Rahasia Istana Terlarang **
Rahasia Istana Terlarang
Karya: Wo Lung-shen
Terjemahan: Tjan I.D
Jilid 1
Dalam cerita “Bayangan Berdarah” dikisahkan bahwa Siauw Ling telah turun kebawah tebing untuk mencari jamur batu berusia seratus tahun.
Pada saat itulah tiba-tiba musuh yang amat tangguh telah menyerang datang sehingga melibatkan si Raja obat Bertangan Keji serta Sang Pat dalam pertempuran yang amat sengit.
Tu Kioe yang diserahi tugas untuk melayani uluran tali senar disisi gua, merasa amat gelisah dan kuatir sekali menghadapi kejadian tersebut, apa lacur Siauw Ling yang berada dibawah tebing tak kunjung datang juga
Sementara itu ia merasa kuatir bercampur tegang akhirnya mengambil keputusan untuk menerjunkan diri kegelanggang pertempuran tiba-tiba tali senar yang berada digenggamnya bergetar keras hal ini menandakan bahwa Siaw Ling telah menemukan jamur batu tersebut dan siap naik keatas.
Tu Kioe merasa amat kegirangan, sepasang tangannya dengan kerahkan segenap tenaga yang dimilikmya segera menarik tali senar tersebut keatas.
Rupanya Siaw Ling yang berada dibawah tebingpun mengetehui bahwa rekan-rekannya yang berada diatas tebing telah berjumpa dengan musuh tangguh, tangan maupun kakinya lkut bekerja keras untuk membatu mempercepat daya tarik tali senar dari Tu Kioe
Dalam pada bentrokan senjata yang berkumandang diarah belakang semakin nyaring, jelas pertarungan yang berlangsung makin lama semakin seru dan Sang Pat mulai tak sanggup mempertahankan diri. Sambil bertarung ia mundur terus kebelakang.
“Toako, apakah kau telah naik?” tiba-tiba terdengar Tu Kioe berseru dengan nada girang.
“Akn telah naik keatas tebing” jawab Siaw Ling.
Kiranya Tu Kioe yang berwajah adorn sebenarnya memiliki hati yang hangar, ia tahu Sang Pat sedang melangsungkan pertarungan sengit maka ia tak berani memandang kearah saudaranya itu, sementara posisi Sianw Ling pun amat berbahaya. maka iapun tidak berani memandang kearah sianak muda tersebnt.
Menanti Siauw Ling telah tiba diatas tebing dengan selamat ia baru diangkat kepala menatap saudara tuanya ini. seraya menjura ujarnya :
“Toako, keadaanmu baik-baik saja bukan, Selesai bicara ia sambar senjata pit bajanya, kemudian merogoh pula gelang pelindung tangannya dan melancarkan sebuah se-rangan gencar kearah musuh.
Braaaak ! cahaya tajam berkilauan, dari sisi kalangan telah menyambar sebilah golok menangis datangnya aucaman itu.
Tu Kioe segera putar gelang pelindung tangannya Traang traaang.. secara beruntun ia menyapu datangnya serangan berantai dari beberapa macam senjata sajam.
Pada saat inilah Tu Kioe baru puuya ke-sempatan untuk menyaksikan keadaan situasi dihadapannya.
Lampu lantera yang ditinggalkan kedua orang dayang itu masih memancarkan cahaya tajam sehingga pemandangan disana dapat terlihat jelas.
Tampaklah empat orang pemuda berbaju biru dengan bersenjatakan golok, pedang. papan baja serta tombak berdiri dengan angker-nya disitu.
Empat macam senjata dengan keistimewaan yang berbeda menyerang datang secara berbareng diantaranya dibumbuhi kerja sama, hal ini membuat Sang Pat yang memiliki ilmu silat amat liheypun tidak sanggup untuk menghadapi keempat orang itu sekaligus.
“Loo-jie” terdengar Sang Pat berseru, “gantikanlah posisiku, aku hendak cari peluang untuk membalut lukaku”.
Permainan senjata pit baja ditangan kanan Tu Kioe serta gelang perak ditangan kirinya tiba-tiba diperketat. ia disambut separuh ancaman yang menggulung datang.
Mengambil kesempatan itu Sang Pat me-loncat keluar dari kalangan dan menghembuskan napas panjang.
Toako. apakah kau telah mendapatkan jamur batu berusia seribu tahun??” tanyanya.
“Aku telah mendapatkannya”.
Sang Pat pun segera merobek pakaian sen diri untuk membalut luka yang meuganga di lengan sebelah kirinya.
“Apakah lukamu parah sekali??” bisik Sianw Ling seraya mengatur pernapasan.
“Lengan kamu terkena bacokan golok lawan namun tidak terlalu parah, aku rasa luka dikaki kirikulah yang rada berat!”
Siauw Ling alihkan sinar matanya. sedikupun tidak salah kaki kiri Sang Pat penuh berlumuran darah”, bahkan darah segar mengucur keluar tiada hentinya. Tanpa terasa ia menghela napas dan bertanya
“Bagaimana keadaan kakimu ?”
“Harap toako legakan hati, Iuka ini tidak sampai mempengaruhi otot serta tulang”.
Sementara kedua orang itu sedang bercakap cakap tiba tiba terdengar suara dengusan berat berkumandang datang.
Tanpa berpaling Sang Pat berkata :
“Saudara Tu telah terluka orang yang menggunakan tombak itu paling ganas dalam melancarkan seranganuya jurus serangan yang ia miliki mempunyai perubahan yang sangat banyak dan sukar diraba sebelumnya*’.
Siauw Ling alihkan sinar matanya ketengah, sedikitpun tidak salah diatas kaki kiri Tu Kioa tampak muncul sebuah yang amat besar darah segar mengucur keluar tiada hentinya, jelas luka yang ia derita amat parah sekali. “Saudara Tu. harap segera mengundurkan din kebelakang. biarlah aku yang bendung serangan musuh” seru Siauw Ling sambil menghembuskan napas panjang.
Ditengah bentakan keras pedang panjangnya telah diloloskan dari dalam sarung.
Tu Kioe mengerti bahwa kepandaian silat yang dimiliki saudaranya ini amat lihay sekali, laksana kilat ia mundur dua Iangkah kebelakang, kemudian merobek secarik kain dan membalut mulut lukanya,
“Sauw Ling getarkan tangan kanannya’ sang pedang dnringi desiran angin tajam segera menggulung keatas, laksana kilat ia sampok miring keempat bilah senjata tajam itu.
EmpAt orang pemuda berbaju biru itu menggunakan empat macam senjata yang berbeda tapi melakukan serangan dengan kerja sama yang luar biasa, ketika golok tersebut kena taugkis, papan besi dengan cepat menyusnl datang. Terutama sekali adalah senjata Lian Cu-Ciang bagaikan ular sakti menembusi gua, sering kali dengan mengimbang serangan pemuda itu yang bersenjatakan pedang
itu menyusul datang.
Siauw Ling yang saling bergebrak sebanyak beberapa jurus melawan orang-orang itu dapat merasakan kekuatan yang dahsyat dibalik serangan mereka, diam diam pikirnya didalam hati.
“Tidak kalau sepasang pedang dari Ticng chiu pada terluka dibawah ujung tombak orang itu. jurus serangan yang dia gunakan memang aneh sakti dan ganasnya luar biasa.
Suatu ingatan berkelebat dalam benaknya tiba-tiba permainan pedangnya diperketat.
Dalam sekejap mata bunga-bunga pedang berhamburan diangkasa mengurung seluruh lorong batu itu.
Telapak kirinya melancarkan ilmu telapak kilat berantai Lian Huan San Tian Ciang Hoat ajaran Lam It Kong untuk bekerja sama dengan gerakan pedangnya, dengan demikian serangan gencar dari keempat orang itupun berhasil dibendnng.
Terdengar suara dari si raja obat berta-ngan keji berkumandang datang.
“Sandara Tn, apakah Siauw Liang ThaihiaP telah naik??”
“Sudah?”
“Apakah berhasil mendapatkan jamur batu berusia seribu tahun!”
“Untung sekali tidak sampai mengecewakan dirimu” sahut Siauw Ling dengan cepat.
“Loohu telah berjumpa dengan musuh tangguh yang belum pernah kujumpai selama hidupku!?.
“Bagaimana ?” sela Sang Pat. “Apakah Yok-Ongpun telah menderita luka ?”
“Cuma dua buah luka dikulit luar belakang, tidak terhitung seberapa ?”
Setelah merandek sejenak sambungnya :
“Sekalipun Loohu telah menderita luka, namun aku masih punya kemampuan untuk melanjutkan pertarungan” .
Serangan-serangan balasan dari Siauw Ling kendati dilancarkan dengan amat dahsyatnya tetapi berjumpa dengan serangan gencar hasil kerja sama keempat orang itu. keadaannya berbahaya. Pihak lawan masih sanggup melancarkan serangan serangan balasan dibalik pertahanannya yang kuat
Sementara itu setelah selesai membalut Iukanya dan mengatur napas beberapa saat. Sepasang pedagang dari Tiong Chin kembali menggerakkan senjata tajamnya untuk menyerang kembali kearah inusuh-musuhnya.
“Toako, ilmu silat yang dimiliki orang ini rupanya berhasil dari satu aliran yang sama, setiap jurus yang digunakan amat kejit dan ganas,
Toako tak usah berlaku sungkan-sungkan lagi terhadap diri mereka,” sernnya keras-ke ras.
“Sedikitpun tidak salah,” pikir Siauw Ling. “Apabila aku tidah melukai beberapa orang dalam serangan kali ini, mungkin sulit bagi kita beberapa orang untuk menerjang keluar dari istana batu digunung Wu-san ini “
Karena berpikir demikian, jurus jurus serangan mematikanpun segera dilancarkan.
Nampak cahaya pedang yang berkilauan memegangi seluruh angkasa, laksana kilat menyambar kearah depan,
Pemuda berbaju biru yang bersenjatakan papan baja itu mendadak melepaskan senjatanya, sang badan mnndur beberapa langkah kebelakang dengan sempoyongan, dan akhirnya ia roboh terjengkang keatas tanah.
Setelah badannya roboh keatas tanah, darah segarpun mengucur lewat mulut luka di depan dadanya.
Kiranya dada orang itu berhasil disambar. robek oleh babatan kilat Siauw Linp yang di lancarkan amat cepat, isi perutnya kontan hancur berantakan dau jiwanyapun melayang saat itu juga.
Sementara itu Sepasang pedang dari Tiong Chiu sebetulnya bermaksud membantu Siauw Ling namun tubnh mereka dengan cepat terdesak mundur kembali terkena desakan bawa pedang Siauw Ling yang maha dahsyat.
Setelah berhasil membinasakan seorang pemuda berbaju biru. Siauw Ling membentak keras:
“Majikan kalian telah mengadakan perjanjian dengan diriku, dalam batas waktu satu jam la tidak akan melancarkan serangan bokongan. Sungguh tak nyana dia adalah seorang manusia rend’ah yang tidak pegang janji” Hmmm! kalau kalian semua tidak segera menghentikan serangan jangan salahkan kalau aku Siauw Ling akan bertindak kejam dan telengas terhadap diri kalian semua.”
Ditengah bentakan keras gerakan pedangnya secara beruntun beberapa kali, kembali sipemuda berbaju biru yang bersenjatakan pedang itu terluka diujung pedang Siauw Ling, badannya terjengkang keatas tanah.
Tusukan pedang sianak muda tersebut kali mi telah menembusi dada lawannya, tusukan maut itu seketika mencabut selembar jiwanya.
Sang Pat yang selama ini menyaksikan jalannya pertempuran dari sisi kalangan tiba-tiba teringat suatu hal pikirnya,
“Beei.,.sungguh aneh sekali, kenapa tidak kedcngaran suara jeritan kesakitau dikala tnbuh mereka termakan oleh pedang?”
Timbul rasa curiga dalam hatinya, segera bisiknya kepada diri Tu Kioe:
*’Hey Loo Jie! apakah kau menemukan puia tanda tanda aneh yang patut dicurigai?”
“Bagian mana yang tidak beres?”
“Selama beberapa orang iui melakukau pertempnran sengit melawan diri kita kecuali terdeugar beberapa kali suara teriakan yang aneh, apakah kau pernah mendengar mereka mengucapkan sesuatu?”
“Sama sekali tidak kedengaran.”
Serangan Sianw toako amat lihay dan dahsyat secara beruntun ia berbasil melukai dua orang namun kedua orang itu sama sekali tidak memperdengarkan suara teriakan ataupun jeritan ngeri, apakah hal ini tidak aneh?”
“Sedikitpnn tidak salah, kejadian ini memang patut dicurigai.,..”
Sementara kedua orang itu terlibat dalam pembicaraan yang serius, kembali seorang pemuda berbaju biru roboh binasa termakan sambaran pedang dari Siauw Ling,
Pada saat itu diantara ernpat orang pemuda berbaju biru ada tiga orang sudah mati binasa, kini hanya tersisa sang pemuda bersenjata tombak ssja yang masih melangsung kan pertempuran sengit.
Setelah membunnh tiga orang, dalam Lati Siauw Ling timbul perasaan tidak tega, ia tidak ingin membunuh lebih banyak lagi. Maka dari itu gerakan pedang ditangannya makin diperketat, la terhadap pemuda bersenjatakan tombak itu bisa tahn diri dan segera mengundurkan diri.
Siapa sangka orang itu benar-benar bandel dan tidak punya rasa takut, sekalipun serangan gencar yang dilancarkan Siauw Ling te lah mcmaksa gerakan tubuhnya jadi terkekang dan kacau tidak keruan, namun ia tetap keras kepala tak mau mengudurkan diri.
“Toako!” Sang Pat segera berseru dengan nada lirih.” Aku 1ihat manusia yang ada dalam istana batu digunung Wu-san ini amat kukoay sekali bukan saja mereka bersantap binatang berbisa untuk melanjutkan hidup ilmu silat yang manunggal, aku pikir mereka pasti bukan manusia-manusia baik. Pada saat ini keadaan kita sangat krisis dan berbahaya sekali, harap toako jangan mengulur waktu Iebih jaah. …!”
“Ucapan saudara Sang Pat tidak salah.”
Serangan telapak ditangan kirinya makin diperketat membendung seluruh ancaman yang datang dari ujung tombak lawan dan tangan kanannya dengan jurus In-pon-gwat-kong atau awan membuyar cahaya rembulan cemerlang membabatkan pedangnya kedepan
“Breet ‘.” pakaian bagian dada pemuda itu robek, Siauw Ling tidak tega untuk mendesak lebih jauh, dan ia tarik kembali serangannya.
Tampak pemuda berbaju biru itu mundur kebelakang dengan sempoyongan, tapi secara tiba2 tombaknya digetarkan langsung mengarah ke depan lawannya.
Mimpipun Siauw Ling tidak mengira kalau ia masih sanggup melancarkan serangan yang demikian dahsyat setelah menderita luka parah hampir saja tubuhnya termakan oleh bokongan lawan. Tak kuasa lagi ia naik pitam, pcdangnya disapu keluar, kakinya dari posisi Tiong Kiong mendesak kemuka setelah menyampok miring tombak berantai tadi senjatauya langaung membabat ketubuh lawan
Terasa cahaya tajam berkilauan memenuhi angkasa, darah segar memercik keempat penjuru dan lengan kanan pemuda itu mental dibabat putus jadi dua bagian.
“Sampai matipun orang ini tak akan sadar, tak boleh kita biarkan dia hidup lebih Jauh.” tukas Tu Kioe.
Senjata Pit bajanya ditotok kedepan menusuk ulu hati oraug itu, kontan pemuda berbaju biru itupun menemui ajalnya.
“Aaai sungguh tak kusangka keempat orang ini merupakan manusia-manusia yang tak takut mati.” keluh Siauw Ling seraya gelengkan kepalanya berulang kali.
Sang Pat mendehem ringan, sebenarnya ia mau mengucapkan sesuatu namun akhirnya ia batalkan niatnya itu.
Sekali tendang Tu Kioe menyingkirkan mayat orang tadi. serunya :
“Mari kita segera herangkat : Kita lihat bagaimana keadaan dari si Raja Obat Ber-tangan Keji.” tanpa menanti jawaban orang lain lagi, ia memburu kedepan lebih dulu.
Siauw Ling dengan menenteng pedang ber-jalan ditengah, sedangkan Sang Pat menguntil dibelakang sianak muda itu.
Setelah melewati sebuah tikungan, terdengar angin pukulan menderu-deru memenuhi angkasa.
Tatkala mereka alihkan sinar matanya ke arah kalangan, terlihat si Raja Obat bertangan Keji dengan tangan kosong sedang melangsungkan pertarungan seru melawan dua orang kakek tua yang rambutnya telah beruban semua.
Kedua orang kakek tua ini, yang satu bersenjatakan Hud-tim sedang yang lain bersenjatakan pedang, serangan serangan yang mereka lancarkan amat ganas dan lihay
Berada dibawah kurungan Hud-tim serta pedang lawan, Tok Chiu Yok Ong memberikan perlawanan sengit, ia gunakan kepandaian merampas senjata dengan tangan kosong yaug diinngi oleh ilmu Kie Nah Jiauw memaksakan diri untuk bertarung seimbang.
Namun bagaimanapun juga posisinya amat kritis dan berbahagia sekali sepasang telapaknya tidak berani bergerak lambat, setiap serangan dibalas dengan serangan, demikian repot siraja obat ini sampai-sampai ia tidak .sempat untuk menggunakan ilmu melepaskan racunnya yang amat liehay.
“Saudaraku, avoh cepat mundur !” tiba-tiba terdengar suara Siauw Ling berseru sambil mengayunkan pedangnya kedepan.
Selama ini Tu Kioe menaruh perasaari antipatik terhadap diri Tok Chiu Yok Ong pada waktu itu juga ia sedang mempertimbangkan dia perlukah turun tangan membantu siraja obat itu atau jangan. Kini mendengar seruan dari Siauw Ling, dengan cepat badannya menyingkir kesamping.
Siauw Ling getarkan pedang panjangnya, dengan gerakan „Chan Liong Ing Hong” atau Mennnggang Naga Memancmg burung Hong ia sambut datangnya ancaman dan senjata Hud-tim tersebui^
“Cayhe bantu diri Yok Ong untuk menghadapi manusia manusia jahanam ini!”
Tok Chiu Yok Ong bungkam dalam seribu bahasa, sepasang telapaknya diperketat dan dengan kerahkan segenap tenaga yang di-milikinya mcughadapi sikakek bersenjata pedang tersebut.
Kiranya keadaan siRaja Obat Bertangan Keji pada waktu itu Sudah payah sekali. Ia telah merasa dirinya tidak tahan untak melanjutkan pertarungan, mungkin dalam sepuluh gebrakan lagi tubuhnya bakal terluka ditangan lawan, maka kehadiran Siauw Ling tepat pada saatnya dan segera membantu dia untuk menghadapi kakek tua bersenjatakan Hud tim itu, bagi Yok Ong boleh dikata me rupakan suatu bantuan yang sangat besar.
Tetapi dengan dasar wataknya yang sombong dan tinggi hatinya ia merasa berterima kasih hanya perasaan tersebut tidak sampai di utarakannya keluar.
Siauw Ling yang membuat datangnya serangan Hud tim dan kakek tua berambut putih itu, dengan cepat merasakan bahwa dia kehebatannya amat sederhana sekali dan seolah olah gampang dihadapi, namun setelah saling bergebrak ia baru tahu bahwa kelihayan lawan justru terletak pada kelembekan serat dari senjata Hud-tim iiu. benar-benar emas yang lembek sebeatar berubah jadi keras sebentar mengembang dan sebentar merapat, hal ini merupakan suatu aneaman yang berbahaya sekali.
Diam-diam Siauw Ling berpikir didalam hatinya:
Permaianan Hud tim orang ini begitu gampang, aku rasa ilmu silat yang di miliki sikakek tua bersenjatakan pedang itu pun tidak jelek. Siraja Obat Bertangan Keji dapat mempertabankan diri selama ini dibawah orang sealiran kedua orang itu, kejadian ini betul betul luar biasa sekali.”
Otaknya berputar gerakan tangannya sama sekali tidak mengendor, tiba-tiba ia percepat daya serangan pedangnya, dengan sikakek ber senjatakan Hud tim tersebut dilangsungkan-uya suatu pertarungan kilat yang saling memperbutkan posisi lebih menguntungkan.
Sejak Siauw Ling turnn tangan mengurangi daya tekanan pada dirinya, siraja Obat Bertangan Kejipun merasakan beban yang ia pjkul semakm enteng. Ia mulai sempat putar Otaknya untuk menghadapi serangan serangan musuh
Ia merasa apabila pertarungan cara begini dilangsungkan lebih jauh, sulit baginya untuk menentukan siapa kalah, maka secara tiba-tiba gerakan serangannya berubah, ia mendesak musuhnya semakin gencar dan semakin hebat,
Ditengah berlangsungnya pertarungan sengit, tiba tiba terdengar suaranya nyaring yang mirip dengan suara suitan berkumandang datang memecahkan kesunyian. Serangan kedua orang kakek tua itu semakin diperketat, setelah mengirim dua buah serangan gencar tiba-tiba mereka meloncat mundur kebelakang.”
Menyaksikan tindakan mereka si Raja Obat Bertangan keji segera berpikir didalam hati-nya, “Bayangan berdarah.”
“Entah kedua orang mi sedang mempersiapkan rencana keji apa lagi mencelakai kamu?’
Sementara ia masih berpikir, tampaklah kedua orang kakek berambut putih itu putar badan dan berlaln dari sana, dalam sekejap bayangan tubuh mereka sudah lenyap tak ber bekas
Memandang bayangan punggung kedua orang itu yang mulai lenyap dari pandangan, Tok Chiu Yok Ong bergnmam seorang din.
“Tidak sebarusnya mereka berdua melarikan diri dari sini dalam keadaan yang begitu mengenaskan… “
Perkataan ini seakan akan diutarakan bagi diri, namun mirip pula sedang bertanya kepada orang lain.
To Kioe segera tertawa dingin
“Tentu saja hal ini disebabkan mereka sadar bahwa kepandaian silat yang mereka miliki bukan tandingan toako kami, maka melihat posisi yang tidak menguntungkan mereka segera melarikan diri,” sambungnya cepat,
Sinar mata Sang Pat berputar memandang sekejap suasana disekiiar sana, ia melihat ada dua orang pemuda berbaju biru menggeletak dilorong sebelah kiri. jelas sebelum kehadiran kedua orang tua itu, kedua orang pemuda lersebut telah menyerang Tok-chiu Yok-ong lebih dahulu namun mereka berhasil dirobohkan oleh siraja obat mi.
“Apakah kedua orang pemuda berbaju biru ini sudah modar semua?”
“Mereka belum modar cuma luka yang di derita sangat parah, sebelum kehadirau kedua orang kakek tua itn, mereka berdua telah melancarkan serangan bokongan terhadap diri loohu.”
“Jadi kalau begitu, mereka berdua telah terluka ditangan Yok Ong?” “Sedikitpun tidak salah.” “Bagaimanakah keadaan luka mereka? apakah masih btsa digunakan untuk melakukan perjalanan
“Aku rasa sudah tak mungkin lagi”.
Kedua orang kakek tadi mengundurkan diri dengan langkah tergesa gera, babkan sepatah katapun tidak diucapkan, aku rasa mereka pasti mempunyai rencana keji yang lain, kita tak boleb berdiam terlalu lama di sini, ayoh cepat bcrangkat,” tiba-tiba Tu Kiou menyela.
Tanpa menunggu jawaban orang lain, ia berjalan lebih dahulu kearah depan.
Setelah melewati dua buah tikungan, tiba tiba dari arah depan herkumandang datang suara teguran yang sangat dingin:
“Anak buahku tidak mendengarkan perintah dan melancarkan serangan bokongan kepada kalian secara diam diam, kini cayhe telah tangkap mereka semua untuk dijatuhi bukuman. Nah, cuwi sekalian boleh segera berlalu dari sini tanpa hadangan…”
Ia merandek sejenak, kemudian sambnng nya:
“Pada saat ini batas waktu satu jam telah habis, tetapi berhubung anak buahku mengingkari janji dengan melancarkan serangan bokongan lebih dahulu, maka cayhepun akan langgar kebiasaan dengan memberi perpanjangan waktu selama seengah jam buat kalian, apabila didalam setengahjam mendatangi cuwi sekalian masih berada dalam istana batuku, janganlah salahkan kalau cayhe terpaksa akan melancarkan serangan bokongan untuk merobohkan kalian semua.”
“Sayang sekali sebagian besar anak buahmu telah mati binasa ditangan kami,” teriak Sang Pat.
“Semestinya aku harus membalaskan dendam bagi mereka.” sahut orang itu dengan suara yang dingin. “Tapi mengingat mereka turun tangan dengan melanggar peraturan, maka anggap saja mereka memang sudah di takdirkan hams mati.”
Sementara Siauw Ling ingin buka snara, orang itu telah berkata kembali lebih jauh:
“Batas waktu yang kuberikan kepada kalian hanya setengah jam, apakah kalian suka mendengarkan perkataan atan tidak untuk segera meninggalkan tempat ini terserah pada keputusan sendiri, apabila kalian tidak percaya lagi, dengan menenteng pedang ia segera berlalu dari Sana.
Dalam dugaan beberapa orang itu semua dalam perjalanan keluar dan lorong tak bisa dihindari lagi pertarungan-pertarungan sengit pasti akan ditemui, siapa sangka apa yang terjadi kemudian ternyata jauh diluar dugaan siapapun juga. serombongan jago jago lihay mi berhasil keluar dari istana batn tanpa mengalami rintangan apapun juga…..
Baru saja mereka berempat melangkah keluar dari depan gua tersebut, mendadak diiringi suara yang amat keras pintu batu itu menutup sendiri rapat-rapat.
“Aneh….suagguh sekali..” terdengar Sang Pat bergumam sambil menghembuskan napas panjang.
“Persoalan apa yang aneh?” tanya Tu Kioe.
“Seumpama kata ia tidak mau menggerak kan alat rahasia yang ada didalam lorong itu untuk membuka pintu batu yang menghalangi jalan pergi kita, bukankah kita bakal terkurung?” entah apa sebabnya majikan istana batu ternyata suka melepaskan diri kita dengan begitu gampang.”
“Mungkin saja dia adalah seorang koencu yangmemegang janji,” kata Siauw Ling mem berikan pendapatnya.
“Haa. .haaa.. jadi toako benar-benar mempercayai perkataannya itu?”
“Apabila ia tidak mau membuka pintu batu yang amat besar itu, kita segera akan terkurung didalam goa tersebut Tetapi apa sebabnya ia sudab membukakan pintu bagi kita keluar? bukakah hal ini menunjukkan bahwa tiada maksud untuk menyalahi kita?”
“Kalo menurut pandangan siauwte jauh berbeda sekali,” ujar Tu Kioe. “Aku rasa majikan istana batu itu telah melepaskan jagoan kelas wahidnya untuk bergebrak dengan kami, dalam hasil pertarungan tersebut ia merasa bahwa kekuatan kita luar biasa sekali.
Apabila ia bersikeras menahan kita didalam istana batunya ada kemungkinan bakal menimbulkan hawa gusar kami sekalian. Maka dari itu untuk menghindanri kebancuran total, dengan sukarela ia telab melepaskan kita semua.
Siauw Ling ada maksud menimbrung. tiba tiba To Chiu Yok Ong mengulurkan tangannya kedepan sambil berkata:
“Siauw heng, bukankah kau berhasil mendapatkan jamur batu berusia seribu tahun? coba perlibatkan kepada loohu!”
Siauw Ling merogob kedalam sakunya ambil keluar segenggam jamur batu itu kemudian diangsurkan kedepan.
Dengan cepat Si Raja Obat Bertangan Kejl I menyambut jamur batu tersebut, diperiksanya sejenak dibawah sorotan sinar bintang yang redup, lalu serunya penuh kegirangan:
“Aaah, sedikitpun tidak salah…memang benda inilah yang kucari cari selama ini.”
Jamur-jamur segera dimasukkan kedalam sakunya, kemudian mengulurkan tali gannya dan bertanya :
“Masih ada ?”
“Haa haa kenapa? Apakah segenggam masih tidak cukup ?” tegur Sang Pat sambil tertawa terbabak-bahak.
“Penyakit yang diderita puteriku sangat parah. hanya segenggam jamur batu mana cukup untuk menyembuhkan sakitnya.”
Siauw Ling tidak mengucapkan sepatah katapun, kembali ia meraup segenggam jamur batu dan diangsurkan kepadanya.
Tok Chiu Yok Ong menerima jamur-jamur tadi, setelah diperiksa sejenak segera dimasukkan kedalam sakunya, kali ia tidak ulurkan tangannya untuk minta kembali.
Demikianlah mereka berempatpun segera balik kedalam perahu mereka.
Suasama dalam ruang perahu terang benderang oleh cahaya lampu, pemilik perahu sedang menanti kedatangan mereka di dalam ruang, tatkala menyaksikan keempat orang itu kembali , ia segera menjura dan berlalu dari situ.
“Loohu tiada maksud memperlihatkan permainan setan, aku cuma mengajak kalian bertiga merundingkan persoalan ini “
“Baiklah ! Sekarang boleh kau utarakan bantuan apa lagi yang kau butuhkan dari kami.”
“Sewaktu loohu sedang bekerja untuk menyembuhkan penyakit puteriku yang sudah diderita selama banyak tahun, terpaksa perahu tuan harus kupinjam, dan kalian hertigapun tak bisa beristirahat didalam ruang perahu ini
“Ouw kiranya cuma persoalan ini saja.”
“Harapan anda suka maafkan diri loohu, dan semoga sudi mengabulkan permintaanku ini.”
“Berapa lama yang kau butuhkan ?” sela Tu Kioe dingin.
“Apabila dimulai sejak sekarang, maka paling cepatpun harus digunakan sampai besok sore “
“Pada waktu itupun kami sudah akan mendarat.” sela Sang Pat.
“Apabila kalian bertiga tidak suka mengijinkan, loohu serta siauw-li segera akan tinggalkan perahu ini untuk mencari tempat lain yang tenang serta terpencil.”
“Tak usah Yok Ong bersusah payah, silahkan pakai ruang perahu ini.” kata Siauw Ling cepat.
Tanpa menanti jawaban ia Iangsung berjalan keluar dari ruangan. disusul sepasang pedagang dari Tiang Chiu dibelakangnya.
Laksana kilat Tok Chiu Yok Ong menutup pintu serta jendela yang ada dalam perahu itu mem’buat seluruh ruangan tirtutup rapat dan sedikit lubangpun tak ada.
Siauw Ling serta sepasang pedagang dari Tiong Chiu setelah keluar dari ruang perahu segera duduk bersila diatas geladak dan pejamkan mata mengatur pernapasan.
Fajar mulai menyingsing, sinar sang sur-ya yang berwarna keemas-emasan mulai me mancar dan ufuk timur.
Tiba-tiba tampak pemilik perahu lari menghampiri mereka seraya bertanya :
“Toa-ya sekalian, perahu ini hendak dijalankan menuju kemana ?” ^
“Angkat jangkar dan balik ketempat semula.”
“Kita kembali lagi ?” tanya pemilik perahu itu tertegun.
“Sedikitpun tidak salah.” Tu Kioe menanggapi dengan nada dingin.
Pemilik perahu itu melirik sekejap kearah ketiga orang itu, ia tidak berani berbicara lagi, buru-buru putar badan berlalu. Perahu pun segera putar arah ditengah selat tersebnt dengan cepat mereka berlayar keluar dari selat Sam Nia.
Sang Pat adalah seorang jagoan yang cermat, walaupun ia sedang duduk bersila di atas geladak, namun sepasang matanya terus menerus mengawasi gerak gerik dalam ruangan.
Sedangkan pemilik perahn itu diam-diam merasa tercengang menyaksikan tingkah laku ketiga orang itu, pikirnya ;
“Sungguh aneh sekali, ruang perahu yang nyaman ditinggalkan sebaliknva malah duduk berkerumun diatas geladak dan membiarkan tubuhnya terhembus angin tersengat panasnya matahari ..ketiga orang ini benar-be-nar manusia kukoay…”
Setiap kali bertemu dengan wajah Tu Kioe yang dingin bagaikan es, hatinya kebat bebit tidak karuan, tentu saja ia tidak berani banyak bertanya.
Ketika tengah hari sudah lewat, pintu ruang perahu itu baru tampak terbuka disusul Tok Chiu Yok Ong munculkan din dengan langkah yang amat lambat.
Seluruh tabuhnja basah kuyup oleh keringat wajahnya lesu dan kecapian seakan akan baru saja menyelesaikan suatu pertarungan sengit, setelah tiba dihadapan ketiga orang itu, ia segera jatuhkan diri duduk di geladak.
Tu Kioe melirik sekejap kearah Si Raja Obat Beriangan Keji, sementara dalam hati pikirnya
“Kalau aku ingin membinasakan dirinya pada saat ini, perbuatanku ini bisa kulakukan amat gampang sekali bagaikan membalik telapak sendiri ..”
“Yok Ong, bagaimana keadaan puterimu?” tanya Siauw Ling setelah mendebem rmgan.
“Loohu telab berhasil seluruh urat nadi dalam tubuhnya,” jawab Tok Chiu Yok Ong seraya mengangguk lemah. “Dan kini ia telah makan obat pada saat ini pnteriku sedang tertidur dengan nyenyaknya.”
Selesai bicara sepasang matanya dipejamkan dan mengatur pernapasan kembali.
Dalam pada itu perahu meluncur kedepan dengan lancarnya mengikuti aliran air sungai, tampak tebing-tebing curam yang tinggi menjulang keangkasa dalam sekejap mata telah ditinggalkan jauh dibelakang.
Sang surya makin condong kearah barat, pe rahu yang mereka tumpangi telab hampir keluar dari selat Sam Nia.
Tenaga Iwekang yang dimiliki siraja Obat Bertangan Keji amat sempurna, setelah mengatur pernapasan hampir satu jam lamanya seluruh tenaganya telah pulih kembali seperti sedia kala, iapun membuka sepasang matanya menyapu sekejap ketiga orang itu ke-rnudian ujarnya:
“Siauw-heng, loohu masih ada satu permintaan yang kurang sesuai ingin kutanyakan kepada dirimu, entah sudikah kiranya kalian bsrtiga mengabulkannya?”
“Apabila permintaanmu kurang sesuai, lebih baik tak usah diutarakan saja sela Tu Kioe,” Daripada kalan kami tolak nanti, Yok Ong tentu merasa bersedih hati.”
Tok Chiu Yok Ong kontan mengerutkan sepasang alisnya.
“Loohu dengan maksud baik hendak ajak kalian bertiga merundingkan satu persoalan, katanya “kalau kalian tidak mengabulkannya, bukankah hal ini sama artinya memaksa loohu,…
“Persoalan apa ?” sela Siauw Ling.
“Berkat bantuan obat mujarab dari Sianw Heng, keadan siauw li pun semakin membaik dan punya harapan untuk hidup lebih jauh-Tetapi setelah menderita sakit dalam puluh an tahun, hawa murni dalam tubuhnya boleh dibilang sudah buyar sama sekali. apabila harus dirawat secara perlahan-lahan mungkin akan makan waktu yang lama. Meninjau situasi Bu-lim yang amat kacau pada saat ini ingin sekali loohu pmjam perahu ini selama tujuh hari, menanti kesehatan puteriku telah pulih kembali, kita baru mendarat. Entah bagaimana menurut pendapat anda ?”
“Soal itu kau urusan pribadi Yok Ong sendiri, apa gunanya kau ajak kami untuk berunding?” seru Sang Pat sambil tertawa.
“Loohu ada maksud mohon bantuan kalian bertiga, maka dari itu terpaksa aku harus ajak kalian untuk berunding.”
“Kalau anda ingin mobon bantuan kami, lebih baik Yok Ong terangkan dulu masalah sampai jelas kemudian akan kita tinjau dulu perlukah kembali membantu dirimu atau tidak ?”
“Umpama kata kalian bertiga tidak setuju bukankah pembicaraan loohu sia-sia belaka.”
“Jadi maksud Yok Ong, kau hendak paksa kami untuk mengabulkan permintaanmu itu9? Ujar Tu Kioe ketus.
Si Raja Obat Bertangan Keji tertawa kering
“Apabila kalian bertiga tidak setnju. hal ini sama artinya telah menjerumuskan kembali puteriku kelembah kematian, usaha Siauw Thaihiap dengan menempuh bahaya mengambil jamur batu berusia seribu tahun pun akan merupakan usaha yang sia-sia Saja.”
Sang Pat mengerling tncnyapu sekejap ke adaan disekeliling tempat itu, Ialu sambil tertawa ujarnya :
“Pada saat dan keadaan seperti ini lebih baik Yok Ong jangan menggunakan akal busuk lagi untuk menipu kami, berbicara putar kayuh macam begini tiada berguna sama sekali, lebih baik utarakan saja maksudmu secara terus terang dan blak-blakan.”
“Baiklah ! Tatkala loohu sedang mengobati puteriku, waktu itulah tiada bertenaga sama sekali untuk menghadapi serangan apabila ada orang menaiki perahu membokong diriku bukankah jiwa kami berdua bakal runyam maka dari itu aku harap kalian bertiga suka bertindak sebagai pelindung kami.”
“Hm! Apa yang Yok Ong pikirkan dan lakukan semuanya demi kepentingan diri pribadi. jengek Tu Kioe dingin. “Kami tiga bersaudara “
“Ular tanpa kepala tak akan jalan, burung tiada sayap tak akan terbang, aku rasa di-antara kalian bertiga tentu ada seorang yang bertindak sebagai pemimpin bukan?”
“Tentu saja dia adalah Liong Tauw toako kami.”
“Apabila kalian berdua sudah tahu kedudukan sendiri dan tidak pnnya kek asaa untuk turut berbicara, lebih baik kurangi sedikit pembicaraan kalian dari pada mengacaukan situasi serta masalah yang se-benarnya.”
“Yok Ong sedang memaksa kami ? Atau-kah mohon bantuan dari kami “” tegur Siauw Ling.
“Pertanyaan ini sulit sekali untuk dijavvab selama hidupku belum pernah loohu memehon kepada orang lain.”
“Kalau Yok Ong tiada maksud memohon dus berarti kau hendak menggunakan kekerasan untuk memaksa kami, baiklah ! Akan cayhe layani sampai kemauanmu itu…,,.”
“Jadi sudah kau kabulkan permintaanku itu ? tanya Tok Chiu Yok Ong sambil tertawa.
“Tidak setuju !”
Tok Chiu Yok Ong segera menarik kembali senyuman yang menghiasi bibirnya.
“Aaai Seandainya pada saat loohu sedang mengatur pernapasan tadi kalian totok jalan darahkn, niscaya loohu sudah roboh tanpa memberikan perlawanan barang sedikitpun jua.”
“Sekalipun kami ada maksud membinasakan dirimupun, mungkin bukan suatu pekerjaan yang gampang.” sambung Tu Kioe tidak tahan lagi.
“Tidak salah, maka dari itulah loohu merasa sayang bagi kalian bertiga.”
“Seorang lelaki sejati tidak akan melancarkan serangan bokongan dikala orang lain tidak siap lagipula pada saat inipun belum terhirung lambat untuk turun tangan membinasakan dirimu.”
“Sudah terlalu lambat, seandainya ketika itu kalian bertiga turun tangan melukai diri loohu, pada saat ini ten:u saja tiada persoalaan yang bisa dirundingkan lagi, tapi sayang saribu kali sayang kesempatan yang sangat baik itu telah kalian buang dengan percuma”
Air muka Sang Pat berubah jadi serius.
“Kalau kudengar dari nada pembicaraan Yok Ong, agaknya kau hendak menggunakankekerasan untuk menahan kami tetap berada disini ?”
“Kalian bertiga telah melaknkan suatu kesalahan yang amat besar, yaitn tidak seharusnya duduk bersanding dengan diriku “
“Apa? Jadi kau telah meracuni tubuh kami bertiga ?!” tukas S auw Ling dengan mata melotot.
“Bukankah sudah sering kali loohu memberitahnkan kepada kalian bertiga bahwa aku mempunyai kepandaian untuk meracuni orang lewat sentuhan badan ?”
“Cayhe merasa rada kurang percaya.” sent Sang Pat.
“Kalau tidak percaya, apa sebabnya tidak kau coba sendiri benar atau tidaknya perkataanku itu ?”
Tang Pat salurkan hawa murninya mengeIilingi seluruh badan, sedikitpun tak salah, ia merasakan tubuhnya sudah keracuanan, hawa amarahnya langsung berkobar dalam rongga dadanya.
“Bagus’ bagus sekali! kau telah melepaskan racnn keji kedalam tubuh kami bertiga, jangan salahkan kalau kami bertigapun akan menggunakan tindakan yang paling keji untuk menghadapi dirimu, Loo-jie! terjang ke dalam ruang perahu dan kita bunuh dulu budak tersebut…”
Tu Kioe meloncat bangun senjata pit baja yang terselip pada pinggangnya segera dicabnt keluar dan berjalan menuja kearah ruang perahu.
“Borhenti!” hardik si Raja obat bertangan “keji sambil tertawa dingin.
Tiba-tiba Sang Pat lintangkan badannya menghadang jalan pergi. Tok Chiu Yok Ong, serunya.
“Apabila Yok Ong punya keyakinan bisa merobohkan aku orang she Sang dalam sebuah serangan, mungkin masih ada harapan bagimu untuk menyelamaikan selembar jiwa putrimu.”
Siauw Ling pun berseru sambil tertawa di agin.
“Sungguh tak kusangka sama sekali tabiat dan watak yok ong adalah demikian rendahnya.
“bila yok ong berani memperlihatkan permainan setan lagi kali ini, tak usah orang lain naik yang keatas perahu untuk membokong kalian berdua, cayhe lah akan turun tangan lebih duluan,” ancamnya dingin.
“Loohu sama sekali tidak jeri terhadap kalian bertiga.”
Walaupun jawaban dari jawaban si Raja Obat Bertangan Keji masih kedengaran ketus dan atos, namun ia mengerti bahwasanya kepandaian silat yang dimilikinya masih bukan tandingan ketiga orang itu.
Tampak Sang Pat pejamkan matanya mengatur pernapasan beberapa saat lamanya, kemudian membuka mata dan mengangguk.
“Ehmmm, tidak salah obat itu memang obat penawar?” katanya.
Secara beruntun Siauw Ling serta Tu Kioe pun masing-masing menelan sebutir pil, Ialu salurkan hawa murninya bekerja sama dengan daya menggeram ditubuh mereka.
“Selama hidup belum pernah loohu melakukan tindakan seperti ini hari”. Terdengar Tok Chiu Yok Ong bergumam “Setelah melepaskan racun keji, sebelum tujuannya tercapai telah kupersembahkan obat penawaran nya.”
“Keadaan situasi yang memaksa kau harus berbuat demikian, tentu saja terpaksa Yok Ong harus menurut,” Tu Kioe.
Tiba-tiba Tok Chiu Yok Ong berjalan masuk kedalam ruang perahu dengan langkah lebar, setelah membopong tubuh puterinya ia berjalan keluar dari dalam ruangan. Ujarnya sambil menatap wajah Siauw Ling tajam ta jam:
“Loohu sama sekali tidak terdesak oleh keadaan kalian bertiga, aku mempersembahkan obat penawarnya tersebut buat kalian hal ini disebabkan semangat serta kegagalan Siauw tayhiap yang luar biasa….”
Siauw Liang membungkam, sinar matanya perlahan lahan dialihkan keatas tubuh puteri Si Raja Obat yang kurus kering tinggal kulit membungkus tulang itu, tiba tiba muncu1 perasaan tidak tega dari dalam hatinya. la menghela napas panjang dan berkata:
“Sandaraku berdua, kalau kita ingin menolong orang tolonglah sampai akhir, bukankah kita sudah menolong dia untuk mendapatkan obat mujarab itu kepapa tidak sanggupi pula untuk melindungi keselamatan mereka selama tujuh hari? entah bagaimana menurut pen dapat kalian berdua.”
Sang Pit garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal, kemudian menjawab.
“Siauw-te sekalian akan menyanggupi seluruh perintah dari toako, apabila toako me mang merasa seharusnya kita lindungi mereka berdua selama tujuh hari, kamipun tidak akan menolakl”
“Kalau nasib putriku tidak jelek, dan ia belum ditakdirkan untuk mati, kesempatan untuk hidup pasti tetap ada ditangannya.
Loohn tidak berani merepotkan kalian bertiga,” sela siraja obat bertangan keji.
“Mati hidup putrimu merupakan suatu masalah yang amat besar. Yok Ong! apa gunanya kau mengumbar napas karena persoalaan yang sepele?”
“Liong-tauw toako telah menyangupi untuk melindungi keselamatan kalian ayah dan anak berdua selama tujuh hari, Yok Ong sekalipun kau tidak maupun harus mau,” seru Tu Kioe pula.
* “Loohu tidak ingin kalian tolak perminta anku itu, namun loohupun tidak ingin menerima budi kalian dengan begitu saja.”
“Jadi bagaimana menurat pendapat Yok Ong?”
“Kalau kalian bertiga benar ada maksud untuk melindungi kami ayah dan anak sela ma tujuh hari, maka loohu harus pula memberi suatu benda sebagai balas jasa, apabila kalian bertiga s u d i menerimanya….maka Loohu akan berdiam diatas perahu ini selama tujuh hari, tapi kalau kalian tolak pemberian ini, sekarang juga loohu akan angkat kaki dan berlalu dari sini.”
Mendengar ucapan tersebut, Siauw Ling jadi keheranan, pikirnya,
“Sungguh aneh tingkah laku serta tabiat orang ini, tadi kami tidak mau gunakan kekerasan untuk memaksa, sekarang setelah kita sanggupi diapun paksa kami nntuk menerima balas jasanya…aaai benar-benar seorang manusia kukoay.”
Berpikir sampai disitu, ia Iantas berkata:
“Baiklah, apabila Yok Ong memang ada maksnd memberi sesuatu kepada kami sebagai balas jasa, berikanlah benda itn setelah batas waktu tujuh hari telah lewat.”
“Baik, kalau begitu kita tetapkan dengan janji demikian saja,” seru Yok Ong.
Ia lantas membopong puterinya dan berjalan masuk kembali kedepan ruang perahu.
Sepeninggalnya siraja obat bertangan keji’
Siauw Ling segera berkata lirih kepada se pasang pedang dari Tiong Chiu.
“Setelah kita menyetujui nntuk melindungi keselamatan mereka berdua selama tnjuh hari-sudah sepantasnya kajau kita bekerja dengan sangat hati-hati, jangan punya pikiran gega-bah atau menggantingkan urusan orang lain.”
“Toako, bukankah perahu ini sedang berlayar ditengah sungai, darimana datangnja musuh yang akan mengganggu dirinya? Siraja obat bertangan keji itu memang terlalu berhati-hati dalam seiiap gerak geriknya,”omel Tu Kioe, .
“Walaupun ucapanmu sekali, namun bagaimanapun juga kita harus mengadakan sedikit persiapan untuk menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.”
“Satu-satunya musuh yang ada kemungkinan besar datang mengganggu adalah jago jago dari istana batu digunung….Wu san,” ujar Sang Pat memberikan peodapatnya. “Kecuali mereka, aku rasa tak mungkin ada orang lain yang datang mencari gara-gara.” Setelah merandek sejenak, sambungnya : “Hanya saja, apabila mereka ada maksud untuk mengejar dan membokong kita, lain apa sebabnya merekapun sudi melepaskan kita keluar dari istana batu itu ? Maka aku rasa hal inipnn tipis sekali kemungkinannya” Tiba-tiba terdengar suara Tok Chin Yok Oug berkumandang datang dari dalam ruang perahu.
“Msnurut pandaugan loohu. didalam istana batu digunung Wu san telah terjadi perubahan besar, majikan istana batu tidak akan punya banyak waktu untuk mengejar kita sekalian.”
Itu waktu tengah hari telah menjelang, tiba-tiba sambil bergendong tangan Siauw Ling berdiri diatas geladak memperlihatkan pemandangan disekeliling sungai, tiba-tiba si Raja Obat Bertangan Keji muncullah dari dalam ruang perahu.
“Besok tatkala sang surya muucal diufuk timur, siauwte telah dapat meninggalkan pe rahu itu, dan perjanjian tujuh hari yang kita tetapkan pun akan berakhir.” ujarnya.
“Kalau keadaan sakit putrimn yang belum seaibuh. diperpanjang dua tiga hari lagipun tidak mengapa.” Siauw Ling menanggapi.
Selama beberapa hari belakangan ini, rasa permusuhan antara Tok Chiu Yok Ong dengan Siauw Ling sudah banyak lenyap, hubungan mereka berduapun mulai terjalin rapat.
“Tidak perlu. semua urat nadi puteriku teIah berbasil kutembusi, keadaan sakitnyapuu sudah makin sembuh, asal loohu berhasil membawa dia untuk berdiam disuatu tempat yang sunyi dan terpencil lalu dengan meng-gunakan segala kemampuanku serta obat mujarab yang kumiliki akan kudidik dirinya agar makin kuat aku hendak memeeahkan rekor dunla persilatan dengan mendidiknya jadi seorang jagoan yang paling liehay didalam Bu-lim dalam tiga tahun mendatang.”
“Semoga harapan Yok Ong bisa terpenuhi dan cayhe pun bisa ikut merasakan hasil karyamu itu.”
Sementara pembicaraan masih berlangsung tiba-tiba tampaklah dui buah perahu cepat meluncur datang dengan kenCangnya.
“Kehadiran kedua buah perahu cepat itu rada sedikit kurang beres, harap Siauw Tai-hiap bisa bersikap lebih hati hati” seru Tek Chiu Yok Ong dengan cepat.
Sianw Ling alihkan sinar matanya kearah tepi snngai tampaklah diatas setiap perahu cepat itu duduklah dua orang jagoan.
Seorang pegang kemudi sedang orang yang kedua berdiri diujung perahu, empat pasang mata sama sama dialihkan kearah perahu besar.
Tampaklah kedua buah perahu kilat tadi mengelilingi perahu besar itu batu kali, tiba-tiba mereka putar arah dan berlalu dari situ.
Dari gerak gerik perahu perahu itu, Siauw Ling menemukan bahwasanya keadaan kurang beres, segera pikirnya didalam hati :
“Dalam enam hari belakangan ini beruntung sekali tak ada kejadian yang menimpa kami, masa pada hari yang terakhir bisa ter jadi sesuafu yaug tidak -diinginkan? tempat ini dekat sekali letaknya dengan kota Koei
Chiu, mungkinkah kedna baah perahu cepat itu adalah mata-mata yang dikirim pihak perkampungan Pek Hoa San-cung ?”
Belum habis ia berpikir, tampaklah kedua buah perahn cepat tadi putar arah kembali dan kali ini langsung meluncur kearah perahu besar.
Sang Pat maupun Tu Kiou rupanya sudah melihat pula akan kehadiran perahn-perahn cepat yang tidak diundang itu, buru-buru ke dua orang itu mendekati Siauw Ling sambil berbisik :
“Aku lihat gerak gerik kedua perahu cepat itu ada sedikit tidak beres,”
“Apabila mereka datang untuk mencari gara-gara dengan kita, loohu berharap mereka bisa cepat-cepat turun tangan.” bisik si Raja Obat Bertangan keji.
“Mengapa ? ? “
“Sebab dua jam kemudian loohu harus bekerja keras lagi untuk melakukan pemusatan Urat nadi putriku yang terakhir kalinya. pasta saat itu tiada kesempatan bagiku untuk membantu kalian bertiga,”
Barn saja ucapan itu selesai diutarakan sampan kecil itu teiah mendekatiperahu me reka
Menyaksikan perbuatan itu dalam hati Siauw Ling berpikir.
“Ditengah siang hari bolong .. besar nyali orang ini !”
Dalam pada itu tampaklah lelaki kekar tersebut dengan sepasang matanya yang tajam perlahan lahan menyapu sekajap wajah Siauw Ling sekalian, kemudian menegur.
“Sudah lama benar perahu cuwi sekalian sauh ditempat ini !’
“Siapakah anda ? begitu tak tahn sopan dalam melakukan pembjcaraan dengan orang lain” seru Tu Kioe.
Orang itu te tawa dingin.
“Aku sedang bertanya, bukannya menjawab siapa suruh anda balik bertanya?” hardiknya.
“Selama hidup belum pernah kami sudi menjawab pertanyaan orang 1?
“Heee heee tapi ini hari terpaksa kalian harus melanggar kebiasaan tersebut.”
“Hemm, belum tentu demikian.”
“Bangsat. siapa kau ? besar benar bacot-mu !”
Tu Kioe pun mulai naik pitam oleh si-kap kasar itu.
“Tutup bacotmu bangsat” terlaknya. “Kalau berani banyak cingcong lagi disini, ku-usir kau dari atas perahu ini.”
“Hooo. hooo ,…hooo…..kenapa tidak kau coba ?”
Sekonyong konyong Tu Kioe menerjang maju kedepan, telapaknya berputar siap melancarkan serangan, namnn pada saat itulah Siauw Ling membentak keras : “Jangan gegabah “
Tu Kioe tarik kembali hawa murninya> Sang badan yang sedang menerjang kemuka-pun segera ditarik kembali keposisi semula.
Siauw Ling memandang sekejap kearah lelaki itu, lalu bertanya :
“Apa maksud kedatangan anda keperahu kami ? dapatkah anda menjelaskan ? “
Lelaki kekar itu memperhatikan sekejap tubuh Siauw Ling dari atas hingga kebawah menyaksikan sianak muda itu gagah dan perkasa ia tidak berani memandang enteng, buru-buru menjura dan berkata.
“Tolong tanya siapakah nama besar anda
“Siauw-te Siauw Ling.”
Lelaki itu tertegun sejenak kemudian selanya kembali.
“Sudah lama kukagumi nama besar anda sungguh beruntung ini hari kita bisa saling berjumpa.”
Dan siapakah nama sahabat sendiri ?”
“Seorang prajurit kecil yang tidak ternama sekalipun diutarakan mungkin Siauw tayhiap pun tidak kenal,”
Jilid 2
MENDENGAR jawaban tersebut, dalam hati Sang Pat berpikir, “Keparat cilik ini benar benar licik. Ia telah berhasil menipu nama besar toako ia sendiri tak mau menyebutkan namanya.”
Segera ia mendehem dan berkata, “Ditengah malam gelap pasang lampu, memukul genta genta dengan Suara. Kepandaian sahabat betul betul luar biasa sekali.”
“Siapa anda?” sinar mata lelaki kekar itu segera dialihkan keatas wajah Sang Fat
“Loo-toa dari sepasang pedagang dari Tiong Chie, Sang Pat adanya, mereka masih tidak takut dicemooh orang. jual beli dilakukan tiap kali secara adil selamanya yang tua tak pernah menipu yang muda dan yang muda tidak mengganggu yang tua. Seharusnya andapun menyebutkan nama anda sendiri.
“Hmmm…. tauke besar, sudah lama kudengar nama gede dari Tiong Chin Siang Ku dalam melakukan perdagangan selamanya sukses dan berhasil, kekayaan yang berhasil dikumpulkan melebihi semua negeri….”
“Hey, kami sedang bertanya siapa namamu!” tukas Tu Kioe ketus. “Kalau telingamu Sudah kapokan, suruh orang Iain saja yang berbicara dengan kami….”
Sinar mata lelaki kekar itu beralih keatas wajah Tu Kioe kemudian membacot lagi
“Nada ucapan anda tidak sedap didengar, aku rasa kau pastilah tauke kedua dari Tiong Chiu Siang Ku yang disebut pit besi berwa-jah dingio Tu Kioe adanya.”
“Sedikitpun tidak salah, cayhelahTu Kioe.”
“Sebatang pit baja serta sebuah gelang Perak perlindungan tangan dari tauke sudah lama tersohor dalam dunia persilatan. sayang sekali belum sempat bagiku untuk mohon petunjukmu.”
“Ehmm, pengetahuan anda sungguh luas sekali. tahukah kau siapa diri loohu?” sela Tok Chiu Ong.
Lelaki itu memperhatikan sekejap wajah Si raja obat bertangan keji, kemudian menjawab, “Walaupun tubuh sehat kurus kering dan kecil, namun jelas kau adalah seorang jagoan yang punya nama besar dalam dunia persilatan.”
“Tak usah kau puji puji dan loohu, kalau kau tidak sanggup menyebutkau nama loohu “
Menggunakan kesempatan tatkala Tok Chiu Yok Ong sedang mengucapkan kata ka ta itu mendadak lelaki kekar tadi berbisik Iirih ke arah diri Siauw Ling.
‘apabila cuwi sekalian sudi menolong diri cayhe, aku pasti akan membalas budi kebaikan kalian ini.
Sekalipun ucapan tersebut diutarakan dengan nada yang amat lirih, tetapi berhubung jarak mereka berdekatan maka balk Siauw Ling maupun sepasang pedagang dari Tiong Chiu dapat mendengar amat jelas sekali. Pe-rnbahan yang terjadi diluar dugaan ini bukan saja membuat Siauw Ling jadi bingung, bimbang dan berdiam melongo-longo, sekalipun sepasang pedagang dari Tiong chiu yang sudah berkelana didalam dunia persilatan serta mempunyai pengetahnan yang amat luaspun dibikin tertegun sehingga berdiri melongo dengan mata terbelalak lebar, untuk beberapa saat lamanya mereka tak sangggup mengucapkan sepatah katapun.
Tatkala lelaki kekar itn tidak mendengar jawaban dari Siauw Ling, sinar matanya segera dialihkan keatas wajah sepasang pedagang dan Tiong Chiu dan ujarnya.
“Apabila kalian berdua suka menolong caybe rela membayar dengan suatu nilai yang tinggi.”
“Berapa besar yang akan kau bayar?” ta nya Sang Pat tanpa sadar.
“Sebuah lukisan asli dari Malaikat Lukisan Si Thian Too.”
“Ehmm. harganya bagus sekali. terima tawaran itu….”
Berbicara sampai disitu. mendadak Si sie-poa emas menutup mulutnya kembali. ia me rasa dirinya sudah salah bicara, maka sambil berpaling kearah Siauw Ling dan tertawa jengah katanya, “Aaai….! Siauwte sudah berjanji tidak melakukan perdagangan lagi, tapi setelah berjumpa dengan suatu tawaran yang tinggi tanpa sadar penyakit lamaku kambuh lagi, harap toako jangan marah.”
“Bukankah kau sudah sanggupi permintaannya?” Pikir Siauw Ling dalam hati. “Buat apa kau tanyakan pula persoalan itn kepada ku? Bukankah perbuatanmu ini hanya suatu perbuatan yang tak berguna?
Walaupun dalam hati berpikir demikian diluaran ia menjawab, “Urusan sudah jadi begini, tanyakan saja dia punya kesulitan apa
Lelaki kekar yang berdiri diatas sampan cepat Iainnya, supaya sudah melihat gelagat yang kurang baik, tiba-tiba ia enjotkan ba-dannya melayang keatas perahu besar, tegurnya dingin, “Kita harus berlalu?”
Tangan kanannya berkelebat mencengkeram bahu lelaki yang telah berada di atas perahu besar duluan itu
Tahan!” Bentak Sang Pat dengan alis berkerut.
Dalam pada itu lelaki kekar yang berada diatas perahu besar duluan itu sama sekali tidak melancarkan serangan balasan terhadap datangnya ancaman, ia berkelit kesamping: dan mengundurkan diri kesisi tubuh sepasang pedagang dari Tiong chiu
Sang Pat melangkah dua tindak kedepan, ia lepaskan lelaki kekar yang berada diatas perahu besar lebih duluan itu untuk bersembunyi dibeiakaog, kemudian sambil mencengkeram lelaki yang kekar datang kebelakang.
tegurnya’
“Ditengah siang hari bolongpun kau berani turun tangan melukai orang….”
“Siapa suruh kau mencampuri urusan orang lain,” teriak lelaki itu amat gusar.
Sreeet….! sebuah totokan telah dilepaskan kedepan
Dengan keras lawan keras Sang Pat menyambut datangnya serangan itu, lalu berseru.
“Apakah anda benar-benar ada maksud hendak ajak diriku berkelahi?”….
Dari bentrokan kekerasan yang baru saja terjadi lelaki kekar itu sudah menyadari bahwasanya ia telah berjumpa dengan musuh tangguh, bukannya melayani serangan musuh lebih jauh, ia putar badan melayang kembali keatas perahunya sendiri
Memandang bayangan punggung lelaki kekar itu, Sang Pat berguman seorang diri.
“Aneh…. sungguh heran sekali…. aku rasa jual beli ini tidak akan beruntung dengan begitu gampang….”
Dalam pada itu lelaki kekar itu tadi secara tiba-tiba mengusap keatas wajahnya sendiri melepaskan sebuah topeng yang terbuat dari kulit manusia, dengan demikian wajah aslinya segera terlihat didepan mata.
Orang itu punya sepasang mata yang gede dengan alis tebal, wajah persegi dan mulutnya lebar, usianya kurang lebih lima puluh tabunan.
Tui-Chiu-Yok-Ong memperhatikan sekejap wajah lelaki kekar itu tiba-tiba ia berkata, “Kembali anda akan kebobolan uangnya!”
“Apakah ada yang tidak beres?” tanya lelaki itu rada tercengang.
“Kalau kutinjau dari raut wajah, jelas menbuktikan bahwa kau telah keracunan hebat. masa kau merasa keberatan untuk mengeluarkan sedikit ongkos guna pengobatan?
“Dari mana kau bisa tahu kalau aku keracunan hebat?” Kembali lelaki itu bertanya dengan nada tetawa.
“Loohu menyadari bahwa sepasang mata-kn belum rabun. ababila cuma melibat tanda-tanda orang yang keracunan pun tidak becus buat apa aku melakukan perjalanan lagi di-dal m dunia persilatan?”
“Sebenarnya siapakah anda? Kita tidak pernah saling kenal mengenal dari mana kau bisa tahu kalau aku telah keracunan hebat dalam sekilas pandang saja!”
“Dia bernama si Raja Obat Bertangan Keji Siauw Ling memperkenalkan. “Dialah tabib nomor satu dalam dunia persilan ini.”
“Ouw…. kiranya kaulah yang disebut si Raja Obat bertangan Keji.”
Lelaki kekar itu menjura. “Maaf, apabila cayhe kurang hor-mat dalam sikapku tadi.
Tiba-tiba ia putar dan berkelebat masak kedalam ruang perahunya.
Sepeninggal si Raja Obat, Sang Pat tersenyum, terdengar ia berkata, “Jual beli ini telah kami terima, tetapl siapakah diri anda? Aku rasa sudah sampai pada waktunya bagimu untuk bicara terus terang.”
“Aai…. Cayhe bernama Si Ching….”
Tiba-tiba terdengar Siauw Ling membentak keras, ditengah berkelebatnya cahaya pedang…. trang, sebatang asak panah telah disampok rontok.
“Suatu ilmu pedang yang amat dahsyat ” suara pujian yang sangat nyaring menggema datang dari arah depan.
Tatkala Sang Pat mendongaK, tampak empat buah sampan cepat sedang bergerak mendekat…. diatas ujung sampan berdirilah empat orang lelaki kekar, dua orang mencekal senjata dan dua orang menbekal gendewa “Saudara berdua, cepat bawa dia masuk kedalam ruang perahu.” teriak Siauw Ling.
Belum habis ia berseru, terdengarlah desiran angin tajam menderu-deru, serentetan anak panah meluncur datang bagaikan hujan Siauw Ling segera putar pedangnya Keempat penjuru…. trang! trang! trang ‘ keempat anak panah seketika terpukul rontok.
Sang Pat menjinjing bajunya ambil keluar sie-poa emasnya, ditengah berkelebatnya cahaya tajam iapun berhasil memukui rontok dua batang anak panah yang berada disisinya Tu Kioe pun ambil keluar senjata pit baja serta gelang pelindung badannya semectara dalam hati ia berpikir: “Aku harus berusaha untuk mendapat diatas sampan mereka, dengan demikian mere-ka baru bisa dilukai “
Siapa sangka ketika sampan sampan kecil itu tiba kurang lebih tiga tombak disisi perahu besar, mendadak mereka berhenti bergerak dan tidak maju lebih mendekat lagi.
“Tahan!” tiba dan atas sampan kecil sebelah kanan berkumandang datang suara bentakan.
Bersamaan dengan bergemanya bentakan tadi, hujan anak panah yang dilepaskan dari atas sampan kecil itu segera berhenti.
Diam-diam Siauw. Ling berbisik kepada Sang Pat serta Tu Kioe.
“Mereka sudah membentuk barisan segi tiga untuk melancarkan serangan hujan panah kepada kita, tidaklah menguntungkan bagi kita untuk melakukan perlawanan dari ujung perahu cepat masuk kedalam ruang perahu dan cari akal untuk menghadapi mereka.”
“Entah orang-orang itu beraSal dari mana” iata Tu Kioe. “Mereka berhasil mengumpulkan begitu banyak sampan-sampan cepat di atas permukaan sungai yang demikian luas. serta mendatangkan begitu banyak pemanah jelas hal ini menunjukkan bahwa mereka bukanlah jago-jago Bu-lim biasa, melainkan suatu perkumpulan perampok yang biasanya memang beroperasi diatas sungai.”
Dalam pada itu terdengar lelaki kekar yang ada diatas sampan cepat sebelah kanan telah membentak kembali, “Siapakah pemimpin diatas perahu?”
“Sudahkah anda menyaksikan sendiri keadaan situasi yang terbentang dewasa ini’”
Perlahan lahan sinar mata Siauw Ling ber putar memandang sekejap keempat peujuru lalu menjawab ;
“Sudah kulihat dengan jelas sekali. Hmm cuwi sekalian tidak lebih hanya mengandalkan beberapa orang pernah serta posisi segi tiga untuk menggertak orang belaka.”
“Hm, 8eandainya diujung anak panah aku sulut apj kemudian dipanahkan keperahu anda, tahukah kamu semua bagaimana keadaannya pada saat itu’”
Ancaman ini membuat Siauw Ling tertegun seketika itn juga, diam-diam pikirnya, “Sunggah Iihay ancaman yang mereka ka takan barusan, seumpama kata mereka benar-benar memanahkan anak-anak panah berapi keatas perahu, niscaya keadaan kami bakal runyam,”
Dalam pada itu dibawah perlindungan Sang Pat serta Tu Kioe, Si Ching telah menngundurkan diri kedalam perahu. sedangkan Sang Pat tetap berjaga-jaga didepan pintu ruang perahu siap menyambut Siauw Ling. Terdengar lelaki nu berkata kembali:
“Bagus! Rupanya sebelum bertemu dengan peti mati kalian tidak akan mengucurkan air mata, akan kusuruh kalian rasakan kelihayan kami….”
“Berikan sedikit kelihayan pada mereka’”
Pemanah pemanah itu mengiakan, dari sarung panah mereka segera bersiapan sebatang panah yang bentuknya istimewa sekali.
Seorang lelaki kekar mengambil keluar sebuah obor disulutnya keujung anak panah tersebut, api segera berkobar diatas ujung anak panah dan diiringi desiran angin tajam anak panah api tadi dengan cepat meluncur keatas perahu.
Anak panah itn entah terbuat dari bahan apa, sekalipun meluncur datang dengan menembusi angkasa namun kobaran api pada ujung anak panah tersebut sama sekali tidak padam.
Siauw Ling kebaskan pedangnya kedepan. Pletak! Anak panah berapi tadi segera terpukul rontok ke dalam air,
Daya bakar dari api tersebut sungguh lihay sekali. sekalipun anak panah tadi sudah terjatuh kedalam air, namun api masih ber-kobar beberapa saat lamanya diatas permuka an air untuk kemudian baru padam dengan sendirinya.
‘Ooouw…. sungguh lihay sekali,” pikir Siauw Ling.
Terdengar lelaki kekar itu berkata kembali.
“Ditinjau dari kecepatan gerak anda dikala mencabut pedang, kemudian ketepatan dalam merontokan anak panah tersebut, aku yakin anda pastilah seorang jagoan yang punya nama besar dalam dunia persilatan. Tetapi seumpama kata aku perintahkan delapan orang pemanah untuk bersama-sama melepaskan anak berapi secara beruntun dari tiga penjuru, sekalipun anda memiliki gerakan pedang yang cepat, tak mungkin bukan bagimu untuk merontokanseluruh anak panah berapi yang kami lepaskan kerah perahu kalian?
asal kan salah satu saja diantara anak-anak panah berapi kami berhasil mengenai diatas perahu anda, niscaya perahu kalian bakal terbakar dengan hebatnya dan didalam sekejap mata. seluruh perahu akan berubah jadi lautan api kemudian perlahan lahan tenggelam kedasar sungai.”
walaupun Siaaw Ling adalah seorang manusia yang cerdik namun berhubung apa yang diucapkan plhak lawan adalah merupakan suatu kejadian yang masuk diakal, maka untuk beberapa saat lamanya ia tak sanggnp mengucapkan sepatah katapun jua.
Sang Pat yang berada disana segera berbisik lirih, “Situasi yang kita hadapi sekarang walaupun sangat bahaya, namun jangan sampai kita kalah wibawa, apabila Tok Chiu Yok Ong suka turun tangan serentak, dengan ke kuatan kita berempat dan masing-masmg me ngarab sebuah sampan musnh, rasanya bukankah suatu pekerjaan yang terlalu sulit untuk menghancurkan mereka dengan gerakan yang cepat. Rupanya orang yang bicara dan atas sampan sebelah kanan itu merupakan pemimpin dari keempat buah sampan cepat tersebut,llmu silat yang ia milikipun tentu lihay sekali, biarlah toako yang menghadapi dirinya, sedang Siauw-te sekalian serta Tok Chiu Yok Ong akan menghadapi manusia manusia ynng perada diatas ketiga buah sampan lainnya.”
Perkataan tersebut diucapkan dengan suara yang amat lirih, ditambah pnla ombak sedang menggulung keras, dan keempat buah sampan cepat itu berlabuh kurang lebih tiga tombak dilnar perahu mereka, maka Sekalipun pihak lawan dapat menyaksikan bibir Sang Pat berkemak kemik namun tidak kedengaran apa yang sedang ia ucapkan.
Siauw Ling pun berbisik lirih.
“Anak panah yang mereka perslapkan sangat istimewa sekali bentuknya dan mempunyai daya bakar yang sangat kuat…. biarlah Siawte saja yang mengadakan kontak dengan dia, kemudian akan kusampaikan kepada toako kami Nah, sahabat, silahkan kau membuka harga agar kamipun bisa menawar dengan lebih leluasa…. asal penawar tidak tinggi, pasti akan kami kabulkan permainan kalian!’
Lelaki itu tertawa dingin lain berseru, “Pertama, serahkan dulu penghianat yang telah kalian lindungi itu “
“Persoaian ini gampang sekali diselesaikan. situasi yang kami hadapi amat berbahaya sekalipun orang itn suka membayar dengan harga yang tinggi, jual bell ini sudah pasti kamilah yang menderita rugi.
“Hemm, tak nyana kau masih sedikit tahu diri!”
Satu saja diantara anak anak panah itu bersarang diatas perahn kita, niscaya perahu kita bakal terancam mara bahaya.”
Keadaan situasi telah berubah jadi begini terpaksa kita harus berpesan kepada Cioe Soen sekalian agar siapkan air untuk menolong api.
“Mereka tidak kenal ilmu silat, bukankah korban yang berjatuhan akan semakin banyak.
“Sekalipun ada diantara mereka yang terpaksa jatuh korban. apa yang bisa kita bicarakan lagi?”?”
“Baiklah akn turuti saja kemauanmn, Nah pergilah menghadap Yok ong dan rundingkan persoalan ini dengan dirinya, coba kita lihat apakah ia punya pendapat lain atan tidak.”
“Tok Chiu Yok ong menaruh rasa hortnat terhadap dirimu, Siauw te rasa apa yang kau ucapkan tidak akan ditampik olehnya. Urusan dalam menghadapi orang ini serahkan saja kepada diri siauw te.
Siauw Ling termenung sejenak, akhirnya ia mengjngguk.
“Baiklah “…. <s
Dengan langkah lebar ia segera berjalan” masuk kedalam ruang perahu.
Sang Pat pun sudah menyimpan kembali senjata sie-poa Masnya, dengan langkah lebar ia berjalan keluar, setelah menjurah kearah lelaki yang ada disebelah kanan perahu tegurnya.
“Sahabat, siapakah namamu
Orang itu tidak menjawab, sebaliknya malah balik bertanya dengan nada dingin.
“Diantara kalian berdua, sebenarnya siapakah yang bertindak sebagai pemimpin.?”
“Dia adalah toako kami tentu saja dialah pemimpin kami.”
Lelaki kekar itu segera tertawa dingin.
“Apabila anda memang merasa bahwa kau bukan pemimpin diatas perahu, lebih balk suruhlah Liong tauw toako kalian untuk tampil kedepan mengadakan pembicaraan “
“Haaaa. haaa…. dia adalah Liong tauwtoo kami, sudah sepantasnya kalau dia tidak sudi mengadakan pembicaraan dengan segala…. manusia kurcaei
“!t^ah, sahabat silahka sebut dahulu namamu agar dalam pembicaraan selanjutnya kita bisa salmg menyebut dengan leluasa.”
“Cayhe siular air Tong Peng.
“Ooouw…. kiranya Tong heng, selamat berjumpa, selamat berjumpa.”
Rupanya Sang Pat sengaja hendak mengulur waktu maka ia selalu saja mengajak orang itu berbicara yang bukan bukan
Terdengar Tong Peng berkata kembali dengan nada dingin.
“Kedua aku minta cuwi sekalian suka mengikuti diri cayhe untuk menjumpai Koen eu kami.”
“Koen-cu kalian?….” Sanya Sang Pat sambil tersenyum
“Tidak salah, Koen-cu kami belum lama munculkan diri dalam duniapersilaian, maka jarang sekali orang Bu-lim yang mengetahui akan dirinya
“Oooouw…. kiranya begitu tidak aneh kalau cayhe belum pernah mendengar akan nama Koen cu kalian.”
“Dikala cnwi sekalian pergi mengnnjungi Koen-cu kami, semua senjata tajam harus di tanggalkan dan tangan serta badan kalian harus diborgol.”
“Empat kali dua jadi delapan, dua kali lima jadi sepulah.„.wah…. rugi…. rugi” teriak Sang Pat sambil pukul pulang pergi biji-biji sie-poanya.
“Syarat yang kami ajukan cuma dua, sudikah kalian menyanggupi atau tidak harap segera diputuskan.” seru Tong Peng gusar-”Kalau kalian sengaja mengulur waktu lagi. jangan salahkan kalau kami bertindak kejam”
“Tidak sulit bagi kami untuk menjumpai Koen-cn kalign, tapi kalau kami suruh pakai borgol…. wah…. wah…. kan kurang sedap dipandang, emangnya kami orang buronan?”
“Barang siapa yang bertemu dengan Koen cu kami untuk pertama kalinya, dia harus mengenakan borgol dibadan.”
“Kaupun akan menggunakannya jnga?
“Anggota istana tentn saja tidak perlu memakai borgol.
Sang Pat berpaling sekejap kearah ruang perahu, melihat tiada gerakan apapun. terpaksa ia menyambung leoih jauh.
“Untuk menghadapi masalah seperti ini, terpaksa keputuasnnya harus menunggu Liong tauw toako kami….”
“Tidak bisa diterima!” mendadak terdengar Siauw Liang berteriak keras dis.isul munculkan diri dalam ruang perahu, dengan langkah lebar.
Tidak bisa diterima? berarti kalian mencari kematian buat diri sendiri!” bentak Tong Peng semakin naik pitam.
“Tak usah anda cemaskan, sekalipun ingin mati kami tak akan sudi mati ditengah sungai.”
“Hmmmmmmmm! cayhe tiiada waktu lagi bagiku untuk mengajak kalian bicara yang tak berguna itu, mau atau tidak mau harus cepat diputuskan kalau kalian coba mengulur waktu lagi, jangan salahkan kalau aku akan segera perintahkan mereka untuk melepaskan panah-panah berapi
Dalam puda itu Siauw Ling telah berjalan menuju keujung perahu, bisiknya kepada diri Sang Pat, “Tok Chiu Yok Ong telah menyanggupi rencana kita, dewasa ini masalah yang penting adalah bagaimana caranya mendekatkan perahu kita dengan keempat buah sampan tersebut, namun yang paling penting begitu bergerak kita harus sukses dalam penye rangan “
“Dewasa ini jarak perahu kita dengan sampan mereka mencapai tiga tombak lebih, asal kita bisa lima depa lagi niscaya tiada kesulitan bagi kita untuk mendarat diatas sampan-sampan tersebut.”
Tiba-tiba terdengar Ular.Air Tong Peng berteriak keras
Sudah seiesaikan perundingan kalian berdua cayhe tidak punya kesabaran lagi untuk menunggu.”
“Tong-heng. bagimana kalau kau menunggu sejenak lagi?”
“Cayhe akan menghitung dari angka satu sampai sepuluh. kalau kalian berdua belum juga berhasil mengambil keputuSan maka cayhe segera akan melepaskan panah-panah berapi.”
Tiba-tiba ia angkat tangan kanannya dan membuat gerakan satu lingkaran atas kepala.
Siauw Ling alihkan sinar matanya kearah sampan tersebut, tampaklah dengan buah gendewa yang ada dikeempat sampan tadi telah direntangkan lebar lebar siap melepaskan anak panah yang telah dipersiapkaa diatas-nya, sementaia lelaki bersenjata tombak yang berada disisi pemanah-pemanah tersebut mulai menyambut api.
Asal Tong Peng menurunkan perintahnja, maka delapan anak panah berapi dengan seketika akan meluncur kearah perahu,
Menyaksikan ancaman tersebut. Sang Pat mengerutkan alisnya rapat-rapat.
“Kalau ditinjau dari situasi yang kita hadapi sekarang terpaksa kita harus menerjang kearah mereka dengan menempuh bahaya….” keluhnya.
Terdengar Tong Peng sudah niulai menghitung “satu…. dua…. tiga,…. empat….” dan mencapai angka ketujuh
“Aku menerjang dulu keatas sampan yang ditumpangi manusia she Tong itu.” bisik Siauw Ling sambil diam-diam mengempos hawa murninya mengelilingi seluruh badan.
“Toako hendak turun tangan lebih dulu’”
Pada waktu si Ular Air Tong Peng telah menghitung sampai angka kesembilan, baru saja angka kesepuluh hendak meluncur keluar dan mulutnja, tiba-tiba Siauw Ling membentak keras, “Tutup mulut”
“Ada urusan apa?” tanya Tong Peng ter-tegun.
Siauw Ling bersuit nyaring, ia enjotkan badannya melayang dua tombak ketengah angkasa, setelah berpurar satu lmgkaran di udara laksana kilat badannya menubruk kearah Tong Peng.
Melibat datangnya tubrukan, Tong Peng membentak keras, tombak panjang ditangannya segera mentisuk kearah depan.
Dtikuti anak-anak panahpun berdesiran memenuhi seluruh angkasa, delapan batang anak panab berapi duringi percikan bunga- bunga api meluncur kearah perahu besar tersebut secara berbareng….“
Gerakan tubuh Siauw Ling cepat kilat, dalam sekejap mata ia sudah mendekati sampan kecil itu pedangnya menjejak kebawah menyingkir datangnya tombak setelah berhasil melayang turun diujung perahu, pedang yang menempel diatas tombak langsung. msmbabat kearah bawah
Tong Peng miringkan badannya kesamping, Sementara seorang lelaki kekar bersenjata tombak pula ayunkan senjatanya bagaikan sebuah toya mengancam pinggang lawan.
Kiranya, setelah kehadiran Siauw Ling di atas sampan mereka, berhubung senjata tomb;iknya terlalu panjang sulit baginya untuk menyerang secara gencar, maka terpaksa ia menyapu pinggang uijsuh untuk mende-sak si anak muda itu mundur kebelakang.
Siauw Ling salurkan hawa murmnya kearah kaki, kuda-kudanya diperkuat dan sang pedang bergetar kedepan memaksa si ular air Tong Peng harus menymgkir kesamping.
Menggunakan kesempatan itulah Siauw Ling bergeser kearah depan, telapak kirinya laksana kilat melepaskan sebuah babatan kilat menghantam dada lelaki bersenjata tombak itu, Segulung angin pukulan yang maha dahsyat dengan diiringi desiran angin tajam langsung menerjang kedepan.
Panjang sampan yang tidak lebih satn tombak dengan lebar hanya beberapa depa, dan hadirnya empat orang diujung perahu maka ruangan kosong jadi amat terbatas. Menyaksikan datangnya serangan Siauw Ling amat dahsyat, tidak sempat bagi lelaki kekar itu untuk menghindarkan din, terpaksa ia berkelit kesamping guna meloloskan diri dari ancaman.
Bruk….! terasa segulung angin pukulan yang maha dahsyat bersarang telak diatas bahunya, ia mendengus berat dan tak kuasa lagi badannya tercebur kedalam sungai.
Setelah melepaskan sebuah babatan tersebut kelima jari tangan kiri Siauw Ling bagaikan sebuah jepitan langsung mencengkeram keatas tombak panjang lawan.
Tubuh lelaki itu termakan lebih dulu oleh hantaman lawan diikuti sapuan tombaknya baru tiba, dengan sendirinya tenaga serangan yang menyertaipun jauh lebih berkurang.
Kedua buah jurus serangan ini dilancarkan dengan menggunakan segenap tenaga yang dimilikinya, bukan kepalang dahsjat nserta kejinya.
Lelaki yang berada disebelah kiri tak sanggup menghindarkan diri, bahu kirinya segera termakan oleh gempuran lawan, membuat badannya tak kuasa lagi tercebur kedalam sungai, sementara orang yang ada diperahu tersentak mundur sejauh dua langkah kebelakang tatkala menyambut serangan Sang Pat dengan keras lawan keras
Sang Pat mendesak kedepan lebih jauh, sebuah tendangan kilat segera dilepaskan….
Dalam menghadapi serangan yang dekat, tak leluasa bagi lelaki bersenjata tombak itu untuk melancarkan serangan, tatkala menyambut datangnya serangan dari Sang Pat tadi, idarah panas di dalamr ongga dadanya lelaki ini telah bergolik keras, dan napasnya terengah-engah kini menyaksikan datangnya tendangan kilat buru-buru ia melompat mundur kebelakang.
Apa Iacur kakinya menginjak ditempat kosong maka tak ampun lagi badannya tercebur kedalam sungai.
Walaupun kedua orang bersenjata tombak itu berhasil didesak hingga terjun kedalam sungai oleh serangan berantai Sang Pat, namun dengan kejadian ini cukup waktu bagi kedua orang pemanah yang ada diatas sampan itu untuk mencabut keluar goloknya menghadapi serangan musuh.
Suatu pertempuran sengit antara Sang Pat melawan kedua orang itupun berlangsung dengan serunya. Siauw Ling yang mengawasi situasi kalangan dapat menyaksikan bahwa telah berhasil menguasai kalangan, kedua orang lelaki itu kena terkurung dibawah sen jata sie-poa emajnya hingga tiada bertenaga untuk melancarkan serangan balasan. Justru keadaan dari Leng Bian Tiiat Pit Tu Kioe lah yang paling bahaya.
Kiranya tatkala S:ing Pat meloncat kearah Sampan kecil itu. Tok Chiu Yok Ong seita Tu Kioe yang berada didalam ruang perahu pun sama-sama lari keluar kegeladak dan secara terpisah menyerang dua buah sampan
Setelah tubuhnya tiba diatas sampan, sepasang telapak Tok Chiu Yok Ong telah di lancarkan berbareng menghantam dua orang bersenjatakan tombak itu,
Dua gulung tenaga yang maha dahsyat secara terpisah mengancam musuh musuhnya.
Dengan lweekang yang amat sempurna di tambah pula serangan itu dilancarkan dengan segenap tenaga, belum sempat kedua orang musuhnya putar tombak badan mereka telah terdesak mundur dua langkah kebelakang.
Menggunakan kesempatan yang sangat baik itulah Si Raja Obat Bertangan Keji melayang turun keatas sampan, tangan kirinya melancarkan serangan kembali menghantam pemanah yang ada disana sementara telapak kanannya menghantam pergelangan kiri dan kanan
Inilah salah satu yang paling diandalkan yaitu Gulungan Ombak berlapis lapis ketika telapak kanannya bersarang dipergelangan kiri lawan, berlapis lapis tenaga Iwe kangnya acara berbareng menerjang tubuh musuh.
Pemanah tersebut tidak sampai untuk meloloskan goloknya lagi, terpaksa ia sambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.
Tenaga dalam Tok Chiu Yok Ong amat sempurna, tentu saja orang itu bukan tandingannya,dengan terjadinya bentrokan dahsyat badannya tergentar mundur dua langkah kebelakang.
Siapa sangka baru saja ia berhasil berdiri tegak. segulung tenaga pukulan lapisan kedua menghantam kembali dadanya dengan cepat senjata tersebut berhasil di-rampas oleh Siauw Ling,
Dalam sekejap mata itulah dikala Siauw Ling berhasil merampas sebatang tombak-terdengar jeritan yang menyayat hati berkumandang memenuhi angkasa, si Ular air Tong Peng membentak keras lalu ikut terjun pula kedalam sungai.
Kiranya pedang Siauw Ling yang menempel diatas tombak lawan telah membabat ke arah bawah. maka tidak sempat lagi Tong Peng untuk menghindari diri dan babatan lawan, kontan lengan kirinya kena terbabat putus jadi dua bagian. rasa sakit yang tak terkirakan membuat dia harus meninggalkan sampan dan terjun kedalam sungai.
Dalam sekejap mata Siauw Ling telah berhasil merobohkan dua orang musuhnya, ia tidak berdiam sampai disana, pedangnya berputar kencang dengan jurus Burung merak Pentang sayap laksana sebuah kilatan gantur senjata tajam itu langsung membabat kearah dua orang pemanah yang berada pula diatas sampan itu.
Kedua orang pemanah itu merasa terperanjat tatkala mendengar jeritan ngeri dari rekannya, dalam keadaan seperti ini tiada kesempatan lagi bagi mereka untuk melepaskan panah-panah berapi kearah perahu.
Gerakan pedang Siauw Ling cepat bagaikan sambaran kilat, belum sempat kedua itu memberikan perlaWanan, sang pedang telah meluncur tiba.
Dalam keadaan yang terdesak, tidak sempat lagi bagi kedua orang lelaki itu untuk mencabut keluar goloknya, dengan gendewa sebagai senjata mereka tangkis datangnya babatan lawan.
Bluuuummm….! Bluuummm….! Otot kerbau yang kuat diatas gendewa tersebut segera terbabat putus jadi dua bagian.
Melihat gendewa patah, dua orang itu cabut keluar goloknya.
Siauw Ling miringkan badan kesamping Ialu mendesak kedepan sebuah tendangan kilat membuat seorang lelaki tercebur kedalam sangat, pedang ditangan kanan bergetar keras, dengan gerakan menembus awan merengut rembulan ujung pedangnya menembusi ulu hati orang itu.
Dalam waktu yang amat singkat, empat orang musuh yang berada diatas sampan ter sebut tetap berhasil dipaksa Siauw Ling ter jun keadaan sungai dan mati binasa.
Tatkala ia berpaling, tampaklah diatas ke tiga buah sampan yang lainpun sedang berlangsung suata pertempuran yang maha seru.
Kiranya ketika Siauw Ling turun tangan tadi. Sang Pat pun segera ikut rurun tangan Sie-doa emas ditangan kanannya diputar sedemikan rupa untuk melindungi badan dan langsung meloncat keatas sampan nomor dua dari sebelah kanan
Tenaga kail ini telah menggunakan hawa murni yang dimilikinya, gerakan tubuhnya cepat laksana sambaran kilat dan luar biasa lihaynya.
Tindakan Siauw Ling dalam merampas sampan kecil Itu telah mempertinggi kewaspadaan para jago yang ada di ketiga sampan lainnya, melihat Sang Pat meloncat datang. dua orang lelaki bersenjata tombak segera menyongsong kedatangannya dengan tusukan kilat
Terasalah segulung tenaga tarikan yang maha dahsyat mendorong badan lelaki itu hingga terhuyung maju kedepan.
Dengan kejadian ini, secara kebetulan pula ia telah sambut datangnya hantaman tornbak dari rekannya vang ada disebelah kiri, maka tak ampun bahu kanannya terhajar.
Dasarnya lelaki itu sudah tak kuat mempertahankan diri, terhajar pula oleh tombak rekannya sendiri, kontan tulang bahunya hancur dan diiringi dengusan berat tubuhnya terjungkal kedalam snngai.
Tok Chiu Yok Ong melanjutkan serangan nya senjata tombak hasil rampasannya di sapn kedepan deng,an dahsyat, pemanah serta lelaki kekar bersenjatakan tombak yang masih ketinggalan diatas sampan tentu saja tak sanggup mempertahankan diri, mereka terdesak hebat dan akhirnya mencelat keluar dari sampan
Melihat musuhnya telah roboh semua Tok Chiu Yok Ong tertawa terbahak-bahak ia jungkir balikkan sampan itu hingga tenggelam dan ia sendiri melayang balik keperahu
Dikala Tok Chiu Yok Ong meloncat balik keatas perahu itulah Siauw Ling pun telah menenggelamkan sampan hasil rampasannya dan melayang kearah sampan Iain dimana Tu Kioa masih terlibat dalam pertarungan sengit.
Dalam pada senjata pit baja dari Tu Kioe telah berhasil merobohkan salah seorang musuhnya, kemudian melanjutkan pertarungan melawan ketiga orang sisanya.
Sebelum Siauw Ling berhasil melayang tiba diatas sampan, pedangnya bergerak ce-pat sebuah lengan dari seorang pemanah melayang jadi dua baglan.
Melihat kehadiran toakonya semangat Tu Kioe makin berkobar. Ia membentak keras dan senjata pitnya kembali melukai seorang musuh
Dua orang sisanya tatkala melihat gelagat tidak menguntungkan segera putar badgn us tnk melaukan dm, namun sebelum orang itu sempat terjun kedalam air, sebuah pukulan udara kosong yang dilepaskan Siauw Ling telah bersarang diatas punggungnya, di iringi muncratan darah segar orang itu menemui ajalnya didalam snngai,
Sedangkan pemanah terakhir ltupun berhasil dilukai oleh Tu Kio, dengan demikian semua musuhpun berhasil dibasmi habis.
Tu Kioe simpan kembali senjatanya. setelah menenggelamkan sampan kecil tersebut bersama-sama Siauw Ling mereka kembali keatas perahu.
Dua orang lelaki kekar yang sedang melangsungkan pertarungan sengit melawan Sang Pat buru-buru putar badan melarikan diri tatkala menyaksikan seluruh rekannya sudah mati binasa semua. melihat mnsuhnya lari Sang Pat pun segera menjalankan sampan kecil tadi mendekati perahu besar, terdengar ia berseru sambil tertawa.
“Ada baiknya kita tinggalkan sampan tersebut buat kita pakai, mungkin sampan ini berguna sekali bagi kita kelak.”
Sementara itu Siauw Ling melakukan pemeriksaan diatas perahu mereka, kerugian yang diderita ternyata tidak begitu parah seperti apa yang diduga semula, kecuali sebagian geladak terbakar serta sebuah layar tumbang hanya dua orang pelaut saja yang terluka, boieh dibilang kerugian tersebut merupakan sebuah kerugian yang enteng.
Si Ching berdiri didepan ruang perahu. menyaksikan ilmu silat para jago yang sangat lihay dalam hati ia merasa kagum bercampur takut, ia tahu para pemanah dan keempat sampan cepat yang berhasil melarikan diri pasti akan meloporkan kejadian ini kepada koencu mereka dan persoalanpun akan berlangsung makin besar
Segera ia menghela napas panjang, ujar nya.
“Cayhe merasa amat certerima kesih sekali buat budi pertolongan cuwi sekalian, hanya saja dsngan perbuatan kalian ini maka tanpa disengaja cuwi semua telah mengikat tali permusuhan dengan Su Hay Koen-cu, ke jadian ini membuat cayhe merasa amat ber sedih hati….”
Semua orang tidak ada yang mengomentari perkataan tersebut, terdengar si Raja obat bertangan keji berseru lantang.
“Pasang layar dan lanjutkan perjalanan!”
“Kita mau berlayar kemana?” tanya Cioe Soen sambil munculkan diri dari tempat per sembunyian.”
“Rapatkan perahu ketapl sungai” perintah Siauw Ling.” Kami semua tidak begitu mengerti tentang kepandalan didalam air, seumpama kita bertemu kembali dengan musuh tangguh, akan kami layani serbuan mereka itu diatas daratan.”
Cioe Soen mengiakan, ia keluar dari ruang perahu dan segera memerintahkan anak buah nya untuk bekerja.
Dalam pada itu Tok-Cbiu-Yok Ong melirik sekejap kearah Siauw Ling, bibirnya bergerak seperti mau mengucapkan sesuatu namun akhirnya maksud itu dibatalkan.
Sang Pat memperhatikan pula wajah Si Ching kemudian berkata, “Penawaran yang anda ajukan terlalu tinggi, sedang aku Sang Pat tanpa berpikir panjang telah menerima jual bel ini, kalau di-hitung hitung sekarang waaahhh…. lebih banyak ruginya dari pada beruntung.”
“Lukisan yang ditinggalkan simalaikat pe lukis Si Thian Too cuma sebuah lukisan Giok-Sian-Cu serta separnh buah lukisan “Bulan bertaburkan bintang” entah lukisan manakah yang telah anda ajukan sebagai pembayaran kepada kami?” tanya Tu Kioe.
“Lukisan Dewi Kumala serta Bulau Ber-taburan bintang Itu sudah beredar didalam dunia persilatan. dunanakah benda itu sekarang cayhe sendiri pun tidak tahu Dua benda yang cayhe maksudkan pun bukah lukisan Dewi Kumala maupun Bulan Bertaburan bintang itu.”
“Hmm’ Si Thian Too cuma meninggalkan lukisan itu belaka, bila kau memang tiada memiliki kedua buah lukisan tersebut bukan kah berarti kamu ada maksud mengajak kami Sepasang pedagang dan Tioug Cu untuk bergurau….”
Sang Pat goyangkon tangannya mengbalangi Tu Kioe bicara lebih jauh.
“Anda bernama si Ching?”
“Sedikitpun tidak salah.”
“Kalau begitu kau berasal satn marga de ngan Si Thian Too?”
“Aaaaa.!” Orang itu menghela napas pan Jang.” Bicara terus terang saja Si Thian Too sang malaikat lukisan tersebut bukan Iain adalah engkongku sendiri.”
“Bocah keparat, pandai benar kau ngoceh yang tidak karuan.” hardik Tu Kioe dingin. “Setiap orang umat Bu-lim ada tahu semua kalau Si Thian Too tidak pernah beristri selama hidupnya, sudahlah tak usah kau ajak kami Tiong Chiu Siang Ku untuk bergurau, apabila seseorang tidak beristeri dari mana hidupnya anak??”
“Sahabat…. Sang Pat pun ikut berbicara sambil tertawa, “Sepasang mata kami Tiong Chiu Siong Ku tidak pernah kemasukan sebutir pasirpun, kalau kau bermaksud, hendak bikin onar disini, maka rencanamu pasti menemui kegagalan total.”
“”Cuwi sekalian cuma tahu satu tidak tahu dua. sekalipun pada waktu itu Si Thian Too tidak beristri….”
Mendadak ia membungkam.
“Sahabat, bila ia tidak beristeri dan tidak punya pula gundik, dan mana pula munculnya anak? Tapi kau boleh teruskan perkataanmu itu lebih jauh „
“Aaai….! Sebetulnya kejadian ini merupakan suatu rahasia besar dalam dunia persilatan dan rahasia ini sudah tersimpan selama hamplr seratus tahun lamanya, dewasa ini kecuali cayhe seorang mungkin dikolong langit sudah tak ada orang yang mengetahui nya lagi.”
“Eeei…. sebenarnya apa yang telah terjadi tukas Sang Pat dengan alis berkerut, “aku harap kau jangan jual iagak dengan bicara mencla menclc lagi.”
“Aaai….! sekalipun cuwi sekalian menaruh budi pertolongan kepada kami, namun suruh anak cucu keluarga Si untuk membicarakan kejadian kakeknya, sedikit banyak sulit bagi cayhe untuk buka suara.”
“Sekalipun kau ntarakan keluarpun belutn tentu kami suka percaya.”
“Apalagi membicarakan peristiwa yang sudah terjadi seratus tahun berselong, apa sih halangannya?” sambung Sang Pat,
“Aaai–baik aku bicara…. aku bicara.”
“Tidak salah, Si Thian Too tidak pernah beristri, tetapi cuwi sekalian tentu sudah mendengar bukan kisah permainan cintanya dengan beberapa orang gadis? Kecuali dengan Dewi Kumala yang mengakibatkan kisah cinta yang begitu sedih dan penuh kedukaan. iapun pernah membuat tragedi cinta dengan seorang gadis yang tidak dikenal orang. sehingga dalam kenyataan sebetulnya ia telah beristri.”
Sepasang matanya dipejamkan rapat-rapat dua titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya lalu sambungnya lebih jauh, “Perempuan itu hanyalah seorang gadis dusun yang amat sederhana dan tidak cantik barang sedikltpun, tetapi ia begitu bersikeras mencintai simalaikat lukisan ini sehingga akhirnya meninggalkan keturunan bayinya.’
Beberapa patah kata Ini membuat para ja-go mendengarkannya dengan terpesona, bahkan Si Raja obat Bertangan Keji yang selalu bersikap acuh pun saat ini tertarik juga hatinya.
Sang Pat memenuhi sebuah cawan dengan air teh kemudian diangsurkan kehadapan Si Ching, katanya, “Si heng nilai dari cerita rahasia ini mungkin jauh diatas lukisan Devvi Kumala minumlah dahulu kemudian baru meneruskan ceritamu! perduli jual beli ini untung atau rugi kami tetap akan menerimanya.”
Si Ching buka matanya menyapu sekejap Wajah Siauw Ling sekalian, lalu ujarnya, “Siapa yang mau percaya bahwa manusia sederhana macam diriku, ini sebetulnya adalah keturunan dari simalaikat lukisan Si Thian Too yang tersohor baik dalam lukisan maupun ilmu silat itu?”
Si Raja Obat Bertangan Keji mendehem, “Bakat sang ayah belum tentu dapat diturunkan kepada sang anak, kejadian ini merupakan suatu hal yang luar biasa, cukup ditinjau dari raut wajah anda telah menunjukkan bahwa kau adalah keturunan manusia luar biasa, maka tak usahlah bersedih hati karena masalah ini.” Katanya.
Si Ching melirik sekejap kearah siraja obat. menjumpai badannya kecil lagi kurus namun kekar dan berotot hatinya rada bergerak, burn buru sahutnya, “Terima kasih atas petunjukmu.” ia teguk air teh secawan kemudian melanjutkan, “mungkin disebabkan nama besar si Thian Too dimasa hidupnya terlalu cemerlang dan permainan cintanya terlalu banyak, ternyata keturunannya harus mewariskan kesederhanaan dari ibunya….”
Terdengar suara helaan napas sedih tiba-tiba berkumandang datang menukas kisah tersebut;
“OoOuw…. sungguh kasihan, sungguh patut dikasihani. Si Thian Too benar boleh disebut sebagai macusia yang paling tidak berpe rasaan dikolong langit.”
Mendengar suara itu, si Raja Obat Berta-ngan Keji jadi terperanjati baru burn ia berpaling sambil berseru.
“Bocah, sejak kapan kau terbangun dari tidurmu???….”
“Aku sudah mendusin lama sekali, kisah cinta Si Thian Too tersebut telah kudengar semua dengan amat jelas.”
Sang Pat pun menghela napas panjang.
“Sebuah lukisan Sang Surya ditengah Pancuran air dingin sudah cukup membahagiakan kehidupan kalian ibu dan anak sepan-jang hidup sayang seribu kali sayang mereka tidak dapat, menilai lukisan dari Thian Too ini,” gumamnya.
Kaum pedagang cuma tahu keuntungan dan. tidak kesusahan orang, kalian sepasang pe-dagang dari Tiong Chiu cuma tahu intan permata, lukisan kenamaan serta kekayaan yang tak ternilai dan namun tidak tahu betapa susah dan menderitanya gadis dusun itu, ia tak mau menjual lukisan tersebut karena benda itu dipandang sebagai hasil karya kekasihnya karena hanya benda itulah yang bisa menghibur hatinya yang sedih kembali gadis itu berkata, Sang Pat tertegun, akhirnya ia mengangguk,
“Perkataau nona sedikitpun tidak salah.”
Dalam pada itu Si Ching telah menghela napas dan menyambung kata katanya, “Setelah gadis dusun itu meninggal dunia, maka putranya dengan membawa lukisan tersebut mulai pergi mencari kabar berita ayahnya sesuai dengan pesan ibunya sesaat meninggal dunia. sepuluh…. tahun telah lewat dengan cepatnya, namun tiada kabar beritanya sama sekali yang berhasil didapatkan,
perjuangan selama sepnluh tahun membuat badannya makin lemah. Terpaksa ia berdiam didalam sebuah kota, ia sadar bahwa dalam
kehidupannya kali ini ia mungkin tak dapat memenuhi harapan ibunya, maka terpaksa ia berdiam disana dan membuka sebuah kedai
kecil, ternyata dagangannya disana amat maju sekali, setelah berhasil mengumpulkan uang yang cukup akhirnya ia kawin dan punya
anak….”
la merandek sejenak kemudian menambahkan -
“Dan orang itu adalah cayhe….”
“Sang Pat memenuhi kembali cawan orang itu dengan air teh, ujarnya sambil tertawa,
“Jangan gugup, berceritalah perlahan lahan cayhe sekalian masih punya kesabaran untuk mendengarkan kisah anda lebih lanjut.”
“Tatkala cayhe berusia lima belas tahun, penyakit ayahku kambuh dan makin hari semakin parah “Si Ching melanjntkan kembali kisahnya Beliau panggil cayhe kedepan pembaringannya dan mengisahkan cerita tersebut kepadaku, kemudian menyerahkan pula lukisan tadi kepada diri cayhe, tiga hari kemudian beliau meniggalkan dunia.
“Setelah mendengar cerita tersebut dan ayahku, cayhepun berganti tujuan dengan mempelajari llmu silat selama beberapa waktu, dua tahun kemudian cayhe pun terjunkan diri kedalam dunia persilatan. Ketika pertama kali aku tinggalkan rumah usiaku masih amat muda. tapi kini setengah abad.sudah lewat.
“Kebaktianmu serta susah payahmu selama ini sudah cukup membuktikan akan ketulusan hatimu.-….”
“Sebagai putra manusia sudah selayaknya berbuat demikian, tindakku ini tidak bisa di katakan sebagai kebaktian….”
Ia menghela napas dan melanjutkan.
“Cayhe telah membuang waktu puluhan tahun lamanya dalam dunia persilatan, namun gagal untuk menjumpai kakekku, walau
pnn begitn cayhe telah berhasil mendengar sedikit banyak kisah mengenai mendiang kakekku….”
“Peristiwa mengenai Si Thian Too sudah berlangsung seratus tahun berselang,” pikir Sang Pat. “Ketika ayahmu mulai mencari jejak orang tuanya, mungkin dia sudah wafat, apalagi dirimu…. sekalipun kau jelajahi seluruh kolong langit pun tak akan berhasil menjumpai dirinya,”
Terdengar Si Ching melanjutkan kembali ceritanya.
“Dalam hati, cayhe sadar bahwa kemungkinan besar kakekku sudah wafat, tetapi akupun mengharapkan dengan kepandaian silatnya yang sempurna serta kekuatan badannya yang luar biasa membuat usianya lebih panjang dari orang biasa sekalipun tidak berhasil menjumpai orangnya Paling sediki dapat menemukan tempat kubnrannya.”
“Mennrnt apa yang siawte ketahui. kubnran Si Loocianpwe terletak digunung Boe It San….” sela Sang Pat.
“Sedikitpun tak salah, letaknya memang di puncak gunung Boe It San. Setelah cayhe berhasil mendapatkan kabar benta ini maka be-srangkatlah cayhe kepuncak gunung itu, tam-paklah puncak gunung gundul yang, sangat kelimis dan sama sekali tiada tanda-tanda yang menunjukkan disitu pernah didiami oleh seorang malaikat lukisan. Diatas puncak Sian Cu Hong cayhe berdiam tiga malam dan selama itu kuiakukan pecarian besar-besaran setia.p batu gunung kubongkar dan kuteliti namun sama sekali tidak kujumpai sesuatu tanda apapnn juga….”
“Kisah cerita mengenai simalaikat lukisan Si Thian Too walaupun telah tersiar luas dalam kalangan dunia persilatan nauiun sepan Jang hidupnya jarang sekali berhubungan dengan orang iainsehingga aku rasa duduk perkara yang. sebenarnya jarang diketahui orang,” ujar Sang Pat.
“Tiga hari kemudian, cayhe tinggalkan puncak Sian cu Hong dan terjun kembali di dalam dunia persilatan guna melaniutkan pencarianku, akhirnya aku telah berhasil menda patkan suatu rahasia.”
Kabar berita mengenai Si Loo-cianpwee banyak pula yang cayhe dengar, dapatkah Si heng mengisahkan bahan-bahan yang kan butuhkan???’
‘tentu saja akan kuceritakan….
Ia mendongak dan menghela napas sedih, sambungnya-
“Cayhe telah mendapatkan suatu rahasia yang mengatakan bahwa setelah kematian kakekku, kecuali beliau telah meninggalkan sebuah lukisan dewi kumala serta separuh lukisan Rembulan diantara bintang yang bertaburan, serta sudah meninggalkan sejilid kitab, ilmu silat yang disebut “Thian-too bee liok,” entah kitab itu diambil siapa sehmgga akhirnya…. telah…. terjatuh ketangan Poei Cong Paiow Pacu dari Telaga tong-ting Auw. Mendengar kabar berita ini tentu saja cayhe segera berangkat kesana untuk mencari tahu tentang kabar berita ini. Maka jadilah cayoe seorang penyamun kecil didalam markas besar para penyamun yang bermangkal ditelaga Tong-ting auw itu “
Apakah kau berhasil menemukan kembali kitab ilmu silat Thian Too Bee Liok peninggalan mendiang kakekmu!’ tiba-tiba Siauw Ling menyela.
Si Ching gelengkan kepalanya berulang kali.
“Hingga dewasa ini cayhe belum berhasil mendapatkan titik titik tanda yang menunjukkan letak yang membuat hati cayhe menaruh curiga.
“Persoalan apa?” tanya Sang Pat “Ilmu silat yang dimiliki Poei Cong Cayhe dan markas telaga Ton-ting-auw kian bertambah hebat, sehingga akhirnya jauh lebih dari ayahnya berpuluh pnluh kali lipat. Padahal ilmu silat yang dimiliki Sauw saycu adalah ilmu silat keluarga, sekalipun ia hebat tidak seharusnya diantara avah dan anak bisa terpaut begitu jauh, maka menaruh curiga bahwa dibalik persoalan ini pasti ada sebab-sebab tertentu.”
“Bukankah Poei Cong Piauw dari telaga Tong ting-auw sudah mati sepuluh tahun lamanya?” tanya Sang Pat.
Jilid 3
Sedikitpun tidak salah, segera tiba-tiba pada sepuluh tahun berselang Poei Cong Piauw Pacu meninggalkan dunia, menurut kabar berita yang tersiar dalam dunia persilatan mengatakan bahwa ia menderita penyakit aneh dan dalam semalaman telah menemui ajalnya. Padahal kejadian itu tidak lain hanya alasan yang disiarkan keluarga Poei saja untuk menutup-nutupi tabir kematian Poei Cong Piauw Pacu yang sebenarnya. Sebab dalam kenyataan Poei Loo caycu mati karena dibunuh orang ditengah malam buta, dan sang pembunuhnya telah lenyap tak berbekas. “Siapakah pembunuhnya?”
“Hingga dewasa ini sang pembunuh masih belum berhasil ditemukan. aku lihat persoalan ini mungkin sulit diselidiki hingga menjadi jelas.”
“Aaaai…. ‘ orangnya mati kekuasaanpun musnah. sejak kematian Poei Cong Piauw pacu kekayaan telaga Tong-ting-auw pun ikut lenyap dan peredaran dunia persilatan “
Mendengar perkataan itu Si Ching segera menggeleng.
“Setelah Loocay-cu mati, semestinya sauw cay co akan menggantikan kedudukannya sebagai Cong Piauw Pacu, namun ternyata ia mengumumkan untuk membubarkan markas besar yang ada ditelaga Tong-ting, dalam kenyataan bukan makin lemah pengaruhnya justru diam-diam semakin dahsyat, Sauw caycu pnnya kecerdikan yang luar biasa, ilmu silat nya jauh diatas kepandaian ayahnya, diluaran kekuatan dari telaga Tong-ting memang sudah buyar, padahal secara diam-diam ia memupuk kekuatan semakin bebat. Justru karena kecerdikannya imlah kekuatan besar yang ia mitiki tidak sampai diketahui oteh oraig orang dunia persilatan “
“Oooouw…. benarkah telah terjadi peristi-wa ini? sekarang Poei sauw caycu berada dimana?”
“Poei Sauw caycu bukan lain adalah Su-hay Koen-cu yang digembar-gemborkan saat ini.”
“Aaah, suatu kejadian yang benar-benar berada diluar dugaan.”
“Entah siapa saja yang telah membocorkan rahasiaKU, akhirnya jejak cayhe konangan dan segera ditangkap untuk dihadapkan kepada sang Koen-cu. ia paksa aku menelan sejenis racun yang lambat sekali daya kerjanya, apa bila bukan ditolong oleh cuwi sekalian, mungkin pada saat ini aku sudah dibuang ke dalam sungai.
“Ooouw kiranya begitu, silahkan kau mengatur pernapasan dengan hati lega, kami sekalian akan berusaha melindungi dirimu dengan segenap tenaga.”
“Tidak bisa jadi, tatkala Koencu paksa aku menelan obat racun iapun menolak jalan darahku, maka aku duga sebab mereka tak mau membinasakan diriku adalah disebabkan aku masib punya suatu nilai yang bisa mendatangkan keuntungan bagi mereka….”
“Tidak mengapa. loolap punya kemampuan untuk memunahkan racun yang mengeram dalam tubuhmu,” tiba-tiba si Raja Obat Bertangan Keji menyela.
“Kalau begitu cayhe mengucapkan banyak terima kasih terlebih dahulu.”
Sambil berkata Si Ching segera bangun berdiri dan menjura kearah siraja obat tersebut.
“Tak usah sungkan,” Tok Chlu Yok Ong segera balas memberi hormat. “Kalau kau bisa memberitahukan obat racun apakah yang ia berikan kepa-damu, hal ini tentu jauh lebih baik. Tetapi kalau tak dapat menerangkan, terpaksa aku harus membuang tenaga lebih banyak untuk melakukan pemeriksaan ” Menyaksikan tingkah laku sang raja obat tersebut. diam-diam Siauw Ling berpikir dalam hatinya.
“Rupanya waktu orang ini sudab mengalami banyak perubahan.”
Sementara itu terdengar Si Ching mengbela napas panjang dan berkata.
“Bukan saja aku telah dipaksa untuk menelan racun, bahkan aku telah menderita luka dalam yang sangat parah….” Tok Chiu Yok Ong tertawa hambar. “Asalkan pada saat itu kau belum mati, Loolap percaya masih sanggup untuk menyelamatkan selembar jiwamu,” katanya.
Tiba-tiba dari luar ruang perahu terdengar Cioe Soen berteriak penub kecemasan: “Thay ya sekalian…. aduuuuuunh celaka…. aduh celaka….
“Apa yang terjadi?” tanya Sang Pat sambil loncat keluar dari ruang perahu.
“Delapan buah sampan cepat sedang menguntit perahu kita!?
Sang Pat segera alihkan sinar matanya ka belatarg, sedikit pur tidak salah tampaklah delapan buah sampan laksana sambaran kilat sedang meluncur datang dengan cepatnya, segera ia berseru, “Jangau gugup. beritahu kepada semua anak buahmu agar tenangkan hati. musuh yang mengejar datang akan kami hadapi.”
Sementara ia berbicara, Sianw Ling, Tu Kioe, serta Tok Chiu-Yok-Ong sekalian telah saling susnl keluar dari ruangan perahu.
Sungguh cepat gerakan kedelapan buah sampan itu, dalam sekejap mata mereka su-dah berada sangat dekat sekali dengan perahu besar yang ditumpangi beberapa orang jago itu
Mendadak kedelapan buah sampan tadi memisah diri, laksana kilat mengurung perahu besar Itu rapat-rapat.
Dalam pada itu perahu nelayan yang sedang berlayar diatas sungai amat banyak, te-tapi setelah melihat kehadiran kedelapan buah sampan cepat itu, mereka sama-sama menyingkir diri.
Melihat keadaan yang terbentang! didepan matanya. Siauw Ling kerutkan sepasang alis nya, diam-diam ia berpikir, “Kedelapan buah sampan ini telah menyebar di delapan arah, seandainya mereka serentak melepaskan panah-panah berapi, mungkin rada sulit bagi kita untuk menghadapinya”
Sinar matanya perlahan-lahan menyapu ke depan, tampak diatas geladak kedelapan buah sampan tadi masing-masing berdiri empat orang boe-su berbaju ketat warna biru, di-tangan para boe-su sudah tercekal sebilah tombak panjang
Terdengar dari dalam ruang perahu. berkumandang datang suara dari Si Ching, “Para boe-su yang berada diatas beberapa buah sampan cepat itu merupakan anggota pasukan pengawal berbaju biru yang paling dipercaya oleh Su Hay Koen-cu. rupanya Su Hay Koen-cu akan datang sendiri kemari untuk mengbadapi musuh.”
“Kalau begitu amat bagua sekali, menangkap penyamun harus menawan rajanya lebih dulu, Kalau Su Hay Koen-cu benar-benar akan muncnl sendiri kemari, itulah berarti telah memberi kesempatan bagi kita untuk me nundukkan mereka.” sabut Sang Fat pula.
Tiga puluh dua orang boe-su berbaju biru yang ada diatas kedelapan buah Sampau itu sama-sama berdiri tegak dengan angkernya, enam puluh empat buah senjata sama-sama di-dicurahkan keatas perahu besar yang ditumpangi Siauw Ling sekalian, walaupun begitu namun tak terdengar sedikit suarapun,
Sekilas pandang saja? siapapun tahu kalau beberapa orang ini telah memperoleh Pendidikan yang sangat ketat.
Tiba-tiba Tok Cbiu Yok Ong memperendah suaranya dan berkata kepada Siauw Ling, “Tempat dimana perahu kita berada saat ini terletak rada jauh dari tepi pantai, apabila kita harus melakukan pertempuran diatas air sedikit banyak dalam hati kita akan muucul tiga bagian rasa jeri. Menurut pendapat loo-hu, lebih baik sekali hantam kita hajar ko-car kacir perahu-perahu sampan itu mumpung Su Hay Koen-cu belum tiba, setelah itu kita mendarat dan melangsungkan pertarungan dengan mereka diatas daratan, entah bagaimana menurut pendapatmu?
belum sempat Siaow Ling menjawab, si Leng Bin Thiat, Pit Tu Kioe telah menim-brung dengan suara-yang dingin, “Sepanjang pesisir sungai merupakan daerah kekuasaan perkampungan Pek Hoa San Cnng, apabila kita mendarat maka pertama-tama yang akan kita temui dahulu adalah serbuan dari para boe-su perkampungan Pek Jioa San Cung….”
Tiba-tiba Sang Pat menepuk perutnya yang gendut. bergumam seorang diri, “Aneh….! Sungguh aneh sekali daerah sekitar tempat ini adalah- daerah kekuasaan perkampungan Pek Hoa San Dung, secara ba-gaimana Su Hay Koen-cu yang terang-terangan bukan merupakan suatu kekuatan penyamun biasa dibiarkan berlalu lalang dengan bebasnya? Bukankah Shen Bok Hong punya mata-mata yang paling liehay? Tentu ia sudah tahu akan kekuatan tersebut, tapi, apa sebabnya ia tidak ambil tindakan sedikit…. pun tak membunuh Raja Obat Bertangan Keji. Setelah diungkap thjeng heng, louhu sendiripun merasa sedikit rasa tercengang.”
“Yok Ong bukankah kau punya hubungan yang akrab sekali dengan Shen Bok Hong Terhadap watak serta tabiatnya kau pasti mengerti sangat jelas bukan?” jengek Tu Kioe dingin.
“Dengan tabiat yang dimiliki Shen Bok Hong tentu saja dia tidak akan mengijinlan kekuatan dari Su Hay Koan-cu berlalu lalang diatas sungai sekitar daerah Koei Chin, apa lagi bertindak semaunya macam begini.”
“Tetapi kenyataannya sekarang….”
“Justru karena itulah loohu sendiripun merasa tercengang….”
Tiba-tiba terdengar suara terompet yang ditiup kencang-kencang berkumandang datang dan memecahkan kesunyian yang mencekam disekeliling sungai.
Siauw Ling sekalian mengira kedelapan sampan itu segera akan melancarkan serangan dahsyat kearah mereka, semua orang segera mengempos hawa murninya tengah mempersiapkan diri guna menghadapi serangan, musuh.
Namun kedelapan buah sampan itu tetap berhenti ditempatnya semula. sedikitpun tidak menunjukkan tanda-tanda apabila mereka hendak melancarkan serbuan.
Pada saat semua orang sedang diliputi rasa heran itulah, suara Si Ching berkumandang keluar dari dalam ruang perahu, “Su Hay Koen-cu telah tiba!”
Siauw Ling angkat kepalanya, sedikitpun tidak salah, dari permukaan sebelah selatan perlahan-lahan meluncur datang sebuah perahu besar yang berlayar warna warni.
Berhubung perahu itu amat besar sekali-maka sepintas lalu terlihatlah gerakan lajn-nya amat lambat, namun dalam kenyataan cepatnya luar biasa, dalam sekejap mata saja telah tiba empat lima tombak dihadapan mereka.
Tampaklah dua buah sampan yang cepat menyingkir kedua belah samping dan memberikan sebuah tempat buat perahu pemimpinnya.
“Oow….! sungguh besar perahu ini,” pikir
Sang Pat setelah memandang sekejap perahu tersehut.
Terdengar suara Si Ching yang ada didalam ruang perahu berkumandang kembali, “Diatas perahu raksasa itu semuanya ada lima buah tiang layar yang masing-masing tergantung sebuah layar warna murni, coba kalian lihat pada saat ini berapa buah layar yang telah dipasang?”
Sang Pat perhatikan tiang layar perahu itu, tampaklah diatas sebuah tiang berwarna putih tersebut sebuah layar warna putih maka ia lantas menjawab, “Hanya tergantung sebuah layar berwarna putih.”
“Kalau begitu keadaannya masih rada baikan….
Terdengar dari atas perahu berpanca warna itu berkumandang datang dua tiupan terompet disusul suara tambur dan genta di-bunyikan bertalu- talu.
“Kurang ajar” maki Tu Kioe sehabis menyaksikan kejadian itu. “Lagaknya sih mirip seorang Koen-cu sungguhan…. hmmna! Sungguh menjemukan.”
“Orang ini menggunakan Su-hay Koencu sebagai gelarnya, pengaruh serta kekuatannya tentu luar biasa sekali.” sambung Siauw Ling.
Dalam pada itu pintu ruang perahu ber-pauca warna itu perlahan-lahan terbuka, di-susul munculnya sederet orang bocah lelaki berbaju kuning dengan menggempol pedang dipunggung.
Dibelakang empat orang bocah berbaju kuning itu, mengikuti seorang toojin berjubah pat kwa dan mencekal sebuah Hud tin.
“Kalau ditinjau dandanan orang ini, mungkin dialah Su-Hay Koencu pribadi.” pikir Siauw Ling itu sesudah tiba diujung perahu raksasanya.
Empat orang bocah berbaju kuning itu segera memisahkan diri jadi dua rombongan dan berdiri dikedua belah samping.
Siauw Ling memperhatikan sekejap wajah. Toojien itu. tampak dia punya raut wajah seperti kuda dengan lima jalur jenggot pada janggutnya, jubah yang dikenakan bersulamkan gambar pat kwa sehingga dandanannya kelihatan seram dan mengerikan.
Tampak ia mengebaskan Hud tim yang di cekal ditangan, lalu sambil menatap Siauw Ling sekali ujarnya, “Diantara cuwi sekalian, siapakah yang bisa ambil keputusau untuk berbicara dengan pinto.”
Sang Pat melirik kearah Siauw Ling sementara si anak muda itu melirik kearah si Raja Obat Bertangan Keji
tosu ini berwajah licik dan agaknya punya banyak akal,” bisik Tok Chiu “Yok Ong lirih. “Sedangkan Siauw tay-biap adalah seorang Koen cu, maka kurasa dalam adu silat lidah kau masih bukan tandingannya, lebih baik suruh Sang-heng saja yang menghadapi dahulu orang itu.”
“Baik! kalau begitu aku harus merepotkan diri saudara Sang.”
Sang Pat tersenyum, perlahan-lahan ia tampil kedepan dan menegur menjura, “Tootiang, ada persoalan apakah mencari kami???”
“Siapa nama anda?” tanya Tootiang itu sambil menatap wajah Sang Pat tajam-tajam.
“Siauw-te she Sang dan bernama Pat!”
“Ooouw…. ‘ kiranya lootoako dari Tion Chiu Siang Ku, maaf…. apabila pinto kurang hormat!”
“Tidak mengapa, kami bersaudara hanya menitik beratkan diri pada soal jual beli dan keuntungannya, soal adat istiadat serta tata krama masih tidak begitu memperhatikan.” Ia merandek sejenak, lalu terusnya “Setelah Tootiang bertanya tentang nama-ku. sekarang sudah sepantasnya kalau cayhe pun menanyakan gelar Toatiang sendiri.”
“P.nto sudah lama mengasingkan diri dari dunia persilatan sekalipun kusebut namaku pun belum tentu Sang thay-hiap tahu, maka pinto rasa lebih baik tak usah dikatakan saja.”
“Umpama kata tootiang benar benar Sudah mengasingkan diri dari dunia persilatan apa sebabnya kini muncul kembali disini guna mencampuri urusan Bu-lim!….”
“Undangan dari Koencu sukar ditampik maka mau tak mau terpaksa pinto harus turun gunung untuk membantu dirinya. Sejak pinto terjun kedalam dunia persilatan telah kudengar akan nama besar sepasang pedang dari Tiong Cbiu yang mana tak pernah saling berpisah. kini Sang-heng ada disini pinto rasa Tuheng pun berada disekitar sini bu kan?”
“Akan orang she Tu ada disini, tootiang ada urusan apa mencari aku!” seru Tu Kioe dingin.
Tosu itu tertawa hambar, sinar matanya dialihkan keatas wajah Siauw Ling dan menegur lebih jauh.
“Siapakah nama besar dari sicu ini?”
“Orang ini licik sekali,” bisik Siraja obat Bertangan Keji dengan nada lirih,” Ia mau selidiki dahulu keadaan kita semua sedang-kan ia sendiri tak mau melaporkan nama ge-larnya, jangan gubris pertanyaannya, kitapun harus berusaha jual mahal.”
“Ehmm perkataannya sedikitpun tak salah” pikir Siauw Ling, maka ia lantas menjawab
“Cahya hanya seorang prajurit tak bernama.”
Tosu itu kerutkan alisnya,
“Raut wajah anda agaknya pernah pinto dengar dari mulut,orang Iain, aku rasa kau pastilah seorang manusia ternama!”
“Heefc…. beeh…. totiang terlalu memuji.” je-ngek Yok Ong sambil tertawa dingin kemudian mulutnya membungkam kembali.
Tojien itu mendehem ringan lalu bertanya, “Siapakah nama sicu?”
“Siapa pula nama Totiang?”
Sepasang matn totiang itu berkilat tajam, ia menatap Yok Ong makin seksama.
“Pinto adalah Siauw Yauw-cu sekarang silahkan sicu utarakan namamu!” katanya.
“Loohu cuma seorang tabib yang khusus mengobati penyakit orang lain.”
“Seorang Tabib?”
“Benar, cuma berhubung rezekiku kurang baik rnaka setiap kali obat datang sang nya-wa sudah keburu melayang!”
“Haa…. haa….”tootiang, kalau kau punya. persoalan bicarakan saja dengan aku orang she Sang,” sela Sang Pat sambil tertawa ter bahak-bahak. “Kami orang yang biasa mela-kukan jual beli, biasanya jauh lebih ramah dalam pembicaraan dari pada orang lain.”
Siauw Yanw cu benar-benar seorang toosu yang beriman tebal, sekalipun disindir daengan pedas oleh Tok Chiu Yok-Ong, namun ia masih bisa menahan sabar dan tidak sam-pai mengumbar hawa amarahnya sambil tertawa hambar segera ujarnya, “Pinto mendapat perintah dari Koen cu untuk mengajak Sang-heng merundingkan satu persoalan.”
“Ooow, mau adakan jual beli? dalam bidang ini siauwte memang seorang yang ahli.
Selama kenutungan yang lebih banyak didapat dari pada kerugian, nah ajukan penawar-anmu!”
“Didalam gerak gerik Koencu kami kali ini, ingin sekali beliau melakukan suatu peristiwa yang besar dalam dunia persilatan, maka dari itu ia telah empat kali naik gunung untuk mengundang pinto turun gunung membantu dirinya.”
“Ha ha ha ba ha tentu dulu untuk mengundang Luuw Hian Tek pun harus melakukan kunjungan sebanyak tiga kali, sungguh tak nyana tootiang baru mau turun gunung setelah diundang sebanyak empat kali, sungguh lnar biasa….”
“Walaupun pinto tak dapat memadahi Coe kat Khong Beng, namun pinto pun tidak ingin lebih jelek dari pada orang kuno,”
“Tootiang, sekalipun kan punya kepaudaian yang luar biasa namun belum tentu bisa melakukan jual beli tanpa menderita kerugi-an lebih baik ajukan saja penawaranmu “
Siauw Yauw cu benar-benar mempunyai iman yang singat tebal, kembali ia dapat menguasai diri terhadap sindiran dari Sang Pat, ia tersenyum.
“Kebanyakan enghiong berwatak tinggi hati, terhadap manusia-manusia yang gagah dan bersemangat seperti itu selamanya pinto menaruh hormat dan kagum.” ia merandek sejenak, Iain sambungnya, “Tiga hari berselang, tatkala Koen-cu ka-mi sedang berlayar lewati tempat ini secara kebetulan telah menimbulkan rasa tidak senang di Soen toa cungcu, untuk menyata-kan ketidak senangan hatinya ia telah mengutus para jagonya dan memerintahkan koencu, kami untuk menyambangi mereka dalam dua jam kemudian….”
Persoalan ini merupakan soal yang ingin diketahui oleh Siauw Ling sekalian, maka semua orang memperhatikan dengan seksama
Sinar mata Siauw Yauw cu perlahan-lahan menyapu sekejap wajah Siauw Ling sekalian kemudian meneruskan lagi kata-katanya, “Walaupun pinto sudah menasehati mereka secara baik-baik, dimana kita sama-sama orang Bulim apa gunanya karena satu persoalan kecil sehingga menimbulkan peristiwa yang tidak diinginkan. siapa sangka Shen Bok Hong tetap berkeras kepala bukan saja ia tak mau mendengarkan nasihat pinto malahan mencaci maki diri pinto habis-habisan, tindakan yang kasar itu mengakibatkan Koencu kami jadi gusar, dan suatu pertarungan sengitpun tak bisa dihindari lagi.
Tidak aneh kalau kapal kapal nelayan pada ngacir pergi setelah menjumpai sampan sampan cepat itu.” pikir Sang Pat didalam hati. ‘ Kiranya tiga hari berselang ditempat ini telah berlangsung suatu pertempuran yang amat seru.”
Berpikir demikian, ia lantas bertanya
“Aku duga berkat petuujuk dari Too tiang dalam pertempuran ini pihak kalian telah berhasil memperoleh kemenangan besar, bu-kan begitu?”
“Shen Bok Hong tidak pandai melakukan pertempuran diatas air. setelah terlibat dalam pertempuran sengit selama setengah harian lamanya banyak perahn yang tenggelam dan ratusan jago dari perkampungan Pek Hoa san Cung menderita luka ataupun mati. di
bawah kawalan orang jagoannya nyaris Shen Bok Hong berbasil lolos dari kematian….”
“Apakah ia terluka?” timbrung Tok Chui Yok Ong tak tahan, sedikit banyak ia menguatirkan keselamatan Shen Bok Hong sebab sang toa cungcu dari perkampungan Pek Hoa San-cung itu adalah sahabat karibnya.
Siauw Yauw cu tertawa hambar.
“Ilmu silat yang dimiliki Shen Toa cungcu benar-benar mengagumkan hati pinto sekalipun sudah terluka namun ia berhasil menenggelamkan empat buah sampan kilat kami yang melakukan pengejaran dan melu-kai pula dua belas orang jago lihay kami, Akhirnya ia berhasil mendarat dan pulang kekampung dengan selamat.”
“Siapakah diantara kalian yang berhasil melukai dinnya??”
Mula mula Siauw Yauw cu tertegun kemu dian teriawa hambar.
Dalam suatu pertempuran sengit, masing masing pihak berusaha melnkai pihak lawannya dengan cara serta kepandaian apapun,
Siapakah yang berhasil melukai She Toacung cu tersebut pinto sendiripun tidak tahu, namun Shen Toa-cung cu masih pandang tinggi juga diri pinto ia telah melangsungkan
pertarungan sengit sebanyak tiga puluh gebrakan melawan diri pinto….”
“Aku tidak percaya dengan andalkan ilmu silatmu kau berhasil menangkap She Bok Hong” kembali Yok Ong menyela.
“Tidak salah. sebab pinto memang tak berhasil menangkan dirinya tetapi dalam tiga puluh gebrakan tersebut pinto pun tidak menderita kalah barang sejuruspun.”
Mendengar cerita itu Sat Pang merasa ter peranjat. pikirnya, “Kalau perkataan yang ia ucapkan barusan adalah kenyataan ilmn silat orang ini benar-benar luar biasa sekali, jarang sekali jago dalam Bu lim dewasa ini yang dapat me nyambut tiga puluh jurus serangan dari Shen Bok Hong waaaaah aku harus waspada
terhadap toosu hidung kerbau ini….”
Tampak Siauw Yauw Ong tajam tajam la-lu menegur, “Anda begitu rnemperhatikan serta menguatirkan keselamatan Shen Bok Hong aku rasa kalau bukan sanak kau tentnlah sahabat karibnya.”
“Hmm, kalau kau benar benar bisa menyambut tiga puluh serangan Shen Uok Hong tanpa menderita kalah barang sejuruspun ilmu silatmu boleh disebut sebagai salah seorang yang terlihay dalam Bu lim dewasa ini….”
Kembali Siauw Yauw cu tertawa hambar.
“Kalau Shen Bok Hong tidak menderita kekalahan total, dewasa ini mungkin Koen cu kami serta pinto sudah diusir dari wilayah ini!” serunya.
“Kalau begitu, kalian berhasil memperoleh kemenangan total?”
“Paling sedikit dalam pertemporan air yang berlangsung sehari berselang, Shen Bok Hong tidak memperoleh keuntungan apapun
karena kalau Shen Bok Hong yang menang kamipun tidak mungkin bisa berdiam lebih lama lagi diatas wilayah Koei Chiu….”
Ia merandek sejenak kemudian terusnya, “Peristiwa munculnya kembali Shen Bok Hong dalam dunia persilatan telah menggemparkan seluruh Bu lim, aku rasa kalian Tiong Chin Siang ku tentu tahu bukan akan hal ini.”
Sang Pat yang berpengalaman tidak berani menjawab sembarangan, ia merasa perkataan orang itu terdapat banyak liku likunya sehingga maksud hatinya yang sebetulnya, maka tak tahan ia menjawab, “Tidak salah, kami bersaudara telah tahu akan hal ini.”
Maka dari itulah Koencu kami ambil keputusan untuk tinggalkan penghidupan yang snnyi dan terasing untuk terjun kembali kedalam dunia persilatan!”
“Kemunculan koencu kalian adalah disebabkan kehadiran Shen Bok Hong dalam dunia persilatan, aku rasa dalam pertarungan tersebut kalian pasti telab menunjukkan kelihayan untuk menumbangkan kewibawaan perkampungan Pek Hoa San cung,?”
Memang demikian adanya. maka dari itu koen cu kami telah ambil keputusan untuk mengutus kami sekalian datang kepermukaan sungai Koei chiu guna mempersiapkan kemunculannya didalam dunia kangouw”
“Kurang ajar,” pikir Sang Pat. “sihidung kerbau ini bicara pulang pergi tidak keruan entah apa maksud tujnannya?”
Siuar mat any a perlahan lahan menyapu sekejap kearah delapan buah sampan yang muncul pula didaerah selatan, hatinya lantas ber gerak pikirnya lebih jauh.
“Aaaah benar, sihidung kerbau ini sengaja mengulur waktu dalam pembicaraan sebab ia ada maksud menggunakau peluang tersebut untuk mengatur posisi mereka.
Karena berpikir demikian maka ia lantas mendongak dan tertawa terbahak bahak,
Siaun Yauw cu benar benar amat hebat, sekalipun Sang Pat tertawa keras namun ia tetap pura pnra berlagak pilon, wajahnya tenang dan sikapnya acuh tak acuh.
“Sungguh licik si hidung kerbau in kem-bali Sang Pat berpikir didalam hatinya “Ternyata ia sama sekali tidak menegur aku kenapa tertawa…. Ia lantas berhenti tertawa dan menegur: “Totiang, sungguh keji dan licik rencana
busukmu….”
“Sang beng. kau terlalu serius dalam pembicaraan, bagian manakah pinto telah membuat kesalahan? harap kau suka memberi petunjuk.”
“Bala bantuan dari totiang telah tiba dan posisimupun sudah disiapkan, apakah kau masih berlagak pilon lebih jauh?”
Siauw Yanw cu berpaling melirik sekejap kearah delapan buah sampan cepat yang sedang meluncur datang. kemudian menjawab sambil tertawa
“Koencu kami paling suka menerima tamu terhadap kalian sepasang pedagang dari Tiong chiupun sudah lama merasa kagum, seandainya kalian Tiong chiu Siang ku suka membe-ri muka kepada pinto, bagaimana kalau naik keperahu kami dan berkunjung sejenak?”
Sang Pat berpaling kearah Siauw Ling la-lu berbisik lirih.
“Posisi kita sudah terkurung rapat apabila kita diharuskan bertarung diatas perahu meraka dan menentukan menang kalah disana. Entah bagaimana menurut toako??”
Si Raja Obat bertangan keji yang ikut mendengar saran tersebut sepasang alisnya langsung berkerut.
“Penyakit yang diderita puteriku baru saja sembuh mungkin tidak lelnasa bagi loohu untuk naik keatas perahu mereka….” erunya.
“Apabila kita benar benar akan bertarung mungkin keadaan yang kita hadapi sekarang jauh berbeda dengan keadaan tadi” sambung Tu Kioe dingin. “Menurut pendapat cayhe, diri pada kita sama tengelam kedalam sungai dan mati didasar air, lebih baik kita serbu keatas perahu mereka dan melangsungkan pertarungan disitu, sebab kesempatan disana jauh lebih besar dari pada disini.”
Walanpun nada ucapan tersebut mengandung sindiran terhadap Si Raja obat bertangan keji. namun apa yang diucapkan memang merupakan kenyataan.
Tok-Chiu-Yok Ong mendehem ringan kemudian menjawab, “Asal loohu bisa mendekati tojien tersebut hingga mencapai jarak satu tombak, aku bisa melepaskan racun keji keatas tubuhnya.”
Dalam pada itu terdengar Siauw Yiauw cu telah berseru dengan suara lantang.
“Tiga hari berselang, anak buah yang dibawa Shen Bok Hong untuk melangsungkan pertarungan melawan kami amat banyak sekali. Perahu sampan yang dibawa mencapai belasan buah, namun dalam akhir pertempuran itu banyak sekali perahunya yang tengge-lam bahkan Shen Bok Hong pun sendiri nya-ris terkurung. Apabila cuwi tidak percaya terpaksa ini hari pinto akan mengulangi kem-bali adegan pertempuran yang terjadi tiga hari berselang agar cuwipun bisa menyaksikan sendiri.”
Siauw Ling termenung, dengan susah pa-yah ia berusaha dan menempuh bahaya untuk menolong nyawa Lam-kong Giok, keadaannya sudah hampir sembuh siapa sangka kembali mereka terkurung didalam jebakan musuh, peristiwa ini membuat hatinya iba dan tidak tega…. lama sekali ia berpikirr
akhirnya sambil berpaling kearah Sang Pat katanya, “Saudaraku. asal mereka suka melepaskan Lam kong Giok serta siraja obat bertangan keji dan orang she Shi itu, perduli syarat apapun yang mereka ajukan boleh kita terima semua,”
“Toako…………….
“Tidak usah bicara lagi. Jalankan menurut perkataan,”
Sang Pat dibikin apa boleh bnat, terpaksa ia melirik sekejap kearah si raja obat ber-tangan keji dan berseru
“Sikap toako kami terhadap Yok-oug boleh dikata luar biasa bijaksana dan mulianya….”
Ton-Chiu-Yok-ong merasa amat terharu sekali. ia pejamkan matanya dan bergumam.
“Akan loohu ingat terus budi kebaikan ini suatu saat semua budi kebaikan tersebut pasti akan kubalas.”
“Hmmm.kau situa bangka selama hidup entah sudah berapa banyak kejahatan yang telah kau lakukan, tapi justru kau telah bertemu dengan toako kami yang mulia, bijak-sana dan penuh welas kasih, hitung-hitung kau sangat beruntung sekali.” Bambung Tu-Kioe dingin.
DENGAN watak yang dimiliki Siraja obat bertangan keji ia pasti akan naik pitam setelah disindir berulang kali oleh sepasang pedagang dari Tiong chiu namun kali ini ia tetap bersabar diri.
kiranya dalam hali kecilnya. lapun rapat rapat bila kali ini mereka harus bentrok dengan pasukan dari Su hay Koen-cu. sekalipun mereka memiliki ilmu silat yang lihay dus maka akhirnya tubuh mereka tenggelam juga didasar sungai…. maka mendengar usul dari Siauw Ling, hatinya langsung terbaru dan hawa gusar dalam hatinyapun kontan padam semua, kendati Tiong Chiu-Siang-Ku menyindir berulang kali, namun ia tidak ambil dalam hati.
Dalam pada itu Sang Pat telah berpaling kearah Siauw Yauw cu dan berseru, “Tootiang, kau tak perlu memutar balik persoalan. sebenarnya apa maksudmu harap segera diutarakan yang jelas agar kamipun bisa berunding!….
“Koen cu kami membutuhkan sekali jago- jago berkepandaian lihay, manusia seperti kalian sepasang pedagang dari Tiong-chiu justru merupakan bakat-bakat yang di idam idamkan Koen-cu kami….”
“Haa…. haa…. haa…. jadi Tootiang ada maksud menarik kami menjadi anak buahnya Su-Hay Koen-Cu???”
“Memang demikian maksud pinto!
“Selamanya Tiong chiu siang ku tak pernah tunduk kepada siapapun, pernaha^h Tootiang mendengar akan perkataan ini???”
“Kebanyakan enghiong hoohan memiliki watak demikian, sudah lama pinto tahu akan hal tersebut “, “la mengatakan sudah menduga Sperti semula” pikirSang Pat. Dus berarti diapun sudah mempunyai cara untuk menundukkan kami. ‘…. waaah, berbahaya sekali. aku harus berhati-hati.”
Kepalanya didongakkan keatas meraandang sekejap perahu berpanca warna Itu kemudian tertawa dan berkata, Walaupun selama hidup kami tak pernah tunduk kepada siapapun. tetapi selamanya kami menghormati mereka-mereka yang jauh lebih kuat dari pada kami berdua, apa bila tootiang merasa yakin punya care untuk membuat kami kagum berdua saudara sih sangat berharap bisa mengunjungi perahu kalian dan mencari pengalaman.”
“Dengan senanghati pinto sambut kedatangan kalian, bahkan mungkin juga Koen Cu kamipun akan menyambut kedatangan kamu
“Kami suka naik keatas perahu kalian, tapi ada syarat yang dipenuhi lebih dahulu.
Apa syaratmu asal pinto bisa menyanggupi tentu akan kukabulkan?….”
“Kalau dibicarakan sebetulnya amat sederhana sekali. kami dua bersaudara setuju untuk naik keperahu kalian guna menjumpai Su Hay Koencu, tapi tootiang pun harus melepaskan lebih dahulu semua orang yang ada didalam perahu.
Siauw Yauw-cu termenung sejenak, akhir-nya ia mengangguk.
“Baiklah, akan kukabulkan permintaan kalian berdua.”
“Cayhe pun ada maksud untuk ikut mengunjungi perahu kalian,” tiba-siba Siauw-Ling menimhrung sambil busungkan dada.
“Toako, buat apakah cari penyakit?….”bisik Tu Kioe.
Terdengar Siauw Yauw-cu telah menegur-”Siapakah kau?? koencu kami hanya suka menjumpai para tenghiong hoohan belaka
kalau cuma seorang prajurit tak bernama yang ingin naik keatas perahu kami.Hmm, itulah yang dikata bermimpi disiang hari bolong.”
“Hmmm, cayhe pun punya sedikit nama kosong didalam dunia persilatan. “Siapa nama anda???” ‘Siauw Ling….”
“Aaaaah! kau bernama Siauw Ling??….”
“Sedikitpun tidak salah, akulah Siauw Ling!”
“Tatkala pinto baru saja turun gunung, sudah kudengar nama besar dari Siauw Ling yang menggetarkan sungai telaga, kuda putih dan pedang kilatnya disegani banyak orang,, andakah orang itu….??”
“Sedikitpun tidak salah.”
“Siauw Ling yang tersiar dalam dunia persilatan adalah seorang pemuda berwajah ganteng, kini setelah bertemu sendiri aku baru merasa bahwa itu bohong, hanya saja usia anda rada lebih mudaan sedikit.”
“Ououuw…. totiang ingin mencoba kepandaianku??”
“Siauw-heng….” tiba-tiba suara dari siraja obat bertangan keji berkumandang disisi telinganya. “Jangan terlalu memamerkan kepandaian silatmu.”
Sinar mata Siauw Ling beralih keatas wa jah Yok Ong kemudian permintaannya dengan nada dingin, “Anda boleh kembali kedalam ruang perahu, disini tak ada urusanmu!”
Tok Chiu Yok Ong tertegun, kemudian putar hadan berjalan masuk kedalam ruang perrahu.
Terdengar Siauw Yauw-cu berseru lantang.
“Sudah lama pinto mendengar nama besar anda, sayang tiada berkesempatan untuk saling bertemu muka, apalagi Siauw tayhiap suka memperlihatkan kepandaianmu agar pinto pun bisa menambah petahuanku. hal ini tentu saja lebih baik.”
Tatkala Tiong-chiu Siang Ku menyaksi-kan Sianw Ling melangsungkan tanya jawab dengan Siauw Yauw cu, walaupun dalam hati mereka ada maksud menghalangi niat tersebut namun apa boleh buat mereka tidak kuasa berbicara, maka terpaksa mereka tung gu disamping dengan mulut membungkam.
“Apakah tootiang ingin minta petunjuk?” saru Siauw Ling sambil mencekal gagang pedangnya.
“Kecepatan gerak yang dimiliki Siauw Ling telah menggetarkan sungai telaga, tentu saja piuto ingin minta petunjuk dari ilmu pe-dang Sianw heng.”
Diam-diam Siauw Ling mengatur bernapas. kemudian ujarnya serius.
“Akan kusuruh sepasang matamu melek lebar-lebar dan menyaksikan jurus Hwe-sian kiam yang langka dalam dunia persilatan.
“Telah lama kudengar nama Jurus pedang itu sayang belum ada kesempatan bagiku untuk menyaksikan sendiri pinto pasti akan memperhatikan dengan seksama.’
“Bagns, lihat baik baik!
Seraya berseru pergelangan tangan kanan-nya bergerak, tahu-tahu pedangnya sudah terlepas dari sarung dan meluncur ketengah angkasa.
Diiringi desiran angin tajam pedang tadi meluncur keangkasa dengan gerakan yang lambat. Pedang bergoyang seakan-akan setiap saat beuda tersebut bisa rontok keatas bumi
“Jurus Hwi Sian Kiam yang indah….” puji Siauw Yauw Cu.
Belum habis ia berbicara. tiba-tiba pedang yang berada diangkasa berputar satu lingkar-an. tampak cahaya putih berkelebat lewat di antara jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang dari atas geladak perahu panca warna itn. tiba-tiba seorang lelaki berbaju biru roboh binasa dan tercebur kedalam sungai.
Setelah pedang itu membabat putus tubuh lelaki tadi, kembali pedang tersebut berputar satu lingkaran kembali melayang balik kearah Siaaw Ling.
Jurus Hwi Sian Kiam yang amat mengerikan ini bukan saja membuat Siauw Yauw Cu berdiri tertegun dengan mata melotot bahkan Sang Pat serta Tu Kioe pun terperanjat sehingga lama sekali tak sanggup mengucapkan sepatah katapun. „ Setelah menerima kembali pedangnya Siauw Ling masukkan kembali senjata itu kedalam sarung lalu tertawa hambar.
“Bagaimana?” tegurnya. “Entah dengan andalkan jurus pedang yang cayhe meliki.itu, punya syaratkah bagiku untuk naik keatas perahu panca warna?”
“Hoo…. haa…. haa…. tidak aneh kalau setiap orang kang ouw yang menyebut Siauw thay hiap lantas menunjukkan sikap yang sangat menghormat.”
“Terima kasih, tak usah anda memuji!”
Siauw Yauw Cu termenung sejenak, kemu-dian berkata, “Dengan andalkan jurus Hwie Sian Kiam yang Siauw thayhiap miliki itu, sudah sepantasnya bagi kami untuk mempertemukan
dirimu dengan koen-cu kami hanya saja….”
“Hanya saja kenapa?”
“Pinto telah membuatkan sebuah peraturan
yang sangat jelek bagi Koen cu kami….”
“Apa peraturan itu??”
“Barang siapa yang berjumpa dengan Koen cu kami untuk pertama kalinya, dia harus mengenakan semacam alat borgol ditubuh-nya.”
“Kalau Koen-cu kalian benar-benar menyayangi bakat-bakat baik, tidak seharusnya ia bersikap demikian kurang ajar….”
“Perbuatan itu tidak bisa disalahkan kepada koencu kami,” tukas Siauw Yauw-cu- sam-bil mendengar. “Kalau mau disalahkan maka harus salahkah diri pinto yang telah menetapkan peraturan aneh ini. Aaaa! tapi kini peraturan telah ditetapkan, terpaksa pinto pun harus minta maaf yang sebesar-besainya terlebih dahulu kepada kalian betiga.”
“Apakah kami harus naik keatas perahu panca warna itu? dan harus berjumpa dengan Su Hey Koencu….” teriak Tu Kioe ketus.
“Hal ini tentu saja dan tak bisa dirubah lagi.”
“Kalau aku si To jie-ya tak mau pergi, kalian mau apa?”
“Ha—haaa…. sudah lama pinto dengar bahwa sepasang pedang dari Tiong-chiu paling memegang janji dalam dunia persilatan persoalan yang telah disetnjui apakah hendak kalian ingkari?”
“Memang tidak salah kami setuju untuk naik keatas perahu kalian, tetapi tak pernah kami setujui untuk mengenakan alat borgol.”
“Yang kami maksud sebagai memakai alat borgol, kalau dibicarakan bagi kalian bertiga sebetulnya sama saja dengan tidak mema-kai….”
Siauw Yauw-cu merandek sejenak, lalu terusnya, “Dengan mengenakan alat borgol kalian naik keatas perahu kami. itu berarti bahwa kalian menaruh rasa hormat terhadap koencu kami, sedangkan koencu kami pun sudi merendahkan derajatnya dengan menyambut kedatangan kalian hal ini menunjukkan kalau beliau menyayangi kamu semua, jadi kalau dihitung tentu saja kedua belah pihak sama-sama tidak menderita rugi.”
Siauw Ling merasa tidak ada keuntungan kalau menunda-nunda waktu lebih jauh.ia sadar bahwa Lam-kong Giok perahu istirahat serta pengobatan lebih jauh maka segera serunya, “Dapatkah tootisng menjelaskan alat borgol macam apakah yang harus kami kenakan?
“Hanya sebuah borgol berantai keras yang amat kecil.”
“Baiklah….”
Sianw tayhlap, sungguli cepat kau ambil keputusan dan membuat pinto merasa kagum.
“Namun cayhepun mempunyai satu syarat pula yang hendak kuajukan.”
“Silahkan Siauw tayhiap utarakan.”
“Kami harus menyaksikan dahulu perahu besar kami jauh meninggalkan tempat ini kemudian saat borgol tersebut baru akan kami pakai dan mengikuti tootiang naik ke atas perahu panca warna.”
“Siapakah yang berada diatas perahu? begitu pentingkah orang orang itu tanya Siuaw Yauw-cn dengan alis berkerut.
“Bagaimana?” jengek Tu Kioe. Bukankah kau sudah setuju? apakah kau ingin mengingkari janji?”
“Pinto hanya bertanya sambil lalu saja!
“Seorang gadis yrng baru saja sembuh dari sakitnya.” kata Siauw Ling.
“Sejak dulu kaum enghiong memang tak dapat mele^aikan diri dpri belenggu kaum wanita. apa lagi Siauw Tayhiap adalah seorang lelaki yang tampan, tentn saja tak dapat menghindarkan diri dari persoalan cintas’ Sudah barang tentu akan pinto ijinkan permintaan itu.
“Jadi kami sekalian baru akan mengenakan alat borgol itu bila perahu besar tersebut sudah jauh meninggalkan tempat ini.”
“Tentang soal ini….”
“Selamanya cayhe tak parnah mengingkari janji. asal perahu itu sudah berlalu cayhe pasti akan mengenakan alat borgol itu.
“Baik!” akhirnya Siauw Yanw-cu setuju juga sinar matanya dialihkan kearah Tiong Chiu Siang Ku dan tanyanya,
“Bagaimana pendapat kalian berdua??/
“Asal toako kami sudah setuju. terjun kelautan apipun tak akan kami tampik.”
“Pinto akan melepaskan sebuah sampan kecil buat kalian, bertiga pun boleh naik keatas sampan agar perahu besar itu segera dapat berlayar meninggalkan tempat ini.”
Seraya berkata toosu itu ulapkan tangannya, sebuah sampan kecil segera meluncur ke arah perahu yang ditumpangi Siauw Ling se kalian.
Sampan kecil itu dengan menerjang ombak meluncur datang, kecepatannya luar biasa, dan tatkala hampir dekat dengan perahu besar itu, sampan tadi baru berhenti secara mendadak.
Diatas sampan tersebut, kecuali seorang lelaki berbadan kekar yang memegang dayung, tiada orang lain yang ikut serta didalam-nya.
“Sampan kecil inikah yang kau maksud-kan?” Tegur Siauw Ling sambil angkat kepala memandang sekejap kearah Siauw Yauw cu.
Sedikitpun tidak salah, siiahkan kalian bertiga naik keatas sampan!”
Siauw Ling tidak banyak bicara lagi, ia loncat keatas sampan diikuti sepasang peda-gang dari Tiong-chiu dibelakangnya.
Barn saja ketlga orang itu melayang turun keatas sampan, tiba-tiba dari dalam ruang perahu berkumandang keluar suara jeritan lengking seseorang.
“Siauw siangkong, Siauw tayhiap….”
Suaranva tinggi melengking, jelas orang itu telah menggunakan segenap tangannya untuk menjerlt.
Siauw Ling menghela napas ringan, gumamnya lirih….
“Aaaaaah, itulah teriakan dari noda Lam-koug. Tu-heng cepat suruh mereka jalankan perahu.”
Tu Kioe terima perintah dan berpaling ke arah perahu besar, bentaknya dingin.
“Hy kenapa perahu tidak kalian jalankan? apakah kamu semua mau tunggu maut disi ni?”
“Tu jie-ya hamba segera suruh mereka jalankan perahu” buru buru Cioe Sun pemilik perahu tersebut menjura.
Diikuti suara ombak memecah ketepian perahu besar iiupun perlahan lahan bergerak kedepan.
Dua buah sampan yang berposisi disebelah Timur tiba-tiba menyingkir kesamping dan membuka sebuah jalan lewat bagi perahu besar itu.
Sementara perahu tadi kian lama berjalan makin cepat, dalam sekejap mata sudah tinggal sebuah titik hitam belaka ditempat kejauhan dan akhirnya sama sekali lenyap dari pandangan
Menanti perahu itu sudah mendekati pantai, pada saat ini sekalipun pinto kirim orang untuk mengejarpun tak akan mampu meayandak mereka, pinto merasa kalian bertiga tentu boleh berlega hati bukan?!
“Hhtumm, ternyata Tootiang adaiah seorang manusia yang pegang janji juga!….
jengek Siauw Ling sambil mendongak dan mamandang sekejap kearah Siauw Yauw-cu.
“Seorang Koen cu apa bila tak dapat di-percaya ia tak akan sanggup bertahan dikolong langit. Pinto percaya cuwi sekalipun merupakan Koen cu yang bisa dipercaya pula setiap perkataannya.”
“Kita berdiri dalam posisi yang Saling bermusuhan, belum tentu kami harus menepati janji,” sela Tu Kioe dingin.
Ucapan ini kontan membuat air muka Sianw Yauw-cu berubah hebat.
“Selamanya sepasang pedagang dari Tiong-chiu selalu pegang jinji dalam setiap tindakannya dalam dunia persilatan, Tu heng tentunya sedang mengajak pinto bergurau bukan?”
“Apa yang cayhe katakan adalah perkataan yang jujur….”
Belum habis Tu Kioe menyelesaikan kata-katanya. Siauw Ling telah menukas sambil ulapkan tangannya.
“Tootiang, silahkan ambil keluar alat borgol kalian!”
Siauw Yauw-cu berpaling dan menggape segera muncul seorang bocah lelaki berbaju hijau serta seorang dara berbaju hijau berjalan menuju keujung perahu.
Perahu berpanca warca itu tingginya mencapai enam depa dari permukaan air sungai sedangkan Siauw Ling sekalian berdiri diatas sampan yang tingginya cuma satu depa lebih sedikit dari permukaan air, oleh sebab itu si anak muda tersebut sama sekali tak dapat melihat pandangan diatas perahu besar itu.
Terdengar Siauw Yauw-cu berkata kembali
“Nab, kalian turunlah. segera pasangkan alat borgol emas itu ditubuh ketiga orang tamu agung kita.”
Bocah lelaki berbaju hijau serta dara berbaju hijau itu berbareng mengiakan, lalu masing-masing turun keatas sampan dimsna Siauw Ling sekalian berada.
Usia kedua orang itu baru empat lima belas tahunan, namun ilmu meringankan tubuh yang dinnlikinya amat sempurna, tatkala mereka melayang turun keatas sampan dari atas perahu panca warna tersebut tubuhnya enteng bagaikan dua lembar daun kering tubuh sampan tersebut sama sekali tidak bergeming barang sedikitpun jua.
Menyaksikan kehebatan kedua orang bocah lersebut, diam-diam Sang Pat berpikir didalam hatinya, “Ilmu silat yang dimiliki kedua orang bocah inipun sudah demikian lihaynya. apalagi orang yang disebut sebagai Su Hay Koencu tersebut kepandaiannya iuar biasa sekali.”
Dalam pada itu tampaklah bocah lelak berbaju bijau itu ambil keluar sebuah borgol yang memancarkan sinar keemas-emasan dalam sakunya lalu bertanya.
“Siapakah dianrara kalian yang hendak memakai borgol ini lebih dulu?”
Borgol emas itu panjangnya cuma tiga depa dengan gelang yang saling berkaitan setiap jarak setengah depa terdapatlah sebuah mata rantai emas sebesar buah lengkeng dengan demikan terbentuklah sebuah borgol yang kuat dan luar biasa.
“Sungguh aneh bentuk borgol Ini,” pikir Siauw Ling setelah mengawasi alat tersebut beberapa saat lamanya, “Dibalik bentuk yang aneh tersebut, pasti mempunyal kegunaan Istimewa”
Dalam pada itu Tu Kioe telah busungkan dada sambil berseru.
“Biarlah Tu jie-ya coba duln, tapi kalian harus tahu bahwa tabiat dari Jie-ya mu kurang baik, kalau kamu dua orang bocah kurang baik menghadipi diriku. hati-hatilah jangin-jangan jiwa kamu berdua akan melayang keakhirat.”
Meskipun usia bocah lelaki berbaju hijau itu tidak begitu besar, tapi imannya sangat tebal, ia cuma tersenyum dan segera angkat rantai emas tersebut untuk dikalungkan keatas leher Tu Kioe.
Perawakan tubuh Tu Kioe sangat tinggi sekalipun bocah berbaju hijau itu sudah angkat sepasang tangannya tinggi-tinggi namun ia tak berhasil mengalungkan borgol tersebut keaias leher Tu Kioe. sementara orang she Tu itu sendiripun sengaja berdiri sambil busungkan dada angkat kepala, tentu saja bocah itu semakin tak sanggup untuk melaksanakan tugasnya.
“Tiba-tiba tampaklah dara dara berbaju hijau itu maju dua langkah kemudian menjulur tangan kanannya kedepan.
Bocah berbaju biru itu mengempos tenaga
badannva meloncat naik keatas lengan dara tersebut laksana kilat mengalungkan borgol emas tadi keatas leher Tu Kioe yang kemudian merantai pula sepasang lengannya sebanyak dua kali akhirnya mengunci setiap tuas borgol yang ada dirantai moas itu.
Sebelum rantai emas tersebut dikunci. Tu Kioe masih tidak merasakan apa-apa tapi begitu dikunci alisnya kontan berkerut.
Kiranya sebelum beberapa buah borgol tersebut dikunci rantai emas tersebut belum nampak kegunaannya, tapi setelah dikunci seluruh rantai emas itu secara tiba-tiba berkerut kencang dan merantai sepasang tangan-nya erat-erat bersama dengan lehernya.
Tn Kioe melirik sekejap kearah rantai emas tersebut. kemudian tertawa dingin dan berdiri tegak tak berkutik.
“Hmm! cuma sebuah rantai emas macam inipun apa mungkin bisa benar-benar memborgol aku orang she Tu???” piktrnya.
Dalam pada itu dari dalam sakunya kembali bocah berbaju bijau itu sambil keluar sebuah rantai emas lalu ujarnya, “Sekarang giliran siapa yang hendak dirantai?”
“Haa…. ha…. haa…. borgol diriku!” sahut Sang Pat sambil sambil tertawa terbahak-bahak.
Bocah berbaju hijau itu melangkah bedepan, dengan cara yang sama iapun memborgol tubuh Sang Pat
…. Selama ini Siauw Ling hanya menyaksikan sebuah tingkah laku bocah berbaju hijau itu dengan pandangau dingin, sepatah ka tapun tidak ia ucapkan keluar.
“Sekarang tiba giliran anda!” terdengar bocah itu menegur sambil ambil keluar borgol ketiga dan mendekati diri Siauw Ling.
“Silahkan turun tangan!”
Bocah berbaju hijau itu angkat borgolnya dan dengan cepat Siauw Ling pun kena dirantai.
Menyaksikan ketiga orang itu telah di borgol semua, Siauw Yauw-cu baru tersenyum dan berkata kembali.
“Pinto masih mempunyai suatu pertnintaan yang sebenarnya tidak pantas untuk di-utarakan keluar.”
“Hmm! kalau permintaanmu itn tidak pantas lebih tak usah diutarakan kelnar,” tukas Tu Kioe dingin. “Cayhe sekalian hanya menyanggupi untuk menggenakan borgol namun tidak pernah mengadakan perjanjian lainnya.
“Peraturan tersebut merupakan peraturan yang ditetap Koencu kami, setiap anggauta Bulim yang ada dikolong langit harus melaksanakannya tanpa kecuali, tentu saja kalian bertiga pun harus tunduk dengan peraturan ini.”
“Apabila permintaan itu adalah permintaan yang tidak pantas, kami sekalian boleh menyetujui, namun boleh juga menamplk. Harap Tootiang mengutarakannya keluar lebih dulu!” kata Siauw Ling.
“Dikala kalian bertemu dengan Koen cu kami, lebih baik tinggalkanlah senjata tajam yang kalian gembol didalam ruang perahu.”
Siauw Ling kerutkan dahinya, belum sempat ia ambil keputusan untuk menerima atau tampik Tu Kioe sudah tak sabar lagi, bentaknya dengan nada keras. ‘ “Perhitungan sie poa Tootiang benar-benar terlalu berkelebihan…. kau anggap kami sudi tunduk dengan peraturanmu itu!”
Sembari berbicara diam-diam hawa murninya disalurkan keseluruh badan dan tiba-tiba ia meronta keras.
Pleeeetak! Pleeeeetak! diiringi suara yang nyaring, borgol emas tersebut bukannya patah jadi dua bagian sebaliknya malah membelenggu semakin kencang rantai-rantai…. yang…. semula…. mengendor karena rontaan tersebut malahan berkerut kencang sekali.
Diam-diam Tu Kioe merasa amat terperanjat, pikirnya.
“Sungguh luar biasa rantai emas kecil ini…. tak nyana kendati bentuknya kecil namun kekuatannya begitu kokoh….”
Terdengar Siauw Yauw-cu tersenyum dan berkata.
Jilid 4
ILMU silat yang kalian bertiga miliki sangat lihay, pinto duga tabiat kalianpun pastilah sangat tinggi hati. Oleh sebab itu mau tak mau pinto harus menggunakan rantai emas yang di-buat secara istimewa untuk merantai kalian bertiga. Haruslah cuwi sekalipun ketahui. rantai emas yang kalian pakai saat ini merupakan rantai yang dibuat dari serat ulat sutera dicampur dengan besi baja, bukan amat kokoh dan ulet bahkan tempat dimana rantai tersebut membelenggu tubuh kalian merupakan sendi-sendi penting serta urat-urat nadi penting. Meskipun kalian punya kekuatan seribu katipun dan memliliki senjata pokiam jangan harap bisa mematahkan rantai itu.
“Ha…. ha…. ha…. sungguh licik perbuatan Too tiang, dan sungguh lihay siasat kalian.” sin-dir Sang Pat sambil tertawa terbahak bahak. Siauw Yauw-co tertawa hambar. “Koen-cu kami hanya mempunyai tiga buah rantai emas yang dibuat secara istimewa apabila dipihak kalian bertambah lagi dengan seorang saja maka kami akan kekurangan alat untuk merantai kalian-kalian….”
la merandek sejenak lalu menambah: “Ambil dan rampas semua senjata tajam yang mereka bawa!”
Bocah berbaju hijau serta dara berbaju bijau itu segera mengiakan, tanpa menimbulkan sedikit suarapun secara terpisah mereka menyerang pedang milik Siauw Ling serta senjata pit baja milik To Kioe.
Melihat datangnya serangan. Tu Kioe kesamping untuk menghindari diri dari cengkeraman kelima jari lawan, kemudian kakinya melancarkan sebuah tendang-an kilat menghajar tubuh bocah berbaju bi-jau itu.
Gerak-gerak bocah berbnju hijau amat ge-sit dan lincah sekali, badannya berkelit kesamping kemudian jari berkelebat menotok jalan daran “Sian Ciong-hiat” yang terletak dikaki kanan Tu Kioe.
“Tu Kioe merasa amat terperanjat melihat bocah itn mengancam jalan darahnya, Iaksana kilat ia tarik kebelakang kaki kanannya dan berpikir.
“Sungguh tak nyana kepandaian silat yang dimiliki bocah lni luar biasa sekali….” Tiba-tiba terdengar Siauw Ling berseru: “Saudara Tu, tak usah melawan, berikan saja senjata tajam kita kepada mereka.”
Tu Kioe selamanya tak berani membangkang” perintah Siauw Ling, mendengar ucapan tersebut iapun tidak mengadakan perlawanan lagi.
Bocah lelaki itu segera menyabut keluar senjata pit baja yang tersoren dipunggung Tu Kioe sementara dara berbaju yang hijau tersebut Sudan mengambil pedang milik Siauw Ling dan bergerak mendekati Sang Pat.
“Dimanakah senjata tajammu kau sim-pan??” tanyanya.
“Sengaja tajam sih ada cuma kurang leluasa bagimu untuk mengambilnya keluar Harap nona suka membuka lebih dalu senjata itu kemudian borgol itu baru dikenakan kembali???”
Jelas dara berbaju hijau itu sama sekali tak ada pengalaman didalam dunia persilatan, mendengar ucapan dari Sang Pat tersebut bungkam dalam seribu bahasa untuk beberapa saat lamanya sepatah katapun tak sanggup diutarakan keluar.
Tampaklah bocah berbaju hijau itu segera datang menghampiri mereka, dan tegur-nya, “Dimana anda simpan senjata tajammu? Cayhe suka mewakili dirimu untuk mengambilnya keluar.”
“Kalau begitu merepotkan saudara cilik untuk mengambil sendiri,” seru Sang Pat seraya sengaja menggembungkan perutnya.
Dari balik jubah Sang Pat yang lebar akhirnya bocah tersebut berhasil merampas senjata sie-poa emas tersebut, kemudian berpaling kearah Siauw Yauw-cu yang selama ini berdiri diujung perahu panca-warna dengan mulut membungkam, tenaknya.
“Semua senjata telah kami rampas semua!” ‘Baik sekali, kalian boleh naik keatas perahu!”
Kedua orang itu mengiakan. dengan membawa senjata tajam milik Siauw Ling merekapun meloncat keatas perahu.
Perlahan lahan Siauw Ling alihkan sinar matanya kearah Siauw Yauw-cu lalu seru-nya.
“Senjata tajam kami semua telah berhasil kau rampas. sekarang Tootiang masih ada petunjuk apa lagi?”
Sejak semnla aku sudah tahu kalau sihi-dung kerbau ini tak bisa dipercayn, dugaan ku ternyata tidak meleset,” sela Tu Kios dingin.
Siauw Yauw-co sama sekali tidak menja-di gusar karena sindiran itu, ia malab ter-tawa ha-mbar dan menyahut.
“Kalian bertiga telah memakai borgol emas, pinto rasa dalam gerak-gerik tentu kurang leluasa, biarlah pinto turunkan tangga untuk mempersilahkan kalian bertiga naik perahu.”
Tidak menantikan jawaban dari Siauw Ling lagi, ia berpaling dan memerintah-”Turunkan tangga!”
Siauw Ling tidak banyak bicara, ia berjalan lebih dahulu menaiki perahu pancawarna tadi disnsul Tiong Chiu Siang Ku dibela-kangnya.
Perahu pancawrrna tersebut amat luas sekali geladaknya, panjang kurang lebih tiga tombak dengan lebar mencapai satu tombak lebih dua tiga depa.
Diujung geladak terrdapat sebuah ruang perahu yang pintu ruang tersebut terukir dengan sebuah naga sakti serta burung Hong.
Dua belas orang lelaki kekar berbaju hitam dengan golok tersoren dipunggung berdi ri sejajar dibelakang Siauw Yauw-cn.
Tampak Siauw Yauw-cu ulapkan tangan-nya, dua belas orang lelaki berbaju bitam tadi laksana kilat menyebar kesamping dan membuka sebuah jalan untuk lewat para jago,
Samentara itu Sang Pat memperhatikan tiang layar diatas perahu itu dengan seksama, ia merasa bahwa perahu ini jauh berbeda bentuknya dengan perahu-perahu biasa, jelas bahan maupun bentaknya dibikin secara istimewa dan kokoh sekali.
“Harap kalian bertiga suka menanti sejenak diatas geladak,” ujar Siauw Yauw-cu sambil tersenynm.” Pinto segera akan masuk kedalam untuk memberi laporan kepada Koencu kami agar beliau dapat keluar untuk menyambut kedatangan kalian bertiga.”
“Kunjungan ini bukan muncul atas dasar hati kecil kami sendirl, aku rasa kalian tak usah banyak adat,” tukas Siauw Ling hambar.
“Pinto pernah menjanjikan hal itu kepada kalian bertiga, setelah kujanjikan mana bo-leh kuingkari kembali???”
Dengan langkah lebar ia lantas masnk ke dalam ruang perahu.
Pintu ruang perahu yang semula tertutup rapat tiba-tiba membuka dengan sendirinya, tapi setelah Siauw Yauw-cu melangkah ma-sok pintu tersebut kembali menutup sendiri-”Rantai emas ini amat kokoh dan kuat-nya luar biasa,” bisik Sang Pat dengan suara lirih. “Secara diam-diam siauw-te telah coba mengarahkan tenaga namun rantai tersebut gagal juga kupatahkan….”
“Pada saat ini kita sudah terpesosok ked lam jebakan orang. bila keadaan tidak terlalu memaksa aku harap saudara berdua suka bersabar diri!”
“Kami berdua pasti akan melaksanakan perintah toako dengan betul-betuL….”
“Walaupnn rantai emas ini sulit bagi kita untuk mematahkannya, tapi bukankah kita masih punya dua kaki untuk melakukan perlawanan?” selalu Tu Kioe dari samping.” Siauw-te rasa hal yang paling menyulitkan
Saat ini kita masih berada diatas perahu, sedangkan kami bersaudara tidak pandai akan ilmu dalam air, sekalipun berhasil menerjang keluar dari kepungan mereka belum tentu bisa lolos dari sungai ini.”
“Pendapat saudara Tu tepat sekali,oleh sebab itulah kita harus berusaha untuk sabar…. dan sabar.”
Tiba-ttba tampak pintu ruang perahu yang tertutup membentang lebar kembali diiknti munculnya dua orang bocab berbaju hijau itu adalah empat orang dara berbaju hijau pula, mereka semua sama-sama menyoren sebuah pedang panjang.
“Loo-toa!” Tu Kioe segera berbisik kepada Sang Pat dengan nada amat lirih, “Aku rasa Su Hay Koen-cu pastilah seorang lelaki hidung bangor yang gemar main prempuan.”
“Darimana kau bisa tahu “
Coba kau lihnt diantara atiak buahnya bocah perempuan jauh lebib banyak daripa-da bocah lelaki….
Sementara mereka sedang hercakap-cakap, tiba-tiba terdengar irama musik yang merdu berkumandang datang, ditengah iringan musik yang merdu merayu perluban-lahan muncul seorang lelaki berbaju kuning emas dengan sulaman seekor naga dari warna emas pula.
Usia orang itu tidak terlalu besar, kurang lebih diantara tiga puluh tahunan, wajah putih bersih tak berjenggot, langkahnya perla-han dan mantap seolah mengikuti irama musik.
“Hemmm! sungguh gede lagaknya, diang-gap setelah berlagak begitu lama mirip seorang kaisar? cisss! sungguh memuakkan,” maki Tu Kioe dsngun nada lirih.
Siauw Yauw-cu berjalan mengikuti dibelakang lelaki berjubah kuning emas itu. setelah keluar dari pintu ruang perahu mendadak ia percepat langkahnya mendahului orang berjubah kuning itu dan menuju kehadapan Siauw Ling serunya.
“Koen-cu telah keluar dari ruangan. harap kalian bertiga suka munyambut dengan segala penghormatan.”
“Hemmm, kenapa aku harus menyembah dirinya?” tukas Tu Kioe dingin. “Jangan di-kata dia bukan Kaisar sungguhan. sekalipun kaisar snngguhan yang berada dihadapanku pun belum tentu kami bersaudara sudi menyembah dirinya….”
Walaupun ucapan tersebut diutarakan tidak terlalu keras, tapi orang berjubah kuning itu dapat mendengarnya dengan amat jelas sekali, sepasang matanya yang bersinar tajam segera menyapu kearahnya.
Siauw Yauw cu ada…. maksud menasehati ketiga orang itu dengan beberapa patah kata tapi mendadak ia batalkan maksudnya itu.
Ternyata takut Sianw Ling sekalian masih mengucapkan kata yang semakin tak enak didengar, bukan kebaikan yang diterima sebaliknya malah kejelekan oleh sebab itu tat kala perkataannya Sudah meluncur hampir di bibirnya ia telan kembali mentah-mentah.
Sementara itu tampakhh dua orang bocah berbaju hijau serta dara berbaju hijau itu sudah berhenti kurang lebih tiga empat tombak didepan ketiga orang itu, mereka memecah diri kedua belah samping dan membuka satu jalan lewat buat mereka.
Perlahan-lahan orang berbaju kuning itu berjalan melampui bocah berbaju hijau iyu setibanya dihadapan para jago ujarnya perlahan, “Barusan cayhe dengar pujian dari Kok su kami tentang nama besar kalian bertiga, Sudan lama cayhe merasa kagum dan ingin berkenalan.
“Aaaah…. jadi dia benar-benar mau memberontak?’” pikir Siauw Ling dalam hati, “Kau menyebut dirimu sebagai Su Hay Koen cu dan menyebut pula sihidung kerbau itu sebagai Kok su…. cuma andalkan beberapa buah sampan serta perahu panca warna lni-pun kau ingin menyamakan dirimu sebagai kekuatan sesuatu kerajaan.”
Dalam hati memaki diluaran menjawab, “Terima kasih…. terima…. kasih…. Koen-cu terlalu memuji.”
“Silahkan kalian bertiga masuk kedalam ruangan dalam agar cayhe bisa menyampaikan rasa penghargaan kami terhadap kalian bertiga.”
“Hhhim, kami bersaudara adalah manusia-manusia kasar dari dunia persilatan.” sela Tu Kioe dingin, hatinya tnerasa panas sekali. “Tidak pantas bagi manusia macam kami untuk masuk kedalam ruang istana Kaisar, apabila tlngkah-laku kami kurang sesuai. bukankah hal ini malah akan merusak pemandangan disana?”
“Tidak mengapa ” Siauw Yauw-cu segera menyela. “Koen cu kami selalu bersikap besar juga, dan suka bakat-bakat yang baik. Cuwi sekalian adalah orang-orang tersohor dalam dunia persilatan, itulah manusia-manusia berbakat yang digemari Koen-cu kami, sekalipun sikap kalian agak kasarpun tidak akan jadi soal!”
“Perkataan Kok-su sedikitpun tidak salah, silahkan kalian bertiga masuk kedalam ruang’ an untuk berbicara!” sambung orang berjubah kuning itu. Mendengar tawaran itu. Siauw Ling segera berpikir didalam hatinya.
“Setelah kami berada diatas perahu Panca Warna ini, sudah sepantasnya kalau masuk
kedalam ruang perahu untuk mengadakan pembicaraan dengan mereka….”
Karena berpikir demikian ia lantas melangkah masuk kedalam ruang perahu itu.
Menyaksikan Toakonya masuk. Sang Pat serta Tu Kioe pun tarpaksa mengikuti dibe-lakangnya. Orang berjabah kuning itu berpaling memandang sekejap kearah Sianw Yauw Cu kemudian mengikuti dibelakang ketiga orang itn masuk kedalam ruang perahu.
Ruangan didalam perahu itu amat luas, perabot yang ada disanapun rata-rata merupakan benda berharga, membuat suasana kelihatannya megah, agung dan mewah.
Diatas lantai perahu dilapisi oleh sebuah permadani merah yang sangat tebal. sekeli-Iing dinding dilapisi oleh kain berwarna hijau, sebuah kursi emas berukiran naga dan burung hong terletak ditengah ruangan, sebuah meja panjang terbuat dari kayu cenda-na ada didepan kursi tersebut.
atas dinding dibelakang kursi kebesaran yang terbuat dari emas tadi tergantung sebuah lukisan raksasa yang panjangnya mencapai enam depa, diatas lukisan tersebut tertulis kata-kata yang berbunyi: “Peta situasi dunia persilatan” Tulisan itu bukan saja amat besar babkan diwarisi dengan warna yang menyolok sehingga menarik perhatian siapapun yang melihat.
Siauw Ling segera memperhatikan isi peta itu dengan seksama, tampaklah diatas pe ta tadi tergambarlah letak kekuatan setiap perguruan dan partai yang ada dikolong la-ngit. disamping itu tercatat pula ilmu silat andalan mereka serta jumlah anak muridnya.
Baik pihak Siauw-lim-sie maupun perkumpulan Pek-Hoa san-cang sama-sama tercantum disana, hanya bedanya satu pihak merupakan kekuatan Bu-lim yang berdiri sejak- jauh kala dibanding pihak lain
Jelas pengetahuan Su Hay Roencu terhadap kedua tempat itu terbatas sekali, hal ini dapat dilihat dan Catatan yang sama sekali tak ada diisi lukisan tersebut, mereka tidak cantumkan keistimewaan ilmu silat mereka terjumlah anggotanya.
“Su Hay Koencu betul-betul seorang manusia luar biasa,” diam-diam Siauw Ling berpikir. “Cukup untuk membuat peta Situasi dunia persilatan ini saja, entah ia sudah mem buang berapa banyak waktu?”
Dalam pada itu tampak orang berbaju kuning itu sudah naik keatas kursi kebesaran nya dan ambil tempat duduk, lain berseru.
Silahkan kalian bertiga ambil tempat duduk!”
“Kurang ajar!” pikir San Pat.
Terdengar Siauw Yanwtcu tertawa dan berseru pula.
“Silahkan kalian bertiga ambil tempat duduk.
“Setelah datang kenapa harus bertindak hati?” pikir Siauw Ling, ia segera melangkah depan dan ambil tempat duduk. Melihat Toakonya duduk, sepasang pedang dari Ting Chiu pada ikut ambil tempat isinya.
“Hidangkan air teh!” Teriak Sianw Yauw sambil tersenyum.
tampak dinding ruang perahu itu bergeser kesamping dan muncullah sebuah pintu rahasia, lima orang dayang caiitik berpakaian warna warni secara beruntun berjalan keluar, masing-masing orang membawa sebuah nampan kumala, diatas nampan terletak sebuah cawan dengan isi air wangi, masing-masing berjalan kehadapan Siauw Ling dan Tiong-chiu Siang Ku Iain menghindarkan air teh tersebut.
Meskipun sepasang tangan Siauw Ling serta Siong Chiu Siang Ku diborgol dengan rantai emas namun kelima jari tangan masih dapat digunakan secara leluasa, hanya saja gerak geriknya kurang leluasa.
Melihat hidangan tersebut diangsurkan kepada mereka, ketiga orang itu melirik sekejap kearah Siauw Yauw cu dengan pandangan dingin, lalu menyahut.
“Terima kasih nona, tak usah repot-repot!” Sedangkan Sepasang pedagang dari Tiong-chiu hanya tertawa dingin belaka, sepatah katapun tidak diucapkan.
Seorang berjubah kuning serta Siauw Yauw cu masing-masing mengulurkan tangannya menerima angsuran cawan dari atas nampan.
“Kalau memnng kalian bertiga tak mau minum lebih baik kamu segera mengundur-kan diri,” Seru Siauw Yauw-cu sambil ulap kan tangannya kearah para dayang tersebut.
Lima orang dayang cantik sama-sama putar badan dan mengundukan diri kebalik pintu rahasia diujung dinding tersebut.
Perlahau lahan Siauw Yauw cu meletakkan cawan air tehnya keatas meja. kemudian ke pada orang berbaju kuning bisiknya lirih.
“Bilamana Kocncu ada persoalan silahkan diutarakan kepada ketiga orang tamu terhormat kita ini.”
Orang berjjbah kuning itu tersenyum dan mengangguk.
“Sudah lama kudengar nama besar kalian berriga, sungguh beruntung ini hari Cayhe dapat berjumpa dengan kalian,” ujarnya. “Dewasa ini situasi dalam BuIim amat kalut, pertempuan terjadi dimana mana, budi dan dendam terus menerus berlangsung dijagad entah sarnpai kapan kesemuanya in akan berakhir, menyaksikan kesemuanya ini’ kian hari hatiku makin tidak tega. bicara terus terang puda saat ini cayhe ada niat untuk terjun kedalam dunia persilatan dan berusaha untuk mencegah pembunuhan. itu lebih lanjut dan berusaha untuk mewu-judkan keadilan serta kedamaian dalam dunia.” Ia merandek sejenak dan menambabkan.
Bagaimanakah pendapat kalian-bertiga mengenai persoaian ini?”
Sinar mata Siauw Ling segera beralih keatas wajah Sang Pat, ia bermaksud agar dialah yang buka Suara.
Sang Pat rnenerima maksud toakonya, ia mendehem ringan lalu tertawa terbahak-ba-hak.
Melihat Sang Pat tertawa, orang berjubah kuning itu mengkerutkan alisnya rapat-rapat, rupanya ia mau mengumbar amarah namns akhirnya ditahan juga niatnya itu.
“Ha…. haaa…. Koen-cu, jadi kau ingin muncul kedalam Bu-lim sebagai penengah? Wah…. kalau begitu dunia bakal tertolong nih!”
“Siapa nama kalian?” tegur orang berjubah knning itn dengan alis mengkerut.
“Cayhe adalah Sie-sie-poa emas Sang Pat.”
“Ouw…. kalau begitu kalian berdua adalah jago Bu-lim yang disebut Sepasang Pedagang dari Tiong-chiu bukan?” kata orang itu sam-bil menyapu pula kearah To Kioe, setelah itu ia memandang kearah Sianw Ling dan melanjutkan. “Sedang saudara ini pastilah Siauw Ling-heng, bukan begitu?”
“Sedikitpun tidak salah.”
Orang berjubah kuning itu mengangkat Cawan air tehnya untuk menghirup seteguk, lain berkata kembali, “Cayhe ada maksud untuk tampil kedepan sebagai penengah dan menyelesaikan segala peristiwa yang ada didalam Bu-lim. Untuk mewujubkan hal tersebut banyak sekali jago-jago lihay yang kubutuhkan tenaganya untuk membantu. tolong tanya apakah kalian sudi membantu citaku ini?”
“Kalau Koen-cu memang punya cita-cita luhur seperti itu, kami merasa amat kagum sekali,” sahut Sang Pat. “Ditambah pula ada Siauw Yauw tootiang yang selalu membantu, usaha ini pasti akan berhasil.
Aaaai berbicara terus terang saja, kami sekalian hanyalah kurcaci-kurcaci dalam Bu-lim, ilmu silat kami cetek, mungkin tak akan sanggup bagi kami untuk membantu cita-cita Koen-cu itu!”
“Kok-su kami telah perkenalkan ilmu silat kalian bertiga, disamping itu cayhe pun sudah lama mendengar nama besar kalian semua. bila kalian suka membantu, cayhe pasti akan menghargai tenaga-tenaga kalian ini. Bila mana dikemndian hari cayhe berhasil menduduki kursi Koen cu dalam Bu lim, ja-sa kalian bertiga pasti akan cayhe balas.”
“Kurang ajar…. ketahuan sekarang ambisinya yang gede itu.” maki Sang Pat d dalam hati. Walaupun begitu diluaran ia menyahut juga.
“Masalah ini menyangkut suatu persoalan yang maha besar. sulit bagi cayhe sekalian untuk mengambil keputusan dalam waktu singkat.
“Bagaimana menurut pendapat Kok-sn?” sinar mata orang berjubah kuning itu segera dialihkan keatas wajah Siauw Yauw-cu.
“Menurut pendapat pinto, persoalan ini sangat gampang sekali. Mau tidak mau bu-kanlah bisa diputuskan dengan sepatah kata saja? Apa gunanya dipikirkan lebih jauh?”
Perkataan ini boleh dibilang secara langsung mengenai sasaran membuat Sang Pat tak bisa berkutik lebih jauh. terpaksa ia berbisik lirih kepada diri Siauw Ling, “Toako lebih kau sajalah yang mengambil keputnsan!”
Siauw Ling termenung sejenak, setelah itu barn menjawab, “Seandainya cayhe sekalian tidak sudi mem baktikan diri kepada Koen-cu apa yang hendak kau lakukan7?
Rupanya orang berjubah kuning itu sama sekali tidak menyangka kalau si anak muda ini berani berbicara ketus walaupuu ditubuhnya dikenakan borgol, air mukanya kontan berubah hebat.
“Apabila kalian bertiga menampik permintaanku ini, bukankah hal ini sama artinya tidak memberi muka pada diri cayhe?”
“Siapakah yang tahu keadaan dialah ma-nusia pintar, menurut pandangan pinto lebih baik kalian bertiga kabulkau saja perminta-an kami ini,”sambung Siauw Yauw-cu.
“Apakah Tootiang heudak menggertak kami?”
“He…. heeeh…. pinto sama sekali tidak main gertak. apa yang kuucapkan tidak lain adalah nasehat baik yang mnncul dan dasar hati kecilku.”
Siauw Ling tahu pada saat ini kedudukan kedua belah pihak sudah jelas amat tegang, musuh atau sahabat hanya tergantung pada sepatah katanya. Ia tidak berani bertindak gegabah lagi. Setelah berpaling dan meman-dang sekejap kearah Tiong-chiu Siang Ku lijarnya, “Bagaimana kalau menurut pendapat kalian berdua?”
Hidup atau mati kami berdua selalu akan mengikuti toako, apa yang toako putuskan berarti sebagai keputusan pula dari kami berdua.”
Siauw L:ng mengangguk, sinar…. matanya kembali dialihkan keatas tubuh orang berjubah kuning itu, kemudian menjawab-
“Kalau Kun-cu ingin main gertak terhadap diri cayhe, sekalipun harus mati aku orang she Siauw tak akan menerima.”
“Tahukah kalian bertiga bahwa apa yang kau anda ucapkan saat ini segera akan menentukan mati hidup kalian bertiga?”
“Koen-cu, jangan marah.” Siauw Yauw cu yang menyaksikan majikannya marah buru-buru menukas. “Bagaimana kalau membiar_ kan pinto berusaha untuk menasebati mereka!”
“Baik! kalau mereka tidak disadarkan dengan nasehatmu, tak usah kita tinggalkan bi-bit bencana bagi dikemudian hari.”
Ucapan tersebut sudah amat jelas sekali, seandainya Siauw Yauw-cu gagal untuk mengubah jalan pikiran Siauw Ling sekalian maka mereka bertiga segera akan terancam oleh mara bahaya.
Dalam pada itu terdengar Sianw Yauw-cu mendehem ringan, lalu berkata, “Ada sepatah dua patah kata yang ingin pinto utarakan. pinto berbarap agar kalian bisa putar otak dan memikirkan secara baik. baik.”
“Ehmm, katakanlah!”
Sambil menjaWab diam-diam Siauw Ling Salurkan hawa murninya keseluruh badan dan coba mematahakan rantai diatas badan-nya.
Dari ucapan Tiong Chin Siang-Ku tadi dengan bahwasanya rantai emas yang kecil itu amat kokoh sekali. walaupun diluar tidak menyatakan apa-apa na,mun dalam hati ia merasa kurang percaya, maka secara diam. diam hawa murninya disalurkan untuk men cobanya
Tampak Siauw Yauw-cu angkat cawan air tehnya dan minuman setegukan lalu berkata kembali.
“Kalian bertiga sama-sama adalah manusia kuat yang lihay, kalau sampai kalian harus mati tanpa sebab yang besar, bukankah hal ini patut disayangkan sekali….”
Sinar matanya perlahan-lahan menyapu sekejap wajah ketiga orang itu, lain menam-bahkan.”
“Bagaimauakah menurut pendapat kalian bertiga atas ucapan pinto barusan?….” -00O000-
Darimana kau bisa tahu kalau kami pasti mati? sela Tu Kioe dingin.
Sekarang ditubuh kalian bertiga memakai borgol, sekalipun ilmu silat yang kalian mi-liki lebih lihaypnn jangan harap bisa menan dingi diri pinto.
“Huuu…. itu sih belum betul!” jengek Tu Kioe.
“Tu-heng, kalau anda tidak percaya dengan perkataan pinto, maka pinto akan meng m-bil seseorang sebagai percobaan, akan kami perlihatkan sampai dimana kebenaran itu.”
“Kalau soal itu sih harus dilihat dulu siapa orangnya.”
“Kalau dibicarakan dari nama serta kedudukannyan didalam duuia persilatan, mungkin dia jauh berada diatas kalian bertiga.”
Bicara sampai disitu mendadak toosu itu bertepnk tangan satu kali dan berseru tangan.
Gusur kemari sipengemis tna itu!”
“Sipengemis tua??? kalau begitu orang yang dimaksud pastilah jagoan dari pihak Kay-pang,” pikir Siauw Ling didalam hati. “Kebanyakan anggota perkumpulan Kay-pang adalah manusia-manusia patriot dan lelaki sejati, tentu saja ia tak akan tundnk terha-dap So Hay Koen-cu….”
Sementara dalam hati ia masih berpikir tiba-tiba pintu rahasia diatas dinding terbu ka kembali.
Dua orang lelaki berbaju hijau dengan mencekal pedang telah munculkan diri sambil menggusur seorang kakek tua yang kurus kering dan berbaju compang camping.
Orang tua tidak mengenakan borgol emas
tapi tulang pie-Pa pada sepasang bahu-nya telah dilobangi dan ditembusi oleh otot kerban yang sangat kuat. Dua orang bocah berbaju hijau tersebut dengan tangan kanan mencekal pedang, tangan kirinya mencekal ujung otot kerbau tersebut.
Begitu menyaksikan kakek tua yang kurus kering tadi, Siauw Ling merasa amat terpe-ranjat sekali sehingga hampir-hampir saja berseru tertahan. tapi untung dengan cepat dicegah oleh Sang Pat.
Sinar mata pengemis tua berbadan kurus itupun menyapu sekejap wajah Siauw Ling bertiga diikuti air mnkanya menunjukkan rasa terperanjat pula, tapi hanya sebentar saja ia berhasil menguasahi diri.
Kiranya sipengemis tua yang berbadan ku rus kering ini bukan lain adalah Soen Put Shia-sang tiang-loo dari Kay Pang yang telah membantu Siauw Ling sekalian menerjang ke luar dari perkumpulan Pek Hoa san-cung. Terdengar Siauw Yauw-cu bertanya. Kenalkan Cuwi sekalian dengan pengemis tua itu???”
“Tidak kenal,” buru-buru Sang Pat menya-hut.
Perlahau lahan Siauw Yauw-cu alihkan sinar matanya keatas tubuh Siauw Ling kemu dian katanya
“Pinto rasa anda tentu kenal dengan diri nya bukan7??”
“Sang Pat menghalangi aku dan ia minta aku bersikap seolah-olah tidak kenal dengan pengemis tersebut, dengan pengalamannya yang luas perbuataannya ini pasti mengandung maksud lain pikir Sianw Ling didalam hati maka ia segera.
“Ditinjau dari raut wajahnya, aku rasa pernah mendengar dari orang lain.”
“Haaa…. haaa…. kiranya begitu tidak aneh kalan hatimu terdengar keras setelah menyak sikan wajahnya….”
Ia merandek sej nak kemudian berkata kernbali.
“Pinto rasa kalian bertiga tentu pernah mendengar bukan akan nama perkumpulan Kay-pang? Nah! orang ini bukan lain adalah salah satu Tiangloonya yang bernama Soen Put Shia.”
“Ilmu silat yang dimlliki Soen Put Shia sangat luar biasa, dari mana ia bisa tertawan
oleh Su Hay Koen-cu….?….” pikir Tu Kioe.
Mendadak sinar mata Siauw Yauw-cu yang tajam dialihkan keatas wajah si pit baja ber wajah dingin ini, lain tegurnya, “Tu-hang, kau pernah mendengar nama beSar dari Soen Put Shia bukan?”
“Tentu saja pernah mendengar!”
“Bagaimana ilmu silat yang dimiliki Soen Put s ia dibandingkan dengan kepandaian kalian sepasang pedagang dari Thio-chiu?”
“Tentu saja ilmu silatnya jauh lebih Tinggi!”
“Haaa—haaa.„haaa…. bagus. kalau Tu-heng tidak percaya aku,kekuatan dari borgol emas itu. maka piuto akan mencobanya dibadapan kalian agar pengetahuan yang kalian miliki pun bisa bertambah….”
la merandek sejenak kemudian melanjut kan, “Aku hendak melepaskan borgol emas atas badanmu itu dikenakan ditubuh Soen Put Shia kemudian membinasakan dirinya agar kalian bisa menyaksikan sendiri kehebatan dari borgol emas tersebut.”
“Kalau dia mau lepaskan borgol diatas tubuhku. inilah suatu kesempatan baik yang sukar didapatkan.” pikir Tu Kice,” sayang sekali kesempatan baik tidak ditangan toako.”
“Tetapi….” terdengar Siauw Yauw-cn ber-kata lebih jauh.” Sebelum pinto melepaskan slot borgol dari atas tubuhmu, mako kedua buah tulang pie pa kamu akan kutembusi dahuln dengan otot kerbau.”
Ucapan ini membuat Tu Kioe tertegun, kembali ia berpikir.
“Sungguh beruntung bejadian ini tidak sampai menimpa pada diri toako”
Sementara Itu Siauw Yauw cu telah ba-ngun berdiri dan berjalan menuju kearah Tu Kioe.
Leng Bin Thiat Pit tetap berdiri tak ber-kutik hanya saja sepasang matanya dialihkan keatas tubuh Siauw Ling, dibalik sinar matanya penuh mengandung nada pertanyaan.
Jelas ia tak sndi membiarkan orang lain melubangi tulang Pie-pa-kut nya dengan otot kerbau maka ia melakukan perlawanan. tetapi tidak mengetahui pula maksud hati Siauw Ling oleh sebab itulah ia memandang kearah si anak mnda itu dan menanyakan pen-dapatnya.
“Tahan!” tiba-tiba Siauw LiHg bangun ber diri.
“Heeeh…. heeeh…. anda ada petunjuk apa lagi?” jengek Siauw Yauw cu sambil tertawa seram.
“Tahukah kau diantara kami bertiga siapakah yang boleh mengambil keputnsan?”
“Hidup mati Tiong Chiu Siang Ku ber-bakti kepada Siang-heng. pinto rasa Siauw henglah pemimpin mereka.”
“Hmmm! apabila kau sudah tahu kalau akulah pemimpin dari kami bertiga, menga-pa kau tidak membicarakan persoalan itu dengan diriku?”
Siauw Yauw-cu tersenyum. “Pinto punya jalan pikiran sendiri, tak usah Sianw-heng menguatirkan tentang diriku.” serunya.
“Apakah Tootiang bermaksud mengguna-kan kekerasan untuk membereskan cayhe sekalian belaka
“Sebelum kulubangi tulang pie-pa-kut dari Tu-heng, pinto akan menotok jalan darahnya terlebih dulu.”
“Hmm.” Siauw Ling melangkah maju satu tindak kedepan: “Sebelum aku orang she Siauw mati. tak akan kubiarkan tootiang turun tangan melukai orang dengan sesuka hatinva.”
Rupanya sikap Siauw Yauw-cu terhadap Siauw Ling luar biasa sabarnya, segera ia tertawa hambar.
“Dengan kecepatan ilmu pedangmu Sianw-thay-hiap menjelajahi dunia persilatan, kini kau tidak berpegang, aku rasa kepandaianmn masih belum tandinganku.”
“Walaupun aku orang she Sianw tidak ber pedang ditangan, namun aku tidak ingin menyaksikan tootiang turun tangan melukai saudara-saudaraku.”
“Toako mundurlah kebelakang,” tiba-tiba Tu Kioe tampil ked pan, “Setelah sihidung kerbau ini ngotot hendak menghadipi siauw-te, biarlah aku saja yang menghadapi diri-nya.”
“Kalau kalian. bertiga sama Sama mengenakan borgol emas, siapapun bukan tandingannya,” terdengar Soen Put Shla menyela secara tiba-tiba.
Sampai dimanakah taraf kepandaiau silat yang dimiliki Soen Put Shia, baik Siauw Ling maupnn Tiong Chiu Siang Kn pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri, maka mendengar perkataan tersebut mereka jadi tertegun.
“Aaaah, sungguh tak nyana akhirnya ja-lan pikiran Soen-heng berhasil ditembusi juga,” seru Siauw Yauw-cu sambil memandang wajah pengemis tua itu dan tersenyum.
Sepasang mata Soen Put Shia berkilat, rupanya ia ingin mengumbar hawa amarahnya, tapi dengan paksa ditahannya jnga. setelah menghela napas panjang, katanya, “Apabila aku sipengemis tua, Siauw tay-hiap serta Tiong-chiu Siang Ku benar-benar membantu kalian, nama besar Su Hay Koen cu dengan cepat akan tersohor dikolong langit.”
“Justru karena hal itulah selama ini pinto selalu bersabarkan diri dengan harapan agar kalian berempat sudi membantu usaha Koen-cu kami!”
“Haaati….! aku rasa tootiang tidak akan berhasil menundukan hati mereka.”
“Kalau keadaan situasi memang terlalu merasa diri pinto, mau tak mau terpaksa pinto harus turun tangan membunuh mereka semua. dengan paling sedikit kami dapat mengurangi sebagian tenaga penghalang cita-cita kami.”
“Apalagi tootiang suka mempercayai aku sipengemis tua….
“Selamanya pinto tak pernah sangsi menggunakan orang” tukasnya.
Siauw heng ada petunjuk, silahkan diutarakan keluar.”
“Aku sipengemis tua suka mewakili tootiang untuk menundukkan hati mereka, agar mereka sudi berbakti bagi Su Hay Koey-cu.”
Siauw Yauw cu termenung sejenak, tiba-tiba ia mendongak dan tertawa terbahak bahak.
“Apa yang kau tertawakan??” tegur Soen Put Shia dingin.
“Sejak Soen heng berhasil pinto tawan, sikap maupun tingkah lakumu dingin dan tinggi hati walaupun pinto sudah memberi nasehat dengan pelbagai cara kan tak suka menurut, kini secara tiba-tiba kau berubah pikiran bahkan hendak mewakili pinto untuk menundukkan hati mereka niatmu ini bukankah seketika membuat pinto jadi curiga???”
“Kalau tootiang tidak percaya kepada aku sipengemis itu. maka tak usah kita bicara-kan persoalan itu.”
Siauw Yanw-cu termenung sebentar, kemudian sahutnya, “Bukankah pinto tak man mempercayai diri Soen-heng, cuma saja persoalan ini harus mendapat persetujuan dahulu dari Koen-cu kami.” Ia berpaling segera berbisik-bisik lirih dengan orang berjubah kuning itu.
Soen Put Shia segera tertawa dingin, ia berpaling kesamping dan berbisik dengan ilmu menyampaikan suara.
“Siauw-heng pada saat ini usia anda masih muda. keamanan Bu-lim selama dua pu-luh tahun mendatang telah menjadi tanggung jawab serta kewajibanmu untuk mellndungi, aku minta siauw tayhiap bisa baik-baik menjaga diri, janganlah disebabkan mengikuti emosi hingga menjadikan satu masalah kecil jadi masalah besar….”
Terdengar Siauw Yauw-cu telah berkata, “Koen-cu kami merasa bahwa Soen-heng adalah seorang jagoan yang sudah banyak tahun tersohor dikolong langit, terhadap diri Soen-heng kami bisa menaruh kepercayaan.” ia pura pura lagi mendongkol sementara dengan ilmu menyampaikan suara ujarnya lebih jauh.
“Saudara Siauw berbeda sekali dengan aku sipengemis tua, aku sudah tua sedangkan kau masih muda, bagaimanapun juga kau tak dapat dibandingkan dengan diriku….”
“Koen-cu kami sudah mengabulkan permintaan Soen-heng, bagaimanakah pendapat Soen heng sendiri?” kembali Siauw Yanw-cu ber-teriak keras.” Harap kau cepat cepat mengambil keputusan.”
Perlahan-lahan Soen Put Shia berpaling, sahutnya.
“Apa sebabnya pula secara tiba-tiba too-tiang suka mempercayai aku sipengemis tua?”
“Aku cuma menyampaikan maksud hati Koen cu kami belaka, menurut pandangan pinto sekalipun Soen-heng benar-benar ada maksud berusaha, mungkin hasil yang kau dapatkan diluar sangkaan.”
Aku sipengemis tua punya hubungan yang sangat erat dengan guru Siauw Ling, sekali-pun tootiang tidak mampu namun aku sipengemis tua punya beberapa harapan untuk berhasil.
“Seandainya Soen-heng dapat menjelaskan kecurigaan yang terkandung dalam hati pinto tentu saja pinto berlega hati akupun akan merasa sangat kagum sekali terhadap dirimu,”
“Apakah kau menaruh Curlga bahwa aku sipengemis tua sedang menggunakan siasat untuk menipu kalian?
“Diatas tubuh cuwi sekalian telah dikenakan alat borgol tentu saja pinto tak akan menguatirkan serangan gabungan dari kalian, sedangkau mengenai soal siasat. Apabila kalian bisa menggunakannya dihadapan pinto…. hal ini bukankah berarti kalian sudah terlalu rendah menilai diri pinto?”
“Jadi kau ingin tahu apa sebabnya aku si pengemis tua secara tiba-tiba bisa berubah pikiran?”
“Kalau Soen-heng mau bicara, dengan segala senang hari akan pinto dengarkan.
“Aku sipengemis tua punya hubungan yang sangat erat sekali dengan suhu dari Siauw Ling, maka aku tidak tega menyaksikan ia mati muda.”
“Kau kenal dengan gurnnya, dus berarti kau pernah berjumpa dengan Siauw Ling bu kan?” kata Siauw Yauw-cu sambil tertawa hambar.
“Tentu saja aku pernah berjumpa dengan rdirinya, ketika loohn bertemu dengan dia waktu itu usia Siauw Ling masih kecil’ mungkin dia sendiripun sudah tak dapat mengingat kembali akan diri aku sipengemis tua lagi. Maka dari itu ketika ia bertemu dengan aku tadi. sekalipun wajahnya menunjukan rada kaget dan tercengang namun ia tak dapat mengenali diriku kembali.”
Siapakah guru dari Siauw Ling?”
“Tentang soal ini, harap maafkan aku sipengemis tua karena tak dapat kuutarakan.”
“Mengapa?”
“Sahabatku itu mempunyai banyak sekali mnsuh-musuh besar, tapi orang kang-ouw menganggap orang itu sudah lama mati. Kalau sampai mereka pada tahu kalau dia masih hidup…. waaah, aku takut akan mendatangkan banyak kerepotan bagi dirinya
“Ujung langit begini luas, asal kan tidak ‘ katakan tempat tingalnya. sekalipun ada orang tahu kalau dia masih hidup dikolong langit, tak akan berhasil menemukan dirinya.”
“Jadi Tootiang ingin sekali mengetahui namanya?”
“Kalau Soen-heng merasa keberatan, tentu saja pinto tak akan terlalu memaksa.”
“Baiklah, akan kuutarakan keluar nama orang itu, cuma tootiang jangan takut setelah mengetahuinya “
“Orang kang-ouw yang dapat menakutkan hati pinto dewasa ini, boleh dibilang hanya Soen-heng serta beberapa orang belaka.”
“Chung San Pek, tootiang pernah mendengar nama orang ini?”
Siauw Yau-cu tertegun beberapa saat kemudian perlahan lahan ia baru menyahut.
“Kecuali Chung san Pek. memang tak ada orang lain yang dapat mendidik seorang murid macam dia,”
Dalam pada itu diam-diam mengawasi perubahan sikap toosu tersebut, ia saksikan air muka Siauw Yauw-cu rada berubah setelah mendengar nama gurunya, jelas ia merasa rada jeri. Hatinya langsung bergerak pikir di-dalam hati.
, “Kalau begitu toosu tua hidung kerbau ini,jelas kenal dengan guruku….”
Terdengar Soen Put-shia telah menegur dengan nada dingin, “Apakah tootiang sudah percaya?”
“Percaya, kalau begitu terpaksa pintu ha-rus merepotkan diri Soen-heng untuk mewakili pinto guna menasehati Siauw sicu ini.”
“Tidak sulit bagiku untuk mewujutkan keinginanmu itu, tapi ada beberapa persoala harus totiang setuju lebih dahulu….
“Persoalan apa?”
“Aku sipengemis tua hendak menggunakan hubungan pribadi untuk melelehkau kekerasan hati Siauw Ling, maka lebih baik kalau tootiang jangan mengutus orang untuk mencuri dengar secara diam-diam,”
“Dengan tajamnya pendengaran cuwi sekalian, sekalipun pinto utus orang Untuk mencuri dengar pembicaraan kalian. Mungkin perbuatanku ini tak akan bisa mengelabui mata cuwi sekalian.
“Walaupun aku adalah Sahabat karib suhunya. tapi ingatannya mengenal aku sipengemis tua sudah samara-samar maka dari itu akupun harus membutuhkan waktu yang sangat panjang.”
“Berapa lama waktu yang Soen-heng inginkan?”
“Sehari semalam, rasanya tidak terlalu panjang bukan?”
“Baiklah, akan kupenuhi semua permintaan dari Soen-heng itu. entah kau masih ada syarat apa lagi yang hendak kau ajukan?”
“Pilihlah dua orang dayang yang paling cantik diatas perahu panca warna kalian ini ‘dan sediakan hidangan yang lezat komplit dengan arak wangi buat kami beberapa orang.”
“Persoalan ini gampang sekali untuk di-selesaikan?”
“Dan permintaanku yang terakhir pilihlah perahu yang paling tenang dari gangguan buat kami minum arak sambil bercakap-cakap.”
“Permintaanmu ini sudah menjadi kewajiban kami untuk menyediakan….” Toosu
itu segera berpaling kearah dua bocah ber-senjata pedang yang mengusur keluar Soen Put shia tadi dan perintahnya
“Bawa keempat orang tamu agung ini kedalam ruang penyambut perahumu!’
Dua orang bocah bersenjata pedang itu mengiakan, kepada Soen Put-shia serta Siauw Ling sekalian segera bentaknya, “Ayoh jalan!”
“Keempat orang tamu agung ini ada kemungkinan akan berbakti buat Koen-cu kita, kalian barus melayani mereka secara hati-hati.”
Kali ini kedua orang bocoh tersebut tak berani kurang ajar lagi terhadap keempat orang itu, mereka segera menjura dan berkata halus, “Kami berdua akan membawa jalan bagi kalian berempat.”
Soen Put-shia sekalian tidak banyak bica-ra, dibawah pimpinan kedua orang bocah tadi akhirnya sampailah mereka didalam sebuah ruang perahu yang diatur megah dan bersih.
“Silahkan kalian berempat duduk, hamba sekalian mohon diri.” Kata kedua orang bocah itu kemudian sambil menjura dan masuk kan kembali pedangnya kedalam sarung.
“Kalian tidak takut apabila aku sipengemis tua melarikan diri?_.” jengek Soen Put-shia dingin.
Kedua orang bocah tersebut tidak berani berbicara lagi, mereka membawa ujung otot kerbau itu dan berjalan keluar dari ruangan.
“Haaaa…. haaaa…. bagaimana? sikapmu terhadap diriku sangat jelek sekali, seumpama kata aku sipengemis tua benar takluk kepada Su Hay Koen-cu, maka persama yang akan kuhukum adalah kalian berdua.”
Pada waktu itu dua orang bocah tadi sudah berada diluar ruangan, mendengar ancaman tersebut buru-buru mereka menyahut, “Hamba sedang menjalankan tugas yang diberikan atasan kami kepada kami berdua, harap kau orang tua jangan marah dan menyalahkan kami.”
“Apakah kalian berdua hendak memegang ujung otot kerbau itu dan berjaga diluar ruangan?”
“Kami akan mengikat ujung otot kerbau ini diatas tiang besi diluar ruangan. harap kau orang tua legakan setelah toa-ya perintahkan hamba sekalian berempat.” ‘ Terdengar suara langkah kaki mereka kian lama kian jauh dan akhirnya lenyap dari pendengaran.
Dengan seksama Soen Put Shia tempelkan telinganya diatas dinding beberapasaat kemu dian ia baru berpaling dan berkata dengan nada serins.
“Siauw thay hiap aku sipengemis tua hendak menasehati dirimu dengau beberapa patah kita.”
“Silahkan cianpwe katakan, akan boanpwe dengarkan dengan seksama.
“Usiaaku sipengemis tua sudah lanjut. banyak kejadian yang pernah kualami dan ku rasakan banyak pula jago muda yang pernah kutemui namun tak seorangpun, diantara mereka mempunyai kehebatan seperti kau, ba-katmu yang bagus ditambah dengan pengalaman aneh yang kau jumpai menciptakan diri Loo te sebagai sekuntum bunga ajaib dida-lam dunia persilatan, sungguh luar biasa pula kau diberi jiwa serta semangat seorang pen-dekar, seorang eng-hiong hoohan, kejadian dalam tiga puluh tahun mendatang serta perjuangan uutuk melenyapkan kaum iblis telah terjatuh keatas pundakmu Demi kebahagiaan serta keamanan seluruh umat Bu-lim bagai manapun juga keadaannya nanti kau tak bo leh mati,”
“Cianpwe, kau terlalu memuji diri boan-pwe,” seru Siauw Ling sambil menghembus kan napas panjang.
“Haa…. haa…. haa…. sepanjang hldupku. aku si pengemis tua tidak pernah mengucapkan kata-kata yang bertentangan dengan jalan pikiranku….”
“Perkataan Soen loocianpwe sedikitpun tidak salah,” Sang Pat menyambung dengan cepat.” Diatas sepasang bahu toako lah tugas serta tanggung jawab untuk membasmi para iblis sepanjang puluhan tahun kemudian di-pukul. bagaimanapun juga kan harus baik menjaga diri.”
Siauw Ling menghela napas panjang.
“Sekalipun borgol emas itu sukar dipatahkan, namun bukan persoalan yang seriuS.” ujarnya lirih.” Justru kita sekarang terkurung diatas sampan yang dikeliling oleh arus sungai yang deras, sekalipun kita berhasil meloloskan diri dari atas perahu ini?”
“Justeru disebabkan persoalan inilah maka aku sipengemis tua terpaksa harus lancang mulut dengan mengatakan aku sebagai Sahabat karib gurumu. dan ingin menasehati diri Loote agar takluk kepada mereka.”
Kini loocianpwe mempunyai akal bagus apa untuk lolos dari? silahkan kau utarakan dan boanpwe sekalipun pasti akan menjalankan tanpa membantah.”
“Akal bagus apa yang bisa kudapatkan? kini aku sipengemis tuapun sedang kelabakan dan tidak tahu apa yang harus dikerjakan. Hanya satu hal yang ingin kusampaikan kepada loo te, selama gunung masih tetap hijau. janganlah kuatir kehabisan kayu bakar.”
“Satu satunya jalan bagi kita dewasa ini adalah pnra-pura takluk, kemudian mencari kesempatan lagi untuk meloloskan diri “kata Sang-pat.
“Sepintas lalu tabiat Su Hay Koen-cu kelihatan berangasan dan gagabah padahal dia adalah seorang manusia yang luar biasa sekaIi, apalagi Siauw Yauw-cu sitoosu hidung kerban itu, akalnya banyak dan pikirannya licik bagaikan seekor ular berbisa. Tindakan kita untuk pnra-pura menyerah tentu Saja telah berada didalam dugaannya, mungkin dia telah mendapatkan akal untuk menghadapi siasat tersebut.”
“Jadi menurut pendapat loocianpwe jalan yang terbentang bagi kita dewasa ini hanya-lah jalan kematian belaka?” sela Tu Kioe dingia.
“Aku sipengemis tua sih punya satu akal, cuma Sianw thayhiap tudi melaknkannya atau tidak?”
“Apa akal dari loocinpwe Itu?” silahkan diutarakan.”
“Akalku ini kusebut akal menarik bangkai anjing, kita tak usah menyatakan sanggup
tapi jangan pula menyatakan menampik, kita ulur terus sedapat mungkin….”
“Tapi kita harus mengulur waktu sampai kapan???” tukas Sang Pat.
“Tentang SOal ini aku sipenge mis tua tidak berani memastikan kalau di-bicarakan dari situasi dewasa ini Su Hay Koen-cu memang benar-benar punya ambisi untuk menguasai Bu lim, ia berhasrat menggulung kita semua dalam cengkeramannya dan digunakan olehnya, maka dari itu mereka akan berusaha bersabar terhadap kita, untuk sesaat tak akan mereka laknkan tindakan kekerasan guna membinasakan kita “
Semenrara Sang Pat heudak menyabut, tiba-tiba terdengar suara langkah manusia berkumandang datang.
“Siapa?” Sun Put-shia seera membentak.
“Budak sekalian mendapat perintah untuk datang menghidangkan sayur dan arak,” suara jawaban seorang gadis yang merdu dan bagus berkumandang datang dari luar ruangan
“Pintu ruangan tidak tertutup, kaliau boleh masuk sendiri kedalam.
Kraaak! diiringi suara yang nyaring, tampak dua orang dayang cantik berbaju hijau dengan langkah yang amat gesit berjalan ma suk kedalam,
Dayang yang berjalan dipaling depan membawa sebuah baki kayu, diatas baki tadi terletaklah empat macam masakan yang masih mengepulkan hawa panas sedangkan dayang kedua membawa pula sebuah baki, hanya saja diatas baki terletak sebuah poci arak seberat lima kati serta lima buah cawan arak.
Walanpun paras muka kedua orang dayang ini amat cantik, namun dandanan mereka amat menyolok dan genit sekali, membuat orang yang memandang mereka tanpa terasa timbui suatu perasaan muak.
Tampak dayang yang pertama meletakkan keempat macam hidangan tersebut keatas meja, kemudian mengambil sepasang sumpit dan menyumpit beberapa macam sayur tadi tadi satu persatu dan diletakkan kedalam sebuah mangkuk kecil dan melahapnya tanpa sungkan-sungkan, Menanti ia selesai makan ujarnya, “Harap saja sekalian bersantap dengan hati lega, didalam hidangan ini tidak dicampuri dengan racun.
“Ehmmm jalan piklran Sianw Yauw cu benarbenar amat teliti,” puji Soen Put-shia.
Dayang keduapun meletakkan poci serta Cawan arak itu keatas meja. diambilnya sebuah cawan untuk meneguk seteguk arak lalu ujarnya pula, “Didalam arak ini sama sekali tak ada racunnya!”
Meletakkan cawan itu keatas meja, mereka segera mengundurkan diri kebelakang.
“Nona berdua, harap tunggu sejenak? mendadak Soen Put-shia membentak keras.
Mendengar bentakan itu kedua orang dayang tadi segera berhenti dan berpaling kebelakang.”
“Kau orang tua masih ada petunjuk apa-lagi?” tanyanya hampir berbareng.
“Aku sipengemis tua minta kepada Sianw Yauw-cu untuk menyediakan dua orang da-yang yang tercantik diatas perahu panca warna ini untuk menghantarkan sayur dan arak bagi aku sipengemis tua. Setelah kalian datang kemari, mana boleh segera mengundurkan diri kembali?”
Jilid 5
“OoOOOOUW…. kau orang tua menginginkan budak sekalian untuk menemani kau minum beberapa cawan arak?” seru dayang yang ada disebelah kiri sambil tertawa getir.
“Itu sih tidak perlu, aku sipengcmis tua hanya pingin sambil minum arak bisa memandang wajah kalian berdua.”
Kedua orang dayang itu saling berpandangan sekejap, akhirnya mereka bersama-sama berjalan jalan menuju kesisi Soen Put Shia dan berdiri di kedua belah sampingnya Dayang yang ada disebelah kiri mengisi-kan cawan keempat orang itu dengan arak lalu ujarnya sambil tertawa.
“Arak akan menambah kegembiraan orang gagah. Yaya berempat, bagaimana kalan kalian mengeringkan dahulu secawan arak?”
Soen Put Shia sambar cawan arak yang berada dihadapannya lalu terkata tertawa
“Usia aku sipengemis tua paling besar menurut peraturan akulah yang akan mengeringkau cawan arak itu terlebih dahulu, dengan demikian aku akan menganggap tindakan mereka itu sebagai sikap menghormat terhadap diriku.”
Tanpa menanti lebih lama lagi, ia teguk habisi cawan tersebut
Dengan gerakan yang cepat dayang yang ada disebelah kiri itu segera memenuhi kembali cawannya dengan arak.
Soen Put Shia sembari menghalangi Siauw Ling serta Tiong Chiu Siang Kun untuk bersantap dan minum arak. ia sendiri minum dan makan dengan lahapnya….
Tujuh delapan cawan arak telah dihabiskan dan setiap mangkuk sayur telah disapu-nya sampai tiga sumpit. kemudian ia baru berhenti makan minum dan berkata seraya tertawa.
“Sekarang kalian berdua boleh pergi, setelah sipengemis tua minum beberapa cawan arak melihat nona muda orang lain merupakan pantangan yang terbesar. lebih baik nona berdua cepat-cepat mengundurkan diri dari sini.”
Kedua orang dayang itu benar-benar sangat menurut.mereka menjura untuk memberi hormat lalu mengundurkan diri dari dalam ruangan sekalian menutup pintu ruangan.
Menanti kedua orang dayang tadi sudah jauh meninggalkan tempat itu, Soen Put Shia baru tersenyum.
Silahkan kalian bertiga makan minum dengan hati lega, didalam sayur dan arak ini benar-benar bersih tak ada racun,”
Ternyata tingkah lakunya yang sinting dan keedan-edanan tadi bukan lain adalah untuk menjajal apakah sayur serta arak itu diracu-ni atau tidak.
Sang Pat menghela napas panjang.
“Aaaa…. untuk melakukan percobaan tersebut. menurut peraturan sudah sepantasnya kalau kamilah yang melakukan. kami merasa malu kalau suruh Loo ciaupwe yang melakukan percobaan dengan pertaruhan jiwa sendiri.”
Haaa…. haaa…. -haaa…. aku sipengemis tua benar-benar sudah tua bangka. Sedangkan kalian berdua masih muda dan kuat aku cuma berharap agar kalian berdua suka membantu diri Siauw Ling dan berjuang demi keadilan serta keamanan umat Bu-lim kita!”
Tentang soal ini harap Loo cianpwe suka legakan hati, seandainya ini kali kita berhasil lolos dari mata bahaya. asal demi keadilan didalam dunia persilatan sekalipnn ha-rus membayarnya dengan kerugian besar, kami pasti akan amalkan tenaga untuk membantu.”
“Aaaa…. sepasang tulang Pie Pa Kut Ku telah mereka lubangi dengan otot kerbau,” ujar Soen Put Shia sambil menarik kembali senyuman yang menghiasi bibirnya.”
“Kesempatan bagiku untuk melarikan diri boleh dibilang kecil….
“Apakah mereka telah memusnahkan ilmu silat yang loo-cianpwe miliki???….”
“Mereka ingin meminta aku sipengemis tua jual nyawa bagi mereka tentu saja llmu silatku tidak sampai dipunahkan.”
“Kalau begitu asalkan kita dapat memutuskan otot kerbau yang melubangi sepasang loocianpwe. maka loocianpwe akan jadi mendapat kembali tenaga sin-kangmu akan pulih kembali.”
“Benar! Aaaai…. seorang manusia yang be-lajar silat. seandainya keempat buah tempat pentingnya dilubangi oleh otot kerbau sekall pun ilmu silatnya tidak sampai punah, namun keadaannya tidak berbeda banyak dengan seorang manusia cacad “
Tiba-tiba Siauw Loocianpwe pertimbang-kan sejenak, didalam satu jam mendatang mungkinkah ada orang dari pihak mereka yang datang kemari??”
“Dalam satu jam mendatang mungkin tak ada orang yang akan datang kemari, tetapi tentu saja mereka akan melakukan pengawaasan yang ketat secara diam-diam terhadap diri kita.”
“Kecuali pintu ruangan ini, apakah didinding empat penjuru ruangan ini, masih dipasangi dengan alat rahasia7?
Tentu saja ada, hanya bagi kita yang ti-ga tahu duduknya keadaan mungkin sulit bagi kita untuk menemukannya.
Baiklah. kalau begitu aku akan berusaha untuk memutuskan lebih dahulu otot kerbau yang melubangi sepasang bahu loocianpwe. setelah itu kita baru susun kembali siasat untuk melawan musuh,” kata Siauw Ling kemudian sambil menghancurkau sebuah cawan.
Namun dengan tepat Soen Put Shia geleng kepala.
“Jangan dibilang kalah. sekalipun kita menangpun belum tentu bisa lolos dari tempat ini, apa gunanya menempuh bahaya dengan percuma???” katanya.
“Tentang soal ini boanpwe sudah pikirkan masak masak, asalkan kita melakukan perlawanan terbadap kekuatan mereka diatas perahu panca-warna ini, aku rasa Su Hay Koen-cu tidak akan tega untuk menenggelam-kan perahu raksasanya ini kedasar sungai.”
“Walaupun akalmu ini memang tidak jelek, cuma saja kita bakal menempuh banyak mara bahaya sampai dilukai. Aaaah….! sebenarnya aku sipengemis tua ada maksud menolong dirimu. sungguh tak nyana malah kaulah yang akhirnya menolong aku sipengemis tua terlebih dahulu.”
Sang Pat tersenyum.
“Sekalipun pengawasan yang dilakukan Siauw Yauw-cu amat ketat, namnn ia telah melupakan sesuatu. Katanya. “Walaupun senjata tajam yang kita miliki berhasil dirampas gemua, namun mereKa tidak menduga kalau kekuatan tangan toako amat kuat dan telah mencapai taraf melemparkan bunga melukai orang, memetik daun merobohkan musuh.”
Siauw Ling segera mengeluarkan, sahutnya;
“Kalau bukan terdapat pecahan Cawan yang begini tajam membantu usahaku, akupun akan menemui kegagalan dalam tindakanku ini….
Tiba-tiba terdengar suara langah manusia berkumandang dan dari luar ruangan.
“Otot kerbau diatas badan aku sipengemis tua telah putus. kita tak akan berhasi membohongi mereka lagi,” bisik Soen Pua Shia lirih.
Sementara itu orang yang ada diluar ruangan telah tiba didepan pintu dan mulai mengetuk.
“Siapa???” bentak Soen Put Shia.
“Hamba sekalian mendapat tugas untuk datang kemari guna menyampaikan satu persoalan.”
Dengan kakinya Soen Put Shia menginjak otot kerbau, dengan demikian orang ada diluar ruangan sama sekali tidak mengetahui kalau otot kerbau yang kuat itu telah putus.
“Rampas senjata tajam mereka.” bisik Soen Put Shia lirih, lalu teriaknya lantang
“Ada urusan apa? silahkan masuk keda-lam!”
Kraasaaaaatiak….! pintu terbuka dan munculah dua bocah berbaju hijau melangkah masuk kedalam ruangan, tapi tatkala mereka tahu bahwasanya otot kerbau ditubuh sipengemis tna itu telah putus, mereka segera berdiri tertegun
Menanti kedua orang bocah itu sadar kembali dan siap mencabut keluar pedangnya untuk melancarkan serangan. Sang Pat serta Tu Kioe yang bersembunyi dibelakang pintu telah menyerang datang dari arah kiri dan Itauan.
Kedua orang itu sama-sama merupakan ja-goan lihay dari dunia persilatan. gerakan mereka sangat cepat bagaikan kilat, belum sempat kedua orang bocah itu meloloskan senjatanya, jalan darah mereka sudah kena ter-totok.
Soen Put-shia segera merampas senjata ta-jam itu dari tangan mereka, setelah menutup pintu ruangan bisiknya lirih, “Dengan adanya sepasang pedang ini di-tangan kita, kekuatan maupun kehebatan kita, akan berlipat ganda. Persoalan yang paling penting dewasa ini adalah bagaimana caranya mendapatkan kunci untuk membuka bergol emas yang membelenggu tubuh kalian bertiga.”
“Mengapa tidak kita tanyakan saja kepada kedua orang bocah berbaju ini?” sela sang Pat.
“Baik! mari kita adu untung.” seru Soen Put Shia, ia segera berjongkok dan membebaskan jalan darah dari seorang bocah berbaju hijau itu. Perlahan-lahan bocah itn membuka sepasang matanya dan memandang sekejap kearah Soen Put Shia, badannya bergerak seperti mau bangun siapa sangka darah lemas diatas kakinva masih tertotok, sebelum sempat berdiri badannya roboh kembali keatas tanah
Soen Put Shia segera menempelkan ujung pedang keatas leher bocah tersebut, bentaknya.
“Kalau keadaan terpaksa dan kau berani menjerit. sekali tebas kujagal nyawamu ‘
“Hmmm! perahu layar ini berlabuh ditengah sungai.” kata bocah itu dengan nada dingin. “Diempat penjuru perahu ada dua puluh empat buah sampan kecil melindungi keselamatan kami apabila kalian ingin melarikan diri hal ini boleh dikata jauh lebih sulit daripada terbang kelangit.”
“Tentang soal ini tak perlu kau kuatirkan apa yang aku sipengemis tua tanyakan lebih baik jawab dengan tepat dan lancar.”
Bocah berbaju hijau itu kerutkan dahinya, namun iapun tidak berbicara lagi-
“Siapa yang memegang kunci untuk membuka borgol emas ini?”
“Siaw Yauw too-ya menyimpannya sendiri!?
“Hmm! aku sipengemis tua tidak percaya. ayoh bicara terus terang!”
“Apa yang kuucapkan adalah kata-kata yang sejujurnya kalau kau tidak percaya akupun tidak dapat berbuat apa-apaa lagi.”
“Loo ciapwee, tak usah banyak bicara lagi dengan mereka” sela Tu Kioe dengan wa-jah suram, “Kita jaga dulu kedua ekor marmut kecil ini. yang penting kita tarik dulu modal kita.”
Ujung pedang yang berada ditangan Soen-Put Shia bergerak-gerak diatas wajah bocah berbaju hijau itu. kemudian ancamnya, “Seumpama kata aku sipengemis tua keras kan hati dan membuat cacat wajahmu yang tampan ini ooh bocah! Sungguh kasihan sekali, wajahmu yang ganteng segera akan le-nyap dan berubah jadi jelek dan mengerikan sekali.
Rupanya aneaman ini sangat manjur sekali. bocah itu merasa amat sayang dengan kegantengan wajahnya, maka air mukanya kontan berubah setelah mendengar perkataan tersebut.
“Mengapa tidak bunuh saja diriku??”seru-nya
“Kenapa aku harus membinasakan dirimu?kan enakan dirimu….”
Tiba-tiba kembali terdengar suara langkah manusia berkumandang datang, rupanya ada orang mendekati tempat itu.
Soen Put shia segera melirik sekejap kearah Tu Kioe dan Sang Pat, sementara jari jari nya laksana kilat menotok jalan darah bisu dari bocah berbaju hijau itu.
Toook! toook! pintu diketuk, diikuti suara merdu seorang gadis menggema datang.
“Apakah arak dan sayur perlu ditambah?”
“Nona silahkan masuk!” ujar Tu Kioe sam-bil membuka pintn.
Sesosok bayangan manusia berkelebat le-wat, tahu-tahu seorang dara baju hijau telah berjalan masuk kedalam ruangan.
Laksana kilat Sang Pat turnn dengan menotok jalan darah dibelakang punggungnya, diikuti cahaya tajam berkelebat lewat, sebilah pedang Poo-kiam membabat tiba dari samping.
Kiranya bocah-bocah lelaki serta dara can-tik ini telah memperoleh didikan yang ketat sekali, reaksi mereka amat cepat. Tatkala dara pertama tertotok dara kedua segera melancarkan serangan balasan dengan pedangnya.
“Budak, sungguh hebat gerakanmu!” teriak Sang Pat sambil menarik kembali tangannya.
“Jangan biarkan dia melarikan diri.” seru Tu Kioe. badannya berputar dan menerjang keluar ruangan.
Tetapi gerakan tubuh Soen Put-shia jauh lebih eepat, ia mengepos tenaga dan menerjang lebih dahulu keluar pintu ruangan.
Sementara itu dara berbaju hijau tadi dengan cepat telah mengundurkan diri keluar dari ruangan.
Sang Pat tertawa terbahak-bahak, ia cabut keluar pedang panjang ditubuh dara berbaju hijau itu berkata, “Jejak kita sudah bocor, rasanya gerak-gerik kita tak usah dirahasiakan lagi.”
Perlahan-lahan Soen Put-shia mengundur-kan diri kedalam ruangnn, katanya
“Diatas perahu panca warna telah dipa-sang alat jebakan yang tidak sedikit jumlah-nya. dari pada kita menerjang keluar dari ruangan, untuk sementara waktu lebih baik kita bertahan saja disini.”
Siauw Ling mengangguk.
••Baiklah!” Siauw Ling mengangguk tauda setuju “Untuk membasmi kawanan penyamun kita harus tangkap pemimpin mereka lebih dulu. seandainya kita dapat menangkap Siauw Yauw-cu dalam keadaan hidup hidup dengan sangat gampang pula kita bisa pakai Su Hay Koan-cu untuk menyerahkan kunci borgol emas tersebut kepada kita….”
Belum habis si anak muda itu berkata. terdengar suara langkah manusia yang amat ramai berkumandang datang. disusul munculnya Siauw Yauw-cu disana dengan wajah penuh kegusaran. Dibelakang imam tersebut menyusul empat orang bocah berbaju hijau serta empat orang dara berbaju hijau.
“Aaah! Ternyata dugaanku tidak meleset, terpaksa Siauw Yauw-cu harus datang ber-kunjang sendiri ketempat ini ” Bisik Soen Put Shia dengan lirih. “ilmu silat yang di-miiiki orang Ini sangat dahsyat mungkin loo-lap sendiripun tidak berkemampuan untuk menawannya hidap-hidup.”
“Jangan kita pikirkan lebih dahnlu gagai atau tidaknya, yang penting kita harus ber-usaha dengan segala kemampuan yang kita miliki.” Sahut Siauw Ling.
Sementara itu terdengar Siauw Yauw-cu dengan penuh kemarahaa telah berteriak, “Cuwi sekalian adalah jago-jago yang ber-kedudukan tinggi didalam dunia persilatan. -Hmmmm! sungguh tak nyana kiranya kamu semua hanyalah kurraci yang tidak pegang janji “
“Dalam suatu pertempuran, kedua belah pihak tiada jemu-jemunya saling mengguna-kan siasat untuk merobohkan lawannya. aku sipengemis tua sudah hidup sampai hari ini namun belum pernah kujumpai diantara musuh-musuhku masih terdapat manusia bisa dipercaya perkataannya.”
“Hmm! omong kosong….” teriak Siauw Yauw-cu, mendadak ia merandek…. kemudian tertawa terbahak-bahak.
“Hmm! kalian memasang borgol ditubuh kami beberapa orang bersaudara, apakah ucapanmu tersebut dapat dipercaya?” sela Tu Kioe dingin.
Siauw Yauw-cu tarik kembali gelak ter-tawanya, lalu berkata, “Selamanya pinto selalu berpendapat bahwa tabiat manusia adalah jahat, maka dia harus ditundukkan lebih dahulu dengan kekerasan kemudian tenaganya baru diperguna-kan. Namun Koen-cu kami berpendapat bahwa tabiat manusia adalah welas asih, dia harus ditundukkan dengau budi lalu baru digunakau….”
“Perkataan kosong yang tak berguna lebih baik tak usah kau teruskan lebih jauh aku sipengemis tua sudah jemu uncuk mendengarnya.”
“Benar!” Sambung To Kioe. “Keadaan yang terbentang didepan mata saat ini sudah jetas sebenarnya Tootiang pingin bertempur atau damai lebih baik cepat-cepat diputuskan.”
Hmmm meskipun kalian sanggup mematahkan otot kerbau yang membelenggu tubuh pengemis tua itu. Selama kalian tak berhasil mematahkan borgol cmas tersebut, dengan tubuh terbelenggu oleh borgol, berani benar kalian menantang pihak kami untuk bergebrak.”
“Meskipun borgol ini masih berada dalam tubuh kami, namun benda kecil ini tidak akan mengganggu kami.”
Siauw Yauw-cu tidak menggubris ucapan dari Tu Kioe tersebut, perlahan-lahan ia berjalan majn kedepan, tatkala tiba di depan pintu ruangan, air mukanya mendadak ber-ubah jadi amat serius katanya lirih, “Kalian harus tahu bahwasannya pinto jadi orang paling teliti, sejak semula aku telah mempersiapkan segala hal untuk menanggulangi peristiwa semacam ini. Apabila sekarang juga kalian meletakkan senjata kalian dan takluk kepada kami, mungkin kalian masih punya kesempatan untuk hidup lebih lanjut.”
