Pendekar2 Negeri Tayli 03
Jilid ke-69
Serentak orang-orang yang merasa terkena Sing si-hu lantas merubung maju sehingga Hi-tiok dan Ha Tai-pà terkurung di tengah.
Seorang tua lantas menarik bangun Ha Tài pa, katanya, "Sudahlah, jangan menjura lagi kita beramaì-ramaì juga ingin minta tolong pada Inkong."
Melihat Ha Tai-pa sudah bangkit, baruilah Hi-tiok ikùt berdiri kembali, katanya, "Harap kalian Jangan ribut dulu, dengarkan ucapanku!"
Mendengar-bakal tuan penolong mereka hendak “pidato”, seketika suasana menjadi sunyi senyap.
Dan sesudah semua orang tidak bersuara lagi itu Hi-tiok angkat bicara, "untuk memunahkan sing-si-hu boleh dikatakan tidak sulit bagiku. Tapi harus kuketahui dulu dengan tepat tempat mana yang terkena penyakit ítü, apakáh kalian masing-masing mengetahui sendiri?"
Maka semua orang menjadi ribut lagí, ada yang menyatakan tahu. ada yang bilang tempat hiat-to yang terkena 'Sing-si-hu, dan ada yang mencaci maki karena tidak tahu letak tempat yang keracunan.
Mendadak seorang di antaranya membentak, "Diam! Diam semua! Cara ribut seperti kalian ini, tentu Hi-tiok-cu Siansing tidak dapat mendengarkan dengan baik."
Ternyata yang bersuara itu adalah, kepala para petualang itu, yaitu Oh-loloa.
Maka keadaan menjadi tenang seketika.
Lalu Hi-tiok berkata, "Meski Caihe mendapatkan ajaran Tong-Io tentang cara memunahkan Sing-si-hu . . . . "
Belum habis ia bicara, serentak beberapa orang lantas berteriak. "Bagus, bagus sekali!" "Hahahahaaaaha Jiwa kita bakal selamat semua!"
Maka Hi-tiok melanjutkan, "Tapi dalam hal memeriksa dan menentukan tempat penyakit mungkin sungguh harus kukatakan kepandaianku terlalu dangkal. Tapi kalian juga tidak perlu kuatir asal tahu betul letak tempat yang terkena Sing-si-hu, tentu akan kutolong untuk memunahkannya. Andaikan tidak tahu tempatnya, kita juga bisa tukar pikiran dan dapat memecahkannya, pendek kata akhirnya pasti akan kusémbuhkan kalian."
Seketika para petualang itu bersorak gembira sehingga seluruh ruang terguncang seakan-akan runtuh.
Dan sesudah sùara sorak-sorai itu mereda, tiba-tiba Bwe-kiam berkata dengan dingin "Hm, jika Cujin hendak memunahkan Sing-si-hu kalian hal ini adalah berkat belas kasihan beliau. Akan tetapi kalian telah berani mati membikin Tong-lo menghilang dari istana dan àkhirnya beliau wafat di rantau, kalian berani menyerbu pula ke sini sehingga mengakibatkan tidak sedikit korban di antara kawan Kia-thian-poh. Coba katakan yang kalian ini cara bagaimana harus diperhitungkan?”
Para petualang saling pandang dengan kebat-kebit mereka tahu apa yang dikatakan Bwe-kiam itu memang betul. Jika Hi-tiok adalah ahli waris Thian-san Tòng-lo, maka terhadap dosa méreka tentu takkan dibiarkan begitu saja. Mereka menjadi takut dan bingung.
Untunglah Oh-lotoa segera berkata pula, “Tentang ucapan nona ini memang benar. Dosa kami memang terlalu besar, maka kami rela menerima hukuman dari Hi-tiok Cu Siansing."
Mendengar ucapan Oh-lotoa itu, para petualang yang lain paham juga maksudnya, segera mereka ikut berseru. "Benar, dosa kami terlalu banyak, hukuman apa yang hendak dijatuhkan Hi-tiok cu Siansing kepada kami, dengan rela kami siap menerimanya."
Ada di antaranya yang kapok benar-benar oleh siksaan Sing-si-hu, terus saja mereka menyembah berulang-ulang sambil minta ampun.
Hi-tiok sendiri menjadi bingung malah katanya kepada Bwe-kiam, "Enci Bwe- kiam, bagaimana menurut pendapatmu?”
“Mereka ini bukan manusia baik, mereka telah membunuh kawan kita sebanyak ini, harus suruh mereka mengganti nyawa," sahut bwe-kiam.
Tongcu dari Giok-sian-tong adalah seorang kakek berumur 70-an tahun, ia memberi hormat kepada bwe-kiam dan berkata,' "Nona, karena kami terlalu tak tahan oleh siksaan Sing-si-hu, dalam keadaan, kalap sehingga tanpa pikir berani main gila ke Biau-biàu-hong sini, untuk, ini mohon nona sudi memberi ampun."
Tapi Bwe-kiam lantas mênarik muka dan berkata, "Tidak, mereka yang pernah membunuh orang harus segera menahan lengan kanan sendiri ini adalah hukuman yang paling ringan."
Sampai di sini ia merasa telah mendahului perintah sang majikan, maka cepat ia berpaling kepada Hi-tiok dan berkata, "Betul tidak, Cujin?"
Hi-tiok merasa hukuman demikian terlalu kejam, tapi ia pun tidak ingin membikin menyesal Bwe-kiam maka sahutnya, ' "Ini….ini....kukira......”
Sekonyong-konyong di antara orang banyak itu tampil ke muka seorang pemuda yang ganteng dan tampan, itulah dia Toan Ki, pangeran dari Taili.
Dasar Toan Ki memang suka usilan, suka ikut campur urusan orang lain yang dianggapnya tidak adil. Maka ia memberi salam kepada Hi-tiok, dan berkata dengan tertawa,. "Saudara Hi-tiok, ketika orang-orang ini hendak menyerbu Biau-biau-hong, seják mula juga aku tidak setuju biarpun aku telah memberi nasihat, tetapi mereka tidak msu gubris, dan hari ini mereka telah berdosa, untuk ini adalah pantas jika saudara Hi-tiok memberi hukuman yáng setimpal. Maka sekarang ingin kuminta suatu tugas dari saudara apa boleh serahkan kepadaku untuk memberikan hukuman kepada kawan-kawan ini?"
Tempo hari Hi-tiok juga dengar sendiri ketika Toan Ki mencegah para petualang itu menyerang biau-biau-hong. Maka ia cukup kenal watak pangeran Taili yang berbudi ini, diam-diam ia pun sangat menghormat padanya. Memangnya sekarang ia sedang b¡ngung mengambil keputusan maka ia menjadi girang atas ucapan Toan Ki itu sahutnya, "Bagus,. bagus! Jika Toan-kongcu sudi membantu memecahkan soal ini, sungguh aku merasa sangat berterima kasih.”
Semula para petualang itu sangat mendongkol karena Toan Ki berani ikut campur urusan dan bahkan mendamprat mereka, segera banyak di antaranya hendak mencaci-maki, Di luar dugaan Hi-tiok lantas menerima saran Toan Ki tanpa pikir, karuan méreka mengkeret dan menekan kembali caci-maki yang hamper dílontarkan itu.
Toan Ki berdehem dulu sekali üntuk melicinkan tenggokkannya, lalu ia menarik suara, “Terima kasih atas kepercayaan saudara Hi-tiok kepádaku tentang dosa para hadirin ini memang térlalu besar, tapi hukuman yang kujatuhkan juga tidak ringan.
Sekárang Hí-tiok cu Siansing sudah menyerahkán tugas penyelesaian ini padaku, bila di antara kalian ada yang membangkang tentu Hi tiok-cu Siansing tak mau memunahkan lagi Sing-si-hu kalian. Sekarang hukuman pertama adalah…… adalah kalian harus menyembah delapan kali dengan penuh khitmad di hadapan layon tong lolo, kalian harus berdoa dan menyatakan kalian telah insaf atas segala dosa yang pernah diperbuat kalian, jika kalian tidak berdoa dengan bersungguh-sungguh, maka dosa kalian akan tambah satu kali lipat.”
"Bagus, bagus! Hukumán pertama ini sangat tepat!" kata Hi-tiok dengan senang.
Semulá para petualang itu tidak tahu Kongcu yang ketolol-tololan ini entah dengan cara bagaimaná akan menghukum mereka, maka hati mereka sebenarnya sedang kebat kebit sekarang demi mendengar bahwa merekà hanya dihukum menyembáh di depan layoñ Tong-lolo, keruan mereka girang setengah mati dan serentak menyatákan tùnduk kepada hukuman itu, andaikan nanti sambil menyembah dan diam-diam mereka mengutuk Tòng lolo kan juga tiada orang tahu.
Sebaliknya Toan Ki tambah bersemangat karena syarat pertama yang dikemukakan itu serentak diteríma semua orang, segera ia berkata pula, "Dan syarat kedua, kalian juga diharuskan menjura di depan layon para saudari Kin-thian-poh yang telah gugur. Barang siapa di antara kalian yang telah membunuh diharuskan juga menyembah dan berdoa, disamping itu harus berkabung pula sebagai tanda berduka cita. Dan bagi yang tidak membunuh dengan segera saudara Hi tiok-cu akan menyembuhkan penyakitnya sebagai tanda restu."
Memangnya sebágian besar dí antará para petualang tidak membunuh orang diatas Biau-biau-hong, dengan sendirinya mereka lantas berseru menyatakan tunduk. Sedangkan sebagian lain yang merasa telah membunuh anggota Kin-thian-poh tadinya mereka hendak dihukum oleb Bwe-kiam dengan menyuruh mereka menebas lengan kanan sendiri, tapi sekarang mereka cuma di hukum menyembah, dan berkabung saja, hukuman ringan yang berbeda seperti langit dan bumi itu tentu saja cepat-cepat diterima mereka dengan baik.
Akhirnya Toan Ki berkata pula, “Dan syarat yang ketiga, kalian diharuskah tunduk kepada perintah Leng-ciu-kiong untuk selama-selamanya, dilarang mempunyai maksud jahat apa yang dikatakan Hi-tiok-cu Siansing kalian harus tunduk padanya.
Bukan saja harus menghormati Hi-tiok cu Siansing, bahkan terhadap saudari Bwe-kiam berempat juga kalian mesti menghormat padanya, tidak boleh bersikap kasar dan kurang ajar pada mereka. Nah, sekian saja. Jika diantara kalian ada yang merasa tidak setuju, bolehlah lekas maju untuk coba-coba ukur tenaga dengan Hi tiok-cu Siansing, bukan mustahil kalian akan diberi hajaran yang setimpal olehnya."
Sudah tentu para-petualang itu tidak berani banyak cingcong, serentak mereka menyatakan taat dan tunduk bahkan ada yang menyatakan hukuman yang dijatuhkan kepada mereka itu terlalu ringan dan minta ditinjau kembali.
Namun Toan Ki tetap menyatakan Cuma sekian saja pidatonya, lalu katanya kepada Hi-tiok, "Saudara Hi tiok bagaimana pendapatmu atas ketiga syarat hukuman yang kusebut inl?"
"Tepat sekali, banyak terima kasih,"' sahut Hi-tiok. Lalu ia pun berpaling kepada Bwe-kiam berempat dan berkata, "Kalian tentu setuju pula atas syarat-syarat hukuman itu, bukan?"
Sahut Bwe-kiam, "Cujin, engkau adalah penguasa tertinggi di Leng cu-kiong ini, apa yang Cujin rasakan baik, sudah tentu hamba sekalian menurut saja."
Hi-tiok tersenyum dan berkata pula, "Akhirnya aku . . . aku ingin bicara lagi sedikit, entah . . . entah pantas tidak kalau kukatakan terus terang?"
"Hamba dari ke-36 gua dan ke-72 pulau selamanya berada di bawah perintah- Biau-biau-hong, jika Kaucu ada perintah. Apa-apa, tiada satu pun di antara hamba sekalian berani membangkang." seru Oh-lotoa selaku kepala para petualang itu, "Tantang ketiga syarat hukuman yang diputuskan Toan kongcu barusan itu sesungguhnya terlalu longgar dan sangat menguntungkan kami yang berdósa ini.
Andaikan Kaucu sendiri akan menjatuhkan hukuman lain pula, hamba sekalian tetap akan taat dan rela menerimanya."
Maka berkatalah Hi-tiok, "Usiaku masih terlalu mudà dan pengalamanku sangat cetek, hanya berkat mendapat ajaran beberapa jurus ilmu silat dari Tong-lolo saja, sebenarnya aku malu untuk dipanggil sebagai “Kaucu” segala. Aku hanya mempunyai dua titik pikiran, entah . . . entah benar tidak, biarlah kukatakan terus terang dan harap para hadirin mempertimbangkannya."
Sejak kecil Hi-tiok selalu menduduki tempat yang rendah, kerjanya Cuma dibentak dan diperintah orang, selamanya dia tidak pernah punya hak untuk mengemukakan pendapat segala, sekarang dia mesti bicara di hadapan orang banyak, dengan sendirlnya ia tambah kikuk dan tergegap suaranya.
Diam-diam Bwe-kiam berempat sama berpikir "Mengapa Cujìn.bersikap demikian masakah terhàdap kaum hamba yang pantas dihukum mati juga mesti sungkan-sungkan?"
Maka terdengar Oh lotoa berkata, "Sedemikian baik dan ramah Kaucu terhadap kami sungguh biarpun hancur-lebur juga hamba sekalian merasa tidak cukup untuk membalas budi kebaikan Kaucu Ini. Maka bila Kaucu ada perintah apa-apa, silakan bicara saja!”
"Ya, ya, aku tidak pandai bicarä, hendaklah kalian jangün . . . jangan mentertawai aku," ujar Hi-tiok. "Adapun dua Soal yang hendak kukatakan adalah. pertama, ini rasanya terlalu bersifat pribadi, sebab aku berasal . . . berasal dari Siau-lim-si, maka dari itu ingin kuminta bantuan kalian agar selajutnya di kalangan kongouw janganlah membikin susah anak murid Siau-lim-pai. Ini adalah permintaanku dengan tulus hati dan berani kukatakan sebagai perintah."
Segera Oh-lötoa berteriak kepada orang banyak. "Nah, menurut perintah Kaucu, untuk selanjutnya bila para saudara bertemu dengan para taisu dari Siau-lim-pai, kalian harus menaruh hormat pada mereka, sekali-kali tidak boleh berbuat kurangajar!"
Serentak para petualang berseru menyatakan taat.
Mendengar permintaan pertama telah disanggupi semua orang dengan bulat maka Hi-tiok menjadi tambah besar, segera ia berkata pula, “Terima kasih atas kesediaan kalian. Tentang hal Kedua tak lain ialah kuharap kalian suka mengingat sesamanya dan jangan sembarangan membunuh orang. Paling baik kalau segala mahluk berjiwa jangan kalian bunuh, kalau semut saja sayang pada jiwa mereka, apalagi makhluk hidup lainya. Bahkan kalau bisa hendaknya pantang makan barang berjiwa pula. Cuma pantangan ini memang tidak mudah untuk dilakoni sebab aku sendiri akhirnya juga melanggar larangan demikian ini. Pendek ....pendek kata membunuh orang adalah perbuatan yang tidak baik maka hendaknya jangan membunuh!"
"Nah, dengarkan para kerabat bawahan Leng ciu-kiong, Kaucu memberi perintah agar selanjutnya jangan sembarangan membunuh orang tak berdosa dan makhluk berjiwa, kalau melanggar tentu akan mendapat hukuman yang setimpal." Demikian seru Oh-Lotoa.
Dan kembali para petualang itu berseru menyatakan tunduk.
"Oh-siansing engkau memang lebih pandai bicara dengan singkat saja mereka telah menerima kata-katamu," ujar Hi-tiok dengan tertawa. “Eh, di manakah letak bagian badanmu yang terkena Sing-si-hu. Coba katakan, biar segera kupunahkan bagimu.”
Sebabnya Oh lotoa berani menyérempet bahaya memimpin pemberontakan ini tiadà lain ialah ingin memunahkan penyakit Sing-si-hu yang menyiksa jiwa raganya itu, sekarang mendengar Hi Tiok siap untuk menyembuhkan dia keruan girangnya tak terkatakan saking terima kasihnya ia terus berlutut dan menyembah pada Hi-tiòk.''
Lekas Hi-tiok juga berlutut untuk membalas hormat dan bertanya pula, “Oh-siànsing luka perutmu yang tertimpuk biji cemara tempo hari apakah sekarang sudah sembuh?"
Sementara itu Bwe-kiam berempat sudah menggerakan pesawat rahasia sehingga batu raksasa yang menyumbat pintu gerbang pendopo itu terbuka dan serentak para anggota Cù-thian-poh, Hian-Thian-poh dan lain-lain,membanjir masuk berbareng terdengar pula suàra bentakkan dan teriakan Ting Pek-Jwan, Pau Put-tong dan kawan-kawannya berbondong-bondong mereka pun menerobos ke dalam.
Kiranya tadi mereka telah keluar hendak bertempur dengan Thian-san Tong-lo, tapi mereka tidak menemukan si nenek, sebaliknya kebentur para anggota Cu-thian-poh dan lain-lain yang sudah tiba di depan Leng ciu-kiong dengan mengusung layon Tong-lo, dasar ucapan Pau Tut-ong memang kasar, watak Hong Po-ok juga paling gemar berkelàhi maka tanpa banyak omong terus saja merekà bergebrak dengan orang-orang Leng cui-kiong.
Sudah tentu.Ting Pek-jwàn berempat kewalahan melawan keroyokan para wanita
Leng-ciu-kiong yang cukup lihai itu, maka mereka terdesak mundur dan menderita
luka yang tidak ringan. Untung pada saat yang gawat itu pintu gerbang dibuka olah
Bwe-kiam berempat dan berseru untuk menghentikan pertempuran mereka, dengan
demikian Ting Pekjwan berempat tidak sampai binasa dikerubut lawan yang jauh
lebih banyak itu.
Begitulah segera para wanita dari kesembilan bagian Leng-ciu-kiong itu lantas
maju memberi hormat kepada Hi-tiok dan atas perintah Hi-tiok di ruang pendopo itu
lantas diadakan perjamuan untuk melayani para petualang.
Buyung Hok merasa dirinya tiada gunanya tinggal lagi disitu, segera ia
membawa Ting Pek jwan dan lain-lain memohon diri. Sementara ítu Kiam-sin Tok
Put-hoan dan Hü-long Siancu Cui Lik-boa entah sejak kapan sudah mengeluyur
pergi.
Melihat Buyung Hok hendak pergi, dengan sangat Hi-tiok menahannya. Tapi
Buyung Hok berkata, " Aku turut bersalah pada Biau-biau-hong, berkat kemurahan
hati saudara, maka kesalahanku itü tidak diusut lebih jauh, sungguh kami merasa
berterima kasih."
Dengan rendah hati Hi-tiok menjawab, "Ai, jangan berkata demikian. Kepandaian
kedua Kongcu (maksúdnya Buyung Hok dan Toan Ki) serba pintar dan hebat, aku
sendiri merasa kagum tak terhingga dan ingin . . . ingin bisa banyak meminta
petunjuk kepada Kongcu berdua, sebab . . . . sebab aku sendiri sesungguhnya terlalu
. , . terlalu bodoh!”
Sesudah mengalami pertempuran tadi dan menderita beberapa luka, memangnya
Pau-Put-tong lagi mendongkol, sekarang mendengar ucapan Hi tiok yang seperti
sengaja dibikin-bikin itu, ditambah Hi-tiok ternyata menyimpan gambar Ong Gook
yan, keruan Put-tong menjadi curiga dari mana keledai gundul ini memperoleh
gambar nona Ong itu, terang dia seorang hwesio munafik dan cabul. Karena itu,
segera Put-tong berseru, "Haha, Siausuhu minta kedua Kongcu tinggal terus di sini
yang benar kau ingin si cantik yang tinggal di sini. Kenapa tidak kau katakan terus
terang minta nona Ong tinggal di Biau-biau-hong"
Hi tiok menjadi bingung safiutnya, "Ap . . .apa maksudmu? Nona , . . nona Ong
apa?"
"Alah pakai pura-pura tldak tahu?" ejek Put tong. "Pikiranmu tidak tulus,
memangnya kaukira orang dari keluarga Koh-soh Buyung semuanya dungu dan tidak
tahu maksudmu! Hehe, sungguh menggelikan!"
"Aku tidak paham apa yang Siansing maksudkan," sahut Hi-tiok. "Entah urusan
apa yang menggelikan?"
Dasar watak Pau Put-tong memang kukuh dan tidak mau kalah, sekali
penyakitnya angot, biarpun menghadapi bahaya juga tak terpikir lagi olehnya. Terus
saja ia mencak-mencak dan berteriak-teriak, "Kau keledai gundul cilik ini mengaku
sebagai hwesio Siau-lim-si, jika benar kamu murid suatu golongan yang tersohor
mengapa kau ganti bulu masuk ke golongan yang terkenal jahat dan bergaul dengan
kaum setan iblis yang tak keruan ini? Hm, asal melihat dirimu aku lantas dongkol.
Seorang hweslo mempunyai gendak beratus wanita merasa tidak cukup, sekarang
mala hendak menaksir nona Ong pula, Hm..ingin kukatakan padamu bahwa nona
Ong adalah kepunyaan Buyung-kongcu kami, katak buduk macam dirimu ini
hendaklah jangan mengimpikan sang bidadari lebih baik lekas sadar kembali dari
lamunan itu."
Begitulah makin bicara makin semangat, sampai akhirnya ia benar-benar
mencak-mencak dan memaki-maki sambil menuding hidung Hi-tiok.
Tentu saja Hi-tiok tambah bingung, sahutnya "Aku . . . aku ti. . . tidak …..”
Pada saat itulah mendadak Oh-lotoa dan Hi Tai-pa serentak menubruk maju
sambil membentak dan mengacungkan senjata mereka yang berupa golok dan
ganden raksasa, berbareng mereka menyerang Pau Put-tong.
Buyung Hok tahu para petualang yang lagi disembuhkan oleh Hi-tiok itu sekarang
tentu akan membantu Hi-tiok dengan mati-matian jika sampai terjadi pertempuran
tentu akan sukar meloloskan diri. Maka cepat ia pun melompat maju, ia keluarkan
kepandaiannya yang khas "Tau-coan-sing-ih” sekali bergerak ia putar balikkan
serangan lawan, bacokan golok Oh-lotoa diputar membacok ke arah Ha Tai-pa,
sebaliknya ganden Ha Tai pa digeser menjadi menghantam ke arah Oh-lotoa. Màka
terdengar suara "trang" yang keras kedua senjata saling bentur sendiri dan lelatu api
meletik.
Menyusul itu Buyung Hok terus mendorong pundak, Pau Put-tong sehingga
punggawanya itu terpental keluar pintu. Habis itu ia memberi hormat kepada Hi-tiok
dan bertata, "Maaf, mohon pamit!"
Dan sedikit ìa melompat, tahu-tahu ia sudah berade di luar pintu.
Ia tahu pintu pendopo itu terpasang pesawat rahasia, bila batu raksasa tadi
digeser untuk menyumbat pula, maka mereka pasti tidak bisa lari.
Sebaliknya sama sekali tiada maksud Hi-tiok hendak memùsuhi Buyung Hok,
maka cepat sahutnya. "Nanti dulu, Kongcu, bukan .... bukan begitu maksudku, aku. .
, aku . . . ."
Mendadak Buyung Hok membalik tubuh dan berseru dengan kencang, "Apakah,
saudara menganggap dirimu tiada tandingannya di dunia ini ingin memberi putunjuk
beberapa jurus padaku?”
"O, ti . . . tidak, aku ti . . . tidak... . . " sahut Hi-tiok dengan gelagapan sambil
goyang tangannya.
"Kunjunganku ke sini memang agak sembrono, apa barangkali saudara ingin
menahan kami di sini?" seru Buyung Hok pula.
Tetap Hi-tiok menggeleng kepala dan berkata, “Bu . . . bukan begitu maksudku”
Dengan angkuh Buyung Hok memandang pada Tongcu dan Tocu serta Bwe-kiam
berempat dan para anggota Kim-thian-poh. Karena terpengaruh oleh sikapnya yang
kereng, seketika tiada seorang pun berani maju.
Selang sejenak, tiba-tiba Buyung Hok mengebaskan lengan bajunya dan berkata
"Mari berangkat!"
Segera ia melangkah pergi dengan cepat di iringi kawan-kawannya.
"Kaucu," seru Oh-lotoa kepada Hi-tiok jika dia dibiarkan pergi dari Biau-bian-
hong. Lantas ke mana pamor kita akan ditaruh? Harap Kaucu lekas memberi
perintah untuk menahan mereka."
"Sudahlah," ujar Hl-tiok sambil geleng kepala "Aku . . . aku pun tidak tahu
mengapa día marah-marah padaku? Ai, tungguh aku tidak paham . . "
Sementara itu Giok-yan ikut pergi di antara rombongan Buyung Hok itu, ketika
tidak, melihat Toan Ki tiba-tiba ia berpaling dan berseru, "Sampai bertemu lagi,
Toan-kongcu!"
Hati Toan Ki tergetar rasanya menjadi pedih dan tenggorokannya seakan-akan
tersumbat, dengan sekuatnya, ia pun menjawab, "Ya, sam….sampai bertemu!"
