diri untuk menghadapi sesuatu.
Lama sekali pemuda berbaju hitam itu berdiri di tepi sungai menantikan kedatangan musuhnya tetapi dari dasar sungai dia orang tidak melihat adanya orang yang keluar dan juga tak terasa lagi sambil mendepakkan kakinya ke atas tanah makinya dengan amat gusar.
Kongcu ya mu selamanya tidak berganti nama, aku adalah Ai Lau Tiauw atau si elang sakti dari gunung Ai Lau, Sun Ci Sie adanya, jikalau kau benar benar berilmu nanti malam pada kentongan ketiga aku menanti kau orang di tepi sungai di luar kota disebelah barat dari kota Ciat Ciang.
Selesai berkata tanpa menoleh lagi dengan langkah yang lebar dia barjalan meninggalkan tempat tersebut.
Ltem Tou yang mendengar pemuda berbaju hitam itu ternyata sudah menyebutkan namanya sebagai Sun Ci Sie dalam hati dia segera berpikir.
Aaaaa, kiranya kau orang kalau begitu aku tidak usah susah payah mencari dirimu lagi.
Kiranya Sun Ci Sie nama ini adalah nama orang yang harus dicari oleh Liem Tou sesuai dengan pesan orang yang ditemuinya, kalau musuh besar mereka adalah Kioe Lang Wan Kauw, atau dengan perkataan lain dialah satu satunya sanak saudara dari si perempuan tunggal Touw Hong itu.
Tetapi si pemuda berbaju hitam yang sejak kecil sudah menemui bencana membuat dia itu sama sekali tidak mengetahui asal usul dia sendiri, sudah tentu di dalam persoalan tersebut iapun tidak mengerti.
Liem Tou yang tahu dia adalah orang yang sedang dicari sudah tentu tidak mau melepaskan dengan begitu saja, dengan cepat dia berenang ke tepi untuk berganti pakaian kemudian dengan langkah lebar dan tergesa gesa dia berjalan menuju ke depan.
Kurang lebih sejam kemudian ternyata di hadapannya kelihatan ramai juga. Tempat itu ternyata adalah suatu bandar yang cukup besar.
Liem Tou dengan cepat masuk kota. Pada saat itu pagi hari baru saja menjelang sehingga terlihatlah jalan raya penuh sesak dengan manusia yang lalu lalang, suasana terasa amat ramai sekali.
Walaupun Liem Tou selama satu malampun tidak tidur tetapi menjelang pagi hari dia sudah tertidur sebentar sehingga semangatnya pada saat inipun sudah segar kembali.
Dengan wajah yang tampan serta memancarkan sinar berkilauan dengan seenaknya dia berjalan ditengah jalan sehingga menimbulkan perhatian khusus dari orang orang yang berada disana, terutama sekali gadis gadis dusun yang melihat wajahnya tak terasa lagi hatinya pada berdebar debar dengan sangat kerasnya.
Dengan langkah yang perlahan lahan Liem-Tou berjalan melalui dua buah jalan kemudian tibalah dia orang di depan sebuah loteng yang amat besar, di atas loteng itu tergantunglah sebuah papan nama yang bertuliskan "Kie Sian-Tong" tiga kata.
Disamping papan nama itu tergantunglah dua papan nama yang bertuliskan kata kata.
"Tempat berkumpul para eaghioog. Mabok empat lautan"
Liem Tou segera tahu kalau tempat itu adaIah sebuah loteng penjual arak, dengan langkah yang perlahan dia berjalan naik ke tingkat ketiga lantas minta beberapa macam sayur dan arak dan mulai bersantap dengan tenangnya.
Sembari bersantap pikirannya terus menerus sedang berpikir akan kata kata dari Lie Loo jie kemarin malam, semakin lama hatinya terasa semakin panas sehingga akhirnya dia orang benar benar terasa amat gusar.
Arak yang dihabiskannya semakin lama semakin banyak, akhirnya dia orang benar benar dibuat mabuk oleh air kata kata.
Mendadak dia menghajar meja di hadapannya, sambil makinya gusar.
Kiranya kau adalah anaknya iblis, jikalau aku sejak dulu tahu begini tentu saja aku orang akan suruh kau binasa pada saat itu juga atau sedikit dikitnya kau menjadi cacad, kau anaknya iblis ternyata kau sudah mencelakai ayahku, mengurung ayahku dan menyiksa dirinya.
Setelah memaki maki sampai kenyang, dia berganti tertawa keras.
Haaa haaa, pokoknya kau orang tidak bakal lolos dari tanganku biarlah kau orang hidup sebentar lagi tidak mengapa. Hmm saat kematianmu sehari demi sehari akan semakin mendekat.
Air mukanya mendadak berubah membesi, lalu gumamnya seorang diri.
Hutan belantara lebat bagaikan sutera, gunung bersalju membawa kepedihan hati, malam hari memandang rembulan, termenung di atas loteng. Aaah ayah, kenapa kau orang tak mau memberi tahukan kepadaku kalau kau orang mempunyai kisah hidup yang demikian mengenaskan kalau tidak sejak semula anak iblis she Ko itu sudah aku pukul hancur sebagai pembalasan atas kematian kau orang tua.
Berbicara sampai disini tidak kuasa lagi dia meneteskan air matanya kemudian menangis tersedu sedu...
Beberapa tamu di atas loteng itu ketika melihat Liem Tou menangis dengan begitu sedihnya, dengan pandangan keheranan pada mengalihkan matanya memandang ke arahnya, ada di antara yang menduga tentu dia orang sedang
memikirkan pengalaman pahitnya, adapula yang merasa tidak senang karena sudah diganggu ketenangannya.
Dengan tangisannya ini Liem Ton malah jadi sadar kembali dari pengaruh air kata kata (mabok) itu
baru saja dia menghapus kering air matanya mendadak terdengarlah suara seseorang yang sedang berkata dengan suara yang amat dingin sekali.
Seorang lelaki sejati tidak akan menangis sedih karena memikirkan pengalaman yang menyedihkan hatinya, apa kau berbuat seperti seorang bocah cilik?
Liem Tou yang mendengar perkataan tersebut barnadakan mengomeli dirinya dalam hati merasa sangat tidak senang, dengan cepat diaangkat kepalanya melotot ke arah orang tersebut.
Aku mau menangid atau tidak apa sangkut pautnya dengan kau orang? serunya dengan gusar. Kau orang tidak usah banyak bacot dihadapanku.
Baru saja dia selesai berkata mendadak dia merasakan ada serentetan sinar mata yang amat tajam sedang menyapu ke arah dirinya
Liem Tou menjadi amat terkejut, pikirnya di dalam bati.
Dengan ketajaman matanya itu yang mengejutkan, jelas kepandaian silat yang dimilikinya sudah mencapai pada taraf kesempurnaan. Bahkan diantara ketajaman matanya itu secara samar samar membawa nafsu membunuh yang amat tebal srkali. dan sungguh dahsyat sekali.
Hatinya segera bersiap sedia dan secara diam diam menyalurkan hawa murni untuk mengelilingi seluruh tubuhnya.
Saat itulah dia baru bisa melihat kalau orang tersebut bukan lain adalah si pemuda berbaju hitam yang ditemuinya sewaktu di sungai tadi, pada waktu ini dengan pandangan yang amat dingin sedang memperhatikan dirinya.
Empat buah sinar mata berbentur menjadi satu, pemuka berbaju hitam itu agak tertegun dibuatnya.
Mendadak dia bangkit berdiri dan ujarnya dengan suara yang amat dingin.
Terang terangan Loo heng memiliki kepandaian silat yang amat tinggi sekali kenapa ksu orang menangis sedih di tempat ini? bahkan aku rasa di suatu tempat aku pernah bertemu dengan Loo heng, cuma saja untuk beberapa saat lamanya aku sudah tidak teringat kembali.
Liem Tou selesai mendengar perkataannya dia segera mengangguk dengan perlahan, lantas jawabnya.
Cayhe cuma seorang terpelajar saja yang baru gagal menempuh ujian mana bisa memiliki kepandaian silat? jikalau aku betul betul mempunyai ilmu aku orang tidak akan sampai bernasib begini, heeei. . .bukankah Heng Thay adalah orang yang tadi pagi mendemontrasikan perahu terbang?"
Ketika pemuda berbaju hitam itu mendengar dia orang tidak lebih cuma seorang siucay saja di dalam hati dia agak kecewa tetapi kemudian setelah mendengar Liem Tou mengungkap kembali peristiwa tadi pagi sewaktu ada di sungai dengan cepat diapun sudah teringat kembali kalau orang yang ada dihadapannya ini bukan lain adalah si pamuda berbaju hijau yang ditemuinya di tepi sungai tadi pagi, dia segera mengangguk.
Aaaah . .kiranya kau orang, Loo heng tidak usah berputus asa berjuanglah terus akhirnya tentu kau orang akan mencapai sukses juga.
Sebenarnya si rajawali sakti dari gunung Ai Lau san, Sun Ci Sie ini adalah orang amat congkak dan dingin sekali sikapnya tetapi dikarenakan perbuatannya yang secara tidak sengaja dengan Liem Tou membuat dia orang mau tak mau harus berbicara juga beberapa patah kata.
Liem Tou sendiripun sama sekali tidak menyangka kalau pihak lawan bisa mengucapkan kata kata memuji dirinya, dia segera memperlihatkan senyuman yang amat girang sekali.
Terima kasih. . .terima kasih. . .serunya berulang kali.
Dengan mengambil kesempatan ini dia pindah tempat dan duduk semeja dengan dirinya lalu menanyakan nama dari si rajawali sakti Sun Ci Sie ini, mengaku terus terang namanya, sebaliknya Liem Tou sudah karangkan satu cerita palsu kepadanya.
Sun heng mendengar secara tiba tiba Liem Tou memuji dirinya. Menurut pandangan Siauw te, Sun heng manusia yang paling aneh dan paling sakti pada saat ini, ini hari aku bisa bersahabat dengan Sun heng hatiku merasa sangat bangga sekali, tetapi sampai saat ini Siauw te masih ada satu hal yang masih belum paham benar, entah maukah Sun heng memberikan penjelasannya??"
Si rajawali sakti dari gunung Ai San Sun Ci Sie sewaktu mendengar dia orang dipuji puji dan disanjung hatinya semakin gembira lagi.
Aaaih, cuma sedikit kepandaian tak berarti mana bisa dianggap sebegitu lihaynya? sahutnya sambil tertawa. Entah Liem heng ada urusan apa yang kurang paham? bilamana Siauw te tahu tentu akan aku jawab.
Mendengar jawaban tersebut diam diam didalam hati Liem Tou merasa geli.
Hee...hee kau jangan keburu bangga, aku mau suruh kau merasakan bagaimana rasanya keguyur air dingin.
Sewaktu Sun heng bermain perahu di atas sungai tadi, ujar Liem Tou menyambung. Bukankah perahu bergerak dengan amat lajunya? dengan kepadaian silat yang dimiliki Sun heng sekarsng ini bagaimana secara tiba tiba perahu tersebut bisa terbalik? peristiwa ini sangguh membuat Siauwt. kurang paham.
Mendengar perkataan dari Liem Tou ini air muka si rajawali sakti dari gunung Ai Lau san ini seketika itu juga berubah jadi merah padam, senyuman yang menghiasi bibirnyapun segera lenyap berganti dengan satu lembar wajah yang sangat adem, di antara perubahan yang secara mendadak itulah pada alisnya jelas muncul nafsu membunuhnya yang amat tebal.
Liem Tou yang melihat kejadian itu dalam hati segera berpikir.
Jika ditinjau dari keadaan serta tindak tunduknya jelas Sun Ci Sie ini bukan nerasal dari kalangan lurus, jika dilihat dari antara alisnya jelas sekali memperlihatkan akan kekejaman hatinya yang melebihi binatang. Hmm . . aku harus baik baik mengadakan penyelidikan.
Hmmm, ,aku sama sekali tidak menyangka kalau di dalam sungai tersebut bisa terdapat sebegitu banyak ikan besar.
Teriak Sun Ci Sie tiba tiba sambil menghantam meja. Ikan ikan terkutuk itu ternyata sudah membalikkan sampan kecilku kedalama air, aku cuma gemas karena sama sekali tidak dapat menggunakan ilmuku didalam air, kalau bisa hmm, hmm, aku tentu akan seret dia ketepi pantai dan kuhancurkan badannya hingga bisa menghilangkan rasa mengkel yang mengganjal di dalam dadaku.
Liem Tou segera tertawa tergelak dengan sangat kerasnya.
Aduuuhh, kiranya ada seekor ikan yang begitu besarnya? Teriaknya dengan kaget. Jikalau Sun heng benar benar menarik dia ke tepi sungai aku rasa ikan tersebut tentunya ikan yang paling besar didalam sungai itu dan paling mengejutkan semua orang, tetapi ada sesuatu hal lagi yang aku tidak paham, kenapa perahu tersebut mendadak bisa terbang kelangit? Apakah ikan tersebut bisa menyembur sebegitu hebatnya?.
Untuk sesaat lamanya Sun Ci Sie tidak bisa mengucapkan sepatah katapun sepasang matanya dengan melotot lebar lebar memperhatikan diri Liem Tou, lama sekali dia baru mengangguk.
Ehmm, boleh dikata perkataan dari Liem-heng itu memang benar, mungkin perkataan dari Liem heng benar.
Terpaksa Liem Tou pun harus menutup mulutnya kembali, padahal saat ini dia sudah bisa tahu bagaimana macamnya manusia yang bernama Sun Ci Sie ini, dia semakin memandang rendah dirinya lagi.
"Sun-heng," lama sekali Liem Tou baru bertanya lagi, kau orang datang ke kota Ciat Ciang ini ada keparluan apa????
Tiga hari kemudian aku mempunyai satu urusan kecil di tempat sebelah sana sahut si rajawali sakti dari gunung Ai Lau San itu perlahan.
Selesai berkata dia menuding keluar jendela.
Liem Tou dengan mengikuti arah yang dituding segera menoleh keluar, terlihatlah sebuah gunung berdiri dengan megah dihadapan-nya, dengan puncak yang sangat tinggi sehingga menembus awan. itulah yang disebut sebagai gunung Hauw Ya San.
Gunung Hauw Ya San ini terletak di sebelah Barat dari keresidenan Auw Kiang dan bersebelahan dengan kota Ciat Ciang ini, sehingga Sun Ci Sie sekali menuding ke arah luar jendela sudah bisa menunjukkan gunung Hauw Ya San tersebut
.
Buat apa dia orang pergi ke gunung Hauw-Ya San?? pikir Liem Tou di dalam hati.
Aaaa. . .Sun heng sungguh bersemangat sekali, di bawah sorotan sinar matahari yang demikian lembutnya memang waktu yang paling tepat untuk berpesiar ke atas gunung, Siauwte pun kini sedang menganggur, bagaimana kalau aku temani Sun heng pergi berpesiar kesana??"
Dengan cepat Sun Ci Sie gelengkan kepalanya.
Liem heng adalah seorang terpelajar tidak seharusnya naik ke gunung yang begitu tingginya, apalagi kepergianku ini diliputi oleh mara bahaya., .aku orang sama sakali bukan sedang berpesiar.
Kalau begitu San heng naik ke gunung mau membinasakan ular besar? teriak Liem Tou sengaja memperlihatkan rasa kagetnya yang tak terhingga. Ataukah mungkin Sun heng naik ke atas gunung mau membasmi binatang binatang berbahaya lainnya??"
Bukan, .bukan begitu, sekali lagi Sun Ci Sie gelengkan kepalanya. Hari itu aku sudah janji dengan dua orang manusia yang amat lihay sekali untuk pergi ke atas puncak gunung Hay Ya pan untuk bertanding silat.
Wach, Aku semakin ingin ikut pergi lagi, teriak Liem Tou dengan cepat. Kesempatan yang baik sukar untuk ditemui selama hidupku tentuaya Sun henh mengizinkan aku untuk pergi menotou peristiwa yang sangat besar bukan??
Sembari berkata Liem Tou di dalam hatiny berpikir terus.
Siapakah orang yang sudah mengadakan perjanjian dengan dirinya?? Aku harus mengadakan penyelidikan dengan seksama.
Wajahnya segera memperlihatkan keragu raguannya, dengan rasa terkejut bercampur heran tanyanya.
Sun-hang bisa berjalan di atas permukaan air dengan tenangnya bahkan bisa lari bagaikan kilat, boleh dikata itulah pekerjaan seorang dews atau malaikat. Di dalam kolong langit pada saat ini ada siapa lagi yang berani mencari gara gara dengan diri Sun heng??? Kalau memangnya orang itu berani menantang Sun heng untuk bertempur sudah tentu kepandaian mereka tidak sembarangan . . •
Sun Ci Si segera menganggukkan kepalanya.
Pada masa yang lalu kedua orang ini juga termasuk manusia yang amat lihay sekali, kali ini jikalau mereka bekerja sama. Dapatkah aku orang memperoleh kemenangan, hal ini masih sukar untuk di duga sebelumnya.
Lalu siapakah kedua orang itu? apa sangat fihay sekali ilmu silatnya?.
Sskalipun aku bsritahu kepadamu kau orang tentu tidak tahu, baiklah biar aku beritahukan kepadamu. Yang satu adalah Thiat Bok Thaysu yang sudah angkat nama bersama sama dengan si cambuk iblis Suo Kok Thaysu tempo hari, sedang yang lain adalah si penahat naga merah anak murid dari Suo Kok Mo Pian. ke dua orang ini semuanya merupakan penjahat-penjahat berhati kejam yang sudah melakukan banyak kejahatan baik merampok, membunuh maupun memperkosa, tetapi kali ini aku sengaja pergi mencari mereka bukanlah dikarenakan kejahatan kejahatan yang dilakukan oleh mereka melainkan hendak membereskan sedikit sakit hati yang sudah terjadi empai puluh tahun yang lalu.
Mendengar jawaban tersebut diam diam Liem Tou merasa sangat terperanjat, pikirnya.
Oooh kiranya dia mau pergi menemui kedua orang itu, kalau begitu aku harus menyelidiki urusan yang sudah terjadi.
Mendadak dia bangkit berdiri, air mukanya jadi membesi lalu serunya dengan keras.
"Sun heng jangan sekali kali melepaskan ke dua orang itu lagi, tentang Thiat Bok Thaysu siauw te tidak tahu siapakah dia orang, tetapi si penjahat naga merah itu bukan saja siauw te pernah mendengar sekalipun kaum perempuan serta bocah cilik dari penduduk di sekitar tempat itupun tahu kalau dia adalah penjahat kejam, diapun merupakan seorang bajingan pembasmi keluarga, pada dua puluh tahun yang lalu menurut perkataan dari orang orang tua, dia pernah mengumbar nafsunya itu tetapi sebentar kemudian sudah lenyap dari muka bumi, tidak kusangka sama sekali pada akhir-akhir ini dia sudah munculkan dirinya kembali bahkan aku dengar tindakannya semakin ganas lagi
Hei . . jikalau orang ini tidak dibasmi secepatnya, maka kita sebagai rakyat biasa tentu ada sehari tidak tidur tenang, entah Sun heng punya ganjalan sakit hati apa dengannya?"
Dengan perlahan Sun Ci Sie angkat cawannya dan diteguk isinya hingga habis. Dari sepasang matanya tampak memancar keluar sinar yang amat tajam sekali berkelebat tak henti henti nya.
Baru saja dia gerakkan mulutnya mau berbicara mendadak dia menarik kembali kata katanya itu dan meloncat bangun.
Peristiwa ini panjang sekali bila mana d ceritakan, ujarnya kemudian. Lebih baik kita bicarakan dikemudian hari saja, bila mana Liem heng benar benar ingin ikut pergi dengan aku. maka di dalam tiga hari ini kau harus baik baik beristirahat sampai waktunya kamu boleh ber&embunyi disamping untuk menonton aku pergi membasmi kedua orang siluman aneh tersebut.
Liem Tou segera mengangguk.
Setelah membayar rekening arak Sun Ci Sie lalu turun dari loteng dan Liem Toupun mengikuti dari belakang.
"Sun heng, kau menginap dimana?" tanyanya.
"Ikuti saja diriku" sahur Sun Ci Sie sambil melanjutkan terus perjalanannva ke depan.
Terpaksa Liem Tou mengikuti dirinya dari belakang, setelah berjalan melalui jalan besar dia itu keluar melalui pintu kota sebelah barat. Tidak terasa di dalam hati Liem Tou merasa ragu ragu juga, pikirnya.
"Aaaaahh . . . dia mau pergi kemana?"
Tetapi sekalipun dia berpikir demikian, mulutnya tetap membungkam, dia ikuti terus dirinya dari belakang menuju ke tepi sungai.
Kurang lebih sepertanak nasi kemudian mereka berdua sudah lama berjalan mengikuti aliran sungai tersebut, ketika dilihatnya mereka sudah cukup jauh mnninggalkan kota tersebut mendadak terdengar Sun Ci Sie bergumam seorang diri.
Malam ini aku mau menemui dirinya di tempat ini.
Liem Tou tahu yang dimaksudkan olehnya adalah dia orang sendiri, tetapi pada mulutnya sengaja dia bertanya.
Sun heng kau sedang membicarakan apa??? dan malam hari ini kau mau bertemu dengan siapa?"
Agaknya Sun Ci Sie sangat gusar sekali dibuatnya, setelah mendengar perkatan tersebut dia segera tertawa dingin.
Lebih baik Liem heng jangan terlalu banyak bertanya, ujarnya dengan amat dingin sekali.
Harusnya kau orang ketahui sejak aku si rajawali sakti dari gunung Ai Lau san terjunkan diri ke dalam dunia kangouw, kecuali kau seorang belum pernah aku bersikap demikian sungkannya kepada siapapun, kau orang harus sedikit berhati hati jangan sampai membuat diriku marah.
Liem Tou yang disemprot dengan kata kata tersebut dia sama sekali tidak menjadi marah, dia tersenyum, tetapi dalam hati tidak urung memaki juga.
Kau manusia goblok, jikalau bukannya ibumu mempunyai budi yang amat besar kepadaku sehingga aku orang bisa mendapatkan kitab pusaka To Kong Pit Liok, aku segera kasi lihat pertunjukan yang amat bagus padamu.
Tetapi perkataan tersebut tidak sampai dia ucapkan keluar, dengan berdiam diri dia mengikuti dirinya dari belakang.
Semakin lama suara deburan ombak dari sungai itu terdengar jauh lebih kencang beberapa kali lipat, dari pada deburan ombak yang ada di sekitar kota Ciat Ciang tadi.
Liem Tou yang sudah sangat hafal sekali terhadap aliran sungai tersebut sudah tentu jauh lebih tahu dari dirinya, dia tahu dirinya sudah memasaki selat Sie Leng Shia.
Tetapi Sun Ci Sie masih terus melanjutkan perjalanannya menuju ke depan, semakin lama dia berjalan, jalan yang tadinya lebar itu berubah menjadi sempit dan akhirnya jadi jalan seusus kambing yang amat kecil sekali.
Sebenarnya Liem Tou mau bertanya kembali kepadaaya tetapi dia takut Sun Ci Sie jadi gusar oleh tindakannya itu, terpaksa dia bungkam diri. sedang di dalam hatinya diam diam pikirnya,
Perduli amat dia orang mau pergi ke mana. Aku ikuti saja terus bukankah beres???
Supaya dia orang tidak banyak berpikir lagi dengan berdiam diri dia terus menerus mengikuti di belakangnya.
Tidak lama kemudian mereka sudah menaiki sebuah bukit kecil, Liem Tou segera melayangkan pandangannya melihat sungai yang berombak sangat besar itu ....
Saat itulah terdengar Sun Ci Sie sudah berbicara sambil menuding kearah sungai.
Selama tiga hari ini Liem-heng boloh tinggal ditempat ini saja.
Liem Tou yang melihat dia menuding ke tengah sungai dalam hati merasa amat tidak paham.
Sun-heng kau orang jangan berguyon, seru nya. Aku orang bukanlah sebangsa makhluk yang hidup didalam air, bagaimana mungkin bisa tinggal di dalam sungai itu??
Haaaa . . . haaaaa . . . aku orang sama sekali bukan menyuruh Liem heng tinggal di dalam air, sahut Sun Ci Sie sambil tertawa. Coba kau lihat, bukankah di tikungan sebelah sana ada sebuah perahu yang masih baru?
Dengan terburu buru Liem Tou mengalihkan pandangannya ke tengah sungai dan mulai mencarinya, akhirnya dia menemukan juga di tengah sungai tersebut memang terdapat sebuah perahu yang berhenti tak bergerak, di dalam perahu tersebut nampaknya tidak ada orangnya, tampak dua buah tiang layar berdiri dengan tegaknya di tengah tiupan angin.
Sewaktu Sun Ci Sie melihat Liem Tou sudah dapst mengetahui perahu tersebnt mendadak dengan beberapa kali loncatan dia menubruk ke arah perahu tersebut.
Saat itu walaupun Liem Tou memiliki ilmu silat yang sangat tinggi tetapi dia tidak dapat menggunakannya.
Tampaklah jarak antara bukit kecil dan tengah sungai masih ada satu atau dua puluh kaki tingginya, bahkan kelihatan tak ada jalan lainnya lagi.
Terpaksa dia orang berdiri tidak bergerak di atas bukit tersebut dan berteriak teriak dengan sangat keras.
Sun heng. bagaimana Siauw te harus turun ke sana?
Dia berteriak dua kali tetapi tidak tampak juga orang naik, ketika dia berteriak untuk ke tiga kalinya saat itulah baru tampak Sun Ci Sie meloncat naik kembali ke atas bukit.
Liem heng tidak usah cemas, serunya sambil tertawa, Sudah tentu aku takkan membiarkan diri mu tinggal seorang diri di atas bukit itu.
Selesai berkata dia memeluk pinggang Liem Tou dan kembali dengan beberapa kali loncatan naik ke dalam perahunya.
Liem Tou dapat melihat perahu tersebut masih sangat baru sekali, ruangan perahu di atur dengan rapi dan mewahnya, pada samping kiri dari ruangan tersebut terdapatlah dua buah jendela yang masih tertutup rapat.
Dengan perlahan Sun Ci Sie membuka pin tu ruangan tersebut sehingga tampaklah tirai yang terurai menghalangi pandangan, di balik tirai tersebut terbentuklah sebuah ruangan yang disusun amat mewah dan megah sakali, keadaan ini mirip dengan sebuah ruangan istana.
Didepan ruangan perahu Sun Ci Sie melepaskan sepatunya lalu baru masuk ke dalam ruangan, Liem Tou pun segera melepaskan juga sepatunya.
Tak kusangka ternyata Sun heng begitu gemar akan berpesiar, ujarnya sambil tertawa. Tidak kusangka pula ternyata engkau mempunya sebuah perahu besar yang benar benar sangat menarik dan megahnya, siancay . siancay bila mana mana siauw te bisa tinggal selama tiga hari di tempat ini boleh dikata rejekiku sungguh
amat mujur sekali,
Sun Ci Sie segera tertawa.
Liem heng jangan begitu sungkan sungkan jikalau kau akan ikut menonton pertempuran di atas gunung Hauw Ya san terpaksa cuma ada tiga hari saja kau bisa menginap disini.
Sembari bercakap cakap sepasang mata dari Liem Tou dengan amat tajamnya memperhatikan terus keadaan di sekeliling ruangan tersebut.
Terlihatlah bantal seprei disulam dengan amat indah sekali. dan diatur dengan begitu rapi dan menarik, di sebelah kiri dari ruangan tersebut bertumpuklah beberapa buah peti besar yang berwarna hitam, kecuali peti yang terbawah di kunci yang lainnya sama sekali tidak digembok.
Entah dimanakah rumah dari Sun heng? aku rasa kau orang tentu sangat kaya sekali dan merupakan putra seorang hartawan.
Si rajawali sakti dari gunung Ai Lau San ini cuma tersenyum ringan saja dia tidak menjawab.
Segera dia orang menunjukkan dimana terletak bahan makanan dimana terletak bahan minuman dan beritahu juga kepadanya kalau mau tidur suruh lantas tidur saja akhirnya dia menambahi.
Untuk sementara Liem heng tinggallah ditempat ini. aku orang masih ada urusan yang harus diurus di tepi sungau sana.
Sun heng silahkan berlalu jawab Liem Tou dengan cepat. Aku orang sudah terialu mengganggu diri Sun heng, dalam hati aku merasa tidak enak.
Sun Ci Sie tidak memberikan jawabannya, dia segera memakai sepatunya lalu meloncat naik ke tepi hanya dalam sekejap saja sudah lenyap tak kelihatan.
Menanti setelah Sun Ci Sie pergi jauh Liem Tou baru diam diam berpikir
.
Orang ini sungguh amat aneh sekali, jika dilihat dari gerak geriknya yang sangat terburu buru dan sama sekali tidak mau berhenti agaknya dia orang mempunyai satu kesedihan yang benar benar menggoncangkan hatinya sehingga dia berbuat demikian.
Berpikir sampai disini dia tidak ragu ragu lagi, dangan cepat dia berjalan mendekati beberapa buah peti hitam itu dan membuka peti yang pertama.
Pandangannya menjadi terang, tampaklah di dalam peti tersebut dipenuhi dengan uang perak yang menyilaukan mata.
Sewaktu membuka peti yarg kedua dia menemukan peti tersebut juga penuh berisikan uang perak putih yang menyilaukan mata.
Berturut turut sampai pada peti yang keempat dia baru menemukan kalau peti tersebut penuh berisikan uang emas yang bertumpuk tumpuk memenuhi seluruh tempat.
Pada peti yang kelima berisikan satu peti mutiara dan intan permata yang mahal harganya
Tidak kuasa lagi Liem Tou dibuat berdiri tertegun di tanah, lama sekali dia baru berpikir.
Sungguh hebat, darimana dia orang mendapatkan uang emas perak dan intan permata yang demikian banyaknya? cukup dengan beberapa peti ini saja sudah bernilaikan satu kota bagaimana mungkin harta ysng sebegitu banyaknya ini bisa muncul ditangan seorang jagoan tukang pukul Bu lim yang asal usulnya tidak diketahu jelas.
Berpikir sampai disini otaknya diperas lebih keras lagi, mendadak di dalam benaknya terbayang satu ingatan hingga tidak terasa lagi seluruh tubuhnya bergidik dengan amat kerasnya
Apa mungkin dia orang, .apa mungkin di orang, .gumamnya seorang diri.
Saat ini tinggal peti hitam yang paling bawah belum dibuka, pikir Liem Tou lagi.
Turggu dulu. Aku sama sekali tidak memiliki kepandaian untuk membuka kunci itu, jikalau harus dirusak sudah tentu setelah Sun Ci Sie kembali dia akan mengetahuinya, aku tidak boleh mencari gara gara dikarenakan urusan yang kecil ini saja, bagaimanapun juga waktu yang akan datang masih panjang sekalipun dibuka lain kali juga belum terlambat.
Setelah dia mengambil keputusan di dalam hatinya deagan cepat peti peti yang sudah terbuka ditutupnya kembali seperti sedia kala lantas ditumpuk seperti semula.
Setelah semuanya selesai untuk membuang waktu yang amat senggang ini dia duduk bersila dan mulai memusatkan perhatiannya untuk bersemedi.
Sebentar kemudian hawa murninya sudah mengalir mengelilingi seluruh tubuhnya badan terasa menjadi segar sedang pendengarannya semakin tajam.
Saat ini kecuali suara deburan ombak yang menggulung tak henti hentinya terdengar sedikit suara - - - tidak lama kemudian Liem Tou sudah berada dalam keadaan lupa segalanya.
Semakin dia bersemedi hatinya semakin tenang, pendengarannya pun semakin tajam, setiap suara yang di dengar di tepi sungai sampai rontoknya dedaunan pun dia bisa mendengar dengan amat jelasnya.
Dari siang hari sampai malam Liem Tou terus menerus duduk sama sekali tidak bergerak, waktu itu sudah menjelang magrib tidak hentinya angin sungai bertiup berlalu membawa rasa dingin yang menggigilkan.
Tidak lama kemudian secara samar samar Liem Tou bisa mendengar suara tersampoknya ujung baju terkena angin, dia taha si rajawali sakti dari gunung Ai Lau san, Sun Ci Sie sudah kembali ke perahu.
Dengan cepat Liem Tou jatuhkan diri berguling dan menutupi tubuhnya dengan selimut pura pura tidur.
Sebentar kemudian segera terasalah tubuh perahu tersebut sedikit bergoyang, Sun Ci Sie dengan berpakaian hitam sudah muncul dihadapanuya air mukanya yang pucat pasi secara samar samar membawa warna kehijau hijauan, dengan air muka yang amat tawar dia berjalan masuk ke dalam ruangan perahu lalu mendorong jendeia dan dengan termangu mangu memperhatikan ke tengah sungai.
Sedikit jejakpun tidak kelihatan, gumamnya seorang diri. Sungguh suatu urusan yang amat aneh sekali, di dalam Bu Lim pada saat seperti ini orang yang bisa memiliki tenaga dalam yang sebegitu tingginya aku rasa tidak begitu banyak, apa mungkin si tua bangka itu yang mencari gara gara di belakang diriku?
Liem Tou yang berbaring di dalam selimut segera bisa meraba dari pembicaraannya itu siapa orang yang dimaksud, cuma sayang tidak tahu siapakah tua bangka yang dimaksudkan itu.
Lewat beberapa saat kemudian Sun Ci Sie bergumam kembali.
Perduli siapakah dia orang, setelah malam ini bertemu dengan dirinya aku mau mengambil keputusan lagi, jikalau dia orang yang mempunyai kepala dan muka tentu akan menunjukkan dirinya dengan terang terangan.
Saat itulah Liem Tou merasa yakin kalo apa yang dibicarakan selama ini adalah bukan lain hanya orang yang berada didalam air itu, diam diam Liem Tou tertawa geli.
Orang itu tidak akan munculkan dirinya, saya rasa kau orang takkan bertemu dengannya pikirnya di dalam hati
Berpikir sampai disitu dia segera mengulet dan berseru dengan keras.
"Aaaah sungguh nyaman .... sungguh nyaman sekali, eeh kapan Sun heng puiang? selama beberapa tahun ini aku belum pernah merasakan tidur yang demikian nyamannya ternyata aku sudah tidur dengan begitu pulas sungguh tidak genah .... sungguh tidak genah.
Sembari berkata Liem Ten segera merangkak bangun
Liem heng tentu sudah lapar bukan ? ujar Sun Ci Sie sambil menoleh. Bagaimana kalau kita mengambil keluar makanan serta arak kita nikmati dengan perlahan lahan? setelah kentongan kedua kita bisa berlayar mengikuti aliran sungai lalu kau tinggal di dalam perahu dan aku akan pergi menepati janji untuk menemui orang tersebut.
Liem Tou tertawa, tetapi di dalam benaknya sedang memikirkan cara cara untuk memecahkan siasat ini, pikirnya.
Dia minta, supaya aku menjalankan perahu untuk mengikuti dirinya lalu bagaimana aku bisa naik ke tepian masuk kota dan berganti pakaian??
Tetapi dengan terpaksa dia berjalan menuju ke gudang dan membuka pintunya nampaklah arak, daging, ayam dan banyak bahan makanan yang sudah tersedia di dalam gudang tersebut, bahkan bergentong gentong arak tersedia pula disana.
Dengan cepat dia mengambil barang barang tersebut dan mereka berdua mulai minum arak sambil memandang ke tengah sungai.
Cuma saja arak ini diminum terlalu sepi karena di antara mereka berdua tidak ada yang mau berbicara, masing masing sedang memikirkan urusannya sendiri sendiri.
Kurang lebih satu jam kemudian malam semakin kelam, tampaklah sinar rembulan berbentuk sabit muncul dengan perlahan lahan dari balik awan, dengan meminjam kesempatan ini Liem Tou segera bertanya.
Sun heng, walaupun kau dan aku telah berkenalan belum lama tetapi aku rasa kita memangnya berjodoh, apalagi kepandaian silat dari Sun heng yang begitu tingginya membuat aku benar benar merasa sangat beruntung sekali. Tetapi entah Sun heng berasal dari aliran perguruan mana? siapakah suhumu?.
Sun Ci Sie yang selama setengah harian penuh pergi mencari orang yang sudah mengganggu dirinya di dalam air tanpa berhasil di dalam hati sebetulnya dia sudah merasa mendongkol, saat ini dengan meneguk beberapa cawan arak dia orang sudah dibuat setengah mabok, mendengar perkataan tersebut dia segera menjawab
Jikalau orang lain yang bertanya kepadaku mungkin aku akan marah, kalau memangnya Liem heng yang mengajukan pertanyaan ini aku akan memberitahukan juga kepadamu tetapi kau harus jaga rahasia aku sudah belajar ilmu silat selama dua belas tahun lamanya dit ebing Tak berbudi di atas gunung Ai Lau san, guruku bukan lain adalah si bweesio tujuh jari yang pada empat puluh tahun yang lalu pernah menggetarkan seluruh dunia kangouw dengan mengandalkan sebilah pedang hitam yang kemudian membinasakan salah satu dari Auw Hay Siang-Hiap.
Liem Tou yang pengalamannya cetek mana tahu siapakah si hweesio berjari tujuh itu? jikalau dia orang tahu kalau si hweesio berjari tujuh bukan laia adalah pembunuh dari suhu ayahnya Hoa Siong Hiap pada saat ini kemungkinan sekali dia sudah menyerang diri Sun Ci Sie dengan amat gencarnya.
Lalu di manakah suhumu sekarang berada? terdengar Liem Tou bertanya lagi sambil tertawa. Jika ditinjau dari kepandaian silat dari suhumu amat dahsyat sekali.
Haaai, terdengar Sun Ci Sie meghela napas panjang, sekalipun suhu masih sehat waalfiat tetapi dikarenakan pada tempo hari sudah terhajar jatuh ke dalam jurang, sepasang kakinya sudah cacat walaupun kepandaian silatnya masih ada tetapi sudah tidak dapat bergerak lagi, tujuanku kali ini turun gunung bukan lain adalah hendak menuntut balas dendam tersebut, musuh besarku bukan lain adalah Si Suo Kuk Mo Pian serta Thiat Bok Thaysu dua orang, karena si penjahat naga merah adalah anak murid dari Suo Kuk Mo Pian itu maka aku sudah menghitungnya sekalian.
Liem Tou cuma berdiam diri tidak menjawab tetapi dalam hati mengingat seluruh perkataannya.
Ketika dia menoleh memandang keluar jendela mendadak.. . .tampak sesosok bayangan hitam dengan amat cepatnya berkelebat di tepi sungai, walaupun Liem Tou melihat akan hal tersebut tetapi dia sama sekait tidak memperlihatkan sedikit perubahan apapun, dia pura pura tidak melihatnya sama sekali dan berjalan mendekati kearah jendela.
Tampaklah bayangan hitam itu mendadak ber henti di atas tepian tersebut.
Karena jaraknya amat jauh apalagi berada di dalam malam yang gelap sekalipun Liem Tou bisa melihat bayangan tersebut tetapi tidak mengetahui siapakah orang itu.
Dia cuma melihat perawakan orang itu tidak begitu besar, tubuhnya kecil langsing dan berdiri tidak bergerak di atas bukit kecil itu'
Dalam hati Liem Tou segera berpikir. Biarlah aku beritahukan adanya orang berjalan malam ini kepada diri Sun Ci Sie agar dia menganggap dia orang adalah orang yang sudah mengganggu dirinya di dalam air sungai tadi sehingga dengan demikian dia akan pergi melakukan pengejaran.
Berpikir akan hal ini dia segera buka mulutnya siap berbicara. . .mendadak. . .Bluuk. . sebuah batu sudah disambit kearah air sungai sehingga menimbulkan suara yang agak nyaring.
Sun Ci Sie memiliki kepandaian silat yang amat tinggi segera merasakan akan hal itu, tubuhnya dengan cepat melayang keluar dari ruangan perahu dun menyapu sekejap sekeliling tempat itu.
Tampaklah di atas bukit diseberang tepian sungai berdirilah seseorang dengan amat tegak nya. dia orang tidak malu disebut si rajawali sakti tubuhnya deagan kecepatan bagaikan kilat sudah melayang dan menubruk ke atas bukit.
Liem Tou dapat melihat seluruh kejadiaa itu dengan amat jelasnya Dia melihat orang yang ada diatas bukit itu agaknva sudah mengadakan persiapan, baru saja tubuh dari si rajawali sakti meloncat kedepan orang itu sudah putar tubuh dan melarikan dirinya.
Menanti sewaktu Sun Ci Sie tiba di atas bukit itu orang tersebut sudah berada ditempat yang amat jauh sekali.
ZTerdengar si rajawali sakti dari gunung Ai Lau san mendengus dengan dinginnya, ujung kakinya dengan cepat menutul permukaan tanah lantas melakukan pengejaran ke depan.
Dalam hati Liem Tou jadi keheranan, tanpa memakai sepatu lagi tubuhnya dengan cepat melayang melalui jendela, kemudian dengan menutul ujung perahu bagaikan kilat cepatnya dia melayang sejauh dua puluh kaki lebih menuju ke arah bukit tersebut, kemudian dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang amat lihay tubuhnya berkelebat kembali menuju kearah di mana bayangan dari Sun Ci Sie tadi lenyapkan dirinya.
Beberapa saat kemudian dari tempat kejauhan dia bisa melihat adanya dua bayangan yang sedang berkelebat saling susul menyusul dengan jarak lima puluh kaki lebih.
Dengan cepat Liem Tou meloncat ketempat kegelapan dan mengejarnya dari belakang, tidak sampai seperminum teh kemudian dia orang sudah berhasil menyusul mereka berdua tetapi diapun tidak bisa melampaui diri Sun Ci Sie, terpaksa dari belakang dia membuntuti dirinya terus menerus.
Lewat beberapa saat lagi tampaklah di depan mereka terbentanglah sebuah hutan yang amat lebat sekali, tampak bayangan yang ada di paling depan dengan amat cepatnya secara tiba tiba berkelebat menuju ke sana.
Sun Ci Sie yang berhasil mencapai di depan hutan itu agak ragu ragu sebentar, akhirnya dia pun menubruk masuk ke dalam.
Heey. . manusia itu sungguh besar nyalinya, pikir Liem Tou yang ada di belakangnya.
Terpaksa Liem Tou berhenti di samping hutan tersebut dan bersembunyi dibalik pepohonan, apabila dia tidak berbuat demikian pasti Sun Ci Sie menoleh ke belakang dan jejaknya akan diketahui
Saat itulah terdengar Sun Ci Sie membentak dengan amat kerasnya.
Kau manusia tanpa kepala, jika berani ayoh keluar dan bertempur dengan diriku, buat apa bersembunyi seperti cucu kura kura?
Lihat serangan ! Baru saja dia selesai berbicara terdengarlah suara searang perempuan sudah membentak keras. Rasakan kelihayan senjata rahasia dari nonamu.
Selesai berkata segera terasalah suara desiran dari senjata rahasia yang memecahkan kesunyian menyambar datang.
Sun Ci Sie jadi amat gusar sekali. Kau perempuan rendah, ayoh cepat mengge inding keluar.
Diikuti suara meayambarnya angin pukulan yang amat keras sekali menghajar pepohonan sehingga dahan serta ranting pada rontok ke atas tanah.
Lonte busuk perempuan maki Sun Ci Sie lagi dengan amat gusarnya..
Siapa kau orang? berani benar kau mencari gara gara dengan Kong cu yamu, aku mau tanya orang yang sudah mengganggu aku di dalam sangai pagi tadi apakah perbuatanmu.
Siapa aku orang kau tidak perlu ikut campur, jawab perempuan itu dengan dingin. Jikalau kau betul betul mempunyai kepandaian ayoh cepat keluarkan semua. Eeei kenapa kau tidak mengeluarkan sekalian pedang hitam milik suhumu yang gundul itu? terus terang saja aku beritahukan kepadamu suhumu si hweesio berjari tujuh masih mempunyai hutang dengan diriku.
Mendengar perkataan tersebut Sun Ci Sie jadi bertambah gusar, dia meloncat loncat saking gemasnya.
Siapakah kau? jikalau kau tidak berterus terang lagi jangan salahkan aku tidak akan berlaku sungkan lagi terhadap dirimu.
Perempuan itu segera tertawa cekikikan dengan amat gelinya.
Akupun tidak ingin banyak bercakap dengan dirimu, serunya sambil tertawa. Di dalam hutan ini aku rasa kau tidak akan bisa mengapa apakan diriku.
Pada saat itulah secara tiba tiba Liem Tou dapat melihat seseorang menerjang keluar dari dalam hutan, gerakannya amat cepat sekali bagaikan kilat berkelebat menuju ke jalan yang semula.
Liem Tou yang melihat kejadian itu segera mengetahui kalau dia orang sedang menggunakan siasat untuk meloloskan dirinya dan menipu Sun Ci Sie untuk tetap tinggal di hutan tersebut, sebaliknya dirinya sudah menubruk ke arah perahunya.
Liem Tou pun tidak pergi memberi peringatan kepada diri Sun CL Sie. tnbuhnya dengan cepat mengikuti dari belakang.
Dengan kecepatan gerakan tubuhnya hanya di dalam sekejap saja dia sudah berhasil menyusul diri perempuan tersebut yang berada dua tiga puluh kaki di belakang tubuhnya.
Dia mengikuti terus sampai tiba di perahu tersebut, ternyata tidak salah terlihatlah orang itu dengan cepatnya sudah meloncat naik ke atas perahu.
Liem Tou tidak ingin jejak dari dirinya diketahui pihak sana karena itu. Dengan diam diam diapun mengikuti dirinya dengan menyeberangi sungai ini secara perlahan lahan kemu dia bersembunyi di balik ruangan.
Saat itulah dia bisa melihat orang tersebut bukan lain adalah si perempuan tunggal Touw Hong yang sudah dua kali bergebrak dengan di rinya.
Pada saat ini si perempuan tunggal itu dengsn pandangan sangat terperanjat sedang berdiri di ruangan perahu yang sangat megah,dan mewah itu, matanya dengan terbelalak lebar lebar memandaag ke kanan dan ke kiri memperhatikan seluruh isi ruangan itu dengan amat telitinya.
Mendadak sinar matanya berhenti di atas brberapa buah peti hitam yang bertumpuk tumpuk di pojok ruangan tersebut, tanpa berpikir panjang lagi sebuah demi sebuah prti hitam itu dibukanya semua.
Liem Tou yang melihat kejadian itu di dalam hati menduga orang itu tentu akan dibuat terbelalak matanya ketika melihat uang perak yang begitu banyaknya itu. siapa tahu dia cuma memandang sejenak dengan sinar mata yang amat tawar kamudian menutup kembali peti tersebut dan memperdengarkan suara tertawa dingin nya yang tiada hentinya.
Setelah menutup kembali peti peti besi itu dia memandang pula peti terakhir yang terkun ci tetapi tidak sampai dibukanya, dia berdiri berpikir sejenak mendadak tubuhnya meloncat keluar dari ruangan perahu dan melepaskan tali perahu itu.
Liem Tou yang melihat kejadian itu di dalam hati diam diam merasa terperanjat sekali, pikirnya.
Sungguh pintar si perempuan tunggal Touw-Hong ini, suatu ide yang bagus sekali.
Menanti setelah dilihatnya perempuan tunggal itu selesai melepaskan talinya dia baru tertawa ringan.
Aduuuhh . . . tidak kusangka diatas perahu ini bisa kedatangan seorang tetamu terhormat, hey nona, angin apa yang sudah bisa meniup kau sampai ditempat itii? Ujarnya perlahan.
Si perempuan tunggal Touw Hong yang secara tiba tiba mendengar dari belakang badannya muncul suara seseorang dengan amat cepatnya dia meloncar sejauh tiga depa ke depan kemudian baru putar kepalanya.
Telapak tangannya disilangkan di depan dada lantas mengambil ancang ancang siap melancarkan serangan.
Tetapi sewaktu dilihatnya orang itu bukan lain adalah Liem Tou adanya, wajahnya segera dihiasi suatu senyuman yang sangar manis
Ditengah malam buta yang demikian sunyinya buat apa kau orang mengejutkan hati orang iain? serunya mengomel.
Sikapnya yang tidak memperlihatkan permusuhan ini seketika itu juga membuat Liem Tou merasa melengak, hal ini benar benar di luar dugaannya.
Selama ini dia selalu menganggap si perempuan tunnggal Touw Hong yang sebanyak dua kali dikalahkan olehnya, kali ini tentu akan mengumbar hawa amarahnya, siapa tahu sikap dari perempuan tunggal ini ternyata sama sekali sudah berubah bahkan tidak tampak rasa permusuhan sedikitpun juga.
Liem Tou masih tidak percaya atas sikap dari perempuan tunggal ini, dia mengira dia orang yang suka sambil tersenyum akan melancarkan serangan dan tidak bisa dipercaya seratus persen, karenanya dengan amat waspada sekali dia memperhatikan dirinya.
Apakah nona masih ada maksud untuk berkelelahi dengan diriku? serunya sambil tertawa. Bilamana kau memangnya bermaksud demikian, siauw seng tentu akan mengiringinya.
Si perempuan tunggal Touw Hong segera ter tawa geli.
Liem Tou, serunya. Kau orang tidak boleh bersikap begitu kurang ajar terhadap diriku, sekalipun kepandaian silatmu tidak kau peroleh dari Auw Hay Bun kita tetapi kau masih diharuskan memanggil diriku dengan sebutan susiok.
Nona Hong, seru Liem Tou sambil tertawa setelah mendengar perkataan tersebut. Bagaimana kau bisa berbicara demikian coba kau pikir aku Liem Tou sama sekali tidak punya suhu bagaimana bisa kedatangan seorang susiok? bukankah omongan itu merupakan suatu guyonan saja?
Kau orang cuma tahu satu tidak tahu dua, ujar si perempuan tunggal tertawa. Sekalipun kau orang tidak punya guru, tetapi apakah ayahmu tidak punya guru? aku dengan ayahmu adalah satu perguruan dan sama sama merupakan anak murid dari Auw Hay Siang Hiap, coba kau bilang patut tidak kau memanggil diriku dengan sebutan susiok?
Sepasang mata dari Liem Tou segera berubah memerah, dengan termangu mangu dia memperhatikan diri si perempuan tunggal itu sedangkan bibirnya tertutup rapat tidak mengucapkan sepatah katapun.
Hitinya pada saat ini benar benar betgolak dengan amat kerasnya, di dalam hati diam diam dia sedang memikirkan, benarkah kata kata yang diucapkan si perempuan tunggal ini? dia cuma tahu sewaktu dirinya mengurung orang orang dari Kiem Thien Pay dia sudah datang mengejar bersama Lie Loo jie.
Menurut apa yang didengarnya dari Lie Loo jie itu apakah benar ayahnya bernama si pancingan emas sakti Liem Ciong?
Tetapi Liem Tou mau tidak mau harus mempercayai juga apa yang diucapkan oleh Lie Loo jie itu karena Toa Loo Cin Keng serta kedua baris syair itu memang sama sekali tidak salah, kalau tidak bagaimana Liem Tou bisa merasa begitu sedihnya setelah mendengar perkataan tersebut.
Saat ini muncul kembali seorang perempuan tunggal yang mengaku sebagai susioknya, bagaimana Liem Tou mau percaya dengan demikian saja??
Setelah termenung berpikir beberapa saat lamanya mendadak dia bertanya.
Kau menyebut dirimu sebagai susiok, lalu si cangkul pualam Lie Sang itu apamu?
Sudah tentu dia adalah Suhengku, sahut si perempuan tunggal dengan cepat. Tetapi dia adalah anak murid dari Hoa supek sedangkan aku adalah ahli waris dari Lok Yong. Hoa supek dengan suhuku orang orang dunia kangouw menyebutkan sebagai Auw Hay Siang Hiap, akhir nya Hoa supek menemui ajalnya di tangan si hweesio tujuh jari sedangkan suhuku mengasingkan diri di atas gunung Boe Liang san, tiga puluh tahun kemudian baru menerima aku sebagai murid maka itu aku orang sama sekali tidak mengenal diri Lie Suheng, sampai kali ini dia menolong nyawaku waktu itulah aku baru tahu, dan aku tahu pula kalau jie Suheng sudah menemui kekalahan di tangan Tbian Pian-Siauw sehingga dia mengasingkan dirinya, aku benar benar ikut bersedih hati atas kejadian yang dialaminya itu.
Lien Tou yang mendengar dia sedang membicarakan tentang perguruan dari ayahnya dan mendengar pula kalau perkataan Lie Loo jie yang mengatakan sudah tentu dia mau percaya atas perkataan tersebut, mendadak dia merasakan keringat yang mengucur keluar semakin deras air mukanya berubah jadi pucat pasi keadaannya seperti baru saja menderita satu penyakit yang smat berat.
Si perempuan tunggal Touw Hong yang melihat wajahnya ada sedikit tidak beres dia menjadi sangat terperanjat sekali.
Sute kau kenapa?? tanyanya.
Liem Tou tidak menjawab, lama sekali dia memperhatikan diri si perempuan tunggal itu kemudian bagaikan kilat cepatnya dia jatuhkan diri berlutut di hadapannya.
Susiok harap suka memaafkan segala pcrbuatan dari Liem Tou yang telah menyakiti hati susiok, ujarnya dengan tersengguk sengguk menahan isak tangisnya. Bilamana dilain waktu aku berbuat salah kembali kepada susiok harap susiok suka memaafkan.
Selamanya si perempuan tunggal ini belum pernah mendapatkan penghormatan sedemikian rupa, apalagi Liem Tou pun merupakan orang yang dirindukan siang malam tidak terasa lagi wajahnya berubah jadi merah padam.
Cepat bangun, Cepat bangun, serunya dengan gugup. Tidak usah Banyak adat, tidak usah banyak adat.
Dengan cepat dia mengulur tangannya untuk membimbing Liem Tou bangun tetapi tak jauh dari badan Liem Tou mendadak dia menarik kembali tangannya ke belakang sedang air mukanya berubah semakin merah lagi.
Kalau, .kalau, .kalau sutit sudah tahu kedudukanku, lain kali kenapa harus terbuat salah lagi kepadaku? apa maksud dari perkataanmu itu? ujarnya terputus putus. Liem Tou segera bangun berdiri, ujarnya dengan nada gemetar.
Kiranya orang yang baru saja mengejar dirimu itu adalah anak murid dari si hweesio tujuh jari yang sudah mencelakai Sucouwku, sekarang aku sudah tahu dia adalah musuh besarku, aku punya alasan untuk membalas dendam ini.
Sekalipun sute tidak membunub dirinya, aku beserta suhengpun akan membinasakan dirinya. Ujar si perempuan tunggal sambil tertawa. Apa lagi pembunuhan serta perampokan yang terjadi baru baru ini dunia kangouw di mana setiap kejadian itu meninggalkan tanda ular merah adalah perbuatan dari dirinya, orang yang sudah menemui ajalnya di bawah serangan dari pedang hitamnya itu sudah amat banyak sekali, bilamana orang ini tidak dibunuh buat apa meninggalkan bencana di kemudian hari.
Oooh . . kiranya begitu, ujar Lem Tou jadi paham kembali duduknya perkara. Tidak aneh kalau di dalam petinya berisikan penuh dengan emas serta uang perak, kiranya harta tersebut dia dapatkan dengan jalan merampok.
berbicara sampai disini mendadak dengan pandangan mata yang amat tajam, Liem Tou memperhatikan diri si perempuan tunggal itu,
lama sekali baru terdengar dia menghela napas panjang.
"Susiok, apa kau benar benar mau membunuh dia orang?" tanyanya ragu.
Mandengar perkataan tersebut si perempuan tunggal jadi merasa keheranan.
Sute, jika didengar dari ucapanmu agaknya kau tidak punya maksud untuk membinasakan dirinya? tanyanya.
Aku bukannya bermaksud demikian, bahkanm aku sudah bisa melihat kalau dia bukanlah manusia dari kalangan lurus. Sahut Liem Tou gelengkan kepalanya lantas menhela napas panjang.
"Sudahlah .. biar aku lepaskan dia orang supaya dia orang bisa membalas dendamnya tarlebih dahulu, sambungnya kemudian.
Susiok. sampai waktu itu kau janganlah menyalahkan aku sudah turun tangan kejam tarhadap dirinya.
Saat ini si perempuan tunggal Touw Hong, sudah menangkap kalau di dalam perkataan dari Liem Tou ini mengandung maksud maksud tertentu, sepasang matanya dipentangkan lebar lebar dan memandang dirinya dengan sangat tajam sekali.
Sute, serunya keras. Inilah kesalahanmu bila mana ada urusan cepatlah beritahu dengan berterus terang, buat apa kau ragu ragu.
Jikalau susiok memerintahkan aku berkata, aku terpaksa akan mengatakannya keluar, ujar Liem Tou kemudian dengan wajah yang serius sekali. Tahukah susiok siapakah nama dan orang ini.
Mendengar perkataan itu si perempuan tunggal segera merasakan hatinya tergerak seluruh tubuhnya gsmetar dengan amat kerasnya sedang air mukanya berubah sangat hebat, agaknya dia sudah merasa amat tegang sekali.
Aaa . . apa? tanyanya sepatah demi sepatah. Apa dia orang She Sun? apa namanya Sun Ci Sie?
Sehabis berkata deagan pandangan matanya yang amat tajam sekali dia memperhatikan diri Liem Tou dan menantikan jawabannya, tetapi diapun takut kalau perkataan dari Liem Tou ini akan menusuk hatinya.
Pada saat ini Liem Tou pun dengan sepasang matanya yang amat tajam sedang memperhatikan diri si perempuan tunggal, empat buah mata bertemu jadi satu masing masing merasakan hatinya tergetar dengan amat kerasnya, tetapi sebentar kemudian sudah diliputi oleh rasa yang amat tegang dan berat sekali.
Pada waktu itulah dari atas puncak bukit tampaklah berkelebatnya sesosok bayangan hitam yang berkelebat datang dengan sangat cepatnya.
Liem Tou segera menemuinya, teriaknya dengan keras.
Susiok, kau tanya dirinya saja.
Di dalam sekejap saja bayangan hitam itu sudah melayang ke arah perahu tersebut sudah tentu yang datang bukan lain adalah si rajawali sakti dari gunung Ai Lau san Sun Ci Sie adanya.
Dengan tanpa mengeluarkan sedikit suarapun begitu tubuhnya mencapai tepian perahu, pedang hitam yang ada di tangan kanannya dengan dahsyat melancarkan serangan menusuk tubuh si perempuan tunggal itu.
Gerakannya amat ganas dan buas sekali sehingga sukar di duga sebelumnya.
Melihat hal itu dengan cepat Liem Tou melancarkan satu pukulan menangkis datangnya serangan tersebut.
Sun heng tahan dulu, teriaknya keras.
Sudah tentu si rajawali sakti dari gunung Ai Lau San ini tahu akan lihaynya serangan, tubuhnya dengan cepat melayang turun dari ruangan perahu, dia benar banar merasa terkejut bercampur gusar.
Dia sama sekali tidak menyangka kalau orang yang menyebut dirinya sebagai saudara ini di dalam sekejap saja sudah menjadi bisul di atas ketiak, perubahan yang terjadi secara mendadak ini benar benar membuat hatinya merasa sangat gusar sekali, seluruh tubuhnya gemetar dengan amat kerasnya.
Liem Tou tidak mau ambil perduli atas kemarahannya itu. ajarnya lagi dengan keras.
Harap Sun heng mau mendengarkan dulu perkataan cayhe, yang benar cayhe bukan seorang pelajar yang gagal ujian, pada kentongan ketiga nantipun kau tidak perlu menemui orang yang sudah membalikkan perahumu itu, karena orang tersebut adalah cayhe sendiri.
Sun Ci Sie mendengar perkataan tersebut untuk sesaat lamanya tidak mengucapkan sepatah katapun cuma saja kelihatannya air mukanya yang pucat pasi kini sudah berubah menjadi hijau ke biru biruan.
Sebenarnya persahabatan kita sesaat sebelum bertemu susiokku ini adalah persahabatan yang betul betul, tetapi setelah mendapatkan penjelasan dari susiokmu saat ini aku sudah menganggap dirimu sebagai penjahat penyebab bencana yang harus dibasmi dari muka bumi. Ingat nyawa kau si rajawali sakti dari gunung Ai Lau san tinggal satu tahun saja, sampai saat itu kau harus menggunakan pedang hitammu untuk berusaha mempertahankan nyawamu.
Mendengar perkataan dari Liem Tou ini Sun Ci Sie semakin gusar, bentaknya.
Aku Sun Ci Sie sanggup menerima kematian pada saat ini juga, ayoh mulai turun tangan.
Sambil berkata pedangnya di lintangkan ke depan, dari sepasang matanya memancar keluar sinar yang amat tajam memperhatikan diri Liem Tou.
Kau jangan keburu jual lagak disini, bentak Liem Tou pula.
Perkataanku belum aku ucapkan selesai jikalau bukannya aku sudab mendapatkan pesan dari ibumu mungkin pada saat ini kau sudah mati tenggelam di dasar sungai.
Sun Ci Sie yang mendengar Liem Tou mengungkap kembali soal ibunya tidak terasa lagi ia di buat tertegun juga, sehingga pedang hitam yang ada ditangannya pun sudah diturunkan lagi ke bawah.
Liem Tou menghembuskan napas panjang, ujarnya lagi.
Di dalam sebuah lembah batu di atas gunung wu san aku sudab menemukan seorang perempuan yang sudah hampir menemui ajalnya karena terkena siksaan dari si penjahat naga merah, saat sebelum meninggal dia meminta pertolonganku untuk mencari kau seorang yang bernama Sun Ci Sie yang merupakan putranya, diapun minta aku menyampaikaa kepadanya kalau musuh besar yang sebenarnya adalah Kioe Ling Wa Kauw dari gunung Im san dan bagaimana persoalan dendam yang sudah terjadi di antara kalian aku sendiri juga tidak tahu. Sekarang aku sudah menjelaskan seluruh persoalannya, dan beri waktu satu tahun kepadamu untuk membalas dendam ini, setelah genap satu tahun aku bisa datang kembali untuk mencari balas dendamku terhadap dirimu.
Saat ini si perempuan tunggal yang ada di samping tidak berbicara, dia cuma menangis tersedu dengan amat sedihnya, karena dia tahu pemuda berbaju hitam yang ada dihadapannya sekarang ini adalah Sun Ci Sie keponakannya yang sudah amat lama di cari cari.
Setelah mendengar perkataan dari Liem Tou itu Sun Ci Sie termenung berpikir seebentar, mendadak dia tertawa dengan amat seramnya agaknya dia orang sama sekali tidak percaya kalau ibunya sudah menemui bencana seperti apa yang telah diceritakan itu.
Kau berdasarkan apa mau membalas dendam terhadap diriku? tanyanya dengan suara yang amat dingin. Aku sudah berbuat kesalahan apa terhadap dirimu?
Liem Tou yang melihat psrempuan tunggal dibuat menangis oleh sikapp keponakannya yang sangat dingin itu di dalam hati dia sudah merasa kurang senang, dia merasa si penjahat yang gemar membunuh dan berbuat jahat ini sudah seharusnya menemui kematiannya.
Kini mendengar perkataannya yang amat dingin itu seketika itu juga membuat dia benar benar jadi marah.
Kau tidak usah banyak bacot. Bentaknya dengan amat marah. Apa kau kira terbunuhnya Sucouwku Hoa Siong dari Auw Hay Siang Hiap oleh suhumu si hweesio tujuh jari aku orang dilarang membalasnya??"
Jikalau kau adalah seorang manusia yang mengetahui situasi cepatlah lipat kuping menyembunyikan ekor berlalu dari sini.
Setahun kemudian aku bisa pergi mencari dirimu.
Sun Ci Sie segera menggetarkan pedang hitamnya sehingga memperdengarkan suara dengungan yang amat nyaring sekali laksana suara pekikan harimau dan naga yang membubung ke angkasa diiringi suara tertawa seramnya yang amat mengerikan.
Haaa. haaa. . Kiranya kau adalah anak murid dari Lie Sang si tua bangka itu, ejeknya dengan suara keras. Omongan besarmu itu sungguh menarik sekali didengar. Sebetulnya untuk sementara waktu aku masih menaruh rasa tidak tega terhadap Lie Sang si tua bangka itu siapa tahu ini hari terayata sudah bertemu dengan manusia penghianat semacam kau.
Kau cuma mendatangkan bencara buat perguruanmu sendiri, aku harus turun tangan menyingkirkan dirimu dari muka bumi ini.
Berkata sampai di sini warna kehijau hijauhan yang menghias wajahnya dengan perlahan lain mulai membesar, pedangnya digetarkan siap melancarkan serangan dahsyat menubruk ke atas jubah Liem Tou.
Saat itulah terdengar si perempuan tunggal Touw Hong sudah membentak keras.
Ci Sie jangan. Dia bukan anak murid dari Lie Sang Lie suheng, apa yang dikatakan oleh nya adalah suatu urusan yang benar benar sudah terjadi, kau cepatlah pergi, kau tidak mungkin bisa menangkan dirinya.
Berbicara sampai disitu tidak tertahan lagi dia menangis tersedu sedu.
Keadaan yaug amat menyedihkan ini tidak urung membuat Liem Tou yang menonton di samping merasakan hatinya perih juga, akhirnya hatinyapun jadi lembek.
Susiok, kau jangan begitu terharu, hiburnya dengan halus aku tahu orang yang berada dihadapun kita sekarang ini adalah satu satunya saudara dari susiok yang masih hidup, bagaimana aku tega untuk turun tangan membinasakan dirinya?
cuma saja dosa yang dia perbuat sudah bertumpuk tumpuk, aku tidak bisa melepaskan dia dengan begitu saja. Tetapi jikalau di dalam satu tahun ini dia bisa berubah sifat dan jadi orang baik sehingga mendatangkan keberuntungan buat umat manusia sudah tentu sekalipun hatiku keras seperti baja juga akan lumer tak berbekas.
Si perempuan tunggal yang mendengar perkataan dari Liem Tou ini dalam hatinya segera tahu kalau Liem Tou sudah memberikan satu kesempatan hidup buat diri Sun Cie Sie, di dalam hatinya jadi amat girang.
Tanpa memperdulikan bagaimana kaadannya sekarang mendadak diangkat kepalanya berteriak.
Ci Sie, kenapa kau masih tidak cepat cepat mengucapkan terima kasih atas kebaikan budinya ini?
Sun Ci Sie yang melihat si perempuan tunggal menangis dengan amat sedihnya dalam hati dia merasa kalau dalam hal ini pasti ada sebab sebabnya kalau tidak, tak mungkin ada orang menangis dengan begitu sedihnya. Tetapi ketika dia mendengar setiap kali si perempuan tunggal memanggil dirinya dengan kata Ci-Sie . . . Ci Sie terus, tidak urung alisnya dikerutkan rapat rapat juga.
Kau adalah setan yang baru saja lolos dari serangan pedangku Bentaknya dengan suara berat. Jikalau bukannya Lie Loo jie si tua bangka itu datang pada waktunya pada saat ini nyawa mu sudah berada di tanah akhirat, kau orang itu manusia macam apa? Ayoh pergi, mengaca dulu, kau kira wajahmu cantik dan tidak ada tandingannya ? Ci Sie . . . Ci Sie, kau kira Toaya-mu adalah kekasihmu? Sungguh tidak tahu malu, muka tebal, perempuan tunggal, hati bati kau, jika berani panggil aku dengan sebutan Ci Sie, jangan salahkan aku akan turun tangan kejam terhadap dirimu.
Mendengar suara makian yang benar benar kurang ajar dan kasar ini si perempuan tunggal jadi amat malu dan gemas sekali.
Ci Sie, teriaknya hampir hampir kalap. Aku adalah bibimu kenapa kau begitu kurang ujar.
Sun Ci Sie, kau jangan coba coba memaki dengan menggunakan kata kata yang kotor lagi, teriak Liem Tou yang ada disampingnya memberi peringatan keras. Dia adalah susiok juga merupakan bibimu, dia orang sudah memintakan belas kasihan untuk tidak membunuhmu, kenapa kau sekarang memaki bibimu dengan kata kata yang demikian kotornya dan kasar sekali? Kau sudah tidak mau hubungan antara bibi dengan keponakan di antara kalian berdua?
Mendengar perkataan ini Sun Ci Sie dengan perlahan mengalihkan sinar matanya ke atas wajah si perempuan tunggal, pada waktu yang lalu dia belum pernah memperhatikan dirinya dengan csrmat, kini setelah memperhatikannya dengan teliti secara samar samar di dalam benaknya terbayang kembali wajah dari ibunya yang berkelebat dengan cepatnya, bahkan dia merasa bahwa wajah dari perempuan tunggal ini mirip dengan wajah ibu kandungnya.
Goncangan hati yang amat keras dan mengharukan ini seketika itu juga membuat hatinya tergetar keras sekali, sepasang matanya dengan perlahan menjadi basah . . . dua titik air mata mulai membasahi kelopak matanya dan menetes keluar membasahi pipinya.
Si perempuan luaggal yang melihat kejadian ini dalam hatinya betul betul merasa terharu, air mata sejak semula sudah mengucur dengan deras.
Tetapi agaknya Sun Ci Sie dapat mengendalikan dirinya kembali saking girangnya pada ujung bibirnya tersungging suatu senyuman.
Menndadak Sun Ci Sie angkat kepalanya dan berteriak keras dengan amat sedih dan seramnya serunya.
"Aku Sun Ci Sie tidak berayah dan tidak beribu, tidak ada sanak dan tidak ada keluarga dan tidak ada bibi segala, aku Sun Ci Sie kecuali suhu seorang siapapun tidak dikenal.
Pedang hitam yang ada ditangannya mendadak digetarkan, di dalam sekejap saja sinar gemerlap yang menyilaukan mata berkelebat memenuhi seluruh ruangaa dan menekan kedua orang itu dengan dahsyatnya.
Liem Tou serta si perempaan tunggal sama sekali tidak menyangka dia bisa berbuat demikian, mereka bersama sama menjadi amat terkejut sekali.
Si perempuan tunggal yang pernah merasakan kelihayan dari ilmu pedang hitam ini, melihat datangnya seraagan dari pedang pusaka tersebut ujung kakinya dengan cepat menutul permukaan perahu dan meloncat keluar dari ruangan tersebut.
Sebaliknya Liem Tou yang diserang secara tiba tiba dalam hati merasa sangat terkejut sekali.
Sun Ci Sie kau mencari mati?? bentaknya dengan gusar.
Dia tidak menyingkir maupun menghindar, menanti sinar ke hitam-2an itu mengurung badannya, dengan cepat tenaga murni yang ada di dalam tubuhnya disalurkan keluar, dengan menggunakan tenaga tujuh bagian sepasang telapak-nya mendadak dibalik, kemudian dengan diikuti satu hawa pukulan yang tak terhingga dahsyatnya menyambut datangnya serangan tersebut.
Si rajawali sakti dari gunung Ai Lau san ini sewaktu melihat Liem Tou ternyata hendak menggunakan sepasang kepalannya menerima datangnya serangan pedang hitamnya itu, di dalam hati dia segera mengira pastilah akan terbinasa di bawah serangannya, sehingga darah bereceran diatas tanah, tenaga dalamnya segera ditambahi dengan dua bagian bersamaan pula bentaknya keras.
Aku mau lihat siapa yang cari mati ?? Mendadak dia merasakan angin pukulan yang dilancarkan oleh Liem Tou ini merupakan angin pukulan tenaga Im tetapi juga tenaga Yang. di dalam kelunakan ada kekerasan membuat seluruh serangan yang dilancarkan olehnya terasa kena terhalang.
Baru saja dia merasakan keadaan sedikit tidak beres mendadak angin pukulan dari Liem Tou sudeh dilipat gandakan sepuluh bagian, pedang hitam di tangannya tidak sempat ditarik kembali ujung pedangnya segera terkena bentrok dengan hawa angin pukulan yang melanda datang.
Segera terasalah seluruh tubuhnya tergetar amat keras sehingga sukar ditahan, apalagi yang lebih celaka lagi ternyata angin pukulan itu melampaui ujung pedang lantas menekan ke atas dadanya.
Rasa terkejutnya kali ini bukan alang kepa ang, dia tahu untuk menyingkir tidak sempat untuk menghindar ke belakang juga tidak berguna, di dalam hati dia segera mengambil keputusan uatuk beradu jiwa.
Tekanan hawa pukulan ini semakin lama semakin memberat sehingga hampir hampir membuat dia sukar untuk bernapas.
Tetapi dia yang sudah kebiasaan menirukan sifat dari si hweesio tujuh jari yang amat dingin dan sombong membuat keadaannya pada saat ini dari dingin kaku jadi ganas dan amat buas, tidak takut mati.
Terang terangan dia tahu dirinya bakal tidak sanggup uatuk menangkis datangnya serangan tersebut dia malah paksakan diri untuk berbuat demikian.
Didalam sekejap saja dadanya terasa amat mual dan kepalanya amat pening, tetapi dengan menggigit kencang bibirnya sehingga keluar darahnya dia angkat telapak kirinya dengan menyalurkan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya untuk menangkis serangan tersebut.
Sun Ci Sie sebetulnya sudah memperoleh didikan dan perawatan langsung dari si hwoesio tujuh jari di karenakann si hweesio tujuh jari sudah menaruh seluruh harapannya yang terakhir di tangan Sun Ci Sie ini, karena tenaga pukulan yang dilancarkan oleh Sun Ci Sie dengan seluruh tenaga ini seperti juga sedang mengadu jiwa, keadaannya tidak dapat dipandang remeh.
Jikalau digantikan dengan orang lain, di dalam keadaan seperti ini walaupun dia berhasil menerima datangnya serangan tersebut tetapi tidak urung tergetar mundur juga beberapa langkah ke belakang.
Tetapi Liem Tau bukanlah manusia sembarangan, melihat Sun Ci Sie berbuat demikian dia segera tertawa dingin.
Haee. .beee. .kau masih ketinggalan jauh. serunya.
Baru saja dia kerahkan hawa murninya untuk menekan lebih dahsyat lagi mendadak terdengar si perempuan tunggal sudah menjerit keras.
Liem Tou jangan...
Liem Tau secara tiba tiba menjadi sadar kembali dengan tergesa gesa dia pentangkan telapak tangannya ke samping kemudian dengan meminjam kesempatan ini tubuhnya meloncat keluar.
Tetapi sebelum hawa pukulannya ditarik semua, tiba tiba.. "Plaask. . "dua gulung angin pukulannya sudah menghajar kedua samping tubuh perahu tersebut diikuti suara ledakan keras yang menggetarkan seluruh ruangan.
Sun Ci Sie yang tidak berhasil menarik kembali serangannya seketika itu juga membuat hawa pukulannya dengan dahsyat menghajar diatas ujung perahu sehingga terhajar hancur berantakan.
Sun Cie Sie mengira Liem Tou takut menerima serangannya sehingga tidak terasa lagi dia tertawa panjang.
Liem heng kenapa tidak menerima serangan ku itu ejeknya bangga.
Siapa tahu baru saja dia selesai berkata dari kedua sisi perahunya mendadak terdengar suara ledakan laksana ambruknya gunung dan jebolnya bendungan membuat seketika itu juga menggetarkan seluruh ruangan.
Dari dalam sungai mendadak bergolak dan nenyemprot ke atas pancuran air setinggi dua puluh kaki yang disertai ombak yang menggulung dengan dahsyatnya, keadaan pada waatu itu benar benar amat menyeramkan sekali.
Sun Ci Sie yang melihat kejadian itu saking kagetnya seluruh air mukanya sudah berubah pucat pasi bagaikan mayat, dia tahu tenaga dalam yang dimiliki Liem Tou sekarang ternyata benar benar dahsyat sekali sehingga sukar diukur. Dia tidak berani memikirkan bagaimana akibat yang bakal diterima apabila tenaga yang sangat dahsyat itu bersarang di badannya.
Sewaktu dilihatnya pula air sungai bergolak dengan amat dahsyat sehingga membuat sang perahunya montang manting dengan hebatnya, dia jadi kaget, bukankah dengan demikian perahunya telah menemui bahaya.
"Aduh,, perahuku!" teriaknya keras.
Sun Ci Sie kau masih tidak msaggelinding dari tempat ini? terdengar suara Liem Ton memberi peringatan. Aku mamberi waktu satu tahun buatmu untuk mengubah sifat sifatmu yaug jahat itu, perahu ini sejak ini hari adalah milikku.
Sun Ci Sie mana mau mengalah dengan begitu saja, dia jadi amat gusar sekali.
Tetapi hanya di dalam waktu sekejap saja kembali ada dua gulung ombak yaug amat dahsyat menerjang badannya, dia orang yaug tidak mengerti ilmu didalam air dengan cepat tubuhnya meloncat naik ke atas lantas berkelebat menuju ke tengah sungai sejauh tiga kaki setelah itu dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya yang paling lihay dia berjalan mengelilingi perahu tersebut, dia tidak berani mendekati tetapi tidak tega pula untuk ditinggal pergi terpaksa dengan mendongkol berputar terus disekeliling tempat tersebut.
si perempuan tunggal yang melihat sikap serta tindak tanduk dari keponakannya itu dalam hati merasa amat cemas dan sedih sekali, baru saja di dalam pikirannya memikirkan akan sesuatu itu mendadak terdengar Liem Tou sudah tertawa kembali.
Sun Ci Sie. kau masih tidak mau menggelinding pergi dari sini? bentaknya.
Sepasang telapak tangannya bersama sama melancarkan serangan kembali ke arah depan terasalah serentetan desiran angin yang amat tajam menghajar keatas permukaan air membuat sekeling tempat tersebut segera timbul gelombang yang amat besar menggulung keras ke atas tubuh Sun Ci Sie.
Sun Ci Sie sudah tentu tidak berani menerima datangnya gulungan ombak itu dia tidak bisa berbuat apa apa lagi terpaksa tubuhnya sekali Lagi meloncat menuju ke arah tepi sungai.
Di tengah suara tertawa terbahak babak dari Liem Tou itulah tampak dua gulung ombak yang keras menggulung kembali di tengah sungai membuat perahu tersebut jadi tenang kembali.
Heyy....Sun Ci Sie terdengar Liem Tou berteriak lagi sambil tertawa terbahak bahak. Lebih baik kau cepatlah pergi dari sini, tetapi kau harus ingat apa yang sudah aku ucapkan pasti akan kulaksanakan benar benar setahun kemudian aku pasti akan pergi mencari dirimu . Jikalau mulai saat ini kau sudah tidak berbuat jahat lagi maka sampai maka sampai waktunya aku akan melenyapkan permusuhan dan bersahabat dengan dirimu, tetapi bilamana kau masih terus berbuat kejahatan .. Hemm, hemm...kau boleh merasakan pukulan dahsyatku yang akan menghancurkan badanmu.
unn Ci Sie mana pernah menerima hinaan seperti ini? Cuma saja dia tahu dirinya tidak bakal bisa menangkan lari Liem Tou karenanya dia cuman berdiri termangu mangu ditepi sungai tanpa bergerak sedikitpun juga.
Lama sekali barulah dia secara tiba tiba jatuhkan diri berlutut menghadap ke arah barat daya kemudian lantas sambil mengangguk anggukan kepalanya dia berkata.
Ooooh . ., Suhu, tecu tidak bisa memenuhi harapac kau orang tua lagi, lebih baik kau orang tua menghilangkan maksud hatimu untuk menyingkirkan diri Thiat Bok Tbaysu serta Su Kok Mo Piau. Semua urusan kita bicarakan di kemudian hari saja.
Selesai berkata dia bangkit berdiri dan mengangkat pedangnya dengan menggunakan tangan kanan lalu perlahan lahan dia ulurkan tangan kirinya kedepan.
Ci Sie, kau mau berbuat apa? terdengar si perempuan tunggal segera berteriak keras Sun Ci Sie cuma tertawa dingin dengan amat seram nya dan suara tertawanya itu tajam sehingga mendirikan bulu roma.
Tampaklah diantara barkelebatnya sinar pedang yang berwarna hitam, jari kelingking dari tangan kirinya sudah tertabas putus.
Kau mau berbuat apa? sahutnya dengan ketus Heee . . . heee , . .
Hitung hitung saja aku sudah kecudang di tangan bangsat cilik she Liem itu tetapi mulai sekarang juga aku mau berganti nama dan berlatih giat, tiga tahun kemudian jika aku tidak berhasil membinasakan kau Liem Tou bangsat cilik, aku segera akan bunuh diri seperti keadaan jariku ini.
Sahabis berkata dia memperdengarkan kembali suara tertawa dinginnya yang amat menyeramkan kemudian baru putar tubuh dan berlalu dari sana dengan diringi suara suitan panjang yang menyayatkan hati.
Untuk beberapa saat lamanya Liem Tou cuma bisa saling berpandangan dengan si perempuan tunggal tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun, mereka sama sekali tak menyangka Sun Ci Sie sebetulnya seorang manusia yang begitu dingin, kaku dan amat jumawa sekali.
Lama sekali baru terdengarlah si perempuan tunggal menghela napas panjang.
Sutit, ujarnya. Kau sudah mendatangkan bencana yang tidak terkira buat hari mendatang.
Haaa . . . dia bilang tiga tahun sebaliknya aku sudah pergi mencari dia setahun kemudian sahut Liem Tou sambil tertawa ringan.
Aku rasa dia yang sudah mengangkat sumpah sebelum ilmu silatnya berhasil menyamai dirimu dia orang tak mungkin akan memperlihatkan dirinya sehingga berhasil kau temui.
Liem Tou mengangguk, dia tertawa lagi. Dia tidak ingin membicarakan persoalan ini kembali, sinar matanya dengan perlahan beralih ke dalam ruangan perahu itu dan ujarnya dengan perlahan.
Susiok, perahu ini aku serahkan kepadamu untuk mengurusnya, dia adalah keponakan dari susiok sudah seharusnya perahu ini aku serahkan kepadamu.
si perempuan tunggal mana mau menerima barang barang tersebut? kini tujuannya yang di cita citakan sejak turun gunung sudah terlaksana tetapi hal itu pun cukup mendukakan hatinya, mulai hari ini dia cuma ingin mengembara saja karenanya dengan perlahan dia gelengkan kepalanya.
Aku tidak mau barang barang ini, biarlah kau saja yang mengambil keputusan.
Sekali lagi Liem Tou paksa si perempuan tunggal itu untuk menerimanya kembali dia menggelengkan kepalanya.
Liem Tou melihat di dalam hatinya sudah mengambil ketetapan diapun tidak dapat memaksa lebih lanjut lagi segera pikirnya.
Baiknya aku pergi kegunung Wu san saja, untuk sementara waktu aku titipkan harta kekayaan tersebut jadi satu dengan harta kekayaan miliknya Hek Loo toa, di kemudian hari jika aku rasa berguna saat itulah baru mengambil
keluar kembali.
Berpikir sampai disitu dia tidak menolak kembali. Mendadak dalam benaknya teringat akan sebuah peti besi yang dipasang kunci, sehingga ujarnya kemudian.
Di dalam ruangan perahu ini semuanya ada enam buah peti hitam yang di antaranya sebuah peti terkunci, bagaimana kalau kita menggunakan waktu yang luang ini untuk membukanya dan lihat lihat apakah sebenarnya isi peti itu? Ehmn. .sahut si perempuam tunggal. Mereka berdua segera berjalan memasuki ke dalam ruangan. Liem Tou lalu mengaagkati peti peti yang tak terkunci itu ke samping dan akhirnya mengangkat peti yang terakhir ke tengah ruangan kemudian dengan menggunakan kekuatan jarinya merusak gembok tersebut.
Liem Tou dengan perlahan membuka tutup peti itu, terasalah serentetan sinar yang menyilaukan mata memancar keluar dan dalam peti tersebut, terlihatlah satu peti penuh dengan intan permata yang sangat berharga sudah terbentang dihadapan mereka.
Pada saat ini Liem Tou sama sekali tidak tertarik dengan intan intan permata itu sedang si perempuan tunggal pun tidak menyukai barang barang barharga tersebut, melihat benda itu tak terasa lagi didalam hatinya merasa kecewa sekali.
Dalam anggapan mereka berdua, peti peti lain yang berisikan intan permata sama sekali tidak dikunci sudah tentu peti terakhir yang terkunci sudah disimpan suatu barang pusaka yang sangat berharga sekali, siapa sangka isinya pun melulu benda benda berharga itu saja.
Pada waktu ini Liem Tou hendak menutup penutup peti itu. tiba tiba terdengar si perempuan tunggal berseru.
Sute tunggu dula, coba diantara intan intan itu kita mencari beberapa butir mutiara yang dapat menerangi di tempat kegelapan aku rasa barang itu ada kegunaannya dikemudian hari.
Liem Tou yang dapat melihat di tempat kegelapan seperti siang hari saja sudah tentu tidak membutuhkan barang tersebut dia segera menyingkir kesamping.
Susiok kau carilah sendiri, ujarnya sambil tertawa. Kau suka apa ambillah sesuka hatimu.
Aku cuma menginginkan sebutir mutiara saja, yang lain aku tidak mau. Sahut perempuan tunggal tertawa juga.
Selesai berkata dia segera berjongkok dan mulai mencari di antara tumpukan intan permata itu tak lama kemudian mendadak tangannya sudah terbentur dengan sebuah benda kerss, dengan cepat serunya kepada Liem Tou.
Sutit, kemungkinan sekali diantara tumpukan intan permata ini masih terdapat sebuah peti kecil lagi?
Coba kau ambillah keluar, teriak Liem Too dengan cepat.
Si perempuan tunggal segera merogoh tangannya ke dalam peti dan mengambil keluar sebuah peti besi berwarna hitam yang kecil dan piph, di dalam sekali pandang saja Liem Tou bisa melibat beberapa tulisan yang terukir di atas peti tersebut.
Hati manusia amat kejam itulah yang dicari manusia.
Pada ujung kiri dari peti hitam itu kembali terukir beberapa hurf dari emas. "Cian Tok Cin Keng"
Liem Tou sarta si perempuan tunggal yang melihat adanya kitab pusaka seribu racun pada melengak semua dibuatnya, mereka sama sekali tidak mengerti apa yang tertulis di dalam kitab tersebut juga tidak mengetahui dari mana sumber ilmu tersebut, cuma saja di dalam hati mereka berdua merasa sedikit berdesir, mereka tahu jika ditinjau dari tulisan yang terukir di atas kitab tersebut tentulah kitab itu merupa kan satu kitab yang sangat beracun sekali.
Baru ssja mereka dibuat termangu mangu oleh kejadian itu mendadak pada ujung perahu tersebut terdengarlah suara bentrokan yang amat keras sekali membuat seluruh tubuh perahu itu tergetar dengan amat kerasnya, bersamaan pula terdengar suara dari sirajawali dari gunung Ai Lau San, Sun Ci Sie sudah balik kembali.
Liem Tou teriaknya dengan suara yang amat keras. Ayoh cepat menggelinding keluar, kita bertanding siapa yang lebih lihay diantara kita.
Liem Tou sama sekali tidak mengira kalau dia bisa kembali lagi, tanpa ragu ragu lagi tubuhnya segera meloncat keluar dari ruangan perahu tersebut.
Tampaklah suasana disekeliling tempat itu amat sunyi sekali, sinar rembulan memancarkan sinar dan kerlipan bintang bintang yang tersebar memenuhi angkasa di tempat itu sama sekali tidak tampak sesosok bayangan manusiapun.
Mendadak satu bayangan berkelebat di dalam benaknya, hatinya terasa berdebar amat keras sekali, belum sempat dia mengambil satu tindakan mendadak terdengarlah suara mengaduh dari si perempuan tunggal yang ada di dalam ruangan perahu dengan amat kerasnya.
Liem Tou cuma merasakan hatinya seperti ditusuk tusuk dengan beribu ribu batang anak panah, dia segera berteriak keras.
Sun Ci Sie, kau sungguh kejam sekali.
Ternyata sedikitpun tidak salah, dia melihat tubuh si perempuan tunggal sudah roboh di atas ruangan perahu dengan amat kerasnya disusul dengan berkelebatnya sesosok bayangan manusia yang menerjang keluar dari jendela dengan amat cepatnya.
Liem Tou menggigit kencang bibirnya, tenaga saktinya disalurkan keluar kemudiaa dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya dia melakukan peagejaran dengan amat cepatnya dari belakang.
Sun Ci Sie tinggalkan nyawamu, teriaknya dengan keras.
Dari tempat jauh dia segere melancarkan satu pukulan dahsyat kearahnya, siapa tahu justru.
karena pukulannya inilah membuat Sun Ci Si mendapatkan kesempatan yang baik untuk meloloskan dirinya pada saat angin pukulannya mendekati tubuhnya itulah Sun Ci Sie dengan meminjam tenaga pukulan tersebut melayang lebih cepat lagi ke atas tepian kemudian dengan sedikit terhuyung huyung dia melarikan diri masuk ke dalam hutan.
Dalam hati Liem Tou benar benar merasa sangat gusar sekali, mana dia orang mau melepas kan dirinya dengan begitu saja, langkah kakinya semakin dipercepat. Sreeet Sreeet berturut turut dia menutul beberapa kali di atas permukaan air kemudian mengejar dengan cepatnya dari belakang tubuh Sun Ci Sie.
Hey Liem Tou bangsat cilik, tiba tiba bentak Sun Ci Sie sambil menoleh kebelakang dan mengayunkan tangannya. Kau cepatlah pergi menolong susiokmu.
Liem Tou dengan cepat mangebutkan ujung jubahnya menjatuhkan senjata rahasia yang mengancam tubuhnya, sebetulnya dia masih ingin pergi mengejar lebib lanjut tetapi setelah mendapatkan peringatan dari Sun Ci Sie ini, dia baru teringat kembali kalau si perempuan tunggal tadi memang menjerit kesakitan dan rubuh ke atas permukaan ruangan perahu, dia tidak tahu si perempuan tunggal sudah kena dibokong sebagaimana yang dikatakan oleh Sun Ci Sie.
Sedikit dia berpikir itulah kakinya menjadi tambah perlahan. Sun Ci Sie bukanlah manusia bodoh, dengan mengambil kesempatan itulah dia lebih mempercepat larinya sehingga hanya di dalam sekejap saja dia sudah meninggalkan diri Liem Tou lebih jauh lagi.
Liem Tou yang dikarenakan perhatiannya sedikit bercabang sudah ketinggalan jauh oleh diri Sun Ci Sie dengan cepat dia meloncat maju lebih cepat lagi, tetapi pada saat itu bayangan dari Sun Ci Sie sudah lenyap dibalik kegelapan, terpaksa dia putar badaauya kembali ke perahu.
Begitu masuk ke dalam ruangan perahu, dia dapat melihat air muka perempuan tunggal itu pucat pasi bagaikan mayat, agaknya dia sedang merasakan suatu penderitaan yang amat berat sehingga giginya saling beradu dengan amat kerasnya.
Liem Tou jadi amat cemas sakali, dengan cepat dia membungkukkan badannya dan bertanya.
Susiok, susiok bagaimana deagaa lukamu? kau sudah terbokong oleh siapa?
Lama sekali si perempuan tunggal tidak bisa berbicara, akhirnya dengan paksakan diri dia menjawab juga.
"Senjata rahasia"
Dengan cepat Liem Tou membantu dirinya memeriksa seluruh tubuhnya yang berbahaya, akhirnya dia bisa melihat pada kaki kiri serta lengan kirinya masing masing terhajar dua batang jarum kecil, jarum itu menancap dalam dalam di dalam dagingnya sehingga cuma ketinggalan sedikit ujungnya yang kelihatan di luar.
Dengan sangat berhati hati sekali dan amat telitinya Liem Tou membantu dirinya untuk mencabut keluar senjata rahasia itu, setelah dilihatnya di atas ujung jarum itu sama sekali tidak beracun dia baru bisa menghembuskan napas lega.
Untung tidak beracun, sehingga tidak begitu merepotkan, ujarnya perlahan.
Tetapi sebentar saja dia melihat di atas kelopak mata dari si perempuan tunggal itu tampak tergenang oleh air mata yang dengan sekuatnya sedang ditahan sehingga jangan sampai mengalir keluar dia menjadi bingung.
Susiok untuk sementara kau berlega hati. hiburnya dengan halus. Asalkan jarum ini tidak beracun aku rasa sebentar saja sudah akan sembuh kembali. Keponakanmu itu benar benar sudah sangat keterlaluan, sepantasnya dia orang mau tak mau harus dibasmi juga dari muka bumi.
Beberapa psrkataan dari Liem Tou ini jika tidak dibicarakan masih tidak mengapa, begitu dia berkata demikian si perempuan tunggal itu semikia merasa sedih lagi air mata yang samula cuma menggenang di kelopak matanya kini
sudah mulai bercucuran, dia segera gelengkan kepalanya dengan perlahan.
"Aaa . . aaaku . . di badanku . . masih . ."
Mendengar perkataan tersebut Liem Tou jadi sadar kembali dari lamunannya, mendadak dia mengerutkan alisnya rapat rapat dan bertanya
"Dimana lagi senjata rahasia itu menghajar tubuhmu?"
Waktu itulah dia baru merasakan urusan agak sedikit memberatkan jikalau dia harus menghadapi sesama laki laki hal ini bukanlah suatu urusan yang besar, justru si perempuan tunggal adalah seorang gadis yang masih suci.. , hal ini benar benar membuat dia orang agak kebingungan.
Aku sendiri juga tidak tahu dimana senjata rahasia tersebut berada. Terdengar si perempuan tunggal itu menyahut sambil gelengkan kepalanya berulang kali.
Aku cuma merasa di seluruh tubuhku sudah terkena hajar oleh senjata rahasia tersebut.
Sekali lagi Liem Tou merasa terkejut, diam diam pikirnya.
Kini cuma ada satu cara saja yaitu suruh ia cabut sendiri jarum jarum itu tapi . . . kalau tidak dapat bergerak, lalu bagaimana baiknya.
Berpikir akan bal ini dia lantas bertanya.
Susiok, kau bisa mencabut sendiri jarum jarum emas itu aku . . aku . .
Lama sekali dia mengucapkan kata kata 'aku" tanpa dapat melanjutkan kembali kata kata sambungannya sedangkan wajahnyapun sudah berubah menjadi merah padam bagaikan kepiting direbus.
Si perempuan tunggal Touw Hong yang melihat Liem Tou pun dibuat kikuk sekali dia lalu berpikir sebentar.
Begini saja, ujarnya kemudian. Kau keluarlah dulu. biar aku coba coba sendiri.
Bagaikan baru saja bebas dari tugas yang berat, Liem Tou segera berjalan keluar dari ruangan dan berdiri di ujuug perahu tidak bergerak, kepalanya didongakkan ke atas memandang bintang bintang yang tersebar memenuhi angkasa, teringat akan asal usul si perempuan tunggal Touw Hong tak terasa lagi di dalam hati dia menaruh rasa simpatiknya, ketika teringat pula keadaan sendiri pun persis, tetapi apa yang dialami oleh perempuan tersebut mendadak dia menghela napas panjang.
Dia teringat juga diri Lie Siauw Ie sejak dia mengetahui ibu dari gadis itu sudah meninggal hatinya sedikit tidak tenang setiap kali mereka bergaul bersama sama beberapa kali dia hendak memberitahukan berita ini dia agak ragu ragu dia takut Lie Siauw Ie jadi amat sedih sekali.... setelah dia melanjutkan lamunannya memikirkan diri Thian Pian Siauw cu, si hweesio tujuh jari, Sun Ci Sie dan lain latanya pada saat teringat kalau perjanjian pada bulan lima tanggai lima sudah tidak jauh di dalam hati dia segera mengambil keputusan untuk segera berangkat menuju ke Cin Jan.
Dia berpikir . . . berpikir terus mendadak teringat kembali akan kerbaunya yang sudah lama sekali dititipkan kepada orang lain, kenapa se karang juga dia tidak mau pergi ke sana membawanya kembali? walaupun tempat itu amat jauh tetapi, dengan kecepatan dari gerakan tubuhnya sekarang tidak lebih dari dua jam kemudian subah bisa kembali ke sini.
Setelah mengambil keputusan itu dia lanjut berteriak.
.Susiok, kau menemui kesukaran?.
Dari dalam ruangan sunyi senyap tak terdengar suara sahutan, sekali lagi Liem Tou mengulangi pertanyaannya akhirnya terdengar juga suara jawaban dari si perempuan tunggal Touw Hong yang lemah dan halus itu.
Sudah kucabut keluar tiga batang, maa.... masih . masih ada. .. masih ada lagi. Liem Tou yang mendengar sudah dicabut keluar tiga batang diam diam dia merasa sedih juga buat diri perempuan tunggal ini, kini mendengar pula kalau masih ada lagi yang belum tercabut saking kagetnya keringat dingin sudah mengucur keluar membasahi keningnya.
Susiok kau bersabarlah sedikit serunya dengan gugup. Cabutlah dengan perlahan aku rasa sesudah jarum emas itu dicabut keluar, luka itu dengan cepatnya akan sembuh dengan sendirinya.
Sambil berkata dia melepaskan tali obat pemberian dari Hek Loo toa itu dan berjalan masuk ke dalam ruangan perahu.
Susiok terimalah ini, serunya dengan membelakangi dirinya. Tali ini adalah suatu obat yang mujarab sekali, bilamana susiok merasa pertahanan badannya semakin berkurang cepatlah makan satu utas, bilamana daya obatnya sudah berjalan maka semangat dan tenaga yang di dalam badan segera akan pulih kembali seperti sedia kala. Sutit ada urusan yang bakal di bereskan dulu di tepian sana, tetapi sebentar kemudian akan kembali lagi . . selamat tinggal, harap susiok jaga diri baik baik.
Baru saja dia siap siap hendak meloncat ke tepian mendadak dia teringat kembali akan sesuatu.
Kalau aku pergi dan Sun Ci Sie tiba tiba balik ke sini bukankah susiok bakal celaka?
Dia segera gelengkan kepalanya berulang kali dan menghentikan gerakan badannya.
Aku tidak boleh pergi, aku tidak boleh pergi, pikirnya lagi. Tidak perduli bagaimanapun aku harus menunggu setelah dia selesai mencabut keluar seluruh jarum yang menghajar badannya.
Berpikir sampai disini dia segera memaki ketololannya sendiri, untuk membetulkan kesalahan tadi dia lalu berteriak kembali.
Susiok, aku tidak jadi pergi. . kau berlegalah bati untuk mencabut keluar jarum jarum tersebut dengan perlahan lahan.
Terpaksa dia balik lagi di ujung perahu dan duduk disana menanti.
Kentongan keempat dengan cepatnya berlalu tetapi dari dalam ruangan perahu sama sekali tidak terdengar sedikit suarapun, akhirnya Liem Tou tidak bisa menahan sabar lagi dengan cepat dia meloncat bangun.
Susiok. kau kenapa? tanyanya dengan suara yang keras.
Dia menanti lagi beberapa saat lamanya tetapi tidak mendapatkan jawaban juga, terpaksa untuk ketiga kalinya dia berteriak kembali tetapi suasana tetap sunyi senyap.
Liem Tou merasakan hatinya berdebar dengan amat keras , satu ingatan tidak beres berkelebat dalam benaknya.
Susiok, kau sedang apa?? kau kenapa?? teriaknya dengan keras.
Dari dalam ruangan perahu itu keadaan tetap tenang tenang saja tidak terdengar suara sahutan. Liem Tou jadi semakin cemas lagi tubuhnya dengan cepat berkelebat menuju kedepan pintu ruangan perahu tersebut.
Baru saja hendak menerjang masuk untuk melihat apa yang sudah terjadi kembali satu ingatan berkelabat di dalam benaknya, bagaikan kepalanya digodam martil berat dia merasakan hatinya tergetar amat keras, akhirnya dia mem batalkan juga maksudnya itu.
Tetapi urusan sudah terjadi di hadapan matanya, untuk tidak masuk melihat keadaan yang sesungguhnya tak mungkin bisa terjadi, di dalam keadaan yang mendesak mendadak dia mendapat satu akal.
Anaaa . , . sudah ada, teriaknya.
Saat itu dia sudah meedapatkan satu cara yang amat tolol sekali, dia dengan cepat pejamkan matanya lalu dengan jalan meraba raba dia berjalan masuk ke dalam ruangan perahu itu.
Terhadap keadaan di dalam ruangan perahu itu sudah tentu dia sangat hafal sekali, tanpa membuang banyak waktu dia sudah berhasil mendapatkan tubuh si perempuan tunggal Touw Hong itu.
Tetapi sewaktu tangannya terbentur dengan sebuah kulit badan yang sangat halus dan hangat ditambah pula tersiar bau harum yang sangat aneh sekali menusuk hidungnya membuat dia jadi sangat terperanjat.
Susiok, suuok . . - teriaknya keras.
Suasana tetap tenang tak terdengar sahutan apapun, walaupun sepasang matanya dipejamkan letapi dia bisa tahu tentunya saat ini perempuan tunggal sudah jatuh tidak sadarkan diri di karenakan tidak dapat menahan rasa sakit yang kelewat batas itu.
Di dalam keadaan yang seperti ini menolong orang adalah lebih penting dari segala galanya, dia tidak memikirkan batas susila antara lelaki dau perempuan lagi, dengan cepat dia duduk di atas tanah dan dengan perlahan dan sangat hati hati sekali dia ulurkan tangannya ke depan, karena takut sudah meraba anggota badannya yang terlarang beberapa kali sudah hampir menempel di badan perempuan itu dia menarik tangannya kembali.
Diam diam di dalam hatinya merasa tersiksa.
Susiok, dimanakah kepalamu?? ujarnya kemudian. Bagaimana aku bisa menemukan kepalamu dengan cara meraba begini? jika yang saya raba bukan kepalamu urasan bukankah jadi berabe?
Mendadak dia mendapatkan satu akal dia tahu saat ini si perempuan tunggal Touw Hong berada dalam keadaan telanjang bulat berbaring di dalana ruangan perahu itu, maka dengan sendirinya pakaian yang dilepas tentu targeletak disisinya, asalkan dia berbasil menutupi badannya dengan pakaian tersebut bukankah sesudah itu dia bisa membantu dirinya untuk mengerabkan tenaga dalam dengan mata terbuka.
Berpikir sampai disini dia tidak ragu ragu lagi, dengan cepat dia maraba di atas tanah.
Akhirnya didapatkan juga pakaian itu disamping badannya kemudian dengan cepat ditutupkan ke atas badannya.
Tetapi pada saat ini dia tetap tak berani membuka kedua matanya secara berbareng, dengan perlahan lahan dia membuka dulu sebelah matanya, karena dia takut setelah matanya terbuka akan menemukan pandangan yang menggairahkan dan mendebarkan hatinya, keadaan seperti itu bukankah luar biasa bekali . . .
Untung saja tempat yang ditutupi tadi tepat dari lutut sampai dilehernya saat itu Liem Tou baru bisa menghembuskan napas lega.
Sungguh berbahaya, teriaknya di dalam hati.
Setelah itu dia baru duduk bersila disisinya dan menempelkan telapak tangannya di atas punggungnya, matanya dipejamkan dan mulai menyalurkan hawa murninya ke dalam badan Touw hong
Terhadap susiok yang masih sangat muda ini dia menaruh rasa simpatik bercampur rasa hormatnya yang secara tidak sadar sudah timbul rasa ingin melindungi dirinya, dia gemas tidak bisa menyalurkan selurub tenaga murni yang ada pada dirinya untuk menolongnya supaya cepat cepat sadar kembali, tetapi pikiran ini tidak mungkin bisa terlaksana, sekalipun tenaga dalam yang dimilikinya sangat tinggi tetapi bilamana dia berbuat demikian hal ini cuuia mendatangkan bencana saja daripada kebaikan . ...
Seperti apa yang telah diduga olah Liem Tou semula, si perempuan tunggal Touw Hong yang berhasil mencabut keluar jarum yang terakir dikarenakan tenaganya sudah habis dan amat lelah sekali ditambah pula rasa sakit yang terasa menusuk tulang akhirnya dia tidak kuat menahan diri dan jatuh tidak sadarkan diri.
Saat ini setelah dibantu oleh tenaga yang disalurkan Liem Tou melalui jalan darah Giok Liang Hiat pada punggungnya menerjang ke atas urat nadi melalui jembatan pemisah, Keng Pek Hee terus naik ke atas ubun ubun menerjang jalan darah penting Nie Tan Coe di dalam sekejap saja hawa murni itu sudah mengelilingi seluruh badannya satu kali dan bergabung dengan bawa murni yang ada di badannya sendiri.
Dengan tanpa disadari pula seluruh rasa sakit yang ada di badannya sudah tersapu lenyap tak berbekas, badannya jadi terasa amat nyaman dan segar.
Dengan perlahan lahan dia membuka kembali sepasang matanya untuk sesaat lamanya dia sudah lupa kalau celana serta pakaiannya sudah dia lepas sehingga kini berada didalam keadaan telanjang, ketika dilihatnya Liem Toudu duduk bersila disamping dan membantu dia megerahkan tenaga dalamnya dengan cepat dia tersenyum manis.
Sutit, terima kasih, serunya dengan rasa amat terharu.
Waktu itu Liem Tou sedang menarik hawa murninya karena itu dia tidak dapat menjawab, setelah hawa murninya ditarik kembali dia ba ru bangkit berdiri kemudian tanpa menoleh lagi sudah berjalan keluar.
Sutit tidak dapat baik baik menjaga diri susiok harap susiok suka memaafkan, serunya setelah berada di depan pintu ruangan perahu tersebut.
Mendadak terdengar suara jeritan, kaget dari si perempuan tunggal Touw Hong yang berkumandang keluar dari dalam ruangan setelah itu suasana jadi sunyi senyap tak terdengar sedikit suarapun.
Liem Tou menduga tentu dia sedang msrasa terkejut karena menemukan dirinya di dalam keadaan telanjang bulat sehingga tanpa terasa sudah menjerit kaget.
Berpikir akan hal itu dari luar ruangan dia lantas berteriak kembali dengan suara yang sungguh sungguh.
Susiok. kau merasa sutit adalah manusia macam apa??
Dari dalam ruangan perahu tidak terdengar suara jawaban.
Liem Tou segera menyambung kembali perkataannya.
Maksud dari sutit berkata demikian cuma mengharapkan susiok jangan mengira aku Liem Tou adalah seorang manusia yang tidak tahu diri.
Sehabis berkata dia angkat kepalanya memandang keadaan cuaca yang mulai menjadi terang tetapi pada saat yang bersamaan pula dari dalam ruangan perahu itu berkumandang keluar suatu isak tangis yang amat sedih dari si perempuan tunggal Touw Hong.
Liem Tou menduga saat itu si perempuan tunggal Touw Hong tentunya sudah berpakaian karenanya dengan perlahan dia menoleh memandang kearah dalam ruang&n, secara samar samar dia bisa melihat si perempuan tunggal Touw Hong duduk bersandar pada dinding perahu, sepasang tangannya menutupi wajahnya dan dia menangis dengan sedihnya.
Liem Tou segera berjalan masuk menghampiri dirinya.
Susiok kenapa kau menangis?? tanyanya dengan suara yang rendah.
Cepat keluar dari sini, tidak ada urusanmu ditempat ini tiba tiba si perempuan tunggal angkat kepalanya dan membentak dengan suara yang amat Keras.
Walaupun sejak kecil Lem Tou bergaul dengan Lie Siauw Ie terhadap hati seorang gadis yang sudah menanjak dewasa mana dia bisa mengetahuinya dia menganggap si perempuan sedang merasa marah terhadap dirinya, karena itu dengan amat rikuh dia mengundurkan diri dari sana.
Baru taja dia tiba di samping pintu ruangan mendadak terdengar suara dari si pererapuan tunggal berkumandang lagi.
Aku tidak sedang marah kepadamu, kau jangan merasa tersinggung.
Liem Tou segera menoloh ke arahnya, terlihatlah si perempuan tunggal dengan menggunakan sepasang biji matanya yang jeli dan menggiurkan sedang memandang dirinya dengan rasa penuh cinta dan mesranya, sikap ini jelas se kali memperlihatkan kalau dia sudah menaruh rasa cinta muda mudi terbadap dirinya, hal ini membuat Liem Tou jadi agak terperanjat.
Aduh. .dosa, teriaknya di dalam hati.
Cepat cepat ujarnya sambil melengos.
Susiok, jarum yang menancap di badanmu sudah dicabut keluar semua, kenapa kau tidak keluar dari ruangan itu untuk melihat munculnya sang surya? Aku pikir sesudah sang surya muncul segera akan melanjutkan perjalanan untuk menyimpan beberapa peti emas intan ini ke dalam gunung Wu san sehingga bisa digunakan di kemudian hari.
Dengan termenung si perempuan tunggal berpikir sebentar akhirnya dengan menundukkan kepalanya rendah dia berjalan keluar dan berdiri di sisi Liem Tou sampai waktu itu dia tidak berani mengangkat kepalanya barang sekejappun.
Liem Tou yang melihat cuaca sudah mulai terang tanah dia segera merasa sang kerbau harus cepat cepat diambil kembali, karenanya dia lantas berkata.
Susiok kau tunggulah sebentar disini aku pergi sebentar dan akan balik lagi kesini.
Waktu ini cuaca masih amat pagi sekali, Liem Tou tanpa menanti jawaban dari si perempuan tunggal lagi dengan cepat meloncat ke atas tepian sungai kemudian dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang amat lihay dia berkelebat menuju ke rumah petani dimana dia menitipkan kerbaunya itu.
Tepat sebelum fajar menyingsing Liem Tou sudah tiba di sana dan saat itu seluruh keluarga dari petani itu sudah pada bangun.
Sang petani tua itupun sedang memberi makan kerbau tersebut, Liem Tou dengan wajah tersenyum lalu berjalan mendekati dirinya.
"Loo pek, selamat pagi".
Petani tua itu dengan cepat menoleh ke belakang, sewaktu dilihatnya Liem Tou sudah mendekatinya dia jadi amat girang
Ooo . . yaya malaikat, kau sudah datang, ada orang bilang kau tidak bakal datang lagi kemari tetapi aku sama sekali tidak mau percaya coba kau Lihat yaya malaikat, kerbau itu memang lain dari pada yang lain, aku sudah mencoba dengan membawa kerbau yang lain datang kemari tetapi setiap kerbau yang sudah bertemu dengan dirinya lalu tanpa berani angkat kepalanya sudah pada lari terbirit birit.
Mendengar dirinya disebut sebagai "yaya- malaikat" Liem Tou lantas tertawa.
"Loo pek kau jangan memandang aku sebagai yaya malaikat" serunya. Aku tidak lebih adalah seorang manusia biasa yang berlatih ilmu silat dan jika dibandingkan dengan orang lain badanku memang agak jauh lebih enteng saja, aku She Liem bernama Tou dan tinggal diatas gunung Ha Mo San di daerah Cing Jan, lain kali bila Loo pak membutuhkan bantuanku boleh saja berangkat kesana mencari aku karena ini hari aku masih ada urusan yang harus diselesaikan maka tidak bisa lama ada di sini, sekarang aku mau bawa kerbau ini meninggalkan tempat ini"
Sambil berkata dari dalam sakunya Liem Tou mengambil keluar dua butir mutiara yang kemudian diserahkan kepada petani tua itu, tapi sang petani tidak mau menerimanya.
Akhirnya setelah Liem Tou mendesak dia terus menerus dan mengatakan kalau benda tersebut sebagai hadiah yang diberikan kepadanya dengan tulus ikhlas akhirnya petani tua tersebut pun mau menerimanya juga.
Pada saat itulah mendadak terlihatlah seorang bocah cilik berusia enam, tujuh tahun berlari lari keluar dari dalam rumah, begitu keluar dari pintu dengan cepat dia berlari mendekati petani tua itu.
Sepasang matanya yang bulat dan berwarna hitam itu dengan jelinya memandang diri Liem Tou lalu kirim satu senyuman lucu kepadanya.
Liem Tou yang melihat tubuh bocah cilik itu diam diam didalam hatinya merasa sedikit berdebar.
Sungguh tidak kusangka di rumah seorang pe tani tua ini ternyata terdapat seorang bocah yang mempunyai tulang serta bakat alam yang demikian bagusnya, demikianlah pikirnya di dalam hati.
Dengan cepat dari dalam sakunya dia mengambil keluar lagi sebuah intan berwarna merah darah dan diberikan kepada bocah cilik itu.
Mari kesini, serunya. Ini aku kasih mainan buatmu, kau suka bukan?
Petani tua itu segera mewakili sang bocah itu untuk mengucapkan terima kasihnya, setelah itu Liem Tou baru menuntun kerbaunya meninggalkan rumah petani itu, tidak jauh dia berjalan ketika teringat akan diri perempuan tunggal yang ada di perahu seorang diri dengan cepat dia meloncat naik ke punggung kerbaunya.
Hoa, bentaknya dengan keras.
Sang kerbau segera menggerakkan kakinya mulai berlari ke depan, mungkin dikarenakan sudah ada berapa lama tidak bertemu dengan majikannya begitu melihat dia orang naik ke atas punggungnya dengan amat riangnya dia berlari dengan cepatnya ke depan membuat pasir serta debu pada beterbangan memenuhi angkasa.
Hanya di dalam sepertanak nasi kemudian Liem Tou serta kerbau itu sudah tiba di samping bukit di selat Sie Leng Shia tersebut.
Liem Tou segera meloncat turun dari atas tunggangannya dan menepuk nepuk leher sang kerbau.
Kau turunlah sendiri, serunya.
Tubuhnya dengan cepat meloncat naik ke atas perahu, teriaknya keras begitu kakinya mencapai permukaan perahu.
Susiok aku sudah kembali.
Tetapi tidak terdengar suara sahutan dari dalam perahu ini ruangan perahu kosong melo pong tidak tampak sesosok bayangan manusia-pun.
baru saja dia merasa keheranan mendadak terdengarlah suara dari si perempuan tunggal berkumandang datang.
"Sutit aku ada disini . . . kau pergi ke mata?" kenapa begitu lama baru pulang?? Huuu .... seorang diri disini aku benar benar merasa kesepian.
Sambil berkata tubuhnya meloncat naik ke atas peruhu dan tampak pada tangannya membawa buah buahan yang amat banyak sekali.
Waktu itu sang kerbaupun dengan perlahan lahan berenang mendatangi, melihat hal itu si perempuan tunggal segera berkata kembali.
"Sutit, kerbau itu apa masih ada?"
Baru saja dia selesai berkata tampaklah kerbau itu sudah meloncat naik ke atas perahu membuat perahu itu segera bergetar sehingga miring ke arah samping.
Mendadak terdengarlah suara dengusan yang sangat rendah dan berat kerbau itu secara tiba tiba saja dengan ganasnya menerjang ke arah si perempuan tunggal.
"Hey kenapa?' si perempuan tunggal sambil menyingkir kesamping.
"Hey kau sudah gila?" bentak Liem Tou dengan gugup. "Terhadap keluarga sendiri kenapa kau mengumbar nafsu binatangmu?"
Sang kerbau tidak berani bergerak lagi, cuma saja sepasang matanya dengan amat tajam sekali memperhatikan diri si perempuan tunggal Touw Hong.
Saat itulah secara mendadak Liem Tou teringat akan sesuatu, tentunya sewaktu berada di rumah penginapan di kota Tay Yang di mana si perempuan tunggal serta si gadis berbaju hijau Ciang Beng Hu mengeroyok diri si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie dapat diketahui oleb sang kerbau, karena itu membuat dia sudah salah menganggap dirinya sebagai musuh, oleh sebab itulah begitu bertemu dengan dirinya dia lalu mengumbar nafsu binatangnya.
Berpikir sampai disitu dengan cepat Liem Tou segera memberi penjelasan kepada kerbaunya.
Dia bukan musuh kita, lain kali bilamana kau bertemu dengan dirinya kau harus bersikap hormat seperti sewaktu bertemu dengan aku, kau tidak diperkenankan bertindak begitu kurang ajar lagi.
Sang kerbau cuma mendengus rendah saja tanda dia sudah tahu.
Setelah itulah Liem Tou baru menoleh ke arah perempuan tunggal dan kirim satu senyuman manis kepadanya.
"Kerbau ini tentunya susiok pernah menemui bukan? Dia bukan saja merupakan kawan karib dari sutitmu bahkan ada kalanya menjadi pengganti dari sutitmu !" serunya.
Si perempuan tugggal pun ikut tertawa.
"Ada majikan sudah tentu ada budaknya," sahutnya. "Pada beberapa bulan ini kerbaumu benar benar sudah terkenal sekali di dalam dunia kangouw "
"Untung saja tidak sampai dipukul mati oleh orang-orang dari Kiem Thien Pay. seru Liem Tou secara tiba tiba sambil kirim satu kerlingan mata ke arah susioknya. Waktu itu apabila bukannya aku cepat cepat kembali ke rumah penginapan bilamana ada sedikit tidak beres saja maka orang orang dari Kiem Thien Pay bakal menanggung akibatnya.
Si perempuan tunggal tidak dapat mengucapkan apa apa dia cuma tertawa saja.
Sutit mendadak tanyanya lagi, kerbaumu itu sudah terkenal akan keganasannya, dapatkah kau bentahukan kepadaku bagaimana caranya memberi pendidikan kepandanya? sekalipun harus bertempur dengan seorang jagoan kelas satu dari Bu lim pun dia sanggup, sebenarnya dikarenakan apa??
Liem Tou cuma tersenyum tidak menjawab, setelah lewat beberapa saat kemudian dia baru menjawab dengan perlahan.
Liin kali sudah tentu susiok dapat melihatnya sendiri.
Si perempuan tunggalpun tidak banyak berta nya lagi.
Liem Tou segera berlari menuju ke ujung perahu, lantas teriaknya dengan keras
Susiok, coba kau lepaskan tali itu dan angkatlah jangkarnya ke atas.aku mau menjalankan perahu ini.
Si perempuan tunggal menurut dan mengerjakan perintahnya itu, Liem Tou lantas kirim satu pukulan ke arah tengah sungai, sesuai dengan cara dari si rajawali sakti dari gunung Ai Lau san dia menggunakan tenaga pukulan tersebut sebagai pengganti dayung menjalankan perahunya ke arah depan.
Besar ombak di selat Sam Shia dari sungai Yang Ci Kiang ini sudah amat terkenal sekali d iseluruh kolong langit, tetapi tenaga dalam yang dihasilkan oleh pukulan Liem Tou ini maha dahsyat sekali, sekalipun di atas permukaan air sama sekali tidak kelihatan beriak tetapi di dasar sungai itu sudah terjadi satu gelombang sangat dahsyat sekali.
Saat ini perahu tersebut bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya meluncur kedepan dengan amat cepatnya, hanya di dalam sekejap saja dia sudah melampaui berpuluh puluh perahu yang sedang berlayar dengan bantuan tarikan di tepi selat.
Orang orang dari perahu lainnya yang melihat perahu dari Lism Tou ini bisa bergenk dengan amat cepatnya segera merasa keheranan, karena keadaan seperti ini boleh dikata mereka belum pernah menemuinya.
Liem Tou takut dengan adanya kejadian ini akan mmimbulkan rasa keheran heranan dari orang orang lain, terpaksa dia ssdikit memperlambat gerakan perahunya, bersamaan pula dia pun duduk di atas geladak, lagaknya separti orang yang sedang menikmati keindahan pemandangan, padahal sepasang tangannya dengan tidak ada hentinya diayunkan kebelakang.
Tidak sampai seperminum teh kemudian dia telah melewati selat Sie Leng Shia dan memasuki selat Wu Shia.
"Sutit kau beristirahatlah sebentar, kali ini biarlah aku yang mencoba" ujar si perempuan tunggal sambil berjalan keluar dari dalam ruangan.
"Tidak perlu sudah hampir sampai!" Sahut Liem Tou sambil tertawa.
"Oooh . . kiranya sutit mau pergi ke selat Wu Shia ini, hal ini ada sedikit yang membuat aku kebingungan" ujar si perempuan tunggal lagi dengan heran.
"Apanya yang tidak dapat kau pahami?? Cukup kita simpan beberapa peti emas itu ke sana lalu kita jalankan perahu lagi menuju ke atas Cing Jan untuk mengikuti perjanjian pada tanggal lima bulan lima, bukankah susiok juga melihat keramaian?"
"Bukankah sejak dulu sutit sudah mengada kan janji dengan aku? Sungguh cepat kau melupakan hal ini"
Liem Tou lalu tertawa.
Waktu itu dengan saat ini keadaannya sudah berbeda, apakah sesampainya di atas Cing Jan susiok juga mau bertanding dengan diriku lagi?
Aaah.. tidak, cuma saja bilamana sutit ada bahaya akupun bisa turun tangan memberi bantuan.
Di tengah percakapan itulah, mereka sudah tiba di tempat tujuan.
Liem Tou segera menepikan perahunya lalu kepada Si perempuan tunggal ujarnya.
Susiok apakah mau pergi dengan sutit??
Baiklah, sahut si perempuan tunggal mengangguk. Cuma saja kau harus beritahukan kepadaku, kau hendak pergi kemana.??
Liem Tou tidak mau mengelabui siperempuan tunggal lagi dia lantas menceritakan bagaimana dia mempelajari kitab pusaka To Kong Pit Lok di dalam sumur kering tersebut.
Saat itulah si permpusn tunggal baru tahu kalau kepandaian silat dari Liem Tou ini diperoleh dari kitab puiaka To Kong Pit Liok. di dalam hati diam diam dia merasa amat kagum sekal.
Dia segera putar badan berjalan masuk ke dalam ruangan perahu dan menggotong keluar sebuah peti hitam.
Peti yang penuh berisikan uang perak itu sudah tentu terasa amat berat sekali, di tambah si perempuan tunggal baru saja sembuh dari luka nya, baru saja berjalan beberapa langkah napas nya sudah ngos-ngosan.
Dengan gugup Liem Tou lalu menggantikan dirinya.
"Susiok lukamu belum sembuh, kau tidak usah banyak keluar tenaga! Biarlah sutit yang menggolong !"
Mendadak matanya terbentur dengan sang kerbau yang ada disisinya, satu pikiran segera berberkelebat di dalam benaknya.
"Begini saja !" ujarnya lagi. "Kekuatan dari kerbau ini amat luar biasa sekali, kita biarkan dirinya membawa tiga buah peti cukup susiok menjaga dari sampingnya sehingga jangan sampai jatuh, bukankah sudah beres?? Sisanya aku bisa membawanya sendiri, dengan demikian bukankah hanya di dalam satu kali kerja saja sudah beres??"
Si perempuan tunggal tidak terlalu memaksa. dia segera mengangguk.
Demikianlah mereka berdua dengan menggunakan cara tersebut segera menggotong keenam buah peti itu ke atas tepi itu kemudian dengan perlahan lahan naik ke punggung gunung.
Tiba tiba ....
Sreeet! Sreet ! Sreet ! Tampak lima orang lelaki kasar dengan cepatnya berkelebat keluar dari tempat persembunyiannya dan berdiri di tengah jalan.
"Siapa yang sudah datang dari bawah, cepat sebutkan namamu" bentak mereka berbareng.
Liem Tou yang melihat oraug orang itu walaupun mempunyai perawakan kekar dan kuat tetapi agaknya tidak mempunyai kepaadaian yang tinggi, dalam hati Liem Tou merasa lega.
kepada si perempuan tunggal dia segera kirim satu senyuman.
"Aku lihat sebetulnya kalian semua manusia manusia tolol yang benar benar goblok" sahutnya kepada orang orang itu. "Jika kalian kepingin mengahalangi perjalanan orang dan merampas barang bawaannya seharusnya pergi ke jalan raya saja, buat apa kalian pilih gunung Wu-san yang sama sekali sunyi tak kelihatan manusia ini untuk mencari mangsa?? Sungguh menggelikan sungguh menggelikan sekali .... kalian tidak mirip pembegal jalan."
Selesai berkata dia tertawa terbahak bahak.
Mendengar perkataan tersebut keenam orang lelaki kasar itu seketika itu juga jadi amat gusar sekali, mendadak mereka bersama sama mengerubut maju kedepan.
Liem Tou sekali lagi tertawa.
"Tunggu dulu !" bentaknya dengan keras. Sungguh besar sekali nyali kalian pembegat-pembegal cilik, terus terang saja aku beri tahu pada kalian, isi dari keenam buah petiku ini adalah emas intan yang mempunyai nilai sangat berharga sekali, bila kalian bisa mengangkat sebuah peti diantara peti peti ini aku akan segera menghadiahkan benda tersebut kepada kalian.
Sambil berkata dia meletakan ketiga buah peti itu ke atas tanah, ujarnya lagi.
Bilamana tidak percaya kalian boleh coba-coba.
Diantara keenam lelaki kasar itu segera terlihatlah salah seorang meloncat keluar.
Kami cuma tanya namamu lalu kalian mengaggap kami sebagai pembegal jalan. Hmm... Hmm, kau bangsat cilik jangan memandang begitu rendah terhadap diri kami, bentaknya dengan gusar. Kau bilang aku orang tua tidak bisa angkat salah satu dari peti ini..he..aku tidak percaya. Aku mau lihat betul tidak omonganmu itu.
Sembari berkata dia berjalan mendekati peti itu kemudian tangannya mulai mencekal salah satu peti untuk diangkat.
Perkataan dari Liem Tou ini sedikitpun tidak sombong cukup sebuah peti saja sudah ratusan kati beratnya, walaupun kekuatan dari lelaku itu ada tua tiga ratus kati tetapi keadannya masih terpaut amat jauh, mana dia orang bisa berhasil mengangkatnya.
Walaupun dia sudah mengerah seluruh kekuatannya sehingga wajahnya berubah memerah, peti itu tetap tak terangkat juga.
Melihat kejadian itu Liem Tou segera tertawa ringan.
.heee. .bukanlah aku sudah bilang, kalian tidak mungkin bisa.
Dengan demikian keenam orang lelaki itu segera dibuat melongo dan amat terbelalak lebar lebar. Mereka saling berpandangan tanpa ada yang mengucapkan sepatah kata pun.
Beberapa saat kemudian baru terdengar salah satu diataranya berseru dengan keras.
epat pergi mengundang Piauw cu datang. Orang itu segera menyahut dan lari meninggalkan tempat tersebut.
Liem Tou tidak mau ambil gubris lagi terhadap diri mereka, segera bentaknya keras.
"hayoh pada menyingkir"
Sekali lagi dia menggotong peti peti itu dan menoleh ke arah si perempuan tunggal untuk kirim satu senyuman.
"manusia manusia itu sungguh tidak tahu kekuatannya sendiri, mari kita pergi saja" ujarnya.
Dua orang manusia seeker kerbau kembali melanjutkan perjalanan mereka dengan perlahan lahan naik ke atas gunung, para lelaki kasar itu mana berani menghalangi perjalanan mereka lagi, dengan sepasang mata yang melotot lebar lebar setindak demi setindak mereka mengikuti terus naik ke atas gunung.
Pada saat itulah tampak dari atas gunung dengan tergesa gesa berlari turun dua orang, yang satu adalah lelaki yang pergi melapor tadi sedang yang seorang lagi adalah seorang kakek tua yang memelihara jenggot pada janggutnya.
Liem Tou yang melihat gerakan kaki dari kakek itu amat mantap dengan cepat dia memperhatikaw lebih teliti lagi, segera dia bisa kenal kalau orang iru bukan lain adalah Piauw cu dari Cing Ling Piauw kok Sie Ie adanya.
Liem Tou yang kenal dengan kakek tua itu dengan cepat meletakkan peti tersebut ke atas tanah lalu menoleh ke arah diri Si perempuan tunggal.
"Orang yang baru datang itu adalah Sie Piauw tauw dari Cing Liong Piauw kiok, aku dengan dirinya ada satu kali pernah bertemu dan sama sama berada di dalam keadaan bahaya, orang ini adalah seorang jujur yang patut dipuji, mari aku kenalkan kepada diri Susiok".
Si perempuan tunggal yang melihat perubahan sikap dari Liem Tou tetapi secara diam diam sudah menduga kalau Liem Tou sangat menghormati orang ini, karenanya dengan ter gesa gesa dia meletakkan pula peti hitam itu.
Pada saat itulah Liem Tou sudah maju ke depan menyambut kedatangan orang tua itu.
"Sie Loo Piauw tauw! bagaimana keadaanmu selama perpisahan ini" serunya sambil menjura memberi hormat. "Boanpwee tidak tahu kalau enghiong enghong ini adalah anak buah dari Loo Piauw tauw, tadi sudah salah bertindak harap suka memaafkan!"
Sie Piauw tauw yang melihat munculnya diri Liem Tou yang secara tiba tiba itu semula agak melengak tapi kemudian dia tertawa terbabak bahak dengan amat kerasnya.
"Orang budiman tentu dilindungi Thian, ternyata Liem Loo te benar benar berhasil meloloskan diri dari bahaya, bagus . . bagus sekeli.
Berbicara sampai di situ mendadak sinar matanya berkelebat dengan amat tajamnya memperhatikan diri Liem Tou dan selanjutnya dia tertawa terbahak babak.
Haa , . haaa . . bilamana bukannya loohu sudah mslamur, selama setahun ini kepandaian silat dari Liem Loo te sudah memperoleh kemajuan yang sangat pesat sekali, jauh berbeda dengan keadaan sewaktu dahulu kita bertemu.
Aaa . . Sie Loa Piauw tauw terlalu memuji, seru Liem Tou sambil tertawa. Walaupun selama satu tahun ini ada sedikit kemajuan tetapi belum mencapai seperti apa yang diucapkan oleh Loa piauw tauw, aku sebetulnya masih mengharapkan banyak petunjuk dari Piauw-tauw.
Ketika berbicara sampai disitu Si perempuan tunggal pun sudah sampai di sana, Liem Tou segera memperkenalkan dirinya dengan Sie Piauw tauw.
Sie Piauw tauw yang mendengar gadis berbaju hitam yang ada dihadapannya saat ini ternyata adalah susiok dari Liem Tou dia mana berani berlaku ayal, dengan cepat dia merangkap tangannya memberi hormat.
Waktu itu berkat baniuia dari keponakan murid Li hiap, loohu berhasil meloloskan diri dari kekejaman An In Sin Pian kali ini sekali lagi Loohu ucapkan banyak terima kasih kepada kalian berdua.
Sie Piau tauw kau jangan begitu terlaku sungkan, cegah Liem Tou dengan cepat. Waktu itu pun boanpwee sedang ada urusan yang kebetulan bersamaan kita berada di satu golongan, buat apa kau berlaku begitu hormatnya.
Liem Tou yang kukuh tidak mau menerima hormatnya yang membuat Sie Piauw tauw tidak bisa berbuat apa apa lagi, terpaksa diapun membatalkan niatnya itu.
Liem Tou segera berganti dengan bahan pembicaraan yang lain.
Entah kali ini Sie Piauw tauw ada makdud apa ke gunung Wu san ini? kenapa tidak melihat murid kesayanganmu?.
Sie Piauw tauw yang mendengar Liem Tou bertanya demikian dia segera menghela nafas panjang.
Mendadak dia menuding ke arah sisinya, Liem Tou mengikuti apa yang ditunjuk segera menoleh kesana.
Terlihatlah di tengah batu batuan cadas yang pada tersebar di seluruh permukaan tanah terdapatlah sebuah kayu yang tinggal separuh serta sebuah batu besar.
Melihat barang tersebut Liem Tou jadi keheranan.
Sie Piauw tauw apa maksudmu? tanyanya.
"Lenyapnya barang kawalan kita di sungai Yang Ci Kiang tentunya Liem Loo te mengetahui dengan jelas bukan? dikarenakan hilang nya barang kawalan itu maka untuk mengganti rugi seluruh harta kekayaanku jadi ludas sama sekali, perusahaan Cing Liong Piauw kiok pun terpaksa tutup pintu, sebaliknya Ang In Piauw kiok mulai meluaskan usahanya. Loohu semakin berpikir semakin kheki sehingga di dalam setahun ini antara pihak kami dengan pihak keledai tua itu sudah terjadi dua kali pertempuran yang makan banyak korban.
"Kemarin kami dapat mendengar kalau ini hari dari pibak Ang In Piauw kiok mendapatkan kawalan satu barang berharga yang di dalam beberapa hari ini akan lewat tempat ini menuju ke daerah Kang Lam, karenanya kami sengaja tunggu disini untuk membalas dendam yang sudah lalu "
Mendengar diucapkannya perkataan tersebut Liem Tou jadi terperanjat sekali.
"Apakah Sie Piauw tauw hendak menggunakan gelindingan batu serta kayu untuk menenggelamkan perahunya sewaktu melewati selat ini?"tanyanya lagi.
Air muka Sie Piauw tauw segera berubah jadi memberat.
Teringat peristiwa setahun yang lalu dimana dia merampok barang kawalan kami seharga tiga laksa tahil petak bahkan membunuh Hu Hiauw tauw serta anak muridku, apakah kami berbuat demikian dikatakan terlalu kejam??" ujarnya.
Pikiran Liem Tou dengan cepat berkelebat memikirkan sesuatu, akhirnya ujarnya lagi.
"Dendam sakit bati tidak ada habis habisnya lebih baik Sie Piauw tauw berpikir tiga kali sebelum bekerja.
"Usaha yang sudah aku orang she Sie pupuk selama puluhan tahun lamanya kini sudah dihancurkan oleh bajingan she Pouw itu hanya di dalam sehari saja. kau suruh berbuat bagaimana sehingga bisa menghilangkan rasa mengkel di dalam hatiku?" seru Sie Piauw tauw dengan gemasnya.
Liem Tou segera termenung berpikir sebentar, pada saat ini bukaanya dia bermaksud untuk menolong si Ang In Sin Pian, Pouw Sak San untuk meloloskan diri dari bencana ini melainkan dia ingin melenyapkan dendam sakit hati yang saling ikat mengikat di dalam Bu lim ini, mendadak di dalam benaknya berkelebat satu ingatan.
Baru saja dia hendak mengutarakan sesatu tiba tiba tampaklah Sie Piau tauw sudah melanjutkan lagi kata katanya.
Muridku sudah balik kemari, kemungkinan sekali sebentar lagi mereka bakal melewati selat ini.
Sambil berkata dia menuding kearah sungai.
Dengan mengikuti arah yang ditunjuk Liem Tou segera melongok ke bawah,di bawah terlihatlah sebuah sampan dengan layar yang lebar dengan lajunya sedang bergerak mendatangi, sedang orang yang berdiri di belakang kemudi adalah seorang lelaki dengan dandanan nelayan.
Di tengah mengalirnya air Sungai yang amat deras sekali di selat Wu shia ini dengan menunggang sampan kecil dengan mengikuti arus sungai merupakan suatu pekerjaan yang sangat berhahaya sekali, Sie Piauw tauw dengan tergeda gesa segera memerintahkan beberapa lelaki kasar untuk turun kebawah menyambut kedatangannya.
Lelaki itu segera menyambut dan bersama sama turun ke bawah gunung.
Tidak lama kemudian sampan kecil sudah barada dekat dengan tempat itu, tiba tiba terlihatlah nelayan itu melemparkan seutas tali ke arah tepian. dengan cepat lelaki kasar tersebut menarik perahu itu dan mendekati tepi sungai.
Nelayan itu meloncat turun dari perahunya dan berlari naik ke atas bukit, sekali pandang saja Liem Tou segera mengenal kembali kalau arang itu adalah Piauw su yang pernah ditolong pada waktu yang lalu.
Dengan tergesa gesa piauw su muda itu lari ke atas punggung bukit jatuhkan diri berlutut di depan Sie Piauw tauw.
Tecu Oei Poh sudah kembali, serunya
Sudah. . .. sudahlah, urusan apakah sudah di bikin beres? ? tanya Sie Piaw tauw sambil ulapkan tangannya.
Piauw su muda itu segera bangkit berdiri sinar matanya dengan cepat menyapu sekejap ke arah Liem Tou berdua, sewaktu dilihatnya dia orang ada disana dia segera mengangguk.
LlEM TOU pun lantai tersenyum tetapi Oei Poh yang tidak kenal dengan si perempuan tunggal tidak berani berlaku gegabah dengan melongo dia memandangi diri si perempuan tunggal tidak berani berbicara.
Agaknya Sie Piauw Tauw mengetahui maksud hatinya, dia segera tertawa.
'Oei Poh, kau katakan saja".
"Di dalam satu jam kemudian mereka bakal lewat di selat ini" ujar Oei poh kemudian." Perahu yang memuat barang kawalan semuanya ada tiga buah, dua buah perahu yang memakai bendera Ang In Piauw kiok dan berjalan paling depan merupakan perahu perahu kosong belaka, sebaliknya sebuah perahu yang jauh membuntuti di belakang kedua perahu kosong itu barulah merupakan perahu yang betul betul ada barang kawalannya, kali ini Ang In Sin Pian sendiri yang turun tangan mengawal barang kawalan tersebut."
Mendengar perkataan itu Sie Piauw tauw mengerutkan alisnya.
"Sungguh licik sekali Si Pouw Sak San. Hmm, ini hari aku mau suruh kelicikannya itu hancur ditangan Loohu" serunya.
Sehabis berkata dia segera menggape beberapa anak buahnya dan memberi pesannya.
"Kalian masing masing harus berada di tempatnya sendiri sendiri, siapkan batu dan kayu itu baik baik. . . . bila mana melihat adanya dua buah perahu dengan tertancapnya bendera Ang In Piauw kiok lewat jangan sekali kali kalian ganggu, biarkan saja dia berlalu ! Tetapi perahu yang ada dibelakangnya dimana tidak tertancap bendera kalian harus berusaha menghancurkan sehingga tenggelam ke dalam sungai "
Begitu perintah tersebut diucapkan, para lelaki kasar itu segera pada menyebar dan menyembunyikan dirinya baik baik untuk bersiap sedia.
Liem Tou yang melihat suasana sudah benar benar tegang dia tidak berani berlaku ayal lagi. dengan cepat tubuhnya maju ke depan Sie Piauw tauw dan memberi hormat
"Sie Piauw tauw apa benar benar sudah mengambil keputusan untuk menenggelamkan perahu ini?" tanyanya. Jika kau berbuat begitu bukankah ikatan permusuhan di antara kalian malah semakin bertambah mendalam???
Si goiok naga hijau Sie Piauw tauw lantas memperlihatkan tertawa pahitnya.
"Hmmm, harta rumah musnah dulu manusia dan keluarga binasa terakhir, buat apa aku merasa sayang untuk berbuat nekad?? Liem Loote mempunyai cara berpikir apa lagi?"
"Perkataan dari Loo Piauw tauw sudah salah besar, seru Liem Tou setelah mendengar perkataan itu. "Aku tidak percaya kalau di dalam kolong langit yang demikian luasnya tidak ditemui jalan keluar yang lain."
Si golok naga hijau yang mendengar nada suara dari Liem Tou mengandung maksud tidak setuju di dalam hati dia segera merasa kurang senang, air mukanya berubah sedikit keren lalu memperdengarkan suara dengusan yang amat dingin.
Liem Tou yang melihat dia merasa tidak senang di dalam hati dia segera memikirkan satu akal.
"Loo Piauw tauw jangan marah dulu, ujarnya sambil tertawa"
"Boanpwee cuma bermaksud baik saja." jika dari pihak Ang In Piauw kiok sanggup untuk mengembalikan ketiga laksa tahil perak itu Sie Piauw tauw bermaksud bagaimana?"
Mendengar ucapan tersebut si golok naga hijau Sie Piauw tauw segera tertawa terbahak bahak dia menepuk nepuk pundak Liem Tou.
"Liem loo te," ujarnya. "Pikiranmu sungguh lucu sekali," aku yang sudah beberapa kali bentrok dengan si bajingan tua ini untuk minta kembali uang rampokannya tidak berhasil apalagi dirimu.
Sekalipun kepandaian silat dari Liem loo te betul ada kemajuan tetapi jikalau ingin memperoleh kembali uang rampokan itu aku rasa hal itu cuma satu impian belaka, tujuan haik dari Liem Loo te ini aku si golok naga hijau terima di dalam bati saja.
"Sie Piauw tauw, sambung Liem Tou lagi. Boanpwee hanya bertanya, bilamana aku yang membayar uang tersebut, Loo Piaaw tauw bermaksud bagaimana?"
"Baiklah demikian saja," seru si golok naga hijau kemudian. "Bilamana kau berhasil minta kembali uang perak itu maka sejak ini hari aku tidak akan mencari si bajingan tua itu lagi untuk membalas dendam, tetapi entah maukah dia orang membayar kembali uang tersebut?"
"Baiklah kita putuskan demikian saja," seru Liem Tou kemudian dengan serius "Uang itu biar aku Liem Tou yang tanggung"
Sehabis berkata dia putar badannya menggotong kembali peti hitamnya lalu bersama sama dengan si perempuan tunggal serta sang kerbau yang menggotong tiga buah peti mereka melanjutkan kembali perjalanannya menuju ke depan.
Tidak sampai beberapa kaki mereka berjalan mendadak Liem Tou berhenti kembali.
"Sie Piauw tauw," serunya. "Di daerah sekitar sini adakah kota yang agak besar?"
"Di atas ada Hong Kiat di bawah ada zie Cang" sahut Sie Piauw tauw dengan cepat.
"Baiklah, malam ini pada kentongan ketiga kau boleh menunggu aku dirumah penginapan di kota Hong Kiat untuk terima kembali uang tiga laksa perak itu, kalau tidak maka aku mau membawa batok kepalanya dari Pouw Sak San untuk diberikan pada kau orang."
Mendengar ucapan itu si golok naga hijau Sie Piauw tauw jadi agak ragu ragu, tetapi ketika teringat akan peraturan Bu lim yang mengatakan satu ya satu, dengan perasaan yang tidak enak untuk menarik kembali kata katanya itu, terpaksa dengan mata melongo dia memperhatikan Liem Tou serta si perempuan tunggal meninggalkan tempat tersebut. Liem Tou tanpa menoleh lagi dengan mengajak si perempuan tunggal berjalan menuju ke rumah bangunan batu itu, mendadak di dalam benaknya dia teringat kembali kalau didalam rumah batu itu masih terdapat kerangka dari encinya si perempuan tunggal, tanpa terasa hatinya jadi sedikit bergerak, pikirnya.
Baiknya aku beri tahu tidak kepadanya akan hal ini?? jikalau sekarang aku tidak memberitahukan kepadanya, lain kali kalau dia tahu apa yang bakal dia pikir"?.
Susiok, ujarnya kemudian kepada diri si perempuan tunggal tersebut pernahkah kau berpikir tempat manakah ini??.
Buat apa aku terka lagi?? seru si perempuan tunggal sambil tertawa. Bukankah tempat ini adalah tempat dimana kau berlatih ilmu silat yang tarmuat di dalam kitab pusaka To Kong Pit Liok??,
Tetapi mendadak dia teringat sesuatu sepasang matanya terbelalak lebar lebar lantas tanpa terasa lagi sudah berteriak.
Liem Tou, ciciku ada dimana?? cepat kau bawa aku kesana.
Liem Tou sama sekali tidak menduga kalau sebelum dia memberi tahu dia sudah merasakan sendiri, tidak terasa hatinya jadi merasa sedikit bergidik.
Celaka urusan yang merepotkan sudah datang.
Dengan cepat air mukanya berubah jadi amat keras sekali.
Susiok, ujarnya dengan serius. Aku tahu hatimu pada saat ini amat cemas sekali, tetapi manusia yang sudah mati tidak dapat hidup kembali aku berkata dulu sebelumnya, nanti susiok tidak boleh terlalu bersedih hati, susiok bisa menyanggupi tidak??
Air mata mulai bercucuran membasahi seluruh wajah dari si perempuan tunggal dengan kencang dia menggigit bibirnya sendiri, akhirnya setelah kirim satu kerlingan yang mengandung rasa cinta terhadap diri Liem Tou dia mengangguk.
Liem Tou yang melihat Si perempuan tunggal sudah menyetujui hatinya baru merasa sedikit lega.
Mari sekarang kita simpan dahulu uang perak ini, kemudian aku baru ajak Sasiok pergi ke sana.
Sehabis berkata dia melanjutkan perjalanan nya kembali menuju ke bagian belakang dari bangunan itu dan tiba disamping sumur kering tersebut.
Setelah peti peti hitam itu dimasukkan semua nya ke dalam ruangan rahasia di dasar sumur dia baru mengajak si perempuan tunggal menuju ke dalam bangunan rumah itu untuk melihat kerangka manusia tersebut.
Si perempuan tunggal yang kini bisa melihat kerangka dari cicinya malah setetes air matapun tidak kelihatan mengalir keluar, dengan pandangan termangu mangu dia menundukkan kepalanya memandangi kerangka tersebut tapi jelas air mukanya kelihatan sangat berduka.
Liem Tou tidak bisa berbuat apa apa, diapun berdiri disana tak bergerak
.
Lama sekali baru terdengar dengan suara yang amat sedih ujar Si perempuan tunggal itu.
Liem Tou. ciciku bilang siapakah musuh besarnya??.
Kioe Long Wan Kauw.
Si perempuan tunggal segera mengangguk. Tahukah kau mereka tinggal dimana?? tanyanya lagi setelah berpikir sebentar.
Liem Tou mengerutkan alisnya rapat rapat dengan perlahan dia menoleh dan memandang sekejap kearabnya.
Aku dengar dia tinggal di atas gunung Im san, apakah Susiok bermaksud hendak pergi ke sana??.
Si perempuan tunggal tidak menjawab, mendadak sambil membopong kerangka dari encinya dia berjalan keluar dari ruangan tarsebut.
Liem Tou tanpa mengucapkan kata lagi mengikuti dari belakang, tidak lama kemudian si perempuan tunggal sudah berjalan ke samping sebuah pohon lantas menggali liang dan mengubur kerangka manusia tersebut.
Liem Tou pun menemaninya duduk disana tidak mengucapkan apa2 saat ini siang hari sudah tiba sedang sang suryapua dengan terang memancarkan sinarnya tepat di atas kepala mereka membuat suasana agak hangat.
Setelah semuanya sciesai dia baru duduk di samping kuburan tersebut tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Tiba2 dia teringat akan peristiwa dari si Ang In Sin Pian yang merampok uang kawalan itn, baru saja dia hendak mengucapkan suatu mendadak terdengarlah si perempuan tunggal sudah berkata.
Liem Tou kalau kau ada urusan pergilah dulu, dengan perlahan Liem Tou menengok ke arahnya, tampak Si perempuan tunggal sudah membenamkan wajahnya ke dalam telapak tangannya, dia segera tahu kalau hatinya sedang merasa sedih sekali, karenanya dia tidak mau mengganggu.
"Baiklah," sahutnya kemudian. "Susiok tunggulah di sini dulu, nanti kita pergi bersama-sama."
Selesai berkata dia bangkit berdiri ujung kakinya menutul permukaan tanah tubuhnya bagaikan kilat yang menyambar sudah berkelebat sejauh puluhan kaki jauhnya, hanya di dalam beberapa kali tutulan saja dia sudah keluar dari daerah tersebut.
Ketika angkat kepalanya memandang ke bawah, terlihatlah dua buah perahu yang terpancang dengan bendera Ang In Piauw kiok dengan tenangnya sedang bergerak maju ke depan, dia tahu kedua perahu itu adalah palsu maka sinar matanya segera dialihkan kebelakang.
Ternyata tedikitpun tidak salah, di belakang kedua perahu itu terlihat kembali sebuah perahu besar yang bergerak melaju dari kejauhan.
Bagaikan kilat cepatnya Lie m Tou segera menuruni bukit tersebut kemudiia dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh nya yang paling dahsyat bagaikan bertiupnya angin berlalu dia berkelebat ke arah perahu yang ada di depan untuk mencabut terlebih dulu ke dua buah bendera Piauw kiok itu, setelah melayang ke perahu yang ada dibelakang dan berdiri di atas tiang layar dengan gagahnya.
Saat itu tidak ada seorang pun yang mengetahui di atas tiang layar ada seseorang yang sedang berdiri di sana.
Untuk memancing orang orang tersebut Liem Tou lalu menyanyi dengan suara yang sangat nyaring.
Air sungai mengalir deras ke Timur . .
Menempuh ribuan li dengan hati yang murung . .
Berdiri seorang diri diatas tiang perahu.... Tak seorang manusia pun yang sadarkan diri .
Ooooh - . . , mega, kapan kau berhenti berlalu . ,. . .
Setiap patah kata dari bait bait syair itu di ucapkan dengan amat jelasnya membuat orang orang yang ada di atas perahu itu bersama sama angkat kepalanya memandang ke atas.
Ketika dilahatnya di atas tiang layar berdiri dengan gagahnya seorang pemuda tampan mereka semua merasa amat terkejut sekali.
"Hey siapa yang berdiri di atas tiang perahu itu?" bentak salah seorang diantara mereka dengan keras.
Liem Tou segera tersenyum ringan.
"Beritahu kepada Ang In Piauw-cu," katakan Liem Tou mohon menghadap.
"Ada urusan apa kau mencari Piauw-cu?" bentak orang itu lagi dengan keras. "Perahu dari Piauw-cu ada di depan, sekarang sudah melewati selat.
Liem Tou segera mengibarkan bendera yang ada ditangannya.
"Kau orang berani bicara bohong dengan diriku, apa kau kepingin diberi dikit hajaran?" serunya keras.
Baru saja dia selesai berkata bendera yang ada di tangannya mendadak meluncur ke bawah dengan kerasnya, hanya di dalam sekejap saja sudah menancap pada pundak kiri orang itu se hingga saking kesakitan dia orang berkaok kaok keras.
Mendadak dari dalam ruangan perahu itu meloncat keluar seseorang.
"Siapa yang berkaok kaok tidak keruan disini," bentaknya dengan keras. "Sebentar lagi kita akan melewati selat tersebut, ayoh kita cepat pegang kemudi ! Kalau sampai terjadi hal hal yang tidak beres, hati hati saja kalian akan menerima satu hukuman yang berat."
Liem Tou yang melihat orang itu ternyata Pouw Siauw Ling adanya, dari atas tiang layar dia segera merangkap tanganaya memberi hormat.
Pouw Siauw Ling dengan cepat angkat kepalanya memandang ke atas, terlihatlah olehnya seorang kongcu tampan yang memakai baju barwarna hijau dengan gagahnya berdiri disana, di dalam hati dia merasa amat terkejut.
Mana dia orang mengenal kembali diri Liem Tou? Di dalam anggapannya Liem Tou sudah menemui ajalnya terjatuh ke dalam jurang jembatan pencabut nyawa itu, setelah termangu mangu beberapa saat lamanya dia baru buka mulut bertanya.
"Entah siapakah nama besar dari saudara ini, ada arusan apa kau datang kemari? ? Bilamana tidak merasa perahu ini jelek silakan turun dan mampir sebentar."
Liem Tou segera menutupi ujung kayu dan melayang turun ke bawah, bersamaan pula bendera yang ada ditangannya dengan disertai desiran angin yang amat keras berkelebat menuju ke belakang. Ternyata dengan amat tepat sekali bendera itu menancap di tiang layar yang sangat besar itu sehingga menembus pada baliknya.
Pouw Siauw Ling sama sekali tidak menyangka kalau bendera yang terbuat dari bambu itu cukup sedikit digerakkan oleh Liem Tou dengan begitu ringannya sudah menembusi tiang tersebut hal ini membuat hatinya benar benar merasa amat terkejut.
Sejak pertama kali Pouw Siauw Ling teruskan dirinya ke dalam Bu lim dia belum pernah menemui orang yang memiliki kepandaian yang demikian lihaynya, sekalipun di dalam hati dia merasa terperanjat tetapi pada wajahnya sama sekali tidak memperlihatkan perubahan apapun.
Kepandaian dari Heng thay ini sungguh dahsyat sekali, pujinya dengan cepat.
Dengan perlahan Liem Tou menoleh dan tertawa keras.
"Haa . . ha .. apakah Siauw Ling heng betul, tidak kenal lagi dengan Siauw te?" tanyanya.
Sepasang mata Pouw Siauw Ling memandang wajah Liem Tou lebih tajam lagi, mendadak air mukanya berubah pucat pasi bagaikan mayat, bibirnya gemetar dengan amat kerasnya sedangkan kakinya perlahan lahan mulai bergeser masuk ke dalam ruangan perahu tersebut.
Liem Tou yang melihat perubahan wajahnya itu mana mau membiarkan dia mengundurkan diri ke dalam ruangan perahu, tangannya dengan cepat direntangkan menghalangi perjalanannya.
Siauw Ling heng jangan pergi, serunya sambil tertawa. Kita sudah lama sekali tidak bertemu, ini hari bisa mendapatkan kesempatan untuk berkumpul seharusnya kita sedikit barmesra mesraan.
Pouw Siauw Ling yang jalan mundurnya terhalang oleh diri Liem Tou pikirannya merasa semakin gugup lagi, hatinya benar benar tergetar dengan amat kerasnya.
Air mukanya dari pucat kini berubah menjadi kehijau hijauan, dengan perasaan amat tegang bentaknya.
Kau . .. kau .., kau . . . manusia aa . . . atau - . . atau .. setan?"
Liem Tou pada saat ini baru tahu kalau dia menganggap dirinya telah mati di dalam jurang Jembatan pencabut nyawa waktu itu dan kini menganggap dirinya sebagai setan, dia segera tertawa.
Siauw Ling heng kau jangan begitu merasa tegang ejeknya, di bawah sorotan sang surya mana mungkin ada setan?"
Mendadak dia teringat kembali terhadap siksaan dan penderitaan yang dirasakan olehnya dari Pouw Siauw Ling ini. rasa dendam serta bencinya segera muncul dari lubuk hatinya.
Pouw Siauw Ling, serunya di dalam hati Ini hari aku mau suruh kau merasakan kepandaian dan kelihayan dari Liem Tou.
Mendadak tangannya diayunkan kedepan .. . Plaaak . . piaaak. disertai suara yang amat nyaring pipi dari Pouw Siauw Ling sudah kena digaplok oleh Liem Tou dengan amat kerasnya sehingga jadi memerah dan bengkak.
Saking sakitnya sehingga sukar ditahan tidak kuasa lagi dia menjerit jerit dan berkaok kaok seperti babi mau disembelih.
"Siauw Ling heng!" ujar Liem Tou lagi sambil tersenyum. "Sekarang tentunya kau tahu bukan kalau aku adalah manusia bukan setan? kalau setan mana mungkin siang hari bolong bisa unjuk kelihayannya!"
Pouw Siauw Ling yang mengira kedatangan Liem Tou kali ini mau membalas dendam terhadap dirinya mana dia mau mengurusi hal itu lagi, cepat cepat dia berusaha untuk masuk ke dalam ruangan memberi laporan.
"Liem Tou kau berani pukul aku?" bentaknya dengan keras.
"Siauw Ling heng, Liem Tou sekarang bukanlah seperti Liem Tou yang dahulu, aku sudan pukul kau lalu kau orang mau apa?" seru Liem Tou sambil bergendong tangan.
Pouw Siauw Ling segera mendepakkan kakinya ke atas permukaan perahu, dengan menahan rasa sakit pada pipinya dia melepaskan cambuk baja yang ada dipinggangnya siap akan melancarkan serangan.
Pada saat yang bersamaan pula dari dalam raangan perahu tampak berkelebat keluar tiga orang yaitu Si Liong Ciang, Hauw jiauw serta Si Ang In Sin Pian.
Mereka yang melihat Liem Tou dengan wajah penuh senyuman berdiri segera mengetahui kalau kedatangannya tidak bermaksud baik. Tanpa mengucapkan kata kata lagi mereka bertiga bersama sama mencabut keluar senjata tajamnya masing masing siap bertempur.
Melihat sikap mereka itu tidak terasa Liem Tou mengerutkan alisnya rapat rapat, dia segera tertawa dingin.
Buat apa kalian begitu galak?" serunya.
Tubuhnya mendadak berkelebat dengan amat cepatnya, hanya di dalam sekejap saja senjata tajam yang ada di tangan Liong Ciang, Hauw Jiauw. Ang in Sim Pian serta Po Siauw Ling sudah berhasil direbut lepas, mereka berempat ternyata sama sekali tidak bisa melibat jelas gerakan apa yang sudah digunakan oleh Liem Tou itu.
Kali ini aku Liem Tou datang kemari bukannya sengaja mau mencari balas! serunya. "Juga tidak aku punya maksud untuk mencari kemenangan di bawah serangan senjata tajam cuma saja aku punya satu urusan yang minta Pouw Cungcu suka mengabulkan asalkan Cung cu mau mengabulkan maka aku Liem Tou segera akan berlalu dari sini.
Ang In Sin Pian serta Pouw Sak san benar benar dibuat tergetar oleh kelihayan ilmu silat Liem Tou yang baru saja diperlihatkan ini, dia tahu kepandaian silat yang dimiliki Liem Tou pada saat ini tidak mungkin berhasil dilawan dengan mengandalkan kekuatan mereka berempat, berpikir keras akan hal ini air mukanya segera berubah jadi ramah.
Tadi mendengar suara jeritan Leag jie aku masih kira siapakah, tidak tahunya adalah putra dari temanku Liem Hian tit serunya sambil tertawa. Kesalah pahaman itu harap kau orang suka memaafkan.
Mendengar perkataan yang tengik itu air muka Liem Tou segera berubah jadi keren.
Pouw Cungcu juga tidak usah begitu menghormati diriku sehingga membuat hatiku merasa mual, serunya dengan nada yang amat dingin. Malam ini sebelum kentongan ketiga harap Cungcu suka mengembalikan uang perak sebesar tiga laksa tahil perak yang Cungcu rampok setahun yang lalu dari tangan Cing Lioag Piauw kiok, dan kirim ke rumah psnginapan terbesar dalam kota Heng Kiat, disana tentu ada orang yang menerimanya, entah bagaimana pendapat dari Cungcu.
Air muka si Ang In Sin Pian, Pouw Sak san seketika itu juga berubah sangat hebat mendadak tubuhnya mundur satu langkah kebelakang
Liem Hian tit!! serunya cepat. Lenyapnya barang kawalan Cing Liong Piauw kok ada sangkut paut apa dengan diriku.
Sepasang mata Liem Tou segera melotot keluar bulat bulat dua rentet sinar yang amat tajam sekali mendadak memperhatikan diri si Ang In Sin Pian Pouw Sak San tanpa berkedip membuat dia orang yang dipandang seperti itu merasakan hatinya bergidik.
Lenyapnya barang kawalan dari Cing Liong Piauw kiok aku Liem Tou melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, seru Liem Tou dengan dingin, "Anak murid dari si golok naga hijau Sie piauw tauw, Oei poh pun aku yang tolong, Pouw Cung cu sekali lagi aku mau tanya kepadamu, apakah lenyapnya barang kawalan Cing Liong Piauw kiok tidak ada hubungannya dengan dirimu??
Si Ang In Sin Pian yang mendengar rahasia nya dipecahkan olehnya, air mukanya seketika itu juga berubah menjadi merah padam dan tidak bisa mengucapkan sepatah katapun.
Liem Tou, tiba tiba si Hauw Jiauw, Pouw Toa Tong menimbrung dari samping. Dendam satu pukulan darimu aku Pouw Toa Tong masih selalu ingat di dalam hati, kau bilang lenyapnya barang kawalan Cing Liong piauw kiok adalah hasil perbuatan dari Cung cu kami, apa kah Cung cu seorang diri bisa merampok dua buah perahu Cing Liong piauw kiok sekaligus?
Liem Tou segera tertawa dingin tak henti-hentinya.
Toa Tong siok, ujarnya kera». Kau jangan memaksa orang keterlaluan aku bisa pukul kau sampai terluka parah cuma didalam satu pukulan saja. Hmmm . . . hmmm . . . bukankah Toa Tong siok pun termasuk salah seorang perampok barang kawalan dari Cing Liong Piauw kiok itu?.
Baru saja si Houw Jiauw, Pouw Toa Tong mau berbicara lagi mendadak Liem Tou sudah menoleh kearah si Ang In Sin pian.
Pouw Cung cu, serunya, perkataan sudah saya ucapkan dengan sangat jelas, Tiga laksa tahil perak macam ini sebelum kentongan ketiga harus diserahkan.
coba saja kalau kalian berani kurang satu tahil perak saja. Selesai berkata mendadak jari tangannya laksana angin yang menyambar menotok jalan darah Khie ay Hiat pada tubuh Pouw Siang Ling.
Mendenguspun belam sempat tubuh Siauw Ling rubuh ke atas tanah dengan mata yang terpejam rapat rapat.
Liem Tou yang sudah punya perhitungan di dalam hatinya mendadak maju ke depan dan menerima tubuh Pouw Siauw Ling itu kemudian dikempit di bawah ketiaknya.
Kakinya sedikit mengerahkan tenaga tubuhnya secara tiba-tiba melayang ke tengah udara kemudian turun meluncur ke atas permukaan sungai dan melayang ke arah tepian dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya.
Liong Ciang. Hauw Jiauw serta Ang In Sin pian segera bersama sama membentak keras, di dalam sekejap saja tiga gulung angin pukulan yang amat dahsyat bersama sama menggulung ke depsn laksana mengalirnya air sungai Tiang Kiang.
Melihat datangnya serangan itu Liem Tou sama sekali tidak jadi gugup, empat buah senjata tajam yang ada di tangan kanannya mendadak di ayun ke belakang
Seketika itu juga keempat senjata tajam itu berubah jadi empat macam senjata rahasia yang berbeda bagaikan kilat cepatnya menghajar tubuh Hauw Jiauw Liong Ciang serta Ang In Sim pian.
Mereka berempat tidak berani langsung menangkap datangnya senjata rahasia tersebut, dengan tergesa gesa tubuhnya menyingkir ke samping serta kemudian baru menyambut datangnya serangan tersebut.
Tetapi begitu senjata itu terbentur dengan tangannya mereka, segera merasakan satu tenaga yang amat dahsyat menghajar pecah telapak tangan mereka dengan perasaan terperanjat mereka terburu buru mundur ke belakang.
Sewaktu menoleh lagi ke samping saat itu Liem Tou sudah jauh meninggalkan tempat itu.
Ilmu meringankan tubuh mereka bertiga belum sampai mencapai pada taraf berjalan di atas permukaan air, karenanya saking khekinya mereka bisa memaki dengan gusarnya dari atas perahu.
Tetapi walaupun begitu mereka tidak dapat berbuat apa, terpaksa dengan hati mendongkol mereka menyuruh orang segera mempersiapkan uang untuk menebus kembali diri Pouw Siauw Ling.
Kita balik pada Liem Tou yang mengempit tubuh pouw Siauw Ling dan balik kembali ke perahu milik Sun Ci Sie itu, setelah meletakkan tubuh pouw Siauw Ling ke dalam perahu diam diam segera pikirnya.
Lebih baik aku letakkan dirinya di sini saja dari pada harus dibawa kemana mana hingga tidak leluasa, sekalipun dia berhasil ditolong oleh Ang In Sin pian akupun tidak takut dia melarikan diri.
berpikir sampai disini dia tidak mengurusi dirinya lagi, dengan cepat tubuhnya meloncat ke atas tepian untuk kembali ke bangunan besar itu dan mencari si perempuan tunggal.
Terlihatlah ssng kerbau dengan tenangnya sedang makan rumput di sana tetapi jejak dari si perempuan tunggal tidak tampak.
Dengan cepat Liem Tou menuju ke samping kuburan enciknya itu, terlihatlah disamping kuburan terukir beberapa patah tulisan "Susiok pergi dulu."
Tetapi dia tidak menulis entah sudah pergi ke mana, dengan termangu mangu lama sekali Liem Tou memperhatikan beberapa patah tulisan itu, dia tidak memahami mengapa secara mendadak si perempuan tunggal pergi dari tempat situ.
Mendadak di samping kuburan enciknya itu Liem Tou menemukan pula beberapa litik darah segar, batinya jadi tergetar amat keras, dengan tergesa gesa dia memeerikss darah yang sudah bercampur dengan tanah itu, dia melibat darah itu belum mengering jelas baru saja keluar dari badan.
Di dalam sekejap saja hatinya terbayang berbagai pikiran yang tidak keruan, tubuhnya dengan cepat meloncat ke atas lalu berteriak dengan suara yang amat keras.
"Susiok, susiok !"
Suara teriakannya seketika itu juga berkumandang sampai berpuluh puluh lie jauhnya sehingga membuat seluruh pegunungan itu mendengung tak henti hentinya, tetapi suara sahutan dari si perampuan tunggal sama sekali tak kedengaran.
Di dalam keadaan yang amat cemas sekali Liem Tou segera mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya berkelebat di sekeliling tempat itu sembari tidak henti hentinya berteriak memanggil, namun jejak dari Si perempuan tunggal sama sekali tidak ditemui.
Dengan termagu mangu Liem Tou berdiri di atas puncak gunung, akhirnya gumamnya seorang diri.
Heei .. .sudahlah, semoga saja susiok bisa berhasil mencapai apa yang diinginkan dengan sukses.
Dengan perlahan dia berjalan balik lagi ke lembah tersebut lalu dengan menuntun kerbau nya menuruni gunung Wu san itu dengan tergesa gesa.
Sesampainya di atas perahu dia melihat tubuh Pouw Siauw Ling dipojokan tak bergerak.
"Dia yang sudah tertotok jalan darah Khei Hay Hiatnya sekalipun hal ini membuat Pouw Siauw Ling tidak dapat bergerak maupun berbicara tetapi sepasang matanya bisa memandang keadaan disana, ketika dilihatnya Liem Tou kembali ke atas perahu tersebut dengan pandangan yang berapi api dia melototkan matanya.
Liem Tou segera kirim senyuman kepadanya.
Siauw Ling heng tentunya kau masih ingat sewaktu tempo hari aku Liem Tou kau hina dan siksa bukan? ujarnya dengan psrlahan.
Asalkan kau masih ingat maka penderitaanmu ini hari harap kau orang suka jangan pikirkan di dalam hati.
Selesai berkata dia memandang lagi ke arah diri Pouw Siauw Ling, tampaklah sepasang matanya melotot bulat bulat sedang dari ujung bibirnya menetes keluar bintik darah segar.
Liem Tou tahu saking kheki dan mendongkolnya dia sudah menggigit lidahnya sendiri, sekali lagi dia tertawa mengejek.
Siauw Ling heng, aku lihat lebih baik kau sedikit tenang, buat apa menyiksa diri sendiri ??
Dia segera bangkit berdiri dan mengambil keluar makanan dari gudang di bawah perahu lantas seorang diri dia melahap santapan itu sampai habis, selama ini melirik sekejap kearah Pouw Siauw Lingpun tidak.
Selesai bersantap dia duduk bersemedhi sebentar untuk menanti magrib datang, setelah itu baru menjalankan perahunya menuju ke kota Hong Kiat.
Saat itulah dia melihat air muka Pouw Siauw Ling sudah berubah pucat pasi bagaikan mayat, mulutnya penuh dengan darah segar.
Dia orang yang memangnya sama sekali tak menaruh rasa kasihan terhadap dirinya segera mendengus dengan amat dinginnya.
Tetapi mendadak pikiran berkelebat dalam benaknya.
"Mungkin dia mau mengucapkan sesuatu kata biarlah aku dengar apa yang hendak diucapkan olehnya, jikalau tidak enak didengar totok lagi bukankah beres"
Dengan perlahan dia bangkit berdiri dan berjalan ke samping badan Pouw Siauw Ling untuk kemudian dengan menggunakan kakinya membebaskan dirinya dari totokan.
"Siauw Ling heng!" ujarnya kemudian. "Kau harus ingat kalau aku Liem Tou saat ini sudah tak ada yang dipikirkan maupun ditakuti, sekalipun kalian ayah beranak kau mencelakai aku dengan cara apapun tidak akan bakal merugikan diriku, tetapi hari ini kau sudah terjatuh ke tanganku, ada omongan cepat katakanlah, tetapi kau harus sedikit pintar, sedikit saja salah ngonaong. , . Hmm .. . Hmm . . '
Pouw Siauw Ling yang jalan darahnya sudah dibebaskan oleh Liem Tou diapun tahu kalau dirinya tidak mungkin bakal berhasil meloloskan diri dari sana, karena itu dengan perlahan dia bangkit berdiri untuk melancarkan jalan darahnya setelah itu dengan menggunakan ujung bajunya menyeka bekas darah yang mengotori ujung bibirnya.
Saat itu Liem Tou sekali lagi duduk bersila untuk bersemedi, air mukanya kelihatan amat keren sekali.
Pouw Siauw Ling yang sudah ada satu tahun lamanya berkelana di dalam dunia kangouw saat ini pengalamannya sudah amat luas sekali karena Itu hatinya tidak begitu bergolak seperti keadaan semula, setelah menghela napas panjang akhirnya dia duduk kembali ke atas permukaan perahu.
Liem Tou, ujarnya dengan benci. Hitung hitung ini hari Pouw Siauw Ling jatuh kecundang ditanganmu, tetapi kau harus ingat sikap kami ayah beranak berdua sewaktu di perkampungan Ie Hee Cung tidaklah terlalu jelek.
Didengar dari ucapannya jelas sekali dia sedang merengek minta diampuni.
Saat ini Liem Tou biarpun sedang bersemedi, seluruh gerak gerik dari Pouw Siauw Ling itu dia bisa melihatnya dengan amat jelas, kini secara tiba tiba dia mendengar Pouw-Siauw Ling menyebut kembali ayahnya tidak terasa tubuhnya kelihatan sedikit tergetar, air mukanyapun sedikit berubah tetapi mulutnya tetap bungkam di dalam seribu bahasa.
Pouw Siauw Ling yang selama satu tahun ini mengikuti diri Ang In Sim Pian berkelana di dalam Bu lim sudah memperoleh pelajaran yang amat banyak sekali dari pada ayahnya, kini melihat air muka dari Liem Tou sedikit berubah dengan cepat ujarnya lagi.
Liem heng, bukankah kau masih ingat sebelum empek Liem meninggal, dia dengan ayah ku sangat baik sekali, coba kau bayangkan sewaktu ayahmu sakit keras, bukankah setiap kali ayahku yang pergi menjenguk dirinya? bahkan sewaktu mendapat perintah dari Lie Cung Cu pada waktu itu malam malam dia turun gunung Ha Mo Leng juga untuk mengundang tabib guna mengobati ayahmu? apakah kau masih ingat semua kejadian ini?"
Liem Tou yang mendengar perkataan tersebut tidak dapat menahan sabar lagi, hatinya benar benar bergolak dengan amat kerasnya.
Pouw Siauw Ling kau jangan bicara lagi' bentaknya aecara tiba'. Kenapa kau tidak katakan di tengah malam kau mengundang aku keluar dari kamar lantas pukuli aku dengan kejam? kenapa kau tidak menceritakan pula di mana ayahmu, tanpa mengucapkan sepatab kata pun sudah mengusir aku turun gunung? jika didengar dari omongan itu aku curiga tentang kematian ayahku tentu sedikit tidak beres"
Sebetulnya perkataan itu diucapkan keluar secara tidak sadar, tetapi setelah didengarnya sendiri mendadak badannya merasa sedikit bergidik.
Tjan Ing Djoe
Jilid 1 : Liem Tou kembali ke Ie Hee cung
Puncak Ha Mo Leng yang terletak dekat kota Ceng Shia dalam propinsi Coan See merupakan sebuah gunung yang sangat tinggi, curam serta berbahaya. Batu-batu cadas menghiasi seluruh puncak gunung disamping jurang yang tak terhingga dalamnya, sedang jalan-jalan yang menghubungi tempat itu pun tak ada, dengan demikian hubungan dengan dunia luar boleh dikata putus sama sekali.
Sebaliknya pada lereng gunung banyak terdapat sungai serta air terjun yang penuh dengan batu cadas yang tajam disamping pusaran air yang amat dahsyat. Perahu yang berani melayari tempat itu tak lebih hanya mencari mati saja.
Saat itu merupakan tengah malam pada pertengahan musim gugur, bulan purnama yang berada jauh ditengah awan menyinarii seluruh jagad dengan terangnya. Suasana pada saat itu begitu sunyi serta tenangnya, hanya terlihat mengalirnya air sungai mengisi keheningan malam yang semakin kelam, tak ubahnya seperti irama surga membelah bumi.
Tiba-tiba ditengah sungai yang tenang serta berkilauan memantulkan cahaya rembulan itu beriak dan memecah keempat penjuru disertai dengan suara deburan ombak yang keras, pancaran air sungai memancar keatas setinggi beberapa kali yang kemudian jatuh kembali kedalam sungai yang saat itu mulai menjadi tenang kembali.
Tak selang lama kemudian dari permukaan sungai muncullah seorang pemuda yang baru berusia kurang lebih lima enam belas tahun. Tampak dia terus berenang hingga mencapai tepi sebuah batu cadas, sambil menengadah keatas, mulutnya berkemak-kemik dengan perlahan:
‘Sungai kematian, Tebing maut, Jembatan pencabut nyawa, bagaimana aku harus melalui tempat-tempat itu?’
Dia duduk sejenak diatas batu cadas tersebut, beberapa saat kemudian mendadak meloncat bangun lagi, ujarnya dengan nada yang penuh semangat.
‘Bagaimanapun juga aku harus pergi sekalipun dipukul atau dibinasakan oleh mereka aku tetap akan menemui cici Siauw Ie’
Sehabis berkata kakinya menjejak tanah, sekali lagi tubuhnya meluncur ketengah sungai yang kemudian berenang dengan cepatnya kedepan.
Pada saat yang bersamaan ruangan Cie Eng Tong atau ruangan para orang gagah didalam perkampungan Ie Hee Cung diatas puncak Ha Mo Leng terlihat terang benderang oleh sorotan sinar lampu.
Cungcu atau ketua perkampungan yang bergelar Ang in sin piau atau si cambuk mega Pouw Sak San sedang berkumpul dengan keempat jago penjaga kampungnya yang paling diandalkan, Liong ciang atau lengan naga, Houw jiauw atau si Kuku harimau, Siang hui kok atau sepasang bango terbang serta putranya yang bernama Pouw Siauw Ling guna merundingkan siasat penjagaan ketiga tempat-tempat berbahaya tersebut.
Tetapi, mereka sama sekali tidak menduga kalau putri dari cungcu yang bernama Pouw Jin Cui bersembunyi dibalik horden mencuri dengar perundingan mereka dengan hati yang kebat-kebit, keringat dingin mengalir keluar membasahi seluruh bajunya, sedang jantungnya hampir-hampir terasa copot dibuatnya.
Beberapa saat kemudian tak tersadar olehnya dengan perlahan ujarnya berkali-kali.
“Sungai kematian, Tebing maut, Jembatan Pencabut nyawa….Sungai kematian, Tebing maut, Jembatan Pencabut nyawa…”
Kemudian pikirnya lagi:
“Biasanya ayah sangat welas asih dan ramah terhadap siapa pun, kenapa terhadap seorang anak yang tidak memiliki kepandaian serta yatim piatu semacam Liem Tou dapat bersikap demikian kejam serta tanpa perikemanusiaan? Apalagi pada saat ayah Liem Tou yaitu Liem Han San masih hidup telah diakui oleh ketua perkampungan yang terdahulu Lie Cungcu sebagai warga perkampungan Ie he cung ini. Dulu dengan menggunakan alasan ayah telah mengusir Liem Tou dari kampong tindakannya ini sudah tak pantas, ini hari merupakan hatri yang telah ditetapkan baginya untuk balik keatas perkampungan, tetapi kenapa ayah akan mencelakakannya? Bukankah tindakannya ini kelewat kejam?”
Pada saat Pouw Jin Cui sedang berpikir dengan perasaan sangat bingung, Cungcu dari Ie hee cung telah meneruskan pesannya pada para jago berkepandaian tinggi dari perkampungan itu.
“Ingat, bilamana Liem Tou si cecunguk itu benar-benar berani menempuh bahaya mendaki atas puncak ini harap saudara sekalian tanpa perasaan was-was membinasakan dirinya. Tindakanku ini semata-mata hanya dikarenakan aku tidak ingin melihat perkawinan diantara keluarga Lie dan keluarga Pouw kami diberantakkan oleh campur tangan seorang bocah dungu”
Sehabis berkata dia menoleh memberi perintah kepada putranya Pouw Siauw ling.
“Siauw Ling, saat tengah malam hampir tiba lekas turun gunung melakukan pemeriksaan apakah bocah itu telah datang atau belum? Tetapi bila sampai bertemu dengan dia jangan sampai diketahui olehnya. Lekas pergi dan cepat balik kembali”
Pouw Siauw Ling menyahut, tubuhnya dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat melayang meninggalkan ruangan itu.
Pouw Jin cui yang mencuri dengar dibalik horden menjadi bingung dan tidak mengerti kenapa ayahnya dapat mengambil tindakan sedemikian kejamnya terhadap Liem Tou, bagaimana pula dia merasakan sedih bagi Lie Siauw Ie yang hidup bagaikan kakak beradik dengan dirinya itu.
===ooo===
Sementara di puncak sebelah timur Ha Mo Leng seorang gadis berbaju putih berusia enam tujuh belas tahun sedang berdiri tertekur dibawah sorotan sinar rembulan, wajahnya sangat cantik, bibirnya kecil mungil berwarna merah muda, hidungnya mancung sedang alisnya kelihatan hitam, hanya sayang wajahnya sedikit pucat, rambutnya riap-riap bergoyang tertiup oleh angina malam sedangkan matanya yang sayu serta mengandung kesedihan yang amat sangat itu dengan terpesona memandang ke bawah gunung dengan tak berkedip.
Tak selang berapa lama dari bawah gunung terdengar siulan panjang yang memecahkan kesunyian, tak terasa alisnya dikerutkan, sedang dari air mukanya menampilkan perasaan yang sangat girang, ujarnya seorang diri.
“Adik Tou…Adik Tou, kau benar-benar dating, cicimu telah sangat lama menantikan kedatanganmu disini, sekali pun cicimu tidak percaya kalau dalam setahun ini kau berhasil memiliki kepandaian silat guna menerobos tiga tempat berbahaya itu untuk bertemu denganku tetapi dengan melalui siulan yang panjang dengan jurang atau lembah sebagai penghalang, kita masih bisa saling berhubungan, bukankah itu sangat bagus?”
Sehabis berkemak-kemik seorang diri dipetiknya sehelai daun dan ditiupnya kencang-kencang sehingga mengeluarkan suara siulan yang panjang, hal ini diulangi beberapa kali. Mendadak dia berhenti meniup, teriaknya:
“Adik Tou…Adik Tou…dengarkah kau cicimu sedang menantimu disini?”
Sekali pun teriakan dari Lie Siauw Ie sangat tinggi sehingga menembus awan tetapi suaranya mana mungkin menandingi suara siulan dari daun itu sehingga dapat berkumandang hingga tempat yang sangat jauh?
Setelah berteriak beberapa kali dia mulai sadar kembali, sekalipun berteriak hingga tenggorokannya pecah juga tak mungkin suaranya bisa terdengar kebawah gunung.
Pikirannya segera berubah, dengan perlahan kain putihnya dilepaskan dan disentakkan keatas hingga berkibar-kibar. Dibawah sorotan rembulan dipertengahan musim gugur yang cerah kain putih itu melambai-lambai dengan indahnya, tak ubahnya bidadari yang turun dari khayangan sambil menari-nari .
Tak selang lama dari bawah gunung terlihat berkelebatnya sinar api yang bergerak dari arah sebelah kiri ke sebelah kanan, ditengah berkelebat sinar api itu Siauw Ie dapat melihat sesosok bayangan manusia yang bergerak dengan perlahan, sudah tentu dia tahu kalau bayangan itu tak lain dan tak bukan adalah Liem Tou, kekasihnya yang dirindukan siang dan malam, hanya saja karena jaraknya terlalu jauh hingga dia tak dapat melihat lebih jelas lagi.
Mendadak dibawah sinar rembulan Siauw Ie melihat bayangan berkelebat dengan cepatnya dari dalam perkampungan Ie hee cung, gerakan tubuhnya begitu gesit serta tangkasnya sedang pada tangannya membawa dua buah benda persegi panjang, segera dia paham kalau benda tersebut merupakan benda yang biasa digunakan untuk melalui sungai kematian.
Terlihat bayangan manusia itu dengan kecepatan yang luar biasa meneruskan larinya kebawah gunung.
Siauw Ie yang sedang mengumpulkan seluruh perhatiannya dapat melihat bayangan itu agak merandek sesampainya diatas Jembatan pencabut nyawa, tetapi dengan cepat dia meloncat kembali sebanyak beberapa kali diatas tempat itu, tebing curam setinggi beberapa kai tersebut dengan mudahnya berhasil dilalui. Adapun jembatan Pencabut nyawa itu luasnya tak kurang dari dua puluh lima depa yang menghubungkan dua tebing diantara sebuah jurang sedalam ratusan kaki. Kedua tebing itu dihubungkan dengan seutas tali baja sebesar jari kelingking, selain orang yang memiliki ilmu meringankan tubuh yang sempurna, jangan harap bisa melewati tempat itu dengan selamat.
Siauw Ie yang melihat ilmu meringankan tubuh dari orang itu telah mencapai demikian tingginya bahkan tidak dibawah kepandaian keempat jago penjaga perkampungan, hatinya menjadi bergerak segera ia tahu kalau orang itu tak lain adalah Pouw Siauw ling, putra dari Cungcu Ie Hee cung, tak terasa pikirnya:
“Untuk apa dia turun gunung disaat begini?”
Ketika memandang lagi daerah tebing sebelah sana tampaklah sinar api dibawah gunung itu masih tetap bergerak-gerak terus, mendadak olehnya teringat akan sesuatu hal dan hatinya menjadi sangat cemas sekali karena dia mengetahui dengan sangat jelas bahwasanya Liem Tou serta Pouw Siauw Ling selamanya bermusuhan terus. Selagi Liem Tou masih berada di perkampungan, Pouw Siauw Ling lah yang sering menganiaya dirinya. Kini dia telah turun gunung bilamana bertemu dengan Liem Tou tak dapat dihindarkan lagi suatu pertarungan sengit pasti akan terjadi dan sudah tentu pula Liem Tou lah yang akan menderita kalah.
Berpikir sampai disini tak ayal lagi dengan cepat Siauw Ie membunyikan siulannya susul menyusul. Inilah tanda rahasia yang digunakan mereka berdua sejak dahulu bila hendak berhubungan.
Benar saja begitu siulan itu berbunyi, sinar api dibawah gunung itu dengan sekonyong-konyong menjadi kecil. Melihat hal itu Siauw Ie menjadi sedikit lega. Tetapi pada saat ini dia tahu Liem Tou telah datang hanya dia tidak tahu apakah dia akan mendaki gunung atau tidak, bersamaan pula apabila dia benar-benar naik keatas gunung bagaimana sikap tindakan cungcu dengan dirinya? Atas beberapa hal ini membuat hatinya tetap merasa tak tenang.
Didalam beberapa saat itulah Pouw Siauw Ling telah selesai melakukan pemeriksaannya dan kembali keatas gunung. Siauw Ie hanya merasakan berkelebatnya sesosok bayangan dihadapan matanya. Pouw Siauw Ling telah berdiri kira-kira dua depa dihadapannya sambil tersenyum licik ujarnya:
“Siauw Ie moay, kiranya kau seorang diri sedang berdiri di tempat ini. Tampaknya kau belum juga bisa melupakan Liem Tou si bocah dungu itu? Ha..ha..”
Siauw Ie yang merasa ia sedang menyindir dirinya, air mukanya segera berubah dengan dingin sahutnya:
“Apa hubungannya aku berdiri seorang diri disini denganmu? Kau tak usah banyak omong”
Siauw Ling dengan sikap yang ceriwis perlahan-lahan mendekati tubuh Siauw Ie ujarnya sambil tersenyum tengik.
“Justru aku tidak mengerti Liem Tou si bocah dungu yang sangat goblok, sifatnya pemurung serta tak memiliki kepandaian silat sedikitpun bahkan boleh dikata seluruh anggota perkampungan jauh lebih lihay sepuluh kali lipat dari dirinya, bagaimana Siauw Ie moay bisa demikian memperhatikan dirinya? Aku kira Ie moay-moay seorang yang cerdik, lupakan saja si bocah dungu itu”
Siauw Ie mendengar ocehan yang makin lama makin tidak karuan itu menjadi amat gusar, seluruh tubuhnya menjadi gemetar dengan keras menahan pergolakan didalam dadanya, teringat kembali olehnya ketika Liem Tou masih berada didalam perkampungan, beberapa kali dia dianiaya oleh Pouw Siauw Ling hingga babak belur dan seluruh tubuhnya penuh dengan luka-luka hanya dikarenakan sifatnya yang keras kepala serta ketus itulah membuat dia merintih pun tidak. Teringat pula olehnya kalau dia adalah seorang anak yang sangat kuat tetapi bandel, biarpun lagaknya ketolol-tololan tetapi sepasang matanya memancarkan sinar yang terang dan bening, dikarenakann seringnya dia menerima siksaan serta aniaya dari seluruh anggota perkampungan itulah membuat perasaan kasihan dari dirinya lama kelamaan menjadi perasaan cinta kasih.
Kini dia mendengar ocehan serta cemoohan dari Siauw Ling membuat amarahnya meledak tanpa tertahan lagi, bentaknya dengan keras.
“Tutup mulut, manusia yang tak tahu malu kau masih bisa menganiaya Liem titi, tetapi jangan coba-coba main-main denganku”
Pouw Siauw Ling melihat Siauw Ie dibuat gusar olehnya, dengan cepat dia tersenyum-senyum tengik, ujarnya dengan cepat:
“Oh Ie moay-moay jangan marah adikku yang manis, kakakmu hanya guyon saja”
Perkataannya belum sempat diucapkan, mendadak Siauw Ie membentak lagi dengan nyaring:
“Siapa yang mau menjadi adikmu?” Muka tebal tak tahu diri, lekas bergelinding dari hadapanku!”
Selesai berkata, tangannya diayun dengan cepatnya, “Plaak” tamparan dari Siauw Ie itu dengan tepat mengenai pipi dari Pouw Siauw Ling , air mukanya berubah menjadi sangat keren, sepasang matanya melotot keluar, dengan gusarnya dia memandang wajah Pouw Siauw Ling yang telah menjadi merah karena gaplokan tadi dengan gemetar makinya:
“Jika bukannya karena kau si muka tebal, Liem Tou tak mungkin akan diusir dari perkampungan, lekas pergi dari sini, aku sebal..sebal melihat tampangmu lagi..cepat bergelinding dari sini”
Sekali lagi tangan yang putih mulus melayang kedepan siap melancarkan tamparan berikutnya, sekali ini Pouw Siauw Ling telah siap sedia, dengan cepat dia mundur beberapa langkah ke belakang sambil mendengus dengan dingin balas makinya:
“Kau budak yang tidak tahu diri, kapankah aku Pouw Siauw Ling pernah menderita rugi darimu? Kini kau berani turun tangan memukul orang”
Dia berhenti sejenak, kemudian ujarnya lagi:
“Baiklah, akan kuberitahukan padamu ini hari bila Liem Tou si bocah dungu itu tidak berusaha naik gunung masih tidak mengapa, bila dia sungguh berani akan kubunuh cecunguk itu, aku mau lihat engkau bisa berbuat apa?”
Siauw Ie begitu mendengar ancaman tersebut hatinya terasa tergetar dengan keras, tetapi pada air mukanya sedikitpun tidak memberi reaksi apapun apalagi memperlihatkan kelemahannya, mendadak dari dalam tubuhnya dia meraup segenggam senjata rahasia yang berupa jarum perak, bentaknya dengan keras:
“Cepat bergelinding dari hadapanku..hmm..hmmm, jangan salahkan aku berlaku kurang sopan terhadapmu bila mukamu masih tebal”
Kiu cu gin ciam atau Sembilan jarum perak maut merupakan senjata rahasia yang ampuh dari keluarga Lie, sudah tentu Pouw Siauw Ling mengenal kelihayannya. Mendengar ancaman itu air mukanya segera berubah dengan hebatnya, dengan cepat dia mundur beberapa depa dari tempat semula, tetapi didalam sekejap saja marahnya memuncak, tangannya dengan cepat mencabut keluar Joan pian yang melilit dipinggangnya dengan gusar makinya:
“Budak tebal, kau kira benar-benar aku takut denganmu? Seluruh kepandaian yang kau miliki boleh dikeluarkan semua, coba kau lihat apakah aku Pouw Siauw Ling bisa berlaga seperti Liem Tou si cecunguk yang menjadi cucu kura-kura”
Selesai berbicara dengan cepat joan piannya diputarnya, sehingga menjadi bayangan yang menyilaukan mata, terdengar angin serangan menderu-deru memekik telinga dengan cepat dia mulai melancarkan jurus-jurus serangan menurut ajaran ayahnya Ang in sin pian.
Seorang yang bertabiat berangasan seperti Siauw Ling mana mau menerima hinaan serta pandangan rendah dari musuhnya, saking gusarnya dia mendepak-depakkan kakinya keatas tanah sedang mulutnya tak henti-hentinya memaki. Tangannya digerakkan dengan kecepatan yang luar biasa, senjata rahasia Kiu cu gin ciam yang berada di tangannya segera dilancarkan di depan dengan menggunakan jurus ‘Man thian hoa ie’ atau seluruh jagad menjadi hujan bunga.
Tampak sinar berwarna keperak-perakan berkelebat dengan kecepatan luar biasa keseluruh penjuru tempat itu.
Pouw Siauw Ling memiliki kepandaian yang tidak rendah, dengan cepat menyentak serta memutar joan pian ditangannya melindungi seluruh tubuhnya, terlihat sinar tajam memancar disekeliling tubuhnya, jarum-jarum yang melayang mendekati tubuhnya dengan cepat berhasil dipukul jatuh, tak terasa dia memperlihatkan perasaan bangganya, sambil tertawa terkekeh-kekeh godanya:
“Bagaimana? Hanya cukup kepandaian ini saja sudah lebih dari cukup bagi si bocah dungu itu untuk berlatih selama berpuluh-puluh tahun. He..he…aku heran gadis cantik seperti kau masa mau dengan bocah goblok, tak ubahnya seperti bunga segar tertancap diatas tahi kerbau, sungguh sayang..sungguh sayang.”
Siauw Ie yang mendengar cemoohan itu saking gusarnya wajahnya telah berubah menjadi putih kehijau-hijauan, baru saja dia siap sedia hendak menerjang kedepan beradu jiwa dengan dia, pada saat itu pula Pouw Jin Cui muncul secara tidak terduga di tempat itu.
Pouw Jin Cui yang tampak mereka berdua sedang bertempur dengan serunya, segera makinya terhadap Pouw Siauw Ling:
“Adik Ling, lagi-lagi kau mengganggu dan menyiksa Ie moay. Masih tidak lekas pulang, ayah sedang menanti kedatanganmu”!
Pouw Siauw Ling hanya tersenyum mengejek mendengar perkataan itu, segera dia melibatkan kembali senjatanya kedalam pinggang, setelah memandang sekejap lagi kearah Siauw Ie barulah meninggalkan tempat itu.
Siapa tahu pada saat itu Siauw Ie telah membenci dirinya hingga menusuk kedalam tulang sumsum, sebuah jarum perak yang tergenggam ditangannya segera dilancarkan kedepan sambil membentak dengan keras:
“Cepat menggelinding dari sini!”
Pouw Siauw Ling sama sekali tidak pernah menduga akan terjadi peristiwa seperti ini, ketika dia merasa adanya sambaran dari senjata rahasia dengan cepat dia mengangkat tangannya berusaha menangkis serangan tersebut, tetapi keadaan sudah terlambat, jarum Kiu cu gin ciam tersebut telah berada dihadapannya sehingga tak ampun lagi pundaknya kena terhajar jarum itu.
Pouw Jin Cui menjadi sangat terkejut, baru saja hendak mencegah perbuatan dari Siauw Ie itu tak tersangka olehnya setelah dia melancarkan serangan senjata rahasianya ternyata telah balik menubruk kedalam pangkuannya dan menangis tersedu-sedu dengan sedihnya.
Untuk sesaat Pouw Jin Cui dibuat gugup dan melongo kesana itu, setelah tertegun untuk beberapa saat lamanya barulah Pouw Jin Cui menjadi sadar kembali dari lamunannya, sambil memeluk tubuh Siauw Ie bentaknya terhadap diri Pouw Siauw Ling.
“Kau masih tidak cepat meninggalkan tempat ini untuk minta obat dari Lie Pe bo, apa kau ingin mencari mati?”
Pouw Siauw Ling setelah terkena serangan senjata rahasia sebenarnya merasa sangat gusar sekali, tetapi kini malah sebaliknya tersenyum sambil memandang tajam kearah kedua orang gadis itu.
Pouw Jin Cui yang melihat keadaan tersebut segera tahu kalau dia sedang menaruh niat untuk membalas dendam, oleh sebab itu sengaja dia membentak dengan keras memaki dirinya.
Begitu diperingatkan oleh kakaknya Pouw Siauw Ling menjadi teringat kalau senjata rahasia Kiu cu gin ciam dari keluarga Lie mempunyai dua macam, yang satu beracun sedang yang lain tak beracun. Ketika dia terkena senjata rahasia tadi oleh karena sedang dalam keadaan gusar sehingga tidak merasakan macam yang manakah senjata rahasia yang terkena didalam tubuhnya, ingin dia menanyakan pada diri Siauw Ie tapi kuatir dia tak mau memberi jawaban terpaksa dia tetap membungkam.
Terpikir sampai disini dia tak berani mengulur waktu lebih lama lagi, dengan hati yang mendongkol dengan cepat dia berlalu dari tempat itu.
Pouw Jin Cui tampak Siauw Ling telah meninggalkan tempat itu, sambil menghibur tanyanya kepada Siauw Ie.
“Ie moay, jangan menangis lagi beritahu kepada diriku apa adik Tou telah datang? Kita harus mencegah dia untuk melanjutkan usahanya menempuh bahaya mendaki keatas gunung”
Mendengar perkataan itu, Siauw Ie berhenti menangis, dengan tertegun tanyanya:
“Mereka mau berbuat apa atas dirinya?”
“Mereka…aku kuatir mereka…mereka..hendak….”
Agaknya sukar baginya untuk meneruskan perkataan selanjutnya, tetapi dengan menggigit kencang bibirnya ujarnya lagi:
“Mungkin mereka akan menghabiskan nyawanya”
Mendengar penjelasan tersebut Siauw Ie hanya merasakan dadanya terasa menjadi sesak hingga sukar untuk bernapas, bagai baru saja terpukul suatu serangan dahsyat hingga sakit sukar ditahan, air mukanya berubah menjadi pucat kehijau-hijauan, tetapi dengan paksa dirinya dia tetap mempertahankan pergolakan didalam benaknya, tanyanya lagi:
“Cici Cui, benarkah perkataannmu itu? Kenapa mereka bisa bertindak demikian kejamnya?
Bukankah cungcu yang terdahulu mengakui mereka ayah beranak sebagai warga Ie he cung ini dan mereka mempunyai hak untuk menerima hukuman sepantas dengan peraturan perkampungan tetapi berhak juga untuk merasakan kebahagiaan serta hak untuk melindungi perkampungan ini? Lagi pula menurut peraturan perkampungan orang-orang yang sudah diusir dari perkampungan ini masih mempunyai kesempatan kembali kedalam perkampungan sebanyak tiga kali dan bilamana didalam ketiga kesempatan itu dia berhasil melewati ketiga rintangan berbahaya yang berupa Sungai kematian, tebing maut dan Jembatan pencabut nyawa, bukan saja dia diperbolehkan berdiam kembali didalam perkampungan bahkan kedudukan sebagai cungcu pun harus diserahkan kepadanya. Kenapa sekarang baru saja pertama kali dia mencoba kembali kedalam perkampungan mereka telah siap hendak mencelakai dirinya? Bukankah dengan demikian peraturan perkampungan Ie hee cung telah diinjak-injak sendiri secara keji oleh mereka?”
“Dalam hal ini aku pun tidak mengerti, aku hanya tahu tentang perundingan penjagaan ketiga tempat bahaya tersebut dengan mencuri dengar dibalik horden, karena pentingnya serta kritisnya keadaan dengan cepat aku lari kemari beritahu padamu, bagaimanapun juga kita harus mencari akal untuk berusaha mencegah adik Tou menghantarkan nyawanya secara percuma”
Perkataan ini sudah tentu masih banyak terdapat hal-hal yang tidak disebutkan olehnya, karena bagaimana pun juga Cung cu yang sekarang adalah ayahnya sendiri, bila dia berbicara terus terang seluruh apa yang diketahuinya sudah tentu terdapat banyak tempat yang akan memaksa dia tak enak untuk membicarakannya.
Setelah mendengar penjelasan itu, Siauw Ie hanya berdiam diri tak berbicara, hatinya terasa ditusuk oleh beribu-ribu batang jarum.
Tiba-tiba air matanya meleleh keluar membasahi pipinya, sambil menahan isak tangis ujarnya lagi:
“Cici Cui, habis bagaimana sekarang? Bilamana adik Tou mendapatkan cidera atau binasa Cici Cui, adik Ie mu juga tak mau hidup lebih lama lagi didalam dunia ini..”
Untuk sesaat Pouw Jin Cui pun merasa bingung harus berbuat bagaimana untuk mencegah usaha Liem Tou untuk menghantarkan nyawanya dengan percuma, sedang Siauw Ie dengan perlahan menundukkan kepalanya kembali, agaknya sedang memikirkan sesuatu.
Tak lama kemudian terdengar ia berkata lagi dengan terisak-isak:
“Sungguh kasihan benar dia, hei… kasihan benar adik Tou yang malang”
Mendadak dia mengangkat kepalanya keatas, dengan keras lanjutnya:
“Cici Cui, kau harus menolong dia, kau pasti bisa menolong dia, kau lihat dia sebatang kara tanpa sanak keluarga, sungguh amat kasihan”
Perkataan Siauw Ie ini membuat seluruh tubuh Pouw Jin Cui terasa berdesir, tak tertahan air matanya pun keluar meleleh membasahi seluruh wajahnya, tapi mendadak teringat olehnya kenapa tadi Siauw Ie bisa bilang kalau pasti bisa menolongnya? Apa mungkin dia sudah menemukan cara untuk menolongnya.
Pada saat Pouw Jin Cui terbenam dalam lamunannya itu, dari samping tunuhnya, suara tajam memekikkan telinga memecahkan kesunyian yang mencengkam disekitar daerah itu, ketika dia menoleh terlihat Siauw Ie sedang meniup daun ditangannya dengan keras, sedang suara yang memekikkan telinga itu terdengar berasal dari daun tersebut.
Begitu suara suitan itu berkumandang beberapa saat lamanya dari arah bawah terlihat munculnya sinar api yang bergerak-gerak, dengan cepat ujarnya pada Pouw Jin Cui.
“Cici Cui, lihatlah…dia, Liem Tou, antara kita berdua kepandaianmu telah mencapai taraf yang sangat tinggi tentu kau sanggup untuk melewati ketiga tempat berbahaya itu. Bilamana cici Cui punya niat untuk menolong nyawa adik Tou, saat ini juga cepatlah turun gunung memberi tahu padanya agar dia jangan sampai menempuh bahaya dengan percuma, bilamana kepandaianku sudah berhasil kulatih tentu aku bisa turun gunung mencari dia. Cici Cui maukah kau? Adik Ie mu selamanya tak akan melupakan budimu yang besar ini”
Sambil berkata tak tertahan butiran air mata menetes keluar semakin deras, sudah tentu Pouw Jin Cui tak tega untuk menolaknya.
Dalam hati dia tahu jelas bilamana ayahnya mengetahui perbuatannya ini kemungkinan kecil harapan untuk bisa lolos dari suatu makian serta hukuman yang berat tapi urusan ini telah menjadi begini, berpikir panjang juga tiada gunanya. Sekalipun akhirnya akan mendapatkan hukuman yang sangat berat dari ayahnya juga tidak mengapa. Tak disangka olehnya ketika dia hendak mengabulkan permintaan dari Siauw Ie itu, dari dalam perkampungan Ie hee cung terlihat berkelebat datang empat lima buah bayangan manusia, sekali pandang saja segera dia tahu kalau bayangan manusia itu terdiri dari ayahnya serta beserta keempat orang penjaga perkampungan yang paling diandalkan. Tak terasa teriaknya:
“Celaka, adik Ie aku pergi dulu”
Perkataannya baru saja keluar dari mulut, tubuhnya melayang jauh beberapa kaki tetapi dia tak berani terlalu memperlihatkan gerak tubuhnya, terpaksa dengan membungkukkan tubuhnya melayang dengan cepatnya kedepan, tidak selang lama Siauw Ie telah melihat Pouw Jin Cui sudah berada disamping jembatan pencabut nyawa, dengan beberapa kali lompatan saja dia sudah berhasil lompati jembatan tersebut.
Tetapi setelah melewati jembatan pencabut nyawa itu, ditengahnya masih terdapat jarak yang cukup panjang, merupakan sebuah tebing yang kosong, sebaliknya cung cu beserta Liong ciang Houw jiauw Siang hui hok sekalian telah berada tidak jauh dari jembatan pencabut nyawa itu, dengan demikian sekali sebelum Pouw Jin Cui tiba di ujung tebing untuk menyembunyikan diri telah diketahui oleh mereka.
Tanpa sadar seluruh tubuh Siauw Ie basah kuyup oleh mengalirnya keringat dengan derasnya, diam-diam pikirnya:
“Apabila cici Cui diketahui oleh mereka, semuanya tentu akan berantakan”
Dalam keadaan yang sangat cemas, mendadak tanpa berpikir panjang lagi teriaknya dengan keras:
“Tolong…Tolong…!”
Dugaannya ternyata benar, begitu suara teriaknya berkumandang segera terlihatlah beberapa orang itu memutar kembali arahnya menuju kearah dia berdiri dengan gerakan yang sangat cepat, dia tahu kalau siasatnya berhasil, segera dengan nada yang keras teriaknya lagi:
“Ada ular…ada ular…!”
Sambil berteriak tubuhnya ikut berloncat-loncatan dan melayang kearah perkampungan Ie hee cung dengan gerakannya yang amat lincah, setelah dilihatnya tempat itu tertutup dan sukar untuk melihat keadaan dibawah gunung, barulah dia pura-pura membungkuk berlagak seperti sedang memandang sesuatu sedang kakinya menjejak dengan kerasnya kearah dedaunan diatas tanah.
Begitu cung cu sekalian tiba dihadapannya segera dia dihujani dengan pertanyaan-pertanyaan:
“Siauw Ie, telah terjadi urusan apa?”
“Ooh, paman-paman, bagaimana sampai disini? Seekor ular, ooh.., ular beracun yang amat besar, kurang sedikit saja aku tergigit olehnya untung saja ketika itu aku melepaskan senjata rahasia hingga dia melarikan diri karena kesakitan”
Apa yang diucapkan Siauw Ie begitu lancar, lincah serta menyenangkan membuat beberapa orang itu sama sekali tidak menaruh curiga apa pun. Lebih-lebih si telapak naga yang bernama Lie Kian Po yang merupakan satu she dengan diri Siauw Ie, dengan penuh perasaan kuatir tanyanya:
“Siauw Ie, hari telah demikian malamnya tapi mengapa dan kenapa kau masih berada disini. Andaikata benar-benar kau sampai dipagut ular beracun bukankah hal ini hanya akan menyusahkan ibumu?”
Siauw Ie telah mendengar nasehat itu sekali pun dalam hati dia merasa sangat berterima kasih atas perhatiannya, tetapi diam-diam dia pun merasa geli. Sambil tersenyum dia menutup mulutnya tidak menjawab.
Tak disangka tiba-tiba terlihat Cung cu Pouw Sek San mendengus dengan dinginnya sambil mendesak dia memandang gusar kearah Siauw Ie.
Siauw Ie yang merupakan seorang gadis cilik yang sangat cerdik begitu melihat perubahan wajahnya segera teringat kemungkinan sekali dia gusar karena dirinya telah menyambitkan sebuah senjata rahasia Kiu cu gin ciam kearah Pouw Siauw Ling, dalam hati dia semakin gusar bercampur cemas sedang pikirannya terus berputar, pikirnya:
“Kenapa tidak sejak sekarang juga aku berusaha menguasai dirinya? Disamping bisa memaki dia dengan beberapa kata hingga rasa mangkal dalam hati menjadi berkurang, dengan demikian aku pun bisa mengulur waktu lebih lama lagi agar cici Cui mempunyai kesempatan untuk balik kembali”
Berpikir sampai disitu dia tidak ambil diam, air mukanya segera berubah menjadi sangat dingin, dengan nada yang serius ujarnya pada diri Pouw Cung cu:
“Paman cung cu, keponakan ada suatu hal yang perlu disampaikan kepadamu, entah paman mau tidak memberi kesempatan kepada keponakanmu ini?”
Cung cu tidak pernah menyangka dia bisa berbuat demikian, setelah tertegun beberapa saat lamanya barulah sahutnya:
“Ada urusan apa cepat kau katakana?”
“Sejak kecil keponakanmu ini telah kehilangan ayah dan aku menjadi besar berkat rawatan serta didikan dari ibu, aku sadar kalau tidak punya kekuatan didalam membantu melakukan pekerjaan yang menguntungkan bagi perkampungan kita dalam hatiku sering merasa sangat menyesal, aku semakin sedih…”
“Tentang ini aku sudah tahu jelas, buat apa kau banyak bicara?” potong Cung cu ketika dia mendengar yang dibicarakan semakin jauh.
“Bila semua menolong dan memberi bantuan kepada kalian ibu beranak sebenarnya sudah merupakan tugas kami, kau tak perlu berpikir lebih jauh lagi”
Siauw Ie menjadi mendelik, dengan gusar ujarnya lagi:
“Sekali pun paman sekalian dengan setulus hati menjaga serta membantu kami, tapi kakak Siauw Ling selamanya berpura-pura baik, pada hal pekerjaannya hanya melulu mengganggu aku serta mencemooh diriku, bahkan adakalanya gerak-geriknya kurang sopan. Oleh karena itu tadi didalam keadaan yang amat gusar, keponakanmu telah menghadiahkan sebuah jarum Kiu cu gin ciam kepadanya, aku kira paman sekalian serta Cung cu tidak sampai menyalahkan tindakan kasar dari keponakanmu ini”
Atas dari kata-kata dari Siauw Ie yang tajam dan sukar dibantah itu membuat Pouw Sek San untuk sesaat lamanya tidak bisa menjawab. Siauw Ie yang melihat Cung cu dibuat tidak bisa berkutik oleh kata-katanya yang pedas serta tajam itu segera menambahnya lagi:
“Masih ada lagi, keponakanmu tahu kalau paman Pouw Cung cu telah mengutus orang untuk bertemu dengan ibu guna meminang diriku bagi kakak Siauw Ling, aku ingin paman menghapuskan niatmu ini untuk selamanya, aku merasa tidak sanggup untuk menerima penghargaan yang demikian tingginya”
Saking gusarnya air muka Pouw Sek san berubah menjadi putih kehijau-hijauan sekali pun hanya disoroti oleh sinar rembulan yang remang-remang, tetapi dapat terlihat dengan jelas, agaknya hawa amarahnya telah mencapai pada puncaknya, seluruh tubuhnya gemetar dengan keras, sedang untuk sesaat lamanya membuat dia merasa bingung harus berbuat bagaimana untuk memberi jawaban atas perkataan dari Siauw Ie itu.
Untung saja si telapak naga Lie Kiam Po yang melihat keadaan bertambah tegang segera memakinya:
“Siauw Ie, kenapa kau?”
Tak tertahan lagi Siauw Ie menangis tersengguk, sambil menahan isak tangisnya menyahut:
“Paman Kiam Po aku tidak apa-apa, aku benar-benar tidak tahan”
Beberapa orang lainnya melihat dia bersikap demikian, hanya bisa saling pandang memandang tanpa berkata-kata, untung saja pada saat itu Pouw Jin Cui muncul secara mendadak di tempat itu, dengan cepat dia menarik Siauw Ie menyingkir sambil ujarnya:
“Adik Ie, coba lihat sikapmu seperti anak kecil saja, mari kita pulang saja”
Siauw Ie melihat Pouw Jin Cui telah kembali keinginan untuk mengetahui keadaan Liem Tou mendesak dia untuk mengakui ajakan Pouw Jin Cui tanpa membantah.
Cung cu yang menerima makian tersebut juga tak dapat berbuat apa apa hingga terpaksa dengan hati yang mendongkol mengaajak keempat anak buahya melanjutkan untuk menjaga Sungai kematian tebing maut atau jembatan pencabut nyawa.
Lie Siauw le setelah meningalkan tempat semula dengan diri Pouiw Jin Cui tak tertahan lagi dengan gugup tanyanya.
“Cici Cui, kau sudah bertemu dengan dia ?”
Pouw Jin Cui mengangguk dengan sahutnya perlahan:
“Bagaimana juga, dia tetap ingin menemui mu, sekalipun aku sudah bilang keadaan sangat berbahaya tetapi dia tetap menggelengkan kepala bahkan kukuh dengan pendiriannya untuk bertemu dengan kau.”
Mendengar perkataan itu bukan main rasa girang dalam hati Siauw Ie, tapi dibalik kegembiraannya itupun merasa sangat cemas, teringat olehnya dalam keadaan bahaya didalam saat men daki ketiga tempat bahaya itu, tak terasa jantungnya berdebar dengan keras, teriaknya dengan keras.
“Tidak, bagaimanapun juga dia tidak boleh datang, Cici Cui, sebelum tiba diatas gunung tentu dia telah dibunuh mati oleh mereka.”
“Adik le, untuk sementara kau tidak perlu cemas sekalipun adik Tou bilang pasti ingin menemui kau, tetapi dia juga bilang tidak akan sampai menemul bahaya.”
Mendengar itu Siauw le menjadi sangat he¬ran tanyanya:
“Jika demikian adanya apa boleh dikata, benar-benar dia telah memiliki kepandaian untuk melewati ketiga tempat bahaya itu? Selain itu masih ada cara apalagi dia bisa datang menemui aku”
Pouw Jin Cui menggelengkan kepala tidak menjawab, padahal dalam hatinya diapun tidak tahu dengan cara apa Liem Tou bisa bertemu dengan Siauw Ie.
Terdengar Siauw Ie telah bertanya lagi:
“Katau begitu dia bilang kapan mau datang?”
“Katanya begitu terang tanah segera dia naik kegunung menemui kau.”
Ketika mengetahui kalau Liem Tou baru akan naik gunung setelah terang tanah, kedua orang itu setelah berunding sebentar segera pulang untuk beristirahat dan siap pada hari esoknya naik kepuncak menanti kedatangan Liem Tou.
Setelah sampai dirumah tanpa tukar pakaian Siauw le segera naik kepembaringan, tetapi mana dia bisa tidur? Dalam otaknya telah penuh dengan bayangan Liem Tou, sepasang matanya melotot hingga jauh malam.
Tetapi akhirnya saking lelah serta sedihnya ketika hari mendekati fajar tanpa dapat tertahan lagi dia tertidur pulas.
Menanti dia mendusin kembali matahari telah jauh tinggi sekonyong konyong terdengar olehnnya suara ribut yang amat berisik dari orang orang perkampungan, agaknya telah terjadi sesuatu hal.
Dengan kecepatan yang luar biasa segera dia meloncat bangun dan lari keluar rumah, tetapi sebelum dia mencapai luar pintu secara tiba-tiba terdengar diantara suara yang amat ribut itu terdengar seorang menjerit kaget sambil ujarnya dengan keras:
"Aah, si Liem Tou yang malang telah tenggelam didalam sungai, Ooh..matinya sungguh mengenaskan sekali".
Ada pula yang berteriak:
“Jenazahnya segera akan dibawa balik keatas gunung oleh si Telapak naga paman Lie. 0oh Penguasa Liem hanya meninggalkan seorang putra dungu itu, kini dia telah mati tenggelam dalam sungai — - Ooh Thian sungguh kau tidak adil, kenapa penguasa Liem yang begitu baiknya diberi hukuman demikian beratnya."