Siauw Ling tertawa hambar.
“Kalau kami sekalian rela menyerah kalah kepada kalian, nanti takkan kami lakukan pemberontakau seperti ini,” sambungnya.
sambil busungkan dadanya Soen Put-shia tertawa dun berseru pula.
“Hey hidung kerbau, beranikah kau layani aku sipengemis tua untuk bergebrak sampai titik darah penghabisan!?”
“Kan anggap pinto jeri kepadamu?” je-ngek Siauw Yauw-cu, sinar matanya perla-han-lahan dialihkan keatas wajah Soen Put-shia
“Bagus sekali, kalau begitu ayoh kita ta-rung saat ini juga, sebelum salah satu roboh binasa jangan kita akhiri pertarungan ini.”
Mungkin sipengemis tua itu takut Siauw Yauw-cu berucah pendapat, maka begitu ia habis berbicara, sambil menenteng pedang tubuhnya langsung menerjang kemuka.
Siauw Yauw-cn kebaskan senjata Hud-tim nya, segulung angin pukulan segar menyampok miring ancaman tersebut. serunya dingin
“Bangsat! agaknya sebelum kalian lihat sendiri bagaimanakah kelihayan dari ilmu silatku. kamu semua tidak akan taati dengan mata meram!”
Soen Put-shia tidak gubris jengekan orang. pedangnya ditarik kembali lalu mengayunkan telapak kirinya mengirim sebuah babat-an dahsyat.
Tenaga dalam yang dimlliki oleh sipengemis tua ini benar-benar amat sempurna angin pukulannya laksana gulungan ombak ditengah samudra segera melanda kedepan dan menyapu segala sesuatu yang ditemuinya.
Sreeet! sreeet senjata Hudtim ditangan Siauw Yauwcu buru bnru dikebaskan mengirim dna buah babatan dahsyat, segulung angin pnkulan yang lunak dan berhawa di-ngin dengan cepat menyusup keluar lewat Hudtim yang tipis tersebut dan memunahkan semua serangan telapak Soen Put hia yang keras dan cepat itu.
Menyaksikan kehebatan lawannya, dalam hati Soen Put shia terperanjat, Pikirnya, “Toosu tua hldung kerbau ini benar-benar luar biasa, aku tak boleh pandang enteng dirinya!”
Pedang yang berada ditangan secara tiba-tiba digetarkan membentuk tiga kuntum bu-nga pedang, secara berpisah namun bersama-an waktunya mengancam tiga buah jalan darah penting diatas dada Sianw Yauw-cu.
Siauw Yauw-cu tertawa dingin. Hudtimnya disapu dari samping kemudian menggulung keatas pedang lawan.
“Hmm! akan kujajal sampai dimana sih kehebatan tenaga Iweekang dari sihidung kerbau ini,” pikir Soen Put shia:”
Pedangnya yang terancam bukannya disingkirkan kesamping, justru malahan menyongsoug datangnya senjata lawan.
Traa arjg…. raaaang…. pedang yang kuat segera saling membentur dengan serat-serat Hudtim yang lunak sebingga menimbulkan suara bentrokan nyaring.
Namun dengan cepat pula serat serat Hudtim itu membelenggu pedang lawan kuat-kuat.
Diam-diam Soen Put-shia salurkan tenaga dalam keatas pedangnya…. dia berdiri kokoh diatas tanah sementara seluruh perhatiannya dicurahkan keujung senjata tajam.
Siauw Yauw-cu tertawa dingin, mendadak ia serakan senjata Hudtimnya. Dengan kepandaian meminjam benda menyalurkan tenaga,segulung tenaga pukulan dahsyat dengan melewati pedang Soen Put-shia menye-rang tiba.
Pengemis tua itu tertawa dingin pula, tenaga dalam yang telah dipersiapkan ditangan kanan mendadak dilepaskan. Ujung pedang bergetar keras lain secepat kilat menotok dada toosu tersebut, Siauw Yauw-cu terdesak mundur selangkah kebelakang, batinnya, “Luar biasa…. luar blasa…. tenaga dalam yang dimiliki pengemis tua ini betu’-betul luar biasa.” Belam habis membathin, tiba-tiba Soen Put-shia mundur dua langkah kebelakang, sambil melindungi pedangnya ia berdiri kokoh. Kiranya iapun dapat merasa-kan datangnya ancaman tenaga pukulan dari Siauw Yauw-cu yang disalurkan lewat pedang tajamnya, namun pengemis tua ini tidak mau menghindar. Dengan andakan tenaga dalam hasll latihan puluhan tahun ia siap menerima pukulan itu dengan keras lawan keras. Oleh sebab itu tenaga dalam yang telah ta siapkan pun segera disalur kan keluar pula lewat ujung pedang dan menusuk toosu itu dengan dahsyat.
Seandainya dalam keadaan seperti itu Siauw Yauw-cu tidak mau mengalah pula-maka didalam bentrokan tersebut kedua belah pibak sama sama akan menderita luka parah
Siapa nyana Siauw Ytuw cu tidak sudi melakukan pertempuran keras lawan keras pada detik yang terakhir ia telah geserkan badanya untuk menghindar.
Dengan kejadian ini maka Soen Put-shia lah yang menderita kerugian besar, tenaga pukulan yang menyambar tiba tersebut langsung menghantam bahunya.
Masih untung reaksi pengemis tua itu cukup cepat, pada saat bahaya mengancam tiba, buru buru ia mundur dua langkah kebelakang, ambil kesempatan itu ia musnahkan tenaga tekanan yang sedang menumbuk bahunya. dengan demikian sekalipun ia termakan pukulan itu dengan keras lawan keras, namun luka yang diderita tidak begitu parah.
Dalam pada itu meskipun Siauw Yauw-cu berhasil menang diatas angin, namun ia sama sekali tak berani menunjukkan slkap congkak. Bukannya maju sebaliknya malah mundur kebelakang
“Toako, jangan biarkan dia mengundurkan diri dari sini!” tiba-tiba terdengar Sang Pat berteriak keras.
“Tootiang, harap tunggu sebentar!” Siauw Ling segera melompat maju kedepan dan menghardik.
Ketika Siauw Yanw-cn telah mengundurkan diri enam tujuh depa jauhnya dari tempat semnla, tatkala mendengar hardikan dari Siauw Ling, terpaksa ia berhenti sambil bertanya, “Sicu ada urusan apa?”
“Cayhe ingin sekali mohon petunjuk beberapa jurus serangan dari totiang “
“Telah lama pinto kagumi kecepatan pedang yang anda miliki, Siauw-heng memang boleh dibilang seorang jagoan muda yang paling berbakat,” kata Siauw Yauw-cu sambil melirik sekejap keatas borgol diatas tubuh Siauw Ling. Namun sayang seribu kali sayang tubuhmu masih diborgol. lagi pula ditanganmn tiada senjata tajam, mana mungkin kau bisa menandingi kepandaian pinto?”
“Meskipun tiada bersenjata, bagi cayhe minta petunjuk dengan tangan kosong pun sama saja.”
“Hey toosu bau hidung kerbau,” sela To Kioe dengan nada dinginnya. “Apabila kau betul-betul jagoan, dan kau benar-benar eng hiong tulen. Ayoh lepaskan dulu borgol diatas tubuhnya.”
Siauw Yauw-cu menggeleng.
“Pinto adalah seorang toosu yang beriman tebal, tidak nanti pinto termakan oleh olok-olokanmu itu.
“Meskipun kau ingin kami sekalian benar-benar takluk dan rela berbakti kepada Su Hay Koen-cu, maka hanya ada jalan saja yang dapat kau tempnh.”
“Apakah caramu itu?”
“Lepaskan borgol yang membelenggu toako kami. kemudian berikan sebilah pedang kepadanya dan tootiang harus layani dirinya untuk bergebrak. seandainya tootiang berhasil menangkan toako kami, maka kami sekalian dengan hati rela akan berbakti padamul”
“Seandainya pinto tidak beruntung dan menderita kekalahan ditangan toako kalian?”
“Kalau memang demikian keadaannya, buat apa kau hidup lebih lanjut? Lebih baik gorok lehermu dan bunuh diri saja…. jengek Tu Kioe sinis.
“Mati sih tidak perlu,” sela Sang Pat. “Cukup soal tootiang suka melepaskan kami semua!”
Seandainya peristiwa ini terjadi pada tiga puluh tahun berselang mungkin tanpa berpikir panjang pinto sanggupi tantangan kalian semua ini.”…. t
“Sekarang bagaimana?”
“Sekarang? pinto tidak akan sanggupi permintaan kalian itu dengan seenaknya.”
“Kenapa?”
“Pinto rasa tindakan ini merupakan suatu perbuatan yang bodoh. suatu perbuatan yang terlalu menempuh bahaya.”
“Kalau tidak berani, katakanlah saja tidak berani, buat apa pura-pura cari alasan segala…. Hmmm sungguh tak tahu malu!”
“Hrnmmm ; silahkan kalian olok olokan diri pinto, sekalipun kamu olok diriku sampai mulut kalian berbusa, tidak nanti hati pinto tergerak oleh ucapan kalian itu.”
“Seandainya cayhe dengan badan terborgol dan tangan kosong melayani beberapa jurus serangan dari pintu, apakah pinto suka melayani tanganku ini,” hardik Siauw Ling.
Dalam pada itu Soen Put shia telah menyelesaikan semedhinya, sambil membuka sepasang matanya ia menjengek dingin, “Sianw Yauw-cu adalah seorang manusia yang terlalu tinggi memandang dirinya, hinaan saudara Siauw tidak nanti akan dikabul-kan olehnya.”
Siauw Yanw-cu tertawa dingin.
“Sepanjang hidnpku. pinto paling suka melakukan tindakan diluar dugaan orang lain, kali ini pinto kabulkan pemintaannya!”
“Lorong ini terlalu sempit untuk mengge-brak, silahkan tootiang memberi petnnjuk didalam ruangan saja!”
Perlahanlahan Siauw YauW cu balik lagi kepintu ruangan, kemudian menyahut.
“Ditempat ini saja pinto mohon petunjuk dari ilmu silat Siauw thaybiap yang lihay itu.”
“Tootiang silahkan turun tangan!” Diam-diam Siauw Yauw-cu perhatikan sekejap diri Siauw Ling, ia temukan bahwasanya tempat dimana si anak muda itu berhenti bisa dicapai oleh kebutan senjata Hudtim nya, dalam hati ia lantas berpikir.
“Usia orang ini tidak terlalu tna. namun keberanian serta kegagahannya sulit ditandingi oleh siapapun”.
Tanpa terasa timbnlah perasaau hormat dan serta kagumnya terhadap si anak muda ini, segera ujarnya, “Kau menghadapi diriku dengan tangan kosong belaka, mana boleh pinto turun tangan lebih dulu!”
“Heee hidung kerbau!” Jengek Sang Pat dari samping. “Kalau hati kecilm umerasa sungkan, lebih baik lepaskanlah lebih dahulu borgol yang membelenggu toako kami”,
Siauw Yauw-cu tertawa hambar
“Bukankah sudah berulang kali pinto katakan bahwa kendati cuwi mengunakan cara apapun untuk mengolok olok diri pinto tidak akan berhasil kalian kobarkan hawa amarahku”.
Dalam pada itu Siauw Ling telah mengem-pos hawa murninya. kemudian berseru lan-tang!
“Tootiang, sekarang kau boleh turun tangan’
“Baik! tidak malu Siauw thayhiap disebut seorang enghiong, pinto akan turuti semua perintahmu!”
Senjata Hndtimnya diputar dan segera mem babat keatas batok kepala lawan.
Menyaksikan serat-serat Hud tim lawan mengembang bagaikan payung dan mengurung beberapa depa disekeliling tububnya, dalam hati Siauw Ling berpikir.
Rupanya untuk menhindari serangan Hud tim jaub lebih sulit dari pada untuk mengegos dari ancaman pedang…. aku harus lebih berhati bati….”
Kakinya melangkah kedepan, kemudian secara tiba-tlba bergeser dua depa kesamping, dengan suatu gaya yang manis ia berhasil menghindarkan diri dari ancaman lawan.
“Siauw.heng, aku rasa luas ruangan ini cuma beberapa tombak belaka, tidak leluasa bagi kita untuk bergebrak. Aku lihat lebih baik pertempuran ini tak usah diteruskan lebih janh.” kata Siauw Yauw-cu seraya tarik kembali senjata Hud-tim nya. Sianw Ling tertawa dingin. “Tootiang, rupanya kau hendak memaksa ayhe untuk turun tangan lebih dahulu. Nan berhati-hatilah.”
Tangan kanannya diayun, segulung desiran angin totokan segera meyambar kemuka. Kiranya dikala berbicara tadi, secara diam-diam Siauw Ling telah mempersiapkan sebuah serangan dengan ilrnu jari saktinya Siuw Loo Ci Kang.
Desiran angin tajam menderu-deru. diiringi serentetan cahaya tajam segera mengancam tubuh lawan.
Rupanya Siauw Yaow cn tidak menyangka dengan usia yang begitu muda Siauw Ling ternyata memiliki kesempurnaan ilmu silat yang luar biasa. Tatkala dia merasa betapa dahsyatnya ancaman ilmu jari lawan, desiran angin tajam tersebut sudah berada diha-dapan tubuhnya.
Bnru buru ia berkelit kesamping, meski demikian desiran angin pukulan yang menyambar lewat dari tubuhnya itu masih sempat melubangi jubah Siauw Yauw-cu dan meneruskan terjangan menghantam luar dari ruang perahu itu.
“Aduuhh…. mati aku!” jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang dari arah luar. seorang bocah lelaki berbaju hijau kena terhajar dan roboh binasa keatas tanah.
Kiranya serangan jari dari Siauw Ling yang menyambar keluar ruang perahu itu telah menghantam telak salah seorang bocah berbaju hijau yang mengiringi kedatangan Siauw Yauw-cu itu.
Air muka tosu tua itu kontan berubah he-bat, serunya, Ilmu jari Kiem Kong Cie yang memiliki Siauw thayhiap benar-benar luar biasa ilmu tersebut mernpakan kepandaian ketujuh dari pada tujuh puluh dua macam ilmu sakti Siauwlim Pay, entah secara bagaimana berhasil Siauw thayhiap pelajari!”
“Tooiiang, kau telah salah melihat. ilmu jari yang cayhe gunakan sama sekali bukan ilmu Kiem Kong Cie dari Siauwlim Pay.”
“Kecuali ilmu jari Kiem Kong Chie dari Siauwlim Pay, belum pernah cayhe dengnr kalau dalam dunia persilatan terdapat ilmu jari lalu yang demikian dahsyatnya.”
“Hmm! hal ini harus disalahkan mengapa pengetahuanmu piclk sekali….” Tukas Tu Kioe dari samping dengan nada sinis.”
Meskipun Siauw Yauw-cu mempunyal iman yang kuat, setelah dibina oleh kata-kata tersebut tak urung hawa gusarnya ber-kobar juga. Dengan penuh kemarahan teriak-nya.
“Bajingan yang tak tahn diri! cuwi seka-lian jangan anggap Koen cu kami terlalu menghargai dirimu lantas kami tak berani mengapa apakan kalian? Justru karena sayang pada bakat kalian maka kami coba menoloug kamu semua. Hmm apabila kalian berani mengobarkan kegusaran pinto…. lihat saja nanti, sampai dimanakah penderitaan yang bakal cuwi sekalian terima “
“Hey tosu bau bidung kerbau, apakah kau sudah mulai merasa bahwa kesempatanmu untuk membinasakan kami sekalian telah berlalu.” seru Soen Pnt-shia ketus.
“Mungkinkah karena otot kerbau yang membelenggu tubuh Soeu-heng telah putus, maka kau berani mengucapkan kata-kata semacam itu 7?
“Hey toosu bau hidung kerbau, aku sipengemis tua masib merasa yakin bahwa kepandaianku masib cukup untuk menghadapi dirimu. Walaupun pada saat ini tubuh Siauw tayhiap serta Tiong-chi Siang-ku terbelenggu oleh borgol emas, namun mereka masih punya kekuatan untuk melinduigi dirinya sendiri!”
“Heeeh hee…. hee…. seandainya pinto benar benar ada maksud membinasakan cuwi sekalian, tidak nanti pinto sudi bertarung dengan cuwi sekalian melalui ilmu silat,”
“Kalau tootiang mau tenggelamkan perahu panca warna ini, kami bersaudara pun ter-paksa harus pasrah pada nasib. hanya saja…. heeehh…. kamipun ingin mencari seseorang untuk teman kubur!” sambnng Tu Kioe dingin.
“Aku s pengemis tua mau cari Siauw Yauw tootiang saja.”
“Sedang kami sepasang pedagang dari Tiong-chiu lebih baik ditemani oleh beberapa orang bocah lelaki serta bocah perempuan ini saja.”
sedangkan Siauw Ling segera berkata, “Tootiang, terpaksa aku harus merepotkan diri tootiang untuk mengundang keluar Su Hay Koen-cu, katakan saja bahwa aku orang she Siauw sangat berharap bisa minta petunjuk dari ilmu silat koen-cu kalian.”
Air muka Siauw Yauw-cu berubah jadi hijau membesi, hawa napsu membunuh mu-lai menghiasi alisnya, jelas sang toosu yang Punya iman tebal Ini telah dibikin naik pi-tam oleh ejekan-ejekan serta olok-olokan lawan.
Terdengar ia tertawa dingin dan berseru, “Bilamana cuwi sekalian memang kepingin sekali menjajal cara pinto untuk membunuh orang. pinto pun tak bisa berbuat lain lagi. akan pinto kabulkan permintaan kalian.”
Mendadak Soen Put-shia mengebaskan pedang panjangnya. lalu berseru, “Tootiang setelah hari ini aku sipengemis tua berjumpa dengan dirimn aku rasa bila tootiang ingin meninggalkau tempat ini dalam keadaan arnan tenteram, lebih baik tundukkan dahulu diriku.”
Belum habis ia berkata, tiba-tiba tampak-lah seorang bocah berbaja hijau buru-buru lari masuk kedalam. kemudian membisikkan sesnatu disisi telinga Siauw Yauw-cu dan bum-buru berlalu lagi.
Meskipun Siauw Yauw cu berhasil menguasai ketenangan jiwanya, namun dalam pandangan Soen Put-shia yang mempunyai pengalaman sangat luas dalam dunia persilatan. secara lapat-lapat ia dapat menyaksi-kan bahwa kabar berita yang disampaikan bocab tersebut barusan pastilah bukan suatu kabar berita yang baik.
Dalam hati ia berpikir ; “Menggunakan kesempatan dikala pikiran-nya tidak tenang, kita harus menerjang keluar dari ruang perahu ini, kemudian kita paksa ia masuk kedalam ruangan. Dengan kerja sama Siauw Ling serta Tiong-chiu Siang-ku rasanya tidak terlalu sulit bagi kita uutuk merobohkan dirinya. Seaudainya kun-ci borgol emas itu berada disakunya. Siauw Ling serta Tiong-chiu Siang-ku segera akan bebas dari beienggu. Dalam keadaan seperti itu siapa yang perlu kita jerikan lagi?”
Berpikir akan hal itn, diam-diam ia mengempos tenaga, kemudian tanpa mengucap-kan sepatah katapun tubuhnya melayang keluar dan menerjang keluar dari ruangan pera hu itu.
Pedang yang berada ditangannya bersama-an waktunya pula diputar kencang membentuk selapis hawa pedang yang sangat tebal.
Siauw Yauw cu sadar akan bahaya yang mengancam dirinya, Hud-tim nya dikebas keluar terus menghantam tubuh Soen Put shia.
Tenaga serangan Hud tim yang membawa hawa lunak namun dahsyat itu benar-benar luar biasa sekali, pedang Soen Put Shia seketika terbendung didalam ruangan perahu.
Tatkala sang tosu tersebut melancarkan serangan menghadang jalan pergi dari Soen-Put shia ladi tubuhnyapun ikut bergerak maju kedepan, senjara Hud-tim nya seketika berge-rak dan melancarkan serangan kembali.
Socu Put-shia kebaskan pedangnya menyongsong datangnya serangan itu, dengan cepat mereka terlibat dalam suatu pertempuran yang amat seru.
Nampak cahaya pedang berkilanan memenuhi angkasa dan menciptakan cahaya keperak-perakan yang menyilaukan mata. angin serangan laksana gulungan ombak ditengah samudra menerjang, dan menggulung Siauw Yauw cu tiada hentinya.
Desiran angin serangan dari senjata menambah semaraknya suasana serat-serat halus senjata itu melebar dan mengurung kebawah bagaikan selapis awan hitam seketika cahaya keperak-perakan dari perak penge-mis tua itu terbendung tak sanggup maju lebih kedepan.
Dalam sekejap mata kedua orang itu sudah saling bergebrak hampir mencapai dua puluh gebrakaa
Namun kedua belah pihak sama-sama ber-tahan dengan seimbangan, siapapnn tak sanggup merobohkan lawannya, setiap kali Soen Put-shia bermaksud menerjang satu langkah lagi kedepan, setiap kali pnla ia dipaksa Siauw Yauw-cu untuk mundur kembali keposisinya semnla.
Selama berlangsungnya pertempuran itu Siauw Ling yang berada disisi kalangan secara diam-diam memperhatikan setuasi dika-langan. Ia temukan bahwasanya jurus serangan yang dimiliki Siauw Yanw-cu. dalam ilmu hudtimnya betul-betul luar biasa sekaii, seandainya Soeu Put-shia tidak lihay niscaya sejak semula tentu sudah terluka dibawah serangannya.
Kedua orang itu kembali bergebrak sebanyak puluhan jurus lagi, mendadak terdengar Siauw Yauw-cu membentak keras, jurus hudtimnya berubah dan gerakannya semakia aneb.
Dibawah pukulan yang ampuh dan dahsyat, Soen Put-shia kena didesak mundur dua langkah kebelakang.
Tiba-tiba Siauw Yauw cu merogoh kedalam sakunya mengambil keluar sebuah benda. Blum… tatkala benda tadi membentur lantai segera meledak dengan dahsyatnya.
Segumpal asap Putih yang tebal dengan cepat menyembur keseluruh ruangan hingga menghalangi pandangan mata orang.
“Cuwi sekalian cepat tutup seluruh pernapasan, jangan sampai menghisap asap be-racun itu,” teriak Soen Put-shia keraskeras.
Menggunakan kesempatau itulah Siauw Yauw-cu putar badan dan ngeloyor pergi dari sana.
Soen Put-shia tidak jadi panik, telapak tangan diayunkan keluar mengirim sebuah pukulan dabsyat.
Biummm! kembali sebuah bentrokan dahsyat menggema diangkasa, pintu ruangan yang baru saja dirapatkan SiauwYauw-cu segera terpental hancur termakan oleh serangan dari pengemis tua ini.
Sepasang telapak tangan Soen Put shia bergerak cepat, angin pukulan menderu-deru, dalam sekejap mata asap putih yang memenuhi seluruh ruangan tadi berhasil dibuyar-kan sama sekali.
Menanti asap putih tadi sudah kena dibu-yarkan sama sekali. Sang Pat menghembus-kan napasnya panjang. serunya, “Sungguh tak nyana sitoosu tua hidung kerbau itu bisa – bisanya menggunakan obat pemabok dari kalangan paling rendah untuk membokong perbuatannya betul-betul terkutuk!”
Soen Put-shia termenung berpikir sejenak lalu menjawab, “Aku sipengemis tua telah menghisap be-berapa kali sedotan asap putih tadi, namun aku rasa asap tadi tidak mirip dengan obat pemabok atau sebangsanya.”
“Tidak mirip obat pemabok??”
“Tidak salah, bau asap tadi rada sedikit wangi. Menurut pengalaman yang aku mi-liki, setiap obat pemabok maka bau harum-nya tentu tebal dan menusuk hidung sekali.”
“Bukan obat pemabuk? Waaah…. kejadian ini rada aneh.”
“Mungkin saja benda itu merupakan sebuah benda yang jauh lebih keji. tapi yang jelas asap tadi bukanlah obat pemabuk.”
“Perduli benda apakah itu, yang jelas pastilah bukan benda baik. Sitoosu hidung kerbau itu buru-buru berlalu, aku lihat hal ini bukanlah disebabkan ia jeri atas ilmu silat dari looeianpwe atau toako kami. pastilah di tempat luaran telah terjadi snatu peristiwa yang serius, mengapa kita tidak mengguna-kan kesempatan yang sangat baik ini untuk menerjang keluar dari sini?”
“Aku rasa mereka tentu sudah adakan persiapan!”
“Biarlah cayhe yang buka jalan, ingin ku-coba sampai dimanakah keiihayan mereka,” seru Tu Kioe seraya melangkah keluar dengan tindakan lebar.
‘Bila kita buang waktu sedetik, make persiapan mereka akan lebih kuat selapis.” sam bung Sang Pat. “Seandainya kita terjang keluar pada saat ini juga. mungkin kita bisa pukul mereka sampai kocar-kacir.”
“Aku takut apa yang bakal terjadi jauh dari dugaan kalian berdua,” sela Soen Put shia. “Namun, memang lebih baik lagi kalau kita coba-coba untuk menengoknya.”
Dengan mengikuti dibelakang Tu Kioe. si pengemis tua itupun berjalan keluar dari ruangan.
Demikianlah dibawah pimpinan Tu Kioe yang berada dipaling depan, para jago segera menerjang keluar dari ruang perahu. Tetapi baru saja mereka berbelok pada sebuah tikungan, dari arah depan segera berkuman-dang datang suara bentakan nyaring dari seorang gadis, “Berhenti!”
Bersamaan dengan bentakan tersebut, dari balik tikungan lambat-lambat berjalan keluar seorang dara berbaju hijau. diatas tangan si dara tersebut mencekal sebuah benda hitam berbentuk bulat panjang bagaikan tongkat dimana moncong tongkat tersebut diarahkan kepada para jago.
“Didalam tebing besi itu. berisikan cairan racun yang ganas sekali.” Terdengar ia berseru. “Apabila cuwi sekalian berkeras kepala ingin menerjang keluar juga. jangan salahkan kalau budak akan menggunakan benda ini untuk menghadapi kalian.”
Tampak bayangan manusia berkelebat lewat, dari balik tikungan kembali muncul dua orang dara berbaju hijau, ditangan dayang-dayang itupun mencekal pula sebuah tabung besi yang tiada berbeda sama sekali dengan tabung besi yang berada ditangan dara pertama kali tadi,
Sementara itu jarak antara Tu Kioe dengan dara perbaju hijau itu cuma terpaut enam tujuh depa belaka, sementara ia hendak menerjang kedepan dengan gerakan secepat kilat. tampaklah Soen Put Snia maju selangkah kedepan melampaui tubuh Tu Kioe dan menghalangi jalan perginya.
“Jangan bertindak gegabah!” bisiknya lirih.
Perlahan lahan ia angkat kepala memandang tiga dara tersebut, lalu berkata, “Sungguhkah perkataan kalian itu? aku si pengemis tua kok rada merasa kurang percaya.”
“Justru Siauw Yauw toatiang takut cuwi sekalian tidak mempercayai atas perkataan kami. maka dari itu sengaja kami diperintahkan untuk mendemontrasikan kelihayan dari tabung besi ini dihadapan cuwi sekalian” sahut berbaju hijau itu.
“Bawa kemari bajingan yang telah dija-tuhi hukuman mati itu’” teriak dara tersebut.
Dua orang bocah berbaju hijau segera munculkan diri dari balik tikungan sambil menggusurkan seorang lelaki kekar berbaju ring-kas.
Terdengar para berbaju hijau itu berkata: “Berhubung orang itu berani membangkang perintah yang dikeluarkan Koencu kami maka ia dijatuhi hukuman mati, kami akan menggunakan dia sebagai kelinci percobaan! Nah saksikanlah dengan seksama.
Dua orang bacah berbaju hijau itu segera mendorong tubuh lelaki kekar berpakaian ringkas tadi kehadapan dara tersebut, setelah itu ia membebaskan jalan darahnya yang ter totok dan cepat-cepat mundur kebelakang.
Dara berbaju hijau tadi dengan gerakan yang paling cepat segera angkat tabung besi. tersebut dan didorong tepat mengarah lelaki tersebut
Berpuluh-puluh rentetan putih bagaikan pancuran menyemprot tubuh lelaki itu daa dengan telak menghajar tubuhnya.
Sementara itu lelaki kekar tadi baru saja berhasil membebaskan tubuhnya dari penga-ruh totokan, sebelum ia bertindak sesuatu berpuluh-puluh rentetan semprotan berwarna putih itu sudah menyambar tiba.
Ia menjerit kesakitan dan lari dua lang-kah kedepan. namun akhirnya lelaki itu terjungkal mati binasa.
“Ooooow…. cairan racun yang sangat lihay,” bisik Soen Put-shia dengan penuh kaget.
Dalam beberapa saat saja mayat lelaki tadi sudah berubah jadi hijau kebiru-biruan, kemudian menghitam dan akhirnya membusuk.
Dara berbaju hijau Itu melirik sekejap wajah Soen Put-shia sekalian, kemudian berkata
“Setelah cuwi sekalian menyaksikan sen-diri kehebatan cairan beracun itu, rasanya kamu tentu mengerti bukan bahwasanya apa yang budak ucapkan bukanlah gertak sambal belaka, apabila cuwi sekalian merasa yakin babwa ilmu silat yang kalian miliki amat lihay dan mampu untuk menghadapi semprot-an air beracun ini silahkan Cuwi mulai ber-gerak.”
Selesai berkata bersama-sama dua orang dara berbaju bijau serta dua orang orang bocah berbaju hijau lainnya sama-sama mengundurkan diri dari tempat itu.
Menanti beberapa orang itu telah berlalu Siauw Ling geleng kepala dan berkata, “Semprotan air racun yang dipancarkan dari tiga buah tabung besi bagaikan hujan gerimis memenuhi seluruh angkasa, kendati ilmu silat yang kita miliki jauh lebih lihay pun, rasanya sulit untuk menghindarkan diri dari ancaman tersebut.”
“Jalan ini tidak mnngkin bila ditembusi lagi, lebih baik kita mundur dulu kedalam ruangan dan mencari akal lain.” Soen Put-shia mengusulkan.
“Hmm!” Tu Kioe mendengus dingin. “Hidung kerbau itu betul-betul keji sekali, bila dikemudian hari ia terjatuh ketangan aku si Tn Loo-jie, tidak nanti kuampuni selembar jiwanya.”
Sedangkan Sang Pat bergumam sendirian.
“Seandainya kita melepaskan senjata raha-sia secara berbareng dan didalam sekali gebrakan berhasil merobohkan ketiga orang dara tersebut bukankah dengan sangat mudah kita berhasil menerjang keluar dari sini?”
“Rupanya mereka sudah mengadakan persiapan ditempat ini.” kata sang pengemis. “Oleh karena ltuu gadis-gadis tadi bersembunyi dibalik tikungan, sekalipun kita memiliki senjata rahasia yang paling jitupun belum tentu berhasil merobohkan mereka bertiga!”
“Seandainya lorong yang mereka jaga cuma satu tempat ini saja. cayhe punya satu akal untuk menghadapi lawan”. “Apakah akalmu itu?”
“Dengan menempuh bahaya siauwtee akan munculkan diri memancing kehadiran mereka, menggunakan kesempatan yang baik ini-lah toako lepaskan senjata rahasia untuk ro-bohkan mereka semua”.
“Apakah sandara ingin menggunakan tubuhmu sebagai umpan untuk ajak ketiga orang gadis itu gugur bersama??”
“Haaaaaa…. haaaaa…. seandainya siasatku Ini bisa dilaksanakan. tentu saja jauh lebih baik keadaannya daripada kita berempat sama-sama terjungkal ditempat ini.”
Soen Put-shia kembali geleng kepala.
“Apabila dugaan aku sipengemis tua tidak salah Siauw Yauw-cu tidak nanti melepaskan kita dengan lega hati, aku rasa penjagaan yang telah dipersiapkan bukan ditempat Ini saja.”
Tu Kioe mengeluarkan tangannya menge-tuk dinding rnangan, lain berkata, “Dinding ruangan ini terbuat dari bahan kayu, mengapa kita jebol dinding dan menerjang keluar dari sini?”
“Bagus sekali! Caramu Ini memang tidak jelek. Pada saat ini mereka Sudah pertingkat rasa waspada serta penjagaannya, terkurung terus ditempat ini bukanlah suatu tindakan yang tepat….” Tiba-tiba terdengar suara ben trokan yang sangat dahsyat berkumandang datang, disusul terjadinya goucangan yang amat keras diseluruh tubuh perahu itu.
“Aaaaaari sekarang akn tahu!” teriak Sang Pat.” Si too su tua hidung kerbau itu berla-lu dengan tergopoh-gopoh. rupanya ada musuh tangguh yang datang mencari setori!”
Mendadak Soen Put shia mengebaskan pedang panjangnya, sementara tangan kirinya menyambar sebuah meja. katanya.
“Seandainya betul-betul ada musuh tangguh yang datang mencari satroni dengan pihak hidung kerbau itu, inilah kesempatan yang paling baik bagi kita untuk menerjang keluar dari sini”.
“Loociaopwee. apakah kau hendak menggunakan meja tersebut sebagai tameng untuk menahan semprotau air beracun dari mereka?” tanya Siauw Ling cepat.
“Aku memang ada maksud demikian “
“Bagus sekali! dengan adanya meja tersebut sebagai tameng maka semprotan air racun merekapun bisa terbendung dan harapan untuk. berhasil pun jauh lebih besar. Cayhe akan turun tangan bersama-sama cianpwe!”
“Tidak usah…. tidak usah…. tubuhmn masih diborgoi rantai emas, gerak gerikmu tentu kurang leluasa. Lagipula beberapa orang bocah lelaki dan bocah perempuan itupun belum merupakan tandingan dari aku sipengemis tua Yang kita takuti bukan lain adalah semprotan air beracunnya, asal air racun itu bisa terbendnng rasanya, dengan kekuatan aku sipengemis tua sanggup untuk menghadapi mereka”.
“Tapi…. mana boleh kami biarkan loocian pwe menempuh bahaya seorang diri!”
“Ha ha ha ha seandainya kalian tidak datang mungkin sejak semula nyawa dari aku si pengemis tua sudah melayang….”
Ia merandek sejenak, lalu melanjutkan: “Aku berharap kalian bertiga suka menaati lebih dahulu disini, nantikanlah kabar baik dariku I”
Seraya berkata ia angkat meja tersebut sebagai tameng dan mencekal erat erat pedangnya ditangan kanan lalu maju kedepan dengan langkah lebar.
Jilid 6
BAGAIMANA kalau cayhe pergi bersama sama loocianpwe? mungkin sedikit banyak cayhe bisa membantu dirimu.” seru Tu Kioe.
“Apakah kau anggap aku sipengemis tua masih belum sanggup umuk menandingi bocah-bocah ingusan itu?” teriak Soen put-shia dengan sepasang mata melotot bulat.
“Cayhe sama sekali tiada maksud demikian.”
“Kalau begitu tak usahlah banyak ribut….”
Kembali terjadi ledakan dahsyat diikuti tubuh perahu goncang dengan kerasnya,
Siauw Ling mengerutkan alisnya lalu berkata, “Rupanya pihak musuh tangguh semakin mendekati perahu panca-warna entah benda apakah yang digunakan untuk menumpuk perahu itu?”
“Bagus sekali! Inilah kesempatan bagi kita untuk menghajar mereka dari dalam.
Meja yang berada ditangan kirinya segera dilintangkan didepan dada kemudian bentaknya keras.
“Air racun kalian tidak seberapa lihay ayoh kalau betul-betul hebat gunakanlah terhadap aku sipengemis tual”
Siauw Ling segera menyambar sepasang sumpit dan dicekalnya ditangan, ia berkata.
“Keadaan sangat memaksa, mau tak mau terpaksa Siauw heng harus turun tangan keji terhadap mereka!”
“Berhadapan dengan musuh tangguh tidak perlu kita berwelas asih sebab kalau kita tidak bunuh pihak lawan maka kemungkinan besar kitalah yang bakal dibunuh oleh mereka. Toako. siauw te merasa kaupun tak usah berwelas kasih lagi terhadap manusia-manusia macam itu.”
Haruslah diketahui sepasang tangan ketiga orang itu telah diborgol jadi satu oleh seutas rantai emas yang kuatnya luar biasa, maka dari baik dalam mengambil benda maupun dalam menghadapi musuh. sepasang tangan mereka mau tak mau harus bergerak secara berbareng.
Dalam pada itu Siauw Ling sambil mencekal sepasang sumpit berdiri didepan pintu ruangan memperhatikan gerak gerik son put-shia.
Tampaklah Soen put shia dengau menyembunyikan diri dibalik meja ia berjalan terus hingga tiba didekat tikungan, pada saat itu-lah mendadak pedangnya berputar melancarkan sebuah tusukan kilat.
Siauw Ling pusatkan seluruh perhatian-nya kearah tikungan tersebut, diam-diam hawa murninya telah dipersiapkan, asal ia lihat ada gerakan yang mencurigakan muncul diatas maka serangan senjata rahasia sesuai dengan ajaran dari Tiauw-siancu segera akan digunakan.
Tampak dua belah pedang muncul dari balik tikungan membendung datangnya serangan pedang dari Soen Put Shia.
Tiga bilah pedang saling berbentrokan dengan kerasnya diujung tikungan. namun tidak nampak kemunculan kedua orang bocah berbaju hijau serta ketiga orang dara berbaju hijau yang membawa tabung besi berisi-kan air racun itu.
Soen Put Shia dengan tangan kiri mence-kal meja siap sedia menghadapi semprotan air racun dari ketiga orang dara itu, dengan gerakan yang cepat laksana kilat pula ia menerjang terus kearah depan.
Slapa sangka kejadian selaujutnya jauh di luar dugaan sipengemis tua dari perkumpulan Kay-pang ini, pertarungan telah berlangsung lama sekali namun pihak lawan belum juga munculkan diri, disamping itu tidak ada pula semprotan air racun yang memancar tiba, hal ini membuat hatinya jadi tercengang dan keheranan.
Tenaga dalamnya segera disalurkan keujung pedang, sekuat tenaga disambarnya pedang lawan…. Traaaang! sebilah pedang berhasil ia sampok hingga jatuh keatas tanah.
Bersamaan itu pula tangan kirinya tarik kembali meja pelindung badan itu, pedang ditangan kanannya diperketat dau pedang keduapun berhasil ia sampok rontok
Dengan suatu gerakan yang cepat pengemis ini melongok kebalik tikungan, tampaklah dua orang bocah berbaju hijau itu sedang bongkokkan badan memungut kembali pedangnya yang tersampok jatuh, sementara ketiga orang dara berbaju hijau tadi entah sudah lenyap kemana.
Soen Put-shia segera angkat pedangnya dan berteriak keras, “Kalian cepatlah datang kemari, kita Sudah tertipu!”
Dimulut ia mengundang kehadiran Siauw Ling sekalian, sedangkan tangan kirinya segera membuang meja dan mengirim sebuah pukulan.
Siaow Ling serta Tiong-chiu Siang-ku yang mendengar teriakan itu buru-buru lari datang, Tenaga pukulan yang dilepaskan Soen Put-shia betul-betul luar biasa sekali. sebelum kedua orang bocah berbaju hijau ingusan tersebut sungguh menghadapi serangan dahsyat dari Soen Put-shia? ditengah ben-trokan dahsyat. tubuh mereka terpukul mundur tiga langkah kebelakang.
Pada waktu itulah Siauw Ling, Sang Pat serta Tu Kioe telah tiba disana, terdengar mereka berbareng bertanya, “Apa yang telah terjadi???”
“Haaa…. haa.-.haaaa…. mungkin Siauw Yanw cu cuma memiliki tiga buah tabung belaka„sekarang tabung tersebut harus digunakan untuk menghadapi lawan tangguh mememungut kembali pedangnya, angin pukulan dari sipengemis tua itu sudah menyambar tiba. terpaksa kedua orang bocah tersebut harus menggabungkan kedua tenaganya untuk membendung datangnya ancaman itu.
Tapi mungkinkah kedua orang bocah
Dalam pada itu kedua orang bocah berbaju hijau yang tidak sempat memungut kembali pedangnya, kemudian kembali pula kemunculan Siauw Ling bertiga disana, dalam hati mereka sadar bahwa mereka berdua bukanlah tandingan mereka, tanpa banyak bicara lagi kedua orang bocah tersebut lari ngacir dari situ.
Berhenti’.” bentak Siauw Ling.
Dalam keadaan seperti kedua orang bocah itu mana sudi menurut, tanpa berpaling mereka percepat larinya ngacir dari situ.
“Kalau kalian berdua tidak mau menuruti perintahku, jangan salahkan kalau aku bertindak keji” teriak Siauw Ling penuh kegusaran.
Bersarnaan dengan bentakan itu sepasang telapaknya diayun berbareng. dua batang sumpit tersebut segera meluncur kedepan Iaksana sambaran petir.
Terdengar dua jeritan lengking yang mengerikan berkumandang datang, kedua orang bocah berbaju hijau itu jatuh terjungkal keatas lantai dan tak berkutik lagi.
Soeh Put-shia menyambar kembali meja tersebut untuk melindungi badannya lalu ia menerjang dahulu kedepan, tatkala tubuhnya berlalu disisi kedua orang bocah tadi tampaklah dua batang sumpit yang dilepaskan Siauw Ling tersebut dengan telak menembusi tekukan lutut dari bocah-bocah itu, lukanya amat parah dan dalam sekali.
Tekukan lutut merupakan suatu bagian tubuh yang berbahaya, apabila tempat itu terluka maka sulit untuk sang penderita untuk berjalan kembali.
Siauw Ling mencabut keluar kedua batang sumpit tersebut, ia menghela nafas ringan dau bungkam dalam seribu bahasa. Jelas dalam hati kecilnya timbul rasa iba setelah menyaksikan kedua orang bocah itu.
Tu Kioe yang menyuSul datang segera menyepak tubuh Sang bocah yang ada disebelah kiri, jengeknya dingin, “Hey bocah cilik, usiamu paling banter cuma empat lima belasan, kalau mati dalam usia begini muda apakah tidak terlalu sayang.
Dari sepasang mata bocah berbaju hijau ito secara lapat-lapat terpancar keluar. rasa takutnya yang luar biasa, namun ia tetap gertak gigi membungkam dalam seribu ba-hasa.
Dengan selembar wajah yang kaku dan dingin, kembali Tu Kioe berseru, “Kalau kau tidak ingin mati, maka cuma ada satu cara saja yang dapat kalian termpuh.”
Bocah berbaju hijau itu bergerak sedikit, namun tetap tiada suara yang muncul.
“Kemanakah ketiga orang bocah perem-puan itu?”
Bocah berbajn hijau itu melirik sekejap, rekannya tetap membisu.
Menyaksikan keadaan bocah-bacah itu, Siauw Ling menghela napas paujang, bisik-nya, “Tak usah ditanya lagi, mari kita terjang keluar “
“Biarlah aku sipengemis tua yang membuka jalan!”
Lorong dimana mereka lewat amat sempit dan cuma beberapa tombak saja panjangnya, setelah menikung pada suatn tikungan, munculah sebuah tangga kayu yang mengabungkan tempat itu dengan geladak.
Terdengar suara bentrokan senjata berku-mandang dengan nyaringnya dari arah lnar, jelas diatas geladak sedang dilangsungkan suatu penempuran yang amat seru.
Soen Put-shia yang menyaksikan mulut tangga amat sempit dan meja dibawahnya tidak muat, tanpa banyak bicara pedangnya bekerja keras membabat sisi meja tadi. kemudian ia meloncat lebih dahulu keluar dari mulut tangga.
Rupanya kepergian ketiga orang dara berbaju hijau tadi amat tergopoh? sehingga mulut tangga pun lupa ditutup kembali.
Soen-put-shia loncat naik keatas tangga dia menengok keluar. namun dengan cepat ia berdiri tertegun.
Sang Pat menjumpai perubahan air muka sipengemis tua itu, dengan cepat bertanya lirih, “Apa yang terjadi?”
“Shen Bok Hong….”
“Ehmm. ada satu persoalan cayhe telah lupa memberitahukan pada loociaopwe,” tu-kas Siauw Ling sambil mengangguk.” Beberapa hari berselang Shen Bok Hong telah menderita kerugian besar dengan Su Hay Koen Cu. berpuluh-puluh buah sampan nja telah ditengelamkan oleh Koaen cu tersebut bahkan jago-jago lihaynya yang sekarat banyak sekali. Aku rasa dengan tabiat Sen Bok Hong yang maunya menang sendiri, setelah rugi tentu saja ia tak mau berpeluk tangan belaka.”
Soen-put-shia tersenyem. “Inilah yang dinamakan dengan racun melawan racun, pertempuran yang sedang berlangsung diatas geladak amat seru sekali. bagai-mana kalau kita tunggu dulu sampai pertarungan mereka usai dan menentukan siapakah yang menang diantara mereka??”
Seandainya kami bersaudara tidak memakai borgol dibadan, maka ini memang merupakan satu tindakan yang palig tepat. seru Sang Pat.” Tetapi keadaan kita sekarang lain, kesempatan baik ini kita harus cepat cepat naik kegeladak sambil memperhatikan situasi disitu, begitu ada kesempatan bagus kita harus bertindak.”
“Baiklah. inilah ypng dinamakan menangkap ikan diair keruh, aku sipengemis tua akan memberikan jalan buat kalian bertiga.” Setelah pengemis itu…. meloncat keluar dari tangga, Siauw Ling segera menyusul dari belakang Tampaklah noda darah berceceran diatas geladak, berpuluh-puluh sosok mayat menggeletak disana-sini, pemandangan ketika itu mengerikan sekali.
Soen Put-shia sambil mencekal pedangnya bersembunyi dibalik sebuah liang besar, waktu itu ia sedang mengape kearah Siauw Ling sekalian.
Tiong-chiu Siang ku sekalian buru-buru kesana dan sama-sama bersembunyi dibalik sebuah tiang besar. Dalam pada waktu itu rupanya pasukan pengawal yang berada diatas perahu panca warna itu sebagian besar telah gugur atau luka parah, kecuali pertempuran sengit yang maslh berlangsung diatas geladak, empat penjuru sudah tidak nampak manusia hidup lagi Dengan suara lirih Soen Put-shia segera berbisik….”Rupanya pihak Su-hay Koen-cu telah menderita kerugian yang sangat besar, seluruh anak buahnya telah hampir binasa semua.”
Siauw Ling alihkan sinar matanya kedepan. tampaklah tubuh Shen Bok Hong yang tinggi besar namun bongkok itu berdiri tegak diujung perahu, dari ujung pedang yang berada ditangannya titik-titik darah segar menetes terus tiada hentinya.
Sedangkan Siauw Yauw-cu menari narikan hudtimnya sedang melangsungkan pertarung-an sengit melawan dua orang kakek tua.
Pakaian yang dikenakan kedua orang kakek tua itu menyolok sekali, yang satu memakai baju serba putih, sedang yang lainnya memakai baju serba hitam, mereka bukan lain adalah Hek-pek Jie loo dari Tiang Pek-san. Tatkala dalam perkampungan Pek Hoa-san-cung diadakan pertempuran para enghiong, Siauw Ling pernah berjumpa dengan Hek Pek Jie-loo ini, namun ketika itu mereka berdua sama sekali tidak turun tangan, maka tidak mereka ketahui sampai dimanakah taraf kepandaian mereka.
Kini setelah diperhatikan dengan seksama, maka dirasakanlah bahwa ilmu silat kedua kakek itu sangat aneh, gerak-geriknya jauh berbeda dengan aliran ilmu silat didaratan Tiong goan
Empat buah telapak baja mereka bagaikan titiran angin puyuh melayani setiap ancaman yang datang dari senjata hudtim Siauw Yauw cu, masing-masing pihak saling merebut menyerang, semua jurus yang ampuh kejipun meluncur keluar semua.
Kecuali Siauw Yauw-cu yang sedang ber-tempur sengit melawan Hek-pek Jie-loo, tidak nampak Su hay Koen-cu yang memakal jubah kuning itu hadir disana, kemungkinan ia pergi?”
“Su Hay Koen-cu benar-benar congkak dan tinggi hati, sekalipun menyaksikan segenap pasukannya punah, ia masih tidak sudi munculkan diri menghadapi musuh,” pikir Siauw Ling.
“Aneh…. sungguh aneh sekali,” bisik Soen put-shia tiada hentinya. “Sekalipun Shen Bok Han telah mengerahkan segenap jagoan lihay dimilikinya tidak mungkin mereka telah mati binasa semua, dan aneh sekali, mengapa korban yang bergelimpangan diatas geladak rata-rata merupakan anak buah dari Sui Hay Koen-cu semua?”
“Mungkln Shen Bok Hong telah mengang-kut para korbannya!”
Baru saja ucapan itn selesai diutarakan, mendadak terlihatlah senjata hudtim dari Siauw Yauw-cu mengirim dua buah serangan dahsyat memaksa mundur Hek Pek Jie Loo. setelah itu ia putar badan dan lari masuk kedalam ruang perahu
Piutu ruang perahu yang terukir naga serta burung hong itu mendadak membentang lebar, setelah melepaskan Siauw Yauw-cu, pintu tadi menutup kembali seperti sedia kala.
Siauw Ling alihkan sinar sinar matanya kearah pintu ruang perahu yang berukiran burung hong dan naga tadi, terlibatlah suasana disana tetap utuh tidaK kekurangan barang sedikitpun. Jelas pertempuran sengit yang barusan berlangsung hanya terbatas diatas geladak belaka, ruang belaka, ruang perahu tersebut sama sekali tidak terpengaruh-hal ini menegangkan hati si anak muda ini maka bisiknya kepada Soen-put-shia.
. “Loociaupwe, coba kau lihat korban yang berjatuhan diatas geladak sangat mengerikan, namun suasana dalam ruang perahu itu aman tenteram seolah-olah sama sekali tidak terjadi peristiwa apapun.”
“Aku sipengemis tna pun merasa rada tercengang dengan keadaan tersebut, baik pertempuran besar maupun pertempuran kecil sudah sering kali kusaksikan, namun belum pernah kujumpai pertempuran yang demikian aneh macam ini hari. DewaSa ini diatas geladak kecuali Shen Bok Hong serta Hek Pek Jie loo tidak nampak kehadiran orang-orang perkampungan Pek-hoa-san-cung lagi, bukan-kah kejadian ini tidak kalah anehnya dengan ketenangan ruang perahu itu?????”
Siauw Ling memperhatikan suasana disekitar sana dengan lebih seksama. sekalipun tidak salah, diatas geladak yang luas, kecuali Shen Bok Hong serta Hek Pek Jie Loo sama sekali tidak nampak sesosok manusiapun. dalam hati ia lantas berpikir.
“Mungkin Shen Bok hong datang kesitu hanya dengan mengajak Hek Pek Jie Loo belaka Seandainya betul, dengan kekuatan mereka bertiga berhasil menyapu rontok seluruh jagoan lihay yang ada diatas perahu panca warna ini. hal tersebut membuktikan bahwa kepandaian silat yang dimiliki Hek Pek Jie-loo tidak berada dibawah kepandaian silat Shen Bok Hong sendiri “
Terdengar Shon Bok Hong yang berada di-tengah geladak dengan suara yang parau berseru lantang.
“Su Hay Koen-cu, keempat puluh delapan orang perwira pengawal perahumu telah mati binasa semua. aku rasa dalam ruang perahumu sudah tiada panglima yang bisa terapung lagi. Dalam keadaan seperti ini aku rasa sudah waktunya bagimu untuk memunculkan diri sendiri?”
“Hemm! walaupun keempat puluh delapan orang pengawal perahukn berhasil kau binasakan semua, namun tengok dulu! apakah kedelapan belas orang jago lihay yang kau bawa masih ada yang hidup segar?” sahut Su Hay Koen-cu dari dalam ruang perahu dengan suara berwibawa, “Dewasa ini kecuali kalian bartiga jangan harap bala bantuan kalian bisa datang kemari.
“Shen Bok Hong?” snara diri Siauw Yauw cu pun berkumandang datang pula dengan lantang. “Pinto ingin memberitahukan satu persoalan kepada dirimu’”
“Heee…. heee.fc.apakah kau anggap aku orang She shen tidak berani meuerjang masuk kedalam ruang perahumu?”
Tiba-tiba pintu ruang perahu tersebut terbuka lebar diikuti munculnya Siauw-Yauw-cu dengan langkah lambat. katanya kembali: “Diatas perahu panca warna ini kecuali dilindungi oleh empat puluh delapan orang pengawal berbaju hitam, masih ada tiga puluh enam bocah lelaki serta dua puluh orang cantik berkumpul disini semua. Asal Koen-cu kami turunkan perintah maka dengan cepat mereka akan menerjang keluar dan mengerebuti kalian bertiga!”
“Hemmmm! sekalipun lebih banyak seorangpun percuma. mereka tidak lain hanya-lah sukma-sukma yang mendaftarkan diri pada raja akhirat dan kini banya menunggu saat ajalnja belaka. Cayhe ingin sekali berjumpa dengan Koen-cu kalian, entah berani-kah ia munculkan diri untuk bergebrak dengan melawan aku orang She shen?”
Tampak pintu ruang perahu kembali terbuka lebar lebar, Su Hay Koen-cu yang memakai jubah kuning emas dengan langkah lebar. muucullah diri diatas geladak.
“Shen-toa Cung-cu, benarkah kau hendak tantang cayhe untuk berduel?” Tegurnya sambil tertawa hambar.
Sinar mata Shen Bok Hong perlahan-lahan dialihkau keatas wajah Suhay Koencu. tampaklah orang itu berusia tiga puluh ta-hunan, jubah yang dikenakan berwarna kuning dengan sulaman naga yang beraneka rupa dari benang emas. tangannya kosong dan tidak bersenjata. Ia segera tertawa dingin-
“Saudara. jubah kuning emas yang kau kenakan memang cukup mentereng, cuma tidak tahu bagaimana dengan ilmu silatnya?”
“Apakah Shen toa cungcu ingin menjajal kepandaian silatku?”
“Dua kali bertempur, anak buah kita berdua yang jatuh korban sudah tiada tara banyaknya, dari pada mereka pada modar semua alangkah baiknya kalau kita berdua melakukan pertarungan tersendiri, dengan demikian memang kalahpun bisa cepat ditentukan
“Sudah lama aku mendengar nama besar dari Shen-toa-cungcu, apalagi jika aku tidak berkeyakinan untuk menandingi kepandaian silatmu, tidak nanti aku berani munculkan diri didalam dunia persilatan!”
Tiba-tiba Shen Bok Hong maju kedepan hingga tiba ditengah geladak, lain berseru dingin.
“Bila Koencu pun ada maksud demikian, dengan senang hati aku orang she Shen menantikan petunjukmu!”
Diam-diam Siauw Ling perhatikan gerak gerik simanusia bayangan berdarah ini. tampaklah tatkala ia berjalan melewati tumpukan mayat-mayat tersebut, mendadak laksa-na dicengkeram dan dilempar orang, mayat tadi segera pada mencelat dengan sendirinya masuk kedalam sungai.
Hal ini menimbulkan rasa kagum dalam hatinya, ia berpikir
“Ilmu silat yang dimiliki orang ini benar benar luar biasa sekali!”
Dalam pada itu terdengar Su Hay Koea-cu tertawa terbahak-bahak dan berseru, “Nama besar She-toa-cungcu telah menggetarkan sungai telaga, aku rasa tidak perlu kau demontransikan kelihayanmu dihadapan diri cayhe….”
-000O000-
SOEN PUT SHIA yang ada dibalik tiang, dengan ilmu menyampaikan suaranya berbisik kepada siauw Ling serta Tiong – chiu Slang cu, “Yang satu baru yang lain lama, kedua orang jagoan dahsyat ini bakal melangsungkan pertempuran sengitnya diatas perahu panca-warna ini, menurut pendapatku pertarungan ini sangat besar pengaruhnya terhadap nasib serta keselamatan umat Bu-Iim, dikala kedua orang itu bertarung hingga kehabisan tenaga nanti alangkah baiknya kalau kita turun tangan secepat kilat untuk membereskan mereka berdua, bila tindakan kita ini berhasil maka perbuatan tersebut merupakan suatu pahala yang besar bagi umat Bu lim. Nah, agar suksesnya usaha tersebut, baik baiklah menyembuyikan diri jangan sampai jejak kita ketahuan mereka.”
Tampaklah Shen Bok Hong yang tinggi besar tapi bongkok itu berhenti ditengah geladak, tangan kanannya diangkat keatas dan berkata.
“Tamu tidak akan mendahului tuan rumah, silahkan Koencu turun tangan terlebih da-hulu.”
Sementara Su Hay Koencu hendak majn kedepan, mendadak terdengar Siauw Yauwcu berseru lantang, “Koencu, tunggu sebentar!”
Aku tidak boleh perlihatkan kelemahan dihadapannya, Tootiang masih ada persoalan apa lagi.
“Koen-cu. cita-citatmu adalah memimpin Bu-lim dan menguasai jagad, apa gunanya disebabkan sedikit persoalan lantas hendak turun tangan sendiri….”
“Asal kalian dapat mengalahkan aku orang she Shen, maka persoalan dalam Bu-lim kendati belum seluruhnya rampung, paling sedikit cita cita Koen-cu Sudah tak jauh!” tukas Shen Bok Hong dingin.
“Cepat atau lambat aku tak bisa menghindarkan diri lagi untuk bertarung melawari Shen Bok Hong, buat apa kita harus ragu-ragu lagi?”
“Walaupun perkataan Koen cu tidak salah namun saat ini bukanlah saat yang tepat.”
“Mengapa?”
“Pada saat dan situasi seperti ini, kita telah berhasil menguasahi seluruh keadaan, musuh sedikit dan kita berkekuatan besar, tentu Saja Koen-cu tidak usah turun tangan sendiri untuk menghadapi musuh
“Jadi menurut pendapat tootiang?” tanya Su Hay Koen cu dengan alis berkerut.
“Maksud pinto, lebih baik kita paksa Shen Bok Hong untuk mengikatkan diri kepada kita dan rela berbakti diri”
“Perlahan lahan Su Hay Koen-cn mengangguk.
“Apa bila tootiang sudah mempunyai rencana yang masak, tentu saja akupun tak usah membuang tenaga dengan percuma lagi.” katanya.
“Silahkan Koen cu kembali kedalam ruang-an, biarlah pinto, yang hadapi mereka ber-tiga.”
Sebelum Su Hay Koen-cu sempat menjawab mendadak tampaklah seorang bocah berbaju hijau buru-buru munculkan diri dari dalam ruangan dan membisikkan sesnatu di-sisi telinga Siauw Yauwcu.
Menyaksikan tingkah laku bocah itn, dalam hati Siauw Ling berpikir, “Dalam menghadapi pertarungan yang amat Sengit tadi tentu saja baik Su Hay Koen cu maupun Siauw Yanw cu tidak sempat mengurusi kami, kini anak buah masing-masing pihak sama-sama binasa dan posisi pihak Su Hay Koen-cu rupanya jauh lebih unggul, tentu saja Siauw Yauw-cn teringat kembali akan diri kami sekalian, rupanya bocah berbajn hijan itn sedang melaporkan peristiwa memberitahukan dirinya kami beberapa orang”
Tampak air muka Siauw Yauw-cu tetap tenang seperti sedia kala, ia tertawa hambir dan ulapkan tangannya memerintahkan bo-cah tersebut mengundurkan diri.
Rupanya Shen Bok Hong sudah tidak Sa-baran untuk menunggu lebih jauh, dengan dingin ia menghardik.
“Koen-cu apakah kau jeri untuk berduel melawan diriku?” Su Hay Koen-cu tersenyum.
“Siauw Yauw-cu, tootiang telah mengatur-kan segala sesuatu bagi diriku, dalam waktu singkat ia akan berhasil meringkus kalian bertiga, tentu saja dalam keadaan seperti ini tidak perlu bagiku untuk bergebrak melawan kalian,” katanya.
Sinar mata Shen Bok Hong berputar, diam dia ia memberi kisikan kepada Hek Pek Jie-loo untuk menerjang masuk kedalam ruang perahu itu dengan gerakan yang paling cepat.
Sepasang telapak Su Hay Koen-cu berbareng didorong kedepan, dua gulung angin pukulan yang maha dahsyat secara terpisah segera menyerang Hek Pek Jie-loo.
“Buru-buru Siauw Yauw-cu kebaskan senjata hudtim lalu berseru,
“Koen-cu, harap kau cepat-cepat kembali kedalam ruangan lebih dulu!”
Su Hay Noen cu tidak membangkang, ia putar badan dan meloncat masuk kedalam ruangan.
Hek Pek Loo-jie masing-masing mengeluarkau telapak tangannya menyambut kedatangan pukulan udara kosong yang dilancarkan Su Hay Koen-cu tadi.
Meski akhirnya kedua orang kakek tua itu berhasil menyambut datangnya serangan tersebut namun tak urung tubuh mereka terge-tar juga sampai mundur selangkah kebelakang.
Dalam pada itu kebasan hudtim dari Siauw Yauw-cu telah menyambar tiba. secara terpisah ia menyerang Hek Pek Loo-jie secara berbareng hingga memaksa kedua orang itu harus mundnr selangkah lagi kebelakang.
Dan tidak menanti kedua orang itu melancarkan serangan balasan. tubuhnya telah berkelebat meloncat kembali kedalam ruang-an perahu.
“Serbu kedalam ruang perahu mereka!” hardik Shen Bok Hong lantang, dengan pedang melindungi badan ia bergerak menuju kearah ruacgan perahn.
Hek Pek Jie-loo mengiakan, masing masing dengan telapak kiri melindungi badan. telapak kanan bersiap sedia melancarkan serangannya segera menerjang kedalam ruang perah.
Tiba-tiba…. serentetan titik hitam bagaikan hujan gerimis menyemprot keluar dari balik ruangan.
Untuk sesaat sulit bagi Hek Pek Jie-loo untuk melihat jelas senjata rahasia macam apakah yang mengancam mereka, seraya lintangkan telapaknya melindungi badan mereka loncat mundur kebelakang.
Tetapi dengan cepat pnla mereka menjerit kesakitan, diatas masing masing telapak terasa amat sakit bagaikan diantuk tawon.
Shen Bok Hong yang berada dibelakang masih sempat meloloskan diri dari bahaya, melihat rekannya menjerit ia segera gerakan tubuhnya meloncat mundur keujung geladak.
“Air racun….” pikir Siauw Ling dalam hati Belum habis ia berpikir, dari balik ruangan terdengar gelak tertawa dari Siauw Yauw cu berkumandang datang disusnl suara jengekan yang berada disini
“Bagaimana dengan keadaan luka kalian berdua?”
Hek Pek-jie- loo sama-sama tundukan kepalanya menendang keatas tangan kiri mereka yang telah berubah menjadi hitam pekat. rasa bergidik meyelimuti seluruh benak mereka, sambil mengempos napas menutup jalan darah dilengan kiri mereka, jeritnya lengking.
“Jarum beracun”
“Haaa…. haaa…. tidak salah, jarum tersebut dinamakan jarum tawon pemutus nyawa yang disimpan dalam sebuah tabung berisi air racun,bagi orang-orang yang terkena air racun itu, mulut mukanya segera akan membusuk dan hancur, kendati tenaga Iwekang sang penderita bagaimana lihaypun tidak nanti dapat melawan keganasan dari cairan ular berbisa ini. Apalagi kalian berdua telah terkena jarum beracun yang maha lihay….”
Meskipun Hek Pek Jie-lop sama-sama disebut sebagai enghiong dari luar perbatasan, tak urung berubah juga air mnkanya setelah mendengar ucapan itu.
Terdengar Sianw Yauwcu melanjutkan ka-tanya, “Jarum beracun itu lembut bagaikan bulu kerban, begitu kena darah maka jarum tadi akan mengalir menuju kejmtung. sekalipun kalian berdua memiliki badan yang terdiri dari otot kawat tulang besi jangan harap nyawa kalian bisa lolos dari ini hari!”
Hek Pek Jie loo saling bertukar pandangan sokejap, bibir mereka bergerak seperti mau mengucapkan sesuatu namun akhirnya tak sepatah katapun meluncur keluar.
Siauw Yauw cu lintangkan senjata Hud-timnya didepan dada kemudian perlahan-lahan keluar pintu ruangan, ia tertawa bambar dan melanjutkan, “Bagi kalian dewasa ini hanya ada satu jalan bidup saja yang bisa ditempuh.”
Hek Pek Jie-loo sama-sama kerutkan dahinya, bibir mereka kembali bergerak seperti mau mengucapkan sesuatu namun akhirnya ditahan juga.
Siauw Yauwcn mendehem perlahan dan.berkata lebih jauh.
“Kecuali obat penawar yang disimpan dalam saku Koencu kami, dikolong langit dewasa ini tiada bahan obat lain yang bisa menolong jiwa kalian berdua lagi,”
Hek Pek Jie loo tundukkan kepalanya memandang mulut luka diatas lengannya, tampak lapisan hit m semakin melebar keatas, sadarlah kedua orang jagoan itn bahwa waktu tak bisa diundur- undur lagi.
Berada diambang pintu kematian, tak urung semangat jantan Hek Pek Jie-loo lun-tur juga, mereka berpaling kearah Shen Bok Hong dan berseru, “Shen Toa Cun-cu….”
Shen Bok Houg mendehem berat memotong ucapan kedua orang itu, sambungnya kembali, “Dalam saku cayhe saat ini tersimpan obat pemunah racun yang paling mujarab, Silahkan kalian berdua datang kemari, coba kutinjau keadaan luka kalian.”
Hek Pek Jie-loo menurut, mereka sama-sama berjalan menghampiri diri Shen Bok Hong.
“Dimanakah letak luka kalian berdua?”
“Diatas lengan sebelah kiri!”
“Apakah dibagian lain tubuh kalian tak ada luka lagi?”
Hek, Pek Jie-loo sama-sama menggeleng.
“Mungkin tenaga pukulan yang kami lancarkan tadi berhasil merontokan jarum berancun dan memukul balik air racun. “sahutnya hampir berbareng. “Kecuali lengan kiri, tiada luka lain yang kami derita.”
“Harap kalian berdua suka menggulung njung baju kalian itu, biarlah caybe periksa keadaan lukanya.”
Hek Pek Jie-loo sama menggulung ujung bajunya, terlihatlah beberapa buah titik hitam muncul diantara tekukan lengan kedua orang itu.
“Mengapa kalian berdua tidak tutup seluruh jalan darah yang ada sehingga membiarkan racun keji itu merangsang naik?” tegur Shen Bok Hong kemudian setelah memeriksa keadaan lengan mereka.
luar biasa sekali, mesti semua jalan darah kami telah tertutup namun gagal juga bagi diri kami untuk membendungnya.
“Bagus?” bentak Shen Bok Hong sambil ayunkan telapak kirinya secara tiba-tiba ” Akan kusuruh kalian saksikan kehebatan golok beracun dari siorang she Shen.”
Sementara angin pukulan yang amat nyaring diiringi desiran tajam langsung menghajar tubuh Siauw Yanwcu.
“Shen Toa- cungcu sekalipnn kau miliki kepandaian untuk menjungkir balikan jagad pun, jangan harap kalian bisa lolos dari tempat ini dalam keadaan selamat.” jengek Siauw Yauwcu sambil menghembaskan senjata Hit timnya.
Tenaga lwekeng yang disalurkan keluar lewat ujung senjata tersebut, bagaikan kilatan guntur menerjang keluar dan menyambut datangnya serangan udara kosong dari Shen Bok-Hong.
Serangan udara kosong ini telah menggunakan segenap tenaga Iwekang yang dimiliki Shen Bok Hong selama ini, kedahsyatannya luar biasa sekali. Kendati Siauw Yauwcu telah menggunakan tenaga Iwekangnya yang di pancar keluar lewat Hud-tim untuk menyampaikan serangan, tak urung tubuhnya tergetar mundur juga sejauh satu.langkah.
Diam-diam hatinya terkesiap, pikirnya, “Ilmu silat yang dimiliki Shen Bok Hong betul-betul luar biasa, aku tak boleh memandang enteng dirinya….”
Sementara otaknya masih berputar, dua jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang dari belakang tubuhnya, dua orang bocah berbaju hijau yang berdiri disisi pintu ruangan secara mendadak roboh keatas tanah. menggeliat kesakitan dan putus nyawa.
Tatkala diteliti lebih seksama lagi, maka tampaklah diatas dada kedua orang bocah berbaju hijau itu masing-masing tertancap sebilah pisau tipis yang berwarna kebiru-biruan, jelas golok itu telah direndam didalam air racun yang keji pula.
Kiranya setelah Shen Bok Hong melancarkan sebuah pukulan udara kosong tadi, menyusul ia pun melepaskan dua bilah golok beracun.
la sadar bahwa serangan goloknya tidak mungkin akan berhasil melukai diri Siauw Yauwcu oleh sebab itu orang bocah berbaju hijau yang berada dibelakangnya diincarnya.
Tidak salah lagi. serangan golok yang ia lepaskan benar-benar mengenai sasarannya tanpa banyak berkutik kedua orangbocah berbaju hijau roboh binasa
Dikala Siauw Yauwcu masih memperhatikan keadaan anak buahnya itu, kembali ter-dengar suara dengusan berat berkumandang datang.
Dengan cepat ia mendongak, terlihatlah sepasang lengan kiri Hek-Pek Jie-loo telah di betot sampai patah oleh orang lain.
Kiranya setelah Shen Bok Hong melukai kedua orang bocah berbaju hijau tadi. ia memecahkan perhatian dari Hek Pek Jie-loo menggunakan kesempatan itulah pedangnya laksana sambaran kilat menebas kutung lengan kiri dari kedua orang kakek itu,
Siauw Ling yang bersembunyi dibalik tiang dan menyaksikan peristiwa itu, hati-nya bergidik pikirnya.
“Shen Bok Hong betul-betul seorang manusia yang ganas dan keji, seandainya ia tidak tebas kutung lengan kiri Hek Pek Jie-loo mungkin kedua orang itu bakal kena gertak
Dalam pada itu terdengar suara dari Shen Bok Hong yang serak-serak basah menggema lagi, “Loka beracun yang kalian berdua derita Sudah terlalu parah sekali, meski ada obat mujarab belum tentu bisa disembuhkan seratus persen dan pada keadaan lebih runyam apa boleh buat terpaksa siauwtee harus mewakili kalian berdua untuk memenggal putus bencana tersebut, dengan begitu hubungan persaudaraan kita bertiga bisa diselamatkan dari usilan serta rencana keji Siauw YauW-cu.”
Darah segar mengucur keluar tiada hentinya dari mata luka diatas lengan Hek Pek Jie-loo, Saking sakitnya air muka kedua orang kakek ini telah berubah hebat, namun mereka mengiakan juga dengan penuh rasa hormat,
Perkataan Shen Toa Cung cu sedikitpun tidak salah.
“Silahkan enghiong berdua cepat-cepat mengatur napas dan mengerem aliran darah dari mulut luka tersebut, sebentar lagi kita harus melangsungkan kembali suatu pertempuran yang sengit.”
Hek Pek Jie-loo saling bertukar pandangan sekejap, akhir mereka sama-sama merobek selapis kain dan dibalutkan keatas mulut luka ditangannya.
Mesti mereka tundukkan kepalanya memandang kutungan yang menggeletak diatas, terlihatlah kutungan tersebut dari warna ke hijauan kini telah berubah jadi hitam pekat dan mengerikan sekali keadaannya.
Shen Bok Hong angkat kepala memandang sekejap kearah Siaoiw Yauw-cu, lantas ujar-nya. “Tootiang, kau telah menggunakau nya-wa kedua orang bocah pengiringmu untuk mendapat ganti dua buah lengan sahabatku, rasanya pihakmu tidak terlalu merasa rugi”
Siatiw Yauw-cu tertawa hambar
“Pinto merasa kagum sekali atas tindakan Shen Toa Cung-cu yang begitu keji dan telengas, disamping itu akupun merasa kagum atas kegagahan kedua orang Cnng-cu yang kehilangan lengan itu.” Katanya.
“Ucapanmu terlalu berlebihan.” tukas Shen J3ok Hong dingin. “Tootiang menggunakan siasat licik, permainan setan apa lagi yang kau miliki? ayoh keluarkan semua! aku orang she shen ingin sekali mendapat petunjuk darimu.”
Tiba-tiba Siauw Yauw-cu angkat kepa’a tertawa terbahak bahak, kemudian berseru, “Shen Toa Cung cu, silahkau kau menengok kebelakang!”
“Ada apa?”
“Sudah kau lihat, dimanakah kita berada saat ini?”
lihatlah ombak sungai yang menggulung tiada bertepi dan, entah berada dimanakah dia pada saat itu? tanpa terasa sepasang alisnya berkerut kencang.
“Makin lama perahu panca warna ini meninggalkan daerah perkampungan Pek Hoa-san-cung makin jauh. apabila Shen Toa Cnng cu punya kegembiraan mari kita bersama-sama berpesiar lebih dulu ke Lam Hay, setelah itu baru kembali lagi kedataran Tiong-goan.”
‘ Heeeee…. heeee…. Tootiang anggap aku orang she Shen tidak mengerti akan ilrnu be-renang dalam air?”
“Haaaa…. haaaa sekalipun kau mengerti akan llmu berenang dalam air, tidak nanti kau sanggup menandingi kehebatan ilmu berenang dari Koen cu kami.”
Soen Put-shia yang mengikuti pembicaraan tersebut dari balik tiang segera berbisik lirih kepada diri Siauw Ling, “Makin jauh panca warna ini meninggal-kan daratan, makin tidak menguntungkan posisi kita Terus terang kukatakan bahwa aku sipengemis tua adalah seekor bebek darat yang tidak mengerti ilmu dalam air entah bagaimana dengan keadaan cuwi sekalian?”
“Cayhe sendiripnn tidak mengerti ilmu dalam air.” sahut Siauw Ling.
“Ditinjau dari situasi pada saat ini, kemungkinan besar kedua belah pihak akan saling bertahan terus, keadaan ini kalau dibiarkan berlangsung terus maka hal tersebut tidak akan mendatangkan kebernntungan buat kita semua. Terdesak oleh keadaan mau tak mau rasanya kita harus menggunakan sedikit kelihayan.”
“Kelihayan apa?”
“Lihat saja kelihayan aku sipengemis!” sahut Soen Pat-shia sambil tersenyum. Dengan langkah lebar ia segera tampil kedepan dan langsung menegur.
“Shen ToaCung cu selamat berjumpa kembali. bagaimana kabarmu selama ini?”
Sekilas rasa kager berkelebat diaras wajah Shen Bok Hong yang seram, namun hanya sedetik kemudian wajahnya telah pulih kembali dalam ketenangan, ia tertawa hambar.
“Aaaaah….! Kiranya Soen-heng pun berada disini.” serunya. Dalam pada itu Siauw Yauw-cu pun berpaling memandang sekejap kearah Soeu Put shia, lalu tanyanya
“Dimanakah ketiga orang lainnya?”
“Mereka sudah tidak sabar menanti iebih lama lagi.”
“Menanti siapa?”
“Aku rasa dalam hati kecil Tootiang Sudah punya perhitungan sendiri, tak perlu bukan rasanya aku sipengemis tua harus menerangkan sekali lagi?”
“Persoalan apa sih? Kali ini pinto benar-benar tidak bisa menebak!”
“Baiklah! Kalau tootiang memang inginkan aku sipengemis tua bicara terus terang. terpaksa aku harus buka kartu didepan orang.
“Mereka sedang menunggu kunci borgol yang tootiang simpan.”
Bibir Shen Bok Hong tampak bergerak seperti mau mengatakan sesuatu, namun akhirnya maksud tersebut dibatalkan.
“Aaaaat…. benar….” seru Siauw Yauw-cu sambil tertawa hambar. “Bukankah kalian berempat ingin menggunakan kesempatan di kala orang lain lagi terdesak untuk menggertak kami?”
“Haaa…. haaa haaa…. mara bahaya apa sih yang sedang tootiang hadapi? kenapa aku sipengemis tua sama sekali tidak melihatnya?
Soen-heng!” tiba-tiba Shen Bok Hong menyelak diri kesatnping. “Hidung kerbau ini sombong sekali. coba kau libat, ia sama sekali tidak pandang sebelah matapun terhadap diri Soen-beng.”
“Bangsat!” maki Soen Pot Shia dalam hati”
“Manusia keji dan licik macam kau rasanya harus dibasmi lebih dahulu dari pada Su Hay Koencu sendiri….”
Namun diluar ia cuma tertawa terbahak-bahak belaka, tak sepatah katapun ia menyahut.
Sementara itu Siauw Yauwcu berpaling memandang sekejap kearah ruang perahu, lalu ujarnya sambil tertawa, “Seandainya Soen-heng telah membuka harga mengapa persoalan ini tidak dibicarakan lebih dabulu???”
“Berbicara mengikuti situasi yang terbentang dewasa ini. aku sipengemis tua tanpa mengeluarkan modalpun rasanya masih bisa memperoleh keuntungan yang lumayan. Bila Tootiang masih juga memaksa aku sipengemis tua untuk berdamai…. waaah…. tootiang benar tak tahu kekuatan sendiri!….”
“Meskipun Soen thayhiap suka digunakan orang untuk menghadapi kami, namun apa-kah kau Sudah lupa bahwa dewasa ini posisi kamilah yang jauh lebih unggul….”
“Kalau Tootiang…. memang ingin paksa aku sipengemis tua berbalik pada orang lain, penstiwa ini merupakan suatu kejadian apa boleh buat.”
“Soen heng.” tiba-tiba Sheng Bok Hong menimbrung ” Apabila kau suka membantu aku orang she Shen, aku Shen Bok Hok percaya dalam pertempuran hari ini kita pasti akan peroleh kemenangan total.”
Sulit bagi aku sipengemis tua untuk menentukan kami harus membina pihak yang mana persoalan ini haras kurundingkan dahulu dengan mereka.”
“Apa??? dari pihak Kay-pang masih ada jagoan lain yang berkumpul disini….”
“Kalau mereka adalah orang orang Kay-pang, aku sipengemis tua tidak bakal ajak mereka untuk berunding lebih dahulu “
“Kalau bukan orang orang Kay-pang lantas….” sinar mata ketua perkampungan Pea-hoa cung ini dialihkan kesamping, tampaklah Siauw Ling bersama-Sama Tootiang – chin Siang Ku dengan langkah gagah sedang munculkan diri diatas geladak.
Kemunculan Siauw Ling ditempat itu lebih kaget lagi tatkala tahu bahwa Tiong-chiu Siang-ku berserta Soen Put Shia pun berada disani…. ia sadar bahwa kekuatannya tak mungkin bisa mengimbangi kekuatan lawan, tanpa sadar ia berdiri tertegun.
Sementara ituTiong chiu Siang Ku dengan membawa selembar papan dimasing-masing tangannya menengok sekejap kearah Siauw Yauw cu lantas berkata serentak
“Dengan mempertaruhkan selembar jiwa kami coba membendung ancaman air beracun serta jarum beracun tersebut dengan dua lembar papan ini!”
“Dewasa ini waktu bagi kami tidak terlalu banyak bila Tootiang tidak cepat-cepat ambil kepmusan, aku takut kau bakal menyesal sepanjang masa,” sela Soen Put Shia.
Tiba-tiba Siauw Yauwcu merogoh kedalam sakunya ambil keluar sebuah kunci diangkatnya tinggi-tinggi ketrngah udara ancamannya;
“Kunci ini merupakan anak kunci untuk membuka alat borgol emas tersebut, meski-pun dikolong langit banyak terdapat akhli pembuat kunci, mungkin tak seorangpun bisa menciptakan kunci yang rumit dan seperti ini.Jika cuwi sekalian memaksa diri pinto terus, kunci tersebut akan kulemparkan lebih dahulu kedalam sungai-
Ucapan ini membuat Soen Put Shia tertegun diam-diam pikirnya, “Ditinjau dari kekuatan Siauw Ling dimana ia patahkan otot kerbau yang bisa terlihat betapa dahsyat kekuatan yang dimiliki namun ia tidak berhasil juga melepaskan alat borgol yang membelenggu pergelangan tangannya. Jika Siauw Yauwcu benar benar membuang anak knnci itu kedalam sungai, waaah.-kejadian ini akan menyulitkan sekali diriku.”
Terdengar suara Shen Bok Hong yang gerak berkumandang datang.
“Bukannya aku she Shen sengaja mengucapkan kata yang menakutkan hati orang.
aku berani menjamin bahwasanya kunci yang berada dalam genggaman Slauw-cu saat ini pasti bukanlah anak kunci untuk membuka alat borgol tersebut “
Ia merandek sejenak. lalu sambungnya, “Bila Soen-heng suka bekerja sama dengan aku orang she shen, maka dalam sepertanak nasi kemudian sisa- sisa musuh yang berada diatas perahu panca warna ini akan berhasil kita sapu bersih, Siauw Yauw-cu serta Su hay Koen-cu pasti berhasil kita bekuk dan anak kunci untuk membuat borgol itu-pun dengan sangat gampang berhasil kita dapatkan.”
“Hmmm Jikalau Soen Put-shia serta Tiong-chiu Siang-ku adalah sebangsa manusia yang gampang ditipu, tidak mungkin mereka dihormati serta dikagumi oleh semua Umat Bu-lim,” sela Siauw Yauw-cu dingin.
Shen Bok-hong tertawa hambar.
“Perkataan aku dari orang she-shen cuma sampai disini saja, benar atan tidak terserah kebijaksanaan Soen-heng sendiri.”
“Bagaimana pendapat kalian bertiga?” Soen Put shia tidak menjawab sebaliknya malah berpaling kearah Siauw Ling serta Tiong Chiu-siang Ku.
Soen Loocianpwee lah yang menolong kami bersaudara, bagaimanakah tindakan kita selanjutnya alangkah baiknya kalah Soen Loo cianpwee sendiri yang memutuskan.”
Aaaaaah kalau memang kamu semua begitu mempercayai diriku sipengemis tua ini. aku harus baik-baik memikirkan lebih dahulu persoalan ini sebelum mengambil keputusan.”
Soen thayhiap, kau tak usah berpikir panjang lagi!” seru Siauw Yauw-cu.
“Bila kalian suka turun tangan menawan diri Sben Bok-hong, maka pinto akan segera menyerahkan anak kunci tersebut kepada kalitn.
“Aku sipengemis tua tak mungkin bisa menandingi kekuatan Shen Bok Hong….”
“Bagaimana kalau kubukakan borgol ditangan Tiong chiu Siang Ku agar mereka membantu dirimu?”
“Sekalipun kau buka borgol ditangan kami Tiong.chiu Siang Ku percuma saja. sebab tindakan tootiang tersebut cuma akan menemui kegagalan total belaka….” sambung Sang Pat.
“Mengapa?”
“Sebab kekuatan kami bertiga sama saja tak mungkin bisa menandingi kehebatan Shen Bok Hong.”
Mula-mula Siauw Yauw-cu tertegun, diikuti ia mendongak dan tertawa terbahak-bahak.
“Haaaa…. haaaa…. betul, jadi maksud cuwi sekaiian adalah minta pinto agar suka membuka borgol ditangan Siauw Ling, bukankah begitu?
“Sedikitpun tidak salah,” jawab Tu Kioe ketus. “Dalam dikoloug langit dewasa ini kecuali Siauw toako kami, mungkin jarang sekali ada orang bisa menandingi kekuatan Shen Bok Hong.”
“Haaaa…. haaaa….” tiba-tiba Shen Bok Hong tertawa tergelak-gelak. “Tu-heng, dengan ucapanmu barusan bukankah terang-te-rangan kau sudah pandang rendah kekuatan Siauw Yauw tootiang serta Su HayKoen-cu?”
Beberapa orang itu rata-rata merupakan jago kawakan semua. mereka Sudah kenyang makan asam garam dalam dunia persilatan meski masing-masing pihak saling berhadap-an sebagai musuh bebuyutan, namun perubahan serta taktik licik yang digunakan semua pihak tak terhingga banyaknya. dalam adu akal ini siapa teledor akau termakan.”
Mendadak Siauw Yauwcu maju dua langkah kedepan, setibanya disisi tubuh Siuuw Ling, ia segera turun tangan melepaskan alat borgol yang membelenggu tubuh si anak itu, katanya.
“Pinto percaya bahwa Shen thayhiap serta Siauw thayhiap merupakan orang orang yang dapat dipercaya setiap perkataannya setelah menyanggupi tidak nanti akan mengingkari janji. Baiklah, pinto akan mengambil keputusan sendiri dengan melepaskan lebih dahulu borgor ditubuh Siauw thayhiap.” Setelah terlepas dari belenggu Siauw Ling melepaskan otot-otot tubuhnya dan menghembuskan napas panjang, dalam hati ia merasa lega dan nyaman sekali.
Tiba-tiba terdengar Sang Pat mendongak dan tertawa terbahak-bahak, Siauw Yauwcu berpaling mendengar sekejap kearah Siauw Ling, timbul rasa menyesal didalam hati kecilnya Ia sadar bahwa melepasken borgol dari tubuhnya memang gampang namun kalau ia ingin memborgol dirinya lagi, mungkin pekerjaan ini akan jauh lebih sulit dari pada terbang kelangit. Tindakan tersebut bukan saja bagaikan buka sangkar melepaskan burung hong, membuka rantai dileher naga,
umpama kata beberapa orang ini sampai berkerja sama dengan diri Shen Bok Hong bukankah dirinya bakal runyam.
Berpikir sampai disitu. dengan nada dingin segera tegurnya.
‘ “Apa yang anda tertawakan?”
“Tidak salah, memang selamanya perkataan yang telah Siauw toako ucapkan tidak pernah dipungkiri, tetapi sampai detik ini ia tak pernah mengucapkan sepatah katapun, apalagi menyanggupi sesuatu. dari Tootiang.”
^Omong kosong….” tiba-tiba toosu tersebut ingat bahwa Siauw Ling mamang tak pernah menjanjikan sesuatu pada dirinya, maka dengan cepat ia membungkam.
Sang Pat tersenyum. ujarnya kembali: “Tootiang, coba pikirlah lebih seksama lagi, bukankah perkataan dari aku orang she Sang sedikitpun tidak salah?”
“Pinto percaya bahwa Soen thayhiap serta Tiong-chiu-siang Ku adalah jago kenamaan didalam dunia persilatan, apa yang telah diutarakan tidak akan diingkari kembali.” ‘coba loocianpwee sedang pertimbangkan apakah harus membantu tootiang atau tidak. sebelum ia mengambil keputusau sudah tentu perkataannya belum bisa terhitung sebagai suatu janji, sedangkan mengenai kami sepasang pedagang dari Tiong chiu, yang kami utamakan selamanya adalah keuntungan dari suatu perdagangan, kalau pekerjaan rugi tidak akan kami kerjakan apalagi membicarakan soal hubungan persahabatan….”
“Meskipun kalian menitik beratkan pada soal perdagangan, dalam jual belipun ada peraturannya, perkataan yang telah kalian ucapkan sudah sepantasnya kalau ditepati….”
“Tootiang, coba kau terangkan kepada kami. persoalan apakah yang telah kami Tiong-ci Siang ku sanggupi.”
Jilid 7
UNTUK beberapa saat lamanya Siauw Yauw cu tidak sanggup untuk menerangkan persoalan apa yang telah disanggupi sepasang tersebut, tak kuasa hawa amarahnya berkobar, segera bentaknya.
“Kalian berdua jangan lupa bahwa tubuh kalian masih terbelenggu oleh borgol emas “
“Tentang soal ini biarpun Tootiang legakan hati selamanya sepasang pedagang dari Tiong chiu tidak pernah mohon kepada orang lain untuk membuka borgol dibadan kami.”
Seandainya tootiang cukup berbesar hati, bagaimana kalau borgol yang ada diatas tubuh Tiong-chiu Siang Ku sekalian dibuka?” sela Soen-put-shia dari samping.
Sianw Yauwcu termenung berpikir sejenak, kemudian mendongak dan tertawa terbahak-bahak.
“Apa susahnya berbuat demikian?” dengan langkah lebar didekatinya sepasang pedagang dari Tiong.chiu. dan membuka borgol yang membelenggu tubuh mereka.
Tootiang, sungkan benar kau terhadap di-riku?” jengek Tu Kioe dengan suara yang dingin seraya melepaskan otot-otot tubuhnya yang mulai menjadi kaku.
Sedangkan Sang Pat menyimpan borgol emas tadi kedalam saku dan berkata sambil tertawa.
“Tootiang, kau telah memborgol kami lama sekali. sudah sepantasnya kalau borgol emas ini diberikan kepadaku sebagai tanda pembayaran, rasanya permintaan kami ini tidak terlalu mahal bukan?”
Siauw Yauwcu kerutkan dahinya. akan rnarah, tetapi akhirnya rasa mangkelnya itu ditekan juga kedalam hati, seraya perlaban-lahan ia balik kedepan pintu ruangan. “Tootiang. kau telah melupakan satu persoalan!” seru Tu Kioe lagi dengan nada di-ngin.
“Soal apa?”
“Sudah sepantasnya kalau tootiang mengembalikan pula senjata senjata milik kami!”
“Hmm…. hmm„.orangpun telah pinto lepaskan, buat apa aku harus menahan senjata tajam milik cuwi sekalian? harap kalian menanti sejenak, pinto segera akan perintahkan mereka untuk mengembalikan senjata tersebut kepada cuwi semua.”
Habis berkata dengan langkah lebar lebar jalan masuk kedalam ruangan dan lenyap dibalik pintn.
Sepeninggalnya Siauw Yauw cu, dengan suara lirih Soen-Put-shia berbisik kepada diri Siauw Ling.
“Secara tiba-tiba toosu tua hidung kerbau ini bertindak royal, tindakannya ini justeru membuat aku sipengcmis tua mereka serba salah.”
“Ditinjau dari situasi dewasa ini rasanya keadaan telah terjerumus dalam suatu keseimbangan kekuatan yang sensitif, kita tak boleh terlalu mengikuti perasaan dalam menghadapi kejadian ini.”
“Tidak salah, baik Shen Bok Hong maupun Siauw Yauwcu sama-sama merupakan jago kawakan yang berakal panjang, tujuan dari Siauw Yauwcu membuka alat borgol di tubuh kalian bukan lain adalah ingin menciptakan suatu keadaan dimana harimau dan serigala saling bertarung sementara ia sendiri akan duduk menanti sebagai nelayan yang mujur, kita tak boleh sampai tertipu oleh siasatnya.”
Menanti pengemis tua itu mendongak kembali, tampaklah Shen Bok Hong sedang duduk bersemedi diujung perahu…. sedangkan Hek-pek jie loo berdiri dikedua belah sisinya
Dibawah sorotan sinar sang surya, tampaklah dari atas batok kepalanya secara lapat-lapat mengepul keluar selapis asap berwarna putih.
Menyaksikan perbuatan jagoan lihay itu Soen-put-shia mendehem ringan dan berkata “Rupanya Shen Bok Hong telah mempersiapkan diri untuk melangsungkan suatu pertempuran sengit, kini ia bersemedi mengatur. penapasan jelas sedang mempersiapkan diri untuk turun tangan dengan segenap tenaga kita boleh bertindak sebagai panglima pembuka jalan.”
Mendadak terdengar Suara Sianw Yauwcu berkumandang datang
“Senjata tajam milik kalian telah tiba!” Sang Pat berpaling, tampaklah dua orang dari berbaju hijau sambil membawa senjata tajam milik Tong-chiu Siang Ku sekalian sedang berjalan mendekat. tatkala tiba dihadapan mereka, gadis itu berseru, “Inilah senjata tajam milik kalian, silahkan untuk menerimanya kembali.”
Tu Kioe memungut balik senjata pit besi serta gelang peraknya sedangkan Sang Pat mengambil siepoa emasnya, kemudian serunya kepada dua orang dara tersebut, “Kalian berdua boleh cepat-cepat berlaln dari sini.” Sejak dibokong oleh Siauw Yauw cu dengan akalnya yang licik, terhadap gadis tersebut timbulah rasa was-was yang tebal.
Kedua orang dayang itu tidak membangkang setelah menjura buru-buru mereka putar badan balik kedalam ruang.
Dalam pada itu Siauw Yauw cu beserta semua penghuni perahu panca warna telah mengundurkan diri kedalam ruang perahu dan pintu ruanganpun ditutup rapat rapat.
Dengan demkian diatas geladak tinggal Siauw Ling, Soen Pat shia, sepasang pedagang dari Tiong-chiu beserta Shen Bok Hong sekalian bertiga
Selama ini Siauw Ling memperhatikan terus setiap gerak gerik dari Shen Bok Hong terlihatlah asap putih yang mengepul keluar dari atas batok kepalanya makin lama makin tebal, kurang lebih sepertanak nasi kemudian asap putih yang memenuhi seluruh angkasa itu secara tiba-tiba lenyap sama sekali hingga tak be bekas.
Siauw Ling segera meraba gagang pedang nya secara lirih bisiknya, “Hati-hati, mungkin Shen Bok Hong akan segera melakukan tindakan?”
Sang Pat berjalan kisisi Siauw Ling bisik nya.
“Apa yang harus kita lakukan?”
“Nantikan dahulu tindakan dari Shen Bok Hong, seandainya ia menunjukan tanda-tanda yang tidak menguntungkan bagi pihak kita yang paling baik ini untuk membasmi dirinya.
tampak Shen Bok Hong membuka sepasang matanya dan berpaling memandang sekejap kearah para jago, kemudian perlahan-perlahan bangun berdiri, membisikan sesuatu kesisi telinga Hek Pek Jie-loo dan dengan perlahan-lahan berjalan kedepan.
Sreeet! Siauw Ling cabut keluar pedangnya, kepada Tiong-chiu Siang Ku ujarnya dengan suara berat-
“Kalian jagalah disini, jangan sembara-ngan bergerak!” perlahan-lahan lapun maju menyongsong kehadiran iblis sakti tersebut.
Untuk beberapa saat lamanya, timbul rasa serba salah dalam hati Sianw Ling, ingin sekali ia gunakan kesempatan ini untuk melenyapkan diri Shen Bok Hong, namun iapun merasa bahwa tidak sepantasnya ia melangsungkan pertempuran sengit dengan Shen Bok Hong dalam waktu dan keadaan seperti itu. sebab menang atau kalah Siauw Yauwcu lah yang bakal mengeruk keuntungan dari kejadian tersebut.
Sementara otaknya masih berputar, ia Sudah saling berjumpa muka dengan diri Shen Bok Hong ditengah geladak.
Jarak diantara mereka berdua cuma terpaut empat lima depa belaka, dan tatkala itu kedua belah pihak sama sama berhenti.
“Samte!” sapa Shen Bok Hong sambil menghela napas panjang.
“Ada urusan apa?” tanya Sianw Ling setelah tertegun sejenak.
“Sudah lama sekali kita tidak saling berjumpa muka!”
“Siauw Ling termenung berpikir beberapa saat lamanya, kemudian ia berkata.
“Shen toa Cung en. kau ada urusan apa? silahkan diutarakan keluar!”
“Samte, dengan panggilan semacam itu kau sebut kakakmu, apakah tindakan ini tidak sedikit keterlaluan?”
“Tidak mungkin bagi dua orang yang berbeda cita cita lain untuk bekerja sama, hubungan persaudaraan diantara kitapun sudah sepantasnya putus sampai disini saja.
“Jadi kalau begitu, samte memang ada maksud hendak memusuhi diri Siauw heng?
“llmu silat yang Shen Toa cung cu miliki sangat lihay. sejak semula aku orang she Siauw sudah merasa kagum apabila kau sudi memberi petunjuk beberapa jurus kepada aku Siauw Ling merasa amat berterima kasih.”
Air muka Shen Bok Hong segera berubah jadi keren dan serius, katanya, “Dalam hati kecil siauw-heng. terdapat beberapa patah perkataan yang rasanya rasanya menyumbat didalam tenggorokanku, kalau tidak ku utarakan keluar rasanya tidak leluasa sekali.”
“Silahkan kau utarakan keluar, dengan senang hati aku orang she Siauw akan mengikutinya.”
“Empek Siauw telah kami jempnt kembali dan kini beliau berada dalam perkampungan Pek Hoa san-cung.”
Beberapa patah kata ini bagaikan Sambaran guntur yang membelah bumi disiang hari bolong seketika membuat Siauw Ling terjelos.
Setelah berdiri menjublak lama sekali ia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.
“Aku tidak percaya!” serunya kemudian.
“Tempo dulu sikap mereka terhadap empek kurang sopan dan tidak halus, maka kali ini siauw-heng telah menegur mereka habis-habisan dan telah memesan pula kepada mereka agar jangan lupa melayani kedua orang itu secara baik-baik. Agar supaya orang tua-mu kerasan, aku telah mengutus empat orang dayang cantik-cantik serta dua orang kacung ku untuk melayani mereka, bahkan Kim Lan serta Giok Lan pun berada disisi Pekbo.”
“Omong kosong!”
Shen Bok Houg tidak marah. Sambil tertawa hambar ujarnya kembali, “Apa yang siauw-heng ucapkan adalah kata- kata yang jujur, kalau saudara Siauw tidak man percaya, aku pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi,”
“Aku tetap tidak percaya!” Sinar mata Shen Bok Hong segera dialihkan keatas wajah Hek Pek Jie ioo, katanya lagi.
“Kalau kan tidak percaya tanyakan saja kepada mereka, maka kau akan segera merasa yakin bahwasanya apa yang cayhe ucapkan sedikitpun tidak bohong….”
la mendongak dan tertawa lantang, ujar-nya lebih jauh.
“Si pencuri sakti Siang Hwie menganggap dirinya pintar, padahal gobloknya luar biasa seandainya ia mengantarkan kedua orang tua itu sedikit jauh lagi, mungkin siauw-heng tidak akan berhasil mendapat tahu keadaan mereka sayang sekali ia cuma berputar disekitar seratus lie saja perkampungan Pek Hoa san-cung, bukankah Siauw-heng sengaja bicara mengibul, hembusan angin serta goyangan rumput yang berada seratus lie disikeliling daerah kekuasaanku dapat siauw heng ketahui dengan amat mudah sekali.”
“Ehmmtn. perkataannya memang tidak salah,” Pikir Siauw Ling didalam hatinya.” Mata-mata dari perkampungan Pek Hoa-san-cung memang terkenal akan ketajamannya, seandainya Siang Hwie cuma berputar diseratus li belaka di perkampungan Pek-hoa san -cung, jejak mereka pasti bisa konangan….”
Dalam pada itu secara diam-diam Shen Bok Hong memperhatikan perubahan air muka Siauw Ling tatkala menyaksikan si-anak muda itu sudah mulai percaya dalam hati merasa amat girang sekali. Namuu di-luar ia bersikap serius, ujarnya kembali-
“Cioe Jie-te pintar dalam menghadapi urusan kecil, bodoh dalam menghadapi urusan besar. tidak sepantasnya kalau Siauw-heng serahkan rencana mengnndang kedua orang tua mu kepada dirinya, ditambah pula ketika itu Siauw-heng sedang terlalu sibuk, tiada waktu bagiku untuk, mengurus persoalan lain, sehingga akhirnya terciptalah keadaan yang semrawut…. Aaaai….! bila teringat kejadian kejadian masa lampau Siauw-heng merasa amat tidak tenteram!”
Keteguhan hati Siauw Ling mulai goyang dibuatnya, tanpa sadar hatinya mulai mempercayai perkataan dari Shen Bok Hong, untuk sesaat ia tak tahu apa yang harus diucap kan keluar.
Tampak Shen Bok Hong, menghela napas ringan lalu berkata lagi, “Sam-te, apabila kau suka bekerja sama dengan Siauw heng, dengan senang hati aku Siauw-heng…. sambut kembali dirimu….”
Sekalipun kedua orang tuaku benar-benar terjatuh kembali ketanganmu, tidak nanti aku orang she Sianw sudi bekerja sama lagi dengan dirimu!” sahut Siauw Ling dingin “Apabila sam-te ngottot tidak mau bekerja sama jnga dengan diri Siauw-heng aku orang pun tidak akan terlalu memaksa dirimu!”
“Selama napasku masih berjalan dan jantungku masih berdenyut, jangan harap aku sudi bekerja sama lagi dengan dirimu.”
“Aaaa….! perubahan yang terjadi pada seseorang memang sukar ditemukan, Siauw-heng sama sekali tidak menyangka kalau aku bisa berjumpa muka lagi dengan diri Sam-te diatas perahu panca-warna ini….” ia merandek sejenak mendadak dengan suara keras ben-taknya.
“Perkataan diri Siauw-heng hanya sampai disini saja, apabila Sam-te ada perkataan yang hendak disampaikan kepadaku, boleh kau ucapkan sekarang juga.”
Semula dalam hati Siauw Ling masih terliput perasaan sangsi, namun setelah mendengar nada suara Shen Bok Hong secara tiba-tiba berubah jadi keras, hatinya jadi tertegun
“Tidak perkataan lain yang akan kuucapkan,” sahutnya
“Kalau begitu bagus sekali, sekarang tenagamu telah digunakan oleh orang, apabila kau memang benar-benar ingin bergebrak dengan diriku. sekarang juga kau boleh turun tangan.”
Siauw Ling gelengkan kepalanya lalu mundur kebelakang.
Sang Pat buru-bnru maju menyangsong, tanyanya.
“Siauw toako, apa saja yang kau bicara-kan dengan Shen Bok Hong….?”
“Aaaai…. habislah sudah, susah payah kita selama ini telah menemui kehancuran total.”
“Apa yang telah terjadi?” seru Soen-put-shia.
“Dapatkah persoalan itu kau beritahukan kepada aku sipengemis tua?”
“Dengan mengeluarkan segenap tenaga serta kemampuan yang kumiliki ditambah pula memperoleh bantuan dari Loocianpwe, kami telah berhasil menolong kedua orang tuaku dari perkampnngan Pak Hoa san-cung, tapi sayang aaai mereka kena ditangkap kembali oleh Shen Bok Hong dan dida-lam perkampungan Pek Hoa san cung….”
Mendengar kabar berita itu Soen-put-shia serta Tiong-chiu Siang Ku saling berpandangan dengan mulut melongo, siapapun tidak tahu apa yang harus diucapkan dalam keadaan seperti itn.
Setelah termenung beberapa saat lamanya, dengan suara lirih Sang-pat berkata. “Toako, apa rencanamu selanjutnya?”
“Aaai…. Sianw-heng sendiri merasa serba salah.”
“Apakah Shen Bok Hong telah berjanji ke padamu, setelah meninggalkan tempat in dia akan mengajak dirimu, untuk bersama-sama menjumpai kedua orang tuamu?” tanya Soen put- shia.
“Menurut pandangan aku si pengemis tua, kemungkinan besar Shen Bok Hong sedang menggunakan akal untuk menipu dirimu.
Tetapi persoalan ini merupakan masalah yang besar aku sipengemis tua tidak berani mengambil keputusan apa-apa lebih baik Siauw thaybiap sendirilah yang memutuskan”
“Baiklah biar aku bercakap-cakap dulu dengan dirinya,” kata Sang Pat dengan langkah lebar ia segera berjalan kedepan.
“Ilmu silat yang dimiliki Shen Bok Hong sangat lihay. Sang heng, kau harus hati-hati,” Siauw Ling memperingatkan.
Tak usah toako kuatirkan, dalam keadaan seperti ini Shen Bok Hong tidak akan turun tangan keji terhadap diriku.”
Dengan langkah lebar ia segera berjalan kehadapan Shen Bok Hong dan berhenti tiga depa dihadapan iblis tersebut, seraya menju-ra tegurnya.
“Shen toa Cung Cu Cayhe adalah sie-poa emas Sang Pat, kau tahu bukan akan diriku?”
“Telah kuketahui namamu sejak tadi,”
“Ha ha ha ha Shen Toa Kung-cu, apakah kau sudah lama mendengar nama besarku?”
“Ehm, pernah mendengar dari orang lain.”
“Cayhepun tidak lama berselang baru mendengar akan nama besar dari Shen Toa Cung cu.”
Rupanya Shen Bok Hong hendak mengumbar hawa amarahnya, tetapi dengan cepat ia tekan golakan hati tersebut.
“Benarkah kedua orang tua Siauw toako kami telah kalian tangkap dan kau jebloskan kembali kedalam perkampungan Pek Hoa san cung?” tanya Sang Pat dengan wajah serius.
“Telah kuberitahukan berita ini kepada diri Siauw Ling.”
Tetapi ia tidak mempercayai perkataan dari kau Shen Bok Hong, dan minta cayhe untuk datang kemari membicarakan lagi persoalan ini.”
Ia merandek sejenak lalu sambungnya.
“Maksud Siauw toako kami, apabila perkataan Shen Toa Sung-cu tidak salah, ia sangat berharap agar kau bisa mengeluarkan suatu tanda bukti yang menunjukkan bahwa perkataanmu tidak bohong.”
“Kalau tidak mau percaya ya sudahlah. Apa perlunya aku harus repot repot memenuhi permintaannya!?” teriak Shen Bok Hong gusar.
Sang Pat tertawa hambar,
“Seandainya kami bisa turun tangan membinasakan diri Shen Toa Cung cu lebih dahulu. kemudian baru menolong orang tua dari Siauw toako. rasanya tindakan ini jauh lebih gampang lagi.”
Shen Bok Hong tertawa mendengar perka-taan itn, lama sekali ia termeuung, kemudiao ujarnya, “Aku tidak merasa kalau ditempat ini dapat bertemu dengan saudara Siauw, dari mana aku bisa membawa barang bukti “
“Damai akan mendatangkan harta, inilah syarat penting bagi kita orang yang berdagang….” ia merandek sejenak, kemudian tambahnya, “Siauw toako kami ingin sekali mendapatkan jaminan dari Shen Toa Cung-cu untuk bertemu satu kali dengan kedua orang tua-nya.”
“Dewasa ini mati hidup kitapun sukar di-ramalkan, apakah kalian tidak merasa kepagian mengucapkan kata-kata seperri itn?’
“Perkara mati hidup akan kami atur sendiri, tidak perlu Shen Toa Cung cu kuatirkan lagi!”
“Umpamanya setiap yang ada diatas pe-rahu panca warna ini bakal modar semua, rasanya kau orang she Shen akan merupakan manusia terakhir yang hidup disini.”
“Haa…. haa haa…. tentang soal ini harus lihat dulu bagaimanakah perubahan situasi selanjutnya! Kemungkinan besar akan ter-jadi perubahan yang diluar dugaan dan sebaliknya Shen Toa Cung-cu akan merupakan korban pertama!”
Shen Bok Hong mendengus dingin, sinar matanya yang seram dan menggidikkan hati itu menatap wajah Sang Pat tajam-tajam, lama sekali ia membungkam dalam seribu bahasa.
Sang Pat yang ditatap seperti itu seketika merasakan suatu kekuatan yang maha dah-syat memancar keluar dari sepasang matanya membuat hati terasa bergidik dan bulu roma pada bangun berdiri. Dengan cepat ia mele-ngos kesamping seraya berkata, “Shen Toa Cnng-cu bagaimana keputusan-mu? Harap cepat-cepat sampaikan kepada diri cayhe. sebab aku orang she Sang pun hurus memberi laporan kepada toako kami.”
“Katakan kepada Sianw Ling bahwa aku kabulkan permintaannya.”
“Cnma bicara kosong belaka tiada guna.”
“Apakah kan inginkan orang she Shean angkat snmpah dihadapanmn?….” teriak Shen Bok Hong semakin marah
“Sekalipun kau angkat sumpahpun, belum lentu kami suka mempercayai janjimu itu.”
“Apabila aku orang she Shen berhasil meninggalkaa perahu ini, orang pertama yang akan kubunuh adalah kalian sepasang pedagang dari Tiong chiu….” sumpah iblis tersebut
“Aaaah, itu sih kejadian dikemndian hari’ sekarang keadaan Shen Toa Cung cu bagaikan berada diwuwungan yang rendah, mau atau tidak kau harus tundukan kepala juga.”
Seandainya mengikuti maksudku, apa yang harus kulakukan??7?
“Tentang soal ini sulit untuk dikatakan….”
Belum habis ia bicara, tiba-tiba tampak dua ekor burung merpati berputar satu lingkaran ditengah udara kemudian melayang turun dan hinggap diatas bahu Shen Bok Hong.
Menyaksikan kehadiran burung data tersebut, Shen Bok Hong mendongak dan tertawa terbahak-bahak. mendadak dari sakunya ia ambil keluar dua buah benda kecil yang di sisipkan kedalam sayap burung dara tersebut.
Kedua ekor burung dara itu segera pentang sayapnya melayang kembali ketengah udara.
Pintn ruang perahu yang tertutup rapat-rapat tersebut mendadak membentang lebar, dua titik cahaya kilat meluncur keluar langsnng menghajar burung dara itu.
“Kawanan tikus, kalian berani main curang!” hardik Shen Bok Hong penuh kegusaran, tangan kanannya segera diayun pula kedepan.
Dua titik cahaya putih laksana kilat meluncur ketengah udara.
Traaang…. terjadi bentrokan nyaring ditengah angkasa, cahaya berkilat yang meluncur belakangan berhasil disampak rontok olah golok terbang Sheu Bok Hong, namun cahaya kilat yang meluncur dahulu tadipun berhasil menghajar seekor burung dara, tidak ampun lagi burung itn jatuh binasa kedalam sungai.
Rupanya burung-burung dara itu telah memperoleh didikan yang ketat sekali, menyaksikan rekannya binasa. burung tersebut dengan cepat menukik kebawah, dengan hampir menempel diatas permukaan sungai dia terbang lebih jauh kedepan, maka dalam sekejap rnata telah lenyap tak berbekas.
Tiba-tiba, pintu ruang perahu terbentang lebar diikuti Siauw Yauwcu sambil mencekal pedang munculkan diri diatas geladak. Di belakang tosu itu mengikuti dua belas orang bocah berbaju hijau, sepuluh orang mencekal pedang dan dua orang mencekal tabung besi air beracun serta jarum beracun. “Tabung besi yang dibawah bocah berbaju hijau dibelakang Siauw Yauwcn itu berisikan jarum beracun serta air beracun yang biasa dahsyatnya,” bisik Sang Pat lirih…. Kesempatan bagi kita tidak banyak lagi, bila Shen Toa Cungcu masih ragu-ragu juga, mungkin waktu tidak akan mengijinkan lagi.
Shen Bok Hong yang terkenal akan kegagahan serta kedahsyatannya dalam dunia persilatan ini ternyata dibikin apa boleh buat oleh keadaan yang mengancam dirinya, ia mendongak menghembuskan napas panjang, perlahan lahan dari sakunya ambil keluar sebuah Kim-pay dan katanya.
“Tanda pengenal ini merupakan Kim-pay paling tinggi dalam perkampungan Pek Hoa. san-cung, barang siapa pnn yang membawa Kim pay tersebut berarti sama halnya dengan kehadiran aku orang she Sheng pribadi. Dengan membawa Kim-pay ini masuk kedalam perkampnngan Pek Hoa-san-cung, bukan saja tiada orang yang beranl menghalangi jalan pergi kalian gemua, bahkan akan disambut dengan penuh kehormatan.
Sang Pat Sadar bahwasanya kepandalan silat yang dimiliki iblis tersebut amat lihay, ia tak berani bertindak gegabah, maka serunya.
“Lemparkan saja benda itu kemari!”
“Htnm! kecil benar nyalimn,” jengek Shen Bok Hong sambil melemparkan Kim pay tersebut ketangannya.
“Bukan nyalikn terlalu kecil. adalah disebabkan nama busukmu Sudah amat terkenal dalam dunia persilatau, mau aku harus bertindak waspada….”
“Masih ada satu persoalan lagi hendak ku sampaikan kepadamn. Kim-pay ini hanya bisa digunakan satu kali saja, pada saat Sianw Ling menyerahkan kembali Kim-pay tersebut kepadaku berarti pula saat kematian bagi kalian sepasang pedagang dari Tiong-chiu. Aku orang she Shen tidak pernah main gertak sambal atau mengancam, setiap perkataan yang telah kuantarkan bisa kulaknkan tanpa menyesal.
Sang Pat tidak mengubris diri Shen Bok Hong lagi, ia putar badan dan berjalan mendekati Siauw Ling.
Dalam pada itu Siauw Yauw cu yang berada dikalangan telah meloloskan pedangnya dari dalam sarung, sepuluh orang bocah berbaju hijau pun telah menyebarkan diri membentuk Suatu barisan pedang dan siap menantikan serangan lawan.
Sang Pat dengan membawa Kim-pay itu balik kerombongannya, dengan suara lirih ia ceritakan apa yang dialaminya barusan kepada diri Siauw Ling.
Habis mendengarkau kisah tersebut. Soen Put Shia berbisik lirih.
Berbicara dari situasi yang ada dewasa ini. kita beberapa orang mempunyai kekuatan imbangan dari kedna belah pihak yang berlawanan. seandainya kita membantu Shen Bok Hong, maka Su Hay Koenc merasa tiada keyakinan untuk merebut kemenangan sebaliknya kalau kita membantu Siauw Yauw cu maka Shen Bok Hong akan merasa keadaannya terancam. Namun perduli siapapnn yang kita bantu maka hasil yang kita peroleh cuma dendam ditambah dengan dendam. setelah kita berhasil membunuh Shen Bok Hong…. maka Su Hay Koencu tidak akan melepaskan kita. Kalau kita pertimbangkan lebih lanjut aku rasa dalam situasi seperti ini maka lebih baik kita tetap pertahankan posisi yang seimbang ini lebih jauh.”
“Kalau kita bisa membiarkan mereka ber dua saling bertempur sampai sama sama luka itulah lebih bagus lagi, dengan ambil kesempatan itu kita bisalenyapkan bibit bencana tersebut bagi umat Bulim,” kata Tu Kioe.
Siauw Yauwcu sudah merasa amat menyesal sekali karena perhitungan meleset dan melepaskan saudara Siauw dari belenggu, ia melepaskan borgol ditubuh sepasang Tiong cu pun disebabkan keadaan yang mendesak. Dengan perhitungannya yang panjang serta akalnya yang licik. baik sitoosu hidung ker-bau maupun Shen Bok Hong tidak nanti akan membiarkan kita orang berdiri sebagai nelayan yang menunggu rejeki….”
Dalam pada itu terdengar Sianw Yauw-cu berseru lantang.
Soen-put-shia, kau adalah Tiang loo perkumpulan Kay-pang yang amat tersohor namamu dalam dunia persilatan. pinto perca-ya bahwa yang pernah kau ucapkan tidak di ingkari kembali.”
“Tidak salah,” sahut Soenpnt-shia sambil maju kedepan. Apa yang pernah aku pengemis tua sanggupi. baik aku terjun keapi, terjun ke air maupun aku akan terjun kedalam air tidak akan kuingkari.”
32
“Kau telah sanggupi diri pinto, setelah pinto membebaskan Siauw Ling serta Tiong-chiu siang-Kn dari belenggu maka kalian akan bekerja sama menawan Shen Bok Hong. Perkataan itn masih mendengung disisi telingaku. rasanya Soen-heng pun belum melupakannya bukan?”
“Tentang soal itu? haaaa…. haaa…. haaa…. aku pengemis tua sih memang kepingin menyanggupi, sayang sekali tindakan tootiang terlalu cepat sebelum aku sipengemis akan menyanggupi kau telah melepaskan borgol ditubuh Siauw Ling. Eeeeei…. hidung kerbau pikirlah lagi dengan seksama, bukankah perkataanku ini tidak salah?”
“Apa yang kau ucapkan ketika itn?” teriak Siauw Yauw cu dengan wajah jadi berubah hijau membesi.
“Aku sipengemis tua berkata bahwa dengan kekuatanku seorang bukanlah tandingan dari Shen Bok Hong, bukankah begitu?”
“Tidak salah. kemudian?”
“Kemudian tootiang hendak membuka borgol ditubuh Tiong-chiu-siang-ku, tapi entah apa sebabnya telah membuka borgol ditubuh Siauw Ling.”
“Mengapa pinto membebaskan Siauw Ling dari belenggu borgol/”‘
“Apakah tootiang mengharapkan kami suka turun tangan menghadapi Shen Bok Hong?”
“Memang demikianlah maksudku. Shen Bok Hong adalah penjahat besar yang telah tampak mencelakai umat Bu-llm, kejahatan bertumpuk-lumpuk dan perbuatannya terkutuk, sekalipnn kalian tidak sudi mengabulkan permintaan dari pinto sudah sepantasnya bagi kalian untuk turun tangan membinasakan dirinya dan melenyapkan bibit bencana bagi umat Bn-lim.?
Meskipun perkataanmu tidak salah, sayang seribu sayang Koen-cu kalianpun bukan termasuk manusia baik-baik, daripada melenyapkan satu iblis tapi membiarkan iblis yang lain tetap hidup sentosa, lebih baik ke dua-duanya tak usah dibasmi semua.
“Jadi kalau begitu. Soen- heng benar-benar akan mengingkari janjimu sendiri?”
“Aku sipengemis tua tak pernah menjanji kan sesuatu kepadamu. Hey hidung kerban busuk tiada gunanya kau panasi hatiku.”
Sianw Yauw-cu menghela napas ringan katanya penuh rasa sesal, “Semestinya pinto harus paksa kau buka suara terlebih dahulu baru membuka borgol ditubuh mereka. seandainya begitu tidak nanti aku menderita kerugian seperti ini kali.”
“Bagaimana cerdiknya seorang. suatu kali ia akan melakukan kesalahan juga, rasanya peristiwa ini bukan terhitung sebagai suatu masalah besar! “
“Yaaah…. anggap saja kau tidak pernah menyanggupi “
“Tak bisa kau katakan begitu, aku pengemis tua tak pernah menyanggupi yang tak pernah, kenapa kau bilang anggap-anggap Segala.”
“Persoalan ini susah sekali, untuk apa diributkan lebih jauhpun percuma. saat ini pinto ada perkataan penting yang hendak ditanyakan kepada diri Soen-heng.”
“Setelah ada kejadian semacam tadi, kali ini kita harus berbicara yang lebih jelas.”
“Seandainya pinto akan turun tangan melenyapkan bibit bencana bagi umat Bu-lim dan bergebrak melawan Shen Bok Hong, bagaimana sikap Soen-heng? Siapakah yang akan kau bantu”
“Tentang soal ini sulit bagi akn sipengemis tua untuk menentukan akn harus memikirkannya lebih jauh sebelum menjawab.”
Meskipun dalam hati Siauw Yauwcu merasa amat gusar sekali,namun ia tak berani turun tangan secara gegabah, bagaimanakah ilmu sllat yang dimiliki Siauw Ling telah ia saksikan sendiri tadi, ia yakin bahwa kepandaiannya masih sukar menandingi si anak muda itu, ditambah pula baik Soen Pnt-shia maupun sepasang pedagang dari Tiong-chiu sama-sama merupakan jagoan kenamaan yang Sudah lama tersohor dikolong langit. seandainya keempat orang ini berpihak pada diri “Shen Bok Hong, kemungkinan besar posisi-nya akan terancam mara bahaya.
Selama ini Shen Bok Hong hanya berdiri membungkam terus disisi kalangan sembari mengempos tenaga dalamnya siap menghadapi serangan mnsuh, iapun memperhatikan situasi perubahan ditengah kalangan, otak-nya berputar mencari akal untuk mengatasi masalah tersebut.
Suasana hening beberapa saat lamanya, seperminum teh kemudian akhirnya Siauw Yauw-cu tak sanggup menahan diri, tegurnya dengan nada dingin, “Soen-heng. bagaimana kepatusanmu?! Harap kau suka menjelaskan lebih terang lagi.”
Sinar mata Soen Put-shin berputar meman-dang pula keatas Siauw Yauw cu, akhirnya sambil tertawa ia berkata, “Menurut pandangan aku sipengemis tua. lebih baik petarungan ini hari dibatalkan saja,”
“Mengapa??”
“Bukannya aku sipengemis tua terlalu pandang rendah dirimu, apabila kau ingin mengandalkan kepandaian silatmu saja untuk membekuk Shen Bok Hong, maka kau pasti akan dikalahkan dengan mengenaskan sekali. De-wasa ini posisimu Jauh lebih unggul dari pihak lain, hal ini disebabkan jumlah orang-mu jauh lebih besar, disamping itu berada diatas perahu. Justrn “karena Shen Bok Hong tidak pandai ilmu dalam air maka ia suka bersabar terus sampai kini/’
•’Kesempatau sebaik ini tidak akan dijumpai lagi dikemudian hari, bila peluang ini kita buang dengan sia-sia, maka sulitlah bagi kami untuk membinasakau diri Sben Bok Hong dikemudian hari!”
Soen Put-sbia gelengkau kepalanya berulang kali.
“Masih ada satu persoalan yang mungkin masih belum diketahui oleh kau sibidung kerbau!”
“Persoalan?”
“Aku sipengemis tua maupun Siauw Ling sama-sama tidak mengerti ilmu dalam air, apabila kalian benar-benar ingin bertempur, lebih baik janganlah langsungkan pertarung-an ini diatas air.”
“Tetapi sayang sekali pada saat ini cuwi sekalian sedang berada ditengah sungai, setiap bocah lelaki manpun gadis cantik yang ada diatas perahu panca warna ini rata-rata pandai semua ilmu dalam air, apabila kallam memaksa diri cayke terus menerus, terpaksa kami akan tenggelamkan perahu panca war-na ini. dan kalian akan berusaha kami tangkap didalam sir!”
Pada saat itu Siauw Ling merasa kuatir sekali atas keselamatan kedua orang tnanya ia takut kedua orang tuanya benar-benar telah ditawan Shen Bok Hong dan dibawa masuk kembali kedalam perkampungan Pek Hoa san-cung. disamping itu pun takut terlalu memaksa diri Shen Bok Hong sehingga mengakibatkan dia bekerja sama dengan Su Hay Kocn-cu, maka dengan suara dingin segera tukasnya, “Aku rasa tootiang tidak akan memperoleh kesempatan untuk menenggelamkan perahu ini.”
“Benar, agar kita bisa lolos dari keadaan yang amat bahaya ini. agaknya untuk sementara waktu harus berhubungan lebih dahulu dengan pihak Shen Bok Hong.” Soen Put-shia menambahkan.
Sinar matanya beralih keatas wajah gembong iblis itu, tambahnya dengan suara dingin ;
“Bagaimana dengan pendapat Soen Toa cung-cu sendiri?”
Shen Bok Hong tertawa hambar.
“Waktu dikemudian hari masih panjang sekali, cayhepnn tidak terlalu memburu waktu kalau memang Soen-heng berkata demi-kian aku orang she Sheu akan menurut saja.” Katanya.
“Haaa…. haaaaa…. snugguh tak nyana ini hari kau orang she Shen harus tundnk seratus persen kepada aku sipengemis tua?”
Mendadak Siauw Ling loncat kedepan dan menghadang didepan pintu ruang perahu, serunya, “Tootiang. lebih baik baru segera turun-kan perintah agar, perahu ini menepi”
Diam-diam sarung tangan kuht ular sakti nya dikenakan diatas tangan untuk siap men jaga sesuatu tak tak diinginkan.
Dam-diam Siauw Yauw-cu mempertimbangkan kekuatan musuh serta kekuatan sendiri, ia sadar bahwa tidak mungkin bagi pihaknya untuk merehut kemenangan, maka setelah termenung beberapa saat lamanya ia pun turunkan perintah untuk menjalankan perahu kedalam daratan.
Setelah perahu menepi Shen Bok Hong serta Hek Pek Jie loo loncat naik keatas daratan lebih dahulu disusul Siauw Ling, Soen Put-shia serta Tiong-chiu-siangcu pun mendarat.
Menanti semua orang sudah berada diatas daratan, merekapun menghembuskan napas lega. rasa tegang yang selama ini menyeli-muti wajah mereka seketika tersapu lenyap.
Shen Bok Hong berpaling memandang sekejap kearah perahu panca warna itu, kemudian teriaknya, ” Siauw Yauw tootiang, aku orang she Shen telah minta penunjuk perahu panca warna-mu.apabila tootiang punya keberanian, sllah-kas datang berkunjung kedalam perkampung-an Pek Hoa san cung kami.
“Siauw Yauw tootiang tertawa dingin, tanpa mengucapkau sepatah katapun ia memerintahkan jaiankan perahu meninggalkan tem pat itu.
Dalam sekejap mata perahu tersebut telah meajauh dari pandangan dan akhirnya lenyap tak berbekas.
Sepeninggalnya perahu panca warna itu, Shen Put shia alihkan sinar matanya kearah Shen Bok Hong lalu menjengek dingin, “Shen Toa cnng-cu, akhirnya aku sipengemis tua berhasil juga menyaksikan seorang yang disegani seluruh umat Bu Iim mengalami keadaan yang amat mengesankan sekali.”
“Hmmm! apabila aku seorang she Shen tidak naik keatas perahu panca warna tepat pada saatnya, mungkin kalian berempat tidak akan berhasil meninggalkan perahu tersebut dengan gampang.”
“Pada saat ini kedudukan kita adalah satu banding tiga, kedua orang bawahan Shen Toa Cung-cu pun sudah mengalami luka berat pada lengannya, mampukah mereka lanjutkan pertarungan ini, rasanya tak usah di-katakan pun sudah amat jelas sekali.
Sinar mata Shen Bok Hong berputar memandang sekejap suasana disekeliling tempat itu kemudian sambil tertawa hambar jawab-nya, “Tempat ini merupakan daerah kekuasaan dari aku orang she Shen, apabila kita sam-pai bertempur. dalam satu jam kemudian bala bantuanku pasti akan mengalir datang semua.”
Mendadak Sianw Ling tampil kedepan dan berjalan kehadapan gembong iblis itu kemudian bertanya, “Shen Toa Cnng-cu, seteiah ini kau hendak pergi kemana “
“Kembali ke perkampungan Pek Hoa-san-cnng.”
“Cayhe ingin sekali ikut berkunjung ke perkampungan Pek Hoa-san-cung agar cayhe bisa berjumpa dengan kedua orang tuaku.”
Shen Bok Hong termenung berpikir sejenak, laiu menyahut, “Sang Pat telah membawa tanda pengenai Kim-pay miiikku, setiap saat setiap waktu kalian bisa berkunjung kedalam perkampungan Pek Hoa-san-cung tanpa hadangan, akn rasa Siauw-heng lebih baik berangkat lebih duluan.”
“Apabila Toa cung-cu tidak mau membe-rikan janji kepadaku, tidak nanti kau bisa tinggalkan tempat ini dengan gampang.”
“Haaaa…. haaa…. haaa…. sam-te, apakah kau benar benar hendak memaksa aku turun tangan?!”
“Aliran yang berbeda sukar untuk hidup berdampingan. hubungan persaudaraan dian-tara kita telah punah, tak usah kau sebut diriku sebagai saudara lagi.”
“Sam-te! Misalkan kau paksakan diri juga untuk bertarung melawan diriku, baik menang atau kalah kau tidak akan dapat menolong kedua orang tuamu.”
Siauw Ling tarik napas panjong, telapak kanannya perlahan-lahan diangkat keatas serunya.
“Aku masih ingat Shen Toa Cung cu pernah mengatakan bahwa antara aku Siauw Ling dengan kau Shen Toa Cung-cu cepat atau lambat pasti akan melangsungkan juga suatu pertarnngan yang menentukan mati hidup kita berdua, apabila pertarungan ini memang tak bisa dihindari lagi. lebih baik kita selesaikan sekarang juga. Nah. mulailah turun tangan \”
Senyuman yang menghiasi wajah Shen Bok Hong seketika lenyap tak berbekas, air mukanya jadi dingin dan serius, serunya, “Apabila saudara Siauw memang memaksa diriku terus menerus. akupun tidak akan menampik lagi ajakanmu itu. Nah, cabutlah senjatamu itu!”
Soen Put-shia rentangkan tangannya melemparkan sebilah pedang kearah anak muda itu.
Setelah mencekal pedang, kata Siauw Ling. Tempo dulu cayhe pernah mendapat budi kebaikan dari dirimu, ini hari aku akan mengalah tiga jurus bagi dirimu.”
“Saudara, apakah kau merasa amat yakin dapat mengalahkan diriku”
“Yakin benar sih tidak, aku orang she Siauw sadar bahwa ilmu silat yang Shen Toa Cung-cu miiiki amat lihay sekali, dalam pertarungan ini hari aku tak berani menjamin siapakah yang bakal menemui kekalahan.”
“Apabila kau memang tiada keyakinan untuk menangkan diriku, apa gunanya kau pak sakan terus diriku untuk bergebrak?!”
Sementara Siauw Ling hendak menjawab, tiba-tiba Sang Pat menimbrung dari samping.
pada saat ini Shen Toa Cung-cu tentu Sudah amat lelah sekali, sekalipun toako menang, kemenangan ini tidak didapatkan secara gemilang, bukanknh kita sudah mendapatkan tanda Kim-pay untuk mengunjungi perkampungan Pek Hoa-san-cnng? Aku rasa pertarungan ini hari lebih baik dibatalkan saja.”
Siauw Ling mengerti bahwa Sang Pat ada-lah seorang manusia yang berakal panjang. secara tiba-tiba ia mengucapkan kata-kata tersebut pastilah dibalik perkataan itu ter-sembunyi pula maksud-maksud tertentu, namun keadaan pada saat ini bagaikan menunggang dtpunggung harimau, sulit baginya untuk mengundurkan diri lagi, maka dengan alis berkerut ia bungkam dalam seribu bahasa,
Shen Bok Houg tersenyum, tiba-tiba ia putar badan dan berseru kepada Hek Pek Jie loo, “Mari kita pergi.
Memandang hingga bayangan punggung ke tiga orang itu lenyap dari pandangan, Siauw-Ling baru putar kepala memandang kearah Sang Pat, katanya, “Perkataan Siauw Yauwcu sedikitpun tidak salah, setelah ini hari lepaskan diri Shen Bok Hong, mungkin dikemudian hari sulit sekali untuk memperoleh kesempatan yang sebaik ini lagi.
“Haa…. haaa…. siraja obat bertangan keji telah datang, ia baru ingin berjumpa dengan diri toako. katanya ada urusan penting hendak disampaikan kepada dirimu.”
“Sekarang ia berada dimana?”
“Berada disemak belukar sebelah kiri.” Siauw Ling berpaling, sedikit tidak salah tampaklah siraja obat bertangan keji dengan membawa anjing hitam milik Sang Pat sedang berjalan menghampiri dirinya.
Tubuhnya yang kurus kecll ditambah pula pakaiannya berwarna hitam dan kulit wajah kaku, sewaktn berjalan agaknya tiada berada dengan sesosok mayat hidup.
“Hey siraja obat berrangan keji kiranya kau masih belum mampus!”seru Soen-put shia sambil mendehem.
Dengan pandangan dingin si raja obat memandang sekejap kearah Soen-put-shia lalu menjawab.
“Eeeei pengemis tua. hitung-hitung mungkin kaulah yang bakal modar lebih dahulu daripada lo-hu.”
Ia alihkan sinar matanya keataa wajah Siauw Ling kemudian nenambahkan.
“Kedua orang tuamu telah ditangkap kembali oleh anak buah Shen Bok Hong dan di. gusur kedalam perkampungan Pek Hoa-san-cung.”
“Tahukah loocianpwe, dimanakah mereka ditawan???”
Tok-chin Yok Oong angkat kepala menghembuskan napas panjang kemudian menjawab, “Saat ini mereka berada didalam sebuah rumah petani kurang lebih lima lie dari sini….”
Aaaah jadi mereka tak berada didalam perkampungan Pek Hoa-san cung???….”
“Mereka telah berhasil loo hu selamatkan!”
“Apakah kedua orang tuaku dalam keadaan baik???”
“Ayahmu ibumu serta Kim-lan dan Giok Lan semuanya dalam keadaan sehat wal’afiat.”
“Kalau begitu aku mengucapkan banyak terima kasih atas budi pertolongan dari loocianpwe buru-buru Sisuw Ling menjura.
wajah siraja obat yang kaku tampak berkerut seperti mau mengucapkan sesuatu, namun akhirnya ia tak jadi berbicara.
“Yok Ong. tolong tanya sipencuri lakti Siang Hwie berada dimana….” sela Sang Pat.
“Dia terluka parah saat ini entah berada dimana”?
Sang Pat menghela napas panjang
“Menurnt kabar yang berhasil loo-hu dengar tatkala Se Boen Hwie herdak melindungi keselamatan ayah ibumu. diapun kena dilukai oleh jago jago lihay perkampungan Pek Hoa san cung,” siraja obat menam-bahkan.
Darah panas bergelora dalam dada Sianw Ling sekilas cahaya tajam memancar keluar dari sepasang matanya sambil gertak gigi ia berseru.
“Aku orang she Siauw pasti akan menuntut balas buat mereka.”
“Tindakan tersebut merupakan kejadian di kemudian hari. persoalan pokok yang paling penting dewasa ini masih belum selesai. mara bahaya setiap masih mengancam kita semua Untuk menyelamatkan jiwa kedua orang tuamu terpaksa loo-hu harus turun tangan keji dan secara beruntun telah mencelakai jiwa dua belas orang jagoan perkampungan Pek Hoa-san cung!”
“Cayhe berterima kasih sekali atas bantuan cianpwel”
“Rumah petani itu bukan tempat yang aman, kita harus capat-cepat tinggalkan tempat ini,” seraya berkata si Raja Obat ini pun badan dan segera berlalu.
Sianw Ling sekalian tidak berani berayal lagi, buru-buru merekapun kerahkan tenaga untuk menyusul dari belakang.
Ditengah perjalanau, Soen Put-shia menghela napas panjong d.n berkata, “Aaai…. rupanya sepanjang hidapmu Yok ong…. baru kali ini kau melakukan suatu perbuatan mulia.”
“Terima kasih atas pujianmu “
Siauw Ling sangat menguatitkan kesela-matan kedua orang tuanya merasa amat gelisah sekali ia lantas berjalan amat cepat hingga para jago Lainnya terpaksa harus percepat pula larinya untuk menyusul anak mnda itu.
Dalam sekejap mata beberapa lie telah di lewati, dan sampailah mereka disebuah rumah petani yang berdiri ditengah semak belukar yang lebar.
Pintu kayu yang Sudah lapuk tertutup rapat sekali, suasana disana amat sunyi tak kedengaran suara sedikitpun
“Apakah berada didalam rumah gubuk ini?!” tanya siauw Ling sambil berpaling memandang sekejap kearah Yok Oug,
“Sedikitpun tidak salah!”
Siauw Ling” sudah tidak sabaran lagi, tanpa menantikan jawaban dari Tok Chiu Yok Oug lagi, tangan kanannya dengan cepat ber gerak membuka pintu kayu itu.
Menanti ia mendongak, tampaklah Kim Lan serta Giok Lan dengan pedang terhunus berdiri menghalang ditengah jalan.
Namun ketika kedua orang dayang itu menyaksikan kehadiran Siauw Ling, dengan cepat mereka menjura dan meuyingkir kesamping.
Siauw Ling langsung menyerbu masuk ke dalam, diatas tumpukan padi kenng tampak lah kedua orang tuanya sedang duduk disana, disamping mereka berbaringlah seorang gadis, dia bukan lain adalah putri kesayangan dari si Raja Obat Bertangan keji,
Siauw Ling segera memburu kedepan, jatuhkan diri berlutut dan berseru, “Anak yang tidak berbakti Siauw Ling menghunjuk hormat buat ayah dan lbu!”
Bangunlah nak….” kaia Siauw thayjien sambil memandang sekejap wajah putranya.
Dsngan air mata bercucurau Siauw Ling bangun berdiri.
“Berulang kali ananda menyusahkan kalian berdua, kejadian ini membuatku merasa amat sedih….”
“Kisah yang telah nyata sudah kudengar dari mutut nona ini, dalam peristiwa ini kau tidak bisa disalahkan….” bisik Siauw thayjien sambil menggeleng, setelah merandek sejenak tambahnya, “Hanya saja pendekar Siang telah menderita L_ka parah, mati hidupnya tak diketahui. Aaai pertempuran yang trrjadi waktu itu benar benar mengerikan sekali.
“Dengan segala kemampuan yang ananda miliki, ananda pasti akan menuntut balas bagi dendam sakit hati ini.”
“Masih ada lagi seorang pendekar she Be” sela Siauw hujian pecara mendadak. “Seluruh tubuhnya telah dipeuuhi bacokan-bacokan senjata tajam, darah segar telah menodai seluruh tubuhnya namuu ia tetap bertempnr mati-matian. namun akhirnya aaai! ia pun tak kuat dan roboh keatas tanah.”
‘”Budi kebaikan mereka yang sedalam lautan ini akan ananda ukir didalam hati kecil dikemudian hari ananda pasti akan berusaha membalasnva.?
“Bagaimana dengan keadaan situkang ramal dari lautan Timur Suma Kan? tanya Sang Pat.
‘Mungkin dia pun terluka. berpuluh-pulnh orang boesu dari perkampungan Pek Hoa-san cang menyerang secara serentak, mereka beberapa orang terpaksa harus sekuat tenaga untuk menghadapi mereka. pertarungan waktu itu amat kalut sekali, loohu hanya sempat menyaksikan pendekar Siang serta pendekar Be menderita luka parah kemudian kami berdua digusur keperkampungan Pek Hoa-san-cung. sehingga bagaimana kejadian selanjurnya tak kami ketahui,”
Sambil menuding kearah Tok Chiu Yok Ong. mendadak Siauw hujien menyela kem-bali, “Saudara inilah tuan penolong yang telah menyelamatkan aku serta ayahmu dari tangan penjahat laknat itu.”
“Budi ini akan ananda ingat terns.”
“Loohu ayah dan anak sudah berulang kali mendapat budi kebaikan dari Siauw thayhiap, perbuatanku kali ini pun hitung-hitung sebagai pembalasan kami terhadap dirinya” seru Yok Ong.
Baru saja ia habis berbicara mendadak terdengar suara burung dara berkelebat lewat di atas gubuk petani ini, suaranya nyaring dan cepat, “Burung dara dari perkampungan Pek Hoa san cung?” seru Soen Put-shia dengan alis berkerut.
“Ditinjau dari situasi dewasa ini, rnpanya suatu pertarungan sengit tak akan bisa dihindari lagi, kemungkinan besar orang-orang perkampungan Pek Hoa-san-cung telah menantikan kedatangan kita diluar gubuk.” Yok Ong memberikan pendapatnya.
“Ketika berada diatas perahu panca warna tadi Shen Bok Hong mengalami nasib yang mengenaskan sekali, sekembalinya kedalam perkampungan ia pasti akan mengumpulkan segenap tenaganya untuk menyerang kita semua.”
“Tidak salah, oleh sebab itulah sebelum hujan harus sedia payung, sebelum terjadi suatu peristiwa yang tidak diinginkan kita harus bikin persiapan lebih dahulu.
“Apakah loocianpwee punya akal bagus?” tanya Siauw Ling.
“Lebih baik kita atur kekuatan kita lebih duhulu, beberapa orang harus melindungi keselamatan Siauw tahjien serta Siauw hu jien dan beberapa orang harus membendung serangan musuh.”
“Apakah loocianpwee sudah punya rencana didalam pembagian ini?”
“Tentang soal ini loohu sih belum berpikir sampai disitu” sinar matanya beralih keatas wajah Soen Put-shia kemudian menambahkan. “Hey pengemis tua. apakah kau mempunyai akal untuk menghadapi serangan musuh.”
“Haaa…. haaaaa…. aku si pengemis tua selamanya tidak pernah main akal-akalan, lebih baik saudara siauw saja yang bikin persiapan.
Belum habis ia berbicara, mendadak telapaknya diputar melancarkan sebuah pukulan dahsyat.
Segulung angin pukulan yang maha dahsyat laksana gulungan ombak ditengah samudra meluncur keluar dari dalam gubuk.
Siauw Ling enjotkan badannya melayang keluar dari gubuk
“Tak usah cari lagi,” cegah Soen Put-shia sambil tersenyum. “Ada seorang penjahat yang coba berjalan mendekati gubuk kita, namun aku sekarang sipengemis tua telah mengirim sukmanya kedunia barat.”
Kiranya Soen Put-shia berdiri sambil bersanding didepan pintu, meskipun dimulutnya bercakap-cakap dengan siraja obat bertangan keji namun sepasang matanya memperhati-kan terus gerak gerik diluar ruangan.
“Mereka sudah datang.” bisik Tok chiu Yok Ong.
“Setelah pasukan pembuka jalan tiba, mungkin pasukan induk merekapun akan segera menyusul tiba pula….” sahut Siauw Ling sambil balik kembali kedalam ruangan.
Sinar matanya berputar keatas wajah Tiong-chiu Siang Ku serta siraja obat berta-ngan keji, pintanya.
“Harap saudara berdua beserta Yok Ong suka melindungi kedua orang tuaku serta nona Wan.”
“Biarlah aku sipengemis tua membantn dirimu menghadapi musuh!”
“Cayhe memang bermaksud demikian.”
“Kekuatan kalian berdua terlalu lemah sekali,” sela Yok Ong.” Lebih baik biarkanlah Tiong chiu Siang Ku membantu kalian berdua, sedang Loo-hu dengan dibantu oleh Kim Lan serta Glok Lan rasanya masih sanggup untuk melindungi keselamatan kedua orang tuamu.
“Ilmu silat yang Yok Ong miliki amat lihay kalau memang anda berbicara demikian aku rasa kan pasti sudah punya rencana ter tentu, baiklah cayhe akan menuruti perkataanmu.”
Dari arah luar terdengar suara gonggongan anjing yang santer berkumandang datang tiada hentinya
“Musuh tangguh telah tiba. aku rasa tidak sempat lagi bagi kita untuk berlalu dari sini,” kata Sang Pat.
Siauw Ling cabut keluar pedangnya serunya.
“Aku dengan Soen Loocianpwe akan menyongsong lebih dahulu kedatangan mereka. semoga hian te berdua harap untuk sementa-ri waktn membantu diri Yok Ooug untuk melindungi keselamatan kedua orang tuaku….”
“Jangan gegabah.” seru Yok Ong sambil mengeleng.” Apa pasukan induk…. pihak lawan telah menyerang datang kita harus berusaha pukul mundur diri mereka lebih dahulu, kemudian baru berangkat meninggalkan tempat ini.”
“Mengapa”
“Baik ayahmu maupun ibumu bukanlah orang-orang yang mengerti akan ilmu silat seandainya mereka menyerang dengan menggunakan senjata rahasia maka kita akan mengalami kesulitan dalam melindungi keselamatan mereka, dari pada menerjang keluar bukankah jauh lebih bertahan untuk sementara waktu dirumah bobrok ini selain pihak musuh berhasil kita pukul mundur barulah melanjutkan perjalanan kembali.”
‘Jumlah jagoan dari perkampungan Pek Hoa-san cung tiada terhingga banyaknya.” kaia Soen put shia memberikan pendapatnya. “Apabila jumlah bala bantuan yang mereka kirim datang makin lama semakin banyak dan orang yang harus kita bunuh tidak habis habisnya, bukankah sepanjang masa kita ba-kal terkurung terus ditempat ini???”
“Masih ada satu hal yang kurang menguntungkan,” Sang Pat menambah.” Seadai-nya mereka melancarkan serangan dengan menggunakan api. dan kita harus tetap ber-tahan terus didalam rumah gubuk ini, bukankah kerugian yang bakal kita peroleh akan semakin besar?”
Jilid 8
Perkataan tersebut memang tidak salah. tapi menurut pendapat lohu tetap bertahan ditempat ini jauh lebih baik dari pada mengungsi pergi. dalam melakukan pertarungan hari bukan menang kalah yang kita cari, melainkan bagaimanakah caranya kita selamatkan Siauw thayjin dan Siauw hujin dari mala bahaya. semisal kita bisa bertahan ditempat ini sampai malam tiba nanti, loohu bisa mengundurkan musuh tangguh dengan menyebarkan bubuk racun.”
“Seandainya kalau ingin menggunakan racun, apa bedanya antara pagi hari dan malam hari? batin Siauw Ling
Meski dalam hati ia curiga namun perkataan tersebut tidak dapat diutarakan keluar.
Mendadak terdengar suara seruan seseorang yang amat berat berkumandang datang.
“Dewasa ini gubuk yang kalian huni telah kami kurung rapat. tiga puluh pucuk gendewa serta dua puluh pucuk anak panah otomatis telah kami sebar disekeliling rumah gubuk ini. Jangan dibilang manusia sekalipun burung yang terbang diangkasa pun jangan harap bisa berlalu dari tempat ini dalam keadaan selamat “
“Aaaaah, suara dari Tan Hong Ciang!”seru Kim lan tiba-tiba.
“Murid tertua dari Shen Bok Hong???”
“Tidak salah itulah orangnya “.
“Harap cuwi sekalian berhati hati mengawasi gerak gerik mereka terutama sekali kalau mereka akan menyerang dengan api!” pesan Siauw Ling dengan langkah perlahan ia berjalan keluar dari dalam ruangan.
Sepeninggalnya anak muda Itu. Tok chin Yok Ong memperhatikan sekejap situasi dalam gubuk itu, lalu dengan suara lirih katanya.
“Siauw thay jin. harap kau bergeser kesudut rumah sebelah kiri, dinding disebelah sana terbuat dari tembok yang kuat. Rasanya hujan anak panah tidak akan sampai melukai dirimu “.
Siauw tayjien serta Sianw hujien mengatakan mereka akan pindah…. keujung
rumah bagian kiri.
“Yok Ong. rupanya kau tidak merasa leluasa untuk membunuh orang-orang perkampungan Pek Hoa-san-cung secara langsung, bukankah begitu?” tanya Soen Put Shia, “KaLau begitu silahkan bertahan didalam rumah gubuk ini. Aku sipengemis tua akan keluar untuk membantu diri Siauw thayhiap!….
“Rasanya cukup aeorang saja bertahan didalam ruangan ini. biarlah kami berdua berjaga diluar ruangan saja” seru Tiang-chiu Siang ku hampir berbareng.
‘Silahkan kalian berdua mengawasi dua arah saja” Kim Lan serta Giok Lan dengan pedang terhunus menambahkan. “kami berdua akan kerahkan segenap tenaga yang dimilikinya uutuk membantu kalian”.
“Tak usah, lebih baik kalian berdua tetap bertahan didalam ruangan ini saja, jumlah kekuatan kita amat sedikit, mungkin penjagaanpun akan jauh lebih lemah, kemungkinan besar ada satu dua orang musuh yang berhasil menerjang masuk kedalam ruangan. Di-kala Yok-ong turun tangan menghadapi musuh nanti, lebih baik kalian berdua baik-baik melindungi keselamatan Looya serta hujien.” Pesan sang Pat
Kim Land an Giok Lan saling bertukar pandang sejenak kemudian mereka tidak memaksa lagi.
Sang Pat serta Tu Kioe pun dengan mengikuti dibelakang Soen Put Shia berjalan ke luar dari gubuk tersebut beberapa tombak diluar bangunan. matanya dengan tajam mengawasi ke empat penjuru.
Sang surya telah condong kebarat dan bersembunyi dibalik gunung, senjapun telah menjelang tiba.
Angin musim gugur yang dingin bertiup-tiup kencang menggoyangkan rumput-rumput kering disekelillng sana.
Para jago jago lihay dari perkampungan Pek Hoa san-cung yang mengejar datang tidak kelihatan batang hidungnya, mungkin mereka pada bersembunyi dibalik alang-alang disekitar sini.
“Tan Hong Chang?” hardik Sianw Ling dengan nada keras. “Hmmm! kau cuma berani main sembunyi macam cucu kura-kura, be-gitukah yang disebut kegagahan seorang
Bersamaan dengan selesainya ucapan itn mendadak dari balik alang yang lebat muncul tiga orang lelaki lekar berpakaian ringkas.
Salah satu diantara mereka berusia dua puluh lima, enam tahunan, sebilah pedang tersoren di punggungnya dan dia bukan lain adalah murid tertua dari Shen Bok Hong, yaitu Tan Hiong Chang.
Disebelah kiri kanan Tan Hiong Chang masing-masing berdiri satu orang, mereka memakai baju ringkas berwarna abu-abu, yang disebelah kiri berjanggut hitam sedang orang yang berada disebelah kanan berwajah bersih.
Mereka bukan lain dalah Kiam Boen Siang si pengejar angin Pei Pek Li serta sipedang tanpa bayangan Than Tong.
“Tan Hiong Chang menghunjuk hormat buat Sam-cengcu!” seru orang she Tan itn seraya memberi hormat.
“Tak usah banyak adat,” tukas Siauw Ling dingin “Hubungan persaudaraan ku dengan Shen Bok Hong telah putus sejak dulu, kini aku sudah bukan anggota perkampangan Pek Hoa sancung lagi, jadi tak perlu banyak adat terhadap diriku?
“Sebelum mendapat perintah dari suhu bagaimanapun juga penghormatan seorang boanpwee terhadap angkatan yang lebih tua tak berani kami hilangkan.”
“Hmm! bila kau masih anggap diriku sebagai Sam Cung-cu dari perkampungan Pek Hoa sancung segeralah buyarkan jago jagomu yang mengurung sekeliling tempat ini.”
“Tentang soal ini……. tentang soal ini….
“Ooaow…. jadi kammu tidak berani buyarkan orang orangmu. kalau begitu kau pandang sebelah mata terhadap aku orang she Siauw?”
“Boanpwe datang membawa perintah, sebelum mendapat hasil boanpwe tidak berani pulang dengan tangan kosong belaka, bagai-mana pertanggungan jawabku nanti?”
“Jadi apa maksudmu yang sebenarnya?”
“Menyambut kedua orang tua sam Cung-cu dan menghantar mereka kembali ke dalam perkampnngan Pek Hoa san-cang.”
“Kau merasa yakin punya kekuatan untuk mengalahkan dirika ” jengek Siauw Ling pelan.
“Perintah yang diturunkan perkampungan Pek Hoi sau-cung selamanya berat bagaikan batu karang, cayhe datang dengan membawa perintah, maka sudah menjadi kewajiban boanpwe untuk berusaha dengan kemampuan yang kumiliki. Sedangkan mengenai kalah menangnya, hal ini tidak termasuk didalam perhitungan.”
“Hubunganku dengan pihak perkampnngan Pek Hoa san cung telah putus, bila kalian berani bertindak kurang ajar, jangan salah kan kalau aku orang she Siauw akan bertindak telengas.”
000O000
TAN HIONg CHiaNG sebagai murid ter-tua dari Shen Bok Hong tidak kalah licik dan uletnya jika di bandingkan dengan guru-nya sendiri. meski ia diejek terus menerus namun hawa gustrnya masih sanggup ditekan terus dalam dada. ia tersenyum hambar dan berkata, “Siauw thayhiap, kalau memang berulang kali, kau Sudah menjelaskan bahwa hubungan dengan pihak perkampungan Pek Hoa San cung telah putus, aku orang she Tan pun tidak punya muka untuk mengaku saudara lagi dengan dirimu.”
Ia merandek sejenak kemudian lanjutnya, “Telah lama aku orang she Tan mendengar akan kelihayan iLmu silat yang dimi-liki Siauw thayhiap, cayhe sadar bahwa kekuatanku masih bukan tandingan anda.”
“Seandainva kau sudah tahu akan kekuat-an sendiri, cepat cepatlah angkat kaki dari sini. daripada darah segar membasahi bumi maka menyesal pun terlambat.” tukas Siauw Ling.
Tan Hiong Chiang tetap tersenyum.
“Cayhe masih ada beberpa kata yang ingin kusampaikan terlebih dahulu kepadamu ” katanya
“Ada urusan apa? cepat katakan.”
Siauw Ling sendiripun tidak ingin melangsungkan pertarungau dengan plhak lawan apa bila keadaan tidak terlalu memaksa. sebab ia kuatir akan keselamatan kedua orang tuanya.
“Cayhe ingin memperingatkan kepada diri Siauw Thayhiap,” ujar Tan Hiong Chang. “Kecuali Cayhe serta Kim Boen Siang In, ditempat ini telah hadir pula empat puluh orang boe su utama Pek hoa-san-cung yang bersembunyi disekeliling gubuk ini, mereka semua membawa alat gendewa otomatis yang sebagian besar anak panahnya telah dipolesi dengan racun keji, barang siapa yang terkena dia pasti akan mati Kami percaya dengan kepandaian silat Siauw thayhiap yang lihay gendewa gendewa otomatis tersebut tidak akan mampu melukai dirimu, tapi ayah ibu-mu bukan anggota Bulim, seandainya sampai terjadi pertempuran darah segar tentu akan menggenangi seluruh permukaan bumi kami takut apa bila kedua orang tuamu pun ikut terluka ditangan kami. sebab seandainya Sampai terjadi peristiwa tragis macam Itu, cay-hepun tidak mampu untuk menolong mereka.”
“Hmm! cayhepun ingin memperingatkan dirimu pula” sahut Siauw Ling dengan nada dingin. “Didalam rumah gubuk ini kecuali aku siauw Ling masih ada pula beberapa orang jago Bn-Lim yang nama besarnya telah menggetarkan seluruh dunia persilatan, apa bila kalian ingin coba turun tangan Itu men cari kematian buat diri seudiri. Perkataan aku orang she Siauw pun hanya sampai di-sini bila kau tidak percaya, silahkan untuk tnrun tangan men^oba.”
Tang Hiong ChaTig berpalisg memandang seksjap kearah Kim Boen Si&ng log. kemudian sambil menjura kearah Siauw Liag katanya, “Kecuali kami sekalian serta para boe su perkampungan Pek Hoa san-cung yang ber-sembuuyi disekeliling tempat ini, bala bantuan dari perkampungan lainnyapun dengan cepat akan tiba disini.”
“Saudara Siauw, tak usah kita bersitegang lebih jauh dengan mereka, biarlah aku sipengemis tua membereskan mereka bertiga lebih dahulu” Teriak Soen Put Shia dengan suara lantang.
Ditengah bentakan yang keras, tubuhnya meloncat kedepan langsung menerjang kearah Tang hiong Chang sekalian.
Kiam Boen Siang Ing serentak membentak berbareng, serta pedang sama-sama ber-kelebat keluar dari sarung dan melancarkan sebuah tangkisan.
Dua bilah pedang berkelebat menciptakan Selapis cahaya tajam yang menyilaukan ma-ta. serangan dari Soen Put-shia segera terbendung ditengah jalan.
Soen Put shia mengempos tenaga mengerem tubuhnya yang sedang menerjang kedepan secara mendadak. telapak diayun dan kembali ia melancarkan sebuah pukulan.
Tatkala pengemis tua ini masih berkelana didalam dunia persilatan tempo dulu, ia mempunyai julukan sebagai si telapak baja kehebatan ilmu pukulannya telah menggetarkan Sungai sebelah utara maupun sebelah selatan. Meskipun selama banyak tahun ia mengasingkan diri dari permainan Bu lim, namun ilmu silatnya sama sekali tidak di-tinggalkan, bahkan kehebatannya jauh melebihi tempo dulu.
Bisa dibayangkan betapa hebatnya angin pukulan yang terpancar keluar dari balik telapak Soen Put-shia kali ini ketika ia mengirim serangan dengan tenaga penuh
Rupanya baik Tan Hiong Chang manpun Kiam Boen Siang lng sama-sama menyadari akan kelihayan Soen Put Shia, ketika merasakan datangnya angin pukulan maha dah-syat. buru-buru mereka loncat kesamping untuk menghindar. Tak seorang manusiapun yang berani menyambut pukulan itu dengan keras lawan keras.
“Hasa…. haa. haa…. kalian hendak ngacir kemana?” jengek Soen Put Shia sam-bil tertawa terbahak bahak, tubuhnya meloncat kedepan langsung menubruk kearah Tan Hiong Chang.
Murid tertua dari Shen Bok Hong ini tidak berani bertindak gegabah buru-buru badannya bergeser kedepan smbil tanganya berputar secepat kilat ia cabut keluar pedangnya dan mengirim sebuah sapuan kedepan.
ilmu silat yang dimiliki lelaki ini langSung dibawah didikan Shen Bok Hong, gerakan pedangnya aneh, serangannya bergerak dari arah bawah langsung mengancam keatas, arah yang dituju jalan darah “Jiet Gwa hiat” diatas iga kanan Soen Put Shia.
Meskipun ilmu silat yang dimiliki Soen Put Shia sangat lihay, namun berhubung ujung pedang lawan mengancam jalan darahnya, ia tidak berani bertindak gegabah, tubuhnya segera miring kesamping menghindarkan diri dari ancaman setelah itu tangan kanannya bertukar mencakar bagian depan Tan Hong Chang.
Pedang orang she Tan itu berubah, sreeet sreet sreeet! secara beruntun ia melepaskan tiga buah serangan berantai sementara tubuhnya berpindah. posisi melepaskan diri dari cengkeraman lima jari Soen Put shia.
Semua serangan yang ia lancarkan tak sebuahpun yang lepas dari jalan darah penting ditubuh pengemis tua itu. hingga memaksa Soen Put Shia mau tak mau harus menghindarkan diri dari mala bahaya.
Secara beunntun Soen Put Shia mengirim dua serangan berantai namun semuanyu berhasil dihindari Tan Hiong Chang dengan gerakan yang lincah. orang itu tak sudi menyambut datangnya angin pukulan itu dengan keras lawan keras kejadian ini memaksa pengemis itu harus berpikir dalam hatinya, “Ilmu silat yang dimiliki keparat ini benar-benar tidak lemah, bila aku tidak berhasil menundukkan dirinya ini hari, bukankah nama baik aku si pengemis tua yang telah kupupuk dengan susah payah selama ini bakal hancur berantakan ditangannya?”
Gerakan telapaknya tiba -tiba berubah, dalam sekejap mata saja bayangan telapak memenuhi angkasa menyelimuti daeerah diseki-tar beberapa tombak dari tempat itu. tidak ampun Tan Hiong Chang pun terkurung di-bawah angin serangannya.
Tan Hiong Chang tak malu disebut murid tertua dari Shen Bok Hong, meskipun tubuhnya terkurung oleh angin pukulan dari Soen Put-shia namun gerak – geriknya sama sekaii tidak menunjukkan kegelisahan mau-pun kegugupan. badannya berkelit kekiri menghindar kekanan setiap kali ia selalu menghindarkan diri dari bentrokan kekerasan dengan telapak Soen Put shia, sementara tangany disamping melindungi badan, setiap kali melancarkan serangan balasan pula.
Dengan cara beginilah ia mempertahankan diri sebanyak puluhan gerakan tanpa menderita luka oleh pukulan Soen Put-shia sedikitpun jua Kiam Boen-siang-ing masing masing dengan melantjarkan pedangnya, empat mata mengawasi terus situasi ditengah kalangan, namun tak seorangpun diantara mereka yang turun tangan terlebih dahulu.
Sedangkan Siauw Ling sendiri sebenarnya ingin turun tangan namun setelah menyaksi kan pertempuran satu lawan satu antara Soen Put-shia melawan Tan Hiong Chang, ia merasa seandainya dirinya turun tangan membantu maka kejadian itu mungkin akan mendatangkan rasa tidak senang bagi sang pengemis tua, maka ia pun berpeluk tangan belaka
Dalam pada itn pertempuran yang berlangsung di tengah -tengah kalangau kian lama bertambah seru, angin pukulan dari Soen Put-shia pun makin lama makin dahsyat. daerah sekitar beberapa tombak seketika terbungkus didalam deruan angin pukulannya, membuat baju Tan Hiong Chang berkibar tiada hentinya.
Yang aneh meskipun Tan Hiong Chang terjerumus dalam keadaan yang amat berbahaya namun Kiam Boen-siang ing belum juga mau turun tangan membantu. bahkan para boesu yang bersembuuyi disekitar rumah gubuk itupun tak ada munculkan diri membantu.
Tiba-tiba Soen Put-shia menunjukkan kelihayannya, ia membentak keras dan melancarkan sebuah pukulan kilat.
Kedahsyatan angin pukulannya ini luar biasa sekali bagaikan gulungan ombak raksasa ditengah samudra, buruburu Tan Hiong Chang meloncat ke kiri untuk menghindar.
Kendati gerakannya cuknp cepat namun ia tak sanggap untuk menyingkirkan tubuh-nya sama sekali. bahu kirinya tersambar oleh deruan angin pukulan membuat badan-nya mundur dua langkah kebelakang dan terjatuh kedalam semak.
Menyaksikan musuhnya keok, Soen Put-shia tartawa terbahak-bahak.
-Haaa…. haaa…. kau sanggup menerima puluhan jurus serangan dahsyatkn, meski kini kalah namun kau cukup kalah dengan bangga.”
Sinar matanya berputar memandang kearah Kiam Boen siang Ing, lalu tambahnya.
“Ayoh, kalian berdua maju serentak!” Kiam Boen siang ing saling bertukar pandangan sekejap, kemudian pedangnya, serentak dicabut keluar.
Kedua orang jago pedang ini paling mengandalkan kerja sama ilmu pedangnya, setelah menyaksikan kehebatan ilmu silat Soen Put-shia, mereka sadar bila diantara mereka berdua harus turun tangan sendirian maka tak akan sanggnp menyambut lima gebrakan seja. Oleh sebab inilah tanpa sungkan sungkan lagi serentak Kedua orang itu maju berbareng.
Soen Pui-shia mengempos tenaga. telapak kanannva perlahan-laban diayun ketengah udara dan serunya, “Hati hatilah! Nih, terima saja sebuah pukulan dari aku sipengemis ini….!’
Baru saja tangan akan didorong keluar tiba-tiba terdengar suara gelak tertawa yang keras berkumandang datang
Dengan cepat pengemis tua itu angkat kepalanya, terlihatlah nyonya cantik berbaju hijau dengan sulaman sekuntum bunga emas didepan dadanya laksana hembusan angin puyuh meluncur datang, dalam sekejap mata ia telah berada kurang lebih empat lima depa dihadapan Soen Put-shia.
Perempuan itu mengulapkan tangannya yang putih halus mengundurkan Kiam Boon Siang-ing. setelah itu dengan nada genit tegurnya pada diri Soen Put shia.
“Apakah kau yang disebut Soen Put-shia. Tiang-loo dari perkumpulan Kaypang?”
“Sedikitpun tidak salah, itulah diri loohu.”
“Kenalkah kau dengan diriku?
“Bila dugaan loohu tidak salah, kau pasti lah Kim Hoa Hujien yang berasal dari wilayah Biauw!”
“Heoeh heeeh. sedikitpun tidak salah, eeeoi meski kau Sudah tua bangka ternyata matamu masih tajam juga, sekali tebak lantas benar….”
“Telah lama aku si pengemis tua mendengar akan nama besarmu, ini hari aku akan bisa mendapatkan kesempatan untuk mohon petunjuk darimu, kejadian ini benar-benar merupakan suatu peristiwa yang menggembirakan bagiku.”
“Tak usah gugup dan tak usah camas, aku ingin menyapa saudaraku terlebih dulu, rasanya kita bertarung nantipun belum terlambat bukan?”
Sinar matanya perlahan beralih keatas wajah Siauw Ling, seraya ulapkan tangannya ia menegur.
“Saudara Siauw, setelah bertemu dengan cicimu, kenapa kau tidak menegur maupun menyapa?”
“Bukankah kau datang kemari atas perintah dari Shen BoK Hong?” tanya Sianw Ling Sambil tertawa hambar.
“Sedikitpun tidak salah.”
“Apa maksudmu datang kemari?”
“Bantu dia untuk menangkap orang.”
“Tahukah kau hendak menangkap buronan dari perkampungan Pek Hoa -san cung!”
‘Omong kosong!” hardik Siauw Ling gusar. “Yang hendak mereka tangkap adalah kedua orang tuaku!”
“Heeeh…. heeeh siapa yang tidak tahu dia tidak berdosa. sekalipun mereka adalah orang tuamu, tidak pantas kalau kau ngambek padaku!”
“Hemmm! selama masih didalam wilayah Biauw kaupnn terhitung seorang jago kawa-kan. buat apa kau sudi mendengarkan perintah dari Shen Bok Hong dan rela jual nyawa bagi diriya? Bila kau suka mendengarkan nasehatku. lebih baik cepat-cepatlah kembali ke wilayah Biauw dan hidup baik-baik di sana I”
“Sandaraku,” Kim Hoa Hujin tertawa sedih. “Beberapa patah katamu memang baik sekali untuk dituruti, namun sayang sekali terlalu lambat kau utarakan perkataan itu.”
“Mengapa?”
Kim Hoa Hujin tidak menjawab. ia alihkan pokok pembicaraan kesoal lain, serunya, “Kalau memang benar mereka adalah kedua orang tuamu, sudah sepantasnya kalau kau bawa aku untuk mengunjungi mereka.
Siauw Ling termenung berpikir sejenak, kemudian menjawab, “Cuma ada satu jalan saja yang bisa di-tempuh yaitu kau harus menangkan dulu pedang panjang ditangan aku orang she Siauw.”
“Apakah kecuali jalan ini, tiada jalan lain yang lebih bagus lagi yang bisa kutem-puh?”
“Hanya satu jalan ini saja, jadi musuh atau jadi teman keputusannya tergantung pada sepatah katamu!”
“Aku tidak ingin memusuhi dirimu, namun akupun tidak bisa membangkang perintah dari Shen Bok Hong. Aaaai sungguh membuat orang serba salah….
Belum habis dia berkata, terdengar suara berkeleningan nyaring berkumandang datang Cioe Cau Liong dengan memakai baju perlente dan menunggang seekor kuda jempolan berjalan mendekat.
Menyaksikan kehadiran dari Jie cungcu tersebut, Siauw Ling kerutkan dahinya, diam-diam ia berpikir, “Baik Kim Hoa Hujin maupun Cioe Cau Liong sama-sama telah datang ke tempat ini rupanya seluruh jago lihay dari perkampungan Pek Hoa san-cung telah dikerahkan kemari semua.”
Tampak Cioe Cau Liong menarik tali les kudanya dan menyapa, “Sam-te, baik-baikkah keadaanmu selama kita berpisah?”
“Aku telah memutuskan hubungan persaudaraanku dengan Shen Bok Hong, tidak berani kuterima sebutan semacam itu dari Cioe Jie cung cu
“Haaah…. haaa…. barusan aku telah bertemu dengan Shen toako, apa sebabnya aku tidak mendengar ia menyebut-nyebut tentang persoalan itu?”
“Apa yang cayhe ucapkan adalah keadaan yang sebenarnya, mau percaya atan tidak terserah pendapatmu sendiri.”
Sinar mata Cioe Can Liong perlahan-lahan menyapu sekejap ke sekeliling tempat itu kemudian sambil menuding ke arah rumah gubuk itu, katanya, “Seandainya aku memerintahkan anak buahku untuk melancarkan serangan anak panah berapi, mungkin didalam sekejap mata rumah gubuk itu akan hancur punah menjadi abu”
“Keparat busuk. Kau tak usah berlagak sok, aku si pengemis tua ingin kasih sedikit pelajaran kepadamu!” teriak Soen Put-shia
Meudadak tubuhnya meloncat ke depan langsung menubruk kearah Cioe Cau Liang
“Tahan!”‘ bentak Kim Hoa Hujin.
Tangan kanannya diayun, sebuah benda laksana kilat meluncur kearah diri Soen Put Shia.
“Hati-hati ia melepaskan binatang berbisa” teriak Sianw Ling memperingatkan
Telah lama Soen Put Shia mendengar bahwa Kim Hoa Hujien adalah seorang ahli racun, dalam hati secara diam-diam ia sudah pertinggi kewaspadaannya, apalagi setelah mendengar peringatan dari Siauw Ling, maka dengan cepat ia mengempos tenaga, tubuh yang sedang menubruk kearah Cioe Cian Liong secara mendadak melayang lima enam depa lebih tinggi, setelah itu berjumpalitan diudara dan mundur kurang lebih satu tombak lebih kearah belakang.
Tampak benda yang dilepaskan Kim Hoa Hujien tadi secara tiba-tiba menyusuri dengan sendirinya ditengah udara dan melingkar jadi satu-
Soen Put shia tertegun pikirnya
“Ia menggunakan ular beracun sebagail senjata rahasia. benar-benar suatu peristiwa yang aneh sekaii.”
Sementara itu terlihatlah Kim Hoa Hujien msmbungkukan pinggangnya melayang kedepan, tidak menanti ular berbisanya jatuh ke atas tanah tangan kanannya bergerak cepat menyambutnya kedalam genggaman.
Soen Put-shia merasa amat mendongkol dengan perbuatan perempuan itu, tangannya diayun, segulnng angin puknlan yang amat santer langsung menghantam tubuh Kim Hoa Hujien.
Kim Hoa-hujien tarik kemball tangan kanannya yang mencekal ular. sedang telapak: kiri diayun kedepan mengirim sebuah pukulan.
Blunum…. ‘ sepasrng telapak saling beradu ditengah udara, tak kuasa tubuh Kim Hoa hujien terdesak mundur satu langkah ke belakang, air mukanya serta berubah hebat
“Tenaga dalam yang anda miliki sungguh tidak lemah, beranikah kau layani diriku untuk berduel satu lawan satu?”
“Tentu saja aku sipengemis tna berani.” Siauw Ling sadar bahwasannya Kim Hoa-hnjien menggembol banyak sekali makhluk-makhluk berbisa, ia takut Soen Put shia kena dipecundangi oleh perempuan tersebut, maka buru-buru tubuhnya berkelebat menghadang dihadapan pengemis itu sembari berkata, “Locianpwee. kau telah menangkan satu kali pertarungan biarlah pertampuran kali ini serahkan pada aku orang she Siauw saja!”
Kim Hoa-hujien menatap wajah Siauw Ling tajam-tajam, akhirnya ia menghela napas panjang.
“Oooh saudaraku! benarkah kan ingin bergebrak melawan diriku?” keluhnya.
“Bila kau tidak sudi mendengarkan nasehatku maka cepat atau lambat kita pasti akan saling bergebrak. Tiada berguna banyak bicara. Nah, cepatlah cabut keluar senjatamu!”
“Cici berbuat demikian karena terpaksa apakah kau tak dapat memahami keadaanku!”
“Kau membantu manusia laknat untuk bertindak sewenang-wenang, siapa bilang kau berbuat karena terpaksa?!”
“Aaaaai….! saudara cilikkn yang bodoh, bila kau memaksa diriku terus menerus. terpaksa aku harus menyalahi dirimu “
“Bila kau punya kepandaian keluarkan saja keseluruhannya. dalam periempuran nanti siapa menang siapa kalah kedua belah pihak tak usah sungkan sungkan “
“Cici ada beberapa perkataan yang ingin kujelaskan lebih dulu.” Seru Kim Hoa Hnjin lagi dengan alis berkernt.
“Apa yang ingin kau ucapkan lagi?”
“Aku rasa saudara cilik tentu sudah tahu kan, bahwa seluruh tubuh cici penuh dengan makhluk berbisa?
“Sedikitpun tidak salah.
“Seandainya cici berhasil menangkap diri mn, tentu saja tak ada urusan tapi kalau aku tak bisa menangkap dirimu, terpaksa keadaan mendesak diriku untuk menggunakan makhluk-makhluk berbisa’”
“Terima kasih atas pemberitahuanmn itu!”
“Baiklah saudaraku, silahkan turun tangan.” kata Kim Hoa-hujien sambil merogoh keluar dua kuntum bunga emas.
“Terima kasih atas kebaikan hatimu selama ini, cayhe akan turuti perintahmu!”
Pedang diayun dan si anak muda itupun melancarkan sebuah tusukan kilat.
Setelah menyaksikan keadaan situasi yang terbentang saat ini, Siauw Ling sadar, meski jago jago libay dari perkampungan Pek-boa-sau-cung tidak sampai dikerahkan semua namun jago yang hadir ditempat tersebut dewasa ini amat banyak sekali, bahkan bala bantuan mereka tiada hentinya mengalir datang
seandainya ia turun tangan lebih cepat berarti merebut pula satu bagian kesempatan untuk mendapatkan kemenangan
Dalam pada Itu Kim-hoa-hujin yang mencekal sekuntum bunga emas ditangan kiri kananya, tatkala menyaksikan kedatangan ujung pedang Siauw Ling segera mengayunkan tangan kanannya menyongsong ancaman tersebut.
Melihat perbuatan perempuan itu, Siauw Ling segera berpikir didalam hatinya
“Panjang dari kedma kuntum bunga emas lima coen belaka, sungguh luar biasa kalau ia gunakan benda sekecil Itu sebagai senjata. Mungkinkah dibalik bentuknya yang mini itn masih tersimpan kegunaan lain yang menge-
rikan “
Berpikir akan hal itu. gerakan secara tiba-tiba berubah, pedangnya yang sedang menusuk tubuh Kim HOa hnjien berubah arah di tangah jalan dengan gerakan
menjirat tangan, ia babat pergelangan kanan perempuan cantik dari wilayah Bianw itu.
Pergelangan kanan Kim Hoa Hujien menekuk kebawah menghindarkan diri dari ancaman ujung pedangnya.bunga emas ditangan kirinya meluncur tiba-tiba kemuka menotok dada Siauw Ling.
Dengan pandangan tajam Siauw Ling memperhatikan kuntum bunga emas itu, tangan kirinya diayun laksana kilat mencengkeram bunga emas tersebut.
Kim Hoa Hujien segera menarik kebelakang tangan kirinya serta tarik kembali bunga emasnya, lalu ia berkata dingin, “Bunga emasku menganduttg racun yang amat ganas, mungkin kau Sudah bosan hidup?”
“Cayhe si pingin sekali coba menjajal sampai dimanakah kebebatan racunmu itu”
“Hm! sampai dimanakah kelihayan ilmu silat yang kau miliki, kendati tenaga Iweekang yang kau miiiki sempurnapun, setelah kena racun keji diujung bunga emasku, jangan harap nyawamu bisa tertahan lama.”
Mendadak terdengar Cioe Cau Lioag tertawa terbahak-bahak dan menjengek dari luar kalangan, “Ooouh…. sungkan benar pertarungan yang kalian jalankan. Aku lihat tingkah laku kalian tidak mirip dengan dua orang yang sedang bertarung, tapi lebih mirip dengan dua orang lahabat karib yang sudah lama tidak saling berjumpa “
Sreet! Sreet! Sreet! secara beruntun Siauw Ling melancarkan tiga buah serangan berantai hlngga menciptakan selapis bunga pedang yang tebal. seluruh tubuh Kim Hoa-Hujien segera terkurung didalam serangannya, sementara itu mulutnya mendesis dingin, “Cioe Ciau Liong hubungan persaudaraan diantara kita berdua telah putus janganlah kau timbulkan kembali hawa gusarku. Hmm, bila kau tidak tahu diri, terpaksa aku akan cabut dulu selembar jiwamu.
“Sam-te, kok serins benar ucapanmn. kau harus tahu bahwa siauw heng bukanlah seorang manusia yang gampang dibuuah orang, jago kangouw yang mampu membinasakan diri siauw-heng dewasa Ini cuma beberapa orang belaka, coba kau lihat, bukankah siauw-heng hingga detik ini masih dapat hi-dap.dengan baik dikolong langit?”
“Siauw-heng berjiwa budiman dan penuh welas kasih, mengingat hubungan persaudaraannya dengan dirimu tempo dulu, mungkin dia tidak akan membinasakan diri mu.” sela Soen Put-shia dingin. “Namun aku sipengemis tua tidak ada hubungan apapun dengan dirimu, ini hari aku tidak akan melepaskanmu dengan begitn saja.”
Ditengah bentakan keras, badannya berputar satu lingkaran ditengah udara kemudian langsung menubruk kearah Cioe Cau Liong.
Ketua dari perkampungan Pek Hoan-san-cung ini buru buru menarik tali les kudanya binatang tunggangannya yang jempolan tadi tiba-tiba bergeser kekiri dan lari kedepan.
“Heee…. heee…. kau coba melarikan diri kemana….” jengek Soen Put shia Sambil tertawa dingin.
Belum habis ia bersuara, mendadak tampaklah bunga pedang berkilauan diseluruh angkasa, dua sosok bayangan manusia laksana kilat meluncur kearah pengemis tua itu.
Ditengah kilatan cahaya tajam. dua jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memecahkan kesunyian.
Dua orang lelaki kekar berbajn hitam yang menyongsong kedatangan Soen Put shia itu kena disampok senjata tajamnya oleh tenaga pukulan pengemis tua itu kelima jarinya menancap didepan dada mereka dan putuslah yawa kedua orang itu seketika juga.
Soen Put shia membentak keras. begitu ke dua belah kakinya menginjak tanah sepasang tangannya bergerak serentak, dua sOsok ma-yat yang berada ditangannya dengan cepat disambit kearah Cioe Cau Liong.
Cung-cu kedua dari perkampnngan Pek Hoa~san-cung sedang merasa bergidik meski ia berbasil meloloskan jiwanya dari ancaman, dalam hati pikirnya.
“Sunggnh hebat ilmu silat yang dimiliki pengemis tua ini, seandainya tiada mereka ber-dua yang menghadang serangan tersebut, niscaya aku sudah modar ditangannya.”
Menyaksikaa dua sosok mayat meiuncur kearahnya buru-buru ia ayun telapaknya menghajar rontok mayat tersebut.
Setelah serangan gagal, Soen Put-Shia tidak meneruskan gerakannya kemuka. ia berdiri keren sementara sinar matanya yang tajam menatap diri Cioe Can Liong tak berkedip rupanya ia sedang mempersiapkan diri untuk melancarkan serangan yang kedua
Meudadak
“Cioe Ji Cung cu!” dari ballk semak kurang lebih satu tombak diluar kalangan ber-kumndang keluar suara peringatan yang bernada amat dingin dan menyeramkan. “Ilmu Chioe Sat Coan in Chin morupakan kepandaian yang paling diandalkan pengemis tua itu, kemungkinan besar Jie-cungcu masih bukan tandingannya!”
Bersamaan dengan munculnya suara tersebut, muncul pula seorang kakek tua berperawakan pendek gemuk yang memakai baju serba hijau menghadang dihadapan Soen Put shia.
Menjumpai kehadiran orang tua itu. sepasang kening Soen Put-shia langsung berkerut.
” sam Koay! kiranya kau masih hidup dikolong langit? peristiwa ini benar-benar ada di luar dugaan aku si pengemis tua,” serunya.
“Heee…. heee…. kau sendiripun rasanya panjang usia….”
“Hmm! semestinya kau harus mati namun sekarang masih hidup, bilamana kejadian In berlangsung ditempat yang terasing masih tidak mengapa. sungguh tak nyana kau malahan menggabungkan diri dengan perkampungan Pek Hoa-san-cung menjual nyawa bagi Shen Bok Hong. Perbuatanmu ini
benar-benar membuat aku si pengemis tua merasa gemas….”
“Pertempuran kita pada tiga pulnh tahuu berselang diatas gunung Huang-san belum sampai menetapkan siapa menang siapa kalah aku rasa sudah sepantasnya kalau kita lanjutkan pertempuran tersebut pada saat ini hingga salah satu diantara kita tersingkirkan dari muka bumi”
“Kau anggap aku sipengemis tua jeri kepadamu….”
Tiba-tiba terdengar Siauw Ling yang berdikalangan lain membentak keras, “Hujien! bila kau tidak mau juga mengaku kalah, jangan salahkan kalau aku orang she Siauw terpaksa turun tangan keji terhadap dirimu!”
Tatkala semua orang berpaling maka terlihatlah senjata pedang ditangan si anak muda itu laksana seekor naga sakti yang muncul dari balik mega, menyambar kesana kemari menerjang sambil menciptakan berkuntum bunga pedang, seketika itu juga seluruh tubuh Kim Hoa-hujien terkurung didalam lapisan cahaya pedangnya.
Dua kuntum bunga emas ditangan Kim-hoa-hu jien telah kena dikurung oieh pedang lawan sehingga sukar dikembangkan besar ia bakal terluka ditangan pemuda itu
“Lepas tangan….!” ditengah berlangsungnya pertempuran yang amat seru mendadak Siauw Ling membentak keras.
Plaaaak.! pedangnya diayun kemuka menghantam pergelangan kanan Kim-hoa-hujien.
Sekuntum bunga emas seketika tersampok rontok keatas tanah. Sebetulnya babatan pedang dari Siauw Ling barusan dapat memotong pergelangan kanan Kim-hoa-hujien, namun dengan wataknya yang penuh welas kasih, tatkala pedangnya hampir menyentuh pergelangan kanan perempuan itu, mendadak ia putar pedangnya. bukan membabat malahan menghantam pergelangan tangannya belaka.
Laksana kilat Kim-hoa-hujien meloncat mundur kebelakang, tangannya merogoh saku lalu diayun kemuka, seekor ular kecil dengan cepat melayang kemuka!
Siauw Ling tertawa dingin, telapak kirinya diayun dan ia tangkap ular kecil itn erat erat.
“Kau cari mati?” teriak Kim-hoa-hujien dengan air mnka berubah hebat. “Hmmm, belum tentu!” Pergelangan kiri diayun, ular kecil yang berada dalam genggamannya mendadak meluncur kearah Shen sam Koay.
Tatkala Sam Koiy manyaksikan mnnculnya sesosok bayangan hitam mengancam tubuhnya. ia bertindak sebat. Meski tak diketahui olehnya senjata rahasia macam apakah yang mengancam tubahnya namun dengan kepandaian silat yang dimilikinya masih sanggup untuk menghadapi ancaman tersebut, maka tanpa berayal lagi ditangkapnya benda tersebut.
Menanti benda itu sudah berada ditangan dan terasa amat licin. ia baru merasakan sesuatu yang tidak beres, buru-buru tangannya diayun melepaskan kembali benda tadi dari genggaman, namun sayang usahanya ini telah terlambat.
Terasa pergelangan tangannya jadi sakit tahu-tahu ia sudah terpagut oleh ular berbisa
Ular ini meski badannya kecil namun bisanya luar biasa kejinya kendati ilmu silat Shen-sam Koay amat lihay ia tak sanggup mempertahankan diri, seketika lengan kanan nya jadi kaku.
Dengan cepat Kim Hoa Hujiea loncat kedepan dipungutnya lebih dahulu ular kecil yang dibanting Shen-sam Koiy keatas tanah itu kemudian dari sakunya ambil keluar sebutir pil dan dilemparkan kearah kakek tua itu sambil berseru, “Cepat telan pil tersebut”
Shen-sam Koay bukanlah seorang jago kemarin sore, separoh dari umurnya ia gunakan untuk berkelana dalam dunia persilatan, bukau saja pengalamannya luas. pengetahuan pun amat luas. Ia sadar pada saat Ini jiwa-nya telah berada diambang pintu kematian.
Oleh sebab itu ia tidak berani membangkang perintah Kim Hoa Hujien, setelah menerima pil tadi langsung ditelan kedalam perut.
“Shen-heng, bagaimana keadaan lukamu?” buru-buru Cioe Cau Liong bertanya
“Pada saat Ini ia tidak mempunyai kemampuan untuk bertempur lagi, ia harus beristirahat paling sedikit dua hari,” sambung Kim-hoa Hujien dengan cepat.
Cioe-cau Liong segera menarik tali les kudanya dan melarikan kuda tunggangan tersebut meninggalkan tempat itu.
“Ayoh cepat berlalu dari sini!” serunya.
“Cioe-cau Liong, kau hendak lari kema-na? hardik Soen Put-shia sambil loncat kedepan, laksana segulung angin puyuh ia kejar Jie-cng-cu tersebut.
“Cioe-cau Liong mengempos tenaga, tubuhnya secara tiba-tiba meninggalkan pelana kuda dan melayang turun kebalik semak belukar.
Babatan yang dilepaskan Soen Put-shia benar-benar luar biasa sekali, terdengar ringkikan yang menggema ditengah kesunyian. kuda tunggangan miiik Cioe can Liong tadi telah hancur kehantam oleh babatan pengemis tua itu.
Namun dalam sekejap mata Itu pula Kim-hoa Hujien maupun Shen-sam Koay, semuanya telah lenyap dibalik kegelapan.
Soen Put-shia benar-benar naik pitam, makinya kalang kabut, “Cioe cau Liong, cepat atau lambat aku ipengemis tua pasti akan membabat tubuh-mu jadi beberapa bagian.”
Sekonyong-konyong…. suara detiran tajam memecahkan kesunyian, serentetan hujan anak panah berluncuran mengarah tubuh Soen Put-shia.
Menyaksikan datangnya ancaman, pengemis tua itu tidak menjadi gugup, ia sambar bangkai kuda tersebut dari atas tanah lalu dipergunakan sebagai tameng”, dalam sekejap mata sebagian besar hujan panah tadi telah bersarang semua diatas tubuh bangkai kuda tadi.
“Malam yang gelap sulit bagi kita untuk menembusi kepungan.” hardik Siauw Ling keras. “Locianpwe, harap kau cepat kembali, kita harus merundingkan persoalan ini lebih jauh “
Soen Put-shia tidak membangkang, ia buang bangkai kuda itu keatas tanah lalu meloncat mundur kebelakang. Setibanya disisi Siauw Ling bisiknya lirih, ‘Mengapa tidak kita gunakan kesempatan yang baik ini untuk menerobos keluar dari kepungan? mumpung beberapa orang pemimpin mereka sedang menderita luka….”
“Aaaaai….! kedua orang tuaku tidak pernah belajar ilmu silat. ditengah kegelapan malam yang mencekam seperti ini, seandai-nya para jago perkam pungan Pek Hoasan-cung yang bersembunyi disekitar gubuk secara tiba-tiba menghujani kita dengan anak panah serta sanjeta rahasia bukankah kedua orang tuaku bakal konyol?”
“Seandainya kita harus menunggu sampai terang tanah “nanti, mesti senjata rahsia pihak lawan bisa kita lihat jalas, namun bukankah pihak musuhpun dapat melihat keadaan kita dengan jelas pula? untung dalam hal ini lebih baik saudara pikirkan sekali lagi.”
“Aaaaai…. kalau menurut pendapat boanpwee lebih baik kita sapu dahulu semua musuh yang bersembunyi disekeliling tempat ini, setelah itu barulah kita bawa kedua orang tuaku untuk menerobos keluar dari kepungan!”
“Baiklah! aku turut pendapat saudara!”
“Cayhe akan mengitari gubuk ini lewat sebelah kiri sedang loocianpwee harap mengitari gubuk ini lewat sebelah kanan. kita berjumpa dibelakang rumah gubuk ini,” ujar Siauw Ling sambil mengayunkan pedang panjangnya. ‘Meskipun berbuat demikian belum tentu bisa melenyapkan seluruh musuh yang bersembunyi disekitar sini, namun asal kita dapat membasmi sebagian besar dari mereka saja, berani kita telah mengurangi sebagian besar marabahaya yang
Soen Put shia putar badan hendak berlalu tapi secara tiba-tiba ia ingat akan sesuatu hal, segera tanya dengan suara lirih, “Saudara Siauw,ada satu persoalan yang tidak kupahami, dapatkah aku mohon petunjuk darimu?”
“Soal apa?”
“Kim hoa Hujien menggunakan ular racun sebagai senjata rahasia, biasanya amat keji dan tiada tandingan. apa sebabnya saudara Siauw berani menyambut ular itu dengan tangan?”
“Boanpwe telah menggunakan sarung tangan yang terbuat dari kulit naga. golok maupun pedang tidak akan mempan, apalagi ular berbisa tentu saja tidak kupikirkan didalam hati.”
“Oooow, kiranya begitu” ia merandek sejenak, kemudian terusnya. “Ilmu silat yang dimiliki Shen-sam Koay sangat lihay sekali, tatkala aku sipengemis tna melangsungkan pertarungan sengit satu bari diatas gunung Hoa-san tempo dahulu, sulit bagi Kami menetapkan siapa menang siapa kalah. Setelah terjadi peristiwa itu aku dengar katanya ia terluka ditangan seorang padri sakti dari partai Siauwiim yang bergelar Boe Ngo Thaysu, sejak itulah kabar beritanya lenyap tak berbekas, dari peredaran Bu-lim, sungguh tak nyana kiranya ia bersembunyi didalam perkampungan Pek Hoa san-cung. Nama besar Shen sam Koay dimasa silam amat menggetarkan sungai telaga. pamornya tidak be-rada dibawah Shen Bok Hong sendiri, entah apa sebabnya kini ia masih sudi diperalat oleh gembong iblis Itu.”
Secara tiba iba Sianw Ling teringat kembali mata mata dari Shen Bok Hong yang tersebar diberbagai partai serta pergu-ruan besar, ia sadar bahwa setiap garak gerik partai besar itn telah diketahui semua dengan jelas oleh Shen Bok Hong, seandainya mata mata tersebut ikut ambil bagian dalam perasaan partai. maka keadaan dari partai partai besar mungkin tidak lama lagi dalam keadaan seperti ini pihak Shen Bok Hong akan menduduki posisi yang tak terkalah lagi.
Tatkala Soen Put-shia menyaksikan Siauw Ling bungkam diri tak berbicara tidak tahan ia lantas menegur, “Saudara Siauw, apa yang sedang kau pikirkau?”
“Panjang untuk membicarakan persoalan ini, dikemudian hari akan boanpwe jelaskan lebih seksama lagl kepada diri locianpwe!”
Berbicara sampai disitu ia lantas bergerak lebih dahulu kearah kiri.
Soen Put-shia tidak berani berayal. diam-diam dia mengempos tenaga lain…. wnuut…. ia mengirim sebuah babatan kearah semak dihadapannya
Dengusan berat berkumandang keluar dari balik alang alang, seorang lelaki kekar ber-baju hitam terpental dari tempat persembu-nyiannya setelah termakan oleh hantaman pengemis tua itu.
Pedang Siauw Ling Berkelebat mengirim sebuah sapuan kearah semk belukar itu.
Cahaya tajam, berkilat dari balik alang-ilang meuyongsong datang sebilah golok baja menyambut kedatangan pedang si anak muda Itu.
Sianw Ling segera salurkan hawa murninya kedalam pedang. dengan keras lawan keras ia sambut benturau golok itu…. Trang….! ditengah bentrokan nyaring yang menimbulkan percikan api. golok tadi terpental jatuh dari semak setelah terhajar oleh pedang Siauw Ling.
Dalam pada itu Soen Put shia telah berteriak lantang, “Cioe Cau Liong serta Kim Hoa Hujien telah melarikan diri terbirit-birit, bila anda semua masih tetap ngotot berada disini terus, berarti kalian mencari kematian buat diri sendiri.
Ditengah bentakan keras, sepasang telapak berputar serentak wuunt wuuut….! berpuluh puluh desiran tajam meluncur kearah semak kedua orang jagoan lihay ini turun tangan, dalam sekejap mata tujuh delapan orang ja-goan yang bersembunyi dibalik alang-alang mencelat keangkasa dan menderita luka pa-rah.
Tetapi dengan adanya perisitwa ini maka para jago dari perkampungan Pek Hoa-san-cung yang bersembunyi didalam semakpun jadi marah. mereka melancarkan serangan balasan yang tak kalah gencarnya. hujan anak panah serta senjata rahasiapun melanda diseluruh tempat.
Siauw Ling putar pedangnya menjadi segulung hawa pedang yang sangat kuat, dibaawah hujan senjata rahasia yang deras ia teruskan terjangannya kemuka.
Dimana ujung pedangnya menyambar. Jeritan ngeri yang menyayatkan hati menggema memenuhi angkasa, hujan darah menyelubungi seluruh semak. kutungan tangan serta kaki mencelat dan menyebar keempat penjuru.
Soen Put-shia yang berada di pihak lain-pun tidak kalah hebatnya, angin pukulan yang ia lepaskan dahsyat laksana gulungan ombak ditengah samudra, semua babatan di arahkan kebalik semak.
Demikianlah, dibawah serangan dahsyat nya orang jago lihay ini meski jago-jago per kampungan Pek Hoa-san-cung yang bersembunyi disekitar semak amat banyak sekali namun mereka tak sanggup membendung terjangan kedua orang itn.
Dalam sekejap mata separuh dari mereka sudah tewas atau luka parah, sisanya segera mengundurkan diri terbirit-birlt dari situ sebab siapapun sadar bahwa mereka bukan tandingan dari kedua orang jagoan tersebut.
Tidak sampai sepertanak nasi kemudian, kedua orang itu telah berhasil menyapu bersih seluruh jago perkampungan Pek Hoa-san cung yang bersembunyi dibalik semak.
Sambil mencekal pedangnya Siauw Ling melayang kehadapan Soen Put-shia, kemudi-an tegurnya dengan suara lirih, “Locianpwue, kau tidak kekurangan sesuatu bukan?”
“Haaa…. haaa haaa…. sunggah beruntung Thian masih melindungi selembar jiwa ku. Nah, mumpung mereka sedang lari terbirit birit mari kita cepat cepat tinggalkan tempat ini.
“Perkataan Loocianpwee sedikitpun tidak salah.” merekapun segera lari balik kedalam gubuk.
“Apakah semua jago dari perkampungan Pek Hoa san cnng telah menguudurkun diri Sementara Si raja obat bertangan keji seger menegur.
“Berkat bantuan Soen Locianpwee, sungguh beruntung semua musuh berhasil kami pukul mundur!’
“Niat Shen Bok Hong untuk menangkap dirimu amat besar sekaii, untuk itu tak boleh terlalu lama berdiam disini “
“Baik! biar locianpwe sudi menggendong putri kesayanganmu, sekarang juga kita ber-angkat.”
Berbicara sampai disitu, dengan langknh lebar ia lantas menghampiri Siauw thay-jien, berjongkok dan berkata, “Tia, harap kau suka memberi kesempatan bagi ananda untuk menunjukkan kebaktian-ku kepada kau orang tua, mari kugendong!”
“Toako!” Sie-poa emas Sang Pat segera menyela dari samping. “Dewasa ini urusan yang paling penting bagi kita. adalah pukul mundur musuh tangguh yang menghalangi jalan pergi kita, Loo-pek serahkan saja kepadaku, tentu kau tidak keberatan bukan?”
“Tapi…. hal ini akan merepotkan dirimu.”
“Situasi yang kita hadapi sekarang amat kritis sekali, harap toako tak usah menampik lebih jauh!” seraya berkata ia lantas berjongkok menggendong Siauw Thay-jien.
Begitulah dengan Kim Lan menggendong Siauw Hujien. Sang Pat menggendong Sianw Thayjien, Siraja obat bertangan keji menggendong putrinya.
Siauw Ling segera membnka jalan dipaling depan diiringi Tn Kioe serta Giok Lan bertahan dibarisan paling belakang mereka menerjang keluar dari dalam gubuk.
setibanya dimuka rumah. terlihatlah caha-ya api berkobar diarah sebelah Utara, cahaya itu bergerak amat cepat sekali. dalam sekejap mata telah berada dekat sekali dengan rombongan.
Menyaksikan cahaya tersebut, Soen Put-shia mendekati pemuda kita dan berbisik, “Kemungkinan benar cahaya obor itu di-bawa oleh bala bantuan dari perkampungan Pek Hoa San cung, mereka datang dengan membawa lampu dus berarti jagoan yang datang pastilah jagoan yang terpilih!”
Jilid 9
“Dalam keadaan serta situasi seperti ini tidak beruntung bagi kita untak melakukan pertarungan melawan mereka, lebih baik kita menghindar saja….
Mereka semua sadar bahwa situasi yang dihadapan saat ini sangat berbahaya sekali. maka tak seorangpun berani berayal. dengan gerakan paling cepat mereka lari terus ke muka, dalam sekejap mata empat lima li telah dilalui.
Tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda yang santar berkumandang disisi mereka. seekor kuda dengan cepatnya berkelebat menuju kearah jalan raya dari sisi beberapa orang itu.
Orang itu pasti adalah mata mata perkam-pungan Pek Hoa San cung yang bersembunyi disini,” seru yok Ong cepat.
Siauw Ling segera berjongkok mengambil sebutir batu cadas, kemudian hawa murninya disalurkan kearah kepergelangan seraya membentak
“Siapa itu? ayoh cepat berhenti!” Orang itu berlagak pilon, ia tetap membandel, kudanya lari menjauhi tempat itu.
Siauw Ling segera melayang kedepan, di dalam dua tiga kali loncatan tubuhnya sudah berada dibelakang knda itu, tangan kanan di ayun maka pecahan batu cadas itupun segera meluncur kedepan.
Orang itu mendengus berat tubuhnya jatuh bergelindingan dari atas pelana dan menggeletak disisi jalan,
Sementara Siauw Ling hendak maju kedepan untuk memeriksa lebih jelas lagi raut wajah orang itu, tiba-tiba dari sisi tubuh orang itn rneluncur keluar segulung cahaya api dimana langsung menerjang keangkasa dan meledak dengan kerasnya, terciptalah serentetan bunga-bunga api berwarna perak menerangi jagad yang gelap
“Hmm! keparat cilik ini belum modar!” seru Tn Kioe sambil mendengus dingin, tubuhnya segera meloncat kedepan.
Menanti ia periksa orang itu lebih seksa-ma terlihatlah lelaki kekar tadi sudah menggeletak diatas tanah tak berkutik. dari mulut serta lubang hidangnya mengeluarkan darah segar berwarna hitam, jiwanya telah putus
Rupanya serangan yang dilancarkan Siauw Ling teramat berat, setelah punggung orang terhajar telak tubuhnya langsung terjatuh ke tanah, namun sebelum putns nyawa ia masih sempat melepaskan bom udara untuk memberi kabar kepada rekan rekannya.
Tu Kioe amat kheki, sekali tendang ia melemparkan mayat orang itn hingga mencelat enam tujuh depa dari tempat seniula.
“Jejak kita sudah konangan,” seru Yok Ong sambil memandang sekejap kearah bunga api diangkasa. Arah perjalanan kita harus dirubah.”
“Mari kita lari kearah timur.”
Para jago tidak membuang tempo lagi, mereka sama-sama berlari menuju kearah timur.
Emapt lima li kembali dilalui, sampailah rombongan jago teresbut tiba disisi hutan.
Dalam pada itu Siauw hujien yang digendong oleh kim Lan, meski tidak bisa berjalan sendiri namun setelah berlari-lari lama tubuhnya tidak tahan, dengan suara lirih pintanya, “Ling jie bagaimana kalau kita beristirahat dulu, kemudian baru melanjutkan perjalanan kembali.”
Ucapan Mama tidak salah sedikitpun, sekarang kita sudah keluar dari daerah yang berbahaya memang sepantasnya kita beristirahat terlebih dahulu.
Tiba-tiba dari empat arah delapan penjuru bermunculan boesu-boesu yang telah mengurung rapat sekeliling tempat itu dengan bersenjatakan gendewa dan pedang.
Sinar mata Siauw Ling berputar, terlihat olehnya dibelakang setiap batang obor berdirilah sepuluh orang lelaki berbaju hitam, dua orang mencekal gendewa otomatis dari delapan orang yang mencekal senjata tajam.
Rupanya orang-orang itu telah berdiri pada posisi yang telah teratur rapi, meskipun mengurung datang dari empat arah delapan penjuru namun posisinya sama sekali tidak menjadi kacan. Tampak cahaya api berkilauan. dalam sekejap mata rombongan Siauw Ling telah terkurung rapat rapat.
Kepungan yang dibuat orang orang. bukan saja ketat bahkan berlapis-lapis, setiap gendewa didampingi oleh empat orang boe-su berbaju hitam yang bersenjata lengkap….
DiAM-DIAM Siauw Ling menghitung jumlah obor yang ada disana, semuanya berjumlah dua puluh empat buah. itupun belum termasuk Shen Bok Hong serta para jagonya yang belum munculkan diri.
Cukup para boe-su berbaju bitam yang hadir pada saat itu saja, semuanya telah ber jumlah dua ratus empat puluh- orang, ditam-bah dengan lelaki berbaju hitam yang mencekal obor, semuanya berjumlah dua ratui enam puluh empat orang lebih.
Sewaktu beraada didalam perkampungan Pek Hoa-san-cung tempo dulu, Siauw Ling pernah merasakan kelihayan dari para bos-su berbaju hitam itu. meski ilmu silat yang mereka miliki belum dapat terhitung sebagai seorang jagoan kelas satu, namun setiap boe-su boe-su itu rata -rata tidak takut mati, sewaktu turun tangan gerak gerik mereka mendekati kalap, depan rontok belakang menyusul datang tiada hentinya, cara bertarung macam begitu betul-betel mengerikan sekali. Dalam situasi seperti ini dengan cepat Tiong chiu Siang Ku, Kim Lan, Giok Lan serta Tok Chiu Yok Oag menurunkan Siauw Thay-jien suami istri serta Wan-jie keatas tanah, kemudian mereka bentuk sebuah barisan yang mengelilmgi ketiga orang itu guna berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan.
Dibawah sorotan cahaya obor yang terang benderang…. tidak mungkin lagi bagi si Raja Obat bertangan keji untuk menyembunyikan tubuhnya lebih jauh. terpaksa dengan busungkan dada ia tampil kedepan. Sementara itu para boe-su berbaju hitam yang sedang bergerak maju, tiba-tiba menghentikan gerakan mereka kira kira beberapa tombak dari beberapa orang itu.
Terdengar suara Shen Bok Hong yang serak-serak sember berkumandang datang, “Saudara Siauw, siauw-heng mengerti bahwa boe-su ku yang berjumlah dua ratus orang tidak akan berhasil mengurung dirimu, tetapi di bawah hujan anak panah yang dilepaskan dari empat puluh lembar gendewa otomatis, aku rasa bukan pekerjaan yang gampang bagimu untik melindungi kedua orang tuamu lolos dari kepungan dalam keadaan selamat.”
Air muka Siauw Liag berubah jadi hijau membesi, ia bungkam dalam seribu bahasa.
“Hmmm! Kawan Bu-lim semua mengatakan bahwa Shen Bok Homg adalah seorang manusia yang tidak mengindahkan sahabat, namun hubungan persaudaraan mereka itu dengan dirinya amat akrab, perkenalan kamipun sudah berlangsung lama sekali, aku rasa asal loohu munculkan diri niscaya persoalan yang terjadi pada saat ini segera dapat diselesaikan….”
Ia merandek sejenak, kemudian teriakaya lantang, ‘Shen-heng, apakah kau dapat menjumpai diri siauwte.
“Sudah kulihat sejak tadi “
Tak menanti Shen Bok Hong melanjutkan kata-katanya lebih jauh, Si raja bertangan keji menyela lebih jauh ;
“Shen-heng, kau terlalu mengerti tentang keadaan siauwte, jiwa Wanjie putri kesa-yanganku lebih jauh berharga dari pada jiwa siauw-te sendiri. Setelah Siauw Ling meno-long dirinya berulang kali, bagaimanapun juga siauwte harus membalas budi kebaikan-nya ini.”
‘Heee…. heee.heee…. aku rasa penyakit dari keponakan perempuanku itu sudah merasuk kedalam tulang, sekalipun Siauw Ling ada niat menolongnya belum tentu sanggup melaksanakannya.”
“Peristiwa yang terjadi sungguh kebetulan sekali dan merupakan kebalikan dari dugaan Sheng-heng, dengan menempuh bahaya Siauw Ling telah berhasil mendapatkan obat muja-rab untuk menyembuhkan penyakit siauwli. kini penyakit yang ia derita sudah mulai sembuh mungkin setelah beristirahat sepuluh sampai setengah bulan, ia akan sehat kembali seperti orang biasa “
‘Kalau begitu Siauw-heng harus mengha-turkan Kiong hie kepadamu!”
“Persahabatan kita erat melebihi saudara, selama banyak tahun siauwte pun sudah ba-nyak mencurahkan tenaga uutuk membantu usahamu. Perkampungan Pek Hoa san-cung dapat jaya seperti sekarang. bisa memiliki Boe su Boe-su yang tidak takut mati sehingga menakutkan hati para jago Kangouw, meski siauwte tidak berani merebut pahala, namun hitung2 tenagaku yang kusumbangkan kepadamu tidaklah sedikit….
“Sedikit pun tidak salah, kau bantu aku dalam perkampungan Pek Hoa san-cung, apakah kau sekarang hendak membantu orang lain untuk menghancurkan kembali kesemua itu.
“Siauwte tidak berani berbuat demikian cuma saja siauwte mempunyai satu permohonan hendak di ajukan kepada diri Shen-heng!”
“Katakanlah!”
“Siauw Ling telah menyelamatkan jiwa siauwli, sudah sepantasnya kalau siauwte menolong orang tua dari Siauw Ling. Seandainya Shen-heng suka memberi muka kepada diriKu. bubarkanlah para boasu berbaju hitam yang mengurung disekeliling tempat itu, lepaskanlah Siauw Ling dari sini. Sete-lah hutang budi siauwte terhadap Siauw Ling dibayar lunas, dikemudian hari kita masih tetap merupakan saudara karib. Menanti kelemahan tubuh siauwli telah pulih, siauwte akan mendidik dirinya menjadi seorang jagoan yang tak terkalahkan didalam Bu-Iim. Saa itulah kami ayah dan anak pasti akan sumbangkan seluruh tenaga kami buat Shen-heng guna mencapai cita-cita merajai kangouw.”
“Hna. haa…. meskipun tiga liima tahun tidak terhitung panjang, dan aku orang si Shen bisa menunggu dirimu. Tetapi aku takut partai-partai besar yang ada dikolong langit dewasa ini tidak sudi menanti lebih jauh. Menurut pandangan aku orang she Shen. didalam tiga tahun mendatang, dunia persilatan pasti akan terjadi sesuatu penyeIcsaian secara besar-besaran, tatkala saudara turun gunung kembali pada tiga lima tahun mendatang, mungkin kalau bukan siauwte telah menjagoi seluruh Bu-lim, tulang belulangku mungkiu sudah jadi dingin!”
“Kalau begitu Shen-heng tidak sudi memberi muka buat siauwte untuk membayar hutang budiku mi?”
“Haaa…. haaa…. haha…haaaaa.haaaaaaaa…. lain dulu lain sekarang, lain belalang lainpadangnya,dahulu kau siraja obat bertangan keji adalah air untuk memelihara ikan, rumput untuk memelihara kuda bagi perkampungan Pek Hoa san-cung, kini bunga telah bersemi indah bunga harum semerbak telah menyebar keempat penjuru, kau siraja obat bertangan keji sudah tak berguna lagi bagi mereka, keadaanmu sekarang bagaikan kotoran kuda yang disisikan.
Ecee Yok Ong, terpaksa aku sipengemis tua harus memakai dirimu, lebih baik sedikitlah tahu diri dari pada mendapatkan malu yang tak berguna,” seru Soen Put shia sembari tertawa terbahak-bahak,
“Hmmm!” Yok Ong mendengus dingin. “Persoalan diantara kami dua persaudaraan lebih baik tak usah kau Campuri!”
Terdenqar Shen Bok Hong telah berbicara: “Siauw Ling telah menoloug selembar ji-wa keponakan perempuanku, saudarapun telah menolong jiwa orang tuanya bahkan meracuni sampai mati kedua belas orang boe-su ku, kalau dihitung-hitung rasanya kau sudah tidak berhutang budi lagi terhadap diri-nya.”….
“Kalau mau tolong orang harus menolong sampai akhir, siauwte ada maksud menolong kedua orang tua Siauw Ling, sudah tentu aku tidak logis menyaksikan mereka dita-wan kembali kedalam perkampungan Pek Hoa san-cung oleh diri Shen-heng. Aku harap Shen-heng suka membubarkan para boe-su berbaju hitam yang ada disekeliling tern-pat ini, bukalah jaring untuk malam ini sa-ja dan melepaskan mereka semua pergi dari sini. Setelah peristiwa ini siauwte tidak akan mencampuri urusan mengenai diri Siauw Ling lagi.”
“Saudaraku kau memiliki gelar sebagsi si Raja Obat bertangan keji, mengapa tabiatmu pada malam ini kok berubah jadi begitu welas kasih….? sungguh mengherankan…. bagaimana mungkin sifatmu bias berubah dratis begitu…!”
“Harimau yang ganaspun tidak akan mencaplok anaknya sendiri masa siaw-te sebagai seorang manusia jadi lebih bejad moralnya dari pada seekor binatang? Kendati siauwte disebut orang Raja obat bertangan keji, namun aku terhadap siauw-heng tak bisa dibanding-bandingkan dengan apapun. Siauw ling telah menyelamatkan jiwa putriku, dalam perasaan siauwtem budi yang telah ia lepaskan kepadaku jauh lebih besar dari pada menolong jiwaku sendiri. Aku tetap berharap agar Sianw heng suka memberi muka kepada siauwte dan lepaskanlah mereka….”
‘ Siauw Ling yang berada disisi kalangun sebenarnya ingin menukas perkataan dari si raja obat tersebut, tapi teringat akan keselamatan kedua orang tuanya terpaksa ia telan penghinaan tadi dan pasrah.
“Dengan hubungan persahabatan kita yang akrab, sepantasnya siauw-heng kabulkan permintaanmu itu,” sahut Shen Bok Hong “Te-
tapi….”
“Tetapi kenapa?”
“Melepaskan harimau pulang gunung. meninggalkan bencana bagi kemudian hari bukanlah tindakan dari seorang lelaki sejati dalam menghadapi situasi seperti ini kita tak boleh berhati lemah seperti wanita, maka….
“Shen heng!” sela Tok-chlu Yok-Ong dengan wajah berubah hebat. “Selama hidup belum pernah aku memohon kepada siapa-pun juga, apabila Shen-heng begitu keras kepala dan tak sudi memberi muka kepada siauwte, hal ini sama arti kau hendak paksa siauwte untuk memutuskan hubungan persaudaraan kita.”
Mendadak, para boe su berbaju Mtam yang berada disebelah timur sama-sama menyingkir kesamping, shen Bok Hong dengan membawa kedelapan lelaki kekar berbaju merah perlahan-lahan muculkan diri dari balik pohon.
Pada punggung kedelapan orang lelaki berbaju merah itu menyoren sebilah pedang yang amat besar, wajah mereka dingin kaku dan sama sekali tiada perubahan apapun, seolah-olah kedelapan orang itu merupakan delapan sosok mayat hidup yang baru saja keluar dari dalam peti mati.
“Hmm! Delapan orang bayangan berdarah!” jengek Yok Ong sambil tertawa sinis.
”Sedikitpun tidak salah, aku rasa kau pun seharusnya mengerti bahwa kedatangan ku kesini telah disertai dengan susunan rencana yang sempurna’.”
Ia merandek sejenak, kemudian sambil tersenyum tambahnya, “Bila kau hendak berubah niat, mungkin pada saat ini masih belum terlambat!”
Raut wajah si Raja obat bertangan keji yang kaku itu berkerut kencang. tangan kirinya perlahan-lahan menyingkap ujung jubahnya kemudian laksana kilat tangan kanannya merampas pedang Poo-kiam dari tangan Kim Lan
‘Sreei! ia babat putus ujung jubahnya seraya berseru, “Sejak saat ini hubungan persaudaraan kita telah putus “
Pedangnya membabat kebawah, sebuah babatan yang amat panjang muncul diatas tanah lapang yang berlumpur itu, tambahnya, “Menggurat tanah memutuskan hubungan sejak kini siapapun tak usah lagi mempunyai perasaan persaudaraan!”
Senyuman yang menghiasi wajah Shen Bok hong lenyap tak berbekas, dengan wajah serius, serunya
“Saudaraku.apakah kau tidak memikirkan lagi keputusanmu itu?’
“Telah loohu pikirkan berulang kali, mulai Saat ini, aku tak berani lagi saling menyebut saudara dengan diri Shen Toa Cung cu”
Haaa…. haaa…. haa apabila Yok Ong memang bersikeras hendak memutuskan hubungan persaudaraan dengan aku orang Shen, akupun tidak memaksa lebih mengingat hubungan kita selama belasan tahun, aku orang she Shen ingin memperingatkan lebih dulu satn persoalan padamu.”
“Silahkan Shen Toa Cungcu utarakan.”
“Dalam pertarungan nanti, golok dan panah tak bermata, seandainya sampai melukai jiwa putrimu, jangan menyalahkan aku orang she Shen turun tangan terlalu telengas.”
Selembar wajah Tok Chiu Yok Ong yang sudah jelek sekali, kini bertambah semakin jelek saja, sahutnya sepatah demi sepatah, “Barang siapapun yang berani melukai jiwa siauw li, looou tidak akan mengampuni jiwanya….”
‘ Hmm’ orang lain mungkin takut dengan racunmu. sedang aku orang she Shen takut-kah kepada racunmu, rasanya dalam hati kecilmu sudah ada perhitungan sendiri bukan.” tukas gembong iblis itu dengan tertawa hambar.
Racun ada beribu-ribu jenis banyaknya, aku yakin kau oranh she Sben belum sampai kebal terhadap segala jenis racun.
Dalam hubungan kita selama belasan tahun. aku orang she Shen sudah memahami caramu menggunakan racun.”
.heee heheee heeeeeeee…. kau anggap aku si raja obat bertangankeji tak dapat menyimpan beberapa macam kepandaian untuk berjaga diri.
- Kini kita berdua telah betdiri dalam posisi saling bermusuhan, aku orang she Shenpun tidak akan mengelabui dirimu lagi. Sebelum hujan sedia pajung, jauh hari sebelum kejadian ini secara diam-diam aku telah
meracuni dirimu, agar tubuhmu menderita luka parah, asal di dalam setahun mendatang aku tidak berjumoa muka dengan dirimu, maka racun yang mengeram pasti akan kambuh dan mulai bekerja.
“Loohu sudah menduga kau bisa meracuni diriku secara diam-dam, maka akupun secara diam-diam telah meracuni pula dirimu, tidak sampai setengah tahun racun dalam tubuhmu akan mulai bekerja.
Dari tanya jawab kedua orang ini, terlihatlah dengan jelas betapa keji dan berbahayanya dunia persilatan.
Diam-diam Siauw Ling menghela napas panjang, pikirnya, “Aaaai meskipun mereka telah saling bersahabat selama belasan tahun lamanya sungguh tak nyana nmsing-masing pibak telah saling meracuni pihak yang lain peristiwa ini benar-benar membuat diri bulu roma orang….”
Sementara Itu terdengar shen bok hong mendongak tertawa terbahak-bahak. lalu berkata kembali, “Anggap Saja perkataanmu tidak salah dan kau benar-benar telah menanamkan racun keji kedalam tubuhku, namun aku masih punya kesempatan hidup selama setengah tanun lamanya. Sedang kau kau si raja obat ber-tangan keji tidak akan bisa lolos pada malam hari ini juga “
“Hmmmm, dewasa ini menang kalah masih belum bisa ditentukan, lebih baik Shen-toa-cung-cu tak usah bicara sumbar lebih duln.”
Siauw Ling yang meninjau situasi dari sisi kalangan mulai menyadari bahwa keadaannya sudah bagaikan anak panah diatas busur menunggang diatas punggung harimau pertempuran antara mati dan hidup diantara merekapun tak bisa dihindari lagi, maka sambil ayunkan pedangnya ia berseru lantang, “Shen Bok Hong, nama besarmu telah belasan tahun bersemayam dalam dunia persilatan sebagai seorang lelaki sejati tunjukanlah kejantananmu sebagai seorang lelaki dan jang-an bicarakan lebih dulu hasil dari pertem-puran ini hari. Aku Siauw Ling dengan bilah pedang ditangan ingin menantang dirimu untuk berduel, aku rasa Shen Toa Cung-cu sebagai lelaki tulen tidak akan menolak tantanganku ini bukan?”
Sepasang mata Shen Bok Hong yang tajam bagaikan pisau perlahan-lahan menatap wajah Siauw Ling, kemudian ia menjawab ;
“Berbicara dari situasi yang ada dewasa ini, aKulah yang memegang posisi untuk menang. bila aku layani tantanganmu untuk berduel, bukankah tindakan ini merupakan tindakan seorang tolol?”
Siauw Ling tertawa dingin, ia berpaling memandang sekejap kearah Soen Put-shia serta si Raja Obat bertangan Keji, kemudian katanya
“Aku orang she Siauw ada beberapa- patah perkataan hendak kuutarakan kepaada kalian, aku mohon loocianpwe berdua suka bertin-dak mengikuti permintaanku ini.”
“Haas…. haaa haaa…. sekalipun pada malam ini kita tak dapat menerjang keluar dari kepungan, paling sedikit jumlah jagoan perkampungan Pek Hoa-san ong yang mati pun ada separuhnya, bila dibicarakan menurut cara dagang, bukan saja modal sudah di dapat kembali bahkan mendapat untung pu-la, Siauw thay-hiap apa perintahmu katakan lah segera, suruh terjun keair aku akan terjun ke air, suruh ke api aku akan terjun ke api!” seru Soen Put-shia.
“Kalau begitu eayhe ucapkan banyak teri-ma kasih lebih dulu” seraya berkata ia lan-tas menjura dalam-dalam, sementara sinar matanya berputar kearah si raja obat menantikan jawabannya.
Si Raja Obat Be tangan Keji mendehem ringan, lantas berkata, “Loohu telah memutuskan persaudaraanku dengan Shen Bok Hong, dalam hati kecilpun tiada hal yang patut kutakuti lagi. perduli apa perintahmu segeralah perintahkan.”
“Tatkala cayhe turan tangan menghadapi Sheu Bok Hong nanti, aku minta kalian berdua tak usah turun tangan membantu diriku’Ujar Siauw Ling dengan wajah serius. aku berharap agar kalian sudi membawa sepasang pedagang dari Tiong-ciu serta Kim Lan,giok Lan sekalian untuk menerjang keluar
dari kepungan. Dengan kepandaian yang dimiliki locianpwee berdua rasanya para boesu dari perkampungan Pek Hoa san cung tidak nanti biSa menghalangi kepergian kalian, harapan untuk menerjang keluar kepunganpun besar sekali.
“Apa? kau hendak melayani Shen Bok Hong serta kedelapan orang bayangan berdarah seorang diri….?” tanya Soen put-shia dengan wajah tertegun
“Ditambah pula dengan dua ratus orang boe su berbaju hitam yang tidak tatut mati.” Yok Ong menambahkan.
Siauw Ling menggeserkan tubuhnya dan mengambil sebuah posisi menguntungkan yang kebetulan sekali menghalangi Shen Bok Hong serta kedelapan orang bayangan berdarahnya lalu menjawab perlahan, “Cayhe yakin aku masih mempunyai kemampuan untuk meloloskan diri dari kepungan, aku mohon agar locianpwee suka mengabulkan permiutaan cayhe ini….
“Kalau begitu biarlah Yok Ong yang memimpin rombongan untuk menerjang keluar dari kepungan, sedang aku sipengemis tua akan tinggal disini untuk membantu dirimu.”
“Tidak bisa jadi,” tampak Yok Ong seraya geleng kepala. “Tenaga pukulan yang kau miliki sangat libay, justru kepandaianmu itulah yang paling diandalkan untuk melindungi mereka menerjang keluar dari kepungan, biarlah aku yang tetap tinggal membantu Siauw-heng menahan serbuan mereka “
Saking gelisahnya sepasang mata Siauw Ling pada waktu itusudah berubah jadi merah, segera teriaknya lantang, “Loocianpwee berdua, apabila kalian berdua tidak mau mendengarkan perkataan dari akuorang she siauw, mulai hari in kita putus hubungan…
“Sam-te, kau tak usah marah-marah,” ejek shen bok Hong sambil tertawa seram, mungkin si pengemis tua serta si raja obat itu menyadari bahwa kekuatan mereka tidak sanggup uatuk melindungi kedua orang tuamulolos dari kepungan maka mereka tak berani mengabulkan permintaan itu.”
Tak usah anda ikut cerewet!” teriak -Sianw Ling…. naik pitam
Sinar matanya berputar, ia lihat para lelak berbaju hitam yang berada disekeliling tempat itu sudah mulai mencabut keluar senjata tajamnya dan mempersiapkan gendewa.
Kiranya Shen Bok Hong yang diluaran membiarkan musuhnya berunding, padahal secara diam-diam ia telah mempersiapkan orang-orangnya dengan menggunakan kesem-patan itu.
Dari antara delapan orang lelaki berbaju merah yang berada dibelakang Shen Bok Hong secara tiba-tiba ada empat orang meninggal-kan tempatnya dan menyebarkan diri kearah utara, Barat dan Selatan Siauw Ling yang menyaksikan Shen Bok Hong telah mengatur orang-orangnya sedemikian rupa sehingga kian lama kian bertam-bah rcpat, diam-diam ia menghela napas panjang, pikirnya, “Mengulur waktu terus tidak akan menda-tangkan keuntungan bagiku, malahan akan merugikan, ditinjau dari situasi yang terbentang dewasa ini terpaksa. aku harus melaku-kan serangan secara kejam. bila beruntung aku bisa membinasakan Shen Bok Hong, peristiwa ini akan merupakan suatu keberuntungan bagi umat Bu-lim, kalau aku harus mati dalam pertempuran tersebut, akupun mati tanpa menyesal.”
Berpikir sampai disitu, ia lantas mengem-pos napas, pedangnya perlahan-lahan diang-kat siap turun tangan.
Mendadak….
“Jangan bertindak gegabah!” suara seorang yang merdu namun lemah sekali berkuman-dang datang.
Tatkala semua orang berpaling, maka tampaklah putri Yok Oeg yang berpenyakitan itu secara tiba-tiba meronta bangun, seraya mencekal pergelangan tangan Kim Lan seru-? ya, “Ooooh ayah! bukankah kau selalu memuji putrimu adalah seorang gadis yang pintar,Aku ingin memohon kepada empek agar ia suKa melepaskan diri kita.
Aku mempunyai hubungan persaudaraan selama belasan tahun dengan dirinya. membantu pula usahanya membangun perkampungan Pek hoa-san-cungv namun ia sama sekali tidak mau memberi mnka kepadaku.” katanya. “Mulai detik ini hubunganku dengan dirinya telah putus, mana ia sudi mendengarkan perkataanmu….
“Tentang soal ini harap tia tak usah ikut campur, putrimu yakin mempunyai akal yang bisa memaksa ia untuk membuyarkan boe-su-boe-su berbaju hitam itu.” sahut Wan jie sambil bersandar dibahu Kim Lan. kemudian lambat lambat ia berjalan kearah Shen Bok Hong.
“Kematian merupakan suata kejadian yang maha besar. dan kematian bukanlah suatu permainan. Nona cepat mundur….!” teriak Siauw Ling.
Wan Jie berpaling, dengan sepasang matanya yang bulat besar ia pandang sekejap wajah si anak muda itu lalu tersenyum manis.
“Kenapa, apakah kau takut kalau aku sampai’.serunya.
Dalam situasi yang amat gawat serta mengancam selembar jiwanya, bukannya takut
gadis in malah menunjukan senyuman serta tingkah laku yang yang tenang, peristiwa in membuat siauw ling khaki bercampur jengah akhirnya ia menghela napas dan membungkam
Si Raja Obat Bertangan Kejilah yang paling gelisah. keringat dingin mengucur ke luar membasahi seluruh tubuhnya-
“Wan-jie!” serunya cemas. “Ucapan Siauw Ling sedikitpun tidak salah, kematian adalah suatu peristiwa yang besar, janganlah kau gunakan kematian sebagai bahan lelucon-ayoh cepat mundur!”
“Anak buah empek Shen amat banyak,” bisik Wau jie dengan nada yang lembut setelah rnemandang sekian para boesu yang mengurung disekeliling tempat itu. “Sulit bagi kalian untuk lolos dari kepungan dalam keadaan selamat….”
“Sekalipun mereka berhasil menerobos keluar dari kepungan, nona serta kedua orang tua Siauw Ling pun tak dapat lolos dalam keadaan hidup,” sambung Shen Bok Hong sambil tertawa berat.
Wan-jie tidak berbicara lagi, ia dorong tu-buh Kim Lan sambil berbisik, “Ayoh Jalan.”
Tatkala menjumpai Shen bok hong tadi saking takutnya seluruh tubuh kimlan teal berubah jadi lemas, untuk maju melangkah ke depan rasanya berat sekali, namun ketika teringat akan keadaan wan jie yang lemah dan tidak mengerti ilmu silat namun tidak takut mati, terpukullah hati kecillnya, sambil gertakan giginya dan keraskan hatinya ia berjalan menuju kearah shen bok hong.
Keadaan siRaja Obat Bertangan Keji lebih lebih mengenaskan iagi, saking cemasnya keringat dingin mengucur keluar tiada henti-nya membasahi seluruh tubuhnya.
Siauw Ling yang menyaksikan tingkah laku kedua orang gadis tersebut dari kejauhan, diam-diam mengempos tenaga guna melakukan persiapan, pedang dicekal kencang-kencang lalu berseru dengan dingin dengan keras, Shen Bok Hong, dia adalah seorang gadis lemah yang sama sekali tidak mengerti akan ilmu silat, bila kau berani melukai dirinya, maka namamu akan jatuh pamor, kau tidak akan punya muka lagi untuk unjuk muka lagi untuk berjumpa dengan enghiong di kolong langit ini.
Keadaan S Raja Obat bertangan keji lebih mengenaskan lagi, saking cemasnya keringat dingin mengucur keluar tiada hentinya membasahi seluruh tubuhnya.
“Shen Bok Hong!” iapun berseru. “Kalau kau lukai siauwli. maka aku akan meracuni pula seluruh penghuni perkampungan Pek Hoa san-cung mu, anjing ayam tak akan ku-biarkan hidup!”
“Tia, Siauw-ling, harap kalian legakan hatimu. Empek Shen tidak nanti melukai di-riku.” seru Wanji sambil berpaling.
“Haapa.—haa…. jangan terlalu yakin dengan jalan pikiranmu sendiri,” seru Shen Bok Hong tertawa terbahak-bahak. “Ayahmu telah memutuskan persaudaraan dengan diriku sedang empek Shen mu bukan seorang manusia yang berjiwa besar, kemungkinan besar akan melukai dirimu.”
Semeutara pembicaraan berlangsung. Wan jie dengan Kim Lan telah berada dihadapan tubuhnya.
Wan jie tersenyum.
“Empek Shen. Boanpwe tidak dapat menggunakan racun, kau tak usah jeri padaku.” Katanya.
“Hmm! sekalipun kau dapat menggunakan racunpun. aku tidak nanti jeri kepadamu “
“Kalau begitu bagus sekali, silahkan Em-pek Shen tempelkan telingamu ke tepi bibirku, hendak membisikkan sesuatu kepadamu.”
„Persoalan apa?” tanya sben Bok Hong rada tertegun. “Silahkan nona utarakan begitu saja.”
“Tidak bisa, apa yang akan kuucapkan merupakan suatu rahasia yang amat besar, aku tidak ingin merekapun ikut mendengar.”
“Apakah ayah mu sendiripun tak boleh ikut mendengarkan?”
“Bila ia tahu, mungkin aku akan di caci-maki habis-habisan, tentu taja ia tak bolch ikut mendengarkan.”
Shen Bok Hong termenung berpikir seben-tar, akhirnya ia bongkokkan tubuhnya yang tinggi besar itu dan ditempelkan telinganya disisi biblr gadis tersebut.
Tampak Wan-jie kasak kusuk membisikan sesuatu ketelinga Shen Bok Hong, diikut air muka gembong lblis itu berubah hebat.
“Sungguh?” tanyanya sambil bangun ber-diri.
“Banyak perkataan telah kuucapkan, badan ku terasa amat lelah sekali, kalau kau tidak mau percaya, akupun tak dapat berbuat apa-apa.”
Sekilas eahaya penuh napsu membunuh berkelebat diatas mata Shen Bek Hong lalu ia berseru, “Budak cilik, aku harus menghancur lumatkan tubuhmu terlebih dahulu!”
Wan jie tersenyun.
“Janganlah disebabkan urusan kecll ini hingga mengakibatkan masalah besar jadi terbengkelai. apa gunanya kau bunuh seorang gadis lemah yang tidak mengerti ilmu silat macam aku?”
Seandainya aku kabulkan permintaanmu dan membuyarkan para boe-su yang mengu-rung disekelillng tempat ini?” perlahan-lah napsu membunuh diatas wajah gembong iblis itu menyusnt.
“Tentu saja kupenuhi janjiku tadi itu!”
“Seandainya kau membohongi aku?”
“Lepaskan dulu mereka agar berlalu dari sini, akn akan tetap tinggal disini sebagai sandera.”
Para jago tidak tahu apa yang telah di-ucapkan gadis tersebut kepada Shen Bok Hong namun setelah mendengar kesanggupan gembong iblis itu untuk membnyarkan para boesu yang berada disekitar tempat itu, mereka sama sama tercengang dan tidak habis mengerti.
“Baik! kita tetapkan demikian saja,” seru Shen Bok Hong, ia ulapkan tangannya dan menambahkan. “Buka sebuah jalan buat mereka!
sekitar tempat itu sama-sima mengiakan, dari arah Tiraur. Barat. utara maupun Selatan terbukalah sebuah jalan untuk Icwat.
“Empat pintu telah kubuka semua. terserah kalian hendak berlalu dengan lewati arah mana!” ujar gembong iblis itu kembali.
Wan-jie segera berpaling dan memandang sekejap kearah Sianw Ling, pintanya, “Siauw.ling, aku mohon kepadamu sudi-lah msndengarkan perkataanku, mau bukan?”
“Nona Wan, katakanlah permintaanmu itu!”
“Oawaiaii kedua orang tuamu serta para jago. berangkatlah menuju kearah Selatan.”
“Bagaimana dengan nona sendiri?”
“Aku akan tetap berada disini sebagai sandera.”
“Tidak bisa, aku Siauw Ling sebagai seorang lelaki sejati tidak sudi melakukan perbuatan seperti itu, lebih baik aku bertempur sampai tiiik darah penghabisan
daripada mendengarkan permintaan nona….”
“Aaaa! kau, sebagai seorang enghiong memang sepantasnya bartempur sampai titik darah penghabisan tetapi bagaimana nasib ke dua orang tuamu? apakah merekapun harus menemani kau untuk bertempur sampai mati….?”
Siauw Ling tertegun, untuk beberapa saat lamanya ia tak sanggup mengungkapkan sepatah katapun.
“Shen-heng!” Tiba-tiba si Raja obat ber-tangan keji berseru sambil menjura. “Sianw-te akan tetap tinggal disini sebagai sandera, bagaimana kalau kau bebaskan siauw-li.”
“Percuma aku menahan dirimu!”
“Oooh Tia!” Seru Wan jie. “Detik ini pu-trimu berada disisi empek Shen. seandainya ia membabatkan telapak tangannya niscaya putrimu segera akan mati binasa, sekalipun Tia ada maksud menolong akupun percuma.
“Anaku, siapa suruh kau hantarkan diri kemulut harimau?”
“Kini putrimu telah berada diambang mulut harimau, banyak bicarapun tak ada gunanya “
Mendadak gadis itu tersenynm, tambahnya
“Tapi aku percaya bahwa empek Shen tidak akan melukai diriku”sinar matanya
beralih keatas wajah Shen Bok Hong “Benar bukan empek Shen?”
“Asal kau tidak membohongi aku, tentu saja ttdak nanti kulukai dirimu….!”
“Nah, sudah kalian dengar perkataannya itu? kenapa belum juga pergi?”seru Wanjie sambil menyeka air keringat diatas kepalanya-
Mendadak Sianw Ling menggertak gigi, kepada si Raja obat serta sepasang pedagang cerunya, “Aku minta agar cuwi sekalian dengan membawa serta kedua orang tuaku segera berlalu dari sini, aku orang she Siauw akan tetap berada disini mendampingi nona Wan.”
“Begitupun balk juta.” Wan jle mengang-guk sambil membenahi rambutnya yang ku-sut, meski situasi amat gawat namun gadis lemah tersebut sama sekali tidak gentar, malahan ia kelihatan begitu tenang.
“Meskipun tabiat empek Shen rada licik dan jahat, namun otaknya amat pintar,
tidak nanti membinasa diri kita karena mengikuti napsu sehingga merusak cita-cita untuk menjagoi dunia persilatan….”
Sinar matanya menyapu sekejap wajah Shen Bok Hong, tanyanya, “Benar bukan Empek Shen?”
“Hmm, anggap saja benar!”
Wan-jie.tersenyum, sinar matanya kembali beralih keatas wajah Siauw Ling dan menambahkan
“Anakku jangan bunuh diri,” seru Raja obat bertangan keji dengan air mata ber-cucuran.
“Nah. Kalan begitu kalian harus segera pergi dari sini!”
Kim Lan tidak berani membangkang, ber-sama-sama si Raja Obat Bertangan Keji mereka segera berlalu kearah Selatan.