Ia lihat bayangan Ong Giok-yan semakin menjauh dan tidak pernah berpaling
pula, hanya telinganya masih berkumandang ucapan Pau Put-hong tadi yang
mengatakan, "Nona Ong adalah kepunyaan Buyung-kongcu, orang lain hendaknya
jangan menaksirnya sepertí katak buduk mengimpikan bidadari. Ya, memang benar
ketika berdiri dí depan pintu tadí betapa gagah perkasanya Buyung-kongcu. Hanya
sekàlì saja dia telah mematahkan serangan dua lawan kuat, caranya itu
menunjukkan betapa tinggi ilmu silatnya. Sebaliknya orang tak punya kepandaian
apa-apa.
Seperti diriku ini, dimana-mana hanya dibuat buah tertawaan orang, sudah tentu
tidak dipandang sebelah mata oleh si día? Ai, betapa mesra dan kasih sayangnya
nona Ong ketika menandangi piaukonya itu. Sebaliknya aku Toan Ki lah, benar-benar
seperti, seekor katak buduk yang mengimpikan bidadari!"
Begitulah sesaat itu dì ruang pendopo itu tengah tertegun dua orang pemuda, Hi-
tiok dan Toan Ki.
Hi-tiok merasa heran dan sangsi, la garuk-garuk kepala dan bingung.
Sebaliknya Toan Ki termangu-mangu dan muram durja. Kedua orang saling
berhadapan dan diam saja sehingga mirip dua pemuda linglung.
Sampai agak lama baru Toan Ki menghela napas dan berkata, "Saudara Hi-tiok
rupanya kita senasib dan setanggungan. Rasa rindu dendam yang terukir dalam hati
sanubari cara bagaimana menghiburnya?"
Muka Hi-tiok menjadi merah jengah. Disangkanya Toan Ki mengetahui
hubungannya dengan si dewi impian? Maka dengan tergegap-gegap ia tanya, "Da . .
. dari mana Toan-heng meng . . . ….mengetahuinya?"
"Hendaklah saudara Hi-tiok jangan kuatir, menyukai wanita cantik adalah sifat
pembawaan setiap manusia," ujar Toan Ki, "Kita sebenarnya senasib dan mempunyaì
pangalaman yang sama, sayang kita tidak kenal sejak dulu-dulu. Ilmu silat saudara
maha tinggi, tetapi dalam soal asmara yang diutamakan adalah jodoh satu sama
lain. tidak peduli betapa tinggi ilmu silatmu atau pengetahuanmu sangat luas, kalau
tiada jodoh, tetap tidak jadi,"
"Hanya bergantung jodoh satu sama lain, ya, jodoh itu memang cuma dapat di ..
ditemukan dan tak dapat dicar¡ sendiri . . . Ya, sesudah berpisah, dunia seluas Ini, ke
mana lagi dapat mencarinya?" demikian Hi-tiok berguman sendiri.
Yang dimaksudkan Hí-tíok dengan sendírinya ialah "Dewi impiannya," sebaliknya
Toan Ki menyangka jika Hi-tíok menyimpan gámbar Ong Giok-yan, terang dia juga
cinta pada nona itu seperti Toan Ki sendiri. Dan sebabnya Hi-tiok cekcok dengan
Buyung Hok tadi disangka oleh Toan Ki tentu juga lantaran berebut Ong Giok-yan.
Dasar Hi-tiok dan Toan-Ki mempunyai sifat ketolol-tololan yang sama maka
makin bicara makin melantur, tapi juga makin cocok satu sama lain. sementara itu
para wanita Leng-ciu-kiong sudah menyiapkan perjamuan, segera Hi tiok
menggandeng tangan Toan Ki dan diajak dahar bersama.
Para Tongcu dan Tocu terhitung bawahan Leng-ciu-kiong dengan sendirinya tiada
seorang pun berani bersatu meja dengan Hi-tiok. Sebaliknya Hi-tiok sendiri tidak
paham tata-krama segala maka ia pun tidak mengajak mereka, ia hanya asyik bicara
sendiri dengan Toan Ki.
Memangnya Toan Ki sangat kesemsem terhadap Ong Giok-yan, maka dia tiada
habis-habis memuji nona itu, memuji perangainya yang halus dan kecantikannya
yang tiada taranya.
Sebaliknya Hi-tiok menyangka yang dipuji Toan Ki adalah ''dewi impiannya",
dengan sendirinya ia tidak berani tanya Toan Ki, mengapa kenal si "dia", lebih-lebih
tidak berani Hi-tiok mencari keterangan asal-usul dewi impannya itu, hanya hatinya
saja yang berdebar-debar, pikirnya,
"Sesudah Tong-lo meninggal, kusangka di dunia ini tiada seorang pun yang tahu
lagi akan si dewi impianku, tak tersangka, Tuhan Maha Kasih. Toan-kongcu juga
mengeotahuinya, Tapi dari ucapan-ucapan Toan-kongcu ini. tampaknya ia pun
sangat kesemsem padanya, jika aku membeberkan kejadian dalam gudang es, di
sana aku telah main cinta dengan si dia. Ah, tentu Toan-kongcu akan gusar dan
segera pergi dari sini, han ini berarti aku, tak dapat mencari tahu, hal keterangan
dewi impianku itu.“
Begitulah maka segera ia pun memberi suara dan ikut memuji si nona yang
dikatakan Toan Ki. Dan karena kedua orang sama-sama tidak menyebut nama si
nona yang mereka bicarakan, biarpun sudah sekian lama mereka mengobrol, tetap
mereka tidak tahu bahwa di antara mereka telah "salah wesel."
Dalam pada itu Bwe-kiam berempat bergiliran menyuguhkan arak, kalau Toan Ki
menegak secawan, maka Hi-tiok juga lantas mengiringi secawan sambil masih terus
bicara dan memuji si jelita.
Sampai tengah malam, para petualang sama berbangkit untuk memohon diri dan
ditunjukkan tempat mengaso oleh para dayang. Sedangkan Hi tiok masih terus
minum arak bersama Toan Ki meski sudah tidak sedikit mereka menenggak.
Dahulu waktu Toan Ki berlomba minum dengan Sian Hong di kota Bu-sik, dengan
sengaja Toan Ki mendesak arak yang diminumnya itu keluar melalui jarinya, tapi
sekarang ia minum arak sebagai pelipur hati nan lara, maka la minum dengan
sungguh-sungguh, setiap cawan arak itu benar-benar masuk seluruhnya ke dalam
perut.
Dalam keadaan sudah agak sinting ia berkata kepada Hi-tiok. "Saudara, aku
mempunyai seorang saudara angkat, namanya Siau Hong. Orang itu adalah ksatria
sejati, pahlawan tulen, takaran minum arak juga tiada bandingannya. Jika. Saudara
bertemu dengan dia, kuyakin saudara akan kagum dan suka padanya. Cuma sayang
dia tidak berada di sini. Kalau ada, kita bertiga dapat mengikat persaudaran dan
minum bersama dengan sepuas-puasnya, sungguh akan merupakan suatu
kesenangan hidup yang bahagia."
Selama hidup Hi-tiok tidak minum arak, sekarang dia minum sekian banyak
berkat Iwekangnya yang tinggi, namun begitu toh pikirannya juga sudah kabur,
lidahnya terasa kelu. Wataknya yang biasanya takut-takut sekarang berubah menjadi
pemberani, tiba-tiba ia pun berkata, "Toan-heng, jika . . . jika engkau tidak mencela
diriku, bolehlah kita berdua mengangkat saudara lebih dulu. kelak bila berjumpa
dengan Siau-tauko boleh kita mengulangi mengangkat saudara sekali lagi."
Toan Ki sangat girang, sahutnya, "Bagus. Bagus! Entah berapa umur saudara ,
sekarang?"
Begitulah kedua orang lantas mengemukakan usia masing-masing dan ternyata
Hi-tiok lebih tua dua tahun.
"Jiko" segera Toan Ki memanggilnya sebagai kakak kedua. "terimalah hormat
Siaute ini!"
Dan segera ia berbangkit dan menjura kepada kakak angkat itu.
Cepat Hi-tiok hendak membalas hormat tapi karena terpengaruh oleh bekerjanya
arak kakinya terasa lemas, mendadak sempoyongan dan jatuh terduduk.
Lekás Toan Ki membangunkan Hi-tíok dan tanpa sengaja hawa murni kedua
orang saling beradu sama-sama merasakan tenaga dalam masing-masing sangat
kuat, cepat mereka sama, sama menahan kembali tenaga sendiri.
Saat itu Toan Ki juga agak mabuk sehingga langkahnya sempoyongan,
sekonyong-konyong kedua orang berbahak-bahak dan saling rangkul sehingga sama-
sama terguling di lantai.
"Jika, Siaute tidak mabuk, marilah kita minum lagi seratus cawan," seru Toan Ki.
"Baik, kakak tentu akan mengiringimu minum sepuasnya" sahut Hi-tiok.
"Orang hidup harus bergembira sepuasnya, marilah kita habiskan secawan ini,
hahaha!" seru Toan Ki.
Kedua orang makin lama makin kelelep sehingga akhirnya sama sekali tak
sabarkan diri.
Esok paginya ketika Hi-tiok mendusin. Ia merasa dirinya tidur di atas sebuah
ranjang yang sangat empuk dan halus. Waktu ia buka mata dan memandang keluar
kelambu, dilihatnya ia berada di dalam sebuah kamer tidur yang sangat luas, tidak
banyak alat perabot dalam kamar besar itu sehingga kelihatan longgar tapi banyak
terdapat hiasan barang antik dan lukisan kuno yang indah.
Dalam pada itu kelihatan seorang dara cilik membawa sebuah nampan porselen
sedang mendekati tempat tidurnya. Segera Hi-tiok mengenalinya sebagai lam kiam,
"Silakan cuci muka dulu."
Karena semalam terlalu banyak minum arak, mulut Hi-tiok terasa sangat sepat
dan tenggorokan terasa kering. Ketika dilihatnya di atas nampan yang dibawakan
Lam-kiam itu ada semangkuk air teh, terus saja ia angkat dan diminumnya hingga
habis.
Kiranya air itu bukanlah air teh melainkan wedang kolosom yang selama hidup
Hi-tiok belum pernah merasakannya, habis minum la pun tidak tahu air Apakah yang
terasa manis-manis pahit itu.
Kemudian ia berkata kepada Lam-kiam, "Terima kasih atas pelayananmu.
Sekarang aku . . .aku hendak bangun boleh kaukeluar dulul"
Tapi belum lagi Lam-kiam keluar, tiba-tiba dari luar masuk lagi seorang nona cilik
lain, yaitu Kiok-kiam. Dengan tersenyum ia berkata, "Kami taci beradik akan
melayani Cujin berganti pakaian!"
Sembari berkata ia terus mengambilkan serangkat baju dan celana dalam, warna
hijau pupus yang sudah tersedia di kursi yang terletak di ujung tempat tidur sana.
Keruan Hi-tiok serba kikuk, mukanya merah jengah, sahutnya, "Tidak, tidak!" Aku
tidak perlu dilayani kalian, aku kan tidak sakit, cuma habis mabuk arak saja. Wah,
cilaka, baru sekarang aku ingat telah melanggar pantangan ajaran Budha lagi, Eh, di
manakah Samte? Di manakah Toan-kongcu, ke mana dia pergi? Apa kalian melihat
dia?”
Sambil tertawa Lam-kiam menjawab, "Toan-kongcu telah berangkat menyusul
kekasihnya. Sebelum pergi beliau suruh hamba menyampaikan pesan kepada Cujin,
katanya bila urusan di sini udah selesai, Cujin diminta berkunjung ke tonggoan dan
dapat bertemu ia sana."
“Ai, masih ada urusan penting yang hendak kutanyakan padanya, mengapa día
pergi begitu saja” seru Hi-tiók terkejut atas pérginya Toan Ki secará mendadak tanpa
pamit itu. Segera ia melompat bangun dari tempat tidür dengan maksud hendak
menyusul Toan Ki untuk menanyakan dimana tempat-tinggal "dewi impian" yang di
rindukannya itu.
Tapi demi mendadak melihat dirinya hanya menggunakan baju dalam yang putih
bersih, tiba-tiba ia menjerit kaget dan cepat menutup badannya dengan selimut.
Serunya dengan heran, “Hei, mengapa aku sudah ganti pakaian?'
Rúpányá waktu ia keluar dari Siau lim-si, baju dalam yang dipakai adalah büatán
dari kain kasar dan karena sudah, terpakai sekian bulan pakaian dalam itu pula
sudah rombeng dan kotor. Sebaliknya baju yang melekat pada badannya sekarang
tipis halus dan bersih pula, ia sendiri tidak tahu baju itu terbuat dari bahan sutra
atau katun, pendek kata pastilah bahan yang sangat mahal.
Maka dengan tertawa Kiok-kiam menjawab, “Semalam Cujin mabuk, maka kami
berempat saudara melakukannya, apakah Cujin sama sekali tidak berasa?"
Hi-tiok tambah kaget mendengar keterangan itu, sekilas ia lihat Kiok-kiam dan
Lam-kiam yang cantík manís seketika hati Hi-tiok berdebar-debar. Waktu ia coba
melihat dada sendiri, ia lihat kotoran dan daki-daki yang biasa tertimbun di situ
sekarang sudah tergosok bersih. Ia menjadi ragu dan berkata, "Wah, aku benar-
benar mabuk untung masih dapat mandi sendiri."
"Semalam Cujin sama sekali tidak sadarkan diri lagi," kata Lam-tiam dengan
tartawa, "dan kami berempatlah yang mencuci badan Cujin."
"Haaah?" teriak Hi-tiok kaget dan hampir-hampir jatuh keblengar, berulang-ulang
ia menjerit pula. "Wah. cialat!"
Keruan Kiok-kiam dan Lam-kiam ketakutan oleh sikap Hi tiok itu, cepat mereka
bertanya, "Cujin, apakah ada suatu yang tidak betul?"
"Aku adalah orang lelaki, badanku kotor lagi berbau busuk, mana boleh kalian
berempat mengerjakan tugas-tügas yang tidak baik ini.” ujar Hi-tiok dengan
menyengir.
"Kami berempat adalah hamba Cujin yang setia andaikan hamba sekalian ada
berbuat sesuatu kesalahan, mohon Cujin memberi hukuman yang setimpal," kata
Lim-kiam dengan khitmad. Habis berkata bersama Kiok-kiam mereka terus berlutut
dan menyembah.
Melihat kedua dara cilik itu marasa takut-takut padanya Hi-tiok menjadi teringat
kepada Siopopo, Cio-soh dan lain-lain yang pernah juga merasa takut ketika dirinya
membalas hormat mereka sekarang Kiok-kiam berdua juga ketakutan karena
mendengar ucapannya yang ramah-tamah, boleh jadi mereka sudah biasa dibawab
pengaruh Tong lo yang berwatak aneh itu, semakin nenek itu bersikap ramah dan
berkata dengan halus, itu berarti maut bagi orang yang diperlakukan dengan ramah-
tamah itu.
Maka Hi-tiok berkata lagi, "Ya, baiklah kalian boleh Keluar sana, aku sendiri dapat
berpakaian dan tidak perlu dilayanl kalian."
Terpaksa Kiok-kiam berdua berbangkit dengan air mata berlinang-linang, mereka
mengundurkan diri keluar dengan menangis.
Hi-tiok menjadi heran, cepat ia tanya pula, "He, ada apakah Mengapa kalian
menangis? Apa barangkali ucapanku ada yang salah?"
Kiok-klam berdua berhenti di luar pintu dan berkata, "Cujin, hal ini tentu
disebabkan Cujin sudah . . . sudah jemu kepada kami..." Belum habis ucapannya air
mata merekapun bercucuran.
"O, tidak, tidak," sahut Hi-tiok sambil goyang-goyang tangan. “Mungkin aku tidak
pandai bicara sehingga kalian tidak paham rnaksudku. Soalnya aku adalah seorang
lelaki dari kálián adalah wanlta. ini menjadi………menjádi kurang leluasa dan . ..dan
sungguh aku tiáda bermaksud lain, Budha menjadi saksi, sungguh mati aku tidak
mendustai kalian."
Melihat gerak-gerik Hi-tiok yang serba kikuk dan lucu itu. Kiok-kiam berdua
menjadi geli, kata mereka kemudian, "Maafkan kaml jika demikian halnya.
Selamanya penghuni Leng-ciu-kiong tidak pernah terdapat orang laki dan kami pun
belum selamanya tidak pernah melihat kaum lelaki. Cujin adalah langit dan hamba
sekalian adalah bumi masakah mesti dibeda-bedakan antara lelaki dan perempuan
ségala?"
Dan segera Lam-kiam berdua mendekati Hi tiok lagi untuk melayaninya
berpakaian dan bersepatu. Tidak lama kemudian Tlok-kiam dan Bwe-kiam juga
datang, yang lalu menyisirkan rambut Hi-tiok, yang lain mencucí mukanya.
Karuan Hi tiok serba kikuk, tapi juga tidak beranl bersuara lagi karena kuatir
menimbulkan rasa kurang senang keempat dayang itu.
Ia menduga Toan Ki tentu sudah pergi jauh, untuk menyusulnya juga tidak
keburu lagi, apalagi para TongCu dan Tocu itu sedang memerlukan pértolongannya
untuk memunahkan ,Sing-si-hu. mereka, maka sesudah sarapan pagi, lalu ia menuju
ke ruang pendopo untuk menemui para.petualang itu kemudian ia menyembuhkan
dulu dua orang yang paling menderita karena siksaan racun Sing-si-hu.
Tapi untuk melenyapkan racun Sing-sl-hu itu harus digunakan tenaga murni
dengan memainkan "Thian-san-liok-yan-Jiu,". Bagi Iwekang Hi-Tiok yang tinggi
sekarang sudah tentu tidak merasa lelah biarpun sekaligus berpuluh-puluh orang
harus di sembuhkannya. Soalnya Sing-si-hu yang dltanamkan Tong-lo pada badan
para petualang itu masing-masing berbeda tempatnya, untuk mencari tempatnya
dan memikirkan jalan memusnahkannya. hal inilah yang agak memusingkan Hi-tìok.
Sebab itulah, sampai lohor baru beberapa orang saja yang dapat disembuhkan oleh
Hi-tiok.
Sesudah mekan slang dan istlrahat sébentar diam-diam Hi-tiok merasa kesal
karéna tldak dapat memunahkan para penderita itu dengan lancar.
Melihat sang majikan berkerut kening dan pusing oleh cara memunahkan Sing-si-
hu, tiba-tiba Bwe-kiam memberitahu, “Cujin, di belakang istana leng-ciu-kiong ini
terdapat banyak ukiran dinding tinggalan majikan-majikan lama dari ratusan tahun
yang lalu, Hamba pernah mendengar cerita Tong lo yang mengatakan bahwà ukiran
dinding itu ada sangkut pautnya dengan Sing-si-hu. Apakah barangkali Cujin ada
minat untuk melihatnya?”
Hi-tiok melonjak girang. "Bagus" serunya dan segera ia minta Bwe-kiam
berémpat mengantarnya.
Setiba di taman bunga belakang Leng-ciu-long, beramai-ramai Bwe-kiam
berempat memindahkan sebuah gunung-gunungan sehingga dibawahnya terlihatlah
sebuah lubang masuK Ke suatu jalan di bawah tanah. Dengan membawa obor
segera Bwe-kiam mendahului masuk ke situ di ikuti Hi-tiok dan ketiga dayang lain.
Sepanjang jalan lorong itu Bwe-kiam berkali-kali mematilkan pesawat rahasia
yang dipasang di sltu agar tidak menghamburkan senjata berbisa dan sebagainya.
Jalan itu berliku-liku, terkadang agak longgar dan lain saat menyempit lagi, nyata
jalan itu dibuat di dalam gua yang menembus kedalam perut gunung.
Sesudah sekian jauhnya mereka menyusur jalan dalam gua alam itu, akhirnya
Bwe-kiam manolak sebuah batu besar sehingga terbukalah sebuah pintu di bagian
dalamnya adalah sebuah ruangan. Bwe-kiam berdiri menyisih lalu berkata, "Silakan
Cujin masuk, di dalam situ adalah sebuah kamar batu, hamba sekalian tidak berani
ikut masuk."
"Mengapa tidak berani? Apakah di dalam itu berbahaya?"' tanya Hi-liok.
"Bukan karena berbahaya, tapi ini adalah tempat suci Leng-ciu-kiorg kita, hamba
sekalian tidak boleh sembarangan masuk ke situ," sahut bwe-kiam.
"Ah, tidak apa-apa, ayolah ikut masuk saja,” ujar Hi-tiok, "Jalan di luar sini terlalu
sempit, tentu kalian tak leluasa berdiri terus di sini."
Keempat dara cilik itu tampak saling pandang dengan rasa girang. Maka Bwe-
kiam berkata pula, “Cujin, menurut pesan Tong lolo sebelum wafat,beliau
menyatakan kepada hamba, berempat bila kami tetap taat dan setia melayani beliau,
tanpa berbuat sesuatu kesalahan, maka setelah kami berusia 40 tahun, kami akan
diperbolehkan masuk ke dalam kamar batu ini, setiap tahun kami boleh tinggal satu
hari di sini, untuk mempelajari kungfu yang terukir didinding kamar itu. Sekarang
walaupun Cujin sangat berbudi baik hati, tapi apa yang pernah dikatakan Tong-lolo
sekali-kali kami tak boleh melangarnya, kami harus menunggu lagi selama 22 tahun."
"Hah, 22 tahun lagi? Kan barabe? Tak kala mana kalian sendiri tentu juga sudah
tua, lalu masih mampu apa belajar ilmu silat lagi?" demikian kata Hi tiok. "Ayolah
masuk saja sekarang bersama aku!"
Keempat dayang itu menjadi girang. Cepat mereka berlulut dan menyembah.
"Bangunlah, lekas bangun!" kata Hi-tiok. “Tempat ini sangat sempit, tidak perlu
banyak adat.”
Kemudian mereka berlima memasuki kamar batu itu bersama. Ternyata dinding
sekeliling kamar itu tergosok sangat licin, dinding dinding itu penuh terukir lingkaran-
lingkaran sebenar mangkuk im tiap-tiap lingkaran itu terukir pula gambar, ada
gambar manusia, ada gambar binatang, ada huruf-huruf yang sudah tidak lengkap
lagi, ada pula gambaran tanda-tanda dan garis-garis yang susah dipahami. Di sisi
setiap lingkaran itu, sedikitnya ada beberapa ratus buah, untuk melihatnya lagi tak
bisa habis seketika.
"Cujin, marilah kita mengikutinya mulai dari nomor pertama, betul tidak?” ujar
Bwe-kiam.
Hi-tiok mengangguk setuju. Lalu dengan penerangan obor mereka berlima mulai
meneliti gambar ukiran pertama. Dan sekali pandang saja saja Hi-tiok mengenali
lukisan itu menunjukkan jurus pembukaan gaya Thian-san-ciat-bwe-jiu. Waktu
memandang pula gambar kedua, benar juga jurus kedua dari Thian san-ciat-bwe-jiu
dan begitu seterusnya.
Selesai gambar Thian-san-ciat-bwe-jiu, menyusul adalah gambar penjelasan
Thian-san-lion yang-jiu, setiap gerak-geriknya dan setiap kunci sarinya telah ditulis
semua di dalam lingkaran yang terukir di dinding batu itu.
Sesudah gambar Thian-san-lion-yang-jiu, selanjutnya adalah gerak tipu ilmu silat
lain-lain.
Jurus ilmu silat itu meliputi ilmu silat yang pernah diajarkan Tong-lo kepada Hi-
tiok ketika nenek itu bertanding dengan Li Jiu sui setelah lolos dari gudang es. Cuma
penjelasan-penjelasan dalam gambar sekarang ini dirasakan oleh Hi-tiok jauh lebih
jelas dan lebih lengkap daripada apa yang pernah didengarnya dari Tong lo itu. Maka
sedikit ia pikir saja segera ia dapat memahaminya dengan baik."
Tempo hari waktu Thian san Tong Lo mengajarkan tipu-tipu silat itu kepada Hi-
tiok untuk mengalahkan Li Jiu-sui, saat itu karena terbatas oleh waktu, maka apa
yang diajarkan nenek itu hanya garis besarnya daripada setiap tipu silat itu,
sedangkan saripati yang paling bagus dan secara terperinci tak diajarkan. Sekarang
Hi-tiok mengerahkan hawa murni dalam tubuhnya menurut petunjuk-petunjuk yang
dibacanya pada gambar-gambar di dinding itu seketika ia merasa badannya sangat
ringan dan seakan-akan hendak mengapung sendiri.
Selagi Hi-tiok merasa semangatnya berkobar-kobar dan tenaganya memuncak
sekonyong-konyong didengarnya suara jerit kaget orang. Hi-tiok terkejut ia menoleh
dan melihat Lam-kiam dan Tiok-kiam sedang terhuyung-huyung dan akhirnya jatuh
ke lantai. Bwe-kiam dan Biok-kiam juga tampak sempoyongan sambil berpegangan
dinding, wajahnya tampak pucat.
Lekas-lekas Hi-tiok mendekat dan membangunkan mereka, katanya, "Hai, ada
apakah?"