Siauw le yang mendengar perkataan itu bagaikan disambar petir disiang hari bolong telinganya terasa berdengung dengan keras sedang darah didalam dadanya bergolak dengan kerasnya, seluruh tubuhnya gemetar dengan keras, air mukanya berubah menjadi putih kehijau-hijauan. Sedang tubuhnyo. dengan tertegun berdiri mematung ditempat, pada mulutnya tak henti hentinya berkemak-kemik:
-Mungkin aku sedang bermimpi, apa mung¬kin aku bermimpi?? Mimpi ini sungguh menakutkan. Aku tidak ingin mimpi lagi , . ah . bagaimana adik Tou bisa mati tenggelam dalam sungai?? Orang lain menganggap dia tolol padahal sama sekali dia tidak bodoh, bagaimana bisa tenggelam dalam sungai? Tidak, tidak ,tentu aku sedang bermimpi..”
Sambil berkemak kemik mendadak dengan keras dia menjambak rambutnya sendiri, teriaknva dengan keras:
“Aku tidal mau mimpi lagi .. aku tidak mau... mimpi lagi ..Ooh aku sedang bermimpl."
Mendadak rambutnya yang dijambak menjadi rontok, sedang darah segar menetes keluar membasahi wajahnya, pada saat itulah dia baru tahu kalau dirinya sebenarnya bukan sedang bermimpi, pukulan batin kali ini semakin berat rasanya. Tiba-tiba sepasang matanya melotot keluar bagaikan seorang gila dengan cepat berlari kedepan sambil teriak dengan keras:
“Adik Tou. Kau sungguh kejam. Kiranya kau bilang pada fajar menyingsing hendak menemui aku ternyata dengan jalan ini, baiklah, kita akan segera bertemu, aku akan segera bertemu, aku segera akan menyusul dirimu”
“Adik le, kau jangan pergi, untuk sementara kau jangan pergi, Ie moay-moay, dengarlah perkataanku, untuk sementara kau jangan pergi”
Ketika berkata sampai disitu air matanya tak tertahan lagi menetes keluar membasahi wajahnya, pada saat seperti ini mana mungkin Siauw Ie mau mendengar perkataannya sambil berlari terus kedepan mulutnya tetap berteriak-teriak:
“Aku mau menemui dia, aku mau menemui dia”
Pouw Jin Cui melihat, mencegahpun tak ada gunanya terpaksa melepaskan Siauw Ie yang meneruskan larinya, sedang dirinya sambil meneteskan air mata berjalan disamping tubuhnya untuk mencegah terjadinya sesuatu hal yang tidak diinginkan.
Dengan melototkan sepasang matanya serta air muka yang telah berubah hijau membesi, Siauw Ie terus lari menerjang kedepan, tidak perduli dimukanya ada orang atau tidak dia tetap menerjang kedepan. Semua orangyang melihat perubahan wajahnya tak terasa lagi pada menyingkir dengan sendirinya.
Baru saja dia berlari sampai didepan perkampungan dilihatnya si Telapak naga Lie Kiam Po dengan membawa sesosok mayat yang basah kuyup berjalan mendatang, kedua belah sampingnya berjalanlah Cung cu perkampungan Ie hee cung, Houw jiauw, Sian hui hok serta Pouw Siauw Ling lima orang, air muka semua orang terlihat sangat serius serta berat kecuali Pouw Siauw Ling seorang yang masih menampilkan senyuman ejeknya.
Siauw Ie begitu tiba pada jarak yang tidak begitu jauh dari beberapa orang itu, secara mendadak dia memperlambat langkah kakinya, bahkan boleh dikata saking lambatnya hingga sukar dilukiskan.
Pouw Jin Cui yang berdiri disampingnya pun merasa hatinya berdebar dengan keras, dia tak dapat menduga bakal terjadi peristiwa apa.
Rombongan Cung cu sekalian ketika sampai di hadapan Siauw Ie dan melihat air mukanya sangat aneh, tanpa disadari oleh mereka bersama-sama menghentikan langkah kakinya, sepasang mata Siauw Ie terlihat makin memancarkan sinar merah berapi-api menahan kegusarannya, sambil menuding kearah si Telapak naga bentaknya:
“Lepaskan dia keatas tanah”
Si Telapak naga Lie Kiam Po yang dibentak secara demikian dihadapan orang banyak semula menjadi tertegun, kemudian disusul dengan hawa amarah yang meluap. Baru saja dia hendak memaki atas kekurang ajaran dari Siauw Ie itu, dilihatnya Pouw Jin Cui yang berdiri disampingnya telah memberi kerdipan mata sebagai tanda, sambil berebut maju satu langkah kedepan ujarnya:
“Paman Kian Po, jangan gusar, ikutilah permintaan dari Siauw Ie moay itu”
Lie Kian Po melihat air muka kedua orang gadis itu berbeda dari keadaan biasa segera tahu kalau didalam hal ini pasti terselip suatu sebab tak terasa dia menoleh memandang kearah cung cu minta persetujuannya, dengan perlahan cung cu mengangguk menyetujui, kemudian membalikkan tubuhnya berlalu dari tempat itu.
Terpaksa Lie Kian Po melepaskan mayat yang telah menjadi kaku itu, Siauw Ie segera mengenali mayat itu bukan lain dari Liem Tou adanya.
Terlihat perutnya kembung menandakan kalau dia baru saja kenyang minum air sungai, hanyalah biarpun dia suduh putus napas dan matanya tertutup rapat, air mukanya masih tetap segar bugar, sedikit pun tidak memperlihatkan tanda seorang yang telah binasa, hanya rambutnya saja yang tidak karuan sedang warna kulitnya pun sedikit berubah kehitam-hitaman.
Siauw Ie yang memandang kearah jenazah itu makin dilihat hatinya semakin sedih, terasa suatu aliran yang amat panas dengan cepat mengalir keseluruh tubuhnya, tak terasa seluruh tubuhnya gemetar dengan keras. Dia tak dapat mempertahankan dirinya lagi bagaikan seluruh tubuhnya serasa hendak meledak mendadak dengan menjerit keras dengan cepat dia menubruk keatas tubuh Liem Tou yang telah berubah menjadi mayat sedang air matanya menetes keluar dengan derasnya, teriaknya dengan keras.
“Adik Tou..adik Tou kau tak boleh mati, aku disampingmu, bukalah matamu, aku berada disampingmu..Ooh..adik Tou..”
Suara tangisannya yang demikian sedih membuat suasana disekeliling tempat itu diliputi oleh kesedihan, sedang Pouw Jin Cui pun tak dapat menahan menetesnya air mata demikian juga sekalian orang-orang juga merasa sangat sedih akan terjadinya kisah ini, hanya Pouw Siauw Ling yang merasa senang, pada bibirnya tersungging suatu senyuman mengejek, sedikitpun tak tergerak hatinya melihat kepedihan itu.
Setelah menangis dengan sedihnya beberapa waktu lamanya dengan keadaan yang tak sadar benar dia membopong jenazah dari Liem Tou dan meninggalkan tempat itu dengan cepat. Beberapa orang yang berada disekeliling tempat itu menjadi sangat terkejut dengan cepat mereka berusaha menghalangi tindakan dari Siauw Ie itu sedang Pouw Jin Cui dengan cepat bertanya:
“Adik Ie kau hendak kemana?”
Tapi Siauw Ie hanya sedikit mengangkat kepalanya saja dengan dinginnya dia memandang sekejap kearah beberapa orang itu, kemudian melanjutkan lagi berjalan kedepan.
Orang-orang itu menjadi semakin bingung harus berbuat bagaimana baiknya, ketika Siauw Ie berjalan sampai dihadapannya dengan tanpa sadar mereka menyingkir memberi jalan, kemungkinan sekali mereka terpengaruh oleh sikapnya yang serius, berwibawa serta dapat menguasai orang lain tanpa sadar.
Sambil membopong jenazah dari Liem Tou, dengan langkah yang perlahan Siauw Ie berjalan melewati perkampungan Ie hee cung kemudian meneruskan perjalanannya menuju kebelakang kampong ditengah sebuah hutan yang sunyi.
Setelah berjalan keluar dari perkampunga, Pouw Jin Cui kuatir terjadi sesuatu hal dengan diri Siauw Ie segera mengikuti terus dibelakang tubuhnya, tetapi tiba-tiba terdengar dengan nada yang rendah ujar Siauw Ie:
“Cici Cui, aku sangat berterima kasih atas perasaan simpatikmu. Kini kau boleh kembali, adik Ie mu tak mungkin akan berbuat hal-hal yang nekad”
Sekalipun Pouw Jin Cui mendengar dia berkata dengan tegas, tetapi hatinya tetap merasa kuatir, baru saja mau memberikan jawabannya Siauw Ie telah melanjutkan lagi:
“Cici Cui, coba pikirlah dirumah aku masih ada ibu, apa mungkin aku bisa berbuat sesuatu yang nekad? Aku hanya ingin berdua dengan Liem Tou ditempat yang sunyi, lebih baik kau pulang terlebih dulu, orang-orang yang mengikuti dibelakangku tolong cici uruskan, adikmu tentu akan merasa sangat berterima kasih”
Setelah mendengar perkataan dan dipikirnya bolak-balik, Pouw Jin Cui merasakan kalau perkataannya sangat beralasan, segera dia mengikuti apa yang diucapkan untuk melaksanakannya, terlihatlah dengan perlahan-lahan Siauw Ie berjalan masuk kesebuah hutan yang lebat dibelakang perkampungan Ie hee cung.
Siauw Ie segera membawa jenazahnya Liem Tou yang telah kaku kedalam hutan yang berada disitu, ketika itu juga didalam pikirannya timbui kenangan lama sewaktu masih bermain main dan berjalan jalan bersama dirinya terasa air matanya menetes keluar semakin deras, setelah terpekur beberapa saat kemudian ujarnya seorang diri:
"Adik Tou, masih ingatkah dulu ketika kau bermain bersama ditempat ini derganku? Suara siulan dari dedaunan juga kau belajar dari aku ditemnat ini. Mereka bilang kau anak gobloke padahal hanya cukup dua kali saja aku memberitahu padamu kau sudah bisa."
Sambil berkata tak terasa air mukanya jatuh menetes keatas wajah Liem Tou dia mengawasi kekasihnya dengan penuh haru. Pada saat itulah tubuh yang semula telah mulai kaku kini menjadi lemas secara tiba tiba. Tak terasa Siauw le menjadi sangat terkejut. Tetapi dari dalam hatinya segera terlintaslah suatu pikiran, diam-diam batinnya:
'Apa mungkin adik Tou telah, merasakan kesedihanku, hingga roh halusnya hendak munculkan diri dihadapanku?”
Ketika berpikir sampai disitu dia tidak merasa terkejut lagi, sambil meneruskan perjalanannya menuju kedalam rimba mulutnya bergumam dengan perlahan:
“Adik Tou. Mari kita pergi lihat tempat kita beristirahat sewaktu telah lelah, tempat itu hingga kini tak seorang pun yang mengetahuinya. Adik Tou, mau tidak? Lihatlah, sudah hampir tiba!”
Pada saat itu Siauw Ie telah berjalan kearah lereng dibelakang puncak Ha Mo Leng, sesampainya dibawah sebuah pohon yang amat lebat dia berhenti ujarnya lagi:
“Adik Tou, kita telah sampai..”
Sambil berkata dia meletakkan jenazah Liem Tou kebawah pohon, sedang dia sendiri duduk termenung disampingnya, dengan terpesona memandang awan awan yang bergerak dan beriring itu diten gah udara, sebentar dia tertawa sendiri sebentar meneteskan air matanya dan menangis dengan sedihnya.
Sekonyong konyong...... dilihatnya dedaunan serta cabang pada pohon yang besar diatas kepalauya tanpa sebab ternyata bargoyang sendiri padahal waktu itu tak ada angin yang sedang bertiup, dia merasa sangat heran dan bingung, apa yang telah terjadi? Dengan cepat dia melompat bangun dan termangu-mangu memandang kearah jenazah Liem Tou keatas tanah perutnya yang kencang dengan air sungai masih terlihat mengembang dengan besarnya hingga menyerupai sebuah gundukan gunung kecil, siapa tahu dalam sekejap saja telah lenyap tak tanpa bekas.
Setelah termangu-mangu memandang beberapa saat ketika Siauw Ie melihat perubahan dari perut Liem Tou tidak menampilkan perubahan aneh lainnya barulah dia merasa lega dan berjalan ketempat semula, setelah berpikir bolak-balik sambil menghela napas ujarnya lagi:
“Adik Tou kau pergilah dengan hati yang tenang, selama hidup cicimu akan selalu mengingat dirimu, tetapi dunia dan alam baka berpisah jauh, entah titik apa akan selalu mengingat cicimu?” Sambil berkata dia menghela napas panjang.
“Akan kuingat selalu. Sekalipun aku teiah berubah menjadi setan aku akan selalu ingat diri Cici. Ciciku yang tercinta kau tak usah kuatir tak akan kulupa diri Clci untuk selamanya”
Siauw Ie merasakan kalau suara itu berasal dari tubuh Liem Tou yang berbaring disampingnya, dia rnenjadi sangat kaget, tak terasa bulu tengkuknya pada berdiri semua.
Tiba tiba dilihatnya Lim Tou mulai meluruskan kakinya dan merangkak bangun dengan perlahan-lahan dari atas tanah, rasa terkejutnya kali ini bukan alang kepalang dengan kecepatan kilat dia segera meloncat bangun tangannya dengan kencang mencekal beberapa batang jarum perak dengan keraas bentaknya:
"Kau--- kau manusia atau setan!"
Dengan lagak yang ketolol-tololan Liem Tou tersenyum setelah membereskan rambutnya yang basah ujarnya:
“Cici Ie kau jangan demikian galaknya, adik mu adalah manusia bukan setan"
Siauw Ie tetap tidak mau percaya satelah berdiam diri selama beberapa waktu dengan perlahan barulah dia memegang Liem Tou, tapi dengan cepat ditariknya kembali ujarnya:
“Kalau manusia kenapa tanganmu demikian dinginnya?”
"Adikmu telah merendamkan diri didalam air sangat lama sekali hingga sekarang merasa kedinginan. Cici maukah sekarang kau memberi kehangatan tubuh kepadaku?"
Slauw le tersipu sipu karena malunya, sambil tersenyum manis dia memandang tajam ke arah Liem Tou, tetapi tiba tiba dia melelehkan air matanya kembali ujarnya dengan sedih:
"Apabila adik Tou benar-benar binasa, Cici mu juga tak mau hidup lebih lama lagi.”
Liem Tou tidak menjawab, hanya dengan senyuman yang ketolol-tololan memandang diri Siauw Ie.
ooooOOoooo
Adapun perkumpulan Ie Hee Cung yang terdiri dari keluarga Lie serta keluarga Pouw, pada ratusan tahun yang lalu mereka merupakan suatu keluarga yang bekerja sebagai pengusaha Piau kok atau pengawal barang-barang angkutan.
Oleh karena hasil usaha mereka banyak menanam permusuhan, untuk menghindarkan diri dari pembalasan dendam orang-orang jahat terpaksa dengan membawa seluruh keluarga mengasingkan diri ketempat yang sunyi.
Tahun ketemu tahun anak beranak mereka semakin banyak akhirnya dari perkampungan yang kecil berubah menjadi perkampungan besar.
Sedangkan ayab dari Liem Tou yaitu Liem Han San merupakan seorang Siucay atau terpelajar yang mempunyai kepandaian sangat tinggi didalam bidang Bun atau surat menyurat. Oleh Lie Ek Beng Cung Cu yang terdahulu dia diundang datang kedalam perkampungan untuk memberikan pelajaran surat kepada penduduk kampung pada saat itu Liem Tou baru berusia lima enam tahun, sifatnya yang pendiam serta alim itu membuat dia suka menyendiri. Padahal anak-anak yang sebaya dengannya semuanya telah memperoleh pelajaran silat, sudah tentu tubuhnya jauh lebih kekar serta gesit dari dirinya
Hanya dia seorang diri yang paling lemah tanpa memiliki kepandaian apa pun, lagipula penduduk kampung itu sangat benci terhadap orang luar, tak heran kalau Liem Tou sama sekali tidak diberi pelajaran silat.
Jilid 2 :
Tahun ketemu tahun akhirnya dia jadi besar, biarpun tampangnya ganteng dan cakap, tetapi kelihatan sekali sifatnya yang masih ke tolol-tololan.
Pada waktu itulah oleh karena perasaan kesatuan dan simpatiknya dari Siauw Ie yang selalu melindungi dirinya, akhirnya mereka menjadi sepasang kekasih yang saling sayang
menyayangi.
Tak terkira pada suatu malam, pertengahan musim salju ayah Liem Tou yaitu Liem Han San meninggal dunia secara mendadak, sewaktu dia mau menarik napas yang penghabisan telah memberikan sejilid kitab kepada anaknya bahkan memesan untuk dipelajari dengan baik, di samping itu dia memesan juga, agar kitab itu jangan sampai diketahui oleh orang lain.
Setelah meninggalkan pesan-pesannya dia menghembuskan napasnya yang penghabisan.
Karena kesedihan atas meninggalnya Liem Han San, membuat Liem Tou tak terlalu memperhatikan hal itu. Pada saat itu juga Lie Ek Hong dihadapan orang-orang kampong telah mengangkat Liem Tou ayah beranak sebagai warga perkampuugan le Hee Cung bahkan dengan segala upacara besar mengubur jenazah Liem Han San.
Siapa tahu Lie Ek Beng pun menyusul kealam baka, dengan menurut peraturan2 perkampungan sesudah diadakan pibu atau pertandingan silat Pauw Sak San menjadi cungcu yang baru.
Sejak malam itu juga Liem Tou mulai mempelajari kitab peninggalan ayahnya.
Pada suatu malam ketika Liem Tou sedang mempelajari kitab peninggalan ayahnya, dari luar jendela terdengar suara tertawa dingin, begitu mendengar suara tertawa mengejek itu
segera Liem Tou tahu kalau orang itu tak lain adalah Pouw Siauw Ling, dengan cepat dia
menyembunyikan kitabnya.
Pada waktu itu juga terdengar dari luar Pouw Siauw Ling telah menggape kearahnya sambil serunya dengan keras:
"Liem Tou ! Ayahku memanggilmu untuk menghadap."
Karena perjntah dari Cung-cu, Liem Tou terpaksa keluar dari rumah. Siapa tahu baru saja dia melangkah keluar dari pintu secara mendadak Pouw Siauw Ling telah memberikan hajaran yang hebat keatas tubuhnya, tangannya melayang tak henti2-nya memukuli seluruh tubuhnya bahkan ancamnya:
“Adik Siauw Ie merupakan menantu dari keluarga Pouw kami, coba pikir macam apakah kau ini berani demikian kurang ajarnya, harus kuberi hajaran yang setimpal pada kau cecunguk busuk, rasakanlah kelihayanku"
Pada waktu itu sekalipun dia menerima pukulan yang amat kejam hingga tubuhnya babak
belur oleh pukulan tangan serta terdangan keras dari Pouw Siauw Ling tetapi merintihpun ia tidak. Kelakuan tersebut sudah menjadi kebiasaan baginya sejak kecil bahkan dia pun tahu dengan jelas sekalipun didalam perkampungan punya paraturan bahwa keluarga Lie harus dikawinkan dengan keluarga Pouw, tetapi pada saat itu dia telah diizinkan dan dianggap sebagai warga dari perkampungan Ie Hee Cung oleh Cung cu yang terdahulu, sudah tentu dia tak dapat dianggap sebagai orang luar lagi.
Sesudah dipukuli babak belur oleh Pouw Siauw Ling, segera dia digusur kehadapan Pouw Sak San. Tampak dengan mandelikkan matanya Cung cu memandang gusar kearahnya, air mukanya amat keren, bentak dia kemudian.
"Liem Tou. Disini tak dapat menampungmu lagi, kau harus cepat2 turun gunung."
Begitu mendengar perkataan dari Cung cu itu Liem Tou merasa terkejut sekali bagaikan diguyur dengan air dingin air matanya hampir-hampir meleleh keluar membasahi wajahnya, tetapi dengan paksakan dirinya dia tetap bersabar, diam2 pikirnya:
"Liem Tou, Liem Tou, kau tak boleh menangis, walaupun mereka bersikap bagaimanapun juga kau tak boleh menangis, sekalipun mereka melihat kau meneteskan air mata."
Berpikir sampai disitu pula, dengan cepat dia menahan mengalirnya air mata dari kelopak
matanya, dengan tersengguk-sengguk tanyanya:
"Cung cu aku kenapa aku diusir dari perkampungan ? ? ? ?"
"Apa kau tidak mau mendengar perkataan dari Cung cu ? ? ? Menyuruh kau turun gunung.Buat apa kau tanya sebab2-nya ??" bentak Cung cu dengan gusarnya.
Liem Tou yang dibentak seperti itu hatinya menjadi membeku, sama sekali tak disangka olehnya kalau Cung cu ini bisa bartindak demikian tak tahu aturannya, pada saat itu terpikir kembali Lie Siauw Ie yang sangat menyayang dirinya. Mandadak entah dari mana datangnya suatu semangat jantan membuat nyalinya menjadi semakin besar, dengan keras sahutnya.
"Baik. Turun gunung yah turun gunung . .? Tetapi bolehkah aku menemui Siauw le cici
terlebih dahuIu ?"
Sama sekali Cung cu tak pernah menduga kalau nyali Liem Tou demikian besarnya, tak terasa dia menjadi tertegun dibuatnya. Setelah berpikir bolak balik dengan tegas sahutnya.
"Tidak bisa, segera aku akan menghantar kau turun gunung. Ingat perkampungan Ie Hee
Cung ini tidak akan membiarkan seorang asingpun berdiam terus menerus ditempat ini."
Liem Tou tak bisa berbuat apa-apa lagi, pada malam itu juga dia diusir dari perkampungan Ie
Hee Cung. Menanti setelah Cung Cu balik dari atas gunung tak tertahan lagi dia menangis
tersedu-sedu dipinggir sungai.
Setelah puas mengeluarkan air matanya rasa mangkal didalam hatinyapun lenyap, dengan
berlutut diatas tanah segera ia angkat sumpah.
"Aku Liem Tou pasti akan menemui Cici Ie lagi, Pasti… pasti kulakukan."
Hari-hari selanjutnya Liem Tou bekerja sebagai pengangon sapi ditepi sungai dibawah
gunung Ha Mo leng bahkan disamping mengangon sapi sering juga dia belajar berenang
didalam sungai serta mempelajari kitab peninggalan ayahnya.
Tak disangka olehnya ternyata kitab tersebut berisi tulisan2 yang tak dimengerti olehnya,
maksudnyapun sangat mendalam. Tetapi dia tidak menjadi putus asa karena hal tersebut,
akhirnya setelah berjerih payah selama beberapa bulan barulah dia berhasil memahami
maksud dari bagian keenam dari kitab tersebut yaitu ilmu pernapasan. Pada waktu itu pula
dia baru tahbu kalau kitab itu merupakan sebuah kitab pelajaran silat yang amat hebat,
hatinya menjadi sangat girarg, dengan demikian dia setiap hari berlatih dengan kerasnya,
tetapi bagaimanapun juga dikarenakan tak ada orang yang memberi petunjuk sehingga
rahasia dari ilmu pernapasan itu tetap tak dipahaminya, tenaga murni yang tersimpan
didalam tubuhnyapun, tak berhasil dialirkan mengitari seluruh tubuhnya.
Oleh karena itu sekalipun dia berlatih dengan rajin juga tak lebih baru bisa mengembangkan
perutnya sehingga besar sesuai dengan kehendaknya, sekalipun demikian sebaliknya ilmunya
itu malah membantu didalam ilmu berenangnya, sekali dia menghirup udara maka dapat
menyelam didalam air selama dua tiga jam lamanya.
Disaat itu dengan menggunakan ilmu pernapasan tersebut dia segera menutup seluruh
pernapasannya pura2 mati tengggelam, bukan saja berhasil menipu Cung cu sakalipun
hingga bisa melewati ketiga tempat berbahava tanpa rintangan bahkan dapat berjumpa pula
dangan diri Siauw Ie.
Liem Tou melihat dengan wajah yang amat girang Siauw Ie mencekal tangannya, tak terasa
hatinya malah menjadi sedih, ujarnya.
"Ci ci Ie, adiktmu berhasil menipu mereka hingga bisa tiba disini bertemu dengan Cici, tetapi
aku tak bisa bardiam terlalu lama ditempat itu, kini aku harus berbuat bagaimana untuk
turun gunung?"
Sepasang mata Siauw le dengan sangat tajam memandang kewajahnya, dengan cepat dia
menggelengkan kepalanya ujarnya,
"Adik Tou, untuk sementara kita tak usah menyebutkan hal ini, selama satu tahun kita tidak
bertemu kita harus menggunakan waktu ini sebaik2nya coba pikirlah selama satu tahun cici
mu tidak bisa bertemu dengan kau setiap hari aku selalu merindukan dirimu."
"Adikmu juga begitu." sahut Liem Tou dengan perlahan. "Didalam dunia ini dalam hatiku
hanya terisikan cici seorang bilamana aku, bisa hidup bersama cici untuk selamanya diatas
gunung ini tentu akan sangat bahagia sekali.”
Dia berbenti sejenak sedang air mukanya berubah, terlintaslah perasaan gemas serta
dendamnya, tetapi didalam sekejap saja telah lenyap ujarnya lagi.
"Cici. Nasib adikmu sungguh sangat buruk, setelah turun gunung kali ini kemungkinan sekali
akan mengembara kesemua tempat, bila aku berhasil mempelajari kepandaian silat tentu
adikmu akan datang kembali keatas gunung, tetapi masa depan sukar diduga, mungkin juga
aku menemui ajal ditengah jalan."
Tak tertahan lagi titik2 air mata menetes keluar tetapi dengan cepat dia menahan
mengalirnya cucuran air mata yang semakin deras itu, ketika dia menoleh memandang
kearah Siauw le lagi, terlihatlah sepasang matanya dipejamkan rapat2, dengan wajah yang
penuh air mata ujarnya,
"Adikku, teruskanlah, ucapanmu cici suka mendengarkan perkataanmu "
Sambil berkata dengan cepat dia menubruk menjatuhkan diri kedalam rangkulan Liem Tou,
isak tangisnya semakin menjadi. Dengan sekuat tenaga Liem Tou berusaha mempertahankan
dirinya, batinnya.
"Liem Tou . . , Liem Tou. Tahanlah rasa sedihmu. Dihadapan Ie Cici jangan menangis,
siapapun jangan harap memaksa aku meneteskan air mata, tahanlah perasaan sedihmu.
Tahanlah . tahan terus. Sampai tua.”
Setelah menangis dengan sadihnya beberapa saat lamanya, mendadak terdengar dengan
nada yang halus ujar Siauw Ie:
“Adik Tou. Cicimu selalu akan menantikan pulang keatas gunung, tidak perduli kau kembali
atau tidak, pokoknya Cicimu pasti menantikan kedatanganmu untuk selamanya”
Baru saja Liem Tou mau menjawab, mendadak saja dari puncak gunung itu terdengar suara
panggilan Pouw Jin Cui dengan nada yang keras : “Ie moay moay..ibumu suruh kau cepat
pulang”
Dengan cepat Siauw Ie bangun, sambil mengusap keringat bekas air matanya ,dengan cemas
ujarnya.
"Adik Tou dengan tipu daya aku berhasil naik gunung, rahasia ini jangan sampai diketahui
orang lain. Cepat kau menyembunyikan diri kedalam gua kita yang dahulu, aku akan pulang
sebentar bilang kalau kau telah dikubur, nanti malam aku akan datang kembali
membawakan makan malam bagimu"
Sehabis berkata dengan cepat Lie Siauw le loncat dan lari keatas puncak gunung Ha Mo Leng.
Liem Tou segera mengusik rumput2 didekat akar pohon yang amat besar itu, disitu
terdapatlah sebuah liang gua yang cukup untuk seorang, tanpa ragu2 lagi deugan cepat dia
menerobos masuk ke dalam.
Kurang lebih setelah berjalan puluhan tindak, gua itu semakin lama semakin melebar makin
luas, mendadak bau yang sangat apek dan amis bertiup datang, tak tahan lagi dia bersin
beberapa kali, diam2 pikirnya.
"Tempat ini bagaimana bisa demikian dinginnya, moga-moga saja Cici le tidak lupa
membawakan api untuk membuat api unggun hing¬ga bajuku bisa kering"
Berpikir sampai disitu segera dia duduk bersandar didinding gua, terlihatiah gua itu makin
kedalam makin seinpit, agaknya sangat dalam sekali sehingga sukar diukur ditambah
keadaannyapun sangat gelap, tetapi dia tak mau mengurusi hal itu, dengan memejamkan
mata ia menantikan kedatangan Siauw Ie.
Sepertanak nasi kemudian rasa dingin yang menerjang tubuhnya terasa semakin menusuk
tulang hingga terasa sangat tidak enak dibadan.
Segera ia bangkit berdiri pikirnya hendak berjalan keluar dari gua tersebut. Siapa tahu baru
saja berjalan beberapa langkah dari luar gua tiba terdengar suara. "Kok .. . Kok . ."
Suara itu kedengaran sangat aneh sekali tetapi waktu itu Liem Tou tidak begitu
memperhatikannya dan tetap melanjutkan perjalanannya kearah depan.
Kelihatannya tinggal dua langkah lagi dia berhasil keluar dari gua itu, mendadak suara yang
sangat aneh itu berbunyi lagi yang kemudian disusul munculnya sepasang kepala berwarna
merah darah yang amat aneh sekali didapan gua itu.
Liem Tou melihat munculnya seekor binatang aneh saking terkejutnya hingga menjerit keras,
dengan cepat dia mundur kebelakang balik ketempat semula.
Dengan sepasang matanya yang dipentangkan lebar-lebar, Liem Tou mengawasi luar gua,
napas pun tak berani keras-keras. Tampak dua buah kepala merah darah yang sangat aneh
itu dengan empat buah mata mendesiskan lidahnya yang mirip dengan desisan ular berjalan
makin mendekat,hanya bentuknya amat aneh serta menakutkan sekali.
Liem Tou yang melihat bentuk binatang itu segera mengetahui kalau binatang itu merupakan
binatang beracun, dia semakin mempertajam matanya memandang kearah tempat itu,
ketika itulah binatang aneh berkepala dua tersembur setelah mengeluarkan suara, kok, kok,
yang aneh dengan perlahan mulai menjulurkan kepalanya masuk kedalam gua.
Pada waktu itu juga Liem Tou baru dapat melihat binatang aneh berkepala dua itu
mempunyai bentuk tubuh yang sangat besar dan bulat, seluruh tubuhnya penuh bersisik
merah darah, pada perutnya terlihat empat buah kakinya hanya sayang sangat pendek sekali
sehingga kelihatan sangat tidak sesuai dengan tubuhnya yang sangat besar.
Dengan perlahan binatang aneh itu mulai merangkak masuk kedalam gua, terpaksa Liem Tou
setindak demi setindak mundur kebelakang.
Tetapi justru semakin dia mundur kedalam gua yang sangat gelap itu binatang aneh itu tetap
tak henti2nya merangkak maju mendekati dirinya.
Entah telah lewat berapa saat lamanya Liem Tou barulah merasakan kalau dia semakin
terjerumus lebih dalam lagi kedalam gua yang sangat sempit lagi apek itu, pandangannya
makin lama makin gelap. Kiranya dia telah berada di tengah2 dari gua tersebut.
Mandadak hatinya menjadi tergerak teriaknya "Celaka. . ."
Selamanya dia belum pernah memasuki jauh kedalam gua itu, sudah tentu tak tahu pula gua
tersebut menembus kearah mana, jika bergerak mundur terus kebelakang bukankah dengan
begitu secara tidak langsung dirinya masuk kedalam parangkap binatang aneh berkepala dua
tersebut ????
Berpikir sampai disitu dia menyedot napas dalam2, perutnya dengan perlahan mulai
berkembang menjadi sangat besar, dengan sekuat tenaga disemburkannya kearah binatang
aneh itu.
Sepasang kepala dari binatang aneh itu segera berpisah kesamping dan mangeluarkan jeritan
aneh, tapi ternyata tak mengalami cedera apapun bahkan kakinya yang berada di depan
menjangkau meloncat beberapa depa tingginya manubruk kearah Liem Tou.
Liem Tou yang ditubruk demikian hebataya segera menjerit kaget tanpa pikir panjang lagi
tergesa2 dia mundur tapi binatarng itu sedikitpun tak mau melepaskannya, sedikitpun tak
mau melepaskan sekalipun perutnya agak besar hingga gerakannva agak terintang tapi
langkahnya sangat cepat sekali diluar dugaan Liem Tou.
Sampai waktu itu Liem Tou juga tak dapat berbuat lagi sekalian semakin dia berjalan jauh
kedalam gua keadaan semakin gelap, ter-paksa dengan sepenuh tenaga lari kearah dalam,
bahkan beberapa kali dia jatuh terguling2 hingga menumbuk dinding gua, tapi dia tak mau
ambil perduli, hanya terdengar suara aneh yang makin lama makin mendekat membuat
keringat dingin mengucur keluar semakin deras membasahi seluruh tubuhnya.
Setelah lari lagi beberapa saat lamanya keadaan gua itu makin lama makin menjarok ke
bawah, bahkan dari tanah pasir telah barubah menjadi tanah lumpur yang tebal membuat
langkahnya makin lama makin bertambah perlahan.
Ketika dia menoleh kebelakang lagi terlihatlah keempat buah mata yang barwarna hijau
mengkilat memancarkan sinar yang tajam memandang kearahnya sedang tubuhnya tetap
barada tidak jauh dari tubuhnya. Tak terasa pikirnya.
"Kali ini habis sudah, entah tempat didepan itu menembus kemana, kini binatang aneh itu
pun terus mengejar."
Tapi sejenak kemudian pikirnya lagi.
"Tak perduli gua ini menembus kearah mana bagaimanapun juga aku tak bisa tunggu disini
saat kematian."
Berpikir sampai disitu segera dia mcnyedot hawa dalam2 sekali lagi menerjang kedepan,
makin lama tanah didalam gua itu terasa mulai ada airnya, bahkan makin lama makin dalam,
didalam sekejap saja air itu telah mencapai lututnya, setelah berjalan beberapa langkah lagi
air itu telah mencapai dipinggangnya, pada saat itu dia menjadi sadar, kiranya gua tersebut
menghubungkan diri dengan sungai yang mengalir dipuncak Ha Mo Leng, dia yang mengerti
akan ilmu dalam air tak terasa menjadi sanagat girang dengan cepat dia merendamkan
seluruh tubuhnya kedalam air dan menyelam lebih dalam lagi.
Setelah merasa kalau binatang aneh itu tak mengejar dirinya lagi barulah dia muncul kembali
keatas permukaan, tapi dia tak berani balik ketempat semula, dengan cepat mangikuti
mengalirnya arus sungai itu barenang kearah depan.
Tak lama kemudian tiba2 arus yang sangat santar menerjang, kaki kirinya maju kedepan,
didalam keadaan yang sangat terkejut segera dia munculkan dirinya untuk melihat. Kiranya
dia telah berada didepan gua tarsebut dan sama sekali tak diduga olehnya kalau gua itu
ternyata menghubungkan puncak gunuag dengan kaki gunung Ha Mo Leng.
Hatinya menjadi demikian girangnya, pikirnya kemudian.
"Bila aku ingin naik gunung lagi bukankah akan sangat gampang sekali ?"
Tapi tiba-tiba dalam otaknya berkelebat bayangan dari binatang aneh berkepala dua
tersebut, hatinya segera menjadi beku separuh, bila binatang aneh itu masih tetap hidup
didalam gua tersebut maka seluruh keinginannya akan buyar menjadi bayangan saja.
Sekonyong2 teringat pula olehnya.
'Nanti malam Siauw Ie akan menghantarkan makan malam bagiku, bila dia sampai bertemu
dengan binatang aneh berkepala dua itu bukankah akan runyam ??"
Tapi teringat pula kalau Lie Siauw Ie memiliki kepandaian silat yang sangat tinggi, apalagi
dalam tubuhnya menggembol senjata rahasia Kin cu gin ciam, tak terasa hatinya menjadi
lega kembali.
Ketika dia munculkan dirinya pada permukaan sungai hari telah jauh siang, matahari tepat
berada diatas kepalanya memancarkan sinarnya dengan sangat terang, angin sepoi-sepoi
bertiup menyejukkan tubuh mcmbuat setiap orang merasakan sangat nyaman sekali.
Setelah mengingat benar-benar letak dari gua rahasia itu dengan cepat dia berenang ketepi
sungai, pikirnya lagi.
"Ketika ini bisa meninggalkan Siauw Ie untuk sementara waktu juga jauh lebih baik, diatas
gunung akupun tak bisa tinggal terlalu lama akhirnyapun aku harus meninggalkan tempat itu
jua.”
Berpikir sampai disitu tiada pikiran lagi yang berada dalam otaknya, terlihat gunung yang
berwarna biru serta sawah yang berwarna hijau membentang dengan indahnya, air sungai
mengalir dengan tenangnya disamping burung yang berkicau mengisi suasana yang kosong
tapi ditempat yang kosong demikian luasnya haruskah dia pergi ketempat mana ??
Dengan menundukkan kepalanya dengan perlahan dia mulai berjalan kedepan terasa
tubuhnya yang basah kuyup tak enak dibadannya. Apalagi perutnya pun terasa mulai lapar
dengan pikiran yang bingung sekali lagi dia menerjun sekali lagi dia menerjunkan dirinya
kedalam sungai untuk menangkap beberapa ekor ikan sebagai menangsal perutnya,
kemudian dengan tergesa-gesa kembali kerumah majikan dimana selama kurang lebih
beberapa tahun dia bekerja sebagai pengangon sapi.
Malam harinya dia tak bisa memejamkan matanya, otaknya penuh diliputi oleh soal-soal
yang terasa amat rumit baginya terpikir olehnya alangkah baiknya kalau dia bisa terus
menerus tinggal bersama sama dengan Siauw Ie, tapi pikirannya menjadi sadar lagi satusatunya
jalan mencapai cita-cita itu hanyalah harus belajar ilmu silat hingga mencapai
kesempurnaan.
Keesokan harinya pagi-pagi sekali Liem Tou telah pamitan dengan majikannya untuk
meninggalkan rumah itu sekalipun sang majikan berkali-kali mencoba untuk menahannya
tapi tetap ditolak olehnya dengan bulatkan semangat Liem Tou meninggalkan rumah itu
pergi mencari suhu untuk belajar silat.
Dua hari semenjak dia meninggalkan rumah majikannya, Liem Tou masih tetap berjalan
tanpa arah, dia tak tahu harus menuju kemana baiknya, dalam perjalanan yang tak menentu
itu pada malam hari dia tidur di k elenting, sedang makan pun hanya ikan-ikan yang
ditangkap sendiri olehnya, dalam hatinya dia hanya terpikirkan satu tujuan, cepat-cepat
berhasil melatih ilmu silatnya dan balik keatas gunung menemui Cici Siauw Ie-nya.
Hari itu setelah manempuh perjalanan selama setengah harian dia mulai merasakan
tubuhnya sangat penat, didalam sebuah rimba yang lebat dan rindang dia manyatukan diri
duduk bersandar pada sebuah pohon untuk beristirahat, tak terasa lagi saking letihnya dia
jatuh tertidur dengan nyenyaknya.
Ketika mendusin kembali matahari telah jauh condong kearah barat, haripun hampir gelap,
Liem Tou yang melihat keadaan cuaca itu segera bangkit siap meninggalkan tempat itu
mendadak dari dalam rimba berkumandang keluar suara tertawa yang sagat keras sambil
berkata.
"Hee. Pembesar Buta, rasakanlah langkah bentengku menghancurkan pertahananmu, Bagus,
Bagus sekali hanya sayang kau masih belum punya kepandaian untuk menahan aku si orang
siucay, hati-hatilah."
Mandadak sebuah suara yang tajam melengking memotong ucapannya.
"Hati-hati dengan kudaku mengepung rajamu siucay rudin yang tak tahu malu, jangan
sombong dulu, lihatlah kelihayanku ini "
"Pembesar sombong, hati2 dengan bentengku menghancurkan kubu pertahananmu he.. he
jangan keburu girang kau" Sahut suara yang pertama sambil tertawa terbahak- bahak.
"Haim, . , tak usah banyak omong rasakan kelihayanku."
"He... he. . . kau tak mau menghindar malah menggunakan siasat keras lawan keras. Hm...
hm. . kau kira aku siucay buntung takut padamu?”
Liem Tou ketika mendengar suara teriakan itu seperti orang yang sedang main catur rasa
ingin tahunya meliputi seluruh otaknya, oleh karena sejak keciI dia sering bermain catur
dengan ayahnya Liem Han San kini mendenger ada orang sedang bermain catur tak terasa
dengan mengikuti jalan kecil disamping rimba itu berjalan makin masuk kedalam rimba
tersebut.
Semakin dia berjalan kedalam suara bentakan dua orang yang sedang main catur semakin
terdengar makin keras bahkan keadaannya kelihatanya seimbang dan telah mencapai
puncak ketegangan.
Liem Tou yang mcndengar suara itu begitu jelasnya tak merasa hatinya makin tertarik, segera
langkah kakinya dipercepat dengan setengah berlari dia berjalan masuk kedalam rimba
dimana suara tersebut berasal.
Tak lama kemudian dimana suara berkumandangnya orang sedang main catur secara samar2
terdengar pula suara angin yang menyambar dengan kerasnya, sebuah batu cadas sebesar
gentong air dengan kecepatan yang luar biasa melayang melalui atas kepalanya, malihat hal
itu dengan tergesa2 Liem Tou menghindarkan diri sedang dalam hatinya terasa semakin
heran.
Pada saat itu pula dia lebih hati-hati dan waspada, sekalipun langkah kakinya tetap berjalan
menuju kedepan tapi matanya tetap memandang tajam sekitar tempat itu, takut ada batu
besar lagi menyambar kearahnya.
Semakin lama dia berjalan makin dekat pula dengan tempat berasalnya suara itu, kalau tak
melihat kedua orang yang sedang bermatn catur tersebut tak terasa saking terkejutnya
keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, dia semakin tak berani munculkan dirinya,
dengan cepat menyembunyikan diri dibelakang sebuah pohon besar memandang kearah
kedua orang itu.
Kiranya ditengah rimba yang lebat itu terlihatlah sebuah tanah lapang yang luas dan kosong
dimana terdapat dua orang yang semula Liem Tou menduga sedang bermain catur itu
tetapi mereka bukannya sedang bermain catur, sebaliknya sedang bertempur dengan seru
dan dahsyatnya, pasir beterbangan keempat penjuru, bayangan tangan berkelebat
menyilaukan mata serta angin pukulan yang menyesakkan dada.
Yang aneh adalah dikedua orang itu yang satu memakai jubah kebesaran berwarna merah
tua yang telah kumal, kepalanya memakai kopiah kebesaran pula hal ini memperlihatkan
kalau dia merupakan seorang pembesar kerajaan hanya sayang kedua matanya telah buta,
pada tanganya mencekal sebuah tongkat besi yang berkepalakan naga dengan ganasnya
menusuk dan menyambar pihak lawannya, sedang yang seorang lagi adalah seorang tua
yang mengenakan pakaian model seorang Siucay, pada janggutnya terurai janggut yang
panjang berwarna hitam pekat sepanjang dada, wajahnya masih terlihat sisa-sisa
ketampanannya semasa muda sedang tangannya mencekal sebuah kipas berwarna putih
cuma yang heran orang ini hanya mempunyai kaki tunggal, demikian juga dengan tangannya
yang tinggaI sebelah. Usia kedua orang aneh itu kelihatan lebih dari lima puluh tahunan.
Liem Tou yang melibat kejadian itu segera merasa heran bercampur curiga, diam2 pikirnya:
Orang buntung berkelahi dengan orang buta, sungguh merupakan peristiwa yang jarang
terdengar didunia ini, bahkan setiap kaii mereka melancarkan serangannya pada mulutnya
tentu mengucapkan langkah2 dari jalanan catur, sedang apa-apaan mereka itu sebenarnya.
Rasa curiganya semakin tebal meliputi dirinya, ketika dia memandang lagi kearah langkah
kaki mereka tak terasa perasaan herannya makin menjadi-jadi, kiranya tempat dimana kedua
orang itu bergebrak dengan sangat jelas tergoreskan kotak-kotak catur, sedang kedua orang
itu meloncat loncat dan saling serang menyerang diantara kotak kotak catur tersebut.
Pada saat itu Siucay buntung itu sedang berdiri di perbatasan kotak-kotak caturnya, tiba-tiba
kakinya yang tinggal sebelah itu mentul keatas tanah dan meloncat tinggi beberapa depa
sambil bentaknya dengan keras.
“Hey pembesar buta, hati hati bentengku maju enam langkah”
Liem Tou yang melihat mereka bergebrak sesuai dengan jalannya biji catur segera menduga
kalau Siucay buntung itu telah meloncat ketengah udara tentu akan menubruk dengan
ganasnya kearah pembesar buta tersebut, siapa tahu mendadak tubuhnya dimiringkan
kesamping kemudian dengan ringannya melayang turun keatas tanah, sedikitpun tidak
menmbulkan suara.
Siapa duga telinga dari pembesar buta itu sangat tajam dan jauh lebih tajam dari semua
orang, dengan amat gusar bentaknya dengan nada yang melengking:
“Budak yang tak tahu diri, kau sedang menggunakan siasat apa?"
Sehabis berkata tongkatnya diangkat siap menyerang kearah pihak musuhnya, pada saat
itulah Siucay buntung itu secara mendadak meloncat maju Iagi beberapa tindak bentaknya
dengan keras:
“Kudaku maju tiga langkah, suara ditimur memukul Barat, aku sedang melancarkan siasat
macam apa coba kau katakan"
Kipas putih ditangannya dilipat menotok kearah jalan darah didepan dada Pembesar buta
tersebut, gerakannya sangat cepat bagaikan sambaran, kilat.
Liem Tou hanya melihat berkelebatnya sebuah bayangan manusia segera terdengar
pembesar buta itu telah membentak dengan keras.
"Sungguh bagus seranganmu. Menteri maju lima langkah benteng mundur empat langkah
pembawa bunga menyembah Budha”
Tangan kiri Pembesar buta itu dengan cepat diangkat menutup serangan kipas dari Siucay
buntung tersebut, sedang tongkat besi ditangan kanannya mendadak digetarkan dengan
menggunakan ujung tongkat bergambarkan naga2an dia menotok punggung Siucay buntung.
Siucay buntung itu segera memutarkan tubuhnya, kakinya yang tinggal sebelah dengan tidak
menimbulkan suara sedikitpun menutul permukaan tanah kemudian meloncat beberapa
depa dibelakang sambil tertawa keras ujarnya.
"Benteng maju sembilan langkah dengan berkecepatan luar biasa mundur kebelakang. Hei
pembesar buta kita tidak bertemu hanya beberapa tahun saja kepandaian bermain caturmu
ternyata telah maju satu tingkat.”
“Apa kau kira sejak mataku kau butakan, sejak itu pula aku benar2 menjadi cacat!,"Sahut
pembesar buta itu sambil tertawa terkekeh2.
Sebabis berkata wajahnya mendadak berubah menjadi pucat pasi, tongkat berkepala
naganya pun dengan secara mendadak melancarkan serangan dahyat ketengah udara sambil
bentaknya dengan keras.
“Aku beritahu padamu hei si buntung bangkotan, pada suatu hari tentu aku akan membalas
dendam atas butanya sepasang mataku ini, kau tunggu saja peristiwa ini baru terbukti kau
mengundurkan diri, sudah tentu telah kalah satu tingkat dari aku. Kitab rahasia To Kong Pit
Liok sudah tentu menjadi milikku."
Mendengar perkataan itu si Siucay buntung itu segera mengebutkan lengannya yang tinggal
sebelah. sambil tertawa keras ujarnya.
"He .. he Pembesar buta, matamu buta kau mau balas dendam, lalu aku harus balas
dendam pada siapa atas hilangnya sebuah langan serta kakiku ini? Pada waktu yang lalu bila
kau menginginkan pangkat dan kedudukan terhormat kita sebenarnya merupakan sepasang
kawan karib yang disegani oleh setiap orang, kini coba jadi apa kita sekarang?. Kitab rahasia
To Kong Pit Liok dengan cara demikian saja diserahkan kepadamu, he.. he, . kau jangan
mimpi di siang hari”
Liem Tou yang bersembunyi dibalik pohon setelah mendengar ucapan dari kedua orang itu
barulah menjadi sadar. Kiranya kedua orang itu sebenarnya merupakan sepasang kawan
karib, kamudian karena pembesar buta itu gila pangkat dan menjadi Pembesar Kerajaan
mereka berbalik menjadi saling bermusuhan dan saling serang menyerang dengan mengadu
jiwa yang akhirnya menjadi musuh bebuyutan. Bahkan pertempuran ini hari agaknya sedang
memperebutkan sebuah kitab rahasia yang bernarna “To kong Pit Liok"
Tetapi kepandaian kedua orang itu sama-2 mengejutkan sekali bahkan Liem Tou mengira
kalau kepandaian mereka jauh lebih liehay beberapa kali lipat dari Ang in sin pian si cung cu
dari perkampungan le Hee Cung itu.
Ketika Liem Tou sedang melamun itulah mendadak dari tempat kejauhan berkumandang
datang suara siulan yang amat panjang dan nyaring sehingga menembus awan. Liem Tou
yang mendengar suara siulan itu menjadi sangat heran sekali, pada saat itu Pembesar buta
telah angkat bicara, ujarnya.
“Hm..bagaimana sisetan ramal Thiat Sie Poa bisa datang juga kesini? Urusannya bisa berabe
nih".
“Heei Pembesar buta kau takut? tanya si siucay buntung dengan nada yang mengejek.
“Apa yang harus kutakutkan? Balas si pembesar buta dengan seramnya.
Pada waktu itu juga Liem Tou dapat melihat dengan sangat jelas sekali kedua alis dari
pembesar itu dikerutkan dalam2 sedang tongkat berkepala naga ditangannya dengan secara
telak menyambar dengan datar kedepan dengan gerakan yang meneter melancarkan
serangan dashsyat mendesak si siucay buntung tersebut. Tongkatnya dengan tak henti2nya
mengancam tenggorokan, dada serta perut.
Melihat kejadian itu Liem Tou menjadi sangat terkejut.
Sungguh kejam dan licik si mata picik itu.
Menanti si siucay buntung itu merasakan adanya serangan membokong yang mengancam
tubuhnya tongkat berkepala naga dari sipembesar itu telah mencapai tenggorokannya tidak
lebih beberapa coen untuk menghindarkan diri tak sempat lagi terpaksa mau tak mau
didalam keadaan yang sangat kritis itu dengan keras dia membentak sedang kipas yang
berada ditangannya dengan kerasnya, mengancam ulu hati sipembesar buta tersebut, pikirya
dengan demikian mungkin dirinya juga bisa membalas kekalahan tersebut.
Pada saat yang sangat kritis itulah mendadak terasa sesuatu gulungan angin pukulan yang
sangat dahsyat menyambar datang dari tengah udara kemudian disusul dengan
berkelebatnya suatu bayangan manusia, seorang yang mempunyai bentuk tubuh pendak
gemuk telah muncul ditengah kalangan, ujarnya.
“He --- he siucay buntung, Pembesar picik makin bertempur makin jadinya tidak karuan apa
mungkin kalian tidak mau berhenti juga.”
Tongkat serta kipas dari kedua orang itu begitu ditekan oleh angin pukulan dari orang
pendek gemuk itu segera mencapai pada sasaran yang kosong.
“Hei Thiat Sie poa kau pergi urus untung rugimu sendiri saja, jangan mencampuri urusan
orang lain apalagi dari tubuh kami berdua kaupun tidak mungkin akan berhasil mendapatkan
keuntungan apapun juga.”
Sebaliknya siucay buntung begitu melihat munculnya si gemuk pendek itu segera tertawa
keras ujarnya.
“Thiat Sie heng kedatanganmu sungguh sangat tepat, kalau tidak sejak tadi Siauw te telah
binasa dibawah serangan bokongan dari pembesar picik yang rakus itu, kedatangan dari
Thiat Sie heng kali ini apa juga karena mempunyai perhatian tarhadap kitab rahasia To Kong
pit Liok tersebut?”
Liem Tou melihat bentuk dari si gemuk pendek itu bukan saja cara berpakaiannya sangat
mirip sekali dengan seorang pedagang besar bahkan pada tangannya mencekal sebuah Sie
poa tak terasa menjadi sangat tertarik, dengan perlahan-lahan dia mulai merangkak maju
beberapa tindak kedepan, sekalipun saat itu cuaca dengan perlahan-lahan mulai menjadi
gelap tetapi dia tidak mau ambil perduli, dengan berdiam diri dia meneruskan
pengintaiannya.
Thiat Sie poa itu setelah mendengar perkataan dari si siucay buntung segera tertawa
tergelak, sahutnya,
“Bukan saja aku si Thiat Sie sianseng yang menginginkan kitab rahasia To Kong Pit Liok" itu,
aku lihat Tionggoan Ngo Koay kini sudah pada datang semuanya, selain kalian berdua Siucay
buntung, Pembesar buta serta aku sendiri masih ada si mayat hidup serta Pengemis
pemabok yang masing-masing dengan membawa anak buahnya telah datang semua, bahkan
hampir-hampir terjadi pertempuran."
Begitu Si Pembesar buta mendengar perkataan dari Thiat Sie poa, mukanya segera be¬rubah
hebat, dengan sombong tanyanya.
"Hee - he - si pengemis pemabok itu juga ikut datang??" ejek siucay buntung tersebut.
“Kalau tahu begitu adanya aku gemas kenapa sejak dulu tidak bereskan saja anjing Tar-tar
itu.”
Si Pembesar buta itu menjadi sangat gusar sambil membentak keras tongkatnya diayunkan
menyerang kearah siucay buntung tersebut, tetapi keburu ditangkis oleh Thiat Sie poa,
sambil tertawa ujarnya.
"Eh - e - - Pembesar buta kau memangnya masih memiliki kegagahan pada waktu yang lalu,
kini kenapa harus main kasar??"
Ketika si pembesar buta mendengar perkataan itu segera dia sadar kalau Si Thiat Sie poa itu
berdiri dipihak si siucay buntung, kegusarannya tak dapat ditahan lagi hanya pada saat ini tak
dapat berbuat apa-apa, saking gemasnya tongkat berkepalakan naga itu diketukkan dengan
kerasnya keatas tanah kemudian dengan cepat melayang pergi menerobos kedalam rimba
yang mulai menggelap itu.
Begitu si pembesar buta pergi, si siucay buntung bersama dengan Thiat Sie poa segera
bertepuk tangan sambil tertawa keras sejenak kemudian barulah tanya si siucay bunting itu.
"Thiat Sie-heng, perhitungan Sie-poa mu ini selamanya sangat cocok, kini kita hanya tahu
kalau buku pusaka "To Kong Pit Liok" itu berada ditangan Siok To Siang mo atau sepasang
iblis dari daerah Siok To yang kini bersembunyi didalam daerah Cong-teng ini, sedangkan
manusianya bersembuuyi dimana kita sama se-kali tidak mengetahuinya, apalagi golongan
Pek to maupun golongan Hek to didalam dunia kangouw berduyun duyun telah datang
mambanjiri daerah ini, sebenarnya kitab pusaka itu akhirnya akan jatuh ketangan siapa, apa
kau pernah melihatnya dengan perhitungan sie-poa mu itu?"
"Jika aku ceritakan memang sangat mengherankan sekali". Sahut Thiat Sie poa sambil
tertawa pahit. "Biasanya perhitungan Sie poaku ini sangat manjur, tetapi entah bagaimaaa
sekali ini biarpun sudah kuhitung pulang pergi selama tiga hari tiga malam, hasilnya
membuat aku benar benar sangsi. Aku hanya dapat melihat buku pusaka itu kini sedang
terkurung dalam suatu tempat yang tertutup dan akhirnya orang yang akan berhasil
mendapatkan kitab pusaka itu tak lebih hanya seetor kerbau adanya. bukankah ini
merupakan suatu peristiwa yang sangat aneh."
Liem Tou yang mencuri dengar dibalik pohon, begitu mendengar perkataan itu tak terasa
tertawa keras, Si siucay buntung serta Thiat Sie poa begitu mendengar suara tertawa
tersebut, dengan cepat memutar tubuhnya, terlihatlah seorang anak lelaki barusia enam
belas tahunan dengan memakai baju yang compang camping bersembunyi dibalik pohon,
segera bentaknya dengan berbareng.
"Kau siapa? Kenapa mencuri dengar pembicaaraan orang lain?"
Liem Tou yang secara tidak sengaja mengeluarkan suara tertawanya sehingga diketahui oleh
kedua orang itu segera dia sadar kalau kedua orang itu memiliki kepandaian yang sangat
tinggi dan tak boleh diusik seenaknya, terpaksa dengan sejujurya dia menceritakan
pengalamannya dimana dia terpancing datang oleh suara permainan catur sehingga dirinya
tiba ditempat itu.
Si siucay buntung itu begitu selesai mendengar kisahnya segera tersenyum, ujarnya kepada
Thiat Sie-poa.
"Hitung hitung dia punya rejeki yang besar, mari kita pergi saja.”
Thiat Sie poa mengangguk, baru saja hendak berangkat mendadak seperti teringat akan
sesuatu segera dia manoleh lagi memandang sekejap kearah Liem Tou, tanyanya.
"Siapakah namamu, kau tinggal dimana?"
Liem Tou yang melihat tubuh Thiat Sie poa yang gemuk pendek itu apalagi seluruh tubuhnya
berlapiskan minyak merasa tidak begitu simpatik, tetapi jawabnya juga.
"Aku bernama Liem Tou, tidak punya rumah"
Si siucay buntung itu melihat Thiat Sie poa mengajukan partanyaan tersebut tidak terasa
memandang juga kearah Liem Tou dengan teliti, kemudian sambil tersenyum ujarnya.
“Thiat Sie heng, orang ini sangat bagus dan berbakat alam, apa mungkin Thiat Sie heng
punya minat terhadap dirinya?”.
Thiat Sie poa tidak memberikan jawaban, mendadak dia mengambil keluar Sie poanya dan
dihitungnya pulang pergi selama beberapa saat lamanya, tampak kelimaa jari tangannya
dengan tak henti2nya bergoyang diatas Sie poa tersebut, setelah menghitung sekali diulangi
sekali lagi kemudian berulah dengan perlahan dia angkat kepalanya melirik sekejap kearah
Liem Tou, tangannya memungut sebuah ranting kayu lantas melukis satu bulatan berangkai
sebanyak tiga puluh enam buah diatas tanah.
Setelah itu dia menoleh pada Si siucay buntung, sambil menghela napas panjang dia
menggelengkan kepalanya, sahutnya:
"Aku tidak punya rejeki begitu besarnya, mari berangkat."
Sesaat sebelum meninggalkan tempat itu entah secara sengaja atau tidak mendadak Thiat
Sie poa itu menoleh dengan memandang ke arah Liem Tou s ambil teriaknya dengan keras:
“Bocah ingatlah, pikiran harus lurus jangan sembarangan pergi ketempat yang tak berguna,
karena akan mencelakai dirimu sendiri."
Sehabis berkata jubahnya yang lebar itu dikebutkan, bersama2 dengan Si siucay buntung
meloncat kcatas pohon dan melayang pergi, tidak selang lama telah lenyap dari pandangan.
Sesudah kepergian dari si Siucay bunturg serta Tniat Sie poa itu Liem Tou menjadi tertegun
untuk sesaat lamanya, ketka teringat kembali akan siucay buntung serta Thiat Sie poa
mendadak dia tepok batok kepalanya sendiri teriaknya.
"Ooh sungguh sayang, kenapa tidak terpikirkan waktu tadi'? Bukankah aku sedang mencari
guru pandai untuk belajar ilmu? sebenarnya tadi merupakan kesempatan yang sangat bagus
bagi diriku, ternyata kubuang dengan percuma, hai - - sungguh konyol aku ini. Untuk pergi
mengejar sudah tentu tidak mungkin bisa terjadi, tiba2 teringat oleh gambaran lingkaran
yang dilukis Thiat Sie poa diatas tanah, sebenarnya gambar apakah? Achirnya dengan
perlahan dia mulai mendekati itu dan memandangnya lebih teliti, mendadak terasa olehnya
gambaran itu pernah dilihatnya bahkan mirip sekali dengan apa yang pernah dia dengar,
cepat dia berpikir lebih teliti lagi dan teringatlah olehnya kitab pusaka peninggalan ayahnya
memang terdapat gambaran seperti itu didalamnya.
Untung saja saat itu cuaca belum sampai gelap seluruhnya, dengan cepat dia mengambil
keluar kitabnya dicocokkan dengan tulisan itu ternyata sangat persis tak ada bedanya, hanya
dia tak tahu apa gunanya gambaran itu bahkan dia anggap tentu hal itu merupakan
perhitungan aneh yang sangat mendalam dari Thiat Sie poa, tetapi jika menurut kitab pusaka
peninggalan ayah, gambaran itu termasuk didalam hal ilmu langkah kaki.
Mendadak hatinya menjadi bergerak pikirnya:
"Thiat Sie Poa itu membuatkan gambaran lingkaran ini diatas tanah tentu punya maksud
bahkan didalam kitap pusaka ini tertuliskan ilmu langkah kaki, kenapa aku tidak
mencobanya??.”
Perasaan ingin tahu dari Liem Tou segera meliputi seluruh pikirannya, dengan mengikuti
lingkaran yang terdapat diatas tanah itu dia mulai berjalan berputar putar, siapa tahu baru
saja berjalan dua tindak kakinya tergelincir dan jatuh terjengkang keatas tanah. Melihat
kejadian itu diam-diam Liem Tou memaki ketololan dirinya sendiri, dengan cepat dia
merangkak bangun lagi, sedang mulutnya bergumam.
“Bagaimana jadinya ini, jalan datar saja terjungkir seperti ini?”
Sekali lagi dia mulai berjalan mengikuti lukisan itu, siapa tahu seperti pertama kali tadi dia
jatuh terjungkir kembali keatas tanah, sedang kali ini jatuhnya lebih keras lagi.
Kali ini dia mulai sadar kalau didalam lukisan itu tentu memiliki keajaiban lainnya, Kiranva
jangan dipandang lukisan lingkaran yang tidak rata diatas tanah itu sekalipan sangat kacau
tetapi memiliki kesaktian serta ke lihayan yang tidak terkira dalamnya, jangan di kata Liem
Tou seorang bocah cilik yang tak tahu apa apa sekalipun orang lain yang memiliki ilmu
silatpun juga tidak akan ada yang bisa mempertahankan tubuhnya hingga tidak sampai
terjatuh.
Liem Tou yang berturut turut jatuh dua kali. segera merangkak bangun kembali, sambil
menggigit kencang bibirnya ujarnya.
“Aku tidak akan pecaya kalau demikian gaibnya, sekalipun malam ini tidak tidur aku juga
harus bisa berjalan sampai bisa,"
Keputusan itu begitu diambil didalam hatinya dengan segera dia mengulangi lagi berjalan
diantara lingkaran lingkaran itu, tidak lama kemudian akhirnya ditemuinya juga sedikit titik
terang dan berhasil menerobos satu langkah, hatinya menjadi sangat girang sekali,
demikianlah selama semalam suntuk dia terus menerus belajar berjalan diantara lingkaran
itu hingga sampai hapal.
Saat itu seluruh tubuhnya terasa amat lelah sekali, keringat mengucur keluar membasahi
seluruh tubuhnya, saking lelahnya tidak terasa lagi dia jatuh tertidur dengan pulasnya
dibawah sebuah pohon yang besar.
Menanti dia mendusin dari tidurnya, hari telah jauh siang, matahari memancar sinarnya
dengan sangat terang Mendadak terlihat olehnya tidak jauh dari dirinya berbaring, berdiri
seekor kerbau yang sangat tenangnya memakan rumput.
Sejak Liem Tou diusir dari puncak Ha Mo Leng selama beberapa tahun lamanya dia hidup
sebagai pengangon sapi, begitu melihat sapi ia menjadi sangat girang sekali. Dengan
perlahan dia berjalan mendekati sambil menepuk nepuk tubuh kerbau itu, ujarnya.
"Kakak kerbau; bagaimana kau bisa seorang diri ditempat ini? Apa kau telah tersesat? Mari
aku temani kau bermain”
Kerbau itu agaknya mengerti akan perkataannya dengan suara perlahan mengeluarkan
desiran. Liem Tou yang sejak kecil dianiaya terus oleh orang, begitu ada orang yang sedikit
baik sraja terhadap dirinya maka dia seperti akan merasakannya, kini tak terasa menjadi
sangat girang, dengan cepat ditepuk-tepuknya pundak kerbau itu.
Sekonyong konyong dari belakang tubuhnya muncul seorang lelaki kasar yang sangat
gusarnya membentak.
"He, kau cecunguk kecil cepat pergi!, he he kau mau mencuri kerbauku?"
Siapa yang mau mencuri kerbaumu?, balas maki Liem Tou dengan gusarnya. "Kau jangan
sembarangan memfitnah. Kau barulah mirip sebagai seorang pencuri kerbau"
Lelaki kasar itu menjadi sangat gusar sekali, bentaknya.
"Bocah edan, kau berani menaaki Jieya mu? Aku harus memberi pelajaran padamu biar kau
tau rasa kellhayan dari Jieya mu ini"
Sehabis berkata tubuhnya maju satu langkah kedepan; dengan cepat Liem Tou
mengundurkan dirinya kebelakang, tetapi gerakan dari lelaki kasar itu jauh lebih cepat dari
dirinya, tamparannya dengan cepat mengenai pipi sebelah kirinya.
Liem Tou menjadi sangat gusar sekali bentaknya.
“Bagus, Kau berani pukul aku"
Pada saat kegusarannya sedang memuncak itulah mendadak dari luar rimba terdengar suara
hiruk pikuk yang sangat ramai sekali, terdengar ada salah satu orang yang berteriak dengan
kerasnya.
“Cepat semua datang kemari, orang yang mencuri kerbau berada disini. Cepat tangkap,
jangan sampai pencuri kerbau itu melarikan diri"
Lelaki kasar itu begitu mendengar ada banyak orang mengejar datang, sambil mendepakkan
kakinya keatas tanah makinya.
"Sialan. Hu.."
Dengan cepat ia memutar tubuhnya dan melarikan diri kedalam rimba tersebut.
Kini tinggal Liem Tou seorang diri tertegun ditempat itu dia merasa bingung entah telah
terjadi urusan apa ditempat itu, pada saat itu juga orang-orang kampung telah meluruk
datang kedalam rimba itu, beberapa orang yang berada dipaling depan telah berhasil
mencekal diri Liem Tou dan ditekannya kebawah tanah, tangannya dengan tak hentihentinya
mengirim jotosan serta tendangan yang keras.
Diperlakukan seperti itu Liem Tou berteriak, serunya.
"Siapakah kalian semua? Kenapa tanpa bilang merah atau hijau sembarangan memukul
orang? Aduh, kalian pukullah aku sampai mati, Ooh .. aduh!"
Orang kampung yang datang itu makin lama makin banyak, dengan tepatnya mereka
mengurung diri Liem Tou sedang mulutnya tak henti- hentinya memaki, mencelah, sehingga
suasana menjadi sangat ramai sekali, bahkan diantaranya ada seorang wanita dusun yang
berteriak.
"Kau cecunguk kecil tidak terlihat usiamu yang begitu masih muda telah melakukan
perbuatan mencuri kerbau yang sangat memalukan ini, banyak waktu ini didusun kita telah
kehilangan beberapa ekor kerbau secara berturut turut, kau maling kecil sebenarnya telah
kau bawa kemana semua kerbau-kerbau itu?”
Seluruh tubuh Liem Tou yang dipukuli tak hentinya oleh orang orang kampung itu mulai
terasa amat sakit segera dia ber-teriak2 dengan keras.
“Kalian jangan pukul aku, aku tidak mencuri kerbau kalian, aku bukan pencuri yang mencuri
kerbau kalian"
Orang lelaki pertama yang menangkap dirinya segera membentak keras.
"Bukti hasil pancurianmu telah berada didepan mata kau masih berani mungkir he .. he .
rasakan kepalanku ini"
Liem Tou hanya merasakan kepalan orang itu dengan kerasnya menghajar pundaknya, saking
sakitnya hingga sukar ditahan.
"Aduh .." teriaknya sambil napasnya mengenggas-enggos, "Aku tidak mencuri, aku bukan
orang yang mencuri kerbau kalian “
Orang-orang kampung itu tidak memperdulikan mati hidup dari Liem Tou lagi, mereka semua
mengira kerbau itu kini berada bersama dengan Liem Tou sudah tentu orang yang mencuri
kerbau itu tidak ragu-ragu lagi adalah Liem Tou yang melakukannya, sehingga tanpa merasa
sedikit kesihanpun kepalan serta tendangan mereka semakin menghebat, membuat seluruh
tubuh Liem Tou luka-luka dan membengkak.
Semakin lama Liem Tou mulai merasa tidak dapat bertahan lebih lama lagi untuk
menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnyapun tidak ada gunanya terpaksa sambil
memejamkan matanya dia menahan terus kesakitan yang luar biasa itu, diam diam pikirnya.
"Terus pukullah, aku Liem Tou memang memiliki nasib buruk, sekalipun begitu aku juga tidak
dapat barbuat apa lagi, untung aku masih ada le cici yang sangat baik terhadap diriku.
Dia memejamkan matanya sedang pada mulutnya tersungging suatu senyuman yang manis,
mendadak dadanya terhajar satu pukulan tak tertahan Liem Tou mengerutkan alisnya
setelah mendengus berat dia jatuh tak sadarkan diri.
ooOoo
Entah telah lewat beberapa lamanya ketika dia sadar kembali terasalah olehnya orang orang
dusun itu teriaknya.
"Hi--- pencuri kerbau itu telah sadar kembali, biar dia jalan sendiri.”
Orang yang menyeret tubuh Liem Tou itu begitu mendengar teriakan tersebut segera
melepaskan tangannya. Tetapi Liem Tou setelah dihajar habis habisan oleh orang orang
dusun itu selain seluruh tubuhnya sangat linu dan sakit hingga sukar ditahan tubuhnyapun
menjadi sangat lemas tak bertenaga, kini begitu dilepaskan mana dia berhasil berdiri tegak,
kakinya tertekuk kedepan sedang tubuhnya sekali lagi rubuh keatas tanah.
Dua orang yang melihat Liem Tou benar-benar tidak kuat untuk berjalan sendiri segera
menarik, kembali makinya dengan gusar.
"Hai bocah bangsat ayoh jalan, kita harus menyerahkan dirima kepada pembesar negeri biar
kau dihajar hingga mati tidak dapat hidup-pun susah, Hmm..hmm bangsat cilik dengar
tidak!”
Liem Tou tetap tidak mengeluarkan sepatah katapun, entah setelah ditarik oleh orang itu
beberapa lama dan entah telah melakukan perjalanan beberapa jauhnya sampailah
rombongan orang dusun itu pada sebuah kota dusun yang tidak begitu besar.
Liem Tou tetap diseret jalan ditengah jalan raya itu, orang-orang dalam kota, tersebut
dengan terheran-heran menyaksikan kejadian tersebut sambil menggelengkan kepala
makinya.
“Ha --- bocah secilik ini sudah mencuri kerbau, sungguh memalukan harus dihajar biar tahu
rasa. . . “
Tidak selang lama seluruh penduduk diluar kota telah tahu kalau Liem Tou adalah seorang
pencuri kerbau, sambil menuding mereka mencaci maki, meludahi wajahnya bahkan ada
yang melempari batu2 kearah tubuhnya, sekalipun diperlakukan seperti itu Liem Tou juga
tidak dapat berbuat apa apa, terpaksa sambil manahan seluruh penderitaan itu dia
meneruskan jalannya dengan diseret.
Tidak seberapa lama kemudian sampailah mereka disebuah pengadilan, tetapi sekalipun
telah ditunggu seberapa lama juga tidak muncul2 pembesar pengadilan itu, bahkan ada
beberapa orang yang telah mulai ribut dan berteriak-teriak.
Seperminum teh kemudian munculah dua orang pengawal pengadilan dari dalam ruangan
itu, ujarnya terhadap mereka.
“Pembesar kota itu sedang mengadakan pemeriksaan diluar dan kini masih belum kembali,
pencuri ini biar ditinggal saja menunggu keputusan.”
Semua orang setelah mendengar perkataan itu segera bubaran, sedang kedua pengawal itu
bagaikan mencincing seekor anak ayam membawa Liem Tou kedalam Bui sambil bentaknya.
“Heei bangsat kecil, ayo jalan.”
Sesampainya kedalam penjara segera didorong kesebuah kamar yang sangat gelap sekali
keadaannya, bahkan untuk melihat sesuatu apa pun sangat sukar sekali, tak tertahan dia
menjadi sangat terkejut dan berturut-turut mundur kebelakang beberapa tindak.
Kiranya dihadapannya telah berdiri seorang sipir bui yang sangat tinggi besar, dan kuat sekali
saat itu orang sambil bertolak pinggang mendelik kearahnya, seluruh wajahnya ditumbuhi
dengan berewok yang sangat tebal sedang matanya besar bagaikan bola.
Liem Tou melihat orang itu tidak mengucapkan apapun, dengan membesarkan nyalinya
ujarnya dengan gemetar.
“Loo ya, aku tidak mencuri kerbau mereka, mereka telah salah menangkap orang.”
Sipir bui itu hanya mendelikkan sepasang matanya, didalam sekejap saja tangannya telah
bertambah dengan sebuan pecut yang dibuat dari kulit berwarna hitam, sedang mulutnya
mendenguspun tidak.
Sejak Liem Tou dilahirkan selamanya dia dibesarkan diatas perkampungan tetapi tidak
sampai pergi tertalu jauh sehingga pengalamannya didalam dunia kangouw boleh dikata
sangat cetek sekali, jangan dikata penderitaan didalam bui, hanya cukup sikap yang seram
dari sipir bui itu sudah cukup membuat hatinya sungguh merasa sangat terkejut bercampur
takut dengan paksaan diri.
“Loo ya…”
Tak disangka baru saja dia memanggil Looya dua buah kata, pecut kulit yang berada
ditangannya dengan mengeluarkan suara yang keras siap dihajarkan keatas tubuhnya,
didalam saat itulah mendadak dari samping orang ini muncullah seorang pengemis cilik yang
sangat dekil, Liem Tou belum sempat melihat jelas keadaan serta bentuknya segera dia
merasa tubuhnya telah ditumpuk kesamping sehingga tergeser beberapa langkah dari
tempat semula, makinya.
“Hee,..bocah cilik yang baru datang, bilamana kau mengetahui sedikit aturan panggilah
Toako padanya, dan serahkan seluruh uang perak yang ada didalam sakumu.”
Ketika Liem Tou mendengar perkataan itu segera dibuat menjadi melongo dan bingung atas
sikapnya itu, entah harus berbuat bagaimana baiknya, saat itulah orang itu dengan tanpa
sungkan sungkan lagi merogo kedalam sakunya Liem Tou dan mengambil seluruh uang yang
berada didalam sakunya, sambil tersenyum ujarnya pada sipir bui itu.
“Harap Toako jangan marah atas kelancangan dari aku si pengemis, silahkan Toako terima
sedikit uang ini.”
Sipir bui ini berkedippun tidak, setelah memandang sekejap kearah pengemis cilik itu segera
disambarnya uang ditangannya, kemudian memutar tubuhnya siap hendak memborgol
tangan dari Liem Tou.
( Bersambung ke jilid 3 )
JILID KE 3
LIEM TOU yang selamanya diperlakukan tidak adil membuat sifatnya penurut, kini baru saja sepasang tangannya diulur kedepan siap menerima borgolan tersebut, tiba tiba sipengemis kecil itu sambil tertawa ujarnya lagi pada Sipir Bui itu.
“Toako, coba kau lihat bangsat kecil itu seluruh tubuhnya telah luka parah, untuk berdiri saja sudah tidak sanggup buat apa harus diborgol tangannya apa dia takut melarikan diri?."
Liem Tou sama sekali tidak pernah menyangka kalau didalam penjara dapat bertemu dengan seorang yang selalu menolong dirinya tak terasa dia melirik kearah pengemis kecil itu, diam diam pikirnya.
“Aku Liem Tou selama hidupku ini orang yang terbaik denganku kecuali ayah serta le Cici selamanya tidak terdapat orang ketiga lagi, pengemis cilik ini ada sedikit aneh?”
Baru saja dia berpikir sejenak, tidak disangka si pengemis cilik itu telah menoleh kearahnya sambil membentak keras.
“Hei bocah cilik kau sedang memikirkan apa, cepat kesudut sebelah sana buka baju dan rawatlah luka lukamu itu.”
Liem Tou ketika melihat si pengemis cilik sangat keren dan berwibawa tetapi secara samar samar memperlihatkan sikapnya yang sangat ramah dan halus segera menerima teguran itu dengan berdiam diri dia merasa bahwa pengemis cilik itu sedang melindungi dirinya, tak terasa lagi seperti seorang dewasa yang memarahi anak kecil dengan tanpa banyak komentar dia berpindah kearah sudut ruangan itu.
Siapa tahu baru saja dia duduk diatas tanah mendadak terdengar suara rintihan yang sangat lemah berkumandang keluar dari samping tubuhnya, dengan cepat menoleh untuk memandang, air mukanya segera berubah hebat agaknya dia merasa sangat terkejut sekali, tampaklah seorang buronan tua yang rambutnya terurai panjang sepundak dengan air mukanya yang pucat pasi bagaikan mayat sedang berbaring disamping sudut tembok dan merintih tak henti hentinya.
Ketika Liem Tou memandang lagi kearah kakinya, terlihatlah kudis serta koreng yang penuh tumbuh diseluruh permukaan kulit, baunya bukan buatan sehingga sukar untuk bertahan lebih lama.
Beberapa saat kemudian Liem Tou melihat si pengemis kecil itu berbicara beberapa patah kata kearah sipir bui itu, terlihatlah sipir bui itu amat girang sekali sambil tertawa terbahak bahak, setelah itu berjalan kearah sebuah kursi dan tertidur dengan pulasnya.
ooOOoo
7
Dengan langkah yang perlahan sipengemis kecil itu berjalan kesamping tubuh Liem Tou tanyanya kemudian
"Hei--- bocah cilik yang baru datang siapa namamu? Kenapa dimasukkan kedalam penjara oleh orang?"
Dalam hati Liem Tou masih merasa sangat gemas dan mangkal mendengar pertanyaan itu dengan gemasnya menyahut.
“Mereka bilang aku mencuri kerbau mereka.,"
Tiba-tiba si pengemis kecil itu tertawa terbahak bahak, ujarnya.
"Ha ha ha . kalau begitu engkau melanggar hukum yang serupa dengan diriku, kau sudah merupakan kawan sejalan aku kira kita lebih baik bekerja sama terus kalau sudah keluar dari penjara ini,"
“Aku tidak mencuri," Teriak Liem Tou dengan keras, "Mereka yang secara seenaknya menuduh aku yang mencuri."
Si pengemis kecil itu masih tertawa terus tak henti-hentinya, mendadak dia bangktt berdiri, ujarnya,
"Perduli kau mencuri atau tidak pokoknya kini kau sudah ditangkap oleh mereka sekalipun tidak mencuri yah sudah mencuri, kau tunggu sebentar, aku akan pergi beli sedikit arak serta sayuran untuk menyambut kedatanganmu."
Liem Tou yang mendengar perkataannya ini merasa sangat bingung, didalam penjara seperti ini darimana datangnya sayur serta arak? baru saja akan buka mulut untuk bertanya si pengemis kecil itu sudah berlari kesamping tubuh Sipir bui itu, dengan perlahan dia mulai mendorong tubuhnya sambil ujarnya.
“Toako kepala penjara, aku akan keluar sebentar.”
Menanti Sipir bui mendusin dan membuka matanya dia telah lari, keluar dari pintu penjara dan lari terus keluar.
Dalam hati Liem Tou menduga tentunya Sipir bui itu akan merasa terkejut bercampur gugup, siapa tahu dia hanya membuka mulutnya dengan suara yang sangat serak barteriak.
“Hei pengemis bangsat. Tetapi pulang kembali, gentong araknya diangkut sekalian kesini.”
Sehabis berteriak gumamnya seorang diri.
“Neneknya, beberapa hari ini perutku terus menerus kosong, sikap dari Loo ya terhadap dirikupun sedikit berubah.”
Mendadak dia memutarkan tubuhnya dengan matanya yang mendelik besar itu mendatangi kearah Liem Tou, ketika Liem Tou melihat kedatangannya amat galak dan seram segera tahu tentu dia akan turun tangan jahat, hatinya terasa berdebar dengan kerasnya sedang matanya tak terasa lagi memandang tajam kearahnya, pikirnya: Apa mungkin mau menggunakan pecut kulitnya untuk memukul tubuhnya.
Berpikir sampai disini segera dia menyusupkan seluruh tubuhnya menjadi satu sampai bernapas keraspun tidak berani.
Sebenarnya Liem Tou merupakan seorang yang tidak takut dipukul, oleh karena saat ini seluruh tubuhnya telah terluka hingga pecah pecah bila dipukul serangan apa pun juga tentu sukar untuk ditahan Iagi, disamping itu setelah dirinya dijebloskan kedalam bui dan bilamana mengadakan perrlawanan maka waktu bagi dirinya keluar dari bui tentu akan sangat lama sekali.
Sipir bui itu baru saja berjalan tidak jauh dari tubuhnya terlihatlah tangannya membalik melancarkan pecutannya memukul keras keatas sedang hidungnya tak henti-hentinya mendengus dengan sangat dinginnya.
Penjara itu sebenarnya sudah sangat gelap sekali, lagi pula lembab menyeramkan pula kini ditambah dengan wajahnya yang meringis menakutkan bayangan pecut serta aungan keras membuat suasana semakin mengerikan, tak tertahan lagi seluruh tubuh Liem Tou menggigil dengan kerasnya, sedang dalam hatinya merasa takut kalau pecut itu melayang menghajar tubuhnya.
Pada waktu itulah dari samping tubuhnya mendadak terdengar suara sahutnya.
"Aku tidak akan barbicara, sekalipun kalian menyiksa aku sampai mati aku juga tidak akan memberi tahukan kepada kalian."
Sipir bui itu mendengus dingin lagi, sambil berjalan dua langkah kedepan tangannya menyambar menjinjing tubuh tawanan tua itu dan dibanting ketengah ruangan bentaknya:
“Neneknya… Kakekmu tidak perduli kau mau bicara apa dengan Loo ya aku hanya terima perintah untuk setiap hari hajar kau sehingga setengah mati, hee tua bangkotan she Kan. Aku sungguh sangat sial, karena kau seorang membuat aku pun ikut serta tersiksa salama tiga tahun lamanya, cepat kau tahan hajaranku ini."
Sehabis berkata dia mulai melucuti seluruh baju kakek tua itu, ketika Liem Tou memandang tubuhnya terlihatlah bekas bekas luka yang memenuhi seluruh tubuhnya bahkan warnanya telah berubah menjadi matang biru, saking terkejutnya dengan cepat dia memejamkan matanya diam diam teriaknya.
“Ooh Thian, kau berada dimana?"
Disebelah sini dia sedang ketakutan setengah mati sedang disebelah sana sipir bui itu sudah mulai melancarkan pecutannya menghajar seluruh tubuh kakek tua itu, setiap kali pecutnya menyambar segera terdengar suara dengusan kesakitan dari mulut kakek tua itu. Hanya saja suara kesakitan itu kini didengar dalam telinga Liem Tou mirip sekali dengan teriakan ngeri yang mendirikan bulu roma. bahkan jauh lebih tidak enak dari tubuhnya sendiri, tak tertahan lagi seluruh tubuhnya gemetar tak henti-hentinya.
Sejenak kemudian seluruh tubuh sipir bui itu sudah penuh dibasahi oleh keringat yang mengucur keluar dengan derasnya, tetapi hajarannya masih terus berlangsung tak hentinya. Sekalipun Liem Tou sejak kecil selalu dianiaya oleh orang lain tetapi belum pernah dia merasakan hajaran yang demikian kejam serta mengerikan. Baru saja dia hendak mencegah perbuatan itu mendadak terdengar sipengemis kecil itu telah berteriak keras dari depan pintu penjara.
“Toako kepala bui, cepat hentikan hajaranmu, kenapa kau pukul dirinya lagi?".
Begitu sipir bui itu mendengar pengemis cilik kembali, segera dia menyimpan kembali pecut kulitnya, dengan sangat dingin dia memandang sekejap kearah kakek tua yang aneh itu, dengan kasar makinya.
“Neneknya kenapa kau tidak cepat cepat mati saja ?".
Sehabis berkata kakinya melayang menendang tubuh kakek aneh itu kemudian lari kearah pintu penjara menyambut datangnya sayur arak yang dibawa oleh pengemis cilik itu.
Liem Tou melihat sipir bui itu sudah pergi segera membawa kakek aneh itu bersandar ditempatnya semula bahkan memakaikan pakaian yang tadi dilucuti oleh sipir bui tersebut kemudian barulah tanyanya dengan perlahan.
“Orang tua, kau masih bertahan tidak, Kenapa mereka memukuli dirimu demikian kejamnya?”
Siapa tahu kakek aneh itu tidak memperdulikan dirinya, bahkan seperti tidak mendengar pertanyaan Liem Tou, hanya tangannya merogoh kedalam pinggangnya mengambil keluar sebuah benda, tetapi sampai ditengah jalan berhenti lagi agaknya dia merasa ada Liem Tou disampingnya sehingga tidak mengambil keluar, sepasang matanya dengan sangat tajam memandang kearahnya.
Ketika sinar mata Liem Tou bertemu dengan sinar matanya dengan tak terasa menjadi sangat terkejut sekali dan tak tertahan bersin beberapa kali. Kiranya sepasang matanya memancarkan sinar yang sangat keren, buas serta benci, membuat setiap orang merasa pada berdiri bulu kuduknya.
Pada ketika itulah waktu kakek tua itu melihat Liem Tou agaknva tidak punya maksud berbuat jahat terhadap dirinya segera mengambil keluar sebuah benda dari dalam pinggangnya, waktu Liem Tou melihat benda itu ternyata adalah sebuah tali dari celananya segera pikirnya dalam hati.
“Apa mungkin kakek aneh itu mau bergerak? Didalam sebuan ruangan penjara ini bila dia mau buang kotoran bukankah akan berabe?”
Berpikir sampai disini dia bermaksud hendak memberitahu pada sipir bui itu, tetapi ketika dia menoleh melihat lagi tak terasa dia menjadi tertegun dibuatnya, kiranya kakek aneh itu telah menelan tali celana tersebut, tanyanya dengan cepat,
'Kau orang tua sedang makan apa? Bagaimana bisa dimakan benda seperti itu?"
Begitu kakek aneh itu mendengar pertanyaan dari Liem Tou itu seperti takut kalau dia merebut bendanya dengan cepat tali celana itu disimpan dan disembunyikan kedalam pinggangnya sedang mulutnya tak henti hentinya mulai merintih kembali, sama sekali dia tidak mau perduli terhadap sikap dari Liem Tou itu.
Liem Tou terpaksa hanya bisa menggelengkan kepalanya saja tanpa bisa berbuat apa apa lagi, tiba-tiba terdengar sipengemis kecil itu berteriak:
“Toako kepala bui agaknya masih sangat banyak cepat kau teguk segentong ini aku sipengarnis kecil tentu akan mengiringi kau untuk menghabiskan arak ini"
Ketika Liem Tou menoleh memandang kesana terlihatlah tubuh sipir bui itu sudah bergoyang tak hentinya agaknya dia sudah dibuat mabuk oleh pengemis cilik itu, bahkan mulutnya berbicara tak karuan.
"Baiklah, mari minum, kau sunggah baik sekali, Loo-ya agaknya telah berubah sikap terhadap diriku.”
Si pengemis itu segera mengangkat sebuab gentong arak lagi dan diloloh kedalam mulut sipir bui itu, ujarnya.
“Toako kepala bui mari teguk lagi".
Tidak disangka perkataannya baru selesai diucapkan tubuh sipir bui itu telah rubuh tak sadarkan diri diatas tanah, saat itulah dengan perlahan lahan sipengemis cilik itu baru bangkit berdiri, tangannya dengan perlahan mengangkat tubuh lelaki itu dan dilemparkan kedepan, dengan mengeluarkan suara yang amat keras tubuh Sipir bui itu sudah terjatuh keatas sebuah pembaringan sehingga hampir hampir rubuh kembali keatas tanah.
Diam-diam Liem Ton yang melihat kejadian itu merasa sangat heran pikirnya:
“Jika dilihat usianya yang tidak begitu berbeda dengan usiaku, darimana datangnya tenaga yang begitu besarnya?"
Pada waktu itulah sipengemis cilik itu sudah menggape kearahnya sambil parggilnya.
"Hee . Pencuri kerbau. kau demikian sungkannya?? Sayur serta arak ini sengaja aku buatkan untuk menyambut kedatanganmu, cepat kemari”
Liem Tou yang mendengar begitu dia pentang mulutnya ternyata memanggil dirinya sebagai sipencuri kerbau dalam hati sudah merasa kekhie tetapi diapun merasa berterima kasih atas bantuannya untuk menghapuskan dirinya dari hajaran pecut kulit itu segera dia maju kedepan, dengan dingin ujarnya.
"Kita selamanya tidak saling mengenal dan bukan merupakan kawan senasib pula, buat apa kau mengadakan perjamuan ini untuk menjamu diriku ?"
Ternyata si pengemis cilik itu tertawa merdu sahutnya.
"Hee .. siapa yang menyuruh kau memiliki ilmu surat yang begitu sempurna?? Aku sipengemis cilik tidak akan paham akan hal tersebut, sudahlah, mari cepat makan."
Liem Tou yang mendengar nada suara tertawanya ternyata telah bcrubah bahkan hampir mirip dengan suara tertawa dari Ie cicinya tak terasa menjadi tertegun dibuatnya, urusan ini rungguh sangat aneh.Tak terasa lagi dia melotot matanya dengan tajam memandang kearahnya.
Si pengemis cilik itu begitu melihat sikapnya sangat aneh sepasang matanya segera berputar, sambil tertawa ujarnya lagi.
“Bagaimana? Kau takut makan apa karena jeri dengan setan itu? Kuberitahukan kepadamu. Hei si pencuri kerbau, didalam arak yang diminum telah kucampuri dengan obat tidur, tidak sampai besok pagi jangan harap dia bisa mendusin kembaii."
Mendengar perkataan itu Liem Tou merasa sangat terkejut sekali, dahulu dia pernah mendengar cerita ayahnya yang mengatakan bahwa obat bius itu biasanya digunakan oleh kedai-kedai gelap didalam membius tamu tamunya. Kini si pengemis cilik itu ternyata menggunakan benda itu membuat Liem Tou benar benar merasa sangat curiga sekali.
Agaknya si pengemis cilik itu tahu apa yang sedang dipikir dalam hatinya, mendadak tertawa semakin merdu ujarnya.
“Hee si pencuri kerbau, kau berlega hatilah, kita merupakan kawan dari satu jalan tidak mungkin kita bisa menggunakan obat bius membius dirimu, apalagi sampai namamupun aku masih tidak tahu buat apa aku membius kau? Heee. Cepat makanlah. Aku dengan setulus hati hendak berkawan denganmu.”
Sehabis berkata dia mengambil poci itu dan diisi penuh dengan arak wangi kemudian diteguknya hingga habis, ujarnya.
“Aku si pengemis cilik menghormati kau si pencuri kerbau agar sukses selalu, Hee. sipencuri kerbau, sebenarnya siapa namamu?”
Liem Tou yang dibegitukan oleh si pengemis cilik membuat ia tertawa tak dapat menangispun susah, terpaksa dia meneguk habis secawan arak kemudian sahutnya.
“Aku bernarna Liem Tou.”
Mendadak teringat olehnya kalau si pengemis cilik itu memanggil dirinya sebagai si pencuri kerbau, tak terasa teriaknya dengan keras.
“Aku beritahu padamu, aku tidak pernah mencuri kerbau jangan panggil aku sebagai pencuri kerbau.”
“Sungguh gagah sekali namamu,” ujar si pengemis cilik sambil tertawa lagi, “Kau mencuri atau tidak mencuri apa bedanya? Aduh. Aku sungguh tolol kurang sedikit saja telah melupakan iblis tua itu.”
Sehabis berkata dia menyobek sekeras paha ayam dan di lemparkan kearah sudut penjara itu sambil teriaknya.
“Hee - - - Loo toa apa benar benar kau tidak mau memberitahukan kepadaku, ayahku pernah beritahu pada kau katanya pada puluhan tahun yang lalu Siok To Siang Mo pernah malang melintang di daratan maupun lautan bahkan pernah berbuat kejahatan yang tak terhingga banyaknya sehingga anak kecil pun tahu kejahatan kalian, tetapi pada tiga tahun yang lalu mendadak Siang Mo telah melenyapkan diri tanpa bekas, baru kini barulah didalam dunia kangouw tersiar berita katanya Siang Mo telah mendapatkan sebuah kitab pusaka To Kong Pit Liok peninggalan Thio sucouw kemudian menyembunyikan diri untuk berlatih, sejak semula berita itu telah menggemparkan seluruh dunia kangouw, berbagai jago dari berbagai aliran mulai mencari jejak orang tersebut sampai dimana untuk merebut buku pusaka tersebut, akupun setelah melakukan pengejaran yang jauh serta tenaga yang amat besar akhirnya baru menemukan dirimu di tempat ini bahkan mengetahui kalau urat nadi kakimu telah diputus. Sekalipun kepandaian silatmu tidak sampai hilang tetapi juga tidak dapat digunakan, maka itu coba kau pikirlah secara masak-masak. Bilamana kau mau menyerahkan kitab rahasia itu aku akan segera menolong kau keluar hingga dapat hidup ja¬uh lebih bahagia, kalau tidak coba kau rasakanlah siksaan atau pecutan dari Loo Jiemu yang sangat kejam itu.”
Sehabis berkata dia menoleh memandang kearah Liem Tou dan ujarnya lagi.
“Aku heran didalam dunia ini ternyata masih ada juga manusia setolol dia, mau menolong malah ditolak bahkan mau menerima siksaan serta penderitaan didalam penjara. Hee si pencuri kerbau..Oooh..tidak, Tou loote mari kita makan punya kita sendiri, jangan urusi dia lagi”
Perkataan dari pengemis cilik tentang kakek aneh itu telah menarik perhatian diri Liem Tou, teringat kembali olehnya perkataan dari si siucay buntung serta pembesar buta sewaktu mereka bertempur dengan sengitnya itu kemudian teringat pula perkataan antara si siucay buntung serta Thiat Sie poa, apa mungkin orang yang sedang mereka cari itu adatah kakek aneh ini?
Baru saja dia berpikir sampai disitu kakek tua yang aneh itu telah menggumam sendiri.
“Aku tidak akan memberi tahu pada kalian, siapa yang akan mendesak djriku, aku juga tidak akan membuka mulut.”
Mendadak dengan suara yang amat keras bentak kakek aneh itu lagi.
“Apa kau kira penderitaan siksaan serta cambukan selama tiga tahun ini telah membuat aku jeri?”
Liem Tou sagera menoleh memandang kearahnya, terlihatlah sepasang mata kakek aneh itu memancarkan sinar yang amat tajam tetapi sangat dingin, air mukanya yang pucat pasi segera berubah menjadi kehijau-hijauan, pada saat itulah si pengernia cilik sambil tertawa telah berkata.
“Aku bilang Loo toa tentang hal ini kau salah menduga, menurut apa yang kuketahui sekarang ini, para jago dari golongan Pek to maupun dari golongan Hek to sekarang ini telah pada berkumpul didalam kerisidenan Ciong ling ini sedang Loo jie mu yang kejam serta berhati binatang itu sekalipun sifatnya sangat licik dan banyak aka! telah menyembunyikan dirimu di dalam penjara yang sangat gelap tanpa menimbulkan suara apapun, orang lain aku tidak berani bilang tetapi Tionggoan Ngo Koay terutama sie poa itu apa kau kira bisa berhasil mengelabui dirinya?"
"Dia datang mencari diriku bilamana tidak mau bilang, dia bisa berbuat apa lagi" sahut kakek itu sambil tertawa serak.
“Kitab pusaka To Kong pit Liok itu apabila terjatuh ketangan orang jahat bukankah akan menimbulkan gelombang yang dahsyat didalam Bu-lim, coba kau pikir sekali lagi kini dia sudah tahu kalau kau berada disini apa mungkin dia mau melepaskan dirimu begitu saja ? Sekalipun sekarang kau punya perasaan menyesal atas perbuatanmu yang dahulu dahulu dan bertaruh dengan nyawa juga tidak mau menyerahkan kitab rahasia Tok Kong pit Liong itu kepada Loo jie mu itu tetapi Thiat Sie Sie sianseng yang mempunyai sepasang mata yang tajam apa dia mau mempercayainya? Pada saat itu kau boleh merasakan tindakan yang diambil dari tangannya.”
Omongan dari sipengemis cilik itu ternyata membuat kakek aneh itu termenung berpikir keras.
Liem Tou yang mendengar seluruh perkataan yang diucapkan oleh si pengemis cilik itu sangat beralasan bahkan dia dengan mata kepala sendiri melihat kalau si siucay buntung serta sipembesar buta telah datang ditambah simayat hidup serta pengemis pemabok pun te¬lah tiba segera timbrungannya.
"Aee orang tua. Sekalipun aku tidak tahu ia menghendaki benda berharga apa dari tanganmu tetapi ketika aku mendengar perkataannya segera ia tahu kalau benda itu bukan merupakan benda yang berharga, lebih baik kau berikan kepadanya."
"Kiranya kaupun sekomplotan dengan pengemis cilik itu" maki kakek aneh itu dengan sangat gusar. "Hm . . . hm . . . kalau kalian punya kepandaian gunakanIah terhadap diriku, saya mau lihat seberapa lihay kepandaian kalian itu."
“Orang tua…” bantah Liem Tou dengan cemas, “Harap kau jangan salah paham, aku berkata demikian sebenarnya punya maksud baik terhadap dirimu sedang saudara ini sama sekali tidak percaya padanya, mana mungkin aku bisa sekomplotan dengan dirinya?”
Liem Tou baru saja habis berkata segera terlihatlah kakek tua yang aneh itu sudah memalingkan kepalanya tidak mau bicara lagi, sebaliknya terlihatlah si pengemis cilik itu sambil tersenyum manis menepuk nepuk pundaknya, ujarnya.
"Tou Loo te kau sungguh merupakan kawan karibku yang sangat baik, marl kita teguk arak ini."
Liem Tou yang dikatai seperti ini mana mau menerima araknya, dengan sangat serius sahutnya.
"Apa maksudmu yang sebenarnya ? Apa kau neminta aku menampar mulutku sendiri ? Aku Liem Ton bukanlah orang semacam itu."
Si pengemis cilik itu melihat sikapnya berubah sccara mendadak juga ujarnya dengan keras.
"Ini apa-apaan? Hemm kau bicara apa ? Bukankah kau sedang menasehati iblis tua itu untuk menyerahkan kitab pusaka To Kong Pit Liok kepadaku, bagaimana kini malah mungkir ? Demikianpun juga boleh, aku lihat kau bukanlah orang dari kalangan dunia kangouw lebih baik janganlah terlalu mencampuri urusan ini, kalau tidak aku bukannya orang yang terlalu baik. bila waktu aku sampai dibikin marah, he he he hati-hati dengan batok kepalamu."
Liem Tou yang melihat sipengemis cilik itu ternyata hendak menakuti dirinya menjadi sangat gusar, apalagi dirinya sejak kecil dianiaya terus orang lain kemudian tak ada hujan tak ada angin dirinya dianggap sebagai sipencuri kerbau, dalam dadanya sudah amat mangkel, sekarang dibegitukan lagi oleh pengemis cilik kegusarannya tak dapat ditahan lagi, dengan gemas dia berdiri dan bentaknya.
"Sekarang aku akan membuat kau merasa tak senang. kau mau berbuat apa ?'
Sebaliknya bukannya marah si pengemis cilik itu tertawa terbahak-bahak, dengan halus sahutnya.
"He ... he . . coba kau lihat sikapmu amat kasar sehingga kelihatan ketololannya, kau punya kepandaian apa silahkan keluarkan semua, ini hari aku tidak ingin menyusahkan dirimu.”
Liem Tou yang melihat dia sama sekali tidak menggubris dirinya bahkan memandangpun tidak, semakin merasa gusar, diam diam pikirnya.
"Ini hari aku harus menghilangkan kemangkalanku ini, aku melihat dia bisa berbuat apa terhadap diriku?”
Berpikir sampai disini segera dia mengangkat cawannya dan menyedot isi cawan itu sekeras-kerasnya kemudian dengan dibarengi dengan hawa murninya disemprotkan kedepan Si pengemis itu sama sekali tidak mengadakan persiapan disemprot seperti itu segera seluruh
wajahma basah oleh arak dari mulut Liem Tou,
Tak terasa lagi dia menjadi sangat gusar, dengan cepat dia bangkit berdiri dan bentaknya dengan keras.
"Bangsat cilik, 'kau bosan hidup lebih lama lagi yah ?"
Tengannya diulur kedepan, jari tengah serta telunjuknya dengan bentuk seperti gunting mencukil kearah mata Liem Tou serangannya pertama saja sudah amat kejam, sedikitpun tidak memperlihatkan belas kasihannya.
Tak disangka begitu dia mengeluarkan jurus itu, kakek aneh yang berada disamping itu segera menjerit tertahan, ujarnya.
"Hee - - Yan wie tui hun ci atau ilmu jari pengejar ayawa, kiranya kau adalah anak buah dari partai Kiem Tian pay dari telaga Auh Lay, hee . bocah cilik pencuri kerbau kau haruslah berhati hati untuk menghadapi dirinya,”
Liem Tou yang melihat serangan jari dari si pengemis cilik itu digerakkan demikian cepatnya dan tahu-tahu telah sampai dihadapannya segera miringkan kepalanya menyingkir sedepa, langkah kakinya secara tidak sadar telah mengeluarkan suatu langkah-langkah yang sangat aneh yang dipelajari kemarin malam ditengah hutan menurut lukisan lingkaran sebanyak tiga puluh enam buah itu, sedang diriya entah secara bagaimana dan entah dengan cara apa namanya ternyata hanya cukup dua langkah saja telah berhasil bergeser kebelakang tubuh sipengemis cilik itu.
Melihat hal itu dia manjadi amat girang sambil mencubit keras keleher sipengemis itu ujarnya.-
"Kau boleh galak, sekarang galaklah kepadaku”
Kakek tua aneh yang berada disamping begitu melihat langkah ajaibnva segera teriaknya.
"Ha . . . bocah pencuri kerbau tak ku sangka kalau kaupun merupakan jago dari dunia kangouw ilmu Iangkah ajaib Sah cap lak Thian Kang Hwie Sian Poh atau tiga puluh enam langkah badai memutar ternyata kau telah memahaminya, tentunya kau ahli waris dari Lie Loo jie Tun si pay, kalau tidak tentu murid dari pedagang terkutuk itu.”
Sipengemis cilik itu setelah dicubit sekali oleh Liem Tou dari belakang tubuhnya semakin gusar sekali, tapi baru saja dia hendak memutar tubuhnya sejak tadi Liem Tou telah memutar lagi kebelakang tubuhnya.
llmu silat dari partai Kiem Tian Pay dari telaga Auh Hay selamanya mengandalkan ilmu jari serta ilmu meringankan tubuhnya sehingga bisa menjagoi selururuh Bu-lim, bahkan si pengemis itu mempunyai kedudukan yang sangat terhorrmat di dalam partai Kim Tian Pay sehingga bolehh dikata dia telah mewarisi seluruh kepandaian dari partai itu, siapa tahu ini hari ternyata telah terpedaya dibawah tangan seorang pencuri kerbau seperti Liem Tou itu, mana mungkin dia tidak gusar benar-benar?
Didalam headaan yang sangat cemas itu memandang sipengemis cilik itu mendapat akal, segera dia mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dan meloncat keatas tonggak diatas penjara itu, kelihatannya dia siap hendak menubruk kebawah.
Terdengar kakek aneh itu mendadak mengeluarkan suara tertahan lagi, agaknya secara tak sadar terus rnemperingatkan keadaan yaug sangat bahaya bagi keselamatan Liem Tou. Sebenarnya Liem Tou sendiri memangnya tak memiliki kepandaian silat sedang jurus-jurus yang dilancarkan juga merupakan ketepatan saja kini ketika telah menjerumus kedalam keadaan yang sangat kritis itu barulah sadar kembali dan memandang tajam keatas tiang tonggak diatas ruangan itu sedang dalam hatinya merasa amat cemas.
Terpaksa dia hanya dapat berlari secara ngawur didalam ruangan penjara itu agar sipengemis itu tIdak dapat turun kembali.
Pada air mukanya sekalipun Liem Tou kelihatan ketolol-toiolan padahal seperti perkataan dari si siucay buntung itu dia merupakan seorang yang amat cerdik dan memiliki bakat yang sa¬ngat bagus sekali.
Sambil berdiri mengitari ruangan penjara itu dia terus menerus berpikir mencari daya untuk meloloskan diri, mendadak pikiraanya berkelebat suatu cara yang bagus teringat olehnya akan perkataan dari kakek tua yang aneh itu, mendadak bentaknya dengan keras.
"Aku ahli waris dari Thiat sie poa takkan takut padamu, sekalipun kau merupakan orang partai dari Kiem Tian Pay paling banyak aku akan bertempur mati-matian melawan kau."
Sehabis berkata ternyata dangan mengarah tepat dibawah sipengemis cilik itu dia membaringkan dirinya, sedang hawa murninya segera dipusatkan pada perutnya hingga mengembung besar ujarnya lagi.
"Marilah kalau kau benar-benar punya kepandaian turunlah untuk coba-coba kelihayanku,”
Perbuatan dari Liem Tou kali ini ternyata mendatangkan hasil, sipengemis itu tak dapat meraba apa yang hendak diperbuat olehnya ternyata tak berani menggunakan nyawanya sebagai taruhan untuk menerjang turun kebawah terpaksa dengan sangat mangkal mendelik memandang kearah Liem Tou dari atas tiang penjara itu.
Bersamaan pula kakek aneh itu juga tidak berteriak lagi, terdengar dia seorang diri gumamnya.
"Bagaimara ini bisa jadi ?? Jika dilihat cara mengerah tenaga barusan ini terbukti sangat jelas sekali kalau merupakan ilmu pernapasan dari perguruanku, apa mungkin Lao jie yang mewarisi padanya ?? Tidak benar, Tidak benar. Kalau memangnya Loo jie yang mewarisi dia dalam ilmu pernapasan itu dia tak mungkin akan mengangkat pedagang terkutuk itu menjadi gurunya. Kalau demikian adanya tentu dia merupakan ahli waris Lie Loo jie dari partai Tun Si Pay, hanya dari kitab pusakanya saja barulah termuat berbagai macam ilmu silat dari setiap partai. Tapi .. tapi, kenapa dia mengaku sebagai anak murid dari pedagang terkutuk itu.
Mendadak tanyanya dengan keras.
“Hee.. bocah cilik pencuri kerbau, aku mau tanya padamu, sebenarnya kau punya hubungan apa dengan Lie Loo jie dari partai Tun Si pay itu
Mendengar pertanyaan itu diam-diam pikiran Liem Tou mulai bekerja, “urusan telah menjadi begini, aku seharusnya mengatakan kalau kepandaianku semakin tinggi semakin baik bilamana kakek aneh ini menyebut Lie Loo jie dari partai Tun Si Pay itu tentunya dia merupakan seorang yang memiliki kepandaian sangat tinggi aku tak dapat melepaskan kesempatan ini”
Berpikir sampai disini segera sahutnya dengan cepat.
"Dia adalah paman Lie Ku."
"Ooooh kiranya begitu."
Si pengemis cilik yang mendengar perkataan itu diatas tonggak kayu segera memejamkan matanva tak membuka mulut lagi ketika memandang lagi kearah Liem Tou terlihatlah perutnya masih tetap mengembang besar dan berbaring diatas tanah, keadaannya mirip sekali dengan mayat yang ditemukan tenggelam dalam laut.
Sekarang dia tak ingin bergebrak mati-matian melawan Llem Tou lagi, mendadak sambil tersenyum ujarnya.
"Sudahlah Tou Loo te. Kau jangan membuat aku tertawa sampai mati, cepat bangun, aku takkan memukul kau lagi "
Liem Tou yang berbaring diatas tanah, mana mau percaya terhadap perkataaanya sahutnya dengan cepat,
"Kau turunlah terlebih dulu."
Terpaksa sipengemis cilik itu meloncat terlebih dulu dari samping sedang pada saat itu dalam hati pikir Liem Tou.
"Hm. . . aku harus memperlihatkan sediklt kelihayanku dihadapan sipengemis busuk itu agar dia tak berani terlalu memandang rendah diriku lagi."
Mendadak hawa murni yang dikumpulkan perutnya itu dikerahkan keatas.
"Braaaak..." genting ruangan penjara itu segera dipukul oleh hawa murninya hingga menimbulkan sebuah lubang yang sangat besar, debu beterbangan mengotori empat penjuru sedang orang orang yang berada disanapun sangat terkejut akan kelihayannya itu. Setelah itu baru Liem Tou dengan perlahan bangkit berdiri.
Melihat kejadian itu dalam hati si pengemis cilik itu merasa sangat terperanjat, pikirnya.
“Untung saja aku tak sampai bergebrak melawan dia, kalau tidak susah juga. . ."
Tidak selang lama, matahari sudah terbenam diarah barat sedang malampun telah tiba.
Dengan melototkan matanya kakek aneh itu tiba2 memanggil diri Liem Tou sambil ujarnya:
"Dua buah kitab pusaka didalam dunia ini kini yang satu telah didapatkan oleh Lie Loo jie, apa mungkin kau datang kedalam penjara ini bertujuan meminta kitab pusaka yang satunya lagi?"
Pada saat ini Liem Tou telah amat terkejut serta kagum terhadap kakek aneh itu kini mendengar perkataan itu itu dengan gugup sahutnya:
“Mana aku berani, aku benar benar dikarenakan orang lain menganggap aku telah mencuri kerbaunya hingga ditangkap dan dimasukkan kedalam penjara, mana aku berani punya niat serakah terhadap barang dari cianpwee?”
“Ehm. . sahut kakek aneh itu perlahan kemudian ujarnya lagi. "Kalau begitu kau kemarilah "
Liem Tou tahu kalau kakek aneh itu sekalipun memiliki kepandaian silat yang sangat tinggi tapi tak dapat digunakan lagi, dengan membesarkan nyalinya dia berjalan mendekat.Tidak disangka baru saja dia menggerakkan kakinya untuk bergerak maju dari depan penjara itu berkumandang suara gemerisik yang sangat nyaring kemudian disusul dengan suara tertawa tergelak yang sangat keras, ujarnya.
"Hek Lootoa.. kiranya selama puluhan tahun ini kau telah menyembunyikan diri ditempat ini tak dapat disalahkan iagi kalau aku tak berhasil mendapatkan dirimu. Kawan karibmu dari gunung Im San datang menyambangi."
Mendengar perkataan itu kakek aneh itu merasa amat terkejut, air mukanya berubah hebat sedang rambutnya pada berdiri menahan kegusarannya. Mendadak bagaikan orang gila tubuhnya meloncat keatas beberapa depa tingginya, belum saja tubuhnya mencapai tanah tiba-tiba dengan mengeluarkan suara kesakitan tubuhnya rubuh keatas tanah katanya dengan gusar makinya:
“Kalian enyahlah dari sini, tempat ini tidak ada yang bernama Hek Lootoa, Hek Lootoa sudah mati”
Sipengemis cilik yang setelah meloncat turun dari atas tonggak sebenarnya sedang menyulut lampu pada saat itu dengan cepat meniup padam lampu itu sambil ujarnya dengan perlahan.
"Aku bilang Loo toa, lebih baik cepat-cepat ambil keputusan didalam hatimu dan serahkan kittab pusaka To Kong Pit Liok itu kepadaku. 0rang yang berada diatas genting saat ini adalah Kioe Long dari gunung Im san didaerah Mo Pak. Bila benar-benar dia yang datang mungkin juga si Wan Kouw juga ikut datang, aku dengar kedua orang itu sangat jarang memasuki daerah Tiouggoan, kali ini mereka datang juga tentu ada urusan yang penting. He …tindakan dari Kioe Liong Wan Kouw sangat kejam dan gusar, lebih baik kau pikir lebih masak !agi.”
Kakek aneh itu hanya mendengus dingin saja sedikitpun tidak memberikan jawabannya.
"Saat ini !” ujar sipengemis cilik itu lagi. “bilamana kau mau menyerahkan kitab pusaka itu aku masih bisa menolong kau untuk keluar dari penjara ini, tetapi sejenak lagi kemungkinan sekalipun aku sanggup juga belum tentu punya tenaga yang besar untuk menolong kau kini cepatlah ambil keputusan”
Mendengar perkataan itu kakek aneh tersebut semakin gusar, bentaknya dengan keras.
"Cepat kau menggelinding dari sini."
Tiba-tiba orang yang berada diluar penjara itu telah melanjutkan lagi ucapannya.
“Hek Loo toa, cara bekerja serta sifat dari aku Kioe Long dari gunung Im San tentu kau telah sangat jelas sekali ini hari aku telah berhasil menemukan dirimu bilamana kau ingin mengenyahkan diriku dengan gampang sebenarnya bukan sebuah urusan yang amat susah asalkan kau mau memperlihatkan sekejap kitab pusaka yang kau dapatkan itu, aku akan segera pergi dari sini dan tidak akan menyusahkan dirimu lagi.”
Saat itu tiba-tiba terdengar suara dari seorang wanita menyambung ucapan itu.
“Benar, Hek Loo toa - - - sekalipun boleh dikata kita tidak punya hubungan persahabatan yang sangat erat tetapi juga pernah bertemu beberapa kali, ini kali kami banya ingin meminjam sebentar apa kau merasa keberatan?"
"Loo toa kau dengar dengan jalas bukan?” ujar sipengemis kecil itu dengan suara yang perlahan sambil melirik sekejap kearahnya. “Bukankah perkataanku sedikitpun tidak salah? Kioe Long Wan Kouw selamanya tidak pernah melakukan gerakan dan pekerjaan dengan seorang diri, sekarang coba kau akan menggunakan cara apa untuk menghadapi mereka berdua?."
Kakek aneh itu masih tetap tidak memperdulikan diri sipengemis cilik itu, sedang pada saat itu Kioe Long yang berada diatas genting ruangan penjara itu sudah tidak sabar lagi, dengan berat ujarnya.
“Hek Loo toa, kau sebenarnya hendak berbuat bagaimana? Aku Kioe Long merupakan seorang berangasan yang sudah terkenal, he he he .. aku tidak akan sabar untuk menanti lebih lama lagi."
Entah kenapa tiba-tiba kakek aneh itu memandang dengan tajam kearah sipengemis cilik itu agaknya pikirannya telah berubah tanyanya.
“Apa benar kau menginginkan kitab pusaka To Kong Pit Liok itu? Aku akan memberitahukan padamu, benda aneh yang terdapat didalam dunia ini pasti terdapat pemilik yang sebenarrya, bilamana bukannya pemilik yang sesungguhnya maka mendapatkan benda itu sama saja dengan mendatangkan . . . bencana untuk diri sendiri, kau apa sudah pikir masak-masak menghadapi bencana-bencana tersebut?, Hmm.. "
Si pengemis cilik itu begitu mendengar ucapan dari kakek aneh segera tahu kalau dia punya niat untuk menyerahkan kitab pusaka To Kong Pit Liok itu kepadanya, tak terasa lagi menjadi sangat girang, cepat sahutnya.
"Loo cianpwee punya perintah apa, boanpwee tentu akan melaksanakannya tanpa membantah."
"Sebelum kita membicarakan kitab pusaka itu terlebih dahulu aku hendak memberitahukan padamu dengan jelas. Bilamana kau berhasil mendapatkan batok kepala dari Kioe Long serta Wan Kouw sehingga dapat membasmi dua orang penjahat dari dunia ini maka Loolap akan segera menyerahkan kitab pusaka To Kong Pit Liok itu kepadamu tanpa membantah, bagaimana kau sanggup?"
Mendengar perkataan itu air muka sipenge¬mis cilik itu sedikit berubah, ujarnya.
“Ini , .ini... „"
Dengan keras barkata kakek aneh itu lagi.
“Kalau kau tidak sanggup untuk melaksanakan tugas ini lebih baik sekarang juga menghilangkan pikiran itu dan cepat pergi dari sini”
Saking khekinya air muka si pengemis cilik itu telah berubah menjadi merah padam, sambil mendepak kakinya keatas tanah sahutnya:
"Baiklah."
Dangan cepat dia membuka pintu penjara dan meloncat kaluar. Tidak selang lama diatas atap penjara itu agaknya terdengar orang yang bergerak disertai dengan suara bentakan yang tidak henti-hentinya. Sejenak kemudian terdergar suara terbentaknya senjata tajam sehingga suasana amat ramai.
Saat itulah kakek aneh itu tertawa terbahak-bahak ujarnya terhadap Liem Tou.
'Cepat tutup penjara itu, kau masih tunggu apa lagi?"
"Hanya demikian saja bisa menahan serangan mereka?" diam-diam pikiran Liem Tou terus berputar.
Tetapi dia tidak mengucapkan apapun dengan mengikuti permintaannya mengunci pintu penjara tersebut. Siapa tahu pada saat itu juga mendadak terdengar suara tertawa terbahak dari si siucay buntung serta Thiat Sie sianseng, ujar si Thiat Sie poa itu dengan keras.
"Hee siucay buntung Loo te, aku bilang disini telah ada yang mendahului kita tidak salah bukan?. Haa . . , kiranya sepasang binatang itu , bagaimanapun juga bangsa binatang jauh lebih tajam penciumannya dari manusia."
Tidak disangka baru saja dia mengucapkan perkataan itu, Liem Tou telah mendengar lagi seorang yang memiliki suara yang serak tapi keras melanjutkan lagi.
"Si siucay bunting Loo te, tidak disangka aku yang merupakan seorang yang cerdik kini telah menjadi demikian tololnya. Sie poa dari pedagang terkutuk itu selamanya hanya menghitung yang masuk dan tidak akan menghitung yang keluar, apa kau tidak tahu bilamana jalan bersama dengan dia selamanya tidak akan mendapatkan keuntungan apa pun?”
"Heee, kamu pengemis pemabok yang tldak mati-mati, bukannya pergi menangkap cacing, laba-laba serta kodok untuk teman arakmu, kini lari kemari mau apa?" balas si siucay buntung itu.
Mendengar suara itu Liem Tou segera tahu kalau sipengemis pemabokpun telah tiba, diam-diam pikirnya.
“Malam ini selain Koen Long Wan Kouw yang datang terlebih dahulu, Tionggoan Ngo Koay telah hadir tiga orang, aku kira didalam sekejap lagi kaum jago dari dunia kangouw tentu akan bertambah banyak yang sampai didini. Pertempuran sengit ini tentu segera menarik sekali.”
Saat dia sedang melamun itulah tiba tiba terdengar suara panggilan dari kakek aneh itu:
“Bocah cilik cepat kemari”
“Cian pwee mau member perintah apa lagi?” tanya Liem Tou dengan kaheranan tetapi kakinya tetap berjalan mendekati kaarahnya.
Agaknya kakek aneh itu mau mengucapkan sesuatu tetapi dibatalkan kembali, hanya sepasang matanya dengan sangat tajam memandang kearah Liem Tou, mendadak dia menunjuk kedepan tubuhnya sambil ujarnya dengan perlahan:
"Kau duduklah disini, dan cobalah mengerahkan tenaga murnimu untuk aku lihat."
Liem Tou ketika melihat air muka kakek aneh itu sangat serius dan kerena sekali dia tidak berani membangkang, dengan mengikuti perintahnya dia duduk didepan tubuhnya kemudian mulai memusatkan selurah hawa murni dalam pusat.
Dengan perlahan kakek aneh itu meletakkan tangannya diatas perutnya kemudian ujarnya lagi:
"Bagus, sekarang mulailah."
Liem Tou segera mengikuti cara mengerahkan tenaga murni yang dipelajarinya dari kitab peninggalan ayahnya itu, dengan cepat dia menarik napas panjang panjang sehingga membuat perutnya membesar seperti bola setelah itu ditarik kembali seperti biasa. Tidak disangka kakek aneh itu tertawa terbahak ujarnya.
"Aku kira kitab pusaka"Tou Loo Cin Keng" benar benar memuat berbagai jurus silat dari semua aliran, tidak disangka ternyata hanya begini saja, boleh dikata aku orang tua tidak sia sia mengetahui rahasia ini sehingga matipun tidak sayang"
Liem Tou yang melihat sikapnya itu menjadi bingung dan tidak tahu sedang berbuat apa dia itu, kakek aneh itu setelah tertawa keras beberapa saat lamanya barulah berhenti dan tanyanya lagi.
"Lie Loo Jie dari partai Tun Si Pay apa benar merupakan pamanmu? Aku dengar sipedagang terkutuk itupun kini telah tiba disini apa dia benar benar suhumu?"
Tadi Liem Tau secara ngawur mengaku sebenarnya hanya bertujuan menipu sipengemis cilik itu saat ini urusan telah berlalu sehingga untuk berbohong baginya tidak berguna lagi, akhirnya dengan terpaksa dia menceritakan keadaan yang sesungguhnya.
'Oooh..begitulah agaknya" sahut dari kakek yang aneh itu setelah dia mendengar kisah yang sesungguhnya dari Liem Tou ini, kali ini dia tidak berani tertawa lagi. Setelah termenung berpikir keras beberapa saat lamanya barulah ujarnya dengan perlahan.
"Apa kau mau meminjamkan kitab pusaka peninggalan ayahmu itu untuk aku lihat sebentar?”
Begitu perkataan ini keluar dari mulutnya, Liem Tou segera merasakan serba susah, oleh karena pesan terakhir dari ayahnya meninggalkan wanti-wanti pesan baginya untuk tidak secara sembarangan memperlihatkan kitab pusaka itu kepada siapapun juga.
Kakek aneh itu begitu melihat sikapnya yang serba salah segera mengira kalau mungkin dia merasa kuatir terhadap dirinya, dan ujarnya.
"Kau tidak usah merasa kuatir, Loo lap jadi orang selamanya pegang janji apa lagi seluruh jalan darah terpenting ditubuh Loolap telah di totok oleh orang lain sedang urat nadi kakipun telah dipotong bagaimana Loolap berani punya niat serakah?”
"Cianpwee telah salah menduga" sahut Liem Tou. Bukannya aku punya maksud demikian hal ini tidak dapat dilakukan karena menurut pesan yang ditinggalkan ayahku almarhum tidak memperkenankan aku untuk meminjamkan kitab ini kepada orang lain secara sembarangan.
Mendengar perkataan ini diam-diam pikir kakek aneh itu.
“Ternyata bocah cilik ini benar-benar jujur dan menurut perkataan, orang ini patut dipuji”
Berpikir sampai disitu segera ujarnya.
"Sebenarnya Loolap tidak punya maksud untuk memaksa orang lain, tetapi jika didengar dari perkataanmu agaknya kau sama sekali tidak paham terhadap isi dari kitab pusaka Toe Loo Cin keng itu kini kau perlihatkan kepadaku bila buku itu benar benar asli kemungkinan sekali kepandaian yang terdapat didalamnya aku pernah melatihnya dengan meminjam kesempatan ini aku akan menurunkannya padamu, perkataan dari Loolap ini surgguh sungguh dan tidak akan membohongi dirimu.”
Pada saat itu orang orang yang berada diatas atap penjara itu agaknya telah mencapai pada sengit sengitnya bertempur, bahkan kedengarannya telah bertambah lagi dengan beberapa jago, suara bantakannya disertai dengan suara angin pukulan semakin santar, membuat suasana semakin kacau.
Diam diam Liem Tou memikirkan perkataan dari kakek aneh itu dan merasakan kalau perkataannya sedikitpun tidak salah, segera dia tidak kukuh lagi dengan pendiriannya, dan mengambil keluar kitab pusaka itu untuk diperlihatkan pada sikakek aneh.
Setelah dia menerima kitab itu segera terlihatlah perasaan yang sangat bergolak, sepasang tangannya terlihat sedikit gemetar, sedang dari sepasang matanya memancarkan sinar yang sangat tajam, didalam kegelapan itulah selembar dami selembar dibukanya, semakin dia melihat isi dari kitab itu gemetarnya semakin keras hingga akhirnya giginyapun gemerutuk dengan kerasnya, tiba tiba bentaknya dengan keras:
"He ... aku Hek Loo- toa sekalipun harus mati juga akan mati dengan meramkan sepasang mataku ."
Sehabis berkata, buku itu segera diangsurkan ditangan Liem Tou sambil ujarnya.
"Keuntunganmu tidak kecil, mulai saat ini aku akan memberitahukan rahasia dari ilmu pernapasan yang termuat didalam kitab pusaka itu, tetapi yang kuketahui juga tidak lebih hanya sebagian dari "Ilmu pernapasan” tersebut oleh karena ilmu tersebut merupakan ilmu dari perguruanku sehingga aku baru dapat mewariskannya padamu, tetapi sisanya harus melihat kau punya kepandaian serta kecerdikan untuk mempelajarinya".
Liem Tou berdiam diri mendengarkan saluruh uraiannya. Sekonyong konyong dari luar penjara itu terdengar suara teriakan orang yang sangat ramai kemudian disusal dari luar jendela itu bermunculan sinar api yang menerangi tempat itu, bahkan ada yang berteriak teriak.
"Tangkap penjahat, tangkap penjahat, ada penjahat berani mengacau pengadilan."
Mendengar teriakan itu Liem Tou segera tahu kalau orang orang yang sedang bertempur diatas genting itu telah mengejutkan pengawal dari pengadilan itu sehingga mereka terjaga dan mengadakan pengepungan disekeliling tempat itu.
Kakek aneh yang mendengar suara itu segera terlihatlah air mukanya berubah menjadi kehijau-hijauan, dengan cepat ujarnya pada Liem Tou.
“Loo jie bila tahu jejak Loolap telah diketahui oleh orang lain, tentu tidak akan melepaskan diriku lagi, kini waktunya tidak banyak lagi cepat pusatkan seluruh perhatianmu untuk mendengarkan penjelasan dari diriku."
Dengan tergesa gesa Liem Tou metnusatkan seluruh perhatiannya untuk mendengarkan penjelasan dari ilmu pernapasan itu urusan yang semula diketabui hanya setengah saja kini setelah mendapatkan penjelasan dari kakek aneh itu menjadi bertambah paham.
Tidak lama kemudian kakek aneh itu telah selesai menjelaskan inti sari semua rahasia dari ilmu pernapasan sedang Liem Tou sendiripun semakin paham terhadap ilmu itu, tak terasa lagi pada wajahnya menampilkan perasaan yang amat girang.
Tidak disangka kakek aneh itu mendadak melototkan sepasang matanya, dengan gusar bentaknya pada diri Liem Tou.
“Bocah yang tak tahu diri kau jangan merasa bangga terlebih dahulu, ilmu yang tersebut di dalam kitab pusaka Toa Loo Cin Keng ini sangat luas sekali sehingga laksana samudra luas. Apa yang aku Hek Loo toa turunkan pada mu tak lebih hanya merupakan ilmu dari aliran hitam terhadap dirimu sebenarnya hanya akan membawa celaka saja hanya dikarenakan waktu yang amat mendesak untuk sementara waktu masih bisa digunakan untuk melindungi diri sendiri bilamana kau menginginkan nama yang cemerlang didalam Bu-lim dan menjadi seorang jago yang tanpa tandingan sebenarnya harus melihat kejodohanmu sendiri, kau sekarang tidak perlu girang dulu.”
Dengan cepat Liem Tou menarik kembali perasaan girangnya, dengan serius sahutnya.
“Silahkan cianpwee memberikan petunjuk.”
Sikap dari kakek aneh itu semakin bertambah serius dan keren, lama sekali tidak mengeluarkan sepatah katapun juga.
Diam-diam dalam hati Liem Tou berpikir: “Kenapa dia harus berbuat demikian?”
Tiba-tiba terdengar kakek aneh itu bergumam sendiri:
“Mo Ku Tiauw Cong Ci cien Tong..”
Sejak kecil Liem Tou telah belajar ilmu surat dari ayahnya Liem Han San oleh sebab itulah terhadap segala syair maupun pantun dia paham benar-benar, begitu mendengar perkataan itu dengan cepat perasaan herannya memenuhi seluruh otaknya, pikirnya:
“Kenapa tidak ada angin tidak ada hujan dia membaca syair dari Tong Po Ci Su?”
Karena perasaan keheranan itulah tak terasa olehnya telah menyambung syair selanjutnya. "Pit Hun Kong Cen Tui Jan Kang . . "
Kakek aneh itu ketika mendengar syair selanjutnya ini mendadak sepasang matanya melotot keluar, dengan cepat lanjutnya lagi:
“Pek Hwie Sian Po Tong Ang Hwie”
“Wu Ting Siauw Soat Ta Cuang..”
Tidak disangka baru saja dia selesai mengucapkan syair itu, mendadak kakek aneh itu dengan cepat meloncat bangun sambil bentaknya dengan keras:
“Siapa kau?”
Didalam keadaan yang terkejut itulah tidak terasa lagi Liem Tou mengundurkan diri dua langkah kebelakang dan dengan tertegun memandang kearah air muka kakek aneh telah berubah menjadi sangat menyeramkan itu, mana dapat memberikan jawabannya.
Ketika kakek aneh itu melihat Liem Tou sama sekali tidak memperlihatkan sikap permusuhannya mendadak dia tertawa sedih kemudian duduk kambali ditempat semula dan memejamkan sepasang matanya.
Pada ketika itulah diluar penjara terdengar suara yang sangat berat berkumundang datang.
“Loo toa . . Loo-toa .tiga tahun siksaan pecut ternyata belum juga membuat kau benar-benar takluk kepadaku, janganlah kau menyalahkan aku Loo Jie akan turun tangan lebih kejam dan ganas lagi. Sebenarnya kau mau menyerahkan kitab pusaka To Kong pit Liok itu atau tidak?”
Ketika mendengar perkataan dari orang itu segera terlihatlah orang aneh itu membuka matanya lebar lebar, tetapi Liem Tou yang berdiri disampingnya dapat melihat seluruh tubuhnya gemetar tak henti hentinya sedang giginya gemerutuk dengan kerasnya, dengan cepat Liem Tou mendekati tubuhnya sambil tanyanya, “Siapakah dia?”
Siapa tahu kakek aneh itu ternyata telah mendorong tubuh Liem Tou dengan kerasnya sambiI ujarnya.
“Pergi …. pergi .!”
Liem Tou tidak tahu akan sebabnya tetapi dia tahu tentu telah terjadi sesuatu peristiwa. Diam diam dia mulai menggeserkan dirinya ke sudut penjara itu pada ketika itulah dari atas genting telah terdengar suara pembicaraan dari Kioe Long yang sedang berteriak:
“Hee .. . Hek Loo Jie, kau jangan ikut campur.”
“Didalam daerah Ciong ling ini aku tidak akan membiarkan Im San Siang Koay membikin huru hara, cepat kau bergelinding dari tempat ini” bentak orang itu dengan gusarnya.
Dibentak seperti itu Kioe long itu segera tertawa dingin yang tidak enak didengar membuat seluruh bulu kuduk Liem Tou pada berdiri, terdengar dengan sangat dingin ujarnya.
“Hek loo Jie, tidak disangka hanya berpisah selama beberapa tahun saja kini kami harus memandang dengan cara lain kapadamu.”
Tiba tiba dengan gusar tambahnya lagi.
“Hek Loo Jie apa kau dapat melakukannya? Kau bangsat cilik yang tidak tahu budi, semua orang didalam dunia ini boleh kau basmi tetapi tak akan seorangpun yang mau memandang wajahmu lagi.”
Agaknya Si Hek Loo Jie itupun telah dibuat gusar oleh perkataannya sambil membentak keras dia melancarkan serangan dahsyat. Serunya.
“Hee - - he - - lihat pukulan.”
Suara perkataan baru saja berhenti sagera terdengar suara bentrokan yang amat dahsyat membuat atap pada rontok kebawah.
Kioe Long itu tertawa aneh lagi, kemudian diikuti dengan suara suitan nyaring yang memekikkan telinga memecahkan kesunyian, menembus awan, dengan gusar bentaknya lagi.
“Hek Loo jie, kami lm San Siong Kioe Long selamanya selalu melakukan pekerjaan sesuai dengan perkataan. Ini hari kami telah turun tangan sebelum mencapai hasil tidak akan mengundurkan diri. Hmm sampai waktu itu janganlah kau manyalahkan aku Kioe Long turun tangan terlalu kejam sehingga membasmi habis pengawal pengawal kerocomu itu.”
Ternyata suara ucapan itu baru saja selesai dari tempat kejauhan berkumandang datang suara suitan panjang yang amat nyaring, diikuti dengan suara suitan pertama yang makin lama makin jauh.
Liem Tou yang sedang mendengarkan dengan penuh perhatian itu tiba-tiba dibuat kaget oleh perkataan kakek aneh itu ujarnya.
“Loo Jie telah dipancing pergi oleh Kioe long, bocah cilik itu cepat kemari, aku akan menurunkan beberapa macam ilmu pukulan kepadamu, asalkan kau bisa belajar rajin pada kemudian hari sekalipun dikejar oleh Loo Jie pasti bisa mempertahankan jiwamu”
Mendengar perkataan itu dengan cepat Liem Tou bangkit berdiri tetapi baru saja berjalan satu langkah terdengar suara jeritan ngeri dari pengawal yang berada diluaran, kemudian disusul dengan suara sipengemis cilik itu yang sedang membentak.
"He .. Nenek kera ! turun tangan kejam ter¬hadap gentong-gentong nasi itu apa gunanya? Coba kau terima pukulanku ini."
Sejak sipengemis cilik itu keluar dari penjara mulai saat itulah bagaikan batu yang tenggelam dalam lautan bebas, sedikitpua tidak mengeluarkan suara, kini secara tiba-tiba terdengar suaranya tak tarasa lagi ujar Liem Tou dengan cepat.
"Locianpwee coba kau dengar, dia benar-benar telah bergebrak melawan orang orang itu.”
Tetapi teringat pula akan Si siucay buntung, Thiat Sie Sianseng serta pengemis pemabokan yang datang terakhir, entah dimana mereka-mereka ini?
Baru berpikir sampai disitu langkah kaki pun tidak terasakan telah menjadi lambat lagi, dengan sangat gusar bentak kakek aneh itu.
“Hei bocah cilik kau tidak bersungguh-sungguh hati, jodohmu hanya sampai disini"
Mendengar ancaman itu dengan cepat Liem Tou lari menghampiri kakek itu, siapa tahu sepasang matanya telah dipejamkan rapat rapat, sekalipun Liem Tou telah berulang kali memanggil Locianpwee tetapi kakek aneh itu masih tetap berdiam diri tidak menjawab.
Saat itulah Liem Tou baru menyesal karena telah menghilangkan kesempatan yang baik, terpaksa dia kemball ketempat semula dan mulai bersemedi sesuai dengan petunjuk dari kakek aneh itu.
Ternyata tidak salah, kali ini dia merasa jauh berbeda dengan waktu semula, hawa murninya tidak mengumpul didalam pusar lagi sebaliknya telah mulai menyebar keseluruh tubuh sehingga terasa olehnya tubuhnya menjadi sangat nyaman.
Semula ketika Liem Tou mulai melakukan semedinya dia masih dapat mendengar suara bentrokan senjata yang berada diluar, tetapi lama-kelamaan akhirnya terasa seluruh tubuhnya menjadi kosong, sehingga membuat lupa akan segala-galanya.
Keesokan harinya ketika dia mendusin kembali, terdengarlah suara kokokan ayam yang memecahkan kesunyian, sinar matahari dengan perlahan-lahan memancarkan sinarnya menembus jendela penjara itu tetap keadaan diluar penjara sangat sunyi, ketika dia mengalihkan pandangannya terlihatlah kakek aneh itu masih tetap duduk ditempat semula agaknya dia belum sadar dari pulasnya,
(Bersambung ke-jilid 4 )
JILID KE: 4
Dengan cepat dia merangkak bangun, terasa olehnya seluruh tubuhnya merasa sangat nyaman, ketika melirik kearah sipir bui itu terlihatlah dia masih mendengkur dengan enaknya, dengan perlahan dia mulai berjalan keluar terlihatlah diatas tanah darah segar berceceran memenuhi seluruh ruangan, teringat kembali olehnya pengalaman kemarin malam tak terasa bulu kuduknya pada berdiri.
Baru saja dia hendak melangkah keluar lagi tiba tiba terdengar suara peringatan dari si pengemis cilik itu .
"Hei, pencuri kerbau cepat bersembunyi, Hek Loo jie mau datang memeriksa tempat ini”
Mendengar perkataan itu dengan tergesa gesa Liem Tou memeriksa sekeliling tempat itu tapi tetap tak melihat bayangan dari sipengemis cilik itu, baru saja mau menyusup mengundurkan dirinya kebelakang terdengar sipengemis cilik itu berteriak lagi.
"Keadaan disekeliling tempat itu sekarang sangat bahaya, baik jago dari kalangan Hek to maupun dari kalangan Pek To pada bersembunyi disekeliling tempat ini siap munculkan dirinya, cepat kau balik bilang sama itu Hek Loo toa bilamana nanti Loo jie datang memeriksa bui dia harus sedikit berhati-hati karena dia secara diam-diam mau turun tangan jahat terhadap dirinya."
Setelah mendengar perkataan itu tak tertahan lagi seluruh tubuh Liem Tou gemetar dengan keras dia sama sekaIi tak menyangka kalau di tempat yang semakin sunyi suasananya keadaannya makin bahaya dan semakin mengerikan.
Dia tahu saat ini telah sangat mendesak sekali, dengan tergesa gesa dia putar tubuhnya lari kesamping tubuh kakek tua yang aneh itu sambil dorong tubuhnya serunya.
"Locianpwee cepat bangun, Locianpwee cepat bangun."
Pada saat yang bersamaan itu pula mendadak dari luar penjara terdengar suara digetarkannya pecut kulit sehingga mengeluarkan suara yang nyaring kemudian disusul dengan teriakan seorang dengan suara yang amat keras.
"Pembesar kota datang mengunjungi penjaga bui harap keluar menyambut"
Dalam hati Liem Tou tahu dengan jelas yang dimaksud sebagai pembesar kota itu tentunya bangsat Hek Loo jie itu, hatinya semakin cemas tapi justru kakek aneh itu sudah di dorong beberapa kali tetap saja tak mau sadar dari pulasnya didalam keadaan yang sangat cemas dan terdesak itu dengan tak memperdulikan peraturan serta adat istiadat lagi sepasang tangannya mencekal batok kepala kakek aneh itu dan menggoyang-goyangkan beberapa kali sedang mulutnya teriaknya dengan keras.
"Loocianpwee cepat bangun, apa kau tak ingin nyawamu."
Saat itulah dengan perlahan kakek aneh itu baru sadar kembali dari pulasnya, sambil me-mandang kearah LiemTou yang berdiri disampingnya dengan amat dingin ujarnya.
"Siauwcu kau tak bersungguh sungguh hati pikiranmu pun tak menentu sekarang datang kesini mau apa ?”
Segera Liem Tou menyampaikan apa yang dikatakan sipengemis cilik itu kepadanya, dalam hatinya dia mengira setelah kakek aneh itu mendengar perkataan itu air mukanya tentu akan berubah menjadi tegang.
Siapa tahu sesudah mendengar perkataan tersebut keadaannya masih tetap saja seperti semula, sahutnya sambil tertawa tawar.
-Oooh. . . loo jie mau datang ? Itulah sangat bagus sekali. Aku Hek Loo toa sudah dapat melihat kedua buah kitab rahasia didalam dunia ini sekalipun binasa juga rela."
Perkataan ini diucapkan dengan nada yang demikian menyedihkan mcmbuat hati Liem Tou yang mendengar disampingnya tak tertahan Iagi bergidik, tiba tiba sepasang matanya yang sangat tajam itu dengan tak berkedip kedipnya memandang sekejap kearah Liem Tou, tanyanya.
"Heei bocah cilik, kenapa kau demikian cemasnya?”
"Selama tiga tahun lamanya Loocianpwee merasakan siksaan didalam penjara gelap serta merasakan penderitaan pecut yang setiap hari menghajar tubuh cianpwee semuanya ini tidak lebih hanya dikarenakan sejilid ilmu kitab silat yang tak mau diserahkan kepada orang jahat, hal ini memang membuat hati satiap orang merasa kagum juga merasa sedih kini situasi telah demikian mendesak serta bahayanya kenapa boanpwee tak ikut cemas melihatnya?"
Atas perkataannya ini rnenbuat air muka kakek aneh itu segera berubah jadi sangat serius agaknya hatinya sangat berterima kasih sekali atas ucapannya, sepasang matanya bersinar dengan sangat tajam memandang muka Liem, tanyanya kemudian:
"Hei bocah cilik, perkataanmu ini apa sungguh-sungguh keluar dari dasar hatimu ? Hek Loo toa pada masa yang lalu merupakan seorang iblis yang paling ditakuti didaerah Siok lo, tapi benar-benar aku merupakan seorang yang patut dipuji patut dikasihani?"
Seseorang yang berhasil melepaskan dirinya dari kejahatan dan kemhali kejalan yang benar bahkan telah melalui penderitaan serta siksaan yang maha berat maka orang itu secara tidak sadar akan, merasakan suatu pergolakan yang hebat, begitu mendengar perkataan yang menghibur dirinya, demikian juga halnya dengan Hek Iootoa ini sesudah dia menderita siksaan selama tiga tahun lamanya achirnya dari jalan yang sesat dia telah berhasil kemball kejalan yang benar, dan kini setelah mendengar perkataan dari Liem Tou ini sudah tentu hatinya segera bergolak dengan kerasnya.
Liem Tou yang melihat sikap dri kakek aneh itu tidak terasa lagi menganggukkan kepalanya, sahutnya:
"Tidak salah, bukan saja boanpwee seorang diri yang merasa kagum terhadap loocianpwee, aku kira sekalipun para jago dalam dunia persiiatan pun seharusya menaruh rasa kagum terhadap diri loocianpwee."
Semakin mendengar perkataan dari Liem Tou ini air muka dari kakek aneh itu berubah semakin cepat, sebentar terlihat perasaan girangnya sebentar lagi timbul perasaan ragu ragu tetapi sepasang matanya dengan sangat tajam tetap memperhatikan wajah Liem Tou.
Tiba tiba . , tangannya yang kurus kering itu diulur kedepan mencekal kencang-kencang pundak dari Liem Tou, dari kelopak matanya yang teJah menekuk kedalam itu secara mendadak menetes keluar titik-titik air mata dengan derasnya, sambil tertawa girang ujarnya.
“Hei bocah cilik, Hei bocah cilik apa sungguh sungguh perkataanmu ini ? Maukah kau ulang sekali lagi perkataanmu itu ?? Ha ... ha . .Hek Loo toa tidak sia-sia menerima siksaan selama tiga tahun ini,"
"Perbuatan dari cianpwee sedikitpun tidak salah, bagaimana bisa bilang siksaan ini tidak sia-sia?”.
Kakek anek itu dengan cepat melepaskan cekalannya dan bangkit berdiri, mulutnya tetap tertawa ternahak bahak denga kerasnya tetapi suara tertawa ini jika didengar didalam telinga Liem Tou penuh mengandung perasaan sedih serta dukanya yang amat sangat.
Suara tertawa dari kakek aneh itu bukannya tambah berhenti sebaliknya semakin lama suaranya semakin keras pada saat itulah suara sambatan pecut diluar panjara berbunyi kembali, Liem Tou menjadi sangat terkejut, teriaknya.
"Loocianpwee hati hati!, dia sudah hampir datang.”
"Ha ha ha ha . . - Loo jie mau datang ??? biar dia datang aku tidak takut padanya lagi, aku tidak akan takut padanya lagi.”
Sehabis herkata terlihatlah tubuhnya mendadak merendak kebawah, sepasang tangannya dipentangkan keluar sedang air mukanya berubah kembali menjadi amat seram, serius keren serta menakutkan, sikapnya mirip sekali dengan seorang dari angkatan yang lebih tua.
Liem Tou yang melihat perubahan wajahnya menjadi tertegun untuk beberapa saat lamanya sedang dalam hati diapun semakin menghormat dan kagum lagi terhadap kakek ini.
Kakek aneh itu sesudah merentangkan tangannya terhadap Liem Tou tiba tiba ujarnya.
"Kau perhatikanlah dengan teliti, inilah tiga jurus terakhir yang merupakan jurus paling lahay dari ilmu Sam In Chiat Cuang Cing atau ilmu telapak dingin penjebol hati yang telah mengangkat namaku atau ilmu didalam Bu lim pada waktu yang lalu, pada masa yang lampau suhuku hanya menurunkan ilmu ini pada aku seorang saja Loo jie sama sekali tidak mendapatkan, didalam kitab silat Toa Lo Cin keng sekalipun terdapat juga ilmu ini tetapi tidak lebih juga garis besarnya saja sadang perubahan yang penting justru tidak terdapat. Sabenarnya aku tidak ingin menurunkan ilmu ini kepadamu tetapi saat ini entah apa sebabnya aku sendiri juga tak tahu mendadak telah berubah pendapat, sekarau kau lihatlah dengan teliti."
Tiba tiba telapak tangan kirinya didorong setengah lingkaran kedepan kemudian sambil menebas ditarik kebelakang kembali sedang tangannya, mendadak bagaikan kilat cepatnya mambabat dari atas turun kebawah dengan kerasnya, teriaknya dengan keras.
"Jurus pertama In Hun Put San atau sukma halus tidak buyar”
Diikuti tubuhnya berputar setengab lingkaran ditengah udara, kedua buah pundaknya diangkat secara mendadak men jatuhkan diri kebawah dan bersalto. Liem Tou yang melihat disamping merasa sangat heran, diam diam pikirnya.
"Ilmu telapak macam apa ini?"
Pada saat ini pundak dari kakek aneh itu belum sempat mencapai pada permukaan tanah tiba tiba pinggangnya memutar ternyata bagaikan seekor ular menggeliat keatas dan mumbul keatas dengan cepatnya, bersamaan pula sekarang telapaknya didorong kedepan, teriaknya.
"Jurus kedua Ooh Koei Ciat Hun atau setan lapar menubruk sukma."
Sesudah itu dia berdiri tegak tak bergerak sedang napasnya terengah engah, ujarnya lagi kepada Liem Tou.
"Jurus ketiga Chie Mey Hang atau siluman iblis bergoyang baru dilakukan bilamana memiliki IImu meringankan tubuh yang agak lumavan, kini otot-otot kakiku sudah diputar oleh Loo Jie sekalipun dalam hati punya kemauan apa daya kekuatan tidak memadainva, apa boleh buat.?”
"Hanya cukup sampai disini saja budi yang loocianpwee sedikit kalau memangnya demikian biarlah boanpwee pada kemudian hari belajar sendiri dari atas kitab silat Toa Loo Cin Keng itu saja ."
“Hmm … “ sahut kakek aneh itu sambil mengangguk, memang terpaksa harus berbuat begini.
Sehabis berbicara menundukkan kepalanya termenung berpikir sebentar mendadak kepalanya diangkat memandang wajah Liem Tou ujarnya dengan terengah engah.
“Sedang mengenai . .. mengenai tempat penyimpanan kitab silat To Kong pit Liok .. “
Liem Tou begitu mendengar kalau kakek aneh itu ternyata mau memberi tahu padanya tempat penyimpanan kitab rahasia To Kong pit L,ok itu mcnjadi sengat girang sekalt dia samna sekali tak pernah menyangka kalau dirinya bisa kejatuhan untung yang demikian besar, tak tahan lagi wajahnya memperlihatkan sikap yang sangat dan berubah dengan hebatnya, sikap yang ketololan muncul kembali pada wajahnya disaat amat tegang ini.
Baru saja kakek aneh itu mau mengucapkan sesuatu ketika melihat sikap dari Liem Tou yang ketolol tololan itu mendadak matanya dipejamkan kembali, sambil menggelengkan kepalanya sahutnya,
“Aku tidak akan bicara, siapa tahu kalau kau bocah cilik mau juga dengan sipengemis busuk itu sesgaja datang dengan bertujuan benda itu.”
Liem Tou juga tidak dapat berbuat apa spa, sebenarnya dia memang tidak punya minat un tuk mendapatkan kitab rahasia ilmu silat ini, hanya saja karena secara kebetulan menemuinya saja membuat hatinya merasa tertarik, kini dia tidak mau bicara tentu dia juga tidak mau terlalu mendesak.
Pada saat ini suara gendereng berbunyi untuk ketiga kalinya kemudian dari luar pen jara disusul dengan suara bentakan keras, segera terlihat petugas penjara sebagai petunjuk jalan membentang pintu penjara dan berjalan masuk.
Begitu kakek aneh itu melihat masuknya penjaga penjara itu segera terlihatlah alisnya dikerutkan dalam dalam, mendadak tangannya dengan keras mencengkeram tubuh Liem Tou dan dilemparkan kearah pojokan yang gelap, ujarnya.
“Bocah cilik, disini tidak ada urusanmu lagi cepat pejamkan matamu pura pura tidur.”
Liem Tou yang didorong dengan tenaga besar oleh kakek aneh itu segera terhuyung beberapa tindak kedepan baru berhasil menegakkan tubuhnya kembali tetapi saat itu kakek aneh tersebut memalingkan kepalanya memandang kearah pintu luar penjara yang berjeruji besi itu sejak tadi telah terlihat beberapa orang petugas penjara memasuki penjara dan berdiri didepan dengan tegapnya.
Terpaksa Liem Tou mengikuti ucapannya duduk bersandar dipojok dinding penjara tetapi hatinya tetap berdebar dengan kerasnya, dia tahu kini tempat persembunyiannya dari Hek Loo Toa telah diketahui orang lain kemungkinan sekali setiap saat dia akan diculik untuk dibawa ketempat lain, kali ini Hek Too Jie sendiri yang menjenguk kedalam penjara sudah tentu dia tidak akan melepaskan dia dengan demikian mudahnya, bahkan diluar penjara secara diam diam sudah ada beberapa orang yang siap turun tangan, dengan demikian agaknya Hek Loo-toa sukar untuk meloloskan diri dari bencana itu.
Berpikir sampai disai tidak tertahan lagi teriaknya.
"Cianpwe kau baik2 jaga diri" Didalam nada ucapan itu agaknya masih mengandung maksud yang rnerdalam, kakek aneh itu mendengar per kataannya segera menoleh tanyanya.
“Bocah cilik, kau bicara apa?.”
Tidak disangka baru saja perkataannya selesai diucapkan dua orang petugas penjara telah menggotong sebuah anggun api yang sangat panas berjalan masuk kedalam penjara, api yang bergolak didalam angun itu berkobar dengan sangat besarnya ditangan petugas penjara lainnya terlihatlah sebuah japitan besi yang besar diangkat masuk pula, begitu melihat melihat besar tersebut tat tertahan lagi Liem Tou serta kakek aneh itu merasa bergidik sedang hatinya te rasa berdesir.
000O000
3
Pada saat itu sipir bui yang diberi obat tidur oleh pengemis cilik mendadak dicekal oleh penjaga penjara itu kemudian pipinya diga¬plok dengan kerasnya terdengar suara yang amat nyaring berkumanding datang tetapi dia masih tetap belum sadarkan diri dari tidurnya yang sangat nyenyak .
Terdengar dari luar penjara seseorang telah berteriak dengan keras.
“Thay ya tiba.”
Liem Tou segera menoleh memandang kearah sana terllihatlah seorang lelaki berusia kurang lebih tiga puluh tahunan dengan memakai kopiah pembesar serta jubah pembesar dengan senyuman berjalan masuk kedalam penjara, tubuhnya tak begitu besar sedang wajahya licin, diam diam dalam hati Liem Tou berpikir.
“Jika dilihat dari sikapnya yang halus bagaikan seorang siucai ini sedikitpun tidak mirip dengan penjahat yang suka main bunuh tanpa pilih bulu”
Sebaliknya kakek aneh itu begitu melihat dia beralan masuk sepasang matanya dengan sangat tajam memandang dirinya tanpa berkedip, bahkan sepasang tangannya disiapkan sehingga terlihatlab sepuluh jarinya yang runcing bagaikan cakar garuda.
Dengan langkah yang sangat perlahan sekali pembesar kota itu setindak demi setindak berjalan mendekati arahnya tetapi sepasang matanya tak memandang sekejappun kearahnya, sebaliknya sepasang mata kakek itu tetap memandang tak berkedip.
Pembesar kota itu berjalan maju dua langkah lagi, mendadak sambil balikkan tubuhnya dia membentak dengan keras.
“Kau mau brabuat apa?”
Jubahnya dikebitkan kemudian dibabat kebawah dalam sekejap saja dia berhasil mencekal urat nadi dari tangan kiri kakek aneh itu, serangan yang dilakukan didalam keadaaan yang tidak terduga ini membuat Liem Tou yang hendak disampingpun saking terkejutnya tak terasa Iagi keringat dingin mengucur keluar dengan derasnya.
Kakek aneh itu mana mau menyerah dengans begitu saja terdengar sambil membentak yang sangat mengerikan dengan seluruh kekuatannya dia berusaha membebaskan urat nadinya yang dicekal oleh pihak musuh ini, diam-diam Liem Tou merasa amat cemas melihat keadaannya ini.
Tiba tiba tangan kanannya membalik dengan cepat salah satu jurus serangan dahsyat dari ilmu telapak dingin penjebol hati yakni jurus lh Hun Put San atau sukma halus tak buyar dilancarkan kedepan, serangan ini dilakukan demikian cepatnya sehingga sukar untuk dilihat dengan pandangan mata biasa. terdengar pembesar kota itu menjerit kesakitan tanpa bisa menghindarkan diri lagi dadanya kena hajar serangannya yang dahsyat ini, sedang kakek aneh itu pun dengan mengambil kesempatan ini melarikan diri kesamping.
Tetapi langkah kakinya kelihatan sedikit terhuyung huyung sehingga sukar untuk berdiri tegak. Liem Tou yang memandang wajahnya terlihatlah menjadi pucat kehijau-hijauan sungguh menakutkan sekali, dia tahu seluruh jalan darah penting didalam tubuhnya telah tertotok ditambah lagi serangan dilancarkan dengan sepenuh tenaga membuat dia menjadi kehilangan keseimbangan.
Ketika memandang lagi kearah pembesar kota itu terlihatlah sepasang tangannya mencekal kencang-kencang dadanya, tetapi dari atas wajahnya yang putih halus itu memancarkan sepasang sinar mata yang amat buas, melihat hal itu diam diam pikir Liem Tou didalam hati.
"Hm . . bukannya saat ini Koay Loo tauw tak punya tenaga, mana mungkin kau bisa hidup lebih lama lagi."
Pcmbesar kota atau si Hek Loo jie itu sesudah berdiri beberapa saat lamanya saling berhadapan dengan kakek aneh itu selangkah demi selangkah dia maju kembali dengan dingin bentaknya.
“Loo toa, aku memandang diatas hubungan persaudaraan diantara kita memberikan kesempatan sekali lagi bagimu untuk berpikir kau mau menyerahkan itu kitab atau tidak ? Sebentar lagi aku akan mengambil keputusan.”
"Kau binatang yang tak tahu malu, enyahlah dari sini."
Hek Loo jie hanya tertawa dingin saja sama sekali tak ambil perduii atas makiannya, sambungnya lagi.
"Siok To Siang Mo sudah terkenal sabagai penjahat gemar bunuh orang, sekalipun kau tidak mau menyerahkan kitab silat orang-orang dari dunia kangouw juga tidak akan mengampuni dosa- dosamu ?”
Sambil berkata setindak demi setindak Hek Loo jie mulai mendekati tubuh kakek aneh itu lagi.
Liem Tou yang menyembunyikan dipojokan penjara, dengan sangat jelas sekali melihat seluruh peristiwa yang terjadi sejak dia melancarkan cengkeraman mencekai urat nadi Loo-toa sampai saat ini dalam hatinya segera dia sadar kalau dia merupakan seorang manusia yang berhati kejam, licik serta banyak akal, saat ini sekali lagi dia melangkahkan kakinya mendekati tubuh Loo toa, kebanyakan dalam hatinya sudah mengandung maksud jahat.
Siapa tahu ketika Hek Loo jie itu melihat sipir bui masih tidur terlentang dengan nyenyaknya itu, mendadak dia barjalan kearahnya, sesudah memandang beberapa saat kearahnya barulah dia mengulurkan tangan memeriksa dadanya, bentaknya.
"Seret dia keluar dari sini."
Sejak Hek Loo jie masuk kedalam ruangan penjara tak seorangpun diantara penjaga bui itu yang angkat bicara, agaknya mereka amat jeri terhadapnya,
Saat ini seorang diantara para penjaga itu menyahut dan mulai berjalan keluar sambil menyeret sipir bui yang kekar besar itu.
Siapa duga begitu dia menyeret turun dari sipir bui itu Liem Tou yang berada disamping hamper-hampir saja menjerit keras saking kagetnya. Kiranya tubuh dari sipir itu begitu digerakkan dari mulutnya mendadak menyemburkan darah segar membuat penjara yang menyeret tubuhnya itu saking terkejutnya hampir saja melemparkan tubuhnya.
Tetapi begitu dilihatnya Hek Lok Jie dengan mata yang melotot sedang memandang kearahnya sekalipun mau dilepaskan juga tidak berbuat demikian.
Dengan perlahan Hek Loo jie memutar tubuhnya kembali kearah Loo-toa, bentaknya sambil tertawa dingin.
“Loo toa, bagaimana?, aku lihat lebih baik kau serahkan padaku saja.”
Kakek aneh itu tetap tidak mau menggubris dirinya dengan tenangnya dia berdiri mematung ditempat.
Tiba-tiba sinar mata yang amat tajam dari Hek Loo-jie dengan perlahan lahan mulai bergeseser kearah tubuh Liem Tou yang bersembunyi dipojokan ruangan. Liem Tou yang dipandang seperti itu tidak terasa lagi jadi meringkik saking takutnya seluruh tubuhnya gemetar dengan sangat keras, sedang dalam hatinya diam diam berteriak.
"Dia turun tangan padamu seperti juga pada saat turun tangan pada sipir bui itu, aku harus menggunakan cara apa untuk meladeni dirinya.”
Tidak salah dengan langkah yang perlahan tapi mantap, setindak demi setindak Hek Loo¬jie mulai mendekati tubuhnya, hati Liem Tou semakin bardesir bibirnya digigit kencang kencang sedang dalam hatinya secara mendadak teringat akan Lie Siauw Ie, doanya.
"Ie cici, kau dimana, aku adik Tou sekarang sedang menemui bahaya! mungkin selama hidup kita tidak akan dapat berjumpa kembali”
Bersamaan waktunya pula sepasang kakinya yang lurus kedepan ditarik kembali, sikapnya menjadi duduk bersila sedang hawa murninya pun secara diam diam dipusatkan pada pusarnuya siap menghadapi musuh, sehingga setiap saat dapat melancarkan serangan untuk melindungi dirinya sendiri.
Saat itu Hek Loo jie semakin berjalan satu tindak mendekat, hatinya semakin tegang satu kali lipat, tidak lama kemudian jarak dariHek Loo jie dengan tubuhnya tidak lebih tinggal tiga lima langkah lagi, seluruh bulu kuduknya menjadi berdiri peluh dingin mengucur dengan derasnya sedang sepasang matanya dengan melotot memandang tak berkedip atas wajahnya, mana berani berlaku ayal didalam saat seperti itu, teriaknya didalam hati.
"Jangan dekati aku .jangan dekati aku lagi.."
Waktu itu sekalipun jumlah orang yang berada didalam penjara itu tidak sedikit tetapi suasananya sunyi senyap tak terdengar suara sedikitpun juga, siapapun tidak berani mengeluarkan suara sehingga keadaan pada saat itu ngeri menyeramkan.
Pada saat yang kritis itulah tiba tiba terdengar teriakan dari kakek aneh itu dengan keras.
“Hei kau binatang, kau kira dengan bunuh babi jagal kambing bisa membuat aku ketakutan?, jangan mimpi!”
Suara makiannya makin lama makin keras, bentaknya lagi dengan semakin keras.
"Aka beri tahu hei binatang, sekalipun kitab silat To Kong Pit Liok" aku beri padamu kau kira bisa dengan aman lolos dari daerah Cong Ling ini?"
Mendengar perkataan itu, Hek Loo jie segera menghentikan langkahnya dan membalik tubuhnya kembali, waktu itulah Liem Tou baru bisa menghembuskan napas lega.
"He .. hei ..! bentak Hek Loo jie, apa maksud ucapan itu? Apa mungkin sudah berubah maksud untuk menyerahkan kitab silat itu padaku?"
Kakek aneh itu tertawa serak, dengan perlahan lahan jarinya yang kurus kering ditudingkan keluar penjara sambil ujarnya.
"Sekalipun akal dan sifat diri Hek Loo jie sangat keji dan kejam, dengan tersenyum bisa membunuh orang tetapi selamanya terhadap kecerdikan serta akal dari Loo toa sangat jeri sekali oleh karena itulah begitu Loo toa bicara demikian diapun terpaksa secara diam diam mengambil kewaspadaan lagi."
Saat ini air muka Hek Loo jie berubah pucat kehijau hijauan, hatinya setengah percaya setengah tidak terhadap perkataan dari Lao toanya itu, sebentar sebentar dia memandang keluar penjara sebentar lagi beralih memandang terpesona keatas wajah Loo toa.
Air muka kakek aneh itu mendadak berubah menjadi amat keren, bentaknya.
“Kau mau coba coba ?"
Sesaat sesudah Hek Loo jie mendengar perkataan dari Loo toanya itu sebenarnya didalam hatinya sudah timbul perasaan curiga kini melihat sengaja dia memperbesar omongannya tak terasa lagi tertawa dingin tak henti hentinya, sahutnya.
"He .. he .. he . agaknya kau tidak mau padam hatimu sebelum melihat sungai Hoang Hoo, tidak akan melelehkan air mata, sebelum melihat peti mati, sudah sampai keadaan seperti ini masih ingin menggunakan perkataan apa lagi?"
"Hmm..hmm baiklah," sahut kakek aneh itu sambil mengangauk." Bagus sekali, kau tunggu saja.”
Sekonyong konyong . . terdengarlah kakek aneh itu dengan suara yang keras berteriak ke arah luar penjara, serunya.
“Kitab silat To Kong Pit Liok merupakan salah satu kitab rahasia pada saat ini seharusnya dimiliki oleh orang yang budiman dan berhati luhur, Loo jie kau binatang bilamana kau terus menerus mendesak jangan salahkan aku kalau segera akan merobek robek kitab ini, siapa saja jangan harap bisa memilikinya kembali.”
Liem Tou sesudah mendengar perkataan itu tidak terasa lagi menjadi sangat heran dengan sangat jelas diketahui olehnya kalau kitab silat "To Kong pit Lok " tidak berada didalam tubuhnya bagaimana dia kini bisa bicara demikian ??"
Tidak disangka baru saja pikiran ini berkelebat didalam benak Liem Tou dari luar penjara terlihatlah melayang datang bayangan manusia dengan kecepatan luar biasa, tahu tahu didepan pintu penjara telah berdiri dua orang menghadang jalan perginya, bersama sama mereka membentak dengan keras.
"Hek Loo toa, tahan.",
Liem Tou yang bersembunyi ditempat gelap dipojokan ruangan penjara dengan sangat jelas sekali segera dapat mengenal salah seorang diantaranya merupakan pembesar buta yang memakai baju kebesaran serta kopiah kebesaran itu sedang orang yang satunya lagi mempunyai bentuk tubuh kurus kering tetapi sangat tinggi, air mukanya pucat pasi kehijau hijauan wajahnya kurus lancip sedang pada tangan kirinya membawa tasbeh melihat hal itu tak terasa hatinya menjadi tergerak diam diam pikirnya,
"Apa mungkin orang ini adalah hweesio yang disebut sebagai mayat hidup oleh Thiat Sie sianseng?"
Begitu kedua orang itu munculkan dirinya didepan pintu penjara sesudah merandek segera berjalan masuk kelalam ruangan penajara.
Liem Tou yang memperhatikan hweesio itu secara diam diam segera dapat melihat sewaktu dia berjalan tubuhnya memang sangat kaku bagaikan mayat hidup, setiap langkahnya tentu kedua kakinya bersama sama meninggalkan permukaan tanah, boleh dikata dia sedang meloncat, melihat hal ini Liem Tou segera sadar kalau dugaannya ternyata tidak meleset, orang ini tentu adalah hweesio mayat hidup.
Perasaan terkejut yang mencekam hati Hek Loa jie jauh lebih hebat lagi, mimpipun dia tidak pernah mengira kalau ditengah hari siang bolong seperti ini masih terdapat juga orang-orang yang menyatroni dirinya.
Jangan dikata hweesio mayat hidup serta pembesar buta itu turun tangan bersama-sama sekalipun salah seorang turun tangan sendiripun dia tidak akan sanggup melayaninya, didalam keadaan terkejut bercampur cemas tangan diulapkan memberi tanda para penjaga penjara, sambil teriaknya.
"Kalian gentong nasi, cepat tangkap mereka!"
Para penjaga penjara itu mana tahu kelihayan dari kedua orang, ditengah suara bentakan yang keras bersama sama mereka menerjang maju.
Si hweesio mayat hidup dengan pembesar buta itu sama sekali tidak bergerak, kakinya tidak bergeser, sampai kepalanyapun tidak diputar sedikitpun. Terdengar sihwcesio mayat hidup itu dengan perlahan berdoa.
"Omintohud."
Tasbeh yang berada ditangannya diayunkan, Liem Tou hanya melihat suatu bayangan hitam berkelebat dengan sangat cepat, penjaga yang berada dipaling depan segera menjerit ngeri, kepalanya hancur luluh, sedangkan tubuhnya rubuh keatas tanah binasa seketika itu juga.
Begitu dia memperlihatkan kepandaiannya bagaikan anjing yang kena kemplangan, penjaga penjaga lainnya saking ketakutan air mukanva berubah menjadi pucat pasi, kaki tangannya berubah menjadi lemas mana berani maju setengah tindak lagi.
Dalam hati Hek Loo jie tahu kalau keadaan tidak mengijinkan, baru saja hendak meminjam kesempatan ini untuk melarikan diri siapa tahu begitu matanya melirik keluar penjara hatirya menjadi sangat terkejut sekali.
Kiranya entah mulai kapan, si Siucay buntung, pengemis pemabok dan Thiat Sie Sian¬sang sekalian dengan tidak manimbulkan suara sedikitpun telah berdiri diluar penjara, hanya dalam sekejap saja tempat itu telah dihadiri oleh Tionggoan Ngo Koay coba kau pikir dia merasa terkejut tidak akan kejadian ini ?
Si pembesar buta yang memiliki telinga yang sangat tajam saat ini agaknya juga merasakan sesuatu, dengan cepat dia putar tubuhna sambil bertanya.
'Siapa ?”
Mendengar suara bentakan itu si hweesio mayat hidup dengan cepat putar tubuhnya berpaling saat itulah terdengar suara tertawa tergelak yang sangat nyaring dari sisiucay buntung, pengemis pemabok dan Thiat Sie Sianseng, sambil mengayunkan Tha Kauw Pang-nya maki pengemis pemabok itu.
“Hei mayat hidup, pembesar picek, kemarin malam kita belum puas bertanding mari hari ini kita lanjutkan pertandingan ini”
Si hweesio mayat hidup yang diejek dengan perkataan ini tetap tidak ambil perduli, air mukanya yang pucat pasi sedikitpun tidak menampilkan perubahan sabaIiknya saking kekhira si pembesar buta itu membentak keras tongkat, tongkat besi ditangannya dengan cepat diayunkan ke depan secara mendadak sekali mengancam tenggorokan sipengemis pemabok itu serangannya amat ganas, bertenaga dan dilakukan bagaikan kilat cepatnya.
Tetapi sekalipun dia cepat, orang Iain lebih cepat dari dirinya baru saja tongkat penggebuk anjing dari pengemis pemabok hendak memunahkan serangannya itu, sie poa ditangan Thiat Sie Sianseng dengan cepat telah dibalik menahan serargannya, ujarnya dengan kalem.
"Kau pembesar picek, tunggu sebentar, dengar dulu omonganku.”
Kepada si Siucay buntung dan Thiat Sie Sianseng Liem Tou memangnya pernah bertemu sekali dan terhadap mereka berdua pun didalam hatinya telah timbul rasa simpatiknya, kini melihat mereka berdua munculkan dirinya ditempat ini bahkan saat ini mendengar Thiat Sie Sianseng hendak berbicara tanpa terasa lagi semangatnya menjadi terbangun kembali sedang seluruh perhatannyapun dipusatkan padanya, perhatiannya terhadap kakek aneh serta Hek Loo jie pun tidak terasa menjadi semakin kendor.
Kedengaran Thiat Sie Sianseng dengan perlahan telah berkata kembali.
“Selama berpuluh tahun lamanya Tionggoan Ngo Koay mengasingkan dirinya masing-masing, ini hari bisa berkumpul kambali ditempat ini tidak lebih karena sejilid kitab silat To Kong pit Liok, kini kali bukannya memusatkan seluruh perhatian untuk mendapatkan kitab silat bahkan sebaiiknya berebut kembali soal dendam sakit hati pada masa yang lalu, bukannya ini sangat aneh sekali, kemarin malam kalianpun sudah melihat sendiri orang orang yang menghendaki kitab silat ini bukan kami Tionggoan Ngo Koay saja, bahkan para jago dari partai-partai lain pun sudah pada berdatangan disamping itu menurut apa yang aku ketahui Partai Kiem Tian pay dari Telaga Auh Hay serta partai Tun Sin pay yang tidak pernah mencampuri urusan dunia luarpun telah mengirim orang datang”
Sipembesar buta yang melihat dia berbicara tidak henti-hentinya sejak tadi sudah merasa tidak sabaran, kini potongnya dengan nada yang sangat keras.
“Persetan mereka mau mengirim berapa banyak orang, kitab silat To Kong pit Liok ini bila kalau bukannya milikku maka kau peda¬gang licik jangan harap bisa mendapatkannya, dengan mengandalkan Siepoa bututmu tidak usah banyak omong.
“Ha ha ha - - . “ ujar Thiat Sie Sianseng sambil tertawa terbahak-bahak, “Kau sudah buta sepasang matamu sekalipun mendapat kitab silat To Kong pit Liok, apa gunanya? Tidak perlu terlalu berangasan dengar dulu omonganku. Sekalipun jago dari Bu lim maupun dari lain perkumpulan disini juga tidak akan membuat kita jeri hanya saja tali hubungan yang paling penting sekarang ini terletak diatas tubuh Hek Loo Jie, sejak dahulu dia sudah punya maksud membunuh dan mencelakai Hek Loo toa, bilamana dia sampai binasa lalu siapa lagi yang tahu kitab silat To Kong pit Liok, disimpan dimana?”
Begitu dia mengucaplan kata kata ini diam-diam Liem Tou merasa sangat kagum atas kecerdikannya, dengan cepat sinar matanya digeser keatas wajah Hek Loo Jie, dalam hati dia mengira tentunya air mukanya telah berubah pucat kehijauan, siapa tahu air muka dari Hek Loo Jie saat ini masih seperti semula memasuki penjara, senyumannya menghiasi seluruh wajahnya sedang sikapnyapun tenang-tenag saja tidak terasa lagi hatinya menjadi sangat heran.
Pada saat itulah terdengar Thian Sie Sianseng membentak dengan keras.
“Hati hati tangkap dia!”
Perkataan dari Thiat Sie Sianseng belum diucapkan selesai sejak semula Hek LooJie membentak keras, tubuhnya berputar ditengah udara kemudian dengan meminjam kesempatan tersebut dia melancarkan suatu serangan yang dahsyat kearah dada dari Hek Loo toa membuat dia saking tak tertahan tubuhnya terjengkang kebelakang, darah segar memancar keluar dengan derasnya dari mulut, sedang tubuhnya bergelinding hingga kesamping tubuh Liem Tou.
Setelah itu dengan tidak membuang kesempatan lagi tubuhnya bagaikan kilat cepatnya mererobos keatas membuat genting pada rontok kebawah sedang tubuh dari Hek Loo jie itu dengan cepat keluar dari atas genting dan melarikan diri.
Keadaan yang berubah dengan demikian cepatnya inilah mem buat Tionggoan Ngo Koay dibuat bingung secara mendadak, dengan tidak memperdulikan lagi pada diri Hek Loo toa dengan cepat mereka mangejar kearah Hek Loo Jie yang melarikan diri itu, inipun termasuk perhitungan bintang atau takdir mengharuskan Liem Tou yang mendapatkan kitab silat ini secara tidak disengaja.
Kita balik lagi pada tubuh Hek loo toa yang terkena pukulan dahsyat dari Hek Loo Jie hingga terpental jatuh kesamping tubuh Liam Tou. Dengan tergesa gesa Liem Tou mentangkan tubuhnya, sehingga untuk sementara masih bisa mempertahankan tubuhnya untuk sekejap hanya saja saat ini darah segar mengucur keluar dengan derasnya, dia telah terluka dalam parah sekali, sekalipun dewa turun dari kahyangan pun tidak mungkin bisa menolong jiwanya lagi.
Dengan sangat berhati-hati Liem Tou meletakan tubuh Loo toa keatas tanah, memandang keadaan yang sangat mengenaskan itu dia dibuat men jadi bingung, tanyanya dengan gugup.
“Loocianpwee, aku Liem Tou, lukamu sangat parah masih bisa disembuhkan tidak?”
Saat itu mendadak terlihat dua orang penjaga penjara berjalan mendekat kearah mereka Liem Tou yang melihat hal itu saking gusarnya seluruh wajahnya berubah menjadi merah padam bentaknya dengan keras.
“Kalian cepat menggelinding dari sini kalau tidak hemm , .. hem . . . jangan menyalahkan aku turun tangan kejam.”
Begitu selesai berbicara tangannya diajukan melancarkan serangan, angin pukulan yang dikerahkan keluar sekalipun tidak begitu dahsyat tapi kedua orang penjaga penjara itu tidak sanggup untuk menerimanya dengan cepat dan tergesa gesa mereka mengundurkan dirinya kebelakang.
Dengan cemas ujar Liem Tou lagi sambil menggoyang-goyangkan tubuh dari Hek Lao toa,
"Loocianpwee, kau bicaralah dengan cara apa aku harus menolong untuk menyembuhkan luka mu ini ?”
Dia tidak tahu saat ini Hek Loa toa sudah amat susah untuk barbicara terlihatlah dengan paksakan dirinya dia menggelengkan kepalanya tak terasa lagi Liem Tou menjadi amat sedih ujarnya.
"Kalau begitu Loocianpwee memang sungguh tak ada harapan lagi?” Loo cianpwee, aku adalah Liem Tou bilamana Loo cianpwee punya urusan yang penting sampaikanlah kepadaku , aku pasti akan melaksanakan harapan Loo cianpwee hingga berhasil."
Tidak disangka begitu Liem Ton mengucapkan kata-kata itu sepasang mata dari Hek loo toa yang tadinya dipejamkan rapat rapat itu secara mendadak dipentangkan lebar lebar sesudah me¬mandang beberapa saat lamanya kearah Liem Tou barulah dengan perlahan dia mengangguk sedang dari kelopak matanya tak tertahan lagi melelehkan titik air mata.
Liem Tou yang melihat dia me!elehkan air mata semakin dibuat bingung baru saja hendak buka mulut untuk bicara mendadak terlihatlah tangan kanan dari Hek Lao toa dengan perlahan menggeser pada pinggangnya.
Hati Liem Tou segera bergerak teringat lagi ketika kemarin hari sesudah dia dihajar dengan pecut dan makan tali pinggangaya maka lukanya segera sembuh hatinya menjadi girang de¬ngan cepat tanyanya.
“Loo cianpwee apa mau cari tali pinggang itu?"
Hek Loo toa mengangguk kembali dengan cepat Liem Tou melepaskan tali pinggang itu dan menghantarkan kepinggir mulutnya, dengan tak menunggu nunggu lagi kira-kira dua coen dari tali pinggang itu telah ditelan kedalam perutnya.
Tak lama lagi Hek Loo ton sudah tidak muntah darah, sedang suara rintihannyapun mulai terdengar, Liem Tou menjadi sangat girang sambil berlutut disampingnya serunya.
"Loocianpwee, kau merasa baikan bukan?"
Hek Loo toa hanya menggelengkan kepalanya sambil memejamkan matanya dengan perlahan gumamnya.
“Mo Ku Tiauw Cong Ci Cie Tong."
Liem Tou yang mendengar perkataan itu diam-diam merasa sangat bingung pikirnya dalam hati.
"Ehm- - kematiannya sudah diambang pintu ternyata dia masih punya niat untuk membaca syair ini Aaaai sungguh kasiban sekali."
Siapa tahu begitu Hek Loo toa selesai mambaca kalimat pertama tetap tak mendengar sahutan dari Liem Tou mendadak sepasang matanya melotot keluar memandang kearah Liem Tou, sedang air mukanyapun telah terjadi perubahan besar.
Liem Tou menjadi tertegun secara tiba-tiba dia sadar kembali, dengan cepat lanjutnya dengan suara perlahan.
"Pit Bun Kong Can Tui Jan Kang."
Saat itu barulah terlihat pada bibir Hek loo toa tersungging suatu senyuman, lanjutnya lagi.
"Pak Hwie Sian Po Tong Ang Hwee."
"Wu Ting Stauw Liauw Soat Ta Cuang."
Seperti juga pada semula menanti Liem Tou selesai membaca syair ini tanyanya dengan -cepat, “Siapa kau?"
"Boanpwee Liem Tau" sahut Liem Tou tanpa ragu-ragu. "Cianpwee punya perintah apa lagi terhadap diriku?"
"Bukan . . bukan” ujar Hek Loo toa sambil gelengkan kepalanya, "Bukan bukan Liem Tou ingat kau bukan Liem Tou, kau adalah….”
Agaknya secara mendadak Liern Toupun telah merasa kalau perkataan ini masih mengandung mak sud yang sangat mandalam dengan cemas tanyanya.
"Locianpwee, slapa kau?”
Bukannya menjawab tiba-tiba pada mulut Hek- Loo toa tersungging suatu senyuman yang amat dingin, ujarnya dengan tawar.
"Sanggupi aku untuk bunuh binatang itu, maka aku akan segera beri tahu padamu."
"Hek Loo jie jadi orang licik menganiaya saudara sendiri siapapun yang tahu tentu akan berusaha membasmi dirinya."
"Aku minta kau bunuh dia" bentak Hek loo toa sambil melototkan matanya.
"Asalkan boanpwee berbasil melatih ilmu silat tentu akan membantu cianpwee membalaskan dendam ini."
Setelah rnendengar perkataan itu Hek Loo toa barulah menjadi puas sambil mengangguk sahutnya:
"Siapa kau ? Makan tanpa ikan, pergi tanpa kereta, mana-mana tiada rumah tinggal, hamba bukan manusia."
Diam diam Liem Tou mengingat ingat perkataan ini didalam hatinya, terdengar dengan paksakan diri ujar Hek Loo toa lagi.
"Akt sudah tak bisa bertahan lebih lama lagi untuk mendapatkan kitab rahasia To Kong Pit Liok" itu kau harus ingat perkataan tadi, kitab itu disembunyikan di . .."
Parkataan selanjutnya belum sempat diucapkan tiba tiba terlihatlah sipengemis cilik itu dengan cepat lari masuk kedalam penjara, tangannya dengan cepat mencengkeram tubuh Hek Lo toa sambil bentaknya dengan keras.
"Hek Lao toa, kau tak bisa binasa dengan demikian saja, kitab silat "To Kong Pit Liok" kau semunyikan dimana? Cepat bicara. Karena perbuatan jahatrnu selama puluhan tahun lamanya ditambah lagi dengan dosamu yang sudah tumpuk tumpuk sekalipun harus binasa juga tidak sayang, tapi bilamana kitab silat "To Kong Pit Liok" itu sampai musnah dikarenakan kematianmu maka dosa ini sangat besar sekali, kau harus binasa dengan keadaan yang mengerikan.”
Liem Tou yang mendengar ucapannya yang kasar itu tak terasa menjadi sangat gemas, dengan gusar bentaknya.
"Kini Loo cianpwee sedang mederita luka parah bagaimana kau berani bertindak demikian kasarnya ? Cepat lepaskan."
Sejak Hek Loo toa menelan tali pinggang itu sebenarnya dengan paksakan diri dia masih sanggup untuk mempertahankan dirinya, saat ini begitu dicengkeram oleh sipengemis cilik dadanya terasa sangat sesak dan kesakitan tak kuasa lagi darah segar menyembur keluar dari mulutnya dengan sangat deras sedang dia sendiri jatuh tak sadarkan diri .
Baru saja Hek Loo toa mau memberitahukan tempat penyimpanan kitab silat "To Kong Pit Liok" kepadanya secara mendadak telah terjadi perubahan demikian besarnya, membuat hawa amarah didalam tubuh Liem Tou tak kuasa lagi memuncak, tangannya menyambar , Plaaak.. . dengan tidak dapat dihindar lagi pipi dari pengemis cilik itu telah terkena gaplokannya yang sangat keras ini dengan gusar bentaknya.
"Bangsat tak tahu malu terjun sumur mengangkat batu, menyiram minyak menyulut api cepat menggelinding dari sini."
Sipengemis cilik yang merupakan jago yang memiliki kedudukan sangat tinggi didalam partai Kiem Tian Pay ditelaga Auh Hay ditambah lagi disekitar daerah telaga Auh Hay kecuali Auh Hay Ong sendiri siapapun jeri tiga bagian terhadapnya siapa sangka ini hari merasakan gaplokan dari Liem Tou membuat wajahnya segera berubah menjadi hijau seperti besi saking gusarnya dengan suara yang melengking tinggi bentaknya.
'Bangsat anjing busuk, kau berani pukul aku”
Tangannya diangkat melancarkan ilmu yang paling lihay, Yan Wie Cui Hun Cie atau ilmu dari burung walet mengejar nyawa menotok wajah Liem Tou, sedang pada saat yang bersamaan pula Liem Tou yang melihat tubuh Hek Loo toa bergoyang sedang membungkukkan tubuhnya sehingga dengan tepat terhindar dari serangan jari dari pengemis cilik itu, tanyanya.
"Loocianpwee, kau kenapa ? Kau belum sempat berbicara dengan ku."
Dari tenggorokan Hek Lootoa hanya terdengar suara serak yeng tidak enak didengar sedang sepatah katapun tidak sanggup untuk dibicarakan lagi.
Si pengemis cilik yang berdiri disamping begitu mendergar perkataan Liem Tou ini segera berhenti menyerang, bentaknya.
He .. . he .bagus sekali, kiranya sejak tadi sudah beritahu padamu "
Liem Tou tidak mau perduli terhadap dirinya tetap saja dia melanjutkan bertanya pada Hek Loo toa, tapi keadaan dari Hek Lootoa sudah parah benar-benar, terIihatlah tubuhnya mendadak berkerut, sepasang kakinya diluruskan kedepan napasnya putus dan demikianlah dia menemui kematiannya dengan sangat mengenaskan.
Hubungan antara Liem Tou dengan Hek Lao toa selama dua hari ini sekalipun tidak dapat dikatakan sangat rapat tetapi bagaimnapun juga budi menurunkan kepandaian silat serta pemberitahuan untuk menemukan kitab silat To- Kong Pit Liok membuat hatinya tak terasa lagi timbul perasaan simpatiknya, apalagi terhadap kematian dari Hek Lootoa yang kembali ke jalan yang lurus membuat hatinya sangat kagum. Sekarang sudah tentu merasa amat sedih sekali, tanpa sadar dengan periahan dia menjatuhkan diri berlutut disamping tubuhnya, untuk beberapa saat lamanya tidak mengucapkan sepatah katapun juga.
Si pengemis cilik yang menunggu disampingnya mana bisa bersabar lebih lama lagi teriak nya:
"Hei bangsat cilik, tamparanmu tadi untuk sementara aku tidak mau menraih, aku mau tanya padamu tempat penyimpanan kitab silat To Kong Pit Liok apa Hek Lootoa benar benar sudah beritahukan pada dirimu?”
Saat ini Liem Tou yang berlutut disamp;ng jenazah Hek Loo toa secara tiba- tiba menemukan tangan kanan dari mayat Hek Loo toa masih tergetar dengan keras, dengan tidak memperdulikan lagi perkataan dari si pengennis cilik itu seluruh perhatiannya dipusatkan.
Kiranya entah pada saat kapan tangan kanan Hek Lootoa telah menuliskan sebuah kata “Wu" pada tanah dengan menggunakan darah segar yang dimuntahkan itu.
Liem Tou yang melihat tulisan itu dalam hatinya segera berputar, pikirnya.
"Wu? Bukankah yang dimaksud gunung Wu San? Hek Loo toa merupakan saIah satu iblis dari Siok To Siang Mo, pada masa yang lampau seluruh kejahatan yang dilakukan juga hanya terbatas pada daerah Siok To ini saja, sudah tentu tulisan Wu yang dimaksudkan sesaat menjelang kematiannya adalah gunug Wu San”
Liem Tou yang berpikir sampai disini segera menjadi paham semuanya dengan cepat dan sa¬ngat hormat dia menganggukkan-kepalanva didepan jenasah Hek Loo toa sambil ujarnya.
“Terima kasih atas petunjuk Loocianpwee, boanpwce sudah benar benar paham,."
Dengan perkataan dari Liem Tou ini semakin mcmbuat kecurigaan didalam hati si pengemis cilik bertambah tebal, dengan cemas tanyanya.
"He bangsat cilik, dia sungguh-sungguh sudah beri tahu padamu tempat penyimpanan kitab silat To Kong Pit Liok itu?"
Saat ini Liem Tou sudah benar-benar benci terhadap sipengemis cilik ini, dengan periahan-lahan dia bangkit berdiri dan siap berjalan keluar dari penjara itu, bagaimananun juga saat ini sudah tidak ada orang lagi yang bisa mengurusi dirinya bilamana tidak pergi maka akan tunggu kapan lagi?"
Baru saja dia berjaIan dua langkah tiba-tiba teringat kembali akan ikat pinggang dari Hek Lao toa itu, dalam hati pikirnya.
"Ehm .. tali ikat pingaarg itu tentu merupakan obat yang sangat mujarab sekali, lebih baik aku simpan untuk digunakan dikemudian hari.
Berpikir sampai disitu segera dia putar tubuhnya memungut kembali ikat pinggang itu yang ditalikan pada tubuh sendiri.
Si-pengemis cilik ying sudah tahu kalau Liem Tou telah mengetahui tempat penyimpanan kitab silat "To Kong Pit Liok", mana mau malepaskan dia dengan demikian mudahnya, tubuhnya berkelebat dengan cepatnya menghalangi jalan pergi Liem Tou bentaknya lagi.
"Bangsat cilik, bilamana kau tidak mau beritahu tempat penyimpanan kitab silat “To Kong pit Liok” ini hari jangan harap bisa lolos dari tempat ini dengan selamat.”
"Hmm.. pengemis busuk, siapa yang bilang aku tahu tentang kitab silat itu, engkau jangan edan.”
Dalam hati Liem Tou tahu urusan ini menyangkut perebutan benda didalam dunia kang ouw, bilamana dia sampai mengakuinya secara terus terang maka pasti akan menemui bencana kematian, oleh karena itu bagaimanapun juga ia tidak berani mengakuinya secara terus terang, tetapi pengemis cilik yang mendengar dari Liem Tou dengan mata telinga sendiri mana mau mempercayainya dengan begitu saja, sudah tentu tidak akan melepaskan dirinya dengan demkian mudahnya.
Hal ini membuat hawa amarah Liem Tou sekali lagi memuncak, sambil mendelik ujarnya.
"Kau mau paksa aku?"
Tetapi didalam hati Liem Tou tahu dengan jelas bilamana dia benar benar bergebrak melawan pengemis cilik, sudah tentu bukanlah tandingannya, oleh sebab itulah sekalipun pada mulutnya dia bicara membuat amat gusar, tetapi tetap saja tidak mau turun tangan.
Dalam hati sipengemis cilik sendiri juga ragu-ragu, jika dilihat dari sikapnya yang ketolol-tololan serta langkah kakinya yang berat slapapun tidak akan percaya kalau kepandaian silatnya lumayan, tetapi dia sendiri sudah dua kali mengalami kerugian ditangannya, oleh karena itu diapun tak berani turun tangan dengan segera.
Demikianlah kedua orang itu saling berdiri berhadap-hadapan, sepasang mata dari masing masing pihak melotot saling memperhatikan gerak gerik musuhnya, sipengemis cilik yang memandang wajah Liem Tou itu semakin dipandang dia semakin merasa wajahnya yang tampan, kulitnya yang putih bersih serta pengetahuannya yang luas, sekalipun lagaknya seperti orang ketolol-tololan tetapi juga tidak kehi¬langan sifat jantan dari seorang lelaki sejati, sebaliknya Liem Tou yang memandang wajah pengemis cilik itu semakin dilihat terasa olehnya semakin mangkal terasa olehnya sekalipun wajahnya kotor pakaiannya yang dipakai sangat dekil tetapi pancainderanya sangat indah, giginya yang rata putih bersih serta kulitnya yang halus lembut sungguh sangat indah dan menarik sekali.
Tiba tiba bayangan dari Lie Siauw Ie berkelebat didalam hatinya pikirnya.
"Bagaimana aku bisa membuang waktu dengan percuma ditempat ini?. le cici setiap hari tentu sedang menanti kedatanganku di perkampungan Ie Hee Cung, bilamana aku harus menyia-nyiakan kesempatan menyerang gunung pada dua tahun mendatang maka aku harus mananti tiga tahun lagi, bukankah membuat Ie cici semakin sedih?"
Berpikir sampai disini tidak tertahan lagi hatinya berdebar dengan sangat kerasnya, saat ini dia tidak ingin membuang waktu lagi, didalam ruangan penjara itu sambil mementangkan sepasang matanya yang jeli bentaknya dengan amat gusar.
"Minggir, bilamana kau tetap menghadang jangan salahkan aku akan berbuat kesalahan°
Sambil berkata dengan Iangkah yang lebar dia berjalan keluar penjara, si pengemis cilik yang diterjang dengan cepat mementangkan tangannya menghalau, melihat hal ini Liem Tou semakin gusar, bentaknya lagi:
"Minggir."
Tangan kirinya diulur kedepan mencengkeram tangan dari si pengemis cilik itu sedang tubuhnya maju lagi kedepan.
Pengemis cilik itu tertawa dingin, ejeknya.
"Hmmm .. dengan kepandaianmu apa kau kira dengan mudah bisa keluar dari sini ?”
Tangannya yang hendak dicengkeram itu mendadak dibalik mencekal urat nadi tangan kiri Liem Tou, siapa tahu jurus yang dilancarkan oleh Liem Tou ini merupakan salah satu jurus dari ilmu telapak Sam In Ciat Cuang Ciang yaitu jurus In Hum Put Sam atau sukma halus tidak buyar, tangan kiriaya hanya dikembangkan sedikit kemudian secara tiba-tiba ditarik kembali, telapak kanannya dengan tenaga murni yang amat dahsyat secara mendadak menyambar dari bawah keatas, kekuatannya ternyata tidak lemah.
Sebenarnya seluruh perhatian dari pengemis cilik itu sedang dipusatkan pada urat nadinya, siapa tahu serangan ini datangnya amat ganas dan aneh ketika dia merasakan datangnya serangan telapak tangan dari Liem Tou sudah berada didepan dadanya, tidak terasa lagi dia menjerit kaget dengan kerasnya dan dengan tergesa gesa meloncat mundur, tetapi sekalipun serangan dari Liem Ton ini tidak sampai menyebabkan dia teriuka parah tetapi dadanya sudah ditekan dengan keras.
Berturut turut pengemis cilik itu mundur beberapa langkah kebelakang seluruh tubuhnya gemetar saking gusarnya, tetapi air mukanya telah berubah menjadi merah padam sampai pada lehernya dengan termangu-mangu dia berdiri mamatung beberapa saat lamanya memandang diri Liem Tou, tiba-tiba perasaan sedihnya mencekam seluruh hatinya tidak tertahan lagi menangis tersedu-sedu dengan sedihnya, sedang tubuhnya bagaikan seekor burung walet dengan cepat melayang keluar.
Liem Tou yang melihat kepergian dari pengemis cilik itu begitu cepatnya menjadi sedikit tertegun, tetapi sebentar saja dia merasa geli sekali dengan perlahan diamenoleh memandang sekali lagi ke jenazah Hek Loo toa yang terlentang ditengah darah yang berceceran membasahi lantai, ujarnya dengan sedih.
“Loocianpwee beristirahatlah dengan tenang, Liem Tou minta diri”
Sehabis barkata dengan langkah tenang dia berjalan keluar dari penjara terus kejalan raya, dalam hatinya diam diam dia merasa sangat heran ruangan pengadilan yang menjadi satu dengan penjara itu sekalipun sangat luas tetapi tak nampak sesosok bayangan manusiapun, agaknya pertempuran kemarin malam membuat para penjaga dibikin kalang kabut oleh para jago yang datang menyerang sehingga sekarang pada melarikan dirinya.
Liem Tou juga tidak mau menggubris hal ini, dengan langkah perlahan dia berjalan keluar jalan raya terlihat orarg yang sedang lalu Ialang ditengah jalan hampir sebagian besar merupa kan jago-jago Bu lim yang membawa senjata ta jam sekali, sedang saja sudah tahu kalau mereka merupakan jago pasaran yang tidak boleh disalahi, tidak aneh lagi kalau kaum pengemis serta hwesio banyak yang muncul disitu.
Liem Tou yang kini sudah mengetahui tempat penyimpanan kitab silat To Kong Pit Liok, malah membuat dia merasa tidak tentram, hatinya berdebar terus dengan kerasnya.
Begitu dia bertemu dengan orang orang itu tidak dia sadari lagi kepalanya ditundukan rendah-rendah sinar matanya memandang kebawah dan jalannyapun semakin tergesa gesa.
Sambil berjalan hatinya terus berputar sesudah ini dia harus pergi kemana? langsung ke gunung Wu san atau pergi kelain tempat terlebih dahulu ? Sebagai pengangon sapi untuk menabung uang guna berangkat ke gunung, Wu san mencari itu kitab silat To Kong Pit Liok pada waktu-waktu yang senggang dalam mengangon sapi itu mungkin juga dia bisa memperdalam ilmu silatnya dari kitab To Loo Cin Keng, mungkin juga dengan demikian kepandaiannya mendapatkan kemajuan.
Sambil berpikir sambil berjalan tidak terasa lagi dia sudah berada jauh diluar kota, sawah yang luas terbentaag disekelilingnya, dia tidak mau ambil perduli terus saja dia melanjutkan perjaIanannya kedepan.
Tidak lama kemudian di tempat kejauhan terlihatlah olehnya seorang petani yang sedang mencangkuli sawahnya, dengan cepat berjalan mendekat sambil ujarnya.
"Tolong tanya, disekitar dusun ini apa terdapat orang yang sedang butuhkan seorang pengangon sapi ?"
Petani itu ketika mendengar ada orang sedang mengajak dia bicara dengan perlahan menoleh memandang tapi segera ia jadi tertegun sesaat lamanya, kiranya petani itu tak Iain adalah pemimpin para petani yang pada dua hari yang lalu membawa Liem Tou masuk kedalam penjara.
Pada saat dia melihat Liem Tou yang sedang bicara dengan dirinya tak tertahan lagi mendadak mementangkan mulutnya sambil menjerit keras.
"Tolong.. , tangkap maling sapi”
(Bersambung ke Jilid 5)
LIEM TOU yang melihat itu menjadi amat terperanjat, didalam keadaan yang cemas serta bingung itu air mukanya berubab menjadi amat keren, dengan amat gusar bentaknya. ”Tutup mulutmu” Bersamaan pula tubuhnya maju satu tindak ke depan dan mencengkeram pakaian dari kakek petani itu sambil ujarnya lagi. “Persetan dengan maling atau bukan maling, kau jangau coba coba memfitnah orang baik2, pada waktu kemarin aku masih belum buat perhitungan dengan kau, ini hari kau tidak sopan lagi..Hmm..Hmm.. jangan salahkan aku kalau bertindak tidak sopan kepadamu”
Saat ini Liem Tou merupakan seorang yang sangat besar oleh sebab itulah begitu dia mencengkram pakaian kakek itu kemudian diangkatnya membuat wajah dari petani itu segera berubah menjadi merah padam sedang napasnya tersengkal sengkal
Dengan perlahan Liem Tau melepaskan cekalannya, petani itu berubah menjadi bisa menghembus nafaf lega dengan perasaan terkejut bercapur gusar, bentaknya: “Hai maling kerbau kau ingin bagaimana?
“Siapa yang mencuri kerbaumu? Kau melihat sendiri aku mencuri kerbaumu?” Kakek tua yang dibentak seperti itu menjadi tertegu, dengan sinar mata yang cermat dia memandang sekejap seluruh tubuh Liem Tou, melihat wajahnya yang tampan serta bersih memang tidak mirip sebagai pencuri. Hanya saja sampai saat ini dia masih tak mau percaya penuh atas perkataannya itu, tanyanya lagi : “Tetapi bagaimana kerbau itu bisa bersama-sama kau?”
Terpaksa dengan hati yang mangkel bin mendongkol Liem Tou sekali lagi menceritakan pengalamannya pada hari itu, bahkan maki2 ketololan orang-orang desa itu. Kakek itu setelah mendengar kisahnya segera termenung berpikir sejenak, barulah kemudian sambil mengangguk sahutnya. “ Oh.. kiranya demikian adanya memang hal ini bisa saja terjadi begini, kalau begitu memang diantara kita telah menjadi kesalahan.
Liem Tou yang mendengar nada ucapannya segera tau kalau dia masih setengah percaya itu saking gemasnya hampi-hampir saja perutnya pecah dengan cepat dia putar tubuhnya siap meninggalkan tempat itu, baru saja berjalan beberapa langkah tiba2 terdengar kakek yang berada dibelakang tubuhnya berseru dengan keras.
“Hei..balik, kau mau kemana?”
Liem Tou yang sedang gusar dan mangkel, dengan ketus segera sahutnya: “ Aku sudah kalian pukul sehingga seluruh tubuhku sampai kini masih belum sembuh apa kau mau mengumpulkan kawan2mu untuk mengeroyokku lagi?”
“Hei… Kau yang tidak tau, pada masa dekat ini disekitar tempat ini sering kehilangan kerbau sehingga bisa timbul kesalah pahaman seperti itu, tempat meneduhpun kau tidak milik daripada malam ini kau menginap didalam hutan lebih baik tinggal dirumahku saja, bagaimana?”
Liem Tou mendengar ucapannya yang ramah itu segera membuat perasaan mengkel didalam hatinya lenyap separuh. Pikirnya dalam hati “Hmm…kini aku tak ada tujuan yang tetap, tempat tidurpun tak punya lebih baik ikut saja”Pikirnya.
Sesudah berpikir sejenak barulah dai menyanggupi. Kakek itu segera membereskan dengan memimpin Liem Tou berjalan kea rah kesebuah dusun yang berpenghuni kurang lebuh puluhan keluarga saja.
Orang2 dusun yang tempo hari ikut menangkap Liem Tou sebagai pencuri kerbau ketika melihat Liem Tou yang saat ini diajak kakek itu masuk dusun segera menjadi gempar, tidak lama berselang berpuluh-puluh orang membanjiri rumah kakek itu sehingga suasana menjadi ramai, tetapi setelah diberi penjelasan dengan kakek itu urusan menjadi tenang dengan sendirinya.
Dengan keramah tamahan kakek itu yang terus menerus menyuruh Liem Tou tinggal di rumahnya memaksa dia terpaksa berdiam disana tiga hari lamannya, dalam tiga hari ini Liem Tou dengan mengikuti petunjuk dari Hei Loo Jie melatih ilmu pernafasannya sedang oada siang harinya membantu kakek itu mengangonkan sapinya.
Hari keempat pagi2 dengan paksakan diri Liem Tou minta diri pada kakek tua itu, siapa tahu dengan perasaaan iba hari dan hati yang jujur ujar petani tersebut “ Kau tidak punya rumah, tidak punya tujuan, sekarang mau kemana? Lebih baik tinggal saja dirumahku bilamana kau merasa tidak enak biarlah bekerja sebagai pengagon sapi disini saja”
Agaknya kakek itu telah tahu maksud dair Liem Tou yang sebernarnya, sebenarnya dia memang tidak mau meninggal tempat itu kini sesudah mendengar perkataan itu Liem Tou pun tidak menapik lagi.
Tidak disangka pada hari kelima didalam dusun itu secara mendadak berturut-turut muncul pengemis-pengemis serta hweesio yang dandanannya sangat aneh sebang dimalam harinyapun sering dengan jelas Liem Tou mendengar suara dari orang2 sedang berjalan malam.
Dengan demikian Liem Tou yang tinggal didalam dusun itu menjadi tidak tenang, jantungnya terus menerus berdebar dengan keras, tetapi untuk sesaat diapun tidak dapat minta ijin dari kakek itu untuk meninggalkan dusun tersebut.
Suatu hari Liem Tou dengan membawa kerbau menuju kebelakang gunung makan rumput, dia sendiri duduk disamping sebuah batu besar meng ingat2 kembali jurus2 dari ilmu pukulan dari kitab rahasia Toa Loo Gin Keng, mendadak dari samping muncul seorang tousu berusia pertengahan yang dengan perlahan berjalan mendekati dirinya, terlihatlah toosu itu memberi hormat padanya sambil Tanya.
“ Hei bocah cilik, didalam beberapa hari ini didalam kampungmu apa melihat munculnya seorang asing?”
Liem Tou mendengar pertanyaan itu hatinya menjadi bergerak, dengan tidak berubah wajah balas tanyanya.
“ Orang asing macam apa?”
“ Oh.. orang itu aku sih belum menemuinya, hanya aku tahu dia bernama Liem Tou”
Liem Tou yang tau namanya disebut hampir saja air mukanya berubah menjadi hijau sangking terkejutnya, tubuh meloncat mundur beberapa tindak. Sahutnya sedikit gugup “ aku juga belum pernah mendengar nama orang ini, hanya hal ini sangat aneh bilamana tooya tidak kenal dengannya mengapa mencarinya?”
Toosu itu memandang sekejap kearah Liem Tou kemudian bentaknya “Buat apa kau tanya ini, sudah tentu aku punya urusan cari dia”
“lalu siapa sebutan dari tooya? Bilamana pada kemudian hari aku bertemu dengan orang bernama Liem Tou akan kusampaikan kalau seorang tooya sedang mencari dia”
“hmm… tentang hal ini tidak perlu”
Sesudah itu dia lalu putar tubuh dan berlalu dari tempat itu, tetapi baru saja dia berjalan beberapa langkah dari tempat semula dari bawah bukit telah berkumandang suara tertawa ter galak2 dari seorang sambil ujarnya “ ha..ha..ha..Ciangbujin dari Butongpay Leng Ceng Cu juga dating.. wakakakak.. selamat bertemu.. tentu kaupun sendang mencari berita dari Liem Tou, bukan?”
Liem Tou yang mendengar suara tertawa itu sangat dikenal olehnya segera angkat kepala memandang, terlihatlah Thiat Sie Sian Seng dengan langkah lebar sedang jalan mendekat, hatinya menjadi sangat teperanjat saat ini dia baru tau kalau toosu tadi tidak lain ciangbujin dari Butongpay.
Ling Ceng Cu yang melihat munculnya Thiat Sie Sian Seng secara mendadak ditempat itu semula dibuat tertegun untuk beberapa saat lamanya, kemudian diapun tertawa tergelak sahutnya “ Haha..ha.. aku kira siapa kiranya Tiat sie heng yang telah dating selamat bertemu.. selamat bertemu. Kitab silat To Kong Pit Liok merupakan sebuah kitab silat yang berisikan ilmu silat yang sakti dan dahsyat, siapapun dari dunia kang ouw tentu mengunginkan kitab ini tidak terkecuali aku Leng Ceng Cu, Thiat sie heng kau kira bukankah begitu?”
“Bagus..bagus…memang tepat memang tepat”
Bersamaan pula kedua orang itu tertawa terbahak bahak nampak mereka berdua sangat girang sekali.
Liem Tou sejak melihat munculnya Thias sie Sianseng ditempat itu hatinya sudah amat kuatir kini melihat mereka berdua tertawa terbahak bahak dengan diam2 mengambil kesempatan ini melepaskan tali kerbau dan siap melarikan diri dari tempat itu. Pada saat itu terdengar olehnya Leng Ceng cu berkata “ pada kemudian hari bila ada kesempatan harap Thiat Sie heng segera naik keatas Butong untuk berkunjung,haha..ha selamat tinggal”
Liem Tou tahu Leng Ceng cu telah meninggalkan tempat itu diapun meminjam kesempatan itu lari dari tempat tersebut, siapa tahu pada saat itu juga terdengar suara bentakan keras dari Thiat Sie Sianseng.
“Liem Tou kembali..”
Ketika Liem Tou memalingkan wajah memandang, wajah dari Thiat Sie Sianseng pada waktu mana seperti Thiat Sie Sianseng tempo hari yang wajahnya selalu tersungging senyuman manis. Terlihat air mukanya berubah sangat keren sepasang matanya yang tajam bagaikan pisau dengan tak berkedip memandang dirinya.
Tak tertahan lagi Liem Tou merasa mengkirik, pikirnya “ agaknya diapun akan memaksa aku memberitahukan tempat penyimpanan kitab To Kong Pit Liok itu, bilamana dia mendesak sunguh2 bagaimana harus kuperbuat?? Hai..lebih baik kuberitahukan saja padanya, bagaimanapun juga dua merupakan jago yang berbudi luhur dan berhati baik”
Berpikir sampai disini hatinya menjadi terasa tentram, dengan langkag mantap dia berjalan sampai dihadapan Thiat Sie Sianseng, dengan hornat ujarnya “ Cianpwee ada pesan apa. Siaweu Liem Tou pasti akan melaksanakannya” siapa tahu dengan gusar bentak Thiat Sie Sianseng.
“Liem Tou kau dengan tidak sengaja mendapatkan kitab silat kenapa masih tidak melarikan diri jauh2 untuk bersembunyi dari becana? Kau tetap berada didaerah Cong Ling ini apa sedang menanti saat kematianmu?”
Semula kitaka Liem Tou melihat wajah Thiat Sie Sianseng yang penuh dengan hawa amarah hatinya merasa amat takut, tetapi kini setelah mendengat perkataannya yang demikian memperhatikan dirinya tak terasa lagi timbul perasaan terima kasihnya yang mendalam, dia tahu saat para jago baik dari kalangan Hek to maupun dari kalangan Pek To sedang mencari jejaknya, dirinya sendiri sedang berada dalam keadaan yang sangat kritis dan bahaya bahkan kemungkinan sekali setiap saat diculik oleh orang, makin lama makin ketakutan sedang keringat dingin mengucur bertambah deras.
Tak tahan lagi dia menjatuhkan diri berlutut dihadapan Thiat Sie Sianseng, ujarnya “Boanpwee berita kita ini tentu bersumber dari pengemis laknat itu, harap cianpwee mau menolongku” Thiat Sie Sianseng hanya berdiam diri saja, dengan pandangan tajam dia memperhatikan seluruh tubuh Liem Tou.
Tiba2 didalam pikiran Liem Tou terbayang kembali tujuan dirinya sekarang yaitu mecari guru pandai untuk belajar ilmu, kemudian sekali lagi dia naik kepuncak Hi Mo Ling untuk bertemu dengan Ie Cicinya, kini kesempatan baik sudah berada didepanya kenapa juga dia memohon Thiat Sie Sianseng mengangkat dia sebagai muridnya””
Berpikir sampai disini tanpa berpikir panjang lagi segera dia menggangguk anggukkan kepalanya sembilan kali sebagai upacara pengakatan guru. Semula agaknya Thiat Sie Sianseng masih tak merasakan akan hal ini tetapi anggukan Liem Tou belum habis sembilan kali Thiat Sie sudah merasakannya, dengan cepat dia melayang kesamping dan mencekal tangan Liem Tou untuk ditarik bangun, bentaknya dengan gusar
“ Kau ingin berbuat apa?”
“Cianpwee merupakan orang aneh yang berilmu tinggi, harap mau menerima aku Liem Tou sebagai murid, selama hidup melayani kebutuhan cianpwee” Sepasang mata Thiat Sie Sianseng melotot keluar, dengan gusar bentaknya lagi.
“ Hei bocah cilik kau masih tak terima dengan kepandaian yang bakal kau terima? Hmm… sungguh kurang ajar, bilamana aku ingin gurumu sejak dulu aku sudah pergi mencari kau buat apa kau mencari aku? Hmm..lain kali jangan coba2 untuk berbuat demikian lagi”
Liem Tou dimaki secara begini menjadi sangat murung, terpaksa ujarnya lagi. “ Sekarang cianpwee mau datang memberi peringatan Liem Tou merasa berterima kasi sekali. Kini situasi dari hamba sangat berbahaya, sekeliling tempat ini penuh dengan jebakan2 yang setiap saat dapat mencabut nyawa hamba, bilamana cianpwee memangnya tak punya niat menerima harap mau kasih keterangan untuk meloloskan diri dari bahaya kepungan ini”
Ketika Thiat Sie Sianseng melihat nada suara berubah barulah mengangguk, bagaikan keadaan semula dai mengambil Siepoanya dan dipukul pulang pergi beberapa kali sedang seluruh perhatiannyapun dipusatkan kesana. Liem Tou dengan tenang menati hasilnya disamping, terlihatlah jari2 tangan Thiat Sie Sianseng dengan cepat dan lembut menari diantara biji2 siepoanya, sedang air muka sebentar murung sebentar girang akhirnya tangannya pada pojokan dan berhenti sambil tertawa terbahak2 dia memandang wajah Liem Tou, dengan tajam membuat yang dipandang itu menjadi tertegun tak menentu.
Siapa tahu tiba2 suara tertawa dari Thiat Sie sianseng berhenti agaknya dia telah teringat akan sesuatu, jari tengah serta jari telunjuk sekali lagi dimainkan dari baris ketiga Sinpoanya lama sekali dia berpikir tanpa mengucapkan sepatahkatapun.
Beberapa saat kemudian terlihat keningnya sudah penuh dibasahi oleh keringat yang mengucur bagaikan hujan sendang mulut tetap membaca dengan perlahan. “Tiga kali tiga sama dengan sembilan, tiga kali tiga sama dengan sembilan, naik sembilan binasa, mata buta satu masih dapat melihat ditengah matahari melihat bintang, sapi berputar manusia budiman berjalan tiga hari tidak makan”
Thiat sie sianseng yang membaca terus dengan perlaha itu menjadi berhenti ari mukanya berubah hebat, serunya dengan keras. “ Hai bocah cepat lari”
Liem Tou yang melihat sikapnya yang sangat tegang itu menjadi ributkan cemas dengan sendirinya dengan gugup tanyanya.
“aku harus pergi kemana?”