Menanti semua orang telah berlalu. wanjie jadi lemas karena mengeluarkan banyak te-naga untuk bicara, kakinya lemas dan badannya roboh keatas tanah.
Untung Siauw Ling berada didekatnya, dengan cepat si anak muda itu menyambar tubuhnya dan dipeluknya erat-erat.
Wan-jie menghembuskan napas panjang, dengan sikap yang tenang ia bersandar didada Siauw Ling lalu ujarnya sambil tertawa, “Aku masih ingat bahwa aku pernah memberitahukan namaku kepadamu, kau tentu masih ingat bukan?”
“Tentu saja masih ingat?”
“Coba katakan siapa namaku?”
“Bukankah nona bernama Lam-kong Giok?”
“Ehmm, sedikltpun tidak salah.”
Selama ini Shen Bok Hong hanya berdiri mematnng disisi kalangan, sejak para jago meninggalkan tempat itu tak sepatah kata-pun yang diucapkan, kini kesabarannya telah habis, dengan suara dingin segera tegurnya, “Perkataan semacam itu lebih baik dibi-carakan nanti saja, meski kesabaran loohu baik, namun kalian harus tahu bahwa bahwa kesabaran seseorang itu terbatas!”
Siauw Ling menoleh, setelah dilihatnya bayangan para jago lenyap tak berbekas, ia lantas berseru sambil busungkan dada, “Shen Toa Cungcu, kau ingin ajak aku orang she Shiauw berdue!?”
Seluruh tubuh Shen Bok Hong tergetar keras saking marahnya, dengan paksa ia mena-han hawa marahnya itu, katanya, “Shen Toa Cung-cu sangat berharap bisa menawan aku serta kedua orang tuamu kembali keperkampungan Pek Hoa-san-cung, kini harapannya susah terwujud, aku tebak dalam hati ia tentu merasa mendongkol sekali.”
Siauw Ling segera berpikir setelah mende-ngar perkataan itu, “Bocah ini rupanya sedang cari gara-gara, dalam keadaan serta situasi seperti ini sudah untung kalau Shen Bok Hong tak mau turun tangan melukai dirinya. apa gunanya sih mengolok olok dia sehingga membangkitkan hawa amarahnya? jaraknya dengan dia begitu dekat seumpama kata gembong iblis itu berubah pikiran, mungkia tidak sempat bagiku untuk menolong jiwamu….”
Dalam hati ia berpikir demikian, dimulut ia mengiakan.
“Ucapan nona sedikitpun tidak salah”
Lam kong giok tersenyum.
“Tapi…. sayang seribu kali sayang,” kata-nya kembali. “Sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga, sepintar- pintarnya seseorang akhirnya kena dipecundangi pula oleh orang lain, disebabkan hendak membinasakan kita berdua, cita-citanya untuk menguasai dunia kangouw akan beran-takan.”
Siauw Ling tidak mengerti apa yang sedang dimaksudkan gadis tersebut, namun ia rnenjawab juga sekedarnya.
“Sedikitpun tidak salah!”
“Selama ini aku selalu menyebut ShenToa Cung-cu sebagai empek, tapi kini ia telah memutuskan hubungan persaudaraan dengan ayahku. apa boleh buat…. akupun tak bisa me nyebut dia sebagai empek lagi!”
Tidak malu Shen Bok Hong disebut sebagai seorang pemimpin dunia kangouw, ken-dati Larn Kong Giok mengejek, menyindir maupun mengolok-olok dia dengan kata apa pun, ia tetap membungkam dalam seribu bahasa, sikapnya tetap serius dan tubuhnya sama sekali tidak berkutik dari tempat semula.
Kurang lebih seperminum teh kemudian gembong iblis ini baru buka suara menegur, “Nona, waktunya sudah habis!”
“Ehmm. benar, waktunya memang sudah habisl”
“Sekarang kau harus penuhi janji yang telah kau katakan pada diri loohu itu!”
“Begini saja, seru Lam-kong Giok sambil menyapu sekejap sekeliling tubuhnya. “Buyarkan dulu para boo-su berbaju hitam itu, dengan demikian aku bisa segera melarikan diri setelah barang itu kuserahkan kepadamu….
Sinar mata Shen Bok Hong berputar, ia termenung dan membungkam.
“Sudahlah, tak usah mencari akal setan lagi,” tegur Lam-kong Ciok tersenynm. “Peta tersebut telah kubagi menjadi beberapa ba-gian dan kusembunyikan dibeberapa tempat yang berbeda pula, sekalipun kau berhasil membinasakan diriku dan mendapatkan sebagian dari peta itupun percuma saja, tidak nanti kau mendapat sesuatu dari peta yang tak lengkap.”
“Heeeh…. heeeh nona, apakah kau tidak merasa terlalu banyak syarat yang kau aju-kan.”
“Kau telah menyetujui untuk tidak mencelakai kami, apa bedanya kalau cuma membuyarkan para boe-su disekeliling tempat ini?”
“Dengan cara apa kau hendak membukti-kan kepadaku bahwa kau bukan lagi membohongi diriku -?”
“Aku tidak nanti membohongi dirimu, kalau kau tetap banyak curiga, yah…. apa boleh buat….”
Sinar matanya berputar menyapu sekejap tempat itu, lalu tambahnya, “Paling banter kau cuma dapat membinasa kan diriku seorang, Siauw Ling pasti berhasil meloloskan diri dari kepungan. Eeeei orang she Shen, pada saat ini kau berdiri pada posisi yang tidak menguntungkan, mengapa tidak mau mengalah satu tindak?”
“Budak cilik.” seru Shen Bok Hong sambil menarik napas panjang. “Kalau kau bohongi aku, maka sekalipun kau bersembunyi diujung langitpun akan kucari sampai ketemu dan akan kusuruh kau mencicipi bagaimanakah rasanya siksaan yang terhebat dikolong la-ngit ini.”
“Sebaliknya kalau aku tidak membohongi dirimu?”
“Timbal balik yang loohu berikan kepadamu rasanya tidak terhitung kecil….” ia
ulapkan tangannya. “Buyarkan semua orang disekitar tempat ini!”
Tampak para boe-su yang berada disekitar tempat itu sama-sama mengundurkan diri, dalam sekejap mata mereka telah bubar semua.
“Nona, para boesu disekeliling tempat ini Sudah pada bubar, dan loohu-pun sudah berulang kali mengalah kepadamu, harap kau sedikit tahu diri….” Shen Bok Hong memperingatkan.
Lam kong Giok tidak langsung menjawab, ia menyapu sekejan para lelaki berbaju merah yang berada dibelakang gembong iblis itu, kemudian berkata, “Toa-cung-cu, setelah kau membubarkan para boe-su berbaju hitam yang berada disekeliling tempat ini. rasanya kau tak perlu menahan pula lelaki berbaju merah itu.”
“Nona, janganlah membangkitkan hawa gusar dalam hati loohu, kalau kau mendesak diriku terus menerus, kemungkinan besar aku akan berubah pikiran.”
Siauw Ling yang selama ini membungkam terus, tiba-tiba mencela dari simping ;
“Peluang bagimu untuk menghalangi perjalanan aku orang she-siauw kian lama kian bartambah kecil. kalau Toa-chung-cu tidak percaya silahkan coba sendiri.”
“Perjalanan sejauh seratus li telah kau le-wati sembilan puluh li. ini merupakan langkahmu yang terakhir. Kalau kau tetap keras kepala maka usahamn selama ini akan menemui kegagalan total,” Lam Kong Giok menambahkan.
Tiba-tiba Shen Bok Hong angkat kepala dan tertawa terbahak-bahak
“Haaa…. haaa haaa…. sungguh tak kunyana aku Shen Bok Hong sebagai seorang pemimpin kangouw harus tunduk dan kecun-dang ditangan seorang gadis lemah yang ber-penyakitan!”
“Toa cung-cu, kau terlalu memiji!” Shen Bok Hong berpaling kearah lelaki berbaju merahnya dan menitahkan, “Kalian mundurlah sejauh setu tombak” Lelaki-lelaki berbaju merah yang berdiri dibelakang gembong iblis itu tidak membangkang. dengan mulut tertutup mereka sama-sama mengundurkan diri kebelakang.
Menanti orang-orang Itu telah lenyap di-tengah kegelapan, Shen Bok Hong baru berkata kembali, “Nona, apakah kau masih ada syarat lain?”
“Tidak ada ” ia merogoh saknnya ambil keluar sebuah bungkusan kain kuning lain melanjutkan. “Padahal peta ini ada didaiam saku bajuku dalam keadaan komplit, perduli dengan cara apapun kau tawan atau bunuh aku. benda ini dapat kan peroleh dengan gampang sekali.”
Shen Bok Hong siap meayambut bungkusan itu, tapi secara tiba-tiba Siauw Ling membentak keras, “Tunggu sebentar!”
“Saudara Siauw, apa maksudmn?”
Pedang ditangan si anak mnda itu memben-tuk gerakan satu lingkaran, bunga pedang berkelebat melindungi tubuh Lam Kong Giok, kemudian menjawab
Memandang kearah dimana Siauw Ling melenyapkan diri, gembong iblis ini menghembuskan napas panjang, perlahan-lahan ia putar badan berlalu dari situ.
Ditiujau dari gerakan tubuh Siauw Ling kala meninggalkan tempat Itu, ia sadar bahwa ilmu meringankan tubuhnya masih rada rendah jika dibandingkan dengan si anak muda tersebut, tapi justru karena hal inilah niataya untuk membunuh Siauw Ling semakin tebal.
Dalam pada itu Siauw Ling dengan menggendong Lam Kong Giok melakukan perjalanan cepat meninggalkan tempat yang sangat berbahaya itu. dalam sekejap mata puluhan li telah dilewatkan. menanti dirasakannya Shen Bok Hong tidak mengejar datang ia baru berhenti.
“Nona, perlukah kita beristirahat sejenak?”
“Oooh; sungguh cepat larimu. angin di-ngin yang menyabok wajahku hampir hampir saja membinasakan dirikul”
“Aaaah nona maaf seribu kali maaf ber-hubung keadaan kita pada waktu itu amat berbahaya, maka cayhe cuma sempat berpi-kir bagaimana caranya membawa nona melarikan diri dari situ, cayhe telah lupa kalan nona baru saja sembuh dari sakit.”
Lam-kong Giok tersenyum.
•’Sebenarnya aku sudah pingsan sejak tadi.”
“Apakah disebabkan cayhe keburu ber-henti.”
“Bukan. berhubung kau membopong aku maka seandainya aku jatuh tidak sadarkan diri, bukankah tak dapat kurasakan keha-ngatan tubuh yang bisa kurasakan hanya sejenak ini saja?”
Siauw Ling tertegun, ia bungkam dalam seribu bahasa
“Masih ingatkah kau? ketika ayahku hendak menjodohkan diriku sebagai binimu, tapi kau menolak dengan tegas….
000O000
SIAUW LING menghela napas panjang.
“Aiii. nona Giok, kejadian yang sudah lampau lebih baik tak usah diungkap lagi. kita harus cepat-cepat menemukan kembali ayahmu.”
Perlahan-lahan Lam-kong Giok memejam-kan kembali sepasang matanya dan membungkam, dua titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya yang pucat.
Menyaksikan gadis itn melelehkan air mata, ingin sekali Siauw Ling menghibur dirinya dengan beberapa patah kata, namun ia sadar sepatah kata lebih banyak ia ucap kan berarti akan mendatangkan pula kere-potan bagi dirinya, maka ia berlagak pilon dan pura-pura tidak melihat. Sambil membopong gadis itu cepat cepat Siauw Ling me lanjutkan kembali perjalanannya,
Kurang lebih beberapa li kemudian, mendadak tampak dua sosok bayangan manusia laksana sambaran kilat cepat meluncur da-tang, Siauw Ling ingin menghindari na-mun tidak sempat lagi, terpaksa dengan tangan kiri ia menyambar Lam Kong Giok, tangan kanannya segera mencabut keluar pe-dang poo-kiamnya.
Ketika tiba dihadapan si anak muda itu kedua sosok bayangan manusia tadi secara mendadak berhenti, kiranya mereka bukan lain adalah Soen Put-shla serta si Raja obat Bertangan Keji.
Tatkala si Raja obat Itu menyaksikan Siauw Ling telah kembali membopong putri kesayangannya, hati yang semula gelisah kini jadi tenang kembali, tanyanya sambil menghembus napas panjang, “siauw thayhiap apakah Siauwli terluka “
“Putrimu dalam keadaan sehat walafiat.”
Perlahan-lahan Tok chiu Yok ong mende-kati putrinya dan berbisik lirih
“Wan-jie, apakah kau baik-baik saja?”
“Tia, aku baik-baik saja ” sahut Lam-kong Giok sambil membuka matanya dan memandang sekejap ayahnya.
Seolah-olah mendapatkan harta karun, cepat-cepat siraja obat itu membopong putri-nya dari tangan Siauw Ling.
“Anakku sayang. dengan cara apakah kau berhasil mengundurkan Shen Bok Hong?”
Rupanya Lam Kong Giok merasakan amat lelah sekali, dengan nada lemah ia menyahut, “Oooo ayah! aku sudah tiada tenaga lagi untuk berbicara!”
“Baik baik, jangan bicara, jangan bicara, kau benar-benar putri si Raja Obat, mes-ki baru sembuh diri penyakit parah namun kehebatannya luar biasa!”
Wajahnya penuh rasa gembira yang sukar dilukiskan dengan kata-kata, hal ini bisa di-bayangkan betapa bangganya ia memiliki seorang anak yang cerdik.
“Kecerdikan serta keberanian putrimu benar-benar tidak berada dibawah seseorang enghiong hoohan, cayhe merasa sangat ka-gum,”seru Siauw Ling memuji.
“Haaaa…. haaa…. pujian semacam ini muncul dari mnlut Siauw-thayhiap, tentu saja kenyataannya tak bisa ditambah iagi.”
“Aku sipengemis tua benar-benar tidak mengerti dengan cara apakah nona Lam Kong Giok berhasil mengundurkan musuh tang-gnh?” tanya Soen Put-shia.
“Tentu saja ia selalu menggunakan suatu siasat yang amat lihay sekali!”
Kiranya ia sendiripun tidak tahu dengan akal apakah putri kesayangannya berhasil menaklukkan Shen Bok Hong yang terkenal akan kelicikan serta kekejiannya itu, bahkan dapat membuyarkan pula para boe-su yang mengurung mereka.
Jilid 10
Soen Put-shia yang berada disisi kalangan pun ikut putar otak berpikir keras, “Putrinya selalu berada dalam keadaan tidak sadarkan diri, selama belasan tabun hanya beberapa hari saja berada dalam keadaan sadar: Dengan kejadian seorang gadis lemah tak bertenaga ternyata berhasil menaklukkan seorang gem bong iblis kenamaan, hal ini memang merupakan suatu peristiwa yang patut digirangkan, namun ditinjau sikapnya yang latah…. apakah kegembiraan ini tidak sedikit berlebihan….”
Suatu ingatan berkelebat lewat dalam bona nya, kepada Siauw Ling segera ia berta-nya, “Saudara Siauw, tahukah anda dengan cara apakah nona Lam kong mengundurkan musuh tangguh?”
“AKU kurang begitu jelas” sahut Siauw Ling seraya geleng kepala. “Yang cayhe ketahui hanyalah nona Lam kong te-lah menyerahkan sebuah bungkusan kuning kepada Shen Bok Hong.”
“Saudara Sianw. tahukah kau benda apakah yang ada di dalam bungkusan kain kuning itu?”
“Agaknya sejenis peta rahasial”
“Peta rahasia tersebut tentu penting artinya. bahkan jauh lebih penting daripada kematian kita beberapa orang “
“Sungguh aneh! sunggub mengherankan,” tiba-tiba si Raja Obat bsrtangan keji menimbrung dan samping. “Selama ini putriku selalu berada dalam keadaan tidak sadarkan diri. darimana ia dapatkan peta rahasia tersebut.
“Si makhluk beracun paling suka memuji ke pintaran putrinya,” pikir Soen Put shia “Sampai-sampai dimasa tuanya ia rela melepaskan kejahatan kembali kejalan yang benar, kenapa aku sipengemis tua tidak memuji-muji putrinya agar ia merasa gembira? dengan berbuat demikian mungkin ia bisa merasakan banyak perbedaan antara manusia yang ber-ada digolongan sesat serta manusia yang berada didalam golongan kaum lurus.”
Berpikir akan hal itn, ia lantas tersenyum dan berkata, “Kecerdikan putrimu tiada tandingnya di kolong langit, perhitungannya selalu masak dan tepat, mana bisa kita duga semua jalan pikirannya
Tidak salah lagi, si Raja Obat Bertangan Keji kontan jadi kegirangan setengah mati setelah mendengar pujian itu.
“Soen-heng, terlalu berat ucapanmu itu.” serunya “Pada saat putriku muncul kembali dalam dunia persilatan dikemudian hari, ma-sih sangat mengharapkan perhatian serta bimbingan dari Soen-heng.”
“Dengan senang hati akan kulaksanakan permintaanmu itu.”
“Pada saat ini kedua orang tua Siauw thayhiap sedang menantikan kehadiran putra kesayangannya, silahkah Soen-heng memba-wa Siauw thayhiap untuk berjumpa dengan ayah ibunya, rasa cinta seorang ayah dan ibu terhadap putra putrinya akulah yang tau paling jelas!”
“Bagaimana dengan loocianpwe….”
“Untuk sementara waktu loohu hendak berpisah dulu dengan cuwi sekalian.”
“Kemana kau akan pergi?” tanya sipengemis tua.
Keadaan putriku dalam kondisi penyembuhan, bila knbiarkan dia berada dalam keadaan begini terus. bukankah tindakanku ini meru-pakan suatu tindakan yang patut disesalkan sepanjang masa? Aku hendak mencari suatu tempat ditengah pegunungan yang sunyi dan terpencil untuk mengasingkan diri, aku akan menggunakan seluruh kepandaian yang ku-miliki untuk mencari bahan obat mujarab, membuat pil mustajab dan dengan meminjam kasiat obat obatan tersebut akan kugunakan untuk menutupi kekurangan kekurangan tu-buh putriku, aku hendak menggunakan tempo selama tiga tabun untuk menciptakan sekuntum bunga aneh bagi dunia persilatan.”
“Entah dimana terdapat obat mujarab, di-mana kau hendak mencarinya….”
“Tentang sosl ini harap Soen-heng tak usah kuatirkan, tatkala siauw te sedang mencari obat mujarab untuk menyembuhkan penyakit putriku tempo dulu, hampir seluruh puncak serta lembah gunung yang tersohor telah ku jelajahi, meski obat mujarab untuk menyembuhkan penyakit putriku tak berhasil kuda-patkan namun secara sambil lalu aku berhasil mengumpulkan beberapa jenis bahan obat obatan yang sukar didapat, kini benda-benda itu telah ditimbun di dalam suatu tempat yang rahasia sekali letaknya.”
Ia tarik napas dalam dalam memandang bintang yang bertaburan diangkasa, sambungnya lebih jauh, “Aku selalu bercita cita, setelah penyakit putriku sembuh aku akan membuat obat mujarab untuk menguatkan tubuhnya, kemudian mewariskan seluruh kepandaian silatku kepadanya, agar ia berhasil melampaui batas waktu untuk belajar silat, aku hendak menggunakan tempoùsesingkat mungkin untuk memperoleh hasil sebesar mungkin, dan kini apa yang kucita citakan semula hampir menjadi kenyataan.”
“Apabila Yok Ong memang memiliki semangat sebesar itu, aku sipengemis tua tak akan menahan dirimu lebih jauh.”
“Waktu dikemudian hari masih panjang, selama gunung masih hijau dan air masih mengalir kesempatan bagi kita untuk berjnmpa dikemudian hari masih banyak. Nah. selamat berpisah dan sampai jumpa lagi.”
Berbicara sampai disitu, ia putar badan dan berkelebat pergi, dalam sekejap mata bayangan tubuhnya telah lenyap.
Memandang bayangan punggung si raja obat bertangan keji yang menjauh, Soen Put Shia menghela napas panjang.
“Aaai….! Selama ini perbuatan serta tindak-tanduknya selalu keji dan telengas, sungguh tak nyana ia begitu besar cinta kasih nya terhadap putrinya sendiri.”
“Sejak jamnn dahulu kala yang ada hanya lah anak yang tak berbakti, selamanya tiada orang tua yang tak menyayangi putra-putri-nya.”
“Aaai kini Lam-kong telah pergi, kitapun harus berangkat pula.”
Seolah-olah terperanjat Siauw Ling memandang sekejap kearah Soen Put-shia, bibir nya bergerak seperti mau mengucapkan sesuatu namun akhirnya dengan mulut membungkam ia nunyusul di belakang pengemis itu.
Ditengah kegelapan malam yang mencekam kedua orang itu melakukan perjalanan cepat, dalam sekejap mata empat lima li telah dilewati.
Mendadak Soen Put-shia berhenti, dengan kepala tertunduk ia meneliti sejenak permukaan tanah, kemudian berbelok kearah sawah dan melanjutkan perjalanannya.
Siauw Ling pun tidak banyak bertanya mengikuti dibelakang Soen Put shia kembali mereka lakukan perjalanan sejauh beberapa li.
Tiba-tiba…. dari balik semak belukar dihadapan mereka berkumandang keluar suara bentakan seseorang, “Siapa disana “
“Aku sipengemis tua!”
Sesosok bayangan manusia berkelebat lewat, si siepoa emas Sang Pat telah melon-cat keluar dari dalam semak!
“Dimana ayah ibuku?” Siauw Ling segera menegur.
“Siauwte menganggap tempat ini kurang aman dan sangat berbahaya, maka aku telah memerintahkan Tu Kioe serta Kiem Lan, Giok Lan dengan membawa kedna orang tua meninggalkan tempat ini lebih dahulu, sedangkan siauwte menanti kedatangan toako berdua disini.”
Sepasang alis Sianw Ling langsung berkerut namun mulutnya membungkam, dalam hati ia berpikir ;
“Kekuatan Tu Kioe; serta kedua orang dayang itu minim sekali, seandianya ditengah jalan mereka berjumpa dengan para jago dari perkampungan Pek Hoa San-cung, entah bagaimana jadinya?”
Rupanya Sang Pat dapat menebak apa yang dirasakan dalam hati Siauw Ling, buru buru ia menyambung kembali, “Kami menggunakan kedua ekor anjing raksasa tersebut sebagai penuajuk jalan, mereka dapat menghindari setiap mata-mata perkampungan Pek Hoa San-cung!”
“Mereka sudah berangkat berapa lama?” tanya sang pengemis tua.
“Belum sampai sepertanak nasi lamanya.”
“Kalau begitu mari kita susul mereka!”
“Siauwte akan membawa jalan!” sambil menyimpan sie-poa emasnya mereka segera lari kearah Tenggara.
Malam amat gelap, pemandangan disekeliling mereka susah dilihat jalas. Siauw Ling takut mereka telah salah ambil jalan maka dengan suara berat segera tegurnya, “Saudara Sang, kita jangan lari terlala cepat, jangan sampai kita salah jalan….”
äTak usah toako kuatirkan, siauwte punya perhitungan!”
Siauw Ling tak dapat berbuat apa-apa lagi, terpaksa ia mengintil dibelakangnya.
Kurang leblh satu li kemudian mendadak tamnak sesosok bayangan hitam laksana kilat meluncur datang.
Siauw Ling segera mengempos tenaga telapaknya diangkat keatas siap melancarkan serangan, tapi secara tiba-tiba ia saksikan Sang Pat membentangkan sepasang tangannya, bayangan hitam tadi langsung menubruk kedalam pelukan Sang Pat.
Kiranya bayangan hitam yang meluncur datang tadi bukan lain adalah salah seekor anjlngnya.
Soen Put-shia memiliki pengetahuan amat luas, meski ia tak paham dengan gerak-gerik anjing tersebut, namun ia merasakan keada-an kurang menguntungkan, tak tahan segera serunya, “Aaaah, rupanya telah terjadi peristiwa diluar dugaan!”
Beberapa patah kata tersebut berat bagai-kan martil yang menggoda hati Siauw Ling, sekujur tabuhoya gemetar keras.
“Peristiwa apa yang telah terjadi ayoh cepat kita lari kesana!”
Mengikuti dibelakang anjing tersebut, mereka lari kedepan dengan segenap tenaga.
Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Siauw Ling sekalian amat lihay dan sem-purna sekali, lari anjing raksasa itupun laksana sambaran kilat, maka dalam sekejap mata mereka telah melakukan perjalanan sejauh enam tujuh li.
Ditengah kegelapan malam yang mence-kam tampak sebuah lampu lentera berwarna merah jauh tersungging ditengah angkasa, gulungan ombak yang amat santar bergelora disisi telinga.
Tatkala semua orang angkat kepalanya memandang keluar, terlihatlah Tu Kioe sedang berdiri diatas sebuah jembatan gantung yang menonjol keatas dengan sepasang ta-ngannya memainkan senjata Pit serta gelang perak pelindung tangannya, waktu itu ia sedang melangsungkan pertarungan seru mela-wan seorang lelaki berbaju hitam.
Luas jembatan gantung itu hanya tiga depa lagipula Sudah kuno sekali bentuknya, pertarungan sengit antara dua jago tersehut mengakibatkan jembatan gantung tadi goncang dengan dahsyatnya, suara gemercitan berkumandang nyaring dan setiap saat kemungkinan besar jembatan ambruk dan jatuh kedalam sungai….
Kurang lebih enam tujuh depa dibelakang lelaki berbaju hitam itu berdiri pula seorang lelaki berbaju hitam yang mempunyai pera-wakan badan kurus kecil, tangannya membawa sebuah lampu lentera berwarna merah sebagai penerangan.
Dibawab sorotan sinar lampu tampak dua sosok mayat lelaki berbaju hitam menggeletak diatas tanah, jelas mereka semua terluka diujung senjata Tu Kioe.
Dalam pada itu diujung jembatan gantung tadi tampak bayangan manusia saling berkelebat, secara lapat-lapat tampak sebuah pa-tung yang maha besar berdiri dengan angkernya ditengah kegelapan.
“Aaah! manusia-manusia keparat dari perkumpulan Sin Hong Pang!” Gumam Siauw Ling buru-buru ia lari kedepan dan melon-cat naik keatas jembatan gunung itu.
“Saudara Siauw,” Teriak Soen Put shia “keadaan jembatan gantung itu sudah terlalu parah, mungkin tidak kuat memuat dirimu pula, jangan gegabah…. apa gunanya menempuh bahaya dengan percuma? setelah kita tiba disini rasanya tak usah lari pada mereka lagi. suruh Tu Kioe mengundurkan diri dari atas jembatan-jembatan.”
Siauw Ling menimbang sejenak keadaan situasi diatas jembatan, kemudian menjawab, “Posisi Tu Kiojbardiri pida saat ini Cuma terpaut satu tombak dari permukaan tanah. sekalipun jembatan gantung itu tidak kuat
dan jebol rasanya ia masih sempat meloncat balik ketepian….
“Biarlah siauwte yang menyambnt keda-tangan saudara Tu’ sela Sang Pat sambil memperslapkan senjata Sie-poa emasnya. “Sedang toako temuilah lebih dahulu kedua orang tuamu.”
Tidak menunggu jawaban lagi sang loo-toa dari sepasang pedagang ini segera meloncat naik keatas jembatan teriaknya keras, “Loo jie, cepat mundur dan beristirahat sejenak, serahkan saja manusia ini kepadaku!’
Meski bentakan itu tidak begitu keras, namun Tu Kioe tetap tidak menggubris ucapan tadi, senjata ditangan tetap diputar gencar hal ini jelas menunjukkan bahwa pertarungan tersebut barjalan amat sengit.
Pengalaman Sang Pat amat luas, tatkala ia saksikan Tu Kioe tidak menjawab segera tahulah dia bahwa keadaan sedikit tidak beres, hawa murni dengan cepat disalurkan keseluruh tubuh kemudian menerjang keatas jembatan.
Dalam pada itu Siauw Ling sedang memutar sepasang biji matanya mencari tahu tempat persembunyian kedua orang tuanya, ketika ia tidak berhasil menjumpai Kiem Lan. Giok Lan sekalian, hatinya terasa amat gelisah, pikirnya, “Seandainya kedua orang dayang itu membawa kedua orang tuaku bersembunyi disekitar sini, semestinya sekarang telah mnnculkan diri…. ämengapa hingga kini tidak kelihatan juga batang hidungnya….?”
Belum habis ia berpikir, tampak sesosok bayangan manusia meluncur datang dengan cepatnya-
Ketajaman mata Siauw Ling melebihi orang lain, dalam sekejap mata ia telah saksikan bahwasannya orang itu bukan lain adalah Kiem Lan, maka ia lantas berseru, “Kiem Lan? kedua orangà….”
“Loo-ya serta hujien berada dalam keadaan aman dan tidak kekurangan apa pun jua.” tugas Kiem Lan sambil menerjang kehadapan Siauw Ling. “Sebaliknya Giok Lan telah menderita luka parah, Budak telah memba-wa mereka bersembunyi dibalik semak belukar yang lebar. Hingga kini Tu jie-ya telah membinasakan empat orang musuh tangguh. mungkin isi perutnya telah terluka.
Kongcu! cepatlah tolong dia dan gantikan kedudukannya.”
Siauw Ling tidak membuang banyak waktu lagi, kepada Soao Put shia segera pesannya, “Loocianpwe! aku minta kau suka memeriksa sejenak keadaan luka dari Giok Lan, sedang Boanpwe akan membantu Sang-heng menghadapi musuh tangguh!”
“Aliran air sungai amat deras keadaan situasipun amat berbahaya, lebih baik pertahankanlah keutuhan dari jembatan gantung ini,” pesan sang pengemis.
“boanpwe akan Mengingat pesan itu!” dengan langkah lebar anak mjda itupun berjalan ke atas jembatan.
Sepeninggalnya si anak muda tadi, Soen Pot shia berpaling kearah kiem Lan sambil berkata, “Harap nona suka membawa aku sipenge-mis tua ketempat persembunyian, akan coba kuperiksa keadaan luka dari nona Giok Lan.”
Kiem Lan mengiakan, buru-burn ia berlalu untuk membawa jalan.
Dalam pada itu Siauw Ling telah mendekati jembatan gantung, sedang Sang Pat telah tiba diatas jembatan menggantikan kedudukan Tu Kioe.
Sedang Tu Kioe sendiri dengan langkah sempoyongan mengundurkan diri dari atas jembatan, baru saja tiba dihadapan Siauw Ling dan berteriak “Toako” badannya tidak kuat mem pertahankan diri, lagi. ia jatuh rubnh keatas permukaan tanah.
Laksana kilat Siauw Ling ayunkan tangannya mencengkeram tubuh Tu Kioe, tampak dada serta kaki kirinya telah terluka lebar, darah segar membasahi seluruh tububnya dan keadaan mengenaskan sekali.
“Saudara Tu!’ segera serunya dengan nada sedih. “Korbankan semangatmu siauw-heng akan membantu dirimu untuk memberi bantuan tenaga,jangan keburu pingsan!”
Dengan tangan kiri menahan tubuh Tu Kioe ia tempelkan telapak kananya keatas punggung Tu Kioe dan salurkan hawa murninya lewat jalan darah Ming Bou-hiat diatas tubuh Tu Kioe.
Beberapa saat kemudian terdengar Tu Kioe menghembuskan napas panjang dan membuka sepang matanya
“Toako, ilmu silat siauwte amat…. cetek hampir-hampir saja aku tak melindungi keselamatan kedua orang tuamu, tapi aku telah berusaha dengan segenap tenaga….”
Berbicara sampai disitu, ia pejamkan kem bali sepasang matanya.
“Aaaai….! atas bantuan Tu-heng. siauw-heng pun merasa amat berterima kasih sekali.
la merandek sejenak, kemudian sambung nya, “Lukamu tidak ringan, tidak baik diguna-kan untuk banyak berbicara. Cepatlah salur kan hawa murnimu untuk bergabung dengan hawa murni yang ku alirkan kedalam tubuhmu, berusahalah tenangkan peredaran darah mu kemudian siauw-heng akan mengobati luka-lukamu itu.”
“Terima kasih Toako!” sekilas senyuman tiba-tiba tersungging diatas wajah Tu Kioe yang cidera.
Teringat kegagahan serta semangat jantan saudaranya ini Siauw Ling merasa hatinya pedih bercampur terharu, sembari salurkan hawa murninya ia mengobati luka dalamnya yang parah, iapun memeriksa mulut luka di atas dada serta kaki kiri saudaranya itu. untung luka bacokan itu tidak sampai melukai tulang.
Setelah memperoleh bantuan hawa murni Siauw Ling yang tiada hentinya mengalir masuk kedalam tubuhnya itu, daya tahan Tu Kioe pun berangsur pulih, rasa lelah sehabis bertempur pun menjadi berkurang.
Menengok keatas kening Siauw Ling yang basah kuyup oleh keringat, saudara kedua dari sepasang pedagang ini merasa sangat ter haru bisiknya, “Berkat bantuan hawa murni dari toako, saat ini siauwte sudah dapat mengatur pernapasan sendiri. Toako. kaupun boleh beristirahat sejenak….”
Tiba-tiba…. Suatu jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang datang memo-tong ucapan Tu Kioe yang belum selcsai.
Semua orang berpaling, tampak lelaki berbaiju hitam yang melangsungkan pertempuran sengit melawan Sang pat itu berhasil dipukul jatuh dari atas jembatan gantung
Jeritan ngeri tadipun dengan cepat tenggelam ditengah aliran sungai yang deras dibawah jembatan….
Siauw Ling segera ambil keluar sebung-kus obat luka dari sakunya, membububi obat tadi keatas mulut luka, membungkusnya dengan kain baju kemudian berpesan, “Saudara Tu, baik-baiklah merawat lukamu, aku akan membantu saudara Sang. “
Sementara itu, dan pihak lawan telah muncul dua orang lelaki kekar untuk menggantikan rekan-rekannya yang menemui naas.
Sang Pat siapkan senjata Sie-poanya untuk menyambut kedatangan mereka. namun Siauw Ling dengan keluarkan ilmu meringankan tubuh delapan langkah naik kelangitnya telah melampaui tubuhnya.
Begitu si anak muda itu melayang turun ke atas tanah, jaraknya dengan Sang Pat telah terpaut delapan depa lebih, segera pesan nya, “Saudara Sang, cepat kembali dan rawat luka dari saudara Tu. biarlah siauw-heng yang harus membuka jalan!”
Sang Pat mengerti sampai dimanakah ta-raf kepandaian siiat yang dimiliki si anak muda itu, ia tidak membantah dan segera mengiakan.
“Toako hati-hatilah menghadapi mereka!” Dengan mengempos tenaga Siauw Ling maju menyongsong kehadiran musuh-musuhnya.
Pada waktu itu lelaki yang membawa lentera tersebut telah mengundurkan diri kebelakang setelah menyaksikan rekannya dihan-tam jatuh kedalam sungai oleh senjata sie-poa Sang pat.
Gerakan tubuh Siauw Ling amat cepat. dalam sekejap mata ia telah mengejar sampai dihadapan lelaki berlentera merah itu.
Menyaksikan jalan perginya terhadap musuh, terpaksa lelaki itu memindahkan lenteranya ketangan kiri, sedang tangan kanannya meloloskan tubuh Siauw Ling.
Pada saat ini hati Siauw Ling penuh dili-Puti rata sedih, gusar dan gelisah, serangan yang dilancurkan pun amat berat sekali.
Traang! Ditengah suara bentrokan nyaring yang memekikan telinga. golok lelaki tadi kena dipukul sampai mental kesamping.
Bersamaan dengan gerakan pedangnya membal kemuka, Siauw Ling mengirim pula serangkaian tendangan kilat berantai.
Cepat-cepat lelaki itu menghindar, ia berhasil menghindari ancaman kaki kiri lawan, namun tendangan kaki kanan berikutnya tak bisa dihindari lagi duuuk! lambungnya kena tertendang telak, seluruh tubuhnya mencelat ketengah udara dan bersama sama lampu lentera tadi terbanting diatas jembatan.
Dengan padamnya lampu lentera tadi. suasana diatas jembatanpun seketika jadi gelap gulita.
Sianw Ling membentak keras, pedangnya berputar dan melancarkan serangan terlcbih dahulu.
Lelaki yang berada dipaling depan itu menggunakan sebuah golok raksasa sebagai senjatanya, melihat datangnya tusukan buru-buru ia babat senjata kedepan.
Rupanya orang itu terlalu mengandalkanj kekuatan tangannya, ketika dilihatnya Siauw Ling menyambut golok raksasanya dengan keras lawan keras, ia menduga senjata lawan pasti akan berhasil dipukul lepas.
Siapa smgka peristiwa yang kemudian terjadi jauh diluar dugaannya, tatkala golok serta pedang itu saling membentur, dari ujung pedang Siauw Ling seolah olah muncul suatu tenaga yang berwujud, kekuatan dahsyat yang dipancarkan keluar dari tangannya tadi dengan amat gampang berhasil dibuyarkan. sementara pedang lawan laksana kilat telah membabat kebawah-
Terasa cahaya tajam berkelebat didepan mata, lelaki bersenjata goiok tadi menjerit ngeri, lengan kanannya tahu-tahu sudah kena terbabat kutung menjadi dua bagian
Telapak kiri Siauw Ling bergerak cepat…. Duuuuk! sebuah pukulan bersarang pula didepan dadanya, membuat tubuh lelaki ter-sebut mencelat kebelakang dan roboh dibawah jembatan.
setelah pukul roboh lelaki tadi, kaki kanan Siauw Ling bergerak cepat mencukil golok raksasa lawannya yang menggeletak diatas tanah, kemudian dengan tangan kiri mencekal gagang golok tadi ia sambit senjata tersebut sebagai senjata rahasia mengancam lelaki kedua yang telah menyongsong datang itu.
Ketika menyaksikan rekannya telah roboh ditangan musuh belum sampai dua jam, lelaki itu sudah. tertegun, kini menyaksikan datangnya sambaran golok raksasa ia makin mendekat.
Disaat-saat yang paling kritis itulah, ba-dannya buru-buru berkelit kesamping untuk menghindarkan diri.
Luas jembatan gantung Itu cuma tiga depa dalam keadaan gugup lelaki itu menghindar kesamping, maka tidak ampun lagi kepalanya menumbuk diatas tiang pengaman jembatan tadi membuat kepalanya pusing tujuh keliling dan mata terasa berkunang kunang.
“Sreet! golok rakiasa tadi dilringi desiran angin tajam telah menyambar lewat dari sisi tubuhnya sekalian membawa pergi lengan kirinya yang tak sempat menghindar.
Lelaki itu menjerit kesakitan, pikiran ke dua belum sempat berkelebat dalam benaknya sebuah tendangan kilat telah membuat badannya mencelat jatuh dari jembatan.
Kiranya Siauw Ling merasa amat kuatir atas kehadiran bala bantuan dari Shen Bok Hong, maka ia merasa pada saat ini harus menggunakan gerakan yang paling cepat untuk menyelesaikan musuh-musuhnya, agar ia punya kesempatan membawa kedua orang tuanya meloloskan diri dari situ.
malam semakin amat gelap, rupanya musuh-musuhnya yang ada diseberang jembatan tak seorangpun yang tahu akan hasil pertarungan rekan rekannya, meski kedua orang lelaki itu Sudah roboh namun tiada bala bantuan yang muncul iagi.
Mengambil kesempatan baik itulah Siauw Ling mengempos tenaga dan menerjang turun dari jembatan.
Pada waktu itu diujung jembatan tampak dua orang lelaki kekar bersenjata golok berkepala setan sedang melongok kearah jembatan.
Jelas mereka tidak pernah menyangka bahwa kedua orang bala bantuan yang barusan dikirim. dalam sekejap mata Sudah roboh binasa diujung pedang Siauw Ling.
Gerakan tubuh si anak muda itu luar biasa cepatnva, menanti kedua orang itu sadar akan bahaya. Siauw Ling telah tiba diujung jembatan pedang ditangan kanannya dengan gerakan,” Hay Hoe Sin Loo “menciptakan selapis bayangan pedang yang menyilaukan mata menyerang orang yang ada disebelah Selatan, sedang tangan kirinya dengan ilmu totok Siauw Loo Sin Ci menyerang musuh di Utara.
Sungguh dahsyat ilmu totokan tersebut, lelaki diarah Utara itu belum sempat melihai jelas wajah Siauw Ling, jalan darah penting Hian Kie Hiat diatas dadanya sudah terhajar telak oleh ilmu Siauw Loo Sin Ci tersebut, tidak sempat berteriak lagi badannya roboh keatas jembatan.
Sedangkan orang yang ada disebelah selatan tatkala menyaksikan berlapis lapis bayangan pedang mengurung kepalanya, dengan. gugup putar goloknya untuk menangkis, siapa sangka tangkisannya mengenai sasaran yang kosong.
Suatu ingatan yang mengerikan terbayang diatas wajahnya, buru-buru ia putar badan siap melarikan diri, sayang tidak sempat lagi. cahaya pedang berkelebat lewat diatas kepalanya, batok kepala yang gede itupun kena terbabat kutung dan rontok keatas tanah.
Dalam sekejap mata Siauw Ling telah menyelesaikan lagi dua orang musuhnya, ia teruskan langkahnya menerjang kedepan.
Mendadak…. cahaya api berkilauan, ditengah kegelapan malam mencekam secara tiba-tiba muncul dua buah lentera yang menerangi seluruh ruangan.
Siauw Ling menghembuskan napas pan-jang, ia mendongak dan terlihatlah sebuah patung raksasa berwajah seram berdiri dengan seramnya kurang lcbih empat tombak didepan mata.
Delapan orang lelaki berbaju serba hitam dengan senjata terhunus berdiri berjajar-jajar dihadapan patung area tersebut.
Empat orang lelaki tinggi besar berbulu hitam, bercelana pendek dan ditengah mirip maunsia, setengah mirip kunyuk berdiri di-kedua belah samping patung tadi.
Sedangkan dibelakang area tersebut tampak bayangan manusia bergerak rapat, entah berapa puluh orang jago bersemayam disitu.
“Sin-Hong Pangcu!” tegur Siauw Ling sambll menyilangkan pedangnya didepan dada. “Kalaukau ingin angkat nama didalam dunia persilatan. mengapa tidak berani menjumpai orang dengan wajah aslimu? Hum! berlagak misterius menyaru jadi malaikat, kau anggap bisa menakut-nakuti orang?”
“Siapa kau? Besar benar bacotmu ‘” seren-tetan suara yang merdu dan nyaring mun-cul dari balik patung area.
Sepasang alis Siauw Ling berkerut pikirnya, “Kalau didengar dari suara pembicaraan-nya, jelas dia adalah seorang wanita. sungguh tak nyana seorang perempuan ternyata dapat menciptakan sebuah patung patung yang amat besar dan berwajah seram untuk bersembunyi didalamnya.
Berpikir sampai disitu, ia menjawab ketus ‘Cayhe Siauw Ling, ling, sungguh jarang sekali menjumpai seorang perempuan ber-main setan didalam dunia kangouw macamkau…. Heee h-ee…. patung seram in hanya bisa menakut-nakuti manusia dungu belaka, kalau kau ingin meminjam keseraman tersebut untuk menjagoi dunia kangouw
Hoooo hoooo…. apa kau tidak merasakan bahwa perbuatanmu itu sangat menggelikan sekali?”
Rupanya orang yang berada dibalik patung berwajab seram itu dibikin gusar oleh ucapan Siauw Ling, dari sepasang matanya yang gede bagaikan kepalan tangan itu seca-ra tiba-tiba memancar keluar dua rentetan cahaya tajam.
“Kalian mundur semua, akan kujumpai sendiri manusia yang bernama Siauw Ling ini!” serunya dingin.
Delapan orang lelaki berbaju hitam yang mencekal pedang itu sama-sama mengiakan dan mengundurkan diri kebelakang patung.
Pada saat ini pengetahuan Siauw Ling da-lam menghadapi musuh tangguh indah amat luas sekali, sejak kehadirannya ditempat itu secara diam-diam ia awasi terus gerak-gerik keempat manusia aneh berbulu hitam itu, menyaksikan gerak-geriknya yang lambat tonjolan otot-otot tubuhnya yang kekar ia mengerti bahwa kekuatan tubuh keempat orang Itu luar biasa sekali, diam-diam ia pertingkat kewaspadaannya.
Sementara itu dari balik patung area telah berkumandang keluar suara teguran yang amat merdu
“Hey Siauw Ling, silahkan mulai turun tangan!”
“Kau bersembunyi dibalik patung area, secara bagaimana kita bisa bergebrak?”
“Haaa…. haaa…. patung area inilah Sin Hong Pangcu, silahkan kau turun tangan dengan sesuka hatimu!”
Siauw Ling awasi patung area tersebut tampak tinggal patung ada satu tombak lebih empat lima, seluruh tubuhnya dicat warna-warni, ia tak tahu bagaimana harus turun tangan menghadapinya, maka ia berseru, “Cayhe akan menanti pelajaran, silahkan pangcu turun tangan lebih dahulu!”
Diluar ia berkata demikian,” dalam hati pikirnya
“Selama kau masih bersembunyi dalam. patung area, akan kulihat dengan cara apa-kah kau hendak turun tangan.”
Meski dalam hati berpikir. namun ia tak berani berlaku ayal, diam-diam si anak muda inipun bikin persiapan.
….”Selama kan masih bersembunyi dalam patung area, akan kulihat dengan cara apa-kah kau hendak turnu tangan.”
Meski daiam hati berpikir. namun ia tak berani berlaku ayal, diam-diam si anak muda inipun bikin persiapan.
Dalam pada itu Siauw Ling telah berada kurang lebih satu tombak dihadapan patung area tersebut, tatkala di rasakan datangnya semburan cahaya putih itu amat santar, buru buru pedangnya dibabat keluar untuk menangkis.
Traaang….! ditengah bentrokan nyaring cahaya putih tersebut mental kesamping setelah termakan tangkisan pedang Siauw Ling.
dibawah sorotan cahaya lentera, tampakalah cahaya putih yang barusan terpental itu bukan lain adalah sebilah pedang pendek yang panjangnya kurang lebih satu depa.
Setelah terpental kesamping, pedang pendek itu berputar setengah lingkaran ditengah udara kemudian secara tiba-tiba meluncur kembali kedalam mulut area yang gede dan lebar itu.
Siauw Ling tertawa dingin, serunya: “Diujung pedang pendek itu nona Ikat dengan seutas tali yang kuat, tentu saja senjata tadi bisa kau gunakan dan tarik kembali dengan sekehendak hati sendiri. Hmml permainan semacam ini tak dapat dikatakan sebagai suatu permainan yang kukoay dan mengejutkan hati.”
Baru saja ia menyelcsaikan kata-katanya, tiba-tiba terdengar suara kemeresek yang amat nyaring berkumandang diangkasa, lengan kanan sang arca yang gede dan kasar itu perlahan-lahan melayang datang.
Siauw Ling silahkan pedangnya didepan dada siap menghadapi musuh. sepasang matanya dengan tajam mengawasi terus gerak gerik lengan arca itu
“Siauw Ling!” terdengar Sin Houg Pangcu berseru. “Kalau punya nyali beranikah kau maju sedikit lagi kedepan???”
“Kenapa tidak berani???” jawab Siauw Ling sambil melangkah maju kemuka.
“Saudara Siauw!!!” tiba-tiba Soen Put Shia yang ada dibelakang berseru. “Jangan sampai terperangkap oleh siasat licik lawan!”
Sesosok bayangan manusia diiringi desiran angin tajam meloncat datang, sebelum tubuhnya tiba angin pukulan telah dilepaskan kedepan, segulung angin tajam dengan cepat menghantam telak diatas dada patung area tersebut….”
Tampak patung area yang tinggi besar itu bergoyang tiada hentinya. namun tetap tak bergerak barang sedikitpun jua,
Dengan tangan kanan Soen-put-shia melancarkan pukulan udara kosong. tangan kirinya segera menyambar lengan kiri Siauw Ling dan menyeret si anak muda itu mundur kebelakang.
“Saudara Siauw, saat ini keadaan kita sangat tidak menguntungkan, apa gunanya mengumbar hawa amarah dengan dia?” bisiknya lirih.
“Ucapan locianpwe memang tidak salah, tetapi ia menghadang jalan perginya kita kalau tidak kita tundukan lebih dahulu, dari mana kita bisa melewati rintangan ini?”
“Kenapa kita tidak memutar saja dari samping mereka?”
Dibelakang patung arca itu masih tersem-bunyi tidak sedikit jago lihay, apakah mereka rela melepaskan kita dengan begitu saja….
Bicara sampai disitu, dengan suara lirih si anak muda itu menambahkan, “Saat ini luka yang diderita Tu Kioe serta Giok Lan tidak ringan, dewasa ini sudah tiada kemampuan untuk bertempur lagi, sedangkan kedua orang tuaku pun tidak pernah belajar ilmu silat. seandainya kita tak dapat mengusir gerombolan Sin Hong Pang ini dan memukulnya mundur, aku rasa sulit bagi kita untuk melewati mara bahaya ini.”
“Setelah aku sipengemis tua menerjunkan diri kembali kedalam dunia persilatan, dari anak murid perkumpulan kami aku dapat tahu tentang keadaan dari patung area ini Tanda pengenal dan perkumpulan Sin Hong Pang ini aku dengar dibuat oleh dua belas orang ahli kenamaan selama sepuluh tahun lamanya, alat rahasia yang dipasang dalam patung tersebut luar biasa dahsyatnya, bukan saja tangan serta kakinya dapat berputar sambil melancarkan serangan. bahkan dapat pula melepaskan tiga puluh enam macam senjata rahasia yang berbeda. Aku dengar diantara senjata rahasiapun ada kabut beracun serta air beracunnya merupakan senjata yang terkeji. Barang siapa berani melang-kah satu tombak dari hadapannya, serta iapun memiliki llmu silat yang bagaimana lihay pun serta gerakan tubuhnya bagaimana cepatpun jangan harap bisa terhindar dari halangan kabut beracun serta air beracunnya!”
“Jadi kalau begitu patung arca dari perkumpulan Sin Hong Pang ini tak dapat di-layani olah siapapun?”
“Setiap kabar berita yang tersiar ditempat luaran, kebanyakan pasti ditambahi dengan kata-kata gede yang mengibul, sulit bagi kita untuk menduga keadaan sebenarnya. Tempat mereka mengatakan patung ini sangat lihay, sekalipun ada kata kata yang sengaja dibesar-besarkan, rasanya kenyataan tidak akan terpaut terlalu jauh. Kini kau adalah satu satunya tuan penolong yang dapat menyelamatkan umat Bulim dari kemusnahan, disamping itu harus melindungi pula keselamatan kedua orang tuamu, Apa bila bukan terdesak oleh keadaan lebih baik janganlah mengambil jalan untuk adu jiwa, seandainya memang tiada jalan lain…. yaah apa boleh buat, tetapi selama masih ada kesempatan untuk menghindar. hindari-lah jalan yang menempuh bahaya, lagi pula pihak lawan bukan menghadapi dirimu dengan tangan telanjang, apa sih gunanya mengumbar napsu terhadap senjata rahasia, ka-but beracun serta air beracun?”
“Lain bagaimana menurut pendapat Loo-Cianpwee?”
Menurut pendapat aku sipengemis tua, lebih baik kita lanjutkan perjalanan dengan memutar saja, asalkan kita mendekati ruang lingkungan satu tombak darinya meski ada senjata rahasia rasanya tidak nanti bisa me lukai kita.”
“Baiklah. kalau begitu aku akan menuruti pendapat locianpwee saia, kini biarkanlah bosnpwe menghadapi musuh sedang locianpwee suruhlah mereka cepat-cepat menyebrangi jembatan.”
“Tak usah, aku sipengemis tua telah menjanjikan tanda peringatan dengan Sang Pat sekalian!”
Berbicara sampai disitu, ia mendongak dan bersuit panjang
Sementara Itu Siauw Ling pun merogoh keluar segenggam mata uang, katanya dengan suara lirih, “Meski patung arca lni dibuat amat sem-purna. namun tubuhnya yang besar dan be-rat sulit untuk bergerak secara leluasa, asal kita dapat menghalangi beberapa orang anak buahnya jangan sampai menggerakkan patung arca itu. rasanya itu sudah lebih dari cukup.”
“Keadaan situasi yang kita hadapi amat kritis, aku rasa saudara Siauw pun tak usah ragu-ragu untuk turun tangan melukai musuh kalau kita tidak sedikit tunjukkan kelihayan, darimana pihak lawan bisa kita bikin jeri?”
“Ucapan locianpwee tepat sekali….” si anak muda ini merandek sejenak, kemudian sambungnya dengan suara lantang, Hey orang-orang dari perkumpulan Sin-Hong Pang, dengarkan baik baik perkataan-ini! Cayhe sekalian lewati tempat ini sama sekali tidak membawa maksud untuk bergebrak melawan cuwi sekalian. tetapi seandainya cuwi sekalian mendesak terus menerus jangan salahkan kalau cayhe akan turun tangan keji!”
“Heee…. heee…. kiranya setengah harian kalian bercakap-cakap, apa yang dibicarakan bukan lain adalah siasat untuk melarikan diri,” jengek Sin Hong, Pangcu sambil tertawa dingin.
Tampak batok kepala patung arca yang berwajah seram itu perlahan-lahan bergebrak serentetan cahaya mata yang tajam menatap kedua orang itu tiada hentinya.
“Ehmm, perkataan locianpwee sedikitpun tidak salah,” bisik Siauw Ling lirih. “Patung arca ini benar-benar diciptakan dengan amat sempurna sekali!”
“Siauw Ling!” kembali terdengar Sin Hong Pangcu berseru sambil tertawa dingin, “Pun-pangcu sudah lama mendengar nama besar-mu dalam dunia kangouw, ini berani kah kau bertarung melawan aku”
“Caybe sama sekali tidak jeri terhadap-. diri nona, namun berhubung malam ini aku masih ada banyak urusan yang harus segera diselesaikan maka tak dapat terlalu lama aku berdiam disini, seandainya dikemudian hari aku punya kesempatan untuk berjumpa lagi dengan pangcu, aku orang she Siauw pasti akan mohon petunjak dari satu tombak di-hadapan pangcu”
Sungguhkah ucapanmu itu?”
“Tentu saja sungguh.”
“Lepaskan mereka pergi, siapapun dilarang untuk turun tangan menghalangi mereka,” tiba-tiba Sin Hong Pangcu berteriak lantang.
Peristiwa ini bukan saja jauh berada di-luar dugaan Siauw Ling sampai-sampai Soen Put shia yang berpengetahuan banyak dan berpengalaman luaspun dibikin tercengang oleh kejadian itu.
Sementara itu tampaklah empat orang manusia berbulu hitam itu sama-sama menggotong arca tadi mengundurkan dirl sejauh tiga tombak kebelakang sehingga terbukalah sebuah jalan lewat.
“Locianpwee! bisik Siauw Ling lirih. “Pengetahuanmu sangat luas, dapatkah kau lihat sebenarnya apa yang telah terjadi?”
“Jika didengar dari suara yang berkumandang keluar dari balik patung arca itu, rupanya Sin Hong Pangcu adalah seorang perempuan!”
“Sedikitpun tidak salah.”
“Kalau begitu lapat sekali, selama hidup aku sipengemis tua paling takut dengan sejenis manusial”
“Siapa yang kau takuti?”
“Perempuan, setiap perbuatan yang dilakukan perempuan tak pernah dapat aku tebak dengan tepat.”
Sementara mereka masih bercakap-cakap. Sang Pat dengan membawa kedua orang tua Siauw Ling. Tu Kioe serta Kiem Lan, Giok Lan telah menyebrangi Jembatan gantung. kedua ekor anjing raksasa itupun ikut menguntil dibelakangnya Sang Pat.
“Toako!” bisik lootoa dari sepasang pedagang ini dengan suara amat lirih. “Perintah hancurkan jembatan gantung ini? Tatkala Siauwte sedang menyebrangi jembatan tadi, dapat kulihat dua kuntum bunga api meluncur ketengah angkasa. kemungkinan besar para pengejar dari perkampungan Pek hoa-san-cung telah tiba!”
Mendengar kabar tersebut sepasang alis Sianw Ling kontan berkerut.
“Kalian cepatlah berlalu dari sini. lebih baik pilih jalan kecil yang sunyi dan terpencil, sedang kejadian selanjutnya biarlah di-hadapi olehku serta Soen Loocianpwee dua orang. Tindakan pihak Perkumpulan sin Hong Pang yang memberi jalan lewat bagi kita sulit diduga maksud tujuannya, kemungkinan besar mereka akan berubah pendapat!”
Sang Pat tidak berani banyak bicara lagi, sambil menggendong Siauw-thay-jien dan melayang Tu Kioe segera berlalu terlebih dahulu.
Kiem Lan dengan menggendong Siauw hu-jien serta memayang Giok Lan menyusul di-belakang Sang Pat.
Menyaksikan kedua orang tuanya Itu menderita akibat perbuatannya selama ini dalam dunia – persilatan, Siauw Ling merasa amat sedih sekali, tak terasa titik-titik air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya.
Agaknya Sin-Hong pangcu adalah seorang perempuan yang pegang janji, selama rombongan Sang Pat mengundurkan diri dari situ, mereka sama sekali tidak turun tangan menghadang.
Menanti Sang Pat semuanya telah pergi jauh, Siauw Ling baru berbisik kepada Soen Put shia ;
“Loociaupwee, kitapun harus segera mengundurkan diri, “Baik, alangkah baiknya kalau kau menyapa dulu sang pangcu dari perkumpulan Sin Hong Pang!”
Siauw Ling tidak menjawab. pikirnya dalam hati, “Ditinjau dari situaisi yang terbentang di-depan mata malam ini, seandainya Sin Hong Pangcu benar-benar turun tangan, mungkin kedua orang tuaku, serta Tu Kioe dan giok Lan yang terluka sukar untuk lolos dari sini dalam keadaan selamat, aaai memang sepantasnya aku menyapa dulu kepada dirinya “
Segera ia menjura kearah patung dan ber-seru, “Baik hati pangcu yang ditujukan pada malam ini, aku orang she-Siauw akan ingat selain dalam hati, kemudian hari aku pasti akan membalas kebaikan ini.”
“Tak usah berterima kasih lagi, nah cepatlah berlalu!”
“Ayo jalan,” bisik Soen Put-shia, sambil menarik tangan Siauw Ling, mereka segera berlalu dari situ.
ilmu meringankan tubuh yang dimliki ke dua orang ini amat sempurna, dalam sekejap mata mereka telah berhasil menyusul Sang Pat sekalian.
Menanti mereka telah bergabung dengan rombongan, Soen Put-shia menghembuskan napasnya panjang katanya, “Saudara Siauw, kalau didengar dari nada ucapan Sin-Hong Pangcu barusan. rupanya mereka tidak mengandung rasa permusuhan dengan dirimu!”
“Hingga kini boanpwee pun masih belum mengerti apa sebabnya secara tiba-tiba ia bisa buyarkan rasa permusuhan dan menjadi sahabat.
Aaaal hati kaum perempuan memang paling sukar diduga, lebih baik tak usah kita pikirkan lagi, oooh yaaa, ada satu persoalan penting hendak kubicarakan dengan dirimu, entah saudara siauw hendak memutus-kan secara bagaimana?”
‘Urusan apa?”
“Dewasa ini makin tersohor namamu dalam dunia persilatan, semakin banyak permusuhan yang kau ikat, terutama sekali Shen Bok Hong, ia telah menganggap dirimu sebagai duri diatas mata. Kekuasaan serta pe-ngaruh perkampungan Pek Hoa sancung amat besar, aku rasa bahkan ada diatas partai-partainya besar dewasa ini. sedang kau dengan sendirinya berubah jadi permimpin di-antara para jago-jago dikalangan lurus, kekacauan yang terjadi dalam Bu-lim saat ini tak akan bisa tenang kembali dalam tiga im tahun mendatang, aku pengemis tua menasehati dirimu lebih baik pikullah beban ini.
tentu saja aku akan membantu dirimu dari samping. sekalipun mati juga tidak menyesal. Namun ayah serta lbumu merupakan suatu resiko yang amat besar, barang siapapun berhasil menawan kedua orang tua itu berarti dapat menundukkan dirimu, memaksa kau berubah pikiran hingga tenagamu di-gunakan orang, maka kita harus pikirkan hal itu dengan serius.”
Siauw Ling monghembuskan napas panjang mulutnya bungkam dalam seribu bahasa.
Oleh karena itu persoalan yang paling penting dewasa ini adalah menghantarkan orang tuamu kesatu tempat yang aman dan rahasia, dengan demikian kau bisa menghadapi musuh tangguh dengan sepenuh hati.” Soen Put shia menambahkan,
“ucapan loocianpwee sedikitpun tidak salah tapi dimanakah letak tempat yang aman itu?”
“Markas besar perkumpulan Kay pang kami termasuk daerah yang aman, cuma ayah ibumu mungkin merasa seditik dan kurang leluasa karena setiap hari harus bergaul dengan kaum kaum pengemis.”
“Meskipun markas besar perkumpulan lo cianpwee dijaga amat ketat, tapi sayang seribu kali sayang dalam kubu perkampungan itu tersendiri sudah tersusup mata-mata dari perkampungan Pek-Hoa san-cung. dan sean-dainya kedua orang tuaku berdiam didalam markas besar perkumpulan locianpwe, mungkin kabar berita ini dengan cepat akan tersiar kedalam telinga Shan Bok Hong….”
“Sungguhkah ucapanmu itu?”
“Loocianpwee. sebarusnya kau tah bukan bahwa aku tak pernah bicara tak karuan sebelum ada bukti? Bukan saja dalam tubuh perkumpulan loocianpwee saja yang telah di susupi mata-mata Shen Bok Hong, bahkan dalam setiap partai besar yang berdiri de-wasa ini telah disusupi oleh mata-mata Shen Bok Hong tidak terkecuali perkumpulan Sin Hong Pang.”
“Turun temurun anggota perkumpulan Kay-pang kami dianggap orang sebagai ma-nusia paling setia kawan. seandainya benar benar terjadi peristiwa macam ini, ooh! benar-benar suatu kejadian yang memalukan sekali”
la merandek sejenak, lalu menambahkan: “Saudaraku tahukah kau siapakah orang itu
“Tatkala Shen Bok Hong mengumpulkan mereka, pada wajah mereka memakai keru-dung hitam semua, sehingga sulit bagi boan-pwe untuk mengenalinya.”
“Telah lama aku sipengemis tua tidak mencampuri urusan perkumpulan, tetapi persoalan ini amat serius sekali, tak bisa tidak aku harus selidiki orang itu sampai dapat.”
Siauw Ling menghela napas rlngan. bibir nya bergerak seperti mau mengucapkan sesuatu namun akhirnya dibatalkan
Dalam hati si anak muda itu sadar bahwa masalah ini amat serius dan besar akibatnya sehingga bila ia salah bicara kemungkinan besar akan menimbulkan pertumpahan darah dalam tubuh perkumpulan itu sendiri. maka sebelum mendapat bukti yang nyata ia tidak berani sembarangan bicara.
Soen Put-shia mendehem ringan, lalu ber kata kembali, “Ketika Shen Bok Hong menderita luka parah tempo dulu, seandainya para jago yang mengejarnya dia mau bersabar betul mencari dengan seksama kemudian menghukum mati dirinya, dunia persilatanpun tidak nanti akan jadi kacau macam ini hari.
Aaaai. membabat rumput tidak ke akar-akarnya, timbullah bibit bencana seperti sekarang ini, mungkin kejadian ini jauh diluar dugaan para jago yang mengejar gembong iblis tersebut dahulu.”
“ilmu silat yang dimiliki orang Ini bukan saja amat sempurna dan sukar diukur, kelicikan serta kekejamannya sukar ditandingi pula oleh orang lain, yang aneh mengapa justru manusia semacam ini berhasil mengumpul-kan jago Bu lim sebegitu banyak untuk jual nyawa kepadanya?”
“Orangnya pandai mengumpulkan orang. akalnya licik hatinya kejam dan ilmu silat-nya lihay, tentu saja namanya cepat menjulang keangkasa….” pengemis tua itu merandek sejenak lalu melanjutkan
“Kalau memang Kay-pang tak bisa didatangi, lalu bagaimana rencana saudara mengenai kedua orang tuamu?”
“Boanpwee pun tak mengerti dimanakah merupakan tempat yang aman”
‘Saudaraku, kau harus menyelesaikan dahulu masalah kedua orang tuamu secara baik-baik:, dengan demikian kau baru dapat bertindak leluasa dalam dunia persilatan. Menurut pandangan aku sipengemis tua, nama besarmu dewasa ini sud h menggetarkan dunia kangouw, dua tiga tahun kemudian kau pasti akan diangkat sebagai pemimpin Bu-lim dan bersaing dengan Shen Bok Hong serta siauw Yauw-cu. selama ratusan tahun belakangan belum pernah dunia kangouw mengalami kekacauan seperti ini hari, ini merupakan jaman yang paling mengenaskan bagi umat kangouw, bukannya aku sipe-ngemis tua menyanjung dirimu, tapi ditinjau dari situasi Bu-lim saat ini kecuali kau seorang rasanya tiada orang kedua yang dapat menyelesaikan keadaan ini”
Jilid 11
“Aai! locianpwee, kau terlalu memuji diri boanpwee!”
“Haaa…. haaa…. seiama hidup aku sipengemis tua tak pernah memuji orang, hanya saja dalam keadaan kacau semacam ini aku harus mohon bantuan bagi umat umat Bu-lim yang menderita….
Mendadak dengan nada rendah tambahnya: “Kedua orang tuamu telah menjadi suatu beban yang amat berat bagimu, Shen Bok Hong tidak nanti adu kekerasan dengan kau. dia pasti akan menggunakan segala daya upaya untuk mencari tahu jejak kedua orang tuamu. Saudara Siauw? aku sipengemis tua rela menggunakan sisa umurku untuk membantu dirimu, asalkan saja kaupun punya kepandaian untuk memikul tanggung jawab berarti ini.”
Siauw Ling dapat menangkap artl lain dari pada kata-kata tersebut, untuk beberapa saat lamanya ia bungkam dalam seribu bahasa.
Si-sie poa emas Sang Pat yang selama lni tidak ikut bicara, tiba-tiba menimbrungnya dari samping,
“Cayhe telah mendapatkan suatu tempat terpencil yang mungkin bisa terlepas dari pengamatan mata-mata Shen Bok Hong.
“Dimana?”
“Tempat Itu letaknya ditengah laut Selatan dan merupakan sebuah pulau kosong yang dikelilingi oleh samudra luas bukan saja tempat aman bahkan pemandangan alam sangat indah. Seandainya Kiem Lan serta giok Lan suka menemani kedua orang tua itu mengasingkan diri disana, kemungkinan besar Shen Bok Hong tidak akan berhasil mengejar mereka.”
….
“Tidak bisa jadi,” seru Soen put shia menyatakan ketidak setujuanya. Penduduk yang berdiam diatas pulau kosong itu cuma beberapa puluh keluarga saja. seandainya kedua orang tua itu tiba diatas pulau tersebut kedatangannya pasti akan menggemparkan seluruh pulau kabar berita ini lambat laun pasti akan tersiar juga kedaratan Tionggoan.”
I Sang-pat termenung kemudian mengang-glk.
“Ucapan locianpwe ada benarnya juga, kita arus mencari suatu tempat terpencil yang sama sekali tidak berpenghuni!”
“Itupun salah besar. Tempat yang harus kita cari adalah suatu tempat yang bisa melegakan hati saudara Siauw, agar dengan demikian saudara Siauw tak usah cabangkan pikirannya lagi untuk merisaukan persoalan itu “
“Aaai….!” Siauw Ling menghela napas pan Jang “Sungguh tak nyana dikolong langit yang begitu luas, ternyata aku Siauw Ling telah menyusahkan kedua orang tuaku sehingga tiada tempat untuk berteduh.”
Toako. kau tak usah sedih. Persoalan ini biar kita pikirkan perlahan-lahan saja, suatu saat kita pasti akan berhasil mendapatkan suatu tempat yang bisa melegakan hati toako.
Sementara pembicaraan itu sedang berlangsung, tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda berkumandang datang-
“Cepat bersembunyi kebalik semak!” bisik Soen Put-shia sambil meloncat kesisi jalan Tampaklah dua ekor kuda laksana kilat cepatnya meluncur datang kearah mereKa berada.
Terdengar orang yang berada dikuda sebelah depan mengomel, “Kita sudah melakukan perjalanan selama sehari semalam. namun sedikit kabarpun belum- ada, aku lihat kita pasti telah salah ambil jalan!
“ToNG-HENG. Legakan hatimu,” jawab orang kedua. “Ramalan sakti siauw-te selamanya tak pernah salah, arah yang benar adalah sini!”
Sang Pat yang bersembnnyi dibalik semak belukar segera berbisik kapada Siauw Ling setelah mendengar ucapan tersebut.
“Toako. bukankah suara lni adalah suara dari Suma Kan siperamal sakti dari Lautan Timur.
“Hmm, memang mirip suaranya. tapi biarlah mereka mendekat lebih jauh dulu baru kita bicarakan lagi.”
Kedua ekor kuda itu bergerak semakin dekat dengan tempat persembunyian beberapa orang itu. ternyata orang yang berada di paling depan memang bukan laiu adalah Suma Kan.
Sedang orang kedua yang berada dibelakang memanggul busur besar dipunggungnya dengan sebuah karung penuh berisi anak panah tergantung dipinggang, dia bukan lain adalah sipanah sakti yang menggetarkan jagad Tong goan Khie adanya.
Sianw Ling segera meloncat keluar dari tempat persembunyiannya seraya berseru, “Suma-heng, kau sedang mengejar siapa?”
Kemunculan Siauw Ling secara mendadak itu mengejutkan hati Suma Kan. buru-buru ia tarik tali les kudaaya sehingga kuda yang sedang lari cepat segera berhenti.
“Aah, Siauw-heng! aku sedang mencari kau!” sahutnya sambil loncat turun dari pelana. ia lari menghampiri si anak muda itu mencekal tangannya dan berseru kembali, “Ooh. sungguh payah mencari kalian….”
Tidak menanti Siauw Ling menjawab. kembali ia berpaling kearah Tong Goan Khie sambil berseru, “Tong-heng, bagaimana dengan ramalan sakti sianw-te?”
“Sungguh luar biasa sekali!”
Si pemanah sakti yang menggetarkan jagad itupun meloncat turun dari atas kuda, berjalan kearab Siauw Ling dan berkata kembali setelah menjura dalam dalam. “Sejak Be Coug Piauw Pacu menderita luka parah, ia telah menyanjung diri Siauw-heng, katanya. Seandainya kita inginkan umat Bu-lim lolos dari penjagalan sadis yang telah melanda sungai telaga saat ini, maka kita harus mengangkat siauw-heng sebagai pemimpin Bu-lim “
“Bagaimana keadaan luka dari Be-Piauw Pacu?” tukas Siauw Ling dengan hati cemas.
“Walaupuu lukanya amat parah, namun berkat pertolongan dari Boe Wie Tootiang itu sang Ciangbunjien dari Bu-tong-pay,jiwanya berhasil diselamatkan!
“Aaaai…. orang budiman selalu dilindungi Thian, semoga kesehatannya lekas pulih kembali seperti sedia kala.”
“Siauw-heng, apakah kau tidak berada sa-ma-sama Tiong Chiu siang-ku?” tanya Suma-Kan.
“Sepasang pedagang dari Tioug-Chiu berada disini!” seru Sang Pat sambil membim-bing Tu Kioe bangun berdiri.
“Bagus sekali, bagus lekali,” teriak Suma-Kan kegirangan, “setelah memperhatikan cu-wi sekalian sehat walafiat.siauwte pun dapat mempertanggung jawabkan diri kepada mereka.”
“Mempertanggung jawabkan apa””
“Para engbiong heohan sama-sama menguatirkan keselamatan kalian berdua. sedang siauwte ngotot bilang kalian sehat semua. Seandainya kamu berdua mendapat celaka, bukankah para enghiong hoohan yang ada di kolong langit akan mentertawakan ramalan dari aku orang she suma tidak cocok?”
“Meski siauwte tidak mati, namun luka tidak ringan!…. Mendadak…. Sang Pat teringat kembali akan sipencuri sakti Siang Whie, buru-buru tanya-nya “Bagaimana keadaan dari pencuri tua itu?”
“Luka yang diderita Siang-heng rada enteng, ia sudah dapat bergerak seperti sedia kala.”
sekarang mereka berada dimana?” sela Soen Put-shia sambil perlahan-lahaan menam-pilkan diri.”
Seraya turun dari kuda, serunya kepada Tu Kioe, “Tu-heng, silahkan naik keatas kuda untuk melanjutkan perjalanan!”
Siauw Ling yang menyaksikan tingkah laku orang itu dalam hati merasa tercengang, pikirnya, “Ketika pertama kali aku berjumpa dengan orang ini. sikapnya angkuh dan dingin, sedikitpun tidak pandang sebelah mata kepada orang lain, mengapa sikapnya pada saat ini bisa berubah jadi begitu hangat dan ramah?
sungguh aneh….”
Terdengar Sang Pat telah berseru: “Ldo-jie, naiklah keatas kuda! setelah si tukang ramal mengalah kepada kita, tidak seharusnya kita tolak tawaran baiknya itu!” “Kalau begitu terpaksa aku harus merepotkan dirimu.” kata Tu Kioe dingin sambil melangkah maju dengan langkah lebar.
“Tu-heng sedang terluka, sudah sepantas-nya kalau siauwte berikan kuda ini kepada-mu.”
“Sinar mata Sang Pat perlahan-lahan beralih kearah Tong Goan Khie. lain berkata pula.
“Toug heng, kami masih ada seorang nona yang menderita luka….”
“Mana orangnya??? silahkan dia naik keatas kuda!”
“Nona Kim Lan!” Sang-pat segera berseru. “Bagaimanakah keadaan luka dari Giok Lan?? apakah ia sanggup melanjutkan perjalanan dengan menunggang kuda??”
“Berkat perawatan dari Soen Locianpwe, hawa murninya berhasil dipulihkan kembali dan luka yang ia deritapun berangsur sem-buh kembali mungkin ia masih sanggup melanjutkan perjalanan dengan menunggang kuda.”
“Bagus sekali! cepatlah bawa dia kemari.”
Kim Lao mengiakan, sambil membopong Giok Lan ia segera menaikkan saudaranya keatas pelana kuda milik Tong Goan Khie.
Siauw Ling merasa tidak tenteram, sebetul nya ia ingin mengucapkan beberapa patah kata rasa terima kasihnya. namun sebelum ia sempat berbicara terdengarlah Soen Put shia telah berseru, “Asal Shen Bok Bong berhasil melintasi Jembatan gantung ini, dia pasti akan menge-jar kita kembali, kita harus cepat cepat ting galkan tempat ini!”
“Baik,” sahut Suma Kan, “siauw-te akan membawa jalan!”
Demikianlah sang peramal sakti dari Lautan timur itupun berangkat terleblh dahulu menuju kearah depan disusul dengan Sang Pat serta yang lain.
Ditengah perjalanan Siauw Ling meuceritakan kisah perjalanan nya selama in yang membuat Suma Kan serta Tong-goan Khie jadi melongo dan terbelalak.
Selesai mendengar kisah tersebut, tak ta-han Tong goan Khie menghela napas dan nenggumam, “Seorang Shen Bok Hong saja sudah cukup memusingkan kepala apalagi kini bertambah lagi dengan seorang Su-hay Koan-cu. Aaaai, kekalutan yang sedang berlangsung dalam dunia persilatan boleh dikata merupakan kejadian yang paling ruwet selama ratusan tahun belakangan ini.”
“Telah lama aku dengar Boe Wie Tootiang itu sang ciangbunjien dari partai Bu tong punya akal yang tajam.” ujar Soen Put-ship. “Seandainya dia dapat memperoleh Satu cara dimana dapat memaksa Su-hay Koan-cu serta Shen-bok Houg harus bertarung sendiri. kemungkinan besar kita bisa mengirit banyak tenaga!”
“Menurut pendapat cayhe, baik Shen Bok Hong maupun Su Hay Koencu semua merupakan manusia yang berakal panjang, rasanya tidak gampang untuk menghasut mereka agar melakukan pertarungan sendiri,” kata Siauw Ling memberi pendapat.
“Bagaimana dengan ilmu silat yang dimiliki Su Hay Koan-cu itu?” tanya Suma Kan.
“Kami tidak sempat bertarung dengan orang ini, jadi sulit untuk memberikan gambaran yang jelas….”
“Aku sipengemis tua tahu sedikit mengerti tentang keadaan Siauw Yauw-cu, orang in bukan memiliki ilmu silat yang amat tinggi bahkan licik dan keji luar bisa Su Hay Koen cu bisa menarik manusia macam Siauw Yauw-cu sebagai pembantu setianya, aku rasa dia pastilah bukan manusia sembarangan.” Baik Tong Goan Khie- maupun Suma Kan sama-sama tidak tahu akan asal usul dari Siauw Yauw-cu, maka untuk beberapa saat mereka tak tahu apa yang harus diucapkan.
Tatkala fajar mulai menyingsing, sampailah Siauw Ling sekalian disebuah dusun kecil karena kesehatan Siauw Hujien yang tidak mengijinkan terpaksa para jago harus beristirahat setengah harian disitu, kemudian menyewa sebuah kereta kuda untuk melanjutkan perjalanan.
Kali ini perjalanan dilakukan seharian penuh, menanti sang aurya telah lenyap dibalik gunung sampailah mereka ditepi sebuah telaga
Siauw-heng.” kata Suma Kan. “Boe Wie Tootiang sekalian pada berkumpul ditepi pantai seberang telaga….”
Siauw Ling mendongak dan menatap kedepan, tampaklah olehnya sebuah bukit nan hijau membentang kedepan mata, pada kaki bukit secara samar-samar nampsk sekelompok rumah gubuk.
Soen Put-shia pun diam-diam mengukur luas telaga itu, ia duga panjangnya Ada dua li dengan luas beberapa li, maka ia lantas berkata, “Disini tiada nampak untuk menyebrangi telaga ini, bagaimana caranya kita bisa ketempat itu?”
“Tak usah loocianpwee risaukan tentang persoalan ini,” sahut Tong Goan Khie. “Cay-he segera akan suruh mereka kirim sebuah perahu kemari!”
Tangan kiri mengambil gendewa, tangan kanan mempersiapkan sebatang anak panah bersuara dan…. Sreeet anak panah itupun di lepas ketengah udara
Beberapa saat kemudiau. anak panah itu berdesir membelah angkasa, dari permukaan telaga pun muncul sebuah sampan kecil yang perlahan lahan bergerak mendekat.
Sungguh cepat laju sampan kecil itu. beberapa saat kemudian sampailah perahu tadi ditepi pantai dimana para jago menanti.
Seorang toojien setengah baya yang menyoren pedang mendayung sampan, dengan ditemani seorang lelaki berbaju biru berdiri keren diujung perahu, dia bukan lain adalah Cheng Yap Cing. sang sute dari Boe Wie Tootiang.
Tidak menanti sampan berbenti, Cheng Yap Cing segera loncat naik kedaratan lalu seraya menjura kearah Tong Goan Khie serta Suma Kan serunya, “Merepotkan kalian berdua Sinar matanya beralih keatas tubuh Soen Put-shia lalu menjura dan menyapa, “Tak nyana loocianpwee pun sudi mengun-jungi tempat ini \”
“Ehmm, suhengmu tak pernah mencam-puri urusan dunia kangouw, aku pengemis tuapun tidak nyana kalau dalam peristiwa kali ini terpaksa ia haruS terjunkan diri lagi kedalam dunia kangouw!”
“Meski gelar suheng kami adalah Boe Wie namun dia adalah seorang pendekar yang berjiwa besar. pertama kali terjadi kegaduhan dalarn Bu-lim. partai kami sudah terseret dalam kancah kekacauan tersebut, berkat kebijaksanaan serta kebesaran Jiwa suheng kamilah maka partai kami tidak tega melihat pertumpahan darah berlangsung terus
“Kenapa? Sauw-lim, Go-bie, Ceng-shia ser ta partai partai besar lainnya sama-sama berpeluk tangan belaka??”
“Suheng kami telah mengutus seorang murid untuk menemui Sauw-lim Hong-tiang dalam Surat mana telah dijelaskan pula bagai-mana keadaan situasi dalam dunia persilatan dewasa ini. utusan kami hingga kini belum kembali, jadi bagaimanakah sikap partai Siauw-lim masih belum bisa dikatakan “
ia merandek sejenak, kemudian tambahnya, “Suheng kami telah menanti kehadiran an-da sekalian. silahkan cuwi semua naik keatas perahu ‘”
Soen Put-shia pun tidak sungkan sungkan lagi, ia segera meloncat naik keatas sampan.
“Cheng-heng. silahkan anda menghantar Soen Loocianpwee serta Siauw-thay hiap sekalian menyeberang lebih dahulu, kami sekalian akan menanti disini.” teru Suma Kan.
Kiranya sampan itu amat kecil sekali. setelah Soen Put-shia. Siauw Ling serta Siauw thay-jien suami istri ditambah pula dengan Kim Lan. Giok Lan naik keatas perahu, di-atas sampan itu sudah tiada tempat luang lagi.
Cheng Yap Ching mengangguk, kepada tootiang pendayung bisiknya, “Tinggallah kau disini menemani mereka biar aku yang pegang kemudi!”
Walaupun usianya masih muda, namun kedudukannva dalam partai Bu-tong tinggi sekali. Toojien itu segera mengiakan dan meloncat naik keatas daratan.
Setelah toosu itu mendarat, Ceng Yap Cing menggerakkan dayungnya. perahu meluncur kedepan taksana kilat, dalam sekejap mata Sampailah mereka ditepi pantai seberang.
Tampaklah Boe Wie Tooiiang yang memelihara jenggot putih sepanjang dada dengan membawa lm Yang cu telah menanti ditepi pantai.
Siauw Ling memutar biji matanya memperhatikan keadaan disekeliling tempat itu, ia temukan tempat itu merupakan sebidang tanah yang berbentuk setengah lingkaran, separuh menempel dibukit dan separuh lagi menempel telaga, pemandangan sangat indah dan amat mempesonakan sekali.
Boe Wi Tootiang rangkap tangannya menjura kearah Soen Put-shia, lalu ujarnya sambil tertawa, “Puluhan tahun lamanya locianpwe mengasingkan diri, tak nyana kali ini terseret kembali kedalam kancah pembunuhan serta kekacauan dunia persilatan.”
“Haaa-haaa…. aku pengemis tua sudah tua dan pikun. dalam keadaan loyo masih bisa menyumbangkan sedikit tenaga bagi keadi-lan Bu-lim, meski harus matipun tidak menyesal!”
Siauw Ling yang teringat kembali akan bndi Boe Wie Tootiang dimana pernah membantu dirinya, buru-buru maju kedepan memberi hormat dan menyapa, “Boanpwe Siauw Ling menghunjuk hor-mat kepada Tootiang.”
“Siauw thay-hiap kini kau telah menjadi orang yang paling dihormati oleh setiap umat Bu-lim, pinto beruntung telah kenal dirimu sejak dulu. tak usah banyak adat!”
“Aaaai…. aku orang she Siauw masih muda dan tolol. budi serta kemampuan apa yang di miliki? pujian dari tootiang malahan membuat boanpwee jadi malu!”
Boe wie Tootiang tersenyum. ia menoleh memandang sekejap kearah Im Yang-cu lalu berkata, “Jie-te, wakililah siauw-heng untuk menyambut para enghiong.”
Sedang kepada Soen Put-shia, sang ketua dari Bu-tong-pay ini berkata
“Silahkan anda berdua masuk kedalam kamar untuk minum teh, kebetulan sekali pinto sedang menjumpai suatu masalah yang amat menyulitkan pikiranku, pinto ingin mo-hon petunjuk dari kalian berdua.”
Sementara itu tampak dua orang toojien setengah baya tampil kedepan menyambut kedatangan Siauw thay jien suami istri, Kiem lan serta Giok Lan untuk diantar masuk ke salah satu gubuk.
Sedangkan Siauw Ling serta Soen Put-shia mengikuti dibelakang Boe Wie Tootiang masuk kedalam gubuk yang lain.
Perabot dalam gubuk itu amat sederhana sekali, kecuali sebuah dipan, sebuah meja hanya tampak beberapa buah kursi bambu belaka, meski demikian keadaan ruangan itu amat bersih.
Seorang toosu cilik berwajah cakep segera munculkan diri uutnk menghidangkan air teh.
Soen Put-shia adalah seorang jago tua yang sudah lama mencicipi asam garam, namun begitu wataknya tetap berangasan. ter-dengar ia berseru dengau nada gclisah, “Tootiang, persoalan apa yang sedang kau hadapi? cepat utarakan, aku sipengemis tua sudah tidak sabar menunggu lagi!’”
Boe Wie Tootiang tidak langsung menjawab, ia ulapkan tangannya mengundurkan toosu citik tadt kemudian mengunci pintu ruangan rapat rapat.
Menyaksikan tingkah lakn toosu tua tersebut, dalam hati Soen put-shia merasa tercengang, pikirnya, “Aaaah-….! kalau dilihat tingkah laku sihidung korban ini, rupanya persoalan yang terjadi amat rahasia sekali….”
Sementara itu terdengar Boe Wie Tootiang menghela napas ringan lalu berkata, “Peristiwa ini berlangsung amat mendadak sehingga pinto sendiripun dibikin kebingungan setengah mnti. Seandainya hari ini Siaaw-thay hiap tidak datang. mungkin malam nanti ditempat ini bakai terjadi suatu pertumpahan darah yang mengerikan.”
“Apakah peristiwa tersebut ada sangkut pautnya dengan boanpwe?” tanya Siauw Ling tercengang.
“Sedikitpun tidak salah, orang itu datang kemari dengan maksud mencari Siauw-thay-hiap.”
“Siapakah orang itu?”
“Pak-Thian-Coen-cu dari istana es!”
“Apa? gembong iblis tua itupun telah hadir diatas daratan Tionggoan?” sela Soen Put-shia dengan wajah berubah.
“Benar, kini ia benda kurang lebih sepuluh li disekitar sini. Meskipun iblis tersebut berdiam jauh di istana Es yang terletak di Lautan Utara yang jarang sekali mengunjungi daratan Tionggoan, namun beritanya amat tajam sekali, terhadap situasi Bu-lim yang sedang berlangsung dewasa ini ia tahu bagaikan melihat jari tangan sendiri….”
“Apakah gemboug iblis itu telah bersekongkol dengan Shen Bok Hong untuk menciptakan badai pembunuh berdarah diatas daratan Tionggoan?” sela sang pengemis.
Dengau cepat Boe Wie Tootiang mengge-leng
Pak Thian-Coeu-cu adalah seorang jagoa yang tinggi hati, mana ia sudi bersekongkol dengan manusia seban sa Shen Bok Hong? lagi pula selama ini ia tidak punya ambiai untuk merajai Bu lim….
“Kalau begitu ia datang kemari khusus untuk mencari satroai dengan Siauw Ling pri-badi?”
“Sedikitpun tidak salah “
Sinar mata toosu tua dari Bu-tong Pay Ini perlahan-lahan menatap wajah Siauw Ling, lalu sambungnya’
“Siauw-ttaay-taiep, harap kau jangan marah. Meski pinto sendiripun sadar bahwa di balik perisitiwa ini pasti telah terjadi salah paham, namun bagaimana juga aku harus terangkan duduknya perkara.”
“Silahkan loeCianpwee utarakan kata kata-mu, boanpwee akan mendengarkaa dengan seksama.”
“Apakah Siauw thay-hiap kenal dengan putri kesayangan dari Pak-thian Coencu?”
“Pernah ketemu dua kali!”
“Kalau begitu, meski peristiwa ini terjadi karena salah paham namun sama sekali bukan isapan jempol belaka?”
“Sebenarnya apa yang telah terjadi? ha-rap locianpwe terangkan dengan jelas.”
“Kemarin malam secara tiba-tiba Pak-thian Coencu muncul ditempat ini seorang diri, setelah menyeberangi telaga ia langsung menyerbu kedalam gubuk. Piuto yang sudah lama mendengar akan nama besarnya dan sadar pula sampai dimanakah taraf ilmu silat yang dimiliki, segera menyambut kedatangannya dengan segala tatacara, siapa tahu ia tidak menggubris diri pinto bahkan langsung mencari tahu jejak dari Siauw-thay hiap….”
“Lalu bagaimana jawab totiang?”
“Menyaksikan Wajahnya penuh kegusaran, pinto segera menjawab tidak tahu tetapi ia tidak percaya dengan perkataan pinto, sebelum meninggalkan tempat ini ia telah mengancam kepada pinto agar menemukan Siauw thayhiap sebelum tengah malam nanti, ka-lau sampai saatnya pinto tidak berhasil mencari tahu jejak Siauw thayhiap, maka ia hendak membasmi seluruh anggota perguru-an Bu-toug Pay kami.”
“Mengapa?”
“Dia bilang Siauw thayhiap telata melarikan putrinya….”
“Apa alasannya ia menuduh demikian?• sepasang alis si anak muda itu langsung berkerut, sinar tajam memancar kelUar dari matanya.
“Pinto tahu bahwa dibalik peristiwa ini pasti telah terjadi kesalahan paham, namun Pak Thiau Cosa-cu tidak mau menerangkan lebih jauh, dengan penuh kegusaran ia segera berlalu.”
“Aah, mungkin gembong iblis itu memang sengaja hendak mencari satroni,” kata Soen Put-shia, “selama beberapa hari ini. aku sipengemis tua selalu berada disamping Siauw heng. belum pernah. kami berjumpa dengan putrinya Pak Thian Coen-cu.”
“Mengenai peristiwa ini Sudah berulang kali pinto putar otak. pinto merasa yakin pasti ada rahasia lain yang terkandung dibalik kejadian ini….” sinar mata toosu itu beralih keatas wajah Siauw Ling kemudian menambahkan.
“Dewasa ini dalam dunia persilatan telah muncul dua orang Siauw Ling….”
“Sedikitpun tidak salah!” Mendadak Soen Put-shia menjerit sambil loncat bangun. “Perbuatan ini pasti hasil karya dari Siauw Ling gadugan itu.”
Sebaliknya siauw Ling menghela napas panjang.
“Sebelum duduknya perkara dibikin jelas, janganlah kita menuduh Lam Giok Thong dengan tuduhan yang bukan-bukan sudahlah! tak usah dibicarakan lagi, tunggu Saja hasil perjumpaanku dengan Pak Thian Goeu-cu nanti malam.”
Kalan dilihat dari situasi saat ini, rasanya cara itu memang paling cepat, sampai waktunya biarlah pinto serta Soen Loocianpwee menemani kau untuk berjampa dengan dia, dengan begiiu seandainya sampai terjadi pertarungan kamipun bisa memberi bantuan.”
“Jejak boanpwee tiada yang dirahasiakan boanpwe tidak takut dituduh dengan tuduhan yang bukan-bukan!”
“Walaupuu begitu, namun Pak-thian Coeu cu adalah seorang manusia yang berwatak tinggi hati, aku takut kalau ia tak sudi mendengarkan penjelasanmu!”
Kalau ia memaksa terus apa boleh buat? terpaksa akan kulayani kemauannya sampai dimanapun.”
Dari mulut orang, Boe Wie Tootiang pernah mendengar tentang kegagahan SiauwLing dikala ia bertempur melawan orang-crang dari perkampnugan Pek Hoa Sau-cung, meski demikian melihat usianya yang masih muda toosu itu merasa ragu-ragu akau kemampuannya untuk melawan Pak Thian boeu-cu, sebenarnya ia ingiu mengucapkan beberapa patah kata nasehat, tapi secara mendadak pintu terbuka, dua toosu cilik penjaga pintupun melangkah masuk kedalam ruangan sambil melapor.
‘Jie-susiok beserta para jago telah tiba, mereka menanti diluar ruangan!”
“Oooow….! cuwi sekalian silahkan masuk!” buru-buru Boe Wie Tootiang bangun berdiri dan menyambut kedepan pintu.
Dipimpin oleh Sang Pat yang berjalan paling depan, Tu Kioe. Tong goan Khie, Suma Kan, Cheng Yap Cing serta Im Yang-cu se gera melangkah masuk kedalam ruangan.
Toosu cilik muncul untuk menghidangkan air teh, dan para jagopun sama-sama ambil tempat duduknya masing-masing.
Menanti suasana menjadi sunyi kembali. Suma Kan segera menjura dan berkata sambil tertawa, “Tootiang, berkat ilmu meramalku yang tepat akhirnya siauwte berhasil menemukan Siauw thayhiap sekalian, cayhe rasa tootiiang| tentu tidak merasa kecewa bukan.”
“Merepotkan diri Suma-heng “
Sinar mata toosu tua ini beralih kearah Tu Kioe, lalu tambahnya, ‘Bagaimana keadaan luka Tu-heng? apa-kah perlu beristirahat sejenak diruang belakang.”
“Tidak usah, cayhe masih sanggup mempertahankan diri!”
Wajah orang ini rupanya selalu dingin terus kendati berbicara dengan siapapun teru-tama sekali nada suaranya bukan saja dingin bahkan ketus dan tidak enak didengar. hal ini membuat setiap pendengar merasakan hatinya jeri dan tidak enak.
Boe Wi Tootiang tidak tersinggung akan sikap orang itu ia malah tersenyum.
“Pinto memilih tempat ini sebagai markkas, tujuannya tidak lain adalah dikarenakan tempat ini tidak mudah diserang musuh secara menggelap dengan ketajaman pendengeran Shen Bok Hong yang sudah terkenal dise luruh koloug langit, mungkin saja pada saat ini ia sudah tahu tempat kita berada, seandainya ia ada maksud…. mencari…. satroni dengan kita orang mungkin didalam dua tiga hari lni ia bakal datang membawa para jago
Ia merandek sejenak untuk tukar napas, lalu ujarnya, “Cuwi sekalian datang dari tempat jauh, pinto rasa perut kalian tentu sudah keroncongan bukan? silahkan bersantap lebih da-hulu kemudian Pinto akan mengantar cuwi sekalian beristirahat dikamar penginapan. dengan demikian seandainya Shen Bok Hong muncul disini dengan membawa para jago nya, kitapun sudah mempunyai semangat baru untak berduel mati-matian dengan dirinya.
Berbicara sampai disitu, tampak dua orang toojien setengah baya masuk kedalam gubuk sambil berkata, Silahkan cuwi sekalian bersantap dikamar makan!”
Begitulah, dibaWah petunjuk dua orang toojien setengah baya itu para jago pindah kedalam gubuk yang lain untuk bersantap, disana sayur serta arak telah tersedia, pada meja sebelah dalam dihidangkan ikan, daging, ayam dan bebek sedang dimeja sebelah luar tersedia beberapa piring sayur yang be-bas dari barang berjiwa.
Kiranya Boe Wie Tootiang serta Im Yang-cu adalah anak murid kaum beribadat. mere ka semua pantang makan barang berjiwa.
Selesal bersantap, dibawah petunjuk beberapa toojien para jagoanpun pergi beristirahat.
Semula tempat itu berdiam beberapa pu-luh keluarga nelayan serta pemburu namun setelah Boe Wie tootiang memilih tempat itu sebagai markas besar dalam perlawananya menentang pengaruh perkampungan Pek Hoa san-cung, toosu tua ini telah membeli daerah sana dengan harga yang tinggi. sebab ia tidak ingln menyaksikan penduduk yang tak bersalah itu ikut menjadi korban atas kega-nasan orang orang Bu-lim.
Siauw Ling berdiam disebelah Timur orang tuanva, menyaksikan putra kesayangan mereka telah menjadi pemimpin Bu-lim, kedua orang tua itu mengerti bahwa tak mungkin bisa menasehati lagi puttanya untuk mengundurkan diri dari pertikaian Bu lim, merekapun membungkam dalam seribu bahasa.
Meski demikian Siauw-hujien yang sangat menyayangi putranya setiap hari, setiap malam selalu menguatirkan keselamatan Siauw Ling, beberapa kali ia hendak menasehati putranya ini untuk mengundurkan diri dari dunia persilatan serta mencari tempat yang sunyi untuk hidup dengan perdamaian, namun setiap kali selalu dicegah oleh Siauw-thayjien.
Malam itu ketika kentongan kedua telah tiba. diam-diam Sicuw Liag bangun dari tidurnya setelah beristirahat setengah harian semangat maupun tenaganya telah pulih kembali.
Tatkala ia lihat kamar orang tuanya masih terang benderang oleh lampu, dalam hati segera pikirnya, “Aku Siauw Ling telah menyusahkan orang tua. usia mereka sudah lanjut namun harus melakukan perjalanan jauh karena aku.
Aaaai sungguh kasihan mereka ini…. sudah tengah malam beginipun mereka belum tidur.”
Berpikir demikian tanpa terasa kakinya melangkah kearah plntu, belum sempat ia me ngetnk pintu tiba-tiba terdengar suara ibunya berkumandang keluar dari ruangan.
“Aaaai….! semula aku mengharapkan putraku hidup sebagai petani dan melewatkan masa hidupnya dengan penuh kedamaian, justeru karena Ling-jie terlalu pandai akhirnya beginilah jadinya, banyak persoalan menim-pa dirinya…. membuat aku siang malam harus menguatirkan keselamatan jiwanya.
Suara Ibunya penuh mengandung rasa sayang dan cinta kasih. membuat Sianw Ling yang mendengar mengucurkan air mata.
“Sudahlah, tak usah kau pikirkan lagi,” Suara Siauw Thay-jien segera menyambung. “Seandainya Ling jie benar benar hidup didunia sebagai petani, mungkin kau akan menga-takan dia tidak becus, sekalipun kita harus menderita selama dalam perjalanan namun banyak pengetahuan serta pengalaman yang kita dapatkan, gunung nan hijau, telaga nan jernih serta bintang dan rembulan yang tersebar-diangkasa benar-benar merupakan pengalaman yang tak pernah kuimpikan sebe-lumnya….”
Sebagai ayah, kau sama sekali tidak memikirkan tentang keselamatan putra sendiri.” tegur Siauw hujien dengan gusar, “Setiap hari ia bergelimpangan diantara sambaran golok dan tombak…. kau harus tahu golok dan tombak tiada bermata. seandainya ia sampai terlu-ka ditangan…. musuh…. bagaimana jadinya
nanti?”
“Haaa…. haaa…. tentang soal ini, tak usahlah kau kuatirkan, sudah kulihat sendiri betapa lihaynya kepandaian silat yang ia milikl, sekalipun adalah seratusribu orang pasukan berkuda dan hujan Panah yang melanda jagad tidak nanti tubuhnya berhasil dilukai, Coba kau lihat, usianya masih muda belia namun ia dihormati oleh para jaga. para enghiong hoohan yang ada didalam Bn-llm, betapa terhormat kedudukannya saat ini, sebagai ayah aku merasa amat bangga mempunyai putera macam begini….”
“Ooooow…. bagus! bagus sekali…. pandai benar kau puji perbuatannya itu, tidak aneh kalau wataknya begitu liar dan kasar, kau sebagai ayahnya pun begini!”
“Andaikata Leng-jie tidak mempelajari serangkaian ilmu silat yang begitu sakti, dapatkah ia hidup hingga detik ini masih su-kar diramal kau tentu masih ingat bukan akan perkataan yang kusampaikan kepadamu dahulu.”ia mengidap penyakit aneh. sampai-sampai tabib kenamaanpun dibikin kewalahan oleh sakitnya itu, paling banter ia cuma hidup sampai usia dua puluh tahun, – karena itu lah aku punya rencana untuk membawa ia pesiar kemana mana setelah usianya genap mencapai angka sepuluh, agar tidak kecewa ia hidup didunial”
“Sekalipun begitu, keadaan dahulu dan keadaan saat ini jauh berbeda, kini penyakit aneh yang diderita Ling-jie telah sembuh, apakah kau ngotot hendak mengatakan hahwa ia masih mengidap penyakit aneh??”
“Ling-jie pun sudah lama mati karena penyakit anehnya yang diderita. Ling-jie yang ada sekarang bukanlah Ling-jie milik kita lagi.
“Aku yang melahirkan dia dan aku pula yang membesarkan dia, kalau bukan milik-ku milik siapa lagi7?
“Haaa…. haaa…. Ling-jie yang kumiliki saat ini merupakan bintang penolong bagi umat bu-lim, mati hidup beribu-ribu orang terletak diatas bahunya, seandainya. Hujien tetap berhati egois dan memaksa Ling-jie untuk membuang kedudukannya sekarang dan masuk desa hidup sebagai petani, sebagai anak yang berbakti Ling-jie pasti akan mengikuti permintaanmu itu, akhirnya kita memang mendapatkan kembali Ling-jie tapi umat Bu-lim jadi menderita, berapa banyak ayah ibu bakal kehilangan putra kesayangan mereka? berapa banyak kaum istri yang bakal kehilangan suaminya? dan berapa banyak anak yang bakal kehilangan orang tuanya….”
“Aaaai….! uSia Lingjie belum mencapai angka dua pulnh, begitu pentingkah dirinya bagi keselamatan umat mannsia?”
“Sekalipnn usianya masih sangat muda, namun kepandaian silat yang dimilikinya telah mencapai pada puncak kesempurnaan, saat ini dia boleh dibilang terhitung sebagai jagoan lihay. Meskipun pertumpahan darah yang berlangsung kini menyangkut soal dendam sakit hati serta balas membalas antara umat Bulim sendiri, tapi akibat yang timbul karena pertumpahan darah ini kemungkinan besar akan menyeret pula para penduduk untuk ikut menderita, apakah kau cuma memikirkan keselamatan putramu belaka dan
mengabaikan keselamatan orang lain? seandainya jalan pikiranmu tetap begitu
aaaai….? apakah kau tidak merasa tarlalu mementingkan diri sendiri?”
•000O000-
SIAUW Ling yang mencuri dengar pem-bicaraan orang tuanya diluar jendela. merasa kan darah panasnya bergelora didalam dada, semangatnya timbul kembali, tanpa pikir panjang ia segera putar badan dan menuju keruang tinggal Boo Wie Tootiang.
Sementara itu Boe Wie Tootiang serta Soen Put-shia telah menanti kedatangannya diluar ruangan, menyaksikan si anak muda itu muncul mereka segera maju menyambut.
“Boanpweo telah datang terlambat. Harap cianpwee berdua 8uka momaafkan ” bisiknya lirih.
“Tepat sekali kedatanganmu saat ini,” sa-hut Soen Put-shia sambil memandang cuaca.
“Persoalan mengenai Pak thian Coen-cu tidak ingin pinto sebarkan hingga diketahui para jago,” kata Boe Wie Tootiang pula. “Oleh sebab itu pinto hanya mengajak Soen heng seorang belaka untuk menemani SiaUw Thayhiap, disamping itu ada baiknya kita temui gembong iblis itu dipantai seberang saja, dengan begitu seandainya sampai terjadi pertempuran tidak sampai mengejutkan para jago.”
“Ucapan Loocianpwee tepat sekali!” Ketika mereka tiba ditepi telaga, Cheng Yap Cing dengan pakaian ringkas Serta pe-dang tersoren telah menanti diatas Sampan.
“Darimana kau bisa tahu?” tegur Boe Wio Tootiang dengan alis berkerut.
“Harap suheng suka memaafkan!” buru buru Cheng Yap Cing menjura. Soen Put-shia tertawa. “Menurut penglihatan aku sipengemis tua, dikemudian hari sutemu ini bakal mengangkat nama partai Bu-tong kalian. Biarkaniah dia ikut untuk menambah pengetahuan!”
Hmmm kalau…. bnkan Soen Locianpwe yang mintakan ampun, saat ini juga kau sudah pasti telah kuusir dari atas sampan.” Chen Yap-cing tersenyum. “Terima kasih atas bantuan locianpwee!” katanya sambil menjura kearah si pengemis.
“Sudah, tak usah banyak adat. ayoh cepat berangkat!”
Chen Yap-eing mengambil dayung lalu berseru kepada Boe Wie Tootiang, “Biarlah sianwte yang pegang kemudi, rnurid yang suheng tugaskan pegang kemudi tadi telah siauwte perintahkan pulang’”
Dengan kekuatan lengannya, sekali dayung sampan kecil itupun meluncur ketengah telaga laksana…. kilat.
Awan hitam menutupi seluruh jagad, menutupi pula sinar rembulan serta bintang yang tersebar diangkasa, permukaan telaga tampak gelap gulita sekali.
Dengan sepasang mata yang tajam Boe Wie Tootiang menatap kepermukaan telaga lalu lambat-lambat berkata, “Kita harus lebih berhati-hati, seandainya Pak Thian Coen-cu datang lebih pagi dari kita dan langsung menerjang kemarkas kita. Aaai…. entah bagaimana akibatnya.”
Sementara pembicaraan berlangsung, mendadak tampak sebuah sampan kecil meluncur datang dengan cepatnya.
“Orang yang berada diatas sampan itu bukankah Pak-thian Coen-cu?” ujar Soen Put-shia.
Tidak menunggu perintah dari Boe Wie-tootiang, Cheng Yapcing segera putar kemudi dan mendayang sampan mereka menyongsong kedatangan orang itu.
Dalam sekejap mata kedua belah pihak telah berpapasan, Cheng Yap cing putar kemudi, sampannya diputar sedemikian rupa sehingga menghalangi jalan pergi dari sampan kecil itu.
Boe Wie-totiang yang berada diujung perahu segera menjura sambii menyapa, “Apakah anda adalah Pak-thian Coen-cu.”
“Sedikitpun tidak salah, memang loohu adanya.”
Dari atas sampan tadi perlahan-lahan bangun berdiri seorang kakek tua berbaju hijau bertopi kecil.
Kiranya diatas sampan kecil orang itu di pasang sebuah kursi malas, dan si kakek tadtipun berbaring diatas kursi malas tadi.
“Ehmm…. Pak-thian Coen-cu pandai benar mencari kesenangan.” pikir Soen Put-Bhia didalam hati. “Diatas sampan kecil ma-cam itupun ia pasang sebuah kursi malas!”
Dalam pada itu Siauw Ling telah memperhatikan diri Pak Thian Coen-cu. Ia saksikan diatas sampan itu kecuali dia seorang hanya seorang lelaki kekar yang pegang kemudi. Dalam hati ia merasa tercengang, segera katanya, “Selamanya orang ini selalu pergi dengan pengawal yang banyak, mengapa pada malam ini ia datang seorang diri? Sungguh mengherankan.”
Terdengar Boe Wie tootiang sambil terta-wa telah menegur ;
“Saat ini kentongan ketiga belum tibar sungguh pagi benar kedatangan Coen-cu!”
“Apakah Tootiang sudah menemukan diri Siauw Ling ” bukannya menjawab si Rasul dari langit utara malah bertanya.
“Sungguh beruntung sekali pinto tak sampai mengecewakan hati Coen-cu, cuma saja.”
“Cayhelah manusia yang bernama Siauw Ling, entah Coen-cu ada urusan apa mencari aku?” tukas si anak muda itu tidak menunggu sampai Boe Wie tootiang menyelesaikan. kata-katanya.
“Eham. sejak tadi lohu sudah menduga akan dirimu, ternyata dugaanku tidak salah.”
Sinar matanya perlahan-lahan beralih keatas tubuh Soen-put-shia dan menambahkan
“Bukankah kau adalah Soen-put-shia tiang loo dari perkampungan Kay-pang….”
“Haaa…. haaa…. tidak salah, memang aku si pengemis tua adanya.”
“Sudah lama lohu mendengar akan nama harummu, sungguh beruntung malam ini kita dapat saling berjumpa.”
“Terima kasih.-.terima kasih….”
Perlahan lahan sinar mata Pak-thian Coen cu beralih kembali keatas wajah Siauw Ling-
“Sekarang siauwli berada dimana?” ia me negur.
“Kemana perginya putrimu, darimana cayhe bisa tahu???” dengan seksama, seandainya nama cayhe yang ternoda. hal ini masih mendingan. Seandainya nama putrimu lah yang ternoda…. aaai…. bagi dia. kejadian ini beuar-benar merupa-kan suatu peristiwa yang menimbulkan hati.”
“Hmmm! Kalau bukan kau yang mencu-liknya. lalu kemana perginya putriku??”
“Darimana cayhe bisa tahu??”
“Apakah kau sungguh – sungguh tidak tahu,” tegur Pak-thian Coen-cu kembali setelah berpikir sejenak.
“Tentu sungguh, apakah cayhe sudi mengajak kau bergurau dalam menanggapi persoalan ini!”
Pak-thian Coerj-cu termenung dan berpikir sebentar, kemudian ia berkata kembali, “Perduli kau atau bukan yang…. menculik putriku, selama putriku belum munculkan diri aku tetap menuduh kaulah yang melarikan!”
‘Coan cu, perkataanmu sama sekali tidak tahn aturan. sebenarnya apa maksudmu?”
“Haaa…. haaa…. haaa…. dikolong langit dewasa ini, masih ada beberapa banyak ma-nusia yang pantas msmbicarakan soal cengli dengan diri loohu?”
“Lalu mennrut maksud Cosn-cu, kau hen-dak menghukum aku orang she Siauw dengan cara apa?”
Sisnak muda ini sadar bahwa kepandaian silat yang dimiliki orang ini sangat lihay, dalam situasi yang serba kalut dan kacau macam ini ia tidak ingin menanam bibit permusuhan lagi dengan orang banyak. Oleh sebab itulah kendati dalam hati ia merasa sangat mendongkol hingga sukar ditahan namun ia berusaha keras untuk tetap bersabar.
“Loohu hendak membawa kau pergi dari sini,” kata Pak Thian Coen-cu lagi.
putrimu teal pergi, sekalipun aku dibawa pergi pun percuma,” seru Siauw Ling dengan nada tertegun.
“Loohu punya akal bagus!”
“Seandainya akalmu itn dapat membantu uutuk mencari kembali putrimu, dengan Senang hati aku orang she Siauw akau membantu, tapi dapatkah Coen-cn jelaskan dahulu bagaimanakah rencanamu itu. agar cayhepun bisa pertimbangkan dengan seksama “
“Putriku pergi meninggalkan rumah sebabnya bukan lain adalah karena hendak mencari kau, asal loohu bawa pergi dirimu kemudian mengumumkan kepada dunia bahwasanya loohu berhasil menangkap Siauw Ling dalam sebulan kau akan kuhukum mati. Demi menolong jiwamu sebelum batas waktu sebulan habis putriku tentu akan pulang kerumah.”
“Heee…. heee heee…. suatu akal yang sangat bagus.” jengek Soen Put-shia sambil tertawa dingin, “hanya saja ada satu hal yang aku rasa kurang bagus.”
“bagaimana yang kurang bagus?”
“Seandainya putrimu terlambat mendengar berita itu sehingga pulang lebih dari sebulan atau seandainya setelah mendengar kabar itu tapi tetap tak mau kembali, bagaimana tindakan Coen-Cu terhadap diri Siauw Ling?”
“Seandainya tiada permohonan dari putri ku, setiap perkataan yang telah loohu utarakan tidak akan kurubah kembali….”
Ia merandek tejenak, kemudian terusnya: “Maksud tujuan loohu dalam perjalananku kedaratan Tionggoan kali ini bukan lain adalah hendak mencari tahu dimanakah kunci istana terlarang tersimpan, siapa sangka putriku meninggalkan rnmah tanpa pamit sehingga mengakibatkan pikiran loohu
kalut dan hati jadi sedih. karena persoalan ini pula terpaksa masalah istana terlarang harus kukesampingkan terlebih dulu.”
“Jadi maksud Coen-cu, seandainya dalam satu bulan kau tidak berhasil juga menemu kan putrimu. maka kau benar-benar akan menghukum mati diri Sianw Ling?”
“sedikitpun tidak salah, oleh sebab itulah loohu tidak mengerti bagian manakah yang kau maksudkan tidak bagus.”
Mendengar perkataan itu, darah panas dalam rongga dada Siauw Ling kontan bergolak begitu hebatnya sampai sukar ditahan lagi, segera serunya, “Ada satu masalah. mungkin coen-Cu telah lupa untak memikirkatnja.”
“Persoalan apa “
“Coen-cu lupa bahwa aku Siauw Ling tidak nanti sudi menyerah kalah dengan begitu saja “
“Heee…. heee…. heee…. masa kau berani bergebrak melawan lohu….?….”
“Kenapa tidak berani??”
“Bagaimana kalau diatas sampan kecil ini juga?” teriak Pak-thian Coen cu marah.
Mendengar tantangan itu Siauw Ling segera berpikir dalam hati, “Ia sudah lama berdiam diistana es yang terletak di samudra sebelah utara, kepandaiannya bermain dalam air tentu lihay sekali, aku tak boleh melayani tantangannya diatas tampan “
Berpikir akan hal itu, ia tahan hawa amarahnya dan berkata, “Tempat ini terlalu kecil lagi sempit, apa bila Coencu ingin berduel lebih baik mencari tempat yang lebih luas saja.”
“Baiklah” ia ulapkan tangannya dan sampan kecil itupun segera meluncur lebih dahulu kearah pantai.
Soen-put-shia melirlk sekejap kearah. Boe Wie Tootiang, lalu berkata, “Ditinjau dari situasi yang terbentang di depan mata saat ini, rupanya perdamaian tak bisa diharapkan lagi “
Boe Wi Tooiiang mengangguk. mendadak tangan kirinya menekan kebawah sehingga perahu sampan itu bergerak lambat. menunggu Pak-thian Coen-cu sudah pergi jauh ia baru berbisik kepada Siauw Ling.
“Siauw thay-hiap kepandaian silat yang dimiliki Pak thian Coencu lihay sekali, benarkah Siauw thayhiap hendak bertempur melawan dirinya??….”
“Urusan sudah mendesak hinpga mencapai puncaknya, meski boanpwe tidak ingin betempurpun tak bisa!”
“Kalau begitu kita layani saja dirinya secara bergilir, pertarungan pertama serahkan saja kepada aku sipengemis tua, seandainya aku gagal untuk menangkan dirinya barulah saudara siauw…. turun tangann, dalam keadaan seperti in kita tidak usah persoalkan peraturan Bu-Iim lagi, bila perlu Tootiangpun sekalian turun tangan….”
“Aku rasa cara ini rada kurang bagus….”
“Dimana letak kekurang bagusannya?’.'“
“Anak buah yang dimiliki Pak thian Coen cu banyak sekali dan Cayhe pernah saksikan sendiri dengan mata kepalaku Seandainya kita layani dia secara bergilir, kemungkinan besar kejadian ini akan mengundang anak buahnya untuk membantu dia, bukankah kejadian ini malah mendatangkan kerepotan bagi kita sendiri? lebih baik biarlah cayhe turun tangan seorang diri, baik menang mau-pun kalah jangan sampai menyeret orang lain sehingga terjerumus pula dalam masalah ini.”
“Setelah aku sipengemis tua serta boe Wie Tootiang ikut campur dalam peristiwa in tidak nenti kami akan biarkan Pak-thian Coen-cu menggusur kau pergi dari sini. Seandainya kau menang dalam pertempuran kali ini tentu saja jauh lebih bagus, seandainya kau tidak beruntung dan kalah, maka aku sipengemis tua serta Boe Wie Tootiang tidak nanti berpeluk tangan belaka. dan dalam pertempuran selanjutnya pasti akan terjadi peristiwa berdarah yang mengerikan.”
Sementara mereka bercakap-cakap, sampan kecil itu telah tiba ditepi daratan
Dalam pada itu Pak-thian Cosn-cu telah menunggu ditepi daratan dengan wajah penuh tidak sabar tegurnya dingin, “Luas telasa ini paling banter Cuma seratus tombak, meski perjalanan kalian lakukan lebih lambatpun tidak seharusnya hingga kini baru tiba….”
Siauw Ling tidak menggubris, ia loncat naik keatas daratan lalu berseru
“Coen-Cu, silahkan mulai turun tangan!”
Waktu itu awan gelap yang menyelimuti angkasa telah buyar, rembulan nan indah tergantung jauh di awang-awang memberikan cahaya yang redup di bumi, bintang bertaburan diseluruh angkasa.
Pak Thian Coeu-cu mengamati sejenak wajah Siauw Ling, kemudian tertawa hambar.
“Usiamu masib muda sungguh tak dinyana nyalimu benar-benar hebat sekaii!”
“Tak usah kau puji diriku:” Terdengar suara ujung baju tersampok angin, Soen Put-shia, Boe Wie tootiang serta Ceng Yap Cing sama telah loncat keatas daratan.
Dipandangnya sekejap ketiga orang Itu dengan sinar mata dingin, setelah itu ia menatap kembali wajah Siauw Ling dan berkata, “Cabut senjatamu!”
“Coen-cu, silahkan kau cabnt keluar senjatamu!” sahut Siauw Ling sambil cabut ke luar pedangnya yang tersoren diatas punggng.
“Loohu akan layani dirimu dengan sepa-sang telapak ini saja!”
Jilid 12
“Kalau Coencu memang tidak sudi meloloskan senjata, baiklah, cayhepun akan layani dirimu dengan tangan kosong!’ seraya berkata si anak niuda itu masukkan kembali pedsngnya kedalam sarung lalu serahkan ketangan Soen Put-shia.
Perbuatannya ini kontan mengerutkan sepasang alis Pak Thian Coen cu.
“Kau ingin bertempur dengan tangan kosong? mana mungkin kau bisa menandingi diri loohu?”
“Seandainya cayhe tetluka ditangan Coencu, hal ini haruslah salahkah cayhe kurang sempurna dalam latihan, meski matipun tidak menyesal. Hanya saja cayhe ingia jelaskan lebih dulu satu persoalan, yaitu aku tidak pernah menculik putri Coen-cu.”
“Soal itu loohu bisa percaya tapi tidak ada kau sebagai umpan loohu rasanya sulit untuk menemukan kembali putriku itu, maka dari itu di dalam keadaan yang mendesak, terpaksa aku harus menangkap dirimu hidup-hidup.”
“Setiap umat manusla yang ada dikolong langit sama sama tahu betapa lihaynya ilmu silat yang Coen cu millki, ini hari cayhe bisa mendapat kesempatan untuk bertempur melawau Coen-cu, kejadian ini betul-betul merupakan suatu kehormatan bagi diriku. Perduli menang atau kalah cayhe pasti akan layani diri Coen-cu dengan segenap tenaga”
“Heee…. heee heee tidak mudah kau dapatkan kesempatan untuk menangkan diriku” jengek Pak Thian Coen-cu sambil tertawa hambar.
Tiba-tiba ia ayun telapaknya mengirim satu pukulan kemuka.
Dipandangg dari ayunan telapak tangannya seolah-olah suatu gerakan tanpa mengguna-kan tenaga, namun dibalik kehalusan gerak itulah tersembunyi segulung kekuatan yang luar biasa sekali menggulung datang.
Slauw Ling sadar bahwa menang kalah dalam pertempuran kali ini sangat mempengaruhi kehidupan selanjutnya: Oleh sebab itu ia tak berani bertindak gegabah, tubuhnya mengegos kesamping meloloskan diri dari ancaman.
“Hati-hati….” hardik Pak Thian Coen-cu
Tiba-tiba ia ayun telapaknya mengirim satu pukulan kemuka.
Dipandang dari ayunan telapak tangannya seolah-olah suatu gerakan tanpa menggunakan tenaga, namun dibalik kehalusan gerak itulah tersembunyi segulung kekuatan yang luar biasa sekali menggulung datang.
Siauw Ling sadar bahwa menang kalah dalam pertempuran kali ini sangat mempengaruhi kehidupan selanjutnya: Oleh sebab itu ia tak berani bertindak gegabah, tubuhnya mengegos kesamping meloloskan diri dari ancaman.
“Hati-hati….” hardik Pak Tbian Coen-cu
Siauw Ling melengak bercampur kagum tatkala mendengar pihak lawan berhasil mnyebut nama ilmu silatnya dalam beberapa gebrakan, diam-diam pikirnya dalam hati, “Pengetahuan serta pengalaman orang ini dalam hal ilmu silat betul-betul luar biasa
Segera sabutnya, “Tidak salah, Liauw sian cu adalah suhu cayhe!”
“Hehh…. hebh…. tldak aneh sikap serta lagak lagumu sombong dan jumawa sekali!”
Sepasang telapaknya bergerak makin kencang angin pukulan laksana gulungan ombak ditengah samudra melanda datang.
Siauw ling tidak gentar, ia keluarkan ilmu telapak kilat berantai ajaran Lam It Kong yaitu Lian-hoan sam-tiam ciang-hoat yang disertai ilmu totok Cap-jie lan-hoa-hud-hiat Chin untuk bendung semua gasakan serta hantaman angin pukulan Pak-thian Coen cu yang menggila hebatnya.
Dalam pada itu Soen Put shia serta Boe-wie Totiang yang menyaksikan jalannya pertempuran dari sisi kalangan, diam-diam kumpulkan pula tenaga dalamnya untuk bersiap sedia, asal Siauw Ling kelihatan kete-ter dan kehabisan tenaga, mereka berdua de-ngan segera akan melancarkan satu pukulan kilat untuk memberi pertolongan.
Dalam pandangan kedua tokoh silat ini, dengan nama besar Pak-thlan Coen-cu dida-lam dunia persilatan, Siauw Ling tidak bisa bertahan hingga jurus yang ketiga puluh.
Siapa sangka kajadian selanjutnya benar-benar diluar dugaan kedua orang itu, meski pertempuran antara Siauw Ling melawan Pak Thian Coen-cu telah…. berlangsung hingga jurus yang kelima puluh. namun keadaan tetap seimbang. siapa pun tidak sanggup untuk mendesak apalagi mengalah kan pihak lawannya.
Haruslah diketahui ilmu pukulan kilat berantai ajaran Lam It Kong adalah suatu kepandaian yang mengutamakan kecepatan gerak, ilmu macam ini paling sesnai kalau di gunakan untuk menyerang musuh, sebaliknya ilmu totok dua belas bunga Lam ajaran Liauw Siauwcu mengutamakan kelincahan serta keringanan gerak, kepandaian tergebut paiing cocok digunakan untuk membendung serta mengancam kelemehan lawan.
pada saat yang bersamaan Siauw-Iing telah menggunakan dua jenis kepandaian yang berbeda untuk melawan musuh, maka kepandaian gabungan ilmu itu tentu saja akan berubah jadi suatu kepandaian untuk menyerang serta kepandaian untuk bertahan yang paling lihay pada masa itu.
Serangan-serangan yang dilancarkan Pak Thian Coen cu luar biasa dahsyatnya. namun dia cuma berhasil menghancurkan serangan-serangan kilat berantai dari Siauw-Iing belaka, setiap kali ia dipaksa buyarkan sera-ngannya ditengah jalan oleh ilmu kebutan Cap Jie Lan-hoa-bud-hiad-chiu yang jitu.
Pertarungan sudah berjalan mendekati seratus jurus lebih, bentrokan bentrokan kekerasanpun sudah makin sering terjadi, karena ltulah situasi dalam kalangan kian lama terasa kian tegang dan berbahaya, membuat hati orang jadi berdebar.
Masing masing pihak kembali saling ber-gebrak beberapa jurus, mendadak Pak Thian Coen-cu tarik kembali telapaknya dan mengundurkan diri kebelakang.
Tatkala mulai pertama bergebrak melawan Pak Thien Coen-cu tedi, dalam hati kecil-nya SienW Ling sedikit banyak masih ter-pengaruh oleh rasa jerl. namun setelah beberapa puluh jurus berlangsung, nyalinya kian lama semakin besar, dalam penyerang-an maupun pertahananpun bergebrak semakin leluasa ketika itu ia sedang bersiap sedia melancarkan serangan balasan, siapa nyana Pak Thlan Coen-cu mundur secara menda-dak.
Soen Put-shia melirik sekejap Boe Wie Too-tiang lalu mengangguk lirih.
Boe Wie Tootiang pun tersenyum dan mengangguk.
Walanpun kedua orang tokoh silat ini tidak saling mengucapkan sepatah katapun, namun dalam hati masing masing pada saat yang bersamaan telah memuji kelihayan ilmu silat dari siauw Ling, keberanian serta kehebatan dari si anak muda ini telah menggerakan hati ketua Bu-tong pay ini.
Dalam pada itu terdengar pak Thien Coen cu berkata dengan nada dingin dan hambar”-”Seandainye dugaan loohu tidak salah. ilmu telepak yang barusan kau gunakan adalah ilmu telapak kilat berantai dari Lam It Kong bukankah begitu?”
“Sedikitpun tidak salah, pengetahuan Coen cu betul-betul patut dipuji dan dikagumi!”
“Hmmm! Kau bisa mewarisi ilmu silat dari Lam It Kong serta Liuw siancn dua oreng tokoh besar ilmn silat dalam Bu lim pada saat yang bersamaan, tidak aneh kalau kalau dalam waktu singkat namamu bisa tersebar dan tersohor dalem dunia Kangonw.”
“Coen-cu terlalu memuji!”
“Cuma…. ada satu persoalan yang kurgan loohu pahami, dapatkah kau beri keterangan kepadaku?”
“Silahkan Coen-cu ajukan pertanyaanmu itu?”
“Belasan tahun berselang loohu pernah adu ilmu telapak tangan dengan Lam It Kong, pernah pula beradu ilmu silat dengan LiuW Sian-cu, ketika itu loohu jauh lebih menang setingkat dari mereka -….”
Mendengar kakek tua Ini menghina ayah ibu angkatnya, burn-bnru Siau Ling menukas “Menurut pandangan cayhe, belum tentu apa yang Coen-cu katakan adalah kejadian yang sesungguhnya!” Pak Thlan Cojn-cu jadi sangat gnsar. “Siapakah loohu? apa kedudukanku dalam duuia persilatan, kapan aku parnah bicara bohong?”
Sabenarnya Slanw Ling ingin membantah lagi, namun Soen Put-shia telah keburu ber setu, “Saudara Sianw biarkan dia bicara lebih lanjut!”
“Coen-cu kalau ucapanmu tidak ngoceh belaka. tentu saja cayhe akan mendengarkan dengan seksama.”
Pak Thian Coen cu tidak menggubris, ia lanjutkan kembali kata-katanya lebih jauh: “Oleh karena itulah loohu tahu untuk mempelajari ilmu pukulan kilat berantai dari Lam it Kong, maka seseorang harus memiliki tenaga dalam hasil latihan selama dua puluh tahnu keatas, dengan demikian kekuatan pukulannya baru nampak dengan nyata. Tetapi usia anda masih amat muda sekahpun sejak lahir dari perut ibumu-kau telah beiajar ilmu siiatpun belum tentu bisa mencapai kesempurnaan seperti ini. Disini lah letak ketidak pahamanku!”
“Cayhe menyadari bahwa kekuatan daya pukulku cuma seperseratus dari gie-hu ku, Coen.cu terlalu memuji!”
“Kalau loohu beritahukan kekuataan anda dewasa ini boleh dibilang setaraf dengan kemarnpuan Lam it Kong tatkala bertempur melawan loohu tempo dalu. tetapi pada waktu itu Lam It Kong masih muda dan kekar badannya untuk memperdalam ilmu pukulan kilat berantainyapuu ia sudah menghabiskan tempo selama tiga puluh tahun lebih.”
“Bakat tiap manusia berbeda, tentu saja hasil latihan setiap manusiapun tidak sama,” timbrung Soen Put shia dari samping.
“Cerewet! loohu tidak bertanya kepada kau slpengemis tua!”
“Haaa…. haaa…. haaa…. Siapapun tahu kalau aku sipengemis tua paling suka mencampuri uruSan Orang lain, kenapa aku tak boleh ikut menimbrung?”
“Coen-cu!” cepat Siauw Ling menyela kem bali. “Kau mengajukan pertanyaan semacam itu kepada cayhe, tolong tanya apa maksnd yang sebenarnya?”
“Karena tidak paham maka lohu bertanya aku sama sekali tidak bermaksud apa apa “
“Pertanyaanmn sulit untuk cayhe jawab, tapi kalan Coen-eu memang ingin tahu. hal ini mungkin disebabkan cara yang jitu dari Gie-hu ku untuk mewariskan kepandaian tersebut kepadaku!”
“Dibalik gerakan ilmu telapakmu terdapat bagian yang berbeda jauh dari gerakan asli Lam It Kong, kalau tidak loohu katakan, tentu kau tidak tahu bukan?”
“Ehmmm, ucapannya tidak salah.” pikir Siauw Ling, segera tanyanya, “Cayhe tidak merasa ada perbedaan dalam gerakan ilmu telapakku tapi seandainya kalau memang ada. hal itu mungkin disebab-kan karena aku tidak sempat mendalami inti sari dari kepandaian ayah angkatku itu.”
‘Tenaga pukulan Lam It Kong termasuk dalam sifat keras atau Yang, sebaliknya kekuatan dibalik seranganmu terdapat sifat lunak atau Im dibalik kekerasan atau Yang! Tentu kau tidak tahu bukan?”
“Mungkinkah caraku belajar tenaga dalam berbeda dengan gie-hu maka tenaga yang di pancar keluar jadi berbeda?” pikir Siauw Ling.
Meski dia tetap diam, namun timbul rasa kagum yang mendalam terhadap luasnya pengetahuan dari Pak-thian Coen-cu.
Terdengar kakek sakti dari istana Es itu berkata lebih lanjut, “Seandainya kau melayani serangan loohu niscaya mengandalkan ilmu pukulan kilat berantai saja, dalam tiga puluh gebrakan pertama loohu telah berhasil menotok jalan darahmu.”
“Kalau begitu Coen-cu sudah mengalah dan mengampuni jiwaku?”
“Itu sih tidak. Hanya disebabkan kau telah menggunakan ilmu totok Cap-jie-lac-hoa-hud hiat chin dari Liauw sian-cu. maka banyak ilmu Kien na-jiu yang loohu miliki tidak sanggup memperlihatkan kelihaiannya”
“Oow…. kiranya begitu….”
“Masih ada satu hal lagi ingin loohu sampaikan kepadamn, ilmu totok Cap-jie Lan-hoa-hud-hiat-chiu tersebut hingga kini merupakan ilmu bertahan yang paling menonjol dikolong langit, kecuali loohu mungkin tak ada orang lain yang bisa memecahkannya.”
“Didengar dari nada ucapan Coen-cu seolah olah kau punya kepandaian untuk memecah-kan ilmu totokan itu 7?
“Sedikitpun tidak salah. seandainya loohu tidak sanggup memecahkan rahasia dari ilmu totok Cap-jie lan-hoa hud-hiat jiu tersebut percuma saja aku disebut orang sebagai Rasul dari Langit Utama.”
“Pengetahuan orang Ini amat luas, mungkin perkataannya bukan gertak lambal bela-ka…. -” Pikir Siauw Ling didalam hati.
Terdengar Pak Thian Coen-cu melanjutkan kembali kata-katanya dengan nada dingin.
“Masih ada persoalan lagi hendak loohu terangkan dahulu, agar kau punya kesempatn untuk menentukan pilihannya sendiri.”
“Coen-cu ada persoalan apa lagi yang hendak kau utarakan?”
“Selama hidup loohu baru dua kali bergebrak dengan orang hingga melebihi jurus yang keseratus. Dan kali ini merupakan ketiga kalinya. Seorang boanpwe macam kau ternyata berhasil memiliki kesempurnaan ilmu hingga taraf begini tinggi. Bagaimanapun juga kau patut menerima pujian serta rasa kagum dari loohu.
Dalam hati Siauw Ling senang karena di puji, namun diiuar ia sengaja tertawa ham bar.
“Tldak pernah cayhe berpikir sampai kesitu, seandatnya Coen cu cuma ingin mengucapkan kata-kata semucam itu belaka, lebih baik jangan kauteruskan lagi, sebab percuma”
Air muka Pak Thian Coen-cu berubah hebat.
“Bagus. Kalau memang begitu loohu pun akan langsung membicarakan persoalan pokok”
la meraudek sejenak, kemudian sambungnya, “Ilmu silat yang ada dikolong langit jarang sekali bisa didapatkan serangkaian ilmu telapak atau ilmu pukulan yang pada saat bersamaan bisn digunaknn untuk menghadapi ilmu pukulan kilat berantai serta ilmu totok dua belas bunga Lan, sekalipan loohu sendiri punya kemampuan untuk memecahkannya. namun bila tidak kugunakan tepat pada saatnya, kemungkinan jiwaku bakal terancam bahaya atau mungkin akan melukai dirimu hingga luka parah, olch sebab itulah sebelum kejadian macam ini berlangsung, aku harus terangkan lebih dahulu”
“Oooow…. tidak mengapa. tidak mongapa seumpama kata cayhe mati atau terluka anggap saja hal ini disebabkan aku she Siauw kurang rajin dalam melatih ilmu silatku, meski matipun tak usah disesal-kan.”
“Kalau begitu kejadiannya maka tujuanku akan berubah. Loohu sama sekali liada maksud membinasakan dirimu.” kata Pak Tbian Coen-cu. “Loohu Cuma ingin menang-kap kau lalu menggunakan dirimu sebagai umpan guna memancing pulangnya putriku, seandainya sekali hantam kucabut jiwamu, bukankah tindakanku malah bertentangan dengan maksudku semula.
“Cuaca kadangkala terang kadangkala mendung, aku rasa persoalan yang ada dikolong langit tak sepotongpun yang sempurna.” Kata Siauw Ling. “Walaupun cara Coen-cu berpi-kir sangat bagus, sayang seribu kali sayang kita punya kemampuan tapi tenaga kurang, apa yang dapat kami lakukan?”
“Loohu punya satu cara untuk mengatasi kesulitan tersebut, entah sudikah kau sang-gupi.”
“Coba katakanlah!”
“Bila kau sadar bahWa kau bukan tan-dingan loohu kenapa tidak menyerah kalah saja? dengan berbuat begitu bukan saja jiwamu selamat, apa yang lohu cita-citakan pun bakal terwujud. Bukankah bagi kita masing masing pihak saling menguntungkan??”
“Sayang aku orang she Siauw bukanlah manusia pengecut yang takut mati, maksud baik Coen-cu terpaksa harus kutampik.”
‘bocah keras kepala. kau betul Betul tak tahu diri! Terima nih seranganku!!” teriak Pak-thian Coen cu sangat murka.
Telapak kanan diayun,sebuah serangan dahsyat segera dilepaskan.
Serangannya kali ini jauh berbeda dengan serangan pertama kali tadi, sebelum sang telapak menyambar tiba. segulung angin pukulan yang dingin dan tajam hingga merasuk tulang telah melanda tiba.
“ilmu silat anakah ini?? kenapa begitu dingin?” pikir Siauw-ling dengan alis berkerut.
la tak berani berlaku ayal, buru buru tangan kanannya diayun kemuka menyambut datangnya serangan dengan keras lawan keras.
Brak…. l sepasang telapak saling beradu. mendadak si anak muda itu rasakan segenap tubuhnya kaku dan dinginnya luar biasa.
Terdengarah suara Pak-thian Cosu-co yang dingin bergema datang, “Inilah ilmu pukulan es Hian Peng Ciang yang paling kuandalkan. jangan dikata manusia macam kau, sekalipun jago kelas Wahid pun tidak nanti sanggup menyambut sepuluh buah pukulanku.”
Sembari berbicara, sepasang telapak di ayun beruntun, kembali dua buah serangan dahsyat dilancarkan,
Diam-diam Siauw Ling gertak gigi, sepasang telapak diayun berbareng dan serentak ia sambut pula kedua buah serangan lawan.
Begitu saling bertemu, anak muda tersebut merasakan begitu dahsyat hawa dingin yang memancar keluar dari serangan tadi, demikian hebatnya sehingga boleh dibilang beberapa kali lipat lebih dahsyat dari serangan pertama, batinya terperanjat dan segera pikirnya, “Bila kulayani terus dirinya dengan cara begini bukankah lama kelamaan aku bakal mati beku karena kedinginan.”
Dalam pada itu Pak Thian Coeueu telah tertawa terbahakbahak.
“Haaa…. -haaa…. haaa…. ternyata kau benar-benar luar biasa, meski sudah terima tiga buah pukulan loohu secara beruntnn, air mukamu sama sekali tidak berubah.”
Tangan kanan diayun kembali kemuka, serentetan hawa dingin yang aneh sekali kembali.menyerang tiba.
Serangannya yang dilancarkan sejurus de-mi sejurus ini memaksa Siauw Ling tanpa punya kesempatan untuk berpikir harus menerima setiap serangannya dengan keras la-wan keras.
Terasa seluruh badan mnlai membeku, serentetan hawa yang sangat dingin menyebar keseluruh organ badan, tak kuasa ia bersin, ulu hatinya terasa sakit dan serasa anggota badannya mulai membeku.
Pak Thian Coin-cu semakin tidak mau kasih kesempatan bagi lawannya untuk ber-kutik, secara beruntun ia melepaskan kembali tiga buah serangan berantai.
Siauw Ling jadi kerepotan, tangan kiri Serta kanannya terpaksa harus berputar kesana kemari menyambut setiap ancaman yang datang kearahnya.
^Mendadak Pak thian Coen-cu berhenti menyerang, ia tertawa dan mengejek, “Bagaimana rasanya ilmu telapak Hian-peng-ciang dari lohu ini? Enak bukan?”
Pada waktu itu Siauw Ling telah merasakan adanya segulung hawa dingin yang sa-ngat aneh menyerang kedalam tubuhnya mem buat keempat anggota badannya membeku dan tak dapat bergerak dengan leluasa-
Hatinya terkejut bercampur ngeri, disamping itu iapun mendongkol dan marah, “Ilmu silat aliran sesat macam begini tidak bakal bisa menangkan ilmu silatku-
“Untuk melatih kepandaian silat yang demikian dahsyatnya ini lohu telah membuang waktu selama puluhan tahun lamanya dengan berlatih giat. siapa bilang ilmuku ini adalah ilmu sesat?”
Siauw Ling rasakan hawa dingin yang menyerang kedalam tubuhnya kian lama kian bertambah parah, segenap organ tubuhnya seolah-olah teiah dikuasai oleh hawa dingin yang menyerang masuk itu. ia sadar bahwa dirinya tak mungkin sanggup bertempur lebih jauh. Namun diapun tidak rela mengaku kalah dengan begitu saja.
Maka sambil kerahkan tenaga murninya untuk melindungi badan, tangan kanan mempersiapkan ilmu totok Siuw-lo cie sedang tangan kiri merogoh kedalam saku ambil keluar sebutir pil ujarnya dingin, “Coen-cu hanya tahu Liuw Sian-cu lihay dalam ilmu totok Cap jie lan-hoa hud hiat chiu, tahukah kau ilmu Sakti apa lagi yang dia miliki?”
“Kecuali ilmu rotok dua belas bunga Lan, cayhe betul betul tak dapat menebak kepandaian silat apa lagi yang ia miliki.”
“Heeh…. heeh…. heeh…. Coen-cu kepingin tahu?”
“Bagus! lohu pingin tahu kepandaian macam apa lagi yang ia miliki I”
“Hmm! Mula-mula rasakan dahulu keli-hayan ilmu senjata rahasia dari Liuw Sian-cu.
Tangan kanan diayun, segenggam butiran perak segera meluncur kemuka mengancam jalan darah atas bawah, kiri serta kanan Pak Thian Coencu.
“Haaa…. haa…. haa…. ilmu penye-bar senjata rahasia Man-thian Hoa-yu ma-cam inipun kau anggap kepandaian sakti, sungguh menggelikan….”
Sepasang telapak diayun berbareng kemu-ka, segulung hawa pukulan yang maha dah-syat segera meluncur kedepan membuat bu-tiran-butiran perak yang mengancam sekeli-ling tubuhnya sama • sama rontok keatas tanah.
Tatkala Pak Thian Coen cu sedang memukul rontok senjata rahasia yang mengancam tubuhnya itulah, tiba-tiba Sianw Ling membentak keras. Badannya meloncat keangkasa dan dengan mengerahkan segenap tenaga yang dimilikinya ia lepaskan ilmu sakti Siauw Loo Sin Cie.
Pada waktu itn segenap perhatian Pak Thian Coencu hanya ditujukan keatas senjata rahasia, ia tidak menyangka kalau di-saat semacam itulah Siauw Ling bisa mele-paskan kepandaian saktinya.
Segulung angin totokan yang maha dah-syat diiringi desiran angin tajam, laksana kilat meluncur kemuka.
Menanti sikakek tua Itu menduSin akan bahaya yang datang mengancam, waktu sudah tak sempat lagi baginya untuk menghindar, angin totokau itu tahu-tahu sudah berada di atas jalan darah penting “Hiau Kia Hiat” di atas dada depannya.
Dalam keadaan gugup sekuat tenaga ia banting tubuhnya kearah samping.
Mendadak iganya terasa amat sakit, angin serangan tadi dengan telak telah menghajar jalan darah Thay Paouw Hiat.
Tenaga serangan dari ilmu totok Siauw Loo Sin Cie ini benar-benar luar biaaa sekali meski Pak Thian Cosn-cu memiliki tenaga dalam yang amat sempurna, tak urung keok juga, terasalah darah segar bergolak kencang didalam dada, mata berkunang-kunang dan kepala pusing tujuh keliling hampir-hampir saja ia jatuh terjengkang keatas tanah.
Namun, bagaimanapun juga dia adalah se orang jagoan yang memiliki ilmu silat luar biasa, buru-buru ia mengempos tenaga dan menekan darah segar yang bergelora dalam dadanya, kemudian cepat-cepat ia putar badan dan ngeloyor pergi dari situ.
Siauw Ling sendiri, meski serangan Siauw Loo cie yang dilancarkan dengan segenap tenaga itu berhasil mengenai sasarannya, tetapi daya tahan tubuhnya sudah hancur, begitu habis menyerang kakinya jadi lemas dan badannya langsung roboh keatas tanah.
Soen Put shia serta Boa Wie Tootiang buru-buru lari kedepan memayang tubuh Siauw Ling, seru mereka hampir berbareng, “Parahkah luka yang kau derita?”
Dibawah sorot cahaya malam yang remang remang, kedua orang tokoh silat itu dapat kan wajah Siauw Ling telah berubah jadi pucat pias bagaikan mayat. Sepasang mata terpejam rapat sementara mnlutnya masih menggumam seorang diri, “Inilah ilmu totok Siauw-loo sin-cie dari Liuwsian cu!”
Habis berkata. si anak muda itu jatuh tidak sadarkan diri.
Soen Put-shia amat gusar sekali menyaksi kan kejadiah itu, makinya kalang kabut, “Keparat, kunyuk tua! kau telah melukai sahabat cilik kami dengan menggunakan ilmu silat beracun….”
Tapi ketika ia mendongak, bayangan Pak-Thian Coen-cu telah lenyap tak berbekas.
“Loocianpwee tak usah mendongkol atau marah-marah lagi,” cegah Boe Wie Tootiang sambil menghela napas ringan. “Luka yang diderita Pak-THian Coen-cu pun tidak ringan, Justeru karena itu ia melarikan diri dari sini. Dalam pertarungan barusan. dia sendiri pun tidak peroleh keuntungan apa apa….”
“Bukannya begitu…. Aaaai….! tadi, sudah sepantasnya kalau aku sipengemis tua mewakili dia untuk menahan sebagian dari tenaga serangannya lebih dahulu.”
“Kini. kejadian telah berlangsung. Sekalipun locianpwe merasa sesalpun tak berguna. persoalan paling penting yang harus kita lakukan sekarang adalah bagaimana caranya mengobati luka dalam yang diderita Siauw thay hiap agar ia sembuh kembali seperti sedia kala,”
Soen Put Shia mengangguk, ia ulurkan tangannya untuk periksa pernapasan Siauw Ling terasa olehnya napas si anak muda itu lemah sekali, rupanya luka dalam yang ia derita amat parah sekali. Tak kuasa sepasang alisnya berkerut.
“ehhmmm. Luka dalam yang ia derita amat parah sekali!” serunya
Boe Wie Tootiang membungkam, lama ia termenung namun kemudian katanya, “Peristiwa terlukanya Siauw-thay-hiap. lebih baik kita rahasiakan rapat-rapat. Menurut pendapat Pinto, lebih baik kita cari sebuah tempat disekitar tempat ini untuk merawat lukanya- Entah bagaimana menurut Pendapat Locianpwe?7?
“Tidak salah. Mata mata Shen Bok Hong tersebar dimana-mana, lagipula mereka punya pendengaran yang sangat tajam. Seandainya berita ini sampai tersiar keluar, dengan cepat kabar ini bakal terdengar oleh gembong iblis itu!”
“Kurang lebih dua li dari sini terdapat sebuah rumah petani yang kaya, bagaimana kalau kita hantar Siauwthay-hiap kesitu agar merawat luka dalamnya??” tiba – tlba Cheng Yap cin menyela.
“Berapa jumlah anggota keluarga mereka?? kalau anggota keluarga mereka terlalu ba-nyak kemungkinan besar kabar ini bisa bocor pula keluaran!”
“Meski keluarga petani itu kaya, namun tiada pelayan yang bekerja disitu, kecuali sepasang suami istri, mereka hanya memlliki seorang putri belaka….”
“Darimana kau bisa tahu?” tanya Boe Wie Tootiang.
“Siauw-te pernah membawa Be cong-pacu untuk merawat lukanya disana, maka dari itu siauwte, mengetahui hal ini dengan amat jelas.”
“Kalau begitu bagus sekali, luka yang di-derita Siauw-thay-hiap parah sekali, kita tak boleh banyak buang waktu lagi, ayoh kita segera berangkat kesitu”
Cheng Yap Cing mengiakan dan Segera berangkat menuju kerumah petani kaya yang dimaksudkan.
Soen put-shia menggendong Siauw – ling menyusnl dibelakang, sedang Boe Wie Too-tiang melindungi dipaling belakang, dalam sekejap mata dua li telah dilalui dengan ce-pat.
Sebuah bangunan rumah yang tinggi besar kini terbentang didepan mata, Cheng Yap-cing langsung menuju kepintu dau menggedor gerbang pintu yang besar hingga menimbulkan sua a keras
Beberapa saat kemudian muncul seorang lelaki setengah baya membuka pintu bagi mereka.
Ketika membuka pintu, mulut orang itu masih bergumam memaki kata-kata kotor tetapi setelah menyaksikan Cheng Yap-cing yang berdiri sambil menyoren pedang ia tampak kaget dan segera membungkam.
Cheng Yap cing pura-pura berlagak pilon, ia menjura, “Tolong Heng-thay suka memberi kabar kepada empek Lie, katakan saja seorang pemuda she Cheng ingin berjumpa dengan beliau.”
“Ooouw…. kiranya Cheng toa-ya”
“Tio-heng. Kau masih ingat dengan diri sianw-te?”
“Cheng toa-ya terlalu sungkan. panggil saja diri hamba dengan sebutan nama ” Ooh ya…. Cheng tay-hiap. Harap kau menanti sejenak disini, hamba segera melaporkan kehadiranmu kepada tuan majikan.
Tidak lama lelaki itu berlalu, ia muncul kembali mengiringi seorang kakek tua yang berwajah ramah dan penuh welas kaslh.
“Empek Lie. Maaf…. maaf…. kembali aku datang mengganggumu!” seru Cheng Yap-cing sambil maju memberi hormat.
“Bangunan rumah loe-han sangat luas. di gunakanpun masih sisa banyak. Cheng sauw ya tak perlu sungkan sungkan, silahkan masuk kedalam rumah!….”
Diiringi lampu lentera yang dibawa lelaki kekar itu, beberapa orang tadipun masuk kedalam sebuah ruangan besar.
“Cheng toa-ya. Kau ada pesan apa lagi?”
“Malam malam kita sudah datang mengganggu membuat hati tak enak, Tioheng, silahkan beristirahat!”
Kakek tua itu memandang sekejap kearah Soen Put Shia serta Siauw Ling diapun tidak banyak bertanya, lelaki she Tio tadi segera mengundurkan diri dari ruangan Menanti kedua orang itu sudah berlalu Cheng Yap cing menutup daun pintu seraya berkata sedih, “Diruang ini pula tempo dulu Be Cong Pionw Pacu merawat lukanya, sungguh tak kusangka. ini hari kembali aku gunakan ruangan ini untuk merawat luka seorang rekan kita. Sungguh aneh,” bislk Soen Put Shia. “Masa keluarga yang begitu ramah halus kok sudi menerima kita orang-orang dari kalangan dnnia persilatan??”
“Rupanya mereka suami istri berdua per nah mendapat budi kebaikan dari Cong Piauw Pacu pada masa silam.”
Boe Wie Tootiang termenung lama sekali. mendadak ia buka suara dan berkata, “Mata mata Shen Bok Hong tersebar sam-pai ratusan li dari kota Koei Chiu, kita tak boleh menyusahkan orang lain. Pinto akan gunakan segenap tenaga yang kumiliki untuk coba menyembuhkan luka Siauw-tay. hiap seandainya keadaan Siauw-thay-hiap, masih belum juga menunjukkan tanda-tanda kebaikan, kita harus mencari tempat lain yang lebih aman untuk merawat lukanya. Bagaimana pun juga, kita tak boleh tinggal disini sehingga mengakibatkan keluarga pe-tani yang baik hati ini pun ikut terseret dalam lembah kehancuran.”
“Perkataan Tootiang tepat sekali!” pelahan lahan ia dekati pembaringan dan memba-lingkan rabuh Siauw Ling keatas pembaringan tersebut.
“Sam-te, dekatkan lampu lilin itu kemari.” bisik Boe Wie Tootiang lirih. Cheng Yap-cing mengiakan. sambil membawa lampu lilin ia dekati pembaringan.
Dengan meminjam cahaya lampu lilin itulah. Boe Wi Tootiang memeriksa air muka Siauw Ling dengan teliti, namun dengan cepat ia kerutkan dahinya.
Sejak Siauw Ling menderita luka, air muka Boo Wie Tootiang selalu kelihatan te-nang sekali, tapi saat ini air mukanya telah berubah sangat hebat.
“Sudah lama aku dengar akan kelihayan Totiang dalam ilmu pertabiban, aku rasa kau pasti sudah punya keyakinan untuk menyembuhkan luka Siauw Ling bukan?” kata Soen Put-shin.
Boe Wie Totiang tidak menjawab, ia cekal tangan Siauw Ling dan dirabanya beberapa saat kemudian sambil geleng kepala ia menghela napas panjang.
“Pinto sama sekali tidak punya keyakinan
“Kalau begitu, keadaannya Sangat berbahaya sekali?”
“Rupanya ia terluka oleh sejenis ilmu silat yang istimewa, barang siapa ying tak paham dengan keadaaa luka tersebut sulit untuk memberikan pertolougan. Aai tapi pinto pasti akan berusaha sekuat tenaga.”
“Toot iang hendak turun tangan dengan gunakan cara apa?”
“Saat ini pernapasannya lemah sekali, pinto hendak menggunakan tenaga dalam untuk bantu memperlancar peredaran darahnya lebih; dahulu. kemudian baru mengobatinya dengan bahan obat-obatan!”
“Aku sipengemis tua sama sekali buta terhadap ilmu pertabiban, apa yang hendak kaulakukan terserah pada keputusan totiang!”
“Baiklah, pinto akan coba-coba lebih dahulu!” bisik Boe Wie Totiang dengan wajah serius rupanya ia merasa berat hati untuk mulai dengan pengobatannya.
Sambil memayang tubuh siauw Ling, tangan kanannya menekan diatas jalan darah Ming Coen-hiat. lalu hawa murninya disalur kan keluar, rentetan aliran panaspun lang-sung menerjang masuk kedalam tubuh Siauw Ling.
Sepertanak nasi lamanya telah lewat dengan percuma, Siauw Ling tetap tidak mem perlihatkan reaksi apapun juga.
Ketika Soen Put shia meraba tangan kiri Siauw Ling, terasa lengan tersebut telah ber ubah menjadi dingin bagaikan segera ujarnya, “Totiang, lebih baik kau tak usah buang tenaga dengan percuma. gantilah dengau cara yang lain!”
Boe Wie Totiang menghela napas panjang ia tarik kembali tangan kanannya lalu dari dalam saku ambil keluar sebuah borol por-selen dari dalam botol tadi ia ambil dua butir pil dan dijejelkan kedalam mulut si anak muda itu.
Dibawah sorotan sinar lilin, tampak wajah Siauw Ling telah berubah jadi hijau, bibir mulutnya mulai menghitam dan dua butir pil yang dijejalkan kedalam mulutnya tadi susah ditelan kedalam perut.
“Wah…. rupanya dia sudah tak ketolongan lagi.” bisik Soen Put shia sambil geleng kepalanya.
Boe Wie Totiang mengempos tenaga, ia pentang gigi Siauw Ling dan jejalkan kedua butir pil tadi dengan paksa.
Kedua butir pil tadi masuk ke dalam perut namun bagaikan batu yang tenggelam dida-sar samudra, lama sekali tidak menunjukan reaksi apapun.
Tiba-tiba Soen Put-shla mendepak kakinya ke atas tanah keras-keras.
“Totiang. sementara kau berusaha disini dengan sekuat tenaga, aku si pengemis tua akan pergi mencari si Raja Obat Bertangan keji!”
“Kalau membicarakan soal ilmu pertabib-an, kepandaian si Raja Obat Bertangan Keji memang terbilang sebagai Tabib nomor Wahid dikolong langit dewasa ini, seandainya loocianpwe berhasil menemukan dirinya hal ini memang jauh lebih baik.”
“Tapi…. locianpwe, tahukah kau dimana Tok-chiu Yok ong berada saat ini?” tiba-tiba Cheng Yap Ching menycla.
“Tidak!”
“Kalau memang locianpwe belum tahu di manakah ia berada, jagad begini luas. ke manakah kau hendak menemukan dirinya 7”
“Mencari jarum di dasar samudra, terpak-sa aku harus adu nasib!”
“Bila keadaan tidak menunjukkan perubahan. aku lihat jiwa Siauw thayhiap sukar untuk diperpanjang lebih dari dua hari.”
“Apakah tootiang tidak mampu untuk memperpanjang umurnya sampai beberapa hari”
“Apabila pinto punya keyakinan untuk memperpanjang umurnya beberapa harl lagi, locianpwe pun rasanya tak perlu pergi mencari si Raja Obat Bertangan keji.”
Air muka Soen Put shia berubah hebat. “Kalau kita tak sanggup berbuat apa apa lebih baik tinggalkan saja dirinya diatas perahunya Su Hay Koencu. Disana belum ten-tu jiwanya bakal modar.”
Ia merandek sejenak, lain sambungnya: “Saat ini apa yang hendak totiang laku-kan terhadap diri Siauw Ling?”
Sementara berbicara, sepasang matanya berkilat tajam, hawa gusar secara lapat lapat menghiasi air mukanya
Boe Wie Tootiang sendiri, walaupun hati-nya sangat terharu namun diluaran ia berusaha keras mempertahankan ketenangan hatinya, ia berkata, “Pinto akan coba menolong Siauw thay-hiap dengan tusukan jarum, seandainya cara inipun tidak berhasil menolong selembar jiwanya.Aai pinto tak bisa berbuat apa-apa lagi.”
“Jadi maksudmn…. seandainya tusukan jarum yang hendak kau lakukan ini tidak berhasil juga memperpanjang jiwa Siauw Ling, maka ia bakal mati tak tertolong lagi?”
“Haaa…. haaa haaa…. seandainya benar-benar terjadi demikian, apa yang hendak tootiang lakukan???” mendadak Soen Put-s ia bertanya sambil tertawa terbahak-bahak
“Maksud locianpwe???”
“Maksud hatiku? Siauw Ling mati di tangan totiang serta aku si pengemis tua, sedang kita adalah sepasang semut yang dtikat dengan sebuah benang. Kau ingin terbang tak bisa sedang aku ingin lari pun tidak mungkin!”
Boe Wie Totiang tertawa hambar. ia bungam dalam seribu bahasa.
“Maksud Lo cianpwe, apakah suhengku pun harus ikut mengorbankan jiwanya demi Siauw Ling?” sela Ceng Yap Ching tiba-tiba.
Tabiat sipengemis tua ini kasar, barangasan dan gampang naik darah. Sepanjang hi-dupnya sifat tersebut sukar dirubah. Kalau tidak demikian dengan nama baik serta kedudukannya mungkin sejak dulu ia sudah diserahi jabatan sebagai ketua perkumpulan Kay-pang.
“Loocianpwe, legakan hatimu,” ujar Boe Wie Tootiang lagi. “Seandainya Siauw Ling benar-benar berumur pendek dan meninggal dunia pinto pasti akan bunuh diri untuk menebus dosa!”
“Apa yang aku sipengemis tua utarakan tadi. tidak lebih cuma kata-kata dikala hatiku sedang mendongkol belaka. Harap tootiang jangan pikirkan didalam hati. Hanya saja…. seandainya Siauw Ling benar-benar meninggal dunia, menurut apa yang aku pe-ngemis tua ketahui pasti ada beberapa orang yang akan menyusul diri kealam baka.”
“Siapa saja?”
“Orang pertama adalah ibu kandungnya.”
“Sebagai orang tua, kasih sayang terhadap putranya melampaui cinta kasih apapun juga, ini memang kemungkinan besar bisa terjadi. lain siapa lagi kecuali ibunya.”
“Sepasang pedagang dari Tiong Chin Kiem Lan serta Giok Lan, dua orang dayang yang ia bawa dari perkampungan Pek Hoa San-Cung.
“Waah, mana mungkin?”
“Jangan dibilang mereka, sekalipun aku si pengemis tuapun sudah bosan hidup dikolong langit. Eeeei bocah cilik kau beget menarnh curiga, apakah perkataanku pun tidak sudi kau percaya?”
Cheng Yap Clng tidak banyak bicara lagi ia membungkam.
Dalam pada itu Boe Wie Tootiang telah ambil keluar jarum emasnya dari dalam saku, serunya, “Sam te, dekatkan lilin itu kemari.” Cheng Yap cing mengiakan, ia angkat lampu lilin itu tinggi tinggi sehingga sekeliling tubuh Siauw Ling tertampak jelas.
Boe Wie Tootiang memeriksa sejenak sekujur tubuh si anak muda itu, setelah jalan darah yang diincarkan ketemu. maka jarum emas itu pun segera ditusuk kebawah.
Tatkala jarum emas tadi menembusi jalan darah, mendadak SiauwLing menghembuskan napas panjang,
“Ooo…. dingin…. dingin….”
“Aaah, benar,” kata Boe Wie TooMang Sambil cabut kembali jarum emasnya. “ilmu kepandaian dari Pak-thian Coen cu adalah ilmu beracun berhawa dingin. setelah kena diserang bawa dingin tersebut pasti sudah mengeram didalam tubuhnya, akan kucoba memberi obat kepadanya untuk mengusir hawa tersebut!”
Sewaktu menyaksikan Siauw Ling secara tiba-tiba dapat buka snara, Soen-put-shia kegirangan setengah mati, buru-buru ia berseru, “Rupanya tusuk jarummu lihay sekali. Totiang, bagaimana kalau kau tusuk pula ja-lan darahnya yang lain?”
“Sekarang, sekujur tubuhnya terserang oleh hawa dingin yang jahat. seandainya kita tak dapat mengusir ha-wa jahat tersebut, sekalipun ia dapat sadar kembalipun percuma saja!”
“Lalu kau hendak menggunakaa resep obat apa untuk mengusir hawa dingin yang mengeram dalam tubuhnya itu?”
“Hawa dingin yang mengeram dalam tubuhnya sama sekali berbeda dengan hawa dingin yang mengeram dalam tubuh kebanyakan orang, maka dari itu kadar obat yang, diberikan kepadanya harus lebih tinggi. Pinto akan segera buka resep dan kita harus depat cepat belikan dirumah obat terdekat.”
“Baik, cepatlah kau blkin resepnya aku sipengemis tua segera akan pergi ketoko obat!”
“Saat ini fajar baru menyingsing, bagai mana kalau kita menunggu sejenak lagi?”
“Jiwa rnanusia lebih berharga dari apapun jnga. apalagi jiwa Siauw-thay hiap
amat kritis, masa masalah besar inipun harus diundur-undurkan lagi?….”
Boe Wie Tootiang tertawa getir.
“Perkataan locianpwe memang tidak sa-lah, tetapi pinto pun harus hati-hati dalam mengambil setiap tindakan….”
“Cuma membuat resep kan suatu peker-jaan yang gampang sekali, kenapa harus menunggu sampai lama?”
Boe Wie Tootiang dibikin apa boleh buat, terpaksa ia berkata, “Tenaga dalam yang dimlliki Siauw thayhiap telah mencapai puncak kesempurnaan, tetapi saat Ini sekujur tubuhnya terserang juga oleh hawa dingin tersebut, hal ini menandakan bahwa hawa dingin yang rnengeram dalam tubuhnya bukanlah hawa dingin biasa obat yang akan kita gunakan untuk mengu-sir hawa dingin itupun jauh berbeda dengan resep obat biasa. Nah maka dari Itu sebelum membuka resep. pinto harus pikirkan lebih dahulu dengan seksama”
Soen Put-shia berpikir sejenak, ia merasa bahwa ucapan tersebut sedikitpun tidak salah maka iapun lantas membungkam.
Boe Wie Tootiang menghela napas panjang.
“Loocianpwe. legakanlah hatimu,” hibur-nya. “Dengan tenaga dalam yang dimiliki Siauw Ling, sekalipun ia sudah terluka oleh hawa pukulan dingin dari Pak Thian Coen-cu
Pada saat Italah tiba-tiba terdengar suara keras berkumandang datang.
“Suara ledakan darimana asalnya ledakan tersebut?” seru Soen Put-shia terperanjat.
“Ledakan Itu berasal dari peringatan tanda bahaya.” sahut Cheng Yap-cing sambil menerjang keluar dari ruangan.
Ketika ia menoleh, tampak Boe Wie Too-tiang masih tundukkan kepala sambil putar otak, rupanya ia sedang memikirkan suatu persoalan yang amat sulit sekali sehingga ledakan keras tadi sama sekali tidak terdengar olehnya.
Setibanya Boe Wie Tootiang tampak Cheng Yap-cing mendorong tubuh toosu itu seraya berseru, “Suheng, tanda bahaya telah dilepaskan, rupanya ada musuh tangguh yang menyusup kedalam markas kita “
“Tanda bahaya?” teriak Boe Wie Tootiang sambil melompat bangun.
“Tidak salah, barusan siauw-te melakukan pengintaian dari atas loteng, secara lapat-lapat aku lihat bunga api bertaburan diang-kasa, agaknya musuh tangguh telah menyeberangi telaga.”
Boe Wie Tootiang segera berpaling kearah Soen Put-shia dan serunya, “Locianpwe, harap kau tetap berada di-sini melindungi Siauw Ling, sedang pinto serta Ceng sute akan pulang sebentar “
“Biarlah aku pengemis tua menemani kau pulang ke markas, tinggalkan saja sutemu di-sini untuk menjaga Siauw Ling, seandainya Pak-Thian Coen-cu yang telah pergi kembail lagi, aku sipengemis tua akan ajak dia untuk beradu jiwa.”
“Menurut pandangan pinto, luka yang di-derita Pak-Thian Coen-cu tidak ringan, tidak Mungkin ia balik lagi kemari. Delapan bagian pastilah anak buah Sben Bok Hong yang berhasil mengejar sampai disitu.”
Begitu gelisah hati toosu tua itu sehabis mengucapkan kata-kata yang terakhir tubuh nya telah melayang keluar dari ruangan.
Cheng Yap Cing ingin menyusul suheng-nya, namun segera dihalangi Soen Put-shia sambil berseru, “Bocah cilik, lebih baik kau tetap tinggal disini, jagalah diri Siauw Ling baik-baik. biar aku sipengemis tua yang menemanl snhengmu.”
“Soal ini….”
“Ilmu silat yang dimillki soen Loocian-Pwe beratus-ratus kali lebih hebat darimu.” Terdengar suara Boe Wie Tootiang berkumandang datang “Dengan hadirnya Soen loocian pwee, meskipun ada musuh tangguh pun tidak susah untuk dihadapi, kau tetap tinggal disitu Saja “
Ucapan tadi kian lama kian menjauh. tatkala perkataan terakhir selesai diucapkan tubuhnya sudah lenyap dikegelapan.
Soen Put shia pun tidak banyak bicara, ia enjotkan badan pergi dari ruangan. dalam sekejap mata tubuhnya pun lenyap dibalik kegelapan.
Cheng Yap-cing dibikin apa boleh buat terpaksa ia menarik napas panjang, menutup pintu dan duduk disisi Siauw Ling.
la tak mengerti ilmu pertabiban, duduk di sisi Siauw Ling yang menggigil kedinginan, jagoan muda dari Bu tong-pay ini sedikit kelabakan Kurang lebih seperminuman teh kemudian. mendadak terdengar Siauw Ling mengigau keras.
“Aduh…. dingin…. dingin….”
Cheng Yap-cing buru-buru bangun menarik selimut untuk ditutupkan keatas tubuh Siauw Ling.
Waktu ia sedang menutupi tubuh SiauW Ling dengan selimur. tiba-tiba terdengar suara getaran keras disusul daun pintu yang tertutup rapat mendadak terbuka.
Segulung angin malam berhembus masuk lampu lilin bergoyang kencang membuat suasana sedikit jadi suram.
Secepat kilat Cheng Yap-cing putar badan tangan kanan menyambar dan pedangnya sudah dilepaskan dari sarung.
Seorang perempuan cantik berdandan keraton dan baju warna hijau serta sekuntum bunga emas bersulamkan didepan dadanya perlahan berjalan masuk.
“Kiem Hoa Hujien “ tegur Cheng Yap-cing.
“Tidak salah!” dengan pandangan dingin nyonya itu berpaling ke arah Siauw Ling dan melanjutkan ;
“Bagaimana dengan lukanya.
Cheng Yap-cing putar pedangnya membentuk selapis bunga pedang yang tebal, ka-mudian baru berkata, “Walaupun ia tidak punya kemampuan lagi untuk melawan musuh, namun selama aku orang she-Cheng masih berada disini, tidak nanti kubiarkan kau mencelakai dirinya.”
Air muka Kiem Hoa Hujien berubah amat sedih. lambat lambat ia mendekati sisi pembaringan.
“Berbenti!” bardik jagoau muda dari Bu-tong Pay ini sambil mendorong pedangnya kemuka menciptakan serentetan cahaya tajam. “Kalau kau berani maju selangkah lagi. hati hati pedangku tidak akan kenal ampun!”
“Janganlah kau gusarkan hatiku….”
“Kalau kugusarkan dirimu lantas kenapa?”
“Akan kusuruh kau rasakan kelihayan dari Pek Sian jie!”
“Pek Sian jie??”
“Ular aneh yang paling aneh paling be racun serta paling keji dikolong langit, ge-rak geriknya lincah seluruh tubuhnya keras melebihi baja. Jangan dikata telapak, sekalipun senjata tajam tidak akan mempan membacok tubuhnya.”
“Benarkah itu? cayhe radaan kurang percaya!”
“Jangan kau coba untuk menjajal. sebab tiada seorangpun memperoleh kesempatan kedua untuk menjajal kelihayan Pek-sian-jieku.”
Perlahan lahan sinar matanya beralih ke atas wajah Siauw Ling dan…. menambahkan
“Aku tidak nanti mencelakai dirinya. aku hanya ingin memeriksa keadaan lukanya belaka.”
“Dari mana aku bisa mempercayai dirimu?”
Tangan kanannya Kim Hoa Hujien segera merogoh kedalam sakunya ambil keluar sebuah kotak porselen yang panjangnya satu depa dengan lebar setengah coen. lalu ujar-nya ketus, “Bagaimana hubudganmu dengan saudara ku ini?”
“Siapakah saudaramu?”
“Siauw Ling “
Cheng Yap-cing berpaling dan meman-dang sekejap kearah Siauw Ling, lalu jawabnya, “Tidak terhitung baik, juga tidak terhi-tung terlalu jelek!”
Tiba-tiba Kiem Hoa Hujien menghela napas panjang dan menyimpan kembali kotak knmala tersebut.
“Seandainya aku biarkan kau mati terpa-gut oleh Pek Sianjie, nanti kalau saudaraku sadar dan mengetahui kejadian Ini,hatinya tentu merasa tidak senang.”
“Soal ini tak usah hujien ragu ragu kau….”
“Aku tidak punya banyak waktu untuk ribut dengan dirimu. cepat katakan! Kecuali kite saling bergebrak masih ada cara apa lagi yang bisa diiempuh agar aku bisa memeriksa keadaan luka dari saudaraku.”
“Seandainya kau memang benar – benar tiada maksud untuk mencelakai dirinya tentu saja tiada halangan bagimu untuk memeriksa keadaan lukanya, cuma,
“Cuma apa? cepat katakan.”
Demi menjaga segala kemungkinan yang tidak diinginkan aku hendak menotok beberapa buah jalan darahmu, agar kau tidak memiliki kemampuan untuk melawan, dengan demikian seandainya kau punya maksud un-tuk mencelakai dirlnya, akupun masih punya kesempatan untuk turun tangan menghalang!”
“Baiklah! cepat kau turun tangan’” seraya berkata nyonya cantik dari suku Bianw ini pejamkan mata dan berdiri sambil bertolak pinggang.
Tangan kiri Cheng Yap cing bergerak ce-pat menotok dua buah jalan darah penting ditubuh Kiem Hoa Hujien. setelah itu ia baru menyingkir kesamping membuka jalan Kiem Hoa Hujien.
“Sekarang kau boleh mendekati pembaringan untuk periksa keadaan lukanja, tapi lebih baik janganlah kau sentuh tubuhnya.”
JILID 13
“Demi menjaga segala kemungkinan yang tidak diinginkan aku hendak menotok beberapa buah jalan darahmu, agar kau tidak memiliki kemampuan untuk melawan, dengan demikian seandainya kau punya maksud untuk mencelakai dirinya, akupun masih punya kesempatan untuk turun tangan menghalangi!”
“Baiklah! cepat kau turun tangan!” seraya berkata nyonya cantik dari wilayah Biauw ini pejamkan mata dan berdiri sambil bertolak pinggang.
Tangan kiri Cheng Yap cing bergerak cepat menotok dua buah jalan darah penting ditubuh Kiem Hoa Hujien, setelah itu ia baru menyingkir kesamping.
“Sekarang kau boleh mendekati pembaringan untuk diperiksa keadaan lukanya, tapi lebih baik janganlah kau sentuh tubuhnya.”
Dengan pandangan dingin Kiem Hoa Hujien memandang sekejap kearah Cheng Yap cing, kemudian perlahan-lahan mendekati pembaringan. Ditatapnya wajah Siauw Ling dengan seksama kemudian ia berbisik, “Lukanya parah sekali!”
“Ehmm, lukanya memang sangat parah.”
“Pak Thian Coencu!”
“Ilmu pukulan Hian peng ciang yang diyakininya memang sangat lihay sekali, kecuali obat penawar buatannya sendiri, dikolong langit tiada obat lain yang bisa menolong….”
“Soal ini tak perlu kau risaukan, suhengku pandai sekali dalam ilmu pertabiban, aku rasa dia pasti mempunyai cara untuk mengusir hawa dingin tersebut dari dalam tubuhnya!”
Kiem Hoa Hujien tertawa dingin.
“Sayang kemampuan suhengmu masih terbatas sekali….” perlahan-lahan ia mundur lima langkah kebelakang dan melanjutkan. “Cepat bebaskan jalan darahku, aku hendak pergi mencari Pak thian Coen cu untuk mencarikan obat penawar baginya.”
Ucapan ini membuat Cheng Yap cing seketika jadi berdiri tertegun, ia bebaskan jalan darah ditubuh Kiem Hoa Hujien lalu berkata, “Ilmu silat yang dimiliki Pak thian Coen cu sangat lihay, kau hendak mencari obat bagi Siauw Ling, bukankah ini berarti mengantar diri sendiri kemulut harimau?”
“Heeh…. heh…. heh…. aku rasa persoalan ini tiada sangkut pautnya denganmu.”
Cheng Yap cing melengak, untuk beberapa saat lamanya ia tak bisa mengucapkan sepatah katapun.
“Baik-baik jaga dirinya dan tunggu kabarku, seandainya sampai besok pagi kentongan kedua aku belum kembali, tak usah kalian tunggu diriku” seraya berkata Kiem Hoa Hujien berjalan keluar.
“Tunggu sebentar!”
Dalam pada itu Kiem Hoa Hujien sudah berada didepan pintu, mendengar seruan tersebut ia berhenti dan berpaling.
“Ada urusan apa lagi?”
“Tadi aku dengar ada tanda bahaya, apakah tanda tersebut ada hubungannya dengan dirimu?”
“Shen Bok Hong memimpin langsung jago-jago lihay menyerbu kemari, mungkin pertempuran sedang berkobar pada saat ini.”
“Cayhe masih ada satu persoalan yang belum paham.”
“Saat ini setiap detik waktuku berharga, mau tanya cepatlah utarakan!”
“Dari mana kau bisa tahu kalau Siauw Ling sedang merawat lukanya ditempat ini.”
“Ketika kalian bertempur melawan Pak thian Coen cu tadi, aku telah mengintai dari balik kegelapan.”
“Jadi kalau begitu Shen Bok Hong pun tahu akan peristiwa ini?”
“Seandainya pada saat ini Shen Bok Hong tahu bahwa Siauw Ling berada disini sejak tadi ia sudah muncul disini.”
Tidak menanti Cheng Yap cing melanjutkan kata-katanya, ia enjotkan badan melayang keatas atap rumah, dalam sekejap saja ia telah lenyap ditelan kegelapan.
Memandang bayangan tubuh Kiem Hoa Hujien yang menjauh, Cheng Yap cing menghela napas. Perlahan-lahan ia berjalan kembali kesisi pembaringan Siauw Ling.
Walaupun ia tak berani mempercayai seratus persen apa yang diucapkan Kiem Hoa Hujien barusan, namun teringat kemungkinan besar pada saat ini suhennya sedang bertempur melawan Shen Bok Hong, hatinya terasa gelisah. Ingin sekali ia memburu keluar untuk membantu suhengnya, tapi iapun merasa tidak tega meninggalkan Siauw Ling seorang diri. Untuk beberapa saat ia jadi terdiam dan tidak mengerti apa yang harus dilakukan.
Waktu sedetik demi sedetik lewat dengan lambatnya, Cheng Yap cing yang penuh diliputi kegelisahan merasakan duduk tak enak berdiripun tidak enak.
Dikala pikirannya sudah kacau dan hati semakin kebat kebit itulah, tiba-tiba dari luar ruangan berkumandang datang suara langkah kaki dari seseorang.
Sejak tadi Cheng Yap cing sudah waspada cepat ia tiup lilin hingga padam kemungkinan cabut keluar pedangnya dan bersembunyi dibalik pintu.
“Bagaimana dengan keadaan luka Siauw Ling?” terdengar suara Soen Put shia masuk dari luar ruangan.
“Keadaan seperti sedia kala!”
Sesosok bayangan manusia menyambar lewat, Soen Put shia dengan gagah telah berdiri didalam ruangan.
Cheng Yap cing segera masukkan kembali pedangnya kedalam sarung, menyulut lilin dan bertanya, “Loocianpwee, kau telah berjumpa dengan Shen Bok Hong?”
“Kau telah saling berjumpa?”
“Dimanakah suhengku pada saat ini?”
“Suhengmu telah menyebrangi telaga, saat ini mungkin telah bergabung dengan para jago” sembari berkata pengemis tua ini mendekati pembaringan Siauw Ling dan memandang wajah si anak muda itu.
“Apakah loocianpwee telah bergebrak, tidak nanti aku sipengemis tua bisa datang kemari dalam keadaan segar bugar.”
Cheng Yap cing jadi tertegun.
“Bukankah Shen Bok Hong sengaja datang kemari untuk mencari kita semua? setelah saling berjumpa mengapa kalian tidak saling bertarung?”
“Aku sipengemis tuapun merasa tercengang mungkin kita orang memang belum saatnya untuk modar!”
“Sebenarnya apa yang telah terjadi?”
Soen Put shia meraba dahulu kening Siauw Ling, setelah itu ia baru menyahut, “Tatkala aku sipengemis tua serta suhengmu tiba ditepi telaga, Shen Bok Hong sekalian telah berada ditempat itu, dalam beberapa patah kata saja aku berdua telah dikepung oleh mereka, rupanya kedua belah pihak sudah tak dapat menghindarkan diri dari suatu pertempuran. Pada saat yang kritis itulah tiba-tiba terdengar irama musik yang aneh berkumandang, secara mendadak Shen Bok Hong memerintahkan anak buahnya untuk buyar dan pergi dari situ. Kejadiannya memang sederhana sekali namun aku sipengemis tua belum paham juga sampai kini sebenarnya apa yang telah terjadi.”
“Aai…. kalau begitu irama musik itulah yang telah membantu kita.”
“Soal ini aku sipengemis tua tidak mengerti, aku rasa suhengmupun setali tiga uang….”
Ia merandek sejenak, lalu katanya lagi, “Apakah disini telah terjadi suatu peristiwa?”
“Kiem Hoa Hujien telah berkunjung kesini.”
“Kiem Hoa Hujien telah datang kemari?” tanya Soen Put shia terkesima.
“Tidak salah!”
“Dari mana dia bisa tahu kalau kau serta Siauw Ling berada disini?”
“Ketika Siauw Ling bertempur melawan Pak thian Coen cu tadi, ia telah mengintai dari samping!”
“Jadi ia menguntit kita sampai disini?”
“Mungkin demikian adanya.”
“Diseluruh saku perempuan siluman itu banyak tersimpan makhluk-makhluk beracun apakah ia meraba tubuh Siauw Ling?”
“Ada cayhe disini, tentu saja aku tidak akan membiarkan dia meraba tubuh Siauw Ling!”
Dengan sinar mata tajam Soen Put shia menatap wajah Cheng Yap cing lama sekali ia baru bertanya, “Kiem Hoa Hujien bukanlah manusia yang gampang menuruti perintah orang, mana ia sudi mendengarkan perkataanmu?”
“Mula-mula cayhe totok lebih dahulu jalan darah diatas sepasang lengannya setelah itu kubiarkan dia mendekati pembaringan Siauw Ling. Dalam keadaan begini seandainya dia ada maksud jahat, aku bisa mencabut jiwanya tanpa mengalami kesulitan.”
“Kemudian?”
“Setelah ia memandang Siauw Ling beberapa saat, aku bebaskan kembali jalan darahnya dan biarkan ia pergi.”
“Apa yang ia ucapkan sebelum meninggalkan tempat ini?”
“Katanya dia mau pergi mencari obat penawar bagi Siauw Ling, dia minta kita tunggu disini, apabila besok malam kentongan kedua itu belum datang juga, maka kita tak usah menunggu lagi.”
“Kemana ia pergi mencari obat penawar itu?”
“Katanya dia mau pergi mencari Pak thian Coen cu.”
“Meskipun ilmu silat yang dimiliki Kiem Hoa Hujien tidak jelek, aku rasa dia masih bukan tandingan dari Pak thian Coen cu.”
“Aaaai…. namun tatkala mengucapkan kata-kata tersebut nadanya keras dan tegas, rupanya ia bukan lagi berbohong….”
Setelah merandek sejenak, tambahnya, “Yang cayhe tidak pahami hingga kini adalah, apa sebabnya manusia semacam Kiem Hoa Hujien bisa menaruh rasa begitu kuatir terhadap keselamatan diri Siauw Ling.”
Sepasang alis Soen Put shia berkerut.
“Kalau kau tanyakan persoalan itu kepada aku sipengemis tua, maka pertanyaanmu itu akan sia-sia saja.”
“Loocianpwee, tinggallah disini untuk menjaga Siauw Ling, boanpwee akan pergi menjenguk suhengku sebentar.”
“Pergilah! tapi menurut pandangan aku sipengemis tua, agaknya Siauw Ling tak dapat mempertahankan diri hingga lebih dari kentongan kedua besok malam. Sewaktu kau berjumpa dengan suhengmu nanti katakanlah kepadanya, suruh dia cepat-cepat kemari untuk memberikan pertolongan seadanya.”
“Akan boanpwee ingat pesan-pesan dari cianpwee!” sehabis menjura, jago muda dari Butong pay ini segera berlalu dari ruangan.
Sepeninggal Cheng Yap cing, pengemis Soen ambil sebuah kursi dan duduk dipembaringan Siauw Ling. Memandang pemuda she Siauw berbaring tak berkutik, hatinya merasa amat sedih, diam-diam pikirnya, “Seandainya aku pengemis tua tidak menasehati dirinya, saat ini mungkin dia serta Tiong Chiu Siang Ku masih tetap tinggal diatas perahu panca warnanya Su Hay Koen cu, dengan sendirinya iapun tidak akan mengalami bencana seperti hari ini….”
Ia merasa bahwasanya peristiwa yang terjadi kali ini semuanya timbul karena dia. Hal ini membuat hati pengemis tua ini semakin sedih.
Malam yang kelam berlangsung lama sekali, berada dalam keadaan yang tidak tenang inilah Soen Put shia melwatkan malam panjang itu.
Keesokan harinya ketika fajar menyingsing, kakek tua she Lie muncul menghantarkan hidangan pagi yang lezat.
Dalam pada itu anggota badan Siauw Ling kian lama kian bertambah dingin, ia selalu berada dalam keadaan tidak sadar. Kecuali ada sedikit napas yang sangat lemah, keadaannya tidak berbeda dengan orang mati.
Soen Put shia semakin gelisah, bagitu tak tenang hatinya sampai-sampai tak sesuap nasipun yang tega ditelan kedalam perut.
Menanti tengah hari sudah lewat, barulah tampak Boe Wie Tootiang muncul disitu dengan tergesa-gesa, ditangannya toosu tua itu membawa dua bungkus obat pengusir hawa dingin.
Soen Put shia masuk kedapur sendiri untuk memasak obat-obatan tadi, kemudian membawanya kedalam ruangan.
Ketika itu seluruh wajah Siauw Ling yang tampan telah berubah jadi hijau membesi, seluruh tubuhnya kaku tak berkutik.
Untuk menuangkan obat yang telah dimasak itu kedalam perut Siauw Ling, baik Boe Wie Tootiang maupun Soen Put shia harus membuang banyak pikiran serta tenaga.
Rupanya pengemis tua ini menaruh harapan yang sangat besar atas obat pengusir hawa dingin dari Boe Wie Tootiang, maka dari itu setelah ia mencekokkan obat tadi kedalam perut Siauw Ling, sepasang matanya dengan tajam menatap pemuda itu tak berkedip.
Siapa sangka walaupun Siauw Ling telah menelan obat tersebut namun keadaannya bagaikan batu yang tenggelam didasar samudra, satu jam sudah lewat tanpa menunjukkan reaksi ataupun perubahan apapun.
Kontan Soen Put shia kerutkan sepasang dahinya.
“Tootiang, kau tidak salah menggunakan obat?” tegurnya.
“Setelah membuka resep pinto telah melakukan pemeriksaan sendiri terhadap bahan obat-obatan tersebut. Semua obat yang telah tersedia tak ada yang salah, pinto rasa resep itu tidak salah lagi.”
“Kalau kau memang tidak salah menggunakan obat, kenapa setelah Siauw Ling menelan obat tersebut, tubuhnya sama sekali tidak menunjukkan reaksi apapun?”
Boe Wie Tootiang tertawa jengah.
“Mungkin hal ini dikarenakan ilmu pertabiban pinto yang kurang mahir, sehingga dalam membuka resep tidak tepat.”
“Aaai, kalau begitu rupanya kita harus menunggu hasil dari Kiem Hoa Hujien.”
Rupanya dari mulut Cheng Yap cing, toosu tua dari Bu tong pay ini telah mendengar peristiwa kemarin malam, dan sambungnya, “Seandainya Kiem Hoa Hujien benar-benar berhasil mendapatkan obat penawar racun hawa dingin tersebut dari tangan Pak thian Coen cu, peristiwa ini benar-benar merupakan suatu keberuntungan bagi kita.”
“Umpama ia tak berhasil?”
“Soal ini, soal ini….!”
Soen Put shia tertawa dingin.
“Seandainya Kiem Hoa Hujien tak berhasil mendapatkan obat penawar racun hawa dingin dari Pak Thian Coen cu, terpaksa kita harus saksikan Siauw Ling mati didepan mata kita bukankah begitu?”
oooo0oooo
“Diam-diam pinto telah melakukan pemeriksaan terhadap tanda-tanda penyakit Siauw thayhiap, agaknya luka yang ia derita memang amat parah. Seandainya Kiem Hoa Hujien tidak berhasil mendapatkan obat penawar dari Pak thian Coen cu, pinto sendiripun tak tahu bagaimana harus menyembuhkan luka dari Siauw thayhiap.”
“Siapakah Pak thian Coen cu rasanya kita semua telah mengerti” kata Soen Put shia kembali setelah termenung sejenak. “Sekalipun ilmu silat yang dimiliki Kiem Hoa Hujien lebih lihay lagipun belum tentu bisa dapatkan obat penawar tersebut, mati hidup ada ditangan Thian. Soal ini aku sipengemis tua tak dapat menyalahkan siapapun juga, namun ada satu persoalan ingin sekali kutanyakan pada diri tootiang.”
“Selama pinto sanggup melaksanakan aku pasti berusaha dengan sekuat tenaga.”
“Kecuali Kiem Hoa Hujien berhasil dapatkan obat penawar untuk menyembuhkan luka dari Siauw Ling, mungkinkah masih ada jalan lain yang bisa kita tempuh?”
“Hingga kini pinto masih belum berhasil mendapatkan obat mujarab lain yang bisa mengusir hawa dingin dari tubuh Siauw thayhiap.”
“Maksud aku sipengemis tua, apakah dikolong langit dewasa ini masih ada tabib sakti lain yang bisa menyembuhkan luka Siauw Ling tanpa menggunakan obat penawar dari pak thian Coen cu?”
“Menurut apa yang pinto ketahui, dalam dunia persilatan dewasa ini hanya siraja obat bertangan keji seorang yang memiliki kepandaian ilmu pertabiban sakti, dan pinto rasa cuma dia seorang saja yang bisa menyembuhkan luka Siauw Ling tanpa menggunakan obat penawar dari Pak thian Coen cu….”
Ia merandek sejenak kemudian sambungnya, “Maksud pinto, harap loocianpwee suka bersabar untuk menunggu beberapa saat lagi, tunggu saja sampai janji nanti malam. Seandainya Kiem Hoa Hujien tidak berhasil kita baru cari akal lain untuk menolong jiwa Siauw thayhiap.”
“Jangan dikata Kiem Hoa Hujien bukan tandingan dari Pak Thian Coen cu, sekalipun ia berhasil mendapatkan obat penawar itupun belum tentu datang menepati janji.”
“Kalau dalam persoalan ini pandangan pinto jauh berbeda dengan pandangan loocianpwee. Seandainya Kiem Hoa Hujien berhasil mendapatkan obat penawar itu dia pasti akan datang menepati janji, sebaliknya umpama kata ia tak berhasil mendapatkan obat penawar itu, asal ia tidak mati ditangan Pak thian Coen cu, perempuan itu pasti akan datang menepati janji.”
“Darimana kau bisa tahu?”
“Andaikata Kiem Hoa Hujien ada maksud hendak membinasakan Siauw Ling, apa sebabnya ia buang kesempatan yang paling baik atau paling sedikit ia bisa melaporkan kejadian ini kepada Shen Bok Hong sehingga gembong iblis itu dapat kirim jago-jagonya kemari.”
Soen Put shia termenung beberapa saat kemudian berkata, “Jadi maksud tootiang, kita baru bikin keputusan setelah kentongan kedua nanti malam?”
“Berbicara dari situasi yang kita hadapi sekarang, rasanya itulah satu-satunya jalan yang paling tepat.”
Memandang Siauw Ling yang menggeletak diatas pembaringan, Soen Put shia menghela napas panjang.
“Baiklah! kita tunggu saja sampai kentongan kedua nanti malam.”
Waktu dalam penantian berlalu bagaikan merangkak. Soen Put shia semakin gelisah dibuatnya, ia berjalan mondar mandir dalam ruangan, sebentar-sebentar tiada hentinya ia berhanti disisi pembaringan Siauw Ling untuk meraba jidatnya, meraba dadanya untuk memeriksa napas begitu gelisah seakan-akan duduk diatas jarum.
Boe Wie Tootiang sendiri, meski dalam hati ikut gelisah namun ia berhasil menguasai diri. Sepanjang hari toosu tua ini duduk bersila sambil pejamkan mata, tak sepatah katapun yang diutarakan keluar.
Dengan susah payah akhirnya malam haripun menjelang tiba, Boe Wie Tootiang pun bangun berdiri untuk menyulut lampu lilin.
Dalam pada itu napas Siauw Ling kian lama berubah jadi makin lemah, rupanya setiap saat ada kemungkinan berhenti berdetak.
Memandang cahaya lilin diatas meja, Soen Put shia menghela napas sedih.
“Tootiang menurut pandanganmu apakah Siauw Ling melewatkan malam ini dengan selamat?”
Boe Wie Tootiang tidak menjawab, ia cekal nadi Siauw Ling dan didengarkan dengan seksama, terasa denyutan nadi si anak muda itu sebentar kedengaran dan sebentar lagi lenyap. Ia sadar bahwa jika Siauw Ling tak bisa dipertahankan hingga keesokkan harinya, dapat hidup sampai kentongan ketigapun sudah termasuk beruntung.
Satu-satunya harapan bagi Siauw Ling untuk melanjutkan hidup pada saat ini adalah menanti kembalinya Kiem Hoa Hujien, kecuali perempuan itu berhasil mendapatkan obat penawar dari Pak thian Coen cu rasanya tiada harapan lain yang bisa dilegakan lagi.
Sekalipun begitu Boe Wie Tootiang tidak ingin mengutarakan keluar, ia sadar seandainya kenyataan tersebut dikatakan maka peristiwa itu pasti akan mendatangkan rasa sedih serta gusar yang tak terhingga bagi Soen Put shia, maka ia sengaja berlagak tenang, ujarnya sambil tertawa hambar, “Tenaga kweekang yang dimiliki Siauw thayhiap amat sempurna, walaupun luka yang ia derita sangat parah, namun ia masih sanggup mempertahankan diri hingga dua tiga hari lagi.”
“Sungguhlah perkataan dari tootiang itu?? atau mungkin kau sengaja sedang menghibur hati aku sipengemis tua??” seru Soen Put shia setelah termenung sejenak.
“Apa yang pinto ucapkan adalah kata-kata yang sebenarnya, kecuali pinto sudah salah memeriksa denyutan nadi dari Siauw Ling.”
Ucapan terakhir itu sengaja ia utarakan guna berjaga-jaga segala akibat dikemudian hari, seumpama kata Kiem Hoa Hujien tak dapat datang sebelum kentongan kedua dan Siauw Ling keburu sudah meninggal, maka ia akan mengakui kejadian tersebut sebagai keteledorannya sewaktu memeriksa denyutan nadi si anak muda itu.
Waktu berlalu dalam suasana yang menyedihkan, Boe Wie Tootiang serta Soen Put shia merasakan dadanya seperti ditindihi dengan baja seberat ribuan kati, siapapun tidak mengeluarkan perkataan barang sepatahpun.
Mendekati kentongan kedua malam itu, suasana masih tetap sunyi senyap, Soen Put shia merasakan hatinya amat sedih, begitu pedih hatinya memikirkan nasib Siauw Ling sehingga ia tak sadar bahwa kentongan kedua telah tiba.
Sebaliknya Boe Wie Tootiang yang masih sanggup mempertahankan diri mengerti akan hal itu, ia bangun berdiri dengan hati sangat gelisah, berjalan keluar ruangan ia berdiri termangu-mangu.
Terasa malam itu begitu sunyi, tak nampak sesosok bayangan manusiapun ada disitu apalagi bayangan dari Kiem Hoa Hujien sambil menghela napas sedih pikirnya, “Habislah sudah, meskipun ia berhasil mendapatkan obat penawar, jika kedatangannya terlambat setengah jam lagi, jiwa Siauw Ling pasti sudah melayang…. kendati ada obat dewapun percuma….”
Sementara ia masih berdiri melamun, tiba-tiba dari tempat kejauhan berkumandang datang suara teriakan seseorang, suara itu merdu dan lantang jelas suara seorang gadis.
Tatkala didengarnya dengan seksama, ia dengar suara itu seakan-akan sedang memanggil nama Siauw Ling.
Ditengah malam yang sunyi, suara itu kedengaran berkumandang datang dari kejauhan, paling sedikit ada dua li dari sana.
Suatu ingatan berkelebat dalam benak Boe Wie Tootiang, ia segera berpaling sambil berpesan, “Loocianpwee, baik-baik menjaga Siauw Ling, pinto akan pergi sebentar….!”
Tidak menanti Soen Put shia menjawab, tubuhnya sudah melompat keluar dari ruangan dan bergerak kearah mana berasalnya suara tersebut.
Suara panggilan Siauw Ling itu tiada hentinya berkumandang datang, Boe Wie Tootiang terpaksa harus kerahkan segenap tenaganya untuk menyusul kesana.
Ilmu meringankan tubuhnya amat sempurna, toosu itu bergerak laksana hembusan angin malam, dalam sekejap mata dua tiga li telah dilalui.
Dibawah sorotan cahaya bintang yang redup, tampaklah seorang gadis berbaju ringkas warna hitam dan menyoren sebilah pedang dipunggung sedang berdiri ditepi jala sambil memanggil nama Siauw Ling.
Rupanya gadis itu menyadari bahwasanya ada seseorang berjalan mendekati dirinya, ia berhenti memanggil dan menegur, “Siapa???”
Diam-diam Boe Wie Tootiang pun merasa terperanjat setelah menyaksikan ketajaman pendengaran gadis itu, pikirnya, “Siapakah gadis ini??? begitu tajam pendengarannya.”
Berjalan mengitari sebuah pohon besar, perlahan-lahan toosu tua itu munculkan diri.
“Pinto adalah Boe Wie Tootiang dari Bu tong pay!”
“Apa maksudmu datang kemari? aku bukan sedang memanggil dirimu!” tegurnya dingin, sepasang biji mata yang bening menatap Boe Wie Tootiang tajam-tajam.
Meski nadanya dingin dan hambar namun masih menunjukkan kepolosan hatinya.
“Orang yang nona panggil bukankah Siauw Ling?”
“Tidak salah! tahukah kau sekarang dia berada dimana??”
“Siapakah nona? mengapa datang mencari Siauw Ling??”
“Kau tahu tidak dia berada dimana?” bentak gadis itu marah.
Boe Wie Tootiang mengangguk.
“Seandainya aku tidak tahu Siauw Ling berada dimana, tidak nanti pinto datang kemari.”
“Cepat bawa aku menemui dirinya.”
“Kalau nona tidak sudi menyebutkan nama serta kedudukanmu, pinto tidak akan membawa nona pergi menemui dirinya.”
“Aku bernama Liok Kian Thay, cukup bukan? cepat bawa aku pergi menjumpai dia.”
“Liok Kian Thay? belum pernah kudengar orang menyebutkan namamu!”
“Kau tidak tahu akan diriku, tapi tahu bukan akan nama ayahku!”
“Siapakah ayahmu?”
“Ayahku adalah Pak Thian Coen cu!”
Ucapan ini membuat Boe Wie Tootiang tertegun.
“Ooouw…. kiranya kau adalah putri istana es. Maaf…. maaf….”
“Semuanya telah kukatakan padamu, ayoh cepat bawa aku pergi menjumpai Siauw Ling. Ilmu telapak salju ayahku amat keji dan sangat beracun, kalau terlambat lagi mungkin dia tak tertolong lagi.”
Dalam hati Boe Wie Tootiang diam-diam berpikir, “Pada saat ini napas Siauw Ling sudah lemah, diapun telah berada diambang kematian. Perduli perkataan gadis ini benar atau tidak, bawa saja dia kesitu, siapa tahu kalau ia benar-benar mau menolong….”
Maka segera katanya, “Pinto akan membawa jalan buat nona!” tanpa banyak bicara ia putar badan dan berlalu.
Liok Kian thay dengan cepat menyusul dari belakang, sambil lari tiada hentinya ia suruh Boe Wie Tootiang berjalan lebih cepat.
Dalam sekejap mata mereka berdua telah kembali kedalam ruangan, waktu itu Soen Put shia sedang membopong tubuh Siauw Ling dengan tangan kiri, sedang tangan kanannya ditempelkan keatas jalan darah Ming Boe hiat si anak muda itu, agaknya ia sedang salurkan hawa murninya untuk menolong Siauw Ling.
Ketika menyaksikan Boe Wie Tootiang kembali kedalam ruangan, pengemis tua itu mendongak sambil berseru, “Kau telah membohongi aku sipengemis tua!”
Sebelum toosu tua itu sempat menjawab, Liok Kian thay dengan langkah terburu-buru telah lari kedepan pembaringan, hardilnya, “Lepaskan dia!”
Jari tangan laksana sebuah tombak langsung menotok jalan darah diatas pergelangan kanan Soen Put shia.
Pengemis tua itu angkat tangan kanannya menghindar, lalu meloncat bangun sambil mengirim sebuah babatan, sementara matanya beralih keatas wajah Boe Wie Tootiang sambil bertanya, “Tootiang siapakah nona ini?”
“Dia adalah putri kesayangan dari Pak thian Coen cu, kedatangannya kemari untuk menolong jiwa Siauw Ling. Harap loocianpwee suka menyingkir kesamping!”
Dalam pada itu Liok Kian thay tidak mengucapkan sepatah katapun, dengan tangan kanannya ia sambut serangan dari pengemis tua itu dengan keras lawan keras sedang tangan kirinya merogoh saku ambil keluar sebutir pil dan dijejalkan kedalam mulut Siauw Ling.
Sungguh dahsyat tenaga pukulan dari Soen Put shia, gadis she Liok itu seketika dipaksa mundur dua langkah kebelakang, dengan adanya kejadian itu pil yang ada ditangan kirinyapun tak sanggup dijejalkan kedalam mulut Siauw Ling.
Rupanya peristiwa ini membangkitkan hawa gusar dalam hati digadis tersebut, sebuah tendangan tiba-tiba dilepaskan mengancam lambung Soen Put shia.
Pengemis tua itu loncat keatas meninggalkan pembaringan, lalu melayang turun disudut ruangan.
“Kalau jiwanya sampai terancam, aku akan cabut jiwa kalian berdua sebagai gantinya!” teriak Liok Kian thay gusar.
Tangan kanannya memayang tubuh Siauw Ling, sedang pil ditangan kirinya secepat kilat dijejalkan kedalam mulut Siauw Ling.
Begitu pil tadi masuk kedalam mulut segera lumer setelah bercampur dengan air ludah. Tanpa mengalami kesulitan apa-apa hancuran pil tadi masuk kedalam perut.
Selama ini dengan sepasang mata yang tajam Boe Wie Tootiang memperhatikan terus perubahan diatas wajah Siauw Ling, disamping menyaksikan reaksi dari obat tersebut iapun mengawasi setiap gerak gerik dari Liok Kian thay.
Sebaliknya Soen Put shia mencurahkan seluruh perhatiannya keatas tubuh Siauw Ling.
Pil emas itu benar-benar sangat mujarab, tidak selang beberapa saat kemudian tiba-tiba Siauw Ling menggerakkan sepasang tangannya.
Menyakiskan Siauw Ling benar-benar telah sadar Boe Wie Tootiang merasa amat girang.
“Nona Liok, obatmu benar-benar mujarab sekali!” serunya.
Sedangkan Soen Put shia berdiri tertegun.
“Siapakah nona ini?” ia bertanya lirih.
“Bukankah sejak tadi telah pinto terangkan bahwa dia adalah putri dari Pak thian Coen cu?”
“Apa shenya?”
“Gadis ini mengaku she Liok bernama Kian Thay?”
“Lalu Pak thian Coen cu sendiri she apa?”
“Menurut apa yang aku ketahui, Pak thian Coen cu mengaku dirinya she Pek li, mana mungkin putrinya jadi she Liok.”
“Sungguhkah begitu?” tanya Boe Wie Tootiang terperanjat.
“Tentu saja sungguh, sejak kapan aku pengemis tua pernah bicara bohong….”
Ia cekal tangan Boe Wie Tootiang erat-erat dan menambahkan, “Perduli dia she Thio atau she Ong, perduli apa dia adalah putrinya Pak Thian Coen cu atau iblis dari selatan, yang pokok dewasa ini kita kuatirkan keselamatan Siauw Ling. Asal dia berhasil menyembuhkan luka dari diri Siauw Ling itu yang cukup parah.”
“Benar ucapan loocianpwee tepat sekali.”
Sementara itu Siauw Ling yang berbaring diatas pembaringan mendadak menggerakkan lengannya sambil berseru, “Aduuuh…. dingin…. dingin sekali!” seraya menggeliat ia bangun duduk.
“Saudara Siauw, kau sembuh bukan?” teriaknya Soen Put shia kegirangan.
Dibawah sorotan cahaya lampu tampak wajah Siauw Ling masih kelihatan pucat pias bagaikan mayat, sepasang matanya sayu tak bersinar. Ketika mendengar teguran tersebut ia berpaling dan memandang sekejap kearah pengemis tua itu.
“Boanpwee sudah rada baikan….” sinar matanya beralih keatas wajah Boe Wie Tootiang lalu menambahkan, “Terima kasih atas budi pertolongan dari tootiang!”
Meski badannya belum sembuh seratus persen, namun kesadarannya telah pulih kembali seperti sedia kala.
“Bukan aku yang menolong kau adalah nona ini yang telah menyembuhkan penyakitmu” baru Boe Wie Tootiang berseru.
Siauw Ling segera berpaling dan memandang sekejap kearah gadis yang berdiri dihadapannya.
“Siapakah nona? cayhe dengan dirimu tidak pernah saling mengenal, mengapa kau datang kemari untuk menolong diriku.”
Semula Boe Wie Tootiang mengira gadis ini adalah putri dari Pak thian Coen cu cuma dikarenakan ia tak suka menerangkan nama yang sebenarnya maka gadis itu tetap mengaku sebagai Liok Kian thay. Tapi setelah menyaksikan Siauw Ling sendiri yang tidak kenal, ia baru tahu bahwa gadis itu benar-benar datang dengan menyaru, suatu igatan berkelebat dalam benaknya, sembari diam-diam mengepos tenaga, lambat-lambat ia mendekati pembaringan Siauw Ling.
“Siauw thayhiap” serunya. “Perhatikanlah dengan seksama, nona ini adalah putri kesayangan dari Pak thian Coen cu!”
Dengan pandangan tajam Siauw Ling memperhatikan wajah gadis itu, lama sekali ia baru menggeleng.
“Bukan, dia bukan putri kesayangan dari Pak thian Coen cu!”
Tidak menanti gadis itu membantah, buru-buru Boe Wie Tootiang menyambung kembali, “Dia bernama Liok Kian thay!”
“Waah…. waah…. semakin tidak benar lagi. Putri Pak thian Coen cu bernama Pek li Peng sejak kapan ia ganti she jadi she Liok?”
Pada saat itulah Boe Wie Tootiang telah berada disisi Liok Kian thay, tiba-tiba ia ayun tangannya mencengkeram jalan darah diatas pembaringan kanan gadis she Liok itu kemudian tegurnya, “Siapakah nona? apa maksudmu menyaru sebagai putri kesayangan dari Pak thian Coen cu?”
Liok Kian thay sama sekali tak kelihatan gentar, dengan tenang ia tersenyum.
“Lepaskan diriku!” katanya.
“Silahkan nona mundur lima langkah, pinto akan segera lepaska diri nona!”
“Apakah tootiang takut aku melukai dirinya?” jengek Liok Kian thay sambil memandang sekejap wajah Siauw Ling.
“Tidak salah. Jarak antara nona dengan Siauw thayhiap terlalu dekat. Seandainya kau turun tangan secara mendadak, pinto tidak akan sempat turun tangan menolong.”
“Seandainya aku hendak mencelakai jiwanya tidak nanti aku datang kemari untuk menyembuhkan lukanya.”
“meskipun ucapan nona tidak salah, tapi sebelum asal usul nona dibikin terang sungguh membuat hati kita jadi ragu. Lebih baik mundurlah lima langkah kebelakang.”
Liok Kian thay dipaksa apa boleh buat, terpaksa ia mundur lima tindak.
“sekarang kau boleh lepaskan diriku?”
Boe Wie Tootiang menurut dan benar-benar lepaskan cengkeramannya pada pergelangan tangan kanan Liok Kian thay.
“Walaupun nona datang kemari pakai nama palsu, tapi pinto tetap merasa berterima kasih sekali atas budi pertolonganmu terhadap diri Siauw thayhiap.”
Luas ruangan itu tak seberapa, setelah Liok Kian thay mundur lima tindak kebelakang maka ia telah berada didepan pintu.
“Siauw siangkong, benarkah kau tidak kenal dengan budak?” ia menegur.
Kembali Siauw Ling menatap wajah gadis she Liok itu tajam-tajam, lama sekali kembali ia menggeleng.
“Tidak kenal!”
“Siauw siangkong tentu kenal sama enci Hiang Soat bukan?”
“Kenal, dia adalah dayang kepercayaan dari nona Pek li, cahye pernah beberapa kali berjumpa dengan dirinya.”
“Secara diam-diam Hiang Soat dengan mengikuti nona telah pergi mencari jejak siangkong sebetulnya budakpun ingin ikut tapi nona paksa aku untuk tetap tinggal disisi looya sekalian mencari berita tentang dirimu. Rupanya dalam hati nona telah tahu, kepergiannya mencari diri siangkong pasti akan menggusarkan hati looya, maka sebelum berangkat nona telah serahkan dua botol obat mujarab bikinan looya sendiri kepada budak, agar setiap saat budak dapat menggunakan obat tersebut untuk menolong napas panjang.”
“Nona pernah berpesan kepada budak untuk perhatikan gerak gerik looya, seandainya ia berhasil temukan diri Siauw siangkong dan melukai dirimu, maka nona perintahkan budak untuk datang mengantarkan obat pemusnah.”
“Dari mana nona bisa tahu kalau cayhe terluka?”
“Tengah hari tadi pasukan pengawal istana es berhasil menawan seorang wanita yang bernama Kiem Hoa Hujien, katanya ia hendak mencuri pil bikinan looya, budak mendengar kabar itu segera teringat akan diri siangkong, maka aku segera pergi menanyakan persoalan ini kepada Kiem Hoa Hujien ini….”
“Mula-mula ia tak mau bicara” dayang itu melanjutkan. “Ketika kentongan pertama telah tiba dan aku menengok dirinya lagi. ia baru suka menceritakan kisah untuk menolong dirimu. Tentu saja budak jadi sangat terperanjat, sungguh tak nyana pesan nona sebelum pergi kini jadi kenyataan….”
“Oouw kiranya begitu, sungguh tak nyana kejadian ini bisa berlangsung begini!”
“Budak lantas bertanya kepadanya, sekarang siangkong ada dimana?” terdengar Liok Kian thay menyambung.
“Kiem Hoa Hujien tentu beritahu kepadamu bukan?” Boe Wie Tootiang menyela.
“Sedikitpun tidak salah!”
“Setelah diberitahu, mengapa nona tidak langsung datang kemari?”
“Baru saja Kiem Hoa Hujien bicara sampai tengah jalan, kebetulan majikan kami utus orang untuk memeriksa dirinya, maka terpaksa budak harus menyembunyikan diri.”
Ia menghembuskan napas panjang dan melanjutkan, “Waktu itu tengah malam sudah lewat, budak tak bisa menunggu sampai dia kembali lagi, maka terpaksa aku ikuti arah yang diberitahukan kepadaku untuk mencari sendiri. Siapa sangka aku tak berhasil menemukan diri siangkong saking cemasnya lalu budak meneriakkan nama siangkong.”
Ia sapu sekejap wajah Boe Wie Tootiang. “Tootiang ini munculkan diri dan paksa aku sebutkan namaku. Berhubung situasi yang memaksa maka apa boleh buat, terpaksa aku menyaru jadi nona.”
“Lok Kian thay apakah namamu yang sebenarnya?”
“Budak bernama Kian thay, Liok memang she budak yang sebenarnya!”
“Ada orang datang!” tiba-tiba Soen Put shia berseru sambil memadamkan lilin.
Terdengar ujung baju tersampok angin bergema diluar ruangan, rupanya ada seseorang sedang meloncati pagar tembok.
Diam-diam pengemis tua itu menghimpun tenaga dalamnya mempersiapkan diri. Belum sempat ia membentak terdengar suara seorang perempuan berkumandang datang, “Bagaimana keadaan luka Siauw Ling? apakah ada perubahan?”
“Aaah Kiem Hoa Hujien telah datang” ujar Boe Wie Tootiang sambil cepat-cepat membuka pintu.
Tampaknya Kiem Hoa Hujien dengan sepasang tangan menekan dada serta lambungnya perlahan-lahan berjalan masuk.
Soen Put shia segera memasang lampu tampaklah Kiem Hoa Hujien sambil menggigit bibir menahan sakit. rambut urap-urapan tidak karuan melangkah masuk dengan gerakan yang sangat berat. jelas ia sudah menderita luka yang amat parah.
Tampaklah Kiem Hoa Hujien angkat kepalanya memandang sekejap Liok Kian thay yang berada didepan pembaringan Siauw Ling, lalu berseru, “Oouw…. kau sudah tiba disini?”
Liok Kian thay mengangguk, belum sempat ia menyahut Kiem Hoa Hujien sudah tak sanggup berdiri lagi, ia jatuh tertunduk keatas tanah.
Buru-buru Liok Kian thay memburu kemuka dan memayang bangun tubuh perempuan itu.
“Parahkah lukamu?”
“Ehm, sudah kau berikan obat penawar itu kepadanya?”
“Obat itu sudah ia telan, keadaannya berangsur mulai membaik!”
“Oouw…. nona Kian thay, terima kasih atas pertolonganmu! seandainya aku harus mengejar sendiri kemari, mungkin kedatanganku sudah terlambat!”
“Hujien! bagaimana keadaan lukamu?” dengan rasa haru Siauw Ling bangun berdiri dan turun dari pembaringan.
“Tidak mengapa, aku tidak bakal mati….” diiringi tertawa getir yang mengenaskan, tiba-tiba ia muntah darah segar.
Liok Kian thay segera ambil keluar sapu tangan membersihkan nona darah yang ada diujung bibir Kiem Hoa Hujien.
“Kau terluka ditangan looya kami?” tanyanya lirih.
“Bukan….”
“Nona Liok! luka dalam yang ia derita parah sekali, jangan terlalu banyak berbicara, lebih baik jangan ditanya dulu!” buru-buru Boe Wie Tootiang memperingatkan.
Dari dalam sakunya ia ambil keluar sebuah botol porselen dan ambil keluar dua butir pil, sambungnya, “Nona Liok, tolong berikan kedua butir pil ini kepadanya!”
Dengan cepat Liok Kian thay menerima pil tadi, tapi sebelum ia masukkan obat itu kedalam mulut Kiem Hoa Hujien, perempuan berhati baja ini sudah menyambut sendiri pil tadi dimasukkan kedalam mulut dan ditelan.
“Cuma menelan dua butir pil saja, aku masih belum membutuhkan pelayanan orang lain” katanya sambil tertawa.
“Hujien! berkat obat penawar yang dihantar nona Liok kepadaku, keadaan lukaku sudah berangsur mulai sembuh, bagaimana kalau Hujien naik keatas pembaringan dan beristirahat sejenak?”
Meski sedang menderita luka parah, namun kekerasan hatinya masih seperti keadaan semula, ia tersenyum dan menyela, “Orang lain menyebut aku sebagai Kiem Hoa Hujien, apakah kaupun menyebut aku dengan panggilan itu juga?”
“Lalu apa harus memanggil dengan panggilan apa?”
“Panggil saja aku enci, bukankah selama ini aku selalu memanggil kau dengan saudara cilik?”
Siauw Ling termenung sejenak, akhirnya ia mengangguk.
“Baiklah! cici, bagaimana kalau kau beristirahat sejenak diatas pembaringan?”
Kiem Hoa Hujien tersenyum dan bangun berdiri, tubuhnya sempoyongan seolah-olah hendak roboh keatas tanah. Buru-buru Liok Kian thay datang memayang namun bantuan dayang itu dengan cepat ditampik, dengan langkah masih terhoyong-hoyong ia hampiri pembaringan dan duduk bersila disana.
Siauw Ling yang menyaksikan keadaan Kiem Hoa Hujien, dimana perempuan itu dengan pertaruhkan nyawanya telah mengusahakan obat penawar baginya sehingga menderita luka parah, dalam hati merasa sangat tidak tenang, dihampirinya perempuan itu lalu berkata, “Cici, Boe Wie Tootiang sangat lihay dalam ilmu pertabiban. Bagaimana kalau aku mintakan pertolongannya untuk memeriksa kedalam luka cici??”
Ia mengerti kekerasan hati Kiem Hoa Hujien, maka untuk menjaga agar Boe Wie Tootiang tidak ditolak mentah-mentah dalam memeriksakan nadinya nanti, tak bertanya lebih dahulu.
“Tak usah” Kiem Hoa Hujien segera menggeleng. “Bagaimana keadaan lukaku, didalam hati aku mengerti dengan jelas, asal beristirahat semalam saja kekuatanku akan pulih kembali seperti sedia kala.”
Bibir Boe Wie Tootiang bergerak seperti mau mengucapkan sesuatu, namun akhirnya batlkan niat tersebut.
Semula Soen Put shia mempunyai perasaan antipatik terhadap perempuan dari wilayah Biauw ini, tapi sekarang pandangannya telah berubah, ia mendehem perlahan lalu berkata, “Ilmu pertabiban yang dimiliki Boe Wie Tootiang meski belum dapat menandingi kepandaian siraja obat keji, namun diapun termasuk tabib sakti dalam dunia persilatan dewasa ini. Nona! mengapa kau berkeras kepala dan tidak membiarkan ia periksakan nadimu??”
“Ucapan Soen loocianpwee sedikitpun tidak salah” Siauw Ling menyambung dari samping. “Cici,,ebih baik biarkanlah Boe Wie Tootiang memeriksa denyut nadimu.”
“Benarkah kau takut aku mati?”
“Untuk menolong jiwa Siauw Ling, cici telah menderita luka dalam yang begitu parah peristiwa ini membuat aku Siauw Ling merasa amat tidak tentram.”
“Baiklah, agar hatimu jadi tenang aku akan merepotkan sebentar diri tootiang?”
Perlahan-lahan Boe Wie Tootiang berjalan menghampiri perempuan itu, jari telunjuk dan jari tengahnya ditempelkan keatas nadi sebelah kiri lama sekali ia baru berkata, “Luka yang nona derita seharusnya tidak begitu parah, tapi dikarenakan setelah kau terluka lalu tidak baik-baik bersemedi dan harus melakukan perjalanan cepat pula, maka keadaan luka yang ringan itu jadi parah sekali.”
“Ehmmm, sungguh hebat permainanmu!” puji Kiem Hoa Hujien sambil tersenyum.
“Apakah masih ada harapan untuk ditolongnya?” Siauw Ling menyela.
“Pada saat ini darahnya sudah menyerang isi perut, untuk menjadi baik kembali seperti sedia kala nona harus banyak beristirahat.”
“Berapa lama harus dibutuhkan untuk menyembuhkan lukaku itu? sebab aku tak bisa terlalu lama berada disini.”
“Paling banyak tujuh hari, dan paling sedikit lima.”
“Ah, tidak bisa, lebih baik tak usah diperiksa lagi. Besok tengah hari aku sudah harus tinggalkan tempat ini.”
“Bukannya pinto sengaja menakut-nakuti dirimu, apabila nona tidak beristirahat sebagaimana mestinya bahkan hendak melakukan perjalanan lagi, maka keadaan lukamu akan berubah makin parah. Kalau sampai jadi begini keadaannya sekalipun Hoa Tuo hidup kembalipun belum tentu bisa menolong jiwa nona!”
Kiem Hoa Hujien tersenyum.
“Sebaliknya kalau aku tetap tinggal disini lima hari sekalipun tabib sakti paling kenamaan yang ada dikolong langit dewasa ini kau kumpulkan semua disinipun belum tentu bisa menolong jiwaku.”
Ia berhenti sejenak untuk ganti napas lalu tambahnya, “Justru karena aku ingin hidup beberapa waktu lagi, maka terpaksa aku harus buru-buru tinggalkan tempat ini.”
“Mengapa?” tanya Siauw Ling heran.
“Kau pingin tahu?”
“Sedikitpun tidak salah!”
“Urusan telah jadi begini, tiada halangan kuberitahukan kepadamu, Shen Bok Hong telah meracuni tubuhku secara diam-diam setiap sepuluh hari aku harus mendapatkan sebutir pil pemusnahnya untuk memperpanjang waktu bekerjanya racun tersebut, tiga hari kemudian adalah saat aku mendapatkan obat penawar itu sebab kalau tidak racun itu akan mulai bekerja dan nyawaku pasti melayang!”
“Sudah terjadi peristiwa semacam ini?”
“Kau anggap aku sedang membohongi dirimu? jangan dibilang aku, setiap orang penting yang ada didalam perkampungan Pek Hoa San cung sebagian besar keadaannya tak berbeda dengan diriku. Semakin lihay ilmu silat yang dimiliki semakin lihay pula racun yang dicekokkan kedalam tubuhnya. Menurut berita yang kudengar katanya obat racun itu adalah karya siraja obat bertangan keji, lihaynya luar biasa. Kecuali Shen Bok Hong seorang diri yang memiliki obat penawar tersebut, dikolong langit boleh dibilang tiada obat yang bisa menolong aku lagi.”
“Oow…. Shen Bok Hong benar-benar manusia keji berhati binatang” seru Siauw Ling. “Kalau memang obat itu dibuat oleh siraja obat bertangan keji, seharusnya Tok chiu yok ong tahu akan bahan obat penawarnya.”
“Sayang sekali Tok chiu Yok ong sudah tak ada disini” sambung Soen Put shia.
“Sekalipun dia berada disini, belum tentu obat penawar itu bisa dibuat seketika itu juga” bicara sampai disini, perempuan ini kelihatan lelah sekali, ia segera pejamkan matanya dan tertidur pulas.
Boe Wie Tootiang segera memberi tanda kepada Siauw Ling agar jangan mengganggu dirinya. perlahan-lahanmereka mengundurkan diri dari ruangan tersebut.
Siauw Ling tahu toosu ini tentu ada urusan hendak disampaikan kepadanya, maka iapun ikut keluar.
Setibanya diluar ruangan, Boe Wie Tootiang berbisik lirih, “Siauw thayhiap, benarkah kau hendak menolong jiwanya?”
“Tentu saja aku harus menyelamatkan jiwanya.”
“Kalau kau ingin menolong jiwanya, kita harus menempuh bahaya.”
“Bagaimana maksudmu?”
“Luka yang ia derita sebetulnya tidak begitu serius, cuma disebabkan ia kurang beristirahat setelah terluka ditambah pula harus melakukan perjalanan jauh, maka darahnya membeku kedalam isi perut. Bukan pinto snegaja menyombongkan diri, pinto yakin didalam tiga hari sanggup membuyarkan darahnya yang membeku didalam isi perut, dalam lima hari pulihkan kembali kesehatannya seperti semula. namun persoalannya yang paling memusingkan kepala saat ini bukanlah luka yang ia derita, melainkan racun Shen Bok Hong yang mengeram didalam tubuhnya.”
“Apakah tootiang mempunyai cara untuk memusnahkan racun itu?”
“Pinto tidak tahu racun keji apakah yang digunakan Shen Bok Hong untuk mencelakai Kiem Hoa Hujien, sekalipun tahu tidak mungkin bagiku untuk mempersiapkan obat pemusnah itu dalam tiga lima hari.”
“Jadi maksud tootiang lebih baik membiarkan dia kembali keperkampungan Pek Hoa San cung sesuai dengan waktunya?”
“Sekalipun besok siang ia bisa tinggalkan tempat ini dan tiba diperkampungan Pek Hoa San cung tepat pada saatnya, namun perjalanan sejauh ratusan li ini suda cukup untuk mencabut selembar jiwanya!”
“Aaai…. bicara pulang pergi tootiang belum berhasil juga menemukan suatu cara yang tepat.”
“Cara sih ada satu, cuma sukakah Siauw heng menerimanya?”
“Apa caramu itu?”
“Pinto akan memusnahkan ilmu silatnya dengan tusukan jarum emas….”
“Sekalipun ilmu silatnya dipunahkan, aku rasa jiwanya sama saja akan tetap melayang.”
“Pinto mempunyai satu cara menghilangkan racun dengan cara yang paling keji, yaitu musnahkan dahulu ilmu silatnya kemudian masukan tubuhnya kedalam kukusan dan mengukus racun yang mengeram dalam tubuhnya dengan cuka kwalitas nomor satu.”
“Racunnya pasti hilang?”
“Seandainya pinto tidak punya keyakinan tidak nanti kutawarkan cara ini kepadamu.”
“Setelah racun yang mengeram dalam tubuhnya lenyap, apakah ilmu silatnya bisa pulih kembali seperti sedia kala?”
“Tidak bisa” toosu tua itu segera menggeleng. “Selama ia masih hidup dikolong langit tak mungkin lagi ilmu silatnya pulih seperti sedia kala.”
“Tidak ada cara lain?”
“Pinto tidak mempunyai cara lain lagi kecuali cara tersebut.”
Siauw Ling termenung sejenak, kemudian baru berkata, “Urusan ini menyangkut masa depan seseorang, cayhe tidak berani mengambil keputusan secara gegabah.”
“Memang lebih baik Siauw thayhiap rundingkan dahulu masalah ini dengan Kiem Hoa Hujien, biar dia sendiri yang menentukan pilihannya.”
“Aaaai…. aku rasa dewasa ini memang cuma jalan ini saja yang bisa ditempuh!” seraya menghela napas panjang, pemuda itu masuk kembali kedalam ruangan.
Kiem Hoa Hujien duduk bersandar diatas pembaringan, sepasang matanya melotot besar namun air mukanya menunjukkan keletihan hebat.
Rupanya perempuan itu berusaha untuk mempertahankan kesadarannya menyaksikan Siauw Ling berjalan masuk ia lantas tersenyum dan menegur, “Apa yang sedang kalian bicarakan?”
“membicarakan keadaan luka dari cici.”
“Sudahlah tak usah dibicarakan lagi, besok siang aku harus tinggalkan tempat ini atau kecuali Boe Wie Tootiang sanggup menyembuhkan lukaku sebelum tengah hari besok?”
JILID 14
Bibir Siauw Ling bergetar mau bicara, namun ia batalkan niat itu.
“Saudaraku, apa yang hendak kau katakan?” Kiem Hoa Hujien segera menegur.
“Karena hendak menolong aku, kau jadi begini. Aaaai…. suruh aku bagaimana buka suara?”
“Tidak mengapa, katakanlah apa yang ingin kau utarakan!”
“Boe Wie Tootiang mempunyai satu cara yang bagus….”
“Bukan cara bagus, boleh dibilang caraku itu adalah cara yang paling bodoh” tukas Boe Wie Tootiang.
“Walaupun cara ini bisa menolong jiwa cici” Siauw Ling melanjutkan. “Tapi ilmu silat yang kau miliki harus dimusnahkan lebih dahulu. Entah bagaimana menurut pendapat cici?”
“Memusnahkan ilmu silat bagiku jauh lebih parah daripada kehilangan selembar jiwaku. Lebih baik tak usah saja!”
“Oleh sebab itulah cayhe tidak berani ambil keputusan dan mempersilahkan cici untuk menentukan sendiri pilihan ini.”
Kiem Hoa Hujien tertawa.
“Aku tidak ingin mati tapi akupun tidak ingin kehilangan ilmu silatku. Maka dari itu sebelum tengah hari besok aku harus tinggalkan tempat ini dan kembali keperkampungan Pek Hoa San cung, dengan menggunakan kesempatan selama setengah malam serta setengah hari besok, aku ingin duduk bersemedi dan berusaha memulihkan kembali sedikit tenagaku.”
“Sayang sudah terlambat, pada saat ini bukan saja hujien tak dapat melakukan perjalanan, bahkan mengatur pernapasanpun akan mengakibatkan keadaan lukamu akan semakin bertambah parah. Satu-satunya jalan yang paling baik pada saat ini adalah tidur dengan tenang.”
“Benarkah ucapanmu itu?” mendadak Kiem Hoa Hujien bangun berdiri.
“Bukankah pada saat ini hujien merasakan badanmu kian lama kian merasa lelah?”
“Sedikitpun tidak salah.”
“Kalau begitu ucapan pinto tadi tidak salah lagi!”
Mendadak Kiem Hoa Hujien mengempos tenaga dan berkata, “Kalau memang demikian adanya, malam ini juga aku harus berangkat.”
“Hujien tunggu dulu, menurut pemeriksaan pinto atas denyutan nadi hujien, sulit bagimu untuk melawan seratus li, sebab luka kamu akan kambuh dan ada kemungkinan bisa mencabut nyawamu.”
“Sekalipun bagitu, aku harus mencobanya dengan menempuh bahaya!”
“Kalau tidak akan mempunyai kesempatan sepersepuluh untuk hidup, tak usah bertaru!”
“Tootiang, seandainya kita menggunakan sebuah pembaringan lunak dan membiarkan dia tidur diatasnya lalu kita gotong keperkampungan Pek Hoa San cung, terhadap luka yang dideritanya mendatangkan gangguan?” sela Siauw Ling.
“Itu sih tidak mengapa.”
“Kalau begitu, harap cici tunggu sejenak, akan kuhantar dirimu pulang….”
“Kau hendak pergi keperkampungan Pek Hoa San cung?” tanya Soen Put shia menegaskan.
“Aku hanya akan mangantar dia sampai sepuluh li dari perkampungan, setelah itu aku segera kembali.”
“Siauw thayhiap, aku telah melupakan satu persoalan.”
“Persoalan apa?”
“Siauw thayhiap baru saja sembuh dari luka parah, kau belum mampu untuk melakukan perjalanan jauh.”
Kiem Hoa Hujien yang mendengarkan pembicaraan itu, tiba-tiba tertawa terkekeh-kekeh.
“Saudara Siauw, dalam hati aku sudah merasa sangat berterima kasih atas perhatianmu yang mendalam terhadap diriku, memang betul seandainya kau yang menghantar diriku, perjalanan ini terlalu bahaya. Kau harus tahu Shen Bok Hong punya mata-mata yang tersebar luas dimana-mana, seandainya kejadian ini sampai diketahui olehnya, bukan saja kau akan repot aku sendiripun bakal celaka.”
“Tapi…. cici! bukankah kau tak dapat melakukan perjalanan….”
“Tidak mengapa. Asal aku mampu berjalan sejauh seratus li, sekalipun akhirnya menggeletak. Mungkin diriku bakal ditemukan oleh mata-mata Shen Bok Hong. Pada saat ini ia masih amat membutuhkan tenagaku. Aku rasa ia pasti akan berusaha untuk menyelamatkan jiwaku….”
Bicara sampai disitu ia merandek sejenak, kemudian dengan nada sedih tambahnya, “Kau harus baik-baik berjaga diri, cici akan pergi. Semoga saja dikemudian hari kita masih punya kesempatan untuk saling berjumpa muka!”
Bicara sampai disitu, tanpa berpaling lagi ia enjotkan badan dan melayang keluar dari ruangan.
Siauw Ling ingin mengejar keluar, namun ia segera dihalangi oleh Soen Put shia.
“Saudara Siauw, apa yang dikatakan Kiem Hoa Hujien sedikitpun tidak salah….” katanya. “Seandainya kau yang mengantar dirinya, bukan saja bakal mencelakai diri sendiri bahkan akan mencelakai pula dirinya.”
Mendadak terdengar Lok Kian Thay berkata sambil melangkah kearah pintu, “Budakpun harus berangkat pulang, sebab kalau perbuatanku ini sampai diketahui oleh Coen cu, niscaya jiwaku bakal melayang.”
“Kalau memang jiwamu terancam, mengapa kau hendak pulang lagi kesana?”
“Aaai…. peraturan dari istana es kami amat ketat, apabila ada orang berani melarikan diri, dia pasti akan dikejar dan dibunuh, maka dari itu bagaimanapun juga budak harus segera kembali.”
Sinar matanya beralih keatas wajah Siauw Ling dan menambahkan, “Apabila dikemudian hari Siauw siangkong berhasil berjumpa dengan nona kami, harap suka baik-baik melayani dirinya.”
Iapun enjotkan badan dan berlalu dari sana menyusul dibelakang Kiem Hoa Hujien.
Memandang kearah bayangan punggung Lok Kian Thay yang mulai lenyap dari pandangan, Soen Put shia menghela napas.
“Aaai…. hati kaum wanita, memang sulit diduga…. sampai-sampai aku sipengemis tuapun jadi tidak habis mengerti!”
Boe Wie Tootiangpun menghembuskan napas panjang pula, perlahan dia berpaling kearah Siauw Ling dan bertanya, “Siauw thayhiap, bagaimana keadaan lukamu?”
“Hawa dingin telah lenyap dari badan, kekuatan dalamkupun mulai terkumpul kembali aku rasa sebagian besar kesehatanku telah pulih kembali.”
“Aaai…. kalau begitu bagus sekali, dengan demikian pintopun dapat melepaskan satu tanggung jawab yang maha besar.”
“Tootiang!” mendadak Soen put shia menyela. “Apakah kau bersiap sedia hendak melangsungkan pertarungan mati-matian dengan Shen Bok Hong ditempat ini?”
Boe Wie Tootiang termenung berpikir sejenak kemudian baru menjawab, “Pinto menyadari bahwasanya dengan andalkan kekuatan Bu tong pay kami saja, jangan harap bisa menandingi kekuatan perkampungan Pek Hoa San cung. Sekalipun kita sudah mendapatkan bantuan dari dua tiga orang sahabat, keadaan kita tetap bagaikan telur membentur batu, sulit untuk mencari kemenangan. Tetapi situasi yang terbentang didepan mata kita dewasa ini amat mendesak, apabila kita tidak bangkit untuk melawan, satu-satunya jalan untuk cari selamat hanyalah menyerah saja.”
“Bukankah tootiang telah mengurus orang untuk menghubungi orang-orang dari sebilan partai besar dan mohon mereka kirim orang unutk membantu diri tootiang?”
“Aaai…. memang benar! meski kekuatan Shen Bok Hong amat kuat, seandainya sembilan partai besar suka mengirim jago-jagonya, sekalipun tak bisa menang paling sedikit kita bisa mengimbangi kekuatan mereka. Tapi sayang….” berbicara sampai disitu mendadak ia membungkam.
“Kenapa? apakah sembilan partai besar tidak mau kirim jago-jagonya untuk membantu kita?”
“Sekalipun permintaanku tidak sampai ditolak namun bantuan merekapun tidak sungguh-sungguh. Aaai…. sembilan partai hanya memikirkan keselamatan diri sendiri, bukankah tindakan mereka itu justru merupakan apa yang diharapkan oleh Shen Bok Hong? bila demikian terus keadaannya, sembilan partai satu demi satubakal dihantam oleh mereka hingga hancur lebut….”
“Ehmm, ucapan ini sedikitpun tidak salah lalu apa cara tootiang untuk mengatasi persoalan ini?”
“Walaupun selama seratus tahun belakangan, antara anggota sembilan partai besar tidak pernah terjadi peristiwa bentrokan besar, bentrokan kecil tak bisa dihindari sering terjadi. Disamping itu dari antara partai tidak pernah muncul seorang manusia berbakat yang bisa dihormati partai lain. Hal ini mengakibatkan hubungan antara partai besar kian lama kian bertambah adem dan jauh. Terutama sekali partai Siauw Lim, boleh dibilang selama berhubungan dengan partai-partai lain….”
“Menurut apa yang aku pengemis tua ketahui” sela Soen put shia. “Tootiang mempunyai hubungan pribadi yang sangat intim sekali dengan ciangbunjien dari partai Siauw lim dewasa ini, apakah berita kangouw ini tidak betul.”
“Sekalipun pinto mempunyai hubungan pribadi yang intim dengan Siauw lim ciangbunjien tidak berani mengambil tindakan secara menyendiri….” ia merandek sejenak, lalu terusnya. “Bagaimanapun juga hubungan pribadi, setelah menjumpai keadaan kritis yang amat serius, pinto rasa hubungan pribadi tak bisa mengatasi hal ini.”
Saking sedihnya, habis berkata ia menghela napas panjang.