"Cu . . . Cujin," sahut Bwe-kiam dengan tak lancar, "kekuatan kami terlalu . . .
terlalu rendah dan tidak dapat mengi . . . mengikuti gambar-gambar dinding ini,
biarlah kami . . . kami menunggu di luar saja,"
Habis berkata, keempat dara itu lantas berjalan keluar, kamar batu itu dengan
merambat dinding.
Hi-tiok tertegun sejenak, kemudian ia pun menyusul keluar. Ia lihat keempat
dayang itu duduk bersila di jalan lorong itu dan sedang mengerahkan tenaga, badan
mereka tertampak agak gemetar dengan wajah pucat menderita.
Segera Hi-tiok tahu keempat dayang itu telah terluka dalam yang tidak ringan,
cepat ia gunakan Thian-san-hok-yang-jiu untuk menepuk masing-masing satu kali di
punggung mereka, Seketika suatu arus hawa hangat segar menembus jalan darah
keempat dayang itu dan air muka mereka lantas segar kembali, tidak lama kemudian
jidat meraka tampak berkeringat, kemudian berturut-turut mendongak dan berseru,
"Terima kasih atas pertolongan Cujin.” Dan berbareng mereka pun menyembah.
"Sudahlah apa yang telah terjadi, tanpa sebab kenapa kalian bisa terluka?" tanya
Hi-tiok sambil membangunkan mereka.
"Cujin," tutur Bwe-kiam sambil, menghela napas, "baru sekarang kami tahu
bahwa sebabnya Tong-lolo suruh kami masuk ke kamar batu ini bila usia kami sudah
40 tahun, ternyata beliau memang tidak ingin membikin susah kami. Ternyata
gambar-gambar dinding ini teramat hebat dan tinggi, kekuatan hamba sekalian
masih belum mencapai tarap yang cukup untuk mempelajarinya, Tapi dengan
sembrono tadi hamba berani coba-coba berlatih dengan mengikuti gambar-gambar
itu, dan karena tenaga tidak cukup, seketika hawa murni yang bergolak dalam tubuh
nyasar ke urat nadi. Coba kalau Cujin tidak lantas menolong, tentu hamba sekalian
akan celaka."
"O, kiranya demikian, jika begitu, akulah yang salah, mestinya aku tidak boleh
menyuruh kalian ikut masuk ke situ." kata Hi-tiok.
Serentak-keempat, dayang itu menyembah lagi dan minta ampun, " Ai, itu kan
maksud baik Cujin adalah salah hamba sendiri yang berani ikut-ikut berlatih secara
sembrono."
Kemudian Bwe-kiam berkata, "Dengan kekuatan Cujin yang maha tinggi, untuk
melatih ilmu sakti menurut gambar dinding itu tentu akan sangat besar manfaatnya.
Dahulu Tong-lo sering tinggal sampai berbulan-bulan dalam kamar batu itu untuk
mempelajari ilmu sakti itu. Sebabnya para keparat Tongcu dan Tocu itu berani
menyerang Leng-ciu-kiong tujuan mereka juga ingin mencari tahu di mana tempat
penyimpanan benda pusaka Tong lolo. Tapi para saudara tetap setia dan jujur,
biarpun mati tidak mau menyerah kepada mereka. Mestinya, kami berempat
brrmaksud memancing kawanan bangsat itu masuk ke jalan lorong batu ini, sekali
hamba membuka pesawat rahasia, sekaligus mereka akan binasa semua di sini."
"Ilmu sakti menurut gambar di dinding itu memang maha hebat," ujar Hi-tiok.
"Aku Cuma melatih beberapa jurus di antaranya dan semangatku lantas terasa
berkibar-kibar dan tenagaku penuh, biarlah kita kembali saja dan akan ku
sembuhkan sing-si-hu mereka itu. Kalian sendiri boleh pergi mengaso dulu."
Segera mereka berlima keluar dari jauh di bawah tanah itu, Hi-tiok kembali ke
ruang pendopo dan beberapa orang Tongcu di antaranya telah disembuhkan lagi.
Dan begitulah seterusnya, singkatnya saja, setiap hari Hi-tiok tentu menggunakan
Thian-san-liok-yang-jiu untuk memunahkan racun Sing-si-hu para Tongcu dan Tocu
itu. Bila semangatnya terasa lesu dan tenaga kurang, segera ia pergi ke kamar batu
untuk menyakinkan ilmu sakti dengan ditunggui oleh Bwe-kiam berempat, mereka
...tidak pernah ikut masuk lagi ke dalam kamar batu.
Di samping itu setiap hari Hi-tiok juga memberi petunjuk ilmu silat kepada Bwe-
kiam berempat dan para wànita lain, ia mengajar dengan sungguh-sungguh dan
secara adil tanpa pandang bulu atau pilih kasih.
Keadaan begitu berlangsung sampai hampir sebulan lamanya barulah Sing-si-hu
para petualang itu dipunahkan seluruhnya. Sebaliknya setiap hari Hi-tiok mempelajari
ilmu sakti yang tertera di dinding kamar batu. Itu sehingga kepandaiannya juga maju
sangat pesat, jauh berbeda daripada waktu mula-mula datang ke Biau-biau-hong.
Sesudah racun Siag-si-hu merasa disembuhkan, para Tongcu dan Tocu itu sudah
tentu sangat berterima kasih kepada Hi-tiok, apalagi Hi-tiok sangat ramah kepada
mereka, biarpun mereka adalah manusia yang tidak kenal apa artinya kebaikan,
sekarang mau-tak-mau mereka pun merasakan utang budi dan takluk betul-betul
kepada Hi tiok.
Akhirnya mereka pun mohon diri dan kembali ke tempatnya masing-masing
sesudah menyatakan terima kasih.
Dengan perginya para petualang itu, suasana di Biau-biau-hong menjadi sunyi,
sekarang di atas gunung itu hanya tinggal Hi-tiok sendiri merupakan satu-satunya
orang lelaki. Dalam keadaan kesepian Hi-tiok termenung, "Sejak kecil aku sudah
yatim piatu dan diberikan oleh Suhu di Siau-lin-si. Jika sejak kini aku tidak pulang ke
Siau-lim-si, rasanya aku menjadi lupa budi dan tidak ingat kebaikan Suhu. Maka aku
harus pulang ka sana. aku harus mengaku dosaku di depan Suhu dan tongtiang."
Karena pikiran itu, segera ia memberitahukan maksudnya itu kepada Bwe kiam
berempat dan para wanita, hari itu juga ia hendak berangkat dan segala urusan di
Leng-ciu-hong ia serahkan kepada. pimpinan Sio-popo dan Giok-soh sekalian.
Bwe-kiam berempat minta ikut agar dapat selalu melayani sang majikan, tapi Hi-
tiok berkata. “Kepergianku ke Siau-lim-ti adalah untuk menjadi hwesio pula. Masakah
di dunia ini ada hwesio yang hidup dengan dilayani kaum dayang?”
Tapi Bwe-kiam berempat tidak percaya dan tetap ingin ikut. Terpaksa Hi-tiok
mengambil pisau cukur dan mencukur rambut sendiri sehingga halus klimis dan
kelihatan bintik-bintik hitam bekas momotan api dupa di atas kepalanya.
Melihat itu barulah Bwe-kiam berempat mau percaya, terpaksa mereka
mengantar keberangkatan Hi-tiok dengan rasa berat.
Sementara itu Hi-tiok sudah berpakaian asalnya, yaitu pakaian hwesió Siau-lim-si.
Dengan langkah lebar ia langsung menuju pegunungan Siaw-lim-san. Karena
wataknya suka mengalah, dengan sendirinya sepanjang jalan tiada terjadi
percekcokan dengan orang begitu pula kaum penjahat juga tiada yang menaksir
seorang hwesio miskin seperti dia. Maka dengan aman akhirnya dia pulang sampai
Siau-lim-si.
Sesudah pulang kandang, tanpa terasa timbul rasa malu dan terharu Hi-tiok.
Hanya dalam beberapa bulan saja ia meninggalkan biara suci itu, tapi dirinya sudah
melanggar pantangan agama tentang membunuh, makanan barang berjiwa, minum
arak dan wanita. Untuk dosanya itu entah nanti Hong tiang dan gurunya akan
mengampuninya atau tidak.
Begitulah dengan rasa tidak tentram ia memasuki Siau-lim si dan langsung
menemui gurunya Hui-Lun.
Melihat pulangnya Hi tiok secara mendadak Hui-lun terperanjat juga dan segerà
bertanya, "Aku menyuruhmu mengirim surat, mengapa sampai sekarang baru pulang?"
Hi-tiok berlutut dan menyembah dengan penuh menyesal sambil menangis mengerung-gerung, Tuturnya, "Suhu, Tecu pun . . . pantas dihukum mati. Sesudah Tecu turun gunung, Tecu menjadi lupa daratan dan melanggar semua ajaran yang rasanya sering Suhu peringatkan padaku."
Air muka Hui-lun berubah seketika, ia menegaskan, "Apa? Kau . . . kamu sembarangan makan?"
"Ya," sahut Hi-tiok. "Bahkan lebih dari itu, akuu juga melanggar larangan lain,"
"Wah, dasar sontoloyo," seru Hui-lun. "Jadi kamu . . . juga telah minum arak segala?"
"Ya, bahkan Tecu minum sampai mabuk dan lupa daratan," sahut Hi-tiok.
Hui-lun menghela napas panjang dan tiba-tiba air matanya berlinang-linang, katanya. "Sejak kecil kamu tampaknya sangat jujur dan teguh imanmu, mengapa baru menginjak dunia ramai lantas terjerumus ke kolam lumpur sedemikian pa? Ai, ei...,"
Melihat Suhu sangat berduka, Hi-tiok bertambah gugup, katanya, "Suhu, larangan yang Tecu langgar bahkan lebih dari itu, Tecu telah melanggar . . , melanggar pula . . . "
Belum lagi Hi-tiok sempat menjelaskan dirinya telah melanggar pantangan membunuh dan main perempuan, tiba-tiba terdengar suara genta tanda berkumpulnya para padri angkàtan Huí dalam Siau-lim-si.
Maka Hui-lun lantas berbangkit, iá mengusap air matanya dan berkata, "Terlalu banyak pelanggaranmu maka aku pun sukar membelamu, bolehlah kaupergi sendiri ke Kai-lut-ih (bagian pelaksana hukum) untuk melaporkan diri saja dan mungkin kamu akan mendapat keringanan, Malahan aku sendiri pun takkan terluput dari hukuman."
Habis berkata, ia ambil Kai-to (golok paderi) yang tergantung di dinding dan buru-buru pergi ke ruang pendopo.
Segera Hi-tiok melapor sendiri ke Kai lut-ih, setiba di depan ruangan, itu, dengan hormat ia berkata, "Tecu Hi-tiok telah melanggar pantangan Budha, maka dengan sangat berharap Tianglo menjatuhkan hukuman yang setimpal."
Berulang-ulang Hi-tiok melapor, tapi tiada jawaban dari tertua Kai-lut-ih. Tiba-tiba dari dalam keluar seorang padri setengah umur dan berkata padanya, "Siucu dan Cianglut (kepala dan pelaksana) Susiok setiang ada urusan penting dan tiada tempo buat mendengarkan laporanmu, boleh kamu berlutut dan tunggu saja di sini!"
Hi-tiok mengiakan dan menurut. Tapi dari lohor ia tunggu sehingga petang tetap tiada seorang pun yang menggubris padanya. Untung iwekang Hi-tiok sekarang sudah sangat tinggi, biarpun tidak makan minum dan berlutut setengah harian, tetap dia bertahan tanpa merasa letih.
Sementara itu terdengar beduk berbunyi, sudah waktunya para padri bersembahyang magrib, Pelahan Hi tiok juga mengapalkan kitab suci dan berdoa menyatakan penyesalan atas dosanya.
Kemudian datang pula padri setengah umur tadi dan berkata padanya, "Hi-tiok, dalam beberapa hari ini biara kita sedang menghadapi urusan penting para Tianglo tiada tempo buat mengurus perkaramu. Dengan sujud kamu telah berlutut dan berdoa di sini, tampaknya kamu memang ingin memperbaiki kesalahanmu dengan sunggub-sungguh. Maka boleh begini saja, sementara ini kau pergi ke kebun sayur untuk membantu pikul rabuk dan menyiram tananam sambil menunggu panggilan.
Jika para Tianglo sudah senggang, tentu kamu akan dipanggil dan perkaramu akan diputuskan menurut kesalahanmu yang sebenarnya.”
Dengan penuh khitmad Hi-tiok mengiakan dan menyatakan terima kasih. Dan sasudah memberi hormat, lalui ia berbangkit, karena dia tidak seketika diusir, maka ia menaruh harapan bahwa dosanya mungkin akan dapat diampuni.
Segera ia menuju ke kebun sayur untuk menemui padri pengurus kebun, yaitu Yan-kian Hwesio, kata Hi-tiok, "Suheng aku telah melanggar peraturan biara kita, maka para Tianglo menghukum aku bekerja berat di kebun sini."
Yan-kin itu seorang hwesio yang tidak punya kepandaian, tapi suka usilan, suka ikut campur urusan tetek-bengek. Luas kebun sayur itu ada beberapa hektar, kuli kebun ada 30-40 orang, seterusnya di bawah pimpinan Yan-kin, maka sedikit banyak Yan-kis, suka berlagak sebagai mandor besar. Sekarang mendengar laporan Hi-tiok itu, Yan kin sangat girang segera ia tanya, “Larangan apa yang telah káulanggar?"
"Terlalu banyak dan sukar diceritakan satu per satu," sahut Hi-tiok.
"Sukar diceritakan satu per satu apa? Aku justru minta kamu mengaku secara jujur dan katakan padaku dengan terus terang," ujar Yan-kin dengan gusar, "Jangankan cuma seorang hwesio keroco sebagai dirimu, sekalipun para Tianglo bila dijatuhi hukuman kerja di kebun ini, tentu juga akan kutanya apa dosa mereka dengan jelas dan mereka harus menjawab dengan terus terang. Hm, melihat mukamu ini merah gemuk, huh, tentu kamu telah melanggar pantangan makan, belum tidak."
"Ya, memang benar," sahut Hi-tiok.
"Nah, apa katamu, sekali terka saja lantas kena," demikian kata Yan-kin dengan sòmbong.
"Huh, bukan mustahil diam-diam kaupun telah minum arak.”
"Ya, memang betul, pada suatu hari aku telah minum arak sehingga mabuk dan tidak sadarkan diri," sahut Hi-tiok.
"Wah, berani betul kamu ini, ya!” omel Yan-kin. "Dan biasanya bila kamu sudah kenyang menenggak arak tentu hatimu akan terkilin dan memikirkan hal yang tidak-tidak, ya, terasakan timbul napsu berahimu dan ingin tidur dengan orang perempuan, bahkan tidak cuma ingin satu kali, sedikitnya kamu ingin tujuh atau delapan kali. Ayo kamu berani mungkir?"
'Manaku berani berdusta kepada Suheng," sahut Hi-tiok. "Bukan saja aku pernah ingin, bahkan sudah pernah berbuat."
"Hah, malahan kamu sudah pernah berbuat?" damprat Yan-kin dengan marah- marah, tapi hatinya sangat senang karena tuduhannya diakui Hi-tiok. “Dasar kamu ini hwesio sontoloyo, kamu telah merusak nama baik Siau-lim-si kita. Nah, selain melanggar pantangan main perempuan, pelanggaran lain apa yang telah kaulakukan lagi? Mencuri? kamu pernah nyolong barang milik orang lain, atau pernah berkelahi dengan orang tidak?"
"Tidak cuma berkelahi saja, bahkan pernah membunuh orang, malahan beberapa orang yang telah kubunuh." sahut Hi-tiok dengan kepala menunduk.
"Hah, kamu pernah membunuh orang?" Yan-kin menegas dengan, terkejut sambil menyurut mundur beberapa tindak.
Dasar Yan-kin memang pengecut, kepada kaum lemah dia suka menindas, terhadap orang jahat dia takut. Demi mendengar Hi-tiòk mengaku pernah mambunuh orang, babkan lebih dari Seorang yang dibunuhnya, karuan ia menjadi ketakutan dan kuatir kelau mendadak Hi-tiok mengamuk tentu dia bukan tandingannya.
Sesudah menenangkan diri, kemudian ia berbicara dengan nada ramah dan tertawa-tawa yang dibuat-buat, "Biasanya ilmu silat memang pegang peranan pokok di dunia ini, bila mahir ilmu silat, tentu suatu waktu bias membunuh orang. Wah kepandaian Sute tentu sangat lihai."
"Sunguh memalukan kalau kuceritakan, sedikit kepandaian yang kudapat dari perguruan kita sekarang sudah punah semua, sedikit pun tidak tertinggal lagi," sahut Hl-tiok.
Kembali Yan-kin bergirang pula, katanya, “Ehm, bagus, bagusi"
Ia sangka ilmu silat Hi-tiok itu tentu dimusnahkan oleh Tianglo Siau-lím-si berhubung dosa Hi-tiok terlalu besar.
Tapi segera terpikir pula olehnya, "Walaupun ilmu silatnya katanya sudah punah, tapi bila ada sisa sedikit saja tentu juga sukar kulawan."
Karena itu timbul suatu akalnya, katanya segera, "Sute, kamu dihukum kerja berat di kebun sayur kan juga ada baiknya untuk menggembleng jiwarnu agat kelak lebih teguh. Menurut peraturan kita di sini, barang siapa melanggar pantangan agama, terutama yang tangannya pernah berlumuran darah, maka untuk bekerja disini dia harus diborgol kaki dan tangannya. Ini adalah peraturan turun temurun leluhur kita, entah Suté mau tunduk tidak pada peraturan ini. Jika tidak mau, biarlah aku meneruskan persoalan ini kepada Kai-lut-ih,"
"Jika memang begitu peraturannya sudah tentu aku menurut saja," kata Hi-tiok.
Diam-diam Yan-kin bergirang, segera ia mengeluarkan borgo! Dan membelenggu tangan dan kaki Hi-tiok. Di bagian pelaksana hukum biara dan kebun sayur itu memang selain tersedia borgol yang biasanya digunakan untuk menghukum padri jahat yang melanggar peraturan. Maklum, padri-padri Sau-llm-si itu berjumlah tidak sedikit dan dengan sendirinya terkadang ada satu-dua di antaranya yang berbuat kejahatan.
Begitulah, maka Yan-kin menjadi besar pula hatinya setelah Hi-tiok diborgol.
Dengan mentang-mentang ia lantas mendamprat, "Hwesío geblek, usiamu masih semuda ini tapi nyalimu sudah sebesar langit dan berani melanggar pantangan apa pun. Hari ini kalau tidak kuberi hukuman yang setimpal padamu rasanya sukar melampiaskan hatiku yang gemas."
Habis berkata la terus mengambil sebatang ranting kayu dan menyabet serabulan pada kepala Hi-tíok. Sedikit pun Hi-tiok tidak mengelak dan tidak melawan, dia Cuma berdoa saja sambil menahan rasa sakit dengan mengerahkan hawa murni dalam tubuhnya dan tidak berani menolak dangan tenaga dalam yang kuat. Karena itu, hanya sebentar saja kepala dan mukanya sudah babak-belur dan berdarah.
Melihat Hi-tiok diam saja dihajar, tidak mengelak dan tidak membantah, keruan Yan-kin tambah dapat hati, ia percaya penuh Ilmu silat Hi-liok tentu sudah punah semua, maka ia boleh menviiksanya sepuas-puasnya. Apalagi kalau mengingat Hi-tiok telah makan daging dan minum arak sampai mabuk, main perempuan pula
dengan segala kenikmatan, sebaliknya dirinya sendiri hidup percuma selama lebih 40 tahun dan selamanya tidak pernah mencicip apa-apa yang telah dirasakan oleh Hi tiok itu, teringat semua itu, seketika timbul rasa dengki dan siriknya, segera ia menghajar dengan lebih keras sampai ranting kayu itu patah barulah dia berhenti.
Akhirnya dengan suara gemas ia berkata pula, "Sekarang pergilah, setiap hari kamu hurus mengangkut 300 pikul air rabuk untuk menyiram tananam sayur, kalau kurang satu pikul saja tentu akan kuhantam patah kedua kakimu dengan pentung atau kayu pikulan."
Sesudah dihajar Yan-kin, bukannya dendam, sebaliknya Hi-tiok merasa lega malah. Pikirnya, "Aku telah melanggar peraturan sebanyak itu, memangnya aku pantas dihukum berat, semakin berat hukuman yarg kuterima, semakin ringan pula dosa yang kutanggung ini."
Maka cepat ia menyatakan taat kepada perintah Yan-kin Itu, ia pergi ke serambi belakang untuk mengambil tong rabuk dan pikulan, lalu pergi mengambil air rabuk untuk menyiram sayur.
Menyiram sayur adalah pekerjaan yang makan waktu dan kudu sabar, segayung demi segayung diciduk dari tong air untuk menghabiskan 300 Pikul sudah tentu bukan pekerjaan sekejap waktu.
Namun sedikit pun Hi-tiok tidak berhenti kerja giat dan rajin, malahan untuk itu ia kerja lembur, sampai fajar menyingsing pun belum rampung. Untung tenaga dalam Hi-tiok sangat kuat, ia tidak merasa letih, sesudah 300 pikul air rabuk dan sedemikian dikerjakan barulah dia pergi ke kandang kayu untuk tidur.
Tapi baru sebentar saja ia Lepus, Yan-kin sudah datang dan membangunkan dia dengan tendangan dan gebukan sambil memaki, "Hwesio malas pagi-pagi begini sudah tidur di sini! Ayo lekas pergi memotong kayu!"
Hi-tiok mengiakan saja tanpa membantah, segera perintah itu dikerjakan dengan baik.
Begitulah berturut-turut lima atau enam hari Hi-tiok memotong kayu dan menyiram sayur, dicambuk dan dihajar sehingga sekujur badannya penuh luka, entah berapa kali dia dipentung dan dicambuk oleh Yan-kin.
Sampai hari ketujuh, ketika Hi-tiok sedang menyiram sayur, tiba-tiba terdengar Yan-kin mendatanginya. Hi-tiok tidak heran bila bakal terima dampratan dan bayaran pula.
Di luar dugaan, tiba-tiba Yan-kin menyapa padanya, "Wah, Sute tentu sangat lelah!"
Berbareng ia terus mengeluarkan kunci untuk membuka borgol Hi-tiok.
"Ah, sudah biasa masih kurang sedikit, bila selesai barulah aku pergi mengaso," sahut Hi-tiok.
"Sudahlah Sute boleh pergi mengaso saja hari ini biar kukerjakan untukmu." Kata Yan-kin.
"Silakan sute pergi makan dulu, daharan sudah tersedia di dalam rumah sana.
Selama beberapa hari ini aku telah banyak berbuat kajur padamu, sungguh aku sangat menyesal, harap Sute suka memaafkan."
Mendengar nada Yan-kin itu mendadak berubah 160 derajat, Hi-tiok sangat heran. Ketika ia berpaling, ia lihat mata dan hidung Yan-king matang biru seperti habis dihajar orang. Keruan Hi-tiok tambah heran.
Sebaliknyn Yan-kin tampah takut-takut, dan merengek-rangek, "Ai, dasar mataku sudah lamur dan buram berbuat kasar pada Sute, jika .. . jika sute tidak sudi mengampuni aku hatiku . . . celaka. . . celakalah diriku."
"Aku sendiri berdosa dan pantas dihukum, apa yang dilakukan Suheng juga sudah pada tempatnya," ujar Hi-tiok.
Air rnuka Yan-kin mendadak berubah, "plak-plok", plak-plok tiba-tiba ia tempeleng muka sendiri beberapa kali, lalu berkata, "Sute, O, Sute, mohon belas kasihanmu, Jangan……janganlah marah padaku, aku . . . . "
Habis berkata, kembali berulang-ulang ia tampar muka sendiri dengan keras.
Tentu saja Hi-tiok terheran-heran, tanyanya,.
"Hei, kenapa Suheng ini? Mengapa berbuat demikian!"
Tapi Yan-kin terus berlutut, ia pegang, baju Hi-tiok dan berkata, "Mohon . . . mohon Sute memberi ampuun, kalau . . . kalau tidak, maka kedua biji mataku ini sukar diselamatkan lagi.
"Ah. bagaimana Suheng ini sama sekali aku tidak paham maksudmu," sahut Hi- tiok dengan bingung.
"Ya, asal Sute suka mengampuni aku dan takkan mencukil biji mataku, maka selama hidup aku akan mengabdi padamu sebagai balas budimu yang besar ini," kata pula yan-kin.
"Sungguh aneh Suheng ini, bilakah aku pernah menyatakan hendak mencukil matamu?" sahut Hi tiok dengan melongo.
Air muka Yan-kin tampah pucat pasi, katanya, "Jika Sute berkeras tidak sudi memberi ampun, dasar mataku sendiri yang sudah lamur, terpaksa aku melaksanakan hukumanku sendiri."
Habis berkata terus ia menjulurkan dua jari tangan dan bertidak mencolok matanya sendiri.
Namun Hi-tiok sempat memegang tangan Yan-kin dan bertanya, "Siapakah yang memaksamu mencukit mata sendiri?"
"Aku . . , aku tak berani bilang, kalau . . . tahu kukatakan tentü Ji . . . jiwaku akan melayang," sahut Yan-kin dengan ketakutan.