“Cepat naik kerbaumu lari kearah timur laut. Cepat…cepat terlambat sedikit kau tidak punya nyawa lagi”
Mendengar teriakan ini tak tertahan lagi Liem Tou menjerit keras. Dengan cepat dia meloncat naik keatas punggung kerbaunya dan melepaskan tali pengikat dengan kecepatan yang luar biasa dia melarikan kerbaunya kearah timur laut tetapi baru saja lari kurang lebih ratusan tindak terdengarlah suara bentakan orang banyak yang semakin lama makin mendekat, terdengar salah seorang berteriak.
“Hai Liem Tou kamu mau lari kemana?”
“hai bocah cilik, sekalipun kau terbang keangkasa atau masuk kedalam tanah kami juga tetap akan mengejar, kitap To Kong Pit Liok jangan harap kau bisa miliki seorang diri”
Bahkan saat itu terdengar pula suara teriakan dari Thiat Sie Sianseng yang sedang memeperingatkan dirinya. “hai bocah cilik cepat lari, terlambat satu tindak berarti binasa”
Liem Tou semakin merasa ketakutan sambil menggigit kencang bibirnya sepasang kakinya dengan sekuat-kuatnya mengapit perut kerbau sedang ujung kakinya dengan seluruh kekuatannya menedang peru kerbau tersebut, serunya dengan keras. “Gouw ko, cepat lari…oh..kakak kerbau yang baik lari cepatttttttttttttttttttt”
Kerbau itu sesudah ditendang dengan keras Liem Tou saking kesakitan sambil cawat ekor bagaikan sambaran kilat cepatnya dengan tidak perduli apa2 lagi melarikan diri 80KM/jam dengan sangat cepatnya. Didalam sekejap saja Liem Tou sudah merasa sambaran angin men deru2 disamping telinganya, sedang pemandangan kedua belah sampingnyapun sangat cepat berkelebat menghilang kebelakang.
Tidak lama mereka sampailah disebuah tanah lapang rumput luas dihadapan dari lapangan rumput itu menjulang tinggi puncak2 gunung uang tersebar disekelililingnya, sehingga bentuknya seperti melingkar dengan perlahan2 Liem Tou menoleh memandang kebelakang dilihatnya orang2 yang mengejat sudah tidak Nampak sama sekali hatinya menjadi sedikit lega, sedangkan kerbau itupun sudah melihat rumput yang segar tidak mau lari lagi dengan menunduk kepalanya mulai mendahar dengan enaknya.
Liem Tou yang dibawa lari kerbau itu selama beberapa saat lamanya dengan lari yang demikian kencangnya semula masih tidak mengapa tetapi sesudah berhenti mulailah terasa seluruh tulangnya pada linu dan kaku, tak tertahan lagi dia menjatuhkan diri rebah diatas tanah rumput itu.
Baru saja duduk tidak lama tiba2 dari sekitar tanah lapang itu berkumandang datang suara bentakan yang sangat ramai kemudian disusul pula dengan suara tertawa yang terbahak2 memekikkan telinga, terdengar suara teriakan seseorang.
“Liem Tou, Liem Tou…dimana mana ada jalan kau tidak mau lewat sebaliknya sengaja memasuki lembah cupu2 ini, kali ini aku mau lihat kay bisa lari kemana lagi?” mendengar perkataan ini saking terkejutnya Liem Tou menjadi meloncat bangun kembali dan memandang kearah berasalnya suara itu tidak terasa lagi dia menjadi berdesir.
Kiranya kitab silat To Kong Pit Liok ini merupakan kitab rahasia yang turun temurun dari Sucouw keluarga Thio, sucouw sendiri sebenarnya bernama Ling Hu Han berasal dari kerajaan Bu Kong Hong, menurut berita turun termurun katanya dia merupakan turunan dari Thio Liang yang termasur itu, oleh orang2 selanjutnya yang mengikuti ajaran tersebut disebutnya sebagai Thio Too Leng.
Thio Too Leng sejak kecil sudah pandai mengusai seluruh kepandaian yang ada pada masa itu, ketika pada masa mendekati tua dia secara tidak sengaja telah bertemu dengan orang aneh yang memberikannya kepandaian silat kepadanya dan menetap diatas gunung Ho Uh Sar.
Sampai jaman kerajaan Song dimana perkumpulan Ceng Ie Kauw ini sedang jaya2nya didalam dunia kang ow, perkumpulan Ceng Ie Kauw ini merupakan yang didirikan pengikut2 Thio Too Leng dan mendapat hak untuk melindungi kitab rahasia, To Kong Pit Liok, padahal yang sebenarnya perkumpulan Ceng Ie Kauw itu sama sekali tidak memiliki kitab silat To Kong Pit Liok itu, meraka hanya sengaja membual untuk meluaskan pengaruhnya didalam dunia kang ouw. Akhirnya perkumpulan itu berakhir dengan dimusnahkan oleh orang2 dari golongan lurus.
Tidak disangka saat ini kitab silat, To Kong Pit Liok sekali lagi munculkan diri bahkan jatuh ketangan Hel Loo Toa dari Siok To Siang Mo yang mengakibatkan seluruh dunia kangouw menjadi gempar para jago bail dair kalangan pek to maupun dari kalangan hek to pada keluar dari sarangnya, hanya sayang kedatangan mereka telah terlambat satu tindak, tempat penyimpanan kitab silat To Kong Pit Liok sudah didapat oleh Liem Tou ketika mereka mendengar berita ini mana mau berdiam diri masing2 berusaha untuk mendapakan jejak selanjutnya dari Liem Tou, tetapi baru saja ditempat itu mereka hendak turun tangan diketahui oleh Thiat Sie Sianseng terlebih dahulu dan memperingatkan Liem Tou untuk melarikan diri.
Kini mereka semua sesudah mengejar setengah harian lamanya dan melihat Liem Tou dengan sendirinya memasuki lembah cupu-cupu yang buntu sudah tentu mereka sangat girang sekali.
Liem Tou dapat melihat orang2 yang datang hari itu sangat banyak sekali selain yang dia kenal yaitu Tiong goan Ngo Koay, Ciangbujin Butong Pay Leng Cen Cu, Hek Looji serta pengemis cilik lainnya masih sangat banyak sekali yang belum dia kenal maupun ditemuinya.
Pada saat ini setiap orang dengan wajah yang iri dan pingin ber sma2 berjalan mendekati dirinya, sedang Liem Tou yang melihat orang2 yang datang semakin lama semakin banyak saking takutnya membuat air mukanya berubah menjadi pucat pasi sedang tubuhnya berdiri mematung disana entah harus berbuat bagaimana baiknya, dalam hati diam2 merasa sedih pikirnya.
“Aku harus berbuat bagaimana? Aku harus berbuat bagaimana?”
Rombongan orang2 sesudah berjalan kurang lebih dua kaki dari dirinya barulah berhenti. Diantara orang2 itu yang belum melihat wajah Liem Tou tentunya mengira dia merupakan jagi yang memiliki kepandaian tinggi, siapa tahu begitu melihat bentuk serta sikapnya yang ke tolol2an sedang dandanannya pun merupakan seorang anak dusun pengembala kerbau tak terasa lagi dalam hatinya merasa sedikit ragu2, dengan sinar mata yang kurang percaya mereka memandang wajah Liem Tou tak berkedip.
Perasaan diluar dugaan ini terasa dalam hati Ciangbujin Botongpay Leng Ceng Cu ini sebenarnya dia sebanrnya sudah meninggalkal Liem Tou untuk pergi tapi ketika mendengar suara bentakan serta teriakan yang ramai itu segera membalikkan tubuh mengejar datang kembali. Kini ketika melihat Liem Tou ternyata adalah bocah pengembala kerbau yang ditanyainya tadi tak terasa menjadi tertegun, Tanya dengan cepat.
“Ooh…kaukah yang dimanakan Liem Tou”
Dua orang toosu yang berdiri disamping Leng Ceng Cu segera bertanya dengan nada yang heran. “ Leng Ceng Cu toosu apa mungkin pada sebelumnya sudah kenal dengan orang ini? Tahukah kau berasal dari partai mana?”
“Hei…heng San Jie Ya, jika dibicarakan sungguh menggelikan sekali, ketika tadi aku mencari berita mengenai jejak dari Liem Tou siapa tahu ternyata telah bertanya pada orangnya sendiri masih tidak merasa, bukankah hal ini sangat mengelikan sekali?”
Saat ini diatara orang2 itu mendadak mucul dua orang lelaki dan perempuan yang kepalanya seperti burung elang serta kepala kera, dandannanya sangat aneh sedang wajahnya jelek sekali, mereka sambil menunding kea rah Liem Tou bentaknya.
“Kamu bocah cilik busuk dari mana, apa kitab silat To Kong Pit Liok berhak kau dapatkan? Cepat serahkan padaku”
Liem Tou tidak mengucapkan sepatah katapun diam2 dia berpikir tentunya kedua orang ini adalah Lo San Kioe Long serta Wan Kauw, baru saja berpikir demikian terdengar pembesar buta angkat bicara.
“Siapa yang sedang bicara itu? Menurut kata2mu kita silat To Kong Pit Liok itu harus kau yang dapatkan?”
Kioe Long segera menoleh memandang, terlihat pembesar buta dari Tionggoan Ngo Koay berdiri sejajar dengan Hwesio manyat hiduo, ketika sinar matanya beralih menyapu kearah orang2 lain terlihat sinar maata orang dengan penuh perasaan gusar sedang memandang dirinya, tidak terasa hatinya menjadi berdesir dia tahu dirinya sekalipun mempunyai kepandaian yang lebih tinggipun juga suka untuk memusuhi jago2 dunia kangouw yang puluhan banyaknya ini, berpikir sampai disini bagaikan kepalanya secara mendadak diguyur dengan air dingin, niatnya pun mejadi dingin separuh. Bersamaan waktunya pula menjadi sadar akan situasi dirinya segera menarik lengan Wan Kauw mundur kebelakang dan ujarnya terhadap pembesar buta itu dengan sangat dingin.
"Kitab silat To Kong Pit Liok sekarang sudah jadi banda tanpa pamilik, kita harus mengunakan kepandaian dan kecerdikan kita sendiri untuk meadapatkannya."
Sehabis berbicara dia menari Wan Kauw kesamping dan secara diam2 merundingkan siasat untuk mendapatkan kitab silat tersebut. Liem Tou sendiri sesudah mendengar perkataannya dalam hatinya merasa semakin terkejut, pikirnya “ hei…hanya cukuo salah seorang dari mereka saja aku tidak sanggup untuk melawannya, apalagi sekarang berjumlah puluhan orang banyaknya. Bilamana sunguh2 mereka menggunakan kepandaian maju merubut bukankah badanku segera akan menjadi hancur lulu oleh keroyokan mereka ini?”
Baru saja Liem Tou berpikir sampai disini terlihat orang2 itu dengan perlahan-lahan mulai menyebar secara tidak langsung pula mengepung Liem Tou ditengah kalangan membuat Liem Tou sekalipun punya maksud untuk melarikan diri juga tidak berani untuk melakukannya.
Liem Tou yang melihat situasi sekelilinya telah berubah menjadi begini segera dia tahu kalau harapannya untuk melarikan diri tidak mungkin bisa tercapai lagi, satu2nya harapan baginya adalah mengharapkan petunjuk dari Thiat Sie Sianseng untuk sementara melindungi dirinya, oleh karena itulah sinar matanya dengan per lahan2 beralih ke arah Thiat Sie Sian Seng yang berdiri disebelah kirinya, pikirnya lagi.
“Thian Sie Sianseng merupakan satu rombongan dengan si sincay bunting serta pengemis pemabok, tetapi sekarang kenapa mereka tidak jadi satu?” Ketika dia memandang lagi terlihatlah si sincay bunting berada disebelah kanannya sedangkan pengemis pemabok berada dibelakangnya, mereka bertiga telah berdiri dengan bentuk segitiga.
Liem Tou melihat hal ini hatinya menjadi sadar, bersamaan pula ketika matanya melirik terlihatlah sipengemis cili itu berdiri sejajar dengan seorang pemuda tanpan yang memakai pakaian singset, saat ini perasaan bencinya terhadap pengemis cilik sudah meresap ketulang sumsuny, pikirnya dalam hati. “ Bencana ini semuanya tentu disebabkan oleh pengemis busuk yang banyak mulut”
Mendadak pada otaknya berkelebat sesuatu akan, teringat kembali ketika masih berada didalam penjara Hek Lo Toa pernah membuat gusar pengemis cilik itu dan menyuruhnya dia menghadapi Kiow Long Wan terlebih dahulu sebelum menginginkan kitab silat itu. Kini tak terasa lagi berkelebat memenuhi pikirannya, mendadak sambil menunding kearah pengemis cilik itu teriaknya.
“Kitab silat To Kong Pit Liok hanya sebuah, mana mungkin bisa dibagi rata pada saudara sekalian yang demikian banyak jumlahnya, kini aku Liem Tou sudah ambil keputusan untuk menyerahkan kitab silat itu kepada kalian. Asalkan siapa saja yang sanggup menangkap pengemis cilik itu dan serahkan kepadaku untuk diberi hukuman, maka kitab silat itu akan segera kuserahkan kepadanya.”
Begitu perkataan ini diucapkan segera memancing perundingan diantara orang2 di sekeliling tempat itu, ketika Liem Tou memandang kearah sipengemis cilik terlihat dengan mata melotot gusar dia sedang memandang kearahnya, sedang air mukanya kelihatan sangat jelek sekali menahan perasaan marah dan gusar dalam hati, tapi diikuti pula menengok kekanan kiri agaknya takut ada orang yang turun tangan terhadap dia sehingga sikapnyapun semakin bertambah tegang. Saat itulah dari belakang tubuh Liem Tou terdengar seorang berteriak dengan keras.
“Perkataanmu itu sunggu sungguh??”
“Perkataan seorang laki-laki sejati sebesar gunung thaysan, sekali diucapkan tidak ditarik kembali”
Bersamaan pula Liem Tou menoleh kearah dimana berasal suara itu, terlihatlah tidak jauh dari sipengemis pemabok berdiri lima orang berwajah menyeramkan dengan memakai pakaian serta celana dari kain blaco, orang yang baru saja angkat bicara adalah salah satu dari lima orang tersebut.
Orang itu melihat Liem Tou menoleh kearahnya segera memperlihatkan sebaris giginya yang putih runcing serta menyeramkan, itu membuat tubuh Liem Tou segera merasakan bergindik sedang perasaan berdesir muncul dari dasar lubuk hatinya.
Bersamaan waktunya pula salah seorang diantara mereka tanya kepada empat orang yang lainnya kemudian ber sama2 mendekati sipengemis cilik itu. Mendadak seorang pemuda tanpan yang selama ini berdiri disisi pengemis cilik itu memperdengarkan suara yang sangat menyeramkan kepada kelima orang lelaki jelek berbaju blaco itu, bentaknya dengan amat gusar.
“Cian Pia Ngo Koei agaknya kalian sudah makan nyali macan..hmm…hmm…siapa saja yang berani mengganggu seujung rambutnya jangan salahkan aku Tok Ci Kiam Tan (sijari beracun jarum emas) Song Beng Lan berlaku terlalu ganas”
Cian Pian Ngo Koei (silima setan dari daerah Cian Pian) sama sekali tidak memperdulikan omongannya, langkahnya masih tetap melajutkan menuju pengemis cilik itu, sahutnya. “Sijari beracun jarum emas Song Beng Lan tidak lebih hanya seorang Jay Hoa Cat (penjahat pemetik bunga) yang gemar dupa pemabok, kita orang mau lihat kau mau berbuat apa?”
Air muka pemuda itu segera berubah menjadi ke hijau2an menahan perasaan gusar yang memuncak, bentaknua dengan keras.
“Kowncu harap berhati hati, Siauw Jin akan turun tangan”
Sehabis berkata terlihat tubuhnya berkelebat dengan cepatnya menyambut datangnya tubuh Cian Pian Ngo Koei, bersamaan pula jarinya di keraskan, kemudian dengan kekuatan dahsyat jarinya menyerang dada dari salah satu dari lima orang tersebut. Orang yang diserang itu bukan lain adalah yang disebut sebagai Bo Beng Koei atau setan tanpa nama Loo Toa, terlihat dengan ter gesa2 dia mundur satu langkah kebelakang kemudian bentaknya.
“Song Beng Lan, kamu sendiri yang datang cari mati, jangan salahkan aku turun tangan kejam. Saudara2 sekalian bereskan dia dulu baru bicara lagi” sambil berkata tubuh dari Bo Beng Koei itu miring kesamping, tangan kirinya mendadak dibalik menotok jalan darah pada pundak Song Beng Lan sedang tangan kanannya bagaikan sambaran angina dahsyat menghantam iganya.
Song Beng Lan berani dengan seorang diri menyambut datangnya serangan lima setan sudah tentu bukanlah orang yang lemah, tubuhnya maju kedepan kemudian sedikit berputar dengan tangan dia menangkis datangnya pukulan dari Bo Beng Koei, jari kanannya tetap dengan jurus semula menotok kedadanya.
Tapi Bo Beng Koei sama sekali tidak menghindar maupun berkelit dari serangan ini bahkan melancarkan serangan balasanpun tidak, hanya dengan wajah yang dingin kaku memandang kearah Song Beng Lan.
Song Bengk Lan menjadi tertegun dibuatnya, saat itulah mendadak dari balik punggungnya terasa tiga gulungan angina pukulan yang sangat dahsyat menyerang datang, tidak terasa teriaknya.
“Celaka”
Ujung kakinya dengan seluruh kekuatan menutul tanah sehingga tubuhnya mumbul keatas setinggi tujuh delapan depa tingginya dan dengan berhasil menghindarkan diri dari serangan gabungan dari Ngo Koei itu, tangannya dengan cepat meraut segenggam jarum emas siap disabit kedepan, saat itulah mendadak dari sebelah utara terdengan seseorang berteriak dengan keras.
“Pengemis cilik mau kabur, cepat cegah dia, tangkap dia”
Didalam keadaan yang sangat terkejut Song Beng Lan jarun emasnya tidak jadi disebarkan kedepan, tubuhnya dengan cepat melayang sejauh puluhan kaki kemudian melayang turun kebawah, ketika memandang kesana terlihatlah si pengemis cilik itu sudah terdesak oleh serangan lima orang sekaligus, dengan cemas dia meninggalkan Ngo Koei untuk lari menolong si pengemis cilik meloloskan diri dari acaman bahaya.
Didalam sekejap mata seluruh perhatian orang2 yang hadir disana tertuju pada pengemis cilik serta Song Beng Lan didalam menghadapi serangan para jago, terlihatlah tubuh si pengemis cilik itu bagaikan melentiknya ikan dengan sangat lincahnya berkelebat dan meloncat diantara sambaran bayangan serta diselingi sambaran angina pukulan yang dahsyat membuat beberapa saat lamanya para jago nomor wahid dari Bulim ini sulit untuk berbuat sesuatu terhadap dirinya.
Liem Tou yang melihat hal ini diam2 dalam hatinya merasa girang, karena siasat licin yang diatur ternyata termakan juga hingga sebagian besar orang2 yang mengepung dirinya berhasil terpancing pergi, kini tinggal dia memancing pergi si hweesio manyat hidup serta sipembesar buta dari Tionggoan Ngo Kay, Ciangbujin dari Butongpay, Heng San Jie Yu, serta seorang hweesio, maka segera dia akan berhasil lolos dari kepungan melarikan diri dari situ.
Sesudah berpikir bolak balik akhirnya dia tertawa ter mehek mehek sangat keras, dengan nada menyindir ujarnya.
“hei..simata picek, kamu orang juga mau merebut kitab pusaka To Kong Pit Liok> kamu sungguh tak tahu kekuatan sendiri, sekalipun aku beri itu kitab pusaka kepadamu, kamu juga tak bisa lihat isinyam lalu apa gunanya?”
Sipembesar buta mendengar ejekan itu segera mengaum gusar, kakinya bagaikan kilat cepatnya tahu2 sudah berkelebat mendekati tubuh Liem Tou, tingkat besi ditangannya dengan cepatnya ditusuk kedepan menotok tubuh Liem Tou. Bersamaan pula teriaknya dengan gusar.
“Bocah busuk tutup bacotmu, kitab pusaka To Kong Pit Liok tidak mungkin bisa didapatkan orang lain”
Liem Tou sama sekali tidak mengira kalau gerak gerik sipembesar buta itu bisa secepat sambaran kilat, gerakannyapun sangat lincah sejak tadi saking terkejutnya dia sudah dibuat menjadi melongo, kini tongkat besinya sudah tiba didepan dadanya, untuk menghindarkan diripun tidak mungkin lagi didalam saat yang sangat kritis inilah terdengar suara gulungan angin yang sangat keras, sincay buntung tepat pada waktunya tiba disampingnya, kipas ditangannya dengan cepat menangkis serangan tongkat besi itu sambil ujarnya.
“Pembesar rakus yang buta, aku kira belum tentu”
Serangan pembesar buta yang ditinggalkan oleh kipas sincay buntung menjadi sangat gusar, dengan keras2 dia menancapkan tongkat besinya keatas tanah, sehingga terbenam beberapa depa didalam tanah, ujarnya dengan gusar bercampur keki.
“Buntung bangkotan!..ini hari tidak mati kita akan buyar”
Sambil berkata tongkat besinya sekali lagi diangkat dengan mengunakan juru Thaysan Jah Ting (gunung Thaysan ambruk) menghajar wajah dari sincay buntung itu, si sincay buntung tidak melihat datangnya serangan itu hanya tertawa ringan saja, kakinya yang tinggal sebelah sedikit menutul ketanah tubuhnya dengan sangat ringan berhasil meloncat sejauh beberapa depa terhindar dari serangan itu, lengannya yang tinggal sebelah segera menggerakkan kipasnya, dengan kekuatan yang luar biasa dia menghajar ujung tongkat besi bersamaan pula tangannya menggelincir dengan mengikuti gerakan dari tongkat besi tersebut melancarkan jurus Hoa Liam Tiam Cing (mengambar naga menutul mata) dari gerakan menjaga jadi gerakan menyerang dan menotok jalan darah Khie Ban Hiat didada sebelah kiri dari pembesar buta itu.
Sipembesar buta segera berteriak membentak keras
“Bagus sekali!””Buntung bangkotan ini hari apa kau tidak akan ada aku”
Tongka besinya tidak ditari kembali bahwa diteruskan membacok kedepan, bacokan ini bilamana mengenai sasarannya mungkin pundak serta lengan dari sincay buntung yang tinggal sebelah itu akan terpotong menjadi dua bagian pula.
Si sincay buntung yang gagah didalam keadaan yang sangat kritis ini tidaknya mundur atau menghindar sebaliknya berteriak dengan keras.
“Loo Kiem buta, bagus sekali seranganmu ini”
Kelihatannya tongkat besi itu akan mencapai pada sasarannya tapi entah dengan mengunakan ilmu apa tanpak tubuhnya sedikit mendak kebawah kakinya tidak meloncat hanya dengan sedikit berputar dia sudah berhasil berdiri dibelakang tubuh pembesar buta itu.
Pembesar buta merasa pukulannya meleset segera merasakan jalan darah Giok Liang Hiat dipunggungnya terancam bahaya kali ini mau tidak mau terpaksa dia harus maju satu langkah kedepan dengan kekuatan yang luar biasa tongkat besinya menyambar lagi kebelakang dengan menggunakan jurus Tag To Kiem Cong (memukul rubuh lonceng emas) berebut menyerbu ketubuh pihak musuh.
Liem Tou yang berhasil dibebaskan sincay buntung dari bahaya sambaran tongkat pembesar buta kini melihat dua orang iru saling serang menyerang tanpa loncat kesamping kerbaunya, disamping memperhatikan seluruh gerak gerik dari jalan pertempuran yang sangat seru itu diam2 dia memikirkan siasat untuk melarikan diri secara diam2.
Pada waktu itu pula mendadak didalam ingatannya berkelebat ilmu silat yang tercantum dan tertera diatas kitab pusaka Toa Lo Kin Keng ketika memandang lagi kearah jurus serangan maupun jurus bertahan si sincay buntung serta pembesar buta ternyata ada beberapa bagian yang rasanya pernah diketahui olehnya, tidak tertahan lagi dia semakin menaruh perhatian terhadap jalannya pertempuran itu, akhirnya dia menyadari juga tidak tidak tertahan lagi perasaan girang meliputi seluruh wajahnya sendang ingatan untuk melarikan diripun segera tersapu bersih dari dalam benaknya.
Tidak disangka pada saat dia sedang memusatkan perhatiannya itulah mendadak lehernya terasa menjadi dingin dengan cepat dia menoleh memandang kebelakang, tak tertaha teriaknya dengan keras.
“Ooh….tolong!!!” saking takutnya seluruh tubuhnya menjadi lemah tanpa tenaga. Kiranya hweesio berbentuk manyat hidup itu entah sehak kapan secara diam2 tanpa mengeluarkan suara sudah berada dibelakang tubuh Liem Tou kemudian mengulurkan cakar mencengkeram tubuhnya.
Saat itulah hweesio manyat hidup itu tertawa terkekeh kekeh dengan anehnya, suara itu membuat semua orang yang mendengar tidak terasa menjadi pada bergindik. Sesudah tertawa beberapa saat lamanya barulah ujarnya terhadap Liem Tou dengan nada yang sangat dingin.
“Liem Tou kau ingin hidup atau modar?”
Saat ini Liem Tou merasa tubuhnya bergindik sedang bulu romanya pada berdiri semua, keringat dingin yang mengucur dengan derasnya membuat keningnya serta perutnya basah kuyup dia sangat terkejut bercampur takut apalagi dari hweesio manyat hidup yang mencengkeram tengkuknya dengan sangan kencang terasa sangat dingin dan keras, saat ini sepatah katapun tidak sanggup untuk diucapkan keluar.
Tetapi sepasang matanya menjadi bisa memandang keadaan disekeliling tempat itu, hanya didalam waktu yang sangat singkat itulah seluruh jago yang ada ditempat itu tanpa terasa sudah pada berhenti dari pertempuran, dengan perasaan tertegun mereka semua pada memandang kemari sedang air muka setiap orang dengan jelas memperlihatkan perasaaan kecewa bercampur gusar yang tak terhingga.
Sekonyong konyong dalam benaknya teringan akan si Thiat Sie Poa (Thiat Sie Sianseng) dengan cepat dia menoleh kearah sebelah kiri saat itu kelihatan sekali air mukanya berubah sangat serius dan keren dengan kencang tangannya merangkul siepoanya yang sedang dipukul bolak balik, agaknya dia sedang berusaha mencari suatu jalan hidup bagi Liem Tou.
Saat itu dengan setengah berbisik ujar hweesuo manyat hidup itu dengan perlahan. “Liem Tou jika kau kepingin modar cukup dua jariku ini aku tekan maka batok kepalamu segera pidan kerumah hingga kau akan menjadi satu setan tanpa kepala. Tapi jika kau pingin hidup terus cepat beritahukan tempat penyimpanan kitab pusaka To Kong Pit Liok itu kepadaku, maka aku beri satu jalan hidup kepadamu”
Sambil berkata hweesio manyat hidup itu dengan tidak henti hentinya meniup hawa murninya kedepan membuat leher Liem Tou merasa dingin dan seperti suatu hawa dingin menyusup masuk kedalam tulang sumsum, Liem Tou hanya merasa tubuhnya sangat tidak enak dengan paksakan diri sahutnya kemudian.
“Tanganmu sangat dingin seperti es aku merasa sangat susa cepat lepaskan tanganmu, nanti aku akan beritahukan kepadamu”
Tetapi manyat hidup itu hanya tertawa terkekeh kekeh dengan anehnya.pada waktu itulah puluhan jago jago sudah mengepung kalangan itu seperti semula, hweesio manya hidup itu segera berteriak dengan nadanya yang serak dan aneh.
“he…he…he kamu semua boleh maju lagi, tapi jangan salahkan aku akan pencet bocah cilik ini sampai mati sehingga kitab pusaka To Kong Pit Liok akan ikut terkubur bersama dia”
Semua orang begitu mendengar ancamannya yang kelihatannya bersunguh sungguh itu tidak berani membangkang, terpaksa mereka berdiri dua kaki jauhnya dari tempat dimana hweesio manyat hidup itu berdiri.
Terdengar hweewi manyat hidup bertanya sekali lagi. “Liem Tou sebenarnya kau sudah ambil kepurusan belum? Kalau tidak jangan salahkan tooyamu akan pencet batok kepalamu ini”
Sambil berkata tenaganya benar2 ditambahi dengan beberapa bagian tenaga murni, Liem Tou merasakan kesakitan yg luar biasa sehingga menusuk kedalam tulang sumsumnya, sedang air yang berada dimukanyapun makin lama mulai kelihatan semakin berubah menjadi pucat pasi. Tapi dengan sekuat tenaga dia tetap mempertahankan dirinya, untung sejak lama kemudian si hweesio manyat hidup itu sudah mengendor kembali pencetannya, saat itulah Liem Tou baru bisa menghembus nafas lega.
Tiba2 pojokan matanya terbentur dengan air muak Thait sie sianseng yang penuh dihiasi oleh senyuman manis dan sedang berjalan mendekat, tak terasa hatinya berpikir. “mungkin aku ada harapan tertolong, kalau tidak kenapa dia begitu girang” siapa sangka Thiat Sie Sianseng sama sekali tak memandang kearahnya sampai melirik sekejappun tidak, hanya dengan tenangnya dia berjalan menuju kebelakang tubuh salah satu dari Heng San Jie Yu, mendadak bentaknya dengan keras.
“Heng San jie Yu. Hutang piutang diatara kita harus diperhitungkan sekarang juga” sambil berkata tangannya dengan kecepatan luar biasa melancarkan serangan menotok kearah jalan darah Thian Cu Hian di leher bagia belakang orang itu.
Agaknya orang itu sama sekali tak menduga akan adanya serangan ini, dalam keaadan yang sangat terkejut terpaksa dia merendahkan tubuhnya kebawah, tubuhnya tanpa berputar, kepalanya tanpa menoleh segera melancarkan ilmu Hwee in Su (membalik tangan mencekal mega) sedang tangan kanannya dari ketiak sebelah kiri menerobos kebelakang dengan menggunakan jurus Hwee Kuang Huan Cao (Sinat terakhir bercahaya) memukul kedepan secara bersamaan. Thiat Sie Sianseng segera tertawa besar serunya.
“Ilmu Hwee In Su yang sangat lihay”
Liem Tou yang mendengar hal itu tak terasa hatinya menjadi tergerak, segera teringat kembali kalau dalam kitab silat Toa Loo Cin Keng memang termuat ilmu telapak macam itu dengan cepat dia mengingat kembalu gerakan yang dilakukan orang itu kedalam benaknya sedang dalam hatinyapun dengan cepat menjadi paham lagi.
x
x x
x
ketika memandang kembali kearah Thiat Sie Sianseng ternyata telah melenyapkan diri entah kemana. Saat ini Thiat Sie Sianseng merupakan satu satunya orang yang paling diandalkan oleh Liem Tou, kini begitu kehilangan dia tidak terasa hatinya menjadi sangat cemas, pikirnya “habis sudah nyawaku hari ini”
bertepatan dengan waktu itu tiba2 terdengar suara Thiat Sie Sianseng sudah mucul dibelakang tubuhnya, terdengar dia dengan suara keras sedang berteriak. “hweesio manyat hidup…kamu orang tidak mau lepas tangan, aku segera akan memperlihatkan kamu akan kelihayanku, lihat senjata rahasia”
Liem Tou yang mendengar perkataan itu segera tahu Thiat Sie Sianseng sedang bantu dia untuk meloloskan diri, terpikir olehnya dengan perbuatannya yang sama sekali tidak terduga ini si hweesio manyat hidup itu tentu terpecah juga perhatiannya, pada saat dia kurang perhatian dirinya itulah segera gigit bibirnya dengan seluruh kekuatan yang ada dia paksakan tubuhnya menekan kebawah, sekalipun lehernya terasa sangat sakil tetapi akhirnya dia lolos juga dari jepitan keras hweesio manyat hidup itu.
Diikuti pula segera denga melancarkan ilmu Hwee In Su (membalik tangan mencekal mega) dari Heng Su dari Heng San pay yaitu tangan kirinya menggunakan jurus Huan Su Liauw In sedangkan tangan kanannya melancarkan Hwee Koang Huan Cao (Sinat terakhir bercahaya) yang secara bersamaan dilancarkan kedepan. Si hweesio manyat hidup segera mengaum keras, mau tidak mau harus meloncat mundur dua langkah kebelakang.
Liem Tou yang sudah merasakan kesakitan dari tangannya segera mengeraskan niatnya, mendadak dia melancarkan serangan kembali dengan menggunakan jurus serangan Ooh Koei Ciat Hun (Setan lapar menubruk sukma) dari ilmu Sam In Ghiat Ciang yang diajarkan Hek Loo Toa kepadanya, baru saja hweesio manyat hidup itu mundur kebelakang tiba2 Liem Tou menjerit kesakitan kemudian rubuh kebelakang. Rubuhnya dia tanpa sebab musabab ini membuat semua jago yang ada disitu dibuat menjadi terkejut bercampur tercengang.
Siapa tahu belum sampai tubuh Liem Tou yang rubuh keatas tanah itu mencapai permukaan tanah hingga mendadak bagaikan seekor ular beracun yang besar mengeliat keatas tanah dan memutar tubuhnya, bersamaan pula waktunya bagaikan kilat cepatnya meluncur kea rah hweesio manyat hidup itu.
Jarak dari hweesio manyat hidup itu dengannya tidak lebih hanya dua tiga kaki saja sedang diapun pada saat itu berada dalam keadaan tanpa bersiap siaga, terdengar suara gebukan yang sangat keras tanpa ampun lagi dada hweesio manyat hidup yang kekar itu terhajar oleh kepalan Liem Tou dengan kerasnya, tak terasa lagi…berturut turut dia melompat mundur tujuh delapan kaki baru bisa berdiri tegak. Waktu itulah Liem Tou baru bisa menghembuskan nafas panjang, makinya:
“melihat kamu orang manusia tidak mirip manusia, setan tidak mirip setan. Hmm…berani juga membohongi toaya-mu. Lain kali terjatuh ketanganku lagi jangan harap aku dapat lepaskan kamu orang yang dengan mudahnya”
Hweesio manyat hidup ini sejak mencukur gundul rambutnya diatas gunung Ngo Thaysan kemudian mendapatkan warisan dari ilmu silat Liauw In Hweesio bersama sama mengangkat namanya dengan sincay buntung, pembesar buta, pengemis mabok dan Thiat Sie Sian Seng sehingga namanya disebut sebagai Tionggoan Ngo Koay, didalam ilmu silat yang paling diandalkan adalah ilmu Han Tiauw Kang-nya (ilmu cakar maut), jago jago Bulim yang terbasmi dibawah cakar mautnya entah berapa banyak jumlahnya, siapa tahu ternyata ini hari dapat dihajar bocah ingusan seperti Liem Tou ini sehingga terpukul semponyongan, tak tertahan lagi hawa amarahnya memucak dari mulutnya segera memperdengarkan suara jeritan aneh seperti pekikan setan dimalam hari.
Didalam waktu yang singkat dari antara kepungan Liem Tou bertiga itu muncul ber puluh2 hweesio yang bersama sama melaruk datang, tanpa ditanya sudahlah sangat jelas kalau hweesio2 itu merupakan murid2 serta cucu2 murid hweesio manyat hidup. Hweesio2 itu begitu sampai dihadapan hweesio manyat hidup segera bersama sama memberi hormat kemudian berdiri berjajar disampingnya.
Mendadak …hweesio manyat hidup itu menunding kearah Liem Tou sambil teriaknya sengah menjerit. “cepat tangkap bocah setan itu”
Ber-puluh2 hweesio itu segera menyahut dengan serentak kemudian bersama sama berjalan mendekat kearah Liem Tou.
Liem Tou yang melihat datangnya berpuluh puluh hweesio sekaligus menjadi sangat terperanjat, baru saja dia mau cari akal untuk loloskan diri waktu itulah terdengar Thiat Sie Sian Seng tertawa nyaring kembali ujarnya.
“Hey pengemis bau, aku bilang urusan kali ini haru kuserahkan padamu bila dia sampai menderita rugi seujung rambutpun aku tak cari kamu untuk minta ganti rugi”
Liem Tou mendengar perkataan itu diam diam menjadi sangat girang, terlihat pengemis pemabok itu dengan mementangkan mulutnya yang besar seperti baskom tertawa termehek mehek sedang pentung Tah Kauw Pangnya yang besar kasar serta panjang disabetkan ketengah udara, ujarnya kalem.
“Hey pedangang licik, bocah cilik itu aneh sekali!... he..he..he kamu orang tahu ilmu apa yang digunakan dia untuk menghadiahkan satu bogem mentah kepada hweesio manyat hidup tua bangkotan itu? He he aku mau lihat dia punya ilmu apa lagi yang akan digunakan…nanti turun tangan juga belum terlambat.
“Eh ehe, tidak mungkin” sahut Thiat Sie Sian Seng dengan cepat.
“jurus serangan dari bocah cilik aku juga tidak tahu ilmu apa tapi menurut serangan waktu terdesak…he he tidak mungkin bisa digunakan lagi, cepat kau suruh kesayanganmu turun kegelanggang”
Pengemis mabok itu tertawa besar lagi, ujarnya:
“Pedagang licik kau cemas apakah? Coba kau lihat bocah cilik itu memang punya simpanan”
Kiranya saat itulah seorang hweesio mendadak melancarkan serangan kearah Liem Tou untuk mencengkeram dadanya.
Sebenarnya Liem Tou sedang menantikan bantuan dari sipengemis mabok sehingga perhatiannya tidak ditujukan pada hweesio2 itu, siapa tahu pada saat dia lengah itulah hweesio tersebut berhasil mencekeram baju dibagian dadanya bahkan jarinya yang seperti papaya dengan sangat tepat sekali menotok jalan darah Sim Kan Hiat.
Jalan darah Sim Kan Hiat ini merupakan salah satu jalan darah penting lainnya, bilamana salah satu saja dari jalan darah itu tertotok maka nyawanya segera melayang.
Didalam keadaan yang sangat terkejut dengan cepat Liem Tou menarik kembali dadanya kedalam, tangan kirinya mendadak menyambar kedepan, agaknya hweesio itu mempunyai dugaan Liem Tou akan mencekal urat nadinya baru saja berganti jurus siap menahan serangannya itu, siapa tahu gerakan tangan kiri dari Liem Tou jauh lebih cepat darinya, sejal semula sudah ditarik kembali ketempat semula.
Tidak terasa lagi hweesio itu menjadi tertegun, pikirnya: “jurus serangan apa ini? Menurut keadaan yang sebenarnya gerakannya ini dengan jelas akan memaksa cengkeramanku ini ditarik kembali tetapi kenapa sebelum aku menarik kembali jurus serangannya sebaliknya dia mendahului menarik kembali serangannya?”
Pada saat dia dibuat tertegun itul telapak tangan kana dari Liem Tou dengan tanpa mengeluarkan suara sedikitpun sudah menyerang datang dari bawah keatas bagaikan kilat cepatnya menghajar dada orang itu, jurus ini tidak lain merupakan jurus Un Hun Put San (sukma halus tidak buyar) dari Ilmu silat Hek Lootoa yang diturunkan kepadanya sesaat menjelang kematiannya.
Hweesio itu sama sekali tidak pernah menyangka didalam keadaan yang sangat menguntungkan baginya itu dia bisa kena hajar oleh kepalan pihak lawan, tidak tertahan lagi dia mundur semponyongan sejauh lima enam tindak kebelakang, dadanya terasa sakit dan mual hampir2 tidak tertahan akan muntah2 disana, tetapi akhirnya tak tertahankan lagi tubuhnya rubuh terjengkang kebelakang.
Peristiwa yang sangat diluar dugaan ini sekalipun Liem Tou sendiri juga merasa bingung sama sekali dia tidak percaya kalau disaat seperti ini dia bisa melancarkan serangan dahsyat membuat orang lain terpukul hingga terluka parah.
Pukulan itu sendiri masih tidak mengapa tetapi dengan demikian memancing hawa amarahnya dari hweesio lainnya segera mereka bersama sama berteriak marah dan mengerubut maju secara bersamaan, bagaikan air bah ditengah samudera mereka melaruk maju terus tanpa pikirkan keselamatan sendiri.
Liem Tou yang melihat sipengemis pemabok itu tetap saja tidak turun tangan menolong dia, didalam keadaan yang apa boleh buat terpaksa dia memperkeras niatnya, sedangkan kakinya dengan menggunakan ilmu Sah Cap Lak Thian Kang Hwee Sian Poh (ilmu langkah tiga puluh enam langkah badai) memutar menerjang ketengah larukan hweesio itu, sebentar dia meloncat sebentar lagi maju kemudian mundur tetapi sedikitpun tidak kelihatan terhalang, bahkan tangan kanan dan tangan kiri serta kakinya tidak mau ambil diam, membuat para hweesio yang melaruk maju itu terpukul hingga kocar kacir.
Begitu Liem Tou memperlihatkan ilmu gerakan ini, sipengemis pemabok yang berada disamping hampir hampir tidak mempercayai pandangannya sendiri, teriaknya dengan keras”
“HEI..PEDAGANG LICIK!!! Coba lihat, gerakan langkah kakinya sangat aneh sekali aduh sepertinya mirip sekali dengan permainanmu itu?”
Si Thiat Sie Sian Seng yang melihat gerakan kaki Liem Tou itu segera tahu kalau ilmu itu merupakan ilmu Thian Kong Poh yang pernah dia ajarkan padanya lewat corat coret ditanah tanpa memberi petunjuk padanya, bahkan sekarang ini dilakukan tanpa sedikitpun salah. Didalam hatinya tidak terasa menjadi terkejut bercampur heran, diam diam dia memuji tak henti hentinya.
Saat ini Liem Tou yang berkelebat dengan sangat aneh membuat perasaan girang muncul didalam hatinya tanpa memikirkan akibatnya lagi segera dia mengubar seluruh hawa amarah serta kemengkelannya keatas tubuh hweesio2 itu, tangan serta kakinya yang melancarkan serangan semakin keras lagi, sedikitpun tidak menaruh belas kasihan.
Mendadak…Pengemis Pemabok yang berada disamping berteriak lagi dengan keras.
“Hei pedangan licik, kau sudah lihat dengan jelas belum? Kedua jurus yang dilancarkan itu dengan jelas merupakan ilmu telapak Lian Hian Ciang dari kunlunpay, coba lihat ini jurus Peng Jut Tiauw Ciauw (ombak menggulung tubuh ular), coba lihat lagi jurus Hong Hut Po Haua (perempuan menangkap macan).
Perkataan ini baru selesai diucapkan dia menjerit kaget lagi
“Aduh mak…pedangang licik bagaimana sebenarnya urasan ini? Ilmu kepalan dari bocah itu berubah lagi. Neneknya, Ilmu telapak Hauw Pauw Tauw dari Siauwlim Liok Lo Heng Ciang, hey pedagang licik coba lihat lagi Ilmu telapak, Su Leng dari Butong Tiang Ciang, haaa?? Ilmu telapak Hong Hwei Thian Hui dari Gak Jie Sam Su, Ilmu kepalan Jie Cu Tong Kwei dari Kang Lam Cu Uh Cian, Haah…Haaah?? Coba lihat lagi. Tung Mo Ciang dari Tay Ie Ciang, Cau Siang Ciang, Neneknya…pedangang licik sebenarnya dia anak murid dari partai mana??”
Saat itu agaknya Thiat Sie Sian Seng juga merasa terperanjat, sahutnya dengan cepat.
“Pengemis busuk kau jangan sembarangan berteriak teriak seperti setan kelaparan, aku sendiri juga tidak tahu, bocah cilik ini memang sedikit aneh, jurus ini merupakan jurus Yeh Be Hun Lieh dari Thay Khek Ciang, coba lihat lagi jurus ini merupakan jurus Jie Lang Tan San dari Ngo Heng Ciang, kau lihat…tentu dia punya hubungan yang rapat dengan Lie Loo Jie dari partai Tun Si Pay, kalau tidak siapa lagi yang bisa menurunkan ilmu sebanyak ini kepadanya?”
“Ehmm..ehm…benar benar” sahut pengemis mabok sambil mengangguk
“aku lihat memang beberapa bagian mirip, bilamana benar asal usul bocah cilik ini tidak kecil ini tidak kecil juga”
Saat itu kawanan hweesio tersebut sudah dipukul Liem Tou hingga kocar kacir, setiap orang pada bengkak mukanya dan berubah kehijau hijauan saking kerasnya kepala yang bersarang dimukanya.
Padahal……(bersambung ke jilid 6)
Bagaimana nasib Liem Tou setelah dikepung jago jago kangouw?? Berhasilkan lolos?? Silahkan nantikan sambungan jilid selanjutnya…
PADAHAL yang benar Liem Tou banya tahu kalau ilmu langkah Sah cap Lak Thian Kang Poh hoat yang dilakukan itu tidak mungkin bisa terkalahkan, sedang mengenai turun tangan memukul para hwesio itu menurut penglihatannya sendiri bukanlah merupakan suatu jurus serangan yang sesungguhnya, kesemuanya ini tidak lain hanya merupakan suatu pukulan serabutan yang tidak menurut peraturan.
Tetapi siapa sangka dia pernah membaca dan mempeladjari bagian dari kitab silat Toa Koe Cin Keng pada halaman ilmu pukulan sehingga tanpa sadar olehnya didalam melancarkan serangannya itu secara tidak langsung sudah mengandung jurus jurus serangan, hanya saja jurus jurus serangan itu dilakukan sangat kacau sekali, sebentar lempeng sebentar berbelok, bahkan Im serta Yang nya tidak dibedakan sebaliknya hal ini didalam pandangan orang lain hanya didalam waktu sepertanak nasi saja dia bisa mengeluarkan ilmu ilmu pukulan dari berbagai partai serta perguruan yang ada didalam Bu lim sudah tentu membuat para jago yang hadir ditempat ini menjadi sangat terkejut, heran bercampur kagum.
Sebenarnya si hwesio mayat hidup itu sudah melihat situasinya sangat tidak menguntungkan bagi pihaknya, tetapi sekalipun dia meiihat perubahan jurus jurus serangan dari Liem Tou sangat banyak dan lihay ketika terpukul ditubuh anak muridnya tidak terlatu berat sekali, selain tempat tempat yang berbahaya paling banyak juga terpukul hingga sampoyongan saja atau terjungkir balik roboh ketanah, sehingga sampai saat itu dia hanya berdiam diri saja memandang setiap jurus serangan yang digunakan oleh Liem Tou itu, agaknya dia ingin mengetahui asal usul dari permainan silatnya.
Tetapi akhirnya hasil yang dia inginkan tetap tidak berkunjung datang sebaliknya itu murid2 serta cucu2 muridrya dipukul dan dihajar oleh Liem Tou hingga berkaok kaok kesakitan.
Saat ini dia benar benar tidak dapat menahan kemarahan serta pergolakan didalam hatinya, mendadak bagaikan segulung angin keras bertiup datang dengan sangat cepat dia sudah berdiri dihadapan Liem Tou, teriaknya dengan keras.
"Liem Tou, serahkan nyawamu."
Perkataannya belum sampai tubuhnya sudah menerjang kedepan, tangannya dengan kekuatan tenaga murni yang sangat dahsyat mencengkeram kedepan wajah Liem Tou, dengan cepat Liem Tou nguab tubuhnya kebelakang, kakinya merasa tergelincir dengan sangat manisnya dia berhasil menghindarkan diri dari serangan ini.
Thiat Sie sianseng yang saat ini melihat hweesio mayat hidup itu sudah dibuat kalap saking gusarnya segera berteriak dengan sangat cemas.
"Hey pengemis busuk, celaka, celaka cepat turun tangan . cepat turun tangan kali ini bocah cilik itu tentu akan merasakan kerugian yang besar dibawah serangan mayat hidup tua itu,"
Hweesio mayat hidup itu melihat cengkeramannya yang pertama menemui sasaran kosong dengan cepat cengkeramannya yang kedua, gerakannya ini dilakukan dengan sangat cepat sekali sehingga hanya kelihatan bayangan buram yang berkelebat tahu-tahu cengkeramannya ini sudah menempel dihadapan dadanya:
Dengan perasaan cemas kaki Liem Tou sekali lagi berputar, sekalipun kali ini dia berhasil juga menghindarkan diri tetapi wajah serta kulit dadanya terasa angin dingin yang sangat menyesakkan dadanya memancar keluar dari cengkeramannya yang seperti kuku garuda itu, hampir-hampir membuat dia saking terkejutnya sepasang kakinya menjadi lemas tidak bertenaga jurus serangan apapun kini tidak sanggup digunakan kembali didalam pikirannya hanya mengharapkan bantuan dari pengemis pemabok itu menolong dirinya meloloskan diri dari ancaman bahaya maut ini.
Siapa tahu justru saat itu si pengemis pemabok sedang menyahut:
"Hey pedagang licik kau cemas apa? Dengan kelihayan dari ilmu yang dimiliki bocah cilik itu untuk beberapa saat lamanya mayat bangkotan tidak mungkin bisa berbuat apa2 terhadapnya, coba kita lihat lagi."
Liem Tou yang melihat sipengemis pemabok itu beberapa kali menolak untuk menolong dirinya didalam hati benar2 merasa gemas, makinya,
"Ingat kau pengemis bau, pada satu hari tentu aku akan suruh kau orang rasakan siksaan seperti ini, aku melihat bagaimana kau melewati siksaan seperti ini”
Pada saat itu mendadak tubuh dari hweesio mayat hidup itu mumbul ketengah udara kemudian berjumpalitan beberapa kali, kepalanya kini berganti dibawah dengan kaki sebelah atas sedang sepuluh jarinya yang runcing bagaikan kuku garuda dengan kecepatan yang luar biasa menubruk kebawah, sehingga dalam waktu yang sangat singkat beberapa kaki disekeliling tubuh Liem Tou sudah berada dibawah lingkaran bayangan cengkeram mautnya.
Liem Tou yang melihat hal itu segera menjerit kaget.
"Celaka, aduh mak tolong . . . "
Seluruh tubuhnya segera dijatuhkan keatas tanah, mendadak hawa murninya disedot dalam2 sehingga terkumpul didalam perutnya, didalam sekejap mata perutnya membesar sebesar gentong, dengan mengerahkan seluruh kekuatan tenaga murni yang berhasil dilatihnya begitu menanti tubuh hweecio mayat hidup itu tepat menubruk diatas tubuhnya, mendadak...
"Phuuu .." hawa murni yang dipusatkan dipusarnya segera disemburkan keatas dengan dahsyatnya.
"Oooh...aduh, neneknya . " Dangan disertai suara jeritan yang sangat mengerikan tubuh hweesio mayat hidup itu segera terpental keatas kemudian rubuh kembali keatas permukaan tanah dengan menimbulkan suara yang sangat keras sepasang tangannya dengan kencang2 ditutupkan keatas wajahnya sedang tubuhnya dengan terlentang rubuh diatas tanah untuk beberapa waktu lamanya tidak sanggup untuk merangkak bangun.
Pada hal tubuh hweesio mayat hidup yang rubuh keatas tanah dan tidak bisa bangun kembali itu bukannya kerena dia terluka parah oleh semprotan hawa murni itu, hal yang sebenarnya adalah karena tubuhnya yang kaku seperti balok kayu itu dengan sangat tepat rubuh terlentang sehingga sedikitpun tidak punya tenaga untuk merangkak bangun.
Keadaannya yang sangat lucu itu membuat perasaan anti dari para jago dunia Kangouw yang kumpul ditempat itu tidak bisa ditahan lagi, mereka bersama-sama tertawa terbahak-bahak sambil memegang kencang perutnya, apa lagi sisiucay buntung, pengemis pemabok serta Thiat Sie sianseng dari Tionggoan Ngo Koay, mereka tertawa sangat keras sekali sehingga hampir-hampir melelehkan air matanya.
Sipembesar buta itu selamanya mempunyai sifat kasar, serta berangasan apalagi dia merupakan satu kornplotan dengan si hweesio mayat hidup itu kini lihat semua orang tertawa ia bukannya ikut tertawa sebaliknya mengerutkan alisnya, air mukanya berubah membesi dengan sangat gusar bercampur gemas berdiri disamping sedang dari hidungnya tak henti hentinya mendengus dengan sangat dingin.
Suara tertawa keras dari puluhan jago Bu lim secara berbareng ini membuat seluruh lembah cupu cupu yang terkurung diantara gunung gunung yang berdiri menjulang tinggi keangkasa itu bergema tak henti hentinya.
Tak lama kemudian suara tertawa dari para jago itu dengan perlahan mulai berhenti kembali, tapi suara tertawa keras yang bergema di lembah cupu cupu itu tetap saja berkumandang tak henti2nya bahkan semakin lama semakin meninggi.
Lama kemudian barulah suara tersebut merendah dan akhirnya lenyap. tapi pada saat suara sebut hampir lenyap itulah sekali lagi suara tertawa tersebut makin lama makin meninggi dan akhirnya tinggi melengking memekikkan telinga semua hadirin yang mendengar suara itu tak terasa pada termangu mangu dan berdiri mematung ditempatnya masing-masing.
Dengan perlahan suara tertawa itu makin meninggi bersamaan pula nadanya semakin nyaring dan akhirnya tinggi melengking memekikkan telinga, membuat Liem Tou segera dibuat menjadi bingung, ketika menoleh memandang orang orang lain tak tertahan lagi dia menjadi tertegun dibuatnya.
Kiranya saat ini setiap air muka para jago yang ada dilembah itu sudah berubah menjadi pucat pasi bagaikan mayat, wajah yang pucat dengan mengikuti suara tertawa itu perlahan lahan berubah kembali menjadi kehijau-hijauan, bahkan ada pula yang Iangkah kakinya dengan perlahan mulai bergeser mendekati lembah cupu cupu.
Suatu keistimewaan yang paling menyolok di antara peristiwa itu adalah siapapun tiada yang berani mengeluarkan suara sekecappun, masing masing berkumpul dengan kawan-kawannya atau kelompoknya sendiri kemudian mengundurkan diri dari lembah itu dengan tergesa gesa, tapi siapapun tak berani berlalu sangat cepat dibawah telapak kaki mereka seperti sedang dirembeti oleh seekor ular beracun, takut sekali mengejutkan dia sehingga terpagut.
Liem Tou yang melihat kejadian sangat aneh ini merasa sangat heran sekali, dengan tergesa gesa dia menoleh memandang kearah Tionggoan Ngo Koay, tampak merekapun sama halnya dengan yang lain air mukanya telah berubah menjadi sangat serius dan heran bahkan suatu hal yang membuat Liem Tou merasa terkejut dan heran adalah diantara Tionggoan Ngo Koay itu sebenarnya Sisiucay buntung, pambesar buta, hweesio mayat hidup serta pengemis pemabok musuh2 yang tak pernah bisa hidup rukun dan damai tapi entah karena apa begitu suara tertawa yang sangat aneh itu muncul maka mereka berlima segera bersatu padu dan berdiri berjajar menjadi satu.
Sepasang mata dari sisiucay buntung, pengemis pemabok serta hweesio rnayat hidup dengan tajamnya memandang kearah sekeliling gunung yang menjulang tinggi serta pintu rembah cupu cupu itu sebaliknya sipembesar buta dengan mengandalkan sepasang telinganya yang sangat tajam melebihi mata itupun dengan memusatkan seluruh perhatiannya mendengarkan gerak-gerik pihak musuh.
Hanya si Thiat sianseng saja yang tetap menundukkan kepalanya memukul pulang pergi biji biji sie poanya, air mukanya yang murung dan dikerutkan kencang2 itu seperti sedang menggambarkan suatu bencana besar yang bakal menimpa dan merupakan suatu kejadian yg sangat mengenaskan selama hidupnya .
Dengan sikap dari setiap jago dilembah itu membuat Liem Tou yang tak tahu urusan apa yang terjadi itu merasa tegang juga tidak tertahan keringat dingin mengucur keluar dengan derasnya.
Lewat beberapa saat kemudian suara tertawa itu mendadak berhenti sama sekali kemudian di ikuti dengan suara pekikan ngeri dari burung elang.
Dari atas kepala para jago segera munculkan dua ekor burung elang yang sangat besar sekali dengan tak henti2nya menyambar diatas kepala para jago itu.
Sayap dari kedua elang itu kelihatan begitu besarnya sehingga hanya cukup bergoyang beberapa kali saja didalam sekejap mata mengitari lembah cupu2 itu sebanyak empat kali, hal ini bisa dibayangkan betapa cepatnya gerakan dari binatang itu.
Saat ini setiap orang memusatkan seluruh perhatiannya keatas, sedang sinar matanya pun dengan tajamnya mengikuti setiap putaran serta setiap gerak gerik dari kedua ekor burung elang tersebut, orang2 yang semula mulai menggeserkan kakinya mendekati pintu lembahpun saat ini menghentikan gerakan tubuhnya dan berdiri mematung dan tak berani bergerak sedikitpun.
Jelas sekali kelihatan air muka dari Tionggoan Ngo Koay makin berubah tegang lagi bahkan keringat sebesar kacang kedelai sudah tampak mulai menetes keluar membasahi keningnya.
Pada saat yang sangat tegang itulah mendadak diantara para jago itu terdengar suara yang sangat aneh sekali. " Sreet " suara yang sangat nyaring memecahkan kesunyian ini membuat Liem Tou hampir loncat saking terkejutnya, dia menoleh kebelakang terlihatlah seorang lelaki berusia pertengahan secara mendadak mencabut keluar pedang yang tersoren dipunggungnya, suara yang sangat nyaring serta aneh itu kiranya berasal dari suara sesaat dia mencabut keluar pedangnya itu.
Siapa tahu begitu pedang panjangnya keluar dari sarung sesorot sinar matahari tepat menyoroti tubuh pedang itu sehingga memantulkan suatu sinar pedang yang sangat menyilaukan mata, suara tertawa keras yang tadi sudah berhenti sekali lagi bergema ditengah lembah cupu cupu serta sekeliling gunung yang tinggi itu bahkan secara samar samar diikuti dengan suara suitan yang keras.
"Kuak ... kuak .. " dengan beberapa kali pekikan mengerikan kedua ekor burung elang itu secara mendadak muncuI dari antara awan kemudian menukik kebawah dengan kecepatan yang luar biasa menubruk kearah orang itu.
Semua jago yang melihat hal itu tidak bisa menahan pergolakan didalam hatinya lagi tak tertahan mereka pada menjerit kaget, tetapi di antara suara jeritan yang sangat mengerikan memecahkan jeritan kaget lainnya, kedua ekor burung elang itu dengan diikuti segulung angin sambaran yang sangat kuat sudah melayang kembali keangkasa menghilang dibalik awan.
Ketika keadaan menjadi jelas kembali para jago hanya melihat orang itu sudah binasa diatas tanah dengan badan yang hancur serta darah segar yang berceceran diatas tanah, kiranya tulang tulang batok kepalanya sudah hancur sedang tubuhnyapun koyak koyak oleh kuku elang yang sangat tajam itu.
Keadaan yang sangat mengerikan dan menggoncangkan hati setiap orang ini membuat para jago tidak tertahan lagi pada bergidik sedang bulu roma pada berdiri semua.
Liem Tou yang melihat hal itu dalam hatinya sudah merasa ngeri, pikirnya.
"Siapa orang itu ?? wow . . . sungguh galak dan ganas benar".
Tanpa sadar lagi dia mulai berdiri bersandar pada punggung kerbaunya itu, sedang dalam hati diam diam doanya.
"Moga moga aku bisa menaiki punggung kerbau ini dan menerjang keluar dari lembah terkutuk ini, . . . Oooh Thian tolonglah aku”
Tetapi didalam hatinya mendadak berkelebat kembali keadaan yang mengerikan dari lelaki yang terkoyak oleh dua ekor elang raksasa itu, dalam hatinya sekali lagi timbul perasaan yang mencegah niatnya ini, ujarnya lagi.
"Tidak mungkin .tidak mungkin Liem Tou, Liem Tou, kau tidak mungkin bisa lolos dari lembah ini, sebelum kau orang mencapai depan lembah mungkin kedua binatang itu sudah menghancurkan dan mengoyak-oyak tubuhmu..... tidak mungkin . ..tidak mungkin, Oooh . siapa dia? Kenapa sampai Tionggoan Ngo Koay juga takut seperti itu ? siapa orang itu?”
Dengan kejadian yang sangat mengerikan itu membuat hawa disekeliling lernbah itu berubah menjadi semakin berat dan semakin menyesakkan napas setiap orang, hanya cukup sekejap saja ternyata mirip dengan satu hari lamanya.. . . yang paling menggemaskan kedua ekor elang raksasa itu dengan tidak henti hentinya terus menerus berputar dan berkeliling di sekitar lembah itu .
Tidak lama kemudian Liem Tou benar benar tidak sanggup untuk bersabar menanti dengan keadaan seperti itu, perasaanaya sekarang ini jauh lebih gemas dari pada tubuhnya dihajar atau dipukuli setengah mati.
Tangan kanannya dengan perlahan lahan mulai diletakkan diatas punggung kerbaunya sedang tubuhnya siap siap meloncat keatas punggung kerbau untuk kemudian dengan cepat cepat menerjang keluar dari lembah itu.
Mendadak ... pada saat yang bersamaan pula si pembesar buta mendadak bersuit nyaring dengan tingginya membuat seluruh lembah tergetar dengan kerasnya, bersamaan pula bentaknya dengan keras.
"Kamu iblis terkutuk..iblis elang yang terkutuk aku kira sejak dulu sudah modar tidak kusangka sama sekali ini baru bisa berada ditempat ini he he ... kalau sudah datang kenapa tidak muncul muncul? buat apa main sembunyi sernbunyi seperti anak kura kura?? cepat gelinding keluar biar semua orang bisa lihat batang hidungmu.”
Si pembesar buta sesudah berteriak demikian, ujarnya pula dengan nada yang perlahan dengan kawan kawannya.
“Hey buntung bangkotan, mayat hidup pengemis busuk serta Sie poa butut dengarkan dulu. . iblis anjing ini sekali lagi munculkan diri didalam bu lim terpaksa dendam kesumat diantara kita ditunda dahulu untuk bersama sama mengusir iblis busuk itu, pada masa yang lalu kita Tionggoan Ngo Koay bisa menahan serangan iblis itu kiranya ini haripun masih sanggup ..,hem. hemmm heran buat apa kita takut dia juga?”
“Ehmm. perkataan kamu sibuta sekalipun tidak salah" sahut si Thiat Sie sianseng, "tetapi masa yang silam tetap merupakan masa yang silam, masa yang silam sibuntung bukanlah buntung, sipicik bukarlah buta simayat hidup tidak kaku tetapi ini hari diantara Tionggoan Ngo Koay ada yang sudah bunturg, buta ditambah lagi sudah kaku seperti mayat hidup he- he he tidak disamakan lagi."
Sipembesar buta yang mendengar perkataan itu menjadi sangat gusar, ujarnya.
“Haaa - - - perkataan apa ini hey pedagang terkutuk? Kamu kira aku semua harus korbankan nyawa untuk dia orang?? Sekalipun pada masa yang lalu kita tidak buntung, tidak kaku tidak buta tetapi kepandaian yang kita miliki sekarang jauh lebih lihay dari pada kita semasa belum buntung, belum buta, belum kaku.”
"Tidak salah - - tidak salah” sahut Thiat-Sie sianseng tenang, tetapi sekarang aku mau tanya pada waktu yang lalu kamu masih bisa menahan serangan dari kedua binatang terkutuk itu, lalu ini hari kamu masih sanggup tidak?"
Beberapa perkataan ini membuat sipembesar buta bungkam seribu bahasa tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun, tetapi dengan cepat Thiat Sie sianseng mengubah pokok pembicaraannya, ujarnya lagi.
"Tetapi kalian tidak usah kuatir tadi aku sudah menghitung dengan teliti, asalkan kita orang bisa menghadapi dia cukup seperempat jam saja maka kita akan dapat tertolong"
Sehabis berbicara dengan perlahan dia melirik sekejap kearan Liem Tou, tanyanya mendadak.
"Hey, Liem Tou! Sebenarnya kamu punya hubungan apa dengan Siok Li Sin Ken atau sicangkul pualam Lie Sang Loo jie dari partai Tun Si Pay? cepat beritahukan kepadaku"
Liem Tou yang ditanya seperti itu menjadi tertegun dibuatnya, sambil gelengkan kepalanya, sahutnya.
“Aku tidak tahu.”
Si Thiat Sie sianseng yang mendengar jawabannya itu menjadi gemas, sambil melototkan sepasang mata ujarnya lagi.
"Kamu bohong, aku sudah hitung pasti punya hubungan dengan dia orang"
"Cianpwee.. cianpwee harus percaya omonganku" ujar Liem Tou sambil gelengkan kepalanya dengan keras.
Selamanya Liem Tou belum pernah omong kosong, aku benar2 tidak kenal dengan si Lie-Sang dari Tun Si Pay itu ."
Thiat Sie sianseng yang melihat Liem Ton menjawab begini tidak terasa gumamnya seorang diri.
"Haaaa ? kalau begini aneh sekali memang aneh sekali .”
Sekonyong konyong teriaknya dengan keras. "Binatang itu menyerang lagi…semua waspada.”
Saat itu juga dari tengah awan kelihatan sekali kedua ekor elang raksasa dengan ganasnya menukik turun kemudian menubruk kearah para jago itu. Si siucay buntung, pembesar buta. pengemis mabok hweesio mayat hidup serta Thiat Sie sianseng lima orang segera bersama sama membentak keras, sambaran kipas- tusukan toya besi, sambitan tasbeh, kebasan toya serta kemplangan Sie poa bersama sarna menutup kedepan menahan serangan dari elang pertama yang malah mementangkan cakar mautnya untuk mencari mangsa.
Saat itulah serangan maut dari elang raksasa yang kedua mendesak datang, dengan diikuti oleh segulung angin sambaran yang kuat elang tersebut menyambar tidak lebih dua kaki dari atas kepala semua orang kemudian melayang naik kembali.
Seluruh perhatian dan tenaga dari Tionggoan Ngo Koay mau tak mau terpaksa harus dipusatkan pada gerak gerik serta serangan dari elang2 raksasa itu kendor sedikit berarti maut menjelang datang karena itulah makin lama pada kening masing2 mulai di basahi oleh keringat yang mengucur keluar dengan derasnya.
Saat ini Liem Tou juga sedang memusatkan seluruh perhatiannya melihat seluruh gerak gerik dari elang raksasa itu, pada saat yang sangat tegang dan sangat kritis itulah mendadak muncul seseorang yang berseru dengan keras.
“Tionggoan Ngo Thay hiap, Jangan terlalu tidak tahu diri."
Liem Tou yang mendengar perkataan itu tidak tertahan lagi segera bergidik, dengan cepat dia mengalihkan pandangannya kearah dimana berasalnya suara itu kiranya dua kali dari Tionggoan Ngo Koay berdiri muncullah seorang lelaki berbaju hijau yang berdiri dengan angkernya air mukanya sangat tampan sedang tubuhnyapun tegap.
Tetapi dari Tionggoan Ngo Koay begitu mendengar suaranya orang itu seperti manusia yang bertemu dengan setan tidak tertahan pada menjerit kaget.
“Haaah - ?”
"Aduh . . . "
Karena perasaan terkejut itulah membuat perhatian mereka menjadi sedikit bercabang, agaknya kesempatan yang sangat baik itu tidak mau disia-siakan dengan begitu saja oleh elang raksasa tersebut, dengan mementangkaa sepasang cakarnya yang sangat tajam bagaikan pisau dengan kecepatan yang luar biasa menubruk kebawah, agaknya serangan itu akan membuat tubuh Tionggoan Ngo Koay terpukul hancur atau terkoyak koyak oleh serangan dahsyat ini membuat Liem Tou yang melihat hal ini merasa sangat terkejut sehingga tidak tertahan menjerit kaget.
Saat itulah sipendekar aneh berbaju hijau itu sudah mengebutkan ujung bajunya, sambil bentaknya.
“Kiem jie tunggu dulu.”
Serangan yang dilakukan oleh elang raksasa itu dilakukan dengan sangat cepat sekali tetapi perginyapun sangat cepat bagaikan kilat, baru saja suara bentakan dari pendekar aneh berbaju hijau itu keluar dari mulut, sayapnya sudah di pentangkan kembali kemudian meluncur ke tengah awan dengan cepatnya. hanya didalam sekecap mata dia sudah mengejar kearah elang lainnya untuk kemudian melanjutkan terbang kelilingnya mengitari lembah tersebut.
Liem Tou sesudah melihat elang raksasa itu terbang pergi burulah dalam hatinya merasa lega, teriaknya dalam hati.
"Huuh . - - sungguh berbahaya . .. sungguh berbahaya - -“
Terdengar sipendekar aneh berbaju hijau sudah membuka mulut ujarnya kepada Tionggoan Ngo Koay dengan wegah-wegahan.
"Sehabis perpisahan kita diatas Tiong Lam san hanya didalam sekejap mata beberapa tahun sudah lewat, kiranya kalian Tionggoan Ngo Koay hiap masih belum melupakan Thian Pian Siauwcu aku orang Kie bukan?"
Sipembesar buta sesudah mendengar perkataannya segera membalikkan bola matanya yang tinggal putihnya saja itu, tongkat besi ditangannya dengan keras diketukkan diatas tanah baru akan buka bicara, Thiat Sie sianseng dengan cepat sudah berebut omong sahutnya.
"Nama besar dari Thian Pian Siauw cu atau rnajikan elang sakti dari daerah Thian Pian, Ke Hong sudah terkenal didalam Bu lim, bagaimana kita bisa melupakannya. Ke Siauwcu beberapa tahun tidak ketemu kelihatan sekali makin lama kau semakin keren dan semakin serius, entah kali ini datang kemari punya petunjuk apa?"
"He He He..” sahut Thian Pian Siauw cu sambil tertawa tawar. "Kitab pusaka To Kong Pit Liok merupakan sebuah kitab pusaka yang sangat sakti, aku kira orang orang Bu lim tidak ada seorangpun yang tidak ingin untuk mendapatkan kitab itu dengan cepat, apalagi kini kedatanganku tepat wakunya buat apa kau bertanya lagi?”
Sambil berkata dia putar tubuhnya sambil menggendong sepasang tangannya dia berjalan kedepan dengan perlahan, air mukanya masih tetap tersungging suatu senyuman yang sangat dingin, sikapnya sangat sombong dan tidak memandang sebelah matapun terhadap orang lain sesudah berjalan ketengah antara para jago itu ujarnya sambil menuding satu persatu.
"Ciangbunjin dari Bu tong pay, Ciangbunjin dari Siauw lim Pay. Hang san Jie Yu. In San Siang koay, Cian Phu Ngo Koei, Siok To Siang Mo..”
Berbicara sarnpai disini mendadak tanyanya kepada Hek Loo Jie.
"Mana Hek Loo toa?”
Saat itu air rnuka dari Loo Jie sudah menjadi pucat pasi seperti rnayat, sesudah membuka mulut setengah harian lamanya barulah sahutnya dengan gemetar.
“Loo toako kemana selamanya aku Loo jie tidak tahu, bilamana Siauw cu ingin rnemanggil dia datang, biarlah sekarana juga aku pergi cari "
Sambil berkata ia balikkan tubuhnya siap meminjam kesempatan yang bagus ini untuk melarikan diri dari lembah itu, siapa tahu baru berjalan satu langkah, terdengar Thian Pian Siauw cu sambil tertawa dingin sudah mernbentak.
"Aku tidak pernah suruh kamu orang pergi cari Hek Loo toa, buat apa kamu cemas begitu? cepat kembali"
Pada saat dia mengucapkan "Cepat kembali” dua kata, tangannya yang sebelah dengan sangat mudahnya sedikit menjawil kearah Hek Loojie, ternyata sangat aneh sekali tubuh Hek Loo jie yang sebenarnya sedang lari kedepan saat ini ternyata dengan sempoyongan beberapa langkah kebelakang, akhirnya dia tidak sanggup untuk berdiri tegak lagi, tidak ampun tubuhnya terjengkang keatas tanah dengan kerasnya.
Keadaan dari Hek Loo jie saat ini sudah mengenaskan sekali, keganasan serta kekejamannya tempo hari saat ini sudah hilang lenyap seperti tertiup angin kencang, sesudah berhasil merangkak bangun dia menjatuhkan diri berlutut dihadapan tubuh Thian Piauw Siauw cu itu ujarnya sambil meringis ringis menahan sakit.
"Bila aku telah membuat kesalahan terhadap Siauw cu, harap kamu orang mau memaafkan dosa dosa ku itu.”
Thian Plan Siauw cu sama sekali tidak mau ambil perduli atas ratapannya itu setindak demi setindak dia mulai berjalan kedepan tubuhnya.
Air muka Hek Loo jie segera berubah sangat hebat, kelihatan jelas sekali gigi serta bibir-nya gemetar sehingga saling terbentur satu sama lainnya bahkan tubuhnya seperti kena penyakit demam dengan kerasnya gemetar, sambil berjalan kaki merangkak mundur kebelakang teriaknya sambil meratap ratap.
“Siauw cu jangan ° . Siauw cu jangan”
Jubah hijau dari Thian Pian Siauw cu yang longgar itu kelihatan berkibar tertiup angin tetapi langkahnya masih tetap dilanjutkan kedepan,
sedang air muka tetap dingin kaku dan sombong sedikitpun tidak kelihatan perobahan apa pun, gerak geriknya seperti tidak pernah terjadi suatu urusan.
Hek Loo jie yang mundur terus menerus ke belakang akhirnya tidak tertahan juga, teriaknya:
“Hey orang she Ke aku dengar kamu orang tidak pernah mengikat tali dendam maupun sakit hati”
Parkataannya belum selesai diucapkan mendadak tubuhnya meloncat bangun, telapak telapak tangannya dengan menggunakan jurus Tui Juang Jung Gwat atau mendorong jendela memandang bulan dengan kekuatan yang besar menghajar tubuh Thian Pian Siauw cu.
Sekali lagi si Thian Pian Siauw cu tertawa dingin, sambil rnengebutkan jubahnya yang ber warna hIjau ujarnya.
“Hek Loo jie sebetulnya aku tidak punya niat rnenyusahkan kamu orang kamu mau cari mati sendiri yaaah??”
Kebutannya memang kelihatan sangat enteng dan ringan sekali tetapi hal yang sebenarnya segulungan tenaga murni yang sangat dahsyat dengan mengikuti kebutan itu menyerang kedepan terdengar Hek Loo jie mendengus berat tubuhnya sudah terlempar sejauh satu kaki kedepan demikian menggeletak diatas tanah tidak bisa berkutik kembali.
Sejak semula hingga saat terakhir Liem Tou terus menerus melihat setiap kejadian yang mendebarkan dan mengejutkan hati itu, saat ini tidak terasa pikirnya,
“Mungkinkah Hek Loo jie terbinasa hanya degan satu kebutan pendekar aneh berbaju hijau itu? kalau begitu pesan terakhir dari Hek Loo toa yang minta aku bunuhkan itu manusia terkutuk Hek Loo jie men jadi tidak bisa terlaksana”
Baru saja pikirannya terpikir demikian terdengar Thian Pian Siauw cu sudah bicara lagi,ujarnya.
“Hek Loo jie dengan kekurang ajaranmu ini harusnya kau dihukum mati tetapi bilamana kau mau beritahu itu kitab pusaka To Kong Pit Liok sekarang berada ditangan siapa, maka aku Thian Pian Siauw cu segera akan buka satu jalan kehidupan bagi dirimu.”
LiemTou yang mendengar perkataan itu segera tahulah dia kalau Hek Loo Jie belum binasa, kiranya dia hanya terluka dalam saja, sejenak kemudian terlihatlah sambil merintih kesakitan dengan paksakan diri Hek Loo jie merangkak bangun, sedang mulutnya dengan nada yang rendah mengucapkan sasuatu hanya karena jarak yang jauh sehingga Liem Tou tidak bisa dengar dengan jelas.
Ujar Thian Pian Siauw cu lagi dengan keras.
' Hek Loo jie kamu orang tidak usah ucapkan terima kasih kepadaku, cepat katakan kitab pusaka To Kong Pit Liok sebetulnya berada ditangan siapa?”
Dengan perlahan sinar mata dari Hek Loo jie beralih keatas tubuh Liem Tou yang dipandang seperti itu tidak tertahan dalam hati merasa berdesir pikirnya.
“Aduh mak ...Tolong..Thian. .. kelihatannya kali ini aku sukar untuk loloskan diri.”
Mendadak sisiucay buntang yang berada di samping membuka mulut, ujarnya:
“Dari tempat kejauhan Ke Siauw cu datang kemari agaknya sudah punya pegangan yang tebal untuk mendapatkan kitab pusaka itu tetapi menurut penglihatanku sekalipun Siauw cu tahu kitab pusaka itu berada ditangan siapa belum tentu dengan mudah mendapatkannya.”
“Kenapa?” 'ujar Thian Pian Siauw cu dengan sangat dinginnya sedang kepalanya dengan per ahan ditolehkan kebelakang. “Apakah mungkin orang yang mendapatkan kitab pusaka itu mempunyai asal usul yang besar yang tidak bisa diganggu dengan seenaknya.?”
Dengan perlahan sisiucay buntung itu menudingkan tangan tunggalnya kearah Liem Tou, kemudian barulah sahutnya.
“Tentang itu masih belum memadahi, coba kamu lihat kitab pusaka itu berada ditangan orang ini, tetapi pernahkah kau terpikirkan bahwa orang yang kecil justru sukar dihadapi?"
Semula ketika Thian Pian Siauw cu melihat sisiucay buntung itu menuding Liem Tou dan melihat keadaan Liem Tou yang demikian, tidak terasa menjadi tertegun, kemudian setelah mendengar sisiucay buntung itu menyebutkan kalau orang yang kecil justru sukar dihadapi mendadak angkat kepalanya tertawa terbabak bahak, kemudian dengan perlahan dia menoleh kearah ciangbunjin dari Bu tong pay, ciangbunjin dari Siauw lim Pay, Heng San Jie Yu, In San-Siang Koei serta Tian Pian Ngo Koei sekalian dengan perlahan tanyanya.
"Kitab pusaka To Kong Pit Liok sudah men jadi milik aku orang she Ke, kalian siapa saja yang tidak puas”
Sambil berkata sepasang tangannya bertolak pinggang menantikan jawaban dari orang orang itu, tapi suasana masih tetap sunyi senyap para jago yang diajak bicara tetap membungkatn seribu bahasa.
Sesudab menanti sepertanak nasi lamanya, Thian Pian Siauw cu tetap tidak dengar sahutan mendadak bentaknya lagi:
"Kalian semua gentong nasi, cepat menggelinding dari sini."
Samba berkata ujung bajunya dikebutkan dan disambarkan kedepan segulung angin serangan yang sangat dahysat segera menggulung kedepan dengan kerasnya, tidak seorangpun yang tidak sempoyongan terkena sambaran angin ini. Meiihat kejadian ini para jago mana berani melawan dia lagi ? Dengan suatu gerakan yang sangat cepat mereka bersama semua pada bubaran keluar dari lembah cupu cupu itu.
Ditengah lembah kini hanya tinggal ciangbunjien dari Bu- tong Pay. Ciangbunjin dari Siauw lim pay, Heng San Jie Yu sekalian karena kedudukannya sebagai seorang cianpwee dari satu partai yang besar sudah tentu rnereka mera sa malu untuk ikut bubaran dengan lainnya tetapi meskipun demikian mereka hanya herdir ditempat kejauhan tanpa berani ikut mengangkat bicara lagi. Thian Pian Siauw cu yang malihat hal itu juga tidak ambil perduli lagi.
Menanti setelah para jago pada lari terbirit birit meninggalkan lembah itu Thian Plan Siauw cu barulah dengan perlahan membalikkan tubuhnya dan melirik sekejap kearah Liem Tou, ujarnya lagi terhadap Tionggoan Ngo Koay.
"Aku sudah mengambil kepastian untuk nahan orang ini, dari pihak Ngo Hiap masih punya petunjuk apa ?"
Si siucay buntung yang sudah kadung bicara saat ini untuk menarik kembali perkataannya sudah tentu tidak mungkin laga, terpaksa sahutnya dengan perlahan.
"Aku kira tidak begitu mudahnya, sekalipun pada pertemuan besar diatas gunung Tiong Lam san tempo hari Ke Siauwcu bisa mengalabkan para jago dengan mengandalkan sepasang telapal tangan, mengalahkan raja Auh Hay ClangCau, melukai Kiem Ko It Tiauw atau sipancing emas sakti Liem Tiong babkan dengan si- Giok Li Sin Koen Lie Loojie bertempur tiga hari dan tiga malam tanpa ada yang menang sehingga nama besarnya menggetarkan seluruh dunia kangouw dan terkenal hingga seluruh pelosok dunia, tetapi keganasan serta kekejamanmu jauh lebih manggetarkan seluruh jago-jago jago berkepandaian tinggi yang binasa ditanganmu semasa pertemuan besar diatas gunung Tiong Lam san entah barpuluh puluh orang banyaknya, bilamana kini kitab pusaka To Kong Pit Liok itu jatuh ketanganmu pula he he be . . . kiranya diseluruh dunia kangouw maupun disekitarnya akin menemui bencana yang sangat besar. Dari pada saat itu kami lima orang menemui bencana ditanganmu jauh lebih balk sekarang juga adu jiwa dengan kamu orang. Hey orang she Ke. Untuk medapat kitab To Kong Pit Liok itu tidak sukar tapi harus singkirkan kami berlima dulu."
Thian Pian Siauw cu begitu mendengar perkataan itu air mukanya masih tetap tenang tenang saja tanpa terjadi perubahan sedikitpun, hanya saja jubah hijau yang dipakai itu secara mendadak bergoyang terus menerus. Tiong-goan Ngo Koay begitu melihat hal itu secara diam-diam mengadakan persiapan juga, mereka tahu tenaga dalam yang dilatih Thian Pian Siauw cu ini sudah mencapai pada tarap kesempurnaan, apalagi tawa khikang yang tarpa berwujud sekalipun Giok Li Sin Kun, itu Lie loojie sendiri juga tidak mau berhadapan langsung karena kelihayaianya tdak usah diceritakan sudah sangat jelas sekali, Thian Pian Siauwcu sesudah selesai memusatkan hawa murninya, u jarnya kemudian dengan sangat dingin.
"Hemmn ... hem. jika dengar pembicaraanmu mungkin kalian akan memaksa aku turun tangan juga?? aku lihat Tiong goan Ngo Thay hiap untuk angkat nama bukanlah urusan yang gampang lebih baik kalian pikirkan lagi dengan masak masak".
Sipembesar buta yang mempunyai sifat paling berangasan menjadi sangat gusar sesudah dengar perkataan itu bentaknya.
“Perkataan dari buntung tua itusedikitpan tidak salah, turun tangan jauh turun tangan buat apa kamu orang banyak bicara ?"
Mendadak Thian Pian Siauw cu tertawa terbahak bahak kembali, air mukanya berubah menjadi membesi sedang mulutnya dengan cepat bersuit panjang dengan nyaringnya, ujarnya kemudian dangan keras.
"Bagus, aku akan hadapi kalian berlima seorang diri, jangan kalian kira lima orang bersatu padu bisa merajai seluruh daratan tiong goan lalu aku tidak bisa kalahkan kamu orang, ini hari dengan bekerja sama kalian berlima boleh terima tiga jurus seranganku, bila aku gagal sejak ini hari juga didalam dunia kang ouw tidak akan dengar nama Thian Pian Siauw cu lagi".
Sambil berkata seluruh tubuhnya digetarkan sehingga secara mendadak tubuhnya membesar satu kali lipat dari keadaan biasanya, Liem Tou yang melihat keadaan ini dalam hati diam-diam merasa terkejut bercampur kuatir atas keselamatannya Tiong goan Ngo Koay, tidak terasa keringat dingin mulai mengucur keluar.
Saat ini Tionggoan Ngo Koay mulai bersiap sedia, mereka semua tidak berani berlaku terlalu gegabah lagi didalam menghadapi musuh yang sangat tangguh ini. Terlihatlah sipengemis pemabok berdiri ditengah tengah sedang sisiucay buntung serta Thiat Sie sianseng berdiri disamping kirinya kemudian si hweesio mayat hidup serta si pembesar buta berdiri disamping kanannya mereka bersama sama berdempet dempetan satu sama lainnya. Bersamaan pula kelima orang itu mendadak sedikit merendahkah tubuhnya, sedang kuda kudanya diperkuat, selain sipembesar buta yang memejamkan mata lainnya empat orang bersama sama memusatkan perhatiannya dan pandangannya kedepan .
Thian Pian Siauwcu mendadak mendengus dengan dinginnya, sepasang telapak tangannya dengan perlahan lahan diangkat sejarak dengan dada, pada jarak kurang lebih beberapa kali dari kelima orang itu berdiri mendadak sepasang telapak bersama sama didorong kedepan.
Segulung angin serangan yang sangat dahsyat bagaikan menggulungnya ombak ditengah amukan topan ditengah samudra babas dengan tidak hentinya mengalir kedepan menekan dari atas kepala kelima orang itu.
Segera terdengarlah Tionggoan Ngo Koay berlima sama membentak keras, lima orang sembilan tangan bersama sama melancarkan serangan balasan.
Pada saat telapak tangan masing masing terbentur satu sama lainnya itulah mendadak tubuh Thian Pian Siauwcu berjumpalitan ditengah udara kemudian tertawa terbahak bahak dengan kerasnya.
Saat itu air muka dari Tionggoan Ngo Koay sudah berubah menjadi pucat pasi bagaikan mayat sedang dari wajahnya secara samar2 memperlihatkan perasaan kesakitannya yang luar biasa, sedang kesembilan buah tanganpun dengan tidak henti-hentinya gemetar dengan sangat hebat.
Liem Tou yang melihat keadaan mereka men jadi seperti tidak terasa dari dalam hatinya timbul perasaan simpatik, sekalipun sihwesio mayat hidup serta pembesar buta itu mempunyai niat untuk mencelakai dia dan merebut kitab pusakanya tetapi didalam keadaan yang sangat kritis dan menentukan mati hidupnya seorang ini ternyata Tionggoan Ngo Koay bisa berhasil menyatukan kekuatan tenaga murni mereka untuk bersama-sama menghadapi musuh tangguh hal lni sudah sangat jelas memperlihatkan kalau diantara Tionggoan Ngo Koay sebenarnya merupakan pasangan teman yang sangat akrab sekali hanya entah akhirnya karena apa mereka menjadi bentrok sendiri dan menganggap kawan sebagai musuh bebuyutan, kini didalam menghadapi musuh tangguh bisa juga bersatu padu menghadapi musuh, keluhuran hatinya boleh dipuji, Liem Tou yang punya pikiran demi kianpun tidak terasa lagi perasaan benci serta perasaan bermusuhan didalam hatinya menjadi hilang dengan sendirinya.
Didalam sekejap mata saja pukulan yang kedua sudah dilancarkan oleh Thian Pian Siauw cu itu, didalam hati sekalipun Liem Tou merasa sangat cemas tetapi dia sama sekali tidak punya cara untuk memberi pertolongan terpaksa dengan melongo dia memandang jalannya pertempuran.
Tampak sepasang telapak tangan dari Thian Pian Siauw cu sesudah didorong kedepan kali ini keadaannya jauh berbeda dengan keadaan pertama, pukulannya sesudah dilancarkan sedikit pun tidak membawa sambaran angin maupun kebulan debu tertiup angin keadaannya sangat tenang dan sunyi hanya saja keadaan dari Tionggoan Ngo Koay jauh lebih menegangkan lagi, seperti juga semula mereka berlima bersama-sama dengan sembilan buah telapak bersama2 menyambut datangnya serangan musuh ini.
Liem Tou yang sedang merasa heran mendadak melihat seluruh bulu roma dari Tionggoan Ngo Koay pada berdiri semua sepasang matanya melotot keluar, sedang keringat sebesar biji kedelai dengan derasnya mengucur keluar dari keningnya, apalagi kesembilan buah tangan yang sedang diulur kedepan itu ternyata tidak sanggup untuk ditarik kembali. telapaknya menghadap keluar sedang jari jarinya membuka dengan kakunya
Didalam sekejap saja membuat Liem Tau yang melihat pertempuran itu menjadi sangat terperanjat sedang hatinya camas seperti ditusuki beribu ribu jarum kecil, dia tahu kedua belah pihak sedang menggunakaa seluruh tenaga yang dimilikinya untuk mengadu jiwa, bahkan masing masing pihak sediktpun tidak mau mengalah terhadap pihak lainnya.
Ketika memandang lagi kearah Thian PianSiauw cu kelinatan dengan jelas pada bibirnya tersungging suatu senyuman yang sangat dingin, sepasang telapaknya dengan sejajar didada dengan tenangnya mengnadap kedepan kelihatannya dia sama sekali tidak terialu ngotot.
Dalam hati Liem Tou semakin merasa sedih lagi, dia tahu saat ini Thian Pian Siauwcu sama sekali tidak menggunakan tenaga penuh tetapi Tionggoan Ngo Koay sudah kelihatan demikian ngotot dan beratnya, bilamana dia sampai menggerakkan seluruh tenaga murninya lalu bagaimana keadaan dari Tionggoan Ngo Koay saat itu? dan mana mungkin mereka sanggup menahan serangan itu??"
Berpikir sampai disini tak tertahan lagi semangat kependekarannya rnuncul dari dasar lubuk hatinya dengan tidak perduli kelihayan pihak musuh rnendadak bentaknya.
"Hey orang she Ke lihat serangan."
Thian Pian Siauwcu begitu mendengar bentakan ini tidak terasa tubuhnya sedikit tergetar, pada saat itulah Tionggoan Ngo Koay bersama sama membentak nyaring dengan paksakan di ri mereka berhasil rnendesak kembali serangan Khie kang tanpa berwujud yang dilancarkan oleh Siauw cu itu.
"Gelegar . “ Thian Pian Siauw cu tidak sempat untuk menarik kembali serangannya,suatu tenaga Khie kang yang sangat dahsyat tanpa bisa dicegah lagi menghantan tanah disisi tubuh Tionggoan Ngo Koay, terlihatlab abu dari pasir pada berterbangan, permukaan tanah yang ditumbuhi dengan suburnya oleh rerumput, didalam sekejap saja berubah menjadi liang yang dalam oleh pukulan dahsyat tenaga Khie kang itu.
Thian Plan Siauw cu melihat serangannya yang hampir mengenai sasaran ternyata telah dikacau oleh bentakan Liem Tou bahkan dengan demikian Tionggoan Ngo Koay berhasil meloloskan diri dari kurungan hawa pukulannya, tidak terasa menjadi sangat gusar sekali, dengan wajah yang merah padam dia menoleh kearah Liem Tou, makinya.
"Bangsat cilik, saat kamatianmu tidak jauh lagi"
Tetapi dia tidak melancarkan serangannya ke arab Liem Tou, hanya kepada Tionggoan Ngo Koay ujarnya dengan keras.
"Terima kembali satu jurus yang terakhir°.
Dengan menggunakan hawa Khie kangnya yang tak terwujut sekali lagi Thian Pian Siauwcu melancarkan serangan dahsyatnya, didalam sekejap saja dua gulung tenaga pukuien yang sangat kuat manempel satu sama lainya.
Dengan memandang dari perubahan wajah masing masing Liem Tou segera tahu bahwa walaupun Tiongoan Ngo Koay masih sanggup untuk menahan serangan dari Thian Pian Siauw cu itu tetapi lama kelamaan tidak akan sanggup bertahan dan akhirnya akan terluka dibawah serangan dahsyat dari Thian Pian Siauw cu.
Untuk menolong nyawa dari kelima orang ttu mendadak dalam pikirnya berkelebat suatu ingatan, dengan cepat dia meloncat naik ke atas punggung kerbaunya, sambil serunya dengan keras.
Orang she Ke, kitab pusaka To Kong Pit Liok kamu orang, jangan harap bisa mendapatkan kembali."
Sambil berkata sepasang kakinya menjepit kencang kencang perut kerbau itu sedang tangannya dengan cepat memukul pantatnya, bentaknya.
“Gouw Koko cepat..!”
Kerbau itu seperti tahu apa yang sedang di rerintahkan kepadanya, kakinya dengan cepat hergcrak kemudian dengan cepat lari keluar da ri le mbah cupu cupu itu.
Dengan perbuatannya ini segera mendatangkan hasil, Thian Plan Siauw cu rnemangnya datang dikarenakan kitab To Kong Pit Liok itu. kini Liem Tou pergi sudah tentu dia tidak punya minat untuk rnelukai nyawa dari Tionggoan Ngo Koay Iagi, sambil menarik kembali telapak tangannya dia tertawa panjang, bentaknya.
"Bangsat cilik kamu orang tidak akan bisa lolos"
Jubah hijaunya dikebutkannya dengan cepat dia mengejar dari belakang.
Gerakan tubuhnya itu sangat ringan bagaikan bertiupnya segulung angin, hanya didalam seke jap mata saja tubuhnya sudah berada beberapa kaki dari tempat semula, saat itulah Tionggoan Ngo Koey baru merasa tidak beres,teriaknya berbareng.
"Celaka!"
Bersamaan pula sembilan buah kaki dengan cepat dipentangkan dan lari dengan cepatnya mengejar dari belakang.
Liem Tou yang merasa tubuh Thian Pian Siauw cu mulai mengejar dan mendekati belakang tubuh kerbaunya tidak dapat lari dengan cepat, dia merasa gemas kepada kerbaunya tidak punya sayap sehingga bisa terbang dari situ.
Setelah berlari beberapa waktu lamanya akhirnya Liem Tou berhasil juga keluar dari lembah itu, mendadak terdengar Thian Pian Siauw cu dengan suara, yang tinggi rnelengking sedang bersuit panjang, kemudian teriaknya.
"Hay bangsat cilik. Cepat berhenti dan serahkan itu kitab pusaka To Kong Pit Liok kepadaku, kalau tidak . . . Hemmm hemmm .. . coba bayangkan saja seekor kerbau bodoh mana mungkin bisa memadahi kecepatan dart Kiem Giok jieku itu?? Saat itu aku akan perintah mereka untuk mengoyak oyak tubuhmu sehingga hancur .. -hemm hemm saat itu walaupun kamu orang menyesal juga tidak berguna.”
Liem Tou yang mendengar suara dari Thian Pian Siauw cu itu sangat dekat dengan dirinya segera menoleh kebelakang terlihatlah dua kaki dibelakang tubuhnya sesosok bayangan hijau dengan cepatnya lari mendatang tidak terasa hatinya menjadi sangat cemas, bentaknya.
-Ooh . . kakak sapi yang baik cepat sedikit larinya."
Pada saat hatinya sedang cemas dan bingung itulah mendadak terdengar suara pekikan ngeri dari dua ekor burung elang yang sedang terbang, ketika diangkat kepalanya memandang, terlihatlah kedua ekor elang itu entah sejak kapan sudah terbang mengelilingi disekitar kepalanya.
Waktu itu Liem Tou sudah berhasil lari hingga diluar lembah, sebelah kirinya merupakan jalan kecil sewaktu dia datang kemari, sedang sebelah kanannya merupakan jalan dekat dengan bukit, pepohonan tumbuh dengan rapatnya sehingga kelihatan sangat rimbun, Liam Tou dengan cepat menarik tali kerbaunya dan menariknya kesebelah kanan.
Sesaat kerbaunya berhenti sebentar itulah suara tertawa dingin dibelakang tubuhnya semakin dekat. dengan cepat Liem Tou menoleh kebelakang begitu kepalanya menoleh tidak tertahan lagi dia menjerit keget.
“Aduh mak .. . tolong . . tolong .. .”
Kiranya saat ini tubuh Thian Pian Siauw cu tidak labih hanya tinggal dua tiga langkah darinya sedang tangannya disambarkan kedepan berusaha rnencengkeram ekor dari kerbau tersebut, keadaan yang demikian bahaya dan mengerikan ini mana tidak membuat Liem Tou menjerit kaget saking ketakutan dan terkejut??
Dengan sekuat tenaga Liem Tou paksa kerbaunya lari lebih cepat lagi, sepasang kakinya yang rnengapit perut kerbau semakin diperkencang sehingga kerbau itu merasa kesakitan, mendadak kecepatan larinya semakin bertambah hingga samping telinganya hanya terasa angin menyambar dengan kerasnya.
Ketika sekali lagi menoleh kebelakang tubuh Thian Pian Siauw cu yang tadinya tinggal dua tiga langkah sekali lagi ditinggal sejauh dua kaki dibelakang .
Tetapi baru menoleh kepalanya mendadak sesosok bayangan abu abu dengan kecepatan bagaikan menyarnbar sebuah anak panah dengan cepatnya, saat itu gerakan dari bayangan tersebut begitu cepatnya sehingga bagi Liem Tou sarna sekali tidak sanggup membedakan apakah bayangan itu manusia apa seekor binatang.
Liem Tou yang melihat bayangan abu-abu itu dengan kecepatan yang Iuar biasa terus menerjang kearahnya segera menjadi bingung, apa tujuannya? Sesaat dia men jadi tertegun itulah bayangan abu abu itu sudah menubruk kearah kepala kerbaunya yang tidak tertahan lagi dia menjerit kaget sedang dalam hati pikirnya.
Tidak perduli karnu manusia atau binatang sesudah menubruk kepala kerbau ini tentu akan runyam.
Siapa tahu gerak gerik dari bayangan abu-abu itu sangat Iincah sekali ketika kelihatan hampir saja tubuhnya menubruk kepala kerbau itu pada saat yang sangat kritis itulah mendadak tubuh dari bayangan itu sedikit mengerut dengan tepat sekali berhasil menerobos melalui bawah perut kerbau tersebut.
Setelah itu dibelakang tubuhnya terdengar suara benturan yang sangat keras sekali diikuti dengan suara bentakan gusar dari Thian Pian Siauw cu. Ketika Liem Tou menoleh kebelakang tampaklah dua sosok bayangan berwarna hijau dan abu-abu sudah bergumul menjadi satu walau pun Liem Tou sudah pentangkan seluruh kekuatan matanya tetap tidak berhasil melihat dengan jelas wajah bayangan itu.
Terlihat kedua orang itu makin bertempur semakin cepat dan akhirnya sampai bayangan manusia pun sukar untuk dibedakan.
Saat itulah dari tengah awan terkumandang datang suara pekikan ngeri yang sernakin lama semakin mendekat, mendengar suara itu Liem Tou mana berani melihat jalannya pertempuran lebih lanjut dengan cepat kakinya mengapit kencang perut kerbaunya sekali lagi lari dengan cepatnya kedepan seperti diuber setan.
Beberapa menit kemudian mendadak terasa olehnya pandangan matanya telah menjadi gelap sedang angin dingin yang menyambar diatas kepalanya pun semakin santar tidak perlu ditanya sudah sangat jelas katau elang raksasa itu sudah berada diatas kepalanya.
Waktu itu Liem Tou tidak punya keberanian untuk angkat kepalanya memandang lagi didalam keadaan yang sangat kritis itu dalam benaknya segera barkelebat suatu akal, tubuhnya dengan cepat ditekuk kedepan kemudian menggelintir menyusup kebawah perut kerbaunya, dengan memegang kencang kaki bagian belakang dari kerbau itu dia melanjutkan melarikan diri dengan cepatnya kemuka, sesaat dia berhasil menyusupkan tubuhnya kebawah itulah kuku elang raksasa seperti capitan besi itu sudah menyambar datang tepat diatas punggung kerbau.
Kerbau ini hidup bersama sama dengan Liem Tou tidak lebih baru beberapa hari malamnya bukannya dia punya kepandaian khusus didalam mengangon kerbau sebaliknya karena kepandaian dari Liem Tou yang sudah terbiasa berguling dan bergurau diatas punggung kerbau sehingga
membuat kepandaiannya menyusup kebawah perut kerbau sangat mahir sekali.
Saat ini secara mendadak Liem Tou memegang kencang sebelah kaki bagian belakangnya membuat kerbau itu saking terkejutnya menjadi meloncat kedepan sedang tanduknya yang diangkat keatas tepat sekali menyambut datangnya sambaran dari elang raksasa itu.
Dengan demikian asalkan cakaran dari elang raksasa itu mencapai pada punggung kerbau itu sudah tentu ujung tanduk dari kerbau tersebut
akan dengan tepat menghajar perut dari elang itu.
Elang raksasa itu ketika siap menerkam punggung kerbau tersebut begItu melihat tanduk yang runcing siap menerima perutnya segera berpekik nyaring dan melayang kembali ketengah angkasa.
Liem Tou sesudah melihat elang itu terbang keangkasa sekali lagi merangkak bangun keatas punggung kerbaunya, tali lesnya ditarik dengan cepatnya mereka rnenerjang ketengah hutan yang sangat lebat.
Tetapi elang raksasa itu tidak mau melepaskan mangsanya dengan begitu saja beberapa kali memperoleh kesempatan baik segera menerjang kembali kebawah membuat Liem Tou beberapa kali hampir2 terluka oleh kuku elang yang sangat runcing dan tajam itu. Untung saja Liem Tou sudah lama bergaul dengan sapi sehingga kepandaian dan kemahirannya menunggang kerbau sudah mencapi taraf kesempurnaan, setiap kali menghadapi bahaya yang kritis berhasil menghindarkan diri sendiri.
Dengan keadaan seperti inilah Liem Tou terus menerus melarikan dirinya dari kejaran ke dua ekor elang raksasa itu sebaliknya kedua ekor elang itu pun tak mau melepaskan mangsanya dengan mudah. Saat itu sudah amat siang perut Liem Tou pun mulai keruyukan minta di isi tak terasa dalam hati pikirannya.
"Hei . binatang terkutuk itu kenapa tidak pergi ? ? perutku sudah mulai lapar sedang per jalanan harus ditempuh beberapa jauhnya ? ?? Nanti aku akan sampai dimana ?
Bilamana kedua ekor elang raksasa itu tidak enyah dari sana cepat atau lambat Thian Pian Siauwcu tentu akan mengejar sampai disitu juga, saat itu dia harus berbuat bagaimana untuk menghadapi 'Thian Pian Siauwcu ? untuk bertempur dengannya ?? tidak mungkin ? Hal itu sama saja dengan telur di adu mencari jalan kematian diri sendiri.
Berpikir sampai disini pikirannya segera bekerja untuk menghindarkan diri dari kuntitan kedua ekor elang raksasa itu, terpikir olehnya kalau tempat itu dekat sungai tentu keadaannya jauh lebih bagus, asalkan dia menceburkan diri kedalam sungai tentu kedua ekor elang raksasa itu tak akan dapat berbuat apa-apa terhadap dirinya, tetapi justru sekarang sekitarnya merupakan tanah pegunungan yang tinggi dan terjal membuat pikirannya sekali pun sudah di peras tetap tak sanggup mencari suatu jalan baik.
Sambil berpikir dia tetap melanjutkan perjalanannya melarikan diri, setibanya pada sebuah hutan yang lebat mendadak suatu bayangan berkelebat dalam hatinya, tak terasa dia menjadi sangat girang pikirnya.
“Haaa…sudah ada… kenapa aku tidak mau menyembunyikan diri untuk sementara didalam hutan rimba yang lebat ini ? Menanti sesudah elang terkutuk itu pergi bukankah aku masih punya kesempatan untuk melarikan diri lagi ?"
Dengan cepat dia menepuk pantat kerbaunya sehingga larinya makin cepat, akhirnya tercapai juga tepi hutan rimba yang lebat itu.
Terlihattah pepohonan sebesar beberapa kaki Iebarnya tumbuh dengan suburnya di sekeliling tempat itu dedaunan yang lebat menutupi masuknya sorotan sinar matahari sehingga keadaan sangat lembab tapi dengan begitu terhindar juga dari serangan elang dari atas angkasa.
Liem Tou yang melihat keadaan disana tidak terasa menghembuskan napas lega, dengan perlahan dia meloncat turun dari punggung kerbaunya kemudian beristirahat disamping sebuah pohon yang sangat besar, telinganya masih tetap mendengar dengan jelas suara pekikan ngeri kedua ekor elang raksasa yarg tetap terbang disekeliling tempat itu.
Dengan perlahan kepalanya disandarkan pada dahan pohon sedang ingatannya melayang pada peristiwa yang mengerikan, mendebar serta mengejutkan yang baru saja terjadi dilembah cupu-cupu, saat yang menegangkan itu membuat tubuhnya terasa sangat letih, kini dapat sedikit beristirahat tidak terasa perasaan mengantuk yang sukar ditahan menjalar keseluruh tubuhnya, seluruh anggota tubuh merasa lemas, sedang matanyapun mulai terkatup sukar dipentangkan kembali.
Tak lama kemudian Liem Tou tak bisa nahan lagi perasaan ingin tidurnya dengan perlahan tubuhnya mulai rubuh keatas tanah.
Sesaat mencapai pada kepulasannya itulah tiba tiba. . . batang kayu serta daun pada berguguran keatas tanah diikuti dengan rubuhnya batang kayu yang besar dengan menimbulkan suara yang sangat keras, suara itu begitu keras dan begitu dekatnya dengan sisi tubuh Liem Tou membuat dia yang baru saja hendak pulas saking terkejutnya hingga meloncat bangun. sambil mengangkat kepalanya keatas bentaknya.
"Siapa ?? kurang ajar. . binatang terkutuk kamu berani membokong aku dari atas pohon?”
Sesudah membentak keras dia menengok ke atas pohon dan makinya lagi dengan suara seperti geledek.
"Burung terkutuk; suatu hari tentu aku putuskan sayap-sayapmu itu dan pegal cakar cakarmu yang tajam."
Pada benaknya terbayang, kembali keganasan serta kekejaman dari Thian Pian Siauwcu teringat pula pada bayangan abu abu yang menerjang kerbaunya, siapa sebetulnya orang itu?? bagaimana bisa sanggup untuk bertempur melawan Thian Pian Siauwcu ??? kini elang elang raksasa terus menerus terbang keliling disekitar hutan bilamana si Thian Pian Siauwcu itu sampai terpancing datang lagi bukankah urusan akan semakin, tidak karuan???
Semakin berpikir Liem Tou merasa semakin takut dengan cepat dia memanjat kepuncak pohon, dengan menggunakam dedaun yang lebat sebagai penutup tubuh dengan cepat dia memandang keatas saat itu terlibat elang tersebut sedang terbang tinggi diangkasa,hanya dengan beberapa kali kebasan sayap dia sudah lenyapkan diri ditengah awan.
Tapi saat itu elang itu hanya tinggal seekor saja sedang yang lainnya entah pergi kemana. Liem Tou yang melihat hal ini menjadi bergerak hatinya, pikirnya dalam hati,
“Celaka yang seekor tentu sedang mengundang Thian Pian Siauw cu kemari"
Dia tak berdiam disitu lebih lama lagi sekalipun harus menempuh serangan elang rakasasa yang ganas itupun dia harus melanjutkan perjalanan juga, dengan tergesa gesa dia merambat turun dari pohon dan jalan kesamping kerbau ujarnya kemudian.
“Kakak sapi yang baik kau seperti aku juga selalu menerima penderitaan, kita harus menempuh bahaya untuk lari keluar dari hutan ini”
Sambil berkata dia merangkak keatas punggung kerbaunya, waktu itulah mendadak dari belakang tubuhnya berkumandang datang suara langkah kaki manusia dengan cepat dia menoleh, terlihatlah seoraag kakek tua berbaju warna abu-abu dengan celana pendek dan kaki yang telanjang sedan berjaIan mendatangi, celana pendek yang dipakai itu ternyata sangat aneh sekali, yang sebelah lebih tinggi dari lainnya. Begitu dia melihat LiemTou menoleh segera digapenya sambil terrtawa tanyanya.
"Hei . bocah cilik, kamu mau kemana?”
Saat ini Liem Tou sudah mirip dengan burung yang dikejutkan oleh anak panah begitu melihat orang asing pada air mukanya segera memperlihatkan perasaan terkejut, takut serta ngerinya, dengan perasaan sangat takut dia memandang kakek tua itu beberapa saat lamanya kemudian barulah sahutnya.
"Aka tak kenal kamu orang, buat apa kamu tanya tujuanku ??"
"Aku orang tua sedang melakukan perjalanan" ujar kakek tua itu sambil berjalan mendekati samping tubuhnya.
“Siapa tahu sudah sampai ditempat ini ternyata tersesat, hei bocah cilik tahu tidak tempat apakah ini ??"
Ketika Liem Tou mendengar dia berbicara begini dan mellhat pula kakinya telanjang tak terasa perasaan curiga didalam hatinya timbul semakin tebal, sambil gelengkan kepala ujarnya singkat.
°Aku tidak tahu."
Sehabis berbicara dengan cepat dia menarik tali les kerbaunya dan putar tubuh melanjutkan perjalanan kedepan.
"Hey bocah cilik " seru kakek tua itu mendadak "Tunggu, tunggu aku sebentar, bagaimana jika kita melakukan perjalanan bersama sama"
(Bersambung ke jilid 7)
Dalam hati Liem Tou merasa curiga kalau orang ini tidak punya niat baik sudah tentu tidak menggubris omongannya lagi, dengan cepat dia pukul pantat kerbaunya dan lari menuju keluar hutan dengan sangat cepatnya.Si kakek tua yang berada dibelakang segera berseru dengan semakin keras.
“Hey bocah cilik jangan lari, jika kamu pergi bukankah aku semakin tersesat? Hey…tunggu”
Ketika Liem Tou menoleh dan melihat kakek itu lari terpontang panting mengejar dirinya.
“Jika dilihat dari gerak geriknya mana mungkin dia berhasil mengejar kerbauku yang lari dengan kecepatan penuh?”
Sambil berpikir dia mengapit perut kerbau semakin kencang membuat larinya kerbaupun semakin kencang, didalam beberapa saat dia sudah hampir keluar dari hutan itu, asalkan sudah keluar dari hutan mau tak mau terpaksa Liem Tou harus menjaga serangan dari elang raksasa itu lagi, membuat hatinya saat ini semakin tegang.
Tanpa sadar dia menoleh kebelakang melihat si kakek tua yang sedang mengejar kearahnya, siapa tahu bukan saja kakek tua itu tidak ketinggalan bahkan jaraknya semakin dekat dengan dirinya, ketika dia melihat Liem Tou menoleh sambil tertawa hingga kelihatan gigi, ujarnya.
“Hey bocah cilik, jika kamu lebih cepat dari aku orang tua tidak akan sanggup untuk mengejar”
Liem Tou melihat dua kali gagal meninggalkan kakek tua itu tidak terasa dalam hati timbul perasaan gusarnya, dengan cepat dia menarik tali kerbaunya sehingga berhenti, kemudian makinya dengan gusar.
“Kamu kakek tua sungguh menjengkelkan sekali, bicara sesungguhnya aku sendiri juga orang yang tersesat, buat apa kamu orang terus ikuti aku?”
“Perkataanmu bagaimana bisa membuat aku percaya?”. Ujar kakek tua itu sambil geleng kepalanya tidak percaya.
“Kalau memang kamu tersesat kenapa tidak boleh membiarkan aku berjalan bersama sama kamu orang? Dua orang jalan bersama sama bukankah semakin baik?”
Liem Tou yang mendengar perkataan ini hampi2 tidak ada perkataan lain untuk diucapkan lagi, dengan sangat gusar ujarnya dengan keras.
“Aku tidak ingin jalan ber sama2 kamu orang semuanya demi keselamatanmu sendiri, tahu tidak? Mukin kamu sudah bosan hidup”
Kakek tua itu menjulur lidahnya, sepasang matanya melotot keluar dengan besarnya lama kemudian baru ujarnya.
“Kalau begitu kamu bukannya seorang pencuri tentu seorang perampok”
“Ha..ha..ha” ujar Liem Tou dengan gugup, sedang sepasang matanya melotot keluar. “Hati hati kalau bicara, siapa yang pencuri? Siapa yang jadi perampok?”
“Bukankah kamu orang bilang sendiri, kalau bukan kamu orang jadi pencuri apa perampok bagaimana aku bisa kehilangan nyawa hanya karena jalan bersama sama?”
Liem Tou dengar dia sudah salah tangkap pembicaraannya tak terasa geli juga, sahutnya:
“Aku bukan pencuri juga bukan perampok, sekalipun jadi pencuri aku juga tidak mau merampok seorang kakek tua miskin seperti kamu hingga sebuah sepatupun tidak kau punya”
Sambil berkata dia tunding keatas langit dan sambungnya “Sudah lihat jelas belum? Binatang terkutuk itu?”
Dengan cepat kakek itu angkat kepala melihat, mulutnya dipentang lebar2 lama kemudian baru sahutnya sambil gelengkan kepalanya.
“Binatang apa yang dapat begitu ganasnya?” Liem Tou semakin gusar, cemas, dan geli, sahutnya:
“Kkau lihat dengan keras, seekor burung elang raksasa yang suka makan manusia, asalkan kamu keluar dari hutan ini segera dia menubruk kebawah, sudah dengar jelas belum?”
Sehabis berkata dengan cepat dia meloncat dari punggung kerbau untuk mematahkan setangkai kayu kemudian meloncat naik kembali keatas punggung kerbaunya, serunya.
“Cepat lari”
Kerbau itu dengan cepat menerjang keluar hutan dan lari dengan cepatnya kedepan.
“Koak..koak!!!” dugaan Liem Tou sedikitpun tidak meleset, baru saja dia keluar dari dalam hutan burung elang raksasa itu dengan mengeluarkan suara pekikan ngeri sudah menubruk kebawah dengan dahsyatnya, saat itu Liem Tou sudah siap sedia, baru saja dia akan mengelincir masuk kebawah perut kerbau saat itulah terdengar jeritan kaget suara kakek tua itu.
“Aduh mak…sungguh ganas binatang terkutuk ini…tolong dia mau makan tubuhku”
Liem Tou menjadi sangat terkejut dengan cepat dia menoleh kearah kakek tua yang terus mengikuti kerbaunya itu, saat ini elang raksasa ini sudah menubruk kedepannya Liem Tou tak bisa pikirkan lainnya lagi dengan cepat dia menerobos kebawah perut kerbaunya.
Kelihatan sekali cakar maut dari elang itu sudah berada kurang lebih beberapa depa saja dari atas kepala kakek itu, mendadak kakek itu menjerit kaget, sepasang tangannya dengan kencang menutupi kepalanya, saat itulah terdengar elang raksasa itu dengan mengeluarkan suara pekikan ngeri yang sangat keras, sayapnya sekali lagi dipentangkan dan terbang keatas awan dengan cepatnya, kiranya sebuah batu besar bagaikan kilat cepatnya sudah menyambar keatas tubuh elang itu dan menghajar perutnya dengan keras.
Baru saja elang raksasa itu terbang sampai di tengah perjalanan mendadak tubuhnya meluncur dengan cepat menuju kebawah dengan cepatnya dan bisa seketika itu juga, kiranya batu tadi dengan cepat menghajar tubuhnya sekaligus mencabut nyawanya.
Melihat hal itu kakek tua tersebut menjadi sangat girang, ujarnya:
“Hey…bocah cilik, binatang yang maka orang itu sudah jatuh kebawah, mari kita lihat”
Liem Tou segera menghentikan kerbaunya yang hendak lari kedepan itu dalam hatinya ia merasa mengkel, mendadak sambil memandang tajam kewajah kakek tua itu, tanyanya dengan nada keras.
“Siapa kamu sebenarnya?”
“Sudah tentu aku orang yang tersesat jalan” sahut kakek tua itu sambil tersenyum heran. “Bocah cilik, agaknya kamu orang pelupa, cepat kita pergi lihat elang itu”
Semakin lama Liem Tou semakin merasa kalau kakek tua itu semakin mencurigakan, tanyanya lagi.
“Elang itu bagaimana bisa rubuh kebawah? Tahukah kamu siapa yang memelihara elang tersebut?”
“Haa?...jika didengar perkataanmu agaknya elang itu dipelihara orang?” tanya kakek tua itu sedikit tidak percaya.
“Benar, jika kamu orang mau pergi lihat pergilah lihat sendiri, aku mau pergi”
“Kamu orang tidak jadi pergi?”ujar kakek tua itu dengan gugup. “ayolah jalan tapi kamu jangan lari terlalu cepat, usiaku sudah demikian tingginya, larikupun tidak secepat dahulu lagi, orang lain panggil aku sebagai Hui Tui Jie”
Liem Tou tidak ambil komentar apa2, hanya dalam hati pikirnya:
“Sekalipun kakek tua itu sedikit aneh tetapi agaknya tidak mengandung maksud jahat, kiranya untuk jalan bersama-sama dia juga tidak mengapa”
Berpikir sampai disitu segera ujarnya.
“Kalau begitu kita jalan pelan2 saja, tapi kamu orang mau pergi kemana?”
“Sebelumnya aku mau pergi kegunung Gobie tapi kini sudah tersesat jalan terpaksa kemana pun jadi”
Liem Tou yang mendengar perkataan ini tidak tahan tertawa geli, ujarnya:
“kalau begitu baiklah, Hui Tui Jie, aku seperti juga kamu orang kemanapun boleh juga tapi kamu punya uang tidak?”
“Ada sih ada” sahut si kakek sambil mengerut alis “kenapa? Kamu niat turun tangan terhadap aku?”
Liem Tou dengar dia punya uang hatinya menjadi mantap lagi segera dengan menarik tangan kakek tua itu mereka melanjutkan perjalanan bersama-sama.
Saat itu matahari sudah condong ke barat agaknya tak lama kemudian malam akan tiba tapi Liem Tou sama sekali tak gubris akan hal itu, yang penting baginya sekarang isi perutnya yang sudah satu harian lamanya belum diisi.
Untung saja tak lama kemudian kelihatan atap rumah mengepul, tidak sadar lagi Liem Tou mempercepat langkahnya, ujarnya.
“Hey, Hui Jie coba lihat didepan ada rumah orang, bagaimana kalau malam ini kita nginap disana?”
“Kenapa tidak? Selain mencangkul sawah pekerjaan apaun aku tak tahu, jika dibandingkan dengan kamu pengalamanku jauh ketinggalan baiknya kamu saja ambil putusan”
“Hui jie” ujar Liem Tou
“Aku sendiri juga hanya tahu menggembala kerbau saja, bagaimana pengalamanku bisa luas? Lebih baik kita berunding saja, aku bicara terus terang saja sekarang setahil perak pun aku tidak punya”
“Kalau begitu aku akan beri pinjam kau terlebih dahulu” ujar kakek tua itu dengan ramah.
“Lain kali kalau kamu sudah punya uang boleh kembalikan kepadaku, tapi pokoknya kita makan dan tidur dulu”
Sesudah berjalan beberapa lama kemudian sampailah mereka disebuah kota kecil, sesudah bertanya tanya barulah mereka ketahui tempat itu sudah masuk daerah Oen Kiang sendag kota itu disebut Toan Bok Ceng segera Liem Tou dengan kakek tua itu mencari sebuah penginapan untuk tinggal.
Malam itu kedua orang tsb memangil semeja perjamuan dan dahar didalam kamar, Liem Tou yang satu hari penuh tidak makan sebutir nasihpun saat ini benar2 sudah lapar dengan lahapnya, sebaliknya kakek tua itu dengan memegang cawan arak sepasang matanya memandang Liem Tou dengan terpesona, tak tahan Liem Tou dibuat heran juga, tanyanya:
“Hey Hui Jie kenaoa kamu orang pandang aku terus menerus?”
Dengan perlahan kakek tua itu meletakkan cawan araknya keatas meja sambil memandang ke wajah Liem Tou ujarnya dengan perlahan:
“Aku sedang heran kenapa kamu tersesat jalan? Apalagi jika dilihat keadaaan kamu orang juga bukan orang daerah sini, hal ini membuat aku merasa bingung, hei bocah cilik sebetulnya siapa namamu?”
Saat ini Liem Tou sudah merasa kenyang hingga hatinyapun merasa sangat gembira, perasaan curiganya terhadap kakek ini makin lama makin hilang kini mendengar dia bertanya segera sahutnya tanpa ragu ragu.
“Aku bernama Liem Tou bertempat tinggal diatas gunung Ha Mo San didaerah Cing Cen, sesudah ayahky meninggal secara turun gunung bekerja sebagai pengangon sapi tidak disangka dituduh orang sebagai pencuri sapi hngga mereka tangkap aku kedalam penjara, ditempat itulah aku bertemu dengan seorang yang bernama…”
Agaknya kakek tua itu sudah dibuat terpesona oleh cerita Liem Tou ini, dengan cemas tanyanya:
“Kamu ketemu dengan siapa? Lalu bagaimana?”
Liem Tou tidak segera menjawab, dengan tertegun dia pandang kakek tua itu mendadak tanyanya:
“Hui Tui Jie sebetulnya siapa namamu?”
Agaknya kekek tua iru menemukan sesuatu persoalan yang rumit, sesudah berpikir beberapa waktu lamanya barulah sahutnya:
“Waktu kecil semua orang panggil aku sebagai Hui Tui Jie mungkin juga aku orang memang she Lie”
Sehabis berkata dia segera mengubah pembicaraannya, tanyanya lagi.
“Siapa nama ayahmu?”
“Liem Han San” sahut Liem Tou cepat tanpa pikir panjang lagi.
Mendadak Liem Tou merasa bahwa pertanyaan yang diajukan oleh kakek tua itu terlalu banyak, membuat pertanyaan curiga didalam hatinya timbul kembali, dalam hati segera dia memperingatkan diri sendiri, pikirnya.
“Orang ini kelihatanya sangat aneh, aku jangan sampai terpancing”
Sedang dia berpikir begitu mendadak kakek tua itu dengan mencekal cawan araknya seorang diri berguman.
“Peng Liem Mo Mo Jan Lu Sie, Han San It Sang Sim Pek…”
Sehabis bicara mendadak dia angkat kepalanya, dari sepasang matanya memancarkan sinar yang sangat tajam tapi hanya dalam sekejap saja sudah lenyap kembali sedang matanya pun memandang terpesona kearah Liem Tou.
Liem Tou ketika mendengar dia mengucapkan syair dari Sian Jien Lie Pek segera dalam harinya memastikan kalau dia bukanlah seorang kakek tua yang sedang tersesat jalan, bahkan namanya Hui Tui Jie pun tak bisa dipertanggung jawabkan.
Tapi pada saat ini dia sama sekali tidak mau bongkar rahasia ini sebaliknya sambil tertawa ujarnya.
“Ooh…ooh..sungguh rak disangka Hui Tui Jie juga seorang siucay yang senang dengan syair terkenal, sungguh mengagumkan…sungguh mengagumkan”
“Ha..ha..aku orang tua mana bisa disebut seorang siucay??” ujar si kakek sambi tertawa pahit.
“Hanya secara tiba tiba teringat akan seorang yang sudah meninggal dia sering membaca syair ini, sudah tentu dengan sendirinya aku jadi ikut2an membaca syair itu juga, hey bocah cilik kau juga pernah dengar syair ini?”
“Pada masa yang lalu ayahku paling suka syair ini”
Sesudah Liem Tou menjawab pertanyaan ini mendadak hatinya tergerak terhadap kakek tua inipun seara tiba2 timbul perasaan yang sangat aneh sekali, dia merasa walaupun kakek tua ini sedikit ketolol tololan dan aneh tapi merupakan seorang yang sangat ramah
Tidak lama kemudian kedua orang itu selesai dahar, sesudah pelayan membersihkan sisa2 makanan Liem Tou naik keatas pembaringan untuk istirahat sedang kakek tua dengan alasan mau nanya jalan menuju gunung Gobie berlalu dari kamar.
Liem Tou buka pakaiannya untuk istirahat, pada waktu itulah dia mendadak merasa kitab Toa Loo Cin Keng –nya sudah lenyap. Tidak terasa hatinya sangat terperanjat, dengan cepat dia periksa lagi dengan telitinya disekeliling tempat itu tapi tetap tidak nampak bahkan kapan hilangnyapun tidak diketahui olehnya.
Liem Tou yang kehilangan kitab pusaka menjadi sangat bingung sekali, sesudah berdiri mematung beberapa saat lamanya didalam kamar dengan perlahan lahan dia baru merasa kalau urusan ini sangat mencurigakan sekali, mendadak teringat akan gerak gerik yang aneh dari kakek tua itu pikirnya diam diam.
“Urusan ini mungkin ada hubungan yang erat dengan dia, sekarang dia sedang keluar untuk mencari berita jalan menuju kedaerah gunung Gobie..”
Teringat sampai disini mendadak hatinya semakin terperanjat dia memakai baju dan lari keluar sedang pada mulutnya gumamnya seorang diri.
“Tua bangka bangkotan, mana dai sedang tanya jalan? Sudah berhasil mendapatkan kitab pusaka dengan sendirinya meminjam kesepatan ini untuk melarikan diri”
Sesudah sampai dipintu depan penginapan itu terlihat kakek tua itu sudah berada ratusan tindak dari pintu penginapan kakinya masih tetap telanjang sedang tubuhnya berjalan menuju kearah sebelah timur.
Melihat kakek itu belum kabur dalam hati Liem Tou merasa sangat girang, teriaknya keras keras.
“Hey, Hui Tui Jie tunggu sebentar aku ada perkataan yang hendak disampaikan”
Tapi kakek itu sama sekali tidak mau gubris, dia tetap melanjutkan perjalanan kearah timur.
Seru Liem Tou lagi
“Hey, Hui Tui Jie tunggu aku sebentar…hey…tunggu sebentar!!!!”
Kakek itu tetap tak ambil peduli dirinya seolah olah dia tuli
Liem Tou menjadi cemas dengan cepat dia lari lagi mengejar kearahnya tapi kejadian aneh terjadi didepan matanya. Liem Tou yang lari dengan cepat kedepan walaupun belum bisa dikatakan cepat bagaikan kilat tapi jauh lebih cepat jika dibandingkan dengan orang biasa, kelihatan sekali kakek itu berjalan dengan langkah yang sangat perlahan tapi tetap saja dia tidak berhasil mengejarnya.
Makin lama kakek itu sudah semakin dekat dengan ujung jalan tapi Liem Tou masih tetap berada ratusan tindak dibelakangnya, saat ini Liem Tou baru tahu dan sadar bahwa kakek tua iru sama sekali bukan orang yang sedang tersesat jalan, sikapnya yang pura2 itu kesemuaanya hanya bertujuan mencari kirab pusaka tersebut saja.
Dalam hatinya dia tahu kalau tujuan yang sebetulnya dari kakek tua itu tentunya kitab pusaka To Kong Pit Liok, siapa tau yang dicuri merupakan Toa Loo Cin Keng peninggalan ayahnya, sungguh merupakan kejadian yang sangat sial.
Kini melihat kakek itu makin pergi makin jauh dan akhirnya lenyap ditengah kegelapan, Liem Tou tahu sekalipun dia mengejar juga tidak ada gunanya, teringat kembali situasi sesaat ayahnya menyerahkan kitab pusaka Too Loo Cin Keng, kepadanya tak terasa hatinya menjadi sangat sedih, air mata bercucuran denga langkah yang sempoyongan dia kembali ke penginapan.
Dalam hati dia merasa sangat gemas dan benci kepada kakek tua itu, makinya:
“Tak tahu malu, bangsat tua, cucu kura2, anak haram jadah…tunggu saja sesudah aku berhasil melatih ilmu silatky sekalipun kau lari keujung langit aku tetap akan cari kau dan merampas kembali kitab pusaka peninggalan ayahku itu”
Diam-diam Liem Tou memaki maki terus, lewat beberapa saat kemudian tiba tiba teringat olehnya kalau isi dari kitab Toa Loo Cin Keng itu walaupun belum berhasil dpahami tetapi semua perkataannya sudah dia hafalkan, kini sekalipun kitab tersebut hilang tetapi tidak sampai mengganggu latihannya tidak tertahan dia merasa untung juga.
Liem Tou yang sembari jalan sembari memaki mendadak dikejutkan oleh suara derapan kuda dibelakang tubuhnya yang sangat ramai bersamaan pula terdengar suara tentakan keras dari seseorang.
Ditengah ramainya pasar malam mendadak terdapat orang yang bertindak kasar dengan menerjang orang yang berada ditengah jalan membuat Liem Toa seketika itu juga merasa sangat terkejut, dengan cepat dia menoleh kebelakang, empat lima ekor kuda jempolan dengan cepat sedang menerjang datang.
Dengan tergesa gesa Liem Tou menghindar kesamping ketika dia memandang lebih teliti lagi kearah penunggang kuda itu tidak tertahan saking terkejutnya dia dibuat tertegun seketika itu juga, kiranya orang2 itu adalah Cungcu dari Ie Hek Cung, si Ang In Sin Pian Pouw Sak San beserta keempat jagonya
Dengan cepat Liem Tou bersembunyi ditempat kegelapan, menanti sesudah kelima orang itu lewat barulah dengan tergesa gesa dia balik ke dalam penginapan.
Waktu dia sampai didapan pintu penginapan justru waktu juga terdengar suara bentakan yang keras dari si Ang In Sin Pian Pouw Sak San dari dalam rumah penginapan, jika dengan begitu saja Liem Tou berjalan masuk bukankah dengan tepat bertemu dengan mereka? Sudah tentu dia tidak berani masuk dengan begitu saja dengan cepat tubuhnya menyelinap kesamping tempat kegelapan.
Beberapa waktu kemudian akhirnya Liem Tou teringat juga sesaat dia meninggalkan rumah penginapan itu dia sudah memandang situasi dari tempat tersebut dengan teliti terpaksa dengan merangkak dari jendela dia masuk kembali kedalam kamarnya.
Untung saja waktu itu tidak ada seorangpun yang melihat perbuatannya itu, Liem Tou yang didalam satu hari penuh mengalami berbagai kejadian yang menegangkan kemudian kehilangan pula kitab pusaka Toa Loo Cin Kengnya tidak tertahan membuat hatinya sangat kecewa, dengan lemasnya dia menjatuhkan diri berbaring diatas pembaringan.
Mendadak matanya terbentur dengan sebuah sampul surat beserta sekarat uang perak yang terletak diatas bantal, diatas sampul itu tertulis beberapa kata dengan terangnya.
Pinjam kerbaumu satu malam, besok pagi pergilah kesebelah utara disana kau bisa menerima kembali kerbau itu, To Jen. Yu Heng, Hoo- Beng, Cian Cie, Tu tong Ti Pian, Pen Hoa, Ting Su, kitab pusaka Toa Loo Cin Keng sekalian dikembalikan.
Dibawahnya hanya terlihat satu tulisan Lie saja.
Liam Tou yang membaca surat itu walaupun sudah melihat setengah harian lamanya tetapi semakin melihat semakin bingung kata kata Co Jen, Yu heng, Ho beng, Cian cin, Tu Tong, Ti Pian, Pen hoa serta Ting Su itu sebetulnya punya arti apa? Tetapi sedikit dikitnya dia tahu kalau surat ini ditulis oleh kakek tua tersebut jika di lihat dari isi surat agaknya kitab pusaka Toa Loo Cin Keng pun akan dikembalikan kepadanya, hal ini ssuatu kcjadian yang jauh diluar dugaan dari Liem Tou.
Sedang kata kata pinjam kerbaumu satu malam panya tujuan apa lagi? Sedang dia berpikir keras saat itulah terlihat seorang pelayan dengan tergesa gesa datang menghampiri kamarnya sambil mengetuk pintunya dengan gencar, dengan perasaan penuh ketakutan ujarnya.
“Khek koan. kerbaumu itu entah sejak kapan sudah menghilang.”
Liem Tou yang mendengar perkataan itu menjadi sedikit tertegun dia tahu kalau perkataan dari diri kakek tua itu sedikirpun tidak bohong, dia tidak ingin ribut, ulapkan tangan ujarnya.
“Pergi ...pergi, aku sudah tahu.”
***
LIMA
Air muka dari pelayan itu segera memperlihatkan perasaan bingungnya, sambil membuka pintu berjalan keluar, gumamnya seorang diri.
“Apa yang terjadi dcngan urusan ini?"
Mendadak pada ingatan Liem Tou terbayang kembali si cambuk sakti Pouw Sak San sekalian dengan cepat ujarnya kepada pelayan ini.
"Hey tunggu sebentar, aku mau tanya itu kelima penunggang kuda yang baru saja datang apa menginap disini juga?"
"Benar" sahutnya sambil mengangguk.,
"Mereka tinggal dikamar sabelah mana?"
"Eh! Mungkin Khek koan kenal dengan mereka?" Tanya pelayan itu sambil mengerdipkan matanya. "Mereka istirahat dikamar yang berpisah, salah satu diantara mereka tinggal dikamar sebelah ini, apa perlu harnba panggil?"
"Tidak perlu . tidak perlu" sahut Liem Tou cemas. "Kamu boleh pergi."
Sesudah pelayan itu pergi barulah Liem Tou berbaring diatas pembaringan untuk beristirahat tetapi walaupun sudah berbolak balik namun tetap tak bisa tertidur nyenyak, pikirannya terus menerus bekerja teringat kembali akan pencurian kitab pusaka Toa Loo Cin Keng oleh kakek tua itu beserta kata kata yang ditinggalkannya, apa maksud yang: sebenarnya dari dia orang? Kenapa secara mendadak si cambuk sakti Pouw Sak San turun gunung bersama sama dengan keempat jago jagonya? Bagaimana dengan keadaan Siauw Ie cici saat ini?"
Pikirannya terus menerus diperas tidak terasa lagi kentongan kedua sudah berlalu, saat itu baru saja siap memejamkan matanya mendadak diluar rumah penginapan itu berkumandang datang suara ringkikan kuda kemudian disusul dengan suara seseoraug yang sangat dikenal olehnya sedang berteriak dengan keras.
"Hey pelayan buka pintu!"
Segera Liem Tou bisa membedakan kalau suara itu berasal dari suara Pouw Siauw Ling putra dari Pouw Cungcu, tidak terasa dalam hatinya muncul kembali perasaan benci, dendam serta gemas, pikirnya dengan gusar.
"Hem dia lagi, yang memisahkan aku denga Ie cici juga dia."
Liem Tou yang teringat akan sakit hatinya ini membuat niatnya untuk tidur segera lenyap tanpa bekas, dengan perlahan lanan dia turun dari pembaringannya dan mendorong jendela luar hingga terpentang, terlihatlah sinar rembulan memancarkan sinarnya dengan remang2, suara gemerisiknya binatang kecil memberikan suatu suasana yang sangat mengharukan, buat perasaan sedih muncul meliputi seluruh benaknya.
Saat itulah pintu dari rumah penginapan itu terbuka kemudian disusul dengan langkah kaki yang berhenti dikamar sebelah, sambil mengetuk pintu ujarnya.
"Tia. kamu orang tua belum tidur? Ling jie datang".
Segera Liem Tou dapat mengetahui kalau orang yang berdiam dikamar sebelah adalah Cungcu, tidak terasa lagi dengan perlahan dia menutup jendelanya kembali dan pusatkan perhatiannya untuk mendengarkau apa yang hendak mereka bicarakan.
Saat itu terdengar dibukanya pintu kamar disusul dengan suara dari Pouw Cungcu yang sedang bertanya.
"Ling jie, kenapa sampai waktu ini baru datang? Sudah kamu temui kawan kawan sealiran kita?"
"Orarg lain sudah menganggap anakmu sebagai seorang tamu yang sangat terhormat tentang hal ini tidak bisa salah lagi, hanya saja di tangah perjalanan kali ini aku sudah dengar suatu berita yang sangat aneh, membuat anakmu merasa bingung.”
“Urusan aneh apa?" Tanya Pouw Cungcu, “Cepat kamu orang ceritakan."
"Tia, tahukah kamu orarg tua siapa yang sudah mendapatkan kitab pusaka To Kong Pit Liok yang sangat menggetarkan sungai telaga itu?
"Ohhh.. aku kira urusan aneh apa tidak tahunva tentang kitab pusaka itu, bukankah sejak dulu aku sudah bilang kitab pusaka To Kong Pit Liok itu sudah berada ditangan Siok to Siang Mo?? Apanya yang aneh?"
"Bilamana sungguh sungguh terjatuh ditangan Siang to Siang Mo anakmu juga tidak akan merasa heran, yang paling aneh barang itu adalah sudah berpindah tangan lagi bahkan jika dikatakan sukar membuat orang percaya, katanya majikan yang baru dari kitab pusaka itu adalah seorang bocah cilik yang bernama Liem Tou”
“Siapa!" seru Pouw Cungcu dengan sangat terperanjat, "Liem Tou? mana mungkin bisa terjadi peristiwa ini? tentu kamu orang sudah salah dengar, saat ini mungkin mayat dari Liem Tou tinggal tulang tulang putih saja"
Liem Tou yang sedang mencuri dengar pembicaraan mereka saat ini tidak bisa menahan pergolakan didalam hatinya lagi air mukanya bcrubah sangat keren sedang dalam hati dengan gemas sumpahnya.
"Lihat saja, asalkan suatu hari Liem Tou masih bernapas dendam ini tidak akan aku lupakan sedikitpun, tunggu saja permainan yang kalian terima.”
Saat itu terdergar Pouw Cungcu menghela napas panjang ujarnya.
"Heei..bila kita ungkap Liem Tou bocah bangsat itu sampai ini hari juga aku masih merasa gemas dan benci. Hei Lie Siauw Ie itu budak juga keterlaluan sekalian hanya kematian dari bocah bangsat itu dia sudah berubah menjadi gila seperti tni, kalau tidak boleh dikata kau dengan dia merupakan sepesang jodoh yang sangat setimpal.”
Liem Tou yang mendengar sampai disitu tidak tertahan menjadi sangat terperanjat sekali. Ie cicinya sudah gila, Ie cicinya sudah gila bagaimana mungkin?
Terdengar Pouw Siauw Ling saat itu sedang terkata.
"Tia, kgmu orang tua jangan mengungkap urusan ini lagi, Siauw Ie memang seharusnya jadi gila, semakin gila semakin baik dan lebih tepat lagi kalau saat ini dia binasa saja".
Beberapa perkataan ini sungguh sungguh seperti beribu ribu batang anak panah yang menembus hati Liem Tou membuat dia sangat menderita... sargat sedih, sekali lagi gumamnya seorang diri.
"Ie cici sudah jadi gila, Ie cici sudah jadi gila, tidak mungkin bisa terjadi urusan ini, aku tidak percaya, aku tidak percaya, dia sama sekali belum binasa"
Tetapi dengan sangat jelas sekali bahkan dengan mata kepala sendiri dia mendengar perkataan dari si cambuk sakti Pouw Sak San serta Pouw Siauw Ling yang mengatakan Lie Siauw Ie sudah gila, walaupun dalam hati ia tak percaya tetapi saat ini mau tak mau dia harus mempercayainya.
Didalam sekejap mata dia dibuat tertegun dan duduk termangu mangu ditengah kamar yang gelap, perkataan selanjutnya Pouw Sak San serta dari Pouw Siauw Ling tidak ada yang masuk kedalam telinganya lagi didalam hatinya setiap kali hanya sedang berkata.
"Aku tidak percaya . . aku tidak percaya . . aku tidak akan percaya."
Lama kelamaan, dia tidak bisa menahan perasaan sedihnya lagi, air matanya setetes demi setetes jatuh membasahi wajahnya menetes keluar dengan derasnya.
Dia membiarkan butiran air matanya menetes melalui wajahnya, pada saat seperti ini dia sama sekali tidak bisa memikirkan benda apa yang bisa kekal didalam dunia ini, benda apa yang ada didalam dunia ini, bahkan penderitaaanya, siksaan yang pernah diterima kesukaran, kepedihan serta macam2 penderitaan lainnya.
"Aku tidak percaya, aku tidak percaya, aku tidak percaya, aku tidak percaya"
Aumannya kali ini merupakan suatu pekikan yang paling keras paling nyaring selama hidupnya bahkan membuat seluruh ruangan tergetar dengan sangat keras, membuat seluruh tamu rumah penginapan itu terbangun dari tidurnya, bahkan suara bentakan serta teriakan muncul dari seluruh penjuru.
"Siapa yang sedang gembar gembor?"
“Hey pelayan, sudah terjadi urusan apa?”
"Kurang ajar, bangsat mana yang tidak tahu diri, ditengah malam seperti ini gembar gembor tidak karuan."
Apa lagi si cambuk sakti Pouw Sak San serta Pouw Siauw Ling sejak semula sudah meloncat keluar dari kamarnya, "dok .. dok . . suara ketokan yang semakin keras berbunyi terus di atas pintu kamarnya bahkan ada yang bertanya.
"Hey siapa yang berdiam didalam? Sudah terjadi urusan apa?"
Liem Tou yang mendengar Pouw Cungcu serta Pouw Siauw Ling sudah menggedor pintu kamarnya seperti bari saja sadar dari suatu impian segera dia merasa sangat terkejut, dia sadar kalau dirinya sudah telanjur berteriak sehingga mengejutkan mereka sedang saat inipun dia tidak bisa buka pintu untuk menemui mereka berdua bagaimana baiknya?
Untuk sesaat lamanya membuat Liem Tou menjadi kalang kabut dan bingung, untuk melarikan diri dari jendela dia merasa bukanlah suatu cara yang sempurna, bilamana mereka berdua mendorong pintu masuk dan melibat orang didalam kamar sudah melarikan diri tentu akan segera mengadakan pengejaran, waktu ini ketukan dari Pouw Cungcu serta Pouw Siauw Ling semakin gencar, mendadak dalam benak Liem Tou berkelebat suatu akal dengan cepat dia menekuk lidahnva keatas sengaja mempertinggi nada suaranya dan lanjut berteriak.
"Aku tidak percaya, aku tidak percaya tidak berhasil tangkap kamu hey ikan bodoh kamu mau lari kemana lagi?"
Kemudian tambahnya lagi.
"Cici cepat ambil jala, Ooh .. seekor ikan yang sangat besar sekali”
Sesudah dia bicara begini ternyata mendatangkan hasil yang gemilang, terdengar Pouw Siauw Ling yang berada diluar kamar sedang memaki.
"Huuu, Setan, kiranya seorang manusia malas yang sedang mengigau."
Sehabis berkata dia berjalan kembali kedalam kamar sebelah.
Liem Tou yang berhasil meloloskan diri disaat yang sangat kritis saat ini tidak berani banyak omong lagi, dengan perlahan lahan dia kembali keatas pembaringannya dan merebahkan diri.
Tetapi sesudah mendapat berita kalau Siauw Ie menjadi gila mana bisa memaksa dia memejamkan matanya? dengan mata yang melotot besar dengan termangu mangu dia memandang kearah sinar matahari yang mulai muncul dari ufuk Timur, lama sekali barulah dengan perlahan dia bangkit kembali dari atas pembaringan.
Tetapi dalam hati dia sadar asalkan dia keluar dari pintu kamar tentu akan ditemui oleh Pouw Cung cu sekalian, karena itulah dia tidak berani berjalan keluar, dengan diam diam dia meletakkan sekeping uang perak itu keatas meja kemudian dengan tidak menimbulkan suara sedikitpun ngeloyor pergi melalui jendela, dengan mengikuti petunjuk perjalanannya kearah Utara.
Dalam perjalanan didalam hati Liem Tou hanya punya satu pikiran saja yaitu memikirkan keselamatan Siauw Ie, sambil berjalan pikirnya.
“Aku pasti akan naik keatas gunung Ha Mo San untuk bertemu dengan Ie cici, betulkah dia sudah gila? Mana aku bisa percaya? Aku harus kesana untuk melihat sendiri”
Tidak lama kemudian dia sudah meninggalkan kota Toan Bok Ceng tersebut, dikala itu cuaca baru saja terang tanah, burung-burung yang terbang diatas pohon disamping jalan berkicau dengan ramainya membuat semangat Liem Tou bangkit kembali, tak terasa langkah kakinya pun bertambah cepat.
Dalam waktu yang sangat singkat dia sudah berjalan kurang lebih sepuluh lie lebih, dari tempat kejauhan mendadak terdengar suara dengusan kerbau, tidak terasa hatinya menjadi tergerak, dengan cepat dia berhenti dan menengok kesekeliling tempat itu, terlihatlah disebelah depannya berdiri sebuah kuil yang sudah hampir rusak dengan cepat dia berjalan mendekat.
Terlihatlah seekor kerbau sedang menundukkan kepalanya makan rumput, melihat hal itu Liem Tou menjadi sangat girang sekali dengan cepat dia berjalan kesamping kerbau tersebut, sambil menepuk lehernya ujarnya dengan perlahan.
"Gouw koko, bagaimana kamu bisa lari sampai sini?”
Begitu dia menepak leher kerbaunya segera terasalah air keringat membasahi tangannya itu tak terasa dia menjadi sangat heran, tanyanya.
"Hey . . kenapa kamu ?? mungkin satu malaman kamu lari terus ? "
Kerbau itu begitu melihat munculnya Liem Tou secara mendadak merasa sangat girang sambil mendengus perlahan, dengan perlahan dia bergeser kesamping tubuh Liem Tou.
Mendadak . . . matanya tertumbuk dengan daun yang tergantung diatas tanduk kerbau itu, dengan cepat diambil benda itu terlihatlah diatasnya tcrtuliskan delapan huruf dengan jelasnya"Jien, Heng, Cu, Beng, Tong, Pian, Hua, Su"
Dengan perlahan Liem Tou mengulangi perkataan itu beberapa kali walaupun tidak tahu apa arti kata kata itu tetapi teringat kembali olehnya pada surat kemarin malam kakek tua itu pun pernah menuliskan delapan huruf yang membingungkan itu, dalam hati dia tahu tentu kata kata itu punya suatu arti yang sangat mendalam hanya saja saat ini tak mungkin dapat di pahami olehnya.
Ketika itu Liem Tou juga tak mau terlalu banyak menghamburkan waktu untuk memikirkan tulisan itu, dengan langkah yang perlahan dia menarik kerbaunya meninggalkan kuil itu untuk melanjutkan perjalanannya.
00000000
SEPERTANAK nasi kemudian sampailah mereka disamping lereng gunung. waktu kelihat ada seorang penebang kayu dengan perlahan sedang berjalan mendatang, dengan cepat Liem Tou menyongsong kedepan sambil ujarnya.
"Toasiok tolong tanya jalan menuju ke Cing Cen harus melalui mana ?"
"Ooh kamu man ke Cing Cen?" ujar penebang itu dengan penuh keheranan.
"Tempat itu tidak dekat, dari tempat ini harus menuju ke daerah Pi Sian dulu kemudian dengan mengikuti pinggiran sungai menuju ke daerah Cian Sian. Baru dari sana menuju kekaki gunung Cing Cen.Saudara kecil jalan ini merupakan aatu satunya jalan brsar menuju ke daerah Pi Sian."
Sesudah mengucapkan terima kasih pada penebang itu Liem Tou pergi mencari sebuah sungai kecil untuk membersihkan kerbaunya sesudah itu barulah dia menaiki punggung kerbaunya untuk melanjutkan perjalanan.
Kini didalam hati Liem Tou sudah mengambil keputusan untuk kembali keatas gunung Ha Mo San untuk bertemu dengan Ie-cicinya.
Sesudah berjalan beberapa lama kemudian mendadak teringat kembali akan parkataan kakek tua itu yang menyatakan kitab pusaka Toa Loo Cin Keng akan dikembalikan kepadanya. Kitab pusaka Toa Loo Cin Keng merupakan kitab pusaka yang sama-sama berharganya dengan kitab To Kong Pit Liok, kitab pusaka tersebut sudah dicuri tetapi katanya akan dikembalikan lagi kepadanya membuat hatinya tidak terasa berdebar dengan sangat keras, sambil melanjutkan perjalanannya dengan nunggang kerbau matanya menengok kekiri kanan untuk menanti munculnya kakek tua itu.
Tetapi walaupun sudah lewat beberapa jauh pun tetap tidak tampak bayangan dari kakek tua tidak tertahan gumamnya.
"Terang-terangan . . .”
Tidak disangka baru saja dia bilang terang-terangan, atau huruf 'Beng' dan belum selesai mengucapkan `menulis demikian' kerbau tunggangannya mendadak berhenti kemudian berjalan mundur kebelakang.
Liem Tou menjadi sangat heran dengau cepat dia meloncat turun dari kerbaunya, tetapi kerbau itu masih tetap berjalan mundur kebelakang.
Semakin melihat Liam Tou semakin merasa heran, teriaknya keras.
"Gouw koko . . . kenapa ? sudah . . sudah cukup jangan mundur 1agi, cepat berhenti jangan bergerak"
Siapa tahu baru saja dia mengucapkan bergerak atau ‘tong` terlihatlah kerbau itu menundukkan kepalanya, tandukuya secara mendadak disiapkan didepannya sedang suaranyapun semakin keras, bahkan boleh dikata sifat liarnya kembali lagi pada tubuhnya.
Liem Tou yang melihat hal ini menjadi semakin bingung, jika dilihat dari perubahan wajahnya boleh dikata dalam hati kian merasa sangat terperanjat, sambil berdiri disamping dengan tak henti hentinya bergumam seorang diri.
“Didalam satu malaman saja bagaimana kerbau ini bisa berubah. .”
Perkataan "berubah' atau "Pian" baru saja keluar dari mulutnya kerbaunya mendadak menghentikan dengusannya kemudian menendangkan kakinya kebelakang dengan sangat hebat membuat pasir dan tanah beterbangan memenuhi angkasa. Sampai disini barulah dengan perlahan lahan Liem Tou sadar kembali apa yang sudah terjadi, sedang pada air mukanyapun dengan perlahan lahan mulai menampilkau perasaan terkejut bercampur girangnya, dalam hati pikirnya.
"Apa sungguh begini?? Didunia ini apa betul ada orang yang berkepandaian sedemikian tingginya.”
Berpikir sampai disini mendadak serunya dengan keras.
"Su" Kerbau itu dengan cepat menghentikan seluruh gerakannya dan berdiri mematung disana, seketika itu juga membuat Liem Tou berdiri mematung ditempat dengan melongo dia memandang kerbaunya itu, saking girangnya tidak tertahan lagi dia lari kedepan untuk memeluk kencang kerbau itu, ujarnya.
“Ooo Gouw koko. Kamu sunguh hebat sekalih, tidak aneh kalau tubuhmu penuh dengan keringat busuk, kiranya satu malaman kamu terus menerus berlatih dengan giat”
Sambil berkata dia meloncat naik keatas punggung kerbaunya kembali, bentaknya.
"Hoa" Kerbau itu dengan cepat mementangkan kakinya kemudian lari dengan kencang kedepan.
Waktu ini Liem Tou betul betul merasa sangat girang, dalam hati terus menerus dia mengingat ingat delapan kata itu.
‘Jen, Heng, Ci, Bang, Tong, Pian, Hoa, Su’
Karena perasaan girang yang meluap luap itulah membuat perasaan ingin tahu meliputi seluruh tubuhnya, waktu itu kerbaunya sedang lari kencang, mendadak Liem Tou sudah berseru.
"Jen " Kerbau itu dengan cepat memutarkan seluruh tubuhnya dan lari dengan kencangnya kesebalah kiri, sebelah kirinya itu merupakan sebuah bukit kecil tetapi hanya dua tiga lompatan saja kerbau itu sudah barhasil menerjang hingga puncak bukit.
Ketika itulah Llem Tou baru mengetahui kalau bukit iiu merupakan sebuah tebing curam yang banyak batu bau cadasnya bahkan tingginya beberapa kaki, didalam keadaan yang sangat terkejut itulah dengan cemas teriaknya lagi.
"Beng" Dengan cepat kerbau itu menghentikan larinya dan mundur beberapa langkah kebelakang, untung saja Liem Tou berteriak dengan cepat kalau tidak dua langkah lagi mereka akan terjatuh kedalam jurang.
Sesudah menghembuskan napas lega barulah Liem Tou berseru lagi.
"Su " Dengan cepat kerbau itu menghentikan larinya, dengan hati yang masih berdebar keras Liem Tou meloncat turun dari punggung kerbaunya dalam hati betul betul dia merasa terperanjat bercampur ngeri, diam-diam pikirnya.
"Sungguh berbahaya.”
Kini Liem Tou tahu jelas kalau kerbaunya sudah mendapatkan latihan yang masak hanya didalam satu malaman saja kerbaunya sudah berubah menjadi seekor kerbau sakti bahkan disamakan dengan seekor kuda jempolan, tanduknya bisa digunakan untuk mengadakan penyerang an punggungnya bisa ditunggangi apalagi ketika kerbau itu lari dengan kencangnya kecepatan luar biasa, ditambah lagi bisa mundur secara mcndadak membuat orang lain sama sekali tidak menduga.
Liem Tou melihat kerbaunya sudah lelah segera merasa sayang dengan perlahan dia menarik kerbaunya berjalan kesebelah lapangan rumput untuk beristirahat.
Baru saja dia duduk melamun memandang ke arah awan yang melayang jauh ditengah awan sekonyong konyong. . , dari tempat kejauhan kelihatan debu mengepul dengan tebalnya dalam hati Liem Tou menjadi terasa terkejut sekali, tidak terasa perasaan tubuhnya sudah berubah menjadi tegang, pikirnya.
“Mungkin Pouw Cung cu sudah sampai disini? Ditempat yang terbuka seperti ini tentu mereka menemukan aku.”
Berpikir sampai disini dengan cepat keinginan untuk kaburkan diri meliputi seluruh benaknya, tetapi sesaat hendak menaiki punggung kerbaunya dengan tanpa sadar kepalanya sudah menoleh kearah dimana munculnya debu yang mengepul itu, begitu memandang tidak tertahan dia tertawa geli sendiri.
Kiranya suara derapan serta debu yang mengepul jauh keangkasa itu bukan berasal dari kuda tunggangan Pouw Cung cu sakalian melainkan beratus ratus ekor domba yang bersama sama lari mendatang.
Domba itu berwarna hitam gelap semua sehinga dari tempat kejahuan kelihatan bertumpuk warna hitam yang makin lama berlari mendatang, kedatangan domba2 yang secara mendadak itu membuat Liem Tou merasa tertarik, tidak terasa dia sudah duduk sendirian disamping kerbaunya sambil memandang dengan terpesona kearah kawanan domba tersebut.
Lewat beberapa saat kemudian kawanan domba itu sudah berada dibawah bukit, mendadak Liem Tou melihat seorang gadis cantik berbaju putih dengan menunggang seekor kambing yang besar mengikuti dari belakang kawanan kambing itu.
Tidak terasa Liem Tou menjadi tertegun di buatnya, pikirnya dalam hati.
“Seorang gadis yang sangat aneh sekali, aku menunggang kerbau sebagai pengganti kuda sudah termasuk hal yang aneh, tetapi dia menggunakan kambingnya sebagai pengganti kuda hal ini sungguh merupakan suatu peristiwa yang sangat mencengangkan hati orang.”
Dengan tidak terasa lagi Liem Tou menoleh memandang beberapa kejap lagi kearah gadis cantik berbaju putih yang menunggang kambing itu. Terlihatlah ujung baju putihnya menari-nari tertiup angin, gayanya mirip sekali dengan bidadari yang baru saja turun dari kahyangan, cantiknya luar biasa. Pada tangan kirinya dia mencekal sebuah seruling yang terbuat dari batu pukulan yang digunakan sebagai pengganti cambuk, dengan gaya yang sangat lembut dia sedang mengiring kawanan dombanya menaiki bukit itu.
Gadis cantik berbaju putih itu benar2 membuat Liem Tou terpesona tetapi hanya dalam beberapa waktu saja Liem Tou sudah sadar kembali dari lamunannya, sambil menoleh kearah lain dalam hati teriaknya.
"Oooh - Liem Thu, Liam Tou kamu tidak boleh lihat gadis itu lagi, didalam dunia ini tidak akan ada gadis yang lebih cantik dari Ie ci ci, kamu orang tidak boleh lihat dia tidak boleh . . . tidak boleh . . . "
Dia berusaha untuk tiadk lihat kecantikan wajahnya, keagungan sikapnya serta keanehan dari gerak geriknya membuat Liem Tou terpesona bahkan benar benar di buat terpesona.
Mendadak suatu suara yang empuk halus serta lembut sekali berkumandang masuk kedalam telinga Liem Tou membuat dia tersadar kembali dari lamunannya.
"Hey.. Siauwko yang ada diatas bukit tolong tanya kamu orang apa melibat ayahku?”
Liem Tou yang mendengar perkataan itu di dalam hati merasa sangat geli, pikirnya.
"Siapa yang tahu ayahmu itu macam apa ?”
Tanpa sadar lagi dia menoleh dan memandang lagi kearah gadis cantik berbaju putih itu, mendadak pandangannya menjadi terang benderang, pada saat dia menoleh itulah gadis cantik berbaju putih itu sudah berjalan naik keatas bukit dengan langkah yang sangat perlahan sekali jaraknya saat ini dengan dirinya berdiri sangat dekat sekali. Terlihatlah wajah si gadis itu cantik dan sangat halus sepasang matanya yang bening dan menggiurkan ditambah dengan bibirnya yang kecil mungil berwarna merah membuat hati setiap orang merasa benar-benar terpesona apalagi ketika dia tersenyum boleh dikata kecantikannya melebihi bidadari manapun juga.
Tidak tertahan lagi hati Liem Tou berdebar dengan kerasnya, dengan cepat dia memandang kearah lain sedang pada mulutnya menyahut dengan keras.
“Aku tidak pernah melihat ayahmu, kamu orang jangan berjalan terlalu dekat”
“Ayahku berjalan melalui jalan ini, kamu sudah pasti melihatnya” ujar gadis itu dengan manjanya.
Ketika Liem Tou mendengar suaranya semakin dekat lagi dalam hati semakin merasa cemas, teriaknya lagi.
“Aku beritahu padamu aku belum pernah lihat ayahmu, kamu jangan maju lagi sekalipun maju lebih dekat aku juga tak pernah melihat ayahmu”
"Tidak mungkin” ujar gadis cantik berbaju putih itu dengan nada yang tak percaya, “"Ayah sudah bilang dia mau menunggu aku dijalan ini, kamu orang tentu sedang menipu aku sudah melihat tapi tak mau beritahu.”
Liem Tou tak berani menoleh lagi dalam hati dia pingin marah tapi entah kenapa sekali pun kena marah juga tak berhasil dilampiaskan terpaksa teriaknya lagi.
"Oooh. . kamu gadis datang dari mana. . kenapa tak mau pakai aturan, cepat kamu orang turun dari bukit ini kalau tidak aku akan berlaku tidak sungkan2 lagi.”
"Oooh Ie cici kamu lihat dia orang tetap tak mau pergi, dia sangat cantik sekali . memang sungguh2 cantik tapi aku tak mau lihat dia, aku tak mau lihat..”
Saat itu gadis cantik berbaju putih tersebut sudah berjalan hingga samping lapangan rumput itu, Liem Tou hanya merasakan bayangan putih berkelebat didepannya dengan cepat dia pejamkan matanya rapat rapat sambil ujarnya dengan keras.
“Kamu jangan kedepanku . sebetulnya kamu orang datang dari mana?? Jangan. . . jangan kedepanku "
Padahal waktu ini didalam hati Liem Ton merasa sangat canggung sekali, dia tak ingin melihat gadis cantik berbaju putih itu karena kecantikannya boleh dikata hampir2 menutupi seluruh kecantikan dari Ie cici idaman hatinya„ tapi walaupun begitu kenapa dia tak mau pergi dari sana dengan menunggang kerbaunya ? Sifat menyenangi yang indah, yang cantik merupakan sifat manusia pada umumnya, kini seorang gadis yang sangat cantik muncul dibadapan matanya walaupun dia sama sekali tak punya niat jahat tapi dalam hati juga merasa sayang untuk ditinggal pergi.
Sesudah ditunggu beberapa waktu lamanya Liem Tou tetap tak mendengar suara jawaban dari gadis itu dalam hati dia mengangpap gadis tersebut sudah pergi; tak terasa sambil menghela napas panjang ujarnya.
"Oooh- - - tak kusangka didalam dunia bisa muncul seorang gadis yang demikian cantiknya.”
Dengan sendirinya dia membuka matanya kembali untuk melihat keadaan sesungguhnya,
Siapa tahu baru saja dia membuka matanya terlihatlah gadis cantik berbaju putih itu sedang duduk diatas batu cadas didepan tubuhnya bahkan pada waktu itu sedang memandang dirinya sambil tersenyum manis.
***
Liem Tou menjadi sangat terkejut tidak terasa lagi dia menjerit kaget, dengan cepat mata nya dipejamkan kembali dan menoleh kearah lain.
Terdengar gadis cantik berbaju putih itu tertawa cekikikan dengan merdunya kemudian ujarnya.
"Kamu orang sungguh naenyenangkan sekali, kenapa kalau lihat aku tentu pejamkan mata? Ayahku sering panggil aku sebagat budak jelek, mungkin aku sungguh sungguh orang yang sangat jelek ?"
"Bukan . bukan, aku cuma tidak mau lihat kamu, cepat pergi.cepat pergi dari sini."
"Kalau begitu kamu takut sama diriku ? bapakku sering juga takut sama aku."
Liem Tou menjadi jengkel, ujarnya dengan keras.
"Tadi sudah aku beritahu, aku takut sama kamu orang. Aku cuma tidak mau lihat kamu . . tidak usah banyak tanya lagi cepat pergi."
“He hi hi hi kalau tak mau lihat jangan lihat, bukankab sudah beres ? ? Buat apa kamu orang harus usir aku ? 00oh . . benar. kamu belum bilang dimana ayahku sekarang ?"
Kini Liem Tou betul betul dibuat gemas tak bisa tertawapun, sesudah berdiam beberapa saat lamanya barulah pikirnya.
“Heei..aku harus berbuat bagaimana untuk menghadapi gadis cantik ini?”
Yang membuat dia semakin menemui kesulitan adalah perkataan gadis itu yang masih amat polos bagaikan sekerat batu giok yang belum digosok, jika dibandingkan dengan kecerdikan dan kelincahan dari Ie cicinya boleh dikata kelainan yang berbeda, terhadap seorang gadis dia juga tidak bisa berbuat kasar apalagi mengusirnya dari sana.
Mendadak suatu akal bagus herkelebat dalam benaknya, ujarnya kemudian.
"Baiklah, aku tidak mengusir kau pergi tetapi aku tak mengijinkan kamu orang berdiri dihadapanku, kalau kau mau baru aku mau bicara, baiklah sekarang kamu boleh bilang siapakah bapakmu”
Agaknya gadis itu juga sedikit merasa jeugkel, dengan menggerutu ujarnya.
"Hmm, kalau bukannya sedang cari ayah, aku juga tak mau mengalah padamu, baiklah lain kali jangaa harap kamu bisa melihatku lagi”
Liam Tou yang mendengar perkataan itu menjadi bingung, apa arti dari perkataannya ini? dengan tidak terasa lagi dia melirik sekejap kebelakang, terlihatlah gadis itu walaupun masih tetap menggunakan pakaian putih tetapi kecantikan wajahnya yang melebihi bidadari itu hanya didalam sekejap mata saja sudah berubah menjadi seorang nenek barwajah kuning yang penuh dengan keriputan.
Liem Tou yang melihat hal itu menjadi melongo dibuatnya, sesudah memandang setengah harian lamanya barulah diketahui olehnya kaau dia sedang memakai sebuah topeng dari kulit kambing, hanya saja topeng itu dibuat demikian teliti dan sempurnanya sehingga sukar untuk diketahui kalau bukannya dipandang dengan teliti.
Ketika gadis berbaju putih itu melihat LiemTou dibuat melongo olehnya tidak terasa tertawa geli, ujarnya.
“Bukankah begini bagus? Sekaraug kamu harus beritahu ayahku berada dimana?"
Sebetulnya siapakah ayahmu itu? Kamu harus beritahu dulu sehingga aku bisa pikir pernah bertemu atau tidak."
Gadis berbaju putih itu berpikir beberapa saat lamanya, kemudian barulah sahutnya.
"Ayahku bilang dia mau melalui jalan ini bahkan dia bilang juga ada sebuah kitab yang sudah didapati oleh seorang yang bernama Liem Tou dia bilang Liem Tou itu tidak seharusnya mendapatkan kitab itu maka dia hendak pergi cari Liem Tou."
Berbicara sarnpai disini mendadak sambungnya lagi.
"Oooh ... siauw-ko, aku lihat kamu jadi orang sangat baik, aku harus panggil kamu bagaimana?? Tentu kau mau bukan menolong aku menceritakan ayahku?"
Ketika Liem Tou mendengar sesudah dia bicara setengah harian lamanya kiranya ayahnya adalah salah seorang yang ingin merebut kitab pusaka "To Kong Pit Liok”-nya dalam hati benar benar merasa gemas bercampur jengkel, didalam beberapa hari ini karena didesak oleh jago jago dari berbagai partai yang menginginkan kitab pusaka To Kong Pit Liok" nya mendesak dia hingga berkali kali menemui bahaya, sudah tentu kini dia merasa benci terhadap setiap orang yang menginginkan kitabnya itu.
Mendadak air mukanya berubah, ujarnya.
“Maaf nona aku tidak pernah melihat ayahmu„ waktuku sudah terbuang terlalu banyak, aku pergi dulu.'
Sambil berkata dia berjalan kesamping kerbaunya. Melihat hal itu gadis berbaju putih menjadi cemas, serunya.
"Hey siauw ko, tunggu dulu aku masih ada perkataan lain!"
Terpaksa Liem Tou berjalan kembali, terlihatlah gadis itu mengambil keluar selembar topeng dari dalam sakunya, ujarnya sambil mengacungkan topeng tersebut.
"Siauw ko asalkan kau menyanggupi untuk menemani aku mencari ayahku maka barang ini akan kuberikan kepadamu, bagaimana?”
Liem Tou yang melihat seorang gadis cantik hanya cukup memakai selembar topeng saja maka wajahnya segera berubah menjadi orang nenek yang penuh keriputan tidak terasa hatinya menjadi tergerak pikirnya.
"Asalkan aku jaga punya benda itu maka di tengah perjalanan tidak akan takut lagi dikejar dihadang oleh orang"
Berpikir sampai disini dengan berdiam diri ia melirik sekejap kearah gadis berbaju putih itu tetapi dimulutnya tetap membungkam.
Sigadis berbaju putih tersebut ketika melihat perubahan wajah Liem Tou ini menjadi amat girang serunya.
'Kau tentu sudah setuju bukan? Baiklah mari berangkat.-“
Tanpa perduli apapun gadis tersebut segera melemparkan topeng itu ketangan Liem Tou, ditengah berkelebatnya bayangan putih dia sudah berjalan kebawah bukit meninggalkan Liem Tou yang memegang topeng itu sambil berdiri tertegun beberapa saat Iamanya, gumamnya seorang diri.
"Gadis ini memang sangat cantik hingga melebihi batas hanya saja membuat orang menjadi bingung "
Dia yang sudah menerima topeng pemberianaya sudah tentu tak bisa menampik lagi, sambil menuntun kerbaunya dengan perlahan berjalan menuruni bukit itu.
Saat ini gadis berbaju putih itu sudah menunggang diatas punggung kambingnya menanti kedatangan Liem Tou, Liem Tou yang menunggang kerbaunya itu dengan perlahan berjalan kesamping tubuh gadis itu, ujarnya mendadak.
“Nona, terus terang saja aku beritahu padamu, setiap waktu dan setiap saat selalu aku dibuntuti dengan maut bahkan orang dari Bu-lim semuanya punya niat untuk menahan aku, bilamana nona jalan bersama-sama dengan aku mungkin saja akan ikut tertimpa bencana”
(Bersambung ke Jilid 8)
Perkataannya Liem Tou ini sebetulnya keluar dari hati sanubarinya siapa tahu gadis berbaju putih itu hanya tertawa ringan ujar nya.
"Siauwko, apa itu jago2 dari Bu Lim ?? Apa mereka lihay semua, tapi aku takkan takut."
Liem Tou tak bisa bicara apa apa lagi sambil berjalan disamping tubuhnya mereka melanjutkan perjalanannya kedepan sedang gadis itu pun mulai menggerakkan seruling pualam di tangannya memberi tanda pada kawanan domba dibelakangnya, demikianlah mereka mulai melanjutkan perjalanannya menuju keluar.
Terlihatlah jalan raya dipenuhi dengan kawanan donba yang sangat banyak sehingga mengganggu perjalanan dari orang orang lain seluruh jalan raya hanya terlihat serombongan berwarna hitam yang berjalan dengan perlahan-lahan.
Gadis berjubah putih itu sambil berjalan sambil tertawa, dia sungguh sungguh menganggap Liem Tou sebagai saudaranya sendirl sedang terhadap domba dombanya yang menutupi jalan raya sama sekali tak mau ambil perduli.
Sebaliknya dalam hati Liem Tou terus menerus sedang memikirkan hilangnya kitab pusaka "Toa Loo Cin Keng serta `gilanya' Ie Cicinya itu bahkan dalam hati sedang memikirkan cara yang baik dan sempurna untuk kembali keatas gunung Ha Mo San untuk bertemu dengan Ie cicinya, karena itulah dengan berdiam diri dia melanjutkan perjalanan bersama sama dengan gadis berbaju putih itu.
Lewat lagi beberapa waktu lamanya mendadak dari belakang tubuh mereka berkumandang datang suara derapan kaki kuda yang sangat ramai sekali, untung saja telinga dari gadis berbaju putih itu sangat tajam, ujarnya dengan cepat sambil tersenyum.
"Siauwko dari belakang kita muncul enam penunggang kuda.
Mendengar perkataan itu Liem Toa menjadi sedikit heran, pikirnya.
"Bagaimana dia bisa mendengar kalau yang datang adalah enam ekor kuda?"
Tidak terasa matanya dipentangkan lebar lebar agaknya dia tidak percaya terhadap perkataan ini. Mendadak gadis berbaju putih itu seperti juga sedang teringat sesuatu ujarnya lagi.
“Koko, kamu orang apa mau menghilangkan kemangkalan didalam hati?"
Liem Tou semakin dibuat bingung oleh perkataannya ini, dengan melongo dia memandangi wajah gadis yang terlapis oleh topeng berwarna kuning itu, saat itu suara derapan kuda semakin santar baru saja Liem Tou menoleh kebelakang terlihatlah tidak lebih tidak kurang enam orang penunggang kuda dari jauh berlari mendatang membuat debu mengepul memenuhi angkasa.
Melihat mereka itu tidak terasa hati Liem Tou menjadi bergerak, pikirnya.
"Apa mungkin mereka?"
Begitu terpikir akan hal ini tanpa sadar lagi air mukanya sudah terjadi perubahan yang sangat hebat sedang hatinyapun ikut berdebar dengan keras, gadis berbaju putih yang berada disisinya ketika melihat perubahan itu dengan gugup tanyanya.
"Hey Siauw ko sudah terjadi urusan apa? Ooooh aku teringat kembali, mungkin yang kau ceritakan itu sudah datang?"
Liem Tou yang sedang memusatkan seluruh perbatiannya pada para penunggang yang makin lama makin mendekat itu hanya menjawab seenaknya saja terhadap perkataan gadis berbaju putih itu.
"Mungkin benar, tapi sebelum melihat dengan jelas siapa mereka mereka itu aku tidak mau ambil kesimpulan dengan cepat."
"Yang datang ada enam orang" ujar gadis itu dengan cepat" yang pertama agaknva usianya paling muda kurang lebih baru dua puluh tahunan sedang yang berada dibelakang merupakan orang orang dari usia pertengahan, Oooh . .. . ada orang yang sudah berusia lima puluh tahunan pada pingganguya terikat seuntai kain merah.”
Mendengar perkataan itu Liem Tou menjadi sangat terkejut. tanyanya dengan penuh perasaan heran.
“Bagairnana?? apa kamu sungguh sungguh bisa melihat? orang itu apa betul punya beutuk seperti apa kamu bicarakan sekarang ini??”
“Aku tidak akan menipu kamu” ujar gadis berbaju putih itu dengan manja.
Semua ini memang sungguh2 jika dilihat sikapmu yang sangat cemas agaknya kamu orang takut dengan mereka yaaah?? jangan takut, Siauw ko kita harus melanjutkan perjalanan seperti tidak ada urusan apapun, semua urusan serahkan saja pada diriku.”
“Orang orang itu semuanya memiliki kepandaian silat yang sangat tinggi, kamu merupakan seorang gadis yang lemah bagaimana bisa menahan serangan mereka, tidak mungkin , tidak mungkin, saat ini aku masih tidak ingin dikenal oleh mereka.”
"Hi hi.. kiranya kamu adalah seorang gentong nasi" ujar gadis itu sambil tertawa ringan. “Seorang lelaki sejati kenapa harus takut pada
manusia?"
Liem Tou yang disindir demikian tidak tertahan saking jengkelnya membuat seluruh tubuhnya gemetar keras, ujarnya dengan suara
seperti geledek.
"Kamu orang tidak usah menyindir diriku, kalau nanti mereka datang kamu orang tidak usah ikut campur biarpun ini hari aku harus binasa ditangan mereka tetapi aku Liem Tou tak akan jeri sedikitpun juga"
Liem Tou yang tanpa sadar sudah menyebutkau namanya sendiri, membuat hatinya secara mendadak merasa sangat terkejut, pikirnya.
"Aduh . kenapa aku menyebutkan namaku sendiri?"
Siapa tahu gadis berbaju putih itu mendadak tertawa manis ujarnya.
"Perkataan Liem koko sendiripun tidak salah ayahku sendiri pernah bilang bahwa seorang lelaki sejati memang harus bersikap begini, biarlah aku beritahu padamu, aku bernama Lie Wan Giok puteri dari ayahku, karena satiap harinya pekerjaanku hanya mengangon domba, maka orang lain menyebut aku sebagai Mu Jang Giok Li atau gadis cantik pengangon kambing".
"Apa maksud dia memberi tahu namanya?? "Pikir Liem Tou dalam hati, belum sempat dia buka mulut untuk bicara, sigadis cantik pangangon kambing itu sudah menampakkan lagi sambil tertawa.
"Liem koko, kau legakanlab hatimu ayahku pergi merebut kitabmu itu tidak lain hanyalah omongan guyon saja, bahkan ayahku mamerintahkan diriku untuk mengambilkan kitab tersebut kepadamu."
Sambil berkata dari dalam sakunya dia mengambil sejilid kitab yang sangat tipis dan diserahkan Liem Tou, ujarnya.
"Liem koko coba kau lihat, bukankah ini?"
Dengan cepat Liem Tou rnenerima kitab tersebut dari tangan gadis itu, ketika memandang terlihatlah kitab itu tidak lain adalah kitab pusaka "Toa Loo Cin Keng" yang dicuri kakek tua kemarin malam membuat dia segera menjadi tertegun dan memandang sigadis cantik pengangon kambing Lie Wan Giok dengan melongo sedang dalam hatinya berpikir ubek ubekan mencari maksud yang sebenarnya dari gadis tersebut.
Saat itu sigadis cantik berbaju putilt itu sudah bicara lagi.
"Liem koko bila ada pertanyaan lain kali saja bicarakan, coba kamu dengar mereka sudah semakin dekat. Kalau kamu tidak ingin dikenali oleh mereka cepat pergunakan topengmu itu. sekalipun dalam hati kamu orang gemas dan benci kepada mereka tapi kesempatan dikemudian hari masih sangat banyak, biarlah kali ini Siauw moay yang menggoda mereka.”
Dalam hati Liem Tou tahu benar benar kalau Pouw Cungcu sekalian sudah menganggap kalau dirinya sungguh sungguh sudah binasa tenggelam disungai bilamana sampai saat ini ditemui mereka mungkin sekali akan mendapatkan cemoohan dan ejekan yang menusuk hati, daripada harus menerima penderitaan itu jauh lebih baiknya kini sembunyikan wajahnya terlebih dahulu dikemudian hari bilamana kepandaian silatnya sudah berhasil dilatih untuk membalas sakit hsti masih punya banyak kesempatan.
Sesudah berpikir sampai disini Liem Tou tidak kukuh lagi dengan pendiriannya, dengaa cepat topengnya dipakai diatas wajahnya membua air mukanya didalam sekejap saja sudah berubah menjadi seorang lelaki berusia partengahan dengan wajah berwarna kehijau hijauan bahkan kelihatan sekali keseramannya.
Sesaat dia selesai menggunakan topeng itu derapan kaki kuda sudah semakin dekat lagi hanya didalam sekejap saja si cambuk sakti sekalian akan tiba disana, mau tak mau hati Liem Tou berdebar keras juga.
Ujar Lie Win Giok dengan perlahan.
"Kita harus jalan seperti biasa, jangan sekali kali melihat mereka walau sekejap pun"
"Kamu orang akan menggunakan cara apa untuk menghadapi mereka?"
"Ini urusanku!'
Mendadak suara ringkikan kuda yang panjang berkumandang dari belakang tubuh mereka, ujar Lie Wan Giok lagi dengan perlahan,
"Liem koko, ilmu menunggang kuda dari mereka sungguh sangat sempurna walaupun didalam keadaan yang sangat cepat mereka masih bisa menahan kendali mereka"
Pembicaraannya ini seperti saja dia melihat dengan mata kepala sendiri, membuat Liem Tou tidak tertahan menoleh sekejap kebelakang, terlihatlah Pouw Siauw Ling sudah berada dibelakang tubuh mereka berdua, begitu
melihat Liem Tou menoleh, mendadak bentaknya,
"Cepat minggir!”
“Hey Siauwko" seru sigadis cantik pengangon kambing itu dengan nada sedikit mengomel “Sudah aku katakan jangan menoleh, kenapa sengaja kamu menoleh juga?"
Pouw Siauw Ling yang tidak mendengar suara sahutan dari mereka berdua segera teriaknya lagi dengan keras.
"Hee..kalian berdua cepat singkirkanlah kambing kambing kalian kepinggir, dengan menghalangi jalanan begini kalian suruh kami harus lewat dengan cara bagaimana ?"
Liem Tou serta sigadis cantik pengangon kambing itu dengan masing masing menunggang kerbau serta kambingnya dengan langkah perlahan tetap melanjutkan perjalanannya kedepan, mereka sama sekali tak mau ambil perduli terhadap teriakan Pouw Siauw Ling itu.
Melihat mereka sama sekali tak mau gubris hawa amarah dari Pouw Siauw Ling semakin memuncak, bentaknya dengan gusar.
"Hey dua anjing didepan cepat menyingkir, Toayamu sekalipun _mau lewat kalau tidak jangan salahkan kami akan menerjang kawanan kambing kalian hingga binasa semua."
Dua orang itu tetap tidak menggubris. Dengan mengerang gusar teriak Pouw Siauw Ling lagi,
“Dua manusia laki perempuan yang tak tahu diri, kalian jangan menyesa1"
Mendadak terdengar suara pekikan kuda yang sangat panjang disusul dengan suara bentakan Pouw Siauw Ling.
Liem Tou hanya merasakan sambaran segulung angin yang keras berkelebat dibelakang tubuhnya, dia tahu begitu bicara biasanya Pouw Siauw Ling tentu melaksanakan perkataannya dan kini sungguh2 dia menerjang kearah kawanan kambing tak terasa hatinya merasa sangaz terperanjat.
Ketika ia menoleh kearah sigadis cantik pengangon kambing itu terlihat sikapnya masih tenang tenang saja tanpa gugup sedikitpun, bahkan masih tetap melanjutkan perjalanannya ke depan.
Pada saat pikiran Liem Tou sedang berputar keras itulah Pouw Siauw Ling sudah menerjarg hingga dibelakang tubuh orang itu, Liem Tou hanya merasakan sambaran angin yang sangat tajam kearah tubuhnys.
Mendadak si gadis cantik pengangon kambing itu tertawa ujarnya.
"Liem koko, coba kau libat."
Sambil berkata pinggangnya yang ramping sedikit ditarik kebelakang sehingga pundaknya sekonyong konyong menempel pada punggung kambing dan pada waktu yang bersamaan pula Pouw Siauw Ling sudah menerjang datang pada saat kritis itulah tangan dari gadis cantik pengangon kambing itu diangkat, seruling pualam ditangannya dengan tepat menotok kepala dari kuda tersebut.
Kuda tersebut yang secara mendadak mendapatkan serangan dahsyat menjadi sangat terkejut sambil meringkik panjang dua kaki depannya mendadak mengangkat keatas, gadis cantik pengangon kambing itu tidak mau membuang kesempatan ini, tangannya sedikit digetarkan seruling pualamnya sudah menotok kearah perut kuda tersebut, memaksa kuda ttu menjungkir dan rubuh keatas tanah dengan empat kaki diatas.
Pouw Siauw Ling yang melihat kudanya rubuh dengan gerakan tubuh yang sangat lincah mendadak melayang keatas dengan cepatoya sehingga terhindar dari tindihan tujuh kuda itu, air mukanya sudah berubah merah padam saking gusarnya.
Tetapi hanya sekejap saja air mukanya sudah pulih pada senyuman riangnya, waktu itulah tepat Liem Tou sedang menoleh kearahnya begitu
melihat senyuman tersebut hatinya jadi panas dia ingat betul betul akan senyumnya ini hanya didalam sekejap saja bayangan ketika dia dianiaya oleh Pouw Siauw Ling memenuhi seluruh benaknva, mendadak mulutnya dengan capat mengucapkan kata "Beng" dari delapan kata rahasia itu.
Kerbau tunggangannya dengan cepat mundur kebelakang hingga Liem Tou merasa sudah cukup mendadak bentaknya dengan keras.
"Beng" Kerbaunya dengan cepat memutar kebelakang dan tepat menerjang dimana Pouw Siauw Ling berdiri, bentak Liem Tou lagi.
"Tong” Kerbaunya menundukkan kepalanya sehingga tanduknya dipersiapkan kedepan, kemudian dengan ganasnya menanduk tubuh Pouw-Siauw Ling, melihat keadaan yang sangat barbahaya dengan seluruh kekuatan Pouw Siauw Ling meloncat kesamping serunya dengan gusar.
“Kurang ajar . . , . kurang ajar ...”
Dari pinggangnya dengan cepat dia menurunkan cambuk panjangnya tangannya sedikit digerakkan cambuknya siap disapu kedepan, mendadak dari tempat kejauhan terdengar suara teriakan seseorang.
“Ling Jie, tahan..”
Terlihat si cambuk sakti basarnya Liong Ciang Houw Jiauw, Siang Hui Hok berlari mendatang tanyanya dengan cemas.
"Ling jie, sudah terjadi urusan apa?"
Saat ini saking gemasnya Pouw Siauw Ling tidak bisa mengucapkan sepatah katapun lama lekali barulah sahutnya.
“Mereka - mereka terlalu menghina orang."
Pouw Peng, Pouw Liang dari Siang hui hok yang selamanya jadi orang paling berangasan begitu mendengar perkataan ini segera menjadi gusar, masing2 meloncat turun dari kudanya dari berjalan menerjang kearah Liem Tou.
Baru saja Liem Tou akan memberi perintah pada kerbaunya untuk melancarkan serangan mendadak si gadis cantik pengangon kambing itu muncul dari belakang tubuhnya, sambil menghalangi perjalanan dari Siang Hui Hok, ujarnya sambil menuding kearah Pouw Siauw Ling.
“Kalian jangan mau dengar omongannya, dengan jelas tanpa perduli mati hidup orang lain dia memerintahkan kudanya menerjang kami kini masih bilang orang lain yang menghina dia sungguh tidak tahu malu.”
Sambil berkata ujarnya pada Liem Tou.
“Koko muka hijau tidak usah peduli mereka lagi mari kita pergi.”
Sejak kecil Pouw Siauw Ling sudah terbiasa dengan sifat ingin menang dan sombong, kini dihina secara begini mana bisa meuerima, sambil membentak keras ujarnya .
“Hui Hok Jie siok harap tunggu sebentar, ini hari keponakanmu harus membasmi kedua anjing laki perempuan ini” sambil berkata cambuknya dengan menggunakan jurus Sin Liong Pok Wi atau naga sakti menggoyangkan ekor menghajar kearah leher Liem Tou yang masih berada diatas punggung kerbau.
Sebenarnya sigadis cantik pengangon kambing itu memang berdiri ditengah antara Liem Tou serta Siang Hui Hok.. begitu serangan cambuk dari Pouw Siauw Ling dilancarkan kearah Liem Tou maka serangan itu harus melewati samping tubuh Lie Wan Giok terlebih dulu terlihatlah secara meadadak dia mengangkat serulirg pualamnya dan diketuk dengan perlahan disamping cambuknya, ujarnya sambil tertawa.
"Koko muka hijau kamu orang turun tangan terlalu berat, sedikit-sedikit saja sudah bunuh orang kali ini biarlah siauw moay yang menerima."
Serangan dari Pouw Siauw Ling ini sebetulnya sudah menggunakan tenaga penuh, dalam anggapannya dalam satu kali serangan saja sudah cukup menjirat Liem Tou, hingga jatuh dari punggung kerbaunya, tahu hanya cukup ketokan perlahan dari seruling pualam Lie Wan Gok seperti juga secara mendadak canmbuknya diputus dari tengah dengan dahsyat sekali
ujung cambuknya melibat kembali menyapu kesamping tubuh Siang Hui Hok.
Pouw Siauw Ling segera sadar sudah bertemu dengan musub tangguh, didalam keadaan yang tergesa gesa itu dengan cepat disentaknya kembali cambuk bajaya, teriaknya dengan keras.
"Tia, paman2 sekalian harap berhati hati, kepandaian dari sepasang laki perempuan sangat dahsyat . mereka bukan tandingan kita."
Mendcngar perkataan itu si gadis cantik pangangon kambing menjadi tersenyum ujarnya.
"Ling jie, jadi kamu baru tahu akan hal ini?? ooh - kasihan . . kasihan . , mari coba lagi"
"Nenek muka kuning …kamu bilang saya apa ?" teriak Pouw Siauw Ling aemakin gusar.
"Bukankah kamu bernama Ling-jie ?"
Saking gusarnya kontan saja air muka Pouw Siauw Ling berubah menjadi kehijau hijauan, tanpa perduli musuhnya itu lihay atau tidak tubuhnya dengan cepat berkelebat cambuk baja di tangannya dengan sekuat tenaga diayun kedepan, tenaga murninya dipusatkan pada cambuk sehingga cambuk itu berubah menjadi sebuab tombak panjang berwarna kehijau-hijauan, kemudian dengan menggunakan jurus Tok Coa To Sim atau ular beracun mengulur lidah dengan sangat dahsyat menusuk tenggorokan si gadis cantik pengangon kambing itu.
Dengan sangat cepat sekali cambuk baja itu mendekati tubuhnya, tetapi sigadis cantik pengangon kambing itu tidak ambil gubris, sambil tetap tertawa ujarnya lagi.
"Aaai . . tidak kusangka kepandaianmu lumayan juga.”
Perkataan sigadis cantik pengangon kambing itu baru saja selesai ujung cambuk tersebut sudah tiba, jika dia betul2 membiarkan cambuk itu menusuk tubuhnya walaupun kepandaian gadis cantik pengangon kambing itu jauh
Lebih tinggi juga sukar untuk menahannya.
Pada saat ujung cambuk Pouw Siauw Ling hampir mangenai tubuhnya itulah didalam keadaan yang sangat kritis tangan gadis itu diulur kedepan, kecepatannya sangat luar biasa sehingga orang2 yang hadir dikalangan tak ada yang melihat dengan jelas.
Pouw Siauw Ling hanya merasa ujung cambuknya sudah terjepit oleh dua jari gadis tersebut.
Pouw Siauw Ling menjadi sangat terperanjat, dengan cepat dia berusaha menarik kembali cambuk bajanya, siapa tahu walau pun sudah mengerahkan tenaga dalam yang dia miliki itu cambuk tetap tidak bergeming sedikitpun.
Sampai waktu itulah gadis cantik pengangon kambing itu baru tersenyum ujarnya,
"Eh eh .. Ling jie kenapa kau?? masih tidak kau lepas tangan? dengan i1mu silat cakar ayammu itu masih terpaut jauh jika ingin mengadu tenaga dalam dengan aku"
Waktu itu Pouw Siauw Ling benar2 serba salah untuk lepas tangan sudah tentu tidak mungkin bisa dilakukan sebaliknya untuk mencabut kembali cambuknya tidak sanggup, saking cemas dan bingungnya tidak terasa !agi air mukanya berubah merah padam. Mendadak dengan gusar bentaknya dengan keras.
“Nenek muka kuning..aku mau adu jiwa sama kamu orang.”
Sehabis berkata dia menggigit kencang bibirnya dengan memperlihatkan wajah mau mengadu jiwa dengan seluruh kekuatan dia menarik cambuknya kebelakang, mendadak tenaga dalamnya berubah dengan meminjam tenaga si gadis cantik pengangon kambing yang sedang bertahan mendadak tenaganya didorong kedepan.
Si gadis cantik pengangon kambing itu tidak disangka Pouw Siauw Ling bisa menggunakan siasat busuk seperti itu, tangannya sedikit tergetar hampir hampir saja tak sanggup untuk bertahan dan kena siasat beracunnya.
"Hmm..kamu sendiri yang cari penyakit”
Mendadak„..tangan sebelahnya yang mencekal seruling pualam dengan sangat dahsyat, memukul keatas cambuk bajanya itu. Criing . . . , kemudian disusul dengen jeritan mengaduh dari Pouw Siang Ling sepasang tangannya tergetar oleh tenaga pantulan itu membuat telapak kontan pecah mengucur keluar darah segar dengan derasnya.
Liem Tou yang berdiri disamping bisa melihat kajadian ini dengan sangat jelas sekali, dia melihat Pouw S:auw Ling yang selalu menyiksa dan menganiaya dirinya sejak kecil kini memperoleh penderitaan dalam hati menjadi sangat girang sekali, bersamaaan pula dia punya anggapan yang lain terhadap gadis cantik pengangon kambing ini.
Tidak disangka olehnya seorang gadis cantik yang bagitu lemah lembut bisa memiliki tenaga dalam yang begitu sempurnanya, diam-diam dia merasa terkejut bercampur heran bahkan ketika teringat kembali pada sikakek tua yang tersesat "Hui Tui Jie" jika betul betul dia adalah ayahnya maka kepandaiannya sudah tentu jauh lebih luar biasa lagi.
Sampai saat ini barulah dia teringat kembali perasaan herannya sewaktu mendadak melihat elang raksasa yang menguntit dirinya sejak dari lembah cupu cupu secara mendadak bisa rubuh binasa dengan sendirinya, hal ini tentu merupakan pekerjaan dari kakek aneh" Hui Tui Jie" itu secara diam diam.
Sewaktu Liem Tou berpikir dengan nikmatnya itu mendadak terdengar si Ang in sin pian Pouw Sak San sudah angkat bicara ujarnya.
"Cayhe adalah Sak San Cung cu dari Ie Hee Cung diatas Cing Jan, putraku tidak hormat harap nyonya memaafkan. Tolong tanya juga siapa nama besar dari nyonya?”
Dengan cepat Liem Tou menoleh, tampaklala saat itu si Ang in sin pian sedang merangkap tangannya memberi hormat sedang sigadis cantik pengangon kambing itu sedang merasa bingung, bagaimana seharusnya berbuat, hatinya
kelihatan sangat tidak tenang juga tidak berbicara sepatah katapun, mendadak dia putar tubuhnya bertanya kepada Liem Tou.
"Koko muka hijau, dia minta maaf kepadaku kamu orang kira bagaimana enaknya?"
Teringat kembali oleh Liem Tou keadaan sewaktu dia diusir dari atas gunung Ha Mo San, segera teriaknya dengan keras.
"Moay moay muka kuning, orang ini pura - pura gagah . . pura pura berbudi kamu harus berhati hati terhadap bokongannya."
"Baiklah. " sigadis cantik pengangon kambing itu kemudien ."Kalau begitu biar aku coba coba kepandaiannya, aku mau lihat dia bisa berbuat apa”
Sesudah mengucapkan kata kata itu barulah dia putar tubuhnya kembali, kepada si Ang in sin pian sahutnya.
“Kamu tidak usah tanya aku lagi. sekalipun kamu orang merengek rengek aku juga tidak akan menyebut namaku, jika kamu ingin bergebrak, tentu aku melayani ."
"Aku bukan maksudkan begitu," ujar Ang sin pian dengan suara halus.
"Nyonya kepandaian silat yang sangat tinggi saat ini juga sudah berada diatas angin. kenapa tidak mau meminggirkan kambing kambing itu sedikit
kesamping agar cayhe bisa lewat? Buat apa karena urusan yang sangat sepele sampai terjadi bentrokan satu sama lainnya? "
“Tidak mungkin, kalian semua merupakan manusia manusia tidak berbudi manusia manusia kasar, kalian ingin merebut jimat koko muka hijauku, aku harus hajar kalian semua."
Ketika Si Ang in sin pian Pouw Sak San melihat gadis cantik pengangon kambing itu bicara tidak pakai aturan air mukanya segera berubah sangat hebat, pada alisnya pun secara samar samar mulai muncul hawa napsu untuk membunuh, sambil memandang tajam gadis cantik pengangon kambing itu ujarnya„
"Kamu orang sungguh sungguh mau berhantam? siapa betulnya kamu? diantara kita tidak ada ganjelan dan sakit hati apa, buat apa kalian begitu ngotot mau memaksa orang??"
Sambil berkata dengan perlahan lahan dia melepaska cambuk merahnya yang dilititkan pada pinggang, melihat hal itu gadis cantik pengangon kambing itu menjerit tertahan, diam diam pikirnya.
“Ohh..kiranya ahli waris dari partai itu ."
Semangatnya menjadi berkobar kembali, pecut baja yang dirampas dari Pouw Siauw Ling tadi dengan cepat disentakkan keatas udara sehingga menimbulkan suara yang menderu- deru, kenada Ang in sin pian Pouw Sak San teriaknya.
"Ayahku pernah bilang pada dua puluh tahun yang lalu pernah muncu1 sebuah cambuk merah didalam Bu Lim, kepandaiannya sangat lihay sekali sehingga banyak jago2 dari dunia kangouw yang dikalahkan ditangannya, kemudian secara mendadak melenyapken diri dari keramaian Bu lim, kini kamu juga menggunakan cambuk merah ini, apa mungkin kamu orang punya hubungan dengan dia ?"
Mendengar perkataan itu Ang in sin pian Pouw Sak San menjadi melengak, ujarnya.
"Jika didengar perkataanmu itu dia memang suhu cayhe, siapa ayahmu?”
"Ha ha ha . bicara selama setengah harian lamanya tak tahu kiranya kamu marid dari bajingan besar perampok kaki tunggal itu, kamu mau tanya siapa ayahku belum memadahi."
Beberapa patah perkataan ini seketika mernbuat Ang in sin Pouw Sak San menjadi sangat gusar, seluruh rambutnya pada berdiri matanya melotot keluar dengan besarnya sedang mulutnya tak henti2nya mendesis.
Ujar gadis cantik pengangon kambing itu lagi.
“Entah kamu orang punya kepandaian silahkan keluarkaa semua, ayahku bilang pada tiga puluh tahun yang lalu dia tak sempat menemui perampok besar itu, ini hari aku bisa bertemu dengan muridnya sudah seharusnya minta pelajaran beberapa jurus cambuk merahnya, aku mau lihat apa betul dia sangat lihay."
Kemudian bentaknya nyaring.
"Cepat keluarkan jurus2mu."
Ang in sin pian Pouw Sak San tidak bisa menahan diri lagi, tangannya diulapkan menyuruh Pouw Siauw Ling serta para pembantunya mundur kebelakang, kemudian sambil tertawa dingin ujarnya.
“Nenek muka kuning kamu kira aku betul2 jeri sama kamu orang ??? kali ini kamu yang cari gara gara terhadap diriku jangan salahkan aku Ang In Sin Pian Pouw Sak San berlaku telengas dan kejam terhadap kamu."
Sehabis berkata bentaknya dengan keras, "Terimalah seranganku."
Cambuk merahnya diayun kedepan mendadak terpancar sinar merah yang memenuhi angkasa. Gadis pengangon kambing itu tidak berani berayal lagi cambuk bajanya digetar keatas, dengan menimbulkan bayangan cambuk yang bersusun2 menyambut datangnyaserangan itu semuanya.
"Jurus ini merupakan ilmu cambuk buntut harimau, tiada keindahannya sama sekali."
Tubuh Ang in sin pian Pouw Sak San dengan cepat berputar. ujung cambuknya diputar kemudian ditarik didalam sekejap mata saja cambuk panjangnya dengan mengeluarkan 'selapis sinar merah’ dengan lurus menusuk kedepan, gerakkannya mirip seekor ular emas yang sedang mematuk mangsanya, dengan tepat menerjang masuk tubuh gadis cantik pengangon kambing itu.
Gadis cantik pengangon kambing itu hanya tersenyum saja, tubuhnya berturut-turut mundur dua langkah kebelakang mendadak bayangan putih berkelebat dengan satu gerakan yang sangat indah tubuhnya melayang beberapa kali di tengah angkasa. cambuk bajanya dengan meminjam gerakan ita menekan keatas kepala Pouw Sak San ujarnya.
“Ilmu cambuk ular malas juga tidak aneh."
Perkataannya belum selesai angin serangan Ang in sin pian Pouw Sak San menarik kembali cambuk merahnya, tenaga dalamnya dengan cepat dikerahkan pada pargelangan tangan cambuk panjang itu sekali lagi melilit keatas kepalanya, tatapi baru saja melilit satu lingkaran cambuk panjang itu mendadak melurus kedepan dengan jurus "Kie Hwee Sauw Thian' atau menyulut api membakar langit cambuknya membumbung tinggi keangkasa kemudian menekuk menotok tubuh gadis cantik pengangon kambing itu.
Liem Tou yang berdiri disamping ketika melihat tubuh gadis itu masih berada diangkasa sudah mendapatkan serangan dahsyat tidak terasa merasa sangat kuatir sekali.
Siapa tahu kepandaian silat dari gadis cantik pengangon kambing itu betul2 sangat lihay dan sudah mencapai pada kesempurnaan, bayangaa cambuk Pouw Sak San baru saja tiba seruling pualam ditangan kiri gadis dengan tidak menimbulkan sedikit suarapun sudah sedikit menutul diatas tubuh cambuk merah itu, dengan meminjam tenaga ini tubuhnya melayang pergi bersamaan pula cambuk baja ditangan kanannya mendadak melilit keatas pergelangan Pouw cungcu, mulutnya tetap berteriak.
"Jurus Kiem Ling Pian Hoat ini masih belum sanggup untuk menahan diriku.”
Saat itu berturut-turut Ang in sin pian Pouw Sak San melancarkan tiga serangan sekaligus dengan menggunakan tiga macam ilmu cambuk yang berbeda, bukan saja semua jurus serangannya mencapai sasaran kosong bahkan setiap ilmu cambuk yang dia gunakan bisa diketahui orang lain dengan begitu jelasnya tidak tertahan hatinya merasa terkejut juga, pikirnya.
"Nenek muka kuning ini sungguh hebat sekali dengan kepandaian silat yang dimilikinya sekarang ini boleh dikata merupakan seorang jago yang sangat terkenal didalam dunia kangouw, bisa kuingat slapa yang bisa memadahi kepandaian silatnya ini."
Berpikir sampai disini mendadak ilmu cambuknya berubah lagi, hanya didalam sekejap mata saja bayangan cambuk bagaikan gunung, mendadak berubah kembali bagaikan mega2 merah yang melayang rendah dipermnukaan tanah dengan perlahan lahan mengurung tubuh sigadis cantik pangangon kambing itu.
Melihat serangan yang sangat dahsyat inilah gadis cantik pengangon kambing ini baru memuji.
"Hmm cambuk yang hebat."
Dengan cepat cambuk bajanya melancarkan serangan dahsyat pula dengan gerakan cepat menyambut gerakan cepat menahan serangan musuh, didalam sekejap saja beberapa kaki sekeliling tempat itu hanya terasa angin cambuk yang menderu deru, diantara bayangan merah dan kuning bayangan manusia bergebrak tidak terpisahkan, sampai akhirnya samakin bertempur semakin cepat - - - semakin cepat semakin seru sehingga bayangan dari Pouw Sak San serta gadis cantik pengangon kambing itu tidak bisa dibedakan lagi, pasir serta kerikil pada beterbangan. Debu mengepul naik membumbung ke angkasa membuat pandangan hadirin menjadi buram, untuk membedakan mana hitam mana merah sudah sangat sukar sekali.
Liem Tou, Pouw Siauw Ling, Siang hui hok, Hauw jiauw serta Liong ciang yang menonton jalannya pertempuran disamping menjadi begitu
terpesonanya, mareka mamandang ketengah termangu mangu matanya melotot keluar dengan bulatnya, hatinya berdebar debar keras sedang keringat dingin mengucur keluar dengan derasnya.
Beberapa ssat kemudian tiba tiba Ang in sin pian Pouw Sak San mnjerit keras kedua orang yang sedang bertempur dengan serunya itu secara mendadak berpisah. Gadis cantik pengangon kambing itu dengan tertawa merdu berdiri disamping dengan tenangnya sedang si Ang in sin pian Pouw Sak San dengan air muka yang sudah berubah dingin kaku bardiri tertegun disana, untuk sesaat tidak sepatah katapun yang bisa diucapkan keluar, sepasang matanya itulah yang sudah kehilangan sinar terang, yang melotot keluar dengan besarnya.
"Budi kebaikan nyonya tidak sampai turun tangan jahat cayhe merasa sangat berterima kasih. Tapi aku Ang in sin pian sejak berpisah dari suhuku sekalipun sangat jarang berkelana didalam dunia kangouw tetapi mengingat kebesaran dari nama suhuku pada masa yang silam aku parcaya didalam dunia kangouw selain beberapa orang cianpwee yang bisa mengeluarkau ilmnu cambuk Ang In Pian hoat sukar untuk dicari yang lain, sebetulnya nyonya berasal dari partai mana ??? apa boleh cayhe ketahui ?"
"Ayahku pernah bilang kalau kami tidak suka berebut dengan orsng2 dunia kangouw, karenanya tidak punya perguruan maupun partai. Kalau ada juga karena orang lain yang paksa beri kepadakami tetapi orang lain panggil aku sebagai gadis cantik pengangon kambing, kamu boleh ingat2 nama itu saja.”
Mendengar nama sebutan itu dengan mata yang melotot keluar Ang in sin pian Pouw Sak San memandang beberapa saat kearahnya baru saja mau buka mulut memberi jawaban mendadak terdengar Pouw Siauw Lirg yang berada disampingnya sudah berteriak.
"Ayah kamu orang tua jangan mau mendengar omongan setannya, dengan wajahnya yang sudah keriputan dan berwarna kuning bagaimana bisa disebut gadis cantik ? sungguh suatu omong kosong yang sangat besar sekali."
Ketika gadis cantik pengangon kambing mendengar perkataan yang begitu menghina dari Pouw Siauw Ling tidak menjadi marah, kepada Liem Tou ujarnya.
"Koko muka hijau, cepat kamu pejamkan matamu aka mau perlihatkan kembali asalku.”
"Jangan jangan . .." seru Liem Tou dengan cemas. "Kamu jangan sembarangan . . ."
Tetapi seorang gadis muka yang cantik siapa yang tidak suka dipuji, tangannya dengan cepat sudah mengusap wajahnya mencopot topeng dari kulit kambing itu, kemudian dengan perlahan lahan menoleh.
Ang in sin pian Pouw Sak San, Pouw Siauw Ling, Siang hui hok, Liong ciang serta Hauw jiauw hanya merasakan pandangannya mendadak menjadi terang, tidak terasa lagi pada menjerit kaget.
"Haaaa???"
“Aaah . . . sungguh cantik. "
"Heeey . tidak kusangka."
"Ooh Thian begitu cantik gadis ini."
Enam orang dengan dua belas mata memandang dengan tajamnya memandang gadis cantik pengangon kambing itu tanpa berkedip sedikit pun juga.
Terdengar gadis cantik itu tersenyum, ujarnya. "Eh eh . . . kenapa kalian ? ada apanya yang baik dari aku nenek muka kuning ??"
"Tidak kusangka kamu masih seorang nona yang amat muda."
Sedang Pouw Siauw Ling tidak bisa mengucapkan kata kata lagi, air mukanya sebentar berubah putih kehijau hijauan sebentar berubah kembali jadi merah padam, dengau tajamnya memandangi terus menerus wajah gadis cantik pengangon kambing itu, lama sekali barulah dengan perlahan muncul kembali senyuman ringannya. Dengau perlahan dia berjalan maju kedepan dan membisikkan sesuatu kedalam telinga Ang in sin pian Pouw Sak San.
Sesudah mendengar bisikan itu si Ang in sin pian, Pouw Sak San termenung sebentar, kemudian barulah mangangguk memberi hormat kepada gadis cantik pengangon kambing itu ujarnya.
"Gadis cantik pengangon kambing wajahmu sangat cantik sekali kepandaian silatnyapun sangat tinggi aku Ang in sin pian orang she Pouw
dapat berkenalan kamu orang sungguh merupakan suatu keuntungan, kali ini aku membawa putra serta pembantu2 ku turun gunung sebetulnya bertujuan menyambangi setiap enghiong hoohan yang terkenal didalam dunia kang ouw beserta para Poo Touwcu dari daratan maupun lautan untuk menyetujui usaba cayhe yang baru, yaitu pembukaan ekspedisi "Ang in Piauw Kiok" pada bulan sepuluh yang akan datang cayhe mengundang enghiong hoohan untuk menghadiri perjamuan yang diadakan didesa Ie Hee Cung diatas gunung Ha Mo San, cayhe sampai waktunya sangat mengharapkan saudari gadis cantik pengangon kambing serta Hengtay ini mau menghadiri kampung kami; bagaimana pendapat kalian ?"
Sambil berkata dia mengambil keluar dua pucuk surat undangan besar berwarna merah, dan menanti jawaban dari gadis cantik pengangon kambing itu.
Dengan cepat gadis itu menyambut surat undangan itu kemudian menoleh memandang sekejap kearah Liem Tou, saat itu sepasang mata Liem Tou yang berada dibalik topeng dari kulit kambing itu sedang dipejamkan rapat rapat sedang tubuhnya pun gemetar dengan sangat keras sekali, agaknya dalam hati dia merasa sangat tegang.
Gadis cantik pengangon kambing itu sesudah menerima surat undangan dan melihat keadaan Liem Tou begitu tegangnya tidak terasa tanyanya.
"Koko muka hijau, bagaimana? Kita pergi tidak ?"
Liem Tou yang mendengar si Ang in sin pian Pouw Sak San punya maksud mendirikan usaha ekspedisi "Ang In Piauwkok " bahkan mau dibuka diatas kampung Ie Hee Cung dalam hati betul betul merasa sangat terperanjat. hingga mengenai diundangnya mereka untuk menghadiri pertemuan itu sama sekali tidak dipikirkan kini begitu ditanyai gadis cantik pengangon kambing itu membuat dia menjadi bingung.
Dalam hati diam diam pikirnva.
"Jaraknya dari sekarang hingga bulan sepuluh sangat dekat, saat itu jika kepandaianku belum cukup tidak mungkin bisa melewati tiga rintangan mereka dengan selamat, buat apa aku sanggupi mereka terlebih dulu? Jika waktu itu kepandaiannya sudah berhasil dilatih sekalipun mereka tidak mengundang aku juga mau pergi lihat."
Berpikir sampai disini segera sahutnya. "Pergi atau tidak sampai waktunya baru kita bicarakan lagi.”
"Betul "ujar gadis cantik pengangon kambing itu sambil tersenyum. "Perkataan dari koko muka hijau sedikit pun tidak salah, pergi atau tidak sampai waktunya baru dibicarakan lagi.
Sehabis berbicara seruling pualamnya ditempelkan pada bibirnya dan mulai ditiup, segera terdengariah suara seruling yang lembut dan halus berkumandang diseluruh penjuru, terlihatlah kawanan kambing kambing itu dengan perlahan lahan menyahut dan menyingkir kesamping jalan.
Setelah itu barulah dia melemparkan cambuk bajanya kepada Pouw Siuw Ling, ujarnya. "Ini aku kembalikan senjata rongsokkanmu, cepat ….cepat pergi, lain kali berani kurang ajar lagi hemmm hemmm tidak semudah hari ini."
Dengan perasaan sangat malu dan air muka yang sudah berubah merah padam Pouw Siauw. Ling menerima kembali cambuk bajanya, dengan cepat Ang in sin pian maju kedepan memberi hormat, ujarnya.
“Terima kasih atas kemurahan nona, cayhe sekalian dengan ini mohon diri terlebih dulu, kampung Ie Hee Cung diatas gunung Ha Mo San di Cing Jan kami dengan hormat menanti kunjungan saudara saudara sekalian”
Sehabis berkata dia memberi hormat lagi berulang kali, sesudah itu barulah mengulap tangannya memberi tanda kepada yang lain untuk, segera berangkat.
ooOoo
TERLIHATLAH debu membumbung tinggi keangkasa, suara derapan kuda yang amat ramai dengan perlahan semakin menjauh dan akhirnya lenyap dari pendengaran.
Sesudah bayangan Pouw Sak San sekalian lenyap dari pandangan barulah Liem Tou melepaskan topeng kulit kambingnya itu, dengan memandang bayangan Pouw Sak San sekalian dengan termanngu mangu gumamnya seorang diri.
"Ehmmm akhirnya pergi juga"
Mendengar suara gumaman itu gadis cantik pengangon kambing tersebut mennjadi bingung, tanyanya.
“Liem koko kamu kenal dengan mereka itu?? Jika kamu tidak pakai topeng bagaimana mereka bisa tahu kamu adalah Liem Tou?
Liem Tou yang sedang melamun ketika mendengar perkataan gadis cantik pengangon kambing itu segera meno!eh. Terlihatlah sepasang biji matanya yang bening sedang memandangi dirinya menanti jawaban. Hatinya dengan cepat berputar teringat kembali kalau kepandaian gadis ini sangat tingggi sekali sehinggs Pouw Sak San pun bukan tandingannya, kedatangannya yang sangat mendadak ditambah lagi dengan alasan yang berbeda beda, pertama dia bilang mau cari ayahnya kemudian bilang sedang mengembalikan kitab pusaka " Toa Loo- Cin Keng kepadanya, hal ini jelas sekali sedang berpura pura dan punya maksud tertentu.
Berpikir sampai disini perasaan curiga didalam hatinya segera timbul kembali mendadak teriaknya dengan keras.
"Kalau betul nona datang kemari bertujuan mengembalikan kitab pusaka Toa Loo Cin Keng yang diambil ayahmu, aku Liem Tou merasa sangat berterima kasih sekali, kini didepan masih ada urusan yang harus aku selesaikan secepat mungkin, terpaksa aku mohon diri terlebih dulu.”
"Liem Koko," seru gadis itu dengan cemas. 'Kamu mau pergi kemana? Ayahku perintahkan aku sesudah kembaiikan kitab pusaka Toa Loo Cin Keng itu harus mengikuti dirimu, kamu tidak bisa tinggalkan aku seorang diri.”
Liem Tou yang mendengar perkataan dari gadis cantik pengangon kambing itu sangat polos jujur segera berpikir kembali.
“Kakek Hui Tui Jie itu suruh dia mengikuti aku terus sudah tentu sedang mengincar kitab pusaka To Kong Pit Liok-ku itu, kalau tidak masih ada urusan apa?”
Berpikir sampai disini dengan cepat dia menepuk kepala kerbaunya, serunya.
"Hoa”
Kerbaunya serera menyahut dan lari dengan sangat cepatnya kedepan, bersamaan pula Liem Tou menoleh kebelakang sambil sahutnya.
"Kita bukan sanak bukan saudara buat apa berjalan bersama-sama? lebih baik kamu cari bapakmu saja”
Sehabis berkata dengan tidak menoleh 1agi dia melanjutkan perjalanannya, siapa tahu begitu si gadis cantik pengangon kambing itu melihat Liem Tou lari pergi dengan cepat seruling pualamnya ditiup, kawanan kambingnya pun dengan cepat mengikuti dibelakang tubuhnya.