“Sembilan partai besar sama-sama menutup diri dan tidak mau saling membantu, bukankah tindakan ini sama halnya mencari kehancuran buat diri sendiri.”
“Tak usah kita bicarakan persoalan itu” sela Siauw Ling. “Persoalan paling penting pada saat ini adalah bagaimana caranya menghadapi musuh tangguh.”
Ia merandek sejenak, kemudian terusnya, “Ada satu persoalan, cayhe merasa kurang begitu jelas, dapatkah tootiang memberi petunjuk?”
“Persoalan apa?”
“Darimana Kiem Hoa Hujien bisa sampai disini?”
Boe Wie Tootiang berpikir sejenak, akhirnya ia ceritakan kisah yang sebenarnya kepada si anak muda itu.
“Apa sebabnya Shen Bok Hong bisa membubarkan para jagonya secara mendadak….” tanya Siauw Ling keheranan setelah habis mendengarkan kisah tersebut.
“Aku sipengemis tuapun merasa tidak mengerti!”
“Menurut dugaan pinto, satu-satunya hal yang patut dicurigai adalah irama musik itu, Shen Bok Hong kelihatan amat terperanjat setelah mendengar irama musik itu, begitu gugup dia sampai semangat tempurnya rontok dan buru-buru melarikan diri.”
“Tootiang, bukankah kau pandai dalam hal ilmu musik? dapatkah kau bedakan irama musik itu berasal dari alat musik apa?”
“Mirip seruling tapi kalau didengar lagi tidak, rupanya irama itu berasal dari gabungan dua jenis alat musik….”
“Sungguh aneh sekali, aku pengemis tua sudah putar otak tetapi belum berhasil juga menemukan seornag jago Bulim yang bisa memukul mundur musuhnya dengan irama musik!”
“Peristiwa ini memang rada aneh!” Siauw Ling mengangguk. “Sewaktu cayhe masih belajar silat tempo dulu, banyak persoalan yang mengenai para jago Bulim telah kudengar, namun belum pernah kudengar ada jago yang bisa memukul mundur musuhnya dengan irama musik.”
“Pada saat dan tempat seperti ini tidak pantas bagi kita untuk membicarakan persoalan ini, kita harus pulang dan melihat keadaan!”
Siauw Lingpun tidak banyak bicara lagi, ia ambil keluar sekeping emas murni dan diletakkan diatas meja. Setelah memadamkan api lilin ia berlalu terlebih dulu, dari ruangan itu.
Soen Put shia segera menyusul dari belakang si anak muda itu, seraya mencekal pergelangan tangan kirinya ia tertawa dan berkata, “Kesehatan badan saudara Siauw belum pulih seperti sedia kala, lebih baik aku pengemis tua bantu dirimu!”
Siauw Lingpun tidak menolak, sepanjang perjalanan ia melakukan perjalanan cepat. Sebab telah mengetahui ada orang yang bisa pukul mundur Shen Bok Hong dengan irama musik, dia lantas menguatirkan keselamatan kedua orang tuanya.
Setibanya ditepi telaga, terlihatlah Im Yang cu dengan membawa empat orang toosu berusia setengah baya telah menantikan kedatangan mereka disitu.
“Apakah sudah terjadi perubahan lain?” tanya Boe Wie Tootiang setibanya disamping sutenya itu.
“Semuanya aman, tidak nampak ada musuh menyerang kemari lagi!”
“Apakah tootiang telah berjumpa dengan ayah, ibuku?” sela Siauw Ling cemas.
“Pinto mengerti akan pentingnya kedua orang tua itu bagi Shen Bok Hong, maka sebelum terjadinya peristiwa tadi pinto telah mohon bantuan Tiong Chiu Siang Ku serta Suma Kan sekalian melindungi ayah ibumu untuk bersembunyi disuatu tempat yang aman diatas gunung.”
“Mereka sudah kembali?”
“Belum, mungkin masih ada diatas gunung.”
Siauw Ling mendehem perlahan, tanpa banyak bicara lagi tubuhnya meloncat naik keatas perahu.
Boe Wie Tootiang, Soen Put shia serta Siauw Ling menggunakan sebuah sampan yang sama, sedangkan Im Yang cu dengan keempat toosu lainnya naik sampan lain.
Selama ini Siauw Ling terus mengkuatirkan keselamatan kedua orang tuanya, ingin sekali ia cepat-cepat menjumpai ayah serta ibunya. Maka itu meskipun sampan bergerak cepat tapi ia merasa kurang, bahkan turun tangan sendiri untuk mendayung sampan tersebut.
Setibanya ditepi daratan, tanpa menunggu Soen Put shia lagi si anak muda itu langsung lari menuju kekamar orang tuanya.
Tampak pintu terbuka lebar, suasana dalam ruangan gelap gulita tidak terlihat sedikit sinarpun.
“Ada orang didalam?” Siauw Ling segera menegur.
“Siauw siangkong yang ada diluar?” siara Kim Lan berkumandang keluar dari dalam ruangan.
“Tidak salah, apakah orang tuaku belum kembali?”
Cahaya lampu berkilat dalam ruangan disusul munculnya Kim Lan dengan pakaian ringan serta menyoren pedang dari balik kegelapan.
“Looya serta hujien telah bersembunyi diatas gunung dibawah perlindungan Sang ya serta Tu ya sekalian.” sahutnya.
“Tahukah kau asat ini mereka berada dimana?”
Kim Lan menggeleng.
Siauw Ling segera berpaling kebelakang, saat itu Soen Put shia serta Im Yang cu berdiri berjajar diluar pintu. Segera tanyanya kembali, “Apakah tootiang tahu?”
“Harap Siauw thayhiap legakan hatimu” kata Im Yang cu sambil tertawa. “Pinto tanggung kedua orang tuamu berada dalam keadaan sehat walafiat tanpa kekurangan sedikit apapun juga.”
“Cayhe mengerti betapa teliti dan cermatnya tootiang bekerja, namun sebelum bertemu sendiri dengan kedua orang tuaku. Cayhe tetap merasa tidak tenteram.”
“Pinto sudah kirim orang untuk melepaskan tanda rahsia dan memanggil mereka kembali.”
“Apabila tootiang tahu letak tempat persembunyian itu, lebih baik bawalah cayhe kesitu!”
“Untuk mewujudkan kebaktian Siauw thayhiap terhadap orang tuamu, sepantasnya pinto tidak menampik permintaanmu itu, tapi menurut perhitungan pinto, pada saat ini Tiong Chiu Siang ku semestinya sudah menerima tanda kemudian membawa kedua orabng tuamu turun gunung. Seandainya kita harus naik sendiri kesitu dan bila sampai salah jalan, bukankah keadaan malahan sebaliknya?”
Mendengar perkataan itu akhirnya Siauw Ling menghela napas panjang.
“Baiklah! kalau bagitu kita tunggu saja disini. Tapi beberapa waktu harus mereka butuhkan untuk sampai disini?”
“Paling banter tidak sampai melewati satu jam.”
Perlahan-lahan Siauw Ling berjalan masuk kedalam kamar kedua orang tuanya, menyulut lilin dan duduk termangu-mangu disitu.
Im Yang cu mengerti keadaan orang, setelah dua kali orang tuanya ditawan si anak muda ini jadi ketakutan setengah mati. Maka iapun tidak banyak bicara dan duduk membungkam disitu.
Sebatang lilin sudah hampir habis, namun Tiong Chiu Siang Ku serta Siauw thayjien suami istri yang ditunggu-tunggu belum kunjung datang juga. Kim Lan muncul untuk menggantika lilin yang hampir padam dengan sebatang lilin baru, kemudian perlahan-lahan mengundurkan diri kesamping pintu.
Siauw Ling berusaha menahan sabar, namun akhirnya ia tak kuat menunggu lebih jauh, tiba-tiba tanyanya, “Tootiang sudah berapa lama kita menunggu?”
“Belum sampai satu jam!”
Siauw Ling mendehem, bibirnya bergerak seperti mau bicara namun akhirnya ia batalkan kembali niat tersebut.
Diluar Im Yang cu bicara ringan padahal dalam hati diapun merasa keadaan tidak beres, sambil bangun berdiri ujarnya, “Harap Siauw thayhiap duduk sejenak disini, pinto akan pergi menanyakan persoalan ini kepada petugas penyampai berita.”
Tidak menunggu jawaban dari Siauw Ling lagi ia segera meloncat dari ruangan.
Baru saja Im Yang cu tiba didepan pintu, sesosok bayangan manusia bagaikan seekor burung langsung menyusup masuk kedalam sehingga hampir saja bertumbukan dengan toosu tersebut.
Dengan sabar Im yang cu mengepos kemsaping, kemudian tangannya bergerak cepat mencengkeram pergelangan kiri orang itu.
Siauw Ling pun dengan cepat meloncat bangun, sinar matanya melotot kearah orang itu dengan sinar tajam.
Ternyata orang yang baru saja datang bukan lain adalah seorang toosu Bu tong pay menyoren pedang.
“Ada urusan apa? mengapa kau datang tergesa-gesa?” tegur Im Yang cu sambil melepaskan pergelangan orang itu.
Toojien itu menjura lebih dahulu kepada Im Yang cu kemudian menjawab, “Teecu datang datang membawa perintah kilat, karena harus berlari cepat sepanjang perjalanan kesadaran teecu jadi agak berkurang, keteledoran tadi harap suka susiok maafkan.”
“Ada urusan apa? cepat katakan!” seru Siauw Ling sambil meloncat kemuka.
“Teecu mendapat tugas untuk menjaga disuatu sudut gunung….”
“Apakah kedua orang tuaku ditawan orang!”
“Teecu mendapat tugas berjaga diatas gunung tapi entah apa sebabnya jalan darahku tahu-tahu sudah ditotok orang.”
“Lalu bagaimana selanjutnya?” tanyanya dengan wajah berubah hebat. “Bagaimana caranya kau lepaskan diri dari pengaruh totokan?”
“Tecu dibebaskan dari pengaruh totokan oleh ciangbun suhu, setelah bertanya atas peristiwa yang sudah terjadi beliau perintahkan tecu untuk melaporkan kejadian ini kepada susiok serta Siauw thayhiap, setelah itu beliau naik keatas gunung!”
Perubahan yang terjadi secara tiba-tiba ini membuat kegelisahan Siauw Ling malahan berbalik jadi tenang, bisiknya kepada orang itu, “Sepanjang perjalanan kau harus berlari cepat, badanmu tentu merasa amat payah. Beristirahatlah lebih dahulu!”
Toojien itu mengangguk, setelah memberi hormat kepada Im Yang cu serta Siauw Ling ia segera mengundurkan diri.
Sepeninggalnya toosu tadi, Im Yang cu mendongak keatas memandang awan yang bergerak lalu menghela napas panjang.
“Aaaai…. sungguh tak nyana betul-betul telah terjadi perubahan. peristiwa ini amat membuat pinto merasa menyesal.”
“Kejadian sudah jadi begini, tootiangpun tak usah terlalu menyesali diri, bagaimana kalau kita naik kegunung untuk melihat kesana?”
Im Yang cu mengangguk, ia segera berlari lebih dahulu meninggalkan ruangan itu.
Ilmu peringan tubuh yang dimiliki kedua orang ini amat sempurna, dalam sekejap mata tujuh delapan li sudah dilewati tanpa terasa. Waktu itu fajar telah menyingsing, pemandangan disekeliling tempat itu dapat terlihat dengan amat jelas.
Mendadak Im Yang cu menghentikan langkahnya dan mengalihkan pandangan ketengah semak belukar disisi jalan.
“Apakah tootiang sudah salah jalan?” tanya Siauw Ling.
Im Yang cu geleng kepala ia melangkah kearah semak dan menggusur keluar seorang toojien setengah baya, setelah diperiksa sejenak telapaknya langsung menepuk punggung itu.
Terdengar toojien tadi menghela napas panjang dan perlahan-lahan membuka mata tatkala menjumpai Im Yang cu ada disitu buru-buru ia meronta bangun memberi hormat.
“Tak usah banyak adat” tukas Im Yang cu dengan nada berat. “Ceritakan peristiwa yang terjadi?”
“Tecu mendapat tugas berjaga-jaga disini siapa duga jalan darahku tertotok, untuk susiok telah datang menolong tecu.”
“Siapa yang telah menotok jalan darahmu?”
“Tecu hanya mendengar ujung baju tersampok angin, belum sempat berpaling jalan darah tecu sudah tertotok.”
Im Yang cu termenung sejenak, kemudian berpaling kearah Siauw Ling dan berkata, “Siauw thayhiap, rupanya orang yang melancarkan serangan totokan itu sama sekali tiada maksud melukai orang, terbukti dari totokannya yang ringan, berbicara dari kenyataan ini pinto duga orang itu pasti bukan Shen Bok Hong.”
“Aaaai…. justru yang aneh kecuali Shen Bok Hong, siapa lagi yang ada menangkap orang tua cayhe?”
Im Yang cu ulapkan tangannya kearah toojien itu seraya berkata, “Disini tiada urusanmu lagi, turunlah kebawah sana.”
Toojien mengiakan, ia segera putar badan dan berlalu.
Sepeninggalan toosu tersebut, Im Yang cu segera berpaling kearah Siauw Ling dan melanjutkan, “Biasanya perbuatan orang-orang perkampungan Pek Hoa San cung keji dan telengas, tidak mungkin mereka ampuni jiwa murid partai kami. Ehm kejadian ini memang rada aneh.”
Sementara mereka masih bercakap-cakap, tampaklah Boe Wie Tootiang dengan membawa Tiong Chiu Siang Ku serta siperamal sakti dari Tng hay, Suma Kan buru-buru lari mendekat.
Setelah menyaksikan sepasang pedagang dari siong chiau beberapa dalam keadaan sehat walafiat, Siauw Ling merasakan hatinya rada lega.
Tiong chiu Siang Ku langsung menghampiri anak muda itu, mendadak mereka menjatuhkan diri berlutut dan berseru, “Siauwte sekalian patut dihukum mati, harap toako suka menjatuhkan hukuman!”
“Harap saudara berdua cepat berdiri, ceritakan sejelasnya peristiwa yang telah terjadi” buru-buru Siauw Ling membangunkan mereka.
Sang Pat menghela napas panjang ujarnya, “Siauwte membawa dua orang tua bersembunyi didalam sebuah goa batu, setelah itu siauwte berjaga didalam goa sedang Tu heng berjaga diluar goa. Ketika tengah malam telah tiba mendadak siauwte dan Tu heng jatuh roboh ketanah, siauwte segera menerjang keluar dari dalam goa. Sedikitpun tidak salah, diluar goa berdirilah seorang manusia berkerudung memakai baju berwarna hitam. Jalan darah saudara Tu telah tertotok dan menggeletak disisi jalan.”
“Kau sempat bertarung dengan orang itu?”
“Perubahan yang terjadi secara tiba-tiba ini membuat siauwte jadi gugup dan kaget, siauwte hanya mencurahkan seluruh perhatian kearah musuh didepan, siapa sangka dari belakang mendadak datang serangan bokongan, bukan saja serangan itu cepat juga lihay sekali. Sebelum siauwte sempat melawan, jalan darahkupun ikut tertotok.”
Siauw Ling segera mengalihkan sinar matanya kearah Tu Kioe dan bertanya, “Apakah saudara Tu sempat melihat jelas wajah orang itu?”
“Aaaaai kalau dibicarakan sungguh menyesal sekali, jalan darah siauwte kena tertotok oleh senjata rahasia lawan.”
“Kepandaian tersebut jelas merupakan ilmu totok dengan biji kedelai yang sangat lihay, seandainya tenaga kweekang yang dimiliki tidak sempurna, tidak nanti bisa menggunakan. Apalagi ia turun tangan terhadap Tu heng yang lihay.”
Siauw Ling alihkan sinar matanya kearah Suma Kan dan bertanya, “Apakah Suma heng berhasil menyaksikan bentuk musuh yang datang menyerang?”
“Aaai…. kalau dibicarakan sungguh memalukan sekali. Siauwte berjaga dibelakang Sang heng. Tatkala Sang heng keluar dari goa siauwte sudah waspada dan mempersiapkan diri….” ia menghela napas panjang lalu melanjutkan. “Dalam dugaan siauwte, sekalipun Sang heng dan Tu heng telah bertemu dengan musuh tangguh, paling sedikit mereka bakal melangsungkan pertarungan sampai puluhan gebrakan, siapa duga pihak lawan ternyata aneh dan tangguh. Siauwte hanya menyaksikan sesosok bayangan manusia melayang masuk, semula aku masih mengira Sang heng yang masuk baru saja menyangka tahu-tahu pihak lawan dengan menggunakan petunjuk suara siauwte tadilah mengayunkan tangannya menyambit beberapa batang senjata rahasia, walaupun siauwte berhasil menghindarkan diri dari beberapa batang senjata rahasia, namun akhirnya aku roboh juga….”
“Kalau begitu Suma hengpun roboh karena terhantam senjata rahasia yang dilepaskan dengan ilmu Ta lip Ta hiat.”
“Mungkin disebabkan suasana dalam goa terlalu gelap, kurang tepat ia mengarah jalan darahku. Dengan demikian meski siauwte kena terhajar tapi jalan darahku tak sampai terkena, aku masih punya kemampuan buat bertempur….”
“Jadi Suma heng sempat bergebrak melawan orang itu?”
“Baru bertarung dua jurus, halan darah siauwte telah kena ditotok orang.”
“Suma heng terluka lebih dahulu oleh senjata rahasia lawan, kemudiam baru bertempur, kerugian ini kau derita lebih dahulu tentu saja keadaanmu yang tidak menguntungkan.”
Suma Kan tertawa getir.
“Meski demikian, tetapi ilmu silat yang dimiliki orang itu betul-betul sangat lihay, ini alasan yang kuat bagi kemenangannya. Siauwte yakin dikolong langit belum tentu ada beberapa orang yang sanggup menotok jalan darahku dalam dua gebrakan belaka.”
“Apakah kedua orang tuaku ditawan orang?” tanya Siauw Ling setelah termenung sejenak.
“Setelah jalan darah siauwte tertotok, goa itu tidak ada yang menjaganya lagi. Sudah tentu ayah serta ibunya….”
“Ketika pinto tiba didalam goa itu, bukan saja kedua orang tua itu sudah lenyap, bahkan Giok Lan pun ikut hilang” sambung Boe Wie Tootiang.
“Apakah tootiang berhasil mendapatkan senjata rahasia yang digunakan orang itu.”
Perlahan-lahan dari dalam sakunya Boe Wie Tootiang ambil keluar dua butir senjata rahasia sebesar kacang kedele, sambil diangsurkan kemuka ujarnya, “Apakah Siauw thayhiap kenal dengan senjata rahasia semacam ini?”
“Tidak kenal!” sahut si anak muda itu setelah dipandang sejenak.
“Benda ini disebut Paouw ti cu, sejenis senjata rahasia yang khusus digunakan untuk menotok jalan darah!”
“Tahukah tootiang jagoan manakah yang dewasa ini yang sering menggunakan benda ini sebagai senjata rahasia?”
“Menurut ingatan pinto dalam dunia persilatan memang ada orang yang biasanya menggunakan benda tersebut sebagai senjata rahasia, namun orang itu sudah terkurung didalam istana terlarang….”
“Istana terlarang belum terbuka, tentu saja orang itu tidak mungkin bisa muncul kembali didalam dunia persilatan.”
“Justru disebabkan persoalan inilah, pinto merasa bimbang dan ragu.”
“Apakah orang itu punya murid?”
“Menurut pengetahuan pinto, orang itu belum pernah menerima murid….”
Ia merandek sejenak kemudian sambungnya lebih lanjut, “Masih ada satu persoalan lagi yang cukup membuat pusing kepala, rupanya tujuan dari orang itu hanya ayah serta ibunya belaka, terhadap murid-murid partai kami yang disekeliling tempat ini sama sekali tidak turun tangan keji, meski ada tujuh orang yang kena ditotok jalan darahnya namun mereka sama sekali tidak terluka. jelas perbuatan ini bukan dilakukan oleh orang-orang dari perkampungan Pek Hoa San cung.”
“Masih ada satu persoalan lagi yang cukup aneh” Suma Kan menambah dari samping. “Darimana orang itu bisa tahu kalau kita bersembunyi didalam goa batu itu.”
Boe Wie Tootiang segera berpaling kearah Im Yang cu dan bertanya, “Kecuali kau serta aku yang tahu letak goa batu tersebut, siapa lagi diantara anggota Bu tong pay kita yang mengetahui hal ini?”
“Mungkin sam te juga tahu akan letak tempat ini.”
“Selain sam te?”
“Selain sam te cuma dua orang bocah yang mendampingi toa suheng saja yang tahu urusan ini.”
“Siauw heng tidak percaya kalau mereka bisa membocorkan rahasia ini pada orang lain.”
“Tootiang” tiba-tiba Siauw Ling menyela. “Dalam hati cayhe terdapat satu persoalan yang rasanya tidak enak kalau tidak kuutarakan kelkuar.”
“Silahkan Siauw thayhiap utarakan persoalanmu itu.”
“Shen Bok Hong telah menyusupkan mata-matanya kedalam tubuh setiap partai besar, menurut apa yang cayhe ketahui partai kalianpun tidak terkecuali.”
“Apa? benarkah ada kejadian seperti ini?” tanya Boe Wie Tootiang tertegun.
“Aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri, tentu salah tak bakal salah lagi.”
“Pinto akan segera kumpulkan segenap anggota partai kami, apakah Siauw thahyhiap dapat menunjukkan siapa orang itu?”
Dengan cepat Siauw Ling menggeleng.
“Tatkala Shen Bok Hong mengumpulkan mereka waktu itu terjadi ditengah malam buta, sebagai sam cung cu dari perkampungan Pek Hoa san cung, cayhe mendapat kesempatan untuk menemui mereka, cuma sayang setiap orang yang hadir dalam pertemuan itu pada memakai kain kerudung, sehingga cayhe mesti tahu peristiwa ini sukar untuk menunjukkan orangnya.”
“Apakah Siauw thayhiap tahu akan nama-nama mereka?” tanya toosu tua itu lagi setelah termenung sejenak.
“Tidak tahu!”
Sementara mereka masih bercakap-cakap terlihatlah Soen Put shia laksana kilat cepatnya meluncur datang.
“Jika perkataan Siauw thayhiap tidak salah mata-mata tersebut bukan baru sehari dua hari menyusup kedalam tubuh partai Bu tong kita” kata Im Yang cu. “Toa suheng tak perlu gelisah, setelah kita mengetahui akan kejadian ini, asal dikemudian hari kita bertindak lebih hati-hati rasanya tidak sulit untuk menemukan jejaknya!”
Terdengar ujung baju tersampok angin, sambil berseru Soen Put shia telah tiba dihadapan beberapa orang itu.
“Perbuatan ini pasti bukan dilakukan oleh orang-orang dari perkampungan Pek Hoa San cung.”
“Apakah loocianpwee berhasil menemukan titik terang?”
“Coba kalian lihat dulu benda ini, kemudian baru aku pengemis tua ceritakan kejadiannya” sahut Soen Put shia seraya ambil keluar secarik kertas dalam saku.
Boe Wie Tootiang terima kertas itu dan membaca isinya.
“Shen Bok Hong selalu berdaya upaya hendak menangkap dua orang tua itu agar dikemudian hari bisa digunakan untuk memaksa Siauw Ling tunduk pada perintah-perintahnya, Agar kesemuanya ini teratasi dan demi keselamatan dari kedua orang itu, untuk sementara waktu mereka kusembunyikan disuatu tempat yang aman. Semoga kalian mengetahui.”
Tulisan itu awut-awutan, jelas ditulis dalam keadaan tergesa-gesa.
Boe Wie Tootiang angsurkan surat tadi ketangan Siauw Ling, kemudian tanyanya, “Loocianpwee dapatkan surat ini darimana?”
“Tatkala cuwi sekalian memeriksa goa batu itu, aku pengemis tua naik keatas puncak yang tertinggal disekitar tempat itu untuk memeriksa keadaan empat penjuru, sedikitpun tidak salah kulihat sesosok bayangan manusia sedang lari kearah selatan. Setelah menyaksikan titik terang ini dengan kerahkan segenap tenaga aku pengemis tua segera mengejar.”
“Loocianpwee berhasil menyusul orang itu?” tanya Siauw Ling.
“Kalau dibicarakan dari ilmu peringan tubuh yang dimiliki orang itu, sebenarnya aku pengemis tua tak akan mampu mengejar, masih untung dia tidak menyadari bahwa aku pengemis tua sedang membuntuti dibelakangnya. Menanti ia merasakan hal ini, aku pengemis tua telah berada lima tombak dibelakang tubuhnya.”
Im Yang cu tahu sampai dimana kepandaian silat yang dimiliki pengemis ini, tak tahan ia bertanya, “Dengan tenaga kweekang yang dimiliki loocianpwee, setelah berhasil menyusul sampai lima tombak dibelakangnya, tentu orang itu tak berhasil meloloskan diri, bukan?”
“Setelah ia mengetahui bahwa aku mengejarnya, ia segera mempercepat larinya. Aku tak sudi melepaskan mangsaku begitu saja. Maka dalam sekejap mata enam tujuh bukit telah kami lalui. Ilmu peringan tubuh orang-orang itu betul-betul luar biasa, walaupun aku sudah mengejarnya hingga melewati delapan buah bukit, jarak kami masih tetap terpaut sampai beberapa tombak.”
“Apakah loocianpwee kemudian melepaskan dia setelah dia melepaskan surat ini kepadamu?” Boe Wie Tootiang nyeletuk.
Soen Put shia menggeleng.
“Melihat keadaan tak menguntungkan, aku main gertak, aku bilang: “Walaupun kau lari sampai keujung langit dasar samudra, naik turun kebumi aku pengemis tua akan terus mengejar dirimu, walaupun harus mengejar selama delapan sepuluh tahunpun aku tidak akan ambil perduli!” mungkin orang itu belum lama terjunkan diri kedalam dunia persilatan, setelah mendengar ancamanku itu mendadak ia berhenti.”
“Lalu loocianpee bergebrak dengan dirinya?”
“Tarung sih sudah tarung, tapi cuma beberapa puluh gebrakan belaka.”
“Orang itu berhasil loocianpwee bunuh?” Im Yang cu menyela.
“Eeeei…. kalau kalian tanya ini itu terus menerus, bagaimana aku pengemis tua itu bisa menjawab?”
“Perkataan loocianwpee sedikitpun tidak salah. Nah, berceritalah perlahan-lahan.”
“Tujuan aku pengemis tua memang ingin bergebrak dengan dirinya. Menyaksikan dia berhenti tentu saja aku lantas menubruk kedepan sungguh tak nyana jurus ilmu pedangnya amat lihay dan telengas, hampir-hampir saja aku sipengemis tua kena dikecundangi, semula aku ingin sekali merampas senjatanya lebih dulu lalu baru menangkap dirinya siapa sangka keinginanku sukar terkabulkan. Ah…. kemunculanku kedalam dunia persilatan kali ini benar-benar sudah berjumpa dengan banyak jagoan muda.”
Nadanya amat sedih, jelas ia merasa pedih setelah mengingat kejadian yang telah dialami selama ini.
“Apakah loocianpwee berhasil melihat tampang muka orang itu?” Siauw Ling bertanya.
“Tidak!”
“Kenapa?”
“Sebab ia memakai sebuah topeng yang menutupi wajah sebenarnya.”
“Kemudian? bagaimana selanjutnya?”
“Kami saling bertempur sampai beberapa puluh gebrakan, namun aku pengemis tua itu belum juga berhasil menemukan titik kelemahan dalam permainan ilmu pedangnya. Karena keadaan memaksa aku siap turun tangan keji, pasa saat itulah tiba-tiba muncul kembali seorang sahabatnya, ia melemparkan secarik kertas kepadaku setelah itu mereka berdua sama-sama pergi.”
“Loocianpwee melepaskan mereka dengan begitu saja?” sela Tu Kioe dengan suara dingin.
“Hahaha…. hahaha…. kau anggap aku orang yang suka menyudahi persoalan secara gampang? setelah kusambut kertas tersebut, kuteruskan pengejaranku. Rekannya yang baru datang tadipun memakai topeng diwajahnya tapi perawakan tubuhnya kurus kecil. Menurut perasaanku orang yang datang belakangan ini mirip seorang perempuan. Menanti kami saling bergebrak kembali, dugaanku segera terbukti, orang itu betul-betul seorang perempuan. Tetapi keganasan ilmu pedangnya jauh diatas sang pria, kerja saja permaian pedang mereka betul-betul luar biasa, aku pengemis tua sadar bahwa kekuatanku tak mungkin bisa menangkan mereka, terpaksa kubiarkan mereka melarikan diri.”
“Menurut pendapat pinto, jumlah musuh yang datang tidak banyak tapi mereka semuanya merupakan jago-jago lihay yang memiliki ilmu silat yang sangat tinggi.”
“Begitulah pengalaman yang kualami, apakah cuwi sekalian mempunyai akal untuk mengejar jejak mereka?”
“Sayang kedua ekor anjingku berada dibawah gunung” Sang Pat berseru. “Kalau ada binatang-binatang itu mungkin kita berhasil menemukan jejak mereka.”
Siauw Ling yang mengalami kejadian ini merasa amat sedih, sambil menahan isak gumamnya, “Keadaan demikian jauh lebih baik ditawan oleh Shen Bok Hong, sedikit banyak kita masih punya tujuan untuk merebutnya kembali. Kini orang-orang itu bagaikan seekor naga yang kelihatan kepala tak kelihatan ekornya. Kemana kita harus mencarinya?”
Suma Kan yang selama ini diam saja, mendadak menyela, “Siauw heng, perhatikanlah gaya tulisan surat itu. Coba lihat apakah kau kenal?”
“Sama sekali tak kukenal!”
Kalau menurut kebiasaan orang Bulim dibawah setiap surat yang ditinggalkan pasti dicantumkan nama atau tanda pengenal, tapi orang ini tak meninggalkan suatu apapun jua.”
“Dilihat dari tulisannya yang ruwet dan tergesa-gesa ia sudah lupa mencantumkan namanya” Im Yang cu memberikan pendapat.
“Tiada guna kita membicarakan persoalan yang tak berguna ini” tukas Tu Kioe dengan nadanya yang khas. Dingin. “Kita kongkow sambil berpeluk tangan, lebih baik kubawa kemari kedua anjing harimau tersebut!”
“Betul, aku pengemis tua sudah tahu kearah mana mereka pergi, asal kedua ekor anjing yang kalian pelihara bisa berguna, rasanya tidak sulit untuk menemukan jejak mereka.”
“Bagus! kalau begitu kalian menanti disini, biarlah aku orang she Sang berdua pergi mengambil anjing.”
Sepeninggalnya Sang Pat dan Tu Kie, Boe Wie Tootiang perlahan-lahan mendekati Siauw Ling lalu ujarnya, “Siauw thayhiap, orang budiman selalu dilindungi Thian. Kedua orang tuamu mempunyai raut wajah rejeki dan panjang umur, tidak mungkin mereka jumpai mara bahaya yang mengancam jiwa. Pinto harap kau suka bangkitkan lagi semangatmu, kami segenap anggota Butong pay pasti akan membantu usaha pencarian ini dengan sekuat tenaga.”
“Peristiwa ini tak bisa salahkan diri tootiang!” sahut Siauw Ling terharu.
“Seandainya pinto tak punya pikiran begitu dan mengantar kedua orang tua itu bersembunyi diatas gunung, mungkin tidak akan terjadi peristiwa semacam ini.”
“Mereka datang dengan membawa rencana, meskipun tidak naik kegunung keadaan sama saja….”
Dibawah sorotan sinar matahari, tampak dua butir air mata berlinang dipipinya, ia menyambung, “Cayhe merasa sedih karena kedua orang tuaku bukanlah orang kangouw tapi mereka bisa terseret kedalam persoalan Bulim yang penuh dengan balas membalas, bunuh membunuh ini.”
“Meskipun saudara Siauw belum lama terjun kedalam dunia persilatan, tapi takdir menentukan namamu harus tersohor kedalam dunia persilatan dalam waktu yang singkat.”
“Kau harus tahu, setiap manusia mempunyai kesulitan masing-masing maka aku pengemis tua harap kau suka bangkitkan kembali semangatmu itu, sekalipun kini aku sipengemis tua sudah mengundurkan diri dari keramaian dunia kangouw, tetapi aku rela mempertaruhkan selembar jiwa tuaku ini untuk membantu dirimu menciptakan satu perbuatan yang besar…. perbuatan yang mulia bagi seluruh umat Bulim. Sebab bila aku bisa berbuat demikian matipun aku bisa mati meram….”
Ia merandek sejenak, lalu tambahnya, “Bukan begitu saja, aku pengemis tuapun hendak menggunakan sedikit nama serta kedudukan ini untuk mendatangkan beberapa orang pembantu bagimu, aku hendak perintahkan segenap anggota Kay pang untuk membantu dirimu.”
Ucapan ini menggetarkan hati Siauw Ling buru-buru ia menjura.
“Kemampuan serta kepandaian apakah yang boanpwee miliki? mana berani boanpwee terima semua kebaikan dari loocianpwee?”
“Haaa…. haaa…. kalau dibicarakan seolah-olah bantuanku ini memang kutujukan kepadamu, padahal aku berbuat demikian adalah demi kebaikan serta kebahagiaan seluruh umat Bulim. Bicara terus terang, aku sipengemis tua bukanlah membantu dirimu, sebaliknya malah menyeret kau terjun kedalam air.”
“Ucapan loocianwpee terlalu serius!”
“Persoalan paling penting yang kita hadapi pada saat ini adalah menemukan kembali kedua orang tuamu, kemudian berusaha mencari suatu tempat yang aman. Tempat yang tersembunyi dan rahasia letaknya bagi kedua orang tuamu, setelah urusan ini beres saudara Siauw baru bisa mencurahkan segenap perhatian serta tenaganya demi kebahagiaan umat Bulim.”
“Ucapan loocianpwee sedikitpun tidak salah” Boe Wie Tootiang membenarkan.
Sinar mata Soen Put shia dialihkan keatas wajah Siauw Ling, lalu ujarnya lagi, “Ditinjau dari pertarungan yang telah berlangsung antara aku sipengemis tua dengan mereka, jelas membuktikan bahwasanya kedua orang itu bukanlah manusia-manusia dari perkampungan Pek Hoa san cung.”
“Peristiwa ini benar-benar membuat cayhe jadi keheranan setengah mati, selain orang-orang dari perkampungan Pek Hoa San cung, siapa lagi hendak menangkap kedua orang tuaku?”
“Mungkinkah perbuatan dari Su Hay Koen cu?” mendadak Soen Put shia berseru.
“Tidak salah, kalau bukan perbuatan Shen Bok Hong, peristiwa ini pasti hasil karya dari Su hay Koen cu.”
“Kalau perbuatan ini benar-benar hasil karya dari Su hay Koen cu, waah…. kita bakal mengalami kesulitan untuk menemukan mereka kembali.”
“Pinto rasa tujuan orang-orang itu menculik kedua orang tua siauwhiap sama sekali tidak bermaskud jahat.”
“Seandainya tidak bermaksud jahat, apa sebebanya mereka gunakan cara yang demikian rendah untuk menculik mereka?”
“Pinto tidak berhasil menebak latar belakang dari perbuatan mereka itu, tapi pinto rasa dugaan tidak akan terpaut jauh.”
“Dengan dasar alasan apa tootiang berkata begitu?”
“Setiap anggota partai Bu tong kami yang bertugas disekeliling tempat ini pada roboh tertotok jalan darahnya, tetapi tak seorangpun yang menderita luka. Seandainya pemimpin mereka tak memebri pesan wanti-wanti, tidak nanti peristiwa bisa berlangsung seperti ini.”
“Persoalan seperti ini lebih baik tak usah diributkan lebih dahulu. Mari kita coba dulu apakah kedua orang anjing dari Tiong chiu Siang ku bisa menemukan jejak mereka atau tidak” tukas Soen put shia.
Kurang lebih sepertanak nasi kemudian dengan badan basah kuyup oleh keringat Tiong chiu Siang ku muncul kembali disitu diiringi kedua ekor anjingnya yang besar.
Soen Put shia melirik sekejap kedua ekor anjing itu, tatkala dilihat binatang itu kosen dan gagah segera ia berkata, “Aku lihat kedua ekor anjing ini kosen dan gagah, tapi dapatkah mereka dimintai bantuannya untuk menemukan jejak musuh?”
“Dengan mengandalkan kedua ekor anjing ini sudah banyak persoalan yang memusingkan kepala berhasil kami atasi, cuma saja dari kemarin malam hinga ini hari sudah banyak orang yang berlalu lalang disini, mungkin hal ini bisa mempengaruhi penciuman mereka. berhasilkah menemukan jejak mereka sukar dibicarkan, lebih baik kita lihat nasib saja….”
“Persoalan tak boleh diundur lagi, bagaimana kalau kita suruh anjing-anjing itu mulai mencari?”
“Baiklah” Sang Pat mengangguk. “Tapi terpaksa kita harus mohon bantuan Soen Loocianpwee untuk membawa jalan.”
“Kalau aku pengemis tua tahu kemanakah mereka lari, buat apa kuminta bantuan dari kedua ekor anjingmu?”
“Harap loocianpwee jangan menaruh salah paham” sela Tu Kioe ketus. “Kami hanya mohon kepada loocianpwee agar suka membawa menuju ketempat dimana kalian saling bergebrak tadi, kami hendak suruh anjing-anjing ini mencium dahulu bekas hawa badan orang itu, dengan dasar inilah mereka baru bisa melakukan pencarian.”
“Ooouw…. kiranya begitu!”
Demikianlah dibawah pimpinan Soen Put shia, para jago segera berlari melewati beberapa buah bukit, akhirnya sampailah mereka disuatu tempat lapang. Sambil berhenti pengemis itu berkata, “Disinilah kami saling bergebrak!”
“Harap loocianpwee periksa lebih dulu dengan seksama” ujar Sang Pat. “Sebab kalau kita salah mengenali tempat, kesalahan ini bisa mengakibatkan kita tersesat sampai ribuan li jauhnya.”
“Aku sipengemis tua masih ingat benar dengan tempat ini, coba lihat disitu ada sebidang tanah berumput tak bakal salah lagi.”
Mendengar perkataan itu Sang Pat lantas berjongkok kepada kedua ekor anjingnya ia perlihatkan beberapa gerakan, melihat gerak tangan majikannya anjing-anjing segera lari kearah tanah berumput itu dan mencium disekeliling sana. Kemudian dia tiba-tiba menubruk kearah Soen Put shia.
“Loocianpwee, jangan takut mereka hanya menciumi bau badanmu saja” buru-buru Tu Kioe menjelaskan.
“Kalau cuma dua ekor anjing sih, aku sipengemis tua tidak akan ambil perduli.”
Tampak kedua ekor anjing itu mencium seluruh tubuh Soen Put shia beberapa saat lamanya kemudian angkat kepala dan menggonggong. Sang Pat bersuit rendah, kedua ekor anjing tersebut kembali lari kesisi majikannya.
Kembali terlihat Sang Pat menggerak-gerakkan tangannya memberi kode, tiba-tiba kedua ekor anjing itu putar badan dan lari kedepan.
Sang Pat serta Tu Kioe dengan cepat mengejar-ngejar dibelakang kedua ekor anjingnya.
Boe Wie Tootiang buru-buru meninggalkan pesan kepada Im Yang cu, tosu yang terakhir ini mengiakan dan turun kebawah gunung sedang Boe Wie Tootiang serta Siauw Ling dari Soen Put shia segera menyusul dibelakang Sang Pat.
Pada saat ini Siauw Ling merasakan hatinya amat gelisah, ia lari mendekati Sang Pat bertanya, “Menurut pandangan, berhasilkah kita temukan jejak mereka?”
“Asal tempat yang ditunjuk Soen loocianpwee tidak salah, arah yang dituju kedua ekor anjing pada saat ini bukan lain adalah arah orang itu melarikan diri.”
Tampaklah kedua ekor anjing raksasa itu sambil lari kedepan tiada hentinya mencium permukaan tanah.
“Ehmm…. rupanya kedua ekor anjing ini mempunyai kegunaan besar” ujar Soen Put shia pada Boe Wie Tootiang.
“Pinto pernah dengar orang berkata, bahwasanya dalam Bulim terdapat seorang thaysu yang pandai mendidik burung, orang itu bisa membuat kawanan burung tunduk pada perintahnya dan jual nyawa buat tuannya. Kepandaian mencari jejak dengan menggunakan binatang sudah menjadi kebiasaan sejak dahulu kala….”
“Betul. Orang yang tootiang maksudkan bukan lain adalah siraja burung. Sayang ia telah terkurung didalam istana terlarang. Kepandaiannya mendidik burungpun ikut terkubur bersama raganya diistana tersebut.”
“Apakah loocianpwee pernah bertemu dengan siraja burung itu?”
“Aku pernah minum arak bersama dia” ia menghela napas panjang. “Kepandaiannya mendidik burung merupakan kepandaian luar biasa. Aku pernah menyaksikan ia memerintahkan tiga ekor burung rajawali untuk mengirim sekeranjang buah Too dari jarak seribu li. Kehebatan orang ini sungguh patut dikagumi.”
Sementara pembicaraan masih berlangsung tiba-tiba terdengar gonggongan anjing berkumandang datang.
Kiranya kedua ekor anjing raksasa itu telah berhenti ditepi sebuah hutan lebat, memandang kedalam hutan tersebut kedua ekor anjing itu menyalak tiada hentinya.
Siauw Ling segera cabut keluar pedangnya. “Harap cuwi sekalian tunggu diluar hutan, akan cayhe periksa dahulu keadaan sana.”
“Toako, tunggu sebentar” dengan cepat Sang Pat menghalangi niat Siauw Ling.
“Kenapa?”
Sang Pat ulapkan tangannya, kedua ekor anjing itu segera berhenti menggonggong, kemudian ia baru berkata, “Mungkin mereka telah siapkan jebakan didalam hutan tersebut dan sengaja memancing kita agar masuk perangkap.”
“Sekalipun hutan rimba ini merupakan gunung golok atau hutan tombak, akan kuperiksa juga keadaan disana….”
“Tentu saja hutan itu harus kita periksa, namun bagaimanapun juga kita harus bikin persiapan terlebih dahulu!”
“Persiapan bagaimana maksudmu?”
“Loo jie” kata Sang Pat sambil berpaling kearah Tu Kioe. “Kau tuntunlah seekor anjing dan berjaga diluar hutan, biar aku serta toako masuk dalam hutan melakukan pemeriksaan.”
Tu Kioe menurut dan menuntun seekor anjing, katanya….
Jilid 15
“Seandainya kalian bertemu dengan musuh tangguh atau tanda yang mencurigakan, harap segera kirim tanda kepadaku agar siauwte bisa mempersiapkan bantuan.”
Sang Pat mengangguk kepada Siauw Ling bisiknya, “Siauwte dengan membawa anjing ini akan masuk kedalam hutan lebih dahulu, harap toako suka menyusul dibelakangku.”
Siauw Ling kerutkan dahinya, bibirnya bergerak mau bicara namun tak sepatah katapun sempat dilontarkan keluar.
Sang Pat pun tidak menanti Siauw Ling menjawab segera ulapkan tanganya, dengan membawa anjing raksasa miliknya menerobos kedalam hutan lebih dahulu.
Dari sakunya Siauw Ling merogoh keluar dua biji mata uang dan digenggaman sebagai senjata rahasia, siap-siap menghadapi segala kemungkinan yang menimpa mereka.
Hutan tersebut amat lebat sekali, ranting bersambungan dengan ranting pohon berdempetan dengan pohon lain, begitu lebatnya daun sampai-sampai sedikit sekali cahaya yang berhasil masuk.
Sang Pat salurkan hawa murninya mengelilingi seluruh badan, mengikuti dibelakang anjingnya telapak kanan dipersiapkan menghadapi segala kemungkinan.
Pedang panjang ditangan kanan Siauw Ling tiada hentinya berkelebat membabat dahan serta ranting yang menghalangi jalan, tapi hutan ini memang betul-betul lebat. Bagi Siauw Ling yang harus membabat ranting bukanlah suatu pekerjaan gampang. Sedikit pecah perhatian saja ia sudah ketinggalan beberapa tombak dari Sang Pat, terpaksa ia simpan kembali senjatanya dan buru-buru mengejar kedepan.
Kurang lebih setengah jam mereka menerobos kesana kemari, entah berapa jauh sudah dilewati, tiba-tiba anjing itu berhenti. Dihadapan mereka kini terbentang sebuah kolam air yang luasnya mencapai tiga tombak, cahaya air berkilauan menusuk pandangan. Jalan lurus kedalam hutanpun terpotong sampai disitu.
Siauw Ling memandang kolam itu, lalu berbisik: “Saudara Sang, sebenarnya apa yang telah terjadi?”
“Sungguh aneh sekali!” jawab Sang Pat sambil memandang air kolam. “Aku sendiripun tak mengerti apakah orang itu berdiam didalam air?”
“Luas kolam ini mencapai beberapa tombak, sekelilingnyapun merupakan hutan yang amat lebat, sekalipun ada orang berdiam disini tak mungkin ia berdiam didalam air.”
“Siauwtepun merasa rada aneh! tidak mungkin tanpa alasan anjing ini membawa kita kemari!”
Perlahan-lahan Siauw Ling alihkan sinar matanya kearah kolam. Ia lihat air kolam itu berwarna hijau, sekilas pandang suka melihat dasarnya, dalam hati iapun merasa keheranan.
“Mungkinkah didalam kolam yang kecil masih terdapat hal-hal yang aneh?”
Pluuuung….! mendadak titik air muncrat keangkasa membasahi angkasa. Kiranya Sang Pat telah menyambitkan sebuah batu kedalam kolam.
“Saudara Sang” ujar Siauw Ling kemudian setelah menghela napas panjang. “Menurut pendapat siauw heng tidak mungkin orang itu berdiam didalam kolam, mungkin kita sudah terperangkap oleh siasat musuh.”
“Kecuali sebelumnya orang itu sudah tahu kalau kita punya anjing yang bisa mengintip jejak mereka. Mungkin mereka sengaja menghilangkan jejaknya ditepi kolam itu.”
“Mereka bisa temukan goa batu itu, kenapa tidak bisa mengatur siasat ini?”
“Ucapan toako sedikitpun tidak salah….” ia merandek sejenak lalu tambahnya: ” Seandainya orang itu bisa berpikir demikian seksama ia benar-benar seorang musuh tangguh.”
Tiba-tiba terdengar suatu gelak tertawa yang sangat aneh berkumandang datang.
Sang Pat segera berpaling memeriksa keadaan disekeliling tempat itu, ia lihat disisi kolam ada tanah kosong seluas beberapa depa, seandainya sampai terjadi pertarungan maka mereka cuma bisa berkutik disekeliling sana belaka.
Dengan kencang Siauw Ling genggam mata nangnya, ia mendongak keatas. Tampaklah dari atas sebuah pohon yang tinggi besar tiba-tiba muncul seutas tali rotan yang amat panjang. Disusul munculnya seorang lelaki kekar berbaju hitam meluncur turun lewat rotan tadi.
Sang Pat takut Siauw Ling tidak kuat menahan sabar segera turun tangan keji buru-buru bisiknya, “Toako jangan tergesa-gesa turun tangan kita bicarakan dahulu persoalan ini hingga jelas.”
Siauw Ling mengangguk, ia lantas berpaling kearah orang berbaju hitam tadi.
Rotan itu terkulai kearah tengah kolam, tatkala sepasang kaki orang berbaju hitam itu sambil menempel diatas permukaan air, tiba-tiba ia mengayun rotan tersebut kemudian lepas tangan dan melayang ketepi daratan.
Sejak turun dari rotan hingga berdiri ditepi daratan, orang itu selalu berdiri membelakangi Siauw ling. Oleh sebab itu baik si anak muda itu maupun Sang Pat tak dapat menjumpai raut wajahnya.
Masing-masing pihak berdiri membungkam hampir seperminum teh lamanya, siapapun tidak buka suara, sedang orang itupun tidak pernah menoleh.
Si sie poa emas Sang Pat tak dapat menahan sabar lagi, ia mendehem dan menegur, “Sahabat, sungguh hebat kesabaranmu! apakah kau tidak takut kami sekalian turun tangan membokong dirimu?”
“Coba saja membokong aku!” jengek orang itu dingin, kepalanya sama sekali tidak berpaling.
Sang Pat melirik sekejap kearah Siauw Ling, lalu berkata, “Sahabat, besar benar bacotmu! seandainya kami hendak membokong dirimu, mungkin pada saat ini mayatmu sudah mengapung ditengah kolam.”
“Hmmm! untung kalian tidak sampai membokong aku, kalau kalian berbuat begitu mungkin mayat yang mengapung ditengah kolam pada saat ini bukan aku melainkan diri kalian.”
“Seorang lelaki jantan, pria sejati berani berbuat berani menanggung, buat apa kau lakukan tindak tanduk yang tersembunyi? setelah berani menampakkan diri, kenapa tidak berpaling kearah kami?”
“Hal ini disebabkan napsu membunuh dalam hati loohu belum berkobar.”
“Sungguh aneh!” batin Siauw Ling. “Sebelum napsu membunuhnya berkobar kenapa ia tak sudi berpaling?”
Segera tanyanya, “Maksud dari ucapan sahabat sukar diterima dalam pikiran kami, dapatkah kau jelaskan lebih jauh?”
“Kalian ingin tahu?”
“Dengan senang hati kami dengarkan penjelasanmu.”
“Sejak loohu berdiam disini aku telah angkat sumpah, barang siapa yang berjumpa dengan loohu tidak kulepaskan dia pergi dalam keadaan hidup-hidup, semuanya akan kubunuh sampai habis.”
Sinar mata Siauw Ling perlahan-lahan menyapu sekeliling tempat itu, tampaklah diantara pepohonan yang lebat kecuali kolam tersebut boleh dibilang tiada tempat yang bisa digunakan untuk berdiam diri. Dalam hati kembali ia berpikir: “Tempat semacam ini hanya sesuai digunakan sebagai sarang ular dan harimau, mana mirip tempat jagoan lihay?”
Dalam hati ia berpikir begitu, diluar ia menyahut, “Kini sahabat telah menampakkan diri, hal ini berarti kita sudah saling bertemu.”
“Sebelum kalian berjumpa dengan wajah asliku, tentu saja pertemuan ini tak boleh diartikan sebagai suatu perjumpaan.”
“Ingin sekali aku menyaksikan wajahmu yang sebenarnya” Sang Pat berseru. “Tapi kamipun tak ingin dibunuh. Apakah kau punya cara lain untuk mengatasi hal ini?”
“Caranya sih ada, cuma kemungkinan besar kalian tak punya kemampuan untuk melakukannya.”
“Coba katakanlah caramu itu!”
“Cuma ada satu jalan, yaitu kalian harus menangkan diri loohu terlebih dahulu.”
“Baik. Kita tentukan dengan sepatah perkataanmu itu. Sahabat. Harap kau suka berpaling.”
Orang berbaju hitam itu tertawa dingin, perlahan-lahan ia putar badannya menghadap kearah Sang Pat berdua.
Mata Siauw Ling dan Sang Pat dengan tajam mengawasi wajah orang itu, tetapi dengan cepat hati mereka tergetar keras, pikirnya, “sungguh jelek dan menyeramkan wajah orang ini.”
Kiranya diatas pipi orang itu masing-masing tumbuh sebuah bisul beracun sebesar kepalan tangan, dari bisul yang sebelah kiri darah segar mengucur terus tiada hentinya, sedangkan dari bisul yang sebelah kanan menetes keluar nanah yang kental dan busuk sekali baunya.
“Loo heng” Sang Pat segera menjura. “Sudah lamakah kau tinggal disini?”
Napsu membunuh berkobar dari sepasang mata orang berbaju hitam itu, sambil menuding kearah Siauw Ling katanya, “Mungkin lebih lama dari usia bocah ini!”
“Ingin sekali kami mencari tahu satu persoalan dari loo heng.”
“Aku lihat lebih baik kau tak usah mencari tahu persoalan lain lagi.”
“Persoalan ini mempunyai sangkut paut yang amat besar dengan kami sekalian. Bila kau suka memberi tahu, kami sangat berterima kasih sekali.”
“Apakah kalian telah melupakan sumpah dari loohu? kalian sebentar lagi akan mati. Sekalipun persoalan yang akan datang bisa diketahui tapi apa gunanya?”
“Aku harus memaklumi keadaannya, tentu saja ia jadi malu bertemu dnegan orang karena dipipinya tumbuh dua bisul yang bau dan jelek. Biarlah aku mengalah saja” pikirnya.
Berpikir demikian dengan tenang katanya, “Antara Loocianpwee dengan kami berdua belum pernah terikat permusuhan tidak bersungguh-sungguh ingin membinasakan kami berdua.”
“Selama berdiam disini loohu telah membunuh delapan belas orang, bersama kalian dua orang jumlahnya tepat dua puluh orang. Orang-orang yang telah kubunuhpun sama halnya dengan kalian tidak pernah terikat permusuhan apapun dengan cayhe.”
“Sungguh keji dan kejam hati orang ini. Tidak sepantasnya kubiarkan manusia seperti ini tetap hidup didunia untuk mencelakai sesama manusia” pikir Siauw Ling lagi.
Sementara itu Sang Pat tertawa terbahak-bahak.
“Kami telah memasuki daerah terlarang milik loo heng sudah sepantasnya kalau kami dibunuh mati, tapi sebelum kami menemui ajal dapatkah loo heng menjawab terlebih dahulu satu persoalan? sehingga seandainya mati ditangan loo heng pun tidak sampai jadi menyesal!”
“Baik, tanyalah.”
“Tahukah loo heng kemarin malam ada orang yang telah melewati daerah terlarang milik loo heng?”
“Kalau ada orang berani melewati tempat ini, dia pasti sudah mati binasa….”
“Sekalipun orang itu sudah mati, mayatnya tentu masih ada bukan?”
Namun orang berbaju hitam itu segera menggeleng.
“Sejak lima tahun berselang, kalian berdua baru saja merupakan orang pertama yang mendatangi tempat ini.”
Sang Pat jadi tertegun.
“Bicara terus terang kami bisa sampai ditempat ini karena sedang mengejar beberapa orang penjahat, sepanjang perjalananpun ada anjing ini sebagai pencari jalan, seandainya tiada orang yang pernah melewati tempat ini, tidak nanti anjing kami membawa kami sampai disini. Kita berdua adalah sama-sama orang Bulim. Harap loo heng suka memberi petunjuk buat kami.”
“Jangan ajak loohu bersilat lidah” teriak orang itu marah. “selama hidup loohu belum pernah bersahabat dengan orang lain.”
Siauw Lingpun dibikin naik pitam oleh sikap orang itu, bentaknya pula, “Kami sekalian tiba disini atas petunjuk anjing kami, cayhe rasa kami tidak salah mencari. Sekarang anda berusaha membohongi jelas kamupun komplotan dari mereka!”
“Bagus…. bagus sekali!” saking gusarnya seluruh tubuh orang berbaju hitam itu bergetar keras. “Sungguh besar nyalimu bocah, berani benar bicara kurang ajar dengan loohu!”
Tiba-tiba ia membentak keras, tangannya diayun mengirim sebuah serangan dahsyat.
Siauw Ling tidak gentar, ia ayun pula telapak kirinya menyambut datang serangan itu dengan keras lawan keras.
Bentrokan sepasang telapak menimbulkan suara ledakan dahsyat, kedua belah pihak sama-sama mundur selangkah kebelakang.
“Sungguh dahsyat kekuatan kakek ini, aku tak boleh pandang enteng dirinya….” pikir Siauw Ling.
Sementara kakek itupun memandang wajah Siauw Ling dengan mata melotot, setelah tertegun beberapa saat serunya, “Bocah cilik, hebat juga kepandaian silatmu! semenjak loohu berdiam disini selama puluhan tahun dan membinasakan delapan belas orang yang berani mendekati kolam ini. Belum pernah ada orang yang sanggup menahan dua buah pukulan loohu.”
“Ooouw ya? maaf kalau aku telah mengejutkan dirimu.”
“Loo heng!” Sang Pat pun berkata sambil tertawa. “Telapakmu berwana merah darah, rupanya ilmu yang kau yakini adalah ilmu Ang Sah Ciang!”
“Tidak salah, selama puluhan tahun belum pernah ada orang yang berhasil lolos dalam keadaan selamat dari ancaman ilmu Ang San Ciangku!” seraya berkata orang berbaju hitam itu kembali ayun telapak kanannya siap melancarkan serangan.
“Tahan!” buru-buru Sang Pat berseru.
“Perkataan apa lagi yang hendak kau ucapkan?”
“Dalam membinasakan kedelapan belas korbanmu, Loo heng selalu mengirim pukulan hanya satu jurus belaka, sebaliknya pukulanmu yang pertama pada saat ini bukan saja tidak berhasil mendapatkan korban bahkan sama sekali tak dapat melukai toako kami. Apabila pertarungan ini dilanjutkan terus, siapa menang siapa kalah masih sukar untuk diduga, seandainya kami sekalian terbunuh yah sudahlah…. tapi jikalau Loo henglah yang terluka ditangan kami, bukankah hal ini akan merugikan dirimu?”
“Loohu percaya tidak nanti sampai terluka ditangan kalian!” sahut kakek jelek itu dingin tanpa banyak bicara lagi telapak kanannya langsung diayun menghantam dada Siauw Ling.
Menyaksikan tingkah laku orang berbaju hitam itu, dalam hati Siauw Ling segera berpikir, “Rupanya sebelum aku berhasil tundukkan orang ini, tidak nanti ia mau bicara terus terang….”
Laksana kilat tangan kanannya segera menotok keluar mengancam urat nadi orang tua itu sementara tangan kirinya mengirim satu pukulan dahsyat.
Meski wajah orang berbaju hitam itu amat jelek dan memuakan, ilmu silatnya tidak lemah, sepasang telapak mengirim serangan berbareng, bukan saja gencar dan cepat bahkan hebatnya luar biasa.
Siauw Ling tak mau tunjukan kelemahannya iapun saling merebut menyerang dengan andalan ilmu pukulan kilat berantal.
Dalam sekejap mata dua puluh jurus telah lewat, Siauw Lingpun berhasil merebut posisi diatas angin.
Rupanya orang berbaju hitam itu sama sekali tidak mengira kalau ilmu telapak yang dimiliki pemuda ini begitu dahsyat dan ampuh, hatinya terperanjat sekali. Setelah bergebrak beberapa jurus lagi ia mulai tak sanggup menerima datangnya serangan lawan, gerak geriknya mulai bingung dan kacau rupanya sebentar lagi ia bakal roboh.
Siauw Ling sendiripun tidak ingin bertempur lebih lama, diam-diam ia siapkan ilmu totok Siauw loo sim cienya yang sakti. Ditengah pertempuran mendadak ia menyentil keluar.
Dalam pada saat itu sikakek tua berbaju hitam tadi sudah mulai kehabisan tenaga dan terdesak hebat. Berada dalam keadaan seperti ini tidak mungkin lagi baginya untuk menjaga serangan lawan. Sentilan Siauw Ling dengan cepat menghantam jalan darah Chiang Bun Hiat diatas iganya.
Kehebatan ilmu jari Siauw Ling luar biasa hebatnya, kakek tua itu merasakan iganya jadi kaku, tanpa dapat diketahui lagi kakinya jadi lemas dan jatuh terjengkang diatas tanah.
“Selama ini kau telah membinasakan delapan belasan orang, rupanya saat pembalasan bagi perbuatanmu telah tiba pada hari ini!” seru Sang Pat. ia cekal baju orang dan diangkat keatas. “Kalau kau ingin membunuh dua orang lagi sehingga jumlah korbanmu genap jadi dua puluh orang, sekarang hanya bisa terpenuhi dengan satu cara saja!”
“Apa caramu itu?”
“Jawablah setiap pertanyaan yang cayhe ajukan secara jujur dan tepat, kalau kau berani bicara bohong barang sepatah kata, jika sampai ketahuan oleh cayhe…. awas akan kusiksa badanmu.”
Rupanya sekalipun watak kakek itu dingin dan sombong, namun ia sangat takut menghadapi kematian. Buru-buru sahutnya, “Cepatlah ajukan pertanyaanmu, asal loohu tahu pasti akan kujawab sejujurnya.”
“Dari kemarin hingga pagi ini, apakah ada orang yang lewat ditempat ini?”
Kakek berbaju hitam ini menggeleng.
“Barang siapapun yang melewati tempat ini pasti akan diketahui loohu….”
“Siapa saja orang terakhir yang melewati tempat ini? dan kearah mana mereka pergi?”
“Sejak tiga tahun berselang belum pernah ada orang yang melewati tempat ini….” sinar matanya menyapu sekejap kearah Siauw Ling serta Sang Pat. “Kalian berdua adalah orang terakhir yang mengunjungi tempat ini.”
“Hmm! rupanya sebelum kau merasakan sedikit penderitaan kau tidak mau bicara terang” jengek Sang Pat. Jari telunjuknya segera menotok keatas bisul besar pada pipi sebelah kirinya.
Kakek berbaju hitam itu mendengus berat, keringat dingin mengucur keluar membasahi diseluruh tubuhnya, jelas bisul yang terlemah darinya, sehingga cuma sentilan perlahanpun sudah cukup membuat dia menderita.
“Kau mau bicara tidak?”
“Aku betul-betul tidak pernah berjumpa dengan orang yang berusaha lewat disini….” teriak kakek itu berulang kali sambil menahan rasa sakit.
Kontan Siauw Ling mengerutkan alisnya.
“Kami punya anjing yang membawa jalan, seandainya orang itu tidak lewati tempat ini tidak nanti ia membawa kami sampai disini.”
“Kalau soal bau, hal ini dikarenakan didaerah sekitar sini terdapat seekor binatang aneh yang bisa menyiarkan bau harum semerbak, anjingmu itu datang kemari karena tertarik oleh bau tadi.”
“Binatang aneh apa yang bisa menyiarkan bau harum yang begitu wangi?”
“Loohu sendiripun tak tahu namanya, tapi tempat yang dilalui olehnya pasti menyiarkan suatu bau harum yang aneh, setiap kali ia keluar dari sarangnya, bau harum itu pasti memancing kehadiran harimau, macan tutul dan lain-lainnya. Hanya saja binatang ini jarang sekali meninggalkan goanya.”
“Kini binatang aneh itu berada dimana?”
Orang berbaju hitam kemak kemik namun tak sepatah katapun diutarakan keluar.
“Bagus…. bagus sekali. Rupanya kau ingin main setan dengan aku?” teriak Sang Pat. Tangan kanannya diayun, kembali ia totok bisul besar diatas pipinya.
“Jangan…. jangan…. akan loohu terangkan akan loohu terangkan!”
Menyaksikan tingkah laku kakek itu, dalam hati Sang Pat merasa amat geli, pikirnya, “Waktu berjumpa pertama kali tadi, aku masih menyangka dia lihay sekali, tak tahunya orang inipun takut akan kematian.”
Sebaliknya Siauw Ling yang menyaksikan dua bisul besar diatas pipinya, dimana yang satu mengeluarkan darah sedang yang lain mengeluarkan nanah, timbul rasa kasihan dari dalam hatinya.
“Lepaskan dia, biarlah dia berbicara perlahan-lahan!” ujarnya cepat.
Sang Pat menurut dan melepaskan cengkeramannya.
“Kalau kau berani main gila dan bicara bohong lagi, akan kukorek kedua bisul besar diatas wajah itu!”
Orang itu menghela napas panjang.
“Binatang itu berdiam dalam sebuah goa hitam kurang lebih sepuluh li dari sini….”
“Mengenai asal usul gua hitam ini loohu rada kurang begitu jelas, tetapi diatas batu peringatan didepan goa tadi memang tertulis Goa Hitam, dua patah kata itu. Oleh sebab itulah loohu sebut saja goa itu sebagai Goa Hitam.”
“Baiklah! lanjutkan ceritamu!”
“Dibawah batu peringatan tersebut terdapat sebuah goa, dalam hutan rimba yang memangnya jarang kena sinar membuat itu makin gelap gulita hingga sulit menemukan dasarnya, baru masuk beberapa depa saja suasana sudah amat gelap hingga sukar melihat jari tangan sendiri.”
“Kau pernah pergi kesitu?”
Kakek tua itu mengangguk.
“Seandainya loohu tidak pernah pergi kesitu tidak nanti tumbuh dua buah bisul besar diatas pipiku.”
“Aaah! sebenarnya apa yang telah terjadi?”
“Kejadian ini sudah berlangsung puluhan tahun berselang, ketika loohu mengejar binatang aneh itu dan masuk kedalam gua hitam. Baru saja masuk beberapa tombak jalan darahku telah ditotok orang….”
“Jadi kalau begitu dalam goa hitam itu berdiam seseorang?” tanya Siauw Ling cepat.
“Masihkah orang itu berdiam didalam gua hitam, loohu tidak berani memastikan. Tetapi setelah jalan darahku tertotok rasanya aku dengar ada dua orang sedang berbicara, jelas mereka adalah satu pria satu wanita….”
“Jadi kalau begitu bisul yang ada diatas wajahmu baru ada sejak waktu itu?”
“Tidak salah, bisul beracun yang tertinggal diatas pipi loohu adalah hasil karya dari kedua orang laki perempuan itu, entah mereka sudah mengusapkan bubuk racun apa keatas wajahku beberapa hari kemudian muncullah dua bisul-bisul beracun ini. Kalau mengikuti maksud sang pria, dia ingin membinasakan diriku tetapi yang perempuan ngotot hendak menahan nyawaku, maka akupun lantas disuruh menjaga kolam air ini….”
“Bagaimanakah raut muka lelaki dan wanita itu?”
“Selama ini loohu belum pernah menyaksikan sendiri raut muka serta potongan badan mereka.”
“Kenapa kau tidak melarikan diri?”
“Diatas pipiku tumbuh dua buah bisul racun yang setiap hari mengucurkan darah kental, darimana aku berani berjumpa dengan orang lain? lagipula setiap tiga bulan sekali aku harus menelan obat penawar, apabila obat itu tidak ditelan maka bisul racun ini akan semakin membesar, sakitnya sampai menusuk sumsum, meski terhitung aku tidak malu bertemu dengan orang dan lari dari sini, seandainya bisul ini kambuh dan tiada obat yang bisa menyembuhkan, bukankah jiwaku bakal melayang?”
“Ooouw…. kiranya begitu!”
“Itu berarti setiap tiga bulan sekali dari sana ada ornag yang datang mengantarkan obat penawar bagimu?” Sang Pat bertanya.
“Tidak salah, cuma yang mengantarkan obat itu bukan manusia.”
“Kalau bukan manusia yang mengantarkan obat itu apa setan?”
“Obat itu dikirim oleh seekor monyet putih.”
Siauw Ling melirik sekejap kearah Sang Pat. Tiba-tiba ia kebaskan jalan darah orang tua itu, ujarnya, “Kau berbuat demikian karena dipaksa orang. Karena keadaanmu memang patut dikasihani, tapi selama kau berada disini delapan belas nyawa sudah hilang, perbuatanmu sedikit banyak keterlaluan sekali.”
“Loohu berbuat demikian karena dipaksa oleh keadaan. Pemilik goa hitam itu memerintahkan cayhe untuk membunuh setiap manusia yang berani memasuki daerah sekitar tombak dari kolam ini. Apabila loohu tidak menuruti perintahnya, ia tidak memberikan obat penawar itu kepadaku.”
“Tahukah kau jalan menuju kegoa hitam?”
“Aku tahu, tapi aku tak berani pergi kesitu lagi.”
“Bawalah kami kesana, keselamatanmu pasti kami lindungi.”
Biji mata orang tua berbaju hitam itu berputar memperhatikan sekejap kedua orang itu kemudian katanya, “Keahlian silat orang itu amat lihay, mungkin kalian masih bukan tandingan dari pemilik goa hitam!”
Sang Pat tertawa dingin.
“Memang harus pergi, kalahpun harus pergi. Kalau kau tidak ingin minum arak kehormatan, baiklah akan kami berikan arak hukuman kepadamu.”
“Seandainya kalian bertemu dengan lelaki perempuan itu dan kehilangan nyawa, loohu yang ikut kesitu bukankah akan mati konyol juga?”
“Kau hidup sebagai budak, lebih baik mati saja. Kau lebih bebas dan tidak terikat oleh siapa-siapa?”
“Aaah betul juga ucapanmu” seru orang itu rada melengak. “Selama belasan tahun ini, kenapa loohu tak pernah berpikir sampai kesitu?”
“Sekarang kau sudah dapat berpikir sampai kesitu bukan?”
“Berkat teguran anda, kini aku telah mendusin dari impian.”
“Jadi kamu suka membawa kami pergi kesitu kan?”
“Baiklah, paling-paling kalau kamu berdua kalah, aku ikut korbankan selembar jiwaku.”
Mendadak Sang Pat maju dan menjura kepada orang berbaju hitam itu.
“Loo heng, siapakah namamu? dapatkah diutarakan?”
“Siauwte Ong Hong….”
“Aaaa…. haaa…. kiranya simacan tutul berkepala sembilan Ong Hong.”
“Sedikitpun tidak salah dan saudara adalah?”
“Sie poa emas Sang Pat.”
“Ouw kiranya sepasang pedagang dari Tiong chiu….”
“Tidak salah cayhe adalah Loo toa dari Tiong chiu Siang Ku. Ong heng!! kau jarang bergaul dengan orang Bulim. Selamanya berkelana seorang diri. Sungguh tak nyana kaupun kenal dengan nama kami berdua.”
“Aaai…. selama hidup cayhe paling tidak suka bersahabat, ditambah pula berdiam selama puluhan tahun dalam hutan lebat ini, tentu saja tabiatku makin lama berubah jadi makin aneh. Bila aku sudah berbuat salah pada kalian tadi, harap kamu berdua suka memaafkan….”
“Laaa…. laaa…. coba lihat. Bukankah sikapmu halus dan ramah sekali? kenapa tak bisa bersahabat dengan orang lain?”
“Aaaai…. selama hidup cayhe belum pernah punya sahabat, biasanya aku berkeliaran seorang diri didalam Bulim. Itu masih tidak seberapa. Sejak pemilik goa hitam mempolesi pipi loohu dengan racun sehingga mengakibatkan tumbuhnya dua bisul yang mengucurkan darah serta nanah kental. Ditambah pula harus berdiam dalam hutan lebat yang tiada berpenghuni selama puluhan tahun, setiap kali teringat kejadian lampau, loohu merasa tiada satu persoalaanpun yang patut dikenang, bahkan seorang manusiapun tak ada yang bisa kukenang….”
“Haaa…. haaa…. oleh sebab itu Ong heng ingin bersahabat dengan kami?”
“Siauwte merasa rendah diri. Bila saudara tidak menampik….”
“Ong heng tak usah bicara sungkan, siauwya senang sekali mengikat tali persahabatan dengan Ong heng.”
“Sungguh?”
“Setiap perkataan yang kuucapkan keluar dari hati sanubariku.”
Sementara Ong Hong hendak menjawab, tiba-tiba terdengar serentetan suara yang sangat aneh berkumandang datang.
“Suara apa itu?” tanya Siauw Ling.
Tampaknya anjing raksasa yang berada didepan Sang Pat menggonggong keras kemudian lari kemuka.
“Sang heng!” buru-buru Ong Hong berseru. “Cepat halangi perjalanan anjingmu, binatang aneh tersebut segera akan menampakkan diri.”
Sepasang tangan Sang Pat dengan cepat ditempelkan keatas mulut dan memperdengarkan suitan panjang yang rendah dan berat.
Sungguh aneh sekali anjing yang sedang lari kemuka itu tiba-tiba berhenti, putar badan dan balik kesisi majikannya.
“Entah suara gonggongan anjing barusan telah mengejutkan binatang aneh itu atau tidak?” bisik Siauw Ling.
“Setiap tiga hari sekali binatang aneh itu tentu akan datang kekolam ini untuk mandi, ini hari adalah saatnya pergi mandi. Ayo kita cepat sembunyikan diri.”
Sang Pat segera bopong anjingnya dan bersembunyi dibelakang sebuah pohon besar.
Siauw Ling serta Ong Hong pun cepat menyembunyikan diri.
Baru saja beberapa orang itu menyembunyikan diri, terciumlah serentetan bau harum yang sangat aneh berhembus datang.
“Binatang aneh itu segera akan menampakkan diri” bisik Ong Hong yang berada disisi Siauw Ling.
Si anak muda itu alihkan sinar matanya tampak dari balik hutan lebat disebelah barat lambat-;ambat muncul seekor binatang aneh berbulu putih yang mirip kidang namun bukan, mirip pula seperti kambing namun bukan kambing.
Tampak binatang itu perlahan-lahan berjalan kesisi kolam, ia pandang sekejap air didalam kolam kemudian terjun kebawah.
“Apa gunanya binatang aneh ini?” bisik Siauw Ling.
“Menurut apa yang cayhe ketahui, pemilik Goa Hitam itu sangat menyayangi binatang ini sedang mengenai apa gunanya siauwte kurang begitu jelas….”
Suatu ingatan berkelabat dalam benak Siauw Ling, “Seandainya kita berhasil menangkap binatang aneh ini. Pemilik Goa Hitam pasti akan datang mencari kita. Bukankah dengan begitu kita tak usah pergi ke Goa Hitamnya?”
“Tentang soal ini siauwte tak berani mengambil keputusan, rasa sayang pemilik Goa Hitam terhadap binatang aneh inipun berkat pengamatan siauwte selama puluhan tahun ini. Namun selama puluhan tahun pemilik Goa Hitam tak pernah tinggalkan goanya barang selangkahpun jua, sekalipun kita berhasil menangkap binatang aneh itu, berhasilkah memancing dia keluar dari goanya masih merupakan sebuah tanda tanya besar.”
Sementara mereka berbicara, mendadak terdengar suara auman yang amat keras berkumandang datang dari balik hutan.
“Suara apa itu?” tanya Siauw Ling dengan sepasang alis berkerut.
“Oouw…. itu suara seekor singa jantan! setiap kali binatang aneh itu pergi mandi, binatang buas serta binatang-binatang lain seringkali terpancing datang kemari. Walau selama banyak tahun siauwte merasa kesepian namun banyak pengalaman serta pengetahuan yang telah kudapat, banyak burung serta binatang aneh yang telah aku jumpai.”
Pada saat itu kembali terdengar pekikan aneh berkumandang datang dari tengah udara.
Siauw Ling yang bersembunyi dibalik hutan segera mendongak, tampaklah seekor burung raksasa yang berbulu warna warni terbang rendah diatas kolam dan hinggap diatas sebuah pohon.
“Burung merak tersebut adalah seekor burung jantan” ujar Ong Hong. “Semula mereka berpasangan, tapi entah kenapa sudah banyak waktu burung merak betina itu tidak nampak, mungkin saja ia sedang bertelur, sudah hampir setengah bulan ia tidak datang kemari.”
Ucapan ini mengherankan hati Siauw Ling, pikirnya, “Mungkinkah bau harum yang disiarkan binatang aneh itu bisa begini lihay? bukan saja burung-burung aneh bahkan binatang buaspun pada berkumpul disini.”
Terdengar suara auman keras kembali berkumandang datang, seekor singa yang amat besar perlahan-lahan berjalan kearah kolam dan merebahkan diri diatas rerumputan.
Diam-diam Siauw Ling mengempos tenaga tangan kirinya merogoh kedalam saku ambil sebiji mata uang, asalkan singa tadi menunjukkan gerak gerik yang tidak menguntungkan, ia akan segera menghajarnya.
“Harap Siauw heng suka legakan hati” bisik Ong Hong. “Keanehan binatang tersebut justru terletak pada sikap binatang lain yang begitu halus serta lunak terhadap dirinya, siapapun tak akan melukai dirinya.”
“Ouw begitu!!”
Sementara mereka masih bercakap-cakap, mendadak binatang aneh berbulu putih itu loncat keluar dari dalam kolam dan lari kearah barat.
“Aduuh celaka!” teriak Ong Hong. “Meski binatang aneh itu tidak takut pada binatang buas atau burung ganas, tapi sangat jeri terhadap manusia bahkan telinga serta matanya amat tajam, mungkin dia telah mendengar pembicaraan kita!”
“Kalau begitu ayo cepat kita kejar!” seru Siauw Ling sambil loncat keluar dari persembunyiannya.
Pada saat itu Sang Patpun loncat keluar dari balik pohon, anjing yang berdiri disisinya segera meloncat kemuka diiringi gonggongan keras binatang itu menubruk kearah singa yang sedang berbaring disisi kolam. Dengan gusar singa itu mengaum keras iapun melompat bangun menyongsong kedatangan anjing tadi.
Pada waktu itu Siauw Ling telah tiba ditepi seberang, menyaksikan singa itu melotot dengan amat gusar. Ia takut anjing milik Sang Pat bukan tandingannya, tangan kanannya segera diayun menyambitkan mata uang yang digenggamnya tadi kearah singa.
Serangannya kuat dan tepat, mata uang tadi dengan telak menghajar mata kiri singa itu. Sang singa mengaum kesakitan diiringi dengusan yang berat binatang itu putar badan dan melarikan diri.
Terdengar suara burung terbang keangkasa, berpuluh-puluh ekor burung aneh yang lagi bertengger diatas pohon sama-sama melarikan diri mencari keselamatan.
Begitulah dipimpin oleh Siauw Ling yang segera disusul oleh Sang Pat serta Ong Hong, mereka sama-sama mengejar binatang aneh tersebut, walaupun hutan rimba yang lebat amat mempengaruhi kecepatan gerak mereka.
Untung sekali daya cium anjing yang mereka bawa amat tajam, dengan petunjuk sisa bau harum yang tertinggal mereka terus kemuka.
Beberapa li kembali sudah lewat, tiba-tiba pemandangan dihadapan mereka berubah, ditengah hutam rimba yang lebat muncul sebuah tanah lapang yang luas dan cerah tersorot cahaya sang surya.
Sang Pat memperhatikan sekejap tanah lapang itu, luasnya kurang lebih ada sepuluh tombak. Rumput nan hijau dan lembut laksana permadani yang menutupi permukaan bumi, suasana disitu jauh berbeda dengan keadaan didalam hutan rimba tadi.
“Tempat apakah ini?” tanya Siauw Ling sambil berpaling kearah Ong Hong.
“Soal ini…. soal ini…. cayhe sendiripun kurang begitu jelas….!”
“Tempat ini bukan Goa Hitam?”
“Bukan! Goa Hitam letaknya berada dibawah sebuah pohon siong yang besar. Meskipun didepannya terdapat sebidang tanah namun tempat itu tertutup oleh dedaunan yang lebat, tiada cahaya matahari yang bisa menyoroti sisinya….”
“Kalau begitu kita lepaskan lagi anjing kita, biar dia yang menunjukkan tempat persembunyian binatang aneh itu.”
“Jangan keburu napsu!” cegah Siauw Ling. Ia berjongkok dan cabut segenggam rumput, setelah diperhatikannya beberapa saat ia berkata, “Ong heng kau telah berdiam puluhan tahun didalam hutan rimba ini, pernahkah kau jumpai rerumputan yang begitu lunak dan halus?”
“Belum pernah kutemui!”
Sang Pat pun berjongkok dan mencabut segenggam rumput, ia rasakan rumput itu lunak bagaikan kapas, segera serunya pula, “Aaah betul juga. Rumput ini halus dan empuk!”
“Persoalan terletak disini, ditengah hutan rimba yang lebat dan seram darimana bisa muncul rumput halus yang begitu lunak? jelas ada orang sengaja memeliharanya disini.”
“Pendapat toako sedikitpun tidak salah, tempat ini memang rada sedikit kukoay!”
“Kecuali tanah berumput seluas puluhan tombak ini, tempat lain penuh ditumbuhi hutan belukar yang saling bersambungan. Oleh sebab itu aku rasa tempat yang paling mencurigakan adalah daerah sekitar sepuluh tombak ini….”
“Tidak salah, hanya dari daerah sekitar sepuluh tombak ini saja kita dapat membongkar rahasia ini.”
Siauw Ling putar badannya siap menggali tanah diujung tanah lapang berumput itu, belum sampai ia bertindak mendadak terdengar suara peringatan yang bernada berat berkumandang datang.
“Dibawah tanah berumput ini terpelihara makhluk yang paling berbisa dikolong langit dewasa ini, sekalipun kalian memiliki ilmu silat yang sangat lihay, jangan harap bisa menghadapi beribu-ribu bahkan berjuta-juta ekor binatang beracun ini!”
Peringatan tersebut muncul secara mendadak membuat Siauw Ling serta Sang Pat sama-sama tertegun dibuatnya.
Tatkala mereka mendongak, tampaklah sebuah kursi beroda perlahan muncul dari balik hutan!
Kursi beroda itu aneh sekali bentuknya disekeliling karena terpancang bambu-bambu diempat penjuru, sedang disekeliling bambu terpancang kain kelambu berwarna hijau. Seorang lelaki berusia pertengahan dengan wajah yang pucat pias bagaikan mayat dan memakai baju warna biru duduk dalam kursi roda tadi.
“Orang ini sungguh aneh” bisik Siauw Ling kepada Sang Pat dengan nada tercengang. “Kenapa ia pasang kelambu disekeliling kursi rodanya?”
“Rupanya dalam hutan rimba yang sangat lebat ini banyak terdapat urusan aneh dan manusia aneh, kita harus bertindak lebih hati-hati.”
Tampak orang itu mendorong roda kursinya dengan melewati sisi tanah rumput itu mendekati kearah Siauw Ling sekalian dan berhenti kurang lebih satu tombak dihadapan mereka.
“Orang ini tidak berjalan diatas rumput melainkan memutar disampingnya, aku lihat dibalik sosoknya itu terdapat sedikit persoalan” bisik Sang Pat.
“Ehmm, tidak salah!” Siauw Ling mengangguk. Sinar matanya dialihkan keatas tubuh orang setengah baya diatas kursi roda itu, tapak lututnya ditutupi dengan sebuah selimut warna merah, disisi badannya terletak sebuah jaring, dandanan semacam ini kelihatan menyolok dan aneh sekali.
“Sahabat, apakah kau berdiam disini?” tegur Sang Pat memberi hormat.
Mula-mula orang itu geleng kepala namun kemudian mengangguk sambil menghela napas panjang jawabnya, “Boleh dibilang begitulah!”
“Sebetulnya apa yang terjadi? sahabat! dapatkah kau bicara lebih jelas lagi?”
“Tempat ini bukan tempat tinggalku tapi aku sudah berdiam selama lima tahun disini, menurut pandanganmu tempat ini boleh dikatakan sebagai tempat kediamanku atau bukan?”
“Haaa…. haaa…. betul ucapanmu memang cengli.”
Menyaksikan sikap orang itu ramah dan berbeda dengan watak kukoay dari Ong Hong tadi, Siauw Ling maju kedepan dan menjura.
“Sahabat, tolong tanya siapa namamu?”
“Cayhe she Thio bernama Kie An.”
“Oh, kiranya Thio heng. Cayhe Siauw Ling.”
“Aaaai….! cuwi sekalian adalah manusia pertama yang kujumpai selama lima tahun belakangan, pada hari-hari biasa cayhe cuma dapat menyaksikan binatang buas, burung-burung serta cengkerik!”
“Ditinjau dari nada ucapan Thio heng rupanya kau tinggal disini bukan karena kehendak sendiri.”
“Sepasang kakiku dibelenggu orang diatas kursi roda. Setengah langkahpun tak bisa berpisah dari kursi ini, darimana aku bisa tinggalkan hutan rimba yang lebat dan susah dilalui semacam ini?” ujar Thio Kie An sambil membuka selimut merah diatas lututnya.
Ketika Siauw Ling berpaling tampaklah sepasang kaki orang itu dibelenggu orang dengan otot kerbau, mungkin dikarenakan kaki itu sudah lama dibelenggu maka bukan saja kakinya jadi pucat pias bahkan otot kerbau itu sendiripun sudah berubah jadi hitam pekat.
Dalam hati lantas ia berpikir, “Otot kerbau macam itu sih memang kuat, namun bagi orang yang pandai bermain silat cukup didalam tiga sampai lima hari sudah dapat memutuskan semua otot-otot tersebut….”
Berpikir begitu maka ia berkata, “Waktu sudah lewat sangat lama, mengapa Thio heng tidak berusaha memutuskan otot-otot kerbau yang membelenggu dirimu itu?”
Thio Kie An memperhatikan sejenak wajah Siauw Ling lalu tertawa terbahak-bahak.
“Rupanya Siauw heng sekalian adalah jago-jago lihay dari dunia persilatan?”
“Kami cuma bisa sedikit ilmu silat cakar ayam!” jawab Sang Pat cepat.
“Dalam pandangan cuwi sekalian, otot kerbau yang membelenggu kaki cayhe ini mungkin dianggap tidak seberapa, tapi bagi seorang manusia lemah yang tidak punya tenaga untuk menjagal seekor ayam macam diriku, memutuskan otot kerbau semacam itu bukanlah suatu pekerjaan yang sangat gampang.”
“Aaai…. kalau memang Thio heng bukan orang Bulim, apa sebabnya kau dicelakai orang sampai macam begini? keadaanmu saat ini bukanlah hasil balas dendam seperti apa yang terjadi pada umumnya.”
“Hal ini harus disalahkan karena cayhe punya rasa ingin tahu yang amat tebal, sejak kecil aku suka sekali membaca buku-buku yang berisikan segala macam pengetahuan serta ilmu yang aneh, lama kelamaan kebiasaanku ini jadi terbiasa sehingga dimanapun aku mencari kitab-kitab kuno. Setiap hari kerjaku cuma membaca buku melulu” ia angkat kepala dan menghela napas panjang, sambungnya: “Kurang lebih sepuluh tahun berselang, aku berhasil membeli sebuah kitab kuno yang berasal dari melaikat lukisan si Thian Too. Diatas kitab tersebut terdapat tulisan tangannya dan entah secara bagaimana akhirnya berhasil kubeli. Sejak membaca kitab itu boleh dibilang aku jadi lupa makan lupa tidur, setiap hari semua perhatian kucurahkan untuk mempelajari isi kitab tadi.”
“Kitab apakah yang berhasil Thio heng dapatkan? kepandaian apa saja yang termuat dalam kitab itu sehingga memancing perhatian Thio heng untuk membaca siang malam?” sela Sang Pat.
“Kitab itu adalah sejilid kitab kuno, entah siapa pengarangnya cayhe sendiripun kurang tahu. Isi kitab itu antara lain adalah ilmu pertabiban, resep, ilmu membuat racun, memusnahkan racun serta memelihara pelbagai makhluk berbisa.”
“Oooh kalau begitu kitab tersebut adalah sejilid kitab ilmu pertabiban….!”
“Tak dapat dikatakan sebagai kitab ilmu pertabiban sebab isi dari kitab itu amat luas, terutama sekali bagian yang memuat cara-cara membuat racun, memusnahkan racun serta cara memelihara binatang berbisa, kepandaian aneh semacam itu merupakan kepandaian yang belum pernah dijumpai didunia selama ini. Aaai….! Pengarang kitab tersebut bukan saja memiliki pengetahuan yang luas serta membaca berlaksa jilid buku bahkan ia sudah melakukan perjalanan berlaksa-laksa li mengelilingi seantero jagad, dalam kitab itu tercatat pula cara menangkap berpuluh-puluh jenis binatang berbisa serta dimana binatang itu terdapat.”
“Pernah kau praktekkan kepandaian tersebut?”
“Karena terlalu kesemsem oleh kepandaian itu maka timbul rasa ingin tahu didalam hatiku, maka pada suatu hari setelah mempersiapkan diri dan membawa seorang pembantu cayhe pergi jauh kepropinsi In Lam, dengan mengikuti cara yang termuat dalam kitab itulah cayhe berhasil menangkap tiga belas jenis ular aneh yang amat beracun.”
“Ah, benarkah ada kejadian seperti ini?”
“Sedikitpun tidak salah” Thio Kie An mengangguk. “Dengan mengikuti cara melarikan binatang beracun yang termuat dalam kitab itu, bukan saja cayhe berhasil menangkap ketiga belas macam ular berbisa itu bahkan dapat menjinakan mereka dan melaksanakan semua perintahku!”
“Waduh…. waduh…. aku benar-benar belum pernah mendengar ada kejadian seperti ini” puji Sang Pat tiada hentinya.
“Setelah menyaksikan kepandaian menjinakan ular mendatangkan hasil yang memuaskan. Dalam hatiku kembali timbul rasa ingin tahu. Setahun kemudian dengan mengikuti keterangan didalam kitab itu kembali aku masuk kehutan. Perjalananku kali ini telah berhasil pula menangkap beberapa jenis makhluj beracun, tapi dengan adanya kejadian ini maka kemampuanku menaklukkan makhluk berbisa jadi tersebar luas diseluruh dusun dan karena itu pula mendatangkan banyak kesulitan bagiku sendiri.”
“Apakah ada banyak orang ingin menyaksikan binatang berbisamu?”
“Kesulitan paling besar yang kualami adalah disebabkan suatu ketidak sengajaanku menyembuhkan bisul racun seorang tetanggaku dengan cara racun lawan racun, sungguh tidak dinyana, karena keberhasilanku itu nama besarku jadi semakin cemerlang, satu kabarkan sepuluh dan sepuluh kabarkan seratus, orang yang datang minta pertolongan kian lama kian bertambah banyak. Sampai-sampai orang yang tinggal beberapa ratus lipun berduyun-duyun datang mencari aku.”
“Menolong sesama manusia adalah suatu perbuatan mulia, mengapa Thio heng malah merasa tidak senang hati?”
“Siauwte sendiri sama sekali tidak mengerti ilmu pertabiban, apa yang kulakukan itu adalah menulis resep menurut catatan dalam buku. Tapi sungguh aneh, resep-resep itu ternyata sangat manjur. Semua penyakit bagaimana parahnya segera sembuh setelah minum obat itu. Makin cayhe tampik semakin banyak orang yang datang mohon pertolongan, akhirnya karena keadaan terpaksa cayhe buat satu peraturan yakni barang siapa yang tidak menderita parah atau nyawanya terancam maut cayhe tak mau menolong mereka. Dengan adanya kejadian ini maka keadaanpun sedikit dapat dikuasai. Namun namaku sudah terlanjur tersiar sampai dimana-mana. Lima tahun berselang pada suatu malam yang gelap cayhe ditangkap orang dan dibelenggu diatas kursi, sejak itulah aku dipaksa oleh mereka untuk memelihara beberapa macam binatang beracun dan kejadian itu berlangsung hingga kini!”
“Dibawah tanah berumput ini!”
“Binatang beracun apa yang kau pelihara?”
“Semula cayhe memelihara beberapa puluh jenis binatang, tapi setelah mengalami masa perjuangan selama banyak tahun akhirnya hingga kini cuma tinggal dua binatang beracun saja.”
“Binatang-binatang itu tentu punya nama bukan? apa saja kedua jenis makhluk beracun itu?”
“Yang satu bernama Lalat Darah sedang yang lain adalah Kelabang Bersayap Emas!”
“Kalau kelabang bersayap emas sih sering cayhe dengar orang membicarakannya, sedang Lalat Darah belum pernah kudengar.”
“Kalau kedua jenis binatang itu dibandingkan maka racun Lalat Darah jauh lebih ganas dari pada Kelabang Bersayap Emas.”
Sinar matanya perlahan-lahan menyapu wajah beberapa orang itu, lalu sambungnya, “Binatang itu banyak terdapat dipropinsi Sin Kiang bagian selatan. Dalam Bulim memang banyak orang suka menggunakan binatang beracun tapi jarang sekali ada orang yang berani menangkap lalat darah.”
“Sesuai dengan namanya cayhe rasa binatang itu tentu punya bentuk badan yang hampir sama dengan lalat biasa, bukan begitu?” tanya Siauw Ling. Thio Kie An mengangguk.
“Kalau dibicarakan dari bentuknya memang tiada berbeda dengan lalat biasa, cuma perawakannya jauh lebih besar bahkan punya jarum keras yang tajam dan panjang ujung sabetan depan. Yang dimaksudkan sebagai Lalat Darah adalah lalat yang gemar mengisap darah.”
“Kalau cuma begitu sih belum terhitung sebagai binatang berbisa” sela Sang Pat sambil tersenyum.
“Kalau kemampuannya cuma begitu saja nanti mereka gunakan banyak pikiran dan tenaga menyuruh aku menangkap binatang tersebut dan pelihara disini.”
“Lalu berapa banyak jumlah kelabang bersayap emas serta lalat darah yang ada didalam tanah saat ini?”
“Kalau kelabang bersayap emas mungkin jumlah diantara ribuan ekor, sedangkan lalat darah sukar sekali dihitung jumlahnya, mungkin diantara laksaan ekor.”
“Siapa yang suruh kau melihara barang terkutuk macam begini?”
“Kalau dibicarakan sungguh memalukan sekali hingga kini aku masih belum pernah bertemu muka dengan majikanku itu, setiap kali ia hendak berbicara dengan diriku tentu memilih ditengah malam yang tak berbulan, bahkan jarak mereka berdiri amat jauh dariku. Hanya saja aku berani memastikan bahwa mereka dalah sepasang laki perempuan.”
“Aaah, kalau begitu mereka tentu adalah pemilik Goa Hitam” sela Ong Hong dari samping.
Jilid 16
“Thio heng” ujar Siauw Ling. “Cayhe punya beberapa patah kata yang rasanya tidak pantas untuk diutarakan. Setelah kuucapkan nanti harap Thio heng jangan marah.”
“Siauw heng ada urusan apa silahkan tuturkan keluar.”
“Ia paksa kau untuk memelihara binatang beracun seperti ini sudah jelas orang itu punya maksud-maksud tertentu yang keji, demi menghindarkan umat manusia dari ancaman bahaya, cayhe ingin memusnahkan binatang-binatang terkutuk tersebut, entah bagaimana menurut pendapat Thio heng?”
“Bagaimana kalau aku putuskan dahulu otot-otot kerbau yang membelenggu kaki Thio heng?” ujar Sang Pat sambil keluarkan sebilah pisau belati dari dalam sakunya.
“Tak usah, setelah dibelenggu selama banyak tahun kakiku telah mengering dan darah didalam kakiku mungkin sudah mengering pula sekalipun otot-otot kerbau itu kalian potong, belum tentu aku bisa jalan sendiri.”
“Tidak mengapa, seandainya Thio heng tidak dapat jalan akan cayhe gendong dirimu.”
Thio Kie An angkat kepala dan menghembuskan napas panjang.
“Maksud baik saudara sekalian akan cayhe terima didalam hati….”
Belum habis ia berbicara, mendadak terdengar teguran yang sangat dingin berkumandang, “Thio Kie, kau lagi berbicara dengan siapa?” air muka Thio Kie An berubah hebat buru-buru ia ulapkan tangannya seraya berseru, “Harap cuwi sekalian menyembunyikan diri, ada orang datang.”
“Haaa…. haaa…. haaa…. kamu semua masih ingin menyembunyikan diri?”
Siauw Ling dengan cepat berpaling kearah mana berasalnya suara tadi, tampak seorang manusia berbaju hitam dengan wajah dibungkus oleh kain hitam perlahan-lahan muncul dari balik hutan.
Rupanya orang itu tidak menyangka kalau disitu telah hadir begitu banyak orang setelah bertemu dengan Siauw Ling sekalian ia nampak radaan tertegun.
“Jangan biarkan dia, lebih baik kita tangkap dia dalam keadaan hidup-hidup” bisik Siauw Ling. Sang Pat mengiakan, ia maju kedepan menjura dan menegur, “Hai apa kabar? sudah lama kita tak pernah saling berjumpa, apakah looko selama ini berada dalam keadaan baik-baik saja?”
“Siapa kau? cayhe tidak pernah merasa kenal dengan dirimu, kenapa kau sebut saudara dengan diriku?”
“Empat saudara kuanggap semua sebagai saudara seandainya cayhe sebut kau sebagai looko rasanya tidak salah bukan.”
“Hmm, kalau memang tidak saling mengenal, buat apa kau panggil aku dengan sebutan begitu mesra.”
Sementara itu Sang Pat telah berada beberapa tombak dihadapannya, tiba-tiba bentaknya, “Kau beri arak kehormatan tak mau diminum, lebih baik arak hukuman saja kupanggil kau dengan sebutan looko kau tidak senang hati…. baiklah akan kupanggil dirimu sebagai cecunguk saja.”
Orang itu melengak, sebelum ia sempat mengucapkan sesuatu dengan gerakan burung elang menubruk kelinci Sang Pat telah menerkam kearahnya.
Ilmu silat yang dimiliki orang berbaju hitam itu tidak lemah juga, menyaksikan Sang Pat menerkam tiba-tiba mendadak tangan kanannya membalik. Tahu-tahu sebilah pisau pendek telah dihujamkan keatas.
“Keparat cilik, lumayan juga ilmu silatmu” puji Sang Pat, telapak kirinya membabat keluar mengunci datangnya serangan belati tersebut, sementara tangan kanannya dengan ilmu mencengkeram menyambar pergelangan orang itu.
Dengan cepat orang berbaju hitam itu putar pisaunya menciptakan selapis cahaya untuk melindungi badan.
Sang Pat mengempos tenaga, badannya merendek kebawah lalu putar telapak dengan ilmu merampas senjata yang dikembangi ilmu cengkeraman ia layani orang itu dengan suatu serangan sengit.
Namun ilmu golok orang itu lihay sekali, beruntun sampai dua kali Sang Pat nyaris kena tusuk. Hal ini membuat si sie poa emas jadi kaget, heran bercampur gelisah pikirnya, “Kalau aku tak bisa tangkap orang ini dalam keadaan hidup-hidup, bagaimana aku bisa bertanggung jawab dihadapan toako nanti?”
Berpikir begitu permainan telapaknya segera berubah, tangan kiri menghantam kemuka dengan jurus Genta emas dipalu nyaring, sedang tangan dengan gerakan Serat Emas mengikat pergelangan menyodok pergelangan tangan orang itu dengan keras lawan keras.
Dalam keadaan gelisah serangan tangan kiri amat dahsyat sekali, orang berbaju hitam itu ingin putar pisaunya untuk menyelamatkan diri namun serangan Sang Pat memaksa pisaunya terayun diluar garis, pada saat itulah tangan kanan musuhnya nyelonong masuk lewat tengah dan mencengkeram pergelangan kirinya.
“Haaa…. haaa…. haaa…. keparat cilik” seru Sang Pat sambil tertawa terbahak-bahak. “Kau bisa layani serangan aku orang she Sang sampai puluhan jurus, ini berarti ilmu silatmu lumayan juga, ayo cepat buang pisaumu keatas tanah.”
Sembari berbicara kelima jarinya ditambahi dengan sebagian tenaga. Orang berbaju hitam itu menurut sekali, tanpa banyak bicara ia buang senjatanya keatas tanah.
Sang Pat ayun tangan kirinya ambil senjata lawan dari atas tanah, tangan kanan mencengkeram tubuh orang berbaju hitam dan mengangsurkannya kehadapan Siauw Ling.
Menyaksikan kepandaian silat Sang Pat yang berhasil menangkap orang berbaju hitam itu dengan bertangan kosong, Thio Kie An merasa kagum, gumamnya, “Aaai…. seandainya tempo dulu cayhepun belajar ilmu silat, ini hari aku tidak nanti sampai ditangkap orang dan diperintah sekehendak hatinya.”
Mendengar perkataan itu diam-diam Sang Pat merasa geli, pikirnya, “Kau anggap belajar silat itu gampang? sekalipun kau belajar ilmu silat selama tiga sampai lima tahun, sama saja dirimu bakal kena ditangkap orang juga, bahkan keadaannya akan bertambah runyam….”
Pada saat itu Siauw Ling telah alihkan sinar matanya kearah orang berbaju hitam itu.
“Coba lepaskan kain hitam yang menutupi wajahnya!” tiba-tiba ia memerintahkan.
Sang Pat tersenyum.
“Sahabat, dengan secarik kain hitam kau tutupi wajahmu, sebenarnya apa maksudmu? apakah kau punya bagian tubuh yang tak boleh dilihat orang?”
Sementara bicara tangan kirinya sudah bekerja cepat dan melepaskan kain hitam yang menutupi wajah orang itu.
Tapi dengan cepat semua orang berdiri tertegun, kiranya wajah orang berbaju hitam itu terdapat sebuah lubang besar, ternyata ia tidak punya batang hidung.
“Aaai…. perbuatan pemilik goa hitam sungguh kejam sekali, kekejiannya tidak berada dibawah orang-orang perkampungan Pek Hoa San tjung” ujar Siauw Ling sambil menghela napas, ia pandang sekejap wajah orang itu lalu menambahkan: “Apakah hidungmu dipapas orang?”
Sebenarnya wajah orang berbaju hitam itu menunjukkan sikap keras kepala, tapi setelah mendengar ucapan Siauw Ling ia menghela napas panjang.
“Tidak salah memang dipapas orang!”
“Cayhe adalah Siauw Ling, harap heng thay jangan takut, asalkan kau suka memberitahukan jejak pemilik goa hitam itu pada cayhe, aku akan bertanggung jawab membawa kau meninggalkan tempat ini dengan selamat.”
“Aaai…. sayang…. sudah terlambat!” orang itu menggeleng.
“Kenapa?”
Terdengar orang itu mendengus berat, ia muntah darah kental dan roboh binasa.
Melihat orang itu mati, Siauw Ling berpaling kearah Sang Pat seraya berseru, “Perbuatan pemilik goa hitam amat keji sekali, kita tak boleh duduk sambil berpeluk tangan belaka. Kita harus berusaha mendongkel sarang mereka, menggusur mereka keluar dan menghancurkannya, dari pada selain perkampungan Pek Hoa San tjung bertambah pula seorang bibit bencana yang akan mencelakai umat manusia.”
“Aaai…. hawa pembunuhan yang meliputi dunia persilatan dewasa ini boleh dibilang merupakan saat yang paling gelap selama ratusan tahun belakangan. Awan gelap telah menyelimuti seluruh jagat sedang toako merupakan rembulan ditengah kegelapan, harapan umat Bulim tertumpah dipundakmu semua.”
Sementara mereka masih bercakap-cakap mendadak terdengar suara dengusan nyaring berkumandang datang.
“Harap cuwi sekalian cepat masuk kedalam kelambu ini. Lalat darah segera akan munculkan diri!” teriak Thio Kie An dengan cemas.
Sang Pat bersuit rendah, secara tiba-tiba anjing yang berada disisinya lari kemuka.
Pada saat itu Ong Hong telah menyingkap kelambu dan menerobos masuk kedalam.
Rupanya dalam hati Siauw Ling merasa tidak puas seluruh perhatiannya dipusatkan jadi satu. Sambil memandang kearah tanah rerumputan ia siap sedia menghadapi segala sesuatu.
Melihat sikap toakonya, cepat-cepat Sang Pat mendorong pemuda she Siauw itu masuk kedalam kelambu, ujarnya, “Toako, cepat masuk kedalam kelambu, tak usah kita menempuh bahaya dengan sia-sia!”
“Aku tak percaya Lalat darah serta Kelabang bersayap emas itu benar-benar sangat lihay sehingga dapat makan manusia.”
“Harap cuwi berdua cepat masuk kemari” terdengar Thio Kie An berteriak lagi. “Kalau terlambat, keadaan akan tidak menguntungkan bagi kalian!”
Siauw Ling yang didorong Sang Pat masuk kedalam kelambu, baru saja ia berdiri tegak tampaklah dari tengah tanah rerumputan yang luas mendadak muncul sebuah lubang sebesar tiga depa lebih disusul terbangnya beribu-ribu ekor serangga hitam yang panjangnya mencapai satu coen.
Buru-buru Thio Kie An berseru kembali, “Ada orang sengaja melepaskan Lalat darah, harap cuwi sekalian bertindak hati-hati, perhatikan sekeliling kelambu itu, dalam lambung lalat darah mengandung racun yang amat keji barang siapa yang kena tergigit oleh mereka, jiwanya tak dapat ditolong lagi.”
Sementara ia mengucapkan beberapa patah kata itu, berjuta-juta ekor lalat darah telah terbang menyelimuti seluruh angkasa. Suara dengusan yang nyaring sangat memekikkan telinga.
Dengan seksama Siauw Ling memperhatikan binatang itu, ia temui seluruh tubuh Lalat darah itu berwarna hitam kehijau-hijauan daya terbangnya sangat kuat lagi pula cepat laksana sambaran petir, begitu banyak jumlah makhluk berbisa tadi sehingga angkasa terasa jadi gelap.
“Binatang berbisa yang sangat lihay” bisik Thio Kie An sambil menghela napas panjang.
Mendengar gumamnya itu Siauw Ling tersentak kaget, sebab iapun dapat saksikan diatas mayat yang menggeletak diatas tanah rerumputan itu sudah dipenuhi dengan lalat darah. Terlihatlah mayat itu dengan cepat menyusut jadi kecil dan dalam sekejap mata telah tinggi kulit pembungkus tulang belaka.
“Thio heng” ujar Sang Pat. “Lalat darah ini betul-betul ganas dan keji, apakah kau punya cara untuk menaklukkan mereka.”
“Pada saat serta keadaan seperti ini kendati cayhe punya cara menaklukkan mereka yang paling baguspun percuma saja, terpaksa kita harus menunggu mereka sampai masuk kembali kedalam sarangnya, melepaskan api dan bakar mereka musnah.”
“Aaah, Lalat darah itu sudah datang!” mendadak terdengar Ong Hong berseru tertahan, tangannya diayun siap-siap melancarkan serangan.
Kiranya ada berpuluh-puluh ekor Lalat darah yang menyiarkan bau buruk sedang melayang kearah kelambu.
“Jangan turun tangan” buru-buru Thio Kie An mencegah. “sekalipun seranganmu itu berhasil membinasakan beberapa ekor lalat darah namun seandainya kelambu itu sampai robek maka mereka akan terbang masuk kedalam. Kita berempat jangan harap bisa hidup lebih lanjut.”
“Seandainya mereka berkumpul makin lama makin banyak sehingga kelambu ini jebol, bagaimana keadaan kita?”
“Tidak mengapa, kelambu ini dibuat dari sejenis serat marang yang berkualitas paling tinggi, tidak nanti binatang itu bisa menembusinya.”
Pada saat kedua orang itu sedang melangsungkan tanya jawab, Lalat darah yang berkumpul diluar kelambu kian bertambah banyak dalam sekejap mata seluruh tempat kosong sudah dipenuhi oleh binatang tersebut hingga menutupi cahaya.
Laksana kilat Siauw Ling mengenakan sarung tangan kulit naganya, lalu berkata, “Saudara Sang kau jaga bagian bawah, jangan sampai ada lalat darah yang menerobos masuk kedalam kelambu. Ong heng kau jagalah bagain atas!”
“Jangan kalian sentuh lalat darah itu dengan tangan, agar tubuh kalian tidak sampai keracunan” Thio Kie An memperingatkan.
Sang Pat ambil keluar pisau belati dan diserahkan ketangan Ong Hong pesannya, “Ong heng didalam kelambu tidak leluasa bagimu menggunakan senjata panjang. Gunakan pisau ini untuk membinasakan lalat darah yang berhasil menerobos masuk kedalam!”
Ong Hong tidak menampik, ia terima pisau belati itu.
Sang Pat yang punya pengalaman sangat luas ketika hendak masuk kedalam kelambu tadi sudah mempersiapkan sebatang ranting panjang beberapa depa. Saat ini ia cekal benda itu bersiap sedia.
Pada waktu itulah lalat darah telah mengelilingi seluruh kelambu. Bau busuk yang amat menusuk hidung berhembus masuk tiada hentinya.
Makin banyak lalat darah yang berkumpul diluar kelambu, semakin gelap suasana dalam kelambu tersebut hingga keadaan disitu bagaikan terkurung didalam sebuah kamar gelap.
Sambil mengerahkan pandangannya memeriksa keadaan kelambu, Sang Pat berbisik kepada Thio Kie An, “Thio heng, kau tahu cara memelihara lalat darah tentu tahu pula cara mengundurkan mereka bukan? terkurung terus didalam kelambumu bukanlah sesuatu jalan yang tepat.”
Sebelum Thio Kie An sempat menjawab tiba-tiba terdengar lagi suara teguran yang amat dingin berkumandang datang.
“Kalian semua telah terkurung oleh lalat darah. Asal cayhe melepaskan sebuah senjata rahasia saja yang merobek kelambu kalian. Lalat darah itu akan segera menerobos masuk kedalam kelambu dan cuwi sekalian bakal mati konyol terhisap darahnya oleh lalat darah tersebut. jumlah binatang itu mencapai berlaksa-laksa ekor banyaknya. Meski ilmu silat yang cuwi miliki lihaypun jangan harap bisa melawan.”
“Thio heng siapa orang itu?” tanya Siauw Ling.
“Mirip dengan suara majikan!”
“Tidak salah. Suara ini memang suara dari pemilik Goa hitam” Ong Hong menambahkan.
“Ehmm! Sang heng coba kau dengarkan dengan cermat beberapa kauh jaraknya dari sini?”
“Kurang lebih dua tombak!”
“Benar dengan dugaanku….” bisik Siauw Ling. Ia alihkan sinar mata kearah Thio Kie An dan menambahkan: “Kenapa ia tidak takut dengan Lalat darah?”
“Aku pikir kalau bukan ia sudah polesi tubuhnya dengan obat penawar sehingga menyebabkan Lalat darah tidak berani mendekati tubuhnya, tentu diapun bersembunyi didalam kelambu!”
“Apa? jadi ada sejenis obat yang dapat menaklukan Lalat darah?”
“Campuran beberapa macam bahan obat-obatan akan mengakibatkan timbulnya sejenis bau harum yang sangat aneh, setelah Lalat darah itu mencium bau harum mereka akan jauh-jauh menghindar dan tidak berani mendekat.”
“Aaai…. seandainya ia bersembunyi pula didalam kelambu, mungkin cayhe masih punya cara untuk menghadapi dirinya, seandainya ia sudah polesi badannya dengan sejenis obat rada sulit untuk menghadapinya.”
“Thio heng!” tiba-tiba Sang Pat teringat sesuatu. “Dapatkah kau buat obat tersebut?”
“Cara membuat obat itu tercatat sangat jelas dalam kitab pusaka itu, cuma saja ada dua jenis bahan obat utama yang sulit didapatkan, meski cayhe bisa membuatnya tapi sulit mendapatkan bahannya.”
Sementara itu terdengar suara yang dingin tadi kembali berkumandang, “Aku rasa apa yang cayhe ucapkan tadi sudah cuwi dengar. Saat ini bagi kalian semua cuma ada dua pilihan saja. Pertama, akan kubuka kelambu itu agar Lalat darah masuk kedalam dan menghisap darah kalian, kedua, menyerah kepadaku masuk jadi anggota perguruan Goa Hitam dan mendengar perintahku.”
Siauw Ling tertawa dingin, baru saja ia mau buka suara Sang Pat telah goyangkan tangannya mencegah.
“Menghadapi manusia keji macam dia tak usah kita bicarakan soal peraturan Bulim lagi” bisiknya. “Kita harus menggunakan siasat untuk mengelabui orang itu, serahkan saja kepada Siauwte….”
Ia merandek sejenak kemudian teriaknya, “Siapakah anda?”
“Cayhe adalah pemilik Goa Hitam.”
“Pemilik Goa Hitam? cayhe sudah jelajahi seantero jagat, kenapa belum pernah kudengar namamu?”
“Hingga kini cayhe belum pernah munculkan diri didalam dunia persilatan, suatu kali aku tampilkan diri, seluruh dunia pasti gempar dan sama-sama tunduk padaku.”
“Hanya dengan mengandalkan kekuatan Lalat darah ini?” jengek Siauw Ling.
“Lalat darah serta kelabang bersayap emas cuma dua jenis binatang racun peliharaan cayhe, itu masih belum terhitung makhluk yang lihay, meski begitu bukan suatu pekerjaan yang sangat gampang bagi cuwi sekalian untuk meloloskan diri dari ancaman mereka.”
“Setelah kami sekalian masuk anggota Goa Hitam kalian, apa yang hendak kau lakukan terhadap kami semua?”
“Gampang sekali, seandainya cuwi sekalian suka menjadi anggota Goa Hitam, asal kamu telan sebutir pil lalu memapas salah satu dari panca indra kalian, misalnya hidung atau telinga maka secara resmi kalian sudah menjadi anggota perguruan Goa Hitam kami.”
“Ciss…. peraturan apa itu?” maki Sang Pat didalam hati, sementara diluaran ia bertanya, “Tahukah kamu akan nama kami semua?”
“Haaaah…. haaah…. kalau orang yang kuhadapi adalah manusia kurcaci, tidak nanti cayhe bisa bersikap ramah terhadap kalian.”
“Dapatkah kau sebutkan nama kami?”
“Kalau penglihatanku tidak salah, kau adalah Lootoa dari Tiong Cho Siang Ku yang disebut orang sebagai si sie poa emas Sang Pat.”
Sang Pat melengak, dengan cepat tanyanya, “Lalu siapa yang satunya lagi?”
“Bukankah Siauw Ling yang punya nama besar?”
Sang Pat melirik sekejap kearah Siauw Ling dan bisiknya, “Aku rasa dia memang sengaja mancing kita sampai disini, tapi siauwte belum pernah mendengar ada orang yang disebut Pemilik Goa Hitam, dibalik peristiwa ini mungkin masih ada latar belakang lain.”
“Sekali tebak ia dapat menyebutkan nama kita kejadian ini sangat mencurigakan hati.”
Pada saat itu terdengar pemilik Goa Hitam berkata-kata, “Ong Hong! kau berani mengkhianati diriku. Hukuman mati takkan lolos dari dirimu.”
Ong Hong mengkeret, sambil melirik sekejap kearah Sang Pat bisiknya, “Kalau kita sampai kena ketangkap olehnya siksaan yang paling hebat pasti akan menanti diriku, cayhe lebih suka melawan sampai titik darah penghabisan dari pada terjatuh kembali ketangannya.”
Siauw Ling mengangguk, ia ulurkan tangannya kedepan dan ujarnya kepada Ong Hong, “Bagaimana kalau kau pinjamkan pisau belati itu kepadaku?”
Sejak tadi Ong Hong sudah dibikin ketakutan setengah mati, tanpa membantah ia angsurkan pisau belati itu ketangan Siauw Ling.
Dengan tangan kanan si anak muda itu mencekal pisau belati, ujarnya lirih, “Selama hidup aku orang she Siauw tidak pernah membokong orang, tapi keadaan pada saat ini sangat berbeda, terpaksa aku harus bertindak demikian.”
“Kita terpancing lebih dulu oleh siasat lawan kemudian terkurung ditempat ini, sekalipun kita melancarkan balasan dengan cara apapun, perbuatan kita tak dapat disebut sebagai suatu pembokongan.”
“Baik! coba kau ajak kembali dia bercakap-cakap, aku hendak mencari tahu tempat dimana ia berada.”
Kiranya diluar kelambu dimana beberapa orang itu terkurung telah dipenuhi oleh lalat darah, sehingga sulit bagi si anak muda itu untuk menyaksikan pemdangan diluar.
Dengan suara lantang Sang Pat segera berteriak, “Loo heng menyebut diri sebagai Pemilik Goa Hitam bahkan berdiam didalam hutan rimba yang gelap tak bersinar, aku pikir kau tentulah seorang manusia yang dapat bertemu dengan sinar matahari.”
Pemilik Goa Hitam tertawa dingin.
“Ilmu silat yang cayhe pelajari berbeda dengan orang lain, aku rasa siapapun bisa memahami keadaanku ini.”
Sementara itu Siauw Ling telah salurkan hawa kweekangnya, setelah berhasil menentukan letak pemilik Goa Hitam itu berada, mendadak ia ayunkan tangan kanannya, diiringi cahaya tajam sinar belati tadi segera meluncur kedepan.
Sinar berkilauan memancar keempat penjuru. Berpuluh-puluh ekor lalat darah kena tersambar dan hancur berantakan.
Tetapi dengan adanya kejadian ini maka kelambu itupun terobek kena sambaran pisau belati itu, dua ekor lalat darah dengan cepat menerobos masuk kedalam.
Siauw Ling telah bersiap sedia, ia ayunkan tangan kanannya memencet kedua ekor lalat darah tadi sampai mati sementara tangan kirinya dengan cepat menutup celah robekan diatas kelambu itu.
Gerakan tubuhnya sangat cepat, Thio Kie An yang sebenarnya hendak memperingatkan agar ia jangan sentuh lalat darah itu dengan tangan telanjang belum sempat kata-katanya meluncur keluar, Siauw Ling telah berhasil membinasakan kedua ekor lalat darah itu dan menutup kembali lobang diatas kain kelambu.
Dengan cepat berpuluh-puluh batang patuk lalat berbentuk jarum menusuk keatas tangan Siauw Ling lewat celah-celah kelambu.
“Siauw heng jangan biarkan tanganmu terpatuk lalat!” teriak Thio Kie An sangat terperanjat.
“Tidak mengapa, cayhe mengenakan sarung tangan.”
“Patuk lalat darah amat kuat dan tajam sekalipun kau pakai sarung tangan belum tentu tanganmu bisa selamat dari patukan mereka.”
“Tak usah kuatir, sarung tangan milik cayhe ini jauh berbeda dengan sarung tangan biasa, meski golok atau pedang yang bagaimana tajampun tidak nanti bisa melukai diriku.”
Ketika dilihatnya Siauw Ling sedikitpun tidak menunjukkan reaksi apapun kendati berpuluh-puluh ekor lalat mematuk telapak tangannya Thio Kie An pun tidak berbicara lagi.
Sang Pat sendiripun tahu bagaimana lihaynya ilmu pusaran dari Siauw Ling dalam hati pikirnya, “Semoga saja sambitan pisau belati tadi berhasil melukai pemilik goa hitam, dengan begitu kitapun bisa pusatkan segenap perhatian untuk menghadapi lalat darah ini….”
Siapa sangka walaupun sudah ditunggu sangat lama, namun sama sekali tidak kedengaran sedikit suarapun.
Pada waktu itu keempat orang yang berada didalam kelambu sama-sama berdiri sambil pusatkan seluruh perhatiannya, seperminum teh sudah lewat dengan cepat namun suara dari pemilik Goa Hitam tak pernah kedengaran lagi.
Tampak terasa Sang Pat mengerutkan dahinya.
“Sungguh aneh!” gumamnya. “Apakah pemilik Goa Hitam telah mengundurkan diri secara diam-diam.”
“Kita tak boleh terkurung terlalu lama dalam kelambu ini. Kita harus mencari akal untuk tinggalkan tempat ini.”
“Mungkin pemilik Goa Hitam sudah kena terhajar oleh pisau toako yang disambit dengan ilmu Hwie sian to dan segera diam-diam mengundurkan diri….” kata Sang Pat. Sinar matanya berbalik kearah Thio Kie An lalu tambahnya: “Thio heng apakah kau mempunyai cara yang bagus untuk mengundurkan lalat darah diluar kelambu?”
Sekalipun Thio Kie An cuma seorang pelajar, namun pandangannya terhadap soal mati hidup sangat hambat, dengan wajah yang tenang ia tertawa hambar.
“Satu-satunya jalan yang paling bagus dewasa ini hanyalah menunggu sampai malam menjelang tiba dan hawa mulai mendingin, dengan sendirinya mereka akan membubarkan diri!”
“Kenapa? apakah lalat darah ini takut dengan hawa dingin?”
“Lalat darah mempunyai dua keistimewaan yaitu pertama kekuatan makannya luar biasa, didalam dua belas jam kalau mereka tidak diberi makan maka sayap dan kaki akan menjadi lemas. Pada saat itu mereka tiada kekuatan lagi untuk melukai orang, kedua mereka takut kena sinar matahari terlalu lama.”
“Apakah kita harus menunggu selama berapa jam dalam keadaan seperti ini?” tanya Siauw Ling.
“Kecuali menunggu sampai mereka membubarkan diri sendiri, cayhe tidak mempunyai cara lain lagi.”
“Sekalipun kita bisa menanti dengan menyabarkan diri, belum tentu pemilik Goa Hitam itu memberi kesempatan kepada kita untuk menunggu lebih lanjut, dari pada kita terkurung didalam kelambu dan dibunuh orang jauh lebih baik kita terjang keluar dari sini dan adu jiwa dengan mereka.”
“Kau tidak akan mempunyai kesempatan untuk berbuat begitu” ujar Thio Kie An seraya menggeleng. “Begitu kalian keluar dari kelambu ini, maka lalat darah itu akan menyerang kalian dari empat arah delapan penjuru. Asal tubuh kalian satu kali saja maka didalam seperminum teh kemudian racun yang mengeram didalam tubuh akan segera bekerja seluruh badan akan jadi kaku dan segenap ilmu silat yang dimiliki jadi punah. Pada waktu itu tubuh kalian jadi lemas dan darah seluruh tubuhmu akan dihisap mereka sampai kering….”
Ia merandek sejenak, tiba-tiba tambahnya, “Kecuali kau dapat menyembunyikan seluruh tubuhmu dibalik pakaian yang kebal terhadap bacokan senjata dan tusukan tombak.”
Sementara Siauw Ling hendak menjawab tiba-tiba plaaak! sementara cahaya biru meluncur kearah kelambu.
Siauw Ling bertindak cepat, tangan kanannya yang memakai sarung tangan berkulit naga dengan cepat berkelebat menerima cahaya tadi yang ternyata bukan lain adalah sebilah golok terbang.
“Criiit! criiit” ranting kayu ditangan Sang Pat menyambar kesana kemari, dengan gerakkan kilat iapun berhasil menghajar mati dua ekor lalat darah yang menerobos masuk kedalam kelambu dengan menggunakan kesempatan itu.
Tetapi lalat darah itu tidak takut mati, tercium bau hawa manusia dengan ganasnya mereka menerjang kearah kelambu. Setiap ada ruang kosong yang ditemui dengan cepat mereka menerobosnya.
Buru-buru Siauw Ling buang golok terbang yang dicekalnya lalu dengan tangan kanan ia cekal kelambu yang robek terkena sambitan senjata tadi.
Pada saat ini kedua belah tangannya pemilik Goa Hitam melancarkan serangan senjata rahasia lagi sehingga salah satu bagian lain dari kelambu itu robek, niscaya lalat darah itu akan menerobos masuk dan menghisap darah keempat orang itu.
Tapi sungguh aneh sekali, setelah orang itu melepaskan sebilah golok terbang lama sekali suasana tetap berada dalam keadaan hening dan tenang.
Kesunyian menjelang suatu kematian yang mengerikan membuat Sang Pat yang sudah banyak pengalamanpun dibikin sedikit gelagapan, ia tengok sekejap kearah Thio Kie An dan bertanya, “Sebenarnya apa yang sudah terjadi?”
“Tentang soal ini dari mana cayhe bisa tahu?”
Ditengah kesunyian yang sangat menjemukan itulah, mendadak terdengar suara seorang perempuan berkumandang datang, “siapakah yang terkurung disitu?”
Begitu suara wanita ini berkumandang datang, Siauw Ling serta Sang Pat sama-sama tersentak kaget.
“Toako, bukankah itu suara dari Kiem Hoa Hujien?” bisik Sang Pat.
“Tidak salah, dia kok bisa sampai kesini. Apakah pemilik Goa Hitam punya hubungan dengan Djen Bok Hong?”
Sementara itu terdengar suara seorang pria menjawab, “Orang yang terkurung disitu adalah Sang Pat salah seorang dari Tiong Cho Siang Ku serta Siauw Ling!” jelas orang yang menjawab adalah pemilik Goa Hitam.
“Haaah…. haaah…. Siauw Ling? aku adalah orang yang paling suka cari gara-gara dengan mereka ini hari seandainya mereka berhasil kau tawan peristiwa ini betul-betul merupakan suatu kejadian yang patut digirangkan dikemudian hari kejadian ini akan menggetarkan dunia persilatan.”
“Watak orang yang bernama Siauw Ling itu benar-benar keras kepala. Ia tak sudi masuk menjadi anggota perguruan Goa Hitam kami. Rupanya terpaksa aku harus robek kelambu mereka agar lalat darah itu berpesta pora!”
“Aaah kalau digitukan aku rasa sayang” seru Kiem Hoa Hujien keras. Rupanya ia ada maksud agar Siauw Ling sekalian dapat mendengar suaranya.
“Apa yang patut disayangkan?”
“Tahukah kau akan nama besar Siauw Ling dalam dunia persilatan dewasa ini?”
“Selama banyak tahun aku jarang meninggalkan Goa Hitam. Nama Siauw Lingpun hanya kudengar dari mulut orang lain. Keadaan yang sedalamnya aku kurang begitu jelas. Hanya saja kalau terhadap Tiong Cho Siang Ku dimasa yang silam aku pernah berjumpa sekali dengan mereka, kedua orang itu memang jago-jago kenamaan!”
“Orang itu pernah bertemu denganku!” pikir Sang Pat. “Siapa dia? kenapa aku tak dapat mengingatnya?”
Terdengar Kiem Hoa Hujien telah berkata kembali, “Walaupun Siauw Ling belum lama munculkan diri didalam dunia persilatan, tapi nama besarnya telah menggetarkan seluruh Bulim, seandainya kau biarkan darahnya dihisap oleh lalat darah. Sekalipun dikemudian hari kau ceritakan kisah ini kepada orang lain, orang belum tentu mau percaya.”
“Kenapa?”
“Sebab nama Siauw Ling sangat tersohor, seandainya kau benar-benar membunuh dirinya, jangan dibilang orang lain tidak percaya sekalipun aku Kiem Hoa Hujien yang belum pernah jumpa dengan diapun tidak percaya kalau ia benar-benar dapat terkurung oleh lalat darahmu.”
“Haaa…. haaa…. kalau begitu aku tak boleh membiarkan Siauw Ling mati karena lalat darah itu.”
“Tidak salah, asal kau bisa tangkap dia dalam keadaan hidup-hidup maka nama besarmu segera akan tersohor diseluruh kolong langit!”
“Benarkah begitu?”
“Semua perkataanku muncul dari hati sanubariku, tak sepotong katapun aku membohongi dirimu kalau kau tidak percaya juga…. yaah apa boleh buat!”
“Tetapi watak Siauw Ling terlalu keras kepala ia tak mau masuk jadi anggota perguruan Goa Hitam kami, menahan dirinya sama berarti meninggalkan bibit bencana bagiku dikemudian hari.”
“Kau kalau ingin menangkap dirinya dalam keadaan hidup-hidup maka kita harus menggunakan sedikit akal, biarkan mereka berada dalam keadaan begini lebih lamapun tidak mengapa karena Siauw Ling…. karena Siauw Ling….” mendadak suaranya jadi rendah hingga sukar ditangkap.
Terdengar pemilik Goa Hitam memuji tiada hentinya, “Perkataan Hujien sedikitpun tidak salah, pendapatmu sungguh membuat cayhe merasa kagum.”
“Toako!” bisik Sang Pat segera. “Kiem Hoa Hujien pasti sedang berusaha menyelamatkan jiwamu.”
“Hati perempuan ini sukar diduga, siapa tahu kalau ia sedang main setan dengan kita?”
“Kalau dilihat keadaannya mungkin tidak salah lagi, terhadap orang lain ia bisa bertindak kejam tapi sikapnya terhadap dirimu jauh berbeda.”
Beberapa saat kemudian sudah lewat, tiba-tiba dari balik celah diatas tanah rerumputan berkumandang suara suitan yang sangat aneh, lalat-lalat darah yang berkumpul diatas kelambu tiba-tiba terbang keangkasa setelah mendengar suara tadi dan kembali semua kedalam celah.
Sinar mataharipun mulai memancar kembali kedalam kelambu, waktu tengah hari baru saja lewat.
Siauw Ling hendak menyingkap kelambu dan berjalan keluar, namun dengan cepat Thio Kie An telah berseru, “Siauw heng, harap tunggu sebentar lagi.”
“Kenapa?”
“Pemilik Goa Hitam mempunyai sebuah kurungan hitam untuk menyimpan lalat darahnya, apabila ia bersembunyi dibelakang pohon dan menunggu sampai kau keluar dari kelambu kemudian melepaskan lalat darahnya kembali pada saat itu mungkin kau tidak akan sempat lari balik kedalam kelambu lagi.”
Siauw Ling termenung sejenak lalu menjawab, “Sekalipun harus bertemu dengan mara bahaya, aku rasa jauh lebih baik daripada terkurung terus didalam kelambu ini.”
Ia singkap kelambu dan segera meloncat keluar.
“Cepat mundur kembali kedalam kelambu!” terdengar suara lirih yang amat lembut berkumandang datang.
Tak usah dipikir lagi Siauw Ling dapat mengenali suara itu sebagai suara dari Kiem Hoa Hujien yang memberi peringatan dengan ilmu menyampaikan suara. Tidak sempat berpikir panjang lagi ia loncat kebelakang dan masuk kembali kedalam kelambu.
“Kenapa?” tanya Sang Pat segera. “Apakah diluar kelambu ada jebakan lain?”
“Tidak ada, Kiem Hoa Hujien memperingatkan aku agar segera kembali kedalam kelambu dengan menggunakan ilmu menyampaikan suaranya.”
“Nah, kalau begitu beres sudah!” seru Sang Pat tersenyum.
“Apa yang beres?”
“Kalau ia tak punya rencana yang matang tidak nanti Kiem Hoa Hujien suruh kau kembali kedalam kelambu.”
“Dari mana kau bisa tahu?”
“Kiem Hoa Hujien adalah manusia cerdik lagi pula semua sakunya penuh dengan makhluk berbisa, dengan wataknya yang keras cara apapun bisa ia dapatkan, seandainya ia benar-benar ada maksud menolongmu, maka akalnya pasti akan digunakan.”
Sementara mereka masih bercakap-cakap terdengar gelak tawa Kiem Hoa Hujien yang merdu berkumandang datang, “Saudara Siauw, kau tidak terluka kan?”
“Aku sangat baik.”
“Sekarang kau boleh keluar” kembali Kiem Hoa Hujien berkata sambil menyingkap kelambu itu.
Siauw Ling segera loncat keluar dari kelambu disusul Sang Pat dibelakangnya, dibawah sorotan sinar matahari tampaklah air muka Kiem Hoa Hujien pucat seperti mayat, rambutnya kusut seakan-akan baru saja bangun dari tidur.
Rupanya kesehatan wanita ini belum pulih kakinya lemas dan tak kuat menahan daya berat badannya, baru saja maju beberapa langkah badannya sempoyongan dan hampir saja jatuh tengkurap keatas tanah.
Dengan cepat Siauw Ling sambar badan Kiem Hoa Hujien lalu dipayangkan.
“Cici, apakah lukamu radaan baik?”
“Tidak mengapa, mungkin jiwaku takkan melayang.”
Dari mulut Boe Wie Tootiang, ia sudah banyak mendengar akan jerih payah Kiem Hoa Hujien untuk menolong jiwanya, sebetulnya dalam hati ia kepingin mengucapkan beberapa patah kata untuk menyampaikan terima kasihnya tetapi dia bingung apa yang harus diucapkan akhirnya sambil menghela napas panjang tanyanya, “Dimana pemilik Goa Hitam itu!”
“Ia kena kubokong dan roboh terpagut ular berbisa, sekalipun ilmu silat yang ia miliki sangat lihay jangan harap jiwanya bisa tetap hidup selama dua belas jam!”
“Didalam Goa Hitam itu semuanya berdiam dua orang” tiba-tiba Ong Hong menyela. “Majikan lelaki kalau terluka, majikan perempuan pasti akan melakukan pengejaran!”
“Oleh karena itulah kita harus cepat-cepat melarikan diri” sambung Kiem Hoa Hujien. “Menurut apa yang kuketahui, dalam Goa Hitam itu mungkin masih berdiam berpuluh-puluh orang jago Bulim yang berkepandaian tinggi!”
“Darimana cici bisa kenal dengan pemilik Goa Hitam itu?”
“Kalau diceritakan amat panjang sekali. Tempat ini bukan tempat yang baik untuk berbicara. Mari kita cari tempat untuk menyembunyikan diri. Nanti kuceritakan kepadamu!”
“Seandainya pemilik perempuan Goa Hitam itu mengejar kita dengan membawa sesangkar lalat darah, mungkin dikolong langit tiada tempat yang bisa digunakan kalian untuk menyembunyikan diri” sela Thio Kie An.
Mendengar perkataan itu Kiem Hoa Hujien tertawa dingin.
“Sekalipun lalat darah sangat lihay, namun dalam pandangan aku Kiem Hoa Hujien masih belum terhitung suatu makhluk yang sangat lihay, tahukah kau bahwa setiap makhluk beracun yang ada dikolong langit pasti ada tandingannya?”
“Menurut apa yang cayhe ketahui hanyalah laba-laba berwajah manusia dari wilayah Biauw saja yang dapat menaklukkan lalat darah itu.”
“Sedikitpun tidak salah! rupanya pengetahuanmu tentang makhluk beracun lihay juga jangan kuatir dalam sakuku sekarang telah tersedia laba-laba yang berwajah manusia dari daerah Biauw!”
“Kalau begitu kau harus cepat-cepat tinggalkan tempat ini! seandainya pada saat dan keadaan seperti ini pemilik perempuan Goa Hitam itu melepaskan lalat darahnya, sekalipun kalian punya laba-laba berwajah manusiapun percuma.”
“Perkataan orang ini sedikitpun tidak salah kita harus cepat-cepat pergi mencari suatu tempat persembunyian yang strategis!”
“Baik! mari kupayang diri cici.”
“Toako, apakah kita pergi membawa serta diri Thio heng ini?” tanya Sang Pat mendadak.
“Tidak usah” tampik Thio Kie An cepat. “Sepasang kaki cayhe sudah cacat, untuk jalanpun tidak leluasa, lebih baik kalian cepat-cepat melarikan diri!”
Tiba-tiba Sang Pat maju selangkah kemudian dan ayun telapak tangannya, diiringi suara bentrokan dahsyat kursi kayu yang diduduki Thio Kie An sudah hancur separuh termakan oleh serangan tadi.
“Cayhe akan bopong diri Thio heng untuk melanjutkan perjalanan.”
Tidak menunggu jawaban dari Thio Kie An lagi bersama separuh kursi yang masih diduduki ia gendong orang itu dan melangkah pergi dengan tindakan lebar.
“Biarlah siauwte buka jalan” seru Ong Hong sambil busungkan dada.
Mula-mula orang ini bersikap sangat hormat terhadap pemilik Goa Hitam, namun sekarang timbul semangat memberontak dalam hatinya.
Begitulah dengan dipimpin oleh Ong Hong yang berjalan dipaling depan, Sang Pat sambil menggendong Thio Kie An menyusul dibelakangnya dan diakhiri oleh Siauw Ling sambil memayang Kiem Hoa Hujien.
Namun sepasang kaki Kiem Hoa Hujien lemas tak bertenaga, sulit baginya untuk melanjutkan perjalanan, dalam keadaan apa boleh buat terpaksa Siauw Ling membopong perempuan itu untuk meneruskan perjalanan.
“Saudaraku” seru Kiem Hoa Hujien sambil tersenyum. “Kau bopong aku dengan begitu kencang, apakah kau tidak takut ada orang merasa cemburu….”
“Cici tidak leluasa untuk berjalan. Sudah sepantasnya kalau siauwte membopong dirimu” jawab Siauw Ling sambil tertawa hambar. Sementara dalam hati pikirnya, “Dalam saat serta keadaan seperti inipun kau masih punya kegembiraan untuk bergurau.”
“Kalau kalian masih ingat dengan jalan secepatlah lari lewati jalan itu. Kita harus mencari sebuah goa untuk menyembunyikan diri.”
Kelihayan sie poa emas Sang Pat dalam mengingat-ingat jalan tiada tandingannya dikolong langit, tak usah disuruh ia sudah berulang kali berseru memberi petunjuk kepada Ong Hong.
Kurang lebih setengah jam kemudian, sampai juga beberapa orang itu ditepi hutan.
Ketika mereka mendongak keatas terlihatlah langit yang biru tampak sangat cerah, sebuah tebing yang amat curam memotong jalan pergi mereka selanjutnya.
Menyaksikan keadaan itu. Sang Pat menghela napas panjang.
“Aaai…. akhirnya kita salah juga” bisiknya.
Tiba-tiba Siauw Ling teringat kembali akan Soen put shia serta Boe Wie Tootiang sekalian, hatinya serentak kaget.
“Aduuuh celaka, kita harus cepat-cepat kembali ketempat semula.”
“Kenapa?” tanya Thio Kie An. “Mara bahaya yang dihadapi belum saja hilang. Kenapa kalian hendak menghantarkan diri lagi kemulut harimau?”
“Saudaramu Sang Pat!” kata Siauw Ling sambil pandang wajahnya. “Sekalipun kita berhasil melepaskan diri dari mara bahaya, tetapi Boe Wie Tootiang serta Soen put shia tidak tahu akan kelihayan racun lalat darah seandainya mereka masuk kehutan untuk mencari kita niscaya semua bakal terluka ditangan pemilik Goa Hitam.”
“Apa? mereka semua telah datang kemari?” tanya Kiem Hoa Hujien.
“Tidak salah, mereka semua pada menunggu diluar hutan sedang aku serta Sang heng dengan petunjuk anjing mengejar masuk kedalam hutan….”
“Saudaraku, siapa yang sedang kalian kejar?”
“Orang tuaku” ia merandek sejenak dan tambahnya: “Cici tentu kenal dengan pemilik Goa Hitam bukan? apakah kau melihat mereka ada menawan orang asing?”
…. (ooo0ooo)
Kiem Hoa Hujien geleng kepala.
“Aku tidak begitu tahu tentang keadaan Goa Hitam!”
“Lalu apa sebabnya kau ditolong olehnya?”
“Tatkala aku jatuh tidak sadarkan diri ditepi jalan. Orang-orang dari perkampungan Pek Hoa San tjung segera menolong diriku mungkin Djen Bok Hong merasa bahwa tenaga cici masih sangat dibutuhkan maka ia utus jago-jagonya untuk membawa obat pemusnah datang mencari aku. Aaa…. mungkin memang takdir tak menghendaki aku mati. Akhirnya jejakku berhasil mereka temukan.”
“Lalu bagaimana caramu masuk kedalam Goa Hitam?”
“Dalam keadaan tidak sadar cici diantar mereka kemari, maka dari itu lantas aku menduga ada kemungkinan besar antara Goa Hitam dengan perkampungan Pek Hoa San tjung terkait dalam suatu hubungan yang sangat erat.”
“Aaah, benar…. benar….!” tiba-tiba Sang Pat menyela sambil depak kakinya keatas tanah.
“Apanya yang benar?”
“Menurut apa yang siauwte ketahui, sewaktu para jago lihay dari seluruh dunia persilatan mengejar jejak Djen Bok Hong pada masa yang silam, tiba-tiba saja jejak iblis itu lenyap ditengah hutan lebat. Pastilah dia bersembunyi didalam Goa Hitam.”
Ucapan ini membuat Siauw Ling jadi tertegun.
“Kalau begitu, Goa Hitam adalah sarang Djen Bok Hong yang sebenarnya?” serunya.
“Ruangan didalam goa itu amat luas sekali tapi gelapnya bukan kepalang” ujar Kiem Hoa Hujien. “Menurut perasaan cici, dibalik kegelapan terbentang banyak sekali pintu-pintu rahasia….”
“Aaai…. kalau begitu tak usah diragukan lagi kedua orang tua cayhe pasti dikurung dalam Goa Hitam itu!”
“Seandainya orang tua toako benar dikurung dalam Goa Hitam, peristiwa itu tentu yang berlangsung tengah malam tadi atau paling lambat pada kentongan pertama” Sang Pat memberikan pendapatnya. Bicara sampai disitu ia lantas berpaling kearah Kiem Hoa Hujien dan bertanya lebih lanjut: “Hujien, pada jam berapa kau mendusin?”
“Belum lama! setelah sadar aku lantas berusaha menjajaki sekeliling Goa Hitam tadi. Aku rasa meski lorong jalan didalam goa amat rumit dan acak-acakan tapi tempat dimana aku ditinggal tidak jauh jaraknya dari mulut goa, maka akhirnya aku berhasil menerobos keluar!”
“Kau kenal dengan pemilik goa itu?”
Kiem Hoa Hujien tertawa.
“Manusia macam apakah cicimu ini? meskipun aku tidak kenal dirinya tapi aku bisa menebak kedudukan didalam goa, apalagi ia tidak kenal akan diriku!”
“Jika didengar dari nada Hujien, rupanya tidak tahu kalau orang tua Siauw thayhiap telah ditawan orang?”
“Tidak tahu. Begitu keluar dari Goa Hitam lantas aku temukan peristiwa kalian yang dikurung oleh lalat darah!”
“Apakah Goa Hitam adalah suatu goa besar yang menjorok jauh kedalam tanah?” Siauw Ling bertanya.
“Benar! goa itu menjorok jauh kedalam permukaan, entah berapa banyak pintu rahasia yang terbentang disana dan entah berapa dalam lorong yang membentang kebawah itu. Barang siapa yang tidak paham dengan situasi disana kalau berani masuk kedalam Goa Hitam, kalau bukan tertawan oleh mereka pasti akan mati karena dibokong!”
Siauw Ling mengerutkan keningnya sehabis mendengar penuturan itu, ia berkata, “Apakah didalam goa itu telah dipasang alat-alat rahasia yang sangat lihay?”
“Benarkah telah dipasang alat-alat rahasia yang lihay cici kurang begitu tahu. Yang jelas kegelapan menyelimuti goa itu melebihi kegelapan ditengah malam buta, dengan ketajaman mata yang bagaimana lihaypun jangan harap bisa menembusi pemandangan sekitar tiga depa didepannya. Jangan dibilang alat jebakan, cukup serangan bokongan dari pihak mereka saja sudah lebih dari cukup untuk mencabut selembar jiwa manusia.”
“Apakah dalam goa itu terdapat banyak orang?”
“Selama berada didalam Goa Hitam aku tak pernah bertemu dengan seorang manusiapun, tapi didalam perasaanku seakan-akan terdapat banyak sekali orang ditempat itu.”
“Ada satu persoalan siauwte merasa kurang begitu mengerti.”
“Persoalan apa?”
“Apakah orang-orang yang berada didalam Goa Hitam dapat menyaksikan keadaan disekelilingnya?”
Kiem Hoa Hujien termenung berpikir sebentar kemudian baru menjawab, “Belum pernah cici dengar ada suatu kepandaian yang bisa melihat ditempat kegelapan maka aku tak berani sembarangan bicara, tapi menurut dugaanku bilamana seseorang berdiam selama puluhan tahun lamanya ditempat kegelapan maka lambat laun sinar matanya dapat menyesuaikan diri dengan tempat yang gelap dan melihat benda disekitarnya.”
“Betul!” Sang Pat membenarkan. “Sekalipun mereka tidak berhasil melatih matanya untuk melihat ditempat kegelapan, paling sedikit mereka telah hapal dengan situasi dari goa itu. Menyerang dari tempat kegelapan memang merupakan suatu ancaman bahaya yang sukar diduga.”
Tiba-tiba terdengar Thio Kie An menimbrung, “Alangkah baiknya kalau cuwi sekalian segera mencari tempat yang bisa digunakan untuk melawan serangan lalat darah itu seandainya dari pihak Goa Hitam mengirim jago-jagonya untuk mengejar kita, berada ditengah tanah lapang yang terbuka seperti ini hanya kematian saja yang bakal kita peroleh.”
Kiem Hoa Hujien setuju dengan pendapat orang itu, maka ia melongok sekejap kebawah sebuah tebing curam lalu berkata, “Saudaraku, dapatkah kau menuruni tebing curam ini?”
Siauw Ling segera berpaling dan memeriksa sekejap keadaan sekeliling tempat itu, kemudian ia manggut.
“Mungkin saja dapat.”
“Seandainya dibawah tebing curam itu tiada goa untuk bersembunyi, kita gunakan saja sudut buntu-buntu dibawah tebing sana sebagai tempat pertahanan guna melawan serangan lalat darah” kata perempuan itu sambil menuding sebuah sudut buntu dibawah tebing.
Sang Patpun lantas turunkan Thio Kie An keatas tanah, ia lepaskan jubah panjangnya lalu dirobek dan dibuat seutas tali kain yang panjang lagi kuat. Setelah itu ujarnya, “Hujien, harap kau turun kebawah tebing lebih dahulu….” sinar matanya beralih sekejap kearah Siauw Ling dan menambahkan, “Toako, kaupun tak usah terlalu menempuh bahaya!”
Kiem Hoa Hujien tersenyum, ia cekal ujung tali kain tadi lalu mulai merosot kebawah tebing.
Setelah perempuan itu turun, Siauw Ling sambil membopong Thio Kie An menyusul dibelakangnya, dan terakhir si sie poa emas Sang Pat.
Dibawah tebing curam itu terdapat sebidang tanah datar seluas beberapa tombak, tiga penjuru sekeliling tanah lapang tadi merupakan dinding-dinding tebing yang curam dan tinggi menjulang keangkasa untuk pergi kesitu cuma ada satu jalan saja yang bisa dilalui.
…. Bersambung jilid ke 17
Jilid 17
Setibanya disitu sinar mata Kiem Hoa Hujien mulai bekerja keras mencari tempat yang dianggapnya strategis, namun sudah setengah harian lebih dia mencari tanpa berhasil menemukan goa atau lubang bisa digunakan untuk menyembunyikan diri. Terpaksa ia pilih sebuah sudut buntu dan duduk disana.
“Hujien, apakah tempat ini bisa digunakan untuk menahan serangan Lalat darah?” terdengar Sang Pat bertanya sambil melirik sekejap kearah perempuan itu.
“Mungkin saja dapat!”
“Baiklah! kalau begitu kitapun boleh kasih kabar buat Boe Wie Tootiang sekalian untuk sama-sama berkumpul disini!”
Seraya berkata ia lantas bersuit panjang. Suaranya keras dan nyaring laksana pekikkan naga, tinggi dan lengking membumbung ketengah angkasa.
Lewat sepertanak nasi kemudian, tiba-tiba terdengar suara gonggongan anjing yang santar berkumandang datang.
“Aaah, mereka berhasil menemukan jejak kita” teriak Sang Pat kegirangan. Kembali ia mendongak dan bersuit panjang.
Beberapa saat kemudian tampaklah seekor anjing besar berlari cepat menuju ketepi tebing tersebut dibelakang anjing tadi mengikuti Tu Kioe serta Suma Kan.
“Saudara Tu, toako berada disini. Cepat kau datang kemari” teriak Sang Pat.
Tu Kioe dan Suma Kan mengiakan mereka segera merambat turun kebawah tebing untuk bergabung dengan rekan-rekan lainnya.
“Dimana Soen loocianpwee serta Boe Wie Tootiang?” Siauw Ling menegur tatkala ia tidak menjumpai kedua orang tokoh silat itu ada bersama mereka.”
“Dibawah petunjuk anjing yang lain mereka telah masuk kedalam hutan untuk mencari jejak kalian” jawab Tu Kioe.
“Aduh celaka, seandainya mereka sampai bertemu dengan orang-orang dari Goa Hitam, niscaya mereka tak bisa menghindarkan diri dari serangan lalat darah itu.”
“Lalat darah? binatang apakah itu?”
“Pada saat keadaan seperti ini tak ada waktu untuk menerangkan persoalan ini kepadamu, kau tunggulah disini menemani toako, dengan andalkan kekuatan anjing ini biarlah kukejar mereka untuk kembali.”
“Menurut pendapat cayhe” sela Thio Kie An. “Percuma saja pergi kesana, seandainya mereka bertemu dengan lalat darah. Sekalipun kau berada disitu apa yang bisa kau lakukan?”
“Thio heng, kau tidak mengerti dengan urusan orang-orang Bulim!” tukas Sang Pat. Ia segera loncat bangun dan menepuk kepala anjingnya. “Kali ini terpaksa aku harus merepotkan dirimu lagi!”
“Sang heng berhenti!” mendadak terdengar Ong Hong membentak keras.
“Ada urusan apa?”
“Lalat darah telah tiba?”
Dengan cepat Sang Pat pasang telinga untuk mendengarkan dengan cermat, sedikitpun tidak salah ia dengar ada suara dengusan yang amat nyaring dan ramai berkumandang datang.
“Aaah tidak salah, suara Lalat darah!” serunya kemudian dengan alis berkerut.
Dengan cepat ia bopong anjingnya dan loncat balik kedalam rombongan.
Kiem Hoa Hujien segera bangun berdiri, kepada rekan-rekan yang lain ia berseru, “Harap kalian semua segera mengundurkan diri kesudut tebing sebelah sana!”
Siauw Ling sekalian mengerti akan kelihayan lalat darah tersebut, maka begitu mendengar seruan tadi mereka sama-sama menyembunyikan diri kesudut tebing.
Tu Kioe serta Suma Kan tidak tahu macam apakah makhluk yang disebut lalat darah itu namun menjumpai Siauw Ling sekalian telah mengundurkan diri kesudut tebing maka merekapun sama-sama ikut mundur.
Perlahan-lahan dari dalam sakunya Kiem Hoa Hujien ambil keluar sebuah kotak porselen. Ia buka tutup kotak itu kemudian mendorongnya kemuka. Empat ekor laba-laba sebesar buah Thio yang berwarna hijau muda segera meloncat keluar dari dalam kotak itu.
Disekitar sudut tebing itu penuh tumbuh pohon pendek. Tampaklah keempat ekor laba-laba itu berputar beberapa kali disekeliling sana dan dalam sekejap mata saja sekitar tempat itu sudah dilapisi oleh sarang laba-laba yang tebal.
Melihat sarang laba-laba itu sudah berbentuk. Kiem Hoa Hujien baru tersenyum dan berseru, “Saudara Siauw, kendati sarang laba-laba ini amat rapat namun jumlah lalat darah itu sangat banyak. Tak urung satu dua ekor binatang itu pasti berhasil menerobos masuk kedalam. Kalian harus hati-hati memperhatikannya!”
Semua orang harus mengiakan. Ong Hongpun lantas mematahkan sebuah ranting kayu dan dicekalnya erat-erat siap menghadapi segala kemungkinan.
Sang Pat sendiri tak berani gegabah, diapun mengikuti jejak rekannya mematahkan ranting kayu untuk dicekal sebagai senjata.
Tu Kioe serta Suma Kan saling bertukar pandangan, mereka tetap berdiri tak berkutik ditempatnya masing-masing.
Setelah semua orang siap Kiem Hoa Hujien baru ambil tempat duduk dan pejamkan matanya, ia berpesan kembali, “Kalian harus berhati-hati, jari tangan kalian jangan sampai menyentuh sarang laba-laba itu.”
“Kenapa?” tanya Sang Pat. “Apakah diatas sarang laba-laba itupun mengandung racun yang keji?”
Semangat Kiem Hoa Hujien telah layu, air mukanya pucat pias bagaikan mayat namun ia tetap tersenyum simpul, seolah-olah soal mati hidup dirinya sudah tidak dipikirkan lagi didalam hatinya.
Terdengar ia tertawa terkekeh-kekeh, lalu menyahut, “Meskipun daya kerja racun yang terkandung diatas sarang laba-laba itu tidak parah, namun sentuhan kalian akan memberikan perasaan yang tajam bagi laba-laba beracun itu asal kalian sentuh sarang laba-laba maka laksana sambaran kilat laba-laba beracun itu akan menubruk datang. Tatkala jari tangan atau kulit tubuh kalian menyentuh sarang laba-laba tadi, badanmu akan jadi linu dan kaku. Dan disaat itu kau kehilangan daya rasa jadilah laba-laba beracun itu akan menggigit dirimu.”
“Seandainya tergigit oleh laba-laba beracun itu, apakah masih ada harapan untuk ditolong?”
Kiem Hoa Hujien termenung sejenak, kemudian menjawab, “Racun yang terkandung dalam lambung laba-laba beracun itu luar biasa kejinya, seandainya kau sampai tergigit olehnya mungkin tipis sekali harapannya untuk ditolong!”
“Jadi maksudmu jiwanya tiada harapan lagi untuk diselamatkan?”
“Kecuali didalam waktu yang relatif amat singkat aku dapat memberikan obat-obatan yang bisa mencegah menjalarnya daya kerja racun tersebut, tapi kesempatan untuk berbuat demikian kecil sekali. Maka dari itu barang siapa yang tergigit oleh laba-laba beracun itu, jiwanya niscaya akan melayang!”
Mendengar sampai disitu. Sang Pat segera berseru dengan suara lantang, “Aku rasa cuwi sekalian sudah dengar dengan jelas bukan uraian dari Hujien? hati-hati jangan sampai menyentuh sarang laba-laba itu bila kalian masih sayang dengan jiwa kamu semua.”
Demikian dengan penuh kewaspadaan dan hati kebat kebit Siauw Ling serta Sang Pat sekalian menantikan serangan dari Lalat darah, siapa sangka walaupun sudah ditunggu seperminum teh lamanya belum nampak juga ada lalat darah yang menyerang mereka. Sedangkan sarang laba-laba disekeliling tempat itu makin lama makin tebal dan makin rapat.
“Eeeeei…. kenapa tidak nampak lalat darah itu menyerang datang?” seru Tu Kioe dengan suaranya yang dingin.
Ong Hong segera memperhatikan situasi disekeliling sana dengan seksama, sedikitpun tidak salah suara dengusan yang terdengar tadi kini sudah lenyap tak berbekas. Seakan-akan lalat darah itu sudah terbang kembali setelah mendekati beberapa orang.
“Aduh celaka!” mendadak Siauw Ling berteriak. “Mungkin lalat darah itu sudah berjumpa dengan Soen Loocianpwee serta Boe Wie Tooiang. Kita harus segera memberi kabar kepada mereka berdua!”
“Aaaaai….! tidak sempat lagi” sahut Thio Kie An sambil menghela napas panjang. “Seandainya mereka berdua telah berjumpa dengan lalat darah mungkin pada saat ini darah mereka telah kering dan daging mereka telah hancur, bahkan mayat mereka sukar dikenal lagi.”
“Apakah kita hendak pergi mencari mereka berdua atau tidak, itu bukan persoalan” sambung Tu Kioe dengan nada hambar. “Bagaimanapun juga toh kita dapat bersembunyi terus didalam kepungan sarang laba-laba yang makin lama semakin tebal dan rapat. Jangan-jangan sebelum dipagut lalat darah kita sudah mati lebih dulu disini. Sekalipun tidak mati kesempatan mungkin akan mati kelaparan. Lebih baik kita coba menempuh bahaya!”
“Soal ini harap cuwi sekalian tak usah kuatirkan, menanti malam telah menjelang tiba kita boleh segera melanjutkan perjalanan.”
Dalam hati Siauw Ling merasa amat sedih, ia menghela napas dan berkata, “Sungguh tak kunyana seorang lelaki sejati macam aku harus terkurung oleh kawanan lalat darah yang ganas dan harus minta perlindungan laba-laba beracun untuk menyelamatkan jiwaku. Aaaai….! peristiwa ini benar-benar memalukan sekali.”
“Saudara Siauw, kau tidak usah menyesal atau sedih karena persoalan kecil seperti itu. Kau harus tahu persoalan yang ada dikolong langit tidak semuanya harus mengandalkan ilmu silat untuk membereskannya. Contohnya seperti cici, sepanjang hidupnya paling suka mengumpulkan makhluk berbisa, aku percaya kepandaianku menggunakan racun sekalipun belum bisa disebut nomor satu dalam dunia. Tapi racun yang dilepaskan Djen Bok Hong kedalam tubuhku, bukan saja cici tak dapat dapat punahkan bahkan walaupun sudah kugunakan segenap pikiran dan tenaga untuk menyelidiki belum berhasil juga kutemukan racun apakah yang telah dia gunakan.”
“Jika kudengar ucapan Hujien, rupanya kau tidak berhasil mendapatkan bahan racun yang digunakan Djen Bok Hong untuk mencelakai orang?” sela Sang Pat.
“Tidak salah, aku berusaha mencari obat racun yang digunakan Djen Bok Hong namun gagal kuperoleh perincian mengenai bahan apa yang sudah dia gunakan, maka hingga kini akupun belum berhasil menciptakan bahan obat untuk memusnahkan racun tersebut” ia merandek sejenak untuk tukar napas, kemudian tambahnya lagi, “Menurut apa yang kudengar, katanya dikolong langit dewasa ini kecuali Djen Bok Hong yang bisa membuat obat penawar racun itu. Hanya siraja obat bertangan keji saja yang bisa.”
“Aaai…. sayang siraja obat bertangan keji telah mengasingkan diri bersama putrinya. Untuk menemukan jejak orang itu mungkin bukan suatu urusan gampang.”
Kiem Hoa Hujien tidak meneruskan ucapannya mengenai masalah itu lagi. Ia alihkan sinat matanya keatas wajah Thio Kie An dan bertanya, “Apakah kau berani memastikan bahwa lalat darah itu tidak akan munculkan diri lagi dalam satu jam mendatang?”
“Sudah banyak tahun cayhe memelihara lalat darah serta kelabang bersayap emas, tentu saja aku berani memastikan!”
“Baik! kalau begitu aku turuti saja omonganmu itu. Seandainya lalat darah muncul lagi secara mendadak maka akan kujagal dirimu lebih dulu untuk diberikan kepada lalat darah.”
“Hujien tak usah kuatir, cayhe tidak menghadapi kematian!”
“Hujien!” Sang Pat berseru. “Makin lama sarang laba-laba ini mengurung kita semakin rapat sampai waktunya bagaimana mungkin kita bisa keluar dari sini?”
Mendengar perkataan itu Kiem Hoa Hujien tertawa.
“Tentang soal ini harap cuwi sekalian tak usah kuatirkan. Kendati cara menggunakan racun dari Raja Obat Bertangan Keji jauh lebih lihay dari pada aku Kiem Hoa Hujien, namun dalam kepandaian memelihara makhluk beracun belum tentu ia bisa menangkan diriku.”
“Aaaai….! perebutan nama bagi orang-orang Bulim memang terlalu penting….” pikir Siauw Ling. “Dalam keadaan serta situasi macam beginipun, perempuan ini masih punya kegembiraan untuk mengunggulkan kepandaian sendiri….”
Terdengar Kiem Hoa Hujien berkata lagi sambil tertawa, “Lahir ada tempat mati ada tanah. Itulah perkataan yang seringkali diucapkan kalian bangsa Han. Bukankah cuwi semua dalah seorang lelaki sejati yang tulen? kenapa begitu jeri menghadapi kematian? bukan begitu saja bahkan keberanianpun tidak menang dari aku Kiem Hoa Hujien yang berasal dari suku bangsa liar….”
“Bukan cayhe merasa takut menghadapi kematian, yang penting adalah berharga atau tidakkah kematian yang akan kami dapatkan. Seandainya kami harus mati terhisap darahnya oleh lalat-lalat darah itu atau mati karena tergigit oleh laba-laba beracun milik cici, bukankah mekatian itu akan membuat kami mati dengan mata tidak meram?”
“Soal itu kau tak usah kuatir. Harapan bagi kita untuk hidup sudah besar sekali. Sudah sepantasnya kalau kita rayakan kemenangan ini sambil tertawa terbahak-bahak.”
Habis berkata perempuan itu mulai tertawa lebih dulu dengan kerasnya.
Mendengar Kiem Hoa Hujien tertawa, Sang Pat tidak mau kalah diapun pentang mulutnya tertawa keras.
“Sedikitpun tidak salah” serunya. “Sebagai seorang lelaki jantang, lelaki sejati. Sekalipun mati harus harus mati dengan hati lapang….”
Dalam sekejap mata suara gelak tertawa berkumandang saling susul menyusul. Para jago sama-sama tertawa keras kecuali Tu Kioe dengan wajahnya yang adem ayem serta Siauw Ling yang pejam mata sambil duduk bersila.
Waktu berlalu dengan cepatnya, tidak lama kemudian malam haripun menjelang tiba.
“Thio heng!” seru Sang Pat tiba-tiba sambil memandang udara. “Bintang mulai berhamburan diangkasa, apakah kita boleh segera berangkat!”
“Boleh, segera kita berangkat!”
Sang Pat lantas berpaling kearah Kiem Hoa Hujien dan berkata, “Hujien, bukankah jaring sarang laba-laba ini!”
Kiem Hoa Hujien tersenyum.
“Tidak bakal salah bukan?” katanya sambil memandang kearah Thio Kie An.
“Tidak bakal salah!”
Dari dalam sakunya Kiem Hoa Hujien ambil keluar sebuah kotak kumala, kemudian ia berseru, “Siapakah diantara cuwi yang membawa korek api?”
“Cayhe ada!” sahut Suma Kan. “Apakah Hujien hendak melepaskan api, membakar sarang laba-laba ini?”
“Tak dapat kita bakar dengan api. Gerak gerik laba-laba beracun itu sangat cepat. Seandainya mereka sampai melarikan diri maka orang bakal jatuh korban. Maka kita harus musnahkan lebih dulu keempat ekor laba-laba beracun itu kemudian baru membakar sarang laba-labanya.”
“Lain dengan sara apakah Hujien akan melenyapkan keempat ekor laba-laba beracun itu?”
“Silahkan cuwi sekalian menikmati suatu keajaiban alam!” seraya berkata perempuan itu lantas membuka kotak pualamnya dan menggetarkan sang pergelangan kemuka.
Sekilas cahaya putih meluncur kemuka dan langsung menyambar laba-laba beracun yang ada didalam sarangnya.
Tatkala para jago memandangnya lebih seksama maka mereka lihat bahwasannya cahaya putih yang menyambar kedepan tadi kiranya adalah seekor ular kecil berwarna putih.
Begitu berjumpa dengan ular putih, keempat ekor laba-laba beracun itu secara tiba-tiba bersama-sama meluncur kearah ular putih tadi, bahkan langsung masuk kedalam mulut ular kecil itu.
Suma Kan yang angkat tinggi obornya membuat suasana disana jadi terang benderang, dengan sendirinya para jagoanpun dapat menyaksikan peristiwa tadi dengan hati kaget bercampur tercengang.
Perawakan tubuh ular putih itu kecil lagi pendek, sehabis menelan empat ekor laba-laba beracun bagian lambungnya segera melembung besar sekali.
Tampak Kiem Hoa Hujien angkat kembali kotak pualamnya. Ular tadi segera putar kepala dan menyusup balik kedalam tempatnya semula.
Perlahan-lahan Kiem Hoa Hujien menutup kembali kotaknya, setelah itu ia baru berseru, “Sekarang kalian boleh bakar sarang laba-laba itu hingga habis.”
Suma Kan mengiakan, dalam sekejap mata sarang laba-laba disekeliling tempat itu terbakar musnah dan lenyap tak berbekas.
Begitu sarang itu lenyap, para jago sambil menghembuskan napas panjang serentak berjalan keluar, mereka rasakan sekujur badan jadi lega dan segar.
Sang Pat lantas menggendong tubuh Thio Kie An seraya berseru, “Thio heng, kau tidak leluasa untuk bergerak sendiri, lebih baik siauwte bopong dirimu untuk meneruskan perjalanan!”
Pada saat itu Siauw Ling pun sudah bangkit berdiri, kepada Kiem Hoa Hujien tanyanya, “Cici, apakah kau bisa berjalan sendiri.”
“Tidak bisa!” sahut Kiem Hoa Hujien sambil menggeleng. “Paling sedikit aku harus beristirahat tiga hari lebih dulu sebelum meneruskan perjalanan, rupanya terpaksa aku harus merepotkan saudara untuk membopong diriku.”
Teringat akan budi pertolongan yang telah diberikan perempuan itu kepada dirinya, tanpa banyak bisara lagi Siauw Ling bongkokkan badan dan membopong tubuh Kiem Hoa Hujien.
Begitulah, dibawah pimpinan Tu Kioe mereka segera berjalan keluar dari tebing buntu itu dan naik keatas.
Ditengah perjalanan tiba-tiba Siauw Ling berhenti lalu berseru, “Saudara Tu, biarlah mereka berjalan lebih dulu, kau temani aku pergi mencari jejak dari Soen Loocianpwee serta Boe Wie Tootiang!”
Selamanya nada suara Tu Kioe tidak enak didengar, kepada siapapun dia merasa tidak takluk, tetapi terhadap Siauw Ling sikapnya amat menghormat. Mendengar seruan itu ia lantas mengiakan.
Siauw Ling kembali berpaling kearah Suma Kan.
“Suma heng, terpaksa siauwte harus merepotkan dirimu untuk….”
“Kau hendak suruh dia menggendong aku untuk meneruskan perjalanan?” Tukas Kiem Hoa Hujien tiba-tiba.
“Siauwte memang bermaksud begitu.”
“Tidak bisa jadi! aku mau tetap tinggal disini untuk membantu dirimu!”
“Cici, gerak gerikmu tidak leluasa mana mungkin bisa membantu diriku? aku takut malahan siauwtelah yang harus merawat dirimu.”
“Walaupun gerak gerikku tidak leluasa tetapi sekujur badanku penuh dengan binatang berbisa, seandaianya kau berjumpa lagi dengan lalat darah mungkin saja laba-laba racun yang kumiliki bisa menghadapinya, aku lebih baik bawalah serta diriku.”
“Ilmu silat yang dimiliki Ling touw toako cayhe amat lihay, seandainya dia harus menggendong dirimu mana bisa hadapi serangan musuh tangguh….” sambung Tu Kioe ketus. “Apabila hujien bersikeras hendak ikut, terpaksa aku harus menodai dirimu.”
“Apa yang kau maksudnya dengan menodai diriku?”
“Cayhe harus menggendong dirimu, bukankah itu seperti juga harus menodai dirimu?”
“Ah, kalau soal itu sih tidak mengapa?”
Tu Kioepun tidak sungkan-sungkan lagi, ia maju kedepan untuk menggendong Kiem Hoa Hujien kemudian sambil memandang kearah Suma Kan pesannya, “Suma heng, bawalah mereka berlalu dari sini dan tunggulah kami dibawah sepasang pohon-pohon Pak sepuluh li dari sini.”
Suma Kan mengiakan, dengan membawa Sang Pat sekalian ia berlalu lebih dulu.
Sepeninggalnya mereka. Siauw Ling menghembuskan napas panjang dan mengeluh.
“Bagaimana mungkin kita bisa temukan jejak mereka berdua?”
“Menurut pendapat siauwte, lebih baik kita bertahan disuatu tempat kemudian biarlah siauwte dnegan membawa anjing raksasa itu pergi mencari jejak mereka.”
Siauw Ling termenung sejenak, akhirnya ia mengangguk.
“Baiklah! kalau begitu kuturuti saja pendapatmu!”
Sambil membopong Kiem Hoa Hujien dan menggandeng anjingnya Tu Kioe berjalan keatas sebuah bukit kecil, tiba-tiba ia berjongkok sambil menepuk anjingnya dan bersuit rendah.
Tiba-tiba anjing itu menggonggong, laksana kilat ia lari kedepan.
Sungguh cepat lari anjing itu, dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap tak berbekas.
Kurang lebih seperminum teh kemudian, mendadak terdengar suara gonggongan anjing berkumandang.
“Aaaah, sudah ada kabar beritanya” seru Tu Kioe.
“Kabar berita soal apa?”
“Dua ekor anjingku telah saling berjumpa, anjing itu berada dalam keadaan sehat itu berarti baik Soen loocianpwee maupun Boe Wie Tootiang berada dalam keadaan sehat walafiat pula.”
“Sungguh?”
“Siauwte tidak berani membohongi toako.”
Seperempat jam kemudian dari kegelapan segera terlihatlah beberapa sosok bayangan hitam laksana kilat meluncur datang.
Pertama-tama dua ekor anjing itulah yang tiba lebih dulu disusul Soen Put Shia serta Boe Wie Tootiang dibelakangnya.
Buru-buru Siauw Ling maju menyongsong sambil menegur, “Apakah kalian berdua tidak berjumpa dengan lalat darah?”
“Kau maksudkan makhluk berbisa seperti tawon raksasa itu?” sahut Soen Put Shia.
“Waduuuh…. lihay! lihay….! sungguh luar biasa…. seandaianya Boe Wie Too heng tidak miliki otak yang encer, mungkin selembar jiwa aku sipengemis tua telah musnah ditangan makhluk terkutuk itu….!”
Didengar dari nada ucapan tersebut Siauw Ling yakin kedua orang tokoh besar dunia persilatan ini telah berjumpa dengan lalat darah, namun ketika dilihatnya mereka berada dalam keadaan sehat tanpa kekurangan sesuatu apapun, dalam hatinya heran.
Terdengar Boe Wie Tootiang telah berkata, “Kalau bukan loocianpwee melepaskan dua buah pukulan yang maha dahsyat, mungkin kami berdua tidak punya kesempatan untuk menghindari serangan maut lalat-lalat darah itu….” ia merandek dan menghela napas panjang. “Aaaai…. sungguh kasihan dua orang manusia yang melepaskan lalat darah itu, mereka mati konyol terhisap darahnya oleh lalat itu sendiri….”
“Apanya yang patut dikasihani?” mereka hendak habisin nyawa kita berdua, syukur kalau mereka sendirilah yang akhirnya harus mati konyol” gerutu Soen Put Shia.
“Mereka semua sedang menantikan kedatangan cianpwee berdua” tukas Siauw Ling. “Mari kita berjalan sambil bercerita!”
Tu Kioe membenarkan pendapat toakonya, maka ia bergerak lebih dulu meninggalkan tempat itu.
Ditengah perjalanan Soen Put Shia berpaling kearah Siauw Ling dan menegur sambil tertawa, “Bagaimana? apakah kalianpun telah berjumpa dengan lalat darah?”
“Aaaai! kalau dibicarakan sungguh panjang sekali, sekarang boanpwee sedang hidup dengan nyawa cadangan!” maka diapun segera menceritakan kisah pengalamannya yang telah ia alami selama ini.
Selesai mendengar cerita itu, dengan alis berkerut Soen Put Shia berkata, “Jika demikian adanya, Kiem Hoa Hujien telah melepaskan jalan yang sesat dan kembali kejalan yang benar?”
“Pendapat pinto jauh berbeda!” seru Boe Wie Tootiang sambil tersenyum.
“Bagaimana menurut pendapatmu?”
“Berulang kali Kiem Hoa Hujien menolong kita semua. Hal ini bukan lain disebabkan karena Siauw Ling….”
Ia berpaling memandang sekejap kearah si anak muda itu, lain sambungnya, “Sejak banyak tahun berselang pinto sudah banyak mendnegar tentang nama besar Kiem Hoa Hujien, orang ini bukan saja kejam dan sadis diapun berhati racun, separuh hidupnya sebagian besar dihabiskan untuk membuat keonaran dan kejahatan. Seandainya Djen Bok Hong tidak memahami betul-betul tabiat serta sepak terjangnya, bagaimana mungkin dia undang perempuan itu untuk hadir ditengah daratan Tionggoan.”
“Tapi Djen Bok Hong telah melepaskan racun keji kedalam tubuhnya” seru Siauw Ling dari samping.
“Gembong iblis tersebut bisa berbuat begini hal ini bukan lain karena dia punya hubungan yang erat dengan Siauw thayhiap….”
“Djen Bok Hong punya rasa curiga yang luar biasa terhadap setiap orang” kata si anak muda itu. “Semua orang dicurigainya bahkan sampai-sampai siraja obat bertangan kejipun sudah diracun pula. Aku rasa setiap insan manusia yang hidup dalam perkampungan Pek hoa San tjung, tak seorangpun yang lolos dari tangan jahatnya.”
“Meskipun ucapanmu itu benar, tetapi seandainya Djen Bok Hong tidak saksikan sikap Kiem Hoa Hujien yang istimewa terhadap diri Siauw thayhiap, meski dia turun tangan jahat, tidak nanti sekeji dan sedalam itu, apalagi memberitahukan hal ini secara terang-terangan kepadanya.”
Siauw Ling masih ingin coba membantah, namun Soen Put Shia sudah keburu tertawa tergelak.
“Haaa…. haaa…. haaa…. Siauw thayhiap tak usah coba mungkir lagi, aku pengemis tuapun dapat merasakan betapa kasih dan sayangnya Kiem Hoa Hujien terhadap dirimu. Perempuan ini sudah lama angkat nama, kalau dihitung-hitung usianya mungkin sudah setengah abad lebih” mendadak ia rasakan ucapan selanjutnya terlain kasar didengar, cepat-cepat ia membungkam.
Siauw Ling takut mereka membicarakan persoalan itu lebih mendalam, buru-buru ia tukas ditengah jalan.
“Cianpwee berdua belum menceritakan kisah perjalanan kalian. Boanpwee pingin mendengarnya!”
Soen Put Shia tersenyum dan mengangguk.
“Kami jauh masuk kedalam hutan untuk mencari saudara Siauw sekalian. Tapi sudah setengah lamanya kami berputar kayuh disini tanpa berhasil menemukan sesuatu jejak apapun, suatu ketika rupanya anjing itu mencurigakan, tiba-tiba ia putar badan dan lari keluar hutan. Aku serta tootiang sama-sama tidak paham bagaimana caranya memanggil balik anjing itu. Maka terpaksa kami ikuti saja anjing kemuka….”
Dia menghembuskan napas panjang, sesudah merandek sejenak sambungnya lebih jauh, “Setibanya diluar hutan, aku sipengemis tua saksikan anjing itu mendekam diatas tanah tanpa berkutik barang sedikitpun, sepasang matanya memandang kemuka dengan mata melotot. Aku sipengemis tua yang selamanya berangasan kali ini bisa tenangkan hati, mungkin itulah takdirku untuk mati. Aku cepat-cepat berhenti dan segera ikut menengok kemuka….”
Bicara sampai disitu ia melirik sekejap kearah Boe Wie Tootiang lalu tambahanya, “Pada saat itulah kebetulan Boe Wie Too heng tiba disana!”
“Benar. Waktu itu kebenaran pinto tiba disana, menyaksikan sikap loocianpwee yang aneh. Maka pinto segera pertingkat kewaspadaan terhadap keadaan disekeliling tempat itu.”
Soen Put Shia tertawa terbahak-bahak.
“Haaa…. haaa…. lama sekali aku sipengemis tua perhatikan keadaan dimuka, tapi tidak berhasil menemukan sesuatu walau sudah kuperiksa disitu berulang kali….”
“Kenapa?”
“Ternyata orang itu pada memakai baju berwarna hitam serta memakai kain kerudung berwarna hitam pula. Berdiri ditengah kegelapan malam keadaan mereka tak ada bedanya dengan pepohonan.”
“Oooooooow, kiranya begitu.”
“Seandainya Boe Wie Too heng tidak patahkan sebatang ranting kemudian disambit sebagai senjata rahasia. Aku pengemis tua masih tidak sadar kalau disitu berdiri manusia!”
“Dan seandaianya bukan pinto melepaskan senjata rahasia itu hingga merubuhkan salah satu diantaranya mungkin orang itu tidak akan melepaskan lalat darah” sambung Boe Wie Tootiang.
“Boe Wie Too heng berhati ramah dan penuh welas kasih. Kendati ia timpuk orang itu dengan ranting kayu namun serangannya enteng sekali hingga luka yang diderita tidak terlalu parah, siapa sangka pada saat itulah orang tadi putar badan sambil melepaskan lalat darah. untung aku sipengemis tua merasakan situasi tidak menguntungkan, buru-buru kulepas dua buah pukulan dahsyat untuk membendung serangan lalat darah itu, saat itulah Boe Wie Too heng menyeret aku sipengemis tua mengundurkan diri kedalam. Sementara itu segerombolan lalat darah sudah mengejar sampai, suara dengusan mereka amat keras memekikkan telinga….”
Ia sapu sekejap anjing raksasa disisinya lain menyambung lebih jauh, “Aaaai…. kalau dibicarakan ternyata kecerdasanku kalah dengan cerdiknya anjing, rupanya anjing itu merasa bahwa makhluk kecil yang sedang menyerang datang adalah makhluk berbisa, dengan cepat ia lari masuk kedalam sebuah pohon kering. Menyaksikan hal itu aku sipengemis tua serta Boe Wie Too heng pun buru-buru ikut bersembunyi disitu sambil siap melancarkan serangan untuk menahan serangan lalat darah itu.”
“Ditengah malam yang buta suasana remang-remang tidak jelas lagipula gerakan lalat darah itu sangat cepat, mereka berdua tidak sampai terluka oleh lalat darah itu boleh dibilang merupakan suatu keberuntungan” pikir Siauw Ling.
Terdengar Soen Put Shia lanjutkan ceritanya, “Pada saat itu aku sipengemis tua telah dapat menyaksikan bentuk makhluk yang terbang mendekat itu menyerupai tawon raksasa bahkan terbangnya sangat cepat melebihi binatang lain, bukan begitu saja makin lama jumlahnya semakin banyak. Dalam sekejap mata ribuan ekor sudah berkumpul disekitar situ. Meskipun aku sipengemis tua untuk sementara bisa memaksa mereka menjauh dengan angin pukulan, tapi lama kelamaan pasti akan roboh kehabisan tenaga. Untunglah pada saat yang kritis Boe Wie Too heng telah melepaskan dua bilah pisau belati melukai dua orang musuh yang melepaskan lalat darah itu. begitu mencium bau darah, lalat-lalat darah itu segera berganti arah dan mengerubuti kedua orang itu. Dalam sekejap mata darah mereka dihisap sampai kering. Menggunakan kesempatan dikala lalat-lalat darah itu sedang berpest. Boe Wie Too heng segera tarik aku sipengemis tua serta anjing itu dengan gerakan yang tercepat melarikan diri dari hutan tersebut.”
Bicara sampai disitu ia menghembuskan napas panjang, tambahnya, “Pengalaman yang kujumpai hanya begini sederhana namun mara bahaya yang kualami saat itu betul-betul amat kritis bila kukenang kembali…. Hiiiii…. badanku jadi merinding dan bulu kuduk pada bangun berdiri. Aaaai….! sepanjang hidupku entah berapa banyak kejadian seram yang kualami, berapa banyak makhluk berbisa yang kejumpai namun belum pernah kutemui ada orang menggunakan lalat darah semacam itu untuk melukai musuhnya.”
Tatkala ia menyelesaikan ceritanya, beberapa orang itupun sudah dibawah pohon Pak.
“Kalian berdua tentu mengalami kejadian yang mengejutkan bukan?” tegurnya.
Soen Put Shia tidak langsung menjawab sinar matanya berputar menyapu sekejap kearah para jago kemudian serunya, “Bagus sekali! bukan saja tak seorangpun diantara kalian terluka, bahkan malah bertambah lagi dengan dua orang.”
“Hey pengemis tua! kenapa kau tidak sekalian menghitung diriku? bukankah terang-terangan tambah tiga orang? mengapa kau bilang cuma dia orang?” tegur Kiem Hoa Hujien.
Soen Put Shia tertawa hambar.
“Aaah sungguh sempit dunia ini, sungguh tak disangka kita harus berjumpa lagi disini.”
Kiem Hoa Hujien tertawa terkekeh.
“Eeei, pengemis tua. Setelah nyaris lolos dari kerubutan lalat darah, aku nasehati dirimu lebih baik jagalah baik-baik selembar jiwa tuamu. Aku dengar Djen Bok Hong telah bersumpah, dalam tiga bulan mendatang dia akan tebas batok kepalamu untuk kemudian dipamerkan didepan umum.”
“Selama hidup belum pernah aku pengemis tua takut digertak orang. Terima kasih atas peringatanmu itu.”
“Hmm! kalau Djen Bok Hong merasa tidak punya keyakinan, tidak nanti dia ucapkan kata sesumbar seperti itu, aku lihat kau harus lebih berhati-hati.”
Untuk sesaat suasana jadi sunyi senyap tak terdengar sedikit suarapun…. tiba-tiba terdengar Boe Wie Tootiang berseru, “Soen Loocianpwee. Coba kau dengar suara apa itu.”
Para jago sama-sama pasang telinga dan mendengarkan dengan seksama. Secara lapat-lapat mereka dengar irama musik mengalun dengan merdunya ditempat kejauhan.
Suara itu aneh sekali, seperti seruling tapi tidak mirip seruling, seperti suara khiem tapi tidak mirip khiem. Tatkala didengar lebih jauh irama musik itu seolah-olah merupakan gabungan dari dua jenis alat musik.
“Suaranya mirip sekali dengan irama musik yang pernah mengundurkan Djen Bok Hong!” seru Soen Put Shia.
“Sedikitpun tidak salah, pintopun punya perasaan seperti itu.”
“Biarlah cayhe pergi memeriksa manusia macam apa dia itu” seru Siauw Ling tiba-tiba loncat bangun.
Gerakan tubuhnya sangat cepat, dalam sekejap mata dia sudah berada kurang lebih dua tombak dari tempat semula.
“Tootiang harap kau tetap tinggal disana. Aku sipengemis tua akan ikuti diri saudara Siauw!” seru Soen Put Shia cepat.
“Loocianpwee, kau harus hati-hati, lebih baik jangan bentrokan dengan orang lain!”
“Eeei…. apa yang telah terjadi?” tegur Kiem Hoa Hujien.
Boe Wie Tootiang menghela napas panjang.
“Aaai…. kalau dibicarakan sungguh membuat orang merasa tidak percaya, seandainya pinto tidak saksikan sendiri, mungkin tidak akan kupercaya ada kejadian seperti itu. Sungguh tak kunyana dikolong langit benar-benar terdapat kejadian seaneh ini….”
“Tootiang, kau tak usah putar kayuh lebih jauh, terangkanlah sejelas-jelasnya!”
“Pada suatu malam Djen Bok Hong dengan memimpin para jago-jago lihaynya dari perkampungan Pek Hoa San tjung mengurung pinto serta Soen Loocianpwee sekalian. Kalau dibicarakan dari situasi pada saat itu. Seandainya sampai terjadi pertarungan pinto maupun Soen Loocianpwee pasti akan mati atau tertawan oleh kerubutan para jago dibawah pimpinan Djen Bok Hong itu. Disaat suasana diliputi ketegangan itulah tiba-tiba berkumandang datang suara irama musik yang sangat aneh, begitu mendengar irama musik itu dengan hati gugup dan gelisah Djen Bok Hong segera tarik seluruh jagonya dan melarikan diri dari sana. pertarungan sengitpun bisa terhindar dan nyaris pinto dan Soen Loocianpwee mati ditangan mereka.”
Terdengar Kiem Hoa Hujien tertawa terkekeh-kekeh memutuskan ucapan Boe Wie Tootiang yang belum selesai diutarakan.
“Apa yang kau tertawakan?” tegur Tu Kioe ketus.
“Kalau didengar cerita itu mirip dengan igauan disiang hari bolong. Sungguh membuat orang sukar untuk mempercayainya.”
“Pinto alami sendiri kejadian itu, tidak nanti aku bicara bohong! kalau Hujien tidak percaya, pintopun tak bisa berbuat apa-apa…. untung disaat itu berlangsung, kecuali pinto masih ada Soen Loocianpwee ikut hadir ditengah kalangan.”
“Dalam kolong langit memang seringkali terjadi peristiwa yang aneh dan tidak masuk diakal” ujar Sang Pat sambil menghela napas. “Contohnya saja toako kami. Pada lima tahun berselang dia masih merupakan seorang pemuda yang lemah dan berpenyakitan tapi lima tahun kemudian dia sudah menjadi seorang pahlawan. Seorang enghiong dan pemimpin yang bertanggung jawab atas keselamatan dunia persilatan.”
Untuk sementara waktu kita tinggalkan dulu Sang Pat sekalian, marilah kita ikuti Siauw Ling yang berlari menuju kearah berasalnya suara musik tadi dengan gerakan cepat. Dalam sekejap mata lima lie sudah terlampaui dan tiba didepan sebuah rumah gubuk.
Cahaya lampu lapat-lapat menyorot keluar dari balik rumah gubuk itu, sementara suara musik yang aneh tadi sudah sirap dan tidak terdengar lagi.
Dengan langkah perlahan dan hati-hati Siauw Ling maju beberapa langkah lagi kedepan kemudian berhenti dan awasi rumah gubuk itu dengan seksama.
Terdengar ujung baju tersampok angin berkumandang tiba disusul munculnya Soen Put Shia disisi pemuda itu.
“Saudara Siauw, apakah sudah berhasil menemukan sesuatu?” bisiknya.
“Jika dianalisa dari dengusan suara irama musik itu, rupanya musik aneh tadi berasal dari rumah gubuk ini.”
“Kalau memang begitu, mengapa tidak kita periksa isi gubuk tersebut?”
“Baik! mari kita ketuk pintu untuk mohon berjumpa dengan tuan rumah gubuk ini.”
Gubuk itu berdiri menunggal ditengah hutan alas yang sunyi dan terpencil, empat penjuru merupakan rumput alang-alang setinggi lutut sepintas lalu kelihatan sekali betapa seram dan liarnya tempat itu.
Pintu gubuk itu tertutup rapat, perlahan-lahan dengan langkah waspada kedua orang itu maju mendekat kemudian memeriksa dengan seksama, namun dari balik ruangan sama sekali tidak kedengaran suara apapun jua.
“Adakah orang didalam?” terdengar Soen Put Shia menegur sambil menggaplok pintu rumah dengan telapaknya. Pengemis tua ini meski usianya telah lanjut namun tabiatnya yang berangasan dan tidak sabaran tak dapat berubah juga.
“Siapa? kenapa tak tahu adat?” suara sahutan yang dingin lagi ketus menyahut dari dalam.
Soen Put Shia ingin mengumbar napsunya, tapi seraya pikirannya tidak bergerak, diam-diam ia berpikir, “Aaah, aku tak boleh bertindak gegabah, apalagi kalau orang yang berada didalam gubuk itu adalah manusia yang mainkan alat musik aneh tadi. Aku harus bertindak semakin hati-hati” karena berpikir ia lantas mendehem dan menyahut, “Cayhe adalah Soen Put Shia.”
“Kau laki-laki atau perempuan?” kembali pertanyaan yang bernada dingin lagi ketus berkumandang keluar.
“Kurang ajar orang ini….” batin sang pengemis tua dalam hati kecilnya. “Sekalipun generasi yang muda muncul dalam dunia persilatan dewasa ini sebagian besar tidak kenali aku orang she Soen. Semestinya nama ini pernah mereka dengar dari angkatan yang lebih tua, atau paling sedikit ia seharusnya bisa membedakan aku adalah seorang lelaki sejati dari suaraku yang serak lagi kasar….”
Berpikir begitu, dengan hati mendongkol ia lantas berseru, “Haaah masa untuk membedakan aku adalah laki-laki atau perempuanpun kau tidak sanggup.”
Orang didalam gubuk itu segera tertawa dingin.
“Hemm, coba kau dengar suaraku? terkalah aku adalah lelaki atau seorang perempuan?”
Ucapan ini membuat Soen Put Shia seketika ini juga berdiri tertegun, pikirnya didalam hati, “Jika didengar dari nada jelas dia adalah seorang lelaki tulen, tapi apa sebabnya ia ajukan pertanyaan seperti ini?”
Kendati pengetahuan serta pengalaman Soen Put Shia amat luas, untuk sesaat ia dibikin bingung juga oleh pertanyaan itu. Akhirnya ia berpaling kearah Siauw Ling dan bertanya: “Saudaraku, menurut pandanganmu dia adalah seorang pria atau seorang wanita?”
“Rupanya seorang lelaki!”
“Lookiauw hoa (Aku pengemis tuapun) merasa begitu!” sahut Soen Put Shia dia lantas pertinggi suaranya dan menyambung: “Aaah, bukankah terang-terangan suara anda adalah suara seorang laki-laki?”
“Hmmm! dugaanmu sama sekali meleset!”
“Tapi…. jika didengar dari nada suaramu barusan, terang kau adalah seorang pria. Masa dugaanku meleset?” teriak sipengemis tua dengan alis berkerut.
Tangan kanan mengerahkan tenaga dan segera melepaskan pukulan satu pukulan dahsyat…. Bium! palang pintu terhantam patah menyebabkan pintu gubuk itupun segera terpentang lebar.
Melihat pukulannya berhasil pengemis tua itu segera bertindak maju kedepan, namun sebelum ia sempat melangkah masuk kedalam pintu segulung angin pukulan yang maha dahsyat menggulung keluar.
Angin pukulan yang menggulung datang itu bukan saja luar biasa hebatnya bahkan cepat laksana sambaran kilat. Sebelum Soen Put Shia sempat melihat jelas pemadangan dalam ruangan itu, pukulan sudah melanda tiba.
Dalam keadaan gugup dan terpopoh-popoh tidak sempat lagi pengemis tua itu untuk berpikir lebih jauh sebisanya diapun melancarkan sebuah pukulan untuk membendung datangnya ancaman.
Blumm…. dua angin pukulan yang maha dahsyat saling bertemu ditengah udara menimbulkan pusaran angin puyuh yang hebat. Soen Put Shia merasakan sekujur badannya bergetar keras. Tanpa bisa dikuasai lagi ia terdorong mundur kebelakang.
Braak! pintu besar gubuk itupun secara tiba-tiba menutup kembali.
Siauw Ling yang menyaksikan berlangsungnya peristiwa itu dari samping meski tidak sambut serangan lawan secara langsung, namun dengan mata kepala sendiri ia saksikan Soen Put Shia seorang tokoh maha sakti dari dunia persilatan terdorong mundur kebelakang, dalam hati ia lantas berpikir, “Entah jagoan dari mana yang punya kepandaian serta tenaga kweekang begitu dahsyat.”
Dalam hati berpikir begitu, diluaran ia lantas menegur, “Loocianpwee, berhasil melihat wajah musuh?”
“Tidak….!” suaranya berubah jadi lirih. “Saudaraku rupanya kita sudah berjumpa dengan musuh tangguh, lebih baik kita jangan turun tangan secara gegabah.”
“Apakah kita harus mengundurkan diri dengan begini saja?”
“Tentu saja tidak!” dengan suara lantang ia lanjutkan. “Aku sipengemis tua mempunyai satu persoalan mohon petunjuk saudara, apakah kau suka membantu?”
“Persoalan apa?” suara dingin ketus tadi kembali berkumandang keluar dari dalam gubuk.
“Tadi lookiauw hoa mendengar adanya suara irama musik yang sangat aneh, apakah irama musik tadi adalah hasil karyamu?”
“Bukan, orang yang memainkan irama musik itu sudah pergi meninggalkan tempat ini sejak tadi.”
“Kemanakah ia pergi?”
“Jagad begitu luas, siapa tahu ia pergi kemana?”
Perlahan-lahan Siauw Ling mengulurkan tangannya meraba pintu gubuk itu, sedang dalam hati pikirnya, “Dengan kekuatan angin pukulan dari Soen loocianpwee, ia berhasil menghancurkan pintu kayu ini. Kecuali orang yang ada didalam ruangan itu bisa melepaskan angin pukulan yang seimbang dengan kekuatanku rasanya pintu ini masih bisa dipertahankan. Tapi orang itu begitu hebat, ia bisa menyesuaikan diri dengan keadaan disekelilingnya aku tak boleh pandang enteng dirinya….”
Pada saat itu Soen Put Shia pun rupanya telah merasakan bahwa dia telah berjumpa dengan musuh paling tangguh selama hidupnya setelah kejadian tadi ia tidak melepaskan serangan lagi. Lama sekali pengemis tua termenung akhirnya ia berkata, “Tenaga pukulan saudara benar-benar hebat dan jarang sekali ditemui dalam kolong langit, meski begitu lookiauw hoa rasa kaupun tak usah unjukkan tindak tanduk yang aneh dan kukoay. Atau mungkin anggap aku sipengemis tua belum sesuai untuk berjumpa dengan tokoh lihay macam kau….”
Jelas maksud sipengemis tua ini adalah memanaskan hati orang dalam gubuk itu agar dia membuka pintu dan mempersilahkan mereka masuk. Siapa tahu bukan saja tiada gerak gerik apapun bahkan setelah ditunggu lamapun tidak kedengaran suara jawaban berkumandang keluar.
Soen Put Shia tak dapat menahan sabar lagi, dengan gusar teriaknya, “Hey….! saudara betul-betul terlalu menghina orang lain!”
Blam! sebuah pukulan dahsyat segera dilepaskan menghantam pintu kayu itu.
Diiringi suara gemuruh yang amat keras, pintu rumah gubuk kayu itu terhantam hancur oleh angin pukulan Soen Put Shia yang lihay dan berantakan diatas tanah.
Kejadian ini sungguh berbeda diluar dugaan kedua orang jago itu. Untuk sesaat mereka berdiri tertegun, tapi sebentar kemudian Siauw Ling sudah mendusin, dia segera loncat masuk kedalam ruangan gubuk itu.
Suasana dalam ruangan sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun. Bahkan tidak nampak sesosok bayangan manusiapun ada disitu jelas penghuninya telah melarikan diri.
Soen Put Shia segera pasang lampu untuk menerangi seluruh ruangan, tiba-tiba mereka saksikan adanya secarik kertas menggeletak diatas meja.
Dengan cepat Siauw Ling menyerbu kedepan mengambil kertas tadi dan dibacanya dibawah sorotan cahaya lampu.
Terbacalah surat itu berbunyi demikian, “Dipersembahkan kepada Siauw thayhiap.”
“Djen Bok Hong adalah gembong iblis yang kejam dan mempunyai ketajaman mata serta pendengaran yang luar biasa. Demi keselamatan ayah ibumu maka bagaimanapun juga terpaksa kami harus merahasiakan jejak kami.”
Membaca sampai disitu Siauw Ling tertegun dan berdiri termangu-mangu.
“Rupanya dia adalah jago lihay yang berdiri dipihak kita” gumamnya seorang diri.
“Benar” Soen Put Shia menyahut. “Djen Bok Hong memang manusia yang punya banyak akal licik, sebelum mengetahui duduknya perkara kita tak boleh percaya seratus persen.”
“Ucapan loocianpwee sedikitpun tidak salah.”
Maka diapun menernakan membaca isi surat itu.
“Ayah ibumu sudah tua, tidak mungkin bagi mereka berdua untuk melakukan perjalanan lagi, untuk menghindari segala kemungkinan yang tidak diinginkan maka kami harus mencari suatu tempat yang cocok dan sesuai bagi mereka untuk beristirahat, tapi situasi terus menerus mendesak. Jari tangan iblis Djen Bok Hong telah alihkan keatas tubuh dua orang tua yang tidak mengerti akan ilmu silat itu. Untuk menyelamatkan jiwa mereka terpaksa kami harus bertindak cepat. Djen Bok Hong mempunyai mata-mata yang luas dipelbagai tempat, posisimu berada ditempat terang sedang dia berada ditempat kegelapan. Dalam pertarungan ini jelas kau sudah menderita rugi terlebih dahulu. Dalam keadaan seperti ini tentu kau tidak punya kekuatan untuk melindungi kedua orang tuamu lagi bukan? untuk membantu meringankan bebanmu, serahkan saja tanggung jawab ayah ibumu kepada kami, kami jamin kesehatan serta keselamatan kedua orang tuamu tidak kekurangan sesuatu apapun juga.”
“Sehabis membaca surat ini bakarlah sampai hancur. Suatu saat bila kau ingin berjumpa dengan mereka. Aku pasti kirim orang untuk mencari dirimu. Sekianlah harap kau legakan hati.”
Dibawah surat itu tidak nampak ada nama orang atau tanda tangan sipenulis surat itu.
“Apakah kau hendak menyimpan surat itu?” tanya Soen Put Shia.
Siauw Ling berpikir sebentar kemudian geleng kepala.
“Aku lihat tak usah!” sahutnya.
Surat itu segera dibakar dan dalam sekejap mata telah hancur jadi abu.
“Kalau didengar dari nada surat itu, agaknya dia kenal sekali dengan dirimu” ujar sang pengemis kemudian.
“Tidak salah, tapi aku tidak bisa menduga siapakah orang itu meski sudah putar otak sekian lama.”
“Berbicara lagi situasi yang kita hadapi sekarang ini, agaknya tak mungkin lagi bagi kita untuk menemukan jejak ayah ibumu.”
“Aaaai…. ia tidak tinggalkan nama, tidak jelaskan pula kedudukan serta asal usulnya. Darimana cayhe berlega hati tidak memikirkan persoalan itu?”
“Saudara Siauw, lookiauw hoa terpaksa harus menasehati dirimu dengan beberapa patah kata. Dalam keadaan serta situasi seperti ini kendati kau gelisah dan cemas macam apapun rasanya percuma saja. Seandainya tujuan orang itu menawan kedua orang tuamu adalah hendak memaksa kita memenuhi sesuatu permintaannya. Isi hati mereka pasti telah dicantumkan dalam surat tersebut, atau paling sedikit mereka tentu akan menyinggungnya sepintas lalu. Tapi dalam suratnya barusan lookiauw hoa sama sekali tidak menemukan sepatah atau dua patah kata yang bernada kearah situ maka menurut pengalamanku, orang itu pasti tidak mengandung maksud jahat.”
Sementara itu obor yang dibawa Soen Put Shia telah padam, suasana dalam ruang gubuk itupun jadi gelap kembali.
Siauw Ling angkat kepalanya dan menghembuskan napas panjang.
“Aaaai…. hingga kini, akhirnya kita berhasil bikin terang satu persoalan!”
“Persoalan apa?”
“Orang yang mukul mundur Djen Bok Hong dengan irama musiknya serta orang yang menculik ayah ibu boanpwee kiranya adalah hasil perbuatan seseorang yang sama.”
“Haaa! sedikitpun tidak salah, enghiong memang kebanyakan kaum muda. Lookiauw hoa benar orang yang bodoh, kenapa aku tidak bisa berpikir sampai kesitu….”
…. Bersambung jilid ke 18
Jilid 18
“Sekalipun berhasil kita pikirkan, lalu apa gunanya?” ujar Siauw Ling sambil tertawa getir.
“Tentu saja penting sekali artinya, misalnya saja berbicara mengenai situasi yang kita hadapi malam itu, lukamu sangat parah dan tak sanggup bangun. Sedang aku sipengemis tua serta Boe Wie Tootiang terkurung disisi telaga oleh jago-jago lihay Djen Bok Hong yang begitu banyak, seandainya pada saat yang kritis tidak muncul irama musik yang aneh, kejadiannya pasti hebat.”
“Pertarungan sengit tak terhindar dan kemungkinan besar aku sipengemis tua serta Boe Wie Tootiang bakal mati konyol ditangan mereka. Bukan begitu saja bahkan Im Yang cu beserta sekalian partai Bu tong, Bo Boen Hwie dan teman-teman lainnya tak akan terhindar dari bencana-bencana. Jadi menurut pikiranku seandainya orang yang dipukul mundur Djen Bok Hong dengan irama musiknya adalah seseorang yang sama, jelas ia tidak bermaksud jahat terhadap diri kita semua!”
Ucapan ini sedikit banyak melegakan hati Siauw Ling ia menghela napas panjang.
“Loocianpwee apa yang harus kita perbuat saat ini?” akhirnya dia bertanya.
“Aku rasa Boe Wie Tootiang sekalian sudah tidak sabar menunggu kehadiran kita maka kupikir lebih baik kita kembali dulu kebawah pohon Pak. Setelah berkumpul dengan mereka semua kita baru menyusun rencana kembali!”
“Ehmm!aku rasa kita memang sudah seharusnya berbuat begini!”
Begitulah mereka berdua lantas keluar dari rumah gubuk dan kembali melalui jalan semula.
“Saudara Siauw!” Ditengah jalan Soen Put Shia memperingatkan: “Sesudah bertemu dengan Boe Wie Tootiang nanti, lebih baik kita tak usah ungkap lagi persoalan ini.”
“Kenapa?”
“Awan gelap telah menyelimuti jagad dunia persilatan sedang kau, saudara Siauw adalah rembulan ditengah awan hitam. Sejak pertempuran dalam perkampungan Pek Hoa San cung tempo dulu, bukan saja namamu meloncat tinggi bahkan kau telah dipandang sebagai simbol kekuatan untuk melawan gerombolan Djen Bok Hong, mungkin kau masih belum tahu bahwa secara lapat-lapat kau telah menjadi pemimpin orang Bulim. Justru karena itulah Djen Bok Hong berdaya upaya dengan segala kemampuannya untuk menangkap ayah ibumu maksudnya bukan lain paksa untuk tunduk pada perintahnya, agar kau tidak berani membangkang dan lawan dirinya, dalam hati kecilnya ia paham bahwa mulai itu hanya kaulah yang punya kemampuan serta keberanian untuk menyelenggarakan suatu kekuatan Bulim untuk menentang dirinya. Maka dari itu demi keselamatan ayah ibumu serta keberhasilan kita untuk menghancurkan kekuatan Djen Bok Hong berusahalah merahasiakan jejak orang yang tahu akan kejadian ini semakin menguntungkan dirimu sendiri.”
Siauw Ling segera mengangguk.
“Perkataan loocianpwee sedikitpun tak salah. Tapi apa yang harus kau jawab seandainya mereka bertanya nanti?”
“Jawablah sebagian saja dari kejadian yang sesungguhnya.”
Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki kedua orang itu telah berhasil mencapai puncak kesempurnaan. Sesaat kemudian mereka berdua dibawah pohon Pak.
Dalam pada itu Boe Wie Tootiang serta Tiong Cho Siang Ku sekalian beberapa orang sedang menanti dengan hati cemas, melihat kedua orang itu sudah kembali buru-buru mereka maju menyongsong.
“Hei. Apakah kalian sudah berhasil menjumpai peniup seruling itu?” terdengar Kiem Hoa Hujien yang belum sembuh dan bersandar disisi pohon berteriak keras.
“Hanya kami dengar suaranya saja, sedang macam orangnya tak berhasil kita temui.”
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Boe Wie Tootiang.
Soen Put Shia takut Siauw Ling terlanjur bicara selalu, maka ia segera tertawa terbahak-bahak dan menyambung, “Aku sipengemis tua serta saudara Siauw telah mengejar suara itu hingga tiba didepan sebuah rumah gubuk, kiranya suara seruling itu muncul dari dalam rumah gubuk tadi….”
“Apakah kalian tidak masuk dan memeriksa keadan didalam gubuk itu….” sela Kiem Hoa Hujien.
“Menggunakan kesempatan ketika ajak sipengemis tua berbicara, orang itu telah melarikan diri lewat jendela kebelakang, sehingga tatkala aku serta saudara Siauw berhasil masuk kedalam rumah gubuk itu, ternyata orang tadi sudah lenyap tak berbekas.”
“Kalau begitu dia tidak sudi bertemu muka dengan kalian?”
“Mungkin saja begitu!”
Sang Pat melirik sekejap kearah Siauw Ling lalu berkata, “Toako meskipun daya cium anjing kita tajam namun setelah adanya kejadian ini tidak mungkin berhasil kita kejar jejak dirinya lagi.”
“Aaaaa…. agaknya mereka sudah memperhitungkan segala sesuatunya dengan cermat meski kita kejarpun rasanya tak berguna, sekarang urusan sudah jadi begini, sekalipun gelisah juga percuma, lebih baik tak usah dikejar lagi.”
“Lalu bagaimana rencana Siauw thayhiap selanjutnya?” tanya Boe Wie Tootiang.
“Anak murid partai Bu tong serta Bo Boen Hwie sekalian sedang menanti kita ditepi telaga. Bagaimana kalau kita kembali dulu kesana?”
Tingkah laku Siauw Ling yang berubah seratus delapan puluh derajat ini mencengangkan hati Boe Wie Tootiang. Diam-diam pikirnya, “Sungguh aneh sekali sikap si anak muda ini apa sebabnya ia berubah pikiran secara mendadak? bukannya mencari jejak ayah ibunya malahan diajak kembali….”
Tetapi sebagai seorang yang cermat dan mengutamakan tata kesopanan sekalipun dalam hati menaruh curiga, kecurigaan itu tidak sampai diutarakan keluar.
Terdengar Tu Kioe berkata dengan suara dingin, “Siauwte sekalian tak berguna sehingga mengakibatkan kedua orang tua diculik orang, sekalipun harus mengejar sampai keujung langit kedasar samudra kami pasti harus temukan kembali mereka berdua!”
“Aaaai….! aku mengerti akan maksud hati Tu heng dalam hati siauwte merasa sangat berterima kasih tetapi situasi yang kita hadapi sekarang telah berubah, kita tak boleh tinggalkan begitu banyak sahabat-sahabat Bulim yang menderita luka.”
“Sedikitpun tidak salah” sambung Soen Put Shia. “Aku sipengemis tuapun berpikir demikian, seandainya kita lama sekali tinggalkan tempat itu dan misalnya Djen Bok Hong kirim jago-jagonya lagi untuk menyerang, sekalipun jago-jago Bu tong, namun aku tetap merasa bahwa sepasang tangan tidak nanti bisa menangkan empat buah tangan.”
Mendadak Kiem Hoa Hujien bangun berdiri.
“Kalau memang cuwi sekalian mau kembali ketempat semula, aku tak bisa menyertai kalian lagi….”
Sinar matanya beralih keatas wajah Siauw Ling dan menambah, “Saudara Siauw baik-baiklah menjaga diri, cici mau pergi dulu.”
“Cici” seru Siauw Ling dengan cemas, ia segera loncat kedepan menghalangi jalan pergi perempuan itu. “Lukamu belum sembuh, mana mungkin kau sanggup melakukan perjalanan seorang diri.”
“Lalu bagaimana pendapat saudara Siauw?” Kiem Hoa Hujien balik bertanya sambil tertawa terbahak-bahak.
“Lebih baik cici melanjutkan perjalanan lebih dulu bersama kami, dengan begitu siauwte bisa bertanggung jawab melindungi keselamatan cici.”
“Apakah kau hendak nasehatiku untuk melepaskan jalan gelap kembali kejalan terang dan lepaskan diri dari pengaruh perkampungan Pek Hoa San cung….??”
“Siauwte tidak berani memaksa cici untuk berubah pendapat aku cuma berharap agar cici mau merawat lukamu lebih dahulu hingga sembuh baru kemudian meneruskan kembali perjalananmu seorang diri.”
Mendadak Kiem Hoa Hujien tarik kembali senyumannya, lalu berkata lirih, “Seandainya saat ini aku ikut kalian kembali ketepi telaga, maka dengan cepat Djen Bok Hong akan mengetahui kabar berita ini.”
“Apakah cici sangat jeri terhadap diri Djen Bok Hong?????”
“Asal ia hentikan pemberian obat penawar kebadanku maka racun yang mengeram dalam tubuhku segera bekerja dan akhirnya mati. Coba katakan menakutkan tidak kejadian ini??”
“Dalam hati siauwte mempunyai satu persoalan yang tidak dipahami, apakah cici suka menjelaskan??”
“Coba katakan persoalan apa yang tidak kau pahami, asal cici tahu pasti akan kukatakan kepadamu.”
“Siauwte pernah berdiam agak lama didalam perkampungan Pek Hoa San cung, apa sebabnya Djen Bok Hong tidak melepaskan racun kedalam tubuhku?”
“Peristiwa ini boleh dibilang rejekimu yang bagus, mungkin saja ia tidak sempat melakukan perbuatan tersebut atau mungkin tidak berpikir sampai disitu. Karena menurut pikirannya kau seorang bocah yang baru turun gunung mana berani menentang dirinya.”
Siauw Ling membungkam lama sekali ia termenung kemudian baru berkata, “Aku mau mempertahankan selembar jiwaku, maka mau tak mau harus pergi….”
“Tapi luka yang kau derita amat parah, ditambah pula tiada orang yang melindungi dirimu dalam perjalanan, bukankah hal ini sangat berbahaya bagi dirimu?”
Mendengar perkataan itu Kiem Hoa Hujien tertawa.
“Saudara Siauw legakanlah hatimu, dengan andalkan makhluk berbisa yang cici miliki aku masih mampu menjaga diri.”
Habis berkata ia lantas ulapkan tangannya dan berlalu dari situ dengan langkah perlahan.
Berhubung luka dan kesehatannya belum sembuh seperti sedia kala, maka langkah perempuan itu masih gontai dan sempoyongan kesana kemari, seolah-olah setiap saat ia bisa roboh ketanah.
Makin dilihat Siauw Ling merasa makin tidak tega, buru-buru ia mengejar kedepan dan menghadang jalan pergi Kiem Hoa Hujien, serunya sambil menjura, “Cici! sudah berulang kali kau menolong jiwaku namun siauwte belum pernah membalas budi kebaikanmu. Sekarang luka yang kau derita masih amat parah. Sama sekali tiada tenaga untuk melindungi diri sendiri. Aku Siauw Ling mengerti bahwa aku tak mampu, namun bagaimanapun juga aku tak rela membiarkan kau pergi seorang diri.”
Sekilas cahaya memancar keluar dari balik mata perempuan Biauw itu. Ia tatap wajah Siauw Ling kemudian tertawa.
“Sudahlah…. tak usah kau tunjukkan sikap seorang gadis. Cici sudah terbiasa menderita, tidak tega kutelan ucapanmu yang mempesonakan hati itu….”
Tak menunggu jawaban dari Siauw Ling lagi, buru-buru ia putar badan dan berlalu.
Mimpipun Siauw Ling tak pernah menyangka kalau Kiem Hoa Hujien bisa mengucapkan kata-kata seperti itu. Ia termangu-mangu ditempat semula dan untuk beberapa saat tak tahu harus berbuat apa.
Tampak Kiem Hoa Hujien dengan langkah gontai berlalu dari situ.
Lama sekali Siauw Ling berdiri mematung ditempatnya, menanti bayangan punggung perempuan itu sudah lenyap dari pandangan ia baru berpaling dan mendekati Boe Wie Tootiang.
“Aku tidak menyangka kalau hatinya begitu keras!” ujarnya.
“Kiem Hoa Hujien punya akal yang cerdik dan pintar, aku rasa ia dapat melindungi keselamatan sendiri tanpa perlu kita kuatirkan lagi.”
“Setelah menerima budi orang lain yang begitu besar tanpa bisa membalasnya, hal ini membuat hatiku sedih dan tidak tentram.”
“Waktu dikemudian hari masih panjang, kau tak usah gelisah begitu….” sela Soen Put Shia. “Tatkala Kiem Hoa Hujien hendak berlalu tadi, meski ucapannya ketua dan tegas namun wajahnya tak dapat menyembunyikan kesedihan hatinya!”
“Dari mana Tootiang bisa tahu?”
“Kalau hatinya tidak sedih, tidak nanti ia menangis.”
“Tapi…. aku berdiri sangat dekat dengan dirinya, mengapa tidak kutemui air mata yang jatuh berlinang dari kelopak matanya?”
“Siauw thayhiap tidak memperhatikan dengan cermat maka tidak kau lihat hal itu tatkala ia putar badan tadi pinto dengan tegas dapat melihat bahwa ia sedang menyeka air mata.”
Siauw Ling termenung beberapa saat kemudian baru menjawab.
“Aah, mungkin saja ucapan tootiang benar, sebab kau melihat lebih jelas dari pada diri cayhe.”
Perjalanan dilakukan sangat cepat, dalam sekejap mata mereka sudah tiba ditepi telaga.
Setibanya dibawah tebing Boe Wie Tootiang segera menunjukkan sikap yang aneh, tampak ia berpaling sekejap kearah Siauw Ling dengan sinar mata sedih lalu berkata, “Rupanya kedatangan kita kembali terlambat selangkah.”
“Apakah sudah terjadi peristiwa yang ada diluar dugaan.”
“Tidak salah, apabila mereka tidak membuyarkan diri maka disini tentu terjadi peristiwa yang mengejutkan.”
“Ehmm, perkataan ini sedikitpun tidak salah” pikir Siauw Ling. “Seandainya ditempat ini masih terdapat anak murid Bu tong pay kenapa tidak nampak seorang manusiapun yang akan datang menyambut ciangbunjiennya? atau paling sedikit ditempat ini harus ada orang yang menjaga….”
Dalam pada itu Soen Put Shia, Tiong Cho Siang ku, Suma Kan, Ong Hong serta Thio Kie An pun secara lapat-lapat dapat merasakan suatu perasaan yang sangat aneh.
Boe Wie Tootiang segera percepat langkahnya menerjang masuk kedalam sebuah rumah gubuk.
Dengan kencang Siauw Ling mengikuti dari belakang, hawa murninya yang disiapkan seluruh badan guna menghadapi segala sesuatu yang tidak diinginkan.
Sesuah mengalami pelbagai pertempuran sengit makin lama pengalamannya semakin bertambah. Walaupun diluar ia tidak mengucapkan sepatah katapun dalam hati ia mengerti bahwa jago-jago yang dibawa datang Boe Wie Tootiang kali ini sebagian besar merupakan jago-jago lihay dari partainya, segenap kekuatan ini partai Bu tong telah dikumpulkan disitu, maka seandainya mereka mengalami kejadian yang diluar dugaan, kemungkinan besar hal ini akan menggoncangkan kekuatan partai ditengah dunia persilatan.
Sementara ia masih berpikir sampailah kedua orang itu didalam ruangan gubuk.
Mendadak Boe Wie Tootiang berhenti berpaling sekejap kearah Siauw Ling. Kemudian mengulur tangan kirinya menekan pintu.
Meski toosu itu berusaha mempertahankan ketenangan hatinya, namun Siauw Ling tentukan bahwa tangan kirinya gemetar keras, seolah-olah pintu kayu itu secara tiba-tiba telah berubah menjadi amat berat sekali sehingga Boe Wie Tootiang harus mengeluarkan segenap kekuatan tubuhnya untuk mendorong pintu tadi.
Dalam hati Siauw Ling menghela napas panjang, mendadak ia maju selangkah kedepan dan berjaga disisi Boe Wie Tootiang.
Ia mengerti perasaan hati Boe Wie Tootiang pada saat ini sangat berat. Reaksinya tidak akan secepat pada waktu-waktu biasa, kemungkinan besar dalam gubuk itu menggeletak mayat-mayat dari anggota partai Bu tong kemungkinan juga bersembunyi musuh yang amat tangguh, maka ia berjaga disisi Boe Wie Tootiang sambil mempersiapkan diri untuk menolong jiwa toosu tua itu disetiap saat.
Terdengar pintu kayu terbuka lebar, dibawah sorot cahaya matahari semua pemandangan dalam ruangan dapat dilihat jelas.
Apa yang mereka jumpai saat ini ternyata jauh ada diluar dugaan semua orang. Dalam ruangan itu tidak nampak ada mayat yang bergelimpangan, juga tidak nampak ada musuh tangguh yang bersembunyi disana.
Dalam ruangan gubuk yang sempit tampaklah Im Yang cu sedang duduk bersemedhi. Dikedua belah sisinya duduk enam orang anggota partai Bu tong yang sama-sama menggembol pedang.
Rupanya ketujuh orang itu telah menderita luka dalam yang amat parah. Dan saat itu mereka sedang bersemedhi sambil mengobati lukanya.
Sementara itu Siauw Ling telah siapkan segenap kekuatannya diatas telapak, sesudah menyaksikan keadaan dalam ruangan itu ia lantas menghembuskan napas lepas lega dan buyarkan tenaga murninya.
“Sute, baik-baik keadaanmu?” Boe Wie Tootiang segera menegur sambil melangkah kedepan.
Im Yang cu membuka sedikit matanya untuk memandang sekejap kearah Boe Wie Tootiang serta Siauw Ling, setelah itu pejamkan kembali matanya dan bungkam dalam seribu bahasa.
Kembali Boe Wie Tootiang menghela napas panjang.
“Sute parahkah luka dalam yang kau derita?” sambil bertanya ia maju lebih kedepan.
Selagi lagi Im Yang cu buka matanya memandang sekejap kearah suhengnya, setelah itu mengangguk.
“Sute, dimanakah letak lukamu? coba perhatikan kepadaku!”
Im Yang cu tetap duduk tenang ditempatnya semula menanti Boe Wie Tootiang sudah tiba disisinya mendadak ia loncat bangun. Jari tangannya bagaikan sebatang tombak langsung menotok jalan darah Thay pao hiat diatas iganya.
Sementara itu Boe Wie Tootiang berada dalam keadaan sedih, mimpipun ia tak pernah menyangka kalau Im Yang cu secara tiba-tiba melancarkan serangan kearahnya, sedang berdiri tertegun ujung jari Im Yang cu telah menempel diatas jubahnya.
Menghadapi kejadian diluar dugaan ini, terpopoh-popoh ia tarik napas dalam-dalam dan mengegos kesamping.
Namun serangan Im Yang cu amat cepat dan aneh, perubahan jurus dilakukan seperti sambaran kilat. Menjumpai Boe Wie Tootiang mengegos kesamping, pergelangan kanannya ditekan kebawah kemudian mengancam jalan darah Keng bun hiat ditubuhnya.
Boe Wie Tootiang memang memiliki ilmu silat yang sangat lihay, tapi dalam keadaan sedih dan tidak bersiap sedia, ia tak mampu untuk menghindarkan diri lebih jauh. Baru saja badannya berusaha miring kesamping, totokan tadi dengan telak telah mampir diatas jalan darahnya. Seketika itu juga separuh badannya jadi kaku.
Tapi bagaimanapun juga dia adalah ciangbunjien suatu partai besar. Kesempurnaan ilmu silatnya bukan kosong belaka. Begitu tertotok ia mendengus dingin, telapaknya dibalik membabat kebawah menghajar uratnya dipergelangan kanan Im Yang cu.
Dikala Im Yang cu melancarkan serangan bokongan tadi, enam orang toojien yang duduk disamping Im Yang cu serentak loncat bangun dan menerjang kearah Siauw Ling. Rupanya enam orang itu telah saling menentukan jalan darah yang hendak mereka ancam. Enam orang dua belas telapak. Pada saat yang berbareng sama-sama menghantam dua belas buah jalan darah penting ditubuh si anak muda itu.
Siauw Ling yang baru saja membuyarkan tenaga sinkangnya jadi terkejut menyaksikan ancaman. Melihat bayangan telapak melanda datang dari delapan penjuru, buru-buru ia kebas sepasang telapaknya kesamping untuk melindungi jalan darahnya, kemudian badannya melesat kesamping kalangan.
Bluuk! blukk! sekalipun ia berhasil berkelit kesamping, tak urung bahu kiri dan punggungnya terhajar dengan keras.
Masih untung tenaga khiekang yang dilatih Siauw Ling telah menunjukkan hasil, walaupun terhantam ia tidak sampai menderita luka parah.
Sementara itu keenam orang toojien tadi sama-sama terkesiap tatkala menjumpai Siauw Ling sama sekali tidak roboh walaupun sudah kena terhantam telak bahkan kedua orang toojien yang berhasil mendaratkan kepalannya ditubuh si anak muda tadi merasakan tangannya jadi linu dan kaku.
“Cabut pedang gunakan barisan Lak Hoo Kiam Tin untuk mengurung dirinya….”
Cahaya pedang seketika berkelebat memenuhi seluruh ruang. Segulung bayangan pedang langsung mengancam Siauw Ling.
Si anak muda itu sendiri walaupun tidak sampai menderita luka parah akibat serangan tadi, namun untuk beberapa saat darah segar dalam dadanya bergolak keras. Ia tak sanggup mengerahkan tenaga murninya untuk melancarkan serangan balasan.
Menanti enam orang toojien itu mencabut pedangnya dan mengurung dirinya diempat penjuru. Siauw Ling baru menghembuskan napas panjang, diiringi bentakan keras secara beruntun ia kirim empat buah serangan berantai yang membendung datangnya ancaman dari empat penjuru, setelah itu pedangnya diloloskan, dengan jurus Im Khie Mie Ghong atau hawa udara memenuhi angkasa menciptakan selapis hawa pedang yang melindungi tubuhnya.
Terdengar suara dentingan yang amat nyaring, enam bilah pedang yang mengancam tubuh pemuda she Siauw itu semuanya tersampok kesamping.
Rupanya keenam orang toojien itu menyadari bahwasanya mereka telah berjumpa dengan musuh tangguh yang belum pernah ditemui sebelumnya, setelah pedangnya dipukul mental oleh hawa pedang Siauw Ling, tak seorangpun diantara mereka yang berani maju sendirian kedepan, enam pedang bersatu padu memainkan suatu rangkaian ilmu pedang yang mengutamakan kerja sama, seketika itu juga Siauw Ling terkurung didalam barisan Lak Hoo Kiam Tin tersebut.
Hawa gusar yang berkobar dalam dada Siauw Ling dari sarung ia segera melancarkan serangan kilat dengan harapan bisa melukai beberapa orang lebih dulu untuk memadamkan kegusaran hatinya.
Siapa sangka barisan pedang Lak Hoo Kiam Tin merupakan suatu kerja sama yang amat sempurna, seluruh tusukan kilat dari Siauw Ling bukan saja gagal mengenai sasarannya bahkan terpatahkan semua ditengah jalan.
Secara beruntun si anak muda itu melancarkan kembali berpuluh-puluh buah tusukan maut, namun setiap kali serangannya gagal total. Sekarang ia baru sadar bahwa dirinya sudah terkurung didalam suatu barisan pedang yang mempunyai perubahan aneh, dia tak berani bertindak gegabah lagi permainan pedangnya berubah dan dari posisi menyerang kini ia berubah jadi posisi bertahan.
Tatkala masih belajar ilmu silat dilembah tiga Nabi tempo dulu. Dari suhunya Cung San Pek. Pemuda ini pernah mendengar uraian mengenai keampuhan dari suatu barisan pedang. Dalam barisan yang ampuh tenaga serangan mereka bukanlah terdiri dari satu tambah satu jadi dua. Tetapi pada setiap sudut terhimpunlah tenaga serangan dari segenap anggota yang berdiri pada posisi barusan itu, satu dengan yang lain bersatu padu menjadi satu tubuh. Maka tenaga merekapun ampuh dan luar biasa.
Barisan Lak Hoo Kiam Tin dari keenam orang toojien itu memang ampuh dan berhasil mengurung Siauw Ling ditengah kalangan, namun setelah si anak muda itu mengubah posisinya dari menyerang jadi bertahan dan bertahan dengan memakai ilmu pedang sakti ajaran Cung San Pek. Maka sekalipun pengaruh dari barisan itu sangat mengejutkan hatipun tak sanggup melukai tubuhnya.
Dipihak sial Siauw Ling bisa bertahan untuk sementara waktu dipihak lain Boe Wie Tootiang telah terjerumus dalam posisi yang sangat berbahaya, dibawah desakan Im Yang cu yang menyerang kian lama kian bertambah cepat ia mulai kacau dan gugup tidak karuan.
Kiranya setelah jalan darahnya tertotok, seluruh badannya kini jadi kaku dan tak mau turut perintah, dengan sendirinya dalam melancarkan seranganpun mendapat gangguan yang amat besar. Setelah diteter terus oleh Im Yang cu ia jadi gelagapan dan setiap kali harus meloloskan diri dari lubang jarum.
Siauw Ling dapat melihat jelas keadaan Boe Wie Tootiang yang berbahaya, namun dia yang terkurung didalam barisan Lak Hoo Kiam Tin sama sekali tak berkutik lama kelamaan hatinya jadi gelisah, pikirnya, “Soen Put Shia sekalian merupakan jago-jago kangouw yang mempunyai pengalaman luas. Kenapa sampai sekarang belum juga munculkan diri….”
Mendadak…. terdengar suara bentrokan keras bagaikan guntur membelah bumi, diikuti tubuh Boe Wie Tootiang mundur dengan sempoyongan dan akhirnya roboh keatas tanah.
Laksana kilat Im Yang cu putar jari tangan kanannya menotok jalan darah diatas tubuh toosu tua itu.
Siauw Ling semakin gelisah, kembali pikirnya, “Sampai sekarang Soen Put Shia sekalian belum juga munculkan diri, jangan-jangan merekapun sudah dihadang musuh tangguh. Aaaai…. rupanya aku tak boleh terlalu mengharapkan bantuan dari mereka lagi….”
Pikirannya berputar dan permainan pedangnya segera berubah, dengan pedang ditangan kanan dan serangan telapak ditangan kiri sekuat tenaga ia desak musuhnya habis-habisan.
Pada saat yang bersamaan ia gunakan kepandaian silat yang maha sakti ajaran Cung San Pek serta Lam It Kong. Angin pukulan segera menderu-deru bagaikan bendungan yang ambrol, seluruh barisan Lak Hoo Kiam Tin didesaknya hingga kacau balau tidak karuan.
Kendati daya pengaruh dari barisan Lak Hoo Kiam Tin berhasil ditekan oleh Siauw Ling sehingga tak berkutik, namun untuk beberapa saat lamanya si anak muda itupun sulit untuk melepaskan diri dari kepungan.
Dalam pada itu Im Yang cu menotok jalan darah dari Boe Wie Tootiang, dari sakunya dia ambil keluar seutas tali serat yang kuat dan membelenggu seluruh tubuh toosu tua itu erat-erat.
Hawa gusar yang berkobar dalam dada Siauw Ling seketika memuncak setelah menyaksikan Boe Wie Tootiang dibelenggu orang tanpa bisa ia tolong. Pedang ditangan kanannya secara beruntun melancarkan tiga tusukan berantai sehingga menciptakan selapis bunga-bunga pedang kuat, sedang tangan kirinya laksana kilat mengenakan sarung tangan berkulit ular.
Sesudah meninjau keadaan situasi disitu, pemuda ini sadar bilamana ia tidak digunakan otak serta akal yang lihay, sekalipun ilmu silatnya sangat lihay jjuga sulit untuk lolos dari kepungan barisan dari Lak hoo Kiam Tin ini, kendati ia masih mampu untuk berbuat demikian namun paling sedikit harus membutuhkan waktu yang panjang untuk melancarkan pertarungan sengit. Oleh sebab itu dia lantas mendapat ilham untuk menggunakan tindakan yang ada diluar dugaan orang untuk menghancurkan pertahanan musuh dalam satu kali serangan dahsyat.
Pada saat itu walaupun Siauw Ling belum memahami seluruh perubahan dari barisan Lak Hoo Kiam Tin ini namun secara lapat-lapat ia sudah dapat meraba jalannya barisan tadi, maka permainan pedang sedikit merandek dan sengaja memperlihatkan titik kelemahan.
Enam orang toojien dalam barisan Lak Hoo Kiam Tin yang didesak habis-habisan oleh serangan balasan Siauw Ling yang gencar bagaikan titiran angin puyuh itu diam-diam merasa terkejut dan ngeri, sekalipun begitu mereka sadar bahwa selama barisan pedang tidak buyar maka untuk sementara pihak musuh masih sanggup dibendung. Sebaliknya kalau barisan mereka jadi kacau dan mereka berenam harus bertempur sendiri-sendiri, tidak sampai sepuluh gebrakan mereka pasti keok. Oleh sebab itulah dengan sepenuh tenaga mereka mempertahankan terus keutuhan barisan pedang itu.
Secara tiba-tiba mereka temukan titik kelemahan diantara serangan pihak lawan yang gencar. Tanpa berpikir panjang lagi dua bilah pedang segera menerobos masuk melalui celah kosong tadi.
Dalam keadaan seperti ini bila Siauw Ling putar pedangnya untuk menangkis, walaupun kedua bilah pedang itu akan tertangkis olehnya, tetapi pada saat itulah empat bilah pedang lainnya akan menyerang masuk dari empat penjuru dan mencabut jiwanya.
siapa sangka Siauw Ling sama sekali tidak menangkis datangnya ancaman, sebaliknya dengan tangan kiri ia mencengkeram senjata musuh.
Orang yang mencekal pedang itu tertawa dingin. Gerakan pedangnya sengaja diperlambat agar kelima jari Siauw Ling berhasil mencekal senjatanya. Dalam hati ia berpikir, “Hmm! sekalipun kau pernah melatih ilmu kebal Kim ciong cau ataupun Thiat poh san, tidak nanti dapat kau tahan babatan ujung senjataku dari samping…. sombong dan tekebur benar manusia tolol ini!”
Sementara otaknya masih berpikir, pedangnya telah dicengkeram si anak muda itu. Hawa murninya segera disalurkan melalui pedang dan mendorong senjata tadi keluar.
Gerakan tersebut merupakan suatu gerakan yang lihay sekali, bagaimanapun juga tubuh manusia terdiri dari darah dan daging, walau ilmu kebal macam apapun yang berhasil ia latih kesemuanya berhasil karena mengandalkan kekuatan tenaga khiekang yang kuat.
Toojien itu membiarkan pedangnya dicengkeram Siauw Ling kemudian baru melakukan gerakan berputar, inilah cara yang jitu untuk memecahkan pertahanan hawa khiekang rupanya ia ada maksud membabat kutung jari tangan si anak muda itu.
Tapi sayang seribu kali sayang, mimpipun ia tak akan mengira kalau Siauw Ling telah mengenakan sarung tangan kulit ular yang tidak mempan bacokan senjata apapun.
Babatan toojien itu bukan saja gagal mengutungkan jari tangan si anak muda itu, dengan menggunakan kesempatan yang baik inilah satu pukulan jitu dilepaskan Siauw Ling membuat tubuh toosu tadi terhuyung mundur kebelakang.
Dengan bergesernya toojien tadi dari tempat kedudukannya, perubahan daripada seluruh barisan Lak Hoo Kiam Tin pun mengalami kemacetan.
Siauw Ling segera mengirim satu tendangan kilat menghajar lutut kiri toojien tadi.
Terdengar toojien tersebut mendengus berat. Seketika itu juga lutut kirinya terhajar patah dan roboh keatas tanah.
Dengan hilangnya satu orang, seluruh perubahan barisan Lak Hoo Kiam Tin tersumbat, daya pengaruhnyapun seketika lenyap tak berbekas.
Menggunakan kesempatan yang sangat baik inilah Siauw Ling melancarkan serangan balasan, pedangnya berkelabat kesana kemari menggunakan jurus-jurus yang aneh. Diantara berkelabatnya cahaya pedang terdengar dua orang menjerit ngeri, mereka berdua sama-sama terluka parah diujung pedang si anak muda itu.
Dalam pada itu Im Yang cu telah selesai membelenggu Boe Wie Tootiang, tatkala menyaksikan Siauw Ling berhasil bikin kocar kacir barisan Lak Hoo Kiam Tinnya sambil cabut senjata ia segera menerjang kedepan.
“kalian mundur semua!” teriaknya.
Setelah tiga orang terluka maka saat ini tinggal tiga orang saja yang masih mempertahankan diri. Walaupun begitu mereka telah terdesak hebat oleh serangan pedang Siauw Ling yang gencar dan dahsyat. Memang kalau hanya berkisar pada sedetik kemudian.
Oleh sebab itu mendengar bentakan tadi buru-buru mereka tarik kembali senjatanya dan mengundurkan diri.
Dari bentakan tadi Siauw Ling bisa menangkap bahwa suara itu tidak mirip dengan suara dari Im Yang cu, pedangnya segera disilangkan didepan dada dan bentaknya dingin, “Siapa kau? menyaru sebagai orang Bu tong pay untuk berbuat gila, macam begitukah tindakan seorang enghiong?”
Im Yang cu tertawa, mendadak tangannya mengusap keatas wajahnya dan muncullah seraut wajah panjang yang kurus kering.
“Kaukah yang bernama Siauw Ling?” tegurnya.
“Sedikitpun tidak salah, siapa kau?”
Orang itu tertawa hambar.
“Pernahkah kau mendengar akan nama besar dari Lam Hay Ngo Seng lima rasul dari lautan Lam Hay?”
“Lima rasul dari Lam Hay? agaknya cayhe tak pernah mendengar nama ini. Tapi aku sih pernah mendengar orang membicarakan soal lima manusia laknat dari Lam Hay.”
“Hm! Lima rasul juga boleh, lima laknat juga tak mengapa, pokoknya itulah kami lima orang bersaudara!”
“Apakah kau serta beberapa orang itu?” jengek Siauw Ling sambil menyapu sekejap tiga orang toojien yang menggeletak diatas tanah.
Orang itu tertawa hambar.
“Seandainya lima manusia laknat dari Lam Hay bisa dilukai orang dengan begitu gampang apa gunanya kami memiliki gelar lima manusia laknat?”
“Lalu siapakah keenam orang yang menyaru sebagai anak murid Bu tong pay itu?”
“Jago pedang dari perkampungan Pek Hoa San cung!”
“Oooh…. sungguh tak kusangka lima manusia laknat dari Lam Hay yang mempunyai nama besar dalam dunia kangouw ternyata sudah menjadi kaki tangan dari pihak perkampungan Pek Hoa San cung” jengek Siauw Ling sambil tertawa dingin.