Hi-tiok tambah heran, ia tidak tahu siapakah orang dalam siau-lim-si yang mempunyai pengaruh sedemikian besar sehingga membuat Yan-kin ketakutan setengah mati."
Ia coba tanya lagi, "Apakah kaumaksud tadi Hongtiang (ketua)?" .
"Bukan," sahut Yan-kin.
"Habis siapa? Apa para Tianglo dari Tat-hi jiu, Lo-li tin-ih atau Kai-hit-ih?" Hi-tiok mendesak pula.
Tapi Yan-kin tetap menjawab bukan katanya, "Sute, aku tidak berani menjelaskan siapa orangnya, aku hanya mohon engkau suka menganpuni aku. Kata mereka jika aku ingin menyelamatkan mataku, asal engkau sendiri yang mengucapkan mengampunì dosaku, maka selamatlah aku."
Sembari bicara tampak dia melirik ke samping dengan rasa takut. Waktu Hi-tiok memandang ke arah yang dilirik Yan-kin itu, ia lihat di bawah emper rumah sana duduk empat padri, semuanya berjubah padrì warnu kelabu dan berkopiah, muka mereka menghadap ke sana sehingga tidak jelas terlihat.
Jilid ke-70
Diam-diam Hi-tiok heran, "Apakah ke empat suheng ini
yang dia maksudkan. Tentu mereka adalah orang penting
dalam biara, karena Yan-kin suka mengganas pada hwesio
yang dihukumkerja di kebun, maka sekarang mereka memberi
ganjaran setimpal kepada Yan-kin.
Tapi akhirnya Hi-tiok berkata juga, "Sudahlah aku tidak
marah pada suheng, sudah sejak tadi aku mengampuni
kesalahanmu."
Sungguh girang Yan-kin tidak kepalang, cepat ia
menyembah pula sehingga kepalanya penuh berlepotan air
rabuk yang berbau busuk, tapi sedikit pun dia tidak
menghiraukan.
"Lekas bangun, suheng jangan melakukan penghormatan
sebesar ini," kata Hi-tiok.
Sesudah berdiri dengan penuh hormat Yan-kin
mengundang Hi-tiok ke ruang makan, ia menuangkan teh dan
mengambilkan nasi dan lauk-pauk, ia melayani Hi-tiok sendiri
dengan servis lengkap.
Karena tak bisa menolak lagi, terpaksa Hi-tiok membiarkan
Yan-kin melayaninya. Bahkan tiba-tiba Yan-kin berbisik-bisik
padanya, "Apa sute ingín minum arak? Dan daging anjing?
Mau? jika mau segera akan kucarikan."
"Wah, Omitohud! Dosa-dosa! Mana boleh ini!" demikian Hi-
tiok terkejut dan berdoa.
Sebaliknya Yan-kin malah mengedip dan memicingkan
matanya dengan penuh rahasia, lalu berbisik pula, "Jangan
kuatir, segala dosa aku yang tanggung. Biarpun segera
kupergi mengambilkan untuk dinikmati Sute."
"Jangan, jangan! Perbuatan yang melanggar pantangan ini
sekali kali jangan Suheng sebut-sebut lagi," cepat Hi-tiok
memerintahnya.
"Jika Sute merasa tidak aman makan minum puasnya di
sini, boleh juga Sute keluar biara dan turun gunung sana,"
ujar Yan-kin pula. "Bila nanti Kai-lut-ih tanya, biarlah
kukatakan Sute sedang kusuruh pergi membeli bahan
keperluan kebun, tentu akan kututupi apa yang terjadi ini,
tidak perlu kuatir."
Hi tiok menjadi kurang senang oleh ucapan Yan-kin yang
makin tidak pantas itu, katanya dangan goyang-goyang
tangan, "Dengan sujud kau menyadari dosaku yang sudah-
sudah, maka segala larangan tak berani kulanggar lagi. Apa
yang Suheng katakan barusan ini jangan disinggung-singgung pula."
Tarpaksa Yan-kin mengiakan, Tapi dalam hati ia mengomel,
"Huh, dasar hwesio Sontoloyo, pakai pura-pura segala."
Karena Hi-tiok sudah berkata begitu, terpaksa ia tidak
berani banyak rewel lagi, gegerutu ia melayani Hi-tiok dahar
apa adanya, lalu menyilahkannya mengaso ke kamar tidur
Yan-kin sendiri.
Begitulah selama beberapa hari Yan-kin terus melayani Hi-
tiok dengan penuh hormat dan sangat baik melebihi melayani
kakek-moyangnya.
Pada hari ketiga sesudah Hi-tiok makan siang, Yan-kin
menyeduh satu teko teh wangi, ia menuangkan secawan dan
disuguhkan kepada Hi tiok dengan hormat.
"Ai, mengapa Suheng sedemikian sungkan padaku," kata
Hi-tiok. "Aku adalah seorang berdosa yang sedang menunggu
hukuman, sungguh aku merasa tidak enak bila Suheng
sedemikian baik padaku."
Pada saat itulah, sekonyong-konyong terdengar suara
genta ditabuh bertalu-talu dan tak terputus-putus, itulah tanda
berkumpulnya semua padri Siau-lim-si. Suara demikian jarang
dibunyikan kecuali hari-hari penting, setiap tahun belum tentu
terjadi itu-dua kali.
Muka berkatalah Yan-kin, "Hongtiang membunyikan genta
untuk mengumpulkan kita mari kita pergi ke Tai-hiong-po-tian
(pendopo utama)."
Hi-tiok menyatakan setuju dan beramai-ramai dengan
belasan padri lain buru-buru mereka menuju ke ruang
pendopo.
Di sana tertampak sudah berkumpul dua ratus orang
sedang padri lain masih berbondong-bondong datang. Hanya
dalam sekejap saja seluruh penghuni biara, sebanyak 500
orang lebih sudah berkumpul di situ dan berbaris menurut
urut-urutan tingkatan masing-masing.
Walaupun jumlah orang sangat banyak, tapi semuanya
sangat prihatin dan diam saja sehingga suasana pendopo
sunyi lenyap. Hi-tiok berbaris di antara padri angkatan yang
memakai gelar "Hi". Sekilas ia lihat wajah padri angkatan yang
lebih tua tampak sangat serius, sangat prihatin.
Diam-diam Hi-tiok kebat-kebit, "Wah, jangan-jangan
dosaku terlalu besar, maka Hongtiang sengaja mengumpulkan
segenap padri untuk menyaksikan hukumanku. Melihat
gelagatnya, naga-naganya bukan mustahil aku akan dipecat
dan diusir pula dari sini."
Tengah berpikir dan kuatir, tiba-tiba terdengar mara genta
dipalu tiga kali, serentak semua padri mengucapkan,
"Omitohud!"
Lalu ketua Siau lim-ii, Hian-cu dan tiga padri angkatan
"Hian" diiringi tujuh padri lain muncul dari belakang sana.
Serentak para padri membungkuk tubuh untuk memberi
hormat, Kemudian. Kian-cu mengambil tempal duduk masing-
masing dan ketujuh padri yang tak dikenal itu pun menduduki
tempat tamu.
Waktu Hi-tiok memperhatikan ketujuh padri itu, usia
mereka tampak sudah tua dan dari dandanan mereka terang
adalah padri tamu dari biara lain. Padri pertama yang duduk di
ujung atas berusia paling tua, kira-kira ada 70 tahun,
tubuhnya kecil tapi sinar matanya tajam berkilat-kìlat dan
berwibawa.
Segera Hian-cu berseru kepeda para padri, "Ini adalah Sin-
kong Siangjiu, Hongtiang jing liong-si di Ngo-tai-lan, harap
kalian memberi hormat."
Diam-diam para padri Siau-lim-si berseru heran. Mereka
tahu Sin-kong Siangjin sangat terkenal di dunia persilatan, dia
dan Hian-cu Taisu disebut orang Bu-lim sebagal Hang-liong-lo
han dan Hok-hou-lo-han, yaitu nama dua Budha penakluk
naga dan harimau sebagai tanda penghargaan kepada
mereka.
Melulu bicara tentang ilmu adat, konon kepandaian Sin-
kong Siangjin masih di atas Hian-cu.
Cuma Jing-liang-si lebih kecil, kedudukannya di dunia
persilatan jugi jauh di bawah Siau-lim-si, maka bicara tenteng
nama sebaliknya Hian-cu lebih terkenal dan disegani.
Biasanya Sin-kong Siangjin terkenal sangat angkuh, jarang
dia bergaul dengan dunia persilatan hubungan dengan Siau-
lim-si juga tidak baik tapi sekarang dia berkunjung sendiri ke
Siau-lim-si maka dapat dikatakan tentu ada sesuatu yang luar
biasa.
Begitulah sesudah para padri memberi hormat kepada Sin-
kong, lalu Hian-cu memperkenalkan pula keenam padri yang
lain.
Keenam Taisu ini juga ada yang datang dari Jing-liang-si,
adapula Cuma kenalan Sin-kong Siangjin saja. Tapi semuanya
adalah pada agung dan saleh.
“Sungguh kita harus merasa bahagia hari ini mendapat
kehormatan atas kunjungan mereka, maka aku sengaja
mengumpulkan kalian untuk berkenalan dengan Siangjin,
diharap Siangjin suka memberikan ceramah seperlunya demi
perkembangan agama kita.”
Untuk itu segenap padri Siau-lim-si mengucapkan terima
kasih.
"Jangan sungkan," sahut Sin-kong Siangjin. Dia bertubuh
pendek kecil, tapi suaranya kecil nyaring dan keras sebagai
auman siaga heran semua orang terkejut.
Maka terdengar sih kong Siangjiu melanjutkan, "Siau-lim-si
adalah sebuah biara suci yang terpuji, sudah lama sekali aku
sangat mengaguminya maka pada 60 tahun yang lalu pernah
kudatang kemari untuk mohon diterima sebagai murid tetapi
rupanya aku tidak memenuhi syarat dan ditolak. Kini 60 tahun
kemudian aku berkunjung kemari lagi, keadaan tempat
tampaknya masih tetap sama, cuma orangnya yang sudah
jauh berbeda, sungguh halus dibuat gegetun."
Mendengar ucapan Sin-kong itu, kembali para padri
terkesiap. Dari nadanya itu terang dia agak dendam pada
Siau-lim-si, maka bukan mustahil kedatangannya ini bertujuan
hendak cari perkara.
Watak Hian-cu agak ramah dan sabar, maka dengan
tenang ia menjawab, " O , kiranya dahulu Suheng pernah
ingin masuki Siau-Lim-si kita. Walaupun tidak jadi, tapi biara
agung di dunla ini sama saja, buktinya hari ini Suheng dapat
menjadi pemimpin Jing-liang-si, hal ini pun merupakan
kehormatan bagi murid-murid Budha seluruhnya, Adapun
dahulu Suheng telah ditolak oleh Siau-lim-si sehingga
membuat Suheng kurang senang untuk itu di sini kumuhonkan
maaf sebesar-besanya. Namun begitu akhirnya Suhong dapat
memimpin suatu cabang tersendiri dan sangat berjasa bagi
agama kita, kalau diingat rasanya pertemuan ini memang
sudah takdir dan jodoh."
Habis berkata ia merangkap tangannya dan memberi
hormat,
Sin-liong Siangjin berbangkit dan membalas hormat Hian-
cu lalu sahutnya, "Sebenarnya dahulu kumohon diterima di
Siau-lim-si adalah lantaran sangat kagum kepada
kepemimpinan Siau-Lim-si yang terkenal di dunia persilatan,
tapi yang lebih penting adalah karena Siau-lim-si terkenal
mempunyai disiplin yang keras dan peraturan yang baik,
segala apa mengutamakan pri-keadilan."
Sampai di sini, mendadak sinar matanya (sng berkilat-kilat
itu mengerling patung Budha yang terpuja di ruang pendopo
itu, lalu sambungnya dengan mengejek, "Tapi tidak nyana
bahwa di dunia ini ternyata banyak terdapat hal-hal yang tidak
sesuai dengan kenyataan. Tahu begini jauh baik dahulu aku
tidak perlu berkunjung ke sini."
Ucapan Sin-kong yang terakhir im seketika membuat para
padri Siau-lim-si merasa kurang sening. Cuma disiplin Siau-
lim-si sangat keras biarpun mereka merasa gusar, tetap
mareka diam saja.
Maka Hian-cu Hongtiong lantas menjawab,”Sancai, Siancai!
Mengapa suheng berkata demikian? Andaikan di antara
anggota biara kami yang sangat banyak ini ada yang berbuat
salah untuk ini harap suheng suka bicara terang agar kalau
salah biar dihukum, kalau keliru biar diperbaiki. Tapi dengan
ucapan Suheng barusan seakan-akan nama baik Siau lim-si
yang bersejarah beratus tahun ini telah Suheng hapus dengan
sekaligus, hal ini sesungguhnya agak keterlaluan."
"Numpang tanya Suheng, biara kita ini apakah kantor
pembesar negeri atau sarang penyamun?” tanya Sìn-kong
Siang jin.
"Siaucang tidak paham apa maksud perkataan suheng,
mohon diberi penjelasan," sahut Hian-cu.
"Kalau pembesar negeri memang suka menangkap dan
memenjarakan orang penyamun suka menculik orang dan
minta tebusan, semua itu adalah kejadian biasa," kata Sin-
kong. "Tetapi siau-lim-si bukan kantor pembesar dan juga
bukan sarang penyamun, mengapa boleh sembarangan
menahan orang dan dilarang pergi. Numpang tanya Suheng
dengan perbuatan Siau-lim-si yang sewenang-wenang ini
apakah masih dapat disebut sebagai tempat suci agama
Budha?"
Sekilas Hian-cu melirik padri keempat yang duduk dibaris
Sin-kong itu diam-diam ia membatin, "Mata padri itu cekung,
kulitnya hitam, memang tidak sangsi dia bukan padri sini,
sekarang hadir disini dan memang datang dari Thian-lok
terang kedatangannya ini hendak meminta Polo Sing cuma
tidak diketahui mengapa dia bisa bersekongkol dengan Sin-
kong dari Jing-liang-pai.”
Tiba-tiba ia mendapat pikiran, segera ia bertanya, "Suheng
ada sesuatu yang tidak jelas, mohon Suheng memberi
keterangan. Umpama kalau seseorang mengerayangi Ngo-tai-
san dan hendak mencuri kitab pusaka kalian “Hok-hou-boh”
dan laia-lain lantas cara bagaimana Suheng akan mengambil
tindakan terhadap orang itu."
Sin-kong bergelak tertawa, ia berpaling dan berkata
kepada padri bermuka hitam itu. "Maha,dengan demikian jadi
Hian-cu Taisu telah mengaku sendiri bahwa Polo Singh
Suheng memang betul di Sian-lim-si sini."
Kiranya paderi muka hitam itu tak lain tak bukan adalah
Cilo Singh, Suheng Polo Singh yang tempo hari pernah
bertemu dengan Goan-cl di tengah jalan dan telah dikalahkan
serta ngacir kembali ke Thian-tiok, tapi di tengah jalan dia
bertemu dangan seorang padri Tionghoa yang tua dan
bertongkat baja, padri tua itu tiada hentinya mengamat-amati
Cilo Singh dengan sikap yang mencurigakan.
Memangnya Ciio Singh lagi msndongkol, karena dia fasih
bahasa Tionghoa, segera ia tegur padri tua itu secara kasar
dan menyuruh dia lekas enyah. Dasar watak padri tua itupun
berangasan sekali cekcok maka bertempuriah kedua orang itu.
Lebih satu jam lamanya mereka bertempur dan tetap sama
kuat, Sampai hari sudah hampir gelap, tiba-tiba padri tua itu
berteriak minta pertempuran diberhentikan, katanya, "Hai,
padri asing ilmu silatmu sangat tinggi, cuma sayang
perangaimu terlalu kasar dan kurang sopan.”
"Ah, kaupun setali tiga uang, tidak perlu mengolok-olok
aku," sahut Cilo Singh.
Memang di antara mereka tiada bermusùhan apa-apa,
sesudah bertarung sekian lama, timbul rasa suka satu sama
lain di antara mereka, maka mereka lantas saling tanya nama
masing-masing.
Ternyata padri tua itu bergelar Sin-im, dia adalah Sute Sin-
kong Siangjin, ketua Jing-liang-si, Kemudian Sin-lm tanya
maksud kedatangan Cilo Singh ke Tionghoa ini yang dijawab
oieh Cilo Singh tentang ditahannys Polo Singh di Siau-lim-si.
Dasar sifat Sin-im memang suka usilan, suka cari perkara,
pula sudah lama dia merase iri kepada Siau Lim Si yang
tersohor itu, terdorong lagl oleh perangainya yang sok
dihadapan sahabat baru itu, maka ia berkata, “ilmu silat
Suhengku Sin kong tiada tandingannya di dunia ini, selama ini
S¡au-lim-si juga tak dipandang sebelah mata oleh beliau.
Marilah kuperkenal kan engkau kepada suhengku itu, tentu
beliau dapat membantumu menolong Sutemu.”
Begitulah maka Sin-im membawa Cilo Singh pulang ke
Jìng-Liang-si untuk menemui Sin-kong.
Kalau Sin im itu seorang yang kasar, sebaliknya sin-kong
adaiah seorang yang pintar menggunakan otak. Ia pikir ketua
Siau-lim-sl adalah seorang yang ramah tamah, kalau dia
sampai menahan Polo Singh, dapat diduga pasti ada sebab
pula yang penting.
Segera ia melayani Cilo Singh dengan baik dan perlahan
memancing keterangannya, tidak sampai setengah bulan,
segala rahasia Cilo Singh telah dapat dikorek. Dapat diketahui
oleh Sin-kong bahwa kepergian polo Singh ke Siau lim si itu
adalah ingin mendapatkan kitab pusaka jika kitab itu belum
didapat dan tertangkap paling-paling Polo Singh akan digebah
pergi dan selesailah urusannya.
Tapi sekarang Polo Singh ditahan dan dilarang pergi, jelas
karena kitab yang hendaki dicuri itu sudah terpegang oleh
Polo Singh dan tentu pula sudah diapalkan isinya. Pula kalau
kitab yang dicuri itu adalah kitab ajaran agama biasa, tentu
siau-lim-si tidak perlu ribut, bila sekarang Polo singh sampai
ditahan, maka dapat dipastikan kitab yang dicuri tentu kitab
pusaka tentang ilmu rahasia Siau-lim-si.
Teringat akan “kitab pusaka ilmu silat Siau-lim-si," seketika
Sin-kong sangat, tertarik dan berhasrat memilikinya.
Hendaklah maklum bahwa Sin-kong ini sesungguhnya
seorang yang berbakat sangat tinggi. seorang jenius yang
jarang ada. Cuma sayang sumber Ilmu silat Jing-liong-si itu
jauh dibandingkan Siau-lim-si, apa yang dapat diyakinkan Sin
kong itu sangat terbatas dan sebagian besar juga tergolong
kepandaian kasaran yang tak bisa dianggap sebagai kungfu
kelas satu. Namun begitu toh ilmu silat Sin-kong juga terlatih
sampai tingkatan yang tinggi sekali ini membuktikan betapa
cerdas dan tinggi bakat pambawaan Sin-kong.
Dahulu waktu dia mohon masuk menjadi murid Siau-lim-si,
tatkala itu ia baru berumur 17 tahunan, Biau-yap Siansu,
ketua Siau-lim-si pada waktu itu, merasa kecerdasan Sin-kong
itu terlalu menonjol, sebaliknya jiwanya kerdil dan bukan
seorang ahli waris baik, jika diterima masuk siau-lim-si tentu di
kemudian hari akan menimbulkan gara-gara, maka dia telah
menolaknya dengan kata-kata halus. Lantaran itulah Sin-kong
akhirnya masuk Jing-liang-si dan ketika usianya baru 30 tahun
kepandainnya sudah menjago seluruh biara itu, bahkan tidak
lama kemudian diangkat pula sebagai ahli waris dan menjadi
ketua Jing-liong-si.
Dengan kepandaiannya sekarang Sin-kong tentu sudah
jauh melampaui segala kitab pusaka Jing liong-si yang ada,
untuk bisa menanjak lebih tinggi lagi terang sukar kecuali
mencari jalan keluar lain.
Sekarang ia dengar keterangan Cilo Singh itu, setelah
dipikir beberapa hari akhirnya ia mengambil suatu keputusan,
ia akan tampil ke muka untuk membantu Cilo Singh dan
membebaskan Polo Singh dari tahanan Siau-lim-si.
Ia tahu jumlah orang Siau lim-si sangat banyak tapi
tentunya alim dan suka bicara tentang kebenaran, sebagai
murid Budha masakah mereka berani menahan orang secara
paksa dan asal Polo Singh dapat dikeluarkan, rasanya tidak
susah untuk mengorek rahasianya tentang ilmu silat biara Siau
lim-si.
Karena itulah, segera ia mengirim anak buahnya untuk
menyampaikan undangan kepada Hong-beng Taisu dari Tai-
siang-kok-si di thai-long-hu. To-jing Taisu dari Bo-to-si di
daerah kanglam, Kat-hian Taisu dari Tong-lim-si di Lo-San dan
Yong-ti Taisu dari Ceng-eng-si di Tiang lam. Bersama keempat
padri agung itu, ditambah Kim-im dan Cilo Singh, mereka
bertujuh lantas mendatangi Siau-lim-si.
Kedudukan keempat padri agung itu meski bukan ketua
sesuatu golongan tapi nama mereka cukup terkenal di Bu-lim,
cuma mereka labih mengutamakan ajaran agama daripada
ilmu silatnya, tapi kedudukan mereka menjadi kurang
menonjol di biara masing-masing.
Kembali tadi demi mendengar Sin-kong Sianjin
mengatakan dia telah mengaku sendiri adanya Polo Singh,
nada Sin-kong itu pun penuh itu, biarpun Hian-cu biasanya
sangat sabar, tanpa terasa timbul juga rasa gusarnya, segera
ia berkata, "Padri Thian liok yang bernama Polo singh itu
memang benar pernah berkunjung kesini, mengenai hal ini
bilakah aku pernah memenyangkal?”
”Kalau tidak menyangkal, itulah paling baik” Seru Sin-kong
sambil terbahak bahak. "Nah, mereka adalah Liong-beng Taisu
dan Siang-kok-si di si-hong, dan ini adalah Kat-hian Taisu dari
tong-lim-si di Lo-san, yang itu adalah Yong-ti Taisu dari Ceng-
eng-si di Tiang an dan yang terakhir itu adalah To-jing Taisu
dari Bo-to-si dari Kang lam. Mereka semuanya padri agung
dari biara paling terkenal di negarl ini, aku sengaja
mengundang meraka ke sini dengan permohonan mereka
suka menjadi saksi. Baru saja Hong lang Suheng mengaku
Polo Singh dari Thian-liok memang berada di biara kalian ini,
maka diharap sekarang juga suka bebaskan dia agar dapat
pulang ke negeri asalnya dan supaya sesama kaum kita di
negeri sahabat itu tidak mengatakan kita berlaku sewenang-
wenang dan menahan saudara sendiri sesama agama."
Begitulah dengan kata-kata tajam Sin-kong menuduh Siau-
lim-si menahan kawan sesama agama maka bagi orang Siau
lim-si yang tak tahu kejadian sebenarnya, mereka menduga
Hian-cu tentu akan terpaksa membebaskan Polo Singh.
Maka terdengarlah Hian-cu menjawab, "O, kiranya
keempat Taisu itu adalah tokoh yang sangat terkenal di Bu-
lim, sudah lama sekali kukagum kepada nama mereka,
sekarang dapat berkenalan, sungguh sangat beruntung!"
Habis berkata, segera ia merangkap tangan untuk
memberi hormat. Ia sengaja bicara menyimpang kepada hal-
hal yang bukan mengenai persoalan pokok untuk mengulur
tempo sembari mencari akal cara bagaimana harus
menghadapi Sin-kong Siangjìn.
Keempat padri agung itu berbangkit untuk membalas
hormat, sahut mereka, "Jika Polo Singh Suheng dari Thian-tiok
memang betul berada di sini, bila dia telah melanggar sesuatu
pentangan dan membikin marah Hong-tiang, untuk itu
diharapkan Hongtiang suka mengingat sesama agama dan
membiarkan Cilo Singh Suheng ini membawa kembali Sutenya,
untuk itu kami merasa sangat berterima kasih."
Diam-diam Hian-cu membatin, "Tidaklah susah untuk
melepaskan Polo Singh, tapi sekali dia dibebaskan, itu berarti
rahasia ilmu silat Siau-lim-si untuk seterusnya akan terbuka
bagi pihak luar."
Begitulah dengan rasa serba susah, Hian-cu menjadi
bingung Cara bagaimana harus menjawab, untuk mengulur
waktu terpaksa berulang ulang ia menyebut "Omitohud!"
Sesudah agak lama katanya kemudian, "Polo singh Suheng
berkunjung ke biara kami ini, semua anggota kami telah
menyambut dan melayani dia sebagai kawan yang datang darí
negerí budha yang terhormat. Tak terduga diam-diam
menggali torowongan di bawah tanah dan menyelundup ke
gedung perpustakaan untuk mencuri kitab pusaka ilmu silat
kami yang sudah turun-temurun ini. "Nah, Sin-kong Siangjin,
apa yang kutanyakan tadi belum kaujawab, coba umpamanya
Jing-liang-si kalian yang digerayang, lalu Suheng sendiri
selaku Hongtiang akan Ambil tindakan apa?"