Liem Tou yang menunggang kerbau dalam hati merasa sangat geli atas kelakuan gadis cantik pengangon kambing yang mau bertanding lagi dengan kerbaunya, hal ini boleh dikata sedang mimpi, siapa tahu pikiran itu baru berkelebat didalam batinya kemudian terdergarlah suara derapan kaki yang sangat ramai sekali menggetarkan seluruh permukaan tanah. Dengan cepat dia menoleh kawanan kambing yang berjumlah ratusan ekor itu dengan kencangnya lari kedepan membuat debu mengepul memenuhi angkasa bahkan kali ini gadis cantik pangangon kambing itu berada dipaling depan memimpin kawanan kambing peliharaannya.
Melihat kedahsyatannya dari gerakan gadis itu perasaan ingin menang dalam hati Liem Tou segera timbul, sambil mengapit kencang perut kerbaunya dia terus menerus berteriak dengan keras.
"Hoa, hoa, hoa, . "
Sebetulnya kerbau itu memang sedang lari dengan kencangnya kini mendapatkan perintah yang sangat gencar membuat larinya semakin cepat lagi, seperti anak panah yang lepas dari busurnya dengan sangat cepat dia lari kedepan.
Gadis cantik pengangon kambing yarg berada dibelakang ketika melihat kerbaunya Liem Tou lari semakin cepat, seruling pualam yang ditiuppun semakin nyaring lagi. Dalam sekejap mata kawanan kambing itu bagaikan meletusnya gunung berapi seperti juga mengamuknya samudra tertiup angin topan dengan suara memekikkan telinga menguruk kedepan semakin cepat lagi.
Demikianlah kedua orang itu saling kejar mengejar dan lari kedepan dengan kecepatan bagaikan kilat, apalagi gerakan kawanan kambing yang jumlahnya mendekati ratusan itu semakin mengejutkan setiap orang.
Gerakan ini bukan saja mengejutkan rakyat yang tinggal disekitar sana bahkan orang orang yang sedang melakukan perjalananpun merasa sangat terperanjat sehingga air muka mereka pada berubah menjadi pucat pasi, rumah pada ditutup dengan rapatnya sedangkan orang orang pada lari serabutan mencari perlindungan.
Didalam anggapan mereka ada berlaksa laksa tentara sedang menyerbu tempat itu, suasana begitu kacaunya tidak kalah seperti keadaan zaman peperangan.
**o**
6
Sesudah barlari lagi beberapa waktu lamanya didalam anggapan Liem Tou kali ini berhasil meloloskan diri dari kejaran gadis cantik pengangon kambing itu, siapa tahu suara derapan kaki kambing-kambing gadis cantik pengangon kambing itu semakin lama makin mendekat. Saat itulah dia baru tahu kecepatan dari kawanan kambing itu sehingga kini dia sudah kalah satu gerakan darinya, dalam hati benar2 merasa jengkel dan mangkel, mendadak dia menarik kembali tali kerbaunya sambil serunya.
Kerbaunya segera berbenti berlari, terdengar kawanan kambing serta gadis yang berada dibelakangnya dengan cepat sudah menyusul datang.
Sesampainya disamping tubuh Liem Tou seruling pualam itu sekali lagi ditiup gadis cantik pengangon kambing itu untuk menghentikan kambing kambingnya, ujarnya kemudian sambil tertawa.
"Liem koko, sungguh menarik sekali permainan ini. Bagaimana? Kenapa berhenti?"
"Hey!" ujar Liem Tou yang hatinya semakin jengkel. "Siapa yang mau guyon dengan kamu orang? Aku beritahu padamu sekarang aku tidak punya waktu lagi, kenapa kamu terus menerus saja mengikuti diriku?”
'Liem koko, buat apa kamu marah marah?" ujar gadis itu dengan tersenyum, "Ayahku betul betul suruh aku ikuti dirimu, kalau tidak dengan melihat wajahmu itu aku tidak akan mau bermain dengan kamu"
Liem Tou yang dikatai begitu hatinya semakin mangkel, serunya.
“Ayahmu suruh kamu ikuti aku tidak lebih seperti juga maksud orang yang lain ingin menipu kitab pusaka "To Kong Pit Liok" ku, aku beri tahu padamu, kamu orang jangan harap bisa mendapatkan barang itu”
"Tapi.." bantah gadis itu dengan cepat.
“Ayahku belum pernah suruh aku menipu kitab pusaka 'To Kong Pit Liok" mu itu. Oooh..Liem koko, aku bermain bersama sama kamu tidak akan mandatangkan kerugian terhadap dirimu.
Semakin bicara Liem Tou semakin gusar mendadak bentaknya. “Omonganmu semuanya menipu, aku tidak mau dengar. aku tidak mau deugar lagi, ayahmu mencuri kitab pusaka "Toa Loo Cin Keng" ku tentu dia mengira kitab itu adalab kitab pusaka " To Kong pit Liok" siapa tahu kitab itu bukan, makanya kini suruh kamu datang kesini menipu aku, kamu kira aku bisa ditipu mentah mentah cepat cepat pergi dari sini aku tidak mau bertemu lagi dengan manusia2 tidak jujur hatinya separti kalian.”
Perkataaan yang tajam ini, memaksa gadis cantik pengangon kambing itu hampir hampir menangis dibuatnya tetapi perkataan dari Liem Tou itu memang beralasan dan merupakan urusan yang betul betul sudah terjadi sehingga gadis cantik pengangon kambing betul betul tidak bisa membantah barang sepatah katapun.
Liem Tou yang melihat gadis cantik pengangon kambing itu tetap bungkam ejeknya.
“Cantiknya memang cantik seperti bidadari yang turun dari kahyangan, hanya saja hatinya licik sukar diduga.”
Sehabis bicara dia angkat kepalanya memandang keatas udara kemudian siap menjalankan kerbaunya lagi, mendadak ditengah udara yang berwarna biru itu dari tempat jauh muncul suatu titik hitam yang bagaikan kilat cepatnya meluncur datang kemari. Melihat hal itu Liem Tou menjadi tertegun, pikirnya.
“Apa mungkin elang jahanam itu datang lagi?”
Pada saat pikirannya sedang berputar itulah titik hitam itu semakin lama semakin besar, menanti Liem Tou berhasil melihat jelas benda itu hatinya menjadi berdesir serunya dalam hati lagi.
"Celaka baru saja dia mau merintahkan kerbaunva lari kencang ketika dia menoleh terlihatlah gadis cantik pengangon kambing itu sedang mengucurkan air mata dengan derasnya dan duduk tidak bergerak diatas kambingrya sambil memandang kearahnya membuat Liem Tou merasa kasihan. Sesudah disemprot dengan kata kata yang tajam tadi hatinya betul betul merasa sangat sedih, untuk membawa kambingnya meninggalkan tempat itu sudah tentu tidak mungkin bisa, tetapi untuk tetap mengikuti, Liem Tou juga serba salah.
Bagaimana juga Liem Tou masih tetap sangat welas kasih, melihat keadaan gadis cantik pengangon kambing yang sangat kasihan itu tak tertahan ujarnya dengan cemas.
"Nona aku tahu kamu tidak punya maksud jahat terhadap diriku, tetapi aku selalu menemui bahaya dimanapun banyak jejak musuh yang sedang mengintai jika kamu tetap ikut aku maka bahaya selalu akan mengancam tubuhmu, hal ini buat apa? Coba kamu lihat saja binatang jahanam itu datang lagi”
Gadis itu ketika mendengar nada suara Liem Tou sudah berubah menjadi sangat halus, hatinya menjadi sangat girang, ujarnya.
"Liem koko kalau begitu kamu sudah setuju kita jalan bersama sama bukan? Apa itu?"
"Jangan banyak bicara lagi, cepat pergi.”
Pada saat dia sedang bicara dengan gadis cantik peugangon_kambing itulah mendadak dihadapannya menjadi gelap, tak terasa dia menjadi sangat terkejut, teriaknya.,
"Hati hai..."
Tidak salah lagi elang raksasa yang sangat menyeramkan itu dengan sangat dahsyat sudah menyambar diatas kepala kedua orang itu tetapi dengan cepat sudah melayang kembali ketengah udara dan melenyapkan diri dibalik awan yang tebal.
Dengan tergesa gesa Liem Tou menepuk-nepukkan kerbaunya untuk melanjutkan perjalanan. Gadis cantik pengangon kambing yang berjalan disampingnya tidak tahan tanyanya.
"Liem koko, apakah binatang2 juga memusuhi kamu ?"
“Kamu pernah dengar manusia yang bernama Thian Pian siauwcu ? aku dengan mata kepala sendiri pernah melihat dia mengalahkan para jago dari dunia kangouw hanya dengan satu pukulan saja bahkan sekalipun Tionggoan Ngo Koay sudah bekerja sama masih belum sanggup menahan serangannya, elang itu adalah binatang peliharaannya, keganasannya luar biasa. Kini aku sudah diketahui jejaknya oleh binatang terkutuk itu mungkin sekali sebentar lagi Siauwcu itu sudah akan tiba disini."
"Haaaa ?” seru gadis itu dengan sangat terkejut. “Kiranya dia . tidak aneh kalau ayahku benar serius.”
Sehabis bicara dia bungkam diri tidak bicara lagi. Sebetulnya Liem Touw merasa sangat curiga terhadapnya tetapi dikarenakan ditengah perjalanan dia hanya memikirkan gilanya Ie Cici maka hatinya sedang merasa gemas tidak bisa dengan cepat tiba dibawah kaki gunung Ha Mo San kemudian dengan mengikuti jalan rahasia menaiki gunung itu untuk mengetahui keadaan yang sesungguhnya, sehingga dengan demikian perasaan kuatir terhadap gadis itu tidak dipikirkan lagi.
Sesudah melakukan perjalanan beberapa waktu lamanya elang itu tetap saja belum munculkan dirinya kembali, hal ini membuat hatinya jauh lebih lega. Tidak lama kemudian sampailah mereka disuatu sungai yang sangat lebar, ombak bergulung dengan santarnya sedang angin sepoi-sepoi, hati Liem Tou betul2 merasa sangat girang pikirnya.
“Kali ini sekalipun elang itu jauh lebih besar dan lebih ganas beberapa kali-lipatpun aku tidak akan merasa takut !agi.”
Hatinya betul2 merasa sangat gembira, dengan cepat dia meloncat turun dari punggung kerbaunya dan lari menuju ketepi sungai, tanpa membuka pakaian lagi dia ceburkan diri kedalam sungai. Menanti gadis cantik pangangon kambing itu tiba ditepi sunngai, bayangan dari Liem Tou sudah lenyap tanpa bekas lagi.
Lewat beberapa menit kemudian gadis cantik pengangon kambing itu baru melihat Liem Tou munculkan diri ditengah sungai tetapi didalam sekejap saja sudah lenyap lagi ditengah sungai.
Terpaksa gadis itupun turun data tunggangannya dan menanti ditepi sungai, saat itu siang hari sudah lewat, satu hari penuh tidak dahar membuat perutnya terasa sangat lapar sekali.
Siapa tahu walaupun sudah ditunggu sangat lama tetap tidak tampak Liem Tou munculkan dirinya keatas permukaan dalam hatinya betul2 merasa sangat kesal baru saja dia mendengar deburan yang sangat keras Liem Tou sudah munculkan dirinya lagi diatas permukaan bahkan tangannya mencekal seekor ikan yang sangat besar.
Melihat hal itu gadis cantik pengangon kambing itu menjadi sangat girang, ujarnya.
"Liem koko, tidak kusangka kamu punya kepandaian menyelam yang sangat hebat sekali, ikan itu cukup buat kita menangsal perut Hey..Liem koko .aku benar2 lapar."
"Kalau tidak lapar buat apa aku tangkap dia? kamu apa bawa api?
"Oh ada.. ada, biar kuambilkan untukmu"
Tempat penyimpanan barang barangnya juga merupakan tempat tempat yang cukup aneh,dari atas tanduk seeaor kambingnya dia mengambil keluar korek apinya yang kemudian diangsurkan kepadanya. Melihat hal itu diam diam Liem Tou memuji, pikirnya.
"Cara ini sangat bagus sekali, entah kerbauku apa bisa digunakan juga seperti milik dia? jika dapat digunakan uutuk menyembunyikan kitab pusaka “Toa Loo Cin Keng" hal itu sungguh bagus sekali, dengan begitu bisa juga digunakan untuk menghindari pencuri pencuri yang punya maksud tertentu"
Sambil berpikir dia menerima korek api setelah memungut ranting ranting kering menyulut api membakar ikan, maka mulailah dahar. Walaupun ikan itu tanpa diberi bumbu apapun dikarenakan perut yang sangat lapar membuat
mereka menghabiskan seluruh ikan itu dengan nikmatnya.
Selesai dahar Liem Tou naik kembali keatas kerbaunya melanjutkan perjalanan mengikuti aliran sungai itu, gadis cantik pengangon kambing yang melihat Liem Tou tidak gubris dirinya lagi sekalipun hatinya merasa tidak gembira terpaksa mengikuti mereka dari belakang.
Berjalan beberapa waktu lagi sampailah mereka disebuah jalan raya yang lebar, tetapi Liem Tou tidak mengambil jalan itu hanya dengan mengikuti tepian sungai melanjutkan perjalanannya, melihat hal yang sangat aneh ini tidak terasa tanya gadis itu.
"Liem koko, sebetulnya kamu mau pergi ke mana?"
"Aku mau pergi Cing Jan"
"Kenapa tidak menggunakan jalan raya?"
"Tidak!" ujar Liem Tou sambil gelengkan kepalanya. "Aku tidak akan meninggalkan pinggiran sungai lagi, aku tahu dengan mengikuti
tapian sungai ini akhirnya akan sampai juga di Cing Jan, aku sudah beritahu padamu ikut aku tidak ada gunanya, kitab pusaka „To Kong Pit Liok" yang kau inginkan saat ini tidak berada didalam tubuhku, sekalipun ingin juga percuma.”
Gadis cantik pengangon kambing itu tidak mau beribut lagi dengannya,sesudah melakukan perjalanan beberapa waktu matahari sudah condong kearah barat, magrib menjelang datang haripun makin lama semakin gelap, jalan yang tidak rata dan liar memaksa mereka berdua tidak sanggup melanjutkan perjalanan lagi terpaksa mereka mencari sebuah hutan kecil ditepi sungai untuk beristirahat.
Malam itu bulan muncul remang remang, beberapa detik bintang memancarkan sinarnya samar samar, Liem Tou yang banyak urussn didalam hatinya tidak sanggup untuk memejamkan mata barang sekejap pun. Kurang lebih mendekati kentongan tengah malam mendadak dia duduk kembali ditengah kegelapan ujarnya.
“Hey nona Wan Giok, kamu sudah tertidur?” Tetapi pertanyaan itu tidak memperoleh jawaban, tanyanya lagi.
“Hey nona Wan Giok kau dengar apa tidak? Aku mau tanya padamu kenapa kau terus menerus mengikuti aku?”
Tetap saja suasana tenang tenang tidak memperoleh jawaban, tak terasa dalam hati Liem Tou berpikir. "'Heei . . .. mungkin kalakuanku yang kasar tadi siang membuat hatinya tidak senang sehingga kini tidak mau beri jawaban.”
Berpikir sampai disitu tidak terasa otaknya berputsr kembali, terasalah olehnya kalau gadis cantik pengangon kambing ini memang merupakan seorang nona yang betul2 berhati tulus bahkan tidak mergandung maksud jahat apapun terhadap dirinya, perasaan curiga yang muncul didalam hati tidak lain dikarenakan ayahnya yang pernah mencuri kitab pusaka Toa Loo Cin Keng-nya itu sehingga tidak punya pikiran begitu.
Berpikir sampai disitu tidak terasa ujarnya lagi.
“Nona Wan Giok, aku Liem Tou betul betul tidak tahu maksud tujuanmu yang sebenarnya sehingga berbuat tidak sopan, harap nona mau beri maaf atas kesalahanku itu.”
Tetapi dari arah tempat tidur gadis cantik pengangon kambing itu tetap sunyi senyap tak terdengar sedikit suarapun, Liem Tou menjadi sangat heran dengan perlahan lahan dia bangkit dan berjalan menuju kearah dimana gadis tadi merebahkan diri, tetapi sesampainya disana tidak tampak bayangannya terlihat hanya kambing2 sedang tertidur dengan nyenyak tapi jejaknya sama sekali tidak kelihatan.
Dalam hati Liem Tou menjadi sangat heran lagi, pikirnya.
“Ditengah malam buta dia pergi kemana?”
(Bersambung ke Jilid 9)
Jilid 9 : Perampokan Cing Liong Piauw kiok
MENDADAK terasalah olehnya disamping tubuhnya terdapat bayangan putih sedang berkibar nan berputar dengan cepatnya bahkan terdengar suara tersampoknya pakaian terkena angin, dengan cepat dia menolea kearah sana entah sejak kapan gadis cantik pengangon kambing itu sudah berada ditepi sungai dan sedang memutarkan tububnya dengan cepat, tangannya yang halus dengan lemah lembut sedang berputar menari.
Melihat kejadian itu Liem Tou menjadi heran, tanyanya.
"Nona Wan Giok, kamu sedang berbuat apa?" Gadis itu tetap bungkam, sedang gerakannya tetap dilanjutkan tanpa berhenti
Liem Tou melihat dia tidak diberi jawaban juga tidak bertanya lagi, dengan tenangnya dia berdiri disamping memandang seluruh gerakannya, sejenak kemudian barulah dia sadar kalau gadis cantik pengangon kambing itu sedang berlatih silat, terlihat jurus jurus serangannya berubah dengan cepat bahkan tangan serta kakinya melancarkan serangan serangan dengan kecepatan luar biasa.
Liem Tau yang menandingi jurus jurus serangan itu semakin dilihat terasa olehnya seperti pernah ditemui disuatu tempat, setiap jurus yang dimainkan sangat hafal dalam ingatannya.
Pikirnya dalam hati.
"Dia sedang berlatih ilmu silat, kenapa aku tidak melihat lagi beberapa saat ?"
Karenanya dia tetap berdiri disana tanpa mangucapkan kata kata lagi, seluruh perhatiannya di tujukan pada gerakan jurus jurus serangannya, semula jurus itu memang mudah, tetapi makin lama jurus jurus serangan yang dilatih gadis cantik pengangon kambing berubah semakin mendalam bahkan perubahannya pun semakin rumit.
Liem Tou semakin memusatkan perhatiannya lagi, dengan matanya yang melotot keluar sangat besar dia memperhatikan gerakan itu, bahkan ketika diam diam mengingat kembali jurus jurus serangan yang tercantum dalam kitab pusaka "Toa Loo Cin Keng" dalam bagian "ilmu pukulan serta telapak" terasa olehnya itu sangat mirip bahkan boleh dikata persis dengan jurus yang dimainkan gadis ini.
Liem Tou tidak berpikir panjang lagi, dengan cepat dia menghafalkan huruf yang pernah dihafalkan dari kitab itu.
Setiap kali Liem Tou mengucapkan sepatah kata tubuh gadis itu pun memainkan jurus-jurus sesuai dengan kata kata Liem Tou itu.
Waktu itulah Liem Tou baru sadar kalau gadis itu mempunyai niat untuk membantu dia melatih ilmu silatnya tidak terasa hatinya betul - betul merasa sangat berterima kasih, siapa tahu ketika dia selesai membaca huruf itu gadis itupun berhenti melatih, sambil berjalan ke arahnya bentaknya dengan nyaring.
“Liem Tou aku kira kau seorang lelaki sejati yang betul-betul bijaksana, tidak tahunya kamu berani mencuri lihat orang lain sedang berlatih ilmu silat.”
Sekalipun Liem Tou merasa sangat diluar dugaannya atas semprotan kata-katanya ini tetapi dia tahu dalam hatinya punya niat mengajari jurus jurus silat itu karenanya sambil tersenyum sahutnya.
"Nona Wan Giok. kamu bantu aku memahami bagian ilmu pukulan dari kitab pusaka "Toa Loo Cin Keng" dalam hatinya merasa sangat berterima kasih, tetapi perkataan tadi yang menuduh aku mencuri belajar ilmumu seharusnya dibalik menjadi kamu yang mencuri belajar ilmuku”
Gadis cantik pengangon kambing itu menjadi sangat gusar ujarnya lagi.
“Jelas sekali kau yang mencuri belajar ilmu silatku kini balik biiang aku yang curi belajar IImumu , kamu punya kepadaian apa sehingga berharga bagiku untuk mencuri belajar."
“Ayahmu mencuri kitab pusaka Toa Loo Cin Keng-ku dan baru dikembalikan pagi tadi, kepandaian silat yang termuat didalamnya sejak lama kalian sudah curi belajar, masih ada apanya yang bisa diributkan lagi ?”
Gadis cantik pengangon kambing itu semakin gusar lagi, ujarnya.
“Kepandaian silat yang temuat dalam kitab pusaka Toa Loo Cin Keng sudah aku pelajari sampai tidak sudi belajar lagi, buat apa aku harus curi ilmumu itu ? Baiklah kalau memangnya kamu tidak pakai aturan seperti itu. Hey LiemTou, terimalah seranganku ini .”
Liem Tou tahu sampai Ang-in sin pian Pouw Sak San pun bukan tandingnnnya apa lagi dirinya, kini dengar dia sungguh sungguh mau turun tangan tidak terasa teriaknya.
“Nona tunggu dulu aku hanya bicara guyon saja”
Tubuh gadis itu dengan sangat cepat sudah berkelebat mendekati tubuhnya, dengan menggunakan jurus serangan "To Ju Cin Ciauw" atau Cu Ju meninggal ular menyerang kedepan bentaknya.
"Siapa yang sedang main main dangan kamu?"
Liem Tou yang terdesak terpaksa mengundurkan diri dua langkah kebelakang, siapa tahu jurus serangan yang digunakan gadis cantik pengangon kambing saat ini merupakan jurus serangan Lian Huan Ciang atau pukulan berantai dari partai Kun lun pay, jurus pertama baru saja dilancarkan jurus kedua Hang Hu To Hauw atau orang wanita pukul harimau sudah tiba. "Bluuk: . ." dengan tepat sudah berhasil menghajar jalan darah Can Ching Hiat pada pundak Liem Tou membuat Liem Tou marasa tubuhnya linu dan kaku, teriaknya kemudian.
"Nona. .. kau mau sungguh-sungguh bertempur ?? "
Gadis cantik pengangon kambing itu tidak mau ambil perduli lagi, jurus jurus serangan Liauw Hay Tiauw Tan atau Liauw Hay kail katek serta Ping Ci Bun Gouw atau Ping Ci tanya kerbau dengan cepat dilancarkan keluar, "Bluk .. ," Bluuk . jalan darah Kie Bun Hiat dikanan kiri tubuh Liem Tou kena hajar lagi dengan sangat keras.
Liem Tou yang terkena dua hajaran lagi karena tak merasa sakit makanya ia bangkit lagi kerena ia mengira gadis cantik pengangon kambing itu tentu bisa berhenti sendiri, siapa tahu jurus serangan gadis itu berubah lagi, dengan gencarnya dia melancarkan serangan dahsyat bahkan tangan kakinya dengan cepat menghajar seluruh tubuh Liem Tou tak bisa bersabar lagi, dengan gusar bentaknya.
"Kamu sudah gila ?"
Sehabis membentak dengan mengepal sepasang tangannya ia mengerahkan gerakan kaki tiga puluh enam langkah badai memutar dengan gencarnya melancarkan serangan keseluruh tubah gadis itu.
Saat inilah gadis cantik pengangon kambing itu baru tertawa, ujarnya.
"He he he .. . tidak takut kamu turun tangan."
Sambil berkata dengan tidak perduli Liem Tou menggunakan langkah badai memutarnya asalkan pinggangnya sedikit berputar tangannya dengan cepat sudah menghajar lagi jalan darah "Giok Liong Hiat" pada punggungnya membuat
Liem Tou merasa seluruh tubuhnya menjadi kaku, ujar gadis itu lagi sambil tertawa besar.
"Liem Tou, ini hari aku harus menghajar seluruh tubuhmu hingga lecet."
Dengan gusar Liem Tou mengaum keras angin pukulan semakin santar, sekali pun tidak berhasil menjamah tubuh gadis itu barang satu kalipun tapi semakin bergebrak dia semakin girang, seluruh jurus jurus serangan yang termuat didalam kitab pusaka "Toa Loo Cin Keng dengan demikian semakin maju lagi setingkat.
Sesaat Liem Tou sedang dibuai dalam kegembiraan itulah mendadak gadis cantik pengangon kambing itu menarik kembali serangannya. dengan serius ujarnya.
“Liem Tou kau ingat, aku bukan musuh besarmu”
Sehabis berbicara mendadak dia membentak keras, sambungnya lagi.
"Lain kali kamu akan tahu sendiri, terima seranganku ini”
Mendadak tubuhnya meloncat kedepan, angin pukulan yang sangat dahsyat segera memenuhi angkasa, didalam keadaan yang sangat terkejut itulah Liem Tou sudah terkurung ditengah sambaran angin pukulan gadis cantik pengangon kambing yang sangat dahsyat tersebut menanti Liem Tou sadar akan bahaya serangan gadis itu sudah begitu santarnya sehingga memaksa seluruh urat nadi didalam tubuhnya terasa hancur dan linu, tenaganya sama sekali hilang lenyap bahkan daya untuk bertahan pun lenyap tanpa bekas.
Walaupun begitu justru tubuhnya terkurung ditengah sambaran angin pukulan yang sangat hebat sehingga mau rubuh pun tidak sanggup, didalam sekejap saja seluruh tubuhnya serasa ditusuk dengan berjuta juta batang jarum tajam panas, linu sakit dan sangat perih tak tertahan lagi dia menjerit keras kesakitan.
Gadis cantik pengangon kambing itu tetap tidak gubris terhadap keadaannya, makin lama Liem Tou merasa seluruh tubuhnya penuh dengan bayangan tubuh gadis cantik pengangon kambing itu, sesudah lewat sesaat kemudian sampai bayangannya pun tidak kelihatan.
Sesaat ini dia hanya bisa bernapas tersengkal sengkal saja, tubuhnya terasa begitu panas sehingga sukar ditahan, tidak terasa teriaknya dengan keras.
“Aduh.. panas sekali”
Begitu dia berteriak, hawanya tidak bisa mengalir lagi sehingga tanpa bisa ditahan lagi dia jatuh tak sadarkan diri.
Sekarang walaupun Liem Tou sudah berhenti bernapas tapi dia merasa gadis itu terap tidak menghentikan gerakannya, akhirnya dia hanya merasa perut serta punggungnya sangat sakit waktu itulah tubuhnya baru rubuh ketanah.
Ujar gadis cantik pengangon kambing itu.
“Liem Koko ingatlah delapan buah urat nadimu kini sudah terbuka, lain kali asalkan bisa mundur ke In Hu kemudian memasuki Yang Hwee dengan menggunakan cara Hung Ho Ci Ing Coan mempertahankan hawa murni jangan sampai tersebar kemana-mana tentu mendatangkan kebaikan untukmu, siauw moay kini pergi dulu lain waktu bertemu lagi.”
Dengan mengalunnya suara seruling pualam kawanan kambingnya dengan menimbulkan suara derapan yang ramai makin lama makin pergi jauh dan akhirnya suasana sunyi kembali, bersamaan waktunya pula Liem Tou merasakan kepalanya sangat pening kemudian tidak tahu apa apa lagi.
Entah lewat berapa lamanya mendadakLiem Tou merasakas sinar matahari yang sangat tajam menusuk matanya, membuat dia sadar kembali dengan terkejut, saat itu merupakan pagi hari yang amat cerah matahari memancarkan sinarnya yang sangat tajamnya suara air yang mengalir tenang menambah keindahan suasana saat itu, dengan cepat dia bangkit berdiri.
Dia merasakan tubuhnya sangat nyaman sekali sedikitpun tidak merasakan linu kaku serta kesakitan itu, waktu inilah dia teringat kembali akan gadis cantik pengangon kambing itu tetapi walau sudah mencarinya kemanapua tetap tidak tampak bayangannya.
Saat itulah dia baru tahu gadis cantik pengangon kambing itu memang betul betul berniat datang memberi pelajaran silat kepadanya, sebaliknya dirinya sudah anggap dia sebagai orang orang kangouw biasa yang akan bertujuan merebut kitab pusaka "To Kong Pit Liok' nya, hal ini sungguh merupakan satu kesalahan besar diantara kesalahan.
Berpikir sampai disini dia merasa betui betul menyesal atas tindakannya kemarin hari, tetapi gadis itu sudah pergi..entah pergi kemana…walaupun menyesal tetapi sudah terlambat.
Teringat kembali olehnya akan kata kata gadis cantik pengangon kambing itu sesaat meninggalkan dirinya.
Delapan buah urat nadi aneh kini sudah terbuka asalkan lain kali bisa mundur ke In Hu kemudian memasuki Yang Hwee dengan menggunakaa cara Heng Ho Ci Ing Coan mempertahankan hawa murni jangan sampai tersebar kemana mana.
Berpikir sampai disini hatinya menjadi bargerak dengan cepat dia mengambil kembali kitab pusaka "Toa Loo Cin Keng" nya pada halaman bagian urat nadi disana tertuliskan.
'Urat urat nadi didalam tubuh manusia yang biasa ada dua belas buah yang aneh ada delapan, Wie Jin Tu dua buah urat mempunyai hubungan yang erat dengan mati hidup seorang msnasia, dua buah urat itu terletak didepan dan belakang yang dipisahkan sehingga terdapat perubahan perubahan yang sangat banyak, hawa yang terdapat disana mempengaruhi panjang panjangnya usia manusia, jika urat nadi pusat bisa bertemu dengan urat urat nadi yang tersebar maka ratusan urat yang lain akan tertembus juga karenanya harus mundur ke In Hu kemudian memasuki Yang Hwee, sedang cara Heng Ho Ci Ing Coan bisa memusatkan hawa pada satu titik tertentu yang disebut sebagai akarnya, dengan tidak menyebarkan hawa hawa ini maka hawa itu akan berusaha menerjang ke atas, dengan demikian seluruh urat didalam tubuh bisa tertembus.’
Melihat hal itu Liem Tou menjadi sangat girang mendadak dia menjatuhkan diri duduk bersila diatas tanah untuk mencoba mengerahkan tenaganya, ternyata tidak salah lagi seluruh tubuhnya terasa sangat nyaman, dengan cepat dia merangkak bangun sambil gumannya.
“Liem Tou..Liem Tou, coba coba kekuatanmu, apakah kamu sudah bisa naik keatas gunung untuk bertemu dengan Ie cici, semua harapanmu hanya tergantung tindakanmu kali ini"
Tenaga murninya dengan cepat dipusatkan pada lengannya, dengan mengarah sebuah pohon sebesar mangkak dengan cepat dia melancarkan serangan membabat pohon itu.
Dalam anggapannya tebasan inl sekalipun tidak sanggup mematahkan pohon itu tetapi sedikitpun juga berhasil merontokkan daun serta ranting rantingnya. Siapa tahu pohon itu tetap tidak gemilang sedikitpun bahkan bekas seperti ditiup angin pun tidak ada.
Tidak terasa Liem Tou menjadi sangat kecewa dan berdiri mematung disana beberapa waktu lamanya. Padahal dia mana tahu sekali pun urat nadinya sudah tertembus tapi hawa murninya belum sampai terpusat pada satu tempat sudah tentu tidak mungkin bisa melancarkan serangan. Sesaat dia sedang merasa kecewa itulah mendadak dari samping tubuhnya terdengar suara tertawa dingin yang sangat menyeramkan ujarnya.
“He he..bangsat cilik kiranya kamu jadi orang cepat putus asa, kunanti kamu setengah harian lamanya, jika bukannya kamu sebut namamu sendiri hampir hampir saja aku tertipu olehmu”
Liem Tou dengan cepat menoleh memandang terlihat pada dua kaki pada dirinya Thian Pian Siauw cu dengan tindakan perlahan berjalan mendatang. Keadaannya saat ini jauh berbeda dengan keadaannya sewaktu masih berada dilembah cupu cupu kecuali pada punggungnya bertambah dengan sebilah pedang panjang, terdapat pula tiga ekor elang yang mengikuti dirinya dua ekor berputar pada kurang Iebih beberapa kaki diatas kepalanya sedang seekor lagi berada diatas pundak kanannya.
Ketiga ekor elang itu bentuknya jauh lebih kecil dari elang biasa, tetapi matanya berwarna biru tua, seluruh bulu tubuhnya berwarna hitam pekat, sekali pandang saja sudah tahu kalau elang itu termasuk binatang yang sangat buas.
Dalam hatinya ia sangat terperanjat, hatinya berdebar dengan sangat keras seluruh perhatian dicurahkan pada tubuh Thian Pian Siauw cu yang berjalan mendekatinya dengan langkah perlahan, ketegangannya sudah mencapai pada puncaknya tidak tertahan lagi selangkah demi selangkah dia mengundurkan dirinya kebelakang.
Thian Pian Siauw cu hanya tertawa dingin terus menerus, ujarnya lagi dengan perlahan.
"Sampai waktu seperti ini kamu masih mau berusaha lari? Lebih baik cepat cepat kamu orang berlutut dan kamu serahkan itu kitab pusaka 'To Kong Pit Liok" kepadaku, kemungkinan sekali aku masih bisa mengampuni jiwamu".
Sambil mengundurkan diri kebelakang, pikiran Liem Tou terus menerus berputar, berbagai ingatan dengan cepat muncul didalam benakvya, ketika dia menoleh kearah kerbaunya justru saat itu berada beberapa kaki dari tempat dimana berada dan sedang makan rumput dengan tenangnya. Jika dirinya berlari kesana mungkin sekali sebelum mencapai tujuan sudah berhasil ditangkap oleh Thian Pian Siauw cu itu.
Tetapi jika harus berbuat demikian bukanlah suatu cara yang bagus, diam-diam matanya berputar kembali memandang keadaan sekeliling tempat itu. Tempat dimana dirinya berada sekarang masih ada kurang lebih dua kaki jauhnya dari tepi sungai, asalkan dia bisa meloncat ke dalam air maka nyawanya pun akan berhasil diselamatkan.
Sesudah berpiki begitu hatinya semakin tenang sambil berhenti ditempat ujarnya dengan keren.
"Ke Siauw cu tunggu sebentar, dengarlah kata kataku orang she Liem dulu. Dengan kepandaian silat dari Siauw cu saat ini sampai Tiong goan Ngo Koay yang bekerja samapun sukar untuk menahan tiga jurus serangan dari Siauw cu apalagi aku, kini aku sudah ditemui kembali aku mengakui memang nasibku yang buruk, perhitungan manusia tidak bisa menangkan kemauan Thian. Hal ini boleh dikata memang nasibku. Tetapi suruh aku dengan begitu saja serahkan diri Liem Tou sekalipun harus mati juga tidak meram."
Mendengar perkataan itu Thian pian siauw cu segeta menghentikan langkahnya bertanya dengan dingin.
"Lalu apa maumu?”
"Begini .. . " ujar Liem Tou dengan tegas, “Jika Ke Siauw cu inginkan aku orang serahkan itu kitab pusaka To Kong Pit Liok kepadamu sebetulnya tidak sukar tapi kamu harus bisa menahan tiga kali seranganku terlebih dulu setelah itu barulah aku serahkan itu kitab pusaka kepadamu, bahkan terserah Siauw cu mau kasih hukuman apa padaku "
Mendengar kata itu Thian Pian Siauw cu menjadi melengak, sapasang matanya dengan sangat tajam memperhatikan seluruh tubuh Liem Tou dari atas sampai kebawah. Satu kali pandangannya ini membuat air mukanyapun ikut berubah berulang ulang, sesudah termenung beberapa saat lamanya dengan air muka kecut tanyanya.
"Hey Lie Loojie itu apa suhumu ?"
Pikiran Liem Tou dengan cepat berputar beberapa kali, diam-diam dia pikirkan kata kata apa yang tidak sampai mendatangkan kesukaran baginya akhirnya ujarnya pula.
"Kamu jangan tanyakan hal ini, aku berani saling bergebrak dengan kamu sudah tentu tidak usah aku banyak bicara lagi.”
Didalam benaknya teringat kembali peristiwa ketika elang raksasa itu terluka dan jatuh ke atas tanah sambungnya kemudian.
"Jika kamu tidak percaya, aku mau tanya padamu elangmu yang kemarin ikuti aku sudah pulang kesamping Siauw cu belum?"
Mendengar kata ini air muka Thian Pian Siauw cu berubah sangat hebat sekali, teriaknya.
"Lenyapnya Giok jie kiranya hasil kaki tanganmu, hmmm, hemm.."
Sepasang matanya menjadi sangat tajam dengan wajah yang meringis menyeramkan dia maju selangkah kedepan jelas sekali napsu membunuhnya sudah timbul.
Melihat air muka yang begitu menyeramkan itu Liem Tou menjadi sangat terperanjat, diam diam teriaknya.
"Celaka.”
Dengan capat dia pusatkan seluruh perhatiannya siap menerima serangannya, ujarnya lagi.
"Ke Siauw Cu, pada masa yang lalu kita tidak ada ganjalan apa apa ini haripun tidak ada dendam sakit hati tetapi bila bertemu selalu saja terjadi pertarungan, sepertinya pada penghidupan yang lalu merupakan musuh buyutan saja. Baiklah, biar aku adu jiwa sama kamu orang kita tentukan siapa yang akan binasa kali ini."
Sehabis berkata dengan perlahan Liem Tou mengerahkan tenaganya dan angkat telapaknya siap siap melancarkan satu serangan, sikapnya mirip dengan orang yang sedang mengerahkan tenaga murni sebaliknya dalam hati diam-diam sedang merencanakan untuk melarikan diri dengan ceburkan diri kedalam sungai.
Thian Pian Siauwcu melihat sikapnya yang sungguh-sungguh itu segera menganggap dia betul-betul mau melancarkan serangan, dia tidak berani berlaku ayal dengan berdiri tegak ditempat matanya dengan tajam memperhatikan seluruh gerak gerik dari Liem Tou padahal dalam tubuh dengan perlahan lahan mengerahkan hawa khiekangnya untuk melindungi badan.
"Aaah, Siauw cu aku masih ada perkataan",
Thian Pian Siauw cu tidak tahu tindakannya itu hanya merupakan satu siasat saja mau menunggu perkataan selanjutnya mendadak Liem Tou berseru.
"Siauw cu selamat tinggal."
Ujung kakinya dengan keras menutul tanah kemudian dengan cepatnya lari menuju ketepi sungai. Menanti Thian Pian Siauwcu sadar apa yang sudah terjadi sejak tadi dia sudah tiba ditepi sungai untuk mencegah tidak keburu lagi.
Dalam hati diam diam Liem Tou merasa sangat girang, mendadak depan matanya berkelebat bayangan hitam kemudian kepalanya terasa seperti dipukul dengan sebuah martil berat sakitnya luar biasa, hampir hampir saja dia tidak
kuat dan tiba tiba jatuh tidak sadarkan diri, ketika kepalanya ditoleh kebelakang
kiranya yang melancarkan serangan itu tidak lain adalah elang yang dibawah Thian Pian Siauw cu itu.
Didalam sekejap saja elang yang kedua sudah menubruk datang Liem Tou menjerit keras tangannya dipentangkan melancarkan serangan kearahnya , tetapi gerakan dari elang itu jauh lebih gesit sayapnya dengan sangat kuat berhasil menghajar lengannya.
Kelihayan dari elang itu justru terletak pada kedua sayapnya ini, pada ujung sayap mereka masing masing tumbuh sebuah gumpalan daging yang bulat dan keras sekali, sewaktu bertarung kehebatannya luar biasa. Jangan dikata tubuhnya tidak sebesar elang biasa kenyataannya elang elang lain begitu melihat dia seperti juga macan bertemu dengan macan tutul sebelum tarung sudah jeri tiga bagian terlebih dulu.
Saat ini kedua pundak Liem Tou masing masing sudah terhajar satu kali oleh sayap elang itu, didalam keadaan tidak sadar kakinya pun sudah bergeser menjauhi tepi sungai. Terdengar Thian Pian Siauwcu berteriak dengan keras.
“Bangsat cilik, kamu tidak akan bisa lolos lagi”
Segulung angin santer berkelebat dengan cepatnya, air sungai segera terpukul hingga ombak bergulung dengan sangat keras. Liem Tou sadar jika saat ini dia meloncat kedalam sungai lagi sebelum mencapai permukaan air tentu akan terpukul binasa oleh angin pukulannya yang sangat dahsyat, sudah tentu dia tidak berani menempuh bahaya lagi.
Diam diam dia gigit kencang bibirnya, tubuhnya dengan cepat menjatuhkan diri kebelakang, kakinya dengan mengerahkan seluruh tenaga yang dimiliki bergelinding kesamping, dia merasa seluruh badannya menjadi jauh lebih ringan lagi sekali gelinding berhasil menerobos sejauh satu dua kali lebih, dengan cepatnya bersalto bangkit berdiri.
Waktu itulah Thian Pian Siauwcu sudah tiba dan melancarkan cengkeraman maut kebadannya, didalam keadaan yang sangat cemas sekali lagi dia menerjang kedepan hingga mencapai pinggiran hutan.
Thian Pian Siauw cu mana mau melepaskan begitu saja dengan cepat tubuhnya berkelebat mengikuti dari belakangnya.
Langkah Liem Tou dengan cepat berubah dan bergeser kesamping, sepasang pundaknya sedikit merendah dengan tanpa sadar dia sudah mengeluarkan ilmu tiga puluh enam langkah badai memutar, tubuhnya kelihatan dengan sangat cepat berkelebat mencapai ketengah hutan kemudian mengelilingi ketengah hutan, Thian Pian Siauw-cu tidak melepas, dengan kencangnya membuntuti dari belakangnya.
Liem Tou yang lari dengan cepat itu diam-diam dalam hatinya merasa sangat heran, kenapa larinya ini hari bisa begitu cepatnya ? Mana dia tahu hal ini adalah hasil dari gadis cantik pengangon kambing yang membantu dia menembuskan kedelapan urat nadi anehnya ? jika saat ini dia mencoba untuk meloncat mungkin bisa mencapai setinggi satu kaki. Jika hal ini ditambah lagi dengan hasil semedinya maka kehebatannya jauh lebih hebat lagi.
Dengan mengandalkan penemuannya yang tidak terduga Liem Tou melarikan diri mengelilingi hutan itu. Tapi kelamaan caranya ini diketahui juga oleh Thian Pian Siauwcu sebagai seorang iblis sakti yang kenamaan. Sehingga sekalipun dia mau melarikan diri dengan cara apapun akhirnya akan tertangkap juga.
Semakin jauh larinya Liem Tou merasa hatinya semakin merasa berdebar keras, waktu itulah terlihat kerbau tunggangannya berdiri dengan tenangnya disana, pikiran bagus segera terbayang dalam benaknya.
Begitu terpikir akan hal ini dengan tanpa banyak pikir lagi dia mengeluarkan kitab pusaka. "Toa Loo Cin Keng-nya dari dalam saku kemudian berlari mendekati kerbaunya, tangannya diulurkan dengan tidak perduli lagi kitab pusaka Toa Loo Cin Keng merupakan salah satu kitab aneh dalam Bu lim, dengan keras ditancapkan keatas tanduk kerbaunya, setelah itu barulah teriaknya berulang kali.
"Hoa hoa hoa. .”
Melihat kejadian itu Thian Pian Siauw cu jadi sangat gusar, mendadak dia berhenti berlari ujarnya kepadaLiem Tou.
"Hmm hmm bangsat cilik benda apa yang dibawa kerbau itu?"
Sambil berkata sepasang matanya memandang tajam kearah Liem Tou, kelihatan sekali hatinya yang tidak tenang.
Dengan bersembunyi dibalik pohon yang besar Liem Tou munculkan kepalanya balik tanyanya dengan perlahan.
“Kamu terka benda apa itu?”
“Bangsat cilik” ujar Thian Pian Siuwcu tiba-tiba dengan gusarnya.
“Jika kitab pusaka To Kong Pit Liok itu sampai terjatuh ketangan orang lain, aku mau hancurkan tubuhmu hingga berkeping-keping”
Sambil berkata dia mencabut keluar padang yang memancarkan sinar keemas-emasan yang sangat menyilaukan mata, pedangnya memang terlihat sebilah pedang yang bagus, sedikit tangannya digerakkan sebuah pohon sebesar mangkok dengan mengeluarkan suara yang gemerisik roboh keatas tanah dalam keadaau dua bagian yang terpisah.
Kepandaian yang sangat tinggi ini membuat Liem Tou sangat terkejut, dengan cemas ujarnya.
"Siauwcu kamu tanyakan itu kitab pusaka To Kong Pit Liok ? mungkin saat ini sudah dibawa pergi kerbau itu sangat jauh”
“Perkataan itu sungguh-sungguh?” bentak Thian Pian Siauwcu dengan sangat gusar.
“Siapa yang mau menipu kamu, kamu tidak percaya ya sudah”
Thian Pian Siauwcu tetap ragu-ragu akan perkataannya, untuk membuat dia percaya Liem Tou dengan gusar bentaknya lagi.
"Hey orang she-Ke, aku beritahu kepadamu kepandaian silat didalam kitab pusaka To Kong Pit Liok itu merupakan kepandaian silat yang sangat hebat, siapapun didalam dunia ini ingin memperolehnya, tetapi aku Liem Tou melihat keganasan atau kekejamanmu sudah merasa muak, makanya sekalipun didapatkan orang lain juga tidak mengijinkan kitab itu sampai jatuh ke tanganmu."
Mendeagar sampai disana, Thian Pian Siauw cu tidak bicara lagi, mendadak dengan sangat cepat tubuhnya berkelehat, dengan tidak menoleh lagi dia mengejar kearah dimana kerbau itu melarikan diri.
Liem Tou melihat dia pergi dalam hati diam diam merasa sedih dan sayang atas hilangnya kitab pusaka Toa Loo Cin Keng itu, tapi dia tak dapat berbuat apa apa kecuali merasa sayang saja.
Dengan cepat dia lari ketepi sungai siap terjunkan diri kedalam air, karena dia tahu sabentar lagi Thian pian Siauw cu tentu kembali, sekonyong konyong dari belakang tubuhnya terdengar seseorang berteriak.
"Hey Engkoh cllik tunggu sebentar."
Liem Tou dengan cepat menoleh dilihatnya kakek aneh yang ditemuinya kemarin dengan menuntun kerbaunya berjalan mendatang, ujarnya lagi sambil tertawa tawa.
"Hey Engkoh cilik perbuatanmu sungguh bagus sekali. Bagus..bagus "
Liem Tou menjadi terlengak, dia tahu jika kerbau itu tertangkap olehnya sudah tentu kitab pusaka "Toa Loo Cin Keng" itu ddapatnya, karena sambil ulur tangannya kedepan ujarnya.
"Hey Tui Jie kiranya kamu, kamu sudah curi taku punya kerbau dan kitab pusaka "Toa Loo Cin Keng kenapa berani muncul lagi didepan aku?? cepat cepat kembalikan barangku itu, ayo cepat bawa sini”
Mendengar omongannya itu si kakek tua menjadi tertawa lebar ujarn ya.
"Ha ha ... Liem Tou bagus sekali kamu, jika dilihat wajahmu kelihatannya memang seorang yang jujur tidak tahunya sifatmu juga licik Baiklah kamu orang boleh dihitung aku yang curi kerbau serta kitab pusaka Toa Loo Cin Keng-mu itu.
Tapi aku mau tanya itu kitab pusaka Toa Loo Cin Keng apa barang peninggalan ayahmu buat kamu orang? pada pipi sebelah kiri dari muka ayahmu apa ada tahi lalat hitam? ? ? sewaktu main catur apa sering menggunakan benteng terlebih dahulu untuk rebut menyerang?"
Liem Tou teringat kembali keadaan dari ayahnya semasa hidup, lama kelamaan barulah sahutnya dengan sedih.
“Hui Tui Jie aku tahu kamu seorang yang luar biasa, tapi kenapa kamu orang menanyakan wajah ayahku terus menerus”
Kakek tua Hui Tui Jie melihat Liem Tou tidak mau mengaku tapi juga tidak mungkir diam-diam mengangguk, ujarnya.
“Liem Tou jika aku beri tahu padamu saat ini hanya mendatangkan bencana saja, kemarin malam Wan jie sudah beritahu padamu kami ayah beranak bakanlah musuhmu. Sekarang aku lihat kesalahanmu semakin tebal hal ini perlihatkan bencana yang akan menimpa belum lenyap didepan mata masih banyak berbahaya yang harus kamu tempuh, tapi jika tidak berani tidak mungkin, karenanya kerbau serta kitab pusaka Toa Loo Cin Keng tidak berguna dibadanmu, bahkan malah memancing perhatian orang banyak, karenanya untuk sementara waktu kamu boleh pergi ke tebing Ling-Ai di gunung Go-bie san untuk minta kembali barang-barang itu”
Dia berhenti sebentar, sesudah menghela napas panjang sambungnya lagi.
"Heey . . . sebentar lagi iblis itu mungkin akan kembali kesini, kamu cepatlah pergi."
Sehabis berkata dia lalu meloncat naik punggung kerbau itu, sambil goyangkan tangannya dia menjalankan kerbaunya kearah dalam hutan tidak lama kemudian sudah lenyap dari pandangan.
Dengan termangu-mangu Liem Tou berdiri disana beberapa saat lamanya teringat kembali kata-kata yang diucapkan kakek tua Hui Tui Jie itu, dalam hati dia merasa kakek itu tentu punya hubungan yang sangat erat dengan ayahnya, kalau tidak bagaimana terus menerus dia menanyakan asal usul dirinya.
Tapi kakek tua itu tidak mau beritahu dengan terus terang bahkan meninggalkan tempat itu dengan tergesa gesa, sudah tentu Liem Tou tidak bisa berbuat apa apa lagi dan sementara tidak mau pikirkan urusan itu nanti sesudah bertemu dengan le Cici diatas gunung Ha Mo San baru pikirkan lagi.
Berpikir sampai disini dengan cepat dia menyeburkan dirinya dalam sungai dengan mengikuti aliran air yang cukup deras tubuhnya mengalir terus kedepan. Untung saja kepandaiannya bermain didalam air sudah mencapai pada taraf kesempurnaan sehingga gerakkannyapun sangat lincah tapi cepat.
ooo0Oooo
Ditengah jalan kecuali beristirahat tidak ada peristiwa yang terjadi lagi, ketika cuaca mendekati magrib dia sudah berenang sejauh puluhan li, saat itu udara menjadi sangat gelap, ketika Liem Tou melihat ditepi hadapannya terdapat sebuah perahu layar yang sedang berhenti disana, segeta didalam hati pikirnya.
"Kenapa malam ini aku tidak menginap diatas perahu itu saja??"
Berpikir sampai disitu dengan cepat dia berenang kesana dan mohon pemilik perahu itu untuk menginap satu malam diatas perahunya. Orang orang didalam perahu begitu melihat keadaannya yang begitu kasihan segera dia diberi makan dan dibiarkan dia tidur dibelakang buritan bahkan membiarkan dia tidur bersama-sama orang lain.
Ketika itulah dia baru tahu kedua buah perahu itu milik dari suatu perusahaan ekspedisi yang bernama Cing Liong Piauw kiok, dengan diam diam dia melihat kalau diatas setiap perahu ada dua orang pengawal yang menjaga perahunya, pada perahu dimana dia menginap terdapat dua orang yang menjaga yang seorang tua yang lain muda, jika dilihat dari sikap mereka agaknya hubungan mereka sangat erat sekali.
Hari itu Liem Tou sudah melakukan perjalanan mendekati ratusan li jauhnya karenanya saking lelahnya tidak lama kemudian sudah tertidur dengan nyenyaknya.
Malam itu udara sangat gelap tidak terlihat bintang atau bulan yang menyinari jagad, angin bertiup sangat kencang membuat udarapun semakin dingin, ditepi pantai dimana kedua buah perahu itu berlabuh terdapat tiga orang berpakaian malam dengan gerak gerik mencurigakan mendekati perahu.
Saat itu orang yang berdiri diujung kiri bertanya.
"Tia kamu lihat malam ini apa mereka mengadakan persiapan?”
"Cing Liong Piauw kiok selamanya berlaku sumbar" sahut orang yang ditanyai itu, “Dia mengira sesudah Siok to Siang Mo dibasmi, maka didaratan maupun lautan sudah aman, dimaaa bendera Cing Liong Piauw Kiok berada maka tak akan ada orang yang berani turun tangan lagi, sudah tentu tidak akan ada persiapan diantara mereka”
“Tia” ujar orang itu lagi, “Aku dengar orang bilang kepala pengawal dari Cing Liong Piauw kiok si pemetik bintang Kwan Piauw sangat hebat didalam penrmainan sepasang martilnya, nanti bolehkah aku hadapi dia??"
"Ling jie kamu jangan bicara tidak karuan" bentak orang itu dengan nada memberi peringatan, "Gerakan malam ini punya hubungan yang sangat besar dengan bukanya Aug In Piauwkiok dikemudian hari, untuk bereskan malam ini semakin cepat semakin baik, jika ini hari sampai loloskan salah seorang saja diantara mereka, pada hari kemudian jika mereka sampai bisa ketahui hal ini perbuatan kita lalu bagaimana kita tancapkan kaki lagi didalam dunia
kangouw ??"
Diantara ketiga orang yang berada diseberang tepi ketiga orang semula salah seorang angkat bicara pula dengan perlahan.
"Kian Po hang, coba kamu lihat pekerjaan yang Cung cu kita kerjakan selalu sangat terlatih dan rapat, sungguh membuat orang lain menjadi kagum."
Lama sekali orang itu baru menjawab, ujarnya sambil mengangguk.
"Ehm . tapi Toa Toang heng. Apa kamu tidak merasa pekerjaan ini sangat bertentangan dengan peraturan Bu lim ?" Saat itulah mendadak orang ketiga sudah buka omongan .
"Coba lihat, Cung cu sudah kirim tanda.”
Kedua orang itu tidak bicara lagi dan angkat kepalanya memandang kearah tepian seberang, terlihatlah suatu sinar berwarna kehijau hijauan dengan cepat lenyap ditengah kegelapan. Saat itulah dengan perlahan mereka bertiga bangkit berdiri membereskan pakaiannya dan mengambil keluar senjata tajam masing- masing.
Ketiga orang yang berada ditepi sebelah kiri saat itu sudah menyebrangi sungai dengan menggunakan dua buah papan persegi empat yang diinjak pada kedua kakinya, dengan demikian mereka bisa meluncur ketengah sungai dengan Iancarnya.
Ketiga orang yang berada disini ketika secara samar-samar melihat ketiga orang itu sudah bampir mendekati perahu dengan cepat meloncat naik keatas perahu tersebut ilmu meringankan tubuh dari mereka bertiga walaupun sangat tinggi tapi perahu itu tidak urung sedikit oleng juga.
Dua orang dari tepi sebelah sini bertepatan waktu juga sudah tiba, mereka masing-masing meloncat naik perahu dengan sangat cepat.
Mendadak dari dalam ruangan perahu terdengar suara menjerit kaget kemudian disusul dengan bentakan sedang bertanya.
"Siapa?"
Suara bentakan itu begitu kerasnya membuat Liem Tou yang tertidur nyenyak segera sadar kembali dari pulasnya.
Ketika dia buka mata terlihatlah cuaca masih sangat gelap mungkin baru kentongan ketiga, dua orang berbaju hitam yang memakai kerudung mendadak menerjang masuk kedalaun bilik itu bahkan salah satu diantaranya tepat berdiri disisinya.
Waktu itu baru saja dia sadar dari pulasnya sehingga pikirannyapun belum begitu sadar, atas kejadian yang muncul secara tiba tiba dihadapannya membuat dia menjadi sangat terkejut, dengan cepat dia mengusap beberapa matanya sehingga terang ternyata tidak salah lagi, kejadian itu memang betul-betul sudah terjadi bahkan berada dihadapan matanya tak terasa lagi hatinya berdebar dengan sangat keras.
Pada waktu hatinya sedang merasa sangat terkejut itulah mendadak dari dalam ruangan perahu berkumandang datang suara jeritan yang amat ngeri yang sangat memilukan kemudian di susul dengan suara tertawa dingin yang keras, ujarnya,
"Hemm. , . Hemmm. . – gentong-gentong nasi seperti ini juga mau jadi pengawal barang."
Liem Tou mendadak menjadi sangat terkejut karena suara itu tidak lain adalah suara Pouw Siauw Ling. Kemudian disusul dengan suara bentrokan senjata tajam yang sangat ramai teriak seorang dengan keras.
"Kalian siapa ? Kami Cing Liong Piauw kiok punya dendam sakit hati apa dengan kalian ?"
"Tidak usah banyak bicara, serahkan nyawamu" Bentak Pouw Siauw Ling dengan gusar..
Setelah itu teriaknya lagi.
"Jangan berada diluar apa Liok Siok siok ? Sampai waktu ini kenapa tidak juga turun tangan ? Kamu orang mau tunggu sampai kapan lagi?"
Orang yang berdiri disamping Liem Tou ketika mendengar perkataan itu segera menggeserkan kakinya lagi, Liem Tou tahu keadaan saat itu betul-betul amat kritis dan membahayakan jiwanya sehingga tubuhnya tanpa terasa sudah meringkuk kepojokan perahu tanpa berani bergerak lagi, tapi sepasang matanya dengan memperhatikan gerak gerik dari orang itu hatinya berdebar keras, hampir-hampir terasa mau copot dari dalam tubuhnya.
Pengemudi perahu yang semula berbaring di samping Liem Tou mendadak meloncat bangun sambil berteriak keras.
'Aduh...mak.. tolong ada penjahat”
Melihat hal itu diam diam pikir Liem Tou dalam hati.
"Hemmm ... cari mati sendiri."
Ternyata dugaannya tidak salah, terdengar penjahat berkerudung yang berdiri disampingnya itu mendadak membentak keras dengan gusarnya.
"Pergi temui makmu "
Golok ditangannya dengan cepat berkelebat, terlihatlah sinar golok yang menyilaukan mata menyambar tubuh pengemudi itu, tanpa sempat menjerit kesakitan lagi tubuhnya rubuh keatas perahu dan binasa seketika itu juga.
Melihat kejadian yang sangat mengerikan itu hati Liem Tou menjadi tergetar dalam hati dia tahu saat inilah kesempatan yang paling bagus baginya untuk melarikan diri, tanpa pikir panjang lagi tubuhnya dengan sekuat tenaga menggelinding ketepi perahu. Menanti penjahat berkerudung itu merasa dan membacok tubuhnya. Liem Tou sudah menceburkan dirinya kedalam sungai sepasang tangannva dengan cepat digerakkan menyelam kedasar perahu tersebut.
Waktu itulah hatinya baru berasa agak tenang, teringat akan kata tadi dengan jelas didengar olehnya berasal dari Pouw Siauw Ling; hal ini membuat hatinya merasa terkejut bercampur heran, pikirnya.
"Kemarin sewaktu bertemu dengan mereka, dia masih bilang mau mendirikan sebuah perusahaan ekspedisi, bagaimana sekarang malah berbuat kejahatan menjadi perampok ?? bahkan merampas barang barang kawalan orang lain ??..
Semakin berpikir Liem Tou merasa semakin bingung, dengan perlahan lahan dia munculkan diri kembaii keatas permukaan dan bersembunyi dibelakang kemudi , saat itu malam semakin kelam cuacapun begitu gelap hingga sukar untuk ditemui tempat persembunyian itu, ditambah lagi saat ini Liem Tou sudah berada didalam air, sekalipun ditemui dia juga tidak merasa takut .
Sesudah muncul keatas permukaan air Liem Tou segera mendengar suara teriakan teriakan yang memilukan hati serta bentrokan bentrokan senjata senjata tajam yang sangat ramai berkumandang dari kedua buah perahu itu, keadaannya demikian mengerikan membuat hati setiap orang terasa bergidik.
Tidak lama berselang dari atas perahu sebelah tidak terdengar suara lagi, keadaan begitu tenang sunyi serta menyeramkan, sebalikaya dari atas perahu dimana dia menyembunyikan dirinya sekarang masih terdengar suara bentakan bentakan senjata tajam yang sangat ramai.
Hati Liem Tou menjadi tergerak, dengan perlahan-lahan dia merangkak naik melalui tali yang ada dan mengintip dari celah lobang yang sangat kecil pada perahu itu, terlihatlah tiga orang perampok berkerudung dengan rapatnya sedang mengepung Piauwsu yang masih muda itu, ditengah remang-remangnya cuaca terlihatlah tubuh pemuda sudah basah oleh darah segar yang mengucur keluar dengan derasnya, tapi dia tidak mengucapkan sepatah kata pun dengan mencekal pedang panjangnya dia melawan ketiga orang itu dengan seluruh tenaga.
Melihat situasi seperti itu tidak tertahan lagi Liem Tou merasa sangat gemas, dendam dan sakit hati. Mendadak terdengar Pouw Siauw Ling yang berada salah satu diantara ketiga orang berkerudung itu berkata dengan keras.
"Tia, bangsat cilik ini semakin bertarung semakin menggila, biar aku bunuh dia saja"
Salah satu diantara ketiga perampok berkerudung yang melawan musuhnya dengan menggunakan sepasang telapaknya, membuka mulut sahutnya.
"Hmm..hm..sekalipun kepandaian silatnya lebih tinggi ini hari tidak mungkin bisa meloloskan diri dari bencana.”
Mendangar perkataan itu Liem Tou yang sedang bersembunyi menjadi terkejut karena suara itu bukan lain berasal dari Pouw Sak San itu Cungcu dari le Hee Cung. Tentang urusan ini dia tidak ragu ragu lagi karenanya didalam hati dia merasa sangat enak, dendam sakit hati dan gemas, bersamaan pula merasa sedih atas nasib para rakyat yang hidup dalam kampung Iee Hee Cung diatas gunung Ha Mo San.
Saat ini dendam dan sakit hati pribadinyapun muncul bercampur dengan perasaan gemasnya, darah segarnya serasa bergolak dengan keras, dalam hati dia punya niat untuk menolong pengawal itu lolos dari kematiannya.
Mendadak dengan mengerahkan seluruh terra ga Nang dimilikinya berteriak dengan keras.
"Hey bangsat, bangsat tahan!"
Ditengah sungai yang lebar dan jauh dari keramaian ditambah lagi ditengah malam buta yang sunyi tenang, suara bentakannya ini membuat para penjahat itu merasa sangat terperanjat apalagi itu Ang in sin pian Pouw Sak San serta Pouw Siauw Ling mereka sama sekali tidak menduga ditempat itu bisa muncul seseorang, pada waktu mereka bertiga sedang tertegun itulah piauw su yang masih muda itu menggerakkan pedangnya kedepan, seraya teriaknya dengan gusar.
“Dendam sakit hati ini kami dari Cing Liong Pauw kiok bersumpah akan membalas dendam"
Sambil berkata tubuhnya meloncat setinggi dua kaki lebih kemudian menceburkan diri ke dalam sungai.
Gerakan ini dilakukan hanya pada sekejap mata saja, Liem Tou pun dengan cepat ikut menyusupkan tubuhnya kedalam air. Cuaca yang gelap gulita sudah cukup membuat mereka tidak melihat jelas apalagi kini berada didalam air. Walaupun dalam hati Liem Tou punya niat mencari Piauw su muda itu untuk mcmbantu dia meloloskan diri dari bahaya tapi karana takut terjadi salah paham makanya terpaksa tidak berani bergerak, dalam hati diam diam dia berdoa agar dia bisa lobos dari mara bahaya ini.
Dengan kejadian ini niatnya untuk bertemu Lie Siauw Ie semakin menebal lagi. Sesudah berenang hingga ketengah sungai barulah dia munculkan diri kembali keatas permukaan sungai sambil memandang kearah dua buah perahu itu makinya.
"Hmmm..kiranya bajingan-bajingan itu adalah kawanan perampok yang tidak tahu malu, manusia macam binatang seperti itu harus dibunuh”
Sambil memaki badannya mengikuti aliran air sungai melanjutkan berenang kedepan, bersamaan pula pada benaknya teringat akan kejujuran serta budi halus dari rakyat dusun Ie Hee hiung. Teringat pula kehidupan didalam dusun sewaktu masa kecilnya tidak terasa saking sedihnya air mata menetes keluar dari kelopak matanya.
Suasana ditengah sungai begitu sunyi senyap tidak terdengar suara bisikan sesosok manusiapun, Liem Tou dengan seorang diri perlahan-lahan berenang menuju kedepan. Sebentar bentar dia memandang bintang-bintang yang tersebar luas diatas langit hatinya beratus ratus macam kesedihan yang sekaligus memenuhi pikirannya, mendadak tangannya ditepukkan keatas kepalanya sendiri sembari tangannya yang sebelah mencopot topeng kulit yang dikenakan pada wajahnya, kepada langit sumpahnya dengan sungguh sungguh.
"Pada suatu hari jika aku Liem Tou berhasil melatih ilmu silat yang lihay aku bersumpah akan membunuh kaum bajingan itu hingga binasa, sebelum tercapai cita cita ini aku tidak akan berdiam diri"
Sambil berkata dia manyimpan kembali topeng kulitnya kedalam saku sedang titik air matanya mengucur keluar dart kelopak matanya dengan deras.
Beberapa saat kamudian haripun menunjukkan saat kentongan kelima. Liem Tou pun merasakan sepasang lengannya mulai terasa linu kaku dan capai sedikitpun tidak bertenaga lagi, mendadak ditengah sungai dihadapannya secara samar samar muncul sebuah perahu kecil dengaa perlahan lahan bergerak mendatang, bahkan dari atas perahu kelihatan sinar lampu berkedip kedip.
Perahu itu mungkin milik seorang nelayan yang sedang inenangkap ikan dimalam hari, kenapa aku tidak beristirahat sebentar disana?? bila mereka ada makanan kemungkinan sekali sedikit menangsal perutku yang lapar?"
Tidak lama kemudian dia sudah mendekati perahu kecil itu, Liem Tou dengan cepat mencekal pinggiran perahu dengan kencang.
Waktu itulah terdengar dari dalam perahu berkumandang suara pertanyaan yang disusul dengan jeritan kaget.
"Heey siapa diluar ??"
"Seorang yang kecebur dalam sungai karena bertemu perampok, dapatkah aku beristirahat sebentar diatas perahu saudara ?"
Dari dalam perahu tak terdengar suara sahutan - - lama sekali ditunggu tetap saja tidak terdengar sedikit suarapun.
Pada saat Liem Tou sedang merasa kecewa itulah mendadak terdengar pertanyaan lagi dari dalam perahu.
"Siapa namamu? bertemu perampok dimana?"
"Aku bernama Liem Tou, baru saja bertemu dengan perampok diatas dua buah perahu pangawal barang disungai sebelah depan. Hey pemilik perahu bolehkah aku beristirahat sebentar ??"
"Ehm . . .kalau begitu naiklah.”
Mendengar pemilik perahu itu menyanggupi Liem Tou dengan cepat meloncat naik keatas perahu, Tapi . . . belum tubuhnya berdiri tegak mendadak jalan darah "Hong Hui Hiat" serta jalan darah gagunya sudah tertotok oleh orang lain, tak tertahan lagi tubuhnya rubuh keatas perahu dengan keras kemudian disusul dengan suara tartawa keras dari orang ini sambil ujarnya.
"Liem Tou . Liem Tou, kami cari kamu kemanapun tak bertemu, tidak disangka kamu hantarkan diri sendiri kemari ha ha ha ha . aku tidak bisa banyak bicara lagi ha ha..”
Jalan darah " Hong Hui Hiat” serta jalan darah gagu Liem Tou sekalipun tertotok sehingga tidak dapat bergerak dan berbicara tetapi sepasang matanya masih bisa memandang kearah orang yang menotok jalan darahnya itu.
Orang itu tidak lain adalah Si jari beracun jarum cams Song Beng Lan yang ditemui dilembah cupu cupu bersama sama pengemis busuk itu. Dalam hati dia tahu orang ini tentu sangat benci kepadanya hingga tidak terasa diam diam menghela napas panjang, pikirnya.
"Heei ..kemauan Thian sudah begitu aku juga tidak bisa berbuat apa apa lagi mau dibunuh mau disiksa aku terpaksa ikuti saja kemauannya."
Sepasang matanya segera dipejamkan rapat rapat tanpa berbicara sepatah kata lagi.
Mendadak Liem Tou merasakan badannya di tendang hingga berguiing dengan keras diatas perahu kemudian terdengar suara Song Beng Lan sedang berkata.
"Hey Liem Tou kamu orang tidak usah pura pura mati, coba kamu lihat siapa yang berada dihadapanmu ?"
Mendengar perkataan itu barulah Liem Tou membuka matanya dengan perlahan, mendadak pandangannya menjadi terang terasa olehnya badannya sekarang sudah terlenteng didepan pintu ruangan perahu ditengah ruangan dalam perahu duduklah seorang gadis berbaju hijau yang tipis dengan usia kurang lebih baru tujuh belas delapan belas tahunan, alisnya yang melengkung tipis dengan bibirnya yang kecil mungil sungguh merupakan seorang gadis yang cantik menarik sekali .
Melihat hal itu Liem Tou menjadi melengak, mendadak teringat makian Cian Pian Ngo Koei sewaktu berada didalara lembah cupu cupu yang mengatakan Song Beng Lan ini adalah Jay Hoa Cat, tidak terasa pikirnya.
"Hemmnm ternyata dia memang seorang bangsat cabul, ditengah sungai yang begini jauh dari keramaian serta sunyi masih menyembunyikan seorang gadis cantik juga hemmm sungguh tidak malu, Konyol . "
Baru raja pikiran itu berkelebat dalam bcnaknya, mendadak gadiscantik berbaju hijau Nang ducluk didalarn ruangsn perahu sudah tar senaum kearabuya, kemudian ujarnya
"Hey Liem Tou, orang yang berjodoh dimanapun selalu bertemu, kamu masih kenal aku tidak?”
Mendengar perkataan itu tak terasa Liem Tou merasa sangat heran, pikirnya dalam hati.
"Aku Liem Tou merupakan seorang lelaki sejati, salamanya belum pernah main perempuan diluaran bagaimana bisa kenal dia ?”
Sekalipun didalam benaknya dia berpikir begini tetapi tanpa terasa matanya memandang teliti kearah gadis berbaju hijau itu, saat itulah gadis berbaju hijau itu sedang memandang dirinya sambil tersenyum manis.
Semakin dilihat Liem Tou merasakan gadis ini seperti pernah ditemuinya disuatu tempat, matanya semakin memandang tajam kearahnya…. . . lama sekali mendadak pikirannya menjadi sadar.
Gadis berbaju hijau itu melihat air muka Liem Tou sedikit berubah segera tahu kalau dia sudah mengenal dirinya kembali maka ujarnya dengan merdu.
"Hey Beng Lan, cepat bebaskan jalan darahnya yang tertotok."
Mendengar pekataan itu Song Beng Lan dengan cepat maju dan menepuk dengan perlahan leher Liem Tou. Saat itulah dengan keras teriak Liem Tou.
"Aaaah . . . bukankah kamu orang pengemis busuk itu?”
Gadis cantik berbaju hijau itu begitu mendengar dia memaki dirinya sebagai pengemis busuk tidak terasa alisnya dikerutkan rapat rapat. Song Beng Lan yang berdiri disampingnya seketika itu juga melancarkan satu tendangan membuat tubuhnya sekali lagi berguling diatas permukaan perahu, bentaknya.
"Hey bangsat cilik kamu orang sungguh tak tahu sopan, hati-hati aku tendang badanmu sampai tulangmu copot."
Tiba tiba gadis cantik berbaju hijau itu mencegah perbuatan Song Beng Lan, ujarnya.
“Beng Lan, kamu orang jangan menyakiti dia sampai keterlaluan, lebih baik kamu ikat kaki tangannya dengan tali dulu kemudian baru membebaskan jalan darahnya, setelah itu naikkan jangkar lanjutkan parjalanan sekarang juga.”
Sikap Song Beng Lan terhadap gadis cantik berbaju hijau itu agaknya begitu menghormatnya, sesudah memberi hormat, dengan sangat patuhnya baru sahutnya dengan perlahan.
"Baik Kungcu.”
Dengan mengikuti perintahnya dia mengikat kaki tangan Liem Tou dengan tali kemudian membebaskan jalan darah Hong Hui Hoat-nya setelah itulah baru menaikkan jangkar untuk melanjutkan perjalanannya.
Saat itu berkatalah gadis cantik berbaju hijau itu kepada Liem Tou sambil tertawa.
"Liem Tou, kamu merasa sangat heran bukan? Aku beritahu padamu, aku bernama Ciang Beng Hu dan bertempat tinggal dipantai Say Kiem Thay tepi danau Au Hay didaerah In Lam”
Sejak Liem Tou mengetahui kalau gadis cantik berbaju hijau yang berada dihadapannya ini adalah pengemis busuk yang ditemuinya di dalam bui segera teringat kembali keganasan serta kelakuannya yang kasar dalam hati tidak tertahan muncul kembali perasaan benci serta gemasnya, dengan gusar sahutnya.
"Siapa yang mau dengar namamu yang sangat memalukan itu, ini hari aku Liem Tou sudah terjatuh ketanganmu, mau dibunuh mau disiksa silahkan kamu orang lakukan, aku Liem Tou tidak akan takut dan bukan seorang manusia pengecut yang takut mati.”
Mendengar hal itu Ciang Beng Hu tertawa nyaring, ujarnya.
"Cis. Liem Tou - - - Liem Tou, binasa dengan begini mudah apa kamu tidak merasa sayang?? kalau kamu orang memang kepingin mati tapi jangan begitu cemasnya.”
Sepasang mata dari Liem Tou mendelik melotot kearahnya dengan gusar ujarnya lagi dengan jengkel.
"Kau ingin apakan aku ?”
"Kamu boleh pikirkan sendiri” sahutnya sambil tertawa ringan sedang kepalanya dimiringkan kesamping.
Tetapi air muka dengan ceoat berubah menjadi serius kembali, dengan pandangan tajam dia memandang sekejap kearah wajah Liem Tou kemudian ujarnya lagi dengan keren.
“Liem Tou, perkenalan kita didalam bui walaupun belum begitu lama tapi aku tahu dengan jelas kamu merupakan seorang yang sangat cerdik. Aku tidak perlu bicara tentunya kamu orang sudah tahu sendiri. Buat apa aku yang hidup enak-enak didaerah Cian Pian sebelah selatan dengan susah payah pergi kemari, hey Liem Tou aku belum gila ??.
"Siapa yang mau urus kamu gila atau tidak, hey pengemis gila kau mau bawa aku kemana?”
Ciang Beng Hu hanya memandang sekejap kearahnya sambil tersenyum sedang mulutnya tetap membungkam.
Tidak terasa hawa amarah Liem Tou muncul kembali, teriaknya keras dengan amat gusar.
“Terhadap kawanan bajingan yang tidak tahu malu seperti kalian aku Liem Tou walaupun binasa juga tidak akan menyerah, aku omong terus terang saja padamu, jika kalian mau paksa aku barterus terang mengakui tempat penyimpinan kitab pusaka To Kong Pit Liok itu.. hemm hemm jangan harap."
"Hemm, , kau tak usah banyak bacot, tunggu saja" ujar Ciang Beng Hu dengan amat dingin.
Sehabis berkata teriaknya denagn keras.
"Beng Lan masuk, bangsat cilik ini sampai sekarang masih tetap bandel saja kelihatannya dia belum merasakan kelihayan kita. Hemm totok jalan darah pulasnya dulu."
Song Beng Lan segera menyahut dan menotok jalan darah pulas dari Liem Tou. Saketika itu juga Liem Tou hanya merasakan matanya menjadi kabur kemudian tertidur dengan nyenyaknya .
Menanti dia sadar kembali entah sudah lewat berapa saat lamanya, juga tidak tahu kini sudah berada dimana. Dia hanya merasa tempat itu begitu gelap gulitanya sehingga tak sanggup untuk melihat lima jarinya sendiri. Tempat itu begitu gelap serta apeknya sehingga terasa susah untuk bernapas.
Dengan cepat Liem Tou menggerakkan badannya, kiranya seluruh tubuhnya sudah terlepas dari totakan maupun ikatan tali, tidak terasa gumamnya seorang diri.
“Mereka bawa kemana aku ini ?"
Perlahan lahan dia bisa melihat juga keadaan ditempat itu, ditengah keadaan yang sangat gelap secara samar-samar terlihat olehnya kalau dia kini berada dalam sebuah gua yang penuh lumpur didepan gua terdapat sebuah ruji-ruji kayu yang sangat besar sekali sebagai penghalang jaIan, tapi diluar gua itupun kelihatan tidak terdapat sedikit sinarpun juga.
Tangannya dengan perlahan lahan didorong kearah kayu-kayu perintang jalan itu, tapi walau sudah didorong sekuat tenaga kayu tersebut tetap tidak gemilang sedikit pun juga kuatnya laksana batu. Melihat hal itu Liem Tou menjadi amat gusar, campur dahaga yang makin lama semakin tidak kuat untuk ditahan, teriaknya dengan gusar.
“Hey kalian manusia bangsat yang tidak tahu malu. . . kamu bawa aku ketempat apa ini ?” Hey pengemis busuk kamu jangan bersembunyi aku Liem Tou tak kan memberikan kitab pusaka To Kong Pit Liok itu kepadamu."
Sekalipun dia sudah berteriak sehingga tenggorokannya terasa sakit tiada seorangpun yang menyahut atau menggubris, bahkan suara yang aneh sedikitpun tak terdengar. Hal ini membuat Liem Tou menjadi gemas pikirnya dalam hati.
“Jika mereka kurung aku ditempat ini tanpa mau gubris aku lagi lama kelamaan aku bisa dimatikan dengan perlahan.. Aduh. . . Aduh... . perutku mulai merasa lapar”
Baru saja dia berpikir sampai disini mendadak dari tempat kejauhan secara samar-samar berkumandang datang suara tindakan kaki yang sangat perlahan kemudian disusul dengan munculnya sinar merah yang samar-samar.
Semangat Liem Tou tidak terasa muncul kembali dengan tergesa gesa dia bangkit berdiri menempel pada pagar kayu yang besar itu untuk menengok kedepan, sinar merah itu makin perlahan semakin menajam semakin lama semakin mendekat. Tidak tertahan lagi teriak Liem Tou dengan keras.
"Hey Siapa itu ? cepat kalian lepaskan aku keluar”
Terlihat sesosok bayangan manusia berkelebat Song Beng Lan dengan membawa dua orang lelaki kasar yang bertubuh kuat dengan membawa obor berjalan mendekat, melihat hal itu Liem Tou semakin gusar, teriaknya.
"Hey kamu bajingan cabul kenapa kurung aku ditempat ini ?"
(Bersambung ke jilid 10)
“Hmm, dengus Song Beng Lan dengan sangat dingin. "Liem Tou, mati hidupmu kini berada ditanganku, buat apa kamu ngotot terus?”
Sehabis berkata dia mengulap tangannya, kedua orang lelaki berbadan kuat itu segera berjalan mendekati pagar kayu itu dan membuka pintunya, melihat hal ini Liem Tou bertambah gusar lagi, bentaknya dengan keras.
"Kalian pingin berbuat apa?"
Sehabis berkata dia mundur dua langkah kebelakang, sepasang telapaknya dikencangkan siap memberikan perlawanannya.
Dengan langkah yang sangat perlahan Song Beng Lan berjalan ketepi pagar kayu itu sambil mengangkat tinggi tinggi obornya dengan nada yang sangat dingin.
"Liem Tou aku lihat lebih baik kau ikuti perintahku tanpa membantah. Pada saat ini sekalipun kau mau melawan juga tidak berguna ."
"Huuh..tutup mulut anjingmu Hey bangsat cabul."
Mendadak ..dua orang lelaki kesar bertubuh kuat itu dengan cepat maju dua langkah kedepan tangannya dengan kecepatan bagaikan kilat mencengkeram tubuh Liem Tou.
Melibat datangnya serangan itu Liem Tou menjerit keras sepasang kepalannya dengan cepat melancarkan serangan kedepan untuk menahan datangnya cengkraman itu, siapa tahu baru saja tangannya diangkat terasa olehnya kepalan itu lemas sedikitpun tidak bertenaga, serangannya belum sempat mencapai pada sasarannya badannya sudah berhasil dicengkram oleh lelaki kasar lainnya, tidak tertahan lagi Liem Tou dengan sempoyongan maju kedepan, kesematan itulah digunakan oleh kedua lelaki kasar itu untuk mcnangkap tubuh Liem Tou kemudian mengikatnya dengan tali.
Sekalipun Liem Tou saking gemas dan jengkelnya berteriak teriak dan memaki dengan enaknya tapi apa gunanya ?"
Tubuh Liem Tou sesudah diikat dengan kencang kedua lelaki kasar itu segera menggotong tubuhnya keluar gua, sesudah berputar putar beberapa saat lamanya sampailah mereka disebuah lorong gua yang sangat panjang sekali.
Dengan membawa obor Song Beng Lan berjalan didepan membuka jalan.
Kurang lebih sesudah berjalan berpuluh puluh kaki jauhnya gua itu perlahan lahan semakin sempit dan semakin sampai akhirnya, tempat itu hanya bisa dilalui oleh seseorang dengan membungkukkan badan.
Kurang lebih berjalan lagi dua kaki jauhnya sampailah mereka dimulut gua.
Liem Tou dengan cepat memandang sekeliling tempat itu waktu itulah dia baru tahu kalau dirinya sudah berada dipunggung gunung, dibawahnya terlihat air selokan mengalir dengan derasnya keadaan amat bahaya sekali, ketika memandang kesamping lagi terlihatlah sebuah air terjun yang amat besar sedang memuntahkan airnya kepunggung gunung, keadaannya mirip dengan seekor naga terbang yang ganas, sungguh amat angker dan agung sekali.
Song Beng Lan segera mematikan obornya dan putar tubuh berjalan mendekati samping air terjun itu, didalam sekejap saja tubuhnya sudah lenyap dari pandangan.
Liem Tou melihat hal itu dengan amat jelas dalam hati diam diam merasa sangat heran, pikirnya.
"Aaah bangsat cabul itu sudah kemana perginya?"
Baru saja dia berpikir sampai disitu kedua lelaki kasar berotot kuat itu sudah mengangkat tubuhnya mendekati samping air terjun tersebut.
Kiranya dibalik tebing air terjun itu sedikitpun tidak ada air yang mengenai tempat itu dibelakang air terjun yang sangat dahsyat itulah terdapat sebuah gua yang sangat besar sekali.
Liem Tou dengan cepat diseret masuk kesana, dalam gua itu sangat besar dan megah sekali, empat penjuru dindingnya terbuat dari batu porselen yang berbentuk tumpuk menumpuk tidak teratur, kelihatan sekali kalau dinding itu merupakan kejadian alam.
Sesudah masuk lagi beberapa kaki mendadak Liem Tou dapat melihat didepannya berdirilah sepuluh orang lelaki dengan rapinya, jika ditinjau dari pakaian dan dandannya serta usianya dapat dilihat diantara mereka terdapat perbedaan yang sangat menyolok sekali, ada kakek-kakek yang usianya sudah amat lanjut sehingga rambutnya sudah pada memutih, ada pula anak anak kecil yang masih ingusan, bahkan dandanan mereka serta kedudukannyapun sangat berbeda.
Hweesio, Nikouw, pengemis, kuli, serta nelayan nelayan semuanya ada ditempat itu. Sedang ditengahnya duduklah seorang nyonya berusia pertengahan dengan pakaian yang amat perlente, di samping kanannya berdirilah itu gadis cantik berbaju hijau Ciang Beng Hu.
Kedua orang lelaki itu segera meletakkan Liem Tou keatas tanah kemudian menyingkir berdiri kesamping.
Nyonya berusia pertengahan itu dengan perlahan bertanya .
"Orang itukah yang bernama Liem Tou"
Liem Tou tetap membungkam, sekali lagi nyonya itu bertanya tetapi Liem Tou tetap menutup mulutnya rapat rapat.
Melihat hal itu Ciang Beng Hu segera ikut berbicara, ujarnya.
"Hey Liem Tou kamu tuli yaah?? Ratu Au Hay Au Hay Ong Bo sedang menanyai kamu tetap membisu ?"
“Hmm..” Dengus Liem Tou dengan gusar. Kalian bajingan- bajingan yang tidak tahu malu, dengan mengikat badanku seperti ini bagaimana suruh aku bicara ?”
"Liem Tou "Bentak Ciang Beng Hu sambil melotot kearahnya. "Didepan Ong Bo kamu orang berani berlaku tidak sopan hay Beng Lan pukul dia terlebih dulu sehingga dia rasakan sedikit pelajaran, sesudah itu barulah kau lepaskan tali yang mengikat kakinya".
Song Beng Lan segera menyahut, dengan mengikuti perintahnya dia cambuk seluruh tubuh Liem Tou dengan kerasnya, membuat badannya terluka dan mengucurkan darah segar, tetapi Liem Tou dengan menggigit kencang bibirnya terus bertahan, sedikit suara dengusan pun tidak kedengaran.
Melihat kegagahan serta keketusan Liem Tou yang jadi orang keras kepala itu Ciang Beng Hu tertawa dingin tak henti-hentinya, ujarnya lagi.
"Liem Tou, sekalipun ini hari kau tetap keras kepala, aku mau lihat besok hari kamu masih bisa keras kepala tidak?"
Sekali lagi Song Beng Lan pukul tubuh Liem Tou dengan cambuknya setelah itu barulah lepaskan tali yang mengikat kakinya.
Dengan perlahan-lahan dia bangkit berdiri, sepasang matanya dengan berapi-api menahan hawa amarahnya yang sudah meluap pandang tubuh Ciang_Beng Hu dengan amat gusarnya.
Dengan perlahan Au Hay Ong Bo barulah buka bicara lagi, ujarnya.
"Liem Tou, kesemuanya ini karena kebandelanmu sendiri, jika kamu mau katakan tempat persembunyian kitab pusaka To Kong Pit Liok itu maka kamu orang tidak akan merasakan siksaan serta penderitaan seperti ini"
Perkataan dari Au Hay Ong Bo ini diucapkan sangat perlahan dan halus bahkan air mukanya membawa senyuman yang amat ramah, sikapnya jauh lebih halus dan lebih lunak dari Ciang Beng Hu.
Waktu itu Liem Tou sudah membenci diri Song Beng Lan serta Ciang Beng Hu hingga menusuk ketulang samsumnya, pikirnya didalam hati.
"Hmmm..hmm..asalkan aku Liem Tou bisa lolos dari cengkeramanmu, tunggu saja pada suatu hari aku bisa datang menuntut balas sakit hati hari ini"
Terhadap situasi yang dihadapinya sakarang ini dalam hati dia sudah ambil keputusan untuk tidak mengeluarkan sepatah katapun, karenanya walaupun Au Hay Ong Bo sudah bertanya berkali-kali dia tetap bungkam tidak mengucapkan sepatah katapun juga.
Au Hay Ong Bo tetap tidak menjadi marah karena keketusannya itu, ujarnya lagi.
"Liem Tou, manusia cerdik tidak akan menelan kerugian didepan mata sendiri, kamu sudah jatuh katangan orang lain menurut pangihatanku jauh lebih baik sedikit penurut dan lunak sehingga tidak sampai merasakan penderitaan dari siksaan siksaan kejam, tidak urung kamu orang sudah sampai didalam istana terlarang dari partai Kim Tian Pay diatas puncak gunung Ngo Lian Cong, untuk pikir melarikan diri ehmm.. ehmm..itu urusan yang sangat mudah asalkan kamu orang bisa melaksanakannya saja.”
Ciang Beng Hu meluap hawa amarahnya terhadap Au Hay Ong Bo ujarnya.
"Ibu, bangsat cilik itu keterlaluan sekali, lebih
baik kita pukul dia dulu sampai kapok baru ditanyai lagi"
"Hu jie!" ujar Au Hay Ong Bo dengan halus. "Kamu salah besar jika dilihat sifat orang ini sungguh bersemangat sekali, tidak mungkin dia berbuat begini hanya pura pura saja, jika kamu orang hendak manggunakan cara kekerasan untuk menaklukkan dia, hei tidak mungkin"
Dia berbenti sebentar, kemudian sambungnya lagi.
"Jika kamu bertamtah kejam dengan menggunakan cara ini, sekalipun mati tidak akan dia mau bicara, lebih baik untuk sementara simpan saja didalam penjara kemudian dengan perlahan-lahan kita cari suatu cara untuk menaklukkan dia.
"Ibu lebih baik kamu orang tua serahkan padaku saja, aku mau lihat dengan siksaan berat dia masih mau mengaku tidak”
Au Hay Ong Bo segera gelengkan kepalanya, sambil mengulap tangan ujarnya.
"Hu jie kamu harus dengar omonganku, kamu kira ibumu bisa salah bertindak?”
Saat inilah Ciang Beng Hu baru tidak mengucapkan kata-kata lagi.
Liem Tou pun segera dibawa kedalam penjara didalam gua yang sangat gelap itu kembali.
Hanya saja kali ini ada orang yang menghantar makanan untuk dirinya.
Semula Liem Tou yang dikurung didalam gua merasa sangat gemas dan berteriak teriak tidak karuan, akhirnya karena tidak ada orang yang manggubris dirinya, lama kelamaan dia sendiri merasa sekalipun kemarahannya memuncak bagaimanapun tidak ada gunanya karena itulah dia mulai menjadi tenang kembali, dengan mengikuti cara mengatur pernapasan yang diajarkan He Loo toa perlahan dia melatih dirinya.
Tiga hari kemudian hatinya semakin tenang lagi, didalam keadaan yang tidak disadari napsu kemarahannya mulai lenyap dari dalam hatinya. Selain kadang-kadang teringat akan Lie Siauw Ie hatinya terasa sedikit goncang, terkurungnya dia didalam gua sama sekali tidak membingungkan dirinya bahkan membuat hatinya semakin tenang.
Diantara saat ini baik Au Hay Ong Bo mau pun Ciang Beng Hu tidak ada yang datang untuk mencari dia lagi. Sampai hari yang keenam pada waktu Liem Tou sedang enak-enaknya bersemedi, mendadak terasa oleh dirinya segulung hawa yang sangat panas muncul dari daerah Hiat hay terus menerjang naik hingga Ni-Tan. Keringat mengucur dengan amat derasnya pikirannya menjadi kosong badannya merasa sangat nyaman, hawa panas itu dengan perlahan naik dari Ni Tan menuju ke Yan Hay, hawa murninya berhasil mengelilingi tubuhnya satu kali.
Dalam hati Liem Tou tahu bahwa saat ini merupakan saat yang paling penting dan paling kritis didalam seorang melatih ilmu pernapasannya, segera dia tidak berani barkhayal lagi dan melanjutkan latihannya hingga berturut-turut hawa murninya mengitari tiga pulah enam barulah berhenti.
Mencapai hari yang kasepuluh tenaga murni yang dilatih Liem Tou sudah mencapai pada hasilnya, dirinya pun merasa didalam tubuhnya terjadi perubahan yang luar biasa karenanya dia berlatih terus hingga hawa murninya sambil menerobosi tiga urat nadi terpenting lagi.
Hari itu baru saja Liem Tou selesai bersemedi, mendadak terlihatlah Ciang Beng Hu dengan membawa obor berjalan masuk, ujarnya terhadap diri Liem Tou.
"Liem Tou, ibuku boleh dikata menghormati kamu orang dengan amat ramah selama sepuluh hari ini agar kamu orang bisa sadar dari kesalahan. Bagaimana sudah berpikir matang ?"
“Hmmm . . hmmm.. !” Liem Tou tertawa dingin tak henti- hentinya.
"Walaupun kamu orang bilang baik atau buruk aku Liem Tou tidak akan menggubris kamu orang lagi, aku mau lihat bisa berbuat apa terhadap diriku ?"
"Sejak dulu aku sudah tahu kamu harus merasakan siksaan dulu barulah tahu rasa," seru Ciang Beng Hu dengan gusarnya.
Segera dia menoleh kebelakang sambil teriaknya.
"Hey pengawal kemari."
Segera terlihatlah empat lima orang lelaki dengan cepat berjalan mendekati jeriji kayu itu dari belakang tubuh Ciang Beng Hu, agaknya mereka mau menangkap Liem Tou lagi.
Dalam hati Liem Tou sudah tahu kalau kepandaiannya saat ini sudah tidak seperti waktu yang lalu, dia percaya ketiga empat orang ini bukanlah tandingannya jika dia mau memberontak hanya beberapa orang ini tidak mungkin bisa menangkan dia. Persoalan yang membingungkun dia adalah apakah saat ini dia punya pegangan yang kuat untuk menerobos keluar dari goa untuk melarikan diri?? Karenanya dia membiarkan orang orang itu menangkap dirinya tanpa memberikan sedikit perlawanan pun.
Siapa tahu setelah orang-orang itu berhasil menangkap dirinya kemudian menekan badannya keatas tanah dan diikatnya dengan tali kuat ujar Ciang Beng Hu lagi.
"Pukul badannya sampai hancur!"
Orang itu segera menyahut, dari pinggangnya mengeluarkan sebuah cambuk berwarna hitam.
Liem Tou yang melihat diatas cambuk itu penuh dengan duri yang tajam dalam hati merasa aangat terkejut sekali. Didalam keadaan tidak sadar dia sudah mengerahkan tenaga murninya, tangan serta kakinya sedikit disusutkan, tali-tali yang mengikat tubuhnya itu segera terputus sama sekali, dengan cepat dia meloncat bangun melancarkan serangan dahsyat, angin pukulan menyambar segulung demi segulung membuat orang orang yang berada didalam goa penjara itu segera terpental dan jatuh terlentang diatas tanah.
Bersama pula bentaknya keras.
"Hmmm..siapa yang berani bergerak aku segera minta nyawanya" Sambil berkata dia berdiri bertolak pinggang disana, sepasang matanya melotot keluar dengan bulatnya.
XXX
Ketika Ciang Beng Hu yang berada diluar pagar kayu yang melihat keadaan yang demikian gagahnya dari Liem Tou, dalam hati diam-diam sedikit merasa terperanjat, dia tahu sekalipun dirinya sendiri masuk kedalam belum tentu bisa menguasai dirinya. Sedang dia merasa serba salah terlihat Song Beng Lan berjalan mendatang sambil ujarnya.
"Oooh kiranya kuncu berada disini, Ong Bo sedang mencari kamu orang."
“Kedatanganmu sangat tepat sekali, mari kita masuk kedalam menguasai bangsat cilik itu terlebih dahulu."
Sambil berkata dia menarik Song Beng Lan masuk kedalam pagar kayu dan berdiri dikedua samping yang berlawanan, ujarrya.
"Hey Liem Tou, ini hari mari kita bertempur dikandang binatang, aku mau lihat seberapa kelihayanmu."
o000o0000o00000
7
Begitu Ciang Beng Hu masuk kedalam pagar kayu itu, lelaki-lelaki kasar yang dipukul rubuh Liem Tou tadi dengan cepat merangkak bangun untuk mengepung kembali.
Liem Tou begitu melihat sekelilingnya sudah dikepung rapat-rapat oleh pihak musuh bahkan kedua orang jago berkepandaian tinggi satu berada didepan yang lain dibelakang mengepung dirinya mombuat hatinya merasa sedikit jeri juga.
Bagaimana juga pengalamannya didalam menghadapi musuh masih terlalu cetek sehingga sebelum turun tangan keadaannya sudah amat bingung dan gugup, teringat akan kekejaman, keganasan serta penghinaan yang dilontarkan Ciang Beng Hu kepadanya tidak terasa hawa amarahnya memuncak, bentaknya dengan keras.
“Pelacur bau, terima seranganku ini.”
Mendadak ...hawa murninya dipusatkan pada telapak tangannya kemudian dengan hebat dibabat kearah dada Ciang Beng Hu, dengan cepat bahu Ciang Beng Hu sedikit miring kesamping Liem Tou hanya merasakan secara tiba-tiba belakang punggungnya ada segulung angin yang santer membokong tubuhnya, pinggangnya dengan cepat ditekuk kedepan gerakannya berubah dengan jurus serangan yang lain telapak kirinya menyerang ketubuh Ciang Beng Hu.
Ciang Beng Hu melihat Liem Tou hanya khusus menyerang dirinya saja membuat hawa amarahnya berkobar kobar, air mukanya berubah sangat hebat kuda-kudanya diperkuat tanpa menghindarkan diri lagi sepasang telapaknya didorong kedepan secara berbareng.
“Bluuk . . . " Dengan keras lawan keras dia menerima datangnya serangan Liem Tou itu.
Ciang Beng Hu merupakan Putri kedua dari Au HAy, sejak kecil dia sudah dimanja oleh orang tuanya, kepandaian silat yang diterima dari partai Kiem Tian Pay sekalipun belum berhasil dilatih hingga mencapai kesempurnaan tetapi boleh lihay juga.
Kalau tidak bagaimana didalam pengadilan kota Tiong Leng bisa menahan serangan dan Kioe Long Wan Kauw yang sudah lama punya nama besar didalam dunia kangouw?
Sabaliknya kapandaian silat Liem Tou sekalipun baik, tenaga murninya bagaimanapun juga masih merupakan hasil latihannya selama sepuluh hari ini saja, sekalipun boleh dibilang tenaga murninya boleh juga tetapi didalam keras lawan keras ini dengan sangat jelas sekali boleh diketahui siapa yang lemah siapa yang kuat.
Begitu sepasang telapak tangan Ciang Beng Hu dilancarkan berbareng Liem Tou segera merasakan segulung hawa pukulan yang sangat keras sekali dan berat menekan tubuhnya dengan sangat dahsyat, tidak tertahan lagi tubuhnya bergoyang mundur kebelakang dengan cepat, sebaliknya Ciang Beng Hu masih tetap saja berada ditempat semula.
Baru Liem Tou terdorong dua langkah kebelakang mendadak jalan darah "Ie Sun Hiat" pada punggungnya serta jalan darah "Cing-Ju Hiat" pada pinggangnya terasa menjadi kaku, tidak kuasa lagi badannya rubuh keatas tanah dengan sangat keras, mulutnya terbuka lebar lebar lidahnya menjulur keluar tidak sanggup untuk bangun kembali.
Terdengar Song Beng Lan sambil tertawa dingin ujarnya.
"Hmmm . .. aku mau lihat kamu orang bisa galak seperti apa lagi”
Ciang Beng Hu pun dengan girang berteriak.
“Ha ha ha , . aku sudah salah duga dirimu pada waktu yang lalu, kiranya kamu orang hanya macan-macanan dari kertas hanya bisa mengejutkan kamu orang saja."
Sehabis berkata dia lalu merebut cambuk hitam dari orang itu, tanpa mengucapkan sepatah kata lagi dengan sekeras kerasnya dia menghajar seluruh tubuh Liem Tou dengan menggunakan cambuk berduri tersebut.
Saat ini kedua jalan darah penting pada tubuh Liem Tou sudah tertotok sehingga untuk bersuara tidak bisa bergerak pun tidak murgkin terpaksa sambil menggigit kencang bibirnya menahan siksaan dan perasaan sakitnya.
Beberapa saat kemudian seluruh tubuh Liem Tou sudah basah kuyup oleh darah segar yang mengucur keluar dengan derasnya terkena cambuk yang berduri tajam itu, sakitnya luar biasa hingga meresap di dalam tulang sumsumnya, saat ini dia sudah membenci Ciang Beng Hu sehingga meresap dalam hatinya, dia pingin menelan bulat-bulat tubuhnya semakin dia memukul lebih keras sepasang matanya yang merah darah dipentangkan semakin lebar lagi dalam hati diam-diam sumpahnya.
“Dalam sepuluh hari ini aku Liem Tou tentu akan membalas dendam sakit hati ini.”
Tapi Ciang Beng Hu tetap memukul tanpa berhenti sebentarpun juga, akhirnya Liem Tou tidak dapat menahan perasaan sakit yang luar biasa ini tidak tertahan lagi dia jatuh tidak sadarkan diri.
Sekali pun dia sudah jatuh pingsan tetapi sepasang matanya masih tetap melotot betul betul dengan besarnya.
Menanti dia sadar kembali dari pingsannya, orang itu sejak semula sudah meninggalkan tempat itu, dengan perlahan dia mulai mencoba menggerakkan tubuhnya dia tahu jalan darahnya sudah dibebaskan hanya saja kulit serta tubuhnya penuh dengan luka yang merekah lebar, sedikit bergerak saja terasa begitu sakitnya hingga sukar ditahan.
Mendadak dalam ingatannya terbayang kembali tali pengikat pinggang dari Hek Loo Toa itu dengan cepat dia lepaskan tali itu dari pinggangnya sendiri tanpa parduli apa-apa lagi, dengan cepat digigitnya satu utas.
Semula didalam anggapannya tentu sukar sekali dalam menelan tali itu, siapa tahu begitu masuk kedalam mulutnya terasa sangat mujarab sekali tidak terasa lagi diam-diam dia sudah menghabiskan satu kerat.
Jangan dikira tali itu tidak berguna, kiranya benda itu merupakan barang berharga yang sangat mujarab sekali, begitu dia menelan tali itu didalam sekejap saja seluruh bekas pukulan cambuk berduri itu tidak terasa sakit lagi, sekalipun bekas lukanya belum tertutup sama sekali.
Mana dia tahu kalau tali yang kelihatannya sangat sederhana itu sudah membuang waktu serta tenaga yang besar dari Hek Loo toa untuk membuatnya, disamping beratus ratus macam tumbuhan obat yang sukar dicari didalamnya juga mengandung obat kuat serta jien som yang berusia ribuan tahun. Kalau tidak penderitaan dari Hek Loo toa didalam penjara yang gelap itu dimana setiap hari menerima cambukkan yang kejam, jangan dikata tiga tahun sekalipun tiga hari saja dia tidak mungkin bisa bertahan.
Luka cambukan yang diderita Liem Tou sudah tidak sakit lagi teringat kembali kekejaman dari Ciang Beng Hu membuat Liem Tou tidak mau melepaskan sedetik waktupun dengan sia-sia setiap detik, setiap waktu dia duduk bersemedi melatih ilmunya, jika ada orang yang menengok kedalam penjara itu segera dia pura-pura rebahkan diri diatas tanah seperti orang yang sakit parah, merintih kesakitan tidak henti-hentinya.
Dengan tidak henti-hentinya Liem Tou melatih tenaga dalamnya ditambah dengan obat dari Hek Loo toa yang sangat mujarab lama kelamaan pendengaran telinganya secara mendadak menjadi sangat tajam dengan sendirinya
ditengah gua penjara yang sangat gelap sekali bukan saja dapat melihat benda yang ada disana dengan amat jelas sekali bahkan seperti di siang bari saja. Bahkan suara terjunan air diluar gua bisa didengarnya sangat jelas sekali.
Sampai waktu itu asalkan ada orang yang mau masuk gua memeriksa keadaannya sejak mereka masuk kemulut gua dia sudah tahu terlebih dahulu, karenanya beberapa kali Ciang Beng Hu menjenguk dirinya setiap kali dia rebah terlentang ditanah pura-pura sakit parah.
Tidak terasa sepuluh hari lewat lagi, hari itu sewaktu Liem Tou duduk barsemedi melatih tenaga dalamnya mendadak terasa olehnya hawa panas yang menerjang naik didalam tubuhnya secara tiba-tiba lenyap tanpa bekas, dalam hati terasa dibuat tertegun.
Dengan cepat dia menarik kemudian menyerahkan seluruh tenaga murninya yang berada didalam tubuhnya, siapa tahu tubuhnya yang sedang duduk bersila diatas tanah itu secara mendadak melayang meninggalkan permukaan tanah. Perasaan terkejut kali ini benar-benar membuat Liem Tou hampir jatuh pingsan, dengan cepat pikirannya berputar memikirkkan akan hal ini tetapi walaupun sudah berputar beberapa lama tetap tidak paham apa yang sudah terjadi.
Tetapi semakin lama dia merasa penglihatannya semakin tajam, keadaan gua itu jauh lebih terang lagi seperti disiang hari bolong, ketika dilihatnya atap gua itu tidak lebih hanya beberapa kaki tingginya dari permukaan tanah suatu pikiran aneh mancul didalam benaknya.
Dengan cepat tubuhnya sedikit menutul permukaan tanah badannya dengan sangat ringan sudah mencapai atap gua itu, hatinya merasa sangat girang sekali, baru saja tubuhnya mencapai permukaan tanah telapak
tangannya dengan sangat dahsyat menghajar kayu itu.
Didalam anggapannya dia hanya ingin mencoba-coba kekuatan telapak tangannya sudah mencapai tingkat yang bagaimana siapa tahu pukulannya ini jauh berada diluar dugaannya.
"Bluuk - - -“ pagar kayu sebesar mangkok itu secara mendadak terpukul patah menjadi tiga empat bagian.
Saking girang dengan hasil yang dicapainya ini sekali lagi Liem Tou melancarkan serangan dahsyat dengan mengguaakan tangan kirinya suatu suara yang sangat nyaring berkumandang kembali pagar kayu itu sekali lagi terputus menjadi beberapa bagian.
Melihat hal ini dia meloncat-loncat saking girangnya sepasang telapaknya berbareng melancarkan serangan bersama-sama . . Blummm . . . seluruh pagar yang tersiap terpukul hingga melayang keempat penjuru.
Saat ini kegembiraannya sudah memuncak tanpa perduli apa-apa dia meninggalkan gua itu.
Padahal beberapa hari sebelumnya dia sudah sanggup meninggalkan goa itu, hanya saja sewaktu melatih ilmunya tadi dia baru merasakan akan hal ini. Padahal dengan ketiga urat nadi terpentingnya yang sudah ditembus ditambah dengan latihannya siang malam secara giat selama beberapa hari ini mungkin hanya untuk memberikan suatu tenaga murni untuk melindungi badannya sudah jauh lebih cukup.
Gerakkannya menerjang keluar gua itu sudah mengejutkan orang-orang yang menjaga goa tersebut dengan cepat terlihatlah beberapa orang dengan cepat berlari masuk gua untuk melihat apa yaag sudah terjadi tidak menanti mereka berlari mendekat dari tempat jauh dia sudah melancarkan satu serangan kilat, gua itu sangat kacil sekali ditambah datangnya serangan sangat dahsyat membuat orang-orang itu tidak bisa bertahan lagi, berturut turut terdengar suara dengusan berat orang-orang itu rubuh keatas tanpa bisa bangkit kembali. Tanpa ambil perduli lagi dia melewati orang orang itu berjalan keluar dari gua itu, ketika kepalanya memandang keangkasa terlihatiah bulan dan bintang bertebaran dilangit, saat itu sedang di tengah malam yang buta, kiranya dia yang tertawan didalam gua yang gelap gulita sadar untuk menentukan saat itu siang atau malam karenanya dia tak tahu kalau saat dia keluar gua ini adalah ditengah malam buta.
Satu satunya keinginan pada saat ini adalah mencari Ciang Beng Hu untuk balas dendam dengan mengikuti jalanan kecil disamping air terjun itu dia memasuki gua yang amat besar dibalik tempat itu, tapi disana tak terlihat sesosok bayangan manusiapun, tak terasa dia jadi sangat heran pikirnya.
"Apa mereka tidak bertempat tinggal disini?”
Dengan cepat dia mengundurkan diri dari tempat itu dan berdiri disamping air terjun tersebut, lama sekali dia herpikir keras tapi belum dapat bayangan juga pergi kekanan untuk mencari Ciang Beng Hu itu mendadak suatu pikiran bagus berpikir dalam benaknya, dengan cepat dia putar tubuhnya memeriksa sekeliling tempat itu, tak salah lagi dibawah gunung disamping selokan yang mengalir itu terlihatlah titik sinar yang sangat samar-samar hatinya menjadi bergerak pikirnya.
"Ditengab gunung yang demikian sunyi dan liar bagaimana ada orang yang berdiam disana?”
Berpikir sampai disini dengan cepat tubuhnya bergerak menuruni bukit itu, tapi ditengah gunung yang terjal ditambah dengan batu batu cadas yang tajam mana ada jalan baik untuk dilalui ? Terpaksa dengan sangat berhati hati dia merambat turun dengan pegangan dinding tebing yang curam saat itulah mendadak sebuah batu cadas yang dipegang olehnya jatuh menggelinding kebawah, agaknya badannya akan ikut terjatuh kedalam jurang, saat yang sangat kritis itulah mendadak kakinya menutul batu itu dengan cepat tubuhnya melayang keatas sebuah batu cadas yang menonjol keluar, saking terkejutnya keringat dingin sudah mulai mengucur keluar.
Ketika dia menoleh kebelakang terlihatlah batu dimana dia berdiri tadi ada dua tiga kaki jauhnya dari tempat sekarang ini puluhan dirinya tidak mengerahkan tenaga yang sangat besar saat itulah dia baru tahu tenaga dalam yang dilatihnya selama ini sudah mendapatkan kemajuan yang sangat pesat sehingga tanpa dia sadari tubuhnya bertambah ringan lagi.
Didalam keringanan itu dia tak berpikir panjang lagi dengan cepat dikerahkannya lagi, ilmu meringankan tubuhnya berlari menuruni tebing itu dengan lincahnya, sekarang dihadapannya sudah muncul sebuah bangunan besar yang sangat megah sekali pikirnya dalam hati.
"Ciang Beng Hu itu pasti berdiam dirumah ini."
Dengan cepat dia berlari kesamping tembok pagar, dengan satu kali loncatan tubuhnya sudah melayang keatas atap bangunan itu. Tubuhnya begitu ringan sehingga gerakannya ini tidak menimbulkan suara sedikitpun juga.
Sesudah melewati dua buah bangunan dari tempat kejauhan terlihatlah sinar lampu yang dilihatnya itu berasal dari bangunan sebelah selatan, dengan tidak berpikir panjang lagi tubuhnya melayang kearah sana.
Dari luar jendela terlihatlah keadaan dalam ruangan itu dengan sangat jelas, kiranya orang-orang dengan dandanan yang berbeda yang ditemuinya waktu yang lalu kini sedang duduk berkumpul disana dan bermain judi dengan ramainya.
Melihat orang-orang itu mendadak dalam ingatan Liem Tou berkelebat suatu bayangan bagus pikirnya.
“Ehmm . aku harus menggunakan orang-orang ini baru bisa memancing keluar Ciang Beng Hu pengemis terkutuk itu.”
Matanya dengan cepat berkelebat memeriksa keadaan disekeliling itu sesudah didapatkan satu tempat persembunyian yang sangat bagus barulah diangkatnya sebuah batu besar itu ke arah orang-orang yang sedang berkumpul bentaknya dengan sangat keras.
"Cepat suruh Kuncu terkutuk kalian keluar".
Sambil berkata tubuhnya dengan cepat melayang bersembunyi pada tempat persembunyian yang sudah dicarinya terlebih dahulu.
Terdengar dua kali jeritan yang sangat mengerikan, dua orang diantara orang yang sedang berjudi itu seketika itu juga binasa dengan kepala yang pecah hancur berantakan terkena sambitan batu besar dari Liem Tou yang dilakukan tanpa mereka sadari, suasana menjadi kacau balau.
Dengan tergesa-gesa mereka pada lari keluar ruangan dan meloncat naik keatas atap rumah.
Pada saat yang bertepatan juga dari ruang sebelah berkelebat keluar dua sosok bayangan manusia yang melayang datang, tanyanya.
"Saudara saudara sekalian, telah terjadi urusan apa?”
Liem Tou yang bersembunyi dibelakang gunung-gunungan ditengah taman bagitu mendengar suara itu darah panasnya segera bergolak, orang itu tidak lain adalah Ciang Beng Hu yang paling dia benci itu, kemudian telah terdengar suara suara yang ribut dari orang itu sedang menceriterakan keadaan yang sebenarnya, terdengar suara dari Au Hay Ong Bo sedang berkata.
"Kalau memang begitu, tentu orang itu belum meninggalkan tempat ini..bangsat dari mana yang bernyali besar berani lari kesini mengacau ?”
"Ibu" ujar Ciang Beng Hu pula yang berdiri disampingnya, "Apa mangkin kawan-kawan dari Bu Lim sudah dapat berita kalau Liem Tou berhasil kita tawan kemari sehingga datang mengacau ??"
Mendengar perkataan itu didalam hati diam-diam Liem Tou tuerasa sangat geli sekaii.
Liem Tou yang bersembunyi ditempat kegelapan mendadak sangat terkejut, kiranya saat itu terlihatlah seorang dengan langkah yang mantap berjalan mendekati tempat persembunyiannya, segera pikirnya dengan cepat.
"Aduh..dia datang kesini, agaknya tempat ini tidak mungkin bisa aku gunakan lag!, jika mereka tahu aku bersembunyi disini dengan jumlah yang banyak aku tidak akan bisa lobos dari kepungan mereka, lebih baik kini juga aku mengundurkan diri kemudian baru cari kesempatan mencari balas."
Berpikir sampai disini dengan tidak perduli disana banyak orang atau tidak, mendadak tubuhnya meloncat keluar dari tembok pagar kemudian lari dengan cepatnya keluar dari bangunan itu mendekati sebuah sungai yang amat deras.
Begitu dia munculkan diri, jejaknya segera diketahui orang-orang itu terdengar suara teriakan yang sangat ramai.
"Bangsat itu melarikan diri keluar perkampungan, cepat kejar."
Liem Tou yang berlari hingga tepi sungai hatinya menjadi mantap, sambil putar tubuhnya ia membentak dengan keras.
"Hey Ciang Beng Hu, kamu kemari."
Orang-orang itu ketika melihat orang tersebut tidak lain adalah Liem Tou yang dipenjarakan didalam gua yang gelap tak terasa dibuat tertegun dibuatnya, Au Hay Ong Bo serta Ciang Beng Hu pada saat itu juga tepat sedang tiba disana, begitu melihat orang itu Liem Tou pada air mukanya jelas memperlihatkan perasaan herannya.
Teriak Liem Tou lagi dengan keras
"Ciang Bang Hu, aku Liem Tou sudah merasakan penderitaaa dan siksaan yang kejam dari kamu manusia tidak tahu malu sekarang kamu berani tidak menerima satu kali pukulanku ?"
Mendengar tantangan itu Ciang Beng Hu tertawa cekikikan kegelian, sahutnya sambil tertawa.
"Liem Tou, kepandaian cakar ayammu itu aku sudah merasakan kehebatannya, kini walau pun aku mengikat salah satu tanganku kiranya kamu orang juga tidak akan bisa lolos dari cengkeramanku."
Sehabis berkata tangannya yang sebelah ditekuk kebelakang kemudian dengan langkah perlahan berjalan mendekati kearah Liem Tou.
Melihat sikapnya yang pandang rendah pihak musuh Au Hay Ong Bo segera berteriak memberi peringatan.
“Hu jie kamu harus sedikit berhati-hati jangan terlalu gegabah sehingga terkena pukulan mematikannya."
"Ibu kamu orang tua harap berlega hati” sahut Ciang Beng Hu sambil berjalan sembari menjawab. "Dia tidak lebih hanya sebuah macan kertas saja, kelihatannya memang galak padahal sedikitpun tidak berguna"
Melihat Ciang Bang Hu itu begitu tidak melihat sebelah matapun kepada Liem Tou dia merasa sangat girang, pikirnya.
“Hmmm..kebetulan sekali, kini mau kuperlihatkan suatu pemandangan indah kepadamu."
Diam-diam tenaga dalamnya segera disalurkan kedalam telapak tangannya sedangkan pada air mukanya sengaja memperlihatkan perasaannya yang sangat tegang, teriaknya lagi dengan keras.
"Ciang Beng Hu, kau berdiri saja disana jangan bergerak, kalau kamu berani maju mendekati lagi jangan salahkan aku segera turun tangan membinasakan kamu orang"
Bersamaan pula tubuhnya dengan perlahan-lahan mulai bergeser mundur kebelakang.
Melihat sikapnya yang ketakutsn itu tak terasa lagi Ciang Beng Hu tertawa keras, ujarnya.
"Liem Tou kamu orang jangan takut sebelum memberitahukan tempat penyimpanan kitab To Kong Pit Liok itu aku takkan membiarkan kau binasa dengan cepat."
Sambil berkata tubuhnya setindak demi setindak maju mendesak mendekati tubuh Liem Tou.
Sekali lagi Liem Tou mundur dua langkah ke belakang sehingga sekarang badannya sudah sangat dekat dengan sungai itu, saat itulah baru dia membentak dengan sangat keras.
"Hmmm - - - hmmm — - jika kamu berani maju satu langkah lagi, aku segera akan turun tangan”
"Kamu turun tanganlah," ujar Ciang Beng Hu sambil tertawa, "Aku akan menyambut semua seranganmu itu."
Dalam hati Liem Tou tahu siasatnya sudah termakan oleh pihak lawannya, kini melihat jarak Ciang Beng Hu dengan dirinya tidak lebih hanya terpaut tiga lima tindak saja mendadak telapak kirinya diangkat bentaknya.
"Terima seranganku ini"
Dengan cepat Ciang Beng Hu mengangkat telapaknya menutup seluruh tubuhnya siapa tahu serangan dari Liem Tou ini tidak lebih hanya gertakan kosong saja, mendadak tangannya ditarik kembali sedang telapak kanannya secara mendadak melancarkan satu serangan dahsyat.
Dengan cepat Ciang Beng Hu menghindarkan diri ke samping, tetapi jurus serangan Liem Tou ini entah didapatkan dari mana sedikit tenaga pukulan tidak tampak.
Segera terdengarlah suara tertawa ejekan serta makian dari orang orang disekitar tempat itu.
"Bangsat cilik ini sungguh tidak tahu kekuatan sendiri, dengan kebodohan seperti ini masih berani bergebrak lawan Kuncu kita . , ha ha ha ha . .”
Pada saat itulah mendadak Liem Tou miringkan badan kesamping, seluruh tenaga dalamnya disalurkan pada sepasang telapak tangannya kemudian didorongnya segera bersama-sama kedepan, bentaknya.
"Ciang Beng Hu jangan keliwat kegirangan dulu, terimalah serangan mautku ini”
Ciang Beng Hu tetap dengan menggunakan tangan tunggalnya menerima serangan tersebut, sahutnya sambil tertawa ewa.
"Tidak lebih sama juga.”
Perkataannya belum selesai diucapkan mendadak air mukanya berubah sangat hebat, teriaknya.
"Celaka."
Perkataannya baru saja keluar dari mulutnya segulung angin serangan yang sangat dahsyat sudah menggulung datang bagaikan menggulungnya ombak besar ditengah samudra.
'Bluuk..bluuuk..”
Terdengar suara dengusan yang sangat berat tubuh Ciang Beng Hu seketika itu juga terpental sejauh tiga kaki lebih dan roboh keatas tanah dengan sangat kerasnya dari mulutnya kelihatan darah segar menyembur keluar dengan derasnya disertai dengan jeritan melengking yang sangat mengerikan.
“Liem Tou.. . . kau . .”
Suaranya mendadak terputus dan suasana jadi hening sejenak.
Au Hay Ong Bo sekalian dengan cepat menyerbu kedepan mengurung tubuh Liem Tou rapat-rapat, tetapi saat itu juga Liem Tou sudah menyeburkan badannya kedalam sungai, terlihat percikan air memancar keempat penjuru bayangan tubuh Liem Tou sudah lenyap ditelan oleh aliran air sungai yang sangat deras itu.
Kota Li Cian Ko dibawah gunung Cin Jan hari ini mendadak kedatangan berbagai jago-jago berkepandaian tinggi dari dunia kangouw pada umumnya, semua jago jago itu secara serentak bersama-sama menginap dirumah penginapan di dalam kota tersebut sehingga suasana menjadi sangat ramai sekali.
Kiranya mereka adalah jago-jago yang mendapat undangan dari si Ang in sin pian Pouw Sak San untuk menghadiri pembukaan serta peresmian dibukanya Ang In Piauw kiok diatas gunung Ha Mo San.
Hari itu diperkampungan Ie Hee Cung diatas gunung Ha Mo Leng suasana pun tidak kalah ramai serta repotnya ruangan Cie Eng Toug sudah dihiasi dengan alat-alat perlengkapan yang sangat mewah khusus diperuntukkan perjamuan yang diadakan untuk para jago-jago dari dunia kangouw itu.
Malam itu Si Ang In Sin pian Pouw Sak San akan membuka perjamuan itu dengan segala kemegahan serta kemewahannya karena suasana sangat kacau dan ribut, siapapun tidak memperhatikan gerakan-gerakan yang terdapat disekeliling tampat itu.
Mendadak dibelakang perkampungan Ie Hee Cung itu terlihat sesosok bayangan manusia dengan gerakan yang mencurigakan dan bersembunyi-sembunyi menyelinap kedalam perkampungan itu.
Kiranya orang itu adalah Liem Tou yang baru saja meloloskan diri dari ceragkeraman raja Au Hay dari partai Kiem Tian Pay, siang malam dia melakukan perjalanan dari daerah Chuan Tien melalui Ngo Lian Hong terus menuju kearah gunung Cing Jan hingga mencapai bawah gunung Ha Mo Leng, kemudian dengan tidak pikir-pikir panjang lagi, dengan melalui jalan rahasia ditengah sungai itu dia terus lari menaiki puncak gunung.
Ketika dia tiba dimulut gua hari masih terlalu pagi karenanya dia tidak berani munculkan dirinya, dia takut ditemui orang lain sehingga niatnya untuk menemui Ie cici menjadi gagal total, karenanya menanti cuaca sudah menjadi gelap dengan merindip-rindip mulai melakukan perjalanan menuju kernmah Lie Siauw Ie.
Jalanan didalam perkampungan Ie Hee Cung boleh dikata sudah sangat hapal sekali, beberapa saat kemudian dia sudah tiba didepan pintu rumah Lie Siauw Ie, dia menemukan tempat itu masih terang benderang oleh sinar lampu dengan perlahan dia mulai mendekati rumah itu dan mengintip kedalam melalui celah-celah jendela, terlihatlah waktu itu Lie Siauw Ie sedang duduk sendirian didalam rumah wajahnya penuh dengan bekas-bekas air mata.
Dengan perlahan-lahan Liem Tou mengetuk pintu rumahnya baru saja mau berteriak memanggil mendadak terlihatlah Lie Siauw Ie dengan sangat terkejut meloncat bangun, sepasang matanya dengan melotot bulat bulat memandang tajam luar jendela, teriaknya kemudian.
"Ibu . - - setan itu datang lagi, setan itu datang lagi.”
Melihat sikapnya yang begitu, dalam hati Liem Tou betul-betul merasa sedih, ujarnya dengan perlahan.
“Ie cici aku bukan setan aku Liem Tou aku adalah adik Tou mu - - - Tou titimu.”
Mendengar perkataan itu agaknya Lie Siauw Ie menjadi melengak, tapi segera tertawa kalap lagi, ujarnya.
“Ha ha ha ha , . ibu, kau sudah dengar belum, setan itu bilang dia adalah Tou titi, Tou titi sudah binasa sangat lama sekali.”
Mendadak . . air mukanya berubah sangat hebat, dengan wajah yang sangat menyeramkan bentaknya keras.
"Pouw Siauw Ling, aku mau adu jiwa sama kamu orang.”
Sehabis membentak tangannya diayunkan kedepan beberapa sinar keperak-perakan berkelebat menyilaukan mata berpuluh batang jarum Kioe Cu Gin Ciam sudah disambit keluar sehingga menancap pada jendela itu.
Dalam hati Liem Tou betul-betul merasa sangat sedih seperti diiris-iris baru saja mau berteriak memanggil namanya, mendadak Lie Siauw Ie menyambar bangku didepannya kemudian dilemparkan keluar jendela dengan kerasnya.
"Bruuk . . .” Suara yang sangat nyaring segera memecahkan kesunyian, terlihatiah ibu dari Lie Siauw Ie dengan tergesa-gesa masuk kedalam kamarnya sambil ujarnya kepada Lie Siauw Ie.
"Siauw Ie ada apa? Dia datang lagi?"
Lie Siauw Ie memandangi ibunya sejenak kemudian mengangguk.
Melihat gerak-gerik dari Ibu beranak itu Liem Tou menjadi bingung dibuatnya, dalam hati diam-diam pikirnya.
“Haaa bagaimana sebetulnya? Kenapa didalam sekejap saja Ie cici sudah sadar kembali??”
Baru saja pikirannya berputar mendadak dari samping tembok diujung tempat itu secara samar-samar muncul sesosok bayangan manusia yang dengan langkah perlahan berjalan mendekat, saat ini dia bisa melihat benda ditempat gelap seperti melihat pada siang hari saja karenanya begitu memandang segera mengetahui kalau orang itu tidak lain adalah Pouw Siauw Ling, hatinya menjadi sangat terkejut sekali, tanpa berpikir panjang lagi tubuhnya menyusup kesamping hendak menyembunyikan diri.
Begitu dia bergerak Pouw Siauw Ling segera sadar, mendadak dengan suara yang keren bentaknya.
"Siapa yang sedang mengintip rumahnya Ie moay moay?"
Sebetulnya Liem Tou hanya ingin bertemu dengan Ie cicinya saja, tetapi kini jejaknya sudah diketahui oleh Pouw Siauw Ling mau tak mau terpaksa berhenti juga, pikirannya dengan cepat berputar pikirnya.
"Kini dia sudah mangejar datang, kenapa aku tidak permainkan dirinya terlebih dulu?"
Berpikir sampai disini tubuhnya dengan cepat meloncat keatas kemudian melayang kearah belakang kampung melihat hal ini Pouw Siauw Ling tidak mau melepaskan dengan begitu saja dengan cepat menyusul dari belakangnya.
Liem Tou segera mengerahkan tenaga murninya, dengan menutul tanah tubuhnya melayang pergi, makin lama Pouw Siauw Ling semakin ketinggalan sehingga akhirnya sampailah mereka didalam hutan dibelakang perkampungan itu.
Liem Tou pun semakin lari semakin bertambah perlahan Pouw Siauw Ling sudah sangat dekat dengan dirinya mendadak dia putar tubuhnya dan berdiri tidak bergerak disana.
Didalam sekejap saja Pouw Siauw Ling sudah tiba disana, bentaknya dengan keras.
"Manusia pengecut dari mana berani mengacau ditempat ini, cepat sebut namamu untuk terima kematian."
Liem Tou tetap tidak bergerak dari tempat semula, mendadak sepasang matanya melotot keluar dengan bulatnya. Phuuu ... . segulung angin yang sangat dingin segera disemburkan kearah Pouw Siauw Ling yang semakin mendekati kearahnya itu, sengaja dengan nada yang menyeramkan ujarnya.
"Pouw Siauw Ling, ini hari aku sengaja datang hendak mencabut nyawamu kau coba lihat siapa aku ini?”
Sesudah mendengar perkataan itu barulah Pouw Siauw Ling memperhatikan kearah Liem Tou dengan cermat, mendadak teriaknya setengah kalap.
"Ada setan. Ada setan."
Dengan cepat dia putar tubuh dan lari meninggalkan tempat itu dengan terbirit-birit. Liem Tou tidak mau melepaskan begitu saja dengan segera dia mengejar dari belakang, ujarnya.
"Pouw Siauw Ling kamu orang jangan pergi. Perbuatanmu sungguh bagus sekali, ditengah sungai kamu orang membegal barang kawalan orang kemudian bunuh orangnya . Hmmmm orang-orang didunia tidak akan tahu tapi kami yang berada diakhirnya tahu semua perbuatanmu dengan sejelas jelasnya."
Beberapa saat kemudian Liem Tou dapat melihat Pouw Siauw Ling sambil terkencing kencing saking ketakutannya sudah memasuki dalam perkampungan, makanya dia berhenti mengejar ujarnya kemudian.
"Hmmm . , ma!am ini aku biarkan kamu orang melarikan diri, besok pagi sesudah dibukanya perjamuan aku akan cari kamu untuk hitung hutang-hutang kita yang lalu.”
Sehabis berkata dia berkelebat kesamping dan menyambunyikan diri ditengah hutan yang lebat dipingiran perkampungan itu.
Kita balik pada Pouw Siauw Ling yang melarikan diri kembali kerumahnya, dengan air muka yang sudah berubah pucat pasi dengan perlahan-lahan dia masuk kedalam ruangan, tubuhnya gemetar sangat keras untuk setengah harian lamanya tidak sepatah katapun yang sanggup diucapkan keluar.
Menanti sesudah dia menceritakan urusan ini dengan jelas maka keesokan harinya urusan munculnya roh Liem Tou dibelakang perkampungan sudah tersebar luas didalam perkampungan itu, bahkan kata-kata itu menyebutkan juga kemungkinan Liem Tou akan munculkan diri pula disiang hari ini untuk menghadiri pertemuan yang akan diadakan itu.
Tetapi perkataannya ini siapa yang mau percaya? Sampai Si Ang in sin pian Pouw Sak San yang melihat dengan mata kepala sendiri parasaan takut yang tergambar pada air mukanya tidak percaya juga, hanya saja secara mendadak dia teringat akan perkataan dari Pouw Siauw Ling sewaktu membagi-bagikan kartu undangan pada para jago itu, tanyanya kemudian pada Pouw Siauw Ling.
“Ling jie, yang kamu temui kemarin adalah Liem Tou sungguh-sungguh atau setan?”
"Setan, pasti setan."
“Menurut penglihatanku, jika betul betul kamu melihat dia terang dia adalah manusia, di dalam dunia ini mana bisa ada setan?"
"Tapi Tia,” Bantah Pouw Siauw Ling lagi dengan ngotot. “Hal ini tidak mungkin bisa salah, bangsat cilik Liem Tou itu kita melihat sendiri dengan mata kepala kita kalau dia sudah mati bagaimaua bisa hidup kembali, bahkan ..“
Mendadak Pouw Siauw Ling merendahkan nada ucapannya, ujarnya lagi.
"Tia, Peristiwa kita membegal barang-barang kawalan itu dia ternyata tahu juga. Lingjie dengan telinga sendiri mendengar perkataan itu dengan sangat jelas, coba kamu pikir dia manusia atau setan.?”
Perkataan ini seketika itu juga membungkamkan si Ang in sin pian Pouw Sak San. Lama kemudian barulah sahutnya sambil gelengkan kepalanya.
"Kalau begitu sangat aneh sekali.”
Tapi rakyat didalam perkampungan Ie Hee Cung itu hanya seorang saja yang percaya Liem Tou sudah munculkan dirinya, orang itu tidak lain adalah Lie Siauw Ie sendiri.
Pagi pagi itu begitu dia dengar berita tentang bertemunya Pouw Siauw Ling dengan roh halus Liem Tou semangatnya tidak terasa berkobar kembali didalam dadanya, dengan cepat dia lari menuju kearah luar perkampungan bahkan berteriak-teriak memanggil nama Liem Tou dengan tidak henti-hentinya.
Setelah dilihatnya tidak ada orang yang menguntit dirinya dengan diam-diam dia memeriksa keadaan gua yang tersembunyi itu, terlihatlah diatas permukaan tanah didalam gua itu masih terlihat bekas-bekas air yang masih belum mengering, dia semakin percaya kalau Liem Tou sudah munculkan dirinya disana, teringat juga percakapan kemarin malam diluar jendela, dengan jelas suara itu adalah suara dari Liem Tou tapi dia sudah salah menduga kalau Pouw Siauw Ling yang sudah munculkan dirinya kenapa waktu itu dia tidak bisa membedakan suara-suara tersebut??
Kiranya hari itu sesudah Liem Tou pura-pura mati naik ke gunung dan bersembunyi didalam gua, malamnya secara diam-diam Lie Siauw Ie menghantar makanan dan minuman kepadanya tetapi begitu tiba disana tidak ditemui jejaknya lagi, semalaman itu dia merasa
sangat cemas dan menangis hingga menjelang pagi hari.
Keesokan harinya dia kembali lagi kedalam gua itu, ketika dilihatnya jejak kaki Liem Tou berjalan menuju kearah dalam gua maka dia pergi cari Pouw Jien Coei, kemudian bersama-sama memasuki gua itu.
Ditengah perjalanan mereka bertemu dengan ular aneh berkepala dua itu dengan tenaga gabungan mereka berhasil membasmi binatang tersebut dan akhirnya ditemui juga kalau gua itu menghubungkan puncak dengan sungai, waktu itulah Lie Siauw Ie baru tahu Liem Tou sudah pergi melewati tempat itu sehingga hatinya menjadi sangat girang sekali.
Siapa tahu beberapa hari kemudian si Ang in sin pian Pouw Sak San mendadak mendatangi ibunya kembali untuk membicarakan perkawinannya, sedang Pouw Siauw Ling pun setiap hari tentu pergi mengacau kerumahnya, didalam keadaan gusar dan apa boleh buat terpaksa Lie Siauw Ie mendatangi rumah Ang in sin pian Pouw Sak San dan memaki-maki disana dengan pinjam kesempatan ini pura- pura menjadi gila dibuatnya.
Pouw Siauw Ling sendiri walaupun melihat gerak geriknya yang seperti orang gila padahal didalam hati dia sangat tidak percaya, maka selalu menyelidiki kerumah Lie Siauw Ie secara diam-diam.
Walaupun begitu Lie Siauw Ie juga bukan seorang yang tolol, sejak semula dia sudah mempersiapkan dirinya, karena itulah sampai saat ini rahasianya tetap tidak sampai terbongkar.
Tetapi dengan sebab-sebab ini pula dia sudah membuang suatu kesempatan yang sangat baik untuk bertemu dengan Liem Tou.
Kita balik pada Lie Siauw Ie yang menuju keluar parkampungan mencari jejak Liem Tou, padahal saat itu Liem Tou menyembunyikan dirinya ditengah rerumputan tidak jauh dari tempat dimana Lie Siauw Ie berdiri, tapi saat ini dia melihat sikap serta gerak gerik dari
Lie Siauw Ie yang kegila-gilaan menjadi tidak berani keluar.
Pikirnya didalam hati.
"Ehmmm... sejak Ie cici menjadi gila tentu secara diam diam ada orang yang mengawasi gerak-geriknya secara diam-diam. Untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan yang tidak menyenangkan aku tidak boleh menempuh bahaya untuk menemui dia ..."
Tidak lama kemudian pagi yang cerah sudah berlalu dengan cepat, siang haripun menjelang didalam sekejap mata, Lie Siauw Ie, sekalipun sudah pulang kedalam perkampungan, pikirnya lagi dalam hati.
"Mungkin saat ini sudah banyak jago yang naik keatas gunung menghadiri pertemuan itu, aku harus hadir juga kesana."
Dengan perlahan dia mengambil keluar topengnya dari dalam saku kemudian dikenakan pada wajahnya, setelah itu secara diam-diam mengitari belakang perkampungan menuju kepuncak gunung itu, dari sana terlihatlah sangat jelas sepasang binatang, sepasang bangau beserta Pouw Siauw Ling secara berpisah sedang menyambut para tamu-tamunya dipinggiran ketiga rintangan yang paling diandalkan Ie Hee Cung tersebut.
Disamping sungai sebelah sana terlihatlah berpuluh- puluh orang sudah berkumpul, hanya saja setelah dilihatnya cara menyeberangi sungai dan mendaki gunung ada beberapa yang merasa sulit, sedangkan orang-orang yang dapat melewati ketiga buah rintangan itupun hanya setengah dari jumlah seluruhnya, orang-orang yang tidak sanggup terpaksa dengan menahan malu meninggalkan tempat itu dengan cepat.
Setelah melihat beberapa saat lamanya kesana, Liem Tou segera teringat kembali para jago-jago yang sudah berkumpul didalam ruangan Cie Eng Tong pikirnya.
"Kenapa aku tidak meminjam kesempatan ini menyelundup kedalam ruangan dan melihat-lihat siapa saja yang menghadiri perjamuannya ini?”
Pikiran ini baru saja berkelebat didalam hatinya, mendadak dari pantai seberang terlihatlah munculnya segerombolan kawanan kambing sangat banyak sekali, itulah gadis cantik pengangon kambing dengan perlahan-lahan munculkan dirinya dibalik hutan, melihat hal ini
Liem Tou segera menyembunyikan dirinya agar gadis pengangon kambing itu jangan sampai dapat mengetahui dirinya.
Pada saat Liem Tou mengalihkan pandangannya kedalam ruangan Cie Eng Tong tanpa disadari olehnya gadis pengangon kambing yang dilihatnya telah menghampiri dirinya.
Setelah gadis pengangon kambing telah berada semakin mendekat dengan dirinya, Liem Tou baru dapat menyadari bahwa didekat dirinya ada terdengar suara derap kaki orang mendekat kepadanya.
Waktu itu gadis cantik pengangon kambing sedang memanggil Liem Tou dengan cepat ia menoleh kebelakang terlihatlah lelaki kasar berwajah hijau yang ditemuinva ditengah jalan pada tempo hari kini sudah berada dibelakang badannya tidak terasa dia menjadi melengak pikirnya.
"Eh. .. . kapan dia naik keatas gunung ? kenapa aku tidak melihat dia ?"
Gadis cantik pengangon kambing itu dengan cepat menyongsong Liem Tou sambil mencekal tangannya.
"Oooh. . . Koko muka hijau ayahku bilang kamu orang menemui kesusahan, aku merasa sungguh amat cemas."
Liem Tou melihat perhatian dari gadis cantik pengangon kambing itu kapadanya begitu mendalam teringat pula kebaikan budi serta kejujurannya tidak terasa dalam hati merasa sangat berterima kasih sekali tapi mendadak didalam ingatannya berkelebat bayangan dari Lie Siauw Ie serta sikap gerak-geriknya, tidak terasa hatinya merasa amat sedih dengan cepat dia menarik kembali tangannya sambil ujarnya dengan dingin.
"Ayo jalan"
Segera dia berjalalan lebih dulu menuju keruangan Cie Eng Tong, ketika dia berjalan masuk kedalam ruangan terlihatlah didalam ruangan itu sudah terdapat berpuluh-puluh orang yang duduk ditempat masing-masing. Diam-diam gadis cantik pengangon kambing menarik ujung baju Liem Tou sambil ujarnya dengan perlahan.
"Liem Koko orang-orang itu bukan orang baik-baik, kita duduk disebelah sini saja."
Kedua orang itu segera mencari suatu tempat dekat pojokan ruangan.
Ujar Liem Tou kemudian.
"Nona aku terus terang beritahu padamu. Sejak kecil aku dibesarkan diatas gunung Ha Mo san ini sehingga seluruh rakyat disini tiada seorang pun yang tidak kenal dengan aku tapi Cung cu itu tak punya maksud baik terhadap diriku sehingga tidak sampai diketahui oleh mereka."
"Agaknya kau orang takut sama mereka yaah?”
"Bukannya aku takut pada mereka" sahut Liem Tou sambil gelengkan kepalanya."Hanya saja dikarenakan peraturan gunung ini sudah menentukan sebelum tiba pada waktunya meyambangi gunung tidak boleh mencuri naik keatas gunung secara diam diam."
“Ooh... kiranya begitu, kalau begitu kamu orang tak usah bicara lagi, semuanya biar aku yang uruskan.”
Dengan perlahan Liem Tou mangalihkan pandangannya kesekeliling tempat itu, mendadak dari luar pintu ruangan berjalan masuklah seorang lelaki, yang satu tua yang lain muda.
Dengan cepat Liem Tou memandang sangat teliti kearah orang itu ternyata pemuda tersebut bukan lain adalah Piauwsu muda yang berhasil melarikan diri dari perahunya malam itu, ketika melihat kearah kakek tua itu lagi terlihatlah pada janggutnya sudah penuh tumbuh jenggot putih tapi kakinya masih tetap mantap, matanya memancarkan sinar yang sangat tajam sedang kedua buah keningnya menonjol keluar, sekali pandang sudah tahu kalau kakek tua itu sudah berhasil melatih tenaga dalamnya hingga mencapai pada taraf kesempurnaan.
Tanyanya Liem Tou pada gadis cantik pengangon kambing sesudah melihat munculnya kedua orang itu.
"Nona kau tahu siapa kedua orang itu?"
Dengan perlahan gadis cantik pengangon kambinq itu menoleh memandang kearah dua orang tersebut.
"Aku juga belum pernah bertemu dengan orang ini, tapi jika ditinjau dari dandanan serta usianya mungkin dia adalah pemilik ekspedisi barang Cing Liong Piauw kok dikota Yong Jan itu golok naga hijau atau Cing Liong To Sie, kau tanya dia ada perlu apa ?”
"Kalau begitu memang betul, kalau begitu memang betul” gumam Liem Tou seorang diri.
Mendadak ujarnya lagi kepada gadis cantik pengangon kambing itu.
"Nona, kau pernah dengar tidak kalau ekspedisi Cing Liong Piauw kiok dibegal orang?”
“Bukan dibegal barang kawalannya saja bahkan semua Piauw su yang mengawal perahu itu dibunuh habis."
"Tidak.. . salah kau salah, sudah lolos satu orang."
"Bagaimana kau bisa tahu?” tanya gadis cantik pengangon kambing itu dengan nada terkejut bercampur heran.
Liem Tou sebenarnya mau bicara terus terang tetapi hatinya tetap ragu-ragu karenanya dia hanya gelengkan kepalanya tetap membungkam.
Waktu itu didalam ruangan bertambah lagi dengan berpuluh-puluh orang banyaknya, Liem Tou dapat melihat diantara orang-orang itu terdapat juga Hek Loojie serta Tian Pian Ngo Koei.
(Bersambung ke jilid 11)
BEGITU Hek Loojie masuk dalam ruangan, mendadak matanya dengan tajamnya memandang kearah gadis cantik pengangon kambing, sehingga memaksa dia menoleh kearah Liem-Tou sambil ujarnya dengan perlahan.
"Liem koko, coba kau lihat sepasang mata bangsatnya."
Liem Tou segera teringat kembali pesan terakhir dari Hek Lootoa sesaat menjelang kematiannya, tidak terasa lagi dia tertawa dingin tak ada henti hentinya.
"Nona kau tidak usah urus dia, lain kali dia akan binasa ditanganku."
Terpaksa gadis cantik pengangon kambing itu hanya tersenyum senyum saja.
Siang haripun sudah lewat, si Ang in sin pian Pouw Sak San dengsn membawa Siang Hui Hok, Liong Ciang, Hauw Jiauw serta Pouw-Siauw Ling berjalan masuk kedalam ruangan Cie Eng Tong, sambil memberi hormat ujarnya.
"Maaf . . . maaf sudah menanti lama?"
Sepasang mata Liein Tou dengan tajamnya memperhatikan segala gerak gerik dari Piauw su muda dari perusahaan ekspedisi Cing Liong Piauw kiok itu, terlihatlah ketika dia mendengar si Ang In Sin Pian buka mulut, air mukanya berubah sangat hebat, sepasang matanya dengan berapi api memandang tajam semua gerak gerik si Ang in sin pian Pouw Sak San,
Dalam hati Liem Tou tahu tentunya saat ini dia mengenal kembali nada suara dari si Ang in sin pian Pouw Sak San sangat mirip dengan orang berkerudung yang membegal barang kawalannya malam itu, tidak terasa dalam hati pikirnya.
“Jika dia betul betul sudah mengenal orang berkerudung itu adalah dia, ini hari tentu ada pertunjukan yang sangat menarik.”
Baru saja dia berpikir sampai disitu mendadak terlihatlah Lie Siauw Ie masuk bersama sama Pouw Jien Coei berjalan masuk kedalam ruangan.
Begitu Lie Siauw Ie masuk kedalam ruangan matanya segera memandang sekeliling tempat itu memeriksa setiap tamu yang hadir disana.
Melihat hal itu tidak terasa lagi hati Liem-Tou berdebar sangat keras sekali, tanpa terasa lagi dia sudab bangkit berdiri hendak menyambut kedatangan mereka.
Melihat dia bangkit berdiri, gadis cantik pengangon kambing yang berada disampingnya menjadi sangat heran. Dengan cepat tanyanya.
"Hey Liem Koko, kau mau pergi kemana??"
Begitu ditanyai Liem Tou baru merasa sangat terkejut dan duduk kembali ketempat semula. Waktu itulah Lie Siauw Ie sedang memandang kearah mereka, mendadak gadis cantik pengangon kambing itu tersenyum dan menggape kearah mereka.
Liem Tou msnjadi sangat terkejut, tanyanya dengan cepat.
"Kau mau berbuat apa?"
"Coba kau lihat kedua orang nona itu sangat cantik sekali, aku pingin berkawan dengan mereka berdua."
Lie Siauw Ie serta Pouw Jien Coei segera berjalan menuju kearah mereka, melihat hal ini hati Liem Tou berdebar semakin keras lagi bah kan dia merasa juga kenapa sekarang Lie Siauw Ie sudah sembuh kembali seperti sedia kala??? sedikitpun tidak terlihat bekas jadi gila??
Begitulah Lie Siauw Ie serta Pouw Jien Coei kini duduk disamping mereka berdua. Walaupun Liem Tou tidak berusaha memandang kearah Lie Sieuw Ie atau Ie cicinya itu tapi tanpa terasa matanya memandang juga kearahnya tanpa bisa ditahan lagi, bertepatan juga waktu itu Lie Siauw Ie sedang memandang kearahnya, tanpa terasa lagi mereka berdua pada tertegun dibuat nya.
Mendadak Lie Siauw Ie berseru degan keras. "Tou titi .... !"
Tangannya dengan cepat mencengkeram wajahnya untuk melepaskan topeng itu. Liem Tou tidak berani munculkan dirinya di depan umum karenanya dengan cepat ia kesamping.
Saat ini dia tak bisa membuka mulutnya melawanpun tidak mungkin karenanya dia melirik kearah gadis cantik pengangon kambing itu untuk meminta bantuannya.
Mendadak . .. Pouw. Siauw Ling dengan cepat berlari kesana sambil tanyanya dengan cepat.
"Ie Moay, terjadi urusan apa?"
Begitu Liem Tou melihat murculnya Pouw-Siauw Ling disana hatinya menjadi semakin cemas lagi, diam diam pikirnya.
"Aduh .. . jika Ie cici tidak lepas tangan, urusan akan menjadi runyam."
Waktu itu Liem Tou bisa melihat kalau pada sir muka Lie Siauw Ie sama sekali tidak tampak bekas bekas sakit atau gila sehingga tanpa terasa matanya sekali lagi terbentur dengan mata Lie Siauw Ie.
Walaupun kini Liem Tou memakai topeng, akan tetapi dari air muka serta pandangan matanya dikenali juga oleh Lie Siauw Ie, karenanya dia berteriak lagi.
"Adik Tou ..."
Sekali lagi tangannya menyambar berusaha melepaslan topeng yang dikenakan psda wajahnya itu, Liem Tou menjadi cemas bercampur gugup saat ini tak mungkin dia bisa memperlihatkan wajah sesungguhnya dihadapan umum, apalagi didalam ruangan terdapat si Ang in sin pian Pouw Sak San, Pouw Siauw Ling, Hek Loo jie serta Tian Pian Ngo Koei, jika mereka mengetahui siapa sebetulnya dia maka urusan akan semakin runyam lagi.
Pouw Siauw Ling yang tak mendapat kesempatan untuk lebih dekat lagi menggauli gadis cantik pengangon kambing kini melihat suatu kesempatan yang sangat bagus segera berjalan mendekat sambil tanyanya.
"le moay, terjadi urusan apa ?"
Lie Siauw Ie begitu melibat Pouw Siauw Ling berjalan mendekat air mukanya segera berubah sangat hebat, bukannya memberi jawaban kepadanya mendadak telapak tangannya dibalik membabat ketubuhnya dengan sangat hebat.
"Lingte" cepat cepat Pouw Jien Coei lari sambil bentaknya kepada Pouw Siauw Ling. “Di sini tidak ada urusanmu, lebih baik kau kesana saja membantu Tia menyambut tamu2 itu.”
Saat itu tujuan Pouw Siauw Ling tidak berada pada Lie Siauw Ie, walau Pouw Jian Coei sudah bicara begitu hanya tersenyum senyum saja sambil putar tubuh kearah gadis cantik pengangon kambing serta Liem Tou dia beri hormat ujarnya.
"Gadis cantik pengangon kambing serta Heng tay ini sungguh dapat dipercaya, kunjungan kalian berdua kedalam perkampungan kami betul betul merupakan kebanggaan bagi kami, sewaktu di jalan raya tempo hari karena urusan yang perlu dibereskan cepat cepat sehingga menyalahi kalian berdua harap kalian memaafkan"
Liem Tou didalam hati sudah kepingin menghajar Pouw Siauw Ling hingga hancur sudah tentu kini tidak mau ambil perduli lagi, dengan cepat dia melengos kesamping.
Sebaliknya itu gadis cantik pengangon kambing yang sifatnya periang segera menyahut sambil tertawa.
"Ooh . ,. aku juga sudah lupa minta maaf kepada kau ketika itu hari merebut cambukmu dan menggetar pecah talapak tanganmu"
Air muka Poaw Siauw Ling seketika itu juga berubah merah padam, dengan penuh perasaan malu dia menundukkan kepalanya rendah-rendah.
"Kepandaian dari nona sungguh sangat sempurna, sekalipun Cayhe ada sepuluh orang juga bukan musuh dari kamu orang jika tempo hari bukannya nona sudah mengampuni jiwa Cayhe kemungkinan sekarang sudah tidak berjiwa lagi, sebetulnya Cayhe lah seharusnya yang mengucapkan terima kasih kepada nona atas budi tersebut.”
Sehabis bicara dengan sangat terhormat dan sopan sekali dia membungkukkan badannya mem beri hormat, sikap serta gerak geriknya yang sombong pada hari biasa sudah tidak kelihatan lagi.
Ketika Liem Tou melihat sikapnya yang sangat tengik itu kepingin sekali tendang membunuh mati dia, mendadak didalam ingatannya berkelebat akan sesuatu bayangan, selama diatas puncak Ngo Lian Hong dia sudah melatih tenaga dalamnya hanya saja entah sudah sampai tingkat yang bagaimana, kenapa tidak pinjam kesempatan ini menjajal tenaga dalamnya sendiri ?
Berpikir sampai disini mendadak dia mundur satu langkah kedepan, seluruh tenaga murninya dipusatkan pada sepasang telapak tangannya kemudian bagaikan kilat cepatnya melancarkan satu cengkeraman maut kepergelangan tangan Pouw Siauw Ling.
Pouw Siauw Ling yang secara mendadak dicengkeram sepasang pergelangan tangannya dalam hati merasa terkejut sekali dengan cepat tangannya ditari k kembali sekuat tenaga.
Sudah tentu Liem Tou tidak akan membiarkan dia berhasil melepaskan cekalan tersebut, diam2 tenaga murninya diperlambat kelima jarinya semakin mengencang ketika itu Pouw. Siauw Ling merasakan sakit yang luar biasa sehingga sukar ditahan, bersamaan pula dia mengerahkan tenaga dalamnya tertahan, tanyanya sedikit gusar.
"Entah Heng thay punya petunjuk apa?"
Liem Tou tetap membungkam, hanya saja tenaga murni yang disalurkan ke tangannya semakin diperhebat, perasaan sakit yang menerjang diri Pouw Siauw Ling semakin hebat lagi, dia tidak berani berteriak, untuk minta tolong pun maiu terpaksa dengan menggigit kencang bibirnya diam diam menahan perasaan sakit yang luar biasa itu.
Saat ini Liem Tou sudah mengerahkan empat Iima bagian tenaga dalamnya sedang Pouw Siauw Ling pun dengan paksakan diri masih sanggup untuk bertahan untuk beberapa saat lamanya.
Walaupun ucapannya bernada musuhan tapi perasan sakit pada pergelangan tangannya tidak sanggup untuk ditahan lebih lama lagi, badannya mendadak merendah kebawah dan menjadi berjongkok diatas tanah.
Liem Tou ketika melihat tenaga dalam yang dilatihnya selama ini tak sia2 dalam hati baru merasa amat girang, dengan demikian dia-pun sudah melepaskan cekalannya.
Dengan meminjam kesempatan ini Pouw-Siauw meloncat bangun, perasaan malu yang diterimanya kali ini cukup memalukan dirinyanya, karena itu didalam hati dia merasa sangat tak puas, baru saja dia mau umbar hawa amarahnya, mendadak gadis cantik pengangon kambing sudah bangkit berdiri, ujarnya sambil tertawa.
“Koko muka hijau hanya mau jajal tenaga dalammu saja tanpa ada maksud yang lain, harap kau jangan salah paham”
Di dalam hati Pouw Siauw Ling tahu kalau tenaga dalamnya sudah jauh tertinggal jika dibandingkan dengan tenaga dalam pihak lawannya, sekalipun kini dia umbar hawa amarahnya didalam sepuiuh bagian ada sembilan bagian yang merugikan dirinya, terpaksa dengan menahan perasaan mangkel, jengkel dan marah dia mendelik sekejap kearah Liem Tou kemudian berlari dari tempat itu.
Setelah itu barulah gadis cantik pengangon kambing mempersilahkan Lie Siauw Ie serta Pouw Jien Coei duduk, ujarnya.
"Kedua orang cici ini silahkan duduk."
Pouw Jien Coei yang melihat gadis cantik pengangon kambing ini merupakan seorang gadis muda yang sangat cantik sekali didaiam benaknya mendadak berkelebat suatu ingatan, pikirnya.
"Ini hari Tia buka perjamuan diatas gunung untuk meresmikan dibukanya perusahaan ekspedisi Ang In Piauw kiok, tamu tamu yang diundang sebagian besar merupakan para jago berkerandaian tinggi yang punya nama besar didalam Bu lim, dilhat usianya baru lima belas tahun apa mungkin merupakan salah seorang jago yang sudah punya nama besar didaiam kalangan Bu lim ??
Sambil berpikir ujarnya sambil tersenyum,
"Nona masih demikian muda ternyata sudahi menjadi seorang jago Bu lim kenamaan sungguh merupakan burung Hong didaiam manusia,, entah nama besar dari nona apa bisa diberitahu?
"Siauw moay bernama Lie Wan Giok merupakan seorang gadis desa yang tolol, bukan seorang jago bernama besar didaiam Bu lim seperti yang cici katakan tadi, harap dikemudian hari cici mau banyak beri petunjuk."
Dengan cepat Pouw Jien Coei mengecapkan beberapa kata rendah kemudian menyebutkan juga namanya serta nama dari Lie Siauw Ie, semakin lama pembicaraannya dengan gadis cantik pengangon kambing itu semakin menjadi rapat lagi.
Sebaliknya Lie Siauw Ie saat ini dengan mata yang melotot lebar sedang memandang air muka Liem Tou yang berwarna hijau menyeramkan itu dengan termangu mangu jelas sekali air mukanya menggambarkan perasaan ragu ragu, curiga serta sedihnya.
Air mukanya ini yang patut dikasihani ini di dalam pandangan Liem Tou sangat memalukan hatinya, kekasih hatinya kini sudah berada di hadapan matanya tapi justru tidak bisa berkasih kasihan, dalam hatinya diapun merasa sangat kasihan terhadap Lie Siauw Ie ini.
Tapi apa boleh buat musuh2 tangguh yang sedang mencari dirinya kini berkumpul didalam ruangan, asalkan sedikit dia membuat gerakan yang mencurigakan maka nyawa akan menjadi sangat bahaya sekali.
Karenanya terpaksa Liem Tou menahan pergolakan didalam hatinya, dalam hati dia tahu walaupun kini tidak bisa bertemu tapi dikemudian hari kesempatan untuk bertemu dengan Ie cicinya ini masih sangat banyak.
Terlihatlah si Ang In sin pian Pouw sak san dengan muka penuh senyuman berjalan ke tengah ruangan kemudian memberi hormat pada hadirin yang berada ditempat penjuru tempat, ujarnya dengan suara lantang.
"Cayhe Pouw Sak San dengan mendapatkan persetujuan seluruh rakyat perkampungan Ie-Hee Cung dengan menggunakan atas nama cayhe hendak mendirikan usaha ekspedisi Ang ln I Piauw kiok, ini hari bisa mendapatkan kunjungan dari para enghiong hoohan sekalian cayhe betul betul merasa sangat bangga dan berterima kasih, sedikit arak serta hidangan yang ada harap saudara sekalian mau menerima ala sekedarnya.”
Para hadirin yang berjumlah dua tiga puluhan segera pada berdiri begitu mendengar perkataan itu, kemudian bersama sama mengucapkan terima kasih .
Diantara mereka hadir hanya terlihatlah pemimpin dari usaha ekspedisi Cing Liong Piauw kiok serta Piauwsu muda itu saja yang tetap duduk ditempat semula tanpa bergerak, melihat hal ini air muka Si Ang in sin pian Pouw Sak- San segera berubah sangat hebat dalam hati dia I merasa sangat tidak senang tapi perasaan gusarnya itu tidak sampai diperlihatkan pada wajahnya, dengan tetap tersenyum ujarnya lagi.
"Oooh . . . Cayhe masih ada beberapa perkataan yang hendak dijelaskan kepada saudara-saudara sekalian, dikota Yong Jan sebetulnya sudah ada usaha ekspedisi Cing Liong Piauw-kiok bahkan ini hari pimpinan Piauw kiok si-golok naga hijau Sie Piauw tauw sudah hadir didalam perkampungan cayhe ini, dalam hati cayhe betul betul merasa sangat berterima kasih sekali. Tapi Ang In Piauw kiok kita juga hendak didirikan dikota Yong Jan yang bersamaan maka itulah sebelumnya cayhe jelaskan dulu, didalam usaha ini kita berjalan sendiri sendiri harap Sie heng mau memaafkan akan hal ini."
Begitu dia berbicara segera ada seorang lelaki berusia pertengahan dengan bentuk tubuh tinggi kurus bangkit berdiri, ujarnya. "Didalam sebuah kota Yong Jan yang sangat besar apalagi daerah Chuan Si yang sangat ramai perhubungan darat maupun airnya, jika hanya terdapat sebuah usaha ekspedisi Cing Liong Piauw kiok saja yang melayani sebetulnya tidak cukup harap Pouw Cung cu jangan begitu merendahkan diri.”
Begitu lelaki kurus berbicara segera terlihatlah sepuluh dua puluh orang bersama sama memberi tanggapannya.
"Perkataan dari Ming sao Touw cu ChinKhie sedikitpun tidak salah, lebih baik Pouw Cung cu tidak usah berlaku banyak adat lagi, kami kira Shie Piauw tauw pun takkan menyalahkan hal ini kalau tidak ini hari dia juga tidak akan datang.”
Mendadak sigolok naga hijau Shie Piauw tauw mendengus dengan amat dingin bentaknya dengan keras.
"Perkataan dari kawan-kawan sekalian sedikitpun tak salah kota Yong Jan itu memangnya bukan milikku seorang bagaimana bisa menyalahkan orang lain ?? tapi demi kepentingan diri sendiri demi kemajuan dan kemakmuran perusahaan ekspedisi yang akan didirikan dengan tidak perduli kerugian orang lain, coba kalian jawab itu menurut aturan dunia?”
Suasana dalam ruangan seketika Itu juga bcr ubah menjadi sunyi senyap, berpuluh puluh pasang ma'a dengan tanpa terasa dialihkan pada diri Sie Piauw tauw untuk menantikan ucapan selanjutnya.
Sebaliknya Liem Tou saat ini secara diam2 sudah memperhatikan perubahan air muka dari Si Ang in sin pian Pouw Sak San, terlihatlah semula dia melengak kemudian dengan sinar pandangan penuh napsu membunuh dialihkan pada Piauw su muda itu.
Dalam hati Liem Tou menjadi tergerak, terdengar si Ang in sin pian sudah angkat bicara lagi.
"Sie heng bagaimana bisa bicara begitu ?? apa mungkin cayhe pernah menyerang Cing Liong Piauw kok kalian ??"
Sambil berkata selangkah demi «elangkah ia bergeser kearah Piauw su muda itu.
Air muka sigolok naga hijau Sie Ie segera berubah sangat keren, sambil menuding wajah Ang in sin pian Pouw Sak San bentaknya dengan amat gusar.
"Sungguh bagus perbuatanmu, kau tua bangka yang licik masih mau pura2 apa lagi? Barang kawalan Cing Liong Piauw kok kami dibegal orang di tengah sungai siapa yang tidak tahu? Ini hari aku baru tahu kiranya kau manusia kura kura yang melakukan . . ."
Mendadak golok naga hijaunya dicabut keluar teriaknya dengan keras.
"Hey orang she Pouw, kembalikan barang kawalanku."
Waktu Pauw Sak San sudah berdiri kurang lebih lima depa dari Piauw su muda itu selesai mendengar perkataan dari sigolok naga hijau Sie Piauw tauw yang penuh hawa amarah itu ia tetap tenang tenang saja bagaimana juga dia tetap merupakan seorang yang licik, banyak akal dan punya pengalaman yang sangat luas mendengar perkataan itu bukannya menjadi marah sebaliknya bertambah hormat lagi, sambil tersenyum ramah ujarnya.
"Sie heng harap jangan marah dulu coba dengar perkataan cayhe terlebih dulu dibegalnya barang kawalan Cing Liong Piauw kiok di tengah sungai Yang tze Kiang siapapun sudah tahu dan percaya peristiwa ini memang sungguh sungguh terjadi, tapi jika didengar perkataan dari Sie heng tadi terus menerus menuduhku orang yang kerjakan sekarang tolong tanya bukti apa Sie heng bicara begitu ?
Kau jadi orang jangan terlalu menekan orang lain. Kalau memangnya dalam hati Sie heng senang kalau cayhe membuka usaha ekspedisi dalam kota Yong Jan lebih baik terus terang dikatakan, jangan lah menggunakan cara yang paling kejam ini memfitnah orang lain sehingga meiukai hubungan diantara sesama kawan, baiklah biar sekarang juga dengan kesaksian para enghiong hoohan kita bicara dengan baik2.”
Perkataan dari si Ang in sin pian Pouw Sak San ini sangat lihay sekali, bukan saja perkataannya ini sangat beralasan dan pakai aturan bahkan menuduh Sie Piauw tauw lah sedang menggunakan cara ini hendak memfitnah dirinya. Semua hadirin yang mendengar perkataan itu tanpa terasa pada mengangguk tanpa setuju, sedang suasana yang semula sunyi senyap kini menjadi sedikit gaduh dengan bisikan2 para hadirin yang sama sama membicarakan soal ini, jika dilihat situasinya sedikitpun tidak menguntungkan pihak Sigolok naga hijau Sie Ie.
Hal ini membuat kegusaran Sie Piauw tauw memuncak, baru saja membuka mulut bicara terdengar Pouw Siauw Ling sudah menggunakat kesempatan ini membentak.
"Ini hari sebenarnanya merupakan perjamuan kita kepada para jago tidak tahunya kau sebagai pimpinan Cing Liong Piauw kiok menuduh kami dengan hal yang bukan2, jika hal ini kau teruskan lagi jangan salahkan kami ayah beranak akan perintah orang mengusir kau dari atas gunung.”
Dengan perkataan ini semakin membuat kegusaran Sie Piauw tauw sukar ditahan lagi, sambil mengobat abitkan golok naga hijaunya dia membentak dengan sangat keras.
“Orang she Pouw, kau jangan mengandalkan jumlah yang banyak hendak menekan aku orang, kau boleh cari berita didalam Bu lim kami dari Cing Liong Piauw kiok kapan pernah memfitnah orang lain?"
Sambil berkata dia menuding kearah Piauw su muda itu, sambungnya lagi.
"Waktu itu diatas perahu sebetulnya ada empat orang Piauw su yang mengawal barang. Hu Piauw tauw sipemetik bintang Kwan Piauw juga termasuk salah satu diantaranya. Tidak disangka dengan mereka bertiga berhasil kalian bunuh hanya tinggal dia seorang saja yang berhasil melarikan diri dengan badan terluka parah, ini hari dia dapat mengenal kembali kalau nada suara bangsat yang membegal barang kawalan pada malam itu adalah kau orang, hey orang she Pouw kau ada perkataan apa lagi ?”
Semua hadirin setelah mendengar perkataan itu menjadi gaduh kembali, masing masing pada berbicara dan bertukar pikiran akan hal itu.
Ang in sin pian Pouw Sak San bukannya menjadi marah sebaliknya tertawa terbahak bahak, "Liem Tou yang memusatkan seluruh perhatiannya mengawasi gerak-gerik Ang in sin pian Pouw Sak San segera melihat pada saat dia sedang tertawa terbahak bahak itulah sepasang matanya beberapa kali melirik kearah Piauw su-muda itu, segera dalam hati dia tahu kalau dia hendak melakukan suatu gerakan, tidak terasa lagi darah panas bergolak didalam dadanya tanpa hiraukan dirinya lagi mendadak dia meloncat bangun sambil membentak keras.
"Awas ! "
Tapi peringatannya terlambat satu langkah tubuh Ang in sin pian Pouw Sak San lantas ditengah suara tertawanya yang amat keras bagaikan kilat cepatnya sudah mencengkeram urat nadi Piauw su muda itu.
Sebaliknya Lie Siauw Ie yang selama ini terus menerus memandangi wajah Liem Tou begitu mendengar dia berteriak segera mengenal akan suaranya, tanpa tertahan lagi dia berseru.
"Ooh . - - adik Tou."
Air matanya tidak bisa ditahan lagi mengucur keluar dengan sangat derasnya.
Saat ini walaupun Liem Tou mau rahasiakan asal usulnya tidak mungkin bisa lagi, baru saja mau memberi alasan kepada Lie Siauw Ie di sebelah sana terdengar si Ang Ie Sin Pian Pouw Sak San sudah tertawa nyaring lagi.
"Saudara2 sekalian apa kalian kenal siapakah saudara ini?"
Seorang hadirin segera berdiri, sahutnya dengan lantang.
"Dia adalah murid terkecil dari golok naga hijau Sie Piauw tauw yang bernama Oei Poh."
Baru saja orang jiu selesai bicara ada berpuluh puluh hadirin didaiam ruangan itu segera meledak suara tertawa yang amat keras sekali dengan meminjam kesempatan ini sindir Pouw Siauw Ling.
"Muridnya bertindak sebagai saksi suhunya, hal itu memang suatu hal yang paling cocok.”
Ang In Sin pian segera melapaskan cenkeramannya kepada Piauwsu muda itu, air mukanya yang dihiasi senyuman mendadak berubah amat dingin kaku, sambil menuding kearah golok naga hijau Sie Ie makinya.
“Sie le, kamu orang jangan salahkan aku Ang In Sin pian tidak pakai aturan, cepat bawa muridmu meninggalkan gunung ini, cepat."
Kemudian teriaknya dengan keras.
"Pouw Beng. Pouw Liang hantar tamu."
Air muka golok naga hijau Sie Ie waktu ini sudah berubah menjadi pucat kehijau-hijauan, badannya gemetar amat keras menahan hawa amarahnya yang sukar ditahan lagi, hampir hampir golok naga hijau di tangannya tidak sanggup dipegang lagi, sudah tentu untuk memberikan jawaban tidak mungkin lagi.
Para hadiran ketika melihat kegusarannya yang amat memuncak itu suasana y»ng semula penuh dengan suara tertawa pun kini berubah menjadi sunyi kembali, ada dua orang diantara mereka yang pada biasanya mempunyai hubungan persahabatan yang agak erat dengan golok naga hijau Sie Ie segera bangkit berdiri mendekatinya berusaha untuk menasehati beberapa patah kata.
Siapa tahu baru saja mereka berdua berjalan hingga kesampingnya belum sempat mengucapkan kata-kata mendadak Sie Piauw tauw bagaikan seorang gila membolang balingkan goloknya sambil membentak dengan gusar.
"Minggir."
Golok Cing Liong Tocu sedikit diangkat pundaknya direndahkan kebawah, dengan disertai sambaran angin yang sangat keras tubuhnya me layang kedepan badan si Ang in sin pian Pouw Sak San.
Serangan yang datangnya diluar dugaan ini seketika itu juga mengacaukan suasana didalam perjamuan itu masing-masin hadirin pada meninggalkan tempat duduknya dan bangkit berdiri.
Dalam keadaan yang sangat kalut itulah mendadak dari pojokan ruangan berkumandang suara bentakan yang amat keras.
"Sie Piauw tauw tunggu sebentar."
Bentakan ini sangat nyaring sehingga menggetarkan seluruh ruangan itu, si golok naga hijau, Ang in sin pian serta hadirin menjadi meIengak ketika mendengar suara bentakan nyaring itu, ketika menoleh kearah berasalnya suara terlihatlah seorang lelaki dengan air muka yang sangat menyeramkan sudah berdiri ditengah ruangan itu, dengan air muka yang berwarna hijau menyeramkan terlihatlah sepasang biji mata yang bulat lagi bening sedang memandang keempat penjuru ruangan itu.
Para jago yang hadir disana rata-rata tidak tahu siapakah orang itu dan berasal dari golongan mana, seketika itu juga ruangan menjadi sunyi senyap, seluruh sinar mata para jago ditujukan ke arahnya menantikan gerakan selanjutnya.
Sebaliknya Ang in sin pian dalam hati tahu kalau orang itu adalah kawan dari gadis c»ntik pengangon kambing itu kepandaian silat dari gadis cantik pengangon kambing itu dia sudah menjajal sedang orang inipun berjalan jalan bersama dia sudah tentu kepandaian silatnya tidak berada di bawahnya.
Tapi manusia berwajah hijau kini tampilkan dirinya secara di luar dugaan, apa yang mau di katakan lagi.
Sebaliknya didalam perasaan serta pandangan Pouw Siauw Ling sama sekali berbeda dengan dugaan Ang in sin pian itu, ketika suara bentakan tadi bergema didaiam ruangan segera dia merasa kalau suara itu sangat dikenal olehnya hanya saja didaiam waktu singkat ini dia tidak bisa mengingatnya kembali, karenanya dia dibuat tertegun olehnya, dengan melototkan sepasang matanya dia memandang tajam kearah manusia berwajah hijau itu,
Waktu ini manusia berwajah hijau itu sudah berdiri ditengah, matanya diputar kesekeliling tempat itu sedang terhadap ada Ang in sin pian disana sama sekali tidak digubris. Mendadak tangannya menunjuk kearah seorang yang berdiri disisi kiri, bentaknya.
Orang yang ditunjuk itu tidak lain adalah Liong Ciang Lie Kian Po, begitu mendengar omongan tersebut hatinya merasa sangat terperanjat. Baru saja mau membantah manusia berwajah hijau itu sudah putar tubuhnya sambil menuding keerah Pouw Siauw Ling ujarnya lagi.
'Yang membunuh mati Hu Piauw-tauw si pemetik bintang Kwan piauw adalah kamu orang, bagaimana ? mau membantah juga ? ?"
Sehabis bicara tanpa menanti jawaban dari Povw Siauw Ling dia sudah menyambung lagi dengan suara amat keras.
"Pembegalan barang barang kawalan Cin-Liong piauw kiok semuanya dilakukan oleh bajingan bajingan tak tahu malu itu, malam itu tepat aku sedang menginap didalam perahu tersebut, kalau bukannya dengan cepat aku bergelinding ke dalam sungai mungkin akupun ikut terbunuh ditangan mereka, piauw su muda ini bisa melarikan diri semuanya juga karena aku menolong dia hingga tak sampai ikut kehilangan nyawa Ang in sin pian Pouw Sak San ayah beranak semuanya berhati kejam dan ganas membuat aku merasa tak puas sehingga kini munculkan diri membuka rahasia ini, dengan tak perduli akibat apa yang akan terjadi aku dengan pertaruhan nyawaku bertindak sebagai bukti dan saksi harap para saudara saudara sekalian suka melakukan keadilan bagi Sie piauw-tauw ini."
Seketika itu juga suasana menjadi sangat gaduh, masing2 orang pada membicarakan soal soal ini sedang sinar matanya tanpa terasa sudah beralih kearah si Ang-in-sin pian Pouw Sak San, walaupun mereka tak mengucapkan sepatah katapan tapi dari air mukanya jelas mereka sudah mulai curiga terhadap dirinya.
Sewaktu suasana sangat kacau itulah mendadak Pouw Siauw Ling meloncat mendekati ayahnya Pouw Sak San sambil berseru dengan keras.
"Tia, dia adalah Liem Tou. Dia adalah Liem Tou. Dia adalah Liem Tou."
"Apa Liem Tou ?? Dia adalah Liem Tou? “ seru pouw Sak San dengan sangat terkejut disertai dengan suara jeritan kaget dari hadirin lainnva.
Segera terlihatlah Hek Loojie, Tian Pian Ngo Koei serta beberapa orang jago yang pernah ikut mengepung Liem Tou dilembah cupu cupu pada bangkit berdiri dan mulai mendesak kearahnya.
Ang in sin pian Pouw Sak San serta Pouw Siauw Ling pun mencabut senjata tajamnya bersama sama mendekati kearah Liem Tou dengan air muka penuh kegusaran.
Liem Tou berani munculkan dirinya sudah tentu dalam hati sudah menduga terlebih dulu bahaya yang akan diterimanya sehingga didalam hati tak begitu tegang lagi, selain diam2 mengerahkan tenaga dalamnya mempersiapkan diri, tangannya dengan cepat mengusap melepaskan kembali topengnya.
"Bukan salah," teriaknya dengan keras. "Aku adalah Liem Tou, mereka mau celakai dirimu, kamu harus berhati hati."
Sepasang mata Liem Tou dengan sangat tajam sekali memperhatikan setiap lawannya yang sedang mendelik kearahnya dengan penuh nafsu, sudah tentu dia tak berani memecahkan perhatian untuk memberikan jawaban.
Terdengar Ang in sin pian dengan sangat dingin berkata.
"Liem Tou, aku tidak sangka manusia berwajah hijau itu adalah samaranmu, bangsat cilik yang licik jika bukannya kau sesdiri yaug membuka rahasiamu sediri, hampir hampir akupun berhasil kau kelabuhi.Waktu untuk naik gunung belum tiba saatnya kau berani melanggar peraturan kita. Hmm hmm ... ini hari aku mau buat kamu orang menyesal untuk selamanya."
Mendadak hatinya bergerak secara tiba t iba teringat akan sesuatu hal, nada ucapannyapun segera berubah.
"Bagus sekali! Hey Liem Tou kiranya kitab pusaka "To Kong PitLiok" yang diberitakan di dalam dunia kangouw sudah kau dapatkan, tidak aneh kalau nyalimu begitu besar."
Seluruh perhatian Liem Tou dipusatkan pada gerakan para hadirin lainnya, walaupun dia mendengar seluruh perkataan dari si Ang-in-sin pian Pouw Sak San dia tetap tak berani buka mulut memberi jawaban.
Ang in sin pian sekali lagi maju satu langkah kedepan, baru saja bahu kanannya sedikit bergerak hendak melancarkan serangan kearah Liem Tou mendadak terdengar suara bentakan yang amat keras dari si golok naga hijau Sie Piauw tauw.
"Bangsat tua yang tidak tahu malu, kemalikan uang kawalanku .... kembalikan nyawa Hu Piauw tauw kami”
Sinar hijau berkelebat, segulung sinar golok yang amat menyilaukan mata mengurung seluruh tubuh Ang in sin pian Pouw Sak San, melihat hal itu si Ang in sin pian segera menggerakkan tubuhnya menggunakan cambuk mautnya menggulung kearah sinar terssbut, dengan demikian terjadilah satu pertempuran yang sangat seru antara Pouw Sak San dengan si golok naga hijau itu.
Tian Pian Ngo Koei yaag melihat waktu yang sangat mendesak segera terdengarlah Toa Koei berteriak keras.
"Saudara saudara sekalian, serang."
Lima setan itu segera pada mengerahkan tenaga dalamnya, dengan menggunakan ilmu serangan yang memekikkan telinga bersama sama menerjang kedepan. Gerakan mereka amat cepat tapi ada orang yang jauh lebih cepat dari dia.
Mendadak terlihatlah sesosok bayangan putih berkelebat menerjang ketengah antara Ngo-Koei serta Liem Tou itu, secara tiba tiba pandangannya menjadi kabur segulung angin sangat dahsyat sudah menerjang datang disusul dengan bentakan yang sangat nyaring dari seorang gadis.
"Siapa yang berani mengganggu seujung rambut Liem Koko ku, hmmmm . , .aku gadis cantik pengangon kambing segera akan mencabut nyawamu kembali."
Ke lima setan itu hanya merasakan segulung angin pukulan yang amat kuat menekan ke tubuh mereka, memaksa mereka tidak sanggup untuk bergerak lagi.
Datangnya cepat perginyapun semakin cepat, tubuh ke lima setan itu terkumpul terpental sejauh satu kaki lebih oleh pukulan gadis cantik pengangon kambing itu, saking terkejutnya kelima setan itu hanya bisa saling tukar pandangan sambil merangkak bangun dengan perlahan.
Pouw Siauw Ling yang melihat ayahnya Ang in sin pian Pauw Sak San beserta Thian-pianNgo Koci hampir bersamaan waktunya melancarkan serentan tapi bersama sama pula serangannya berhasil ditahan oieh si golok hijau serta si gadis cantik pengangon kambing, dalam hati diam diam merasa sangat terkejut, sedang diapun melihat selama ini Liem Tou tidak pernah bergerak dengan siapapun, diam diam dalam pikirannya.
"Hmmm . . - sampai sekarang dia tak turun tangan juga, tentunya dia sama sekali tak punya kepandaian siat, walaupun ada juga tak mungkin akan sangat lihay ..."
Berpikir sampai disini diam diam tubuhnya mulai bergerak kedepan dengan mengerahkan tenaga dalam sepenuhnya dia mulai mendekati belakang tubuh Liem Tou.
Semua kejadian ini dapat dilihat Lie Siauw Ie dengan amat jelas, begitu melihat dia hendak melancarkan serangan bokongan segera teriaknya dengan keras.
"Adik Tou, awas belakang tubuhmu."
Begitu Liem Tou mendengar peringatan dari Lie Siauw Ie segera merasakan adanya sambaran angin serangan yang membokong beIakang tubuhnya, dalam hati diam diam dia agak terperanjat, tapi Liem Tou sekarang jauh oerbeda dengan Liem Tou sewaktu masih berada didalam Lembah cupu cupu, seluruh jalan darahnya sudah lancar atas bantuan gadis cantik pengangon kambing itu ditambah dengan tenaga latihan selama beberepa hari ini, sehingga boleh dikata kepandaian silatnya lumayan juga.
Dengan cepat tubuhnya tanpa melihat siapa yang berada dibelakangnya tenaga murninya segera dikerahkan pada telapak tangan kemudian dengan keras mematahkan serangan tersebut.
"Aduh . . ." jeritan kesakitan dari Pouw Siauw Ling segera bergema didalam ruangan, tubuhnya seketika itu juga terpental sejauh satu kaki lebih kemudian menggeletak diatas tanah tanpa bisa bergerak lagi.
Ditiga tempat bersamaan waktu yang terjadi tiga pertempuran yang amat seru sedang pada waktu yang bersamaan juga hasilnya sudah kelihatan. Tian Pian Ngo Koei berhasil dikalahkan gadis cantik pengangon kambing, Pouw Siauw Ling berhasil dipukul rubuh oleh Liem Tou, hanya didalam satu gerakan saja, sedang Ang in sin pian Pouw Sak San pun bertempur dengan amat serunya melawan si golok naga hijau.
Serangan Liem Tou yang berhasil memukul rubuh Pouw Siauw Ling ini seketika itu dengan menggusarkan keempat jago berkepandaian tinggi dari perkampungan Ie Hee Cung. bersama sama mereka meloncat kedepan Liem Tou sambil membentak sangat keras.
“Liem Tou kau sudah melanggar peraturan perkampungan ini melukai Pouw Siauw Ling juga, aku mau lihat kau bisa turun gunung dengan selamat tidak ?”
"Hmm . . hmm „ . . kalau begitu kita coba coba saja" seru Liem Tou dengan amat dingin. “Kalian mau bertempur seorang demi seorang secara berbareng?? Hmm . . . aku lihat kalian berempat maju ber sama-sama saja.”
Dtantara mereka berempat sifat Hauw Jiauw Pouw Toa Tong paling berangasan begitu mendengar perkataan yang sangat menghina itu dia menjadi amat gusar,
“Liem Tou, aku masih mengira sewaktu itu kau sudah binasa tenggelam dalam sungai , . tak disangka ini hari kau munculkan dirinya kembali. . agaknya nyawamu memang amat untung sekali. . . tapi ini hari walaupun kau punya tujuh nyawa cadangan akan kuhabiskan juga, lihat serangan."
Lima jarinya mendadak dikencangkan sehingga seperti cakar kuku garuda, kemudian dengan dahsyatnya mencengkeram keatas kepala batok Liem Tou.
Liem Tou tak berani berayal, dengan cepat dia mengeluarkan gerakan langkah tiga puluh enam langkah badai mutar ke belakang tubuhnya.
Melihat ilmu itu Pouw Toa Tong sedikit merasa terkejut, tanpa perduli Liem Tou berada disebelah mana mendadak tubuhnya memutar sepasang cakaran mencengkeram kebelakaag tubuhnya.
Siapa tahu baru saja Pouw Toa Tong putar tubuh melancarkan serangan kebelakang sekali lagi serangan itu mencapai pada sasaran yang kosong, waktu inilah dia baru sadar Liem Tou bukanlah Liem Tou yang dahulu,hanya didalam
beberapa tahun saja dia berkelana didaiam dunia kangouw sudah berhasil melatih kepandaian yang demikian hebatnya dalam hati diam2 me rasa terkejut juga.
Baru saja pikiran ini berkelebat didalam benak Poa Toa Tong mendadak terdengar suara dari Liem Tou sudah berkumandang dari belakang tubuhnya.
"Toa Tongsiok. bagaimana ? Jangan ragu ragu ayoh. Aku melihat Toa Tong siok jarang melakukan kejahatan kini aku kalahi tiga jurus kepadamu . . sekarang baru dua jurus."
Kegusaran Pouw Toa Tong memuncak sambil meloncat ketengah udara katanya.
"Liem Tou saat kematianmu sudah tiba..”
Mendadak tubuhnya yang berada ditengah udara berputar setengah lingkaran kemudian bersalto beberapa kali dan menubruk kebawab bagaikan seekor harimau kelaparan.
Sekarang dia bisa melihat dengan jelas kalau Liem Toa berada kurang lebih tujuh delapan tindak dari dirinya, dan kini dengan mata yang melotot sedang memandang dirinya sambil tersenyum.
Kegusarannya tak bisa ditahan lagi tubuhnya bagaikan kilat cepatnya menubruk keatas tubuhnya sedang sepasang cakarnya dengan sangat dahsyat mengancam batok kepalanya.
Jurus harimau lapar ini merupakan salah satu jurus andalan dari Pouw Toa Tong, melihat datangnya serangan yang amat dahsyat ini Liem Tou segera tahu kelihayannya dengan cepat tubuhnya menyingkir ke samping beberapa kaki dari tempat semula,
Lie Siauw Ie yang berada disamping begitu melihat datangnya serangan dahsyat saking terkejutnya air mukanya sudah berubah menjadi pucat pasi, teriaknya kaget.
"Adik Tou hati hati, Toa Tong siok sedang menggunakan jurus yang mematikan, cepat menghindar kesamping."
Pouw Toa Tong tak mau melepaskan mangsanya begitu saja, melihat Liem Tou menyingkir kesamping sekali lagi dia melancarkan serangan mautnya dan menubruk kembali keatas tubuh Liem Tou.
Kali ini Liem Tou tidak sempat lagi untuk menghindarkan diri, baru menggunakan langkah tiga puluh enam langkah badai memutarnyapun tidak mungkin lagi, didalam keadaan yang amat kritis itulah mendadak dia menarik hawa murninya dari atas pusar.
Sepasang cakar dari Pouw Toa Tong kini sudah berada dihadapan mukanya, tubuh Liem Tou dengan cepat merendah kebawah sepasang tangannya bersama sama didorong kedepan, telapak kirinya dengan menggunakan jurus"Pah-Ong Khie Tian" atau raja bengis mengangkat hioloo sedang telapak kanannya membabat dengan menggunakan jurus Pit Gwat Lui Cuang atau menutup bulan mendorong jendela, dalam satu serangan menggunakan dua gerakan yang berlainan, terdengarlah sambaran angin yang amat dahsyat menyambut datangnya serangan pihak musuh .
Serangan menolong diri dari bahaya yang digunakan Liem Tou ini sudah tentu menggunakan tenaga dalam yang ada didalam tubuhnya. Sekalipun Pouw Toa Tong memiliki kepandaian lebih tinggipun tidak terasa merasa sangat terkejut juga, karena jika dia meneruskan serangannya maka kedua belah pihak akan sama-sama terluka parah.
Bagaimanapun juga pengalaman dari Pouw-Toa Tong sangat luas sekali, didalam keadaan yang amat kritis itulah mendadak dia membuyarkan serangannya kemudian dengan menerobos angin serangan melayang turun keatas permukaan tanah, sepasang matanya melotot bulat-bulat memandang tajam kearah Liem Tou, untuk beberapa waktu lamanya tidak sanggup mengucapkan sepatah katapun .
Liem Tou yang berhasil meloloskan diri dari serangan maut kini pun sedikit termangu mangu, tapi sebentar kemudian sudah angkat bicara .
"Toa Tong siok, tiga jurus sudah lewat, kini aku tidak akan berlaku sungkan sungkan lagi.”
Perkataan dari Liem Tou ini benar benar keluar dari hati nalurinya, tapi didengar dalam pendengaran Pouw Toa Tong sangat tidak enak sekali. Kemarahannya sekali lagi memuncak tanpa mengucapkan kata kata lagi mendadak tubuhnya menubruk kearah Liem Tou .
Liem Toupun sudah dibuat gusar oleh tindakan Pouw Toa Tong ini, sepasang alisnya di kerutkan rapat rapat teriaknya .
"Toa Tong siok kau jangan menyesal."
Mendadak tubuhnya menyingkir kesamping, menghindarkan diri dari datangnya serangan musuh, telapak tangan sebelah kirinya dengan menggunakan jurus Pek Lok Heng po atau Bangau putih menimbulkan ombak dari jurus maut partai Kun lun pay menyerang kedepan sedang badannya mendadak meloncat tiga langkah kedepan dengan menggunakan langkah tiga puluh enam langkah badai memutar.
Baru saja Pouw Toa Tong berhasil menghindarkan diri dari serangan pertama mendadak telapak tangan kanan dari Liem Tou melancarkan serangan dahsyat lagi dengan menggunakan jurus serangan mematikan dari partai Khong tong pay. "Heng In Toan Hong "aiau mega datar memotong puncak.
Semakin bertempur kegembiraan LieonTou semangkin memenuhi benaknya .
Telapak tangannya dengan cepat bergerak menggunakan jurus-jurus serangan yang berbeda-beda terlihatlah pergelangan tangannya sedikit bergeser serangannya segera berubah lagi dengan menggunakan jurus serangan dari partai Go bie,"Tong In Mie puh" atau mega merah terbesar rapat tubuhnya berputar dengan kencang telapak kirinya bagaikan kilat cepatnya melancarkan serangan dengan menggunakan jurus "Ie Hun put San " ajaran Hek Loo toa, dengan menimbulkan angin yang amat dahsyat membabat ke depan.
Baru saja Pouw Toa Tong menbruk kedepan siapa sangka didaiam sekejap mata Liem Tou melancarkan tiga buah serangan dahsyat dari tiga perguruan yang berlainan tidak terasa dia menghembuskan napas dingin .
Seketika itu juga dia menjadi kalang kabut hampir hampir terkena serangan hebat itu, hanya untung saja Liem Tou sekalipun bisa menggunakan jurus jurus serangan itu tapi belum memahami betul betul kalau tidak jangan dikata tiga jurus serangan sekali pun hanya satu serangan saja Pouw Toa Tong jangan harap bisa tahan.
Tetapi jurus terakhir yaitu "In Hun put san" sudah berulang kali digunakan oleh Liem Tou sehingga hampir boleh dikatakan sangat hafal sekali.
Mendadak .... "Aduh. .. "dada Pouw Toa Tong terhajar sangat keras oleh serangan dahsyat Liem Tou ini, tak tertahan lagi tubuhnya terjengkang kebelakang kemudian menggeletak diatas tanah tak dapat bergerak lagi.
ooOOoo
Pada saat tubuh Pouw Toa Tong roboh keatas tanah itulah mendadak suasana ditengah ruangan menjadi sangat gaduh sekali.
Mendadak hasil Liem Tou menjadi bergerak pikirnya.
"Haaa . aneh sekali. Ketika Hauw jiauw Pouw Toa Tong terpukul roboh kenapa bisa ada suara mengaduh yang berbeda?”
Dengan cemas dia menoleh kebelakang kiranya Ang in sin pian Pouw Sak San dengan si golok naga hijau Sie sudah mencapai pada titik penentuan, golok naga hijau yang berada ditangan Sie piauw tauw tadi entah kini sudah terbang kemana oleh lilitan cambuk maut Pouw Sak San, saat ini terpaksa dengan mengandalkan sepasang telapak tangannya berkelebat dan berusaha meloloskan diri dari kepungan bayangan cambuk maut Pouw Sak San.
Ketika dipandang lebih teliti lagi tanpa bisa ditahan lagi Liem Tou menjerit kaget, kiranya saat iui Sie piauw tauw sudah kehabisan tenaga dan hanya bisa bertahan saja, keringat yang mengucur keluar membasahi keningnya semakin deras lagi, kelihatannya sebentar lagi akan terIuka dibawah serangan cambuk Ang in sin pian.
Liem Tou tak bisa berpikir panjang lagi segera teriaknya.
"Celaka."
Ujung kakinya menutul permukaan tanah siap menyusup kedepan menolong si golok naga hijau Sie Piauw tauw lolos dari bahaya itu.
Baru saja pikiran ini berkelebat didalam benaknya, belum sempat badannya meloncat ke depan mendadak sesosok bayangan manusia sudah berkelebat menghadang didepan badannya, bayangan itu tanpa mengucapkan sepatah kitapun, segera melancarkan serangannya meng hajar dadanya.
Di dalam keadaan yang sangat terkejut Liem Tou dengan tergesa gesa meloncat kesamping menghindarkan diri dari serangan tersebut,
"Bluuuk. . ." angin serangan bayangan itu mencapai sasaran yang kosong dan manghajar permukaan tanah sehingga timbullah sebuah liang yang cukup lebar, jika dipandang dari kekuatan serangan ini mungkin orang itu sudah menggunakan sepuluh bagian tenaga murninya.
Dengan cepat Liem Tou menoleh kearah bayangan itu, ternyata orang itu tidak lain adalah Hek Loojie adik dari Hek Lootoa.
Sambil tertawa dingin tak henti hentinya Hek Loojie berjalan maju mendesak kearahnya, matanya melotot lebar lebar mulutnya meringis rnenyeramkan, ujarnya dengan dingin.
"Hey Liem Tou, tidak disangka hanya satu bulan kepandaian silatmu mendapatkan kemajuan yang amat pesat, ini hari jika sampai membiarkan kau lolos kembali . . .Hmmm lain kali siapapun jangan harap bisa kuasahi dirimu lagi.”
Dalam hati Liem Tou hanya bertujuan membebaskan si golok naga hijau dari mara bahaya, baru saja Hek Loo jie selesai berbicara mendadak Liem Tou menerjang kembali kedepan siap menerobos dirinya menolong Sie piauw Tauw.
HekLoo jie tahu maksud dan tujuannya dari Liem Tou ini, dia hanya tertawa riang saja.
"Bruuk - - - " satu serangan mendatar dengan dahsyat menghalangi perjalanan Liem Tou ujar nya sambil tertawa.
"Bencana ada sebabnya hutang ada pemiliknya mereka bertempur biarlah mereka yang selesaikan apa hubungannya dengan kau?? Hey Liem-Tou. hutang kitapun harus kita selesaikan"
Dengan perbuatan Hek Loo jie ini membuat Liem Tou saking jengkelnya mendepak depakkan kakinya keatas tanah, apa lagi waktu itu cambuk maut dari Ang in sin pian sudah menekan kepala Sie Piauw tauw sedang nyawa pun hanya tinggal beberapa saat saja.
Terlihatlah murid Sie Piauw tauw yang masih muda itu dengan menggunakan pedangnya berusaha menyerang dari sisi tubuh Angin sin pian menolong suhunya dari bahaya, tapi gerakannya ini sama sekali tidak berguna. Pouw cungcu hanya cukup memberikan satu serangan yang ringan dia sudah tidak sanggup untuk menerima.
Disaat yang amat kritis itulah mendadak seso sok bayangan putih berkelebat menubruk ketengah lingkungan bayangan merah cambuk maut Pouw Sak San, kemudian disusul dengan bentakan yang nyaring tapi sangat merdu,
"Tahan."
Terdengar Ang in sin pian Touw Sak San men jerit sangat keras, cambuk mautnya dengan cepat ditarik kembali sadang tubuhnya dengan sempoyongan mundur lima enam langkah kebelakang.
Ditengah kalangan pertempuran terlihatlah gadis cantik pengangon kambing itu dengan mencekal seruling pualamnya berdiri disana, sedang tangannya yang sebelah lagi sedang membimbing tubuh si golok naga hijau Sie Piauw tauw yang usianya sudah mendekati enam puluh tahunan itu.
Begitu Liem Tou melihat gadis cantik pengangon kambing sudah berhasil menolong Sie Piauw tauw lolos dari mara bahaya hatinya menjadi lega kembali, dengan perlahan lahan dia putar tubuhnya menghadap kearah Hek Loo jie ujarnya sambil tertawa dingin.
"Kau manusia berhati srigala. sudah mencelakai kakaknya sendiri kini masih punya muka berkelana didalam dunia kangouw . - - Hmmm .., Hek Loo toa Ioocianpwe sejak semula sudah serahkan nyawamu ketanganku, kalau tadi kau tidak bilang mau melunasi hutang masih tidak mengapa, kini kau akan sudah berani bilang - -ini hari aku akan membalaskan dendam bagi Hek Loo Toa Loo cianpwe.”
Sehabis berkata seluruh tenaga daiamnya segera dikerahkan pada telapak tangannya jeritnya. "Hak Loo jie terima seranganku."
Satu serangan telapak yang amat dahsyat mengarah dada Hek Loo Jie dipukul kedepan. Hek Loo Jie yang merupakan seorang jago yang sudah memiliki nama besar didalam dunia kangouw sudah tentu tidak mau anggap Liem didalam pandangannya begitu melihat datangnya serangan Liem Tou ini dengan tidak gugup sedikitpun mengangkat telapak tangannya mematahkan serangan itu.
Dua gulung angin yang sangat dahsyat bertemu.
"Bruuk - - - Liem Tou maupun Hek Loo jie hanya merasakan lengannya menjadi kaku sedang tubuhnya tak tertahan lagi pada mundur bebera pa langkah kebelakang.
Semula Hek Loo jie bilang kepandaian Liem Tou medapatkan kemajuan yang pesat sebetulnya mengandung nada mengejek siapapun tahu begitu bentrokan angin pukulan barusan ini seketika itu juga membuat hatinya merasa sangat terkejut sekali, pikirnya.
"Sewaktu bangsat cilik ini bertempur melawan hweesio-hwesio bau di dalam lembah cupu-cupu waktu itu, sekalipun jurus serangannya sangat banyak dan bermacam-macam tapi jalas tenaga dalamnya belum berhasil dilatih. Bagaimana hanya didalami waktu satu bulan saja dia bisa berhasil melatih tenaga dalamnya setinggi begini ? Apa mungkin kitab pusaka To Kong Pit Liok sudah ber hasil dia dapatkan kemudian melatihnya di dalam beberapa waktu ini ?"
Liem Tou yang d dalam beberapa waktu saja berhasil mengajar rubuh Pouw Siauw Ling serta Pouw Toa Tong kemudian menggetarkan Hek Lo jie, kepercayaan pada dirinya semakin menebal teriaknya lagi.
“Hek Loo jie, terima serangan ini lagi.”
Sepasang telapak tangannya diputar, tenaga murninya disalurkan ketelapaknya kemudian dengan sekuat tenaga didorong sejajar dengan dadanya.
Baru saja Hek Loo jie hendak menerima serangan itu mendadak satu bayangan berkelebat didalam benaknya.
“Para jago yang hadir dalam ruangan ini siapa pun tahu kalau di tubuh Liem Tou membawa kitab pusaka yang sangat berharga sekali, tapi mereka tetap tidak mau turun tangan dan menonton saja tentunya punya maksud maksud tertentu, mereka mau menunggu aku dengan Liem Tou bergebrak hingga sama sama lelah kemudian merekalah yang dapat hasilnya.”
Berpikir sampai disini dengan cepat dia menarik kembali telapak tangannya dan menghindarkan diri kesamping,
Liem Tou dapat melihat semua gerakannya dengan amat jelas, tanpa terasa lagi tenaga pukulannya yang dikerahkanpun berkurang tiga bagian lagi, walaupun begitu angin pukulannya tetap mendengung memekikkan telinga.
Ketika dia sedikit berayal itulah mendadak Liem Tou hanya merasakan segulung angin pukulan yang sangat hebat membokong dirinya dari samping tempat menghajar sisi tubuhnya.
Di dalam keadaan yang amat bingung Liem Tou menjadi sangat gugup, sambil membentak keras dengan tergesa gesa dia meloncat beberapa langkah kebelakang.
Walaupun dia berhasil meloncat kebelakang tapi tenaga pukulan yang amat kuat itu tetap mengikuti dirinya . . . "Bluum .. tidak ampun lagi tubuhnya terpental hingga sejauh dua kaki lebih tepat terjatuh disamping tubuh gadis can tik pengangon kambing itu, hanya saja dia se gera merasakan lengan kirinya kaku, linu dan sakit sekali.
Masih untung saja dia melayang sesuai dengan arah datangnya angin pukulan itu, kalau kebalikannya . . . entahlah.
Dengan tergesa gesa Liem Tou merangkak bangun kemudian memandang kearah berasalnya angin pukulan itu, tapi .. . dia menjerit kaget dengan amat kerasnya.
Didaiam sekejap saja ditengah ruangan itu sudah bertambah dengan seorang perempuan berusia pertengahan dengan air muka yang dingin kaku menyeramkan, rambutnya terurai memanjang sedada, sedang pada tangannya menggendong sesosok mayat gadis berbaju hijau yang sangat tipis sekali.
Ketika Liem Tou memandang lebih teliti lagi segera dikenal olehnya orang itu tidak lain adalah Au Hay Ong Bo yang ditemuinya sewaktu berada diatas puncak Ngo Liong Hong, sedang mayat gadis berbaju hijau yang berada dipangkuannya itu adalah Ciang Beng Hu yang berkali kali menganiaya dirinya tapi kemudian terkena satu pukulannya yang sangat dahsyat.
Melibat hal itu diam diam pikirnya.
"Apa pukulanku itu bisa membinasakan dirinya?"
Jika dipikirkan Liem Tou sedikit tidak percaya, tetapi kenyataan sudah berada didepan matanya sekalipun tidak percaya kini juga harus percaya.
Melihat dandanan dari Au Hay Ong Bo yang menyeramkan itu, dalam hati Liem Tou merasa berdesir tapi dengan membesarkan nyali tanyanya juga.
"Yang datang apakah Au Hay Ong Bo?"
Sewaktu tadi Au Hay Ong Bo munculkan diri, para jago yang berada didaiam ruangan sudah merasa terkejut, hanya saja mereka sama sekali tidak tahu siapakah wanita berusia pertengahan yang berwajah dingin kaku dan menyeramkan itu, kini sesudah Liem Tou menyebut namanya seketika itu juga memancing kegaduhan didalam ruangan.
Air muka setiap jago yang hadir disana pada menampakkan perasaan terkejut, bingung serta ragu ragu, karena sekalipun mereka tahu Au-Hay Ong Bo merupakan seorang manusia yang lihay dan berbahaya tapi selamanya belum pernah munculkan dirinya didalam Bu lim. Tidak disangka pada saat seperti ini bisa munculkan dirinya secara mendadak, dari hal ini bisa ditinjau kalau urusan yang sudah terjadi merupakan urusan yang di luar dugaan.
Sepasang mata Au Hay Ong Bo dengan sinar berapi api memandang sekejap kearah Liem Tou mendadak dengan memperlihatkan sebaris giginya yang putih menyeramkaa dia menjerit ngeri, sesudah meletakkan mayat Ciang Beng Hu keatas tanah dengan perlahan mulai berjalan mendekati Liem Tou.
Seluruh tubuh Liem Tou gemetar sangat keras, mendadak bentaknya .
"Au Hay Ong Bo, aku Liem Tou sudah kau kurung mendekati satu bulan lamanya setiap hari mendapat siksaan serta cemoohan apa kau masih merasa kurang ?Sebetulnya aku dengan kalian manusia manusia dari partai Kiem Thian Pay punya dendam sakit hati apa sehingga kalian terus menerus mengejar aku ??"
"Ada dendam sakit hati apa . . . ada dendam sakit hati apa . . .."
Mendadak dia tertawa panjang dengan sangat keras sekali, sambil menunding mayat dari Ciang Beng Hu ujarnya .
"Hu jie ada dendam sakit hati apa dengan kau? Kenapa kau turun tangan jahat terhadap dirinya sehingga binasa?? Liem Tou .- . anjing-kecii . . . aku mau telan kau hidup hidup,"
Sehabis berkata dengan rambut yang pada berdiri seperti duri, sepasang matanya dengan penuh kemarahan mendelik bulat bulat, keagungan serta kewibawaannya ketika masih berada diatas puncak Ngo Lian Hong sama sekali tidak kelihatan lagi, bahkan boleh dikata mirip dengan peri yang sangat jelak dan sangat kejam .
Musuh tangguh kini berada didepan mata, Liem Tou tidak berani berbuit gegabah lagi dengan cepat dia mengarahkan tenaga dalamnya melakukan persiapan .
Gadis cantik pengangon kambing yang berada disisinya ketika melihat ketegangannya memuncak, mendadak bertanya .
'Liem Koko, apa orang itu betul betul Au-Hay Ong Bo? Tia pernah bilang dia berhasil melatih ilmu pukulan Kioe In Thiat Siu Kang yang amat lihay sekali, bagaimana kau bisa bunuh putrinya ?"
Seluruh perhatian Liem Tou sedang dipusatkan pada gerak gerik Au Hay Ong Bo, mendengar perkataan itu terpaksa dia hanya menganggukkan kepalanya saja sedang mulutnya tetap membungkam .
Saat ini suasana didaiam ruangan itu sunyi senyap, masing masing hadirin pada nenahan pernapasannya masing masing menanti dengan tenang gerakan selanjutnya dari Au Hay Ong-bo yang sedang berdiri berhadap hadapan dengan Liem Tou itu .
Mendadak . .. Liem Tou hanya melihat sepasang mata Au Hay Ong Bo sedikit berputar tubuhnya dengan cepat sudah berputar setengah lingkaran ditengah udara, ujung bajunya dikebutkan kedepan bersamaan pula membentak sangat keras.
"Siapa berani membokong Loo nio?"
Pada saat Liem Tou melengak mendengar perkataan itu terdengarlah Lie Siauw Ie yang berada d ihadapannya sudah menjerit amat keras, seketika itu juga bagaikan sebuah logam mentah yang amat keras menimpa dada Liem Tou, tanpa memperdulikan nyawanya lagi dengan cepat dia menubruk kedepan.
"Jangan...!" teriak gadis cantik pengangon kambing dengan kaget.
Belum habis dia berteriak Au Hay Ong Bo sudah memutar tubuhnya kembali, dan dengan tepat menyambut datangnya tubrukan Liem Tou.
Tubuhnya sedikit merendah, telapak kirinya dengan cepat dikebutkan kedepan. segulung angin pukulan yaug amat dingin segera menghantam keluar.
Sebetulnya Liem Tou tadi menubruk kedepan sudah tidak memikirkan nyawanya lagi, kerena-nya untuk menarik diri tidak mungkin lagi.
Didalam keadaan yang sangat kritis itu walaupun dia tahu dirinya bukan tandingannya terpaksa dengan diam diam menggigit kencang bibirnya, sepasang telapak tangannya dengan meminjam kekuatan menubruk kedepan itu mendadak melancarkan satu serangan dahsyat dengan menggunakan seluruh tenaga murninya.
(Bersambung ke Jilid 12)
Angin serangan dari Au Hay Ong Bo itu datangnya memang sangat aneh sekali, baru saja sepasang tangan Liem Tou separuh di dorong kedepan segera sudah terbentur dengan angin pukulan pihak lawannya, terasa suatu hawa yang amat dingin tinggi menusuk kedalam tulang menyerang dirinya hamper-hampir dia sukar untuk menahan hawa yang amat dingin itu.
Walaupun telapak tangannya didorong dengan cara bagaimanapun tetap tangannya tidak bisa maju satu coen pun, saat itulah Liem Tou baru merasa terkejut pikirnya cemas.
"Aduh - - - habis sudah kali ini.”
Sekonyong konyong - . . tenaga tekanan pihak lawannya semakin memberat, segera Liem Tou hanya merasakan kepalanya pening, matanya berkunang kunang dan dadanya terasa sangat mual.
Dalam hati dia tahu saat inilah saat yang paling kritis,bagi jiwanya, bagaimanapun juga dia harus mempertahankan dirinya.
Berpikir sampai disini semangatnya bangkit kembali, dengan sekuat tenaga dia menarik hawa murninya kemudian dengan paksakan diri menerjang kedepan.
Mendadak terdengar gadis cantik pengangon kambing itu membentak nyaring.
"Siluman tua, kau berani.”
Liem Tou hanya merasakan sepasang telapak tangannya sedikit tergetar, tenaga tekanan pihak lawannya sedikit kendor membuat tubuh Liem Tou tidak tertahan lagi mundur dua tiga langkah kebelakang dengan semponyongan, untung saja tidak sampai jatuh terduduk diatas tanah.
Ketika dia menoleh memandang terlihatlah gadis cantik pengangon kambing itu sudah bertempur dengan amat serunya melawan Au Hay Ong Bo.
Terlihat ujung baju gadis cantik pengangon kambing yang berwarna putih itu berkibar tertiup angin, seruling pualam ditangannya bagaikan kilat cepatnya melancarkan serangan.
Didalam sekecap mata dia sudah melancarkan tujuh kali serangn dahsyat bahkan setiap serangan yang digunakan terdapat perubahan gerakan yang sangat ruwet sekali, ketika dipandang dari depan hanya terlihat segulung bayangan seruling yang berputar dengan sangat rapatnya melindungi seluruh tubuh.
Sebaliknya Au Hay Ong Bo pun sudah mengeluarkan jurus-jurus serangan andalannya sebentar dia berkelebat kekiri sabentar lagi menahan serangan apa saja hanya terlihat ujung bajunya berkelebat dan menari dengan kencangnya.
Walaupun gadis cantik pengangon kambing itu sudah melancarkan berpuluh puluh serangan dengan menggunakan jurus seragnan yang berbeda, jangan dikata memukul hanya menyenggol saja sukar untuk tercapai.
Waktu itu Liem Tou punya niat untuk melihat jalannya pertempuran yang amat seru itu, dengam cepat dia berlari kesampingnya. Terlihatlah air muka Lie Siauw Ie sudab be rubah pucat pasi bagaikan mayat, bibirnys yang kecil mungil gemetar terus menerus. Waktu itu Pouw Jien Coei sedang membimbing tubuhnya berdiri sedang dari kelopak matanya air mata mulai mengucur keluar dengan derasnya.
Dengan setengah berlutut Liem Tou berjongkok didepan tubuh Lie Siauw Ie tanyanya dengan cemas.
"Ie cici, kau terluka parah??"
"Adik Tou" seru Lie Siauw Ie begitu melihat Liam Tou berjalan mendekati tubuhnya. “Kau tidak usah ikut, tempat ini tidak bisa ditahan lebih lama lagi cepat kau lari.”
"Tapi luka cici sangat parah, bagaimana aku bisa pergi?"
Mendengar perkataan itu Lie Siauw le segera bangkit berdiri dari bimbingan Pouw Jien Coei makinya.
"Adik Tou, aku hanya terkena jarum Kioe Cu tok cianku sendiri, asalkan makan obat penawar segera akan sembuh kembali, jika kau tidak mau dengar omonganku lain kali jangan datang cari aku lagi."
Sehabis berkata dia paling kearah lain kemudian dengan terhuyung huyung lari keluar dari ruangan itu.
Dengan cepat Pouw Jien Coei lari membimbing lengannya dan bersama-sama meninggalkan ruangan tersebut, sesampainya diluar ruangan, sekali lagi dia menoleh mendelik kearah Liem Tou, agaknya ada perkataan yang hendak disampaikan, hanya saja karena Ang in sin pian sekarang masih berada disana akhirnya dia tidak jadi bicara dan lari keluar dengan cepat.
Sesudah Lie Siauw Ie meninggalkan ruangan itu dalam hati Liem Tou hanya merasakan hatinva yang hampa dengan termangu-mangu tanpa mengucapkan sepatah katapun berdiri disana.
Kiranya Lie Siauw Ie memang betul terluka oleh senjata rahasia Kioe Cu gin Ciam-nya sendiri, ketika dia melihat Au Hay Ong Bo mendesak kearah Liem Tou terus menerus karena takut Liem Tou cedera oleh serangannya maka sengaja dia melancarkan serangan dengan menggunakan senjata rahasianya.
Siapa tahu Au Hay Ong Bo yang merupakan seorang jago yang berkepandaian tinggi serta tenaga dalamnya sudah mencapai kesempurnaan panca indranya yang terlatih amat tajam sekali. Begitu didengarnya ada sambaran senjata rahasia mengancam tubuhnya dengan cepat dia berkelebat balikkan tubuhnya sambil mengebut dengan menggunakan ujung bajunya, begitulah jarum jarum perak itu terpukul balik segera menghajar badan Lie Siauw Ie tanpa ampun lagi.
Untung saja waktu itu Liem Tou sempat menubruk kedepan sehingga bisa terhindar dari mara bahaya, jika waktu itu Au Hay Ong Bo menambah dengan satu serangan lagi begitu badan Lie Siauw Ie terkena pukulan Kioe Im thiat Siu-nya - - entah bagaimana jadinya.
Sedang Liem Tou berdiri termangu mangu mendadak terdengar Au Hay Ong Bo sudah membentak dengan amat keras.
"Siapa kau ??"
Liem Tou menjadi amat terkejut sekali, baru saja dia mau putar tubuhnya mendadak segulung angin pukulan yang amat tajam menyambar dari belakang tubuhnya tanpa menoleh lagi ujung kakinya dengan cepat menutul permukaan tanah dengan tergesa-gesa3 meloncat beberapa langkah kedepan kemudian baru menoleh ke belakang.
Kiranya orang yang baru melancarkan serangan bokongan itu tidak lain adalah Hek Loo jie itu manusia yang paling pengecut didunia saat itu
Liem Tou menjadi amat gusar, kuda kudanya sedikit diperkuat, badannya sedikit merendah siap melancarkan balasannya. Baru saja dia mengerahkan tenaga dalamnya mendadak terasa olehnya seluruh tubuhnya gemetar amat keras, hawa murni yang dikerahkan keseluruh badan tiba tiba buyar ditengah jalan, sampai saat itulah dia baru tahu dirinya sedang dalam terluka sedang saat itu Hek Loo jie semakin lama semakin mendekati badannya.
Ketika matanya melirik kesamping terlihat para jago yang berada didalam ruangan itu sudah meninggalkan tempatnya masing masing dan bergeser mendekati dirinya. Siang hui hok Pouw Beng serta Pouw Liang dengan melototkan matanya memandang dirinya mereka berdiri tegak menjaga pintu keluar ruangan tersebut.