Orang itu tidak menunjukkan reaksi apapun hanya dengan hambar sahutnya:
“Aku rasa lebih baik kau tak usah mencampuri urusan pribadi kami.”
“Kelihatan orang ini licik dan berpikiran panjang, entah dalam urusan yang keberapa dari Lam Hay Ngo Hiong?” pikir pemuda itu, segera tegurnya, “Apakah kau adalah pemimpin dari manusia laknat?”
“Diantara lima saudara aku menduduki urutan yang paling buncit, cayhe bukan lain adalah Leng Chiu Siauw su sipelajar bertangan dingin Thian Tiong Goan!”
Rupanya Siauw Ling sengaja mengajak orang itu bercakap-cakap dengan harapan bisa peroleh sedikit waktu guna memeriksa keadaan situasi ditempat luar.
Siapa sangka Soen Put Shia serta sepasang pedagang dari Tiong chin sekalian belum juga ada kabar beritanya. Mereka lenyap bagaikan batu yang tenggelam ditengah samudra, bukan saja tidak nampak mereka muncul disitu suara merekapun tak kedengaran.
Agaknya sipelajar bertangan dingin Thian Tiong Goanpun sedang menantikan sesuatu, sambil menatap wajah Siauw Ling ia bersiap siaga.
“Aku rasa lima manusia laknat dari Lam Hay tentu hadir semua disini, bukan begitu?” mendadak Siauw Ling menegur lagi sambil putar pedangnya.
“Tentang soal itu sih, maaf kalau cayhe tak suka memberi jawaban.”
“Kalian datang kemari dengan menyaru sebagai anggota partai Bu tong, apakah perbuatan kalian adalah karena sedang menjalankan perintah dari Djen Bok Hong?”
“Tentang soal ini lebih baik saudarapun tak usah banyak tanya.”
“Kalian lima manusia laknat mau jual tenaga bagi Djen Bok Hong. Apakah kalian bekerja tanpa peroleh imbalan?”
“Itu sih tidak” Thian Tiong Goan tertawa hambar. “Selamanya lima manusia laknat dari Lam Hay tidak pernah melakukan jual beli yang merugikan, tentu saja kami tak sudi jual tenaga tanpa peroleh imbalan apapun….”
“Berapa sih imbalan yang diberikan Djen Bok Hong kepada kalian berlima, sehingga lima manusia laknat dari Lam Hay sudi jual nyawa bagi dirinya?”
Kembali sipelajar bertangan dingin Thian Tiong Goan tertawa hambar.
“Hey orang she Siauw, apakah kau tidak merasa pertanyaan yang kau ajukan sudah terlalu banyak?”
“Djen Bok Hong sanggup mengundang kalian Lam Hay Ngo Hiong untuk jual nyawa baginya, kenapa cayhe tak sanggup untuk mengundang pula dirimu….”
“Kau bicara tanpa memandang martabat orang lain. Cayhe ingin mohon petunjukmu lebih dahulu!” teriak Thian Tiong Goan tiba-tiba pedangnya segera berkelebat menusuk kearah dada lawan.
Siauw Ling putar senjatanya menangkis, sementara dalam hati pikirnya, “Djen Bok Hong mengutus lima manusia laknat dari Lam Hay untuk siapkan jebakan disini. Hal ini menunjukkan pula bahwa sejumlah jagoan lihay telah dipersiapkan pada barisan berikutnya. Satu jalan yang dapat kutempuh sekarang adalah menangkap orang ini lalu mencari keterangan dari mulutnya….”
Tetapi justru karena pikiran ini, maka banyak jurus serangan yang ampuh dan lihay dari Siauw Ling sulit digunakan. Ia takut serangannya terlalu dahsyat sehingga membinasakan orang ini.
Ilmu pedang Thian Tiong Goan lihay juga, serangannya kian lama kian bertambah dahsyat hingga membuat sekeliling tempat itu penuh dengan cahaya pedangnya.
Siauw Ling tercekam dalam rasa was-was, banyak jurusnya sukar dikeluarkan. Dari menyerang ia malah terdesak keposisi bertahan.
Empat lima puluh jurus dengan cepatnya telah berlalu, namun kedua belah pihak masih bertahan dalam keadaan seimbang. Siapapun tidak berhasil merebut kemenangan.
Makin lama Siauw Ling semakin gelisah pikirnya, “Kalau harus begitu terus menerus, mana mungkin aku bisa dapat kesempatan untuk menangkan dia? aaai…. terpaksa aku harus turun tangan keji!”
Dengan berubahnya jalan pikiran si anak muda itu maka tanpa sadar sama halnya dengan ia menolong dirinya lepas dari belenggu permainan pedangnya segera berubah dan mulai mengirim serangan-serangan balasan yang dahsyat dan mengancam tempat-tempat penting sekujur tubuh pelajar bertangan dingin itu.
Dengan adanya perubahan ini maka situasi dalam kalanganpun berubah jadi sebaliknya, dari bertahan sekarang dia lebih banyak menyerang.
Sudah lama Thian Tiong Goan kenal akan nama besar dari Siauw Ling. Maka sejak bertempur pertama kali tadi ia selalu bertindak hati-hati, setiap serangan dilancarkan dengan cermat dan seksama, namun setelah lebih dua puluh gebrakan dia mulai merasa heran dari jurus-jurus serangan si anak muda itu dirasakan adanya suatu keganjilan besar, dia merasa dalam serangannya pemuda itu sukar untuk mengerahkan kemampuannya hingga mencapai pada gerakannya ia selalu terganggu oleh sesuatu.
Namun lama kelamaan dia menjadi terbiasa dengan keadaan itu, dan serangan yang dilancarkan dari ujung pedangnyapun kian bertambah dahsyat.
Siauw Ling sendiri walaupun tak bisa kerahkan kekuatannya namun karena ilmu pedangnya memang ampuh dan sakti. Maka setiap kali Thian Tiong Goan menambahi tenaga serangannya dengan satu barisan maka daya pertahanan yang dipancarkan pemuda itupun semakin kuat, maka untuk sementara keadaan seimbang masih bisa dipertahankan terus.
Menanti Siauw Ling menyerang tanpa menguatirkan keselamatan musuhnya, Thian Tiong Goan baru sadar bahwasanya dia telah berjumpa dengan musuh tangguh, buru-buru pedangnya ditarik siap mengundurkan diri siapa sangka permainan pedang Siauw Ling makin dahsyat. Seketika ia terkurung ditengah lapisan bayangan pedangnya.
Puluhan gebrakan kembali lewat dengan cepatnya. Thian Tiong Goan mulai tidak tahan dan terdesak hebat.
Mendadak si anak muda itu melancarkan sebuah serangan aneh. Pedangnya dengan telak menghantam diatas pergelangan kanan lawan hingga membuat senjata pelajar bertangan dingin itu terlepas dari tangan.
“Mengaku kalah tidak?” teriaknya sambil tertawa dingin.
“Nama besar Siauw thayhiap benar-benar bukan nama kosong belaka cayhe mengucap banyak terima kasih!”
Tiba-tiba sesosok bayang manusia berkelebat lewat, seorang toojien sambil membawa pedang lari kedalam.
Siauw Ling melirik sekejap kearah orang itu, diikuti pedangnya menyapu kedepan.
Saat dilancarkan serangan ini benar-benar amat tepat, baru saja toojien itu mencekal pedangnya untuk diangsurkan kearah Thian Tiong Goan, babatan pedang si anak muda itu telah menyapunya.
Sreeet….! percikan darah muncrat keempat penjuru, separuh lengan kanan sitoojien itu beserta pedangnya segera rontok keatas tanah.
Thian Tiong Goan tertawa dingin, mendadak ia lancarkan sebuah serangan menghantam dada si anak muda itu.
Dengan tangan kirinya Siauw Ling sambut datangnya serangan itu dengan keras lawan keras, dalam sebuah bentrokan dahsyat Thian Tiong Goan tergetar keras sampai mundur satu langkah kebelakang.
Sebenarnya menggunakan kesempatan itu sipelajar bertangan dingin bisa melarikan diri dari gubuk tersebut, namun ia tidak bebuat demikian sebaliknya malah berdiri tenang disitu.
Pertama Siauw Ling menguatirkan keselamatan orang tuanya, kedua dia ingin memperlihatkan sedikit keterangan dari mulut orang she Thian ini, maka dia tidak ingin melukai dirinya dan berharap bisa menangkap orang itu dalam keadaan hidup-hidup.
Tetapi setelah saling bergebrak tadi, ia sadar bahwa ilmu silat yang dimiliki orang itu luar biasa sekali, untuk menghajarnya dengan tepat diharuskan mencari satu akal yang jitu.
Kedua belah pihak saling berhadapan dengan mulut membungkam, lewat seperminum teh kemudian mendadak Thian Tiong Goan tertawa dan berkata, “Siauw thayhiap tidak sepantasnya kau menerima pukulan tadi!”
“Kenapa? aku rasa serangan telapakmu sama sekali tiada hal yang patut dibanggakan!”
“Diantara jari tangan telah kusembunyikan jarum lembut yang amat berbisa. Ketika menerima seranganku tadi maka tanpa sadar kau telah keracunan hebat, daya kerja racun itu sangat cepat. Aku rasa pada saat ini kau tentu sudah merasakan sesuatu yang aneh bukan dalam tubuhmu?”
Mula-mula Siauw Ling rada tertegun, namun dengan cepat pikirnya, “Sungguh keji hati orang ini, untung tangan kiriku telah mengenakan sarung tangan kulit ular, sekalipun tusukan pedang aku tidak takut, kenapa harus jeri kepada pedang beracunmu?”
Maka ia lantas tertawa dingin, “Cayhe tidak mempan terhadap serangan racun macam apapun juga.”
“Hmm, racun keji dari kami Lam Hay Ngo Hiong berbeda dari kami sendiri. Dikolong langit tak akan ada obat lain yang bisa memusnahkan racun ini.”
Setelah berkelana selama beberapa waktu didalam dunia persilatan. Pengetahuan maupun pengalaman Siauw Ling telah banyak bertambah, mendengar ucapan itu dia lantas menjawab, “Apabila saudara tidak percaya, tunggu saja nanti.”
Thian Tiong Goan termenung sejenak, ketika ia lantas mendehem dan berkata, “Aku akan menghitung sampai angka sepuluh racun yang mengeram dalam tubuhmu belum juga bekerja, maka sejak ini hari aku orang she Thian akan segera menyingkir setiap kali berjumpa dengan dirimu!”
Siauw Ling tertawa hambar.
“Terlalu serius ucapanmu barusan, aku orang she Siauw tidak sanggup menerimanya….” Ia merandek sejenak untuk tukar napas, kemudian tambahnya: “Seandainya racun yang mengeram dalam tubuh cayhe tidak bersih, aku minta saudara menjawab tiga buah pertanyaanku, maukah kau berjanji?”
“Haaa…. haaa…. seandainya kau benar-benar kebal terhadap racunku, janga dikata tiga buah pertanyaan sekalipun tiga puluh pertanyaan juga cayhe jawab semua.”
“Kalian lima manusia laknat dari Lam Hay adalah manusia-manusia kenamaan dalam dunia persilatan. Tahukah kau akan pepatah yang mengatakan….”
“Perkataan dari seorang kongcu berat laksana gunung Thay san, sekali telah diucapkan dikejar dengan empat kudapun sukar ditarik kembali….”
“Hmm! meskipun tingkah laku kami Lam Hay Ngo Hiong rada latah dan tinggi hati namun selamanya kami selalu pegang janji. Setiap ucapan yang telah kami utarakan tidak nanti disesal kembali.”
“Bagus kalau begitu. Nah, saudara boleh mulai menghitung!”
Dalam hati kecilnya si anak muda ini sadar ketidak munculnya Soen Put Shia serta Tiong Cho Siang Ku sekalian tentu disebabkan sesuatu yang luar biasa kemungkinan besar merekapun menemui hadangan, dan sedang melangsungkan pertarungan sengit atau mungkin juga mereka sudah dibokong orang dan tertangkap musuh. Satu-satunya kemungkinan baginya untuk mengetahui kejadian itu hanyalah menaklukan pelajar bertangan dingin ini, maka dengan sabarnya dia menanti hitungan lawan.
Terdengar Thian Tiong Goan mulai menghitung dengan suara lantang, “Satu, dua, tiga, empat…. sembilan….”
Namun Siauw Ling masih tetap tenang-tenang saja berdiri disisi kalangan. Wajahnya penuh senyuman dan badannya tak berkutik.
Dan muka Thian Tiong Goan berobah hebat dengan termangu-mangu ia menatap wajah si anak muda itu lama sekali…. mendadak tegurnya, “Benarkah saudara sama sekali tidak keracunan.”
Siauw Ling tersenyum.
“Bukankah sejak tadi aku sudah bilang bahwa cayhe tidak mempan terhadap segala macam racun? siapa suruh kau tidak percaya? nah! sekarang sudah percaya?”
Ia merandek sejenak, lalu dengan suara keras serunya, “Hitunganmu tinggal satu yang belum kau sebutkan, kenapa tidak kau teruskan?”
Sepasang matanya Thian Tiong Goan berkedip, mendadak ia tertawa seram.
“Seandainya cayhe tidak sebutkan hitungan yang kesepuluh bukankah pertaruhan ini jadi berlangsung selamanya tak bisa ditentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah?”
Ucapan itu sungguh berada diluar dugaan Siauw Ling. Dari tertegun dia jadi naik pitam, serunya, “Hmm, ternyata nama besar Lam Hay Ngo Hiong hanyalah nama kosong belaka. Kalian tidak lebih hanyalah manusia bejad yang bermoral rendah!”
“Menggunakan tentara jangalah lupa memakai siasat, siapa suruh Siauw thayhiap kurang berpengalaman dalam menghadapi masalah dunia persilatan. Janganlah kau salahkan aku orang she Thian yang jauh lebih unggul otaknya.”
Dalam hati Siauw Ling benar-benar mendongkol bercampur gusar, segera seurnya ketus, “Kau anggap dengan andalkan beberapa patah kata untuk menipu diriku, kau pantas bisa tinggalkan tempat ini dalam keadaan selamat?”
Thian Tiong Goan tersenyum.
“Kecuali dalam ilmu silat Siauw thayhiap bisa kalahkan diriku sehingga membuat hatiku kagum terhadap kau.”
“Hmmm! itu bukan pekerjaan yang terlalu menyulitkan diriku!”
Dalam keadaan gusar, napsu membunuhnya segera berkobar. Perlahan-lahan dia angkat pedangnya seraya berkata, “Asalkan kau dapat menerima tiga buah tusukan pedangku lagi, maka aku orang she Siauw tak akan menyusahkan cuwi sekalian.”
Dari cara Siauw Ling mengangkat pedangnya. Sipelajar bertangan dingin telah menduga kalau pihak lawan memahami serangan hawa pedang, didalam serangannya nanti pasti luar biasa dahsyatnya. Tentu saja dia tak berani bertindak gegabah, sambil salurkan hawa murninya bersiap sedia, matanya melirik kesana kemari cari jalan keluar, diam-diam ia kerahkan ilmu menyampaikan suaranya memanggil dua orang toojien yang menyaru sebagai anggota Bu tong pay itu untuk bersama-sama melawan Siauw Ling.
Mendadak terdengar si anak muda itu membentak keras, pedangnya berkelebat kedepan menciptakan selapis cahaya keperak-perakan yang menyilaukan mata, bersama-sama pedangnya ia tubruk tubuh orang she Thian itu.
Thian Tiong Goan cepat-cepat angkat pedangnya menangkis, kemudian laksana kilat dia mundur kebelakang.
Dalam serangannya barusan Siauw Ling telah gunakan ilmu pedang terbang ajaran Cung San Pek, suatu ilmu pedang tingkat yang paling tinggi.
Sejak tinggalkan perguruan Siauw Ling terus menerus berkelana dalam Bulim. Ilmu pedang yang dipelajaripun hanya merupakan permulaannya saja, karena situasi yang terlalu mendesak pada diri ini terpaksa dia harus keluarkan kepandaian itu.
Terdengar suara senjata beradu nyaring, hawa pedang membumbung tinggi keangkasa dan menyambar kedepan.
Dua jeritan ngeri yang menyayat hati segera bergema memecahkan kesunyian, dua orang perkumpulan Pek Hoa san cung itu yang menyamar sebagai anggota Bu tong itu roboh keatas tanah dan menemui ajalnya seketika itu juga.
Yang satu terbabat pinggangnya sampai putus jadi dua bagian, sedangkan yang lain terbabat kepalanya hingga butiran batok kepala itu mencelat sejauh enam tujuh depa dari kalangan.
Thian Tiong Goan yang licik hanya kehilangan pedangnya dalam serangan tersebut, dengan cepat ia sambar tubuh Boe Wie Tootiang kemudian loncat kedepan dan lari keluar dari rumah gubuk itu.
Rupanya Siauw Ling tidak menyangka kalau seranga pedangnya barusan bisa menghasilkan akibat yang mengerikan untuk beberapa saat ia berdiri termangu-mangu ditempatnya semula.
Dalam sekejap mata itulah Thian Tiong Goan dengan membawa Boe Wie Tootiang telah lari tak berbekas.
Setelah mendusin dari lamunannya Siauw Ling segera mengempos tenaga mengejar keluar. Ia lihat Thian Tiong Goan telah berada lima tombak jauhnya dan sedang lari naik gunung. Sementara bayangan dari Soen Put Shia serta Tiong Cho Siang Ku sekalian belum kelihatan juga.
Dalam keadaan serta situasi seperti ini tak sempat bagi Siauw Ling untuk memikirkan nasib Soen Put Shia sekalian lagi, ia segera mengempos tenaga mengejar kearah pelajar bertangan dingin.
Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Siauw Ling adalah ajaran langsung dari Liuw Sian cu jago gingkang nomor wahid dikolong langit, dalam pengerahan tenaga hingga mencapai pada puncak ini bisa dibayangkan betapa cepatnya lari si anak muda itu. Tidak sampai seratus tombak ia telah berhasil menyusul Thian Tiong Goan hanya dua tombak dibelakangnya, ia segera berseru keras, “Apabila kau tidak mau menghentikan larimu, jangan salahkan kalau aku Siauw Ling akan melukai orang dengan senjata rahasia!”
Belum habis ia berkata tiba-tiba Thian Tiong Goan putar badan sambil mengayun tangannya, serentetan cahaya pudar laksana kilat meluncur kebelakang.
Siauw Ling putar pedang melindungi badan ting…. ting…. semua senjata rahasia yang menyambar datang berhasil disampok rontok semua oleh pedangnya.
Tetapi dengan hadangan ini, maka dengan menggunakan kesempatan Thian Tiong Goan berhasil lari kedepan enam tujuh depa lebih jauh dari semula.
…. Bersambung jilid ke 19
Jilid 19
Sementara itu pelajar bertangan dingin telah tiba dipinggang gunung. Siauw Ling sadar apabila ia biarkan orang itu menyusup kedalam semak belukar maka sulit baginya untuk menyusul manusia licik itu. Hatinya jadi sangat gelisah, mendadak ia mengepos tenaga ilmu meringankan tubuh. “Pat Poh Kan san” dikerahkan hingga mencapai pada puncaknya…. dalam beberapa tombak saja dibelakang tubuhnya.
Ilmu meringankan tubuh dari Thian Tiong Goan memang lihay. Tetapi kalau dibandingkan nomor wahid dari kolong langit dia masih kalah satu tingkat, apalagi pada punggungnya harus menggendong Boe Wie Tootiang, semakin sulit lagi posisinya.
Maka setelah saling menerjang beberapa tombak lagi, Siauw Ling telah berada tujuh delapan depa dibelakangnya.
Siauw Ling segera siapkan pedangnya untuk mengirim tusukan maut, mendadak terdengar gelak tertawa yang amat nyaring berkumandang ditengah angkasa, diikuti seseorang berseru lantang, “Saudara Siauw, jangan kuatir. Orang ini tak akan berhasil melepaskan diri dari cengkeraman kita!”
Bersamaan dengan munculnya bentakan nyaring, tiba-tiba dari balik bukit meloncat keluar seorang pengemis tua berambut kusut.
Sekilas pandangan Siauw Ling segera kenali orang itu sebagai Soen Put Shia yang dikuatirkan selama ini, ia jadi tercengang, pikirnya, “Aneh…. kenapa mereka semua telah mengundurkan diri keatas gunung?”
Dalam pada itu tampaklah Soen put Shia teah ayunkan telapaknya mengirim satu pukulan dahsyat, sambil menghadang jalan pergi Thian Tiong serunya ketus, “Lepaskan toosu tua itu!”
“Hmm, tidak semudah itu kawan” sambil berseru orang she Thian inipun ayunkan tangan kanannya menyambut datangnya serangan itu dengan keras lawan keras.
Braak….! sepasang telapak saling beradu satu sama lainnya, Thiong Tiong Goan segera terdesak mundur satu langkah kebelakang.
Menggunakan kesempatan yang sangat baik itulah Siauw Ling menyusul kedepan, tangannya diayunkan dan segera melancarkan totokan dengan ilmu Siuw loe sin cian menghajar jalan darah Hoei Yang Hiat pada kaki kiri Thiong Tiong Goan.
Ilmu jari Sin Loo Cie merupakan salah satu ilmu kebanggaan Liuw San Cu. Selama puluhan tahun berdiam dalam lembah tiga rasul boleh dibilang segenap kemampuan serta pikirannya dipusatkan pada ilmu jari ini. Bisa dibayangkan betapa dahsyatnya ilmu tersebut setelah diajarkan sendiri kepada Siauw Ling.
Serentetan tenaga totokan tanpa mengeluarkan sedikit suarapun menyambar kedepan dan menghantam jalan darah Hoei Yang Hiat dikaki Thiong Tiong Goan orang itu secara mendadak merasakan kaki kirinya jadi kaku dan hampir-hampir saja roboh tertunduk diatas tanah.
Siauw Ling bertindak cepat tangan kirinya segera menyambar tubuh Boe Wie Tootiang dari tangannya. Sementara pedang ditangan kanannya menghantam kemuka…. Plaak! dengan telak menghajar sikut kanannya.
Tenaga kweekang yang dimiliki Thiong Tiong Goan benar-benar amat sempurna, meskipun jalan darah dikaki kirinya tertotok oleh ilmu Siuw Loo cie dari Siauw Ling namun lukanya bukan ditempat yang penting maka dia masih bisa mempertahankan diri. Tetapi setelah Siauw Ling menghajar sikutnya dengan pedang, dimana dalam hantaman tadi telah digunakan tenaga yang sangat besar. Ia tak sanggup mempertahankan diri lagi…. Blukk! tidak ampun lagi badannya segera jatuh keatas tanah.
Pedang Siauw Ling berkelebat memutuskan tali yang membelenggu tubuh Boe Wie Tootiang, sambil bekerja ujarnya, “Loocianpwee orang ini adalah salah satu dari manusia laknat yang bermukim di Lam Hay. Ilmu silatnya sangat lihay dan otaknya licik sekali. Baik-baiklah jaga dirinya agar jangan salah melarikan diri, aku hendak bebaskan dulu Boe Wie Tootiang dari pengaruh totokan.”
Selesai bicara tanpa menunggu jawaban lagi Siauw Ling letakkan Boe Wie Tootiang keatas tanah, dengan ilmu Tui Kiong Kok Hiat ia urut sekujur tubuh toosu tua itu.
Kurang lebih seperminum teh kemudian Boe Wie Tootiang baru membuka matanya dan menghembuskan napasnya panjang.
“siauw thayhiap, terima kasih atas pertolonganmu” bisiknya.
“Aaai….! Tootiang tak perlu sungkan-sungkan.”
Perlahan-lahan Boe Wie Tootiang bangkit berdiri, sambil melirik sekejap kearah Soen Put Shia katanya, “Apakah diantara rombongan Loocianpwee ada yang terluka?”
“Kecuali aku sipengemis tua, semua orang berada dalam keadaan terluka!” jawab Soen Put Shia dengan wajah serius.
Sepasang alis Siauw Ling segera berkerut sementara dia mau bicara Soen Put Shia telah keburu bicara lebih dahulu, “Ada satu persoalan yang belum kujelaskan yaitu simacan tutul berkepala sembilan Ong Hong telah dihajar orang sampai terjungkal kedalam jurang, dia mati dengan badan hancur lebur.”
“Bukankah Loocianpwee mengikuti terus dibelakang boanpwee?” tanya Siauw Ling.
“Ketika aku sipengemis tua melihat kalian masuk kedalam gubuk dan lama sekali tak ada sesuatu gerak gerik apapun aku lantas menggape Tiong Cho Siang Ku untuk bersama-sama memeriksa keadaan disitu, mendadak sebuah senjata rahasia menyambar datang dari empat penjuru bagaikan titiran hujan gerimis. Karena perubahan yang terjadi secara tiba-tiba ini hampir saja membuat aku sipengemis tua terhajar pula oleh senjata rahasia itu….”
“Jadi mereka semua terluka karena serangan senjata rahasia itu?”
“Yang terluka dalam hujan senjata rahasia itu adalah Suma Kan siperamal sakti dari timur serta Ong Hong dua orang. Sepasang pedagang dari Tiong chin benar-benar tidak malu disebut jagoan yang berpengalaman luas. Kewaspadaan mereka sangat tinggi melebih aku sipengemis tua, walaupun mereka berhasil meloloskan diri dari serangan senjata rahasia gelombang pertama. Namun disebabkan hendak melindungi Thio Kie An maka dalam serangan gelombang kedua mereka masing-masing terluka pula oleh senjata rahasia lawan! Aaaai….! dengan kemajuan yang dimiliki kedua orang itu. Seandainya bukan karena harus melindungi keselamatan Thio kie An, tidak mungkin mereka terluka oleh senjata-senjata itu.
“Senjata rahasia apakah yang digunakan pihak musuh? begitu lihaykah serangan tersebut?”
“Datangnya bagaikan hujan badai, semuanya merupakan senjata rahasia kecil semacam On Boe Tin, Bwee Hoa Ciam serta sebangsanya.”
Siauw Ling menghela napas panjang.
“Aaai….! dibawah hujan senjata rahasia yang demikian kejinya, sekalipun cuma satu dua orang yang melalukan seranganpun sudah sukar untuk menghindarkan diri, apabila terjebak dalam perangkap yang telah sengaja mereka atur benar-benar sulitnya bukan kepalang.”
“Begitu menyaksikan situasi tidak menguntungkan aku sipengemis tua segera turunkan perintah untuk mengundurkan diri keatas gunung tempat dimana terjadi pertarungan hanya terpaut enam tujuh tombak saja daerah pegunungan, setelah tiba diatas bukit mula-mula Suma Kan yang tak sanggup mempertahankan diri, dia roboh keatas tanah. terpaksa aku sipengemis tua harus membopong tubuhnya untuk mengundurkan diri!”
“Untung mereka tidak kirim orang untuk melakukan pengejaran” sela Siauw Ling.
“Siapa bilang tidak….” Soen Put Shia merandek sejenak, lalu terusnya: “Setelah kuperiksa keadaan luka dari Suma Kan, segera kuketahui bahwa ia sudah terkena senjata rahasia beracun, maka aku lantas punya pikiran, yaitu semua senjata rahasia yang telah dipergunakan pada hari itu semuanya telah dipolesi racun. mereka tidak beritahu aku pengemis tua dan akupun ogah banyak bertanya, dengan memimpin jalan kubawa mereka mundur terus kegunung dengan harapan bisa mendapatkan goa atau selat yang sempit untuk mereka beristirahat, dalam keadaan seperti ini aku tak bisa berpikir panjang lagi…. Aaaai! siapa tahu bukan saja goa dan selat tak berhasil kutemukan para pengejarpun telah tiba!”
“Siapa saja yang munculkan diri?”
“Belasan orang lelaki kekar baju hitam, ditangan mereka masing-masing membawa sebuah tabung yang berisi senjata rahasia Bwee Hoa Ciam serta sebangsanya serta sebilah senjata tajam yang beraneka ragam. Aku pengemis tua yang mula-mula memimpin perjalanan sekarang terpaksa harus berada dipaling belakang untuk membendung serangan musuh. Tu Kioe yang keracunan paksakan diri untuk menggendong Suma Kan yang berada dipunggungku. Tapi sayang racun yang mengeram didalam tubuh mereka telah bekerja, sehingga gerakan kami lambat sekali. Aku sipengemis tua tidak enak memaksa mereka lagi pula dipaksapun percuma maka baru saja mundur puluhan tombak musuh tangguh telah kami temui, dengan seorang diri aku harus bergebrak melawan belasan orang. Sedikit meleng pada suatu saat Ong Hong telah dihajar orang sampai masuk jurang….”
“Situasi terlalu mendesak, dalam peristiwa ini tak dapat salahkan diri Loocianpwee” hibur Siauw Ling.
“Walaupun begitu, namun dalam hati kecilku tetap terdapat semacam perasaan malu dan menyesal yang tak terhingga.”
Siauw Ling, tak tahan segera serunya, “Lalu bagaimana selanjutnya?”
Soen Put Shia menyapu sekejap Boe Wie Tootiang, kemudian sahutnya, “Kalau dibicarakan, mau tak mau aku sipengemis tua harus mengagumi perhitungan serta dugaan yang sempurna dari Tootiang!”
“Aaai! seandainya pinto adalah orang yang punya pikiran sempurna. Tidak nanti pada hari ini kita alami kekalahan total semacam ini” ujar Boe Wie Tootiang sambil menghela napas sedih. “Seluruh kekuatan inti dari partai Bu tong telah mengalami penjagalan yang mengerikan.”
“Apa? jadi orang yang menyambut kedatangan aku sipengemis tua dan bantu pukul mundur kaum bajingan itu bukanlah anak murid partai Bu tong….?”
“Pinto tak berani menerima jasa tersebut!”
“Waah, kalau begitu aneh sekali!”
“Sebenarnya apa yang telah terjadi?” tanya Siauw Ling.
“Tatkala aku sipengemis tua saksikan Ong Hong dihantam orang sampai masuk kedalam jurang tanpa bisa menolong. Hatiku gelisah bercampur gusar, beruntun kulepaskan beberapa pukulan maut, meskipun dua orang lawan berhasil kulukai namun aku tak sanggup membendung serangan mereka yang begitu gencar dan dahsyat. Aaai! bilamana aku harus bertahan terus dalam keadaan begini tanpa datangnya bala bantuan, mungkin setengah jam kemudian akupun bakal roboh terluka. pada saat itulah kami kena didesak hingga tersudut, ada seseorang yang memiliki kepandaian silat agak tinggi berhasil melewati aku pengemis tua, dan langsung mengejar kearah Tiong Cho Siang Ku sekalian.”
“Loocianpwee” teriak Siauw Ling terperanjat. “Jadi kalau begitu kedua orang saudaraku telah mati dibunuh orang?”
Soen Put Shia menggeleng.
“Seandainya mereka berdua sampai terbunuh aku sipengemis tua tak akan punya muka untuk unjukkan diri bertemu dengan kalian berdua.”
“Sebetulnya apa yang telah terjadi?”
“Hatiku benar-benar gelisah ketika menyaksikan situasi yang amat kritis itu, diriku terkepung rapat dalam desakan musuh dan tak mungkin pisahkan diri untuk menolong mereka, sementara racun dalam tubuh merekapun telah bekerja. Tak ada tenaga dalam tubuh mereka untuk melawan, bayangkan saja betapa kritisnya situasi waktu itu. Dikala maut hampir tiba itulah mendadak terdengar suitan panjang berkumandang datang. Empat orang manusia berbaju hitam membawa poo kiam laksana tentara langit yang turun kebumi segera menyerang kesana kemari dengan dahsyatnya, empat rentetan cahaya perak menggulung keempat penjuru laksana ombak ditengah samudra. Tidak sampai seperminum teh lamanya sebagian besar para pengejar telah mereka lukai atau mereka bunuh, sisanya karena melihat situasi tidak menguntungkan segera melarikan diri terbirit-birit.”
“Apakah loocianpwee telah tanyakan asal usul keempat orang itu?” tanya Boe Wie Tootiang.
“Sementara aku sipengemis tua siap bertanya, keempat orang itu telah putar badan dan berlalu dari situ, dalam sekejap mata bayangan mereka sudah lenyap tak berbekas.”
“Apakah loocianpwee melihat jelas bagaimanakah raut mukanya?”
Soen Put Shia termenung sejenak, kemudian baru menjawab, “Keempat orang itu sama-sama mengenakan kain kerudung berwarna hitam sehingga sulit bagiku untuk melihat raut wajahnya.”
Ia merandek sejenak lalu tambahnya, “Aaaah, kalau bukan pertanyaanmu barusan hampir saja aku pengemis tua lupa mengutarakannya keluar, diantara keempat bayangan itu dua orang mempunyai perawakan yang istimewa kecil dan rampingnya, potongan tubuhnya tidak mirip perawakan tua.”
“Waduh…. aku jadi semakin bingung.”
“Rupanya mereka sudah mengetahui lebih dahulu kalau Djen Bok Hong telah kirim orang untuk mencegat kita disitu” ujar Boe Wie Tootiang. “Tapi dengan sendirinya mereka sungguh ada maksud menolong, kenapa tidak memperingatkan kita jauh sebelumnya?”
“Aku sipengemis tuapun merasakan banyaknya kecurigaan serta kesangsian didalam persoalan ini, sungguh membuat orang jadi bingung dan tidak habis mengerti.”
“Mereka suka turun tangan membantu kita bahkan melukai pula begitu banyak jago dari perkampungan Pek Hoa San cung. Jelas keempat orang itu adalah kawan bukan lawan….”
Seandainya mereka datang dengan tujuan membantu, kenapa tidak meninggalkan nama?”
“Benar!” Boe Wie Tootiang menyambung. “Seandainya sudah mengetahui dahulu rencana dari Djen Bok Hong dan benar-benar ada maksud menolong kita sekalian. Kenapa tidak beri kabar lebih dahulu kepada partai kami sehingga mengakibatkan kekuatan ini dari partai Bu tong serta beberapa orang sahabat Bulim yang sedang merawat luka mati binasa semua.”
“Tadi, cayhe telah perhatikan keadaan disekeliling gubuk dan kurasa tiada tana pernah terjadi suatu pertempuran disana. Mungkin saja Im Yang Tootiang dengan membawa segenap anggota partai Bu tong telah menyingkir dari sini.”
“Kenapa tidak kita kompas saja orang ini?” tiba-tiba Soen Put Shia menyela sambil menyapu sekejap wajah Thian Tiong Goan.
“Sedikitpun tidak salah!” seru Siauw Ling dengan langkah lebar ia segera mendekati orang she Thian itu, telapaknya berkelebat membebaskan jalan darahnya yang tertotok setelah ia menotoknya jalan darahnya diatas lengan serta kakinya. Kemudian ia berkata dengan suara dingin, “Kau menyaru sebagai Im Yang cu, tentu mengetahui bukan kabar berita mengenai Im Yang tootiang?”
Perlahan-lahan Thian Tiong Goan melirik sekejap wajah Siauw Ling, lalu tertawa hambar dan mengangguk.
“Sedikitpun tidak salah!”
“Sekarang Im Yang Tootiang berada dimana?”
“Kalau cayhe tidak ingin jawab?”
Sepasang mata Soen Put Shia kontan melotot bulat-bulat serunya ketus, “Telah lama aku sipengemis tua mendengar akan nama besar dari Lam Hay Ngo Hiong. Namun aku tidak percaya kalau kau adalah lelaki jantan yang terdiri dari baja yang kuat. Siauw thayhiap tidak tega turun tangan terhadap dirimu, namun aku sipengemis tua tega untuk melakukan siksaan macam apapun akan kutotok lebih dahulu jalan darah Nge Im Ciat Hiatmu agar kau rasakan bagaimana kalau aliran darah harus terkumpul didalam paru-paru.”
Thian Tiong Goan tertawa dingin.
“Kau anggap kami lima manusia laknat dari Lam Hay adalah kawanan tikus yang takut mati??”
“Bagus! kalau kau tidak percaya, segera akan kusuruh kau cicipi bagaimana rasanya” sambil berseru pengemis tua segera mendekati tubuh Thian Tiong Goan, angkat tangan kanannya dan berkata lagi, “Bagaimana kalau aku pengemis tua memberi waktu seperminum teh lagi bagimu untuk pikir-pikir?”
“Seandainya cayhe katakan kabar berita mengenai Im Yang cu, apa yang hendak kalian lakukan terhadap diriku??” tanya Thian Tiong Goan setelah termenung sebentar.
“Tentang soal ini harus diputuskan sendiri oleh Tootiang!” jawab Soen Put Shia sambil berpaling kearah toosu tua itu.
Sepasang mata Boe Wie Tootiang memancarkan cahaya tajam, seraya menatap wajah orang she Thian itu katanya perlahan-lahan, “Kami dari partai Bu tong sama sekali tidak pernah mengikat tali permusuhan apapun dengan kalian lima manusia laknat dari Lam Hay pinto benar-benar tidak mengerti apa sebabnya kalian Lam Hay Ngo Hong memusuhi partai kami.”
Meskipun berada dipinggir maut Thian Tiong Goan sama seklai tidak jadi gugup, ia tetap tenang seakan-akan tak pernah terjadi sesuatu apapun setelah mendehem jawabnya, “Setelah munculkan diri dalam dunia persilatan kami lima bersaudara dari Lam Hay pernah menjelajahi seluruh dunia persilatan selama sembilan kali. tetapi boleh dibilang baru ini hari untuk pertama kalinya jatuh ditangan orang.”
“seandainya cuwi sekalian betul-betul ada maksud mengikat tali permusuhan. kami lima bersaudara dari Lam Hay silahkan turun tangan keji diri cayhe, tapi jangan harap cuwi sekalian bisa menyiksa diriku, sebab dalam sekejap mata aku bisa putuskan napasku. Tapi kalian harus ingat setelah aku mati maka berhati-hatilah kalian semua, setiap saat keempat orang saudara angkatku bisa datang untuk mencari balas. Selama salah satu diantara mereka masih hidup, dengan cara dan tipu muslihat macam apapun dendam berdarah ini pasti akan dituntut balas.”
“Itu urusan dari kalian lima manusia laknat” sela Siauw Ling. “Sekarang yang kami tanyakan adalah kabar berita mengenai Im Yang Tootiang serta anak murid partai Bu tong lainnya.”
“Bebaskan dulu jalan darahku, maka segera kukatakan jejak mereka!”
“Lima manusia laknat dari Lam Hay sudah terkenal akan kelicikan, kekejian serta kebuasannya sudah lama aku sipengemis tua mengetahui nama kalian….”
“Tidak salah” tukas Thian Tiong Goan. “Meskipun kami lima bersaudara dari Lam Hay seringkali melakukan perbuatan jahat dan seringkali main akal-akalan, namun setiap janji yang telah diutarakan tak pernah kami ingkari.”
“Nanti dulu kawan!” tiba-tiba Siauw Ling berseru dengan ketus. “Apakah kau sudah lupa akan tipu muslihat yang telah kau gunakan untuk membohongi aku sewaktu berada didalam rumah gubuk tadi?”
“Tadi aku cuma menipu dirimu toh janji yang kuucapkan tak pernah diingkari? mengenai urusan tadi harus salahkan usiamu yang terlalu muda dan kurang berpengalaman menghadapi masalah dunia persilatan, asalkan sebelum bertaruhan tadi kau tambahkan dengan sepatah kata dan tentunya batas waktunya, mau tak mau angka yang terakhir harus kuucapkan juga dan pertaruhan itu kaulah yang menang.”
Siauw Ling termenung pikirnya, “Ucapannya sama sekali tidak salah, sebelum angka yang kesepuluh diucapkan dia memang tak bisa terhitung kalah!”
Berpikir begitu, mendadak tangannya berkelebat membebaskan jalan darah Thian Tiong Goan yang tertotok, serunya lantang, “Nah sekarang katakanlah.”
Thian Tiong Goan tidak langsung menjawab, ia pejamkan matanya lebih dulu untuk mengatur pernapasan menunggu hingga hawa murni telah menjadi beredar dengan lancar dia baru buka matanya kembali menyapu Siauw Ling sekalian.
“Waktu cayhe tiba ditempat ini, beberapa buah rumah gubuk itu telah berada dalam keadaan kosong tanpa penghuni” katanya kemudian.
“Sungguhkah ucapanmu?”
“Setelah cayhe berjanji untuk menjawab, tentu saja setiap patah kataku adalah kata-kata yang sejujurnya.”
Alis Siauw Ling kontan berkerut.
“Dalam melaksanakan tugasmu kali ini bukan saja kau gagal peroleh saja bahkan sebagian besar anak buahmu mati ataupun terluka, bagaimana tanggung jawabmu bila bertemu dengan Djen Bok Hong nanti?”
“Soal ini tak perlu kau risaukan” sahut Thian Tiong Goan. “Djen toa Cungcu pernah beritahu kepada cayhe tentang kelihayan ilmu pedangmu yang dikatakan luar biasa setelah perjumpaan hari ini kuakui bahwa ucapan sama sekali tidak bohong. Pemberianmu pada hari ini akan cayhe ingat selalu didalam hati. Semoga dikemudian hari kami lima bersaudara dari Lam Hay bisa mendapat petunjuk lagi akan ilmu silat Siauw thayhiap yang lihay.”
“Setiap saat aku orang she Siauw akan menantikan kedatanganmu.”
Tiba-tiba Soen Put Shia tertawa dingin.
“Eeeei…. bagaimana? setelah mengucapkan beberapa patah kata yang tak berguna itu. Kau lantas mau pergi?” tegurnya.
“Heee…. heee…. mungkin cayhe tak sanggup mengalahkan kalian bertiga. Namun untuk pergi dari sini rasanya masih lebih dari cukup!”
Seraya berkata badannya melayang ketengah udara. Pada saat yang bersamaan tangan kirinya menyerang Soen Put Shia, kaki kanannya menendang Boe Wie Tootiang sedang tangan kanannya diayun kearah Siauw Ling, dimana serentetan cahaya perak segera menyambar keempat penjuru.
Berada dalam jarak yang demikian dekatnya sekalipun Siauw Ling sudah bersiap siaga tak urung dibikin gelagapan juga. Dalam keadaan terdesak dan kritis cepat-cepat telapaknya melancarkan satu pukulan sementara tubuhnya dengan gerakan Jembatan Gantung menjatuhkan diri kebelakang!
Soen Put Shia membentak keras, telapaknya disapu keluar mengirim satu serangan balasan yang tak kalah hebatnya.
Boe Wie Tootiang mendendam atas bokongannya tadi, melihat datangnya tendangan ia tidak menghindar. Jarinya laksana batang tombak langsung menotok jalan darah “Hian Ciong” diatas kaki Thian Tiong Goan.
Dalam pertarungan antara jago-jago Bulim siapapun diantara mereka tak mau membuang kesempatan baik yang diperoleh, dalam sekali gerakan Thian Tiong Goan telah menyerang ketiga orang musuhnya dengan senjata rahasia, tendangan serta serangan telapak. Namun dengan perbuatannya ini justru telah mengundang serangan balasan dari Soen Put Shia serta Boe Wie Tootiang.
Siapa sangka serangan dari Thian Tiong Goan cuma serangan tipuan belaka. Setelah melancarkan tendangan dan pukulan tadi badannya segera jumpalitan kebelakang, begitu mencapai permukaan tanah badannya segera melesat satu tombak jauhnya dari tempat semula, serunya sambil tertawa terbahak-bahak, “Haaah…. haah…. haah…. maaf cayhe tak dapat melayani lebih lama lagi, kesempatan dikemudian hari masih banyak, sampai bertemu lagi!”
Habis bicara badannya segera melayang tujuh delapan tombak jauhnya dari tempat semula.
Siauw Ling enjotkan badannya siap mengejar, namun segera dicegah oleh Boe Wie Tootiang.
“Biarlah dia pergi! yang penting kita harus menolong mereka yang terluka!”
Siauw Ling merandek dan ia segera ingat kembali kalau Tiong Cho Siang Ku sekalian telah terkena senjata rahasia beracun, buru-buru kepada Soen Put Shia tanyanya, “Loocianpwee, dimana mereka berada?”
“Aaaai….! dimana semak tidak jauh dari sini. Djen Bok Hong betul-betul manusia luar biasa, walau aku sipengemis tua memusuhi dirinya tetapi tak bisa dikagumi kelihayannya. Jangan dikata jago-jago biasa sampai lima manusia laknat dari Lam Haypun berhasil ia taklukan, benar-benar luar biasa.”
Sementara bercakap-cakap mereka sudah tiba didepan sebuah semak. Soen Put shia segera masuk lebih dahulu.
Siauw Ling, Boe Wie Tootiang dengan ketat mengikuti dibelakang pengemis tua itu, setelah berjalan dua tiga tombak sampailah mereka dibawah sebuah tebing terjal.
Tampak Suma Kan serta Tiong Cho Siang Ku duduk bersila diatas tanah, rupanya mereka sedang mengatur pernapasan sedangkan Thio kie An pejamkan mata untuk bersandar disisi batu besar. Dua ekor anjing raksasapun berada disisi majikannya.
“Aneh!” tiba-tiba Soen Put Shia berseru dengan alis berkerut. “Rupanya luka beracun yang mereka derita sudah sembuh semua!”
Si sie poa emas Sang Pat yang sedang bersemedhi segera membuka matanya memandang sekejap ketiga orang itu, lalu sambil tertawa sahutnya, “Setelah loocianpwee berlalu, seorang manusia berbaju hitam menghampiri kami, dengan sebatang besi ia berani isap jarum beracun yang bersarang ditubuh kami kemudian menghadiahkan sebutir pil pemusnah pada kami tiap-tiap orang. Setelah selesai bekerja iapun berlalu lagi dengan langkah cepat. Lihay sekali orang itu dikala menyembuhkan luka kami. Bukan saja hapal bahkan cepatnya luar biasa.”
“Kalian tidak menanyakan siapa namanya?”
“Tanya sih sudah cuma ia tidak menyahut barang sekecappun!”
“Setiap kali mereka membantu kita selain saja tak suka tinggalkan nama mereka, entah apa maksud tujuannya?” kata Siauw Ling menunjukkan rasa tercengannya.
“Bagaimanakah raut wajah orang itu?” tanya Boe wie Tootiang.
“Menurut pendapat siauwte rupanya dia adalah seorang nona” jawab Suma Kan tiba-tiba sambil membuka matanya.
“Seorang gadis?”
“Potongan tubuhnya kecil dan ramping, sepuluh jarinya panjang-panjang dari mulus dan dari tubuhnya menyiarkan bau harum semerbak, delapan bagian dia pasti seorang gadis.”
Siauw Ling tidak memberikan komentar apa-apa namun dalam hati ia merasa tercengang, pikirnya, “Dari mana datangnya perempuan-perempuan itu? sungguh bikin hati orang jadi tak habis mengerti!”
Sementara itu terdengar Boe Wie Tootiang telah berkata, “Dalam separuh hidupku belum pernah pinto berhubungan dengan patriot wanita, partai Bu tong pun tidak pernah bersahabat dengan suatu aliran perguruan dalam dunia persilatan yang dipimpin seorang wanita. pinto rasa mereka datang membantu pasti bukanlah disebabkan Bu tong pay kami.”
“Aku sipengemis tuapun tidak pernah berhubungan dengan kaum wanita dalam hidupku, jelas merekapun bukan datang menolong karena aku sipengemis tua!”
“Cayhe sendiripun tak dapat menemukan enghiong perempuan manakah yang diam-diam datang membantu” ujar Siauw Ling, tiba-tiba satu ingatan berkelebat dalam benaknya. “Mungkinkah dia.”
“Siapa?” Soen Put Shia segera bertanya.
“Boanpwee hanya menduga-duga saja. Belum tentu dugaan itu tepat dan benar.”
“Katakanlah agar semua orang mendengar dengan begitu kamipun bisa ikut memikirkan persoalan itu.”
“Putri dari Pek thian Coen cu, nona Pek li!”
“Hahh…. haa…. pasti dia! kalau bukan dia siapa lagi yang memiliki ilmu silat sedemikian dahsyatnya dan bertindak laksana naga sakti yang kelihatan kepalanya tak tampak ekornya.”
Namun dengan cepat Boe Wie Tootiang menggeleng.
“Pendapat pinto jauh berbeda dengan kalian berdua enghiong perempuan yang secara diam-diam membantu kita pasti bukan nona Pek Li.”
“Kenapa?”
“Seandainya dia adalah nona Pek li. Mungkin sejak dulu-dulu ia sudah unjukkan diri untuk berjumpa dengan kita. Bukankah dia melarikan diri dari rumah karena ingin berjumpa dengan Siauw thayhiap? Kenapa setelah berjumpa dia tak unjukkan diri?”
“Ehmm, ucapanmu sedikitpun tidak salah tetapi kalau bukan dia lalu siapa?”
“soal itu pintopun sukar menduga” seraya menyahut toosu tua ini melirik sekejap kearah Siauw Ling.
“Saudara Siauw” seru Soen Put Shia tiba-tiba. “Kau tak usah berlagak pilon lagi, siapakah orang itu harap cepat kau katakan?”
“Tentang soal ini…. boanpwee sendiripun benar-benar tak tahu.”
Dari perubahan air mukanya Soen Put Shia mengerti bahwa si anak muda ini tidak senang berbohong. Maka ia menghela napas panjang.
“Aaai! kalau begitu sunggu aneh, sudah puluhan tahun lamanya aku sipengemis tua berkelana didalam dunia persilatan tetapi belum pernah kujumpai pihak tidak saling mengenal tetapi secara diam-diam selalu membantu kita dan lagi setiap kali tentu secara kebetulan kita sedang menghadapi situasi yang krisis. Setelah membantu tanpa tinggalkan nama segera berlalu kembali…. aneh…. aneh sungguh aneh!”
“Rupanya untuk beberapap saat kita akan berhasil menemukan kunci rahasia ini, tetapi pinto rasa teka teki ini tak akan berlangsung terlalu lama, dalam sepuluh hari atau paling lambat dua bulan kemudian jawabannya pasti berhasil kita peroleh.”
“Mungkinkah mereka berbuat demikian karena mempunyai satu rencana busuk, seperti misalnya minta balas budi dari kita?” tiba-tiba Soen Put Shia mengajukan pendapatnya.
“Soal ini sukar untuk dikatakan!”
“Aaai! kita semua telah menerima budi pertolongannya. Suatu saat bila mereka ajukan syarat untuk membalas budi yang pernah mereka lepaskan…. wah, saat itulah kita akan mengalami kesulitan coba menurut kalian haruskah kita terima syaratyang diajukan??”
“Seandainya syarat yang mereka ajukan tidak akan mengganggu ketentraman umat manusia, tentu saja harus kita terima. Sebaliknya kalau syarat yang mereka ajukan membahayakan umat dan manusia merugikan masyarakat kita harus menolaknya mentah-mentah.”
Tu Kioe yang selama ini pejamkan matanya mengatur pernapasan tiba-tiba buka matanya dan berkata dengan suara dingin bagaikan es, “Ada satu persoalan yang hendak cayhe sampaikan kediri Tootiang!”
“Persoalan apa?”
“Sebelum meninggalkan tempat ini orang yang menyembuhkan luka racunku tadi telah beritahukan satu persoalan yang mohon cayhe sampaikan kepada diri Tootiang!”
“Apa yang dia katakan?”
“Dia bilang anak murid partai Bu tong dibawah pimpinan Im Yang Tootiang telah mengundurkan diri dua puluh li kearah barat, sekarang mereka sedang menanti didalam sebuah kuil kuno dan minta kita segera berangkat kesitu untuk berkumpul dengan mereka.”
Boe Wie Tootiang jadi kaget bercampur girang. Sekalipun dia punya iman yang tebal tak urung rasa gembiranya sukar disembunyikan dibalik wajahnya yang ramah itu.
“Benarkah ucapanmu itu?”
“Benar atau tidak cayhe kurang begitu tahu, tetapi orang itu berkata demikian dan cayhe pun sekarang sampaikan kepada diri Tootiang tanpa cayhe kurangi sepatah katapun.”
Boe Wie Tootiang kerutkan dahinya. Ia bungkam dalam seribu bahasa.
Dari perubahan air muka toosu tua itu Soen Put Shia mengerti betapa gelisahnya hati Boe Wie Tootiang saat ini, tentu dia ingin buru-buru berangkat kekuil kuno yang dimaksudkan untuk mengecek kebenaran kabar ini, maka dia lantas bertanya, “Orang itu suruh kita berangkat bersama ataukah hanya suruh Boe Wie Tootiang seorang diri berangkat kesitu?”
“Orang itu suruh kita berangkat kekuil kuno tersebut untuk berkumpul dengan mereka. Kata “kita” disini sudah tentu bukan dimaksudkan Boe Wie Tootiang!”
“Lalu bagaimana keadaan luka yang cuwi sekalian derita? apakah sudah sanggup untuk meneruskan perjalanan?”
“Cayhe rasa sudah lebih cukup!” serasa berkata si pit besi berwajah dingin ini bangkit berkata, “Kamipun sudah sanggup melanjutkan perjalanan!” Sang Pat serta Suma Kan bersama-sama bangun berdiri.
“Kalau begitu mari kita berangkat!” kata Siauw Ling dengan langkah lebar ia dekati Thio Kie An dan siap membopongnya.
“Toako, tak usah kau repot-repot sendiri” cepat Tu Kioe loncat kedepan dan menyambar tubuh orang she Thio itu untuk kemudian dibopongnya.
“Saudara, janganlah terlalu memaksa….”
“Tidak mengapa, aku sudah sehat kembali!”
Begitulah para jagopun meneruskannya kedepan, sepanjang jalan yang tampak cuma pegunungan dengan tebing yang curam, tak nampak sosok bayangan manusiapun disitu.
Kurang lebih dua puluh li kemudian, tampaklah sebuah kuil kuno berdiri angker dibawah sebuah bukit yang tinggi.
Boe Wie Tootiang perhatikan sejenak suasana disekeliling kuil tadi meskipun bangunannya sudah rusak namun berdiri diatas tanah yang luas, segera ujarnya, “Janganlah kita mempercayai ucapan orang itu seratus persen, harap cuwi sekalian menanti sejenak diluar kuil, biar pinto memeriksanya lebih dahulu!!”
“Mari, biar aku sipengemis tua yang menemani!!”
Tanpa banyak bicara kedua orang itu segera berjalan mendekati kuil tersebut.
Ketika tiba didepan pintu, terlihatlah Im Yang cu dengan membawa Cheng Yap Cing munculkan diri menyongsong kedatangan mereka.
Sesudah mengalami pahit getir sewaktu ada didalam gubuk tadi Boe Wie Tootiang bertindak lebih hati-hati segera membentaknya.
“Berhenti!”
Waktu Im Yang cu sedang bersiap-siap memberi hormat suhengnya, mendengar bentakan itu dia tertegun dan berdiri mendelong.
“Apabila siauwte ada kesalahan, harap ciangbun suheng suka jatuhi hukuman kepada diriku!” segera berkata ia merangkap tangannya memberi hormat.
“Aaai….! kalian datanglah kemari” bisik Boe Wie Tootiang sambil menghela napas panjang. “Baru saja siauw heng ditipu orang, maka dari itu sikapku masih was-was selalu.”
“Suheng ditipu siapa?”
“Ada orang menyaru jadi dirimu dan membokong aku dengan cara yang licik, jalan darahku tertotok dan hampir saja aku melayang. Seandainya Siauw thayhiap serta Soen Loocianpwee tidak turun tangan, mungkin pada saat ini Siauw heng sudah berada didalam cengkeraman musuh.”
“Aaai, sudah terjadi peristiwa macam begini?” teriak Cheng Yap Chin.
Boe Wie Tootiang mengangguk, diapun lantas menceritakan bagaimana sipelajar bertangan dingin Thian Tiong Goan menyaru sebagai Im Yang cu…. kemudian bagaimana ia ditawan dan dibebaskan oleh Siauw Ling serta Soen Put Shia….
Akhirnya dia menambahkan, “Bagaimana keadaan luka dari Be Cong Piauw Pacu?”
“Sudah rada baikan, sekarang dia sudah bisa bersantap dan bicara….” bicara sampai disitu Im Yang cu merandek sejenak, lalu tambahnya: “Dia menanyakan diri Siauw thayhiap!”
“Apa yang dia katakan?”
“Ucapannya kurang jelas dan bicaranya masih sukar, hanya pertanyaan itu saja yang sempat diutarakan.”
Seakan-akan teringat sesuatu yang aneh tiba-tiba Soen Put Shia bertanya, “Darimana kalian bisa tahu kalau Djen Bok Hong telah kirim orang untuk melancarkan serangan bokongan dan bersembunyi disini?”
“Siauwte sendiripun bingung tak habis mengerti. Justru kami hendak tanyakan persoalan ini kepada suheng” sahut Im Yang cu seraya mengalihkan sinar mata kearah Boe Wie Tootiang.
“Apa yang terjadi?”
“Tidak lama setelah ciangbun suheng sekalian berangkat tiba-tiba siauwte temukan secarik kertas ditancapkan orang didepan pintu gubuk kita, diatas surat tadi tertulis dengan jelas kata-kata yang mengatakan bahwa Djen Bok Hong telah kirim banyak jago lihaynya untuk bersiap-siap membasmi segenap anggota Bu tong pay. Dalam surat itu meminta siauwte segera kumpulkan segenap anak murid Bu tong pay dan membawa beberapa orang yang terluka untuk menghindarkan diri dari bencana ini. Bahkan dalam surat ini tercantum pula dengan jelas keterangan mengenai letaknya kuil dibawah bukit ini, menurut surat itu disinilah tempat yang paling aman untuk menyelamatkan diri.”
“Apakah diatas surat itu ada tanda tangan atau tidak mengenai sipenulis surat itu?”
“Tidak ada, bahkan tanda atau kode apapun tidak ada, sekarang surat itu disimpan oleh dua orang imam bocah yang mengawal suheng.”
“Apakah kalian lakukan perintah diatas surat itu begitu setelah menerima surat tadi?”
“Lama sekali siauwte rundingkan persoalan ini dengan samte, kami merasa bahwa dari pada bertahan disana memang jauh lebih baik untuk menyingkir, maka sambil mengutus dua orang anggota partai kita untuk mencari kuil kuno seperti yang dimaksudkan dalam surat itu. Dan kamipun mengundurkan diri keatas gunung.”
“Siapakah orang itu?” seru Soen Put Shia dengan nada tercengang dan tidak habis mengerti. “Rupanya dia selalu bersembunyi ditempat kegelapan dan terus menerus membantu kita.”
Dalam pada itu Siauw Ling beserta Suma Kan dan Tiong Cho Siang Ku sekalian telah turun kebawah, mengikuti dibelakang Soen Put Shia merekapun masuk kedalam kuil.
“Bukan saja orang itu sudah membantu kita secara diam-diam bahkan menolong pula partai Bu tong dari kemusnahan” ujar Boe Wie Tootiang setibanya didalam ruang kuil. “Rupanya dia begitu paham dan tahu akan setiap gerak gerik dari Djen Bok Hong, sungguh aneh sekali….”
Tiba-tiba Siauw Ling menimbrung dari samping, “Mungkinkah orang itu adalah tokoh sakti yang telah memukul mundur Djen Bok Hong dengan irama musiknya itu?”
Boe Wie Tootiang termenung sebentar kemudian baru menyahut, “Gerak geriknya bukan saja bagaikan naga sakti dalam kabut yang nampak kepala tak kelihatan ekornya, bahkan diapun mempunyai banyak sekali bawahan yang memiliki ilmu silat sangat lihay. Dibawah komandonya mereka bergerak kesana kemari dengan leluasa.”
“Tidak salah, dia memang terhitung manusia misterius dikolong langit dewasa ini.”
“Yang aneh lagi, apa sebabnya orang itu selalu membantu kita?” sambung Siauw Ling.
“Sudah banyak kejahatan serta kemunafikkan yang dilakukan Djen Bok Hong dalam dunia musuh yang menaruh dendam dengan dirinyapun kian lama bertambah banyak, mungkin saja orang itu mempunyai ikatan dendam sedalam lautan dengan diri Djen Bok Hong.”
“Kalau ucapan dari Soen Loocianpwee tidak salah, maka menurut pinto orang itu bukanlah manusia yang berhasil pukul mundur Djen Bok Hong dengan irama musiknya.”
“Kenapa?”
“Begitu mendengar irama musik tersebut dengan penuh rasa takut tergopoh-gopoh Djen Bok Hong melarikan diri. Hal itu menerangkan bahwasanya Djen Bok Hong menaruh rasa amat takut dengan orang itu, atau paling sedikit dia takut mendengar suara bagungan dari irama Khiem serta seruling itu.”
“Sedikitpun tidak salah!”
“Seandainya Djen Bok Hong sangat jeri terhadap orang itu sedang orang itu terikat dendam sedalam lautan dengan Djen Bok Hong, bukankah dia bisa secara langsung mencari diri ketua dari perkampungan Pek Hoa San cung ini?”
Sementara masih bercakap-cakap, mereka sudah tiba dipendopo tengah.
Kuil kuno itu meski secara lapat-lapat bisa tertampak kemegahannya pada masa yang silam namun berhubung sudah termakan waktu yang lama maka sebagian besar sudah rusak. Satu-satunya bangunan yang masih utuh hanyalah pendopo tengah kuat dan megah. Karena itulah Be Boen Hoei serta beberapa orang yang terluka semuanya berkumpul disitu.
Dua puluh orang anggota partai Bu tong dengan terbagi jadi dua rombongan, satu rombongan beristirahat dalam pendopo tengah sambil melindungi yang luka, rombongan lain tersebar disekeliling kuil itu menjaga keamanan. Sekalipun sepintas lalu tempat itu kelihatan tak ada penjagaan tetapi setiap manusia yang berada lima li dari kuil itu sudah diketahui oleh mereka.
Perlahan-lahan Siauw Ling masuk kedalam ruang pendopo. Disitu ia temui patung arca ditengah ruangan telah hancur namun suasananya amat bersih dan kering.
Pada sudut ruangan berbaringlah tiga orang manusia, rupanya mereka sudah pulas semua. Ketika Siauw Ling sekalian masuk kedalam ruangan tak seorangpun diantara mereka yang tahu.
“Tootiang” ujar Siauw Ling sambil memandang sekejap kearah Im Yang cu.
“Bolehkah cayhe memeriksa keadaan luka yang mereka derita?”
“Tentu saja boleh….”
Ia merandek sejenak, lalu sambungnya, “Luka yang diderita tiga orang ini sangat parah, sekalipun hingga kini jiwanya masih bisa diselamatkan tetapi kesadarannya belum sama sekali jernih, mungkin mereka sulit untuk kenali kembali diri Siauw thayhiap.”
“Tidak mengapa, aku cuma ingin melihat keadaan luka mereka saja. Pokoknya aku tak akan mengganggu ketenangannya” perlahan-lahan ia maju kemuka.
Dimana ketiga orang itu berbaring dialasi dengan sebuah selimut yang sangat tebal. Badan mereka ditutupi pula dengan sebuah selimut warna putih, Be Boen Hoei pejamkan matanya seperti sudah tertidur pulas, sedangkan dua orang lainnya sukar dilihat raut wajahnya karena kepala mereka kecuali sepasang matanya telah dibalut dengan kain putih.
Menyaksikan keadaan mereka, Siauw Ling menghela napas panjang.
“Apakah ilmu silat yang mereka miliki bisa dipertahankan?” tanyanya kemudian.
“Ilmu silatnya mungkin tidak sampai musnah. Namun dua diantara mereka bertiga mungkin bakal cacad seumur hidup.”
Boe Wie Tootiang yang berdiri disisi kalanganpun ikut menghela napas panjang.
“Pinto telah berusaha menolong dan mengobati luka mereka dengan obat paling mujarab dari partai Bu tong kami. Dapatkah menolong mereka terhindar dari badan yang cacad masih sulit bagi pinto untuk terangkan.”
“Seandainya siraja obat bertangan keji ada disini, badan mereka pasti akan tetap utuh” pikir Siauw Ling, teringat akan kehebatan ilmu pertabiban yang dimiliki orang itu timbul rasa kagum dalam hatinya.
Tiba-tiba terdengar Thio Kie An menghela napas dan berkata, “Cayhe benar-benar merasa sangat lapar, apakah disini terdapat sedikit makanan untuk menangsal perutku yang sudah tak tahan ini?”
Kiranya setibanya dalam ruang pendopo Tu Kioe telah turunkan Thio Kie An dibelakang pintu. Kakinya masih terikat diatas kaki kursinya maka ia tak dapat bangun dan harus berbaring dipintu.
Boe Wie Tootiang segera berpaling kearah sutenya sambil berkata, “Suruh mereka siapkan makanan!”
“Siauwte telah perintahkan mereka untuk menyiapkan makanan, mungkin sebentar lagi bakal dihantar kemari.”
Dalam pada itu terlihatlah dua orang bocah berbaju hijau muncul ditengah pendopo sambil membawa sayur dan nasi.
Setelah melakukan pertempuran sengit sehari semalam dan harus melanjutkan pula perjalanan jauh. Boleh dibilang para jago sudah mulai merasa sangat lapar sekali hanya beberapa orang memiliki ilmu silat lihay saja yang masih sanggup bertahan, tidak aneh begitu nasi dan sayur dihidangkan mereka segera melahapnya dengan penuh bernapsu.
Setelah bersantap sambil memandang kearah Siauw Ling ujar Boe Wie Tootiang, “Tempat ini tak bisa didiami terlalu lama menurut pendapat pinto sesudah beristirahat sebentar dan pulihkan tenaga kita harus segera melanjutkan perjalanan….”
Belum habis dia berkata, tampak seorang tootiang berusia pertengahan dengan napas tersengal-sengal lari masuk kedalam. Sesudah memberi hormat kepada Boe Wie Tootiang katanya, “Lapor ciangbun suhu, diluar kuil telah muncul jejak manusia!”
Boe Wie Tootiang kerutkan dahinya, belum sempat dia menjawab Im Yang cu telah bangun berdiri sambil lari keluar dari ruangan.
“Biar aku yang pergi menengok!”
“Seandainya ada orang dari perkampungan Pek Hoa San cung yang membuntuti kita dari tempat kejauhan, tidak sukar bagi mereka untuk menemukan kuil kuno ini” gumam Soen Put Shia.
“Kalau begitu biarlah siauwte hitungkan nasib kita, apakah kita bakal temui rejeki atau bencana?” sambung Suma Kan cepat.
Begitu berkata tanpa memperdulikan orang itu lagi dia ambil keluar sebuah kulit kura-kura dari sakunya. Enam buah mata uang emas dimasukkan kedalam kulit kura-kura tadi, sesudah digoyangkan beberapa kali mata uang tersebut segera disebarkan keatas tanah.
Para jago bungkam dalam seribu bahasa, sinar mata mereka dipusatkan keatas wajah Suma Kan sambil menantikan hasil ramalannya.
Siapa sangka sudah lama mereka menunggu namun belum juga kedengaran Suma Kan menjawab. Hal ini membuat hati para jago jadi heran dan tercegang.
Mereka segera menoleh, tampak Suma Kan dengan mata terbelalak dan wajah termangu-mangu sedang mengawasi hasil ramalannya.
“Bagaimana dengan hasil ramalanmu?” tiba-tiba Soen Put Shia tak kuat menahan diri dan bertanya. “Apakah kita bakal bertemu dengan rejeki atau bencana?”
“Kalau menurut perhitunganku ramalan ini termasuk bencana, namun diantara bencana inilah yang membuat cayhe jadi bingung dan tidak habis mengerti. Harus kukatakan ramalanku ini sebagai bencana atau rejeki.”
“Jadi menurut perhitunganmu mula-mula ramalanmu ini menunjukkan bencana lebih dulu kemudian baru rejeki?”
“Ramalan ini merupakan ramalan yang paling aneh, biarlah siauwte pikirkan lebih dulu!”
“Waah…. kalau kita harus menunggu sampai kau berhasil mengetahui ramalanmu ini bencana atau rejeki, mungkin musuh tangguh telah menerjang kedalam kuil ini” omel Soen Put Shia.
Mendadak tampak Im Yang cu lari masuk kedalam ruangan dengan terburu-buru, begitu tiba didalam segera serunya, “Celaka! musuh tangguh telah tiba didepan mata bahkan kedatangan mereka cepat sekali, sekarang mereka sudah berada kurang lebih tiga li dari kuil ini.”
“Berapa banyak musuh yang telah datang?” seru Siauw Ling sambil bangkit berdiri.
“Sepintas lalu, agaknya berada diatas belasan orang!”
“Cayhe rasa kita tidak boleh bertindak sungkan-sungkan lagi terhadap orang-orang dari perkampungan Pek Hoa San cung. Ketemu satu kita basmi satu ketemu sepuluh kita habisi sepuluh orang itu.”
“Kalau cuma belasan orang rasanya kita masih sanggup untuk menghadapinya” Soen Put Shia menambahkan pula.
“Aku telah kirim tanda rahasia untuk tarik kembali segenap anggota partai Bu tong yang tersebar diempat penjuru untuk berkumpul dalam kuil ini.”
Boe Wie Tootiang mengangguk.
“Betul, setelah kita basmi para kawanan bajingan itu dengan cepat kita tinggalkan tempat ini” katanya.
“Kalau begitu biarlah cayhe membantu para murid yang bertahan didepan pintu besar” seru Cheng Yap Cing selesai berkata ia lantas enjotkan badannya melayang keluar dari pendopo itu.
Sepeninggalnya pemuda she Cing itu, Boe Wie Tootiang alihkan sinar matanya kearah Soen Put Shia seraya berkata, “Loocianpwee harap kau pegang tampuk pimpinan dan segera mengatur pertahanan!”
“Haaah…. haaah…. haaah…. aku rasa lebih baik tootiang saja yang memegang tampuk pimpinan biar loohu serta saudara Siauw yang bertugas menghadapi musuh tangguh.”
Tanpa menantikan jawaban dari toosu tua itu lagi, bersama Siauw Ling ia lantas keluar dari ruangan.
Dalam pada itu anak murid dari partai Bu tong yang tertinggal dalam kuil telah menyebarkan diri disekeliling pendopo tersebut, pedang telah dicabut dan mereka berada dalam keadaan siap siaga.
Boe Wie Tootiang menyapu sekejap wajah para jago yang ada diruang pendopo lalu ujarnya, “Masalah yang paling penting dewasa ini adalah melindungi serta mempertahankan keselamatan Be Cong Piauw Pacu bertiga, karena itu pinto rasa kecuali anak murid Bu tong pay yang telah dibagi jadi dua orang serombongan menjaga dipintu dan jendela. Pinto harap cuwi sekalian bersama kami bertahan diluar pendopo, entah bagaimana menurut pendapat cuwi sekalian?”
Si sie poa emas Sang pat termenung sejenak kemudian jawabnya, “Rencana dari tootiang memang sempurna tetapi entah apa maksud kedatangan pihak lawan?”
“Kalau menurut pendapat pinto lebih baik kita duduk disini sambil menantikan kedatangan musuh. Kita berusaha pancing mereka masuk kedalam kuil kemudian baru dibasmi sampai habis, entah apakah pendapat Soen loocianpwee sesuai dengan pendapat pinto?”
“Ucapan Tootiang tepat sekali, akan siauwte sampaikan pesan ini kepada Soen Loocianpwee!” sahut Sang Pat, dengan langkah lebar dia lantas melangkah keluar.
Sementara itu Soen Put Shia serta Siauw Ling berjalan keluar dari pendopo. Baru saja mereka tiba didepan pintu tampaklah belasan lelaki kekar berbaju hitam laksana kilat telah meluncur datang.
Cheng Yang Cing dengan memimpin empat orang anak murid partai Bu tong, dengan pedang terhunus berdiri sejajar didepan pintu.
Suatu ingatan tiba-tiba berkelebat dalam benak Soen Put Shia, pikirnya, “Kenapa aku tidak bersembunyi dahulu dibelakang pintu sambil memeriksa siapakah yang datang? kalau musuh yang datang cuma beberapa orang kurcaci rasanya aku tak usah muncul sendiri, secara diam-diam kubantu saja Cheng Yap Cing dari dalam….”
Selama apa yang telah dipikirkan segera dilakukan, tanpa memperdulikan apakah Siauw Ling setuju atau tidak ia tarik tanga si anak muda itu untuk diajak bersembunyi dibelakang pintu.
Ketika menengok lagi keluar, tampaklah tiga orang lelaki kekar dengan cepatnya telah tiba lebih dulu disana.
…. Bersambung jilid ke 20
Jilid 20
Orang yang ada disebelah kiri mempunyai perawakan yang tinggi besar, wajahnya berwarna merah darah dengan sepasang tongkat besi Thiat Hoay Ciang tersoren dipanggungnya. Ia mengenakan jubah warna merah, sepatu warna merah dan seluruh tubuhnya merah bagaikan kobaran api.
Sedang orang yang ada disebelah kanan berjubah biru menyoren pedang. Dia bukan lain adalah sipelajar bertangan dingin Thian Tiong Goan.
Dan orang yang ada ditengah memakai jubah warna hitam, diatas alis sebelah kirinya terdapat codet bekas bacokan golok, hingga alisnya yang panjang dan tebal terpotong jadi dua bagian.
Setelah melihat siapa yang datang dengan suara lirih Siauw Ling segera berbisik, “Sipelajar bertangan dingin itu berani mengejar sampai kesini. Aku rasa dia pasti sudah membuat suatu persiapan, mungkin saja kedua orang itu adalah anggota dari Lam Hay Ngo Hiong.”
“Aku sipengemis tuapun mempunyai perasaan yang sama!”
“Kalau benar mereka adalah manusia-manusia dari lima laknat, aku rasa Cheng Yap Cing bukan tandingannya, kita harus segera munculkan diri untuk membantu dirinya.”
“Tidak mengapa, lebih baik kita perhatikan dulu secara diam-diam.”
Untuk sesaat Siauw Ling tak dapat menebak maksud hati Soen Put Shia, terpaksa ia menurut dan berdiri membungkam ditempat semula.
Sungguh cepat gerakan tubuh ketiga orang itu. Dalam sekejap mata mereka sudah berada dihadapan Cheng Yap Cing dan berhenti kurang lebih empat lima didepan jago muda dari Bu tong pay ini.
Tampak orang berbaju hitam yang berada ditengah menoleh dan memandang sekejap kearah Thian Tiong Goan lalu tanyanya, “Apakah orang itu?”
“Bukan….”
“Kalian bertiga hendak cari siapa?” tegur Cheng Yap Cing sambil memutar pedangnya.
“Siauw Ling” jawab orang berbaju hitam sambil menyapu wajah jago muda itu beserta keempat orang tootiang lainnya.
“Tidak salah, Siauw thayhiap memang berada didalam kuil ini dan tidak sulit bila kalian bertiga jika mau bertemu dengan dirinya, tetapi sebelum itu kalian harus menangkan dulu pedangku ini!”
“Hmm! siapa kau?”
“Sejak Siauw Ling terjun kedalam dunia persilatan jejaknya selalu misterius” pikir Cheng Yap Cing didalam hati. Tetapi setiap kali ia berhasil menonjolkan diri. Dalam waktu yang singkat bukan saja namanya telah terkenal dikolong jagad bahkan secara diam2 dia sudah menjadi orang yang paling dihormati dalam Bulim, setelah lewat beberapa saat lagi tidak sukar baginya untuk menduduki jabatan sebagai pemimpin Bulim. Sebaliknya kami partai Bu tong sudah bertahun-tahun lamanya tancapkan kaki didunia persilatan, dia bukan saja nama besarnya sukar menonjol malah jangan-jangan partai kami bisa ternadih oleh nama besarnya. Seandainya ketiga orang itu memang benar-benar mau menantang Siauw Ling, kenapa aku tidak menggunakan kesempatan ini untuk kalahkan mereka. Diluar aku bertindak demi Siauw Ling tapi secara diam-diam aku bisa gemilangkan nama besar partai kami….”
Saking asyiknya dia berpikir sampai lupa sang alis berjubah hitam itu berkerut kencang, napsu membunuhnya memancar keluar dari balik sinar matanya, jelas ia merasa sangat gusar, Tetapi entah apa sebabnya ternyata rasa marah yang bergolak dalam hatinya ditekan selalu, terdengar ia bertanya setelah mendehem berat.
“Apakah kau anak murid Bu tong pay?”
“Sedikitpun tidak salah, cayhe adalah Cheng Yap Cing anak murid partai Bu tong. Kalian bertiga berani datang kemari menantang Siauw thayhiap. Aku rasa kamu tentu bukan manusia tanpa nama bukan?”
“Lima rasul dari Lam Hay, kau tentu pernah mendengar bukan!” sahut orang berbaju hitam itu sambil angkat tangan kanannya dan perlihatkan lima jari.
Cheng Yap Cing tertegun.
“Aaah, sudah lama cayhe mendengar akan nama kalian” sahutnya tanpa terasa.
Selama ini orang berjubah serba merah yang ada disebelah kiri serta pelajar bertangan dingin Thian Tiong Goan membungkam dalam seribu bahasa. Jelas hal ini menunjukkan bilamana kedudukan orang berjubah hitam ini jauh lebih tinggi dari pada mereka berdua.
Terdengar orang berjubah hitam itu berkata kembali, “Kalau kau sudah tahu akan nama besar lima rasul, ayo cepat lapor kedalam….”
“Apa yang perlu dilaporkan?”
“Laporkan kepada Siauw Ling dan katakanlah lima rasul dari Lam Hay ada urusan penting dan hendak bertemu dengan dirinya.”
“Cuwi cuma bertiga, kenapa disebut lima rasul?”
Hijau membesi seluruh wajah orang berbaju hitam itu hingga tampak begitu menyeramkan, jelas orang ini mempunyai perangai yang buruk dan watak yang sangat berangasan, tetapi oleh sesuatu kekuatan yang tak terwujud ia tak bisa mengumbar tabiatnya dan seakan-akan terbelenggu. Dengan paksaan diri ditangannya emosi dan golakan hawa amarahnya.
Tampak dia menggelengkan dan berseru, “Apakah kau ingin mengetahuinya sampai jelas?”
“Sedikitpun tidak salah.”
Mendadak orang berjubah hitam itu mendepakkan kakinya keatas tanah. Pasir dan batu berterbangan memenuhi angkasa, diatas permukaan tanah yang keras seketika muncul sebuah bekas kaki sedalam dua coen, sahutnya dengan dingin, “Cayhe adalah Soh Hoen Ciang sitelapak membentot sukma Soen Seng, dalam lima rasul dari Lam Hay menduduki urutan kedua….” sinar matanya beralih kearah orang berbaju merah disebelah kirinya. “Dan dia adalah samte kami Cay Wie” kembali matanya beralih kearah Thian Tiong Goan. “Dan dia adalah Ngo te kami sipelajar bertangan dingin Thian Tiong Goan. Nah apa yang ingin kau tanyakan lagi?”
Soen Put Shia dan Siauw Ling yang bersembunyi dibelakang pintu dapat mendengar semua percakapan itu dengan cepat pengemis tua itu jadi keheranan bisiknya, “Tempo dulu lima manusia laknat dari Lam Hay pernah membasmi habis semua anggota dari partai Ciang Shia serta Go Bie, waktu mereka kejam, buas dan tidak berperi kemanusiaan, sedikit-sedikit saja lantas turun sangat membunuh. Kenapa sikapnya hari ini begitu sadar dan lunak? sungguh aneh!”
“Kalau ditinjau dari wajahnya yang penuh diliputi napsu membunuh, jelas hawa gusar yang bergelora dalam dadanya saat ini sukar dilukiskan lagi dengan kata-kata. Cuma saja ia bersabar terus mempertahankan diri!”
“Nah disitulah letak keanehannya, ia bersabar diri dan menekan hawa gusar yang berkobar dalam dadanya, maksud dan tujuannya tidak lain ingin bertemu dengan dirimu.”
Dengan tidak dapat menahan kesabarannya lantas ia telah bertanya lagi, “Apa maksudmu kami bertiga mencari Siauw Ling berada disini atau tidak, kau harus tahu bahwa kesabaran cayhe ada batasnya.”
teriak sitelapak pembetot sukma penuh kegusaran.
Siauw Ling siap melangkah keluar dari tempat persembunyiannya, namun Soen Put Shia segera menahan tubuhnya seraya berbisik, “Jangan gugup, tunggulah sejenak lagi!”
Cheng Yap Cing yang ada dikalangan ingin sekali mencemerlangkan nama partainya. Ia segera kebas pedang ditangan dan berseru, “Tidak sulit kalau kau hendak berjumpa dengan Siauw thayhiap namun tembusi dulu pos pertahanan ini.”
“Kalau terus menerus menyusahkan diriku, entah apa maksudmu yang sebenarnya?” ia lantas ulapkan tangan kirinya.
Ada disebelah kiri dengan cepat meloncat keluar, tangan kanannya diayun dan dengan keras ia cengkeram pedang Cheng Yap Cing.
Jago muda dari Bu tong pay ini tidak menyangka kalau serangan musuh datangnya begitu cepat, hampir saja pedangnya kena dirampas. Dalam keadaan terdesak dan gugup, cepat ia loncat mundur lima depa kebelakang. Pedangnya diayun dan menciptakan serentetan bunga pedang.
Cay Wie membentak keras. Weeesss….! tangan kanannya diayun kemuka mengirim satu pukulan dahsyat. Badannya maju dua langkah kedepan dan tangan kirinya segera mencabut keluar tongkat besi yang tersoren dibahunya.
Bukan saja gerak geriknya gagah dan ampuh, serangannya tajam dan mengerikan, ternyata ia sudah anggap pedang baja ditangan Cheng Yap Cing itu bagaikan benda yang tak berharga.
Cheng Yap Cing sendiri terperanjat luar biasa tak kala merasakan datangnya angin serangan lawan yang begitu dahsyat bahkan mengandung daya tekanan yang hebat, segera pikirnya, “Sungguh dahsyat angin pukulan orang ini, rupanya dia bukan manusia sembarangan….”
Dalam pada itu Cay Wie telah meloloskan senjatanya.
Buru-buru Cheng Yap Cing melancarkan serangan balasan, pedangnya dengan jurus “Seng Ko To Kwa” atau binatang berguguran diatas sungai menciptakan beratus-ratus titik cahaya tajam menyelimuti seluruh angkasa.
Jurus serangan ini merupakan jurus yang ampuh diantara ilmu pedang Bu tong Kiam Hoat, serangannya rapat dan tajam. Dalam serangan disertai pula dengan pertahanan membuat seluruh badannya terlindung dengan rapatnya.
Siapa sangka Cay Wie jeri dengan ancaman ini, tongkat besinya disodok kedepan dan menyerang masuk melalui cahaya pedang yang sangat rapat tadi.
Traaaang….! Traaang….! suara bentrokan senjata berkumandang tiada hentinya memekikkan telinga. Cheng Yap Cing tak sanggup mempertahankan diri dan ia terdesak mundur satu langkah kebelakang, pergelangan tangannya secara rapat-rapat terasa kaku dan linu setelah Cheng Yap Cing dengan serangan dua tongkat besi ditangan kirinya, dengan cepat tangan kanannya meloloskan tongkat besi kedua dan melancarkan serangannya.
“Tahan!” tiba-tiba Soen Seng membentak Cay Wie tarik kembali tongkat besinya dan segera loncat mundur kebelakang.
“Kedatangan cayhe kemari sama sekali tiada bermaksud memusuhi kalian, kami mempunyai persoalan penting yang hendak disampaikan kepada diri Siauw Ling” seru Soen Seng kembali seraya ulapkan tangannya Cheng Yap Cing membungkam, apa yang dipikirkan dalam hatinya adalah jurus “Seng Hoo Too Kwa” yang barusan berhasil dipecahkan oleh Cay Wie itu. Dia merasa serangan tongkatnya tanpa pakai aturan, namun entah apa sebabnya ternyata semua perubahan tadi berhasil dipecahkan. Ia merasa terkejut, kaget tercengang dan tidak puas.
Tatkala Cay Wie melihat Cheng Yap Cing tidak menjawab perkataan toakonya, gusar segera serunya, “Mungkin Siauw Ling tidak berada disini, orang ini sengaja berpura-pura tuli dan bisu, tak mau memperdulikan kita. Aku rasa tak usah kita banyak bicara lagi dengan mereka biarlah siauwte jagal dulu orang ini serta keempat orang toosu tua hidung kerbau itu.”
Tongkatnya segera dipersiapkan untuk melancarkan serangan kembali.
Mendadak…. terdengar gelak tertawa nyaring berkumandang datang, seorang pemuda berpakaian ringkas perlahan-lahan munculkan diri dari balik pintu.
Orang itu adalah Siauw Ling yang menyaksikan pertarungan antara Cay Wie dengan Cheng Yap Cing hatinya merasa sangat terperanjat, segera pikirnya, “Orang itu bertempur tanpa memakai aturan tetapi setiap serangan dan hantamannya mengandung daya tekanan yang luar biasa, mungkin Cheng Yap Cing bukan tandingannya. Karena itulah sambil tertawa terbahak-bahak ia lantas munculkan diri mendekati orang she Soen itu.”
Cheng Yap Cing melirik sekejap kearah Siauw Ling, dengan wajah jengah ia masukkan kembali pedangnya kedalam sarung dan mengundurkan diri kesamping.
Dari serangan Cay Wie yang ganas serta daya tekanan yang dahsyat dalam gerakannya yang sederhana itu pemuda she Siauw lantas berpendapat bila ia tidak memiliki tenaga dalam yang sakti dan maha dahsyat, murni otaknya berputar mencari akal untuk menghadapi dirinya.
Tampak sitelapak tangan pembetot sukma Soen Seng maju dua langkah kemuka, setelah menjura katanya, “Apakah saudara adalah Siauw Ling?”
Siauw Ling tidak menjawab. Matanya menyapu sekejap keadaan lawan dimana ia jumpai kesembilan orang lelaki berbaju hitam mengiringi ketiga orang itu, berdiri jauh dibelakang Soen Seng, telah termenung sejenak ia menyahut, “Cayhe memang Siauw Ling adanya, entah ada maksud apa kalian bertiga datang mencari aku?”
“Tadi, adik kami telah melakukan kesalahan terhadap dirimu, disini cayhe mohonkan maaf.”
“Aaah…. tidak mengapa” seru Siauw Ling sambil tertawa hambar, sementara hatinya tercengang pikirya, “Sebetulnya apa yang telah terjadi? apakah kedatangan mereka tidak untuk balas dendam bagi kekalahan yang diderita Thian Tiong tadi….”
Terdengar Soen Seng mendehem ringan dan berkata kembali, “Kami lima bersaudara dari Lam Hay tidak pernah mempunyai maksud untuk memusuhi diri Siauw thayhiap, namun apa daya takdir menentukan demikian ditambah pula Djen Bok Hong menghasut dari belakang, hingga akhirnya kami terpaksa sudah berbuat kasar terhadap diri Siauw thayhiap.”
“Kau tak usah sungkan-sungkan!”
“Terus terang saja Siauwte katakan, bahwa kedatangan kami kali ini pertama adalah untuk minta maaf dan kedua, ada suatu urusan hingga terpaksa kami harus merepotkan Siauw thayhiap!”
Siauw Ling berpaling. Ia jemput Soen Put Shia telah menyusul kesisi tubuhnya, namun jago tua sudah punya pengalaman luas dan telah lama berkelana dalam dunia persilatan ini sedang berdiri dengan wajah bimbang dan ragu jelas iapun dibikin tercengang oleh sikap orang. Ketika Soen Seng tidak mendengar jawaban dari Siauw Ling kembali dia menjura sambil berkata, “Maukah Siauw thayhiap membantu diri kami?”
“Katakan dulu persoalan apa yang sedang kau hadapi. Nanti cayhe baru ambil keputusan!” Soen seng tertunduk, dengan nada lirih sahutnya, “Sejak terjun kedunia kangouw kami lima bersaudara dari Lam Hay belum pernah mohon bantuan orang lain, tapi hari ini terpaksa kami harus memohon kepada Siauw thayhiap agar suka ringan tangan menolong kami.”
“Terangkanlah dahulu persoalan apa yang sebenarnya kalian hadapi!” karena semakin bingung terpaksa si anak muda itu berkata demikian.
“Sejak berkelana dalam dunia kangouw banyak permusuhan yang telah kami ikat, tentunya Siauw thayhiap pernah mendengar bukan peristiwa pembasmian terhadap partai Cing Shia serta partai Go Bie yang kami lakukan tempo dulu.”
Meskipun tidak paham apa maksudnya pihak lawan berkata demikian, namun Siauw Ling mengangguk juga.
“Tidak salah.”
“Bila persoalan itu sudah siauwte utarakan keluar namun Siauw thayhiap tak sudi menolong. Bisa jadi kami lima bersaudara dari Lam Hay tak ada mula lagi untuk tancapkan kaki dalam dunia persilatan.”
Jelas maksud perkataan itu adalah mengartikan bila masalahnya telah dikatakan maka bila Siauw Ling tak mau menolong, mereka tentu akan memaksa terus.
“Bilamana permintaan saudara adalah permintaan yang terbuka dan jujur maka bagimanapun juga aku orang she Siauw pasti akan membantu dengan segenap tenaga, sebaliknya kalau perminataan itu adalah permintaan yang kelewat batas dan memalukan sekalipun kepalaku dipancung, jangan harap cayhe sudi mengabulkan.”
Cheng Yap Cing yang mendengar perkataan itu diam-diam merasa malu sendiri pikirnya, “Siauw Ling betul-betul manusia budiman yang bijaksana, aku benar-benar bukan tandingannya….”
“Baik!” jawab Soen seng sesudah termenung sejenak. “Sekalipun sudah siauwte katakan dan siauw thayhiap tak sudi menolong cayhepun tidak akan memaksa.”
“Nah katakanlah!”
“Secara tiba-tiba Loo toa serta Loo su dari kelima saudara telah mengindap penyakit edan yang parah, kami tahu bahwa dikolong langit dewasa ini cuma Siauw thayhiap seorang saja yang sanggup menyembuhkan penyakit ini. Kami mohon agar Siauw thayhiap suka menolong kami dan sembuhkan penyakit Loo toa serta Loo su kami. Lima bersaudara dari Lam Hay pasti tak akan melupakan budi kebaikanmu itu!”
“Mengobati penyakit edan?” seru Siauw Ling tertegun.
“Tidak salah. Sakit yang diderita toako serta sute kami datangnya terlalu mendadak, meskipun cuma dua belas jam namun mereka sudah gila hebat hingga saudara dan kenakalanpun tak dinilai lagi. Telah kujelajahi daerah sekeliling tempat ini, tiga belas orang tabib telah kami undang namun mereka tak sanggup menyembuhkan penyakit itu, sebab itulah maka terpaksa kami harus merepotkan diri Siauw thayhiap.”
“Kalau urusan menyembuhkan penyakit Boe Wie Tootiang adalah jago yang lihay” pikir Siauw Ling. “Aku orang she Siauw sama sekali tidak mengerti akan ilmu pertabiban, kenapa mereka mencari aku?”
Dari sakunya Soen Seng ambil keluar secarik kertas, sambil diangsurkan kemuka sahutnya, “Apakah Siauw Ling thayhiap kenal dengan sipengirim surat ini?”
Siauw Ling segera menerima surat itu dan dibaca isinya, “Penyakit aneh yang diderita saudara kalian sangat ganas dan berbahaya, bilamana didalam dua puluh empat jam tidak disembuhkan maka urat nadinya akan pecah dan mati binasa. Keadaannya mengerikan dan mendirikan bulu roma.
“Untung Thian maha pengasih, dengan ini kutunjukkan satu jalan hidup buat kalian. Satu-satunya orang yang bisa menyembuhkan penyakit edan ini kecuali dirimu adalah Siauw Ling, tetapi sayang aku masih ada urusan lain yang harus dikerjakan maka tak bisa kubantu kamu semua. gunakanlah kesempatan yang sangat baik ini untuk mohon bantuan Siauw Ling.”
Sederhana sekali isi surat itu, dibawahnya tidak tercantum pula tanda tangan ataupun tanda apapun jua.
Siauw Ling berdiri tertegun, dibacanya berulang kali surat tadi sedang dalam hati ia tidak habis mengerti siapakah yang sedang mengajak dia bergurau.
“Apa yang ditulis dalam surat itu?” tanya Soen Put Shia.
“Bacalah sendiri Loocianpwee!”
Soen Put Shia menerima surat tadi dan dibacanya, dalam hati ia merasa tercengang dan tidak habis mengerti.
“Siauw thayhiap, kau tentu kenal dengan orang ini bukan?” tanya Soen seng.
“Soal ini….”
“Kalau tidak kenal, mana mungkin dia bisa memberi petunjuk kepada kalian?” sambung Soen Put Shia dengan cepat.
Siauw Ling jadi terperanjat segera pikirnya, “Menyembuhkan sakit seseorang menyangkut mati hidup orang itu, mana boleh kuanggap sebagai suatu permainan?”
Sementara dia mau membantah. Soen Put Shia telah berkata lebih jauh, “Dimanakah dua orang terluka itu?”
“Berada dalam sebuah rumah manusia bijaksana yang penuh welas asih, setelah dia mengetahui akan kejadian ini sudah tentu akan membantu sekuat tenaga.”
“Cayhe merasa amat berterima kasih atas kesediaan Siauw thayhiap untuk menolong kedua orang saudara kami.”
“Tetapi sayang kalian bersekongkol dengan Djen Bok Hong sedangkan ketua dari perkampungan Pek Hoa San cung adalah musuh besar dari Siauw thayhiap. Seandainya kami menolong kedua orang saudara bukan berarti kami telah mengundang musuh yang lebih tangguh?”
“Kalau Siauw thayhiap suka menolong toako serta sute kami, dengan sendirinya kami lima bersaudara dari Lam Hay tak akan membantu Djen Bok Hong lagi untuk memusuhi diri Siauw thayhiap.”
“Haaah…. haaah…. haaah….” Soen Put Shia segera tertawa terbahak-bahak, sambil menuding kearah Thian Tiong Goan serunya: “Ngo te kalian dengan membawa jago-jago lihay dari perkampungan Pek Hoa San cung telah turun tangan keji dan melukai beberapa orang saudara dari Siauw thayhiap dengan senjata rahasia beracun. Bagaimana pula pertanggungan jawab kalian terhadap persoalan ini?”
“Cayhe datang kemari justru hendak menyembuhkan luka beracun yang mereka derita” buru-buru Thian Tiong Goan berseru.
Soen Put Shia mendengus dingin.
“Hmm, kalau kami harus menunggu sampai kau datang memberi obat pemusnah, mungkin mereka sudah mati sejak tadi.”
Soen seng melirik sekejap kearah Thian Tiong Goan lalu berkata, “Ilmu pertabiban yang dimiliki Siauw thayhiap sangat sempurna hanya senjata rahasia beracun saja tentu takkan menyusahkan dirinya. Ngo te! kau telah berbuat salah terhadap Siauw thayhiap, ayo cepat maju kedepan minta maaf.”
Apa boleh buat, terpaksa dengan langkah perlahan Thian Tiong Goan maju dua langkah kemuka dan menjura.
“Bilamana cayhe sudah melakukan kesalahan terhadap Siauw thayhiap, harap Siauw thayhiap suka memaafkan!”
“Dalam suatu petarungan sudah jamak kalau saling luka melukai. Tak usah kau murungkan tentang persoalan itu.”
“Siauw thayhiap berpikiran luas dan berlapang dada, cayhe merasa amat kagum.”
“Hmm…. hmm…. kelicikan dunia kangouw bagaimanapun juga harus dijaga” jengek Soen Put Shia dari samping. “Siapa tahu kalau tindakan kalian saat ini bukan lain adalah hendak memancing Siauw thayhiap masuk perangkap….”
“Walaupun lima bersaudara dari Lam Hay sering kali turun tangan keji namun belum pernah kami bicara bohong.”
“Lalu siapakah yang berdiri dibelakang kalian?”
“Jago-jago dari perkampungan Pek Hoa San cung!”
“Bagus sekali!” teriak Soen Put Shia sambil tertawa dingin. “Orang-orang dari perkampungan Pek Hoa San cung pun berjalan bersama kalian, sudah semakin jelas lagi kalau surat itu bukan lain adalah siasat licik dari Djen Bok Hong.”
“Baiklah. Kalau kalian tidak percaya terpaksa aku harus bunuh dulu orang-orang dari perkampungan Pek Hoa San cung ini sebagai pertanda bahwa ucapan kami adalah jujur!”
Mendadak ia putar badan dan menubruk kearah barisan lelaki yang berada dibelakangnya.
Tampak sepasang telapaknya diayun berantai, dua orang lelaki berbaju hitam ini sebelum sempat mencabut keluar senjatanya telah roboh binasa diatas tanah.
Cay Wie serta Thian Tiong Goan pun segera mengikuti jejak kakaknya. Badan mereka menubruk kearah lelaki berbaju hitam itu dan tampaklah bayangan tombak berputar cahaya pedang menggulung, dalam sekejap mata semua orang berbaju hitam yang ada disitu mati konyol tanpa sempat memberikan perlawanan.
Menyaksikan keganasan orang dalam hati Siauw Ling lantas berpikir, “Nama besar lima manusia laknat dari Lam Hay benar2 bukan nama kosong belaka, bukan saja hati mereka kejam bahkan keji dan telengas sekali….”
Sebaliknya Soen put shia sendiripun tidak menyangka kalau ketiga orang itu segera bertindak setelah ia sampai tertegun dan berdiri melongo.
“Siauw thayhiap sekarang kau sudah percaya bukan.” Soen Seng kemudian melangkah datang.
“Setelah kalian bertiga membinasakan jagoan dari perkampungan Pek Hoa San cung, bagaimana pertanggungan jawab kalian dikemudian hari dihadapan Djen Bok Hong?”
“Sebelum berkenalan dengan Siauw thayhiap kami memang dipergunakan oleh Djen Bok Hong untuk memusuhi Siauw thayhiap, tetapi kini sesudah kita bersahabat sudah tentu kami tak akan berbakti lagi kepada pihak perkampungan Pek Hoa San cung.”
“Sekalipun kau binasakan Djen Bok Hong tak nanti aku sanggup menyembuhkan sakit edan yang diderita kedua orang saudaramu” pikir Siauw Ling.
Dia merasa bahwa persoalan ini tak bisa diundurkan lagi, sementara dia siap menerangkan kalau ia tak pandai ilmu pertabiban kembali Soen put shia menimbrung lebih dulu, “Harap kalian bertiga menunggu sejenak diluar kuil, biar sipengemis tua rundingkan dahulu persoalan ini dengan diri Siauw thayhiap.”
“Jadi kawan atau jadi lawan semuanya terngantung pada keputusan Siauw thayhiap. Kalian berdua silahkan berlalu!”
“Saudara Siauw, mari ikut aku dipengemis tua!” seru Soen put shia sambil putar badan dan berjalan masuk kedalam kuil.
Siauw Ling tak berkutik terpaksa dia mengikuti dibelakang pengemis tua itu, setibanya didalam kuil segera tegurnya, “Loocianpwee, kenapa kau sanggupi untuk menyembuhkan luka yang mereka derita?”
“Apabila membiarkan lima manusia laknat dari Lam Hay membantu pihak perkampungan Pek Hoa San cung dengan sekuat tenaga, itu berarti membuat Djen Bok Hong bagaikan harimau yang tumbuh sayap, kita harus berusaha untuk memisahkan kerjasama diantara mereka!”
“Tetapi boanpwee sama sekali tidak paham akan ilmu pertabiban, dari mana bisa kusembuhkan sakit edan yang mereka derita?”
“Dalam hal ini keadaan aku sipengemis tua tiada berbeda denganmu, itulah sebabnya kita harus rundingkan dahulu persoalan ini dengan diri Boe Wie Tootiang.”
Ia percepat langkahnya dan lari masuk kedalam pendopo tengah.
Sementara itu Boe wie Tootiang, Tiong Cho Siang ku serta Suma Kan sekalian sedang merasa keheranan karena lama sekali belum juga kedengaran ada suara pertempuran, melihat ketiga orang itu munculkan diri mereka segera menyongsong.
Begitu tiba diruang tengah, Soen put shia segera berseru, “Peristiwa aneh jarang terjadi dalam kolong langit, tapi tahun ini sungguh banyak yang telah terjadi, aneh, aneh, sungguh aneh.”
“Persoalan apa yang aneh?” tegur Boe Wie Tootiang.
“Heeeh…. heeeh…. heeeh…. ruapanya kemampuan Siauw Ling yang disiarkan dalam kolong langit telah meningkat sehingga seakan2 persoalan apapun sanggup dilakukan olehnya!”
“Sebenarnya apa yang sudah terjadi?”
“Tiga orang bersaudara dari Lam Hay Ngo Hiong telah datang kemari untuk minta tolong Siauw Ling guna menyembuhkan sakit edan yang diderita saudara mereka.”
“Aaah, sudah terjadi kejadian seaneh itu?”
“Tapi sang siauwte tidak mengerti sama sekali tentang ilmu pertabiban” sahut Siauw Ling sambil melangkah masuk. “Mana mungkin sakit edan dari Lam Hay sanggup kusembuhkan?”
“Yang aneh lagi, dari mana mereka bisa datang mencari dirimu?”
“Mungkin saja ada orang yang sengaja hendak menyusahkan diriku, maka disuruhnya Lam Hay Ngo Hiong datang kemari untuk mencari aku, sehingga kalau sampai aku tak mampu menyembuhkan sakit mereka maka antara mereka dengan kami akan terikat dendam sakit hati.”
“Tidak salah, mungkin saja memang demikian?”
“Sudah siauwte tolak berulang kali, tetapi mereka belum mau juga percaya!”
“Lalu bagaimana menurut pendapat Siauw thayhiap?”
“Mereka datang membawa sepucuk surat dalam surat tadi mengatakan bahwa hanya cayhe yang sanggup menyembuhkan sakit edan tersebut, maka Lam Hay Ngo Hiong ngotot terus memohon kepada diriku.”
“Sudah kau sanggupi?”
“Keadaan sangat mendesak, tidak disanggupipun rasanya tak mati.”
“Siapakah yang menulis surat itu? apakah Siauw thayhiap bisa kenali tulisannya?”
“Sungguh menjengkelkan, pada akhir surat itu sama sekali tak ada tanda tangannya.”
Boe Wie Tootiang termenung sejenak, kemudian jawabnya, “Kalian memang Siauw thayhiap sudah menyanggupi mari kita tengok keadaan sakit mereka.”
“Tapi cayhe….”
“Pinto akan pergi bersamaan, kita bekerja mengikuti keadaan pada saat itu.”
Siauw Ling berpikir sebentar, akhirnya dia mengangguk.
“Yaaah, terpaksa kita harus berbuat demikian.”
“Biarlah aku sipengemis tua berangkat bersama kalian! seandainya sampai terjadi pertarungan, dengan jumlah kita persis seorang lawan seorang!”
“Tempat ini tak bisa didiami lebih jauh, akupun akan suruh mereka sekalian berangkat….” kata Boe Wie Tootiang. Dia berpaling memandang sekejap kearah Im Yang cu kemudian sambungnya, “Turunkan perintah agar mereka semua siap sedia, bawalah beberapa orang yang terluka parah itu menyingkir dari sini.”
“Lalu kita akan bertemu lagi dimana?”
“Ehm…. kalian berangkatlah lebih dulu keselat Huang Yang Kok!”
Im Yang cu mengiakan dan segera berlalu.
“Mari kita jumpai Lam Hay Ngo Hiong!” teriak Boe Wie Tootiang kemudian, bersama Siauw Ling kemudian mereka lantas keluar dari kuil.
Sementara itu sitelapak pembetot sukma Soen seng sedang menanti dengan hati gelisah melihat mereka keluar dia maju menyongsong.
“Siauw thayhiap, kau suka berangkat bersama kami bukan?” serunya sambil menjura.
Siauw Ling berpaling memandang sekejap kearah Boe Wie Tootiang kemudian menjawab, “Cayhe ingin berangkat bersama2 Boe Wie Tootiang, karena ilmu pertabiban dari Tootiang sangat lihay dan sempurna, dia merupakan pembantu yang paling berharga bagiku.”
“Ooh, sudah lama kami mengagumi nama besar Tootiang, dengan senang hati kami persilahkan Tootiang untuk ikut berangkat.”
“Menolong orang bagaikan menolong api. Urusan tak boleh ditunda2 lagi setelah kita setuju ayoh mari kita berangkat!” ajak Soen put shia.
Boe Wie Tootiang berbisik memesan beberapa patah kata kepada Cheng Yap Cing, kemudian segera berangkat.
Begitulah dibawah pimpinan sitelapak pembetot sukma Soen seng, Cay Wie serta Thian tiong Goan, berangkatlah Siauw Ling sekalian mengikuti dibelakangnya.
Keenam orang itu merupakan jago-jago lihay dalam dunia persilatan, perjalanan yang dilakukan dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh ini betul2 cepatnya luar biasa.
Perjalanannya kian lama kian bertambah cepat, Siauw Ling segera mengerti bila Lam Hay Sam Mo sengaja hendak mengunggul kemampuan larinya, hawa murni segera disusulkan keluar dan ia percepat larinya.
Enam sosok bayangan manusia berkelebat dengan cepatnya ditengah jalan gunung yang licin dan terjal, begitu cepat seakan2 bintang kejora yang sedang mengejar rembulan.
Kurang lebih empat puluh li kemudian Soen seng baru berhenti, serunya sambil berpaling, “Kita sudah sampai!”
Siauw Ling tertegun, kiranya dimana mereka berhenti saat ini merupakan ujung dari pada sebuah selat, kedua belah sisi mereka merupakan dinding tebing yang menulang keangkasa, dihadapannya terdapat pula sebuah bukit menghalangi perjalanan mereka. Didasar lembah penuh tumbuh semak belukar yang lebat serta pohon2 yang pendek, suasana serta pemandangannya amat miskin dan seram.
“Dimana kedua orang saudara kalian….” Boe Wie Tootiang segera menegur.
“Mereka berada didalam sebuah goa yang rahasia sekali letaknya, mari ikuti diri cayhe!”
Siauw Ling sekalian tidak banyak bicara, dengan ketat mereka ikuti dari belakang.
Setibanya dibawah bukit yang menghalangi perjalanan mereka itu Soen seng berhenti dan segera berseru lantang, “Dua bocah pelindung, kalian ada dimana?”
“Tecu ada disini!” jawaban yang tinggi lengking menyahut dari balik batu besar ditepi dinding tebing, diikuti munculnya dua orang bocah berusia empat lima belas tahun dengan memakai baju hijau dan menyoren pedang dipunggung.
Sekilas pandang Siauw Ling dapat melihat jelas wajah kedua orang bocah itu, air muka mereka berdua berwarna hijau kekuning2an seakan2 orang yang sudah lama kelaparan, namun sorot matanya tajam bercahaya jelas mereka miliki tenaga kweekang yang sempurna.
Empat buah sorot mata yang tajam dari kedua orang bocah itu menyapu sekejap wajah Siauw Ling, lalu bersama2 menjura kearah Soen seng sambil berseru, “Menghunjuk hormat buat Susiok bertiga!”
“Tak usah banyak adat, bagaimana keadaan sakit suhu kalian?”
“Belum menunjukkan tanda2 membaik!” jawab sang bocah yang ada disebelah kiri.
“Ehmm, Siauw thayhiap telah datang, cepat payang suhu kalian keluar agar penyakitnya bisa diperiksa oleh Siauw thayhiap!”
Kedua bocah itu mengiakan, mereka sapu sekejap wajah ketiga orang itu dengan sorot mata tajam kemudian perlahan2 berjalan masuk kebalik batu.
“Dibalik batu cadas itu pasti sudah diatur sesuatu yang lihay” Boe Wie Tootiang segera membatin. “Karena itu mereka tidak ijinkan kami sekalian masuk kedalam….”
Siauw Ling serta Soen put shia pun mempunyai kecurigaan kesana, meski begitu mereka tetap bersabar dan tidak buka suara.
Rupanya Soen seng dapat menebak kecurigaan Siauw Ling sekalian, ia mendehem dan segera berkata, “Penyakit dari toako serta sute kami sangat parah, keadaan gua porak poranda tidak karuan. Kami merasa kurang leluasa untuk mengundang cuwi sekalian duduk didalam gua!”
“Hmm, mungkin saja disitu ada apa2nya” batin Soen Put shia, tapi diluar dia lantas tertawa terbahak2.
“Haah…. haah…. haah…. kami datang kemari adalah untuk memeriksa penyakit dari kakak serta adikmu, masuk kedalam gua atau tidak itu bukan urusan penting!”
Soen Seng tertawa hambar, diapun tidak banyak bicara lagi.
Kurang lebih seperminum teh kemudian tampaklah dua orang bocah berbaju hijau sambil menyoren pedang menggotong keluar sebuah tandu lemas yang terbuat dari rotan.
Diatas ranjang reotan tadi berbaring seorang pelajar berbaju biru yang berwajah hijau kekuning2an seperti halnya dengan wajah kedua orang bocah itu.
“Turunkan kebawah!” perintah Soen seng. Kedua orang bocah berbaju hijau itu segera turunkan pembaringan rotan tadi keatas tanah kemudian mundur lima depa kebelakang.
Waktu itu pelajar berbaju biru tadi berbaring dengan mata terpejam rapat2 rupanya ia sedang tertidur pulas.
Siauw Ling memandang sekejap wajahnya lalu seraya menoleh kearah Soen seng ujarnya, “Saudara ini adalah….”
“Pemimpin dari Lam Hay Ngo Hiong loota kami, Kioe Kiam Sin Hoan atau sembilan pedang gelang sakti Thio Cu Yoe adanya!”
“Aaah, kiranya pemimpin dari lima rasul maaf…. maaf!”
“Aaai….! toako kami ini bukan saja mempunyai kecerdasan yang melebihi kami sekalian bahkan ilmu silatnya jauh diatas kami semua. Sembilan bilah pedang pendeknya bisa menjagal harimau dari seratus tindak. Sepasang gelang saktinya bisa merontokkan burung yang terbang sepuluh tombak ditengah udara. Oleh sebab itu ia dikenal orang sebagai sembilan pedang gelang sakti. Sungguh tak nyana manusia gagah seperti dia ternyata harus menderita penyakit yang begitu parah….”
Terhadap soal pembicaraan Siauw Ling boleh dibilang sama sekali tak berpengalaman, melihat Thio Cu Yoe pejamkan mata tak sadar ia jadi bingung dan tak tahu apa yang harus dilakukan.
“Siauw thayhiap, lebih baik kau tanyakan dahulu keadaan sakit dari Thio heng ini” kata Boe wie Tootiang sambil mendehem.
“Ehmm…. memang seharusnya demikian….” sinar matanya beralih kearah Soen seng dan menambahkan: “Apakah kakakmu selalu berada dalam keadaan tidak sadar?”
Soen seng menggeleng.
“Dia jadi gila dan terhadap saudara sendiripun tidak kenal, maka dari itu dalam keadaan terpaksa cayhe totok jalan darahnya.”
“Bila ingin mengetahui keadaan sakitnya kita harus bebaskan dahulu jalan darahnya yang tertotok!” saran Siauw Ling.
Soen seng ragu2, ia termenung sebentar lalu berkata, “Pada saat ini kesadarannya telah kacau dan hilang, seandainya jalan darahnya kita bebaskan apakah tidak takut kalau ia turun tangan melukai orang?”
Mula2 Siauw Ling tertegun oleh ucapan tersebut, tetapi dengan cepat dia menjawab, “Tidak mengapa, asal sedikit lebih berhati2 rasanya sudah cukup….!”
“Hiante berdua harap berhati2? pesan Soen seng kemudian sambil memandang sekejap kearah Cay Wie serta Thian tiong Goan. Setelah itu dia baru bebaskan jalan darah Thio Cu Yoe yang tertotok.
Tampak seorang she Thio itu membuka matanya lebar2 dipandangnya sekejap beberapa orang itu kemudian berontak seakan2 mau bangkit berdiri.
Tetapi beberapa jalan darah yang ada dilengan serta kakinya masih tertotok. Oleh karena itu walaupun dia ingin bangkit namun tiada tenaga sama sekali untuk melaksanakan.
“Jalan darah pingsannya telah kubebaskan” bisik Soen seng.
“Ehmm, alangkah baiknya kalau semua jalan darah ditubuhnya dibebaskan, agar siauwte bisa segera periksa denyutan nadinya.”
“Bebaskan jalan darah dilengan serta kakinya?”
Siauw Ling sama sekali tidak mengerti apakah urat nadi seseorang bisa diperiksa atau tidak setelah jalan darah dilengannya tertotok, namun ucapan telah diutarakan terpaksa ia mengangguk.
“Tidak salah, jalan darah dilengannya harus dibebaskan lebih dulu!”
“Kalau begitu berhati2lah Siauw thayhiap” sambil berseru tangannya bergerak cepat membebaskan jalan darah dilengan Thio Cu Yoe, kemudian buru2 loncat mundur tiga langkah kebelakang.
Diam2 Siauw Ling mengempos tenaga dalamnya memperlihatkan reaksi orang she Thio itu.
Tampak Thio Cu Yoe mengulet lalu bangun duduk.
“Bagaimana keadaan sakit anda?” tegur Siauw Ling kemudian setelah menenangkan hatinya.
“Siapa kau?” tegur Thio Cu Yoe sambil menatap wajah lawannya dengan tajam.
“Cayhe Siauw Ling.”
“Heeeh…. heee kiranya kau adalah Siauw Ling, selamat berjumpa!”
“Sadar sekali pikirannya” pikir Siauw Ling. “Sama sekali tidak menunjukkan tanda sedang sakit.”
Sementara otaknya sedang berputar, mendadak pergelangan kirinya mengencang dan urat nadinya sudah dicengkeram oleh Thio Cu Yoe.
Siauw Ling segera salurkan hawa murninya untuk melindungi nadi, kemudian sambil tertawa tegurnya, “Segar sekali ingatanmu kawan?”
Tampak tangan kanan Thio Cu Yoe tiba2 diayun kemuka menghantam dada Siauw Ling, serangan itu membawa deruan angin yang tajam serta daya tekanan yang luar biasa.
Cepat2 si anak muda itu ayun tangan kanan menangkis.
“Cayhe memperoleh undangan dari adik saudara untuk datang memeriksa penyakit yang diderita Thio heng.”
Beberapa kali Thio Cu Yoe hendak bangkit berdiri, namun berhubung jalan darah dilutut serta kakinya masih tertotok maka setiap kali badannya roboh kembali keatas pembaringan. Sekalipun begitu serangan pada tangan kanannya tetap ganas dan dahsyat. Semua hantaman mengancam tempat berbahaya didepan dadanya Siauw Ling.
Sesudah pergelangan kiri si anak muda itu dicengkeram dengan tangan kirinya, maka jarak kedua belah pihak boleh dibilang cuma terpaut beberapa depa saja, Siauw Ling pun tidak melancarkan serangan balasan, setiap kali telapaknya selalu berputar menangkis setiap serangan serta ancaman yang datang dari Thio Cu Yoe, dengan demikian maka untuk sementara waktu kedua belah pihak masih tetap bertahan.
Dalam sekejap mata Siauw Ling telah punahkan sebelas jurus serangan dahsyat dari Thio Cu Yoe.
Sementara itu Soen put shia yang ada disisi kalangan mengikuti jalannya pertempuran itu dengan mata melotot dia merasa betapa serangan dari Thio Cu Yoe kian lama kian bertambah dahsyat dan telengas, tanpa sadar ia jadi curiga pikirnya, “Seandainya Djen Bok Hong mengatur siasat licik dnegan suruh orang itu pura2 sakit lalu memancing kedatangan Siauw Ling kemari maka keadaan kami teramat bahaya. Apalagi kalau dia sudah persiapkan orang2nya disekitar sini…. aku harus bertindak hati2.”
Karena berpikir demikian, segera teriaknya dengan suara lantang, “Saudara Siauw hati2, cepat totok jalan darahnya.”
Sesudah saling bergebrak sebanyak belasan jurus Siauw Ling sendiripun merasakan keadaannya kurang beres, dia merasakan urat nadi pada pergelangan kirinya yang dicengkeram kian lama kian bertambah kencang dan dia mulai merasa tidak tahan. Pemuda ini sadar bila jalan darahnya tercengkeram hilangnya daya kemampuannya untuk melawan musuh bahkan ada kemungkinan bakal terluka ditangannya.
Mendengar teriakan dari pengemis tua, dia tidak sungkan2 lagi, serangan balasan segera dilancarkan dan sekali totok dia hajar bahu Thio Cu Yoe.
Serangan ini cukup berat datangnya, seketika itu juga Thio Cu Yoe merasakan sekujur badannya kaku, ia tak bertenaga untuk melancarkan serangan lagi, sambil mengedorkan cengkeramannya dia roboh kebelakang.
“Siauw thayhiap, kau tidak terluka bukan?” tegur Soen seng cepat, kemudian sambil melirik sekejap toakonya ia bertanya lebih jauh, “Apakah Siauw thayhiap menotok jalan darahnya kembali?”
“Sedikitpun tidak salah!”
“Aaai, itu berarti kita tak akan berhasil memeriksa denyutan nadinya….!”
“Keadaan memang demikian, terpaksa cayhe harus mencari akan lain!” seraya berkata diam2 ia totok jalan darah dilengan Thio Cu Yoe, kemudian tangan kanannya mencengkeram pergelangan tangan kiri orang itu.
Tampak denyutan nadinya sangat lambat, mungkin hal itu disebabkan karena jalan darah pada lengannya tertotok, kecuali itu Siauw Ling tak berhasil menemukan tanda2 aneh lainnya.
“Siauw thayhiap, bagaimana denyutan nadi orang ini?” terdengar Boe Wie Tootiang bertanya.
Dari pemeriksaan tadi Siauw Ling tidak berhasil menemukan perubahan apapun, namun dalam keadaan yang mendesak terpaksa sahutnya, “Denyutan nadi orang ini tidak tetap, jelas menunjukkan tanda2 menderita penyakit.”
Soen seng menghela napas panjang, sambil angkat kepalanya memandang cuaca ia berkata, “Toako kami sudah sehari semalam menderita penyakit aneh itu, untuk mencari Siauw thayhiap telah kehilangan waktu selama empat lima jam lagi, apalagi ucapan dari orang yang meninggalkan surat itu tidak salah, maka hingga kini cuma tinggal tujuh sampai delapan jam saja kesempatan untuk hidup baginya.”
“Cayhe akan berusaha keras menyembuhkan sakitnya.”
“Rupanya Siauw thayhiap belum berhasil juga menemukan sesuatu tanda pada penyakit toako.” sela Thian Tiong Goan dari samping sambil melirik sekejap saudaranya.
“Hmmm!” Soen put shia mendengus dingin. “Kalau sakit yang diderita saudaramu cuma penyakit biasa saja saudaramu tak nanti pergi mengundang kehadiran Siauw thayhiap.”
“Sedikitpun tidak salah” buru2 Soen seng menyambung seraya menjura dalam2. “Saudaraku ini masih muda dan tak tahu urusan, bilamana ucapannya menyinggung perasaan cuwi sekalian, disini heng te mewakili dirinya mohon maaf!”
Menghadapi orang yang menderita sakit aneh ini Siauw Ling benar2 dibikin gelagapan dan tidak tahu apa yang harus dilakukan, segera ujarnya, “Penyakit yang diderita saudara kalian memang luar biasa dan berbeda dengan penyakit2 lain, cayhe hendak rundingkan dahulu persoalan ini dengan Boe Wie Tootiang kemudian baru tentukan penyakit aneh apakah yang sudah dia derita.”
“Meskipun cayhe tidak mengerti akan ilmu pertabiban tetapi kalau dibicarakan dengan kemampuan Toako, boleh dikata ilmu silatnya telah mencapai pada taraf tidak mempan terhadap penyakit apapun, siapa sangka secara tiba2 ia terserang penyakit aneh. Karena itulah cayhe lantas curiga mungkin ada orang sengaja mencelakai dirinya.”
“Penyakit yang diderita saudaramu memang patut dicurigai!”
“Kalau begitu terpaksa kami harus merepotkan kalian berdua!” sambil membawa Cay Wie serta Thian Tiong Goan ia mundur satu tombak kebelakang dan duduk bersila disitu.
Siauw Ling menyapu sekejap wajah kedua orang bocah berbaju hijau itu, lalu katanya pula, “Kalian mundurlah sedikit kebelakang cayhe hendak merundingkan keadaan majikan kalian dengan diri Tootiang.”
Kedua orang bocah berbaju hijau itu saling bertukar pandangan, kemudian bersama2 mundur lima langkah kebelakang.
Setelah kedua orang itu berlalu Siauw Ling baru berkata kepada Boe Wie Tootiang, “Siauwte benar2 tidak mengerti akan ilmu pertabiban, tak kuketahui penyakit apa yang sebenarnya diderita orang ini, bagaimana kalau tootiang yang memeriksanya?”
Boe wie Tootiang mengangguk, dia pegang urat nadi pada pergelangan kiri Thio Cu Yoe untuk diperiksa, kemudian dengan alis berkerut ujarnya, “Pinto rasa dia tidak ada tanda2 menderita sakit.”
“Apakah orang ini sedang pura2 sakit?”
“Aku rasa dia telah terluka!”
Pembicaraan mereka berdua dilakukan degan suara yang amat lirih, sehingga dua orang bocah berbaju hijau yang memperhatikan secara diam2 tak sanggup mengetahui sesuatu apapun.
“Apakah Tootiang mempunyai cara untuk mengobatinya?” tanya Siauw Ling.
“Pinto hanya bisa membuat resep sesuai dengan hasil pemeriksaan nadi, bisakah manjur sukar dikatakan!”
“Aaaai, entah siapa yang telah bergurau dengan kita, bukan saja telah meninggalkan peringatan bahkan menuding diriku yang bisa sembuhkan penyakit ini, dan yang aneh lagi ternyata Lam Hay Ngo Hiong begitu mempercayai ucapannya.”
“Kalau orang yang meninggalkan surat itu ada maksud hendak membantu dirimu untuk menaklukan Lam Hay Ngo Hiong dia pasti akan membantu kita secara diam2.”
“Hingga kini belum ada sesuatu gerak gerik apapun, mungkin dia sengaja hendak mengacau kita.”
“Pinto rasa satu2nya jalan yang bisa kita tempuh sekarang adalah membuat dahulu sebuah resep, lalu suruhlah mereka tunggu sejenak. Kalau tidak ada reaksi juga maka kaulah yang membuat sebuah resep menuntut petunjukan, sekalipun tidak berhasil melukai luka dalamnya sedikit banyak tidak sampai mencelakai jiwanya.”
“Mengikuti keadaan yang ada saat ini, aku rasa terpaksa kita harus bertindak demikian.”
Dalam pada itu Soen seng sekalian yang telah mengundurkan diri sejauh satu tombak kendati sedang bersemedi namun secara diam2 mereka perhatikan setiap gerak gerik dari Siauw Ling. Ketika dilihatnya pemuda itu sedang bicara berbisik2 dengan Boe Wie Tootiang seakan2 sedang merundingkan penyakit dari Thio Cu Yoe terpaksa mereka menunggu dengan sabar.
Siapa sangka setengah jam sudah lewat tanpa menemukan gerak gerik apapun dari Siauw Ling, akhirnya dia tidak sabar lagi dan segera maju kedepan dengan langkah lebar serunya seraya menjura, “Lima bersaudara dari Lam Hay telah membuktikan ketulusan hati kami, semoga Siauw thayhiap suka turun tangan menyembuhkan penyakit yang diderita toako kami.”
Dalam hati Siauw Ling betul2 tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika itu, namun diluar ia tetap berlagak tenang.
“Menurut denyutan nadi kakak kalian rupanya dia tidak menderita penyakit!”
“Tidak menderita penyakit?” seru sitelapak pembetot sukma Soen seng dengan hati terperanjat. “Lalu kenapa dia?”
“Rupanya menderita luka dalam yang parah!”
“Kejadian yang sebenarnya cayhe tidak begitu jelas!” kata Soen seng setelah termenung sejenak. “Ketika aku tiba kembali disini penyakit edan toako kami sedang kumat bagaimana caranya sampai dia menderita penyakit aneh seperti itu ataukah dia cuma menderita luka dalam, cayhe tidak mengetahuinya.”
“Aaah, kenapa aku tidak tanyakan keadaan penyakitnya lebih dulu?” pikir pemuda kita. Sinar matanya segera beralih memandang sekejap kearah dua orang bocah berbaju hijau itu. “Apakah kedua orang murid kakak kalianpun tidak tahu kejadian yang sebenarnya?”
Soen seng segera ulapkan tangannya, dua orang bocah berbaju hijau itu segera mengiakan dan maju kemuka.
Jilid 21
Diam2 Siauw Ling periksa keadaan dua orang bocah berbaju hijau itu, ia rasa meskipun usianya masih sangat muda namun sikap maupun tingkah lakunya dingin dan hambar, diam2 pikirnya, “Entah ilmu silat apakah yang telah dilatih kedua orang ini? usianya masih sangat muda namun berhasil melatih diri hingga sikap maupun tingkah lakunya dingin serta hambar….”
Dalam pada itu terdengar Soen Seng telah berkata, “Siauw thayhiap hendak menanyakan sesuatu kepada kalian, bilamana kamu berdua mengetahuinya segera jawab dengan sejujurnya, jangan ada yang disimpan dalam hati ataupun dirahasiakan!”
Dua orang bocah berbaju hijau itu mengiakan, empat mata bersama2 dialihkan keatas wajah Siauw Ling dan bertanya hampir berbareng, “Apa yang hendak Siauw thayhiap tanyakan?”
“Dimanakah suhu kalian terkena penyakit aneh ini?”
“Dalam lembah ini juga” jawab bocah yang ada disebelah kiri. “Karena ada urusan penting suhu serta Su siok telah berangkat meninggalkan tempat ini, tapi belum sampai setengah jam mereka telah kembali lagi kesini!”
“Kemudian?” sela Boe Wie Tootiang.
Jawab bocah berbaju hijau yang ada disebelah kanan, “Sejak kedatangan mereka kami telah melihat tanda2 yang tidak beres diatas wajah suhu serta Su siok, tetapi karena peraturan perguruan yang keras dan ketat kami tak berani bicara sembarangan ataupun menegur, begitulah mula2 Su siok yang tidak tahan dan segera roboh diatas tanah, sedangkan suhu seperti mau mengatakan sesuatu tetapi sebelum kata2 itu sempat diutarakan beliaupun ikut roboh tidak sadarkan diri. Menjumpai peristiwa yang berada diluar dugaan ini hati kami jadi gugup bercampur kaget. Maka suheng lantas kuminta untuk menjaga suhu sedang siauwte pergi mencari susiok berdua.”
“Ah, benar” diam2 Boe Wie Tootiang membatin. “Tentu kelima manusia laknat dari Lam Hay ini telah berjanji untuk menanti ditepi guna menyambut kedatangan Thian tiong Goan, siapa tahu terjadi perubahan diluar dugaan sehingga rencana mereka gagal total.”
Terdengar Soen seng melanjutkan, “Ketika mendengar kabar yang mengejutkan ini cayhe buru2 lari pulang dan berusaha menyadarkan toako serta sute dengan cara pengurutan jalan darah, namun kesadaran kedua orang itu tetap buram dan kabur. Bukan saja tak kenal dengan kawan, saudara sendiripun tak dikenal lagi, begitu bangun dia segera turun tangan menyerang diriku, karena keadaan yang terpaksa itulah jalan darah mereka segera kutotok, sesudah bingung dan ribut beberapa jam lamanya barulah kami temukan secarik surat tertinggal diatas batu cadas, dimana orang itu memberi petunjuk kepada kami agar pergi mencari Siauw thayhiap untuk menyembuhkan penyakit mereka berdua. Dan surat itupun sudah Siauw thayhiap baca!”
“Baiklah” Siauw Ling mengangguk. “Siauwte akan segera membuka sebuah resep dan berikan dulu kepada toako kalian!”
“Bila Siauw thayhiap suka menolong, kami lima bersaudara dari Lam Hay pasti akan mengingat terus budi kebaikan ini.”
“Harap sediakan pit dan bak, cayhe akan membuka resep!”
Soen seng segera perintahkan kedua orang bocah itu untuk mengambil pit dan bak, sebentar saja mereka telah kembali dengan barang yang diminta.
Dalam hati Siauw Ling merasa serba salah terpaksa ia tulis juga resep obat seperti apa yang diucapkan Boe Wie Tootiang tadi. Soen seng sendiri tidak tahu apakah pemuda itu bisa membuka resep atau tidak, sepasang matanya dengan tajam menatap terus gerakan ujung pit dari Siauw Ling.
Baru saja si anak muda itu menuliskan dua macam nama obat, terdengar Boe Wie Tootiang secara tiba2 berseru, “Siauw thayhiap tunggu sebentar.”
“Ada apa Tootiang?”
“Lebih baik kita rundingkan lebih jauh sebelum membuka resep!”
Air muka Soen seng berubah hebat, rupanya dia mau mengumbar hawa gusarnya namun akhirnya ditahan juga golakan hatinya itu.
Seakan2 tidak pernah menjumpai perubahan air muka orang she Soen itu, ambil memandang kearah Siauw Ling ujar toosu tua itu.
“Apakah Siauw thayhiap ada maksud membuka sebuah resep untuk menawarkan racun yang mengeram dalam tubuh Thio heng?”
Siauw Ling tak tahu apa maksud Boe Wie Tootiang mengucapkan kata2 tersebut, terpaksa ia manggut.
“Sedikitpun tidak salah!”
“Walaupun kita harus sangat hati2 dalam menggunakan obat namun menurut pandangan pinto keadaan pada saat ini berbeda, kesempatan buat hidup Thio heng ini sudah tidak lama lagi. Kita harus menggunakan suatu cara yang luar biasa untuk bisa menghadapinya.”
Siauw Ling melirik sekejap kearah Soen seng, menyaksikan orang itu berdiri disamping dengan wajah penuh berharap terpaksa ia berkata, “Seandainya kita salah tangan hingga melukai orang, bukankah hal ini malah akan menciptakan kesalah pahaman yang amat besar.”
“Orang yang meninggalkan surat itu dengan jelas telah mengutarakan bahwa Siauw thayhiap bisa menyembuhkan penyakit semacam ini, cayhe rasa cara pengobatanmu tentu luar biasa sekali. Silahkan Siauw thayhiap turun tangan sekehendak hatinya asalkan cara pengobatannya tidak keliru, meskipun tak bisa disembuhkan juga tak mengapa. Kami lima bersaudara dari Lam Hay sama saja akan berterima kasih kepadamu!”
Ucapan ini amat cengli dan masuk diakal, sama sekali tidak mengandung nada paksaan atau main menang sendiri.
Siauw Ling jadi terkesiap setelah mendengar perkataan itu, diam2 pikirnya, “Mereka menaruh kepercayaan penuh terhadap diriku, seandainya aku gagal untuk menyembuhkan penyakit gila yang diderita orang ini, bukan saja kegagalan ini akan mengecewakan hati mereka dalam hati kecil dan orang she Siauw sendiripun akan tidak tentram….”
Sementara dia masih berpikir, mendadak terdengar suara suitan yang amat tinggi dan nyaring berkumandang datang.
“Suara apakah itu?” seru Soen seng cepat dengan alis berkerut.
“Rupanya mirip suara suitan seseorang biar siauwte pergi memeriksanya!” Thian tiong Goan sambil bangkit berdiri.
“Ehmm, berhati2lah!”
Thian Tiong Goan mengangguk dia lantas loncat ketengah udara dan melayang kearah berasalnya suara suitan tadi.
Menggunakan kesempatan itu Boe Wie Tootiang segera berkata dengan ilmu menyampaikan suara, “Siauw thayhiap, setelah pinto pikirkan berulang kali aku rasa hanya membuka sebuah resep saja sulit untuk menyembuhkan penyakit yang diderita Thio Cu Yoe, bahkan ada kemungkinan malahan akan menimbulkan kecurigaan dalam hati mereka….”
“Lalu apa yang harus kita lakukan?”
“Menurut pendapat pinto, lebih baik Siauw thayhiap menguruti seluruh jalan darahnya dengan ilmu Tui Kiong Ko Hiat, dengan urutanmu ini kita akan bikin mereka jadi bingung dan tak bisa menebak. Setelah itu barulah kita susun rencana lebih jauh!”
“Kurang ajar benar orang yang meninggalkan surat itu” pikir Siauw Ling didalam hati. “Hingga kini belum ada juga kabar berita darinya, jelas dia ada maksud mengajak bergurau dengan diriku.”
Sejak dilahirkan belum pernah si anak muda ini merasakan kekikukan seperti hari ini, terang2an dia tidak mengerti apapun tentang ilmu pertabiban namun dia terpaksa harus berlagak seakan2 mengetahuinya.
Menyaksikan sikap Siauw Ling serta kegelisahan hatinya suatu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benak Soen put shia dia segera menjura kepada Soen seng sambil berkata, “Suara suitan itu tinggi melengking hingga menembusi awan, aku pengemis tua rasa yang datang pasti bukan orang Bulim biasa, adikmu seorang belum tentu tandingannya, bagaimana kalau aku temani dirimu pergi kesitu?”
Soen seng termenung sebentar kemudian mengangguk, kepada dua orang bocah berbaju hijau itu pesannya, “Baik2lah menjaga suhu kalian!”
Dengan cepat kedua orang itu segera erlalu dari sana dan lenyap dari pandangan.
Sepeninggalnya Soen seng yang mengawasi terus gerak gerik mereka setiap saat, Siauw Ling tampak lebih tenang, kepada Boe Wie Tootiang segera bisiknya, “Sulit bagi aku orang she Siauw untuk melakukan pekerjaan yang menempuh bahaya semacam ini, aku lihat lebih baik kita berterus terang saja kepada mereka.”
Belum sempat Boe Wie Tootiang menjawab mendadak tampak bocah berbaju hijau yang ada disebelah kiri telah menggerakkan bibirnya serentetan suara yang lembut dan lirih segera memancar masuk kedalam telinga Siauw Ling terdengar ia berkata, “Thio Cu Yoe terluka karena tusukan jarum emas pada jalan darah yang aneh letaknya. Pada batok kepala bagian belakangnya tertancap tiga batang jaum emas, asalkan jarum emas itu kau cabut keluar maka kesadarannya akan segera pulih kembali seperti sedia kala.”
Beberapa patah kata yang halus dan lembut itu dalam pendengaran Siauw Ling dirasakan bagaikan guntur membelah bumi disiang hari bolong, seketika dia berdiri termangu2.
Terdengar suara yang halus lembut itu berkumandang kembali, “Sebenarnya aku hendak memberitahukan rahasia ini sejak tadi, namun karena Soen seng jadi orang terlalu teliti maka dari pada rahasia ini konangan terpaksa aku harus menanti saat yang tepat. Sekarang tiada halangannya bagimu untuk mengurut jalan darah disekujur badan Thio Cu Yoe dengan ilmu Tui Kiong Ko Hiat, menanti Soen seng telah kembali nanti katakan pula beberapa patah kata yang menakutkan hatinya, setelah itu jarum emas dibelakang batok kepalanya baru kau cabut….” ia merandek sejenak, kemudian tambahnya lagi, “Ilmu silat yang dimiliki Lam Hay Ngo Hiong sangat lihay, dengan pelepasan budi pada hari ini akan mendatangkan manfaat yang besar bagi kalian dikemudian waktu. Urusan selanjutnya aturlah sendiri! sebab sebelum kentongan pertama malam nanti aku harus kembali untuk memberikan laporan!”
Bicara sampai disitu suara tadi lantas sirap.
Siauw Ling merasa kaget, terperanjat bercampur malu dengan cepat ia mendongak, bocah berbaju hijau disebelah kiri tersenyum manis kearahnya kemudian pulih kembali sikapnya yang dingin dan hambar.
Ketika memeriksa lagi bocah yang ada disebelah kanan, tampak orang itu masih berdiri dengan wajah yang serius, jelas dia sama sekali tidak merasakan adanya kejadian yang berlangsung disisinya, tanpa terasa pemuda kita menghela panjang, pikirnya, “Entah siapakah yang mempunyai keberanian sebesar ini untuk mengatur rencana yang begini besar dan mengerikan. Dia betul2 luar biasa….”
Dalam pada saat itu terdengar Boe Wie Tootiang telah berkata, “Siauw thayhiap, urusan telah menjadi begini kalau kita berpura2 terus mungkin Lam Hay Ngo Hiong akan menaruh curiga terhadap kita. Pinto rasa lebih baik aku ajarkan ilmu menusuk jalan darah dengan jarum emas kepadamu. Tusukan beberapa kali tubuhnya lalu tinggalkan satu resep kepadanya. Setelah utu segera kita pamit….”
Siauw Ling mengerti suara yang didengarnya barusan hanya dia seorang saja yang mendengar, maka ia lantas menjawab, “Tak usah Tootiang kuatirkan lagi, cayhe telah memperoleh cara untuk menyembuhkan penyakitnya.”
“Sungguh?” seru Boe Wie Tootiang tertegun.
“Aku rasa tak bakal salah lagi, menanti Soen seng telah kembali nanti kita segera turun tangan.”
Boe Wie Tootiang tahu bahwa Siauw Ling tak pernah bicara tanpa ada keyakinan yang penuh, tapi iapun bingung darimana secara tiba2 si anak muda ini berhasil memperoleh cara untuk menyembuhkan penyakit Thio Cu Yoe.
Sebagai orang yang beriman tebal, sekalipun hatinya ingin tahu namun karena Siauw Ling tak mau bicara diapun tidak bertanya lebih jauh. Tampak Siauw Ling ulur tangan kanannya memeriksa sejenak urat nadi dipergelangan kiri Thio Cu Yoe, setelah itu tangan kanannya mulai menguruti beberapa jalan darah ditubuh orang she Thio tadi.
Kurang lebih seperminum teh kemudian Soen put shia, Thian Tiong Goan serta Soen seng baru muncul kembali disitu.
Siauw Ling segera berhenti mengurut, sambil memandang wajah orang she Soen itu katanya, “Soen heng, apakah kau telah menemukan seseorang yang mencurigakan?”
Soen seng menggeleng.
“Cayhe telah mengelilingi sekitar tempat ini namun tak kujumpai jejak musuh yang berkeliaran disini.”
Siauw Ling mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi, keberaniannya semakin meningkat, setelah menghembuskan napas panjang katanya, “Cayhe sudah periksa denyutan nadi toako kalian dengan seksama, dan sama sekali tak kujumpai tanda penyakit ditubuhnya….”
“Tetapi ia menunjukkan gejala2 edan, apakah sengaja dia berbuat demikian?”
“Tentu saja tidak begitu….”
“Lalu apa sebabnya?”
“Dia sudah dibokong orang dengan cara yang luar biasa sekali, urat syarafnya telah terluka hingga kesadarannya jadi hilang. Reaksinya jadi lamban sekalipun ilmu silatnya tidak sampai punah sama sekali namun terganggu gerakan oleh sebab itulah kalian dengan mudah bisa menaklukannya.”
“Tidak salah, bagi orang lain tak nanti bisa hadapi toako kami dalam seratus gebrakan saja….” dia merandek sejenak, setelah tukar napas sambungnya: “Tanda2 penyakit telah ditemukan, apakah Siauw thayhiap telah mendapatkan pula cara pengobatan?”
“Bila tanda penyakitnya belum ditemukan memang sukar untuk disembuhkan, tapi ini siauwte telah berhasil menemukan tanda2 penyakit yang diderita toako kalian. Sudah tentu penyakitnya bisa cayhe sembuhkan hanya saja dewasa ini aku masih belum bisa memastikan dimanakah letak lukanya baru dapat kusembuhkan.”
“Kalau begitu terpaksa harus merepotkan Siauw thayhiap!”
“Setelah cayhe sanggupi, tentu akan kuusahakan dengan segenap tenaga….” tangannya mulai bergerak dari arah dada Thio Cu Yoe dan diperiksanya keatas.
Boe Wie Tootiang sendiri merasa amat tercengang dengan sikap serta tingkah laku Siauw Ling, diam2 ia salurkan hawa murninya mengelilingi seluruh tubuh untuk menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.
Ketika berpaling, ia temukan wajah Soen put shia pun diliputi dengan kebimbangan serta keraguan, jelas sipengemis tua ini pun dibuat bingung tak habis mengerti oleh sikap pemuda itu.
Dengan sepasang mata yang melotot bulat serta memancarkan cahaya tajam Soen seng menatap terus sepasang tangan Siauw Ling. Jelas walaupun diluar ia bicara lunak namun dalam hati penuh diliputi kecurigaan, ia tahu Siauw Ling turun tangan keji dengan menggunakan kesempatan baik itu, maka setiap gerakan kian keatas dan akhirnya mulai beralih keatas batok kepala.
Mendadak Soen Put shia mendehem dan tegurnya, “siauw thayhiap mungkinkah luka itu terletak diatas batok kepala?”
“Sedikitpun tidak salah!” jawab Siauw Ling dingin, matanya berkilat dan tangannya bergerak lebih jauh.
Tiba2 dia angkat tangannya, antara jari tengah dan jari telunjuknya menjepit sebatang jarum emas sepanjang satu coen.
Air muka Soen seng berubah hebat, perlahan2 ia jongkok kebawah.
Sementara itu Cay Wie dan Thian Tiong Goan telah berubung kedepan, seluruh sinar matanya ditunjukkan keatas telapak tangan Siauw Ling.
Si anak muda itu melirik sekejap wajah bocah berbaju hijau yang ada disebelah kiri itu kemudian angsurkan jarum emas tadi ketangan Soen seng.
Sitelapak pembetot sukma menerima jarum emas tadi, air mukanya sekarang tercermin rasa kaget, tertegun bercampur kagum.
Perlahan2 Siauw Ling menyingkap rambut Thio Cu Yoe yang awut2an, tampaklah dua batang jarum emas telah menembusi batok kepalanya, satu sama lain hanya terpaut satu coen.
“Oooow…. sungguh keji serangan bokongan ini” seru Soen seng sambil menghembuskan napas panjang.
“Nah, sekarang sudah aman” kata Siauw Ling sambil cabut keluar dua batang jarum lainnya. “Andai kata otak toako kalian tidak terluka, asal istirahat beberapa saat saja kesadarannya akan pulih kembali seperti sedia kala.”
“Seandainya terluka?”
“Wah…. rada repot?”
“Siauw thayhiap harap kau suka menolong orang sampai akhir. Kami lima bersaudara dari Lam Hay tentu tak akan melepaskan budi kebaikanmu ini.”
Dalam hati Siauw Ling merasa malu sendiri, tapi ujarnya pula, “Jangan keburu kuatir, kalau menurut pemeriksaan siauwte aku rasa otak toako kalian belum sampai terluka.”
“Moga2 saja demikian adanya….” kepada Cay Wie segera serunya: “Gotong kemari Loo su kita!”
Cay Wie mengiakan, beberapa saat kemudian dia sudah muncul kembali bersama dua orang lelaki yang menggotong sebuah tandu.
“Ehmm…. rupanya dibelakang batu cadas itu dia sudah sembunyikan orang dalam jumlah banyak” pikir pemuda itu sepasang tangannya segera bekerja cepat, dari belakang batok kepala Su Hiong dia cabut keluar tiga batang jarum emas.
mendadak Thian Tiong Goan berseru, “Siauw thayhiap, tolong tanya apakah kedua orang kakak kami perlu diberi obat2an?”
“Tak usah, asalkan istirahat cukup mereka akan sembuh kembali seperti sedia kala. Nah, sekarang kita tinggal tunggu saat yang tepat untuk membebaskan jalan darah mereka!”
Habis berkata ia bangun berdiri dan menghembuskan napas panjang, seakan2 dengan hembusan itu dia mau buang semua beban yang menekan hatinya selama ini.
Lima manusia laknat dari Lam Hay yang tersohor akan keganasan serta kekejiannya, detik ini sudah tunduk dan kagum seratus persen terhadap Siauw Ling, walaupun mereka ingin cepat2 membebaskan jalan darah toako mereka namun sebelum Siauw Ling mengijinkan, tak seorangpun diantara mereka yang berani berkutik.
Kurang lebih sepertanak nasi kemudian Siauw Ling baru berkata, “Baiklah, sekarang jalan darah mereka boleh kalian bebaskan!”
Soen seng mengiakan, tangan kanannya bergerak cepat segera membebaskan jalan darah Thio Cu Yoe yang tertotok.
Siauw Ling sendiri walaupun sudah diberitahu oleh bocah berbaju hijau itu bahwasannya kesadaran Thio Cu Yoe berdua akan segera pulih setelah ketiga batang jarum emas itu dicabut, namun tak urung dia tetap berkuatir juga. Segenap perhatiannya dipusatkan untuk memperhatikan setiap gerak gerik dari orang she Thio itu.
Terlihatlah Thio Cu Yoe perlahan2 membuka matanya, memandang sekejap kearah Siauw Ling dan segera bangkit berdiri.
Sebagai pemimpin dari lima manusia laknat kepandaian silatnya bukan saja paling lihay bahkan otaknya paling tajam dan teliti. Dengan menggunakan kesempatan dikala bangkit berdiri itu dia periksa keadaan disekeliling situ.
Soen seng mengerti akan kekejaman serta ketelengasan toakonya, karena takut dia turun tangan secara tiba2 sehingga melukai Siauw Ling maka sambil menuding kearah si anak muda itu buru2 serunya, “Saudara ini adalah Siauw thayhiap yang sengaja memenuhi undangan siauwleng untuk mengobati luka toako….!”
Sikap Thio Cu Yoe ketus dan dingin tidak menunggu sampai Soen seng menyelesaikan katanya dia telah menukas, “Hebatkah luka yang kuderita?”
“Toako dibokong orang. Jalan darahnya ditusuk orang dengan jarum emas….”
Thio Cu Yoe menjemput jarum emas tadi dari tangan Soen seng. Setelah diperiksa sejenak katanya, “Ceritakanlah kejadian yang telah berlangsung setelah aku terluka….”
“Luka toako terletak diatas batok kepala, beberapa buah jalan darah aneh dibelakang kepala telah ditusuk orang dengan jarum emas sehingga kesadarannya punah sama sekali….”
Thio Cu Yoe geleng kepalanya, tidak biarkan Soen seng bicara lebih jauh, ia berpaling kearah Cay Wie dan berseru, “Bebaskan jalan darah dari Su Hiong.”
Wajah Thio Cu Yoe dingin kaku, sepasang matanya dengan tajam menatap diatas wajah saudaranya yang keempat, sepatah katapun tidak diucapkan keluar.
Seketika suasana dalam kalangan jadi sunyi senyap, begitu heningnya sehingga suara jatuhnya jarum keatas tanahpun dapat kedengaran dengan nyata.
Menanti Su Hiong telah siuman kembali, Thio Cu Yoe aru alihkan sinar matanya kearah Siauw Ling dan berkata seraya menjura.
“Sebetulnya kami lima bersaudara hendak memusuhi diri Siauw heng, tapi berhubung Siauw heng telah melepaskan budi pertolongan kepada kami, maka sudah barang tentu Lam Hay Ngo hengte tidak akan memusuhi dirimu lagi.”
Panas hati Soen Put shia mendengar ucapan itu, tanpa terasa ia mendengus dingin.
Dengan pandangan dingin Thio Cu Yoe berpaling memandang sekejap kearah pengemis tua, lalu ujarnya lagi, “Siauw thayhiap telah menolong cayhe, rasanya kalau Lam Hay Ngo Hengte tidak memusuhi dirimu lagi itu sudah cukup sebagai tanda terima kasih atas pertolonganmu. Gunung nan hijau tak akan berubah, kita berpisah sampai disini saja dan selamat tinggal.”
Habis bicara sang loo toa dari lima bersaudara ini bangkit berdiri lalu berjalan menuju kebelakang batu cadas.
Sekilas perasaan tidak enak berkelebat diatas wajah Soen seng, dia melirik sekejap kearah Siauw Ling kemudian mengikuti dibelakang Thio Cu Yoe berlalu pula dari situ.
Berikutnya Sam Hiong, Su Hiong serta Ngo Hiong pun mengintil dibelakang Soen seng lenyap dibalik batu cadas.
Soen put shia semakin panas hatinya, memandang batu cadas hitam didepan sana rupa2nya dia mau mengumbar napsu, namun cepat2 Boe Wie Tootiang menghalangi niatnya itu.
“Mari kita pergi saja dari sini!” bisiknya lirih.
Demikianlah ketiga orang itu segera berputar badan dan berlalu, sesaat kemudian tujuh delapan li telah dilewati.
Soen Put shia menghembuskan napas panjang gerutunya, “Huu….! tahu begini, tidak seharusnya kita tolong lima manusia laknat dari Lam Hay, agar manusia sombong itu tahu rasa….”
Boe Wie Tootiang tersenyum.
“Kepandaian silat yang dimiliki lima manusia laknat dari Lam Hay memang luar biasa, namun permusuhan yang mereka ikut dikalangan Bulim pun tak terhingga banyaknya, terutama sekali perbuatan mereka membasmi partai Go bie serta Cing Shia boleh dibilang hampir memusnahkan segenap kekuatan inti dari kedua partai tersebut. Menurut apa yang pinto ketahui kedua partai itu selalu ingat terus akan dendam berdarah sedalam lautan itu, dan kini mereka telah bekerja sama mempelajari ilmu silat serta bersumpah kalau tidak berhasil membasmi Lam Hay Ngo Hiong tak akan berkelana lagi didalam dunia persilatan. Seandainya kita telah mengadakan hubungan dengan kelima manusia laknat itu, bagaimana tanggung jawab kita dihadapan umat Bulim dikemudian hari.”
Soen Put shia termenung sejenak kemudian mengangguk.
“Ehmm, perkataanmu memang tidak salah.”
“Nah, itulah dia, apa sebabnya kita mengharapkan mereka baiki kita? asalkan mereka tidak membantu Djen Bok Hong untuk memusuhi kita lagi, berarti kita sudah kehilangan beberapa orang musuh tangguh, hasil yang kita peroleh pun boleh dibilang sudah amat besar sekali.”
“Tootiang bagaimana pandanganmu terhadap sumber bencana serta kekacauan yang sedang melanda dunia pesilatan dewasa ini?” mendadak Siauw Ling menyela.
Mendengar si anak muda itu secara tiba2 mengalihkan pokok pembicaraan kesoal lain Boe Wie Tootiang rada tertegun, setelah termenung sejenak dia lantas balik bertanya, “Maksud Siauw thayhiap, siapakah pentolan dari sumber bencana serta kekacauan dalam dunia persilatan dewasa ini?”
“Kalau membicarakan soal pentolan dari sebab2nya terjadi kekacauan dalam Bulim dewasa ini sudah tentu bukan lain dari pada Djen Bok Hong, maksud cayhe seandianya kita berhasil membinasakan iblis bongkok ini apakah pertikaian dalam dunia kangouw segera akan lenyap dan dunia akan jadi aman tenteram?”
Dengan cepat Boe wie Tootiang menggeleng.
“Menurut pandangan pinto, sekalipun kita berhasil membinasakan Djen Bok Hong, paling banter untuk sementara waktu dunia kangouw akan jadi aman tenang, tetapi dalam kenyataan dunia persilatan masih berada didalam cengkeraman napsu dan ambisi, seorang iblis berhasil ditumpas akan muncul lagi iblis lain….”
“Jadi kalau begitu meskipun Djen Bok Hong merupakan gembong iblis yang punya ambisi besar tetapi dia bukanlah sumber dari segala kekacauan serta bencana yang melanda dunia persilatn dewasa ini” tukas Siauw Ling.
“Sekalipun Djen Bok Hong amat keji dan telengas tetapi dia tidak lain hanya melambangkan sebagai seorang iblis yang jahat, kalau mau dicari sumber dari semua keonaran serta kekacauan yang melanda dunia persilatan dewasa ini maka haruslah kita katakan anak kunci istana terlaranglah sumbernya. Sejak ribuan tahun berselang ilmu silat makin berkembang mengikuti perubahan jaman dan pertarungan memperebutkan nama serta kedudukan. Setelah ilmu silat2 sakti itu beserta jago-jagonya lenyap didalam istana terlarang maka semua orang tadi tertarik dan ingin tahu apa yang terjadi dalam istana tersebut, setiap orang mempunyai pendapat yang sama yaitu barang siapa yang berhasil memasuki istana terlarang berarti dia akan memperoleh hasil yang tak terhingga, sekalipun setelah memasuki istana terlarang belum tentu bisa menjagoi seluruh Bulim, tetapi mereka telah berpendapat barang siapa ingin merajai dunia persilatan maka dia harus masuk dulu kedalam istana terlarang!”
“Kenapa setiap orang berpendapat yang demikian anehnya?”
“Sebab kebanyakan orang percaya bahwa jago-jago sakti yang terkurung didalam istana terlarang itu pasti telah meninggalkan segenap kepandaian silat sakti yang mereka miliki selama hidupnya.”
“Ooo kiranya begitu.”
Boe Wie Tootiang menghembuskan napas panjang dan tertawa.
“Mungkin saja didalam istana terlarang tiada terdapat benda lain kecuali beberapa sosok kerangka putih….” katanya.
Ia merandek sejenak, lalu tambahnya, “Sebelum pintu istana terlarang dibuka, siapapun tak bisa menduga apa isinya istana tersebut, dan pinto sendiripun hanya menduga2 mengikuti jalan pikiranku sendiri. Hanya saja dalam hati pinto ada satu persoalan yang tidak kupahami, harap Siauw thayhiap suka menerangkan.”
“Persoalan apa?”
“Darimana Siauw thayhiap bisa tahu kalau dibelakang batok kepala Thio Cu Yoe telah ditusuk orang dengan tiga batang jarum emas.”
“Oooh soal itu? Aai….! kalau bukan cayhe saksikan dengan mata kepala sendiri dan mendengar serta melaksanakan dengan tangan, barang siapapun yang beritahu kepadaku, belum tentu aku mau percaya.”
“Saudara Siauw” seru Soen put shia dengan alis berkerut. “Kalau kau tidak berkata demikian, mungkin aku masih bisa menduga sedikit banyak, tapi sekarang aku sipengemis tua malah semakin dibuat kebingungan.”
“Barang siapa yang tidak tahu duduknya perkara dia tentu anggap kejadian ini rada aneh dan misterius, aku orang she Siauw lama sekali tidak mengerti akan ilmu pertabiban dari mana aku bisa tahu kalau dibelakang batok kepala Thio Cu Yoe telah ditusuk orang dengan tiga batang jarum emas, tetapi kalau kubongkar rahasia ini sebetulnya sama sekali tak ada harganya, sebab ada orang secara diam2 telah memberi bisikan kepadaku!”
“Siapakah orang itu?” tanya Boe Wie Tootiang.
“Apakah diantara lima manusia laknat dari Lam Hay telah terjadi saling bokong membokong?” sambung Soen put shia pula.
Siauw Ling segera menggeleng.
“Aaaiii…. kalau dikatakan memang akan membuat orang jadi tidak percaya, orang yang memberi bisikan kepadaku itu bukan lain adalah satu diantara kedua orang bocah berbaju hijau itu!”
“Oooh, kiranya dia sungguh bikin orang sukar untuk percaya.”
“Setelah jarum emas itu ditusukkan kedalam jalan darah, kesadaran serta kejernihan pikiran seorang segera lenyap tak berbekas. Kepandaian ini jelas merupakan satu kepandaian yang dalamnya luar biasa. Mana mungkin bocah berbaju hijau itu tahu akan ilmu tersebut?” seru sang pengemis kurang percaya.
“Dalam kenyataan memang dia yang memberi bisikan kepadaku dengan ilmu menyampaikan suara!”
“Waaah…. waaah…. kejadian ini sungguh membuat pinto jadi tak habis mengerti.”
“Pada bagian yang mana Tootiang merasa tidak mengerti?”
“Pinto rasa kedua orang bocah berbaju hijau itu adalah anak murid dari Thio Cu Yoe, kenapa secara diam2 mereka malah membantu dirimu?”
“Menurut bocah berbaju hijau itu katanya malam ini sebelum kentongan pertama dia akan berangkat pulang untuk memberi laporan kepada majikannya, sudah tentu dia bukan anak murid dari Thio Cu Yoe.”
“Jadi maksudmu dia datang karena sedang menjalankan tugas majikannya untuk membantu kita secara diam2?”
“Orang itu dapat menusukkan tiga batang jarum emas diatas kepala Toa Hing serta Su Hiong tanpa disadari oleh kedua orang itu, berarti pula kalau dia ingin mencabut nyawa mereka berdua perbuatan itu bisa dilakukan dengan gampang sekali bagaikan membalik telapak sendiri” kata Soen put shia memberikan pendapatnya. “Diantara lima manusia laknat dari Lam Hay ilmu silat Thio Cu Yoe paling tinggi dan paling lihay, tetapi dia masih bis dikecundangi orang dengan gampang dan mudah. Hal ini semakin membuktikan kalau dia ingin membinasakan mereka berlima, pekerjaan ini bisa dilakukan tanpa susah payah.”
“Benar!” Boe Wie Tootiang membenarkan. “Dia telah memaku jalan darah dibelakang batok kepala Toa Hiong serta Su Hiong dengan tiga batang jarum emas, kemudian mengutus pula seseorang untuk menyaru sebagai murid Thio Cu Yoe guna memberi bisikan kepada kita. Kalau dipikir keberanian orang itu betul2 luar biasa, hasil karyanya sangat hebat dan sukar disaingi orang lain.”
“Orang itu harus mempunyai seorang anak buah yang mempunyai perawakan serta raut wajah yang mirip dengan murid Thio Cu Yoe kalau tidak rencana ini tidak bisa dijalankan dengan sempurna.”
Boe Wie Tootiang tersenyum.
“Kalau soal itu sih tidak perlu, asal dia memiliki ilmu merubah wajah yang sempurna. Raut wajah seseorang dapat dirubah sekehendak hatinya!”
“Saudara Siauw, apakah dia telah memberitahukan asal usul kepadamu” tanya sang pengemis.
“Tidak, dia hanya menerangkan bagaimana caranya mencabut jarum emas itu dari jalan darah diatas kepala, kemudian menerangkan pula sebelum kentongan pertama malam nanti dia harus pulang memberi laporan, soal asal usulnya tak diungkap barang sepatah katapun, hanya saja kalau didengar dari nada suaranya aku rasa dia bukan seorang lelaki tulen.”
“Maksudmu perempuan yang menyaru jadi lelaki?”
“Betulkah perempuan yang menyaru jadi lelaki aku kurang tahu, hanya saja aku dengar suara halus dan lembut tidak mirip suara seorang pria!”
“Benar!” Boe Wie Tootiang mengangguk. “Tentu mereka sudah tangkap lebih dahulu kedua orang pengiring Thio Cu Yoe, kemudian dengan ilmu merubah wajah dia urus pula anak buahnya untuk menyelinap kesisi Thio Cu Yoe. Berhubung perawakan bocah pengiring Thio Cu Yoe sangat kecil maka terpaksa ia gunakan perempuan yang menyaru sebagai pria.”
“Ehmm! memang beralasan.”
“Perduli apakah orang itu pria atau perempuan yang terpenting bagi kita adalah mengetahui asal usulnya.”
“Menurut pandangan pinto dalam waktu singkat belum tentu orang itu suka memperlihatkan asal usulnya yang sebenarnya.”
“Aku sipengemis tua selalu tidak habis mengerti ada banyak orang muncul dalam dunia persilatan tidak dengan sikap yang terang2an dan terbuka sebaliknya sengaja berlagak misterius, berbuat kasak kusuk. Entah apa maksud mereka yang sebenarnya?”
“Ada orang berbuat demikian karena keadaan yang terpaksa, misalnya saja pihak musuh yang terlalu besar, tapi ada pula sebagian orang yang meminjam kemisteriusan tersebut untuk merahasiakan asal usulnya sendiri.”
“Soen Loocianpwee serta Tootiang sudah banyak tahun berkelana dalam dunia persilatan, apakah kalian tidak berhsil menemukan sesuatu titik terang?”
Boe Wie Tootiang menggeleng.
“Aku sudah putar otakku banyak waktu tetapi belum berhasil juga untuk mengetahui siapakah orang itu.”
“Kalau sipengemis tua berhasil menemukan sesuatu titik terang, sejak tadi aku sudah suruh dia tampil kedepan!”
“Kalau dibicarakan menurut keadaan sekarang, rupanya anak buah orang itu lebih banyak perempuannya daripada kaum pria, bahkan setiap kali selalu membantu kita dengan segenap tenaga.”
Boe Wie Tootiang gerakan bibirnya seperti mau bicara, namun akhirnya dibatalkan niatnya itu.
“Saudara Siauw, kau tak usah buang tenaga dengan percuma untuk memikirkan persoalan itu” seru Soen Put shia. “Rupanya bukan saja gerak gerik dari Djen Bok Hong berhasil ia ketahui bagaikan melihat jari tangan sendiri, bahkan gerak gerik kitapun rasanya telah berada dibawah pengawasannya. Kalau dia ingin berjumpa dengan dirimu meskipun kau tidak ingin bertempurpun tak mungkin, sebaiknya kalau dia tak ingin bertemu dengan kita dibicarakanpun tak ada gunanya.”
“Aaa….! entah apakah orang ini yang telah menolong ayah ibuku….”
Belum habis dia berbicara tiba2…. sreet! sebatang anak panah meluncur datang dan menancap diatas sebuah pohon besar lima depa disisi Siauw Ling.
Pada ujung anak panah terikat sebuah tabung tadi terdapat sepucuk surat.
Laksana kilat Boe Wie Tootiang melayang kesisi anak panah tadi dan mencabutnya, terbacalah diatas surat itu bertulisan beberapa patah kata yang berbunyi demikian, “Surat ini ditujukan untuk Siauw Ling pribadi!”
Karena itu perlahan2 surat tadi segera diserahkan ketangan Siauw Ling.
Sepintas lalu Siauw Ling membaca sampul surat tadi, kemudian membuka isinya dan segera dibaca.
“Rupanya Djen Bok Hong telah sadar bahwa dirimu sukar ditaklukan dan digunakan tenaganya, maka dia telah mengambil keputusan untuk membinasakan dirimu. Menurut apa yang kuketahui caranya turun tangan teramat keji dan telengas. Rupanya dia hendak menggunakan sejenis obat racun yang sangat ganas untuk meracuni dirimu sampai mati. Disamping itu telah mengutus pula beratus2 orang jago lihay untuk menghadapi kau seorang. Rencana ini dijalankan Djen bok Hong dengan rapi dan sangat dirahasiakan, karena itu apa yang kuketahui sangat terbatas, semoga setelah kau membaca surat ini dalam tingkah lakumu sehari2 bisa lebih waspada dan berhati2.”
Dibawah surat tadi tak ada nama ataupun sesuatu tanda pengenal.
Selesai membaca surat itu Siauw Ling menghela napas panjang, dia segera menyerahkan surat tersebut ketangan Boe Wie Tootiang.
Toosu itu membaca pula isinya, kemudian katanya, “Kita boleh mempercayai akan kebenaran berita ini, tapi kitapun tak usah jadi patah semangat karena peringatan ini, bagaimanapun juga memang ada baiknya kalau kita bikin persiapan.”
Sementara itu Soen Put shia pun telah selesai pula membaca surat tadi dia lantas berkata, “Mengenai persoalan ini aku sipengemis tua mempunyai satu akal, yaitu kita lawan rencana keji Djen Bok Hong dengan siasat pula, kita saksikan saja rencana keji apa yang telah dipersiapkan Djen Bok Hong terhadap saudara Siauw.”
“Entah bagaimana menurut pendapat Loocianpwee?”
“Lebih baik kita kembali dulu kepartai tootiang, disana baru kita bicarakan lagi….”
Pengemis itu merandek sejenak, lalu tambahnya, “Agaknya aku sipengemis tua masih ingat kalau kau telah memerintahkan sutemu membawa para jago menanti kedatangan kita dilembah Huang Yang Kok, bukankah begitu?”
“Sedikitpun tidak salah!”
“Sudah banyak tempat yang aku jelajahi, namun tak bisa kubayangkan dimanakah letak lembah Huang Yang Kok tersebut?”
“Lembah Huang Yang Kok hanyalah suatu kata sandi belaka, biarlah pinto yang membawa jalan, tidak sampai satu jam kita sudah akan tiba ditempat tujuan.”
Tanah pegunungan jarang sekali disinggahi orang, ketiga orang itu segera melakukan perjalanan dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh, tidak sampai satu jam sampailah mereka didalam sebuah lembah yang subur dan nyaman.
Dalam lembah itu penuh tumbuh pepohonan yang rindang, tanah seluas beberapa ratus tombak boleh dikata tampak hijau permai.
“Tempat inikah yang kau maksudkan sebagai lembah Huang Yang Kok….?” tanya Soen put shia.
“Sedikitpun tidak salah. Pinto telah menetapkan tempat ini dinamakan lembah Huang Yang Kok….” sembari berbicara toosu itu bertepuk tangan tiga kali.
Dari balik pepohonan yang rindang kurang lebih tiga tombak dari kalangan segera muncul Ceng Yap Cing, serunya sambil menjura, “Selamat datang suheng!”
“Ehmm, bagaimana keadaan luka dari Be Cong Piauw Pacu?”
“Sudah radaan baik” tanpa banyak bicara dia segera membawa beberapa orang menerobosi pepohonan yang rindang.
Mengikuti dibelakang jago muda dari Bu tong pay, diam2 Siauw Ling memperhatikan keadaan disekeliling tempat itu, tampaklah sebuah bukit karang yang menonjol keudara berdiri disebuah bidang tanah kosong seluas tiga tombak persegi, pepohonan nan hijau mengelilingi sekelilingnya dan menutupi cahaya sang surya, belasan orang anak murid Bu tong pay dengan pedang masih tersoren dipunggung duduk mengatur pernapasan disitu.
Diam2 Soen put shia menghela napas panjang pikirnya, “Partai Bu tong termasuk juga suatu partai besar yang tersebar didalam dunia persilatan dewasa ini. Hanya dikarenakan harus bermusuhan dengan pihak perkumpulan Pek Hoa San cung, terpaksa mereka harus kumpulkan kekuatan inti partai untuk menyingkir kesana kemari….”
Sementara itu terdengar Siauw Ling Siauw Ling bertanya, “Soen Loocianpwee, apakah kau mempunyai rencana bagus untuk menghadapi utusan2 yang dikirim Djen Bok Hong?”
Soen Put shia mendongak dan tertawa terbahak2.
“Cara dari aku sipengemis tua hampang sekali, cuma kita musti pandai ilmu merubah wajah!”
“Pinto mengetahui sedikit banyak mengenai ilmu merubah wajah!”
“Kalau begitu kebetulan sekali….”
Dia merandek sejenak, lalu sambungnya lebih jauh, “Dengan pelbagai macam akal Djen Bok Hong berusaha hendak menculik orang tua saudara Siauw, maksudnya bukan lain adalah Siauw Ling terjepit dan tenaganya bisa digunakan, tetapi keinginannya ini selalu tidak berhasil dipenuhi sementara dalam hatinya semakin merasa yakin kalau Siauw Ling adalah satu2nya musuh tangguh yang bakal menghalangi cita2nya untuk menjagoi Bulim, maka dalam keadaan begini dia merasa betapapun juga saudara Siauw harus segera dilenyapkan. Maka itulah dikirim beratus2 orang jago untuk membinasakan saudara Siauw.”
“Kendati begitu Djen Bok Hong pun bukan manusia bodoh, dia tentu tahu sampai dimanakah kepandaian silat yang dimiliki Siauw Ling dan tahu pula sampai dimana kemampuan dari jago-jagonya. Karena itu menurut pendapatmu para jago lihay yang dikirim olehnya pasti membawa sesuatu benda yang luar biasa, dan tak usah pikir lebih lanjut benda itu pasti mengandung racun yang amat keji, karena itu aku sipengemis tua mengusulkan lebih baik utuslah beberapa orang murid partai Bu tong untuk menyaru sebagai Siauw Ling yang mana secara diam2 aku serta saudara Siauw akan melindungi setelah kamipun dirubah wajahnya. Suatu ketika kita berhasil mengetahui senjata keji apakah yang mereka andalkan, rasanya tidak sulit untuk menghadapi manusia2 tersebut.”
Boe Wie Tootiang membungkam beberapa saat lamanya, sementara ia menatap wajah Siauw Ling tajam2.
“Cara yang loocianpwee utarakan memang luar biasa” katanya. “Tetapi pinto rasa bukan suatu pekerjaan yang gampang untuk menyaru seperti wajah Siauw thayhiap.”
“Itupun tak ada sulitnya, asal kita bisa membali wajahnya sedikit banyak mirip dengan Siauw thayhiap kemudian kalau siang hari kita bersembunyi didalam rumah penginapan dan menghindarkan diri dari perjumpaan dengan orang lain, asal kabar ini tersiar orang2 dari Djen Bok Hong pun tidak akan mencari kita.”
Boe Wie Tootiang mengangguk.
“Disebabkan nama besar dan pengaruh Djen Bok Hong yang besar dewasa ini partai2 besar tak satupun yang berani memusuhi dirinya secara terang2an, sebaliknya Siauw thayhiap bisa angkat nama dalam waktu singkat semuanya bukan lain adalah karena dia berani melawan kekuatan Djen Bok Hong. Sejak dahulu hingga kini jarang sekali kita menemui manusia macam Siauw thayhiap yang bisa dihormati serta disegani orang dalam waktu yang tak seberapa lama.”
Dia angkat kepala dan menghembuskan napas panjang, sambungnya lebih jauh, “Letak partai Bu tong boleh dibilang paling dekat dengan perkampungan Pek Hoa San cung sekarang kami telah menjadi sasaran utama dari Djen Bok Hong. Aaai….! sejak Thio Sam Hong Couwsu mendirikan Bu tong pay belum pernah partai kami dipaksak orang sehingga harus mengungsi ketempat lain, pinto sebagai seorang ciangbunjien bukan saja tidak sanggup menjayakan nama partai sebaliknya malah harus memimpin kekuatan ini Bu tong pay berkeliaran dimana2….”
“Tootiang, kau tak usah mendendam kewibawaan serta keberanian sediri, didalam dunia persilatan semua orang sanggup partai Siauw lim sebagai pemimpin tulang punggungnya dunia kangouw, sebagai pemimpin kalangan lurus, tetapi dalam pandangan aku sipengemis tua tidaklah demikian, partai kalian dijadikan sasaran terutama dari perkampungan Pek Hoa San cung, itu berarti Djen Bok Hong lebih memandang tinggi partai Bu tong dari pada Siauw lim pay.”
Boe Wie Tootiang tersenyum.
“Loocianpwee terlalu memuji Djen Bok Hong memandang partai Bu tong sebagai sasaran yang terutama hal ini bukan lain disebabkan letak gunung kami yang menguntungkan.”
“Cayhe merasa tidak habis mengerti akan sesuatu persoalan, tolong tootiang suka memberi penjelasan” tiba2 Siauw Ling menimbrung dari samping.
“Silahkan Siauw thayhiap utarakan persoalanmu.”
“Tootiang membawa semua inti kekuatan partai Bu tong menyingkir kemari, apakah dalam istana Sam Goan Koan digunung Bu tong san masih ada kekuatan? seandainya Djen Bok Hong mengutus jago-jagonya untuk menyerang Sam Goan. Bukankah anak murid tootiang yang ada disitu bakal runyam dan hancur binasa?”
“Tentang soal ini pinto telah memikirkannya” jawab Boe Wie Tootiang setelah termenung sebentar. “Tetapi aku rasa Djen Bok Hong sebagai jagoan yang licik dan berambisi besar dia tak nanti akan melakukan hal itu, sebab meskipun dia basmi anak muridku yang ada dikuil Sam Goan Koan belum berarti partai Bu tong sudah roboh bahkan dengan adanya peristiwa tersebut mungkin malahan akan membangkitkan semangat juang jago-jago kami dan memperdalam rasa dendam kami terhadapnya. pinto rasa Djen Bok Hong yang licik tidak nanti akan berbuat demikian.”
“Sedikitpun tidak salah, aku sipengemis tuapun mempunyai pendapat yang sama.”
“Aaah, kalau begitu maksud Boe Wie Tootiang dengan membawa jago-jago partainya berkelana didalam dunia persilatan tidak lain adalah untuk menghindari serbuan secara besar2an dari Djen Bok Hong” pikir Siauw Ling didalam hati.
Mendadak terlihatlah Soen Put shia mendepakkan kakinya keras2 keatas tanah sambil berseru, “Hingga kini aku sipengemis tua belum juga habis mengerti, apa sebabnya sembilan partai besar tidak mau bersatu padu untuk memberikan suatu pelajaran yang keras atas diri Djen Bok Hong? bila waktu kian hari kian berlarut kekuatan serta pengaruh Djen Bok Hong akan semakin kuat, apakah mereka baru mau bangkit berdirisetelah alis mata mereka terbakar….?”
“Ai, meskipun perkataan loocianpwee sedikitpun tidak salah, namun masing2 partai besar mempunyai kesulitannya masing2? kata Boe Wie Tootiang sambil menghela napas. “Menurut apa yang pinto ketahui, para ciangbunjien dari pelbagai partai besar bukannya tidak mengetahui akan pendapat itu. Cuma saja kekuatan dari Djen Bok Hong terlalu besar dan kuat, siapapun tidak ingin menjadi panglima pembuka jalan. Aaai…. satu kali salah melangkah bisa jadi segenap partainya bakal musnah, oleh sebab itu para partai besar secara diam2 telah memilih jago-jago andalannya untuk mencari berita anak kunci istana rahasia dengan jalan menyaru, mereka berharap bisa mendapatkan ilmu silat peninggalan jago-jago tadi dan berhasil menaklukkan Djen Bok Hong, angkat nama partainya dan menjagoi Bulim….”
Berbicara sampai disini ia merandek dan menoleh memandang sekejap kearah Siauw Ling, setelah itu ujarnya lagi, “Pinto ada beberapa persoalan yang rasanya tidak pantas untuk ditanyakan, namun pinto berharap Siauw thayhiap suka menjawabnya.”
“Apakah persoalan itu menyangkut soal kunci istana terlarang” sahut Siauw Ling sambil tersenyum.
“Sedikitpun tidak salah, menurut berita yang tersiar didalam dunia persilatan katanya anak kunci istana telah jatuh ketangan Gak Im Kauw, entah benarkah kabar tersebut?”
“Kendati boanpwee pernah berjumpa dengan Gak Im Kauw” sahut Siauw Ling seraya menggeleng. “Namun pada waktu itu boanpwee masih merupakan seorang bocah yang sama sekali tidak mengetahui urusan Bulim, tentu saja tidak mengerti pula akan persoalan anak kunci istana terlarang tersebut.”
“Menurut kabar beritanya katanya Gak Im Kauw telah meninggal dunia, benar tidak kejadian ini?”
“Kabar tersebut sama sekali bukan berita sensasu, bibi Im ku memang benar2 telah meninggal dunia.”
Boe Wie Tootiang menghela napas panjang.
“Pinto akan mengajukan satu pertanyaan lagi, yaitu apakah kunci istana terlarang telah jatuh ketangan Gak Siauw Tjha?”
…. Bersambung jilid 22
Jilid 22
Sebelum Siauw Ling sempat menjawab, mendadak terdengar seseorang tertawa dan menyahuti, “Sedikitpun tidak salah benda itu memang sudah terjatuh ketangan nona Gak Siauw.” semua orang segera berpaling, tampaklah Tiong Cho Siang ku beserta Suma Kan, Im Yang Cu sekalian sedang bergerak mendekati, orang yang menjawab barusan bukan lain adalah Sang Pat.
Terdengar si sie poa emas Sang Pat tertawa terbahak2, dia melirik sekejap kearah si anak muda itu dan lantas membungkam.
Sementara itu Siauw Lingpun melirik sekejap kearah Sang Pat, kemudian ujarnya, “Mengenai persoalan ini, kedua orang saudaraku mengetahui lebih jelas, lebih baik Tootiang bertanya kepada mereka saja!”
Sang Pat tertawa jengah, ujarnya, “Menurut pemberitahuan dari nona Gak sendiri, katanya anak kunci istana terlarang memang betul2 sudah terjatuh ketangannya, tetapi dia tidak membawa dibadan dan cayhe sendiripun tak tahu benda itu telah disimpan dimana….”
“Ai…. kalau begitu, pinto berharap agar nona Gak bisa cepat2 masuk kedalam istana terlarang, guna mempalajari ilmu sakti dan berhasil menaklukkan Djen Bok Hong.”
Mengungkap soal Gak Im Kauw beserta Gak Siauw Tjha, Siauw Ling merasa hatinya teramat sedih, jenasah Bibi Im nya yang belum dikebumikan, jejak Gak Siauw Tjha yang lenyap tak berbekas membuat hatinya terasa sangat pedih, tanpa terasa dia menghela napas panjang dan tundukkan kepalanya rendah2.
Sang Pat sendiri sebetulnya sedang merasa amat bersemangat untuk membicarakan soal kunci istana terlarang namun menyaksikan kepedihan hati toakonya, dia jadi bungkam dalam seribu bahasa dan tak berani banyak bicara lagi.
Soen Put Shia menyapu sekejap wajah para jago, kemudian dia berkata, “Gak Im Kauw telah meninggal dunia, sejak Gak Siauw Tjha tidak diketahui dua berarti kabar berita mengenai kunci istana terlarang pun sukar ditemukan bagaikan batu yang tenggelam ditengah samudra, menurut aku sipengemis tua lebih baik urusan ini tak usah dibicarakan lagi.”
“Persoalan paling penting yang sedang kita hadapi saat ini adalah bagaimana caranya menghadapi Djen Bok Hong serta menyelamatkan umat Bulim dari penjagalan besar2an, apakah sebelum kunci istana terlarang muncul dalam dunia kangouw lantas kita tak sanggup melenyapkan Djen Bok Hong dari muka bumi?”
“Kepedihan hati Siauw Ling seketika tersapu lenyap dari kobaran semangat dari Soen put shia barusan, dia segera busungkan dada dan menyahut, “Sedikitpun tidak salah! dewasa ini para partai besar para orang gagah dari pelbagai daerah tak berani melakukan perlawanan atas tindak tanduk Djen Bok Hong bukan lain adalah disebabkan karena mereka sudah dibikin jeri oleh kejadian benggolan iblis tersebut. Menurut pendapat cayhe lebih baik kita kasih pelajaran buat Djen Bok Hong agar jabar kekalahannya tersebar luas didalam dunia kangouw, dengan berbuat demikian kemungkinan besar kita bisa memancing semangat perlawanan dari partai2 besar.”
“Sedikitpun tidak salah!”teriak Soen put shia sambil acungkan jempolnya. “Bagus…. bagus sekali, semangat jantan memang biasanya muncul pada usia muda!”
“Siauw thayhiap, meskipun apa yang kau utarakan barusan memang merupakan satu tindakan yang tepat, namun menurut pinto bilamana kita campurkan pula sedikit rencana yang masak, niscaya hasil yang kita peroleh akan semakin cepat.”
“Bagaimana maksud tootiang?”
“Bilamana kita sudah peroleh sedikit kemenangan maka kita musti sengaja memperbesar kemenangan itu disamping menyiarkan pula kabar berita yang mengatakan bahwa Djen Bok Hong ada rencana menyerang sesuatu partai besar, dengan berbuat demikian ada kemungkinan bisa bangkitkan semangat perlawanan mereka jauh lebih cepat, asal semua partai besar mau bersatu padu niscaya dengan mudah Djen Bok Hong dapat disingkirkan dari muka bumi.”
“Betul, menggunakan tentara memang musti diimbangi dengan siasat yang lihay makin licik siasat tersebut makin bagus. Terhadap manusia keji macam dia memang sepantasnya kalau kita hadapi dengan tindakan apapun.”
“Aaaai…. tapi ada satu persoalan cayhe harus terangkan terlebih dahulu.”
“Persoalan apa?”
“Menurut apa yang cayhe ketahui, dalam tubuh tiap partai besar termasuk juga Kay pang serta Sin Hong Pang telah disusuni mata2 dari Djen Bok Hong, oleh karena itu setiap gerak gerik partai2 besar dengan cepat dapat diketahui oleh Djen Bok Hong. Masalah ini menyangkut mati hidupnya seluruh umat Bulim bagaimanapun juga kita harus rencanakan dulu masak2.”
“Akh, telah terjadi peristiwa itu?” teriak Boe Wie Tootiang tertegun.
“Aku orang she Siauw pernah menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri, sudah tentu tidak akan salah lagi, hanya saja sayang tatkala mereka bertemu dengan Djen Bok Hong waktu itu telah mengenakan kain kerudung semua, sehingga sulit bagi cayhe untuk mengenali mereka.”
“Oooh, sungguh menakutkan, pinto akan segera membuat surat untuk para partai besar agar merekapun bisa memperhatikan tentang persoalan ini….!”
Siauw Ling membungkam sesaat, sementara sepasang matanya dengan tajam menyapu sekejap wajah para jago Bu tong pay yang duduk disekitar sana, setelah itu katanya, “Dalam tubuh partai Bu tong sendiripun disusupi mata2 perkampungan Pek Hoa San cung, dikala Tootiang mengutus orang untuk menyampaikan surat kepada para partai besar alangkah baiknya kalau direncanakan lagi dengan lebih seksama.”
“Tentang persoalan ini pinto pasti akan memikirkannya baik2? sahut Boe Wie Tootiang dengan wajah serius, sinar matanya perlahan2 menyapu sekejap para jago yang ada disekeliling tempat itu kemudian tegurnya, “Untuk sementara waktu kalian boleh mengundurkan diri dari sini.”
Belasan jagoan Bu tong pay yang duduk disekeliling sama berbareng bangkit berdiri dan segera mengundurkan diri.
Dengan begitu maka disekitar tempat itu tinggal Soen put shia, Tiong Cho Siang Ku, Siauw Ling, Suma Kan, Boe Wie Tootiang, Im Yang Cu serta Ceng Yap Ching beberapa orang.
Menanti semua anak muridnya telah pergi jauh, Boe Wie Tootiang baru berkata dengan suara lirih.
“Kita tak boleh terlalu melancarkan kekuatan kita, paling baik dibagi jadi dua rombongan saja, disamping itu harus sling berhubungan kelompok yang lain. Sehingga seandainya salah satu rombongan kepergok Djen Bok Hong, kita masih sanggup menghadapinya dengan seimbang.”
“Ucapan tootiang sedikitpun tidak salah.”
“Tetapi kita harus menyiapkan pula beberapa orang Siauw Ling gadungan agar pengawasan Djen Bok Hong terhadap kita jadi semakin kacau” Soen Put shia mengusulkan.
“Memang sudah seharusnya demikian.”
Setelah berunding masak maka para jagopun mulai melaksanakan tugasnya masing2.
Dan dengan demikian suatu pertarungan adu kepintaranpun segera berlangsung.
Boe Wie Tootiang sendiri kecuali mengirim beberapa orang muridnya untuk menyampaikan surat peringatan untuk pelbagai partai besar, diapun memilih enam orang muridnya yang memiliki ilmu pedang terlihay untuk melepaskan jubah memakai pakaian biasa dan menyaru sebagai Siauw Ling kemudian dibawah perlindungan Ceng Yap Chin, Soen Put shia serta Siauw Ling sekalian berangkat meninggalkan lembah Huang Yang Kok.
Im Yang Cu dengan membawa sebagian murid Bu tong Pay mendapat tugas melindungi keselamatan Be Boen Hwie yang terluka.
Pada saat ini semua jago telah mendapatkan make up yang amat sempurna, tidak terkecuali pula Boe Wie Tootiang sang ciangbunjien dari partai Bu tong, dia menyaru sebagai seorang sastrawan yang gagal dalam ujian.
Soen put shia menyaru jadi seorang kusir kereta, Suma Kan sendiri menyaru sebagai tukang ramal.
Bagi Tiong Cho Siang Ku berdua yang sudah sering menyaru, kali ini mereka menyaru menjadi sepasang kusir keledai.
Ceng Yap Chin dan Siauw Ling memakai jubah lebar dan menyaru jadi kakek setengah tua, mereka berdua masing2 menunggang seekor keledai.
Enam orang jago Bu tong pay menyaru jadi tukang kuli pikul. Pedagang dan macam2 ragam yang dengan cepat mencampur baurkan diri dengan para pejalan kaki dijalan raya menuju kota Oh Cioe.
Sepanjang jalan diam2 para jago memperhatikan situasi disekitar mereka, sedikitpun tidak salah mereka telah temukan banyak jago Bulim yang bersimpang siur ditengah jalan.
Dunia persilatan benar2 telah mengalami goncangan yang sangat hebat.
Kendati Djen Bok Hong terkenal akan ketajaman pendengarannya, namun kali ini mimpipun dia tidak menyangka kalau Boe Wie Tootiang sekalian bakal muncul dalam dunia persilatan dengan jalan menyaru. Karena itu sepanjang perjalanan mereka tidak mengalami peristiwa apapun.
Hari itu tatkala sang surya telah condong kearah barat mereka telah tiba diluar kota Ooh Chioe.
Pada saat itulah Sang Pat berbisik kepada Siauw Ling yang menunggang keledai, “Diluar pintu kota sebelah selatan terdapat sebuah rumah penginapan yang amat besar bernama Lak Hoo karena kamarnya sangat banyak maka orang yang menginap disitupun paling banyak ragamnya, seandainya Djen Bok Hong menaruh orang dikota ini maka sembilan puluh persen mata2 itu pasti berada dirumah penginapan Lak Hoo. Setelah kita tiba disini alangkah baiknya kalau menginap disini saja!”
“Baiklah!” sahut Siauw Ling sambil mengangguk. “Mari kita percepat sedikit menuju kesana, tinggalkanlah kode rahasia yang menunjukkan arah tujuan kita, kalau kita bersama2 memasuki rumah penginapan itu niscaya kehadiran kita akan dicurigai mata2 Djen Bok Hong, keadaan pada saat ini jauh berbeda dengan keadaan dihari2 biasa, janganlah kita salah bertindak sehingga mengakibatkan keadaan kita ditempat terang dan musuh ada ditempat kegelapan.”
Sang Pat mengangguk dia segera tinggalkan kode rahasia dan segera berangkat menuju kerumah penginapan Lak Hoo.
Ketika mereka tiba disana, saat itu menunjukkan senja hari.
Sang Pat serahkan keledainya pada sang pelayan dan memesan sebuah ruang berikut halaman, kemudian melangkah masuk lebih dahulu.
Suasana dalam penginapan terang benderang ketika itu saatnya orang bersantap malam, dalam sebuah ruang yang sangat luas tertera puluhan meja besar tetapi kebanyakan telah diisi orang. Hal ini menunjukkan kalau rumah penginapan itu memang ramai sekali.
Diam2 Siauw Ling memperhatikan keadaan sekeliling tempat itu, mendadak ia temukan dua orang lelaki kekar berbaju hitam yang sedang duduk saling berhadapan. Raut wajah orang itu sepintas lalu kelihatan sangat dikenal, hanya saja untuk sesaat ia tak sanggup mengingat2nya siapa gerangan orang tadi.
Ia takut pihak lawan menaruh curiga maka tak berani banyak memandang, mengikuti dibelakang Sang Pat si anak muda itu segera melangkah masuk kedalam.
Tempat itu merupakan sebuah ruang tamu yang sangat luas, ditengah ruangan tertera sebuah meja berkaki delapan, mungkin biasanya digunakan untuk bersantap.
Pelayan yang menghantar mereka melirik sekejap kearah Siauw Ling serta Ceng Yap Chin, menaksikan kedua orang itu memakai baju yang kasar serta bertingkah laku kampungan segera berkata dengan suara lantang, “Loocianpwee berdua, ruangan ini mahal sekali, kalau kalian tidak ingin terlalu banyak mengeluarkan uang lebih baik pindah saja kekamar yang jauh lebih murah.”
Sang Pat tidak ingin ribut, cepat2 dia merogoh keluar dua tali emas dari sakunya. Sambil disodorkan ketangan pelayan itu tanyanya, “Cukup tidak? walaupun kedua orang wanggwe ini jarang sekali keluar rumah, tetapi dalam mengeluarkan uang mereka amat royal.”
Dari ucapan pihak lawan rupanya pelayan menyadari kalau ia telah berjumpa dengan orang yang sedang berpergian, buru2 ia tertawa paksa.
“Oooh, cukup, cukup, silahkan kalian berempat beristirahat, hamba segera siapkan sepoci air teh panas untuk kalian.”
Menanti pelayan itu sudah lenyap dari pandangan. Siauw Ling lantas berbisik kepada Sang Pat.
“Sang heng, apakah kau telah menemukan manusia2 yang patut dicurigai?”
Sang Pat mengangguk.
“Ehmm Kiam Bun Siang Ing! Toa Hong Kiam, sipedang pengejar angin Pey Pek Lie dan Boe Im Kiam sipedang tanpa bayangan Than Tong.”
“Dalam dunia persilatan Kiam Bun Siang Ing merupakan jagoan yang punya nama.” sela Tu Kioe dengan suaranya yang adem. “Tak nyana mereka sudi diperalat oleh Djen Bok Hong….”
“Sussttt….! hati2 kalau bicara!”
Tu Kioe membungkam dan segera berjalan kehalaman tengah.
Menyaksikan Tu Kioe sudah berjaga diluar halaman. Sang Pat baru berkata lagi dengan suara lirih, “Kalau memang Kiam Bun Siang Ing telah muncul disini, berarti pula pihak perkampungan Pek Hoa San cung telah mengirim jago-jagonya kekota Ooh Chioe, hanya ada satu persoalan yang mencurigakan masih tak dapat siauwte pahami.”
“Persoalan apa?”
“Djen Bok Hong telah mengutus beratus orang jago lihaynya untuk menemukan jejak toako dan siap turun tangan keji, tidak mungkin mereka bakal turun tangan secara terang2an, kalau Kiam Bun Siang Ingpun mendapat tugas untuk membinasakan toako, tidak nanti dia akan munculkan diri secara terang2an didalam rumah penginapan Lak Hoo ini….”
“Tidak salah, kalau mereka datang dengan jalan menyaru rasanya jauh lebih gampang membokong diriku.”
“Kecuali orang yang memberi peringatan kepada kita telah bersekongkol dengan Djen Bok Hong, rasanya benggola iblis itu tak nanti bisa menyangka kalau kita bisa munculkan diri didalam kota yang penuh dengan mata2nya.”
“Ehmm, ucapanmu memang sangat beralasan” Siauw Ling membenarkan setelah termenung sejenak.
“Seandainya jago-jago perkampungan Pek Hoa San cung berbondong2 muncul disini setelah toako tampil dikota Ooh Chioe dan ketahui mata2 Djen Bok Hong. Kejadian ini tak suah diherankan. Tapi sebelum toako muncul jago-jago mereka sudah berdatangan disini, peristiwa ini benar2 membikin orang tidak habis mengerti.”
“Bila kita dapat menawan Kiam Bun Siang Ing dalam keadaan hidup2 mungkin duduknya perkara bisa kita ketahui dengan jelas” sela Ceng Yap Chin dari samping.
“Cayhe rasa tindakan ini tak boleh sekali2 dilakukan….”
Terdengar suara batuk ringan Tu Kioe berkumandang datang.
Sang Pat segera membungkam.
Ketika berpaling tampaklah sang pelayan dengan tangan kanan membawa poci teh, tangan kiri membawa sebuah nampan kayu melangkah datang dengan tindakan lebar.
“Kalian berempat ingin makan apa?” tegurnya.
Sang Pat memesan beberapa macam sayur lezat, pelayan itupun mengundurkan diri.
Ceng Yap Chin mendehem perlahan ujarnya, “Sang heng tidak setuju dengan pendapat siauwte apakah kau mempunyai usul lain yang jauh lebih sempurna?”
“Menurut pendapat siauwte, kedatangan mereka pasti mempunyai rencana lain.”
“Lalu bagaimana tindakan kita?”
“Menurut siauwte, lebih baik kita selidik dahulu apa maksud tujuan Kiam Bun Siang Ing datang kemari.”
“Kalau tidak kita tangkap mereka berdua, mana bisa kita ketahui maksud kedatangan mereka?”
“Itu sih tak usah, diam2 kita bisa menyelidikinya.”
“Menyelidikinya secara diam2?”
“Bagus sekali” seru Siauw Ling. “Kita bisa membagi diri jadi beberapa kelompok untuk mengawasi dirinya, biarlah cayhe berangkat lebih dahulu….”
“Cayhe rasa lebih baik aku saja yang berangkat lebih dulu” tukas Ceng Yap Chin, dia lantas bangkit berdiri dan siap berlalu.
“Nanti dulu, nanti dulu….” buru2 Sang Pat mencegah. “Toako serta Ceng heng tak usah repot2 pergi sendiri, dengan dandanan kamu berdua pada saat ini usia kalian telah melewati setengah abad, tetapi tingkah lakunya tidak mirip dengan seorang kakek tua, jangan dikata dalam pandangan Kiam Bun Siang Ing bisa mengetahui penyaruan kalian, sekalipun seorang manusia biasapun tidak sulit untuk menemukan kelemahan dalam penyaruan kalian itu.”
“Lalu bagaimana kita sekarang?”
Sie poa emas Sang Pat tersenyum.
“Pekerjaan semacam ini tidak pantas dilakukan kita semua, menurut siauwte dikolong langit dewasa ini hanya ada dua orang yang bisa melakukannya dengan sempurna.”
“Siapakah mereka?”
“Yang satu adalah segulung angin Peng In dari Kay pang sedang yang lain adalah pencuri sakti Siang Hoei, kecuali mereka berdua anak murid Kay pang pun merupakan pencari berita yang cekatan, hanya sayang Soen Put shia belum tiba, dia adalah Tiang loo Kay pang. Aku rasa bila dia tampilkan diri untuk turunkan perintah maka para anggota Kay pang dikota Ooh Chioe pasti akan membantu dirinya.”
“Meskipun ucapan tidak salah, tapi Kiam Bun Siang Ing tidak nanti akan menunggu hingga Soen Loocianpwee tiba disini baru pergi dalam keadaan situasi demikian terpaksa kita harus berusaha sendiri.”
“Baiklah” kata Sang Pat setelah termenung sejenak. “Kalian berdua berjaga2lah disini, cayhe akan melakukan pemeriksaan sejenak ditempat luaran!” ia berpaling kearah Tu Kioe dan tambahnya, “Toako serta Ceng heng jarang sekali melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, kau harus berhati2 jangan sampai pihak kita yang malahan diawasi orang.”
“Jangan kuatir, kau boleh berangkat dengan hati lega.”
Sang Pat segera putar badan dan berlalu dari ruangan, jangan dilihat perutnya yang buncit dan gede, namun gerak geriknya lincah sekali.
Tu Kioe segera menutup pintu dan berkata dengan suara lirih, “Kalian berdua harap berada didalam kamar saja, biar aku yang berjaga diluar.”
Tiba2 terdengar seseorang berseru keras, “Sayur dan arak telah datang.”
Tu Kioe membuka pintu dan menerima sayur serta arak itu, ujarnya, “Setelah melakukan perjalanan seharian penuh, pada saat ini kami merasa amat lelah mangkuk dan sumpit harap diambil besok pagi saja.”
Pelayan itu tertegun namun akhirnya dia mengangguk.
“Baiklah!” dengan cepat diapun berlalu.
Tu Kioe membawa sayur dan kedalam kamar, pesannya, “Cepatlah kalian bersantap, setelah itu padamkan lampu lentera.”
Meskipun diluar Siauw Ling tidak bicara namun didalam ia menggerutu tiada hentinya.
“Hu…. hidup macam apakah ini? sungguh menyesakkan dada.”
Mereka bertiga cepat2 bersantap kemudian Tu Kioe membereskan mangkuk dan sumpit kemudian padamkan lampu, setelah pintu dan jendela diperiksa semua iapun duduk bersila didalam ruangan.
Satu jam lewat dengan cepat tetapi Sang Pat tak kunjung datang Siauw Ling mulai kuatir pikirnya, “Karena sudah begitu lama dia belum juga kembali? jangan2 telah menemui kesulitan….”
Tak tahan lagi dia menghela napas dan bergumam, “Seharusnya Sang heng telah kembali.”
Dalam pada itu suasana diruang depan sudah radaan hening, suara ribut dan hiruk pikuk yang membisingkan telingapun telah banyak berkurang.
Tu Kioe mendehem ringan dan menjawab, “Toako, kau tidak tahu, meskipun diluar wajahnya Sang Loo jie kelihatan halus dan ramah tetapi rasa ingin tahu dalam hatinya sangat tebal, dibalik gelak tertawanya yang haha…. hihi, dia mempunyai watak yang tak terima sebelum tujuannya tercapai, setelah ia pergi sebelum duduknya perkara dibikin jelas tak nanti ia akan kembali.”
Mendengar itu Siauw Ling menghela napas panjang, bibirnya bergerak seperti mau mengucapkan sesuatu namun akhirnya dibatalkan.
Tu Kioe melirik sekejap kearah Siauw Ling lalu berkata kembali, “Toako tak usah selalu menguatirkan keselamatannya asal dia tak ada minat untuk berkelahi, sekalipun bertemu dengan musuh tangguh nomor wahid tidak nanti ia bisa terkurung.”
“Semoga saja ia dapat kembali dalam keadaan sehat walafiat tanpa kekurangan sesuatu apapun.”
“Lebih baik kita tunggu satu jam lagi.” usul Ceng Yap Chin. “Apabila dia belum juga kembali, maka kita harus berusaha menemukan Soen Loocianpwee serta suhengnya untuk merundingkan masalah ini.”
Kiranya Soen put shia serta Siauw Ling sekalian telah berangkat dengan kelompok yang terpisah, mereka telah berjanji kecuali keadaan situasi yang terlalu mendesak perduli dalam menginap, melakukan perjalanan atau bertemupun dilarang bercakap2 sehingga menarik perhatian orang lain.
Sementara beberapa orang itu masih berunding, tiba2 pintu kamar terbuka dan sesosok bayangan manusia menerjang masuk kedalam.
“Siapa?” hardik Tu Kioe.
Ditengah bentakan badannya berkelebat kedepan menghadang didepan pintu ruangan.
“Aku!” jawab orang itu lirih. “Cepat pasang lampu!”
Tu Kioe segera kenali suara saudaranya, buru2 dia cari korek api dan memasang lampu.
Tampaklah air muka Sang Pat telah berubah jadi hijau membesi. Ketika itu dia berdiri dengan tangan kanan ditumpangkan keatas lengan kirinya, darah segar membasahi seluruh baju bagian kirinya.
Siauw Ling jadi terperanjat, buru2 ia mendekati Sang Pat segera menegur, “Saudara Sang, parahkah luka yang kau derita?”
“Tidak mengapa, hanya sedikit luka luar, siauwte masih sanggup bertahan, asal diberi obat luka niscaya sudah sembuh.”
Dari dalam sakunya Ceng Yap Chin segera ambil keluar sebuah bungkusan, serunya, “Obat penahan sakit Ci Hiat Ci Thong San dari partai Bu tong kami rasanya pernah Sang heng dengar bukan?”
“Tidak salah, memang sangat terkenal” jawab Tu Kioe sambil menerima bungkusan itu, dia ambil bubuk obat tadi dan ditebarkan diatas luka, kemudian sambil membalut lengan tersebut serunya seraya gelengkan kepala berulang kali. “Sungguh berbahaya, sungguh berbahaya, satu mili saja lebih kedalam, tulangmu pasti sudah terluka.”
“Oooh, jadi luka itu tidak sampai mengenai tulang lenganku?”
“Tidak, tapi nyaris sekali hampir terkena….”
“Heee, heee…. semula aku kira lengan kiriku pasti akan jadi cacad, sungguh tak nyana masih bisa ketolong….”
“Sebenarnya apa yang terjadi?” tegur Siauw Ling.
“Aaaai…. tatkala siauwte tiba siruang tengah, kebetulan Kiam Bun Siang Ing sedang menyelesaikan notanya dan berlalu.”
“Kau terlalu banyak kehilangan darah, jangan banyak bicara singkatnya saja!”
Sang Pat mengangguk.
“Kuikuti dari belakang mereka melewati beberapa buah jalan, akhirnya sampailah kami disebuah tempat yang amat ramai, lampu teng2an tergantung dimana2, orang yang berlalu lalang saling berdesakan kedua belah sisi jalan adalah bangunan rumah yang tinggi besar….”
“Tempat apakah itu? kok begitu ramai?” jago muda dari Bu tong pay menyela.
“Tempat itu bukan lain adalah sarang pelacuran yang tersohor dikota Ooh Chioe ini.”
“Mau apa Kiam Bun Siang Ing pergi kesitu? apakah mereka berduapun orang2 yang suka main perempuan?”
“Mula2 akupun merasakan tercengang, seandainya Kiam bun Siang Ing memang ada maksud melepaskan hajatnya ditempat itu sepantasnya kalau mereka ganti pakaian dulu, apa sebabnya mereka berangkat dengan tergesa2? karena itu kecurigaan siauwte makin bertambah, aku segera mengejarnya kedalam.”
“Oooh jadi Djen Bok Hong telah mendirikan pos mata2nya didalam sarang pelacuran itu?” tanya Ceng Yap Chin.
“Menurut dugaanku bukan saja tempat itu merupakan sarang mata2nya, bahkan dari situ pula semua komando dikirimkan….”
Ia merandek sejenak, kemudian terusnya, “Ketika kulihat mereka masuk kedalam rumah pelacuran yang memakai merek gedung Sam Kang Soe It akupun segera ikut masuk kedalam….”
“Lalu kenapa kau bisa terluka?”
“Apakah Kiam Bun Siang Ing hendak membinasakan dirimu dihadapan umum?” sambung Tu Kioe.
Sang Pat menggeleng.
“Perubahan yang kemudian berlangsung banyak liku2nya, ketika aku mengejar hingga kedalam gedung Sam Kang Soe It tampaklah orang hilir mudik disini banyak sekali, perabot yang ada disitupun boleh dibilang sangat mewah, didepan ada kolam serta gunung2an dikedua belah samping penuh dengan jendela berhorden, boleh dibilang dagangannya laris dan untung besar.”
Sebagian kebiasaan seorang pedagang membicarakan soal untuk maka Sang Pat pun jadi lupa keadaan dan ngecipris terus tiada hentinya.
“Teruskan!” seru Siauw Ling dengan alis berkerut.
“Heeee…. heee…. penyakit lamaku memang selamanya sukar dirubah….” Sang Pat mendehem ringan dan terusnya. “Ketika siauwte melihat Kiam Bun Siang Ing menuju kebelakang gunung2an dan menuju kehalaman belakang maka aku segera menyusulnya pula, siapa tahu dibelakang gunung2an situ terdapat sebuah pintu dan pintu tadi dijaga dua orang pelayan kurang ajar benar kedua orang pelayan tadi, mungkin dipandangannya pakaian siauwte pakaian amat kasar maka kepergianku segera dihalangi. Sebetulnya siauwte hendak paksa menerobos kedalam tapi aku takut sudah mengejutkan Kiam Bun Siang Ing, maka terpaksa aku mengundurkan diri setelah kuperiksa keadaan disekeliling tempat itu, kucari sebuah tempat yang gelap dan loncat kedalam ruang belakang gedung Sam Kang Soe It tersebut….”
“Dihalaman belakang penuh ditanami pepohonan bunga, lampu lentera digantung pada setiap penjuru membuat suasana disekeliling sana jadi terang benderang bagaikan siang hari, beberapa ruangan tampak tertutup oleh kain horden yang tebal. Sekilas memang siauwte telah sadar bahwa halaman itu sudah diatur oleh orang lihay, peduli kau ada disudut manapun sulit untuk menghindarkan diri dari sorotan cahaya lampu. Hal ini memaksa siauwte harus berdiam beberapa saat diatas atap tanpa sanggup loncat kehalaman belakang.”
Teringat akan lukanya yang belum lama menderita, Siauw Ling tak ingin saudaranya terlalu banyak bicara tak tahan selanya, “Saudara Sang, persingkat saja ceritamu!”
“Obat luka dari Bu tong pay benar2 sangat manjur, pada saat ini rasa yang siauwte derita sudah banyak berkurang.”
“Baiklah, kalau begitu perlahan sedikit suaramu agar jangan sampai menggetarkan mulut lukamu!”
Sang Pat tersenyum.
“Siauwte tengok kesana tengok kemari tetapi belum berhasil juga menemukan dari mana aku harus meloncat turun, tetapi aku pun tahu kalau harus begitu teruspun bukan jalan yang tepat, akhirnya aku lantas mengambil keputusan untuk kembali dahulu dan tukar pakaian….”
Begitu masuk kedalam ruangan Siauw Ling sekalian hanya repot membubuhi lukanya dengan obat, kini setelah mendengar perkataan tersebut mereka lantas perhatikan bajunya, ternyata Sang Pat telah tukar sebuah jubah berwarna hitam yang amat panjang.
“Dari mana dapat pakaian ini?” tanya Ceng Yap Chin.
“Kucari seseorang yang mempunyai potongan badan yang rada sama dengan perawakanku, diam2 kutotok jalan darahnya, melepaskan pakaiannya, setelah meninggalkan sedikit uang lantas masuk kembali kedalam gedung Sam Kang Soe It.”
Ia berhenti sebentar untuk tukar napas.
“Sedikitpun tidak salah, dengan dandananku sekarang ternyata kedua orang pelayan itu sama sekali tidak menghalangi jalan pergiku dan biarkan aku masuk kedalam.”
“Apakah halaman belakang sana merupakan tempat perkumpulan anak buah Djen Bok Hong?”
“Dihalaman belakang terdapat banyak sekali serambi serta lorong yang berliku2, perabot disitu jauh lebih mewah dari pada halaman depan, diantaranya hanya ada dua deret kamar yang tertutup, karena tak tahu Kiam Bun Siang Ing telah masuk kekamar yang mana, maka diam2 siauwte hitung kamar yang ada disana, semuanya ada dua belas pintu dan dari tiap kamar menyorot keluar cahaya lampu.”
Kembali dia berhenti sebentar, setelah tukar napas sambungnya lebih jauh, “Tidak salah, setelah kulintasi semua loteng itu satu kali dan tidak berhasil menemukan jejak Kiam Bun Siang Ing. Diam2 aku mulai merasa bahwa diriku telah terjerumus kedalam suasana yang penuh dengan mara bahaya.”
“pada bagian mana yang tidak beres?”
“Waktu aku mula2 masuk kedalam masih tidak merasakan apa2, tetapi setelah mengitari tempat itu satu kali aku baru merasakan keadaan yang sedikit tidak beres, ternyata letak kedua belas buah pintu itu secara diam2 mengandung unsur barisan Pat Kwa, jelas tempat itu bukan satu tempat pelacuran biasa, setelah kusadari bahwa keadaan terjerumus dalam keadaan bahaya buru2 aku mengundurkan diri dari situ. Pada saat aku belok pada tikungan tiba2 terdengar sambaran angin menyapu lewat dari sisi tubuhku, meski dalam hati aku pasti waspada namun aku tak pernah mengira kalau dibalik tikungan telah ada seseorang yang menantikan kedatanganku, untuk saat sulit bagiku untuk meloloskan diri, maka tak ampun lagi lengan kiriku termakan oleh sebuah bacokan….”
“Apakah kau berhasil melihat raut wajah orang itu?” tanya Tu Kioe.
Dia sadar akan kelihayan ilmu silat yang dimiliki Sang Pat, meskipun ada orang secara mendadak melancarkan serangan bokongan kepadanya, sukar juga untuk bikin jago kate ini terluka.
Sang Pat menggeleng.
“Aku tidak berhasil menyaksikan raut wajahnya dan pula tidak sempat bagiku untuk memeriksa. Sebab sambaran golok yang menerjang diriku menyapu datang dengan cepatnya, masih untung aku cuma termakan sebuah bacokannya saja, dalam keadaan begitu aku tak berani menerjang kedalam lebih jauh, sambil mengempos tenaga badanku segera melayang keatas atap rumah. Ketika itulah puluhan titik cahaya tajam meluncur secara berbareng kearahku berdiri, daerah seluas delapan depa telah terkurung oleh serangan senjata rahasia yang rapat, bila aku tidak berhasil mempertahankan rasa dongkolku untuk melancarkan serangan balasan, niscaya aku telah mati dibawah serangan senjata rahasia itu.”
“Aaah, persiapan yang demikian ketatnya jelas bukan disiapkan untuk menghadapi siauwte seorang” seru Siauw Ling. “Sebaiknya memang sejak dahulu telah dipersiapkan untung Sang heng punya akal yang panjang hingga tidak sampai terbokong oleh lawan.”
“Ada satu perakalan siauwte merasa kurang paham.”
“Persoalan apa?”
“Aku maksudkan bacokan golok yang berhasil melukai lenganku, tatkala untuk pertama kalinya aku lewat pada jalan tersebut, telah perhatikan dengan seksama siauwte yakin disitu tak ada orang, kemudian akupun sudah perhatikan lagi suasana disekitar sana yang bebas dari manusia, lalu dari manakah datangnya sambaran golok tersebut….?”
Siauw Ling termenung sebentar, lalu ia menjawab, “Seandainya dibelakang dinding terdapat sebuah alat rahasia yang bisa bergerak secara otomatis, dengan sendirinya serangan golok itupun bisa muncul tanpa diduga.”
“Baach benar! siauwte tidak sampai berpikir kesitu. Oooh…. suatu persiapan yang benar2 sangat keji! sekalipun bacokan golok itu tidak sampai membinasakan diriku, tetapi serangan senjata rahasia berikutnya benar2 luar biasa. Sekalipun seorang jago kelas satupun belum tentu dapat menyelamatkan diri dengan selamat. Masih untung nasib siauwte rada baik dan segera loncat keatas atap, dengan demikian jiwaku berhasil diselamatkan.”
“Waah…. kalau cayhe yang harus menghadapi kejadian seperti itu, aku pasti bakal terluka diujung senjata rahasia itu” komentar Ceng Yap Chian.
“Setelah kau melarikan diri keatas atap rumah, apakah ada orang yang mengejar dirimu?”
“Bangunan tersebut letaknya dekat dengan halaman depan lagi pula para tamu yang berkunjung kesana amat banyak, ditambah pula gerakanku cepat sekali tiba2 sudah menyelinap kedalam gerombolan manusia.”
“Kalau begitu gedung Sam Kang Soe It memang radaan kukoay!”
“Djen Bok Hong telah menyebarkan anak buahnya keseluruh dunia untuk mencelakai Siauw heng kenapa kita tidak obrak abrik pula beberapa markas besarnya agar dia tahu rasa?’
“Perkataan Ceng heng sedikitpun tidak salah, baiklah malam ini kita beristirahat sehari besok malam kita baru pergi menengok keadaan Sam Kang Soe It.”
“Toako, alangkah baiknya kalau kita mengadakan kontak dahulu dengan Boe wie Tootiang, Soen Loocianpwee, kemudian baru melakukan suatu tindakan” Sang Pat mengusulkan.
“Tapi entah suheng cayhe berdiam pula didalam rumah penginapan Lak Hoo ini atau tidak.”
“Mereka sudah menginap disini, ketika siauwte keluar tadi diam2 telah kuperiksa tanda rahasia yang mereka lepaskan, suhengmu serta Soen loocianpwee telah berada disini semua. Hanya kita tidak tahu mereka menginap dikamar mana?”
“Mata2 Djen Bok Hong sangat lihay, malam ini kita harus membagi tugas jaga malam.”
Malam ini berlalu tanpa menemui kejadian apapun juga, ketika keesokan harinya fajar baru menyingsing, secara beruntun Boe Wie Tootiang serta Soen Put shia telah menggabungkan diri dengan mereka.”
Siauw Ling memang ada maksud mengundang kedatangan kedua orang itu, begitu melihat mereka berdua sudah datang maka cepat2 ia sampaikan kisah peristiwa yang telah dialami Sang Pat kemarin malam.
“Rupanya kita sudah tak dapat menghindarkan diri dari bentrokan langsung dengan pihak Djen Bok Hong” ujarnya Boe Wie Tootiang selesai mendengarkan cerita itu. “Menghancurkan sebuah markas rahasianya berarti kita sudah mencukil sebuah matanya. Dewasa ini meskipun anak buah Djen Bok Hong telah ditempatkan dikota Ooh Chioe tetapi ia tak bakal pusatkan segenap tenaga serta kekuatannya disini, pinto rasa meskipun bertemu sendiri dengan dirinya, kita masih mampu untuk mempertahankan diri.”
“Ia dirikan markas besarnya didalam sarang pelacur, perbuatannya ini benar2 sangat lihay” kata Soen Put shia pula. “Sudah kujelajahi hampir segala penjuru dunia, tapi belum pernah kutemui kejadian seperti ini. Aku sipengemis tua rasanya harus ikut berangkat untuk menambah pengalamanku.”
“Berangkat sih kita harus berangkat, cuma kita harus berangkat dengan suatu susunan rencana yang ketat dan sempurna.”
“Tootiang kau pintar dan banyak akal, aku pengemis tua rasa dalam hatimu tentu sudah punya rencana bukan?”
Boe wie Tootiang tersenyum.
“Rencana sih memang ada tetapi pinto tak tahu bisakah digunakan dengan cepat, setelah pinto utarakan nanti seandainya ada bagian yang terasa kurang tepat harap kalian suka memberi komentar.”
Segera dia beberkan rencananya dan menjelaskan hingga bagian2 yang paling mendetail.
“Bagus, bagus!” puji Soen Put shia kemudian. “Kita kacaukan dahulu perhatian musuh, kemudian baru menerobos masuk!”
Klootaak….! mendadak sebutir batu terjatuh didalam halaman.
“Cuwi sekalian harap berhati2? bisik Boe wie Tootiang sambil ulapkan tangannya.
“Apa yang sudah terjadi?”
Boe wie Tootiang goyangkan tangannya memberi tanda agar Siauw Ling jangan berbicara.
Lewat beberapa saat kemudian dari luar kamar berkumandang lagi dua suara yang nyaring, saat itulah Boe wie Tootiang baru bangkit berdiri sembari berkata, “Pinto telah sebarkan anak buahku untuk berjaga2 disekeliling tempat ini, suara nyaring yang berkumandang tadi menandakan adanya orang mencurigakan mendekati tempat kita.”
“Oooh, jadi suara beruntun dua kali barusan menandakan kalau orang yang mencurigakan itu sudah pergi?”
“Tidak salah!” toosu itu bangkit berdiri dan menambahkan. “Pinto akan pergi lebih dahulu.”
“Aku sipengemis tua pun mencari beberapa orang pembantu, aku berpisah pula lebih dahulu.”
Murid Kay pang tersebar dimana2, Kota Ooh Chioe sebagai sebuah kota tentu saja terhindar dari jelajahan murid2 Kay pang. Soen put shia sebagai seorang Tiangloo tentu saja tidak sukar untuk mendapatkan bala bantuan.
Setelah beberapa orang itu berlalu, Boe wie Tootiang baru memandang sekejap kearah Sang Pat sambil berkata, “Walaupun luka yang diderita hanya luka luar belaka, tapi kau sudah terlalu banyak kehilangan darah, lebih baik beristirahatlah selama beberapa hari.”
“Siauwte rasa beristirahat setengah haripun rasanya sudah lebih dari cukup.”
Ketika sore hampir menjelang, Siauw Ling dengan membawa serta Tiong Cho Siang Ku serta Ceng Yap Chin berangkat meninggalkan rumah penginapan Lak Hoo dan menuju kelenteng Koen Eng Loe.
Koen Eng Loo adalah rumah makan terbesar dikota Ooh Chioe, ketika Siauw Ling sekalian tiba disana, Boe wie Tootiang serta Suma Kan sekalian telah duluan.
Kali ini Boe wie Tootiang menyaru sebagai seorang kakek berjubah hijau yang sangat angker. Seandainya tidak berjanji lebih dahulu mungkin Siauw Ling tidak akan mengenali dirinya kembali.
Suma Kan tetap berdandan sebagai seorang tukang ramal.
Saat itu sore belum tiba, tamu yang ada diatas loteng pun hanya enam bagian Siauw Ling putar biji matanya menyapu sekejap kesekeliling sana kemudian melangkah masuk kesebuah kamar.
Didalam kamar sana telah menanti dua orang toosu muda yang membawa sebuah buntalan.
Siauw Ling segera tukar pakaian, membersihkan wajahnya dari obat penyaruan dan memulihkan kembali wajah aslinya. Setelah itu dia baru munculkan diri dan mencari tempat duduk.
Tempat yang dipilih Siauw Ling strategis letaknya, barang siapa pun yang naik keatas loteng tentu akan menjumpai wajahnya.
Dalam pada itu Sang Pat, Tu Kioe serta Ceng Yap Chin menyebar disekeliling meja Siauw Ling untuk melindunginya secara diam2, enam buah sorot mata tiada hentinya mengawasi gerak gerik setiap tamu dengan hati tegang.
Siapapun tidak tahu serangan keji apakah yang telah direncanakan Djen Bok Hong untuk mencelakai Siauw Ling, mereka takut sedikit melengah mengakibatkan si anak muda itu terbokong.
Tidak selang beberapa saat Siauw Ling duduk disana, mendadak dari sudut timur laut berdiri seseorang dan segera turun kebawah.
“Hati2 dengan keparat itu” bisik Sang Pat cepat.
Tu Kioe mengangguk, dengan tajam ia perhatikan terus gerak gerik orang itu.
Tampak orang itu berhenti sejenak dimulut loteng, kemudian berpaling dan memperhatikan lagi diri Siauw Ling, setelah itu baru turun dari loteng dan berlalu.
Beberapa saat kemudian muncul seorang pelayan dan membawa nampan sayur, ia bagikan dahulu sayur itu pada empat meja tamu, kemudian menghampiri Siauw Ling sambil menyapa, “Khek koan, kau hendak pesan sayur apa?”
Siauw Ling sebutkan dua macam sayur dan sepoci arak, pelayan itu segera berlalu.
Beberapa saat kemudian pelayan tadi telah muncul kembali menghidangkan sayur pesanan.
Pelayanan yang dilakukan sang pelayan dengan cepatnya ini segera mencurigakan hati Sang pat, kembali bisiknya kepada Tu Kioe, “Aku rasa keadaan rada tidak beres….”
“Bagaimana yang kurang beres?”
“Baik dalam rumah makan besar maupun dalam rumah makan kecil sudah menjadi kebiasaan perilakunya suatu peraturan dimana yang datang duluan dilayani lebih dahulu, tapi coba kau lihat pelayan tersebut kenapa ia melayani Liong tauw toako kita melampaui batas? kau harus hati2 memperhatikan gerak geriknya.”
Sementara itu pelayan tadi sudah mendekati Siauw Ling, diam2 Tu Kioe mengepos tenaga melakukan persiapan, asal pelayan itu menunjukkan tingkah laku yang mencurigakan dengan suatu gerakan secepat kilat dia akan melancarkan seragan mematikan.
Tetapi pelayan itu tidak melakukan sesuatu gerakanpun, setelah meletakkan sayur dan arak tadi keatas meja dia segera mengundurkan diri.
Diam2 Tu Kioe bernapas lega pikirnya, “Sang Loo jie terlalu berhati2, sekalipun Djen Bok Hong telah sebarkan mata2nya dimana2, tidak mungkin dia bisa mengutus anak buahnya jadi pelayan dalam rumah makan Koen Eng Loo ini….”
Dalam pada itu pelayan tadi sudah mendekati Ceng Yap Chin, setelah menanyakan pesanan sayur dan arak diapun berlalu.
Perlahan2 Siauw Ling angkat cawan araknya hendak diteguk, tapi sebelum cawan tersebut menempel dibibirnya serentetan suara berbisik yang amat lembut telah menyusup kedalam telinganya.
“Jangan kau teguk arak itu, dan jangan kau sentuh sayur yang dihidangkan!”
Bukan saja suara itu kedengaran asing sekali bahkan tidak mirip nada pria, dengan cepat Siauw Ling menyapu sekejap sekeliling tempat itu, menanti dilihatnya diatas loteng tiada seorang perempuanpun ia baru berpikir dengan hati tercengang, “siapakah orang itu? kenapa dia memberi peringatan kepadaku….”
Beberapa saat telah lewat, pelayan tadipun muncul kembali seraya memperhatikan sayur dan arak dimeja Siauw Ling mendadak tegurnya, “Eeeei…. Khek Koan kenapa kau? apakah arakanya kurang panas?”
“Ooooh bukan….”
“Apakah sayurnya kurang sedap?”
“Juga bukan!”
“Kalau memang sayur dan arak kami lezat, kenapa Khek Koan tidak bersantap?” tanya pelayan tadi sambil memandang sekejap sayur dan arak dimeja.
Mendengar teguran tersebut, satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benak Siauw Ling.
“Seorang pelayan, kenapa dia begitu suka mencampuri urusan orang lain?” pikirnya.
Setelah berkelana beberapa waktu dalam dunia persilatan, pengalamannya sekarang telah makin bertambah, kendati dalam hatinya telah timbul rasa curiga namun diatas wajahnya sama sekali tidak diutarakan perasaan tersebut ia tersenyum hambar.
“Cayhe tidak bersantap karena secara lapat2 aku mencium suatu bau yang sangat aneh dalam sayur serta arak ini….” bisiknya.
“Aaah, Khek Koan pandai benar bergurau!”
“Kalau kau tidak percaya nah coba minumlah sendiri, silahkan…. silahkan….”
Sembari berkata tangannya bergerak cepat, tangan kanannya laksana kilat menotok jalan darah Hong Hu dikaki kanan pelayan itu sementara tangan kirinya yang membawa cawan dengan disaluri tenaga kweekang segera mencekokkan arak tadi kedalam mulutnya.
Gerakan yang dilakukan si anak muda ini cermat sekali, meskipun dia memaksa pelayan itu untuk meminum arak dalam cawan, tetapi para tamu yang ada diatas loteng tak seorangpun yang tahu.
Sambil meletakkan cawan arak tadi keatas meja perlahan2 Siauw Ling bangun bediri, ia tabok punggung pelayan tadi hingga arak dalam mulutnya terteguk kedalam perut, setelah itu sambil melepaskan jalan darahnya yang tertotok katanya, “Loo heng, semoga kau tetap sehat walafiat!”
Begitu jalan darahnya terbuka pelayan itu cepat2 lari turun kebawah, tetapi berhubung racun yang mengeram dalam perutnya sangat keji maka baru saja tiba dimulut loteng ia sudah jatuh terjungkal dan muntah darah segar.
Hanya dalam sekejap mata darah telah mengucur keluar dari kelima inderanya, setelah berkelejit sebentar tamatlah riwayat pelayan tersebut.
Diam2 Siauw Ling merinding setelah melihat betapa kejinya racun yang dipersiapkan untuknya, bilamana tidak ada orang yang memberi peringatan kepadanya, arak tadi niscaya telah diteguknya kedalam perutnya.
Sementara itu suasana diatas loteng jadi gaduh dan menarik perhatian banyak orang.
Pada saat itulah berdiri seorang tamu dari tempat duduknya, laksana kilat dia sambar jenasah pelayan tadi dan kabur turun dari loteng.
“Aaah, dalam rumah makan ini tentu masih terdapat banyak sekali jago-jago lihay perkampungan Pek Hoa San cung yang mencampur baurkan diri dengan para tamu” pikir Siauw Ling didalam hati. “Musuh dalam kegelapan sedang aku ada ditempat yang terang, tak baik aku berdiam terlalu lama disini.” setelah meletakkan beberapa pecahan uang perak keatas meja ia segera bangkit berdiri dan turun dari loteng.
Tu Kioe segera berbisik kepada Sang Pat, “Sungguh tak disangka Djen Bok Hong telah siapkan jebakan maut dalam rumah makan, ayoh kita berangkat!”
Tanpa banyak bicara ia turun lebih dahulu dari atas loteng.
Ceng Yap Chin menyapu sekejap kesekelilingnya, mendadak ia berteriak keras, “Aduh celaka, dalam sayur dan arak ada racunnya, hati2….”
Robohnya sang pelayan tanpa sebab barusan telah memancing perhatian banyak orang, setelah mendengar teriakan pula dari Ceng Yap Chin, suasana berubah makin kalut.
Menggunakan kekalutan itu buru2 Ceng Yap Chin meloloskan diri dari atas loteng.
Dalam pada itu Siauw Ling telah turun dari atas loteng dan segera lari kearah luar, tetapi baru saja ia tiba didepan pintu suara yang lembut halus tadi kembali berkumandang disisi telinganya.
“Hati2 dengan serangan bokongan.”
Siauw Ling menoleh, tapi orang itu tidak ditemukan juga, ia lantas berpikir, “Ia tak mau munculkan diri, berarti belum saatnya ia bersedia untuk menjumpai diriku.”
…. Bersambung jilid ke 23
Jilid 23
Jarum2 beracun itu halus bagaikan bulu kerbau, meskipun ada dua orang mati binasa tanpa diketahui oleh sebabnya namun orang2 yang berada disekitarnya sama sekali tidak mengerti apa sebabnya mereka bisa mati secara tiba2.
Siauw Ling benar2 naik pitam menyaksikan kekejian orang, dengan sorot mata bagaikan elang dia periksa setiap manusia yang berada disekitar situ, tapi sayang berhubung jumlah orang yang terlalu banyak sulit baginya untuk menemukan sang pembokong tersebut.
Dalam pada itu sepasang pedagang dari Tiong Chiu serta Ceng Yap Chin telah turun dari atas loteng menyaksikan jenasah dua orang yang mulai menghitam tadi, mereka kaget buru2 mereka loncat keluar dari rumah makan.
Pada saat ini kemarahan berkobar dalam dada Siauw Ling betul2 telah memuncak ia berdiri didepan pintu sambil menyapu kesana kemari dengan mata melotot, saking gusarnya hingga si anak muda itu lupa menyingkir dari sana.
“Toako, cepat menyingkir!” buru2 Sang Pat berseru sambil berlalu dari sisinya.
Siauw Ling tersentak kaget dan segera sadar akan keadaan disekelilingnya, teringat bahwasannya masih ada masalah besar yang harus diselesaikan ia segera berlalu mengikuti dibelakang Tiong Cho Siang Ku, pikirnya, “Cara Djen Bok Hong mengutus orang2nya untuk melancarkan serangan bokongan terhadap diriku betul2 tak diduga sebelumnya, dikemudian hari aku harus bertindak lebih hati2.”
Ceng Yap Chin mengikuti dari kurang lebih lima enam depa dibelakang Siauw Ling. Perhatiannnya dipusatkan pada empat penjuru dan diam2 ia melakukan perlindungan terhadap keselamatan si anak muda itu.
Hawa amarah yang berkobar dalam dada Siauw Ling belum juga padam, diam2 iapun waspada dan mepersiapkan diri asalkan orang membokong dirinya ditemukan maka dia siap menghajar orang itu tanpa ampun.
Setelah melewati dua buah jalan raya sampailah mereka disebuah perempatan jalan, tampaklah disepanjang tepi jalan penuh dengan penjual kaki lima yang menjajakan barang dagangannya kepada para pelewat.
Siauw Ling alihkan sinar mata kesekeliling sana, ia jumpai kira2 lima tombak disebelah kiri terdapat sebuah lorong yang agak sepi, pikirnya, “Melewati jalan yang ramai dan penuh sesak dengan orang, bahaya yang mengancam semakin besar, sebab ditempat yang seperti inilah serangan bokongan paling mudah dilancarkan.
Sementara ia ada maksud menyapa Sang Pat dengan ilmu menyampaikan suara, tiba2 tampaklah seorang pengemis setengah baya datang menghampiri dirinya sementara sepasang matanya mengawasi terus wajahnya tanpa berkedip.
Suatu ingatan berkelebat dalam benak si anak muda itu, kembali dia berpikir, “Sudah lama kudengar bahwasannya anak murid Kay pang tersebar luas diseluruh penjuru dunia, orang itu mengawasi terus diriku jangan2 dia telah mendapat perintah dari Soen put shia untuk menyampaikan pesan padaku.”
Belum habis ingatan tadi berkelebat dalam benaknya, pengemis setengah baya itu sudah tiba kurang lebih tiga empat depa dihadapannya, terdengar orang itu menegur lirih, “Apakah Siauw thayhiap?”
“Tidak salah, apakah Heng thay adalah anggota Kay pang….”
Belum habis dia berkata mendadak pengemis itu ayunkan sepasang tangannya, tangan kanan melepaskan segenggam jarum beracun sedangkan tangan kirinya mencabut keluar sebilah pisau belati dan langsung ditusukan kearah ulu hati si anak muda itu.
Didalam jarak yang sedemikian dekatnya serangan bokongan paling gampang memperoleh hasil, sebab kendati tusukan pisau belati itu dapat dihindari namun ancaman jarum beracun sukar dielakkan.
Untung Siauw Ling telah mempersiapkan diri setelah berulang kali mendapat serangan bokongan, meskipun dia bercakap2 dengan pengemis tadi namun kewaspadaannya sama sekali tidak dikendorkan, tatkala dilihatnya orang itu ayunkan sepasang telapaknya, ia segera mengirim satu pukulan dahsyat diikuti badannya berjumpalitan kebelakang dan bergeser tiga depa dari tempat semula.
Dalam keadaan yang amat terdesak tak mau Siauw Ling harus keluarkan gerakan jembatan gantung untuk meloloskan diri dari datangnya ancaman jarum beracun itu.
Ilmu silat yang dimiliki pengemis setengah baya itu tidak lemah, tatkala dilihatnya Siauw Ling menghindar kesamping dengan gerakan yang cepat kemudian mengirim satu pukulan dahsyat kearah dadanya, iapun segera mengigos dua langkah kesamping. Tangan kiri digetarkan pisau belati itu segera meluncur kearah si anak muda itu.
Kemudian ia putar badan dan melarikan diri kearah barat.
Terdengar beberapa jeritan ngeri berkumandang ditengah keramaian, empat lima orang sama2 roboh binasa terhajar jarum beracun itu.
Melihat ada beberapa orang jatuh korban karena termakan jarum beracun tersebut, kegusaran Siauw Ling yang tadi telah mereda kini berkobar kembali. Dengan cepat ia sambut datangnya bidikan pisau belati itu, kemudian ia loncat ketengah udara dan ayun pula senjata tadi kedepan.
Ilmu melepaskan senjata rahasia dari Liuw Sian Cu tersohor akan lihaynya, serangan yang dilancarkan Siauw Ling dalam keadaan gusar bida dibayangkan betapa hebatnya, mengiringi satu desiran tajam yang memekikkan telinga senjata tadi meluncur kearah depan.
Gerakan tubuh pengemis setengah baya itu cepat tapi serangan balasan dari Siauw Ling datangnya jauh lebih cepa lagi.
Sementara itu pengemis tadi tela berada kurang lebih dua tombak jauhnya, sewaktu ia tak mendengar suara kejaran dari si anak muda itu tanpa sadar pengemis itu telah berpaling kesamping.
Disaat ia menoleh itulah pisau belati tersebut telah menyambar tiba tampak cahaya putih berkelebat lewat, tidak sempat lagi baginya untuk menghindarkan diri dari pisau tersebut dengan telak telah menghujam diatas batok kepalanya dan amblas hingga tinggal gagangnya belaka.
Pengemis itu sungguh cekatan, sekalipun batok kepalanya sudah tertembus oleh pisau belati namun dia masih sanggup untuk mencabutnya keluar, kemudian setelah melihat beberapa tombak lagi ia baru roboh keatas tanah dan mati.
Suasana ditengah jalan itu segera berubah jadi gaduh, suara teriakan2 kaget berkumandang dimana2.
“Aduh celaka, ada orang mati terbunuh…. ada orang mati terbunuh….”
Suasana jadi kacau balau suara hirup pikuk menggema ditengah jalan, orang pada lari bersiuran mencari perlindungan….
Sang Pat cepat mendekati saudara angkatnya. Sambil menarik ujung baju si anak muda itu bisiknya, “Ayoh cepat menyingkir, ikutilah dibelakang siauwte!”
Dengan sedih Siauw Ling menghela napas tanpa mengucapkan sepatah katapun ia berlalu mengintil dibelakang sie poa emas.
Pada saat itu baik Sang Pat maupun Tu Kioe telah memahami situasi disekitar mereka dewasa ini, meskipun orang2 dari perkumpulan Pek Hoa San cung menyaru jadi pelbagai corak ragam manusia dan siap melancarkan serangan bokongan namun sasaran yang dituju hanyalah Siauw Ling seorang, diam2 mereka berdua telah berunding masak2, maka dengan memisahkan diri satu didepan yang lain dibelakang mereka dilindungi Siauw Ling mengundurkan diri dari situ.