Sin-kong tersenyum, sahutnya, "Tinggi atau rendahnya
ilmu silat setiap orang bergantung keyakinan masing-masing.
Soal kitab pusaka segala adalah soal sekunder. Bila kebetulan
ada satu-dua orang ksatria sudi berkunjung ke Jing-liang dan
mampu mencuri kitab pusaka kami, maka aku akan mengaku
diri sendiri tak becus dan apa mau dikatakan lagi. Habis orang
cuma membaca kadarnya sekedar ilmu silatmu, apakah jiwa
orang ikut dihabiskan atau menahannya selama hidup? Ehh,
bukankah keterlaluan!”
Hian-cu tersenyum, katanya, "Jika kitab yang di curi itu
hanya kitab pasaran yang tiada harganya, sudah tentu tiada
alangannya untuk diketahui oleh umum. Tapi kalau Intisari
kitab pusaka kalian memang sangat hebat dan sangat
berguna, sesudah dicuri lalu kebetulan jatuh di tangan
manusia yang sombong dan berjiwa kerdil, maka akibatnya
tentu akan celaka, tentu akan merupakan bencana bagi dunia
persilatan."
Ucapan Hian-cu tetap ramah-tamah, tapi kata-kata
"manusia vang sombong dan berjiwa kerdil" jelas sengaja
ditujukan kepada Sin-kong SianJin.
Keruan Sia-kong Siang-jin kurang senang, sahutnya,
"Ucapan Hong-tiang ini hanya alasan sepihak saja, besar
kemungkinan masih ada persoalan lain lagi. Yang terang Cilo
Singh sudah jauh-jauh datang kemari mamakah Hongtiang
tidak mengizinkan dia menemui suteya!"
Hian-cu pikir kalau tetap melarang Polo singh bertemu
dengan Cilo Singh hal ini tentu akan disangka Siau lim-si
bersalah dan para padri agung dari Bo-to-il dan lain-lain tentu
juga akan kurang puas, maka katanya kemudian, "Baik,
undang Polo Singh Suheng kemari!"
Sesudah perintah itu diteruskan, tidah lama kemudian
empat padri tua telah membawa Polo Singh ke ruang
pendopo.
Melihat Cilo Singh hadir disitu, saking gìrang dan terharu
sampai Polo Singh meneteskan air mata terus menubruk maju
untuk merangkulnya. Maka bicaralah mereka dalam bahasa
mereka yang sukar dipahami, tapi dapat diduga Polo singh lagi
menuturkàn pengalamannya tentang mencuri kitab dan
tertangkap serta dikurung oleh pihak Siau-lim-si.
Sebaliknya Cilo Singh tampak mengangguk-angguk,
akhirnya dengan, suara yang lantang Cilo singh berseru dalam
bahasa Tionghoa "Hongtiang siau-lim-si bohong. Polo Singh
tidak pernah mencuri kitab ilmu silat apa segala dia cuma
mencuri kitab ajaran Budha, yang memang berasal dari negeri
Thian-liok kami. Dia hanya membacanya saja dan bukan
sesuatu pelanggaran kejahatan apalagi karena Cosu adalah
bangsa kami beliau telah mengajarkan ilmu silat pada kalian
sebaliknya kalian malah mengurung padri Thian-liok terang ini
sangat tidak bersahabat dan . . . . dan tak kenal budi
kebaikan."
Karena alasan Cilo Singh yang cukup kuat dan seketika
padri Siau lim si menjadi bungkam. Kalau Polo Singh tetap
menyangkal mencuri kitab ilmu silat, sedangkan barang bukti
tidak ada, dengan sendirinya tuduhan pihak Siau-lim-si kurang
kuat.
Akhirnya Hian-cu berkata, "Siancai! Orang beragama tidak
boleh berdusta. Polo Singh Suheng jika engkau berdusta apa
engkau tidak akan masuk neraka. Coba jawab, Tai-kim-kong
kun-keng (kitap ilmu pukulan sakti) pernah kau curi dan
membacanya atau tidak?"
"Tidak, yang pernah kupinjam baca hanya kitab Kim-kong-
keng (nama kitap agama Budha)." sahut Polo Singh.
"Dan Pan-yak-ciang-hoat-keng milik Siau lim-si kami
pernah kaucuri dan membacanya iya tidak?" tanya Hian-cu
pula.
"Tidak, aku cuma pernah pinjam baca sebentar pan-yak-
po-mi-sim-kong," sahut Polo Singh. Tapi kitab-kitab itu hanya
kubaca saja, kitab itu sudah seharusnyá dipelajari oleh murid
budha kita sekalian, Siauceng hanya pinjam baca dan sekedar
memperdalam pengetahuanku tentang agama kita, entah di
mana jelek kesalahanku?"
Perlu diketahui bahwa Polo Singh itu memang seorang
yang pintar dan cerdik, pengetahuan juga sangat luas,
makanya dia dikirim oleh kerabat-kerabatnya dari Thian-liok
untuk mencuri kitab ke Siau-lim-si. Sekarang dia berdebat
dengan menitik beratkan pada ajaran agama, ia tak semua
tuduhan tentang mencuri kitab ilmu silat segala, dengan
demikian Siau-lim-si berbalik kelihatan di pihak yang salah dan
pelit, masakah ilmu ajaran agama dipinjam baca saja tidak
boleh.
Hian-cu juga tidak tanya lagi, ia hanya menyebut,
"Omitohud!"
Mendadak sesosok bayangan melesat maju di sebelahnya
dan kontan menghantam punggung Polo Singh. Pukulan itu
sangat dahsyat dan cepat luar biasa, tempat yang diarah juga
Ci-yang-hiat yang mematikan di punggung Polo Singh.
Serangan yang maha hebat itu datangnya juga mendadak
sehingga tampaknya sukar dicegah lagi.
Tiba-tiba Polo Sing membaliki kedua tangan belakang
sehingga pukulan penyerang tadi seperti kebentur dinding
baja. Tapi menyusul terus orang itu berubah menjadi telapak
tangan ia memotong kuduk Polo Singh.
Baru sekarang tertampak jelas penyerang itu adaláh
saorang padri Siau lim-si yang memakai kasa (jubah padri)
merah.
Gerakan Polo Singh juga sangat cepat, ia putar tubuh dan
menunduk kepala, berbareng jari kirinya menujuk telapak
tangan penyerangnya. Jika padri, Siau-lim-si itu tidak tarik
kembali tangannya, itu berarti tangannya disodorkan sendiri
untuk ditutuk Polo Singh dan bukan mustahil tangannya akan
cacat untuk selamanya.
Maka cepat padri tua itu tarik kembali tangannya dan
menggeser ke samping Polo Singh, menyusul ia menyerang
pula secara bertubi-tubi sehingga dalam sekejab saja sudah
memberondong tujuh kali pukulan yuug mengarah tujuh
tempat yang berbeda-béda, cepatnya susah dilukiskan.
Karena tiada jalan buat menghindari, terpaksa Polo Sing
juga balas menghantam tujuh kali. maka terdengarlah suara
"plak-plok" yang ramai. pukulan kedua orang saling bentur,
cepat dan tepat sekali kepalan kedua orang itu saling beradu
sehingga mirip dua saudara seperguruan yang sedang
berlatih.
Sesudah saling hantam, mendadak Polo Singh teringat
sesuatu, ia bersuara sadar dan segera melompat mundur.
Padri Siau-lim-si itu pun tidàk menyerang lagi, tapi pelahan
mengundurkan diri sambil memberi hormat kepada Hian-cu.
Dengan tersenyum Hian-cu berkata kepada Sin-kong
Siangjin. "Bagaimana, Siangjin?"
Lalu ia pun berpaling kepada Liong-beng To jing dan lain-
lain, "Harap para Suheng suka memberi peradilan dengan
bijaksana!"
Seketika suasana ruang pendopo menjadi sunyi senyap,
hanya terdengar Sin-kong mendengus sekali atas pertanyaan
Hian-Cu itu.
Sejak Hi-tiok mendengar Sin-kong menyinggung soal Siau-
lim-si menahan padri Thian-liok, maka tahulah dia bahwa
urusan yang hendak dibicarakan sekarang tiada sangkut-
pautnya dengan urusan sendiri, maka ia menjadi lega. Ketika
menyaksikan seorang kakek gurunya menyerang Polo singh
dan setiap serangannya dapat dipatahkan oleh padri asing itu,
sesudah beberapa gebrak lalu kedua orang berhenti
bertempur.
Dengan kepandaian, Hi-tiok sekarang dapat dilihatnya
bahwa jurus-jurus serangan kedua orang itu belum mencapai
tingkatan yang tertinggi, entah mengapa mereka cuma
bergebrak dua-tiga kali lantas berhenti, Hongtiang sendiri
tampak agak senang dan pihak lawan seperti merasa malu,
padahal dalam beberapa gebrakan itu sana sekali Polo Singh
tidak kelah.
Kemudian terdengar Liong-beng Taisu berdehem sekali,
lalu berkata, "Tadi Polo Singh Suheng telah menggunakan tiga
jurus serangan yang berbeda-beda dan seperti berasal dari
Pan-yak sing-hoat, Mo-ko-ci-hoat dan Kim-kong-kun-hoat."
"Hahahal" Sin-kong menanggapi dengan tertawa.
“Ternyata kalangan agama Budha di negeri kita ini tidak
sedikit mendapat kebaikan dari negeri Thian-tiok, Dahulu
Budhitama datang ke timur sini dengan membawa
kepandaiannya dan mendirikan Siau-lim-si yang agung, ilmu
silat berasal dari Thian-tiok itu ternyata turun temurun sampai
sekarang dan cara yang dimainkan Siau-lim-si tadi juga cocok
satu sama lain dengan Ilmu silat padri agung dari Thian-liok,
sungguh harus dibuat girang dan dipuji."
Para padri Siau-lim-si merasa gusar atas ucapan Sin-kong
yang memutar balikkan persoalan itu. Barusan padri yang
perkasa merah, Hian siang, Sute Hian-cu, secara mendadak
menjajal Polo Singh yang menyangkal telah mencuri baca
kitab ilmu silat siau-lim-pai, dengan serangannya ia paksa Polo
Singh mau-tak-mau harus menangkis dengan Pan-yak-ci sing-
hoat dan lain-lain kepandaian yang jelas adalah kungfu Siau-
lim-si.
Dari bukti nyata yang dimainkan Polo Singh tadi benar
terjadi seperti dugaan Hian-sing. Siapa tahu Sin-kong Sianjin
justru sengaja memutar balikkan kenyataan dan mengatakan
kepandaian Polo Singh itu berasal dari negeri Thian-tiok
sendiri.
Maka Hian-cu lantas menjawab, "Bahwasanya agama biara
kami dan ilmu silatnya berasal dari ujaran Dharma Cosu, hal
ini memang tidak salah Dan kalau Polo Singh bicara terus
terang untuk memintanya, dengin hormat kami pasti akan
memberikan kitab tinggalan Dharma Cosu Itu. Akan tetapi
pencipta Pan-yak ciang-hoat adalah Goan-goan Taisu,
Hongtiang angkatan ke-8 biara kami. Mo-ko ci-hoat adalah
ciptaan Pat-ci Thau-to, seorang tokoh terpandai angkatan tua
kami begitu pula Kim-kong-ciang-hoat juga ciptaan gabungan
beberapa padri agung angkatan ke-11 biara kami tiga macam
kungfu itu sama sekali berbeda dengan ilmu silat dari Thian-
liok, bagi tokoh-tokoh yang hadir di sini tentu tidak sulit untuk
membedakannya dan tidak perlu banyak kuberi penjelasan."
Liong-beng berempat merasa apa yang dikatakan hian-cu
memang tidak salah, maka bersama-sama mereka tanya Sin-
kong, "Bagaimana pendapatmu, Siang-jin?"
Sin-kong tersenyum, sahutnya, "Apa yang dikatakan
Hongtiang barusan hanya pembelaan sepihak saja. Padahal
tempo hari Cilo Singh sudah pernah bilang padaku tentang
ilmu silat thian-liok yang mirip dengan ilmu silat Tiongkok di
antaranya juga disebut-sebut Tan-yak-ciang-hoat dan lain-lain,
dia mengatakan jurus Thian-lu-hong yang dimainkan Hian-sing
Suheng tadi itu bahasa hindu kuno disebut 'abisnitor', dan apa
yang dikatakan Cilo Singh Suheng itu benar atau tidak!"
Dengan terkejut bercampur marah Hian-cu menjawab,
"Pandangan Suheng memang sangat teliti, Kagum, sungguh
kagum!"
Kiranya sin-kong Siangjin memang sangat cerdas, hanya
melihat sekejap saja pertarungan Polo Singh melawan Hian-
sing tadi segera dapat dikehuinya di mana letak intisari jurus
Pan-yak-cing-hoat yang dikatakan itu, maka dia sengaja
menyatakan mendengar cerita dari Cilo Singh untuk
membuktikan bahwa ilmu silat itu memang berasal dari Thian-
liok. Apalagi ia sendiri pun sangat keruk kepada ilmu silat
Siau-lim-pai.
Sesudah menyaksikan beberapa gebrakan Hian-sing tadi,
ia anggap padri Siau-lim-si itu benar-benar terlalu goblok,
masakah ilmu sakti tinggi angkatan tua mereka cuma
dipahami sedikit saja kalau aku diberi kesempatan
mempelajari bukan mustahil aku akan menjadi jagoan nomor
satu di dunia ini.
Bagi Hian-cu, sudah tentu tahu apa yang dikatakan Sin-
kong itu bohong belaka dan sengaja mau menang sendiri saja.
Tapi diam-diam memuji juga atas bakat dan kecerdasan Sin-
kong yang luar biasa itu. Sesudah berpikir sejenak, lalu
bertanya kepada Hian sing, "Sute, hendaknya kau pergi ke
Cong keng-kak (gedung perpustakaan) dan bawa kemari
ketiga kitab yang tercatat ketiga ilmu ilmu silat tadi."
Hìan-sing menyatakan baik dan segera keluar. Tidak lama
kemudian ia datang kembal dengan membawa ketiga jilid
kitab yang dminta itu. padahal jarak ruang pendopo itu
dengan Cong-keng kok cukup jauh, maka dapat di bayangkan
betapa hebat ginkang Hian-sing. diam-diam para padri Siau
lim-si sangat mengagumi Jago mereka yang lihai itu.
Ketiga kitab itu tampak sudah sangat tua kertasnya sudah
kuning. Sesudah kitab-kiiab itu terletak di atas meja, lalu Hian-
cu berkata, "Para Suheng silakan periksa, dalam kitab-kitab itu
tercatat asal-usul terciptanya ilmu-ilmu tadi. Andaikan para
Suheng tidak percaya pada omonganku apakah bukti tinggalan
tokoh-tokoh angkatan tua Siau-lim-si ini juga dapat dianggap
bohong? Apakah mungkin para tertua Siau-lim-si yang dulu
sudah melakukan tindakan-tindakan yang tidak tahu malu?"
Ucapannya yang terakhir itu sengaja hendak menyinggung
perasaan Sin-kong, tapi Sin-kong pura-pura tidak tahu, ia
ambil kitab Pan-yak-ciang-hóat, lalu membacanya sehalaman
demi sehalaman. Kedua kitab yang lain masing-masing diambil
dan dibaca oleh Liong-beng Tiansu dan To jiu Taisu, Tapi
Liong-bcos berdua Cuma membaca kata pengantarnya dan
catatan-catatan penting laìn dengan sekedarnya, lalu
diserahkan kepada Kat-thian dan Yong-ti Taisu.
Keempat padri agung itu merasa kitab-kitab itu adalah
kitab pusaka Siau-lim-si dan tidak pantas dibaca oleh orang
luar. Apalagi Hian-cu telah berani memperlihatkan kitab
pusakanya, tentu tuduhannya kepada Polo Singh tidak
beralasan, kalau mereka membaca dengan teliti akan berarti
menyangsikan ucapan Hian-cu dan hal ini berarti tidak sopan.
Tidak demikian halnya dengan Sin-kong, dia tidak
sungkan-sungkan lagi dan membaca dengan teliti jelas dia
sangaja mencari ciri-ciri kelemahan kitab itu untuk digunakan
sebagai bahan bantahan terhadap Hian-cu. Seketika itu
suasana ruang pendopo menjadi sunyi, hanya terdengar suara
keresekan Sin Kong membalik-balik halaman kitab.
Sampai sekian lamanya Sin-kong membaca kilat itu dengan
teliti, tapi air mukanya tetap tenang tanpa menujuk sesuatu
perasaan, Selesai membaca kitab yang satu kemudian kitab
yang lain dibacanya pula. Dan setelah dia menutup halaman
terakhir kitap ketiga, kemudian ia serahkan semuanya kepada
Hian-cu. Lalu memejamkan mata dan termenung.
Melihat kelakuan Sin kong itu Hian-Cu menjadi sangsi dan
heran pula.
Sejenak kemudian, tiba-tiba Sin-kong membuka mata dan
berkata kepada Cilo Singh. "Cilo Suheng, tempo hari engkau
telah menguraikan segala rahasia yak-ciang-hoat itu padaku,
aku masih ingat dalam bahasa Hindu yang kauuraikan itu
berbunyi. . . . "
Begitulah Sin kong lantas mengucapkan serentetan kalimat
dalam bahasa Hindu kuno, kemudian ia uraikan pula
terjemahannya dalam bahasa Tionghoa akhirnya ia tanya pula
pada Cilo Singh,
“Betut tidak bunyi kunci rahasia yaug merupakan inti Pan-
yak-ciang-hoat yang kauuraikan padaku itu Cilo Suheng?"
"Benar, benar! Memang begitulah bunyinya!" sahut Cilo
Singh tanpa piker.
"Dan tentang isi Kim-kong-kun-hoat dan ko-ko ci-hoat
yang pernah Suheng uraikan itu, bagian-bagian yang penting
juga masih kuingat dengan baik," ujar Sin-kong pula. Lalu ia
mengapalkan di luar kepala dalam bahasa Hindu kuno,
kemudian terjemahannya dalam bahasa Tionghoa.
Seketika air muka Hian-cu dan padri agung Siau-lim-si
yang lain sama berubah pucat. Sebab apa yang diapalkan Sin-
kong itu memang sedikit pun tidak salah adalah isi ketiga kitab
yang dikatakan itu.
Sungguh tidak nyana bahwa ingatan Sin-kong sedemikian
baiknya, hanya sekali baca saja sudah dapat mengapalkan di
luar kepala, pula dia mahir bahasa hindu kuno sehingga lebih
dulu ia menjemahkannya ke dalam bahasa Hindu, lalu
mengapalkan kembali dalam bahasa Tionghoa seperti apa
yang telah dibacanya, dengan demikian menjadi seakan-akan
kitab itu awal mulanya adalah bahasa Hindu, kemudian baru
diterjemahkan dalam bahasa Tionghoa.
Dengan begini dosa Polo Singh yang mencuri kitab itu
dapat dicuci bersih, sebaliknya pihak Siau-lim-si menjadi
tertunduk malah sebagai pihak yang menjiplak. Kalau
berdebat belum tentu dapat mengalahkan Sin-kong yang
pintar main lidah itu, maka Hian-cu menjadi sangat dongkol,
tapi tidak berdaya.
Tiba-tiba Hian sing tampil ke muka lagi dan berkata
kepada Cilo Singh, "Taisu bilang Pan-yak ciang dan lain-lain
diperoleh Siau-lim-si dari negeri kalian dan dengan sendirinya
taisu juga sangat
mahir. Untuk membuktikan benar tidaknya urusan ini
adalah sangat mudah. Sekarang ingin kupelajari kenal dengan
ke tiga macam kepandaian Taisu yang hebat ini, kita sama-
sama menggunakan ketiga macam Ilmu silat itu, harap Taisu
sudi memberi petunjuk."
Habis berkata, sekali lompat, tahu-tahu la sudah berdiri di
depan Cilo Singh. Diam-diam Hian-cu mengakui tindakan sing
Sute yang tepat itu, mengapa dirinya tidak teringat pada
akaldemlkian ini? Sebaliknya Sin-kong Siangjin juga terkesiap,
sebab Cilo Singh sudah tentu tidak paham Pan-yak-ciang
segala. Lantas bagaimana harus melayani tantangan Hian-sing
itu?”
Benar juga tampak wajah Cilo Singh menunjuk rasa serba
susah, tapi la pun berkata, "llmu silat negeri kami terlalu luas
dan banyak sama halnya seperti Siau-lim-si terkenal
mempunyai 72 macam ilmu silat khaas yang lihai. Sekarang
ingin kutanya juga kepada Taisu, apakah Taisu sendiri mahir
seluruh kepandaian Siau-lim-si itu. Jika aku juga menyebut
tiga macam diantaranya apakah Taisu sanggup
memainkannya?"
Bantahan ini membuat Hian-sing tertegun. Memang di
antara tokoh-tokoh Siau-lim si jarang sekali ada seorang
memiliki beberapa macam kepandaian dari ke 72 macam ilmu
silat Itu. Hian-sing sendiri sudah terhitung sangat luas
pengetahuannya, tapi juga cuma paham enam macam saja
dari ke-72 macam ilmu silat itu.
Selagi Hian-sing mencari jawaban yang tepat sekonyong-
konyong dari luar berkumandang suara seorang yang nyaring
lantang, "Para padri agung dari Thian-tiok dan Thianggoan
berkumpul di Siau-lim-si untuk membicarakan ilmu silat,
sungguh suatu peristiwa yang menarik. Untung Siaùceng ada
Jodoh dan dapat ikut menyaksikan, entah para padri agung
kedua pihak memperbolehkan atau tidak!"
Suara orang itu kedengaran sangat jelas walaupun
berkumandang dari jauh, maka dapat dibayangkan betapa
hebat Iwekang orang Itu.
Hian-cu tercengang juga segera ia menjawab dengan
mengerahkan tenaga dalamnya,”Jika lawan sesama agama
marilah silahkan masuk saja!"
Lalu dengan pelahan katanya pula, "Hian-bin dan Hian-sik
Sute, harap mewakilkan aku menyambut tamu."
Selagi Hian-bin dan Hain-sik mengiakan dan belum keluar,
tiba-tiba orang di luar itu sudah menanggapi, "Tidak usah
menyambut, tamunya sudah datang! Sudah lama kudengar
Hian-hin Taisu dan Hian-sik Taisu tersohor dengan kepandaian
masing-masing yang tiada bandingannya di dunia ini hari ini
dapat berkenalan, sungguh sangat beruntung.”
Setiap dia berkata satu kalimat dan setiap kali suaranya
makin mendekat. Ketika selesai ucapannya, tahu-íahu di pintu
pendopo itu pun sudah muncul seorang padri setengah umur
berwajah keren dan agung, dengan merangkap kedua
tangannya padri ¡tu berkata dengan tersenyum, "Padri gunung
dari negeri Turfan, Cumoti menyampaikan salam hormat
kepada Hongtiang Siau-lim si!"
Memang semua orang sudah sangat terperanjat oleh
kepandaiannya, sekarang mendengar pula namanya sebagai
Cumoti, seketika banyak di antaranya bersuara, "Ah, kiranya
Kok-su negeri Turfan Tin lun Beng-ong!"
Segera Hian-cu berbangkit dan melangkah maju. ia
membalas hormat dan berkata, "Beng ong adalah imam
sesuatu negara dan sudi berkunjung kemari, sungguh kami
merasa sangat bahagia. Kebetulan hari ini biasa kami sedang
menghadapi sesuatu kesulitan yang harus diputuskan secara
adil maka mohon kebijaksanaan Beng-ong agar suka ikut
memberi pandapat."
Habis berkata. lalu ia perkenalkan Sin-kong Siangjin, Cilo
dan Polo Singh serta Liong beng Taisu dan lain-lain.
Cilo Singh sudah pernah bertemu dengan Cumoti, malahan
'"Ih-kin-keng" yang direbutnya dengan susah payah dari Yu
Goan-ci telah diampas pula oleh Cumoti. Sekarang bertemu
lagi di sini diam-diam Cilo Singh merasa kuatir dan jeri, tapi
juga mendongkol. Namun apa daya, ia tahu kepandaian
sendiri jauh di bawah orang, terpaksa ia diam saja, in hanya
memberi hormat ketika diperkenalkan oleh Hian-cu.
Sebaliknya Cumoti Juga cuma tersenyum saja kepadanya
dan tidak mengungkit apa yang pernah terjadi.
Selesai berkenalan, Hian-cu menyediakan suatu tempat
terhormat di bagian tengah sehingga lebih terhormat daripada
tempat duduk Sin-kong.
Cumoti merendah sejenak dan kemudian berduduk.
Sebaliknya Sin-kong sangat mendongkol diam-diam ia ambil
keputusan nanti pasti akan menjajal sampai di mana
kepandaian padri, Turfan Itu.
Lalu Cumoti membuka suara. "Tadi Hongtiang minta
Siauceng ikut ambil bagian untuk mempertimbangkan urusan
kalian ini, sebenarnya sama sekali Siauceng tidab berani ikut
campur.Cuma tadi Siauceng telah mendengar perdebatan
antara Hian-sing Taisu dau Cilo Singh Taisu mengenal ilmu
silat masing-masing, untuk itu aku meraba kedua Taisu sama-
sama ada bagian yang salah."