Liem Tou yang dikurung ditengah kepungan musuh yang berada di empat penjuru sedang dirinyapun terluka, teringat kembali Lie Siauw Ie yang ikut terluka karena dirinya tidak tertahan lagi batinnya sangat sedih sekali, jika dibadannya membawa senjata tajam kemungkinan waktu itu dia sudah cabut pisaunya untuk bunuhdiri.
Sesaat Liem Tou sedang merasa sangat sedih dan putus asa itulah mendadak terdengar Au- Hay Ong Bo membentak dengan amat gusarnya.
“Hay budak liar, Lie Loo jie itu apamu cepat bilang?”
Mungkin waktu itu gadis cantik pengangon kambing sudah melihat keadaan Liem Tou yang amat barbahaya itu, sambungnya.
“Liem koko kau masih tak pergi, kau mau tunggu kapan lagi ??"
"Enmm..." pikir Liem Tou diam diam.
“Jika aku bisa melarikan diri buat apa tunggu kau bilangi aku dulu. . ."
Terdengarlah Au Hay Ong Bo tertawa terbahak bahak dengan sangat seramnya.
"He he he.., Loo nio atur jebakan seluruh penjuru tempat ini. Bangsat anjing kau mau melarikan diri kemana ??"
"Hey siluman tua kau jangan sombong dulu” Seru gadis cantik pengangon kambing dengan amat gusarnya. "Aku sengaja mau suruh Liem koko melarikan diri dari sini, aku mau lihat kamu orang bisa berbuat apa".
Kemudian gapenya kepada Lem Tou.
Waktu itu Liem Ton tidak tahu sudah terjadi urusan apa, baru saja dia menoleh mendadak di depan matanya berkelebat sebuah sinar yang amat menyilaukan mata sebilah pisau belati yang amat tajam sudah melayang kehadapannya dengan cepat dia ulur tangan menyambutnya.
Ujar gadis cantik pangangon kambing itu "Liem koko, siapa yang berani ganggu kamu orang bunuh terlebih dulu, cepat pergi."
Liem Tou yang didalam genggamannya telah bertambah dengan sebilah pisau belati yang amat tajam perasaan sedih serta putus asa yang menghiasi air mukanya tadi kini secara mendadak hilang lenyap tanpa bekas, semangat kejantanannya muncul kembali didalam hatinya, bagaikan meeyambarkan segulung angin taufan dengan sebilah pisau belati yang kecil tapi memancarkan sinar yang amat tajam ini dia melancarkan serangan kedepan, sambil bentaknya dengan keras.
"Siapa yang berani menghalangi perjalanan aku Liem Tou ?”
Tubuhnnya dengan cepat menyusup dan lari dengan cepatnya keluar ruangan.
Sejak tadi Hek Loojie sudah buat persiapan sudah tentu dia tidak akan membiarkan dia pergi dengan begitu mudahnya, sambil mendengus dengan amat dingin dia melancarkan satu serangan dahsyat dari samping tubuh Liem Tou, ujarnya.
“Hey Liem Tou kalau kamu orang seorang lelaki sejati jangan pergi".
Padahal didalam hati Liem Tou sudah punya rencana yang sangat teguh, gerakannya menyusup keluar dari ruangan tadi, tidak lain hanya siasatnya, suara di timur menyerang ke barat.
Baru saja Hek Loo jie selesai berbicara mendadak dia menjatuhkan diri ke arah belakang, serangan yang dilancarkan Hek Loo jie tepat lewat dari atas kepalanya.
Sungguh ilmu Thiat Pian Ciauw yang sangat bagus" teriak Hek Loo jie ketika serangannya mancapai pada sasaran yang kosong.
Serangan kedua segera menyusul lagi, Liem Tou sudah tentu tidak membiarkan dia berlaga kuasa mendadak dia membalikkan badannya, pisau belati di tangannya sedikit digetarkan kemudian didorong kedepan, tubuhnya dengan mengikuti gerakan tersebut bagaikan kilat cepatnya menerobos kedepan badan Hek Loo jie dan menusuk tubuhnya
Jurus ini merupakan jurus serangan Ooh Koei Ciat Hun atau Setan lapar menubruk sukma, salah satu jurus serangan yang dahsyat dari Hek Loo toa khusus unruk menghadapi Hek Loo jie menjadi amat terperanjat, teriaknya.
"Sungguh hebat”
Bagaimanapun juga dia merupakan salah soorang dari Siok To Siang Mo yang mempunyai nama sangat terkezal didalam Bu lim sehingga gerakan untuk meloloskan diripun sudah dilatihnya amat sempurna. Ditambah lagi serangan dari Liem Tou ini dilancarkan terialu jauh dari sasarannya.
"Sekalipun dia merasa terkejut oleh serangan ini tapi didalam keadaan yang amat tergesa-gesa itu serangan kedua yang dilancarkan secara mendadak diubah menjadi cengkeraman maut.
Tangannya dibalik dengan cepat mencekal pergelangan tangan Liem Tou yang menggenggam pisau belati itu, gerakannya dilakukan amat cepat ketepatan mencengkeram urat nadipun sangat hebat.
Liem Tou pernah berhasil menggunakan jurus ini untuk melawan Ciang Beng Hu yang waktu itu sedang menyamar sebagai pengemis cilik serta hweesio mayat hidup siapa tahu ini hari telah mencapai sasaran kosong ketika melawan Hek Loo jie sendiri tanpa terasa hatinya merasa terheran heran juga.
Di dalam keadaan yang amat tergesa-gesa dia menutul permukaan tanah meloncat ketengah udara, pisau belati di tangannya diputar kemudian bagaikan kilat cepatnya melancarkan serangan dengan menggunakan jurus-jurus Pek In Jut Siuw atau mega putih muncul dari bukit, Toan In Jan Gwat atau mega terputus putus menutupi hutan, serta jurus cong In Pau Huang atau mega merah didelapan penjuru.
"Sreet...sreet...- sreet...” sinar keperak perakan memenuhi angkasa sebingga mengacaukan pandangan setiap orang, tanpa dipikir lebih panjang lagi dia melanjutkan serangannya dengan menggunakan ilmu pedang dari Kun lun Pay Hong In Chiat Kiam atau ilmu pedang angin dan mega dengan dahsyatnya mengurung seluruh tubuh Hek Loo jte.
Terhadap jurus jurus serangan yang aneh dari pisau belati itu selama ini Hek Loo jie belum pernah menemuinya sudah tentu dia tidak sanggup untuk melawannya, terpaksa berturut turut dia mundur beberapa langkah kebelakang. Melinat kesempatan yang sangat bagus Liem Tou tidak mau membuangnya dengan percuma, tubuhnya berputar ditengah udara pisau belatinya dengan memancarkan sinar keperak-perakan menerjang keluar dari ruangan itu.
Siang Hui hok begitu melihat Liem Tou menerjang kearah mereka, satu dari kanan yang lain dari kiri bersama sama menubruk kedepan menghalangi perjalanan Liem Tou selanjutnya.
Secara tiba tiba Pouw Beng serta Pouw Liang merasakan pisau belati ditangan Liem Tou di dalam satu kali tebasan itulah sudah berubah menjadi tiga bilah pilau yang secara bersama- sama menyerang kearah mereka, hal ini memaksa mereka berdua terpaksa menyingkir kesamping dan pada saat yang bersamaan pula Liem Tou sudah menerjang keluar.
Dia tidak berani berhenti terlalu lama, untuk berpikir panjang pun tidak akan berani lagi dengan tidak menghiraukan keadaan sekitarnya dia melarikan diri dengan cepat ke arah belakang perkampungan.
Baru saja beberapa langkah meninggalkan tempat semula tiba-tiba dirasanya keadaan sedikit tidak beres, dengan cepat dia angkat kepalanva memandang ternyata yang mengepung sekitar tempat itu, saat itu secara serempak mereka sedang berteriak teriak.
“Liem Tou. Kau tidak malu, tidak punya kemampuan untuk mengunjungi gunung secara terang terangan sekarang berani menyelundup secara sembunyi sembunyi,”
"Liem Ton, kau manusia goblok juga mau sebut dirimu sebagai seorang enghiong"
“Liam Tou. Kau mencemarkan nama baik ayahmu."
Liem Tou benar semua orang itu adalah para pemuda perkampungan yang sebaya usianya dengan dia, sedang mereka pun merupakan kawan-kawan karib dari Pouw Siauw Ling yang sering mengejek dan menganiaya dirinya.
Kini melihat orang-orang itu menghalangi perjalanannya dengan gusar bentaknya keras.
"Cepat menyingkir Kalian mau cari mati yaa?”
Segera dia menerjang kedepan, orang itu ketika melihat keganasan dan kehebatannya di tambah lagi dengan berita yang tersiar mengatakan Pouw Siauw Ling serta Pouw Toa Tong sudah terluka ditangannya dengan tanpa berani mengganggu lagi pada menyingkir ke samping memberi jalan.
Mendadak terlihatlah seorang pemuda yang tak tahu,diri sudah tunjukkan diri menghalangi perjalanannya, dia menganggap Liem Tou masih seperti Liem Tou yang dahulu mudah untuk dianiaya, dengan mengandalkan ilmu silat yang dilatihnya dia menyambut kedatangan Liem Tou.
Bagaimana pun juga Liem Tou bukanlah seorang yang bodoh, ketika melihat orang itu begitu nekat hendak mengadu tenaga dengan dirinya dengan cepat dia mengerem gerakannya.
"Cepat menyingkir " teriaknya keras.
"Apakah kau betul betul mau cari mati?”
“Liem Tou kau jangan membual terlalu besar" bentak orang itu sembari menuding kearah Liem Tou dengan menggunakan pedangnya. "Hanya didalam satu tahun saja kau sudah melatih kepandaianmu seberapa tinggi
Liem Tou tak mau gubris orang itu dengan cepat dia menoleh kebelakang, terlibatlah dengan dipimpin Pou Liang serta Pouw Beng semua tamu serta hadirin termaauk juga Hek Loojie sudah pada mengejar lebih dekat, apalagi itu Pouw Liang yang mendapatkan julukan sebagai Siang hui houw, ilmu meringankan tubuhnya sudah dilatih mencapai pada taraf kesempurnaan hanya didalam satu kali loncatan saja mereka sudah hampir mencapai belakang tubuhnya.
Melihat keadaan yang begitu bahaya Liem Tou segera membentak
"Kau cari mati sendiri."
Pisau belatinya dibabat kedepan menyambar dada orang itu, dengan cepat pemuda tersebut angkat pedangnya menangkis.
"Peletak.." seketika itu juga pedang ditangannya berhasil dibabat putus menjadi dua bagian, asalkan pisau belati Liem Tou didorong satu coen lagi kedepan maka pemuda itu tanpa ampun segera binasa seketika itu juga.
Tapi bagaimana pun juga Liem Tou tak tega untuk turun tangan jahat terhadap orang itu, telapak kirinya segera melancarkan satu serangan memukul mundur tubuhnya sejauh tujuh delapan langkah kebelakang.
Pada saat dia sedikit berayal itulah Pouw Liang serta Pouw Beng sudah berada dibelakang tubuhnya.
"Breeet. . ." Liem Ton hanya merasakan punggungnya menjadi dingin kemudian disusul dengan panas, perih, sakit dan amat linu dia tahu pundaknya sudah terluka oleh goresan pedang pihak lawannya, tanpa terasa dia menagembor dengan keras, pisau belatinya dibalik menyambar kebelakang segera terdengarlah suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati dari Pouw Liang tubuhnya menggeletak keatas tanah tidak berkutik lagi.
"Pouw Liang," Suara teriakan dari Pouw Beng memecahkan kesunyian disekeliling tempat "Pouw Liang, oh .. adikku”
Liem Tou tidak mau ambil perduli lagi, dengan cepat dia melarikan dirinya kedepan. Baru saja lari beberapa ratus kaki dari tempat semula terasalah olehnya pundak yang terluka terasa sakit luar biasa, darah didepan dadanya terasa bergolak dengan amat kerasnya membuat terasa amat pening.
Dia tahu pukulan dari Au Hay Ong Bo tadi sudah membuat badannya terluka amat parah, kini terasalah olehnya seluruh badan lemas tak bertenaga, rasa mual yang sukar ditahan menyerang dadanya membuat dia hamper-hampir jatuh tak sadarkan diri.
Pada waktu itulah dia mendengar suara teriakan serta bentakan dari orang yang mangejar dirinya semakin mandekat, dia mana mau begitu saja tnenyerah kepada mereka, hatinya mendadak menjadi agak mantap dengan menggigit kencang bibirnya dan melarikan diri kearah sebelah belakang perkampungan.
Dalam hati diam-diam pikirnya lagi.
"Asalkan aku berhasil melarikan diri ke dalam lorong yang menghubungkan tempat ini dengan sungai tanpa berhasil ditangkap oleh mereka, waktu itu aku tidak usah takut pada mereka lagi.”
Tak selang berapa lamanya sampailah dia di dalam hutan di belakang perkampungan tersebut, hatinya saat ini semakin mantap lagi.
Mendadak . kuburan dari ayahnya Liem Han San muncul di hadapannya, bagaimana pun juga hubungan ayah beranak jauh lebih erat sehingga walaupun kini berada di saat-saat yang amat kritis hatinya terasa sedih juga, apalagi sejak ditinggal oleh ayahnya dan selalu menemui penderitaan yang amat hebat, tidak punya tempat tinggal yang tetap, ditambah lagi kini dalam keadaan terluka dalam yang amat parah masih dikejar kejar orang sehingga tidak ada jalan lain lagi. Penderitaan serta perih getir yang terlintas didalam pikiran kini mernbuat lututnya terasa amat lemas. Mendadak dia jatuhkan diri berlutut di hadapan kuburan ayahnya, tidak bisa ditahan lagi dia menangis amat sedihnya.
Saat itu dia sudah lupa akan keadaannya yang amat bahaya. Terdengar disamping badannya berkumandang suara pujian kepada Buddha yang amat nyaring.
"Omitohud"
Bersamaan pula terdengar suara yang bargema memenuhi seluruh angkasa.
"Buliang sohud".
Ada pula yang sudah membentak dengan amat keras.
“Liem Tou, saat ajalmu sudah diambang pintu, menangis apa gunanya ?"
Mendengar bentakan yang amat keras itulah Liem Tou baru sadar kembali dari sedihnya, ketika mengangkat kepalanya memandang terlihatlah lima enam orang sudah mengepung dirinya rapat- rapat diantara mereka ada Hwesio, tosu, pengemis termasuk juga Tok Ci Kiem Ciam atau si jari beracun jarum emas Song Beng Lan beserta Hek Loo jie.
Kepungan berlapis disekelilingnya itu mengenal semuanya adalah orang orang penjaga Au Hay Ong Bo sewaktu masih ada didalam gua besar di atas puncak Ngo Lian Hong, ketika dia memandang keluar kembali terlihatlah diluar orang-orang itu masih ada para pemuda dari perkampungan sudah mengepung rapat-rapat tempat itu.
Didalam keadaan yang amat berbahaya seperti ini seharusnya Liem Tou merasa terkejut tapi dia yang baru saja menangis dengan amat sedihnya kini malah berubah semakin tenang.
Sambil berpikir didalam hati dengan perlaban dia bangkit berdiri.
“Kenapa kau tidak mau pukul aku sampai binasa ??”
Dia menyapu sekejap kearah orang orang itu kemudian menggerutu.
“Liem Tou kali ini sudah berada disini kalian mau berbuat apa lakukanlah sekehendak kalian”
Perkataannya ini membuat semua orang yang mengepung dirinya menjadi melengak dibuatnya, terlihat Song Beng Lan, Si Hwesio gundul, tosu serta pengemis itu saling bertukar pandangan kemudian baru ujarnya.
“Sejak partai Kiem Thian pay diresmikan selamanya belum pernah terjadi suatu sakit hati seperti kematian Kuncu kami. Hmmm, kau bangsat licik banyak akal aku linat lebih baik kita tidak usah tunggu kedatangan Ong Bo lagi, rubuhkan dia terlebih dulu baru bicara kemudian bagaimana pendapat kalian bertiga ??"
Perkataan dari Song heng sudah salah besar" timbrung tosu itu. "Ong Bo sudah ada perintah demikian, janganlah kau menyalahi, kau kan sudah tahu bagaimana sifat dari Ong Bo kita."
Liem Tou yang mendengar tanya jawab antara Song Beng Lan serta tosu itu segera menjadi radar kembali, kiranya selama ini mereka ragu-ragu tidak mau turun tangan membinasakan dirinya dikarenakan Au Hay Ong Bo sendiri yang mau balaskan dendam bagi putrinya, tetapi ketika teringat akan luka yang diderita oleh Lie Siauw Ie kemudian teringat pula kalau Au-Hay Ong Bo sudah tertahan oleh sigadis cantik pengangon kambing tanpa terasa keinginan untuk hidup muncul kembali didalam hatinya, semangat jantannya berkobar kembali, pikirnya kemudian.
"Bagaimana aku bisa setolol begini, kenapa aku harus serahkan nyawaku kepada orang-orang semacam begitu?"
Seketika itu juga dalam hatinya mulai memikirkan cara untuk meloloskan diri dari kepungan tersebut, walaupun bekas luka goresan pedang pada punggungnya kini tcrasa begitu sakitnya tapi dengan keteguhan hati yang sudah dilatih sejak dia masih kecil, dengan paksakan diri itu dia menahan perasaan sakit hati itu, sepasang matanya dengan cepat segera berputar memandang sekeliling tempat tersebut.
“Hati-hati anjing kecil ini mau melarikan diri.”
Tiba tiba Song Beng Lan berteriak memberi peringatan ketika melihat keadaan dari Liem Tou itu.
Tangan kanannya dengan cepat didorong kedepan siap siap melancarkan serangan sedang matanya dengan melotot lebar lebar memperlihatkan seluruh gerak gerik dari Liem Tou ini.
Liem Tou tertawa dingin tak henti-hentinya, pisau belati di tangannya diperkencang kakinya dengan cepat berputar kemudian secara tiba tiba melancarkan satu tusukan kearah manusia berpakaian pengemis itu.
Pengemis itu sama sekali tak mau mambalas serangan itu, dia mengundurken dirinya satu langkah ke samping untuk menghalangi kembali perjalanan Liem Tou.
Sebaliknya Song Beng Lan, si Hwesio gundul serta tosu itu tidak bersabar lagi, tiga orang bersama-sama membentak, lalu sepasang tangannya bersama-sama menyerang kedepan secara berbareng.
Siapa tahu jurus serangan dari Liem Tou ini merupakan salah satu dari ilmu pedang Thian San Hwe Sian Kiam, serangan yang menusuk ke arah si pengemis tadi hanya merupakan satu serangan kosong belaka, tujuan yang sebetulnya dari jurus itu tidak bukan adalah Song Beng-Lan
Terlihatlah serangan pukulan atau jari Sakti dari Song Beng Lan serta Hwesio dan Tosu itu hampir mengenai badannya, mendadak Liem Tou membentak keras, tubuhnya secara tiba-tiba berubah arah bagaikan kilat cepatpya berputar kcsamping sedang pisau belati di tangannya dengan mengeluarkan sinar bagaikan busur membuat perhalangan tangan dari si Hwesio, Toosu serta Song Beng Lan.
Ketiga orang itu menjadi amat terperanjat, dengat cepat mereka mengundurkan dirinya ke belakang kemudian dengan pandangan terpesona memandang ke arah Liem Tou.
“Hey bangsat cilik” teriak Song Beng Lan dengan perasaan geram dan ragu-ragu.
"Jurus-jurus serangan yang begitu aneh ini kau dapatkan dari mana?”
“Hey Mou heng” serunya kemudian sembari menoleh kea rah manusia berdandan tosu, “Apa kau juga mau menunggu sampai Ong Bo datang kemari?”
Tosu itu melirik sekejap kea rah hwesio-hwesio itu, kelihatan sekali kalau dalam hati dia merasa sangat ragu-ragu.
Sedangkan hwesio itu dengan pandangan penuh arti memandang kea rah Liem Tou, lama sekali baru tanyanya.
“Hey bangsat cilik, kau bisa menggunakan jurus-jurus sakti dari Thian San Hwee Sian Kiam tentunya mempunyai hubungan yang sangat erat dengan partai Thian San?”
Liem Tou yang mempelajari semua jurus serangan itu dari kitab pusaka "Too Loo-Cin Keng" sudah tentu tidak tahu jurus-jurus serangan tersebut berasal dari partai mana, kini ditanyai begitu dia hanya membungkam dalam seribu bahasa, sedangkan di dalam hati dia terus menerus memikirkan cara untuk melarikan diri dari sana.
“Hey bangsat cilik” tiba-tiba hwesio gundul itu membentak lagi dengan suara seperti geledek. “Kalau kau adalah anak murid Thian san pay sudah tentu mengenal juga Soat Hu Li atau si Rase salju Jien Hui, bukan?”
Selesai berkata dia menoleh kepada ketiga orang temannya, kemudian sambungnya lagi.
“Kalian bertiga hengthay silahkan turun tangan, jika nanti Ong Bo menyalahkan kalian biarlah aku yang menanggung semua”
Tidak menanti ketiga orang kawannya memberikan jawaban dia sudah melancarkan satu serangan dahsyat ke arah Liem Tou.
Liem Tou menjadi amat terkejut, baru saja dia mau menghindarkan diri dari serangan dahsyat tersehut, Hek Lao jie yang sampai saat itu terus menerus menanti saat-saat yang baik untuk turun tangan secara tiba-tiba bagaikan kilat cepatnya sudah melancarkan suatu serangan dahsyat menahan angin pukulan dari Soat Hu Li itu.
"Jien-heng tahan dulu." Teriaknya dengan keras. “Sewaktu bangsat cilik Liem Tou ini melawan cayhe tadi jurus-jurus serangan yang digunakan semuanya merupakan jurus serangan dari ilmu pedang Hong In Kiam nya partai Kunlun, kini dia menggunakan juga ilmu pedang Hwee Sian Kiam dari aliran Thian San Pay, menurut pendapatku dia bukanlah anak murid dari partai mana pun, tapi agaknya sedikit punya hubungan dengan Lie Loojie."
Mandengar omongan dari Hek-loojie ini air muka Soat hu li segera berubah amat hebat.
"Hek loojie." Teriaknya gusar.
"Kami dengan kalian Siok to Siang Mo selamanya tak punya ganjalan sakit hati apapun, lebih baik kau berdiri disamping. Bangsat cilik ini punya dendam sakit hati dengan kami dari partai Kiem Thian Pay, jika kau adalah kawan kami maka harap berdiri di samping jangan turut campur, tapi jika musuh…Hmm..hmmm..”
Hek Loojie tertawa licik, sambil memandang ke arahnya dia berkata lagi.
"Aku Hek Loojiee bukan kawan juga bukan lawan kalian partai Kiem Thian Pay, hanya saja aku mau peringatkan kepadamu saja kalau ia punya hubungan dengan Lie Loojie, Siapa yang tidak tahu kalau kau Soat Hu Li kenapa mau meuggabungkan diri dengan partai Kiem Thian.Hmm, kau mau mempelajari ilmu jari sakti Yan Wi Toan Hok Ci Kong nya Au Hay Ong Bo kemudian hendak kau gabungkan dengan ilmu telapak Toa Su Log Cing hoat yang kamu pelajari dari hweesio Tibet kemudian bendak kau gunakan balas sakit hati atas diusirnya kau dari perguruan Thian San Pay.”
“Hmmmm, apa kau tidak tahu kalau Liem Tou memiliki juga kitab pusaka To Kong Pit Liok-nya Cio Coesu ? Jika kau berhasil memiliki kitab pusaka tersebut maka kepandaianmu akan jauh lebih tinggi sepuluh kali lipat dari pada mempelajari ilmu jari Yan Wei Toan Hun Ci”
Hek Loojie bisa berbicara begitu telah tentu punya rencana hendak menculik pergi Liem Tou untuk memperoleh kitab pusaka To Kong Pit Liok tersebut, makanya dia berusaha keras untuk mencegah Soat Hu Li ini turun tangan jahat terhadap Liem Tou sehingga dia jadi binasa.
Setelah mendengar omongan dari Hek Loojie ini agaknya Soat Hu Li tertarik juga, dengan cepat dia menarik serangannya dan berpikir keras.
"Jien-heng " Teriak Song beng Lan dengan cepat. "Kau jangan mau dengar omongannya, siapa yang tahu hatinya sedang merencanakan apa ? Lebih baik kita kuasai dulu bangsat cilik ini."
Sambil berkata dia maju dua langkab ke depan, jarinya dengan cepat melancarkan suatu serangan kilat mengarah jalan darah di pundak Liem Tou.
Gerakan dari Song Beng Lan ini dilakukan dengan amat cepat tapi gerakan dari Soat Hu Li jauh lebih cepat lagi, tetapi begitu dia meiihat Song Berg Lan melancarkan serangan dahsyat
dengan cepat dia mengibaskan ujung bajunya.
"Saudara Song tahan dulu" serunya,”Biarlah aku pikir pikir dulu baru kita bicarakan lagi."
Waktu itulah Hek Loo jie merasa waktunya sudah tiba, dengan meminjam kesempatan sewaktu Soat Hu Li mengibaskan ujung bajunya itulah secara tiba tiba dia membentak keres, telapak kirinya melancarkan satu serangan dahsyat membabat ketiga orang itu sedang tangan kanannya dengan cepat bagaikan kilat mencengkeram pundak dari Liem Tou.
Orang orang dari partal Kiem Thian Pay ini walaupun berjumlah banyak sekali tetapi berada di dalam keadaan tidak bersiap sedia ketika itu juga mereka berhasil memukul mundur lima enam langkah oleh angin pukulan itu hahkan Liem Tou pun terserang secara mendadak itu membuat dia menjadi kalang kabut, untuk menyerang dengan menggunakan pisau belatinya,
guna meuolong diri tidak sempat lagi dengan cepat dia melancarkan serangan dengan menggunakan ilmu "Hwe In Su" yang pernah diingatnya dari Heng San Ji Yu sewaktu masih berada di dalam lembah Cupu-cupu, telapak kirinya tiba-tiba menerobos diantara ketiak, dengan cepat menyambut datangnya serangan maut dari Hek Lao Jie itu.
Walaupun dengan gerakan ini Liem Tou berhasil menghindarkan diri dari serangan serangan yang menuju punggungnya tapi kepandaian Hek Loo Jie didalam ilmu cengkeraman mautnya ini berada diatas dugaannya, begitu dia melihat Liem Tou melihat datangnya serangan itu menjadi amat girang di dalam hatinya memang dia tidak punya minat untuk mencelakai nyawanya, pergelangan tangannya dengan cepat ditekan kebawah kemudian mencengkeram pergelangan tangan Liem Tou.
Ketika itu juga Liem Tou merasakan pergelangan tangannya seperti dijepit dengan jepitan besi, sakitnya sampai terasa diulu hatinya.
Mendadak dia membentak keras pisau belati ditangan kanannya dengan seluruh tenaga dibacok kearah pergelangan tangan Hek Loo jie.
Dengan dinginnya Hek Loo ji mendengus, tangannya sedikit ditarik kebelakang membuat badan Liem Tou menjadi sempoyongan, biar bagaimanapun juga dia menusuk membabat dan membacok dengan sekuat tenaga hanya cukup Hek Loo ji menarik lengannya membuat dia tidak sanggup untuk mendekati badannya.
Hek Loo ji yang melihat Liem Tou mencak mencak terus menerus membuat kegusarannya memuncak, dia membentak keras cengkeramannya diperkencang lagi membuat Liem Tou yang sebelumnya sudah menderita luka dalam kini merasa tidak sanggup untuk bertahan lebih lama lagi.
Saking sakitnya air muka Liem Ton sudah berubah menjadi pucat kehijau hijauan, giginya menggerutuk menahan perasaan sakit yang luar biasa, dari perubahan wajahnya yang begitu ngeri sudah cukup diketahui bagaimana perasaan sakit yang dideritanya pada saat itu.
Waktu ini si Soat Hu Li, Lie Hui, si jari beracun jarum emas Song Beng Lan, Toosu, serta pengemis sekalian menjadi amat gusar kali, mereka sama sekali tak menyangka hanya didalam satu pukulan saja Hek Loo ji berhasil pukul mundur mereka semua bahkan berhasil menguasai Liem Tou untuk dipaksa nunjukkan tempat penyimpanan Kitab pusaka To Kong Pit Liok bersama sama mereka melancarkan serangan dahsyat mengancam seluruh tubuhnya.
Didalam hati Hek Loo ji tahu dengan jelas jika dirinya berani melawan jago jago berkepandaian tinggi yang mengepung dirinya saat ini maka tidak ampun dia akan menderita kerugian, didalam keadaan seperti itu segera dia menarik badan Liem Tou sehingga bergeser kekanan menutupi seluruh badan sendiri, kiranya dia hendak menggunakan badan Liem Tou untuk dipergunakan sebagai perisai dirinya.
Liem Tou yang berturut turut menderita luka sejak tadi sudah kehilangan tenaganya untuk melawan, untuk meloloskan diripun tak ada cara terpaksa dengan hati yang cemas dia memandang sekelilingnya.
Keringat dingin mulai mengucur keluar membasahi seluruh badannya apa lagi kini di hadapannya terdapat empat orang jago berkepandaian tinggi dari Kiem Thian Pay yang selalu melancarkan serangan dahsyat ke arah Hek Loo ji setiap serangan mereka besar kemungkinan bisa mampir dan bersarang dibadan sendiri membuat dia merasa sangat terkejut sekali hanya cukup satu serangan saja dari mereka mungkin sudah cukup mencabut nyawanya sendiri.
Siapa tahu entah disebabkan oleh apa, mereka empat orang yang semula hendak membinasakan diri Liem Tou kini malah menganggap dia sebagai penghalang saja setiap serangan yang mereka lancarkan asalkan sudah mendekati dengan badan Liem Tou dengan cepat ditarik kembali, sepertinya mereka sangat takut sampai melukai dirinya.
Dengan kejadian ini kegusaran keempat orang jago dari Kiem Thian Pay ini semakin memuncak lagi.
Kurang lebih lewat seperminum teh lagi waktu itu Liem Tou yang dibawa berputar sudah mulai merasakan kepalanya sangat pening, pandangannya mu1ai menjadi kabur sedang perasaan mual didalam dadanya sukar ditahan lagi, napasnya ngos-ngosan sedang keringat yang mengalir keluar seperti air bah yang mengalir deras.
Tita .tiba. , . "Krooook. . " dari pusarnya mengeluarkan suatu suara yang ringan tapi nyaring, hawa murninya dengan cepat menerjang keatas kemudian mengitari seluruh tubuhnya.
Dalam hati Liem Tou menjadi bergerak dengan cepat dia tarik napas panjang membuat seluruh badannya terasa amat nyaman tenaga dalamnya pulih kembali seperti sedia kala membuat hatinya betul betul merasa teramat girang bercampur heran, dengan cepat dia pejamkan matanya mengatur pernapasan.
Saat ini keempat jago dari Kiem Thian Pay yang sedang bertarung melawan Hek Loo ji semakin bertempur semakin seru sedang pergelangan tangan kiri dari Liem Tou yang di cengkeram oleh Hek Loo ji pun ikut bergoncang semakin keras membuat pisau belati ditangan sebelah kanannya ikut manari dan berputar dengan amat santarnya.
Kini racun pukulan dingin Kiem Im Han Tok Ciang dari Au Hay Ong Bo sudah berhasil di paksa keluar oleh keringat yang mengucur keluar dengan amat derasnya itu sehingga luka dalamnya sudah dia sembuhkan tanpa dia sadari ditambah lagi dengan pengaturan napas beberapa lamanya membuat tenaga dalam dari Liem Tou jadi pulih kembali. Saat ini dia tidak mau bergerak banyak banyak, dia ingin menunggu kesempatan yang bagus untuk melancarkan serangan dengan menggunakan pisau belatinya membuat Hek Loo Ji menemui ajalnya.
Mendadak, "Berhenti" Suatu suara yarg memekikkan telinga bergema disekeliling tempat itu.
Terlihat sesasok bayangan manusia berkelebat, Au Hay Ong Bo sudah memunculkan dirinya disana. Ujung bajunya yang seperti baja dengan manimbulkan angin pukulan yang amat dingin menggulung kearah Hek Loo ji, serangan ini dilakukan begitu cepatnya sehingga sukar diketabui oleh pandangan mata.
Walaupun kepandaian silat dari Hek Looji tidak begitu liehay tapi jaraknya berdiri dengan diri Au Hay Ong Bo masih agak jauhan, melihat dia melancarkan satu serangan kearahnya dengan cepat dia lepaskan cengkeramannya pada Liem Tou lalu melayang mundur beberapa kaki kearah belakang.
Melihat hal ini Soat Hu Li sekalian berempat dengan gusarnya membentak keras, dengan cepat mereka melancarkan satu serangan dahsyat kearahnya membuat Hek Looji saking takutnya cepat-cepat melarikan diri terbirit birit.
Baru saja Liem Tou merasa lega karena lolos dari cengkeraman Hek Looji kini musuh tangguh muncul kembali dihadapan matanya didalam keadaan ketakutan dan terkejut pisau belati ditangan kanannya bersamaan dengan pukulan dengan menggunakan telapak kirinya bersama sama melancarkan serangan ke arah Au Hay Ong Bo, dia tahu dirinya bukanlah tandingan dari Ay Hay Ong Bo tapi dia sadar siapa yang cepat dialah yang menang, karena itulah tanpa pikir-pikir panjang lagi dia sudah melancarkan suatu serangan kearahnya.
"Heey..“ Pikirnya pula didalam hati. “Kenapa siluman tua ini bisa kesimi? apa mungkin gadis cantik pengangon kambing nona Lie sudah dikalahkan olehnya?”
Tidak perduli si gadis cantik pengangon kambing itu menang atau kalah terbukti dia tidak muncul ditengah kalangan pada saat ini sama artinya Au Hay Ong Bo tidak ada yang bisa menandingi lagi.
Karenanya segera dia melancarkan serangan gencar kearahnya dengan menggunakan berbagai macam jurus yang tidak menentu membuat Au Hay Ong Bo seketika itu juga dibuat tertegun.
Dengan menggunakan kesempatan Au Hay Ong Bo sedang tertegun itulah dengan cepat Liem Tou meloncat beberapa kaki dari sana kemudian melarikan diri dengan cepatnya kedepan.
Menanti Au Hay Ong Bo sadar kembali dia sudah berada kurang lebih dua tiga kaki dari tempatnya berdiri, dengan cepat dia membentak keras kemudian mengejar dari belakang.
Kali ini Liem Tou sudah sadar bahwa dirinya tidak mungkin berhasil mencapai gua rahasia yang menghubungkan puncak gurung dengan tepi sungai itu, karenanya dia berbalik melarikan diri kearah dalam perkampungan, untung saja jarak antara sana kearah perkampungan tidak jauh, tidak lama kemudian dia sudah sampai sedangkan waktu itu Au Hay Ong Bo sudah berada satu dua langkah dari dirinya.
Didalam keadaan amat terkejut bercampur terperanjat Liem Tou tanpa pikir panjang lagi sudah menerjang masuk kedalam rumah rakyat perkampungan yang berada dihadapannya.
Tubuhnya dengan cepat bagaikan kilat menerobos kedalam pintu rumah itu sedang Au Hay Ong Bo dengan kencangnya menguntit terus dari belakangnya memaksa Liem Tou melarikan diri lebih cepat lagi sesudah berputar putar beberapa tikungan begitu dilihatnya ada jendela di depannya tanpa pikir panjang lagi dia sudah menerobos keluar dari jendela tersebut.
Ketika dia menoleh kebelakang terlihatlah Au Hay Ong Bo masih berada didalam ruangan rumah itu, dengan cepat dan gugup dia menerobos kembali ke rumah yang lain, untung saja rakyat di dalam perkampungan itu rata rata sudah kenal dengan diri Liem Tou, begitu melihat dia muncul didalam rumah mereka sakalipun merasa kedatangannya itu secara tiba tiba tapi tidaklah terlalu merasa heran dan aneh bahkan di antara mereka ada yang berusaha membantu Liem Tou untuk menyembunyikan dirinya.
Tetapi saat ini Liem Tou yang merasa musuh musuh yang mengejar dirinya terlalu tangguh tidak mau menyusahkan orang orang yang berbaik hati itu, apalagi didalam pikirannya sudah punya maksud untuk melarikan diri kerumah kediaman Lie Siauw Ie guna melihat keadaan lukanya, karena itu dia tidak mau menerima kebaikan hati orang orang itu dengan meminjam kesempatan untuk secepat cepatnya dia menerobos keluar kemudian meloncat keatas tiang-tiang untuk melanjutkan melarikan dirinya kedepan.
Sesudah mengalami berbagai kesusahan dan rintangan akhirnya Liem Tou berhasil tiba di depan rumah Lie Siaue Ie tanpa pikir lagi dia sudah menerobos kedalam rumah.
Dengan terlihatnya Lie Siauw Ie sedarg berbaring di atas pembaringannya, melihat hal itu di daiam hatinya menjadi amat terkejut bercampur girang segera dia maju menubruk sambil teriaknya,
"Ie Cici."
Air matanya tidak bisa ditahan sudah meleleh keluar dengan derasnya, bersamaan pula secara tiba tiba dia merasakan kepalanya amat pening, tanpa bisa ditahan lagi dia rubuh keatas tanah jatuh tidak sadarkan diri.
Kiranya sekalipun luka dalamnya sebagian besar sudah hampir sembuh, hal ini dikarenakan sewaktu tadi manahan serangan telapak tangan dari Au Hay Ong Bo dia mendapatkan pukulan Kioe Im Han Tok Ciang tidak terlalu parah, sesudah mengeluarkan keringat boleh dikata racun tersebut sudah dipaksa keluar dari badannya, tapi bekas luka goresan pada punggungnya tetap terus mengalir darah segar tak henti-hentinya tadi waktu dia melarikan diri karena suasana tegang membuat dia tak begitu terasa, tapi sekarang sesudah keadaan tenang kembali membuat dia seketika itu juga merasakan keperihannya sehingga tanpa terasa lagi dia jatuhkan diri dengan tidak sadar.
Lie siauw Ie yang melihat dia jatuh pingsan menjadi amat terkejut, dengan cepat dia meloncat turun dari pembaringannya sambil berteriak dengan nada yang amat cemas.
"Adik Tou kau kenapa ?"
Saking cemasnya air matanya meleleh dengan amat derasnya, dengan cepat dia meloncat turun dari pembaringan kemudian membopong tubub Liem Tou ke atas pembaringannya.
Baru saja tangannya mulai bergerak menepuk seluruh tubuhnya guna menyadarkan dirinya dari pingsan mendadak dari luar kamar terdengar suara terikan yang amat ramai sekali mulai mendekati tempat tersebut, mendengar akan suara itu Lie Siauw Ie segera sadar kalau orang orang perkampungan sudah mengejar hingga kemari.
Dalam hati Lie Siauw Ie tahu bahwa orang tidak akan melepaskan rumahnya dengan begitu saja, mereka tentu akan mengadakan pemeriksaan yang amat teliti disekeliling rumahnya, karena itu kepada ibunya dia berkata.
"Ibu, jika mereka mencari sampai disini berusahalah mencegah gerakan mereka selanjutnya, jangan sekali-kali melepaskan mereka masuk ke dalam kamar, mereka mempunyai niat yang tidak baik terhadap adik Tou"
Sambil berkata dia menarik selimut dan menutupi seluruh tubuh dari Liem Tou, sedang dirinyapun ikut berbaring di sampingnya.
Tidak selang lama kemudian segerombolan suara tindakan kaki yang amat ramai sudah berhenti didepan pintu rumah, bahkan diantara mereka sudah ada beberapa orang yang mulai berteriak.
"Liem Pek Bo. bangsat cilik Liem Tou sudah datang mengacau perkampungan, bukan saja sudah melukai Siauw Ling ko serta Toa Tong- siok bahkan sudah bunuh mati Pouw Liang Jiesiok, aptkah bangsat cilik itu sudah bersembunyi didalam rumah Pek Bo?”
Lie Siauw Ie berbaring didalam kamar ketika mendengar berita itu didalam hatinya diam diam merasa terkejut, dia tak menyangka sama sekadi Liem Tou bisa menimbulkan bencana begitu besarnya.
"Oooh bukan, bukan…" sahut seorang pemuda diantara orang orang kampung itu, "apakah dia betul betul tidak kemari ? ? Anjing kecil itu sudah menderita luka yang amat parah dia bisa lari ke mana lagi ??"
Gerombolan pemuda itu akhirnya tanpa mengucapkan terima kasih sudah meninggalkan tempat itu uutuk mencari jejak ditempat yang lain.
Lie Siauw Ie yang mendengar mereka sudah pada meninggalkan tempat ini hatinya menjadi amat lega, dia putar tubuhnya memandang ke arah Liem Tou yang terbaring dibalik selimut, terlihatlah dia tertidur di sampingnya dengan sangat pulasnya.
Dalam hati Lie Siauw Ie hanya merasakan hatinya amat kecut dan sedih, gumamnya seorang diri.
"Ooh adik Tou, selama beberapa waktu ini tentu menderita siksaan serta penderitaan sangat hebat, kau tidurlah dengan tenang, cicimu bisa melindungi dirimu dengan mempertaruhkan nyawa cici, sejak saat ini kita berdua tidak akan berpisah kembali"
Sudah bergumam beberapa saat lamanya sekali lagi memandang ke arah Liem Tou yang jatuh pulas dengan nyenyaknya itu. Mendadak terlihatlah olehnya diujung kelopak mata Liem Ton mengucur keluar titik-titik air mata, melihat hal itu tanpa terasa lagi dari kelopak matanya sendiri mengucur keluar juga air mata dengan derasnya.
Lewat dua tiga jam kemudian suasana didalam ruangan itu semakin lama semakin redup dan mulai menggelap, saat itu merupakan permulaan musim salju pada bulan ke sepuluh tidak selang lama magrib pun sudah menjelang tiba. Saat itu Liem Tou masih tidur dengan sangat pulasnya. Lie Siauw Ie yang lukanya sudah sembuh dengan perlahan lahan turun dari pembaringan dan berjalan menuju ke dapur untuk mempersiapkan makanan malam.
Pada saat itulah gerombolan pemuda yang tadi mencari jejak Liem Tou kini mendatangi kembali tempat itu bahkan kali ini dipimpin langsung Ang ing-sin pian Pouw Sak San itu Cungcu dari perkampungan Ie Hee Cung.
Sesampainya didepan pintu rumah dia tak terus menggedor pintu, sebaliknya dengan amat teliti dia memeriksa keadaan di sekeliling rumah tersebut.
Begitu melihat munculnya gerombolan orang itu perasaan tegang mulai meliputi kembali di hati Lie Siauw Ie beserta ibunya diam diam keringat dingin mulai mengucur keluar dengan sangat derasnya.
Perlahan lahan Lie Siauw Ie mendekati pintu rumah itu, dengan meminjam sinar yang ada dia mulai mengintip dari celah-celah lubang. Terlihatlah, Si Ang in sin pian Pouw Sak San Cungcu dari perkampungan Ie Hee Cung dengan air muka penuh diliputi dengan napsu membunuh memimpin diri Liong ciang Lie Kian Poo, Pouw Beng serta pemuda perkampungan berdiri di depan rumah dengan angkernya.
Ketika melihat lagi ke arah lain terlihatlah ditempat kejauhan si Au Hay Ong Bo dengan memimpin Soat Hu Lie beserta anak buahnya dan seluruh jago yang menghadiri parjamuan sudah berdiri menyebar sekeliling tempat itu.
Dalam hati segera tahu tentunya orang orang itu sedang mengincar diri Liem Tou tanpa terasa lagi perasaan cemas dia sudah menoleh ke arah ibunya lagi.
"Ibu" teriaknya dengan sedih, "Bigaimana? "Bagaimana dengan baiknya ?"
Orang tua itu agaknya juga dibuat cemas untuk beberapa saat lamanya, tapi sebentar kemudian sudah bisa menenangkan pikirannya lagi.
"Aku sendiri juga tak tahu harus berbuat bagaimana" Sahutnya dengan menghela napas panjang. "Ie-jie, aku pikir perlahan lahan tentu kita mendapatkan cara juga untuk meloloskan diri, untuk sementara kau janganlah kuatir dulu."
"Ibu”seru Lie Siauw Ie kembali, "Jika mereka ngotot mau masuk rumah untuk mengadakan pemeriksaan bagaimana kita harus berbuat? Jika Liem Tou sampai ditawan mereka nyawanya sukar untuk ditahan lagi"
Semakin berkata Lie Siauw Ie semakin cemas dan semakin sedih lagi sehingga air mata mengucur keluar lebih deras lagi, melihat hal itu ibu Lie Siauw Ie dengan gugup memberi hiburan.
"Kau janganlah murung dulu," ujarnya. "Urusan sekarang belum terjadi buat apa kau murung??? Mungkin juga sebentar lagi mereka akan pergi"
Baru saja perkataan itu diucapkan terdengarlah diluar rumah berkumandang suara teriakan seseorang secara tiba tiba.
"Lapor Cungcu, Cepat kemarilah. Darah darah Liem Tou bangsat cilik itu pasti berada didalam rumah ini!”
Mendengar teriakan itu air muka Lie Siauw Ie segera berubah menjadi pucat pasi, dengan cepat dia menubruk ke dalam rangkulan ibunya.
"Oooh ibu!" Serunya setelah gemetar. "Bagaimana baiknya? Sebentar lagi pasti mereka masuk kemari."
Seperti orang gila Lie Siauw Ie segera melepaskan dirinya dari rangkulan ibunya kemudian lari masuk ke dalam kamarnya, dengan amat gugup sekali dia menggoyangaan tubuh Liem Tou yang masih pulas.
"Adik Tou!" teriaknya dengan amat cemas, "Cepat bangun.Bencana sudah berada diambang pintu, kau cepatlah bangun”
Saat itulah dengan suara yang amat kasar dan keras Si Ang in sin pian Pouw Sak San itu cungcu dari perkampungan Ie Hee Cung sudah mulai menggedor pintu sembari berteriak.
"Liem Tou bangsat cilik, cepat mengelinding keluar!"
Dengan perlahan Liem Tou membuka matanya kembali, tapi begitu mendengar suara bentakan dari Pouw Sak San dengan pandangan tertegun dia memandang Lie Siauw Ie yang sedang berdiri disampingnya.
"Adik Tou, kau cepat bangun." teriak Lie Siauw Ie dengan amat cemas, "Mereka sudah mencari sampai disini, kita harus mencari cara untuk menghadapi mereka. Oooh bagaimana baiknya sekarang?”
Dengan cepat Liem Tou meloncat bangun, sesudah tertidur dengan amat nyenyaknya beberapa saat lamanya semangatnya kini sudah pulih kembali.
"Cici" tanyanya dengan cemas. "Siapa? Siapa yang datang cari aku?"
"Cungcu" Sahut Lie Siauw Ie singkat tapi cukup menimbulkan getaran yang amat kuat.
Mendadak sinar mata Liem Tou meemancarkan sinar yang amat tajam, dengan cepat bagaikan kilat tubuhnya bergerak lari keluar.
Melihat gerak gerik Liem Tou ini Lie Siauw Ie menjadi amat terperanjat, dengan cepat dia menyambar menahan diri Liem Tou sembari bertanya.
"Adik Tou." Kau mau pergi kernana?"
“Bangsat anjing itu harus kubunuh sekarang juga " Teriaknya dengan amat gusar sedang air mukanya berubah membesi. "Aku.. aku tidak akan takut padanya"
"Adik Tou, kau tidak boleh pergi"
Lie Siauw Ie dengan suara yang amat lirih. "Selain Cungcu sendiri beserta siluman perempuan beserta seluruh tamu yang diundang Cungcu sudah berada di sekeliling ternpat ini, jika kau keluar bukankah hanya mengantar diri ke mulut macan?"
Mendengar omongan dari Lie Siauw Ie ini hati Liem Tou seketika itu juga menjadi dingin separuh, lama sekali dia tidak meagucapkan sepatah katapun. Tapi beberapa saat kemudian secara tiba-tiba teringat akan sesuatu hal, ujarnya kemudian.
"Kalau begitu apakah cici melihat nona pengangon kambing nona Lie itu? Dia sekarang pergi kemana? Apa dia sudah turun gunung terlebih dulu?"
Air muka Lie Siauw Ie segera berubah hebat, sepasang matanya yang jeli dan bening menarik itu dengan tajamnya memandang wajah Liem Tou, lama kemudian barulah tanyanya secara
Tiba-tiba.
"Siapa dia? Apa hanya dia seorang yang bisa menolong kau?"
Sejak kecil Liem Tou sudah terbiasa dipandang rendah orang dan diejek kanan kiri sehinaga tanpa terasa dia sudah paham sekali terhadap perubahan wajah serta perasaan seseorang begitu melihat sikap serta perubahan Lie Siauw Ie tanpa terasa hatinya sudah berdesir.
"Cici, kau jangan salah paham,” Sahutnya dengan nada yang sangat berhati hati. "Dia hanyalah gadis pengangon kambing yang sedang mengangon kambingnya, aku baru saja mangenal dia ketika bertemu ditengah jalan, Tapi kepandaian silat yang dimilikinya amat tinggi sekali, bukankah ketika masih berada didalam ruangan Cie Ie Tong kau sudah melihat sendiri bagaimana tingginya kepandaian silat yang dimilikinya?”
Dengan perasaan amat tidak puas Lie Siauw Ie mendengus, kemudian tidak mengucapkan kata kata lagi.
Waktu itu Si ang in sin pian Pouw Sak San itu cungcu dari perkampungan Ie Hee Cung sudah gembar gembor dan menggedor pintu semakin keras lagi. Ibu Siauw Ie segera berteriak memberi sahutan.
"Sejak tadi aku sudah bilang Liem Tou tidak berada disini, Siauw Ie masih terluka dan berbaring diatas pembaringan, baru saja dia tertidur dengan pulas, buat apa kalian gembar gembor tidak karuan di luaran sana?"
"Lie Toa so!" Teriak Pouw Sak San pula tidak mau kalah "Kami betul betul karena terpaksa harus menemui dia barulah memeriksa ditempat ini, sedang itu Au Hay Ong Bo pun harus mau temui dia terlebih dahulu baru meninggalkan tempat ini. Toa so, bukankah kau sudah tahu kalau Au Hay Ong Bo itu merupakan jagoan yang paling telengas didalam Bu lim saat ini? jika sampai dia marah didalam perkampungan ini tidak ada orang yang sanggup menahan dirinya. Liem Tou ada atau tidak asalkan aku melihat sebentar saja segera akan tahu. Toa so harap kau buka pintumu."
Liem Tou serta Lie Siauw Ie segara berjalan mendekati samping badan Ibu dari Siauw Ie itu.
"Pouw Sak San!" Teriak ibu Siauw Ie pura-pura marah sesudah mendengar omongan dari Ang in sin pian Pouw Sak San itu.
"Kau bertindak sebagai seorang Cungcu perkampungan yang sangat terhormat apakah demikian perbuatannya? aku sejak tadi sudah bilang kalau Liem Tou tidak berada disini, apa kau kira aku biasa ngomong bohong? Apa kau mau menganiaya aku ibu beranak yang sudah lama ditinggal mati oleh suamiku? Hmmm .. Hmmm. jikalau memangnya mau berbuat begitu silahkan hajar pintu depan, kami ibu beranak akan menyerahkan diri kepada kalian tanpa melawan.”
Beberapa patah katapun dari ibunya Siauw Ie betul betul amat lihay sekali, seketika itu juga membuatnya si Pouw Sak San itu hanya membungkam dalam seribu bahasa, agaknya dia sudah dibuat tidak berkutik oleh omongan-omongan tersebut.
"Toaso" Lama sekali barulah terdengar seseorang yang lain membuka mu!ut secara tiba-tiba.
"Aku adalah Lie Kian Poo, kalau memangnya Liem Tou tidak berada didalam kamar bukan kah tidak ada halangannya Toaso buka pintu agar Cungcu bisa melihat dengan mata kepala sendiri?"
Begitu Lie Kian Poo mulai angkat bicara seketika itu juga membuat ibunya Siauw Ie menjadi tertegun, karena Lie Kian Poo jadi orang paling jujur dan paling pegang peraturan. Semua orang di dalam perkampungan rata-rata pada menghormati dirinya sebagai pemimpin, karena itulah seketika itu juga membuat ibunya Siauw Ie tidak bisa memaki lagi.
"Ooh . . . Kian Poo siok juga ikut datang " Serunya terpaksa dengan nada mendatar "Kalau memangnya tak percaya lagi dengan omonganku apa kini Kian Poo Siok tidak mau percaya lagi terhadap omonganku ?"
"Toaso kau tak tahu keadaan yang sebenarnya." bantah Lie Kian Poo dengan cepat. "Kini bukanlah Cungcu berlaku sebagai pemimpin, tentunya dari dalam rumah Toaso juga bisa
lihat itu Au Hay Ong Bo berdiri mengawasi gerak gerik kita dari tempat kejauhan, karena itulah harap Toaso jangan salah artikan bila Cungcu kita sudah tak mau percaya dengan omongan Toaso, hal ini kami lakukan karena terpaksa."
Beberapa perkataan dari Lie Kian Poo ini sangat pakai aturan dan merupakan kejadian yang terbukti, ibunya Siauw Ie yang juga merupakan seorang yang pegang teguh aturan dalam hatinya diam-diam merasa camas, dengan perlahan dia menoleh memandang kearah Liem Tou serta Lie Siauw Ie.
Terlihatlah kedua orang itu yang satu berwajah tampan menarik sedang yang lain cantik menggiurkan dengan mesranya sedang bersandar dipelukan Liem Ton apalagi sepasang matanya yang bulat menarik itu sedang memandang dirinya dengan perasaan penuh kasihan.
Teringat akan kedua orang itulah membuat ibunya Siauw Ie terpaksa dengan gigit kencang bibirnya sendiri memberi sahutan.
“Kian Poo-siok, pintu ini aku tidak akan membukanya, jikalau Cungcu sudah tidak menyukai berdua ibu beranak, sekarang juga meninggalkan kampung ini untuk selamanya, kalau tidak silahkan menghancurkan pintu ini kemudian cabut sekalian nyawa kami berdua."
Perkataan yang penuh perasaan pedih dan sedih membuat keadaan diluar pintu sunyi senyap, agaknya Lie Kian Poo sedang berunding dengan Cungcu bagaimana caranya untuk manghadapi keadaan salanjutnya.
Mendadak.. salah satu dari Siang hui hok itu yang bernama Pouw Beng dengan amat gusarnya sudah berteriak keras.
"Hey Cung cu, kamu orang tidak bisa berbuat begini, dengan terang-terangan Liem Tou berada didalam rumah kenapa kau tidak langsung masuk ke dalam untuk tawan dia keluar?? Apa kau kira nyawa saudara bisa dibuang dengan sia-sia saja ? ? Haaa ? Jika kamu tak mau turun tangan biar aku yang kerjakan sendiri,”
"Pouw Beng," teriak ibunya Siauw Ie dengan amat gusar sedang dalam hati diam-diam merasa amat terperanjat. "Menghormati yang tua membantu yang muda, melindungi yang tua melindungi kaum pelajar itulah peraturan dari perkampungan kita, kau berani."
"Kau jadi orang tidak pakai aturan perkampungan dengan kamu ?" Bentak Pouw Berg yang berada diluar rumah dengan amat gusarnya.
"Braaak . . " terdengar suara yang amat keras bergema memenuhi sekeliling tempat itu, pintu rumah dari Lie Siauw Ie sudah terhajar oleh bogem mentahnya Pouw Bang, seketika itu juga debu serta pasir memenuhi angkasa sedang pintunya sendiri hanya berbunyi dengan sangat keras, pintu yang terbuat dari kayu keras itu tetap utuh tak sampai terhajar bobol oleh pukulan tersebut.
Keahlian pertama dari Pouw Beng terletak pada ilmu meringankan tubuh saja sedangkan tenaga pukulannya tidak begitu hebat, karena itu biar pun dia sudah melayangkan bogem mentahnya pada atas pintu tapi tidak sampai berhasil menghancurkan pintu tersebut.
Tetapi dengan terjadinya peristiwa ini membuat suatu perasaan yang ngeri meliputi tiga orang yang terkurung dalam rumah itu, suatu perasaan aneh muncul di dasar lubuk hati mereka, di dalam keadaan yang amat terperanjat serta cemas itulah tanpa terasa, mereka bertiga sudah diikuti oleh ketegangan yang sukar dikatakan, air muka mereka dengan sendirinya juga ikut berubah menjadi amat keren.
Tangan kiri Liem Tou dengan kencang memegang pisau belati sedang tangan kanannya melindungi dadanya, sebaliknya Lie Siauw Ie melintangkan pedangnya di depan siap menghadapi serangan musuh bersamaan pula meraup senjata rahasia Kioe Cu Kien Ciam siap disambitkan keluar.
(Bersambung ke jilid 13)
Sampai waktu seperti ini mau tak mau ibunya Siauw Ie pun terpaksa siap mengadu jiwa, sepasang golok tipisnya dicabut keluar siap menghadapi musuh.
Mereka bertiga sama-sama memusatkan seluruh perhatiannya menanti serangan musuh selanjutnya, asalkan pintu itu sedikit terbuka maka secara serentakan dan tiba tiba mereka akan melancarkan serangan untuk seIanjutnya menerjang keluar bagaimana kemudian mereka tidak berani berpikir lanjut bahkan memangnya tidak punya waktu untuk berpikir hal itu lebih teliti bagi.
"Dak . . . duk . . duk . . . suara gedoran dari Pouw Beng sekali lagi bergema diseluruh ruangan, jika situasi pintu itu agaknya sebentar lagi tidak akan sanggup untuk menerirna gemparan telapak Pouw Beng.
Pada saat yang amat kritis itulah tiba-tiba dari belakang Perkampungan berkumandang bentakan serta suitan yang amat nyaring bagaikan kicauan burung kenari memecahkan kesunyian yang mencekam kemudian disusul dengan suara teriakan si gadis cantik pengangon kambing dengan suaranya yang amat keras.
"Liem Tou koko.” Serunya. ”Tunggu aku sebentar, kau jangan lari begitu cepat.”
Begitu teriakan itu muncul sesaat kemudian suara gedoran di pintu luar menjadi tenang kembali, sedang Liem Tou yang berada didalam ruangan pun dibuat menjadi melengak.
"Liem Tou koko. “Suara teriakan dari gadis cantik pengangon kambing itu berkumandang kembali. “Tadi kamu orang pergi kemana? Aduh..kau membuat aku merasa tersiksa dan menderita hanya karena mencari dirimu”
Dengan omongannya itu dengan amat jelas dia sudah beritahu pada orang lain kalau Liem Tou tidak berada disana. Pouw Beng, Ang in sin pian beserta para jago lainnya yang berada diluar rumah mendengar perkataan itu dengan sangat jelas, kalau memangnya begitu buat apa mereka buang tenaga dan waktu di luar rumah keluarga Lie ini?
"Ayoh jalan.” Suara teriakan yang amat keras segera bergema disana.
Serentetan suara langkah manusia yang amat keras berkumandang kemudian semakin lama semakin perlahan dan akhirnya lenyap dari pendengaran.
Bagaimana secara mendadak gadis cantik pengangon kambing itu bisa muncul di situ membantu Liem Tou lolos dari ancaman bahaya? Kiranya waktu itu sesudah Liem Tou berhasil menerjang keluar dari pintu ruangan Cie Eng Tong antara dirinya segera terjadilah suatu pertempuran yang amat sengit melawan Au Hay Ong Bo itu, karena kepandaian mereka seimbang karena itu untuk beberapa waktu lamanya tidak ada seorang diantara mereka yang menderita kalah.
Au Hay Ong Bo yang di dalam hatinya hanya punya tujuan terhadap Liem Tou seorang, ketika melihat Liem Tou melarikan diri dari dalam ruangan itu bagaimana pun juga membuat pikirannya sedikit bercabang, dengan kesempatan itulah gadis cantik pengangon kambing untuk beberapa saat lamanya berhasil menduduki diatas angin.
Siapa tahu dengan menggunakan kesempatan itulah si Ang in sin pian itu cungcu dari perkampungan Ie Hee Cung sudah melancarkan serangan kembali ke arah si golok naga hijau Sie Piauw tauw, bagaimana pun juga karena usia yang sudah tinggi ditambah lagi kepandalan silatnya memang sudah kalah satu tingkat dari Ang in sin pian itu tidak sampai mencapai dua puluh jurus sekali lagi si golok naga hijau sudah terjerumus kedalam keadaan yang sangat berbahaya.
Muridnya yang tertua Oei Poh ketika melihat suhunya terdesak dibawah angin bahkan keadaannya sangat bahaya segera menerjunkah diri ke dalam kancah pertarungan, pada saat yang bersamaan pula Lie Kian Poo sudah munculkan diri menahan serangannya mau tak mau terjadilah suatu pertempuran yang amat sengit antara Oei Poh dengan Lie Kian Poo.
Waktu semakin lama keadaan dari si goloknaga hijau Sie Piauw tauw semakin babaya lagi, pecut sakti yang berada ditangan Ang in sin pian sudah menutupi seluruh tubuhnya bahkan menekan badannya makin lama semakin berat, setiap saat nyawanya mungkin bisa melayang di bawah serangan cambuk tersebut.
Gadis cantik pengangon kambing yang melihat keadaannya itu terpaksa harus melepaskan diri Au Hay Ong Bo untuk memberikan bantuannya.
Di dalam hati Au Hay Ong Bo hanya punya satu tujuan saja yaitu membalaskan sakit hati putri kesayangannya, begitu gadis cantik pengangon kambing itu menghindar ke samping dengan cepat dia merebut keluar dari pintu untuk mengejar Liem Tou.
Setelah gadis cantik pengangon kambing berhasil menolong golok naga hijau Sie piauw tauw itu keluar dari bencana kematian segera terjadilah pertempuran sengit melawan diri Pouw Sak San, tapi sewaktu dilihatnya Au Hay Ong Bo sudah tidak berada dalam ruangan dengan tergesa-gesa dia pimpin si golok naga hijau bersama muridnya turun dari gunung itu.
Sesudah meloloskan diri dari cengkeraman Ang in sin pian inilah dia baru bisa lari kearah Liem Tou dimana tadi melarikan dirinya sedang saat itu bertepatan sewaktu Au Hay Ong Bo menerobos setiap rumah untuk mencari jejak Liem Tou, dengan cepat dia mengerahkan ilmu meringankan tubuh Hui Si Ya In atau terbang layang bagaikan mega meloncat naik ke puncak pohon yang lebat, dari sanalah dia bisa melihat semua pemandangan di dalam perkampungan itu sehingga sewaktu Liem Tou bersembunyi di rumah Lie Siauw Ie orang lain tidak bisa tahu sebaliknya dia bisa melihat semuanya dengan teramat jelas.
Dia terus manyembunyikan dirinya sehingga dilihatnya Pouw Beng menggedor pintu dan Liem Tou di dalam keadaaan yang amat berbahaya, sampai waktu itulah dia baru bersuit nyaring kemudian mengeluarkan kata kata tersebut, dia sengaja berbuat begitu untuk memancing pergi Ang in sin pian serta Au Hay Ong Bo sekalian sehingga dengan begitu Liem Tou memperoleh kesempatan untuk melarikan diri.
Sewaktu Liem Tou tadi mendengar suara seruan dari gadis cantik pengangon kambing itu semula dia dibuat ragu ragu untuk beberapa saat lamanya kini mendengar cungcu sekalian sudah pada bubaran dan mengejar kearah mana datangnya suara tadi pikirnya segera berputar kembali, saat ini dia sudah sadar peristiwa apa yang sudah terjadi, karenanya dengan amat cemas ujarnya kepada Lie Siauw le serta ibunya.
"Pek-bo, cici, aku mau pergi harap Pekbo serta Cici baik-baik jaga diri.”
sambil berkata dia putar tubuhnya siap berlari dari sana.
"Adik Tou tunggu sebentar" mendadak Lie Siauw Ie rnembentak dengan keras menahan kepergiannya.
Liem Tou menjadi bingung dengan cepat ia menoleh kebelakang, terlihatlah Lie Siauw le dengan wajah penuh air mata sedang berlutut di hadapan ibunya memberi mohon dengan suara yang amat pedihnya,
"Ibu, hari ini le jie mau turun gunung bersama sama adik Tou, tentu ibu bisa mengabulkan bukan?"
Mendengar permintaan anaknya ini ibunya Siauw Ie menjadi amat terperanjat tanpa disadari dia sudah mundur setengah langkah kebelakang.
"Kau . . . . kau bilang apa?? " tanyanya dengan suara gemetar sedang pedangnya dengan tertegun memandang wajah Lie Siauw le.
Dalam hati Lie Siauw Ie merasakan hatinya begitu hancur, tapi ketika teringat akan waktu, waktu yang lalu mendesak paksaan dengan paksakan diri sambungnya.
"Ibu, putrimu tahu saat ini kau orang tua merasa sangat terkejut, tapi sikap dari orang-orang keluarga Pouw betul-betul membuat putrimu tidak tahan lagi, jika putrimu berada di sini malah sebaliknya mendatangkan berbagai kesulitan kepada ibu, ini hari aku aku mau turun gunng bersama-sama adik Tou tentunya ibu bisa mengabulkan permintaanku ini,bukan? paling lama satu tahun asalkan kepandaian silat adik Tou sudah berhasil dilatihnya pasti putrimu akan kembali lagi."
Lie hujien ketika mendengar perkataan dari putrinya ini dalam hati betul-betul merasa sangat sedih sekali, selama ini dia hidap bersama-sama dengan Lie Siauw Ie sudah tentu tidak akan reIa ditinggal pergi oleh putrinya, tanpa terasa air matanya sudah meleleh keluar dengan derasnya, sambil bungkam seribu bahasa dia gelengkan kepalanya.
Tetapi bagaimana pun juga perasan seorang ibu jauh lebih tajam dan mengerti akan perasaan putrinya, cintanya terhadap Lie Siauw Ie boleh kata cinta yang muncul dari dasar lubuk hatinya, kini melihat dia bersama Liem Tou memangnya sepasang manusla yang setimpal walaupun di dalam hati dia merasa seperti diiris-iris tanpa terasa gelengkan kepalanya sudah berubah anggukkan tanda setuju sedang pada airmukanya pun muncul senyuman yang amat manis, sahutnya dengan suara yang rendah.
"Kalian pergilah, asalkan kalian berdua bisa berkumpul menjadi satu, hatiku sudah merasa amat gembira.”
Dengan wajah penuh air mata Lie Siauw le mendongakkan kepalanya memandang wajah ibunya yang amat ramah dan kasih penuh kasih sayang itu, mendadak sepasang tangannya sudah menubruk sepasang lutut ibunya.
"Oooh . . . ibu, wajahmu mengapa bisa berubah menjadi begini rupa?" teriaknya sambil menangis tersedu sedu "Kau bukannya sedang tertawa sungguh-sungguh, aku tidak akan pergi, tidak jadi pergi, kau jangan salahkan aku"
Perasaan antara cinta kasih ibu dengan anak yang mucul secara tiba-tiba membuat Lie-si tidak kuat menahan gejolak hatinya, dengaa cepat dia merangkul badan Lie Siauw le sembari menangis dengan amat sedihnya, untuk beberapa saat lamanya dia tak sanggup untuk mengucapkan sepatah katapun.
Waktu itu Liem Tou yang melihat sikap mereka ibu beranak, tanpa terasa juga meneteskan air matanya, teringat olehnya keadaan dirinya yang sejak kecil sudah ditinggal mati oleh kedua orang tuanya, segera dia mendorong pintu sambil ujarnya kepada mereka berdua.
"Pek bo, cici aku mau pergi dulu."
Sehabis berkata dia putar tubuhnya kembali berlari keluar.
Baru saja berjalan dua langkah dari tempat semula mendadak Lie Siauw Ie dengan wajah penuh air mata mendongak keatas.
"Cici." teriaknya dengan suara yang menyedihkan sekali.
Mendengar suara panggilan yang penuh perasaan duka itu Liem Tou hanya merasakan hatinya diiris-iris dengan pisau tajam tubuhnya yang bergerak maju dengan sendirinya tertahan kembali ketempat semula. Dengan pandangan penuh perasaan sedih dia memandang wajah Lie Siauw le lama sekali mereka berdua saling berpandang-pandangan. Agaknya di dalam hati mereka berdua siapa pun tidak ada yang mau berpisah kembali hal ini bisa dilihat dari sinar mata mereka yang penuh kesedihan.
Lie-si yang melihat keadaan mereka dari samping dalam hatinya serasa tergetar amat keras sekali, pikirnya diam-diam.
"Kenapa aku harus berbuat demikian kejam? Sudah jelas cinta mereka berdua sudah mencapai pada titik puncak, sekali pun le-jie amat ku sayangi tapi bagaimana aku bisa berbuat demikian sehingga mereka berdua menjadi berpisah kembali?? Apalagi perkataan dari le-jie tadi memang ada betulnya, kenapa aku bisa berbuat demikian tolol”
Berpikir sampai disitu segera dia melepaskan kembali rangkulannya pada diri Lie Siauw Ie.
"Liem Tou." teriaknya sembari mengangkat kepalanya memandang tajam ke arah Liem Tou,
"Kau tunggulah sebentar, aku ada perkataan yang hendak kusampaikan kepadamu"
Waktu ini perasaan cinta kasihnya sudah berubah menjadi kemantapan dengan demikian air muka yang sangat angker pun berubah menjadi penuh kewibawaan.
"Liem Tou" sambungnya kembali. "Aku tahu sifatmu sangat jujur dan merupakan seorang yang bisa dipercaya. Mulai saat ini juga aku akan serahkan Siauw Ie kepada dirimu walau pun dia jauh lebih tua dua tahun dari dirimu tapi bagaimana pun juga dia masih merupakan seorang gadis suci, sesudah turun gunung kau harus betul-betul jaga dan melindungi dirinya. Semoga saja sejak kini kau bisa berlatih ilmu silat lebih giat lagi sehingga bisa kembali ke atas gunung secepat mungkin agar aku yang menunggu pun tak usah menanti Iebih lama lagi"
"Ibu aku tidak jadi pergi " teriak Lie Siauw Ie kemudian sesudah mendengar omongan ibunya ini.'Aku mau tinggal disini untuk mngawani ibu hidup hingga akhir jaman."
Cinta kasih serta keagungan dari kasih sayang seorang ibu walau pun harus berbuat bagaimana pun rela berkorban demi putrinya yang tercinta.
“Boanpwee takkan membiarkan Ie cici diganggu”
"Ie jie, kau harus dengar omonganku " ujarnya lagi dengan penuh rasa sayang. "Kau bisa pergi bersama-sama Liem Tou hal ini sudah menjadi keinginanmu, apalagi dnegan berbuat begini kau akan lolos dari siksaan orang-orang keluarga Pouw, kau bisa lolos dari bencana sudah tentu ibumu pun ikut bergembira. Pergilah, ibumu masih bisa menjaga dan mengurusi diriku sendiri. Ie-jie, kau tak perlu kuatir lagi”
Lie Siauw Ie hanya bisa menundukkan kepalanya saja sambil melelehkan air mata, sepatah kata pun tak bisa diucapkan kembali.
Liem Tou yang berdiri disamping melihat dia tak berbicara lagi segera tahu kalau Lie Siauw Ie sudah menyetujui untuk pergi bersama-sama dia, karena itulah dengan sangat hormat sekal dia bungkukkan diri didepan Lie si untuk memberi hormat.
“Pekbo, harap kau berlega hati” ujarnya dengan penuh perasaan hormat.
“Sekali pun tubuh boanpwee hancur lebur pasti akan melindungi keselamatan Ie-cici. Boanpwee tak akan membiarkan Ie-cici diganggu orang lain sehingga mendapatkan cidera, bilamana Ie-cici terjadi urusan silahkan pekbo cari boanpwee untuk dimintai pertanggungjawaban”
Melihat perkataan dari Liem Tou yang penuh semangat dan lucu itu tanpa terasa Lie-si sudah anggukkan kepala sembari tertawa.
“Begitu pun juga baik,” sahutnya sambil tersenyum, “Keadaan di dalam dunia kangouw sangat berbahaya sekali, orang-orang banyak yang licik dan kejam jauh berbeda dengan di rumah, sehingga jangan sampai terjerumus ke dalam lembah kehinaan. Nah..sekarang kalian cepatlah pergi.”
Sekali lagi Liem Tou bungkukkan badan memberi hormat sembari tambahnya.
“Cukup Pekbo tunggu satu tahun saja, boanpwee serta Ie-cici tentu akan kembali ke perkampungan untuk menyambangi diri Pekbo”
Segera dia menarik tangan Lie Siauw le dan ujarnya.
"Cici waktu sangat mendesak sekali kita tak bisa buang-buang waktu kembali, ayoh jalan."
Lie Siauw Ie tak memberikan jawabannya mendadak dia jatuhkan diri berlutut dihadapan ibunya kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya memberi hormat lama sekali baru panggilnya.
“Ibu…” perkataan selanjutnya tak sanggup diucapkan kembali.
Waktu Liem Tou benar-benar merasakan waktu yang amat mendesak dia tak berani menunda waktu kembali, dengan sekuat tenaga ditariknya badan Siauw le untuk bangkit kemudian meninggalkan tempat itu dengan cepat.
Waktu itu Lie si pun ikut bantu mendesak Lie Siauw le agar cepat meninggalkan tempat itu sampai saat itulah dengan perasaan berat ia baru bangkit berdiri, satu Iangkah bergerak maju satu kali menoleh kebelakang, dengan perasaan hati yang amat berat dia mengikuti diri Liem Tou meninggalkan tempat itu.
Begitu sampai di luaran segera dia tahu kalau orang-orang yang mengepung di sekeliling tempat itu sudah dipancing itu gadis cantik pengangon kambing ke perkampungan bagian belakang, dergan begitu jika dia mau turun gunung haruslah melalui tiga tempat rintangan maut yang berada di depan.
Diam-diam pikirnya dalam hati.
"Dengan kepandaianku pada saat ini untuk melewati sungai kematian serta tebing maut mungkin masih sanggup tapi jembatan pencabut nyawa itu. . ."
Tapi urusan sudah sampai begitu rupa walau pun di dalam hati dia tahu tidak punya pegangan yang kuat terpaksa dengan menempuh bahaya harus dicoba juga.
Sesudah mengambil keputusan di dalam hatinya, dengan menggandeng tangan Lie Siauw Ie dia melanjutkan perjalanannya kedepan. “Cici, ayoh jalan," teriaknya.
Saat ini malam hari sudah menjelang datang cuaca amat gelap sehingga sukar melihat tempat jauh. Liem Tou serta Lie Siauw le segera melayangkan badannya ke depan menuju ke gunung bagian depan.
Tidak selang beberapa lama sampailah mereka berdua ditepi jembatan pencabut nyawa.
"Cici " Tanya Liem Tou dengan suara perlahan.: "Sungai kematian serta Tebing maut sudah sukar untuk menahan diriku, tapi Jembatan pencabut nyawa ini keadaannya memang sungguh luar biasa bahayanya, cukup tidak tenang sedikit saja badan kita bisa hancur ditelan dasar jurang yang teramat dalam itu, bagaimana baiknya kita melewati tempat ini?"
“Adik Tou " sahut Lie Siauw Ie sembari menghela napas panjang. "Sejak kau meningalkan atas gunung waktu itu di dalam hatiku sudah punya maksud untuk turun gunung mencari dirimu. Jien Cui cici pernah memberi pelajaran ilmu meringankan tubuh kepadaku mungkin kini sudah bisa digunakan untuk melewati tempat ini, biarlah aku lewat dulu."
Liem Tou yang mendengar perkataan dari Lie Siauw Ie ini segera tahu bahwa sekali pun ilmu meringankan tubuhnya sudah mendapatkan kemajuan tapi selama ini belum pernah sungguh-sungguh mencoba untuk melewati jembatan pencabut nyawa ini, karenanya dengan perasaan tidak tenan jengahnya.
“Cici tempat ini bukanlah tempat untuk main-main biarlah adik Tou mencoba terlebih dulu”
"Tadi dia sudah bilang tak punya pegangan jika.. "
Berpikir sampai disini tanpa terasa lagi Lie Siauw Ie sudah menghembuskan napas dingin, dengan cepat ujarnya.
"Jangan... jangan. . Iebih baik kita cari cara yang lain saja untuk turun gunung ."
Dengan perkataan Lie Siauw Ie ini agaknya Liem Tou sudah dibuat ragu-ragu juga oleh kemampuan dirinya untuk balik ke perkampungan bagian belakang sudan tidak mungkin terjadi apalagi satu satunya jalan baginya sekarang untuk meloloskan diri hanya jalan ini saja membuat hatinya seketika itu juga dibuat bingung sekali.
Tapi ketika mengingat kekejamam dari Au Hay Ong Bo serta si Ang in sin pian itu Cung cu dari perkampungan le Hee Cung hatinya jadi mantap kembali, segera dia maju ke pinggir jembatan siap untuk menyeberanginya.
Melihat hal itu Lie Siauw Ie menjadi terperanjat.
"Adik Tou, jangan" teriaknya dengan keras.
Tetapi Liern Tou sudah pusatkan tenaga dalamnya, dengan satu kali loncatan dia telah meloncat ke atas kawat baja yang menghubungkan tebing yang satu dengan tebing yang lain ini, dengan menutulkan kakinya bagaikan burung walet Liem Tou sudah berhasil menyeberangi jembatan pencabut nyawa itu.
Lie Siauw Ie menjadi sangat girang sekali, dengan cepat dia bergerak siap menyeberangi juga jembatan itu,
"Cici tunggu dulu," mendadak Liem Tou berteriak dengan keras.
Dengan dua kali loncatan dia berbalik kembali ke sisi Siauw le, sambungnya lagi. "Beruntung aku bisa melewati jembatan ini tapi cici dapat menyeberangi atau tidak belum bisa ditentukan sekarang.Kini aku sudah dapatkan cara harap cici mau mencobanya terlebih dulu, bisa menyeberangi atau tidak dapat kita ketahui.”
Siauw Ie menjadi sangat heran, dengan perasaan ingin tahu dia pandang wajah Liem Tou, lama kemudian barulah tanyanya.
"Kau punya cara apa untuk mengetahui aku bisa menyeberangi jembatan ini atau tidak ?”
"Itu soal gampang," sahut Liem Tou sembari tersenyum. "Asalkan ilmu meriangankan tubuh cici bisa mengalahkan ilmuku sudah tentu cici bisa menyeberangi tempat ini. Sekarang baiklah kita masing masing meloncat ke atas sekali, jika cici bisa meloncat !ebih tinggi dari diriku itu tandanya ilmu cici lebih tinggi dari diriku.”
"Baiklah" sahut Lie Siauw Ie menyetujuinya.
Demikianlah mereka berdua segera mengerahkan tenaga dalamnya untuk kemudian bersama sama meloncat ke atas udara.
Dengan loncatan ini segera terlihatlah kalau Lie Siauw Ie ternyata bisa meloncat sama tingginya dengan loncatan Liem Tou hal ini menunjukkan kalau kepandaian ilmu meringankan tubuh dari Lie Siauw Ie memang seimbang dengan kepandaiannya Liem Tou membuat dalam hati mereka berdua diam-diam merasa amat girang sekali.
Pada saat mereka sedang merasa gembira itulah mendadak . . . dari ujung jembatan pencabut nyawa sebelah sana secara samar samar berkumandang datang suara manusia yang makin lama semakin mendekat.
“Hmmm . hmmm .. . bangsat Hek Loo jie dari Siok-to siang Moo ternyata begitu berani mencari gara-gara dengan partai Kiem Thian Pay kita, ini hari dia dapat loloskan diri boleh dikata keuntungan yang besar bagi dirinya,
hmmm . . . "
Mendengar perkataan itu Liem Tou serta Lie Siauw Ie menjadi amat terkejut, tanpa terasa lagi mereka berdua sudah mengeluarkan suara tertahan, masing-masing segera meloncat ke samping batu batu cadas dan menyembunyikan dirinya.
Beberapa saat kemudian dari bawah tebing kelihatan meluncur datang beberapa sosok bayangan manusia yang amat cepat, ditinjau dari gerakannya yang begitu ringan dan lincah sudah jelas kalau mereka merupakan jagoan yang berkepandaian sangat tinggi dan terkenal di dalam dunia kangouw saat ini, saat ini jarak mereka dengan tempat persembunyian Liem Tou masih sangat jauh sehingga sangat sukar untuk melihat jelas wajah mereka.
Perlahan-lahan beberapa sosok bayangan itu makin mendekat lagi akhirnya sudah tiba di ujung jembatan pencabut nyawa itu, saat inilah Liem Tou baru melihat mereka ternyata adalah si Soat Hu Li serta Song beng Lan sekalian dari Kiem Thian Pay.
"Cici" ujarnya kemudian kepada Lie Siauw Ie dengan suara yang amat lirih.
"Mereka-mereka itu semua adalah jago-jago dari Kiem Thian Pay yang berpusat di daerah Au Hay, orang orang itulah yang ditugaskan oleh Au Hay Ong Bo untuk datang menawan diriku."
"Adik Tou" tanya Lie Siauw Ie dengan parasaan heran. "Bagaimana kau bisa kenal dengan orang orang itu ? Jika didengar dengan perkataan siluman tua itu agaknya kau pernah mematikan putrinya, sebetulnya kau sudah terjadi urusan apa ?"
Ditanyai begitu oleh Lie Siauw Ie seketika itu juga mengingatkan Liem Tou atas peristiwa yang terjadi, dengan perasaan amat gusar sahut nya.
"Hmmm . . kurang sedikit budak anjing itu menyebabkan nyawaku hilang ditangannya, karena dia membuat jago-jago dari golongan Pek-to maupun Hek- to pada mencari diriku, bukan saja dia sudah kurung aku di dalam sebuah gua yang siang malam tidak melihat udara di tengah gunung Ngo Lian Hong bahkan sering dia pukul hingga aku terluka parah, akhirnya aku kirim satu pukulan maut yang mencabut nyawanya sehingga dendamku selama ini bisa kubalas.”
"Adik Tou" ujar Lie Siauw Ie sembari menghe!a napas perlahan. 'Sejak saat itu kau turun gunung, siang malam aku selalu memikirkan keselamatan dirimu tidak kusangka kau betul-betul menemui kesulitan dan berbagai siksaan yang begitu hebat. Heei . ."
Dengan peruh kemesraan Liem Tou memeluk pinggang Lie Siauw Ie, ujarnya dengan nada penuh kasih sayang.
"Cici, aku pun selalu merindukan diri cici sejak aku dengar berita yang mengatakan cici menjadi gila, aku.. tahukah.. adikmu menjadi sedih sekali, hanya aku gemas tidak punya sayap sehingga bisa cepat terbang ke sisi cici dan melihat keadaan yang sesungguhnya."
"Waktu itu aku hanya pura-pura gila," sahutnya sembari tersenyum. "Saat itu aku betul-betul galak sekali, orang-orang keluarga Pouw yang tidak tahu malu itu setiap hari datang ke rumah ku mendesak ibuku agar aku dijodohkan dengan Pouw Siauw Ling, karena gusarnya aku terus saja pura- pura menjadi gila dan kasih hajaran pada mereka, jika bukannya saya mau dengar omongan ibuku serta Jien Coei cici hendak ngasih hajaran mereka dengan senjata rahasianya Cu Gien Ciam."
Setelah mendengar kisah inilah Liem Tou baru sadar kembali kejadian apa yang sudah terjadi.
Saat ini si Soat Hu Li serta Song Beng Lan sudah berhasil melewati jembatan Pencabut nyawa itu dan melanjutkan perjalanan mereka menuju ke dalam perkampungan le Hee Cung.
oooXooo
9
Sesudah melihat bayangan mereka sekalian lenyap dibalik perkampungan barulah Liem Tou berani munculkan dirinya, sembari menarik tangan Lie Siauw Ie ujarnya.
"Cici, meminjam kesempatan tidak ada orang yang menyeberangi jembatan in marilah kita cepat berlalu”
Kedua orang itu dengan cepat meloncat bangun dan berdiri menuju ke tepi jembatan.
“Cici”ujar Liem Tou kembali. “Kau meloncatlah terlebih dulu tapi harus berhati-hati”
“Tidak” bantah Lie Siauw le dengan cepat. “Kau menyeberanglah terlebih dulu.”
Siapa tahu perkataan ini diucapkan dari dalam Perkampungan secara tiba- tiba berkumandang datang beberapa kali suitan yang amat nyaring dan memekikkan telinga kemudian disusul dengan suara suitan yang saling susul-menyusul dari segala penjuru.
Dengan cepat Liem Tou menoleh ke belakang terlihatlah sinar obor yang terang benderang sudah mulai muncul di seluruh penjuru sekitar perkampungan itu kemudian dengan cepat bergerak menuju ke arah mereka berada bahkan di depan gerombolan orang-orang yang membawa obor itu berkelebat sesosok bayangan putih yang amat jelas sekali.
Dibelakang bayangan putih itu muncullah berpuluh puluh bayangan hitam yang mengejar dari belakangnya gerakan mereka ketat cepat bagaikan bertiupnya angin taupan, hanya di dalam sekejap saja titik-titik hitam itu sudah mula mendekat.
Segera Liem Tou menjadi sadar kembali bahwa mereka-mereka itu pastilah orang orang yang sedang mengejar diri gadis cantik pengangon kambing yang memakai pakaian warna putih itu, tanpa terasa lagi dia menjadi sangat terkejut, perasaan terperanjat ini bukanlah dikarenakan kuatir atas keselamatan gadis cantik pengangon kambing itu melainkan karena arah yang dituju mereka semua justru mengarah dimana kini dia berdua berada.
Dia tahu walau pun usia dari gadis cantik pengangon kambing itu masih sangat muda tapi kepandaian silatnya betul-betul sudah mendapatkan warisan dari ayahnya Lie Loo jie, ayahnya Lie Loo jie terbukti bisa melawan
Thian Pian Siauw cu dengan seimbang sudah tentu Au Hay Ong Bo tidak mungkin berhasil melukai dirinya.
Tapi yang membuat pikirannya menjadi bingung adalah arah yang jurusan mereka tempuh, jika mereka berdua tidak lekas-lekas meninggalkan tempat ini pastitah jejak mereka segera akan ditemukan, sampai waktu itu sudahlah mesti tidak mungkin baginya untuk melarikan diri.
Berpikir sampai disini tanpa berpikir lebih panjang lagi dengan cemas teriaknya.
“Cici, mereka sudah datang, kalau kau tidak mau lawan terlebih dulu baiklah aku yang menyeberangi dulu."
Sehabis berkata segera dia pusatkan tenaga dalamnya kemudian meloncati Jembatan Pencabut nyawa itu.
Tanpa mereka duga sesosok bayangan hitam sejak tadi sudah mengincar diri mereka bahkan semua perkataan yang mereka berdua katakan
sudah didengar olehnya, orang itu dengan rapatnya menyembunyikan dirinya di samping Liem Tou berada di tengah jembatan baru melancarkan serangan mengganggu dirinya.
Orang yang sembunyi di sisi jembatan pencabut nyawa itu bukan lain adalah salah satu anggota dari Siok to Siang Mo, Hek Loo-jie adanya.
Tadi sesudah dikejar oleh Soat Hu Li serta Song Beng Lan sekalian dari Kiem Thian Pay sehingga memaksa dia melarikan diri turun gunung dengan cepat dia menyelinapkan dirinya di suatu tempat kegelapan, dengan tidak perduli hubungan persaudaraan selama tiga tahun lamanya dia menyiksa dan menganiaya Hek Lotoa hanya bertujuan merebut kitab pusaka To Kong Pit Liok, ternyata sebelum dia peroleh sudah keburu didapatkan oleh Liem Tou, sudah tentu saat ini dia tidak rela meninggalkan puncak gunung Ha Mo San ini begitu saja.
Menanti sesudah beberapa orang jago dari Kiem Thian Pay ini naik kembali ke atas gunung dengan perlahan barulah dia meloncat keluar dari tempat persembunyiannya untuk selanjutnya meloncat ke pinggir tebing di samping Jembatan pencabut nyawa tersebut.
Saat itulah secara tiba-tiba dia merasa di samping jembatan ada orang yang sedang bersembunyi, dengan cepat dia menyingkir ke samping untuk melihat jelas orang tersebut.
Tak terkira girang hatinya setelah diketahui mereka ternyata adalah sepasang muda-mudi yang tidak bukan adalah Liem Tou serta Lie Siauw Ie. Diam-diam dalam hatinya mulai mengambil perhitungan, pikirnya:
“Hmmm..kali ini jika itu kitab pusaka To Kong Pit Liok sekali lagi lolos dari tanganku maka bangsat cilik she Liem itu harus dimusnahkan agar itu kitab pusaka untuk selamanya terkubur di dasar jurang "
Begitulah ketika dilihatnya Liem Tou sudah berada di tengah jembatan Pencabut nyawa itu secara tiba-tiba dia tertawa tergelak dengan amat kerasnya.
"Hey Liem Tou "teriaknya dengan berang. “Kali ini aku mau lihat kau lolos tidak dari cengkeraman aku orang tua."
Bersamaan suara bentakan tersebut Hek Looji meloncat keluar dari tempat persembunyiannya kemudian meloncat ke atas rantai jembatan pencabut nyawa itu siap menghadapi serangan musuh.
Munculnyr Hek Looji secara mendadak ini membuat Liem Tou betul-betul merasa amat terperanjat, bila Lie Siauw Ie yang berada di belakangnya begitu dilihatnya Hek Looji muncul secara tiba-tiba menghalangi kepergian mereka segera menjerit keras.
"Adik Tou cepat kembali ... adik Tou cepat kembali..."
Liem Tou seudiri juga tahu kalau Hek Looji sedang menghalangi perjalanan mereka, segera dia tarik napas panjang untuk memberatkan badannya di atas kawat sedang dalarn hati diam-diam mulai mengambil keputusan.
Dia tahu jika saat itu Hek Looji melancarkan serangan ke arahnya, bagi dirinya tempat untuk menghindarkan diri tidak mungkin ada bahkan jika menerima serangan musuh dengan keras lawan keras hal ini akan mengakibatkan berat badannya semakin bertambah sehingga kemungkinan kawat yang diinjak akan putus.
Didalam keadaan yang amat kritis itulah suatu pikiran berkelebat didalam hatinya, tanpa berpikir panjang lagi dia sudah mengikutr suara teriakan dari Lie Siauw le, tubuhnya dengan cepat meloncat ke atas udara kemudian bersalto beberapa kali, ujung kakinya menutul kawat rantai siap meloncat balik ke tempai semula.
Dengan gerakannya ini sama saja suatu kesalahan di tambah lagi dengan kesalahan yang lain, segera terdengar Hek Looji tertawa keras sambil bentaknya."
"He he he .. Liem Tou, jika kau betul-betul berani meloncat ke sini kemungkinan karena memandang pada itu kitab pusaka To Kong Pit Liok aku tidak akan sampai mencelakai nyawamu, tapi kini kau malah balik ke arah sebelah sana, kau jangan salahkan hatiku terlalu kejam. Hey Liem Tou , ini hari pada setahun lagi merupakan ulang tahun kematianmu yang pertama, he he . pergilah."
"Cring .." Suatu suara yang sangat nyaring segera berkumandang dari bawah kaki Liem Tou.
Mendengar suara itu Liem Tou menjadi sangat terperanjat, dalam anggapannya tentu Hek Loo jie sedang menyambit senjata-senjata rahasia yang amat berbisa, tubuhnya dengan cepat melompat ke tengah udara untuk kemudian melayang kembali ke tempat semula.
Pada saat itulah dia memandang ke bawah, terlihatlah kegelapan di bawah kakinya gelap gulita kawat rantai yang semula terbentang di bawah kakinya kini sudah lenyap tanpa bekas, yang ada hanyalah suatu jurang yang dalamnya sampai tak tampak dasarnya.
"Celaka!” teriaknya dengan keras.
Dengan cepat dia menarik hawa murninya dalam pusar, walaupun kini kawat sudah terputus, dia tetap berusaha untuk bersalto dan berjumpalitan ditengah udara.
Apa daya kemauan ada tapi tenaga kurang, apalagi jarak dimana dia kini berada dengan tepi tebing ada berpuluh puluh kaki jauhnya, tubuhnya dengan cepat meluncur ke bawah dengan kecepatan yang luar biasa.
Melihat keadaan dari Liem Tou, Lie Siauw le merasa betul-betul seperti disambar petir, tanpa terasa lagi dia sudah berteriak amat keras.
"Adik Tou..Adik Tou !"
Teriaknya belum sampai terdengar, Liem Tou dengan menggunakan tenaganya yang terakhir juga sedang berteriak.
"Cici..! "
Tapi kata cici yang terakhir sudah berkumandang keluar dari dalam jurang yang dalamnya puluhan kaki dari atas tebing.
Perubahan yang terjadi secara taba-tiba itu membuat Lie Siauw le seketika itu juga kehilangan kesadarannya, di tengah suara tertawa Hek loo jie yang amat keras itu sekali lagi teriaknya.
"Adik Tou .. adik Tou .. "
Tubuhnya dengan cepat berkelebat terjun ke dalam dasar jurang yang sangat dalam itu.
Pada waktu Lie Siauw le terjun kedalam jurang menyusul diri Liem Tou itulah dari tepi jurang secara mendadak berkumandang suara bentakan yang sangat nyaring disusul dengan berkelebatnya bayangan putih yang amat cepat melayang kedalam jurang, hanya di dalam sekejap saja bayangan itu sudah lenyap dari pandangan.
Menanti Au Hay Ong Bo serta Ang in sin pian sekalian tiba di tepi jurang terlihatlah suasana di dalam jurang sudah berubah tenang kembali, diantara mereka hanya Au Hay Ong Bo seorang saja yarg memiliki kepandaian silat paling tinggi masih sempat melihat sesosok bayangan putih yang berkelebat dengan amat cepatnya kemudian lenyap.
Keesokan harinya, berita kematian Liem Tou, Lie Siauw Ie serta gadis cantik pengangon kambing yang binasa di dasar jurang tepi Jembatan pencabut nyawa dari sekarang tersebar kepada orang yang lain, tidak sampai satu dua jam seluruh perkampungan Ie Hee Cung sudah tahu akan berita tersebut.
Lie si itu ibunya Lie Siauw le sejak ditinggal pergi oleh puterinya berserta Liem Tou selama semalaman sudah merasa sedih kini mendengar kematian mereka berdua di dasar jurang seperti juga guntur yang menyambarnya disiang hari bolong.
Semula dia masih tidak mau percaya atas berita itu, tetapi sesudah melihat dengan mata kepala sendiri kalau rantai jembatan pencabut nyawa itu betul-betul sudah putus barulah dia mau percaya dengan berteriak keras dia sudah jatuh tak sadarkan diri.
Akhirnya walau pun berhasil ditolong oleh orang lain tapi tetap tak mau meninggalkan tempat itu. Selama tiga hari tiga malam lamanya dia terus menangis saja, bila bukannya ada orang yang menjaga di sampingnya mungkin sejak semula dia sudah ikut terjunkan diri ke dalam jurang menyusul putrinya.
Sampai hari keempat tangisan dari ibunya Lie Siauw le sudah mulai serak sedang air matanya pun sudah kering, karena itulah sepasang matanya menjadi buta. Pada hari kelima dia meninggal dunia dengan tenang semua rakyat di dalam perkampungan tidak ada yang merasa sedih dan menghela napas atas peristiwa ini.
Kira balik kepada Liem Tou yang menggunakan tenaganya yang terakhir berteriak "Cici” tubuhnya dengan cepat bagaikan kilat meluncur ke kebawah dengan amat santarnya.
Waktu ini dia merasakan angin dingin yang menyambar badannya hingga menusuk ke tulang sumsum, pada waktu itu dia tidak sanggup membuka matanya hanya di dalam hati secara diam-diam dengan sedih menghela napas panjang.
“Habislah sudah, kali ini habislah sudah diriku!”
Tetapi walau pun dia tidak punya harapan lagi untuk hidup di dalam benaknya masih pikirkan suatu keinginan untuk meloloskan diri dari bencana ini.
Tanpa terasa lagi semangatnya menjadi berkobar kembali dengan paksakan diri dia pentangkan matanya lebar-lebar.
Mendadak pandangan matanya terbentur dengan berjuta-juta bintang yang memancarkan sinar gemerlapan di angkasa, hatinya menjadi teramat heran, pikirnya.
“Waktu ini aku sedang jatuh ke dalam jurang dan meluncur dengan cepatnya mengarah dasar jurang yang amat curam, darimana datangnya bintang-bintang di hadapanku ini?”
Pada waktu pikirannya sedang berputar itulah cepat cepat dia tutup semua pernapasannya diikuti suatu gerakan yang amat keras sekali.
Liem Tou hanya merasakan punggungnya terbentur dengan benda yang amat keras sehingga menggetarkan seluruh isi badannya, pandangannya menjadi kabur dan berkunang-kunan ketika itu juga dia jatuh tidak sadarkan diri.
Entah lewat beberapa waktu lamanya, di tengah pingsannya dia merasakan pinggangnya teramat sakit sehingga dia menjadi sadar kembali tanpa bisa mencegah darah segar segera memancar keluar dari mulutnya dengan amat keras.
Waktu itulah dia baru sedikit merasakan badannya menjadi segar, perlahan lahan suaranya dipentang lebar-lebar dan memandang keadaan sekeliling tempat itu. Terlihatlah tepat disisi dimana dia berbaring terdapatlah sebuah sungai lebar yang airnya mengalir dengan amat deras, bilamana dirinya terjatuh tepat di atas sungai apa yang akan terjadi selanjutnya? hal ini
membuat Liem Tou merasa bulu kuduknya pada berdiri.
Perlahan-lahan dia merangkak bangun dari atas batu cadas, dimana tadi dia berbaring kemudian memandang keadaan sekitar tempat itu.
Terlihatlah dua buah puncak yang amat tinggi mengelilingi suatu lembah yang sempit, pohon rotan tumbuh dengan lebatnya diseluruh tebing sehingga menyerupai naga yang sedang berkelompok ditambah dengan suara teriakan kera-kera, pemandangannya sangat indah sekali.
Melihat pemandangan ini Liem Tou yang baru sadar dari pingsannya menjadi termangu-mangu.
“Tempat manakah ini?” pikirnya dalam hati.
Mendadak dalam ingatannya berkelebat suatu syair dari penyair terkenal" Lie Thay Pak” didalam syairnya "Ha Kiang Ling" yang memuat kata-kata.
“Suara kera saling sahut-menyahut memenuhi dua tebing, perahu layar berdayung melalui gunung curam".
“Apa mungkin aku sudah sampai di selat Sam Shia?? kalau begitu gunung yang berada di depan pastilah gunung Wu San.?”
Dia pandang sebentar keadaan cuaca, awan berkumpul dan bertumpuk-tumpuk amat tebal meinbuat cuaca agak gelap sehingga mirip sekali hendak turun hujan lebat, perlahan-lahan dia bangkit berdri dan melemaskan ototnya, semua badan terasa amat linu dan kaku bahkan terasa amat sakit apalagi badannya yang tadi separuh terpendam di dalam air kini terasa mulai mengejang dan memutih.
Dia tidak berani meloncat kembali ke dalam sungai, selangkah demi selangkah dia mulai berjalan melalui batu cadas yang amat curam, belum sampai beberapa kaki jauhnya terasa mulai tergoyang dan terhuyung-huyung, tak tertahan sekali lagi dia menjatuhkan diri keatas tanah tidur di atas batu itu.
Mananti dirasanya suatu hawa dingin menusuk ke dalam badannya barulah dia sadar kembali dari pulasnya, saat itu hujan sedang turun dengan amat derasnya cuaca amat gelap agaknya malam hari sudah tiba sahingga empat penjuru hanya terlihat kegelapan saja air sungai mendebur memecahkan ombak di tepian membuat suasana begitu sunyi sangat menyeramkan.
Liem Tou yang kejauhan kini benar benar di buat bingung oleh keadaan yang dihadapinya, perutnya lapar, badannya dingin apalagi di tengah selat yang sunyi di antara kedua gunung yang amat tinggi, harus kemanakah dia pergi? kemana dia harus meneduh menangsal perutnya yang lapar?
Waktu ini biar pun badannya terasa amat linu dan lelah mau tak mau dia harus berdiri juga, waktu ini buat dirinya hanya dua jalan saja untuk melanjutkan hidupnya pergi dari sana atau tetap berbaring di tempat itu tetapi kedua jalan ini pun harus menempuh bahaya.
Pada waktu Liem Tou sedang ragu-ragu itulah dari tempat kejauhan secara samar-samar terdengar suara orang yang sedang bersembahyang dan memuji Budha, suara ini perlahan sekali tetapi cukup membuat semangat Liem Tou berkobar kembali pikirannya.
Di tengah selat yang begitu sunyi begini liarnya bagaimana bisa ada suara sembahyangan jika didengar dari suara itu di sekitar tempat ini pasti ada kelenting.
Berpikir sampai disini matanya mulai berkeliaran memandang sekeliling tempat itu, walau pun waktu ini cuaca sangat gelap tapi dia bisa melihat sekitar tempat itu dengan amat jelas, hal ini disebabkan latihan yang diperoleh secara tidak sengaja sewaktu dikurung didalam gua gelap diatas puncak Giok Lian Hong.
Tetapi walau pun sudah dipandang beberapa waktu, jangan di kata kelenting sakalipun bayangannya juga tidak tampak. Tetapi dia tidak menjadi putus asa, disaat ini dia membutuhkan tempat berteduh, tempat untuk mendahar karenanya dengan lebih teliti lagi dia pandang dan mendengar benar juga dari samping sebelah kanannya secara samar samar mulai terdengar kembali suara sembahyang itu.
Cepat cepat dia meraba keatas dengan mencekal ranting ranting yang tumbuh disekeliling tempat itu untung saja pisau pusaka pemberian gadis cantik pengangon kambing masih ada sehingga banyak membantu gerakannya kali ini.
Beberapa saat kemudian mendadak tempat yang diinjak berubah, tangga tangga batu yang masih utuh muncul dihadapannya, walaupun waktu ini tangga tangga batu itu tertutup oleh rerumput tetapi keadaaanya amat bersih dan terawat, melihat hal tai Liem Tou segera sadar di tempat itu pasti ada penghuninya.
Ternyata dugaannya sedikitpun tidak salah semakin dia berjalan dengan mengikuti tangga-tangga batu itu suara sembahyangan tersebut semakin terdengar jelas, bahkan bisa terdengar setiap kata kata yang diucapkan, suara orang itu amat rendah dan berat bahkan memiliki suatu daya tarik yang menggidikkan.
Waktu ini Liem Tou betul-betul merasa lapar dan dahaga ditambah lagi mendengar suara sembahyangan yang mempunyai daya pengaruh aneh, kontan saja badannya mulai terhuyung- huyung dan jatuh terduduk.
Cepat-cepat dia duduk bersila dan mulai mengatur pernapasannya dengan mengikuti petunjuk dari kitab pusaka Toa Loo Cin Keng dalam bagian pernapasan. Tidak selang lama kemudian seluruh badannya mulai terasa menjadi segar dan bertenaga kembali.
Tetapi pada saat itu juga terdengar suara jeritan serta cit-citan kera-kera yang amat santar kemudian disusul dengan suara berlarinya kera-kera itu untuk menyembunyikan dari keempat panjuru. Melihat hal ini diam diam pikir Liem Tou didalam hatinya.
“Kera-kera itu melarikan diri dengan begitu gugup, apa mungkin sudah kedatangan binatang buas lainnya?"
Berpikir sampai disini tanpa terasa hatinya menjadi berdebar dengan amat keras sedang pisaunya pun dipegang semakin kencang, matanya bagaikan mata elang dengan tajam memperhatikan sekeliling tempat itu.
Mendadak terlihat olehnya dari ujung puncak penyeberangan berkelebat bayangan manusia dengan cepatnya, hanya di dalam sekejap mata sudah lenyap dari pandangan.
Liem Tou menjadi melengak.
"Siapa mereka itu ?" pikirnya di dalam hati.
Mcndadak suara sembahyangan yang tadi terdengar berhenti secara tiba tiba disusul suara bentakan seseorang dengan nadanya yang amat rendah dan berat.
"Sicu dari mana yang sudah datang ? ? Cepat sebutkan namamu."
"Siapa orang ini ?" Pikir Liem Tou dengan amat terperanjat."Jika didengar dari nada suaranya kini dia berada kurang lebih seratus langkah dari tempat aku berdiri sekarang tetapi bagaimana dia bisa tahu kedatanganku ini? Hmmm tenaga dalamnya tentu amat sempurna sekali, kalau tidak bagaimana dia bisa tahu tempat persembunyianku ? Lebih baik aku keluar saja untuk minta bertemu."
Baru saja dia mau keluar dari tempat persembunyiannya mendadak suara tertawa yang amat panjang memekikkan telinga kemudian disusul jawaban dari seseorang.
“Pengemis busuk serta aku Thiat Sie-poa rongsokan dari daerah Tionggoan ingin bertemu dengan Chie Liong To atau Penjahat naga merah yang terkenal pada dua puluh tahun yang lalu."
Sekali lagi Liem Tou dibuat terperanjat setelah mendengar suara orang itu karena orang itu adalah Thiat Sie sianseng serta pengemis pemabok, ada dua orang itu disini berarti dirinya juga mendapatkan pertolongan karenanya hatinya menjadi amat girang sekali, cepat-cepat dia siap keluar untuk berteriak.
Tetapi pikirannya segera berubah, pikirnya,
“Lihat-lihat dulu mereka bardua datang kemari ada urusan apa?” karenanya pandangannya mendadak berubah terlihatah sebuah selat yang amat kecil muncul dihadapannya selat itu bentuknya amat aneh sekali dan berbentuk amat sempit sehingga bila dilihat dari atas sangat mirip sebuah retakan kecil diantara dua gunung tinggi.
Liem Tou merangkak semakin mendekat lagi, terlihatlah sebuah rumah yang amat besar bentuknya muncul di hadapannya, rumah itu tidak mirip sebagai sebuah kelenting tempat beribadah melainkan sebuah rumah hartawan yang sangat besar dan kokoh.
Waktu ini didepan pintu rumah berdirilah si pengemis pemabok serta si Thiat Sie poa sedang dihadapannya berdirilah seorang hwesio gundul dengan bentuk badan tinggi besar. Walaupun pandangan mata Liem Tou amat tajam tetapi waktu ini tak dapat melihat lebih jelas lagi bagaimana bentuk wajah hwesio gundul itu, hanya saja sepasang matanya memancarkan sinar yang amat tajam dan menyilaukan saban orang yang memandang ke arahnya.
Liem Tou tahu orang itu pastilah seorang Bu lim yang mempunyai kepandain sillat yang amat tinggi, dia tak berani berlaku gegabah maka dengan perlahan tubuhnya mundur kemball dua langkah kebelakang, dua langkah untuk menyembunyikan diri.
Siapa tahu baru saja badannya mundur dua langkah ke belakang mundadak tubuhnya menginjak suatu benda yang amat Iemas dan empuk, cepat-cepat dia tundukkan kepalanya memandangnya.
"Haaa . . . ." Sesosok mayat menggeletak di atas tanah dengan keadaan mengenaskan.
Liem Tou benar-benar terperanjat melihat keadaan mayat itu, dengan memberanikan diri dia menjongkok dihadapan mayat tersebut dan meIihat lebih jelas lagi, kiranya dia adalah ciangbunjin dari partai Bu Toug pay Leng Ceng Cu adanya.
Keadaan mayat dari ciangbunjin Bu Tong pay ini masih segar hal ini membuktikan baru saja dia binasa belum lama hanya saja badannya sudah hancur oleh pukulan yang amat hebat. Liem Tou segera tahu kalau tempat ini adalah tempat berbahaya.
Seketika itu juga dia memandang kembali ke arah si pengemis pemabok dan Thiat Sie poa kelihatan mereka bertiga sedang membicarakan sesuatu, agaknya mereka berdua tidak mangetahui kalau Leng Ceng Cu sudah binasa pikirnya.
"Buat apa meraka datang kemari mencari hweesio gundul itu ?"
Terdengar hweesio gundul itu dengan suaranya yang amat rendah dan berat sudab angkat bicara kembali.
"Orang budiman tak berbohong, kalian kemari ada urusan apa ? Si penjahat naga merah sekali pun berupa bajingan besar pada tempo hari tapi kini sudah menjadi pendeta. Aku sangat tidak senang melihat kalian beberapa kali datang mengacau ketenangan padaku"
"Terhadap kau kami berdua masih bisa menyebut kau sebagai seorang Cianpwee" jawab si Thiat Sie-poa.” Tapi kami berdua terang-terangan baru kali ini datang berkunjung bagaimana kau mengatakan sudah berkali kali? Omong terus, terang saja kami datang kemari hanya bertujuan pada kitab pusaka To Kong Pit Liok itu saja”
Mendengar disebutkannya kitab pusaka To Kong Pit Liok pikirnya Liem Tou seketika itu juga berkelebat suatu ingatan pikirnya.
“Sewaktu Hek Loo toa menjelang kematiannya dia pernah menulis sebuah hurup Wu dengan darahnya, apa mungkin gunung Wu san ini yang ditunjuk ?"
Setelah mendengar perkataan dari si Thiat siepoa ini agaknya si penjahat naga merah dibuat gusar.
"Siapa yang beritahukan urusan ini kepada kalian ?” bentaknya.
"Selain dia siapa lagi ?" Seru Thiat Siepoa sembari memukulkan siepoanya pulang pergi.
Dia berhenti sebentar lalu sambungnya lagi.
"Tapi, agaknya kitab pusaka To Kong Pit Liok itu sampai kini belum kau dapatkan, bukan begitu ?"
Saat ini si pengemis pemabok yang berada di sampingnya ikut angkat bicara.
“Haa... haaa, . . hey Thiat Sie heng aku tidak percaya sie poa rongsokanmu itu bisa begitu lihay"
"Ha ha ha. . . kalau tidak percaya nanti kau boleh lihat sendiri” jawab Thiat sie poa tertawa terbahak-bahak. “Kenapa kau tidak pikir bila dia sudah peroleh kitab pusaka To Kong Pit Liok itu buat apa masih berada disini ?"
"Hmm, cukup " dengus si penjahat naga merah memotong pembicaraan mereka. "Walau pun saat ini kitab pusaka To Kong Pit Liok belum aku dapatkan tapi sudah berada di dalam cengkeramanku, ini hari kalian sudah mangetahui rahasia ini jangan harap bisa meninggalkan tempat ini dalam keadaan hidup. Leng Ceng Cu dari Bu Toug pay juga seperti kalian tidak tahu diri kini sudah binasa ditanganku, aku kira kalian berdua pun sebentar lagi akan seperti dia"
Si Thiat Siepoa serta si pengemis pemabok menjadi amat terperanjat, bersama-sama tanyanya.
“Apa benar perkataanmu itu?”
“Hm..hm..siapa yang menipu kalian?”
Mendadak dengan disertai suara bentakan yang keras dia melancarkan satu serangan dahsyat.
“Lihat serangan”
"Blaaam. . "suara yang dahsyat memecahkan kesunyian menyerang Thiat sie poa berdua.
Bersamaan dengan serangan dahsyat itu Thiat sie poa berteriak keras.
"Hey pengemis busuk hati-hati."
Liem Tou yang bersembunyi dibalik batu tahu bahwa diantara mereka bertiga sudah melakukan pertempuran karenanya dia bergerak lebih mendekat lagi. Terlihatlah si penjahat naga merah berdiri tegak ditempat semula sedang si Thiat sie poa serta si pengenais pemabok berdiri berpisah, yang satu di sebelah kiri yang lain di sebelah kanan dengan pandangan tajam memandang gerak-gerik si penjahat naga merah itu.
Terdengar sipenjabat naga merah itu tertawa dingin lagi, ujarnya.
"Didalam Bu lim waktu ini selain Lie Loojie, si majikan elang sakti serta Loo Ciang dari partai Kiem Thian Pay, seperti kalian-kalian ini hanya gentong-gentong nasi semua, buat apa hantar kematian dengan sia-sa”
Selesai berkata tangannya dengan mangerahkan tenaga pukulan yang amat dahsyat melancarkan satu pukulan hebat mengarah si Thiat sie poa yang berada disebelah kanan agaknya si Thiat sie sianseng tahu bahwa dia bukan tandingannya, badannya dengan cepat melayang dua kaki kebelakang menghindari datangaya serangan tersebut.
Sedangkan sipengemis pemabok dengan meminjam kesempatan sewaktu dia sedang melancarkan satu serangan kearah Thiat sie sianseng tadi segera melancarkan satu serangan mengarah perutnya.
Siapa tahu si penjahat naga merah sama sekali tak manggubris datangnya serangan itu, menanti serangan tersebut hampir mengenai tubuhnya mendadak si penjahat naga merah mengebutkan ujung bajunya.
"Hey pengemis tua, jangan " teriak si Thia sie sianseng ketika melihat keadaan yang sangat kritis itu.
Tapi keadaan sudah terlambat, tubuh si pengemis pemabok seketika itu juga dipukul mundur tujuh delapan langkah ke belakang oleh serangan tak berwujud itu.
Tanpa terasa Liem Tou merasa kuatir juga atas keselamatan si pengemis pemabok, agaknya dia sudah terluka parah oleh serangan itu, begitu badannya mundur kebelakang dengan terbuyung-huyung kemudian jatuh duduk ketanah,tidak bergerak lagi.
Hal ini jauh berada diluar dugaan semua orang. Liem Tou sendiri juga amat terperanjat, dia sama sekali tidak menduga kepandaian silat dari si penjahat naga merah bisa begitu lihaynya, bersamaan pula dia merasa cemas terhadap keselamatan dari si pengemis pemabok, kini dia sudah jatuh terduduk, jika misalnya si penjahat naga merah melancarkan satu serangan kembali apa yang akan terjadi atas diri si pengemis pemabok?
Untung saja sipeniahat naga merah tidak melakukan hal ini, mendadak dia putar badannya mendesak kearah si Thiat sie poa.
“Kali ini habis sudah” pikir Liem Tou di dalam hati, “Tadi sekali pun si Thiat Sie sianseng serta si pengemis pemabok bergabung pun masih bukan tandingannya, apalagi kini yang satunya sudah terlalca parah mana mungkin Thiat sie-sianseng kuat menahan serangannya?”
Mendadak si Thiat si non bersuit panjang dengan amat nyaringnya sehingga menggetarkan seluruh selat, badannya dengan cepat bagaikan kilat melayang dan melarikan diri keluar selat.
Waktu itu Liem Tou sedang memusatkan semua perhatiannya menonton jalannya pertempuran, ketika dilihatnya Thiat sie poa melarikan diri kearahnya cepat cepat dia menyembunyikan dirinya kesamping dan pada saat yang bertepatan pula tubuh Thiat sie poa sudah berkelebat melalui sisi badannya.
"Hmmm. Kau mau melarikan diri?" bentak si penjahat naga merah dengan suaranya yang dingin rendah dan amat berat.
Badannya dengan cepat mengejar dari arah lakang, hanya didalam sekejap mata kedua bayangan itu sudah lenyap dari pandangan, harya terdengar suara kera-kera yang ribut berteriak dan melarikan diri diseberang sana.
Setelah melihat kedua bayangan itu lenyap dari pandangan, barulah Liem Tou berani menghunjukkan dirinya untuk menolong diri si pengemis pemabok, badannya dengan cepat bangkit berdiri dari tempat persembunyiannya dan berjalan menuju kesisi badan si pengemis pemabok, ujarnya.
“Cianpwee bagaimana keadaan lukamu?”
Waktu ini si pengemis pemabok sedang duduk bersila mengerahkan tenaganya untuk menyembuhkan luka yang diseritanya, karena itu terhadap semua perkataan dari Liem Tou dia sama sekali tidak mendengarkan.
Melihat hal ini Liem Tou betul-betul menjadi amat cemas sekali, jika tiba-tiba si penjahat naga merah balik kembali apa yang akan terjadi?
Terpaksa Liem Tou berdiri di sisinya menanti dengan cemas, dia akan menunggu si pengemis pemabok selesai menyembuhkan lukanya untuk kemudian bersama-sama meninggalkan tempat bahaya ini.
Pandangannya perlahan-lahan dialihkan ke atas bangunan besar di hadapannya, kelihatan rumah itu dibuat dari tembok yang kokoh, pintunya bercat merah dan kelihatan sangat megah sekali.
Suatu keiuginan untuk tahu segera, muncul meliputi hatinya tanpa terasa Iagi dia sudah berjalan mendekati pintu bangunan itu.
Baru saja kakinya menginjak pintu rumah, segera terilhatlah keadaan di dalam ruangan amat bersih sekali hanya saja secara samar-samar terdengar suara rintihan yang amat perlahan.
Tanpa terasa Liem Tou menjadi terte gun dibuatnya, cepat cepat dia hentikan langkahnya dan mendengarkan suara itu dengan seluruh perhatiannya.
Agaknya suara rintihan tersebut berasal dari ruangan sebelah kiri, hatinya segera berpikir dan mengambil keputusan, sedang langkah kakinya pun sudah berputar ke arah sebelah kiri.
Baru saja berjalan dua langkah, mendadak suara rintihan berubah menjadi perkataan yang tidak jelas, hanya saja suara itu amat lama dan perlahan sehingga Liem Tou harus menghentikan langkahnya dan mendengar lebih teliti lagi.
Lama sekali barulah dia bisa mendengar kaa kata itu.
"Mo Ku Tiauw Cong Ci Cie Tong. . .”
Mendengar kata-kata itu Liem Tou saking terperanjatnya hampir-hampir menjerit kaget, inilah kata-kata atau kode rahasia untuk mendapatkan kitab pusaka "To Kong Pit Liok” itu, semangatnya tanpa terasa berkobar kembali, cepat-cepat jawabnya.
"Pak Bun Kong Cen Tui Ja Kang ."
Selesai dia mengeluarkan kata-kata ini orang di sebelah sana segera memperkeras suaranya bahkan kali ini Liem Tou sudah mendengar suara itu berasal dari seorang perempuan sambungnya.
"Pek Hwie Sian Po Tong Ang Hwee."
"Wu Ting Liau Soat Ta Cuang."
"Siapa kau ?” tanya orang itu lagi.
"Makan tanpa ikan, pergi tanpa kereta tak punya rumah tinggal, hamba bukan manusia," jawab Liem Tou cepat.
Segera terdengarlah suara orang itu berubah menjadi amat nyaring dan penuh diliputi kegembiraan.
"Ooh. sudah datang. . sudah datang " serunya kegirangan.”Akhirnya, datang juga orangnya, tapi kau bukan In-jien ku aku tahu kau bukan tuan penolongku bukan begitu ? sekarang beritahukan kepadaku. Apakah tuan panolongku baik baik saja ?"
Mendengar pertanyaan ini Liem Tou betul-betul dibuat bingung harus memberi jawaban yang bagaimana, akhirnya sesudah berpikir keras beberapa waktu lamanya barulah sahutnya.
"Caybe bernama Liem Tou dan Hek Loo cian pwee-lah yang perintahkan aku datang kemari, entah bigaimana sebutan dari cianpwee disana, sekarang berada dimana, apakah cayhe boleh bertemu ?"
( Bersambung ke jilid 14 )
“Oooh kau.. kau bernama Liem Tou ???„ Seru orang itu. "Baiklah tapi kau tak usah bertemu, aku hanya seorang nenek yang buta sepasang matanya, pada lima tahun yang lalu berkat pertolongan tuan penolongku nyawaku berhasil diselamatkan hingga hari ini maka aku mau dengan rela menjagakan harta kekayaannya di tempat ini dan menanti orang yang menggunakan kode rahasia itu datang mengambil barang tersebut sekarang kau sudah datang, aku boleh serahkan barang itu kepadamu."
Hati Liem Tou terasa bergetar oleh kata-katanya ini, dia merasa ikut berduka atas kejadian yang menimpa padanya karena itu segera sahutnya:
“Kalau memangnya cianpwee tidak ingin bertemu dengan cayhe, cayhe akan turut perintah.”
"Sekarang aku mau beritahukan tempat simpannya barang barang tuan penolongku, ujar orang itu lagi. "Barang itu sekarang disimpan didalam sebuah sumur kering di belakang halaman rumah ini, karena mataku sudah buta belum perlu aku kesana untuk melihat dan tak tahu barang barang berharga apa saja yang berada disana, tapi aku hanya tahu di dalam sumur kering itu ada sebuah jalan rahasia yang menghubungkan tempat itu dengan sungai. Baiklah perkataan sudah kujelaskan sekarang aku mau pergi."
Mendadak terdengarlah orang itu menangis dengan amat sedihnya, Liem Tou yang teringat akan kata-kata terakhir mendadak hatinya menjadi bergidik, cepat tanyanya.
"Cianpwee, kau kenapa ??"
"Bagaimana pun aku tak bisa hidup lebih lama lagi " jawab orang itu dengan nada gemetar.
"Dulu aku terus menerus menahan siksaan dari hweesio gundul terkutuk itu hal ini dikarenakan
urusan dititipkan tuan penolong padaku belum selesai kerjakan kini urusan sudah selesai kerjakan kini urusan sudah selesai berarti hari siksaan bagiku juga sudah habis. Hanya saying aku tidak pernah melihat wajah puteraku dan menceriterakan ayahnya dan membutanya mataku sehingga sampai akhir hidupku aku benar-benar merasa sayang.”
Liem Tou segera termenung berpikir sebentar, sahutnya kemudian.
“Asalkan boanpwee berhasil mendapatkan kitab pusaka To Koan Pit Liok itu dan berhasil
memperoleh kepandaian silatnya, sesudah keluar dari selat ini boanpwee akan bantu menyelesaikan urusan cianpwee itu, asalkan cianpwee ada perintah aku Liem Tou pasti akan mengerjakannya, hanya saja siapa nama puteramu itu?”
"Putraku bernama Sun Ci Sie" jawab orang itu dengan suara yang penuh berterimakasih. “Musuh besarnya adalah Kioe Lang Wan Kouw dari gunung Im San tolong sampaikan urusan ini kepada putraku."
Terhadap nama Sun Ci Sie ini Liem Tou sama sekali belum pernah mendengar tapi Kioe Lan Wan Kouw dari gunung Im san dia pernah bertemu sewaktu berada di lembah cupu-cupu, dia tahu urusan ini pasti menyangkut suatu pembunuhan yang berdarah tapi mendadak dia teringat kembali si hwcesio gundul yang sedang keluar dari selat itu, ujarnya kemudian.
“Boanpwee sudah tahu harap cianpwee legakan hatimu, hweesio bangsat itu mungkin segera akan kembali, boanpwee saat ini bukan tandingannya. Selamat tinggal."
Baru dia selesai berbicara mendadak suara jeritan ngeri berkumandang datang dari arah kamar itu. Liem Tou menjadi amat terperanjat, teriaknya.
“Cianpwee..cianpwee…”
Suasana tetap sunyi tak terdengar suara jawaban dari orang itu, hal ini membuktikan kalau orang itu sudah menemui ajalnya, tanpa disadari Liem Tou sudah meneteskan air matanya saking sedih melihat kejadian yang menyedihkan itu
Sesudah lewat beberapa waktu kemudian pikirmya kemudian didalam hati.
“Tempat harta dari Hek Loo toa birada di-tempat ini, tentunya kitab pusaka To Kong-Pit Liok berada ditempat ini pula, kini harus cepat-cepat keluar dari rumah bangunan ini kemudian bersama sama dengan si pengemis pemabok yang terluka masuk kedalam sumur kering itu, apalagi sumur itu menembus kedalam sungai, aku tak takut sampai menjadi lapar karena ini."
Selesai mengambil keputusan segera dia berjalan keluar dari rumah bangunan itu mendadak
dia berdiri melongo.
Kiranya si pengemis pemabok yang semula duduk semudi didepan bangunan itu kini sudah
lenyap dari tempat itu. cepat cepat dia berlari mencari dirinya disekeliling tempat itu.
Walaupun sudah dicari setengah harian jangan dikata si pengemis pemabok sampai di bayangannya pun tak kelihatan, pada perjalanan kembali itulah dia menjumpai pohon buah-buahan yang amat banyak, selesai menangsal perutnya dipetiknya lagi beberapa buah untuk bekal.
Sedang dia enak-enaknya mendahar buah-buahan itu, dari seberang hutan sebelah sana tiba tiba terdengar suara pekikan kera yang amat ramai, Liem Tou tahu tentu si penjahat naga merah itu sudah kembali.
Dia tidak berani berayal, bagaikan kilat cepatnya dia berkelebat melalui rumah bangunan itu menuju ke belakang halaman di samping sumur kering.
Semula dia menggunakan sebuah buah yang dilemparkan kedalam untuk mengukur dalamnya sumur kering itu, setelah dirasanya tidak terlalu dalam dengan tangan kiri mencekal pisau belati untuk melindungi dirinya, tanpa berpikir panjang lagi dia meloncat masuk ke dalam.
Sesampainya didasar sumur terlihatlah olehnya ditempat itu terdapatlah sebuah lubang kecil yang cukup untuk seorang saja, karena takut ada binatang binatang berbisa yang berada didalam sesudah dipandangnya beberapa saat baru dia mecorobos masuk ke dalam.
Belum jauh dia menerobos sampailah di sebuah tempat yang tempat itu tertutup dengan pintu yang terbuat dari kayu, perlahan lahan dia mendorong pintu itu dan masuk kedalam.
Begitu pintu tersebut terbuka, segera terlihatlah sinar yang cemerlang dan menyilaukan mata berkelabat menyinari ruangan, Liem Tou yang baru saja keluar dari tempat kegelapan seketika itu juga merasa matanya pedas dan perih oleh sinar tajam tersebut.
Lama sekali barulah Liem Tou membuka matanya dengan perlahan, saat itulah dia baru melihat sebuah ruangan batu yang mewah muncul dihadapannya, disebuah pojok ruangan terdapat sebuah intan sebesar batu kepalan memancarkan sinarnya, semuanya berjumlah sembilan buah.
Disamping sebelah kiri itu terdapat pembaringan, disamping pembaringan berjejer lima buah peti besar berwarna merah darah.
Melihat hal itu pikiian Liem Tou segera bekerja dia tahu basil rampokan Hek Lootoa selama hidupnya tentu disimpan didalam kelima peti besar berwarna merah darah itu.
Perlahan lahan pandangannya dialihkan ke samping, dinding ruangan sebelah kanan tergantung sebuah lukisan pemandangan yang indah.
Sesudah dipandangnya beberapa waktu lukisan itu, mendadak dalam pikirannya berkelebat suatu ingatan, cepat cepat dia berjalan mendekati lukisan itu dan mengangkatnya kesana ke samping. Tidak salah di belakang lukisan itu terdapat sebuah pintu kecil pada dinding itu, dia tahu pintu inilah yang menghubungkan ruangan ini dengan sungai.
Sekali lagi dia memeriksa isi ruangan ini dengan amat teliti, sesudah dirasanya tidak ada tempat lain yang mencurigakan barulah dia mulai membuka peti peti besar berwarna merah itu, didalam sebuah peti semuanya berisikan intan intan permata serta mutu manikam yang indah dan berharga, harganya jauh melebihi sebuah kota, tetapi terhadap semuanya ini dia tidak ambil perduli.
Akhirnya didalam peti keempat dia menemukan kotak pualam yang berwarna hijau mengkilap, cepat-cepat dijemputnya kotak itu dan dibuka. Isinya tak lain dan tak bukan kitab pusaka "To Kong Pit Liok" yang sudah menggegerkan dunia kangouw.
Saking girangnya Liem Tou sudah lupa daratan, dia berteriak teriak dan meloncat didalam ruangan itu serunya.
"Oooh akhirnya aku dapatkan juga."
Mendadak teringat kembali olehnya waktu dia terjatuh dari atas jembatan pencabut nyawa itu, bagaimana keadaan Ie cicinya sekarang??? Jika dia mengira dirinya sudah binasa, didalam keadaan amat sedih bilamana mengambil keputusan pendek apa jadinya???"
Ketika berpikir sampai disini perasaan girang yang meluap luap seketika itu juga lenyap tanpa bekas, perasaan bergidik muncul memenuhi seluruh benaknya, hampir hampir dia mau membuka pintu rahasia itu untuk berlari keluar dan kembali keatas gunung Ha Mo leng untuk melihat hal yang sesungguhnya.
Setelah melalui suatu pemikiran yang lebih mendalam dan lebih teliti akhirnya dia berhasil menguasai golakan di dalam hatinya, dia harus berhasil memiliki kepandaian silat yang termuat didalam kitab pusaka To Kong Pit Liok itu terlebih dahulu kemudian baru pergi mencari dia.
Demikianlah sejak hari itu Liem Tou berdiam didalam ruangan batu didasar sumur kering iiu untuk mempelajari ilmu sakti yang termuat di dalam kitab pusaka To Kong Pit Liok tersebut.
Hari berganti hari bulan berganti bulan, di dalam sekejap saja satu tahun sudah berlalu dengan amat cepatnya . . .
Didalam satu tahun ini topan yang melanda dunia kangouw bergolak semakin merghebat, di setiap kota kota besar selalu terjadi beberapa kejadian perampokan yang menggetarkan seluruh dunia kangouw bahkan gerak gerik dari perampok itu sangai gesit dan amat misterius. Siapa saja tidak ada yang pernah melihat wajah sesungguhnya dari perampok itu, hal ini membuat setiap pelancongan dan hartawan-hartawan disetiap kota dan disetiap karesidenan menjadi kacau dan setiap hari merasa hatinya tidak tenteram.
Bersamaan dengan kejadian itn pembunuhan serta bentrokan yang terjadi antara orang orang golongan Pek to maupun dari Kalangan Hek to semakin hari semakin menghebat membuat seluruh dunia kongauw menjadi lautan darah,
Setiap orang yang hidup pada waktu itu hanya merasakan hatinya terus menerus berdebar, tidak ada sehari pun bisa hidup dengan tenang.
Hari itu cahaya matahari memancarkan sinarnya dengan amat tenang menerangi seluruh tebing curam diatas gunung Go bie yang juga merupakan tempat kediaman dari si cangkul pualam Lie Sang beserta putrinya si gadis cantik pengangon kambng Lie Wan Giok, pemandangan yang indah ditambah dengan kicauan burung memecahkan kesunyian di pagi hari membuat suasana betul betul terasa nyaman dan menyegarkan.
Tebing Leng Ay tempat kediaman Lie Sang terletak dipuncak yang teratas dari gunung Go bie ini, awan bersih berkelompok kelompok berjubal jubal memenuhi angkasa sehingga laksana ombak yang menggulung ditengah samudra, puncak Go bie lainnya muncal ditengah mega laksana kelompok naga yang sedang menari, pemandangannya amat indah sekali.
Saat itu Lie Loo jie dengan menggendong tangan berdiri ditepi tebing, sambil memandang awan yang berkejar kejaran senandungnya dengan suara yang nyaring.
"Hutan belantara (Liem) lebat bagaikan sutera, gunung bersalju (Han San) dan daerah sekitarnya membawa keperihan hati. ...".
Kiranya dia sedang merindukan sutenya Liem Cong yang karena dikalahkan oleh Thian Pian Siauw cu kemudian bersama sama putranya meninggalkan keramaian Bu lim untuk mengasingkan diri ditempai pegunungan yang sunyi.
Mendadak. , . dari bawah tebing terdengar suara dengusan kerbau yang amat keras kemudian disusul berkelebatnya dua orang gadis cantik berbaju putih dengan masing masing menunggang seekor kambing yang tinggi besar dengan menerjang awan berlari mendatang, gadis gadis cantik yang berada diatas kerbau serta kambing itu kelihatan sedikitpun tidak terasa payah di dalam mendaki pegunungan Go bie yang amat terjal dan berbahaya itu, bahkan bagaikan kilat cepatnya berlari mendatang.
Sesampai diatas tebing mereka berdua bersama sama menghentikan tunggangannya masing masing. Terdengar si cangkul pualam Lie Sang dengan tertawa ujarnya.
"Wan jie. le jie, kalian berdua bukannya berlatih silat sebaliknya berlari lari turun tebing jika sampai bertemu kembali dengan Siauw cu di jalanan yang naik kegunung Go bie untuk mencari balas aku mau lihat dengan menggunakan cara apa kalian hendak menghadapi dia??"
"Tia." Jawab si gadis cantik pengangon kambing sembari tertawa manis. "Jangan dikata Siauw cu jahanam itu tidak berani datang lagi, sekali pun datang dengan kepandaian silat yang dimiliki Ie cici sekarang ini ditambah dengan tenaga gabungan kami berdua aku kira cukup untuk menahan serangannya."
Selesai berkata dia menoleh kearah gadis cantik berbaju putih lainnya kemudian tambahnya sembari tertawa.
"Ie cici, kau bilang betul tidak??"
Kiranya gadis cantik berbaju putih itu bukan lain adalah Lie Siauw le tempo hari sewaktu dia meloncat kedalam jurang disamping Jembatan pencabut nyawa itu untuk menyusul Liem Tou untung berhasil, ditolong oleh si gadis cantik pengangon kambing yang tepat pada waktunya tiba ditempat kejadian kemudian membawanya ke atas gunung Go-bie, saat ini dia sudah mengangkat si cangkul pualam Lie Sang sebagai suhunya dengan sendirinya terhadap si gadis cantik pengangon kambing boleh dikata sebagai suci-moay .
"Perkataan dari suhu sedikitpun tidak salah” terdengar Lie Siauw le menjawab sembari tertawa. “Lain kali kita lebih baik tidak usah bermain main lagi kebawah puncak.”
'Hmma .... Wan jie coba kaulihat Ie cicimu sangat penurut” Puji Lie Sang sembari mengangguk. “Dengan kepandaian silat yang kalian miliki saat ini walaupun untuk beberapa waktu Siauw cu jahanam itu tidak sanggup melukai kalian terapi lebih baik sadikit berhati hati lagi.”
Belum selesai dia berbicara ditengah lautan awan di bawah puncak secara tiba-tiba muncul berpuluh puluh bintik hitam disertai dengan suara tertawa panjang yang memekikkan telinga berkelebat mendatang.
Begitu si cangkul pualam Lie Seng mendengar suara panjang itu ditambah dengan beberapa titik hitam tersebut segera ujarnya kepada si gadis cantik pengangon kambing serta Siauw Ie yang berada disisinya.
"Coba kalian lihat, baru saja membicarakan Cau Chau, Cau Chau sudah datang. Ini hari aku mau lihat kalian berdua melawan dia secara berbareng.”
Selesai berkata diapun tertawa terbahak-bahak kepada banyangan hitam yang berada di bawah tebing serunya.
“Untuk kedua kalinya Ke Siauw cu mendatangi Tebing Leng Ay ku ini. aku kira pasti ada petunjuk petunjuk lainnya, aku Lie loo jie sudah menduga kedatangamu sejak tadi sudah menanti di tempat ini."
“Perkataanku sudah aku jelaskan pada waktu yang lampau” Terdengar suara jawaban dari Thian Pian Siauw-cu dari bawah tebing. “Bilamana bukannya kau terus menerus mengganggu urusanku aku juga tidak dua kali mangganggu ketenanganmu, waku ini kita berdua boleh dikata merupakan pimpinan dari seluruh jago didalam Bu-lim, untuk mencari orang ketiga yang bisa melawan kita agaknya merupakan urusan yang mustahil, pada waktu yang lalu didalam perubahan jurus serangan kau sudah menemui sedikit kemenangan, ini hari bagaimana jika kau mene ima tiga kali pukulan telapakku kembali?? jika sekali kau peroleh kemenangan maka aku takluk kepadamu bahkan sejak ini hari tidak akan datang mengganggu tempat tinggalmu ini”
"Ha ha ha . . . Perkatasn dari Ke Siauw-cu apa tidak merasa terlalu berlebih lebihan?” Seru si cangkul pualam Lie Sang sambil tertawa terkekeh-kekeh. “Jangan dikata diluar orang ada orang diluar langit ada langit, cukup kita bicarakan urusan yang berada dihadapan kita. Loo ciang dari partai Kiem Thian Pay sesudah melakukan latihan bertahun-tahun sekarang bukanlah Loo ciang dahulu sewaktu berada dipertemuan Tiong Lam san. saat ini daerah sekitar Thien Ling sudah berada dalam kekuasaannya bahkan orang didalam Bu lim tidak ada yang berani bermusuhan secara terang-terangan dengan mereka”
Dia berhenti sebentar kemudian sambungnya lagi.
“Apalagi perampokan-perampokan yang terjadi baru baru ini ada orang yang mengatakaa itu semua perbuatan dari si penjahat naga merah yang sudah lenyap pada tahun yang lalu, kepandaiannya sangat tinggi dan lihay sekali, apa kau berani berkata selain kau serta aku Lie Loo Jie sudah tidak dapat orang yang merupakan tandinganmu?"
Waktu itu titik titik hitam terbang diatas mega ini sudah menyebar keempat penjuru kemudian mengepung seluruh puncak Leng Ay dengan rapatnya, kiranya titik titik hitam itu adalah sejenis burung elang yang besar kecil banyak sekali. Sebentar kemudian terlihatlah bayangan hijau berkelebat si Thian Pian Siauw cu sudah berdiri dihadapannya Lie Loo jie.
Dandanannya saat ini persis dengan dandanannya sewaktu berada di dalam lembah cupu cupu, dengan memakai jubah berwarna hijau dia menuding tajam wajah Lie Loo jie, sahutnya.
“Perduli amat bagaimana dengan si penjahat naga merah atau si Loo Ciang, ini hari aku biar menganggap Lie Sang seorang sebagai musuhku”
“Mereka berdua yang satu adalah musuh yang dikalahkan dibawah serangan aku orang she Ke yang lain adalah cecunguk yang tidak berani menongol di siang hari, hal ini sama sekali tidak perlu aku orang sbe Ke pikirkan, mari . mari . . . mari. Sebetulnya kau berani tidak menerima tiga kali puhulanku??”
Lie Sang yang melihat sikap Thian pian Siauw cu begitu congkak tanpa terasa hatinya merasa sedikit gusar juga, air mukanya berubah semakin keren baru saja mau buka suara untuk berbicara, mendadak dari antara awan yang berbaris itu berkumandang datang suara yang amat nyaring sekali.
"Hey Ke Siauwcu, omonganmu sungguh besar sekali, ini hari aku mau buktikan kepadamu kalau didalam dunia kangouw saat iai masih ada orang yang bisa mengalahkan dirimu."
Perkataan ini diucapkan amat tegas dan kuat sekali, setiap kata diucapkan penuh disertai tenaga dalam yang kuat, hal ini memperlihatkan kalau tenaga dalam orang itu sudah dilatih mencapai pada taraf kesempurnaan.
Lie Sang maupun Thian Pian Siauwcu yang mendengsr perkatan itu bersama-sama merasa terperanjat, tanyanya berbareng.
"Jago dari mana yang sudah berkunjung, silahkan munculkan diri untuk bertemu.”
"Seorang Bubeng Siauwcut, tidak berani mengutarakan nama sebutanku," Sahut orang itu cepat.
Terdengar orang itu secara tiba-tiba mempertinggi suaranya.
"Ke Siauwcu " bentaknya dengan keras. "Sekarang juga aku mau minta petunjuk dari dirimu."
Pada saat dia selesai berbicara itulah mendadak kawanan elang yang berteriak ngeri kemudian disusul satu demi satu rontok jatuh ke bawah dan binasa seketika itu juga.
Melibat hal ini Thian Pian Siauwcu menjadi teramat kaget, sembari teriak keras badannya bagaikan kilat cepatnya berkelebat kebawah menubruk kearah dimana berasalnya suara itu. Saat itu sigadis cantik pcngangon kambing mau pun Lie Siauw le sesudah melihat ada beberapa elang yang terjatuh di depannya, cepat-cepat dijemputnya beberapa ekor. Tanpi berasa mereka bersama sama menjulurkan lidahnya.
Kalian tahu apa yang sudah terjadi?
Bilamana ada burung elang yang rontok terkena senjata rahasia hal itu bukankah urusan yang aneh, tetapi hal ini sudah terjadi. Burung burung elang yang sedang terbang di angkasa itu terkena sambaran senjata rahasia dan binasa seketika itu juga bahkan senjata rahasia yang digunakan bukao lain adalah butiran butiran mutiara yang mengeluarkan sinar cahaya yang amat terang dan sangat berharga sekali, sudah tentu gadis cantik pengangon kambing maupun Lie-Siauw le dibuat menjulurkan lidahnya.
Sampai si cangkul pualam Lie Sang yang memiliki pengalaman amat luaspun tidak tahu asal usulnya dari orang itu, jangan dikata siapa yang sudah dating pun dia tidak tahu. Kemisteriusan orang itu betul betul membuat orang menjadi bingung dan diliputi oleh tanda tanya. Setelah termenung, pikirnya kemudian.
"Apa mungkin Au Hay Ong dari Kiem Thian Pay sudah tiba? Tapi Au Hay Ong pernah bertemu satu kali dengan aku sewaktu diadakan pertemuan diatas gunung Tiong Lam San, agaknya nada suaranya bukan dia.
Sewaktu dia sedang termenung berpikir, keras itulah tampak bayangan hijau itu berkelebat kembali. Thian Pian Siauwcu sekali lagi meloncat naik kepuncak gunung dari antara lautan mega yang tebal itu. Terlihatlah air mu kanya sudah berubah hijau membesi, dengan pandangan mata amat tajam dia pandang diri Lie Loo jie.
"Tentu Keheng sudah berjumpa dengan orang itu bukan?" Tanya si cangkul pualam Lie Sang dengan nada lembut. "Dia orang sebenarnya macam apa? Jika dilihat ternyata dia berani mencari setori dengan kamu orang, manusia itu pastilah memiliki kepandaian yang amat lihay."
Mendengar perkataan sicangkul pualam Lie-Sang ini, sepasang mata dari Thian Pian Siauw cu melotot keluar dengan amat bulat, teriaknya gusar.
"Lie Sang, kau tidak perlu ikut bersusah atas bencana yang kualami, ini hari aku orang she Ke kecundang ditangan orang lain bahkan sampai bayangan orang lain pun tidak kelihatan sungguh memalukan sekali.”
"Hmm. hmm, manusia yang beraninya bersembunyi sembunyi bisa terhitung Hoohan macam apa?"
Baru saja dia selesai berbicara mendadak orang orang yang berada dibawah puncak sudah mengangkat bicara kembali.
"Ke Siauwcu!" serunya. "Aku bukannya takut kepadamu, ini hari karena ada urusan yang harus aku bereskan tak bisa melayani kau lebih lama lagi, tapi bilamana kau merasa tidak puas boleh kita tentukan saja waktu untuk bertanding. Heee , . heee . . bagaimana?"
"Siapa sebetulnya kau orang?" Teriak Thian Pian Siauwcu keras keras.
"Maaf hal ini tidak bisa kuberitahukan."
"Baiklah, kalau begitu tanggal lima bulan kelima aku menanti kau dipuncak pertama daerah| Cing Jan."
Sehabis berkata kepada Lie Loojie ujarnya pula.
"Lie Sang, sampai waktunya kau pun datang juga, perkataan yang aku orang she Ke katakan selamanya tak akan diubah kembali. Tiga kali pukulan telapak sampai pada waktunya aku mau menjajal juga"
Selesai berkata dia tidak menanti jawaban dari Lie Loojie segera dia putar tubuh dan meloncat setinggi tiga kaki kedepan lalu berjumpalitan beberapa kali ditengah udara hanya di dalam sekejap mata dia sudah lenyap tanpa bekas.
Si cangkul pualam yang melihat kedatanganya amat cepat perginya pun amat cepat tanpa terasa sudah tertawa. Ujarnya kepada orang yang berada dibawah puncak.
"Jago berkepandaian tinggi darimana yang sudah datang berkunjung, kenapa tidak munculkan diri untuk bertemu?"
Sekalipun berulang kali perkataan itu diucap tapi keadaan dari bawah puncak tetap sunyi sunyi saja sedikitpan tidak ada suara sahutan.
Dalam anggapan Lie Looojie tentu orang itu sudah pergi karenanya sehabis berdiri beberapa saat lamanya dia menoleh kebelakang.
Waktu itulah mendadak dia merasakan segulung angin yans amat ringan berkelebat dari sisi tubuhnya, bagaimanapun juga kepandaian silat dari si cangkul pualam ini sangat lihay sekali. Mendadak dia hanya merasakan sesosok bayangan manusia berkelebat, belum sempat dia melihat jelas wajah orang itu bayangan tersebut sudah lenyap, cepat cepat dia menoleh kembali kebelakang terlihatlah kambing yang semula berdiri sejajar dengan kerbau itu tiba tiba berpekik nyaring kemudian lari keempat penjuru dan menerjang terus kebawah tebing.
"Siapa kau berani mengacau di atas puncak Leng Ayku ini!" bentak Lie Loo jie dengan keras.
Tubuhnya dengan cepat menerjang kebawah tebing mengejar kearah dimana berlarinya kerbau tersebut. Tenaga dalam mau pun ilmu meringankan tubuh yang diiatih Lie Loojie waktu ini boleh dikata sudah mencapai pada taraf kesempurnaan dan jauh berada diatas jago jago berkepandaian tinggi dari Bu lim lainnya.
Sesudah dilihatnya ada orang yang mengajak guyon didepannya dengan tak sadar dia tidak mau melepaskannya dengan begitu saja, siapa tahu ternyata kejadian kali ini diluar dugaannya, kerbau yang semula menerobos ketengah gumpalan mega kini larinya semakin cepat lagi hanya di dalam sekejap mata kecepatannya bertambah puluhan kali lipat. Jangan dikata untuk menangkap, hanya untuk mengejar saja sudah tidak sanggup.
Tanpa disadari si cangkul pualam Lie Sang sudah berdiri tertegun ditepi puncak, perasaan gusar mulai membakar hatinya tetapi ketika teringat akan kepandaian silat orang itu ternyata bisa lewat disamping badannya tanpa dia sadari hatinya terasa tergetar juga, dalam hati diam diam pikirnya.
"Didalam Bu Iim waktu ini masih ada siapa lagi yang memiliki kepandaian silat begitu tingginya? Apa mungkin Au Hay Ong Bo dari Kiem Thian Pay. Ciang Can adanya? Tetapi kelihatannya tidak mirip sewaktu didalam pertemuan diatas gunung Tiong Lam san kepandaiannya bisa sejajar dengan suteku Liem Coe sekalipun didalam beberapa tahun ini dia berlatih mati matian belum tentu bisa mencpaai taraf yang seperti ini selain dia hanya ada seorang penjahat naga merah saja yang memiliki kepanduan yang sedemikian tingginya. Tetapi aku tidak percaya kepandaian silatnya sudah berhasil dilatih sebegitu lihaynya, apa mungkin seorang penjahat bisa memiliki kepandaian yang demikian lihaynya "
Sedang dia berpikir dengan amat serius terdengar si gadis cantik pengangon kambing sudah berteriak dangan keras.
"Tia, Tia cepat kembali."
Didalam anggapan Lie Sang, ditempat sana pasti sudah terjadi suatu urusan, dengan gugup ia meloncat naik ke atas puncak kemudian berlari ke samping badan si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw le.
Terlihatlah mereka berdua waktu ini sedang berdiri mematung disana sedang pada tangan masing-masing mencekal sebuah kantongan kecil yang terbuat dari kulit.
"Wan jie, le jie sudah terjadi urusan apa ?” tanya si cangkul pualam dengan perasaan cemas.
Perlahan lahan gadis cantik pengangon kambing mengangsurkan kantong kecil yang dibuat dari kulit itu ke tangan Lie Loo jie.
Lie Loojie segera menerima dan membuka buntalan tersebut, serentetan sinar yang amat menyilaukan mata segera memancar keluar dari dalam kantongan, itu berisikan intan permata yang sangat indah indah dan mahal harganya.
Hal ini berada jauh diluar dugaan Lie Loojie semula, seketika itu juga membuat dia berdiri termangu mangu, sesaat kemudian barulah tanyanya.
"Wan jie, ini ini . . . sebetulnya sudah terjadi urusan apa ? Barang barang ini berasal dari siapa ?“
"Tia, kantongan kantongan ini digantungkan diatas tanduk kambing itu, putrimu sama sekali tidak memperhatikan orang yang menghantarkan barang-barang ini."
"Haaa ?" Teriak Lie Loojie keheranan. "Hal ini amat aneh sekali. Ehmm ..... sungguh aneh sekali."
Segera tanyanya pula kepada Lie Siauw Ie. "Didalam kantonganmu itu apa juga berisikan intan permata yang mahal harganya ?"
Lie Siauw Ie segera mengangsurkan kantongan itu ke tangan Lie Loo jie sembari sahutnya.
“Tecu belum melihatnya."
Cepat Lie Loojie membuka kantangan itu dan melihat isinya, didalam kantongan itu selain berisikan intan permata yaug mahal harganya masih terdapat juga dua buah lempengan besi yang besar. Melihat benda itu Lie Loojie menjadi tertegun bercampur terperanjat.
Sebelum dia sempat angkat bicara si gadis cantik pengangon kambing yang berdiri disisinya sudah berkata.
"Tia, ke dua buah lempengan besi itu bukankah barang yang tidak pernah menjauhi badanmu ? Bagaimana bisa berada di kantongan itu?"
Waktu itulah si pacul pualam baru sadar kembali cepat cepat dia merogoh kedalam sakunya Ternyata kedua lempengan besi yang berada di dalam sakunya itu entah sejak kapan sudah lenyap dan muncul di dalam kentongan kulit itu. Walaupun dia tahu hal ini pasti kerjaan tangan tangan jahil tetapi tidak usah dikatakan sudah jelas tertera, dia sudah menemui kekalahan ditangan orang lain.
Teringat akan hal ini tanpa terasa dia merasa bergidik dan berdiri mematung beberapa waktu lamanya disana, air mukanya perlahan demi perlahan berubah menjadi amat angker.
Si gadis cantik pengangon kambing maupun Lie Siauw Ie yang berdiri disisinya setelah melihat kejadian ini pun didalam hati diam-diam merasa ngeri bercampur sedih.
Lama sekali baru terdengar Lie Loo jie bergumam seorang diri.
"Siapa yang begitu berani mempermainkan aku? aku pasti akan cari dia umtuk menjajal ilmunya.”
Walaupun perkataan ini diucapkan dengan amat perlahan sekali tetapi agaknya orang yang berada di bawah tebing itu dapat mendengar dengan amat jelas.
Baru saja dia selesai berbicara terdengar orang itu dengan nada yang kuat bagaikan pukulan martil tertawa tergelak ujarnya.
"Bilamana bukannya kau berani mempermainkan orang lain terlebih dulu, orang lain masa berani mempermainkan dirimu? Lie Loo jie waktu ini didalam Bu lim sudah bergolak dengan amat dahyatnya, banjir darah mulai membasahi seluruh daratan Tionggoan bagaimana kau bisa tenangnya bisa hidup disini? sungguh membuat orang merasa menyesal"
"Kau orang kalau memangnya tidak ingin hunjukkan diri apa tidak mau meninggalkan nama juga?" teriak Lie Loo jie kemudian. "Siapa sebenarnya kamu orang, dengan aku Lie Sang merupakan kawan atau lawan?"
“Ha ha ha. . Lie Loo jie, asalkan kau mau melakukan perjalanan di daerah Tionggoan sudah tentu kenal siapakah aku, tapi maaf ini kali aku tak bisa memberitahukan.”
"Baiklah" seru Lie Loo jie kemudian sesudah termenung berpikir sebentar.
"Tidak perduli bagaimanapun aku mau temui kau orang.
Besok pagi aku akan melakukan perjalanan ke arah Tionggoan, coba kau bicara kita mau bertemu dimana.”
"Saat itu aku percaya bisa bertemu kembali dengan kau buat apa kita tentukan waktu dan tempat saat ini juga? masih ada lagi aku mendapat pesan dari kawanku katakan kepada muridmu supaya dia jangan lupa akan janjinya untuk bertemu pada musim rontok yang akan datang.”
Lie Siauw le yang mendengar omongan itu segera merasakan badannya tergetar dengan amat kerasnya didalam dada, urusan yang dipikirkan siang malam selama satu tahun ini ternyata bisa diucapkan orang lain pada hari ini juga membuat dia menjadi lupa, teriaknya dengan keras, "Siapa nama kawanmu itu?? cepat katakan,” Lie Siauw le ingin cepat-cepat mengetahui nama orang itu sebaliknya jawab dari orang yang berada dibawah tebing amat lambat sekali baru terdengar dia memberikan jawabannya.
"Dia she Liem, namanya apa kiranya kau tahu bukan".
Ketegangan dari Lie Siauw le betul betul mencapai pada puncaknya, mendadak dengan mengeluarkan suara teriakkan keras dia menangis dengan amat keras, kemudian dengan cepat menubruk kearah diri gadis cantik pengangon kambing, ujarnya dengan perasaan amat girang.
"Oooh, benar benar dia masih hidup. Adik Tou masih hidup”
Mendadak dia putar kepalanya kembali, dengan menahan melelehnya air mata teriaknya kembali kearah lautan mega itu.
"Kawanmu itu kini berada dimana? cepat beritahukan kepadaku, aku mau bertemu dengan dia".
Dari bawah puncak tetap tenang tidak terdengar suara jawaban.
"Hey . , . . dimana temanmu sekarang berada??" Sekali lagi Lie Siauw le berteriak keras.
Tetapi walaupun dia berteriak berkali kali tetap tidak terdengar suara jawaban dari bawah tebing, agaknya orang itu sudah pergi dari sana membuat Lie Siauw le merasa sangat kecewa.
Tetapi tiba tiba didalam benaknya berkelebat suatu ingatan, kepada Lie Loo jie ujarnya.
"Suhu, kapan kau orang tua melakukan perjalanan kedaerah Tionggoan? dapatkah le jie ikut dengan suhu??"
Lie Loojie melirik sekejap kearahnyn, didalam hati dia tahu kali ini dia mau ikut berkelana sudah tentu bermaksud hendak mencari berita dari Liem Tou.
Sebetulnya bagi dia untuk melakukan perjalanan bersama sama dengan gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw le bukanlah urusan yang berat, tetapi ketika teringat akan gerak gerik yang misterius dari orang itu ditambah lagi kepandaian silatnya yang amat lihay membuat hatinya mendadak ragu ragu.
Ujarnya kemudian dengan serius.
"Apa yang le pikirkan loohu sudah tahu semua, sejak dari dulu aku sudah beritahukan kepadamu, Liem Tou punya sangkut paut dan hubungan yang sangat erat dengan aku orang tua, kali ini aku melakukan perjalanan kedaerah Tionggoan sudah tentu sekalian mencari berita tentang dirinya, lebih baik kau bersama sama Wan jie tinggal disini untuk berlatih ilmu silat bilamana aku memperoleh berita tentang Liem Tou maka akan segera kembali memberi kabar kepadamu"
Mendengar perkataan dari Lie Loo jie ini Lie Siauw le tidak berani membantah, dengan berdiam diri dia menyingkir kesamping.
Ujar Lie Loo jie kembali kepada mereka berdua.
"Wan jie, sekalipun terhadap kepandaian silat yang dimuat dalam kitab pusaka Toa Loo-Cin Keng kau sudah pernah belajar tetapi belum sampai pada taraf kesempurnaan, ini hari aku pergi bilamana dalam waktu tiga bulan belum kembali, kalian berdua boleh pergi ke puncak pertama di daerah Cing jan pada tanggal lima bulan lima, tetapi didalam waktu waktu ini kalian harus berlatih dengan sungguh sungguh ilmu kalian."
Si gadis cantik pangangon kambing mau pun Lie-Siauw le berkail kali menyahut atas nasehat tersebut.
Selesai memberikan pesan pesannya, bagaikan kilat cepatnya Lie Loo jie melayang turun ke bawah puncak, laksana seekor burung elang hanya didalam sekejap saja dia sudah ditelan lautan mega yang amat tebal itu.
Setelah dilihatnya bayangan dari Lie Loo jie lenyap dari pandangan barulah sigadis cantik pengangon kambing beserta Lie Siauw le dengan masing maiing membawa kantongan kulit berjalan kembali kedalam gua.
"Ie Cici aku benar benar merasa kuatir atas keselamatan Tia" ujar Lie Wan Giok sesampainya didalam gua "Orang yang datang ini hari entah berasal dari aliran mana? Pertama tama dia mengejutkan Thian Pian Siauw cu sehingga membuat dia melarikan diri kemudian mencuri lempengan besinya Tia, hal ini memperlihatkan kalau kepandaian orang itu amat lihay sekali, bilamana dia adalah musuh ayahku mungkin dengan berkelananya Tia kali ini bisa menemui suatu urusan"
Lie Siauw Ie yang melihat kekuatiran dari gadis cantik pengangon kambing cepat cepat menghibur.
“Wan moay, perkataanmu ini memang tidak salah, tetapi aku berani memastikan orang itu bukan musuh ayahmu, bahkan mungkin ayahmu adalah tuan penolongnya? kalau tidak kenapa tidak ada angin tidak ada hujan dia memberi dua kantongan intan berlian? bahkan jika di dengar dari nadanya agaknya dia sama sekali tidak punya maksud bermusuhan dengan kita. Wan moay, harap kau bisa berlega hati.”
Biasanya Lie Siauw le jadi orang berpikiran tajam, dengan diucapkannya perkataan ini segera membuat gadis cantik pengangon kambing itu menjadi tenang kembali, tetapi pada saat itulah sewaktu ia mengangkat kepalanya terlihatlah diatas dinding gua tertancap sebuah pisau belati yang amat tajam.
"Haaa . . “ teriak gadis cantik pengangon kambing itu dengan amat terperanjat, “Ie cici hati- hati dalam gua ini sudah kedatangan orang.”
Dengan cepat dia meloncat keatas mencabut kembali pisau belati itu, sesudah dilihatnya dengan teliti sekali lagi dia berteriak keras.
"le cici, pisau belati ini milikku, pada tempo hari ini pisau belati ini aku berikan kepada Tou koko, bagaimana sekarang bisa tertancap di sini?"
Mendengar perkataan ini dalam hati Lie-Siauw Ie merasa tergetar dengan keras, serunya.
"Wan moay moay kau harus memeriksa lebih teliti lagi, pisau belati ini apa betul betul pisau belati yang kau berikan kepada adik Tou?"
"Barangku sendiri bagaimana aku bisa salah, tapi . . sungguh aneh urusan ini" Mendadak suatu ingatan berkelebat didalam benaknya, sinar matanya yang indah memancarkan suatu sinar yang amat aneh.
"Ie cici, aku punya suatu pikiran yang aneh entah benar atau tidak?" Ujarnya kemudian sambil memandang tajam wajah Lie Siauw le.
“Kenapa.? Yang sedang kau pikirkan urusan apa?"
"Aku pikir orang yang baru saja datang itu apa mungkin . . "
"Kau bilang dia adalah adik Tou?" sambung Lie Siauw le dengan cepat.
Teringat akan diri Liem Tou sepasang mata dari Lie Siauw le memerah kembali dan meneteskan air matanya.
Hal ini membuat gadis cantik pengangon kambing yang berada disisinya menjadi bingung, ujarnya.
"Ie cici, kenapa kau menangis? Kalau pisau belati ini bisa muncul disini berarti juga Liem Tou koko masih hidup, seharusnya kau bergembira bagaimana malah menjadi menangis?"
"Adik Wan pikiranku tidak sama dengan pikiranmu" sahut Lie Siauw le sembari menahan isak tangisnya. "Sekalipun adik Tou tidak mati sewaktu jatuh dari Jembatan pencabut nyawa, tetapi orang yang datang ini hari pasti bukanlah dia, coba kau pikir hanya di dalam satu tahun apa mungkin dia berhasil melatih kepandaian silatnya sebegitu tinggi? Jika bukan dia yang datang tapi pisau belati ini bisa muncul disini berarti juga dia. . dia . . "
Bicara sampai disini dia tidak bisa menahan perasaan sedihnya lagi, suara tangisan yang lebih menyedihkan bermunculan dari mulutnya.
"Cici" hibur gadis cantik pengangon kambing itu dengan lembut sedang tangannya mulai membimbing badannya. "Kiranya kau berpikir begitu, tetapi terang terangan orang tadi mengatakan supaya kau jangan melupakan perjanjian pada musim Rontok yang akan datang, apakah hal ini adalah palsu??"
Mendengar peringatan dari gadis cantik pengangon kambing ini, Lie Siauw le menjadi sadar kembali, segera dia menghentikan tangisnya dan berganti dengan senyuman malu.
"Wan moay" ujarnya dengan perlahan. "Aku punya satu permintaan entah kau mau mengabulkan atau tidak. Setelah aku tahu kalau adik Tou tidak binasa didasar jurang Jembatan pencabut nyawa itu hatiku menjadi kacau, aku rencana besok pagi mau turun gunung untuk mencari dia, apakah Wan moay mau menemani aku turun gunung?"
"Ie cici, bukankah Tia menyuruh kita berlatih kepandaian silat?" bantah gadis cantik pengangon kambing tersebut. "Bukankah sama saja dengan sewaktu kita bersama-sama turun gunung menghadiri diatas puncak pertama daerah Ciog Jan pada bulan lima tanggal lima saat itu masih ada kesempatan untuk mencarinya?"
Lie Siauw le menggelengkan kepalanya perlahan.
"Suhu memang berpesan begitu, tetapi aku . Ooh, Wan Moay. Aku benar benar tidak punya cara yang lain lagi, aku hanya ingin cepat cepat bertemu kembali dengan adik Tou, Wan Moay mari temani aku turun gunung, nanti bilamana suhu menegur bisa aku yang memikul semuanya.”
Si gadis cantik pengangon kambing tahu walau pun dia mencegah Lie Siauw le untuk turun gunung juga percuma, dia pasti tak akan bisa pusatkan perhatiannya uatuk berlatih silat, setelah termenung beberapa waktu lamanya akhirnya mengangguk juga.
"Baiklah, besok pagi kita turun gunung."
Saking girangnya Lie Siauw le segera menubruk memeluk diri gadis cantik pengangon kambing erat erat.
“Ooo .... kau betul betul adik yang baik”
Kedua orang gadis itu segera bersama-sama tertawa riang.
Keesokan harinya menyiapkan buntalannya si gadis cantik pengangon kambing maupun Lie Siauw le segera turun gunung bersama sama dengan kawanan kambingnya sesudah menutup pintu gua terlebih dahulu.
Kedua orang yang membawa bekal butiran intan permata yang mahal harganya sudah tentu tidak takut kekurangan biaya ditengah jalan.
Dengan menumpang sebuah perahu layar mereka melanjutkan perjalanannya menuju kearah le Cho, melalui selat Sam Shia setelah mengarungi sungai selama tiga hari akhirnya sampai juga di daerah keresidenan Oh Cing.
Hari itu perahu yang mereka tumpangi berlabuh dttepi pantai, pemandangan tempat itu amat indah sekali.
Sewaktu gadis cantik pengangon kambing beserta Lie Siauw le menikmati keindahan alam
itulah mendadak dari tepian sebelah kiri berkumandang datang suara bentrokan senjata yang amat ramai sekali diselingi dengan suara jeritan ngeri yang amat menyeramkan.
"Ie cici" ujar gadis cantik pangangon kambing itu. "Coba kau dengar ditepi sebelah kiri ada orang yang sedang melakukan pertempuran sengit, kedengarannya tidak kurang dari puluhan orang banyaknya, entah mereka bertempur disebabkan urusan apa. Bagaimana kalau kita pergi melihat sebentar?”
Keinginan dari gadis cantik pengangon kambing ini timbul karena ingin tahunya, tetapi Lie Siauw le tidak sama dengan jalan pikirannya. Dia tahu Liem Tou punya banyak musuh, kini dia masih hidup didunia sudah tentu setiap saat bisa berjumpa dengan musuh musuh tangguhnya itu, kini setelah mendengar ada orang sedang bertempur dengan amat seru hatinya menjadi tertarik, kemungkinan sekali orang yang sedang bertempur itu adalah diri Liem Tou. Tidak menanti gadis cantik pengangon kambing itu mendesak untuk kedua kalinya dia sudah siap meloncat turun dari perahu.
"Baiklah, Wan moay ayoh kita kesana” serunya.
Cepat cepat mereka perintahkan pemilik perahu itu untuk minggir ketepi, belum sampai perahu itu betul betul mepet dengan tepian, mereka berdua bagaikan burung walet dengan sangat ringannya sudah meloncat ke daratan dan lari menuju kearah pertempuaran itu.
Setelah melewati tanah bekas sawah sampailah disebuab kaki gunung yang ditumbuhi dengan rerumput yang amat subur terlihatlah berpuluh puluh orang toosu dengan pakaian hijau kuning tak menentu sedang mengurung tiga orang yang melawan serangan pedang mereka dengan menggunakan seluruh tenaga yang ada.
Gadis cantik pengangon kambing maupun Lie Siauw Ie siapa pun tidak tahu asal usul mereka, karenanya saat ini hanya menonton jalannya pertempuran dari samping.
Terhadap nama nama jagoan Bu lim gadis cantik pengangon kambing ini pernah mendapat tahu dari ayahnya Lie Loo jie, sekali pun dia tidak tahu semuanya, tetapi sebagian besar kenal juga karenanya setelah melihat dandanan ketiga orang itu tanpa terasa lagi saking herannya dia sudah menjerit tertahan, pikirnya.
"Orang yang dikurung di tempat itu bukankah anggota anggota dari Tionggoan Ngo Koay yaitu sisiucay bunutung, si pengemis pemabok serta Thiat Sie sianseng?? selamanya mereka bertiga melakukan pekerjaan bajik, kenapa kini dikeroyok oleh kawanan toosu itu?"
Berpikir sampzj disini s;gera ujarnya kepada Lie Siauw Ie.
"le cici, coba kau lihat orang yang dikeroyok itu bukankah si siucay buutung, pengemis pemabok serta si Thiat sie sianseng dari Tionggoan Ngo Koay?"
Swwaktu Liem Tou bersembunyi didalam rumahnya di gunung Ha Mo Leng dia telah mendengar cerita tentang Tionggoan Ngo Koay ini dari mulut Liem Tou, karenanya tanpa terasa diapun menjerit tertahan, ujarnya.
"Kawanan toosu ini pasti bukan orang baik-baik, selamanya Tionggoan Sam Koay ini melakukan kebajikan, mari kita tolong mereka"
"Ie cici kau belum pernah melakukan perjalanan didalam dunia kangouw bagaimana bisa tahu kalau toosu itu bukan manusia baik-baik?" tegur gadis cantik pengangon kambing itu, “Lebih baik kita menonton saja.”
Air muka Sie Siauw le segara berubah merah dan tak bisa mengucapkan sepatah katapun, sedang didalam hatinya dia merasa kuatir dan risau atas keselamatan dari si siucay buntung, si pengemis pemabok serta si Thiat sie sianseng.
Keadaan dari si pengemis berserta kawan-kawannya waktu ini memang benar benar amat berbahaya, tampak mereka bertiga dengan pundak menempel pundak masing masing melawan musuh musuh yang menyerang dari arah depannya, kipas si siucay buntung, tongkat Tah Kauw Pang dari pengemis pemabok serta siepoa dari Thiat sie lianseng dengan menimbulkan suara santar dan sambaran angin yang amat tajam mempertahan dirinya dari serangan musuh, membuat toosu-toosu itu tidak berani berlaku gegabah.
Sebaliknya juitru toosu-toosu itu menyerang dengan tidak mernperdulikaa nyawanya sendiri, terlihatlah diantara puluhan orang itu hanya ada tiga orang saja ilmu kepandaiannya agak tinggian. Tetapi siapapun diantara setiap toosu tooosu itu tidak mau mundur, dengan nekat dia menerjang terus kedepan membuat pertempuran kali ini benar benar sengit dan jatuh korban amat banyak sekali.
Si siucay buntung, pengemis pemabok mau pun Thiat Sie Sianseng dengan air muka sangat serius menghadapi terus musuh musuhnya yang kalap ini, agaknya pertempuran sengit ini ditimbulkan aleh suatu urusan yang amat besar.
Pada saat yang amat kritis itulah dari kaki gunung sebelah kiri secara tiba tiba muncul kembali dua puluh orang Toosu dengan dandanan sama berlari mendatang.
Salah seorang Toosu berpakaian warna kuning yang bertindak sebagai pimpinan didalam rombongan itu dari kejauhan, sudah berteriak keras.
“Saudara-saudara sekalian ayoh pada maju tangkap bangsat terkutuk ini, walaupun ini hari anak murid dari Bu tong Pay harus binasa semua kita harus tangkap juga ketiga orang bangsat terkutuk ini untuk membalaskan dendam sakit hati dari Ciangbunjin kita."
Toosu toosu itu segera berteriak keras menyambut perintah pimpinan mereka kemudian maju menyerang lebih nekad lagi.
Si gadis cantik pengangon kambing beserta Lie Siauw te yang mendengarkan percakapan mereka dari pinggiran saat ini baru merasa sedikit tidak sabaran, kini mereka baru tahu si siucay buntung, pengemis pemabok serta si Thiat Sie sianseng sudah membunuh mereka punya ciangbunjin dan kini mereka bersama-sama mengerubuti diri mereka bertiga untuk membalaskan sakit hati Ciangbunjin mereka.
Tiba tiba terdengar pengemis pemabok menggembor dengan suara keras.
"Kalian hidung hidung kerbau dari Bu tong pay yang tidak tahu diri, sebetulnya dari antara kalian siapa yang sudah melihat kalau Ciangbunjin si hidung kerbau kalian itu kami yang bunuh! Mata kalian sudah buta semua yaaah!"
"Anak jadah yang harus dicacah tutup mulut anjingmu!" balas bentak salah seorang toosu dari antara gerombolan toosu toosu lainnya. “Pada waktu ini didalam Bu lim siapa yang tidak tahu kalau Ciangbun suheng kami dibunuh oleh kalian bertiga? serahkan nyawamu"
Diikuti suara teriakan yang membakar semangat kawan kawannya.
"Ayoh murid murid Bu tong pay. terjang terus maju bunuh mereka mereka ini.”
Diikuti dengan suara bentakan yang nyaring Toosu Toosu sekalian yang mengepung di empat penjuru segera bersama sama membentak nyaring sehingga menggetarkan seluiuh dataran pegunungan itu.
"Ayoh bunuh!" Bagaikan air bah yang menerjang pantai mirip juga geiombang dahsyat yang menggulung ditengah samudra bebas, para Toosu itu dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri melancarkan serangan bergabung mengarah si siucay buntung, pengemis pemabok serta Thiat Sie sianseng bertiga.
Keadaan yang demikian menegangkan dan mengerikan ini membuat si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw le yang menonton di pinggir merasa ikut tegang, keringat dingin mengucur dengan amat derasnya sedang air mukanya perlahan demi perlahan berubah menjadi pucat pasi, pikirnya.
"Habis . . habis sudah, walaupun kepandaian mereka bertiga jauh lebih tinggipun tak akan sanggup untuk menshan serangan gabungan Toosu-toosu itu yang laksana menggulungnya ombak dahsyat ditengah samudra bebas."
Tetapi urusan ternyata sudah terjadi jauh diluar dugaan mereka berdua, sekali pun Bu-tong serta Siauw lim merupakan dua partai besar yang disegani didalam Bu lim dan kepandaian silat mereka mempunyai kemampuan yang meyakinkan tetapi pada saat ini merupakan saat saat lemahnya kedua partai besar tersebut, sehingga walaupun mereka mempunyai anak murid yang berjumlah sangat banyak tetapi kini justru bertemunya dengan tiga orang anggota Tionggoan Ngo Koay sudah tentu tak sanggup untuk mengapa apakah mereka.
Ketika mereka bertiga milihat para Toosu-Toosu dari Butong pay itu menyerang mereka dengan tidak memperdulikan nyawanya sendiri, si siucay buntung, pengemis pemabok mau pun Thiat Sie sianseng pun terpaksa menggerakkan senjata andalannya, masing masing orang sendiri-sendiri,
Terdengar suara bentakan yang amat keras masing masing pihak segera bertemu muka dan terjadilah suatu pertempuran yang amat sengit.
Suara teriak-teriakan ngeri bermuncullan iring mengiring disertai dengan muncratnya darah segar membasahi empat penjuru, murid murid Bu tong pay ada tujuh delapan orang lagi yang celaka di tangan senjata mereka bertiga.
Pertempuran yang sangat menyeramkan inilah membuat gadis cantik pengangon kambing mau pun Lie Siauw le yang menonton hampir saja merasa tidak tahan, ujar gadis cantik pengangon kambing itu tiba tiba.
"le ciei mereka bunuh membunuh dengan demikian mengerikannya, cepat kita carikan jalan untuk menghindarkan hal hal yang tidak di inginkan"
“Omonganmu sedikitpun tidak salah," sahut Lie Siauw le mengangguk. "Kita harus cepat-cepat cari cara yang lain untuk memisah pertempuran yang mengerikan ini”
Mendadak didalam benaknya berkelebat suatu ingatan, tambahnya lagi.
"Tetapi urusan ini sangat bahaya sekali, sedikit kita salah bertindak bisa bisa api yang berkobar akan membakar badan kita sendiri."
"Hhmmm . . , benar, bilamana bukannya karena hal itu sejak tadi aku sudah turun tangan.”
Berpikir akan hal ini membuat mereka berdua ragu ragu, masing masing saling pandang memandang untuk beberapa waktu lamanya, mereka betul betul dibuat gugup dan kelabakan sendiri.
Mendadak . . suara dengusan kerbau yang berat tetapi sangat dikenal olehnya berkumandang datang dari tempat kejauhan, mendengar suara itu baik gadis cantik pengangon kambing itu maupun Lie Siauw le sendiri masing masing dibuat melengak, walaupun sampai waktu ini mereka tidak mengucapkan sepatah katapun juga tetapi anggapan mereka sudah merasa kalau dengusan kerbau itu mirip sekali dengan suara dengusan kerbau milik mereka.
Baru saja Lie Siauw le mau membuka mulutnya untuk berbicara mendadak dari sebelah pinggiran pegunungan itu terdengar suara derapan kaki yang amat ramai tetapi mantap berlari mendatang, mereka berdua cepat cepat menoleh kearah mana ... sedikitpun tidak salah, kerbau itu memang milik mereka, kerbau yang berada dipuncak Leng Ay gunung Go bie tempo hari tetapi larinya kali ini amat aneh sekali bahkan amat cepat sekali.
Terang-terangan tadi terdengar suara dengusannya masih jauh bagaimana didalam sekejab mata saja sudah tiba disini? Saking heran dan tertegunnya mereka berdua seketika itu juga dibuat olehnya melongo longo dan melompong sambil memandang datangnya kerbau itu dengan pandangan terpesona.
Tampak kaki kerbau itu berlari dengan cepatnya tanpa menempel tanah, hanya didalam sekejap mata sudah menerjang ketengah kalangan pertempuran yang sedang mencapai pada puncak ketegangannya bahkan menerjang kiri dan kanan samping dengan seenaknya laksana ditempat itu tak ada orangnya saja.
Kalau hanya menerjang saja masih biasa, kali sambil menerjang kerbau itu menyepak dan menanduk orang orang itu, seekor kerbau bagaikan bayangan setan saja menerjang kesana menerjang kemari tanpa ada yang bisa menahan serangannya dalam sekejap saja membuat orang-orang yang sedang bertempur itu menjadi kalang kabut dibuatnya sehingga suasana menjadi kacau balau termasuk juga Tionggoan Sam Koay mereka dibuat terheran heran oleh munculnya kerbau secara misterius ini.
Kerbau ini seperti ada sukmanya saja tidak perduli dia menerjang menyepak maupun menanduk orang orang yang sedang bertempur itu ditepi tidak seorangpun yang terluka oleh terjangannya yang kalap ini bahkan senjata senjata tajam yang dicekal oleh toosu toosu itu hanya cukup didalam seperminuan teh saja sudah pada terlepas dari tangan mereka, seorang pun tak ada yang lolos.
Toosu-toosu itu menjadi benar benar terperanjat oleh munculnya keajaiban ini. ketika mereka berusaha untuk memandang kerbau itu lebih teliti lagi kerbau itu sudah berkelebat bagaikan angin yang berlalu, sehingga mereka hanya bisa melihat bayangan kerbau yang kerkelebat menyambar kesana menyambar kesini saja.
Seketika itu juga membuat Tionggoan Sam-Koay, gadis cantik pesangon kambing serta
Lie Siauw Ie menjadi melongo dibuatnya, bagaimana pun juga mereka percaya kalau seekor kerbau yang bodoh dan tidak berakal itu bisa melakukan pekerjaan seperti ini bahkan sudah terjadi di depan matanya sendiri, mau tidak percaya juga tak mungkin bisa.
Sewaktu Tionggoan Sam Koay sedang termangu mangu itulah mendadak kerbau itu dengan k-kecepatan yang luar biasa sudah menerjang kearah mereka bertiga.
“Celaka. . . " teriaknya tertahan, mereka belum habis diteriakkan senjata kipas pentungan Tah Kau Pang serta Sie Poa mereka bertiga sudah dipukul jatuh oleh terjangan kerbau itu.
Tanpa terasa mereka bertiga menjadi amat gusar sekali, cepat cepat tubuhnya menubruk kedepan merebut kembali senjatanya masing-masing kemudian putar tubuhnya siap menerjang ke arah kerbau itu, siapa tahu kerbau tersebut sudah lari dengan amat cepatnya dari sana dan berada kurang lebih puluhan kaki jauhnya dan kemudian terdengar lagi suara derapan kakinya yang amat ramai diselingi dengan suara dengusan beratnya, hanya dalam sekejap mata dia sudah lari tanpa bekas.
Kini ditengah lapangan itu hanya tinggal para toosu-toosu. Tionggoan Sam Koay, gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie yang berdiri terpaku di tempat masing masing.
Lama sekali . . . tiba tiba terdengar salah seorang murid Bu tong pay berteriak dengan keras.
"Ayoh maju, bunuh" seketika itu juga mem buat semua orang menjadi sadar kembali dari lamunannya.
Dengan menggunakan kesempatan itu juga Thiat Sie sianseng cepat cepat berteriak kepada si siucay buntung serta si pengemis pemabok.
"Ayoh jalan, kita cari si penjahat naga merah untuk bikin perhitungan."
Seketika itu juga mereka bertiga menggerakkan kakinya bagaikan kilat cepatnya berlari melewati gunung itu untuk melarikan djri dari sana.
Anak murid dari Bu tong pay sudah tentu tidak mau untuk melepaskan mereka bertiga dengan begitu saja, bagaikan kawanan tawon mereka bersama-sama melakuka pengejaran dengan kencangnya, hanya didalam sekejap mata semua orang sudah pada pergi dari sana dan kini hanya tinggal beberapa sosok mayat serta Toosu-toosu yang terluka parah, mereka yang terluka pada merintih dan mengaduh dengan lemahnya, keadaannya sangat ngeri dan menyeramkan.
Si gadis cantik pengangon kambing maupun Lie Siauw le yang memiliki hati yang welas kasih kini melibat pemandangan yang demikian mengerikan sudah tentu tidak mau berdiam diri, cepat cepat mereka mendskati Toosu-toosu yang terluka itu untuk membantu membalut luka luka mereka.
Setelah semuanya selesai barulah mereka berdua kembali keperahu.
Lama sekali Lie Siauw Ie tundukkan kepalanya termenung terus, si gadis cantik pengangon kambing yang melihat keadaannya segera mendekati dirinya.
"Cici, kau sedang pikirkan apa ? " tanyanya.
"Urusan tadi sungguh aneh sekali," sahut Lis Siauw Ie sambil memandang kearah tempat kejauhan. "Kau merasa tidak kalau kerbau itu sedikit mencurigakan ?"
"Ehmmm . . . aku kira peristiwa tadi pasti ada sangkut pautnya dengan orang yang menghadiahkan intan permata kepada kita ini, sewaktu kerbau tadi menerjang ke tengah kalangan pertempuran kecepatannya luar biasa, sebelum aku melihat lebih jelas lagi kerbau itu sudah berhasil menjatuhkan senjata senjata orang itu, kemungkinan sekali disamping kerbau ada seseorang bersembunyi."
“Betul" Teriak Lie Siauw Ie kemudian. "Kenapa aku tak berpikir sampai disana? Orang itu pasti bersembunyi disamping kerbau tersebut hanya saja kita tak sempat untuk meiihat lebih jelas lagi."
Dia berhenti sebentar lalu sambungnya lagi "Wan Moay, aku lihat memangnya kerbau itu muncul di tempat ini maka orang itu pun pasti berada tidak jauh dari tempat sini, bagaimana kalau kita melanjutkan perjalanan melalui darat saja ?"
Gadis cantik pengangon kambing itu tidak punya usul lagi maka kedua orang itu lalu mendarat di tempat itu, sesudah menyuruh tukang perahu itu pergi mereka berdua dengan menunggang seekor kambing melakukan perjalanan kedepan.
Belum jauh mereka berjalan mendadak si gadis cantik pengangon kambing itu menghentikan tunggangannya.
"Cici, kita mau kemana??" tanyanya tiba tiba. Diingatkan akan hal ini Lie Siauw Ie menjadi melengak, tetapi pikirnya cepat berputar.
“Wan moay , bukankah kerbau tadi berlari ke sana?" ujarnya kemudian sembari menunding kearah Utara, “Lebih baik kita melanjutkan perjalanan kearah sana."
“Benar. ... benar” jawab gadis cantik pengangon kambing itu sembari mengangguk. "Bagaimanapun juga kita harus mengadu nasib, bilamana bisa bertemu yah syukur kalau tidak bertemu dengan melalui berbagai daerah keresidenan di daerah Tionggoan ini kita bisa menanti sekalian pertemuan di puncak pertama di daerah Cing Jan pada bulan kelima tanggal lima yang akan datang."
Baru saja dia selesai berbicara mendadak di atas tanah ditepi jalan terlihatlah gambar seekor kerbau dengan dua tanduknya yang runcing menunjuk kearah Utara tanpa terasa gadis cantik pengangon kambing itu menjerit tertahan, serunya.
( Bersambung ke jilid 15 )
ClCI, COBA KAU LIHAT APA INI ? ?
Dengan cepat Lie Siauw Ie bungkukkan badannya dan memeriksa dengan lebih teliti lagi, tampaklah olehnya bahwa lukisan kerbau itu sedikitpun tak ada tanda tanda yang istimewa, ujarnya kemudian sesudah berpikir sebentar.
"Aku lihat lukisan ini pasti ada kegunaannya, hanya tak tahu siapa yang menggambar? Agaknya tanduk kerbau ini menunjukkan satu arah tertentu, pastilah orang itu menunjukkan arah sana.
Tidak urung arah yang kita tuju adalah sama mari kita ikuti saja terus."
Kedua orang itu segera meloncat turun dari punggung kambing dan melanjutkan perjalanannya dengan berlari sedang dibelakang mereka berlari mengikuti terus kawanan kambing tersebut. Dengan wajah mereka berdua yang amat cantik dan menggiurkan ditambah kawanan kambing yang menimbulkan suara gemuruh yang menggetarkan seluruh bumi, tak perduli mereka tiba ditempat manapun pasti menarik perhatian orang banyak.
Ternyata dugaan mereka tidak salah setelah mengikuti tanda panah itu ditempat yang menyolok tampak lagi dua buah gambar tanduk kerbau dan akhirnya disebuah pohon basar juga tumbuh dengan dedaunan yang amat lebat terlihatlah sebuah benda putih persegi panjang yang digantungkan pada ranting dan berkibar tak henti-hentinya ditiup angin.
Mereka berdua cepat-cepat lari ke sana, setelah dekat barulah melihat yang semula diduga sebagai benda putih itu ternyata tak lain adalah kulit pohon yang disayat oleh orang, sedang diatas pohon itu jelas terlihat beberapa buruf kata yang ditulis dengan amat jelasnya.
Tulisan itu diukir sedalam beberapa coen hal itu membuktikan kalau tenaga dalam orang itu sudah mencapai pada taraf kesempurnaan, si gadis cantik pengangon kambing itu setelah melihat hal itu diam diam merasa terperanjat pikirnya.
Tulisan ini jalas ditulis dengan menggunakan ilmu jari Kiem Kong Cie, jika dilihat dari dalamnya tulisan ini jelas tenaga dalamnya sudah mecapai pada puncaknya, sekalipun Tia sendiri belum tentu bisa melakukannya.
Ujarnya kemudian kepada Lie Siaw Ie.
"Cici orang yang meninggalkan tulisan ini pasti merupakan cianpwee yang berkepandaian tinggi, kalau tidak siapa lagi yang bisa memiliki kepandaian begitu tinggi ??"
"Wan moay cepat berangkat " Tiba tiba Lie Siauw Ie berteriak dengan keras.
"Malam ini dikota Tang Yang suhu mau berunding dengan orang."
Si gadis cantik pengangon kambing menjadi melengak.
"Cici kau bilang apa ?" "Coba kau baca tulisan ini," sen Lie Siaw Ie sambil menuding kearah tulisan itu.
Waktu itulah si gadis cantik pengangon kambing baru memperhatikan tulisan pada kulit pohon itu yang kira kira bermaksud.
"Malam ini diluar kota Tang Yang Lie Loo jie akan berkelahi dengan si penjahat naga merah dikuil Siang Liang Sie, cepat pergi menonton."
Agaknya Lie Siauw Ie tak tahu siapakah si penjahat naga merah itu, tanyanya kemudian.
"Wan-moay, siapakah si penjahat naga merah itu ??"
"Pada duapuluh tahun yang lalu si penjahat naga merah ini sudah menggetarkan seluruh dunia kangouw. Pekerjaan pekerjaan busuk yang dilakukan bukan saja merampok bahkan membunuh orang semau hatinya. Pada waktu dekat ini tiba tiba muncul kembali didalam Bulim dan mengganggu banyak kota besar. Pada dua puluh tahun yang lalu Tia pernah pergi mencari dia tapi dengan secara tiba tiba dia menyembunyikan dirinya, tak disangka kali ini bisa bertemu muka kembali, pertempuran malam ini pasti amat sengit"
"Wan moay kau pernah bertemu dengan orang ini ?" tanya Lie Siauw Ie kembali.
Si gadis cantik pengangon kambing gelengkan kepalanya
"Jago jago pada dua puluh tahun yang lalu mana mungkin aku pernah menjumpainya, hanya saja . . . ."
Mendadak didalam benaknya berkelebat kembali bayangan dari Ang in sin pian itu Cungcu dari Ie He Cang, sambungnya kembali.
"Hanya saja Cungcu adalah ahli warisnya, apa kau masih tak mengerti ??"
"Oooh . . . kiranya Cungcu adalah ahli waris dari seorang penjahat terkenal dari Bu lim, bilamana orang orang perkampungan tahu masalah ini mereka pasti tidak akan membiarkan dia merebut kedudukan sebagai Cungcu. Wan Moay ayoh berangkat, malam ini kita harus bisa melihat bagaimana bentuk wajahnya itu penjahat naga merah"
Mareka berdua segera membawa kawanan kambingnya melakukan perjalanan kembali menuju ke kota Tang Yang, tak sampai dua jam mereka tiba di dalam kota tersebut. Bukannya mereka langsung menuju ke dalam kota sebaliknya mencari terlebih dahulu sebuah rumah penginapan diluar kota untuk beristirahat bahkan menanyakan pula letak kuil Siang Lian Si yang letaknya kurang lebih dua puluh li diluar kota sebelah barat itu.
Menanti matahari sudah lenyap dan dibalik gunung berganti cuaca yaog agak remang remang barulah si gadis cantik pengangon kambing berpesan kepada si pelayan rumah penginapan itu:
"Kawanan kambing ini untuk sementara kami titipkan disini, malam ini kami berdua mau masuk ke dalam kota dan belum tentu kembali., kalian tak usah menunggu."
Pelayan itu segera menyahut dan melaksanakan apa yang telah diperintahkan.
Selesai membereskan pakaian serta tidak lupa menggembol senjata rahasia, sigadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie segera berangkat menuju ke kota sebelah barat dan dari sana berlari menuju kekuil Siang Lian Si.
Jarak dua puluh li bagi orang yang berkepandaian bukanlah jauh. Tidak sampai satu jam kemudian sudah terlihatlah bangunan kuil yang berdiri dengan angkernya dipinggiran sebuah bukit, bangunan kuil tersebut kelihatan amat kokoh dan angker sekali, apalagi atapnya yang berwarna merah darah membuat keadaannya semakin serem.
Dengan cepat mereka berdua berkelebat menuju keluar kuil, ujar si gadis cantik pengangon kambing kemudian dengan suara lirih.
"Ayo kita masuk dan melihat apakah Tia sudah tiba?"
"Wan moay, kita harus lebih berhati hati" Ujar Lie Siauw Ie. "Jikalau si penjahat naga merah itu datang terlebih dahulu dan sampai di temui oleh dia sekalipun kita turun tangan bersama belum tentu bisa menangkan dirinya"
"le cici, kau tidak usah terlalu pandang tinggi dirinya" Sahut gadis cantik pengangon kambing itu tertawa geli. Ini hari bisa memperoleh kesempatan seperti ini kita harus coba coba juga kepandaiannya. Saat itu bilamana siauw-moay sudah tidak kuat kau baru turun tangan membantu. Dengan keganasan serta kelihayan dari Thian Pian Siauw cu pun kita herdua tidak ada gunanya harus takuti dia orang? bagaimana hebatnya kepandaian silat si penjahat naga merah ini siapapun tidak ada yaag tahu, kemungkinan sekali dia hanya sebuah macan kertas juga belum tentu."
'Bukannya kita takut padanya, hanya saja didalam melakukan pskerjaan kita harus selalu berhati hati.
Gadis cantik psngangon kambing itu tertawa kembali, dia tidak banyak bicara lagi tubuhnya segera amelayang masuk kedalam kuil dan disusul oleh Lie Siauw Ie dari belakang.
Sesudah masuk kedalam halaman kuil Siang Lian si itu tampaklah sebuah jalan kecil yang panjangnya beberapa kaki terbentang di tengah halaman, sedang disampingnya tumbuhlah pohon pobon siong dengan amat lebatnya, keadaan begitu sunyi tak terdengar sedikit suarapun, suasana serta keadaan yang begitu sunyi dan begitu menyeramkan membuat gadis cantik pengangon kambing maupun Lie Siauw Ie merasa di dalam hatinya merasa berdesir juga. Sedang perasaan tegangpun mulai mencekam tubuh mereka berdua, langkah kakinya semakin diperingan sedang semua perhatiannya ditujukan pada gerak gerik disekelilingnya.
Selesai melewati jalan kecil yang amat panjang itu dihadapannya muncullah sebuah ruang bangunan yang amat angker dan megah, pintu ruangan tersebut tertutup dengan rapat, baru saja gadis cantik pengangon kambing itu mau memberi tahu kepada Lie Siauw le untuk meloncat naik ke atas atap mendadak dari luar kuil terdengar suara pembicaraan beberapa orang.
Gadis cantik pengangon kambing itu tidak berani berlaku ayal lagi, cepat cepat dia menarik tangan Lie Siauw Ie untuk bersembunyi dibelakang sebuah pohon besar, ujarnya deagan suara perlahan.
"Ie cici, coba kau dengar, agaknya diluar kuil ada orang yang sedang berbicara, apakah mungkin Tia atau si panjahat naga merah sekalian yang sudah datang?"
Lie Siauw Ie hanya gelengkan kepalanya dan mendengarkan lebih cermat lagi, mendadak pintu kuil terbuka lebar dan masukklah tiga orang.
Pandangan sigadis cantik pengangon kambing yang lebih tajam di dalam sekali pandang saja segera bisa melihat kalau mereka itu adalah si-Thiat sie poa, si siucsy buntung serta si pengemis pemabok.
Terdengar suara dari si siucay buntung sedang berkata.
'Benar, memang ada disini, dahulu aku masih menganggap si penjauat naga merah ini adalah seorang lelaki sejati tak disangka dia bisa melakukan pekerjaan yang mencelakai orang lain ..'
"Hmmm, jika ini hari kita bertemu muka lagi jangan sampai membiarkan dia lolos kembali, kepandaian bangsat itu sangat lihay."
Thiat Sie sianseng tertawa, ujarnya.
"Aku juga. Tidak sampai kentongan ketiga mereka pasti datang, sejak pertemuan kita setahun yang lalu digunung Wu san dan si pengemis busuk terluka ditangannya tentu ini hari kepandaiannya lebih lihay lagi, waktu itu jikalau bukannya aku mengandalkan gerakan dari Sah cap lak Thian Kang Hwee Sioe Poo yang punya perubahan aneh dan memancing dia berlari disekeliling gunung tenteu si pengemis busuk tidak akan sempat mengobati lukanya dan meloloskan diri dari sana"
Dia berhenti sebentar kemudian sambungnya lagi.
"Jika ditinjau dari keadaan seperti ini lebih baik kita jangan berhadapan secara langsung dengan dia. Untung saja ini hari bertambah dengan Lie Loo jie seorang sehingga kedudukan kita lebih menguntungkan."
"Ha la ha . . . tidak disangka sie poa rongsokanmu itu masih mempunyai pikiran untuk membokong orang, sungguh aneh, sungguh sangat aneh ..."
Mendengar omongan itu Thiat Sie sienseng tertawa terbahak bahak.
"Si penjahat naga merah mencelakai orang terlebih dahulu sehingga membuat para hidung kerbau itu mengejar kita terus menerus bilamana ini hari kita bisa menguasai dia dengan menggunakan akal, aku kira hal ini tidak melanggar peraturan Bu lim.
Saat itu mereka sudah berjalan sampai didepan pintu ruangan yang amat megah itu. Gadis cantik pengangon kambing maupun Lie Liauw Ie sekarang baru tahu kiranya toosu toosu Bu tong pay bisa cari mereka untuk balas dendam, hal ini dikarenakan fitnahan dari si penjahat naga merah, tidak aneh kalau mereka mau cari si penjahat naga merah untuk mencari balas.
Ketiga orang itu setelah mengetahui pintu ruangan tertutup rapat, masing masing saling memandang sekejap, setelah itu tampak si siucay buntung yang pertama tama menutulkan ujung kakinya yang tinggal sebelah melayang ke atas atap rumah disusul si pengemis pemabok serta Thiat Sie sianseng dan bersembunyi di balik wuwungan rumah.
Dengan tidak mengucapkan sepatah katapun si gadis cantik pengangon kambing itupan menutulkan kakinya dan meloncat naik keatas rumah untuk selanjutnya bersembunyi dibalik wuwungan rumah.
Lie Siauw Ie yang melibat gadis cantik peengangon kambing ikut meloncat naik, diapun siap siap meloncat pula, siapa tahu mendadak dari luar kuil terdengar suara dengusan kerbau yang amat berat, seketika itu juga membuat dia melengak, pikirnya,
"Ternyata dia datang juga, ternyata dia dalangnya juga"
Di dalam hati Lie Siauw Ie terus menerus memikirkan diri Liem Tou dengan sendirinya terhadap manusia misterius itu diapun menaruh perhatian penuh, kini mendengar suara dengusan dari seekor kerbau sudah tentu membuat pikirannya segera berubah.
Bukannya dia ikut meloncat naik keatas wuwungan rurmh sebaliknva malah berlari keluar dari kuil, tidak salah lagi kurang lebih beberapa kaki diluar kuil berdirilah seekor kerbau.
Cepat cepat Lie Siauw Ie berlari mendekat ke arah kerbau tersebut, tetapi pada saat yang bersamaan pula kerbau itu mendadak putar tubuh dan lari dari sana
Lie Siauw Ie menjadi gusar, bentaknya nyaring
"Binatang, kau mau lari kemana?"
Dengan cepat dia kerahkan tenaga dalamnya untuk mengejar dari belakang, siapa tahu larinya kerbau itu makin lama semakin kencang semakin cepat, lama kelamaan Lie Siauw Ie yang mengejar dari belakang semakin mengejar semakin menjauhi kuil itu.
Lie Siauw Ie menjadi amat gemas, dengan cepat dia mengeluarkan ilmu meringankan tubuhnya dengan "Liu Im Hui Sie atau terbang layang mengitari selat dari kitab pusaka Toa Loo Cin Keng, laksana bertiupnya angin kencang dia mengejar lebih cepat lagi kearah larinya kerbau itu.
Agaknya kerbau itu mendengar adanya sambaran baju dibelakangnya, terdengar dia mendengus berat mendadak larinya dua kali lipat lebih cepat dari semula, membuat Lie Siauw-Ie sikali lagi ketinggalan lebih jauh.
Lie Siauw Ie menjadi amat gusar, dengan cepat dirautnya segenggam senjata rahasia Kioe Cu Gien Ciam dan disambit dengan dahsyatnya kearah kerbau itu.
Siapa tahu seperti juga dibelakang punggungnya ada mata, mendadak kerbau itu putar tubuhnya dan menyusup ke sebelah kiri, hanya di dalam sekejap saja sudah lenyap ditengah gerombolan pohon.
Sekali lagi Lie Siauw Ie membentak dengan keras tubuhnya dengan cepat ikut menyusup ke dalam semak semak itu, tetapi pada waktu itulah kerbau tersebut sudah lenyap tanpa bekas.
Tanpa terasa lagi dia menundukkan kepalanya dengan lemas, dalam bati dia tahu sekalipun mengejar juga tiada guna karenanya segera dia putar tubuh siap kembali ke arah kuil Siang Lian Si.
Mendadak... suara rintihan yang amat perlahan berkumandang datang dari sebelah kirinya. Lie Siauw Ie menjadi amat heran, cepat-cepat dia mencari dimana berasalnya suara tersebut. Belum sampai puluhan kaki dia berjalan terlihatlah sesosok tubuh menggeletak di atas tanah, sedang kerbau tersebut berdiri disamping tubuhnya dan makan rumput dengan amat tenangnya.
Dalam hati Lie Siauw Ie hanya merasakan hatinya tergetar amat keras, pikirnya.
"Apakah orang ini adalah manusia misterius itu?
Dengan meminjam sinar bintang yang memancarkan sinarnya remang remang dia pandangi wajah orang itu lebih teliti lagi, mendadak dia menjadi amat terperanjat, teriaknya.
"Adik Tou, kau . . . kau . . . bagaimana kau berada disini ?"
Tapi . . . tiba tiba bayangan sewaktu Liem Tou jatuh ke dalam jurang di bawah Jembatan pencabut nyawa terbayang kembali didalam be naknya, teriaknya lagi.
"Oooh .... adik Tou, kau sungguh sungguh tidak mati, kau sungguh tidak mati ??? Bagaimana kau bisa lolos dari maut ? ? "
Sambil berteriak serta merta tubuhnya menubruk ke dalam pangkuan Liem Tou yang sedang berbaring di atas tanah, sedang air mata mengucur keluar dengan amat derasnya.
"Oooh Ie cici, kau ? Aku sudah naik ke atas Ie Hee Cung tapi disana aku tak melihat kau, kiranya kau berada disini . .
"Kau sudah naik ke Ie Hee Cung?" Potong Sie Siauw Ie cepat. Apa kau telah bertemu dengan ibuku 1"
Perlahan lahau Liem Tou bangun dan duduk kembali, mendadak Lie Siauw Ie melihat sinar matanya amat tajam sekali bahkan amat berbeda dengan setahun yang lalu tanpa terasa dia jadi tertegun, pikirnya.
"Apakah didalam satu tahun ini adik Tou betul betul sudah barhasil melatih ilmu silatnya ? Kalau tidak bagaimana sinar matanya bisa begitu tajam dan bersinar ? ?"
Waktu ini Liem Tou sedang memandangi wajah Lie Siauw Ie dengan terpesona agaknya dia mau mengucapkan sesuatu mandadak dibatalkan kembali.
Melihat perubahan wajahnya itu dalam hati Lie Siauw Ie merasa berdesir, teriaknya.
"Adik Tou kenapa kau tidak mau berbicara?? Ibuku kenapa ?"
Sekali lagi Liem Tou dibuat ragu ragu oleh pertanyaan ini. akhirnya sahutnya sambil mengangguk.
"Aku sudah bertemu dengan beliau, dia sekarang masih sehat waalfiat."
Agaknya Lie Siauw Ie bisa mepercayai perkataanaya ini, terdengar dia bertanya kembali.
"Adik Tou. bagaimana kau bisa berbaring disini seorang diri ???"
"Sesudah aku naik ke atas gunung Ha Mo san dan mencari kau dimana mana tidak disangka ditengah jalan sudah bertemu dengan kerbau ini, agaknya dia masih ingat dengan majikannya melibat aku ada di sana segera dia berjalan mendekati aku demikianlah dengan menunggang kerbau ini aku bisa berkelana ke mana mana, setiap kali aku bertemu dengan orang pasti kutanyakan apakah sudah bertemu dengan kau, siapa tahu larinya kerbau ini lebih cepat beberapa kali lipat dari dahulu karena saking lelahnya tak terasa aku sudah tertidur ditempat ini"
Liem Tou sama sekali tak bicara jujur Kiranya dia yang sudah mempelajari ilmu dari kitab pusaka "To Kong Pit Liok" di ruangan sumur kering itu dia tidak memperoleh suatu kesukaran apa apa dikarenakan dia pernah mempelajari ilmu silat dari kitab pusaka "Toa Loo Cin Keng' ditambah lagi latihan tenaga dalamnya sewaktu berada di gua gelap diatas puncak Ngo Lian-Hong memberikan dasar yang amat bagus buat dirinya, karena itu tak sampai sebulan lamanya dua jalan darahnya sudah berbasil ditembusi sehingga kepandaiannya pun bertambah lipat ganda
Ketika mencapai setahun lamanya baik tenaga dalam maupun ilmu meringankan tubuhnya sudah mencapai taraf paling atas. diapun dengan tekun mempelajari isi dsri kitab pusaka "Toa Loo Cin Keng" sehinggi tanpa dia sadari ilmu silanya sudah mencapai pada tingkatan paling atas dan boleh dikata sudah terhitung sebagai jago nomor wahid di dalam Bu lim.
Sebetulnya kitab pusaka To Kong Pit Liok ini berisikan ajaran rahasia dari ilmu silat ting atas, mana mungkin Lem Tou bisa berbasil menguasai seluruh isinya hanya di dalam satu tahun saja ? ? Dikarenakan di dalam batinya dia terus menerus merindukan diri Lie Siauw Ie walaupun dia benar benar belum menguasai dari kitab pusaka "To Kong Pit Liok" dia keluar juga dari dasar sumur kering itu.
Waktu itu suasana didalam bangunan tersebut amat sunyi sekali, setelah diperiksa sekali disekitar tempat itu pada sebuah ruangan kamar ditemuinya sesosok mayat yang kini tinggal tulang belulangnya saja, dia tahu tengkorak itu pasti tengkorak wanita yang memberi tahukan tempat disimpannya kitab pusaka "To-Kong Pit Liok" itu. bahkan dirinya sudah menyanggupi untuk mencarikan puteranya dan beritahukan siapakah musuh besarnya.
Dia berdiam beberapa waktu lamanya di dalam ruangan itu, mendadak dibagian dada tengkorak tersebut kelihatan tertinggal sebuah lempengan perak, cepat cspat dipungutnya benda itu.
Terlihatlah psda sebuah lempengan perak itu terukir sebuah gambar burung hong yang berkaki tunggal, dia tidak tahu apa maksud gambar itu dengan perasaan heran disimpannya benda itu ke dalam saku lalu keluar dari sana.
Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya hanya di dalam sekejap mata dia telah sampai disamping sungai dibawah gunung Wu san itu.
Waktu itu cuaca sudah menunjukkan tengah malam, dikarenakan gembira dan inginnya segera berjumpa dengan Lie Siauw Ie secepat mungkin membuat dia sedikit lupa daratan suara suitan panjang segera memecahkan kesunyian, dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya Liem Tou berlari mengikuti tepian sungai, hanya terlihat bayangan hitam ysug berkelebat dengan cepatnya, dalam sekejap mata saja lima puluh li sudah dilalui tanpa terasa.
Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang amat cepat inilah didalam satu malam dia sudah menempuh suatu perjalanan yang jauh sekali, pada keesokan harinya dia telah berada didalam kota Ciang Kong dibawah gunung Cing Jan.
Tanpa beristirahat lagi dia melanjutkan perjalanannya menuju ke atas gunung Ha Mo San.
Dengan kepandaian siat yang dimiliki sekarang ini untuk melewati ketiga rintangan bahaya itu sudah tentu tidak dipandang sebelah matapun olehnya, hanya didalam satu kali loncatan rintangan maut itu: Sungai Kematian, Tebing maut serta Jembatan pencabut nyawa sudah dilalui tanpa susah susah.
Hari itu juga dia sudah tiba di perkampungan Ie Hee Cung di atas gunung Ha Mo Leng, dengan kecepatannya gerakan waktu ini sudah tentu tak seorang pun yang merasa akan kunjungannya ini.
Pertama tama dia berlari menuju ke rumahnya Lie Siauw Ie, ketika dilihatnya pintu maupun jendela dikunci dengan amat rapatnya tanpa disadari dia sudah berdiri tertegun.
Sekalipun dia sudah mencarinya diseluruh pelosok perkampungan itu jangan dikata Lie Siauw Ie serta ibunya sekalipun bayangannya pun tak kelihatan, di dalam keadaan yang apa boleh buat terpaksa dia harus munculkan diri untnk bertanya kepada seorang rakyat dari perkampungan.
Ketika orang itu melihat kalau yang muncul adalah Liem Tou walaupun didalam hati dia merasa heran tetapi dengan sejujurnya mau juga dia menceritakan keadaan yang telah terjadi atas diri Lie Siauw Ie serta ibunya.
Pada waktu diketahuinya bagaimana Lie Siauw Ie mengikuti dirinya terjun ke dalam jurang di bawah Jembatan pencabut nyawa, kemudian ibunyapun ikut binasa karena sedihnya, untuk beberapa waktu lamanya hampir hampir dia dibuat jatuh pingsan. Demikianlah sejak hari itu dia tentulah menangis dengan amat sedihnya didepan kuburan ayahnya.
Karena kejadian itu setiap malam rakyat dari Perkampungan Ie Hee Cung tentu mendengar adanya suara tangisan seseorang yang tidak di arah munculnya sehingga membuat seluruh perkampungan menjadi gempar, tetapi Liem Tou tidak ingin diketahui kemunculannya disana karenanya hingga saat ini seluruh rakyat dari perkampungan masih menganggap peristiwa tersebut sebagai suatu teka teki.
Tiga hari kemudian perasaan masgul yang mengganjal hati Liem Tou sudah agak mengendor, Waktu itulah dia baru meninggalkan gunung Ha Me Leng. Disebabkan diapun mendengar kalau sigadis cantik pengangon kambing ikut terjun bersama sama Lie Siauw Ie, di didalam hati segera mengambil keputusan untuk naik keatas gunung Go bie. Didalam perjalanan ini dia mendengar adanya perampokan perampokan yang amat dahsyat didalam Bu lim, membuat hatinya semakin mendendam pada orang orang yang bermaksud jahat.
Diapun heran kenapa siapa s'cangkul pualam Lie Sang sebagai seseorang dedengkotnya Bu lim hanya berpeluk tangan saja didalam peristiwa ini.
Karena itulah sewaktu dia tiba diatas gunung Go bie dengan kata kata pedas dia membuat Thian Pian Siauw cu menjadi jengkel dan pergi dari sana, kemudian menghadiahkan intan dan membawa pergi kerbaunya, disampmg itu mencuri lempengan besi milik Lie Loo jie untuk mancing dia muncul kembali dalam Bu lim.
Karena tak ingin muncul kembali diantara Lie Loo jie sekalian makanya sewaktu berada dikuil Siang Lian si dia hanya memancing Lie-Siauw Ie seorang saja untuk bertemu dan melepaskan rindunya.
Sekalipun saat ini Liem Tou tak mau bicara terus terang sehingga membuat Lie Siauw Ie menaruh sedikit perasaan curiga karena cintanya kepadanya membuat dia tidak mau pikirkan hal ini lagi di dalam hatinya, dia hanya menganggap dikarenakan banyaknya musuh di dalam Bulim memang seharusnya dia sedikit menyembunyikan kepandaian silatnya.
Kini berganti Lie Siauw Ie yang menceritakan kisahnya bagaimana dia ditolong oleh gadis cantik pengangon kambing kemudian mengangkat Lie Loo jie sebagai suhunya dan berhasil mempelajari isi dari kitab pusaka Toa Loo Cin Keng, lalu bagaiman mereka dipancing oleh seorang manusia misterius sehingga terpaksa turun gunung.
Selesai mendengar kisahnya ini mendadak Liem Tou menjerit keras.
"Oooh Ie cici, kenapa tidak kau katakan sejak tadi? Pertempuran antar dua jago Bu lim yang memiliki kepandaian silat yang amat tinggi pasti menarik sekaii, ayoh kita berangkat"
Lie Siauw Ie angkat kepalanya memandang terlebih dulu keadaan cuaca, setelah diketahui waktu itu sudah menunjukkan kentongan yang kedua dan takut gadis cantik pengangon kambing mencari dia ditempat lain, sabutnya.
"Baiklah ayoh kita berangkat"
Mereka berdua segera berjilan keluar dian-tara semak semak, terlihatlah kerbau itu mengikuti dengan tenangnya dari belakang.
"Entah bagaimana kerbau itu bisa berubah menjadi amat cerdik dan sakti" ujar Liem Tou lagi. "Ayoh kita naiki saja"
"Sungguh!" seru Lie Siauw Ie ragu, karena dia sudah dua kali melihat gerak gerik yang aneh dari kerbau itu "Apa ada kalanya dia meninggalkan dirimu seorang diri?''
Dalam hati diam diam Liem Tou merasa geli, dia tahu tentu dalam hatinya sudah menaruh perasaan curiga, dengan wajah yang kebingungan ujarnya. "Cici bagaimana kau bisa bertanya begini? aku kira dia akan pergi sendiri sewaktu aku tertidur pulas, kecuali itu dia belum pernah meninggalkan samping tubuhku"
Lie Siauw Ie diam diri tidak berbicara lagi, demikinlah kedua orang itu segera naik keatas punggung kerbau dan melarikannya memenuju ke kuil Siang Lian Si.
Sesampainya di depan kuil, terlihatlah suasana di sekeliling tempat itu masih tetap sunyi senyap saja, ujarnya dengan suara perlahan.
"Adik Tou, entah mereka sudah datang atau belum? Lebih baik gerak gerik kita sedikit berhati hati"
Liem Tou mengangguk tanda setuju, sesudah meloncat turun dari tunggangannya dia menepuk punggung kerbau itu.
"Sana pergi sendiri!"
Kerbau itu seperti juga mengerti atas perkataannya, dengan mendengus perlahan dia meninggalkan tempat itu.
Sesudah memasuki pintu kuil mendadak Lie-Siauw Ie berkelebat melanjutkan langkahnya dengan bersembunyi dibalik pohon pohon siong. Liem Tou pun segera mengikuti dari belakangnya.
Terdengar suara yang perlahan ujar Lie Siauw Ie:
"Wan-moay menguntit diri Tionggoan Sam-Koay menuju kebelakang ruangan ketika dia tidak tampak diriku hatinya tentu sedang risau dan bingung."
Dengan ketajaman telinga Liem Tou saat ini mendadak dia dapat mendengar dibalik tembok ada orarg yang sedang berbicara dengan suara perlahan, ketika di dengar lebih teliti lagi dia baru tahu itu adalah suara dari Tioag-goan Sam Koay pikirnya
Si pengemis pemabok sudah pernah bertemu dengan aku ketika masih berada digunung Wu san, walaupun saat itu dia sedang pusatkan perhatiannya untuk menyembuhkan luka dalamnya tapi dia tahu atas kehadiranku, jika aku munculkan diriku saat ini maka rahasiaku pasti akan kebongkar saat ini juga, untuk mengelabui orang lain akan menjadi lebih sukar lagi.