Setelah membelok masuk kedalam sebuah gang yang sunyi, Sang Pat menyelinap kebalik pintu loteng yang tinggi dari sakunya dia ambil keluar sebuah topeng dan ujarnya sambil serahkan benda itu kepada Siauw Ling.
“Toako, cepat kenakan topeng kulit ini!”
Siauw Ling kenakan topeng tadi, sementara itu Tu Kioe telah mempersiapkan sebuah jubah hijau sambil dikenakan pada tubuh saudaranya iapun menambahkan, “Toako, setelah kau kenakan jubah ini maka tak akan mengetahui akan dirimu lagi.”
Siauw Ling terima pakaian tadi dan cepat2 dikenakan, sementara Ceng Yap Chin pun telah menyusul tiba, terdengar ia berkata dengan suara gelisah.
“Suasana dijalan raya sangat kacau, para petugas hukum sebentar lagi bakal tiba disana siauwte rasa tempat ini tak boleh ditinggali terlalu lama, mari kita cepat berlalu!”
Empat orang secara beruntun melewati beberapa buah gang yang sepi dan akhirnya muncul kembali dijalan besar lainnya.
“Lebih baik kita pura2 saling tidak kenal, tetapi jangan berpisah terlalu jauh” usul Sang Pat. “Dengan begitu kita bisa saling bantu membantu.”
Selanjutnya beberapa orang itu tidak mendapat serangan bokongan lagi, ketika dilihatnya waktu sudah tidak pagi maka Siauw Ling berjalan masuk kedalam sebuah rumah makan.
Ruangan rumah makan tidak terlalu luas, rupanya khusus digunakan untuk melayani kaum pedagang kecil dan pekerja besar apalagi waktu makan sudah lewat, yang berada didalam ruangan hanya tinggal tiga empat orang belaka.
Mereka berempat segera masuk kedalam kedai dan masing2 mengambil tempat duduk yang terpisah.
Kecuali beberapa macam sayur tiada masakan lain yang lebih lezat, terpaksa Siauw Ling sekalian pesan arak dan perlahan2 bersantap.
Baru saja sayur dan arak dihidangkan, dari luar kedai tiba2 muncul empat orang lelaki kekar.
Dalam kedai itu semuanya hanya ada tujuh buah meja, setelah Siauw Ling sekalian menempati empat buah meja ditambah pula sisanya tiga meja sudah diisi orang maka tak ada meja kosong lagi yang sedia.
Keadaan empat orang lelaki itu memakai pakaian ringkas semua, orang pertama menggembol senjata Giam Ong Pit, suatu senjata berbentul istimewa sedangkan sisanya tiga orang menggembol sebilah golok.
Siauw Ling dengan tajam memperhatikan keempat orang itu, ia jumpai pada pinggang masing2 orang tergantung sebuah kantung piauw, kantung itu menonjol tinggi sekali, siapapun yang melihat segera akan mengetahui isi kantung itu penuh sekali dengan senjata rahasia.
Tampak lelaki pertama bersenjatakan Giam Ong pit tadi langsung berjalan kearah Siauw Ling dan duduk dihadapannya.
Sedangkan sisanya bertiga masing2 duduk semeja dengan Sang Pat, Tu Kioe serta Ceng Yap Chin.
Baik Tiong Cho Siang Ku maupun Ceng Yang Chin telah menyaru semua dengan dandanan lain, dalam keadaan begini meskipun seseorang yang kenal dengan merekapun belum tentu mengetahui akan asal usulnya.
Dalam pada itu lelaki bersenjata Giam Ong Pit tadi sudah duduk dihadapan Siauw Ling, ia perhatikan sejenak wajah si anak muda itu kemudian secara tiba2 merampas poci arak yang berada dihadapannya, tanpa minta persetujuan dari sang pemiliknya lelaki itu angkat poci arak tersebut dan segera diteguk isinya.
Sungguh hebat takaran minum orang itu, bukan saja gerak geriknya cepat bahkan rakus dalam waktu singkat arak dalam poci tadi sudah disikatnya hingga tak terasa.
Dalam hati Siauw Ling merasa tidak senang dengan tingkah laku orang itu namun dia paksakan diri untuk bersabar.
Selesai menghabiskan isi poci arak tadi, lelaki tersebut mendorong balik poci kosong itu kehadapan Siauw Ling.
Pemuda kita mnghembuskan napas panjang. Ia tetap membungkam dalam seribu bahasa.
Terdengar lelaki yang duduk semeja dengan Tu Kioe tiba2 berseru dengan suara lantang, “Sebentar lagi kalau terjadi suatu peristiwa diluar dugaan, harap cuwi sekalian tetap duduk tak berkutik dimejanya masing2. Dari pada nantinya mengalami nasib malang atau terluka parah diujung senjata!”
Siauw Ling terperanjat, pikirnya, “Dalam ruangan ini kecuali aku serta kedua orang saudaraku hanya ada Ceng Yap Chin serta dua orang kakek tua bongkok, apakah mereka sudah tahu akan asal usul dari kami berempat….”
Belum habis dia berpikir tiba2 pintu kedai dibuka orang, dan muncullah seorang kakek tua berjubah panjang.
Kakek itu memperhatikan sekejap sekeliling ruangan berjalan kehadapan Sang Pat katanya, “Bolehkah cayhe minta sedikit tempat duduk?”
Disekitar meja Sang Pat telah ditempati seorang lelaki bersenjata golok tunggal, kiri ditambah pula dengan kakek berjubah hijau itu maka jumlahnya berubah jadi tiga orang.
Sie poa emas Sang Pat sudah lama berkelana didalam dunia persilatan, membicarakan soal ilmu silatnya boleh dibilang jagoan nomor wahid dalam dunia kangouw, kecerdikan yang dimilikipun melebihi orang lain kendati ia merasa curiga atas kehadiran kedua orang itu namun ia tetap bersabar diri, hanya saja secara diam2 diperhatikan sekejap raut wajah kedua orang itu.
Tampak kakek berjubah hijau itu mempunyai sepasang kening yang menonjol tinggi keluar, jelas dia adalah seorang jagoan kweekang yang lihay, sedangkan lelaki bersenjata golok tadi meskipun jauh lebih kekar dan kuat tapi kalau dibandingkan dengan kakek berbaju hijau itu jelas masih terpaut jauh.
“Entah siapakah orang2 itu?” pikir Sang Pat dengan perasaan tercengang. “Tapi kalau ditinjau keadaan mereka, rupanya bukan sengaja ada maksud memusuhi kami.”
Diantara keempat orang rombongan Siauw Ling, Ceng Yap Chinlah yang mula2 tidak kuat menahan diri. Menyaksikan orang itu duduk seenaknya disitu tanpa permisi hatinya merasa amat mendongkol bercampur gusar, beberapa kali dia hendak mengumbar napsu tetapi ketika dilihatnya Siauw Ling sekalian tidak menunjukkan suatu gerakan apapun, terpaksa diapun bersabar diri.
Lewat beberapa saat kemudian lelaki bersenjata Giam Ong Pit itu tak sanggup mempertahankan diri, dia bangkit mendekati kakek berjubah hijau itu lalu menjura dengan penuh hormat, ajarnya, “Cungcu, aku lihat mereka tak akan datang!”
“Tidak mungkin” sahut kakek berjubah hijau itu seraya menggeleng. “Setelah mereka menjanjikan suatu pertemuan ditempat ini, tak mungkin orang2 itu ingkar janji, kita tunggu saja beberapa saat lagi!”
“Oooh, kiranya mereka ada janji dengan orang” pikir Siauw Ling didalam hati. “Cuma entah apa sebabnya mereka memilih tempat ini?”
Sang Pat sendiri dalam hatipun secara lapat2 merasa rada kenal dengan kakek dihadapannya, cuma untuk sesaat dia merasa lupa siapakah orang itu.
Karena ingin tahu tanpa sadar dia memperhatikan beberapa saat raut wajah kakek berjubah hijau itu.
“Hey, apanya yang bagus dipandang?” tegur lelaki disisinya sambil tertawa dingin.
Sang Pat terperanjat, buru2 ia melengos kesamping.
Tiba2 lelaki bersenjata Giam Ong Pit itu menaruh curiga, dipandangnya Sang Pat dengan dingin lalu tegurnya, “Siapa saudara?”
“Hamba cuma seorang kusir kereta!”
Tiba2 silelaki itu melancarkan sebuah serangan mencengkeram pergelangan Sang Pat.
Sie poa emas mengerti asal ia menghindar kesamping maka kedudukannya segera akan terbongkar, maka ia tetap tenang saja membiarkan pergelangannya dicengkeram orang.
“Jangan banyak bikin onar!” seru kakek berjubah hijau seraya ulapkan tangannya.
Lelaki bersenjata Giam Ong Pit itu rupanya menaruh rasa sangat hormat dan segera lepas tangan.
Bruk….! tiba2 pintu kedai didorong orang, seorang lelaki muda berusia dua puluh lima enam tahunan dengan memakai pakaian ringkas berwarna biru masuk kedalam ruangan.
Begitu melihat siapa yang datang Siauw Ling terperanjat segera pikirnya, “Akh….! ternyata Djen Bok Hong pun sudah tiba dikota Ooh Chioe! aku harus lebih waspada.”
Ternyata orang yang baru saja munculkan diri itu bukan lain adalah Tang Hiong Chang murid tertua dari Djen Bok Hong.
Begitu tiba dalam ruangan Tan Hiong Chang kerlingkan biji matanya menyapu sekejap sekeliling tempat itu, lalu menegur, “Apakah kau adalah Coe Loo Ya cu?”
Perlahan2 kakek berjubah hijau itu bangkit berdiri.
“Sedikitpun tidak salah, cayhe adalah Coen Boen Ciang dari kota Lok yang….”
“Sudah lama kudengar akan namamu sungguh beruntung kita bisa berjumpa muka pada hari ini.”
“Terima kasih, terima kasih, lalu bagaimana pula sebutan Heng thay?”
“Cayhe she Tan bernama Tan Hiong Chang disini ada selembar undangan harap Coe loocianpwee suka memeriksanya.”
Coen Boen Ciang menerima surat undangan itu, setelah dilihatnya sekejap ia berkata, “Bagaimana pula keadaannya dengan Djen Cungcu?”
“Bagus, tolong sampaikan kepada suhumu dan katakanlah kalau loolap akan mengetahui janji pada saatnya.”
“Lalu bagaimana pula dengan Chin, Yoe, Kho tiga orang loocianpwee? apakah merekapun akan memenuhi janji?”
“Tan heng tak usah kuatir!”
“Bagus, kalau begitu boanpwee akan segera mohon diri.”
“Silahkan, maaf kalau loolap tidak akan menghantar!”
Tidak lama setelah Tan Hiong Chang berlalu. Coen Boen Ciangpun bangkit berdiri dan berjalan keluar dari ruangan dengan langkah lebar.
Lelaki bersenjata golok itupun segera bangkit berdiri dan berlalu dari sana.
Arak dalam poci serta cawan Siauw Ling telah dihabiskan lelaki tadi, menanti beberapa orang itu berlalu ia baru panggil pelayan untuk mengganti poci serta cawannya.
ketika pelayan itu mengambil cawan arak tiba2 ia berseru, “Ooooh ada uangnya!”
Siauw Ling menoleh, sedikitpun tidak salah disisi cawan telah tertera sekeping uang perak, dia tahu bahwa uang itu tentunya lelaki tadi yang meninggalkannya disana, diam2 pikirnya, “Walaupun orang itu kelihatan goblok, rupanya dia bukan termasuk manusia yang suka minum tanpa membayar….”
Tampak Sang Pat mendongak dan bergumam seorang diri, “Coe, Chin, Yoe, kho mereka pastilah Bulim Su Tay Hian atau empat pujangga besar dari dunia persilatan.”
Siauw Ling bangkit berdiri menghampiri sisi saudara angkatnya, lalu bertanya, “Saudara Seng, apakah aku kenal dengan kakek berbaju hijau tadi?”
“Sudah lama kudengar akan nama besar dari Coe Boen Ciang yang berasal dari kota Lok yang, diantara Coe, Chin, Yoe, Kho, Coe Boen Cianglah yang bertindak sebagai pemimpin. Sungguh tak nyana Djen Bok Hong telah mencari gara2 dengan empat pujangga besar yang tak pernah mencampuri dunia persilatan ini.”
“Bagaimana dengan ilmu silat mereka?”
“Menurut kabar yang tersiar katanya ilmu silat yang dimiliki empat pujangga dunia persilatan sangat lihay, hanya saja disebabkan kehidupan mereka teramat sederhana dan tidak suka mengadakan hubungan dengan orang2 Bulim, tak mau bergelimpangan diantara pembunuhan dan tidak kemaruk nama dan pangkat jarang sekali ada orang yang mengetahui keadaan mereka sedalam2nya.”
“Mereka mengasingkan diri dari keramaian Bulim hal tersebut sebenarnya merupakan kebebasan mereka pribadi, tetapi kalau keempat orang itu memiliki ilmu silat lihay lagi pula mengetahui kalau dunia kangouw sedang dijelajahi iblis berambisi besar namun mereka tak mau juga tampil kedepan, perbuatan itu tidak bisa terhitung sebagai suatu tindakan seorang enghiong.”
“Ucapan toako tepat sekali.”
“Rupanya Djen Bok Hong telah muncul pula dikota Ooh Chioe” ujar Siauw Ling sambil bangkit berdiri. “Jejak kita sudah ketahuan, rasanya tiada berpaedah kalau kita lebih lama berdiam disini, ayoh kita pergi” selesai membereskan rekening dia lantas berlalu.
Waktu itu Siauw Ling mengenakan sebuah topeng kulit manusia yang berwarna hijau kekuning2an, pada pipi kanan terdapat sebuah bulu hitam yang panjang. Sepintas lalu wajahnya nampak jelek sekali.
Sang Pat berjalan berdampingan dengan Siauw Ling, sedangkan Tu Kioe bersama Ceng Yap Chin menggunakan kesempatan itu mereka meninjau keadaan situasi dikota Ooh Chioe dan diingat2nya didalam hati.
Menanti senja telah menjelang tiba, mereka berempat baru masuk kedalam sebuah kedai penjual tahu.
Dua orang anggota Bu tong pay telah menanti disitu. Siauw Ling sekalian segera melepaskan topeng dan mengganti saruan mereka.
Kali ini Ceng Yap Chin memakai jubah warna hijau dan berdandan sebagai seorang kongcunya yang perlente. Setelah wajahnya sedikit dimake up maka wajah aslinya segera tertutup.
Sang Pat memakai jubah panjang topi bundar, kemudian memakai pula mantel warna hitam. Wajahnya ditutupi topeng, dia berdandan jadi seorang pengusaha gedung hartawan.
Tu Kioe pun mengenakan topeng kulit berjanggut cabang tiga, menggantungkan golok dipinggang dan menyaru sebagai seorang pengawal.
Siauw Ling berdandan jadi seorang kacung kecil pengiring Ceng Yap Chin, dia pakai baju hijau, topi kecil dan mengenakan topeng berwajah kekanak2an.
Selesai keempat orang itu menyaru, seorang anggota Bu tong pay segera menjura dan berkata, “Ciangbunjien kami serta Soen loocianpwee telah berjanji perduli kejadian apapun yang telah berlangsung pada kentongan kelima semua orang harus sudah berkumpul disini.”
“Baik!” Siauw Ling mengangguk. “Kalian baik2lah melindungi tempat ini.”
Anggota Bu tong pay yang lain mendekati Ceng Yap Chin dan berbisik dengan suara lirih, “Susiok, kedudukanmu sekarang adalah putra kedua dari Jan Tay jien pembesar tinggi daerah kanglam yang bernama Jan Kie Cheng!”
“Baik, akan kuingat selalu” sahut Ceng Yap Chin sambil tersenyum, ia menoleh kearah Siauw Ling dan menambahkan, “Siauw thayhiap bagaimana kalau untuk sementara waktu siauwte panggilkan dengan nama Jan Leng?”
“Suatu nama yang sangat bagus?”
Begitulah meminjam kegelapan malam yang mencekam seluruh jagad, keempat orang itu keluar dari lorong terpencil dan menuju kejalan besar, dimana sebuah kereta berkerudung hitam telah disiapkan.
Seorang anggota Bu tong pay yang menyaru sebagai kusir loncat turun dari kereta menyongsong kedatangan mereka ujarnya, “Soen loocianpwee sedang menanti didalam kereta!”
Keempat orang itu segera naik kedalam kereta tampaklah Soen put shia telah memulihkan wajahnya dengan raut wajah asli. Pakaian yang dikenakanpun pakaian butut seorang pengemis.
“Loocianpwee, apakah kau berhasil menemukan anggota perkumpulanmu??” tanya Siauw Ling seraya menjura.
Soen put shia tersenyum.
“Aku sipengemis tua tidak terbiasa untuk menyaru jadi ini jadi itu, aku rasa lebih baik kugunakan wajahku yang asli saja….”
Ia merandek sejenak, kemudian terusnya, “Aku sipengemis tua telah berhasil menemukan beberapa orang pengemis cilik yang siap mendengarkan perintahku, cuma semua gerakan telah diatus oleh Boe Wie Tootiang. Aku sipengemis tua hanya ada sepatah kata hendak kusampaikan kepada kalian, setelah masuk kedalam gedung Jam kam Soe It janganlah kalian berlaku sungkan2 lagi. Menurut laporan dari anggota Kay pang, Djen Bok Hong telah tiba dikota Ooh Chioe bahkan jago lihay yang mengiringi dirinya sangat banyak, seandainya sampai terjadi pertempuran kalian harus turun tangan keji, telengas dan tidak kenal ampun….”
“Mungkin kami bisa berjumpa dengan Djen Bok Hong pada malam nanti???”
“Seandainya dia tahu kalau kau Siauw Ling akan pergi kesitu, kendati dia sedang menghadapi masalah yang bagaimana besarpun pasti akan disingkirkan untuk sementara waktu….”
Ia merandek sejenak, kemudian ujarnya lagi, “Katanya ilmu silat yang dimiliki perempuan2 dalam gedung Sam Kang Soe It sangat lihay semua, kalian harus berhati2, jangan sampai kamu terbokong oleh serangan mereka karena terbuai oleh rayuan maut mereka.”
“Loocianpwee tak usah kuatir!”
“Aku sipengemis tua beserta anggota Kay pang akan menyambut kalian diluar….” sinar matanya beralih keatas wajah Ceng Yap Chin dan menambahkan. “Suhengmu betul2 lihay dan berakal cerdik, buka saja sempurna rencananya tindak tanduknyapun amat cekatan, dia betul2 manusia yang berbakat.”
Sedang hati Ceng Yap Chin mendengar suhengnya dipuji orang, buru2 serunya, “Loocianpwee terlalu memuji!”
“Dengan dandanan aku sipengemis tua rasanya tidak pantas untuk ikut masuk kedalam sarang pelacuran, kita berpisah sampai disini dahulu….!” sepasang pundak bergerak dan ia sudah loncat keluar dari dalam kereta.
Sementara itu kereta sudah berlari kencang, putaran roda bergetar ditengah jalan yang ramai.
Siauw Ling segera berbisik kepada Ceng Yap Chin, “Kalau keadaan tidak terlalu mendesak lebih baik jangan turun tangan, agar supaya otak yang diutus Djen Bok Hong untuk mengatur semua rencana kejinya dikota Ooh Chioe tidak sampai keburu melarikan diri dari sini.”
Dalam pembicaraan itu mendadak kereta yang mereka tumpangi berhenti berlari, kiranya mereka sudah mendekati gedung Sam Kang Soe It.
Tu Kioe menyingkap horden mengintip keluar, tampaklah manusia yang berlalu lalang disitu amat penuh dan saling berdesak2an. Lampu lentera bergantungan dikedua belah sisi jalan, saking penuhnya lautan manusia yang ada disana hingga kereta mereka tak dapat bergerak lebih jauh.
Tu Kioe segera loncat turun dari atas kereta, bentaknya dengan suara gusar, “Hey, ayoh pinggir…. pinggir…. cepat menyingkir dari sini!”
Tangannya direntangkan kesamping, tujuh delapan orang disekelilingnya segera terdorong hingga mundur terhuyung2 kebelakang.
Meskipun dandanannya sederhana dan cuma memakai baju hijau topi hijau, tapi goloknya yang tersoren dipinggang serta gerak geriknya yang kasar dan buas membuat siapapun mengira kalau dia adalah tukang pukul bayaran.
Orang2 yang kena didorong Tu Kioe sebenarnya merasa sangat tidak puas, tetapi setelah menyaksikan dandanannya serta melihat pula kemegahan kereta kuda dibelakangnya, siapapun tidak berani buka suara, terpaksa mereka bersabar diri dan menyingkir kesamping.
Sang Pat segera menyingkap horden melangkah keluar lebih dulu. Disusul Siauw Ling serta Ceng Yap Chinpun turun meninggalkan kereta.
Dengan Tu Kioe sebagi pembuka jalan, mereka langsung masuk kedalam gedung Sam Kang Soe It dengan langkah lebar.
Gedung Sam Kang Soe It merupakan rumah pelacuran yang termegah dan paling tersohor dikota Ooh Chioe, bukan saja nona2 pelacur disitu pandai melayani para tetamu raut wajah merekapun rata2 cantik jelita, karena itu dalam rimba pelacuran gedung Sang Kang Soe Itlah yang paling banyak pengunjungnya.
Tingkat laku Ceng Yap Chin perlente dan agung, begitu melangkah masuk kedalam gedung Sam Kang Soe It, segera tampil dua orang pelayan menyambut kedatangannya.
Tu Kioe cepat2 menghadang didepan pelayan tadi, serunya ketus, “Hey, cepat menyingkir, jangan sampai mengejutkan Jie Kongcu!”
Kedua orang pelayan itu mengiakan dan segera berhenti.
Sang Pat yang berdandan sebagai pengurus rumah tangga segera tampil kedepan, dengan logat bangsawan dia berseru, “Sudah lama Jie Kongcu kami mendengar akan nama harum gedung Sam Kang Soe It, ini hari sengaja beliau datang kemari untuk melakukan peninjauan, bila ada ruang tamu yang terbaik cepat bawa Jie Kongcu kami merasa gembira dengan pelayanan kalian pasti ada uang persenan buat kalian.”
Sang Pat pandai menggunakan logat pelbagai daerah maupun tingkatan, ucapan yang dia utarakan benar2 kedengaran seperti sesungguhnya.
Diam2 Siauw Ling perhatikan sekejap dandanan kedua orang pelayan itu, dia lihat meskipun pakaiannya sederhana tapi raut wajahnya menunjukkan kesombongan dan sifat tak mau tunduk kepada siapapun, ketika mendengar perkataan Sang Pat barusan mereka cuma berdiri tertegun tanpa sanggup mengucapkan sepatah katapun.
Jelas dalam gedung Sam Kang Soe It telah diadakan penjagaan yang ketat kedua orang pelayan tadi jelas merupakan penyaruan dari jago Bulim yang berkepandaian tinggi.
Kembali Tu Kioe mendengus dan berseru, “Hey, Su ya kami sedang berbicara dengan kalian, apakah kamu berdua tidak dengar?”
Kedua orang pelayan itu saling berpandangan sekejap, akhirnya orang yang ada disebelah kiri menjawab, “Bila hamba kurang hormat, harap Koan ya jangan marah….”
Ia tuding pintu kamar disebelah utara yang tertutup kain horden lalu katanya lagi, “Disebelah sana masih ada sebuah kamar kosong, silahkan cuwi Koan ya duduk dalam kamar itu, hamba segera akan menyiapkan nona untuk melayani cuwi sekalian.”
“Eeeei…. mana bisa, mana bisa” seru Sang Pat sambil geleng kepala. “Kalian anggap kongcu kami adalah manusia apa? mana boleh ia bersenang2 ditempat semacam itu?”
“Tempat apakah dibelakang gunung2an itu?” seru Tu Kioe sambil mendongak.
“Sana adalah halaman belakang, tapi malam ini sudah penuh….”
Kedua orang pelayan itu merupakan jago-jago yang tidak terbiasa dengan pekerjaan seperti itu mereka tahu apa yang harus dikerjakan dan hanya berdiri termangu2 disitu.
Ceng Yap Chin segera tertawa.
“Hmm…. hmmm…. rupanya gedung ini sudah tidak pingin dibuka lagi….”
“Jie kongcu, kau adalah putra bangsawan, tak usahlah marah2 dengan manusia rendah macam mereka besok pagi biarlah hamba yang menulis surat pengaduan dan dikirm kegedung pemerintahan kota Ooh Chioe. Hmm, kita saksikan saja pertunjukkan bagus ini.”
Pandai sekali dia bersandiwara, meskipun kedua orang pelayan gadungan itu adalah jago Bulim yang banyak pengaruh namun akhirnya terselimut juga. Mereka mengira benar2 telah bertemu dengan orang dari kalangan pemerintahan dengan kepala tertunduk buru2 kedua orang itu mengundurkan diri.
“Bagus sekali” pikir Ceng Yap Chin didalam hati. “Selama baru kali ini aku memasuki sarang pelacur. Kulihat kedua orang keparat itupun baru kali ini menyaru jadi pelayan, sedikitpun tidak pantas penyaruannya.”
Sementara berpikir demikian ia sudah bergerak mengintil dibelakang Tu Kioe.
Dari pembicaraan Sang Pat kemarin malam sepintas lalu Tu Kioe sudah dapat membayangkan keadaan dihalaman tersebut, maka dengan langkah lebar dia langsung menuju kepintu bulat dibelakang gunung2an, sambil menggendor pintu bentaknya, “Hey, lekas buka pintu!”
Ternyata pintu bulat itu terkunci rapat2.
Kreeek….! pintu terbuka dan muncul seorang lelaki setengah baya berbaju hijau menghadang didepan pintu, tegurnya dengan suara dingin, “Kau hendak mencari siapa?”
“Kurang ajar, sudah tentu mau cari lonte!”
Orang berbaju hijau itu memperhatikan sekejap diri Tu Kioe lalu menyahut, “Kamar dihalaman belakang sudah penuh, lebih baik besok kau kembali lagi!” sambil bicara ia mau tutup pintu lagi.
Sekali tendang Tu Kioe merentangkan kembali pintu tadi, serunya, “Kurang ajar, cepat kau usir tamu2 yang ada didalam, Jie kongcu kami sengaja datang kemari untuk cari kesenangan, kau berani mengganggu kegembiraannya?”
Orang berbaju hijau itu mau mengumbar hawa amarahnya, tapi pada saat itulah Ceng Yap Chin serta Siauw Ling telah menyusul datang.
Melihat kedua orang itu hampir saja terjadi bentrokan, buru2 Ceng Yap Chin berseru, “Orang ini sangat cepat membuka pintu buat kita, beri hadiah selembar daun emas untuknya.”
Sang Pat mengiakan dari sakunya dia ambil keluar selembar daun emas dan segera disodorkan ketangan orang itu.
“Ayoh cepat ucapkan terima kasih atas persen dari Jie kongcu!”
Orang berbaju hijau itu melirik sekejap daun emas ditangannya sementara dalam hati ia berpikir, “Kecuali keluarga raja atau keluarga bangsawan, tidak nanti akan memberi hadiah sebesar ini.”
Ceng Yap Chin kembali tersenyum dan berkata, “Simpan saja benda itu sebagai hadiah atas cepatnya kau bukakan pintu buat aku” tanpa menunggu lagi melangkah masuk kedalam.
Orang berbaju hijau itu ada maksud menghalangi, tetapi menyaksikan dandanan orang yang perlente dan agung, sedikitpun tidak mirip orang Bulim yang sedang menyaru, niat tadi akhirnya dibatalkan.
Dengan Tu Kioe sebagai pembawa jalan kembali mereka berjalan empat lima langkah jauhnya dan tiba disebuah tikungan, seorang lelaki setengah baya munculkan diri menghalangi perjalanan mereka.
“Koan ya apakah kau sudah pesan kamar?”
“Kami inginkan sebuah kamar yang paling bagus dan paling besar!”
Orang itu termenung sejenak, lalu katanya, “Hamba akan membawa jalan buat cuwi sekalian!”
Meminjam kesempatan itu Siauw Ling perhatikan sekejap sekeliling tempat itu, sedikitpun tidak salah suasana terasa terang benderang bagaikan disiang hari saja.
Pemandangan dihalaman belakang jauh berbeda dengan halaman depan, kalau pada halaman depan kamar yang tersedia terang benderang oleh cahaya lampu dan dihiasi dengan sebuah lampu lentera, suara nyanyian serta gelak tertawa menggema keluar dari balik tirai yang tertutup, sebaliknya kama2 halaman belakang mempunyai corak yang berbeda, lampu menerangi seluruh halaman sebaliknya serambi kamar tidak tampak sebuah lenterapun setiap kamar ditutup dengan tirai yang tebal tidak nampak cahaya lampu yang menyorot keluar suara gelak tertawapun hanya menggema keluar secara lapat2.
Jelas kamar dihalaman belakang telah dibangun dengan suatu perencanaan yang amat sempurna.
Lelaki setengah baya itu mebawa Siauw Ling sekalian melewati serambi kecil tadi hingga sampai pada ujungnya, disana dia buka sebuah kamar sambil berkata, “Silahkan cuwi sekalian duduk didalam kamar, hanya segera akan menyiapkan para nona untuk melayani cuwi semua.”
“Keparat ini membawa kami datang ketempat ini, mungkin dia tidak bermaksud baik.” pikir Tu Kioe. “Aku harus perhatikan gerak geriknya!”
Berpikir demikian dia lantas menegur, “Apakah didalam kamar ada orangnya?”
“Kalau ada orangnya, hamba tak akan membawa cuwi sekalian datang kemari!”
“Bagus, kau masuklah dan pasang lampu!”
Lelaki itu mengiakan dan segera masuk kedalam kamar.
Tu Kioe berdiri didepan pintu sambil diam2 mempersiapkan diri, ia tidak ingin menempuh bahaya masuk lebih dahulu kedalam kamar itu.
Tampak cahaya api berkelebat, ruangan itu segera terang benderang bermandikan cahaya.
Setelah lampu dipasang, Tu Kioe baru melangkah masuk kedalam.
Ruangan itu merupakan sebuah ruang tamu yang luasnya mencapai dua tombak persegi, empat penjuru dilapisi permadani berwarna merah tua, baik meja, kursi serta benda2 yang ada disitu kebanyakan merupakan benda yang mewah dan indah.
“Hamba segera akan mengundang beberapa orang nona buat cuwi Koan ya….!” kata lelaki itu kemudian.
“Tak usah tergesa2, kongcu kami adalah keturunan bangsawan. Cayhe sebagai petugas keamanan bagaimanapun juga harus bertindak hati2? dengan cepat ia mengitari dahulu seluruh ruangan itu, kemudian baru berkata lagi, “Sekarang kau boleh pergi! cepat suruh mereka siapkan arak yang paling bagus serta nona yang paling bagus untuk melayani kongcu kami minum arak, kalau kongcunya kami ada minat mungkin saja bakal menginap disini, kalau sampai begitu kalian pasti akan mendapat rejeki.”
“Yaya sekalian bukankah berempat? kenapa cuma minta dua orang nona….?”
“Bagus!” batin Tu Kioe. “Kau hendak suruh mereka satu lawan satu….” tidak gampang.”
Diluar serunya ketus, “Kongcu kami berada disini, kau dilarang bicara tidak karuan.”
Lelaki setengah baya itu tidak bicara lagi dia segera putar badan dan berlalu.
Ceng yap Chin dengan membawa Siauw Ling segera masuk kedalam ruangan, sedangkan Sang Pat tetap tinggal diluar.
Bisik Siauw Ling setelah berada didalam ruangan, “Dari pintu depan hingga ruang tamu ini semuanya terdapat dua buah pintu yang besar dan tebal, bangunan semacam ini sama sekali tidak mirip dengan sebuah sarang pelacuran.”
“Siauwte telah periksa sekeliling ruangan ini paling sedikit dibalik tirai ada musuh yang bersembunyi.”
“Mengingat loteng Wang Hoa Loo diperkampungan Pek Hoa San cung pun telah dipasang alat jebakan yang berlapis2 seandainya gedung Sam Kang Soe It ini benar2 merupakan markas dari Djen Bok Hong, aku rasa dalam ruangan inipun telah diperlengkapi dengan alat jebakan, kalian harus lebih berhati2.”
Tiba2 terdengarsuara dehem Sang Pat berkumandang datang dari luar ruangan.
“Ooow, nona yang amat cantik!”
Meskipun ucapannya itu rendah namun dipancarkan dengan disertai hawa kweekang. Ceng Yap Chin yang ada didalam ruangan tersebut telah dapat mendengarnya dengan sangat jelas, buru2 dia ambil tempat duduk sedang Siauw Ling berdiri disisinya dan Tu Kioe berdiri serius dibalik tirai.
Terdengar suara langkah kaki berkumandang datang, tirai disingkap dan masuklah empat orang gadis berwajah cantik.
Gadis pertama memakai baju berwarna putih, diatas sanggulnya yang tinggi tertancap sebuah bunga merah, dandanannya sederhana dan pupurnya sangat tipis.
Gadis kedua memakai baju warna hijau pada pakaian bagian dadanya bersulamkan bunga teratai, dandanannyapun amat sederhana.
Sebaliknya gadis ketiga dan keempat berdandan sangat tebal dan menyolek, mereka memakai baju berwarna merah.
Seorang kacung berusia dua puluh tahunan dan berwajah bersih ikut masuk kedalam, setelah menjura katanya, “Keempat orang ini adalah empat medali emas dari gedung Sam Kang Soe It kami….”
“Hadiahkan selembar daun emas buat mereka!” seru Ceng Yap Chin sambil menuding dua gadis berdandan sederhana yang ada didepan.
Sementara itu Sang Pat telah berdiri dibelakang kacung cilik tadi, dari sakunya dia segera ambil keluar semebar daun emas dan diberikan kepada kacung tadi, katanya, “Terimalah persenan dari kongcu ya kami, tinggalkan dua orang nona yang ada didepan.”
Kacung itu tertegun, setelah menerima daun emas tersebut segera bisiknya kepada dua orang gadis berbaju merah itu, “Mari kita pergi!”
Dua orang nona berbaju merah itu memandang sekejap kearah Ceng Yap Chin lalu mencibirkan bibirnya yang kecil setelah itu baru berlalu mengintil dibelakang kacung tadi.
Sepeninggal mereka, Ceng Yap Chin baru menengok sekejap kearah kedua orang nona itu dan berkata, “Nona, silahkan duduk!”
Siauw Ling yang berdiri dibelakang Ceng Yap Chin diam2 memperhatikan gerak gerik kedua orang gadis itu, tampak mereka mengucapkan terima kasih dan segera ambil tempat duduknya masing2.
Sejak kecil Ceng Yap Chin dibesarkan digunung Bu tong san, belum bernah ia duduk berdampingan dengan kam gadis. Kini setelah berhadapan dengan dua orang gadis cantik, meskipun hanya berlagak sandiwara saja agar orang lain jangan menaruh curiga, namun untuk sesaat dia tak tahu apa yang harus diucapkan.
Lewat beberapa saat kemudian ia baru teringat akan suatu pertanyaan, maka ujarnya, “Siapakah nama nona berdua?”
Nona berbaju putih tersenyum.
“Aku yang rendah bernama Pek Bwee sedang dia adalah Liok Hoo moay2!”
“Sudah lamakah nona bedua berdiam digedung Sam Kang Soe It ini….?”
“Nasib kami yang rendah sangat jelek tetapi baru tiga bulan kami terjerumus kedalam pekerjaan ini.”
Mendengar jawaban mereka lancar dan luwas, diam2 Ceng Yap Chin lantas berpikir, “Perempuan ini pandai sekali mengucapkan kata2 semacam itu, mungkin mereka bukan orang baik2….”
Sementara dia masih berpikir, sayur dan arak telah dihidangkan.
Kacung penghantar sayur itu melirik sekejap kearah Tu Kioe serta Sang Pat lalu bertanya lirih, “Apakah yaya berdua juga mau mencari nona untuk bersenang2?”
“Waaah…. sudah tua, tak berguna lagi.” sedang Tu Kioe menjawab ketus, “Berada didepa kongcu ya kau berani bicara tidak karuan, rupanya sudah bosan hidup.”
Kacung kecil itu menjulurkan lidahnya dan buru2 mengundurkan diri.
Pek Bwee segera mengambil poci arak dan memenuhi cawan Ceng Yap Chin dengan arak tanyanya halus, “Tolong tanya, Kongcu ya she apa?”
“Cayhe she Jan!”
“Sungguh beruntung aku yang rendah dapat bertemu Jan kongcu, kuhormati dirimu dengan secawan arak” kata Pek Bwee sambil memenuhi cawan sendiri dan diteguknya hingga habis.
Ceng Yap Chin tempelkan arak dibibirnya lalu dicium sebentar, setelah itu katanya, “Terima kasih atas penghormatan dari nona sayang cayhe tidak terbiasa minum arak.”
“Kalian kongcu memang tidak bisa minum arak, silahkan mencicipi sedikit sayur” kata Liok Hoo kemudian sambil mengambil sumpit didepan Ceng Yap Chin dan menjepit sepotong daging ayam, terusnya, “Kami kakak beradik berdua merasa amat berterima kasih sekali atas perhatian yang telah kongcu limpahkan kepada kami. Kalau memang kongcu tidak biasa minum arak aku yang rendah sekalian tentu saja tak akan memaksa, bagaimana kalau kami persilahkan kongcu mencicipi sedikit sayur?”
Daging ayam ditangannya segera diangsurkan kesisi bibir Ceng Yap Chin.
Jago muda dari partai Bu tong ini jadi serba salah, dia merasa sangsi untuk menerima suapan tersebut namun diapun merasa seandainya tidak diterima suapan tadi hal tersebut sedikit banyak sudah melanggar adat kesopanan. Sementara dia masih sangsi tiba2 sebuah tangan meluncur datang, dengan kedua jari tengah dan telunjuknya orang itu jepit sumpit ditangan Liok Hoo lalu tegurnya, “Kau anggap kongcu kami adalah manusia apa? kenapa nona bersikap begitu tak tahu diri?”
Ceng Yap Chin berpaling dilihatnya orang yang barusan turun tangan bukan lain adalah Siauw Ling. Dia lantas tersenyum dan membiarkan si anak muda itu bertindak lebih jauh.
Diam2 Siauw Ling salurkan hawa kweekangnya dengan melewati sepasang sumpit menyerang tubuh Liok Hoo.
Dan tingkah laku Pek Bwee serta Liok Hoo yang tidak mirip dengan perempuan pelacur pada umumnya, sejak semula Siauw Ling sudah menaruh curiga. Dia ada maksud menggunakan kesempatan itu hendak menjajal apakah kedua gadis tersebut memiliki ilmu silat atau tidak.
…. Bersambung jilid ke 24
Jilid 24
Tampak sepasang mata Liok Hoo bersinar tajam, dia melirik sekejap kearah Siauw Ling kemudian secara tiba-tiba menjerit lengking dan melepaskan cekalannya.
Setelah berkelana selama ini didalam dunia kangouw, pengalaman yang dimiliki Siauw Ling tidak seperti dahulu lagi, dalam hati dia segera berpikir, “Kendati tenaga kweekang yang kusalurkan tidak terlampau berat tetapi kalau dia tak mengerti akan ilmu silat, serangan ini pasti akan membuat wajahnya berubah jadi pucat pasi, darah panas dalam rongga dadanya bergolak kencang. Maka bisa menjerit semacam itu? lagi pula saluran hawa kweekangku menyerang tubuhnya dengan sangat cepat. Jelas perempuan ini sama sekali tidak menderita luka oleh seranganku tadi namun sengaja dia lepaskan sumpit dan berpura-pura kaget. Jeritannya jelas ada maksud memberi tanda kepada komplotannya….”
Karena berpikir begitu, dia lantas menjengek dengan suara dingin, “Nona, pandai benar kau berlagak, dan bagus sekali perbuatanmu!”
“Kongcu” seru Liok HOo sambil berpaling kearah Ceng Yap Chin. “Kenapa kacungmu ini begitu tak sopan….”
Ceng Yap Chin tertawa hambar.
“Apakah dia telah melukai diri nona?”
“Sekalipun aku yang rendah tidak sampai terluka, tetapi hatiku dibikin amat terperanjat.”
“Ia tak pernah bersentuhan dengan jari tangan nona, kulit tubuhpun tak pernah bersenggolan, dari mana ia bisa mengejutkan hati nona?”
Sepasang biji mata Liok Hoo yang tajam menatap wajah Ceng Yap Chin dalam-dalam, kemudian balik tanyanya, “Benarkah kongcu tidak menyaksikan kejadian barusan?”
“Aku tidak melihatnya.”
Perlahan-lahan Liok Hoo bangkit berdiri serunya, “Kendati aku yang rendah berkecimpungan didalam pekerjaan seperti ini tetapi sejak kecil aku sering membaca buku pelajaran mengenai kesusastrawan, lagi pula perbuatanku memakai adat kesopanan Kongcu menaruh perhatian kepadaku hal ini merupakan suatu kebanggaan dari aku yang rendah, sekalipun kongcu yang pandang rendah diriku, itupun tak mengapa. Tetapi kongcu telah membiarkan seorang kacung kecil berkesiap begitu tak tahu adat kepada aku yang rendah, hal ini sungguh keterlaluan sekali….”
“Adikku, cepat duduklah” buru-buru Pek Bwee menarik Liok Hoo agar duduk kembali. “Jan siangkong adalah orang yang ramah dan agung, sudah tentu dia punya asal usul yang besar, kenapa adik boleh bersikap begitu tak tahu sopan dihadapan siangkong.”
Meminjam kesempatan itulah Liok Hoo melepaskan diri dari rasa malu, dan perlahan-lahan duduk kembali kekursinya.
Setelah itu Pek Bwee baru berpaling lagi kearah Ceng Yap Chin dan berkata, “Harap kongcu jangan marah, tabiat dari adikku ini selamanya memang begitu. Aaai…. oleh sebab itu entah sudah membuat salah terhadap beberapa banyak tetamu, ada pepatah yang mengatakan orang besar tidak akan menyalahkan orang kecil. Kongcu adalah berasal dari keluarga ningrat, tentunya tidak akan marah terhadap kami kaum pelacur bukan? aku yang rendah hormati secawan arak untukmu.”
Dia angkat cawan dan keringkan isinya hingga habis.
“Bagus sekali!” pikir Siauw Ling dihati. “Putar kesana putar kemari mereka selalu berusaha mencari kesempatan untuk meloloh dia dia minum arak atau makan sayur. Rupanya dalam arak dan sayur ini benar-benar ada yang tidak beres.”
Ceng Yap Chin angkat cawan menunjukkan gerakan merandek hendak ikut meneguk, namun sebelum arak menempel bibir ia sudah letakkan kembali cawan itu keatas meja.
Pek Bweepun tidak memaksa lebih lanjut, ia berpaling kearah Siauw Ling dan ujarnya, “Siauw Koan kia, ini hari adik Liok Hoo datang kemari adalah atas undangan dari siangkong kalian, didalam peraturan kami maka orang lain tak boleh mengganggunya asal dalam ini siangkong kalian tidak membawanya pergi tidur, maka Siauw Koan kia ada kegembiraan datanglah lagi besok malam, undanglah adik Liok Hooku ini. Maka saat itu meski Siauw Koan kia akan mengapakan dirinya, dia tidak akan marah.”
Siauw Ling bungkam dalam seribu bahasa. Sepasang pipinya terasa panas dan jengah, seandainya ia tidak mengenakan topeng diwajahnya niscaya semua orang akan melihat pipinya yang telah berobah jadi semu merah itu.
Sang Pat yang sudah berpengalaman dalam hal rayuan kaum pelacur, takut kalau Ceng Yap Chin serta Siauw Ling terpikat oleh kedua orang gadis itu, ia segera maju menghampiri sambil berkata, “Siauw Koan kia ini walaupun hanya seorang kacung dari kongcu kami tapi sejak kecil kedua orang itu main bersama, sehingga hubungan mereka boleh dibilang erat sekali.”
“Suya, ucapanmu ini rada keliru” tukas Pek Bwee sambil geleng kepala.
“Bagian mana yang keliru?”
“Kalau menurut pandanganku aku yang rendah, usia kongcu paling sedikit ada dua puluh tiga empat tahunan, sedang Siauw Koan kia ini kendati mempunyai potongan badan yang hampir mirip kongcu tetapi wajahnya yang masih kekanak-kanakan menunjukkan kalau umurnya paling banter baru lima enam belas tahunan, usia mereka berdua terpaut delapan sembilan tahun, mana mungkin mereka dibesarkan bersama?”
“Sungguh lihay budak ini” pikir Sang Pat, namun ia tetap tersenyum dan menjawab, “Nona, kau tidak tahu, kacung dari kongcu kami ini selamanya paling tidak suka memikirkan hal yang bukan-bukan, oleh sebab itu walaupun telah berusia dua puluh tahun tetapi wajahnya masih kelihatan seperti kekanak-kanakan.”
Mendadak dari luar kamar berkumandang datang suara seruan, “Pek Bwee, Liok Hoo, terima tamu!”
Pek Bwee serta Liok Hoo segera bangun berdiri, katanya, “Kongcu, harap tunggu sebentar, setelah aku yang rendah terima tamu seger akan balik kemari lagi.”
Ceng Yap Chin belum pernah memasuki rumah pelacuran, melihat kedua orang ia bangun hendak berlalu, dia tak tahu apa yang harus dilakukan.
Sang Pat segera lintangkan badannya menghadang jalan pergi mereka, serunya, “Nona berdua akan pergi kemana?”
“Kami hendak menerima tamu sebentar!”
“Hmm, selama berada diibu kota kongcu kami sudah berjumpa dengan pelbagai pelacur kenamaan, tetapi selamanya kami larang mereka untuk pergi menjumpai tetamu lain, berapa sih harga kalian berdua? bukalah harga dan kami akan mengepoolnya semalam suntuk.”
“Peraturan dari gedung kami memang begini, sekalipun kongcu kalian mempunyai banyak emas, kami berduapun tidak berani terlalu kemaruk sebab kami tak berani melanggar peraturan.”
“Tahukah kalian siapakah kongcu kami?”
“Tidak tahu!”
“Dia adalah Jie Kongcu dari Jan tayjien pembesar tinggi daerah Kang lam! Hmmm…. siapapun mengenal dirinya.”
Liok Hoo tertawa hambar.
“Sekalipun putra raja yang datang sendiripun, kami tak dapat melanggar peraturan.”
Sang Pat tertawa dingin.
“Malam ini, kalian berdua jangan harap bisa berlalu dari sini….” ia menoleh kearah Tu Kioe dan perintahnya, “Undang masuk pelayan itu.”
Tu Kioe mengiakan dan segera keluar dari ruangan dengan langkah lebar, sesaat kemudian dia telah masuk kembali mengiringi seorang lelaki berbaju hijau bertopi kecil.
Sang Pat memandang sekejap wajah lelaki itu, kemudian tegurnya, “Apakah kau yang bertugas malam?”
“Sedikitpun tidak salah, ada pesan apa?”
“Berapapun harga dari kedua orang nona ini kongcu kami suruh ambil keputusan untuk pemborongnya. Mereka tak usah menjumpai tetamu lain lagi….”
Pelayan berbaju hijau itu melirik sekejap wajah Pek Bwee serta Liok Hoo kemudian dengan wajah serba salah termenung sejenak akhirnya dia berkata, “Kedua orang nona ini adalah nona yang paling top didalam gedung Sam kang Soe It kami ini, langganan mereka kebanyakan adalah kaum bangsawan serta kaum ningrat daerah sekitar sini, saking banyaknya tamu yang harus mereka layani sehingga mereka berdua terpaksa harus digilir. Bilamana kongcu hendak memborong mereka berdua, hamba takut kalau malam ini gedung Sam Kang Soe It bakal terjadi kegaduhan!”
“Bangsawan serta kaum ningrat disebuah kota kecil macam Ooh Chioe masih belum terhitung seberapa. Setelah kongcu kami tertarik pada kedua orang nona ini, bagaimanapun juga mereka harus tetap tinggi disini.”
“Begini saja!” akhirnya pelayan itu berkata sambil tertawa paksa. “Hambaakan membawa kedua orang nona ini pergi menemui para tetamu lebih dulu, setengah jam kemudian kami pasti akan menghantarkan kembali mereka berdua.”
“Orang ini bicaranya tak tahu adat” seru Ceng Yap Chin ketus. “Dia ada maksud melenyapkan kegembiraanku, kasih hadiah tempelengan satu kali!”
Tu Kioe mengiakan, dia segera maju mengirim satu babatan.
Melihat datangnya babatan, buru-buru pelayan itu berkelit kesamping.
Tapi serangan dari Tu Kioe cepat laksana sambaran kilat, baru saja orang itu berhasil menghindarkan diri dari ancaman tangan kiri tiba2 telapak kanan Tu Kioe telah menyusul tiba.
Plok! dengan telak serangan tadi bersarang diatas pipinya.
Berat sekali gaplokan tersebut, tubuh pelayan itu segera mundur sempoyongan dan hampir saja roboh keatas tanah.
Merasakan dirinya digaplok pelayan itu naik pitam, hardiknya dengan suara keras, “Eeei…. kenapa kau sembarangan memukul orang?”
“Hmm kalau kau berani menggusarkan hati kongcu kami lagi, hati-hati kutebas batok kepalamu!”
Sambil meliuw-liuwkaan pinggangnya yang ramping, dengan cepat Pek Bwee maju menghampiri Tu Kioe, pujinya, “Ehmm, cepat benar seranganmu!”
Melihat pihak mereka sudah turun tangan dan suatu pertempuran mungkin bakal berlangsung, Sang Pat ambil tindakan kilat dari gerakan menghindar diri pelayan tadi ia telah menyadar, bahwa pihak lawan bukan manusia sembarangan, maka laksana kilat badannya menghadang jalan keluar ruangan tersebut.
Sang Pat yang telah memotong jalan pergi Pek Bwee, seraya berkata, “Nona, harap kau segera kembali ketempat dudukmu!”
Pek Bwee menghela napas panjang.
“Sekalipun putra raja yang melanggar hukum, dosanya sama berat dengan rakyat jelata, serangan dari orang itu apakah tidak merasa rada keterlaluan?”
Menggunakan kesempatan dikala Pek Bwee mengajak Sang Pat bercakap-cakap itulah, diam-diam pelayan itu mengatur pernapasan.
“Kedua orang budak ini sombong dan binal” bisik Siauw Ling lirih. “Kalau tidak kita beri sedikit pelajaran, mungkin sulit untuk menundukkannya.”
Ceng Yap Chin mengangguk, mendadak ia bangun berdiri. Tangan kanannya segera diayunkan mencengkeram urat nadi Pek Bwee, bentaknya dengan nada gusar, “Budak busuk, kau berani kurang ajar.”
Menyaksikan datangnya serangan orang amat dahsyat, Pek Bwee tidak berani berlagak pilon, cepat badannya mengigos kesamping.
“Kenapa?” ia berseru.
“Oooh, kiranya nonapun memiliki gerakan tubuh yang demikian cepatnya, tidak aneh kalau kau jadi binal dan tak mau tunduk.”
Sembari berbicara tangannya bergerak cepat, dalam sekejap mata ia telah melancarkan tiga buah serangan berantai.
Ketiga buah serangan itu rata-rata merupakan jurus sakti dari ilmu Bian Ciang, bagi Boe su biasa untuk menghindari salah satu jurus serangan itupun susah tapi dengan gampang Pek Bwee berhasil menghindarkan diri dari ancaman.
“Suatu gerakan yang sangat indah” puji Sang Pat, tangan kanannya bergerak mencengkeram lengan gadis itu.
Pek Bwee doyongkan badannya kemuka lalu laksana kilat berputar, dengan suatu gerakan yang manis kembali dia berhasil menghindarkan diri.
“Nona, rupanya ilmu silatmu luar biasa sekali” seru Sang Pat dengan alis berkerut.
Sepasang telapaknya segera bekerja cepat melancarkan empat buah serangan dengan ilmu Kie Nah Ciu.
Pek Bwee bukan manusia sembarangan kembali ia berhasil meloloskan diri dari keempat buah ancaman tersebut.
Selama menghindarkan diri dari ancaman Ceng Yap Chin serta Sang Pat, gadis itu sama sekali tidak melancarkan sebuah serangan balasanpun.
Siauw Ling yang menyaksikan kehebatan orang diam-diam jadi terperanjat, pikirnya, “Andai kata dayang ini adalah anggota perkampungan Pek Hoa San cung ilmu silat yang mereka miliki jelas jauh diatas Kiem lan serta Giok Lan. Entah apakah mereka?”
Pek Bwee sendiri meskipun secara beruntun berhasil meloloskan diri dari serangan berantai Ceng Yap Chin serta Sang Pat, namun dalam hati diapun sadar bahwa ia telah bertemu dengan seorang jago lihay.
Sehabis mengelak dari serangan Sang Pat segera tegurnya dengan suara perlahan, “Sebenarnya siapakah kalian? orang-orang dari kalangan pemerintahan tak mungkin terdapat manusia-manusia lihay macam kalian.”
“Gerakan tubuh nona sendiri walaupun sakti dan lihay namun pengetahuanmu mengenai dunia persilatan masih kurang….”
Pek Bwee tertawa dingin.
“Kita masing-masing pihak telah saling memahami keadaan lawannya, aku rasa kamupun tak usah merahasiakan asal usul kalian lagi.”
“Dengan kepandaian silat yang nona miliki rasanya kalian berduapun bukan lonte penghuni sarang pelacuran, dapatkah kau sebutkan asal usul kamu berdua?”
Mengikuti garis pakaian yang ia kenakan Pek Bwee guratkan jari tangannya kebawah seolah-olah dibabat dengan golok jubah luar yang ia kenakan mendadak terbelah rata sekali, diikuti badannya bergetar pakaian luar itu rontok keatas tanah hingga tinggal seperangkat pakaian ringkas yang ketat.
Bersamaan itu pula tangan kirinya menyentil, gaun rontok kebawah tinggal celana merah yang membungkus tubuh.
Dalam pada itu Sang Pat telah menghadang didepan pintu. Ceng Yap Chin berdiri didepan meja perjamuan sedangkan Siauw Ling tetap berdiri dibelakang jago muda dari Bu tong pay.
Liok Hoo tetap memakai jubah luar serta gaun panjang, dengan tenang ia duduk dikursinya tanpa berkutik.
Pek Bwee dengan seperangkat pakaian ringkas ditengah-tengah antara Sang Pat serta Ceng Yap Chin. Pada pinggangnya terikat sebuah angkin putih, pada sisi angkin tersoren empat bilah pisau belati yang tajam.
Biji matanya yang jeli perlahan-lahan menyaru sekejap kearah Sang Pat serta Ceng Yap Chin kemudian ujarnya, “Kalian telah terperangkap didalam suatu daerah yang ketat dengan penjagaan, alangkah baiknya kalau sekarang juga mengaku terus terang asal usul kamu sekalian, kalau kalian tetap membangkang. Hmm….! kalau menolak arak kehormatan terpaksa akan kusuguhkan arak hukuman.”
“Besar benar lagak nona, entah apakah kedudukanmu dalam perkampungan Pek Hoa San cung?” tegur Sang Pat.
Pek Bwee rada tertegun, kemudian serunya, “Oooow…. rupanya cuwi sekalian telah menyelidiki dengan jelas asal usul kami?”
“Apa nona anggap gedung Sam Kang Soe It benar-benar amat rahasia letaknya hingga sukar diketahui orang?”
Pek Bwee tidak menyahut, ia berpaling kearah Liok Hoo dan berkata, “Adik Liok Hoo rupanya beberapa orang ini telah menyusup kemari dengan jalan menyaru, walaupun wajah mereka yang sebenarnya dapat dirahasiakan tetapi mereka semua merupakan jago-jago Bulim kelas satu cici rasa tenagaku seorang masih sulit untuk menghadapi mereka bagaimana kalau moay-moay terpaksa harus kuminta pertolongannya untuk membantu?”
Liok Hoo tertawa hambar, perlahan-lahan ia lepaskan jubah serta gaunnya hingga kelihatan pakaian ringkasnya yang berwarna hijau dengan ikat pinggang putih serta empat pisau belati yang tajam seperti halnya dandanan Pek Bwee.
Sang Pat menyapu sekejap wajah kedua orang itu, menyaksikan letak senjata mereka segera ujarnya, “Ilmu silat kedua orang dayang ini berasal dari satu aliran, asal kita berhasil menemukan titik kelemahan dari salah satu diantara mereka, rasanya tidak perlu sulit untuk membereskan kedua orang itu.
“Hmm, jangan sombong dulu, kalau mau omong besar, jajal dahulu kepandaian kami!” seru Liok Hoo, sepasang tangannya diangkat dan tahu-tahu masing-masing tangan sudah mencekal sebilah pisau belati.
“Setelah Liok Hoo menjerit tadi, kemudian pelayan ini kami tahan disini mungkin pihak lawan sudah mendapat kabar dan bersiap sedia” pikir Siauw Ling. “Jangan-jangan suasana tenang pada saat ini merupakan saat bagi mereka untuk melakukan persiapan.”
Terdengar Sang Pat telah menyahut, “Baiklah, biar aku yang coba menjajal kepandaian sakti nona dalam permainan empat bilah pisau belati.”
“Tak usah merepotkan dirimu….” sela Siauw Ling sambil memutar kehadapan si sie poa emas.
Kemudian ia berpaling kearah Liok Hoo dan berkata, “Bukankah nona menaruh rasa dendam terhadap diri cayhe? nah saat inilah kesempatan paling baik bagimu untuk menuntut balas atas sakit hati itu.”
“Heeeh…. heeeh rupanya kau sudah bosan hidup” jengek Liok Hoo sambil tertawa.
Sepasang telapaknya tiba-tiba bergerak, dua jalur cahaya tajam segera berkelebat menusuk tubuh Siauw Ling.
Dibawah sorot cahaya lampu, tampaklah dua bilah pisau belati itu dengan menciptakan selapis cahaya yang sangat tajam mengancam beberapa buah jalan darah penting didepan dada si anak muda itu.
Disebelah sini dia melancarkan serangan dipihak lain Ceng Yap Chin serta Sang Pat merasa terkesiap, pikir mereka, “Sungguh cepat gerakan tubuh dayang ini, jurus serangan yang digunakanpun lihay dan sangat ampuh….” pikiran ini seketika melenyapkan perasaan memandang rendah pihak lawan.
Siauw Ling mengempos tenaga, dengan kaki tanpa menekuk ia mundur satu langkah kebelakang, dengan manis dan sedikit menyerempet bahaya pemuda itu meloloskan diri dari ancaman.
“Hey, sebenarnya siapakah kau dan apa kedudukanmu?” tegur Liok Hoo dengan nada melengak.
“Aku cuma seorang kacung.”
“Hmm, kepandaian silat yang kau miliki rupanya tidak berada dibawah kepandaian kongcu kalian.”
“Terima kasih atas pujianmu!” sementara dalam hati pikirnya, “Kepandaian silat yang dimiliki kedua orang budak ini betul-betul tidak lemah, kalau tidak cepat-cepat kutaklukan mereka hingga musuh tangguh keburu datang…. waah kita bisa berabe….”
Dalam pada itu pelayan berbaju hijau terluka tadi mendadak meloncat bangun dan langsung menubruk kearah Sang Pat, cahaya tajam berkelebat lewat, tahu-tahu sebilah pisau belati telah mengancam tiba.
Sang Pat mendengar dingin, dengan tangan kiri menotok jalan darah kepada pergelangan kanan orang itu, tangan kanannya mengirim satu pukulan mematikan kearah dada lawan.
Serangan itu datang cepat dan dahsyat bahkan memiliki pertahanan yang ketat.
Terdengar jeritan ngeri yang menyayatkan hati menggema diseluruh angkasa. pelayan itu mundur dua langkah kebelakang dan roboh terjengkang keatas tanah, darah segar muncrat keluar dari mulutnya. Sesudah berkelejit sebentar akhirnya orang itu mati seketika itu juga. Rupanya Sang Pat masih teringat akan dendamnya karena dibacok kemarin malam, maka serangan yang dilancarkan saat ini bukan saja cepat dan dahsyat bahkan telengas dan keji.
Selesai membinasakan pelayan itu, tangannya segera berputar merampas pisau belati yang ada ditangannya.
Pek Bwee terperanjat tatkala menyaksikan Sang Pat berhasil membinasakan orang itu dalam sekali hantaman, segera pikirnya, “Beberapa orang ini benar-benar merupakan jagoan kelas wahid, rupanya tidak gampang untuk membereskan mereka.”
Menyaksikan kematian dari orang itu, baik Liok Hoo namun Pek Bwee tetap tenang dan serius, sedikitpun tidak terlihat rasa kaget atau tercengang atau sedih.
Meminjam kesempatan dikala kedua orang gadis tadi sedang memperhatikan jenasah pelayan itulah, diam-diam Siauw Ling mengenakan sarung tangan kulit naganya.
Ceng Yap Chin memandang sekejap jenasah pelayan itu, lalu ujarnya dengan suara dingin, “Kalau nona berdua tak mau buru-buru bertobat, pelayan ini adalah contoh yang paling tepat bagi kalian berdua.”
“Hmmm belum tentu!” jawab Pek Bwee ketus. Tiba-tiba ia loncat keatas, telapak kiri dan kanan masing-masing dengan mencekal sebilah pisau belati bergerak menerjang Sang Pat.
Disaat Pek Bwee melancarkan tubrukan, Liok Hoopun ikut meloncat kedepan menubruk Siauw Ling, pisau belati ditangan kanannya segera berkelebat menusuk dadanya.
Dalam hati Siauw Ling sudah ada perhitungan, menyaksikan datangnya babatan maut, dengan cepat dia ayun tangan kanannya mencengkeram belati tersebut.
“Hmm pisau belatiku ini tajamnya luar biasa” pikir Liok Hoo didalam hati. “Sekalipun kau telah melatih ilmu pukulan Thiat Sah Ciang, sama juga akan terluka oleh pisau belati ini.”
Karena berpikir demikian sengaja dia perlambat gerakan pisaunya dan membiarkan Siauw Ling menangkap senjata tersebut, kemudian diam-diam mengerahkan tenaga dan berputar kekiri kanan.
Dalam pikirannya asal ia putar pisau belati itu, niscaya kelima jari Siauw Ling akan terbabat putus dan mengucurkan darah segar, siapa tahu peristiwa yang kemudian berlangsung jauh ada diluar dugaan orang, bukan saja telapak lawan sama sekali tidak terluka, sebaliknya pisau belati sendiri malah tak berkutik sama sekali seolah-olah dijepit oleh sebuah jepitan besi yang kuat.
Diam-diam Liok Hoo salurkan tenaganya makin besar dan berputar semakin kencang, namun sia-sia belaka usaha tersebut sebab pisau belatinya tetap gagal ditarik kembali. Sekarang dia baru sadar bahwasanya ia telah berjumpa dengan musuh tangguh yang belum pernah dijumpainya selama hidup. Hatinya terasa amat terperanjat, tangan kiri diayun dan segera menghantam pergelangan kanan Siauw Ling.
“Budak ini benar-benar amat keji” pikir si anak muda itu dalam hati. “Aku harus memberi sedikit pelajaran kepadanya.”
Hawa murninya segera disalurkan keluar, tiba-tiba ia tarik telapaknya kemuka dan merampas pisau belati dari tangan dayang itu.
Dalam pada itu telapak kiri Liok Hoo kebetulan sedang membabat kebawah. Plook….! dengan telak bersarang dilengan kanan sendiri.
Begitu tepat Siauw Ling menggunakan tenaganya sehingga tatkala telapak Liok Hoo membabat kebawah tiba-tiba pisau belatinya menyongsong keatas, angin pukulan yang dahsyat tak mungkin ditarik kembali, tak ampun lagi senjata telah makan tuan dan bersarang ditubuh sendiri.
Walaupun begitu ilmu silat yang dimiliki ternyata tidak lemah, pada detik terakhir yang sangat berbahaya ia tahan angin pukulan sehingga kendati sang telapak bersarang diatas lengan kanan sendiri namun tidak sampai menimbulkan luka.
Cepat Siauw Ling tarik kembali tangan kirinya kemudian laksana kilat mencengkeram persendiran sikut kiri Liok Hoo, tangannya disendat dan gadis itu tiba-tiba merasakan tulangnya amat sakit seperti retak. Seluruh tenaganya lenyap dan ia tak sanggup melancarkan serangan balasan lagi.
Setelah berhasil si anak muda itu baru berpaling kearah kalangan lain. Tampaklah Pek Bwee serta Sang Pat sedang melangsungkan suatu pertempuran yang amat seru, dua bilah pisau belati Pek Bwee menyambar kesana kemari dengan jurus-jurus yang cepat dan kilat, semua serangannya mengancam jalan darah penting ditubuh lawan. Sebaliknya Sang Pat membalas dengan serunya pula.
Walaupun Sang Pat membalas dengan serangan yang aneh namun Pek Bwee cukup cekatan dan cerdik, saudara angkat dari Siauw Ling ini tidak berhasil juga mencengkeram pergelangan lawan yang selalu diincarnya itu, namun sebaliknya serangan-serangan maut dari Pek Bweepun tak bisa mengapa-apakan diri Sang Pat pula.
Menjumpai situasi pertarungan itu, Siauw Ling segera berpikir, “Sepuluh gebrakan lagi Sang Pat pasti akan berhasil menguasai keadaan dan dua puluh gebrakan lagi ia dapat merampas pisau belatu ditangan Pek Bwee, tapi situasi pada saat ini amat kritis, mengulur waktu bukan saja tidak menguntungkan bahkan akan merepotkan, biarlah secara diam-diam kubantu diri Sang Pat.”
Diam-diam ia salurkan hawa murninya dan segera melancarkan sebuah totokan dengan ilmu Siuw Loo Sin ci.
Pek Bwee merasakan jalan darah dikaki kanannya tiba-tiba terhantam oleh sejalur hawa serangan yang tak berwujud dan bersuara, seketika itu juga sekujur badannya jadi kaku.
Dengan lenyapnya tenaga perlawanan Pek Bwee maka ketika serangan Sang Pat meluncur tiba, dengan gampangnya ia berhasil merampas senjata gadis itu.
Dengan pengalamannya yang luas, begitu senjata lawan berhasil dirampas ia lantas menyadari bahwasanya Siauw Ling mungkin telah membantu dirinya secara diam-diam.
Pek Bwee sendiri merasakan serangan yang mengena dikakinya sangat berat hingga sama sekali tak ada tenaga perlawanan, ia biarkan dirinya ditotok oleh Sang Pat sementara matanya berpaling kearah Siauw Ling serta Ceng Yap Chin sambil bertanya, “Siapa diantara kalian yang telah membokong diriku?”
“Cayhe, kenapa sih?” sahut Siauw Ling sambil tertawa hambar.
“Ilmu silat apa yang kau gunakan?”
“Djen Bok Hong tahu kalau aku pernah belajar ilmu Siauw Loo Sin ci dari Liuw Sian cu” pikir si anak muda itu. “Aku tak boleh memberitahukannya kepada budak ini.”
Maka segera sahutnya, “Kepandaian satu jari yang aku gunakan!”
Pek Bwee tiak bertanya lagi, ia berpaling kearah Liok Hoo dan bertanya, “Adikku, parahkah luka yang kau derita?”
Dasar watak Liok Hoo memang keras kepala, meskipun persendian tangannya yang terlepas terasa amat sakit hingga merasuk ketulang namun ia tetap membungkam dalam seribu bahasa. Menanti Pek Bwee bertanya ia baru geleng kepala dan menyahut, “Siauw moay sama sekali tidak terluka. cuma saja persendianku tercengkeram sehingga sukar untuk berkutik.”
Tiba-tiba Sang Pat mengambil pisau belati itu dan digerak-gerakan diatas wajah Pek Bwee, ancamannya, “Nona, bila aku masih menyayangi selembar wajahmu yang cantik jelita ini. Jawablah semua pertanyaan yang cayhe ajukan.”
“Apa yang kau ingin tanyakan?”
“Apakah kalian berasal dari perkampungan Pek Hoa San cung?”
“Tidak salah.”
“Sekarang Djen Bok Hong berada dimana?”
“Jejak Djen toa cungcu amat misterius dan sukar diikuti, darimana kami bisa tahu dimanakah sekarang dia berada? mungkin saja secara tiba-tiba dia bisa muncul dalam ruang ini.”
Setelah mendesak sejenak ujarnya kembali, “Kalian menyusup kemari dengan jalan menyaru, aku duga kamu pasti datang dengan membawa maksud-maksud tertentu. Apa tujuan kalian?”
Meskipun diluar ia tetap tegang dan seolah-olah rela wajahnya dirusak namun sebenarnya dalam hati gadis itu merasa amat takut.
Meskipun diluar ia berlagak ketus dan dingin, seakan-akan merasa tidak sayang kendati wajahnya mau disayat-sayat, namun dalam kenyataan hati kecilnya merasa cemas dan takut.
Kembali Sang Pat berkata sambil tertawa hambar, “Nona manis, andaikata wajahnya yang begini cantik jelita bagaikan bidadari sampai teriris oleh senjata cayhe hingga tersayat dan jadi jelek. Oooh…. sungguh suatu kejadian yang patut disayangkan!”
“Menurut anggapanmu pada malam ini apakah kalian masih punya kesempatan untuk meninggalkan gedung Sam Kang Soe It ini?” jengek Pek Bwee sambil tersenyum.
“Justru aku sedang bertanya kepada nona.”
Belum habis ia berkata, mendadak dari luar ruangan berkumandang datang suara bentakan gusar.
“Terimalah sebuah pukulan lagi!”
Ucapan itu membawa nada yang dingin dan ketus, bukan lain dilancarkan oleh Tu Kioe.
Ceng Yap Chin segera melepaskan jubah luarnya sambil meloloskan pedang yang tersoren dipinggang serunya, “Biar aku yang sambut diri Tu heng” seraya berkata dengan langkah lebar ia berjalan keluar.
Suara bentrokan senjata tajampun berkumandang masuk dengan nyaringnya, jelas pertarungan yang telah berkobar disitu telah berlangsung dalam keadaan yang amat seru.
“Ehmm, rupanya pihak lawan sudah mulai melancarkan serangannya” ujar Sang Pat dengan alis berkerut. “Bagaimana kita harus membereskan kedua orang dayang itu?”
“Setiap manusia yang berkecimpungan dalam perkampungan Pek Hoa San cung kebanyakan sudah terlalu banyak melakukan kejahatan” jawab Siauw Ling dengan wajah serius. “Meski demikian kedua orang dayang itu sudah tiada tenaga untuk melawan, janganlah membunuh mereka yang tak berdaya.”
Sang Pat mengangguk, tiba-tiba pisau belati ditangannya diguratkan keatas pipi kiri Pek Bwee sehingga muncul sebuah luka panjang yang mengucurkan darah, katanya lagi dengan nada dingin, “Hmm apakah nona anggap aku tidak tega untuk turun tangan terhadap dirimu? ayo cepat jawab, apakah Djen Bok Hong sudah tiba dikota Ooh Chioe?”
Tiba-tiba Pek Bwee pejamkan matanya, titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.
“Mau bunuh mau merusak wajahku silahkan kau laksanakan dengan sesuka hatimu tidak nanti aku sudi membuka mulut!”
Wajahnya kelihatan patut dikasihani, namun giginya tetap digigit kencang tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Akhirnya Siauw Ling menghela napas panjang.
“Kita tak bisa menyalahkan mereka. Peraturan dalam perkampungan Pek Hoa San cung memang terlalu ketat, sebagai manusia yang sudah banyak tahun hidup dibawah kekuasaan Djen Bok Hong tak bisa disalahkan kalau dalam hati kecil mereka telah timbul rasa takut yang tak terhingga terhadap cungcunya meskipun kau bunuh mereka juga tak berguna lebih baik totok saja jalan darah mereka.”
“Perkataan toako sedikitpun tidak salah” dua buah jalan darah diatas tubuh Pek Bweepun segera ditotok.
Mendadak kain horden tersingkap kesamping sekilas cahaya tajam laksana kilat meluncur kedalam langsung mengancam punggung Siauw Ling.
Dalam pada itu Siauw Ling sedang menggerakkan sikut kirinya untuk menotok jalan darah Liok Hoo merasakan datangnya ancaman tangan kirinya dengan sebat meraup kebelakang, sekali sambar ia sudah tangkap batang piauw yang mengancam tubuhnya itu.
Diikuti tangan kanannya digetarkan, pisau belati yang berhasil dirampas dari tangan Liok Hoo tadi segera ditumpuk kebalik horden.
Dengusan berat berkumandang datang dari balik horden, rupanya sang pembokong telah terkena timpukan pisau belati itu dengan telak.
Sang Pat menggerakkan tangannya menyambar horden itu lalu ditariknya sekuat tenaga. Kraaak! horden tadi segera robek sebagian.
Dibalik robekan horden itu tampaklah seorang lelaki berbaju serba hijau berdiri kaku didekat dinding, diatas dadanya tertancap sebilah pisau belati yang menembusi ulu hatinya hingga sebatas gagang rupanya orang itu sudah putus jiwanya.
Dibalik dinding terdapat sebuah pintu rahasia.Waktu itu pintu tadi belum sempat tertutup.
“Hati-hati” bisik Sang Pat. “Dalam ruangan ini pasti telah diatur alat rahasia.”
“Lebih baik kita terjang saja keluar dari sini” Siauw Ling mengusulkan tanpa menanti jawaban lagi ia segera menggerakkan tubuhnya menerjang lebih dahulu keluar dari ruangan.
Tampak cahaya pedang berkilauan memenuhi angkasa, Ceng Yap Chin sambil menggerakkan pedangnya sedang bertarung dengan sengitnya melawan seorang lelaki berbaju hijau.
Rupanya Tu Kioe berhasil didesak hingga mundur ketengah halaman, sementara Ceng Yap Chin menghadang didepan pintu.
Sekali berkelebat Siauw Ling lewat disisi Ceng Yap Chin, tangan kirinya diulur kemuka dan segera menyambar pedang ditangan lelaki berbaju hijau itu.
Karena tangannya mengenakan sarung tangan kulit naga yang kebal terhadap pelbagai macam bacokan senjata, bagi orang yang tak mengetahui rahasia ini rata-rata mereka ngeri bercampur kaget tatkala melihat ia rampas pedang orang dengan tangan kosong.
Tatkala pedangnya berhasil dicengkeram Siauw Ling, orang itu tertegun dan menghentikan gerakkannya. Pada saat yang bersamaan itulah tusukan pedang Ceng Yap Chin telah meluncur datang menembusi dadanya.
Mengikuti gerakan tadi Siauw Ling merampas pedang tersebut, kemudian dengan cepat menerjang keluar dari ruangan.
Ketika dia alihkan pedangnya ketengah kalangan, tampaklah olehnya Tu Kioe sedang dikurung rapat-rapat oleh empat orang lelaki, pertarungan sudah berjalan mendekati babak terakhir.
Suasana disekeliling sana terang benderang bagaikan ditengah hari, rupanya ditengah halaman entah sejak kapan telah tergantung beberapa buah lampu lentera yang menerangi sekeliling sana.
Ilmu silat yang dimiliki empat orang lelaki itu benar-benar amat lihay, dua orang menggunakan pedang dan dua orang yang menggunakan golok saling bekerja sama dengan eratnya, serangan-serangan mereka gencar dan dahsyat membuat Tu Kioe harus putar senjata pit serta gelang peraknya sedemikian rupa untuk melindungi keselamatan sendiri, kendati begitu posisinya tetap berada dalam keadaan yang tidak menguntungkan.
Siauw Ling mengepos napas dan menerjang keatas, pedangnya diobat abitkan kekiri kanan menghalau pergi datangnya tusukan dua bilah pedang.
Tatkala Tu Kioe menjumpai kehadiran Siauw Ling yang datang membantu dirinya, semangatnya segera berkobar kembali, gelang peraknya dengan cepat menghalau datangnya sepasang golok, sementara senjata pit bajanya dengan suatu jurus serangan yang aneh menotok bahu kiri seorang lelaki bersenjata golok.
Creeeet! bahu orang itu segera tertembus oleh tusukan pit kip dari Tu Kioe, dalam keadaan terluka parah buru-buru ia mundur kebelakang.
Siauw Ling yang kebetulan berada didekat sana segera mengirim satu tendangan menghajar lutut kiri lelaki tadi. Duuuk! tulang kakinya seketika patah jadi beberapa bagian.
Luka parah yang dideritanya secara beruntun sebanyak dua kali membuat orang itu tak sanggup mempertahankan diri lagi, ia mundur dengan sempoyongan dan akhirnya roboh terjengkang diatas tanah.
Disaat Siauw Ling melancarkan serangan tadi, pada saat yang bersamaan pula pedang ditangan kanannya dibabat kesamping. Sreet! sebuah lengan kiri lelaki yang bersenjata pedang terbabat kutung jadi dua.
Dalam sekejap mata empat orang yang mengepung Tu Kioe sudah ada dua orang roboh terluka, sisanya yang dua orang jadi terkesiap dan ketakutan setengah mati, dalam keadaan begini mereka tak berani bertempur lebih jauh setelah mengirim dua serangan gencar tubuhnya buru-buru mengundurkan diri kebelakang.
“Heeh…. heeh…. kalian masih ingin lari?” jengek Siauw Ling sambil tertawa dingin.
Sambil enjotkan badannya ia tubruk kearah lelaki bersenjata pedang itu.
Sementara itu dengan hati ketakutan setengah mati lelaki tadi sedang melarikan diri terbirit-birit dari situ, mendadak ia dengar ada ujung baju tersampok angin menubruk datang, dengan cepat ia menoleh.
Tampaklah Siauw Ling sambil menyekal pedangnya sedang menubruk datang, gerakannya cepat laksana sambaran kilat.
Ia jadi terperanjat, pikirnya, “Sungguh lihay gerakan tubuh orang ini…. aku harus segera menghindarkan diri!”
Pedangnya buru-buru diangkat keatas menyongsong datangnya tubrukan lawan.
Siauw Ling mendorong telapak kirinya melancarkan sebuah serangan…. duuk. Dengan telak bersarang diatas pedang orang itu, sedangkan pedang ditangan kanannya membabat kebawah menebas lengan orang tadi.
Ternyata orang itu kuat dan punya daya tahan yang hebat, meskipun lengannya telah terbacok kutung namun ia masih sempat mendengus dingin sambil melanjutkan larinya kedepan.
Siauw Ling menjengek dingin, tangan kirinya segera disentil kedepan melancarkan sebuah totokan dengan ilmu Siauw Loo Sin ci.
Criiit….! segulung angin tajam berdesir kemuka dan telak bersarang diatas punggung lelaki itu.
Setelah lengannya kutung sekarang termakan pula oleh hajaran ilmu jari Siauw Loo Sin ci, tentu saja tak sanggup baginya untuk mempertahankan diri. Ditengah jeritan tertahan yang mengerikan orang itu terjungkal keatas tanah dan menemui ajalnya saat itu juga.
Napsu membunuh mulai berkobar dalam dada Siauw Ling, disaat yang bersamaan pedang ditangan kanannya disambit kedepan, sekilas cahaya tajam segera berkelebat menembusi angkasa langsung menghajar tubuh lelaki bersenjata golok itu.
Ketika mendengar datangnya desiran angin tajam dari arah belakang, buru-buru lelaki itu putar badan sambil melepaskan satu babatan.
Siapa sangka timpukkan pedang dari Siauw Ling ini disertai dengan tenaga serangan yang maha dahsyat, baru saja lelaki itu membabaskan goloknya kebawah, pedang itu sambil miring sedikit kesamping langsung menyambar padanya.
Duuus….! tanpa ampun lagi dadanya jebol tertembus pedang tadi, diiringi jeritan tajam mayatnya roboh terjungkal diatas tanah.
Setelah berhasil membereskan kedua orang itu, Siauw Ling berpaling kembali kebelakang dia lihat dua orang yang telah terluka tadipun sudah dihabisi pula jiwanya oleh Tu Kioe.
Yang aneh setelah kematian lima orang itu ternyata tidak nampak ada orang lain yang munculkan diri, suasana disekeliling tempat itu sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun.
Ketika mendingak keatas terasa cahaya lampu memancar dengan terangnya, seluruh atap bangunan disekitar sana berada dalam keadaan terang benderang.
“Toako apa yang harus kita lakukan sekarang?” terdengar Tu Kioe bertanya sambil datang menghampiri Liong Tauw toakonya.
“Kelihatannya aneh sekali, atap rumah diterangi oleh cahaya lentera sehingga terang benderang bagaikan ditengah hari, apa sebabnya dibawah wuwungan rumah gelap gulita?”
Dengan langkah lebar Ceng Yap Chin datang berkumpul, sahutnya, “Pertarungan yang telah berlangsung disini jelas sudah menggemparkan seluruh gedung Sam Kang Soe It. Ditinjau dari tak adanya musuh tangguh yang muncul lagi disini jelas mereka sedang menyusun rencana busuk lainnya.”
“Tidak salah” sahut Siauw Ling membenarkan sambil mengerling sekejap sekeliling tempat itu. “Kita harus bertindak lebih hati-hati lagi jangan sampai terbokong oleh mereka.”
“Aaaach benar” tiba-tiba Tu Kioe berseru. “Bukankah kita bisa mengompres kedua orang dayang itu? coba kita tanyai permainan setan apakah yang sedang mereka persiapkan.”
Sementara pembicaraan masih berlangsung mendadak dari balik ruangan disebelah selatan berkumandang datang suara tertawa dingin yang amat sinis disusul seseorang berseru, “Kalian sudah berada dibawah kepungan kami sekalian, senjata rahasia telah dipersiapkan diempat penjuru dan semuanya berupa benda kecil yang sangat beracun apabila aku turunkan perintah maka keempat penjuru akan mulai bergerak untuk menghamburkan senjata rahasia kearah kalian. Hmm…. meskipun kepandaian silat kalian sangat lihay, jangan harap bisa meloloskan diri dari ancaman beribu-beribu batang senjata tajam yang lembut bagaikan grimis. Kendati kalian bergerak dengan cara apapun, niscaya senjata rahasia akan ditubuh kamu semua.”
Siauw Ling tidak ingin memperhatikan asal usulnya, maka kepada Ceng Yap Chin ia berbisik, “Ceng heng, ajaklah dia bicara, diam-diam siauwte akan perhatikan situasi disekitar sini.”
Ceng Yap Chin mengangguk, dengan suara lantang segera serunya, “Siapakah anda sekalian?”
“Kalian tak usah bertanya siapakah diri loohu, yang jelas mati hidup kamu semua telah berada ditangan loohu….”
Ia merandek sejenak, kemudian sambungnya lagi dengan suara keras, “Dalam keadaan seperti ini hanya ada dua jalan yang dapat kau tempuh, yaitu melepaskan senjata tajam dan menyerah kepada kami, atau mati dibawah serangan hujan senjata rahasia.”
Ucapan ini membuat Ceng Yap Chin merasa sangat tidak puas, pikirnya, “Hmm, congkak amat perkataannya meskipun ada berlaksa buah gendewa yang melancarkan serangan berbarengpun belum tentu bisa membinasakan kami sekalian….”
Tapi teringat bahwa perkataan yang kurang pantas kemungkinan besar bisa memancing datangnya serangan bokongan dari mereka, maka untuk beberapa saat ia membungkam dalam seribu bahasa.
Ketika tidak memperoleh jawaban, orang itu segera tertawa dingin dan berkata lagi, “Dalam ruangan, halaman serta kamar-kamar itu sudah kusembunyikan jago-jago lihay, bahkan jaraknya sangat dekat sekali dengan kalian, boleh dibilang daerah disekeliling kalian tak ada sejengkalpun yang merupakan daerah aman. Kalau kalian ingin melawan kekuatan kami dengan andalkan ilmu silat, itu berarti kamu semua mencari kematian buat diri sendiri.”
Ceng Yap Chin mengerutkan dahinya, kepada Siauw Ling segera bisiknya, “Siauw heng, apa yang harus kita lakukan sekarang?”
“Kalau ditinjau dari keadaan disekeliling tempat ini rupanya apa yang ia utarakan sama sekali bukan gertak sambel belaka, seandainya apa yang dia katakan adalah kata yang sebenarnya waaah…. kita memang terancam dalam keadaan bahaya satu-satunya cara yang bisa kita tempuh saat ini adalah berusaha untuk mengundurkan diri kembali kekamar dimana telah disiapkan perjamuan tadi, kemudian berusaha memancing mereka melepaskan senjata rahasia dan kitapun rundingkan bagaimana caranya menghancurkan pertahanan musuh.”
Dari dalam ruangan terdengar suara Sang Pat berkumandang datang, “Lebih baik kalian berdua sedikit tahu diri. Selamanya loohu tidak pernah kenal mengasihani kaum wanita!”
Ketika Siauw Ling sekalian berpaling kebelakang, tampaklah Sang Pat dengan tangan kiri mencekal Pek Bwee, tangan kanan mencekal pergelangan Liok Hoo dengan langkah lebar berjalan mendekati.
“Loo jie, cepat mundur kembali kebelakang” seru Tu Kioe.
Sang Pat menggeleng.
“Kamar itu tak bisa dipergunakan lagi!”
“Kenapa?”
“Seandainya mereka lepaskan asap beracun, bukankah kita bakal mati konyol dalam ruangan tersebut?”
“Hmm, kalau begitu mereka memang sengaja memaksa kita kembali kedalam kamar, agar bisa merobohkan kita dengan asap racun.”
Sementara berbicara Sang Pat telah tiba dihadapan beberapa orang itu.
“Sekeliling halaman ini telah disembunyikan jago yang lihay melepaskan senjata rahasia” bisik Ceng Yap Chin. “Pada saat ini kita sudah terjerumus kedalam barisan senjata rahasia mereka yang lihay.”
Biji mata Sang Pat berputar memperhatikan sekejap daerah disekeliling tempat itu. terasa olehnya halaman ditengah bangunan itu merupakan sebidang tanah datar, kecuali tanah berumput boleh dibilang tiada tempat lain untuk menyembunyikan diri, tanpa terasa alisnyapun berkerut kencang.
“Seandainya mereka melepaskan senjata rahasia, terpaksa kita harus menggunakan tubuh kedua orang nona ini sebagai tameng” katanya.
Mendadak terdengar dari ruangan sebelah utara berkumandang datang suara seseorang dengan nada yang dingin.
“Rupanya sebelum berjumpa dengan peti mati kalian tak mau mengucurkan air mata, kalian tidak kudemontrasikan kelihayan kami, mungkin kamu semua tidak mau percaya.”
“Empat penjuru terdapat ancaman senjata rahasia” bisik Siauw Ling memperingatkan. “Kita semua tak boleh gegabah, masing-masing perhatikan hal satu arah!”
Sambil bicara tiba-tiba meloncat lima depa kedepan, disambarnya sesosok mayat kemudian meloncat balik ketempat semula.
Gerakannya datang dan pergi dilakukan dalam sekejap mata, kecepatannya benar-benar sukar dilukiskan dengan kata-kata.
Dari arah utara kembali terdengar suara tertawa dingin.
“Aku akan mendemontrasikan sedikit kelihayan kami, agar mata kamu semua terbuka lebar….” ia merandek sejenak. “Lepaskan burung elang!”
…. Bersambung jilid ke 25
JILID 25
Dua ekor burung elang segera dilepaskan dari jendela dan meleset ketengah udara.
Baru saja kedua ekor burung elang itu terbang melewati atap rumah, mendadak terdengar suara desiran tajam memekikkan telinga dibawah sorot lampu terlihat beribu-ribu buah jalur cahaya perak yang amat menyilaukan mata melesat ketengah udara menyambar kedua ekor burung elang tadi.
Jelas senjata rahasia itu bukan saja rapat bagaikan hujan, bahkan telah dipolesi dengan racun yang amat keji.
Dari dalam ruangan sebelah utara kembali berkumandang suara teguran yang dingin, “Diantara kamu semua siapakah yang bernama Siauw Ling?”
Siauw Ling tertegun, untuk sesaat lamanya ia tidak mengerti harus mengaku atau tidak.
Dikala ia masih sangsi, Sang Pat telah tertawa terbahak-bahak.
“Haah…. haah…. haah…. diantara rombongan kami tiada yang bernama Siauw Ling, seandainya Siauw thayhiap berada disini, mungkin sedari tadi kamu semua sudah mati diujung pedang serta telapaknya.”
Tu Kioe sambar tubuh Pek Bwee dan dihadangkan dihadapannya, lalu berseru, “Pada bagian selatan dan utara masing-masing bersembunyi musuh tangguh. Mari kita terjang kedalam ruangan tersebut, mungkin saja dengan menjebol dinding kita masih punya kesempatan untuk menyelamatkan diri.”
Sang Pat yang selalu punya akal dan berotak cerdik, pada saat ini sama sekali tak bisa menggunakan kelebihannya itu untuk memecahkan persoalan, dengan wajah serius dia bungkam dalam seribu bahasa.
Walaupun begitu dalam hati kecil keempat orang itu sama-sama mengerti, seandainya kerapatan senjata rahasia yang dipancarkan dari empat penjuru ruangan adalah sama, maka sulitlah bagi mereka untuk menerjang keluar dari sana.
Yang aneh setelah terjadi tanya jawab tadi, ternyata tiada pembicaraan lain yang berlangsung, ditengah kegelapan masing-masing pihak saling menanti dengan mulut membungkam.
Lama sekali Sang Pat baru berbisik dengan suara lirih, “Toako, rupanya mereka sedang menanti orang, waktu bagi kita tidak menguntungkan. Aku lihat dalam keadaan seperti ini satu-satunya jalan hanya mundur kembali kedalam ruangan. Diantara kita berempat hanya toakolah yang harus tetap hidup dikolong langit, oleh sebab itu toako tak usah memusingkan keselamatan kami lagi….”
“Serangan senjata rahasia mereka rapat bagaikan hujan badai, burungpun sukar untuk melewati daerah sekitar sini. Siauwte rasa akupun tiada keyakinan untuk berhasil meloloskan diri dari tempat ini….”
“Maksud Sang Loo jie?” sambung Tu Kioe. “Adalah diantara kita berempat, tiga orang boleh mati karena kematiannya tidak akan mempengaruhi perkembangan dunia persilatan, sebaliknya mati hidup toako sangat mempengaruhi keselamatan Bulim pada umumnya, maka dari itu seandainya diantara kita berempat andaikata ada seseorang bisa hidup maka orang itu haruslah diri toako.”
“Tidak bisa jadi, tidak bisa jadi” tampik Siauw Ling sambil gelengkan kepalanya. “Kita masing-masing orang mempunyai kesempatan untuk mempertahankan hidup, kenapa diantara kita berempat hanya aku seorang yang harus hidup?”
Ceng Yap Chin menghela napas panjang.
“Aaai, mungkin Siauw thayhiap masih belum memahami maksud hati dari Tiong Chiu Siang Ku maksud mereka berdua adalah dalam keadaan yang bagaimana gawatpun kita sekalian bisa berusaha dengan segala kemampuan kami untuk melindungi keselamatan jiwa Siauw thayhiap.”
“Bagaimana cara kalian hendak melindungi diriku? senjata rahasia toh tak bermata. Apakah benda-benda itu bisa menghindari aku orang she Siauw….”
“Bila keadaan memaksa kita bertiga bisa bersatu padu untuk melindungi keselamatan Siauw thayhiap, meskipun tubuh kami bertiga ditembusi oleh senjata-senjata rahasia itu, kami akan berusaha sekuat tenaga untuk menghindarkan diri Siauw thayhiap dari ancaman tersebut.”
“Hmm, perkataan macam apakah itu?” tegur Siauw Ling dengan alis berkerut. “Mati hidup kita berempat harus sama-sama dipertahankan. Sudahlah kalian tak usah banyak bicara lagi, cayhe yang akan membuka jalan buat kalian semua. Ayo kita terjang dulu keruang sebelah utara, disitu baru kita membuat perundingan lagi.”
Sinar matanya berputar, tiba-tiba ia saksikan Pek Bwee melototkan matanya bulat-bulat memandang kearahnya, seakan-akan dara itu ada sesuatu perkataan yang hendak disampaikan kepadanya.
Satu ingatan berkelebat dalam benak si anak muda itu, seraya ujarnya, “Saudara Sang, apakah kau telah totok jalan darah bisunya….?”
“Benar karena aku takut kedua orang dayang berteriak yang bukan-bukan, maka aku sudah totok jalan darah bisu mereka.”
“Bebaskan jalan darah ditubuh nona Pek Bwee ini!”
Selamanya Sang Pat selalu menuruti setiap perkataan dari Siauw Ling, tanpa banyak bertanya lagi ia segera tepuk jalan darah Pek Bwee.
Dayang itu menghembuskan napas panjang kemudian sambil memandang kearah Siauw Ling bisiknya lirih, “Apakah kau adalah Siauw thayhiap?”
“Sedikitpun tidak salah, cayhe adalah Siauw Ling.”
“Apakah kau kenal dengan seorang nona yang bernama Giok Lan?”
Teringat nasib Kiem Lan serta Giok Lan yang lenyap berikut orang tuanya, Siauw Ling merasa bersedih tapi ia segera mengangguk.
“Tidak salah, apakah nona juga kenal dengan nona Giok Lan?”
“Aku dengan Giok Lan sudah lama bersahabat, hubungan kami sudah bagaikan saudara sendiri….”
Mendadak ia memperendah suaranya.
“Kalian tak boleh menerjang kesebalah utara sebab dibawah kurungan senjata rahasian yang rapat bagaikan hujan badai, tiada kesempatan bagi kalian untuk meloloskan diri.”
“Apakah nona mempunyai akal bagus?” tanya Siauw Ling setelah tertegun sejenak.
“Aku mempunyai satu akal, cuma…. apa Siauw thayhiap mau mempercayai diriku?”
“Apa akalmu itu?”
“Lepaskan aku serta adik Liok Hoo….”
Mendengar permintaan itu Sang Pat segera tertawa dingin.
“Budak licik benar akalmu…. Sudah berulang kali aku si Sang Loojie mengalami gelombang dahsyat disamudra luas, apa kau suruh aku terjungkal dari perahu dalam selokan yang dangkal.”
“Kalian takkan mempunyai kesempatan lain kecuali berbuat demikian….”
“Kami akan menahan kamu berdua sebagai sandera, agar mereka dikala melepaskan senjata rahasia jadi lebih was-was dan ragu.”
Dengan cepat Pek Bwee gelengkan kepalanya.
“Kalau begitu kau masih belum memahami bagaimanakah watak serta tabiat dari Djen Bok Hong, jangan dikata nasib dua orang dayang seperti kami, sekalipun seseorang yang mempunyai kedudukan sepuluh kali lipat lebih tinggi dari kamipun akan tetap dikorbankan demi kesuksesan cita-citanya. Mereka tak nanti akan memikirkan nasib kami yang kalian jadikan sandera….”
“Sang heng te!” bisik Siauw Ling dengan suara lirih. “Bebaskan jalan darah mereka, dan lepaskan mereka pergi!”
“Kita benar-benar akan melepaskan mereka?” tanya Sang Pat melengak.
“Tentu saja sungguh-sungguh!”
Sang Pat tidak banyak bicara lagi, dia segera membebaskan jalan darah ditubuh Pek Bwee, kemudian tanyanya, “Apakah nona Liok Hoo juga kita lepaskan?”
“Eehm, sekalian lepaskan semua!”
Sang Pat menurut, setelah membebaskan jalan darah kedua orang dayang itu ia berkata, “Nah, sekarang kalian sudah bebas dan silahkan berlalu dari sini!”
“Tidak bisa kalau cuma begini saja!” seru Pek Bwee.
“Lalu apa yang kalian inginkan?”
“Kalian tak bisa lepaskan kami dengan begini saja sehingga mereka tahu kalau kami dilepaskan oleh kalian dengan begitu saja.”
“Apakah kalian mau pura-pura meronta dari cekalan kami kemudian melarikan diri?” jengek Tu Kioe dengan suara dingin.
“Sedikitpun tidak salah, untuk mengelabui mereka maka terpaksa aku harus merepotkan kalian berdua untuk bergebrak beberapa jurus dengan kami berdua.”
“Baiklah…. mengantar Budha harus diantar sampai langit barat, bila kalian telah berjumpa dengan mereka, katakanlah agar mereka lepaskan senjata rahasia yang lebih banyak kepada kami.”
Sreeet! sie poa emas dari Tiong Chiu ini segera melepaskan satu pukulan dahsyat kearah Pek Bwee.
Dengan gesit dayang itu mengigos kesamping bisiknya, “Siauw thayhiap, bila kau mendengar jeritan lengking dariku maka segeralah menerjang keruang sebelah utara!”
“Baik, akan kuingat selalu.”
“Perkataan orang perempuan tak boleh dipercaya seratus persen” seru Sang Pat memperingatkan, sepasang telapak menyerang lebih gencar lagi, secara beruntun dia lepaskan empat buah serangan berantai.
Serangkaian pembicaraan tadi dilangsungkan dengan suara yang amat lirih, sudah tentu orang-orang yang bersembunyi disekitar sana tak dapat mendengarkan dengan jelas apa yang sedang mereka bicarakan.
Dalam pada itu Liok Hoo sudah ayunkan telapaknya menyerang Ceng Yap Chin, ujarnya, “Beranikah kau melawan sebuah seranganku dengan keras lawan keras….?”
Ceng Yap Chin tertawa dingin, dia ayunkan telapaknya menyambut serangan itu dengan keras lawan keras.
Rupanya dalam hati kecil jago muda dari Bu tong pay ini merasa amat tidak puas dengan tindakan Siauw Ling melepaskan kedua orang dayang itu, tetapi setelah melihat Sang Pat bertindak menuruti kemauan si anak muda itu, ia merasa sungkan untuk menghalanginya. Meski demikian hawa gusar dan dongkolnya masih terpendam dalam hati.
Kini menyaksikan Liok Hoo melancarkan sebuah serangan kearahnya, hawa gusar serta rasa dongkol yang mengganjal dalam dadanya segera disalurkan keluar kearah dayang tersebut.
Telapak kanannya dengan cepat diayun melancarkan sebuah serangan dengan sepenuh tenaga.
Blaaam….! bentrokan keras itu menimbulkan suara getaran yang memekikkan telinga.
Liok Hoo berseru tertahan, badannya tergetar mundur empat lima langkah kebelakang.
Pek Bwee segera meloncat mundur kebelakang sambil menegur dengan suara keras, “Adikku, apakah lukamu parah?”
Sambil berkata ia segera mengundurkan diri keruang sebelah utara.
“Siauw heng, tindakanmu melepaskan kedua orang dayang itu benar-benar hebat sekali” terdengar Ceng Yap Chin menjengek dengan suara sinis. “Keramah tamahan serta belas kasihanmu membuat siauwte merasa sangat kagum!”
Siauw Ling mengerti bahwasanya jago muda dari Bu tong pay ini pasti merasa tidak puas karena dia telah melepaskan kedua orang dayang itu, maka ia cuma tersenyum belaka tanpa menanggapi ucapannya.
“Cuma saja…. kelicikan serta kejahatanmu sudah merajalela dikolong langit” ujar jago muda dari Bu tong pay itu lebih jauh. “Kebajikan serta welas kasih dari Siauw thayhiap itu, sama sekali tidak sesuai bagi tindakan seorang calon pemimpin Bulim.”
“Walaupun kita tetap menahan kedua orang dayang itupun tiada gunanya, bahkan mereka hanya bakal merepotkan kita saja, apa salahnya kalau dilepaskan saja?” ujar Siauw Ling.
“Siauw heng mengasihani musuh belum tentu pihak lawan mengasihani dirimu melepaskan kedua orang dayang itu bukanlah berarti melepaskan harimau pulang gunung….”
Belum habis dia berkata tiba-tiba terdengar suara jeritan melengking berkumandang datang.
“Cepat terjang kesana!” seru Siauw Ling sambil menerjang lebih dahulu. Ceng Yap Chin, Sang Pat serta Tu Kioe tidak bisa berbuat lain kecuali mengikuti dari belakang menerjang keruang sebelah utara.
Terdengar suara desiran tajam berkumandang datang dari ruang sebelah selatan senjata rahasia bagaikan hujan badai meluncur ketengah lapangan.
Siauw Ling seger putar mayat yang berada ditangannya sebagai tameng teriaknya, “Cepat terjang kedalam!”
Gerak gerik keempat orang cepat laksana kilat, dalam sekejap mata mereka sudah jauh meninggalkan daerah jangkauan yang sanggup dicapai senjata rahasia yang dilepaskan dari arah selatan itu. Meskipun serangan senjata rahasia masih tiada hentinya namun sudah tidak seberapa lagi.
Siauw Ling segera putar mayat ditangannya untuk membendung senjata rahasia itu, sedangkan Ceng Yap Chin sekalian dengan meminjam kesempatan itu naik keatas undak-undakan batu.
Dalam keadaan begini seandainya dari dalam ruangpun melepaskan senjata rahasia dalam jarak tidak mencapai satutombak itu sekalipun ilmu silat Siauw Ling sekalian lebihpun niscaya akan terluka dibawah serangan senjata rahasia beracun itu.
Tapi suasana dalam ruangan itu sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, tak sebatang senjata rahasiapun yang disambit keluar. Setelah membendung datangnya senjata rahasia itu, Siauw Ling cepat-cepat ikut meloncat naik keatas undak-undakan.
Tampaklah Sang Pat, Tu Kioe serta Ceng Yap Chin dengan senjata terhunus masing-masing berdiri sejajar ditepi ruangan.
“Kenapa cuwi sekalian tidak segera masuk kedalam ruangan?” tegur Siauw Ling.
“Kami menanti diri Siauw thayhiap!”
Si anak muda itu tidak membuang waktu sekali lagi, ia tendang jebol pintu ruangan itu dan segera menerobos masuk kedalam.
Terdengar suara bisikan seorang gadis yang lirih dan lemah berkumandang datang, “Silahkan cuwi sekalian masuk kedalam!”
Suara itu dipancarkan oleh Pek Bwee tapi lirih dan lemah, jelas ia sudah menderita luka parah.
Dengan telapak kiri disilangkan didepan dada Siauw Ling segera menyelinap masuk kedalam ruangan, diikuti Sang Pat serta Tu Kioe dibelakangnya.
Tu Kioe segera membuat obor untuk menerangi suasana dalam ruangan tersebut.
Tampaklah empat orang lelaki berpakaian ringkas menggeletak mati ditengah ruangan sekujur tubuh Liok Hoo pun tertancap jarum-jarum beracun, napasnya telah berhenti sejak tadi, sedangkan Pek Bwee menggeletak disisinya, iapun berada dalam keadaan kritis.
Pandangan yang terbentang didepan mata saat ini benar-benar mengenaskan sekali, kedua orang dayang itu telah menggunakan jiwa serta darahnya untuk menyelamatkan jiwa Siauw Ling berempat.
Dengan cepat Siauw Ling berjongkok keatas tanah untuk membopong tubuh Pek Bwee, ujarnya, “Nona, parahkah luka yang kau derita?”
“Aku sudah tak berguna” jawab pek Bwee sambil gelengkan kepala. “Aku harap Siauw thayhiap tak usah memikirkan diriku, dikemudian hari aku hanya berhadap kau bisa membinasakan Djen Bok Hong untuk membalaskan dendam sakit hatiku.”
Siauw Ling menghela napas panjang.
“Aaai…. andaikata nona tidak membantu kami sekalian tidak nanti kau menderita luka yang demikian parahnya, aku orang she Siauw pasti akan membantu dengan segenap tenaga untuk menyelamatkan jiwa nona.”
Kembali Pek Bwee menggeleng.
“Tak ada gunanya…. aai. alat rahasia yang dipasang dalam ruangan ini sudah kuhancurkan semua. Kalian larilah dari jendela belakang dan berjalanlah mengikuti serambi samping, jangan sampai tersorot oleh cahaya lampu diluar. Asal kalian telah sampai diujung serambi dan melewati tembok penghalang, maka jiwa kalian pasti selamat.”
Bicara sampai disana ia berhenti. Sementara napasnya makin tersengkal-sengkal.
Melihat gadis itu sudah pejamkan matanya rapat-rapat, seolah-olah sudah tak sanggup mempertahankan diri lagi, ia segera salurkan hawa murninya lewat punggung dara tersebut. Segulung aliran panas dengan cepat menerjang masuk ketubuh Pek Bwee lewat jalan darah Beng Boen Hiatnya.
Pek Bwee menghembuskan napas panjang.
“Benarkah kau adalah Siauw Ling, Siauw thayhiap?” tiba-tiba ia bertanya kembali.
“Sedikitpun tidak salah.”
“Bolehkan aku menyaksikan wajah Siauw thayhiap yang asli sebentar?”
“Tentu saja!” sambil berkata si anak muda itu segera melepaskan topeng yang ia kenakan diwajah.
Pek Bwee mengepos segenap tenaganya untuk memandang beberapa saat wajah Siauw Ling kemudian bisiknya lirih, “Baik-baiklah menjaga adik Giok Lan ku itu!”
Habis berkata badannya melayang mengejang kencang…. diikuti matanya terpejam dan melayanglah jiwa dara itu kembali keakherat.
Dengan sedih, Siauw Ling menghela napas panjang, ia baringkan jenasah Pek Bwee keatas tanah kemudian berkata, “Setelah menerjang masuk kedalam ruang ini, ia pasti telah melancarkan serangan mautnya secara tiba-tiba. Dua orang itu berhasil dia hadapi sekalian sementara dua orang lainnya tentu sudah melepaskan tabung senjata rahasianya untuk melukai Liok Hoo, dalam keadaan luka kedua orang itu berhasil dibunuh dayang tadi sehingga akhirnya dia sendiri mati karena keracunan, sedang Pek Bweepun terluka parah dalam pertarungan itu….”
“Kegagahan nona berdua amat mengagumkan hati aku orang she Sang” kata Sang Pat secara tiba-tiba. “Disini aku ucapkan banyak terima kasih atas budi yang telah kalian lepaskan untuk menolong jiwa kami.”
Habis berkata ia segera jatuhkan diri berlutut didepan jenasah kedua orang dayang tadi kemudian menjalankan penghormatan besar.
Ceng Yap Chin melirik sekejap kearah Siauw Ling rasa jengah dan sesal terlintas diatas wajahnya, beberapa saat kemudian ia baru berkata, “Siauwte telah salah memandang perbuatan mulia nona bedua, atas pertolongan kalian berdua disini aku minta maaf dan ucapkan banyak terima kasih” kepada kedua sosok jenasah itu, diapun memberi hormat dalam-dalam.
ooooo0ooooo
Perlahan-lahan Siauw Ling menghela napas panjang.
“Suatu saat kita berhasil membinasakan Djen Bok Hong, harap kalian berdua jangan lupa bersembahyang untuk arwah kedua orang nona itu….!”
“Siauwte akan mengingatnya selalu.”
“Aaai, mari kita berlalu, kita tak boleh menyia-nyiakan pertolongan dari kedua orang nona itu yang mana telah mengorbankan jiwanya!”
Habis berkata ia segera berlalu lebih dahulu.
Demikianlah beberapa orang itu segera membuka jendela belakang sesuai dengan pesan terakhir dari Pek Bwee, disana mereka benar-benar menjumpai sebuah serambi panjang.
Dengan mengerahkan hawa murninya Siauw Ling menjebol terali besi diatas jendela itu kemudian bergerak menuju kearah barat.
Ketika tiba disudut ruangan, mendadak terasa sekilas cahaya tajam menyambar datang, tahu-tahu sebilah golok telah membabat kearah tubuhnya.
Dengan cepat Siauw Ling ayun tangan kanannya menyambar golok tadi,sekali betot bersama orangnya segera diseret keluar dari tempat persembunyiannya.
Ceng Yap Chin yang ada didekat si anak muda itu cepat mencabut keluar pedangnya sekali tebas lengan kanan orang itu seketika tertebus kutung jadi dua bagian.
Orang itu menjerit kesakitan cepat-cepat badannya berputar dan menubruk kearah dinding…. duk, dinding tadi berputar dan mendadak bayangan tubuhnya lenyap tak berbekas.
Rupanya dibalik dinding tersebut terdapat sebuah alat rahasia yang bisa memutar dinding tadi.
Sekarang Sang Pat baru jadi paham duduknya perkara, ia lantas berseru, “Oh kiranya begitu, tidak aneh kalau lenganku terbacok oleh senjata lawan tanpa kujumpai musuhnya, ternyata mereka mengirim bacokan dari balik dinding rahasia….”
Sementara berbicara mereka sudah tiba diujung ruangan, Siauw Ling segera enjotkan badan melayang keluar dari dinding pemisah.
Tampaklah diluar dinding tadi merupakan sebuah kebun bunga yang tenang dan indah.
Bayangan manusia berkelebat lewat, Sang Pat, Tu Kioe serta Ceng Yap Chin pun secara beruntun telah melayang keluar.
“Ehm, tempat ini agak kurang beres” bisik Sang Pat. “Lebih baik kita segera berlalu dari sini.”
Dengan menempel disisi dinding ia lantas bergerak menuju kearah barat.
“Kalau ditinjau keadaan dari kebun ini jelas kebun bunga milik seorang hartawan atau orang berpangkat” batin Siauw Ling. “Tapi…. apa sebabnya ia bertetangga dengan gedung Sam Kang Soe Gie? sungguh aneh.”
Setibanya diujung tembok sebelah barat mereka segera melayang keluar, tampak cahaya lampu terang benderang. Orang yang berlalu lalang masih ramai sekali, ternyata mereka sudah tiba kembali didepan gedung Sam Kang Soe Gie tersebut.
Dalam beberapa kali loncatan beberapa orang itu sudah tiba disisi kereta berkerudung, dengan cepat mereka berloncatan masuk kedalam, sementara kereta itupun cepat-cepat berlalu meninggalkan tempat itu.
“Kita mau pergi kemana?” ditengah jalan Siauw Ling bertanya.
“Mereka akan kemana?” keempat orang itu sama-sama tak bisa menjawab.
Perubahan yang terjadi digedung Sam Kang Soe Gie jauh berada diluar dugaan keempat orang itu, maka rencana yang telah disusun sebelumnyapun rasanya tak bisa dipergunakan lagi.
Setelah hening kurang lebih seperminum teh lamanya, Ceng Yap Chin baru berkata, “Sekarang kita telah dapat membuktikan bahwa gedung Sam Kang Soe Gie adalah markas dari Djen Bok Hong untuk mengumpulkan mata-matanya, menurut pendapat siauwte lebih baik kita berjumpa dahulu dengan Soen Loocianpwee sekalian kemudian baru singkirkan gedung Sam Kang Soe gie ini dari permukaan bumi.”
“Walaupun dalam gedung itu telah dipasang alat rahasia, tidak terlalu sulit untuk menghancurkannya” sahut Siauw Ling. “Yang jadi persoalan bagi kita sekarang adalah andaikata gedung tersebut kita hancurkan. Apakah Djen Bok Hong tidak dapat membangun lagi sepuluh buah gedung seperti Sam kang Soe gie? orang itu licik dan berbahaya, perbuatannya jauh diluar perikemanusiaan, maka satu-satunya jalan adalah berusaha melenyapkan gembong iblis itu dari permukaan bumim setelah dia lenyap rasanya tidak sulit bagi kita untuk membasmi anak buahnya.”
“Memang tepat sekali ucapanmu itu, tapi gampangkah kita melawan apalagi membinasakan Djen Bok Hong?”
Mendadak Sang Pat melancarkan sebuah totokan kilat kearah lelaki yang bertindak sebagai kusir itu.
Ceng Yap Chin dapat mengikuti gerakan itu dengan jelas, ia jadi terperanjat, buru-buru tangan kanannya menyapu kearah urat nadi Sang Pat, bentaknya, “Sang heng, apa maksudmu?”
Tampak lelaki itu putar badan melancarkan sebuah pukulan kilat, kemudian sekali genjot badan melayang ketengah udara dan lenyap dibalik kegelapan.
“Oooh sayang…. sayang….” seru Sang Pat sambil geleng kepala.”
Ceng Yap Chinpun sudah menyadari apa yang telah terjadi, ia jadi melengak.
“Orang itu adalah….”
“Anggota perkampungan Pek Hoa San cung yang menyaru sebagai kusir.”
“Aah, kalau begitu murid partai kami yang menyaru sebagai kusir tentu sudah mengalami bencana?”
“Sekalipun tidak mati, paling sedik jalan darahnya telah tertotok!”
“Aaai…. pengalaman Sang heng benar-benar amat luas, siauwte merasa menyesal dan malu sendiri….”
Sang Pat tidak menanggapi ucapan tersebut ia kirim satu pukulan menghajar lubang penutup kereta setelah itu serunya, “Ayoh kita segera berangkat keluar dari kereta ini” sambil berkata ia loncat lebih dulu.”
Siauw Ling, Tu Kioe serta Ceng Yap Chin secara beruntun ikut meloncat keluar.
Tampaklah kereta tadi dengan cepatnya masih meneruskan larinya menuju kearah depan.
Memandang bayangan sang kereta yang lepas ditengah kegelapan, Sang Pat menghela napas panjang.
“Setelah kukatakan keluar sebenarnya banyak titik kelemahan yang kita dapatkan, bila Ceng heng perhatikan lebih seksama maka kaupun akan menemukan pula tanda-tanda yang mencurigakan….”
“Bagi siauwte rasanya kecuali memberikan raut wajahnya dengan cermat untuk mengetahui siapakah dia, rasanya tiada cara lain untuk menemukan tanda-tanda yang mencurigakan.”
“setelah kita naik kedalam kereta, tanpa mengucapkan sepatah katapun ia sudah kabur kekereta, hal ini merupakan kecurigaan yang pertama, kemudian siauwte melihat rute yang diambil adalah jalan gunung yang sepi, dalam hati aku lantas punya dugaan bahwa delapan puluh persen dia pasti mata-mata, maka aku lantas melancarkan serangan totokan, siapa tahu Ceng heng telah menghalangi tindakanku itu.”
“siauwte merasa amat menyesal atas kesalahanku itu.”
“Seandainya Ceng heng tidak menghalangi. Rasanya cayhe pasti akan menghalangi perbuatan saudara Sang” sela Siauw Ling. “Kesalahan yang tak disengaja ini apa gunanya disesalkan.”
Dalam pada itu Tu Kioe telah memeriksa keadaan disekeliling tempat itu. Ia jumpai tempat mana bukan saja sunyi dan sepi, bahkan dari kejauhan secara lapat-lapat terdengar deburan ombak menggulung ketepian, alisnya kontan berkerut.
“Aku rasa orang itu melarikan keretanya datang kemari. pasti bukannya tanpa disadari oleh alasan.”
“Benar, dia pasti mempunyai suatu maksud yang tertentu!”
Mendadak…. dari arah depan jalan berkumandang datang suara langkah manusia.
“Ada orang datang!”
Ceng Yap Chin segera mencabut keluar pedangnya.
“Mungkin orang itu telah balik kembali sambil membawa bala bantuan, bila kita berhasil tangkap merek. Aku rasa duduknya tidak sukar untuk diketahui.”
Rupanya setelah merasa menyesal karena ia menghalangi tindakan Sang Pat untuk menotok jalan darah mata-mata itu, sekarang ia berharap bisa memberi jasanya untuk menawan kembali orang tadi.
Tampak dua sosok bayangan manusia dalam waktu singkat telah tiba dihadapan beberapa orang itu.
Sekilas memandang Siauw Ling segera mengenali beberapa orang itu sebagai anggota perkumpulan Kay pang, sebab mereka memakai pakaian pengemis dan masing-masing membawa sebuah toya.
Setelah mengalami pengalaman pahit tempo dulu, Siauw Ling jauh lebih waspada terhadap setiap orang. Walaupun orang-orang itu memakai pakaian pengemis namun kewaspadaannya sama sekali tidak kendor.
Tampak pengemis yang ada disebelah kiri menegur, “Apakah kau adalah Siauw thayhiap?”
Sebelum si anak muda itu menjawab, Sang Pat telah tampil kedepan sambil bertanya, “Ada urusan apa?”
Pengemis itu memperhatikan diri Sang Pat kemudian sahutnya, “Aku sipengemis kecil mendapat perintah dari Soen tiangloo untuk mengundang Siauw thayhiap pergi menolong seseorang.”
“Menolong siapa?” tanya Siauw Ling tertegun.
“Empat pujangga besar dunia persilatan terjebak dalam perangkap Djen Bok Hong karena keadaan yang sangat memaksa Soen tiangloo serta Boe Wie Tootiang telah berangkat kesana untuk memberi bantuan, tapi karena takut kekuatan mereka tidak memadahi, maka kami segera diutus pergi kegedung Sam Kang Soe Gie untuk kabarkan kepada Siauw thayhiap agar segera pergi memberi bantuan!”
“Oooh, ternyata telah terjadi perubahan diluar dugaan” batin Sang Pat didalam hati. “Tidak aneh kalau tak seorang manusiapun datang menyambut kami….!”
Dalam pada itu terdengar Ceng Yap Chin telah menegur dengan nada dingin, “Bukankah kalian berdua diperintahkan untuk pergi kegedung Sam Kang Soe Gie? kenapa kamu sekalian tahu kalau kami berada disini.”
Setelah keteledorannnya mengakibatkan mata-mata musuh terlepas, kali ini jago muda dari partai Bu tong pay ini bertindak jauh lebih berhati-hati.
Pengemis berusia setengah baya itu tersenyum jawabnya, “Sewaktu kami tiba diluar gedung Sam Kang Soe Gie telah berjumpa dengan seorang tukang ramai, dialah yang memberi petunjuk kepada kami untuk menyusul kemari.”
“Ooh, orang itu pastilah Suma Kan” batin Siauw Ling. “Jelas mereka tidak berbohong” maka segera tanyanya, “Sekarang mereka berdua dimana?”
“Dalam kuil keluarga Loo sie!”
“Baik, harap kalian berdua suka membawa jalan buat kami.”
Kedua orang pengemis itu segera menggerakkan badannya berkelebat menuju kearah sebelah tenggara.
Begitulah keempat orang itupun dengan kerahkan ilmu meringankan tubuh menyusul dari belakang.
Setelah berjalan kurang lebih tujuh delapan li, mendadak kedua orang pengemis tadi berhenti.
Orang yang ada disebelah kiri segera menuding kearah bangunan rumah disebelah depan katanya, “Itulah kelenteng keluarga Loo sie!”
“Kalian tidak sekalian ikut kesitu?”
“Kami harus segera kembali keloteng Oen Hok Loo untuk menjalankan perintah lain” jawab kedua orang pengemis itu dengan hormat. “Lagipula Soen tiangloo telah melarang lami untuk ikut masuk kedalam kuil tersebut.”
Tanpa menanti jawaban dari Siauw Ling lagi, mereka segera berlali dari sana.
“Bagaimana? apakah kita perlu masuk kedalam?” tanya Siauw Ling kemudian.
“Rasanya kita harus masuk kedalam kuil itu, dan pakaian-pakaian pernyaruan kitapun rasanya sudah tak berguna lagi.”
Maka para jagopun melepaskan pakaian luar mereka kemudian meneruskan perjalanannya menuju kebangunan rumah itu.
Setelah menaiki undak-undakan yang terdiri dari tujuh tingkat, sampailah mereka didepan pintu kuil yang tertutup rapat, suasana dalam kuil itu sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, hal ini membuat hati mereka jadi tercengang, segera pikirnya, “Aneh, kenapa suasananya sepi? jangan-jangan empat pujangga besar dari dunia persilatan telah dicelakai orang?”
Berpikir demikian pintu kuil segera didorongnya kebelakang.
Kraak….! pintu besar itu terbuka lebar, dibalik pintu adalah sebuah halaman yang ditumbuhi oleh rumput ilalang, keadaannya kotor dan sama sekali tidak terawat.
Setelah melewati tanah ilalang itu sampailah mereka didepan sebuah ruangan dengan dua pintu.
Sang Pat segera berebut berjalan lebih dahulu didepan Siauw Ling, katanya, “Keadaan disini sedikit tidak beres, harap toako suka bertindak lebih hati-hati!”
Sambil berkata telapaknya bergerak menghantam pintu kayu dihadapannya…. duuk! serangan yang dilancarkan dengan sekuat tenaga ini membuat pintu itu terpentang lebar.
Suasana dalam ruangan gelap gulita, namun tidak terlihat juga tanda-tanda yang mencurigakan.
“Toako!” bisik Sang Pat. “Menurut laporan pengemis anak murid perkumpulan Kay pang tadi, Soen loocianpwee serta Boe Wie Tootiang telah tiba disini, kenapa sampai sekarang belum juga nampak gerak gerik mereka, lagipula empat pujangga besar dunia persilatan sudah lama mengasingkan diri dari dunia persilatan, meski tak pernah mencampuri urusan keduniawian namun ilmu silat mereka jauh lebih sempurna, sekalipun Djen Bok Hong berhasil mengurung mereka belum tentu dapat membinasakan mereka sekaligus, apa sebabnya merekapun tak kedengaran?”
“Benar, keadaan ditempat ini memang sangat mencurigakan….” sahut Siauw Ling dengan alis berkerut.
Setelah merandek sejenak ujarnya lagi, “Harap cuwi sekalian suka menanti sejenak disini, biarlah cayhe masuk kedalam lebih dahulu.”
“Biarlah siauwte yang akan membukakan jalan bagi toako!” sambung Tu Kioe cepat, tanpa menunggu persetujuan dari Siauw Ling lagi, ia berjalan lebih dahulu kedalam ruangan.
Siauw Ling tahu bahwa tindak tanduknya itu tidak lain lalu demi keselamatannya, ia tidak tega untuk menghalangi maksud baik orang, maka dengan cepat diapun menyusul dari belakang.
“Delapan depa setelah mereka berlalu kita baru menyusul” bisik Ceng Yap Chin. “Hati-hati dengan serangan senjata rahasia.”
Sesudah mengalami pertempuran sengit digedung sam Kang Soe Gie, Sang Pat telah menyadari bahwa musuh tangguh yang mereka hadapi sekarang adalah manusia-manusia sadis yang kejam, tidak berperikemanusiaan berakal cerdik serta berkepandaian silat tinggi. Tentu saja ia tak berani bertindak gegabah, dari dalam sakunya dia merogoh keluar senjata sie poa emasnya.
Ceng Yap Chin sendiri mengalihkan pedangnya ketangan kiri, sedang tangan kanannya mempersiapkan dua bilah pedang Chiet Siauw Kiam.
Sementara mereka berdua telah mempersiapkan diri, Siauw Ling serta Tu Kioe telah berada kurang lebih delapan depa jauhnya.
Begitulah dengan penuh kewaspadaan dan berhati-hati keempat orang itu perlahan-lahan bergerak kedalam, namun sedemikian jauh belum juga nampak sesuatu gerakan apapun.
Tu Kioe mengirim satu tendangan kilat menghajar pintu ditengah ruangan, hingga membuat dinding disekelilingnya bergetar keras.
Pintu itu meski kuat namun tak tertahan oleh tendangan Tu Kioe, diiringi suara keras segera terpentang lebar.
Setelah menerjang masuk kedalam ruangan, Tu Kioe membuat api sebagai penerangan.
Dibawah sorot cahaya obor, tampaklah ruangan itu kosong melompong tak nampak sesosok bayangan manusiapun. Hal ini membuat hati Tu Kioe menjadi mendongkol, makinya, “Pengemis-pengemis bau itu betul-betul manusia keparat kalau aku Tu Loo sam berhasil menemukan mereka kembali, pasti akan kusuruh mereka rasakan penderitaan yang paling hebat.”
Siauw Ling sendiripun merasaamat mendongkol ketika dijumpainya dalam ruangan itu sama sekali tidak tertinggal tanda-tanda berkelahi, pikirnya, “Entah, apa maksud tujuan kedua orang pengemis itu memancing kami kemari, seandainya dia adalah anak buah Djen Bok Hong, seharusnya setelah memancing kita kemari, sekitar ruangan ini pasti sudah dipersiapkan jebakan, tapi disini tiada pula jebakan entah apa maksudnya.”
Dalam pada itu Sang Pat serta Ceng Yap Chin pun telah tiba pula dalam ruangan.
“Apakah perbuatan mereka merupakan siasat memancing harimau turun gunung….” gumam Sang Pat sambil memandang kelangit.
Mendadak…. terdengar suara rintihan lirih berkumandang datang memecahkan kesunyian yang mencekam sekeliling tempat itu.
Air mata Tu Kioe berubah hebat, dengan cepat dia alihkan cahaya obor itu kearah mana berasalnya suara rintihan tadi.
“Siapa disitu?” bentak Siauw Ling.
“Aa…. aku…. aku…. sii…. sipengemis ci…. cilik.”
Siauw Ling merasa sangat mengenal suara tadi, segera teriaknya tertahan, “Apakah kau adalah saudara Peng?”
“Benar…. aku…. aku adalah Peng Im!”
“Dia ada dibelakang meja” bisik Tu Kioe.
“Biarlah aku yang menyambut dirinya” seru Siauw Ling sambil melampaui diri Tu Kioe dengan langkah lebar ia berjalan kebelakang meja kemudian menyeret keluar seseorang.
Tapi dengan cepat ia berdiri tertegun, sebab orang yang diseretnya keluar tadi memakai pakaian Boesu perkampungan Pek Hoa San cung.
“Siapakah kau?” bentak Siauw Ling.
“Peng Im” rupanya orang itu menderita luka parah, suasananya lemah dan lirih sekali.
Dari nada suara tersebut Siauw Ling dapat mengenali bahwa suara itu memang suaranya Peng Im, maka ia bertanya lebih jauh, “Kalau kau adalah saudara Peng, kenapa memakai pakaian boesu perkampungan Pek Hoa San cung?”
“Lukaku sangat parah dan tiada bertenaga untuk bicara…. cepat…. cepat kebelakang untuk menolong orang.”
“Menolong siapa?”
“Empat pujangga besar dunia persilatan serta Boe Wie Tootiang….”
“Sekarang mereka berada dimana?” Siauw Ling merasa amat terperanjat sekali.
“Tidak jauh dibelakang kuil….” bicara sampai disitu Peng Im jatuh tidak sadarkan diri.
Siauw Ling segera alihkan sinar matanya kearah Tu Kioe, ujarnya, “Kau tetap tinggal disini menjaga Peng heng. Gunakanlah tenaga dalammu untuk menyembuhkan luka dalam yang ia derita, sedang aku akan memeriksa keadaan belakang.”
Sambil berseru ia putar badan mengundurkan diri dari ruangan.
Ceng Yap Chin serta Sang Pat yang berdiri didepan pintu dapat mendengar pembicaraan itu dengan jelas, begitu mendengar suhengnya menemui kesukaran, tanpa mengundang diri Sang Pat lagi buru-buru ia menyusul dibelakang Siauw Ling.
“Tu Loo sam” pesan Sang Pat dengan suara lirih. “Setelah pengemis cilik ini rada baikan, bawalah dia meninggalkan tempat ini dan tunggulah kami dikedai penjual tahu.”
Tu Kioe mengangguk, sambil membopong tubuh Peng Im sigulung angin ia mengundurkan diri kesudut ruangan, disana ia salurkan hawa murninya untuk menguruti dada pengemis itu.
Sedangkan Sang Pat sendiri segera menyusul dibelakang Ceng Yap Chin.
Sementara itu Siauw Ling yang bergerak lebih dahulu, dalam sekejap mata sudah tiba dibelakang kuil.
Dibelakang kuil merupakan sebuah kolam yang besar, air beriak dibawah sorot bintang namun tak nampak sesosok bayangan manusiapun.
Siauw Ling jadi tercengang pikirnya, “Kalau kedua orang pengemis Kay pang itu mungkin bohong, tapi apakah sigulung Peng Impun membohongi aku?”
“Saudara Siauw!” terdengar Ceng Yap Chin berbisik dari samping. “Suhengku sekarang ada dimana?”
“Cayhepun sedang mencari!”
“Kecuali Djen Boh Hong telah menunjuk seseorang untuk berlatih menirukan logat bicara sisegulung angin Peng Im, rasanya tak mungkin ada orang mempunyai logat yang sama seperti dia” kata Sang Pat.
“Jadi orang itu pasti Peng Im?”
“Tak bakal salah lagi.”
“Peng Im adalah seorang enghiong, tidak nanti dia membohongi kita, ayoh kita cari lagi dengan seksama.”
“Sepanjang pandangan cuma air kolam kemana kita musti cari orang?” pikir Ceng Yap Chin.
Mendadak terdengar gelak tertawa yang sangat panjang berkumandang datang dari tengah kolam, suara itu serak dan dingin menyeramkan membuat orang mendengar jadi bergidik, seluruh bulu ruma pada bangun berdiri.
“Aah, Djen Bok Hong!” seru Siauw Ling.
“Sedikitpun tidak salah!” terdengar dari tengah kolam berkumandang datang suara sahutan.
“Orang ini benar-benar mempunyai banyak akal licik” pikir si anak muda itu didalam hati. “Entah bagaimana ia bisa berada ditengah kolam….?”
Sementara dalam hati berpikir demikian, diluaran ia telah berseru dengan nada dingin, “Bersembunyi didalam air bukan satu perbuatan yang sukar, rasanya tak berharga bagimu untuk main setan.”
“Apakah saudara Siauw ingin juga mengunjungi keatas sampan siauw heng….?” seru Djen Bok Hong bergema lagi.
Siauw Ling memandang lurus kedepan, ia rasa keadaan ditengah kolam gelap gulita tiada nampak bayangan manusia, maka sahutnya, “Kita sudah saling berjumpa muka, rasanya kaupun tak perlu main petak dengan diriku lagi….”
Bersamaan dengan selesainya ucapan itu, dari tengah kolam tiba-tiba muncul cahaya lampu disusul tampaklah sebuah sampan.
Perahu itu bentuknya aneh, seluruh kapal berbentuk persegi empat, berkelebatnya bayangan manusia diatas sampan kelihatan amat jelas sekali.
“Ooh kiranya begitu” tiba-tiba Sang Pat berbisik. “Setelah menghentikan sampan ditengah kolam lalu menggunakan kain minyak yang tebal untuk menutupi cahaya bintang dengan sendirinya keadaan mereka jadi amat samar. Hmm, sebelumnya tak sampai pikiranku kesitu sehingga dengan gampangnya berhasil dikelabuhi….”
Tampak Djen Bok Hong berdiri diujung geladak, serunya lantang, “Bagaimana kalau cuwi sekalipun dipersilahkan naik keatas sampan?”
“Aku rasa diatas sampan Djen Toa cungcu tentu sudah hadir banyak orang?”
“Haah…. haah…. hanya seorang pengemis tua, seorang toosu tua hidung kerbau serta empat orang tamu agung yang amat tersohor namanya dalam dunia persilatan walaupun mereka tak pernah muncul dalam Bulim.”
“Empat pujangga besar dunia persilatan?” tanya Siauw Ling.
“sedikitpun tidak salah, berkat bantuan orang-orang Kay pang ternyata ketajaman mata serta pendengaran saudara Siauw betul-betul hebat.”
“Heem, siauwte dengan senang hati ingin sekali berkunjung keatas sampan Djen toa cungcu!”
Diam-diam Siauw Ling mengukur jarak sampan dengan tepian. Ia rasa jarak sejauh lima enam tombak tidak gampang dilalui orang kalau tidak dibantu ditengah jalan, meski baginya dengan ilmu ginkang “Teng Peng Tok swie” masih sanggup untuk melewati jarak sebegitu jauh, tapi ia tak tahu apakah Sang Pat serta Ceng Yap Chin sanggup mengikuti jejaknya.
Karena berpikir demikian, ia lantas berseru dengan suara keras, “Apabila Djen Toa cungcu mau mengirim sampan untuk menyambut kami, hal ini jauh lebih bail lagi.”
“Harap saudara Siauw menanti sejenak!” habis berkata ia ulapkan tangannya.
Terdengar dayung membelah air, sebuah sampan kecil dengan cepatnya bergerak menuju ketepian.
“Harap kalian berdua hati-hati sedikit.” bisik Siauw Ling kepada Sang Pat berdua. “Makanan serta minuman yang ada diatas sampan jangan disentuh.”
Sementara itu sampan kecil tadi sudah tiba ditepi pantai.
Diatas sampan duduk dua orang lelaki berpakaian ringkas, meskipun badannya kekar namun tiada senjata tajam yang digembol.
“selamat datang Sam cungcu!” kata kedua orang lelaki itu sambil memberi hormat.
“Hmm, cayhe Siauw Ling sudah bukan Sam cungcu kalian lagi!”
“Toa cungcu berpesan agar hamba sekalian menyebut demikian, hamba tidak berani membangkam.”
Siauw Ling tidak menggubris kedua orang itu lagi, ia segera melangkah naik keatas sampan.
Sang Pat serta Ceng Yap Chinpun dengan cepat mengikuti dibelakang si anak muda itu.
Demikianlah kedua orang lelaki berbaju hitam itu segera mendayung sampan tadi menuju kearah perahu besar.
Djen Bok Hong yang tinggi besar dan bongkok itu dengan serius bediri diujung geladak, ketika sampan kecil bergerak mendekat, ia segera ulurkan tangannya kedepan.
“Samte baik-baikkah dirimu selama ini?” dia menyapa.
Siauw Ling berkelit kesamping lalu loncat naik keatas perahu.
“Aku tidak berani merepotkan diri Djen Toa cungcu!”
Ia mengerti bagaimana wataknya Djen Bok Hong yang keji dan tidak kenal malu. Ia takut dalam sentuhan jari-jari tangan mereka kemungkinan besar iblis itu melepaskan racun.
Sementara kemudian Ceng Yap Chin serta Sang Patpun telah meloncat naik keatas perahu membuntut dibelakang si anak muda itu.
Berhadapan dengan Djen Bok Hong gembong iblis yang paling disegani dalam dunia persilatan, hati ketiga orang itu sama-sama terasa berat, rasa was-was selalu menyelimuti benak mereka, karena mereka takut secara mendadak orang itu melancarkan bokongan.
perlahan-lahan Djen Bok Hong memutar tubuhnya dua sorot cahaya tajam memancar keluar dari matanya dan menatap wajah Siauw Ling tajam-tajam.
“Saudara Siauw!” katanya. “Aku merasa sikapmu terhadap diriku rupanya asing sekali.”
“Cayhe tidak berani terlalu meninggalkan derajatku.”
“Hmm, kau harus tahu bahwa kesabaran seseorang ada batasnya, kalau saudara terlalu memaksa diriku terus menerus, jangan salahkan kalau akupun akan melupakan hubungan persaudaraan kita tempo dulu.”
“Sudah berulang kali Djen Toa cungcu melancarkan serangan keji terhadap diriku, rasanya aku orang she Siauwpun tidak semestinya bertindak sungkan-sungkan lagi kepadamu.”
Djen Bok Hong mendengus dingin.
“Hmm! manusia yang tak tahu diri….” ia merandek sejenak, lalu ujarnya lagi. “Namun aku orang she Djen selamanya menganggap bahwa keputusan manusia jauh bisa menangkan takdir!”
“Kecerdikan Djen Toa cungcu melebihi manusia biasa, kepandaian silatmu tiada tandingan dikolong langit, mungkin saja kau mempunyai kemampuan itu!”
“Kau terlalu memuji, sahabat karibmu Soen Put shia serta Boe Wie Tootiang semuanya ada didalam ruang perahu, aku rasa saudara Siauwpun semestinya masuk kedalam ruang perahu untuk memeriksa keadaan mereka.”
JILID 26
Siauw Ling putar sinar matanya memandang kedalam ruangan,ia lihat Soen Put shia serta Boe Wie Tootiang duduk didekat meja perjamuan, disisi kiri kanan mereka masing-masing duduk dua orang kakek berbaju hijau.
Diatas meja hidangan lezat telah disiapkan, tapi keenam orang itu tetap duduk mematung disitu tanpa berkutik, jelas jalan darah mereka telah tertotok.
Shen Bok Hong mendongak dan tertawa terbahak-bahak.
“Haaa…. haaa…. saudara Siauw, mengapa kau tidak masuk kedalam?”
Siauw Ling tidak menjawab, kembali sinar matanya berputar menyapu sekeliling perahu ia lihat empat penjuru perahu itu tertutup oleh selapis kain horden, sedang pada arah utara terdapat sebuah pintu yang tertutup mungkin pintu itulah digunakan untuk keluar masuk.
Sang Pat segera menyerbu jalan paling depan katanya, “Biarlah siauwte yang membawa jalan!” sambil berkata ia melangkah masuk kedalam ruangan.
“Shen Toa cungcu, silahkan!” jengek Siauw Ling.
“Heee…. heee…. sejak kapan saudara Siauw berubah jadi begitu banyak curiga?”
“Berhubungan dengan diri Shen Toa cungcu, rasanya aku harus bersikap lebih hati-hati.”
Shen Bok Hong tidak berbicara lagi, diapun melangkah masuk kedalam ruangan.
Siauw Ling berjalan mengikuti dibelakang gembong iblis itu, sedangkan Ceng Yap Chin tetap tinggal diluar pintu untuk berjaga-jaga diri.
“Eeei? kenapa kau tidak ikut masuk kedalam ruangan?” tegur Shen Bok Hong sambil berpaling kearah jago muda dari Bu tong pay itu.
Dalam hati Ceng Yap Chin mempunyai perhitungan sendiri, setelah Siauw Ling serta Sang Pat masuk kedalam ruangan, bagaimanapun juga ia harus tetap tinggal diruangan perahu itu dan tidak boleh termakan hasutan Shen Bok Hong.
Maka ia lantas tersenyum.
“Cayhe rasa tinggal diluar ruanganpun sama saja.”
Siauw Ling mengerti maksud hati jago dari Bu tong pay itu, maka iapun lantas berkata, “Bagi manusia yang sudah pernah berhubungan dengan Shen Toa cungcu, siapa yang tidak was-was atas kelicikan serta kekejian hatimu?”
Shen Bok Hong tertawa dingin.
“Hmm…. jarak antara pintu ruangan tengah hanya beberapa depa saja seandainya mereka berdua terjadi suatu peristiwa dalam ruangan rasanya kau sendiripun tidak nanti bisa meloloskan diri.”
“Soal ini lebih baik tak usah Shen Toa cungcu pikirkan.”
Setibanya dalam ruangan, Siauw Ling alihkan sinar matanya menyapu sekejap wajah Soen Put shia serta Boe Wie Tootiang, kemudian katanya, “Keempat orang kakek berbaju hijau ini rasanya pastilah empat pujangga besar dunia persilatan yang sengaja kau undang datang?”
“Tidak salah, ketajaman pandangan saudara Siauw benar-benar luar biasa sekali.”
“Apakah mereka berenam sudah kau totok jalan darahnya?”
“Bukankah saudara Siauw memiliki kepandaian silat yang maha sakti? kenapa tak kau coba untuk membebaskan jalan darah mereka yang tertotok?”
Siauw Ling perlahan-lahan mendekati Soen Put shia, sesudah diperlakukan sejenak ia lantas menekan punggung pengemis itu dengan tangan kanannya, hawa murninya dengan cepat disalurkan kedalam tubuh orang itu.
Segulung hawa panas mengalir masuk kedalam isi perut Soen Put shia dan menggerakkan peredaran darah ditubuh pengemis tua itu, tampak air mukanya berubah jadi merah padam seakan-akan ada jalan darah yang tersumbat, selain itu tidak nampak ada luka lain yang diderita.
Siauw Ling segera tarik kembali telapak kanannya, kepada Shen Bok Hong dia berseru, “Mereka bukan tertotok oleh sejenis ilmu menotok jalan darah!”
“Lalu menurut pandanganmu, mereka sudah terluka oleh binatang apa?”
“Andai kata orang ini bukan terluka oleh ilmu menotok jalan darah pastilah mereka sudah terluka oleh kepandaian sejenis” pikir si anak muda itu, dia lantas menyahut, “Mungkin oleh pemutus nadi atau penutup jalan darah….”
Shen Bok Hong segera gelengkan kepalanya sambil tertawa.
“Kepandaian silat mempunyai aneka ragam yang tak terhingga banyaknya, meskipun saudara Siauw pintar, kau masih belum sanggup untuk menguasai segenap kepandaian yang ada dikolong langit.”
“Hmm, perduli kau Shen Toa cungcu telah melukai mereka dengan cara apapun, setelah cayhe datang kemari, aku pasti akan menolong mereka hingga lolos dari sini.”
“Sungguh besar amat perkataanmu, kini keenam orang itu telah berada disini semua, aku ingin lihat dengan cara apakah kau hendak menolong mereka?”
“Aku tak sanggup membebaskan beberapa orang dari pengaruh totokan, untuk menolong mereka semua rasanya harus berusaha untuk menaklukkan Shen Bok Hong kemudian baru paksa dia untuk membebaskan totokannya” pikir Siauw Ling dalam hati. “Tapi orang ini lihay dan licik, jelas diatas perahu ini telah dipersiapkan jago-jago lihaynya yang setiap saat bila diperintahkan untuk menyerang kami…. lalu apa yang harus kulakukan sekarang?”
Dia lantas berkata, “Shen Toa cungcu, kian tahun usiamu kian bertambah, aku rasa dalam soal waktu kau berada dalam keadaan yang tidak menguntungkan, sebaliknya bagi aku orang she Siauw, kian hari kekuatan tubuhku kian bertambah kuat sedang ilmu silatpun makin hari makin bertambah sempurna, bila kau hendak mengulur lagi waktu pertarungan diantara kita, maka kesempatan bagimu untuk merebut kemenangan semakin menipis, entah bagaimana menurut pendapat Toa cungcu sendiri?”
Shen Bok Hong tertawa hambar.
“Bagi aku orang she Shen, persoalan ini tidak penting untuk dibicarakan sekarang.”
Siauw Ling menoleh memandang sekejap kearah Soen put shia, lalu berkata lagi, “Shen Toa cungcu, seandaianya pada saat ini kau berhasil membinasakan aku orang she Siauw, bukankah sejak kini orang yang berani memusuhi dirimu makin hari makin bertambah kurang?”
“Heeeh…. heeeh…. apakah saudara Siauw ingin menjajal kepandaian silatku?”
“Mari kita berduel satu lawan satu, coba kita lihat kau yang bakal keok ataukah aku yang bakal binasa.”
“Hmm…. kecuali keadaan dan situasi terlalu mendesak sehingga tiada pilihan lain bagiku, aku tetap berharap agar kau suka kembali lagi kedalam perkampungan Pek Hoa San cung….”
Ia mendongak dan menghembuskan napas panjang, katanya lebih jauh, “Saudara Siauw, ucapanmu memang tepat sekali, aku memang semakin hari makin bertambah tua sekalipun akhirnya seluruh kolong langit berhasil jatuh ketanganku, siauw heng pun tidak bisa memimpin terlalu lama…. paling banter beberapa tahun, kemudian kursi pemimpin bakal terjatuh ketangan orang ini orang itu sudah tentu diri saudara Siauw.”
“Shen Toa cungcu, apabila kau sudah berhasil memahami keadaan tersebut lalu apa gunanya kau masih selalu saja berusaha menjagoi dunia persilatan dengan menggunakan tindakan serta cara serendah apapun….” kata Siauw Ling sambil melirik sekejap keadaan disekelilingnya.
Mendadak air muka Shen Bok Hong berubah hebat, hardiknya, “Tutup mulut, apa kau anggap aku sedang memberi nasehat kepada diriku sendiri?”
“Cayhe hanya bermaksud baik untuk menasehati diri Shen Toa cungcu agar jangan pikirkan cita-citamu yang mutlak itu lagi. Apa gunanya merajai Bulim dengan melakukan pelbagai perbuatan yang terkutuk….”
“Aaaai, kalau begitu rupanya kau memang selamanya tak akan sadar kembali” tukas Shen Bok Hong sambil menghela napas panjang. “Diantara kita berdua cepat atau lambat harus dilakukan suatu penyelesaian yang tepat.”
Siauw Ling ada maksud menjawab, tapi pada saat itulah Shen Bok Hong telah ayunkan tangannya bertepuk satu kali.
Pintu ruang dalam yang tertutup rapat mendadak terpentang lebar, seorang manusia aneh yang bersisik merah perlahan-lahan munculkan diri dalam ruangan itu.
Dengan cepat Siauw Ling geserkan badannya dengan punggung menempel pada punggung Sang Pat, sedang matanya dialihkan kedepan.
Tampak manusia aneh bersisik merah itu mempunyai bentuk yang sangat mengerikan, rambutnya yang merah terurai sebahu, kulit tubuhnya dari batas leher hingga kebawah penuh dengan sisik berwarna merah. Sepasang tangannya panjang sekali dengan kuku yang panjangnya kurang lebih tiga coen, selapis warna merah menyelimuti wajahnya sehingga hanya tertampak sepasang biji matanya yang tajam.
Sejak menjumpai Shen Bok Hong muncul diatas sampan, Siauw Ling telah menyadari bahwa keadaan diatas perahu pasti amat berbahaya, maka secara diam-diam ia sudah kenakan sarung tangan kulit naganya.
Sedang Sang Pat sendiri dalam hatipun sedang berpikir, “Sisik merah yang ada ditubuh manusia aneh ini entah terbuat dari bahan apa? aku harus menjajal sampai manakah daya kemampuan benda itu agar dalam pertarungan nantipun bisa mengetahui kehebatannya….”
Tangan kanannya segera diayun dan menyambit keluar sebutir intan permata yang bersinar tajam.
Intan termasuk benda keras yang melebihi kerasnya baja, empat sisi berbentuk runcing dan tajamnya luar biasa. Selama melakukan perjalanan, Sang Pat selain menggembol batu permata itu sebagai senjata rahasia, hanya karena berharga benda tadi maka bilamana bukan menjumpai keadaan yang terlalu berbahaya jarang sekali ia menggunakan benda tadi.
Berbeda sekali keadaan pada malam ini, begitu melancarkan serangan si sie poa emas ini telah menggunakan tenaga murninya hampir mencapai sepuluh bagian.
Dibawah sorot cahaya lilin tampak cahaya permata berkilauan, dengan telak benda tersebut bersarang didepan dada manusia aneh bersisik merah tersebut.
Blaaam! seakan-akan menimpuk diatas lapisan baja yang kuat, batu permata yang kerasnya melebihi baja itu secara tiba-tiba mental kembali dan bersarang diatas tiang kayu dekat pintu ruangan, saking kerasnya daya pental tadi sehingga membuat benda itu tertanam dalam sekali dalam tiang kayu itu.
“Hmm, barisan Ngo Liong Toa Tin!” dengus Siauw Ling dingin.
“Sedikitpun tidak salah, dia adalah salah satu diantara lima naga, bila Siauw thayhiap sanggup menaklukkan orang ini, rasanya belum terlambat kalau kita saling gebrakan belakangan saja.”
Tempo dulu sewaktu Siauw Ling dengan memimpin para jago yang terdiri dari Be Boen Hwie sekalian menerjang keluar dari perkampungan Pek Hoa San cung, sesudah mengobrak abrikan barisan pedang dan tameng yang terdiri dari delapan belas orang Kiam kong, kemudian menjebolkan kepungan beratus-ratus orang boesu berbaju hitam, dan diluar perkampungan mereka pernah dihadang pula oleh lima naga tersebut.
Tapi didalam kesempatan itu hanya dalam sebuah tusukan pedang saja ia telah berhasil merobohkan salah satu diantara manusia aneh itu, sehingga dalam sangkaran mereka barisan Ngo Liong Tia Ton yang digembar gemborkan sebagai kekuatan terdahsyat pihak Shen Bok Hong ternyata hanya begitu saja.
Tapi setelah kejadian itu Siauw Ling baru tahu sebabnya kelima ekor naga itu tak berkutik adalah disebabkan bantuan dari Lam Hong Giok yang secara diam-diam telah mengunci ilmu silat kelima orang itu dengan sejenis bubuk obat. Bagaimanakah kekuatan yang sesungguhnya, boleh dibilang Siauw Ling sendiripun belum pernah menjajalnya.
Kini setelah berhadapan dengan salah satu diantara kelima orang aneh itu si anak muda kita tak berani bertindak gegabah, hawa murninya segera dihimpun kedalam tubuh. Dengan tajam ia awasi gerak gerik manusia aneh sambil diam mencari titik kelemahan lawan.
Namun seluruh tubuh orang itu tertutup oleh sisik merah yang kuat, kecuali sepasang matanya boleh dibilang tiada tempat lain yang sanggup digunakan untuk menyerang.
“Ada satu persoalan aku harus memberitahu terlebih dahulu kepada kau Siauw thayhiap” terdengar Shen Bok Hong berkata. “Sisik merah yang dikenakan orang ini telah direndam didalam cairan racun yang teramat keji, asal badanmu tersambar hingga robek dan mengucurkan darah maka dalam waktu satu jam racu itu segera akan menyerang isi perutmu dan mengakibatkan kematian yang mengerikan, dikolong langit tiada obat penawar lain untuk menyelamatkan jiwamu.”
“Terima kasih atas pemberitahuanmu itu.”
Selama pembicaraan berlangsung, manusia aneh bersisik merah tadi selangkah demi selangkah sudah mendekati tubuh Siauw Ling.
Menyaksikan gerak gerik pihak lawannya sangat lamban, dalam hati pemuda kita lantas berpikir, “Dengan mengenakan sisik merah yang mengandung racun, aku pikir gerak geriknya pasti mengalami gangguan, seandainya bertarung ditempat yang terbuka mungkin aku bisa menghadapi serangan-serangannya dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuh tapi sampan ini sempit dan kecil tidak leluasa bagiku untuk bergerak seenaknya sendiri rupanya bilamana perlu aku harus menghadapi dengan kekuatan serangan telapakku.”
Tampak dua sorot mata manusia aneh itu dengan tajam mengawasi gerak gerik si anak muda itu, kemudian berhenti dan tak berkutik lagi.
Ceng Yap Chin yang melihat manusia aneh tadi berdiri saling berhadapan muka dengan Siauw Ling, bahkan jaraknya cukup untuk merobohkan musuh dalam sekali serangan, hatinya jadi gelisah pikirnya, “Terang-terangan kita sudah tahu kalau orang aneh itu mengenakan sisik beracun, apa sebabnya dia malah membiarkan musuhnya berdiri dala jarak begitu dekat dengan dirinya? bukan meloloskan senjata dia berdiri tenang, apakah orang she Siauw itu hendak menghadapi musuhnya dengan sepasang tangan telanjang belaka??”
Baru saja ingatan tersebut berkelebat lewat dalam benaknya, tiba-tiba Siauw Ling telah ayunkan tangan kanannya, laksana kilat dia melancarkan sebuah serangan dahsyat.
Kecepatan serangan ini bukan saja sukar diikuti dengan pandangan, bahkan membuat Shen Bok Hong yang menyaksikanpun diam-diam merasa sangat kagum.
Walaupun melihat datangnya ancaman yang langsung mengarah dadanya, manusia aneh bersisik merah itu sama sekali tak menghindar ataupun menangkis, dia angkat tangan kanannya dengan kelima jari tangannya yng berkuku panjang ia cengkeram bahu kiri lawan.
Siauw Ling ayun tangan kirinya menangkis datangnya ancaman itu, sementara serangan tangan kanannya dengan telak telah bersarang didada musuh.
Blaam….! ditengah satu ledakan keras, dada simanusia aneh bersisik merah itu sudah terhajar keras sehingga membuat badannya tergetar mundur tiga langkah kebelakang.
Shen Bok Hong yang melihat jalannya pertarungan itu segera tertawa terbahak-bahak.
“Haaah…. haaah Siauw thayhiap! sisik merah yang dikenakan orang itu mengandung racun yang sangat keji cepat tutup seluruh pernapasan serta jalan darahmu agar racun keji itu tak sampai mengalir kedalam jantung untuk menolong jiwamu, hanya satu jalan yang bisa kau tempuh yaitu menguntungkan tanganmu sebatas siku.”
“Heeeh…. heeh tak usah anda kuatirkan keselamatanku” jengek Siauw Ling sambil tertawa dingin.
Kembali tangannya diayun mengirim satu totokan kilat.
Ternyata dalam sangkaan pemuda kita seandainya serangan yang dia lancarkan berhasil menghajar tubuh lawannya, sekalipun tidak berhasil membinasakan orang itu sedikit banyak masih sanggup untuk merobohkannya hingga tak sadarkan diri, siapa sangka peristiwa yang kemudian terjadi jauh diluar dugaannya, manusia aneh bersisik merah itu hanya tergetar mundur tiga langkah saja kebelakang.
Siauw Ling sadar hanya dengan merobohkan manusia aneh ini terlebih dahulu ia baru bisa menghadapi Shen Bok Hong dengan segenap tenaga, maka dari itu menyaksikan lawannya belum roboh dengan cepat ia mengirim satu serangan lagi dengan ilmu jari Siauw Loo Sin ci yang diancam adalah jalan darah Ci Kiong hiat didada lawan.
Segulung angin tajam segera meluncur kedepan.
Setelah mengalami dua kali serangan berat kembali tubuhnya dilindungi oleh sisik merah yang kuat, namun ia rada tidak tahan juga. Sang badan mundur dengan sempoyongan, seakan-akan hendak roboh terjengkang keatas tanah.
Shen Bok Hong jadi sangat terperanjat pikirnya, “Beberapa bulan tidak berjumpa ternyata tenaga dalam Siauw Ling telah mengalami kemajuan yang demikian pesatnya…. bakat maupun kecerdikan orang ini betul-betul luar biasa, bila aku gagal membinasakan dirinya pada malam ini, mungkin dalam kesempatan lain aku bakal mengalami kesulitan besar.”
Berpikir demikian ia segera bersuit rendah.
Manusia aneh bersisik merah yang sedang sempoyongan itu begitu mendengar suitan rendah tiba-tiba mempertahankan badannya, dua sorot mata dengan seramnya mengawasi wajah si anak muda itu.
Melihat kekuatan andalannya masih sanggup untuk melanjutkan pertarungan Shen Bok Hong segera tertawa dingin.
“Siauw Ling untuk kesekian kalinya aku menasehati dirimu agar insyaf dan suka menggabungkan diri dengan pihak kami, tetapi kalau memang kau tak tahu diri dan selalu ingin memusuhi diriku…. Hmmm! terpaksa aku harus mengambil tindakan tegas pada malam ini juga.”
Telapak kanannya diayun dan langsung ditabokkan keatas tubuh lawannya.
Dengan perawakan tubuhnya yang tinggi besar ditambah sepasang tangannya yang luar biasa panjangnya, meski jarak antara dia dengan Siauw Ling terpaut empat depa namun dalam sekali jangkauan saja ia sudah sanggup untuk mencapai lengan belakang lawan.
Berhadapan dengan musuh tangguh yang menyerang dari depan serta belakang, membuat Siauw Ling tak bisa mengkonsentrasikan seluruh kekuatannya disatu pihak.
Dari depan dia diancam oleh manusia aneh bersisik merah yang selangkah demi selangkah berjalan mendekat dengan wajah penuh napsu membunuh, sedangkan dari belakang Shen Bok Hong telah melancarkan serangan kilat.
Meski Siauw Ling tahu bahwasanya tenaga kweekang dari Shen Bok Hong amat sempurna, tetapi ia tak mungkin bisa putar badan menghadapi dirinya, maka satu-satunya jalan adalah menyalurkan hawa murni Kiam Ciang Khieng untuk melindungi badan dan siap menerima sebuah pukulan mautnya, sementara kekuatan yang sebenarnya siap digunakan untuk merobohkan manusia aneh bersisik merah itu.
Dalam pada itu Sang Pat yang melihat Shen Bok Hong secara tiba-tiba melancarkan serangan kearah Siauw Ling, meski ia sadar bukan tandingannya namun ia tidak memperdulikan sampai kesitu. Tangan kanannya segera diayunkan kedepan, diikuti senjata sie poa emasnya langsung menerjang sikut kanan gembong iblis yang amat lihay itu.
Persendian merupakan tempat yang terlembek untuk membalaskan diri Siauw Ling dari ancaman bahaya, terpaksa Sang Pat menyerang titik kelemahan tersebut.
Terdengar Shen Bok Hong tertawa dingin, mendadak ia putar tangan kirinya melancarkan sebuah sentilan…. dukk, serangan tadi bersarang telak diatas senjata Sang Pat.
Sang loo toa dari sepasang pedang chiu ini hanya merasakan sie poa emasnya mendadak meloncat keatas seperti mau terlepas dari genggaman, hatinya terkesiap, segenap ia kerahkan untuk membetotnya kembali kebawah, setelah bersusah payah ia baru berhasil mempertahankan senjata andalannya itu tidak sampai mencelat keudara.
Tampak cahaya berkelebat membelah angkasa dua titik cahaya putih laksana kilat menyambar kearah manusia aneh bersisik merah.
Ternyata Ceng Yap Chin telah melepaskan dua bilah pedang “Chiet Siuw Kiam” untuk memperingati jalan maju orang aneh itu.
Setelah menghajar miring senjata sie poa emas dari Sang Pat dengan ilmu jari saktinya, Shen Bok Hong melanjutkan serangan tangan kanannya mencengkeram si anak muda.
Tetapi sebelum telapaknya menyentuh diatas bahu lawan, mendadak ia merasa ada selapis tenaga tak berwujud menghadang serangan selanjutnya, hal ini membuat ia jadi terperanjat dan segera katanya, “Hawa khiekang pelindung badan!”
Hawa murninya segera diperlipat ganda laksana sebilah golok telapak kanannya dibabat makin cepat kebawah.
Hawa khiekang pelindung badan yang berhasil dicapai Siauw Ling baru mencapai taraf permulaan. Jago kangouw pada umumnya sulit untuk melukai dirinya, tapi bagi jago lihay seperti Shen Bok Hong yang memiliki tenaga kweekang sempurna sudah tentu Siauw Ling masih belum sanggup menandinginya.
Terasa segulung tenaga tekanan yang amat berat menjebol pertahanan hawa khiekang perlindung badannya langsung menghajar keatas bahu, membuat tubuh bagian atasnya terasa amat sakit dan kaku seakan-akan dibabat orang dengan golok.
Sadarlah si anak muda itu bahwa ia sudah terluka parah, meskipun tulang bahunya tak sampai hancur sedikit banyak pasti sudah parah jadi beberapa bagian.
Namun sebagai manusia berwatak keras, ia tetap gertak gigi menahan sakit, sang badan segera geser tiga depa kesamping.
Karena tak mendengar jeritan tertahan dari si anak muda itu, Shen Bok Hong tak tahu kalau lawannya berhasil dilukai atau tidak, tapi ia tahu bahwa hawa khiekang pelindung badan lawan berhasil dijebolkan dan serangan itu bersarang telak dibahu musuh.
Kendati begitu diam-diam telapak kanannya terasa sakit dan kaku juga termakan oleh tenaga pental dari khiekang pelindung badan si anak muda itu, untuk beberapa saat seluruh lengan itu tak bisa digunakan lagi.
Perubahan ini terjadi dalam waktu sekejap mata, dan siapapun tak menyangka akan kehebatan masing-masing pihak.
Terdengar suara bentrokan nyaring bergema diudara, dua bilah pedang Chiet Siuw Kiam yang dilepaskan Ceng Yap Chin telah bersarang dibahu manusia aneh bersisik merah itu.
Walaupun manusia aneh itu mempunyai sisik tebal pelindung badan, namun setelah badannya termakan gempuran dahsyat dari Siauw Ling, meskipun tak sampai jatuh pingsan seketika itu juga isi perutnya telah terluka parah, dua bilah pedang yang disambit Ceng Yap Chin sama sekali tak terhindar olehnya…. semua serangan bersarang telak diatas badannya.
Pedang Chiet Siuw Kiam milik Ceng Yap Chin ini terbuat dari baja berusia seribu tahun dan khusus digunakan untuk menandingi hawa khiekang orang.
Kendati tajam dan luar biasa, sayang pedang itu masih belum sanggup juga untuk menembusi sisik merah diatas tubuh orang aneh itu, setelah berdenting nyaring pedang tadi segera rontok keatas tanah.
Sang Pat segera membentak keras, sie poa emasnya dengan jurus “Long Ciong Ciauw Gan” atau gulungan ombak menghantam tubuh Shen Bok Hong.
Pada waktu itu lengan kanan gembong ini sedang kaku dan tak bisa digunakan, terpaksa ia mengingos kesamping sambil ayun tangan kirinya melancarkan satu babatan.
Melihat serangannya tidak mengenai pada sasaran Sang Pat mempersiapkan serangan berikutnya, tapi saat itulah angin pukulan Shen Bok Hong telah melanda tiba.
Tampak sekilas cahaya tajam berkelebat lewat, sebilah pedang tahu-tahu meluncur tiba dari bawah lengan kiri Shen Bok Hong langsung membabat keatas.
Ternyata orang yang melancarkan serangan Ceng Yap Chin yang sedang menyerbu datang.
Buru-buru Shen Bok Hong merendahkan tangan kirinya kebawah, setelah lolos dari sisi samping kembali ia lancarkan satu pukulan hebat.
Perubahan jurus ini dilakukan dengan kecepatan bagaikan kilat, tak mungkin bagi Ceng Yap Chin untuk menghindarkan diri lagi, terasa segulung angin dahsyat mendorong badannya kebelakang hingga mendesak ia harus loncat keruang luar.
Shen Bok Hong tertawa seram.
“Siauw Ling diatas sampan inilah tulang belulangmu bakal dikuburkan….”
Belum habis dia berbicara mendadak terdengar suara gemerincingan nyaring…. Criing! criing! diikuti segenggam cahaya emas berkelebat membelah angkasa menyerang manusia aneh bersisik merah itu.
Dalam pada itu manusia aneh tadi berhasil memaksa Siauw Ling mundur kesudut ruang perahu, sepuluh jari tangannya yang berkuku panjang laksana cakar naga perlahan-lahan menyambar tubuh si anak muda itu.
Terdesak oleh keadaa yang amat mendesak, terpaksa Siauw Ling harus menahan rasa sakit pada bahu kanannya, ia bersiap sedia menggunakan telapak kirinya untuk mengirim satu pukulan dahsyatnya, meski akhirnya ia sendiri mati tersambar oleh kesepuluh jari lawan, namun serangan itu sedikit banyak pasti akan membinasakan lawannya.
Disaat itu hendak beradu jiwa itulah segenggang cahaya emas tadi meluncur datang.
Terdengar manusia aneh bersisik merah itu meraung aneh, sepasang lengannya yang siap mencengkeram tubuh Siauw Ling tiba-tiba menutupi mata sendiri, setelah bergetar akhirnya ia roboh terjengkang keatas tanah.
Lolos dari bahaya maut Siauw Ling berdiri termangu-mangu, sementara dari kejauhan sayup-sayup kedengaran irama khiem yang lirih dan bernada sedih berkumandang tiba.
Mendadak Shen Bok Hong membentak keras ia ayun tangan kirinya menghajar tubuh Sang Pat hingga jangkir balik, kemudian loncat kedepan menginjak dada manusia aneh tadi dan sekali sambar sambil mengepit tubuh orang tadi ia meluncur kedepan pintu sampan dan melayang ketepian.
Beberapa loncatan itu dilakukan dengan gerakan cepat dan sehat, meskipun Ceng Yap Chin berjaga-jaga diatas geladak namun ia tak sanggup menghalangi jalan pergi gembong iblis itu.
Haruslah diketahui, setelah ia terdorong oleh hawa pukulan Shen Bok Hong hingga terdesak keluar dari ruangan tadi, walaupun tidak sampai terluka parah tetapi isi perutnya telah goncang oleh getaran hawa serangan musuh saat itu diam-diam ia sedang mengatur pernapasan untuk menenangkan pergolakan tersebut.
Oleh karena itn meski gembong iblis tadi berkelebat lewat disisinya, namun ia tak mampu untuk menghalangi kepergian orang.
Padahal dalam kenyataan, dengan kepandai an silat yang dimiliki Shen Bok Hong dewasa ini, walaupun Geng Yap Chin tidak ter-luka, iapun belum mampu untuk menghalangi jalan pergi orang tersebut.
Memandang bayangan Shen Bok Hong yang lenyap ditengah kegelapan, Siauw Ling seolah-olah baru bangun dari impian buruk berdiri termangu-mangu disitu pikirnya, “Ooh, sungguh berbahaya…. sungguh berbahaya…. andaikata Shen Bok Hong mengirim satu pukulan kearahku dikala berlalu tadi, aku pasti sudan mati konyol diujung telapaknya….”
Teringat akan mara bahaya yang baru saja mengancam jiwanya, diam-diam si anak muda itu bergidik sendiri, bulu kuduknya berdiri sedang keringat dingin mengucur keluar dengan derasnya.
Menanti ia teringat kembali akan irama Khiem yang sayup-sayup kedengaran berkumandang datang tadi, suasana telah kembali dalam kesunyian yang mencekam….
Bagaimanapun juga Sang Pat jauh lebih berpengalaman dari Siauw Ling, setelah mara bahaya berlalu ia lalu merasakan keadaan yang tidak beres, bisiknya lirih: “Toako ayoh cepat kita tolong orang itu!”
“Ehm, kita harui segera membebaskan jalan darah keenam orang itu….” sahut Siauw Ling sambil memandang sekejap kearah keempat orang kakek berbaju hijau itu serta Soen Put Shia dan Boe Wie Tootiang.
“Tak usah, kita tolong dulu mereka berenam ketepi seberang kemudian baru usahakan untuk membebaskan jalan darah mereka yang tertotok.”
Seraya berkata ia segera mengempit dahulu dua orang kakek berbaju hijau itu.
Siauw Ling pun tak banyak bicara lagi. Ia segera mengempit tubuh Soen Put shia serta Boe Wie Tootiang menyusul dibelakang dan terakhir Ceng Yap Chin mengempit dua orang kakek berbaju hijau lainnya.
Setibanya diatas geladak, tampak depan mereka hanya terbentang air kolam, sampan kecil tadi dipakai oleh Shen Bok Hong untuk menyebrang ketepian.
Mereka bertiga sama-sama tak kenal ilmu berenang, melihat gulungan air disekeliling mereka, Siauw Ling sekalian jadi tertegun dan berdiri termangu.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya si anak muda itu sambil menghela napas panjang.
“Kolam ini tidak begitu luas lagi pula jaraknya beberapa tombak, mari kita terjun saja kedalam air dan berjalan ketepian, makin cepat baik.”
“Kenapa?” tanya Ceng Yap Chin tercengang.
“Aku punya dugaan diatas perahu ini sudah diatur suatu jebakan lihay….”
“Kalau begitu mari kita segera berlalu dari sini!”
Sambil mengempos tenaga si anak muda itu siap meloncat keair, tapi mendadak ia lihat Sang Pat meletakkan kembali tubuh kedua kakek berbaju hijau tadi keatas tanah kemudian menjebol dua buah pintu dan diceburkan kedama air.
Si anak muda itu segera mengerti apa gunanya pintu-pintu tadi,ia loncat lebih dahulu kebawah, setelah meletakkan tubuh Boe wie Tootiang dan Soen Put shia diatas belahan pintu tadi, ia sendiri menceburkan diri kedalam air.
Sang Pat serta Ceng Yap Chin pun secara beruntun loncat kebawah, ternyata enam tubuh jagoan itu tidak sampai menenggelamkan kedua belah pintu tadi, maka merekapun lantas bergerak ketepian.
Memandang bajunya yang basah kuyup oleh air kolam diam-diam Ceng Yap Chin melirik sekejap kearah perahu persegi ditengah kolam, pikirnya, “Bodoh amat cara kita menyeberang ketepian, andaikata kita bisa sedikit menahan diri, keadaan tak akan sedemikian mengenaskan….”
Belum habis dia berpikir terdengar dua ledakan dahsyat menggema diatas sampan tersebut, perahu tadi segera terpecah belah jadi beberapa bagian sementara api berkobar dengan hebatnya.
Dalam sekejap mata seluruh benda yang ada diatas perahu itu sudah terjilat oleh api, kebakaran hebatpun memusnahkan perahu tersebut dalam sekejap mata.
Menyaksikan peristiwa tersebut dalam hati Ceng Yap Chin jadi malu sendiri, ujarnya sambil memandang kearah Sang Pat, “Andaikata Sang hng tidak cermat memeriksa keadaan diatas perahu itu dan buru-buru tinggalkan tempat tersebut, niscaya kita pada saat ini sudah mati tertelan ditengah lautan api….”
“Ooh, itulah namanya rejeki kita, takdir belum menetapkan kita harus mati maka kitapun terhindar dari malapetaka…. itu belum terhitung seberapa….”
Sedang Siauw Ling segera menghela napas.
“Ditinjau dari keadaan demikian, tidak cukup bagi seseorang untuk berkelana dalam dunia persilatan hanya mengandalkan ilmu silat belaka, bila tiada kecerdasan otak yang tajam untuk mempertahankan hidupnya lebih lama….”
“Mara bahaya sudah lewat rasanya sekarang kita harus berusaha untuk membebaskan jalan darah keenam orang ini” ujar Sang Pat setelah memandang sekejap wajah Soen Put shia serta Boe Wie Tootiang. “Selama hidup empat pujangga besar dunia persilatan tak pernah terlibat dalam urusan dunia kangouw sedang orang Bulimpun kebanyakan tidak ingin mengganggu mereka, dan kini setelah Shen Bok Hong gagal mencelakai jiwa mereka berempat, andaikata kita bisa menolong mereka berarti pula pihak perkumpulan Pek Hoa San cung telah bertambah dengan empat orang musuh tangguh!”
“Aku curiga Shen Bok Hong bukan hanya menotok jalan darah mereka berenam saja.”
“Maksud siauw thayhiap….??” tukas Ceng Yap Chin dengan hati terperanjat.
“Maksud cayhe disamping Shen Bok Hong telah menotok jalan darah mereka berenam mungkin iapun sudah berbuat sesuatu ditubuh mereka. Mampukah kita selamatkan mereka hingga kini masih jadi satu persoalan.”
“Maksud toako, kemungkinan besar Shen Bok Hong telah meracuni keenam orang itu?”
“Sedikitpun tidak salah.”
Ia merandek sejenak, kemudian terusnya, “Ditinjau dari situasi pertarungan diatas sampan tadi, boleh dibilang posisi kita teramat berbahaya, andaikata tiada orang yang membantu secara diam-diam mungkin siauwte sudah terluka diujung jari tangan manusia aneh bersisik merah itu. Sisik merah yang dikenakan betul-betul sangat keras dan tidak mempan terhadap senjata, ia sulit untuk dihadapi. Aaaai…. perkataan Giok Lan serta Kiem Lan sedikitpun tidak salah. Lima naga dari Shen Bok Hong merupakan manusia beracun yang paling dulit dihadapi, yang kita jumpai dimalam ini hanya seekor naga belaka, andaikata lima naga muncul bersama, rasanya tak usah Shen Bok Hong turun tangan sendiripun kita bertiga tak nanti bisa lolos dari perahu itu dalam keadaan selamat.”
“Lalu siapakah yang telah membantu kita secara diam-diam?” tanya Sang Pat setelah termenung sebentar.
“Siauw heng sendiripun kurang begitu paham dengan kejadian tersebut, rupanya orang itu telah melukai sepasang mata manusia aneh bersisik merah itu dengan senjata rahasia sebangsa jarum kecil.”
“Seandainya ia menggunakan senjata rahasia sebangsa jarum, maka orang itu semestinya berada pada jarak tiga tombak dari kita.”
“Memang seharusnya demikian tapi ternyata kita semua tak berhasil mengetahui jejaknya.”
Sinar mata Sang Pat berputar sekejap kepada jago muda dari Bu tong pay ujarnya, “Ceng heng, bukankah kau selalu berjaga diatas geladak, apakah kau berhasil menemukan sesuatu tanda yang mencurigakan?”
“Sungguh menyesal sekali, siauwtepun tidak berhasil menemukan tanda-tanda yang mencurigakan.”
“Apakah toako masih ingat dengan arah datangnya jarum emas itu?”
“Menurut ingatan siauw heng rasanya jarum emas itu disambit masuk lewat pintu depan ruangan.”
“Andaikata ada orang melepaskan senjata rahasia dari atas geladak aku orang she Ceng yakin tak akan lolos dari pengawasan.”
Siauw Ling termenung untuk berpikir sebentar, kemudian tanyanya lagi, “Apakah Ceng heng pernah mendengar suara yang aneh?”
“Tatkala Siauw heng sedang bertarung melawan manusia aneh bersisik merah itu, cayhe rupanya mendengar sayup ada irama khiem yag berkumandang datang.”
“Nah, itulah dia. Ketika suhengmu serta Loocianpwee berjumpa dengan Shen Bok Hong serta para jago ditepi telaga, disaat pertarungan hampir meledak tiba-tiba terdengar pula irama khiem mengalun datang, begitu mendengar alunan irama musik tadi Shen Bok Hong segera melarikan diri terbirit-birit. Kemudian suhengmu Soen Loocianpwee pernah membicarakan persoalan itu dengan diriku menurut mereka irama musik itu mirip dengan gabungan musik yang dimainkan oleh seruling dan khiem, dan malam ini kembali kita dengar alunan irama khiem tersebut sedang Shen Bok Hong untuk kesekian kalianya melarikan diri terbirit-birit, itu menandakan kalau gembong iblis itu pasti jeri terhadap sipemain khiem.”
“Ehmm, pendapat Siauw toako memang tepat sekali” Sang Pat mengangguk membenarkan. “Cuma irama musik yang siauwte dengar malam ini rupanya hanya permainan khiem belaka.”
“Benar, memang tiada gabungan irama seruling!”
“Entah siapakah yang mempunyai kemampuan tersebut sehingga bisa memaksa seorang gembong iblis melarikan diri terbirit-birit?”
“Siauw heng curiga segenggam jarum emas itu disambitkan oleh sipemain khiem tersebut.”
Ia merandek sejenak lalu tambahnya, “Ia selalu bersembunyi untuk membantu kita secara diam-diam, bahkan berulang kali mempermainkan orang lalu suruh aku menolongnya, contoh seperti Lam Hay Ngo Hiong…. rupanya orang itupun bermusuhan dengan diri Shen Bok Hong!”
“Yang aneh apa sebabnya ia tak mau berjumpa dengan kita orang?”
Siauw Ling termenung, bibirnya bergetar mau mengucapkan sesuatu tapi akhirnya dibatalkan kembali.
Ceng Yap Chin sangat menguatirkan keselamatan suhengnya, tiba-tiba ia berseru, “Siauw heng, Soen Loocianpwee serta suhengku adalah orang-orang yang berpangalaman serta mempunyai akal cerdik, andaikata kita bisa bebaskan jalan darah mereka yang tertotok mungkin mereka bisa membantu kita untuk memecahkan teka teki ini.”
“Pendapat Ceng heng sedikitpun tidak salah, hanya saja cayhe merasa tipis sekali harapan kita untuk menolong mereka. Tapi bagaimanapun juga kita harus mencobanya.”
“Kalau begitu biarlah siauwte mencobanya lebih dahulu, bila tidak berhasil barulah Siauw heng yang mencoba.”
“Tempat ini tidak leluasa bagi kita untuk turun tangan” sela sang Pat cepat. “Mari kita menuju kekuil keluarga Loo sie lebih dahulu.”
Sambil membopong kakek berbaju hijau itu, ia berlalu lebih dahulu.
Dalam waktu singkat mereka sudah tiba didalam kuil, setelah membaringkan keenam orang tadi keatas lantai, Sang Pat berkata, “Baiklah kuperiksa dahulu keadadan disekeliling tempat ini!”
“Silahkan Sang heng!” seru Ceng Yap Chin sementara telapaknya telah bekerja cepat menguruti seluruh tubuh Boe Wie Tootiang.
Siauw Ling memperhatikannya dari samping, mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa.
Tampak Boe Wie Tootiang tetap pejamkan matanya rapat-rapat dan sama sekali tak berkutik, sepertanak nasi lamanya Ceng Yap Chin berusaha namun toosu tua itu tetap tidak sadar.
Akhirnya jago muda dari Bu tong pay ini berhenti mengurut, sambil menyeka keringat dingin yang membasahi wajahnya dia berkata, “Mungkin jalan darah mereka tertotok oleh sejenis kepandaian aneh, siauwte tak sanggup menolong mereka, terpaksa kini harus merepotkan Siauw thayhiap!”
“Aaai, mungkin siauwte sendiripun tidak sanggup!”
Ia lantas berjongkok disisi tubuh toosu tua itu, perlahan-lahan telapak kanannya ditempelkan pada punggung dekat tulang tengkuk, kemudian hawa murninya disalurkan keluar menerjang masuk lewat jalan darah Beng Boen Hiap.
Beberapa saat kemudian Siauw Ling tarik kembali telapak kanannya, sementara tangan kiri laksana kilat melancarkan totokan menabok diatas empat buah jalan darah penting ditubuh Boe Wie Tootiang.
Siapa sangka toosu tua dari partai Bu tong ini tetap tak berkutik sama sekali, keadaan tetap seperti sedia kala.
Akhirnya si anak muda itu menghela napas panjang.
“Aaai…. tak bisa jadi, rupanya kita tak sanggup menyelamatkan mereka!”
Dalam pada itu Sang Pat sudah menyelinap masuk kembali kedalam ruangan tengah tangannya menekan dada Boe Wie Tootiang dan memeriksa denyutan jantungnya, kemudian berkata, “Jangan kuatir, mereka masih hidup!”
Siauw Ling tertawa getir.
“Cukup ditinjau dari keadaan Boe Wie Tootiang, dalam tubuhnya terdapat beberapa buah nadi yang tidak lancar” katanya. “Entah Shen Bok Hong telah menggunakan cara apa yang untuk menguasai mereka sehingga kami tak sanggup membebaskannya.”
“Ilmu menotok jalan darah dari pelbagai partai berbeda satu sama lainnya, ada pemutus urat, ada penggetar nadi dan ada pula membabat jalan darah, asal napas mereka belum putus rasanya masih ada harapan untuk ditolong. Toako kaupun tak usah gelisah, mari kita perlahan-lahan mencari upaya untuk menolong mereka.”
“Seandainya jalan darah mereka berenam tak sanggup kita bebaskan, bukankah kita harus berjalan sambil membopong mereka?”
Sementara Sang Pat siap menjawab, mendadak terdengar irama seruling berkumandang datang.
Walaupun suara seruling itu halus dan ampuk tapi dalam pendengaran beberapa orang laksana guntur membelah bumi disiang hari bolong, membuat mereka bersama-sama jadi tertegun.
Siauw Ling goyangkan tangan kanannya melarang mereka berdua berbicara, sedang perhatiannya dipusatkan untuk mendengar alunan suara tersebut.
Terdengar irama seruling itu penuh mengandung nada sedih yang memilukan hati, bergema ditengah kesunyian malam yang mencekam membuat hati setiap orang ikut tergoyah.
Tiba-tiba permainan seruling itu terpotong ditengah jalan, irama merdu yang megalun diangkasapun perlahan-lahan membuyar keempat penjuru.
Ceng Yap Chin menghembuskan napas panjang, bisiknya, “Ooh, pedih amat permainan seruling orang itu, iramanya penuh dengan keluhan serta kepedihan yang menghancur lumatkan hati orang!”
“Suara seruling itu walaupun ringan dan mengalun tipis diudara tapi kuat dan nyaring kedengaran dalam setiap pendengaran jelas orang yang meniup seruling itu adalah jago lihay dari dunia persilatan, karena hanya manusia lihay saja yang sanggup memancarkan suaranya sedemikian nyata” kata Sang Pat memberikan pendapatnya.
“Benar dimana irama khiem berhenti irama seruling segera menyambung dari belakang. Jelas jago lihay yang memainkan khiem serta seruling itu pasti berada disekitar tempat ini.”
Satu ingatan mendadak berkelebat dalam benak Sang Pat, ujarnya, “Irama khiem berkumandang lebih dahulu disusul oleh irama seruling, bukankah itu berarti bahwa seruling tak pernah meninggalkan khiem.”
Belum habis dia berkata mendadak irama khiem mengalun kembali diangkasa, beberapa bait syair telah lewat irama khiem tadi bergema lagi memainkan irama lain.
Ketika didengarkan lebih seksama maka terdengarlah permainan khiem itu seolah-olah sedang mengisahkan satu cerita yang penuh dengan kepedihan serta kesedihan.
Tanpa sadar baik Siauw Ling maupun Sang Pat sekalian terpengaruh oleh permainan khiem itu, mereka merasakan hati kecil masing-masing tersumbat oleh kepedihan yang sangat sehingga air mata ikut bercucuran.
Mendadak irama khiem itu berhenti.
Siauw Ling serta Sang Pat sekalian bagaikan baru sadar dari impian, tanpa terasa masing-masing menyeka air mata yang membasahi wajah masing-masing.
Sang Pat menghembuskan napas panjang katanya, “Aku Sang loo jie kecuali waktu bersembahyang didepan layon ibuku pernah menangis satu kali. Boleh dibilang kali ini merupakan kedua kalinya aku mengucurkan air mata.”
“Siauwte sendiripun mengucurkan air mata karena terpengaruh oleh irama khiem tersebut” sambung Ceng Yap Chin.
“Permainan khiem tersebut betul-betul membuat hati orang jadi sedih, entah siapa yang memainkan irama tersebut?” bisik Siauw Ling.
Suasana hening untuk beberapa saat lamanya Ceng Yap Chin melirik sekejap kearah suhengnya, tiba-tiba ia berkata kembali, “Bilamana ditempat ini tak ada enam orang yang terluka. Malam ini juga aku ingin pergi mencari orang yang memainkan khiem itu.”
Mendadak irama seruling berkumandang lagi diangkasa.
Permainan seruling kali ini kedengaran jauh lebih sedih dan memilukan hati orang.
“Aku akan pergi melihat siapakah mereka” bisik Siauw Ling dengan alis berkerut.
“Toako akan pergi seorang diri??”
“Disini ada enam orang terluka, sudah tentu kita tak boleh tinggalkan mereka tanpa mengurusi, lebih baik kalian berdua tetap tinggal disini saja, biar aku yang pergi seorang diri.”
“Andai kata toako berjumpa dengan musuh tangguh segera bersuitlah panjang sebagai tanda, kami sekalian akan segera berangkat kesitu untuk memberi bantuan.”
Siauw Ling termenung sebentar lalu berkata, “Seandainya orang yang meniup seruling dan bermainan khiem itu ada maksud memusuhi kita, tak nanti mereka akan selalu membantu kita orang….” ia merandek sejenak lalu sambungnya, “Suhuku pernah berkata kepadaku, setiap manusia yang memiliki kepandaian sakti kebanyakan mempunyai tabiat serta tingkah laku yang kukoay, seandainya kita berhasil menemukan mereka mungkin malah akan menggusarkan hati mereka seandainya ia sampai melukai diriku kendati kamu berdua menyusul kesanapun percuma sebab kalian tak akan bisa membantu diriku utnuk kebaikan kita semua maka begini saja, seandainya dalam waktu satu jam cayhe belum kembali juga maka kalian berduapun tak usah tinggal terlalu lama lagi disini, harap membawa Soen Loocianpwee sekalian pergi ketempat yang telah dijanjikan.”
Sang Pat masih ingin mengucapkan sesuatu tapi dengan langkah lebar Siauw Ling telah berjalan keluar dari ruangan.
Pada waktu itu awan gelap telah menyelimuti angkasa. Suasana gelap gulita sukar melihat kelima jari tangan sendiri….
Dengan mengikuti berasalnya irama seruling tadi perlahan-lahan Siauw Ling bergerak kedepan.
Makin lama suara permainan seruling itu kedengaran semakin dekat, ditengah kegelapan secara lapat-lapat dia lihat ada sesosok bayangan manusia duduk diatas sebuah batu cadas.
Siauw Ling tarik napas panjang-panjang, setelah mententeramkan hatinya yang bergolak keras ia sapu sekejap keadaan sekelilingnya saat itulah ia temukan dirinya berada disuatu daerah hutan yang amat sunyi. Ditempat kejauhan tampak sebuah bukit menjulang tinggi keangkasa.
Siauw Ling mendehem berat, maksudnya agar sipemain seruling itu dapat mengetahui akan kehadirannya.
Tapi rupanya orang itu sudah mabok oleh permainan serulingnya, seluruh perhatian serta raganya telah bersatu padu dalam satu titik, terhadap deheman Siauw Ling sama sekali digubrisnya.
Si anak muda itu jadi tertegun, pikirnya, “Dehemanku barusan telah menggunakan tenaga yang amat kuat, mengapa ia belum juga kedengaran….”
Sementara dia masih berpikir, mendadak terdengar suara bentakan nyaring berkumandang datang, “Siapa disana?”
Suara itu muncul secara mendadak dan sama sekali bukan berasal dari mulut sipemain seruling tersebut.
Siauw Ling segera alihkan sinar matanya kearah mana berasalnya suara tersebut, tampaklah dari balik pohon besar tidak jauh dari tempat itu lambat-lambat berjalan keluar seseorang.
Mendadak…. ia merasa suara orang itu sangat dikenal olehnya, hanya untuk sesaat ia tak tahu suara siapakah itu.
sementara ia ingin menjawab, tiba-tiba serentetan suara yang amat halus berkumandang masuk kedalam telinganya.
“Jangan buka suara, lebih baik kenakanlah topengmu itu sehingga rahasia asal usulmu jangan sampai ketahuan orang!”
Begitu suara lembut tadi menusuk kedalam pendengarannya Siauw Ling semakin tertegun karena suara itu sangat dikenal olehnya sehingga membuat dia hampir saja menjerit tertahan.
Dengan cepat si anak muda itu mententramkan hatinya yang bergolak keras, buru-buru dia putar badan dan laksana kilat mengenakan selapis kulit topeng keatas wajahnya.
Menanti ia berpaling kembali tampaklah bayangan manusia yang munculkan diri dari balik pohon itu sudah berada sangat dekat dengan dirinya.
Irama seruling tiba-tiba berhenti ditengah jalan, serentetan suara teguran yang dingin dan jumawa menggema diangkasa.
“Apakah adik Giok Tong Siauwte disitu….?”
“Sedikitpun tidak salah, memang siauwte disini” jawab bayangan manusia yang sedang bergerak menuju kearah mana Siauw Ling berada itu.
“Hmm, tahukah kau bahwa adikmu sedang mencari dirimu kemanapun jua….!”
“Aah, kiranya orang itu adalah Lan Giok Tong yang pernah menyaru sebagai diriku.” pikir Siauw Ling.
Terdengar Lan Giok Tong berkata, “Tabiat piauw moay terlalu berangasan dan menang sendiri, siauwte tidak tahan terhadap tingkah lakunya yang luar biasa itu, maka tak berani aku menjumpai dirinya lagi.”
“Ooooh, kiranya antara Lan Giok Tong dengan sipeniup seruling ini adalah Piauw hengte!” pikir Siauw Ling.
Terdengar orang yang meniup seruling itu berkata lagi dengan nada dingin, “Aku tidak ingin mencampuri urusanmu dengan piauw moay mu itu tapi kau selalu membuntuti diriku entah apa maksudmu yang sebenarnya?”
“Pertama, aku hendak melindungi Piauw ko dan kedua…. kedua….” setengah harian dia ulangi perkataan itu tanpa sanggup untuk meneruskannya.
Orang yang meniup seruling itu mendengus dingin.
“Apa maksud hatimu yang sebenarnya? apakah kau anggap Piauw heng tidak mengerti?”
“Mengenai persoalan ini baik Piauw ko sendiri maupun siauwte tak akan sanggup mengambil keputusan, lebih baik kita serahkan keputusan ini kepada “Nya” saja!”
…. Bersambung jilid ke 27
JILID 27
Sipeniup seruling itu kembali mendengus tiba-tiba ia loncat bangun dan berjalan menghampiri Lan Giok Tong.
Sungguh cepat gerakan tubuh orang itu sambul mencekal seruling kumala dalam waktu singkat ia sudah berada kurang lebih empat lima langkah dihadapan Lan Giok Tong.
Sementara itu angin berhembus lewat membuyarkan awan hitam diangkasa, kerlipan bintang sayup-sayup muncul lagi diawang-awang.
Tampak orang berseruling itu saling berpandangan lama sekali dengan Lan giok Tong kurang lebih seperminum teh kemudian ia baru menggerakkan serulingnya membuat sebuah guratan diatas tanah katanya, “Mulai sekarang aku telah memutuskan segala ikatan serta hubungan persaudaraan dengan dirimu, dikemudian hari bilamana kau berani menguntit diriku lagi, jangan salahkan kalau aku akan bertindak keji terhadap dirimu.”
Habis berkata mendadak ia putar badan dan berkelebat pergi, sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap dibalik kegelapan.
Menjumpai peristiwa aneh itu dalam hati Siauw Ling merasa tercengang, pikirnya, “Bukankah mereka berdua adalah sesama saudara misan? mengapa satu sama lain takkan saling mengalah….?”
Menanti bayangan orang tadi sudah lenyap dari pandangan. Lan Giok Tong menghela napas panjang dan perlahan-lahan jalan menghampiri diri Siauw Ling.
Pemuda itu sadar akan kecepatan gerak pedangnya, maka sambil perhatikan gerak gerik orang itu diam-diam ia salurkan hawa murninya membuat persiapan, pikirnya, “Setelah dibikin mendongkol oleh Piauw ko nya, jangan-jangan ia hendak salurkan rasa mangkel itu terhadap diriku?”
Sementara ia masih berpikir, Lan Giok Tong telah berada dihadapan mukanya.
“Siapa kau?” tegur Lan Giok Tong sambil menuding kearah si anak muda itu. “Mau apa ditengah malam buta datang kemari?”
“Kurang ajar amat pertanyaan ini” batin Siauw Ling. “Dianggap tempat ini miliknya.”
“Hmm, kau boleh datang kemari kenapa aku tak boleh datang pula kesini?”
Walaupun dalam hati pikirnya demikian, tapi tidak sampai diutarakan keluar.
Tidak mendengar jawaban dari pihak lawan, Lan Giok Tong jadi mendongkol bercampur gusar, sambil tertawa dingin suaranya kembali, “Kalau kau tak mau bicara sejenak kini tiada kesempatan lagi bagimu untuk bicara.”
“Hmm, belum tentu!”
Lan Giok Tong segera meraba gagang pedangnya, sedang sepasang matanya dengan tajam mengawasi wajah lawan.
Jarak antara kedua belah pihak saat ini hanya terpaut dua tiga langkah, masing-masing mempunyai ketajaman mata yang luar biasa dan bisa terlihat amat jelas sekali.
Ketenangan serta ketajaman mata Siauw Ling lama kelamaan menimbulkan firasat dalam hati Lan Giok Tong. Ia sadar bahwa orang itu adalah seorang musuh tangguh, maka untuk sesaat ia malahan tak berani bertindak dengan gegabah.
Setelah saling berhadapan beberapa saat lamanya, mendadak Lan Giok Tong mengendorkan cekalannya pada gagang pedang lalu bertanya, “Apakah kau ada pesuruh dari nona Gak?”
“Enci Siauw Che lebih tua beberapa tahun dariku” batin Siauw Ling dalam hati. “Rasanya jadi pesuruh cicipun tak mengapa!”
Karena itu dia lantas mengangguk sebagai jawaban.
Kecongkakan serta kejumawaan Lan Giok Tong kontan lenyap tak berbekas, ia menghela napas sedih lalu sakunya merogoh keluar secarik sampul surat berwarna putih bersih, sambil diangsurkan ketangan Siauw Ling katanya, “Tolong kau sampaikan surat ini kepada nona Gak Siauw Cha, katakanlah sepanjang aku orang she Lan masih hidup dikolong langit, hatiku tak akan berubah. Aku hanya ingin sekali agar ia sudi memberi sedikit peluang kepadaku sehingga aku dapat berjumpa muka dengan dirinya!”
Menyaksikan raut wajahnya yang sedih dan murung hampir saja Siauw Ling hendak mengutarakan beberapa patah kata untuk menghibur hatinya, tapi ketika teringat bahwasanya bila ia buka mulut maka suaranya akan segera dikenali pihak lawan, terpaksa niat tersebut ditahannya kembali dalam hati.
Lan Giok Tong sendiri, sewaktu dilihatnya Siauw Ling tidak mengucapkan sepatah katapun meski surat itu sudah diterima olehnya, terpaksa rangkap tangannya memberi hormat.
“Aku mengerti bahwa heng thay tak bisa mengambil keputusan, tentu saja dewasa ini siauwte tidak akan memaksa” bisiknya.
Setelah merandek sejenak, ia menambahkan, “Semoga heng thay bisa membantu diriku untuk mengutarakan sepatah dua patah kata yang manis dihadapan nona Gak nanti, atas bantuan itu siauwte akan merasa sangat berterima kasih sekali.”
“Hmm, siapa tahu permainan setan apakah yang sedang kau jalankan dengan kakak misanmu” pikir Siauw Ling. “Dan kau suruh aku mengucapkan kata-kata manis yang bagaimana?”
Walau banyak yang dia pikirkan dalam hati, namun tak sepatah katapun dapat diutarakan keluar.
Tampak Lan Giok Tong kembali menghela napas panjang, lambat-lambat dia putar badan dan berlalu.
Memandang bayangan punggungnya yang semakin menjauh, pemuda kita merasakan betapa murung dan kesalnya orang itu diam-diam iapun menghela napas gumamnya, “Ilmu silat yang dimiliki orang ini sangat lihay, wataknya tinggi hati dan suka menyendiri. Entah apa sebabnya tingkah laku orang itu sekarang bisa begitu layu dan murung….?”
Dalam pada itu bayangan punggung Lan Giok Tong sudah lenyap dari pandangan.
Perlahan-lahan Siauw Ling alihkan sinar matanya keatas sampul surat itu terbaca olehnya diatas sampul tertuliskan beberapa patah kata yang berbunyi: “Dipersembahkan kepada nona Gak Siauw Cha.”
Ia lantas menoleh dan menyapu keadaan disekeliling sana, tampak ditengah kegelapan tak sesosok bayangan manusiapun ada disitu. Hatinya jadi gelisah, pikirnya, “Tadi dengan amat jelas sekali aku mendengar suara dari Gak cici yang memperingatkan diriku agar jangan memperlihatkan asal usul sendiri, kini orang sipeniup seruling serta Lan Giok Tong telah berlalu semua, apa sebabnya enci Gak belum juga menampakkan diri??”
Ingin sekali dia berteriak memanggil, tapi si anak muda itu takut suaranya mengejutkan Lan Giok Tong, maka dengan perasaan apa boleh buat ia hanya dapat menekan kegelisahannya dalam hati.
Ternyata dari tindakan sipeniup seruling yang memutuskan hubungan persaudaraan dengan Lan Giok Tong tadi, serta sikap dan tingkah laku Lan Giok Tong yang kesal, murung dan sedih. Secara lapat-lapat pemuda kita berhasil menebak sedikit duduknya perkara.
Dengan termangu-mangu Siauw Ling berdiri ditengah kegelapan, kurang lebih sepertanak nasi kemudian tatkala ia tak menjumpai pula Gak Siauw Cha menampakkan diri rasa sabarnya sudah tak terbendung lagi segera teriaknya keras, “Enci Siauw Cha! kau berada dimana?? mengapa kau tak munculkan diri untuk bertemu denganku??”
Terdengar suara tertawa cekikikan berkumandang dari balik kegelapan, suara itu kedengaran nyaring sekali. Siauw Ling tertegun dengan cepat ia dapat membedakan bahwa suara itu berasal dari balik batu cadas kurang lebih empat tombak dibelakangnya, tanpa mengucapkan sepatah katapun diam-diam ia salurkan hawa murninya lalu dengan gerakan “Hay Yan In Poh” atau burung manyar menembusi ombak melayang kedepan.
“Oooh cici….” teriaknya. “Aku….”
Dari balik batu muncul seorang gadis berusia lima enam belas tahun yang memakai baju ringkas, rambutnya dikepang jadi dua dan wajahnya masih kekanak-kanakan.
“Siauw siangkong” tukasnya cepat. “Budak tidak berani menerima sahutanmu itu.”
Siauw Ling tertegun kemudian buru-buru menjura.
“Nona, kau adalah….!”
“Aku adalah dayangnya nona Gak Siauw siangkong! kau benar-benar pelupa, bukankah kita pernah saling berjumpa muka?”
Dengan seksama Siauw Ling perhatikan wajah dara berbaju ringkas itu namun bagaimanapun juga dia putar otak sama sekali tak teringat akan wajah nona ini, maka ia berdiri melengak dan membungkam.
“Eeei…. semua orang sudah pergi, apa gunanya kau kenakan terus-terus topengmu itu” kembali terdengar dara tadi menegur.
Siauw Ling segera melepaskan topengnya.
“Dimana sih kita pernah saling berjumpa? maaf kalau aku orang she Siauw sudah tidak teringat kembali.”
Dara baju ringkas itu tersenyum.
“Ditengah sebuah lembah bukit sewaktu lima manusia laknat dari Lam Hay….!”
“Aaah, benar! bukankah kau adalah sang dara yang menyaru sebagai bocah berbaju hijau yang selalu mendampingi lima manusia laknat dari Lam Hay?”
“Bagus amat daya ingatmu!”
“Ooh…. ketika itu nona memakai baju lelaki, tidak aneh kalau cayhe tak bisa mengingatnya kembali….” kata Siauw Ling seraya menjura, setelah merandek sejenak, tambahnya: “Kemanakah enci Gak itu sekarang….?”
“Dia telah pergi….”
“Ia pergi kemana? nona tahukah kau?”
“Tahu sih tahu, cuma maukah dia menjumpai dirimu atau tidak aku tak berani memutuskan.”
“Enci Gak pasti mau menemui diriku cepat bawa aku kesitu. Aaai….! sudah hampir lima enam tahun lamanya aku tak pernah berjumpa muka dengan enci Siauw Cha!”
“Belum tentu” sahut dara berbaju ringkas itu seraya menggeleng. “Lan Giok Tong serta Giok Siauw Lang Koe (sipemuda tampan seruling kumala) entah sudah menggunakan berapa banyak tenaga dan pikiran untuk menguntil terus dibelakang nona Gak, entah sudah berapa ratus kali mereka mohon untuk berjumpa dengan dirinya, tetapi nona Gak tak mau berjumpa dengan mereka. Mengapa kau bisa begitu yakin mengatakan bahwa ia pasti mau bertemu dengan dirimu?”
Beberapa saat lamanya Siauw Ling tertegun, akhirnya ia menjawab, “keadaanku jauh berbeda dengan mereka selama Gak cici selalu menyayangi diriku, sering kali dia ajak aku bermain, merawat diriku, melayani aku makan minum dan berpakaian, aku rasa diapun pasti rindu denganku karena akupun asngat rindu kepadanya.”
“Lain dulu lain sekarang, dulu usiamu masih kecil sedang sekarang kau telah menginjak dewasa.”
“Aku yakin dia pasti mau berjumpa dengan diriku” seru Siauw Ling sangat gelisah. “Kenapa kau tak mau percayai perkataanku? cepat sampaikan dengannya dan tanyakan sendiri dengan enci Gak.”
Dara berbaju ringkas itu termenung beberapa saat lamanya, akhirnya dia mengangguk.
“Baiklah, akan kusampaikan perintahmu itu, tapi kau tak boleh pergi dari sini lho.”
“Kenapa tak bawa serta diriku?”
Dara manis itu segera menggeleng.
“Kalau aku ajak kau pergi kesitu dan seandaiya nona tak mau menemui dirimu bukan saja aku bakal kena dimaki kaupun akan dibikin tersipu-sipu.”
“Maka alangkah baiknya jika kau tetap berdiam disini saja sambil menanti kabar dariku, aku segera akan melaporkan kedatanganmu ini kepada nona.”
“Kalau nona sudi berjumpa dengan dirimu aku segera datang mengabarkan kepadamu, sebaliknya kalau tak mau bertemu denganku rasanya kaupun tak usah menyesal.”
“Baiklah, aku akan menantikan kedatanganmu disini.”
Sementara dalam hati pikirnya, “Sungguh tak kusangka begitu sulitnya untuk berjumpa dengan diri enci Gak!”
Tampak dara berbaju ringkas itu putar badannya lalu loncat kedepan sekali enjot badan ia sudah berada kurang lebih tiga tombak dari tempat semula, mendadak ia berhenti dan berpaling serunya, “Kau tak boleh mengikuti dibelakangku….”
“Jangan kuatir nona, enci Gak pasti akan mengijinkan diriku untuk segera berjumpa dengan dirinya.”
Dara berbaju ringkas itu tidak banyak bicara lagi, dalam beberapa kali kelebatan ia sudah lenyap dari pandangan.
Siauw Lingpun lantas duduk diatas batu cadas untuk menantikan kedatangan dara tadi.
Kurang lebih sepertanak nasi kemudian dara itu belum nampak juga munculkan diri, ia jadi gelisah, pikirnya, “Andaikata ia tak melaporkan kedatanganku ini, apa yang harus kulakukan??”
*******
Sementara ia masih berpikir tampaklah sesosok bayangan manusia perlahan-lahan munculkan diri dari balik kegelapan.
Dengan langkah lebar Siauw Ling segera maju menyongsong, sedikitpun tidak salah orang itu adalah dara berbaju ringkas tadi tidak sabar lagi segera serunya, “Apakah enci Gak suruh kau datang menyambut diriku?”
Dara berbaju ringkas itu gelengkan kepalanya.
“Kau terlalu yakin dengan dirimu sendiri!” bisiknya.
“Apa? jadi enci Gak tak mau berjumpa dengan diriku?”
“Ehm….” dara itu mengangguk.
“Apa yang dia katakan?”
“Ketika aku menyampaikan kepada nona bahwa kau hendak menemui dirinya, nona lantas termenung dan lama sekali tidak bicara…. entah sudah lewat beberapa saat lamanya, ia baru berkata kepadaku bahwa nona tak ingin bertemu dengan dirimu.”
“Mengapa?” teriak Siauw Ling dengan hati cemas.
“Sssst…. jangan keras-keras!” tegur nona itu dengan alis berkerut kencang.
Siauw Ling ayun tangan kanannya menabok batok kepala sendiri, bisiknya, “Tidak mungkin…. tidak mungkin, mengapa ia tak sudi berjumpa dengan diriku?”
“Darimana aku bisa tahu.”
“Bawalah aku kesana, bagaimanapun juga aku harus berjumpa dengan dirinya.”
“Percuma! kalau dia sudah berkata tak mau menemui dirimu, sekalipun kau memaksa juga tak ada gunanya.”
Siauw Ling angkat kepalanya menghembuskan napas panjang, setelah berhasil menenangkan hatinya yang kacau, katanya lagi, “Benarkan kau telah sampaikan permohonanku ini kepada nonamu?”
“Hmmm, kenapa? kau tidak percaya kepadaku?”
“Sungguh membuat orang merasa kurang percaya.”
“Bukan hanya kau seorang” hibur dara tadi dengan nada halus. “Banyak orang ingin berjumpa dengan nonaku tapi mereka semua ditolak mentah-mentah. Aku harap agar kau jangan bersedih hati karena persoalan ini….”
Siauw Ling gelengkan kepalanya dan mendongak memandang keangkasa, kembali dia bergumam, “Sungguh membuat orang merasa tak habis mengerti…. sungguh membingungkan hatiku….!”
Tiba-tiba ia depakkan kakinya keatas tanah, sambil angsurkan sebuah sampul putih ketangan dara tadi ujarnya, “Benda ini adalah titipan dari Lan Giok Tong yang meminta agar aku sampaikan kepada enci Gak, aku harap nona suka mewakili diriku untuk menyampaikannya.”
Sambil menerima sampul tadi dara itu bertanya, “Apakah kau ada persoalan yang hendak disampaikan kepada nona kami?”
Siauw Ling gelengkan kepalanya dengan sedih.
“Aku tak mengerti, apa sebabnya ia tak sudi berjumpa dengan diriku….? aku benar-benar tak mengerti!”
“Ia tak mau bertemu dengan dirimu sudah tentu ada sebab-sebabnya, cuma saja kau tidak mengetahuinya.”
“Apakah kau mengerti?”
“Tidak, aku sendiripun tidak mengerti.”
Siauw Ling tertawa getir.
“Baiklah! sampaikan kepadanya, lain kali akupun tak berani merepotkan dirinya untuk selalu membantu diriku, budi pertolongannya pada masa yang silam disini kuucapkan banyak terima kasih.”
Habis berkata dia lantas menjura dalam.
Dengan cepat dara berbaju hijau ringkas itu berkelit kesamping.
“Bukan kau berterima kasih kepada nonaku? mengapa kau menjura kepadaku?” serunya.
“Aku harap nona suka sampaikan penghormatanku ini kepadanya.”
“Ehm, apa yang kau ucapkan sepatah demi sepatah pasti akan kusampaikan kepadanya.”
“Cayhe telah mengganggu diri nona terlalu lama, disinipun aku ucapkan banyak terima kasih.” sekali lagi dia menjura.
“Terima kasih, kau tak usah sungkan!”
Siauw Ling menghembuskan napas panjang ia tidak berbicara lagi, sambil putar badan dengan langkah lebar segera berlalu dari situ tanpa berpaling barang sekejappun si anak muda itu langsung kembali kekuil keluarga Loo sie.
Tampak Sang Pat serta Ceng Yap Chin sedang menanti didepan halaman, ketika menyaksikan Siauw Ling berjalan datang mereka segera maju menyongsong.
“Waaah, kami sedang merasa gelisah karena lama menanti dirimu, apakah Siauw thayhiap telah bertempur dengan orang?” tegur Ceng Yap Chin.
“Tidak, bagaimana dengan keadan Soen Loocianpwee sekalian??”
“Jalan darah mereka sudah bebas bahkan sudah makan obat penawaran racun….!”
“Sungguh??” seru Siauw Ling tercengang.
Terdengar suara Soen Put shia berkumandang keluar dari balik ruang tengah.
“Sedikitpun tak salah! saudara Siauw cepat masuk kedalam, dalam hati aku sipengemis tua terdapat banyak masalah yang ingin kutanyakan kepadamu.”
Dengan langkah lebar Siauw Ling masuk kedalam ruangan, sedikitpun tak salah, bukan saja Soen Put shia serta Boe Wie Tootiang telah mendusin bahkan empat pujangga besar dunia persilatanpun telah sadar dari pingsannya.
“Saudara Siauw, sebenarnya apa yang telah terjadi?” terdengar pengemis tua itu berseru.
“Apa yang terjadi? aku sendiripun tidak habis mengerti….” ia berpaling kedepan Sang Pat kemudian tanyanya, “Siapa yang telah membebaskan jalan darah mereka?”
“Lhoo? apakah toako sendiripun tak tahu?”
“Aku toh selama ini tak ada disini, dari mana bisa tahu?”
“Kalau begitu sungguh aneh sekali!”
“Bagaimana anehnya? cepat katakan apa yang sebenarnya telah terjadi….”
“Tidak lama setelah toako pergi, muncullah seorang manusia berbaju hitam dalam kuil ini, katanya datang atas perintah dari toako untuk menyembuhkan luka dari Soen Loocianpwee.”
“Bagaimanakah macam orang itu? pria atau wanita?”
“Rupanya memakai topeng diatas wajahnya dan memakai baju kaum pria….”
“Suaranya?”
“Sama sekali suara orang pria!”
“Bagaimana selanjutnya?” tanya Siauw Ling lebih jauh dengan alis berkerut.
“Sebetulnya aku serta Ceng heng hendak menghalangi jalan perginya, siapa tahu secara tiba-tiba dia telah turun tangan menotok jalan darah kami berdua….”
“Kemudian??”
“Setelah jalan darah kami tertotok sudah tentu perjalanan orang itu tak bisa dihalangi lagi, kami lihat dia masuk kedalam ruang tengah dan membebaskan jalan darah Soen Loocianpwee sekalian berenam yang tertotok, setelah itu memberikan pula sebutir pil pada masing-masing orang. Sebelum meninggalkan tempat ini dia bebaskan kembali jalan darah siauwte serta Ceng heng yang tertotok.”
“Apakah dia sudah menerangkan asal usulnya??”
“Tidak!”
“Apakah kalian tidak bertanya?”
“Sesaat sebelum meninggalkan tempat ini ia suruh kami sekalian menyampaikan kepada Siauw thayhiap, katanya ia selama hidup paling benci mencampuri urusan dunia persilatan pembunuhan, penjagalan serta mati hidup dunia kangouw sama sekali tiada sangkut pautnya dengan dia, katanya ia pernah melihat seseorang secara beruntun membunuh delapan belas orang jago Bulim namun ia tetap tidak mencampuri urusan itu.”
“Ooooh, kalau begitu watak orang ini benar-benar dingin dan suka menyendiri!”
“Benar dan suaranya dan sikapnya sangat hambar dan dingin membuat orang yang mendengar jadi bergidik, tetapi sikapnya terhadap Siauw thayhiap ternyata begitu menghormat dan kagum.”
“Kalau didengar dari nada ucapannya, mungkin dia ada persoalan yang ingin mohon bantuan dirimu!” sambung Soen Put shia.
“Minta bantuan?” si anak muda itu melongo.
“Mungkin tidak salah” Ceng Yap Chin meneruskan kata-katanya. “Dia bilang mati hidup Soen Loocianpwee, suhengku serta empat pujangga besar dunia persilatan sama sekali tiada sangkut pautnya dengan dia, tapi sekarang dia mau turun tangan menolong adalah disebabkan karena memandang keatas wajah Siauw heng. Katanya kita tak usah berterima kasih kepadanya sebab ia jual budi hanya untuk Siauw heng seorang, dikemudian hari ia masih membutuhkan bantuan yang besar dari dirimu.”
Siauw Ling yang mendengar pembicaraan itu jadi bingung dan tak habis mengerti, tapi ketika dilihatnya beberapa puluh mata sama-sama diarahkan kepadanya, dalam hati ia lantas berpikir, “Kenapa peristiwa yang terjadi pada malam ini sangat aneh sekali? Aaaai…. bukan saja mereka dibikin kebingungan, aku sendiripun dibuat tidak habis mengerti….”
Maka dia lantas mengangguk.
“Apa yang dia katakan lagi?”
“Hanya beberapa patah kata itu saja, selesai berbicara dia lantas berkelebat lenyap ditengah kegelapan.”
Sejak ditampik permohonannya untuk berjumpa dengan Gak Siauw Cha, sebenarnya Siauw Ling sedang merasa mangkel bercampur sedih, ia ada maksud memuntahkan semua rasa mangkel dan sedihnya itu setelah berjumpa dengan Sang Pat sekalian, siapa tahu disinipun sudah terjadi satu peristiwa yang membingungkan hati, maka rasa sedih dan murungnya itu terpaksa hanya dipendam didalam hati.
“Bagaimana perasaan Soen Loocianpwee saat ini?” tanyanya lirih.
“Sungguh manjur pil pemusnah racun dari orang itu, rupanya racun yang dicekokkan kedalam perut aku sipengemis tua oleh Shen Bok Hong berhasil dipunahkan sama sekali.”
“Kalau begitu bagus sekali….” sinar matanya beralih keatas wajah Boe Wie Tootiang. “Dan bagaimana perasaan dari Tootiang?”
“Pinto merasa jauh lebih baikan.”
Akhirnya Siauw Ling alihkan sinar matanya kearah empat pujangga besar dunia persilatan.
“Bagaimana keadaan saudara berempat?”
Kakek berbaju hijau pertaman segera menjura sambil berkata, “Coe Boen Ciang dari kota Lok Yang mengucapkan banyak terima kasih atas pertolongan dari Siauw thayhiap!”
“Chin Soe Teng dari kota Kie Lim menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya keapda thayhiap” sambung kakek kedua.
“Yoe Cu Ching dari kota Kim Leng mengucapkan terima kasih atas pertolongan anda” kakek yang ketiga menyambung.
Akhirnya kakek keempatpun berkata, “Kho sie Thong dari kota Kang Chiu merasa berhutang budi kepada Siauw thayhiap!”
Dari nada ucapan serta tingkah laku keempat orang itu yang berbicara tanpa disertai emosi, diam-diam Siauw Ling berpikir dalam hatinya, “Nama besar empat pujangga besar dunia persilatan benar-benar bukan nama kosong belaka, dengan susah payah Shen Bok Hong nyaring mereka dari utara hingga selatan untuk dikumpulkan jadi satu, kemudian menotok jalan darahnya, meracuni mereka hingga mati, namun sikap maupun nada keempat orang ini sama sekali tidak disertai rasa dendam atau sakit hati, kebesaran jiwa serta keteguhan iman keempat orang ini boleh dibilang sudah mencapai puncak kesempurnaan!”
Berpikir demikian, dia lantas berkata, “Bukankah Hian jien berempat tak pernah mencampuri urusan dunia persilatan? apa sebabnya kalian bisa mengikat tali permusuhan dengan Shen Bok Hong?”
“Kami dengan Shen Bok, sama sekali tidak dendam sakit hati apapun jua” sahut Coe Boen Ciang dari Lok Yang sambil tersenyum.
“Kalau tiada permusuhan apa sebabnya dia hendak membinasakan mereka berempat?” pikir Siauw Ling, sementara diluar ia balik bertanya, “Lalu apa sebabnya Shen Bok Hong hendak mencelakai kalian berempat….?”
“Yang kotor biar kotor, yang bersih tetap bersih, antara kami dengan Shen Bok Hong tak bisa dikatakan punya dendam atau budi” Chin Soe Teng dari Kie Lam menyambung.
“Bagus sekali” kembali si anak muda itu membatin. “Mereka berempat benar-benar berhati sosial.”
Ia menghela napas dan berkata, “Kalau begitu kejadian ini adalah kesalahan dari pihak Shen Bok Hong, yang mana tanpa alasan telah mengumpulkan kalian berempat lalu menotok jalan darah kalian dan meracuni tubuh kalian semua.”
“Selama hati kecil tak pernah berbuat salah, apa gunanya memikirkan nasib mujur atau jelek” sela Yoe Coe Ching dari Kim Long.
“Hmm, dalam ucapan itu jelas dia mengatakan bahwa asal mereka tak pernah menyalahi Shen Bok Hong, bakal mujur atau sial mereka tak pernah pikirkan dalam hati” pikir pemuda kita.
“Justru karena kalian berempat terlalu baik itulah maka Shen Bok Hong hendak mencelakai kalian” katanya.
“Kebebasan jiwa seorang koen cu bagaikan angin segar ditengah hari, hidup tidak jeri mati kenapa harus takut” kata Kho Soe Thong dari Kang Chin.
“Keempat orang ini benar-benar membingungkan, merekapun belum tentu mereka mendendam” pikir Siauw Ling.
Terdengar Soen Put shia mendengus dingin.
“Kalian berempat benar-benar agung dan saleh bagaikan Nabi atau Pujangga besar, aku sipengemis tua serta Boe Wie Tootiang susah payah dengan menempuh bahaya datang menolong. Eeei, siapa tahu sikap kalian begitu tawar. Huuu…. anggap saja pertolongan kami cuma sia-sia belaka, tahu begini lebih baik kalian berempat dibunuh mati saja oleh Shen Bok Hong hingga aku sipengemis tuapun tak usah ikut menderita seperti kalian.”
Coe Boen Ciang dari Lok Yang tersenyum.
“Menerima budi orang harus dibalas, menumpuk sakit hati harus dilenyapkan, sudah tentu kami tak akan melupakan budi pertolongan dari Soen thayhiap serta Boe Wie Tootiang kepada diri kami berempat.”
“Sayang aku sipengemis bukan tuan penolongmu!”
“Selama puluhan tahun kalian berempat tak pernah mencampuri urusan dunia kangouw sehingga mendapat julukan empat pujangga besar dunia persilatan” tiba-tiba Boe Wie Tootiang menimbrung. “Jadi orang memang harus bijaksana dan saleh dimana terasa perlu, namun keadaan kalian yang tidak pandang bulu benar-benar aneh dan luar biasa sekali….”
Sementara itu Siauw Ling sedang berpikir didalam hati, “Sudah lama kudengar bahwasanya ilmu silat yang dimiliki empat pujangga besar dunia persilatan sangat lihay, apabila malam ini aku bisa menasehati mereka agar mau berjuang demi keadilan serta kebenaran dalam dunia kangouw, kejadian ini bukan saja menambah kekuatan pihak kami dalam perjuangannya melawan pengaruh serta kekuasaan Shen Bok Hong, bahkan dengan tindakan ini pula aku bisa memancing lebih banyak jago-jago lihay yang telah lama mengasingkan diri untuk muncul kembali dalam dunia kangouw dan bersama-sama menentang Shen Bok Hong….”
Terdengar Chin Soe Teng berkata, “Benar atau salah hanya dua keadaan yang saling berlawanan, apa salahnya kalau kami melepaskan diri dari keadaan tersebut?”
Soen Put shia tertawa dingin.
“Kalau memang cuwi sekalian melepaskan diri dari keadaan itu, lalu apa sebabnya Shen Bok Hong memaksa kalian berempat untuk menelan obat racun dan ingin membinasakan kalian?”
“Kalian berempat menonton kemusnahan dunia persilatan sambil berpeluk tangan dan bersenang-senang sendiri, coba bayangkan apakah tindakan kamu itu bijaksana atau saleh?” Boe Wie Tootiang menambahkan.
Coe Boen Ciang dari kota Lok Yang jadi melengak, ia mau bicara tapi batal kembali niat itu.
Ternyata untuk beberapa saat lamanya ia tak sanggup menemukan jawaban yang tepat.
“Kalian berempat disebut orang-orang Bulim sebagai empat pujangga besar adalah disebabkan kalian tak mau mencampuri urusan dunia kangouw terutama sekali dalam perebutkan nama besar dan kedudukan” kata soen Put shia lagi. “Kalian berempat bisa membuang jauh sifat keduniawian hal ini memang patut dipuji dan disanjung, tetapi berbeda jauh keadaannya setelah kali ini Shen Bok Hong hendak mencelakai jiwa kamu berempat….”
“Apa bedanya??”
“Tujuan Shen Bok Hong adalah untuk menguasai seluruh dunia persilatan, ia tidak pandang bulu dan melakukan tindak apapun dengan hati yang keji dan telengas. Kejahatan yang dilakukan telah bertumpuk-tumpuk bukan saja jago kangouw dijaring bahkan kalian berempat yang tak pernah mencampuri urusan dunia persilatanpun akan dibunuh. Tak usah dipikir lebih jauh sudah amat jelas tertera apa tujuannya. Kalian berempat memang boleh meninggalkan sakit hati pribadi untuk tak dipikir, tapi keadaan dalam Bulim serta mati hidup kaum lurus apakah tak pernah kalian pikirkan?”
“Menurut pandanganmu, apa yang harus kami lakukan?” tanya Yoe Coe Ching dari kota Kiem Leng.
“Tampil kedepan berjuang demi keadilan serta keamanan dunia persilatan, mari kita singsingkan baju berjuang bersama-sama menentang angkara murka Shen Bok Hong.”
“Maksudmu apakah kami diminta terjun kedalam kancah pertumpahan darah dalam dunia persilatan?” Kho Soe Thong dari Kang Chiu menegaskan.
“Situasi dalam dunia persilatan dewasa ini sangat kacau, kaum iblis lebih berkuasa dari kaum lurus, sebagai orang yang selalu dihormati sesama umat Bulim dan sebagai orang yang saleh dan bijaksana, apakah tiada niat untuk membasmi kejahatan bahkan malah memberi kesempatan bagi kaum iblis untuk meraja lela? benarkah kalian ingin berpeluk tangan belaka menyaksikan dunia persilatan jatuh ditangan kaum durjana yang suka berbuat sewenang-wenang dan menginjak-injak keadilan?”
Biji mata Coe Boen Ciang perlahan-lahan berputar menyapu sekejap wajah Chin Soe Teng, Yoe Coe Ching serta Kho Soe Thong kemudian katanya, “Hian te bertiga, aku rasa ucapan dari Soen Put shia dari Kay pang serta Boe Wie Tootiang sangat masuk akal, entah bagimana menurut pandangan Hian te bertiga?”
“Ucapan mereka sangat beralasan” Chin Soe Teng mengangguk. “Cuma saja kalau suruh siauwte menerjunkan diri kedalam kancah pertumpahan darah dalam Bulim, sedikitpun banyak hatiku merasa sedih.”
“Siauwte rasa ucapan dari Soen Put shia serta Boe Wie Tootiang memang masuk diakal” kata Yoe Coe Ching pula. “Kita memang boleh tak usah menuntut diri Shen Bok Hong yang telah memaksa kita menelan racun, tapi bagaimanapun juga tak boleh membiarkan Shen Bok Hong berbuat sewenang-wenang dalam dunia persilatan.”
“Setelah puluhan tahun lamanya bertindak menuruti cara sendiri dan tak pernah mencampuri urusan dunia kangouw, kalau sekarang suruh siauwte tukar suasana…. wah…. siauwte merasa sedikit rada kelabakan.”
Melihat separuh dari empat pujangga besar berhasil digerakkan hatinya oleh ucapan mereka Boe Wie Tootiang sadar bila keadaan ini terlalu dipaksakan maka akibatnya malah tidak baik, karena itu segera ujarnya, “Silahkan kalian berempat rundingkan persoalan ini dengan hati tenang, mungkin suatu hari bisa memperoleh satu pendapat yang seragam. Pinto sekalian tak berani terlalu memaksa.”
“Baiklah” kata Coe Boen Ciang kemudian sambil bangkit berdiri. “Selesai kami rundingkan persoalan ini, keputusan kami berempat segera akan kami sampaikan kepada cuwi!”
“Kita berjumpa lagi ditempat ini tiga hari kemudian” sahut Soen Put shia. “Rasanya waktu selama tiga hari lebih dari cukup bagi cuwi sekalian untuk membicarakan persoalan ini.”
“Cukup…. cukup…. tiga hari memang sudah cukup” jawab Coe Boen Ciang cepat. “Baiklah, kita tetapkan begini saja, entah bagaimanakah hasil perundingan kami nanti, tiga hari kemudian kami pasti akan datang memenuhi janji.”
Selesai berkata ia lantas melangkah pergi.
Chin Soe Teng, Yoe Coe Ching serta Kho Soe Thong segera bangkit berdiri dan berlalu mengikuti dibelakang saudara angkatnya.
Memandang bayangan punggung empat pujangga besar dunia persilatan itu, Soen Put shia gelengkan kepalanya sambil menghela napas panjang, katanya, “Keempat orang ini betul-betul kolot dan keras kepala, meskipun aku sipengemis tua sudah banyak menjumpai manusia-manusia yang bertabiat-tabiat kukoay, tapi belum pernah kujumpai manusia seaneh empat pujangga besar dari dunia persilatan ini.”
Siauw Ling pun menghela napas panjang.
“Tingkah laku keempat orang pujangga besar itu membuat akupun dibikin jadi bingung dan tidak habis mengerti, perbedaan antara baik dan busuk, mulia dan jahatpun ternyata sudah mereka campur baurkan tidak karuan. Aaai….! kita bicarakan mengenai keempat orang itu saja, bukan saja mereka menjauhkan diri dari persilatan Bulim bahkan tiada minat sama sekali untuk mencari nama maupun kedudukan, tetapi kepandaian silat mereka amat lihay, justru karena itulah mereka disebut empat pujangga besar dunia persilatan….”
Ia mendongak dan tarik napas panjang-panjang, kemudian terusnya, “Ditinjau dari mereka yang tidak terlalu membedakan antara budi dan dendam, serta tindakannya yang jauh berbeda dengan kaum persilatan pada umumnya mengenai pandangan terhadap sakit hati. Mereka memang pantas kalau disebut sebagai pujangga besar, tetapi sikap mereka yang tidak bisa membedakan terhadap mana yang penting dan mana yang tidak, apakah juga termasuk tindakan seorang pujangga.”
“Nama kosong hanya akan menjerumuskan orang saja” kata Boe Wie Tootiang dari samping. “Andaikata mereka tidak mempunyai julukan sebagai empat pujangga besar, maka nanti tingkah laku mereka begitu sabar dan tahan penderitaan. Persoalan ini merupakan satu kejadian yang rumit, sekalipun dipandang dari luaran mereka berempat tidak membutuhkan nama atau kedudukan, namun dalam kenyataannya tindak tanduk serta langkah-langkah yang diambil keempat orang itu bukan lain adalah untuk melindungi nama baik empat pujangga besar itu!”
“Tidak salah, pendapat tootiang memang tepat sekali!”
Perlahan-lahan Boe Wie Tootiang bangkit berdiri tiba-tiba tanyanya, “Sekarang sudah jam berapa?”
“Kurasa lebih kentongan keempat!” sahut Ceng Yap Chin.
“Sudah sepantasnya kita segera berlalu, jangan biarkan mereka menanti terlalu lama.”
“Saudara Siauw” tiba-tiba Soen Put shia menoleh dan bertanya. “Ada sedikit persoalan aku sipengemis tua mohon keterangan darimu.”
“Apa yang hendak loocianpwee tanyakan?’
“Dari mulut Sang Pat tadi aku sipengemis tua dengar katanya kau pergi mengejar sipeniup seruling, bagaimana akhirnya? apakah kau berhasil menjumpai orang itu?”
Teringat pertemuannya dengan Gak Siauw Cha si anak muda itu seketika merasa hatinya jadi sedih.
Ia menghela napas panjang-panjang.
“Aku telah berjumpa dengan orang itu.”
Jawab yang singkat membuat semua orang jadi terkejut, sampai-sampai Boe Wie Tootiang yang biasanya paling tenangpun kini dibikin jadi tegang dan segera alihkan sinar matanya keatas wajah Siauw Ling.
“Benarkah kau telah bertemu dengan sipeniup seruling itu?”
Sekali lagi Soen Put shia mengulangi pertanyaannya.
“Sedikitpun tidak salah.”
“Manusia macam apakah dia itu?”
“Seorang pemuda berjubah panjang!”
“Apa? seorang pemuda?” seru Boe Wie Tootiang dengan wajah tertegun.
“Ehm! ditengah kegelapan meski cayhe tidak dapat melihat jelas raut wajahnya tetapi apa yang kulihat dan kusaksikan memang betul-betul membuktikan bahwa dia adalah seorang pemuda berwajah bersih dan memakai seperangkat pakaian panjang.”
Toosu tua dari Bu tong pay itu segera menoleh kearah Soen Put shia, lalu tanyanya, “Loocianpwee, tahukah kau kalau dunia persilatan dewasa ini siapakah yang memiliki kepandaian meniup seruling paling baik?”
“Siauw Ong atau siraja seruling Thio Sioe.”
Bicara sampai disitu pengemis tua itu merandek sejenak, lalu terusnya lagi, “Cuma, menurut apa yang aku ketahui siraja seruling Thio Sioe telah terkurung didalam istana terlarang!”
“Tidak salah menurut apa yang pinto ketahui dalam dunia persilatan dewasa ini hanya permainan seruling dari siraja seruling Thio Sioe saja yang terbaik, katanya irama serulingnya bisa memancing burung yang terbang diangkasa melayang turun, dapat pula memainkan irama pelbagai macam kicauan burung, karena kehebatannya itulah ia dijuluki siraja seruling.”
“Sejak siraja seruling terjerumus kedalam istana terlarang, dalam dunia kangouw tidak kedengaran lagi adanya seorang jago lihay yang pandai memainkan seruling. Sungguh tak nyana orang itu munculkan diri secara mendadak….” sambung Soen Put shia.
Mendadak Ceng Yap Chin menimbrung dari samping, “Sayang aku dilahirkan rada terlambat sehingga tidak sempat mendengarkan irama permainan seruling siraja seruling Thio Sioe yang merdu, tapi permainan seruling tadi telah kudengar dengan telinga sendiri permainannya memang benar luar biasa sekali, dikala memainkan bagian yang sedih tanpa terasa membuat orang ikut melelehkan aar mata, dapat pula membuat orang menghela napas panjang, tapi yang membuat cayhe tidak megerti adalah kenapa permainan serulingnya selalu membawakan nada sedih dan sama sekali tak kedengaran adanya irama gembira atau riang?”
“Apakah ada irama khiem yang mengiringi permainan seruling itu?” buru-buru Boe Wie Tootiang menambahkan.
“Irama khiem bergetar lebih dulu baru kemudian disusul oleh irama seruling, permainan mereka berdua sama-sama sedih dan membawakan irama pedih.”
“Nah, itulah dia, irama masuk yang berhasil mengusir pergi Shen Bok Hong waktu ada ditepi telagapun merupakan gabungan dari permainan khiem dan seruling.”
“Tapi siapakah orang itu?” tanya Soen Put shia setelah termenung sebentar. “Aku sipengemis tua benar-benar tak bisa menebak siapakah orang itu!”
“Aku tahu siapakah dia” pikir Siauw Ling dalam hati. “Orang yang memetik khiem adalah enci Siauw Cha sedangkan sipeniup seruling akupun telah bertemu dengan dirinya, sekalipun aku tak tahu siapakah namanya tapi aku tahu dia adalah kakak misan dari Lan Giok Tong!”
Penampikkan Gak Siauw Cha untuk bertemu dengan dirinya membuat Siauw Ling diliputi rasa murung dan sedih, ia sudah putar otaknya untuk memikirkan persoalan ini tapi belum berhasil juga ditemukan apa sebabnya enci Siauw Chanya tak mau bertemu dengan dia, sebetulnya si anak muda ini akan mengutarakan isi hatinya tapi setelah dipikir sebentar maka niat tersebut diurungkan kembali.
Terdengar Boe Wie Tootiang menghela napas panjang, lalu katanya, “Soen Loocianpwee, kau tak usah putar otak memikirkan persoalan ini lagi, kalau memang sipemetik khiem dan peniup seruling selalu membantu kita secara diam-diam. Aku rasa mereka pastilah sahabat kita dan bukan lawan, pada saat ini walaupun mereka tak mau menjumpai kita, rasanya satu saat kita pasti akan bisa bertemu.”
“Tidak salah, walaupun Shen Bok Hong telah mengundurkan diri, belum tentu ia segera tinggalkan kota Ooh Chiu, lebih baik kita cepat-cepat memenuhi janji.”
Selesai berkata tanpa menanti yang lalu lagi ia segera menuju ketempat luaran dengan langkah lebar.
Para jago terpaksa mengikuti jejaknya dan meninggalkan kuil nenek moyang keluarga Loo itu.
Karena dalam hati ada persoalan maka Siauw Ling ogah untuk menanyakan pengalaman Soen Put shia hingga menemui mara bahaya, sebaliknay sipengemis tua itulah yang mendampingi pemuda kita sepanjang jalan dan mengisahkan pengalamannya.
Kiranya Soen Put shia serta Boe Wie Tooiang telah mendapat laporan dari seorang murid anggota perkumpulan Kay pang yang mengatakan bahwa empat pujangga besar dunia persilatan berhasil dipancing Shen Bok Hong untuk mendatangi perahu kayi ditengah kolam belakang kuil keluarga Loo, teringat akan kekejian sigembong iblis itu mereka menduga empat orang pujangga besar itu pasti akan menemui kerugian besar.
Mereka sadar meskipun keempat orang ini jarang sekali mengadakan hubungan kontak dengan dunia persilatan tetapi dengan nama besar mereka dalam Bulim serta kepandaian silat mereka yang lihay, seandainya sampai dipaksa oleh iblis she Shen itu sehingga tenaganya digunakan, maka dunia kangouw tentu geger dan akan memperngaruhi keadaan situasi.
Dengan cepat mereka berdua mengejar sampai kesitu dan naik keatas perahu, tampaklah cahaya lilin menerangi seluruh ruangan secara terpisah keempat orang itu duduk disekeliling sebuah meja persegi empat, sementara bayangan tubuh Shen Bok Hong sama sekali tidak kelihatan.
Boe Wie Tootiang yang menjumpai keadaan tersebut sebagai orang yang teliti segera mengusulkan untuk bertindak hati-hati, tapi Soen Put shia yang jauh lebih berangasan merasa menolong orang jauh lebih penting. Tanpa menggubris peringatan toosu tua itu segera loncat masuk kedalam ruangan.
Suasana tetap hening sedang bayangan tubuh Shen Bok Hong belum juga ketahuan.
Ketika dilihatnya sipengemis tua itu sudah masuk kedalam ruangan, terpaksa Boe Wie Tootiang mengikuti dari belakang.
Mereka berdua langsung menghampiri keempat orang pujangga besar itu dan mulai memeriksa tubuh mereka, sekalipun pelbagai usaha pertolongan telah diduga tapi keempat orang itu tetap tak berkutik ditempatnya.