Para hadirin terkesiap oleh ucapan Cumoti yang sombong
ini, Cilo Singh sudah pernah kenal lihainya Cumoti, maka ia
tidak berani menantangnya. Tapi watak Hian-sing Taisu
sangat keras pula, tidak kenal kepandaian Cumoti yang sejati,
maka ia yang pertama-tama tidak tahan, segera ia melangkah
maju dan bertanya, "Di manakah bagian kesalahanku, mohon
petunjuk."
Cumoti tersenyum sahutnya, "Tadi Cilo Singh Suheng
membantah ucapan Taisu, maksudnya seakan-akan hendak
bilang tak mungkin ada orang yang mampu memahami
seluruh ke-72 macam ilmu silat Siau-lim-pai, maka ingin
kukatakan ucapan ini salah. Siau-lim-pai, selain murid
golongan kalian, orang lain tidak mungkin bisa kalau bisa,
pastilah hasil mencuri belajar dari golonganmu. Untuk Ini ingin
kukataksn bahwa ucapan Taisu ini pun keliru."
Semua orang menjadi bingung. Cumoti mencela kesalahan
kedua belah pihak, lantas apa maksut tujuannya yang
sebenarnya?
Maka dengan suara lantang Hian-sing bertanya, "Jika
menurut ucapan Beng-ong barusan, jadi engkau hendak
mengatakan bahwa benar ada orang yang sekaligus mahir ke-
72 macam ilmu silat dari Siau-lim-pai kami?"
"Benar," sahut Cumoti dengan mengangguk.
"Numpang tanya, siapakah gerangan ksatria besar itu?"
tanya Hian-sing.
"Terima Kasih, sebutan itu terlalu hormat bagiku," sahut
Cumoti.
"Apa? Jadi orang itu adalah Beng-ong sendiri.” Hian-san
menegas dengan melotot.
Cimoti merangkap tangannya dengan sikap sangat
khidmat, sahutnya, "Ya, betul!"
Jawaban ini membuat padri Siau-lim-si semua melonjak,
pikir mereka, "Orang ini berani omong besar sedemikian rupa,
apa barangkali orang gila?”
Hendaklah maklum bahwa pada umumnya padri Siau-lim-si
itu ada yang mempelajari ilmu pukulan, Ada yang belajar ilmu
tendangan dan ada pula yang menyakinkan ginkang, ada yang
mengutamakan senjata dan sebagainya, masing-masing
mempunyai kepandaian sendiri-sendiri dari ke-72 macam ilmu
silat Siau-lim-si, Menurut sejarah di antara padri angkatan dulu
hanya pernah terjadi seorang yang mahir 13 macam ilmu silat
dari Ke-72 macam itu dan mendapatkan gelar "Cap san-coat-
sin-ceng" atau padri sakti tiga belas ilmu. Selama sejarah Siau-
lim-si hanya padri 13 ilmu sakti itulah yang luar biasa dan
belum pernah ada yang lebih dari itu. jangankan lagi hendak
menyakinkan ke-72 macam ilmu silat itu secara lengkap. Maka
darì itu tentü saja tiada seorang pun percaya atas bualan
Cumoti itu.
Apalagi dari ke-72 macam ilmu silat Siau lim-pai itu ada
belasan macam di antaranya boleh dikatakan sangat sulit
dilatih, dengan jumlah padri Siau-lim-si sekarang yang lebih
dari 500 orang, kalau di kumpulkan kepandaian mereka juga
belum tentu lengkap meliputi ke-72 macam ilmu silat itu.
Sekarang usía Cumoti yang kelihatan baru setengah umur,
andaikan sejak "brojol" dari kandungan ibunya sudah mulai
belajar silat juga belum tentu dapat lengkap mempelajari ke-
72 macam ilmu silai itu, pula dia bukan orang Siau lim-pai,
dari mana dia dapat mempelajarinya?
Begitulah, maka diam-diam Hian-sing menyangsikan kata-
kata Cumoti itu tapi lahirnya ia tetap sopan, katanya pula.
"Beng-ong sendiri bukan orang Siau lim-pai kami, apakah
terhadap Pan-yak-ciang Mo-ko-ci dan Kim-kong-kun juga
pernah mempelajarinya!"
"Ah, hanya sedikit saja, diharap Taisu memberi petunjuk,”
sahut Cumoti dengan tersenyum.
Habis itu, tubuhnya sedikit miring, telapak tangan kiri
terangkat lurus dan kepalan kanan terus menyodok ka depan,
maka terdengarlah "trang" sekali, sebuah wajan perunggu
yang biasanya dipakai membakar kertas dupa terangkat ke
atas.
Itulah sejurus pukulan Kim-kong-kuh-hoat yang hebat,
wajan itu terpukul dan berbunyi, tapi tidak terpental pergi
melainkan cuma meloncat ke atas. Bahkan sebelum wajan itu
jatuh ke tanah, menyusul telapak tangan kiri Cumoti terus
dipukulnya pula, gayanya adalah jurus pukulan Pan-yak-ciang
yang lihai, maka terdengar suara "bluk'' sekali. banyak abu
dupa dalam wajan itu tertumpah keluar, di tengah
berhamburnya debu, dari atas wajan seperti jatuh sesuatu
benda entah apa kurang jelas.
Tatkala mana wajan itu sudah mulai menurun ke bawah
dengan tiba-tiba Cumoti menjulurkan jempolnya dan
rnenggasut ke depan, seketika suatu arus tenaga jari
memancar ke depan sehingga wajan yang sedang menurun itu
tergeser pergi se tengah meter jauhnya.
Beruntun-runtun Cumoti menggeser tiga kali dan wajan itu
pun tertolak sejauh satu setengah meter. lalu jatuh di alas
lantai batu. di ruang pendopo itu.
Sungguh kagum tak terhingga Hian-cu, Hian-sing dan padri
agung Siau-lim-si yang lain. Mereka kenal tiga kali menggesut
dengan jari jempol disebut "Sam-jip-te-gik", yaitu salah satu
jurus yang hebat dari ilmu jari Mo-gi-ci-hoat yang tua.
Namanya disebut "Sam-jip-ta-gik" atau tiga masuk neraka,
yaitu menggambarkan betapa bahaya mempelajari ilmu itu
ibarat untuk mempelajarinya, gesutan saja mesti masuk
neraka satu kali.
Sementara itu debu dupa sudab mulai jatuh lantai
sehingga kelihatan di atas lantai terdapat sepotong benda
sebesar telapak tangan. Waktu d¡perhatikan tanpa terasa para
padri sama berseru kaget.
Kiranya benda itu adalah sepotong perunggu berbentuk
telapak tangan. Dari pinggiran wajan perunggu yang masih
baru dan mengkilap terang baru saja terkupas dari wajan
perunggu.
"Permainan “Kasa-hok-mo-kang” ini bila kurang sempurna,
harap Hungtiang Suheng suka memberi petunjuk seperlùnya,"
Demìkìan Cumoti berkata dengan tersenyum sambil
mengebaskan jubahnya dan tahu-tahu wajan perunggu yang
terletak baberapa meter jauhny? itu tiba-tiba berputar sendiri
seperti hidup.
Setelah berputar beberapa kali, ketika berhentì sisi wajan
yang tadinya menghadap keluar sekarang berubah menhadap
ke dalam sehingga kelihatan di pinggir badan wajan itu
terkupas selapis dalam bentuk telapak tangan, bagian wajan
yang terkupas itu pun tampak kuning mengkilap.
Bagi padri Siau-lim-si yang agak rendah kepandaiannya
baru sekarang paham duduknya perkara, kiranya tenaga
pukulan telapak tangan Cumoti tadi setajam golok pusaka,
sehingga wajan itu terkupas mentah-mentah sepotong. Yang
hebat kalah bagian yang terkupas bukan sisi sini melainkan
sisi yang melainkan sisi yang tadinya menghadap ke sana.
Diam-diam Hian-sing menaksir dirinya juga sanggup
mengupas lapisan wajan itu dengan telapak tangan, tapi
untuk mengupas bagian wajan sebelah sana yang tak
kelihatan itu harus diakui tidak mampu.
Seketika ia menjadi putus asa, pikirnya, Rupanya apa yang
dikatakan padri asing ini memang tidak bohong, ke-72 macam
ilmu silat Siau-lim-si kami memang berasal dari Thian-liok dan
dia telah dapat mempelajari di tempat asalnya sehingga jauh
lebih pandai daripada apa yang kami pelajari.
Karena itu, segera Hian-sing merangkap, tangan dan
memberi hormat, katanya, "Ilmu sakti beng-ong memang
tiada taranya, sungguh Siauceng, sangat kagum."
"Kasa-hok-mo-kang” atau ilmu jubah penakluk iblis, yaitu
kepandaian kebahasan jubah yang dimainkan Cumoti terakhir
tadi adalah ilmu andalan Hian-cu yang dilatihnya selama hidup
ini dia yakin dengan ilmu saktinya itu sudah dapat menjagoi
dunia ini, siapa duga sekarang Cumoti juga mahir ilmu itu,
bahkan sembari bicara sambil mengebaskan lengan jubah
tanpa mengurangi kekuatannya, hal ini sekali-kali tak mungkin
dilakukan oleh Hian-cu sendiri, seketika ia menjadi berduka
dan menyesal tak terhingga.
Saat itu ruang pandopo itu menjadi sunyi sepi, semua
orang ternganga kesima di bawah pengaruh ilmu sakti Cumoti
itu.
Tiba-tiba terdengar Hian-cu menghela napas panjang,
katanya, “Baru sekarang kupercaya bahwa di atas langit masih
ada langit, di atas orang pandai masin ada orang yang lebih
pandai. Aku sendiri sùdah melatih diri selama berpuluh tahun,
tapi sesungguhnya tiada arti apa-apa dalam pandangan Tai-
lun Bong-ong. Ya, Polo Singh Suheng, Siau lim-si adalah
tempat miskin yang tiada harganya untuk dibuat tempat
tinggal, maka silakan boleh kau pergi!"
Ucapan Hian-cu itu membuat Cilo dan Polo Singh sangat
girang. Sebaliknya Sin-kong Siangjin merasa girang dan juga
sedih. Girangnya karena diketahui Polo Singh benar-benar
mahir ilmu silat Siau-lim-si yang tiada bandingannya, dan
sekarang Hian-cu mau melepaskan dia. Sebaliknya ia sedih
karena dibebaskannya Polo Singh adalah Jasa Cumoti yang
berkepandaian maha tinggi, maka sulitlah kalau dirinya
sekarang bendak mendapatkan ilmu silat Siau lim-si dari
tangan Polo Singh.
Sedangkan Cumoti tenang-tenang saja atas tindakan Hian-
cu itu, katanya sambil mengangkat tangan, "siancai!
Hongtiang Suheng jangan terlalu rendah hati."
Seketika para padri Sian-lim-si menunduk dengan patah
semangat. Bahwasannya Hian Cu terpaksa sampai
mengucapkan kata-kata tadi, itu berarti dia mengakui ilmu
silat Siau-lim-si memang lebih asor daripada kepandaian
Cumoti.
Selama bebarapa ratus tahun Siau-lim-sl mempunyai nama
di dunia persilatan dan tidak pernah mengalami kekalahan
seperti hari ini. Memang masih ad a jalan lain yaitu bila main
keroyok, dengan jumlah padri Siau-lim-si yang lebih 500 orang
itu memang cukup kuat untuk mengalahkan musuh, tapi
perbuatan demikian kalau terdengar bukankah nama Siau-lim-
si akan runtuh habis-habisan?"
Kalau Hian-cu merasa serbà susah dan kehabisan akal,
Liong-beng, To-jing dan padri lain juga merasa ikut malu,
bahwa keadaan bisa berubah menjadi demikian sungguh
bukan maksud tujuan mereka semula.
Begitulah segala apa yang terjadi di ruang pendopo itù
sejak semula disaksikan hi-tiok, Ketika mendengar ucapan
Hongtiang yang terakhir tadi lalu para padri Siau-lim-si sama
menunduk lesu, waktu ia melirik ke arah gurunya, yaitu Hui-
lun, air mata padri itu tampak berlinang-linang sangat duka,
bahkan ada beberapa Susioknya tampak memukuli dada
sendiri sambil menangis sedih.
Walaupun Hi-tiok tidak paham seluk-beluknya, tapi ia tahu
ilmu silat yang ditunjukkan Cumoti tadi tiada tandingannya
maka dengan bebas dia dapat membawa pergi Polo Singh.
Cuma ada sesuatu yang membingungkan Hi-tiok, yaitu ilmu
silat Pan-yak-ciang dun lain-lain yang dimainkan Cumoti tadi,
apakah cara mainnya itu benar atau salah, karena dia sendiri
tidak pernah belajar ilmu silat itu, dengan sendirinya tidak
tahu, tapi iwekang yang digunakan Cumoti untuk mainkan
ilmu-ilmu silat itu dapat dilihatnya dengan jelas yaitu "Siau-bu-
siang-kang."
Siau-bu-siang-kang itu pernah Hi-tiok pelajari dari Bu-gai-
cu, kemudian ketika Thian san Tong-lo mengajarkan "Thian-
san-ciat-bwe-jiu" padanya nenek itu merasakan Hi-tiok
memiliki ilmu- Iwekang yang hebat itu sehingga marah dan
berduka, sebab Siau-bu-siang-kang itu setahu si nenek oleh
guru mereka hanya diajarkan kepada Li Jiu sui seorang saja,
sekarang Bu-gai-cu dapat menurunkan ilmu itu kepada Hi-tiok,
maka tidak perlu disangsikan lagi bahwa diantara Bu-gai cu
dan Li Jin-Sui tentu mempunyai hubungan istimewa.
Kemudian setelah tong-lo tenang kembali dengan jelas ia
uraikan cara mengerahkan Siau bu-siang-kang itu kepada Hi-
tiok, tapi bagian yang penting yang lebih sempurna baru
diperolehnya dari Li jiu-sui ketika kedua orang itu bertanding
ilmu silat ciptaan masing-masing.
Pengetahuan Hi-tiok dalam ilmu silat bukan saja sangat
dangkal, bahkan boleh dikatakan sangat sederhana. Hanya
Siau-bu-siang-kang saja Ia belajar benar sudah apal sekali.
Ditambah pula dia banyak membaca ukiran dinding di bawah
tanah Leng-ciu-kiong sehingga Siau-bu-siang-kang itu dapat
dipahaminya dengan lebih sempurna.
Siau-bu-siang-kang ita sebenarnya adalah ilmu golongan
To (Taoisme), samanya sama dengan "Bu-sing" ajaran agama
Budha, namun pada hakikatnya berbeda. Tadi begitu
mendengar suara datangnya Cumotl segara Hi-tiok terkesiap
dan tahu iwekang padri itu sangat tinggi. Kemudian
menyaksikan pula Cumoti memainkan ilmu silatnya,
kelihaiannya banyak perubahannya, semua itu berkat tenaga
Siau-bu-siang-kang. Ia dengar Cümoti mengaku mahir ke-72
macam ilmu silat Síau-lim-si, tapi waktu main yang diandalkan
hanya tenaga Siau-bu-siang kang saja untuk mengelabui
pandangan orang.
Jadi Hi-tiok merasa heran, apa yang dimainkan Cumoti itu
sudah terang adalah Siau-bu-siang kang, mengapa orang
mengaku sebagai ilma silat Siau-lim-pai dan tampaknya Hian-
cu Hongtiang dan padri agung lain tiada seorang pun yang
berani menyingkap kepalsuannya itu.
Ia tidak tahu bahwa ilmu Sian-bu-siang-kang dari golongan
To itu sangat hebat dan luas sekalî, sedangkan tokoh-tokoh
yang berada di pendopo Siau-lim-si sekarang adalah hwasio
seluruhnya dari dengan sendirinya tidak pernah belajar
Iwekang dari golongan To, sebab itulah dengan mudah
mereka dapat dikelabui antara Bu-sing-kang dari agama
Budha dan Siau-bu-siang-kang agama To.
Karena melihat keadaan semakin suram, para Tionglo
tampak berduka, marah, lesu, tapi tak bisa berbuat apa-apa,
terang Síau-lim-si bakal menghadapi malapetaka, mestinya Hi
tiok bermaksud tampil untuk membongkar kepalsuan ilmu silat
Cimoti tadi. tapi Hi-tiok hanya seorang hwesio keroco
angkatan muda yang biasanya tidak ada hak bicara di dalam
Siau-lim-si, sekarang melihat suasana dalarn pendopo sangat
hikdmat dan tegang, kata-kata yàng sudah siap di mulutnya
itu akhìrnya ditelannya kembali mentah-mentah.
Maka terdengar Cimoti membuka suara pula, "Jadi kalau
menurut ucapan Hongtiang tadi itu berarti Hongtiang
mengakui ke-72 macam ilmu silat itu bukan hasil ciptaan biara
kalian. Maka dari itu, sejak kini kata-kata 'coat' yang
menyatakan kungfu khas ciptaan biara kalian haruslah diganti
kalau tidak mau dihapus."
Hiau cu diam saja dengan rasa pedih seperti di sayat-
sayat.
Tiba-tiba Seorang padri tua bertubuh tinggi besar berseru,
“Beng ong sudah berada di pihak yang menang, Hongtiang
kami juga telah mengizinkan kepergian padri thian-liok itu,
mengapa Beng-ong masih terus mendesak orang tanpa
memberi kelonggaran sedikit pun?"
"Siauceug hanya ingin Hongtiang mengucapkan sesuatu
untuk dipermaklumkan kepada kawan-kawan Bu-lim," sahut
Cumoti dengan tersenyum.
"Menurut pondapatku ada baiknya sejak kini Siau-lim-si
dibubarkan saja dan para padri boleh menggabungkan diri
kepada Jing liang-si, Bo to-si dan biara lain untuk mencari hari
depan sendiri-sendiri, dengan demikian bukankah lebih baik
dari pada sekadar cari hidup di dalam Siau-lim-si yang hanya
bernama kosong belaka ini?"
Ucapan Cumoti ini membuat padri Siau lim-si tidak tahan
lagi betapapun sabarnya, seketika ramailah suara dampratan
mereka. Baru. Sekarang para padri Siau-Iim-si itu mulai sadar
bahwa kedatangan Cumoti itu kiranya bermaksud
meruntuhkan Siau-lim-si agar dunia persilatan di Tiongkok
kehilangan tulang punggungnya yang paling kuat.
Maka terdengar Cumoti berkata pula dengan lantang,
"Seorang diri Siauceng terjunjung kemari sebenarnya ingin
belajar kenal dengan Siau-lim-si yang terkenal sebagal tiang
penegak dunia persilatan Tionggoan. Tapi sesudah mendengar
kata-kata para Taisu dengan perbuatannya, hehehe. Terpaksa
harus kukatakan bahwa Siau-lim-si agaknya masih kalah
daripada Thian-liong-si yang jauh terletak di negeri Taili yang
terpencil sana. Ai, benar-benar sangat, mengecewakan
perjalananku ini.”
Tiba-tiba seorang padri angkatan "Hian" berteriak, "Koh-
ong Tuisu dan Thian-in Hongtiang dari Thian-lion-si di negeri
Taili adalah padri saleh yang tinggi agamanya, setiap kawan
agama memang sangat mengaguminya. Orang beragama
sudah lama tidak punya pikiran ingin unggul, buat apa Beng-
Ong mesti membanding-bandingkan antara Siau-lim-si kaml
dengan Thian-Hong-si di Tailî."
Sembari berkata seorang padri tua dengan muka merah
maju ke depan dengan pelahan sambil jari jempol dan jari
telunjuk terkatup di depan dada, wajahnya tersenyum simpul
dengan sikap ramah. Kiranya dia ini Hian-to Taisu, terhitung
Suhengnya, Hian-cu.
Cimoti juga menghadapinya dengan tersenyum, katanya,
“Sudah lama kagum kepada 'Ciam-hoa-ci' (ilmu jari petik
bunga) Hian-to Taisu yang maha saktî, hari ini dapat
berkenalan, sungguh sangat beruntung!"
Sembari bicara kedua jarinya juga terkatup dengan gaya
hendak memetik bunga dan Siap di depan dada.
Begitulah kedua orang sama-sama mengangkat tangan ke-
depan dan berbareng menyentikan tiga jari terhadap pihak
lawan, Maka terdengarlah suara "pluk-pluk-pluk" tiga kali
tenaga jari kedua orang saling beradu, Tubuh Hian-to Taisu
sempoyongan ke belakang dan mendadak dari dadanya
mancur keluar tiga jalur darah bagai air mancur.
Kiranya sesudah mengadu tenaga jari, hian-to ternyata
kalah kuat dan dada kana tenaga sentikan Cumoti sehingga
mirip ditikam tiga kali oleh senjata tajam. Seketika darah
menyembur keluar melalui lubang tikaman jari itu.
Hian-to Taisu itu seorang yang baik hati dan sangat ramah,
dia sangat disukai oleh padri muda di Siau-lim-si. Dahulu Hi-
tiok juga pernah melayani Hian-to selama beberapa bulan,
pada waktu senggang sering juga Hian-to memberi petunjuk
ilmu silat padanya, maka Hi-tiok mempunyai kesan sangat
baik pada Hian-to. Sekarang melihat padri itu terluka parah,
kalau tidak segera ditolong tentu akan membahayakan
jiwanya.
Maka tanpa pikir lagi segera Hi-tiok menyelinap keluar dan
mendekati Hian-to. Sebelum tiba orangnya sebelah tangan Hi-
tiok lebih dulu menolak ke depan, dan cepat luar biasa tahu-
tahu tiga jalur air darah yang menyambar keluar dari dada
Hian-to itu tertolak kembali masuk ke dalam rongga dada
padri tua itu.
Hi-tiok pernah mendapat didikan ilmu pengobatan dari So
Sing-ho, kemudian dapat belajar pula ilmu pemunah Sing si-
hu, maka dalam urusan menolong dan menyembuhkan luka
orang boleh dikata tiada seorang pun di dunia ini lebih mahir
daripada Hi-tiok sekarang.
Begitulah dengan cepat luar biasa tangan Hi-tiok bekerja,
ia tutuk beberapa kali, dalam sekejap saja belasan hiat-to
tubuh padri tua itu telah ditutuknya untuk menghentikan
mengucurnya darah. Menyusul ia jejalin sebutir pil Kiu-coan-
bim-coawan buatan leng-ciu-kiong ke mulut Hian-to Taisu.
Tempo hari waktu Hi-tiok mendapat petunjuk Toan Yan-
khíng sehingga berhasil memecahkan problem catut ciptaan
Bu-gai-cu, tatkala mana Cumoti pernah bertemu sakall dangan
Hi-tiok. tapi kemudian Hi-tiok masuk ke dalam rumah sampai
lama sekali, dálam pada itu Cumoti sudah meninggalkan
tempat itu sehingga tidak ikut menyaksikan Hi-tiok
menyembuhkan luka Hui-hong Pau Put tong dan lain-lain.
Kemudian Waktu Hi tiok menggendong Thian san Tong-lo
dan tergelincir dari puncak gunung di situ Cimoti bersama
Buyung Hok, Ting Jin jiu dan Toan Ki telah menggunakan Hi-
tiok sebagai bola dan dioper ke sana dan ke sini. Dan
beberapa kali pertemuan itu sama sekali ia tidak merasa ada
sesuatu yang luar biasa atas diri Hi-tiok.
Siapa duga Sekarang ia melihat hwesio keroco itu tampil
lagi dan dengan cara yang sangat cepat dan lihai telah
menutup jalan darah Hian to, sungguh kepandaian yang luar
biasa dan belum pernah terlihat selama hidupnya, keruan
Cumoti terperanjat.
Bagi orang Siau-lim-si, tentang Hi-tiok memukul mati Hían-
lan Taisu dan menjadi Clangbunjin Siau-yan-pai, semua itu
telah dilaporkan oleh Hui-hong dan kawan-kawannya ketika
mereka pulang dengan membawa jenazah Hian-lan, Tapi
kemudian Hian cu dan padri agung Siau-lim-si yang lain dapat
mengetahui dari janazah Hian lan bahwa kematian Hian-lan itu
adalah akibat serangan "Sam-siau-siau-yau-san”, bubuk
berbisa yang ditebarkan oleh Ting Jun-Jiu. Mereka menunggu
pulangnya Hi-tiok yang tidak kunjung datang, pernah juga
mengirim orang untuk mencarinya tapi tidak ketemu.
Ketika beberapa hari yang lalu Hi-tiok pulang di Siau-lim-si,
Kebetulan di biara Agung itu sedang menghadapi kesulitan.
Kiranya Siau-lim-si telah terima surat dari Pangcu Kai-pang
yang mengaku bernama 'Ong Sing-thian, dengan permintaan
Sian-lim-pai mengakui Ong Sing-thian itu sebagai Bu-lim Beng-
cu (pemimpin duaia persilatan) di Tionggoan.
Berhubungan dengan itu, selama beberapa hari itu Hian-cu
berunding dengan para padri tua angkatan "Hian" dan "Hui"
untuk mencari jalan cara menghadapi manusia Ong Sing-thian
yang tidak pernah dikenal itu (siapa Ong Sing-thian tentu
pembaca masih ingat —pen).
Padahal Kai-pang adalah suatu organisasi terbesar di dunia
kangouw dan terkenal sebagai Suatu golongan yang baik dan
berjuang demi keadilan, biasanya jugá mempunya! hubungan
yang baik dengan Siau-lim-sí dan sama-sama membela
kebenaran begi sesama orang Bu-lím, masakah sekarang
mendadak ingin berdiri di atas Siau-lim-si seakan-akan
memandang síau-lim-si sebagai saingan terbesar, hal ini
benar-benar membuat Hian cu dan para padri menjadi
bingung.