Berpikir akan hal ini segera ujarnya kepada Lie Siauw Ie.
'Cici kau pergilah kesana, coba lihat dia bersembunyi dimana, biariah aku bersembunyi disini saja untuk menanti Kedatangan cici" Lie Siauw Ie segera mengangguk, tampak tubuhnya dengan amat ringan melayang naik keatas wuwungan kemudian berlari menuju ke halaman belakang.
Liem Tou yang melihat gerak gerik Lie Siauw Ie amat ringan dan memang jauh berbeda dengan setahun yang lalu di dalam hati diam diam ikut bergembira juga, segera dia tidak mau berdiam diri dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi berkelebat mengikuti dengan kencang dari belakangnya.
Liem Tou yang sudah ada diatas wuwungan rumah hanya dalam sekali pandangan sudah melihat kalau Tionggoan Sam Koay bersembunyi di balik wuwungan rumah sebelah belakang dan saat ini sedang guyon, sedang gadis cantik pengangon kambing bersembunnyi dibalik tembok kurang lebih tiga kaki dari tempat persembunyian Tionggoan Sam Koay, saat ini dia sedang melihat ke kanan melihat ke kiri dengan bingungnya.
Liem Tou tahu waktu ini dia pasti sedang risau karena Lie Siauw Ie tak mengikuti dirinya.
Pada saat itulah Lie Siauw Ie sudah muncul disana, gadis cantik pengangon kambing itu menjadi semakin bingung dibuatnya mau panggil takut tempat persembunyiannya diketahui tidak memanggil tidak mungkin.
Mendadak si siucay buntung membentak dengan amat keras.
"Siapa yang datang 7"
"Aduh celaka " Pikir gadis cantik pengangon kambing di dalam hati. Bila ditemui oleh mereka kita pasti celaka"
Terlihatlah tubuh Lie Siauw Ie berkelebat dengan amat cepatnya, laksana dengan seekor kucing dengan lincahnya sudah meloncat turun dari atas wuwungan dan bersembunyi dipojokan yang gelap
Tampak tiga sosok bayangan berkelebat Tionggoan Sam Koay sudah muncul diatas atap rumah dan mulai memeriksa disekeliling tempat itu.
Terdenngar si siucay buntung dengan nada keheranan sedang berkata.
. "Terang terangan aku dengar suara langkah manusia, bagaimana melihat orangnya?"
"Perkataan dari kau si siucay buntung sedikit pun tidak salah," sambung si pengemis pemabok. "Apa mungkin si penjahat naga merah atau Lie Loo jie?
Mendengar perkataan dari si pengemis pemabok ini tanpa terasa mereka bertiga sudah putar tubuhnya kembali dan berdiri bersama sama, saat ini dengan saling pandang memandang berdiri melongo disana.
Liem Tou yang melihat keadaan mereka segera tahu, tentunya setelah merasakan pahit getirnya sewaktu melawan si penjahat naga merah digunung Wu san mereka sudah tahu kelihayannya dan tidak berani berlaku gegabah. Diam diam didalam hati merasa geli juga kepingin sekali dia melihat dengan cara bagaimana mereka bertiga mau menghadapi diri si penjahat naga merah itu.
Berpikir sampai disini Liem Tou tidak mau berpikir panjang lagi, segera dia meninggalkan tempat itu untuk bersembunyi diatas pohon siong.
Kentongan ketiga dengan cepat menjelang, tiba tiba dari dalam kuil Siang Liap si berkumandang suara genta yang dipukul bertalu talu
Dengan perlahan pintu ruangan tengah terbuka dan muncul puluhan Hweesio gundul dari dalam, masing masing pada merangkap tangannya didepan dada, semangatnya tinggi dan mempertahankan keangkeran dari wajahnya masing masing.
Terakhir muncullah seorang Hweesio tua yang kurus kering seperti lidi dengan kulit badan hitam gelap.
Sesampainya di depan pintu kepalanya yang semula ditundukkan rendah rendah tiba tiba di angkat keatas dan memancarkan sinar yang tajam memandang kesekeliling tempat itu kemudian disusul dengan suatu senyuman yang amat dingin menghiasi bibirnya.
Dalam hati Liem Tou merasa tergetar amat keras, pikirnya.
"Ini sungguh amat aneh, dengan ketajaman mata dari Hwiesio tua ini boleh dikata kepandaian silatnya sudah memcapai taraf kesempurnaan, bagaimana didalam Bulim tidak pernah terdengar namanya?"
Belum selesai dia berpikir mendadak dari luar kuil muncul sesosok bayangan hitam yang berkelebat dengan amat cepatnya menuju kearah kuil, setiap lompatannya bisa mencapai puluhan kaki jauhnya bahkan secara samar samar terdengar suara dengusan kerbaunya yang amat nyaring. Liem Tou tahu orang ini pasti Lie Loo jie atau diri si penjahat naga merah, dengan sendirinya diapun ikut bersiap diri.
Gerakau orang itu amat cepat sekali, hanya di dalam sekejap mata dia sudah memasuki pintu kuil, waktu inilah Liem Tou baru bisa melihat jelas kalau orang itu tidak lain adalah si penjahat naga merah. Tampak tubuhnya yang kokoh kekar begitu masuk ke dalam kuil segera jatuhkan diri berlutut dihadapan Hweesio berwajah hitam itu.
Belum sampai tubuh penjahat naga merah itu mencapai permukaan tanah Hweesio tua itu sudah kebaskan tangannya
"Tidak perlu!"
Sedang matanya diam diam mulai memberi tanda kepada si penjahat naga merah ita, ujung jarinya dengan gerakan cepat menunjuk keatas wuwungan rumah.
Melihat kelakuannya itu Liem Tou merasa hatinya tergetar amat keras, dia tahu Hwsesio tua itu amat lihay sekali dan kini sedang memberi tahu tempat persembunyian dari gadis cantik pengangon kambing. Lie Siauw Ie beserta Tionggoan Sam Koay.
Dengan gugup dia mengerahkan kepandaian saktinya, dengan ilmu untuk menyampaikan suara, ujarnya kepada orang orang itu.
"Hwesio kurus berwajah hitam itu smat lihay. Dia sudah tahu tempat persembunyian kalian, cepat cepat menyingkir dan jangan berlaku gegabah"
Baru saja selesai berbicara suara dengusan kerbaunya berkumandang kembali, tampak sesosok bayangan hitam bsrkelebat hanya didalam sekejap mata saja sudah memasuki pinta kuil.
"Hmmm .. . sungguh lihay sekali" puji Liem-Tou di dalam hati.
Terdengar Hweesio kurus berwajah hitam berbisik bisik kepada si penjahat naga merah.
"Dia sudah datang, kau harus hadapi dirinya sebaik mungkin."
Si penjahat naga merah sedikit mengangguk, mendadak dia tertawa panjang dengan amat kerasnya sehingga menggetarkan seluruh bumi, ujarnya keras.
"Loolap menanti kedatangan dari Lie sicu!" Baru saja dia selesai berkata, tampak sesosok bayangan abu abu berkelabat, si cangkul pualam Lie Sang dengan dandanan seorang petani sudah muncul disini, sahutnya.
"Hey penjahat naga merah kau sungguh lihay sekali, apa yang disiarkan dalam Bu lim agak nya bukanlah omongan kosong belaka. disini aku Lie Loo jie beri hormat terlebih dulu "
Selesai berkata dia merangkap tangannya memberi hormat bersamaan pula mataaya berkelebat memandang keadaan disekeliling tempat itu.
Mendadak matanya berhenti diatas tubuh Hweesio tua berwajah hitam itu, air mukanya segera berubah amat hebat. Kelihatannya dia dibuat terkejut oleh ketajaman matanya.
Lama sekali dia baru terdengar dia buka mulut berkata.
"Tolong tanya apakah Thaysu adalah Thiat-Bok Taysu yang pernah menggetarkan Bu lim pada tiga puluh tahun yang lalu??
Hweesio kurus berwajah hitam itu membuka sedikit matanya kemudian dipejamkan kembali.
"Kalau kau sudah tahu Loolap pada tiga puluh tahun yang lalu sudah punya nama tentu kau akan melaporkan diri sebagai boanpwee. kenapa tidak berlaku hormat?" serunya dengan dingin, "Kau apa tidak tahu kuil Siang Lian si ini adalah tempat semediku selama tiga puluh tahun ini, selamanya aku tidak akan membiarkan manusia semacam kau masuk disini dengan seenaknya."
Si pacul pualam Lie Sang ketika melihat dia memaki dirinya, sekalipun tahu kelihayannya tapi dalam hati merasa mengkel juga, baru saja mau balas memaki mendadak dari ujung kuil berkelebat sesosok bayangan putih, gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ia sudah muncul dihadapannya.
Gadis cantik pengangon kambing itu mana tahu kelihayan dari Thiat Bok Thaysu, lantas dia tertawa dingin balas makinya.
Hmmm, namamu tidak sesuai dengan sebutannya, apa itu Thiat Bok Thaysu segala macam.
Hnmm, tidak lebih hanya manusia pandai bicara besar. Bilamana bukannya ayahku diajak bertanding dengan muridmu yang suka merampok si penjahat naga merah, kami tidak akan menginjak tempatmu yang menyeramkan ini."
Si pacul pualam Lie Sang sama sekali tidak menduga kalau gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie bisa muncul ditempat itu, segera makinya.
"Wan jie, Ie jie kenapa kalian juga datang?? bukankah sebelum aku pergi sudah memberi tahu padamu untuk jangan turun gunung???"
Waktu itulah si penjahat naga merah sudah membentak dengan amat gusar.
"Budak darimana berani mengacau disini!"
Sebelumnya si gadis cantik pengangon kambing sudah siap mau menjawab perkataan ayahnya, kini mendadak mendengar si penjahat naga merah itu memaki dirinya dia menjadi jengkel, bentaknya keras
"Kau bajingan perampok, aku suruh kau gelinding terlebih dulu dari sini!'
Mendadak tubuhnya dengan kectpatan luar biasa menerjang ke depan melancarkan serangan dahyat mengarah lambung si penjahat naga merah itu, melihat datangnya serangan, si naga merah tidak menjadi gugup, dia membetak keras ujung bajunya dikebut ke depan mendadak dengan disertai angin pukulan yang amat santar balas menyerang diri gadis cantik pengangon kambing itu.
Si cangkul pualam Lie Sang menjadi amat terperanjat, belum sempat dia membentak untuk putrinya berkelahi, dari atas atap mendadak berkelebat angin pukulan yang amat dahsyat menahan datangnya serangan dari penjahat naga merah itu kemudian disusul munculnya si siucay buntung, si pengemis pemabok serta si Thiat sie siaaseng tiga orang.
Baru saja mereka bertiga muncul terdengar si siucay buntung sudah memaki sambil menuding karah penjahat naga merah.
"Kau mau bermusuhan dengan Lie Loo-cianpwee dari partai Toen si pay, kami tidak mau ikut campur, tetapi ini hari kita harus selesaikan hutang-hutang kita lebih dulu terang terangan Ciangbunjin dari Bu tong pay Leng Cing-Cu sudah dibinasakan dibawah tanganmu kenapa kau memfitnah orang lain ?? Kenapa kau menuduh kami sehingga hidung hidung kerbau itu pada mencari kami . . . apa ini termasuk peraturan Bu lim ? ?"
Si penjahat naga merah ketika melihat yang muncul adalah si siucay buntung bertiga segera tahu kalau mereka bertiga bukanlah tandingannya sendiri, sama sekali dia tak mau menggubris mereka, kepada Lie Loo jie ujarnya,
"Hey orang she-Lie, kau adalah pimpinan Bu-lim pada waktu ini Loolap ikut merasa gembira, tetapi omonganmu harus sedikit genah, kau bilang perampokan perampokan yang sudah terjadi didaerah Tionggoan adalah perbuatanku bahkan menganjurkan jago jago didalam Bu-lim memusuhi aku, aku mau tanya kau berdasarkan apa bisa ngomong begitu ? Dan apa kamu tahu kalau itu pekerjaan dari Loolap ?"
"Ha ha ha ha . . . nama dari si penjahat naga merah siapapun telah mengenal, selamanya sesudah melakukan perampokan tidak pernah meninggalkan kehidupan bahkan meninggalkan ular merah sebagai tanda perampokan. Perampokan yang telah terjadi baru baru ini semuanya ada tanda ular merah coba kau pikir jika bukan kau yang berbuat, siapa lagi ?".
"Tidak salah pada dua puluh tahun yang lalu aku pernah melakukan pekerjaan itu. Bantah si penjahat naga merah itu Tetapi dua puluh tahun kemudian apa kau berani pastikan aku yang melakukan pekerjaan itu ? Kau berani pastikan tidak ada orang yang meminjam namaku ?"
Si cangkul pualam Lie Sang yang melihat dia mau mungkir terus menjadi amat gusar.
"Pinjam namamu atau tidak aku Lie Loo jie tidak mau tahu, ini hari kita sudah bertemu muka disini, sedikit dikitnya aku harus basmi kau dari muka bumi."
Liem Tou yang mendengar perkataan ini diam diam memuji :
"Bagus, seharusnya memang begitu."
Si siucay buntung yang melihat selama ini perkataannya tak digubris tak merasa menjadi gusar juga, mendadak bentaknya.
"Bajingan perampok, lebih baik kita bereskan perhitungan kita terlebih dahulu."
Kipas ditangannya dengan disertai angin sambaran yang dahsyat menyambar ke depan, bersama pula teriaknya kepada kawan kawan lainnya
"Hey pengemis busuk, Sie poa rongsokan mari terjang."
Si pengemis pemabok maupun Thiat sie sian iseng tidak mau berayal lagi, tongkat Tah Kauw Pang serta Sie poa besinya dengan menerjang dari sebelah kiri dan kanan bersama sama menerjang ke arah musuhnya.
Melihat datangnya serangan gabungan itu penjahat naga merah seperti tak melihat sepasang dari sebuah ujung bajunya yang dikebut kedepan sedang tubuhnya meloncat mundur dua tiga kaki kebelakang, agaknya dia tidak ingin bertempur melawan mereka.
Pada saat inilah hweesio berwajah hitam yang bernama Thiat Bok Thaysu merangkap tangannya memuji pada Buddha.
"O-min to hud"
Suarananya walaupun tidak keras tapi di dalam pendengaran masing masing terasa bagai auman singa yang amat keras sehinhga menggetarkan hati masing masing.
Liem Tou yang sudah mempelajari ilmu sakti sudah tentu tidak sampai terpengaruh oleh suara itu, tapi diam diam diapun merasa terperanjat juga oleh kedahsyatan ilmu itu, pikirnya.
"Bilamana orang ini ikut campur di dalam pertempuran ini, bukan saja Tionggoan Sam-Koay bukan tandingannya sekalipun Lie Loo jie sendiri belum tentu bisa memperoleh kemenangan dari dirinya"
Berpikir sampai disini tanpa terasa lagi seluruh perhatiannya sudah dipusatkan pada diri Thiat Bok Thaysu, asalkan dia perlihatkan sedikit gerak gerik maka Liem Tou bersiap siap turun tangan untuk menolong orang.
Terdengar si siucay buntung sudah membentak kembali.
"Hay bajingan perampok jangan lari aku dengar kau pernah menggetarkan dunia kangouw dengan mengandalkan cambuk Cie lion pian, ini hari aku ingin menjajal kepandaianmu didalam permainan cambuk Cie liong pian ini."
Selesai berkata dengan suara yang lebih dipertinggi teriaknya.
"Pengemis busuk, Sie poa rongsokan ayo serang, hey bajingan perampok cepat cabut senjatamu!"
Selesai berkata ujung kakinya yang tinggal sebelah sedikit menutul keatas permukaan tanah kipasnya dengan menggunakan jurus "Thian-Way Lay Im" atau luar langit, muncul mega menyerang bawah ketiak dari naga merah itu.
Si pengemis pemabok maupun Thiat Sie Sian seng tidak akan membiarkan si siucay buntung akan bertempur satu lawan satu dengan penjahat naga merah itu, mereka berdua cepat cepat maju menyerang kedepan.
Si penjahat naga merah yang dua kali dikerubuti kini benar benar dibuat gusar oleh tingkah laku mereka itu, tubuhnya dengan cepat berputar dua jari tangan kirinya dengan dahsyatnya.
Menjepit datangnya serangan kipas dari si siucay buntung, sedang telapak kanannya dengan melancarkan dua serangan berturut turut menyambut datangnya serangan dari si pengemis pemabok serta Thiat Sie sianseng hanya di dalam sekejap mata dia harus menahan serangan dari tiga jago berkepandaian tinggi dari Bu lim kelihatannya sedikitpun tidak merasa berat.
Mendadak Thiat Bok Thaysu mementangkan matanya lebar lebar, dengan suara yang berat bentaknya.
"Tahan, kuil Siang Lian Si ini bukan tempat untuk bertempur".
Si penjahat naga merah yang mendengar perkataan itu dengan cepat menarik kembali serangannya dan meloncat kebelakang.
"Benar hey orang she Lie, bentaknya mendadak. Kau tidak perlu menggunakan dengan menunjuk ketiga manusia aneh ini untuk bertempur terlebih dulu dengan aku Hmm. .. hmm. .-jangan harap kau bisa memperolah keuntungan dari kelicikanmu ini.
Si cangkul pualam Lie Sang menjadi amat gusar sekali.
"Bajingan perampok naga merah kau tidak usah memnfitnah orang dengan kata kata itu, Tionggoan Sam Koay adalah lelaki sejati tidak mungkin mereka mau diperalat orang lain. Kau sendiri yang sudah melakukan kecurangan dengan memfitnah mereka kini malah bilang orang lain yang curang. Mari. .. mari. . . aku mau coba coba kepandaian silat dari penjahat naga merah yang pada dua puluh tahun yang lalu pernah menggetarkan dunia kangouw"
.
Selesai berkata mendadak sepasang tangannya mencabut kearah pinggangnya.
Sreet . ." pada tangan kanannya sudah bertambah dengan sebilah golok tipis yang memacarkan sinar mata tajam sedang pada tangan kirinya bertambah dengan sebuah lempengan besi sebesar telur itik ujarnya.
"Bajingan perampok naga merah cepat cabut senjatamu ...cambuk Cie liong pian, mari kita bertempur sebanyak tiga ratus jurus, kita lihat siapa yang lebih kuat di antara kita".
Agaknya si penjahat naga merah itu tidak berani mengambil keputusan sendiri, dia menoleh sekejap memandang ke arah Thiat Bok Thaysu, dengan perlahan Thiat Thiok Thaysu mengangguk, setelah itu barulah dia berani memberikan jawabannya.
"Baiklah orang she Lie, bilamana kau bisa bertahan sampai kalah dibiwah serangan cambuk Cie Liong pian ku ini sebanyak tiga ratus jurus maka aku akan mengaku kalah dan mulai saat ini tidak akan bertemu kembali dengan kau. Tetapi sebelum itu kau harus tahu perampokan berkali kali yang terjadi didalam Bu lim bukanlah aku yang melakukan, sudahlah ayoh kita mulai bertempur."
Dengan cepat tangannya mencabut keluar cambuk Cie Liong piannya dari pinggang, sedikit pergelangan tangannya digerakkan cambuk yang semula lemas, seketika itu juga menjadi tegang laksana sebuah tombak.
Lie Loo jie yang melihat penjahat naga merah itu sudah mencabut keluar senjatanya, dia tidak berlaku sungkan sungkan lagi, segera tubuhnya mendesak kedepan melancarkan serangan dahsyat.
Pada saat yang bersamaan itulah mendadak gadis cantik pengangon kambing itu berkelebat sambil melintangkan ssruling pualam didepan dada bentaknya dengan keras.
"Sebelum kau melawan ayahku terlebih dulu harus mengalahkan seruling pualamku terlebih dulu, kalau tidak . .. Hmmm kau manusia semacam apa berani melawan ayahku???"
Agaknya si penjahat naga merah sama sekali tidak menduga kalau gadis cantik pengangon kambing itu bisa menghalangi serangannya, untuk sesaat hawa amarahnya semakin memuncak.
Cambuk Cie Liong piannya dengan tidak menimbulkan angin sambaran sedikitpun meluncur ke depan laksana sambaran kilat. Tampak sinar merah berkelabat ujung cambuk tersebut sudah berada didepan gadis cantik pengangon kambing itu
Menanti Lie Wan Giok sadar, kembali bayangan cambuk itu laksana seekor ular dengan dahsyatnya sudah mengurung seluruh tubuhnya. Untuk menghindar tidak sempat untuk melancarkan seranganpun tidak sanggup, di dalam keadaan yang amat kritis itu dia menjerit keras, tangannya diangkat keatas siap siap menahan serangan tersebut dengan keras lawan keras.
Dalam hati si penjahat naga merah itu menjadi amat girang, dia mengira bahwa serangannya kali ini pasti memenuhi sasarannya, siapa tahu pada saat yang amat kritis itulah ....
Plaaak.. . "disertai suara yang amat nyaring telapak tangannya terasa tergetar dengan amat kerasnya, sebuah ranting pohon siong pada saat yang bersamaan jatuh keatas tanah.
Diam diam di dalam hati dia merasa amat terperanjat, pada saat dia menjadi tertegun itulah mendadak sinar yang amat dingin berkelebat di depan matanya, golok tipis dari Loo jie dengan disertai sinar gemerlapan yang menyilaukan mata bagaikan kilat cepatnya mengurung seluruh tubuhnya.
Si penjahat naga merah tidak berani berlaku ayal, dengan gusar dia mendengus pergelangan tangannya mengencang cambuk Ci Liong Piannya dengan memancarkan kabut merah membalik keasal semula kemudian menangkis datangnya sinar yang menyilaukan mata itu.
"Traang.. ." cambuk Cie Liong Pian serta golok tipis itu terbentur menjadi satu membuat percikan bunga api memenuhi empat penjuru. Lie Loo jie maupun si penjahat naga merah masing masing mundur dua langkah ke belakang.
Cepat cepat Lie Loo-jie memeriksa goloknya, ketika dilihatnya tidak mengalami cidera, baru ujarnya dengan serius.
"Bajingan perampok naga merah, permainan cambukmu sangat hebat dan bukan nama kosong belaka. Dengan kepandaian silatmu sekarang ini memang didalam Bu lim sukar ada tandingan kenapa kau gemar melakukan perampokan yang merupakan pekerjaan rendah ? sungguh aku orang She Lie tidak paham"
Saat ini si penjahat naga merah sedang melintangkan cambuknya didepan dada siap menerima serangan musuh, ketika mendengar perkataan itu dia semakin gusar.
"Orang she Lie kau jangan memfitnah orang seenaknya saja" bentaknya dengan keras. "Sejak tadi aku sudah jelaskan, perampokan yang terjadi didaerah Tionggoan bukan aku yang melakukan, kau dengar tidak"
Lie Loo jie menjadi melengak Sebenarnya dia bisa turun dari gunung Go bie dan melakukan perjalanan dikarenaka hatinya terbakar oleh kata kata Liem Tou. Sesudah bsrada didaerah Tionggoan dia dengar kalau setiap tempat yang mengalami perampokan tentu tertinggal tanda ular merah dia pastikan hal itu pekerjaan si penjahat naga merah, ini hari dia berjanji untuk bertempur disini sebetulnya memang dikarenakan urusan itu.
Ketika si penjahat naga merah melihat Lie Loo jie dibuat tertegun oleh perkataannya dengan gusar sambungnya lagi.
"Loolap berani berjanji dengan kamu orang sudah tentu tidak akan takut kau menggunakan akal licik sekalipun akalmu jauh lebih hebat aku juga takkan takut padamu."
Bersamaan waktu selesainya dia berbicara cambuk Cie Liong Piannva digetarkan sedang tubuhnya maju dua langkah kedepan dan melototi musuhnya dengan amat gusar.
Lie Loo jie merupakan jagoan Bu Lim angkatan tua, kini dihadapan Tionggoan Sam Koay, gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie mendapat malu serta makian dari si penjahat naga merah itu tak urung merasa gusar juga.
"Bajingan perampok naga merah kau jangan sembarangan memaki orang, aku si cangkul pualam Lie Siang jadi orang suk terang terangan mana mau menggunakan akal licik melukai dirimu ? ??
Mendadak si penjahat naga merah tertawa terbahak bahak, dengan wajah yang amat adem serunya.
"Orang she Lie, kau tak perlu menempelkan emas pada wajah sendiri, sebelum malam ini karena mendengar kata orang aku menganggap kau sebagai seorang jagoan yang patut dihormati tak disangka kaupun merupakan manusia rendah yang tak tahu malu . . .."
Sekonyong konyong dia mempertinggi suara nya, bentaknya dengan keras "Orang she Lie aku mau tanya, perjanjian kita malam ini untuk bertanding didalam kuil Siang Lian si sama sekali tak diketahui oleh ketiga orang itu kedua perempuan itu adalah muridmu aku tidak mau ungkap lagi tetapi ketiga orang anggota dari Tionggoan Ngo Koay itu sudah bersembunyi disini, terang terangan kau sengaja mengatur rencana untuk membokong aku apa hal ini tak bisa dikatakan manusia rendah?"
Pikiran Lie Loo jie segera berputar, setelah lewat beberapa lama waktu dia pikir memang benar perkataan dia itu, karena tidak sanggup memberikan jawabannya dengan amat gusar jawabnya.
, "Tionggoan Ngo Koay dengan aku Lie Sang tak ada sangkut pautnya, dia mau datang kesini apa hubungannya dengan aku orang ? Kau bajingan rampok tidak usah banyak putar lidah lagi menambah dosa orang lain. Bila kau sudah merasa jeri lebih baik ini hari mengundurkan diri dari Bu lim saja dan tidak melakukan pekerjaan jahat lagi, maka aku Lie Sang tidak akan mengapa apakan kamu orang apabila tidak, jangan salahkan aku turun tangan berat terhadap dirimu, perkataanku sudah cukup jelas sekarang kau pikirlah lebih jelas lagi"
Si penjahat naga merah tertawa terbahak bahak baru saja mau mengucapkan beberapa patah kata yang menyindir diri Lie Loo jie mendadak si siucay buntung, pengemis pemabok dan Thiat Sie sianseng sudah melayang ke hadapannya, sambil menuding ke depan wajahnya maki mereka.
"Bangsat gundul yang tidak tahu malu, hutang lama di antara kita belum dilunasi sudah mau mencari gara cara lagi, kau sungguh keterlaluan. Ayoh serang."
Berkali kali Tionggoan Sam Koay melancarkan serangan mendesak terus terhadap dirinya, tak urung si penjahat naga merah itu menjadi gusar juga. napsu membunuhnya timbul dengan gusarnya ia membentak keras.
Jubah bajunya berkilat laksana kilat cepatnya dia berkelebat ke samping menghindarkan diri dari semua ancaman serangan ketiga senjata tajam itu, kakinya sedikit miring kesamping tubuhnya mendadak menjatuhkan diri kebelakang sedang cambuk Cie Liong piannya dengan disertai sambaran angin yang amat santar menotok ke arah si siucay buntung yang berada paling depan.
Si siucay buntung yang punya pengalaman luas di dalam menghadapi lawan sudah tentu tahu akan kelihayannya, kipasnya disontek keatas sedang tubuhnya tetap bergerak dengan meminjam kesempatan ini meloncat mundur beberapa kaki jauhnya
Agaknya si penjahat naga merah memang sengaja mencari gara gara pada dia seorang saja, si pengemis pemabok maupun si Thiat Sie sian seng dia tidak mau gubris sama sekali. Tampak tangannya sedikit digetarkan ujung cambuknya segera berubah menjadi suatu bunga bunga berwarna merah darah yang amat banyaknya, sedikit ujung baju sebelah kirinya dikebutkan, bunga bunga warna merah darsh itu dengan dahsyatnya mengurung seluruh tubuh si siucay buntung itu.
Si pengemis pemabok serta Thiat Sie sianseng yang melihat penjahat naga merah itu hanya mencari gara gara pada si siucay buntung seorang didalam hati merasa amat terperanjat, mereka tahu seluruh kepandaian silatnya yang paling diandalkan adalah permainan cambuk Cie liong Pian ini bahkan permainannya amat ganas, dahsyat dan mengerikan, sudah pasti si siucay buntung bukan tandingannya.
Segera mereka bersama sama membentak keras toya Tah Kauw Pang dari si pengemis pemabok menyerang dari sebelah kiri sedang Sie Poa dari Thiat Sie sianseng menyerang dari kanan, bersama sama dengan mempertaruhkan nyawa masing masing menerjang dengan hebatnya mengancam punggung penjahat naga merah itu.
Saat ini dalam hati Lie Loo jie tahu kalau mereka tahu bertiga bukanlah tandingan dari penjahat naga merah itu, tetapi dia sudah berjanji terlebih dulu untuk tidak turun tangan sudah tentu tidak leluasa, buatnya untuk membantu makanya dia terpaksa hanya monoton jalannya pertempuran dari samping tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Liem Tou yang menyembunyikan diri di balik pohon siong disamping terus menerus memperhatikan dan bersiap diri terhadap hweesio kurus berwarna hitam si Thiat Bok Thaysu itu dia pun sudah bersiap sedia untuk turun tangan menolong orang setiap saat, kini ketika dilihatnya si pengemis pemabok serta Thiat Sie sian seng menyerang punggung penjahat naga merah itu dengan hebatnya, segera dia tahu sekalipun Si siucay lolos dari bahaya tetapi penjahat naga merah itupun akan berusaha menolong dirinya pula.
Ternyata dugaannya sedikitpun tidak salah. ketika penjahat naga merah mendengar dari belakang badannya menyambar datang suara angin serangan dia segera tahu dirinya tidak mampu untuk menahannya, bilamana dirinya tidak mau menggubris serangan itu sekalipun cambuknya akan berhasil melukai diri siucay buntung itu tetapi dirinyapun tidak terhindar akan terluka parah juga.
Berpikir sampoi disini dia segera menyentak kembali cambuknya pergelangan tangannya diputar dengan jurus "Kim Liong Ban Cou" atau naga emas mengebas tiang, tubuhnya tanpa berputar lagi cambuk Cie Liong Piannya diputar disekeliling tubuhnya untuk melindungi tubuhnya.
Walaupun kepandaian silat dari pengemis pemabok serta Thiat Sie sianseng bukan tandingan dari penjahat naga merah itu tetapi mereka pun sudah memiliki kepandaian yang amat lama di dalam menghadapi musuh musuhnya, begitu dilihatnya penjahat naga merah itu menghindarkan diri dari serangan tersebut dengan putarkan cambuknya di sekeliling tubuhnya mereka segera tahu mungkin di dalam hal ini sudah tersembunyi suatu serangan mematikan.
Ketika dilihatnya si siucay buntung sudah lolos dari bahaya merekapun cepat cepat menarik kembali serangan serangan yang mendesak.
Tubuh mereka cepat cepat diperendah, kuda kudanya diperkuat oleh senjata senjata yang semula menyerang musuh mendadak ditarik kembali kebelakang sedang ujung kakinya dengan bersamaan waktunya menutul permukaan tanah dan melayang mundur kedua belah sisi.
Ketika menoleh kembali ke arah penjahat naga merah itu tampaklah dia masih berdiri ditempat semula, saat ini cambuk Cie Liong Piannya sudah ditarik kembali dan dilipatkan pada pergelangan tangannya hanya saja sepasang matanya dengan memancarkan sinar kemarahan yang memuncak memandang dengan gusarnya kearah mereka bertiga, sepatah kata pun tidak diucapkan.
Tiga orang yang kini sudih menduduki tiga tempat dengan bentuk segitigapun dengan tajamnya memperhatikan terus gerak gerik dari penjahat naga merah itu. Diam diam Tiat Sie-sianseng mulai memukul pulang pergi bijii biji Sie poanya untuk melihat bahaya atau tidaknya.
Wajahnya kelihatan sebentar berubah girang sebentar berubah murung dan sebentar lagi berubah menjadi agak kebingungan, agaknya dia menemui suatu urusan yang rumit. Baru saja dia berpikir dengan keras mendadak terdengar penjahat naga merah sudah membentak dengan keras.
"Orang she Lie, kau tunggulah sebentar Ketiga manusia aneh ini sudah bosan hidup, biarlah aku bereskan mereka terlebih dulu kemudian baru cari kau kembali!"
Suaranya mendadak berubah menjadi amat dingin sambungnya kembali.
"TIONGGOAN NGO KOAY JUGA merupakan jagoan yang sudah ternama didalam Bu lim, dua puluh tahun yang lalu sewaktu kalian baru saja muncul aku sudah pernah dengar nama kalian, ini hari apa kalian bertiga betul betul mau mencari gara gara dengan aku orang?"
Selesai berkata sapasang matanya dengan tidak henti2-nya berkelebat memandang ketiga orang itu bergantian.
Sekalipun Thiat Sie sianseng belum selesai menghitungkan nasib mereka tapi mendengar perkataan itu segera sahutnya.
"Penjahat naga merah hanya seorang bajingan saja didalam Bu lim, kini kami bertiga berani mencari kau entah itu bencana atau bahagia kau takkan menjerikan hati siapapun, semua ini dikarenakan hati bajinganmu yang tidak jujur dan sudah memfitnah orang lain sehingga hidung hidung kerbau dari Bu tong pay mengejar kami terus. Hmm, kau mau menakutkan siapa lagi."
"Hmm, baiklah," teriak penjahat naga merah itu sambil mendengus dingin.
"Mari kalian rasakan kelihayan dari permainan cambuk Cie Liong Pian ku ini, bila aku kecundang ditangan kalian sejak ini hari takkan muncul kembali didalam Bu lim"
"Bagus" sambung Thiat Sie siauseng dikalahkan oleh permainan cambukmu itu didalam tiga puluh jurus, bukan saja kami serahkan nyawa kami bahkan sejak ini hari didalam Bu lim kekurangan nama kami bertiga"
Si cangkul pualam yang mendengar percakapan mereka berempat diam diam pikirnya didalam bati.
"Salah, salah. Jika ditinjau dari permainan cambuk naga merah ini dia memang mempunyai kelihayan yang melebihi orang lain, seharusnyalah Thiat Sie sianseng itu hanya dikarenakan gusarnya tetapi dengan ucapannya ini berarti juga dia sudah terlaiu memandang rendah musuhnya"
Berpikir sampai disini dalam hati Lie Loo jie segera muncul keinginannya untuk membantu Tionggoan Sam Koay, ujarnya kemudian.
"Pertemuan malam ini sebetulnya merupakan urusan kami berdua dengan penjahat nga merah. siapa yang mau kalian kacau dengan jalan? Bilamana kalian benar benar punya minat untuk bertempur lawan bajingan tua ini kenapa kau sebelum ada rencana bertempur tidak janjikan lain waktu ditempat lain juga? Buat apa kalian mengganggu perjanjianku dengan dirinya ? ?"
Beberapa patah perkataan dari Lie Loo jie ini bila didengar kelihatan kalau mengandung nada teguran, si siucay buntung yang sifatnya agak keras dan kasar ketika mendengar perkataan itu didalam hatinya merasa tidak puas, baru saja dia membuka mulutnya membantah, Thiat Sie sianseng yang diantara mereka bertiga mempunyai pikiran amat cermat segera tahu maksud hati dari Lie Lo jie itu, dengan gugup dia membungkuk untuk memberi hormat.
Lie Loo jie loocianpwae tak tahu kejahatan hati diri penjahat naga merah itu sudab mencapai puncaknya, pada tahun yang lalu bukan saja sudah melukai pengemis tua diatas gunung Wu san bahkan setelah membinasakan ciangbunjin Bu tong pay Leng Cing Ci dan membiarkan mayatnya mengggeletak ditengah hutan dia memfitnah urusan itu kepada kami. Hal ini membuat hidung hidung dari kerbau Bu tong Pay menjadi percaya benar benar dan mengejar kami terus untuk menuntut balas.
Dia berhenti sebentar untuk menghela napas panjang, kemudian sambungnya lagi.
"Ini hari mendadak kami menemukan tanda kepala kerbau yang cianpwee tinggalkan, waktu itulah kami baru tahu cianpwee sudah berjanji dengan penjahat naga merah untuk bertempur disini, kami bertiga memangnya sedang mencari dia maka segera kami bertiga berangkat kesini untuk mencari balas, sama sekali kami tidak punya maksud untuk mengganggu cianpwee, harap dimaafkan. . . dimaafkan.
Beberapa perkataan ini seketika itu membuat Lie Loo jie berdiri tertegun, apa itu tanda kepala kerbau????
Tia benar." Ujar gadis cantik pengangon kam bing itu mendadak ketika melihatnya Wajah ayabnya diliputi oleh perasaan amat bingung." Wan jie serta le cici bisa menemui tempat ini semuanya dikarenakan bantuan tanda kepala
kerbau itu kalau tidak mana mungkin kami tahu kalau Tia ada disini???"
Liem Tou yang mendengarkan omongan mereka itu diam diam merasa amat geli pikirnya
"Bilamana bukannya tindakanku itu malam ini kau Lie Loo jie akan menemui kesulitan untuk keluar dari kuil Siang lian si ini".
Lie Loo jie segara termenung berpikir beberapa saat lamanya dia benar benar merasa tidak paham bagaimana bisa timbul urusan ini.
Mendadak makinya kepada penjahat naga merah itn dengan gusar.
Bajingan tua, kau sedang mempersiapkan permainan apa terhadapku aku orang? aku kira perbuatan itu tentu kau yang lakukan kalau tidak mana mungkin ada orang ketiga yang tahu?'
Penjahat naga merah itu ketika mendengar Lie Loo jie menyalahkan peristiwa ini kepada dirinya dalam hati menjadi amat gusar sekali.
Sebetulnya perjanjian untuk bertempur didalam kuil Siang lian si ini adalah siasat liciknya, karena Thiat Bok Thaysu adalah susiok-nya dia bersiap siap untuk mengerubuti Lie Loo jie hingga binasa setelah itu Thian Pian Siauw cu serta Au Hay Ong Bo dari Kiam Thian Pay dia tidak akan takut lagi.
Siapa tahu siasatnya yang licik ini sudah diganggu oleh munculnya Tionggoan Sam Koay, gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw le bahkan kini Lie Loo jie malah melemparkan kesalahan itu kepadanya sudah tentu kegusarannya tidak bisa ditahan lagi.
Saking gusarnya penjahat naga merah ini tidak sanggup untuk mengucapkan sepatah kata pun hawa murninya segera dikerahkan keseluruh tubuhnya, telapak kirinya mendadak dibabat kearah Lie Loo jie dengan dahsyatnya segera terasalah segulung angin pukulan yang amat dahsyat membelah bumi.
Bersamaan waktunya pula cambuk Cie Liong Pian ditangan kanannya dengan amat cepat di sontek menotok dada Lie Loo jie.
Lie Loo jie ying melihat penjahat naga merah itu menyerang dirinya dengan tidak bersuara, segera berteriak
"Bagus sekali!'
Kuda kudanya segera diperkuat, bersamaan pula telapak kirinya didorong kedepan naenyambut datangnya serangan tersebut dia bersiap-siap untuk menerima serangan musuh dengan keras lawan keras.
Siapa tahu baru saja Lie Loo jie mendorong telapak tangannya mendadak terasa olehnya datangnya angin serangan amat aneh sekali, dalam hati dia menjadi amat terperanjat, dengan gusarnya dia berteriak keras, sinar golok segera berkelebat diikuti berkelebatnya bayangan abu abu, tubuhnya dengan amat cepat sudah melayang sejauh dua puluh kaki jauhnya. Saking gusarnya selutuh tubuh Lie Loo jie kelihatan gemetar dengan amat keras.
Kiranya serangan telapak dari penjahat naga merah tadi adalah sebuah serangan kosong belaka, sedang serangan cambuk Cie Liong Pian yang disusul dari belakang merupakan serangan yang sungguh sungguh, menanti setelah Lie-Loo jie angkat telapak tangannya untuk menyambut datangnya serangan cambuk Cie Liong Piannya mendadak dengan menembus angin pu kulan menyambut datangnya serangan tersebut.
Jika bukannya Lie Loo jie mengubah gerakanannya yang berbenturan dengan ujung cambuk pasti akan menemui kerugian besar.
Lie Loo jie sama sekali tidak menduga kalau penjahat naga merah itu amat licik, setelah termenung sebentar dari dalam sakunya dia mengambil keluar lempengan besinya.
Golok tipis ditangan kanannya dengan menggunakan jurus "Pek Liong Hwee Thian" atau naga putih kembali ke langit berjalan kekedudukan Hong pintu ke Tong Kong menusuk dada penjahat naga merah itu.
Ujung cambuk dari penjahat naga merah itu dengan cepat dikibaskan kedepan dengan menggunakan jurus "Yu Liong Tiauw Su" ntau naga berputar kehilangan kepala tepat menutupi dadanya, kaki kirinya segera bergeser satu langkah kedepan sedang cambuk dengan disertai angin serangan yang amat santar dengan datar membabat kedepan.
Lie Loo jie tidak mau memperlihatkan kelemahannya entah dengan menggunakan gerakan apa tiba tiba tubuhnya dengan mendatar melayang keatas dan dengan mudahnya berhasil menghindarkan diri dari serangan tersebut. Begitu kakinya mencapai permukaan tanah golok tipis segera memainkan ilmu golok "Toa Loo Ciet cap Jie To Hoat" yang meliputi ilmu golok dari berbagai aliran, terlihat sinar yang menyilaukan mata memenuhi angkasa hanya didalam sekejap mata dia sudah melancarkan sembilan jurus banyaknya bahkan setiap jurus memiliki perubahan yang amat aneh sekali
Liem Tou yang bersembunyi dibalik pohon Siong diam diam memuji atas kelihayan permainan goloknya.
"Ilmu golok yang bagus"
Penjahat naga merah itu agaknya juga tahu kelihayan musuhnya, ketika melihat serangan ter sebut segera dia tahu Lie Loo jie sudah mengeluarkan ilmu "Toa Loo To Hoat" yang dia pingin menjajalnya dia tidak berani berlaku ayal lagi cambuk Cie Liong Piannya diputar ke atas dengan menggunakan ilmu "Liong Hwee Pian Hoat" cambuk diputar sehingga berubah menjadi gulungan merah yang amat berkelebat diantara sambaran golok yang menyilaukan mata itu.
Pertempuran sengit antara Lie Loo jie serta penjahat naga merah saat ini dilakukan dengan amat cepatnya, didalam pandangan Tiongoan Sam Koay, gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie mereka hanya melihat bayangan berkelabat simpang siur tanpa bisa lihat lihat jurus jurus apa yang sudah mereka gunakan.
Tetapi Liem Tou yang sudah berhasil mempelajari kitab pusaka To Kong Pit Liok adalah lain, dia dapat melihat setiap jurus jurus serangan yang dimainkan kedua orang itu, bahkan setiap orang tidak ada jang mau mengalah masing masing dengan menggunakan jurus jurus yang ampuh uotuk nengalahkan pihak lawannya, keadaaan waktu itu betul batul amat bahaya sekali.
Liem Tou yang menonton jalannya pertempuran tersebut diam diam dalam hati merasa amat terperanjat.
Dia tahu kepandaian silat dari mereka berdua seimbang apalagi kini bertemu musuh tangguh, untuk beberapa saat lamanya tentu tidak mungkin bisa diputuskan siapa yang menang, dia yang berdiri disamping dengan tenangnya mulai memperhatikan setiap jurus jurus serangan mereka kemudian secara diam diam mengingatnya didalam hati.
Kurang lebih seperminum teh kemudian Lie Loo jie serta penjahat naga merah itu sudah bertempur mencapai dua ratus jurus banyaknya.
Akhirnya Liam Tou dapat melihat juga gerakan dari penjahat naga merah itu semakin lama semakin perlahan, sebaliknya serangan dari Lie Loo jie semakin mengencang bahkan berkali kali berubah dengan, berbagai macam ilmu golok yang berbeda beda.
Liem Tou yang melihat akan hal itu diam-diam merasa amat girang pikirnya.
"Akhirnya Lie Loo jie bisa menangkan satu tingkat dari penjahat naga merah itu"
Pada saat yang amat tegang itulah mendadak .... Thiat Bok Thaysu yang berdiri dipinggiran memuji keagungan Bnuda.
"O-min-to-hud"
Dengan perlahan lahan dia mulai berjalan mendekati kalangan dimana Lie Loo- jie serta penjahat naga merah sedang bertempur dengan amat sengitnya, setelah terdengar puluhan hwee sio yang selama ini berdiam diri terus menerus mulai bersama sama memuji Budha.
"O . . Min . . To . . Hud . . "
Mendadak mereka mulai membaca doa doa untuk kematian.
"Doa kematian" ini biasanya dibaca oleh para hweesio hweesio sebelum jenazah yang hendak dikebumikan itu dimakamkan, tapi bagaimana bisa dibaca pada saat ini???"
Kalau cuma itu masih tidak mengapa, bersamaan waktu itu juga didalam sekejap mata puluhan hweesio hweesio itu mulai menyebar disekeliling kuil Siang Lian Si itu, setiap termbok setiap pintu semuanya ada hweesio yang menjaga hanya saja mereka sama sekali tidak mencabut senjata tajam masing masing tetapi dengan tenangnya terus membaca doa kemattan itu.
Liem Tou yang melihat adanya perubahan secara tiba tiba ini segera merasa ada sedikit urusan yang tidak beres, ketika melihat ketengah kalangan lagi terlihatlah kekalahan penjahat naga merah sudah mulai kelihatan dengan nyata, permainan cambuknya mulai kacau sedangkan keringat dingin dengan sangat derasa mengucur keluar membasahi seluruh badannya.
Sambaran angin dari golok tipis Lie Loo jie pun semakin lama semakin dahsyat, bukan saja menimbulkan hawa sambaran yang menggidikkan bahkan puluhan kaki disekelilingnya dilindungi oleh sinar golok yang amat rapat itu.
Tapi Thiat Bok Thaysu semakin berjalan semakin mendekat, pada luarnya sekalipun kelihatan dia masih pejamkan matanya seperti tidak ada urusan padahal Liem Tou tabu setiao tindak dia maju kedepan berarti Lie Loo jie semakin bertambah bahaya lagi keadaannya.
Pada saat inilah sisiucay buntung, pengemis pemabok, Thiat Sie Sianseng, gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie sudah melihat adanya perubahan, secara mendadak itu, mereka tahu semua sudah terjatuh didalam ku rungan orang lain.
Tanpa terasa lagi mereka menjadi amat gusar, bersama sama dengan amat dahsyatnya menubruk kearah Thiat Bok Thaysu.
Thiat Bok Thaysu sama sekali tidak ambil perduli, hanya dengan perlahan lahan pujinya lagi.
O mi to hud"
Sepasang mata dari Liem Tou segera berputar dengan amat tajamnya, mendadak dari aats ubun ubun Thiat Bok Taysu itu muncul segumpul hawa hitam yang amat tipis, dia tahu tentunya dia sedang mengerahkan ilmunya yang beracun, tanpa terasa lagi hatinya semakin me rasa terkejut.
Pikirannya dengan cepat berkelebat, tanpa pikir panjang lagi tenaga dalamnya dikerahkan segera terasalah segulung sambaran angin amat dahsyat menggulung keluar.
Ternyata Thiat Bok Thaysu amat libay sekali, hanva sedikit Liem Tou bergerak dia segera sudah berasa, bahkan tahu kalau musuhnya memiliki ilmu silat yang amat lihay, air mukanya segera berubah amat hebat, sepasang matanya yang semula dipejamkan rapat rapat kini dipentangkan lebar lebar dengan pandangan yang amat dingin bentaknya.
"Siapa!"
Seluruh jarinya yang smat tajam dengan cepat dipentangkan, bagaikan meluncurkan jarum jarum kecil dari ujung jarinya segera tampaklah segulung hawa hitam meluncur kearah po hon siong itu dengan cepat menyambut datangnya sambaran angin dari Liem Tou itu.
Mendadak Thiat Bok Thaysu mendengus dengan berat, sepasang telapaknya dibalik dengan menghadap keatas dia melancarkan dua gulung angin yang dahsyat membantu hawa hitamnya tadi, dengan paksa akhirnya berhasil juga menahan datangnya angin serangan dari Liem Tou tadi.
Pada waktu itulah senjata senjata tajam dari Tionggoaa Sam Koay, gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie sudah menubruk kearah tubuhnya.
Thiat Bok Thaysu yang baru saja turun tangan siapa akan tahu sudah bertemu dengan musuh yang tangguh didalam hatinya benar benar merasa amat terkejut bercampur gusar, sebetulnya dia ingin melemparkan kemangkelan ini pada tubuh ke lima orang tersebut, tetapi pukulan yang amat dahsyat dari Liem Tou tadi sudah membuat hatinya merasa sedikit jeri.
Akhirnya dia terpaksa manahan sabar, tubuhnya melayang mundur tiga kaki dari tempat itu dan berdiri tertegun.
Gadis cantik pengangon kambing yang melibat Thiat Bok Thaysu sudah berhasil dipaksa mundur sedang si penjahat naga merah itupun sudah dibuat kalang kabut oleh serangan gencar golok tipis ayahnya di dalam hati merasa amat girang sekali, dia tahu sipenjahat naga merah sudah berhasil dikuasai ayahnya.
Mendadak Thiat Bok Thaysu membentak dengan keras juga, tubuhnya yang kurus kering dan berwarna hitam gelap itu bagaikan kilat cepatnya sudah melayang kedepan, bersamaan pula waktunya hweesio hweesio yang berdiri ditempat keempat penjuru mulai membentak keras, mereka bersama sama mencabut keluar senjatanya mating masing kemudian dengan ganasnya mulai mengurung tempat itu.
Tionggoan Sam Koay, gudis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw le sama sekali tidak menduga kalau Thiat Bok Thaysu bisa melakukan hal ini dengan amat cepat, baru saja mendengar suara bentakannya bayangan manusia sudah berkelebat dengan amat rapat disekeliling tempat itu.
Ketika mereka berlima sadar kembali hendak mencabut keluar ssnjatanya untuk menangkis waktu sudah terlambat, sepasang telapak tangan dari Ihiat Bok Thaysu sudah berkelebat dihadapan mereka berlima siap untuk mencabut nyawanya.
Mendadak . . . , disaat yang amat kritis itu dari belakang tubuhnya secara tiba tiba terdengar suara dengusan yang amat berat, seketika itu juga beberapa orang merasakan telinganya amat panas sekali.
Thiat Bok Thaysu merasa amat gusar sekali selagi dia membentak keras, matanya dengan cepat kelihatannya memandang ke empat penjuru sedang air mukanya jelas memperlihatkan perasaan heran dan ragu ragunya.
Para hweesio yang maju menyerang kini sudah berada tepat dihadapan Tionggoan Sam-Koay, gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie, seketika itu juga terjadilah pertempuran sengit diantara mereka.
Sebaliknya pertempuran Lie Loo jie dengan si penjahat naga merah itupun telah mencapai pada puncaknya, terdengar Lie Loo jie membentak dengan amat kerasnya.
"Lepas !"
Terlihat sinar merah berkelebat, cambuk Cie Liong Pian ditangan penjahat naga merah itu segera terlepas dari tangannya dan melayang tersangkut diatas dahan pohon siong.
Tetapi disaat yang bersamaan pula Thiat Bok Thayau sudah membentak keras
"Tahan."
Para hweesio yang sedang bertempur segera menarik kembali senjatanya masing-masing dan mundur kebelakang.
Terdengar Lie Loo jie sembari tertawa panjang dengan amat nyaring ujarnya.
Bajingan tua, pada dua puluh tahun yang lalu untung kau cepat cepat bersembunyi sehingga aku tidak sempat bertemu muka dengan kau, tapi ini hari boleh dikata aku benar banar merasa puas."
Selesai berkata dia tertawa panjang dengan nyaring membuat penjshat naga merab saking jengkelnya mendengus tak henti hentinya. Seluruh tubuhnya seperti dikerumuni berjuta juta semut gemetar dengan amat kerasnya. Lama sekali barulah ujarnya.
"Sen.. senjata. . .senjata Loolap. . .Loolap sudah terlepas, kita.. .kita. . .coba coba lagi dalam ..dalam permainan ilmu pukulan".
"Ha ha ha.. .hey bajingan tua, jika kau merssa tidak puas marilah aku menyambut seranganmu kembali."
"
Bagus"
Kuda kudanya ditekan kebelakang, mendadak telapak tangannya dengan disertai angin pukulan yang amat dahsyat menggulung kedepan.
Tiba tiba Lie Loo jie menyingkir kesamping dua langkah, bentaknya.
"Tahan, biar aku bicara lebih dulu. Bajingan tua, malam ini aku tidak ada kesempatan buat bertanding kembali, jika kau benar benar ingin mengadu ilmu pukulan baiknya pada bulan lima tanggal lima kita bertemu kembali diatas puncak pertama didaerah Cing Jan."
Agaknya pertempuran tadi cukup melatih dirinya ysng untuk pertama kali sejak puluhan tshun yang lalu bertemu dengan musuh amat tangguh ketika mendengar Lie Loo jie berkata begitu hatinya menjadi amat girang.
"Baik, Loohu sampai waktunya pasti datang." Mendadak Thiat Bok Thaysu yang berdiri disamping tertawa dingin.
"Sutit harap jangan percaya omongannya sehingga tidak terjatuh didalam siasatnya yang licin, menurut pendapat susiokmu pertempuran senjata tadi sedikit mencurigakan, bukannya sutit betul betul dikalahkan olehnya".
Sipenjahat naga merah yang secara tiba tiba mendengar perkataan yang sama sekali tidak genah dari Thiat Bok Tbaysu ini tak terasa lagi sudah dibuat melengak, pikirnya didalam hati:
"Hmm. . . dia orang sedang menerangkan soal apa kepadaku dengan melalui kata kata itu?? Terpaksa dia bungkam dalam seribu bahasa.
Lie Loo jie sendiripun merasa datangnya perkataan tersebut terlalu mendadak.
"Lalu menurut pendapat dari Thaysu kau orang merasa ada sebab sebab lain apa lagi??" tanyanya dingin.
"Hey si cangkul pualam Lie Sang, namamu terkenal diseluruh dunia kangouw, tetapi aku orang sama sekali tidak menduga kalau namamu itu kosong belaka tidak sesuai dengan orangnya, urusanmu sendiri tidak tahu malah tanya orang lain, apa macamnya itu???" Maki Thiat Bok Tbaysu sambil melototkan matanya. "Secara terang terangan kau orang sudah sembunyikan pembantu yang bersembunyi ditempat kegelapan lalu secara diam diam membokong orang lain kenapa kau sekarang mungkir kembali?? he ...hee . . . mungkin kau masih bisa mengelabuhi mata orang lain, tetapi jangan harap bisa lolos dari pandangan Loolap."
Lie Loo jie yang mendengar perkataan itu semakin dibuat bingung.
"Hmm jika kau memastikan disekitar tempat ini ada orang yang hadir akan tetapi dengan cara bersembunyi, sekarang saja coba engkau katakan siapa siapa orang yang hadir tanpa diundang ? ?
Ayoh jawab dan tunjukkan? ?? ?? Hmmm ? ? Kalau bicara jangan sembarangan tanpa ujung tanpa ekor sehingga membuat semua orang kebingungan."
Siapa tahu dia berbicara mendadak dari luar kuil Siang Lian Si berkumandang datang suara derapan kaki yang amat santer sekali dari tempat kejauhan yang semakin lama semakin mendekat, pikiran Lie Looajie segera berputar, pikirnya.
"Eeeeei ..... apa sungguh sungguh ada beberapa orang yacg hadir kesini ?"
Suara derapan kaki itu dengan amat cepatnya sudah sampai di depan kuil membuat para hweesio, Lie Loo jie maupun Tionggoan San Koay sekalipun yang mendengar suara aneh itu menjadi melengak semua dibuatnya.
"Hmmm . ? Silahkan kawan kawan tampakkan diri untuk bertemu dengan Loolap ? seru Thiat Bok Thaysu dengan suara yang amat dingin.
Baru saja dia selesai berkata mendadak . .-"Braaak ?" dua buah pintu kuil yang semula tertutup rapat secara tiba tiba terbuka lebar lalu dari luar kuil menerjang masuk seekor binataeg yang agak samar samar.
Semua orang yang melibat masuknya seekor binatang ke dalam kuil dongan gerakan yang begitu ganas dalam hati diam diam merasa sangat terkejut sekali, wslapun masing masing orang memiliki kepandaian silat yang amat lihay tetapi kejadian yang muncul diluar dugaan ini membuat hati mereka merasa keder juga, masing masing dengan cepat mempersiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan.
Tetapi ketika binatang aneh itu sudah melewati pintu mendadak dia berhenti tidak bergerak sama sekali bahkan secara perlahan lahan ia mulai memperdengarkan suara dengusan yang sangat rendah, saat itulah semua orang baru dapat melihat kalau binatang tersebut adalah seekor kerbau.
Seketika itu juga Thiat Bok Thaysu maupun si penjahat naga merab menjadi tersipu sipu sedangkan Lie Loo jie serta Tionggoan Sam Koay bersama sama tertawa terbahak bahak.
"Oooh . . . kiranya yang Thaysu maksudkan dengan orang yang bersembunyi ditempai kegelapan dan membuantu aku secara diam diam adalah manusia macam ini ? ejek Lie Loo jie dengan cepat. "Haaa, haaa . . . kalau memangnya demikian bukankah Thaysu kau orang sudah terlalu pandang hina Sutemu sendiri"
Walaupun beberapa perkataan dari Lie Loo jie hanya bernada guyon tetapi dihadapan hweesio yang begitu banyak mana mau Thiat Bok Thaysu berdiam diri saja ?
"Hey orang she Lie" Bentaknya dengan amat gusar, kau manusia anjing . . . jangan salahkan bencana yang menimpa kau orang saat ini adalah disebabkan kesalahanmu sendiri, ayoh pada cabut keluar senjata tajam kalian ... kita jangan kasih mereka lolos barang seorang pun."
Tubuhnya segera menubruk kedepan terlebih dahulu sambil meluncurkan satu pukulan menghajar tubuh Lie Loo jie, sedangkan para hweesio yang ada diempat penjurupun dengan disertai suara bentakan yang gegap gempita sehingga menggetarkan seluruh permukaan bagaikan menggulungnya air bah dengan dahsyatnya menghantam diri Tiongoan Sam Koay serta si gadis cantik pengangon kambing.
Melihat suasana tersebut Lie Loo jie segera tahu bahwa suatu pertempuran yang amat sengit bakal terjadi, buat dirinya sendiri dia orang sama sekali tidak kuatir tetapi hatinya merasa amat cemas terhadap diri Lie Siauw le serta si gadis cantik prngangoH kambing, teriaknya kemudian dengan suara keras.
"Wan jie, Ie jie.. . hati hati kalian menghadapi musuh."
Saat ini angin pukulan dari Thiat Bok Thaysu sudah sampai, untuk menghindarkan diri tidak sempat lagi terpaksa dengan memperkuat kuda-kuda dia menerima datangnya serangan tersebut dengan keras lawan keras.
"Braak. . ." dua gulung angin pukulan yang amat dahsyat menghantam menjadi satu sehingga mengakibatkan getarnya seluruh permukaan.
Tampak tubuh Thiat Bok Thaysu cuma sedikit bergoyang sebaliknya Lie Loo jie terdesak mundur dua langkah kebelakang bahkan kedua belah lengannya mulai terasa amat linu sekali, tak tertahan dalam hati dia merasa bergidik juga, pikirnya.
"Bajingan tua itu tidak kusangka sekali dia orang bisa memiliki tenaga dalam yang demikian dahsyat. . . kelihatannya pertempuran malam ini agak merugikan pihakku.
Baru saja dia berpikir sampai disitu mendadak-terasa segulung angin pukulan yang jauh lebih dahsyat dari tadi menghantam tubuhnya dengan amat keras, dia menjadi terkejut dan menggeliat kesamping.
Kiranya dengan mengambil kesempatan itu Thiat Bok Thysu sekali lagi melancarkan serangannya yang amat dahsyat sedangkan mulut nya berteriak,
"Hcy tua bangka kau orang masih tunggu apa lagi??"
Sipenjahat naga merah yang mendengar teriakan dari paman gurunya ini tidak berani ber laku ayal lagi, ujung jubahnya dikebut kedepan dengan disertai hawa pukulan yang amat dahsyat dia melancarkan bokongan dari sebelah samping.
Melihat serangan gabungan dari mereka berdua dalam hati Lie Loo jie segera menjadi paham kembali, kiranya si penjahat naga merah sengaja mengundang dirinya untuk bertanding dikuil Siang Liang Si karena ditempat itu sudah diatur satu jebakan yang amat kejam sekali, dalam hati diapun sadar bahwa pertempurannya malam ini sangat mempengaruhi nama baiknya dikemudian hati, sedikit dia berbuat ceroboh maka nama besar yang didapatkannya selama puluhan tahun ini akan hancur berantakan sama sekali, bahkan nyawapun sukar untuk dipertahankan.
Karenanya dia tidak berani menghadapi dua orang musuh tangguh sekaligus hatinya terus menerus mengkuatirkan keselamatan si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie, secara diam diam dia melirik sekejap ke arah mereka.
Walaupun musuh musuhnya dengan saling berhadapan, ujung kakinya dengan cepat menutul permukaan tanah untuk menghindarkan diri dari serangan gabungan dari Thiat Bok Thaysu serta si penjahat naga merah.
Kelihatannya si gadis cantik pengangon kambing, Lie Siauw Ie serta Tionggoan Sam Koay sekalian sedang bertempur dengan sengitnya melawan hweesio hweesio itu, tetapi hal yang bikin benar benar hatinya merasa terperanjat ada lah kepandaian silat yang demikian tingginya dari pada hweesio hweesio itu, walaupun saat ini mereka berlima masih bisa mempertahankan dirinya tetapi jika waktu berlangsung lebih lama lagi urusan tentunya akan menjadi berubah.
Lie Loo jie yang melihat situasi yang sangat tidak menguntungkan bagi dirinya segera memikirkan satu akal didalam benaknya saat ini dia tidak banyak bertingkah dengan Thiat Bok Thaysu sekalian, tiba tiba tubuhnya meloncat ke tengah udara lalu berjumpalitan dan berlalu dari sana.
'Thiat Bok Thaysu serta si penjahat naga merah mana mau melepaskan dia orang begitu saja dengan cepat mereka mengejar dari belakang, empat buah telapak tangan bersama sama melancarkan tenaga pukulan laksana menggulungnya ombak ditengah samudra.
Lie Loo jie segera mengerahkan tenaga murninya, mendadak dia bersuit panjang sehingga laksana pekikan naga sakti membuat suaranya bergema sampai beberapa li jauhnya, terhadap datangnya serangan dari kedua orang itu dia sama sekali tak menggubris, ujang kakinya menutul permukaan tanah lagi lalu meloncat naik ke atas wuwungan rumah.
"Ayoh pergi dari sini." Serunya dengan keras. "Kita cari tempat yang sunyi untuk menggebrak sepuas hati."
Diikuti dengan beberapa kali loncatan dia berlalu menuju ke halaman belakang dari kuil tersebut.
Ternyata Thiat Bok Thaysu serta si penjahat naga merah tidak berpikir panjang lagi dan mengikuti dari belakang, walaupua mereka berdua tidak percaya atas perkataan dari Lie-Loo jie itu tetapi dalam hati menganggap Lie Loo jie mau melarikan dirinya karena itu masing masing segera meloncat ke atas wuwungan rumah untuk melakukan pengejaran dengan sangat cepatnya, Lie Loo jie yang melihat akalnya termakan oleh pihak musuh hatinya merasa sangat senang sekali, dia berlari terus dengan sangat cepatnya menuju kedepan.
Kurang lebih seperminum teh kemudian sudah dirasakan mereka telah jauh meninggalkan kuil Siang Lian Si mendadak sambil putar badannya dia berhenti berlari dan pada saat itulah terlihat Thiat Bok Thaysu serta si penjahat naga merah sedang menyusul datang dari puluhan kaki dibelakang tubuhnya.
Lie Loo jie tidak ragu ragu legi, hawa murninya segera disalurkan dari pusar mengelilingi seluruh tubuhnya dengan disertai suatu pukulan angin yang sangat dahsyat dia melancarkan suatu pukulan menghantam ke arah depan sehingga membuat dua kaki disekeliling tempat itu segera terkurung didalam angin pukulannya.
Thiat Bok Thaysu yang pandawgan serta penglihatannya lebih tajam segera merasakan situasi yang berbeda, teriaknya dengan cepat.
"Awas !"
Bersama sama sipenjahat naga merah mareka berpencar menjadi dua dengan berdiri pada suatu arah yang berlawanan.
Tetapi saat ini Lie Loo jie sudah punya suatu pegangan yang kuat. tubuhnya mendadak maju dua langkah ke depan dan gerakan itu khusus mencari penjahat naga merah tak menunggu sampai dia orang berdiri dengan tegak berturut turut dia melancarkan tiga pukulan gencar menghantam tubuhnya.
Si penjahat naga merah yang berada didalam situasi semacam ini boleh dikata berwda ditengah keadaan yang amat berbahaya, tetapi bagaimanapun dia bukanlah manusia yang memiliki kepandaian rendah dengan susah payah dia ber hasil juga menghindarkan diri dari dua buah serangan yang pertama tetapi ketika serangan yang ketiga menyusul dia tidak sanggup untuk menghindar kembali, terpaksa dengan keras lawan Keras dia menerima datangnya serangan tersebut.
Tetapi didalam keadaan amat gugup mana dia orang sanggup menerima datangnya serangan yang amat dahsyat itu??"
"Braak," ditengah suara bentrokan yang amat keras tubuhnya dengan sempoyongan mundur tujuh, delapan langkah kebelakang darah segar muncrat keluar dari mulutnya dengan kepala berasa pening sekali, jelas sekali dia sudah menderita luka dalam yang tidak ringan.
Thiat Bok Thaysu sama sekali tidak menyangka Lie Loo jie bisa memperlihatkan permainan ini, melihat si penjahat naga merah sudah mendapatkan kerugian yang tidak ringan, dengan amat gusarnya dia membentak keras, tubuhnya secara tiba tiba mendesak maju lebih dekat lagi lalu melancarkan pukulan menghajar tubuh Lie Loo jie.
Dalam hati Lie Loo jie memangnya tidak bermaksud mencelakai nyawa dari si penjahat naga merah itu karenana dia tidak perlu menambahi dengan satu pukukn kembali, melihat datangnya serangan yang begitu gencar dari Thiat Bok Taysu dia segera tertawa ter bahak-2 dan mengundurkan diri dua kaki jauhnya kebelakang.
"Haaa . . haaa . . Thiat Bok Thaysu!" teriaknya dengan suara yang amat nyaring. Pada dua tiga puluh tahun yang lalu sipenjahat naga merah pernah menggetarkan seluruh dunia persilatan, waktu itu aku betul hetul kagum atas nama besarnya tetapi siapa iahu. siapa tahu dia cuma seorang manusia rendah yang tidak tahu malu. Hadiahku pada malam ini bilamana ingin membalasnya aku siorang tua akan menantinya pada puncak pertama diatas Cing Jan bulan lima tanggal lima yang akan datang, selamat tinggal
Selesai berbicara mendadak dia pntar tubuhnya, dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya "Liu Im Hwee Si" atau mengikuti awan terbang melayang dia berlalu dari tempat itu dengan cepatnya.
Menanti Thiat Bok Thaysu sadar kembali dari lamunannya hendak melakukan pengejaran Lie Loo jie sudah meninggalkan tempat itu amat jauh sekali.
Dia menjadi sangat gusar sekali, sambil mendepak depakkan kakinya ke atas tanah dia Orang memaki tak henti hentinya, terpaksa dia balik kembali untuk memeriksa keadaan luka dari penjahat naga merah.
Kita balik pada Lie Loo jie yang berhasil meloloskan diri dari gencetan Thiat Bok Thaysu serta si penjahat naga merah, hatinya yang terus menerus memikirkan keselamatan dari gadis esntik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie sewaktu dilihatnya Thiat Bok Thaysu tidak melakukan pengejaran, dengan cepat dia me mengerahkan ilmunya berlari balik kedalam kuil Siang Lian Si.
Beberapa saat kemudian kuil Siang Lian Si secara samar samar sudah muncul dihadapannya, saat itulah dia dapat mendengar suara pertempuran yang amat sengit diselingi dengan suara kesakitan yang menyayatkan hati berku-mandang datang dengan jelasnya, dia orang segera tahu pertempuran didalam kuil itu sudah mencapai pada puncaknya.
Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang lebih dahsyat dia berlari semakin cepat lagi menuju kearab kuil.
Mendadak .. .
Suara dengusan kerbau yang amat keras bergema memenuhi seluruh permukaan, suara itu semakin lama semakin keras,,dan semakin laa semakin mengerikan kedengarannya, jelas sang kerbau sudah dibuat kalap.
Sebetulnya sejak kerbau itu menerjang masuk kedalam kuil, Lie Loo jie sudah mengenal kembali kalau kerbau tersebut adalah kerbau yang diberikan kepada Liem Tou lalu menghilang secara mendadak itu, kini mendengus suara dengusan yang amat cemas dari kerbau itu dia orang segera tahu kalau gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw le sudah menemui bahaya, dengan semakin cepat lagi dia berlari kearah dapan.
Sebentar saja dia sudah tiba didalam kuil Siang Lian Si, ketika dia mendongakkan kepala tetlihatlah diatas wuwungan rumah terdapat bayangan manusia yang sedang berkelebat diselingi sambaran sinar golok yang gemerlapan. Tionggoan Sam Koay. gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw le mereka itu masing masing orang sedang melawan dua orang musuh.
Hanya didadam sekali pandang dia bisa melihat siapa menang siapa kalah, dengan disertai suara bentakan yang amat keras sesosok bayangan manunusia dengan cepatnya melayang keatas dan menuburk kearah Lie Siauw Ie, hanya dalam sekali gebrakan saja dimana angin pukulannya menyambar dua orang hweesio dengan disertai suara jeritan kesakitan tersapu jatuh dari atas wuwungan rumah.
"Suhu!" teriak Lie Siauw Ie kemudian setelah dilihatnya siapa orang yang baru saja me nolong dirinya.
Lie Loo jie mana ada kesempatan untuk menjawab, dia cuma mendengus perlahan sedang tubuhnya dengan amat cepat melayang kesamping tubuh si gadis cantik pengangon kambing itu, dengan menggunakan cara yang sama pula dia membereskan dua orang hweesio yang sedang mendesak putrinya mati matian itu.
"Ayah, coba kau lihat kerbau itu" teriak gadis cantik pengangon kambing itu, kemudian setelah si Lie Loo jie berhasil menyingkirkan ke dua orang hweesio itu.
Lie Loo-jie tidak menyahut, setelah dilihatnya baik si gadis cantik pengangon kambing maupun Lie Siauw Ie tidak menemui cidera segera dia memaki.
"Lihat kerbau, kerbau apa ? Suruh kalian jangan ikut turun gunung kenapa kamu orang tidak mau dengar omonganku ??? Ayoh cepat pergi dari sini"
Tetapi sewaktu mendengar perkataan dari gadis cantik pengangon kambing tak terasa dia pun menunduk ke bawah, jika tidak masih melihat mengapa begitu dia melihat ke bawah terasa hatinya berdebar debar dengan amat keras nya, seluruh tubuhnya terasa mendingin.
Kiranya dibawah ruangan tersebut telah dipenuhi dengan mayat mayat yang bergelimpangan memenuhi seluruh permukaan tanah menyerupai sebuah selokan kecil.
Beberapa puluh hweesio lainnya yang masih hidup tampak sedang melarikan diri dikejar oleh kerbau tersebut dengan amat kencangnya.
Diantara terjangan serta injakkannya yang amat keras beberapa puluh hweesio tersebut hanya didalam sekejap saja sudah tinggal beberapa orang saja yang berlari dengan terbirit-birit sambil berteriak teriak ketakutan,
Dengan perlahan pandangan Lie Loo jie beralih ketempat lain. seketika itu juga dia menemukan juga kalau diatas pohonpun sudah di penuhi dengan hweesio yang sedang bersembunyi disana sambil mulutnya komat kamit membaca doa minta keselamatan.
Situasi yang benar benar sangat mengerikan ini membuat Lie Loo jie merasa agak tidak tega, baru saja dia hendak membentak kerbau itu untuk menghentikan gerakannya meudadak terdengar sipengemis pemabok membentak keras.
"Pergi"
Bluuuk.. ."sipengemis pemabok itu dengan amat cepatnya berhasil menghajar jatuh seorang bweesio kebawah atap.
Ketika..kerbau tersebut melihat adanya manusia yang jauh dari atas dengan cepat tubuhnya menerjang maju kedepan, ditengah injakan injakan yang anat keras serta suara jenian ngeri yang menyayat hati, perut hweesio itu sudah pecah dan terkoyak koyak sehingga isi perut pada berhamburan, seketika itu juga hweesio itu menemui ajalnya.
Terasa lagi Lie Loo jie gelengkan kepalanya, teriaknya kemudian dtngan suara yang amat nyaring.
"Tiongoan Sam Hiap su?? biarkan mereka pergi saja.
Sisiucay buntung, pengemis pemabok serta Thiat Sie Sianseng ketika mendengsr suara seruan dari Lie Loo jie dengan cepat meloncat mundur kebelakang membiarkan kelima orang hweesio tersebut berlari terbirit birit dari sana.
L'e Lno jie segera membentak kembali.
"Su???"
Agaknya dia punya maksud untuk menghentikan gerakan dari kerbau tersebit, siapa tahu setelah mendengar teriakan tersebut bukannya berhenti bergerak kerbau tersebut malah semakin mempercepat kejarannya kearah beberapa orang hweesio itu,
Lie Loo jie menjadi keheran heranan.
"Haaa apakah kerbau ini sudah berubah sifatya?? sebetulnya kerbau adalah sama dengan anjing yang merupskan binatang paling setia terhadtp majikannya, kenapa kali ini pengalaman tersebut tidak cocok.
Pada saat pikirannya berputar itulah kerbau tersebut berhasil menerjang seorang hweesio kembali, terdengar hweesio itu menjerit kesakitan darah segar segera mengucur -keluar dengan amat derasnya, pada punggunguya sudah bertambah dengan dua lubang besar terkena tanduknya kerbau itu, seketika itu dia juga jatuh binasa.
Lie Loo jie semakin cemas lagi, berturut turut dia beiteriak beberapa kali untuk berusaha menghentikan sang kerbau yang sudah kalap itu.
"Su.Su. Su."
Lalu gumamnya seorang diri. Jika tidab berhenti lagi, aku segera akan membinasakan dirinya,"
Tetapi kerbau itu sama sekali tidak mau mendengar bentakannya, dia masih meneruskan terjangannya.
Saat ini. Lie Loo jie benar benar sudah tidak bisa menahan sabar lagi, bentaknya keras.
Binatang, hutang nyawa harus diganti nyawa kau jangan salahkan aku siorang tua akan turun tangan jahat kepadamu?"
Tubuhnya dengan cepat melayang turun ke-bawah telapak tangannya bagaikan kilat cepatnya sudah melancarkan serangan menghajar punggung ketbau itu.
Jika dibicarakan dari kehebatan serta kesempurnaan dari ilmu silat Lie Loo jie untuk menbinasakan kerbau itu sama gampangnya dengan mengsmbil barang dari sakunya sendiri saja, hal itu merupakan suatu pekerjaan yang sederhana sekali.
Siapa duga kerbau itupun mempunyai perasaan yang amat tajam sekali, baru saja Lie Loo jie melancarkan serangannya kedepan mendadak kerbau itu menarik punggungnya kembali kedalam, dengan disertai suara desiran yang berat kaki belakangnya melancarkan tendangan lalu kabur dengan amat cepatnya kedepan.
Hanya didalam beberapa kali lompatan saja dia sudah berada sangat jauh dari kakek itu membuat pukulan dari Lie Loo jie seketika itu juga menyambar permukaan tanah membuat pasir serta kerikil pada melayang memenuhi angkasa.
Beberapa saat kemudian kembali kerbau itu berhasil menyandak seorang hweesio yang sedang lari ketakutan.
"Binatang terkutuk" bentak Lie Loo jie dengan amat gusarnya.
Tubuhnya dengan cepat melayang kedepan mengejar dibelakang tubuh kerbau itu, dengan tepat mengarah pantat kerbau tersebut, dia melancarkan dua buah serangan dahsyat tanpa ada ampun.
Kerbau itu seperti dibelakang ada pantatnya, ternyata dengan cepat sudah menggelindingkan badannya keatas tanah dan dengan persis berhasil menghindarkan datangnya serangan tersebut.
Terdengar suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati, angin pukulan dari Lie Loo jie bukannya berbasil membinasakan kerbau itu sebaliknya dengan tepat menghatam tubuh hweesio yang sedang lari ketakutan itu, darah segar segera muncrat dari tubuhnya dan seketika itu juga menemui ajalnya.
Kali ini Lie Loo jie benar benar dibuat kheki sampai wajahnyapun berubah menjadi pucat ke hijau hijauan, tangannya dengan cepat melayang kedepan, dua buah lempengan besi yang selamanya tidak pernah dipergunakan dengan meninggalkan suara desiran yang amat keras menyambar kedepan mengancam sepasang mata dari kerbau itu.
Kelihatannya lempengan besi itu segera akan menghajar sepasang mata dari sang kerbau itu, mendadak dia menolehkan kepalanya disertai suara ringkikan perlahan, lempengan besi terse but dengan tepatnya berhasil menghajar lehernya tetapi sama sekali tidak menimbulkan perubahan apapun bagi dirinya serangan itu lenyap bagaikan ditelan gelombang samudra.
Sekalipun Lie Loo jie mempunyai pengalaman yang amat luas dengan pengetahuan tentang kejadian aneh yang amat banyak kali ini benar berar dibuat tertegun juga oleh kejadian yang baru saja ditemuinya ini dengan mata terbelalak mulut melongo dia berdiri tertegun memandangi kerbau itu.
Sedangkan kerbau itupun tidak merasa takut lagi dengan cepat menghentikan larinya bahkan sepasang matanya yang bulat dengan gayanya mengejek memandangi dirinya.
Melihat hal itu Lie Loo jie semakin mendongkol, tetapi kali ini dia bergerak maju dengan langkah yang amat perlahan sekali, kemudian pikirnya.
"Hmmm. asalkan aku berhasil mendekati badanmu, tidak akan terlalu sukar lagi untuk menawan kau binatang."
Siapa tahu kejadian yang aneh sekali lagi muncul dihadapan mukanya .... setiap kali dia maju satu langkah maka kerbau itu ikut mundur satu langkah kebelakang. boleh dikata dia tidak bisa mengapa apakan dirinya.
Tidak terasa lagi Lie Loo jie merasa hatinya seperti dibakar, pikirnya dengan gemas.
"Aku si cangkul pualam Lie Sang sudah pernah manjagoi seluruh dunia persilatan selama puluhan tahun lamanya ternyata hari ini tidak sanggup untuk menguasai seekor kerbau saja. Aiii hal ini sungguh memalukan namaku yang sudah terkenal tersebut."
Berpikir akan hal ini nafsu membunuhnya menjadi timbul kembali, dengan cepat dia menyalurkan seluruh hawa murninya pada kedua belah telapak tangannya, dia bersiap siap menbinasakan kerbau tersebut didalam satu kali pukulan saja sehingga mukanya sedikit dapat terlindung
Tiba-tiba . .. .
Suatu suitan nyaring dari Thiat Bok Thaysu telah menembus awan berkumandang datang, Lie Loo jie menjadi kaget, disadari kembali apa yang akan terjadi, dengan cepat memrandang ke arah Tionggoan Sam Koay, si gadis cantik pengangon kambing serta Lis Siauw-Ie berseru dengan keras.
"Kalian kenapa tidak pergi dari sini ??? Mau tunggu apa lagi hasa ? ?"
"Suhu, bagaimana dengan Liem Tou?" tanya Lie Siauw Ie mendadak ketika teringat kembali kepada diri Liem Tou.
"Apa ? tanya Lie Loo jie keheranan. "Kau sedang bicara apa ? Kau sudah bertemu dengaa Liem Tou?"
"Benar," sahut Lie Siauw Ie membenarkan. "Semula dia berada diatas pohon siong tetapi sekarang telah ienyap, kemungkinan sekali dia bersembunyi ditempat lain. jika kita pergi semua bagaimana dia orang ?"
Perkauan dari Lie Siauw Ie ini diucapkan terlalu mendadak, membuat Lie Loo jie setengah percaya setengah tidak, untuk beberapa saat lamanya pikirannya berputar terus dengan amat kerasnya.
Tiba tiba . . . sepertinya dia sedang memahami sesuatu, dengan tanpa dia sadari kepalanya sudah ditolehkan ke arah kerbau itu mendatanginya dengan melotot.
Meiihat Lie Loo jie memandangi dirinya dengan mata melotot terdengar kerbau tersebut segera meringkuk keras lalu jejakkan empat buah kakinya kebelakang dan hanya dalam beberapa kali loncatan saja dia sudah mengelilingi satu kali dalam halaman itu lalu dengan kencangnya menerjang keluar dari pintu kuil.
Cuma didalam beberapa saat saja suara derapan kakinya makin lama semakin menjauh dan akhirnya lenyap dari pendengaran.
Saat ini suara suitan dari Thiat Bok Thaysu berkumandang kembali, agaknya sebentar lagi dia sudah akan tiba disana
Dangan cepat Lie Loo jie mendesak Tiong goan Sam Koay. sigadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw le untuk cepat meninggalkan tempat itu.
Tampak Thiat Si sianseng merangkap tangan nya menjura lalu ujarnya.
Cian pwee kalau memangnya memerintahkan kami berbuat demikian, boapwee sekali tidak akan berani membantah, selamat tinggal."
Selesai berkata bersama sama dengan kedua orang temannya mereka meioncat turun dari wuwungan runah kemudian dengan amat cepat nya berlalu dari sana, hanya di dalam sekejap saja mereka sudah lenyap dari pandangan.
Sebaliknya sigadis cantik pengangon Kambing serta Lie Siauw le yang sudah bertemu kembali dengan Lie Loo jie mana mau pergi dari sana seperti halnya dengan Tionggoan Sam Koay? mereka tetap berdiri disana dengan ragu ragu.
"Wan jie, Wie jie kenapa kalian tidak pergi juga???" Teriak Lie Loo jie kembali dengan keras." Tenaga dalam dari Thiat Bok hweesio amat kuat sekali bahkan aku sendiripun tidak sanggup untuk menandingi dirinya apa kalian kira dengan kepandaianmu masih bisa bertahan terhadap serangan nya?"
Si gadis cantik pengangon kambing yang melihat Lie Loo jie menjadi marah dia segera memperlihatkan sifat alemannya, dia menganggap asalkan dia berbuat demikian tentu ayahnya akan segera menjadi gembira kembali.
"Tia." ujarnya dengan nada aleman. "Aku serta Ie cici memangnya mau ikut kau orang tua melakukan perjalanan."
"Tutup mulut." mendadak Lie Loo jie membentak dengan amat gusarnya.
"Apa yang sudah aku pesankan kepada kalian?? Haaa?? kenapa kalian sengaja tidak mau mendengarkan omonganku?? sekarang aku tidak mau mengurus kalian lagi, ayoh cepat pergi dari sini."
Suaranya keras nadanyapun amat kasar, sama sekali berbeda dengan sifatnya pada hari hari biasa.
Sigadis cantik pengangon kambing menjadi sedikit melengak, lalu dengan mata memerah hampir hampir menangis serunya.
"Tia, kau tidak tahu, , . ."
Sebenarnya dia menceritakan suatu yang ditinggalkan didalam gua mereka, siapa tahu baru saja dia mengucapkan sepatah kata suara dengusan kerbau dari luar kuil sudah bergema kembali tak henti hentinya diikuti suara derapan kaki yang keras mulai mendekati dari arah jauh
Beberapa orang itu tak terasa lagi sudah mengalihkan pandangannya keluar kuil sedangkan sigadis cantik pengangon kambing itupun dengan sendirinya menghentikan pembicaraan selanjutnya.
Didalam sekejap saja kerbau yang telah pergi tadi sudah menerjang masuk kembali kedalam kuil, tetapi pada tanduknya kali ini sudah tergantung seseorang.
Meiihat kejadian itu mereka bertiga jadi kebingungan dan merasa amat terkejut sekali, "Mendadak" ....,"
"Touw titi, itu dia Touw titi," teriak Lie Siauw Ie dengan amat keras.
Tubuhnya dengan cepat melayang turun dari wuwungan rumah dan dengan menyambut datangnya kerbau tersebut dia menerjang ke depan, agaknya dia bermaksud menyambar orang yang sudah tergantung pada tanduk kerbau itu
Kiranya hanya dalam sekali pandang itulah Lie Siauw le sudah mengenal kembali, kalau orang itu adalah Liem Tou.
"Ie jie, jangan." teriak Lie Loo jie dengan terperanjat sewaktu dipandangnya Lie Siauw Ie menubruk ke arah kerbau tersebut.
Tetapi saat ini Lie Siauw Ie sudah berada kurang lebih beberapa depa dari kerbau itu, untuk mencegah sudah tidak sempat lagi kelihatan nya Lie Siauw Ie segera akan kena sambar oleh kerbau yang sedang menerjang ke arahnya dengan amat ganasnya itu.
Pada saat Lie Loo jie serta Lie Siauw Ie merasa terperanjat sehinga keriingat dingin mengucur keluar membasahi bajunya itulah tiba tiba kerbau itu mundur dua langkah kebelakang, de ngan bentakan rendah mendadak kerbau itu meloncat melalui atas kepala lalu menerjang kedalam ruangan kuil yang amat megah itu.
"Suhu .... suhu ..." teriak Lie Siauw Ie dengan amat cemas. "Dia adalah Liem Tou, suhu kau tolonglah dirinya."
Tanpa menanti jawaban lagi dia pun berlari mengikuti kerbau tersebut menerjang masuk ke dalam ruangan megah itu.
Lie Loo jie tahu dia mau tidak mau harus turun tangan untuk memberi bantuan, melihat si gadis cantik pengangon kambing masih ada di-atas genteng cepat gapenya.
"Ayoh ikut aku turun ke bawah."
Si gadis cantik pengangon kambing dengan cepat melayang turun ke bawah mengikuti diri Lie Loo jie masuk kedalam ruangan megah itu.
Terasa keadaan didalam ruangan megah itu amat seram dan dingin sekali, suasananya amat sunyi dan gelap, cuma ada serentetan sinar yang amat samar memancar keluar secara samar samar dari patung Budha diatas meja sembahyangan
Lie Loo jie yang terang terangan melihat Lie Siauw Ie dengan mengikuti kerbau itu menerjang masuk kedalam ruangan ternyata kini sudah lenyap tak tampak hatinya menjadi amat keheranan kepada sigadis cantik pengangon kambing ujarnya dengan suara perlahan-
"cepat perhatikan lebih teliti lagi Lie Siauw Ie sudah pergi kemana??"
Selesai berkata kepadanya segera berputar menyapu sekejap kearah sekeliling tempat itu. mendadak disebelah kiri dekat ujung tembok dia melihat adanya sebuah genta besar yang tergantung ditengah udara genta itu cuma ditahan dengan seutas tali tanpa adanya rak untuk menyimpannya, barang barang yang diatur seperti ini memang sangat mencurigakan sekali tak terasa lagi Lie Loo jie menjadi curiga juga sarunya.
Didalam kuil ini tantu ada barang barang yang mencurigakan sekali, awas jangan sampai kena terjebak."
Baru saja dia merasa amat curiga mendadak dari belakaag badannya terdengar suara benturan yang amat karas sekali dua buah pintu ruangan itu mendadak sudah tertutup dengan sangat rapatnya diikuti suara tertawa yang sangat menusuk telinga bergema melalui seluruh ruangan tersebut.
Lie Loo jie segera bisa menangkap kalau suara itu berasal dari Thiat bok Thaysu, air mukanya berubah sangat hebat sambil menyambar tangannya si gadis cantik pengangon kambing dia meloncat ke kanan,
"Lie sicu kau orang tidak usah gugup, terdengar suara dari Thiat Bok Thaysu beigema datang, "Kau telah memasuki kuil Siang Lian si-ku. Kau orang sudah tidak pandang sebelah mata-pun terhadap kuil Siang Lian si kami ini, kenapa sekarang menjadi gugup ?" tetapi . .Hee hee, urusnj yang terjadi didalam
dunia memang sukar untuk diduga semula."
Selesai berkata dia kembali tertawa serak, diikuti suara keagungan Budha yang membetot-kan nyawa.
Omintohud . . Omintohud."
Suaranya itu kedengarannya amat mengerikan sekali sehingga membuat bulu kuduk mereka berdua pada berdiri ditambah pula suasana didalam kuil itu amat menyeramkan seperti berada diakherat saja wembuat hati mereka berdua semakin bergidik.
Saat ini gadis cantik pengangon kambinglah yang merasa paling kaget bercampur ketakutan sambil menarik narik tangan Hek Loo jie tanya nya dengan suara yang amat lirih.
"Tia, kau dengar hweesio kurus kering itu ber bicara dari mana? kenapa kita tidak bisa melihat dirinya?"
Dalam hati Lie Leo jie tahu dirinya sudah terjerumus kedalam situasi yang sungguh sungguh membahayakan keselamatan jiwanya, oleh sebab itu seluruh perhatiannya sudah dipusatkan pada gerak gerik yang terjadi diruangan itu, terhadap perkataan itu dari gadis cantik pengangon kambing itu dia orang sama sekali tidak memberikan jawabannya.
"Sreet" tiba tiba dia orang mencabut keluar goloknya yang amat tipis dan dicekal kencang kencang ditangannya, sedangkan sepasang matanya dengan amat tajam sekali menyapu beberapa kali keseluruh ruangan.
Sikapnya yang amat tegang dari Lie Loo jie baru dilihat gadis cantik pengangon kambing untuk pertama kalinya, tak terasa diapun merasa hatinya berdebar dengan amat kerasnya, dalam hati dia berpikir.
"Apakah hweesio kurus dan hitam pekat itu benar benar lihay sekali?''
Ketika pikiran ini berkelebat didalam benak nya, mendadak dia teringat kembali terhadap keselamatan dari Lie Siauw Ie serta Liem Tou yang tersangkut diatas tanduk kerbau, sebenar nya mereka telah pergi ke mana??? apakah merekapun juga terjebak oleh alat rahasia yang ada didalam kuil ini?"
Teringat akan hal ini seperti juga baru saja disiram dengan sebaskom air dingin hatinya merasa berdesir, bisiknya kembali kepada Lie Loo jie.
"Tia, apakah didalam kuil ini benar benar ada alat rahasianya"
"Wan jie, kau jangan bertanya terus terusan" "seru Lie Loo jie sewaktu mendengar gadis cantik pengangon kambing bertanya untuk kedua kalinya.
"Kita harus memperhatikan sekitar tempat ini apakah ada suatu perubahan yang mencurigakan"
( Bersambung ke jilid: 17 )
"Tia, Lalu Ie Cici apa mungkin sudah.."
"Tidak usah banyak tanya lagi, aku sudah tahu!' Potong Lie Loo jie dangan cepat.
Berbicara sampai disitu dia segera menarik tangan si gadis cantik pengangon kambing untuk menyusup dengan cepatnya kedepan, dia bisa melihat pada dinding pintu itu ternyata telah terbuka sebuah pintu yang menghubungkan tempat itu dengan sebuah lorong yang sangat panjang sekali.
Si gadis cantik pengangon kambing menjadi amat girang, dengan gerakan badan yang Cepat dia siap siap hendak menerjang masuk terlebih dulu ke dalam lorong.
"Jangan terburu buru, jangan sampai terkena bokongannya" mendadak teriak Lie Loo jle sambil menarik tangannya kebelakang.
Tubuh gadis cantik pengangon kambing itu segera mundur baberaba laagkah kebelakang, dan pada saat itu pula terdengar Thiat Bok Thaysu tertawa kembali dengan amat seramnya.
"Hee .. hee . . heee .. sungguh hebat sekali kau orang, tidak kuduga si cangkul pualam Lie Sang jadi orang amat teliti sekali, tapi sekalipun begitu apa gunanya?? saat ini walaupun kau punya sayappun jangan harap bisa terbang lolos dari tempat ini."
Dengan perlahan pintu tadi ditutup kembali dengan rapatnya disusul dengan bergemanya suara lonceng yang berbunyi tak henti hentinya didalam ruangan tersebut.
Kiranya genta yang semula digantung pada ujung tembok sebelah kiri saat ini secara otomatis sudah bergoyang dengan amat kerasnya sehingga suaranya memekikkan telinga.
Didalam ruangan kuil yang demikian besar dan ditutup dengan begitu rapatnya suara pantulan dari gema tersebut benar benar dahsyat sekali, membuat Lie Loo jie serta gadis cantik pengangon kambing benar benar kewalahan, untuk berbicarapun terpaksa harus berteriak teriak keras
Ditengah bergemanya suara genta yang mengacaukan pikiran terdengar suara tertawa yang mengerikan dari Thiat Bok Thaysu berkumandang kembali, makinya:
"Hey orang she Lie, tidak kusangka sama sekali kamu orang ternyata begitu kejamnya, seluruh hweesio dari Siang Lian Si ku hampir-hampir sudah terbinasa ditanganmu semua, jika tidak berhasil membalas dendam ini hari aku bersumpah tidak akan jadi manusia."
Saat ini Lie Loo jie benar benar memperhatikan berasalnya suara dari Thiat Bok Thaysu, akan tetapi walaupun dia sudah memperhatikan dengan amat teliti jsngan dikata bayangan manusia sekalipun letak berasalnya suaranya pun dia tidak bisa mengetahui. "Mendadak . . ."
"Kraaak. . .kraaak." suara yang amat berisik sekali bergema memenuhi seluruh ruangan tersebut.
"Tia, coba kau lihat" terdengar si gadis cantik pengangon kambing itu berbisik kepada diri Lie Loo jie.
Dengan mengikuti tudingannya Lie Loo jie segera memandang kesana. tampaklah ketiga buah patung Budha yang ada dibelakang meja sembahyang itu meloncat turun dari tempatnya. Ujung kakinya dengan cepat menutul permukaan lalu dengan gerakan yang amat cepat sekali ketiga buah patuug itu menyerang ke arah si gadis cantik pengangon kambing serta diri Lie Loo jie.
Bersamaan waktunya pula ketiga buah patung Budha itu mementangkan mulutnya secara tiba tiba bagaikan kilat cepatnya tiga rentetan sinar yang berbeda memancar keluar.
Dan mulut patung Budha yang ada ditengah ternyata sudah memancar keluar sinar yang amat dingin, dari patung Budha yang ada disebelah kanan memancar keluar sinar api yang sangat panas sedangkan dari patung sebelah kiri memancar keluar sebuah sumber air berwarna hijau tua, sekali pandang saja sudah tahu bila air itu sangat beracun sekali.
Mendadak Lie Loo jie membentak keras telapak kirinya dengan keras melancarkan Suatu pukulan dahsyat ke depan menghantam ke atas patung Budha itu, serunya dengan cepat.
"Wan-jie, cepat menyingkir !"
Tubuhnya sendiri dengan cepat meloncat sejauh tiga kaki menghindarkan diri dari serangan gabungan dari ketiga buah patung Budha itu, si gadis cantik pengangon kambing yang mendengar suara suara seruan dari ayahnya dia segera tahu bahaya, tanpa berpikir panjang lagi ujung kakinya segera menutul ke permukaan tanah tubuhnya dengan cepat sudah menghindarkan diri dari ketiga buah serangan tersebut, sehingga dengan demikian serangan dari patung patung Budha itu mencapai pada sasaran yang kosong.
Siapa tahu patung patung Budha itupun sangat gesit sekali pada saat mereka berdua meloncat menyingkir itulah patung patung Budha yang semula berdiri sejajar saat ini mendadak memencar ke samping kiri, sedangkan patung yang berada di depan tetap meluncur dengan cepatnya ke arah depan.
Dengan demikian si gadis cantik pengangon kambing benar benar sudah berhasil menghindarkan diri dari serangan patung Budha itu tetapi Lie Loo jie kini sudah terdesak oleh serangan patung Budha yang berada disebelah kiri.
Dia menjadi sangat terperanjat, sama sekali tak terduga kalau di dalam ruangan itu bisa dipasangi suatu alat alat rahasia ysng demikian lihaynya, tetapi kenapa tak ada orang tahu??
Aiii kuil Siang Lian Si ini memang merupakan salah satu kuil yang masih angker dan tidak boleh dengan secara gegabah masuk kedalam kuil tersebut.
Tetapi ketika teringat kembali kalau dirinyapun merupakan seorang jagoan yang terkenal di dalam Bu lim kini ternyata sudah terkurung didalam kuil tak terasa hatinya merasa gusar juga, melihat patung Budha menerjang ke arahnya itu dia segera menyalurkan hawa murninya ke seluruh tubuhnya, setelah patung Budha tersebut menerjang sampai satu depa dari dirinya tangan kirinya yang mencekal golok membabat ke depan sadangkan tangan kanannya dengan mengerahkan tenaga penuh mengejar ke depan.
Pukulan Lie Loo jie kali ini sudah menggunakan tenaga sebesar delapan bagian, kalau dihitung kekuatannya diatas ribuan kati.
Walaupun patung Budha tersebut amat lihay sekali tetapi bagaimana pun juga dia hanyalah barang mati yang tidak tahu menghindar pukulan pukulan tersebut dengan amat dahsyatnya menghantam dada patung itu membuatnya seketika itu juga berhenti tak bergerak kembali.
Lie Loo jie yang melihat patung itu menghentikan gerakannya dia tidak berani berlaku gegabah, sepasang matanya dengan amat tajam sskali memperhatikan terus patung yang berdiri kurang lebih satu depa di depan tubuhnya itu.
Suasana menjadi amat sunyi sekali. . .mendadak dari dada patung itu mengeluarkan suara hiruk pikuk yang amat ramai sekali. Lie Loo jie yang tahu tentu ada permainan lagi dia semakin tidak berani berlaku gegabah. Tampak tangan dari patung itu dengan perlahan direntangkan ke samping lalu dengan perlahan diangkat naik keatas, walaupun suasana didalam ruangan itu amat gelap tetapi Lie Loo jie masih bisa melihat dengan amat jelas seluruh gerak geriknya.
Tiba tiba sepasang tangan dari patung Buddha yang diangkat ini ditetapkan di depan dada, Lie Loo jie segera tahu dia akan berbuat sesuatu di ujung kakinya dengan cepat menutul permukaan tanah dengan menggunakan jurus" Pek Hok Cong Thian" atau bangau putih menerjang langit meloncat ke atas setinggi dua kaki lebib.
Pada saat yang bersamaan dari sepasang tangan patung Buddha itu menyambar keluar senjata senjata rahasia yang amat halus sekali dengan memencar dari kiri kanan menghajar kearah depan.
Melihat kejadian itu Lie Loo jie segera merasakan hatinya bergidik, pikirnya,
Sungguh amat bahaya, asalkan aku sedikit berayal menghindar kesamping kiri atau kanan bukankah aku akan segara terkena permainan busuknya ini??"
Tubuhnya yang masih ada di tengah udara segera berjumpalitan, dengan gerakan "Ku Ing Leng Gong" atau burung elang menembus awan golok tipis ditangan kirinya digetarkan sehingga menimbulkan berbagai bunga golok yang amat menyilaukan mata, dengan dahsyatnya dia membacok kearah patung tersebut.
Di mana sinar golok itu berkelebat patung Buddha tersebut tetap berdiri tidak bergerak.
"Trang...!" dengan menimbulkan suara yarg amat nyaring bagian kepala dari patung Budha itu sudah terkena tusukan dari Lie Loo jie.
Tiba tiba patung itu merendahkan badannya dari punggungnya kembali berhamburan jarum jarum kecil yang menyambar dengan kecepatan luar biasa ke arah atas.
Bokongan senjata rahasia yang meluncur secara tiba tiba ini benar benar luar biasa. hebatnya, jikalau bukannnya Lie Loo jie dapat mengikuti perubahan selekas mungkin dia pun akan terkena serangan tersebut.
Kiranya pada saat Lie Loo jie berhasil menghantam bagian kepala dari patung Budna it dari jurus "Ku Ing Ban Gong" cepat ceoat dia mengubah menjadi "Sian Niauw Hua Sih" burung cerdik mengorek pasir melayang ke arah samping, dengan demikian diapun telah behasil menghindarkan diri dari serangan jarum rahasia itu.
Dia menjadi termangu mangu berdiam disamping, dia orang sama sekali tidak menduga patung Budha itu dipasangi alat rahasia sehingga demikian lihaynya.
Beberapa saat kemudian dari arah patung itu tetap tidak memperlihatkan gerak gerik lainnya, bagian pinggangnya mendadak patah rata jadi dua bagian berbungkuk tidak bangkit berdiri, saat itulah Lie Loo jie baru teringat serangan berturut turut sebanyak tiga kali dari alat alat rahasia yang dipasang di dalam patung tersebut semuanya disebabkan oleh usikannya sendiri, kemungkinan sekali bila dirinya tidak mengganggu, alat itupun tidak akan mencelakai dirinya kembali.
Saat ini dia baru menghembuskan napas lega, dengan perlahan kepalanya menoleh memandang ke arah patung Budha lainnya yang berdiri pada dinding sebelah kanan. Waktu itu si gadis cantik pengangon kambing bagaikan sebuah pa tung saja berdiri termangu mangu ditengah ruangan, agaknya dia dibuat kebingungan oleh gerak gerik yang amat aneh dari ketiga buah patung Budha tersebut.
Baru saja Lie Loo jie mau bergerak maju menuju kearahnya mendadak dia menemukan genta yang besar sejak kapan ternyata sudah bergeser ke atas kepala si gadis cantik pengangon kambing tak terasa lagi dia menjadi amat terperanjat.
"Wan jie cepat mundur." bentak Lie Loo jie dengan suara keras.
Baru saja dia selesai berbicara genta besar yang mengarah tepat di atas kepala si gadis cantik pengangon kambing itu sudah mulai bergerak turun kebawah, tetapi si gadis cantik pengangon kambing masin tetap berdiri tertegun tak bergerak.
Lie Loo jie tidak berani berlaku ayal lagi, tubuhnya dengan cepat meloncat kedepan untuk menyelamatkan kembali putrinya.
Ketika genta tersebut dengan perlahan mulai turun ke bawah, hanya didalem sekejap sudah berada kurang lebih beberapa depa diatas kepala gadis cantik pengangon kambing itu.
Lie Loo jie yang melihat keselamatan putrinya terancam, tubuhnya belum mencapai tempat itu sepasang telapak tangannya sudah didorong ke depan sehingga terasalah segulung angin pukulan yang sangat dahsyat menggulung kedepan.
Agaknya saat itulah si gadis cantik pengangon kambing baru merasakan keadaan yang amat berbahaya bagi dirinya.
"Addduh. . . ."saking kagetnya dia berdiri melongo longo disana.
Untung saja angin pukulan yang dahsyat dari Lie Loo jie tepat pada saatnya berhasil memukul miring kesamping dan berdiri kesamping tubuh Lie Loo jie.
Bersamaan dengan melayangnya gadis cantik pengangon kambing kesamping genta itupun ikut melayang kembali keatas.
Melihat hal itu Lie Loo jie menjadi sangat gusar sekali tubuhnya melayang ke depan, golok tipis di tangannya mendadak membabat ke arah rantai baja yang mengikat genta tersebut sehingga menjadi putus, dengan disertai suara yang amat keras genta itu jatuh ke atas tanah dan hancur berantakan.
Setelah genta itu berhenti berbunyi suasana seketika itu juga berubah menjadi sunyi senyap saking sunyinya sehingga terasa amat menakutkan sekali.
Lie Loo jie dengan tenangnya melayang kembali ke samping tubuh si gadis cantik pengangon kambing, baru ssja tangannya memeriksa pergelangan tangan putrinya mendadak dia merasakan permukaan tanah yang diinjaknya agak kendor batinya menjadi bergerak.
"Celaka.. . pikirnya.
Dengan menarik tangan putrinya dan melayang ke tengah udara.
Saat itulah permukaan tanah yang semula amat kuat mendadak dengan menimbulkan suara gemuruh yang amat keras sudah muncul sebuah liang seluas tubuh, delapan kaki diikuti mengalirnya air yang amat deras menerjang masuk dari empat penjuru,
Hanya di dalam sekejap saja seluruh ruangan kuil yang amat megah itu sudah berubah menjadi kolam yang amat dalam sekali, berapa dalam yang sesungguhnya tidak ada orang yang tabu.
Satu satunya tempat yang tidak tenggelam dalam air cuma ketiga tempat patung Budha tadi.
Saat ini Lie Loo jie serta si gadis cantik pengangon kambing masih ada di tengah udara, melihat keadaan yang begitu mengerikan dari ruangan tersebut serta melihat pula kalau disekeliling tempat sana sama sekali tidak menemui tempat untuk berpijak kaki, hatinya diam diam berseru kaget.
"Aduh celaka, kali ini aku akan terjerumus ke dalam perangkap yang amat lihay dari semua orang orang kuil Siang Lian Si"
Pada saat hatinya terasa amat kacau itulah mendadak matanya dapat menangkap rantai potongan baja yang semula digunakan untuk menggantung genta tadi, pikirannya dengan cepat berputar.
Mendadak dia melancarkan pukulan ke depan, dengan meminjam tenaga pantulan tersebut tubuhnya dengan menembus ketengah udara meluncur kearah sana dan menyambar rantai baja itu.
Si gadis cantik pengangon kambing yang mencekal erat erat tangan ayahnya Lie Loo jie dengan cepat ikut meluncur kesana, sehingga dengan demikian mereka berdua jadi bergantungan dengan hanya mengandalkan rantai baja itu saja.
Keadaan benar benar sangat berbahaya sekali sedikit saja tidak waspada nyawa segera akan melayang, karenanya mereka berdua sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun mereka hanya melihat air bah yang semakin lama semakin memenuhi seluruh ruangan dan berpikir keras untuk mendapatkan suatu cara untuk meloloskan diri dari sana.
Pada saat itu si gadis cantik pengangon kam bing teringat kembali keselamatan dari Lie Siauw Ie, teringat dia sudah masuk kedalam kuil ini hatinya terasa sangat berduka sekali, tak terasa lagi dua titik air mata menetes membasahi wajahnya.
Titik titik air itu menetes jatuh membasahi tangan Lie Loo jie membuat dia agak mendongkol, ujarnya sambil memandang dirinya.
"Wan jie, kenapa kau menangis? pada saat dan tempat seperti ini mana kau orang boleh menangis?"
"Tia, aku teringat kembali kepada Ie cici, maka..."
.aku menangis" kata kata terakhir ini belum sempat diucapkan Lie Loo jie sudah memotong.
"Suruh kau jangan menangis ya jangan menangis, hati hati jangan sampai tercebur kedalam air"
Terpaksa si gadis cantik pengangon kambing berhenti menangis dan mencekal tangan Lie Loo jie semakin kencang lagi.
Sebenarnya saat ini Lie Loo jie serta si gadis cantik pengangon kambing itu sudah memiliki ilmu meringankan tubuh yang amat sempurna sehingha bisa melayang di atas permukaan air, tetapi mereka ragu ragu untuk meloncat turun dikarenakan dalam hati mereka takut kalau diantara air masih ada jebakan jebakan yang lain, karenanya mereka tidak berlaku gegabah, dengan pusatkan perhatian mereka berpegangan pada rantai baja menunggu kesempatan yang baik.
Kita sekarang kembali pada Lie Siauw Ie yang melihat tubuh Liem Tou tersangkut pada tanduk kerbau kemudian dia dibawa lari dengan cepatnya ke dalam ruangan kuil, dengan cepatnya dia mengikuti terus dari belakangnya.
Tampak kerbau itu bagaikan sudah hafal dengan keadaan di tempat itu, dengan cepatnya sudah menerjang kearah kanan lal lenyap tak berbekas.
Lie Siauw Ie yang ada setahun lamanya mengangkat Lie Loo jie dari Toen Si Pay sebagai gurunya sudah tentu kepandaian silatnya memperoleh kemajuan yang sangat pesat, tenaga dalamnya walaupun tidak bisa menandingi si gadis cantik pengangon kambing yang berlatih sejak kecil tetapi dasarnya sangat bagus sekali sehingga ilmu meringankan tubuhpun sudah amat lihay.
Saat ini melihat kerbau itu lenyap dibilik sebelah kanan, karena takut sampai ketinggalan dengan cepat menggunakan ilmu "Liuw Im Hwee Si" dari Toen Si Pay mengejar terus ke depan.
Tampak di balik sebuah pintu tersebut terdapat sebuah lorong kecil yang berbelok belok ke arah kiri tanpa berpikir panjang lagi dia mengerahkan seluruh tenaga dalamuya mengejar terus kedalam.
Kurang lebih tiga depa dia berlari segera terlihat kembali bintang bintang yang penuh menghiasi langit, kiranya tempat itu merupakan sebuah halaman kecil yang amat tenang dan dikelilingi tumbuhan bambu yang amat rapat,dari tumbuhan bambu itu dapat dilihat sebuah bangunan besar dibaliknya, ruangan disana persis seperti ruangan yang dilihatnya didepan tadi.
Cuma saja ruangan itu jauh lebih mewah dan megah sekali, lampu menerangi seluruh ruangan sehingga seperti di siang hari saja, kedua belah pintu terbuka lebar iebar dan tampak banyak perempuan yang berdandan amat menyolok berjalan mondar mandir disana.
Lie Siauw le yang sedang memandang keadaan itu dalam keadaan kebingungan mandadak mendengar suara ringkikan kerbau yang panjang tampak seekor kerbau dengan amat cepatnya menyusup keluar dan menerjang kedalam ruangan yang rerang benderang itu.
Melihat munculnya seekor binatang yang sangat besar ke arah mereka para perempuan itu menjadi amat panik, diiringi suara teriakan teriakan kaget yang amat keras mereka pada lari terbirit birit meninggalkan tempat tersebut.
Lie Siauw Ie yang melibat munculnya kerbau itu segera membentak keras dan ikut munculkan dirinya disana, segera terlihatlah sesosok bayangan putih berkelebat menuju ke tengah ruangan menyusul kerbau tersebut yang pada saat ini sudah menerjang ke tengah kamar.
Ternyata kerbau itu tidak melukai seorangpun, dia hanya berlari kesana kemari menakut nakuti perempuan perempuan dengan dandanan menyolok itu sehingga membuat mereka itu pada jatuh bangun dan melarikan diri terbirit-birit dari sana.
Hanya didalam beberapa saat saja sebuah ruangan yang amat besar sudah ditinggal pergi oleh penghuninya sehingga kosong melompong.
Kerbau itupun sudah berhenti tidak bergerak ditengah ruangan, Lie Siauw Ie cepat cepat berlari mendekat untuk menolong diri Liem Tou.
Tetapi walaupun dia sudah menggunakan ilmu apapun dan menggerakkan badannya sebagai mana cepatnya dia tidak bisa juga mendekati kerbau itu, membuat Lie Siauw Ie saking gemasnya terus menerus mendepakan kakinya berulang kali dan memanggil adik Tou tak henti hentinya.
Liem Tou yang berada di tanduk kerbau itu sama sekali tidak bergerak agaknya dia sudah jatuh tidak sadarkan diri. Sebaliknya kerbau itu kadang kala sengaja menghadapkan pantatnya ke depan tubuh Lie Siauw Ie sekalipun begitu sepertinya dibelakang punggungnya ada mata asalkan Lie Siauw Ie coba merebut maju ia pasti bergerak untuk menhindar.
Lie Siauw Ie tidak berbuat apa apa lagi, mendadak tangannya meraup senjata rahasia Kioe Cu Gien Ciamnya siap disambitkan ke arah kerbau tersebut tapi dia takut sampai terkena badan Liem Tou yang ada di tanduk terpaksa dia pun membatalkan niatnya ini, sambil berteriak gemas dia cuma melototi kerbau itu saja, pikirannya benar benar dibuat bingung oleh kelakuannya itu.
Sekonyong konyong kerbau itu mendengus panjang sepasang matanya yang bulat benar melotot keluar lalu memandang tajam kearah Lie Siaw Ie yang sedang kebingungan.
Lie Siauw Ie yang melihat sifat ganas dari kerbau itu secara mendadak kambuh kembali tanpa terasa lagi dia sudah pusatkan seluruh perhatiannya untuk menghadapi segala kemungkinan.
Pada saat itulah kerbau itu menyepakkan kakinya ke belakang lalu dengan amat cepatnya menerjang ke depan.
Lie Siauw Ie segera membentak keras, pedang panjang di tangan kanannya diangkat dengan menggunakan jurus" Tok Coa Cut Tong" atau ular berbisa keluar goa dia meayambut datangnya kerbau tersebut dengan satu tusukan kilat.
Siapa tahu kerbau itu ternyata sama sekali tidak menhindarkan diri dari serangan tersebut dengan ganasnya ia melanjutkan terjangannya kedepan memaksa Lie Siauw Ie harus menarik kembaii serangannya dan menghindar kesamping.
Pada saat itulah sang kerbau dengan amat cepatnya lewat disamping badannya membuat Lie Siauw Ie bsnar benar dibuat mendongkol.
Tanpa banyak berpikir lagi tangan kirinya diangkat meraup senjata rahasia Kioe Cu Gien Ciam lalu disambitkan menghajar tubuh kerbau tersebut.
Waktu ini jaraknya dengan sang kerbau cuma ada beberapa depa saja, untuk menjawil dengan tanganpun masih sampai apa lagi melancarkan serangan dengan menggunakan jarum rahasia begitu banyaknya, didalam sepuluh bagian ada sembilan pasti mengenai sasarannya.
Tetapi dia cepat, gerakan dari kerbau itu jauh lebih cepat lagi, baru saja pikirannya sedang berputar dan jarum rahasia di tangan kirinya baru akan disambitkan ke depan mendadak ekor dari kerbau itu sudah menyapu ke tangannya dengan amat dahsyat.
Lie Siauw Ie tidak sempat untuk menghindar lagi. Jarum yang ada di tangan kirinya sudah tersampok jatuh keatas tanah tidak ketinggalan barang sebatang pun.
Setelah berhasil menyampok Jatuh senjata r hasia kerbau itu cepat cepat menerjang kembali kedepan dengan amat cepatnya.
Lie Siauw Ie benar benar sangat mendongkol matanya dengan cepat melotot kearah kerbau itu, tiba tiba. . ."
Matanya dapat melihat si hweesio kurus dan berbadan hitam atau Thiat Bok Thaysu dengan membawa beberapa orang hweesio sudah munculkan dirinya di depan pintu ruangan kuil itu, saat itulah sang kerbau sedang berdiri menerjang ke arah mereka dengan amat ganasnya.
Kiranya Thiat Bok Thaysu dapat muncul disini kerena mendapatkan laporan penting dari anak buahnya dan bertepatan pula sewaktu Lie Loo jie serta si gadis cantik pengangon kambing sedang menemui bahaya, jika kalau bukannya Thiat Bok Thaysu berhasil dipancing kemari maka bencana yang akan ditemui Lie Loo jie serta si gadis cantik pengangon kambing itu akan jatuh lebih hebat lagi bahkan keselamatannya pun semakin berbahaya,
Saat ini kerbau itu dengan tidak mengenal lihay sudah menerjang dengan dahsyatnya ke arah Thiat Bok Thaysu. Thiat Bok Thaysu yang sudah mendapatkan laporan dari para hweesio atas kelihayan dari sang kerbau dan tahu pula kaiau banyak anak buahnya sudah mati di atas ujung tanduk kerbau itu dia sudah mengambil keputusan untuk membinasakannya, segera dia tertawa dingin menanti setelah kerbau itu menerjang hingga dekat sekali dengan tubuhnya mendadak dengan kecepatnya bagaikan kilat dia melancarkan suatu pukulan dahsyat menghajar batok kepala kerbau tersebut.
Tidak terduga kerbau itu jauh berbeda dengan kerbau biasa, baru saja pundak dari Thiat Bok Tnaysu bergerak dia agaknya sudah tahu apa yang hendak dilakukan olehnya, tiba tiba tubuhnya yang semula menerjang ke depan kini malah mundur terus ke belakang tanpa putar badan lagi.
Thiat Bok Tiiaysu sama sekali tidak menyangka sang kerbau bisa mundur kebelakag sehingga pukulannya mencapai pada sasaran yang kosong, saking keheranannya dia menjadi berdiri tertegun, sinar matanya dengan amat dinginnya memperhatikan kerbau tersebut.
Yang paling membuat dia heran adalah seorang pemuda gembala berbaju compang camping yang tergantung di antara tanduknya, agak nya saat ini pemuda itu sedang tertidur lelap, tetapi gerakan yang bagaimana cepatnyapun dari sang kerbau sama sekali tidak membuat dia jatuh terguling diatas tanah.
Melihat keanehan dari hal ini tak terasa hatinya menjadi bergerak, dia segera maju lagi beberapa langkah kedalam ruangan
Tampaklah Lie Siauw Ie dengan melintangkan pedangnya berdiri tegak di tengah ruangan. dia segera mendengus dingin tangannya diulapkan segera terlibatlah dua orang bweesio dengan perlahan mendekati diri Lie Siauw Ie.
Lie Siauw Ie yang melihat gerak gerik mereka di dalam sekali pandang saja dia sudah tahu kalau mereka mengandung maksud yang tidak baik, pedangnya segera dicekal kencang kencang lalu bentaknya dengan nyaring
"Berhenti, jika kalian maju setindak lagi nonamu segera akan bunuh kalian!"
Suara Bentakan dari Lie Siauw Ie ini amat keras dan keren sekali padahal di dalam hatinya berdebar debar amat keras. Dia yang melihat munculnya Thiat Bok Thaysu disana segera merasakan keadaannya sangat berbahaya sekali, untuk menghindarkan diri tiada jalan lagi terpaksa dengan paksakan diri menantikan kesempatan yang baik buat meloloskan diri.
Kedua orang hweesio yang baru saja diperintahkan untuk maju ini bukanlah termasuk hweesio yang dibuat kalang kabut oleh terjangan sang kerbau tadi, mereka berdua dengan langkah yaeg mantap terus maju mendekati tubuh Li Siauw Ie.
Melihat hal tersebut Lie Siauw Ie segera tahu kalau keadaannya sangat berbahaya sekali. Diam diam tangannya dimasukkan ke dalam saku meraih kembali segenggam senjata rahasia Kioe Cu Gian Ciem siap menghadapi segala kemungkinan.
Kembali terdengar teriakan dari Thiatt Bok Thaysu, "hati bocah perempuan itu sangat licik sukar diduga, lebih baik biar aku sendiri yaag menawan dirinya."
Lie Siaw Ie yaag melihat Thiat Bok Thaysu mau turun tangan sendiri saking kagetnya air mukanya sudah berubah pucat pasi, pikirnya didalam hati.
"Suhu yang merupakan jago nomor wahid dari Bu lim pun masih bukan tandingannya apa lagi aku ? Untuk melukai diriku bukankah dia orang seperti membalikkan tangan gampangnya ? ? Aku orang mana mungkin berhasil untuk bertahan diri ?"
Baru saja dia berpikir sampai disana kedua orang hweesio yang semula perintahkan untuk maju itu kini sudah mengundurkan dirinya kembali, sedangkan Thiat Bok Thaysu dengan panduangan yang amat tajam menyapu ke arah kerbau tetsebut lalu memandang seluruh badannya membuat Lie siauw Ie bergidik beberapa kali, pedang serta senjata raflasia Kioe Cu Gien Ciam yang dicekalpun semakin mengencang dengan mata yang melotot dia memperhatikan terus seluruh gerak gerik dari Thiat Bok Thaysu.
Mereka saling pandang memandang saling melotot beberapa waktu lamanya tiba tiba tampak Thiat Bok Thaysu berkata kembali sambil tertawa seram.
"Hee... hee... kau bocah perempuan sebetulnya ada hubungan apa dengan tua bangka she Lie itu? sekarang sudah ada di dalam kendiku He . .. hee siapapun jangan harap bisa menolong mereka lolos dari kurungannya.
Sehabis berkata dengan pandangan yang amat aneh dia memandang tajam seluruh lekukan tubuh Lie Siauw Ie.
Bagaimanapun juga Lie Siauw Ie bukanlah seorang yang tolol, dari pandangan mata serta perubahan wajahnya yang amat aneh itu ditambah pula dengan banyaknya perempuan didalam kuil dia segera tahu dinawahnya tentu ada maksud yang tersembunyi, saking malu dan gusarnya dia segera membentak keras, pedangnya dengan melancarkan serangan dahsyat menubruk kearah dirinya.
Thiat Bok Thaysu yang melihat dia orang menjadi malu bercampur gusar segera tertawa terbahak bahak dengan seramnya.
"Hay bocih perempuan," serunya sambil menyengir cabul. "Sebelum aku jelaskan omonganku kau sudah mengerti dengan sendirinya hal ini membuktikan kalau memang pikiranmu cerdik sekali, haaa . . . haaa . . . bagus, bagus sekali, baiknya kau menuruti kemauanku saja, dengan begitu nyawa dari tua bangka she Lie itu pun bisa tertolong.
Lie Siauw Ie yang dibuat amat gusar serangannya menjadi semakin gencar menghajar sang hweesio cabul.
Thiat Bok Thaysa segera tertawa dingin tubuhnya miring ke samping menghindarkan diri dari tusukan tersebut. sedang cengkeramannya yang seperti kuku garuda dengan dahsyatnya mengancam jalan darah pada pergelangan tangan nya.
Pada saat yang bersamaan pula mendadak terdengar suara dengusan dari kerbau itu lalu dengan cepatnya menerjang kearah orang hwee sio yang berada disacapingnya.
Melihat hil tersebut Lie Siauw Ie menjadi sangat girang, bentaknya. "Bagus ... bagus. . .sekarang sambutlah barang ini!"
Senjata rahasia Kioe Cu Gien Ciam yang ada ditangannya mendadak disambitkan keluar mengincar seluruh tubuh dari Thiat Bok Thaysu,
Senjata rahasia Kioe Cu Gien Ciam ini halus sekali seperti bulu kerbau saja, senjata semacam ini paling sukar untuk dihindari tetapi manusia semacam Thiat Bok Thaysu sudah tentu tidak akan memandang dengan sebelah mata, ujung jubah nya dikebut ke depan sehingga menimbulkan segulung angin pukulan yang dahsyat menghajar jatuh puluhan senjata rahasia Kioe Cu Gien-Ciam yang mengancam tubuhnya itu.
Pada saat dia melancarkan serangan pukulan untuk memukul jatuh senjata rahasia itulah mendadak terdengar suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati sehingga menggetarkan seluruh ruangan, seorang hweesio anak buahnya kembali kena sambar tanduk kerbau itu sahingga punggungnya berlubang dan binasa seketika itu juga.
Atas kejadian ini dia tidak mau bergebrak lebih lama lagi melawan Lie Siauw Ie, sepasang lengannya dipentangkan disertai dengan suara bentakan yang amat nyaring ilmu beracun "Hek Khie Cie Kang" yang dilatih selama puluhan tahun untuk kedua kalinya digunakan.
Tampak pada ujung ke sepuluh jarinya secara samar samar muncul bawa hitam yang makin lama semakin menebal meluncur ke atas tubuh kerbau.
Lie Siauw Ie yang melihat hal itu walaupun tidak tahu Thiat Bok Thaysu sedang menggunakan ilmu macam apa tetapi melihat kedahsyatan dari serangan tersebut segera mengetahui kalau serangannya itu tentu sedang menggunakan semacam ilmu yang amat beracun.
Dia orang karena takut kalau serangan tersebut sampai melukai Liem Tou, dengan cemas teriaknya dengan suara keras.
"Ciag Gouw ko, cepat mundur . . cepat mundur."
Bagaimanapun juga binatang tetap binatang, kerbau yah tetap kerbau mana mungkin bisa mengerti perkataan dari manusia? ? Bukannya mengundurkan diri dari belakang sebaliknya dengan disertai dengusannya yang amat panjang dia malah menyambut datangnya serangan kabut hitam yang mengancam tubuhnya itu.
"Binatang saat kematianmu telah tiba, buat apa kau begitu bangga? " pikir Thiat Bok Thaysu sewaktu melihat hal itu.
Baru saja dia orang merasa gembira karena kerbau tersebut bakal terbunuh di bawah serangan beracunnya siapa tahu tiba tiba dia merasakan serangannya seperti terhalang oleh sesuatu, tenaga dalamnya sukar untuk disalurkan lancar, dalam hati dia benar benar merasa keheranan.
Tenaga dalamnya segera dilipat gandakan kelihatan seluruh jalur hitam seketika itu juga mengumpul menjadi segulung awan yang sangat hitam yang amat tebal dengan memecahkan udara menerjang kedepan.
Kerbau itu tetap tidak dibuat jeri, ekornya yang panjang dengan sekonyong konyong dikebaskan sehingga menjadi mengencang bagaikan pit, secara aneh sekali dari ujung kedua belab tanduk kerbau itu mendadak menerjang keluar segulung angin pukulan yang menyambut datangnya serangan dari Thiat Bok Thaysu sehingga punah menjadi angin yang berlalu.
Thiat Bok Thaysu segera merasakan situasi yang tidak mengutungkan bagi dirinya air mukanya segera berubah meringis kejam tububnya mundur tujuh delapan tindak dan dengan cepat menarik kembali hawa pukulan beracunnya.
Sekalipun gerakannya cepat tetapi baru saja berhasil menarik separuh dari tenaga pukulan hawa beracun yang separuhnya lagi sudah berhasil dipunahkan sehingga buyar tak berbekas di dalam seluruh ruangan.
Kali ini Thiat Bok Thaysu benar benar dibuat amat gusar sekali, dia orang sama sekali tidak menyangka ilmunya yang didapatkan dengan susah payah selama puluhan tahun dengan mencari benda benda beracun yang sudah berusia ratusan tahun dan ulat, ulat yang banyak ada di dasar kuburan ternyata sudah punah separuh bagian hanya di dalam sekejap saja
Sepasang matanya dengan amat tajam sekali memperhatikan diri Liem Tou yang tergantucg di atas tanduk kerbau itu, mendadak bentanknya dengan suara yang amat keras. Bangsat cilik, siapa kau orang??"
Dengan pengetahuan serta pengalaman yang luas dari Thiat Bok Thaysu mana mungkin dia orang tidak mengenal para jago jago yang ada didalam Bu lim?? kini melihat sang kerbau ternyata bisa memunahkan ilmu pukulan beracunnya sudah tentu dia orang tidak mau percaya karena itu didalam anggapannya sudah tentu Liem Tou yang tergantung di atas tanduk kerbau itulah yang sudah bermain main dengan dirinya.
Tetapi sekalipun Thiat Bok Thaysu sudah berteriak teriak beberapa kali Liem Tou tetap tertidur dengan amat nyenyaknya sama sekali tidak bergerak.
Pada saat itulah mendadak terdengar kerbau itu mendengus panjang sambil mendepakkan kakinya kebelakang, kepalanya ditundukkan dengan dahsyatnya ia menerjang ke arah tubuh Thiat Bok Thaysu.
Thiat Bok Thaysu menjadi teramat gusar, ujung jubahnya dikebutkan ke depan melancarkan satu pukulan dahsyat menghantam tubuh kerbau itu. pada saat dia sedang augkat tangan nya itulah mendadak terasa segulung angin pukulan yang jauh lebih kuat dengan dahsyatnya sudah menggulung menghantam tubuhnya, dia menjadi terperanjat dengan cepat serangannya ditarik dengan tergesa gesa lalu meloncat kesamping untuk menghindarkan diri.
Tibt tiba kerbau itu miringkan badannya ekornya yang panjang dengan dahsyatnya menghajar scoraug hweesio yang berdiri disampingnya.
"Aduh. .." disertai dengan suara teriakan kesakitan yang amat mengerikan hweesio tersebut terjatuh ke atas tanah tidak dapat bangun kembali.
Gerakan kerbau itu tidak berhenti sampai di situ saja, tubuhnya dengan amat cepatnya menerjang kambali kearah Thiat Bok Thaysu.
Thiat Bok Thaysu yang melihat berturut turut kerbau tersebut berhasil membinasakan dua orang anak buahnya dengan sangat mudah hatinya dibuat benar benar ketakutan, kini melihat datangnya terjangan yang sangat dahsyat dia tidak berani menyambut keras lawan keras.
Tubuhnya meloncat ke samping lalu melirik sekejap ke arah Lie Siauw Ie yang berdiri di depannya, hatinya menjadi bergerak pikirnya.
"Terjangan yang secara mendadak dari kerbau ini sangat aneh sekali, tentunya dia ada sangkut pautnya dengan Lie Loo jie itu, sedangkan perempuan inipun anak murid Lie Loo jie lebih baik aku tawan dia terlebih dulu lalu dengan cara yang lain berusaha untuk menangkan pertempuran kali ini."
Berpikir akan hal ini tubuhnya yang berkelebat ke samping memdekati tubuh Lie Siauw Ie.
Sebaliknya Lie Siauw Ie yang melihat sang kerbau itu terus menerus mendesak, Thiat Bok-Thaysu geser kesamping perhatiannya segera dipusatkan seluruhnya ke sana, terhadap mara bahaya yang bakal mengancam dia orang sama sekali tidak merasakan.
Thiat Bok Thaysu yang mempunyai perawakan kurus kering sewaktu melihat Lie Siauw Ie sama sekali tidak mengadakan persiapan dalam hati diam diam merasa amat girang sekali, dia tahu asalkan kali ini berhasil mencapai hasil maka pertempuran malam ini seluruh kemenangan akan diperoleh dirinya.
Dengan perlahan tenaga dalamnya disalurkan dengan penuh ke atas dua belah telapak tangannya, sewaktu dia melihat kerbau itu menerjang kembali kearahnya dan melihat jaraknya dengan Lie Siauw Ie cuma tinggal beberapa kaki saja tanpa berpikir panjang lagi tubuhnya segera meloncat keatas lalu berjumpalitan ditengah udara mendesak ke arabnya.
"Hey bocah perempuan, terimalah seranganku ini" bentaknya dengan amat keras.
Kedua belah telapak tangannya yang sudah dipersiapkan sejak tadi pada saat inilah bagaikan menggulungnya ombak di tengah samudra menggencet dari kedua belah samping Lie Siauw Ie sedang tuhuhnyapun mendesak lebih mendekat berusaha mencengkram mangsanya.
Menanti Lie Siauw Ie sadar kembali apa yang telah terjadi kedua belah samping badannya sudah terhalang oleh angin pukulan dari Thiat Bok Thaysu itu, untuk menghindarkan kesamping tidak dapat lagi terpaksa dia mundur ke belakang.
Tetapi pada saat dia agak ragu ragu itulah cengkeraman dari Thiat Bok Thaysu sudah tiba dihadapannya membuat dia menjadi amat terperanjat, dengan air muka ketakutan teriaknya keras.
"Aouw adik Tou tolong.. .!"
Melihat untuk menghindarkan diri tiada jalan lain lagi, Lie Siauw Ie segera pejamkan matanya pasrah terhadap semua perbuatan dari Thiat Bok Thaysu.
Pada saat yang amat kritis itulah mendadak terdengar suara dengusan kerbau yang amat berat lalu disusul dengan suara jeritan Liem Tou.
"Toloag .. tolong . . !"
Baru saja suara itu lenyap dari pendengaran mendadak terdengar Thiat Bok Thaysu menjerit ngeri lalu terhuyung huyung mengundurkan diri kebelakang sambil muntahkan darah segar.
Kerbau itu terayata sudah berdiri dengen tenangnya disamping badannya sedangkan Liem Tou berbaring diatas tanduk kerbau sambil tangannya diobat abitkan tidak keruan.
'Aduh tolong . . tolong . ."
Gerak geriknya amat lucu sekali seperti sedang menghadapi bahaya.
Lie Siauw Ie yang melihat hal itu tanpa men perdulik«n keselamatan jiwanya sendiri pedang yang ada ditangannya segera melancarkan tusukan mengancam tubuh kerbau itu sedang tangannya yang lain dengan amat cepatnya menyambar tubuh Liem Tou yang tersangkut diatas tanduk kerbau iiu.
Belum sempat pedangnya melancarkan serangan mendadak dia merasakan pinggangnya seperti dililit dengan sesuatu tahu tahu tubuhnya sudah terangkat oleh lilitan ekor kerbau dan dijatuhkan keatas punggungnya.
"Aaaiih Ie cici, akhirnya kau datang juga" terdengar Liem Tou sambil tertawa girang memeluk pinggangnya kencang kencang. "Kau sudah kemana selama ini??? eeeh sekarang kita berada dimana?"
Lie Siauw le yang melihat Liem Tou sudah sadar kembali dari pulasnya seketika itu juga sudah melupakan kalau baru saja dia lolos dari bahaya dan lupa juga kalau pada saat ini dia sudah berada diatas punggung kerbau, sahutnya dengan amat girang.
"Oooh adik Tou kau sungguh mengagetkan diriku, bagaimana kau orang bisa tergantung diatas tanduk kerbau?"
"Aku sendiripun tidak tahu" jawab Liem Tou sambil gelengkan kepalanya.
"Sewaktu aku melibat hweesio hweesio itu amat lihay sekali, maka cepat cepat aku melarikan diri keluar kuil, siapa sangka aku sudah kena pukul rubuh oleh dua orang hweesio jahanam.
Setelah itu semuanya aku tidak tahu, sampai baru saja aku sadar kembali dan melihat cici baru meloncat kemari."
Mendengar perkataan itu Lie Siauw Ie segera tertawa cekikikan.
"Mana mungkin aku bisa meloncat kemari. Kan terang terangan aku dililit oleh ekor kerbau ini ?.,
Pada mukanya Liem Tou sengaja berpura pura bingung padahal dalam hati diam diam merasa geli, pikirnya.
Jikalau bukannya aku sudah menolong dirimu kemungkinan sekali kau kini sudah berada di dalam cengkeraman Thiat Bok Thaysu ini, tetapi kini aku harus mengelabui dirimu untuk sementara waktu karena musuhku terlalu banyak, jikalau berita ini sampai tersiar diluaran sekalipun pun aku memiliki kepandaian yang lebih tinggi pun belum tentu berhasil menahan kerubutan dari orang orang kalangan Hek to yang begitu banyak."
Setelah tertawa cekikikan Lie Siauw Ie berkata kembali.
"Tidak kusangka kerbau itu yang sudah menolong dirimu, tetapi kerbaumu itu terlalu ganas sekali, seluruh hweesio penghuni kuil Siang Lian Si ini hampir sebagian besar terbunuh oleh serudukan tanduknya."
"Haaa sungguh ?? Dia benar benar mempunyai kepandaian seperti itu ?" tanya Liem Tou keheranan.
Padahal dalam hati dia sedang berpikir.
"Ie cici kau sama sekali tak tahu kejahatan serta kecabulan dari hweesio hweesio penghuni kuil ini, bila sejak tadi kau sudah tiba di dalam ruangan ini dan melihat perempuan perempuan itu maka akan segera tahu kalau mereka it anak gadis orang orang dusun yang ditawan mereka untuk kesenangan, coba kau bayangkan kerbauku atau dia yang lebih jahat dan ganas ?"
Pada waktu itulah kerbau tersebut mendadak meloncat turun dari tempat ketinggian mereka berdua yang sedang berbicara sama sekali tidak memperhatikan akan hal ini hingga hampir hampir saja terlempar jatuh dari atas punggung kerbau, sedangkan Liem Tou pun tahu bila kerbau itu kehilangan tenaga bantuannya mana mungkin bisa memenangkan Thiat Bok-Thuysu yang amat libay?"
Thiat Bok Thaysu yang telah terluka mana berani bertempur dengan kerbau itu, dengan cepat dia ngeloyor pergi dari sana melalui pintu pintu sebelah kanan
Ketika kerbau itu melihat dia lari pergi dengan cepat menyerbu kembali kedepan mengejar dari arah belakang, sedikitpun ia tak mau mengendorkan kejarannya.
Sewaktu tadi Lie Loo jie sedang bertempur dengan amat serunya melawan si penjahat naga merah, Liem Tou melakukan pemeriksaan yang amat teliti sekali terhadap keadaan diseluruh ruangan kuil itu sehingga diapun mengetahui bagaimana sifat yang sebenarnya dari hweesio tersebut.
Kini melihat dia telah melarikan diri melalui pintu sebelah kanan dia orang segera mengetahui kalau tempat itu merupakan sebuah jalan rahasia, karenanya dengan amat kencang dia membuntuti terus dari belakangnya.
Ternyata dugaannya sedikipun tidak salah, tempat tersebut memangnya merupakan sebuah jalan rahasia yang amat panjang sekali dan saat itu Thiat Bok Thaysu sedang melarikan dirinya kedalam.
Pikirnya Liem Tou kemudian.
Orang ini jika kalau dibiarkan tinggal didalam Bu lim terus tentu akan menimbulkan bencana saja, lebih baik aku basmi saja dia orang selekas mungkin."
Berpikir sampai disitu tangannya diam diam segera meraba ke samping telinga dari kerbau itu, sang kerbau segera mengerti dan mendengus panjang.
Dengan meminjam kesempatan itulah diam-diam Liem Tou membalikkan pergelangan tangannya lalu melancarkan satu pukulan dahsyat menghajar belakang punggung Thiat Bok Thaysu.
Seluruh gerakkannya ini dilakukan sangat hati hati sekali sehingga Lie Siauw Ie yang ada dibelaksngnya sama sekali tidak menyangka kalau dia orang sedang mengerahkan tenaga dalamnya untuk menghajar tubuh Thiat Bok Thay su.
Tampak sambil menoleh dia tertawa ringan.
"Adik Tou, ujarnya perlahan. Kiranya didalam kuil inipun ada jalan rahasianya. kerbau ini sangat lihay sekali jangan sampai terkena bokongan dari hweesio keparat itu."
Thiat Bok Thaysu yang benar benar sudah terdesak melihat datangnya serangan tersebut dia orang tidak berani menyambut, dengan menahan getaran yang amat hebat dari luka dalamnya tanpa palingkan kepalanya lagi dengan sekuat tenaga dia meloncat kearah jalan rahasia itu dan di dalam beberapa kali kelebatan saja sudah lenyap dari padangan.
Liem Tou yang takut dia orang lolos dari pengawasannya, segera mengempit kencang kencang perut kerbaunya dengan amat cepatnya kerbau tersebut segera menerjang pula kearah dalam jalan rahasia.
Setelah berbelok belok beberapa kali akhirnya Lie Siauw Ie hanya merasakan pandangannya menjadi terang pemandangan yang dilihatnya sama sekali berubah.
Tampak ruangan tersebut amat mewah dan megah sekali laksana sebuah istana kaisar seluruh dinding serta tiang pilarnya tersebuat dari batu pualam yang amat menyilaukan mata, tempat itu mana mirip dengan sebuah bangunan kuil dari kaum beribadat? tak tertahan lagi dia berseru keras.
"Aaaah, adik Tou tempat ini mirip sekali dengan sebuah istana kaisar. . . ."
Liem Tou yang sedang pusatkan seluruh perhatiannya untuk menangkap Thiat Bok Thaysu mendengar perkataan itu dia cuma mengangguk saja, sahutnya.
"Ehmm . ."tempat itu tidak mirip dengan sebuah kuil, tentunya mereka adalah kaum perampok yang sengaja menyamar sebagai hweesio. ..kiranya kerbauku sudah tidak salah membinasakan orang orang.
Matanya yang jeli dengan amat tajamnya menyapa keseluruh ruangan itu tetapi ditengah bangunan megah laksana istana tersebut sama sekali tidak tampak adanya sesosok bayangan manusia pun membuat Liem Tou diam diam merasa keheranan pikirnya.
Perempuan yang dikumpulkan Thiat Bok Thaysu tadi pada berkumpul disini mencari kesenangan dan melakukan permainan kotornya kenapa sekarang pada lenyap tak tampak seorangpun, mereka sudah pergi ke mana ? Apa mungkin masih ada tempat lainnya ?
Berpikir sampai disitu segera ujarnya kepada diri Lie Siauw Ie.
Tadi kerbau ini membawa kita kemari sudah tentu ia bermaksud untuk menangkap Thiat Bok Thaysu itu, cuma saja tidak tahu dia sudah pergi kemana, Ie cici, coba kau lihat adakah tempat yang patut kita curigai ?"
Tiba tiba tiba Lie Siauw Ie teringat atas perkataan dari Thiat Bok Thaysu yang mengatakan Lie Loo jie sekarang sedang terkurung, ujarnya kepada Liem Tou kemudian.
' "Adik Tou, kelihatan dia sudah pergi dari sini, bagaimana kalau kita lihat lihat di tempat luaran ??"
'Baik," sahut Liem Tou menyetujui. "Tetapi kuil Siang Lian Si ini benar benar sangat kotor dan merupakan tempat mesum yang sangat cabul, nanti setelah aku bertemu dengan itu Si "Hui Tui Jie" aku mau usulkan agar kuil ini dihancurkan dari pada meninggalkan bencana di kemudian hari."
Selesai berkata dia kirim satu ciuman mesra ke atas pipinya Lie Siauw Ie.
"E-eehmmram . . .. kau jangan nakal, seru Lie Siauw le sambil mencubit pahanya. Siapa yang beritahukan kepadamu kalau suhuku mempunyai julukan sebagai Hui Tui Jie ? ? Kau harus ingat ingat terus si cangkul pualam Lie Sang adalah jagoan berkepandaian tinggi nomor wahid pada saat ini, karena dia orang paling suka mengasingkan diri dan tak gemar meucampari persoalan dunia kangouw maka orang orang Bu lim memberikan julukan sebagai partai Toen Si Pay.
Mendengar perkataan teraebut Liem Tou segera berpura pura bertanya.
"Jika didengar dari pembicaraan Ie cici dia orang paling tidak suka mencampuri urusan dunia kangouw kenapa kali ini bisa munculkan diri untuk mencari gara gara dengan si penjahat naga marah ?"
Perkataan ini memang kalau dibicarakan sangat aneh sekali, jawab Lie Siauw Ie kemudian sambil menghembuskan napas panjang. Di dalam Bu lim saat ini muncul seorang jagoan tanpa bernama yang amat misterius sekali, orang itu sudah membuat Thian Pian Siauw cu menjadi mendongkol dan berlalu dari atas gunung bahkan mengolok olok suhu tidak berani turun gunung, oooh, dia masih tinggalkan sepucuk surat"
Berbicara sampai disini mendadak Lie Siauw Ie dengan sinar mata yang aneh mempehatikaa Liem Tou dengan pandangan yang amat tajam.
Dalam hati Lie Toum segera tahu kalau dia orang telah mengingat ingat kembali bal hal yang mencurigakan hatinya, cepat cepat dengan nada kebingungan tanyanya lagi.
"Di mana pisau belati pemberian Wan moay kepadamu itu?" Tiba tiba tanya Lie Siauw Ie sambil memperhatikan wajahnya tajam tajam.
"Aaah . . pisau belati itu sudah hilang sewak tu tempo hari aku terjatuh dari Jembatan pencabut nyawa, waah . . waah pisau belati itu benar benar amat tajam sekali, sungguh amat sayang barang tersebut sudah hilang"
Lie Siauw Ie yang mendengar perkataan itu sama sekali tidak menaruh curiga sedikitpun dan tidak mendesak lebih banyak lagi, sekali lagi dia memperingatkan Liem Tou untuk melarikan kerbaunya kembali ke dalam ruangan kuil yang megah itu,
Liem Tou segera mengangguk dan menepuk-nepuk kepala kerbaunya.
Hey Gouw koko ayoh kembali" serunya keras.
Kerbau itu dengan mengikuti jalan keluar dari jalan rahasia itu berlari ke depan tetapi ketika sampai didepan tampaklah pintu jalan rahasia itu sudah tertutup dengan sebuah pintu besi yang amat kuat
Liem Toa dengan terburu buru meloncat turun dan menariknya, tetapi sedikitpun tidak bergeming, sekalipun sudah kerahkan seluruh tenaga dalamnya pintu itu tetap tidak dapat terbuka.
Terpaksa sambil mengangkat bahu ujarnya. "Waduh. ..pintunya sudah terhalang, terpaksa kita hsrus mencari jalan keluar yang lain".
"Lalu bagaimana baiknya?" Seru Lie Siauw Ie dengan amat cemasnya. Jika kita tidak bisa mencari jalan keluar maka hweesio itupun tidak mungkin sudah lolos dari tempat ini.
Jelas sekali daiam hati Lie Siauw Ie pun merasa gugup sekali, cepat cepat dia meloncat turun dari punggung kerbau untuk mendekati pintu tersebut dan mendorongnya kebelakang, tetapi pintu tersebut tetap tak ber gerak sedikitpun juga.
"Sudah, sudahlah seru Liem Tou kemudian. Sekalipun kau menariknya sekuat tenaga juga tidak berguna, lebih baik kita mencari cara yang lain saja"
Selesai berkata matanya dengan oerJahan menyapu keadaan disekeliling tempat itu mendadak matanya tertumbuk dengan empat buah pilar besar vaug ada di tengah ruangan, hatinya menjadi bergerak.
Pikirnya didalam hati.
Ruangan didalam kuil Siang Lian Si ini dibuat sedemikian bagus dan sempurnanya sudah tentu didalamnya dipasangi alat alat rahasia, asalkan aku orang memeriksanya lebih teliti bukankah segera akan memperoleh jalan keluar?
Berpikir sampai disini dia segera berjalan mendekati pilar pertama yang berukiran naga dari emas, dengan pandangan yang teliti dia memeriksa seluruh bagian dari pilar tersebut.
Pada saat itulah ruangan istana yang semula terang benderang bagaikan disiang hari mendadak menjadi padam sehingga suasana menjadi amat gelap tidak dapat untuk melihat kelima jarinya sendiri.
Liem Tou menjadi sangat terperanjat dia takut Thiat Bok Thaysu sudah menggukan siasatlicik untuk melukai mereka dengan menggunakan alat alat rahasia dengan cepat tubuhnya meloncat mendekati samping tubuh Lie Siauw Ie.
"Ie cici, kita benar benar terkurung ditempat ini" serunya perlahan
Siapa tahu baru saja dia selesai berbicara mendadak terdengar suara mendeburnya air yang amat keras berkumandang memenuhi seluruh ruangan.
Sepasang mata diri Liem Tou tersebut bisa melihat di tempat kegelapan seperti disiang hari saja, sekali sapu saja dia sudah bisa melibat pada dinding sebelah kiri serta sebelah kanan dari ruangan istana itu mendadak sudah terbuka sebuah lubang yang amat besar sekali seluas dua kaki persegi, dua gulung air yang menderu dengan dahsyatnya mengalir keluar dengan amat derasnya memenuhi seluruh ruangan, kederasan disana jika dibandingkan dengan aliran air disungai Sam Sia diatas gunung Wu San boleh dikata dua kali lipatnya.
Didalam sekejap saja air yang menggenangi ruangan istana itu sudah meninggi selutut, melihat keadaan yang amat berbahaya Liem Tou tegera berteriak.
"Ie cici, hweesio jahanam itu sudah mulai melancarkan serangannya, kau tidak mengerti ilmu di dalam air lebih baik cepat cepat naik keatss punggung kerbau saja.
"Adik lalu bagaimana dengan kau? " balas tanya Lie Siauw Ie dengan amat cemas.
"Kau jangan mengurusi diriku, apakah kau sudah lupa kalau aku pandai didalam ilmu menyelam ? Air tidak berhasil mengurung diriku"
Sewaktu mereka berbicara itulah air sudah mulai meninggi sepinggang, mendadak ditengah kegelapan memancar sinar yang amat terang sekali berkelebat datang.
Lie Siauw Ie dengan memegang sebuah mutiara sedang berteriak dengan suara keras.
"Adik Tou kau tidak akan kegelapan lagi, ini aku kasih buat dirimu"
"Tidak usah, kau pakailah sendiri" Sahut Liem Tou sewaktu dilihatnya dia orang mau menghadiahkan barang pusaka dari suhunya itu kepadanya. "Pagi hari maupun malam buat aku orang adalah sama saja, hmm, harus dipukul . . harus dipukul. . . kau ini bagaimana toh? apa kau sudah lupa sewaktu masih ada dipuncak Ngo Lian Hong aku sudah berhasil melatih mataku untuk melihat di tengah kegelapan?"
"Aaah, betul. . . betul . , . aku memang harus dipukul, lalu kita mau keluar dari mana?"
"Kau jangan cemas dulu, kita pasti akan memperoleh cara untuk keluar dari sini"
Dengan mengikuti aliran air yang amat deras dia memperhatikan sejenak keadaan disekelilingnya lalu sambungnya.
"Ie cici, untuk sementara kau tunggulah aku ditempat ini, aku akan pergi sebentar dan segera akan kembali lagi"
Sejak semula Lie Siauw Ie sudah dibuat gugup hatinya oleh keganasan air yang mengalir dengan amat derasnya, segera serunya dengan gugup.
"Aaaah .... kau jangan pergi, kamu mau kemana ? ? Jika air ini menggenangi sampai keatap lalu bagi mana ?"
"Mana mungkin" ujar Liem Tou tertawa. "Kau tidak mengerti ilmu berenang sebaliknya kerbau itu merupakan jagoan di dalam ilmu berenang"
Selesai berkata dia memperendah tubuhnya dan menyelam ke dalam air, sebenarnya dia orang bisa berjalan diatas permukaan air dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya tetapi dia tidak mau berbuat demikian disebabkan dia tidak ingin Lie Siauw Ie tahu akan kepandaian silat yang dimikinya sehingga berita ini tersiar luas dikalangan Bu lim dan mempersulit pekerjaannya dikemudian hari.
Saat ini air sudah meninggi sampai diatas kepalanya! Lie Siauw Ie dengan menunggang kerbaunya mengambang mengikuti aliran air.
Liem Tou sekali lagi mendongakkan kepala nya ke atas permukaan air, ketika dilihatnya Lie Siauw Ie sudah lolos dari mara bahaya segera dia berseru.
"Ie Cici, aku pergi dulu"
Sekali lagi badannya menyusup ke dalam air dan menyelam mengikuti arus air.
Beberapa saat kemudian dikarenakan tekanan air semakin lama semakin deras dia tidak dapat maju kembali barang selangkah langkah pun, pikirannya segera berputar . . . mandadak dia menemukan suatu cara.
Telapak tangannya dengan mengerahkan tenaga dalam melancarkan suatu pukulan dahsyat kedepan sehirgga terbukalah sebuah lorong di tengah air, cepat cepat tubuhnya maju beberapa langkah kedepan menanti air tersebut menutup kembali pukulan yang kedua menyusul kembali .... akhirnya perlahan demi perlahan dia berhasil mendekati gua air tersebut.
Tetapi dia semakin mendekati gua itu kelihatan aliran dari air yang mengalir keluar semakin deras sehingga sukar untuk ditahan bahkan sampai pukulan saktinyapun tidak bisa terhindar sudah tentu tubuhnya tidak dapat ma ju lebih dekat lagi.
Pada sampai saat sekarang ini dia tidak dapat maju kedepan, tidak punya tempat untuk digunakan sebagai tempat mempertahankan diri sehingga tak kuasa lagi tubuhnya terpental mundur kembali beberapa kaki jauhnya.
Bersamaan pula dia mendadak dia merasakan pinggangnya terbentur dengan suatu barang dengan cepat dia menoleh kebelakang terlihatlah barang yang baru saja ditumbuk olehnya adalah badan dari kerbau itu terpaksa sekali lagi dia memukul keatas permukaan.
Terlihatlah saat ini air semakin lama semakin memenuhi seluruh ruangan, Lie Siauw Ie dengan tangan memegang mutiara dan duduk di atas punggung kerbau, sikapnya amat gugup dan ketakutan sikali, sewaktu melihat Liem Tou munculkan dirinya diatas permukaan air segera teriaknya dengan suara yang amat keras.
Adik Tou sebentar lagi air akan meninggi hingga sampai diatas ruangan ini, kita harus berbuat bagaimana??.
Dalam hati Liem Tou pun merasa amat cemas sekali, sembari menjejak air serunya kembali terhadap Lie Siauw Ie.
Ie cici kau jangan cemas, air ini tidak akan menenggelamkan kita.
Selesai berkata sekali lagi tubuhnya menyusup kedalam air dan berenang menuju kearah dimana berasalnya aliran air itu, setelah berenang sampai tidak bisa maju kembali sekali lagi dengan menggunakan angin pukulannya paksakan diri maju lebih dekat lagi.
Tidak lama kemudian dia sudah hampir sampai didepan pintu gua itu, tanpa berpikir panjang lagi tubuhnya dengan cepat miring kesamping mendadak bergeser beberapa langkah kedepan menghindarkan diri dari pintu gua tersebut, ternyata gulungan air disana jauh lebih kecil bahkan tidak terasa adanya tekanan yang amat kuat, diam diam mengerahkan hawa murninya lalu berturut turut melancarkan air pukulan berantai, tubuhnya dengan amit cepat menyusup maju kembali beberapa kaki kedepan dan tepat tiba disamping gua dimana air tersebut mengalir keluar.
Dia tidak berani berlaku ayal lagi, tangannya dengan cepat memegang dinding batu disamping gua tersebut dan memegangnya erat erat lalu dengan cepatnya muncul kembali ke atas permukaan air.
Tampaklah air tersebut saat ini sudah hampir mencapai keatap. Lie Siauw Ie yang ada diatas punggung kerbau sedang bungkukkan badannya menghindarkan diri dari benturan dengan atap ruangan.
Dengan cepat Liem Tou menggapai ke arahnya dan menunjukkan jalan keluar buat dirinya, Lie Siauw Ie menyahut dan memerintahkan kerbaunya untuk berjalan maju.
Beberapa saat kemudian sesudah membuang tenaga yang amat besar akhirnya dia berhasil bersatu kembali dengan Liem Tou untuk siap melewati gua itu mencari jalan keluar.
Kita balik pada Lie Loo jie serta si gadis cantik pengangon kambing yang tergantung di dalam ruangan kuil tersebut, keadaannya pada saat ini benar benar sangat mencemaskan sekali, sepasang mata mereka dengan terbelalak memandang kearah telaga air yang amat tenang sama sekali tidak tampak gerakan yang mencurigakan.
Karena mereka takut didalam air sudah dipasang alat alat rahasia karenanya sampai saat ini mereka masih tidak berani menggunakan ilmu meringankan tubuhnya untuk berjalan di atas permukaan air, mereka takut pula jikalau Thiat Bok Thaysu dengan mengambil kesempatan ini melancarkan serangan yang akan mengancam jiwa mereka.
Lewat beberapa saat kemudian si gadis cantik pengangon kambing sudah merasa tidak sabaran lagi, bisiknya kepada Lie Loo jie.
"Tia, ayolah kita turun ke bawah saja, kita harus bergantungan sampai kapan disini?? apa lagi bergantung seperti begini harus membuang tenaga amat banyak, lebih baik kita meloncat turun saja."
"Wan jie kau bisa bartahan sabar sahut Lie-Loo jie dengan suara yang amat halus, jika lihat dari barang barang yang diatur di dalam kuil Siang Lian si ini kemungkinan sekali di bawah telaga ini sudah dipasang sesuatu alat rahasia yang amat berbahaya, apalagi kita tidak tahu berapa dalamnya air kolam ini jika didalamnya dia sudah pasangi sesuatu benda sedikit kita salah menginjak tentu akan terkena jebakannya, lebih baik kita menunggu sebentar lagi.
Dengan amat tenangnya mereka berdua menunggu kembali entah seberapa lamanya sedangkan sampai saat itu dari pihak Thiat Bok Thay su pun sama sekali tidak memperlihatkan gerak gerik yang mencurigakan.
Keadaan semakin tenang Lie Loo jie semakin dibuat tegang lagi, sedetikpun dia orang tidak pernah memecahkan perhatian untuk mengawasi air kolam serta keadaan di sekeliling ruangan kuil itu.
Beberapa saat kembali berlalu dengan tenangnya, mendadak. . ."
Permukaan air yang semula tenang mendadak beriak dan bergelombang dengan amat kerasnya diikuti gelembung gelembung air yang memenuhi permukaan kolam. Segera terdengar suara dari Thiat Bok Thaysu yang berteriak dengan amat gusarnya.
"Hey orang she Lie, ini hari anggap saja aku kurang waspada sehingga terjatuh ketanganmu asalkan nyawaku masih ada pada bulan lima tanggal lima yang akan datang aku pasti akan mencari dirimu diatas puncak pertama diatas Cing Jan, saat ini aku bisa melepaskan kamu orang satu kali tetapi lain kali. .. Hmmam. kau pasti akan binasa ditanganku".
Selesai berkata suasana kembali menjadi hening sekali, saat ini Lie Loo jie benar benar di buat kebingungan, dia orang mana mau mempercayai perkataannya?? cepat cepat ujarnya kepada putrinya si gadis cantik pengangon kambing.
"Entah si hweesio sedang memainkan permainan setan apa lagi? kita jangan cepat mempercayai perkataannya, lebih baik kita sedikit berjaga jaga.
Saat ini keadaan di dalam ruangan kuil itu sangat gelap sekali sehingga sukar untuk melihat lima jarinya sendiri, baik Lie Loo jie maupun si gadis cantik pengangon kambing dengan perhatian penuh terus menerus memperhatikan gelembung gelembung air yang semakin banyak di atas permukaan air tersebut.
Tiba tiba terdengar si gadis cantik pengangon kambing berseru dengan amat kaget
"Tia coba kau lihat, kenapa di tengah air itu amat terang sekali?"
Padahal sejak tadi Lie Loo jie sudah dapat melihatnya, cuma saja tidak sampai diutarakan keluar. Kini ketika dilihatnya sinar terang itu semakin lama semakin membesar semakin lama semakin jelas hatinyapun terasa semakin menegang di dalam anggapannya Thiat Bok Thaysu sudah mengeluarkan permainan kotornya lagi.
"Wan-jie berhati hati" serunya kepada si gadis cantik pengangon kambing memberi peringatan, kemungkinan sekali hweesio terkutuk itu mengeluarkan permainan terkutuknya."
Siapa tahu baru saja dia selesai berkata mendadak dari permukaan tanah memancar keluer tiang tiang setinggi dua, tiga kaki keatas disusul munculnya seekor binatang besar dari dasar air tersebut.
Melihat binatang itu kembali si gadis cantik pengangon kambing itu berteriak kaget.
"Aduh.. .seekor kerbau, lalu Ie cici serta Liem Tou bocah cilik tukang mencelakai orang sudah pergi kemana??"
Lie Loo jie yang melihat munculnya kerbau itu didalam benaknya segera teringat kembali pemandangan sewaktu ia membinasakan para hweesio di luar kuil, hawa amarahnya sekali lagi berkobar di dalam hatinya.
"Kurang ajar, kembali kerbau terkutuk ini."
Lalu ujarnya kapada si gadis cantik pengangonn kambing.
"Binatang ini jika dibiarkan hidup terus cuma akan mendatangkan bahaya saja buat manusia, kau tunggulah sebentar disini aku mau turun kesana membinasakan dirinya"
Gadis cantik pengangon kambing yang pernah tinggal bersama sama kerbau itu diatas gunung Go bie dalam hatinya tahu benar kerbau ini penurut sekali, terhadap pembunuhan secara besar besaran terhadap para hweesio hweesio di kuil itu sekalipun dia melihat dengan mata kepala sendiri tapi dia masih tidak man percaya kalau sang kerbau telah berubah sifat.
"Tia, kau jangan binasakan kerbau itu, ujarnya dengan gugup. Aku lihat kerbau ini beebuat demikian tentu ada sebab sebabnya, lebih baik kau orang tua ampuni nyawanya sekali ini.
Lie Loo jie tidak mau menggubris, tangannya mengendor melepaskan pegangannya pada rantai baja itu lalu berjumpalitan di tengah udara dan menubruk ke bawah, sahutnya.
Jika dibiarkan hidup lama lagi, kemungkinan tidak ada oraag yang bisa meaguasai dirinya kembali.
Bersamaan dengan gerakannya itu tubuhnya meluncur kebawah sedang tangannya dengan dahsyat melancarkan pukulan gencar menghantam ke bawah membuat permukaan air pada muncrat muncrat ke empat penjuru.
Agaknya kerbau itupun merasakan adanya bahaya yang mengancam, kepalanya segera diangkat mendengus panjang.
Saat itu angin pukulan telah menghantam ke bawah, kelihatannya kerbau itu dengan cepat akan terbinasa di tangan Lie Loo jie.
Tiba tiba dari samping tubuhnya muncrat keluar butiran air yang amat besar, diikuti munculnya Liem Tou sambil meaggendong erat erat tubuh Lie Siauw Ie.
"Hey, Hui Tui Jie, jangan melukai kerbauku" teriak Liem Tou dengan suaranya yang amat keras.
Lie Loo jie menjadi tertegun, dengan cepat dia menarik lagi angin pukulannya, saat itu Liem Tou sudah melempar tubuh Lie Siauw Ie yang kecil ramping itu kearah Lie Loo jie.
Lie Loo jie tidak bisa berbuat apa apa lagi terpaksa dia menyambut datangnya tubuh Lie Siauw Ie sedangkan tubuhnya yang hampir mencapai permukaan air dengan cepat mengerahkan tenaga dalamnya kembali sedikit menutul ujung tanduk sang kerbau itu dengan menggunakan jurus Pek Hok Cong Thian atau bangau putih menerjang ke langit, tubuhnya dengan lurus meloncat keatas dan menyambar kembali rantai baja itu untuk bergantungan.
Dan pada saat bersamaan pula Liem Tou dengan cepat berenang kemudian menaiki pungguug kerbaunya, teriaknya dengan keras kepada Lie Loo jie.
"Hey Hui Tui Jie sudah lama kita tidak bertemu, walaupun larimu sangat cepat sekali tetapi kali ini tidak bisa menandingi kecepatan dari larinya kerbauku, tadi kenapa kau orang mau membinasakan dirinya ?"
Lie Loo jie yang melihat munculnya Liem Tou secara tiba tiba di dalam ruangan itu diam diam hatinya merasa ragu ragu bercampur curiga pikirnya.
Selama setahun ini entah bocah gendeng ini pergi kemana saja? Terang terangan tadi aku melihat dia orang tergantung di atas tanduk kerbaunya dalam keadaan terluka bagaimana sekarang bisa jadi sehat waalfiat kembali ?
Tak terasa lagi dengan mengggunaksn sepasang biji matanya yang jeli dan tajam dia orang memperhatikan diri Liem Tou dengan sanngat telitinya, tampak sinar matanya amat halus sekali, kedua belah keningnya terlihat biasa agaknya sama sekali tidak mengerti akan ilmu silat, Tetapi sewaktu teringat kembali akan keganasan dari kerbaunya dia menjadi khekie juga.
Aku lihat kerbaumu, itu memang cepat sekali, tetapi aku rasa semakin lama kerbaumu itu akan jadi seekor kerbau liar yang ganas.
Hui Tui Jie kau jangan omong guyon. Seru Liem Tou membantah. Kerbauku bukan saja larinya cepat bahkan bisa membedakan mana yang jahat mana yang baik, asalkan orang jahat pasti dia akan bertemu dengan tandingannya.
Mendengar perkataan itu Lie Loo jie menjadi semakin gusar, pikirnya.
Terang terangan bocah cilik ini sedang mencari bahan guyon buat diriku, di badan orang jahat tidak ada tanda tanda yang lain juga tidak ada bau yang istimewa, cuma binatang saja bagaimana bisa membedakan hal itu?"
Baru saja dia mau berbicara untuk memberi sedikit nasehat pada diri Liem Tou mendadak terdengar Lie Siauw Ie sudah menimbrung. Suhu perkataan dari adik Tou sama sekali tidak palsu, hal ini memang benar benar nyata.
Siapa yang suruh kau banyak omong?" maki Lie Loo jie dengan wajah keren, sekalipun kau berbicara lebih banyak akupun tidak akan percaya, manusia saja kadang kala tidak bisa membedakan baik buruknya manusia apalagi seekor kerbau."
Lie Siuuw Ie tidak mau ambil perduli makian dari Lie Loo jie ini timbrungnya kembali.
"Tapi sedikitnya para hweesio dari kuil Siang Lian si tidak ada seorangpun yang baik"
"Sudah. . . sudahlah, si gadis cantik pengangon kambing dengan cepat. Ie cici kau jangan berbicara lagi.
Lagi ujarnya pula kepada Lie Loo jie.
Tia, tidak usah banyak omong lagi, coba kau lihat kita bergantungan di atas rantai baja seperti macam apa?" cepat kita cari akal untuk keluar dari sini "
Lie Loo jie segera merasa bahwa perkataannya sedikitpun tidak salah, ujarnya kemudian kepada Liem Tou.
Liem Tou aku dua kali menolong kau orang lolos dari kematian. Kenapa kau selalu mencari ribut dengan aku si orang tua?" sekarang kau bilang punya kerbau yang berkepandaian lihay coba aku lihat kau bisa keluar kuil ini tidak?
Apa yang sukar?" sahut Liem Tou tertawa. Jika kerbauku ini tidak bisa keluar dari ruangan kuil seperti ini mana mungkin bisa disebut kerbau ajaib?"
"Hee . .. sejak kapan kerbaumu ini mendapat julukan sebagai kerbau ajaib?"
Kerbau yang tidak seperti kerbau biasa sudah tentu disebut sebagai kerbau ajaib. Sembari memberikan jawabannya ia memperhatikan dengan amat teliti di sekeliling tempat itu, terlihatlah dinding empat penjuru dari ruangan itu terbuat dari baja yang amat kuat dan tidak ada jalan yang bisa ditembus.
Jalan semula yang dilaluinya tadi beserta kerbaunyapun kini sudah tertutup oleh pintu baja yang amat kuat, jika ditinjau dari keadaan sekarang ini agaknya satu satunya jalan untuk menerjang keluar hanyalah melalui jalan pintu depan saja.
Liem Tou yang melihat tempat itu dapat di coba coba dengan diam diam dia kerahkan tenaga dalamnya yang disalurkan kearah lengannya, bersamaan pula dengan menggunakan ilmu untuk menyampaikan suara perintahnya kepada sang kerbau.
"Su ". Seperti baru saja mendapat firman kaisar, kerbau itu dengaa cepat dongakkan kepalanya mendengus panjang, dengan berenang dia menerjang terus ke arah pintu depan.
Walaupun gerakannya amat perlahan tetapi jauh berbeda dari binatang biasa, hanya di dalam sekejap saja sang kerbau sudah tiba disamping pintu depan. Diam diam Liem Tou menjepit perutnya sehingga kerbau itu kesakitan dan menundukkan kepalanya menerjang pintu depan dengan mengambil kesempatan inilah Liem Tou melancarkan satu pukulan dahsyat ke depan.
Braak . . . dengan disertai suara bentrokan yang amat keras pintu besar itu berhasil dipukul hancur sehingga terpental lebar lebar.
Lie Loo jie, Lie Siauw Ie serta gadis Cantik pengangon kambing yang melibat kehebatan tersebut sudah menganggap hal itu hasil dari terjangan sang kerbau tak terasa lagi sudah pada merasa bergidik dan menjulurkan lidahnya kekaguman.
Lie Loo jie yang melihat pintu ruangan kuil itu terbuka dengan amat girangnya cepat-cepat berseru. Ie jie Wan jie, cepat lari keluar.
Perkataannya baru saja salesai diucapkan dengan menggunakan gerakkan tubuh Hwee Yan Cuan Lian atau burung walet melewati pagar dia sudah berkelebat keluar diikuti oleh si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie dari belakangnya.
Siapa tahu baru saja Lie Loo jie mencapai pinggiran pintu mendadak dari bawah permukaan tanah terdengar suara desiran yang keras di dalam sekejap saja seluruh air yang menggenangi ruangan itu lenyap tak berbekas sebaliknya permukaan tanah dari ruangan kuil yang sebenarnya secara tiba tiba menaik lebih tinggi sedang pada saat yang bersamaan pula Lie Loo jie sedang melewati pintu, kurang sedikit saja dia akan terbentur dengan pintu itu.
Melibat hal itu gadis cantik pengangon kambing menjadi sangat kaget sekali.
"Tia hati hati teriaknya dengan keras."
Dia menjadi agak tertegun, tampaklah bayangan hitam berkelebat di depannya, patung Buddha yang semula berada di depan pintu kini sudah mumbul kembali ke atas dan menghalangi di depan tubuhnya.
Saat ini sepasang lengannya yang terbuat dari besi sedang dipentangkan siap merangkul pinggang dari Lie Loo jie.
Lie Loo jie benar benar amat terperanjat sekali.
"Celaka ..." teriaknya keras.
Di dalam keadaan yang amat kritis tubuhnya dengan cepat melayang beberapa kali menjauh tempat tersebut sedangkan hatinya merasa berdebar debar amat kerasnya.
Pikiran kagetnya belum lenyap dari benaknya tiba tiba ....
"Braak..." terdengar suara bentrokan yang amat keras patung Buddha itu sudah kena tubruk kerbau yang sedang menerjang dari belakangnya sehingga seketika itu juga hancur berantakan menjadi lima bagian kecil kecil.
Bersamaan dengan itu pula terdengar suara tertawa terbahak bahak yang amat keras dari Liem Tou.
"Huui Tui Jie jangan takut, asalkan ada kerbau ajaibku disini tanggung kau tidak akan menemui kerugian".
Lie Loo jie yang dikatai begitu mau tertawa tidak dapat mau marahpun sungkan dengan wajah yang adem dia berjalan keluar dari pintu ruangan lalu memandang kearah Liem Tou tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Saat ini si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie pun mengikuti dari belakangnya berjalan keluar, setelah memandang cuaca yang mendekati fajar pandangannya segera beralih ke arah Liem Tou yang sedang duduk diatas punggung kerbaunya.
Selama setahun ini kelihatannya dia bertambah tampan dan gagah, sepasang matanya walaupun tidak memancarkan sinar aneh tetapi bening bagaikan kaca jeli laksana mutiara cuma saja pakaian yang dipakai terlalu kotor dan sudah koyak koyak sehingga tidak sedap dipandang.
Melihat potongannya si gadis cantik pengangon kambing segera tertawa cekikikan, ujarnya.
"Koko muka hijau selama setahun ini Ie cici setiap hari merindukan dirimu kau sudah pergi ke mana saja??"
Begitu perkataan tersebut diucapkan keluar baik Lie Siauw Ie maupun Liem Tou menjadi amat malu, air mukanya seketika itu juga berubah memerah, mereka merasa amat malu bercampur gembira sedangkan Liem Tou juga tidak banyak membantah cuma dengan tertawa malu malu dia bungkam dalam seribu bahasa.
Lie Siauw Ie segera memberitahukan apa yang diketahuinya kemarin malam dari Liem Tou.
Seiama setahun ini adik Tou berlontang lantung di dalam dunia kangouw dan berkelana ke seluruh daerah Tionggoan ini.
"Hmmm, Liem Tou" tiba tiba Lie Loo jie mendengus dengan amat dinginnya, orang budiman tidak akan main umpet umpetan, sejak kapan kitab pusaka To Kong Pit Liok kau dapatkan ? ? Ayoh cepat bilang !"
Mendengar perkataan tersebut Liem Tou jadi sangat terperanjat, diam diam pikirnya.
"Aku masih mengira dia tidak dapat melihat keadaanku yang sebenarnya, kiranya dia tidak ingin membuka kartu di tengah orang banyak.
Baru saja dia mau menceritakan kisah yang sebenarnya terdengar Lie Loo jie sudah melanjutkan kata katanya.
"Jikalau kitab pusaka To Kong Pit Liok itu tidak kamu ambil ambil kemungkinan sekali barang itu akan diambil oleh orang lain."
Dengan perkataannya ini jelas membuktikan kalau perkataannya tadi cuma merupakan dugaannya saja dan bukan karena dia sudah bisa melihat kalau dirinya telah memiliki kepandaian silat yang amat tinggi sekali.
Tetapi kini Lie Loo jie sudah berbicara kalau tidak diberitahu tidak enak tetapi kalau di beri tahu juga tidak baik sekalipun dia adalah seorang yang cerdik tetapi di dalam keadaan yang kepepet dia tidak dapat mengucapkan sepatah katapun juga, dengan wajah yang berubah merah seperti kepiting rebus duduk dengan malunya di atas punggung kerbau.
Lie Loo jie sekalian yang melihat lama sekali dia tidak mengucapkan sepatah katapun tak terasa pada menengok ke arahnya dengan disertai penuh harapan, mereka sangat mengharapkan Liem Tou sudah berhasil memperoleh kitab pusaka To Kong Pit Liok itu.
Mendadak Lie Loo jie mendepakkan kakinya ke atas tanah lalu makinya terhadap si gadis cantik psngangon kambing serta Lie Siauw Ie.
"Kalian berdua bisa mengambil keputusan sendiri untuk turun gunung, sudah tentu kalian tidak membutuhkan aku orang lagi yang ikut mengurus bukan?"
Sambil berkata mendadak sepasang telapak tangannya melancarkan serangan ke depan sehingga terasalah segulung angin pukulan laksana bertiupnya topan melanda permukaan tanah di samping badannya sehingga membuat pasir dan batu krikil pada berterbangan memenuhi angkasa.
Tubuhnya pada saat itu pula dengan kecepatan bagaikan kilat meloncat ke atas lantas berlalu dari tempat itu.
Ketika si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie sadar kembali Lie Loo jie sudah ada puluhan kaki jauhnya dari sana.
Didalam keadaan lemas, tak terasa lagi si gadis cantik pengangon kambing melelehkan air matanya, panggilnya dengan keras.
"Tia ...!"
Belum selesai dia mengucapkan kata kata selanjutnya Lie Loo jie sudah berjumpalitan kembali di tengah udara lalu lenyap dibalik tembok pekarangan kuil Siang Lian Si.
Kini tinggal gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie saling berpandangan, tertawa si gadis cantik pengangon kambing itu dengan setengah berbisik ujarnya.
"Ie Cici selamanya ia belum pernah marah seperti bal ini, aku ingin pulang ke gunung."
Wan moay semuanva ini aku yang salah ujar Lie Siauw Ie dengan nada menyesal.
Lain kali jika bertemu kembali dengan suhu aku tentu akan memberitahukan kepada suhu dia orang tua untuk tidak menyalahkan dirimu lagi, semua ini hanyalah kesalahanku seorang.
Sambil berkata tak terasa lagi dari ujung matanya yang jeli menetes keluar titik air mata yang membasahi pipinya.
Liem Tou yang melibat mereka berdua pada menangis, dengan bingung hiburnya.
"Wan moay, Ie cici kalian jangan menangis lagi, lain kali jika bertemu kembali dengan Lie Loo cianpwee biarlah aku membantu kalian berbicara, aku tentu akan menyuruh dia orang jangan menyalahkan diri kalian kembali, tetapi kalianpun salah kenapa tidak mau mendengar nasehat dia orang tua.
Si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie dapat turun gunung tanpa pamit sebetulnya dikarenakan hendak mencari diri Liem Tou, kini mendengar dari nada ucapannya dia malah sebaliknya menyalahkan tindakan mereka berdua tak terasa lagi si gadis cantik pengangon kambing melototi dirinya sekejap sebaliknya Lie Siauw Ie semakin merasakan hatinya tidak enak sekali.
"Adik Tou bentaknya dengan nyaring.
"Kau sedang bilang apa? kita turun gunung tanpa pamit semuanya dikarenakan kau, tidak kusangka sama sekali kau bisa mengucapkan kata kata seperti ini"
Liem Tou sebenarnyapun sudah tahu dia cuma sengaja berbicara untuk menggoda mereka saja apalagi diapun tahu Lie Loo jie bukan bersungguh sungguh sedang memarahi mereka sebaliknya dikarenakan berturut turut dikalahkan olah kelihayan kerbau ajaibnya ini sehingga untuk melindungi kewibawaan serta mukanya sengaja dia berpura pura marah dan mengambil kesempatan itu untuk berlalu dari sana.
Kini mendengar bentakan dari Lie Siauw Ie, ia segera tertawa kecil, mohonnya dengan suara setengah merengek.
"Oooh Ie cici aku cuma berguyon saja. bagaimana kalian sudah menganggapnya bersungguh sungguh? urusan ini bukanlah dikarenakan kesalahan dari kalian berdua, lain kali jika bertemu kembali dengan Lie Loo cianpwee biarlah aku suruh dia orang pukul diriku satu kali untuk merendahkan hawa amarahnya.
'Hmm, siapa yang mau berguyon dengan dirimu?" bentak Lie Siauw Ie sambil melotot. Jikalau kau orang sampai kena pukul suhu, mungkin tulangpun akan remuk.
"Remuk ya biar remuk toh, siapa suruh kau berdua turun gunung tanpa pamit."
Sekalipun tulangku dipukul remuk aku juga tidak bisa berkata apa apa lagi.
Perkataannya ini diucapkan sangat lucu sekali membuat si gadis cantik pengangon kambing menjadi tertawa cekikikan.
Hujan segera reda dan awan tersapu bersih kelihatan sekali wajahnya semakin cantik. "Wan Moay moay kau mentertawakan apa?" Seru Liem Tou dengan suara yang keras.
Apakah kau kira omonganku sudah salah?"
Sepasang mata yang amat jeli dari si gadis cantik pengangon kambing segera melirik sekejap ke arah Liem Tou lalu melirik pula ke arah Lie Siauw Ie, ujarnya sambil tertawa.
Jika kalau ayahku sampai memukul remuk tulangmu kemungkinan sekali hati Ie cici pun akan ikut hancur lebur. Liem Tou yang mendengar perkataan tersebut benar benar merasa sangat kegirangan.
Eeeeeh.. omongan kok lucu sekali serunya sambil tertawa geli. Lie locianpwee pukul badanku bagaimana sakit di badannya Ie cici??'
Lie Siauw Ie yang mendengar tanya jawab dari si gadis cantik pengangon kambing serta Liem Tou sejak tadi tadi sudah dibuat kemalu maluan, wajahnya memerah hingga sampai dilehernya.
"Sudah. . .sudahlah." serunya dengan manja, Wan moay kau jangan cari gara gara terus, coba kau lihat cuaca sudah mulai terang tanah, orang yang melakukan perjalananpun sudah tidak sedikit ayo kita kembali ke rumah penginapan.
"Ehmmm tetapi kuil Siang Lian si ini merupakan tempat mesum yang amat kotor jika tidak dibakar bukankah hanya meninggalkan bencana buat orang lain??"
Lie Siauw Ie lantas mengangguk tanda menyetujui, baru saja dia mau menjawab Liem Tou sudah keburu berkata.
Menurut penglihatanku para hweesio dari kuil ini kebanyakan sudah mati atau terluka aku kira tidak ada kekuatan lagi buat mereka untuk berbuat jahat aku kira sekalipun kuil Siang Lian si ini tidak kita hancurkan orang lain sama saja akan menghancurkannya, buat apa kita repot-repot membuang tenaga??"
"Betul, perkataannya sedikitnun tidak salah" sela si gadis cantik pengangon kambing menyetujui. Kalau begitu cepat kita berangkat kembali ke rumah penginapan."
Mereka bertiga setelah mengambil Keputusan ini, si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie segera meloncat keluar melewati tembok pekarangan sedangkan Liem Tou dengan menunggang kerbau berjalan keluar melalui pintu depan.
Sesampainya di jalan raya mereka segera mempercepat langkahnya kembali ke kota. Tidak selang lama kemudian sampailah mereka di depan rumah penginapan di luar kota di mana mereka menitipkan kambing kambingnya itu.
Dari tempat kejauhan tampaklah orang yang sedang berkerumun di depun rumah penginapan itu agaknya kurang lebih berada di atas ratusan orang banyaknya.
Melihat hal ini si gadis cantik pengangon kambing menjadi keheranan dibuatnya. "Eeeeh sudah terjadi urusan apa?"
Tubuhnya dengan cepat menerobos terlebih dahulu ke depan seorang kakek yang berada di sana cepat katanya.
"Aeey orang tua. sebenarnya didalam penginapan ini terjadi urusan apa"
Sewaktu si kakek tua itu melihat si gadis cantik pengangon kambing adalah seorang perempuan yang sangat cantik sekali, semula dibuat tertegun tetapi sebentar kemudian sambil menghela napas panjang sahutnya.
"Aaaaiii . . , tahun ini semakin lama semakin berbahaya, nona, pernahkah kamu orang mendengar nama penjahat naga merah ?
Jika kau kepingin mengetahui urusan ini, cuma tahu namanya saja tentu mengetahui sendiri apa yang telah terjadi di tempat ini."
Mendengar disebutnya nama si penjahat naga merah, si gadis cantik pengangon kambing menjadi amat terperanjat sekali. "Apakah kemarin malam si penjahat naga merah sudah menggerayangi rumah penginapan ini ? tanyanya dengan cemas.
Memang aneh sekali, lalu besarkah kerugian yang di derita di dalam rumah penginapan ini ?"
"Kerugian . ? Seru kakek tua itu sambil memandang sekejap ke arah gadis cantik pengangon kambing itu. Kalau tempat yang sudah digerayangi oleh si penjahat naga merah sudah tentu barangnya akan ludas semuanya.
Si gadis cantik pengangon kambing yang secara tiba tiba mendengar kemarin malam si penjahat naga merah sudah melakukan pencuriannya kembali sudah tentu tidak mau percaya, bukankah kemarin malam jelas sekali si penjahat naga merah sedang melakukan pertempuran sengit melawan ayahnya, bagaimana dia melakukan pencuriannya ditempat ini?
Tak tertahan lagi saking herannya pergelangan tangan kakek tua itu dicekal semakin kencang teriaknya.
Didalam dunia ini mana mungkin bisa terjadi urusan ini, coba kau orang tua jelaskan lebih terang lagi.
Kakek tua yang pergelangan tangannya di cekal erat erat oleh gadis cantik pengangon kambing itu segera merasakan kesakitan sehingga menyusup ke dalam tulang sumsumnya, teriaknya dengan keras.
"Aduh tolong ... ! "
Saking sakitnya dia jatuh tak sadarkan diri ke arah belakang, waktu itulah si gadis cantik pengangon kambing menjadi gugup apalagi kakek itu pada saat ini pucat pasi bagaikan mayat.
Saat itulah orang orang yang sedang menonton keramaian dengan suara yang ramai pada berpindah mengerubungi diri gadis cantik pengangon kambing.
Untung saja Lie Siauw Ie serta Liem Tou cepat datang, Lie Siauw Ie yang sejak kecil sudah terbiasa menghadapi segala perubahan yang terjadi secara mendadak dengan cepat maju ke depan menepuk punggung kakek itu.
Sebentar kemudian kakek tua itu baru sadar kembali dari pingsannya, si gadis cantik pengangon kambing segera minta maaf berulang kali mengiringi kakek tua itu berlalu dari sana sambil mengelus elus pergelangan tangannya
si gadis cantik pengangon kambing yang kepingin cepat cepat mengetahui keadaan yang sesungguhnya segera ujarnya kepada Liem-Tou.
"Hay Koko muka hijau kau tunggu sebentar di sini biarlah aku serta Ie cici pergi kesana memeriksa sebentar ."
Liem Tou mengangguk tanda menyetujui, dengan demikian si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie segera mendesak orang orang lainnya untuk maju kedepan.
Sesampainya di depan pintu rumah penginapan baik Lie Siauw Ie maupun si gadis cantik pengangon kambing segera bau amis darah yang sangat menusuk hidung, tak terasa lagi hati mereka berdua pada berdebar debar amat kerasnya.
Tiba tiba. , .mereka menjerit keras saking kagetnya dan berdiri tertegun didalam ruangan itu.
Kiranya didalam rumah penginapan tersebut penuh berceceran darah segar dengan mayat mayat yang bergelimpangan dengan amat ngerinya, suasana sungguh menyeramkan sekali.
Melihat keadaan yang demikian mengerikan ini si gadis cantik pengangon kambing segera memejamkan matanya rapat, serunya dengan terharu.
"Ie cici, sungguh kejam si penjahat naga merah itu."
Bagaimanapun juga Lie Siauw Ie yang usianya jauh lebih tua jadi orang pun semakin tenang, setelah bertanya dengan seorang dia baru mengetahui kalau penghuni penginapan kecil ini hanya didalam satu malaman saja sudah dibinasakan semuanya, bahkan sampai para tamu yang sedang menginap di rumah penginapan itu pun tidak luput dari penjagalan secara besar besaran ini.
Karenanya setelah mengetahui jelas akan hal itu dia tak perlu memeriksa kembali keadaan rumah penginapan tersebut, teringat akan kawanan kambing yang dititipkan di rumah penginapan itu segera dia menarik tangan si gadis cantik pengangon kambing untuk diajak ke kandang,
Si gadis cantik pengangon kambing segera menyambut dan mengikuti dari belakangnya.
Sesampainya di depan pintu rumah penginapan itu mereka berbelok ke sebelah kanan yang merupakan kandang kuda. Lie Siuw Ie masih ingat kalau kawanan kambing mereka ditempatkan di dalam kandang kuda itu.
Hubungan antara si gadis cantik pengangon kambing dengan kawanan kambingnya benar benar sangat erat sekali, tempo hari masih berada diatas puncak Ay Leng diatas gunung Go bie, kecuali ayahnya Lie Loo jie dia cuma berkawan dengan kawanan kambingnya itu.
Saat ini hatinya benar benar merasa sangat ketakutan sekali, dia takut kambing kambingnya itu sudah terbunuh semuanya, diam diam doanya did alam hati.
"Semoga saja kawanan kambingku berada di dalam keadaan sehat sehat saja"
Si Gadis dengan cepat mencabut seruling pualamnya lalu ditiup dengan amat nyaringnya.
Siapa tahu kawanan kambing yang biasanya pasti akan mengembek setelah mendengar tanda itu sekarang sama sekali tak memberikan reaksinya.
si gadis cantik pengangon kambing menjadi amat terperanjat, tanpa perduli disekitarnya banyak orang yang menonton mendadak tubuhnya meloncat ke tengah udara setinggi beberapa kaki lalu melewati atas kepala semua orang dan berkelebat menuju ke kandang kuda itu.
Dengan kejadian ini seketika itu juga memancing kegaduhan di antara para penonton, mereka beribut ribut untuk menuju ke kandang kuda semuanya.
Si gadis cantik pengangon kambing sesampainya di depan pintu kandang kuda itu seketika itu juga merasakan hawa dingin berdesir dari dasar lubuk hatinya, seluruh tubuhnya gemetar dengan amat keras tampaklah kawanan kambingnya sudah pada menggeletak dan ceceran darah membanjiri seluruh permukaan tanah. Tidak ada seekorpun yang berhasil meloloskan diri dari bencana ini.
Dengan termangu mangu si gadis cantik pengangon kambing itu berdiri di sana, semakin dipikir dia merasa semakin sedih tak kuasa lagi titik air mata menetes keluar membasahi pipinya.
Waktu itupun Lie Siauw Ie sudah menyusul di sana, sewaktu melihat keadaan yang sangat mengerikan itu hatinya merasa terjeblos ke dalam jurang yang sangat dalam, apalagi semuanya ini dikarenakan dirinya yang ngotot mau turun gunung mencari Liem Tou sehingga dirinya menemui kerugian yang demikian besarnya, tak terasa lagi hatinya benar benar terasa amat berduka.
Lama sekali mereka berdua berdiam diri tak berbicara, dan pada saat itu orang orang yang menonton keramaian sudah pada mengumpul datang untuk melihat gadis cantik yang baru saja lewat di atas kepala mereka, melihat hal itu Lie Siauw Ie segera menepuk pundaknya dengan perlahan.
"Wan-moay kau jangan bersedih hati, hiburnya. Kesemuanya ini adalah kesalahanku sendiri, sekarang orang orang itu sudah pada ngumpul kemari, lebih baik kita pargi saja."
"Tidak, bal ini tidak ada sangkut pautnya dengan Ie cici!" bentak gadis cantik pengangon kambing itu dengan suara tegas. "Kesemua ya ini disebabkan kekejaman dan keganasan diri si penjahat naga merah itu, aku sangat benci kepadanya, tadi ayah marah marah sebetulnya aku kepingin puiang ke gunung saja tapi sekarang tidak akan puiang lagi, ayahku sudah mengadakan perjanjian dengan si hweesio kurus hitam untuk bertemu di puncak pertama Cing Jan. Waktu itu si penjahat naga merah pasti ikut datang, saat itulah aku akan menyu ruh dia menggantikan kambing kambingku itu"
"Benar, urusan lain kali bisa kita bicarakan di kemudian hari saja, sekarang kita harus berangkat meninggalkan tempat ini terlebih dahulu.
Si gadis cantik pengangon kambing itu lama sekali tidak menjawab, sedangkan waktu itu sudah ada banyak orang yang mengerubungi tempat itu sambil mengutarakan pendapatnya masing masing.
"Aaa. . .sungguh cantik kedua orang gadis muda ini.
"Hmmmn . .cantiknya seperti bidadari yang turun dari kahyangan."
Perempuan itu mempunyai kepandaian yang begitu tinggi sudah tentu perempuan yang lainnya mempunyai kepandaian silat yang tidak jelek"
"Kedua orang perempuan ini sangat aneh sekali, apa mungkin mempunyai hubungan dengan si penjahat naga merah itu??"
Semakin mendengar Lie Siauw Ie semakin tidak puas. terpaksa dia mendesak si gadis cantik pengangon kambing itu untuk cepat cepat meninggalkan tempat itu,
si gadis cantik pengangon kambing tetap tidak menjawab, tiba tiba sambil menunding ke arah mayat kambingnya dia berseru keras.
"Ie cici, coba kau lihat."
"Lihat apanya??" tanya Lie Siauw Ie keheranan.
Coba kau lihat pada leher setiap kambing itu pasti ada satu bekas darah yang memancang, tetapi kambing itu bukan binasa dikarenakan hal itu mereka pasti binasa tertusuk pedang.
"Apa mungkin itulah yang disebut tanda pengenal ular merah?" tanya Lie Siauw Ie setelah termenung sebentar.
"Aku kira mungkin benar" jawab si gadis cantik pengangon kambing sambil mengangguk tetapi ada satu urusan yaug aku merasa kebingungan, kemarin malam si penjahat naga merah yang kita temui menggunakan cambuk Ci Liong pian ssdangkan kawanan kambing ini binasa tertusuk padang, bukankah hal ini sangat aneh sekali ???
Lie Siauw Ie sebera merasakan perkataannya sedikitpun tidak salah, dia mengangguk.
"Kelihatannya ada orang yang memalsukan namanya."
Mungkin, tetapi aku rasa kita harus menginap beberapa hari di dalam kota kemungkinan sekali dengan demikian kita bisa memperoleh sedikit tanda tanda yang jelas.
Demikianpun baik juga, sekarang lebih baik kita cepat cepat meninggalkan tempat ini. Si gadis cantik pengangon kambing itu segera mengangguk, setelah memandang beberapa kejap lagi ke atas mayat kambing kambing kesayangannya dia baru putar badan berlalu dari sana.
"Tiba-tiba". Suara menyambarnya senjata rahasia memecahkan udara mengancam tubuh mereka, si gadis cantik pengangon kambing menjadi sangat terperanjat bentaknya.
"Ie cici, hati hati senjata rahasia." Tubuhnya dengan cepat menyingkir kesamping sedangkan Lie Siauw Ie yang agak terlambat untuk menyingkir segera merasakan adanya sambaran senjata rahasia itu terpaksa cepat cepat menjatuhkan diri ke depan.
"Sreet. sreeet, . dua batang paku pencabut nyawa dengan amat cepatnya menancap pada tiang kandang kuda itu untung saja mereka cepat cepat menyingkir kalau tidak, mungkin, tubuh mereka berdua sudah kena dihajar.
Si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie segera menoleh kebelakang mereka berdua bersama sama mencabut keluar pedang serta seruling pualamnya.
Para penonton yang melihat kedua orang gadis itu secera tiba tiba mencabut keluar senjata tajamnya bahkan dari wajahnya kelihatan sangat mencurigakan sekali segera pada ketakutan dan saling dorong mendorong untuk cepat cepat mengundurkan diri dari tempat itu.
Di dalam keadaan yang sangat kacau itu bila si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ia mau mencari orang yang menyambitkan senjata rahasia itu menjadi sukar sekali.
Mereka berdua berdiri saling berpandangan lama sekali, kelihatannya kita tidak bakal bisa mencarinya Lie Siauw Ie berseru dengan gemas.
Wan Moay bajingan ini sangat licik sekal1 tampaknya kita tak perlu nguber dia lagi, baiklah kita mengikuti perkataanmu tadi untuk sementara tinggal di kota Tang Yang dulu jika dia orang mau mencelakai kita berdua lagi bukankah kita tidak usah pergi mencari dirinya dengan susah ??
"Betul, mari kita berangkat," seru gadis cantik pengangon kambing itu kemudian sambil mengangguk.
Mereka berdua segera menyimpan kembali senjatanya masing masing dan berjalan keluar dari tempat itu.
Saat itulah terdengar Liem Tou sedang tertawa terbahak bahak diikuti dengan suara teriakan "Jan, Seng, Cu, Beng, Tong, Piah Hoan" serta Jan Seng, Seng Beng, Cu Piah, Cu Beng serta Tong Su delapan buah kata secara bergantian, sedangkan orang yang semula menonton keramaian itu pun kedengaran sedang tertawa terbahak bahak dan bersiul dihadapan mereka.
Mendengar suara tersebut Lie Siauw Ie menjadi sangat cemas, ujarnya.
"Wan Moay cepat sedikit, entah adik Tou sudah memancing kegaduhan apa lagi?"
Si gadis cantik pengangon kambing itu segera menarik ujung bajunya.
Ie cici sahutnya. Kita lewat samping sini saja biar sampai lebih cepat.
Lie Siauw Ie, tidak menjawab lagi mereka berdua dengan cepat memutar ke samping jalan lalu berlari dengan cepatnya kedepan.
Beberapa puluh kaki jauhnya kemudian mendadak tampaklah oleh mereka sinar golok yang menyilaukan mata berkelebat dengan tak henti hentinya di bawah sinar matahari.
Sedangkan Liem Tou dengan menggunakan kerbaunya sedang menerjang ke kanan menerjang ke kiri di antara bayangan golok tersebut, tetapi sungguh aneh sekali ternyata tak ada sebilah golokpun yang berhasil mengenai ujung bajunya.
Liem Tou kelihatan sangat bangga sekali, wajahnya riang sedang mulutnya tak hentinya memperdengarkan suara tertawa terbahak bahaknya yang amat keras.
Sewaktu Lie Siauw Ie sera si gadis cantik pengangon kambing itu dapat melihat siapa-siapa yang sudah mengayunkan golok goloknya itu tak terasa lagi pada berseru keheranan.
Kiranya orang orang itu berjumlah delapan orang yang bukan lain adalah Toosu toosu dari Bu tong pay.
"Wan moay, ujar Lie Siauw Ie keheranan Hidung hidung kerbau dari Bu tong pay itu tidak ada ganjalan sakit hati apa apa dengan adik Tou kenapa ini hari sengaja mencari gara gara dengan dirinya ?"
"Mari kita maju bertanya sendiri saja" sahut si gadis cantik pengangon kambing itu "Jikalau mereka tidak tahu aturan dan mau teruskan untuk bergebrak biarlah cukup aku seorang diri pergi mengejar mereka itu biar aku hajar sampai babak belur"
Selesai berkata tanpa ragu ragu lagi dengan menarik tangan Lie Siauw Ie berjalan maju ke tengah lapangan.
"Berhenti" bentak si gadis cantik pengangon kambing keras sambil bertolak pinggang.
Para toosu2 itu sewaktu mendengar ada orang yaag membentak segera pada tertegun dibuatnya, dengan sendirinya gerakannya pun menjadi berhenti.
Bersamaan pula Liem Tou pun membentak keras. "Su"
Kerbau itu segera berhenti bergerak.
"Hey toosu toosu dari Bu tong pay teriak si gadis cantik pengangon kambing itu kemudian setelah kedua belah pihak pada berhenti " Kalian meiakukan perjalanan di tengah jalan raya, sedang Liem Koko dia melewati jambatan kayu (diantara kalian air sumur tidak melanggar air kali, kenapa ini hari tanpa angin tanpa hujan sudah pada mencari Liem Koko untuk diajak berkelahi?"
Beberapa perkataan dari si gadis cantik pengangon kambing itu ada sepuluh bagian merupakan ceng li di dalam Bu lim, tetapi para toosu dari Bu tong pay ini mana tahu macam apakah gadis cantik pengangon kambing ini? segera ada seorang tootiang berbaju kuning yang usianya paling muda merangkap tangannya memberi hormat lalu.
Bu liong so hud . . . . Bu liang so hud siapa yang cari Liem Kokomu untuk diajak berkelahi? yang kami inginkan adalah kerbau tersebut. Apakah Kerbau tersebut adalah Liem Kokomu?.
Pertanyaannya ini boleh dikata merupakan kata kata makian yang amat pedas dan sama sskali tidak pandang sebelah matapun terhadap si gadis cantik pengangon kambing.
Lie Siauw Ie yang mendengar suara toosu muda itu dalam hatinya merasa mendongkol,
Orang yang ada di punggung kerbau itu adalah Liem koko. Wan moay, apakah kalian toosu toosu sudah picak semua matanya?"
Perkataannya semakin tajam lagi membuat air muka kedelapan toosu tersebut berubah dengan amat hebatnya.
Kalianlah dua orang budak liar sungguh kurang ajar sekali teriak salah seorang toosu dengan amat gusarnya. Kalian harus tahu kelihayan dari Bu tong pay kami, ayo cepat menggelinding pergi dari sini, jangan coba coba banyak cerewat lagi dengan kami.
si gadis cantik pengangon kambing segera tertawa tergelak dengan amat kerasnya,
Oooow sungguh lihay sekali kalian toosu bau dari Bu tong pay sehingga dengan ciangbunjin sendiri dibinasakan oleh siapapun tidak tahu, sungguh hebat, memang benar omonganmu toosu toosu dari Bu tong-pay memang semuanya libay.
Kedelapan toosu itu setelah mendengar perkataan dari si gadis cantik pengangon kambing ini pada berteriak dengan amat gusarnya, teriaknya dengan keras.
"Kau budak jelek siapa yang memberitahukan kepada kalian soal terbunuhuhnya ciangbunjin kami? Terang terangan Leng Cen Tojin terbinasa di tangan Tionggoan Sam Koay bagaimana kalian berani bilang kami tidak becus."
"Hiii . . . hiii . . . siapa yang sudah memberitahukan kepada kalian kalau ciangbunjien kalian dibinasakan oleh Tionggoan Sam Koay?"
"Kalian melihat dengan mata kepala sendiri ataukah cuma dengar orang bilang saja ?"
Seketika itu juga kedelapan orang toosu itu dibuat tertegun oleh perkataan si gadis cantik pengangon kambing ini, tetapi urusan ini menyangkitt nama baik mereka di dalam Bu lim. Bagaimana mereka berani percaya atas omongan dari si gadis cantik pengangon kambing itu?"
Terus terang saja aku beritahukan kepada kalian, sambung si gadis cantik pengangon kambing lagi. Tionggoan Sam Koay sama sekali tidak pernah membinasakan ciangbunjien kalian, ciangbunjien kalian itu dibinasakan oleh si penjahat naga merah yang sengaja mau mencelakai diri Tionggoan Sam Koay, kini Tionggoan Sam Koay sedang pergi mencari si penjahat naga merah untuk membuat perhitungan.
Lama sekali mereka kedelapan orang toosu dibuat tertegun dan berdiri termangu mangu beberapa saat kemudian baru terdengar seorang toosu bertanya.
Perkataanmu ini apakah sungguh sungguh?" Kita tidak punya dendam tidak punya sakit bati buat apa kami sengaja menipu kalian??"
Sehabis berkata dia berdiam diri memikirkan sesuatu persoalan kembali, lalu sambungnya.
"Oooh . , . . aku telah melupakan sesuatu, baiklah aku berikan kepada kalian juga, bila kalian mau mencari si penjahat naga merah tidak ada halangannya pada bulan lima tangga lima pergilah ke puncak Cing Jan untuk mencari dirinya."
Lalu tangannya menggape kearah Lie Siauw Ie dan serunya.
"Ie cici, ayoh kita pergi saja dari sini "
"Tahan !" tiba tiba bentak seorang toosu di antara kedelapan orang toosu toosu Bu tong pay itu. "Penjahat naga merah adalah penjahat besar masa kini, jejaknya sangat rahasia dan misterius sekali muncul dan lenyapnya tak seorang pun yang mengetahuinya bagaimana kalian dua orang budak bisa mengetahui jejaknya? kami takkan bisa kau tipu mentah mentah."
"Betul perkataan ini sangat beralasan" sambung toosu yang lainnya, "Terang terangan orang ini sengaja mencari satu akal untuk menolong kerbau yang terkurung sekarang ini"
"He . . he . , jika kalian tidak percaya akupun tidak ada cara lain untuk memaksa kalian harus percaya!" seru si gadis cantik pengangon kambing sambil tersenyum apa boleh buat. "Bagaimanapun juga dengan kekuatan kerbaunya Liem koko itu kalian tidak akan berhasil menandinginya, jika kalian mau menguasainya . .he . . hey toosu kau jangan mimpi disiang hari bolong"
Sejak tadi kedelapan orang toosu ini sudah merasakan kelihayan dari kerbau itu cuma saja sang kerbau tidak melakukan pembunuhan besar terhadap mereka seperti halnya sewaktu ada di dalam kuil Siang Lian Si karenanya walaupun dalam hati mereka agak merasa jeri tetapi tidaklah terlalu takut.
Saat ini si toosu yang usianya jauh lebih lanjut dengan sinar mata yang amat tajam sedang memperhatikan diri gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie.
si gadis cantik pengangon kambing yang melihat mimik wajahnya tak tertahan lagi segera tertawa manis.
"Bagaima ? Ujarnya. Lebih baik kalian percayai omonganku saja dari pada menyesal dikemudian hari"
Toosu itu tetap memperhatikan mereka berdua tanpa berkedip barang sedikitpun juga, saat itulah seorang toosu mendekati dirinya dan membisikan sesuatu kepadanya, toosu itu segera mengangguk bersamaan pula memberi kedipan mata kepada toosu lainnya.
Kiranya para penduduk yang semula mengerubungi rumah penginapan kecil itu saat ini sudah mulai mengerubungi tempat ini untuk menonton keramaian.
Si gadis cantik pengangon kambing yang melihat gerak gerik mereka sangat mencurigakan dengan berbisik ujarnya kepada Lie Siauw Ie.
"Coba kau lihat gerak gerik mereka sangat mencurigakan sekali, apakah mungkin mau me lancarkan serangan bokongan terhadap kerbau itu?"
Lie Siauw Ie gelengkan kepalanya tanda tidak tahu.
"Hey, kalian toosu toosu bau sebetulnya mau berbuat apa ?" teriak si gadis cantik pengangon kambing kemudian dengan suara yang sangat nyaring.
Toosu berusia lanjut itu segera menjura memberi hormat kepada mereka berdua.
Perkataan dari nona, kami tidak benar benar, sahutnya dengan perlahan. Sekalipun perkataan dari nona tadi betul Tionggoan Sam Koay memang bukan pembunuh Ciangbunjien Bu tong pay kami tetapi mereka bertiga sudah melukai banyak anak buah kami, sekalipun tidak ada sakit hati kini pun sudah terikat, kerbau ini punya kesalahan sudah meloloskan itu ketiga orang dari kurungan kami, ini hari kami harus membinasakan dirinya juga."
Selesai berkata tangannya diulapkan memberi tanda, segera terlihatlah kedelapan toosu itu dengan mencekal sebilah pedang mulai memencar diri mengurung tempat tersebut dengan rapat rapat.
"Hey bangsat cilik" bentak toosu toosu itu lagi dengan suara yang amat keras.
Cepat kau orang mengelinding turun dari punggung kerbau tersebut, yang kami mau adalah nyawa kerbau itu bukan nyawamu?"
Liem Tou segera tertawa.
"Nyawa kerbau adalah nyawa juga, jika kalau kalian memang menginginkan nyawa kerbau ini kenapa tidak sekalian menginginkan nyawaku?"
Mendengar perkataan itu para toosu dari Bu tong pay pada melengak dibuatnya, tampak toosu yang berusia agak lanjut itu bergumam seorang diri.
"Eei . .sungguh aneh. . .sungguh aneh sekali, ternyata di dalam dunia ini ada juga orang yang tidak takut mati??"
Tetapi dengan cepat dia bisa mengambil keputusan di dalam hati. Serunya kemudian.
"Baiklah, kalau memangnya demikian, itulah yang dinamakan mencari gebukan buat dirinya sendiri".
Selesai berkata pedang yang semula sudah dicabut keluar kini dimasukan kembali kedalam sarungnya diikuti ketujuh orang toosu lainnya pun pada menyimpan kembali senjata tajamnya.
Si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie yang melihat hal ini dibuat jadi keheranan ujar si gadis cantik pengangon kambing itu.
"Eeei kenapa mereka ini?? katanya mau membinasakan kerbau itu kenapa kini malah menyimpan kembali senjata tajamnya masing masing??"
Lie Siauw Ie pun tidak tahu mereka sedang memainkan permainan setan macam apa lagi, dia cuma melirik sekejap ke arah si gadis cantik pengangon kambing tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Pada saat itulah para toosu bersama sama menyingkap jubah luarnya sehingga terlihatlah kantongan senjata rahasia yang tergantung pa da pinggangnya masing masing. Saat itulah Lie Siauw Ie baru paham kembali.
"Aduh kiranya mereka mau menggunakan senjata rahasia untuk melukai kerbau tersebut waah.. . waah . .tindakan mereka ini sungguh kejam sekali. Wan moay kau lihat bagaimana baiknya??"
Ternyata dugaan mereka sedikitpun tidak salah para toosu itu pada merogoh ke dalam kantong senjata rahasianya mengambil keluar senjata rahasia yang bentuknya masing masing tidak sama, ada piauw mata uang ada jarum Bwee Hoa Tsu, ada lempengan besi tipis ada pula piaaw piauw dalam bentuk yang biasa. . .walau pun senjata senjata rahasia itupun merupakan senjata yang sering ditemui di dalam Bu lim tetapi jika dilancarkan dari arah yang berlawanan secara serentak ada siapa yang sanggup untuk melawannya7? apa lagi cuma seekor kerbau bodoh.
Si gadis cantik pengangon kambing itu segera berseru memberi peringatan kepada Liem Tou.
"Liem koko mereka mau menggunakan senjata rahasia untuk melukai kerbaumu kau cepatlah pergi.
Mau pergi? kau kira begitu mudah? Seru kedelapan toosu itu sambil tertawa dingin.
Mendadak toosu berusia agak lanjut itu membentak kembali.
"Hey bangsat cilik, sebetulnya kau orang mau pergi tidak?"
Liem Tou tetap bungkamkan diri, cuma saja senyuman manis penuh menghiasi bibirnya.
Wajah toosu itu segera berubah menjadi adem napsu membunuh melintasi wajahnya sepasang matanya melotot lebar lebar tiba tiba dia mem bentak keras.
"Serbu"
Tangannya melayang menyambitkan senjata rahasia yang penuh tergenggam ditangannya, ketujuh orang toosu lainnyapua tidak berani barlaku ayal lagi masing masing segera menyambitkan senjata rahasianya ke depan.
Di dalam sekejap mata saja suara berdesirnya senjata rahasia memenuhi seluruh angkasa, tetapi kerbau itu tetap berdiri tidak bergerak bahkan Liem Tou yang ada dipunggungnyapun tetap tidak ambil gubris, dia tetap tersenyum senyum manis.
Sebaliknya hal ini segera membuat si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie jadi kaget bercampur cemas, mereka berdua segera melancarkan satu pukulan dahsyat meng antam ke arah senjata rahasia yang memenuhi angkasa itu.
Pada saat itulah mendadak terdengar kerbau itu mendengus perlahan disusul suara teriakan kesakitan dari empat orang Toosu yang masing masing sepasang matanya sudah terhajar oleh senjata rahasia sehingga menguncurkan darah segar, sakiag sakitnya mereka pada berguling gulingan di atas tanah sambil mengerang ngerang kesakitan, keadaannya sungguh mengerikan sekali.
Si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie yang melibat perubahan yang terjadi secara mendadak ini segera tahu tentu ada sesuatu yang telah terjadi, diam diam mereka gemas atas keganasan dari kerbau itu.
Siapa tahu baru saja pikiran ini berkelebat di dalam benaknya terdengar kerbau itu sekali lagi mendengus hebat disusul kepalanya ditundukkan menerjang ke arah orang orang yang menonton di samping kalangan gerakaannya amat cepat sekali bagaikan berkelebatnya kilat ditengah udara.
Seketika itu juga suasana menjadi amat kacau sekali, orang orang yang semula menonton di samping kalangan menjadi ketakutan dan pada lari serabutan.
"Aduh, mak tolong . . tolong!" Bagaikan air bah mereka pada lari terbirit-birit meninggalkan tempat itu, mereka gemas kenapa orang tua mereka tidak melahirkan mereka dengan kelebihan dua buah kaki, bahkan ada diantaranya yang kurang berhati hati pada berjatuhan di atas tanah dan kena injak orang orang lainnya.
Tetapi dimana kerbau itu menerjang datang semua orang pada menyingkir ke samping memberi jalan kepadanya, sehingga dengan sendirinya kerbau tersebut dapat lari dengan kencangnya ke arah depan.
Kerbau itu berlari dengan amat cepatnya di antara orang orang tersebut tanpa melukai mereka barang seorangpun, dan lama kelamaan orang orang tersebut baru bisa berasa lega hati, cuma saja mereka tidak tahu kerbau itu sedang berbuat apa disana?"
Tampaklah kerbau itu dengan amat cepatnya ia berlari ke depan mengejar seorang pengemis yang sedang melarikan diri terbirit birit.
Pengemis itu dengan amat gesitnya menerobos di sisi antara orang banyak membuat sang kerbau untuk sementara waktu tidak berhasil menyandak dirinya tetapi kelihatan sekali mimik pengemis itu pun sangat tegang sekali dibuatnya.
Pada saat itu para toosu lainnya sudah memeriksa luka dari kawan kawan mereka, kiranya ada jarum pencabut nyawa di luka matanya.
Si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie yang melihat senjata rahasia yang melukai mata para toosu itu
merupakan jarum pencabut nyawa yang ditemuinya sewaktu masih ada dikandang kuda dan kini melihat pula Liem Tou menunggang kerbaunya sedang mengejar seorang pengemis segera paham kembali, pikirnya.
"Sungguh kejam tindakannya ternyata dia ingin memancing dendam sakit bati antara kita dengan pihak Batong pay, untung saja kerbau itu sangat pintar sehingga cepat cepat menemui bajingan tersebut, kalau tidak tentu kita sudah terkena siasat beracunnya.
Berpikir sampai disini si gadis cantik pengangon kambing segera memberikan kedipan mata kepada Lie Siauw Ie dan teriaknya dengan keras.
Hey hidung kerbau dari Bu tong pay cepat kejar si pengemis busuk itu, merekalah yang menyambitkan senjata rahasia melukai keempat orang saudara saudara kalian, ayoh cepat kejar jangan sampai membiarkan dia berhasil meloloskan diri."
Sambil berkata begitu bersama sama dengan Lie-Siauw Ie berdua segera mengerahkan ilmu meringankan badannya bagaikan dua ekor kupu kupu putih dengan amat cepatnya berkelebat melalui atas kepala orang yang menonton jalannya partempuran tadi mengejar kedepan.
Hey hidung kerbau dari Bu tong pay ayoh cepat kejar, teriak si gadis cantik pengangon kambing kembali di tengah udara.