Pada saat itulah mendadak pintu samping terbuka lebar dan muncul seorang manusia aneh berbaju merah mendekati mereka.
Melihat datangnya ancaman dari tempat kejauhan Soen Put shia segera mengirim satu pukulan yang dengan telak bersarang didada orang berbaju merah itu.
Tetapi orang aneh itu hanya merandek sejenak untuk kemudian maju lagi kedepan.
Boe Wie Tootiang segera cabut keluar pedangnya dan mengirim satu babatan yang mana dengan telak bersarang diatas bahu lawan.
Siapa tahu ujung pedangnya terasa bagaikan menusuk diatas batu keras sedangkan orang berbaju merah itu sama sekali tidak menderita luka apapun juga.
Dikala kedua orang itu sedang merasa terperanjat itulah, Shen Bok Hong munculkan diri dari tempat persembunyian dan menotok jalan darah mereka berdua.
Bercerita sampai disini Soen put shia segera menghela napas dan menambahkan, “Kemudian kami lantas dicekoki racun, aku rasa saudara siauwpun sudah bukan.”
“Akupun bertemu dengan orang aneh berbaju merah itu, andaikan tidak ditolong orang mungkin pada saat ini akupun sudah ditawan Shen Bok Hong dalam keadaan hidup” sementara pembicaraan masih berlangsung mereka telah tiba didepan kedai tahu.
Gilingan tahu masih berputar dengan menimbulkan suara berisik dibawah sorot cahaya lampu, seorang kakek tua berbaju kumal sedang menggiling tahu.
Ketika menjumpai datangya Soen Put shia dan Boe Wie Tootiang, kakek tua memandang sekejap kearah mereka lalu katanya, “Orang kalian ada diruang dalam!”
Para jago segera masuk keruang dalam tampaklah Suma Kan, Tu Kioe serta anak murid partai Bu tong telah berkumpul semua disitu.
Sisegulung angin Pang Im masih berbaring diatas tandu kayu.
Siauw Ling segera menghampiri sisi tandu dan menegur dengan suara lirih, “Peng heng, apakah keadaanmu rada baikkan?”
Peng Im buka matanya dan tersenyum.
“Aku rasa tidak sampai modar!”
Perlahan-lahan ia bangun berdiri siap memberi hormat kepada tiang loonya Soen Put shia.
“Tak usah banyak adat, kau lebih baik berbaring saja!” tukas sang pengemis tua cepat.
Peng Im tak berani membangkang, ia menurut dan berbaring lagi.
“Lukamu ada dibagian mana?”
“Diatas dada sebelah kiri, untung ada Tu loocianpwee yang menolong dengan seksama, sekarang keadaanku berangsur membaik.”
“Tidak berani, lebih baik kita saling menyebut sebagai saudara saja” tukas Tu Kioe dari samping.
Peng heng tersenyum.
“Berada dihadapan sucouw ku, aku sipengemis cilik terpaksa harus berlaku rada sungkan terhadap dirimu.”
“Kau tak usah berbuat begitu, toh kita berkawan? lebih baik kita berkawan sendiri saja!”
“Ehmm, ucapan ini memang tidak salah” pikir Soen put shia dalam hati. “Dia panggil Sucouw, kalau dibicarakan dari tingkatan maka kedudukannya jauh lebih rendah dua tingkat daripada orang-orang yang hadir disini!”
Dalam pada itu Boe Wie Tootiang sudah periksa denyutan jantung Peng Im terdengar ia berkata, “Sudah tidak berbahaya lagi, besok pagi asal menelan dua macam obat maka kesehatannya akan pulih kembali seperti sedia kala.”
Sang Pat melihat ruangan itu sempit sedang jumlah orangnya banyak sehingga jangan dibilang untuk duduk, untuk sendiripun harus berdempet-dempetan, maka segera juranya, “Tempat ini tidak sesuai bagi kita untuk berdiam, lebih baik cari tempat lain saja.”
“Aku sipengemis cilik tahu akan suatu tempat yang tersembunyi letaknya….!”
“Dimana?”
“Lima li diluar kita, disitu terdapat sebuah bangunan rumah yang tak berpenghuni letaknya dikelilingi hutan bambu dan luas sekali, peralatan dalam rumah komplit bersih.”
“Begitu besar bangunan rumah yang kau maksudkan, kenapa tiada orang yang menempati?” tanya Ceng Yap Chin heran.
“Tentang soal ini aku sipengemis cilik kurang tahu, mungkin dikarenakan gangguan setan!”
“Kalau memang ada tempat yang begitu bagus, aku rasa kita tak perlu berdiam terlalu lama lagi disini, ayoh segera berangkat….” ajak Soen put shia.
Sinar matanya beralih keatas wajah Peng Im dan tanyanya, “Apakah kau sudah bisa berjalan sendiri?”
“Perlahan-lahan, aku rasa masih sanggup!”
“Aku lihat lebih baik aku Tu loo Sam yang menggendong dirimu saja” Tu Kioe menawarkan jasanya.
Peng Im tidak membantah lagi, begitulah dibawah petunjuk sipengemis cilik itu berangkatlah mereka menuju keluar kota.
“Siauw thayhiap” ditengah jalan Ceng Yap Chin berbisik. “Apakah kau percaya dengan segala macam cerita setan dan malaikat?”
“Tidak percaya!”
“Cayhe sebenarnya juga tidak percaya dengan macam setan dan malaikat, tapi cerita yang turun temurun sejak ribuan tahun berselang sedikit banyak membuat cayhe sangsi juga. Kalau bisa melihat setan ingin sekali aku menambah pengetahuanku.”
Sepanjang jalan Siauw Ling hanya memikirkan soal Gak Siauw Cha saja yang telah menolak untuk bertemu dengan dirinya, dalam keadaan begini ia tak ada minat sama sekali untuk membicarakan soal setan dengan Ceng Yap Chin, beberapa patah katanya yang terakhir boleh dibilang sama sekali tak terdengar lagi olehnya.
Melihat Siauw Ling acuh tak acuh terhadap dirinya seperti ada yang sedang dipikirkan, Ceng Yap Chin pun tidak bicara lagi, ia teruskan perjalanannya kedepan.
Dalam sekejap mata beberapa li sudah dilewati, ketika itu fajar baru saja menyingsing dari tempat kejauhan tampaklah sebuah bangunan rumah yang amat besar muncul dihadapan mereka dikelilingi oleh pepohonan yang hijau dan rindang.
Soen Put shia segera kerutkan dahinya, dengan suara lirih bisiknya kepada diri Peng Im, “Bangunan besar itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda berpenghuni, apa kau tidak keliru melihat?’
“Tak bakal salah lagi, aku sipengemis cilik masih mengingatnya dengan jelas.”
“Setelah tiba disini rasanya tiada halangan untuk meninjau kedalam” ujar Boe Wie Tootiang. “Andaikata rumah ini ada penghuninya maka kita segera angkat kaki, bukankah beres?”
“Rasanya memang harus berbuat begini” pikir Sang Pat, ia segera berebut berjalan dipaling depan, katanya, “Baiklah, biar cayhe yang memeriksa dulu keadaan disitu.”
Setelah melewati hutan bambu, sampailah didepan pintu bangunan rumah besar itu.
Tampaklah pintu besar yang berwarna hitam tertutup rapat-rapat, melihat itu sie poa emas tertegun, pikirnya, “Andaikata bangunan ini tiada berpenghuni, kenapa pintu dengan tertutup rapat? jangan-jangan karena baru sembuh dari luka parahnya kesadaran pengemis cilik ini rada kurang beres dan mungkin sudah salah menunjukkan tempat?”
Untuk beberapa saat lamanya ia jadi tertegun didepan pintu dan tak tahu apa yang harus dilakukan….
Terdengar Peng Im yang ada dibelakang berseru kembali, “Aku sipengemis cilik masih ingat jelas tempat ini. Tak bakal salah lagi, Sang heng silahkan mendorong pintu untuk periksa keadaan didalamnya.”
Sang Pat masih sangai tapi setelah mendengar perkataan dari Peng Im, terpaksa ia maju dan mendorong pintu tersebut.
Siapa tahu pintu itu tetap tak bergeming barang sedikitpun juga, jelas pintu tadi dipalang dari dalam.
Si sie poa emas ini segera gelengkan kepalanya berulang kali.
…. Bersambung jilid ke 28
JILID 28
“Tidak betul, tidak betul, andaikan bangunan ini tiada berpenghuni tidak nanti pintunya dipalang dari dalam.”
“Sungguh aneh sekali” seru Peng Im pula setelah memeriksa keadaan disekeliling itu sekejap. “Aku sipengemis cilik masih ingat betul disini tampaknya, dan tak bakal salah lagi, coba Sang heng melompati pagar tembok itu dan periksa keadaan didalam sana.”
Melihat kesadaran Peng Im normal dan tidak mirip sedang mengingau, timbul rasa ingin tahu dalam hati Sang Pat. ia segera mengempos tenaga dan meloncat masuk kedalam pekarangan kemudian membuka palang pintu tersebut.
“Tu heng. tolong gotong aku masuk kedalam!”
Tu Kioe mendongak memeriksa keadaan dalam, ia lihat sebuah jalan kecil yang beralaskan batu bata merah terbentang menghubungkan pintu depan dengan pintu kedua, keadaan situ bersih dan teratur, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda disitu tiada penghuninya, dalam hati dia lantas berpikir, “Bangunan rumah sebersih ini, masa tiada penghuninya?”
Walaupun dalam hati berpikir demikian tapi ia menurut juga dan melangkah masuk kedalam.
“Loo sam jauh sedikit jaraknya dengan aku” bisik Sang Pat lirih. “Kau yang menggendong sipengemis cilik itu bertindaklah lebih hati-hati. jangan sampai kena dibokong orang lain.”
Tu Kioe mengiakan dan segera mundur tiga langkah kebelakang.
“Adakah manusia disitu!”
“Andaikata ada orang, sejak tadi kedatangan kita sudah ditegur….” bisik Peng Im.
Belum habis ia berkata mendadak terdengar suara yang ketus dingin berkumandang datang.
“Ada urusan apa?”
Sang Pat melengak dan segera berhenti, kemudian seraya menjura ujarnya, “Aaah…. mengganggu ketenangan kalian, harap suka dimaafkan!”
“Hmm, kalian memasuki rumah orang tanpa permisi, perbuatan ini sudah melanggar peraturan, ayoh cepat keluar dari sini.” suara dingin ketus tadi kembali berkumandang datang.
Sang Pat melirik sekejap kearah Peng Im lalu bisiknya, “Ayoh kita keluar saja dari sini” ia putar badan dan siap berlalu.
“Sang heng, orang itupun bukan pemilik bangunan rumah ini!”
“Benarkah itu?”
“Kalau Sang heng tidak percaya, kenapa tidak kau tanyakan sendiri?”
Teringat betapa dingin dan ketusnya ucapan orang tadi, timbul keinginan si sie poa emas ini untuk memanasi hatinya, maka ia lantas berkata, “Saudara sendiri toh bukan pemilik bangunan rumah ini kalau bicara kenapa begitu tak tahu adat?”
“Hem! persoalan dikolong langit tentu ada yang datang lebih duluan dan datang belakangan, siapa suruh kalian datang terlambat satu tindak?”
“Bagaimana?” Peng Im segera berbisik. “Mereka tak lebih hanya datang lebih dulu setindak, bangunan rumah ini sama sekali bukan harta warisan mereka.”
Sang Pat alihkan sinar matanya memeriksa sekejap sekeliling tempat itu. “Saat ini fajar baru menyingsing. peng Im pun harus merawat lukanya, sedang bangunan ini begitu besar dan mereka bukan pemiliknya, apa salahnya kalau kita berteduh pula disini, toh kita sama-sama bukan pemilik bangunan rumah ini?”
Berpikir lalu ia lantas berseru lantang, “Kalau dibicarakan soal rumah ini, tiga hari berselang telah ada orang kita yang menginap disini, hanya saja karena ada urusan maka baru ini hari kami kembali kesini.”
Ia merandek sejenak, lalu ujarnya lagi, “Kalau mau dikatakan siapa yang datang lebih dulu, maka kamilah yang datang beberapa hari lebih cepat, cuma bangunan rumah ini memang bukan milik kami, bila memang kalian sudah berteduh disini kamipun tak akan mengusir kalian pergi. Untung bangunan rumah ini sangat besar, sekalipun ditambah beberapa orangpun rasanya tidak mengapa.”
“Tidak bisa jadi” tukas orang tua dengan suara dingin. “Dengarlah nasehatku, lebih baik cepat-cepatlah mengundurkan diri dari sini.”
“Kurang ajar, aku Sang Loo jie adalah manusia macam apa” pikir Sang Pat dalam hati. “Kau anggap ini hari aku bisa digertak lari dari sini?”
“Kalau sampai begitu apa gunanya aku berkelana didalam dunia persilatan?”
Maka dengan suara lantang serunya, “Andaikata cayhe tidak mau mengundurkan diri dari sini kau mau apa?”
“Kecuali bila kau sudah bosan hidup lagi dikolong langit!”
Mengikuti berasalnya suara tersebut Sang Pat berpaling, ia duga suara tadi berasal dari balik sebelah barat ruang tengah, hanya saja bayangan tubuhnya sama sekali tidak kelihatan.
Mendengar ucapan orang itu sesumbar dan jumawa, Tu Kioe jadi sangat mendongkol bisiknya, “Loo jie mari kita tengok keadaan disitu!”
“Baik, kau tak usah pergi, baik-baiklah melindungi keselamatan sipengemis cilik itu, kalau didengar dari ucapannya yang sesumbar rasanya dia bukanlah lampu yang kehabisan minyak.”
“Harap Sang heng berhati-hati!” pesan Peng Im pula.
Sang Pat mengangguk, dengan langkah lebar ia segera berjalan menuju keruang tengah.
Halaman bagian depan luas dan mencapai beberapa hektar, Sang Pat menghentikan gerakan tubuhnya kurang lebih lima tombak didepan ruang tengah.
Pada saat itulah mendadak terdengar suara dingin ketus tadi berkumandang kembali, “Rupanya kalau tidak diberi hajaran tidak mau tahu keadaan, bukankah aku sudah memperigatkan cuwi sekalian untuk segera mengundurkan diri dari sini, kalau memang kalian sendiri yang mencari mati, janganlah salahkan diriku bertindak keterlaluan.”
Terhadap sipengancam tersebut Sang Pat tidak berani menaruh pandangan merendah, sejak semula hawa murninya telah dihimpun didalam tubuh siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan. setelah mendengar ucapan terkahir ini kewaspadaannya semakin diperketat, tangan kanannya segera merogoh kedalam saku mengambil keluar dua butir mutiara dan digenggamnya ditangan.
Kekayaan dari Tiong Chiu Siang Ku boleh dibilang tiada taranya dikolong langit, tumpukan intan permata yang mereka miliki sudah mencapai beberapa buah ruangan banyaknya, meskipun ia tak pernah menggunakan senjata rahasia tetapi dalam sakunya selalu siap dengan pelbagai permata yang bisa digunakan dalam keadaan terpaksa.
Sementara itu perlahan-lahan Tu Kioe tela menurunkan pula Peng Im keatas tanah, katanya setengah berbisik, “Ucapan orang tua itu benar-benar gede dan sesumbar mungkin kepandaian silat yang dimilikinya betul-betul lihay, kau tunggu saja disini. Aku Tu Loo sam akan pergi kesana membantu diri Loo jie kami.”
“Eeei…. sejak kapan kau menyebut dirimu sebagai loo sam?”
“Sejak kami sepasang pedagang dari Tiong Chiu mengakui Siauw thayhiap sebagai liong tauw toako kami, aku telah menjadi Loo sam!”
“Oooh, kiranya begitu.”
Tiba-tiba terdengar Sang Pat mendengus berat lalu buru-buru mengundurkan diri dari tempat semula.
Mendengar akan hal itu Tu Kioe sangat terkejut, dengan cepat dia enjotkan badannya melayang kesisi saudaranya, lalu menegur, “Loo jie apakah kau sudah terluka?”
Sang Pat tidak menjawab hanya saja dengan alis berkerut kencang dia gulung ujung baju kirinya.
Mengikuti gerakan tersebut Tu Kioe segera menyaksikan sebuah anak panah kecil berbentuk kepala ular tertancap diatas lengan saudara angkatnya ini.
Kalau dikatakan benda itu sebagai panah dalam kenyataan kecilnya melebihi jarum untuk menjahit, kulit tangan sekitar luka telah berubah jadi semua merah.
Sementara Tu Kioe hendak mencabut keluar jarum beracun itu, tiba-tiba Sang Pat tarik kembali lengan kirinya dan meloncat mundur dua langkah kebelakang, serunya, “Racun yang dipoleskan diatas jarum ini terlalu keji dan ganas, jangan kau sentuh dengan tangan.”
Pada waktu itulah Siauw Ling, Soen Put shia, boe Wie Tootiang serta Suma Kan telah menyusul datang.
Peng Im segera berseru dengan suara cemas, “Tootiang cepat periksa keadaan luka dari Sang Loo jie, tangannya sudah termakan oleh senjata rahasia beracun.”
Boe Wie Tootiang percepat lainnya memburu kesisi tubuh Sang Pat, setelah memeriksa sejenak senjata rahasia itu dengan hati terkesiap serunya, “Aaaah, anak panah pengejar sukma berkepala ular!”
“Bagaimana? apakah jiwanya terancam bahaya?” tanya Tu Kioe terperanjat.
“Sedikitpun tidak salah, dari mendiang guruku pinto pernah mendengar akan kelihayan dari senjata rahasia tersebut, katanya racun yang terkandung diujung senjata itu luar biasa dahsyatnya, tetapi setelah pinto terjunkan diri kedalam dunia persilatan belum pernah kujumpai senjata rahasia anak panah pengejar sukma berkepala ular, sungguh tak nyana pada saat ini benda tersebut telah muncul kembali ditinjau dari hal ini jelas membuktikan bahwa sipelepas senjata rahasia mempunyai asal usul yang amat besar.”
“Bagaimana? apakah tootiang tak dapat memusnahkan racun yang ada diatas anak panah itu?” tanya Siauw Ling.
“Menurut apa yang pinto ketahui, kecuali orang yang melepaskan senjata rahasia tersebut yang mempunyai obat pemusnahnya, tabib sakti yang ada dikolong langit dewasa ini jarang sekali ada yang sanggup memusnahkan racun tersebut.”
Bicara sampai disitu ia lantas gerakan tangannya menotok dua buah jalan darah diatas lengan kiri Sang Pat.
Siauw Ling segera berpaling kearah Tu Kioe dan bertanya, “Apakah sipelepas senjata rahasia masih berada disini?”
Tu Kioe melirik sekejap kearah serambi sebelah barat dalam ruang tengah kemudian menyahut, “Mungkin dia berada disini.”
“Kalau begitu harap tootiang suka mencegah menjalarnya sang racun dalam tubuh saudara Sang ku itu, cayhe akan pergi minta obat penawarnya!”
Bicara sampai disitu dia lantas melangkah menuju keruang tengah.
Sebenarnya Boe Wie Tootiang ada maksud mencegah kepergian si anak muda itu, tetapi ketika dijumpai sikap gagah yang diperlihatkan dalam tingkah laku pemuda itu, dalam hati lantas berpikir, “Orang ini memang jauh berbeda dengan orang lain…. lebih baik biarkanlah dia pergi mencoba!”
Karena berpikir demikian diapun tidak banyak bicara lagi.
“Mari, biarlah aku sipengemis tua membantu dirimu” bisik Soe Put shia menawarkan jasa baiknya.
Sejak Siauw Ling terjunkan diri kedalam dunia persilatan, walaupun waktunya berkumpul dengan para jago lihay Bulim tidak terlalu panjang, tapi pengalamannya sudah sangat luas, ia langsung berjalan menuju keserambi sebelah barat sambil diam-diam mengerahkan tenaga dalamnya bersiap sedia.
“Jago lihay dari manakah yang berada dalam ruangan?” tegurnya dengan suara lantang. “Cayhe Siauw Ling mohon bertamu!”
“Tidak ada waktu untuk menjumpai dirimu” jawaban yang dingin dan hambar berkumandang keluar dari serambi sebelah barat.
Siauw Ling tertegun, tapi ujarnya kembali, “Cayhe mohon bertemu dengan segala tata cara kesopanan, penampikan heng thay yang demikian kasar dan ketusnya apakah tidak merasa sedikit keterlaluan?”
Suara yang dingin ketus itu kembali berkumandang datang, “Cayhe paling ogah untuk berkenalan dengan kaum persilatan, lebih baik saudara segera angkat kaki dari tempat ini.”
Semula Siauw Ling hanya bermaksud menjumpai orang itu untuk minta obat penawar menyembuhkan luka keracunan yang diderita saudaranya Sang Pat, siapa tahu tanggapan yang diberikan pihak lawan bukan saja dingin dan ketus bahkan tidak enak didengar, hawa gusarnya seketika itu juga memuncak.
Sambil tertawa dingin serunya, “Sungguh besar amat bacot anda, apakah sikapmu ini tidak terlalu pandang rendah kaum persilatan?”
“Mulai detik ini cayhe tak sudi menjawab setiap pertanyaan yang kau ajukan” suara dingi ketus itu berkumandang lagi. “Apa bila kau berani maju selangkah lagi kedepan hati-hati…. senjata rahasia panah pengejar nyawa berkepala ular akan mencabut selembar jiwamu?”
Siauw Ling tetap berdiri tegak ditempat semula, ia tarik napas panjang dan segera mengenakan sarung tangan berkulit ularnya, setelah itu baru ujarnya, “Aku orang she Siauw menantikan petunjuk darimu!”
Beberapa saat sudah dinantikan namun tidak kedengaran juga suara jawaban berkumandang keluar dari serambi sebelah barat.
Dalam pada itu Soen Put shia telah berada disisi tubuh Siauw Ling, segera bisiknya, “Menurut apa yang aku pengemis tua ketahui, dalam kolong langit dewasa ini hanya ada seorang manusia saja yang dapat menggunakan senjata rahasia anak panah pengejar nyawa berkepala ular, tetapi orang itu sudah terperangkap didalam istana terlarang sebelum istana tersebut dibuka sudah tentu tak mungkin ia munculkan diri, entah siapakah orang ini? ternyata iapun sanggup menggunakan senjata rahasia aneh yang sangat beracun itu, saudara Siauw! kau harus selidiki berhati-hati….”
“Ehm, terima kasih atas perhatian dari loocianpwee.”
Ia merandek sejenak, dan tambahnya, “Loocianpwee, tak usah kau ikut boanpwee pergi menempuh mara bahaya…. tunggu saja dibelakang sana!”
Soen Put shia mengangguk dan segera mengundurkan diri kebelakang.
Dengan suara lantang Siauw Ling segera berseru, “Aku orang she Siauw sudah mohon maaf terlebih dahulu, apabila aku memang tidak menggubris terus, terpaksa aku akan menerjang kedalam dengan kekerasan.”
Ia tahu bahwa kepandaian silat yang dimiliki Sang Pat tidak lemah, dalam kenyataan orang itu sanggup merobohkan Sang Pat dalam sekali sambitan belaka. Hal ini membuktikan betapa lihaynya kepandaian silat orang itu, maka ia tak berani bertindak gegabah, sambil perlahan-lahan maju kedepan seluruh perhatiannya dipusatkan jadi satu.
Kurang lebih tujuh delapan langkah dari tempat semula tiba-tiba terasa sekilas cahaya tajam yang sangat menyilaukan mata laksana kilat meluncur datang, bukan saja gerakannya sangat cepat bahkan sama sekali tidak menimbulkan sedikit suarapun.
Cepat Siauw Ling ayunkan tangan kanannya menangkap senjata rahasia anak panah mengejar nyawa berkepala ular itu, sementara dalam hati diam-diam pikirnya dengan hati kaget, “Sungguh cepat gerakan tubuh orang itu, ilmu silatnya sungguh luar biasa sekali. Andai kata aku tidak bersiap sedia sejak tadi mungkin tanpa kusadari akupun sudah terluka diujung anak panah pengejar nyawa berkepala ular itu….”
“Hmm, suatu kepandaian yang jitu” terdengar suara dingin ketus itu berkumandang datang. “Dalam kolong langit dewasa ini jarang sekali ada orang yang sanggup menerima sambitan anak panah pengejar nyawa berkepala ularku dengan tangan….”
Ia merandek sejenak lalu tambahnya, “Tapi sayang sekali diatas anak panah itu telah kupolesi semua dengan racun yang amat keji, sekalipun kau tidak tertusuk oleh senjataku tapi tanganmu yang meraba senjata tadi cukup untuk meracuni tubuhmu dengan hebat!”
“Hmmmmmmm, belum tentu!”
“Haaah…. haaa…. haaa….” orang itu tertawa tergelak. “Kalau kau tidak percaya dengan perkataanku, silahkan coba mengerahkan tenaga dalammu!”
Perlahan-lahan Siauw Ling mengangkat anak panah pengejar nyawa berkepala ular itu keatas, kemudian katanya dingin, “Setelah datang kalau tidak menginap itu namanya tidak sopan, semoga saudarapun bisa berbuat seperti cayhe dan menerima kembali senjata rahasiamu ini.”
Sembari berbicara diam-diam hawa murninya disalurkan kedalam tangan dan didalam sebuah sentilan, anak panah pengejar nyawa berkepala ular itu segera meluncur keudara menyambar kearah orang tadi.
Cara melepaskan senjata rahasia yang dimilikinya adalah ajaran langsung dari Liuw Sian cu, sebagai seorang jago yang lihay dalam ilmu melepaskan senjata rahasia dan ilmu meringankan tubuh. Sentilan untuk melepaskan senjata rahasia ini cukup membuat Soen Put shia yang menyaksikan kejadian itu dari samping diam-diam merasa memuji.
Orang yang ada diserambi sebelah barat masih tertawa tergelak tiada hentinya, menanti ia saksikan Siauw Ling melepaskan anak panah itu yang ditujukan kepadanya, gelak tertawa itu mendadak terputus ditengah jalan.
Jelas orang tadi telah dibikin terkesiap oleh kelihayan si anak muda itu dalam melepaskan senjata rahasianya.
Dikala tangan kanannya melepaskan anak panah pengejar nyawa berkepala ular tadi, diam-diam Siauw Ling telah silangkan telapak kirinya untuk melindungi badan, selangkah demi selangkah ia menerjang kearah serambi sebelah barat.
Jarak antara serambi sebelah barat dengan tempat dimana Siauw Ling berada saat ini hanya terpaut dua tombak saja sekali loncat si anak muda itu sudah berada didepan serambi tadi.
Tampak sepasang pintu tertutup rapat-rapat, bahkan jendelapun tertutup semua dengan rapatnya.
Siauw Ling tahu bahwa situasi yang dihadapinya saat ini sangat berbahaya, tanpa berpikir panjang dan memeriksa keadaan disekelilingnya lagi, sekali tendang ia hajar pintu kayu tersebut.
Blaan….! dengan diiringi suara bentrokan keras, pintu kayu itu terbentang lebar.
Dikala melancarkan tendangan menghantam pintu tadi, pada saat yang bersamaan pula Siauw Ling telah menyingkir kesamping.
Rupanya si anak muda inipun merasa jeri terhadap kehebatan orang itu dalam melepaskan senjata rahasia anak panah pengejar nyawa berkepala ularnya, ia tahu andaikata dikala dirinya sedang melancarkan tendangan kearah pintu tadi mendadak orang itu melepaskan senjata rahasia pula, maka kemungkinan besar ia bisa terluka diujung senjata orang.
Siapa tahu ternyata orang itu sama sekali tidak melepaskan anak panah pengejar nyawa berkepala ularnya.
Siauw Ling menanti beberapa saat lamanya disisi pintu, kemudian dengan suatu gerakan yang cepat dan mendadak ia berkelebat masuk kedalam ruangan.
Setibanya dalam ruangan, ia lihat didekat jendela berdirilah seorang lelaki berbaju hijau.
Orang itu berdiri menghadap jendela dan membelakangi pintu, terhadap hadirnya Siauw Ling disitu ternyata sama sekali tak merasa.
Siauw Ling mendehem ringan dan berkata, “Untung cayhe tidak sampai kehilangan selembar jiwaku. Kini aku sudah berhasil tiba disini.”
“Sudah lama cayhe mendengar nama besar dari Siauw Ling dalam dunia persilatan, setelah bertemu hari ini baru ketahui bahwa namamu bukan nama kosong belaka.”
“Saudara terlalu memuji, anak panah pengejar nyawa berkelebat begitu cepat dan tanpa mengeluarkan suara, baru kali ini cayhe berjumpa dengan kepandaian silat itu.”
Orang berbaju hijau itu tidak langsung menanggapi perkataan tersebut, saat kemudian dengan nada ucapan yang jauh lebih lunak katanya, “Apa maksudmu memasuki ruang serambi sebelah barat ini?”
“Seorang saudara cayhe telah terluka diujung anak panah pengejar nyawa berkepala ular saudara, karena itu cayhe mohon obat penawar menyembuhkan keracunan tersebut.”
“Hanya dikarenakan persoalan ini saja?”
“Tidak salah, hanya disebabkan persoalan ini saja!”
“Tidak sulit untuk memperoleh obat penawar tersebut, tapi cayhepun ada satu syarat yang harus kau penuhi!”
“Apa syaratmu?”
“Setelah cayhe serahkan obat penawaran itu, aku harap cuwi sekalian segera tinggalkan tempat ini, apabila kau setuju maka obat penawar tersebut segera cayhe serahkan kepadamu, sebaliknya kalau kau menampik…. terpaksa aku harus biarkan saudaramu mati keracunan.”
Siauw Ling termenung beberapa saat lamanya kemudian menjawab, “Andaikata saudara cayhe itu terluka ditangan orang lain, dan saudara rela memberi obat penawar kepadanya, jangan dikata cuma satu syarat ini saja meskipun delapan atau sepuluh syarat lagipun aku orang she Siauw tak akan menampik. Sayang seribu kali sayang saudara dari cayhe itu justru terluka diujung anak panah pengejar nyawa berkepala ularmu, sedang rekan kami yang ikut kemari cukup banyak. persoalan ini harus dirundingkan dahulu dengan mereka.”
Rupanya orang berbaju hijau itu sudah tak sabaran lagi, tiba-tiba selanya dengan nada gusar, “Kalau begitu saudara tidak mau menerima permintaanku itu?”
“Saat ini sulit bagiku untuk mengambil keputusan!”
“Baiklah, kau boleh rundingkan dahulu persoalan ini dengan mereka, kemudian datanglah lagi kemari untuk berbicara dengan aku!”
“Meninggalkan tempat ini bukanlah suatu syarat yang terlalu sulit dilakukan” pikir si anak muda dalam hati. “Cuma saja Soen Put shia serta Boe Wie Tootiang adaah orang kenamaan, andaikata kuajukan persoalan ini entah bagaimana perasaan serta pendapat mereka?”
Berpikir demikian, ia lantas berkata, “Cayhe akan berusaha sekuat tenaga untuk memperoleh persetujuan dari rekan-rekan yang lain, tapi…. bagaimana kalau kau hadiahkan dahulu obat penawar tersebut kepada kami? haruslah diketahui menolong orang bagaikan menolong kebakaran, tak bisa ditunda-tunda lagi.”
“Temui dahulu rekan-rekanmu, selesai berunding rasanya belum terlalu lambat.”
“Membunuh orang harus bayar nyawa hutang uang bayar uang. Saudara, setelah kau lukai saudaraku, apakah aku harus membungkam belaka menyaksikan saudaraku itu menderita.” kata Siauw Ling mulai gusar. “Minta obat penawar dan tinggalkan tempat ini adalah dua masalah yang berbeda. Jangan kau campur baurkan yang satu dengan yang lain.”
“Lalu apa maksudmu?” jengek orang berbaju hijau itu sambil tertawa dingin.
“Cayhe ingin bertanya, kecuali kami tinggalkan tempat ini apakah masih ada cara lain lagi?”
“Masih ada satu cara lagi! obat penawar itu berada didalam sakuku, asal kau merasa punya kepandaian, silahkan untuk merampasnya sendiri.”
Sejak Siauw Ling masuk kedalam ruangan dan bercakap-cakap dengan orang berbaju hijau itu, ternyata hingga kini orang itu tak pernah menoleh barang sekejappun.
Terdengar Siauw Ling tertawa dingin.
“Kecuali itu sudah tiada cara lain lagi?”
“Cayhe rasa tiada jalan lagi!”
“Hmm, kalau memang begitu, maaf kalau terpaksa cayhe bertindak kasar terhadap dirimu.”
“Tak usah sungkan-sungkan, kalau memang merasa mampu silahkan turun tangan!”
Diam-diam Siauw Ling kerahkan tenaga dalamnya melindungi jalan darah jalan darah penting diseluruh tubuhnya, kemudian selangkah demi selangkah maju kedepan.
Ia berjalan hingga tiba dibelakang punggung orang berbaju hijau itu, namun orang itu tetap berdiri membelakangi dirinya, sama sekali tak berkutik.
Siauw Ling ayunkan tangan kanannya siap melancarkan babatan, tapi secara tiba-tiba ia urungkan maksudnya.
“Saudara mengapa kau tidak berpaling?” tegurnya.
Orang berbaju hijau itu tertawa dingin, perlahan-lahan ia putar badannya menghadap kearah pemuda kita.
Begitu saling membentur dengan sorot mata lawan, Siauw Ling merasa hatinya terperanjat.
Kiranya raut wajah orang itu berwarna kuning keemas-emasan bukan saja tak sedap dipandang bahkan tidak mirip dengan warna kulit seorang manusia.
Dengan cepat pemuda kita berhasil mententramkan hatinya, perlahan-lahan ia berkata, “Ehmm, bagus amat kulit topeng yang saudara kenakan!”
Sembari berkata tangannya berkelebat cepat mencengkeram pergelangan kiri orang itu.
Orang berbaju hijau itu tetap berdiri tak berkutik ditempat semula, seolah-olah dia tak tahu kalau pergelangan kirinya sedang diancam lawan.
Serangan cengkeraman dari Siauw Ling ini banyak mengandung perubahan, dalam satu gerakan ia bisa dari serangan cengkeraman berubah menyabet atau menyentil tergantung dari reaksi yang diberikan pihak musuh.
Siapa tahu kejadian ternyata jauh diluar dugaan Siauw Ling, orang itu tetap bersikap tenang atas datanganya ancaman, bahkan sewaktu jari tangan pemuda itu sudah menyentuh diatas pergelangan tangannyapun orang berbaju hijau itu tetap tak berkutik.
Siauw Ling percepat gerakan tangan kanannya mencengkeram pergelangan kiri orang berbaju hijau itu.
Terasalah pergelangan tangan lawan keras bagai baja, dingin bagaikan es, sedikit tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa yang dipegang adalah tangan manusia. hatinya semakin terkesiap.
Mendadak terdengar orang berbaju hijau itu tertawa dingin, tangan kanannya bergerak cepat membabat pergelangan tangan Siauw Ling.
Si anak muda itu mengerlingkan matanya. Ia lihat tangan kanan orang itu halus lembut dan memelihara kuku yang sangat panjang, dengan cepat ia angkat tangan kirinya untuk menangkis. Sementara cekalannya pada pergelangan orang segera dikendorkan, badannya mundur tiga langkah kebelakang.
Orang berbaju hijau itu tertawa dingin.
“Saudara sudah terkena racun yang amat keji, seperminum teh kemudian racun itu akan mulai bereaksi, bersiap-siaplah kau urusi persoalan terakhirmu….”
Ia tak tahu kalau Siauw Ling mengenakan sarung tangan berkulit ular yang kebal terhadap pelbagai macam racun serta tidak mempan ditusuk maupun dibacok.
Sementara Siauw Ling sendiri sedang berpikir dalam hatinya, “Sepasang sarung tangan berkulit ular ini sudah banyak membantu diriku…. andaikata aku tidak memliki benda tersebut, entah bagaimana jadiku….?”
Dia angkat tangan kirinya untuk dipandang sekejap, lalu tanyanya, “Kenapa?”
“Diujung kukuku telah kupolesi dengan racun yang amat keji, tangan kanannmu setelah kena tergores kedalam tubuhmu, sesaat kemudian jiwamu bakal melayang….”
“Haah…. hah…. senjata rahasia segera dipolesi dengan racun keji, sedang dikuku jari tangan kanan mengandung pula racun keji, rupanya kau adalah seorang ahli dalam menggunakan racun, sayang cayhe tidak mempan terhadap pelbagai macam-macam racun” jengek Siauw Ling sambil tertawa terbahak-bahak.
Mendengar ucapan itu, orang berbaju hijau tadi berdiri tertegun.
“Coba angkat tangan kirimu, dan periksalah dengan seksama!”
“Tak usah diperiksa lagi, cayhe yakin tidak mempan terhadap jenis racun macam apapun.”
Tapi orang berbaju hijau itu tidak percaya, kembali dia berkata, “Racun yang berada didalam kukuku jauh berbeda dengan racun biasa, sekalipun jago lihay yang bagaimana ampuhpun asal terkena oleh racun itu sesaat kemudian daya kerja racun itu segera akan menyebar keseluruh badan!”
“Kalau saudara memang tidak percaya dengan perkataanku, apa daya? akupun tak bisa berbuat apa-apa lagi.”
Tiba-tiba ia merangsek kedepan, telapaknya langsung diayun menghajar dada lawan.
Menyaksikan pihak musuhnya masih sanggup melancarkan serangan dahsyat kepadanya orang berbaju hijau itu amat terkesiap buru-buru diangkat tangan kirinya untuk menyambut kedatangan serangan tersebut.
Sejak mencekal pergelangan kirinya tadi Siauw Ling sudah menaruh perhatian khusus atas lengan tersebut, sebab ia merasa ada suatu kelainan pada lengan tadi. Kini melihat orang itu ayun tangan kirinya buru-buru sang telapak ditekan kebawah dan berkelit kesamping.
Menggunakan kesempatan itulah ia perhatikan lengan kiri lawan dengan lebih seksama, tampaklah diujung lengan muncul tiga buah jarum hitam yang panjang mencapai dua coen lebih.
Rupanya orang itu mengenakan lengan palau yang terbuat dari baja.
Siauw Ling segera tertawa dingin.
“Ooooh…. rupanya saudara hendak menggunakan lengan bajumu sebagai senjata tajam hmm…. pemikiran semacam ini benar-benar terlalu lucu….”
Orang berbaju hijau itu sama sekali tidak menggubris perkataan si anak muda itu, dan saat yang bersamaan tangan kiri serta tangan kanannya sekaligus melancarkan tiga buah serangan.
Beberapa jurus serangan itu bukan saja amat rapat bahkan cepat bagaikan kilat, memaksa Siauw Ling harus mundur tiga langkah kebelakang. Suatu saat berhasil memperoleh kesempatan baik, sepasang telapaknya segera bekerja mengirim beberapa buah serangan berantai.
Sekejap mata delapan jurus seragan telah dilancarkan kemuka, pikirnya, “Andaikata aku tak berani menundukkan orang ini, mungkin sulit bagiku untuk memperoleh obat penawar itu.”
Sedikit saja pikirannya bercabang, orang berbaju hijau itu kembali mendapatkan kesempatan untuk melancarkan serangan balasan segera terjadilah suatu pertarungan yang amat sengit.
Terasalah cahaya tajam berkilauan memenuhi angkasa, setiap kali tangan besinya yang melancarkan serangan menunjukkan kelemahan-kelemahan, telapak kanan segera menyusul datang menutupi kelemahan tersebut, hingga dengan demikian bukan saja serangannya makin dahsyat bahkan pertahanan tubuhpun semakin ketat.
Siauw Ling sendiri meskipun memakai sarung tangan berkulit ular, tetapi menjumpai kilatan cahaya diujung tangan besi lawan, timbul rasa jeri dalam hatinya, ia tak berani saling membentur dengan tangan lawan.
Dengan adanya persitiwa tersebut, bukan saja Siauw Ling merasakan kerugian yang besar, untuk beberapa saat lamanya ia merasa tidak memiliki kemampuan untuk membalas.
Ditengah berlangsungnya pertempuran sengit itulah, tiba-tiba terdengar suara bentakan rendah berkumandang datang, “Tahan!”
Mendengar seruan itu, orang berbaju hijau tadi segera mengundurkan diri dan meloncat mundur lima depa kebelakang.
Siauw Lingpun berhenti menyerang dan berpaling, tampaklah seorang pemuda tampan berbaju biru dengan membawa sebuah seruling kumala berdiri didepan pintu.
Begitu berjumpa dengan pemuda berbaju biru itu, orang yang berbaju hijau yang jumawa dan sombong tadi segera menghunjukkan hormat dengan sikap sangat merendah, serunya, “Menjumpai kongcu….”
“Tak usah banyak adat” pemuda berbaju biru tadi ulapkan tangannya sambil melangkah masuk kedalam ruangan.
Orang berbaju hijau itu segera mengiakan dan mengundurkan diri kesamping.
Dengan sorot mata yang tajam bagaikan pisau belati pemuda berbaju biru itu alihkan pandangannya keatas wajah Siauw Ling, setelah diperhatikan beberapa saat lamanya ia menegur, “Siapa saudara?”
Napsu membunuh terlintas diatas wajahnya, tapi ucapan tersebut diutarakan dengan nada sopan.
“Cayhe Siauw Ling adanya!”
Begitu mendengar nama tersebut, hawa gusar yang semula telah menyelimuti wajah orang berbaju biru itu seketika lenyap tak berbekas, dengan senyuman dikulum buru-buru sahutnya, “Ooh, kiranya Siauw heng, sudah lama kudengar nama besarmu….”
Ia merandek sejenak kemudian terusnya, “Sejak bertemu dengan diri Siauw heng tadi, dalam hati aku sudah menaruh curiga jangan-jangan dirimu. Eeei…. sedikitpun tidak salah, ternyata dugaanku tidak meleset….”
“Tolong tanya siapakah sebutan heng thay?”
Orang berbaju biru itu termenung sebentar, kemudian menjawab, “Sahabat sekalian memanggil aku dengan sebutan Giok Siauw Lang Koen atau lelaki tampan berseruling kumala.”
Suatu ingatan berkelebat dalam benak Siauw Ling, pikirnya, “Giok Siauw Lang koen? bukankah dia adalah kakak misan dari Lan Giok Tong….?”
Segera katanya, “Saudara mempunyai julukan sebagai lelaki tampan berseruling kumala, dalam genggamanpun membawa sebuah seruling kumala. Aku rasa kau pastilah seorang ahli dalam permainan seruling.”
“Kepandaian mengenai irama musik?” seru Giok Siauw Lang Koen. “Aaah siauwte sih cuma mengerti sedikit banyak saja.”
“Oooh, orang itu terlalu sungkan” pikir pemuda kita dalam hati. “Didengar dari permainan serulingnya kemarin malam…. aaai…. sungguh membuat orang ikut terbuai dalam kesedihan sehingga tanpa terasa ikut mengucurkan air mata…. permainan serulingnya memang betul-betul hebat….!”
Ketika ditunggunya lama sekali Siauw Ling belum juga memberi jawaban, ia berkata lagi, “Siauw heng tentu mempunyai kepandaian yang sangat mendalam bukan dalam ilmu permainan musik?”
“Siauwte? ooh…. hoo…. sama sekali tak mengerti.”
“Siauw heng terlalu merendah….” sinar matanya dialihkan keatas wajah orang berbaju hijau itu, terusnya. “Siauw heng, apa sebabnya kau sampai bergebrak dengan pembantu siauwte? harap kau suka menerangkan bila ada kesalahan aku pasti akan mohon maaf kepada dirimu.”
“Sikapmu terlalu sungkan terhadap diriku, pastilah hal ini ada sebab-sebabnya” pikir Siauw Ling dalam hati. “Perduli amat kau mempunyai maksud apa, aku harus menggunakan kesempatan baik ini untuk minta obat penawar darinya.”
Berpikir demikian ia lantas berkata, “Minta maaf sih tak usah, hanya saja seorang saudara cayhe telah terluka diujung anak panah pengejar nyawa berkepala ularnya, karena itu sengaja aku datang kemari untuk minta sedikit obat penawar.”
Giok Siauw Lang Koen segera berpaling kearah orang berbaju hijau itu, tegurnya, “Huuh! kembali kau lukai orang dengan senjata rahasia beracun itu, ayoh cepat serahkan obat penawarnya kepadaku.”
“Mereka hendak menempati bangunan rumah ini dengan kekerasan, maka terpaksa aku harus memberikan sedikit kelihayan kepadanya agar mereka tahu diri dan segera mengundurkan diri, apa perbuatan ini salahku?” bantah orang berbaju hijau.
“Katanya saja mereka adalah majikan dan pembantu” batin pemuda itu. “Tapi kalau dilihat sedikitpun tidak mengenal kesopanan….”
Walaupun diluaran orang berbaju hijau itu membantah perkataan majikannya tapi tangan kanannya merogoh kedalam sakunya juga dan mengambil keluar sebuah botol porselen, dari situ ia keluarkan sebutir pil dan diserahkan ketangan Siauw Ling.
Sebagai seorang jago yang lihay apalagi mengenakan sarung tangan pemuda kita tidak takut dikecundangi orang, ia segera sambut pemberian pil itu.
Dengan sorot mata yang tajam Giok Siauw Lang Koen awasi terus tangan besi orang berbaju hijau itu, rupanya dia takut pembantunya melancarkan serangan bokongan kepada si anak muda itu.
Sebaliknya orang berbaju hijau itu sudah tahu kalau Siauw Ling tidak mempan terhadap serangan racun, maka diapun tidak menggunakan akal apa-apa, pil tadi dengan cara yang sopan diserahkan ketangan lawan.
Menanti jago kita sudah menerima pemberian pil tadi, Giok Siauw Lang Koen baru berkata sambil tersenyum, “Asalkan temanmu itu benar-benar terkena racun dari anak panah pengejar nyawa berkepala ular ini, setelah menelan pil tersebut tanggung didalam satu jam lukanya akan sembuh dan kesehatannya akan pulih kembali seperti sedia kala.”
“Terima kasih atas pemberian obat penawar itu!”
Giok Siauw Lang Koen mendehem ringan.
“Siauwtepun mempunyai suatu permintaan yang kurang pantas, harap Siauw heng suka mengabulkan.”
“Permintaannya kalau memang tidak pantas diutarakan, kenapa suruh aku menyanggupi?” pikir Siauw Ling didalam hati.
Tapi diluaran dia lantas bertanya, “Persoalan apa? asal siauwte dapat melakukan pasti akan kukabulkan tanpa membantah.”
“Pada malam ini siauwte ada janji dengan seorang teman untuk membicarakan suatu masalah didalam bangunan rumah ini, aku tidak ingin ada orang lain yang ikut hadir dalam pembicaraan tersebut, oleh sebab itu mohon persetujuan dari Siauw heng untuk memberikan kebebasan kepada diriku kali ini saja.”
Biji mata Siauw Ling berputar mengerling sekejap kesamping, ia lihat orang berbaju hijau bertangan besi itu sedang berdiri dengan wajah penuh kegusaran, rupanya ia merasa sangat tidak puas dengan sikap Giok Siauw Lang Koen yang begitu sungkannya terhadap diri Siauw Ling, timbul rasa heran dalam hatinya.
“Kenapa sikap majikan dan pelayan itu terhadap diriku jauh berbeda satu sama lainnya?” ia membatin. “Kalau sang majikan begitu sungkan terhadap diriku, sebaliknya sang pelayan begitu gusar dan tidak puas, entah dalam hati apa aku orang she Siauw telah menyalahi dirinya?”
Terdengar Giok Siauw Lang Koen berkata kembali, “Entah bagaimanakah menurut pendapat Siauw heng?”
“Pada saat ini sulit bagi siauwte untuk mengambil keputusan, cayhe harus rundingkan dahulu persoalan ini dengan orang cianpwee kemudian baru memberi jawaban kepada heng thay. Entah bagaimana menurut pandanganmu?”
“Heeh…. heeh…. kau maksudkan sipengemis tua dan sitoosu tua hidung kerbau itu?” jengek Giok Siauw Lang Koen sambil tertawa dingin.
“Sipengemis tua itu adalah cakal bakal angkatan tua dari perkumpulan Kay Pang. Sedangkan dia tootiang itu bukan lain adalah Boe Wie Tootiang ciang bunjien dari partai Bu tong.”
“Hmm, partai Bu tong hanya merupakan nama kosong belaka, ngakunya saja pemimpin dari lima partai pedang tersebut, dalam kenyataan jurus pedangnya cuma kepandaian kucing kaki tiga belaka, begitupun mengaku loocianpwee….”
Dengan wajah dingin silelaki tampan berseruling kumala itu mendongkol dan menghembuskan napas panjang terusnya, “Sedangkan perkumpulan Kay Pang? hmm, lebih memalukan lagi, segerombolan tua muda berpakaian rombeng yang dekil minta makan sana minta derma sini…. Huh, walaupun jumlahnya banyak, tak seorangpun yang sanggup menahan sebuah pukulanku!”
Mendengar ocehan tersebut Siauw Ling tertegun segera pikirnya, “Sungguh besar amat perkataan orang ini, Shen Bok Hong sendiripun belum tentu berani mengucapkan kata-kata sombong seperti ini.”
Diluaran dengan suara lembut sahutnya, “Saudara berani pandang rendah partai Bu tong serta perkumpulan Kay pang, aku rasa kepandaian silatmu pasti dahsyat sekali tetapi siauwte adalah salah satu sahabat mereka dan merupakan angkatan muda yang menghormati dia, oleh sebab itu menghadapi setiap masalah saya harus rundingkan dulu dengan dia sebelum mengambil keputusan.”
“Yang penting adalah Siauw heng menyetujui untuk tinggalkan tempat ini, sisanya kalau tak mau pergi dari sini berarti mencari penyakit buat diri sendiri.”
“Soal ini biarlah cayhe rundingkan lebih dahulu dengan mereka berdua. Secepatnya saya kembali memberi jawaban!”
Tidak menunggu Giok Siauw Lang Koen menanggapi lagi, ia segera putar badan dan melangkah keluar.
Dengan perasaan tak puas orang berbaju hijau bertangan besi itu mendengus dingin sementara dia siap melakukan pengejaran Giok Siauw Lang Koen telah ulapkan tangannya mencegah.
Begitulah dengan langkah lebar Siauw Ling berjalan menuju keluar ruang, setibanya disisi Sang Pat sambil angsurkan pil pemusnah racun itu ketangannya ia berseru, “Cepat telan pil penawar racun ini!”
Racun dari anak panah pengejar nyawa berkepala ular benar-benar sangat keji meskipun Sang Pat terkena belum lama tapi saat itu keadaannya sudah payah, wajahnya berubah jadi hijau membesi sedang keringat dingin mengucur keluar tiada hentinya.
Sekalipun begitu kesadaranya masih tetap utuh ia segera menerima pil penawar racun itu dari tangan toakonya dan ditelan kedalam perut.
Menyaksikan penderitaan dari Sang Pat, diam-diam Siauw Ling merasa bergidik, pikirnya, “Anak panah pengejar nyawa berkapala ular itu sungguh luar biasa ampuhnya, entah bagaimanakah khasiat dari obat penawar itu? apakah seperti yang dikatakan lelaki tampan berseruling kumala itu, dalam waktu singkat racunnya bakal lenyap?”
Persoalan nomor satu yang dipikirkan Siauw Ling pada saat ini adalah berharap agar luka yang diderita Sang Pat cepat sembuh, oleh sebab itu dengan pandangan tajam ia awasi terus perubahan dari saudara angkatnya itu.
Sedikitpun tak salah, obat penawar racun keji itu luar biasa manjurnya, tidak lama setelah Sang Pat menelan obat itu khasiatnya segera kelihatan peluh dingin yang membasahi batok kepalanya mulai lenyap.
Siauw Ling tarik napas panjang, bisiknya kepada Tu Kioe, “Bawa dia ketempat yang tenang dan aman suruh dia atur pernapasan dan jangan banyak bergerak menurut pemilik obat penawar ini didalam satu jam kekuatannya akan pulih kembali seperti sedia kala.”
Sang Pat melirik sekejap kearah saudaranya bibirnya bergerak seperti mau mengucapkan sesuatu tapi akhirnya maksud itu diurungkan, dibawah bimbingan Tu Kioe berjalanlah dia dibawah sebuah pohon dan mengatur pernapasan disitu.
Dalam pada itu Soen Put shia menghampiri jago kita sambil tanyanya dengan suara setengah berbisik, “Sudah kau temui orang itu?”
“Ehm, majikan dan pelayannya sudah kujumpai semua!”
“Kami temui seorang pemuda berjubah biru membawa seruling masuk kedalam ruangan” Boe Wie Tootiang menambahkan.
“Dia adalah sang majikan, ada seorang lagi manusia berbaju hijau bertangan besi dialah sang pelayan yang melukai saudara Sang dengan panah beracunnya!”
Boe Wie Tootiang megerutkan alisnya.
“Sang pembantu saja sudah begitu lihay ilmu silat yang dimiliki majikannya psti lebih lihay lagi.”
“Bukan lihay saja bahkan jumawa dan sombong” batin Siauw Ling didalam hati. “Dia sama sekali tidak memandang sebelah matapun terhadap partai Bu tong serta Kay Pang kalian.”
Tapi karena merasa bahwa pernyataan yang sejujurnya malah bakal melukai nama baik kedua orang itu, terpaksa ia menahan diri.
Sembari mengangguk sahutnya, “Bagaimanakah ilmu silat yang dimiliki sang majikan, cayhe belum pernah mencobanya. Tapi aku sudah bergebrak dengan orang berbaju hijau itu, kepandaian silatnya memang sangat lihay.”
“Apakah kau sudah tanyakan siapa namanya?”
“Ia tidak mengatakan namanya, tapi ia menyebut julukannya sebagai Giok Siauw Lang Koen.”
“Giok Siauw Lang Koen? Giok Siauw Lang Koen?” gumam Soen Put shia tiada hentinya. “Belum pernah aku dengar nama orang ini!”
“Kalau ditinjau dari umurnya, kurang lebih dua puluh lima enam tahunan” ia termenung sebentar, lalu tambahnya. “Kalau cayhe tidak salah menduga, Giok Siauw Lang Koen adalah sipeniup seruling yang kita dengar permainan musiknya sewaktu ada dikuil keluarga Loo.”
“Kalau begitu dia adalah sahabat kita, sudah sepantasnya kalau kita pergi menjumpai dirinya” kata Boe Wie Tootiang.
“Tak usah” Siauw Ling menggeleng. “Tabiatnya suka menyendiri dan jumawa, mungkin ia tak sudi bercakap-cakap dengan kita.”
Ia berpikir sejenak, kemudian sambungnya, “Andaikata ia membantu kita secara diam-diam pstilah disebabkan suatu sebab tertentu ini….! sikap Giok Siauw Lang Koen terhadap diriku masih terhitung rada sungkan, tapi sipelayan berbaju hijau itu selalu pandang diriku bagaikan orang yang paling dibencinya sepanjang hidup, ia terus menerus melototi diriku dengan pandangan gusar. Seakan jiwaku setiap detik bisa dicabutnya.”
“Wah…. waah, kalau begitu orang itu memang kukoay sekali” seru Soen Put sambil gelengkan kepalanya berulang kali. “Selama aku sipengemis tua berkelana didalam dunia persilatan, memang sering sudah kujumpai manusia aneh berwatak dingin, tapi manusia yang memandang setiap orang sebagai musuhnya belum pernah kutemui.”
“Masih ada banyak persoalan yang tidak berhasil cayhe paham, tapi kalau dipikir dibalik persitiwa tersebut tentu mempunyai sebab-sebab tertentu!” ujar Siauw Ling perlahan.
“Apa sebabnya?”
“Mungkin persoalan ini mempunyai sangkut pautnya dengan enci Gak Siauw Cha….” batin pemuda kita, sebelum duduknya perkara dibikin jelas ia merasa tidak leluasa untuk bicara terus terang, maka sahutnya, “Sulit bagi cayhe untuk membuat dugaan terhadap duduknya perkara itu, rasanya lebih baik kita nantikan saja perkembangan selanjutnya.”
Rupanya Boe wie Tootiang telah mengetahui bahwasanya Siauw Ling menemui kesulitan untuk memberi jawaban, segera ia memberi bisikan kepada Soen Put shia untuk tak banyak bertanya.
Siauw Ling sendiripun segera alihkan pembicaraan mereka kesoal lain, katanya, “Sewaktu Giok Siauw Lang Koen menyerahkan pil penawar racun itu kepadaku tadi, iapun sudah ajukan sebuah syarat.”
“Apa syaratnya itu?”
“Dia minta kita segera tinggalkan tempat ini.”
“Kenapa?” timbrung sisegulung angin Peng Im penasaran. “Apakah tempat ini milik mereka?”
“Katanya ia mau menjumpai seorang sahabatnya ditempat ini, dan tidak ingin pertemuannya itu terganggu oleh kehadiran kita.”
“Kalau memang begitu, pinto rasa ada baiknya kita segera tinggalkan tempat ini saja” Boe wie Tootiang usulkan.
“Apakah saudara siauw telah menyanggupi permintaannya itu?” tanya Soen Put shia.
“Cayhe tidak berani sembarangan mengambil keputusan, maka sengaja aku datang kemari untuk ajak loocianpwee berdua merundingkan persoalan ini.”
“Menurut penglihatan aku sipengemis tua, kendati ilmu silat yang dimiliki Giok Siauw Lang Koen bagaimana lihaynyapun, kita tak boleh mengundurkan diri dengan begini saja.”
Siauw Ling tertegun, pikirnya dalam hati, “waah…. rupanya loocianpwee ini masih mempunyai rasa ingin menang yang jauh tidak kalah dengan kaum muda.”
Meski berpikir begitu, diluaran ia berkata, “Ucapan Giok Siauw Lang Koen meski diutarakan dengan amat sungkan, tapi nadanya tegas dan serius, andaikata kita menampik mungkin saja dapat menimbulkan pertikaian yang seru.”
“Kalau kita harus mengundurkan diri dengan begini saja, bukankah tindakan kita ini sama artinya melemahkan kekuatan sendiri?”
“Lalu menurut pendapat loocianpwee?”
“Haah…. haah…. bagaimanapun juga dia harus memberikan pertanggung jawabnya terhadap kita.”
Ucapan terakhir ini diutarakan dengan suara lantang, rupanya dia ada maksud agar orang yang ada didalam ruangan ikut mendengar perkataannya itu.
Sedikitpun tidak salah, dari balik sermabi sebelah barat segera muncul suara teguran dari Giok Siauw Lang Koen, “Siapa yang telah mengucapkan perkataan begitu tak tahu adat?”
Diam-diam Siauw Ling merasa keheranan, pikirnya, “Kalau dikatakan Soen Put shia sengaja hendak mencari gara-gara dengan Giok Siauw Lang Koen hal ini rada tidak mirip, entah apa sebabnya ia bersikeras tak mau pergi dari sini?”
Dalam pada itu Soen Put shia telah menjawab, “Aku sipengemis tua yang bicara!”
Terdengar suara tertawa dingin berkumandang datang, disusul munculnya lelaki tampan berseruling kumala selangkah demi selangkah mendekati mereka, wajahnya dingin penuh napsu membunuh, mulutnya bungkam dalam seribu bahasa tapi sepasang matanya memancarkan cahaya tajam yang menggidikkan hati.
“Celaka!” pikir Siauw Ling. “Rupanya pertarungan tak bisa dihindari lagi….”
Walaupun ia belum pernah bergebrak melawan Giok Siauw Lang Koen, tapi teringat akan kelihayan ilmu silat yang dimiliki ornag berbaju hijau itu, ia dapat membayangkan sampai dimanakah kelihayan ilmu silat majikannya.
Karena kuatir Soen Put shia terluka didalam sebuah serangan kilatnya, buru-buru pemuda kita lintangkan badannya menghadang didepan pengemis tua itu, serunya seraya menjura, “Harap heng thay jangan gusar!”
“Siauw heng” tegur lelaki tampan berseruling kumala dengan alis berkerut. “Apakah kau hendak mewakili orang lain untuk memusuhi diriku….?”
“Eeei…. secara baik-baik aku menasehati kau malah berkata dengan begitu tak tahu adat kepadaku” batin Siauw Ling gusar segera serunya, “Bukankah sejak tadi sudah cayhe utarakan bahwa persoalan ini tak bisa diputuskan oleh aku orang she Siauw seorang diri, dan kini kami sedang merundingkan persoalan ini pergi atau tetap tinggal belum diputuskan. Apa sebabnya heng thay datang kemari dengan marah-marah? bukankah tindakanmu ini sama artinya memandang rendah diri kami?”
Air muka lelaki tampan berseruling kumala itu berubah hebat, ujarnya ketus, “Cayhe tidak ingin menyusahkan dirimu, lebih baik berpeluklah tangan disamping kalangan, tak usah kau campuri urusanku ini.”
“Heng thay, kalau kau memaksa terus menerus, jangan salahkan kalau aku orang she Siauw terpaksa harus turut campur.”
“Jadi kalau begitu harus turut ambil keputusan untuk mengambil bagian dalam persoalan ini?”
Siauw Ling mengangguk.
“Keadaan memaksa demikian, apa boleh buat terpaksa aku harus melakukan juga.”
Air muka Giok Siauw Lang Koen berubah berulang kali, jelas dalam hatinya terjadi pergolakan kencang, matanya memandang tubuh Siauw Ling tajam-tajam, rupanya setiap saat ia ada maksud turun tangan.
…. Bersambung jilid ke 29
JILID 29
Siauw Ling tak berani bertindak gegabah, hawa murninya segera dihimpun jadi satu dan bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan.
Masing-masing pihak saling bertahan beberapa saat lamanya, terkahir Giok siauw Lang Koen berhasil menguasai diri, serunya ketus, “Hmm! baiklah, memandang diatas wajahnya aku beri waktu sepertanak nasi lagi kepada kalian untuk berunding, kalau kamu sekalian tetap keras kepala dan tak mau tinggalkan tempat ini. Heeh…. heeh…. jangan salahkan kalau cayhe berbuat kurang adat!”
Habis berbicara tanpa menanti jawaban dari Siauw Ling lagi ia putar badan dan berlalu.
“Memandang diatas wajah “Nya”? siapa yang dia maksudkan sebagai “Nya” disini….? apakah ia maksudkan enci Gak Siauw Cha?” pikir Siauw Ling.
Sekarang ia telah merasa yakin bahwa Giok siauw Lang Koen yang ditemuinya sekarang bukan lain adalah sipeniup seruling kemarin malam, ia teringat kembali pemandangan dikala Giok siauw Lang Koen serta Lan Giok Tong sama-sama menaruh rasa cinta yang mendalam terhadap diri Gak Siauw Cha. Karena persaingan inilah menyebabkan sesama saudara misan jadi bentrok dan saling bermusuhan bagaikan air dan api.
Dalam pada itu terdengarlah Soen put shia sedang bergumam seorang diri, “Sedikitpun tidak salah, memang seruling kumala itu….”
“Bagaimana dengan seruling kumala itu?” tanya Siauw Ling dengan wajah tertegun.
Soen Put Shia menghela napas panjang.
“Waai….! aku sipengemis tua pernah menjumpai seruling kumala itu, meski sudah lewat puluhan tahun lamanya tapi aku pengemis tua masih teringat baik-baik, seruling itu memang tidak salah, hanya saja sipembawa serulingnya yang berbeda.”
Sebelum Siauw Ling sempat bertanya duduk perkara yang sebenarnya, tiba-tiba terdengar Boe Wie Tootiang berkata pula sambil menghela napas panjang.
“Ooooh, betapa sempurnanya tenaga kweekang yang dimiliki orang ini.”
Siauw Ling berpaling kedepan, tampaklah permukaan tanah dimana barusan dilalui oleh Giok siauw Lang Koen telah tertinggal bekas telapak kaki yang amat nyata.
Bukan saja telapak kaki itu sangat jelas bahkan dalam sekali, hal ini tentu saja mengejutkan hati pemuda kita, segera pikirnya, “Diam-diam mengerahkan tenaga dalam untuk meninggalkan bekas telapak yang begitu nyata kesulitan justru terletak pada cara membagi kekuatan yang sempurna…. ia memang sangat lihay!”
Kemudian pikiran lebih jauh, “Kalau memang Soen Put shia telah mengetahui asal usul dari seruling kumala itu, sepantasnya ia tak usah menanyakan asal usul dari Giok siauw Lang Koen lagi, entah apa sebabnya ia bertindak demikian?”
Ketika dia alihkan sinar matanya, tampaklah Soen put shia sedang memandang keangkasa sambil memikirkan satu persoalan, maka tegurnya dengan suara lirih, “Loocianpwee, apakah kau mengambil keputusan untuk tetap berdiam disini?”
“Tal perlu, aku sudah menyaksikan seruling kumala itu, rasanya sudah sepantasnya kalau kita pergi.”
“Ooh, kiranya dia sengaja memanasi hati Giok siauw Lang Koen, tujuannya bukan lain hanya ingin melihat seruling kumala itu saja” batin pemuda kita, segera ujarnya, “Jadi loocianpwee mengambil keputusan untuk berlalu dari sini?”
“Sedikitpun tidak salah, sudah kita saksikan sendiri seruling kumala itu, rasanya tetap berada disinipun tiada kegunaannya bagi aku sipengemis tua….”
“Ooh, rupanya dia gunakan akal berbuat kasar tujuannya hanya untuk membuktikan kecurigaan yang sedang dipikirkan dalam hatinya” kembali Siauw Ling berpikir. “Tapi aku telah bentrok dengan Giok siauw Lang Koen, entah apa yang harus kulakukan sekarang, disamping itu entah siapa yang hendak dijumpainya malam nanti, mungkinkah enci Siauw Cha….?”
Untuk beberapa saat lamanya ia merasa pikirannya kacau dan tak tahu apa yang harus dilakukan.
Rupanya Boe Wie Tootiang dapat menyaksikan kesulitan yang sedang dihadapi si anak muda itu, sambil menghela napas panjang tanyanya, “Siauw thayhiap, apakah kau ingin tetap tinggal disini?”
“Giok siauw Lang Koen memberi batas waktu kepada kita untuk berlalu dari sini dalam sepertanak nasi. Andaikata kita menuruti perkataannya dan mundur dengan begini saja, rasanya perbuatan kita ini terlalu melemahkan kekuatan sendiri.”
Cuma saja iapun merasa rada bingung, sebab kalau seandaianya mereka tetap berdiam disitu maka suatu pertarungan sengit kemudian besar bisa berlangsung…. dalam keadaan seperti ini, pemuda she Siauw itu merasa tak mengerti apa yang harus dikerjakan.
Boe Wie tootiang termenung berpikir sejenak, kemudian berkata, “Kalau menurut pendapat pinto, lebih baik kita gunakan siasat jalan tengah yang baik saja.”
“Jalan tengah apa lagi yang bisa kau lakukan?” pikir Si anak muda itu dalam hati. “Dalam keadaan seperti saat ini hanya dua jalan saja bagi kita, yaitu menurut perkataan dan segera mundur dari sini, atau tetap tinggal ditempat ini sambil bertarung melawan dirinya….”
Sekalipun ia berpikir demikian, diluaran katanya, “Silahkan tootiang utarakan pendapatmu yang bagus itu!”
“Seandainya kita harus saling bergerbak dengan gunakan kekerasan hanya disebabkan saling memperebutkan bangunan rumah ini sebagai tempat pemondokan pinto rasa hal ini sama artinya persoalan kecil yang sengaja dibesar-besarkan tapi kalau suruh kita mengundurkan diri dengan begitu saja, sama artinya menunjukkan kelemahan sendiri dihadapan orang maka menurut pendapat pinto tiada halangannya bagi kita untuk mengundurkan diri sementara waktu tapi sebelum berlalu tiada halangannya bagi Siauw thayhiap untuk unjukkan sedikit kepandaian sakti agar bisa dilihat oleh mereka.”
“Ehmm, perkataan ini memang tidak salah” pikir Siauw Ling. “Setelah unjukan kekuatan kita mundur dengan syarat, rasanya dengan begitu masing-masing pihak bisa mempertahankan nama baiknya masing-masing, dan pertarungan yang tak bergunapun bisa terhindar….” ia mengangguk tanda setuju.
“Ucapan tootiang memang sedikitpun tidak salah cuma cayhe tidak tahu bagaimana harus memperlihatkan kekuatan kita?”
Boe Wie Tootiang tersenyum.
“Orang yang membawa seruling itu tinggalkan bekas telapak diatas permukaan tanah. Walaupun ilmu silatnya sangat lihay tapi pinto percaya Siauw thayhiap pasti tak akan kalah daripada dirinya.”
Ia merandek sejenak lalu ujarnya lagi, “Setiap manusia perduli bagaimanakah bakatnya serta kecerdikannya, tak nanti ia berhasil melatih setiap jenis kepandaian hingga mencapai saat kesempurnaan, setiap manusia tentu memiliki kekurangannya yang tersendiri, maka dikala Siauw thayhiap hendak pamerkan kekuatannya nanti berusahalah menjauhkan diri dari kelemahanpun, dan gunakanlah kelebihan yang kau miliki.”
“Ditinjau dari keadaan pada saat ini, rasanya memang hanya inilah satu-satunya jalan yang terbaik” pikir pemuda itu, maka ia lantas mengangguk.
“Baiklah aku mengikuti ucapan dari tootiang.”
Boe Wie Tootiang segera menoleh kepada sutenya Ceng Yap Chin dan perintahnya, “Bawalah semua anak murid kita yang ada disini untuk mengundurkan diri terlebih dahulu dari bangunan rumah ini.”
Walaupun dalam hati Ceng Yap Chin tak ingin meninggalkan tempat itu, tapi sebagai seorang adik seperguruan yang selalu menghormati suhengnya tanpa mengucapkan sepatah katapun segera menjalankan perintah itu dan mengundurkan diri beserta para anak murid Bu tong pay lainnya.
“Kau boleh mengundurkan diri juga!” seru Soen Put shia sambil memandang sekejap kearah Peng Im.
Sisegulung angin mengiakan dan perlahan-lahan berjalan keluar dari rumah itu.
Memandang sekejap Sang Pat yang sedang duduk mengatur pernapasan dibawah pohon bunga Siauw Ling berpikir, “Meskipun tujuanku hanya mendemonstrasikan kepandaian, tapi kemungkinan besar bisa terjadi pertarungan sungguh-sungguh karena desakan keadaan, luka yang diderita Sang Pat amat parah, rasanya tidak leluasa kalau dia tetap berada disini, andaikata sampai terjadi pertarungan pikiranku tak bisa dicabangkan untuk melindungi keselamatannya. Lagi pula saat ini dia sedang mengatur pernapasan dan tak bisa diganggu, entah apa yang harus kuperbuat?”
Dari perubahan air muka si anak muda itu, rupanya Soen Put shia telah dapat menduga apa yang sedang dipersoalkan, sambil tersenyum segera serunya, “Dikala saudara Siauw mendemonstrasikan kepandaian nanti, tak usah kau cabangkan pikiran buat memperhatikan dirinya. Aku sipengemis tua serta Boe Wie Tootiang rasanya sudah lebih dari cukup untuk melindungi keselamatan Sang Pat.”
“Baiklah, kalau memang begitu aku titipkan dirinya kepada kalian.”
Sepertanak nasi berlalu dengan cepatnya, baru saja Siauw Ling selesai mengatur rekan-rekannya, dari serambi sebelah barat terdengar suara dari Giok Siauw Lang Koen berkumandang datang, “Batas waktu telah habis, bagaimanakah keputusan dari cuwi sekalian.”
Ucapan itu tidak terlalu keras tapi setiap patah kata berkumandang dengan amat jelasnya.
Siauw Ling menoleh dan memandang sekejap kearah Soen Put shia serta Boe Wie Tootiang, lalu pesannya, “Kalian berdua tak usah membantu cayhe.”
Ia merandek sejenak, dan serunya lantang, “Ada sedikit persoalan aku orang she Siauw hendak mohon petunjuk darimu.”
“Saudara masih ada persoalan apa lagi?”
“Apakah heng thay bisa keluar dulu dari dalam ruanganmu?”
“Setiap perkataan yang cayhe ucapkan selamanya berat bagaikan bukit, kalau sampai batas waktunya habis kalian belum juga berlalu dari sini, itu berarti kalian yang mencari kematian buat diri sendiri. Andaikata Siauw heng ada maksud mempersoalkan hal itu dengan diri cayhe, aku nasehati dirimu lebih baik batalkan saja maksudmu itu sebab percuma.”
Dalam hati Siauw Ling merasa amat gusar, serunya ketus, “Sebetulnya kami hendak berlalu dari sini tapi setelah saudara berbicara demikian mungkin cayhe bisa berubah pikiran.”
“Berubah pikiran bagaimana?”
“Dengan ucapanmu barusan, meskipun kami hendak tinggalkan tempat ini hal tersebutpun baru akan kami lakukan sepertanak nasi lagi.”
“Siauw Ling!” teriak Giok Siauw Lang Koen sambil tertawa dingin. “Aku sudah terlalu bersabar dengan dirimu.”
“Selama hidup, cayhepun baru kali ini bicara sungkan-sungkan terhadap orang lain.”
“Masih ada seperminum teh lagi batas waktu sepertanak nasi akan habis….!”
Siauw Ling mendengus dingin, ia tidak memperdulikan perkataan dari lelaki tampan berseruling kumala itu, sambil menoleh kepada Soen Put shia serta Boe Wie Tootiang katanya, “Orang ini terlalu jumawa dan sombong, sungguh membuat hati orang merasa mendongkol, rupanya kita harus tetap tinggal ditempat ini.”
“Janganlah disebabkan persoalan kecil hingga mengacaukan masalah besar….” nasehat Boe Wie Tootiang. “Dewasa ini kekuatan Shen Bok Hong sedang mencapai pada puncaknya, untuk menghadapi gembong iblis itu saja sudah rada kewalahan, apa gunanya menanam biji permusuhan lagi dengan orang lain?”
Mendengar ucapan tersebut Siauw Ling segera menghela napas panjang.
“Aaaai….! perkataan dari tootiang sedikitpun tidak salah, rasanya memang lebih baik kita mengalah satu tindak kepadanya.”
“Untuk menghindari segala hal yang tidak diinginkan, bagaimana kalau kita berlalu selangkah lebih cepat?”
“Baiklah! aku sipengemis tua memang sudah merasa amat reyot, angkara murka memang tiada dalam hatiku lagi!”
Melihat kedua orang loocianpwee itu sudah mengambil keputusan untuk berlalu, Siauw Ling segera berpaling untuk memanggil Sang Pat guna bersama-sama tinggalkan tempat itu.
Siapa tahu pada saat itulah mendadak terdengar suara teguran yang diiringi suara tertawa dingin berkumandang datang, “Kalian hendak bunuh diri? ataukah memaksa cayhe yang turun tangan….?”
Soen Put shia segera berpaling, dia lihat Giok Siauw Lang Koen dengan seruling terhunus sedang berdiri kurang lebih satu tombak dihadapan mereka dengan wajah penuh napsu membunuh, siorang berbaju hijau itu berdiri dibelakang majikannya.
Dalam pada itu orang berbaju hijau tadi telah melepaskan topengnya sehingga tampaklah wajah sebenarnya yang berwarna hijau membesi, meskipun pada janggutnya tiada jenggot tapi usianya nampak sekali sudah mencapai tiga puluh tahunan lebih.
Siauw Ling menoleh dan memandang sekejap kearah Soen Put shia, dia lihat wajah pengemis tua ini, sudah diliputi kegusaran jelas sikap jumawa dan sombong dari Giok Siauw Lang Koen telah membangkitkan hawa amarah dari jago tua ini.
Siauw Ling segera tertawa dingin.
“Maksud saudara, apakah kau suruh kami sekalian bunuh diri dihadapanmu….?”
“Kalau kalian paksa cayhe untuk turun tangan sendiri, aku takut cuwi sekalian bakal merasakan dulu suatu penderitaan yang maha berat.”
“Tahukah saudara akan sepatah kata?”
“Perkataan apa?”
“Seorang lelaki sejati boleh dibunuh tak sudi dihina!”
“Hehmm…. cuwi sekalian boleh mati dan tak usah terhina.”
“Tapi cayhe sekalian tak sudi bunuh diri!”
“Mau menggunakan cara apapun terserah pada pilihan cuwi sendiri, pokoknya kamu semua harus mati.”
Mendengar ucapan pihak lawan sesumbar dan makin lama semakin tak sedap didengar, hawa amarah didalam dada Siauw Ling berkobar juga, pikirnya, “Sekalipun kami bakal kalah ditanganmu tak sudi kami menderita penghinaan seperti ini, perduli menang atau kalah dalam pertarungan nanti, aku harus memberi sedikit pelajaran kepadamu.”
Berpikir demikian, segera ujarnya dengan nada ketus, “Kami tak sudi bunuh diri, dengan sendirinya terpaksa harus mengudang dirimu untuk turun tangan sendiri.”
Air muka Giok Siauw Lang Koen berubah hebat.
“Hmm, rupanya belum melihat peti mati kalian tak akan mengucurkan air mata.” jengeknya dingin. “Sebelum tiba disungai Hoang hoo, hati kalian tak mati, bagus siapa yang pingin modar dulu?”
“Cayhe akan menjajal lebih dulu” sahut Siauw Ling sambil busungkan dadanya.
“Kau yang nomor satu pingin cari mati?”
“Caye adalah orang pertama yang akan menjajal kepandaian silatmu, benarkah mati masih sulit untuk dibicarakan mulai sekarang….”
Ia merandek sejenak, lalu tambahnya, “Mungkin cayhelah yang sudah kesalahan tangan hingga melukai diri saudara!”
“Hmm, orang-orang bilang kau Siauw Ling sombong dan jumawa, ini hari setelah berjumpa sendiri aku baru merasa bahwa ucapan itu sedikitpun tidak salah, kalau memang kau pingin modar, cayhe akan menyempurnakan keinginannmu itu.”
Maksud ucapan itu seolah-olah andaikata terjadi bentrokan maka Siauw Linglah yang berada dipihak kalah.
“Saudara, siapakah yang bakal kalah sebentar lagi bakal diketahui. Aku rasa kau tak usah jual lagak terlalu pagi!”
Mendadak Giok Siauw Lang Koen merangsek kedepan, sambil menotok dada Siauw Ling dengan serulingnya ia menghardik, “Berbaring kau!”
Siauw Ling telah bergerak melawan orang berbaju hijau itu, ia tahu Giok Siauw Lang Koen sebagai majikan kepandaian silatnya tentu jauh berada diatas pelayanannya, oleh karena itu sejak pertama tadi dia sudah bikin persiapan.
Dikala Giok Siauw Lang Koen ayunkan serulingnya melancarkan totokan itulah, Siauw Lingpun ayunkan telapak kanannya menghantam seruling tersebut, sementara badannya mengingos.
“Belum tentu kawan!” ejeknya.
Baru saja ucapan itu diutarakan keluar, mendadak ia rasakan segulung desiran tajam menerjang badannya.
Sejak tadi Siauw Ling sudah kerahkan hawa khiekang pelindung badannya disekeliling tubuh, meskipun serangan jari itu datangnya secara mendadak tapi segera terbendung oleh hawa khiekang itu hingga tak menyebabkan ia terluka.
Kendati begitu hatinya terkesiap juga pikirnya, “Serangan dahsyat itu entah sejak kapan dilancarkan? andaikata dilepaskan bersamaan dengan datangnya ancaman seruling kumala itu, tak nanti sedemikian cepatnya, tidak aneh kalau ia berani sesumbar menyuruh aku berbaring! bila aku tak memiliki hawa khiekang pelindung badan niscaya jalan darahku sudah kena terhajar dan saat ini aku sudah roboh diatas tanah.”
Sebaliknya Giok Siauw Lang Koen sendiri seketika melihat serangan dengan telak bersarang diatas dada lawannya namun pemuda itu sama sekali tak berkutik bahkan seolah-olah tidak terjadi sesuatu apapun, dan malahan ada satu tenaga pantulan yang membendung hawa serangannya, dalam hati seketika terkesiap pikirnya, “Aaah, ternyata ia berhasil menguasai hawa khiekang pelindung badan yang amat dahsyat itu.”
Meski dalam hati kedua belah pihak sama-sama terperanjat, tapi serangan gencar yang dilancarkan sama sekali tak berhenti.
Tampak Giok Siauw Lang Koen menekan serulingnya kebawah meloloskan diri dari cengkeraman lima jari Siauw Ling, kemudian secara mendadak memutar keatas menotok pergelangan kanan si anak muda itu.
Buru-buru Siauw Ling putar pergelangan kanannya dan tarik kembali tangannya kebelakang. Sedangkan tangan kiri mengirimkan satu pukulan.
Begitu pukulan tersebut dilancarkan, maka bersambunglah serangan-serangan berikutnya dengan gencar, dalam sekejap mata ia sudah mengirim dua belas serangan berantai.
Mendadak Giok Siauw Lang Koen meloncatmundur tiga langkah kebelakang, tegurnya, “Bukankah yang kau gunakan adalah ilmu pukulan kilat berantai dari Lam It Kong?”
“Sedikitpun tidak salah” jawab Siauw Ling sambil menantikan pula serangannya. “Pengetahuan yang kau miliki ternyata cukup luas juga!”
Meski diluaran berkata demikian, dalam hati pikirnya dengan terkesiap, “Ilmu silat yang dimiliki orang ini bukan saja sangat lihay, pengetahuan yang dimiliki ternyata luas sekali….”
“Darimana kau pelajari ilmu pukulan tersebut??” terdengar Giok Siauw Lang Koen menegur kembali.
“Soal ini? maaf aku tak bisa memberitahukan kepadamu.”
“Maksud cayhe adalah ingin mengetahui duduknya perkara, kau dapatkan langsung dari orangnya ataukah mempelajari dari catatan kitab ilmu silat?”
“Sudah tentu mendapat warisan langsung dari orangnya?”
“Jadi kalau begitu Lam It Kong masih hidup dikolong langit dan belum mati….” ia merandek sejenak. “Sekarang dia berada dimana?”
“Pokoknya dia orang tua masih hidup dikolong langit, buat apa kau tanyakan tempat tinggalnya? maaf, persoalan ini lebih baik tak usah kau tanyakan lagi.”
“Hmm! meskipun kau tak mau mengaku terus terang, suatu ketika aku akan berhasil mengetahuinya sendiri.”
Seruling kumalanya berkelebat kedepan satu serangan totokan segera meluncur keluar.
Siauw Ling segera lintangkan telapak tangannya untuk menangkis, kemudian didorong kemuka membabat seruling kumala lawan.
“Sombong amat orang ini” pikir Giok Siauw Lang Koen didalam hati. “Ternyata berani menyambut serangan serulingku dengan telapak tangan, aku harus memberi sedikit pelajaran kepadanya agar dia tahu diri.”
Berpikir demikian seruling kumalanya segera ditekan kebawah dan berputar menyongsong kedatangan lawan.
Tampaklah kelima jari Siauw Ling laksana cakar burung elang berkelebat kemuka dan mencengkeram seruling kumala tersebut.
“Kurang ajar, kau sendiri yang cari kesulitan. Jangan salahkan kalau hatiku kelewat kejam” pikir lelaki tampan berseruling kumala itu.
Hawa murninya segera disalurkan kedalam senjata serulingnya itu.
Rupanya pada seluruh tubuh seruling kumala yang ada ditangan Giok Siauw Lang Koen tersebut terdapat banyak sekali tonjolan-tonjolan kecil yang sangat tajam. dengan kesempurnaan tenaga kweekang yang dimiliki lelaki tampan berseruling kumala itu, jarang sekali ada orang yang berhasil lolos dari tusukan tonjolan tajam tersebut.
Tetapi Siauw Ling tetap menggenggam erat-erat seruling itu, bukan saja sama sekali tidak terluka bahkan cekalannya kian lama kian mengencang.
“Ehmm, ternyata ilmu silat yang kau miliki lihay sekali….” seru Giok Siauw Lang Koen dengan alis berkerut. “Lepaskan seruling kumalaku….!”
“Aneh benar orang ini” pikir Siauw Ling. “Toh kita sedang berhadapan sebagai musuh mana ada orang yang suruh musuhnya melepaskan genggaman pada senjatanya? aaah, mungkin seruling kumala ini terlalu berharga sekali hingga ia takut rusak….”
Berpikir demikian diapun lantas menuntut dan melepaskan genggamannya.
Rupanya Giok Siauw Lang Koen tidak menyangka kalau bentakannya menyebabkan Siauw Ling benar-benar melepaskan genggamannya pada seruling kumala tersebut, sambil mundur tiga langkah kebelakang ujarnya dengan suara dingin, “Ternyata Siauw heng sangat penurut dengan perkataanku.”
Mendadak ia ayunkan seruling kumalanya, dibawah sorot cahaya matahari tampaklah berpuluh-puluh kilatan cahaya yang lembut berdesiran keluar dari mulut seruling itu dan memancar keempat penjuru.
Kiranya didalam seruling kumala yang tampaknya antik itu telah dipasang alat rahasia yang bisa memuntahkan senjata rahasia beracun.
siauw Ling melirik sekejap kearah seruling kumala itu, kemudian ujarnya dengan suara dingin, “Kiranya seruling kumala milik saudara itu masih dapat memuntahkan senjata rahasia yang demikian kejinya, sungguh membuat aku Siauw Ling terbuka sepasang matanya.”
“Hmm, andaikata saudara tidak mendengarkan perkataan dari cayhe, mungkin pada saat ini kau sudah terluka diujung senjata rahasia beracun ini….”
“Walaupun caramu menyembunyikan jarum beracun didalam seruling amat bagus dan keji hingga membuat orang sama sekali tidak menyangkanya, tapi belum tentu dapat melukai aku orang she Siauw.”
Giok Siauw Lang Koen tidak tahu kalau Siauw Ling mengenakan sarung tangan kulit ular yang kebal terhadap senjata apapun, segera ia tertawa dingin.
“Alat rahasia yang kupasang didalam sarung ini mempunyai kekuatan memancar yang sangat hebat, sekalipun kau memiliki hawa khiekang untuk melindungi badan, belum tentu bisa membendung serangan jarum beracunku yang halus dan tajam itu.”
“Rupanya ia suruh aku melepaskan seruling kumalanya adalah bermaksud baik” pikir Siauw Ling. “Lebih baik aku tidak usah mempersoalkan masalah ini lagi dengan dirinya.”
Karena itu diapun tidak berbicara lagi.
Terdengar Giok Siauw Lang Koen berkata kembali, “Aku telah mengampuni selembar jiwamu, apakah kau masih juga belum mau tahu diri dan mundur dari sini?”
“Kalau aku menyetujui permintaannya dan mundur dari sini, orang ini pasti akan turun tangan keji dan menciptakan pembunuhan besar-besaran. Bagaimanapun juga aku harus mencari akal untuk menundukkan lelaki tampan berseruling kumala itu….”
Perlahan-lahan Siauw Ling mencabut keluar pedangnya dari dalam sarung, lalu berkata, “Jurus serangan seruling kumala saudara pasti lihay dan sempurna, cayhe sangat berharap untuk minta beberapa petunjuk dari kepandaian ilmu serulingmu itu.”
“Heeh…. heeh…. heeh…. Siauw Ling” jengek Giok Siauw Lang Koen sambil tertawa dingin. “Tahukan kau apa sebabnya aku mengalah terus kepadamu?”
“Kenapa?”
“Karena seseorang!”
“Siapakah orang itu? apa hubungannya orang itu dengan diri cayhe?”
Hawa napsu membunuh yang amat tebal menyelimuti seluruh wajah Giok Siauw Lang Koen, ujarnya dingin, “Selama hidup belum pernah aku bersikap begini sungkan dan sabar kepada siapapun, hanya terhadap kau Siauw Ling saja yang boleh dikata pengecualian.”
“Saudara tak usah terlalu kukuh pada pikiranmu, aku Siauw Ling adalah Siauw Ling sama sekali tiada hubungan atau sangkut paut apapun dengan orang lain, kalau mau turun tangan lakukanlah dengan hati lapang.”
“Kau hendak paksa aku turun tangan?” jerit Giok Siauw Lang Koen dengan mata berkilat.
“Cahye sama sekali tiada maksud untuk memaksa saudara untuk turun tangan, tapi kaupun tak usah bersikap sungkan-sungkan terhadap diriku, mari kita tentukan kemenangan kita dengan andalkan ilmu silatnya masing-masing.”
“Haaah…. haaah…. haaah…. bagus, kalau begitu berhati-hatilah….”
Serulingnya mendadak berkelebat kedepan melancarkan sebuah totokan.
Meskipun diluaran Siauw Ling bicara enteng dan seenaknya, padahal dalam hati kecilnya sama sekali tidak berani pandang rendah lawannya, ia tarik napas panjang-panjang dan secara mendadak mundur tiga depa kebelakang.
Giok Siauw Lang Koen tertawa dingin, seruling kumalanya bergerak cepat dalam sekejap mata melancarkan tiga buah serangan berantai.
Walaupun hanya tiga serangan belaka, tapi bayangan seruling yang diciptakan dalam serangan itu bermunculan dari empat arah delapan penjuru, hingga nampak begitu dahsyatnya.
Menyaksikan kelihayan lawan, Soen Put shia segera berpaling memandang sekejap kearah Boe Wie Tootiang dan ujarnya dengan suara lirih, “Jurus serangan ini sangat aneh dan lihay jarang sekali aku sipengemis tua menyaksikan kepandaian seperti ini.”
“Benar, siapa menang siapa kalah sulit sekali ditentukan dalam pertarungan ini….”
Rupanya sebelum ucapan itu selesai diutarakan mendadak ia membungkam dan tidak berbicara lagi.
Termakan oleh desakan bayangan seruling yang memenuhi angkasa itu Siauw Ling secara beruntun mundur lima langkah kebelakang dengan susah payah ia baru berhasil lolos dari serangan gencar tersebut.
Giok Siauw Lang Koen tertawa dingin jengeknya, “Sungguh luar biasa sekali, ternyata kau masih sanggup untuk menghindarkan diri dari tiga jurus seruling angin puyuh ini!”
Mulutnya berbicara tangannya sama sekali tidak berhenti menyerang, bahkan sejurus lebih cepat dari jurus berikutnya. Seketika itu juga Siauw Ling telah terkurung didalam lapisan bayangan siseruling lawan.
Sejak terjunkan diri kedalam dunia kangouw belum pernah Siauw Ling jumpai pertarungan yang begitu seru dan berbahayanya seperti hari ini, serangan-serangan Giok Siauw Lang Koen yang begitu cepatnya ternyata membuat si anak muda itu tak sanggup melancarkan serangan balasan.
Dalam sekejap mata kedua orang itu telah saling bergebrak puluhan jurus banyaknya, Siauw Ling selain dipaksa berputar kayuh dengan langkah yang kacau, sedikit kesempatanpun tak ada baginya untuk mengirim serangan.
Soen Put shia yang menyaksikan keadaan itu jadi gelisah, bisiknya kepada Boe Wie Tootiang, “Tootiang, aku lihat keadaannya rasa kurang beres, ia selalu berada didalam situasi yang terkurung, mana sanggup bertahan lebih lama lagi? bagaimana kalau aku sipengemis tua membantu dirinya?”
“Legakan hatimu loocianpwee, walaupun situasi Siauw Ling agak berbahaya namun tidak sampai mengancam jiwanya. Keanehan serta kelihayan jurus serangan ilmu seruling orang ini betul-betul luar biasa sekali, pintopun baru pertama kali ini menyaksikan kepandaian tersebut, andaikata kita turun tangan membantu dirinya, aku takut malahan akan membuyarkan konsentrasinya lebih baik tunggu sesaat lagi baru mengambil keputusan.”
Meskipun ia menghibur diri Soen Put shia, tapi dalam hati kecilnya diam-diam iapun merasa amat terperanjat.
Siauw Ling ditengah pertarungan sengit yang tidak memberi kesempatan baginya buat melancarkan serangan balasan, selalu terkurung desakan seruling kumala Giok Siauw Lang Koen yang dahsyat.
Seperminum teh lamanya sudah lewat, tapi Siauw Ling tetap terkurung didalam pertarungan yang serba mengerikan itu.
Jurus serangan Giok Siauw Lang Koen kendati sangat lihay, tapi ia belum sanggup merontokkan pedang panjang dari Siauw Ling.
Mendadak terdengar si anak muda itu membentak keras, pedangnya menekan keatas menerjang keluar dari bayangan seruling yang berlapis itu dan mulai balas melancarkan serangan balasan.
Terdengar suara bentrokan senjata yang amat nyaring berkumandang memenuhi angkasa, percikan api menyilaukan mata.
Dengan susah payah akhirnya Siauw Ling berhasil juga menemukan sebuah titik kelemahan dengan menggunakan kesempatan itulah ia lolos dari kepungan bayangan seruling yang berlapis-lapis dan segera melancarkan tiga buah serangan.
Tampaklah berkuntum-kuntum bunga pedang diiringi kilatan cahaya tajam menyambar keudara balas mengurung tubuh lawan.
Sampai detik itulah Boe Wie Tootiang baru dapat menghembuskan napas panjang, gumamnya, “Ooh, ternyata ia tak sampai terpengaruh dalam kepungan bayangan seruling lawan.”
“Benar,benar berbahaya sekali” sambung Soen Put shia pula.
Saat itu sitangan besi yang ada dibelakang Giok Siauw Lang Koen berubah air mukanya dengan mata terbelalak lebar saksikan pertarungan antara kedua orang itu, rupanya silelaki tampan berseruling kumala itu telah mengerahkan segenap tenaganya.
Tampaklah pertarungan antara kedua orang itu makin lama semakin seru, seruling kumala pedang panjang masing-masing mengeluarkan keampuhannya masing-masing.
Boe Wie Tootiang menoleh dan memandang sekejap kearah pengemis tua itu, lalu bisiknya, “Loocianpwee, bagaimanapun juga kita harus carikan akal untuk mencegah mereka bertarung lebih lanjut.”
“Kalau kita berteriak pada saat ini, mungkin mereka tak mau berhenti!”
“Tapi kalau suruh mereka bertarung lebih jauh, mungkin akan mengakibatkan kedua belah pihak sama-sama menderita luka.”
Soen Put shia segera memandang kearah kalakang dengan lebih seksama, ia lihat diatas wajah Siauw Ling secara lapat-lapat sudah muncul air keringat jelas ia telah mengerahkan segenap tenaganya. Dan ketika ia menoleh kearah Giok Siauw Lang Koen segera lapat-lapat diapun lihat pada jidat orang itu sudah bermandikan peluh.
Pada saat yang amat kritis itulah mendadak terdengar suara bentakan nyaring berkumandang datang, “Tahan!”
Laksana kilat Giok Siauw Lang Koen melancarkan satu serangan menangkis datangnya ancaman pedang lawan, kemudian loncat mundur lima depa kebelakang.
Sejak terjun kedalam dunia persilatan, baru kali ini Siauw Ling benar-benar telah bertemu dengan musuh tangguh, pertarungan yang amat seru dan penuh dengan mara bahaya ini menyebabkan timbulnya rasa kagum dalam hatinya pada lelaki tampat itu.
Oleh karena itu ketika Giok Siauw Lang Koen tarik kembali senjatanya seraya meloncat mundur.
Menanti ia berpaling kesamping, tampaklah seorang nona cilik berusia lima belas enam belas tahunan dengan rambut dikepang dan memakai celana panjang berwarna hijau ikat pinggang warna kuning dan menyoren sebilah pedang dipunggungnya berdiri dengan muka keren didepan pintu.
Satu ingatan berkelebat dalam benak Siauw Ling pikirnya, “Bukankah dayang ini adalah sinona cilik yang kujumpai kemarin malam? dia aalah dayang kepercayaan dari enci Siauw Cha, jangan-jangan kedatangannya adalah atas perintah dari enci Siauw Cha….”
Dalam pada itu tampaklah Giok Siauw Lang Koen yang jumawa, sombong dan tidak pandang sebelah mata terhadap siapapun itu berpaling memandang sekejap kearah nona itu lalu menjura sambil ujarnya, “Nona Soh Boen, baik-baikkah selama berpisah?”
Sepasang biji mata gadis berbaju hijau yang bulat gede itu berputar sekejap keempat penjuru, kemudian sahutnya sambil balas memberi hormat, “Budak tidak berani menyambut penghormatan dari Giok Siauw Lang Koen!”
“Nona datang kemari entah ada urusan apa?”
Sewaktu mengucapkan kata-kata tersebut, wajahnya nampak tegang sekali.
“Aku datang untuk menyampaikan satu persoalan kepadamu.”
“Persoalan apa? apakah menyangkut nona Gak?”
“Tidak salah, nona suruh aku datang menyampaikan kabar kepada siankong, katanya pada pertemuan malam nanti ia tidak ingin datang kemari.”
“Kenapa?” katanya Giok Siauw Lang Koen dengan wajah berubah hebat.
“Kenapa? aku sendiripun tak tahu” sinar matanya segera dialihkan keatas wajah Siauw ling, terusnya. “Siauw siangkong, apakah kau sudah tidak kenal dengan budak lagi?”
“Bukan, kita sudah bertemu sebanyak dua kali.”
“Pertama kali nona memakai pakaian pria tentu saja tak dapat dihitung….!”
Soh Boen tersenyum, ia kembali menoleh kearah Giok Siauw Lang Koen sambil berkata, “Kata nona siangkong tak usah menunggu dirinya lagi ditempat ini.”
“Ini hari ia tak mau ketemu, lalu sampai kapan kita baru bisa saling berjumpa lagi?”
“Kata nona, kalau dia ingin bertemu dengan dirimu, setiap saat bisa mengutus orang untuk mencari dirimu.”
Air muka Giok Siauw Lang Koen seketika berubah hebat, sebentar berubah jadi pucat pasi sebentar lagi berubah jadi hijau membesi. Jelas dalam hatinya terjadi pergolakan yang sangat keras. Setelah termenung sejenak akhirnya sambil mendepakkan kakinya keatas tanah ia ulapkan tangannya kearah sitangan besi, serunya, “Ayoh kita pergi!”
Sekali berkelebat tubuhnya sudah berada diatas atap rumah dan lenyap dari pandangan.
Siorang bertangan besi itu segera mengikuti dibelakang majikannya, dalam waktu singkat mereka berdia sudah lenyap dari pandangan.
Menanti kedua orang itu sudah pergi jauh, Soh Boen baru berjalan mendekati Siauw Ling sambil ujarnya, “Siauw siangkong, apakah kau ingin berjumpa dengan nona kami?”
Siauw Ling tertawa hambar.
“Kalau nona sedang repot, bertemu atau tidak rasanya tidak terlalu penting.”
“Bukankah kemarin malam kau masih minta pertolonganku untuk berjumpa dengan nona kami? apakah sekarang kau sudah berubah pikiran?”
“Nona jangan salah paham, kalau nona Gak dapat berjumpa dengan diriku, cayhe pasti akan memenuhi janji.”
“Kau tak usah pergi memenuhi janji bagaimana kalau sekarang juga kubawa dirimu untuk berjumpa dengan dirinya?”
“Leluasa tidak?”
“Kalau tidak leluasa atau belum memperoleh ijin dari siocia kami, budak mempunyai berapa banyak nyali sehingga berani membawa dirimu pergi menemui dirinya?”
“Cayhe mempunyai satu permintaan yang tidak pantas dan ingin menanyakan beberapa persoalan, apakah nona sudi menjawab?”
“Baik, katakanlah.”
“Kenapa kemarin malam nona Gak tak mau bertemu dengan aku, sedang ini hari malah mengutus nona untuk mengajak aku bertemu dengan dirinya, apa sebenarnya yang terjadi dibalik peristiwa tersebut?”
“Kalau dikatakan duduk perkaranya sulit untuk dikatakan” sahut Soh Boen setelah berpikir sejenak. “Kalau dikatakan tiada duduk persoalannya dalam kenyataan memang tiada persoalan apapun, jangan dikata budak tak begitu mengerti, meskipun tahu juga tak dapat mengatakannya kepada diri Siauw siangkong!”
“Tahukah kau apa sebabnya sekarang nona Gak datang mencari diriku….?”
“Kenapa? kenapa tidak kau jumpai dulu nona Gak….” mendadak ia perendah ucapannya dan menyambung lebih jauh, “Bukan kurang begitu tahu tentang hubungan yang sebenarnya antara nona Gak dengan Siauw siangkong, tapi aku tahu karena dirimu ia sudah gunakan banyak pikiran dan tenaga kami dua bersaudara harus lari kesana lari kemari, karena persoalanmu, persoalan mengenai Lam Hay Ngo Hiong hanya satu diantaranya saja, rupanya dia tidak ingin agar kau mengetahui kalau dialah yang secara diam-diam membantu dirimu….” belum habis berbicara ia tutup mulut dan tidak buka suara lagi.
Siauw Ling menanti beberapa saat lamanya ketika tidak mendengar Soh Boen meneruskan kata-katanya, tak tahan ia segera bertanya, “Apakah nona sudah selesai berbicara?”
“Belum!”
“kenapa tidak kau teruskan?”
“Budak tidak bisa mengatakan dan tidak berani mengatakannya keluar.”
“Tidak mengapa, cayhe cuma ingin tahu saja.”
Soh Boen tarik napas dalam-dalam dan menyahut, “Budak sudah berbicara terlalu banyak, lebih baik siangkong jangan bertanya lagi!”
Siauw Ling tidak memaksa, sambil berpaling memandang sekejap kearah Soen Put shia sekalian tanyanya, “Nona, tolong tanya beberapa orang sahabat cayhe ini apakah boleh ikut serta pergi menjumpai nona Gak….?”
“Ketika budak datang kemari nona tidak berpesan apa-apa, tapi menurut apa yang budak ketahui, nona paling tidak suka bertemu dengan orang asing.”
“Saudara Siauw, kau tak usah bingung, biarlah kami sekalian menunggu disini” seru Soen Put shia.
“Aaaaaai….! sekarang nona Gak berada dimana?”
“Dekat dari sini!”
Siauw Ling lantas menjura kepada pengemis tua sekalian, ujarnya, “Harap cuwi sekalian menunggu sebentar disini, cayhe segera akan kembali setelah urusan selesai!”
“Saudara Siauw tak usah sungkan-sungkan silahkan.”
Demikian Siauw Lingpun segera berjalan keluar dari ruangan itu mengikuti dibelakang dayang tersebut.
“Bagaimana kalau kita berjalan cepat sedikit?”
“Silahkan nona berlari seluat tenaga, cayhe percaya masih sanggup untuk menyusul dirimu!”
Soh Boen tersenyum.
“Budak sudah pernah menyaksikan kepandaian silat dari Siauw siangkong, kamu memang betul-betul lihay sekali tapi budak sama sekali tiada maksud untuk beradu ilmu meringankan tubuh dengan diri Siauw siangkong” katanya.
Teringat bantuannya secara diam-diam sebanyak beberapa kali, Siauw Ling merasa pipinya jadi panas karena jengak.
Rupanya Soh Boen dapat menyaksikan kelakuan si anak muda itu, mendadak ia lari cepat kemuka sambil serunya, “Marilah, budak akan membawa jalan!”
Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki nona cilik ini ternata lihay sekali, sementara Siauw ling masih berdiri tertegun Soh Boen sudah berada empat lima tombak jauhnya, buru-buru ia mengempos tenaga dan mengejar dari belakang.
Begitulah dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh dalam sekejap mata mereka berdua sudah berlari puluhan li jauhnya.
Dengan sekuat tenaga Siauw Ling menyusul dari belakang, sewaktu ia berada satu tombak dibelakang nona itu, mendadak Soh Boen berhenti berlari.
Siauw Ling tidak menyangka akan hal itu, hampir saja ia menubruk diatas tubuhnya, dalam keadaan terdesak cepat-cepat ia tarik napas dan mengerem kakinya.
“Waah, benar hebat sekali ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Siauw siangkong” puji Soh Boen sambil tersenyum.
“Huuh….! kenapa tak berjalan lagi.”
“Sudah sampai!” sahutnya sambil menuding kearah sebuah rumah gubuk yang muncul ditengah lebatnya pepohonan kurang lebih puluhan tombak dihadapan mereka. “Itu, dalam rumah gubuk tersebut!”
Memandang sekejap kearah rumah gubuk tersebut, bibir Siauw Ling bergerak seperti mau mengucapkan sesuatu namun akhirnya maksud itu diurungkan.
Perlahan Soh Boen berjalan memasuki hutan tersebut, sambil berjalan katanya, “Siauw siangkong dalam pembicaraanmu nanti setelah berjumpa dengan nona Gak, harap kau suka sedikit berhati-hati.”
“Kenapa?”
“Ia sudah cukup sengsara, kau tak boleh menyakiti hatinya lagi.”
“Baiklah cayhe akan berusaha untuk menyabarkan diri!”
Sementara pembicaraan masih berlangsung mereka semakin mendekati rumah itu.
Ketika tiba didepan rumah gubuk, Soh Boen segera mengetuk pintu.
Seorang gadis cantik berbaju serba merah dan menyoren pedang berdiri membuka pintu.
“Apakah nona ada didalam?” bisik Soh Boen lirih.
Gadis berbaju merah itu memperhatikan sekejap diri Siauw Ling lalu mengangguk.
“Nona ada didalam, Siauw siangkong silahkan masuk!”
Siauw Ling melengak, pikirnya, “Darimana dayang ini bisa tahu kalau aku she Siauw?” sementara otaknya berputar kakinya telah melangkah masuk kedalam ruangan.
Tampaklah perabot dalam ruang itu amat sederhana sekali, kecuali sebuah meja serta empat buah kursi bambu tiada benda lain yang tampak.
Disebelah kiri terdapat sebuah dinding terbuat dari bambu yang dilapisi kain kasar berwarna biru sebagai horden memisahkan gubuk itu menjadi ruangan bagian luar serta ruang bagian dalam.
Soh Boen tetap tinggal diluar gubuk itu sedang gadis berbaju merah mengikuti dibelakang Siauw Ling masuk keruang dalam bisiknya, “Siangkong, tunggulah sejenak akan kulaporkan kedatanganmu kepada nona!”
Terdengar dari balik horden berkumandang keluar suara seorang perempuan yang nyaring, “Kau boleh segera mengundurkan diri!”
Horden tersingkap dan perlahan-lahan muncullah seorang gadis berbaju ungu yang sangat ketat.
Dayang berbaju merah tadi segera mengiakan dan mengundurkan diri dari ruangan tersebut.
Dengan tajam Siauw Ling perhatikan wajah gadis berbaju ungu itu, sedikitpun tak salah, dia bukan lain adalah Gak Siauw Cha yang telah berpisah selama lima tahun dengan dirinya, hanya saja pada saat ini wajah kelihatan jauh lebih cantik.
Diantara kerutan alis gadis itu nampak selapis kabut kesedihan yang tebal, namun ia paksakan juga untuk tersenyum manis.
“Apa yang kau lihat?” tegurnya. “Apakah sudah tak kenal lagi dengan encimu??”
Dengan penuh rasa hormat Siauw Ling menjura kepada gadis itu, sahutnya, “Selama banyak tahun suara serta wajah enci selalu terselubung dalam benak siauwte siapa bilang aku sudah tidak kenal dirimu lagi?”
“Aaai…. kau sudah banyak berubah, andaikata secara tiba-tiba aku berjumpa dengan dirimu mungkin cici sudah tidak dapat mengenali dirimu lagi!”
“Cici, aku sudah berubah jadi makin hebat….”
“Dan kaupun makin dewasa” Gak Siauw Cha menambahkan. “Ketika berpisah dahulu, kau masih merupakan seorang bocah cilik yang kurus dan berpenyakitan, sekarang kau telah menjadi seorang pemuda tampan yang gagah dan perkasa. Aaai….! waktu selama lima tahun tak bisa terhitung pendek, namun tak bisa pula terhitung panjang, tetapi selama ini sudah banyak perubahan yang terjadi….”
Ketika mendengar ucapan itu mengandung rasa sedih dan murung yang tak terkirakan Siauw Ling merasa amat tercengang pikirnya, “Sepanjang pengetahuanku enci Gak adalah seorang gadis yang gagah dan keras hati, kenapa sekarang jadi begitu murung dan sayu?”
Ia segera mendongak, dilihatnya dibalik sepasang biji matanya yang jeli tampak kerlinan titik-titik air mata, hal ini semakin mengejutkan hatinya lagi, buru-buru serunya, “Cici, kenapa kau?”
“Aku sangat baik!” jawab Gak Siauw Cha tersenyum. “Sudah banyak tahun kita tak berjumpa, ini hari kita harus bercakap-cakap dengan sebaik-baiknya!”
Ia putar badan membelakangi si anak muda itu dan diam-diam menyeka air mata yang mulai meleleh keluar.
Teringat akan pengalamannya yang menyedihkan serta kejadian-kejadian yang membuat gadis itu sengsara, tak tahan Siauw Ling ikut bersedih hati. Sambil menghela napas panjang katanya, “Cici, selama banyak tahun kau tentu sangat menderita bukan?”
“Sejak kecil cici sudah berkelana didalam dunia persilatan, apa artinya menderita sedikit penderitaan? justru kaulah yang sejak kecil biasa dimanja dan disayang oleh orang tua entah bagaimana caranya kau lewati hati-hati yang penuh kesengsaraan itu?”
“Walaupun merasakan penderitaan tapi itu sudah berlalu semua, bukankah saat ini keadaanku baik-baik saja?”
“Ehmm! kini kau sudah lebih besar dari pada tempo dulu, keadaanmu bagaikan dua orang yang berbeda. Dan sekarang namamu sudah tersohor diseluruh kolong langit, rasanya semua penderitaan itu tidak sia-sia belaka.”
“Siauwte bisa berhasil seperti ini hari, kesemuanya adalah berkat bantuan dari cici….”
“Cici tak dapat baik-baik merawat dirimu sehingga membuat kau bergelandangan dalam dunia kangouw sambil menderita, kalau teringat cici merasa amat tidak tenteram.”
“Aaai…. urusan yang sudah lewat biarkanlah berlalu, apa gunanya enci mengungkapnya kembali?”
Gak Siauw Cha menghela napas panjang, akhirnya sambil menuding sebuah kursi bambu disisinya ia berkata, “Duduklah dahulu, agar kita bisa berbicara lebih enak.”
“Cici, kaupun duduklah!”
Gak Siauw Cha mengangguk dan duduk lalu katanya lagi, “Saudaraku, ceritakanlah pengalamanmu selama banyak tahun ini.”
Siauw Ling termenung sejenak, kemudian berceritalah ia semua pengalamannya selama lima tahun belakangan.
Dengan seksama Gak Siauw Cha mendengarkan kisah pengalaman itu, akhirnya ia berkata, “Seorang diri kau berhasil mendapatkan warisan ilmu silat dari tiga orang loocianpwee, kalau dihitung-hitung rejekimu besar juga.”
Mendadak Siauw Ling teringat kembali akan peristiwa kemarin malam, segera ujarnya, “Cici, dalam hati siauwte mempunyai satu kecurigaan yang tak kupahami, kalau kutanyakan harap cici jangan marah lhoo….!”
“Apakah persoalan mengenai tak maunya aku menemui dirimu kemarin malam….?”
“Sedikitpun tidak salah, siauwte benar-benar tidak mengerti apa sebabnya enci tak mau berjumpa dengan diriku?”
“Persoalan yang sudah lewat tak usah dibicarakan lagi, bukankah sekarang kita duduk saling berhadapan muka?”
“Selama banyak waktu enci selali membantu diriku secara diam-diam, dalam hati siauwte merasa sangat berterima kasih.”
“Sudahlah, tak usah kau bicarakan tentang persoalan itu. Kalau dikatakan bukankah kau terlalu pandang asing diriku?”
Sepanjang pembicaraan itu berlangsung, Siauw Ling selalu memperhatikan perubahan wajah Gak Siauw Cha, sedikitpun tidak salah ia temukan walaupun dalam berbicara atau tertawa namun gadis itu tak dapat menutup kemurungan serta kesedihan hatinya.
Maka ia lantas berkata, “Cici, rupanya kau mempunyai banyak persoalan yang merisaukan hati….?”
“Aaaai…. persoalan yang kupikirkan hanya satu, tapi tak bisa hilang dari benakku, hal ini membuat aku yang bingung dan tak tahu apa yang harus kulakukan.”
“Persoalan apa? dapatkah kau ceritakan kepada siauwte?”
Gak Siauw Cha membenahi rambutnya yang kacau, lalu menghela napas panjang.
“Cici merasa bingung, entah aku harus berbicara mulai dari mana.”
“Persoalan apa sih yang tampaknya begitu serius?” tanya Siauw Ling tertegun.
Sepasang biji mata Gak Siauw Cha yang jeli menatap wajah si anak muda itu tajam-tajam, kemudian katanya, “Saudaraku, kini kau telah dewasa, keadaanmu jauh berbeda kalau dibandingkan dengan keadaanmu dimasa masih kecil….”
“Benar, walaupun siauwte belum lama terjunkan diri kedalam dunia persilatan tetapi sudah banyak badai besar serta mara bahaya yang kualami. Aaai…. hidup selama beberapa bulan dalam dunia persilatan bagaikan hidup selama sepuluh tahun lamanya. Aku percaya sudah banyak pengalaman yang kudapatkan. Cici, ada persoalan apa yang merisaukan hatimu, katakanlah kepada siauwte, mungkin siauwte dapat menolong cici untuk mengurangi penderitaan tersebut.”
“Saudaraku, bukankah kau kenal dengan seorang nona she Pek li?” ujar Gak Siauw Cha dengan wajah serius.
“Dia adalah putri dari Pak Thian Coen Cu yang bernama Pek Li Pang.”
Setelah menghela napas panjang tambahnya, “Ia telah berulang kali melepaskan budi pertolongan kepada diri siauwte!”
“Apakah kau hendak membalas budi pertolongannya itu?”
“Siauwte bukanlah seorang lelaki yang suka melupakan budi orang, tentu saja budi kebaikannya itu harus kubalas.”
“Saudaraku, aku ingin menanyakan lagi satu persoalan dengan dirimu!”
“Asal siauwte tahu, tentu akan kukatakan semua menurut kemampuanku.”
“Andaikata seseorang pernah berhutang budi atas pertolongan seseorang terhadap jiwa serta keselamatannya, bagaimana harus kau balas budi kebaikannya itu?”
“Tentang soal ini? sulit untuk dikatakan” sahut Siauw Ling setelah tertegun sejenak.
“Kenapa?”
…. Bersambung jilid ke 30
JILID 30
“Hal itu harus dilihat dari sebab musabab orang itu memberi pertolongan, andaikata pertolongan ini diberikan tanpa didasari pikiran apapun jua, maka budi kebaikan itu tentu saja berat bagaikan bukit dan dalam bagaikan samudra.”
“Aaaai…. mula-mula pertolongan tentu saja muncul dengan hati yang bersih dan iklas, tapi kemudian disusul dengan pelbagai permintaan, apa yang akan kau lakukan dalam keadaan begini?”
“Asal dia bukan seorang penjahat yang berhati keji dan kejam setelah menerima budi kebaikannya sudah sewajarnya kalau kita balas budi kebaikannya itu.”
Dengan sorot mata yang aneh Gak Siauw Cha memperhatikan diri Siauw Ling beberapa saat lamanya, kemudian baru berkata, “Saudaraku, perduli apa permintaannya apakah kita harus mengabulkannya….?”
“Asal permintaannya tidak merugikan masyarakat, rasanya sudah sewajarnya kalau….”
Mendadak ia mendapatkan satu firasat dengan cepat perkataannya diputus ditengah jalan.
“Kenapa tidak kau lanjutkan perkataannya?”
“Cici, kau ajukan pertanyaan seperti itu kepada siauwte, sebenarnya siapakah yang kau maksudkan?”
“Tak usah kau tanyakan siapakah orang itu pokoknya seseorang!”
“Apakah cici kenal dengan dirinya?”
“Kalau kenal kenapa?” ujar Gak Siauw Cha tertawa hambar.
Siauw Ling termenung sejenak, kemudian berkata, “Cici, rupanya kau mempunyai banyak perkataan yang diutarakan menuruti perasaan hatimu, bukankah begitu?”
Gak Siauw Cha menghela napas panjang, bibirnya bergerak seperti mau mengucapkan sesuatu namun kemudian diurungkan kembali.
Siauw Ling melirik sekejap kearah gadis itu, dan sambungnya lebih lanjut, “Siauwte telah teringat akan suatu persoalan, andaikata aku salah berbicara harap cici jangan marah.”
“Persoalan apa?”
“Seseorang yang cici maksudkan bukankan Lan Giok Tong?”
Mula-mula Gak Siauw Cha tertegun, diikuti ia segera menggeleng.
“Apakah disebabkan kemarin malam Lan Giok Tong titip sebuah kantong sutera kepadamu untuk sisampaikan kepadaku maka kau lantas mencurigai dirinya?”
“Seandainya apa yang cici katakan adalah persoalan hatimu sendiri, muka orang yang telah melepaskan budi kepadamu….”
“Tidak bisa” mendadak terdengar Soh Boen yang ada diluar menjerit keras. “Nona sedang berbicara dengan tetamu, kau tak boleh masuk kedalam….”
Blaam! terdengar suara getaran keras berkumandang memecahkan kesunyian, pintu kayu yang semula tertutup rapat tiba-tiba ditendang orang hingga terbentang lebar, Giok Siauw Lang Koen dengan seruling terhunus berdiri seram didepan pintu.
Ketika Siauw Ling angkat kepalanya memandang, ia lihat Giok Siauw Lang Koen berdiri disana dengan wajah pucat kehijau-hijauan, matanya memancarkan cahaya berapi-api dan melototi wajah Siauw Ling tanpa berkedip, kemudian perlahan-lahan beralih keatas wajah Gak Siauw Cha dan tertawa terbahak-bahak.
“Nona Gak, kau batalkan janjimu untuk bertemu dengan cahye apakah disebabkan karena kau hendak berjumpa dengan Siauw Ling?”
Melihat wajah lelaki tampan berseruling kumala itu diliputi kegusaran, dalam hati Siauw Ling merasa tidak tenang, setelah tertegun sejenak pikirnya, “Ilmu silat yang dimiliki Giok Siauw Lang Koen sangat lihay, andaikata ia melancarkan serangan secara tiba-tiba, pastilah serangan tersebut amat dahsyat dan mematikan…. aku harus berjaga diri!”
Berpikir begitu, hawa murninya segera dihimpun menjadi satu dan diam-diam melakukan persiapan.
Gak Siauw Cha sendiri mula-mula merasa kaget menjumpai kehadiran Giok Siauw Lang Koen ditempat itu secara mendadak, tapi sebentar saja ia telah berhasil menenangkan hatinya, sambil tertawa hambar ia balik bertanya, “Kalau benar kau mau apa?”
Siauw Ling tahu watak Giok Siauw Lang Koen sangat berangasan, sikap ketus yang diperlihatkan Gak Siauw Cha kemungkinan besar dapat membangkitkan hawa amarahnya. Tanpa sadar ia maju selangkah kedepan dan menghadang didepan tubuh gadis she Gak tersebut.
Siapa tahu kejadian yang kemudian berlangsung jauh diluar dugaan Siauw Ling. Bukan saja Giok Siauw Lang Koen sama sekali tidak turun tangan malahan hawa amarahnya sirap sama sekali, perlahan-lahan ia berjalan masuk kedalam ruangan dan tertawa hambar.
“Maaf, kalau aku sudah mengganggu kegembiraan kalian berdua!”
“Tidak mengapa!”
Tanpa menanti dipersilahkan duduk oleh tuan rumah, Giok Siauw Lang Koen tarik sebuah kursi dan segera duduk, ujarnya, “Sewaktu berada dirumah besar tadi siauwte sudah mengganggu dirimu, harap Siauw heng suka memaafkan.”
“Heran, orang ini sombong dan jumawa kenapa secara tiba-tiba malah bersikap begitu sungkan terhadap diriku” batin pemuda kita dengan hati tercengang.
Berpikiran demikian, diluaran segera sahutnya, “Aaaa…. saudara terlalu merendah….”
“Apakah beberapa orang sahabat Siauw heng masih menunggu dihalaman gedung besar itu?”
“Sedikitpun tidak salah!” karena tak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan yang aneh itu, pemuda she Siauw itu terpaksa mengangguk.
“Beberapa orang sahabatmu itu pasti sangat kuatir akan keselamatan Siauw heng, kalau kau tidak segera kembali mungkin mereka bakal menyusul datang kemari.”
Untuk sesaat Siauw Ling tak mengerti apa yang sedang ia maksudkan, setelah melengak ia bertanya, “Kalau mereka menyusul kemari, lalu kenapa?”
“Nona Gak tidak suka bertemu dengan orang asing seandainya teman-temanmu itu sampai menyusul kemari semua, bukankah hal ini malah akan mengganggu ketentraman nona Gak?”
“Ehmmm, ucapannya memang tidak salah” pikir Siauw Ling setelah termenung sejenak. “Kedudukan Soen Put shia serta Boe Wie Tootiang didalam dunia persilatan sangat tinggi, seandainya mereka sampai menyusul kemari entah bagaimana sikap aneh, Gak? bukankah hal ini malah akan menyusahkan kedua belah pihak?”
Karena itu lantas ujarnya, “Menurut pendapatmu, apa yang harus kulakukan?”
Giok Siauw Lang Koen tersenyum.
“Semestinya Siauw heng mengabarkan dulu kepada mereka agar mereka tidak sampai menyusul kemari.”
“Betul juga, apa salahnya aku memberi kabar dulu kepada mereka?” pikir si anak muda itu, maka diapun lantas melangkah keluar dari ruangan tersebut.
Tampaklah Soh Boen yang berdiri diluar ruangan mengedipkan matanya berulang kali memberi bisikan kepadanya agar dia jangan tinggalkan tempat itu.
Suatu ingatan berkelebat dalam benak Siauw Ling, setibanya didepan pintu mendadak ia berhenti lagi.
Ketika menoleh kebelakang tampaklah Gak Siauw Cha berdiri disamping sambil tundukkan kepalanya rendah-rendah, alisnya berkerut dan wajahnya sedih seolah-olah ada sesuatu persoalan yang mengganjal dalam hatinya, ia jadi semakin tercengang, pikirnya, “Kalau dilihat gelagat ini rupanya enci Gak tidak begitu senang berjumpa muka dengan Giok Siauw Lang Koen. Tapi rupanya iapun rada jeri terhadap lelaki ini, jangan-jangan dibalik persoalan itu masih ada masalah lain….”
Karena berpikir begitu, maka diapun berjalan kembali kedalam ruangan.
“Kenapa kau tidak jadi pergi?” tegur Giok Siauw Lang Koen dengan suara dingin, wajahnya berubah hebat.
“Aku tidak pernah mengatakan kalau aku hendak pergi!”
“Hmm, andaikata mereka menyusul kemari, apa yang hendak kau lakukan….?”
“Tentang persoalan ini tak usah kau kuatirkan.”
Mendadak Giok Siauw Lang Koen mendongak dan tertawa terbahak-bahak.
“Haaah…. haaah…. haaah…. Siauw Ling! benarkah kau hendak memusuhi aku orang she Thio?”
“Tidak, kenapa aku harus memusuhi diriku cepat-cepatlah tinggalkan tempat ini.”
Makin didengar Siauw Ling merasa semakin keheranan, segera pikirnya, “Entah apa sebabnya enci Gak bisa bersikap demikian terhadap Giok Siauw Lang Koen, rupanya ia merasa amat jeri kepadanya, apakah enci Gak sudah terkena bokongan hingga setiap saat kematiannya berada digenggamannya mengakibatkan ia tak berani membangkang setiap perintahnya? andaikata begitu, aku harus tetap tinggal disini untuk melindungi enci Gak.”
Saking seriusnya berpikir sampai lupa untuk menjawab pertanyaan dari lelaki tampan berseruling kumala.
Ketika Giok Siauw Lang Koen tidak mendengar jawaban dari Siauw Ling, mendadak ia tertawa dingin.
“Siauw Ling” serunya. “Kalau kau benar-benar hendak memusuhi diriku maka ini hari hanya ada satu jalan yang bisa kau tempuh.”
“Satu jalan yang bagaimana?”
“Kita andaikan kepandaian silat masing-masing untuk menentukan siapa yang berhak hidup dan siapa yang harus mati.”
Siauw Ling mencuri lihat sekejap kearah Gak Siauw Cha, dia lihat diantara sepasang mata gadis itu secara lapat-lapat terlihat genangan air mata yang menetes keluar, wajahnya murung dan bimbang, jelas ia sedang merasakan sesuatu penderitaan yang sukar dilukiskan dengan kata-kata.
Terdengar Giok Siauw Lang Koen berkata lagi, “Siauw Ling, kalau kau tidak berani berduel dengan diriku, cepat-cepatlah tinggalkan tempat ini. Sejak ini hari jangan kau temui lagi nona Gak Siauw Cha.”
“Ilmu silat yang dimiliki orang ini sangat lihay” pikir Siauw Ling. “Andaikata aku harus berduel melawan dirinya, siapa menang siapa kalah sulit untuk diduga mulai sekarang. Situasi dalam dunia persilatan dewasa ini sangat kacau, aku Siauw Ling harus pertahankan selembar jiwaku untuk menyelamatkan sesama Bulim. Orang ini jumawa dan sombong tapi tidak jahat, apa salahnya kalau aku mengalah setindak kepadanya….?” maka ia lantas berkata, “Ilmu silat yang kau miliki sangat lihay, aku orang she Siauw merasa bukan tandinganmu, lagipula antara kita berdua tiada dendam atau sakit hati. Kenapa kita mesti berduel untuk menentukan siapa hidup siapa mati….”
“Kalau kau tidak ingin berduel melawan diriku, maka berjanjilah lebih dulu. Mulai ini hari jangan kau temui nona Gak Siauw Cha.”
“Saudara, janganlah kau mendesak orang keterlaluan. hubungan enci Gak dengan aku orang she Siauw intim bagaikan….”
“Tutup mulut!” bentak Giok Siauw Lang Koen dengan gusarnya.
Lama kelamaan Siauw Ling tak tahan juga, ia balas membentak, “Saudara terlalu jumawa dan sombong, jangan kau anggap dikolong langit tiada manusia lain. Kau harus tahu aku orang she Siauw sengaja mengalah kepadamu, bukan disebabkan aku jeri kepadamu.”
Mendadak Giok Siauw Lang Koen mengebaskan seruling kumala ditangannya dan menantang, “Dibelakang gubuk sana terdapat sebuah tanah berumput yang luas, mari kita duel disitu, sebelum salah satu diantara kita mati jangan berhenti….”
“Saudara, sudah berulang kali aku mengalah kepadamu, bagus, kalau memang kau menantang terus aku orang she Siauw akan melayani keinginanmu.”
“Bagus, ayoh jalan!” tanpa menanti lagi ia melangkah lebih dulu keluar dari gubuk itu.
Siauw Ling menoleh kesamping, dia lihat Giok Siauw Lang Koen masih duduk termangu-mangu ditempat semula, rupanya ada satu masalah yang sedang dipikirkan. terhadap peristiwa yang telah terjadi didepan mata ternyata sama sekali tidak merasa.
Diam-diam Siauw Ling menghela napas panjang, pikirnya, “Rupanya antara enci Gak serta Giok Siauw Lang Koen mempunyai suatu hubungan yang sangat aneh….”
Sembari berpikir iapun melangkah keluar mengikuti dibelakang lelaki tampan berseruling kumala itu.
Dengan termangu-mangu Soh Boen memandang bayangan punggung kedua orang itu. Rupanya ia hendak mencegah kepergian Siauw Ling tapi akhirnya ia urungkan niat tersebut.
Dengan mengikuti dibelakang Giok Siauw Lang Koen sampailah Siauw Ling disebuah tanah lapang yang luas dibelakang rumah gubuk tersebut.
Saat itu lelaki tampan berseruling kumala tersebut telah siapkan senjata ditengah kalangan.
Tanpa sadar Siauw Lingpun meraba gagang pedangnya sambil selangkah demi selangkah maju kemuka.
“Cabut keluar senjatamu!” seru Giok Siauw Lang Koen sambil ayun seruling kumalanya. “Harus kau ketahui, pertarungan ini berbeda dengan pertarungan biasa, kau boleh gunakan segenap kemampuanmu, sebelum salah satu ada yang mati jangan berhenti bertempur.”
“Setelah kau ucapkan kata-kata tersebut, sudah tentu cayhe akan mengiringi keinginanmu itu tapi sebelum kita bertarung harus kutanyakan lebih dahulu beberapa persoalan yang membingungkan hatiku.”
“Katakanlah tapi harus sesingkat mungkin. Aku tak ingin mengulur waktu lebih lama lagi.”
“Bukankah diantara kita berdua tiada ikatan dendam atau sakit hati, kenapa kau tantang aku untuk berduel sampai salah satu diantara kita mati….?”
Giok Siauw Lang Koen segera mendongak dan tertawa terbahak-bahak.
“Haah…. haah…. haah…. sebetulnya cayhe tiada bermaksud untuk memusuhi dirimu. Tetapi keadaan pada saat ini jauh berbeda, sehari kau orang she Siauw tidak mati, maka cayhe tak akan makan dengan tenang dan tidur dengan nyenyak!”
“Secara lapat-lapat akupun merasa sikapmu terhadapku seolah-olah mengandung rasa benci yang sangat mendalam, justru inilah yang menyebabkan cayhe tidak mengerti, kenapa kau begitu membenci diriku?”
“Rupanya disebabkan karena nona Gak?”
“Tidak salah, memang dikarenakan Gak Siauw Cha!”
“Aku Siauw Ling sudah kenal dengan enci Gak sejak lima tahun berselang, hubungan kami hanya bagaikan enci dan adik belaka.”
“Heeh…. heeh…. justru karena hubungan batin kalian yang terlalu mendalam itulah memaksa aku harus membinasakan dirimu.” seru Giok Siauw Lang Koen sambil tertawa dingin.
“Ehmm, kiranya begitu!” ia merandek sejenak dan tambahnya. “Mungkin kau telah menaruh salah paham terhadap diriku.”
“Sudah, tak usah banyak bicara lagi, cabut keluar senjatamu!”
Sambil membentak serulingnya segera meluncur kedepan menotok dada lawan dengan jurus “Kim Liong Tan Jiauw” atau naga emas unjukkan cakar.
Siauw Ling angkat tangan kanannya secepat kilat mencabut keluar pedang panjangnya, sambil mengunci datangnya ancaman ia berkata, “Hanya disebabkan aku kenal lebih dahulu dengan nona Gak Siauw Cha, kau lantas tidak ijinkan aku hidup dunia? Hmmm…. belum pernah kujumpai kejadian semacam ini.”
Giok Siauw Lang Koen sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari si anak muda itu, serulingnya berkelebat berulang kali, dan….
Halaman 22-23 hilang
yang terdesak tak ingin gunakan senjata rahasianya….”
Teringat akan keanehan serta kekejiannya dalam melepaskan senjata rahasia, bergidik juga hatinya, segera ia tarik napas dalam-dalam dan menjawab, “Kalau memang saudara bermaksud ajak aku orang she Siauw adu jiwa, kejadian itu memang suatu kejadian apa boleh buat. bila kau memiliki kepandaian yang mengerikan silahkan kerahkan semua.”
Sementara mulutnya berbicara, tangan kirinya merogoh kedalam saku dan secepat kilat mengenakan sarung tangan berkulit ular, sedang tangan kanannya yang mencekal pedang siap menghadapi semua serangan musuh.
Perlahan-lahan Giok siauw Lang Koen angkat seruling kumalanya keatas, dengan pandangan tajam ia awasi lawan tanpa berkedip.
Kedua belah pihak sama-sama mengerahkan segenap tenaganya kedalam senjata, sedetik kemudian pasti akan terjadi suatu pertarungan yang menggetarkan jagad.
Air muka kedua orang itupun berubah jadi keren dan serius, jelas dalam hati masing-masing tak ada yang merasa yakin sanggup menangkan pertarungan itu.
Mendadak tampak bayangan manusia berkelebat lewat, diiringi desiran tajam Gak Siauw Cha yang mengenakan pakaian berwarna ungu telah berdiri keren ditengah-tengah antara kedua orang ini.
Dalam pada itu baik Siauw Ling maupun Giok siauw Lang Koen telah menghimpun tenaga dalamnya hingga mencapai sepuluh bagian, mereka sudah bersiap sedia melakukan suatu pertarungan adu jiwa.
Setelah bergerak beberapa jurus tadi, masing-masing pihak telah paham bahwa lawannya adalah musuh tangguh yang belum pernah dijumpai sebelumnya, karena itu merekapun tahu bahwa dalam bentrokan ini salah satu diantaranya pasti ada yang roboh, atau mungkin malahan kedua belah pihak akan sama-sama terluka.
Tapi untung Gak Siauw Cha muncul pada saat yang cepat, hingga pertarungan yang mengerikanpun segera dapat dihindari.
Perlahan-lahan Giok siauw Lang Koen turunkan kembali seruling kumalanya kebawah, ujarnya, “Apakah nona tidak merasa bahwa salah satu diantara kami harus mati….?”
“Apa gunanya berbuat begitu?” bisik Gak Siauw Cha dengan suara lembut, sementara air matanya telah bercucuran membasahi pipinya yang halus dan cantik itu. “Bukankah diantara kalian berdua tiada ikatan dendam atau sakit hati apapun jua?”
Sekilas pantulan cahaya yang menunjukkan kekerasan hatinya melintas diatas wajah Giok siauw Lang Koen, ia menjawab, “Justru dikarenakan dalam kolong jagad tidak mengijinkan kita bertiga untuk hidup bersama, maka terpaksa salah satu diantara kami berdua harus disingkirkan dari muka bumi!”
Waktu mengucapkan kata-kata tersebut wajahnya tenang dan kalem tapi suaranya tegas dan mantap.
Dengan wajah bingung tak habis mengerti siauw Ling melirik sekejap kearah lawannya, kemudian bergumam seorang diri, “Dunia jagad toh luasnya bukan kepalang, mengapa kita berdua tak bisa hidup bersama dikolong langit?”
“Haaah…. haaah…. haaah…. Siauw Ling, kau benar tidak tahu, ataukah sedang pura-pura berlagak pilon?”
“Cayhe benar-benar tidak tahu, kenapa kita tak dapat hidup bersama dikolong langit?”
Tiba-tiba Gak Siauw Cha menghela napas panjang dan menyela dari samping kalangan.
“Siauw moay merasa berhutang budi kepada diri Thio heng, kebaikan ini pasti akan kubalas, tapi persoalan ini sama sekali tak ada hubungannya dengan saudara Siauw ku itu, kau tak usah menggusarkan hati lagi.”
“Jadi maksud nona?” seru Giok siauw Lang Koen dengan wajah berubah hebat.
“Harap Thio heng suka memberi sedikit kelonggaran waktu bagi Siauw moay untuk berpikir.”
“Baik, berapa lama yang kau butuhkan untuk mempertimbangkan persoalan ini?”
“Bagaimana kalau setahun?”
Giok siauw Lang Koen segera menggeleng.
“Setahun? terlalu lama, cayhe merasa tak punya kesabaran sebesar itu untuk menanti selama itu.”
“Lalu bagaimana menurut pendapat Thio heng?”
“Paling lama tak bisa lewat dari tiga bulan!”
“Tiga bulan….” Gak Siauw Cha termenung dan berpikir keras.
“Tidak salah, tiga bulan mungkin bagi perasaan nona cepat bagaikan kilatan petir, tapi bagi cayhe mungkin lamanya bagaikan tiga tahun.”
Dengan pandangan bingung Gak Siauw Cha melirik sekejap kearah Siauw Ling, akhirnya ia mengangguk.
“Baiklah kita tetapkan tiga bukan, cuma…. akupun ada satu permintaan yang hendak kuajukan kepadamu!”
“Asal aku bisa laksanakan pasti akan cayhe kabulkan, nah, katakanlah.”
“Selama tiga bukan ini siauw moay tidak ingin mendengarkan irama serulingmu yang menyedihkan itu lagi, dan akupun tidak ingin Thio heng sering muncul disekitar diriku.”
Giok siauw Lang Koen tertawa sedih.
“Baiklah aku kabulkan permintaanmu itu tapi setelah batas tiga bulan penuh. Kita akan berjumpa dimana?”
Gak Siauw Cha termenung sebentar, lalu menjawab, “Setelah batas wkatu tiga bulan penuh kita berjumpa didasar tebing Toan Hoen Gay digunung Heng san!”
Sekali lagi Giok siauw Lang Koen tertawa sedih.
“Sejak dahulu hingga sekarang belum pernah ada seseorang manusiapun yang pernah menuruni tebing pemutus sukma, nona mengendong aku untuk berjumpa didasar tebing Hoan Gay, agaknya kau suka sekali dengan hal yang sok rahasia….”
“Kalau kau merasa takut, lebih baik kita tak usah bertemu lagi.”
“Nona tak usah kuatir, sampai waktunya cayhe pasti akan tiba duluan!”
“Janji telah dibuat, aku rasa kaupun boleh segera tinggalkan tempat ini!”
“Baik, cayhe akan berpisah dulu sampai disini!” ia putar badan dan dalam sekejap mata ia lenyap ditengah kegelapan.
Siauw Ling merasa banyak masalah yang membingungkan hatinya memenuhi seluruh benak dengan termangu-mangu ia berdiri kaku ditempat semula.
Gak Siauw Cha memandang hingga bayangan Giok siauw Lang Koen lenyap dari pandangan, kemudian ujarnya dengan nada sedih, “Saudara Siauw tahukah kau mengapa pada malam itu aku tak mau bertamu dengan dirimu?”
Siauw Ling merasa seakan-akan telah memahami sesuatu, tetapi setelah dipikir seksama ia merasa makin bimbang dan tidak habis mengerti, maka iapun berkata, “Siauwte merasa agak mengerti, tetapi setelah kupikir lebih seksama kurasakan rada tidak paham lagi.”
Dalam pada itu Gak Siauw Cha sedang berada dalam keadaan murung dan kesal. Tapi sesudah mendengar beberapa patah kata dari si anak muda ini ia tak dapat menahan rasa gelinya dan tertawa cekikikan.
“Saudaraku, selama hampir setahun belakangan ini cici selain hidup ditengah kesulitan serta kekesalan. Aaai….! lama kelamaan aku jadi terbiasa juga dengan keadaan seperti ini.”
Siauw Ling semakin bingung lagi dibuatnya.
“Cici! kalau kau ada urusan perintah saja kepada siauwte, kenapa kau musti murung dan kesal….!” serunya.
Mendadak teringat olehnya akan bantuan dari Gak Siauw Cha terhadap dirinya yang dilakukan berulang kali, membicarakan soal ilmu silat serta kecerdikan mungkin gadis itu jauh lebih hebat beberapa kali lipat dari pada dirinya segala persoalan yang dapat diselesaikan olehnya sudah pasti telah dilakukan sendiri, dan bila persoalan itu dia sendiripun tak bisa mengatasi dirinya mana bisa membantu? berpikir demikian merah jengah selembar wajahnya, ia segera membungkam.
Terdengar Gak Siauw Cha berkata dengan nada sedih, “Persoalan ini nampaknya gampang dan sederhana sekali. Ini hari aku sengaja mengundang kau datang kemari adalah disebabkan karena setelah kupikir lama sekali, aku merasa daripada persoalan ini diundur-undur lebih jauh lebih baik kalau diberitahukan kepadamu saja. Aaaai….! persoalan yang ada dikolong langit, kadangkala tak dapat diselesaikan hanya mengandalkan ilmu silat belaka….”
Ia merandek sejenak, dan sambungnya lebih jauh, “Tempat ini bukan tempat yang baik untuk berbicara, mari kita kembali kedalam ruangan gubuk! Giok Siauw Lang Koen selalu pegang janji dengan apa yang sudah ia ucapkan, setelah ia menyanggupi untuk tidak datang mengganggu dalam tiga bulan mendatang. Ia pasti tak akan mengingkari janjinya! cici masih ada banyak persoalan yang hendak dibicarakan dengan dirimu, mungkin saja aku harus merepotkan dirimu untuk melakukan banyak pekerjaan!”
“Cici, maksudmu….” seru Siauw Ling melengak.
“Kita berbicara didalam ruangan saja!” tukas gadis she Gak itu, ia segera putar badan dan berlalu.
Siauw Ling merasa kaget dan curiga, tanpa mengucapkan kata-kata lagi iapun mengikuti dari arah belakang Gak Siauw Cha kembali kedalam gubuk.
Soh Boen setelah menghidangkan air teh buat mereka berdua, diam-diam segera mengundurkan diri.
Siauw Ling tidak sabar untuk menanti lebih lama, ia segera berkata memecahkan kesunyian, “Cici, sebenarnya apa maksudmu mengutarakan kata-kata seperti tadi? jelaskan kepada siauwte!”
Agaknya pada saat ini Gak Siauw Cha telah berhasil memenangkan hatinya, mendengar pertanyaan itu dia tertawa.
“Tak usah tegang cici mengundang kau datang kemari justru adalah bermaksud hendak membicarakan persoalan ini dengan dirimu.”
“Cici! saat ini hati siauwte telah penuh diliputi rasa sangal, bingung dan tidak habis mengerti, cepatlah kau utarakan keluar kata-katamu itu!”
Gak Siauw Cha termenung sebentar untuk berpikir, lalu berkata, “Cici pikir sepasang pedagang dari Tiong ciu pasti sudah memberi tahukan kepadamu….”
“Tidak salah” tukas Siauw Ling. “Mereka sudah mengurung cici didalam sebuah ruang rahasia tetapi cici berhasil melarikan diri, disebabkan oleh peristiwa ini mereka selalu merasa berdosa dan tidak tenteram….”
Gak Siauw Cha tertawa, selanya, “Tak usah kau mintakan ampun bagi mereka andaikata aku ada maksud hendak membinasakan sepasang pedagang dari Tionbg ciu sekalipun mereka mempunyai cadangan jiwa sebanyak sepuluh lembarpun sedari dulu mereka sudah mati binasa diujung telapakku pada dasarnya aku memang tidak mendendam terhadap mereka, apalagi setelah mereka anggap dirimu sebagai Liong Tauw toako, urusan dendam sakit hati ini sudah terhapus sama sekali dari benakku….”
“Sekalipun cici berjiwa besar dan tidak mendendam terhadap mereka lagi, tetapi siauwte tetap akan membawa mereka datang menghadap kepada cici untuk minta maaf.”
“Tidak usah, mereka bukanlah termasuk manusia yang sangat jahat….” setelah menghela napas panjang terusnya, “Waktu itu ilmu silat yang cici miliki sangat terbatas, sudah tentu tak bisa kuperhatikan dirimu lagi. Aaaai! aku yang mengajak kau tinggalkan rumah, membuat kau dari seorang putra pembesar berubah menjadi seorang gelandangan Bulim yang terjerumus didalam persoalan dunia persilatan, siang malam aku selalu menguatirkan dirimu, aku kuatir kau telah ketimpa oleh suatu peristiwa yang menakutkan.”
********
“Bukankah sekarang aku berada dalam keadaan baik-baik?” kata Siauw Ling sambil tertawa. “Andaikata cici tidak membawa aku tinggalkan rumah, dari mana siauwte bisa mencapai karier seperti hari ini? lagipula pada waktu itu akulah yang ngotot ingin mengikuti cici pergi tinggalkan rumah kenapa cici mesti merasa sedih karena persoalan ini? dan kini yang ingin siauwte cepat ketahui adalah persoalan mengenai diri cici.”
“Setelah cici dikurung oleh sepasang pedagang dari Tiong Chiu didalam kamar rahasia, tidak lama kemudian aku telah ditolong orang….”
“Apakah Giok Siauw Lang Koen yang telah menyelamatkan dirimu?” tukas Siauw Ling dengan hati bergerak.
“Sedikitpun tidak salah, orang ini memiliki ilmu silat yang sangat lihay, punya watak yang angkuh, jumawa dan tidak memandang sebelah matapun terhadap orang lain, tapi terhadap diriku ia menaruh kasih sayang yang amat tebal, ia sangat memperhatikan diriku….”
“Ehmm, sekarang aku rada mulai mengerti” gumam Siauw Ling seorang diri.
Gak Siauw Cha tertawa sedih, sambungnya, “Setelah menolong cici lolos dari penjara, maka aku dibawa menuju kegubuk pencuci hati….”
Mendadak Siauw Ling teringat kembali akan jenasah dari Gak Im Kauw, peristiwa lima tahun berselang terbayang kembali didalam benaknya. (Untuk mengetahui kisah Gak Im Kauw silahkan membaca RAHASIA KUNCI WASIAT oleh penyadur yang sama).
Terbayang kembali oleh pemuda ini akan gubuk pencuci hati yang terletak disudut gunung Heng san, sinenek berambut putih berbadan kurus kering yang sama sekali tidak menyenangkan, kegagahan Gak Siauw Cha seorang diri melawan serangan dahsyat musuh tangguh…. iapun lantas berkata, “Cici, apakah kau sudah menjumpai jenasah dari Bibi Im masih berada didalam gubuk itu?”
Gak Siauw Cha mengangguk.
“Aaai….! sungguh tak nyana orang itu benar-benar berhati bijak, walaupun semula ia hanya mengijinkan aku menitipkan jenasah itu selama tujuh hari dan mengancam bila tujuh hari kemudian aku belum mengambil jenasah tersebut maka ia tak mau bertanggung jawab, siapa tahu walaupun sudah terpaut banyak waktu, bukan saja ia merawat jenasah ibuku dengan seksama bahkan keadaannya masih seperti sedia kala saja.”
Siauw Ling teringat kembali kasih sayang bibi Im terhadap dirinya yang melebihi rasa sayang seorang ibu terhadap anaknya. Sungguh tak disangka pergaulan selama beberapa bulan harus diakhiri dengan perpisahan untuk selama-lamanya, saking sedihnya ia sampai mengucurkan air mata.
“Sekarang jenasah bibi Im berada dimana? siauwte harus pergi bersembahyang dihadapan layonnya.”
“Aku serta Giok Siauw Lang Koen berangkat menuju kegubuk pencuci hati, melihat jenasah ibuku masih tetap utuh seperti sedia kala legakah hatiku. Sebenarnya aku hendak mengangkut jenasah menuju keselat Seng Yan Kok seperti apa yang tercantum dalam surat wasiatnya, tetapi maksud hatiku ini telah dicegah oleh pemilik gubuk pencuci hati….”
“Sekarang? jenasah bibi Im telah kau semayamkan dimana?” sela Siauw Ling.
“Sekarang masih berada dalam gubuk pencuci hati.”
“Cici, kenapa kau tidak mengebumikan saja jenasah dari bibi Im?”
“Walaupun itu keadaan cici sangat berbahaya, semua jago Bulim yang ada dikolong langit sama-sama sedang mencari jejakku. Setiap saat kemungkinan besar bisa bergebrak melawan musuh tangguh, berhubung aku kuatir jenasah ibuku sampai rusak maka setelah pemilik gubuk pencuci hati memaksa aku untuk tetap tinggalkan jenasah ibu disana, akupun dengan senang hati mengabulkan permintaannya.”
“Kemudian?”
“Cici kembali berhasil disusul oleh gerombolan jago Bulim yang menemukan jejakku, tetapi mereka semua telah dilukai oleh Giok Siauw.”
“Kalau begitu sikap Giok Siauw Lang Koen terhadap diri cici termasuk baik sekali.”
Gak Siauw Cha menghela napas panjang.
“Kalau dibicarakan dari hati sanubari yang sejujurnya, cinta kasih serta rasa sayang yang ia limpahkan terhadap diri cici tak ternilai besarnya, berkat perlindungan serta bantuannya itulah setiap kali cici berhasil lolos dalam keadaan selamat. Aaai….! andaikata tiada perlindungan darinya, mungkin saat ini sulit bagi cici untuk berjumpa muka lagi dengan saudara Siauw.”
Siauw Ling melirik sekejap kearah Gak Siauw Cha, bibirnya bergerak seperti mau mengatakan sesuatu tapi akhirnya ia batalkan maksud itu dan tundukkan kepalanya rendah-rendah.
Terdengar Gak Siauw Cha melanjutkan kembali kisahnya, “Ketika Giok Siauw menemukan bahwasanya ilmu silat yang cici miliki sangat cetek, berkelana didalam dunia persilatan setiap kali jiwanya bisa terancam bahaya maut, maka ia segera mengajak cici untuk pergi menjumpai seorang loocianpwee yang sudah banyak tahun mengasingkan diri, setelah membuat banyak pikiran dan tenaga serta memohon beberapa hari lamanya terakhir loocianpwee itu mengabulkan juga permintaannya dan menerima aku menjadi muridnya.”
“Aaah, sungguh aneh sekali?” seru pemuda itu. “Ilmu silat yang dimiliki Giok Siauw Lang Koen toh sangat lihay sekali, kenapa ia tidak langsung mewariskan ilmu silatnya kepada cici, sebaliknya malah pergi memohon kepada orang lain.”
“Berhubung aliran ilmu silat yang dipelajarinya jauh berbeda dengan aliran ilmu silatku. Ia merasa bahwa kalau ia wariskan ilmu silatnya kepadaku maka bukan saja untuk mempelajarinya sulit bahkan hasil yang diperolehnya juga terbatas, karena itulah setelah peras otak beberapa saat lamanya ia mengambil keputusan untuk mohon kepada loocianpwee itu untuk menerima diriku.”
“Ilmu silat yang dimiliki cici sekarang agaknya jauh melebihi Giok siauw Lang Koen sendiri, aku pikir tokoh sakti yang mewariskan ilmu silatnya kepada diri cici pastilah seorang manusia yang luas biasa sekali….!”
“Tentang persoalan ini maafkanlah cici karena tak dapat memberitahukan kepada dirimu.”
“Kenapa?”
“Sebab sebelum orang itu menerima diriku, ia telah mengajukan tiga syarat yang harus dijalankan olehku. Pertama, ia hanya akan mewariskan ilmu silatnya saja kepadaku tetapi tidak mengijinkan aku angkat guru secara resmi, dan iapun tak akan mengakui diriku sebagai anak murid perguruannya.”
“Sungguh aneh orang itu, lalu apakah syaratnya yang kedua?”
“Kedua, ia melarang aku untuk membicarakan soal namanya, serta alamatnya. Ketiga, ia tidak memperkenankan diriku untuk mewariskan beberapa macam kepandaian sakti yang telah ia wariskan kepadaku itu kepada orang lain.”
“Para partai besar yang ada didalam dunia persilatan semuanya berharap agar ilmu silatnya bagi tersebar luas dimana-mana menarik orang berbakat sebanyak-banyaknya untuk mewariskan ilmu sakti tersebut kepada mereka, sebaliknya orang itu tidak memperkenankan cici untuk mewariskan ilmu silatnya kepada orang lain, tindakannya ini sangat membingungkan hati orang.”
“Dulu cicipun pernah mempunyai pikiran seperti ini, tapi akhirnya aku dapat memahami keadaannya dan tidak menyalahkan dirinya lagi.”
“Apa sebabnya ia berbuat begitu?”
“Karena ada beberapa macam ilmu silatnya tergolong dalam kepandaian yang sangat keji dan telengas dan tak boleh sampai tersiar diluaran, bila orang yang mempelajarinya termasuk manusia tidak kenal wataknya maka ia bakal mencelakai umat manusia karena itulah loocianpwee tersebut telah mengambil keputusan untuk melarang ilmu silatnya tersiar didalam dunia persilatan.”
Siauw Ling segera teringat akan tindakan Gak Siauw Cha dikala memantekkan jarum emas didalam otak besar Lam Hay Ngo Hiong, kepandaian yang keji dan belum pernah terdengar sebelumnya dalam hati iapun berpikir, “Hati manusia mudah berubah, apa yang ditakutkan loocianpwee itu memang beralasan sekali.”
Maka ia lantas tertawa.
“Seandainya loocianpwee itu bisa menggunkan akal cerdiknya untuk menghilangkan bagian-bagian ilmu silatnya yang ganas….”
“Setiap ilmu silat mempunyai keistimewaan yang berada, kalau inti sari serta kelihayannya dibuang, apa harganya untuk diwariskan kedalam dunia persilatan?”
“Perkataan cici tepat sekali.”
Gak Siauw Cha menghembuskan napas panjang.
“Begitulah selama hampir empat tahun lamanya aku tinggal disana, siang malam aku berjuang dan berlatih dengan tekun dan sangat beruntung aku berhasil mendapatkan sedikit kemajuan, suatu hari mendadak loocianpwee itu memaksa aku tinggalkan tempat itu dan melarang aku tinggal disana lebih jauh.”
“Apa sebabnya ia berbuat demikian?”
“Hingga kini persoalan itu masih merupakan suatu teka teki bagiku, cici sudah memikirkannya selama banyak hari tetapi belum berhasil juga memecahkan rahasia tersebut….” ia membereskan rambutnya yang kusut dan melanjutkan, “Setelah terjun kedalam dunia persilatan, persoalan pertama yang kulakukan adalah mencari kabar mengenai dirimu, setelah mengetahui bahwa kau jatuh kesungai mati, hatiku amat sedih hingga terasa diiris-iris kucari tempat kau terjatuh kedalam sungai, bersembahyang disana dan menangis tiga hari tiga malam mengenangkan nasibmu yang jelek, kalau aku tidak teringat bahwa aku masih mempunyai tugas untuk membalaskan dendam bagi kematian ibuku, mungkin sudah terjun kedalam sungai untuk bunuh diri….”
Mendengar ucapan tersebut Siauw Ling segera menghela napas panjang.
“Aaai….! cinta kasih cici yang demikian mendalam terhadap diriku, membuat siauwte tidak tahu bagaimana harus membalasnya.”
“Setelah tahu kemudian.” Gak Siauw Cha melanjutkan. “Tiba-tiba aku mendengar kabar berita yang mengatakan kemunculanmu didalam dunia persilatan, cici merasa terkejut dan kegirangan setengah mati, kukejar jejakmu keujung langit tapi akhirnya kuketahui bahwa Lan Giok Tonglah yang menyaru sebagai dirimu, hilang lenyap rasa girangku berubah jadi kekesalan dan kekecewaan….”
Mendadak Siauw Ling teringat akan suatu persoalan, segera ujarnya, “Apakah cici pernah menitipkan sepucuk surat kepada orang untuk disampaikan kepadaku?”
Sambil memandang langit diluar jendela Gak Siauw Cha mengangguk.
“Tidak salah, aku sering kali menolong orang, setiap kali orang yang berhasil kutolong pasti kutitipkan sepucuk surat untuk disampaikan kepadamu….”
Ia menghela napas panjang, terusnya setelah merandek sejenak.
“Ketika berjumpa dengan Lan Giok Thong yang menggunakan namamu aku merasa amat mendongkol bercampuran gusar, aku telah memberi pelajaran yang pedas terhadap dirinya, sungguh tak nyana dikarenakan persoalan itu aku telah mengundang kesulitan bagi diriku sendiri.”
“Apakah Lan Giok Thong tertarik oleh….”
Sebenarnya si anak muda ini hendak mengatakan apakah Lan Giok Thong telah tergiur kecantikan cici akhirnya mengejar dirimu kemana-mana, tapi ucapan selanjutnya terasa sulit diutarakan maka terpaksa iapun membungkam.
Terdengarlah Gak Siauw Cha meneruskan kisahnya, “Perasaan cici yang telah mulai tenang terjadi pergolakan hebat kembali, aku merasa telah mengingkari pesan terkahir ibuku, merasa malu pula terhadap ayah serta ibumu, hatiku jadi pedih, menyesal dan amat sakit hingga sukar dilukiskan dengan kata-kata. Malam itu seorang diri aku menginap didalam sebuah kuil yang terpencil, karena kesedihan yang kelewat batas membuat ketajaman telingaku terganggu, aku sudah terpulas dengan nyenyaknya tanpa terasa menanti aku sadar kembali, kutemui bahwa jalan darahku sudah tertotok.”
“Siapakah yang berani berbuat kurang ajar terhadap cici?” teriak Siauw Ling dengan gusarnya.
Gak Siauw Cha melirik sekejap kearah Siauw Ling, melihat perubahan air muka si anak muda itu dimana seakan-akan dengan mata kepala sendiri ia menyaksikan dirinya tertotok, dalam hati merasa amat terharu, segera jawabnya, “Mereka adalah dua orang peronda bermata tikus dari perkampungan Pek Hoa San cung. Ketika melihat aku telah mendusin mereka segera menggoda dan berbuat kurang ajar terhadap diriku, meskipun cici merasa gusar bercampur cemas tapi jalan darah yang tertotok membuat diriku sama sekali tak sanggup melawan, terpaksa aku hanya pejamkan mata tidak memperdulikan mereka.”
Mendadak ia menundukkan kepalanya dan tak berbicara lagi.
“Bagaimana selanjutnya?” seru Siauw Ling dengan hati gelisah.
“Kemudian dia berdua ternyata mulai berbuat kurang ajar terhadap diriku, keadaan pada saat itu benar-benar menyiksa batin, cici ingin mati tapi tak dapat, ingin hiduppun susah dalam keadaan begitulah tiba-tiba Giok Siauw Lang Koen telah munculkan diri dalam sekali gebrakan ia telah membinasakan kedua orang itu.”
“Jadi kalau begitu Giok siauw Lang Koen sekali lagi telah menyelamatkan cici?”
“Tidak salah, justru karena pertolongannya berulang kali terhadap diriku dan mengajak pula diriku untuk belajar silat dibawah bimbingan seorang guru yang lihay, budi kebaikan yang ia limpahkan terhadap diriku sudah menumpuk setinggi gunung….”
Mendadak ia membungkam, mendongak dan memandang wajah Siauw Ling dengan tajam katanya, “Saudaraku, kini kau telah dewasa, banyak persoalan yang telah kau pahami. Rasanya cicipun tak usah merahasiakan sesuatu dan mengutarakan semua perkataan yang ingin kuutarakan kepadamu.”
“Silahkan cici berkata, siauwte pasti akan memperhatikan dengan seksama.”
Gak Siauw Cha ragu-ragu sejenak, kemudian ujarnya, “Setelah Giok Siauw Lang Koen menyelamatkan diriku kali ini dan menemukan hatiku kusut dan selain murung, karena takut aku menemui marabahaya lagi ternyata ia tak mau tinggalkan diriku seorang diri, ditemaninya aku berpesiar ketempat-tempat kenamaan, seringkali ia meniup serulingnya memainkan lagu yang merdu untuk menghibur hatiku yang lara, semenjak kecil cicipun sudah belajar ilmu memetik khiem dari ibuku, kemudian setelah belajar silat dari loocianpwee lihay tadi, akupun memperoleh banyak petunjuk mengenai ilmu memetik khiem….”
Ia merandek sejenak untuk berpaling memandang sekejap kearah Siauw Ling, kemudian sambungnya, “Waktu itu meskipun Giok Siauw Lang Koen amat menyayangi diriku, tapi ia selalu bersikap demikian karena timbul dari sanubarinya dan terbatas dalam batas-batas kesopanan, ia pandang aku seperti adiknya sendiri.”
“Setiap hari ia menemani cici berpesiar menikmati pemandangan alam, bermain seruling untuk melepaskan kemurungan cici, ditambah pula tiada maksud lain, ia terhitung seorang koencu yang sejati.”
“Saudaraku, ingatkah kau akan suatu perkataan yang terkenal….?”
“Perkataan apa?”
“Pergaulan yang terlalu intim bisa menimbulkan rasa cinta, setelah Giok Siauw Lang Koen menemani aku setiap hari berpesiar ditempat-tempat keamanan, tanpa sadar cici telah menaruh rasa cinta terhadap dirinya hanya saja pada waktu itu belum sampai terpikirkan olehku.”
Siauw Ling menghembuskan napas panjang sepertinya ia mau mengucapkan sesuatu tapi akhirnya ia batalkan maksud tadi.
“Suatu malam bukan purnama” Gak Siauw Cha melanjutkan. “Giok Siauw Lang Koen mengajak aku menikmati rembulan dipuncak gunung Kioe Hoa san, rupanya ia tahu kalau cici memiliki kepandaian memetik khiem, entah sejak kapan ternyata ia telah menyediakan sebuah khiem bagiku.”
“Dibawah sorotan bulan purnama ia mainkan serulingnya membawakan nada yang merdu dan indah, cici jadi gatal tangan dan tanpa sadar telah memetik tali khiem untuk mengiringi permainan serulingnya, seketika itu juga gabungan permainan musik kami menggetarkan seluruh puncak.”
“Oooh, rupanya Giok Siauw Lang Koen adalah seorang manusia yang cerdik ia sediakan cici sebuah khiem tapi tidak mohon kepada cici untuk memainkan khiem tersebut baginya, sebaliknya memancing keinginan cici dengan permainan serulingnya, ia betul-betul hebat sekali.”
“Aaai…. kau benar-benar sudah dewasa, banyak persoalan yang telah kau ketahui.”
Ia mendadak diam sebentar dan kemudian sambungnya, “Entah mulai kapan mendadak permainan seruling Giok Siauw Lang Koen telah berubah membawakan irama lagu yang bernadakan cinta kasih ditengah bergemanya seruling tadi tanpa sadar permainan khiem cici terpancing olehnya dan ikut berubah, lama kelamaan aku jadi lupa daratan dan terjerumus didalam alunan cinta kasih yang menggelorakan hati.”
Gak Siauw Cha merandek sejenak.
“Lalu…. lalu….” ia ulangi perkataan itu sebanyak beberapa kali, namun ternyata tak sanggup diteruskan.
“Lalu bagaimana?”
“Lalu?” sambung Gak Siauw Cha sambil menggigit bibir. “Entah sejak kapan permainan khiem dan seruling itu telah terhenti, waktu cici mendusin kutemui bahwa diriku sedang duduk didalam pangkuan Giok Siauw Lang Koen.”
Mendadak Siauw Ling merasakan suatu kesedihan yang sangat aneh menyerang hatinya kepala kontan jadi pening dan kakinya limbung hampir saja ia jatuh terpelanting keatas tanah.
Buru-buru dia angkat tangannya dan menabok keatas batok kepala sendiri.
“Saudara, kenapa kau?” Gak Siauw Cha segera menegur.
“Aku sangat baik! Giok Siauw Lang Koen apakah pernah….”
“Ia menggenggam tangan cici dan mohon kepada cici untuk mengawini dirinya, ia berkata bahwa dikolong langit hanya dia Giok Siauw Lang Koen seorang yang pantas mengawini cici sebagai isterinya dan hanya cici seorang yang pantas mendapat Giok Siauw Lang Koen.”
“Huuh! sungguh besar amat bacot orang itu, apakah cici telah mengabulkan permintaannya?”
“Agaknya telah kusanggupi, cuma akupun pernah mengajukan dua syarat kepadanya.”
“Apakah syaratmu itu?”
“Pertama aku suruh dia membantu diriku untuk membalas dendam.”
“Apakah ia menyanggupi?”
“Sudah tentu ia menyanggupi!”
“Lalu syarat yang kedua?”
Dengan tajam Gak Siauw Cha menatap wajah Siauw Ling, kemudian sepatah demi sepatah katanya, “Syarat yang kedua? aku suruh dia menunggu tiga tahun, andaikata didalam tiga tahun ini aku tidak berhasil memperoleh kabar berita mengenai dirimu, maka cici akan melakukan pembalasan dendam dibawah bantuan dari Giok Siauw Lang Koen, setelah berhasil membalas dendam barulah aku kawin dengan dirinya.”
“Sekarang bukankah aku masih hidup baik-baik dikolong langit?”
“Yaah! harus disalahkan cici kenapa tak menambahkan sepatah dua patah kata pada waktu itu, hingga kini urusan jadi sulit dijelaskan.”
“Bukankah perkataanmu pada waktu itu sudah amat jelas sekali? kau suruh dia menunggu selama tiga tahun untuk mencari tahu tentang mati hidupku, sekarang belum batas waktu tiga tahun penuh fakta membuktikan bahwa aku masih hidup dikolong langit. Andaikata cici tidak mencintai dirinya tentu saja janji sebelumnya boleh dibatalkan.”
“Waktu itu aku hanya berkata bahwa ia harus menunggu selama tiga tahun karena aku hendak mencari dirimu, tetapi aku tidak menerangkan bagaimana seandainya aku berhasil temukan dirimu.”
“Sudah tentu janjimu yang terdahulu dibatalkan!” seru Siauw Ling dengan tegas.
“Cici memang ingin berbuat begitu, tetapi Giok Siauw Lang Koen adalah seorang manusia yang tak tahu malu!”
“Jangan kau salahkan dirinya, sudah terlalu banyak cici berhutang budi kepadanya.”
Ia merandek sejenak untuk tukar napas kemudian sambungnya, “Saudaraku, ada suatu persoalan sudah lama terpendam didalam hatiku, cici selalu belum sempat mengatakannya kepadamu. Aaaai…. waktu itu usiamu masih terlalu kecil sekalipun cici utarakan kepadamu belum tentu kau mengerti.”
“Persoalan apa?”
“Didalam surat wasiat bibi Im mu telah tercantum pula petunjuk mengenai soal perkawinan cici, beliau minta cici….”
Mendadak wajahnya berubah jadi merah padam, dengan sikap yang amat kikuk dara itu tundukkan kepalanya rendah-rendah.
“Bibi Im sangat cinta dan menyayangi diriku, dalam hati kecilku beliau sudah kuanggap ibuku sendiri!”
JILID 31
Perlahan-lahan Gak Siauw Cha angkat kepalanya, dengan mata terpejam rapat-rapat katanya, “Dalam surat wasiat ibuku, beliau suruh aku kawin dengan dirimu dan menjadi istrimu!”
“Oooooh! benarkah ada kejadian seperti ini?” seru Siauw Ling tertegun.
Seluruh wajah Gak Siauw Cha berubah semakin merah padam, tapi ia lanjutkan juga kata-katanya, “Didalam surat wasiat itu bukan saja memerintahkan cici untuk kawin dengan dirimu serta menjadi istrimu, bahkan diterangkan pula apa yang harus cici lakukan.”
Ia berhenti sejenak.
“Perkataan seperti ini walaupun cici merasa malu untuk mengutarakannya keluar, tetapi setelah kejadian berubah jadi begini terpaksa aku harus bicara terus terang kepadamu, semoga kau jangan mentertawakan diri cici yang terlalu tak tahu diri.”
“Dalam pandangan siauwte, cici jauh lebih agung dari seorang bidadari dilangit, mana aku berani memandang rendah diri cici.”
“Aaaa….! bagaimanapun juga akhirnya cepat atau lambat persoalan ini harus kuberitahukan kepadamu, bila tidak kuterangkan pada saat ini mungkin dikemudian hari sudah tak ada kesempatan lagi….”
Terutama sekali beberapa patah kata yang terakhir jelas mengandung alamat jelek, membuat Siauw Ling yang mendengar jadi tertegun dan tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.
Sementara ia hendak menanyakan persoalan itu, Gak Siauw Cha telah berkata kembali, “Dalam surat wasiatnya ibuku telah menerangkan dengan jelas, katanya kau telah mengidap suatu penyakit yang sangat aneh didalam urat nadi, meskipun berhasil mempelajari ilmu silat yang sangat lihay, belum tentu urat nadi terpenting itu berhasil ditembusi, dapatkah usiamu melampaui batas dua puluh tahun masih merupakan suatu tanda tanya yang besar. Oleh karena itu dalam surat wasiat itu ibuku memerintahkan kepada cici untuk kembali lagi kedusun Tan Kwoe Cung ditepi telaga Tiang Pek Ouw sehabis mengantar jenasahnya pergi, untuk sementara waktu soal membalas dendam jangan dibicarakan dahulu dan aku harus kawin dulu dengan dirimu….”
Siauw Ling yang mendengar perkataan itu wajahnya seketika menjadi panas, ia tundukkan kepalanya rendah-rendah dan tak berani memandang wajah Gak Siauw Cha lagi.
Terdengar gadis itu menghela napas panjang sambungnya, “Ibuku suruh aku melahirkan putra putri bagi keluarga Siauw untuk menyambung keturunannya, kemudian baru membalaskan dendam baginya, didalam surat wasiatnya diterangkan pula dengan jelas bagaimana caranya untuk membalaskan dendam sakit hatinya itu. Aaaa….! siapa tahu peristiwa yang kemudian terjadi jauh diluar dugaan ibuku. Saudaraku! andaikata tiada surat wasiat dari ibuku, tidak nanti cici berani membawa kau keluar dari rumah.”
Siauw Ling angkat kepalanya kembali, dengan air mata bercucuran ia menghela napas panjang.
“Dibalik kejadian ini masih terselip banyak persoalan yang sama sekali tak terduga, darimana siauwte bisa berpikir….”
Air muka Gak Siauw Cha mendadak berubah jadi serius, ujarnya, “Kini situasi sama sekali telah berubah, keadaan cici sudah lain dari pada keadaan dahulu sedangkan kaupun sudah berhasil melepaskan dari ancaman bahaya maut bahkan berhasil mempelajari pula serangkaian ilmu silat yang sakti. Dengan ketampanan wajahmu serta kegagahan, cici percaya banyak gadis yang tertarik kepadamu. Perintah ibuku mendiangpun hanya akan jadi suatu kenangan, rasanya cici tak usah menurut pesan terakhirnya lagi.”
Siauw Ling merasakan hatinya jadi kacau. Ia tak dapat melukiskan bagaimanakah perasaannya pada saat itu, setelah termenung sebentar sahutnya lirih, “Perintah dari cici, siauwte tidak berani membangkang!”
Gak Siauw Cha mendongak memeriksa cuaca diluar jendela, kemudian bertanya, “Saudaraku, bagaimanakah menurut penilaianmu tentang ilmu silat yang dimiliki Giok Siauw Lang Koen.”
Siauw Ling yang lagi uring-uringan dan gelagapan tidak tahu apa yang musti dilakukan segera berdiri menjuplak setelah mendapat pertanyaan dari Gak Siauw Cha, lama sekali ia baru sanggup menjawab, “Kepandaian silatnya sangat lihay, dan sulit ditemui sepanjang sejarah dewasa ini.”
“Bagaimanakah kalau kepandaian silatmu dibandingkan dengan dirinya….?”
“Sulit untuk ditentukan siapa menang siapa kalah.”
“Rasa cintanya terhadap diriku dalam bagaikan samudra, dan budinya yang telah ia lepaskan terhadap diriku berat bagaikan gunung, menurut pendapatmu apa yang harus cici lakukan?”
“Tentang soal ini…. tentang soal ini….” saking tertegunnya untuk sesaat si anak muda itu tidak tahu apa yang musti dijawab.
“Kejadian indah berubah jadi begini, kaupun tak usah ragu-ragu lagi katakanlah sejujurnya!”
Dengan sinar mata berkilap Siauw Ling menatap wajah Gak Siauw Cha dalam-dalam kemudian dengan nada serius katanya, “Hal ini harus kunilai dari sikap cici terhadap dirinya. Andaikata cici mencintai dirinya sudah tentu kau boleh menikah dengan dirinya, sebaliknya kalau cici tidak suka kepadanya dan siauwtepun belum mati, tentu saja kau dapat menghapuskan janji itu….”
“Masih ada satu persoalan, cici belum sempat menerangkan kepadamu!”
“Persoalan apa?”
“Andaikata aku menghapuskan janji tersebut, mungkin saja ia tak berani mengapa-apakan diriku, tetapi rasa benci dan dendamnya pasti akan dialihkan ketubuhmu, ia pasti akan mencari dirimu untuk diajak beradu jiwa….!”
“Walaupun ilmu silatnya sangat lihay tetapi siauwte tidak jeri terhadap dirinya!”
“Aku tahu! tetapi kalau dua ekor harimau saling bertempur, maka akhirnya salah satu diantaranya pasti terluka….”
“Demi cici sekalipun siauwte harus matipun rela!”
“Pada saat ini namamu sudah tersohor diseluruh kolong langit, umat Bulim yang ada didalam dunia persilatan dewasa ini telah menganggap dirimu sebagai pelita ditengah kegelapan dan merekapun memandang kau sebagai satu-satunya orang yang sanggup menghadapi serangan Shen Bok Hong, saudaraku sebagai seorang lelaki sejati kau harus lebih berat memandang pada karier dan bukannya mengorbankan jiwa demi seorang gadis….”
Siauw Ling merasakan darah panas didalam rongga dadanya bergelora keras, serunya dengan suara kaget, “Seandainya dalam hati kecil siauwte ada seorang kekasih, maka orang itu adalah cici seorang. Bukan saja aku sangat mencintai diri cici bukankah kau kupandang melebihi bidadari yang ada dilangit, siauwte masih muda dan tidak banyak persoalan yang kuketahui tetapi selama banyak tahun aku merasa suara dari cici, senyuman dari cici sering kali muncul didalam benakku, sekalipun ini hari cici tidak menerangkan siauwtepun merasa bahwa aku menaruh rasa cinta dan rindu terhadap diri cici, hanya satu untuk sementara siauwte belum merasakan tumbuhnya bibit cinta, sekalipun siauwte tahu juga tak berani kuutarakan keluar sehingga menyinggung perasaan cici.”
“Aaai….! selama banyak tahun akupun siang malam selalu merindukan dirimu, terhadap kau aku menurut rasa sesal yang tak terkirakan disamping rasa kesalahan yang tebal dalam pandanganku. Aku merasa bahwa seharusnya kau selain berada disisiku, aku hendak mengurusi soal makanmu serta pakaianmu, dalam lima tahun belakangan kau didalam bayanganku masih seperti seorang bocah seperti waktu berpisah dahulu menanti secara diam-diam kuawasi dirimu dewasa ini, barulah kuketahui bahwa kau telah meningkat dewasa.”
“Apakah siauwte sama sekali tidak memiliki potongan wajah seperti dahulu?”
“Dulu kau lemah dan banyak penyakit, membikin orang yang memandang merasa kasihan, tapi kini kau tampan dan mempesonakan setiap orang.”
“Tetapi siauwte toh masih tetap merupakan Siauw Ling yang dahulu….?” perlahan-lahan si anak muda itu tundukkan kepalanya.
“Tidak salah, dalam tingkah laku secara lapat-lapat masih tersisa keadaan dimasa kecilmu….”
Ia menghela napas panjang.
“Seorang Shen Bok Hong sudah cukup memusingkan kepalamu, kalau ditambah dengan seorang Giok Siauw Lang Koen lagi, dari mana kau sanggup menghadapinya? untuk melepaskan genta, harus mencari siorang yang tersangkut genta, persoalan pribadi cici lebih baik aku selesaikan sendiri saja….”
“Cici, betapa sayang dan cintanya diri cici kepadaku pada masa yang silam, kini aku telah dewasa, mengapa kau tidak memperkenankan diriku untuk melindungi cici?”
Diatas wajah yang murung mendadak tersungging satu senyuman manis, terdengar Gak Siauw Cha berkata, “Saudaraku, kemarilah!”
Perlahan-lahan Siauw Ling maju kedepan dengan sangat hormat tanyanya, “Cici, kau ada perintah apa?”
Gak Siauw Cha tidak berbicara, mendadak ia putar badan dan berjalan masik keruang dalam. Beberapa saat kemudian sambil membawa sebuah kotak kayu cendana yang panjangnya tiga coen lebarnya dua coen gadis itu munculkan dirinya kembali.
Kepada Siauw Ling ia berkata dengan wajah serius, “Saudaraku, baik-baiklah kau simpan kotak kayu ini!”
“Cici, apakah isi dari kotak kayu ini?” tanya Siauw Ling sambil menerima benda tadi.
“Anak kunci istana terlarang yang diidam-idamkan setiap jago Bulim dikolong langit!”
“Apa? anak kunci istana terlarang?” jerit pemuda itu dengan terperanjat.
“Tidak salah, ini hari cici serahkan benda ini kepadamu, semoga kau bisa memasuki istana terlarang.”
Buru-buru si anak muda itu gelengkan kepalanya.
“Benda yang demikian berharganya mana bisa siauwte simpan secara baik-baik? lebih baik cici menyimpan sendiri saja!”
“Apakah kau masih ingat akan janjiku dengan Giok siauw Lang Koen….?” tanya Gak Siauw Cha tertawa getir.
“Ucapan itu baru saja mendengung disisi telingaku, tentu saja siauwte masih mengingatnya baik-baik.”
“Nah, itulah dia, batas waktu tiga bulan dalam sekejap mata saja akan tiba pertemuanku dibawah tebing Toan Hoan Gay sulit diramalkan tentang mati hidupku, andaikata tiga bukan kemudian kau tidak berhasil memperoleh kabar mengenai diri cici, anggaplah anak kunci istana terlarang itu sebagai milikmu.”
Setelah merandek sejenak, terusnya, “Berusahalah melakukan perjalanan untuk memasuki istana terlarang. Bila kau ingin menangkan Shen Bok Hong, maka satu-satunya jalan adalah memasuki istana terlarang tersebut.”
“Cici, beritahukan kepadaku tentang satu persoalan, janganlah membohongi diriku” pinta si anak muda itu serius.”
“Persoalan apa?”
“Kau telah mengadakan janji dengan Giok Siauw Lang Koen untuk berjumpa didasar tebing Toan Hoan Gay pada tiga bulan kemudian, sebenarnya apa maksudmu?”
“Tentang persoalan ini cici tak bisa mengatakan, sebab harus dilihat bagaimana sikap Giok Siauw Lang Koen nanti.”
“Seandainya ia selalu mendesak cici hingga kelewat batas, apakah cici bakal bergebrak melawan dirinya?”
“Aku tidak tahu, persoalan ini baru bisa dibicarakan setelah meninjau situasi pada waktu itu.”
“Aku lihat dia terlalu picik pandangannya sedangkan terhadap cici rasa cintanya sudah sangat mendalam, andaikata cici tidak menyetujui perkawinannya mungkin dia tak akan melepaskan cici dengan begitu saja, kecuali kalau cici rela menyerah begitu saja, siauwte rasa suatu pertarungan sengit tak akan terhindar.”
Gak Siauw Cha melirik sekejap kearah Siauw Ling, mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa.
“Cici, apakah kau mengijinkan siauwte untuk ikut serta pergi memenuhi janji?”
“Tidak bisa jadi, kau tak boleh bermusuhan dengan Giok Siauw Lang Koen….!”
“Mengapa?”
“Dibelakang Giok Siauw Lang Koen masih berdiri selapis kekuatan yang amat besar. Andaikata kau membinasakan Giok Siauw Lang Koen, maka orang-orang itu pasti tak akan melepaskan dirimu dengan begitu saja, sebaliknya kalau kau sampai terluka ditangan Giok Siauw Lang Koen. Oooh…. saudaraku, terlalu tidak berharga bagimu untuk mengorbankan diri demi diriku!”
“Demi cici, sekalipun badanku harus hancur lebur siauwtepun rela….!”
“Saudaraku, kau jangan melupakan akan satu persoalan” seru Gak Siauw Cha dengan alis berkerut.
“Persoalan apa lagi?”
“Aku telah menerima pinangan dari Giok Siauw Lang Koen, kenapa aku tidak boleh sungguh-sungguh menikah dengan dirinya?”
Siauw Ling tertegun, untuk beberapa saat lamanya ia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.
“Saudaraku, masih ada persoalan apa lagi yang hendak kau katakan kepada cici?” gadis itu kembali bertanya.
“Dalam hati siauwte mempunyai beribu-ribu patah kata yang hendak kukatakan, tetapi aku tidak tahu harus dari mana untuk mulai berbicara….!”
“Kalau memang begitu, lebih baik tak usah kau katakan lagi….”
Air mukanya berubah, mendadak dengan suara ketus serunya, “Cici telah mengutarakan semua isi hatiku, kalau memang kau tiada persoalan lagi. Rasanya sudah sampai pada saatnya bagimu untuk mohon diri dari sini!”
Mimpipun Siauw Ling tidak menyangka kalau secara tiba-tiba Gak Siauw Cha bisa mengusir dirinya pergi, ia tertegun.
“Cici suruh aku pergi?” bisiknya setengah tidak percaya.
“Ehmm, saudaraku kini kau sudah dewasa antara lelaki dan perempuan ada batas-batasnya, aku rasa tidak pantas bagimu untuk berdiam terlalu lama disini.”
“Kalau memang begitu, siauwte mohon diri lebih dulu!” selesai berkata ia lantas menjura.
“Maaf cici tidak bisa mengantar lebih jauh” sahut Gak Siauw Cha sambil balas memberi hormat, kemudian berjalan masuk keruang dalam.
Siauw Ling yang menyaksikan keputusan dari gadis she Gak itu, disamping merasa heran iapun merasa sangat bersedih hati, darah panas didalam rongga dadanya bergelora keras dan air mata tanpa sadar jatuh berlinang.
Berdiri ditengah kesedihan entah berapa waktu sudah lewat tanpa terasa.
“Siangkong!” mendadak terdengar suara teguran yang halus dan merdu berkumandang datang memecahkan kesunyian.
Bagaikan baru saja sadar dari impian, buru-buru Siauw Ling membasuh air mata yang membasahi pipinya lalu berpaling. Tampaklah Soh Boen dengan wajah diliputi kesedihan telah berdiri didepan pintu.
Ia berusaha keras menenangkan hatinya, setelah melirik sekejap kearah horden yang memisahkan ruang tengah dengan ruang dalam, pemuda itu bergumam seorang diri, “Yaah…. aku memang harus segera pergi!”
Tanpa berkata-kata ia berjalan menuju keluar.
Hatinya diliputi kesedihan yang kelewat batas, cinta kasih yang bersemi didalam hatinya dahulu kini telah berubah jadi air mata kesedihan, pemuda itu tak kuat menahan air matanya lagi, titik-titik air mata jatuh berlinang membasi pipinya.
Dengan langkah limbung ia berjalan kedepan, pemuda itu tak tahu kemanakah ia telah pergi.
Terdengar suara air berkumandang memecahkan kesunyian, sebuah selokan dengan air yang bersih menghadang didepan matanya.
Dalam kepedihan hatinya ternyata si anak muda itu telah salah mengambil arah dan tersesat.
Perlahan-lahan Siauw Ling berjalan kesisi selokan, duduk diatas sebuah batu besar ia bertopang dagu dan memandang awan diangkasa dengan pandangan mendolong.
Mendadak angin berhembus lewat, awan diudara membuyar keempat penjuru, dilangit yang udara terasa amat cerah.
Pemuda itu gelengkan kepalanya, setelah berhasil menenangkan hatinya yang kacau ia berjongkok ketepi selokan dan membasahi wajahnya yang kusut.
Rasa dingin yang menyegat badan segera menembalikan pikirannya yang kacau, ia teringat kembali akan rekan-rekannya yang masih menanti didalam bangunan besar.
Setelah mengempos tenaga dan menentukan arah, akhirnya Siauw Ling kembali kearah bangunan besar.
Bangunan tersebut masih tetap berdiri ditengah kelilingan pohon bambu, tapi didalam pandangan pemuda itu semuanya telah berubah, dalam beberapa jam yang singkat semuanya terasa asing baginya….
Dalam pada itu Soen Put shia sambil bergendong tangan sedang berdiri dipintu depan ketika menyaksikan Siauw Ling munculkan diri, ia segera menyongsong dengan langkah lebar.
Siauw Ling angkat kepala dan melirik sekejap kearah pengemis tua itu lalu tertawa hampa.
“Benar, aku sudah kembali!” sahutnya lirih.
Dari sikap serta ucapan tersebut Soen Put shia dengan cepat dapat menangkap kesedihan hati si anak muda itu, wajahnya seolah-olah sudah mengalami perubahan yang amat besar, perpisahan selama beberapa jam bagaikan perpisahan selama beberapa tahun lamanya.
Tampaklah alis yang selalu cerah kini diliputi kekesalan serta kemurungan yang tebal, matanya yang semula jeli kini berubah jadi merah. Keadaannya bagaikan seseorang yang baru saja mengalami pertarungan yang seru, seperti pula seseorang yang kehabisan tenaga dan kelewat lelah.
Kegagahan serta keteguhan iman dihari-hari biasa kini lenyap tak berbekas bagaikan terdapat suatu tenaga misterius yang merubah sama sekali watak serta perangai Siauw Ling dalam beberapa jam yang singkat.
Soen Put shia segera mendehem ringan dan menegur, “Saudara Siauw, apakah kau sudah bertemu dengan musuh tangguh yang belum pernah kau jumpai serta telah berlangsung suatu pertempuran yang amat seru?”
Siauw Ling menggeleng dan tetap membungkam.
“Apakah kau merasa sangat lelah?” kembali pengemis itu menegur dengan alis berkerut.
Siauw Ling mengangguk dan tertawa sedih.
“Ehmm, aku merasa lelah sekali.”
Sinar mata Soen Put shia segera dialihkan kebawah, mendadak ia temukan sebuah kotak kayu muncul separuh bagian diluar sakunya. Dibawah sorot cahaya sang surya terlihatlah diatas kotak itu terdapat banyak sekali urik-urikan, diam-diam pikirnya didalam hati, “Belukm pernah kujumpai kotak semacam ini, jelas benda tersebut baru saja didapatkan olehnya….”
Maka kembali ia menegur, “Saudara Siauw, benda apakah yang terdapat didalam kotak kayu itu….?”
Siauw Ling menunduk dan mengambil kotak tadi setelah dilihat sekejap sahutnya, “Oooh, benda ini? aku toh tidak menerimanya! kenapa bisa berada didalam sakuku?”
Kiranya waktu Gak Siauw Cha mengusir si anak muda itu, Siauw Ling merasakan hatinya bergetar keras dan kesadarannya banyak berkurang, disaat itulah gadis she Gak tadi telah memasukkan kotak kayu itu kedalam sakunya.
Soen Put shia sebagai seorang jago kawakan yang berpengalaman luas, ketajaman matanya benar-benar luar biasa, menyaksikan sikap si anak muda itu ditambah pula kesadaran yang jauh berkurang. Dalam hatinya ia mengerti bahwa pemuda ini pastilah sudah mendapatkan pukulan batin yang sangat besar, sehingga dari seorang jago yang memiliki ilmu silat lihay berubah jadi manusia biasa.
Sementara itu Boe Wie Tootiang, Ceng Yap Chin serta Suma Kan sekalian telah berkumpul datang.
Rupanya para jagopun menemukan keadaan Siauw Ling yang lain dari pada keadaan biasa, semua mereka jadi gelagapan dibuatnya.
“Soen Loocianpwee” sitoosu tua dari Bu Tong Pay itu segera berbisik lirih. “Agaknya keadaan siauw thayhiap rada tidak beres.”
“Betul….”
“Menurut apa yang cayhe ketahui” timbrung Suma Kan. “Didalam Bulim terdapat semacam kepandaian pembingung sukma, jangan-jangan ia sudah terkena ilmu hitam tersebut.”
“Kalau menurut pandangan aku sipengemis tua, agaknya batinnya mendapat pukulan yang berat sehingga sifatnya jadi begini.”
Terdengar Siauw Ling berbisik, “Aku harus mengembalikan kepadanya!” seraya berkata ia segera putar badan dan berlalu.
“Agaknya keadaan tidak beres” bisik Soen Put shia, sekali enjotkan badan ia sudah menghadang didepan si anak muda itu, tegurnya, “Saudara Siauw, kau hendak pergi kemana?”
“Aku hendak mengembalikan kotak kayu ini.”
“Hendak kau kembalikan kepada siapa?”
“Gak Siauw Cha! Aaaai…. isi dari kotak ini terlalu berharga, aku orang she Siauw mana boleh menerimanya?”
“Apa sih isi dari kotak kayu itu?”
“Anak kunci istana terlarang!”
Kesadarannya yang berangsur-angsur merosot rupanya mengalami sedikit kemajuan.
Beberapa patah kata yang singkat cukup menggetarkan setiap orang, beberapa patah kata tadi bagaikan guntur yang membelah bumi disiang hari bolong memaksa Soen Put shia serta Boe Wie Tootiang sekalian berdiri menjublak dan tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.
Didalam dunia persilatan seringkali tersiar berita yang mengatakan didalam istana terlarang telah terkubur belasan orang tokoh silat yang amat lihay, mati hidupnya hingga kini masih merupakan suatu teka teki, dan untuk memecahkan teka teki itu maka orang harus mendapatkan anak kunci istana terlarang.
Benda itu mempengaruhi kehidupan seluruh umat Bulim dan merupakan benda yang paling berharga berjuta-juta orang dunia persilatan.
Entah sudah berapa banyak tokoh sakti dunia persilatan yang harus mengucurkan darah demi memperebutkan benda itu, sudah berapa banyak pembunuhan serta kematian yang diakibatkan benda itu….
Dengan sinar mata yang sayu Siauw Ling menyapu setiap wajah para jago, kemudian katanya, “Harap cuwi sekalian suka menanti sebentar disini, setelah mengembalikan kotak kayu itu aku akan segera kembali kesini.”
“Saudara Siauw” seru Soen Put shia sambil menghadang jalan pergi pemuda itu. “Apakah nona Gak telah mengucapkan sesuatu sewaktu menyerahkan kotak kayu itu kepadamu?”
Perlahan-lahan Siauw Ling mendongak dan menghela napas panjang.
“Tidak salah, agaknya ia telah mengucapkan banyak sekali perkataan.”
“Loocianpwee” Boe Wie Tootiang segera membisik. “Agaknya kesadaran Siauw thayhiap rada terganggu, kita harus menghadang jalan perginya!”
Soen Put shia mengangguk.
“Apa yang telah dikatakan nona Gak? saudara Siauw, bolehkah kami mengetahui?” katanya.
“Banyak perkataan yang telah ia ucapkan agaknya anak kunci istana terlarang ini sangat mempengaruhi kehidupan dunia persilatan….”
“Bukan saja sangat besar, bahkan boleh dikata disitulah letaknya kunci bagi keselamatan seluruh umat Bulim.”
“Betul, agaknya iapun beritahu kepadaku, kalau aku ingin menangkan Shen Bok Hong maka aku harus memasuki istana terlarang.”
“Tidak salah….” sahut Soen Put shia serius.
“Aaaai…. tetapi anak kunci istana terlarang bukan milikku!”
“Kalau memang nona Gak menyerahkan anak kunci istana terlarang kepadamu, sudah tentu itu berarti bahwa ia berharap agar Siauw thayhiap bisa memasuki istana terlarang. Kalau kau mengembalikan kunci ini kepada nona Gak, bukankah itu berarti telah menyia-nyiakan harapannya….?” seru Boe Wie Tootiang.
Memandang kotak kayu dalam genggaman Siauw Ling menghela napas panjang.
“Mungkin kotak kayu ini mempengaruhi keselamatan dari nona Gak!” bisiknya.
“Mempengaruhi keselamatan nona Gak?”
“Tidak salah, setelah ia serahkan anak kunci istana terlarang kepadaku, dan berarti bahwa ia tidak mempunyai tanggung jawab apa-apa lagi, dengan sendirinya ia bisa cepat mengambil keputusan pendek terhadap kehidupannya.”
“Aaaah…. kalau begitu urusan menyangkut mati hidup nona Gak” pikir Soen Put shia. “Jika demikian adanya tidak baik kalau aku sipengemis tua terlalu banyak komentar.”
Rupanya Boe Wie Tootiang sekalipun berpendapat demikian, maka siapapun tidak berbicara lagi.
Sekali lagi Siauw Ling menghela napas panjang, lalu berkata, “Harap kalian suka menunggu sebentar disini, aku hendak mengembalikan dulu kotak kayu ini.”
“Loocianpwee” Boe wie Tootiang segera berbisik kepada Soen Put shia. “Keadaan Siauw thayhiap rada tidak beres, lebih baik kau ikuti dirinya saja….”
Soen Put shia mengangguk, dengan langkah lebar ia segera maju kedepan dan berkata, “Saudara Siauw, bagaimana kalau aku sipengemis tua menemani dirimu….?”
“Aku tak berani merepotkan dirimu!”
“Haaah…. haah…. apakah kau tidak mengijinkan aku sipengemis tua ikut serta?”
“Kalau memang loocianpwee ingin ikut marilah kita segera berangkat….!” tanpa banyak bicara lagi ia segera berlalu.
Meskipun Soen Put shia mengetahui bahwa Siauw Ling tidak ingin dirinya ikut serta, tetapi demi menjaga keselamatan si anak muda itu terpaksa ia tebalkan muka untuk mengikuti dibelakang pemuda tersebut.
Tampaklah Soh Boen dengan menggembol buntalan serta menyoren pedang berdiri dimuka gubuk.
Ketika menyaksikan dandanan dari dayang tersebut, Siauw Ling seketika berdiri tertegun.
Sekalipun didalam hati kecilnya ia memang bermaksud mengembalikan kotak kayu itu, tapi dalam kenyataan ia berharap bisa berjumpa sekali lagi dengan Gak Siauw Cha.
Terdengar Soh Boen dengan suara yang merdu berseru, “Siauw siangkong, nona telah berangkat!”
“Sudah berapa lama ia pergi? kemana ia berlalu?”
“Siangkong tak usah menyusul nona lagi. Sebelum pergi ia telah serahkan segala sesuatunya kepada budak, bagaimanapun juga aku harus menasehati diri siangkong untuk tidak menyusul dirinya.”
Siauw Ling menghela napas sedih.
“Nona, katakanlah kepadaku ia telah berangkat menuju kearah mana! aku harus menyusul dirinya dan mengembalikan kotak kayu ini, dalam kotak tersebut berisikan anak kunci istana terlarang yang mempengaruhi mati hidup dunia persilatan.”
“Aku tahu dan nona telah beritahu kepadaku, ia suruh aku menyampaikan kepada siangkong agar baik-baik merawat kotak ini, kecuali kotak tersebut berisikan anak kunci istana terlarang, terdapat pula peta rahasia istana tersebut, peta itu adalah hasil karya dari ibu nona.”
Mendadak Siauw Ling merasakan suatu perasaan sedih yang aneh, tanpa sadar air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya.
Perlahan-lahan dari saku Soh Boen mengambil keluar sepucuk surat, sambil diangsurkan kedepan katanya, “Sebelum berlalu tadi nona telah meninggalkan sepucuk surat yang minta aku untuk serahkan kepadamu. Seandainya keadaan siangkong tetap tenang maka surat ini tak perlu diserahkan kepadamu.”
“Kenapa?” tanya si anak muda itu sambil menyambut surat tersebut.
“Tidak tahu nona suruh budak berkata demikian dan budakpun seperti apa yang aslinya telah menyampaikan kepada diri siangkong.”
Siauw Ling menerima surat itu dan hendak dirobek sampulnya, tapi kembali dihalangi oleh Soh Boen.
“Jangan kau buka sekarang, nona berpesan agar siangkong menyimpan dahulu surat itu, kemudian carilah tempat yang tenang. Duduklah baik-baik dan surat itu baru boleh dibaca.”
“Ooooh begitu banyak perkataannya.”
“Nona suruh budak menyampaikan kata-jatanya itu, budak telah menyampaikan kepada siangkong, dan sekarang budak masih ada beberapa patah kata yang hendak diberitahukan kepada siangkong.”
“Silahkan nona berkata, aku seorang she Siauw akan mendengarkan dengan seksama.”
“Sejak budak mengikuti nona, belum pernah kusaksikan dia meneteskan air mata, tapi kali ini setelah menghantar pergi siangkong nona telah menangis sejadi-jadinya….”
“Sungguhkah itu?”
“Kenapa aku musti membohongi dirimu?”
“Teguran nona tepat sekali, bagaimana selanjutnya?”
“Isak tangisnya memecahkan kesunyian, air matanya mengalir deras bagaikan bendungan yang ambrol, setelah budak sekalian berlutut sambil memohon-mohon agar nona suka menjaga kesehatan, ia baru perlahan-lahan berhenti menangis!”
Siauw Ling mendongak dan menghela napas panjang.
“Aaaai…. kemudian, apakah nona Gak meninggalkan gubuk ini?”
“Tidak” Soh Boen menggeleng. “Setelah nona berhenti menangis, ia menulis sepucuk surat untukmu.”
Siauw Ling mendesis lirih, dia angkat suratnya keatas siap dibuka atau secara tiba-tiba ia teringat pesan dari Soh Boen, maka niatnya itu dibatalkan kembali.
“Diatas surat itu kecuali terdapat tulisan dari nona kami, terdapat pula air mata yang sangat berharga dari nona kami, aku menyaksikan dengan mata sendiri banyak air matanya menetes diatas kertas surat tersebut, kau harus baik-baik menyimpan surat ini” Soh Boen melanjutkan.
“Cayhe tidak akan menyia-nyiakan surat ini.”
“Pada saat ini nona kami mungkin sudah berada puluhan li jauhnya. Siangkong tak usah menanti lebih lanjut, sedang budakpun tidak nanti memberitahukan kepadamu kemana arah yang dituju nona, lebih baik cepat-cepatlah kembali!”
“Sebelum nonamu meninggalkan tempat ini apakah ia sudah berpesan sesuatu?” tanyanya Siauw Ling sedih.
“Tidak….” ia merandek sejenak. “Kau ini…. jadi orang benar-benar rada tolol.”
“Kenapa?” pemuda itu tertegun.
“Andaikata nona kami ada perkataan yang hendak disampaikan kepadamu, apakah dia tak bisa menulisnya didalam surat itu?”
“Ehmmm, ucapan ini sedikitpun tidak salah” pikir Siauw Ling, maka ia lantas berkata, “Terima kasih banyak atas petunjuk nona.”
“Tak perlu sungkan-sungkan cepatlah pergi!”
Siauw Ling segera angsurkan kotak kayu dari tangannya kearah dayang lain katanya, “Tolong nona suka menyampaikan kotak ini kepada nona Gak!”
“Soh Boen segera gelengkan kepalanya berulang kali.”
“Aku tidak berani menerima kotak tersebut!” katanya.
“Kenapa?”
“Sebelum nona berlalu dari sini, ia telah berpesan agar budak untuk menanti siangkong disini, kalau sang surya sudah hilang dibalik gunung dan siangkong belum datang juga, budak baru diijinkan berlalu dari sini. Menunggu orang disuruh menanti setengah harian lamanya, itu berarti nona sudah menduga bahwa siangkong pasti akan datang, dan ternyata siangkong benar-benar telah datang kemari….”
Ia tersenyum dan melanjutkan, “Dia beritahu kepada budak, seandainya surat ini diserahkan kepada siangkong dikala kau sedang menangis, maka siangkong segera akan tenang kembali, dan ternyata keadaan yang sebenarnya memang begitu.”
“Aaaaai…. selamanya dugaan enci Gak ku memang selalu tepat sekali!”
“Dia memang jauh lebih hebat dari seorang dewasa!”
“Dia bukan dewa tetapi manusia, bahkan seorang manusia yang punya rasa cinta dan setia kawan, siangkong! penderitaan serta siksaan batin yang dialami nona kami selama beberapa bulan terakhir mungkin sepuluh kali lipat jauh lebih berat daripada apa yang kau alami sekarang.”
Siauw Ling menghela napas panjang dan membungkam.
Dengan sepasang mata jeli dan tajam Soh Boen menatap wajah si anak muda itu tajam-tajam, ujarnya lagi, “Siangkong, nona kami berkata bahwa kau adalah seorang koen cu, seorang lelaki sejati, anak kunci istana terlarang pasti akan dikembalikan kemarin, eeei…. ternyata dugaannya kembali jitu!”
Air mukanya berubah menjadi serius, sambungnya kemudian, “Siauw siangkong, tahukah kau sebenarnya apa yang dipikirkan nona kami dikala menyerahkan anak kunci istana terlarang kepadamu? ia tidak ingin memperoleh dirimu, sebaliknya justru menitipkan keselamatan jiwanya kepadamu….”
“Apakah nonamu menyelesaikan lebih lanjut kata-katanya ini?” seru Siauw Ling tertegun.
“Kau ini kalau dipandang sepintas lalu nampaknya amat cerdik, kenapa dalam kenyataan tolol sekali?”
“Bagaimana tololku?”
“Andaikata kau sangat cerdik, kenapa kau tidak berhasil menangkap maksud yang sebenarnya dari perkataan nona kami?”
“Ilmu silat yang dimiliki enci Gak jauh lebih ampuh daripada diriku sedangkan kepandaian silat dari Giok Siauw Lang Koen hanya berada dalam keadaan seimbang saja dengan diriku, andaikata sampai terjadi pertarungan aku rasa enci Gak tidak bakal sampai menderita kalah ditangan Giok Siauw Lang Koen kecuali kalau enci Gak dengan rela hati menyerahkan diri.”
“Sedikitpun tidak salah, andaikata membicarakan soal ilmu silat saja nona kami mungkin masih jauh lebih ampuh daripada Giok Siauw Lang Koen, dalam ratusan gebrakan ia masih sanggup untuk mencabut jiwanya, tetapi kau jangan lupa Giok Siauw Lang Koen adalah tuan penolong yang telah berulangkali menyelamatkan jiwa nona kami!”
Siauw Ling menghela napas panjang.
“Aaaai…. karena itu, enci Gak ku baru rela menerima penghinaan serta siksaan batin dan rela dianiaya olehnya?”
“Kembali kau salah menduga!”
“Kenapa?”
“Kalau dibicarakan sesungguhnya sikap Giok Siauw Lang Koen terhadap nona kami amat terhormat dan selamanya tidak berani berbuat keras” ia termenung sebentar kemudian melanjutkan. “Aaaai…. bicara pulang pergi, kesemuanya adalah disebabkan karena dirimu.”
“Karena aku?”
“Tidak salah sebelum aku munculkan diri didalam dunia persilatan, nona kami sering kali mengadakan pertemuan dengan Giok Siauw Lang Koen, mereka sering kali berpesiar dan menikmati pemandangan alam sambil bergandengan tangan. Waktu itu meski nona kami sering kali mengerutkan dahi menunjukkan kemurungan, tetapi senyuman serta wajah yang berseri-seri sering kali terlihat juga ditampilkan….”
“Bagaimana setelah mendengar kemunculanku didalam dunia persilatan?” sela Siauw Ling.
“Sejak mendengar berita yang mengatakan kemunculanmu didalam dunia persilatan, situasi seketika berubah hebat. Mulai kau terjun kedalam dunia persilatan itulah budak tak pernah melihat nona kami menampilkan senyumannya lagi, bahkan berulang kali menampik ajakan Giok Siauw Lang Koen untuk mengadakan pertemuan. Coba bayangkan, apakah kesemuanya ini bukan disebabkan karena dirimu?”
“Aaaah, mungkin saja dibalik persoalan ini masih ada kesalahan paham yang belum diketahui” sahut Siauw Ling kemudian dengan alis berkerut setelah berpikir sejenak.
“Salah paham? salah paham yang bagaimana?”
“Untuk sesaat sulit bagiku untuk menerangkan hingga jelas, lebih baik tak usah aku katakan saja….” ia merandek sebentar. “Tadi, bukankah nona pernah berkata bahwa nona Gak telah menitipkan keselamatannya kepadaku, sebenarnya apa maksudmu?”
“Bukan keselamatan nona kami saja, sampai keselamatan budak sekalipun telah dititipkan semua kepadamu.”
“Tolong nona suka menerangkan sejelasnya!”
“Andaikata Giok Siauw Lang Koen berhasil membuktikan bahwa nona kami tak sudi memperdulikan dirinya lagi, dan kejadian itu disebabkan karena kau Siauw Ling, maka dalam pandangannya kau akan dianggap sebagai paku didepan mata. Andaikata kalian sampai saling berduel, bukankah nona kami akan dibikin serba salah? yang satu adalah saudara yang hidup bersama sejak kecil, sedang yang lain adalah kekasih hatinya, yang satu adalah tuan penolong yang seringkali menyelamatkan jiwanya, sedangkan yang lain adalah sobat karib yang amat erat hubungannya….”
“Nona kau tidak tahu, enci Gakku pernah menerima pinangan dari Giok Siauw Lang Koen!”
“Siapa bilang aku tidak tahu, sebelum nona mengabulkan permintaannya telah mengajukan dua syarat terlebih dahulu, apakah kau tahu akan hal ini?”
“Enci Gak telah menjelaskan kepadaku.”
“Nah itulah dia, asal kau Siauw Ling belum mati dan masih hidup dikolong langit, maka perkawinan itu tentu saja tidak berlaku lagi.”
“Kalau memang begitu, bukankah enci Gak tidak usah malu terhadap dirinya, kenapa ia masih jeri terhadap Giok Siauw Lang Koen?”
“Pertama, karena budi pertolongannya berulang kali sukar dilupakan, membuat ia tak bisa memusuhi dirinya. Kedua, demi keselamatan dari kau Siauw Ling.”
“Aku tidak takut terhadap Giok Siauw Lang Koen.”
“Walaupun kau tidak takut terhadap dirinya, namun belum tentu bisa menangkan dirinya, dua ekor harimau yang saling bertarung akhirnya salah satu pasti terluka, bila yang terluka adalah kau Siauw Ling, bukankah nona kami akan bersedih hati sepanjang masa dan selalu merasa tidak tentram, sebaliknya kalau yang terluka adalah Giok Siauw Lang Koen, suatu badai dahsyat pasti akan melanda seluruh kolong langit keluarganya pasti tak akan membiarkan Giok Siauw Lang Koen terluka ditanganmu. Dan andaikata keluarganya melakukan pembalasan dendam terhadap dirimu, bukan saja kau seorang tak mampu bertahan, bahkan seluruh dunia persilatan akan terlanda suatu pergolakan yang mengakibatkan bajir darah….”
“Cayhe dengar dari enci Gak berkata bahwa guru yang memberi pelajaran ilmu silat kepadanyapun akan tersangkut pula didalam persoalan ini, entah apa sebabnya?”
“Karena guru yang mewariskan ilmu silatnya kepada nona mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan Giok Siauw Lang Koen.”
“Ooooh, kiranya begitu.”
“Sekarang seharusnya kau paham bukan, kenapa nonaku mengatakan bahwa keselamatannya telah dititipkan kepadamu. Perlu kau ketahui keluarga dari Giok Siauw Lang Koen jauh mengasingkan diri ditempat yang terpencil dan jauh dari pergaulan masyarakat. Kecuali sanak keluarga sendiri mereka sangat jarang berhubungan dengan orang luar, kecuali Giok Siauw Lang Koen, Lan Giok Tong serta seorang nona she Thio, tiada seorangpun diantara keluarga mereka yang melakukan perjalanan ditempat luaran.”
“Terima kasih atas petunjuk dari nona” sahut Siauw Ling sambil mengangguk.
“Baik, kalau memang kau sudah memahami keadaan dari nona kami, tentunya kau tahu bukan apa yang harus dikerjakan, semoga kau sukses selalu, budak serta nona kami selalu mendoakan bagi keselamatan siangkong….!”
“Jadi enci Gak menyerahkan anak kunci istana terlarang itu kepadaku adalah suruh aku memasuki istana terlarang….”
“Tidak salah, masuk kedalam istana terlarang bukan berarti pasti berhasil mempelajari ilmu silat sakti yang dapat mengalahkan keluarga Giok Siauw Lang Koen, tetapi hanya inilah satu-satunya kesempatan bagimu untuk mengalahkan keluarga dari Giok Siauw Lang Koen.”
“Cayhe mengerti, tolong nona suka menyampaikan kepada enci Gak, katakanlah aku Siauw Ling pasti akan berusaha dengan sekuat tenaga.”
“Budak tidak berani menerima penghormatan dari siangkong….” buru-buru Soh Boen berkelit kesamping. “Oooh yaaah, masih ada satu persoalan budak lupa untuk memberitahukan kepada siangkong.”
“Nona masih ada persoalan apalagi?”
“Ayah, ibumu serta kedua orang nona itu telah dibawa nona kami untuk berdiam disuatu tempat yang terpencil serta aman letaknya, harap siangkong suka berlega hati.”
Teringat akan kesehatan ayah ibunya yang terganggu akibat terseret oleh persoalannya Siauw Ling merasa tidak tenteram katanya dengan nada sedih, “Dapatkah nona beritahu kepadaku, sekarang kedua orang tuaku berdiam dimana?”
Soh Boen termenung sejenak, kemudian menjawab, “Tak dapat kuberitahukan kepadamu, nona kami sudah mempunyai rencana yang masak, bila waktunya bagimu untuk bertemu dengan mereka sudah tiba, pasti ada orang yang datang memapak dirimu. Harap siangkong berlega hati.”
“Baiklah, kalau memang begitu aku orang she Siauw mohon diri terlebih dahulu.”
“Siangkong, kau harus ingat, kakek dari Giok Siauw Lang Koen bernama siraja seruling Thio Hong.”
“Kenapa? apakah siraja seruling Thio Hong pun terkurung didalam istana terlarang?’
“Benar. Silahkan siangkong berlalu, budakpun harus segera melakukan perjalanan.”
Sembari berkata ia berkelebat dan tinggalkan tempat itu.
Menanti bayangan punggung dari Soh Boen sudah lenyap dari pandangan, si anak muda itu baru menghela napas panjang dan berlalu.
Soen Put shia yang selama ini menanti pada jarak beberapa tombak jauhnya dari tempat pertemuan itu sudah tidak sabar menanti lagi, dengan susah payah ia berhasil juga menunggu hingga Soh Boen berlalu dari situ, melihat Siauw Ling berjalan mendekat ia segera maju menyongsong, serunya, “Saudara Siauw, apa saja yang diucapakan dayang cilik itu?”
“Ia telah memberikan banyak persoalan kepadaku, membuat dalam hati kecilku bertambah dengan banyak tanggung jawab.”
“Persoalan apa? bolehkah diberitahukan kepada aku sipengemis tua….?”
“Mengenai persoalan dengan enci Gak.”
“Persoalan hati kaum gadis? Aaai…. selamanya aku sipengemis tua paling tidak memahami persoalan seperti itu, lebih baik tak usah runding dengan diriku.”
Siauw Ling menghela napas panjang.
“Loocianpwee, apakah kau mengetahui akan siraja seruling Thio Hong….?”
“Haaah…. haaah…. tentu saja tahu, dia adalah salah seorang diantara sepuluh manusia aneh yang terkurung didalam istana terlarang!”
“Bagaimana ilmu silat yang dimiliki siraja seruling Thio Hong….?”
“Ilmu silat yang dimiliki sepuluh orang manusia aneh yang terkurung didalam istana terlarang mempunyai keistimewaan yang berbeda-beda, andaikata mereka bisa menentukan siapa menang siapa kalah Ciauw Sioe Sin Kang siahli bangunan sakti Pouw It Thian tidak akan mendirikan istana terlarang untuk mengurung kesepuluh orang jago lihay itu.”
Seperti ada yang dipikirkan Siauw Ling termenung beberapa saat lamanya, kemudian berkata, “Loocianpwee, seandainya untuk sementara waktu kita tinggalkan dahulu persoalan mengenai Shen Bok Hong, apakah dunia persilatan bakal terjadi perubahan besar?”
“Sebenarnya Shen Bok Hong ada maksud menarik saudara Siauw untuk membantu pihaknya, tapi apa yang diharapkan tidak terkabul sebaliknya malah menunjukkan ambisinya untuk merajai dunia persilatan, aku rasa karena persoalan ini mungkin terpaksa ia harus percepat gerakannya….” berbiara sampai disini mendadak ia merandek dan seakan-akan sedang memikirkan sesuatu, kemudian sambungnya, “Tetapi kekuatannya tidak berjalan lancar, setiap kali pihaknya mengalami kehancuran yang mana ada hubungannya pula dengan dirimu, hal ini membuat dia beranggapan bahwa kau adalah paku didalam matanya, dengan kelicikan serta kecerdikannya sebelum melakukan gerakan ia pasti menyusun rencana terlebih dahulu. Menurut penglihatan aku sipengemis tua, sebelum dia berhasil membinasakan dirimu, mungkin rencana besarnya tidak akan dijalankan lebih dahulu.”
“Kalau memang begitu, bagus sekali!”
“Apanya yang bagus?”
“Enci Gak pernah berkata, apabila aku ingin menangkan Shen Bok Hong dalam hal ilmu silat maka aku harus melakukan perjalanan memasuki istana terlarang. Oleh sebab itu cayhe telah mengambil keputusan untuk sementara meninggalkan dahulu urusan dunia kangouw dan masuk kedalam istana terlarang terlebih dahulu.”
“Tentang soal ini? aku sipengemis tua merasa sulit juga untuk mengutarakan pendapatnya. Dewasa ini kalangan dunia persilatan telah memandang dirimu sebagai panji pemberontakan untuk melawan kekuatan serta pengaruh Shen Bok Hong. Seandainya dalam waktu singkat mendadak kau lenyap dari dunia kangouw dan tiada kabar beritanya, mungkin kekuatan yang baru saja muncul untuk melawan Shen Bok Hong bakal lenyap atau tidak sulit diduga mulai sekarang. Istana terlarang sebagai tempat yang diidam-idamkan setiap umat Bulim tentu saja tepat sekali bila saudara Siauw bisa mengunjunginya, cuma…. yaaah masalahnya terlalu berat aku sipengemis tua tak berani mengutarakan pendapat secara sembarangan” sementara pembicaraan berlangsung, mereka sudah kembali kedalam bangunan rumah itu.
Ketika menyaksikan kembalinya kedua orang itu, Boe Wie Tootiang segera maju menyongsong, tegurnya, “Siauw thayhiap, apakah kau telah berjumpa dengan nona Gak?”
“Tidak….” sahut Siauw Ling sambil gelengkan kepalanya.
“Nona Gak hanya meninggalkan seorang dayangnya saja” sambung Soen Put shia. “Ia berhasil menaklukkan saudara Siauw kita untuk menerima anak kunci istana terlarang itu. Bahkan suruh dirinya segera melakukan perjalanan menuju keistana terlarang tersebut.”
“Aaaai…. setiap umat Bulim pada mengetahui bahwa dikolong langit terdapat sebuah istana yang disebut istana terlarang” kata Boe Wie Tootiang sambil menghela napas panjang. “Tetapi merekapun hanya tahu bahwa istana terlarang berada ditengah gunung Boe Gie san, namun gunung tersebut luasnya ribuan li, sebetulnya istana terlarang berada didaerah mana tak seorangpun yang tahu.”
“Tidak mengapa, didalam kotak kayu itu tertera pula peta yang menunjukkan letak istana terlarang.”
“Persoalan yang aku sipengemis tua kuatirkan adalah lenyapnya Siauw Ling secara mendadak dari dunia persilatan mungkin dapat meruntuhkan pula semangat para umat Bulim yang baru saja tumbuh untuk bersama-sama melawan kekuasaan serta kebrutalan Shen Bok Hong.”
Boe Wie Tootiang mengangguk.
“Tidak salah, setelah Shen Bok Hong berulang kali menderita kerugian besar, kejadian itu mempengaruhi tumbuhnya semangat memberontak dikalangan umat Bulim. Apabila Siauw thayhiap secara tiba-tiba melenyapkan diri, memang ada kemungkinan bisa mendatangkan pengaruh yang besar bagi mereka. Untuk mengatasi masalah yang pelik ini kita musti carikan satu akal yang bagus untuk mengatasinya.”
“Siauw Ling toh cuma ada satu, setelah masuk kedalam istana terlarang masa dapat muncul diri pula didalam dunia persilatan.”
“Menghadapi musuh yang licik, kita musti gunakan akal yang cerdik dan licik pula.”
“Perkataan toa suheng sedikitpun tidak salah” sambung Ceng Yap Ching dengan cepat. “Didalam dunia persilatan dapat muncul seorang Lan Giok Tong yang menyaru sebagai Siauw Ling, kenapa kita tak dapat menyaru pula sebagai Siauw Ling yang lain.”
“Tidak salah” Soen Put shiapun ikut menimbrung. “Asal kita mencari seseorang untuk menyaru sebagai Siauw Ling dan sering kali munculkan diri didalam dunia persilatan maka untuk sementara waktu semangat juang untuk melawan pengaruh Shen Bok Hong yang baru saja muncul bisa dipertahankan lebih jauh. Disamping itu dapat pula menghilangkan rasa curiga dari gembong iblis she Shen itu, cara ini memang tepat dan sekali timpuk dapat dua berhasil.”
“Yaaah…. akal itu memang bagus, tapi persoalan yang paling menyulitkan kita dewasa ini adalah siapa yang mampu menyaru seperti Siauw Ling?”
Sementara semua orang sedang dibikin sulit oleh persoalan itu, Tu Kioe sambil memayang Sang Pat telah berjalan masuk kedalam.
Siauw Ling menengok sekejap kearah saudaranya dan segera menegur, “Sang Heng, apakah keadaanmu rada baikkan?”
“Anak panah pengejar nyawa berkepala ular itu meskipun mengandung racun yang sangat keji, namun obat penawar racun itupun sangat mujarab, saat ini siauwte sudah merasa rada baikan.”
“Kalau begitu bagus sekali….” sinar matanya mendadak dialihkan kearah Ceng Yap Ching dan sambungnya. “Saudara Ceng, bagaimana kalau kau saja yang menyamar sebagai diri siauwte?”
“Aku sih bersedia saja, cuma takutnya kekuatanku tidak mengimbangi kenyataannya.”
“Asalkan kau dilindungi oleh Soen Loocianpwee serta suhengmu, kemudian tak usah secara langsung bentrok dengan Shen Bok Hong. Rasanya pelbagai kesulitan dapat diatasi.”
JILID 32
“Kalau menurut pendapat pinto, rasanya Siauw thayhiap tak perlu mencari orang untuk menyaru sebagai dirimu….”
“Kenapa begitu?” tanya Soen Put shia.
“Kedengarannya memang tak masuk diakal, tetapi didalam kenyataan bukankah suatu persoalan yang menyulitkan, asalkan rencana kita susun dengan seksama dan bergelimpangan selama beberapa bulan, rasanya persoalan bisa teratasi dengan sendirinya!”
“Coba kau terangkan lebih terperinci!”
Boe Wie Tootiang melirik sekejap kearah Siauw Ling, lalu menjawab, “Pinto berpendapat demikian karena didasari oleh dua alasan….”
Ia merandek sejenak, setelah menyapu sekeliling tempat itu lanjutnya, “Setiap kali Siauw thayhiap menjumpai kesulitan ataupun mara bahaya, dia seorang diri dapat mengatasinya dan kita tak seorangpun yang sanggup membantu dia segala persoalan berhasil diatasi berkat kecerdasan serta ilmu silatnya.”
“Ehmmm!” Soen Put shia mengangguk tanda membenarkan.
“Seandaikan kita mencari seseorang untuk menyaru sebagai Siauw Ling, maka mau tak mau kita musti melindungi keselamatannya, bukankah tindakan ini berarti mengalihkan posisi kita yang diam menjadi bergerak?”
“Memang masuk diakal alasan itu.”
“Kalau kita mencari seseorang untuk menyaru sebagai Siauw Ling, maka segala sesuatunya harus dilakukan dengan tindakan sembunyi-sembunyi, bukankah hal ini justru malah melelahkan kita sendiri. Disamping itu kitapun tak akan mampu untuk menemukan seseorang yang betul-betul cocok untuk menyaru seperti Siauw Ling.”
“Seandainya Siauw Ling yang kita lindungi hanyalah sesuatu yang kosong belaka, lalu bagaimana caranya bagi kita untuk melindungi sesuatu yang kosong itu?”
“Urusan itu gampang sekali, pinto ambilkan satu contoh yang jelas, seandainya saja kita lindungi sebuah tandu kecil dan didalam tandu itu duduklah seorang yang menyaru sebagai Siauw Ling, bilamana ada orang bermaksud melakukan pembunuhan dan melepaskan senjata rahasia yang paling beracun kearah tandu itu semua. Andaikata orang yang duduk didalam tandu benar-benar adalah seorang yang menyaru sebagai Siauw Ling, bagaimana caranya kita untuk menyelamatkan dia? bukankah perbuatan itu justru sebaliknya malah mencelakai dirinya?”
Berbicara sampai disini Boe Wie Tootiang segera alihkan sinar matanya kearah Siauw Ling dan bertanya, “Siauw thayhiap, kau bermaksud kapan hendak berangkat?”
“Apakah Siauw thayhiap ada maksud membawa pembantu untuk melakukan perjalanan bersama?”
“Cayhe ingin membawa serta dua orang untuk berangkat bersama!”
“Apakah kau hendak membawa berdua?” sambil bertanya toosu tua dari partai Bu tong ini alihkan pandangannya kearah Tiong Chiu Siang ku.
“Sedikitpun tidak salah!”
Boe Wie Tootiang termenung beberapa saat lamanya, kemudian baru berkata, “Kalau memang begitu terpaksa kita harus menggunakan cara ini saja….!”
“Tootiang apa akalmu itu?” tanya Sang Pat.
Dengan pandangan tajam Boe Wie Tootiang memperhatikan watak Tu Kioe, kemudian berkata, “Asal kita bisa menyaru sebagai Tu Kioe rasanya sudah lebih dari cukup, untung Tu heng selalu memakai topinya rendah-rendah hingga orang lain sulit untuk melihat wajah aslinya, asal orang itu bisa menirukan tingkah laku serta nada ucapan dari Tu thayhiap itu sudah lebih dari cukup!”
Situkang ramal dari Tang kay Suma kan mendadak menimbrung dari samping, “Tootiang, kalau cayhe menyaru sebagai Tu Kioe entah mirip atau tidak?”
“Itu lebih bagus lagi! kalau memang kau rela itu namanya pucuk dicinta ulam tiba.”
“Dengan kecerdasan tootiang keberanian Soen Loocianpwee ditambah pula bantuan dari Suma heng serta Ceng heng pastilah Shen Bok Hong berhasil dibuat pusing kepala dan tak bisa menduga apa yang telah terjadi” ujar Siauw Ling.
“Peristiwa ini merupakan kejadian yang boleh buat, pinto sekalian hanya berharap Siauw thayhiap bisa cepat-cepat masuk kedalam istana terlarang dan serta segera muncul kembali didalam dunia persilatan.”
Siauw Ling alihkan sinar matanya kearah Sang Pat, lalu bertanya, “Apakah kau bisa melanjutkan perjalanan kembali?”
“Kekuatan tubuhku sebagian besar telah pulih kembali seperti sedia kala, harap toako tak usah kuatir.”
“Kalau begitu cayhe segera akan mohon diri!” ujar Siauw Ling sambil menjura kepada para jago sekalian.
“Untuk memasuki istana terlarang kau pasti akan menjumpai banyak mara bahaya, harap saudara Siauw suka berhati-hati” pesan Soen Put shia.
“Cayhe pasti akan berusaha keras untuk memenuhi harapan kalian semua, terima kasih buat perhatian dari loocianpwee!”
Habis berkata bersama-sama sepasang pedagang dari Tiong Chiu ia segera berangkat.
Memandang bayangan punggung Siauw Ling sekalian yang menjauh, Soen Put shia menghela napas dan berkata, “Tootiang, meskipun ilmu silat yang dimiliki Siauw Ling amat lihay tapi sekarang ia telah menjadi pusat perhatian banyak orang. Shen Bok Hong dengan pelbagai akal muslihat akan berusaha untuk mencelakai dirinya, kekejian hatinya ini bagaimanapun juga harus diperhatikan dan dijaga, bagaimana seandainya aku sipengemis tua secara diam-diam menghantar mereka bertiga?”
Boe Wie Tootiang termenung berpikir sejenak, kemudian menyahut, “Sang Pat adalah seorang jago kawakan yang punya akal pintar dan pengalaman luas kalau dugaan pinto tidak salah maka perjalanan mereka pasti akan dilakukan dengan jalan menyamar, seandainya kita secara diam-diam menghantar serta melindungi mereka, bukankah hal ini justru malah memancing perhatian orang lalu untuk memperhatikan gerak gerik kita….” ia merandek sejenak, lalu tambahnya, “Mungkin saja Gak Siauw Cha bisa melindungi serta membantu mereka secara diam-diam.”
“Ehm, pendapat tootiang memang benar” Soen Put shia mengangguk. “Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?”
“Untuk sementara waktu kita tetap berdiam disini saja, sementara jejak kita semakin dirahasiakan, setelah berjumpa dengan empat pujangga besar dunia persilatan, kita baru membicarakan langkah-langkah selanjutnya.”
“Tidak salah, andaikata tootiang tidak mengungkapkan kembali, hampir saja aku sipengemis tua telah melupakan janji kita dengan keempat orang pujangga besar dari dunia persilatan itu.”
“Aaaai….” Boe Wie Tootiang menghela napas panjang. “Pertemuan dikuil keluarga Loo mungkin harus disertai dnegan perang mulut terlebih dahulu, moga-moga saja kita berhasil menaklukkan keempat orang pujangga besar tersebut.”
Dalam pada itu Siauw Ling dengan membawa Tiong Chiu Siang Ku dalam sekejap mata telah melakukan perjalanan sejauh puluhan li, tiba-tiba Sang Pat berhenti sambil berkata, “Toako, bagaimana kalau kita beristirahat lebih dulu?”
Siauw Ling mendongak dan memandang kedepan, sewaktu menjumpai sebuah hutan lebat disebelah kiri, ia segera melangkah kedalam hutan itu seraya menyahut, “Kenapa? apakah kau tak sanggup melanjutkan perjalanan?”
“Perjalanan menuju kegunung Boe Gie san kali ini jaraknya hampir mencapai ribuan li, sedikit banyak perjalanan kita ini bakal diawasi dan diketahui oleh mata-mata Shen Bok Hong. Andaikata kita bisa melanjutkan perjalanan dengan jalan menyaru, mungkin dapat mengurangi pelbagai macam kesulitan yang tidak diinginkan.”
“Ucapanmu memang benar, dalam melakukan perjalanan kita kali ini memang alangkah baiknya kalau dilewatkan dengan tenang tanpa gelombang. Kesulitan-kesulitan yang tidak perlu lebih baik bisa disingkirkan.”
Sang Pat termenung dan berpikir sejenak, kemudian baru berkata, “Toako lebih baik kau memakai kumis palsu saja dan menyaru sebagai seorang pemilik rumah penginapan, siauwte akan menyaru sebagai situkang keledai sedang Tu heng lebih tepat menyaru sebagai silelaki pemikul barang….”
Tiba-tiba terdengar Tu Kioe menghela napas panjang.
“Aaai….! kita telah melupakan satu persoalan!”
“Persoalan apa?”
“Kedua ekor anjing raksasa tersebut tidak sempat kita bawa serta!”
Setelah puluhan tahun kedua ekor anjing itu mengikuti diri Tiong Chiu Siang Ku, bukan saja timbul kecerdikan pada otak binatang-binatang itu, bahkan tanpa didasari telah terjalin hubungan yang erat antara manusia dengan anjing tersebut.
*****
“Boe Wie Tootiang berotak tajam dan cermat, aku rasa ia pasti bisa mengatur kedua ekor anjing kita sebaik-baiknya” hibur Sang Pat.
“Yaah…. semoga saja apa yang jie ko duga tidak bakal salah.”
Ketiga orang itu segera turun tangan menyaru diri sendiri, setelah wajah asli mereka terhapus sama sekali maka perjalanan menuju kegunung Boe Gie san pun segera dilanjutkan.
Sepanjang perjalanan Siauw Ling terus menerus menguatirkan perjanjian Gak Siauw Cha dengan Giok Siauw Lang Koen tiga bulan mendatang, meskipun ia sadar bahwa batas waktu tiga bulan sulit baginya untuk keluar dari istana terlarang dan berangkat kegunung Heng san, tapi dalam hatinya persoalan tersebut tiada hentinya berkecamuk terus, ia berusaha dengan sekuat tenaga untuk mengejar waktu.
Suatu tengah hari, sampailah mereka dibawah kaki gunung Boe Gisa san.
Bukit yang memanjang hingga mencapai ribuan li terpentang dihadapan mereka, beberapa buak bukit tinggi menjulang ketengah awan. Setelah mempersiapkan rangsung berangkatlah ketiga orang itu memasuki daerah pedalaman.
Setelah melewati beberapa buah bukit, haripun telah menjadi gelap.
Sang Pat segera mencari sesuatu lembah yang terhindar dari hembusan angin untuk beristirahat, katanya, “Toako, kita harus memeriksa dahulu peta yang tercantum didalam kotak tersebut, sebab menurut apa yang siauwte degar, meskipun istana terlarang berada digunung Boe Gie san, tetapi tidak ada disekeliling puncak utama!”
Kiranya sepanjang perjalanan, demi keamanan dan keselamatan ketiga orang itu tak pernah membuka kotak kayu tersebut untuk diperiksa isinya.
Setelah Sang Pat mengusulkan, maka Siauw Lingpun mengambil keluar kotak kayu itu dari dalam sakunya. Setelah kotak dibuka tampaklah sebuah anak kunci tersebut dari emas dan panjangnya mencapai tiga coen terletak didalam kotak kayu itu.
Dibawah tindihan anak kunci emas terselip selembar kain putih yang ditaruh dengan rapinya.
Siauw Ling segera mengambil keluar kunci emas tersebut dan mengambil kain putih tadi, setelah dibentang terlihatlah diatas kain tadi terlukis seekor elang terbang sedang mementang sayap dan paruhnya yang kuat, lukisan itu nampak hidup dan hebat.
Dibawah burung elang terlukis seekor ular raksasa sedang mendongakkan kepalanya, lidah yang berwarna merah menjulur keluar hingga mencapai setengah depa panjangnya.
Walaupun lukisan burung elang bertarung melawan ular itu amat hidup dan indah sekali, namun sama sekali tiada sangkut pautnya dengan istana terlarang. kontan Siauw Ling mengerutkan dahinya, ia berpaling dan tampaklah Sang Pat serta Tu Kioe sedang memandang lukisan itu dengan mata terbelalak dan mulut melongo.
Lama sekali akhirnya terdengar Tu Kioe mendehem dan berkata, “Mungkin saja anak kunci ini adalah kunci yang palsu!”
“Tidak mungkin” bantah Siauw Ling. “Enci Gak telah memeriksannya dengan seksama, masa ia berikan kunci yang palsu kepadaku? hal ini harus disalahkan pada kita-kita yang kurang pengetahuan sehingga tak sanggup memecahkan teka teki diatas lukisan itu.”
Sedari dulu dalam hati kecilnya telah timbul rasa kagum dan menghormat yang tak terkirakan terhadap Gak Siauw Cha, maka ia tak ingin mendengar ada orang mengucapkan kata-kata yang menyinggung perasaan dirinya.
Sang Pat segera mendehem dan menyambung, “Perkataan toako memang benar, lukisan ini mengandung arti yang sangat mendalam lebih baik kita pecahkan perlahan-lahan saja.”
“Anak kunci istana terlarang merupakan benda yang menyangkut mati hidup segenap umat Bulim dikolong langit” bisik Siauw Ling sambil pejamkan matanya rapat-rapat. “Sudah tentu lukisan ini tidak gampang untuk dipecahkan artinya.”
Sang Pat melirik sekejap kearah Tu Kioe kemudian bisiknya, “Kain putih itu sudah berubah warna jadi kuning, sudah pasti merupakan barang peninggalan jaman dulu, sayang kecerdasan kita terbatas tak sanggup memecahkan rahasia dibalik teka teki itu.”
“Jie ko toh merupakan seorang ahli didalam menilai intan permata serta mutiara dikolong langit sukar untuk dicarikan tandingannya….”
“Tapi sayang aku tak becus didalam menilai gambar lukisan” sambung Sang Pat sambil tertawa.
Mendadak Siauw Ling membuka matanya dan berseru, “Aaaah benar, lukisan ini pastilah menandakan sebuah bentuk gunung disekitar tempat ini, asalkan kita cocokan setiap bukit yang kita jumpai dengan lukisan ini, maka rasanya istana terlarang dapat kita temukan!”
“Tidak salah, dugaan toako memang sangat beralasan, mari kita perhatikan setiap bentuk bukit ditempat ini dengan lebih teliti.”
“Kecuali pendapat tadi, aku benar-benar tak bisa menemukan pendapat lain yang membuktikan sangkut pautnya gambar tersebut dengan istana terlarang.”
“Kalau tiada sangkut pautnya dengan istana terlarang, bukankah itu berati kalau kain serta gambar itu adalah barang palsu?” pikir Tu Kioe didalam hati.
Walaupun ia mempunyai pandangan demikian, tapi berhubung ucapannya tadi telah menggusarkan Siauw Ling, maka walaupun sekarang ia berpendapat demikian tetapi ucapan itu tak berani diuatarakan keluar.
“Toako, siauwte ada beberapa patah kata yang rasanya tidak pantas untuk diutarakan keluar, seandainya telah aku ucapkan nanti harap toako jangan salahkan atau marah” kata Sang Pat.