Karena melihat Hongtiang dan para paman guru sedang
sibuk, Hui-lun, guru Hi-tiok, menjadi tidak berani malaporkan
tentang pulangnya Hi-tiok, sebab itulah tentang Hi-tlok kerja
di kebun sayur juga tidak diketahui oleh para padri agung.
Sekarang mendadak nampak Hi-tiok tampil ke muka dan
dengan cara yang maha sakti telah menolong Hian-to, keruan
semua orang terheran-heran dan terkejut.
Begitulah, sesudah memberi obat kepada Hian-to, lalu Hi-
tiok berkata, "Thaisupek, hendaknya engkau jangan
mengerahkan tenaga agar lukarnu tidak berdarah lagi."
Berbareng ia robek kain jubah sendiri untuk membalut luka
di dada kakek guru itu.
"Tai-lun Beng-Ong punya Ciam-hoa-ci sungguh maha . . .
maha hebat, aku. meng . . . mengaku kalah." kata Hian-to
dengan tersenyum getir.
"Toasupek, yang dia gunakan itu bukan Ciam-hoa-ci, juga
bukan kungfu dari kalangan Budha," tutur Hi-tiok.
Mendengar ucapan Hi-tiok itu, diam-diam para padri siau-
lim-si menggeleng kepala atas kedangkalan pengetahuannya.
Sudah terang permainan ilmu jari Cimoti tadi serupa dongan
caranya Hian-to, masakah dikatakan bukan Ciam-hoa-ci yang
merupakan salah satu kepandaian khas siau-lim-si? Sedangkan
Tai-lun Beng-ong itu adalah imam negara turfan, setiap lima
tahun sekali tentu beliau mengadakan khotbah sscara terbuka
di Tai-lun-si di atas gunung Tai-goat-san dan dari segenap
penjuru banyak kaum padri berkumpul ke sana untuk
mendengarkan khotbahnya. Jadi terang Cumoti adalah padri
Budha yang tersohor masakan ilmu silat yang dimainkan tadi
dikatakan bukan kepandaian kalangan Budha?
Sebaliknya tidak demikian dengan Cumoti ia terkejut
mendengar ucapan Hi-tiok tadi. Tapi sebagai seorang yang
berpengalaman luas dan belum pernah terkalahkan, di Taili ia
telah mengalahkan Thian-sin, Thian-siang dan Koh-eng Taisu,
sampai di Tionggoan pernah juga bergebrak dengan Buyung
hok, Ting Jun-jiu dan lain-lain, walaupun belum berakhir
dengan kalah atau menang, tapi terang dirinya lebih unggul.
Sekarang melibat Hi-tiok cuma seorang hwesio keroco baru 20
tahun lebih, biarpun memiliki kepandaian sakti juga terbatas.
Kedatangan Cumoti ke Siau-lim-si ini memang bertujuan
merobohkan nama baik biara agung yang bersejarah ribuan
tahun itu, sudah tentu dia tidak mau mengkarel di depan
seorang hwesio cilik saja. Maka dengan tersenyum ia lantas
berkata, "Siausuhu bilang kepandaian ku ini bukan ilmu silat
kalangan Budha, ei, kamu benar-benar terlalu meremehkan
ilmu silat Siau-lim si yang tersohor ini!"
Hi-tiolc tldak pandai berdebat, maka ia hanya, menjawab,
"Ciam-hoa-ci yang di mainkan Hian-to Thaisupek sudah tentu
ilmu silat ajaran Budha, tapi kau . . . kau punya itu bukan . . .
.“
Sembari bicara ia pun angkat tangan kirinya dan
menirukan gaya Hian-to tadi, beruntun-runtun ia menyentik
tiga kali dengan menggunakan tenaga Siau-bu-siang-kang.
Selentikan Hi-tiok itu tidak berani ditujukan ke arah
Cumoti, tapi dia menyelentikan ke arah sebuah genta besar
yang tergantung di samping. Maka terdengarlah suara "tang
tang tang" tiga kali. Tenaga selentikan Hi tiok itu mengenai
genta besar dan menumbulkan suara keras bagai dipalu.
“Kepandaian hebat!" seru Cimoti. "Silakan coba jurus Pan-
yat-ciangku ini!"
Berbareng ia angkat kedua telapak tangannya seperti
memberi hormat, tapi tidak merangkap, melainkan terbuka ke
depan maka terdengarlah suara mendesir pelahan, serangkum
tenaga pukulan menyambar ke arah Hi-tiok dengan sangat
dahsyat. ltulah jurus "Kiap-kok-thian-hong" (angin mendesir di
lembah gunung) dari ilmu pukulan Pan-yak ciang-hoat. . . .
Jilid ke-71
Melihat serangan Cumoti yang maha dahsyat ftu. Hi-tiok
terpaksa menangkisnya, segera ia gunakan satu jurus "Thian-
san-ciat-bwe-jiu" sehingga tenaga pukulan Cumoti dipatahkan.
Cumoti terkesiap karena merasa tenaga pukulan Hi-tiok itu
dengan jitu dapat memunahkan serangannya dan jelas adalah
Siau bu-siang-kang pula, tapi segera ia berkata dengan
tertawa.
"Siausuhu, apakah kepandaianmu ini adalah kepandaian
golongan Budha? Kedatanganku ini ingin belajar kenal dengan
ilmu sakti Siau-lim-pai, kenapa kamu malah menggunakan
kepandaian darl golongan tak karuan? Memangnya Siau-lim-
pai yang terkenal hebat di negari Song ini cuma bernama
kosong belaka dan tidak mampu melawan ilmu negeri lain
yang dekil?"
Cumoti meimang sangat cerdìk, sekalì gebrak dan merasa
dirinya sukar menandingi Hi-tiok, maka segera ia mengunakan
ucapan itu untut mendesak agar Hi tiok hanya menggunakan
ilmu silat Siau-lim-pai saja.
Sudah tentu Hí-tíolc tidak kenal kelicikan orang, jawabnya,
"Bakat Siau-ceng terlalu bodoh ilmu silat dari golongan sendiri
hanya paham sejurus Lo-han-kun dan Wi to-ciang yang
merüpakan dasar pelajaran ilmu silat golongan kami, dengan
sendirinya aku tidak sanggup melawan Tai-su."
Cumoti tertawa, katanya, "Jika demikian, jadi kaupun tahu
sendiri bukan tandinganku, maka boleh kamu mundur saja."
Hi-tiok mengiakan dan memberi hormat, lalu
mengundurkan diri ke tempatnya semula.
Sebaliknya Hian-cu Hongtiang cukup cerdik meski dia tidak
tahu dari mana Hi-tiok memperoleh kepandaiannya, tapi
dilihat dari beberapa jurus yang dimainkan Hi-tiok tadi terang
gerakannya sangat aneh dan bagus. Iwekangnya sangat kuat
dan mampu untuk menandingi Cumoti. Dalam keadaan
menentukan ini boleh juga Hi-tiok disuruh maju walaupun
kalah umpamanya, paling tidak tenaga Cumoti akan susut
lebih dulu.
Maka katanya segera, "Tai-lun Beng-ong mengaku mahir
ke-72 macam ilmu silat golongan kami, sungguh kami sangat
kagum kepada pengetahuanmu yang maha luas itu. Nah, Hi-
tiok kamu adalah murid angkatan kelima golongan kita
sekarang, mestinya kamu tidak sesuai untuk bergebrak
dengan jagoan nomor satu dari negeri Taufan sebagai Beng-
Ong, tapi jauh-jauh Beng-ong sudah datang ke sini
kesempatan bagus ini sukar dicari, maka bolehlah kau minta
petunjuk beberapa jurus kepada Beng-ong dengan kepandaian
Ho-han-kun dan Wi-to-ciangmu itu."
Karena diperintah sang Hongtiang, dengan sendirinya Hi-
tiok tidak berani membantah, segerà ia mengiakan dan
melangkah maju pula, katanya sambil memberi hormat,
"Silakan Beng-ong memberi petunjuk!"'
la pikir pihak lawan adalah tokoh ternama, tentu takkan
menyerang lebih dahulu, maka segera ia membuka serangan
lebih, dulu dalam gaya "Leng-san-pai-hud" (menyembah
Budha di gunung suci), yaitu suatu serangan pembukaan darl
Wi-to-ciang yang sudah dipelajarinya dengan masak.
Mestinya gerakan "Leng-san-pai-hud" itu Cuma suatu gaya
pemberian hormat sebagai tanda merendah diri, tak terpikir
bahwa sekarang Hi-tiok sudah penuh dengan lwekang "pak-
beng-cin-gi" yang diperolehnya dari Bu gai-cu, ditambah lagi
ajaran-ajaran Thian-san Tong-lo dan Li Jiu-sui, bahkan tidak
sedikit manfaat yang diperolehnya dari ukiran di dindirg keluar
batu bawah tanah Leng ciu-kiong. maka sekali dia bergaya
memberi hormat dangan kedua tangannya terangkat, seketika
jubahnya lantai mclembung hawa murninya bekerja untuk
melindungi seluruh tubuhnya.
Karena Hi tiok sudah mulai, terpaksa,Cumoti melayani,
segera sebelah telapak tangannya menghantam ke depan
sehingga mengeluarkan suara rnendesir dari angin pukulannya
itulah ilmu sakti pukulan Pan-yak-ciang.
Wi-to-ciang yang dimainkan Hi-tiok adalah ilmu pukulan
dasar, bagi setiap murid Siau-lim-pai yang muiai belajar silat
sebaliknya Pan yak-ciang hoat adalah ilmu pukulan yang maha
sakti, untuk melatihnya diperlukan waktu puluhan tahun maka
selama sejarah Siau-lim-si boleh dikata tidak pernah terjadi
Wi-to-ciang digunakan melawan Pan-yak-ciang."
Tapi sekarang Hi-tiok sedikit pun tidak gentar begiltu
pukulan lawan tiba cepat ia mengegos dan balas menyerang
pula, sekali ini kedua telapak tangannya menyodok ke depan
dalam gerakan yang bernama "San-bun hou-hoat" (membela
agama di depan gunung), gerak-serangannya tetap biasa saja
tapi membawa tenaga yang maha dahsyat.
Cumoti putar ke samping, dengan jari yang tersembunyi di
balik lengan baju segera ia menutuk ke depan. Cepat Hi–tiok
menghindarkan tenaga tutukan hebat yang tak kelihatan itu.
Namun Cimoti sudah menduga ke mana Hi-tìok pasti akan
menghindar, maka menyusul ia lantas menghantam dengan
pululan Kim-kong-kun, "bluk", pundak Hi-tiok dengan tepat
kena digenjot sehingga orangnya terhuyung huyung
kebelakang.
Maka tertawalah Cumoti, katanya, "Siausuhu mau
mengaku kalah atau belum?"
Ia menduga dengan pukulan dahsyat itu tentu dapat
menghancurkan tulang pundak lawan.
Tak terduga bahwa Hi-tiok memiliki "Pak-bong-cin-gi" yang
tidak gentar terhadap pukulan apa pun, bahkan setiap kali
kena hantaman, setiap kali hawa murninya tambah Kuat
malah.
Begitulah maka dengan cepat Hi-tíok lantas menerjang
maju pula, kedua telapak tangannya menggaplúk dari kiri ke
kanan, serangan ini bernama "Hong-sui-kui hal" (air bah
mengalir ke Laut) tenaga dalam yang dibawa pukulannya itu
sedahsyat air bah melanda.
Karuan Cumoti terkejut sudah terang lawan kena hantam
tapi tidak cedera bahkan dapat balas menyerang dengan
pukulan yang lebih dahsyat. Lekas ia pun manangkis
sekuatnya, menyusul kedua kaki juga menendang secara
berantai, plak-plok, dalam sekejap saja ia menendang tujuh
kali dan seluruhnya mengenai dada Hi-tiok.
Tendangan ini pun termasuk salah satu kepandaian Siau-
lim-pai yang disebut "Ju-eng-sui-beng" (seperti bayangan
mengikut bendanya), yaitu menggambarkan betapa cepatnya
tendangan itu secara susul-menyusul. Sampai tendangan
ketujuh Hi-tiok mencelat beberapa meter jauhnya. Bahkan
Cumoti tidak memberi kesempatan lagi kepada Hi-tiok, jarinya
menutuk dua kali pula dari jauh sehingga mengeluarkan suara
mencicit, itulah "To-lo-ci-hoat” yang lihai.
Tapi Hi-tiok sempat pasang kuda-kuda dan menyambut
dengan pukulan "Hek-hou-thau-sim" (harimau kumbang
mencuri hati), salah satu pukulan Lo-han-kun.
Serangan Hi-tiok ini sebenarnya terlalu dangkal, sebab
setiap orang Siau-lim-si boleh dikata pasti paham gerak
serangan itu, tapi sekararg dikerahkan oleh Hi-tiok dengan
tenaga Siau-bu-siang-kang, maka tenaga tutukan Cumoti yang
hebat itu kena dipatahkan di tengah jalan.
Rupanya Cumoti sengaja hendak pamer kepandaiannya,
habis To-lo-ci-hoat segera berganti membelah dengan telapak
tangannya dalam ilmu, "Jian-bok-to-hoat" (ilmu golok
membakar kayu).
Ilmu golok yang dimainkan dengan telapak tangan kosong
ini cepat luar biasa, sekaligds ia dapat membelah dan
membacok 9 x 9 = 81 kali di sekeliling sebatang kayu, kayu itu
tidak terbelah menjadi dua tapi dari hawa panas yang keluar
dari "golok tangan" Itu dapat membuat kayu Itu terbakar.
Mendiang guru Siau Hong, yaitu Hian-kho Taisu sangat mahir
ilmu gulok Ini, tapl sejak dia wafat, di Siau-lim-si tiada seorang
pun, yang mahir lagi.
Cumoti mulai memotong sekali, "bluk”, dengan tepat
lengan kanan Hi-tiok kena ditabas.
"Cepat amat!" Seru Hi-tiok sambil balas menghantam, dan
baru kepalan sempat di tengah jalan kembali lengannya kena
dibacok lagi.
Walau pun Cumoti menggunakan telapak tangan sebagai
golok, tapi tenagànya dikerahkan pada tepi telapak tangan,
kerasnya tidak kalah daripada golok baja dan cukup kuat
untuk mengutungkan lengan. Tapi beruntun Hi tiok kena
ditebas dua kali dan tetap tidak beralangan apa-apa
sebaliknya telapak tangan Cumoti malah terasa kesakitan.
Sunggu kejut Cumoti tak terkatakan, sekilas terpikir
olehnya jangan-jangan hwesio keroco ini memakai baju
pusaka dan sebagainya, kalau tidak biarpun dia memiliki ilmu
kebal sebangsa Kim-ciong-loh dan Tiat-poh-san juga tak tahan
oleh serangan barusan yang hebat itu.
Terpikir demikian, segera ia ganti serangan, sekarang yang
diarah selalu bagian muka Hi-tiok ia mencakar dan menutuk,
beruntun ia keluarkan beberapa macam ilmu sakti Siau-lim-pai
untuk menyerang mata dan tenggorokan Hi-tiok.
Karena serangan kilat ini Hi-tiok menjadi kelabakan dan
terdesak mundur, tapi ia masih tetap balas memukul sekali
demi sekali seluruhnya adalah tipu "Hok-hou thau-sim"
anehnya selalu Cumati terdesak mundur kelakah kebelakang,
dan oleh karena satu langkah itulah maka macam-macam
serangan Cumoti itu menjadi susah mencapai sasarannya,
sekalipun menyenggol saja tidak bisa.
Dengan gemas kembali Cumoti mangeluarkan belasan
macam kepandaian Siau-lim-pai yang berbeda-beda untuk
menyerang Hi-tiok. Para padri Siau-lim-si sampai terkesima
menyaksikan itu, diam-diam mereka mengakui ucapan Cumoti
yang mengaku mahir ke-72 macam ilmu silat Siau-lim-pai dan
ternyata tidak omong kosong belaka.
Sebaliknya Hi-tiok tetap melayani dengan Loh-han-kun
saja, jika kececer, segera ia menghantam dengan "Hek-hou-
thau-Sim", bila terdesak, kembali menyambut dengan pukulan
"Hek-hon-thán sim", jadi itu-itu saja gerak tipu yang
digunakan Hl-tiok. lain tidak.
Keruan kelakuannya menjadi lucu, semua orang
menganggapnya kelewat bodoh, biar guru silat pasaran pun
akan mentertawainya.
Jadi yang satu maha lihai dan yang lain kelewat bodoh,
namun yang lihai toh tak dapat merobohkan yang bodoh,
sebab di dalam gerakan "Hek-hou-thau-sim" yang dímainkan
Hi-tiok itu justru membawa tenaga dalam yang makin dahsyat,
jarak kedua orang juga makin lama makin jauh.
Sekarang Cumoti dapat merasakan bahwa tenaga dalam
yang dikeluarkan Hi-tiok Itu ternyata juga. mengandung Siau-
bu-siang-kang, bahkan terasa lebih kuat daripada dirinya,
cuma saja cara menggunakannya tidak tepat dan kurang
pandai. Tapi kalau pertarungan diteruskan, susah juga untuk
memperoleh kemenangan.
Maka ketika dilihatnya Hi-tlok menghantam lagi dalam
"Hong-hou-thai-sim", yaitu pukulan yang disodok mengarah
hulu hati lawan, segera Cumoti mencengkeram ke depan,
kedua tangannya memegang berbareng sehingga kepalan Hi
tiok tertangkap, segera kedua tangannya menekuk jari jempol
dan jari kecil Hi-tiok dan ditelingkung ke atas.
Kim-na-jiu-boat atau ilmu memegang dan menangkap ini
sangat hebat sekali, Hi-tiok tidak dapat menggunakan gerakan
"Hok-hou-thau-sim" untuk menghadapi Cumoti lagi. Tapi
karena jarinya tertekuk, saking kesakitan dengan sendirinya ia
keluarkan "Thian-san-ciat-bwe-jiu" ajaran Thian san Tong lo,
tangan kanan Hi-tiok yang terpegang itu mendadak memuntir
dan membalik ke atas, dengan cepat dan tepat sekall ia balas
mencengkeram pergelangan kiri Cumoti.
Sungguh sama sekall tak terduga oleh Cumoti bahwa
tangan yang sudah terpegang itu mendadak bisa
mengeluarkan semacam kekuatan yang aneh dan memberosot
lepas dari cengkeramannya, bahkan berbalik tangan sendiri
yang terpegang malah.
Biarpun pengetahuan ilmu silat Cumoti sangat luas, tapi
Thian-san-ciat-bwe-jiu ini adalah ciptaan Tong-lo sendiri
sehingga dia tidak kenal asal-usul kungfu Hi-tiok itu.
Dalam kejutnya segera Cumotl merasa pergelangan tangan
kirinya seakan-akan terjepit oleh anggam besi dan sukar
terlepas. Untung dalam keadaan gugup Hi-tiok cuma berharap
menyenyelamatkan diri dan tidak sempat menyerang pula
maka ia cuma pegang tangan Cumoti dengan kencang agar
lawan itu tidak dapat menelingkung dirinya sebaliknya lupa
memencet urat nadi pergelangan tangan Cumoti.
Karena sedikit kesalahan itu, segera Cumoti mengerahkan
tenaga dalam sehingga tangan Hi-tiok tergetar seakan-akan
retak. Dalam keadaan kaku agak hi-tiok kuatir kalau
cekalannya dilepaskan tentu Cumoti akan menyerang pula
dengan cara-cara yang lebih lihai maka sekuatnya ia kerahkan
beng-cin-gi pula.
Berturut-turut Cumoti meronta tiga kali dan tetap tak
terlepas, keruan ia sangat takut, cepat ia gunakan telapak
tangan kanan untuk membacok leher Hi-tiok. Dalarn gugupnya
ia tidak sempat menggunakan ilmu silat Siau-lim-pai lagi tapi
bacokan tangan ini menggunakan kepandaiannya yang berasal
dari Turfan.
Sekarang mereka bertempur dari jarak dekat, maka ketika
merasa terancam segera tangan kiri Hi-tiok menggunakan
Thian san-liok-yang-jiu untuk mematahkan serangan Cumoti.
Sekali serangan gagal, dengan sendirinya Cumoti
melontarkan serangan lain pula, tapi Liok yang-jiu juga
beruntun-runtun dimainkan Hi-tiok sehinggà setiap serangan
Cumoti dapat dipatahkan.
Sudah tentu para penonton banyak yang terheran-heran,
mereka bertarung dari jarak dekat boleh dikatakan saling
bergumul, tangan kiri Cumoti kelihatan dicengkeram kencang
olah Hi-tiok, sedang tangan kanan Cumoti berulang-ulang
menghantam, tapi selalu tidak dapat mencapai sasarannya.
Bahkan lama kelamaan mereka merasa terdesak oleh angin
pukulan Cumoti yang membadai, makin larna makin kuat
sehingga menyesakkan napas.
Walaupun setiap bacokan telapak tangan Camoti itu sangat
dahsyat dan tajam melebihi senjata, tapi Thian-san-liok-yang
jiu yang dimainkan Hi-tiok sekarang sudah sangat hebat,
terutama sesudah dia menyelami pelajaran yang terukir di
dinding kamar batu di bawah tanah Leng-cin-kiong itu. Cuma
sayang selama ini dia belum pernah menggunakannya untuk
bergebrak dangan orang, sekarang baru mulai dicoba sudah
harus menghadapi jago kelas sátu seperti Cumoti dan mesti
bergumul dari jarak dekat, menyadari seluruh kepandaiannya
itu paling-paling cuma dua-tiga bagian saja yang dapat
dimainkannya. Apalagi tenaga serangan Cumoti makin lama
makin lihai sehingga yang dipikir oleh Hi-tiok asal dapat
selamat saja, maka permainannya juga cuma mengutamakan
menjaga diri saja.
Sebenarnya bukan maksud Hi-tiok hendak menangkap
Cimoti, soalnya la merasa ilmu silat lawan lebih pandai
berpuluh kali lipat daripada dirinya, serangan sebelah tangan
saja sedahsyat itu apalagi kalau menyerang dengan kedua
tangan, bukan mustahil jiwanya akan melayang seketika.
Lantaran itulah secara mati-matian Hi-tiok terus pegang
pergelangan tangan Cumoti agar sebelah tangan itu tak bisa
digunakan untuk menyerang.
Walaupun bodoh sekali pikiran Hi-tiok itu, tapi dalam saat
berbahaya ternyata berguna juga. memang benar serangan
hebat dari Cumoti menjadi kencang karena hanya sebelah
tangan saja yang digerakkan. Sebaliknya bagi Hi-tiok yang
belum masak betul dalam menggunakan kepandaian
permainan sebelah tangan menjadi lebih leluasa daripadà
permainan dua tangan, dengan demikian, kedua orang terus
bergebrak sampai ratusan jurus dan keadaan masih tetap
sama kuat.
Bagi padri agung seperti Hian-cu, Sin kong Hian to, Liong
beng, Cilo Singh dan lain-lain. mereka dapat melihat Cumoti
tidak dapat melepaskan tangan kirinya yang terpegang Hi-tiok,
sedangkan tangan kiri Hi-tiok sama sekali tidak dapat
melawan serangan tangan kanan Cumoti, jadi kedua orang itu
sama sama unggul di lengan sebelah kanan dan asor di
tangan sebelah kiri. Pertarungan demikian ini, biarpun para
paderi itu sudah kenyang asam garam juga belum pernah
menyaksikan selama hidup ini.
Menyaksíkan pertempuran itu, hampir seluruh padri Siau-
lim-si merasa heran dan kuatir pula. Mereka tidak tahu selama
Hi-tiok menghilang setengah tahun entah dari mana dapat
mempelajari ilmu silat sehebat itu. Mereka melihat serangan
Cumoti itu sangat lihai, asal Hi Tiok kena dihantam sekali pasti
tamatlah riwayatnya. Sebaliknya dalam keadaan tangan lawan
terpegang Hi-tiok jika salah seorang padri Siau-liam-si itu
berani maju membantu maka dengan sekali tonjok saja cukup
membikin jiwa Cumoti melayang.
Tapi sudah tentu mereka tidak mau bertindak demikian
sehingga dapat meruntuhkan nama baik sendiri. Maka para
padri itu hanya kebat-kebit merasa kuatir mengikuti
pertarungan kedua orang itu.
Sesudah ratusan jurus lagi, rasa takut Hi-tiok pelahan
mulai hilang, maka permainan Thian-san-liong yang jitu dapat
dilontarkan dengan lebih lancar, cara melontarkan tenaga
serangannya dapat diketahuinya pula, maka lambat laun
dalam sepuluh gebrakan ia dapat balas menyerang satu-dua
kali dan tidak lama kemudian dapat balas menyerang sampai
tiga-empat kali.
Melihat keadaan Hi-tiok tambah baik dan terhindar dari
kemungkinan bahaya, diam-diam para padri Siau-lim-si ikut
bergirang.
Dalam pada itu sejak munculnya Cumoti, timbul
pertentangan batin Sin-kong Siangjin, ia berharap Cumoti
menjatuhkan nama baik Siau-lim-pai, tapi tidak suka pula
kalau padri asing itu malang melintang di Tionggoan.