Para toosu dari Bu tong pay agak tertegun sebentar, akhirnya sambil mencabut keluar senjata tajamnya pada berebut menyerbu ke arah orang yang berkumpul di sana itu.
Baru saja gadis cantik pengangon kambing, Liem Tou serta para toosu dari Bu tong pay itu mendekati orang tersebut mendadak terdengar berkumandangnya suara terbahak bahak dari antara orang orang yang badir disana diikuti melayangnya sesosok bayangan manusianya yang dengan amat cepatnya menerjang ke atas atap rumah penginapan itu sambil serunya dengan nyaring.
"Ha a ha a . selamat tinggal"
Ujung kakinya sekali lagi menutul dengan cepat, tubuhnya meluncur ke belakang rumah penginapan itu.
"Ayoh cepat kejar jangan sampai bajingan itu berhasil meloloskan diri seru si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie, berbareng.
Ujung kakinya dengan cepat menutul permukaan tanah dengan cepat tubuhnya meloncat ke tengah udara dan mengejar keatas atap rumah terseout.
Tetapi walaupun gerakan tubuh dari si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie amat cepat, gerakan dari kerbau itu lebih cepat lagi.
Terdengar kerbau tersebut mendengus rendah lagi disusul dengan bentakan Lirm Tou yang sangat keras.
"Bangun !"
Dengan disertai sambaran angin yang amat keras kerbau itu dengan amat cepatnya melewati rumah penginapan itu. menanti setelah si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siaw Ie tiba di atas atap, kerbau yang ditunggangi Liem Tou itu sudah lenyap tak berbekas lagi,
Tak terasa lagi baik si gadis cantik pengangon kambing maupun Lie Siauw Ie dibuat melengak di atas genting, lama sekali baru terdengar si gadis cantik pengangon kambing itu berkata.
"Ie cici, sama sekali tidak kusangka kerbau itu bisa demikian libaynya jikalau tubuhnya berhasil dilatih sampai tak mempan senjata tajam di dalam Bu lim pada saat ini ada siapa lagi yang bisa menangkan dirinya?"
( Bersambung ke jilid: 19 )
Lie Siauw Ie dengan pelan menganguk agaknya di dalam hatinya ada sesuatu urusan sehingga lama sekali dia tidak memberikan jawabannya.
Sepasang matanya dengan termangu mangu memandang kearah tembok kota Tang Yang yang ada di tempat kejauhan, terlihatlah sesosok bayangan manusia melewati tembok itu disusul dengan kerbau tersebut mengikuti dari belakangnya, tak terasa lagi dia menghela napas panjang
"Heey . . . tidak kecandak, tidak kecandak. setelah masuk ke dalam kota jangan barap bisa kecandak" serunya perlahan.
Ternyata dugaannya sedikitpun tidak salah, sebentar kemudian kerbau itu tampak sudan berlari kembali dan tak lama berselang sudah tiba di belakang rumah penginapan itu.
"Ie cici, Wan Moay" terdengar Liem Tou berseru dengan amat kerasnya.
"Tempat ini tidak bisa ditinggalkan lebih lama lagi, mari kita cepat pergi dari sini"
Si gadis cantik pengangon kambing itu segera menoleh ke belakang, sewatktu dilihatnya ada beberapa orang tosu yang meloncat naik ke atas atap rumah lalu ujarnya
"Pengemis busuk itu sudah melarikan diri ke dalam kota Tang Yang, kita pun harus pergi, lebih baik kalian menolong kawan kawan yang terluka untuk dibawa pulang, sedangkan orang yang membinasakan ciangbunjin kalian benar benar adalah si penjahat naga merah itu, mau percaya atau tidak terserah dirimu"
"Sedangkan mengenai pengemis yang melukai kalian kami akan melakukan pemeriksaan setelah setelah tiba dikota Tang Yang" sambung Lie Siauw Ie lagi.
"Jika kami berhasil mengetahuinya tentu kami akan memberi kabar kepada kalian, oh yaah, kalian tinggal dimana?"
Toosu itu tidak langsung menjawab termenung berpikir sebentar lalu baru sahutnya.
'Untuk mencari orang yang sudah membinasakan ciangbunjien kami di seluruh daerah serta keresidenan di seluruh daerah Tionggoan tentu ada anak murid Bu tong pay kami, tiga hari kemudian tentu ada orang yang muncul menemui kalian berdua, selamat tinggal.
Selesai berkata dia segera menjura memberi hormat lalu bersama sama meloncat turun ke bawah dan mengikuti kawan kawannya yang masih mengerang nerang kesakitan berlalu dari sana.
Si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie sehabis mengatur urusan ini sehingga jelas, barulah ujarnya kepada Liem Tou.
"Ayoh perg" dari sini, untuk sementara waktu lebih baik kita menginap beberapa hari dulu di dalam kota Tang Yang untuk menyelidiki asal usul dari pengemis tersebut, apalagi baju yang compang camping dari adik Tou inipun harus diganti.
Liem Tou tertawa, sepasang kakinya menjepit kencang perut kerbaunya dengan memimpin dimuka dia berlari terlebih dahulu sedang si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie pun pada meloncat turun dari atap dan berkelebat mangikuti dari belakangnya.
Sesampainya di dalam kota Tang Yang, Liem Tou tidak bisa terus menerus menunggang di atas kerbaunya sehingga bisa menimbulkan kecurigaan orang lain, terpaksa dia meloncat turun dari kerbaunya bersama sama dengan Lie Siauw Ie serta gadis cantik pengangon kambing berjalan masuk ke dalam kota.
Saat ini hari sudah siang, beberapa orang yang sudah ada satu hari satu malam tidak makan maupun minum segera berjalan memasuki sebuah rumah makan.
Liem Tou mengikat kerbaunya di depan kedai itu lalu bersama sama dengan kedua orang gadis itu berjalan masuk ke dalam rumah makan dan mencari tempat dekat dengan ujung jalan.
Terlihatlah sambil berdahar ujar Lie Siauw Ie dengan suara perlahan.
"Eei jangan makan terlalu banyak, untung sekali kemarin malam bisa bertemu dengan adik Tou, apalagi adik Tou pun sudah pernah pergi ke perkampungan Ie Hee Cung, waktu seperti ini paling bagus kita membicarakan soal soal tersebut, apalagi kitapun harus menentukan langkah langkah selanjutnya bagaimana kalau kita minum arak?"
Si gadis cantik pengangon kambing yang tinggal di atas gunung Go Bie selain tiap hari minum sari buah atau madu belum pernah dia orang merasakan arak yang sesungguhnya, dialah yang pertama berteriak setuju.
Sebaliknya Liem Tou yang mendengar Lie Siauw Ie menyuruh dia menceritakan apa yang dilihatnya di perkampungan Ie Hee Cung hatinya menjadi sangat terperanjat, pikirnya.
Suruh aku bicara? Lie Pek bo sudah meninggal dunia apakah aku harus memberitahukan kepada Ie cici pada waktu ini??"
Berpikir sampai disitu dia segera berseru menolak.
Tidak, lebih baik kita jangan minum arak, Ie cici serta Wan Moay selamanya belum pernah minum arak, kalau sampai mabok lalu bagaimana??"
"Kita minum sedikit saja bukankah tidak mengapa?" ujar Lie Siauw Ie sambil tertawa.
"Betul.. .betul" sahut si gadis cantik pengangon kambing dengan cepat. "Hey pelayan, cepat kemari?"
Segera tampaklah seorang pelayan berlari mendatang, dengan sangat hormat sekali tanyanya.
Khek koan membutuhkan apa?" Ambilkan arak yang paling bagus" seru si gadis cantik pengangon kambing dengan gagahnya.
Pelayan itu segera menyahut dan dengan cepat berlalu dari sana.
Pada saat itulah terdengar suara derapan kaki yang amat ramai tampak dua orang muncul di balik tangga loteng, sekail pandang saja Liem Tou segera mengenali kembali kalau kedua orang itu adalah si hweesio serta si toosu yang pada setahun yang lalu diperintahkan oleh Auw Hay Ong Bo untuk menawan dirinya.
Liem Tou tidak ingin dirinya sampai dikenali, cepat cepat dia melengos keiuar jendela menghindarkan diri dari bentrokan pandangan dengan mereka berdua.
Kedua orang itu segera memilih tempat sewaktu melihat Lie Siauw Ie serta Si gadis cantik pengangon kambing ada disana mereka dibuat tertegun, agaknya merekapun mengenali kembali kalau kedua orang gadis ini adalah orang orang dari perkampungan Ie Hee Cung.
Walaupun Liem Tou tidak melibat ke arah mereka tetapi ketajaman pendengarannya saat ini jauh melebihi orang lain, segera terdengar olehnya si hweesio itu sedang berbisik kepada sang Toosu.
Tidak kusangka mereka bisa demikian cepatnya tiba di dalam kota, bangsat cilik yang melengos itu pastilah Liem Tou.
Betul, sahut Toosu itu dengan suara yang amat lirih. Setahun yang lalu kita tidak berhasil menawan dirinya, kali ini dia sendiri cari jalan mati kita tidak boieh melepaskan dirinya kembali.
Eih.. .bangsat cilik itu sudah melihat kita, cepat kita pergi dari sini kau awasi mereka dari depan pintu biar aku pergi memanggil Kuncu datang.
Selesai berkata dengan tergesa gesa kedua orang bangkit berdiri dan berlalu dari tempat itu.
Saat itulah Liem Tou baru menoleh ke arah si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie, ujarnya.
Ie cici. Wan moay moay kalian kenal dengan mereka berdua??'
"Tidak kenal, jawab Lie Siauw Ie sambil gelengkan kepalanya. Tetapi akupun rasanya pernah bertemu tetapi untuk sesaat sudah lupa entah ketemu dimana.
Pada setahun yang lalu mereka berdua mengikuti Auw Hay Oag Bo mendatangi perkampungan Ie Hee Cung dan memaksa aku lari kalang kabut ini hari Ie cici serta Wan moay harus membalaskan sakit hatiku ini.
Liem koko kenapa tidak kau katakan sejak tadi? Tiba tiba Si Gadis cantik pengangon kambing itu sambil meloncat bangun dari tempat duduknya. Saat ini mereka berdua sudah mengeloyor pergi bagaimana kita bisa membalaskan sakit hatimu tempo hari??
Liem Tou segera bersenyum.
Jangan cemas jangan keburu buru sahutnya. Sebentar lagi mereka bakal kembali lagi, kata mereka mau segera pergi untuk memanggil kuncunya kalu tidak percaya coba kalian lihatlah di depan rumah makan ini kan masih tertinggal seseorang yang sedang mengawasi diri kita.
Si gadis cantik pengangon kambing itu segera menengok keluar jendela ternyata sedikitpnn tidak salah tampaklah sitoosu itu sedang berdiri bolak balik disamping rumah makan mengawasi mereka.
Melihat hal itu Si Gadis cantik pengangon kambing menjadi agak mendongkol, ujarnya kepada Liem Tou serta Lie Siauw Ie sambil lari menuruni tangga loteng.
"Kalian lihat saja, aku segera tawan dirinya"
"Eei .. Wan moay jangan pargi!" Cegah Liem Tou dengan cepat. Bukankah lebih baik kita menanggu kuncirnya terlebih dahulu"
Tetapi si gadis cantik pengangon kambing itu tetap tidak mau tahu dia ngotot mau turun kebawah memberi hajaran kepada orang tersebut.
Melihat hal itu terpaksa ujar Liem Tou kembali.
"Jikalau Wan moay benar benar ingin memberi hajaran kepadanya lebih baik jangan turun tangan sendiri, begini saja kau lepaskan tali pengikat kerbau itu biar dia mencari gara gara dengan dirinya, sedangkan kita menonton permainan bagus dari atas loteng bagaimana?"
Si gadis cantik pengangon kambing itu berpikir pikir sebentar akhirnya dia tertawa.
Baiklah, sahutnya dengan gembira. Selama setahun ini bukannya kau berhasil melatih ilmu silatmu sebaliknya melatih seekor kerbau ajaib sungguh merupakan suatu peristiwa yang sangat mengherankan sekali.
Selesai berkata dia segera turun dari loteng untuk melepaskan tali pengikat kerbau tersebut lalu kembnli lagi ke atas loteng, mereka bertiga dengan serta merta melongokkan kepalanya ke bawah untuk menonton tontonan tersebut.
Padahal seluruh perbuatan kerbau itu turus mengikuti perintah dari Liem Tou yang kirim dengan menggunakan ilmu menyampaikan suara, sudah tentu sebelum diperintah Liem Tou kerbau itu tidak akan menunjukkan gerakan apapun.
Saat ini Liem Tou sama sekali tidak bermaksud untuk melukai toosu tersebut, dia cuma gemas sehingga punya niat untuk mempermainkan dirinya.
Setelah tali yang mengikat kerbau itu dilepaskan oleb si gadis cantik pengangon kambing, Liem Tou secara diam diam lantas mengerahkan ilmu menyampaikan suaranya mnmberi pe rintah.
Tampak kerbau tersebut tenang di tengah jalan lalu pandang keki kekanan, tiba tiba sambil menyentakkan kakinya di atas tanah sehingga membuat debu pada beterbangan memenuhi angkasa dengan amat ganasnya lari menerjang ke arah sang toosu.
Melihat kejadian itu si gadis cantik pengangon kambing menjadi amat girang sekali.
"Ha haa .... haa .... sudah hampir . . . . teriaknya keras, kali ini sang toosu bau pasti akan kehilangan nyawanya.
"Aku kira belum tentu, sabut Liem Tou dengan perlahan. Kelihatannya kerbau itu tak suka melukai dirinya."
"Aku tidak percaya, bantah gadis cantik pengangon kambing itu dengan ngotot. "Bagaimana kalau kita bertaruh siapakah yang kalah harus didenda dengan tiga cawan arak."
Diam diam di dalam hati Liem Tou merasa sangat geli sebab jika betul betul mau bertaruh si gadis pengangon kambing pasti akan menderita kekalahan.
Sebentar saja kerbau itu sudah hampir mendekati tubuh sang toosu tapi dia orang masih iidak merasakan adanya bahaya yang mengancam.
Saat itulah mendadak tampak si hweesio sudah berlari mendatangi sambil berteriak keras.
"Mao heng awas bahaya, cepat nyingkir . . !"
Padahal sejak kerbau itu berhasil membubarkan kepungan toosu toosu Bu tong pay terhadap Tionggoan Sam Koay serta kehebatannya pada waktu berada di rumah penginapan, diluar kota Tang Yang sudah membuat namanya tersebar iuas diseluruh dunia kangouw, orang orang Bu lim yang berada di sekitar tempat itu siapa saja sudah tahu kalau di tempat tersebut sudah kedatangan seekor kerbau yang sangat ajaib dan lihay sekali.
Sang toosu yang diperingatkan oleh sang bweesio atau si rase terbang Jien Hwee tidak terasa lagi menjadi terperanjat, telapak tangannya segera dilintangkan kedepan dada lalu kirim pukulan dahsyat menghajar kerbau tersebut.
Liem Tou yang ada didekat jeadela dapat melibat seluruu kejadian itu dengan jelas, pikirnya.
"Manusia tidak tahu diri . . . aku punya maksud melepaskan dirimu sebaliknya kau malah melancarkan serangan hendak menghajar kerbauku .. "
Melihat itu dia mengeluarkan suaranya dengan nyaring.
"Jadi kau Coe"
"Kerbau itu segera berputar kekiri lalu berbalik kesebelah kanan dengan amat cepat sekali berhasil menghindarkan diri dari serangan pukulan toosu tersehat, disusul berkumandangnya suara jeritan aneh lalu menerjang kembali ke depan.
Sang toosu yang melancarkan pukulannya untuk menghantam kerbau itu dalam bati mengira pukulannya pasti akan mencapai pada sasarannya, dia sama sekali tidak menyangka kalau gerakan dari kerbau itu bisa begitu cepatnya, di dalam keadaan yang amat terperanjat ujung kakinya segera menutul permukaan tanah lalu meloncat naik ke tengah udara.
Agaknya dia kermaksud untuk meloncat naik ke atas punggung kerbau tersebut lalu turun tangan dari atas. Waktu itu sekalipun sang kerbau memiliki kepandaian yang lebih tingipun tidak akan bisa mengapa apakan dirinya.
Sejak semula Liem Tou sudah menduga dia orang bisa berbuat demikian, baru saja sepasang pundak dari toosu itu sedikit bergerak, Liem-Tou sudah kirim perintah lagi.
Tong . . .
Kerbau itu tiba tiba angkat kepalanya sepasang tanduknya diterjangkan kedepan tepat menghajar pada diri toosu itu membuat sang toosu menjerit kesakitan.
"Aduuuh .. disertai suara jeritan yane amat keras, hawa murni yang semula dikumpulkan dibagian kaki seketika itu juga terbuyar lagi.
Braak .. tiada kuasa lagi tubuhnya terjengkang ke atas tanah lalu berguling guling seperti halnya seekor anjing yang kena gebuk, seluruh tubuhnya kotor kena debu.
Seketika itu juga memancing tertawa Si Gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie yang amat keras, secara diam diam Liem Tou pun merasa hatinya sangat puas sekali.
Mendadak . . segulung angin pukulan yang amat tajam sekali menerjang dari belakang tubuhnya disusul berkelebatnya sesosok bayangan hijau dengan amat cepatnya.
Liem Tou menjadi sangat terkejut sekali, pada saat pikirannya berputar hawa murninya dengan cepat disalurkan keselurub tubuhnya untuk menerima datangnya serangan tersebut dengan keras lawan keras.
Dia cuma merasakan hatinya sedikit tergetar hebat, diam diam pikirnya.
"Sungguh lihay ilmu jarinya."
Dengan cepat dia menoleh kebelakang, entah sejak kapan di tempat itu sudah bertambah seorang gadis berbaju hijau, sepasang alisnya dikerutkan rapat rapat dan berdiri termangu mangu disana. Lama sekali baru terdengar dia membentak keras.
"Bangsat cilik, dendam sakit hati atas kematian adikku belum terbalas, hari ini engkau hendak menggunakan kerbaumu untuk melukai orang. Hmm jika punya kepandaian ayoh keluar kita bertempur sebanyak tiga ratus jurus."
Liem Tou yang melihat gadis berbaju hijau yang ada dihadapannya sekarang ini semakin dilihat semakia mirip dengan Ciang Beng Hu itu pengemis cilik yang ditemuinya sewaktu ada di dalam penjara lalu kena hajar mati di tangannya, dalam hati segera menduga tentunya dia orang adalah Toa Kuncu dari Kiem Thia Pay.
"Siapa toh musuh besar pembunuh adikmu?" tanyanya mengejek. Dengan tidak tanya tanya dulu kamu sembarangan melancarkan serangan menotok orang, macam manusia apa itu?"
Saat itu si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie pun sudah menoleh sewaktu mereka berdua melihat wajah gadis berbaju hijau itu amat cantik dengan alis yang hitam lengkat dengan bibir yang kecil muncul diam diam memuji tak hentinya.
Gadis cantik pengangon kambing yang sekali pandang saja sudah menaruh simpatik kepadanya segera berseru.
"Cici ini kenapa harus marah marah?" ada perkataan kita bicarakan dengan perlahan mari. . mari silahkan duduk, jarang sekali aku bisa bertemu dengan manusia seperti cici didalam Bu lim saat ini bagaimana kalau kita saling meneguk satu cawan arak?"
Sehabis berkata dia bangkit berdiri dan mempersilahkan tamunya untuk duduk.
Sebelumnya gadis berbaju hijau itu datang dalam keadaan gusar, setelah melihat sikap gadis cantik pengangon kambing yang amat menarik dan ramah sekali walaupun dia orang dibuat serba susah tapi hawa amarah bisa dipadamkan separuh bagaian.
Dengan paksakan diri dia melemparkan sebuah senyuman pada gadis cantik pengangon kambing itu.
Moay moay ini tentunya adalah Si Gadis cantik pengangon kambing bukan," ujarnya dengan perlahan, aku dengar dari ibu katanya kepandaian silatmu amat tinggi wajahnyapun amat cantik sekali. Ini hari bisa bertemu sendiri dengan kau sudah tak terkira ternyata berita itu tidak bohong.
Ahhh mana mana. . . cici mu mana bersni menerima penghargaan itu. Seru gadis cantik pengangon kambing berulang kali. Siauw moay Lie Wan Giok tidak lebih cuma seorang gadia dusun yang kasar, soal kepandaian silat aku orang tidak lebih cuma memahami sebagian bulu luarnya saja.
Lalu dia memperkenalkan diri Lie Siauw Ie kepadanya. Ini adalah Siauw Ie cici, diapun she Lie yang merupakan suci moay dengan diriku. Gadis berbaju hijau itupun segera tertawa dengan menganggukkan kepalanya kepada Lie Siauw Ie tetapi dia tahu Lie Siauw Ie inilah yang dahulu menerjunkan dirinya ke dalam jurang untuk munyusul kekasihnya.
Tidak terasa lagi dia memperhatikan Siaw Ie dengan pandangan aneh membuat Lie Siauw Ie merasa malu dan melengos ke arah lain.
Saat inilah dengan perlahan gadis berbaju hijau tersebut menoleh ke arah gadis cantik pengangon kambing lagi dan bertanya
"Menurut pandanganku, moay moay dengan usia yang masih amat muda ternyata sudah berhasil mencapai taraf kesempurnaan di dalam hal ilmu silat tentunya kaupun berasal dari perguruan yang sangat terkenal sekali, entah maukah moay moay menyebutkan asal perguruanmu?
Mendengar perkataan itu diam gadis cantik pengaugon kambing berpikir keras. Walaupun dari pihak Kiem Tian pay tidak ada ganjalan sakit hati apa apa dengan Tia tetapi mereka selamanya tidak akur, jika kalau aku terus terang memberi tahu kepadanya tentu dia tidak mau besikap halus lagi terhadap kita, tetapi akupun tidak bisa menipu dirinya.
Berpikir akan hal ini tidak terasa lagi dia berpikir keras beberapa saat lamanya tanpa bisa menjawab.
Si gadis berbaju hijau yang melihat pihak lawan sama sekali tidak memberikan jawaban, sekali pandang saja dia sudah bisa mengetahui tentunya sigadis cantik pengangon kambing itu mempunyai sesuatu kesukaran karenanya dengan cepat ujarnya.
"Jikalau moay moay merasa ada
kesukaran untuk dibicarakan lebih baik jangan dikatakan lagi."
"Tentang hal ini bukannya ada perkataan yang sukar untuk diucapkan sahut si gadis cantik pengangon kambing itu dengan cepat. Cuma saja sesudah Siauw moay katakan kemungkinan sekali cici akan menganggap diri kami sebagai musuh besar, begini saja setelah aku katakan kau jangan menganggap kita sebagai musuhmu. Biarlah urusan mereka diselesaikan oleh mereka urusan kita, kita yang menyelesaikannya sendiri??"
Mendengar perkataan ini mendadak si gadis cantik berbaju hijau itu meloncat bangun, air mukanya berubah amat hebat.
Apa maksud perkataanmu itu? teriaknya keras, jikalau moay moay adalah musuh besar dari kami keluarga Ciang maka maafkan aku orang tidak bisa mengikuti petunjukmu itu
.
Gadis cantik pengangon kambing yang melihat gadis berbaju hijau itu begitu bernafsunya dia segera tersenyum.
Soalnya ini sebenarnya tidak begitu memberatkan, ujarnya perlahan, ayahku adalah si cangkul pualam Lie Sang, tentunya cici mengetahuinya bukan??"
Si gadis berbaju hijau yang mendengar disebutnya nama Lie Loo jie seketika itu juga dia buat berdiri melongo dengan mata terbelalak lebar lama sekali baru ujarnya.
Oooo kiranya kau adalah putrinya tidak aneh kalau harus berbicara demikian.
Tetapi secara tiba tiba gadis cantik pengangon kambing itu menuding ke arah Liem Tou. Lalu tahukah kau siapakah dia orang? tanyanya kepada gadis berbaju hijau.
Liem Tou yang ada disampingnya tak terasa lagi dibuat kebingungan, pikirnya.
Aku bukankah apa apanya ayahmu, buar apa dia bertanya tanya?"
Buat apa kau mengurusi, siapakah dia orang?? terdengar Si Gadis berbaju hijau itu berteriak dengan amat gusarnya. Aku cuma kenal dia adalah musuh besar pembunuh adikku, sekalipun ini hari aku tidak turun tangan membinasakan dirinya tiga hari kemudian dia orang tidak akan berhasil lolos dari tangan kami orang pihak Kiem Thian Bun.
Semakin berbicara Si Gadis berbaju hijau itu semakin marah membuat Lie Siauw Ie yang ikut mendengarkan disamping merasa tidak sabaran lagi sepasang alisnya dikerutkan rapat rapat sedang wajahnya berubah menjadi merah padam.
"Aku kira belum tentu berhasil, serunya dingin. "Cis, bukankah dia adalah kekasihmu? Seru gadis berbaju hijau itu mendadak sambil meloncat bangun. Di dalam urusan ini maaf tidak bisa dihapuskan lagi, waktu itu harap kau orang bisa menahan sakit batimu.
Air muka Lie Siauw Ie berubah memerah, mendadak dia bangkit berdiri wajahnya yang merah padam kini sudah berubah menjadi kehijau hijauan.
Dia betul kekasihku atau bukan kenapa kau orang ikut campar? bentaknya keras. Kau tidak usah banyak berbicara disini jikalau ada kapandaian cepat kerahkan keluar, aku mau coba lihat seberapa kelihayan dirimu"
"Oooh . . oooh . . baru saja belajar ilmu silat beberapa hari dari Lie Loo jie cianpwee sekarang sudah mau menantang orang untuk berkelahi Ejek gadis berbaju hijau itu. Kau orang iihat dulu kekuatanmu sendiri apakah bisa menangkan diriku"
"Tutup mulutmu, bentak Lie Siauw Ie tak dapat menahan sabar lagi"
Tangannya dengan cepat disilangkan ke depan dada lalu kirim satu pukulan menghajar kearah dada lawan.
Gadis berbaju hijau itu tertawa dingin, dia tetap berdiri ditempatnya semula sama sekal tak bergerak menanti serangan dari Lie Siauw Ie mendekati badannya mendadak telapak kirinya menyilang ke depan dada sedangkan tangannya dengan cepat bagaikan kilat menerobos menotok ke depan.
Liem Tou tahu ilmu jari si gadis berbaju hijau itu sangat lihay sekali, tidak terasa dia menjadi amat terperanjat, di dalam keadaan yang amat terdesak untuk menolong jiwa dari Lie Siauw Ie ini tanpa berpikir panjang lagi dia segera membentak keras.
"Jangan melukai Ie ciciku !"
Sreett .... dengan dahsyatnya dia orang kirim satu pukulan menghantam tubuh gadis berbaju hijau itu'
Gerakan masing masing pihak dilancarkan amat cepat sekali bagaikan menyambarnya kilat di tengah angkasa, baik Si Gadis berbaju hijiau serta Lie Siauw Ie tidak bisa menghindarkan diri dari serangan tersebut, segera terdengarlah dua kali jeritan kaget tubuh gadis berbaju hijau maupun Lie Siauw Ie pada waktu yang bersamaan pada rubuh ke atas tanah.
Si Gadis cantik pengangon kambing serta Liem Tou cepat cepat meloncat bangun dari tempat duduknya dan lari menghampiri Si Gadis berbaju hijau serta Lie Siauw Ie untuk memeriksa keadaan lukanya.
Tampaklah gadis berbaju hijau itn terkena pukulan Liem Tou sehingga lengan kirinya patah sebaliknya Lie Siauw Ie berhasil ditotok ja lan darah "Ci Bun Hiat" pada tetek sebelah kanannya oleh serangan gadis berbaju hijau itu.
Jalan darah "Ci Bun Hiat" ini merupakan salab satu jalan darah penting, di dalam keadaan tergesa gesa si gadis berbaju hijau itu melancarkan serangannya bahkan harus melewati hembusan angin pukulan dari Lie Siauw Ie pula membuat serangannya tidak begitu keras lagi, dengan demikian Lie Siauw Ie pun berbasil meloloskan diri dari bahaya maut.
Ilmu silat partai Kiem Thian Pay mengutamakan ilmu jari Yen Wis Tui Hun Ci dapat mengangkat namanya di dalam Bu lim, sekalipun serangan tadi enteng saja tetapi membuat Lie Siauw Ie cukup terpukul pingsan.
Liem Tou tidak menggubris lagi pantangan lelaki dan perempuan lagi, dengan cepat dia salurkan hawa murninya menguruti dada Lie Siauw Ie untuk membebaskan dirinya dari totokan jalan darah tersebut.
Gadis cantik pengangon kambing yang sedang memeriksa keadaan luka dari Si Gadis berbaju hijau itu dapat melihat tangan kirinya sudah patah oleh serangan tadi.
Sekalipun demikian sambil menggigit bibir menahan rasa sakjt dia meronta ronta bangun dengan pandangan rasa mendendam teriaknya pada diri Liem Tou
"Kau . . . kau . . . jika aku tidak bunuh diri mu, aku sumpah tidak mau jadi manusia.
"Ciang cici, cepat hibur gadis cantik pengangon kambing dengan halus. Lebih baik kau mengurusi keadaan lukamu sendiri, buat apa kau mengumbar nafsu pada saat ini?
Sembari berkata dari dalam sakunya dia mengambil keluar sebuah botol batu giok dan mengeluarkan dua butir pil berwarna putih dan didekatkan dengan mulut gadis berbaju hijau itu.
"Cici, ujarnya kembali. Telanlah kedua butir ini, setelah tulangnya disambung segera akan sembuh seperti biasa.
Saat ini si gadis berbaju hijau itu sudah benar benar amat benci terhadap mereka, dia segera gelengkan kepalanya menolak.
Siapa yang mau memakan barangmu itu? Bentaknya kasar. Cepat bawa pergi sekalipun aku Ciaug Beng Hu mati jupa tidak akan mau makan barangmu itu, kalian kucing sedang menangisi tikus . . . Hma? buat apa berbuat susah susah begitu?
Selesai berkata dengan jalan terbuyung huyung dia menuruni anak tangga loteng itu tapi baru saja berjalan dua langkah lengannya terasa amat sakit sekali sehingga sekali lagi berjongkok ke bawah.
Si gadis cantik pengangon kambing dengan cepat bantu membimbing dirinya.
Cici lukamu penting, lebih baik makan dulu pil ini, ujarnya dengan perlahan.
Sekali lagi Si Gadis berbaju hijau itu gelengkan kepalanya, air mata menetes keluar membasahi pipinya.
Cici cepatlah kau makan pil ini, ujar gadis cantik pengangon kambing itu sekali lagi. Sekalipun di antara kita satu sama lain tidak saling mengenal tetapi boleh dikata punya jodoh untuk bertemu.
Si gadis berbaju hijau itu gelengkan kepalanya kembali, dengan tangan kanannya menggendong tangan kiri dia berdiam diri tak menjawab.
Si Gadis cantik pengangon kambing yang melihat dia orang tidak mau menelan pilnya diam diam segera berpikir.
Jika aku membiarkan dia pergi seorang diri maka dendam di antara Liem Tou dengan pihak Kiem Thien Pay akan semakin mendalam lagi apalagi kekuatan serta pengaruh dari pihak Kiem Thien Pay sudah semakin meluas dari daerah Can Tian ke seluruh daerah Tionggoan serta Kanglam, jikalau dendam ini makin mendalam bukankah urusan semakin merepotkan?
Dia yang berpikir sampai disini tak banyak bicara lagi mendadak dia menotok jalan darah pulas dari gadis berbaju hijau itu, sewaktu menoleh ke belakang terlihat Liem Tou sedang mengobati dada Lie Siauw Ie sedangkan Lie Siauw Ie sendiri setelah jalan darahnya terbebas ktni sudah sadar kembali.
Gadis cantik pengangon kambing itu segera memberikan kedua butir pil itu pada Liem Tou.
Kedua butir pil ini berikanlah kepsda cici untuk dimakan, nanti kita bicarakan lagi sesudah kembali ke rumah penginapan.
Selesai berkata dia segera mengambil keluar sebutir mutiara dan diletakkan di atas meja, hal ini membuat para tetamu lainnya menjadi terbelalak dibuatnya.
Gadis cantik pengangon kambing tidak mau membuang waktu lebih banyak lagi, dia segera menggendong tubuh Si Gadis berbaju hijau itu dan lari turus ke bawah loteng, Liem Tou pun dengan cepat memberikan pil itu kepada Lie Siauw Ie lalu menggendong tubuhnya meninggalkan loteng tersebut.
Sesampainya di bawah loteng terlihatlah Toosu itu sudah diinjak oleh sang kerbau sehingga hancur lebur sukar untuk dikenal kembali, sebaliknya di atas punggung dari kerbau itupun jelas sekali tertera dua buah bekas telapak Thay Su Ing yang amat jelas sekali kaki depan nya berlutut di atas tanah sedang mulutnya tak hentinya mendengarkan suara rintihan yang berat.
Sedangkan itu hweesio si rase terbang entah sudah lari kemana?"
Liem Tou yang melihat dikarenakan dirinya harus pecah perhatian atas kedatangan gadis barbaju hijau itu, kerbaunya sudah menerima pukulan Thay Su Ing hatinya merasa gemas juga.
Ilmu pukulan Thay Su Ing ini merupakan ilmu telapak tunggal dari aliran Thian San Pay, jika seseorang kena pukulan ini walaupun diluarnya cuma kelihatan bekas telapak tangan saja padahal di dalam isi perutnya sudah tergoncang hebat, bilamana tidak diobati dengan cepat tentu akan menemui ajalnya.
Liem Tou tahu kerbaunya sudah menderita luka yang tidak ringan, diam diam dia merasa benci terhadap sang hweesio, tetapi saat ini dia sudah meninggalkan tempat itu terpaksa dengan tergesa gesa dia mengambil keluar tali peninggalan Hek Loo toa dan dimasukkan kedalam mulutnya.
Setelah kerbau itu menghabiskan satu ikatan Liem Tou baru menepuk nepuk punggungnya.
Gouw ko, ujarnya. Kau dapat melanjutkan perjalanan dengan menahan sakit bukan?.
Agaknya kerbau itu mengerti apa yang diucapkan olehnya, kaki depan yang semula berlutut di atas tanah kini bangkit berdiri, tetapi baru saja berdiri tidak lama sekali lagi ia jatuh berlutut kembali sedangkan dari mulutnya memperdengarkan suara dengusan yang amat rendah, diantara dengusan itu membawa beberapa bagian rasa sedihnya
Liem Tou yang melihat kerbau itu tidak bisa bangkit berdiri dia menjadi teramat cemas. Gouw ko, ujarnya kembali. Tidak perduli bagaimanapun kau harus paksakan diri untuk berjalan beberapa langkah, tidak jauh . .rumah penginapan disebelah depan sana, nanti aku akan segera menyembuhkan lukamu, coba kau lihat sekarang berlutut di tengah jalan memancing banyak orang yang menonton, bukankah hal itu amat jelek sekali??""
Saking cemasnya sehingga pikirannya buntu memaksa Liem Tou harus berbicara sedemikian rupa terhadap kerbaunya, sang kerbaunya dengan membelalakkan matanya lebar lebar memandang ke arah Liem Ton, setelah mendengus pedih mendadak ia tundukkan kepalanya
Melihat hal itu diam diam pikir Liem Tou didalam bati.
Obat dari Hek Loo toa itu amat sakti dan mujarab sekali, beberapa kali dicoba pasti membawa hasil, kenapa kali ini gagal.?
Dia merasa tentunya daya obat itu belum berjalan karenanya kepada si gadis cantik pengangon kambing, kembali dia minta kembali dua butir pil mujarapnya lalu dimakankan kepada kerbaunya kemudian secara diam diam kerahkan tenaga dalamnya melalui bekas telapak tangan tertera diatas perutnya.
Si gadis cantik pengangon kambing tidak mengetahui kalau Liem Tou sudah memiliki kepandaian silat yang sakti, dia kira kepandaiannya tidak lebih juga seperti setahun yang lalu, saat ini terdengar dia berteriak keras,
Liem Koko, biarlah aku menolong kau, dia tentu terluka karena darahnya menggumpal, aku harus menghancurkan gumpalan darah itu. terlebih dahulu sehingga dengan demikian lukanyapun tidak akan terluka bahaya".
Walaupun di dalam hati Liem Tou merasa geli tetapi dia mengalah juga, gadis cantik pengangon kambing itu segera menempelkan telapak tangannya keatas perut kerbau itu.
Beberapa saat kemudian si Gadis cantik pengangon kambing itu baru berhenti, Liem Tou cepat cepat angkat tangannya ke depan perut kerbau itu sambil membentak keras.
"Ayoh bangun".
Kerbau itu cepat bangkit berdiri cuma saja kedua kakinya masih tetap gemetar dengan amat kerasnya, saat itulah Liem Tou baru tahu kalau kerbau tersebut sudah menderita luka yang amat berat sekali, terpaksa dia tempelkan kembali telapak tangannya ke atas perut kerbaunya lalu secara diam diam mengerahkan tenaganya menahan jangan sampai dia roboh ke atas tanah.
"Wan moay ayoh jalan" serunya kemudian.
Demikianlah masing masing dengan menggendong Si Gadis berbaju hijau serta Lie Siauw Ie dan Liem Tou menyeret juga kerbaunya melanjutkan perjalanannya.
Waktu itu banyak orang orang pendaduk di sekitar tempat ini mengikuti dari belakangnya, bahkan berita ini dengan cepatnya mengalir ke seluruh penjuru kota.
Hanya di dalam sekejap saja berita tentang munculnya seekor kerbau ajaib ini sudah tersebar keseluruh kota Tang Yang bahkan rumah penginapan dimana Liem Tou serta si gadis cantik pengangon kambing berdiam telah di datangi banyak orang yang ingin melihat keanehan kerbau itu.
Melihat hal itu Liem Tou jadi kuatir atas keselamatan dari kerbaunya yang ditaruh di kandang kuda, dia takut kerbaunya yang sedang terluka mendapatkan serangan lagi dari orang lain sehingga menemui ajalnya.
Setelak dia orang mengurusi Lie Siauw Ie dan mengetahui kalau lukanya tidak terlalu bahaya, kepada Si Gadis cantik pengangon kambing lalu ujaraya.
"Wan moay. aku merasa tidak lega hati bila kerbau itu disimpan di dalam kandang kuda, kau pikir baiknya kita taruh di mana ??
"Apa kau punya maksud untuk memasukkan kerbau itu ke dalam kamar tinggal bersama kita ? " goda gadis cantik pengangon kambing sambil tertawa.
"Benar" sahut Liem Tou mengangguk aku punya, maksudnya demikian, cuma saja aku takut Wan moay menggoda diriku.
"Buat apa aku menggoda dirimu?" ujar si gadis cantik pengangon itu sambil tertawa. Sekarang kerbau itu sudah jadi barang wasiatmu, diapun merupakan pengawalmu, memang seharusnya kau bersikap hormat seperti murid bersikap hormat terhadap suhunya.
Dengan pandangan tajam Liem Tou memperhatikan diri gadis cantik pengangon kambing itu, dia takut di dalam perkataannya ini mengandung maksud mengejek, tetapi sewaktu melihat wajah si gadis cantik pengangon kambing itu dihiasi dengan senyuman yang menyenangkan dia baru tidak menaruh curiga lagi, diapun jadi turut tertawa.
"Kalau begitu bagus sekali" biar aku suruh dia kemari.
Baru saja Liem Tou mau keluar pintu mendadak terdengar si gadis cantik pengangon kambing sudah berteriak.
"Kau harus mandikan dia bersih-bersih baru bawa masuk kemari, kalau masih bau aku akan mengusir dia keluar."
"Baik ... baik" sahut Liem Tou sambil tertawa, aku pasti akan mandikan dirinya terlebih dulu, moay moayku yang tercinta."
Seaera dia berjalan keluar dari kamar itu.
Si gadis cantik pengangon kambing yang mendengar dia orang memanggil dirinya dengan kata kata moay moay yaug tercinta dari dalam segera makinya
"Kau orang semakin lama semakin jahat, jika menimbulkan hawa amarahku jangan salahkan aku segera potong lehermu."
Kepada Lie Siauw Ie yang sedang berbaring diatas pembaringan sambil tersenyum memandang dirinya dia berkata lagi.
"Ie cici, inilah hasil dari dirimu yang terlalu memanjakan dirinya, kau harus baik baik mengurusi dirinya.
Lie Siauw Ie yang baru sembuh dari lukanya tidak leluasa untuk menjawab dia hanya kirim satu senyuman kepadanya. Kamar itu sebenarnya adalah dua ruangan yang disambung menjadi satu. Si Gadis cantik pengangon kambing segera berkata kepada Lie Siauw Ie.
"Ie cici, kau berbaringlah disini. Aku akan melihat keadaan dari Ciang cici" Lie Siauw Ie mengangguk.
Dengan langkah yang perlahan Si Gadis cantik pengangon kambing berjalan masuk ke dalam kamar dan membuka kordin yang menutupi tempat tersebut, terlihatlah Ciang Beng Hu masih tidur dengan amat nyenyaknya dia tidak mau mengganggu setelah melihat sejenak cepat cepat dia undurkan diri kembali kesamping pembaringan Lie Siauw Ie dan men bicarakan soal soal di dalam dunia kangouw dan jejak selanjutnya dari mereka bertiga.
Tidak lama kemudian Liem Tou balik lagi ke dalam kamar dengan menuntun kerbaunya itu, begitu sang kerbau masuk kedalam kamar seketika itu juga memancing tertawaannya dari pemilik rumah penginapan itu serta para tamu lainnya, Liem Tou sama sekali tidak menggubris bahkan kirim satu senyuman ketolol tololan kepada mereka.
Seseorang diantara mereka yang melihat Liem Tou tidak dibuat marah oleh ejekan mereka segera mengggoda.
"Hey engkoh cilik, kau membawa kerbau itu ke dalam kamar apakah mau mengajaknya tidur bersama sama satu ranjang kau berhati hatilah jangan sampai dikencingi kerbau tersebut.
Haaa . . haaa . . Liem Tou pun tartawa terbahak bahak dengan kerasnya. Kalian apa tidak tahu kalau kerbau ini kerhau ajaib? kerbau ajaib selamanya tidak pernah kencing dipembaringan, tetapi aaah . . nanti malam sewaktu tidur aku harap kalian mau berhati ha-ti "
Liem Tou sengaja memperhatikan sikap serta gerak geriknya yang amat misterius lalu memperhatikan para tetamu sambil kerutkan alisnya rapat rapat.
Orang itu sewaktu melihat sikap dari Liem Tou amat serius tidak terasa menjadi amat tegas.
"Ada apa?" tanyanya.
Liem Tou berpikir sebentar, akhirnya dia gelengkan kepalanya.
Lebih baik aku tidak berbicara saja nanti jika aku bilang tentu kalian akan ketakutan sehingga satu malaman tidak bisa tidur kalau sampai terjadi urusan itu bukankah kalian semua akan menyalahkan aku?"
Orang orang itu setelah mendengar perkataan ini hatinya semakin tidak lega lagi, mereka pada mendesak Liem Tou untuk mengatakan urusan apa yang akan terjadi.
Melihat suasana yang semakin ribut, Liem Tou baru menjawab dengan suara perlahan.
Jikalau kalian benar mau mengetahui urusan ini akupun tidak bisa bardiam diri terus, tetapi asalkan ada aku disini kalian tidak usah takut. Kerbauku ini tidak ada jeleknya cuma saja ada kalanya sewaktu menjadi marah dan nafsu binatangnya berkorbar dia sering tidak mengenal orang lain sehingga berlarian melukai orang lain secara sembarangan, makanya sebelum urusan terjadi aku beri peringatan dulu kepada kalian, jikalau dia betul betul marah dan menubruk nubruk kalian tak usah menjadi gugup sehingga mengakibatkan bencana besar. waktu itu urusan bisa berabe."
Para pedagang itu sewaktu mendengar perkataan ini ditambah pula berita terinjak matinya seorang toosu serta melayangnya sang kerbau melewati atap rumah membuat mereka menjadi percaya seratus persen, tidak terasa lagi air muka mereka pada berubah menjadi amat hebat, setelah tertegun beberapa saat lamanya mendadak pada berteriak keras.
Haaaduuuh . . payah . . payah . . jikalau di dalam rumah penginapan ada penyebab bencana ini bagaimana suruh kita berdiam disini dengau tenang? hey engkob cilik cepat bawa dia keluar, jikalau kerbau itu sampai melukai orang buat dirimu juga tidak ada gunanya.
Hey pelayan .. pelayan . .! Teriaknya salah seorang di antara mereka. Aku mau batalkan rencanaku tinggal disiai, aku tidak mau tinggal bersama binatang penyebab bencana ini.
Seketika itu juga suasana di dalam ruangan penginapan itu menjadi kacau balau. Liem Tou yang melihat hal ini diam diam merasa amat geli sekali, setelah masuk ke dalam dan bertemu dengan gadis cantik pengangon kambing tidak kuasa lagi dia tertawa terbahak bahak.
Si gadis cantik pengangon kambing yang melihat sikapnya yang amat aneh itu tidak urung dibuat curiga dan ragu ragu.
Hey ada urusan apa yang membuat kau tertawa terbahak bahak? tanyanya keheranan.
Mereka menggoda aku lalu aku balik menggoda mereka dengan menipu yang bukan bukan siapa tahu mereka sudah menganggapnya sungguh sungguh dan pada membatalkan niatnya untuk berdiam ditempat ini, aku rasa rumah penginapan ini bakal sepi.
Baru saja berbicara sampai disini mendadak terdengar suara orang yang sedang mengetuk pintu. Liem Tou segera membukanya terlihat pemilik rumah penginapan itu sedang berdiri dimuka pintu dengan wajah yang serba susah, bibirnya sedikit bergerak mau mengucapkan sesuatu pada Liem Tou, tapi sewaktu dilihat kerbau itu berdiri di samping pinta dia menelan kembali kata katanya.
Liem Tou segera menduga apa yang sudah terjadi, kepada Si Gadis cantik pengangon kambing ujarnya sambil tertawa.
Wan moay mutiaramu apa masih ada?? para tamu sudah dibuat ketakutan oleh kerbau sehingga pada melarikan diri terbirit birit kini si pemilik rumah penginapan mencari aku seharusnya kau orang bantu aku usir dia pergi.
Hmm, aku tidak mau ikut campur urusanmu yang merepotkan ini, seru Si Gadis cantik pengangon kambing sambil mencibirkan bibirnya. Seorang lelaki sejati berani berbuat tentu berani menanggung jawab. Buat apa kau mencari aku??"
Ooooh.. .adikku yang baik, mohon Liem Tou cepat. Kenapa kau begitu teganya melihat aku kesusahan? cukup kau mengambil keluar sebutir mutiara bukankah urusan akan segera menjadi beres?"
Si gadis cantik pengangon kambing segera termenung berpikir sebentar.
Demikian saja, ujarnya kemudian. Asalkan kau menyanggupi diriku untuk melakukan tiga macam urusan maka aku beri kau orang sebutir mutiara, bagaimana?
Diam diam di dalam hati Liem Tou berpikir.
Sungguh lucu sekali, mutiara yang kau miliki sekarang ini bukankah aku yang memberikan kepadamu? padahal saat ini aku masih mempunyainya sangat banyak sekali hanya saja tidak leluasa untuk mengambilnya, entah apakah ketiga syaratnya itu?"
tapi aku kira tentunya tidak sukar lebih baik aku menyanggupinya.
Berpikir sampai disitu segera menyanggupinya.
Kalau memangnya Wan moay yang menghendakinya, jangan dikata cuma tiga macam urusan saja sekalipun tigapuluh atau tigaratus pun aku akan melakukan dengan sepenuh tenaga."
Baiklah, ujar si gadis cantik pengangan kambing itu kemudian sambil tertawa dan mengambil keluar sebutir mutiara.
Tapi kau harus ingat urusan ini kau tak mungkir lagi Ie cici kau harus jadi saksi.
L
iem Tou segera mengangguk
Melihat dia orang sudah menyanggupinya si gadis cantik pengangon kambing beru bicara.
Pertama, untuk selanjutnya kau tidak diperkenankan untuk berbuat kurang ajar terhadap cici, kau bisa melakukannya, bukan?"
Soal itu tak perlu dikuatirkan.
Kedua segera pergi mencari satu stel pakaian yang bersih dan bagus kalau tidak jangan kembali lagi.
Liem Tou segera tertawa terbahak bahak.
Aku kira urusan berat macam apa, soal inipun tidak sukar diselesaikan.
Kau orang jangan gembira dulu, sambung si gadis cantik pengangon kambing dengan perlahan. Urusan yang sulit ada di belakang, ketika di dalam tiga hari ini kau harus mencari berita siapa yang sudah membinasakan kawanan kambingku. Ini bawa pergi.
Sembari berkata dia melemparkan mutiara itu ke tangan Liem Tou, lalu sambungnya lagi.
Sekarang mutiara itu sudah kau dapatkan urusankupun harus kau selesaikan cepat cepat jikalau diantara ketiga urusan ini tidak bisa melaksanakannya jangan harap aku berlaku sungkan lagi terhadap dirimu.
Liem Tou yang mendengar permintaannya yang ketiga itu tidak terasa lagi diam diam merasa kepayahan, pikirnya
Sungguh licik pengangon kambing ini, ternyata aku sudah kena pancingannya, tapi kau tunggu saja nanti ada permainan bagus bakal menyusul di belakang.
Berpikir sampai disitu dia segera tertawa, sahutnya.
" Apa susahnya urusan ini? kau legakanlah hatimu, kalau aku sudah menyanggupi untuk melaksanakan pekerjaan itu orang pasti akan melakukannyanya sampai beres."
Liem Tou segera putar badannya untuk menyerabkan mutiara itu kepada si pemilik rumah penginapan sebagai ganti batalnya para tamu untuk menginap disana.
Saat itulah mendadak.. ."Plaaak" ada sebuah benda berat yang memecahkan jendela melayang masuk ke dalam dan tepat jatuh di tengahi kamar.
Sepasang mata dari Liem Tou yang amat tsjam hanya di dalam sekali pandang saja sudah mengetahui macam benda tersebut, dengan cepat dia menoleh keluar jendela, tampaklah sesosok bayangan hijau dengan amat cepatnya berkelebat lenyap dibalik tembok.
Aaaah emas.. .terdengar si gadis cantik pengangon kambing menjerit keras. Bagaimana bisa ada emas yang melayang masuk ke dalam kamar kita??"
Liem Tou sebenarnya adalah seorang yang cetdik, setelah berpikir sebentar mendadak dia gelengkan kepalanya.
Heee. .Ciang cici sudah pergi serunya sambil menghela napas panjang, ternyata dia orang tidak mau menerima budi kebaikan kita.
Perkataannya ini mana si gadis cantik pengangon kambing mau mempercayainya?? Bukankah tadi dia orang tertidur dengan amat pulasnya bagaimana sekarang bisa pergi? dengan cepat dia berlari masuk ke kamar dalam, tapi sebentar saja dia sudah menjadi tertegun.
Kiranya jendela sudah terbentang lebar sedangkan orangnya telah lenyap tidak berbekas.
Orang itu sungguh aneh sekali., tulangnya yang patah masih belum sembuh jikalau terkena angin lagi bukankah sukar diobati dan semakin mendatangkan kerepotan buat dirinya sendiri?" seru Si Gadis cantik pengangon kambing dengan perlahan. Liem Tou tidak menjawab, dia putar badan memungut emas itu dan ditimang timangnya di atas tangan, segera dia merasa emas itu ada lima, enam kati beratnya, dengan cepat disusupkan ke dalam sakunya.
Waktu itulah Si Gadis cantik pengangon kam-sedang berjalan masuk kedalam kamar, melihat Liem Tou memasukkan emas itu ke dalam sakunya segera berseru.
Eei Liem Tou koko bagaimana kau boleh memasukkan emas itu ke dalam sakumu?"
Liem Tou meagerutkan alisnya rapat rapat.
Perempuan semacam ini tidak ada harganya untuk Wan moay menaruh rasa kuatir kepada nya . . aku mau pergi cari dirinya lalu menggunakan emas ini menimpuk wajahnya.
Mendengar perkataan itu Si Gadis cantik pengangon kambing menjadi amat gusar makinya.
Aku masih mengira kau adalah seorang lelaki sejati, pintu kamar saja belum dilewati sudah mengingkari janji , Hmm, bukankah baru saja kau orang menyanggupi tiga buah permintaanku
Saat ini mutiara tersebut masih ada ditangan Liem Tou, mendengar perkataan tersebut dia segera mengangsurkannya kembali.
Kau ambillah kembali barang ini, ujarnya. Jikalau kau orang suruh aku menganggap tapak seorang perempuan yang begitu tidak tahu diri, aku tidak akan menyanggupinya.
Si gadis cantik pengangon kambing menjadi teramat gusar, dengan cepat dia rebut kembali mutiara yang ada di tangan Liem Tou lalu putar badannya
"Baiklah, ujarnya. Kau mau berbuat apapun terhadap dirinya aku tidak akan ikut mencampurinya kembali, soal siapa yang membinasakan kambing kambingku tidak perlu kau orang bersusah payah menyelidikinya sendiri. Ie cici aku serahkan kepadamu kembali, aku mau pergi dulu.
Selesai berkata dia segera menjejak kakinya dan melayang keluar dari jendela
Liem Tou sama sekali tidak menyangka kalau dia bisa begitu marah, padahal dia orang cuma merasa kheki saja melihat kekasaran dan ketidak tahu aturan dari Ciang Beng Hu itu karena itu berbicarapun agak kasar, kini melihat Si Gadis cantik pengangon kambing mau pergi dia menjadi cemas, tangannya dengan cepat menyambar tangannya sambil berseru.
"Wan-moay kau jangan,pergi, semuanya adalah kesalahanku buat apa kau pergi? " apalagi jika harus pergi. yang pergi seharusnya aku, Ie cici scrta kerbau itu masih ada disini biarlah Wan moay tolong menjaganya, aku pergi dulu.
Kata kata terakhir baru saja diucapkan ke luar dia sudah menarik tandan si gadis Cantik pengangon kambing itu ke belakang menbuat dia orang tidak terasa lagi mundur beberapa langkah kebelakang.
Liem Tou segera maju ke depan lalu menutulkan ujung kakinya diatas permukaan tanah lalu berkelebat keluar dari jendela, ujarnya sambil merangkap tangannya menjura.
"Selamat tinggal."
Dengan cepatnya dia orang sudah melayang pergi tak berbekas.
Si gadis cantik pengangon kambing menjadi cemas, teriaknya.
"Liem koko . . - kau tunggu dulu, aku ada perkataan yang hendak disampaikan kepadamu' Heeey kenapa kau marah terhadap diriku . . . Liem koko . . . ."
Sekalian Liem Tou mendengar suara panggilan tersebut tapi dia orang tidak mau memberikan jawabannya dalam hati dia kepingin memecahkan rahasia pencurian yang dilakukan oleh si penjahat naga merah itu.
Adanya tanda ular di kota yang menemui bencana memang jelas menunjukkan si naga merah lah yang melakukan perampokan tersebut, tapi terang terangan si penjahat naga merah pada malam itu ada di kuil Siang Lian si, bagaimana mungkin dia orang bisa pergi ke kota Tang Yang untuk melakukan perampokan.
Karena itu dengan mengambil kesempatan ini dia meninggalkan rumah penginapan untuk mencari seperangkat pakaian yang berwarna hijau untuk berganti pakaian lalu membeli pula sebuah topi terbuat dari rumput.
Sebentar saja seorang gembala kerbau yang kotor dan dekil kini sudah berubah meujadi seorang kongcu yang amat perlente dan tampan sekali, sedikitpun tidak mirip dengan Liem Tou yang dahulu.
Hari ini Liem Tou berjalan masuk keluar di setiap rumah makan dan mencari berita di dalam kota Tiang Yang tetapi tidak ada sebuah beritapun yang didapatkan, tiba tiba di dalam pikirannya teringat akan sesuatu, pikirnya.
"Orang yang melukai empat orang toosu Bu tong pay sekaligus dengan menggunakan senjata rahasia pada waktu itn adalah pengemis, bila orang itu pula yang melakukan pem bunuhan terhadap kawanan kambing dari si gadis cantik pengangon kambing seharusnya aku pergi ketempat yang banyak pengemisnya, buat apa pergi kerumah makan ?"
Berpikir sampai disini tidak tertahan lagi dia merasa geli sendiri, siasatnya segera dirubah, dia khusus pergi ke dalam kuil yang bobrokan atau tempat tempat yang banyak ditemui pengemis.
Tetapi walaupun sudah dicari setengah harian dan sang suryapun sudah berada di ufuk barat dia orang sama sekali tidak memperoleh sedikit beritapun. Akhirnya sampailah dia orang di sebuah pohon siong yang amat lebat dan tinggi sekali membuat setiap orang yang melalui tempat itu merasa hatinya bergidik.
Diam diam dalam hati Liem Tou berpikir.
Tidak urung ini hari aku orang tidak berhasil mendapatkan jejak dari pengemis itu, kemungkinan juga sejak semula dia sudah meninggalkan kota Tang Yang ini, jikalau memang begitu adanya sekalipun aku harus mencari sepuluh, dua haripun tidak berguna. Dengan bergendong tangan dia segera berjalan memasuki pohon siong itu kurang lebih setengah jam kemudian mendadak dihadapanaya muncul dinding tembok yang amat nyata, agaknya ditempat tersebut merupakan aebuah kuil kaum toosu yang kecil.
Liem Tou segera mempercepat langkahnya menuju kesana, tampaklah olehnya pintu kuil itu setengah terbuka di atas pilar tergantunglah sebuah papan yang bertuliskan Ceng Coen Koan tiga huruf dari emas.
Cepat tubuhnya masuk kedalam ruangan itu, mendadak dia merasakan bau wanginya panggangan ayam berhembus keluar dari dalam kuil tersebut bahkan di dalam kuil tidak nampak adanya dupa maupun lilin yang dipasang, diatas dan di sekitar patung arca tampak debu yang amat tebal menutupi semua tempat, bahkan tidak kelihatan adanya sesosok manusiapun.
Liem Tou memerikasa sejenak keadaan disekeliling tempat itu, baru saja dia mau masuk kedalam kuil mendadak terdengarlah suara seseorang sedang bicara.
Jika demikian adanya kematian dari Leng-Ceng Too heng bukanlah kalian bertiga yang melakukannya, soal ini mungkin aku masih bisa percaya, tetapi kalau memang begitu apakah kitab pusaka To Kong Pit Liok itu juga sudah didapatkan oleh si penjahat naga merah?"
"Semula kamipun punya pikiran begitu sahut seseorang lagi. Tetapi sewaktu kemarin malam kita bertempur sendiri dengan penjahat tua itu kami rasa tenaga dalamnya tidak memperoleh kemajuan seberapa jika dibandingkan dengan setahun yang lalu.
Kitab pusaka To Kong Pit Liok merupakan sebuah kitab yang berisikan ilmu silat yang amat dahsyat sekali, jikalau dia orang betul betul sudah mendapatkan nya jangai dikata kami sekalipun Lie Loo-jie juga belum tentu merupakan tandingannya.
Liem Tou yang mendengar perkataan itu segera bisa membedakan kalau suara itu berasal dari si Thiat Sie Sianseng, dengan demikian si siucay buntung serta si pengemis pemabokpun seharusnya ada disana.
Terdengar orang yang pertama membuka mulut dan berbicara lagi. Jikalau begitu si penjahat naga merah tentu nya belum memperoleh kitab pusaka To Kong Pit Liok itu. lalu kitab pusaka tersebut sudah di dapatkan oleh siapa??"
"Aku tahu akan seseorang" tiba tiba sipengemis pemabok menyambung, sewaktu aku terluka, waktu itu aku sedang mengerahkan tenaga dalamku untuk menyembuhkan luka dari si penjahat naga yang telah pergi mengejar si Thiat Sie Sianseng, aku melihat ada orang berjalan masuk kedalam lembah.
Berbicara sampai disini mendadak si pengemis pemabok meghela napas panjang.
"Jikalau memang benar sudah dia peroleh hey.. rejeki bocah cilik itu sungguh bagus" ujarnya. Hey Heng San Jie Yu, aku dengar kalian berdua pandai berpikir coba kalian terka siapakah orang itu??"
Suasana seketika itu juga dicekam kesunyian yang amat sangat tidak terdengar sedikit suarapun. Liem Tou yang mendengar perkataan dari si pengemis pemabok itu tidak urung di dalam hati diam diam memaki.
"Kau setan arak, ternyata mau membocorkan rahasiaku."
Pada saat itulah mendadak terdengar seseorang berbicara kembali.
"Soal ini tidak sukar untuk diduga, apakah bukan itu si perempuan tunggal atau Ku Li Touw Hong? menurut berita yang tersiar didalam Bulim katanya si perempuan tunggal Touw Hong ini pernah mengalahkan Auh Hay Ong suami isteri dari Kiam Thien Pay hanya di dalam tiga jurus saja, dan kini perempuan tersebut sudah diterima Auh Hay Ong sebagai jagoannya.
Karena itulah pengaruh dari Kiam Thien pay di dalam beberapa hari ini amat dahsyat sekali sehingga sebagian daerah Kang lam sudah dikuasai oleh mereka, aku dengar pula katanya si perempuan tunggal Touw Hong tidak lama kemudian akan membuka cabang cabang diseluruh daerah, jika berita ini benar maka Loolap kira kitab pusaka To Kong Pit Liok itu tentunya sudah didapatkan olehnya.
Mendengar perkataan itu diam diam Liem Tou merasa hatinya amat murung, pikirnya.
Aku belum pernah dengar dari daerah Si Lam sudah muncul seorang perempuan yang demikian jumawanya, jikalau urusan ini benar benar terjadi aku kepingin sekali menemui dirinya, aku benar benar mau lihat dia orang mempunyai kelebihan apa yang patut dibanggakan
Saat ini si pengemis pemabok sudah tertawa lagi, ujarnya.
Perkataan yang Chiet Siauw Thaysu ucapkan sudah terpaut amat jauh sekali, sekalipun si perempuan tunggal, Touw Hong itu aku pernah mendengarnya tetapi belum percaya benar benar, siapa tahu kabar itu juga kabar kosong dari Loociang saja ??
Sebetulnya orang yang sudah memasuki lembah itu memang membuat hatiku sedikit ragu ragu. tetapi setelah kejadian itu kemarin malam dikuil Siang Lian Si ....
Berbicara sampai disini agaknya si siucay buntung sudah tidak sabaran lagi.
Hey sebetulnya siapa?" tanyanya keras. Cepat kau katakan, buat apa putar putar kalangan dulu?
Heeii Loojiau, kenapa kau terburu nafsu?" ujar si pengemis pemabok sambil menghela napas panjang, bukanlah aku orang sengaja memutar kalangan, aku cuma takut kalian tidak mau percaya," tentu kalian ingat dengan Liem Tou si bocah cilik itu bukan?
Mendengar disebutnya nama Liem Tou oleh si pengemis pemabok itu, si siucay buntung segera tertawa terbahak bahak.
Liem Tou sudah lama meninggal terjatuh ke dalam jurang bagaimana dia bisa muncul kembali di gunung Wu san?" serunya keras, bukankah omonganmu terang terangan bohong?
Tetapi terang terangan kemarin malam sewaktu ada didalam kuil Siang Lian si kita mendengar sendiri kalau murid dari Lie Loo jie itu sudah mengatakan baru saja bertemu dengan Liem Tou apa kau tidak mendengar, apalagi kerbau itu milik dari Liem Tou tentang ini tentunya kau tahu bukan," ujar si pengemis pemabok.
Sepasang biji mata dari si siucay buntung berputar berulangkali lalu teriaknya keras.
Kalian tak usah berkata lagi, aku tidak percaya . . . tidak percaya..
Kau tidak percaya yaah sudah, aku kan tidak suruh kau untuk mempercayainya, teriak si pengemis pemabok dengan kerasnya pula, agaknya dia sudah dibuat gusar.
Kalian bedua tidak usah beribut lagi seru Ciat Siauw Taysu dari Siauw lim pay melerai.
Percayi tidak, tak ada keharusan jikalau kau orang percaya yaaah percaya kalau tidak percaya yaah tidak percaya buat apa diributkan? kini ada si jago main sie poa disini kenapa tidak menyuruh dia orang menghitungkannya untuk mengetahui keadaan yang sesungguhnya?
Betul . . .betul . . .sokong Heng san Jie Yu dengan gembira sekali. Memang pikiran dari Loo tayhiap jauh lebih cepat.
Ternyata tidak susah, setelah itu terdengarlah suara dipukulnya biji biji sie poa pulang pergi.
Liem Tou yang mendengar suara tersebut jadi terperanjat, diam diam pikiriya. Sie poa dari Thiat Sie sianseng ini selamanya amat tepat jikalau hal ini sampai terhitung olebnya dan tersiar di tempat luaran, perjanjian di atas puncak pertama Ciang Jan bulan lima tanggal lima yang akan datang bakal berabe juga.
Pikirannya segera berputar untuk memikirkan satu siasat, dengan cepat dia meloncat ke atas atap kuil dan memperhatikan keadaan di dalam ruangan, terlihatlah beberapa orang itu sedang duduk bersila dialas tanah dengan ditengahnya duduk seorang hweesio.
Sudah tentu hweesio itu adalah Chiet Siauw-Thaysu. Dia itu ciangbunjin dari Siauw Lim Pay. Di samping kanan dan kirinya duduklah dua orang toosu berupa pertengahan yang bukan lain adalah Heng san Jie Yu, sedangkan Tionggoan Sam Koay duduk di paling bawah.
Mereka semua duduk mengerubungi sebuah api unggun yang sedang memanggang seekor ayam yang amat gemuk, dan tempat kejauhan saja sudah terciumlah bau harum yang semerbak membuat orang mengiler.
Waktu ini si Thiat Sie sianseng sedang tundukkan kepalanya menghitung pulang pergi biji sie poanya, sisanya lima orang melotot memandangi dirinya, agaknya mereka merasa amat tegang sekali, Liem Too tidak berpikir panjang lagi dengan cepat dia meioncat turun ke belakang meja sembahyang yang terbuat dari batu dan mengerahkan ilmu jarinya yang lihay, membuat batu tersebut seketika itu juga membekas satu gambaran sedalam beberapa coen, jelas memperlihatkan kalau Tenaga dalamnya sudah mencapai taraf yang sangat dahsyat sekali.
Setelah menggambar diam diam Liem Tou tidak tarasa merasa geli juga. mendadak disamping gambaran ini dia menulis.
Burung Hong tidak meninggalkan ayam, ayam tidak meninggalkan burung Hong. Harap pada bulan lima tanggal lima pada berkumpul dipuncak pertama Cing Jan untuk menentukan menang kalah.
Setelah semuanya selesai dia mengerahkan iimu meringankan tubuhnya kembali berkelebat melalui hadapan ke enam orang itu.
Mereka berenam seketika itu juga merasakan aedikit tidak beres saat itulah Liem Tou sudah menyambar ayam yang sudah dipanggang itu dan melarikan diri keluar dari kuil tersebut lalu meloncat naik keatas pohon siong untuk menonton permainan yang lucu.
Ternyata sedikitpun tidak salah, sewaktu Liem Tou menikmati panggangan ayam itu dengan nikmatnya, suasana di dalam kuil menjadi kacau balau, mereka berenam dengan berpisah pada meloncat naik ke atas dari enam penjuru yang berlainan, enam pasang mata dengan amat tajamnya memperhatikan keadaan di sekeliling tempat itu untuk memeriksa setiap pohon siong yang berada disana.
Pakaian yang dipakai Liem Tou berwarna hijau, apalagi suasana diluar sangat gelap sekali sudah tentu mereka tidak bisa menemukan dirinya.
Si pengemis pemabok adalah seorang yang paling doyan makan, kini melihat seekor ayam yang gemuk dan berbau wangi telah dicuri orang bahkan tak tampak jejaknya segera memaki kalang kabut, dari anaknya, bapaknya sampai neneknya dimaki semua.
Tongkat pemukul anjing yang ada ditangannya diketukkan ke atas atap rumah membuat suasana amat ramai, air liur muncrat muncrat ke tengah udara sedang giginya gemeretuk menahan kegemasan hatinya.
Liem Tou yang bersembunyi di atas pohon siong sewaktu melihat si pengemis pemabok memai tidak hentinya walaupun didalam hati merasa geli sekali tetapi terhadap makian dan omongannya yang amat kotor semakin lama merasa tidak tahan juga.
Tulang ayam yang ada ditangannya segera disambit kearahnya dengan disertai desiran angin yang sangat keras, bersamaan waktunya pula tubuhnya meloncat ke arah pohon siong yang lain.
Si pengemis pemabok yang mendengar adanya suara sambaran benda yang mememecahkan kesunyian mengancam tubuhnya dengan cepat dia miringkan kepalanya ke samping untuk menghindarkan diri, dengan santarnya tulang ayam itu lewat di samping telinganya.
Tidak terasa lagi dia menjadi amat gusar sekali, ujung kakinya segera menutul permukaan tanah laksana seekor elang raksasa dengan dahsyataya menubruk ke arah pohon tersebut.
Melihat kehebatan dari ilmu meringankan tubuhnya tidak terasa Liem Tou mengangguk memuji kehebatannya. si siucay buntung, Thiat Sie sianseng, Heng-san Jie Yu serta Thiat Siauw Thaysu yang takut sipengemis pemabok mendapatkan bokongan bersama sama berteriak.
"Hey pengemis busuk hati hati jangan sampai kena dibokong orang"
Diikuti mereka berlima bersama sama berkelebat menuju kearah yang sama, tetapi di tempat itu sama sekali tidak terlihat sesosok manusia pun.
Orang itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang amat tinggi, ujar Thiat Siauw Thaysu kemudian sambil menghela napas panjang. Bahkan boleh dikata sudah mencapai pada taraf kesempurnaan, ayam panggang yang ada dihadapan kita saja sudah berhasil dicuri oleh orang tanpa kita rasakan apalagi untuk mengejar dirinya?? aku lihat sia sia saja pekerjaan kita ini"
Perkataan dari Thaysu sedikitpun tidak salah Sambung Loo toa dari Heng san Jie Yu. Lebih baik untuk sementara waktu kita kembali ke kuil dulu untuk memeriksa apakah ada tanda tanda yang ditinggalkan olehnya, setelah itu kita baru menyelidiki siapakah sebenarnya orang tersebut.
Tionggoan Sam Koay pun mengetahui kalau perkataan ini sedikitpun tidak salah, terpaksa mereka balik ke dalam kuil lagi.
Di antara mereka cuma si pengemis pemabok saja yang masih tidak puas, dia tidak mau ikut turun sebaliknya memaki maki dulu di atas atap dengan kalang kabut lalu baru melayang turun ke dalam kuil.
Mendadak dia menemukan mereka berlima sedang berdiri termangu mangu di depan meja batu tempat sembahyangan, tak kuasa lagi dia berteriak.
Hey .. ayamnya sudah dicuri orang lain apa kalian sedang bersembahyang kepada malaikat malaikat agar bisa membantu kalian merebut kembali ayam itu? kenapa kalian pada termangu mangu disana?"
Sembari berkata diapun berjalan mendekati meja batu tersebut, tetapi sebentar kemudian air mukanya sudah berubah sangat hebat.Matanya terbelalak lebar mulutnya melongo, 'Sungguh dahsyat tenaga jarinya 'lama sekali dia baru berseru. Agaknya di dalam kolong langit saat ini sukar untuk dicarikan keduanya.
Sewaktu melihat pula gambar binatang yang mirip dengan burung hong juga mirip ayam itu dia segera menjulurkan lidahnya ketakutan.
Apa munjkin si perempuan tunggal Touw Hong sudah datang kemari?" tanyanya. Jika dilihat dari ilmu jarinya saja sudah cukup buat dirinya untuk mengangkat nama di dalam Bulim.
Siapa tahu baru saja dia selesai berkata mendadak dari belakang tubuh mereka berkumandang suara tertawa yang amat ringan sekali, ke enam orang itu menjadi sangat terperanjat dan terburu buru putar kepalanya.
Terlihatlah kurang lebih beberapa depa di belakangnya berdirilah seorang gadis berbaju hitam yang amat cantik sekali.
Gadis itu memakai baju maupun celana yang berwarna hitam, alisnya panjang lentik, bibinya kecil mungil matanya bulat sehingga kelihatan amat cantik sekait.
Walaupun pada wajahnya tidak dihiasi dengan senyuman bahkan kelihatan sedikit agak murung tetapi bila ditinjau dari sikapnya bukanlah menyerupai seorang jahat, sebaliknya membuat orang merasa kagum dan menghormat.
Mendadak sinar mata mereka berenam berhenti di atas dadanya dimana tergantung sebuah medali yang bergambarkan burung Hong hitam berkaki tunggal, tak kuasa lagi saking terperanjatnya pada mundur dua langkah kebelakang.
Lama sekali baru terdengar si pengemis pemabok membentak keras.
"Kau, kau adalah perempuan yang bernama Touw Hong? kau . . kau berani mencuri ayam panggang kami? ayoh cepat kembalikan ayam panggangku, kalau tidak kita orang akan menuntut kerugian.
Sembari berkata dia menggebukkan tongkat pemukul anjingnya ke atas tanah sehingga terdengar suara benturan yang amat nyaring sekali.
Si gadis berbaju hitam mendengar suara bentakan dari pengemis pemabok itu diam diam alisnya dikerutkan rapat rapat, dari sepasang matanya yang amat jeli itu memancar keluar sinar yang amat tajam sekali memaksa mereka berenam tidak tahan untuk bergidik, bulu roma pada berdiri semua.
Dengan cepat mereka berenam pada mengerahkan tenaga dalamnya siap siap menghadapi sesuatu, apalagi si pengemis itu.
Walaupun dia orang sedang merasa mendongkol tetapi bagaimanapun juga dis orang adalah seorang jago kawakan yang sudah nempunyai pengalaman yang amat luas sekali ketika melihat kekuatan jari di atas meja batu itu ditambah pula dengan kerlipan sinar mata sang gadis yang amat tajam segera mengetahui kalau tenaga dalam gadis itu sudah mencapai pada tingkat yang paling atas karenanya dia tidak berani banyak bercakap lagi, diam diam tenaga dalam sudah disalurkan keseluruh tubuh siap menghadapi sesuatu.
Lama sekali gadis berbaju hitam itu memperhatikan diri keenam orang itu, mendadak sinar matanya diarahkan ke atas meja batu.
Lama sekali baru terlihatlah gadis berbaju hitam itu menoleh kearah keenam orang itu.
Kecuali kalian berenam ada siapa lagi yang pernah datang kemari?, tanyanya.
Suaranya tidak begitu keras tetapi setiap patah kata bisa didengar dengan amat jelasnya, jelas tenaga dalamnya sudah berhasil dilatih mencapai pada taraf yang amat tinggi sekali.
Mendengar perkataan ini keenam Orang itu pada melengak semua, pikirnya.
"Kecuali kau ada siapa lagi yang pernah datang kesini".
Si Thiat Sie sianseng jadi orang yang paling tenang dan pikirannya pun paling tajam, karena takut si pengemis pemabok berbicara tidak karuan lagi cepat cepat sahutnya.
Entah apa maksud perkataan nona ini, apakah gambar yang terukir di atas meja sembahyangan ini bukan digambar oleh nona sendiri ?
Jika dilihat dari sie poa besi yang ada ditanganmu tentunya kau orang adalah Thiat Sie sianseng salah satu anggota dari Tionggoan Ngo Koay bukan? ujar gadis berbaju hitam itu sambil melirik sekejap ke arah Thiat Sie sianseng. Kau berdasarkaa hal apa mengatakan kalau gambar itu aku yang bikin ?
Nona bukankah si perempuan tunggal Touw Hong yang muncul dari daerah Si Lam dan didalam tiga jurus mengalahkan suami istri she Ciang dari Kiem Thian Pay? tiba tiba si siucay buntung menimbrung.
Si gadis berbaju hitam yang mendengar si siucay buntung itu meyiggung pekerjaannya yaag paling membanggakan hatinya pada wajahnya segera terlintas senyuman kegembiraan, dia segera mengangguk cuma tetap tak mengucapkan sepatah katapun.
si siucay buntung segera menunjuk ke arah gambar ayam bukan ayam burung hong bukan burung hong yang terukir di atas meja sembahyangan itu, lantas ujarnya.
"Pada saat ini orang yang menggunakan burung hong sebagai tanda cuma ada nona seorang saja, jika burung hong yang terukir di atas meja ini bukan nona yang tinggalkan ada siapa lagi yang mengukirnya ?"
Si gadis berbaju hitam itu segera putar kepalanya, memandang ke arah gambar itu lagi, semakin dilihat dia semakin mendongkol, gambar burung hong itu jelas sekali sengaja dibuat seperti ayam membuat air mukanya berubah merah padam kembali.
Mendadak telapak tangannya menyambar ke depan lalu menghapus gambar serta tulisan yang ada di atas meja tersebut.
Seketika itu juga abu pada beterbangan sewaktu telapak tangannya diangkat kembali permukaan batu yang semula ada lima coen tebalnya didalam sekejap sudah tinggal beberapa coen saja, hal ini membuat Tionggoan Sam-Koay, Heng san Jie Yu serta Ciangbunjin dari Siauw Lim Pay pada merasa terperanjat.
"Tenaga dalam yang amat sempurna" tiba tiba teedengar suara pujian yang berkumandang datang dari luar kuil.
Mendengar suara pujian ini si gadis berbaju hitam itu dengan cepat berkelebat keluar dari dalam ruangan, Tionggoan Sam Koay sekalian merasakan matanya menjadi kabur si gadis berbaju hitam yang semula ada di hadapan mereka kini sudah lenyap tak berbekas lagi, dengan gerakan apa dia berkelebat meninggalkan tempat itu siapapun tidak bisa mengetahuinya.
Mereka berenam menjadi tertegun, lama sekali tidak dapat mengucapkan sepatah katapun
"Siapakah kau?" terdengar suara bentakan dari gadis berbaju hitam berkumandang datang dari tempat kejauhan.
"Di luar langit masih ada langit, di atas manusia masih ada manusia, kau orang tidak perlu mengurusi diriku" segera terdengar suara sahutan seseorang yang amat berat sekali.
Gambar yang ditinggalkan di dalam kuil itu apakah hasil perbuatanmu?" bentak gadis berbaju hitam itu lagi.
Orang itu segera tertawa terbahak bahak dengan amat kerasnya.
"Aku yang lakukan juga boleh, bukan aku juga sama saja, selama berada di dalam dunia kangouw aku orang belum pernah bertemu dengan seseorang yang suka mencampuri urusan orang lain semacam kau"
Beberapa perkataannya ini agaknya sudah membuat kegusaran di dalam hati gadis berbaju hitam itu semakin memuncak, segera terdengar suara bentakan yang amat nyaring.
Aku Touw Hong sejak terjunkan kedalam dunia kangouw belum pernah bertemu dengan manusia semacam kau, terimalah seranganku ini.
Setelah itu terdengarlah suara menderunya angin pukulan disusul dengan suara patahan ranting ranting pohon siong yang amat ramai sekali.
Mendengar suara tersebut si siucay buntung tidak bisa menahan sabar lagi, segera teriaknya.
Ayoh jalan, kita pergi melihat.
Keenam orang itu dengan saling susul menyusul pada meninggalkan kuil untuk berkelebat menuju dimana berasalnya suara pertempuran tadi.
Beberapa saat kemudian mereka sudah tiba disebuah tempat yang penuh berserakan patahan ranting ranting pohon siong yang amat banyak tetapi bayangan mereka berdua sama sekali tidak kelihatan, membuat keenam orang itu jadi berdiri termangu mangu.
Kurang lebih seperminuman teh kemudian mendadak terdengar Si Thiat sie sianseng berseru.
Aaaah . . jika ditinjau dari keadaan ini jelas sekali gambar yang terukir di atas meja batu tadi bukan nerbuatan dari Touw Hong, si gadis berbaju hitam tadi, sedang surat tantangan agar kita menghadiri pertemuan di atas puncak pertama Cing Jan pada bulan lima tanggal lima menunjukkan waktu yang sama dengan perjanjian yang diadakan Lie Loo jie, lalu apa mungkin Lie Loo jie yang sudah datang kemari?? tetapi apa maksudnya?? apa dia orang juga mau bertempur dengan kita?"
"Kemungkinan sekali Lie Loo jie sudah tahu kalau Touw Hong ada disini sehingga sengaja berbuat demikian" sahut Loo jie dari Hengsan Jie Yu.
"Tidak benar, .. .tidak benar" seru Loo toa dari Heng san Jie Yu sambil gelengkan kepalanya, jikalau Lie Loo jie mau pergi mencari Touw Hong dia bisa langsung mencari dirinya, kenapa harus berputar putar seperti ini?? apalagi Lie Loo jie jadi orang bersifat pendekar, dia tidak akan mau berbuat demikian.
Sewaktu mereka berbicara dan saling bantah membantah dengan amat ramainya itulah mendadak tampak bayangan hitam berkelebat turun dari sebuah pohon siong, tampaklah si gadis berbaju hitam yang semula pergi kini balik kembali.
Apa Lie Loo jie . .Lie Loo jie" serunya dengan sinis, orang itu tidak lebih seorang bocah cilik yang usianya amat muda sekali, tetapi tenaga dalamnya amat dahsyat. Kalian cianpwee berenam mempunyai pengalaman yang amat luas, apakah kalian tahu dari aliran mana yang akhir ini muncul seorang jago muda yang amat lihay sekali??"
Walaupun wajahnya masih amat murung tetapi nada ucapannya jauh lebih ramah. Si pengemis pemabok yang selalu menaruh curiga terhadap diri Liem Tou mendadak bertanya.
"Bagaimana dandanan orang ini, dan bagaimana wajahnya?"
Entah mengapa setelah mendengar perkataan dari si pengemis pemabok ini mendadak air muka gadis berbaju hitam itu berubah menjadi merah lalu dengan cepat cepat meloncat keatas pohon dan berlalu deraan tergesa gesa.
Tidak terasa lagi keenam orang itu dibuat kebingungan dan saling pandang memandang tak mengucapkan sepatah katapun.
Waktu itu cuaca sudah hampir mendekati terang tanah, Thiat Sie sianseng segera menjura ke arah Ciat Siauw Thaysu serta Heng san jie Yu, ujarnya.
"Kalian bertiga harus cepat cepat datang ke Bu tong pay untuk menyelesaikan urusan ini, atas hal ini kami tidak akan melupakan budi tersebut. Ini hari kami bertiga sudah menjelaskan semua kejadian, maaf kami masih ada urusan yang harus diselesaikan dan harus berpisah, selamat tinggal.
"Untuk mencari si penjahat naga merah pada bulan lima tinggal lima di atas puncak pertama Ciang Jan kalian pasti bisa bertemu sambung si siucay buntung dengan cepat"
Selesai berkata bersama sama dengan Thiat Sie sianseng serta si pengemis pemabok dengan cepatnya berkelebat melewati hutan.
Kita balik kembali pada diri Liem Tou kiranya yang berteriak memuji kebebatan dari tenaga dalam Touw Hong itu perempuan tunggal. Sejak semula dia orang sudah melihat munculnya seorang perempuan tunggal Touw Hong disana dikarenakan dirinya besembunyi di antara pepohonan yang amat lebat karenanya dia tidak sampai diketahui oleh Touw Hong, tetapi ilmu meringankan tubuh yang di perlihatkan olehnya cukup membuat Liem Tou merasa terperanjat.
Akhirnya ketika enam orang itu kembali ke dalam kuil dan berdiri termangu mangu didepan meja batu, Touw Hoog pun turut masuk ke dalam.
Liem Tou segera membuntuti dari belakang, dia mengambil keputusan untuk menemui orang ini.
Tetapi ketika matanya tertumbuk dengan medali yang tergantung di depan dada gadis itu hatinya menjadi bergerak kembali pikirnya.
"Medali perak yang tergantung di depan dadanya mirip sekali dengan medali yang tergantung didepan perempuan di mana tersembunyinya kitab pusaka To Kong Pit Liok apa di antara mereka ada hubungan antara satu dengan lainnya?"
Berpikir akan hal itu dia segera memancing keluar untuk membuktikan pikirannya ini, siapa tahu sifat dari Touw Hong agak congkak sedang Liem Tou pun ingin menjajal kepandaiannya sehingga begitu bertemu dengan mereka sudah saling bertempur dengan amat serunya.
Sejak berhasil mempelajari kitab pusaka To Kong Pit Liok boleh dikata untuk pertama kali Liem Tou bertemu dengan musuh tangguh.
Sebaliknya Touw Hong merasa keheranan, semakin bertempur hatinya semakin terperanjat, akhirnya Liem Tou yang mendengar Tiong goan Sam Koay sudah pada berdatangan dia cepat cepat berkelebat pergi dari sana, sembari berlari dia berseru dangan perlahan
"Ini hari bisa bertemu dengan nona, cayhe betul betul merasa bangga sekali"
Mendadak Liem Tou meloncat ke samping menuding ke arah medali perak yang ada di dadanya, baru saja mau bertanya tiba tiba suatu pikiran berkelebat lagi di dalam benaknya pikirnya.
Saat ini aku masih ada urusan yang harus diselesaikan, jikalau aku menceritakan kepadanya kalau akupun mempunyai medali seperti itu, hal ini tentu akan mendatangkan kerepotan saja, lebih baik untuk sementara waktu jangan membicarakannya dulu.
Sebetulnya si gadis berbaju hitam itu melihat ketampanan wajah Liem Tou dari dalam hatinya sudah muncul suatu perasaan yang sangat aneh sekali, kini melibat dia orang menuding kearah medali perak yang tergantung didepan dadanya senyuman segera menyusuri bibirnya sambil menunggu ucapan selanjutnya dari dia orang siapa tahu Liem Tou bukannya membicarakan hal ini sebaliknya berkata.
Kepandaian dari nona, cauhe sudah menjajalnya, jika ada kesenangan jangan sampai lupa pada bulan lima tanggal lima di atas puncak pertama gunung Cing Jan.
Selesai berkata dia segera putar badannya meninggalkan hutan tersebut.
Si gadis berbaju hitam yang melihat Liem Tou lari pergi bahkan sampai namanya pun dia tidak tahu, pikirannya dengan cepat berputar, tubuhnya pun ikut berkelebat ke depan Liem Tou menghalangi perjalanannya.
"Hey siapa namamu?" tanyanya.
Mendadak air mukanya berubah merah sambil tundukkan kepalanya dia berganti bahan pembicaraan, tanyanya lagi.
'Kepandaian silat dari Kongcu amat dahsyat sekali, dapatkah aku orang mengetahui asal usul perguruanmu?"
Melihat sikapnya itu diam diam Liem Tou berpikir didalam hatinya.
Hmmm . . . sombong ... aku mau lihat kau bisa sombong seperti apa, ini hari aku akan membuat kau orang tidak dapat sombong lagi sehingga tidak lagi terlalu memandang rendah orang lain.
Berpikir sampai disini dia segera melirik sekejap kearah Touw Hong dengan pandangan dingin, tiba tiba dengan menggunakan gerakan sah cap lak Thian Kang Poh Hoat dia berkelebat melewati diri Touw Hong lalu dengan lang kah lebar berjalan keluar dari hutan tersebut.
Tindakannya ini benar benar diluar dugaan Touw Hong, dia berdiri termangu mangu di sana lama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun juga.
Tidak lama kemudian Tionggoan Sam Koay pun pada berdatangan kemudian dia munculkan dirinya seperti apa yang terjadi diatas.
Kini kita berbalik kembali pada Liem Tou yang berjalan keluar dari hutan lalu berangkat menuju ke kota Tang Yang.
Sewaktu tiba di kota tersebut hari sudah menunjukkan tengah malam, suasana di dalam kota amat sunyi sekali bahkan kelihatan sangat mencurigakan sekali, hatinya menjadi keheranan, dengan tergesa gesa dia berlari menuji ke rumah penginapannya.
Saat ini ilmu meringankan tubuhnya sudah mencapai pada taraf kesempurnaan, hanya di dalam sekejap saja dia sudah tiba di depan pintu rumah penginapan tersebut, saat ini pintu rumah sudah tertutup tetapi dari balik kamar terdengar suara dengus kerbaunya yang amat keras.
Kau binatang aku mau melibat bisa berbuat ganas lagi tidak? keganasanmu yang terdahulu kini berada dimana semua?"
Disusul suara cambuknya yang amat keras sekali berkumandang tak henti hentinya dari dalam kamar.
Liem Tou segera mengetahui tentu urusan sudah terjadi perubahan telapak tangannya dengan cepat kirim satu pukulaa menghajar ke atas pintu membuat papan itu terpukul hancur berantakan, terlihatlah olehnya dua orang lelaki berbaju singsat sedang mencambuki kerbaunya yang rubuh di atas tanah di balik pintu itu.
Melihat kejadian itu Liem Tou menjadi amat gusar sekali, dengan cepat dia membentak keras, tangannya segera bergerak dan segera terdengar suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati,tubuh orang itu sudah kena hajar sehingga darah segar muncrat keluar dari mulutnya.
Dia orang tidak mau berdiam sampai di situ saja tangan kirinya berbareng mengirim lagi satu pukulan gencar menghajar lelaki yang satunya lagi.
Mendadak pikirannya bergerak, serangan telapaknya dengan cepat diubah menjadi serangan totokan menotok jalan darah Sian Khiei di atas tubuh lelaki itu, seketika itu juga lelaki itu rubuh jatuh ke atas tanah dan lemes, tetapi tidak sampai membahayakan jiwanya.
Liem Tou mau memeriksa kerbaunya lebih dulu, tampak bayangan hijau berkelebat dia melayang masuk ke dalam kamar, karena di dalam hati dia merasa amat kuatir terhadap keselamatan dari gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie.
Ie cici. ..Wan moay moay. . .teriak berulang kali.
Tetapi tidak terdengar suara jawaban suasana amat sunyi sekali.
Hal ini semakin membuat hatinya cemas dengan cepat dia mendorong pintu kamarnya dan melongok masuk, di dalam kamar tidak tampak adanya sesosok bayangan manusiapun dia menjadi tertegun, tetapi sebentar kemudian dia sadar kembali dan meloncat naik ke atas atap.
Suasana disekeliling tempat itu sunyi senyap tidak terdengar sedikit suarapun mana tampak adanya bayangan manusia?"
Dari cemas hatinya semakin lama berubah semakin gusar, diam diam pikirnya lagi
Aku Liem Tou sungguh merasa malu sudah memiliki ilmu silat yang tinggi, ternyata Ie cici serta Wan moay moay pun tidak bisa dijaga keselamatannya, jika dilihat dari kerbauku yang dicambuki orang lain jelas Ie cici serta Wan moay moay sudah menemui bencana.
Berpikir sampai disini hatinya merasa semakin gemas lagi. dia orang tidak seharusnya meninggalkan rumah penginapan itu sewaktu Ie cicinya sedang terluka sehingga kesempatan ini digunakan oiang lain untuk melancarkan serangannya.
Di dalam sekejap saja hatinya terasa amat bingung sekali, mendadak dia teringat kembali lelaki yang tertotok olehnya tadi dengan cepat tubuhnya melayang turun kembali ke dalam ruangan dan mengurut punggungnya untuk menyadarkan kembali dirinya.
Dengan perlahan lelaki itu pentangkan mata nya kembali, Liem Tou tidak dapat menahan sabar lagi dia segera membentak.
"Ayoh cepat bilang . . ayoh cepat bilang, aku segera berikan jalan hidup buat dirimu."
Di dalam keadaan bingung dia sudah berbicara tanpa ujung pangkalnya membuat lelaki itu merasa kebingungan, apa lagi lelaki itupun baru saja sadar dari pingsannya, kepalanya masih terasa pening sehingga apa yang dibicarakan oleh Liem Tou pun tidak begitu jelas didengarnya.
Mendadak dia jatuhkan diri berlutut dan mengangguk anggukkan kepalanya tak henti hentinya.
Liem Tou semakin marah, dengan cepat dia cengkeram ujung bajunya.
Siapa yang suruh kau berlutut? bentaknya dengan gusar. Aku suruh kau cepat beritahu padaku Ie cici serta Wan moay moayku sudah kalian bawa kemana? kalian bajingan bajingan berasal dari mana? ayoh cepat jawab.
"Baik.. baik aku jawab, aku jawab, harap Siau Hiap ampuni jiwaku" seru lelaki tersebut dengan gemetar.
Liem Tou segera melepaskan cengkeramannya.
Asalkan kau mau berbicara aku sudah tentu akan beri satu jalan hidup buat dirimu ujarnya cepat. Tetapi bilamana omonganmu bohong, kawanmu itulah suatu contoh yang paling bagus buatmu.
Mendengar perkataan tersebut lelaki berbaju singsat itu baru sedikit lega bati.
Untuk membalas dendam terbunuhnya putri tercintanya Ong Bo sudah menawan kedua orang pendekar perempuan itu sahutnya.
Mendengar perkataan itu Liem Tou menjadi benar benar terperanjat sehingga kepalanya terasa pening sekali teriaknya.
"Si pengemis busuk itu sudah seharusnya mati, jika mau membalas dendam balaslah dengan aku Liem Tou apa hubungannya urusan ini dengan Ie cici serta Wan moay moay ?"
Ie cici serta Wan moay moay merupakan murid yang paling lihay dari si cangkul pualam Lie Sang, bagaimana mungkin Oog Bo serta perempuan berbaju hijau itu berhasil menawannya apalagi Wan moay moay sudah memperoleh seluruh Kepandaian silat dari ayahnya, sekalipun terjadi pertempuran sengit tidak seharusnya Auw Hay Ong Bo bisa begitu mudahnya berhasil menawan mereka.
Berpikir akan hal ini dia segera membentak lagi.
"Siapa yang sudah datang ke mari ??" ayoh cepat jawab.
Si jari beracun jarum emas Song Beng Lan si hweesio rase salju, pengemis liar, hweesio mayat hidup dan pembesar buta.
Mendengar disebutnya si hweesio mayat hidup serta pembesar buta tidak terasa lagi Liem Tou menjadi kaget.
Apa si hweesio mayat hidup serta pembesar buta juga ikut datang? ? teriaknya.
Lelaki berbaju singsat itu mengangguk.
Pikiran Liem Tou dengan cepat berputar, sekalipun ada hweesio mayat hidup serta pembesar buta belum tentu si gadis cantik pengangon kambing bisa tertawan dengan begitu mudahnya, dia teringat kembali akan si perempuan tunggal Touw Hong kembali.
Dari perkataan Ciat Siauw thaysu tadi dia tahu perempuan itu sudah punya hubungan dengan pihak Kiem Thien pay, jika perempuan ini pun ikut datang maka ada kemungkinan si gadis cantik pengangon kambing berhasil mereka tawan.
Karenanya dia bertanya kembali.
Aku dengar dari pihak Kiem Thian pay ada seseorang yang bernama perempuan tunggal Touw Hong, apa diapun ikut datang kemari?
Agaknya lelaki berbaju singsat itu amat takut sekali mendengar disebutnya nama itu, seketika itu juga dia orang memandang diri Liem Tou dengan melongo, lama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun.
Liem Tou yang melihat perubahan wajahnya ini didalam hati segera sudah menduga beberapa bagian, karenanya dia mendesak lebih lanjut.
Akhirnya lelaki tersebut mengangguk, dalam hati Liem Tou semakin menyesal lagi, dia tidak seharusnya menghabiskan waktu setengah harian di tengah jalan, kalau tidak mungkin dia masih bisa memberi pertolongan kepada mereka.
Sekarang dia terpaksa menanyakan tempat tinggal dari si perempuan tunggal Touw Hong serta Au Hay Ong sekalian dan berusaha untuk menolong kedua orang itu lolos dari cengkeraman musuh.
"Hey sekarang mereka berada di mana? cepat beritahu kepadaku dan pimpin aku kesana" perintahnya kemudian setelah berpikir sebentar.
Sekalipun pada mulutnya lelaki itu terus menerus memberi jawaban terhadap pertanyaan pertanyaan yang diajukan oleh Liem Tou tapi di dalam hatinya dia sedang berpikir bagaimana caranya untuk meloloskan diri dari sana.
Kini sewaktu didengar Liem Tou sedang menanyakan tempat tinggal dari si perempuan tunggal Touw Hong sedang Auw Yang Ong sekalian menyuruh dia orang pimpin jalan, dalam hati merasa amat girang sekali.
Hmm, cuma mengandalkan kau seorang saja mau pergi ke sana? pikirnya didalam hati. Bukankah sama saja pergi menghantarkan kematiam buat dirimu sediri? aku beritahu kepadamu juga tidak ada halangannya apalagi aku yang menunjukkan tempat itu, setelah sampai di sana tentu aku bisa meloloskan diri.
Tanpa berpikir panjang lelaki itu segera menjawab.
Mereka berdiam tidak jauh dari sini, kurang lebih sepuluh li dari pintu sebelah timur tempat itu bernama . ..
Belum habis dia berbicara mendadak Liem Tou dapat mendengar desiran senjata yang berkelebat menyampok angin mengancam tubuh mereka berdua, dengan cepat tubuhnya berputar ke belakang.
Tampaklah segerombolan sinar yang sangat menyilaukan mata dengan amat cepatnya melanda datang, dia segera membentak keras.
"Kawanan tikus sungguh berani perbuatan kalian."
Telapak tangannya segera didorong ke depan melancarkan satu pukulan dahsyat menghajar ke atas senjata rahasia yang menghantam tubuh mereka.
Sekalipun begitu dikarenakan halusnya jarum jarum emas itu ditambah lagi disebar dalam jumlah yang amat banyak sekali dengan menggunakan cara Man Thian Hoa Yu atau seluruh angkasa penuh dengan bunga hujan, dimana angin pukulan Liem Tou berkelebat walaupun berhasil membebaskan dirinya dari bahaya tetapi si lelaki itu tak dapat terhindar lagi dari serangan tersebut.
"Aaaaaaadddduuuh . ..."
Disertai dengan suara teriakan yang amat keras tubuhnya roboh terjengkang ke belakang.
Dalam hati Liem Tou sedang merasa cemas untuk mengetahui tempat si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie ditawan, terhadap orang yang melancarkan serangan bokongan itu dia orang tidak mengambil perduli lagi, dengan terburu buru dia menarik tubuh lelaki itu sambil tanyanya dengan suara yang keras.
"Mereka berada di tempat mana, cepat katakan."
Lelaki yang bersandar di tangan Liem Tou itu memejamkan sepasang matanya erat erat untuk sesaat lamanya dia tak sanggup untuk mengucapkan sepatah katapun.
Liem Tou lantas tundukkan kepalanya memeriksa, tampaklah di atas badannya sudah terkena delapan, sembilan jarum emas yang menancap pada jalan jalan darah terpenting, tidak terasa lagi dia menghela napas.
Sewaktu diperiksa ternyata orang itu belum menemui ajalnya, tetapi kenapa dia tidak mau bicara.
Liem Tou memeriksa keadaannya lebih teliti lagi, akhirnya dia menemukan juga sebabnya.
Kiranya pada jalan darah bisu di atas tenggorokannyapun sudah tertancap sebatang jarum emas sehingga membuat dia orang tidak dapat berbicara.
Dengan cepat Liem Tou mencabut jarum tersebut, waktu itulah di dalam benaknya mendadak berkelebat satu ingatan, dia merasa orang yang baru saja melancarkan serangan bokongan dengan menggunakan senjata jarum emas ini adalah perbuatan dari si jari beracun jarum emas Song Beng Lan dari Kiem Thien Pay, tak terasa lagi hatinya jadi merasa amat gemas sekali.
Orang ini sungguh amat kejam dan ganas sekali pikirnya apalagi merupakan seorang penja hat pemetik bunga yang sudah terkenal, nanti jikalau aku bertemu kembali dengan dirinya tentu dirinya tidak aku lepaskan kembali.
Kepada si lelaki yang terluka itu dia berkata: "Orang yang melukai kau orang adalah si jari beracun jarum emas Song Beng Lam, kau tahu tidak ?"
Air muka lelaki itu sudah berubah menjadi pucat kehijau hijauan agaknya dia sedang menahan rasa sakit yang amat sangat di dalam tubuhnya, mendengar perkataan tersebut dia mengangguk.
Kalau begitu beritahukanlah kepadaku tempat mereka untuk membalas dendam, sera Liem Tou dengan cepat.
Dari tenggorokan orang itu segera terdengarlah suara yang amat serak sekali disusul matanya dipentangkaa lebar lebar.
Liem Tou yang melihat wajahnya sudah mulai berkerut dia tahu orang tersebut sudah dekat masa ajalnya hal ini membuat batinya semakin cemas lagi.
Cepat katakanlah, cepat katakan! Aku akan pergi cari mereka untuk membalaskan dendanmu.
Akhirnya lelaki itu memejamkan matanya kembali. Sebelum dia orang mengucapkan sepatah katapun dari tenggorokannya kembali terdengar suara yang serak dan keras, sebentar kemudian orang itu sudah menemui ajalnya.
Liem Tou merasa sangat kecewa sekali, mendadak dia mengangkat mayat dan lelaki itu lantas dilemparkan ke atas.
Seketika itu juga mayat tersebut melayang sejauh dua kaki lebih lantas jatuh ke atas tanah dengan amat kerasnya, kepalanya hancur berantakan darah bercampur otak berceceran diatas tanah.
Liem Tou yang usianya masih amat muda apa lagi pengalamannya di dunia kangouwpun masih amat cetek, karena terjadinya perubahan ini segera membuat hatinya amat sedih sekali sehingga dia dibuat termangu mangu beberapa saat lama nya. Saking terpesonanya sampai kerbaunya yang merintih teruspun tidak digubris.
Mendadak dari sepasang matanya memancarkan sinar yang amat aneh sekali ujung kakinya segera menutul permukaan tanah dan meloncat ke atas wuwungan rumah.
Kiranya di atas tembok sebelah atas dia sudah menemukan satu tanda gambar ular merah dengan amat jelasnya, Liem Tou yang melihat munculnya tanda ular merah di sana segera merasakan hatinya amat kaget gumamnya seorang diri.
Apa mungkin si penjahat naga merah sudah datang kemari?? atau mungkin pihak Kiem Thien Pay yang sudah memalsukan tanda dari si penjahat naga merah ini?? perbuatannya ini sungguh membuat orang merasa agak bingung.
Hampir selama setengah harian lamanya dia berpikir keras keras tetapi tidak mendapatkan jawabannya juga, akhirnya dia melepaskan pemikirannya itu untuk memeriksa keadaan luka dari kerbaunya.
Tampaklah seluruh kerbau itu sudah tersayat sayat sehingga hancur dan mengalirkan darah amat banyak sekali, tetapi lukanya tidak lebih cuma luka luar yang tidak membahayakan jiwanya hanya saja luka dalamnya yang terdahulu kini kambuh lagi membuat ia agak sedikit tidak tahan.
Terpaksa Liem Tou mengeluarkan kembali tali obat peninggalan dari Hek Loo toa itu untuk diberikan seutas kepada kerbaunya lantas merawatnya dengan teliti
Saat ini pemilik rumah penginapan pelayan maupun para tetamu yang menginap disana pada tidak kelihatan semua, hatinya agak ragu ragu, pikirnya.
Menurut keadaan biasanya dimana tanda ular merah itu muncul manusia maupun binatang tidak ada yang tertinggal, kerbauku ini bisa tetap hidup boleh dikata amat untung sekali. Tetapi si pelayan serta pemilik rumah penginapan ini sudah pergi kemana? apa mereka sudah menemui bencana?? kenapa tak seorangpun yang kelihatan.
Berpikir sampai disitu dia segera mengadakan pemeriksaan di sekeliling rumah penginapan itu, ternyata dugaannya sedikitpun tidak salah.
Di dalam sebuah kamar dia menemukan pemilik rumah penginapan dan pelayan pelayannya sudah menggeletak diatas tanah dan darahnya berceceran di seluruh lantai, keadaannya amat mengerikan sekali.
Melihat keadaan ini Liem Tou benar benar merasa amat gusar, dengan cepat dia angkat sumpah dengan menghadap dinding.
"Aku Liem Tou jika tidak berbasil menyelidiki pembunuhan malam ini dan menghancurkannya aku sumpah tidak akan jadi manusia"
Saat itupun dia teringat kembali atas keselamatan atas gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie dengan tergesa gesa dia berjalan keluar dari ruman peaginapan itu tanpa memperdulikan lagi kerbau itu yang masih terluka dia segera mengangkat sang kerbau di pundak dan berjalan keluar dari tempat itu.
Untung saja keadaan di seluruh kota Tang Yang amat sepi sekali, agaknya mereka takut dimasuki pencuri sehingga rumah rumah tertutup dengan amat rapatnya. Suasana di tengah jalan amat sunyi sekali tak terlihat seorang manusiapun yang berjalan di tengah jalan kalau tidak dengan perbuatan dari Liem Tou yang menggendong seekor kerbau seberat tiga ratus kati tentu akan menggemparkan seluruh kota.
Ditengah perjalanan tiba tiba Liem Tou teringat kembali dengan kata kata dari lelaki itu dia segera mengambil jalan keluar menuju ke kota sebelah timur.
Tidak lama kemudian pintu kota sudah tampak di depan mata, pintu masih tertutup rapat cuma saja tak kelihatan ada penjaganya.
Liem Tou tidak ambil perduli lagi dengan menggendong kerbaunya dia melewati tembok kota dan melanjutkan perjalanannya ke arah depan.
Sesampainya ditepi sebuah sungai yang tidak dikenal dia segera meletakkan kerbaunya ke atas tanah dan dengan telitinya membersihkan tubuhnya dari bekas darah, lalu gumamnya lagi:
"Aku mau menyembuhkan dulu luka dalam dari Gouw koko lantas baru pergi menyelidiki keadaan dari Ie cici serta Wan moay moay"
Ditengah malam yang buta kelihatan sekali keadaan dari Liem Tou amat menyedihkan sekali, kerbaunya yang ada di samping dengan mata penuh terharu melirik sekejap ke arahnya, agaknya sang kerbau tahu kalau majikannya sedang murung.
Setelah semuanya selesai dengan perlahan Liem Tou duduk bersila dan mulai mengatur pernapasan hawa murninya dengan perlahan di salurkan dari pusar menuju ke sepasang telapak tangannya lantas disalurkan ke perut kerbau itu dengan mengikuti jalan darahnya.
Haruslah diketahui urat urat dan jalan darah yang ada di badan binatang sekalipun berbeda dengan manusia tetapi yang dimaksud delapan nadi denggan dua belas kunci kehidupan tak ada bedanya dengan manusia, sehingga dengan demikian Liem Tou pun dengan lancar dapat menyembuhkan kerbaunya.
Kurang lebih sepertanak nasi kemudian kerbau itu mulai mengangkat kepalanya dan mendengus rendah, saat itulah Liem Tou baru bisa menghembuskan napas lega dan menyeka keringat yang membasahi jidatnya.
Sekali dia pejamkan matanya untuk pulihkan kembali tenaganya lantas baru bangkit berdiri.
Saat itu sang kerbau yang sudah bangkit berdiri dan dengan tenangya sedang makan rumput.
Liem Tou segera menepuk nepuk pundaknya dan tertawa pahit.
Engko kerbau, ujarnya perlahan. Kali ini kau tentunya merasa sedikit menderita bukan ayoh pergilah ke sana dan makanlah rumput sampai kenyang.
Agaknya kerbau itu mengerti perkataan manusia, dia segera mengangguk angguk kepada Liem Tou dan dengan tenangnya pergi makan rumput disamping sungai.
Liem Tou vang melihat kerbaunya begitu penurut tanpa terasa dia semakin menaruh rasa sayang lagi kepadanya, diapun duduk di tepi sungai melihat dia makan rumput.
Terhadap keselamatan si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie di dalam hatinya Liem Ton merasa amat kuatir sekali, lewat beberapa saat kemudian dia benar benar tidak bisa bersabar lagi, kepada kerbaunya dia segera berseru.
Engko kerbau ayoh jalan, orang itu bilang Ie cici serta Wan moay moay ada di suatu tempat sepuluh li dari kota Tang Yang, mari kita ke sana dengan menyeberangi sungai ini.
Walaupun kepandaian silat dari Liem Tou pada saat ini amat tinggi sekali tetapi karena adanya perubahan yang memukul hatinya membuat keadaannya pada saat ini sudah berubah kembali seperti setahun yang lalu, dia orang yang mengajak kerbaunya berbicara sebetulnya adalah suatu pekerjaan yang amat bodoh sekali tetapi dikarenakan sifatnya yang amat peramah apalagi dengan pembicaraan ini dia ingin mencari satu semangat baru di dalam hatinya, maka dia tidak mau perduli atas kesalahannya ini.
Dengan menuntun kerbaunya Liem Tou menyeberangi sungai tersebut, setelah sampai di tepi seberang dia melihat badan sang kerbau amat besar segera di dalam pikirannya segera berkelebat kembali akan satu ingatan.
Gumamnya lagi seorang diri.
Jika dilihat dari keadaannya dia harus dicarikan satu tempat persembunyian yang aman agar bisa istirahat untuk beberapa saat lamanya.
Berpikir akan hal ini Liem Ton segera memandang ke sekeliling tempat itu, dia mencoba memeriksa apakah disekeliling tempat ini ada rumah petani atau tidak.
Dengan mengikuti aliran sungai itu akhirnya dia bisa melihat banyaknya sawah yang tersebar di sana, dengan melalui antara sawah sawah itu terlihatlah satu jalan kecil yang menghubungkan tempat itu dengan dua tiga rumah para kaum petani.
Liem Tou segera menuntun kerbaunya mengikuti jalan tersebut menuju kerumah itu.
Sesampainya di depan pintu rumah, dia orang melihat baik jendela maupun pintunya masih tertutup rapat rapat, dia tahu tenntunya pemilik rumah itu masih tidur deagan nyenyak untuk mengganggu dia merasa tidak eaak, untuk pergi dari sana diapun tidak ingin, hatinya benar benar merasa bingung.
Pada saat dia merasa serba susah itulah mendadak seorang petani muncul keluar dan dua ekor anjing dari dalam rumah itu yang menggonggong tiada hentinya, apalagi setelah dilihatnya ada kerbau disana suara gonggongannya semakin mengeras bahkan tubuhnya siap siap untuk menubruk ke arah sang kerbau.
Kerbau itu agaknya juga dibuat marah oleh keganasan sang anjing, diapun mendengus tak ada hentinya.
Liem Tou takut kerbaunya menjadi marah dengan adanya kejadian itu sehingga menunjukkan kembali sifat binatangnya dia segera menepuk nepuk pundaknya.
"Bersabarlah sebentar, mereka takkan dapat mengganggu dirimu" serunya perlahan.
Kedua ekor anjing itu melibat sang kerbau tak menunjukkan perlawanan suara menggonggongnya semakin keras lagi membuat Liem Tou yaag ada disampingnyapun menjadi rada jengkel.
"Kalian dua ekor binatang yang tidak ber biji mata, cepat megggelinding dari sini" bentaknya dengan gusar.
Sambil berkata dia angkat telapaknya siap melancarkan satu pukulan.
Pada saat itulah dari dalam rumah petani itu tampak berkelebatnya sinar terang disusul suara seseorang sedang bertanya.
"Siapa yang ada di luar rumah di tengah malam buta ini ?"
Liem Tou yang mendengar ada orang yang sudah bangun hatinya merasa girang sekali, tubuhnya dengan cepat melayang mendekati pintu tersebut.
Tanpa terasa pintu itu dengan perlahan-lahan dibuka dan muncullah seorang petani tua yang berdandanan sangat sederhana sekali dengan membawa sebuah lampu minyak, dengan me-ngedipngedipkan matanya yang baru saja bangun dari tidur dia memandang ke arah diri Liem Tou, jelas dari air mukanya memperliihatkan rasa keheranan.
Kerena temanku sakit sacara tiba tiba entah bolehkah paman memberi satu tempat buat dia buat menginap selama beberapa hari.
Si petani yang melihat dandanan Liem Tou sangat polos dan tidak mirip dengan penjahat ia segera mengangguk.
Orang melakukan perjalanan ditempat luaran tidak akan terhindar dari kemalangan, cuma saja tempatku amat kotor dan kalau hujan bocor entah kau orang bisa menempati tidak, jawabnya dengan halus.
Liem Tou yang mendengar petani itu sudah menyanggupi dalam hati merasa sangat berterima kasih sekali, sekali lagi dia menjura memberi hormat.
"Kau orang tidak usah banyak berlaku adat, seru petani itu mencegah. Silahkan kawanmu itu masuk untuk beristirahat."
Liem Tou segera menggape ke arah kerbaunya itu. dan kerbau dengan langkah yang amat perlahan lantas berjalan mendekat.
Melihat kejadian itu si petani tersebut menjadi kaget, dia menjerit tertahan.
"Aaah . . . apakah dia kawan karib yang kongcu katakan tadi?" tanyanya keheranan.
"Benar" sahut Liem Tou mengangguk.
Tidak terasa lagi petani tua itu memperhatikan diri Liem Tou beberapa saat lamanya, melihat dia orang memakai jubah panjang yang terbuat dari sutera dengan sebuah kain pengikat kepala yang terbuat dari sutera pula jelas merupakan seorang si siucay dari kalangan kaya, bagaimana dia bisa bergaul dengan seekor kerbau?? tidak terasa lagi perasaan curiga mulai menyelimuti dirinya.
Mendadak matanya melotot lebar lantas bentaknya keras.
"Silahkan kau orang pergi mencari tempat lain saja, aku disini tidak mau menerima kau orang yang sudah banyak melakukan kejahatan"
Selesai berkata dia putar badan dan menutup pintu rumahnya kembali.
Liem Tou yang melihat petani itu berubah sikap, dia segera tahu kalau dia orang sudah salah paham.
Loo pek tunggu dulu. Serunya dengan cepat. Biarlah cayhe jelaskan terlebih dulu nanti Loo pek baru tutup pintu kembali. cayhe tahu Loo pek tentu sudah salah paham dan menganggap kerbau ini datangnya tidak jujur. Terus terang saja ini kerbau sudah mengikuti diriku selama satu tahun lamanya dan merupakan kawan karib dari cayhe.
Harap Loo pek jangan salah paham karena cayhe ada urusan penting yang harus dikerjakan sedang kerbau inipun sedang sakit maka terpaksa aku datang kemari harap Loo pek mau menerimanya.
Sembari berkata dari dalam sakunya dia mengambil keluar dua butir mutiara yang memancarkan sinar berkilauan lantas diangsurkan ke depan.
Sedikit hadiah harap Loo pak mau menerimanya ujarnya lagi, tentu hal ini bisa membuyarkan rasa curiga di hati Loo pek karena dengan kedua mutiara ini barganya ratusan kali lipat lebih mahal dari kerbau ini, ini hari cayhe mau memberikan barang ini kepada diri Loo pek tentunya kau orang bisa tahu bukan kalau cayhe bukanlah orang jahat.
Si petani yang melihat di tangan Liem Tou ada dua butir mutiara yang amat berharga sekali bahkan memancarkan sinar yang berkilauan dia segera tahu kalau perkataannya sedikiipun tidak bohong, pikirnya.
Di tangannya ada mutiara yang begitu berharga buat apa dia pergi mencuri seekor kerbau? kelihatannya apa yang diucapkannya sedikit pun tidak salah, hanya salah aku terlalu banyak curiga saja.
Berpikir sampai disini dia segera mengangguk dan minta maaf kepada diri Liem Tou, tetapi bagaimanapun juga dia tidak mau menerima pemberian dari Liem Tou sebaliknya Liem Tou pun tetap ngotot mau petani itu menerima kedua butir mutiara tersebut, akhirnya petani tua itu terdesak dan menerimanya.
Saking girangnya tidak kuasa lagi titik titik air mata menetes keluar, karena selama dia bekerja bertani sampai saat ini belum pernah mendapatkan hasil seharga dua butir mutiara tersebut.
Liem Tou melihat urusan sudah selesai dia baru menjura kembali kepada petani itu untuk memberi hormat.
Setelah urusan cayhe selesai dikerjakan aku orang baru kemari lagi, semua urusan harap Look pek suka menguruskannya.
Kepada kerbau itu diapun menepuk nepuk pundaknya.
Engkoh kerbau ujarnya. Kau berdiamlah secara tenang tenang beberapa hari di sini kau jangan melukai orang, beberapa hari kemudian aku akan kembali lagi kesini.
Selesai berkata dia sengaja memperlihatkan kepandaiannya di hadapan petani itu agar dia baik baik merawat kerbaunya, tangannya segera digapaikan sambil berseru.
"Loo pek. ..".
Belum selesai berkata tubuhnya dengan cepat berkelebat dan meloncat setinggi satu dua puluh kaki tingginya dan melanjutkan kembali kata katanya dari udara.
"Cayhe pergi dulu".
Sekali lagi tubuhnya berjumpalitan di tengah udara lalu berkelebat ke depan lenyap di tengah kegelapan.
Dengan kejadian itu si petani tua yang jujur itu segera menganggapnya sebagai dewa yang sudah turun dari kahyangan, saking terkejut dan girangnya dia cepat cepat memanggil bangun seluruh keluarganya dan berlutut didepan pintu untuk bersembahyang ke atas langit, bersamaan pula mereka menganggap kerbau itu sebagai malaikat yang sakti.
Kita balik pada Liem Tou setelah meninggalkan rumah petani itu, saat ini pikirannya benar benar butek dan kuatir sekali atas keselamatan si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie, dengan cepat dia mengeluarkan ilmu meringankan tubuhnya dan dengan cepatnya berkelebat di tengah malam buta.
Hanya di dalam sekejap saja puluhan li sudah dilewati dengan amat cepatnya, sebentar kemudian dia sudah berada di depan sebuah dusun yang amat besar.
Melihat hal itu diam diam dalam hati berpikir. Perkataan dari lelaki itu apa mungkin mengartikan tempat ini??"
Berpikir akan hal ini tubuhnya dengan cepat meloncat naik ke atas atap rumah dan memeriksa di seluruh keadaan desa itu tampaklah tubuhnya dengan amat cepatnya melayang dan meloncat di atas ratusan rumah itu.
Kurang lebih seperminuman teh kemudian dia sudah memeriksa hampir sebanyak tiga kali di seluruh perkampungan tersebut tapi tidak kelihatan juga tanda tanda yang mencurigakan.
Apa mungkin tidak berada disini ? ? apa di sebelah depan masih ada rumah ? pikirnya.
Dia segera meloncat turun kembali ke atas tanah dan melanjutkan larinya menuju ke arah depan.
Mendadak dari arah selatan ditempat kejauhan terlihatlah berkelebatnya sinar lampu yang amat terang sekali, Liem Tou tidak berpikir panjang lagi dengan cepat dia berlari menuju dimana berasalnya sinar terang itu.
Tidak lama kemudian dia sudah sampai disana, kiranya tempat itu bukan lain adalah sebuah halaman bangunan yang amat besar, dikarenakan pada mulanya dia tidak melihat adanya sinar lampu karenanya tidak sampai menemukan tempat tersebut
Dengan penemuannya ini dalam hati segera timbul berbagai pikiran.
Kalau cuma tempat ini saja kiranva tidak perlu membuang tenaga terlalu banyak untuk memasukinya. demikian pikirnya didalam hati.
Dengan cepat meloncat masuk melewati tembok halaman, tembok di balik halaman tersebut adalah sebuah halaman seluas sepuluh kaki persegi dengan di atasnya masih ditumbuhi rumput yang amat lebat amat. agaknya sudah lama sekali tidak pernah dilewati.
Liem Tou dengan cepat melewati kamar tersebut dan berhenti di depan sebuah pintu bangunan yang amat besar dan tertutup rapat, di atas pintu tampaklah dua buah kayu yang memantek pintu tersebut dengan bentuk silang dan pada waktu itulah Liem Tou baru tahu kalau tempat itu adalah sebuah bangunan rumah yang telah tak berpenghuni lagi dan membuat hatinya rada kecewa.
Tubuhnya dengan cepat meloncat naik ke atas dan memeriksa sekejap di sekeliling tempat itu melihat. Di dalam rumah sama sekali tak ada gerak gerik yang mencurigakan dengan hati yang kecewa dia meloncat turun kembali ke atas tanah.
Dia lantas meloncat keluar dari rumah itu dan melanjutkan perjalanannya menuju kearah depan, selama perjalanan ini keadaan disekelilinguya cuma ada pegunungan belaka dan akhirnya tibalah dia di di ujung dan tidak bisa dilalui lagi.
Liem Tou jadi merasa heran, pikirnya.
Apa mungkin orang orang Kiem Tnien Pay berdiam juga di dalam gua gua gunung seperti halnya diatas puncak Ngo Lian Hong?
jika didengar dari pembicaraan Thaysu dari Siauw lim pay itu agaknya berkembangnya pengaruh Kiem Tnien pay didaerah Tionggoan masih baru bisa saja terjadi tidak lama bagaimana mungkin dengan begitu cepatnya mereka sudah berhasil menggali gua? sebagai tempat tinggai?"
Walaupun Liem Tou tidak mau percaya terhadap apa yang dipikir di dalam hatinya itu tetapi dia mau tidak mau harus melakukan pemeriksaan juga di sekeliling pegunungan tersebutt. dia orang sudah mengambil keputusan bagaimanapun juga keadaannya dia harus mencari si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie sampai dapat.
Dengan cepat dia tarik napas panjang panjang dan salurkan hawa murninya mengelilingi tubuh, dengan amat cepatnya bagaikan berkelebatnya sinar kilat dia berlari naik ke atas gunung hingga mencapai pada puncaknya, dari sana dia memandang keempat penjuru tetapi tidak menemukan sesuatu apapun.
Saking gusarnya dia segera berlari seenak nya saja mengelilingi tempat itu, tetapi telah lama tidak menemukan sesuatu juga.
Saat ini waktu sudah menunjukkan kentongan keempat, terpaksa Liem Tou balik kembali ke perkampungan tadi untuk siap siap pada keesokan harinya bertanya kembali dengan penduduk disana apakah ada oraag asing yang mendatangi tempat tersebut.
"Kalau memangnya di tempat ini tidak ditinggali oleh orang orang asing maka sudah pasti perkataan dari lelaki itu adalah bohong, terpaksa dia orang harus pergi mencari ke tempat yang lain"
Kini tinggal satu kentongan lagi sebelon hari akan terang tanah, Liem Tou yang sudah berlari semalaman sekarang merasakan badannya amat lemah sekali, dia segera mencari pintu rumah yang rada bersih untuk beristirahat.
Karena lenyapnya si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie ditawan orang, dalam hati Liem Tou benar benar merasakan hatinya amat bingung sekali, sekalipun dia sudah bolak balik tapi tetap tidak bisa tidur juga.
Beberapa saat kemudian dia mulai merasakan matanya memberat, baru saja dia mau tertidur pulas tiba tiba .. ...
Suara Khiem yang amat merdu dengan halusnya mengalun memecahkan kesunyian, walaupun Liem Tou sama sekali tidak mengerti akan ilmu bunyi bunyian tetapi ditengah malam yang begitu sunyi mendadak berkumandang alunan Khiem, tak terasa lagi membuat hatinya merasa amat curiga sekali.
Aaah suara itu berasal dari mana? pikirnya. Terang terangan aku sudah memeriksa setiap rumah jangan dikata orang bermain Khiem sekalipun lampu jaga tidak kelihatan disulut, hal ini sungguh aneh sekali.
Berpikir sampai disitu dia segera menghubungkan peristiwa itu dengan orang orang dari Kiem Thien Pay, tidak terasa lagi semangatnya berkobar kembali dan meloncat dari atas tanah.
Tubuhnya dengan amat cepatnya lantas berlari menuju ke arah dimana berasalnya suara Khiem tersebut.
Tidak jauh dia meninggalkan perkampungan dia sudah bisa membedakan kalau suara Khiem itu mengalun keluar dari ruanah bangunan besar yang tak berpenghum itu Liem Toa semakin dibuat keheranan.
Dia teringat kalau bangunan besar itu sama sekali tidak berpenghuni, rumput tumbuh setinggi lutut pintu serta jendela terpantek kuat bahkan secara samar samar membawa keseraman yang mendirikan bulu roma. Bagaimana suara khiem tersebut bisa mengalun keluar dari tempat itu? Walaupun dia orang tidak percaya terhadap setan tak urung bulu romanya pada saat itu pada berdiri juga.
Tetapi dikarenakan urusan ini penting sekali dan mempunyai hubungan yang erat dengan lenyapnya si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie dengan cepat tubuhnya melanjutkan perjalanannya kembali menuju ke dalam rumah bangunan itu.
Sesampai di depan tembok halaman dia berhenti sebentar untuk mendengarkan dari mana berasalnya suara khiem tersebut, setelah benar yakin kalau suara tersebut berasal dari dalam bangunan tubuhnya baru melayang dengan cepatnya menuju ke arah dalam.
Siapa tahu baru saja dia tiba di depan halaman suara mengalunnya khiem mendadak berhenti sama sekali. Liem Tou jadi tertegun. Tetapi dengan cepatnya pula dia sudah berkelebat naik ke atas atap rumah lalu meluncur ke bangunan sebelah belakang.
Dengan tanpa mengeluarkan sedikit suarapun dia sudah ada di bangunan yang paling belakang di sana dia sudah menemukan sebuah kebun bunga yang amat besar sekali, ada gunungan, gardu, jembatan kolam teratai cuma saja keadaannya seperti juga di halaman depan sama sekali tidak terawat bahkan tidak tampak sesosok bayangan manusiapun.
Liem Tou segara meloncat naik ke atas gunungan dan berpikir bebarapa saat lamanya terhadap munculnya suara khiem yang secara mendadak itu dia merasa sangat tidak paham, sehingga hatinyapun terasa amat murung sekali.
Mendadak. . .dia menemukan di sebelah kiri dari kebun bunga itu terdapat serentetan tembok berwarna putih, di tengah tembok muncullah sebuah pintu berbentuk bulat, pikirannya segera menjadi tenang kembali.
Tubuhnya dengan cepat berkelebat menuju ke sana dia bisa melihat sebuah bangunan loteng yang amat indah sekali dengan ukiran yang menawan muncul dihadapannva, bangunan itu sangat megah dan di ke dua sampingnya tumbuh dengan sebuah pohon siong yang amat besar sekali, maka diam diam Liem Tou berpikir.
Tidak disangka ditempat yang demikian tidak terurusnya bisa muncul sebuah bangunan yang demikian indahnya, hal ini sungguh berada di luar dugaan.
Dia lantas meloncat naik keatas loteng dan memeriksa keadaan di sekitar tempat itu, tampak pintu serta jendela tertutup rapat, sama sekali tidak menemukan sesuatu apapun, dia meloncat pula ke atas pohon siong yang lebat itu dan memeriksa kembali dengan telitinya, tetapi tetap saja tidak tampak adanya tanda-tanda yang mencurigakan.
Jikalau ditinjau dari keadaan ini jelas sekali tempat ini suduh tak berpenghuni lagi, tidak di sangka dalam setengah malaman dia harus menubruk angin saja, sungguh menggelikan sekali.
Berpikir akan hal ini semangat Liem Tou pun mengendor kembali, dengan lemasnya dia meloncat turun kepermukaan tanah lalu kembali ke desa dengan langkah perlahan.
Sesampainya didusun sinar surya sudah muncul di ufuk sebelah barat, orang dusun pun sudah mulai bangun dan pada berangkat bekerja.
Liem Tou yang masih tetap menaruh curiga terhadap perkampungan tersebut kepada seorang petani yang hendak ke sawah dia menanyakan bangunan rumah itu.
Orang itu ketika mendengar Liem Tou menanyakan bangunan itu dia melirik sekejap ke arahnya lantas dengan tidak semangat sahutnya.
"Rumah setan."
Sewaktu Liem Tou hendak bertanya kembali orang itu tanpa menoleh lagi sudah melanjut kembali perjalanannya menuju ke depan.
Liem Tou tidak bisa berbuat apa apa lagi sesampainya di dalam dusun itu dia berjalan masuk ke sebuah rumah makan yang baru saja buka pintu.
Ketika pelayan rumah makan itu melibat Liem Tou berjalan masuk ke kedainye dengan agak tertegun dia segera bertanya.
"Khek koan kau datang sebegitu paginya kami tak ada barang yang bisa dijual."
"Tidak mengapa" sahut Liem Tou sambil tertawa. Aku mau menunggu sampai kalian ada makanan yang dijual.
Dia berhenti sebentar untuk tukar napas lalu tanyanya lagi.
"Dagangan dari kalian dalam waktu dekat ini tentunya ramai bukan ?"
Maksud Liem Tou dia ingin memancing jawaban dari pelayan itu apakah di tempat ini telah kedatangan orang asing.
Pelayan itu agak melengak.
Perkataan dari Khek koan terlalu berlebihan dagangan kedai kami sepi sekali bahkan boleh dikata pada waktu waktu dekat ini sama sekali tidak ada dagangan. . Heeei . . tahun ini dagangan sungguh amat sepi sekali.
Berbicara sampai disini dia menghela napas lagi dengan perlahan.
Eeei . . aku dengar pada beberapa hari ini ada banyak orang asing yang datang kemari dan menginap di bangunan rumah besar itu, apa kau tidak pernah mendengar? tiba tiba kata Liem Tou dengan wajah serius.
Mendengar perkataan tersebut, dengan sepasang mata melotot lebar lebar pelayan itu lama sekali memperhatikan diri Liem Tou.
"Siapa yang bilang?" tanyanya. Sejak tiga tahun yang lalu Cing Hoa Cung sudah tak ada yang berani tinggali lagi, katanya ada siluman rase yang main gila di sana, pada hari yang lalu bahkan ada yang melihat siluman rase itu main Khiem di bawah sorotan sinar bulan purnama katanya siluman rase itu adalah seorang gadis yang amat cantik sekali.
Mendengar omongan itu diam diam dalam hati Liem Tou berpikir.
Apa sungguh sungguh terjadi urusan ini??? Hmm, aku Liem Tou tidak akan mau percaya omongan tersebut, malam ini aku harus pergi ke sana untuK mengadakan penyelidikan, sekali pun dia adalah siluman rase, setan atau iblis aku juga harus melihatnya sampai jelas.
Satelah mengambil keputusan didalam hati dia pun tidak bertanya lebih lanjut, denpan tenangnya dia menanti adanya makanan yang dihidangkan kepadanya.
Selesai itu dia baru melanjutkan perjalanannya menuju ke arah timur dan duduk beristirahat di bawah sebuah pohon besar di bawah kaki gunung.
Malamnya dia kembali lagi ke perkampungan tersebut, kurang lebih setelah kentongan kedua suara khiem yang muncul dari dalam perkampungan Cing Hoa Cung tersebut mulailah mengalun kembali dengan tenangnya, walaupun suara khiem itu amat halus merdu dan enak didengar tetapi membawakan nada yang amat sedih sekali, saking sedihnya sampai Liem Tou pun bisa merasakan.
Dia sudah hafal dengan jalan di sana, hanya di dalam sekejap saja sudah tiba di depan perkampungan tersebut dan meloncat melewati tembok pekarangan langsung menuju ke kebun belakang, setelah itu dengan langkah yang amat perlahan baru berjalan melewati pintu bundar tersebut.
Tubuhnya bersembunyi di tempat kegelapan, dengan meminjam sinar rembulan yang samar dia memandang keatas.
Seketika itu juga tampaklah seorang gadis dengan rambut yang terurai panjang sedang duduk di atas loteng tersebut bermain khiem, jari jari tangannya yang putih dan halus seperti salju dengan tak henti hentinya bergerak diantara tali khiem, kepalanya di dongakkan ke atas memandang rembulan sehingga keadaannya amat mempesonakan.
Tidak lama kemudian sembari bermain khiem dia mulai menyanyi dengan suaranya yang amat merdu.
Angin malam bertiup menyapu bintang. Duduk termenung di atas loteng menanti kekasih.
Sepasang burung hong terbang berpasangan. Membuat hati terasa amat sedih. . .
Liem Tou dapat melihat seluruh keadaan itu dengan amat jelas sekali, dia tidak ragu ragu lagi kalau orang itu adalah seorang gadis benar, dia tahu cepat atau lambat tentu dirinya akan menganggu dia orang juga kerena itu jauh iebih baik munculkan dirinya pada saat ini juga.
berpikir sampai disitu dia orang lantas munculkan dirinya ke tempat yang lebih terang, lalu dengan hormatnya dia menjura kearah sang gadis yang ada diatas loteng itu
Siauwseng Liem Tou tidak sengaja datang kemari sehingga bisa melihat kecantikan wajah nona, sungguh merupakan satu keberuntungan selama hidupku, ujarnya dengan perlahan.
Liem Tou sebetulnya adalah seorang lelaki sejati yang berhati polos suka berterus tersng, saat ini dia harus memperlihatkan sikap yang ramah taman dan menarik perhatian perempuan tidak urung kelihatan kaku juga, sekali pun wajahnya amat tampan tetapi senyuman yang menghias bibirnya pada saat ini jauh lebih mirip dengan keadaan seorang desa yang merasa malu.
Begitu suara dan Liem Tou berkumandang ke luar agaknya perempuan yaag ada di atas loteng merasa sangat terkejut sekali, suara khiemnya mendadak bernenii lalu dia tunjukkan kepalanya memandang ke arah Liem Tou dengan menggunakan sepasang matanya yang amat jeli itu.
Dengan gugup sekali Liem Tou menjura.
"Malam ini Siauw seng bisa menemui wajah nona. dalam hati aku merasa kagum sekali entah siapakah nama nona itu ? Dapatkah di beri tahukan ?
Semula gadis itu memang rada terkejut tetapi saat ini sewaktu melihat keadaan Liem Tou yang sangat lucu sekali tidak tertahan lagi dia tertawa geli sehingga kelihatan sebaris gigi yang putih bersih, dengan perlahan dia putar badannya dan lenyap di balik loteng.
"Asal aku tahu kau berada dimana apa kau kira kau bisa meloloskan diri ?" Pikir Liem Tou di dalam hatinya. Kau orang adalah siluman rase atau setan aku pasti akan menyelidikinya sampai jelas.
Berpikir sampai di sini dengan menyalurkan hawa murninya melindungi seluruh tubuh dan menyilangkan telapak tangannya di depan dada tubuhnya deagan gaya bangau sakti menembus awan dengan cepat meluncur naik ke atas loteng itu.
Siapa tahu baru saja tubuhnya hampir mencapai permukaan loteng terdengarlah perempuan itu sudah memaki sambil tertawa.
"Dari mana datang seorang lelaki bau, ayob cepat menggelinding dari kamar nonamu"
Bersamaan dengan kata katanya itu Liem Tou segera merasakan adanya segulung angin pukulan yang amat keras sekali menghajar badannya.
Walaupun di dalam hati diam diam dia merasa amat terperanjat tetapi pikirannya juga di dalam hati.
Dengan mengandalkan kau seorang perempuan apa bisa menahan serangan dari diriku?"
Ternyata dia orang sama sekali tidak menghindarkan diri dari datangnya serangan yang menghajar dadanya itu, telapak tangan yang di pentangkan di depan dada dengan keras lawan keras menerima datangnya serangan tersebut.
Dua gulung angin pukulan yang amat dahsyat segera bertemu di tengah angkasa, akhirnya Liem Tou yang sepasang kakinya belum menempel tanah terkena getaran dari pihak lawan sehingga berjumpalitan melayang turun kembali, keatas tanah..
Diikuti belum sampai badannya mencapai tanah sekali lagi dia bersalto di tengah udara kemudian baru melayang dengan tenangnya ke atas tanah.
Sungguh berbahaya, seru Liem Toa diam diam.
Dengan termangu mangu dia berdiri tertegun di sana beberapa saat lamanya, dia cuma merasakan perbagai macam persoalan bersama sama memenuhi benaknya, pikirnya kembali.
Sungguh lihay orang itu, aku dengar siluman rase cuma bisa melatih ilmu ilmu yang tidak bisa mati tetapi apakah merekapun bisa berhasil melatih ilmu Iweekang untuk melindungi badan dan menyerang orang.
Liem Tou yang menerima serangan tadi dengan keras lawan keras segera merasakan kalau pihak lawan sama sekali tidak menggunakan ilmu hitam lainnya tetapi tertahan oleh ilmu pukulan dengan tenaga khiekang yang amat dahsyat, karenanya dia merasa kebingungan.
Lama sekali dia berdiri termangu di atas tanah keadaannya seperti juga seseorang yang dimasuki oleh setan.
Pada saat Liem Tou berdiri tertegun dai tidak paham atas beberapa persoalan yang membingungkan hatinya itulah mendadak pandangannya menjadi terang benderang, diatas loteng itu mendadak tampak lampu yang menerangi seluruh ruangan.
Liem Tou segera mendongakkan kepalannyi memandang tampaklah sekalipun pintu serta jendela dari loteng itu masih tertutup tetap dsri celah celah yang agak besar serta dari bilik korden dia melihat munculnya bcberaps dosok bayangan perempuan dengan rambutnys yang terurai panjang.
Dalam hati Liem Tou jadi terperanjat, pikirnya.
Bagaimana hanya di dalam sekejap saja sudah muncul empat orang perempuan?? tempat ini sungguh berbau hawa setan.
Baru saja dia berpikir sampai disitu mendadak terdengarlah suara kbiem itu berkumandang kembali disusul dengan suara alunan seruling yang amat merdu mengiringinya.
Liem Ton yang mendengar suara seruling itu segera merasa kalau seruling itu bukan lain berasal dari seruling pualam milik si gadis cantik pengangon kambing, tidak terasa lagi semangatnya berkobar kembali, gumamnya seorang diri.
Liem Tou . . Liem Tou. . malam ini untuk pertama kalinya kau bertemu dengan musuh tangguh, tidak perduli dia orang siluman rase atau malaikat iblis yang bigaimana lihaynya pun malam ini kau harus pergi mencoba ilmunya.
Setelah mengambil keputusan ini dia segera bersiap untuk meloncat kembali ke atas loteng.
Pada saat itulah pintu serta jendela dari loteng itu mendadak terpentang lebar. Lism Tou merasa matanya agak silau kemudian jelaslah si gadis cantik pengangon kambing serta Li -Siauw Ie berada di antara keempat orang perempuan itu.
Pada tangan dari gadis cantik pengangon kambing mencekal seruling pualamnya, tatapi
dia tidak meniupnya melainkan cuma dipegang ditangannya saja.
Urusan ini benar benar berada diluar dugaan Liem Tou semula membuat dia menjadi sangat terperanjat sekali dengan cepat dia mengirimkan ilmu untuk menyampaikan suaranya bertanya depada si gadis cantik pengangon kan bing serta Lie Siauw Ie.
Ie cici, Wan moay moay bagaimana kau bisa ada disini? siapakah kedua orang perempuan itu.
Sembari berkata sepasang matanya dengan amat tajam sekali memperhatikan diri si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie melihat mereka berdua itu sama sekali tidak memberikan jawabannya bahkan si gadis cantik pengangon kambing yang memegang seruling itu duduk seperti patung, dalam hati dia jadi amat kaget.
Liem Tou yang melihat kejadian itu semakin lama merasa keadaan semakin tidak beres, dengan cepat dia membentak keras.
Ie cici, Wan moay moay.
Bagaikan bertiupnya angin taufan yang berlalu dengan amat cepat tubuhnya meloncat naik ke atas loteng kemudian menubruk Lie Siauw Ie serta si gadis cantik pengangon kambing.
Gadis berambut panjang yang ada di sebelah kanan mendadak bangun bsrdiri.
Mereka berdua cuma tertotok tidur pulas saja, bust apa kau orang begitu cemasnya ? Ujarnya sambil mengibaskan kedua tangannya.
Liem Tou segera merasakan tekanan sagulung angin yang amat dahsyat seperti semula menahan gerakannya untuk mendekati diri Lie Siauw Ie serta si gadis cantik pengangon kambing itu.
Dia yang mendengarkan kedua orang itu cuma tertotok tidur, di dalam hati segera rada lega juga.
Terhadap datangnya serangan dari si gadis yang amat dahsyat itu dia tak berpikir panjang lagi, mendadak telapak tangannya di dorong ke depan sehingga terasalah segulung angin pukulan laksana menggulungnya ombak di tengah samudra dengan dahsyatnya menekan gadis itu.
Kau manusia atau setan??" bentaknya keras
Agaknya gadis itu tahu kalau serangan dari Liem Tou itu amat dahsyat sekali sehingga tidak berani menyambut dengan keras lawan keras, tubuhnya segera menyingkir ke samping menghindarkan diri dari serangan tersebut bersamaan pula dia menarik seorang perempuan berbaju hijau yang lantas berdiri di samping.
Piaak. , ."pukulan dari Liem Tou seketika itu juga menghajar di atas jendela berukir diatas loteng itu sehingga hancur berantakan.
Melihat hal itu si gadis segera tertawa dingin.
Kalau mau berkelahi benar benar siapa yang takut dengan dirimu?? buat apa kau orang memperlihatkan kelihayan dihadapanku??"
Liem Tou segera putar badannya siap melancarkan serangannya kembali, tetapi secara tiba tiba dia menyadari kalau perempuan berbaju hijau itu bukan lain adalah Toa Kong cu dari Kiem Ihien pay, Ciang Beng Hu yang tempo hari sudah terluka di bawah serangannya.
Sewaktu dia memandang pula ke arah gadis yang rambutnya terurai ke bawah itu mendadak dia merasa kalau dia orang pernah bertemu dengan dirinya di suatu tempat.
Saat ini perempuan dengan rambut terurai ke bawah itu sudah membereskan rambutnya ke belakang dan melepaskan pakaian luarnya sehingga tampaklah pakaian singsat berwarna hitamnya dengan sebuah medali tergantung didepan dadanya.
Seketika Itu juga Liem Tou menjadi sadar kembali, mendadak dia tertawa terbahak bahak.
Sungguh tajam sekali perasaanmu . .haa..haa haa, kiranya adalah kau seorang.
Perempuan itu memangnya si perempnsn tunggal Touw Hong adanya, mendengar perkataan itu tak terasa lagi wajahnya berubah memerah tetapi di dalam sekejap saja sudah lenyap kembali seperti biasa.
Kalau memang aku adanya kau orang mau berbuat apa? tanyanya dingin.
Aku kira dengan menyaru sebagai siluman rase bisa menakuti diriku?? tanya Liem Tou sambil tertawa dingin.
Tetapi sebentar kemudian di dalam benaknya, sudah berkelebat kembali satu ingatan.
Aku orung kenapa tidak menggunakan medali yang sama untuk membuat dia orang menjadi gusar ? ?
Segera ujarnya lagi.
Kau kira setelah menggantungkan medali perak itu lantas boleh unjuk gigi di depan orang lain ? ? Heee . heee . sungguh menggelikan sekali, kau kira barang itu menarik hati?"
Sembari berkata dari dalam sakunya ia mengambil medali perak yang ditemunya didaiam rumah yang besar di atas gunung Wu san itu lantas digantungkan di depan dadanya.
Di atas medali perak itu terukir juga sebuah gambar burung houg berkaki tunggal persis dengan yang digantungkan di depan dada perempuan tunggal Touw Hong itu, cuma yang tidak sama yang satu pincang kaki kanannya sedang yang lain pincang kaki kirinya.
Si perempuan tunggal Touw Hong sewaktu melihat medali perak yang tergantung di depan dada Liem Tou itu mukanya segera berubah sangat hebat, diikuti air mata mengucur keluar dengan derasnya.
Mendadak dari empat penjuru loteng tersebut terdengar suitan yang saling sahut menyahut memenuhi angkasa, belum sempat Liem Tou berpikir lebih panjang lagi.
Sret . . Sreet, . di dalam sekejap saja terlibatlah berpuluh puluh sosok bayangan manusia dengan cepatnya melayang ke atas loteng dan mengepung tempat itu rapat rapat.
Setelah orang itu berdiri tegak, Liem Tou segera dapat mengenali kalau orang orang itu bukan lain adalah Auw Hay Ong Bo si jari beracun jarum emas, si rase salju, si pembesar buta, si hweesio mayat hidup, si pengemis liar serta seorang manusia tinggi besar yang berjubah lebar bersulamkan naga emas di bawah lindungan empat orang lelaki berbaju hitam yang menyoren pedang pada pinggangnya.
Si orang tua berjubah sulaman naga emas itu berumur kurang lebih lima puluh tahunan dengan alis yang tebal, mata bulat besar, cambang memenuhi seluruh wajah, keningnya menonjol ke depan jelas dia memilik tenaga dalam yang amat lihat sekali, sepasang matanya amat tajam dan memancarkan sinar yang berkilauan sehingga membuat orang yang melihat merasa bergidik.
Pada ujung bibirnya tersungginglah satu senyuman dingin dan memandang ke arah Liem Tou dengan gusar.
Keempat orang lelaki berjubah hitam yang ada dibelakangnya mempunyai wajah yang tampan, yang usianya belum sampai dua puluh tahun.
Tetapi keempat orang itupun memandang ke arah Liem Tou dengan pandangan yang amat gusar, nafsu membunuh menyelimuti wajahnya empat pasang mata dengan mengandung ras benci yang meluap luap memandang ke arahnya tanpa berkedip.
Liem Tou yang melihat situasi dihadapannya pada saat ini segera mengetahui kalau mereka sengaja datang mencari gara gara dengan dirinya di dalam hati diam dia dia merasa sedikit tergetar juga, dia tahu dirinya sudah masuk ke dalam jebakan musuh karenanya seluruh perhatiannya segera dipusatkan untuk menghadapi musuh.
"Saudara sekalian harap tahan dulu, aku ada perkataan yang mau ditanyakan kepada dia orang" seru si perempuan tunggal Touw Hong secara tiba tiba sambil melelehkan air mata.
Sehabis berkata dia melirik sekejap kearah si kakek berjubah sulam naga emas serta Auw Hay Ong Bo dua orang, sekalipun mereka nerdia agak ragu ragu dan keberatan tetapi bersama sama mengangguk juga.
Setelah melihat mereka setuju perempuan tunggal Touw Hong dengan cepat segera menuding ke atas medali perak yang tergantung di dada Liem Tou dan tanyanya.
Liem Tou, kau dapatkan benda itu dari mana?
Liem Tou tahu kalau medali perak itu ada sangkut paut dan hubungan yang sangat erat dengan sinar matanya dengan perlahan menyapu sekejap ke arahnya lantas balik tanya dengai suara yang amat dingin.
Lalu kau sendiri dapatkan barang itu dari mana?"
Si perempuan tunggal Touw Hong sama sekali tidak menyangka kalau Liem Toa bisa balik bertanya kepadanya dia agak melengak.
Kau tanya aku, sudah tentu barang ini adalah milikku.
Medali perak ini ada di badanku, sudah tentu milikku juga.
Sembari berkata dengan cepatnya dia bergeser ke samping badan si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie.
Segera terdengarlah dari antara orang yang mengepung dirinya ada yang berkata dengan suara yang perlahan.
He . . he . . lihatlah si malaikat tanah mau menyebrang sungai, untuk melindungi dirinya saja tidak sanggup dia masih mau menolong orang lain.
Liem Tou tidak ambil gubris dia melirik sekejap ke arah si perempuan tunggal Touw Hong dia menduga dia orang tentu marah.
Siapa tahu si perempuan tunggal Touw Hong cuma tertawa saja kepada dirinya sehingga kelihatan sangat menggiurkan sekali. Liem Tou baru untuk pertama kalinya melihat si perempuan tunggal Touw Hong ini memperlihatkann seanyumnya dengan memakai pakaian singsat berwarna hitam, dia merasa mungkin sekali di balik senyumannya ini tersembunyi suatu siasat licik, karenanya dia orang segera mengerahkan tenaga dalamnya siap siap menghadapi segala kemungkinan
Kalau begitu kau adalah putra dari enciku ujar si perempuan tunggal Touw Hong sambil tartawa manis Kalau bsgitu aku adalah bibimu lalu kenapa kau orang she Lie bukannya she Sun??
Begitu perkataan dari si perempuan tunggal itu diucapkan keluar, Auw Hay Ong sekalian yang mengerubuti tempat itu dengan mata yang terbelalak lebar segera memandang diri si perempuan tunggal itu dengan rasa amat terperanjat, tetapi di antara mereka siapapun tidak ada yang mengucapkan sepatah katapun, pandangannya dengan perlahan dia memperhatikan wajah
Liem Tou menantikan jawabannya.
Si perempuan tunggal pun bisa melihat bagaimana rasa takut orang orang itu atas jawaban yang diberikan oleh Liem Tou, wajahnya dengan perlahan dialihkan ke arah si kakek berjubah sulaman naga emas itu.
Bilamana Liem Tou benar benar adalah saudaraku maka dendam atas terbunuhnya putrimu terpaksa kau orang harus membalasnya sendiri, ujarnya sambil tertawa.
Dengan perlahan si kakek tua berjubah sulaman naga emas itu menyapu sekeliling tempat itu mendadak dia tertawa serak.
Dendam ada penyebabnya, hutang ada pemilik nya. Hu ji kami bukannya teriuka ditanganmu bagaimana dendam ini bisa ditempuh pada diri nona Hong? apalagi kami orang orang dari Kiem Thien pay pun berani datang dengan terus terang tentunya berani menghadapinya sendiri, lebih baik nona Hong jangan omong geguyon.
Sembari berkata dia memperlihatkan satu senyuman yang amat seram sekali.
Liem Tou yang mendengar dia berbicara begitu, saat itulah baru tahu kalau si kakek tua berjubah sulaman naga emas itu bukan lain adalah ciangbunjeu dari Kicm Thien pay. Auw Hay Ong Ciang Cau adanya, dia sama sekali tidak menyangka kalau orang yang mempunyai wajah alim itu ternyata mempunyai hati yang licik sukar untuk diduga, cukup dari senyuman serta pembicaraannya saja Liem Tou bisa menduga delapan sembilan bagian.
Si perempuan tunggal Touw Hong sewaktu mendengar perkataan dari Auw Hay Ong itu Air mukanya segera berubah jadi adem.
Ciss..,perkataanku sama sekali bukan omongan guyon belaka, ujarnya dengan serius. Terus terang saja aku beritahukan kepadamu.aku bisa turun gunung semuanya dikarenakan atas undanganmu untuk datang ke daerah Tionggoan dengan menggantungkan medali perak ini.
Tetapi yang didapatkan bukannya mencari ciciku melainkan cari gara gara terus sekarang medali perak dari ciciku sudah muncul sudah tentu berarti juga aku telah menemukan separuh dari ciciku sejak kini aku pun tidak usah menemui banyak urusan lagi.
Liem Tou sama sekeli tidak menyangka kalau medali perak itu bisa menghapuskan ikatan musuh dengan perempuan tunggal ini, tetapi dia mana mungkin adalah putra dari cicinya? yang dimaksudkan sebagai cicinya itu kemungkinan sekali adalah perempuan berbaju putih yang ditemuinya di dalam rumah besar diatas gunung wusan itu, dia orang sudah menyanggupi untuk menceritakan satu satunya putra kesayangannya Sun Ci Sie bahkan mendapat beban juga untuk memberitahu kepadanya kalau musuh besarnya adalah Kioe Lang Wau Kauw sungguh tidak disangka sama sekali ternyata ini hari dia orang sudah dianggap sebagai Sun Ci Sie bukankah satu kesusahan dditambahi dengan satu kesalahan lagi?"
Sebetulnya dia orang mau memberitahu keadaan yang sesungguhnya kepada perempuan itu tetapi di dalam sekejap saja dia melihat air muka Auw Hay Ong serta Auw Hay Ong Bo berubah amat hebat.
"Sekarang perkataanku sudah aku ucapkan dengan jelas terdengar si perempuan tunggal Touw Hong melanjutkan kembali kata katanya dengan amat dingin. Siapa saja diantara kalian kalau ada yang berani mengganggu seujung rambutnya aku segera turun tangan membinasakan dirinya.
Liem Tou yang mendengar perkataan itu diam diam merasa geli, dengan mengambil kesempatan ini dia bergeser kembali dua langkah ke belakang.
Waktu itulah dia bisa melihat keadaan si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie, wajah mereka tenang tenang saja dan berwarna merah padam, sedikitpun tidak kelihatan luka.
Tujuan kedatangannya kali ini sebetulnya memang ingin menolong kedua orang itu tetapi jikalau mereka tertidur terus dengan nyenyaknya dia harus menolong mereka dengan apa?? baru saja dia orang hendak menyadarkan kedua orang itu mendadak terdengar si peremnuan tunggal Touw Hong sudah berkata kembali.
Liem Tou. dimanakah ibumu? ?
Aku tidak punya ibu, sahut Liem Tou sembari menoleh ke arahnya.
Tangan kanannya dengan cepat ditepukkan ke atas punggung diri si gadis cantik pengangon kambing.
Mendadak dari samping badannya bergulung mendatang serentetan hawa pukulan yang amat dahsyat sekali menghajar badannya, dengan tergesa gesa Liem Tou kirim satu pukulan menangkisnya.
Tahan, terdengar si Auw Hay Ong berteriak keras.
Kemudian kepada si perempuan tunggul ujarnya.
Perkataan dari nona Hong sedikitpun tidak salah, tetapi jikalau dia orang adalah putra dari encimu kenapa sama sekali tidak kelihatan terharu? apa mungkin ini hanya siasatnya saja? nona Hoag kau orang jangan sampai termakan siasatnya.
Mendengar perkataan tersebut si perempuan tunggal Touw Hong sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun dengan perlahan dia berjalan kurang lebih beberapa depa di depan Liem Tou.
Liem Tou, ujarnya kembali. Sebetulnya apa betul medali perak itu kau dapatkan dari ibumu?
Dalam hati Liem Tou tahu kalau malam ini urusan tidak bisa diselesaikan dengan mudah, jikalau tebalkan muka dia mengaku sebagai anak oraag lain bukankah urusan ini sangat memalukan sekali? tetapi diapun tabu jikalau dia orang berbicara terus terang kemungkinan sekali si perempuan tunggal itu segera akan mmenganggap musuh dengan dirinya.
Kepandaian silat dari parenpum ini sangat tinggi sekali, Walaupun dia orang sama sekali tidak takut dengan dirinya tetapi untuk turun tangan menolong si gadis cantik pengangon kambing dan Lie Siauw Ie tentu bakal menemui kesukaran.
Tidak terasa lagi Liem Toa termenung dan berpikir keras.
"Kau orang minta aku beritahu soal apa??" Akhirnya dia berkata juga sambil angkat kepalanya.
Sepasang mata dari Si perempuan tunggal itu dengan tajamnya memperhatikan dirinya terus, sedang semua jago yang ada disekeliling tempat itupun pada melototi dirinya dengan tajam, hai ini membuat Liem Tou agak bergidik juga.
"Aku mau kau orang ngonaong terus terang" sahut si perempuan tunggal Touw Hong dengan cepat.
"Baiklah" sahut Liem Tou kemudian tidak ragu ragu lagi. Aku memperoleh medali perak ini dari dada sebuah kerangka manusia.
Mendengar perkataan tersebut si perempuan tunggal Touw Hong merasakan kepalanya seperti dipukul dengan martil besar, seperti juga disambar petir di siang hari bolong, segera dia berteriak kalap.
"Liem Tou, kau ulangi sekali lagi" Medali perak itu aku dapatk in di atas dada sebuah kerangka manusia di atas pegunungan yang amat sunyi.
Seketika itu juga si perempuan tunggal Touw Hong menangis tersedu sedu air matanya mengucur keluar dengan derasnya sehingga laksana air sungai Tiang Kang yang meluap.
"Ah .. dialah ciciku . . dialah ciciku ooh . . cici, kiranya kau orang sudah meninggal, aku sampai sekarang masih mencari dirimu" teriaknya dengan sedih.
Sembari menangis dia berteriak teriak dengan amat kerasnya, seketika itu juga membuat semua orang dari Kiem Tian Pay yang berada disekeliling tempat itu menjadi tertegun.
Dengan mengambil kesempatan itu Liem Tou segera maju lagi satu langkah menepuk sadar diri si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie.
Baru saja kedua orang itu menjerit kaget dan sadar kembali dari pulasnya pada saat yang bersamaan pula terdengar si perempuan tunggal Touw Hong sudah berteriak gusar.
"Liem Tou kau sudah mencelakai ciciku!"
Baru saja Liem Tou mau membantah mendadak dia merasakan adanya segulung angin pukulan yang amat dahsyat sekali menggulimg datang.
Liem Tou sama sekah tidak menduga kalau si perempuan tunggal Touw Hong bsa melancarka serangan dengan begitu cepatnya. Jikalau dia menghindarkan diri tentu si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie yang berada di belakangnya akan terkena serangan tersebut, terpaksa dia kirim satu pukulan juga menerima datangnya serangan tersebut dengan keras lawan keras.
Dua gulung angin pukulan segera bertemu di tengah udara. Braaak seketika itu juga angin topan melanda seluruh loteng membuat atap serta jendela pada beterbangan. Para jago yang hadir di sanapun tidak terasa pada berubah air mukanya.
Walaupun Liem Tou tahu kedudukan dari pihak musuh amat tangguh sekali, teapi melihat keberangasan dari si perempuan tunggal Touw Hong tidak terasa menjadi gusar juga, sepasang matanya melotot lebar lebar memancarkan sinar yang amat tajam, diapun membentak dengan keras.
Nona Touw Hong sungguh ganas dan berangasannya, mungkin orang orang Kiem Thien Pay takut akan dirimu, tetapi aku Liem Tou sama sekali tidak akan takut kepadamu.
Sambil berkata dia menyapu sekejap ke arah sekeliling tempat itu, ketika dilihatnya sepasang mata dari Auw Hay Ong serta Auw Hay Ong Bo sedang memandangi dirinya dengan amat gusar dia segera tertawa dingin.
"Hmmm... He...he..." Liem Tou, tiba tiba terdengar seseorang berseru sambil tertawa serem. Kau orang tidakusah memperlihatkan sifatmu yang begitu keren, jangan dikata kau adalah panglima yang pernah dikalahkan ditangan kamu sekalipun bukan, dihadapan kami orang kau janganlah harap bisa bermain gila.
Sambil berkata dia berjalan keluar dari barisan dan sambungnya lagi.
Biarlah aku menjajal kepadaian silat dari kawan yang sudah setahun tidak bertemu muka, apakah ketajaman lidahnya sesuai dengan kepandaian yang dimilikinya.
Liem Tou dengan cepat putar kepalanya memandang ke arah senjata orang itu, ternyata bukan lain adalah si jari beracun jarum Song Ceng lam, melihat wajah yang menyengir kejam serta senyuman dingin yang
menghiasi bibirnya diam diam di dalam hatinya merasa terperanjat.
Bajingan cilik, makinya di dalam bati. Malam ini jikalau kau orang kembali lolos dari tanganku makan orang tidak akan she Liem lagi.
Si gadis cantik pengangon kambing yang melihat wajah orang itu amat seram, karena takut Liem Tou kena kecundang di tangannya dia orang segera memberi peringatan.
Liem koko, serunya dengan keras. Biarlah Siauw moay yang menyambut orang itu, aku mau lihat dia orang mempunya kepadaian berapa tingginya.
Musuh tangguh ada di depan mata, nanti kaupun akan mendapat bagian, ujar Liem Tou segera dengan wajah serius. Lebih baik kau berjaga jaga terhadap dirimu, janganlah sampai dipecundangi orang lain dengan pinjam kesempatan ini, urusan yang ada disini lebih baik kau jangan ikut campur.
Tou titi, kau lebih baik jangan menempuh bahaya, terdengar Lie Siauw Ie memberi peringatan pula.
Ie cici, Wan moay moay terima kasih atas rasa kuatir kalian, teriak Liem Tou dengan keras. Aku seorang lelaki sejati kenapa harus takut menempuh bahaya?? Hey orang She Song kalu kau benar benar punya kepadaian ayohh keluarkan, aku Liem Tou akan mengalah tiga jurus kepadamu.
Si jari beracun jarum emas, Song Beng lan segera mendengus dengan amat dinginnya, mendadak tubuhnya maju dua langkah ke depan, telapak kiri serta kepalan tangan kanannya dengan amat dahsyat dipentangkan melancarkan satu pukulan dahsyat menghajar dada dari Liem Tou, sedang yang lain mengancam jalan darah diatas keningnya.
Liem Tou dengan cepat menggeserkan badannya ke samping tanpa mengubah kedudukan kakinya yang semula, dengan amat mudahnya dia berhasil menghindarkan diri dari serangan tersebut.
Si jari beracun jarum emas dengan cepatnya mengubah serangannya, telapak tangan kanannya mendadak berubah jadi totokan bagaikan kilat cepatnya menghajar pusar dari Liem Tou sedangkan tangannya yang sebelah lagi mengambil kesempatan itu meraup segenggam senjata rahasia.
Liem Tou yang melihat hal itu cuma mendengus dingin saja, dengan cepat dia menarik dadanya kebelakang menghindarkan diri dari serangan tersebut.
Si jari beracun emas yang melihat jari tangannya yang hampir mengenai dada Liem Tou mendadak hanya mencapai sasaran yang kosong, dia menjadi amat gusar sekali.
Liem Tou, teriaknya dengan gusar, saat kematianmu sudah tiba, hari ini pada setahun kemudian adalah ulang tahunmu yang pertama dari kematianmu.
Sewaktu dia orang melancarkan jurus yang kedua itu, Liem Tou sudah mengadakan persiapan. Diapun segera tertawa dingin.
Aku k'ra belum tentu" sahutnya.
Tenaga sakti yang ada di badannya segera disalurkan mengelilingi seluruh tubuh lantas teriaknya dengan keras.
Ie cici, Wan Moay Moay. baik baiklah kalian berjaga diri.
Tidak berpikir panjang lagi, bukannya tidak menghindar bahkan dia memapaki datangnya serangan dahsyat yang dilancarkan oleh Song Beng Lan itu.
Tubuhnya segera melayang ke atas udara ternyata jarum jarum racun yang dilancarkan oleh Song Beng Lan sama sekali tidak berguna terhadap dirinya membuat Auw Hay Ong Bo yang melihat jelas keadaan itu segera berteriak kaget.
Belum sempat dia memberikan pertolongannya, Liem Tou yang ada diatas udara sudah berhasil mencengkram belakang leher dari Song Beng Lan lantas putar setengah lingkaran di tengah udara dan melayang turun kembali ke atas permukaan tanah.
Dia orang lantas kirim satu senyuman mengejek ke arash si perempuan tunggal Touw Hong, Auw Hay Ong serta Auw Hay Ong Bo.
Beberapa orang itu ketika melihat Liem Tou hanya di dalam sekali gebrak saja sudah berhasil menguasai diri Song Beng Lan, dalam hati merasa terperanjat sekali mereka sama sekali bukannya kaget karena keselamatan dari Song Beng Lan terancam melainkan karena melihat ilmu sakti dari Liem Tou yang sama sekali tidak takut terhadap serangan jarum emas itu.
Liem Tou yang melihat orang orang itu memandang kearahnya dengan termangu mangu segera mengetahui kalau ada orang turun tangan membinasakan Song Beng Lan maka para jago lainnya segera akan turun tangan mengerubuti dirinya, tetapi sejak tadi dia orang sudah mengambil keputusan untuk membinasan si jari beracun emas ini. Sudah tentu dia tidak mau melepaskan dirinya dengan begitu saja.
Berpikir akan hal itu napsu untuk membunuh segera menyelimuti wajahnya, pikirnya kembali.
Jikalau ini hari aku tidak mengobrak abrik mereka sehingga kacau balau, tentu mereka masih mengira aku Liem Tou adalah seorang manusia yang mudah dipermainkan.
Dia segera menggigit kencang bibirnya lantas berteriak dengan amat keras.
"Hey orang orang Kiem Thien Pay kalian dengarlah semua, sakit hati ada panyebabnya hutang ada pemiliknya, kalian lebih baik turun tangan bersama sama saja."
Dsngaa cepat dia mencekal ujung kaki dari Song Beng Lan dan digunakan sebagai senjata yang secara tiba tiba dibabat dari arah Auw Hay Ong dari Kiem Thien Pay itu.
Dengan perbuatannya Ini seketika itu juga memancing rasa gusar dari seluruh oraag Khiem Thien pay terdengarlah suara bentakan gusar dari seluruh orang Khiem Thien Pay terdengarlah suara bentakan gusar memenuhi seluruh angkasa disusul berkelebatnya sinar tajam yang menyilaukan mata. Berbagai senjata tajam segera pada menyerang dari empat penjuru.
Dengan amat lincahnya Liem Tou mengobat ngabitkan tubuh si jari beracun jarum emas untuk menerjang ke kanan menghajar ke kiri, lagaknya mirip sekali dengan singa ganas yang terlepas dari kandangnya.
Siapa saja yang berani mendekati badannya seketika itu juga akan terhajar oleh serangannya membuat orang orang dari Kiem Thien pay menjadi kebingungan dan pada mundur berantaran.
Melibat kejadian itu Liem Tou segera tertawa, terbahak bahak.
Haa. .. .haa. .. .haa Hay orang Kiem Thien Pay kaiian semua adalah gentong gentong nasi yang sama sekali tidak berguna, kau goblok, dungu has. . .buat apa kalian datang ke daerah Tionggoan?? kalian jangan sampai membuat orang kang ouw kegelisahan sehingga tertawa kelepasan gigi depannya.
Baru saja dia berbicara sampai disitu mendadak terdengarlah suara bentakan yang amat keras sehingga menggetarkan seluruh ruangan dari loteng lersebut.
Liem Tou jadi terperanjat, dengan cepat dia melirik sekejap ke arah orang itu yang ternyata bukan lain adalah Auw Hay Ong, diam diam pikirnya.
Nama besar dari Auw Hay Ong ternyata bukanlah berita kosong belaka, cuma sayang kehebatannya masih tidak seberapa, tenaga dalam yang kau miliki saat ini masih tetap kalah satu tingkat dengan tenaga dalamnya Thian pian Siauw cu, kenapa aku harus takuti dirimu?"
Baru saja Liem Tou berpikir akan hal itu, terlihatlah berkelebatnya sinar emas yang menyilaukan mata tubuh Auw Hay Ong bagaikan bertiupnya angin berlalu dengan amat cepatnya sudah menerjang ke depan.
Para jago dari Kiem Thien Pay lainnya sewaktu melibat pimpinannya sudah turun tangan tentu cepat cepat pada mengundurkan dirinya ke belakang dan menonton di samping kalangan
Terhadap para jago yang ada disana Liem Tou sama sekali tidak mengambil perhatian di dalam hatinya diam diam cuma memperhitungkan serangan bokongan dari si perempuan tunggal Touw Hong itu.
Pada saat dilihatnya si perempuan tunggal Touw Hong cuma berpeluk tangan saja berdiri di samping tanpa bermaksud turun tangan hatinya baru merasa rada lega.
Dengan perlahan kepalanya ditoleh kembali ke arah Auw Hay Ong yang saat ini saking khekhienya sudah berkaok kaok seperti halnya tiga ekor babi yang disembelih.
Oooh . . kau orang ternyata Ciang Tiau itu manusia yaug sudah dikalahkan oleh Thian Piu Siauw cu, haa . . ha . , bagus bagus sekali. Seru Liem Tou dengan nada tenang ejek. Coba kau beritahu kepadaku dengan cara bagaimana kau orang bisa terluka? ini hari aku juga mau melukai dirimu seperti apa yang dilakukan oleh dia kemarin hari.
Kekalahan yang diterimanya sewaktu bertempur dengan Thian Pian Siauw cu merupakan suatu peristiwa yang paling memalukan buat dirinya.
Kini lukanya dikorak korek kembali oleh Liem Tou bagaimana tidak membuat orang merasa kegusaran?
Jambangnya yang memenuhi wajahnya pada berdiri seperti kawat, sepasang matanya dipentangkan lebar lebar seperti dua buah bola dengam diiringi suara teriakannya yang amat keras sepasang telapak tangannya bersama didorong ke depan menghajar badan musuhnya.
Segera terasalah segulung angin pukulan laksana melandanya angin taufan dibarengi dengan deburan ombak yang dahsyat menggulung mendatang, Liem Tou segera tertawa geli.
Hawa murninya dikerahkan melalui sepasang kaki dari Song Beng lan dan menyambut datangnya serangan tersebut.
Sebetulnya Auw Hay Ong tidak bermaksud untuk melukai diri dari si jari beracun jarum emas melainkan cuman mau bertempur dengan dirinya, kini melihat Liem You sengaja menggunakan tubuh Song Beng lan untuk menyambut datangnya serangan itu dia menjadi amat terperanjat.
Tetapi dengan cepat dia menambahi lagi tenaganya dengan dua bagian. Pikirnya.
Tenaga dalamku yang sudah berhasil dilatih sehingga bisa melukai orang dengan melewati halangan, pukulan ini sekalipun menghajar tubuh Song Beng lan tetapi yang luka adalah Liem Tou.
Di dala sekejap mata itulah pukulan dari Auw Hay ong ini dengan cepatnya sudah berhasil menghajar ubun dari Song Beng lan, tetapi sebejar saja dia sudah merasakan adanya segulung angin pukulan yang jauh lebih dahsyat mengalir dari ubun Song Beng lan itu memukul balik serangannya itu, dia menjadi amat terkejut sekali.
Di tengah suara teriakan yang memekikkan telinga, tenaga dalamnya dikerahkan sampai sepuluh bagian dan disalurkan keluar melalu pukulannya tersebut.
"Rraaak . . . !" ditambah suara benturan yang amat nyaring terasalah suara ledakan yang keras disusul dengan melandanya hawa murni yang menyesakkan dada memenuhi seluruh ruangan dan tiba tiba terlihatlah diantara desiran angin pukulan itu bercampur dengan muncratnya darah mengotori seluruh loteng bahkan setiap orang yang hadir di sana tidak ada yang bisa terhindar dari cipratan darah tersebut.
Bau amis darah bercampur aduk dengan darah membuat membuat orang merasa semakin mual.
Kiranya bentrokan yang terjadi antara Auw Hay Ong dengan Liem Tou tadi terhalang dengan tubuh Song Beng Lan yang ada di tengah.
Karena dahsyatnya bentrokan hawa murni itu, seketika itu juga membuat tubuh Song Beng lan tidak kuat menahan tekanan yang demikian dahsyatnya dan meledak sehingga darah segar beserti isi perutnya pada melayang memenuhi angkasa.
Liem Tou yang melihat Song Beng Lan sudah menemui ajalnya dalam keadaan yang begitu mengerikan sekali, dalam hati tahu mayat tersebut sudah tidak berguna lagi, karenanya dia segera berteriak keras.
"Hey orang she Ciang, sambutlah barangmu ini!"/
Begitu dia selesai berbicara mayat dari Song Beng lan dengan membawa serti isi perutnya yang pada meledak keluar melayang ke arah diri Auw Hay Ong.
Belum sampai mayat itu tiba potongan daging serta isi perut sudah pada meluncur ke depan. Auw Hay Ong sama sekali tidak menyangka Liem Tou bisa melakukan serangan dengan menggunakan cara seperti ini, tubuhnya dengan cepat menyingkirkan ke samping dibarengi dengan satu pukulan menghajar mayat keluar dari ruangan loteng.
Sekalipun tidak sampai terkena, tidak urung saking gusarnya dia berkaok kaok juga sambil mencak mencak menahan hawa amarahnya.
Sebaliknya Liem Tou malah tertawa terbahak bahak.
Sampai saat ini Auw Hay Ong baru tahu kalau Liem Tou adalah satu satunya musuh yang paling sukar untuk dihadapi, air mukanya segera berubah asem kemudian dengan pandangan yang amat gusar bercampur benci dia orang melototi diri Liem Tou.
Dengan Kejadian ini Auw Hay Ong Bo pun tidak berani berlaku gegabah lagi, dia tahu suaminya Auw Hay ong kembali sudah menemui musuh yang amat tangguh, dia tahu kebiasaan dari Auw Hay Ong jikalau tidak berada dlam keadaan yang kepepet sehingga sama sekali tidak punya pegangan untuk memenangkan pihak lawannya dia orang tidak akan memperlihatkan sikapnya secara begini.
Dengan kejadian ini bersama sama dengan para jago lainnya dia segera berdiri disamping Auw Hay Ong, tanpa mengucapkan sepatah katapun mereka bersiap sedia menghadapi serangan selanjutnya dari Liem Tou.
Mendadak si perempuan tunggal Touw Hong yang berdiri disamping tertawa ringan ujarnya.
Kalian berdua apakah hendak mempergunakan cara lama seperti sedang menghadapi diriku dulu untuk menghadapi dia orang?*
Auw Hay Ong melirik sekejap ke arah si perempuan tunggal Touw Hong, air mukanya segera berubah memerah.
Kepandaian orang ini amat tinggi tenaga dalamnyapun amat dahsyat, agaknya tidak berada dibawah kepandaian dari nona Hong ujarnya rikuh.
Kalau memangnya begitu sekalipun kalian berdua turun tangan juga tak ada gunnya, ujar si perempuan tunggal Touw Hong dengan dinginnya.
Beberapa perkataannya ini seketika itu juga membuat air muka Auw Hay Ong serta Auw-Hay Ong Bo berubah jadi pucat pasi. untuk beberapa saat lamanya mereka tidak dapat mengucapkan sepatah katapun.
Dengan menggendong Khiemnya dengan perlahan si perempuan tunggal Touw Hong berjalan meadekati Liem Tou, lantas tanyanya dengan nada serius.
"Liem Tou, apakah ciciku sudah kau binasakan??
Walaupun wajahnya amat tenang tetapi nada suaranya jelas amat mendesak dirinya, Liem Tou mana mau tunduk terhadap dirinya dia malah tertawa dingia.
"Terserah kau orang mau bicara secara bagaimana" sahutnya seenaknya.
"Liem Tou, aku bertanya sungguh sungguh" ujarnya si perempuan tunggal lagi.
"Lalu siapa yang mengajak guyon dengan dirimu?"
Sehabis berkata dia melirik sekejap kearahnya lantas menoleh ke arah si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie.
Orang ini berhawa setan, lebih baik kita cepat cepat pergi dari sini ujarnya dengn cepat.
"Ooooh mau pergi ?" tidak begitu mudah, tiba tiba si perempuan tunggal Touw Hong nyeletuk
Mendengar perkataann itu seketika itu juga Liem Tou tertawa terbahak bahak.
Aku Liem Tou, bila ada yang bisa menghalangi diriku? Bentaknya dengan keras.
Saat ini ia benar benar sudah teramat gusar kepada si gadis cantik pengangon kambing serti Lie Siauw Ie ujarnya lagi.
"Ie cici. Wan moay moay kau berangkatlah terlebih dulu" biar aku yang barjaga jaga dari belakang, aku mau lihat dia orang bisa berbuat apa terhadap diriku ?
"Liem Koko, terdengar si gadis cantik pengangon kambing itu tiba menyela, Ciang cici serta Hong cici sangat baik sekali menghadapi diriku, kau janganlah membuat dia terlalu sedih."
"Tidak usah banyak urusan lagi" ayoh jalan seru Liem Tou sambil kirim satu kerlingan mata kepadanya.
Liem Koko, kau kenapa begitu galak ? teriak si gadis cantik pengangon kambing tiba tiba.
Walaupun dia berkata begitu tetapi kakinya bersama sama Lie Siauw Ie bergeser meninggalkan loteng tersebut.
Jangan pergi, mendadak terdengar suara bentakan dari si perempuan tunggal Touw Hong serta Toa kongcu dari Kiem Thien Pay, Ciang Beng Hu secara berbareng.
Baik si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie jadi amat terperanjat sekali, saat itulah mereka baru tahu kalau masing masing orang sudah diliputi hawa amarah yang berkobar kobar.
Lie Siauw Ie yang lebih tua bagaimanapunn juga lebih cermat daripada diri si gadis cantik pengangon kambing melihat kejadian itu, dia segera tahu suatu bentrokan sudah hampir meledak, dirinya yang berjumlah kecil memang lebih baik berlalu saja dari sini.
Nona Ciang, Nona Hong kenapa kalian maah marah?? tanyanya sambil tertawa. Bilamana bukannya atas bantuan dari kedua orang cici, kemungkinan sekali Ie moay moay sudah menemui bencana. Jikalau nona berdua ada perintah silakan berbicara buat apa berteriak teriak begitu ??
Dengan menggandeng tangan si gadis cantik pengangon kambing, dia berjalan ke tempat semula, si perempuan tunggal Touw Hong yang melihat mereka sudah ke tempat asalnya segera dia tertawa dingin.
Bagaimana ?? Kenapa tidak pergi ?? ujarnya kepada diri Liem Tou.
Tindakan yang dilakukan oleh Lie Siaw Ie ini seketika itu juga membuat Liem You menjadi termangu mangu dia memandang ke arash si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siaw Ie yang berdiri di sana sambil tersenyum senyum.
Terlihatlah Lie Siaw Ie serta si gadis cantik pengangon kambing itu mendadak bungkukkan badannya menjura.
Budi kebaikan yang begitu besarnya, kami berdua untuk sementara tidak bisa ...
belum habis dia berkata mendadak teriaknya dengan keras.
" Ayoh lari!"
Bagaikan dua gulung sinar kilat yang berkelebat di tengah udara mereka berdua dengan cepatnya melayang keluar dari tempat itu.
Menanti si perempuan tunggal serta Kiem Thien Pay sadar, mereka berdua sudah meloncar turun dari loteng tersebut.
Si perempuan tunggal menjadi amat gusar sekali, dia mencak mencak menahan hawa amarahnya yang bergolak semakin membara di dalam dadanya.
Kalian mau lari kemana?? bentaknya dengan keras.
Tubuhnay dengan cepat bergerak siap untuk mengejari. Saat itulah Liem Tou sudah sadar kembali dari lamunannya mendadak dia melancarkan satu pukulan menghalangi perjalannnya, bentaknya dengan keras.
Mari sini, aku mau bertempur tiga ratus jirus dengan dirimu.
Segulung angin pukulan yang amat kencang segera berkelebat menghalangi perjalanan dari si perempuan tunggal Touw Hong membuat dia orang jadi benar benar mendongkol.
Liem Tou, bentaknya sembari putar tubuh, malam ini ada aku tidak akan ada kau.
Sepasang telapak tangannya segera di dorong ke depan, seketika itu juga bagaikan titikan air hujan yang diselingi angin topan berturut turut dia melancarkan dua belas pukulan dahsyat. Serangannya ganas tenaga dahsyat seketika itu juga membuat seluruh ruangan loteng itu dipenuhi dengan suara angin pukulan yang menderu deru bercampur deagan suara ambruknya jendela dan pintu, membuat suasana menjadi amat kacau sekali.
Liem Tou pun agaknya dibuat terperanjat pula oleh serangan yang amat gencar dari si perempuan tunggal Touw Hong ini, dia tidak berani berlaku gegabah tubuhnya dengan cepat menyingkir ke kiri dan ke kanan menghindar diri dari serangan serangan tersebut.
Tetapi serangan yang dilancarkan perempuan tunggal Touw Hong ini tak ada hentinya, semakin bertempur dia melancarkan serangan semakin gencar membuat Liem Tou lama kelama menjadi gusar juga.
Sepasang alisnya dikerutkan rapat rapat lalu bentaknya dengan keras.
Dimana bisa mengampuni orang laim ampunilah dia orang, kau kira aku betul betul takut kepadamu.
Dengan cepat dia salurkan hawa murninya ke sepasang telapak tangannya tanpa menyingkir dan menghidar lagi dengan mengerahkan tujuh bagian tenaga dalamnya dia menangkis datangnya serangan musuh.
Ternyata sedikit pun tidak salah dengan gerakannya ini angin serangan dari si perempuan tunggal Touw Hong itu semakin lama semakin perlahan.
Liem lou yang melihat dia orang berhasil merebut posisi baik mana mau dia membuang waktu dengan begitu saja, dari kedudukan bertahanu dengan cepat dia merubah jadi kedudukan menyerang, tenaga dalamnya ditambahi dengan dua bagian berturut turut melancarkan delapan buah serangan gencar.
Setiap serangannya pastilah diikuti dengan suara menderunya angin yang amat rapat, jurus yang digunakan semakin aneh dan sakti sekali.
Hanya di dalam sekejap saja si perempuan tunggal Touw Hong itu benar benar sudah terdesak, keringat dingin mulai mengucur keluar membasahi selurun tubuhnya, saat ini dia cuma mempunyai tenaga untuk menangkis saja tanpa ada kesempatan untuk balas menyerang.
Pada wakiu itulah tiba tiba Liem Tou menyapu sekejap ke arah sekeliling tempat itu, dia menemukan semua jagoan dari Kiem-Thien pay sudah lenyap tak berbekas batinnya jadi sedikit berdesir.
Celaka, pikirnya di dalam hati. Mereka tentu pergi mengejar Ie cici serta Wan moay moay.
Berpikir akan hal ini mana dis orang mempunyai niat untuk bertempur lebih lanjut dengan si perempuan tunggal Touw Hong itu?" dia menarik napas panjang panjang bagaikan menyambarnya geledek dan berkelabatnya sinar kilat, dengan dahsyatnya Liem Tou melancarkan tiga buah serangan sekaligus.
Si perempuan tunggal Touw Hong yang harus menahan serangan dahsyat itu baru saja berhasil menangkis serangan kedua air mukanya berubah jadi pucat pasi, Liem Tou yang melihat kejadian itu dalam hati segera paham, asalkan dia melanjutkan serangannya yang ketiga maka si nerempuan tunggal Touw Hong ini tentu akan terluka kena serangannya.
Perempuan ini tidak ada dendam sakit hati apapun dengan dirinya, kepada dia orang harus turun tangan jahat terhadap dirinya? berpikir akan hal ini serangan yang ketiga cuma dilancarkan sampai separuh jalan saja lalu ditarik kembali.
Kehebatan dari nona aku Liem Tou sudah menjajalnya, teriaknya keras. Jikalau kau orang masih tidak puas pada bulan lima tanggal lima kita bertemu kembali diatas puncak pertama Cing Jan.
Selesai berkata tampak berkelebatnya bayangan hijau, hanya dalam sekejap saja dia sudah lenyap tak berbekas.
( Bersambung ke jilid 22 )
Kini tinggal si perempuan tunggal Touw Hong seorang saja yang berdiri mematung di atas loteng, lama sekali baru kelihatan air mata mengucur keluar dengan amat derasnya, mendadak dia jatuhkan diri berlutut dan bergumam seorang diri.
Suhu. . .aku ternyata sudah sia siakan harapan kau orang tua selama sepuluh tahun ini, ini hari ternyata aku orang sudah dikalahkan oleh bocah cilik itu.
Dia berhenti sebentar lantas tambahnya lagi.
Sukma Cici apa tahu, aku akan membinsakan bangsat cilik itu untuk membalaskan dendam sakit hati cici.
Tetapi sebentar kemudian dia sudah bergumam kembali dengan suara yang amat lirih.
Tetapi semoga saja cici bukan dibunuh oleh orang ini, panca indranya bagus wajahnya tidak membawa sedikit hawa jahat kemungkinan sekali bukan dia orang yang sudah membunuh clciku, mungkin kesemuanya ini cuma kesala pahamanku.
Di atas loteng yang indah itu kini cuma tinggal suara gumaman, yang tak ada henti hentinya diselingi suara tangisan.
Sewaktu dia tundukkan kepalanya menangis dengan amat sedihnya itulah mendadak dia merasakan dari punggungnya menyambar datang suara desiran senjata tajam yang amat santar sekali, si perempuan tunggal Touw Hong jadi terperanjat ujung jubahnya dengan cepat dikebutkan ke belakang menangkis dalangnya serangan tersebut.
Sreeet . . dengan disertai suara yang amat nyaring ujung jubahnya itu sudah kena babat sehingga putus jadi dua bagian, sedangkan si perempuan tunggal Touw Hong pun bisa melihat orang yang baru saja melancarkan serangan bokongan itu bukan lain adalah seorang manusia berbaju hitam dengan wajah berkerudung yang membawa sebilah pedang pusaka memancarkan sinar yang berkilauan.
"Siapa kau!" bentak si perempuan tunggal Touw Hong dengan amat kerasnya.
Tetapi orang itu tidak memberikan jawabannya, pedang Hitamnya kembali berkelebet menusuk ke tubuh si perempuan tunggal Touw Hong.
Si perempuan tunggal Touw Hong tahu kalau pedaag pusaka yang ada ditangannya adalah sebilah pedang wasiat yang amat tajam sekali. dia tidak berani menangkis datangnya serangan tersebut dengan menggunakan telapak tangannya, tubuhnya dengan cepat berkelebat menghindarkan diri dari tempat tersebut.
Tetapi ilmu meringankan tubuh dari orang itu juga amat sempurna sekali. dia orang tetap tidak mau melepaskan si perempuan tunggal itu dengan begitu saja membuat Touw Hong benar benar terdesak dan berada di dalam keadaan yang sangat berbahaya sekali.
Untung saja tenaga dalam dari si perempuan tunggal Touw Hong sudah berhasil dilatih hingga mencapai pada taraf yang sempurna sekali, karenanya dengan bersusah payah dia akhirnya barhasil juga meloloskan diri dari bahaya yang mendesak dirinya terus menerus itu.
Siapa tahu orang itu tidak mau lepas tangan dengan begitu saja, pedang pusakanya dengan melancarkan serangan gencar mengancam terus jalan darah penting serta pada tempat berbahaya di tubuh si perempuan tunggal itu, sewaktu turun tangan ternyata sama sekali tidak ragu ragu.
Waktu ini sebetulnya si perempuan tunggal Touw Hong sudah kelelahan karena pertempurannya tadi melawan Liem Tou apalagi kini didesak terus oleh serangan serangan ganas dan dahsyat yang dilancarkan oleh lelaki berkerudung hitam itu, semakin lama si perempuan tunggal merasa hatinya semakin terperanjat.
Mendadak terdengar manusia berkerudung hitam itu mendengus dingin, ilmu pedangnya tiba tiba berubah.
Si perempuan tunggal seketika itu juga merasakan empat penjuru di sekelilingnya sudah di kelilingi bayangan pedang yang amat rapat sekali bahkan dari ujung pedangnya secara samar samar terasa ada segulung angin pukulan yang makin lama semakin mendesak dirinya.
Si perempuan tunggal tahu keadaannya benar benar kepepet, jikalau dia tidak berusaha untuk mendesak keluar dari kurungan tersebut dia orang tentu akan menemui bencana.
Siapa tahu justru pada saat itu hasrat ada tetapi tenaga berkurang, dia orang cuma bisi menyingkir ke kanan menghindar ke kiri saja ditengah kurungan bayangan pedang laksana sebuah gunung Thay san itu, untuk beberapa saat lamanya dia tidak berhasil meloloskan diri dari dalam kurungan.
Si manusia aneh berkerudung bitam itu ketika melibat semangatnya lama sekali tidak berhasil mengalahkan diri perempuan tunggal itu daiam hati agaknya merasa cemas juga, mendadak jurus pedangnya sekali lagi diubah. . .
Sreeet . , sreeet., sreeet .. berturut turut dia melancarkan tiga serangan gencar ke depan, si perempuan tunggal Touw Hong segera meloncat ke atas udara dan berputar putar lasana seekor burung walet yang terbang ke langit, dengan bersusab payah dia berhasil juga menghindarkan diri dari dua serangan yang pertama.
Ketika mencapai pada jurus ketiga terlihatlah manusia aneh berkerudung hitam itu menggetarkan pergelangan tangannya lalu deagan mendadak ditusukkan ke depan.
Setelah melalui getarannya tadi mendadak ujung pedangnya terpecah menjadi tiga dan menyerang tiga tempat yang berbeda dalam waktu yang bersamaan. Perrubahan hawa khie khang yang amat lihay ini sudah tentu si perempuan tunggal tahu jelas bagaimana lihaynya.
Dengan cepat tubuhnya meloncat mundur ke belakang untuk menghindar, siapa tahu ujung pedang itu bagaikan bayangan saja terus menerus mengejar ke depan, belum sempat si perempuan tunggal itu berdiri tegak ujung dari pedang itu sudah mengancam kembali ke tubuhnya.
Si perempuan tunggal Touw Hong menjadi sangat terperanjat sekali sehingga wajahnya berubah jadi pucat pasi. Hatinya menjadi kacau sekali.
Dia semakin tidak sanggup untuk menahan serangan serangan dari musuh lagi, dengan paksakan diri tubuhnya menggelincir ke kiri, dengan menggunakan gaya kedelai malas menggelinding di tanah yang merupakan jurus yang paliug memalukan di dalam dunia kangouw dia orang cepat menjatuhkan diri bergelinding di atas tanah
.
Siupa tahu mendadak dia merasakan pandangannya menjadi gelap, pedang hitam yang amat tajam itu sudah muncul kembali beberapa depa di depan dadanya seadiri, kelihatannya dia segera akan bermandikan darah segar dan menemui ajalnya.
Pada saat yang paling kritis itulah mendadak terasa adanya segulung angin pukulan yang sangat dahsyat sekali menghajar ke arah manusia berkerudung hitam itu disusul melayang datang sesosok bayangan manusia.
Di dalam keadaan terpaksa lelaki berkerudung itu menarik kembali serangannya dan mundur ke belakang.
Orang itu mana mau memberi kesempatan buat dia untuk berganti napas.
Sreeet . . . sreeet . . . berturut turut dia melancarkan beberapa serangan kencang ke depan membuat sebuah loteng kecil itu jadi bergoyang tak henti hentinya terkena sambaran angin pukulan yang menderu deru itu.
Kepandaian silat dari manusia aneh berkerudung hitam itu ternyata libay juga di tengah kurungan angin pukulan yang begitu gencar dan dahsyatnya ternyata dia berhasil juga mundur beberapa langkah ke belakang , pedangnya sekali berkelebat dengan memancarkan sinar yang amat tajam sekali dia menubruk kembali ke. depan berusaha merebut posisi yang lebih baik.
Saat ini dengan perasaan terkejut dan bati berdebar debar keras si perempuan tunggal sudah bangkit berdiri, dia menghembuskan napas panjang dan memandang ke tengah kalangan.
Waktu itulah dia bisa melihat orang yaag baru saja menolong dirinya itu adalah seorang kakek tua berpakaian abu abu dengan kaki telanjang.
Tidak terasa lagi pikirannya jadi sedikit bergerak.
Jika dilihat dari potongannya apa mungkin dialah si cangkul pualam Lie Sang yang merupakan nomor wahid di dalam Bu lim pada saat ini? pikirnya di dalam hati. Jika orang itu benar Lie Sang, lalu siapakah manusia aneh yang berkerudung hitam bertempur dengan dirinya itu?
Sewaktu pikirannya berputar dengan amat cepatnya itulah Lie Loo jie serta manusia aneh berkerudung hitam itu sudah saliog bergebrak sebanyak dua puluh jurus lebih, yang aneh dari kedua orang itu tak ada yang mengucapkan sepatah katapun, tetapi semakin bertempur suasana semakin ramai dan semakin seru ....
Semula agaknya Lie Loo jie menemui kerugian karena harus memberikan perlawanan dengan menggunankan tangan kosong tetapi setelah dia mencabut keluar golok tipisnya keadaan jadi seimbang.
Dalam sekali pandang saja si perempuan tunggal Touw Hong bisa melihat kalau golok yang ada di tangan Lie Loo jie itu tidak kalah tajam nya dengan pedang hitam yang ada di tangan manusia aneh berkerudung hitam itu, kelihatan sekali bahwa orang itu sudah mendapat tandingannya.
Terlihatlah dua bayangan, yang satu hitam sedang yang lain putih semakin bertempur semakin seru untuk beberapa saat lamanya tidak bisa diketahui siapa yang kalah dan siapa yang menang.
Walaupun mereka berdua semakin bertempur makin seru dan kelihatan semakin menghebat tetapi di antara mereka berdua siapspun tidak ada yang mengeluarkan sedikit suarapun, Si perempuan tunggal Touw Hong yang menoton disamping di dalam bati diam diam segera berpikir.
Lie Loji dia orang mempunyai kepandaian silat yang demikian tingginya, tidak aneh kalau di dalam dunia kangouw tidak mendapatkan tandingan. Perkataan dari suhu ternyata sedikitpun tidak salah ilmu silat yang termuat didalam kitab pusaka Toa Loo jin Keng memang benar benar amat dahsyat sekali, sekalipun bukan termaksuk ilmu silat yang paling sakti tetapi hebat juga.
Kiranya si perempuan tunggal Touw Hong itu sebenarnya adalah putri seorang pembesar pada beberapa puluh tahun yang lalu dengan mengikuti orang tuanya dari daerah Kang Lam dia kembali ke desa dan memasuki sebuah pegunungan yang sunyi, saat itu usianya baru tujuh delapan tahun tanpa ada saudara seorangpun.
Dia cuma tahu dari ayahnya lain ibu bahwa dia masih mempunyai seorang kakak perempuan yang sudah kawin dengan Siang Auw Khiam Khek atau si jagoan pedang dari telaga Siang-Aow, Su Boen Liang dan memperoleh seorang, putra, sedangkan kakak perempuannya ini dia sama sekali bcium pernah bertemu.
Siapa tahu begitu memasuki daerah Tbian-Kang orang tuanya saling susul menyusul pulang ke alam baka, sesaat mendekati ajalnya kecuali memesan kepadanya untuk memakai medali perak itu di depan dada dan mencari kakaknya, mereka sama sekali tidak memesan kata kata lainnya lagi.
Si perempuan tunggal Touw Hong yang didalam usia yang begitu mudanya sudah kehilangan orang tuanya kini hidup seorang diri saja, terpaksa setiap hari dia kerjanya cuma menangis saja sehingga pada suatu hari jatuh sakit dengan amat payah sekali. ..."
Untung saja waktu ayahnya menjabat sebagai Pembesar sifat nya amat jujur dan adil sekali sehingga mendapatkan rasa simpatik dari penduduk di sekitar tempat itu, mereka pada turun tangan memberi pertolongan kepada gadis ini bahkan sewaktu sakitnya semakin parah berita ini dengan amat cepatnya sudah tersebar ke seluruh penjuru desa.
Pada saat si perempuan tunggal Touw Hong ini berada di dalam keadaan yang amat kritis itu lah mendadak ditengah malam di samping pembaringannya kedatangan seorang nikouw tua. Ketika nikow tua itu melihat keadaan si perempuin tunggal Touw Hong yang begitu parahnya tidak kuasa lagi sudah menyebut keagunangan Budha.
Omintohud....
Bagaikan seekor burung elang yang mencengkeram anak ayam Nikouw tua itu segera membawa tubuh perempuan tunggal ini meninggalkan rumah, sejak itulah si perempuan cilik yang amat kasihan itu lenyap tak berbekas meninggalkan satu teka teki yang membingungkan penduduk disekeliling tempat itu.
Nikouw tua itu adalah suhu dari s1 perempuan tunggal ini, empat puluh tahun yang lalu dia merupakan salah satu anggota dari How Hay Siang Pian yang bernama Lok Yong dan bersama sama dengan suhunya si cangkul pualam Lie Sang seperti pula suhunya dari Liem Cong si pancingan emas sakti mereka bersama sama mengangkat namanya didalam Bu lim.
Pada tempo hari dikarenakan si hweesio tujuh jari dari gunung Ai Lau San menimbulkan gelombang didalam Bu lim dengan mengadakan pembunuhan secara masal, mereka bersepakat untuk bersama sama bersatu padu membasmi dirinya, siapa tahu saat itu si hwcesio tujuh jari sudah mengandalkan jumlah yang banyak apa lagi mendapat bantuan dari Siauw kok Mo Pian atau si cambuk iblis merengut tulang serta Thiat Bok Tbaysu di dalam keadaan yang kurang waspada Hoa Siong itu suhunya si pancing emas sakti Liem Cong sudah terkena luka dibawah serangan pedang hitam dari si hweesio tujuh jari dan binasa, sedangkan Siauw Kok Thaysu serta Thiat Bok Thaysu diam diam mempunyai rencana sendiri, akhirnya di dalin hari satu pertempuran yang amat sengit si hweesio tujuh jari berhasil dipukul jatuh ke dalam jurang oleh cambuk iblis dari Siauw Kok Tnaysu.
Sejak kejadian itu di antara Auw Hay Siang Hiat sudah kehilangan satu orang, di dalam keadaan yaug amat sedih Lok Yong sudah kembali ke Tionggoan lagi tetapi di sebelah barat dari gunung Ai Lan san yaitu Boe Liang san dia cukur rambut sebagai Nikouw dengan gelar Gong Gong Ni kouw.
Boleh dikata rejeki dari si perempuan tunggal memang bagus, pada saat dia sedang sakit keras itulah Gong Gong Ni kouw sedang melakukan perjalanan melewati tempat tersebut, ketika mendengar suara tangisan yang memedihkan hati dari si perempuan tunggal ini dia orang segera turun tangan menyembuhkan sakitnya bahkan ketika dilihatnya bakat yang dimilikinya amat bagus lantas dibawanya kembali ke atas gunung.
Akhirnya setelah sepuluh tahun ada di atas gunung belajar ilmu silat, ia turun gunung untuk mencari kakak perempuanya. Ia bertemu Auy Hay Ong dan di dalarn tiga jurus dia sudah mengalahka Auw Hay Ong suami istri dan mengangkat namanya didalam Bu lim.
Siapa sangka malam ini berturut turut di harus menderita kekalahan di tangan dua orang, jika membicarakan dari nama besarnya boleh dikata seperti diguyur dengan sebaskom air dingin.
Saat ini pertempuran antara Lie Loo jie dengan manusia aneh berkerudung hitam itu sudah mencapai ratusan jurus banyaknya tanpa terasa pertempuran di antara merekapun makin lama semakin perlahan, tampaklah Lie Loo jie mendadak melancarkan serangan dengan menggunakan jurus pek Im Siauw atau awan putih muncul di puncak dari aliran Kun lun pay. Dengan cepat manusia aneh berkerudung hitam itu menggerakkan pedangnya dengan menggunakan jurus Cho Ih Teng Ie atau sungai gunung berdiri megah yang dengsn amat tepat sekali menghalau datangnya serangan tersebut.
Bangsat cilik sungguh ganas dan buas tindakanmu, terdengar Lie Loo ji membentak dengan amat gusar. Kau jangan kira orang lain belum tahu tindak tandukmu, sudah ada dua hari dua malam aku membuntuti dirimu terus. Hsy bangsat, aku mau tanya, orang orang kangouw ada dendam sakit hati apa dengan dirimu kenapa kau orang membasmi diri mereka sampai keakar akarnya ?
Dengan cepat dia melancarkan serangannya kembali dengan menggunakan jurus Tong Im Jan Gwat, atau awan buyar bulan musnah serta Tiauw Im pat Hong, atau mega tebal delapan penjuru yang merupakan jurus jurus serangan dari ilmu pedang Kun Lun Pay cuma saja serangannya ini bukannya dilancarkan dengan menggunakan pedang melainkan dengan menggunakan golok.
Si manusia aneh berkerudung hitam itu segera putar pedang hitamnya setengah lingkaran lantas ditarik kembali dan berdiri sama sekali tidak bergerak, kelihatannya dia ingin menggunakan ketenangan untuk menggagalkan serangan pihak lawan.
Lie Loo jie segera tertawa dingin lagi
Aku mau tanya padamu, ujarnya lagi. Kau orang mempunyai hubungan apa dengan si penjahat naga merah itu? kenapa kau menyaru nam jahatnya yang pernah digunakan pada dua puluh tahun yang lalu? kenapa kau meninggalkan tanda tanda pembunuhan dimana mana?"
Sembari berkata dia melintangkan goloknya di depan dada dan berhenti menyerang.
Hmm, urusan ini tidak ada sangkut pautnya dengan kau. mendadak terdengar manusia aneh berkerudung hitam itu menyahut sambil memperdengarkan suara dengusannya yang amat dingin.
Pedang hitamnva bagaikan kilat cepatnya mendadak melancarkan serangan kembali menghajar tubuh Lie Loo jie.
Dengan cepat Lie Loo jie menyingkir ke samping goloknya dengan menggunakan ilmu pedang "Hwee Ting Kiam Hoat" dari aliran Thian San Pay. Dia menutup serangan pedang tersebut lantas membabat dengan dahsyatnya ke arah pundak lawan.
Jika harus menghadapi orang lain dengan menggunakan ilmu golok yang begitu dahsyatnya orang tersebut tentu sudah terluka di bawah serangannya. Tetapi ilmu pedang dari manusia aneh berkerudung hitam itu tidak ada di bawah kepandaian Lie Loo jie. Di dalam keadaan yang amat kepepet pedangnya di sapu kedepan kembali mencukil pergi golok dari Lie Loo jie.
Dsngan cepat Lie Loo jie menyingkirkan goloknya ke samping lantas meloncat dua laugkah ke belakang.
Dia melirik sekejap kearah si perempuan tunggal Touw Hong kemudian memandang lagi ke arah manusia aneh berkerudung hitam itu.
Setelah itu matanya dengan amat tajamnya memperhatikan pedang hitam di tangan orang tersebut, agaknya dia sedang berpikir akan sesuatu sedang bibirnya sedikit bergerak mau mengucapkan kata kata, air mukanya berubah jadi amat susah sekali untuk dilihat, agaknya di dalam hati dia hendak megutarakan sesuatu.
"Kaok . . kaok . . keok" tiba tiba terdengar suara teriakan yang sangat aneh bergema datang dengan amat kerasnya.
Selama hidupnya si perempuan tunggal mi) belum pernah mendengar jeritan yang demiki anehnya, saking bergidik seluruh bulu kuduknya pada berdiri, dengan cepat dia putar kepalanya memandang ke arah dimana berasalnya suara tadi.
Tampaklah di depan loteng sudah bertambah lagi dengan dua orang hweesio, yang satu tinggi yang lain kurus kering.
Melihat kedatangan kedua orang itu, Lie Loo jie agak melengak, tetapi sebentar kemudian sudah berteriak keras.
"Hey Thiat Bok Loo ji, si penjahat naga merah, kedatanganmu sangat bagus sekali'
Terhadap diri si penjahat naga merah, perempuan tunggal pernah mendengar dari orang lain setelah dia turun dari gunung tetapi terhadap Thiat Bok Thaysu ini sejak dahulu dia sudah mengetahui dari mulut suhunya yang merupakan salah satu pembantu dari si hweesio tujuh jari yang kemudian mencelakai diri Auw Hay Siang Hiap.
Si perempuan tunggal ini memangnya punya maksud untuk mencari orang ini. Kini setelah mendengar perkataan tersebut dia orang sama sekali tidak mempsrlihatkan perubahan apapun. Dengan amat tenangnya dia memandang diri mereka.
Thiat Bok Thaysu serta si penjahat naga mrrah sewaktu mendengar perkataan dari Lie Loo jie ini mereka cuma memperdengarkan suara dengusannya yang amat dingin, empat buah mata dengan amat tajamnya memperhatikan dirinya lantas dengan perlahan mulai berjalan mendesak kearahnya.
Hmm..Hmm dendam satu kali pukulan tentunya kau masih ingat bukan ?
Sekarang aku mau libat ini hari kau orang mau lari kemana lagi??
Dalam hati Lie Loo jie merasakan hatinya bergetar dengan amat kerasnya, dia tahu keadaan sama sekali tidak menguntungkan dirinya.
Aaah mereka sengaja datang untuk mencari gara gara dengan diriku, pikirnya di dalam hati.. Ternyata dia orang bukan bertujuan untuk mencari orang yang sudah menyaru sebagai si penjahat naga merah itu., jikalau malam ini mereka turun tangan dengan bekerja sama, he . urusan ini tentu sangat merepotkan sekali,
Berpikir sampai disitu tidak terasa lagi hawa murninya segera disalurkan keluar dari pusat ke seluruh badan, dengan pusatkan seluruh perhatiannya dia mencekal kencang kencang golok tipisnya, sepasang matanya dengan tajam tak berkedip memperhatikan seluruh gerak gerik pihak musuh.
Hmm.Hmmm... akhirnya kalian datang juga, heee . . heee .... dengan begitu akupun tidak usah pergi mencari kalian lagi, mendadak terdengar suara seseorang berbicara dengaa sangat dinginnya.
Orang yang baru saja berbicara itu bukan lain adalah si lelaki berkerudung hitam itu,
Thiat Bok Thaysu serta si penjahat naga merah segera bersama sama melirik sekejap kearahnya dengan pandangan menghina.
Tetapi sewaktu Thiat Bok Thaysu dapat melihat pedang hitam yang ada di tangannya tampak tubuhnya gemetar dengan amat kerasnya, dari sepasang matanya secara tiba tiba memancar keluar serentetan sinar yang berwarna hijau yang dengan amat tajamnya memperhatikan pedang tersebut.
Ketika si penjabat naga merah melihat wajah susioknya agak aneh diapun segera memandang ke arahnya dengan tajam.
"Hey Thiat Bok Hweesio" terdengar manusia aneh berkerudung hitam itu berkata lagi dengan suara yang amat dingin sekali, kiranya kalian sehat sehat saja sudah tentu pedang Uh Kien Kiam ini kalian kenal bukan?"
Pada air muka Thiat Bok Thaysu tampak terlintas satu perubahan yang amat aneh, dia termenung berpikir sebentar lantas baru ujarnya.
"Apa mungkin si hweesio tujuh jari masih bidup di dunia ini?"
Ketika Lie Leo jie serta si penjahat naga merah mendengar perkataan yang diajukan tersebut, bagaikan terkena aliran listrik bersama sama berteriak kaget dalam hati mereka lantas timbul kembali rasa benci yang sudah terkubur lama sekali di dalam hati mereka.
Cuma saja apa yang dipikirkan oleh Kedua orang itu sama sekali berbeda, Lie Loo jie adalah ahli waris dari Hoa Siong salah satu dari Auw Hay Siang Hiap, pada tempo han si hweesio tujuh jari sudah membinasakan diri Hoa Siong berarti pula si hweesio tujuh jari ini adalah musuh besar dari Lie Loo jie.
Selama ini Lie Loo jie sama sekali tidak pernah membalas dendam karena menurut apa yang ia ketahui musuh besarnya sudah binasa, kini mendengar perkataan tersebut sudah tentu dia orang merasa terperanjat sekali.
Sebaliknya di jalan pikiran si penjahat naga merah malah sebaliknya si hweesio tujuh jari terjatuh ke dalam jurang karena terpukul oleh cambuk iblis dari Suo Kok Thaysu, sedangkan si penjahat naga merah adalah anak murid dari Suo Kok Thaysu itu berarti juga si penjahat naga merah ini adalah anak murid dari musuh besar pembunuh si hweesio tujuh jari.
Sebaliknya si perempuan tunggal Touw Hong pun sudah berpikir dengan amat kerasnya, karena si hweesio tujuh jari ini adalah satu satunya musuh bebuyutan dari suhunya Lok-Yong.
Mereka bertiga tanpa terasa lagi sudah merasa tegang, dan kini pada menanti jawaban dari manusia aneh berkerudung hitam itu.
Terdengar manusia aneh berkerudung hitam itu sekali lagi tertawa dingin, dengan perlahan lahan dia melepas kerudung yang menutupi wajahnya sehingga seketika itu jaga tampaklah sebuah wajah yang putih bersih dengan mulut yang kecil hidungnya mancung dan merupakan seorang pemuda yang sangat tampan sekali.
Cuma sayang di atas wajahnya yang putih bersih iru secara samar samar tampak warna kehijau bijauan yang menghiasi pipinya, walaupun senyuman menghiasi bibirnya tetapi tampaklah senyuman itu amat dingin dan kaku sekali.
Si hweesio tujuh jari ada atau tidak, di dalam dunia ini adalah sama suja. Dendam berdarah tersebut dapat dihituug oleh aku orang, ujarnya dengan perlahan.
Selesai berbicara dia melirik sekejap ke arah Lie Loo jis, lantas sambungnya lagi.
Si hweesio tujuh jari mempunyai dendam dengan dirimu, kau orang boleh cari aku orang saja . aku tidak menolak, tetapi kau harus tunggu dulu, biar aku bereskan hutang piutang dengan orang itu terlebih dahulu kemudian baru pergi mencari kau.
Lie Loo jie sama sekali tidak menyangka kalau dia orang akan mengatakan hal itu seperti sudah merencanakan hal ini masak masak tak terasa lagi dia mengerutkan alisnya rapat rapat.
Lalu kau adalah apanya si hweesio tujuh jari itu? tanyanya.
Soal ini kau orang tidak usah ikut campur sambut pemuda itu sambil memperlihatkan satu senyuman yang amat tawar dan dingin sekali. Aku orang berani memikul bebannya sudah tentu tidak akan ada sebabnya mencari gara gara buat diriku sendiri.
Baiklah ujar Lie Loo jie kemudian dengan ketus Aku tentu akan khusus mencari dirimu untuk membalas dendam ini.
Selesai berkata dia kebutkan ujung bajunya lantas hendak berlalu dari loteng tersebut.
Tahan tiba tiba terdengar Thiat Bok Thaysu membentak dengan suara yang amat keras.
Sambil membentak tangannya dia diayunkan ke depan sehingga terasalah segulung angin pukulan yang amat dahsyatnya menghalangi Lie Lo jie.
.
Lie Loo jie segera menghentikan lanngkahnya dengan gusar.
Hae . hee . .Thiat Bok Hweesio kau orang tidak usah jual lagak dihadapanku, mendadak terdengar pemuda berbaju hitam itu membentak dengan suara yang amat keras.
Pedang hitam dengan cepat berputar hingga membentak hawa pedang yang amat rapat sekali mendesak kearah depan tetapi baru saja sampai di tengah jalan mendadak dia sudah menarik kembali serangannya dan maju satu langkah ke depan.
Tubuhnya berputar dengan amat cepatnya ke samping sedangkan tangannya dengan mengikuti gerakan tersebut kirim satu tamparan yang amat nyaring ke atas pipi dari si penjahat naga merah yang berdiri disampingnya itu.
Tiga hari kensudian diatas puncak gunurg Hauw Ya san aku orang akan khusus menantikan datangan kalian berdua, ujarnya kemudian. Jika kalian tidak berani datang . .H m m, aku rasa kalian tidak akan mudah lolos dari bawah serangan pedangku.
Si penjabat naga merah yang kena ditampar sehingga pipinya terasa amat sakit dalam hatinya menjadi amat gusar, dia meraung keras. Cambuk naga merah ditangannya dengan cepa dibabat ke depan menerjang tubuh pemuda berbajuhitam itu.
Tubuh pemuda berbaju hitam itu sama sekali tidak bergerak, dia cuma memandang dirinya sambil tertawa dingin.
Kelihatannya serangan dari si penjahat naga merah sudah hampir mengenai sasarannya, mendadak Thiat Rok Thaysu yang ada disampingnya bergeser satu langkah ke depan dan menyambar cambuk naga merah tersebut.
"Ayoh pergi !" bentaknya dengan keras.
Selesai berkata dengan cepat tubuhnya meloncat ke atas lalu melayang pergi dari loteng tersebut dan lenyap ditengah kegelapan.
Di kala petnuda berbaju hitam itu melihat kedua orang itu sudah pergi dia segera mendengus dengan amat dinginnya lalu putar badannya dan melirik sekejap ke arah Lie Loo jie serta si perempuan tunggal Touw Hong, mulutnya sedikit bergerak agaknya mau membicarakan sesuatu tetapi kemudian ditutup kembali dan putar kepalanya berjalan pergi dari sana.
Kini tinggal Lie Loo jie serta si perampuan tunggal Touw Hong yang saling pandang memandang tanpa ada yang mengucapkan sepatah katapun.
Akhirnya si perempuan tunggallah yang menjatuhkan diri ke depan memberi hormat kepada diri Lie Loo jie.
"Terima kasih atas budi pertolongan dari suheng" ujarnya dengan sangat hormat.