“Baik, katakanlah.”
“Gunung Boe Gie san panjangnya mencapai ribuan li, sekalipun betul disini terdapat sebuah tempat yang sesuai dan cocok dengan lukisan itu, tapi kita toh tak bisa menjelajahi seluruh gunung Boe Gie san secara rata tanpa ada yang kelewatan!”
Siauw Ling tertegun pikirnya, “Perkataan ini sedikitpun tidak salah, sekalipun diatas gunung Boe Gie san betul-betul terdapat tempat seperti ini, memang tak mungkin bagi kami untuk menjelajahi semua.”
“Siauwte mempunyai satu usul, walaupun bukan termasuk usul yang bagus tapi rasanya kauj lebih baik daripada mencari jarum ditengah samudra seperti apa yang akan kita lakukan.”
“Apakah pendapatmu itu?”
“Kita cari saja tukang penebang kayu atau pemburu dan tanyakan apakah disekitar tempat ini terdapat gunung dengan bentuk seperti itu, mungkin kita berhasil mendapatkan sedikit keterangan!”
Siauw Ling berpikir sebentar lalu mengangguk.
“Kalau memang kau tidak memperoleh cara yang lain, terpaksa kita harus berbuat begitu.”
“Toako beristirahatlah sebentar disini, siauwte akan pergi kesekitar tempat ini untuk mencari keterangan dari beberapa orang penebang kayu serta pemburu.”
“Baiklah, cepatlah pergi dan cepatlah kembali, jangan buat aku jadi kuatir dan gelisah.”
“Paling lama satu jam siauwte pasti sudah kembali lagi kesini” habis berkata ia segera berangkat, dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan.
Tu Kioe bangkit berdiri, diam-diam ia meloncat naik keatas sebuah tonjolan batu karang lebih tiga tombak dari tempat semula, setelah melakukan penelitian yang tajam disekeliling tempat itu, diam-diam ia loncat turun kembali dan berjaga-jaga disuatu sudut jalan yang strategis letaknya.
Kiranya sebagai seorang jago yang andal banyak menelan asam garam, ia takut ada orang secara diam-diam menguntit datang, karena itu sikapnya jauh lebih berhati-hati.
Dengan termangu-mangu Siauw Ling memperhatikan elang terbang itu, sedang didalam hati pikirnya, “Andaikata enci Gak tidak berhasil membuktikan bahwa kunci emas ini benar-benar dapat digunakan untuk membuka pintu istana terlarang, tidak nanti ia serahkan kunci emas ini kepadaku. Ia percaya dengan kecerdikanku masih sanggup untuk memecahkan rahasia lukisan ini, bila aku sampai tak sanggup, bukan saja istana terlarang tak bisa dimasuki, bahkan enci Gak pun tak akan tertolong.”
Saking murung dan kesalnya, ia ambil peta tadi kemudian dibanting keatas tanah.
Tampaklah cakar burung elang yang terlukis kebawah itu mendadak bergeser dari tempatnya semula.
Satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benak Siauw Ling, dia ambil kembali lukisan tadi kemudian mendorong cakar elang tadi kekiri.
Dengan digesernya lukisan tadi maka suatu kejadian anehpun segera muncul didepan mata, cakar elang tadi segera bergeser lebih jauh dari tempat semula.
Dibawah lukisan cakar burung elang tadi segera muncul pula selapis kain putih yang dapat digeser-geserkan.
Tampaklah dibawah kain putih pada lapisan kedua tertuliskan beberapa huruf kecil, “Puncak Eng yang Hong, selat Boan Coa kok.”
Penemuan secara mendadak ini seketika membuat Siauw Ling jadi terkejut bercampur girang, sambil mencekal lukisan tersebut teriaknya keras-keras, “Aku berhasil menemukannya…. aku berhasil menemukannya….”
Tu Kioe yang sedang berjaga-jaga dimulut selat jadi amat terperanjat sewaktu menjumpai Siauw Ling berteriak-teriak seperti orang gila, dengan cepat ia memburu kedepan sambil serunya, “Toako, kenapa kau?”
“Aku telah menemukan letak dari istana terlarang itu” sahut Siauw Ling dengan hati girang.
“Dimana?”
“Ini dibalik lukisan tersebut pada lapisan yang kedua.”
Tu Kioe segera memburu kedepan dan memeriksa dengan seksama, tampaklah lukisan tersebut masih tetap seperti sedia kala, sedikitpun tidak menunjukkan perubahan apapun juga, segera katanya, “Toako, kenapa siauwte sama sekali tidak ada sesuatu tanda apapun juga?”
“Oooow….! diatas lukisan burung elang ini masih ada alat rahasianya….!” sahut Siauw Ling sambil tersenyum, ia segera menggeserkan lukisan cakar burung elang itu.
“Puncak Eng Yang Hong selat Boan coa kok!” gumam Tu Kioe lirih.
“Tidak salah, asalkan kita cari letak puncak Eng Yang Hong selat Boen Coa Kok bukankah berarti istana terlarang segera akan ditemukan?”
“Toako, kecerdikanmu benar-benar melebihi orang lain ternyata didalam waktu singkat kau telah berhasil menemukan rahsia dari lukisan tersebut….!”
“Aaai, penemuan itu hanya bersifat secara tidak sengaja belaka, seandainya aku tidak membanting peta lukisan ini keatas tanah sehingga kertas diatas lukisan cakar burung elang itu bergeser dari tempatnya semula, tak nanti tadi berhasil kutemukan!”
“Itulah namanya Thian telah membantu diri toako untuk memasuki istana terlarang.”
“Tetapi puncak Eng Yang Hong itu terletak dimana?” bisik Siauw Ling kemudian dengan alis berkerut.
“Itu persoalan yang sangat gampang, asalkan tempatnya sudah diketahui tidak sulit bagi kita untuk mencari keterangan dari penduduk disekitar tempat ini.”
Sementara mereka masih bercakap-cakap, tampaklah Sang Pat sambil menggendong seorang kakek tua dengan langkah yang cepat sedang berlari mendatang.
Gerakan tubuhnya sangat cepat, dalam waktu singkat si sie poa emas itu sudah berada dihadapan Siauw Ling.
Kiranya Sang Pat telah menjumpai seorang pencari kayu yang telah lanjut usia, berhubung ia merasa langkah kakek itu terlalu lambat maka terpaksa dibopongnya orang tadi agar perjalanan bisa dilakukan dengan lebih cepat lagi.
Setelah menurunkan sipenebang kayu tua itu keatas tanah, Sang Pat berkata, “Orang tua ini sudah puluhan tahun lamanya berdiam digunung Boe Gie terhadap bentuk serta keadaan bukit disekitar tempat ini boleh dibilang hapal sekali, sengaja siauwte bawa dia datang kemari, agar bisa memeriksa lukisan tadi.”
Siauw Ling melirik sekejap kearah kakek tua itu, tampaklah rambut serta jenggotnya berwarna putih mulus, wajahnya penuh berkerut dan usianya diantara tujuh puluh tahun keatas, segera ia menegur, “Empek tua, apakah kau sudah lama berdiam digunung Boe Gie san ini….?”
Kakek tua itu mengangguk.
“Loolap sudah berada digunung Boe Gie san ini semenjak kecil, kalau dihitung-hitung aku sudah tujuh puluh tahun lebih berdiam disini.”
“Kalau begitu empek tua boleh dibilang sangat hapal sekali dengan daerah disekitar gunung Boe Gie san ini?”
“Seratus li disekitar tempat ini jangan dibilang bentuk bukitnya bahkan setiap pohon dan rumput yang tumbuh disinipun loohu sangat hapal.”
“Kalau begitu tolong tanya dimanakah letaknya puncak Eng Yang Hong….?”
“Puncak Eng Yang Hong…. puncak Eng Yang Hong….” gumam tukang kayu itu berulang kali, setengah harian lamanya ia mengulangi perkataan tersebut namun tidak terjawab juga.
“Dan selat Boan Coa Kok?” sambung Tu Kioe ketus.
Sekali lagi sipenebang kayu tua itu mengulangi perkataan tersebut beberapa kali, mendadak ia mendongak dan menjawab, “Loohu hanya tahu sebuah tempat yang bernama Bau Coa Kok selat selaksa ular, dan belum pernah mendengar disebutnya Boan Coa Kok!”
“Bau Coa Kok?”
“Tidak salah, selat itu amat dalam dan luas, ditengah selat hidup pelbagai macam ragam ular beracun, setelah memasuki selat itu akan terlihat berpuluh-puluh laksa ekor ular bergerak silih berganti hingga sulit bagi seseorang untuk berdiri disitu. Kendati seorang pawang ular yang bagaimana lihaypun tak akan berani memasuki selat selaksa ular tersebut.”
“Dibawah cakar burung elang itu terang-terangan ditulis selat Boan Coa Kok. Tentunya bukan Bau Coa Kok yang dimaksudkan” pikir Siauw Ling didalam hati.
“Loo tiang” terdengar Tu Kioe telah berkata dengan nada dingin. “Yang kami tanyakan bukan Bau Coa Kok tapi Boan Coa Kok!”
Suaranya yang dingin dan mempunyai ciri khas tertentu seketika membuat penebang kayu itu berdiri tertegun, setelah berpaling memandang sekejap kearah Tu Kioe ia segera menggeleng.
“Tidak tahu, loohu yang dibesarkan ditempat ini belum pernah mendengar ada tempat yang disebut Boan Coa Kok!”
“Puncak Eng Yang Hong selat Boan Coa Kok semestinya merupakan satu tempat yang sama, kalau kakek tua ini tidak tahu dimana letaknya puncak Eng Yang Hong, tentu saja tak akan tahu dimanakah selat Boan Coa Kok tersebut!”
“Tempat yang tidak diketahui loohu, mungkin jarang ada orang yang tahu!”
Sementara Siauw Ling hendak suruh Sang Pat untuk mengusir kakek tua itu, mendadak terdengar sipenebang kayu itu berseru keras, “Kau maksudkan puncak apa?”
“Puncak Eng Yang Hong…. Eng dari burung Hoei Eng burung elang terbang….”
“Suaranya sih sama tapi tulisannya nggak tepat, kembali loohu salah mendengar!”
Rasa girang yang baru muncul dalam hati Siauw Ling seketika padam kembali bagaikan diguyur dengan sebaskom air dingin, tanyanya, “Puncak apa yang kau maksudkan?”
“In Wan Hong, pundak tersebut dinamakan demikian sebab ada sepasang muda mudi yang saling bercintaan tapi tidak disetujui oleh orang tua kedua belah pihak, dengan paksa mereka dipisahkan. Tetapi cinta kasih kedua orang itu sudah demikian kokoh dan bersatu, hingga matipun mereka tak mau berpisah. Akhirnya mereka bersepakat untuk melarikan diri, siapa tahu rahasia ini diketahui oleh keluarga mereka dan pengejaran segera dilancarkan, dimana akhirnya kedua orang itu melarikan diri keatas puncak itu.”
“Kalau memang sepasang muda mudi itu telah saling jatuh cinta, kenapa orang tua kedua belah pihak sama-sama mau menghalangi dari tengah?”
“Marga kedua orang muda mudi itu sedari dulu telah saling bermusuhan dan permusuhan itu turun temurun hingga waktu itu bahkan kian lama kian bertambah tengah permusuhan dalam suatu pertempuran yang kemudian meletus banyak korban yang berjatuhan, karena itu para anggota dari masing-masing bersumpah tak akan saling berhubungan. Tak tahunya sepasang muda mudi yang saling jatuh cinta itu justru adalah putra putri masing-masing kepala marga, tentu saja orang tua mereka tidak menyetujui akan hubungan tersebut.”
Mendengar sampai disini Siauw Ling segera menghela napas panjang, katanya, “Bagaimana kemudian? kenapa kepuncak itu dapat berubah jadi puncak In Wang Hong?”
“Dibawah pengejaran masing-masing anggota marga, kedua orang muda mudi itu terjepit diatas puncak dan tak bisa meloloskan diri lagi, dalam keadaan terpaksa merekapun meloncat kedalam jurang untuk bunuh diri, meloncat kedalam jurang yang menganga sedalam ribuan tombak itu, sudah tentu mereka berdua tak dapat meloloskan diri lagi. Masing-masing anggota marga yang menyaksikan kejadian ini pada terharu dibuatnya, dengan jalan memutar mereka turun kedasar jurang untuk menemukan jenasah kedua orang itu, siapa tahu sudah setengah harian lamanya mereka mencari, bukan saja jenasahnya tidak ketemu bahkan sedikitpun tidak ada jejak yang menunjukkan hal tersebut, akhirnya orang-orang kedua marga itu jadi terharu dan menghapuskan dendam sakit hati mereka yang turun temurun, diatas puncak tadi didirikannya sebuah kuil yang bernama In Wang Bio. Sejak nama itu tersiar diluaran banyak orang yang datang berkunjung kedalam kuil itu untuk pasang hio, setiap muda mudi yang menginginkan pasangan mereka pasti datang kesitu untuk bersembahyang, konon sangat manjur sekali. Oleh karena itulah puncak itu mengikuti keadaannya berubah jadi puncak In Wang Hong!”
“Lootiang!” tiba-tiba Tu Kioe menukas dengan suara dingin. “Yang kami tanyakan adalah puncak Eng Yang Hong selat Boan Coa Kok, kami sama sekali tidak berniat untuk mendengarkan obrolan Lootiang mengenai asal mula puncak digunung Boe Gie san ini!”
Sekalipun ia berusaha agar suaranya kedengaran datar dan biasa, tapi nada dingin serta ketus yang merupakan ciri khasnya sulit untuk dilenyapkan, membuat orang merasa bergidik dan seram.
Buru-buru kakek tua itu menjawab, “Bukannya loohu sengaja banyak bicara, tetapi setelah cuwi sekalian menanyakan, dengan sendirinya loohu terpaksa harus menjawab!”
“Puncak Eng Yang Hong, puncak In Wang Hong selat Bau Coa Kok dan selat Boan Coa Kok meskipun suaranya sama tapi tulisannya berbeda, sudah jelas apa yang dikatakan sikakek tua ini bukanlah tempat yang dimaksudkan tulisan dibalik lukisan tersebut” pikir Siauw Ling didalam hati.
Rupanya Sang Pat dapat menebak isi hati si anak muda itu, tidak menunggu sampai Siauw Ling buka suara dia telah menyambung, “Gunung Boe Gie san panjang dan luasnya mencapai ribuan li, sekalipun lootiang ini sudah puluhan tahun lamanya berdiam disini, belum tentu ia hapal sama sekali setiap sudut tempat disini, biarlah siauwte menghantar dirinya pulang lebih dulu!”
Setelah membopong kakek tadi ia segera berlalu.
Sepeninggalnya kakek tadi, Siauw Ling melirik sekejap kearah Tu Kioe dan berkata, “Dibalik lukisan tersebut sudah tertera jelas tulisan itu, tentu saja tidak akan salah lagi.”
“Yang sangat kebetulan adalah terdapatnya persamaan antara puncak Eng Yang Hong serta In Wang Hong serta selat Boan Coa Kok dengan Bau Coa Kok, nada suaranya sama satu sama lainnya, andaikata didalam peta lukisan itu bukan tertulis jelas, kedengarannya memang sama dan sulit untuk dibedakan.”
“Aaaai…. kalau begini, rasanya usaha kita untuk mencari letak puncak Eng Yang Hong bukanlah suatu pekerjaan yang gampang.”
“Toako tak usah gelisah. Asal kita mencari dengan teliti suatu ketika tempat itu pasti berhasil ditemukan. Kalau kita tinjau lukisan peta serta makna dari namanya, aku rasa puncak Eng Yang Hong pastilah suatu bentuk bukit yang besar dan megah, asal orang yang pernah melihatnya sekejap pasti tak akan melupakannya. Asal kita perhatikan dan selidiki sepanjang jalan akhirnya tempat itu tentu bisa kita jumpai!”
Sementara pembicaraan masih berlangsung Sang Pat dengan langkah terburu-buru telah balik kembali, ia melirik sekejap kearah Siauw Ling, bibirnya seperti bergerak mau mengucapkan sesuatu tapi akhirnya dibatalkan.
Siauw Ling tahu dalam hatinya ingin sekali menanyakan persoalan yang dirasakan masih meragukan, maka sebelum saudara angkatnya buka suara ia telah menceritakan lebih dahulu kisah penemuannya atas rahasia lukisan peta itu.
“Toako!” Sang Pat pun berkata selesai mendengarkan kisah tersebut. “Aku mempunyai beberapa patah kata yang rasanya tak enak kalau tidak diutarakan keluar. Entah bolehkah aku untuk mengatakannya?”
“Antara kau dan aku adalah saudara sehidup semati, tentu saja setiap perkataan yang ingin diutarakan boleh dikatakan keluar, kau ada urusan apa? katakanlah?”
“Bulim, cianpwee yang meninggalkan anak kunci istana terlarang itu pastilah seorang manusia yang cerdik dan lihay aksinya, puluhan tahun lamanya entah sudah ada berapa banyak jago lihay yang ngotot hendak menemukan anak kunci istana terlarangpun tidak memperoleh hasil, sungguh tak nyana untuk memecahkan lukisan peta inipun harus mencurahkan banyak pikiran dan tenaga.”
“Ehmm, ucapanmu sedikitpun tidak salah.”
“Seandainya anak kunci istana terlarang yang diserahkan nona Gak kepada toako adalah barang yang asli dan bukan yang palsu, aku pikir dibalik persoalan ini pastilah mengandung maksud yang sangat mendalam.”
“Kenapa?”
“Orang yang meninggalkan anak kunci istana terlarang itu bukan saja mau menerangkan secara blak-blakan dan terus terang letak istana terlarang tersebut, bahkan melukiskan pula selembar peta sebagai petunjuk, apakah kita tak boleh menaruh curiga bahwa orang itu mempunyai maksud-maksud tertentu?”
Siauw Ling mengangguk membenarkan.
“Ehmm, memang masuk diakal, tetapi apa pula tujuannya….? ia berkata.
“Rupanya orang itu ada maksud untuk menguji kecerdikan orang yang berhasil memperoleh anak kunci istana terlarang itu seandainya kecerdikan orang tadi kurang maka walaupun anak kuncinya berhasil ditemukan tetapi sama saja tak dapat memasuki istana terlarang.”
“Sedikitpun tidak salah!”
“Kecerdikan toako sebenarnya jauh lebih hebat dari siapapun juga, tapi pada saat ini siauwte lihat bahwasanya mempunyai persoalan hati yang amat merisaukan hatimu, bahkan hati toako selalu diliputi kegelisahan serta rasa cemas, ingin sekali kau cepat-cepat memasuki istana terlarang tersebut.”
“Emangnya aku sangat menguatirkan keselamatan enci Gak ku” pikir pemuda she Siauw itu dalam hati. “Aku memang merasa cemas andaikata tak bisa memenuhi….”
Terdengar Sang Pat berkata lebih lanjut, “Seseorang apabila terlalu banyak kehilangan perhatian serta ketegangannya, maka itu berarti ada separuh kecerdikannya sudah terhapus, apalagi setelah sifat serakahnya muncul, boleh dibilang seluruh akal serta kecerdikannya bakal terhapus sama sekali. Toako sendiri apabila pada saat ini sanggup mengembalikan sedikit perhatian serta ketenanganmu dengan kecerdasan yang dimiliki toako masih bukan merupakan masalah yang sulit untuk memasuki pintu istana terlarang.”
Mendengar sampai disini Siauw Ling segera bangkit berdiri dan menjura kearah saudara angkatnya dengan wajah serius.
Terima kasih atas petunjuk serta nasehat saudara yang sangat berharga ini.”
Buru-buru Sang Pat jatuhkan diri berlutut keatas tanah.
“Pendapat siauwte yang teramat bodoh masih mengharapkan banyak petunjuk dari toako.”
“Aku orang she Siauw mempunyai kebajikan serta kehebatan apakah sehingga memperoleh cinta kasih yang demikian mendalam dari saudara berdua?”
Sang Pat bangkit berdiri dan menghela napas panjang.
“Sepasang pedagang dari tiong chiu pada masa yang lain hanya tahu mengumbar sifat serakah untuk mengumpulkan intan permata serta benda-benda berharga lainnya yang tak ternilai harganya. Kalau digunakan untuk berfoya-foya belum tentu habis seperseratus didalam seratus tahun, tapi kami masih juga serakah, seolah-olah sebelum semua harta kekayaan yang ada didalam dunia berhasil kami dapatkan hati belum merasa puas. Tetapi sejak berkenalan dengan diri toako, mendadak tersadarlah kami akan kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan pada masa silam sekalipun harta kekayaan yang ada dikolong langit berhasil kami berdua dapatkan semua lalu apa gunanya? seratus tahun mendatang kamipun akan berubah jadi segumpal tanah yang terpendam diperut bumi, harta sebanyak itu tak nanti akan dibawa mati.”
“Kalau didengar dari ucapannya barusan, kekayaan yang berhasil dikumpulkan kedua orang ini pastilah tak ternilai harganya” pikir Siauw Ling didalam hati, segera tegurnya, “Saudaraku, sebetulnya sampai sebebrapa banyak sih harta kekayaan yang berhasil kalian kumpulkan?”
Sang Pat tersenyum.
“Kekayaanku bertumpuk-tumpuk sukar dihitung banyaknya, sehabis toako mengalahkan Shen Bok Hong nanti, siauwte pasti akan serahkan segenap kekayaan yang kami miliki kepada toako, agar toako bisa menggunakannya untuk kesejahteraan serta kebaikan umat manusia.”
“Ehmm, kalau memang saudara punya keinginan begitu, siauw heng pasti akan berusaha untuk memenuhi harapan itu.”
“Setiap perintah dari toako niscaya akan siauwte berdua laksanakan tanpa membantah” kata Sang Pat.
Setelah merandek sejenak, ujarnya kembali, “Pada saat ini persoalan paling penting yang harus kita laksanakan adalah berusaha untuk menemukan letak istana terlarang itu.”
Secara tiba-tiba Siauw Ling menyadari bahwa pengalaman serta pengetahuannya masih jauh tersisihkan bila dibandingkan dengan pengalaman Tiong chiu Siang Ku. Andaikata ia bermaksud untuk memasuki istana terlarang jelas tenaga serta pikiran kedua orang ini sangat dibutuhkan.
Berpikir sampai disitu ia lantas rentangkan kembali peta lukisan elang dan ular itu keatas tanah, lalu katanya, “Kemarilah kalian berdua mari kita bicarakan dan selidiki bersama lukisan peta ini!”
Dengan seksama Sang Pat memperlihatkan lukisan tadi, mendadak ia ambil peta itu dan dipandang dibawah sorot cahaya sang surya, beberapa saat kemudian baru ujarnya, “Menurut pendapat siauwte tak mungkin persoalan ini sedemikian gampangnya andaikata tulisan yang berada dibawah lukisan cakar burung elang itu adalah letak istana terlarang hal ini merupakan suatu kejadian yang tak terduga sama sekali.”
“Lalu bagaimanakah menurut pandanganmu?” tanya Siauw Ling.
“Kalau menurut pendapat siauwte andaikata dibalik lukisan itu tiada terkandung rahasia lain, maka tulisan itulah yang mempunyai maksud tertentu.”
Siauw Ling termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, mendadak ia berseru, “Saudaraku, coba kau undang datang kakek tua tadi!”
“Mau apa panggil ia datang kemari?”
“Kita harus tinjau dulu puncak In Wan Hong tersebut!”
“Kedua belah sisi puncak In Wan Hong merupakan tebang tebing yang terjal, satu sisi adalah selat selaksa ular sedang sisi yang lain adalah jurang dimana jenasah sepasang muda mudi itu berada.”
“Apa? jadi selat Bau Coe Kok letaknya berada dibawah puncak tebing In Wan Hong.”
“Tidak salah, siauwte telah menanyakannya dengan jelas!”
“Berapakah jaraknya dari sini hingga kepuncak tersebut?”
“Tidak sampai seratus li!”
“Bagus, tolong kau undang Loo tiang tadi agar bisa membawa jalan buat kita!”
“Tidak usah, siauwte telah menanyakan hingga jelas dan sudah hapal diluar kepala.”
“Perduli puncak In Wan Hong itu betul puncak Eng Yang Hong yang dimaksudkan atau bukan, sudah seharusnya kalau aku pergi menjenguknya lebih dahulu” pikir Siauw Ling didalam hati.
Berpikir demikian, ia lantas berkata, “Ayoh kita segera melakukan perjalanan, mungkin sebelum malam hari menjelang tiba nanti kita sudah tiba ditempat tujuan.”
“Siauwte akan membuka jalan!” kata Sang Pat dan segera berangkat terlebih dahulu.
Siauw Ling serta Tu Kioe dengan cepat menguntil dibelakang saudaranya itu.
Rupanya Sang Pat telah menanyakan keterangan mengenai jalan menuju kepuncak In Wan Hong dengan jelas, sepanjang perjalanan ia berlari dengan gesit dan cepatnya.
Kepandaian meringankan tubuh yang dimiliki ketiga orang itu termasuk kelas wahid dikolong langit, kendati jalan gunung amat terjadi licin, dan sudah dilalui tetapi bagi mereka bertiga bukankah merupakan suatu halangan yang menyulitkan.
Setelah melakukan perjalanan selama seharian, tatkala sang surya mulai condong kesebelah barat tibalah ketiga orang itu dibawah sebuah bukit tinggi.
Siauw Ling yang pernah menelan jamur berusia seribu tahun memiliki tenaga kweekang yang kuat dan hebat, sekalipun tengah harian harus berlari-lari ia masih belum merasakan kesulitan, sebaliknya bagi Tu Kioe serta Sang Pat setelah berlarian selama beberapa jam mendekati tebing dan bukit yang tinggi tanpa memperoleh kesempatan untuk beristirahat barang sedikit juga, ketika tiba dibawah tebing keringat telah membasahi seluruh tubuh mereka.
Seraya menuding puncak gunung yang terbentang didepan mata terdengar Sang Pat berkata, “Andaikata daya ingatanku tidak salah, disinilah letak puncak In Wan Hong tersebut.”
Dalam pada itu sang surya sudah makin condong kearah barat, sisa cahaya yang terpantul diangkasa menciptakan suatu pemandangan yang sangat indah dipandang.
Seberkas cahaya memancar dipuncak bukit tersebut, dengan ketajaman mata Siauw Ling secara lapat-lapat ia saksikan pantulan cahaya keemas-emasan dari puncak bukit tersebut, sepintas lalu pantulan cahaya tadi mirip sekali dengan sebuah kuil yang amat megah.
Terdengar Sang Pat berkata kembali, “Kuil tersebut adalah kuil In Wan Bio, menurut keterangan dari sipenebang kayu tua itu disaat bangunan kuil itu selesai dibangun, karena untuk memperingati kematian putranya yang mengenaskan, dari pihak keluarga sang pria telah menyumbangkan sebutir batu permata milik keluarganya untuk dipasangkan diatas atap kuil In Wan Bio tersebut. Oleh sebab itu setiap kali ada cahaya sang surya atau rembulan yang memancar keatas batu permata tadi, akan terhias tujuh buah cahaya berwarna yang sangat indah dipandang, bagi mereka yang tidak mengetahui sejarahnya seringkali mengatakan pantulan cahaya binglala itu adalah pemunculan sukma dari sepasang muda mudi itu, kabar bohong itu begitu tersiar maka pengunjung yang pasang hio didalam kuil itupun semakin ramai, setiap bulan tanggal satu atau tanggal lima belas kuil itu pasti banyak dikunjungi para peziarah yang datang dari ribuan li jauhnya untuk pasang hio disana, seringkali para tetamu menginap diluar kuil tadi.”
Mendadak Siauw Ling teringat kembali akan diri Giok Siauw Lang Koen serta Lan Giok Tong yang sangat mencintai Gak Siauw Cha, andaikata kuil In Wan Bio ini benar-benar sangat manjur, kemungkinan besar kedua orang itupun bisa mendatangi kuil tersebut untuk mohon berkah dan doa restu.
Tatkala Sang Pat menyaksikan saudara tuanya tetap membungkam tanpa mengucapkan sepatah katapun, ia segera melanjutkan kembali ceritanya, “Menurut keterangan dari sipenebang kakek tua itu, orang yang pasang hio didalam kuil In Wan Bio ini kian lama kian bertambah banyak, seringkali ada orang yang bergadang didalam kuil tanpa suka meninggalkannya, oleh sebab itu banyak orang yang mendirikan tempat-tempat penginapan disekeliling kuil tadi untuk disiapkan bagi para pengunjung yang ingin menginap disana.”
“Kalau begitu marilah kita naik keatas melihat-lihat!”
“Kita sudah seharian penuh melakukan perjalanan, apabila bisa baik-baik beristirahat semalam diatas puncak In Wan Hong tersebut, tenaga semangat kita pasti akan pulih kembali.”
Rupanya ucapan itu belum selesai diutarakan, tapi mendadak ia membungkam dan segera melangkah kedepan untuk mendaki keatas puncak.
Siauw Ling serta Tu Kioe pun tidak mengucapkan sesuatu, mengikuti dibelakang Sang Pat mereka lanjutkan perjalanan kembali.
Puncak itu merupakan sebuah tonjolan bukit yang berdiri sendiri, tiga bagian disekelilingnya merupakan tebing dan jurang-jurang yang amat dalam, disitu hanya terdapat sebuah jalan saja yang menghubungkan kaki bukit dengan puncaknya.
Itu saat sang surya telah lenyap dari pandangan, sambil menyapu sekejap sekeliling tempat itu didalam hati Siauw Lingpun berpikir, “Seandainya diatas puncak yang tinggi ini terdapat jalan tembus yang lain, sepasang muda mudi itu niscaya tak akan terjun kedalam jurang, dan disinipun tak akan dibangun kuil In Wan Bio.”
Ketika memandang keatas tampaklah ditengah ruangan kuil In Wan Bio, cahaya lilin memancar cahayanya menerangi seluruh ruangan yang luas itu.
Bangunan kuil tadi tidak termasuk amat besar, kecuali ruang tengah yang luas tadi, dikedua belah sisinya masing-masing terdapat sebuah ruangan, seorang toojien berusia enam puluh tahun berdiri disisi sebuah patung arca dibawah meja sembahyangan berlutut seorang manusia berbaju hitam.
Seluruh puncak In Wan Hong tersebut luasnya hanya mencapai satu hektar lebih kecuali kuil In Wan Bio didirikan tepat ditengah puncak, sekelilingnya penuh dengan bangunan-bangunan rumah yang terbuat dari batu hijau serta beratap injuk. Cahaya lampu penerangan dimpat penjuru, dan bangunan rumah ini kelihatan jauh lebih besar beberapa kali daripada bangunan kuil itu sendiri.
Siauw Ling memperhatikan sekejap pemandangan disekeliling puncak, kemudian ujarnya, “Setelah kita tiba ditempat ini bagaimana kalau masuk kedalam kuil untuk melihat-lihat?”
Tanpa menanti jawaban dari Sang Pat ia segera mendahului berjalan masuk kedalam kuil In Wan Bio.
Sang Pat sambil busungkan perutnya yang gendut segera membawa jalan didepan.
Toojien penjaga kuil itu memandang sekejap kearah Sang Pat, lalu maju menyongsong kedatangan dan berkata sambil tertawa, “Toa toako, In Won Jie seng bukan terbatas dalam soal jodoh muda mudi saja, kalau kalian bermaksud mohon berkah dan rejeki malaikat jodoh berdua pasti akan mengabulkannya.”
Dari dalam sakunya Sang Pat ambil keluar selembar daun emas dan dilemparkan kedalam peti sokongan, kemudian tanpa memperdulikan toojien itu lagi ia awasi sepasang patung malaikat itu dengan seksama.
Patung malaikat didalam kuil In Wan Bio tidak jauh berbeda dengan kuil-kuil lain hanya saja disini patung yang dipuja adalah sepasang muda mudi.
Sang pemuda memakai celana sebatas lutut dan berkaki telanjang, wajahnya amat tampan. Sebaliknya sang gadis memakai gaun berwarna hijau dengan baju berwarna hijau pula.
Siauw Ling menganggukkan kepalanya berulang kali sambil memuji, “Patung-patung arca ini entah siapa yang ukir, bukan saja wajah dan potongannya hidup bahkan nampak menarik hati, sungguh luar biasa….”
Sejak toojien tadi menyaksikan sokongan yang diberi Sang Pat adalah selembar daun emas dan sikapnya amat royal, dengan tertawa dipaksakan ia segera menyahut, “Nama besar dari kuil In Wan Bio sudah terkenal hingga ribuan li jauhnya. Ciamsi, permohonan semuanya tepat tidak meleset, bila kalian bertiga ada persoalan utarakanlah keluar. In Wan Jie seng pasti akan melindungi kalian bertiga.”
Orang berbaju hitam yang sedang berlutut didepan meja sembahyangan, ketika mendengar pembicaraan beberapa orang itu mendadak bangun berdiri, kemudian setelah melirik sekejap kearah Siauw Ling dan Sang Pat ia segera mengundurkan diri dari situ.
Seandainya orang itu tidak berusaha ngeloyor pergi, mungkin Siauw Ling tidak akan memperhatikan dirinya dan ia bisa berlalu dari situ tanpa diperhatikan oleh siapapun tetapi justru karena sikapnya yang gugup dan tergopoh-gopoh inilah Siauw Ling segera berpaling dan bahkan Tiong Chiu Siang Kupun segera menaruh curiga dengan dirinya.
Dengan langkah sempoyongan Tu Kioe bergeser kearah belakang, dalam beberapa tindakan saja ia telah menghalangi jalan pergi simanusia berbaju hitam tadi.
Sungguh cepat gerakan tubuh manusia berbaju hitam itu, mendadak ia menghentikan gerakan tubuhnya dan bergeser tiga depa kesamping, setelah menghindari penghadangan dari Tu Kioe laksana kilat tubuhnya meluncur keluar kuil.
Agaknya Sang Pat telah bikin persiapan sedari permulaan tadi, melihat gerakan tubuhnya yang begitu cemas sehingga berhasil menghindari penghadangan dari Tu Kioe. Tangan kanannya dengan cepat disilangkan kedepan menutup jalan pergi manusia berbaju hitam itu.
Meskipun pintu kuil amat besar, tetapi setelah Tu Kioe menghadang ditengah pintu ditambah pula Sang Pat sambil busungkan perutnya melintangkan tangan kanannya kesamping, maka hampir boleh dibilang seluruh jalan perginya telah tertutup semua.
Bagi siorang berbaju hitam itu kecuali berhasil memaksa Sang Pat bergeser dari situ maka satu-satunya jalan baginya hanya menghentikan langkah kakinya.
Tampaklah orang itu menggerakkan tangan kanannya, jari tengah dan telunjuknya ditegangkan kemudian menotok kedepan mengancam urat nadi Sang Pat.
Melihat datangnya ancaman, Sang Pat menukuk pergelangan kanannya kebawah untuk meloloskan diri dari serangan itu, kelima jarinya berputar dan laksana kilat ia balas mencengkeram pergelangan kanan sigadis berbaju hitam itu.
“Cepat menyingkir dan beri jalan baginya!” mendadak terdengar Siauw Ling membentak keras.
Kiranya ia telah berhasil melihat jelas wajah orang itu yang bukan lain adalah sidara berwajah serius yang selain mengikuti diri Pat Chiu Sin Liong atau sinaga sakti berlengan delapan Toan Bok Ceng sewaktu ada dikota Koei Chiu tempo dulu, dengan munculnya sang dara itu disekitar sini dan berarti Toan Bok Ceng pun kemungkinan besar berada dipuncak In Wan Hong pula.
Dalam pada itu ketika Sang Pat mendengar suara bentakan dari Siauw Ling, ia segera bergeser kesamping untuk memberi jalan lewat bagi gadis berbaju hitam itu.
Dengan gerakan yang cepat dan sehat gadis berbaju hitam itu meloncat keluar dari ruangan kuil dan segera melarikan diri.
Cuaca telah gelap dan malam sudah menjelang tiba, setelah berada ditempat luaran bayangan tubuh gadis itu dalam waktu singkat telah lenyap ditelan kegelapan.
Sang Pat yang berdiri didepan pintu kuil dengan pandangan yang tajam memeriksa keadaan disekitar tempat itu, namun ia tidak berhasil mengetahui kemanakah gadis itu melarikan diri.
“Tak usah diperiksa lagi!” terdengar Siauw Ling berseru dengan suara rendah.
“Toako, apakah kau kenal dengan dirinya?” tanya Sang Pat sambil berpaling.
“Agaknya dia adalah sidara ayu yang selalu berada bersama-sama naga sakti berlengan delapan Toan Bok Ceng itu!”
“Aaaah, benar itu ucapan toako sedikitpun tidak salah, memang nona itulah orang tadi, tidak aneh kalau siauwte merasa seperti mengenal dengan raut wajahnya hanya tidak teringat aku pernah menjumpainya ditempat mana!”
“Budak itu selalu mengenakan pakaian berwarna hijau, kenapa hari ini ia memakai baju hitam?” sela Tu Kioe.
…. Bersambung jilid ke 33
JILID 33
“Mungkin saja untuk menghindari pengawasan serta perhatian orang lain….”
“Tadi aku saksikan diantara kelopak matanya terdapat bekas air mata, mungkin saja ia sedang berdoa sesuatu didepan malaikat suci.”
“Setelah budak itu munculkan diri ditempat ini, mungkin saja sinaga sakti berlengan delapan Toa Bok Ceng juga berada disini, mari kita cari orang she itu untuk diajak berbicara.”
“Pada masa yang lalu kami pernah menaruh salah sangka terhadap diri toako, kami anggap kau telah membaktikan diri terhadap perkampungan Pek Hoa San cung tapi sekarang hubungan toako dengan Shen Bok Hong telah diketahui oleh setiap umat manusia yang ada dikolong langit. Budak tersebut menaruh sifat kurang hormat terhadap diri toako, sudah tentu kita harus menegur diri Toan Bok Ceng yang kurang keras mendidik anak muridnya.”
“sudahlah, toh orang lain tiada hubungan apapun kenapa mereka harus menghormati kita?”
Tu Kioe masih mencoba membantah tapi Sang Pat segera mengedipkan matanya untuk mencegah ia berbicara lebih jauh.
Rupanya sitoojien penjaga kuil itu sudah terbiasa melihat orang sekeok ataupun berkelahi, ia sangat menjaga diri sendiri dan sedikitpun tidak melirik atau memperhatikan ketiga orang itu.
“Apakah malam ini kita akan tinggal diatas puncak In Wan Hong ini….?” tanya Sang Pat kemudian.
Sebelum Siauw Ling menjawab, mendadak terdengar suara jawaban yang dingin dan ketus berkumandang datang, “Lebih baik kalian tetap tinggal disini saja!”
Ucapan yang muncul secara tiba-tiba ini sangat mengejutkan hati semua orang, baik Siauw Ling maupun Tiong chiu Siang Ku segera berdiri tertegun dibuatnya.
“Siapa?” Tu Kioe segera menghardik.
“Aku!” seorang pemuda kurus pendek berbaju hijau perlahan-lahan munculkan diri didalam ruangan kuil.
Dengan tajam Sang Pat memperhatikan sekejap wajah orang itu, ia merasa walaupun wajahnya amat ganteng tapi kekurangan sifat kelaki-lakiannya, maka diapun segera menegur, “Kami bersaudara sedang bercakap-cakap toh tiada sangkut pautnya dengan dirimu, mengapa saudara ikut menimbrung?”
Pemuda berbaju hijau itu tidak memperdulikan teguran dari Sang Pat, dengan sorot mata yang jernih ditatapnya wajah Siauw Ling beberapa saat, kemudian serunya, “Apa sebabnya kau datang kepuncak In Wan Hong ini?”
Nadanya sangat akrab dan seolah-olah pembicaraan terhadap sahabat lama, bahkan terpancar jelas betapa besarnya perhatian orang itu terhadap diri Siauw Ling.
Jago kita segera memperhatikan beberapa kejap kearah sastrawan berbaju hijau itu, tetapi walau dipandang secara bagaimanapun ia tidak dapat mengingat-ingat siapakah gerangan dirinya, maka iapun lantas bertanya, “Siapakah kau?”
“Sungguhkah kau tidak kenal dengan diriku lagi?” air muka pemuda tersebut mendadak berubah jadi amat sedih.
“Tampaknya sih agak kenal, tapi aku tak ingat kita pernah saling berjumpa dimana.”
“Itulah sebabnya kau pelupa, kenapa aku mengenali dirimu?”
“Entah siapakah orang ini” pikir Siauw Ling dengan hati keheranan….”Kenapa ia paksa diriku untuk mengakui bahwa aku kenal dengan dirinya?” sebelum ingatan itu lenyap dari pandangannya, tampaklah pemuda berbaju hijau itu tiba-tiba melepaskan kain hijau pembungkus kepalanya sehingga terlihatlah rambutnya yang halus dan panjang.
“Aaaah, adalah kau nona Pek Li!” mendadak Siauw Ling berseru tertahan.
“Ooooh…. sungguh payah aku mencarimu” bisik gadis itu sambil mendekap wajahnya.
Sang Pat serta Tu Kioe yang menyaksikan kejadian itu diam-diam saling bertular pandangan kemudian berlalu dari ruangan kuil.
Toojien penjaga kuil yang berada disamping mereka, mendadak memukul gembrang dan bersenandung lirih, “Kalau ada jodoh ribuan li pun akhirnya berjumpa, kalau tak ada jodoh bertemu mukapun tak kenal, siapa yang tulus berdoa pasti akan terkabul keinginannya….”
Siauw Ling pun melangkah maju kedepan, kemudian tegurnya, “Nona, mengapa kau datang kemari?”
Kiranya orang yang baru saja datang bukan lain adalah Pak Hay Kongen Pek Li Peng adanya.
Perlahan-lahan Pek li Peng melepaskan tangannya yang menutupi wajah, lalu menjawab, “Aku telah melakukan penguntilan sejauh ribuan li dan akhirnya berhasil temukan dirimu disini!”
“Aku bisa sampai dipuncak In Wan Hong hanya disebabkan suatu ilham yang muncuk secara mendadak” pikir Siauw Ling didalam hati. “Darimana ia bisa menduga kalau aku bakal datang kemari!”
Karena berpikir demikian maka ia bertanya kembali, “Sejak kapan nona datang kemari?”
“Tengah hari tadi….” ia merandek sejenak kemudian sambungnya, “Dalam hati kecilku masih terdapat banyak urusan yang hendak kutanyakan kepadamu!”
“Tempat ini bukan tempat yang cocok bagi kita untuk berbicara, mari kita cari tempat pemondokan lebih dahulu….”
“Aku telah memesan sebuah kamar penginapan dipuncak In Wan Hong ini….!” sambung Pek li Peng cepat.
“Tapi aku masih ada dua orang saudara!”
“Tidak mengapa, didalam penginapan itu masih ada kamar kosong, mari aku membawa jalan untukmu.”
Sambil putar badan ia kenakan kembali kain pengikat kepalanya.
Tiba-tiba Siauw Ling merasakan bahwa siputri dari laut utara yang sudah terbiasa dimanja ini ternyata jauh lebih matang dari pada tempo dulu dan ia jauh lebih dewasa lagi, perpisahan selama beberapa bulan dirasakan bagaikan beberapa tahun saja.
Dalam pada itu Pek li Peng telah berjalan keluar dari dalam kuil dan menuju keluar.
Siauw Ling segera menguntil dari belakangnya, setelah sampai ditempat luaran dengan tajam matanya memperhatikan kesekeliling tempat itu, tetapi bayangan tubuh Tiong chiu Siang Ku sama sekali tidak nampak, hatinya jadi tercengang, pikirnya, “Kemana perginya kedua orang itu?”
Ingin sekali ia berteriak memanggil, tetapi setelah ucapannya meluncur keluar mendadak ia telan kembali.
Pek li Peng mempercepat larinya menuju kearah sebuah rumah gubuk disebelah selatan.
Terpaksa Siauw Ling harus mempercepat langkah kakinya mengikuti dibelakang gadis itu masuk kedalam kamar.
Rumah penginapan yang ada disana tujuannya hanya digunakan sebagai tempat untuk berteduh dari hujan bagi para pesiarah yang mengunjungi kuil tersebut, tentu saja tiada pelayanan yang bagus dan pantas, ketika Siauw Ling masuk didalam rumah penginapan tadi tiada seorangpun yang menyapa, dengan mengikuti dibelakang Pek li Peng akhirnya sampailah pemuda kita didalam kamar.
Ruangan telah diterangi oleh cahaya lilin, seorang gadis berbaju hitam yang berwajah serius dan keren telah berada didalam ruangan itu lebih dulu.
Siauw Ling jadi keheranan, pikirnya, “Bagus sekali, kenapa mereka berdua bisa berada jadi satu?”
Sementara Pek li Peng telah berpaling memandang sekejap kearah Siauw Ling kemudian ujarnya, “Kalian tentu sudah pernah saling bertemu bukan?”
“Ketemu sih pernah beberapa kali” pikir Siauw Ling didalam hati. “Cuma berbicara belum pernah satu kalipun.”
Iapun menjura dan berkata, “Kenapa Toan Bok Loocianpwee tidak ikut serta?”
“Suhuku?” sahut dara berbaju hitam itu sambil tundukkan kepalanya rendah-rendah. “Berkat pertolongan dari nona Pek li, beliau berhasil loloskan diri dari bokongan orang.”
“Oooh kiranya karena peristiwa tersebut mereka jadi saling kenal” kembali pemuda kita membatin.
“Bagaimanakah keadaan luka Toan Bok Loocianpwee?”
“Terima kasih atas perhatian dari Siauw thayhiap, setelah menelan obat mujarab pemberian nona Pek li, sekarang ia sudah tidak menguatirkan lagi keadaannya.”
Dua kali ia bercakap-cakap dengan Siauw Ling, namun tak pernah kepalanya mendongak untuk memandang kearah si anak muda itu.
Mendadak Pek li Peng menimbrung dari samping, “Walaupun keadaan luka yang diderita Toan Bok Loocianpwee sudah tidak menguatirkan tapi ia masih membutuhkan banyak istirahat, karena itulah ketika ia lihat aku melakukan perjalanan seorang diri maka diutuslah nona Toan Bok untuk menemani diriku.”
“Aneh…. ia sebut Toan Bok Ceng sebagai gurunya, kenapa ia sendiripun she Toan Bok?” pikir Siauw Ling, meski dalam hati menaruh curiga tapi ia tidak bertanya lebih jauh.
Sementara itu Pek li Peng selesai mengucapkan kata-kata itu, matanya menatap wajah Siauw Ling tajam-tajam untuk menantikan jawabannya, siapa tahu si anak muda itu hanya repot dengan jalan pikirannya sendiri lupa untuk menjawab.
Melihat pemuda itu tak mau menjawab, Pek li Peng segera mendegus dingin tegurnya, “Hei, kenapa kau tidak menjawab?”
Seolah-olah ia baru mendusin dari impian Siauw Ling berseru tertahan dan berkata, “Aaaa, nona sedang mengajak aku berbicara?”
“Dalam ruangan ini hanya kita bertiga sedang aku tidak mengajak nona Toan Bok berbicara, kalau bukan ajak kau berbicara lalu aku ngomong dengan siapa?’
“Apa yang ingin nona bicarakan?”
“Semestinya kau bertanya kepadaku, bagaimanakah kehidupanku selama beberapa waktu terakhir?”
Siauw Ling menghela napas panjang.
“Aaaai….! karena harus menolong cayhe nona telah menyalahi peraturan perguruan. Tapi kaupun harus tahu bahwa ayahmu merasa amat sedih karena kepergian nona ini. Sekarang ia sedang berusaha keras untuk mencari jejak nona….”
Pek li Peng memandang sekejap kearah gadis berbaju hitam itu, bukannya menjawab ia perlahan-lahan duduk diatas kursi.
Gadis berbaju hitam itu bukan seorang manusia yang bodoh, menyaksikan keadaan tersebut ia segera berkata lirih, “Kalian berdua berbicaralah, aku akan siapkan sedikit makanan dan minuman bagi kalian berdua….”
“Aaah, cukup suruh pelayan saja siapkan, masa kita musti merepotkan nona!”
Gadis berbaju hitam ini tidak menjawab, begitu selesai berkata ia lantas keluar dari ruangan, sebelum Siauw Ling selesai berbicara bayangan tubuhnya sudah lenyap tak berbekas.
Dengan begitu dalam ruanganpun tinggal Pek li Peng serta Siauw Ling berdua saja.
Dengan pandangan mata yang jeli, Pek li Peng menatap wajah Siauw Ling tajam-tajam. rupanya ia ingin menemukan sesuatu dari balik wajah si anak muda itu.
Siauw Ling yang dipandang secara demikian jadi gelisah dan tidak tenang, dan ingin menegur tetapi secara mendadak tampaklah Pek li Peng menutup wajahnya dan jatuhkan diri keatas pembaringan sambil menangis tersedu-sedu.
Menyaksikan kejadian itu pemuda she Siauw jadi tertegun, buru-buru ia dekati gadis itu sambil berkata, “Nona melakukan perjalanan didalam dunia persilatan demi diriku, cayhe bukannya tidak tahu….”
Pek li Peng mendadak tertawa.
“Sejak kecil aku dibesarkan didalam istana es dengan pelayan yang tak terhingga banyaknya, kini setelah aku berkelana seorang diri didalam dunia persilatan, luntang lantung sebatang kara…. masa satu orang yang mengurusi dirikupun tak ada….”
Sejak kecil ia sudah terbiasa dimanjakan, tapi karena ingin menemukan Siauw Ling dengan susah payah dan tak mengenal lelah ditempuhnya perjalanan dengan seorang diri berkelana didunia kangouw, siapa tahu setelah bersusah payah dan berhasil menemukan kembali idaman hatinya sikap serta pengertian yang diberikan kepadanya tidak seimbang dengan pengorbanan yang telah diberikan, hal ini tentu saja menyedihkan hatinya.
“Nona, akupun tahu sampai dimanakah penderitaan yang dialami dirimu, tetapi cayhe….”
Mendadak Pek li Peng bangun duduk, sambil menyeka air matanya selanya, “Mau apa kau datang kemari?”
Siauw Ling ingin menjawab, tapi belum sempat ia berkata Pek li Peng sudah keburu berkata, “Bukan kau naik kepuncak In Wan Hong untuk mencari diriku?”
“Dimana aku bisa tahu kalau kau berada disini?” batin si anak muda itu didalam hati, tetapi ketika menyaksikan wajahnya penuh mengharapkan jawaban yang enak didengar maka dengan keraskan hati iapun menyahut, “Sedikitpun tidak salah, aku memang datang kemari untuk mencari diri nona!”
Pek li Peng kontan tertawa gembira setelah mendengar jawaban itu.
“Kalau begitu kau psti amat rindu kepadaku bukan….”
Ia merandek sejenak, dan sambungnya kembali, “Meskipun banyak penderitaan yang telah kurasakan, tetapi ada senangnya juga melakukan perjalanan seorang diri didalam dunia kangouw.”
“Ia gembira karena salah mengira aku datang kemari karena hendak mencari dirinya” pikir pemuda itu dalam hati. “Agaknya aku boleh mengatakan duduk perkara yang sebenarnya.”
Karena itu iapun balik bertanya, “Dan nona sendiri mau apa datang kemari?”
“Dari mulut orang lain aku mendengar bahwa diatas puncak In Wan Hong terdapat kuil In Wan Bio yang khusus ditujukan bagi orang yang minta jodoh, karena itu sengaja aku datang kemari untuk memanjatkan doa, eeei…. sungguh tak nyana aku benar-benar berhasil temukan dirimu disini….”
Rupanya ia merasa jawabannya terlalu membuka rahasia hatinya, seluruh wajahnya kontan berubah jadi merah padam dan kepalanya tertunduk rendah-rendah.
Siauw Ling terkesiap mendengar ucapan itu, pikirnya, “Mati aku! sungguh tak terkira olehku bahwa kata-kata menghiburku bisa membuat ia tersenyum gembira, ucapan yang bernada dingin dapat membuat ia menangis tersedu-sedu, kalau begitu rasa cintanya terhadap aku sudah tertanam dalam sekali, apa yang harus aku lakukan….”
Ia merasa hatinya jadi murung dan kesal, dengan alis berkerut ia segera membungkam dalam seribu bahasa.
Perlahan-lahan Pek li Peng turun dari atas pembaringan, setelah menuang secawan air teh ia angsurkan cawan itu kehadapan Siauw Ling sambil ujarnya lembut, “Sebelum berjumpa dengan dirimu, sering kali aku berharap agar aku bisa menunjukkan sikap yang hangat dan mesra setelah berjumpa dengan dirimu, agar kau merasa gembira dan senang bisa berkumpul dengan diriku. Aaai siapa tahu setelah berjumpa dengan dirimu aku malah ngambek sampai air tehpun lupa dihidangkan.”
Seraya berkata ia angsurkan cawan teh tadi ketangan Siauw Ling.
Beberapa patah perkataannya barusan bukan saja menunjukkan kepolosan serta sifat kekanak-kanakkannya, bahkan memperlihatkan pula keterbukaan serta sikap jujurnya yang tidak dibuat-buat.
Siauw Ling segera merasakan dadanya seperti terhantam martil yang sangat berat, hatinya tergetar keras, pikirnya, “Ucapan gadis ini begitu jujur dan terbuka sedikitpun tidak menyembunyikan perasaan hatinya, entah bagaimanakah sikapku dikemudian hari terhadap dirinya….”
Terdengar Pek li Peng berkata lagi dengan suara lembut, “Untuk datang kemari kau telah melakukan perjalanan naik turun bukit, aku rasa kau tentu haus sekali bukan?”
Siauw Ling meneguk air teh itu setengah, lalu panggilnya sambil tertawa, “Nona….”
“Apa? kau panggil aku nona? baik, akupun akan mengenal dirimu sebagai Siauw siangkong.”
“Benar, sudah sepantasnya kalau kita saling menyebut dengan panggilan begitu.”
“Tidak, aku tidak setuju!”
“Kenapa?”
“Kalau kita saling mengenal dengan sebutan begitu, bukankah hubungan kita terasa makin jauh?”
“Lalu musti memanggil nona dengan sebutan apa?”
Pek li Peng termenung dan pikirnya sebentar, kemudian sahutnya, “Sewaktu aku masih berada dilaut utara, ayah baginda serta ibu permaisuri selain sahut aku sebagai Peng jie, bagaimana kalau kaupun mengenal aku dengan sebutan tersebut?”
Diam-diam Siauw Ling menghela napas panjang, pikirnya, “Aku harus berusaha untuk menasehati dirinya agar mau pulang kerumahnya….”
Setelah mengambil keputusan demikian, iapun lantas memanggil, “Peng jie!”
“Ooh…. sungguh indah dan menarik sebutanmu itu” teriak Pek li Peng kegirangan. “Aaai…. ucapan ibu permaisuri sedikitpun tidak salah, dahulu aku selalu tak mau mendengarkan perkataannya, sekarang kalau diingat kembali, aku benar-benar merasa bahwa setiap patah katanya memang tepat dan sangat bermanfaat.”
“Apa yang pernah diucapkan ibumu?”
“Ibu bilang lunak bisa tundukkan keras, seorang gadis harus memiliki kehalusan budi serta kelembutan sikap, hanya sikap yang lemah lembut dapat menggembirakan hati sang kekasih.”
“Ehmm…. pastilah dia sangat nakal sewaktu berada didalam istana es, sehingga ibunya yang kewalahan harus mengucapkan kata-kata seperti itu agar ia mau lebih pendiam, sungguh tak nyana ia malah menganggapnya sungguhan….”
Berpikir sampai disini diapun terbayang kembali akan tujuannya untuk memasuki istana terlarang. Ia tahu tugasnya kali ini bakal menemui banyak kesulitan serta mara bahaya, dari pada kedua orang gadis itu dibawa serta maka pemuda inipun mengambil keputusan untuk berusaha memaksa ia kembali kesisi Pak Thian Coen cu….
Sementara ia masih berpikir, mendadak terdengar Pek li Peng berkata, “Ehmmm! kau panggil aku Peng jie, lalu sebutan apa yang harus kupergunakan untuk memanggil dirimu?”
“Sesuka hatimulah!”
Pek li Peng tertawa manis.
“Kau lebih tua dua tahun dari diriku, aku panggil kau dengan sebutan toako saja!” katanya.
“Baiklah! panggil saja aku toako.”
“Baik! kalau begitu mulai detik ini aku akan panggil dirimu toako!” berbicara sampai disini mendadak gadis itu mulai menggerakkan tangan dan badannya, dibawah cahaya lampu lilin iapun mulai menari.
Siauw Ling yang menyaksikan kegembiraan yang diperlihatkan gadis itu sudah kelewat batas sehingga lupa keadaan, kontan ia berdiri tertegun dibuatnya.
Setelah menari beberapa saat lamanya mendadak Pek li Peng menghentikan gerakannya dan berkata, “Toako, mendadak aku teringat satu persoalan.”
“Persoalan apa?”
“Mari kita pergi kekuil In Wan Bio untuk memberikan kaul!”
“Kaul apa?”
“Ketika bersembahyang didalam kuil In Wan Bio tadi dalam hati aku telah berjanji, bilamana toako berhasil kujumpai maka aku harus pergi kekuil lagi untuk membayar kaul.”
“Yang mau kaul teh kamu, kenapa musti pergi bersama aku?” pikir si anak muda itu didalam hati.
Kendati punya pikiran begitu, namun ia tak tega untuk mengutarakan keluar.
Dengan tangannya yang putih halus dan lembut itu Pek li Peng menggenggam tangan kanan Siauw Ling, kemudian ajaknya, “Toako, temanilah aku! malaikat didalam kuil In Wan Bio benar-benar manjur sekali!”
Siauw Ling tidak tega untuk menampik ajukan itu, terpaksa ia bangkit berdiri.
“Sekarang juga kita kesitu?” tanyanya.
“Lebih cepat membayar kaulku rasanya lebih baik, toako temanilah diriku pergi kesitu!”
“Baik!” dengan perasaan apa boleh buat Siauw Ling segera melangkah keluar dari dalam ruangan.
Dengan wajah berseri-seri dan penuh kegembiraan Pek li Peng menguntil dibelakang si anak muda itu dan berjalan menuju keluar.
Tatkala kedua orang itu tiba didepan pintu kecil, kebetulan sang toojien penjaga kuil hendak melangkah keluar, tapi begitu melihat sepasang muda mudi itu berjalan mendatang maka perlahan-lahan ia mengundurkan diri kembali ketempat semula.
Pek li Peng langsung menuju kedepan meja sembahyangan, sambil berlutut mulutnya berkemak-kemik tiada hentinya. Entah apa saja yang telah dia utarakan ketika itu.
Sebaliknya Siauw Ling dengan sikap termangu-mangu berdiri disisinya dan memandang sepasang arca pria desa dan gadis desa itu tanpa berkedip.
Selesai berdoa Pek li Peng berpaling kearah pemuda kita, sewaktu dilihatnya Siauw Ling tetap berdiri tak berkutik ia segera menarik tangannya sambil berkata, “Aah toako! kenapa kau tidak jatuhkan diri berlutut dan mengucapkan terima kasih kepada malaikat jodoh?”
Sebenarnya si anak muda itu tidak ingin berlutut, tapi setelah menyaksikan air muka Pek li Peng yang diliputi penuh pengharapan, ia tak tega dan terpaksa jatuhkan diri berlutut didepan meja sembayangan.
Dengan wajah riang gembira Pek li Peng kembali memberi hormat kepada patung arca tersebut, setelah itu baru bangkit berdiri dan berkata, “Sekarang mari kita kembali kerumah penginapan!”
Selama ini Siauw Ling hanya memikirkan bagaimana caranya menasehati gadis ini agar mau pulang kerumahnya, terhadap kejadian didepan mata sedikitpun tidak ambil perhatian.
Setelah Pek li Peng menarik tangannya, Siauw Ling baru tersadar kembali dari lamunannya, ia segera bangkit berdiri.
“Baik, mari kita pulang!”
Sikap si anak muda ini seketika melenyapkan rasa girang dan wajah berseri-seri dari Pek li Peng, perlahan-lahan ia membisik, “Toako, rupanya kau mempunyai persoalan hati yang amat berat?”
“Tidak?” Siauw Ling segera menggeleng.
“Aaaai….! toako kau tak usah membohongi aku, aku bisa mengetahuinya dari sikapmu alismu selain berkerut dan wajahmu murung sekali, kalau kau tiada persoalan hati yang memberatkan dirimu, pastilah mereka tidak senang karena berjumpa dengan aku….”
Sambil membereskan rambutnya yang awut-awutan, ia menghela napas panjang sambungnya, “Toako, tahukah kau apa yang kudoakan ketika berlutut didepan patung malaikat tadi?”
“Entahlah!”
“Aku telah berdoa kepada malaikat agar kita bisa berbahagia selalu, akupun telah bersumpah bahwa sejak hari ini aku akan selalu mendampingi diri toako, sedikitpun tak akan berpisah.”
Siauw Ling jadi amat terperanjat setelah mendengar perkataan itu, buru-buru serunya, “Ayahmu telah mengerahkan segenap jago lihay istana esnya untuk mencari jejakmu, andaikata kau selain berada disampingku, bukankah hal ini justru akan menggelisahkan ayahmu?”
Walaupun Pek li Peng masih muda dan sifat kekanak-kanakkannya belum hilang, tetapi dia adalah seorang gadis yang amat cerdik, setelah termenung berpikir sebentar segera ujarnya, “Apakah kau takut aku jadi sengsara dan menderita karena mengikuti dirimu?”
“Pak Thian Coen cu memiliki ilmu silat yang lihay jago kelas satu anak buahnyapun tiada terhingga banyaknya” pikir Siauw Ling didalam hati kecilnya. “Sekarang ia telah mendendam terhadap diriku, seandainya suatu ketika ia berhasil mengetahui bahwa kau berada bersama-sama diriku, bukankah saat itu aku bakal dituduh dan walaupun terjun kesungai Huang hoo pun aku tak bisa menghilangkan tuduhan tersebut?”
Yang ia selalu pikirkan hanyalah keselamatan dari Gak Siauw Cha serta perjalanannya memasuki istana terlarang, karena itu terhadap cinta kasih Pek li Peng yang begitu mesra dan hangatnya sama sekali tidak dirasakan.
Dalam pada itu ketika Pek li Peng menyaksikan Siauw Ling termenung terus tanpa mengucapkan sepatah katapun, ia segera tertawa dan berseru, “Aaaah, sekarang aku sudah mengerti!”
“Kau mengerti apa?”
“Bukankah kau takut menimbulkan kecurigaan ayahku bila kau melakukan perjalanan bersama-sama diriku?”
“Aaaai….! walaupun hal itu merupakan salah satu alasan, tetapi yang terpenting adalah rasa rindu dan cemas dari ayah serta ibumu setelah menyaksikan kau belum juga kembali kerumah setelah pergi lama sekali, aku rasa nona pasti tak ingin disebut seorang anak yang tidak berbakti bukan?”
“Tidak usah kuatir, aku bisa menulis sepucuk surat dan mengutus orang pergi ke Pek Hay untuk mengabarkan kepada ibuku bahwa aku sedang berpesiar didaratan Tionggoan dia pasti tak akan merindukan diriku lagi!”
Siauw Ling menghela napas panjang.
“Letak istana es di Pek Hay jauh mencapai beberapa laksa li, lagipula sepanjang tahun selalu beku dan diliputi oleh salju abadi, apakah orang biasa sanggup untuk menemukan letaknya?”
“Toako!” tiba-tiba Pek li Peng berseru dengan alis berkerut. “Agaknya kau sangat membenci diriku sehingga dengan pelbagai akal dan cara kau hendak mengusir diriku, bukankah begitu?”
Siauw Ling gelengkan kepalanya dan kembali menghela napas panjang.
“Kecuali ayah ibumu sangat merindukan dirimu, kedatanganku kegunung Boe Gie San inipun masih ada maksud tujuan lain, dan aku merasa tidak leluasa untuk membawa serta dirimu.”
“Apakah tujuanmu itu? bolehkah diberi tahukan kepadaku?”
Siauw Ling tidak tega menyaksikan air muka gadis itu diliputi kesedihan bahkan air matanya telah bercucuran, ia melirik sekejap kearah toojien itu lalu bisiknya lirih, “Peng jie mari kita keluar dulu dari sini.” sambil bicara ia melangkah keluar terlebih dahulu.
Pek li Peng segera membuntuti dari belakangnya, dalam sekejap mata mereka sudah tinggalkan kuil tersebut.
Setelah memandang sekelilingnya sekejap. Pek li Peng segera berseru, “Toako disekeliling tempat ini tiada orang lain, kau boleh mengutarakannya keluar!”
“Peng jie, apakah kau pernah mendengar kisah mengenai istana terlarang….”
“Agaknya ayahku pernah membicarakannya.”
“Nah, itulah dia, aku tak bisa membawa serta dirimu karena aku hendak memasuki istana terlarang.”
“Apakah anak gadis dilarang memasuki istana terlarang?”
“Itu sih tiada larangan macam begini!” jawab Siauw Ling sejujurnya karena ia tak terbiasa membohong.
“Kalau memang tiada larangan, apa salahnya kalau aku ikut serta didalam perjalanan ini?”
“Setiap jago Bulim yang ada didaratan Tionggoan sama-sama berharap bisa memecahkan rahasia yang menyeimbangi istana terlarang apabila mereka sampai mendengar berita ini niscaya orang-orang itu akan berbondong-bondong datang kemari, sebelum memasuki istana terlarang kita sudah akan terancam oleh pelbagai ancaman yang membahayakan jiwa, apalagi didalam istana terlarangpun penuh dengan alat rahasia yang hebat dan dahsyat, selangkah saja kita salah mengambil jalan kemungkinan besar akan terancam. Kepergian Siauw heng kami ini adalah menempuh mara bahaya, mati hidup masih belum bisa diramalkan, mana boleh kubawa serta dirimu?”
“Kalau memang demikian adanya, maka aku semakin bersikeras tak akan tinggalkan dirimu seorang diri!” seru Peng li Peng dengan tegas.
“Kenapa?”
“Kalau memang istana terlarang diliputi banyak bahaya yang setiap saat bisa mengancam keselamatan jiwamu, mana aku boleh biarkan dirimu pergi menempuh bahaya seorang diri, aku akan….”
“Tidak boleh….”
“Kenapa?” seru Peng li Peng dengan wajah serius. “Kalau kau memang sudi kuanggap sebagai toako ku maka sudah sepantasnya kalau membiarkan aku ikut menderita dikala kau sedang sengsara dan gembira tatkala kau sedang riang gembira.”
“Peng jie persoalan ini sama sekali tiada sangkut pautnya dengan dirimu, kenapa kau harus turut serta menerjunkan diri kedalam air keruh?”
“Tetapi toh antara toako dengan aku ada hubungan yang sangat erat?”
Siauw Ling jadi terkesiap setelah mendengar perkataan itu, ia segera menghentikan langkah kakinya.
“Peng jie….”
“Toako, biarkanlah aku meneruskan kata-kataku!” tukas Peng li Peng dengan air mata jatuh bercucuran.
Siauw Ling dibikin apa boleh buat, terpaksa ia mengangguk.
“Baik! katakanlah….”
“Tahukah kau apa sebabnya aku sebagai seorang gadis remaja, dengan seorang diri melakukan perjalanan sejauh beribu-ribu li?”
“Karena hendak mencari diriku?”
“Ehmmm, kiranya kau sudah tahu.”
“Bukankah tadi sudah kau katakan sendiri hingga jelas? sekalipun orang lain juga akan mengerti dengan jelas.”
“Nah, itulah dia! dengan susah payah aku berhasil menemukan dirimu, tetapi kau malah mengusir aku pergi, coba pikirlah apakah aku punya muka untuk menjumpai orang lagi? apakah aku punya muka untuk hidup dikolong langit lebih jauh?”
“Soal ini…. soal ini….”
“Meskipun aku dibesarkan didaerah dingin yang sepanjang masa ditutupi salju, tetapi banyak sekali pelajaran agama serta sastra dari daratan Tionggoan yang pernah kubaca. Toako! kau pasti telah memandang diriku sebagai seorang gadis tidak genah yang rendah martabatnya, kau pasti memandang hina diriku….”
Belum sempat Siauw Ling menjawab, mendadak Peng li Peng telah putar badan dan lari pergi.
Dengan cepat Siauw Ling mengejar dari belakangnya, dalam waktu singkat mereka sudah tiba dipinggir jurang.
Menyaksikan gadis itu lari terus keujung jurang dan sikapnya seperti mau loncat kebawah. Siauw Ling jadi amat terperanjat buru-buru serunya, “Peng jie, jangan bergurau lagi!”
“Kau berhenti dulu!” teriak Peng li Peng.
Siauw Ling tidak berani membangkang, terpaksa ia menghentikan langkah kakinya.
Sambil berdiri diujung jurang, perlahan-lahan Peng li Peng berkata, “Toako, tahukah kau akan kisah cerita dari kuil In Wan Bio ini?”
“Seorang penebang kayu tua telah menceritakannya kepadaku!”
“Tebing curam ini adalah tempat dimana sepasang muda mudi itu menerjunkan diri kedalam jurang, seandainya sekarang aku ikut meloncat kedalam jurang maka didalam kuil In Wan Bio mungkin akan didirikan pula sebuah patung arca untuk memperingati diriku, hanya saja patung itu tidak didampingi oleh toako saja.”
Siauw Ling jadi amat cemas, pikirnya, “Sifat kekanak-kanakkan dari gadis ini belum hilang, dalam malu dan gelisahnya mungkin saja ia benar-benar menerjunkan diri kedalam jurang, bukan saja kejadian ini akan menyesalkan diriku sepanjang masa bahkan akan mendatangkan pula pelbagai kesulitan bagiku…. aku harus mengurungkan niatnya itu.”
Karena berpikir demikian ia lantas berseru, “Peng jie, cepat kembali, jangan ngaco belo lagi.”
“Tidak, aku bukan sedang bergurau, setiap patah kata yang kuutarakan kepada toako muncul dari hatiku yang murni, dihadapan malaikat aku telah mengangkat sumpah bahwa sepanjang masa akan selalu mengikuti dirimu, kalau toako menampik permintaanku ini, maka terpaksa aku harus terjun kedalam jurang untuk memperlihatkan kesucian serta ketulusan hatiku.”
Ucapannya begitu pedih dan menyedihkan membuat orang yang mendengar ikut beriba hati.
Siauw Ling jadi semakin gelisah apalagi ketika dilihatnya gadis itu sudah makin menepi keujung jurang, tanpa berpikir panjang lagi ia segera teriak, “Cepat kemari, baiklah akan kuajak dirimu untuk ikut serta!”
“Sungguh?” mendadak Peng li Peng melompat kedepan dan menubruk kedalam pelukan si anak muda itu.
Kesedihan yang semula menyelimuti wajahnya kontan lenyap tak berbekas berganti dengan senyuman penuh riang gembira.
Setelah berjanji tentu saja Siauw Ling tak dapat mengingkarinya lagi, terpaksa ia mengangguk.
“Sudah tentu sungguh, cuma….”
“Cuma kenapa?”
“Aku hendak mengutarakan dulu beberapa buah syaratku. Pertama, kau tak boleh ribut dan bikin gara-gara tanpa sebab. Kedua, dalam segala hal kau harus mendengarkan perintahku, kalau kau berani melanggar syaratku itu maka janjiku akan kubatalkan pula.”
Dalam penilaian Siauw Ling sebagai seorang gadis manja yang sudah terbiasa disayang dan dicintai ayah ibunya semenjak kecil, dimana setiap harinya sudah terbiasa memerintahkan orang, syarat tersebut pasti akan menyulitkan dirinya.
Siapa tahu urusan ternyata jauh diluar dugaan si anak muda itu, dengan cepat tanpa berpikir panjang bahkan dengan wajah penuh riang gembira Peng li Peng segera menyahut, “Tentu saja aku akan menuruti setiap perkataan dari toako!”
“Bagaimana dengan nona Toan Bok itu?”
“Aku akan suruh dia pulang kerumah untuk merawat luka dari pamannya….” setelah merandek sejenak, tambahnya, “Toako, kapan kau hendak berangkat?”
“Paling lambat besok pagi!”
“Toako, bagaimana kalau kau kembali dulu kedalam kamarku untuk beristirahat sejenak?”
“Tak usah, aku masih ada dua orang saudara yang datang bersama-sama.”
“Ooooh, apakah Sang Pat serta Tu Kioe?”
“Tidak salah dari mana kau bisa tahu?”
“Setiap kali berjumpa dengan orang aku selalu mencari berita mengenai diri toako, sudah tentu banyak hal yang kuketahui.”
Ia tertawa manis dan terusnya, “Aku akan segera siapkan bekalku, bila toako hendak berangkat segeralah memberi kabar kepadaku.”
“Setelah kukabulkan permintaanmu, tentu saja tidak akan meninggalkan dirimu seorang diri, legakanlah hatimu!”
Peng li Peng tidak banyak bicara lagi, ia putar badan dan segera berjalan masuk kedalam ruang penginapan.
Diawasinya bayangan tubuh Peng li Peng hingga lenyap dari pandangan, mendadak Siauw Ling merasa dalam hatinya secara mendadak muncul suatu perasaan murung dan kesal yang sukar dilukiskan dengan kata-kata, ia menghela napas panjang. Perlahan-lahan pemuda itu berjalan ketepi tebing dan duduk diatas sebuah batu besar.
Sementara itu malam semakin kelam, angin gunung berhembus kencang diatas puncak bukit tersebut. Ketika melongok kebawah tampaklah kegelapan mencekam seluruh permukaan, begitu dalam jurang tersebut hingga tidak nampak pada dasarnya, dalam hati diapun lantas berpikir, “Jurang ini dalamnya sukar diukur, meskipun seseorang yang memiliki ilmu meringankan tubuh sangat lihaypun badannya pasti akan hancur lebur apabila terjatuh kebawah, apalagi sepasang muda mudi dusun itu, meski selama hidupnya mereka tak bisa mengikat diri jadi suami istri, tetapi setelah meninggal dunia dihormati dan dipuja orang sebagai dewa, bahkan orang yang datang beziarah tak terhitung jumlahnya. Aaaai….! hitung-hitung kematian mereka berharga juga!”
Sementara si anak muda itu masih termenung, mendadak dari tengah lembah yang gelap itu muncul setitik cahaya hijau yang bergerak kian kemari dari dasar selat tadi, kurang lebih seperminum teh kemudian cahaya tadi baru lenyap dari pandangan.
Seandainya orang yang menemukan cahaya hijau tadi adalah orang biasa, mungkin mereka akan menganggap pandangan matanya jadi kabur ataukah menyangka bahwa mereka sudah bertemu dengan api setan. Tetapi bagi Siauw Ling yang memiliki ketajaman mata melebihi orang lain, ia segera dapat menebak bahwa cahaya tersebut berasal dari seseorang yang berjalan didasar lembah itu sambil membawa lampu lentera.
Pada saat itulah terdengar suara langkah manusia yang amat lirih berkumandang datang dari belakang tubuhnya.
Dalam hati Siauw Ling merasa amat terperanjat, tapi diluaran ia pura-pura tidak merasa, setelah mengempos tenaga murninya dalam-dalam laksana kilat ia putar badan.
Terlihatlah Sang Pat serta Tu Kioe dengan jalan berdampingan mendekati kearahnya.
Sang Pat segera tersenyum dan memuji, “Toako, sungguh tajam pendengaranmu, karena tak berani menganggu ketenanganmu maka sengaja kami memperingan langkah kakinya….”
“Kedatangan kalian sangat kebetulan sekali, dibawah dasar lembah sana aku telah menemukan sesuatu yang amat mencurigakan….”
Sang Pat serta Tu Kioe buru-buru memburu datang, tetapi ketika mereka melongok kebawah yang terlihat hanyalah kegelapan yang mencekam seluruh dasar lembah itu, sedikitpun tidak ditemukan sesuatu tanda yang mencurigakan.
Diam-diam Tu Kioe mengerutkan alisnya dan ia berseru, “Toako, siauwte sama sekali tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan hati, sebenarnya apa yang telah kau temukan?”
“Setitik cahaya hijau yang bergerak lenyap dibawah lembah sana!”
“Cahaya hijau?”
Sementara Siauw Ling hendak menjawab, cahaya hijau yang bergerak didasar lembah tadi kembali muncul dihadapan mata dan perlahan-lahan menggeser menjauh, buru-buru ia berseru, “Saudaraku berdua, cepat lihat!”
Sang Pat dan Tu Kioe segera alihkan sinar matanya, sedikitpun tidak salah, lama sekali baru lenyap tak berbekas.
“Sudah terlihat?” tanya Siauw Ling.
“Sudah!”
“Pengalaman serta pengetahuan kalian berdua jauh lebih luas daripada diri siauwte, tahukah kalian apa sebabnya bila terlihat cahaya hijau semacam itu?”
Sang Pat termenung sejenak, kemudian menjawab, “Selamanya siauwte paling tidak percaya dengan segala macam cerita setan ataupun dedemit, karena itu akupun tidak percaya kalau cahaya hijau didasar lembah tersebut adalah api setan seperti yang dikatakan sementara orang.”
“Suhu siauwte seorang jago kawakan yang berpengetahuan luas, beliau pernah memberi penjelasan kepada siauwte mengenai persoalan api Leng Hwie. Sekalipun begitu tapi kalau kutinjau dari lirik cahaya hijau yang tidak tetap tempatnya dan selalu menggeser itu, aku rasa pastilah bukan api Leng Hwie.”
“Jadi maksud toako, api hijau didasar lembah itu kemungkinan besar adalah perbuatan manusia?”
“Seandainya seseorang berjalan didasar lembah sambil membawa sebuah lampu lentera, bagi kita yang berdiri dipuncak bukit setinggi ratusan tombak ini akan melihat setitik cahaya hijau.”
“Pendapat toako sedikitpun tidak salah!” Sang Pat mengangguk.
“Mungkin saja didasar lembah itu ada manusia yang hidup disitu” sambung Tu Kioe.
“Kunci persoalan tersebut justru terletak disini, seandainya didasar lembah memang ada manusia yang bertempat tinggal maka penemuan itu tidak terhitung suatu hal yang aneh, sebaliknya tempat itu tak pernah dijamah manusia. Karena itu aku duga dibalik persoalan ini pasti ada hal yang tidak beres.”
“Hal-hal yang tidak beres bagaimana maksud toako?”
“Ditebing inilah sepasang muda mudi itu menerjunkan diri kedalam jurang, kalian berdua tentu masih ingat akan cerita dari sipenebang kayu tua itu bukan? pada waktu itu ada berapa banyak orang yang turun kedasar jurang untuk menemukan jenasah kedua orang itu, tetapi bukan saja jenasah mereka tak nampak bahkan sedikitpun tiada tanda-tanda yang menunjukkan mereka pernah jatuh kesitu.”
“Sedikitpun tidak salah, kalau dikatakan tubuh kedua orang itu hancur lebur semestinya tak mungkin kalau tidak meninggalkan tanda-tanda bekas disekitar sana.”
“Mungkinkah sewaktu kedua orang itu terjun kedasar jurang, ditengah tebing mereka telah terjatuh keatas pepohonan rotan yang empuk sehingga tidak sampai mencium dasar bumi?” kata Tu Kioe.
“Menurut pendapat siauwte, kemungkinan ini masih tetap ada, cuma yang siauwte sedang pikirkan adalah persoalan lain.”
“Persoalan apa?”
“Sekalipun ditengah lembah benar-benar ada orang yang tinggal disana, kenapa mereka mengangkat tinggi-tinggi lampu lentera hijaunya? mungkinkah disebabkan karena cahaya lampu berwarna hijau itu bisa menimbulkan pendapat orang lain sebagai api Leng Hwie maka cahaya lampu itu tidak gampang memancing kecurigaan orang.”
“Pendapat toako sangat masuk diakal, kalau memang demikian adanya keadaan tersebut memang merupakan suatu kejadian yang sangat mencurigakan….!”
“Dalam keadaan situasi seperti ini kita lebih penting mencari tahu letak puncak Eng Yang Hong serta selat Boan Coa Kok, kenapa mereka musti putar otak dan payah-payah memikirkan persoalan yang sama sekali tak ada gunanya itu?” pikir Tu Kioe.
Sementara itu terdengar Sang Pat telah berkata kembali, “Menurut pendapat toako, apakah kita hendak menyelidiki latar belakang dari peristiwa didasar lembah itu?”
“Kalau mengikuti pendapat siauwte” sela Tu Kioe. “Rasanya kita tak usah berusaha payah mengerjakan persoalan itu, pada saat ini waktu sangat berharga sekali bagi kita, kita musti cepat-cepat mencari letak dari istana terlarang, lebih baik kita jangan memecahkan perhatian kepersoalan lain.”
“Ucapan dari saudara Tu memang ada benarnya” sahut Siauw Ling. “Tetapi peristiwa tersebut telah kita jumpai, apa salahnya kalau kitapun melakukan penyelidikan….”
“Kalau memang persoalan itu tak ada sangkut pautnya dengan kita, lebih baik tak usah diurusi saja.”
Terhadap diri Siauw Ling selamanya ia menurut dan tak berani membantah perkataannya, tetapi keadaannya pada hari ini jauh berbeda, berulang kali ia telah menunjukkan pendiriannya yang berbeda.
Mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya, teringat betapa inginnya kedua orang itu hendak menuruni dasar lembah untuk melakukan penyelidikan ia sadar bahwa apabila niat mereka ini dihalangi maka kemungkinan besar dikemudian hari ia bakal digerutui.
Berpikir demikian maka diapun segera berkata, “Menurut pendapat siauwte orang yang berada didasar lembah itu ada atau tidak sama sekali tiada sangkut pautnya dengan kita….”
Mendadak ia temukan kembali cahaya hijau tadi muncul lagi didasar lembah, seketika itu juga ia membungkam.
Kali ini cahaya hijau yang muncul dari dasar lembah adalah dua buah sekaligus bahkan muncul dari dua arah yang berbeda.
Siauw Ling segera bergumam seorang diri, “Kejadian ini sungguh aneh sekali….”
“Bagaimana kalau kita cari orang untuk menanyakan persoalan ini?”
“Cari siapa?”
“Kalau ingin mencari orang yang benar-benar hapal dengan pemandangan disekitar sini seharusnya toojien didalam kuil itu, biar kubawa dia datang kemari.”
Habis berkata ia segera putar badan dan berlalu.
Sebenarnya Siauw Ling hendak menghalangi kepergiannya, tetapi gerakan tubuh Sang Pat cepat bagaikan hembusan angin, begitu ucapan terakhir diutarakan keluar bayangan tubuhnya sudah lenyap dibalik kegelapan si anak muda itu membiarkan dirinya pergi.
Menanti ia melongok kembali daerah lembah, tampaklah cahaya hijau didasar lembah tadi telah berhenti bergerak kemudian lenyap dari pandangan.
Siauw Ling segera berbisik kepada Tu Kioe.
“Saudara Tu, coba kau lihat, mirip tidak dengan seseorang sambil membawa lampu lentera hijau sedang berhenti didepan sebuah bangunan rumah dan mengetuk pintu, kemudian berjalan masuk kedalam.”
“Ehmmm, memangnya radaan mirip.”
“Andaikata pada malam ini juga kita bisa melakukan pemeriksaan kedasar lembah, rasanya jauh lebih baik dari pada harus menunda sampai hari esok….!”
Sementara pembicaraan masih berlangsung Sang Pat sambil menyeret tubuh toojien tersebut telah berlari datang.
Mungkin sang toojien itu sudah tertidur nyenyak, sewaktu disorot datang oleh Sang Pat matanya masih sipit-sipit mengantuk.
Sang Pat menyeret orang itu hingga tiba dihadapan Siauw Ling, kemudian berhenti.
Meski ditarik Sang Pat untuk melakukan perjalanan cepat, tapi keadaan toojien itu cukup payah juga, napasnya tersengkal-sengkal dan terpaksa harus bernapas dengan mulut.
Siauw Ling memandang sekejap kearah Toojien itu, lalu tanyanya, “Apakah Heng thay sudah lama berdiam disini?”
“Sejak kuil In Wan Bio ini didirikan, aku sudah berdiam ditempat ini….!”
“Kalau begitu kau pasti sangat hapal segala sesuatu yang berada disekitar tempat ini bukan?”
“Setiap batang kayu dan rumput aku kenal semua dengan hapal.”
“Kalau begitu bagus sekali, aku ingin mohon beberapa petunjuk dari hengthay!”
“Urusan apa?” tanya toojien sambil mengusap-usap matanya.
Perlahan-lahan Siauw Ling berpaling kearah dasar lembah, kemudian tanyanya, “Apakah ada manusia yang tinggal didalam lembah tersebut?”
Toojien itu tertegun, kemudian menjawab, “Sebelum cuwi sekalian datang kekuil In Wan Bio, pernahkah kalian mendengar kisah cerita mengenai kuil jodoh ini?”
“Hmmm! toako kami sedang bertanya apakah didasar lembah ada manusia yang hidup disana, siapa yang kesudian mendengarkan kisah cerita mengenai kuil In Wan Biomu itu!” tukas Tu Kioe ketus.
Mendengar seruan yang dingin, kaku dan ketus dari seorang she Tu ini kontan toojien itu merinding dan menggigil ketakutan, buru-buru menjawab, “Jurang ini dalamnya mencapai beberapa ratus tombak, jangan dikata tubuh yang terdiri dari darah dan daging, sekalipun sebutir batu karang yang keraspun niscaya akan hancur lebur bila dilempar kedalam lembah.”
“Hey, sebetulnya kau punya telinga tidak?” maka Tu Kioe semakin dingin. “Toako kami hanya ingin bertanya apakah didalam lembah ada orang yang hidup disitu?”
“Dasar lembah itu lembah dan sangat basah, banyak binatang beracun yang hidup disitu tentu saja tak seorang manusia yang berani hidup disitu….!”
“Terima kasih atas petunjukmu” Siauw Ling segera menjura. “Bilamana cayhe telah mengganggu tidur heng thay yang lagi nyenyak-nyenyaknya itu mohon dimaafkan sebesar-besarnya.”
Sejak Tu Kioe ikut angkat bicara tadi toojien tersebut sudah merasa sangat ketakutan sehingga bulu kuduknya pada bangun berdiri dan kini mendengar Siauw Ling melepaskan dia kembali, bagaikan memperoleh pengampunan, tidak sempat membalas hormat dari si anak muda itu lagi buru-buru putar badan dan berlalu.
Menanti toojien itu sudah lenyap dari pandangan, Siauw Ling baru berkata lirih terhadap kedua orang saudaranya, “Apakah kalian berdua sudah mendengarnya?”
“Sudah, lalu apa yang toako siap lakukan?”
“Aku ingin melakukan pemeriksaan kedasar lembah itu, mungkin saja kita akan memperoleh penemuan yang ada diluar dugaan.”
“Baik, menanti fajar telah menyingsing nanti kita segera turun kedasar lembah untuk melakukan pemeriksaan.”
“Siauw heng rasa sekarang juga aku hendak turun kebawah.”
“Sekarang juga?”
“Tidak salah, mungkin saja didasar lembah terdapat sesuatu kejadian yang mencurigakan hati atau mungkin juga kilapan cahaya hijau itu adalah api Leng Hwie yang dipancarkan dari tumpukan tengkorak binatang….”
Ia mendongak dan memandang cuaca sejenak, kemudian terusnya, “Kalian sekarang juga kita turun kedasar lembah kemudian sebelum fajar menyingsing naik keatas puncak lagi, maka kitapun tak usah membuang waktu dengan percuma.”
“Toako, bukanlah siauwte ada maksud menghalangi maksudmu, lembah tersebut letaknya amat curam dan terjal, lagipula tak kenal jalanan disini, rasanya tidak leluasa bagi kita untuk bergerak ditengah malam buta….”
“Aku tahu, apakah kalian berdua merasa tak ada jalan lalu untuk turun gunung?”
“Memang demikian adanya.”
“Jangan kuatir” kata Siauw Siauw sambil tersenyum. “Siauwte telah mendapatkan akal yang sangat bagus untuk menuruni lembah ini.”
“Toako ingin turun kebawah dengan gunakan cara apa?”
“Tadi sewaktu Siauw heng mengikuti nona Pek li masuk kedalam rumah penginapan itu, telah kujumpai tumpukkan tali jerami yang amat banyak disitu, asalkan saudara berdua memegangi ujung tali diatas puncak dan menggantung Siauw heng untuk turun, rasanya tidak sulit untuk mencari jalan menuruni lembah tersebut.”
JILID 34
“Aaah, terlalu berbahaya” seru Sang Pat setelah tertegun.
“Siauw heng telah mengambil keputusan bulat, rasanya kalian berdua tak usah menasehati diriku lagi, aku segera akan mengambil tali jerami itu!”
Habis berkata ia segera putar badan berlalu.
Dari air muka Siauw Ling kukuh dan serius, sepasang pedangan dari Tiong chiu mengerti bahwa keputusannya telah bulat dan tak mungkin dirubah kembali, terpaksa ia membungkam dalam seribu bahasa.
Gerakan tubuh Siauw Ling amat cepat, tidak selang beberapa saat kemudian ia telah muncul kembali sambil membawa dua ikat tali jerami yang sangat panjang, setelah meletakkan tali itu ketanah ia menyapu sekejap kearah kedua orang saudaranya, kemudian berkata, “Kalian menurut pendapat siauw heng, panjang tali jerami ini rasanya cukup untuk mencapai kedasar lembah!”
“Toako!” sela Sang Pat. “Dewasa ini kau adalah pemimpin dari kaum patriot didalam dunia persilatan, tidak pantas kalau kau menempuh bahaya bagi suatu masalah yang tidak berguna, bagaimana kalau siauatwe saja yang mewakili diri toako?”
Sambil tertawa Siauw Ling segera menggelengkan kepalanya.
“Saudaraku, kau terlalu gemuk, mungkin tali itu tak kuat menahan berat badanmu.”
“Bagaimana kalau aku saja?” Tu Kioe menawarkan jasa baiknya.
“Tak usah, lebih baik siauwte saja yang menengok sendiri!”
Seraya berkata si anak muda itu segera melepaskan ikat tali jerami tersebut.
Sang Pat melirik sekejap kearah Tu Kioe dan akhirnya ia berkata, “Kalau memang toako telah mengambil keputusan, siauwte tidak akan menghalangi niatmu lebih lanjut.”
Rupanya Siauw Ling sudah amat gelisah setelah mengikat tali jerami tadi keatas pinggang sendiri serunya, “Ditengah lembah yang luas suara manusia akan memantul balik, bila siauw heng membutuhkan bantuan kalian berdua untuk turun kebawah, maka aku akan bersuit tiga kali sebagai tanda.”
Tidak menanti jawaban dari Sang Pat serta Tu Kioe lagi ia segera melayang turun kedasar lembah.
Sang Pat segera memegang ujung tali dan perlahan-lahan mengerek turun kebawah. Disamping itu diapun memeriksa tali tersebut dengan seksama, bila menjumpai bagian yang kurang kuat ia menyambangnya kembali dengan sempurna, tingkah lakunya cermat dan pekerjaannya teliti.
Dalam pada itu sambil mengempos tenaga dan mengenakan sarung tangan kulit ular saktinya Siauw Ling merambat turun kedasar lembah, ia jumpai dinding tebing sangat curam dan sebagian besar dipenuhi oleh lumut, hatinya jadi terkejut bercampur terkesiap, pikirnya, “Dinding tebing ini begitu licin dan curam, meskipun seseorang memiliki ilmu meringankan tubuh yang bagaimana dahsyatpun tak nanti bisa digunakan secara sempurna.”
Belum habis ia berpikir, mendadak kaki kanannya menyentuh segumpal benda yang empuk dan lunak.
Sebagai seorang jago kangouw yang sudah banyak pengalaman, begitu menyentuh sesuatu benda ia segera menyadari bahwa yang disentuh bukanlah dahan atau ranting pohon. Laksana kilat tangannya mencekal tali erat-erat dan meloncat kembali tiga depa ketengah udara.
Sang Pat lebih pengalaman dari siapapun ketika merasakan uluran talinya mendadak mengencang, ia tahu bahwa si anak muda itu pasti telah mengalami perubahan yang tak terduga, uluran talipun segera dihentikan.
Setelah tubuhnya melayang kembali beberapa depa ketengah udara, Siauw Ling baru sempat melongok kebawah, ia saksikan seseorang sedang duduk bersila diatas sebuah batu tonjolan yang amat besar.
Penemuan diluar dugaan ini sangat menggetarkan hati Siauw Ling, setelah tertegun beberapa saat lamanya ia segera menegur, “Siapakah kau?”
Siapa tahu kendati pertanyaan itu telah diulangi beberapa kali, sedikitpun tidak mendengar suara sahutan.
Siauw Ling merasa semakin tercengang pikirnya, “Jangan-jangan orang sudah mati? tapi kalau ditinjau dari sikapnya yang sedang duduk bersila, tidak mungkin dia sudah mati.”
Karena curiga maka diapun segera menegur, “Sebetulnya kau adalah manusia hidup atau sudah mati?”
Ucapan ini ternyata manjur sekali, orang yang sedang duduk bersila itu dengan cepat menunjukkan reaksinya. Dengan nada penuh kegusaran teriaknya, “Kalau loohu sudah modar, tidak nanti aku masih duduk bersila ditempat ini.”
“Kalau kau orang hidup kenapa tak mau menyahut sekalipun aku sudah bertanya beberapa kali?” pikir Siauw Ling didalam hati. “Dasar manusia ini memang radaan konyol….”
Iapun lantas bertanya, “Mau apa saudara berada disini?”
Setelah mengutarakan sepatah kata tadi ternyata orang itu tidak berbicara lagi.
Siauw Ling segera mengerutkan dahinya, ia berpikir, “Orang ini lari ketempat yang tidak dekat langit jauh dari bumi duduk bersila diatas batu tonjolan, andaikata tidak memiliki ilmu yang lihay sulit untuk melakukannya, apalagi keberanian orang ini sudah cukup untuk dikagumi….”
Ia mendehem dan berkata lagi, “Cayhe ingin meminjam batu tonjolan dimana kau sedang bersila itu untuk beristirahat sejenak, apakah heng thay suka menginjinkan?”
“Batu ini bukan milik pribadiku, mau istirahat atau tidak itu urusan pribadimu, apa sangkut pautnya dengan diriku?”
“Enak amat jawaban orang ini….” pikir Siauw Ling didalam hati, sambil diam-diam mengerahkan tenaga untuk menjaga diri dari serangan bokongan, perlahan-lahan ia merogot turun kebawah.
Luas tonjolan batu cadas itu cuma empat depa dan berdiri diantara tebing-tebing yang curam, orang itu duduk bersila ditengah dan menduduki hampir dua depa luasnya, disebelah sisi kiri dan kanan masing-masing tinggal tanah luang seluas satu depa, seandainya ia melancarkan serangan secara tiba-tiba jelas sukar dihadapi karena itu dengan sangat hati-hati si anak muda itu melayang turun kebawah, setelah kakinya berdiri mantap diatas batu karang barulah ia melepaskan cekalannya pada sang tali.
Setelah berhasil berdiri tegak si anak muda itu baru sempat memperhatikan orang tadi, dia lihat orang itu pejamkan matanya rapat-rapat, dadanya naik turun dan napasnya tersengkal-sengkal rupanya ia sedang menyembuhkan luka dalam yang sedang diderita, pemuda kita jadi keheranan pikirnya, “Kenapa orang ini bisa lari kemari hanya untuk menyembuhkan luka dalamnya saja?”
Ia segera berkata, “Sahabat, apakah kau sedang mengerahkan tenaga dalam untuk menyembuhkan lukamu?”
Dalam pada itu bintang bertaburan diangkasa, raut wajah orang itu dapat terlihat dengan amat jelas.
Tampaklah orang itu punya wajah yang lebar, telinga yang besar, jenggot panjang dibawah janggut dan memakai ikat kepala berwarna hijau, keadaannya nampak gagah sekali.
Rupanya ia sedang berada disaat yang paling kritis, sejak Siauw Ling melayang turun keatas batu cadas orang itu sama sekali tak pernah membuka matanya untuk memandang kearahnya.
Mendadak sekujur tubuh lelaki kekar itu mulai gemetar keras keringat dingin mengucur keluar tiada hentinya membasahi seluruh tubuhnya.
Menyaksikan keadaan itu, Siauw Ling sadar bahwa orang itu sedang berada dalam keadaan kritis, hawa murni didalam tubuhnya gagal untuk menembusi urat penting yang terluka itu. Maka ia segera tempelkan tangan kanannya keatas tubuh orang itu sambil ujarnya, “Cayhe tidak tahu kalau heng thay sedang merawat lukamu ditempat ini, dan sekarang terbukti bahwa karena gangguanku membuat kau jadi gagal untuk menembusi nadi penting, karena itu sudah sewajarnya kalau kubantu dirimu sebagai tanda minta maaf dari diri cayhe.”
Telapak tangannya segera ditempelkan keatas dada lelaki tadi dan hawa murnipun disalurkan keluar.
Sebagai seorang jago dengan tenaga kweekangnya yang amat sempurna, begitu hawa murninya menerjang isi perut orang tadi, nadi penting yang tersumbat didalam tubuhnya pun segera berhasil ditembusi.
Tampaklah sekujur tubuh sang lelaki yang gemetar keras tadi kian lama kian berkurang dan keringatpun semakin menipis.
Siauw Ling tahu bahwa jalan darahnya yang terluka telah tembus dan saat yang kritispun telah dilampaui, perlahan-lahan ia tarik kembali tangan kanannya.
“Saudara, terima kasih atas bantuanmu.”
“Tak usah” tampik Siauw Ling sambil tersenyum. “Andaikata cayhe tidak datang menganggu mungkin sedari tadi heng thay telah berhasil menyembuhkan lukamu dan tak usah menerima bantuan dari cayhe lagi.”
Walaupun belum lama ia menerjunkan diri kedalam dunia persilatan, tetapi pengetahuannya amat luas, ia tahu banyak orang Bulim yang ingin menang sendiri. Oleh karena itu bukan saja ia menampik pujian orang bahkan malah menghibur ornag itu dengan kata-kata merendah.
Dengan mata melotot bulat lelaki itu memperhatikan pemuda kita dari atas hingga kebawah, kemudian ujarnya, “Mau apa kau datang kemari?”
“Eeeei…. sebelum aku bertanya ia malah mengajukan pertanyaan lebih dahulu” pikir Siauw Ling.
Terpaksa ia menjawab, “Oooh, cayhe? karena menemukan sesuatu yang mencurigakan didasar lembah dan timbul perasaan ingin tahuku, maka aku hendak pergi kedasar lembah sana untuk melakukan penyelidikan.”
“Kawan, aku turun kebawah dengan tali berarti diatas puncak masih ada rekan-rekanmu yang menunggu?” kata lelaki itu lagi setelah melirik sekejap kearah tali yang bergelantungan dari atas.
“Tidak salah, dan saudara apa juga seorang diri?”
“Dua orang, cuma sekarang tinggal aku seorang diri.”
“Lalu dimanakah sahabatmu itu?”
“Sudah mati!”
“Lali jenasahnya?”
“Terbuang didasar lembah, seandainya mereka tahu kalau aku masih hidup niscaya cayhe tidak akan dibiarkan lolos dari sini.”
“Kalau ditinjau dari keadaan jelas didasar lembah benar-benar tersembunyi jago Bulim yang sangat lihay” pikir Siauw Ling didalam hati kecilnya. “Aku harus mencari akal untuk mengorek keterangan dari mulut orang ini, rupanya tidak sedikit yang dia ketahui.”
Ia lantas bertanya, “Heng thay, kau she apa?”
“Cayhe Toan Boen Seng!” jawab silelaki itu setelah termenung sebentar.
Siauw Ling menjura. “Ooooh…. kiranya Toan heng!”
“Tolong tanya siapa saudara?” tanya lelaki itu sambil membalas hormat.
“Cayhe Siauw Ling!”
“Apa? kau adalah Siauw thayhiap yang nama besarnya telah menggetarkan seluruh dunia persilatan?”
“Tidak berani, cayhe Siauw Ling!”
“Siauw thayhiap, kedudukanmu terhormat dan agung, tapi sekarang ternyata kau sudi merendahkan diri untuk mengunjungi gunung yang terpencil, mungkinkah kaupun sedang mencari letak istana terlarang?”
Ucapan ini segera menggerakkan hati Siauw Ling.
“Sedikitpun tidak salah” segera sahutnya. “Darimana Toan heng bisa mengetahui maksud tujuanku?”
“Sejak Siauw thayhiap bertarung sengit didalam perkampungan Pek Hoa San cung, menghancurkan barisan Ngo Liong Tin, melawan Shen Bok Hong, seluruh umat Bulim telah ikut bangkit untuk menentang kelaliman, setiap orang memuji kehebatanmu menghormati kegagahanmu, dan situasipun mengalami perubahan amat besar, seandainya kau bukan lagi mencari letak istana terlarang, mana mungkin Siauw thayhiap menyingkirkan masalah besar itu tanpa diurusi.”
“Ucapannya memang tidak salah” pikir pemuda kita. “Tetapi begitu buka mulut kau telah menebak bahwa aku sedang mencari letak istana terlarang bahkan ucapannya begitu yakin, sedikitpun tiada tanda-tanda sedang menyelidiki…. jelas ada sesuatu yang tidak beres dibalik kejadian ini…. aku harus mengorek keterangan dari mulutnya.”
Suatu ingatan cerdik berkelebat dalam benaknya, ia segera tersenyum dan menegur, “Toan heng, bagus sekali! ternyata kau berhasil datang kemari satu langkah lebih cepat dari siauwte.”
“Tidak, ada orang yang jauh lebih cepat beberapa hari dari kita!” sahut Toan Boen Seng seraya gelengkan kepalanya.
Mendengar jawaban itu Siauw Ling merasa amat terperanjat.
“Apa?” serunya tertahan.
“Ada orang yang tiba disini beberapa hari lebih pagi dari kita.”
“Jangan-jangan letak puncak Eng Yang Hong setelah Boan Coa Kok berada disekitar tempat ini” si anak muda itu segera berpikir. “Apakah In Wan Hong adalah persamaan arti dari pada Eng Yang Hong?”
Berpikir demikian ia lantas berkata, “Menurut apa yang cayhe ketahui anak kunci istana terlarang belum pernah munculkan diri didalam dunia persilatan, dari mana orang bisa tahu kalau istana terlarang terletak disini?”
“Dan Siauw thayhiap sendiri bagaimana bisa tahu pula istana terlarang berada disini?” Toan Boen Seng balik bertanya sambil tertawa.
“Sungguh tajam lidah orang ini dan sungguh cerdas pikirannya….” batin Siauw Ling, setelah termangu sejenak ia menyahut, “Cayhe mendapat petunjuk dari seorang kenamaan untuk berangkat kemari….!”
“Nah itulah dia orang itu bisa memberi petunjuk kepada Siauw thayhiap untuk datang kemari mencari istana terlarang, tentu saja diapun bisa memberi petunjuk pula kepada orang lain untuk datang kemari, siauwte pun merupakan salah seorang yang datang kemari karena memperoleh petunjuk orang pandai.”
“Bagus!” batin si anak muda itu lagi. “Aku hanya mengarang satu alasan sekenanya belaka, sungguh tak disangka benar-benar ada kejadian nyata seprti ini.”
Ia mendehem ringan dan berkata, “Toan heng, apakah kau dapat memberitahukan kepada siauwte, atas petunjuk dari siapakah kau bisa datang kemari?”
“Kalau orang lain yang bertanya cayhe tak akan menjawab, tetapi Siauw thayhiap yang mengajukan pertanyaan ini, mau tak mau cayhe harus mengatakannya juga.”
Ia mendongak memandang keangkasa dan termenung sejenak, lalu sambungnya, “Cayhe dan seorang saudara angkatku pada tiga hari berselang disebuah selokan gunung kurang lebih sepuluh li dari sini telah menolong seorang yang menderita luka parah, pada saat itu orang tadi sudah sekarat dan tinggal menanti ajalnya tiba. Cayhe serta saudaraku itu gagal menyelamatkan jiwanya kendati kami usahakan untuk menolong dengan menggunakan pelbagai obat mujarab disaat pikirannya jernih itulah….”
“Orang itu memberitahukan kepada kalian bahwa istana terlarang terletak disini?”
“Tidak salah, setelah mengucapkan kata-kata itu diapun menghembuskan napasnya yang terakhir….”
“Apa yang dia katakan?”
Mendadak dengan sepasang mata melotot bulat Toan Boen Seng menatap wajah Siauw Ling tajam-tajam, kemudian serunya, “Sebenarnya kau adalah Siauw thayhiap atau bukan?”
“Seorang lelaki sejati tidak akan meminjam nama orang lain, cayhe betul-betul adalah Siauw Ling!”
“Kalau kau betul-betul adalah Siauw Ling tentu saja cayhe akan mengatakannya terus terang orang itu bilang bahwa istana terlarang terletak dibawah puncak In Wan Hong.”
“Apa yang dikatakan orang itu lagi?”
“Selesai mengucapkan kata-kata tersebut, orang itu menghembuskan napasnya yang penghabisan.”
Siauw Ling termenung sejenak, lalu katanya lagi, “Apakah kalian berdua sudah mendengar dengan jelas? haruslah diketahui terpaut kata-kata sedikit saja bisa mengakibatkan salah tempat yang mungkin terpisah ribuan li, misalnya saja orang itu mengatakan puncak Eng Yang Hong, suara sama tapi tulisan berbeda.”
“Tak bakal salah” Toan Boen Seng gelengkan kepalanya berulang kali. “Cayhe dan Gie te ku telah mendengar dengan amat jelasnya, waktu itu kami masih rada kurang percaya, setelah kami mengubur jenasah orang itu mendadak terpikir oleh kami, apa salahnya kalau datang kebawah puncak In Wan Hong untuk melakukan penyelidikan.”
“Darimana kau bisa tahu kalau letaknya berada ditengah lembah bukit ini….?”
“Setibanya diatas puncak In Wan Hong, kami melakukan pemeriksaan yang seksama disekitar tempat ini, namun sedikitpun tidak berhasil menemukan hal-hal yang mencurigakan hati, hingga tengah malam tiba mendadak kami temukan kerlipan cahaya hijau muncul dari dasar lembah, seandainya tiada ucapan orang itu cayhe berdua tidak nanti akan menaruh curiga sampai kesitu, tapi setelah mendengar ucapan orang tadi, dan didalam hatipun sudah ada persiapan maka setelah menjumpai kerlipan cahaya hijau tersebut, rasa curiga dalam hati kamipun segera timbul. Menunggu setelah fajar menyingsing kami segera mencari jalan untuk turun kedasar lembah.”
“Setibanya didasar lembah apakah kalian berdua segera terbokong oleh tangan-tangan keji?”
“Tidak, lembah curam itu panjangnya mencapai puluhan li sedang untuk menuruni lembah itupun harus melalui perjalanan sejauh puluhan li pula. Kami harus menghamburkan waktu selama hampir satu hari untuk menuruni lembah ini, ketika mengikuti jalan gunung dan tiba didasar puncak In Wan Hong. Senja telah menjelang tiba, suasana dalam lembah gelap gulita dan susah untuk melihat jelas pemandangan didalam lembah tersebut.”
“Jadi kejadian itu berlangsung malam ini.”
“Betul pada malam ini juga.”
“Setengah hari sudah aku bercakap-cakap dengan orang ini namun pokok pembicaraan belum juga disinggung” pikir Siauw Ling dalam hati. “Dewasa ini waktu sangat berharga bagaikan emas, aku tak boleh terlalu banyak membicarakan persoalan yang tak berguna….”
Berpikir demikian ia lantas bertanya, “Secara bagaimana saudara yang datang bersama Toa heng itu menemui ajalnya.”
“Mungkin dia menemui ajalnya diujung senjata rahasia yang sangat beracun. Aku hanya mendengar jeritan ngerinya yang menyayatkan hati, ketika aku memburu disana ia telah menemui ajalnya.”
“Apakah Toa heng berhasil menjumpai raut wajah pihak musuh?”
“Waktu itu suasana didalam lembah gelap gulita. Pemandangan didepan sangat kabur dan tidak jelas, tatkala siauwte sedang memperhatikan jenasah saudara angkatku itu. Mendadak punggungku termakan oleh sebuah pukulan yang amat dahsyat. Untung cayhe melatih ilmu Teng cu Koen Goan Khiekang lagipula berada dalam keadaan siap siaga maka dari itu meskipun terkena hantaman dahsyat aku masih sanggup mempertahankan diri, sambil meloncat untuk menyingkir kesamping aku menoleh kebelakang tapi tidak nampak bayangan musuh berada disitu.”
“Mungkin mereka menyembunyikan diri ditempat kegelapan?”
“Mungkin saja begitu! tetapi hantaman itu cukup mantap dan berat. Cayhe sadar bahwa aku tidak memiliki kemampuan untuk bertarung lagi, setelah kujumpai pihak lawan tak berani unjukkan diri maka kesempatan baik itu segera kugunakan untuk melarikan diri.”
Siauw Ling melongok kebawah, dia lihat dibawah batu tonjolan itu merupakan tebing curam yang sangat terjal, sekalipun seorang jago lihay yang memiliki ilmu meringankan tubuh paling lihaypun tak mungkin bisa mencapai tonjolan batu itu apalagi Toan Boen Seng yang sedang menderita luka parah.
Rupanya Toan Boen Seng berhasil menebak keraguan hati si anak muda itu, tidak menanti ia ajukan pertanyaan dia sudah mendahului, “Kalau manusia belum ditakdirkan mati, dalam keadaan apapun ia akan temui jalan hidup, disaat cayhe buru-buru melarikan diri itulah terpaksa dengan menempuh mara bahaya aku mendaki keatas puncak bukit itu.”
“Waktu itu aku mengempos segenap kekuatan yang kumiliki untuk melompat naik keatas dan ternyata berhasil kulampaui ketinggian empat lima tombak. Kendati begitu segenap kekuatan tubuhku telah habis lagi pula puncak tebing kian lama kian meninggi dan curam. Jangan dikata cayhe, sekalipun seseorang yang memiliki ilmu meringankan tubuh sepuluh kali lipat lebih lihay dari akupun tak nanti bisa mencapai atas puncak. Untung dimana cayhe berada waktu itu adalah suatu tempat dengan rerumputan yang tumbuh sangat lebat, terpaksa untuk sementara waktu aku bersembunyi dibalik rerumputan, baru saja cayhe sembunyikan badan dua rentetan sorot cahaya lampu yang tajam menerangi sekeliling tebing curam itu. Kurang lebih seperminum teh kemudian cahaya lampu tadi baru lenyap tak berbekas.”
“Secara bagaimana Toan heng bisa tiba diatas tebing ini?”
“Dimana cayhe berada waktu itu hanya bisa digunakan untuk menghindar sementara waktu mara bahaya setiap saat masih mungkin mengancam datang, disaat yang serba bingung itulah mendadak tanganku secara tidak sengaja menyentuh sebuah gelang besi yang besar, diatas gedung pintu sebenarnya masih ada sebuah gembokan besi, mungkin karena bagaimana tahu gembokan tadi sudah terlepas. Disini dinding batu ternyata merupakan sebuah pintu besar yang terbuat dari batu karang.”
“Apakah pintu batu itu merupakan bangunan hasil karya manusia?”
“Tentu saja! Kalau buatan alam diatas dinding batu tak akan dipasang gelang besi.”
“Apa yang kau jumpai dibalik pintu batu itu?”
“Sebuah anak tangga terbuat dari batu cadas yang langsung menghubungkan tebing tersebut dengan tempat ini. Setelah cayhe tiba disini aku tak sanggup untuk mendaki lebih jauh maka apa boleh buat terpaksa aku harus duduk semedhi disini lebih-lebih dahulu untuk menyembuhkan luka dalamku.”
“Apakah dibelakang tebing batu ini juga merupakan sebuah pintu hidup?”
Toan Boen Seng mengangguk.
“Asal Siauw thayhiap mendorongnya kearah belakang pintu batu itu segera akan bergeser kedalam.”
“Bagaimana keadaan luka sekarang?”
“Setelah mengatur pernapasan beberapa waktu, kendati belum sembuh seratus persen rasanya tidak akan berubah jadi buruk!”
“Kalau begitu silahkan Toan heng dengan meminjam tali ini mendaki keatas puncak bila bertemu dengan kedua orang saudaraku diatas puncak nanti ceritakanlah terus terang kepada mereka apa yang kau telah alami.”
“Bagaimana dengan Siauw thayhiap sendiri? apakah kau masih menggunakan tali ini lagi?”
“Tidak!” sahut Siauw Ling. Ia segera ikatkan tali jerami itu keatas pinggang Toan Boen Seng. Pesannya: “Setelah bertemu dengan kedua orang saudaraku diatas puncak nanti, janganlah kau membohongi mereka!”
Si anak muda itu segera menggerakkan tali jerami tai, dan tali itupun perlahan-lahan ditarik keatas.
Toan Boen Seng sendiri setelah pinggangnya diikat dengan tali, ia gunakan tangannya untuk bantu mendaki, sedikit demi sedikit badannya tertarik naik keatas puncak.
Dalam pada itu Siauw Ling sendiri setelah melihat Toan Boen Seng meninggalkan permukaan batu tonjolan tadi segera mendorong dinding tebing dibelakangnya.
Sedikitpun tidak salah, dibelakang dinding tebing itu merupakan sebuah pintu besar, begitu didorong pintu tadi segera terbuka.
Sesudah melakukan perjalanan selama beberapa waktu dalam dunia kangouw, pengalaman Siauw Ling telah memperoleh kemajuan pesat. Setelah mendorong dinding batu tadi ia tidak langsung masuk kedalam sebaliknya dengan seksama diperiksanya sekeliling pintu batu itu.
Ketajaman matanya luar biasa, walaupun berada ditengah kegelapan tapi setiap benda yang ada disekitar sana dapat terlihat dengan jelasnya.
Gua itu merupakan sebuah gua alam yang mendapat perbaikan dengan tenaga manusia, pintu batu yang ada didepan sangat tebal lagi kuat, diatas gelang besi masih nampak bekas gembokan yang sudah karatan dan patah seandainya bukan dimakan tahun sehingga hancur mungkin pintu batu sebesar ini sulit untuk dibuka.
Satu ingatan cerdik dengan cepat berkelebat didalam benaknya, pelbagai kecurigaan berkecamuk dalam hatinya, ia berpikir, “Walaupun gua ini merupakan sebuah gua alam, tapi jelas telah mendapat perbaikan yang amat besar dari tenaga manusia, kenapa orang itu harus mengerahkan kekuatan yang demikian besar, kekayaan yang begitu banyak untuk membangun sebuah terowongan batu yang besar dan kuat ditengah lembah bukit yang terpencil dan gersang….? jelas ia mempunyai maksud-maksud tertentu atau mungkin tempat ini benar-benar ada sangkut pautnya dengan istana terlarang….”
Sambil berpikir ia menuruni anak tangga dan berjalan kedalam lorong, ia rasakan bangunan terowongan itu amat lebar dan besar untuk dilalui sangat lega dan leluasa, jelas pembangunan ini dilakukan secara besar-besaran.
Mendadak undak-undakan batu itu membelok kebawah dan kemudian berubah jadi jalan datar.
Siauw Ling tahu bahwa ia telah tiba dimulut keluar terowongan itu, tangannya segera mendorong kearah didinding. Sedikitpun tidak salah selapis dinding batu segera terbentang lebar, kerlipan cahaya bintang tampak berkilauan diangkasa.
Dari keterangan Toan Boen Seng yang jelas pemuda ini telah mengetahui keadaan disekitar sana, dia tahu diluar pintu batu merupakan semak belukar yang lebar, maka setelah membuka pintu batu ia segera meloncat kearah depan.
Tinggi rerumputan diluar pintu goa sebatas pinggang, berada disekeliling bukit serta tebing yang terjal. Rerumputan disana terasa nyaman dan ideal untuk bersembunyi.
Dalam hati Siauw Ling memuji tiada hentinya, ia berpikir, “Orang itu pandai sekali memiliki tempat yang amat strategis letaknya, setelah membuka pintu batu diluaran ditanami rerumputan yang dapat menutupi incaran orang, setiap tempat kebesaran alam dimanfaatkan sebaik-baiknya, ia betul-betul seorang arsitek yang lihay.”
Setelah menutup kembali pintu batu itu, ia sembunyikan diri kedalam rerumputan dan melongok kebawah.
Waktu itu fajar hampir menyingsing, dengan ketajaman mata Siauw Ling secara lapat-lapat ia dapat menyaksikan pemandangan didasar lembah.
Lama sekali si anak muda itu memperhatikan keadaan disekeliling sana, ketika dilihatnya tiada gerakan apapun dan siap meloncat turun kebawah lembah, mendadak terdengar suara manusia berkumandang datang, “Kita tak usah menunggu lagi, aku rasa ia tak akan berhasil mendaki naik keatas puncak tebing ini, mungkin saja pada saat ini jiwanya sudah melayang.”
“Perkataanmu sedikitpun tidak salah” suara yang lain menyahut. “Kita sudah melepaskan banyak sekali senjata rahasia kearah rerumputan tersebut, andaikata orang itu bersembunyi dibalik semak belukar, semestinya ia sudah terluka oleh serangan senjata rahasia beracun itu.”
“Yang dimaksudkan kedua orang itu pastilah Toan Boen Seng” pikir Siauw Ling didalam hati. “Andaikata secara gegabah aku masuki lembah tersebut, niscaya jejakku akan diketahui oleh mereka berdua. Sungguh aneh…. kenapa didalam lembah ini bisa terdapat begitu banyak jago Bulim yang berdiam disini?”
Terdengar suara langkah manusia berkumandang datang dan makin lama semakin menjauh, jelas kedua orang itu tidak sabar menunggu lebih jauh dan segera berlalu.
Siauw Ling menanti beberapa saat lagi disana kemudian baru kerahkan ilmu cecaknya untuk merayap turun kebawah lewat dinding tebing yang curam.
Jarak antara semak belukar dengan dinding tebing hanya terpaut empat lima tombak jauhnya. Dalam waktu singkat ia sudah tiba didasar lembah tersebut.
Setelah mengetahui bahwa didasar lembah terdapat banyak sekali jago-jago Bulim, gerak gerik Siauw Ling tentu saja jauh lebih berhati-hati. Melewati daerah terjal yang penuh dengan tonjolan batu-batu aneh kendati sangat tidak leluasa tapi untuk menyembunyikan diri merupakan daerah yang sangat bagus.
Sepanjang perjalanan si anak muda itu bergerak dengan sangat hati-hati, matanya memperhatikan empat penjuru sedang telinga dipasang baik-baik memeriksa delapan arah, kurang lebih puluhan tombak telah dilalui tetapi tiada sesosok bayangan manusiapun yang ditemukan olehnya. Cahaya lampu berwana hijau yang kelihatan dari atas puncakpun sekarang tak pernah muncul kembali, seolah-olah orang-orang itu secara mendadak lenyap tak berbekas.
Berjalan seorang diri ditengah lembah yang gersang, si anak muda itu merasakan suatu perasaan yang aneh dan menyendiri.
Puluhan tombak kembali sudah dilewati tetapi jejak musuh belum juga ditemukan, mendadak dari tempat kejauhan terdengar aliran air bergema datang.
Ternyata ia telah berjalan mendekati selokan yang lebar.
Luas selokan itu mencapai beberapa depa dan menempel dibawah dinding tebing, sebuah sumber mata air muncul dari tengah dinding dan memuntahkan airnya kearah selokan. Yang lebih aneh lagi walaupun air itu memancar sangat deras tetapi kecil dan tipis seakan-akan hasil karya dari seseorang.
Siauw Ling memperhatikan sekejap kearah sumber mata air itu, kemudian pikirnya didalam hati, “Kalau ditinjau dari kekuatan memancar sumber mata air itu, semestinya mempunyai kekuatan bagaikan deruan air terjun yang maha dahsyat, kenapa air yang menyembur keluar tipis dan lembut? apakah gelora air yang amat dahsyat itu telah terbendung oleh kekuatan alam yang lain sehingga air yang terpancur amat lembut….”
Sementara itu masih membatin, tiba-tiba terdengar pembicaraan manusia berkumandang datang, “Setiap tempat didasar lembah ini merupakan tempat yang indah cuma sayang mata air yang memancur keluar terlalu sedikit, sehingga setiap kali membutuhkan air kita musti cari keselokan ini.”
Laksana kilat Siauw Ling berkelebat kesamping dan menyembunyikan diri kebelakang sebuah batu besar, dari situ ia mengintip keluar.
Tampaklah dua orang lelaki berpakaian ringkas secara beriring munculkan diri ditempat itu.
Orang yang berjalan dipaling depan terdengar sedang berkata, “Menurut apa yang siauwte dengar, katanya didalam lembah ini sebetulnya terdapat aliran air yang sangat besar, tetapi oleh seorang arsitek kenamaan aliran air yang amat deras itu berhasil dipaksa masuk kedalam lambung bukit dan tidak membiarkannya mengalir keluar, sebaliknya ditempat lain sengaja ia membuka sebuah sumber mata air baru….”
“Sungguhkah ceritamu?” seru orang yang ada dibelakang.
“Benar atau tidak cayhe tidak berani memastikan, tetapi kalau ditinjau dari daya kekuatan memancar dari sumber mata air itu, cerita tersebut memang boleh dipercaya.”
Sementara bercakap-cakap kedua orang itu sudah tiba ditepi selokan tersebut.
Ditangan masing-masing orang membawa sebuah gentong kayu. Setelah mengambil air mereka balik kembali ketempat semula.
Siauw Ling yang bersembunyi dibelakang batu besar dapat mengikuti gerak gerik orang itu dengan jelas, dalam hati pikirnya, “Rupanya didalam lembah ini berdiam jago Bulim dalam jumlah besar, tetapi yang aneh ternyata aku tidak tahu mereka berdiam dimana, seandainya sekarang juga kutangkap kedua orang itu, usaha ini tidak akan mengalami kesulitan besar…. tapi kalau diingat ditengah malam buta mereka datang untuk mengambil air, jelas air itu sangat dibutuhkan. Bila kedua orang itu lama tidak kembali pihak lawan pasti akan menaruh curiga….”
Sementara otaknya masih berputar, kedua orang lelaki berbaju hitam tadi telah pergi menjauh.
Dengan ketajaman mata Siauw Ling berharap bisa memperhatikan jalan pergi kedua orang itu, tetapi malam sangat gelap setelah kedua orang itu berada kurang lebih empat tombak jauhnya, bayangan tubuh mereka sudah kelihatan samar sekali.
Meski belum lama ia terjun kedunia kangouw, pengalamannya menghadapi saat-saat geting sudah amat luas, karena itu menghadapi setiap peristiwa ia dapat bersikap tenang dan sabar.
Setelah berpikir keras beberapa saat lamanya, pemuda itu akhirnya mengambil keputusan untuk duduk bersemedhi lebih dahulu. Menanti fajar telah menyingsing nanti ia baru mengambil keputusan untuk melakukan pemeriksaan disekeliling lembah.
Fajar telah menyingsing cahaya sang surya yang berwarna keemas-emasan mengusir kegelapan yang mencekam seluruh jagad, sinar yang terang merangkak naik lewat tebing yang tinggi dan menyorot permukaan air selokan.
Seberkas cahaya memancar diatas sumber mata air membiaskan cahaya hijau yang tajam diatas permukaan air itu.
Perlahan-lahan Siauw Ling bangkit berdiri sinar matanya berputar memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu. Terasalah suasana sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun. Sesosok bayangan manusiapun tidak nampak muncul disana.
Mendadak…. sinar matanya yang sedang dialihkan kearah permukaan air selokan telah menemukan sesuatu…. pantulan cahaya diatas permukaan air telah membiaskan suatu pemandangan yang aneh. Pemandangan seekor burung elang sedang mementangkan sayapnya hendak menubruk ular aneh yang melingkar dibawah.
Gelombang air yang menggoncangkan permukaan menciptakan pemandangan fatamogana yang melukiskan seolah-olah ular yang melingkar dibawah sedang bergerak-gerak sedangkan burung elang diatasnya seperti lagi menggerakkan sayapnya.
Penemuan yang tak terduga ini menggirangkan hati Siauw Ling. Suatu perasaan tegang yang aneh menyelimuti seluruh benaknya, membuat dia tanpa sadar bergumam seorang diri, “Puncak Eng Yang Hong selat Boan Coa Kok, kiranya merupakan pembiasan yang muncul diatas permukaan air!”
Ia sudah melupakan akan posisi yang berbahaya. Ia lupa kalau mara bahaya sedang mengancam disekelilingnya, dengan langkah cepat ia lari kearah selokan tersebut.
Ketika ia tundukkan kepala dan memandang kearah permukaan air itu, dua gumpal bayangan hitam saja yang tertampak olehnya, lukisan elang terbang dan ular melingkar secara mendadak lenyap tak berbekas.
Ia mendongak keatas, tampaklah cahaya sang surya menampak dari kejauhan. Diatas sebuah puncak tebing secara lapat-lapat nampak munculnya dua buah tonjolan batu yang satu besar dan yang lainnya kecil.
“Apa yang sebenarnya terjadi….??” pikir Siauw Ling dengan perasaan tercengang. “Terang-terangan aku melihat munculnya lukisan burung elang dan ular melingkar diatas permukaan air, kenapa secara tiba-tiba bisa lenyap tak berbekas?”
Sementara dia hendak mengundurkan diri kebelakang batu besar agar dari situ bisa diperhatikan lebih cermat lagi, tiba-tiba bahu belakangnya terasa amat sakit seolah-olah tertusuk oleh sebatang jarum.
Pengalaman memberitahukan kepadanya bahwa ia sudah terbokong ditangan orang. Bahwa senjata tersebut merupakan senjata rahasia yang sangat beracun.
Diam-diam hawa murninya segera disalurkan untuk menutup jalan darah diatas bahu kirinya, kemudian tegurnya, “Siapa kau? kenapa kau bokong diri cayhe?”
Bila dibicarakan dari kepandaian silat yang dimiliki Siauw Ling saat ini, sekalipun sebatang senjata rahasia yang amat lembut dan kecilpun tidak nanti akan berhasil melukai dirinya, tetapi justru disebabkan seluruh perhatian serta konsentrasinya telah terhisap oleh penemuannya yang secara tak tersangka itu, mengakibatkan ketajaman pendengarannya sama sekali terseumbat.
Terdengar serentetan suara sahutan yang ketus dan dingin berkumandang datang, “Siapa kau? kenapa kau datangi lembah kematian ini seorang diri?”
Berdasarkan arah datangnya suara itu Siauw Ling berhasil mengetahui letak persembunyian orang itu, mendadak ia putar badan.
Terlihatlah seorang kakek kurus pendek yang berjenggot putih dengan sikap angker berdiri kurang lebih satu tombak dihadapannya.
Tidak menanti sampai Siauw Ling buka suara, kakek itu berkata kembali dengan nada dingin, “Kau sudah terkena jarum penembus tulang Coe Boe Tauw Kut Ciam ku yang lihay, diujung jarum telah kupolesi racun keji yang amat dahsyat. Bilamana kau berani bergerak sekehendak hatimu, itu berarti hanya akan mempercepat bekerjanya daya racun dalam tubuhmu atau dengan perkataan lain, jiwamu akan semakin cepat meninggalkan raganya.”
Dengan sorot mata yang tajam Siauw Ling memperhatikan sikakek tua itu dengan seksama, ia merasa belum pernah kenal dengan orang ini, maka segera ujarnya, “Jarum beracun milik saudara belum tentu benar-benar mencabut selembar jiwa cayhe….!”
Kakek kurus pendek beramput putih itu tertawa dingin, “Jarum beracun milik loohu itu sudah kurendam dengan tujuh macam jenis racun yang paling dahsyat, sekalipun seorang yang memiliki ilmu silat sangat lihaypun tidak nanti bila memusnahkan racun tersebut kecuali loohu sendiri. Lagipula setelah terkena jarum tersebut dalam tempo satu jam pil penawar tadi harus dimakan, kalau sudah lewat satu jam, kendati loohu suka menghadiahkan obat mujarab itupun juga percuma saja sebab daya kekuatan obat penawar itu tidak akan berhasil memusnahkan racun tersebut. Kendati nama jarum tersebut milik loohu kusebut Coe Boe Tauw Kut Ciam atau siang tak akan sampai sore dan cuma bertahan dua belas jam belaka, tetapi didalam kenyataannya mati hidup hanya tergantung didalam satu jam pertama.”
Siauw Ling tidak buka suara, sementara dalam hati kecilnya diam-diam ia berbisik, “Oooooh…. Siauw Ling…. Siauw Ling…. enci Gak telah menitipkan mati hidupnya kepadamu…. dalam keadaan dan saat seperti ini kau tidak boleh mati….”
Walaupun semangat jantannya hebat dan tidak takut menghadapi kematian, tetapi setelah pikirannya dibebani oleh persoalan yang belum diselesaikan, semangat gagahnya jauh berkurang. Ia sadar bahwa pada saat ini hanya ada dua jalan yang terbuka baginya. Pertama, turun tangan secara mendadak dengan kecepatan yang berada diluar dugaan ia hajar mati kakek itu atau kedua, mohon memberi obat penawar dari kakek itu….
Agaknya sikakek kurus pendek berjenggot putih inipun merupakan seseorang yang amat cerdik, setelah menyaksikan biji mata lawannya berputar, ia segera menegur dengan suara dingin, “Kalau kau benar-benar tidak takut mati silahkan segera turun tangan untuk mencoba-coba masih ada beberapa bagiankah harapanmu untuk hidup selamat!”
Siauw Ling sendiripun tidak berani bergebrak secara gegabah. Dari sorot matanya yang tajam serta jalan darah Tay Yang Hiat diatas keningnya yang menonjol besar pemuda itu sadar bahwa lawannya juga merupakan seornag jago lihay yang amat sempurna tenaga dalamnya, dalam hati ia lantas berpikir, “Kalau ditinjau dari ilmu silat yang dimiliki orang ini jelas ia bukan termasuk manusia sembarangan, andaikata seranganku menemui kegagalan maka sulitlah bagiku untuk menemukan kesempatan lain guna membinasakan dirinya. Aku terpaksa harus menggunakan akal serta kecerdikan untuk menghadapi manusia ini….”
Berpikir demikian, ia lantas berkata, “Antara cayhe dengan dirimu toh tak pernah terikat dendam sakit hati apapun juga mengapa kau bersikap demikian kasar terhadap diriku? kenapa kau turun tangan keji membokong diriku?”
“Heeeh…. heeeh…. heeeh…. hal ini harus ditanyakan kepada dirimu mengapa datang kelembah ini!” sahut sikakek kurus pendek berambut putih itu sambil tertawa dingin.
Perlahan-lahan Siauw Ling alihkan sinar matanya menyapu sekejap sekeliling tempat itu, melihat kecuali sikakek tua itu tiada orang lain yang ikut hadir disana hatinya merasa rada lega. Sesaat kemudian ia segera melangkah maju satu tindak kedepan.
“Puncak bukit dengan lembah yang dalam ini toh merupakan tempat umum yang boleh disinggahi oleh siapapun juga, kenapa cayhe tidak boleh datang kemari?’
“Hmmm! kau datang darimana dan mau apa datang kemari?”
“Sudah lama cayhe mengagumi akan nama puncak In Wan Hong, karena itu sengaja aku datang berkunjung kemari….” sahut Siauw Ling sambil melangkah maju setindak lagi kedepan.
“Kenapa kau masuki lembah ini?”
“Kecuali rasa ingin tahu, tiada maksud lain apapun yang terkandung didalam hatiku.”
“Kau bisa memasuki selat gunung ini tanpa diketahui oleh siapapun, hal ini cukup membuat loohu merasa amat kagum atas kelihayanmu….” seru kakek berambut putih itu.
Setelah merandek sejenak terusnya, “Dikedua belah sisi selat ini telah kusiapkan jago-jago lihay yang setiap saat melakukan penjagaan, meskipun seekor burungpun sulit untuk terbang lewati tempat ini tanpa diketahui oleh kami, tetapi kau bisa memasuki daerah terlarang tanpa diketahui siapapun, hal ini jelas membuktikan kalau ilmu silatmu hebat juga!”
Siauw Ling tidak berkata-kata, cuma hatinya segera bergerak, pikirnya, “Kalau didengar ucapannya barusan, rupanya sekitar telaga kecil ini merupakan pusat daerah operasi mereka….”
Karena punya pendapat demikian, iapun berkata, “Cayhe sedang berjalan-jalan cari angin, siapa tahu telah tersesat masuk kesini…. harap saudara suka memaafkan….”
“Kalau dibilang kau menyusup kedalam lembah ini mungkin masalahnya bisa dipercayai” seru kakek tua dengan sikap tertegun. “Apakah sepanjang perjalananmu memasuki selat ini tiada seorangpun yang munculkan diri untuk menghalangi jalan pergimu?”
Siauw Ling tahu apa saat ini dia harus berusaha untuk memecahkan perhatian orang ini dengan begitu, ia baru memperoleh kesempatan untuk melancarkan serangan bokongan yang jitu dan tepat. Maka segera ujarnya kembali dengan suara lantang, “Beruntung sekali sepanjang perjalanan hingga tiba ditempat ini tak seorangpun yang muncul untuk menghalangi jalan pergi cayhe…. dan beruntung pula ternyata tak seorangpun yang menghalangi kepergianku….”
“Apa maksud perkataanmu itu?”
“Andaikata cayhe menjumpai orang yang menghalangi perjalananku hingga tak dapat masuk kedalam selat ini, itu berarti aku tak dapat menikmati alam dan merupakan suatu ketidak beruntungan, sebaliknya kalau ada orang menghalangi cayhe hingga aku tak bisa masuk kedalam selat ini. Maka saat ini aku tak akan terkena bokonganmu, bukankah hal itu merupakan suatu keberuntungan?”
Menggunakan kesempatan dikala masih berbicara, perlahan-lahan badannya maju kedepan sehingga jaraknya dengan sikakek tua itu bertambah dekat.
Rupanya kakek berambut putih itu menyadari akan bahaya, ia tarik napas panjang-panjang dan meloncat mundur delapan depa kebelakang, serunya, “Berhenti!”
“Loo tiang, apakah kau merasa amat takut?” tanya Siauw Ling sambil tertawa hambar.
“Takut sih tidak, tetapi loohu tidak ingin menempuh bahaya sehingga kena dibokong olehmu!”
“Kalau memang loo tiang tidak jeri kepadaku, mengapa kau begitu ketakutan terhadap diri cayhe?” ejek Siauw Ling sambil tertawa hambar.
“Kau dapat mengelindup masuk kedalam selat ini dibawah penjagaan kami yang amat ketat, hal ini menunjukkan bahwa kau sangat lihay. Serangan balasan yang dilancarkan oleh seseorang yang mendekati kematiannya merupakan himpunan tenaga yang bukan berasal dari kekuatan sendiri, sekalipun loohu tidak jeri terhadap dirimu, rasanya akupun tak usah menyambut seranganmu dengan keras lawan keras.”
Diam-diam Siauw Ling tertawa getir, pikirnya, “Sikakek tua ini bukan saja memiliki ilmu silat yang sangat lihay, otaknyapun cerdas dan banyak akal. Andaikata saudara Sang ku itu berada disini mungkin saja aku dapat merundingkan suatu akal untuk menghadapinya, sedangkan aku berada seorang diri mungkin sulit untuk menghadapi dirinya.”
Dalam pada itu sikakek berambut putih tadi telah mengerutkan sepasang alisnya dan berkata, “Racun yang berada diujung jarum itu segera akan bereaksi, bagaimanakah perasaanmu?”
Kiranya ketika menyaksikan Siauw Ling setelah terkena jarum beracun tetapi hingga saat itu belum nampak juga racun tersebut menunjukkan daya reaksinya dalam hati merasa terperanjat bercampur heran.
Ia mana tahu kalau Siauw Ling pernah makan jarum batu berusia seribu tahun, kekuatan tubuhnya dalam melawan reaksi racun jauh lebih ampuh dari orang lain, ditambah pula ia mempelajari tenaga dalam tingkat tinggi hal itu membuat hawa khiekangnya secara otomatis telah menutup seluruh jalan darah yang ada, semenjak bahu kirinya terkena racun hawa murninya bekerja lebih aktif dan menekan racun itu untuk bereaksi lebih lambat.
Namun bagaimanapun juga jarum Coa Boe Tan Kut ciam tersebut mengandung racun yang amat keji, sekalipun Siauw Ling mempelajari tenaga dalam tingkat tinggi, tetapi itupun hanya bisa memperlambat daya kerjanya racun itu, setelah dibendung agak lama hawa racun keji terasalah mulai menjalar naik keatas.
Sadarlah hatinya bahwa mara bahaya telah mengancam keselamatannya, andaikata dalam keadaan dan saat seperti itu tiada bala bantuan yang tiba, maka satu-satunya harapan baginya untuk hidup adalah mengandalkan ketenagan serta kecerdasannya untuk berusaha menaklukkan sikakek itu kemudian memaksakan untuk menyerahkan obat penawar.
Siapa tahu sikakek berambut putih itu sangat licik dan banyak curiga, setiap detik ia selalu waspada dan siap menghadapi segala kemungkinan, hal ini membuat Siauw Ling kehilangan banyak kesempatan untuk merobohkan dirinya.
Dalam pada itu racun yang mengeram dalam tubuhnya mulai kambuh dan bekerja, ia tak bisa mengulur waktu lebih jauh lagi tatkala tubuhnya siap menerjang kedepan dengan nekad, mendadak terlihat sekujur badan kakek berambut putih itu gemetar keras, air mukanya berubah hebat….
Agaknya secara tiba-tiba ia terkena sebuah bokongan yang sangat telak….
Kendati begitu sikap kakek berambut putih itu masih tetap tenang dan kalem, sambil mengelus jenggotnya ia menegur, “Siapa disitu?”
“Aku!” sebuah jawaban yang lirih tapi nyaring berkumandang datang.
“Senjata rahasia apa yang telah kau pergunakan?”
“Peng Pok Ciam dari laut Pok hay!”
Dari tanya jawab itu Siauw Ling segera mengetahui siapakah yang telah datang, segera serunya, “Peng jie!”
Tampak bayangan manusia berkelebat lewat, kurang lebih dari dua tombak disisi mereka loncat keluar seorang gadis berpakaian ringkas berwarja biru, dialah Pek li peng.
Dengan cepat gadis she Pek li itu berjalan menghampiri pemuda kita, tanyanya sambil tersenyum, “Baik-baiklah kau toako?”
“Aku telah terkena jarum Coe Boe Tauw Kut Ciam miliknya.”
Pek li Peng mengangguk tanda mengerti, ia berjalan menuju kebelakang tubuh kakek itu bisiknya lirih, “Aku tahu bahwa didalam selat ini terdapat banyak orang, tetapi kalau kau berani memanggil teman-temanmu, maka saat ini juga akan kucabut selembar jiwamu.”
“Peng jie, kenapa kau datang kemari?” tanya Siauw Ling.
Pek li Peng tersenyum.
“Aku akan mencarikan dulu obat penawar bagi toako, kemudian kita baru bercakap-cakap lagi….”
“Seandainya kau adalah seorang ahli didalam menggunakan racun, seharusnya bisa merasakan pula bukan akan kedahsyatan racun keji yang kupoleskan diujung senjata rahasia Peng Pok Ciam tersebut?”
“Sekalipun loohu bakal mati karena keracunan, kalianpun tak akan lolos dari sini dalam keadaan selamat.”
Mendadak Pek li Peng mengeluarkan jari tangannya dan mencekal urat nadi diatas pergelangan tangan kakek tua itu, bisiknya, “Kau tak boleh mati, mari kita bicara dibelakang batu sana.”
Kakek tua berjenggot putih itu tidak menyangka kalau dirina bakal diserang secara mendadak, setelah urat nadi pergelangan kanannya tercekal terpaksa ia harus mengikuti berjalan kebelakang sebuah batu besar.
Siauw Ling memeriksa dahulu daerah disekitar sana, ketika merasa yakin bahwa disekitar situ tak ada orang ia baru menyusul dari belakang.
JILID 35
Pek li Peng kerahkan tenaga dalamnya kedalam telapak kanan, sikakek tua itu segera merasakan separuh badannya jadi linu dan kaku, sekalipun ia ada maksud melancarkan serangan balasan yang telak, sayang ada kemauan tiada tenaga.
Siauw Ling yang selalu memikirkan janji pertemuan Gak Siauw Cha dengan Giok Siauw Lang Koen didasar tebing Toan Hoan Gay yang dalam sekejap mata segera akan sampai, dirasakannya waktu ketika itu berharga bagaikan emas, segera ujarnya, “Peng jie, paksa dia untuk serahkan obat penawarnya!”
“Aku lihat si loocianpwee ini tak akan mengucurkan air mata sebelum melihat peti mati” kata Pek li Peng sambil tertawa, tangan kirinya segera merogoh kesaku kiri dan sambil keluar sebutir pil, tambahnya, “Toako, coba kau telan dulu pil obat ini!”
“Obat apakah itu?”
“Obat penawar dari jarum, Peng pok Ciam sekalipun obatnya tidak benar pada tempatnya, aku rasa meski kau telanpun tiada ruginya. Toako, cepatlah kau telan lebih dulu.”
Siauw Ling tidak banyak bertanya lagi, ia segera membuka mulutnya dan menelan pil tersebut.
“Toako, duduklah pusatkan pikiran dan atur pernapasan, biar aku yang paksa dia untuk menyerahkan obat pemusnahnya!” kembali Pek li Peng berseru.
Siauw Ling menurut dan segera jatuhkan diri bersila untuk mengatur pernapasan.
Dari dalam sakunya kembali Pek li Peng ambil keluar sebatang jarum Peng pok Ciam kemudian ditusuknya lengan sikakek tua berjenggot putih itu dua kali, katanya, “Dalam sakumu tersedia jarum beracun tentu tersedia pula obat pemusnahya, sekalipun kau tak suka menyerahkan secara suka rela, aku bisa saja menggeledah sakumu.”
“Kalau loohu serahkan obat pemusnah itu?” tanya sikakek berambut putih tadi.
“Kita saling bertukar obat penawar, kalau obatmu itu manjur dan luka racun yang diderita toakoku benar-benar sembuh, akupun akan menghadiahkan obat penawar bagimu dan melepaskan kau pergi.”
“Hmmm! jangan dikata loohu sulit untuk mempercayai perkataan nona sekalipun seorang bocah berusia tiga tahunpun tak akan percaya terhadap perkataanmu itu.”
“Kenapa?”
“Andaikata loohu berhasil melepaskan diri dari bahaya, dengan cepat tanda rahasia akan kulepaskan, apakah kalian berdua bisa tinggalkan selat ini dalam keadaan selamat.”
“Aku sudah berjanji bahwa kau pasti kulepaskan, janjiku ini tak nanti kuingkari, tentu saja asal kau serahkan obat penawar itu kepadaku.”
“Aku tetap tidak percaya, sebab perkataan dari kaum wanita paling tak boleh didengar!”
Pek li Peng tertawa hambar.
“Baiklah kalau kau tidak percaya kepadaku, biarlah toakoku yang bertindak sebagai saksi, dia adalah seorang toa enghiong, toa Hauw kiat lelaki yang betul-betul jantan dan sejati, tentu ucapannya bisa dipercayai bukan….?”
“Siapakah dia?”
“Dialah Siauw Ling, Siauw thayhiap yang dikagumi serta dihormati oleh setiap umat Bulim.”
Sikakek berambut putih itu tersenyum berpikir sejenak, kemudian baru sahutnya, “Ehmmm….! rasanya sehari-hari belakangan ini seringkali aku dengar orang mengungkap-ungkap akan nama ini.”
“Nama besar toakoku sudah termaskus diempat penjuru dunia, siapapun yang ada dikolong langit mengetahui siapakah dia, kenapa kau situa bangka yang sudah mendekati liang kubur mengucapkan kata-kata yang begitu tak enak didengar?” teriak Pek li Peng gusar.
“Peng jie!” sela Siauw Ling tiba-tiba. “Biarkanlah ia ambil keluar obat penawar tersebut, tak usah bersilat lidah lagi dengan dirinya!”
Dalam pada itu sikakek tua berambut putih tadi perlahan-lahan menggeserkan tangan kirinya untuk mengambil keluar sebuah botol porselen kecil, ujarnya, “Obat pemusnah tersebut berada disini!”
Pek li Peng segera angsurkan tangannya untuk menerima, siapa tahu secara mendadak kakek itu masukan botol porselen tadi kedalam mulutnya sambil mengancam, “Nona kalau kau memaksa diriku terus menerus maka cayhe akan gigit hancur botol porselen ini dan menelan isi obatnya….”
Dengan pandangan dingin ia menarik sekejap wajah Siauw Ling, kemudian tambahnya, “Loohu sudah lanjut usia dan hampir mendekati liang kubur. Sebaliknya usia toakomu masih muda belia. Sekalipun selembar jiwaku harus ditukar dengan jiwa kakakmu, rasanya kematianpun tidak bakal rugi.”
“Secara bagaimana kau baru suka menyerahkan obat penawar tersebut….?”
“Nona toh sudah mengatakannya sendiri, kita satu jiwa ditukar dengan satu jiwa!”
“Baiklah! kalau begitu aku serahkan dulu obat penawarku ini kepadamu….”
Sambil berkata gadis itu segera merogoh kedalam sakunya ambil keluar sebutir obat dan dihantarkan kemulut kakek tua itu.
Baru saja sikakek berambut putih tadi hendak menelan obat tersebut, tiba-tiba Pek li Peng memutar telapaknya dan mengirim satu pukulan dahsyat menghajar punggung kakek tadi.
Pukulan ini datangnya amat cepat dan berat sekali, sikakek tua itu kontan menjerit tertahan dan memuntahkan darah segar, botol porselen yang berada dimulutnyapun ikut tertumpah keluar.
Melihat gelagat tidak menguntungkan sikakek tua itu siap berteriak keras untuk mencari bantuan, tapi Pek li Peng bertindak lebih gesit, jari tangannya berkelebat lewat dan jalan darahnya tahu-tahu sudah tertotok.
Jengeknya sambil mendengus dingin, “Hmmm! itulah yang dinamakan arak kehormatan tak mau, justru malahan mencari arak hukuman. Janganlah kau salahkan kalau aku bertindak kejam terhadap dirimu.”
Ia robohkan tubuh kakek tadi keatas tanah, kemudian bongkokkan badannya memungut botol porselen itu.
Dalam pada itu Siauw Ling sedang merasakan racun keji dari jarum Coe Boe Tauw Kut Ciam yang bersarang ditubuhnya perlahan-lahan mulai bereaksi. Terpaksa seluruh hawa murninya disalurkan untuk melawan daya kerja racun itu, sewaktu dilihatnya Pek li Peng berhasil mendapatkan obat penawarnya didalam hati lantas iapun berpikir, “Walaupun gadis ini dibesarkan dalam lingkungan hidup yang serba kecukupan dan selalu dimanja oleh orang tuanya, namun kecerdikan otaknya benar-benar mengagumkan!”
Pek li Peng pun membuka tutup botol tadi, ambil keluar dua butir obat berwarna putih dan diangsurkan kemulut Siauw Ling.
Si anak muda itu menerimanya dan segera ditelan, kemudian sambil menghela napas panjang katanya, “Peng jie, seandainya kau tidak tiba ditempat ini tepat pada waktunya, mungkin selembar jiwa siauw heng bakal melayang didalam selat ini!”
Pek li Peng tersenyum.
“Kedua orang saudaramu melarang aku datang kemari, dalam marahnya aku telah berkelahi melawan diri mereka berdua, ketika mereka tak sanggup melawan diriku maka terpaksa mengijinkan aku datang kemari.”
“Apakah kau telah melukai mereka?”
“Tidak, meskipun aku telah menghadiahkan sebuah pukulan dimasing-masing badan mereka, tetapi pukulanku itu enteng sekali. Setelah membentur segera kutarik kembali.”
Perlahan-lahan ia maju menghampiri si anak muda ini, tambahnya dengan lembut, “Toako, dimanakah letak lukamu?”
“Diatas bahu sebelah kiri.”
“Lepaskanlah pakaianmu, aku akan cabutkan jarum beracun yang bersarang disitu.”
“Antara pria dan wanita ada batas-batasnya, aku mana boleh lepaskan pakaian dihadapannya” pikir si anak muda itu, segera ujarnya, “Tidak bisa jadi, gunakanlah pedang pookiam itu untuk menyobek pakaian diatas bahuku.”
Rupanya Pek li Peng dapat memahami pikiran orang, ia tertawa dan segera mengulurkan jari tangannya kedepan, sambil mengerahkan tenaga ia robek pakaian Siauw Ling dibagian bahu kirinya.
“Sedikitpun tidak salah, disitu benar-benar terdapat sebatang jarum beracun yang berwarna dan menghujam dalam-dalam didalam kulit.”
“Peng jie hati-hatilah” bisik Siauw Ling lirih. “Diujung jarum itu telah dipolesi dengan racun.”
“Jangan kuatir!”
Dengan jari tengah serta ibu jari ia jepit ujung jarum itu kemudian dicabutnya keluar, dibawah cahaya sang surya tampaklah berwarna biru tua memancar keluar dari jarum tadi, hal ini menunjukkan bahwa racun keji itu amat ganas.
Setelah mencabut keluar jarum beracun itu, Pek li Peng tidak membuangnya tetapi sambil memandang kearah Siauw Ling ujarnya, “Toako, orang ini gemar sekali menggunakan benda-benda beracun, jelas dia bukanlah seorang baik, bagaimana kalau kita gunakan pula jarum beracunnya untuk menusuk pula badannya beberapa kali agar ia rasakan senjata makan tuan?”
Mendengar perkataan itu air muka sikakek berambut putih itu seketika berubah hebat, keringat sebesar kacang kedelai mengucur keluar tiada hentinya membasahi seluruh badan, tetapi berhubung jalan darahnya tertotok maka walaupun dia ada maksud untuk minta ampun, tapi tak sepatah katapun sanggup diucapkan keluar.
Siauw Ling melirik sekejap kearah orang tua itu, lalu jawabnya, “Tidak perlu, cepat buang jarum beracun itu!”
Pek li Peng sangat menuruti perkataannya, ia buang jarum beracun itu keatas tanah kemudian tertawa dingin.
“Toako, baik-baiklah kau merawat diri, setelah luka racunmu sembuh kita baru membereskan lagi dirinya.”
Siauw Ling sendiri meskipun sudah makan obat penawar, tetapi iapun tidak tahu apakah luka beracunnya sudah sembuh atau belum, mendengar perkataan itu matanya segera dipejamkan dan mulai mengatur pernapasan.
Obat penawar itu sungguh mujarab sekali dalam waktu singkat daya kerja obat itu sudah bereaksi dan racun keji yang mengeram dalam tubuh si anak muda itupun seketika lenyap tak berbekas.
Dalam pada itu sikap Pek li Peng secara mendadak berubah menjadi begitu lembut dan halus, dari sakunya dia ambil keluar benang dan jarum kemudian dengan sangat berhati-hati menjahit pakaian Siauw Ling yang robek itu.
Ketika si anak muda itu selesai bersemedi, ia lantas menoleh dan bertanya, “Peng jie, kenapa kau membawa benang dan jarum?”
“Seringkali aku harus menyaru sebagai pria atau merubah-rubah keadaan, pakaian yang kubeli biasanya tidak cocok, maka terpaksa aku harus merombaknya sendiri.”
“Oooow…. kiranya begitu!” sahut Siauw Ling sambil tersenyum, perlahan-lahan ia berjalan menghampiri kakek tua berambut putih itu, tegurnya dingin, “Kalau kau tak ingin mati. Janganlah sekali-kali berteriak!”
Tangan kanannya diayun, dua buah jalan darahnya yang tertotok segera dibebaskan.
Kakek tua itu betul-betul berakal panjang, begitu jalan darahnya dibebaskan diam-diam ia kerahkan tenaga dalamnya untuk memeriksa diri. Ketika dijumpainya bahwa dia tidak menderita gejala keracunan, hatinya jadi tercengang, pikirnya, “Dengan amat jelas bocah perempuan ini memberitahukan kepadaku bahwa aku telah terkena jarum Pek Pok Ciam dari laut Pek hay, kenapa aku tidak merasakan diriku keracunan?”
Setelah membebaskan dua buah jalan darahnya yang tertotok tadi, dengan cepat Siauw Ling menotok kembali sebuah jalan darahnya, kemudian perlahan-lahan dia berkata, “Rupanya didalam selat ini kau hanya seorang diri?”
“Darimana kau bisa tahu?” sahutnya lirih, kakek tua itu sadar bahwa saat ini jiwanya terancam bahaya, sedikit saja bicara keras kemungkinan besar jiwanya akan melayang.
Sementara itu Siauw Lingpun sedang berpikir didalam hatinya, “Orang ini kelihatannya amat licik dan banyak akal, kalau aku bertanya secara langsung kepadanya, jelas tak akan mengakui terus terang sebaliknya kalau aku terlalu memaksa kemungkinan dia bisa mengarang keterangan bohong. Rupanya aku harus mengambil jalan lain, bisa mengorek seberapa aku harus puas dengan hasil tersebut.”
Segera ia tertawa dingin dan berkata, “Andaikata selat ini bagaimana yang kau katakan tadi dijaga dengan sangat ketat, itu berarti jago disini amat banyak. Tetapi mengapa tiada seorangpun menghalangi jalan pergi kami ketika memasuki selat ini. Dan apa sebabnya pula hingga selat ini belum nampak seorangpun yang datang menolong jiwamu?”
Kakek berambut putih itu mengerutkan alisnya lalu menjawab, “Bagaimana caranya kalian berdua menyelindup kedalam selat ini? loohu merasa bingung dan tidak habis mengerti. Kalau ditinjau dari keketatan dan kerasnya penjagaan dikedua mulut selat, sekalipun burung yang terbang lewat dingakasapun tak akan lolos dari pengawasan kami, seandainya kalian berdua masuk kedalam selat ini semestinya kami sekalian telah mendapat laporan.”
“Loo tiang, omonganmu ngaco belo tak karuan….”
“Kalau kau tidak percaya, akupun tak bisa berbuat apa-apa lagi.”
“Toako. Tak usah banyak bicara lagi dengan orang ini” sela Pek li Peng cepat. “Kita gunakan saja jarum beracun untuk menusuk badannya. Coba kita lihat beranikah dia bicara tak karuan lagi?”
Dari saku kakek tua itu ia ambil keluar sebatang jarum beracun dan segera ditusukkan keatas lengan kanannya.
Kendati sikakek tua memiliki pengalaman yang sangat luas dan pengetahuan yang dalam, setelah berjumpa dengan nona binal macam ini tak urung hatinya terkejut juga.
Dalam keadaan terdesak, terpaksa ia berseru, “Nona, tunggu sebentar!”
“Peng jie tahan” seru Siauw Ling, sedang dalam hatinya ia merasa geli, pikirnya, “Aku sedang mencari akal untuk mencari tahu latar belakang yang menyelimuti tmpat ini, siapa tahu ia bisa menggunakan ancaman serta gertak sambal untuk menakut-nakuti dirinya….”
Pek li Peng dengan jarum beracun ditangan segera menggerakkan benda itu berkelebat kesana kemari diatas wajah sikakek tua itu, ancamnya, “Kalau kau berani bicara bohong satu kali, maka aku akan menusuk kau satu kali, sedikitpun tidak akan ditambah atau dikurangi.”
“Nona apa yang ingin kau tanyakan?” dalam keadaan apa boleh buat terpaksa kakek itu bertanya.
Pek li Peng tertegun, kemudian serunya, “Toako, apa yang hendak kita tanyakan? cepatlah kau ajukan pertanyaan kepadanya.”
“Nona ini kadangkala nampak cerdas dan pintar sekali, kenapa kangakala begitu gebleknya?” pikir Siauw Ling segera, katanya, “Loo tiang, kalau kau suka mengatakan secara terus terang keadaan didalam selat ini, maka cayhe akan melupakan dendam serangan bokonganmu dan memberi satu jalan kehidupan bagimu.”
“Loohu sudah terkena jarum Pek Pok Ciam dari laut Pak hay, itu berarti bahwa aku bakal mati!”
“Peng jie, adakah obat penawarnya?” si anak muda itu segera bertanya.
Sambil tertawa Pek li Peng gelengkan kepalanya berulang kali.
“Seandainya pada ujung jarum Peng Pok Ciam tersebut menganding racun, maka jiwanya sendiri sedari tadi sudah modar!”
Walaupun sikakek tua berambut putih itu sendiri juga tahu bahwa diujung jarum tiada racunnya, tetapi dalam hati ia ada maksud mengulur waktu, maka segera katanya kembali, “Senjata rahasia beracun Peng pok Ciam dari laut Pak hay sudah tersohor akan keganasannya dikolong langit, siapapun mengetahui akan hal ini….”
“Memang benar” sambung Pek li Peng. “Tapi jarum Pek pok Ciam dari laut Pak hay terbagi jadi dua bagian yaitu senjata rahasia yang beracun dan sejata rahasia yang tidak beracun. Menghadapi kakek tua celaka macam kau, rasanya aku tak perlu menggunakan jarum beracun untuk melukai dirimu.”
“Loo tiang, kau sudah dengar perkataan itu?” seru Siauw Ling. “Selat ini gersang dan terpencil letaknya, apa maksud yang sebenarnya kau sekalian berdiam disini?”
Kakek tua itu termenung dan lama sekali tidak menjawab, jelas pertanyaan dari si anak muda ini memaksa dia harus putar otak berpikir keras.
Pek li Peng yang melihat kakek itu membungkam, segera menusuk lengannya dengan jarum beracun.
“Ayoh bicara!” serunya.
Jarum Coe Boe Tauw Kut Ciam tersohor akan keganasan racun kejinya, begitu tertusuk sekeliling mulut luka segera membengkak merah.
Air muka kakek tua berambut putih itu berubah hebat, sepasang matanya melotot bulat, sambil memandang kearah Pek li Peng dari balik matanya memancar kelukar cahaya penuh kebencian dan rasa dendam.
Cepat-cepat Siauw Ling ambil keluar tutup botol dan ambil keluar sebuah pil penawar kemudian dimasukkan kedalam mulut sikakek itu.
“Toako, didalam botol masih ada sisa beberapa biji obat penawar?” tanya Pek li Peng.
“Masih sisa tiga biji.”
“Waaah…. kalau begitu pada tusukan yang keempat, ia sudah tak tertolong lagi.”
Setelah badannya tertusuk oleh jarum beracun itu, sikakek tua itu sadar dalam keadaan jalan darah tertotok tak mungkin baginya untuk mengerahkan tenaga dalamnya untuk melawan daya kerja racun tersebut, dalam waktu singkat racun tadi pasti akan menjalar keseluruh tubuh dan mencabut selembar jiwanya, dalam keadaan begini timbul rasa sayang terhadap jiwanya, maka tanpa sadar ia buka mulutnya untuk menelan obat penawar yang diangsurkan kepadanya.
Terdengar Pek li Peng telah berkata kembali, “Ayoh bicara!”
Sembari berseru jarum beracun ditangannya kembali diangkat ditengah udara….
Pek li Peng yang cantik jelita dalam pandangan sikakek tua ini berubah jadi lebih mengerikan dari seekor ular berbisa, menyaksikan gadis itu angkat jarum beracun itu tinggi-tinggi, dengan cepat serunya, “Cayhe datang kemari untuk mencari sesuatu tempat penyimpanan harta karun….!”
“Harta karun apa?”
“Kalau kau tak mau menjawab, kutusuk bibirmu dengan jarum beracun ini….!” ancaman Pek li Peng sambil tertawa.
Kakek tua itu jadi gelisah, buru-buru serunya, “Kalau dibicarakan harta ini tidak termasuk harta karun yang sangat berharga sebab hanya berupa beberapa macam barang peninggalan dari Bulim cianpwee!”
“Orang ini benar-benar amat licik, apa yang dijawab tidak bohong namun tidak pula termasuk jujur….” pikir Siauw Ling.
Sambil tertawa dingin segera ujarnya, “Beberapa macam barang peninggalan dari Bulim cianpwee? bukankah kalian sedang mencari istana terlarang?”
“Sedikitpun tidak salah!” sahut sikakek itu setelah tertegun beberapa saat lamanya.
Sejak menyaksikan pemandangan burung elang terbang serta ular melingkar diatas permukaan air tadi, Siauw Ling menyadari bahwa tempat ini bukan lain adalah letak istana terlarang yang sedang dicari selama ini. Tetapi ia tidak menduga kalau ada orang bisa menemukan pula letak tempat itu tanpa peta maupun petunjuk apapun sementara kunci istana terlarang serta petanya berada dalam sakunya.
Berpikir demikian, kembali ia bertanya, “Sudah lamakah loo tiang berdiam didalam selat ini?”
“Kurang lebih lima tahun lamanya.”
“Apa? lima tahun lamanya?” seru si anak muda itu dengan nada terperanjat. “Kalau begitu istana terlarang tentu sudah kau temukan bukan?”
“Kami hanya tahu bahwa letak istana telarang berada disekitar sepuluh li dari selat ini, tapi letak yang tepat belum diketahui.”
“Jadi istana terlarang belum ditemukan?”
“Kalau istana terlarang sudah kami temukan, buat apa kami sekalian masih berdiam terus ditempat ini?”
“Kalau didengar dari pembicaraan loo tiang, agaknya kau sudah lama sekali berdiam didalam lebah gunung ini?”
“Sedikitpun tidak salah, tetapi kalau kau tidak mau percaya akupun tak bisa berbuat apa-apa.”
“Loo tiang bisa membokong diri cayhe dengan senjata rahasia tanpa mengeluarkan sedikit suarapun, hal ini menunjukkan kalau ilmu silatmu sangat lihay sekali….”
“Kau terlalu memuji….”
“Sayang dengan kepandaian silat selihay ini kau masih rela dipergunakan orang dan jadi budak belian dari orang lain.”
Rupanya sikakek tua itu hendak membantah, tapi akhirnya niat tersebut ditarik kembali.
Siauw Ling tertawa hambar, sambungnya, “Aku lihat kedudukan loo tiang didalam lembah bukit inipun bukan sebagai seorang pemimpin!”
“Loohu adalah salah satu diantara empat orang mandor ditempat ini….” agaknya ia merasa bahwa dirinya sudah terlanjur berbicara. Mendadak mulutnya membungkam kembali.
“Berada didalam lembah bukit ini, pekerjaan apa yang perlu kau mandori?” tanya Pek li Peng ketus.
Terhadap nona cantik yang gesit dan lincah ini, agaknya sikakek tua itu menaruh rasa takut yang mendalam, mendengar ia ajukan pertanyaan tersebut dengan hati jeri segera sahutnya, “Kami sedang mencari letak harta karun yang berada didalam lembah bukit ini!”
“Tadi kau bilang bahwa kau adalah salah seorang diantara empat orang mandor lainnya, beberapa banyak pekerja yang berada disini?”
“Tatkala untuk pertama kali memasuki lembah ini semuanya berjumlah dua ratus orang, tetapi sekarang tinggal seratus orang lebih.”
Siauw Ling yang menyaksikan pertanyaan-pertanyaan Pek li Peng yang diajukan secara terang-terangan dan gamblang ternyata dijawab pula oleh sikakek tua itu dengan jelas dan sempurna, diam-diam dalam hati kecilnya ia merasa geli, pikirnya, “Orang ini makin tua makin licik dan banyak akal, tetapi setelah bertemu dengan nona cilik yang binal ini habislah polahnya dan mati kutu sama sekali. Apa yang ditanya segera dijawabnya dengan cepat tanpa berani bicara bohong. Justru orang yang tidak punya rencanalah paling cocok untuk menghadapi manusia seperti ini, apa yang diancam bisa segera dilaksanakan tanpa memikirkan akibatnya. jelas pula orang yang cerdik belum tentu cerdik orang yang bodoh belum tentu bodoh….”
“Dimanakah orang-orang itu?” tanya Pek li Peng.
“Sudah mati semua!”
“Coba tanyakan siapa namanya?” bisik Siauw Ling dengan ilmu menyampaikan suara.
Pek li Peng berpaling memandang sekejap kearah Siauw Ling sambil tertawa, kemudian sambil memandang wajah sikakek itu kembali serunya ketus, “Siapa namamu? apa pula julukanmu didalam dunia persilatan?”
Teringat akan nama besarnya yang dipupuk selama banyak tahun dengan susah payah kakek tua ini tidak ingin untuk mengucapkannya keluar, takut kalau dikemudian hari nona cilik ini memperolok-oloknya didalam dunia persilatan hingga ditertawakan orang.
Pipinya mendadak jadi kaku, dan sebuah tusukan jarum telah bersarang dengan telak.
Pek li Peng segera membuka botol dan ambil keluar sebutir obat pemusnah, sambil dicekal ditangan katanya, “Kalau ingin meninggalkan nama harum, boleh coba-coba untuk tidak berkata, tetapi disini kecuali toako serta aku tidak ada orang lain lagi sekalipun kau mati sebagai seorang enghiong juga tiada yang tahu.”
Kakek berambut putih itu jadi gelisah buru-buru serunya, “Loohu Phoa Liong, orang kangouw menyebut diriku Coe Boe Poan si hakim siang tak bertemu malam!”
Pek li Peng angsurkan sebuah obat penawar itu kemulut Phoa Liong dan melemparkan sisanya jauh kedepan, serunya, “Kalau begini caranya terus terlalu merepotkan, lebih baik kau jangan coba-coba untuk merasakan tusukan yang terakhir….”
Nada suaranya berubah, dengan dingin dan ketus tambahnya, “Kalau memang didalam selat ini terdapat seratus orang lebih, mengapa tak sesosok bayangan manusiapun yang nampak? sudah berapa lama kalian bekerja disini? harta karun apa saja yang berhasil kalian gali? kalau coba membohong jiwamu segera kucabut.”
Menyaksikan jarum racun ditangannya bergerak kian kemari memancarkan cahaya biri buru-buru Phoa Liong menjawab, “Sudah empat tahun lebih kami bekerja disini, setiap orang yang masuk kedalam selat untuk bekerja kecuali kematian yang merenggut jiwa mereka, jangan harap bisa tinggalkan tempat ini dalam keadaan hidup. Untuk menghindari pengamatan serta pengawasan orang, semua pekerja menyembunyikan diri didalam goa ketika siang hari, sedang malam hari setelah tiba maka mereka akan muncul untuk bekerja.”
“Bagaimanakah ilmu silat yang dimiliki ketiga orang mandor lainnya?”
“Mereka semua memiliki ilmu silat yang sangat lihay.”
“Siapa otak dari rencana besar ini?”
“Shen Bok Hong!”
Tercekat hati Siauw Ling sehabis mendengar perkataan itu, pikirnya, “Shen Bok Hong betul-betul sangat lihay ternyata ia berhasil menemukan letak dari istana terlarang. Orang ini cerdika dan banyak akal, hatinya keji dan telengas lagipula mata-matanya tersebar amat luas setiap partai terdapat kaki tangannya, orang ini memang termasuk salah seorang jagoan yang sangat lihay.”
“Toako, apakah kau masih akan menanyakan sesuatu?”
“Tanya kepadanya pemilik dari selat ini berdiam dimana? sekarang ketiga orang mandor lainnya berada dimana?”
“Tak usah suruh dia menyampaikan, cayhe akan mengaku terus terang….” kata Phoa Liong, setelah merandek sejenak terusnya, “Diatas dinding kedua belah samping bukit ini telah kami buat banyak goa, dipagi hari mereka semua bersembunyi didalam goa-goa itu….!”
“Berbicara dari kenyataan yang terbentang pada saat ini penjagaan didalam selat ini kurang begitu ketat. Sudah begini lama kami berhasil menawan dirimu tapi tak seorangpun yang kelihatan muncul disini untuk menolong jiwamu!”
“Selama empat lima tahun belakangan ini, belum pernah didalam selat terjadi suatu peristiwa apapun, karena itu didalam hal penjagaan lebih kendor dari tempo dulu, tetapi dimulut selat penjagaan tetap ketat dan keras, andaikata kalian berdua masuk lewat mulut selat, tidak nanti jejak kalian tak diketahui oleh pengawasan mereka.”
“Tetapi kami toh berhasil masuk ketempat lembah ini tanpa diketahui oleh siapapun!”
Mendadak Phoa Liong angkat kepalanya dan menjawab, “Kecuali kalian turun dari kedua belah sisi tebing bukit ini, tak mungkin kalau jejak kalian tidak diketahui oleh mereka!”
“Toako, lebih baik kita tanyakan persoalan lain saja” sela Pek li Peng dari samping.
“Coba tanya kepadanya, dimanakah ketiga orang mandor itu berdiam? disamping itu darimana pula datangnya para pakerja itu?”
“Kau sudah dengar bukan semua pertanyaannya?” sambung Pek li Peng sambil ayunkan jarum beracun. “Aku rasa tak usah kuulangi lagi bukan….?”
“Berhubung proyek menggali lembah gunung ini merupakan suatu pekerjaan yang besar dan berat, dan lagi bukan manusia biasa yang sanggup mengerjalannya maka semua pekerja yang ada disini seluruhnya merupakan orang-orang Bulim yang memiliki dasar ilmu silat, karena itulah setelah kematian mereka sulit untuk mencarikan penggantiannya sedangkan ketiga orang mandor lainnya tinggal didalam goa nomor tiga.”
“Toako, apakah pertanyaanmu telah selesai?”
“Tanya kepadanya dengan cara apakah kita baru bisa menyusup kedalam kelompok pekerja itu tanpa diketahui orang lain?”
“Tentang soal itu sulit untuk dikerjakan.”
“Toako, kalau memang ia tak tahu apa gunanya kita tetap memelihara bibit bencana bagi kita? bunuh saja beres!”
Phoa Liong tahu bahwa ancaman dari gadis tersebut bukanlah gertak sambil belaka, kemungkinan terjadi sungguh-sungguh amat besar sekali, buru-buru serunya, “Cara sih ada satu tetapi kalau dikatakan belum tentu kalian berdua mau mempercayai.”
“Coba katakan dulu apa caramu itu?”
“Pekerja yang ada didalam kelompok kerja masing-masing mandor memimpin satu kelompok dan tiap kelompok terdiri dari lima puluh dua orang, selama banyak tahun banyak pekerja yang mati atau terluka hingga jumlahnya tinggal seratus orang lebih. Dibawah pimpinan loohu semuanya masih ada tiga puluh satu orang, dan loohu dalam sekejap pandangan saja bisa mengenali ketiga puluh satu orang itu dengan jelas. Andaikata ada orang yang menyelundup masuk, jelas tak mungkin. Keadaan ketiga mandor lainnyapun sama saja, yaitu mereka kenal dan hapal betul terhadap setiap anggota pekerjanya tetapi terhadap kelompok pekerja lain karena pertemuan yang amat jarang maka tiada pandangan yang nyata. Andaikata kalian berdua ingin berdiam didalam lembah ini tanpa diketahui orang maka satu-satunya jalan hanyalah mencampur baurkan diri dengan para pekerja itu, sekarang lepaskanlah loohu agar dapat mengambil dua stel pakaian kuno, dengan begitu penyaruan kalian akan semakin gampang dan dibawah petunjuk loohu jejak kalian tak akan gampang diketahui orang.”
“Bagaimana kami bisa mempercayai perkataanmu?”
“Inilah satu-satunya cara bagi kalian untuk berdiam didalam lembah tanpa diketahui orang lain, kecuali ini aku tidak punya cara lain lagi.”
Ia memandang sedikit keadaan cuaca, lalu tambahnya, “Diantara empat orang mandor masing-masing punya jam tugasnya sendiri-sendiri untuk mengawasi seluruh lembah terutama sekali untuk mencegah ada pekerja yang melarikan diri serta serbuan dari musuh luar, waktu tugas cayhe sebentar lagi akan habis, sampai waktunya mandor lain akan menggantikan tugasku, bila ia tidak menjumpai diri cayhe maka hatinya akan menaruh curiga, tanda bahayapun mungkin akan dibunyikan. Waktu itu kalian berdua tentu sulit untuk menyembunyikan diri.”
“Andaikata kami lepaskan dirimu pada saat ini” ujar Pek li Peng. “Maka berita ini akan segera tersebar luas tanpa menbunyikan tanda bahaya, waktu itu bukankah aku serta toako bakal terjebak pula dalam kepungan kalian? daripada menanggung resiko, kenapa aku tidak bunuh lebih dulu dirimu?”
“Loohu akan pegang janji, setelah kusanggupi tentu saja tak akan gunakan akal licik untuk mencelakai kalian lagi.”
“Toako, aku punya satu akal bagus.” bisik gadis she Pek lo itu lagi. “Kalau ia berani menghianati kita, maka ia sendiripun tak akan bisa hidup lebih lama.”
“Apa akalmu itu?”
“Ayahku pernah mewariskan semacam kepandaian silat kepadaku, kepandaian itu mirip ilmu penotok jalan darah tetapi dengan ilmu Tiam hiat bisa jauh berbeda. Andaikata aku menotok sebuah jalan darahnya maka untuk menolong jiwanya aku harus mengurut jalan darah lain. Ayah pernah berkata kepadaku bahwa ilmu tersebut merupakan ilmu penunggal dari Pak hay, tak sebuah partaipun didalam dunia persilatan yang mengetahui. Bagi sang korban bilamana datang dua belas jam tidak cepat tertolong maka darahnya akan menggumpal didalam jalan darah itu yang mengakibatkan luka. Tujuh hari kemudian badan akan membusuk hingga akhirnya mati, walaupun kematiannya sangat lambat tapi sebelum mati akan merasakan penderitaan yang paling hebat….”
“Kalau aku betul-betul ada maksud menghianati kalian, toh aku bisa bersabar menunggu dua belas jam kemudian, menanti jalan darahku sudah dibebaskan barulah kulaksanakan rencana itu.”
“Sayang kau tiada kesempatan untuk berbuat begitu, sebab sebelum kubebaskan dirimu dari pengaruh totokan sebuah totokan lain akan menyusul!”
Siauw Ling yang telah berhasil mengetahui letak “istana terlarang” dalam hati menyadari bahwa usahanya tak akan berhasil bila ia tak menempuh bahaya maka segera ujarnya, “Peng jie, aku akan menuruti pendapatmu saja, lepaskanlah dia!”
Pek li Peng segera mengerahkan ilmu Tiam hiat keluarganya untuk melukai sebuah jalan darah Phoa Liong, kemudian setelah membebaskan dua jalan darahnya yang tertotok katanya, “Kami akan menantikan kedatanganmu disini, setengah jam kemudian bila kau belum kembali itu berarti bahwa kau telah ingkari janji tak akan kembali lagi.”
Phoa Liong bangkit berdiri, tanpa mengucapkan sepatah katapun segera berlalu dari situ.
Memandang sikap gusar dan mendongkol diatas wajah Phoa Liong sebelum meninggalkan tempat itu, Pek li Peng gelengkan kepalanya.
“Aku rasa ia tak akan kembali lagi.”
“Kalau memang begitu kita harus bersiap-siap untuk menghadapi musuh.”
Pek li Peng tersenyum.
“Sudah lama aku tak pernah berkelahi melawan orang, hari ini aku akan bertempur sampai puas” katanya.
Siauw Ling hanya memikirkan terus keselamatan dari Gak Siauw Cha, hatinya terasa murung dan kesal dengan mulut membungkam ia duduk tenang disitu.
Kurang lebih setengah batang hio kemudian, tampaklah Phoa Liong betul-betul muncul kembali disitu sambil membawa dua stel pakaian usang serta setengah mangkok abu, katanya, “Setelah kalian berdua tukar pakaian, lebih baik gosoklah tubuh kalian dengan abu ini agar berubah jadi hitam, sedang nona inipun harus menggulung rambutnya untuk menyaru sebagai seorang pria.”
Siauw Ling tidak banyak bicara, ia segera tukar pakaiannya dengan pakaian dekil tadi, sedang Pek li Peng masuk kebalik batu untuk tukar pakaian.
Dengan perawkan yang kecil memakai pakaian yang longgar keadaan Pek li Peng sehabis tukar pakaian nampak aneh sekali, apalagi sesudah mukanya dipolesi dengan abu potongannya kontan berubah jadi menyerupai seorang pengemis cilik.
Siauw Ling yang menyaksikan keadaan itu dalam hati merasa tidak tega ia menghela napas panjang.
“Aaaai….! Peng jie, aku telah menyiksa dirimu.”
“Asal toako merasa gembira dan senang hati, pekerjaan yang sulit dan menderita maka apapun akan kulasanakan dengan girang hati pula” sahut Pek li Peng sambil tertawa manis.
Beberapa patah kata ini diucapkan dengan mengandung rasa cinta yang mendalam, membuat Siauw Ling merasa amat terharu. Sementara ia hendak mengucapkan beberapa patah kata yang menyatakan rasa terima kasihnya, dengan suara ketus Phoa Liong sudah menyambung, “Nona, gigimu terlalu putih, lain kali lebih baik jangan tertawa….”
“Aku serta toako toh bukan tawananmu, kalau berbicara sedikitlah tahu diri” teriak Pek li Peng dengan gusar.
“Kalau kalian berdua tak ingin asal usulnya ketahuan, nasehat dari cayhe ini harus dituruti.”
Sementara Pek li Peng hendak mengumbar hawa amarahnya, Siauw Ling segera mencegah niatnya itu sambil berkata, “Peng jie apa yang diucapkan sedikitpun tidak salah.”
“Hmmm! agaknya kaum pria, lelaki sejati lebih mengerti keadaan dari pada kaum wanita….”
Ia merandek sejenak, lalu ujarnya kembali, “Kalian berdua ikutilah diriku!”
Habis berkata ia berjalan menuju ketempat luar.
Diam-diam Siauw Ling kenakan sarung tangan kulit ularnya untuk bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan, langkahnya dipercepat membuntuti dibelakang tubuh Phoa Liong.
Ia sudah mempersiapkan diri, asal keadaan dirasakan tidak menguntungkan maka dengan gerakan yang tercepat ia akan menaklukan Phoa Liong lebih dahulu.
Phoa Liong dengan membawa kedua orang itu berjalan kurang lebih puluhan tombak jauhnya, ketika tiba dibawah sebuah tebing ia segera mendorong dinding tebing disisinya…. Kreeeeek! sebuah pintu batu segera terbuka lebar.
Bau keringat yang busuk dan menusuk hidung dengan cepat berhembus keluar mengikuti terbukanya pintu tadi.
Siauw Ling sebagai seorang jago kangouw yang punya banyak pengalaman tidak langsung menyerbu kedalam ruangan, sinar matanya dengan tajam menyapu sekejap sekeliling tempat itu.
Terlihatlah diatas lantai ruang batu itu dilapisi dengan tikar berbaring puluhan orang pria kekar suara dengusan saling bersahutan memecahkan kesunyian.
Menyaksikan hal itu alisnya segera berkerut, pikirnya, “Bagi aku orang she Siauw seorang pria sejati bercampur gaul dengan manusia semacam ini masih mendingan, tetapi nona Pek li adalah seorang gadis, mana boleh berdiam jadi satu dengan orang-orang ini….?”
Rupanya Phoa Liong pun dapat menangkap rasa keberatan yang tercermin diwajah si anak muda itu, segera ujarnya, “Keadaan ditempat ini demikianlah. Aaaai….! selama banyak tahun mereka selalu hidup didalam lembah terpencil ini. Kecuali kematian setiap hari banyak pekerjaan berat yang harus dilakukan, hingga badan lelah dan kehabisan tenaga mereka baru dapat beristirahat, setiap kali berbaring merekapun tertidur pulas bagaikan orang mati….”
Timbul rasa iba dan kasihan dalam hati Siauw Ling, ia menghela napas panjang.
“Aaaai….! kenapa mereka musti banting tulang peras keringat?”
“Sebab mereka tidak mempunyai pilihan lain, kecuali bekerja keras jalan kematian saja yang dapat ditempuh, kalau tidak ingin mati konyol maka mereka musti bekerja terus tanpa hentinya.”
“Tanpa mendapatkan anak kunci istana terlarang, Shen Bok Hong bisa mengetahui kalau istana terlarang berada disini bahkan mengirim begini banyak orang untuk bekerja keras selama banyak tahun untuk mencari istana tersebut, kekejian, keteguhan hati serta keyakinan benar-benar sulit ditandingi orang lain” pikir Siauw Ling.
Terdengar Pek li Peng dengan suara lembut telah berkata, “Asal aku bisa berada bersama toako, walaupun lebih menderitapun aku tidak takut, toakopun tak usah merisaukan diriku.”
“Peng jie, aku telah menyiksa dirimu!”
Pek li Peng tersenyum manis, ia tarik pergelangan kiri Siauw Ling dan diajak duduk disudut sebuah dinding, wajahnya sama sekali tidak nampak murung atau kesal.
“Kalian berdua duduklah disini, loolap akan pergi” kata Phoa Liong kemudian, ia segera berlalu dan menutup kembali pintu ruangan.
Walaupun diatas permukaan lantai dilapisi tikar tetapi karena dimakan tahun tikar itu sudah lapuk, baru saja Pek li Peng meluruskan kakinya tikar itu segera robek besar.
“Peng jie” bisik Siauw Ling kemudian. “Kita harus mencari akal untuk menolong orang-orang ini.”
“Asal kita bunuh keempat orang mandor itu, bukankah mereka bisa segera dibebaskan?”
ooooo0ooooo
“Kita tahan dulu satu hari disini, setelah memahami keadaan disekeliling tempat ini barulah bertindak lebih jauh.”
Pek li Peng tersenyum dan tidak berbicara lagi, ia pejamkan mata dan duduk bersandar didinding.
Entah berapa saat sudah lewat, mendadak pintu batu didorong orang dan segulung angin dingin berhembus masuk.
Siauw Ling membuka matanya melirik sekejap keluar, tampaklah Phoa Liong dengan membawa lampu lentera berwarna hijau membawa dua orang berjalan masuk kedalam.
Orang yang disebelah kiri memakai jubah warna biru langit, jenggot hitam terurai sepanjang lambung, wajahnya berwarna merah padam bagaikan bocah dan membawa sebuah peti emas sepanjang tiga depa dengan luas dua depa ditangannya, dia bukan lain adalah majikan dari pesanggrahan Sian kie soe loo, It Boen Han Too adanya.
Sedang orang yang berada disebelah kanan memakai pakaian perlente, dia adalah majikan kedua dari perkampungan Pek Hoa San cung, Cioe Cau Liong adanya.
Menyaksikan kehadiran gembong-gembong iblis itu, Siauw Ling segera tarik tangan Pek li Peng sambil bisiknya dengan ilmu menyampaikan suara, “Peng jie, perlahan-lahan berbaringlah kelantai.”
Pek li Peng menurut sekali, ia benar-benar jatuhkan diri berbaring diatas lantai.
It Boen Han Too serta Cioe Cau Liong perlahan-lahan berjalan masuk kedalam, sambil berjalan mereka bercakap-cakap tiada hentinya, tak seorangpun yang memperhatikan mereka berdua.
Siauw Ling segera pusatkan pikiran pasang telinga, terdengarlah Cioe Cau Liong sedang berkata, “It Boen heng, terhadap persoalan ini Toa cung cu menaruh harapan yang amat besar. Bahkan setelah mengalami penyelidikan serta pemikirannya yang seksama dapat membuktikan bahwa istana terlarang benar-benar terletak ditempat ini. Beberapa kali Toa cung cu sudah meninjau dan melakukan penyelidikan disini, tetapi setiap kali gagal untuk mendapatkan sesuatu petunjuk apapun jua.”
It Boen Han Too tersenyum.
“Shen Toa cung cu toh sudah mengirim beratus-ratus orang Bulim untuk menggali lembah bukit ini selama beberapa tahun, apakah ia tak berhasil menemukan sesuatu apapun?”
“Mereka yang dikirim didalam lembah ini walaupun bukan terhitung jago lihay kelas satu tetapi rata-rata memiliki dasar ilmu silat yang kuat dan mempunyai perawakan badan yang kekar dan bertenaga besar, jerih payah serta usaha mereka jauh diluar kemampuan orang biasa. Kendati begitu setelah bekerja beberapa tahun separuh diantaranya telah mati, namun tak ada sesuatu petunjuk apapun yang berhasil ditemukan.”
“Cayhe sendiri walaupun hanya memandang sepintas lalu, tetapi dapat ketemui bahwa beberapa buah bukit ini merupakan batu-batu karang hitam yang keras dan padat. Jangan dikata hanya beberapa ratus orang tenaga pekerja, sekalipun mengumpulkan seratus ribu orang pekerjapun jangan harap bisa merubah kedudukan bukit ini didalam beberapa tahun, kehebatan serta keanehan yang terkandung didalamnya hanya bisa dipecahkan dengan ilmu pengetahuan….”
“Tidak salah” sambung Cioe Cau Liong. “Oleh sebab itulah sengaja Toa Cung cu mengundang It Boen heng datang kemari dengan maksud meminjam tenagamu untuk menemukan letak istana terlarang tersebut.”
Sinar mata It Boen Han Too menyapu sekejap kearah puluhan pria kekar yang menggeletak didalam ruangan itu, lalu sambil menatap Phoa Liong tanyanya, “Dewasa ini masih ada beberapa orang pekerja didalam lembah ini?”
“Dari jumlah empat kelompok semuanya masih ada seratus dua puluh orang….!”
“Berapa banyak anak buahmu sendiri?”
“Tiga puluh tiga orang!”
Jumlah yang sebenarnya adalah tiga puluh satu orang, ditambah Siauw Ling serta Pek li Peng jumlahnya jadi tiga puluh tiga orang.
“Coba kau carilah dua orang yang ilmu silatnya rada baik diantara mereka untuk mengikuti aku melakukan pemeriksaan disekeliling tempat ini” titah It Boen Han Too.
“Dengan diri It Boen Han Too walaupun aku pernah berjumpa beberapa kali tetapi ingatannya terlalu tipis, ditambah pula aku sudah menyaru mungkin untuk sementara waktu masih dapat mengelabuhi dirinya” pikir Siauw Ling didalam hati. “Sebaliknya terhadap Cioe Cau Liong aku sudah bergaul agak lama,ingatannya terhadap dirikupun sangat dalam, salah-salah rahasiaku bisa ketahuan olehnya, semoga saja aku tidak terpilih.”
Tampaknya Phoa Liong berjalan menghampiri pria-pria kekar yang menggeletak diatas tanah itu dan membangunkan dua orang diantaranya.
“Apakah dapat dicarikan dua orang yang nampak gesit?” seru It Boen Han Too dengan alis berkerut.
Kiranya kedua orang yang terpilih itu walaupun memiliki perawakan tubuh yang tinggi kekar namun lagak lagunya bodoh dan ketolol-tololan.
Sinar mata Cioe Cau Liong dengan cepat menyapu sekejap wajah Siauw Ling serta Pek li Peng katanya, “Pakaian dari kedua orang ini jauh lebih bersih, suruh mereka bangun….!”
Walaupun Siauw Ling serta Pek li Peng juga memakai pakaian dekil, tetapi pakaian yang telah lama disimpan itu tetap nampak jauh lebih bersih dan baru dari pada lainnya.
Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Phoa Liong berjalan menuju kesisi pemuda itu, sambil mendorong mereka berdua serunya, “Ayoh bangun!”
Rupanya ia tak tahu nama mereka berdua maka tak bisa memanggil nama kedua orang itu.
Dengan keraskan kepala Siauw Ling terpaksa harus menarik Pek li Peng dan bangun berdiri.
Mimpipun Cioe Cau Liong tak pernah menyangka kalau Siauw Ling bisa menyusupkan diri kedalam kawanan pekerja itu. Setelah memandang sekejap kearah kedua orang itu ujarnya sambil tertawa, “Potongan badan kalian berdua jauh lebih gesit, cuma rada kotor sedikit, setelah cuci muka dan ganti pakaian baru mungkin masih rada mendingan….!”
“Yaaah, terpaksa kita musti berbuat demikian” sahut It Boen Han Too.
“Kau sijenggot panjang, hati-hati nanti!” maki Pek li Peng didalam hati. “Bun Kong cu adalah manusia apa? sekarang aku musti mendengarkan perintahmu, tapi lain kali kalau sampai kau terjatuh ketanganku, maka aku akan cambuk dirimu bagaikan budak belian.”
Siauw Ling amat kuatir kalau jejaknya diketahui oleh Cioe Cau Liong, selama ini dia hanya berdiri kaku dengan kepala tertunduk, sinar matanya tak berani saling membentur dengan dorot mata orang she Cioe itu.
Keadaan Phoa Liongpun tak berbeda, ia sangat kuatir kalau Cioe Cau Liong menanyakan asal usul dari kedua orang ini hingga membuat ia tak sanggup menjawab.
Siapa tahu Cungcu kedua dari perkampungan Pek Hoa san Cung ini sama sekali tidak memperhatikan kedua orang itu, bisiknya kepada It Boen Han Too, “It Boen heng, keinginan toa cungcu untuk menemukan istana terlarang sudah tak terkendalikan lagi, kepada siauwte ia telah berjanji bahwa tiga hari kemudian ia akan datang sendiri kemari, harap It Boen heng bisa menggunakan waktu yang amat singkat ini untuk menemukan sedikit keterangan hingga kita bisa memberikan pertanggungan jawab dikala Toa cung cu berkunjung kemari nanti.”
“Sekarang waktu sudah menjelang malam besok setelah fajar menyingsing kita baru bisa bekerja….”
Sinar matanya dialihkan kearah Phoa Liong dan melanjutkan, “Turunkan perintah, katakanlah atas titah dari Cioe jie cungcu pekerjaan malam ini untuk sementara waktu ditunda.”
“Hamba terima perintah” Phoa Liong segera menghunjuk hormat.
It Boen Han Too alihkan sinar matanya memandang sekejap kearah Siauw Ling serta Pek li Peng, kemudian sambungnya, “Kau bawalah mereka pergi cuci muka dan ganti seperangkat pakaian baru, kemudian berilah istirahat yang cukup bagi mereka berdua, esok pagi bawa menghadap diriku.”
Selesai berkata bersama Cioe Cau Liong, ia segera berlalu dari ruangan batu itu.
Memandang bayangan kedua orang itu hingga lenyap dari pandangan, Phoa Liong baru menggape sambil berkata, “Kalian berdua ikutlah aku.”
Siauw Ling serta Pek li Peng segera keluar dari ruangan, tampak bintang bertaburan diangkasa kiranya waktu itu sudah tengah malam….
Dengan membawa lampu lentera Phoa Liong membawa kedua orang itu masuk kedalam ruangan batu yang lain, dibawah sorot cahaya lampu tidak nampak sesosok bayangan manusiapun berada disana, ia segera menutup pintu berbisik lirih, “Simanusia berjenggot hitam yang membawa peti emas dan barusan kalian jumpai itu bukan lain adalah pemilik dari pesanggrahan Sian Kie soe loo yang amat tersohor dikolong langit….”
“It Boen Han Too bukan?” sambung Siauw Ling.
“Kau kenal dengan dia?”
“Sedang pemuda berpakaian perlente tadi adalah Jie cung cu dari perkampungan Pek Hoa San cung Cioe Cau Liong, betul bukan.”
Air muka Phoa Liong seketika berubah hebat.
“Siapakah sebetulnya dirimu?” tegurnya.
“Kau sudah terlalu lama berdiam didalam lembah bukit itu, terhadap perubahan situasi didalam dunia persilatan tentu tidak begitu tahu, mengertikah kau bahwa situasi telah berubah seratus delapan puluh derajat? para enghiong yang ada dikolong langit telah bangkit dari impiannya dan mulai menentang kekuatan dari perkampungan Pek Hoa San cung. Oleh sebab itu Shen Bok Hong buru-buru hendak membuka istana terlarang guna mendapatkan peninggalan dari beberapa orang cianpwee. Sedangkan mengenai nama cayhe, sekalipun kuucapkan belum tentu Phoa heng kenal, karena itu lebih baik tak usah kukatakan saja.”
JILID 36
“Kalau memang kau tak ingin menyembutkan siapa namamu, dapatkah kau memberikan keterangan sebenarnya kalian adalah musuh atau sahabat dari perkampungan Pek Hoa San cung?”
“Musuh! kalau cayhe adalah sahabat dari Shen Bok Hong, kenapa aku musti menyelundup masuk kedalam lembah ini?”
“Jadi kalau begitu kedatangan kalianpun disebabkan karena istana terlarang?”
“Sedikitpun tidak salah.”
“Kau kenal dengan Cioe jie cungcu serta It Boen Han Too, aku rasa mereka berduapun tentu kenal dengan dirimu?”
“Memang demikian keadaannya.”
“Bila besok pagi kalian harus cuci muka hingga wajah kalian yang sebenarnya kelihatan, bukankah rahasia kalian segera akan konangan bila bertemu dengan Cioe jie cungcu serta It Boen Han Too?”
“Itulah sebabnya Phoa heng harus carikan akal buat kami.”
Phoa Liong termenung berpikir sejenak, kemudian berkata, “Jika rahasia kalian berdua ketahuan dan merekapun sampai tahu bila kedatangan kalian kelembah ini mengandung maksud tertentu, bukan saja kalian berdua bakal dihukum mati sekalipun cayhe juga ikut terseret….”
“Hukum mati? aku rasa Cioe Jau Liong belum ada kemampuan untuk berbuat demikian, tetapi cayhe dalam keadaan beginipun tak ingin diketahui jejaknya oleh mereka.”
“Satu-satunya jalan bagi kita adalah berusaha untuk menutupi wajah sebenarnya dari kalian berdua, asal tindak tanduknya lebih berhati-hati rasanya merekapun tak akan menaruh curiga.”
“Asal kau tidak menghianati kami, darimana mereka bisa tahu akan rahasiaku.”
“Bila cayhe tidak mencarikan akal buat kalian berdua, kematian sudah pasti akan menimpa diri cayhe.”
“Bila Phoa heng suka membantu, dikemudian hari cayhe pasti akan membalas budi ini.”
Phoa Liong menggerakkan bibirnya seperti mau mengatakan sesuatu, tapi niat tersebut dibatalkan kembali, lama sekali ia baru berkata, “Apakah kalian berdua mempunyai obat untuk merubah wajah?”
“Tidak punya, rupanya kita terpaksa harus menggunakan bahan seadanya saja, pakai abu dan arang saja!”
“Menggunakan arang memang bisa mengelabuhi ketajaman mata Cioe Jie cungcu serta It Boen Han Too bila kalian berdua bercampur baur didalam kawanan pekerja, tetapi kalau berjalan sendiri dua orang, rahasia kalian mungkin bakal konangan.”
“Siapa yang suruh menunjuk kami berdua?” omel Pek li Peng.
“Cioe Jie cung cu yang menuding kalian berdua, dalam keadaan begini cayhe mana bisa menolak….” ia merandek sejenak, kemudian sambungnya, “Ketika cayhe masih sering melakukan perjalanan jauh didalam dunia persilatan tempo dulu, untuk merahasiakan jejakku pernah memiliki sebuah topeng kulit manusia. Tetapi sejak masuk kedalam lembah ini topeng tersebut tak pernah kugunakan lagi. Cuma sayangnya ada sebuah saja hingga tak bisa digunakan oleh kalian berdua….”
“Satupun sudah cukup. Adik perempuan diri cayhe tak pernah bertemu muka dengan mereka berdia. Asal kegadisannya sudah tertutup itu sudah lebih dari cukup.”
Mendengar perkataan ini Phoa Liong merogoh kedalam sakunya untuk ambil keluar sebuah topeng kulit manusia,sambil diserahkan ketangan Siauw Ling katanya, “Setelah memakai topeng ini maka wajahmu akan berubah menjadi kekuning-kuningan bagaikan orang sakti, setelah dipakai harap kau jangan membukanya secara sembarangan. Cayhe telah membantu dengan sekuat tenaga. Dapatkah kalian berdua menghindarkan diri dari pengamatan mereka terpaksa harus melihat kecerdikan sendiri, waktu sudah dekat pagi, cayhe segera akan menghantar kalian untuk pergi istirahat.”
“Toako, bagaimana kalau sekarang juga kau kenakan topeng itu?” ujar Pek li Peng sambil tersenyum. “Aku pingin lihat bagaimanakah raut wajahmu….?”
Siauw Ling menurut dan segera mengenakan topeng tadi, dibawah cahaya lampu terlihatlah raut wajahnya persis seperti orang penyakitan.
“Aaah, wajahmu benar-benar menyerupai orang sakit, dan kelihatan jauh lebih tua.” seru Pek li Peng.
“Itu lebih bagus.”
“Tempat ini tak bisa didiami terlalu lama, mari kita pergi!” seru Phoa Liong kemudian sambil berlalu lebih dahulu.
“Phoa heng, harap tunggu sebentar” mendadak Siauw Ling berseru. “Cayhe telah melupakan satu persoalan.”
Waktu itu Phoa Liong telah berada didepan pintu batu, mendengar seruan tersebut ia segera berhenti dan berpaling.
“Ada urusan apa?” tanyanya.
“Peng jie!” kata si anak muda itu sambil berpaling kearah Pek li Peng. “Bebaskanlah jalan darahnya.”
Pek li Peng tertegun mendengar perkataan itu, tetapi ia menurut dan mendekati juga tubuh Phoa Liong untuk membebaskan jalan darahnya yang tertotok tanyanya, “Apakah kita perlu menotok jalan darah yang lain?”
“Tidak usah….” ia berpaling kearah Phoa Liong dan segera menjura. “Budi pertolongan dari Phoa heng akan cayhe ingat selalu didalam hati. Bilamana saling bertemu kembali harap kita jangan bertemu dalam gelanggang pertarungan.”
Mendengar perkataan itu Phoa Liong menghela napas panjang.
“Aaaai….! kau benar-benar seorang koencu sejati!” pujinya.
Siauw Ling tersenyum.
“Dalam dunia persilatan keadilan serta setia kawan adalah paling penting. Setelah Phoa heng memandang cayhe sebagai sahabat, cayhepun tak berani memandang dirimu sebagai orang luar.”
“Toako! kenapa kau begitu mempercayai dirinya….” seru Pek li Peng.
“Peng jie, Phoa heng adalah seorang sahabat berdarah panas, ia bertugas sebagai mandor ditempat ini tentu mempunyai kesulitannya sendiri.”
Phoa Liongpun tidak banyak bicara, ia membuka pintu kamar dan segera menghantar kedua orang itu kembali kegua.
Malam itu berlalu tanpa kejadian apa-apa, keesokan harinya baru saja fajar menyingsing Phoa Liong telah masuk kedalam ruang batu sambil membawa obat penyaru untuk Pek li Peng.
Sambil bekerja merias diri gadis itu segera berbisik pada Siauw Ling, “Toako apa kita benar-benar hendak mendengarkan perintah orang….?”
“Ehmmm, sedikitpun tidak salah.”
Phoa Liong yang menyaksikan banyak pekerja yang telah bangun, segera mendehem berat dan berseru, “Cepatlah sedikit, Cioe Jie cung cu telah menantikan kedatangan kalian berdua….!”
Siauw Ling serta Pek li Peng segera bangun berdiri dan berjalan keluar dari ruangan batu itu mengikuti dibelakang Phoa Liong.
Waktu itu fajar telah menyingsing, cahaya keemas-emasan mulai memancarkan sinarnya dari ufuk sebelah timur.
“Berusahalah kalian berdua untuk menghadapi segala sesuatu dengan tenang dan sabar, agar rahasia jejak jangan sampai ketahuan” bisik Phoa Liong.
“Terima kasih atas petunjukmu.”
Ketika ia angkat kepala kembali, terlihatlah dua orang pria berpakaian ringkas, satu lelaki berusia lima puluh tahunan dan seorang kakek berambut putih berjubah hijau, bertelinga satu berdiri menanti ditengah jalan.
Bertemu dengan kedua orang itu, Phoa Liong segera menjura dan berseru, “Kalian tentu sudah lama menanti!”
Kakek bertelinga satu itu memperhatikan sekejap diri Siauw Ling serta Pek li Peng kemudian berkata, “Yang ini kenapa kelihatan menderita sakit yang amat parah?”
“Perkataan Teng heng sedikitpun tidak salah” sahut Phoa Liong sambil tersenyum. “Orang ini baru saja sembuh dari sakitnya sungguh tak nyana Jie cung cu telah menaruh perhatian kepadanya.”
Kakek she Theng itu alihkan sinar matanya keatas wajah Pek li Peng, kemudian menambahnya sambil tertawa, “Keparat ini berwajah bersih dan segar.”
“Sayang Jie cungcu telah memilih dirinya kalau tidak siauwte pasti akan menghadiahkan untuk Teng heng.”
“Orang lelaki memang gemar akan kebagusan, siauwte bisa menyukai akan kegesitannya. Aku rasa Phoa heng pun juga menyukai dirinya bukan….” ia merandek sejenak, lalu tambahnya. “Aku rasa mereka berdua jarang sekali kelihatan.”
“Aku sendiripun tak tahu nama mereka, tentu saja kau lebih-lebih tak tahu….” batin Phoa Liong didalam hati, segera sahutnya, “Kedua orang anak buah siauwte ini memang jarang sekali munculkan diri, lantaran yang satu sudah lama sakit dan tidak bekerja sedang yang lain seringkali melakukan pekerjaan sehari-hari didalam ruangan.”
“Oooouw, kiranya begitu.”
Dua orang pria berpakaian ketat yang berada disisi mereka, mendadak menimbrung, “Kalian berdua tak usah membicarakan persoalan yang sama sekali tidak penting lagi. Cioe Jie cung cu mungkin sudah lama menantikan kehadiran kita….”
Habis berkata ia berkata terlebih dahulu.
Siauw Ling yang menyaksikan dandanan mereka, dalam hatinya berpikir, “Kalau ditinjau dari dandanan mereka yang rapi dan rajin. Mungkin mereka adalah ketiga orang mandor lainnya.”
Sementara itu Phoa Liong serta sikakek bertelinga satu itu sudah tidak berbicara lagi, mereka segera berlalu mengikuti dibelakang dua orang pria berpakaian ringkas itu.
Siauw Ling berpaling memandang sekejap kearah Pek li Peng, kemudian pesannya, “Peng jie, kau harus belajar bersabar diri, jangan sembarangan turun tangan.”
Pek li Peng mengangguk.
“Aku akan mengikuti gerak gerik dari toako!”
Diam-diam Siauw Ling memperhatikan keadaan situasi didalam lembah itu, sedapat mungkin ia hapalkan letak semak belukar serta batuan karang yang ada disitu, ia sadar bahwa keadaannya pada saat ini sangat berbahaya, bilamana dapat menghapalkan situasi medan sekitar situ berarti menambah kemungkinan untuk memperoleh kesempatan hidup.
Mendadak terdengar suara aliran air, rupanya mereka telah tiba ditepi sebuah selokan.
Ia segera mendongak, tampak sebuah pancuran air yang besar memancarkan air dari permukaan tanah dengan dasarnya, air yang bening tetampung dalam selokan dan mengalir jauh keujung bukit.
It Boen Han Too berdiri diatas sebuah batu cadas tinggi satu tombak ditepi selokan tersebut, tangannya membawa kertas dan pitnya waktu itu sedang menulis sesuatu.
Cioe Cau Liong sambil mengendong tangan berdiri termangu-mangu disisinya sambil memandang gelombang air selokan.
Mendadak Siauw Ling teringat kembali akan tulisan ular melingkar serta burung elang terbang yang dijumpainya didasar air selokan, mungkinkah penemuannya itu juga diketahui oleh Cioe Cau Liong.
Karena curiga tanpa sadar iapun geserkan badannya kedepan, dengan ketajaman matanya ia awasi kearah mana sorot mata Cioe Cau Liong.
Setelah makan jamur batu berusia seribu tahum, ketajaman mata melebihi siapapun. Sekilas pandangan saja ia dapat melihat adanya bayangan merah diatas permukaan air dimana Cioe Cau Liong sedang pusatkan pandangannya, bayangan itu nampak bergerak-gerak didalam air selokan yang bergelombang.
Siauw Ling tak sempat melihat jelas benda apakah itu? ia hanya tahu bahwa bayangan merah tadi berkumpul didalam air.
Phoa Liong sekalian empat orang mandor agaknya menaruh sikap yang sangat menghormat terhadap Cioe Cau Liong serta It Boen Han Too, saat itu tak seorangpun yang berani buka suara untuk mengganggu. Mereka berdiri sejajar disamping sambil menanti dengan tenang.
Kurang lebih setengah jam kemudian, It Boen Han Too baru menyimpan kembali kertas serta pitnya dan meloncat turun dari atas batu.
Saat itulah Phoa Liong sekalian baru maju menjura sambil menyapa, “Menghunjuk hormat buat It Boen sianseng!”
“Sudah lamakah kalian berempat datang kemari?” tanya It Bon Han Too sambil tersenyum.
“Sudah lama sekali, tetapi kami tak berani mengganggtu pekerjaan It Boen sianseng.”
Waktu itu Cioe Cau Liongpun telah berpaling, sambil memandang sekejap kearah Phoa Liong sekalian berempat titahnya, “Didalam sehari dua hari mendatang Toa cungcu akan berkunjung kemari, harap kalian atur penjagaan yang lebih ketat, jangan sampai ada pihak musuh yang berhasil menyusup kedalam lembah ini.”
“Jie cung cu harap legakan hati, penjagaan didalam lembah ini sudah diatur sedemikian ketatnya sehingga jangan dikata manusia, burung yang terbang diangkasapun tak akan lolos dari pengawasan mata-mata kita yang tersebar luas dimana-mana” sahut sikakek bertelinga satu.
Air muka Cioe Cau Liong berubah jadi amat serius.
“Siatuasi pada saat ini jauh berbeda dengan keadaan tempo dulu, saat ini didalam dunia persilatan telah muncul seseorang yang sengaja mencari satroni dengan pihak perkampungan Pek Hoa San cung kita, lagi pula banyak jago Bulim yang sudah berpihak kepadanya….”
“Siapakah manusia yang punya nyali besar itu? berani betul dia memusuhi perkampungan Pek Hoa San cung kita.”
“Kalian sudah terlalu lama berdiam didalam lembah ini, banyak persoalan Bulim yang tak diketahui oleh kalian. Orang itu she Siauw bernama Ling. Usianya masih muda tetapi ilmu silatnya amat lihay sehingga Toa cungcu sendiripun agak jeri terhadap dirinya….”
Mendengar perkataan itu empat orang mandor tersebut segera berdiri tertegun, secara mendadak serentak tanyanya, “Apakah Toa cungcu pernah bertarung melawan dirinya?”
Dalam pandangan mereka berempat ilmu silat serta kecerdasan Shen Bok Hong sudah tiada tandingannya lagi dikolong langit, setelah secara tiba-tiba mendengar ada orang yang dapat menandingi Toa cungcu mereka sehingga membuat ia jadi keder, rasa terperanjat yang mereka rasakan saat itu sukar dibayangkan lagi dengan kata-kata.
Terdengar Cioe Cau Liong menjawab, “Walaupun Toa cungcu belum pernah ada kekuatan secara resmi dengan orang itu, namun bentrokan-bentrokan singkat pernah terjadi beberapa kali, orang itu memang seorang musuh tangguh yang jarang sekali dijumpai dalam kolong langit….”
Mungkin Cioe Cau Liong merasa bahwa ucapan yang lebih jauh bakal merusak nama baik serta gengsi Shen Bok Hong, mendadak ia alihkan pokok pembicaraan kesoal lain dan menambahkan, “Menurut laporan dari mata-mata perkampungan kita yang tersebar luas dimana-mana. Siauw Ling telah berada disekitar gunung Boe Gie san ini, oleh sebab itu kalian musti berlaku lebih hati-hati lagi.”
“Hamba sekalian menerima perintah!” keempat orang mandor itu segera merangkap tangannya menjura.
Rupanya suatu ingatan berkelebat dalam benak Phoa Liong, tanpa sadar ia melirik sekejap kearah diri Siauw Ling.
Sementara itu Cioe Cau Liong telah ulapkan tangannya sambil berkata, “Kalian tak usah berdiam disini lebih jauh hati-hati terhadap penyusupan orang luar kedalam lembah kita.”
Phoa Liong menjura.
“Jie cungcu! dua orang yang terpilih untuk menerima perintah sudah hamba bawa kemari.”
Cioe Cau Liong berpaling dan menyapu sekejap wajah Siauw Ling serta Pek li Peng, kemudian katanya, “Apakah orang itu berpenyakit?”
“Penyakit yang dideritanya belum lama telah sembuh!”
“Ehmm, baik kalian boleh berlalu!”
Keempat orang mandor itu mengiakan dan segera berlalu dari situ.
Baru saja Phoa Liong putar badan berlalu dua tiga langkah dari situ, tiba-tiba terdengar Cioe Cau Liong berseru kembali, “Phoa Liong, kau tetap tinggal disini!”
Phoa Liong mengiakan dan kembali ketempatnya semula.
Cioe Cau Liong pun tidak memperdulikan beberapa orang itu lagi, ia berpaling kearah It Boen Han Too dan berseru, “It Boen heng, apakah kau berhasil menemukan suatu pertanda yang mencurigakan?”
“Meskipun selat ini amat panjang tetapi keanehan yang patut kita curigai hanya terbatas disekitar selokan ini, Shen toa cungcu bisa menitik beratkan usahanya disekitar sini hal itu menandakan bahwa kecerdikannya memang luar biasa.”
“Sayang dua ratus orang pekerja yang selama beberapa tahun berturut-turut bekerja tiada hentinya ini belum berhasil juga menemukan sesuatu pertanda yang berharga!”
“Pada saat ini masih sulit bagi cayhe untuk memberi keyakinan, aku harus melakukan pemeriksaan lebih dahulu keseluruh lembah ini, kemudian baru membuat analisanya. Cuma….”
“Cuma kenapa?”
“Cuma aku rasa sumber air yang memancur itu nampak sangat aneh sekali….!” kata It Boen Han Too.
“Dimanakah letak keanehannya?”
“Terlihat dari air yang menyembur keluar, semestinya tempat ini merupakan suatu air terjun yang terdahsyat. Aku rasa sumber air dibawah tanah disekitar sini terhimpun jadi satu tempat ini, tapi mengapa yang muncul hanya sebuah pancuran air yang kecil? bukankah itu aneh sekali?”
“Jadi maksud It Boen heng, kemungkinan sekali pancuran air itu adalah hasil bendungan seseorang dengan daya arsiteknya yang lihay?”
“Dewasa ini kita yang bisa mengatakan bahwa hal itu mungkin saja benar, sulit untuk dinyatakan kepastiannya….”
Ia merandek sejenak, kemudian tambahnya, “Cayhe ada satu hal merasa kurang begitu jelas, apakah jie cungcu bisa memberikan keterangan yang aku perlukan?”
“Asal cayhe tahu pasti akan kukatakan keluar!”
“Apakah Shen Toa cungcu telah berhasil menemukan anak kunci istana terlarang?”
Cioe Cau Liong termenung berpikir sejenak, kemudian sahutnya, “Andaikata Toa cungcu telah berhasil mendapatkan anak kunci istana terlarang, rasanya ia tak perlu meraba dengan mata buta selama beberapa tahun ditempat ini.”
“Seandainya Shen Toa cungcu benar-benar belum berhasil mendapatkan anak kunci istana terlarang, darimana ia bisa tahu kalau istana terlarang berada disini?”
“Kejadian yang sebetulnya cayhe sendiripun merasa kurang begitu jelas, agaknya Toa cungcu berhasil mendapatkan sedikit keterangan dari mulut seseorang yang mengatakan bahwa istana terlarang terletak disini. Waktu itu setelah Toa cungcu masih berada didalam rangkaian latihannya yang ketat, tapi ia telah dua kali melakukan penyelidikan sendiri ketempat ini….”
“Menurut apa yang aku ketahui selamanya Toa cungcu bertindak teliti dan sangat berhati-hati, bila ia belum berhasil menemukan sesuatu bukti yang meyakinkan rasanya tak mungkin ia mengurus begini banyak pekerja untuk bekerja siang malam selama banyak tahun.”
Mendengar pertanyaan itu Cioe Cau Liong tersenyum.
“Toa cungcu setelah mengunjungi tempat ini sebanyak empat kali, ia segera mengambil keputusan untuk mengirim pekerja datang kemari, aku pikir mungkin saja ia berhasil menemukan pertanda yang meyakinkan hatinya. Tapi bagaimana kenyataannya? dua ratus orang pekerja kekar yang sudah beberapa tubuh bekerja giat ditempatini, namun tak sedikit pertandapun yang berhasil ditemukan, kalau tidak ada sebabnya Toa cungcu bersusah payah mengundang kehadiran It Boen Han heng untuk bantu mengatasi masalah ini?”
“Sepintas lalu pegunungan yang berderet disekitar sini nampak tiada sesuatu yang aneh, padahal dibalik kesemuanya itu terkandung keanehan yang mendalam, bila bukan seorang ahli silat untuk menemukan hal itu. Toa cungcu bisa mengirim pekerja datang kemari hal ini membuktikan bahwa iapun berhasil menemukan keanehan dari lembah bukit ini!”
“Kenapa cayhe tidak berhasil menemukan sesuatu apapun?” kata Cioe Cau Liong sambil menyapu sekejap sekeliling tempat itu.
It Boen Han Too segera tersenyum.
“Seandainya cayhe telah menunjukkan satu dua tempat keanehan yang ada ditempat ini, Jie cungcu pasti akan merasakan pula keanehan yang ada disini….!” katanya.
Selama ini Siauw Ling yang berdiri disamping memperhatikan terus pembicaraan kedua orang itu dengan seksama, pikirnya didalam hati, “It Boen Han Too menyebut dirinya sebagai pemilik pesanggrahan Sian Kie Soe Loo, rupanya dia memang seorang jagoan yang memiliki pengetahuan sangat tinggi. Cuma sayang manusia cerdik macam dia ternyata lebih suka berkelompok dengan manusia durjana macam Shen Bok Hong dan melakukan kejahatan disana sini.”
Berpikir sampai disitu, sinar matanya segera dialihkan kearah It Boen Han Too untuk memperhatikan gerak geriknya.
Tampaklah pemilik dari pesanggrahan Sian Kie Soe Loo itu mengayunkan tangan kanannya menuding kearah tebing dinding diatas pancuran air itu, katanya, “Jie cungcu, perhatikanlah dengan seksama diatas dinding tebing dekat pancuran itu terdapat keanehan apa?”
Mengikuti arah yang dituding oleh It Boen Han Too, si anak muda kita she Siauw pun segera ikut memandang, tampaklah diatas dinding tebing yang gundul dan mengkilap itu menyiarkan warna merah yang amat tajam, kecuali itu tiada tanda-tanda lain yang menunjukkan keanehan itu.
“It Boen heng” terdengar Cioe Cau Liong berkata. “Kecuali dinding tebing itu mempunyai warna yang menyolok, cayhe tidak berhasil menemukan sesuatu pertanda yang aneh!”
“Bagus. Rupanya iapun tidak berhasil menemukan keanehan tersebut” batin Siauw Ling didalam hati.
“Jie cungcu” kata It Boen Han Too. “Asal kau perhatikan dengan lebih seksama lagi maka kau akan menemukan bahwa dinding tebing yang berada disekitar tempat itu jauh berbeda dengan dinding tebing ditempat-tempat lain, bukankah begitu?”
Pikiran Siauw Ling jadi bergerak, kembali pikirnya, “Kenapa kau tak pergunakan seperti ini? persoalan yang begini gampangpun tak berhasil kutemukan….”
Terdengar Cioe Cau Liong mengiakan dan berseru, “Kecuali itu ada apanya lagi?”
Maksud dari ucapan itu jelas menunjukkan bahwa ia merasa tidak puas dengan keterangan yang diberikan It Boen Han Too.
Diam-diam Siauw Lingpun membatin, “Keadaan Cioe Cau Liong tidak berbeda dengan aku, sudah jelas ia tak berhasil menemukan pertanda itu, tapi lagaknya sih pura-pura mengerti tentang segalanya….”
Terdengar It Boen Han Too menyambung kata-katanya lebih jauh, “Urusan ini nampaknya saja amat sederhana, tapi dalam kenyataan justru disinilah letak kuncinya yang paling penting, walaupun cayhe belum sempat mendaki keatas dinding batu itu untuk melakukan pemeriksaan yang lebih seksama, rasanya dugaanku tak bakal salah lagi, lapisan luar dari dinding tebing itu mengandung perubahan yang sangat besar….”
“Perubahan apa?”
“Soal ini kembali merupakan suatu ilmu pengetahuan, batu tebing yang terdapat didalam lembah ini kebanyakan termasuk jenis batu karang, meskipun kerasnya bagaikan baja tetapi asal kita dapat menemukan guratan-guratan garisnya tidak sulit untuk menemukan keterangan yang lebih mendalam artinya, cuma sayang mengenali guratan garis bukanlah suatu pekerjaan yang gampang, bila bukan seorang yang ahli sulit untuk menemukannya….”
Ia merandek sejenak, kemudian tambahnya, “Bila dugaan cayhe tidak salah, beberapa puluh tahun berselang dinding tebing sekitar sini tidaklah begitu tandus dan mengkilap, sebaliknya merupakan tonjolan bukit seperti halnya dengan bukit-bukit lain….”
“Aaaah benar!” seru Cioe Cau Liong berlagak pintar. “Maksud It Boen heng, kemungkinan besar dinding tebing ditempat ini jadi mengkilap karena terpapas oleh seseorang, bukankah begitu?”
It Boen Han Too termenung berpikir sejenak, kemudian menyahut, “Andaikata diatas dinding tebing itu terdapat dua tonjolan bukit yang terpapas, bagi orang yang pengalaman hal itu bukanlah suatu kesulitan untuk diketahuinya, tapi seandainya tonjolan bukit itu terpapas seluruhnya hal ini malah sukar untuk diketahui….”
Bicara sampai disitu ia merandek dan meraba batu cadas yang amat besar dibawah tebing dinding itu.
“Kalau dilihat dari tonjolan batu diatas dinding itu jelas merupakan hasil papasan dari seseorang” katanya kembali. “Dan sebagian dari batu tersebut rontok ditepi selokan dibawah dinding tebing itu, cuma cayhe tak bisa memastikan apakah orang yang memapas batu itu ada maksud atau tiada maksud berbuat begini, dan tak bisa menduga pula apa maksud sebenarnya orang itu memapas batu tonjolan itu.”
“Jadi kalau menurut perkataan It Boen heng, istana terlarang sudah pasti berada disekitar sini?” seru Cioe Cau Liong kegirangan.
“Tentang soal ini cayhe tidak berani terlalu memastikan. Tetapi seandainya didalam sepuluh hari sampai setengah bulan pasti berhasil menemukan letak istana terlarang sekalipun cayhe berhasil menunjukkan beberapa tempat yang mencurigakan lalu apa gunakan.”
“Ucapan It Boen heng memang benar sekali” kata Cioe Cau Liong sambil mengangguk, jelas ia sudah dibikin takluk oleh luasnya pengetahuan serta kepandaian yang dimiliki orang she It Boen ini.
Tiba-tiba It Boen Han Too berpaling memandang sekejap kearah Pek li Peng, lalu serunya sambil menggape, “Coba kau kemarilah.”
Pek li Peng menurut dan maju kedepan, sementara mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa.
Siauw Ling segera mengempos tenaga memusatkan segenap kekuatan tubuhnya diatas telapak tangan guna siap sedia menghadapi segala kemungkinan, ia takut Pek li Peng buka suara dan jejak ketahuan.
Siapa tahu Pek li Peng hingga tiba beberapa depa dihadapan It Boen Han Too ternyata sama sekali tidak mengeluarkan sedikit suarapun.
“Coba kau mendakilah dari sisi sumber air pancuran itu, dan ambillah sebuah batu cadas” ujar It Boen Han Too sambil menuding kedepan.
Dengan air muka kaku dan tidak berubah Pek li Peng putar badan dan berjalan menuju kearah dinding tebing itu.
Diam-diam Siauw Ling menghembuskan napas lega melihat gerak gerik gadis itu, pikirnya, “Peng jie benar-benar amat cerdik, ia tahu kalau suaranya tak bisa meniru nada suara kaum lelaki, ternyata tak sepatah katapun yang ia utarakan keluar.”
Rupanya Cioe Cau Liong pun merasakan hal itu, mendadak sinar matanya dialihkan kearah Phoa Liong sambil tegurnya, “Kenapa orang itu lagaknya macam patung saja? sudah kaku sepatah katapun tidak diucapkan keluar.”
“Ooh, Jie cungcu, kau musti tahu, mereka sudah terlalu lama bekerja didalam lembah ini, dihari-hari biasa jarang sekali bercakap-cakap dengan orang lain, lama kelamaan hal ini jadi kebiasaan.”
“Kedua orang ini selanjutnya tak usah ikut bekerja lagi, biar mereka membantu It Boen sianseng dalam segala keperluan.”
“Hamba turut perintah!” sahut Phoa Liong sambil menjura.
Letak sumber pancuran itu dengan permukaan tanah hanya terpaut empat tombak, lagipula banyak tonjolan batu disekitar situ, untuk mendaki keatas boleh dibilang bukan suatu pekerjaan yang susah, apalagi mengandalkan ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Pek lo Peng, hanya dalam dua tutulan saja ia sudah dapat mencapai diatas.
Tapi pada saat ini gadis itu mendaki dengan menggunakan seluruh anggota badannya, bukan saja amat lambat bahkan seolah-olah payah sekali.
Siauw Ling jadi amat girang hati, pikirnya, “Kalau dilihat dari tingkah lakunya, helas kecerdikan yang dimiliki Peng jie tidak berada dibawahku.”
Dengan cepat ia alihkan sinar matanya kedepan dan memperhatikan gerak gerik gadis itu dengan seksama, tiba-tiba ia jumpai sepasang mata It Boen Han Too sedang memperhatikan terus diri Pek li Peng, hatinya jadi bergerak dan segera pikirnya, “Apakah It Boen Han Too sudah menaruh curiga terhadap diri Peng jie….? orang ini benar-benar merupakan seorang musuh tangguh yang sukar dilayani….”
Dalam pada itu Pek li Peng telah tiba disini sumber pencarian air itu, ia segera mengetuk batuan disekitar situ, kemudian setelah mengambil sebuah perlahan-lahan merangkak turun keatas tanah.
Gerak geriknya mantap dan lembut tetapi tidak gugup ataupun gelisah. Walaupun It Boen Han Too memperhatikan terus gerak geriknya namun iapun tak berhasil menemukan suatu pertanda yang mencurigakan.
Dengan membawa batu karang itu Pek li Peng kembali kehadapan It Boen Han Too kemudian dengan sikap yang sangat hormat mengangsurkannya kedepan.
It Boen Han Too menyambutnya dan meletakkan diatas telapak, dengan meminjam sorot cahaya matahari batu tadi diperhatikan dengan seksama.
Batu cadas yang kecil itu dalam pandangan It Boen Han Too saat ini lebih berharga daripada intan atau berlian, ia bolak balik batu itu dan diperiksanya dengan penuh perhatian, kurang lebih sepertanah nasi kemudian ia baru berpaling kearah Cioe Cau Liong sambil bertanya, “Apalah Shen Toa cungcu benar-benar akan datang kemari?”
“Ia pasti datang, bahkan dalam sehari dua hari mendatang.”
“Dalam hati cayhe masih ada beberapa persoalan yang mencurihakan hati, apalagi bisa memperoleh pembuktian yang jelas mungkin aku tak akan menyia-nyiakan harapan Cioe heng serta Toa cungcu. Sekarang Siauwte ingin berjalan-jalan sejenak mengelilingi lembah ini.”
“Jika didengar nada suaranya, rupanya ia sudah mempunyai keyakinan dalam hatinya” pikir Siauw Ling.
“Bagaimana kalau cayhe menemani diri It Boen heng?” terdengar Cioe Cau Liong menawarkan jasa baiknya.
“Tak perlu, asal ada seorang membawa jalan itu sudah cukup!”
Ia merandek sejenak, lalu tambahnya lagi, “Cioe heng! harap kau turunkan perintah agar mereka untuk sementara waktu beristirahat, dan sementara waktu jangan bekerja dulu. Menanti Toa cungcu telah datang kita baru membicarakan lagi persoalan ini.”
“Tentang soal itu…. tentang soal itu….”
“Bila Toa cungcu menegur nanti, Jie cungcu bisa timpahkan semua tanggung jawab ini atas namaku!”
“Baik! siauwte akan segera laksanakan seperti apa yang kau maksudkan….”
It Boen Han Too segera alihkan sinar matanya kearah Siauw Ling dan bertanya, “Apakah kau sanggup melakukan perjalanan?”
“Penyakit yang hamba derita telah sembuh, gerak gerik hamba telah bebas seperti sedia kala.”
“Baik, kalau begitu kalian berdua ada harapan mengikuti diriku!”
Tiba-tiba Phoa Liong merintangkan tangannya menghalangi jalan pergi mereka, serunya, “Didalam lembah ini banyak tertanam jebakan-jebakan yang tak terduga, hamba rasa kalau It Boen sianseng harus melakukan perjalanan seorang diri hari ini akan kurang leluasa bagimu.”
“Aku membawa mereka berdua bukankah sudah cukup….” kata It Boen Han Too sambil melirik sekejap kearah Siauw Ling serta Pek li Peng.
“Kedua orang ini kedudukannya hanya sebagai pekerja kasar didalam lembah ini” ujar Phoa Liong lebih jauh. “Para penjaga yang melakukan penjagaan dimulut lembah tak akan kenal dengan mereka, lagipula merekapun tidak tahu kode rahasia kami untuk saling berhubungan.”
“Jadi kalau begitu, aku harus membawa kau sebagai petunjuk jalan?”
“Sedikitpun tidak salah, andaikata Jie cungcu tidak melakukan perjalanan bersama sianseng maka terpaksa kita musti pilihkan salah seorang diantara keempat orang mandor untuk membawa jalan bagi sianseng.”
“Kalau begitu biar kau saja yang menghantar kami!” seru It Boen Han Too kemudian sambil tertawa.
Phoa Liong segera alhikan sinar matanya kearah Cioe Cau Liong, rupanya ia tak berani ambil keputusan sendiri.
Tampak Cioe Cau Liong tersenyum dan menjawab, “It Boen sianseng adalah tamu agung dari perkampungan Pek Hoa San cung kami, perjalanan menelusuri lembah dan bukit gersang kali ini adalah demi kepentingan perkampungan Pek Hoa San cung kita, kalian harus baik-baik melayani dirinya.”
“Hamba terima perintah!”
“It Boen heng, silahkan kau mengadakan pemeriksaan diseluruh lembah ini maaf siauwte tak akan menghantar lagi” ujar Cioe Cau Liong lebih jauh sambil tersenyum.
“Cioe heng, silahkan!” sinar matanya segera dialihkan kearah Phoa Liong dan sambungnya. “Sewaktu masuk kedalam lembah ini aku lewati arah sebelah timur, keadaan disitu sebagian besar sudah kuteliti dan perhatikan, sekarang lebih baik kau menghantar aku untuk meninjau keadaan disebelah barat saja.”
“Cayhe akan membawa jalan!” sambil berkata mandor she Phoa itu segera berangkat.
Sambil menjingjing peti emasnya It Boen Han Too mengikuti dibelakang tubuh Phoa Liong.
Dengan kerlingan matanya Siauw Ling memberi tanda kepada Pek li Peng untuk mengikuti dibelakang It Boen Han Too. Sedang dirinya mengikuti kurang lebih satu tombak dibelakangnya.
Dengan tampangnya yang berpenyakitan, orang lain mengira badannya kurang enak maka jalannya agak lambat, siapapun tidak menaruh curiga terhadap gerak geriknya itu.
Yang paling dikuatirkan Siauw Ling adalah berubahnya pikiran Phoa Liong ditengah jalan dan secara diam-diam melaporkan apa yang telah terjadi kepada Cioe Cau Liong serta It Boen Han Too. Karena itu setiap saat ia selalu perhatikan tingkah laku dari orang itu.
Siapa tahu dalam setiap tindakan tanduknya maupun dalam pembicaraan rupanya Phoa Liong ada maksud untuk membantu dia merahasiakan persoalan ini.
Dalam pada itu dibawah pimpinan Phoa Liong, mereka sudah berjalan puluhan tombak jauhnya. Lembah itupun mulai menikung kearah sebelah utara.
Setelah membelok satu tikungan lagi, pemandangan didasar lembah itu tiba-tiba berubah.
Yang terbentang didepan mata hanyalah tumbuhan ilalang setinggi pinggang manusia, keadaan itu berlangsung sepanjang puluhan tombak jauhnya. Kemudian lembah tadi menikung kembali kearah barat.
Mendadak Siauw Ling merasakan hatinya bergerak, pikirnya, “Tempat ini merupakan suatu tempat persembunyian yang sangat bagus, malam ini aku harus berusaha untuk mengundang kehadiran Tiong Chiu Siang Ku agar mereka bersembunyi disini. Bagaimanapun juga dengan adanya mereka berdua merupakan bantuan yang sangat berharga bagi pergerakanku….”
Terdengar Phoa Liong telah berkata kembali, “It Boen sianseng, keadaan didalam lembah ini aneh sekali seolah-olah setiap bagian mempunyai keadaan yang berbeda, setelah membelok pada tikungan sebelah depan sana, dasar lembah itu merupakan sebidang gurun pasir yang tandus, tak sebuah rumputpun yang bisa tumbuh disana.”
It Boen Han Too meletakkan peti emasnya keatas tanah, lalu memuji tiada hentinya, “Ehmmm….! suatu tempat yang sangat indah…. suatu tempat yang sangat indah rupanya tidak salah lagi.”
Perkataan itu diutarakan dengan bergumam dan merupakan ledakan dari suara hatinya, tetapi bagi Siauw Ling yang mendengarkan ucapan itu segera berhasil menangkap maksud yang sebenarnya, pikirnya dalam hati, “Rupanya buku pengetahuan yang pernah dibaca orang ini betul-betul tidak sedikit jumlahnya, terutama sekali mengenai ilmu geologi pengetahuannya sungguh amat luas. Tapi keadaan lembah inipun memang aneh luar biasa, agaknya setiap bagian mengandung sifat tanah yang berbeda. Sungguh tak nyana Cian chiu sin kong siahli bangunan bertangan sakti Pauw pauw it thian bisa mendirikan istana terlarang ditempat seperti ini….”
Tampak It Boen Han Too meletakkan peti emasnya mengambil kertas dan pit san mulai melukis.
Siauw Ling ingin sekali melihat apa yang sebenarnya sedang dilukis, tetapi karena takut jaraknya yang terlalu dekat akan menimbulkan kecurigaannya, terpaksa ia berdiri dari kejauhan sambil memperhatikan dengan seksama.
Secara lapat-lapat ia jumpai It Boen Han Too sedang melukis sebuah bukit diatas kertas itu, dan dibawahnya terdapat banyak sekali tulisan.
Kurang lebih satu jam kemudian ia baru bangkit berdiri, setelah masukkan kertas dan pit nya kedalam peti, ujarnya, “Didalam rerumputan yang lebat ini apakah ada jalan tembusnya?”
“Walaupun rumput ilalang yang tumbuh disini sangat lebat tapi tak seekor ularpun yang hidup disini, tempat ini tidak berbahaya!” sahut Phoa Liong cepat.
“Baik, kalau begitu harap kau berjalan didepan untuk membawa jalan!”
Setelah menembusi padang ilalang yang lebat, pemandangan yang terbentang dihadapan mereka benar-benar telah berubah.
Tampaklah pasir yang kuning dan udara yang gersang terbentang jauh sampai diujung pandangan.
Pemandangan semacam ini tidak jauh berbeda dengan keadaan digurun pasir, hanya tempat ini tidak seluas digurun.
“Sungguh tak nyana didalam lembah gunung ini memiliki pemandangan yang berbeda-beda” pikir Siauw Ling.
Tampak It Boen Han Too ambil keluar sebuah kantong kain dan mencomot dua genggam pasir kemudian dimasukkan kedalam kantong itu, ujarnya, “Setelah melewati padang pasir ini, pemandangan apa yang terbentang didepan situ?”
“Setelah melewati padang pasir, didepan sana merupakan padang batu kerikil berwarna putih.”
“Setelah melewati padang batu kerikil berwarna putih itu?”
“Pemandangan disana lebih