Lie Loo jie yang mendengar perkataan dari gadis yang ada dihadapannya ini memanggil dirinya dengan sebutan suheng dia orang menjadi melengak dan berdiri melongo, lama sekali dia tidak mengucapkan sepatah katapun tetapi matanya dengan terpesona memperhatikan diri si perempuan tunggal Touw Hong itu.
Akhirnya sinar matanya berhenti diatas medali perak yang tergantung dibagian dada perempuan tunggal tersebut, mendadak dia menjadi sadar kembali.
Nona apakah bukan si perempuan tunggal Touw Hong yang baru saja mengalahkan lociang suami istri dari Kiem Thien Pay di daerah Selatan? tanyanya kemudian. Kepadaku kau orang memanggil si orang tua dengan sebutan suheng?
Dengan sedihnya si perempuan tunggal menundukkan kepalanya.
Pada empat puluh tahun yang lalu suhu sudah menyepi di atas gunung Boe Liang san tidak mau mencampuri urusan dunia kangouw lagi sudah tentu suheng sudah tidak mengenalnya lagi, sedangkan tindakan dari sumoay untuk mengalahkan si Auw Hay Ong suani istri di dalam tiga jurus kemudian menuju kearah Selatan tidak bukan karena sumoay ingin mencari jejak dari ciciku, aku tidak bisa berbuat apa lagi dan terpaksa harus melakukan tindakan ini
Mendengar perkataan itu tampak sepasang mata dari Lie Loo jie sedikit bsrkedip kedip mendadak dia menjerit kaget
Ahhh...apakah Lok susiok masih ada di dalam dunia? tanyanya dengan cepat.
Si perempuan tunggal Touw Hong yang teringat kembali dengan jerih payah suhunya Gong Gong Ni Kouw selama sepuluh tahun mendidik dirinya tidak disangka belum lama turun gunung berturut turut di dalam satu malaman sudah menderita kekalahan di tangan Liem Tou serta pemuda berbaju hitam itu.
Mendengar perkataan tersebut dia jadi amat sedih sehingga tidak tertahan lagi air matanya mengucur dengan amat derasnya.
Dia orang tua masih berada dalam keadaan sehat walafiat. sahutnya sambil mengangguk.
Lie Loe jie sama sekali tidak menyangka kalau angkatan tua yang sudah lenyap empat puluh tahun lamanya, secara tidak disengaja sudah diperoleh beritanya. Saat ini di dalam hatinya tidak terkira girangnya dia segera tertawa terbahak bahak dengan amat kerasnya, lantas mencekal sepasang tangan dari si perempuan tunggal kencang kencang.
Sungguh tidak disangka dia orang tua masih hidup di dalam dunia, serunya sambil melelehkan air matanya Pada puluhan tabun yang lalu I heng beserta Cong te pernah menjelajahi seluruh tempat untuk mencari berita dari kedua orang loocianpwee kurang lebih kami berkelana selama tiga tahun lamanya tetapi tidak memperoleh hasil juga.
Akhirnya kami menganggap mereka berdua orang tua sudah menemui ajalnya, karena itu aku lantas berdiam di atas gunung Wo bie heeei . . siapa sangka Lok Susiok masih dalam keadaan sehat sehat saja sungguh hal ini sangat di luar dugaan.
Si perempuan tunggal Touw Hong yang mendengar perkataan ini hatinya merasa amat terharu, dengan cepat dia berusaha menahan rasa sedih yang mencekam di dalam hatinya lantas bertanya.
' Sumoay pernah mendengar perkataan dari suhu, kecuali suheng seorang masih ada jie suheng dia orang sekarang berada dimana?
Lie Loo jie yang ditanyai dengan pertanyaan tersebut akhirnya tidak kuasa lagi menahan menetesnya titik titik air mata dari kelopak matanya.
Jie suhengmu aku rasa sudah lama meninggal, sejak Jie suso meninggal dia orang sudah uring uringan terus akhirnya di atas pertemuan puncak para jago diatas gunung Hoa san dia menemui kekalahan di tangan Thian pian Siauw cu membuat hatinya semakin tidak keruan, sejak kepergiannya sampai saat ini tidak kembali juga, aku rasa suhengmu itu tentu sudah menemui ajalnya.
Tetapi. . .sambungnya kemudian setelah menghembuskan napas panjang. Sekalipun Cong te sudah pergi tetapi pada waktu waktu dekat ini dia mempunyai seorang keturunan yang bisa mengangkat tinggi nama keluarganya, hal ini boleh dikata merupakan satu peristiwa yang patut digembirakan.
Mendengar perkataan tersebut si perempuan tunggal segera merasakan hatinya tergetar amat keras, tidak kuasa lagi dia nyaletuk.
Keturunan yang Lie Loo jie suheng maksud, apakah dia bernama Liem Tou?"
Mendengar disebutnya nama Liem Tou dengan pandangan yang amat tajam Lie Loo jie memperhatikan diri si perempuan tunggal membuat dia orang saketika itu juga menjadi malu sehingga air mukanya berubah memerah.
Bagaimana kau orang bisa tahu? apa kau sudah bertemu dengan dia orang? tanya Lie Loo-jie kemudian.
Si perempuan tunggal yang teringat kembali sifat dari Liem Tou yang amat jumawa itu dalam hati segera merasa mendongkol lagi.
"Bagus sekali" serunya keras. Ternyata Jie-suheng mempunyai seorang putra yang begitu baiknya, aku hampir hampir saja terluka ditangannya. Hmm, kepandaian silat yang dia orang miliki sungguh amat lihay sekali.
Aaaa. . .tentu kau orang sudah salah melihat bantah Lie Loo jie dengan cepat dia gelengkan kepalanya berulang kali. Mana mungkin kepandaian silat yang dimilikinya pada saat ini sangat lihay?? tetapi bakatnya memang sangat bagus.
Si perempuan tunggal yang mendengar Lie-Loo jie berkata kalau kepandaian silat dari Liem Tou tidak tinggi dia orang segera membantah dengan ngotot.
Subeng terlalu memandang rendah dirinya, bila dia orang disuruh bertempur melawan pemuda berbaju hitam itu mungkin dia masih dapat merebut kemenangan.
Lie Loo jie memang tidak mengetahui kalau Liem Tou sebetulnya memiliki kepandaian silat yang amat tinggi, ketika teringat kalau kepandaian silat pemuda berbaju hitam itu seimbang dengan dirinya tidak terasa lagi dia tertawa terbahak bahak.
Aku bilang, sekalipun Cong te mempunyai seorang keturunan yang bagus tetapi kepandaian silatnya belum jadi, bagaimana sumoay memandang begitu tinggi terhadap dirinya.
Si perempuan tunggal yang mendengar Lie-Loo jie terus menerus tidak mau percaya, dia lantas mengganti dengan bahan pembicaraan yang lain.
"Suheng, kau mau pergi ke mana?" tanyanya. Dengan perlahan Lie Loo jie menghembuskan napas panjang.
Aku telah menguntit si penjahat naga merah palsu selama sebulan dan boleh dikata ini hari baru dianggap selesai.
Setelah ini aku mau pergi memenuhi janji dengan si pemuda berbaju hitam keturunan dari hweesio tujuh jari itu lantas pergi juga ke Cing Jan untuk memenuhi janji seorang jagoan berkepandian tinggi. Sumoay maukah kau orang berjalan bernama sama dengan I-heng?
Si perempuan tunggal segera mengangguk dan tersenyum, dengan bergandengan tangan mereka berdua segera meninggalkan loteng setan tersebut
Malam semakin kelam . , , angin musim semi sepoi sepoi . . . bintang yang kecil memancarkan sinar yang terang dari tengah udara menyinari permukaan tanah secara samar samar.
Suara gonggongan anjing dengan ramainya bergema memecahkan kesunyian dan menambah keseraman pada malam hari itu.
Diatas jalan raya yang amat sunyi itu mendadak tampaklah dua sosok bayangan hitam yang lerkelebat dengan amat cepatnya, kedua sosok bayangan itu walaupun kelihatan sangat enteng tetapi gerakannya sangat cepat sekali laksana berkelebataya sinar kilat, mereka berdua adalah Lie Loo jie serta si perempuan tunggal Touw Hong.
Si perampuan tunggal tersebut sejak kecil yang sudah kehilangan orang tua sejak turun gunung belum pernah merasa gembira seperti hari ini. dia telah menganggap Lie Loo jie sebagai orang tuanya sendiri, sambil tersenyum dia mencekal erat erat lengan dari Lie Loo jie sedang mulutnya tiada hentinya berbicara.
Suheng, bukankaa kau orang mau pergi ke Cing Jan untuk menemui jagoan berkepandaian tinggi itu, sabetulnya kepandaian dia orang telah mencapai seberapa tingginya ?
Lie Loo jie yang melihat perempuan tunggal itu memandang dirinya dengan begitu mesra diapun sudah menganggap dirinya sebaga putrinya sendiri, mendengar pertanyaan tersebut dia segera tertawa.
Heeeiii . . . jika dibicarakan sungguh hatiku merasa kecewa sekali, bukan saja I heng tidak mengetahui bagaimana macamnya orang itu bahkan sampai seberapa tinggi kepandaian silat yang dimiliki olehnya aku sendiripun tidak tahu, cukup kita bicarakan tentang aku yang cuma mendengar suaranya saja hal ini sudah jelas memperlihatkan kalau ilmu meringankan tubuhnya sudah dilatih hingga mencapai pada taraf kesempurnaan, ternyata I heng telah kehilangan sebuah tameng baja tanpa aku rasa, coba kau pikir seberapa tingginya kepandaian orang ini.
Sampai waktunya aku pun ingin menemu orang ini, ujar perempuan tunggal setelah mendengar perkataan tersebut. Aku tidak percaya dengan ketajaman mataku dia orang masih bisa lolos juga.
Lie Loo jie cuma tersenyum tidak mengucapkan kata kata lagi.
"Suheng, seru si perempuan tunggal Touw-Hong medadak, agaknya dia sudah teringat akan sesuatu Pertemuan di atas puncak pertama Cing Jan bukankah pada tanggal lima bulan lima?"
Mendengar perkataan ini Lie Loo jie jadi terperanjat.
Aku tidak memberi tahu waktunya kepadanya bagaimana dia bisa tabu? pikirnya. Tetapi dia mengangguk juga.
Sumoay mengetahui dari mana? tanyanya.
Bukankah taggal itu adalah janji Liem Tou kepadaku, aku melihat dengan mata kepala sendiri dia orang mengerahkan tenaga saktinya mengukir di atas batu sedalam beberapa coen, jelas kepandaian silatnya amat tinggi sekali, bagaimana kau orang bisa berkata demikian kalau ilmu silat yang dimilikinya biasa saja.
Lie Loo jie yang mendengar dua tiga kali si perempuan tunggal Touw Hong mengatakan kalau kepandaian yang dimiliki Liem Tou sangat tinggi, pula keanehan dari sang kerbau waktu ada di kuil Siang Lian si kemarin malam, pikiran di dalam hatinya jadi goyang juga.
Bangsat cilik, kau berani juga mempermainkan diriku?"
Dia segera mendengus dingin dan tidak mengucapkan sepatah katapun
Si perempuan tunggal yang melihat air muka Lie Loo jie memperlihatkan sikapnya yang kurang sanang dia segera menyingkirkan urusan itu jauh dari pembicaraan, sejak waktu itu dia cuma menceritakan bagaimana sewaktu dia belajar ilmu silat dari suhunya di atas gunung Bo Liang san.
Kedua orang itu kembali berlari lagi beberapa saat lamanya. Mendadak di hadapan mereka sudah terhalang kembali dengan sebuah gunung yang amat besar sekali.
Mendadak Lie Loo jie seperti sudah teringat akan sesuatu hal, dia segera menghentikan langkahnya lalu berkata kepada si perempuan tunggal.
Sumoy, tiga hari kemudian aku mau pergi kegunung Hauw Ya san untuk melihat pertempuran antara utusan dari hweesio berjari tujub serta Thiat Bok Thaysu dan si panjahat naga merah, di sana aku mau melihat dulu kepandaian dari pemuda itu, kau rasa bagaimana?"
Jikalau suheng mau pergi sudah tentu sumoay akan mengiringinya, sahut si perempuan tunggal sambil tertawa. Tetapi aku harus pergi meninggalkan pesan dulu dsngau Ciang Cau suami istri kalau sejak hari ini aku tidak kembali lagi ke sana.
Kau orang memang seharusnya berbuat demikian sahutnya membenarkan.
Siapa tahu baru saja dia selesai berkata mendadak dari belakang gunung terdengar suara bentrokan senjata tajam amat ramai sekali, tidak terasa lagi dia jadi merasa sangat heran sekali.
Di tengah malam buta seperti ini siapa yang sedaag bertempur di tempat itu??"
Pada saat itulah dari puncak gunung tampaklah sesosok manusia meloncat turun dengan amat cepatnya, walaupun berada i kegelapan malam yang amat buta tetapi mereka bisa melihat jelas sewaktu orang itu memainkan ujung jubahnya tampaklah jubahnya berwarna merah yang dipakainya berkibar tertiup angin, diikuti dari belakang badannya kembali ada orang yang menguntit.
Orang itu mempunyai perawakan yang kurus tinggi dan amat kaku, sekali pandang saja Lie Loo jie sudah tahu siapakah orang itu sehingga tanpa terasa lagi sudah menjadi kaget.
Aaaah.. si pembesar buta serta si hweesio mayat hidup, bagaimana mereka bisa berada disini? pikirnya keheranan.
Si perempuan tunggal yang tiba tiba melihat orang yaug sedang dikejar oleh si pembesar buta serta si hweesio mayat hidup itu tak terasa serunya dengan keras.
Suheng cepat pergi, malam ini aku orang mau suruh kau melihat sendiri bagaimana lihaynya kepandaian silat dari Liem Tou.
Di tempat kejauhan terlihatlah si pembesar buta serta si hweesio mayat hidup itu berkumpul jadi satu.
Tunggu dulu, ujar Lie Loo jie dengan cepat. Kita coba dengarkan dulu apa yang sedang mereka katakan.
Sambil berkata dengan cepat dia membawa si perempuan tunggal untuk bersembunyi di balk sebuah batu gunung yang besar di bawah kaki gunung itu.
Tidak lama kemudian tubuh si pembesar buta serta si hweesio mayat hidup sudah semakin mendekat.
Terdengar sihweesio mayat hidup dengan amat gusar memaki.
Kurang gajar, malam ini aku sudah bertemu dengan setan.
Si pembesar butapun menghembuskan napas panjsng.
Heeei ombak belakang dari sungai Tiang-Kiang mendorong ombak didepan orang. orang lama sudah diganti dengan orang orang baru. Tidak kusangka cuma beberapa saat saja Liem Toa si bocah pengangon kerbau itu sudah memiliki kepandaian silat yang demikian lihaynya
Hemm, jikalau orang ini tidak dibasmi secepatnya, aku lihat sekalipun Ong ya sendiri juga tidak akan sanggup menandingi dirinya seru si hweesio mayat hidup dengan gusarnya. Jikalau dibiarkan terus, maksud kita untuk menjagoi seluruh Bu lim tentu merupakan satu urusan yang sukar untuk dilaksanakan.
Perkataanmu sedikitpun tidak salah sahut si pembesar buta sambil menghela napas panjang. Jika dlihat dari situasi ini hari, kita orang bisa loloskan diri saja sudah boleh dikata sangat untung.
Saat itulah si perempuan tunggal yang bersembunyi di baiik batu besar sudah menyenggol diri Lie Loo jie
Suheng sudah dengar sendiri bukan.? ujarnya sambil tertawa. Aku bilang tenaga dalam dari Lim Tou sudah mencapai pada taraf kesempurnaan dan bukanlah omongan kosong bukan.?
Lie Loo jie cuma merasa amat mengkel sekali terhadap diri Liem Tou tidak seharusnya dia orang menyelimuti dirinya tetapi saat ini dia cuma mengangguk tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Jarak dari si pembesar buta serta hweesio mayat hidup saat ini tinggal dua kaki saja dari tempat persembunyian mereka sehingga tasbeh serta tongkat besi yang mereka bawa bisa kelihatan dengan amat jelasnya.
Mendadak terlihatlah si pembesar buta menghajarkan tongkat besinya ke atas tanah.
"Saudara mayat hidup" ujarnya dengan amat gusar. Jikalau mataku tidak buta, sekalipun Lien Tou si bangsat cilik itu mempunyai tiga kepala enam tanganpun aku pasti akan menantang dia untuk bertempur satu lawan satu.
Siapa tahu baru saja dia selesai berbicara mendadak tongkat besinya dihajarkan keatas batu besar yang ada disampingnya bersamaan pula bentaknya gusar.
"Bajingan kau jangan mengira aku orang buta bisa dipermainkan sesukanya.
Si pembesar buta ini memang benar benar sangat lihay sekali, sekalipun sepasang matanya sudah buta tetapi ketajaman telinganya jauh lebih tajam beberapa kali lipat dari orang biasa, karena itu begitu si perempuan tunggal memperdengarkan suaranya dari tempat kejauhan dia sudah mendengarnya.
Cuma saja karena sifatnya yang amat licik dan tidak pernah memperlihatkan perubahan pada wajahnya sehingga sekalipun mau turun tangan dia berbicara dulu soal urusan lain untuk menutupi maksud tersebut kemudian dengan mengambil kesempatan sewaktu orang tidak bersiap siap dia melancarkan serangan bokongannya.
Jikalau caranya ini ditujukan pada orang lain mungkin bisa berhasil tetapi sayangnya kedua orang itu bukanlah manusia sembarangan.
Dengan cepat Lie Loo jie menarik tangan perempuan tunggal untuk diajak muncul, siapa sangka tarikannya ini ternyata sudah mencapai sasaran yang kosong.
Lie Loo jie tidak berani berdiam terlalu lama lagi, tubuhnya dengan cepat meloncat mudur ke belakang menghindarkan diri jauh jauh dari batu besar tersebut.
Belum sampai dia berhasil berdiri tegak terdengar suara ledakan yang amat keras, batu yang amat besar itu segera hancur berantakan jadi empat lima bagian oleh gebukan tongkat besi dari pembesar buta ini.
Lie Loo jie yang merasa khawatir terhadap keselamatan dari si perempuan tunggal Touw Hong itu, dengan cepat dia menoleh ke arah sana untuk mencari dirinya dan siapa tahu jejaknya sudah tidak tampak lagi, ketika dia angkat kepalanya ke atas, saat itulah dia baru bisa melihat sesosok bayangan hitam yang berkelebat dengan amat cepatnya menuju puncak gunung itu.
Saatt itulah dia baru sadar kembali, pikirnya.
Sungguh menyesal sekali, tidak kusangka ilmu silat dari sumoay bisa begitu dahsyatnya.
Dia tidak mau berdiam lebih lama lagi ditempat itu, hawa murninya dengan cepat ditarik lalu dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh yang paling lihay dia mengejar dirinya ke atas.
Sebaliknya si pembesar buta serta si hweesio mayat bidup hampir hampir boleh dikata tidak dapat melihat jelas keadaan dari bayangan manusia itu mereka menganggap tongkat besinya itu sudah menghajar batu sehingga mengejutkan dua ekor burung yang lantas terbang keangkasa karena kaget.
Sewaktu Lie Loo jie tiba di atas puncak, Touw Hongitu sudah menantinya di atas, begitu dia sampai tiba di sana sambil menuding ke arah sebuah bukit kecil.
ujar si perempuan tunggal dengan cepat. Suheng, kita tidak boleh membuang waktu lebih lama, tidak perduli bagaimana pun sebelum meninggalkan Kiem Thien Pay, Ciang Cau suami istri tidak dapat menderita luka di tangan Liem Tou.
Lie Loo jie mengangguk.
Memang seharusnya begitu, ayoh cepat pergi ke sana.
Mereka berdua tidak berani membuang waktu, dengan cepat tubuhnya meloncat setinggi satu dua puluh kaki lantas berjumpalitan di tengah udara amat lincahnya, bagaikan dua ekor burung malam dengan cepatnya mereka menuju ke arah lembah gunung tersebut.
Ketika hampir tiba di tempat itu mendadak Lie Loo jie bisa melihat si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie sedang duduk di atas sebuah batu besar dengan tenangnya, mereka pada saat itu sedang ngobrol dengan gembira, sedikitpun tidak kelihatan rasa kaget atau jeri.
Tetapi pada jarak beberapa kaki dari kedua orang itu tampaklah delapan, sembilan puluh orang sedang berputar putar saling desak mendesak dengan amat kacaunya, senjata tajam yang ada di tangan setiap orang tampak berkelebat saling tusuk dengan ramainya, keadaan mirip sekali dengan pertempuran yang amat sengit, tapi sama juga seperti dengan satu permainan belaka.
Lie Loo jie dengan perempuan tunggal dengan cepat melayang turun di samping badan si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie.
Si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie yang melihat dari tengah udara mendadak melayang turun dua orang dalam hati mereka merasa terperanjat sekali, tetapi setelah mengetahui siapa yang baru datang itu mereka jadi amat terperanjat bercampur girang.
Belum sempat mereka mengucapkan sesuatu Lie Loo jie sudah keburu berkata.
Wan jie, Ie jie nyali kalian berdua sungguh besar sekali, kenapa kalian duduk tenang tenang di sini??
Tia, bagus sekali kedatanganmu, coba kau lihat Liem koko sedang bermain dengan kera, serunya sambil menunjuk ke tengah kalangan.
Wan jie, kau jangan sembarangan ngomong, seru Lie Loo jie kebingungan. Siapa yang sedang main dengan kera?
Coba kau lihat disana! Sahut si gadis cantik pengangon kambing sambil menunjuk kembali ke tengah kalangan itu. Orang itu dibikin kocar kacir oleh Liem koko, mereka tidak sanggup mengalahkan Liem koko tetapi untuk melarikan diripun tidak sanggup .... Aaaah-
Kepandaian silat dari Liem koko sungguh lihay sekali.
Lie Loo jie yang mendengar perkataan tersebut segera mendengus, ketika memandang ke tengah kalangan dia bisa melihat Auw Hay Ong suami istri, si gadie berbaju hijau Ciang Beng Hu, Hweesio, pengemis serta empat orang pemuda berbaju hitam cuma bisa berputar putar seluas beberapa kaki saja, bahkan pada kening setiap orang sudah dibasahi oleh keringat yang mengucur keluar dengan derasnya.
Dibawah sinar rembulan yang samar samar dia orang hanya dapat melihat jago jago yang terkurung itu sedangkan bayangan dari Liem Tou sama sekali tidak kelihatan.
Saat itu terdengar si Auw Hay Ong Ciang Cau dengan amat gusarnya berkoak koak keras.
"Liem Tou" teriaknya keras. "Kau bangsat cilik liar, kalau mau bunuh cepatlah bunuh diri kami, aku orang sekalipun sudah tua tapi tidak takut mati.. Hum, jikalau pada suato hari aku tidak hancurkan badanmu sampai berkeping keping aku orang tidak akan puas dengan dendam ini.
Hmra, cuma gemas aku Loo nio tidak berhasil melatih ilmuku sehingga mencapai kesempurnaan terdengar Auw Hay Bong pun sedang berteriak. Jikalau kau orang mempunyai nyali lepaskanlah kami saat ini, tiga tabun kemudian jikalau aku tidak berhasil mengorek keluar jantungmu aku sumpah tidak akan jadi manusia.
Jika di dengar dari suara makian Auw Hay Ong suami istri, sekalipun ditengah kalangan tidak kelihatan bayangan dari Liem Tou tetapi si perempuan tunggal serta Lie Loo jie percaya kalau orang yang sedang bertempur ditengah kalangan itu bukan lain adalah diri Liem Tou tidak terasa lagi beratus ratus macam pikiran bersama sama kerkumpul di dalam benaknya, diam diam dia menduga tentunya Liem Tou si bocah cilik ini sudah mempelajari kitab pusaka To Kong Pit Liok.
Baru saja dia berpikir sampai di sini mendadak dari tengah kalangan pertempuran terdengar suara tangisan yang amat keras si hweesio itu, sembari menangis keras dia menggerak gerakkan keki tangannya yang tidak leluasa itu dan memohon tak henti hentinya.
Kongcu ya, kau lepaskan diriku, coba bayangkan aku masih punya sakit hati yang belum terbalas jikalau ini hari aku menemui ajalku karena kecapaian bukankah aku mati dengan hati tidak tenteram.
Dari tengah kalangan pertempuran segera terdengarlah suara tertawa yang amat ringan sekali.
Plaaak. . .Di atas pipi si rase salju secara tiba tiba sudah kena tamparan yang amat keras sekali sehingga membuat wajahnya ketika itu juga membekas lima jari dengan amat jelasnya.
Para pembaca sekalian tentu menganggap Liem Tou sudah memiliki ilmu melenyapkan diri bukan? padahal pikiran saudara saudara sekalian salah besar, gerakan tubuhnya tidak sampai kelihatan hal ini disebabkan saking cepatnya gerakan tubuh dari dia orang sehingga pandangan mata orang yang menonton serasa kabur dibuatnya.
Saat ini Lie Loo jie benar benar sudah merasa tidak tega, dia melirik sekejap ke arah si perempuan tunggal.
Suheng, terdengar si perempuan tunggal memohon dengan perlahan, cepatlah suruh dia orang berhenti.
Liem Tou. Teriak Lie Loo jie dengan cepat Memandang di atas wajah ayahmu si pancingan emas sakti Liem Cong yang mempunyai persahabatan sama seorang musuh besar kau lepaskanlah dirinya satu kali.
Selesai berkata Lie Loo jie menganggap tentunya Liem Tou akan memberi jawaban, siapa tahu sekalipun sudah ditunggu beberapa saat lamanya tetap tidak mendengar jawabannya, pikirannya segera berputar, teriaknya kembali dengan lantang.
Liem Tou aku tahu tentu dalam hatimu masih ragu ragu, jikalau kau tidak per caya cobalah pikirkan kata kata ini.
Hutan Belantara (Liem) lebat bagaikan sutera gunung bersalju (Han San) dan daerah sekitarnya membawa ke pedihan hati . . bukankah syair itu ayahmu Liem Ham San paling suka membacanya? syair itu ayahmu si pancingan emas sakti setelah istrinya meninggal dia sering baca dan akhirnya dengan membawa putranya dia orang meninggalkan gunung Go bie aku pikir dia orang mengubah dirinya dengan Liem Han San dan sudah tentu hasil gubahan dari kedua patah syair tersebut coba kau pikir . . . betul tidak perkataanku itu?
Selesai berkata Lie Loo jie memandang kembali ke tengah kalangan untuk menantikan jawaban dari Liem Tou.
Mendadak dari tengah kalangan berkumandang suara suitan panjang yang menggetarkan seluruh lembah tersebut membuat setiap orang telinganya terasa sakit sekali, seluruh dedaunan serta ranting pada berguguran sedang pepohonan pada bergetar dengan amat keras sekali.
Sebentar kemudian segera terlihatlah sesosok bayangan hijau yang datang bagaikan kilat cepatnya meluncur ke tengah udara, hanya di dalam sekejap saja dia sudah melewati punca gunung dan berlalu dari sana diiringi suitan panjangnya yang amat mengerikan itu.
Si perempuan tunggal yang melihat Liem Tou tidak mau bertemu babkan berlalu dari sana dengan diiringi suara suitan panjang yang secara samar samar membawa kepedihan hatinya dia segera tahu kalau dia orang sudah teringat akan ayahnya setelah mendengar penjelasan tersebut, dia merasa bahwa orang ini rada aneh sekali .
Ketika teringat pula kalau dia orangpun mempunyai medali perak, hatinya semakin dibuat bingung lagi, hanya di dalam sekejap saja berpuluh puluh pikiran bersama sama saling desak mendesak dalam benaknya.
Mendadak dia sadar kembali dan serunya pada Lie Loo jie yang ada disampingnya.
Suheng sumoay mau pergi mengejar dirinya.
Kemudian serunya kepada Auw Hay ong yang berdiri termangu mangu di tengah kalangan, ujarnya dengan keras.
Budi kebaikan dari kalian suami istri berdua aku orang merasa sedih tidak bisa membalasnya, keagungan serta perkembangan dari Kiem Thien Pay selanjutnya aku serahkan pada kalian, kalian berusahalah untuk tancapkan kaki kalian di dalam Bu lim dengan mengandalkan kepandaian sendiri. Aku orang disini minta diri dulu, nanti lain waktu jika ada jodoh kita bertemu bembali.
Selesai berkata tanpa menanti jawaban dari orang Kiem Thien Pay lagi dia segera tersenyum kepada Lie Siauw Ie serta si gadis cantik pengangon kambing lantas bagaikan sambaran kilat cepatnya dia berkelebat menuju dimana Liem Tou tadi pergi.
Kita balik kepada diri Liem Tou setelah berhasil mengalahkan si perempuan tunggal di atas loteng. lar>ias melihat orang orang dari Kiem Thian Pay pada lenyap, dia tahu mereka tentulah sedang pergi mengejar si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie dua orang.
Karena takut mereka berdua menemui bencana, dia melepaskan diri dari si perempuan tunggal untuk mengejar keluar.
Tsrayata dugaannya sedikitpnn tidak salah, orang orang dari Kiem Thien Pay dengan mengandalkan jumlah banyak telah mengerubuti si gidis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie didalam sebuah lembah gunung.
Dikarenakan Auw Hay Ong mengingat hubungannya dengan Lie Loo jie. maka dia orang tidak sampai turun tangan jahat terhadap mereka. Dia cuma memerintankan anak buahnya untuk menawan mereka hidup hidup, waktu itulah keadaan dari si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie jadi amat bahaya.
Pada saat yang amat kritis itulah Liem Tou tiba di tempat tersebut, untung saja dikarenakan pikiran yang baik dari Auw Hay Oog ini, Liem Tou pun tidak ingin turun tangan jahat terhadap diri mereka, sebaliknya dengan menggunakan ilmu sakti meringankan tubuh yang amat libay yang berhasil dipelajari dari kitab pusaka To Kong Pit Liok dia mengurung dan mempermainkan mereka.
Sat itulah setelah Liem Tou mendengar suara dari Lie Loo jie yang meminta dia orang melepaskan diri Auw Hay Ong, dalam hati dia merasa amat keheranan. Setelah mendapat penjelasan dari Lie Loo jie yang menerangkan asal usul dari ayahnya dan dia pikir perkataan tersebut sedikitpun tidak salah, waktu itulah dia merasakan kepalanya seperti dipukul dengan martil dan terasa di dalam hatinya amat sedih sekali.
Dia teringat kembali pesan ayahnya yang melarang dia orang belajar silat tetapi menjelang kematiannya dia sudah menyerahkan kitab pusaka Toa Loo Cin Keng dan dia disuruh mempelajari dengan teliti, bukankah semua urusan itu ada sebab sebabnya?
Kiranya sejak kekalahan di tangan Thian Pian Siauw cu mulai saat itu dia tidak pernah mempelajari lagi ilmu silat malah sebaliknya dia terus menerus mempelajari ilmu surat . .
Liem Tou dengaa amat cepatnya berlari terus, entah sudah seberapa jauh dia berlari tetapi dia orang tidak tahu juga ...
Saat iti cuaca sudah terang . . . pandangan di depannya cuma tampak sinar keemas emasan yang mulai menyinari empat penjuru disertai suara deburan ombak yang amat perlahan.
Kiranya dia sudah tiba ditepi sungai, taapa banyak berpikir panjang lagi dia segera jatuhkan diri ditepi sungai itu dan tidur dengan nyenyaknya.
( Bersambung ke jilid 23 )
Satu jam kemudian burung burung pada berkicauan memecahkan kesunyian di pagi hari. Bayangan layar dari perahu yang berlalu lalang di atas sungai pun mulai berlalu dengan tidak henti hentinya, dengan perlahan Liem Tou sadar kembali dari pulasnya dan menghembuskan napas panjang, dengan pandangan terpesona dia memandang ke arah burung yang beterbangan di atas langit dengan perahu layar yang laju bergerak diatas sungai.
Tiba tiba dia melihat beberapa kaki dari tepi sungai tampaklah seorang pemuda tampan berbaju hitam dengan seorang diri berdiri di atas sebuah sampan yang sedang laju bergerak dengan lincahnya.
Yang mengherankan di atas perahu itu ternyata tidak berlayar tidak ada pula yang mendayung sebaliknya pemuda yang berdiri di ujung perahu itu tidak memperlihatkan gerakan apapun, jelas tenaga dalam yang dimilikinya amat tinggi sekali sehingga cukup menggerakkan tenaga dalamnya perahu tersebut sudah dapat bergerak sendiri.
Sudah tentu dengan kepandaiannya seketika itu juga mendapat tepukan serta pujian dari para nelayan lainnya.
Tetapi hanya dalam sekejap saja suara pujian itu sudah berubah menjadi suara teriakan kaget dan kagum, karena para tetamu yang semula ada didalam perahu kini pada keluar semua dan menonton kejadian yang amat aneh itu dengan mata terbelalak lebar lebar.
Liem Tou yang berdiri di tepi sungai dapat melihat setiap kali pemuda berbaju hitam itu mengayunkan tangannya kebelakang sehingga sampan itupun bergerak ke depan dengan amat lajunya, tidak bisa diragukan lagi gerakan perahu tersebut tentunya disebabkan oleh tekanan angin pukulan itu diam diam pikirnya.
Orang ini sungguh keterlaluan sekali, di hadapan orang banyak ternyata dia sudah pamerkan ilmu silatnya.
Saat itu tetapi si lelaki berbaju hitam itupun sedang menoleh ke arah tepi sungai, ketika dilihatnya seorang berbaju hijau berdiri disana dia agak tertegun sebentar.
Liem Tou segera tersenyum dan anggukkan kepalanya, siapa tahu orang itu bukannya membalas anggukan kepala, sebaliknya malah melengos keluar bahkan secara samar samar Liem Tou bisa mendengar orang itu sudah memperdengarkan suara dengusannya yang amat dingin sekali.
Liem Tou yang ketanggor batu dalam hati merasa sangat mendongkol sekali, pikirnya lagi.
Jikalau orang ini berasal dari aliran lurus dia orang tentulah tidak akan memperlihatkan sikapnya yang demikian jumawa, apalagi sikapnya yang amat sombong itu bukanlah sifat dari orang orang dunia kangouw sejati dia bangga atas kepandaian silat yang dimilikinya dan tidak memandang sebelah matapun kepada orang lain, Hmmm.. .hmm.. .ini hari aku mau lihat kau orang sebenarnya seberapa lihaynya? aku harus ngasih sedikit hajaran kepadanya.
Berpikir akan hal ini dia orang cepat cepat menyelinap masuk ke dalam semak dan melepas jubah panjangnya, ketika dilihatnya orang itu suaah berada pada ratusan kaki jauhnya dalam hati dia segera mengambil satu keputusan.
Aku harus dapat mengejar dirinya, demikian pikirnya dalam hati.
Tubuhnya dengan cepat terjun ke dalam sungai dan meyelam ke dalam dasar sungai untuk melakukan pengejaran dengan amat cepatnya.
Sejak Liem Tou berhasil mempelajari kitab pusaka To Kong Pit Liok. ilmu menyelamnya sudah tentu memperoleh kemajuan yang amat pesat sekali, tidak sampai seperminum teh kemudian dia sudah berhasil menyandak beberapa kaki di belakang sampan tersebut.
Saat itulah dia bisa melihat ombak yang dihasilkan oleh tenaga pukulan orang itu terasa amat hebat sekali, melihat hal tersebut di dalam hati dia merasa terperanjat sekali, pikirnya.
Ombak yang dihasilkan oleh tenaga pukulan orang ini di atas permukaan sungai kelihatan kecil sekali, siapa tahu ombak yang terjadi di dalam air sungguh begitu dahsyat, jelas sekali tenaga dalamnya benar benar amat sempurna.
Tetapi diapun merasa kalau orang itu sedikit keterlaluan.
"Biar aku coba coba tenaga pukulannya secara diam diam" pikirnya lagi.
Berpikir sampai disini badannya dengan Cepat berenang mencapai di belakang perahunya, melihat dari atas permukaan air menggulung datang angin pukulan yang amat keras mendadak dia mengangkat telapak tangannya menyambut - ..
"Byuuurrr . . . seketika itu juga dari permukaan air muncul semburan tiang air setinggi dua kaki lebih ke atas udara.
Pemuda berbaju hitam yang ada di ujung perahu agaknya sama sekali tidak siap, mendapat serangan tersebut badannya segera terhuyung huyung dan mundur tiga langkah ke belakang dan hampir hampir jatuh terduduk di atas perahu teesebut.
Tidak terasa lagi di dalam bati dia merasa sangat terperanjat dan memandang ke atas permukaan air secara terpesona, perlahan lahan pada wajahnya yang pucat pasi secara lambat laun timbul warna kehijau hijauan yang samar samar, dari sinar matanya muncullah nafsu untuk membunuh.
Siapa yang berani membokong Kongcuyamu dari dalam air? bentaknya dengan amat gusar.
Jikalau betul betul bernyali ayoh keluar., .-dan naik ke sini untuk bergebrak seribu jurus dengan aku orang.
Tetapi walaupun dia sudah memperhatikan permukaan air itu beberapa saat lamanya tetapi keadaan disekeliling tempat itu masih tenang tenang saja sampai gelembung udarapun tidak tampak.
Sekali lagi dia menanti beberapa saat lamanya, sewaktu melihat tidak ada gerakan yang mencurigakan dan melihat pula sampannya sudah terkena cipratan air sehingga basah kuyup terpaksa dengan melancarkan pukulan melanjutkan kembali perjalanannya ke depan.
Siapa tahu begitu perahunya mulai bergerak mendadak dari ujung perahu serta buritan terjadi getaran yang amat keras lagi. Dia orang yang sama sekali tidak mengerti ilmu di dalam air saking khekinya seluruh tubuhnya jadi gemetar amat keras, diiringi suara bentakan yang amat keras, dari pingangnya dia mencabut keluar sebilah pedang hitam yang amat tajam sekali dan ditebaskan sekeliling perahu.
Jikalau dia tidak melancarkan serangan masih baikan. Begitu dia bergerak tubuh perahu itu goncang semakin keras lagi.
Pemuda berbaju hitam itu tidak bisa berbuat apa apa lagi, terpaksa dia meloncat ke bagian tengah dari perahu itu dan mengerahkan ilmu bobot seribu kati untuk menenangkan goncangan tersebut.
Pada saat itulah tiba tiba tubuh perahu miring ke samping dan mendadak terbalik ke dalam air.
Untung saja pemuda berbaju hitam itu bisa melakukan tindakan dengan cepat. Sambil ber teriak keras dia menutul ujung perahu lantas melayang setinggi tiga kaki ke atas kemudian bersalto ke atas beberapa kali.
Dengan berjalan di atas permukaan air dia melirik sekejap kearah perahu tersebut kemudian tertawa tawar, hanya di dalam beberapa kali lompatan saja dia sudah melayang ke tepi sungai tanpa badannya terkena cipratan sedikit air pun.
Dengan gerakannya ini secara tidak disengaja sudah mendemonstrasikan semacam ilmu kepandaian,seketika itu juga membuat orang yang ada di atas perahu disekeliling tempat itu pada sorak memuji.
Tetapi air mukanya sama sekali tidak memperlihatkan perubahan apapun dengan termangu mangu dia memperhatikan perahu kecil yang tenggelam separoh itu, dia orang benar benar dibuat keheranan daa jengkel oleh kejadian ini.
Sudah tentu kesemuanya itu hasil perbuatan dari Liem Tou yang ada didalam air sungai, akhirnya sewaktu dilihatnya pemuda berbaju hitam itu sudah mendemontrasikan ilmu men agankan tubuh berjalan diatas permukaan air di dalam hati diam diam merasa sangat kagum se kali, pikirnya.
Tida kusangka perbuatanku ini sama sekali tidak bisa memberi kelihayan kepadanya, aku harus mencari cara yang lain untuk mempermainkan dirinya, pokoknya mulai hari ini aku mau paksa dia uatuk mengetahui kalau orang sakti yang ada di dalam dunia kangouw sangat banyak jumlahnya sehingga dia orang sampai begitu sombong dan tidak memandang sebelah matapun kepada orang lain.
Berpikir sampai disitu, dengan cepat telapak tangannya ditempelkan ke dasar perahu tersebut kemudian dengan mengerahkan tenaga saktinya perahu di dorong ke atas.
Dorongannya kali ini sama dengan kekuatan seribu kati, seketika itu juga perahu tersebut didorong dari permukaan sungai dan melayang setinggi satu kaki lebih di tengah udara, tubuhnya membalik lagi menumpahkan air sungai yang memenuhi ruangan perahu tersebut kemudian kembali ke atas permukaan sungai di dalam keadaan semula.
Dengan kejadian ini walaupun sudah membuat pemuda berbaju hitam itu menjadi amat gusar tetapi dia orang yang mengetahui telah bertemu dengan lawan tangguh tidak berani banyak bertingkah, dengan diam diam dia mempersiapkan diri untuk menghadapi sesuatu.
Lama sekali pemuda berbaju hitam itu berdiri di tepi sungai menantikan kedatangan musuhnya tetapi dari dasar sungai dia orang tidak melihat adanya orang yang keluar dan juga tak terasa lagi sambil mendepakkan kakinya ke atas tanah makinya dengan amat gusar.
Kongcu ya mu selamanya tidak berganti nama, aku adalah Ai Lau Tiauw atau si elang sakti dari gunung Ai Lau, Sun Ci Sie adanya, jikalau kau benar benar berilmu nanti malam pada kentongan ketiga aku menanti kau orang di tepi sungai di luar kota disebelah barat dari kota Ciat Ciang.
Selesai berkata tanpa menoleh lagi dengan langkah yang lebar dia barjalan meninggalkan tempat tersebut.
Ltem Tou yang mendengar pemuda berbaju hitam itu ternyata sudah menyebutkan namanya sebagai Sun Ci Sie dalam hati dia segera berpikir.
Aaaaa, kiranya kau orang kalau begitu aku tidak usah susah payah mencari dirimu lagi.
Kiranya Sun Ci Sie nama ini adalah nama orang yang harus dicari oleh Liem Tou sesuai dengan pesan orang yang ditemuinya, kalau musuh besar mereka adalah Kioe Lang Wan Kauw, atau dengan perkataan lain dialah satu satunya sanak saudara dari si perempuan tunggal Touw Hong itu.
Tetapi si pemuda berbaju hitam yang sejak kecil sudah menemui bencana membuat dia itu sama sekali tidak mengetahui asal usul dia sendiri, sudah tentu di dalam persoalan tersebut iapun tidak mengerti.
Liem Tou yang tahu dia adalah orang yang sedang dicari sudah tentu tidak mau melepaskan dengan begitu saja, dengan cepat dia berenang ke tepi untuk berganti pakaian kemudian dengan langkah lebar dan tergesa gesa dia berjalan menuju ke depan.
Kurang lebih sejam kemudian ternyata di hadapannya kelihatan ramai juga. Tempat itu ternyata adalah suatu bandar yang cukup besar.
Liem Tou dengan cepat masuk kota. Pada saat itu pagi hari baru saja menjelang sehingga terlihatlah jalan raya penuh sesak dengan manusia yang lalu lalang, suasana terasa amat ramai sekali.
Walaupun Liem Tou selama satu malampun tidak tidur tetapi menjelang pagi hari dia sudah tertidur sebentar sehingga semangatnya pada saat inipun sudah segar kembali.
Dengan wajah yang tampan serta memancarkan sinar berkilauan dengan seenaknya dia berjalan ditengah jalan sehingga menimbulkan perhatian khusus dari orang orang yang berada disana, terutama sekali gadis gadis dusun yang melihat wajahnya tak terasa lagi hatinya pada berdebar debar dengan sangat kerasnya.
Dengan langkah yang perlahan lahan Liem-Tou berjalan melalui dua buah jalan kemudian tibalah dia orang di depan sebuah loteng yang amat besar, di atas loteng itu tergantunglah sebuah papan nama yang bertuliskan "Kie Sian-Tong" tiga kata.
Disamping papan nama itu tergantunglah dua papan nama yang bertuliskan kata kata.
"Tempat berkumpul para eaghioog. Mabok empat lautan"
Liem Tou segera tahu kalau tempat itu adaIah sebuah loteng penjual arak, dengan langkah yang perlahan dia berjalan naik ke tingkat ketiga lantas minta beberapa macam sayur dan arak dan mulai bersantap dengan tenangnya.
Sembari bersantap pikirannya terus menerus sedang berpikir akan kata kata dari Lie Loo jie kemarin malam, semakin lama hatinya terasa semakin panas sehingga akhirnya dia orang benar benar terasa amat gusar.
Arak yang dihabiskannya semakin lama semakin banyak, akhirnya dia orang benar benar dibuat mabuk oleh air kata kata.
Mendadak dia menghajar meja di hadapannya, sambil makinya gusar.
Kiranya kau adalah anaknya iblis, jikalau aku sejak dulu tahu begini tentu saja aku orang akan suruh kau binasa pada saat itu juga atau sedikit dikitnya kau menjadi cacad, kau anaknya iblis ternyata kau sudah mencelakai ayahku, mengurung ayahku dan menyiksa dirinya.
Setelah memaki maki sampai kenyang, dia berganti tertawa keras.
Haaa haaa, pokoknya kau orang tidak bakal lolos dari tanganku biarlah kau orang hidup sebentar lagi tidak mengapa. Hmm saat kematianmu sehari demi sehari akan semakin mendekat.
Air mukanya mendadak berubah membesi, lalu gumamnya seorang diri.
Hutan belantara lebat bagaikan sutera, gunung bersalju membawa kepedihan hati, malam hari memandang rembulan, termenung di atas loteng. Aaah ayah, kenapa kau orang tak mau memberi tahukan kepadaku kalau kau orang mempunyai kisah hidup yang demikian mengenaskan kalau tidak sejak semula anak iblis she Ko itu sudah aku pukul hancur sebagai pembalasan atas kematian kau orang tua.
Berbicara sampai disini tidak kuasa lagi dia meneteskan air matanya kemudian menangis tersedu sedu...
Beberapa tamu di atas loteng itu ketika melihat Liem Tou menangis dengan begitu sedihnya, dengan pandangan keheranan pada mengalihkan matanya memandang ke arahnya, ada di antara yang menduga tentu dia orang sedang
memikirkan pengalaman pahitnya, adapula yang merasa tidak senang karena sudah diganggu ketenangannya.
Dengan tangisannya ini Liem Ton malah jadi sadar kembali dari pengaruh air kata kata (mabok) itu
baru saja dia menghapus kering air matanya mendadak terdengarlah suara seseorang yang sedang berkata dengan suara yang amat dingin sekali.
Seorang lelaki sejati tidak akan menangis sedih karena memikirkan pengalaman yang menyedihkan hatinya, apa kau berbuat seperti seorang bocah cilik?
Liem Tou yang mendengar perkataan tersebut barnadakan mengomeli dirinya dalam hati merasa sangat tidak senang, dengan cepat diaangkat kepalanya melotot ke arah orang tersebut.
Aku mau menangid atau tidak apa sangkut pautnya dengan kau orang? serunya dengan gusar. Kau orang tidak usah banyak bacot dihadapanku.
Baru saja dia selesai berkata mendadak dia merasakan ada serentetan sinar mata yang amat tajam sedang menyapu ke arah dirinya
Liem Tou menjadi amat terkejut, pikirnya di dalam bati.
Dengan ketajaman matanya itu yang mengejutkan, jelas kepandaian silat yang dimilikinya sudah mencapai pada taraf kesempurnaan. Bahkan diantara ketajaman matanya itu secara samar samar membawa nafsu membunuh yang amat tebal srkali. dan sungguh dahsyat sekali.
Hatinya segera bersiap sedia dan secara diam diam menyalurkan hawa murni untuk mengelilingi seluruh tubuhnya.
Saat itulah dia baru bisa melihat kalau orang tersebut bukan lain adalah si pemuda berbaju hitam yang ditemuinya sewaktu di sungai tadi, pada waktu ini dengan pandangan yang amat dingin sedang memperhatikan dirinya.
Empat buah sinar mata berbentur menjadi satu, pemuka berbaju hitam itu agak tertegun dibuatnya.
Mendadak dia bangkit berdiri dan ujarnya dengan suara yang amat dingin.
Terang terangan Loo heng memiliki kepandaian silat yang amat tinggi sekali kenapa ksu orang menangis sedih di tempat ini? bahkan aku rasa di suatu tempat aku pernah bertemu dengan Loo heng, cuma saja untuk beberapa saat lamanya aku sudah tidak teringat kembali.
Liem Tou selesai mendengar perkataannya dia segera mengangguk dengan perlahan, lantas jawabnya.
Cayhe cuma seorang terpelajar saja yang baru gagal menempuh ujian mana bisa memiliki kepandaian silat? jikalau aku betul betul mempunyai ilmu aku orang tidak akan sampai bernasib begini, heeei. . .bukankah Heng Thay adalah orang yang tadi pagi mendemontrasikan perahu terbang?"
Ketika pemuda berbaju hitam itu mendengar dia orang tidak lebih cuma seorang siucay saja di dalam hati dia agak kecewa tetapi kemudian setelah mendengar Liem Tou mengungkap kembali peristiwa tadi pagi sewaktu ada di sungai dengan cepat diapun sudah teringat kembali kalau orang yang ada dihadapannya ini bukan lain adalah si pamuda berbaju hijau yang ditemuinya di tepi sungai tadi pagi, dia segera mengangguk.
Aaaah . .kiranya kau orang, Loo heng tidak usah berputus asa berjuanglah terus akhirnya tentu kau orang akan mencapai sukses juga.
Sebenarnya si rajawali sakti dari gunung Ai Lau san, Sun Ci Sie ini adalah orang amat congkak dan dingin sekali sikapnya tetapi dikarenakan perbuatannya yang secara tidak sengaja dengan Liem Tou membuat dia orang mau tak mau harus berbicara juga beberapa patah kata.
Liem Tou sendiripun sama sekali tidak menyangka kalau pihak lawan bisa mengucapkan kata kata memuji dirinya, dia segera memperlihatkan senyuman yang amat girang sekali.
Terima kasih. . .terima kasih. . .serunya berulang kali.
Dengan mengambil kesempatan ini dia pindah tempat dan duduk semeja dengan dirinya lalu menanyakan nama dari si rajawali sakti Sun Ci Sie ini, mengaku terus terang namanya, sebaliknya Liem Tou sudah karangkan satu cerita palsu kepadanya.
Sun heng mendengar secara tiba tiba Liem Tou memuji dirinya. Menurut pandangan Siauw te, Sun heng manusia yang paling aneh dan paling sakti pada saat ini, ini hari aku bisa bersahabat dengan Sun heng hatiku merasa sangat bangga sekali, tetapi sampai saat ini Siauw te masih ada satu hal yang masih belum paham benar, entah maukah Sun heng memberikan penjelasannya??"
Si rajawali sakti dari gunung Ai San Sun Ci Sie sewaktu mendengar dia orang dipuji puji dan disanjung hatinya semakin gembira lagi.
Aaaih, cuma sedikit kepandaian tak berarti mana bisa dianggap sebegitu lihaynya? sahutnya sambil tertawa. Entah Liem heng ada urusan apa yang kurang paham? bilamana Siauw te tahu tentu akan aku jawab.
Mendengar jawaban tersebut diam diam didalam hati Liem Tou merasa geli.
Hee...hee kau jangan keburu bangga, aku mau suruh kau merasakan bagaimana rasanya keguyur air dingin.
Sewaktu Sun heng bermain perahu di atas sungai tadi, ujar Liem Tou menyambung. Bukankah perahu bergerak dengan amat lajunya? dengan kepadaian silat yang dimiliki Sun heng sekarsng ini bagaimana secara tiba tiba perahu tersebut bisa terbalik? peristiwa ini sangguh membuat Siauwt. kurang paham.
Mendengar perkataan dari Liem Tou ini air muka si rajawali sakti dari gunung Ai Lau san ini seketika itu juga berubah jadi merah padam, senyuman yang menghiasi bibirnyapun segera lenyap berganti dengan satu lembar wajah yang sangat adem, di antara perubahan yang secara mendadak itulah pada alisnya jelas muncul nafsu membunuhnya yang amat tebal.
Liem Tou yang melihat kejadian itu dalam hati segera berpikir.
Jika ditinjau dari keadaan serta tindak tunduknya jelas Sun Ci Sie ini bukan nerasal dari kalangan lurus, jika dilihat dari antara alisnya jelas sekali memperlihatkan akan kekejaman hatinya yang melebihi binatang. Hmm . . aku harus baik baik mengadakan penyelidikan.
Hmmm, ,aku sama sekali tidak menyangka kalau di dalam sungai tersebut bisa terdapat sebegitu banyak ikan besar.
Teriak Sun Ci Sie tiba tiba sambil menghantam meja. Ikan ikan terkutuk itu ternyata sudah membalikkan sampan kecilku kedalama air, aku cuma gemas karena sama sekali tidak dapat menggunakan ilmuku didalam air, kalau bisa hmm, hmm, aku tentu akan seret dia ketepi pantai dan kuhancurkan badannya hingga bisa menghilangkan rasa mengkel yang mengganjal di dalam dadaku.
Liem Tou segera tertawa tergelak dengan sangat kerasnya.
Aduuuhh, kiranya ada seekor ikan yang begitu besarnya? Teriaknya dengan kaget. Jikalau Sun heng benar benar menarik dia ke tepi sungai aku rasa ikan tersebut tentunya ikan yang paling besar didalam sungai itu dan paling mengejutkan semua orang, tetapi ada sesuatu hal lagi yang aku tidak paham, kenapa perahu tersebut mendadak bisa terbang kelangit? Apakah ikan tersebut bisa menyembur sebegitu hebatnya?.
Untuk sesaat lamanya Sun Ci Sie tidak bisa mengucapkan sepatah katapun sepasang matanya dengan melotot lebar lebar memperhatikan diri Liem Tou, lama sekali dia baru mengangguk.
Ehmm, boleh dikata perkataan dari Liem-heng itu memang benar, mungkin perkataan dari Liem heng benar.
Terpaksa Liem Tou pun harus menutup mulutnya kembali, padahal saat ini dia sudah bisa tahu bagaimana macamnya manusia yang bernama Sun Ci Sie ini, dia semakin memandang rendah dirinya lagi.
"Sun-heng," lama sekali Liem Tou baru bertanya lagi, kau orang datang ke kota Ciat Ciang ini ada keparluan apa????
Tiga hari kemudian aku mempunyai satu urusan kecil di tempat sebelah sana sahut si rajawali sakti dari gunung Ai Lau San itu perlahan.
Selesai berkata dia menuding keluar jendela.
Liem Tou dengan mengikuti arah yang dituding segera menoleh keluar, terlihatlah sebuah gunung berdiri dengan megah dihadapan-nya, dengan puncak yang sangat tinggi sehingga menembus awan. itulah yang disebut sebagai gunung Hauw Ya San.
Gunung Hauw Ya San ini terletak di sebelah Barat dari keresidenan Auw Kiang dan bersebelahan dengan kota Ciat Ciang ini, sehingga Sun Ci Sie sekali menuding ke arah luar jendela sudah bisa menunjukkan gunung Hauw Ya San tersebut
.
Buat apa dia orang pergi ke gunung Hauw-Ya San?? pikir Liem Tou di dalam hati.
Aaaa. . .Sun heng sungguh bersemangat sekali, di bawah sorotan sinar matahari yang demikian lembutnya memang waktu yang paling tepat untuk berpesiar ke atas gunung, Siauwte pun kini sedang menganggur, bagaimana kalau aku temani Sun heng pergi berpesiar kesana??"
Dengan cepat Sun Ci Sie gelengkan kepalanya.
Liem heng adalah seorang terpelajar tidak seharusnya naik ke gunung yang begitu tingginya, apalagi kepergianku ini diliputi oleh mara bahaya., .aku orang sama sakali bukan sedang berpesiar.
Kalau begitu San heng naik ke gunung mau membinasakan ular besar? teriak Liem Tou sengaja memperlihatkan rasa kagetnya yang tak terhingga. Ataukah mungkin Sun heng naik ke atas gunung mau membasmi binatang binatang berbahaya lainnya??"
Bukan, .bukan begitu, sekali lagi Sun Ci Sie gelengkan kepalanya. Hari itu aku sudah janji dengan dua orang manusia yang amat lihay sekali untuk pergi ke atas puncak gunung Hay Ya pan untuk bertanding silat.
Wach, Aku semakin ingin ikut pergi lagi, teriak Liem Tou dengan cepat. Kesempatan yang baik sukar untuk ditemui selama hidupku tentuaya Sun henh mengizinkan aku untuk pergi menotou peristiwa yang sangat besar bukan??
Sembari berkata Liem Tou di dalam hatiny berpikir terus.
Siapakah orang yang sudah mengadakan perjanjian dengan dirinya?? Aku harus mengadakan penyelidikan dengan seksama.
Wajahnya segera memperlihatkan keragu raguannya, dengan rasa terkejut bercampur heran tanyanya.
Sun-hang bisa berjalan di atas permukaan air dengan tenangnya bahkan bisa lari bagaikan kilat, boleh dikata itulah pekerjaan seorang dews atau malaikat. Di dalam kolong langit pada saat ini ada siapa lagi yang berani mencari gara gara dengan diri Sun heng??? Kalau memangnya orang itu berani menantang Sun heng untuk bertempur sudah tentu kepandaian mereka tidak sembarangan . . •
Sun Ci Si segera menganggukkan kepalanya.
Pada masa yang lalu kedua orang ini juga termasuk manusia yang amat lihay sekali, kali ini jikalau mereka bekerja sama. Dapatkah aku orang memperoleh kemenangan, hal ini masih sukar untuk di duga sebelumnya.
Lalu siapakah kedua orang itu? apa sangat fihay sekali ilmu silatnya?.
Sskalipun aku bsritahu kepadamu kau orang tentu tidak tahu, baiklah biar aku beritahukan kepadamu. Yang satu adalah Thiat Bok Thaysu yang sudah angkat nama bersama sama dengan si cambuk iblis Suo Kok Thaysu tempo hari, sedang yang lain adalah si penahat naga merah anak murid dari Suo Kok Mo Pian. ke dua orang ini semuanya merupakan penjahat-penjahat berhati kejam yang sudah melakukan banyak kejahatan baik merampok, membunuh maupun memperkosa, tetapi kali ini aku sengaja pergi mencari mereka bukanlah dikarenakan kejahatan kejahatan yang dilakukan oleh mereka melainkan hendak membereskan sedikit sakit hati yang sudah terjadi empai puluh tahun yang lalu.
Mendengar jawaban tersebut diam diam Liem Tou merasa sangat terperanjat, pikirnya.
Oooh kiranya dia mau pergi menemui kedua orang itu, kalau begitu aku harus menyelidiki urusan yang sudah terjadi.
Mendadak dia bangkit berdiri, air mukanya jadi membesi lalu serunya dengan keras.
"Sun heng jangan sekali kali melepaskan ke dua orang itu lagi, tentang Thiat Bok Thaysu siauw te tidak tahu siapakah dia orang, tetapi si penjahat naga merah itu bukan saja siauw te pernah mendengar sekalipun kaum perempuan serta bocah cilik dari penduduk di sekitar tempat itupun tahu kalau dia adalah penjahat kejam, diapun merupakan seorang bajingan pembasmi keluarga, pada dua puluh tahun yang lalu menurut perkataan dari orang orang tua, dia pernah mengumbar nafsunya itu tetapi sebentar kemudian sudah lenyap dari muka bumi, tidak kusangka sama sekali pada akhir-akhir ini dia sudah munculkan dirinya kembali bahkan aku dengar tindakannya semakin ganas lagi
Hei . . jikalau orang ini tidak dibasmi secepatnya, maka kita sebagai rakyat biasa tentu ada sehari tidak tidur tenang, entah Sun heng punya ganjalan sakit hati apa dengannya?"
Dengan perlahan Sun Ci Sie angkat cawannya dan diteguk isinya hingga habis. Dari sepasang matanya tampak memancar keluar sinar yang amat tajam sekali berkelebat tak henti henti nya.
Baru saja dia gerakkan mulutnya mau berbicara mendadak dia menarik kembali kata katanya itu dan meloncat bangun.
Peristiwa ini panjang sekali bila mana d ceritakan, ujarnya kemudian. Lebih baik kita bicarakan dikemudian hari saja, bila mana Liem heng benar benar ingin ikut pergi dengan aku. maka di dalam tiga hari ini kau harus baik baik beristirahat sampai waktunya kamu boleh ber&embunyi disamping untuk menonton aku pergi membasmi kedua orang siluman aneh tersebut.
Liem Tou segera mengangguk.
Setelah membayar rekening arak Sun Ci Sie lalu turun dari loteng dan Liem Toupun mengikuti dari belakang.
"Sun heng, kau menginap dimana?" tanyanya.
"Ikuti saja diriku" sahur Sun Ci Sie sambil melanjutkan terus perjalanannva ke depan.
Terpaksa Liem Tou mengikuti dirinya dari belakang, setelah berjalan melalui jalan besar dia itu keluar melalui pintu kota sebelah barat. Tidak terasa di dalam hati Liem Tou merasa ragu ragu juga, pikirnya.
"Aaaaahh . . . dia mau pergi kemana?"
Tetapi sekalipun dia berpikir demikian, mulutnya tetap membungkam, dia ikuti terus dirinya dari belakang menuju ke tepi sungai.
Kurang lebih sepertanak nasi kemudian mereka berdua sudah lama berjalan mengikuti aliran sungai tersebut, ketika dilihatnya mereka sudah cukup jauh mnninggalkan kota tersebut mendadak terdengar Sun Ci Sie bergumam seorang diri.
Malam ini aku mau menemui dirinya di tempat ini.
Liem Tou tahu yang dimaksudkan olehnya adalah dia orang sendiri, tetapi pada mulutnya sengaja dia bertanya.
Sun heng kau sedang membicarakan apa??? dan malam hari ini kau mau bertemu dengan siapa?"
Agaknya Sun Ci Sie sangat gusar sekali dibuatnya, setelah mendengar perkatan tersebut dia segera tertawa dingin.
Lebih baik Liem heng jangan terlalu banyak bertanya, ujarnya dengan amat dingin sekali.
Harusnya kau orang ketahui sejak aku si rajawali sakti dari gunung Ai Lau san terjunkan diri ke dalam dunia kangouw, kecuali kau seorang belum pernah aku bersikap demikian sungkannya kepada siapapun, kau orang harus sedikit berhati hati jangan sampai membuat diriku marah.
Liem Tou yang disemprot dengan kata kata tersebut dia sama sekali tidak menjadi marah, dia tersenyum, tetapi dalam hati tidak urung memaki juga.
Kau manusia goblok, jikalau bukannya ibumu mempunyai budi yang amat besar kepadaku sehingga aku orang bisa mendapatkan kitab pusaka To Kong Pit Liok, aku segera kasi lihat pertunjukan yang amat bagus padamu.
Tetapi perkataan tersebut tidak sampai dia ucapkan keluar, dengan berdiam diri dia mengikuti dirinya dari belakang.
Semakin lama suara deburan ombak dari sungai itu terdengar jauh lebih kencang beberapa kali lipat, dari pada deburan ombak yang ada di sekitar kota Ciat Ciang tadi.
Liem Tou yang sudah sangat hafal sekali terhadap aliran sungai tersebut sudah tentu jauh lebih tahu dari dirinya, dia tahu dirinya sudah memasaki selat Sie Leng Shia.
Tetapi Sun Ci Sie masih terus melanjutkan perjalanannya menuju ke depan, semakin lama dia berjalan, jalan yang tadinya lebar itu berubah menjadi sempit dan akhirnya jadi jalan seusus kambing yang amat kecil sekali.
Sebenarnya Liem Tou mau bertanya kembali kepadaaya tetapi dia takut Sun Ci Sie jadi gusar oleh tindakannya itu, terpaksa dia bungkam diri. sedang di dalam hatinya diam diam pikirnya,
Perduli amat dia orang mau pergi ke mana. Aku ikuti saja terus bukankah beres???
Supaya dia orang tidak banyak berpikir lagi dengan berdiam diri dia terus menerus mengikuti di belakangnya.
Tidak lama kemudian mereka sudah menaiki sebuah bukit kecil, Liem Tou segera melayangkan pandangannya melihat sungai yang berombak sangat besar itu ....
Saat itulah terdengar Sun Ci Sie sudah berbicara sambil menuding kearah sungai.
Selama tiga hari ini Liem-heng boloh tinggal ditempat ini saja.
Liem Tou yang melihat dia menuding ke tengah sungai dalam hati merasa amat tidak paham.
Sun-heng kau orang jangan berguyon, seru nya. Aku orang bukanlah sebangsa makhluk yang hidup didalam air, bagaimana mungkin bisa tinggal di dalam sungai itu??
Haaaa . . . haaaaa . . . aku orang sama sekali bukan menyuruh Liem heng tinggal di dalam air, sahut Sun Ci Sie sambil tertawa. Coba kau lihat, bukankah di tikungan sebelah sana ada sebuah perahu yang masih baru?
Dengan terburu buru Liem Tou mengalihkan pandangannya ke tengah sungai dan mulai mencarinya, akhirnya dia menemukan juga di tengah sungai tersebut memang terdapat sebuah perahu yang berhenti tak bergerak, di dalam perahu tersebut nampaknya tidak ada orangnya, tampak dua buah tiang layar berdiri dengan tegaknya di tengah tiupan angin.
Sewaktu Sun Ci Sie melihat Liem Tou sudah dapst mengetahui perahu tersebnt mendadak dengan beberapa kali loncatan dia menubruk ke arah perahu tersebut.
Saat itu walaupun Liem Tou memiliki ilmu silat yang sangat tinggi tetapi dia tidak dapat menggunakannya.
Tampaklah jarak antara bukit kecil dan tengah sungai masih ada satu atau dua puluh kaki tingginya, bahkan kelihatan tak ada jalan lainnya lagi.
Terpaksa dia orang berdiri tidak bergerak di atas bukit tersebut dan berteriak teriak dengan sangat keras.
Sun heng. bagaimana Siauw te harus turun ke sana?
Dia berteriak dua kali tetapi tidak tampak juga orang naik, ketika dia berteriak untuk ke tiga kalinya saat itulah baru tampak Sun Ci Sie meloncat naik kembali ke atas bukit.
Liem heng tidak usah cemas, serunya sambil tertawa, Sudah tentu aku takkan membiarkan diri mu tinggal seorang diri di atas bukit itu.
Selesai berkata dia memeluk pinggang Liem Tou dan kembali dengan beberapa kali loncatan naik ke dalam perahunya.
Liem Tou dapat melihat perahu tersebut masih sangat baru sekali, ruangan perahu di atur dengan rapi dan mewahnya, pada samping kiri dari ruangan tersebut terdapatlah dua buah jendela yang masih tertutup rapat.
Dengan perlahan Sun Ci Sie membuka pin tu ruangan tersebut sehingga tampaklah tirai yang terurai menghalangi pandangan, di balik tirai tersebut terbentuklah sebuah ruangan yang disusun amat mewah dan megah sakali, keadaan ini mirip dengan sebuah ruangan istana.
Didepan ruangan perahu Sun Ci Sie melepaskan sepatunya lalu baru masuk ke dalam ruangan, Liem Tou pun segera melepaskan juga sepatunya.
Tak kusangka ternyata Sun heng begitu gemar akan berpesiar, ujarnya sambil tertawa. Tidak kusangka pula ternyata engkau mempunya sebuah perahu besar yang benar benar sangat menarik dan megahnya, siancay . siancay bila mana mana siauw te bisa tinggal selama tiga hari di tempat ini boleh dikata rejekiku sungguh
amat mujur sekali,
Sun Ci Sie segera tertawa.
Liem heng jangan begitu sungkan sungkan jikalau kau akan ikut menonton pertempuran di atas gunung Hauw Ya san terpaksa cuma ada tiga hari saja kau bisa menginap disini.
Sembari bercakap cakap sepasang mata dari Liem Tou dengan amat tajamnya memperhatikan terus keadaan di sekeliling ruangan tersebut.
Terlihatlah bantal seprei disulam dengan amat indah sekali. dan diatur dengan begitu rapi dan menarik, di sebelah kiri dari ruangan tersebut bertumpuklah beberapa buah peti besar yang berwarna hitam, kecuali peti yang terbawah di kunci yang lainnya sama sekali tidak digembok.
Entah dimanakah rumah dari Sun heng? aku rasa kau orang tentu sangat kaya sekali dan merupakan putra seorang hartawan.
Si rajawali sakti dari gunung Ai Lau San ini cuma tersenyum ringan saja dia tidak menjawab.
Segera dia orang menunjukkan dimana terletak bahan makanan dimana terletak bahan minuman dan beritahu juga kepadanya kalau mau tidur suruh lantas tidur saja akhirnya dia menambahi.
Untuk sementara Liem heng tinggallah ditempat ini. aku orang masih ada urusan yang harus diurus di tepi sungau sana.
Sun heng silahkan berlalu jawab Liem Tou dengan cepat. Aku orang sudah terialu mengganggu diri Sun heng, dalam hati aku merasa tidak enak.
Sun Ci Sie tidak memberikan jawabannya, dia segera memakai sepatunya lalu meloncat naik ke tepi hanya dalam sekejap saja sudah lenyap tak kelihatan.
Menanti setelah Sun Ci Sie pergi jauh Liem Tou baru diam diam berpikir
.
Orang ini sungguh amat aneh sekali, jika dilihat dari gerak geriknya yang sangat terburu buru dan sama sekali tidak mau berhenti agaknya dia orang mempunyai satu kesedihan yang benar benar menggoncangkan hatinya sehingga dia berbuat demikian.
Berpikir sampai disini dia tidak ragu ragu lagi, dangan cepat dia berjalan mendekati beberapa buah peti hitam itu dan membuka peti yang pertama.
Pandangannya menjadi terang, tampaklah di dalam peti tersebut dipenuhi dengan uang perak yang menyilaukan mata.
Sewaktu membuka peti yarg kedua dia menemukan peti tersebut juga penuh berisikan uang perak putih yang menyilaukan mata.
Berturut turut sampai pada peti yang keempat dia baru menemukan kalau peti tersebut penuh berisikan uang emas yang bertumpuk tumpuk memenuhi seluruh tempat.
Pada peti yang kelima berisikan satu peti mutiara dan intan permata yang mahal harganya
Tidak kuasa lagi Liem Tou dibuat berdiri tertegun di tanah, lama sekali dia baru berpikir.
Sungguh hebat, darimana dia orang mendapatkan uang emas perak dan intan permata yang demikian banyaknya? cukup dengan beberapa peti ini saja sudah bernilaikan satu kota bagaimana mungkin harta ysng sebegitu banyaknya ini bisa muncul ditangan seorang jagoan tukang pukul Bu lim yang asal usulnya tidak diketahu jelas.
Berpikir sampai disini otaknya diperas lebih keras lagi, mendadak di dalam benaknya terbayang satu ingatan hingga tidak terasa lagi seluruh tubuhnya bergidik dengan amat kerasnya
Apa mungkin dia orang, .apa mungkin di orang, .gumamnya seorang diri.
Saat ini tinggal peti hitam yang paling bawah belum dibuka, pikir Liem Tou lagi.
Turggu dulu. Aku sama sekali tidak memiliki kepandaian untuk membuka kunci itu, jikalau harus dirusak sudah tentu setelah Sun Ci Sie kembali dia akan mengetahuinya, aku tidak boleh mencari gara gara dikarenakan urusan yang kecil ini saja, bagaimanapun juga waktu yang akan datang masih panjang sekalipun dibuka lain kali juga belum terlambat.
Setelah dia mengambil keputusan di dalam hatinya deagan cepat peti peti yang sudah terbuka ditutupnya kembali seperti sedia kala lantas ditumpuk seperti semula.
Setelah semuanya selesai untuk membuang waktu yang amat senggang ini dia duduk bersila dan mulai memusatkan perhatiannya untuk bersemedi.
Sebentar kemudian hawa murninya sudah mengalir mengelilingi seluruh tubuhnya badan terasa menjadi segar sedang pendengarannya semakin tajam.
Saat ini kecuali suara deburan ombak yang menggulung tak henti hentinya terdengar sedikit suara - - - tidak lama kemudian Liem Tou sudah berada dalam keadaan lupa segalanya.
Semakin dia bersemedi hatinya semakin tenang, pendengarannya pun semakin tajam, setiap suara yang di dengar di tepi sungai sampai rontoknya dedaunan pun dia bisa mendengar dengan amat jelasnya.
Dari siang hari sampai malam Liem Tou terus menerus duduk sama sekali tidak bergerak, waktu itu sudah menjelang magrib tidak hentinya angin sungai bertiup berlalu membawa rasa dingin yang menggigilkan.
Tidak lama kemudian secara samar samar Liem Tou bisa mendengar suara tersampoknya ujung baju terkena angin, dia taha si rajawali sakti dari gunung Ai Lau san, Sun Ci Sie sudah kembali ke perahu.
Dengan cepat Liem Tou jatuhkan diri berguling dan menutupi tubuhnya dengan selimut pura pura tidur.
Sebentar kemudian segera terasalah tubuh perahu tersebut sedikit bergoyang, Sun Ci Sie dengan berpakaian hitam sudah muncul dihadapanuya air mukanya yang pucat pasi secara samar samar membawa warna kehijau hijauan, dengan air muka yang amat tawar dia berjalan masuk ke dalam ruangan perahu lalu mendorong jendeia dan dengan termangu mangu memperhatikan ke tengah sungai.
Sedikit jejakpun tidak kelihatan, gumamnya seorang diri. Sungguh suatu urusan yang amat aneh sekali, di dalam Bu Lim pada saat seperti ini orang yang bisa memiliki tenaga dalam yang sebegitu tingginya aku rasa tidak begitu banyak, apa mungkin si tua bangka itu yang mencari gara gara di belakang diriku?
Liem Tou yang berbaring di dalam selimut segera bisa meraba dari pembicaraannya itu siapa orang yang dimaksud, cuma sayang tidak tahu siapakah tua bangka yang dimaksudkan itu.
Lewat beberapa saat kemudian Sun Ci Sie bergumam kembali.
Perduli siapakah dia orang, setelah malam ini bertemu dengan dirinya aku mau mengambil keputusan lagi, jikalau dia orang yang mempunyai kepala dan muka tentu akan menunjukkan dirinya dengan terang terangan.
Saat itulah Liem Tou merasa yakin kalo apa yang dibicarakan selama ini adalah bukan lain hanya orang yang berada didalam air itu, diam diam Liem Tou tertawa geli.
Orang itu tidak akan munculkan dirinya, saya rasa kau orang takkan bertemu dengannya pikirnya di dalam hati
Berpikir sampai disitu dia segera mengulet dan berseru dengan keras.
"Aaaah sungguh nyaman .... sungguh nyaman sekali, eeh kapan Sun heng puiang? selama beberapa tahun ini aku belum pernah merasakan tidur yang demikian nyamannya ternyata aku sudah tidur dengan begitu pulas sungguh tidak genah .... sungguh tidak genah.
Sembari berkata Liem Ten segera merangkak bangun
Liem heng tentu sudah lapar bukan ? ujar Sun Ci Sie sambil menoleh. Bagaimana kalau kita mengambil keluar makanan serta arak kita nikmati dengan perlahan lahan? setelah kentongan kedua kita bisa berlayar mengikuti aliran sungai lalu kau tinggal di dalam perahu dan aku akan pergi menepati janji untuk menemui orang tersebut.
Liem Tou tertawa, tetapi di dalam benaknya sedang memikirkan cara cara untuk memecahkan siasat ini, pikirnya.
Dia minta, supaya aku menjalankan perahu untuk mengikuti dirinya lalu bagaimana aku bisa naik ke tepian masuk kota dan berganti pakaian??
Tetapi dengan terpaksa dia berjalan menuju ke gudang dan membuka pintunya nampaklah arak, daging, ayam dan banyak bahan makanan yang sudah tersedia di dalam gudang tersebut, bahkan bergentong gentong arak tersedia pula disana.
Dengan cepat dia mengambil barang barang tersebut dan mereka berdua mulai minum arak sambil memandang ke tengah sungai.
Cuma saja arak ini diminum terlalu sepi karena di antara mereka berdua tidak ada yang mau berbicara, masing masing sedang memikirkan urusannya sendiri sendiri.
Kurang lebih satu jam kemudian malam semakin kelam, tampaklah sinar rembulan berbentuk sabit muncul dengan perlahan lahan dari balik awan, dengan meminjam kesempatan ini Liem Tou segera bertanya.
Sun heng, walaupun kau dan aku telah berkenalan belum lama tetapi aku rasa kita memangnya berjodoh, apalagi kepandaian silat dari Sun heng yang begitu tingginya membuat aku benar benar merasa sangat beruntung sekali. Tetapi entah Sun heng berasal dari aliran perguruan mana? siapakah suhumu?.
Sun Ci Sie yang selama setengah harian penuh pergi mencari orang yang sudah mengganggu dirinya di dalam air tanpa berhasil di dalam hati sebetulnya dia sudah merasa mendongkol, saat ini dengan meneguk beberapa cawan arak dia orang sudah dibuat setengah mabok, mendengar perkataan tersebut dia segera menjawab
Jikalau orang lain yang bertanya kepadaku mungkin aku akan marah, kalau memangnya Liem heng yang mengajukan pertanyaan ini aku akan memberitahukan juga kepadamu tetapi kau harus jaga rahasia aku sudah belajar ilmu silat selama dua belas tahun lamanya dit ebing Tak berbudi di atas gunung Ai Lau san, guruku bukan lain adalah si bweesio tujuh jari yang pada empat puluh tahun yang lalu pernah menggetarkan seluruh dunia kangouw dengan mengandalkan sebilah pedang hitam yang kemudian membinasakan salah satu dari Auw Hay Siang-Hiap.
Liem Tou yang pengalamannya cetek mana tahu siapakah si hweesio berjari tujuh itu? jikalau dia orang tahu kalau si hweesio berjari tujuh bukan laia adalah pembunuh dari suhu ayahnya Hoa Siong Hiap pada saat ini kemungkinan sekali dia sudah menyerang diri Sun Ci Sie dengan amat gencarnya.
Lalu di manakah suhumu sekarang berada? terdengar Liem Tou bertanya lagi sambil tertawa. Jika ditinjau dari kepandaian silat dari suhumu amat dahsyat sekali.
Haaai, terdengar Sun Ci Sie meghela napas panjang, sekalipun suhu masih sehat waalfiat tetapi dikarenakan pada tempo hari sudah terhajar jatuh ke dalam jurang, sepasang kakinya sudah cacat walaupun kepandaian silatnya masih ada tetapi sudah tidak dapat bergerak lagi, tujuanku kali ini turun gunung bukan lain adalah hendak menuntut balas dendam tersebut, musuh besarku bukan lain adalah Si Suo Kuk Mo Pian serta Thiat Bok Thaysu dua orang, karena si penjahat naga merah adalah anak murid dari Suo Kuk Mo Pian itu maka aku sudah menghitungnya sekalian.
Liem Tou cuma berdiam diri tidak menjawab tetapi dalam hati mengingat seluruh perkataannya.
Ketika dia menoleh memandang keluar jendela mendadak.. . .tampak sesosok bayangan hitam dengan amat cepatnya berkelebat di tepi sungai, walaupun Liem Tou melihat akan hal tersebut tetapi dia sama sekait tidak memperlihatkan sedikit perubahan apapun, dia pura pura tidak melihatnya sama sekali dan berjalan mendekati kearah jendela.
Tampaklah bayangan hitam itu mendadak ber henti di atas tepian tersebut.
Karena jaraknya amat jauh apalagi berada di dalam malam yang gelap sekalipun Liem Tou bisa melihat bayangan tersebut tetapi tidak mengetahui siapakah orang itu.
Dia cuma melihat perawakan orang itu tidak begitu besar, tubuhnya kecil langsing dan berdiri tidak bergerak di atas bukit kecil itu'
Dalam hati Liem Tou segera berpikir. Biarlah aku beritahukan adanya orang berjalan malam ini kepada diri Sun Ci Sie agar dia menganggap dia orang adalah orang yang sudah mengganggu dirinya di dalam air sungai tadi sehingga dengan demikian dia akan pergi melakukan pengejaran.
Berpikir akan hal ini dia segera buka mulutnya siap berbicara. . .mendadak. . .Bluuk. . sebuah batu sudah disambit kearah air sungai sehingga menimbulkan suara yang agak nyaring.
Sun Ci Sie memiliki kepandaian silat yang amat tinggi segera merasakan akan hal itu, tubuhnya dengan cepat melayang keluar dari ruangan perahu dun menyapu sekejap sekeliling tempat itu.
Tampaklah di atas bukit diseberang tepian sungai berdirilah seseorang dengan amat tegak nya. dia orang tidak malu disebut si rajawali sakti tubuhnya deagan kecepatan bagaikan kilat sudah melayang dan menubruk ke atas bukit.
Liem Tou dapat melihat seluruh kejadiaa itu dengan amat jelasnya Dia melihat orang yang ada diatas bukit itu agaknva sudah mengadakan persiapan, baru saja tubuh dari si rajawali sakti meloncat kedepan orang itu sudah putar tubuh dan melarikan dirinya.
Menanti sewaktu Sun Ci Sie tiba di atas bukit itu orang tersebut sudah berada ditempat yang amat jauh sekali.
ZTerdengar si rajawali sakti dari gunung Ai Lau san mendengus dengan dinginnya, ujung kakinya dengan cepat menutul permukaan tanah lantas melakukan pengejaran ke depan.
Dalam hati Liem Tou jadi keheranan, tanpa memakai sepatu lagi tubuhnya dengan cepat melayang melalui jendela, kemudian dengan menutul ujung perahu bagaikan kilat cepatnya dia melayang sejauh dua puluh kaki lebih menuju ke arah bukit tersebut, kemudian dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang amat lihay tubuhnya berkelebat kembali menuju kearah di mana bayangan dari Sun Ci Sie tadi lenyapkan dirinya.
Beberapa saat kemudian dari tempat kejauhan dia bisa melihat adanya dua bayangan yang sedang berkelebat saling susul menyusul dengan jarak lima puluh kaki lebih.
Dengan cepat Liem Tou meloncat ketempat kegelapan dan mengejarnya dari belakang, tidak sampai seperminum teh kemudian dia orang sudah berhasil menyusul mereka berdua tetapi diapun tidak bisa melampaui diri Sun Ci Sie, terpaksa dari belakang dia membuntuti dirinya terus menerus.
Lewat beberapa saat lagi tampaklah di depan mereka terbentanglah sebuah hutan yang amat lebat sekali, tampak bayangan yang ada di paling depan dengan amat cepatnya secara tiba tiba berkelebat menuju ke sana.
Sun Ci Sie yang berhasil mencapai di depan hutan itu agak ragu ragu sebentar, akhirnya dia pun menubruk masuk ke dalam.
Heey. . manusia itu sungguh besar nyalinya, pikir Liem Tou yang ada di belakangnya.
Terpaksa Liem Tou berhenti di samping hutan tersebut dan bersembunyi dibalik pepohonan, apabila dia tidak berbuat demikian pasti Sun Ci Sie menoleh ke belakang dan jejaknya akan diketahui
Saat itulah terdengar Sun Ci Sie membentak dengan amat kerasnya.
Kau manusia tanpa kepala, jika berani ayoh keluar dan bertempur dengan diriku, buat apa bersembunyi seperti cucu kura kura?
Lihat serangan ! Baru saja dia selesai berbicara terdengarlah suara searang perempuan sudah membentak keras. Rasakan kelihayan senjata rahasia dari nonamu.
Selesai berkata segera terasalah suara desiran dari senjata rahasia yang memecahkan kesunyian menyambar datang.
Sun Ci Sie jadi amat gusar sekali. Kau perempuan rendah, ayoh cepat mengge inding keluar.
Diikuti suara meayambarnya angin pukulan yang amat keras sekali menghajar pepohonan sehingga dahan serta ranting pada rontok ke atas tanah.
Lonte busuk perempuan maki Sun Ci Sie lagi dengan amat gusarnya..
Siapa kau orang? berani benar kau mencari gara gara dengan Kong cu yamu, aku mau tanya orang yang sudah mengganggu aku di dalam sangai pagi tadi apakah perbuatanmu.
Siapa aku orang kau tidak perlu ikut campur, jawab perempuan itu dengan dingin. Jikalau kau betul betul mempunyai kepandaian ayoh cepat keluarkan semua. Eeei kenapa kau tidak mengeluarkan sekalian pedang hitam milik suhumu yang gundul itu? terus terang saja aku beritahukan kepadamu suhumu si hweesio berjari tujuh masih mempunyai hutang dengan diriku.
Mendengar perkataan tersebut Sun Ci Sie jadi bertambah gusar, dia meloncat loncat saking gemasnya.
Siapakah kau? jikalau kau tidak berterus terang lagi jangan salahkan aku tidak akan berlaku sungkan lagi terhadap dirimu.
Perempuan itu segera tertawa cekikikan dengan amat gelinya.
Akupun tidak ingin banyak bercakap dengan dirimu, serunya sambil tertawa. Di dalam hutan ini aku rasa kau tidak akan bisa mengapa apakan diriku.
Pada saat itulah secara tiba tiba Liem Tou dapat melihat seseorang menerjang keluar dari dalam hutan, gerakannya amat cepat sekali bagaikan kilat berkelebat menuju ke jalan yang semula.
Liem Tou yang melihat kejadian itu segera mengetahui kalau dia orang sedang menggunakan siasat untuk meloloskan dirinya dan menipu Sun Ci Sie untuk tetap tinggal di hutan tersebut, sebaliknya dirinya sudah menubruk ke arah perahunya.
Liem Tou pun tidak pergi memberi peringatan kepada diri Sun CL Sie. tnbuhnya dengan cepat mengikuti dari belakang.
Dengan kecepatan gerakan tubuhnya hanya di dalam sekejap saja dia sudah berhasil menyusul diri perempuan tersebut yang berada dua tiga puluh kaki di belakang tubuhnya.
Dia mengikuti terus sampai tiba di perahu tersebut, ternyata tidak salah terlihatlah orang itu dengan cepatnya sudah meloncat naik ke atas perahu.
Liem Tou tidak ingin jejak dari dirinya diketahui pihak sana karena itu. Dengan diam diam diapun mengikuti dirinya dengan menyeberangi sungai ini secara perlahan lahan kemu dia bersembunyi di balik ruangan.
Saat itulah dia bisa melihat orang tersebut bukan lain adalah si perempuan tunggal Touw Hong yang sudah dua kali bergebrak dengan di rinya.
Pada saat ini si perempuan tunggal itu dengsn pandangan sangat terperanjat sedang berdiri di ruangan perahu yang sangat megah,dan mewah itu, matanya dengan terbelalak lebar lebar memandaag ke kanan dan ke kiri memperhatikan seluruh isi ruangan itu dengan amat telitinya.
Mendadak sinar matanya berhenti di atas brberapa buah peti hitam yang bertumpuk tumpuk di pojok ruangan tersebut, tanpa berpikir panjang lagi sebuah demi sebuah prti hitam itu dibukanya semua.
Liem Tou yang melihat kejadian itu di dalam hati menduga orang itu tentu akan dibuat terbelalak matanya ketika melihat uang perak yang begitu banyaknya itu. siapa tahu dia cuma memandang sejenak dengan sinar mata yang amat tawar kamudian menutup kembali peti tersebut dan memperdengarkan suara tertawa dingin nya yang tiada hentinya.
Setelah menutup kembali peti peti besi itu dia memandang pula peti terakhir yang terkun ci tetapi tidak sampai dibukanya, dia berdiri berpikir sejenak mendadak tubuhnya meloncat keluar dari ruangan perahu dan melepaskan tali perahu itu.
Liem Tou yang melihat kejadian itu di dalam hati diam diam merasa terperanjat sekali, pikirnya.
Sungguh pintar si perempuan tunggal Touw-Hong ini, suatu ide yang bagus sekali.
Menanti setelah dilihatnya perempuan tunggal itu selesai melepaskan talinya dia baru tertawa ringan.
Aduuuhh . . . tidak kusangka diatas perahu ini bisa kedatangan seorang tetamu terhormat, hey nona, angin apa yang sudah bisa meniup kau sampai ditempat itii? Ujarnya perlahan.
Si perempuan tunggal Touw Hong yang secara tiba tiba mendengar dari belakang badannya muncul suara seseorang dengan amat cepatnya dia meloncar sejauh tiga depa ke depan kemudian baru putar kepalanya.
Telapak tangannya disilangkan di depan dada lantas mengambil ancang ancang siap melancarkan serangan.
Tetapi sewaktu dilihatnya orang itu bukan lain adalah Liem Tou adanya, wajahnya segera dihiasi suatu senyuman yang sangar manis
Ditengah malam buta yang demikian sunyinya buat apa kau orang mengejutkan hati orang iain? serunya mengomel.
Sikapnya yang tidak memperlihatkan permusuhan ini seketika itu juga membuat Liem Tou merasa melengak, hal ini benar benar di luar dugaannya.
Selama ini dia selalu menganggap si perempuan tunnggal Touw Hong yang sebanyak dua kali dikalahkan olehnya, kali ini tentu akan mengumbar hawa amarahnya, siapa tahu sikap dari perempuan tunggal ini ternyata sama sekali sudah berubah bahkan tidak tampak rasa permusuhan sedikitpun juga.
Liem Tou masih tidak percaya atas sikap dari perempuan tunggal ini, dia mengira dia orang yang suka sambil tersenyum akan melancarkan serangan dan tidak bisa dipercaya seratus persen, karenanya dengan amat waspada sekali dia memperhatikan dirinya.
Apakah nona masih ada maksud untuk berkelelahi dengan diriku? serunya sambil tertawa. Bilamana kau memangnya bermaksud demikian, siauw seng tentu akan mengiringinya.
Si perempuan tunggal Touw Hong segera ter tawa geli.
Liem Tou, serunya. Kau orang tidak boleh bersikap begitu kurang ajar terhadap diriku, sekalipun kepandaian silatmu tidak kau peroleh dari Auw Hay Bun kita tetapi kau masih diharuskan memanggil diriku dengan sebutan susiok.
Nona Hong, seru Liem Tou sambil tertawa setelah mendengar perkataan tersebut. Bagaimana kau bisa berbicara demikian coba kau pikir aku Liem Tou sama sekali tidak punya suhu bagaimana bisa kedatangan seorang susiok? bukankah omongan itu merupakan suatu guyonan saja?
Kau orang cuma tahu satu tidak tahu dua, ujar si perempuan tunggal tertawa. Sekalipun kau orang tidak punya guru, tetapi apakah ayahmu tidak punya guru? aku dengan ayahmu adalah satu perguruan dan sama sama merupakan anak murid dari Auw Hay Siang Hiap, coba kau bilang patut tidak kau memanggil diriku dengan sebutan susiok?
Sepasang mata dari Liem Tou segera berubah memerah, dengan termangu mangu dia memperhatikan diri si perempuan tunggal itu sedangkan bibirnya tertutup rapat tidak mengucapkan sepatah katapun.
Hitinya pada saat ini benar benar betgolak dengan amat kerasnya, di dalam hati diam diam dia sedang memikirkan, benarkah kata kata yang diucapkan si perempuan tunggal ini? dia cuma tahu sewaktu dirinya mengurung orang orang dari Kiem Thien Pay dia sudah datang mengejar bersama Lie Loo jie.
Menurut apa yang didengarnya dari Lie Loo jie itu apakah benar ayahnya bernama si pancingan emas sakti Liem Ciong?
Tetapi Liem Tou mau tidak mau harus mempercayai juga apa yang diucapkan oleh Lie Loo jie itu karena Toa Loo Cin Keng serta kedua baris syair itu memang sama sekali tidak salah, kalau tidak bagaimana Liem Tou bisa merasa begitu sedihnya setelah mendengar perkataan tersebut.
Saat ini muncul kembali seorang perempuan tunggal yang mengaku sebagai susioknya, bagaimana Liem Tou mau percaya dengan demikian saja??
Setelah termenung berpikir beberapa saat lamanya mendadak dia bertanya.
Kau menyebut dirimu sebagai susiok, lalu si cangkul pualam Lie Sang itu apamu?
Sudah tentu dia adalah Suhengku, sahut si perempuan tunggal dengan cepat. Tetapi dia adalah anak murid dari Hoa supek sedangkan aku adalah ahli waris dari Lok Yong. Hoa supek dengan suhuku orang orang dunia kangouw menyebutkan sebagai Auw Hay Siang Hiap, akhir nya Hoa supek menemui ajalnya di tangan si hweesio tujuh jari sedangkan suhuku mengasingkan diri di atas gunung Boe Liang san, tiga puluh tahun kemudian baru menerima aku sebagai murid maka itu aku orang sama sekali tidak mengenal diri Lie Suheng, sampai kali ini dia menolong nyawaku waktu itulah aku baru tahu, dan aku tahu pula kalau jie Suheng sudah menemui kekalahan di tangan Tbian Pian-Siauw sehingga dia mengasingkan dirinya, aku benar benar ikut bersedih hati atas kejadian yang dialaminya itu.
Lien Tou yang mendengar dia sedang membicarakan tentang perguruan dari ayahnya dan mendengar pula kalau perkataan Lie Loo jie yang mengatakan sudah tentu dia mau percaya atas perkataan tersebut, mendadak dia merasakan keringat yang mengucur keluar semakin deras air mukanya berubah jadi pucat pasi keadaannya seperti baru saja menderita satu penyakit yang smat berat.
Si perempuan tunggal Touw Hong yang melihat wajahnya ada sedikit tidak beres dia menjadi sangat terperanjat sekali.
Sute kau kenapa?? tanyanya.
Liem Tou tidak menjawab, lama sekali dia memperhatikan diri si perempuan tunggal itu kemudian bagaikan kilat cepatnya dia jatuhkan diri berlutut di hadapannya.
Susiok harap suka memaafkan segala pcrbuatan dari Liem Tou yang telah menyakiti hati susiok, ujarnya dengan tersengguk sengguk menahan isak tangisnya. Bilamana dilain waktu aku berbuat salah kembali kepada susiok harap susiok suka memaafkan.
Selamanya si perempuan tunggal ini belum pernah mendapatkan penghormatan sedemikian rupa, apalagi Liem Tou pun merupakan orang yang dirindukan siang malam tidak terasa lagi wajahnya berubah jadi merah padam.
Cepat bangun, Cepat bangun, serunya dengan gugup. Tidak usah Banyak adat, tidak usah banyak adat.
Dengan cepat dia mengulur tangannya untuk membimbing Liem Tou bangun tetapi tak jauh dari badan Liem Tou mendadak dia menarik kembali tangannya ke belakang sedang air mukanya berubah semakin merah lagi.
Kalau, .kalau, .kalau sutit sudah tahu kedudukanku, lain kali kenapa harus terbuat salah lagi kepadaku? apa maksud dari perkataanmu itu? ujarnya terputus putus. Liem Tou segera bangun berdiri, ujarnya dengan nada gemetar.
Kiranya orang yang baru saja mengejar dirimu itu adalah anak murid dari si hweesio tujuh jari yang sudah mencelakai Sucouwku, sekarang aku sudah tahu dia adalah musuh besarku, aku punya alasan untuk membalas dendam ini.
Sekalipun sute tidak membunub dirinya, aku beserta suhengpun akan membinasakan dirinya. Ujar si perempuan tunggal sambil tertawa. Apa lagi pembunuhan serta perampokan yang terjadi baru baru ini dunia kangouw di mana setiap kejadian itu meninggalkan tanda ular merah adalah perbuatan dari dirinya, orang yang sudah menemui ajalnya di bawah serangan dari pedang hitamnya itu sudah amat banyak sekali, bilamana orang ini tidak dibunuh buat apa meninggalkan bencana di kemudian hari.
Oooh . . kiranya begitu, ujar Lem Tou jadi paham kembali duduknya perkara. Tidak aneh kalau di dalam petinya berisikan penuh dengan emas serta uang perak, kiranya harta tersebut dia dapatkan dengan jalan merampok.
berbicara sampai disini mendadak dengan pandangan mata yang amat tajam, Liem Tou memperhatikan diri si perempuan tunggal itu,
lama sekali baru terdengar dia menghela napas panjang.
"Susiok, apa kau benar benar mau membunuh dia orang?" tanyanya ragu.
Mandengar perkataan tersebut si perempuan tunggal jadi merasa keheranan.
Sute, jika didengar dari ucapanmu agaknya kau tidak punya maksud untuk membinasakan dirinya? tanyanya.
Aku bukannya bermaksud demikian, bahkanm aku sudah bisa melihat kalau dia bukanlah manusia dari kalangan lurus. Sahut Liem Tou gelengkan kepalanya lantas menhela napas panjang.
"Sudahlah .. biar aku lepaskan dia orang supaya dia orang bisa membalas dendamnya tarlebih dahulu, sambungnya kemudian.
Susiok. sampai waktu itu kau janganlah menyalahkan aku sudah turun tangan kejam tarhadap dirinya.
Saat ini si perempuan tunggal Touw Hong, sudah menangkap kalau di dalam perkataan dari Liem Tou ini mengandung maksud maksud tertentu, sepasang matanya dipentangkan lebar lebar dan memandang dirinya dengan sangat tajam sekali.
Sute, serunya keras. Inilah kesalahanmu bila mana ada urusan cepatlah beritahu dengan berterus terang, buat apa kau ragu ragu.
Jikalau susiok memerintahkan aku berkata, aku terpaksa akan mengatakannya keluar, ujar Liem Tou kemudian dengan wajah yang serius sekali. Tahukah susiok siapakah nama dan orang ini.
Mendengar perkataan itu si perempuan tunggal segera merasakan hatinya tergerak seluruh tubuhnya gsmetar dengan amat kerasnya sedang air mukanya berubah sangat hebat, agaknya dia sudah merasa amat tegang sekali.
Aaa . . apa? tanyanya sepatah demi sepatah. Apa dia orang She Sun? apa namanya Sun Ci Sie?
Sehabis berkata deagan pandangan matanya yang amat tajam sekali dia memperhatikan diri Liem Tou dan menantikan jawabannya, tetapi diapun takut kalau perkataan dari Liem Tou ini akan menusuk hatinya.
Pada saat ini Liem Tou pun dengan sepasang matanya yang amat tajam sedang memperhatikan diri si perempuan tunggal, empat buah mata bertemu jadi satu masing masing merasakan hatinya tergetar dengan amat kerasnya, tetapi sebentar kemudian sudah diliputi oleh rasa yang amat tegang dan berat sekali.
Pada waktu itulah dari atas puncak bukit tampaklah berkelebatnya sesosok bayangan hitam yang berkelebat datang dengan sangat cepatnya.
Liem Tou segera menemuinya, teriaknya dengan keras.
Susiok, kau tanya dirinya saja.
Di dalam sekejap saja bayangan hitam itu sudah melayang ke arah perahu tersebut sudah tentu yang datang bukan lain adalah si rajawali sakti dari gunung Ai Lau san Sun Ci Sie adanya.
Dengan tanpa mengeluarkan sedikit suarapun begitu tubuhnya mencapai tepian perahu, pedang hitam yang ada di tangan kanannya dengan dahsyat melancarkan serangan menusuk tubuh si perempuan tunggal itu.
Gerakannya amat ganas dan buas sekali sehingga sukar di duga sebelumnya.
Melihat hal itu dengan cepat Liem Tou melancarkan satu pukulan menangkis datangnya serangan tersebut.
Sun heng tahan dulu, teriaknya keras.
Sudah tentu si rajawali sakti dari gunung Ai Lau San ini tahu akan lihaynya serangan, tubuhnya dengan cepat melayang turun dari ruangan perahu, dia benar banar merasa terkejut bercampur gusar.
Dia sama sekali tidak menyangka kalau orang yang menyebut dirinya sebagai saudara ini di dalam sekejap saja sudah menjadi bisul di atas ketiak, perubahan yang terjadi secara mendadak ini benar benar membuat hatinya merasa sangat gusar sekali, seluruh tubuhnya gemetar dengan amat kerasnya.
Liem Tou tidak mau ambil perduli atas kemarahannya itu. ajarnya lagi dengan keras.
Harap Sun heng mau mendengarkan dulu perkataan cayhe, yang benar cayhe bukan seorang pelajar yang gagal ujian, pada kentongan ketiga nantipun kau tidak perlu menemui orang yang sudah membalikkan perahumu itu, karena orang tersebut adalah cayhe sendiri.
Sun Ci Sie mendengar perkataan tersebut untuk sesaat lamanya tidak mengucapkan sepatah katapun cuma saja kelihatannya air mukanya yang pucat pasi kini sudah berubah menjadi hijau ke biru biruan.
Sebenarnya persahabatan kita sesaat sebelum bertemu susiokku ini adalah persahabatan yang betul betul, tetapi setelah mendapatkan penjelasan dari susiokmu saat ini aku sudah menganggap dirimu sebagai penjahat penyebab bencana yang harus dibasmi dari muka bumi. Ingat nyawa kau si rajawali sakti dari gunung Ai Lau san tinggal satu tahun saja, sampai saat itu kau harus menggunakan pedang hitammu untuk berusaha mempertahankan nyawamu.
Mendengar perkataan dari Liem Tou ini Sun Ci Sie semakin gusar, bentaknya.
Aku Sun Ci Sie sanggup menerima kematian pada saat ini juga, ayoh mulai turun tangan.
Sambil berkata pedangnya di lintangkan ke depan, dari sepasang matanya memancar keluar sinar yang amat tajam memperhatikan diri Liem Tou.
Kau jangan keburu jual lagak disini, bentak Liem Tou pula.
Perkataanku belum aku ucapkan selesai jikalau bukannya aku sudab mendapatkan pesan dari ibumu mungkin pada saat ini kau sudah mati tenggelam di dasar sungai.
Sun Ci Sie yang mendengar Liem Tou mengungkap kembali soal ibunya tidak terasa lagi ia di buat tertegun juga, sehingga pedang hitam yang ada ditangannya pun sudah diturunkan lagi ke bawah.
Liem Tou menghembuskan napas panjang, ujarnya lagi.
Di dalam sebuah lembah batu di atas gunung wu san aku sudab menemukan seorang perempuan yang sudah hampir menemui ajalnya karena terkena siksaan dari si penjahat naga merah, saat sebelum meninggal dia meminta pertolonganku untuk mencari kau seorang yang bernama Sun Ci Sie yang merupakan putranya, diapun minta aku menyampaikaa kepadanya kalau musuh besar yang sebenarnya adalah Kioe Ling Wa Kauw dari gunung Im san dan bagaimana persoalan dendam yang sudah terjadi di antara kalian aku sendiri juga tidak tahu. Sekarang aku sudah menjelaskan seluruh persoalannya, dan beri waktu satu tahun kepadamu untuk membalas dendam ini, setelah genap satu tahun aku bisa datang kembali untuk mencari balas dendamku terhadap dirimu.
Saat ini si perempuan tunggal yang ada di samping tidak berbicara, dia cuma menangis tersedu dengan amat sedihnya, karena dia tahu pemuda berbaju hitam yang ada dihadapannya sekarang ini adalah Sun Ci Sie keponakannya yang sudah amat lama di cari cari.
Setelah mendengar perkataan dari Liem Tou itu Sun Ci Sie termenung berpikir seebentar, mendadak dia tertawa dengan amat seramnya agaknya dia orang sama sekali tidak percaya kalau ibunya sudah menemui bencana seperti apa yang telah diceritakan itu.
Kau berdasarkan apa mau membalas dendam terhadap diriku? tanyanya dengan suara yang amat dingin. Aku sudah berbuat kesalahan apa terhadap dirimu?
Liem Tou yang melihat psrempuan tunggal dibuat menangis oleh sikapp keponakannya yang sangat dingin itu di dalam hati dia sudah merasa kurang senang, dia merasa si penjahat yang gemar membunuh dan berbuat jahat ini sudah seharusnya menemui kematiannya.
Kini mendengar perkataannya yang amat dingin itu seketika itu juga membuat dia benar benar jadi marah.
Kau tidak usah banyak bacot. Bentaknya dengan amat marah. Apa kau kira terbunuhnya Sucouwku Hoa Siong dari Auw Hay Siang Hiap oleh suhumu si hweesio tujuh jari aku orang dilarang membalasnya??"
Jikalau kau adalah seorang manusia yang mengetahui situasi cepatlah lipat kuping menyembunyikan ekor berlalu dari sini.
Setahun kemudian aku bisa pergi mencari dirimu.
Sun Ci Sie segera menggetarkan pedang hitamnya sehingga memperdengarkan suara dengungan yang amat nyaring sekali laksana suara pekikan harimau dan naga yang membubung ke angkasa diiringi suara tertawa seramnya yang amat mengerikan.
Haaa. haaa. . Kiranya kau adalah anak murid dari Lie Sang si tua bangka itu, ejeknya dengan suara keras. Omongan besarmu itu sungguh menarik sekali didengar. Sebetulnya untuk sementara waktu aku masih menaruh rasa tidak tega terhadap Lie Sang si tua bangka itu siapa tahu ini hari terayata sudah bertemu dengan manusia penghianat semacam kau.
Kau cuma mendatangkan bencara buat perguruanmu sendiri, aku harus turun tangan menyingkirkan dirimu dari muka bumi ini.
Berkata sampai di sini warna kehijau hijauhan yang menghias wajahnya dengan perlahan lain mulai membesar, pedangnya digetarkan siap melancarkan serangan dahsyat menubruk ke atas jubah Liem Tou.
Saat itulah terdengar si perempuan tunggal Touw Hong sudah membentak keras.
Ci Sie jangan. Dia bukan anak murid dari Lie Sang Lie suheng, apa yang dikatakan oleh nya adalah suatu urusan yang benar benar sudah terjadi, kau cepatlah pergi, kau tidak mungkin bisa menangkan dirinya.
Berbicara sampai disitu tidak tertahan lagi dia menangis tersedu sedu.
Keadaan yaug amat menyedihkan ini tidak urung membuat Liem Tou yang menonton di samping merasakan hatinya perih juga, akhirnya hatinyapun jadi lembek.
Susiok, kau jangan begitu terharu, hiburnya dengan halus aku tahu orang yang berada dihadapun kita sekarang ini adalah satu satunya saudara dari susiok yang masih hidup, bagaimana aku tega untuk turun tangan membinasakan dirinya?
cuma saja dosa yang dia perbuat sudah bertumpuk tumpuk, aku tidak bisa melepaskan dia dengan begitu saja. Tetapi jikalau di dalam satu tahun ini dia bisa berubah sifat dan jadi orang baik sehingga mendatangkan keberuntungan buat umat manusia sudah tentu sekalipun hatiku keras seperti baja juga akan lumer tak berbekas.
Si perempuan tunggal yang mendengar perkataan dari Liem Tou ini dalam hatinya segera tahu kalau Liem Tou sudah memberikan satu kesempatan hidup buat diri Sun Cie Sie, di dalam hatinya jadi amat girang.
Tanpa memperdulikan bagaimana kaadannya sekarang mendadak diangkat kepalanya berteriak.
Ci Sie, kenapa kau masih tidak cepat cepat mengucapkan terima kasih atas kebaikan budinya ini?
Sun Ci Sie yang melihat si perempuan tunggal menangis dengan amat sedihnya dalam hati dia merasa kalau dalam hal ini pasti ada sebab sebabnya kalau tidak, tak mungkin ada orang menangis dengan begitu sedihnya. Tetapi ketika dia mendengar setiap kali si perempuan tunggal memanggil dirinya dengan kata Ci-Sie . . . Ci Sie terus, tidak urung alisnya dikerutkan rapat rapat juga.
Kau adalah setan yang baru saja lolos dari serangan pedangku Bentaknya dengan suara berat. Jikalau bukannya Lie Loo jie si tua bangka itu datang pada waktunya pada saat ini nyawa mu sudah berada di tanah akhirat, kau orang itu manusia macam apa? Ayoh pergi, mengaca dulu, kau kira wajahmu cantik dan tidak ada tandingannya ? Ci Sie . . . Ci Sie, kau kira Toaya-mu adalah kekasihmu? Sungguh tidak tahu malu, muka tebal, perempuan tunggal, hati bati kau, jika berani panggil aku dengan sebutan Ci Sie, jangan salahkan aku akan turun tangan kejam terhadap dirimu.
Mendengar suara makian yang benar benar kurang ajar dan kasar ini si perempuan tunggal jadi amat malu dan gemas sekali.
Ci Sie, teriaknya hampir hampir kalap. Aku adalah bibimu kenapa kau begitu kurang ujar.
Sun Ci Sie, kau jangan coba coba memaki dengan menggunakan kata kata yang kotor lagi, teriak Liem Tou yang ada disampingnya memberi peringatan keras. Dia adalah susiok juga merupakan bibimu, dia orang sudah memintakan belas kasihan untuk tidak membunuhmu, kenapa kau sekarang memaki bibimu dengan kata kata yang demikian kotornya dan kasar sekali? Kau sudah tidak mau hubungan antara bibi dengan keponakan di antara kalian berdua?
Mendengar perkataan ini Sun Ci Sie dengan perlahan mengalihkan sinar matanya ke atas wajah si perempuan tunggal, pada waktu yang lalu dia belum pernah memperhatikan dirinya dengan csrmat, kini setelah memperhatikannya dengan teliti secara samar samar di dalam benaknya terbayang kembali wajah dari ibunya yang berkelebat dengan cepatnya, bahkan dia merasa bahwa wajah dari perempuan tunggal ini mirip dengan wajah ibu kandungnya.
Goncangan hati yang amat keras dan mengharukan ini seketika itu juga membuat hatinya tergetar keras sekali, sepasang matanya dengan perlahan menjadi basah . . . dua titik air mata mulai membasahi kelopak matanya dan menetes keluar membasahi pipinya.
Si perempuan luaggal yang melihat kejadian ini dalam hatinya betul betul merasa terharu, air mata sejak semula sudah mengucur dengan deras.
Tetapi agaknya Sun Ci Sie dapat mengendalikan dirinya kembali saking girangnya pada ujung bibirnya tersungging suatu senyuman.
Menndadak Sun Ci Sie angkat kepalanya dan berteriak keras dengan amat sedih dan seramnya serunya.
"Aku Sun Ci Sie tidak berayah dan tidak beribu, tidak ada sanak dan tidak ada keluarga dan tidak ada bibi segala, aku Sun Ci Sie kecuali suhu seorang siapapun tidak dikenal.
Pedang hitam yang ada ditangannya mendadak digetarkan, di dalam sekejap saja sinar gemerlap yang menyilaukan mata berkelebat memenuhi seluruh ruangaa dan menekan kedua orang itu dengan dahsyatnya.
Liem Tou serta si perempaan tunggal sama sekali tidak menyangka dia bisa berbuat demikian, mereka bersama sama menjadi amat terkejut sekali.
Si perempuan tunggal yang pernah merasakan kelihayan dari ilmu pedang hitam ini, melihat datangnya seraagan dari pedang pusaka tersebut ujung kakinya dengan cepat menutul permukaan perahu dan meloncat keluar dari ruangan tersebut.
Sebaliknya Liem Tou yang diserang secara tiba tiba dalam hati merasa sangat terkejut sekali.
Sun Ci Sie kau mencari mati?? bentaknya dengan gusar.
Dia tidak menyingkir maupun menghindar, menanti sinar ke hitam-2an itu mengurung badannya, dengan cepat tenaga murni yang ada di dalam tubuhnya disalurkan keluar, dengan menggunakan tenaga tujuh bagian sepasang telapak-nya mendadak dibalik, kemudian dengan diikuti satu hawa pukulan yang tak terhingga dahsyatnya menyambut datangnya serangan tersebut.
Si rajawali sakti dari gunung Ai Lau san ini sewaktu melihat Liem Tou ternyata hendak menggunakan sepasang kepalannya menerima datangnya serangan pedang hitamnya itu, di dalam hati dia segera mengira pastilah akan terbinasa di bawah serangannya, sehingga darah bereceran diatas tanah, tenaga dalamnya segera ditambahi dengan dua bagian bersamaan pula bentaknya keras.
Aku mau lihat siapa yang cari mati ?? Mendadak dia merasakan angin pukulan yang dilancarkan oleh Liem Tou ini merupakan angin pukulan tenaga Im tetapi juga tenaga Yang. di dalam kelunakan ada kekerasan membuat seluruh serangan yang dilancarkan olehnya terasa kena terhalang.
Baru saja dia merasakan keadaan sedikit tidak beres mendadak angin pukulan dari Liem Tou sudeh dilipat gandakan sepuluh bagian, pedang hitam di tangannya tidak sempat ditarik kembali ujung pedangnya segera terkena bentrok dengan hawa angin pukulan yang melanda datang.
Segera terasalah seluruh tubuhnya tergetar amat keras sehingga sukar ditahan, apalagi yang lebih celaka lagi ternyata angin pukulan itu melampaui ujung pedang lantas menekan ke atas dadanya.
Rasa terkejutnya kali ini bukan alang kepa ang, dia tahu untuk menyingkir tidak sempat untuk menghindar ke belakang juga tidak berguna, di dalam hati dia segera mengambil keputusan uatuk beradu jiwa.
Tekanan hawa pukulan ini semakin lama semakin memberat sehingga hampir hampir membuat dia sukar untuk bernapas.
Tetapi dia yang sudah kebiasaan menirukan sifat dari si hweesio tujuh jari yang amat dingin dan sombong membuat keadaannya pada saat ini dari dingin kaku jadi ganas dan amat buas, tidak takut mati.
Terang terangan dia tahu dirinya bakal tidak sanggup uatuk menangkis datangnya serangan tersebut dia malah paksakan diri untuk berbuat demikian.
Didalam sekejap saja dadanya terasa amat mual dan kepalanya amat pening, tetapi dengan menggigit kencang bibirnya sehingga keluar darahnya dia angkat telapak kirinya dengan menyalurkan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya untuk menangkis serangan tersebut.
Sun Ci Sie sebetulnya sudah memperoleh didikan dan perawatan langsung dari si hwoesio tujuh jari di karenakann si hweesio tujuh jari sudah menaruh seluruh harapannya yang terakhir di tangan Sun Ci Sie ini, karena tenaga pukulan yang dilancarkan oleh Sun Ci Sie dengan seluruh tenaga ini seperti juga sedang mengadu jiwa, keadaannya tidak dapat dipandang remeh.
Jikalau digantikan dengan orang lain, di dalam keadaan seperti ini walaupun dia berhasil menerima datangnya serangan tersebut tetapi tidak urung tergetar mundur juga beberapa langkah ke belakang.
Tetapi Liem Tau bukanlah manusia sembarangan, melihat Sun Ci Sie berbuat demikian dia segera tertawa dingin.
Haee. .beee. .kau masih ketinggalan jauh. serunya.
Baru saja dia kerahkan hawa murninya untuk menekan lebih dahsyat lagi mendadak terdengar si perempuan tunggal sudah menjerit keras.
Liem Tou jangan...
Liem Tau secara tiba tiba menjadi sadar kembali dengan tergesa gesa dia pentangkan telapak tangannya ke samping kemudian dengan meminjam kesempatan ini tubuhnya meloncat keluar.
Tetapi sebelum hawa pukulannya ditarik semua, tiba tiba.. "Plaask. . "dua gulung angin pukulannya sudah menghajar kedua samping tubuh perahu tersebut diikuti suara ledakan keras yang menggetarkan seluruh ruangan.
Sun Ci Sie yang tidak berhasil menarik kembali serangannya seketika itu juga membuat hawa pukulannya dengan dahsyat menghajar diatas ujung perahu sehingga terhajar hancur berantakan.
Sun Cie Sie mengira Liem Tou takut menerima serangannya sehingga tidak terasa lagi dia tertawa panjang.
Liem heng kenapa tidak menerima serangan ku itu ejeknya bangga.
Siapa tahu baru saja dia selesai berkata dari kedua sisi perahunya mendadak terdengar suara ledakan laksana ambruknya gunung dan jebolnya bendungan membuat seketika itu juga menggetarkan seluruh ruangan.
Dari dalam sungai mendadak bergolak dan nenyemprot ke atas pancuran air setinggi dua puluh kaki yang disertai ombak yang menggulung dengan dahsyatnya, keadaan pada waatu itu benar benar amat menyeramkan sekali.
Sun Ci Sie yang melihat kejadian itu saking kagetnya seluruh air mukanya sudah berubah pucat pasi bagaikan mayat, dia tahu tenaga dalam yang dimiliki Liem Tou sekarang ternyata benar benar dahsyat sekali sehingga sukar diukur. Dia tidak berani memikirkan bagaimana akibat yang bakal diterima apabila tenaga yang sangat dahsyat itu bersarang di badannya.
Sewaktu dilihatnya pula air sungai bergolak dengan amat dahsyat sehingga membuat sang perahunya montang manting dengan hebatnya, dia jadi kaget, bukankah dengan demikian perahunya telah menemui bahaya.
"Aduh,, perahuku!" teriaknya keras.
Sun Ci Sie kau masih tidak msaggelinding dari tempat ini? terdengar suara Liem Ton memberi peringatan. Aku mamberi waktu satu tahun buatmu untuk mengubah sifat sifatmu yaug jahat itu, perahu ini sejak ini hari adalah milikku.
Sun Ci Sie mana mau mengalah dengan begitu saja, dia jadi amat gusar sekali.
Tetapi hanya di dalam waktu sekejap saja kembali ada dua gulung ombak yaug amat dahsyat menerjang badannya, dia orang yaug tidak mengerti ilmu didalam air dengan cepat tubuhnya meloncat naik ke atas lantas berkelebat menuju ke tengah sungai sejauh tiga kaki setelah itu dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya yang paling lihay dia berjalan mengelilingi perahu tersebut, dia tidak berani mendekati tetapi tidak tega pula untuk ditinggal pergi terpaksa dengan mendongkol berputar terus disekeliling tempat tersebut.
si perempuan tunggal yang melihat sikap serta tindak tanduk dari keponakannya itu dalam hati merasa amat cemas dan sedih sekali, baru saja di dalam pikirannya memikirkan akan sesuatu itu mendadak terdengar Liem Tou sudah tertawa kembali.
Sun Ci Sie. kau masih tidak mau menggelinding pergi dari sini? bentaknya.
Sepasang telapak tangannya bersama sama melancarkan serangan kembali ke arah depan terasalah serentetan desiran angin yang amat tajam menghajar keatas permukaan air membuat sekeling tempat tersebut segera timbul gelombang yang amat besar menggulung keras ke atas tubuh Sun Ci Sie.
Sun Ci Sie sudah tentu tidak berani menerima datangnya gulungan ombak itu dia tidak bisa berbuat apa apa lagi terpaksa tubuhnya sekali Lagi meloncat menuju ke arah tepi sungai.
Di tengah suara tertawa terbahak babak dari Liem Tou itulah tampak dua gulung ombak yang keras menggulung kembali di tengah sungai membuat perahu tersebut jadi tenang kembali.
Heyy....Sun Ci Sie terdengar Liem Tou berteriak lagi sambil tertawa terbahak bahak. Lebih baik kau cepatlah pergi dari sini, tetapi kau harus ingat apa yang sudah aku ucapkan pasti akan kulaksanakan benar benar setahun kemudian aku pasti akan pergi mencari dirimu . Jikalau mulai saat ini kau sudah tidak berbuat jahat lagi maka sampai maka sampai waktunya aku akan melenyapkan permusuhan dan bersahabat dengan dirimu, tetapi bilamana kau masih terus berbuat kejahatan .. Hemm, hemm...kau boleh merasakan pukulan dahsyatku yang akan menghancurkan badanmu.
unn Ci Sie mana pernah menerima hinaan seperti ini? Cuma saja dia tahu dirinya tidak bakal bisa menangkan lari Liem Tou karenanya dia cuman berdiri termangu mangu ditepi sungai tanpa bergerak sedikitpun juga.
Lama sekali barulah dia secara tiba tiba jatuhkan diri berlutut menghadap ke arah barat daya kemudian lantas sambil mengangguk anggukan kepalanya dia berkata.
Ooooh . ., Suhu, tecu tidak bisa memenuhi harapac kau orang tua lagi, lebih baik kau orang tua menghilangkan maksud hatimu untuk menyingkirkan diri Thiat Bok Tbaysu serta Su Kok Mo Piau. Semua urusan kita bicarakan di kemudian hari saja.
Selesai berkata dia bangkit berdiri dan mengangkat pedangnya dengan menggunakan tangan kanan lalu perlahan lahan dia ulurkan tangan kirinya kedepan.
Ci Sie, kau mau berbuat apa? terdengar si perempuan tunggal segera berteriak keras Sun Ci Sie cuma tertawa dingin dengan amat seram nya dan suara tertawanya itu tajam sehingga mendirikan bulu roma.
Tampaklah diantara barkelebatnya sinar pedang yang berwarna hitam, jari kelingking dari tangan kirinya sudah tertabas putus.
Kau mau berbuat apa? sahutnya dengan ketus Heee . . . heee , . .
Hitung hitung saja aku sudah kecudang di tangan bangsat cilik she Liem itu tetapi mulai sekarang juga aku mau berganti nama dan berlatih giat, tiga tahun kemudian jika aku tidak berhasil membinasakan kau Liem Tou bangsat cilik, aku segera akan bunuh diri seperti keadaan jariku ini.
Sahabis berkata dia memperdengarkan kembali suara tertawa dinginnya yang amat menyeramkan kemudian baru putar tubuh dan berlalu dari sana dengan diringi suara suitan panjang yang menyayatkan hati.
Untuk beberapa saat lamanya Liem Tou cuma bisa saling berpandangan dengan si perempuan tunggal tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun, mereka sama sekali tak menyangka Sun Ci Sie sebetulnya seorang manusia yang begitu dingin, kaku dan amat jumawa sekali.
Lama sekali baru terdengarlah si perempuan tunggal menghela napas panjang.
Sutit, ujarnya. Kau sudah mendatangkan bencana yang tidak terkira buat hari mendatang.
Haaa . . . dia bilang tiga tahun sebaliknya aku sudah pergi mencari dia setahun kemudian sahut Liem Tou sambil tertawa ringan.
Aku rasa dia yang sudah mengangkat sumpah sebelum ilmu silatnya berhasil menyamai dirimu dia orang tak mungkin akan memperlihatkan dirinya sehingga berhasil kau temui.
Liem Tou mengangguk, dia tertawa lagi. Dia tidak ingin membicarakan persoalan ini kembali, sinar matanya dengan perlahan beralih ke dalam ruangan perahu itu dan ujarnya dengan perlahan.
Susiok, perahu ini aku serahkan kepadamu untuk mengurusnya, dia adalah keponakan dari susiok sudah seharusnya perahu ini aku serahkan kepadamu.
si perempuan tunggal mana mau menerima barang barang tersebut? kini tujuannya yang di cita citakan sejak turun gunung sudah terlaksana tetapi hal itu pun cukup mendukakan hatinya, mulai hari ini dia cuma ingin mengembara saja karenanya dengan perlahan dia gelengkan kepalanya.
Aku tidak mau barang barang ini, biarlah kau saja yang mengambil keputusan.
Sekali lagi Liem Tou paksa si perempuan tunggal itu untuk menerimanya kembali dia menggelengkan kepalanya.
Liem Tou melihat di dalam hatinya sudah mengambil ketetapan diapun tidak dapat memaksa lebih lanjut lagi segera pikirnya.
Baiknya aku pergi kegunung Wu san saja, untuk sementara waktu aku titipkan harta kekayaan tersebut jadi satu dengan harta kekayaan miliknya Hek Loo toa, di kemudian hari jika aku rasa berguna saat itulah baru mengambil
keluar kembali.
Berpikir sampai disitu dia tidak menolak kembali. Mendadak dalam benaknya teringat akan sebuah peti besi yang dipasang kunci, sehingga ujarnya kemudian.
Di dalam ruangan perahu ini semuanya ada enam buah peti hitam yang di antaranya sebuah peti terkunci, bagaimana kalau kita menggunakan waktu yang luang ini untuk membukanya dan lihat lihat apakah sebenarnya isi peti itu? Ehmn. .sahut si perempuam tunggal. Mereka berdua segera berjalan memasuki ke dalam ruangan. Liem Tou lalu mengaagkati peti peti yang tak terkunci itu ke samping dan akhirnya mengangkat peti yang terakhir ke tengah ruangan kemudian dengan menggunakan kekuatan jarinya merusak gembok tersebut.
Liem Tou dengan perlahan membuka tutup peti itu, terasalah serentetan sinar yang menyilaukan mata memancar keluar dan dalam peti tersebut, terlihatlah satu peti penuh dengan intan permata yang sangat berharga sudah terbentang dihadapan mereka.
Pada saat ini Liem Tou sama sekali tidak tertarik dengan intan intan permata itu sedang si perempuan tunggal pun tidak menyukai barang barang barharga tersebut, melihat benda itu tak terasa lagi didalam hatinya merasa kecewa sekali.
Dalam anggapan mereka berdua, peti peti lain yang berisikan intan permata sama sekali tidak dikunci sudah tentu peti terakhir yang terkunci sudah disimpan suatu barang pusaka yang sangat berharga sekali, siapa sangka isinya pun melulu benda benda berharga itu saja.
Pada waktu ini Liem Tou hendak menutup penutup peti itu. tiba tiba terdengar si perempuan tunggal berseru.
Sute tunggu dula, coba diantara intan intan itu kita mencari beberapa butir mutiara yang dapat menerangi di tempat kegelapan aku rasa barang itu ada kegunaannya dikemudian hari.
Liem Tou yang dapat melihat di tempat kegelapan seperti siang hari saja sudah tentu tidak membutuhkan barang tersebut dia segera menyingkir kesamping.
Susiok kau carilah sendiri, ujarnya sambil tertawa. Kau suka apa ambillah sesuka hatimu.
Aku cuma menginginkan sebutir mutiara saja, yang lain aku tidak mau. Sahut perempuan tunggal tertawa juga.
Selesai berkata dia segera berjongkok dan mulai mencari di antara tumpukan intan permata itu tak lama kemudian mendadak tangannya sudah terbentur dengan sebuah benda kerss, dengan cepat serunya kepada Liem Tou.
Sutit, kemungkinan sekali diantara tumpukan intan permata ini masih terdapat sebuah peti kecil lagi?
Coba kau ambillah keluar, teriak Liem Too dengan cepat.
Si perempuan tunggal segera merogoh tangannya ke dalam peti dan mengambil keluar sebuah peti besi berwarna hitam yang kecil dan piph, di dalam sekali pandang saja Liem Tou bisa melibat beberapa tulisan yang terukir di atas peti tersebut.
Hati manusia amat kejam itulah yang dicari manusia.
Pada ujung kiri dari peti hitam itu kembali terukir beberapa hurf dari emas. "Cian Tok Cin Keng"
Liem Tou sarta si perempuan tunggal yang melihat adanya kitab pusaka seribu racun pada melengak semua dibuatnya, mereka sama sekali tidak mengerti apa yang tertulis di dalam kitab tersebut juga tidak mengetahui dari mana sumber ilmu tersebut, cuma saja di dalam hati mereka berdua merasa sedikit berdesir, mereka tahu jika ditinjau dari tulisan yang terukir di atas kitab tersebut tentulah kitab itu merupa kan satu kitab yang sangat beracun sekali.
Baru ssja mereka dibuat termangu mangu oleh kejadian itu mendadak pada ujung perahu tersebut terdengarlah suara bentrokan yang amat keras sekali membuat seluruh tubuh perahu itu tergetar dengan amat kerasnya, bersamaan pula terdengar suara dari sirajawali dari gunung Ai Lau San, Sun Ci Sie sudah balik kembali.
Liem Tou teriaknya dengan suara yang amat keras. Ayoh cepat menggelinding keluar, kita bertanding siapa yang lebih lihay diantara kita.
Liem Tou sama sekali tidak mengira kalau dia bisa kembali lagi, tanpa ragu ragu lagi tubuhnya segera meloncat keluar dari ruangan perahu tersebut.
Tampaklah suasana disekeliling tempat itu amat sunyi sekali, sinar rembulan memancarkan sinar dan kerlipan bintang bintang yang tersebar memenuhi angkasa di tempat itu sama sekali tidak tampak sesosok bayangan manusiapun.
Mendadak satu bayangan berkelebat di dalam benaknya, hatinya terasa berdebar amat keras sekali, belum sempat dia mengambil satu tindakan mendadak terdengarlah suara mengaduh dari si perempuan tunggal yang ada di dalam ruangan perahu dengan amat kerasnya.
Liem Tou cuma merasakan hatinya seperti ditusuk tusuk dengan beribu ribu batang anak panah, dia segera berteriak keras.
Sun Ci Sie, kau sungguh kejam sekali.
Ternyata sedikitpun tidak salah, dia melihat tubuh si perempuan tunggal sudah roboh di atas ruangan perahu dengan amat kerasnya disusul dengan berkelebatnya sesosok bayangan manusia yang menerjang keluar dari jendela dengan amat cepatnya.
Liem Tou menggigit kencang bibirnya, tenaga saktinya disalurkan keluar kemudiaa dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya dia melakukan peagejaran dengan amat cepatnya dari belakang.
Sun Ci Sie tinggalkan nyawamu, teriaknya dengan keras.
Dari tempat jauh dia segere melancarkan satu pukulan dahsyat kearahnya, siapa tahu justru.
karena pukulannya inilah membuat Sun Ci Si mendapatkan kesempatan yang baik untuk meloloskan dirinya pada saat angin pukulannya mendekati tubuhnya itulah Sun Ci Sie dengan meminjam tenaga pukulan tersebut melayang lebih cepat lagi ke atas tepian kemudian dengan sedikit terhuyung huyung dia melarikan diri masuk ke dalam hutan.
Dalam hati Liem Tou benar benar merasa sangat gusar sekali, mana dia orang mau melepas kan dirinya dengan begitu saja, langkah kakinya semakin dipercepat. Sreeet Sreeet berturut turut dia menutul beberapa kali di atas permukaan air kemudian mengejar dengan cepatnya dari belakang tubuh Sun Ci Sie.
Hey Liem Tou bangsat cilik, tiba tiba bentak Sun Ci Sie sambil menoleh kebelakang dan mengayunkan tangannya. Kau cepatlah pergi menolong susiokmu.
Liem Tou dengan cepat mangebutkan ujung jubahnya menjatuhkan senjata rahasia yang mengancam tubuhnya, sebetulnya dia masih ingin pergi mengejar lebib lanjut tetapi setelah mendapatkan peringatan dari Sun Ci Sie ini, dia baru teringat kembali kalau si perempuan tunggal tadi memang menjerit kesakitan dan rubuh ke atas permukaan ruangan perahu, dia tidak tahu si perempuan tunggal sudah kena dibokong sebagaimana yang dikatakan oleh Sun Ci Sie.
Sedikit dia berpikir itulah kakinya menjadi tambah perlahan. Sun Ci Sie bukanlah manusia bodoh, dengan mengambil kesempatan itulah dia lebih mempercepat larinya sehingga hanya di dalam sekejap saja dia sudah meninggalkan diri Liem Tou lebih jauh lagi.
Liem Tou yang dikarenakan perhatiannya sedikit bercabang sudah ketinggalan jauh oleh diri Sun Ci Sie dengan cepat dia meloncat maju lebih cepat lagi, tetapi pada saat itu bayangan dari Sun Ci Sie sudah lenyap dibalik kegelapan, terpaksa dia putar badaauya kembali ke perahu.
Begitu masuk ke dalam ruangan perahu, dia dapat melihat air muka perempuan tunggal itu pucat pasi bagaikan mayat, agaknya dia sedang merasakan suatu penderitaan yang amat berat sehingga giginya saling beradu dengan amat kerasnya.
Liem Tou jadi amat cemas sakali, dengan cepat dia membungkukkan badannya dan bertanya.
Susiok, susiok bagaimana deagaa lukamu? kau sudah terbokong oleh siapa?
Lama sekali si perempuan tunggal tidak bisa berbicara, akhirnya dengan paksakan diri dia menjawab juga.
"Senjata rahasia"
Dengan cepat Liem Tou membantu dirinya memeriksa seluruh tubuhnya yang berbahaya, akhirnya dia bisa melihat pada kaki kiri serta lengan kirinya masing masing terhajar dua batang jarum kecil, jarum itu menancap dalam dalam di dalam dagingnya sehingga cuma ketinggalan sedikit ujungnya yang kelihatan di luar.
Dengan sangat berhati hati sekali dan amat telitinya Liem Tou membantu dirinya untuk mencabut keluar senjata rahasia itu, setelah dilihatnya di atas ujung jarum itu sama sekali tidak beracun dia baru bisa menghembuskan napas lega.
Untung tidak beracun, sehingga tidak begitu merepotkan, ujarnya perlahan.
Tetapi sebentar saja dia melihat di atas kelopak mata dari si perempuan tunggal itu tampak tergenang oleh air mata yang dengan sekuatnya sedang ditahan sehingga jangan sampai mengalir keluar dia menjadi bingung.
Susiok untuk sementara kau berlega hati. hiburnya dengan halus. Asalkan jarum ini tidak beracun aku rasa sebentar saja sudah akan sembuh kembali. Keponakanmu itu benar benar sudah sangat keterlaluan, sepantasnya dia orang mau tak mau harus dibasmi juga dari muka bumi.
Beberapa psrkataan dari Liem Tou ini jika tidak dibicarakan masih tidak mengapa, begitu dia berkata demikian si perempuan tunggal itu semikia merasa sedih lagi air mata yang samula cuma menggenang di kelopak matanya kini
sudah mulai bercucuran, dia segera gelengkan kepalanya dengan perlahan.
"Aaa . . aaaku . . di badanku . . masih . ."
Mendengar perkataan tersebut Liem Tou jadi sadar kembali dari lamunannya, mendadak dia mengerutkan alisnya rapat rapat dan bertanya
"Dimana lagi senjata rahasia itu menghajar tubuhmu?"
Waktu itulah dia baru merasakan urusan agak sedikit memberatkan jikalau dia harus menghadapi sesama laki laki hal ini bukanlah suatu urusan yang besar, justru si perempuan tunggal adalah seorang gadis yang masih suci.. , hal ini benar benar membuat dia orang agak kebingungan.
Aku sendiri juga tidak tahu dimana senjata rahasia tersebut berada. Terdengar si perempuan tunggal itu menyahut sambil gelengkan kepalanya berulang kali.
Aku cuma merasa di seluruh tubuhku sudah terkena hajar oleh senjata rahasia tersebut.
Sekali lagi Liem Tou merasa terkejut, diam diam pikirnya.
Kini cuma ada satu cara saja yaitu suruh ia cabut sendiri jarum jarum itu tapi . . . kalau tidak dapat bergerak, lalu bagaimana baiknya.
Berpikir akan bal ini dia lantas bertanya.
Susiok, kau bisa mencabut sendiri jarum jarum emas itu aku . . aku . .
Lama sekali dia mengucapkan kata kata 'aku" tanpa dapat melanjutkan kembali kata kata sambungannya sedangkan wajahnyapun sudah berubah menjadi merah padam bagaikan kepiting direbus.
Si perempuan tunggal Touw Hong yang melihat Liem Tou pun dibuat kikuk sekali dia lalu berpikir sebentar.
Begini saja, ujarnya kemudian. Kau keluarlah dulu. biar aku coba coba sendiri.
Bagaikan baru saja bebas dari tugas yang berat, Liem Tou segera berjalan keluar dari ruangan dan berdiri di ujuug perahu tidak bergerak, kepalanya didongakkan ke atas memandang bintang bintang yang tersebar memenuhi angkasa, teringat akan asal usul si perempuan tunggal Touw Hong tak terasa lagi di dalam hati dia menaruh rasa simpatiknya, ketika teringat pula keadaan sendiri pun persis, tetapi apa yang dialami oleh perempuan tersebut mendadak dia menghela napas panjang.
Dia teringat juga diri Lie Siauw Ie sejak dia mengetahui ibu dari gadis itu sudah meninggal hatinya sedikit tidak tenang setiap kali mereka bergaul bersama sama beberapa kali dia hendak memberitahukan berita ini dia agak ragu ragu dia takut Lie Siauw Ie jadi amat sedih sekali.... setelah dia melanjutkan lamunannya memikirkan diri Thian Pian Siauw cu, si hweesio tujuh jari, Sun Ci Sie dan lain latanya pada saat teringat kalau perjanjian pada bulan lima tanggai lima sudah tidak jauh di dalam hati dia segera mengambil keputusan untuk segera berangkat menuju ke Cin Jan.
Dia berpikir . . . berpikir terus mendadak teringat kembali akan kerbaunya yang sudah lama sekali dititipkan kepada orang lain, kenapa se karang juga dia tidak mau pergi ke sana membawanya kembali? walaupun tempat itu amat jauh tetapi, dengan kecepatan dari gerakan tubuhnya sekarang tidak lebih dari dua jam kemudian subah bisa kembali ke sini.
Setelah mengambil keputusan itu dia lanjut berteriak.
.Susiok, kau menemui kesukaran?.
Dari dalam ruangan sunyi senyap tak terdengar suara sahutan, sekali lagi Liem Tou mengulangi pertanyaannya akhirnya terdengar juga suara jawaban dari si perempuan tunggal Touw Hong yang lemah dan halus itu.
Sudah kucabut keluar tiga batang, maa.... masih . masih ada. .. masih ada lagi. Liem Tou yang mendengar sudah dicabut keluar tiga batang diam diam dia merasa sedih juga buat diri perempuan tunggal ini, kini mendengar pula kalau masih ada lagi yang belum tercabut saking kagetnya keringat dingin sudah mengucur keluar membasahi keningnya.
Susiok kau bersabarlah sedikit serunya dengan gugup. Cabutlah dengan perlahan aku rasa sesudah jarum emas itu dicabut keluar, luka itu dengan cepatnya akan sembuh dengan sendirinya.
Sambil berkata dia melepaskan tali obat pemberian dari Hek Loo toa itu dan berjalan masuk ke dalam ruangan perahu.
Susiok terimalah ini, serunya dengan membelakangi dirinya. Tali ini adalah suatu obat yang mujarab sekali, bilamana susiok merasa pertahanan badannya semakin berkurang cepatlah makan satu utas, bilamana daya obatnya sudah berjalan maka semangat dan tenaga yang di dalam badan segera akan pulih kembali seperti sedia kala. Sutit ada urusan yang bakal di bereskan dulu di tepian sana, tetapi sebentar kemudian akan kembali lagi . . selamat tinggal, harap susiok jaga diri baik baik.
Baru saja dia siap siap hendak meloncat ke tepian mendadak dia teringat kembali akan sesuatu.
Kalau aku pergi dan Sun Ci Sie tiba tiba balik ke sini bukankah susiok bakal celaka?
Dia segera gelengkan kepalanya berulang kali dan menghentikan gerakan badannya.
Aku tidak boleh pergi, aku tidak boleh pergi, pikirnya lagi. Tidak perduli bagaimanapun aku harus menunggu setelah dia selesai mencabut keluar seluruh jarum yang menghajar badannya.
Berpikir sampai disini dia segera memaki ketololannya sendiri, untuk membetulkan kesalahan tadi dia lalu berteriak kembali.
Susiok, aku tidak jadi pergi. . kau berlegalah bati untuk mencabut keluar jarum jarum tersebut dengan perlahan lahan.
Terpaksa dia balik lagi di ujung perahu dan duduk disana menanti.
Kentongan keempat dengan cepatnya berlalu tetapi dari dalam ruangan perahu sama sekali tidak terdengar sedikit suarapun, akhirnya Liem Tou tidak bisa menahan sabar lagi dengan cepat dia meloncat bangun.
Susiok. kau kenapa? tanyanya dengan suara yang keras.
Dia menanti lagi beberapa saat lamanya tetapi tidak mendapatkan jawaban juga, terpaksa untuk ketiga kalinya dia berteriak kembali tetapi suasana tetap sunyi senyap.
Liem Tou merasakan hatinya berdebar dengan amat keras , satu ingatan tidak beres berkelebat dalam benaknya.
Susiok, kau sedang apa?? kau kenapa?? teriaknya dengan keras.
Dari dalam ruangan perahu itu keadaan tetap tenang tenang saja tidak terdengar suara sahutan. Liem Tou jadi semakin cemas lagi tubuhnya dengan cepat berkelebat menuju kedepan pintu ruangan perahu tersebut.
Baru saja hendak menerjang masuk untuk melihat apa yang sudah terjadi kembali satu ingatan berkelabat di dalam benaknya, bagaikan kepalanya digodam martil berat dia merasakan hatinya tergetar amat keras, akhirnya dia mem batalkan juga maksudnya itu.
Tetapi urusan sudah terjadi di hadapan matanya, untuk tidak masuk melihat keadaan yang sesungguhnya tak mungkin bisa terjadi, di dalam keadaan yang mendesak mendadak dia mendapat satu akal.
Anaaa . , . sudah ada, teriaknya.
Saat itu dia sudah meedapatkan satu cara yang amat tolol sekali, dia dengan cepat pejamkan matanya lalu dengan jalan meraba raba dia berjalan masuk ke dalam ruangan perahu itu.
Terhadap keadaan di dalam ruangan perahu itu sudah tentu dia sangat hafal sekali, tanpa membuang banyak waktu dia sudah berhasil mendapatkan tubuh si perempuan tunggal Touw Hong itu.
Tetapi sewaktu tangannya terbentur dengan sebuah kulit badan yang sangat halus dan hangat ditambah pula tersiar bau harum yang sangat aneh sekali menusuk hidungnya membuat dia jadi sangat terperanjat.
Susiok, suuok . . - teriaknya keras.
Suasana tetap tenang tak terdengar sahutan apapun, walaupun sepasang matanya dipejamkan letapi dia bisa tahu tentunya saat ini perempuan tunggal sudah jatuh tidak sadarkan diri di karenakan tidak dapat menahan rasa sakit yang kelewat batas itu.
Di dalam keadaan yang seperti ini menolong orang adalah lebih penting dari segala galanya, dia tidak memikirkan batas susila antara lelaki dau perempuan lagi, dengan cepat dia duduk di atas tanah dan dengan perlahan dan sangat hati hati sekali dia ulurkan tangannya ke depan, karena takut sudah meraba anggota badannya yang terlarang beberapa kali sudah hampir menempel di badan perempuan itu dia menarik tangannya kembali.
Diam diam di dalam hatinya merasa tersiksa.
Susiok, dimanakah kepalamu?? ujarnya kemudian. Bagaimana aku bisa menemukan kepalamu dengan cara meraba begini? jika yang saya raba bukan kepalamu urasan bukankah jadi berabe?
Mendadak dia mendapatkan satu akal dia tahu saat ini si perempuan tunggal Touw Hong berada dalam keadaan telanjang bulat berbaring di dalana ruangan perahu itu, maka dengan sendirinya pakaian yang dilepas tentu targeletak disisinya, asalkan dia berbasil menutupi badannya dengan pakaian tersebut bukankah sesudah itu dia bisa membantu dirinya untuk mengerabkan tenaga dalam dengan mata terbuka.
Berpikir sampai disini dia tidak ragu ragu lagi, dengan cepat dia maraba di atas tanah.
Akhirnya didapatkan juga pakaian itu disamping badannya kemudian dengan cepat ditutupkan ke atas badannya.
Tetapi pada saat ini dia tetap tak berani membuka kedua matanya secara berbareng, dengan perlahan lahan dia membuka dulu sebelah matanya, karena dia takut setelah matanya terbuka akan menemukan pandangan yang menggairahkan dan mendebarkan hatinya, keadaan seperti itu bukankah luar biasa bekali . . .
Untung saja tempat yang ditutupi tadi tepat dari lutut sampai dilehernya saat itu Liem Tou baru bisa menghembuskan napas lega.
Sungguh berbahaya, teriaknya di dalam hati.
Setelah itu dia baru duduk bersila disisinya dan menempelkan telapak tangannya di atas punggungnya, matanya dipejamkan dan mulai menyalurkan hawa murninya ke dalam badan Touw hong
Terhadap susiok yang masih sangat muda ini dia menaruh rasa simpatik bercampur rasa hormatnya yang secara tidak sadar sudah timbul rasa ingin melindungi dirinya, dia gemas tidak bisa menyalurkan selurub tenaga murni yang ada pada dirinya untuk menolongnya supaya cepat cepat sadar kembali, tetapi pikiran ini tidak mungkin bisa terlaksana, sekalipun tenaga dalam yang dimilikinya sangat tinggi tetapi bilamana dia berbuat demikian hal ini cuuia mendatangkan bencana saja daripada kebaikan . ...
Seperti apa yang telah diduga olah Liem Tou semula, si perempuan tunggal Touw Hong yang berhasil mencabut keluar jarum yang terakir dikarenakan tenaganya sudah habis dan amat lelah sekali ditambah pula rasa sakit yang terasa menusuk tulang akhirnya dia tidak kuat menahan diri dan jatuh tidak sadarkan diri.
Saat ini setelah dibantu oleh tenaga yang disalurkan Liem Tou melalui jalan darah Giok Liang Hiat pada punggungnya menerjang ke atas urat nadi melalui jembatan pemisah, Keng Pek Hee terus naik ke atas ubun ubun menerjang jalan darah penting Nie Tan Coe di dalam sekejap saja hawa murni itu sudah mengelilingi seluruh badannya satu kali dan bergabung dengan bawa murni yang ada di badannya sendiri.
Dengan tanpa disadari pula seluruh rasa sakit yang ada di badannya sudah tersapu lenyap tak berbekas, badannya jadi terasa amat nyaman dan segar.
Dengan perlahan lahan dia membuka kembali sepasang matanya untuk sesaat lamanya dia sudah lupa kalau celana serta pakaiannya sudah dia lepas sehingga kini berada didalam keadaan telanjang, ketika dilihatnya Liem Toudu duduk bersila disamping dan membantu dia megerahkan tenaga dalamnya dengan cepat dia tersenyum manis.
Sutit, terima kasih, serunya dengan rasa amat terharu.
Waktu itu Liem Tou sedang menarik hawa murninya karena itu dia tidak dapat menjawab, setelah hawa murninya ditarik kembali dia ba ru bangkit berdiri kemudian tanpa menoleh lagi sudah berjalan keluar.
Sutit tidak dapat baik baik menjaga diri susiok harap susiok suka memaafkan, serunya setelah berada di depan pintu ruangan perahu tersebut.
Mendadak terdengar suara jeritan, kaget dari si perempuan tunggal Touw Hong yang berkumandang keluar dari dalam ruangan setelah itu suasana jadi sunyi senyap tak terdengar sedikit suarapun.
Liem Tou menduga tentu dia sedang msrasa terkejut karena menemukan dirinya di dalam keadaan telanjang bulat sehingga tanpa terasa sudah menjerit kaget.
Berpikir akan hal itu dari luar ruangan dia lantas berteriak kembali dengan suara yang sungguh sungguh.
Susiok. kau merasa sutit adalah manusia macam apa??
Dari dalam ruangan perahu tidak terdengar suara jawaban.
Liem Tou segera menyambung kembali perkataannya.
Maksud dari sutit berkata demikian cuma mengharapkan susiok jangan mengira aku Liem Tou adalah seorang manusia yang tidak tahu diri.
Sehabis berkata dia angkat kepalanya memandang keadaan cuaca yang mulai menjadi terang tetapi pada saat yang bersamaan pula dari dalam ruangan perahu itu berkumandang keluar suatu isak tangis yang amat sedih dari si perempuan tunggal Touw Hong.
Liem Tou menduga saat itu si perempuan tunggal Touw Hong tentunya sudah berpakaian karenanya dengan perlahan dia menoleh memandang kearah dalam ruang&n, secara samar samar dia bisa melihat si perempuan tunggal Touw Hong duduk bersandar pada dinding perahu, sepasang tangannya menutupi wajahnya dan dia menangis dengan sedihnya.
Liem Tou segera berjalan masuk menghampiri dirinya.
Susiok kenapa kau menangis?? tanyanya dengan suara yang rendah.
Cepat keluar dari sini, tidak ada urusanmu ditempat ini tiba tiba si perempuan tunggal angkat kepalanya dan membentak dengan suara yang amat Keras.
Walaupun sejak kecil Lem Tou bergaul dengan Lie Siauw Ie terhadap hati seorang gadis yang sudah menanjak dewasa mana dia bisa mengetahuinya dia menganggap si perempuan sedang merasa marah terhadap dirinya, karena itu dengan amat rikuh dia mengundurkan diri dari sana.
Baru taja dia tiba di samping pintu ruangan mendadak terdengar suara dari si pererapuan tunggal berkumandang lagi.
Aku tidak sedang marah kepadamu, kau jangan merasa tersinggung.
Liem Tou segera menoloh ke arahnya, terlihatlah si perempuan tunggal dengan menggunakan sepasang biji matanya yang jeli dan menggiurkan sedang memandang dirinya dengan rasa penuh cinta dan mesranya, sikap ini jelas se kali memperlihatkan kalau dia sudah menaruh rasa cinta muda mudi terbadap dirinya, hal ini membuat Liem Tou jadi agak terperanjat.
Aduh. .dosa, teriaknya di dalam hati.
Cepat cepat ujarnya sambil melengos.
Susiok, jarum yang menancap di badanmu sudah dicabut keluar semua, kenapa kau tidak keluar dari ruangan itu untuk melihat munculnya sang surya? Aku pikir sesudah sang surya muncul segera akan melanjutkan perjalanan untuk menyimpan beberapa peti emas intan ini ke dalam gunung Wu san sehingga bisa digunakan di kemudian hari.
Dengan termenung si perempuan tunggal berpikir sebentar akhirnya dengan menundukkan kepalanya rendah dia berjalan keluar dan berdiri di sisi Liem Tou sampai waktu itu dia tidak berani mengangkat kepalanya barang sekejappun.
Liem Tou yang melihat cuaca sudah mulai terang tanah dia segera merasa sang kerbau harus cepat cepat diambil kembali, karenanya dia lantas berkata.
Susiok kau tunggulah sebentar disini aku pergi sebentar dan akan balik lagi kesini.
Waktu ini cuaca masih amat pagi sekali, Liem Tou tanpa menanti jawaban dari si perempuan tunggal lagi dengan cepat meloncat ke atas tepian sungai kemudian dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang amat lihay dia berkelebat menuju ke rumah petani dimana dia menitipkan kerbaunya itu.
Tepat sebelum fajar menyingsing Liem Tou sudah tiba di sana dan saat itu seluruh keluarga dari petani itu sudah pada bangun.
Sang petani tua itupun sedang memberi makan kerbau tersebut, Liem Tou dengan wajah tersenyum lalu berjalan mendekati dirinya.
"Loo pek, selamat pagi".
Petani tua itu dengan cepat menoleh ke belakang, sewaktu dilihatnya Liem Tou sudah mendekatinya dia jadi amat girang
Ooo . . yaya malaikat, kau sudah datang, ada orang bilang kau tidak bakal datang lagi kemari tetapi aku sama sekali tidak mau percaya coba kau Lihat yaya malaikat, kerbau itu memang lain dari pada yang lain, aku sudah mencoba dengan membawa kerbau yang lain datang kemari tetapi setiap kerbau yang sudah bertemu dengan dirinya lalu tanpa berani angkat kepalanya sudah pada lari terbirit birit.
Mendengar dirinya disebut sebagai "yaya- malaikat" Liem Tou lantas tertawa.
"Loo pek kau jangan memandang aku sebagai yaya malaikat" serunya. Aku tidak lebih adalah seorang manusia biasa yang berlatih ilmu silat dan jika dibandingkan dengan orang lain badanku memang agak jauh lebih enteng saja, aku She Liem bernama Tou dan tinggal diatas gunung Ha Mo San di daerah Cing Jan, lain kali bila Loo pak membutuhkan bantuanku boleh saja berangkat kesana mencari aku karena ini hari aku masih ada urusan yang harus diselesaikan maka tidak bisa lama ada di sini, sekarang aku mau bawa kerbau ini meninggalkan tempat ini"
Sambil berkata dari dalam sakunya Liem Tou mengambil keluar dua butir mutiara yang kemudian diserahkan kepada petani tua itu, tapi sang petani tidak mau menerimanya.
Akhirnya setelah Liem Tou mendesak dia terus menerus dan mengatakan kalau benda tersebut sebagai hadiah yang diberikan kepadanya dengan tulus ikhlas akhirnya petani tua tersebut pun mau menerimanya juga.
Pada saat itulah mendadak terlihatlah seorang bocah cilik berusia enam, tujuh tahun berlari lari keluar dari dalam rumah, begitu keluar dari pintu dengan cepat dia berlari mendekati petani tua itu.
Sepasang matanya yang bulat dan berwarna hitam itu dengan jelinya memandang diri Liem Tou lalu kirim satu senyuman lucu kepadanya.
Liem Tou yang melihat tubuh bocah cilik itu diam diam didalam hatinya merasa sedikit berdebar.
Sungguh tidak kusangka di rumah seorang pe tani tua ini ternyata terdapat seorang bocah yang mempunyai tulang serta bakat alam yang demikian bagusnya, demikianlah pikirnya di dalam hati.
Dengan cepat dari dalam sakunya dia mengambil keluar lagi sebuah intan berwarna merah darah dan diberikan kepada bocah cilik itu.
Mari kesini, serunya. Ini aku kasih mainan buatmu, kau suka bukan?
Petani tua itu segera mewakili sang bocah itu untuk mengucapkan terima kasihnya, setelah itu Liem Tou baru menuntun kerbaunya meninggalkan rumah petani itu, tidak jauh dia berjalan ketika teringat akan diri perempuan tunggal yang ada di perahu seorang diri dengan cepat dia meloncat naik ke punggung kerbaunya.
Hoa, bentaknya dengan keras.
Sang kerbau segera menggerakkan kakinya mulai berlari ke depan, mungkin dikarenakan sudah ada berapa lama tidak bertemu dengan majikannya begitu melihat dia orang naik ke atas punggungnya dengan amat riangnya dia berlari dengan cepatnya ke depan membuat pasir serta debu pada beterbangan memenuhi angkasa.
Hanya di dalam sepertanak nasi kemudian Liem Tou serta kerbau itu sudah tiba di samping bukit di selat Sie Leng Shia tersebut.
Liem Tou segera meloncat turun dari atas tunggangannya dan menepuk nepuk leher sang kerbau.
Kau turunlah sendiri, serunya.
Tubuhnya dengan cepat meloncat naik ke atas perahu, teriaknya keras begitu kakinya mencapai permukaan perahu.
Susiok aku sudah kembali.
Tetapi tidak terdengar suara sahutan dari dalam perahu ini ruangan perahu kosong melo pong tidak tampak sesosok bayangan manusia-pun.
baru saja dia merasa keheranan mendadak terdengarlah suara dari si perempuan tunggal berkumandang datang.
"Sutit aku ada disini . . . kau pergi ke mata?" kenapa begitu lama baru pulang?? Huuu .... seorang diri disini aku benar benar merasa kesepian.
Sambil berkata tubuhnya meloncat naik ke atas peruhu dan tampak pada tangannya membawa buah buahan yang amat banyak sekali.
Waktu itu sang kerbaupun dengan perlahan lahan berenang mendatangi, melihat hal itu si perempuan tunggal segera berkata kembali.
"Sutit, kerbau itu apa masih ada?"
Baru saja dia selesai berkata tampaklah kerbau itu sudah meloncat naik ke atas perahu membuat perahu itu segera bergetar sehingga miring ke arah samping.
Mendadak terdengarlah suara dengusan yang sangat rendah dan berat kerbau itu secara tiba tiba saja dengan ganasnya menerjang ke arah si perempuan tunggal.
"Hey kenapa?' si perempuan tunggal sambil menyingkir kesamping.
"Hey kau sudah gila?" bentak Liem Tou dengan gugup. "Terhadap keluarga sendiri kenapa kau mengumbar nafsu binatangmu?"
Sang kerbau tidak berani bergerak lagi, cuma saja sepasang matanya dengan amat tajam sekali memperhatikan diri si perempuan tunggal Touw Hong.
Saat itulah secara mendadak Liem Tou teringat akan sesuatu, tentunya sewaktu berada di rumah penginapan di kota Tay Yang di mana si perempuan tunggal serta si gadis berbaju hijau Ciang Beng Hu mengeroyok diri si gadis cantik pengangon kambing serta Lie Siauw Ie dapat diketahui oleb sang kerbau, karena itu membuat dia sudah salah menganggap dirinya sebagai musuh, oleh sebab itulah begitu bertemu dengan dirinya dia lalu mengumbar nafsu binatangnya.
Berpikir sampai disitu dengan cepat Liem Tou segera memberi penjelasan kepada kerbaunya.
Dia bukan musuh kita, lain kali bilamana kau bertemu dengan dirinya kau harus bersikap hormat seperti sewaktu bertemu dengan aku, kau tidak diperkenankan bertindak begitu kurang ajar lagi.
Sang kerbau cuma mendengus rendah saja tanda dia sudah tahu.
Setelah itulah Liem Tou baru menoleh ke arah perempuan tunggal dan kirim satu senyuman manis kepadanya.
"Kerbau ini tentunya susiok pernah menemui bukan? Dia bukan saja merupakan kawan karib dari sutitmu bahkan ada kalanya menjadi pengganti dari sutitmu !" serunya.
Si perempuan tugggal pun ikut tertawa.
"Ada majikan sudah tentu ada budaknya," sahutnya. "Pada beberapa bulan ini kerbaumu benar benar sudah terkenal sekali di dalam dunia kangouw "
"Untung saja tidak sampai dipukul mati oleh orang-orang dari Kiem Thien Pay. seru Liem Tou secara tiba tiba sambil kirim satu kerlingan mata ke arah susioknya. Waktu itu apabila bukannya aku cepat cepat kembali ke rumah penginapan bilamana ada sedikit tidak beres saja maka orang orang dari Kiem Thien Pay bakal menanggung akibatnya.
Si perempuan tunggal tidak dapat mengucapkan apa apa dia cuma tertawa saja.
Sutit mendadak tanyanya lagi, kerbaumu itu sudah terkenal akan keganasannya, dapatkah kau bentahukan kepadaku bagaimana caranya memberi pendidikan kepandanya? sekalipun harus bertempur dengan seorang jagoan kelas satu dari Bu lim pun dia sanggup, sebenarnya dikarenakan apa??
Liem Tou cuma tersenyum tidak menjawab, setelah lewat beberapa saat kemudian dia baru menjawab dengan perlahan.
Liin kali sudah tentu susiok dapat melihatnya sendiri.
Si perempuan tunggalpun tidak banyak berta nya lagi.
Liem Tou segera berlari menuju ke ujung perahu, lantas teriaknya dengan keras
Susiok, coba kau lepaskan tali itu dan angkatlah jangkarnya ke atas.aku mau menjalankan perahu ini.
Si perempuan tunggal menurut dan mengerjakan perintahnya itu, Liem Tou lantas kirim satu pukulan ke arah tengah sungai, sesuai dengan cara dari si rajawali sakti dari gunung Ai Lau san dia menggunakan tenaga pukulan tersebut sebagai pengganti dayung menjalankan perahunya ke arah depan.
Besar ombak di selat Sam Shia dari sungai Yang Ci Kiang ini sudah amat terkenal sekali d iseluruh kolong langit, tetapi tenaga dalam yang dihasilkan oleh pukulan Liem Tou ini maha dahsyat sekali, sekalipun di atas permukaan air sama sekali tidak kelihatan beriak tetapi di dasar sungai itu sudah terjadi satu gelombang sangat dahsyat sekali.
Saat ini perahu tersebut bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya meluncur kedepan dengan amat cepatnya, hanya di dalam sekejap saja dia sudah melampaui berpuluh puluh perahu yang sedang berlayar dengan bantuan tarikan di tepi selat.
Orang orang dari perahu lainnya yang melihat perahu dari Lism Tou ini bisa bergenk dengan amat cepatnya segera merasa keheranan, karena keadaan seperti ini boleh dikata mereka belum pernah menemuinya.
Liem Tou takut dengan adanya kejadian ini akan mmimbulkan rasa keheran heranan dari orang orang lain, terpaksa dia ssdikit memperlambat gerakan perahunya, bersamaan pula dia pun duduk di atas geladak, lagaknya separti orang yang sedang menikmati keindahan pemandangan, padahal sepasang tangannya dengan tidak ada hentinya diayunkan kebelakang.
Tidak sampai seperminum teh kemudian dia telah melewati selat Sie Leng Shia dan memasuki selat Wu Shia.
"Sutit kau beristirahatlah sebentar, kali ini biarlah aku yang mencoba" ujar si perempuan tunggal sambil berjalan keluar dari dalam ruangan.
"Tidak perlu sudah hampir sampai!" Sahut Liem Tou sambil tertawa.
"Oooh . . kiranya sutit mau pergi ke selat Wu Shia ini, hal ini ada sedikit yang membuat aku kebingungan" ujar si perempuan tunggal lagi dengan heran.
"Apanya yang tidak dapat kau pahami?? Cukup kita simpan beberapa peti emas itu ke sana lalu kita jalankan perahu lagi menuju ke atas Cing Jan untuk mengikuti perjanjian pada tanggal lima bulan lima, bukankah susiok juga melihat keramaian?"
"Bukankah sejak dulu sutit sudah mengada kan janji dengan aku? Sungguh cepat kau melupakan hal ini"
Liem Tou lalu tertawa.
Waktu itu dengan saat ini keadaannya sudah berbeda, apakah sesampainya di atas Cing Jan susiok juga mau bertanding dengan diriku lagi?
Aaah.. tidak, cuma saja bilamana sutit ada bahaya akupun bisa turun tangan memberi bantuan.
Di tengah percakapan itulah, mereka sudah tiba di tempat tujuan.
Liem Tou segera menepikan perahunya lalu kepada Si perempuan tunggal ujarnya.
Susiok apakah mau pergi dengan sutit??
Baiklah, sahut si perempuan tunggal mengangguk. Cuma saja kau harus beritahukan kepadaku, kau hendak pergi kemana.??
Liem Tou tidak mau mengelabui siperempuan tunggal lagi dia lantas menceritakan bagaimana dia mempelajari kitab pusaka To Kong Pit Lok di dalam sumur kering tersebut.
Saat itulah si permpusn tunggal baru tahu kalau kepandaian silat dari Liem Tou ini diperoleh dari kitab puiaka To Kong Pit Liok. di dalam hati diam diam dia merasa amat kagum sekal.
Dia segera putar badan berjalan masuk ke dalam ruangan perahu dan menggotong keluar sebuah peti hitam.
Peti yang penuh berisikan uang perak itu sudah tentu terasa amat berat sekali, di tambah si perempuan tunggal baru saja sembuh dari luka nya, baru saja berjalan beberapa langkah napas nya sudah ngos-ngosan.
Dengan gugup Liem Tou lalu menggantikan dirinya.
"Susiok lukamu belum sembuh, kau tidak usah banyak keluar tenaga! Biarlah sutit yang menggolong !"
Mendadak matanya terbentur dengan sang kerbau yang ada disisinya, satu pikiran segera berberkelebat di dalam benaknya.
"Begini saja !" ujarnya lagi. "Kekuatan dari kerbau ini amat luar biasa sekali, kita biarkan dirinya membawa tiga buah peti cukup susiok menjaga dari sampingnya sehingga jangan sampai jatuh, bukankah sudah beres?? Sisanya aku bisa membawanya sendiri, dengan demikian bukankah hanya di dalam satu kali kerja saja sudah beres??"
Si perempuan tunggal tidak terlalu memaksa. dia segera mengangguk.
Demikianlah mereka berdua dengan menggunakan cara tersebut segera menggotong keenam buah peti itu ke atas tepi itu kemudian dengan perlahan lahan naik ke punggung gunung.
Tiba tiba ....
Sreeet! Sreet ! Sreet ! Tampak lima orang lelaki kasar dengan cepatnya berkelebat keluar dari tempat persembunyiannya dan berdiri di tengah jalan.
"Siapa yang sudah datang dari bawah, cepat sebutkan namamu" bentak mereka berbareng.
Liem Tou yang melihat oraug orang itu walaupun mempunyai perawakan kekar dan kuat tetapi agaknya tidak mempunyai kepaadaian yang tinggi, dalam hati Liem Tou merasa lega.
kepada si perempuan tunggal dia segera kirim satu senyuman.
"Aku lihat sebetulnya kalian semua manusia manusia tolol yang benar benar goblok" sahutnya kepada orang orang itu. "Jika kalian kepingin mengahalangi perjalanan orang dan merampas barang bawaannya seharusnya pergi ke jalan raya saja, buat apa kalian pilih gunung Wu-san yang sama sekali sunyi tak kelihatan manusia ini untuk mencari mangsa?? Sungguh menggelikan sungguh menggelikan sekali .... kalian tidak mirip pembegal jalan."
Selesai berkata dia tertawa terbahak bahak.
Mendengar perkataan tersebut keenam orang lelaki kasar itu seketika itu juga jadi amat gusar sekali, mendadak mereka bersama sama mengerubut maju kedepan.
Liem Tou sekali lagi tertawa.
"Tunggu dulu !" bentaknya dengan keras. Sungguh besar sekali nyali kalian pembegat-pembegal cilik, terus terang saja aku beri tahu pada kalian, isi dari keenam buah petiku ini adalah emas intan yang mempunyai nilai sangat berharga sekali, bila kalian bisa mengangkat sebuah peti diantara peti peti ini aku akan segera menghadiahkan benda tersebut kepada kalian.
Sambil berkata dia meletakan ketiga buah peti itu ke atas tanah, ujarnya lagi.
Bilamana tidak percaya kalian boleh coba-coba.
Diantara keenam lelaki kasar itu segera terlihatlah salah seorang meloncat keluar.
Kami cuma tanya namamu lalu kalian mengaggap kami sebagai pembegal jalan. Hmm... Hmm, kau bangsat cilik jangan memandang begitu rendah terhadap diri kami, bentaknya dengan gusar. Kau bilang aku orang tua tidak bisa angkat salah satu dari peti ini..he..aku tidak percaya. Aku mau lihat betul tidak omonganmu itu.
Sembari berkata dia berjalan mendekati peti itu kemudian tangannya mulai mencekal salah satu peti untuk diangkat.
Perkataan dari Liem Tou ini sedikitpun tidak sombong cukup sebuah peti saja sudah ratusan kati beratnya, walaupun kekuatan dari lelaku itu ada tua tiga ratus kati tetapi keadannya masih terpaut amat jauh, mana dia orang bisa berhasil mengangkatnya.
Walaupun dia sudah mengerah seluruh kekuatannya sehingga wajahnya berubah memerah, peti itu tetap tak terangkat juga.
Melihat kejadian itu Liem Tou segera tertawa ringan.
.heee. .bukanlah aku sudah bilang, kalian tidak mungkin bisa.
Dengan demikian keenam orang lelaki itu segera dibuat melongo dan amat terbelalak lebar lebar. Mereka saling berpandangan tanpa ada yang mengucapkan sepatah kata pun.
Beberapa saat kemudian baru terdengar salah satu diataranya berseru dengan keras.
epat pergi mengundang Piauw cu datang. Orang itu segera menyahut dan lari meninggalkan tempat tersebut.
Liem Tou tidak mau ambil gubris lagi terhadap diri mereka, segera bentaknya keras.
"hayoh pada menyingkir"
Sekali lagi dia menggotong peti peti itu dan menoleh ke arah si perempuan tunggal untuk kirim satu senyuman.
"manusia manusia itu sungguh tidak tahu kekuatannya sendiri, mari kita pergi saja" ujarnya.
Dua orang manusia seeker kerbau kembali melanjutkan perjalanan mereka dengan perlahan lahan naik ke atas gunung, para lelaki kasar itu mana berani menghalangi perjalanan mereka lagi, dengan sepasang mata yang melotot lebar lebar setindak demi setindak mereka mengikuti terus naik ke atas gunung.
Pada saat itulah tampak dari atas gunung dengan tergesa gesa berlari turun dua orang, yang satu adalah lelaki yang pergi melapor tadi sedang yang seorang lagi adalah seorang kakek tua yang memelihara jenggot pada janggutnya.
Liem Tou yang melihat gerakan kaki dari kakek itu amat mantap dengan cepat dia memperhatikaw lebih teliti lagi, segera dia bisa kenal kalau orang iru bukan lain adalah Piauw cu dari Cing Ling Piauw kok Sie Ie adanya.
Liem Tou yang kenal dengan kakek tua itu dengan cepat meletakkan peti tersebut ke atas tanah lalu menoleh ke arah diri Si perempuan tunggal.
"Orang yang baru datang itu adalah Sie Piauw tauw dari Cing Liong Piauw kiok, aku dengan dirinya ada satu kali pernah bertemu dan sama sama berada di dalam keadaan bahaya, orang ini adalah seorang jujur yang patut dipuji, mari aku kenalkan kepada diri Susiok".
Si perempuan tunggal yang melihat perubahan sikap dari Liem Tou tetapi secara diam diam sudah menduga kalau Liem Tou sangat menghormati orang ini, karenanya dengan ter gesa gesa dia meletakkan pula peti hitam itu.
Pada saat itulah Liem Tou sudah maju ke depan menyambut kedatangan orang tua itu.
"Sie Loo Piauw tauw! bagaimana keadaanmu selama perpisahan ini" serunya sambil menjura memberi hormat. "Boanpwee tidak tahu kalau enghiong enghong ini adalah anak buah dari Loo Piauw tauw, tadi sudah salah bertindak harap suka memaafkan!"
Sie Piauw tauw yang melihat munculnya diri Liem Tou yang secara tiba tiba itu semula agak melengak tapi kemudian dia tertawa terbabak bahak dengan amat kerasnya.
"Orang budiman tentu dilindungi Thian, ternyata Liem Loo te benar benar berhasil meloloskan diri dari bahaya, bagus . . bagus sekeli.
Berbicara sampai di situ mendadak sinar matanya berkelebat dengan amat tajamnya memperhatikan diri Liem Tou dan selanjutnya dia tertawa terbahak babak.
Haa , . haaa . . bilamana bukannya loohu sudah mslamur, selama setahun ini kepandaian silat dari Liem Loo te sudah memperoleh kemajuan yang sangat pesat sekali, jauh berbeda dengan keadaan sewaktu dahulu kita bertemu.
Aaa . . Sie Loa Piauw tauw terlalu memuji, seru Liem Tou sambil tertawa. Walaupun selama satu tahun ini ada sedikit kemajuan tetapi belum mencapai seperti apa yang diucapkan oleh Loa piauw tauw, aku sebetulnya masih mengharapkan banyak petunjuk dari Piauw-tauw.
Ketika berbicara sampai disitu Si perempuan tunggal pun sudah sampai di sana, Liem Tou segera memperkenalkan dirinya dengan Sie Piauw tauw.
Sie Piauw tauw yang mendengar gadis berbaju hitam yang ada dihadapannya saat ini ternyata adalah susiok dari Liem Tou dia mana berani berlaku ayal, dengan cepat dia merangkap tangannya memberi hormat.
Waktu itu berkat baniuia dari keponakan murid Li hiap, loohu berhasil meloloskan diri dari kekejaman An In Sin Pian kali ini sekali lagi Loohu ucapkan banyak terima kasih kepada kalian berdua.
Sie Piau tauw kau jangan begitu terlaku sungkan, cegah Liem Tou dengan cepat. Waktu itu pun boanpwee sedang ada urusan yang kebetulan bersamaan kita berada di satu golongan, buat apa kau berlaku begitu hormatnya.
Liem Tou yang kukuh tidak mau menerima hormatnya yang membuat Sie Piauw tauw tidak bisa berbuat apa apa lagi, terpaksa diapun membatalkan niatnya itu.
Liem Tou segera berganti dengan bahan pembicaraan yang lain.
Entah kali ini Sie Piauw tauw ada makdud apa ke gunung Wu san ini? kenapa tidak melihat murid kesayanganmu?.
Sie Piauw tauw yang mendengar Liem Tou bertanya demikian dia segera menghela nafas panjang.
Mendadak dia menuding ke arah sisinya, Liem Tou mengikuti apa yang ditunjuk segera menoleh kesana.
Terlihatlah di tengah batu batuan cadas yang pada tersebar di seluruh permukaan tanah terdapatlah sebuah kayu yang tinggal separuh serta sebuah batu besar.
Melihat barang tersebut Liem Tou jadi keheranan.
Sie Piauw tauw apa maksudmu? tanyanya.
"Lenyapnya barang kawalan kita di sungai Yang Ci Kiang tentunya Liem Loo te mengetahui dengan jelas bukan? dikarenakan hilang nya barang kawalan itu maka untuk mengganti rugi seluruh harta kekayaanku jadi ludas sama sekali, perusahaan Cing Liong Piauw kiok pun terpaksa tutup pintu, sebaliknya Ang In Piauw kiok mulai meluaskan usahanya. Loohu semakin berpikir semakin kheki sehingga di dalam setahun ini antara pihak kami dengan pihak keledai tua itu sudah terjadi dua kali pertempuran yang makan banyak korban.
"Kemarin kami dapat mendengar kalau ini hari dari pibak Ang In Piauw kiok mendapatkan kawalan satu barang berharga yang di dalam beberapa hari ini akan lewat tempat ini menuju ke daerah Kang Lam, karenanya kami sengaja tunggu disini untuk membalas dendam yang sudah lalu "
Mendengar diucapkannya perkataan tersebut Liem Tou jadi terperanjat sekali.
"Apakah Sie Piauw tauw hendak menggunakan gelindingan batu serta kayu untuk menenggelamkan perahunya sewaktu melewati selat ini?"tanyanya lagi.
Air muka Sie Piauw tauw segera berubah jadi memberat.
Teringat peristiwa setahun yang lalu dimana dia merampok barang kawalan kami seharga tiga laksa tahil petak bahkan membunuh Hu Hiauw tauw serta anak muridku, apakah kami berbuat demikian dikatakan terlalu kejam??" ujarnya.
Pikiran Liem Tou dengan cepat berkelebat memikirkan sesuatu, akhirnya ujarnya lagi.
"Dendam sakit bati tidak ada habis habisnya lebih baik Sie Piauw tauw berpikir tiga kali sebelum bekerja.
"Usaha yang sudah aku orang she Sie pupuk selama puluhan tahun lamanya kini sudah dihancurkan oleh bajingan she Pouw itu hanya di dalam sehari saja. kau suruh berbuat bagaimana sehingga bisa menghilangkan rasa mengkel di dalam hatiku?" seru Sie Piauw tauw dengan gemasnya.
Liem Tou segera termenung berpikir sebentar, pada saat ini bukaanya dia bermaksud untuk menolong si Ang In Sin Pian, Pouw Sak San untuk meloloskan diri dari bencana ini melainkan dia ingin melenyapkan dendam sakit hati yang saling ikat mengikat di dalam Bu lim ini, mendadak di dalam benaknya berkelebat satu ingatan.
Baru saja dia hendak mengutarakan sesatu tiba tiba tampaklah Sie Piau tauw sudah melanjutkan lagi kata katanya.
Muridku sudah balik kemari, kemungkinan sekali sebentar lagi mereka bakal melewati selat ini.
Sambil berkata dia menuding kearah sungai.
Dengan mengikuti arah yang ditunjuk Liem Tou segera melongok ke bawah,di bawah terlihatlah sebuah sampan dengan layar yang lebar dengan lajunya sedang bergerak mendatangi, sedang orang yang berdiri di belakang kemudi adalah seorang lelaki dengan dandanan nelayan.
Di tengah mengalirnya air Sungai yang amat deras sekali di selat Wu shia ini dengan menunggang sampan kecil dengan mengikuti arus sungai merupakan suatu pekerjaan yang sangat berhahaya sekali, Sie Piauw tauw dengan tergeda gesa segera memerintahkan beberapa lelaki kasar untuk turun kebawah menyambut kedatangannya.
Lelaki itu segera menyambut dan bersama sama turun ke bawah gunung.
Tidak lama kemudian sampan kecil sudah barada dekat dengan tempat itu, tiba tiba terlihatlah nelayan itu melemparkan seutas tali ke arah tepian. dengan cepat lelaki kasar tersebut menarik perahu itu dan mendekati tepi sungai.
Nelayan itu meloncat turun dari perahunya dan berlari naik ke atas bukit, sekali pandang saja Liem Tou segera mengenal kembali kalau arang itu adalah Piauw su yang pernah ditolong pada waktu yang lalu.
Dengan tergesa gesa piauw su muda itu lari ke atas punggung bukit jatuhkan diri berlutut di depan Sie Piauw tauw.
Tecu Oei Poh sudah kembali, serunya
Sudah. . .. sudahlah, urusan apakah sudah di bikin beres? ? tanya Sie Piaw tauw sambil ulapkan tangannya.
Piauw su muda itu segera bangkit berdiri sinar matanya dengan cepat menyapu sekejap ke arah Liem Tou berdua, sewaktu dilihatnya dia orang ada disana dia segera mengangguk.
LlEM TOU pun lantai tersenyum tetapi Oei Poh yang tidak kenal dengan si perempuan tunggal tidak berani berlaku gegabah dengan melongo dia memandangi diri si perempuan tunggal tidak berani berbicara.
Agaknya Sie Piauw Tauw mengetahui maksud hatinya, dia segera tertawa.
'Oei Poh, kau katakan saja".
"Di dalam satu jam kemudian mereka bakal lewat di selat ini" ujar Oei poh kemudian." Perahu yang memuat barang kawalan semuanya ada tiga buah, dua buah perahu yang memakai bendera Ang In Piauw kiok dan berjalan paling depan merupakan perahu perahu kosong belaka, sebaliknya sebuah perahu yang jauh membuntuti di belakang kedua perahu kosong itu barulah merupakan perahu yang betul betul ada barang kawalannya, kali ini Ang In Sin Pian sendiri yang turun tangan mengawal barang kawalan tersebut."
Mendengar perkataan itu Sie Piauw tauw mengerutkan alisnya.
"Sungguh licik sekali Si Pouw Sak San. Hmm, ini hari aku mau suruh kelicikannya itu hancur ditangan Loohu" serunya.
Sehabis berkata dia segera menggape beberapa anak buahnya dan memberi pesannya.
"Kalian masing masing harus berada di tempatnya sendiri sendiri, siapkan batu dan kayu itu baik baik. . . . bila mana melihat adanya dua buah perahu dengan tertancapnya bendera Ang In Piauw kiok lewat jangan sekali kali kalian ganggu, biarkan saja dia berlalu ! Tetapi perahu yang ada dibelakangnya dimana tidak tertancap bendera kalian harus berusaha menghancurkan sehingga tenggelam ke dalam sungai "
Begitu perintah tersebut diucapkan, para lelaki kasar itu segera pada menyebar dan menyembunyikan dirinya baik baik untuk bersiap sedia.
Liem Tou yang melihat suasana sudah benar benar tegang dia tidak berani berlaku ayal lagi. dengan cepat tubuhnya maju ke depan Sie Piauw tauw dan memberi hormat
"Sie Piauw tauw apa benar benar sudah mengambil keputusan untuk menenggelamkan perahu ini?" tanyanya. Jika kau berbuat begitu bukankah ikatan permusuhan di antara kalian malah semakin bertambah mendalam???
Si goiok naga hijau Sie Piauw tauw lantas memperlihatkan tertawa pahitnya.
"Hmmm, harta rumah musnah dulu manusia dan keluarga binasa terakhir, buat apa aku merasa sayang untuk berbuat nekad?? Liem Loote mempunyai cara berpikir apa lagi?"
"Perkataan dari Loo Piauw tauw sudah salah besar, seru Liem Tou setelah mendengar perkataan itu. "Aku tidak percaya kalau di dalam kolong langit yang demikian luasnya tidak ditemui jalan keluar yang lain."
Si golok naga hijau yang mendengar nada suara dari Liem Tou mengandung maksud tidak setuju di dalam hati dia segera merasa kurang senang, air mukanya berubah sedikit keren lalu memperdengarkan suara dengusan yang amat dingin.
Liem Tou yang melihat dia merasa tidak senang di dalam hati dia segera memikirkan satu akal.
"Loo Piauw tauw jangan marah dulu, ujarnya sambil tertawa"
"Boanpwee cuma bermaksud baik saja." jika dari pihak Ang In Piauw kiok sanggup untuk mengembalikan ketiga laksa tahil perak itu Sie Piauw tauw bermaksud bagaimana?"
Mendengar ucapan tersebut si golok naga hijau Sie Piauw tauw segera tertawa terbahak bahak dia menepuk nepuk pundak Liem Tou.
"Liem loo te," ujarnya. "Pikiranmu sungguh lucu sekali," aku yang sudah beberapa kali bentrok dengan si bajingan tua ini untuk minta kembali uang rampokannya tidak berhasil apalagi dirimu.
Sekalipun kepandaian silat dari Liem loo te betul ada kemajuan tetapi jikalau ingin memperoleh kembali uang rampokan itu aku rasa hal itu cuma satu impian belaka, tujuan haik dari Liem Loo te ini aku si golok naga hijau terima di dalam bati saja.
"Sie Piauw tauw, sambung Liem Tou lagi. Boanpwee hanya bertanya, bilamana aku yang membayar uang tersebut, Loo Piaaw tauw bermaksud bagaimana?"
"Baiklah demikian saja," seru si golok naga hijau kemudian. "Bilamana kau berhasil minta kembali uang perak itu maka sejak ini hari aku tidak akan mencari si bajingan tua itu lagi untuk membalas dendam, tetapi entah maukah dia orang membayar kembali uang tersebut?"
"Baiklah kita putuskan demikian saja," seru Liem Tou kemudian dengan serius "Uang itu biar aku Liem Tou yang tanggung"
Sehabis berkata dia putar badannya menggotong kembali peti hitamnya lalu bersama sama dengan si perempuan tunggal serta sang kerbau yang menggotong tiga buah peti mereka melanjutkan kembali perjalanannya menuju ke depan.
Tidak sampai beberapa kaki mereka berjalan mendadak Liem Tou berhenti kembali.
"Sie Piauw tauw," serunya. "Di daerah sekitar sini adakah kota yang agak besar?"
"Di atas ada Hong Kiat di bawah ada zie Cang" sahut Sie Piauw tauw dengan cepat.
"Baiklah, malam ini pada kentongan ketiga kau boleh menunggu aku dirumah penginapan di kota Hong Kiat untuk terima kembali uang tiga laksa perak itu, kalau tidak maka aku mau membawa batok kepalanya dari Pouw Sak San untuk diberikan pada kau orang."
Mendengar ucapan itu si golok naga hijau Sie Piauw tauw jadi agak ragu ragu, tetapi ketika teringat akan peraturan Bu lim yang mengatakan satu ya satu, dengan perasaan yang tidak enak untuk menarik kembali kata katanya itu, terpaksa dengan mata melongo dia memperhatikan Liem Tou serta si perempuan tunggal meninggalkan tempat tersebut. Liem Tou tanpa menoleh lagi dengan mengajak si perempuan tunggal berjalan menuju ke rumah bangunan batu itu, mendadak di dalam benaknya dia teringat kembali kalau didalam rumah batu itu masih terdapat kerangka dari encinya si perempuan tunggal, tanpa terasa hatinya jadi sedikit bergerak, pikirnya.
Baiknya aku beri tahu tidak kepadanya akan hal ini?? jikalau sekarang aku tidak memberitahukan kepadanya, lain kali kalau dia tahu apa yang bakal dia pikir"?.
Susiok, ujarnya kemudian kepada diri si perempuan tunggal tersebut pernahkah kau berpikir tempat manakah ini??.
Buat apa aku terka lagi?? seru si perempuan tunggal sambil tertawa. Bukankah tempat ini adalah tempat dimana kau berlatih ilmu silat yang tarmuat di dalam kitab pusaka To Kong Pit Liok??,
Tetapi mendadak dia teringat sesuatu sepasang matanya terbelalak lebar lebar lantas tanpa terasa lagi sudah berteriak.
Liem Tou, ciciku ada dimana?? cepat kau bawa aku kesana.
Liem Tou sama sekali tidak menduga kalau sebelum dia memberi tahu dia sudah merasakan sendiri, tidak terasa hatinya jadi merasa sedikit bergidik.
Celaka urusan yang merepotkan sudah datang.
Dengan cepat air mukanya berubah jadi amat keras sekali.
Susiok, ujarnya dengan serius. Aku tahu hatimu pada saat ini amat cemas sekali, tetapi manusia yang sudah mati tidak dapat hidup kembali aku berkata dulu sebelumnya, nanti susiok tidak boleh terlalu bersedih hati, susiok bisa menyanggupi tidak??
Air mata mulai bercucuran membasahi seluruh wajah dari si perempuan tunggal dengan kencang dia menggigit bibirnya sendiri, akhirnya setelah kirim satu kerlingan yang mengandung rasa cinta terhadap diri Liem Tou dia mengangguk.
Liem Tou yang melihat Si perempuan tunggal sudah menyetujui hatinya baru merasa sedikit lega.
Mari sekarang kita simpan dahulu uang perak ini, kemudian aku baru ajak Sasiok pergi ke sana.
Sehabis berkata dia melanjutkan perjalanan nya kembali menuju ke bagian belakang dari bangunan itu dan tiba disamping sumur kering tersebut.
Setelah peti peti hitam itu dimasukkan semua nya ke dalam ruangan rahasia di dasar sumur dia baru mengajak si perempuan tunggal menuju ke dalam bangunan rumah itu untuk melihat kerangka manusia tersebut.
Si perempuan tunggal yang kini bisa melihat kerangka dari cicinya malah setetes air matapun tidak kelihatan mengalir keluar, dengan pandangan termangu mangu dia menundukkan kepalanya memandangi kerangka tersebut tapi jelas air mukanya kelihatan sangat berduka.
Liem Tou tidak bisa berbuat apa apa, diapun berdiri disana tak bergerak
.
Lama sekali baru terdengar dengan suara yang amat sedih ujar Si perempuan tunggal itu.
Liem Tou. ciciku bilang siapakah musuh besarnya??.
Kioe Long Wan Kauw.
Si perempuan tunggal segera mengangguk. Tahukah kau mereka tinggal dimana?? tanyanya lagi setelah berpikir sebentar.
Liem Tou mengerutkan alisnya rapat rapat dengan perlahan dia menoleh dan memandang sekejap kearabnya.
Aku dengar dia tinggal di atas gunung Im san, apakah Susiok bermaksud hendak pergi ke sana??.
Si perempuan tunggal tidak menjawab, mendadak sambil membopong kerangka dari encinya dia berjalan keluar dari ruangan tarsebut.
Liem Tou tanpa mengucapkan kata lagi mengikuti dari belakang, tidak lama kemudian si perempuan tunggal sudah berjalan ke samping sebuah pohon lantas menggali liang dan mengubur kerangka manusia tersebut.
Liem Tou pun menemaninya duduk disana tidak mengucapkan apa2 saat ini siang hari sudah tiba sedang sang suryapua dengan terang memancarkan sinarnya tepat di atas kepala mereka membuat suasana agak hangat.
Setelah semuanya sciesai dia baru duduk di samping kuburan tersebut tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Tiba2 dia teringat akan peristiwa dari si Ang In Sin Pian yang merampok uang kawalan itn, baru saja dia hendak mengucapkan suatu mendadak terdengarlah si perempuan tunggal sudah berkata.
Liem Tou kalau kau ada urusan pergilah dulu, dengan perlahan Liem Tou menengok ke arahnya, tampak Si perempuan tunggal sudah membenamkan wajahnya ke dalam telapak tangannya, dia segera tahu kalau hatinya sedang merasa sedih sekali, karenanya dia tidak mau mengganggu.
"Baiklah," sahutnya kemudian. "Susiok tunggulah di sini dulu, nanti kita pergi bersama-sama."
Selesai berkata dia bangkit berdiri ujung kakinya menutul permukaan tanah tubuhnya bagaikan kilat yang menyambar sudah berkelebat sejauh puluhan kaki jauhnya, hanya di dalam beberapa kali tutulan saja dia sudah keluar dari daerah tersebut.
Ketika angkat kepalanya memandang ke bawah, terlihatlah dua buah perahu yang terpancang dengan bendera Ang In Piauw kiok dengan tenangnya sedang bergerak maju ke depan, dia tahu kedua perahu itu adalah palsu maka sinar matanya segera dialihkan kebelakang.
Ternyata tedikitpun tidak salah, di belakang kedua perahu itu terlihat kembali sebuah perahu besar yang bergerak melaju dari kejauhan.
Bagaikan kilat cepatnya Lie m Tou segera menuruni bukit tersebut kemudiia dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh nya yang paling dahsyat bagaikan bertiupnya angin berlalu dia berkelebat ke arah perahu yang ada di depan untuk mencabut terlebih dulu ke dua buah bendera Piauw kiok itu, setelah melayang ke perahu yang ada dibelakang dan berdiri di atas tiang layar dengan gagahnya.
Saat itu tidak ada seorang pun yang mengetahui di atas tiang layar ada seseorang yang sedang berdiri di sana.
Untuk memancing orang orang tersebut Liem Tou lalu menyanyi dengan suara yang sangat nyaring.
Air sungai mengalir deras ke Timur . .
Menempuh ribuan li dengan hati yang murung . .
Berdiri seorang diri diatas tiang perahu.... Tak seorang manusia pun yang sadarkan diri .
Ooooh - . . , mega, kapan kau berhenti berlalu . ,. . .
Setiap patah kata dari bait bait syair itu di ucapkan dengan amat jelasnya membuat orang orang yang ada di atas perahu itu bersama sama angkat kepalanya memandang ke atas.
Ketika dilahatnya di atas tiang layar berdiri dengan gagahnya seorang pemuda tampan mereka semua merasa amat terkejut sekali.
"Hey siapa yang berdiri di atas tiang perahu itu?" bentak salah seorang diantara mereka dengan keras.
Liem Tou segera tersenyum ringan.
"Beritahu kepada Ang In Piauw-cu," katakan Liem Tou mohon menghadap.
"Ada urusan apa kau mencari Piauw-cu?" bentak orang itu lagi dengan keras. "Perahu dari Piauw-cu ada di depan, sekarang sudah melewati selat.
Liem Tou segera mengibarkan bendera yang ada ditangannya.
"Kau orang berani bicara bohong dengan diriku, apa kau kepingin diberi dikit hajaran?" serunya keras.
Baru saja dia selesai berkata bendera yang ada di tangannya mendadak meluncur ke bawah dengan kerasnya, hanya di dalam sekejap saja sudah menancap pada pundak kiri orang itu se hingga saking kesakitan dia orang berkaok kaok keras.
Mendadak dari dalam ruangan perahu itu meloncat keluar seseorang.
"Siapa yang berkaok kaok tidak keruan disini," bentaknya dengan keras. "Sebentar lagi kita akan melewati selat tersebut, ayoh kita cepat pegang kemudi ! Kalau sampai terjadi hal hal yang tidak beres, hati hati saja kalian akan menerima satu hukuman yang berat."
Liem Tou yang melihat orang itu ternyata Pouw Siauw Ling adanya, dari atas tiang layar dia segera merangkap tanganaya memberi hormat.
Pouw Siauw Ling dengan cepat angkat kepalanya memandang ke atas, terlihatlah olehnya seorang kongcu tampan yang memakai baju barwarna hijau dengan gagahnya berdiri disana, di dalam hati dia merasa amat terkejut.
Mana dia orang mengenal kembali diri Liem Tou? Di dalam anggapannya Liem Tou sudah menemui ajalnya terjatuh ke dalam jurang jembatan pencabut nyawa itu, setelah termangu mangu beberapa saat lamanya dia baru buka mulut bertanya.
"Entah siapakah nama besar dari saudara ini, ada arusan apa kau datang kemari? ? Bilamana tidak merasa perahu ini jelek silakan turun dan mampir sebentar."
Liem Tou segera menutupi ujung kayu dan melayang turun ke bawah, bersamaan pula bendera yang ada ditangannya dengan disertai desiran angin yang amat keras berkelebat menuju ke belakang. Ternyata dengan amat tepat sekali bendera itu menancap di tiang layar yang sangat besar itu sehingga menembus pada baliknya.
Pouw Siauw Ling sama sekali tidak menyangka kalau bendera yang terbuat dari bambu itu cukup sedikit digerakkan oleh Liem Tou dengan begitu ringannya sudah menembusi tiang tersebut hal ini membuat hatinya benar benar merasa amat terkejut.
Sejak pertama kali Pouw Siauw Ling teruskan dirinya ke dalam Bu lim dia belum pernah menemui orang yang memiliki kepandaian yang demikian lihaynya, sekalipun di dalam hati dia merasa terperanjat tetapi pada wajahnya sama sekali tidak memperlihatkan perubahan apapun.
Kepandaian dari Heng thay ini sungguh dahsyat sekali, pujinya dengan cepat.
Dengan perlahan Liem Tou menoleh dan tertawa keras.
"Haa . . ha .. apakah Siauw Ling heng betul, tidak kenal lagi dengan Siauw te?" tanyanya.
Sepasang mata Pouw Siauw Ling memandang wajah Liem Tou lebih tajam lagi, mendadak air mukanya berubah pucat pasi bagaikan mayat, bibirnya gemetar dengan amat kerasnya sedangkan kakinya perlahan lahan mulai bergeser masuk ke dalam ruangan perahu tersebut.
Liem Tou yang melihat perubahan wajahnya itu mana mau membiarkan dia mengundurkan diri ke dalam ruangan perahu, tangannya dengan cepat direntangkan menghalangi perjalanannya.
Siauw Ling heng jangan pergi, serunya sambil tertawa. Kita sudah lama sekali tidak bertemu, ini hari bisa mendapatkan kesempatan untuk berkumpul seharusnya kita sedikit barmesra mesraan.
Pouw Siauw Ling yang jalan mundurnya terhalang oleh diri Liem Tou pikirannya merasa semakin gugup lagi, hatinya benar benar tergetar dengan amat kerasnya.
Air mukanya dari pucat kini berubah menjadi kehijau hijauan, dengan perasaan amat tegang bentaknya.
Kau . .. kau .., kau . . . manusia aa . . . atau - . . atau .. setan?"
Liem Tou pada saat ini baru tahu kalau dia menganggap dirinya telah mati di dalam jurang Jembatan pencabut nyawa waktu itu dan kini menganggap dirinya sebagai setan, dia segera tertawa.
Siauw Ling heng kau jangan begitu merasa tegang ejeknya, di bawah sorotan sang surya mana mungkin ada setan?"
Mendadak dia teringat kembali terhadap siksaan dan penderitaan yang dirasakan olehnya dari Pouw Siauw Ling ini. rasa dendam serta bencinya segera muncul dari lubuk hatinya.
Pouw Siauw Ling, serunya di dalam hati Ini hari aku mau suruh kau merasakan kepandaian dan kelihayan dari Liem Tou.
Mendadak tangannya diayunkan kedepan .. . Plaaak . . piaaak. disertai suara yang amat nyaring pipi dari Pouw Siauw Ling sudah kena digaplok oleh Liem Tou dengan amat kerasnya sehingga jadi memerah dan bengkak.
Saking sakitnya sehingga sukar ditahan tidak kuasa lagi dia menjerit jerit dan berkaok kaok seperti babi mau disembelih.
"Siauw Ling heng!" ujar Liem Tou lagi sambil tersenyum. "Sekarang tentunya kau tahu bukan kalau aku adalah manusia bukan setan? kalau setan mana mungkin siang hari bolong bisa unjuk kelihayannya!"
Pouw Siauw Ling yang mengira kedatangan Liem Tou kali ini mau membalas dendam terhadap dirinya mana dia mau mengurusi hal itu lagi, cepat cepat dia berusaha untuk masuk ke dalam ruangan memberi laporan.
"Liem Tou kau berani pukul aku?" bentaknya dengan keras.
"Siauw Ling heng, Liem Tou sekarang bukanlah seperti Liem Tou yang dahulu, aku sudan pukul kau lalu kau orang mau apa?" seru Liem Tou sambil bergendong tangan.
Pouw Siauw Ling segera mendepakkan kakinya ke atas permukaan perahu, dengan menahan rasa sakit pada pipinya dia melepaskan cambuk baja yang ada dipinggangnya siap akan melancarkan serangan.
Pada saat yang bersamaan pula dari dalam raangan perahu tampak berkelebat keluar tiga orang yaitu Si Liong Ciang, Hauw jiauw serta Si Ang In Sin Pian.
Mereka yang melihat Liem Tou dengan wajah penuh senyuman berdiri segera mengetahui kalau kedatangannya tidak bermaksud baik. Tanpa mengucapkan kata kata lagi mereka bertiga bersama sama mencabut keluar senjata tajamnya masing masing siap bertempur.
Melihat sikap mereka itu tidak terasa Liem Tou mengerutkan alisnya rapat rapat, dia segera tertawa dingin.
Buat apa kalian begitu galak?" serunya.
Tubuhnya mendadak berkelebat dengan amat cepatnya, hanya di dalam sekejap saja senjata tajam yang ada di tangan Liong Ciang, Hauw Jiauw. Ang in Sim Pian serta Po Siauw Ling sudah berhasil direbut lepas, mereka berempat ternyata sama sekali tidak bisa melibat jelas gerakan apa yang sudah digunakan oleh Liem Tou itu.
Kali ini aku Liem Tou datang kemari bukannya sengaja mau mencari balas! serunya. "Juga tidak aku punya maksud untuk mencari kemenangan di bawah serangan senjata tajam cuma saja aku punya satu urusan yang minta Pouw Cungcu suka mengabulkan asalkan Cung cu mau mengabulkan maka aku Liem Tou segera akan berlalu dari sini.
Ang In Sin Pian serta Pouw Sak san benar benar dibuat tergetar oleh kelihayan ilmu silat Liem Tou yang baru saja diperlihatkan ini, dia tahu kepandaian silat yang dimiliki Liem Tou pada saat ini tidak mungkin berhasil dilawan dengan mengandalkan kekuatan mereka berempat, berpikir keras akan hal ini air mukanya segera berubah jadi ramah.
Tadi mendengar suara jeritan Leag jie aku masih kira siapakah, tidak tahunya adalah putra dari temanku Liem Hian tit serunya sambil tertawa. Kesalah pahaman itu harap kau orang suka memaafkan.
Mendengar perkataan yang tengik itu air muka Liem Tou segera berubah jadi keren.
Pouw Cungcu juga tidak usah begitu menghormati diriku sehingga membuat hatiku merasa mual, serunya dengan nada yang amat dingin. Malam ini sebelum kentongan ketiga harap Cungcu suka mengembalikan uang perak sebesar tiga laksa tahil perak yang Cungcu rampok setahun yang lalu dari tangan Cing Lioag Piauw kiok, dan kirim ke rumah psnginapan terbesar dalam kota Heng Kiat, disana tentu ada orang yang menerimanya, entah bagaimana pendapat dari Cungcu.
Air muka si Ang In Sin Pian, Pouw Sak san seketika itu juga berubah sangat hebat mendadak tubuhnya mundur satu langkah kebelakang
Liem Hian tit!! serunya cepat. Lenyapnya barang kawalan Cing Liong Piauw kok ada sangkut paut apa dengan diriku.
Sepasang mata Liem Tou segera melotot keluar bulat bulat dua rentet sinar yang amat tajam sekali mendadak memperhatikan diri si Ang In Sin Pian Pouw Sak San tanpa berkedip membuat dia orang yang dipandang seperti itu merasakan hatinya bergidik.
Lenyapnya barang kawalan dari Cing Liong Piauw kiok aku Liem Tou melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, seru Liem Tou dengan dingin, "Anak murid dari si golok naga hijau Sie piauw tauw, Oei poh pun aku yang tolong, Pouw Cung cu sekali lagi aku mau tanya kepadamu, apakah lenyapnya barang kawalan Cing Liong Piauw kiok tidak ada hubungannya dengan dirimu??
Si Ang In Sin Pian yang mendengar rahasia nya dipecahkan olehnya, air mukanya seketika itu juga berubah menjadi merah padam dan tidak bisa mengucapkan sepatah katapun.
Liem Tou, tiba tiba si Hauw Jiauw, Pouw Toa Tong menimbrung dari samping. Dendam satu pukulan darimu aku Pouw Toa Tong masih selalu ingat di dalam hati, kau bilang lenyapnya barang kawalan Cing Liong piauw kiok adalah hasil perbuatan dari Cung cu kami, apa kah Cung cu seorang diri bisa merampok dua buah perahu Cing Liong piauw kiok sekaligus?
Liem Tou segera tertawa dingin tak henti-hentinya.
Toa Tong siok, ujarnya kera». Kau jangan memaksa orang keterlaluan aku bisa pukul kau sampai terluka parah cuma didalam satu pukulan saja. Hmmm . . . hmmm . . . bukankah Toa Tong siok pun termasuk salah seorang perampok barang kawalan dari Cing Liong Piauw kiok itu?.
Baru saja si Houw Jiauw, Pouw Toa Tong mau berbicara lagi mendadak Liem Tou sudah menoleh kearah si Ang In Sin pian.
Pouw Cung cu, serunya, perkataan sudah saya ucapkan dengan sangat jelas, Tiga laksa tahil perak macam ini sebelum kentongan ketiga harus diserahkan.
coba saja kalau kalian berani kurang satu tahil perak saja. Selesai berkata mendadak jari tangannya laksana angin yang menyambar menotok jalan darah Khie ay Hiat pada tubuh Pouw Siang Ling.
Mendenguspun belam sempat tubuh Siauw Ling rubuh ke atas tanah dengan mata yang terpejam rapat rapat.
Liem Tou yang sudah punya perhitungan di dalam hatinya mendadak maju ke depan dan menerima tubuh Pouw Siauw Ling itu kemudian dikempit di bawah ketiaknya.
Kakinya sedikit mengerahkan tenaga tubuhnya secara tiba-tiba melayang ke tengah udara kemudian turun meluncur ke atas permukaan sungai dan melayang ke arah tepian dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya.
Liong Ciang. Hauw Jiauw serta Ang In Sin pian segera bersama sama membentak keras, di dalam sekejap saja tiga gulung angin pukulan yang amat dahsyat bersama sama menggulung ke depsn laksana mengalirnya air sungai Tiang Kiang.
Melihat datangnya serangan itu Liem Tou sama sekali tidak jadi gugup, empat buah senjata tajam yang ada di tangan kanannya mendadak di ayun ke belakang
Seketika itu juga keempat senjata tajam itu berubah jadi empat macam senjata rahasia yang berbeda bagaikan kilat cepatnya menghajar tubuh Hauw Jiauw Liong Ciang serta Ang In Sim pian.
Mereka berempat tidak berani langsung menangkap datangnya senjata rahasia tersebut, dengan tergesa gesa tubuhnya menyingkir ke samping serta kemudian baru menyambut datangnya serangan tersebut.
Tetapi begitu senjata itu terbentur dengan tangannya mereka, segera merasakan satu tenaga yang amat dahsyat menghajar pecah telapak tangan mereka dengan perasaan terperanjat mereka terburu buru mundur ke belakang.
Sewaktu menoleh lagi ke samping saat itu Liem Tou sudah jauh meninggalkan tempat itu.
Ilmu meringankan tubuh mereka bertiga belum sampai mencapai pada taraf berjalan di atas permukaan air, karenanya saking khekinya mereka bisa memaki dengan gusarnya dari atas perahu.
Tetapi walaupun begitu mereka tidak dapat berbuat apa, terpaksa dengan hati mendongkol mereka menyuruh orang segera mempersiapkan uang untuk menebus kembali diri Pouw Siauw Ling.
Kita balik pada Liem Tou yang mengempit tubuh pouw Siauw Ling dan balik kembali ke perahu milik Sun Ci Sie itu, setelah meletakkan tubuh pouw Siauw Ling ke dalam perahu diam diam segera pikirnya.
Lebih baik aku letakkan dirinya di sini saja dari pada harus dibawa kemana mana hingga tidak leluasa, sekalipun dia berhasil ditolong oleh Ang In Sin pian akupun tidak takut dia melarikan diri.
berpikir sampai disini dia tidak mengurusi dirinya lagi, dengan cepat tubuhnya meloncat ke atas tepian untuk kembali ke bangunan besar itu dan mencari si perempuan tunggal.
Terlihatlah ssng kerbau dengan tenangnya sedang makan rumput di sana tetapi jejak dari si perempuan tunggal tidak tampak.
Dengan cepat Liem Tou menuju ke samping kuburan enciknya itu, terlihatlah disamping kuburan terukir beberapa patah tulisan "Susiok pergi dulu."
Tetapi dia tidak menulis entah sudah pergi ke mana, dengan termangu mangu lama sekali Liem Tou memperhatikan beberapa patah tulisan itu, dia tidak memahami mengapa secara mendadak si perempuan tunggal pergi dari tempat situ.
Mendadak di samping kuburan enciknya itu Liem Tou menemukan pula beberapa litik darah segar, batinya jadi tergetar amat keras, dengan tergesa gesa dia memeerikss darah yang sudah bercampur dengan tanah itu, dia melibat darah itu belum mengering jelas baru saja keluar dari badan.
Di dalam sekejap saja hatinya terbayang berbagai pikiran yang tidak keruan, tubuhnya dengan cepat meloncat ke atas lalu berteriak dengan suara yang amat keras.
"Susiok, susiok !"
Suara teriakannya seketika itu juga berkumandang sampai berpuluh puluh lie jauhnya sehingga membuat seluruh pegunungan itu mendengung tak henti hentinya, tetapi suara sahutan dari si perampuan tunggal sama sekali tak kedengaran.
Di dalam keadaan yang amat cemas sekali Liem Tou segera mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya berkelebat di sekeliling tempat itu sembari tidak henti hentinya berteriak memanggil, namun jejak dari Si perempuan tunggal sama sekali tidak ditemui.
Dengan termagu mangu Liem Tou berdiri di atas puncak gunung, akhirnya gumamnya seorang diri.
Heei .. .sudahlah, semoga saja susiok bisa berhasil mencapai apa yang diinginkan dengan sukses.
Dengan perlahan dia berjalan balik lagi ke lembah tersebut lalu dengan menuntun kerbau nya menuruni gunung Wu san itu dengan tergesa gesa.
Sesampainya di atas perahu dia melihat tubuh Pouw Siauw Ling dipojokan tak bergerak.
"Dia yang sudah tertotok jalan darah Khei Hay Hiatnya sekalipun hal ini membuat Pouw Siauw Ling tidak dapat bergerak maupun berbicara tetapi sepasang matanya bisa memandang keadaan disana, ketika dilihatnya Liem Tou kembali ke atas perahu tersebut dengan pandangan yang berapi api dia melototkan matanya.
Liem Tou segera kirim senyuman kepadanya.
Siauw Ling heng tentunya kau masih ingat sewaktu tempo hari aku Liem Tou kau hina dan siksa bukan? ujarnya dengan psrlahan.
Asalkan kau masih ingat maka penderitaanmu ini hari harap kau orang suka jangan pikirkan di dalam hati.
Selesai berkata dia memandang lagi ke arah diri Pouw Siauw Ling, tampaklah sepasang matanya melotot bulat bulat sedang dari ujung bibirnya menetes keluar bintik darah segar.
Liem Tou tahu saking kheki dan mendongkolnya dia sudah menggigit lidahnya sendiri, sekali lagi dia tertawa mengejek.
Siauw Ling heng, aku lihat lebih baik kau sedikit tenang, buat apa menyiksa diri sendiri ??
Dia segera bangkit berdiri dan mengambil keluar makanan dari gudang di bawah perahu lantas seorang diri dia melahap santapan itu sampai habis, selama ini melirik sekejap kearah Pouw Siauw Lingpun tidak.
Selesai bersantap dia duduk bersemedhi sebentar untuk menanti magrib datang, setelah itu baru menjalankan perahunya menuju ke kota Hong Kiat.
Saat itulah dia melihat air muka Pouw Siauw Ling sudah berubah pucat pasi bagaikan mayat, mulutnya penuh dengan darah segar.
Dia orang yang memangnya sama sekali tak menaruh rasa kasihan terhadap dirinya segera mendengus dengan amat dinginnya.
Tetapi mendadak pikiran berkelebat dalam benaknya.
"Mungkin dia mau mengucapkan sesuatu kata biarlah aku dengar apa yang hendak diucapkan olehnya, jikalau tidak enak didengar totok lagi bukankah beres"
Dengan perlahan dia bangkit berdiri dan berjalan ke samping badan Pouw Siauw Ling untuk kemudian dengan menggunakan kakinya membebaskan dirinya dari totokan.
"Siauw Ling heng!" ujarnya kemudian. "Kau harus ingat kalau aku Liem Tou saat ini sudah tak ada yang dipikirkan maupun ditakuti, sekalipun kalian ayah beranak kau mencelakai aku dengan cara apapun tidak akan bakal merugikan diriku, tetapi hari ini kau sudah terjatuh ke tanganku, ada omongan cepat katakanlah, tetapi kau harus sedikit pintar, sedikit saja salah ngonaong. , . Hmm .. . Hmm . . '
Pouw Siauw Ling yang jalan darahnya sudah dibebaskan oleh Liem Tou diapun tahu kalau dirinya tidak mungkin bakal berhasil meloloskan diri dari sana, karena itu dengan perlahan dia bangkit berdiri untuk melancarkan jalan darahnya setelah itu dengan menggunakan ujung bajunya menyeka bekas darah yang mengotori ujung bibirnya.
Saat itu Liem Tou sekali lagi duduk bersila untuk bersemedi, air mukanya kelihatan amat keren sekali.
Pouw Siauw Ling yang sudah ada satu tahun lamanya berkelana di dalam dunia kangouw saat ini pengalamannya sudah amat luas sekali karena Itu hatinya tidak begitu bergolak seperti keadaan semula, setelah menghela napas panjang akhirnya dia duduk kembali ke atas permukaan perahu.
Liem Tou, ujarnya dengan benci. Hitung hitung ini hari Pouw Siauw Ling jatuh kecundang ditanganmu, tetapi kau harus ingat sikap kami ayah beranak berdua sewaktu di perkampungan Ie Hee Cung tidaklah terlalu jelek.
Didengar dari ucapannya jelas sekali dia sedang merengek minta diampuni.
Saat ini Liem Tou biarpun sedang bersemedi, seluruh gerak gerik dari Pouw Siauw Ling itu dia bisa melihatnya dengan amat jelas, kini secara tiba tiba dia mendengar Pouw-Siauw Ling menyebut kembali ayahnya tidak terasa tubuhnya kelihatan sedikit tergetar, air mukanyapun sedikit berubah tetapi mulutnya tetap bungkam di dalam seribu bahasa.
Pouw Siauw Ling yang selama satu tahun ini mengikuti diri Ang In Sim Pian berkelana di dalam Bu lim sudah memperoleh pelajaran yang amat banyak sekali dari pada ayahnya, kini melihat air muka dari Liem Tou sedikit berubah dengan cepat ujarnya lagi.
Liem heng, bukankah kau masih ingat sebelum empek Liem meninggal, dia dengan ayah ku sangat baik sekali, coba kau bayangkan sewaktu ayahmu sakit keras, bukankah setiap kali ayahku yang pergi menjenguk dirinya? bahkan sewaktu mendapat perintah dari Lie Cung Cu pada waktu itu malam malam dia turun gunung Ha Mo Leng juga untuk mengundang tabib guna mengobati ayahmu? apakah kau masih ingat semua kejadian ini?"
Liem Tou yang mendengar perkataan tersebut tidak dapat menahan sabar lagi, hatinya benar benar bergolak dengan amat kerasnya.
Pouw Siauw Ling kau jangan bicara lagi' bentaknya aecara tiba'. Kenapa kau tidak katakan di tengah malam kau mengundang aku keluar dari kamar lantas pukuli aku dengan kejam? kenapa kau tidak menceritakan pula di mana ayahmu, tanpa mengucapkan sepatab kata pun sudah mengusir aku turun gunung? jika didengar dari omongan itu aku curiga tentang kematian ayahku tentu sedikit tidak beres"
Sebetulnya perkataan itu diucapkan keluar secara tidak sadar, tetapi setelah didengarnya sendiri mendadak badannya merasa sedikit bergidik.