Ketika dilihatnya Cumoti bergebrak dengan Hi-tiok sampai
sekian lama dan masih belum terpisahkan, diam-diam ia
berharap kedua orang itu akan babak-bonyok dan akhirnya
gugur bersama, dengan demikian ia sendiri akan dapat
mengeduk keuntungan biarpun nanti susah memperoleh
kepandaian Siau-lim-paì yang lain dari Polo Singh, namun dari
pan-yak-ciang, Mo-ko-ci-hoat dan Kim-leng-kun yang telah
dihapalkannya tadì dapatlah dibawa pulang ke Jing-liang-si
untuk dipelajari lebih mendalam dan dikombinasikan dengan
demikian bukan mustahil kelak dirinya akan menjadi cakal
bakal gabungan ketiga macam kungfu sakti itu.
Sebaliknya Polo Singh juga mempunyai pikiran sendiri.
Selama ini dia sembunyi di Ceng-keng-kok dan telah banyak
membaca kitab pusaka Siau-lim-pai, ia merasa ilmu silat
tinggalan padri agung Siau-lim-si yang dulu memang sangat
luas dan hebat, makin dipelajari makin sukar dijajali sehingga
lambat-laun Polo Singh sendiri tenggelam dalam keasyikannya.
Sekarang sang Suheng hendak memapaknya pulang, ia
merasa apa yang sudah dibaca dan teringat baik itu masih
bukan apa-apa kalau dibandingkan kepandaian yang
dìpertunjukkan Cumoti dan Hi-tiok sekarang. Pulang ke
kampung halaman memang menyenangkan, tapi berat juga
rasanya jika kesempatan mempelajari ilmu silat secara lebih
mendalam susah diketemukan lagi di kemudian hari.
Hendaklah maklum bahwa Polo Singh ini seorang padri
Thian-tiok yang, berbakat dan gila ilmu silat. Seperti juga
dalam bidang lain, misalnya seni main catur, main piano,
melukis dan sebagainya, semakin dipelajari semakin terasa tak
habis-habis dan tiada batas-batasnya, ilmu yang dipelajari itu,
asal tahu di dunia ini ada pihak lain yang lebih pandai, maka
sedapat mungkin ingin belajar kenal dan mengukur
kepandaian lawan itu.
Maksud tujuan Polo Singh semula adalah ingin mencuri
kitab pusaka Siau-lim-si untuk dibawa pulang ke Thian-tiòk,
tak terduga olehnya bahwa ilmu silat Siau-lim-si itu ternyata
sedemikian luasnya, semakin dipelajari semakin terasa tidak
habis-habis, maka sekarang ia pun merasa saying dan berat
untuk meninggalkan biara agung itu.
Dalam pada itu keadaan Hi-tiok sekarang sudah tambah
baik, dari dua kali serangan Cumoti ia sudah mampu balas
menyerang satu kali, walaupun masih lebih banyak diserang
daripada menyerang tapi tenaga dalamnya, makin lama
makin, kuat sehingga tiap-tiap kali Cumoti merasa makin sulit
untuk menangkis.
Suatu ketika, mendadak Hi-tiok ganti tipu serangan. ia
tidak menggunakan Thian-san-liok-yang-jiu, tapi tiba-tiba
sejurus pukulan ajaran Li-Jiu-sui dahulu dilontarkannya, yang
diincar adalah bagian selangkangan.
Sekali berhasil membikin lawannya terdesak, segera
semangat Hi-tiok terbangkit, menyusul ia keluarkan sejurus
ajaran Thian-san Tong-lo ketika bertanding melawan Li Jiu-sui,
mendadak telapak tangannya menyambar ke atas kepala
Cumoti dengan gaya hendak menjambak. Walaupun kepala
Cumoti gundul kelimis, tapi jika kena digaruk bukan tidak
mungkin kepalanya akan pecah.
Ternyata serangan yang dilontarkan Hi-tiok itu adalah
ciptaan Li Jin-sui dan Thian-san Tong-lo, tipu serangannya keji
dan lihai pula, yaitu seperti lazimnya kaum wanita berkelahi
dan main. jambak, cakar dan mencengkram bagian-bagian
yang terlarang segala.
Keruan Hian-cu dan padri agung lain sama berkerut kening
menyaksikan tipu serangan Hi-tiok yang semakin aneh dan
keji itu. Selama sejarah Siau-lim-si belum pernah terdapat
kungfu sedemikian aneh dan kejinya.
Dalam pada itu Cumati sendiri juga sudah merasa keadaan
sangat tidak menguntungkan baginya. Berulang-ulang ia
membetot dan meronta, tapi tetap sukar terlepas. Jika dia
mengerahkan tenaga maka tenaga pegangan Hi-tiok juga
tambah kuat.
Dalam keadaan tak berdaya, timbul seketika napsu
jahatnya untuk membunuh Hi-tiok, Berturut-turut ia
menyerang pula tiga kali ketika Hi-tiok menangkis, pada suatu
kesempatan Cumoti mencabut sebilah belati kecil yung terselip
dalam kaos kakinya terus menikam bahu Hi-tiok.
Kepandaian yang dipelajari Hi tiok itu adalah bertangan
kosong, ketika mendadak sinar senjata berkelebat, belati
musuh tahu-tahu menusuk tiba, ia menjadi bingung cara
bagaimana menangkisnya, tanpa pikir segera ia mendahului
sambar tangan orang yang memegang belati itu yang
digunakan adalah Kim-na-jiu-hoat yang cepat lagi jitu dari
Thian-san-kiat-hwe-jiu maka tahu-tahu pergelangan tangan
Cumoti kena dicengkeramnya.
Tapi pada saat itu juga mendadak Cumoti mengerahkan
tenaganya sambil lepas tangan sehingga belati itu meluncur ke
depan. Karena kedua tangan Hi-tiok digunakan untuk
mencengkeram kedua tangan lawan ia tak bisa mengelak lagi,
tanpa ampun belati itu menancap di pundaknya.
Para penonton sama menjerit kaget. Pada saat itulah tiba-
tiba diantara orang banyak melompat keluar empat padri,
serentak sinar tajam berkelebat, sekaligus ujung empat
batang pedang mengancam tenggorokan Cumoti.
Dalam kagetnya Cumoti meronta sekuatnya dan hendak
melompat mundur, tapi cekalan Hi-tiok ternyata sangat kuat,
sedikitpun tidak bergeming. Cumoti merasa lehernya "nyes"
dingin, ujung keempat pedang telah menyentuh kulit
dagingnya. Bahkan terdengar keempat padri itu membentak
bersama, "Manusia tak kenal malu, lekas serahkan Jiwamu!"
Dari suara mereka yang nyaring merdu itu kedengaran
seperti suara kaum wanita muda.
Segera Hi-tiok dapat mengenali mereka adalah Bwe-kiam
berempat, cuma mereka memakai kopian padri sehingga ikat
rambut mereka tertutup, jubah padri yang mereka pakai juga
jubah padri Siau-lim-si. Keruan Hi-tiok terkejut dan heran,
serunya, "Jangan mengganggu jiwanya!"
Bwe-kiam mengiakan, tapi ujung pedang mereka masih
tetap mengancam tenggorokan Cumoti.
"Hahahaha!" tiba-tiba Cumoti bergelak tertawa. "Rupanya
Siau-lim-si tidak cuma pandai main keroyok bahkan diam diam
menyembunyikan wanita di dalam kuilnya. Nama baik selama
beratus tahun kiranya cuma begini. Hahaha, baru sekarang
aku tahu!"
Hi-tiok sangat gugup dan bingung sehingga cekalan kedua
tangan dilepaskan. Segera Kiok-kiam membuang pedangnya
dan cepat mencabut belati yang menancap dipundak sang
majikan lalu menggunakan saputangannya untuk membalut
luka Hi-tiok. Sedangkan ujung pedang Bwe kiam bertiga masih
tetap mengancam tenggorokan Cumoti.
"Meng . . . mengapa kalian datang kemari?" tanya Hi-tiok
dengan gugup.
Sebelum Bwe-kiam berempat menjawab, sekonyong-
konyong tangan kanan Cumoti bergerak, dangan ilmu "Hwe-
yam-to" yang sakti tiba-tiba terdengar "trang-tring-treng" tiga
kali, ketiga pedang Bwe-kiam bertiga patah seketika. Keruan
Bwe-kiam bertiga terkejut cepat mereka melompat mundur,
ketika diperiksa, ternyata senjata mereka hanya tertinggal
bagian gagangnya saja.
"Nah, Hòngtiang Suheng, apa yang hendak kau katakan
lagi?” seru Cumoti kepada Hian-cu Taisu sambil tertawa.
Air muka Hian-cu tampak membesi, sahutnya, "Seluk-beluk
kejadian ini aku sendiri tidak paham, tapi pasti akan kuselidiki
dan diputus menurut tata tertib biara kami. Sekarang boleh
silakan Beng-Ong dan para Suheng mengaso dulu ke pondok
tamu yang tersedia."
"Jika demikian terpaksa mengganggu," sahut Cumoti
sambil memberi hormat.
Ketika Hian-cu membalas hormat, kedua tangan Cumoti
yang terangkup itu menggeser ke samping dan diam-diam
mengerahkan tenaga, maka terdengarlah suara "bar-ber"
beberapa kali disusul jerit kaget Bwe-kiam berempat, kopiah
padri mereka tersampuk jatuh semua sehingga kelihatan
rambut mereka yang panjang dan indah, banyak pula rambut
putus yang ikut bertebaran jatuh ke lantai bersama kopiah.
Tenaga Hwe-yam-to yang digunakan Cumoti tidak cuma
menyampuk jatuh kopiah keempat ñona itu, bahkan memapas
sebagian rambut mereka yang lemas, maka dapat
dibayangkan betapa hebat iwekang Cumoti yang telah
mencapai tingkatan paling sempurna itu.
Dengan demontrasi kepandaiannya bukan saja Cumoti
hendak pamer kekuatan yang cuma memotong rambut dan
tidak melukai orangnya sebagai tanda kemurahan batinya,
berbareng ia sengaja menelanjangi penyamaran keempat
nona itu agar pihak Siau-lim-si tidak bisa menyangkal terhadap
bukti-bukti nyata itu.
Keruan air muka Hian-cu tampak masam, katanya
kemudian, "Para Suheng, silakan!"
Serentak Sin-kong, Cilo Singh dan lain-lain lantas
berbangkit dan diantar oleh padri penyambut tamu ke ruang
istirahat. Mereka menduga Hian-cu sebentar lagi pasti akan
mengambil tindakan tegas mengingat pelanggaran Hi-tiok
yang luar biasa itu, jangankan di dalam Siau-lim-si terdapat
beberapa gadis yang menyeru sebagai padri biarpun wanita
biasa saja tidak boleh sembarangan masuk ke dalam kuil suci
itu.
Dan baru saja para tamu itu keluar segera berkatalàh Bwe-
kíam, "Cujin, hamba sekalian diam-diam telah menyusul ke
sini untuk melayani Cujin harap engkau jangan marah kepada
kami."
Lam-kiam juga berkata, "Itu hwesio yang bernama Yam-
kin benar-benar terlalu kurang ajar, dia baru tahu rasa
sesudah kami beri hajaran setimpal padanya sehingga tidak
berani lagi menganiaya Cujin, tak terduga hwesio besar tadi
telah melukai Cujin pula."
Baru sekarang Hi-tiok paham duduknya perkara,Rupanya
tempo hari Yan-kin telah dihajar oleh Bwe-kiam berempat
sehingga babak belur dan diancam pula, pantas Yan-kin lantas
ketakutan dan sikapnya berubah baik padanya. "Jika demikian,
teranglah Bwe-kiam berempat sudah cukup lama menyamar
dan menyelundup ke dalam Siau-lim-si, wah, urusan bisa
runyam," demikian pikir Hi-tiok.
Cepat Hi-tiok berlutut dan menyembah patung Budha di
ruang pendopo itu dan berdoa. "Dosa Tecu teramat besar
sehingga mendatangkan malapetaka yang tak terperikan
kepada biara kita mohon Hongtiang memberi hukuman
seberat-beratnya."
"Cujin," tiba-liba Kiok-kiam berseru, "buat apa engkau
menjadi hwesio segala, lebih baik marilah kita pulang saja ke
Biau-biau-hong daripada makan nasi dan minum air tawar di
sini, bahkan mesti diperintah lagi oleh orang?"
Segera Tiok-kiam juga berkata sambil menuding Hian-cu,
"He, kamu hwesio tua ini, kalau bicara hendaknya sopan
sedikit, tahu! Jangan terlalu garang kepada Cujin kami. Awas,
kami berempat ini takkan sungkan-sungkan ambil tindakan
padamu."
"Diam," bentak Hi-tiok dengan gugup. "Kalian sudah
mengacau di sini, masih banyak bicara apa lagi? Lekas tutup
mulut!"
Tapi keempat nona itu masih terus bicara ini dan itu tak
berhenti-henti.
Para padri Siau-lim-ii saling pandang dengan melongo.
Mereka melihat keempat nona itu sama rupa dan sama
tingkah-lakunya, semuanya cantik dan lincah, tak tahu apa
artinya diam, mereka tidak tahu dari mana datangnya
keempat nona nakal demikian.
Seperti telah diceritakan, Bwe-kiam berempat adalah
kembar empat, asalnya adalah putri keluarga miskin di kaki
gunung Tai-soat-san, orang tua mereka memang sudah punya
beberapa orang anak, ketika mereka dilahirkan pula sekaligus,
sudah tentu orang tua mereka tidak sanggup piara mereka
dan terpaksa , dibuang di tempat sunyi.
Kebetulan Thian-san Tong-lo lewat di situ dan mendengar
suara tangisan orok, ketika mengetahui ada bayi kembar
empal yang dibuang orang tuanya, nenek itu sangat tertarik
dan segera di bawa pulang ke Lcng-ciu-kiong. Di sanalah Bwe-
kiam berempat dibesarkan dan diajarkan ilmu silat.
Walaupun Bwe-kiam berempat separti dayangnya Tong-lo,
tapi sesungguhnya mirip nenek dengan cucu-cucu dan mereka
sangat disayang oleh Tong-lo. Selamanya mereka pun tidak
pernah turun gunung, dengan sendirinya mereka tidak kenal
dunia ramai dengan seluk-beluknya, selamanya mereka cuma
tunduk kepada Tong-lo seorang, sesudah Hi-tiok
menggantikan sebagai majikan, mereka juga meladeninya
dengan penuh setia, bahkan karena sifat Hi-tiok yang ramah-
tamah kepada mereka sehingga mereka tidak begitu takut
seperti terhadap Tong-lo . . . .
Begitulah maka Hian-cu kemudian berkata, "Kecuali para
Suheng dan Sute angkatan Hian dan Hui-lun yang boleh
tinggal di sini, yang lain-lain silahkan kembali ke ruangan
masing-masing?"
Para padri mengiakan dan berturut-turut keluar dari ruang
pendopo itu. Hanya sekejap saja ruang itu tinggal kurang lebih
30 padri tua serta Hui-lun, guru Hi-tiok, ditambah Hi-tiok dan
keempat dayangnya.
Segera Hui-lun juga melangkah maju dan berlutut di
hadapan Hian-cu, katanya, "Tacu tidak becus mengajar muríd
sehingga mengeluarkan murid murtad seperti ini, mohon
Hungtiang. Menjatuhkan hukuman setimpal."
"Hihihihi!” tiba-tiba Tiok-kiam mengikik geli. “Hanya sedikit
kepandaian seperti kamu ini juga berani menjadi guru Cujin
kami! Apakah semalam kamu belum kapok jatuh terguling
beberapa kali. dijegal oleh Toaci kami?"
"Wah, celaka!" demikian diam-diam Hi-tiok mengeluh.
"Jadi guruku juga telah dipermainkan oleh mereka."
Dalam pada itu terdengar Bwe-kiam berkata dengan
tertawa. "Kudengar dari Yan-kin, katanya kamu ini guru Cujin
kami, maka aku sengaja hendak menguji dirimu, coba kalau
Sam-moai barusan tidak bilang padamu, sampai mati pun
kamu tidak tahu mengapa bisa jatuh terguling beberapa kali.
Hihihi, sungguh lucu!"
"Hian-ciam, Hian-gui, Hian-liam dan Hian-ceng Sute, harap
kalian menghentikan tingkah laku keempat nona ini," tiba-tiba
Hian-cu berkata.
Keempat padri tua yang disebut itu mengiakan dengan
hormat. lalu mereka berpaling kepada Bwe-kiam berempat
dan berkata, "Atas perintah Hongtiang pada kalian, harap
jangan sembarangan bicara dan bertingkah lagi!"
"Kami justru mau bicara dan bertingkah, mau apa?” sahut
Bwe-kiam.
"Jika begitu, terpaksa maafkan kami!” kata keempat padri
tua itu berbareng dan sekali jubah mereka mengebas dengan
teraling-aling kain jubah mereka terus mencengkeram
pergelangan tangan Bwe-kiam berempat. Keempat padri lua
itu menggunakan Kim-na jiu-hoat yang berbeda, tapi
semuanya adalah kepandaian Siau lim-pai yang sangat lihai.
Di antara keempat nona itu hanya Kiok-kiam saja yang
masih bersenjata pedang, senjata ketiga dari lain sudah
dipatahkan oleh Cumoti tadi. Maka dengan cepat Kiok-kiam
putar pedangnya untuk melindungi ketiga saudaranya itu dan
Bwe-kiam bertiga juga menggunakan pedang patah mereka
untuk menyerang lawan.
Keruan Hi-tiok kelabakan, cepat ia berkata, "Jangan!
Lemparkan pedang kalian dan jangan bergerak!"
Karena dibentak oleh sang majikan Bwe-kiam berempat
tertegun, sehingga gerangan mereka berhenti di tengah jalan.
Memangnya kepandaian, mereka bukan tandingan keempat
padri tua Siau-lim-si, maka dengan mudah sekali mereka kena
ditangkap.
Sekuatnya Bwe-kiam membetot tangannya yang terpegang
tapi tak bisa lepas. Dia mengomel, "Kami tunduk kepada
perintah Cujin, makanya sungkan pada kalian, kenapa kalian
main pegang-pegang segala? Aduh, sakiiitt! Jangan pegang
terlalu keras!"
Lam-kiam juga mendamprat, "Keledai gundul kecil, lekas
lepaskan tanganku!"
"Kau mau lepas tidak? Kalau tidak, segera akan kumaki
binimu, hoi!" demikian Tiok-kiam juga berteriak-teriak.
Dasar anak dara yang masih hijau, masakah padri tua
bangka dimaki sebagai "keledai gundul kecil" dan hwesio
dianggap punya bini seperti orang biasa.
Bahkan Kiok-kiam berseru, "Biar aku meludahi dia!"
"Cuh", mendadak ia menyemburkan ludahnya ke arah
Hian-ceng.
Namun sedikit menunduk dapatlah Hian-Ceng
menghindarkan air ludah itu, berbareng ia keraskan
cekatannya sehingga Kiok-kiam menjerit kesakitan.
Begitulah, Tai-hiong-po-tian yang merupakan ruang
pendopo suci dan angker itu dalam sekejap itu ramai dengan
jerit seru anak-anak dara.
Akhirnya Hian-Cu mengancam, “Keempat nona harap
tenang dan jangan ribut, kalau tidak menurut hendaknya para
Sute tutuk hiat-to bisu mereka!"
Supaya tidak ditutuk, sebab hal itu berarti hilangnya
kebebasan mereka, terpaksa Bwe-kiam berempat tidak berani
ribut lagi, sambil moncongkan mulut mereka melorok kepada
Hian-cu. Hian-ceng berempat juga lantas lepaskan cekalan
mereka dan berdiri di samping untuk mengawasi keempat
dara itu.
Lalu Hian-cu berkata, "Hi tiok, coba sekarang ceritakan
pengalamanmu selama ini, tidak boleh mengurangi sedikit pun
apa yang terjadi."
"Tecu akan memberi lapor dengan sejujurnya," sahut Hi-
tiok sambil menyembah.
Lalu berceritalah dia semua kejadian yang dialaminya,
dimulai dia ditugaskan mengirim surat dan ditawan Yap Ji-nio,
lalu ketemu dengan Hian-lan dan lain-lain dan secara
kebetulan dapat memecahkan problem catur sehingga menjadi
Ciangbunjin Siau-yau-pai, tentang dia digoda A Ci sehingga
melanggar pantangan makan barang berjiwa akhirnya tentang
pertamuannya dengan Thian-san Tong-lo dan kejadian dalam
gudang es, di sana dia bertemu pula dengan Li Jiu-sui dan
akhirnya dia menjadi majikan Leng ciu kiong. Bahkan tentang
pelanggarannya main-main dengan dewi impiannya juga
diceritakan tanpa mengurangi sedikit pun walau cara
menguraikannya agak maiu-malu dan tergagap-gagap tak
lancar.
Para padri terheran-heran sekali atas pengalaman Hi-tiok
yang aneh itu, kalau melihat apa yang terjadi tadi mereka
percaya cerita Hi-tiok itu pasti tidak bohoñg, sebab kalau Hi-
tiok tidak menyerap ilmu sakti Bu gai-cu, Tong-lo dan Li Jiu-sui
bertiga, pula telah mempelajari banyak ilmu sakti di dinding
kamar batu di Leng-ciu-kiong pasti tidak mungkin dia mampu
menandingi Tai-lun Beng-ong. yang maha lihai itu.
Begitulah sehabis melapor, berulang Hi-tiok menjura dan
minta ampun atas segala dosanya sambil menangis.
Setelah termenung sejenak kemudian Hian-cu berkata,
"Para Suheng dan Sute pengalaman Hi-tiok ini memang benar
luar biasa. Urusan ini menyangkut nama suci biara kita, aku
sendiri merasa sulit untuk, mengambil keputusan, maka
diharap para Suheng dan Sute suka memberi pandangan
superlunya."
Watak Hian-ceng paling keras, segera ia manggembor,
"Lapor Hongtiang, menurut pendapatku, Walaupun kesalahan
Hi-tiok teramat besar, tapi jasanya juga tidak kecil. Coba kalau
tadì dia tidak mengalahkan padri asing itu, tentu pamor biara
kita akan runtuh habis-habisan. Maka aku mengusulkan boleh
perintahkan Hi-tiok masuk ke Tat-mo-ih untuk memperdalam
ilmu silatnya dan agar menginsafi dosa-dosanya, untuk
selanjutnya dilarang keluar biara dan tidak boleh ikut campur
urusan biara."
Hendaknya dikelahui bahwa mempelajari ilmu silat di Tat-
mo-ih adalah tugas kehormatan, bagi padri Siau-lim-si, kalau
ilmu silatnya belum mencapai tingkatan tertinggi tidak
mungkin dapat di terima. Di antara padri angkatan Hian
sebanyak lebih 30 orang itu cuma 7 atau 8 orang saja yang
pernah masuk Tat-mo-ih, bahkan Hian-song sendiri belum
pernah. Sekarang dia mengusulkan Hi-tiok dikirim ke Tat-mo-
ih, ini bukan lagi hukuman melainkan boleh dikatakan scbagai
anugerah malah.
Tapi kepala Kai-lut-ih. Hian-cit Taisu, lantas berkata,
"Dengan kepandaiannya memang cukup syarat untuk masuk
Tat-mo-ih, tapi ilmu silat yang dia pelajari adalah dari
golongan luar, apakah Tat-mo-ih kita boleh dimasuki oleh jago
silat seperti dia, hal ini apakah sudah dipikirkan oleh Hian-
song Sute?"
Mendengar itu, para padri sama menunduk dan berpìkir,
mereka merasa usul Hian-seng itu memang kurang pantas.
"Habis bagaimana kalau menurut pendapat Suheng?"
Tanya Hian-seng kepada Hian-cit.
"Tentang ini, aku pun serba susah," sahut Hiau cit. "Hi-tiok
berjasa dan berdosa pula. Ada jasa harus diberi ganjaran, ada
dosa harus dihukum. Keempat nòna ini telah menyelundup ke
dalam biara kita, hal ini bukan atas perintah Hi-tiok, maka kita
dapat katakan terus terang duduknya perkara kepada Cumoti,
Sin kong dan lain-lain. Apakah nanti mereka mau percaya atau
tidak boleh terserah, pokoknya dalam hati kita dapat
bertanggung jawab kepada diri kita sendiri dan tak perlu
pusing kepada sangkaan jelek orang lain. Tapi Saal Hi-tiok
mengingkari perguruan sendiri dan belajar lagi kepada
golongan lain, di Siau-lim-si kita sudah tiada tempat lagi
baginya."
Maksud ucapan Hiaa-cit itu terang hendak memecat Hi-tiok
dari Siau-lim-si. Hukuman ini merupakan hukuman paling
berat dalam agama mereka, Keruan para padri saling pandang
dengan kuatir.
Dalam pada itu Hian-cit berkata pula, "Berulang dia
melanggar pantangan agama, mestinya ilmu silatnya harus
dipunahkan, kemudian baru diusir pergi. Tapi ilmu silat yang
pernah dimilikinya sudah dipunahkan orang lain lebih dulu,
kepandaian yang dimilikinya sekarang bukan lagi ilmu silat
golongan kita, maka kita tidak berhak buat memunahkannya."
Mendengar kepala Kai-lut-ih itu memutuskan mengusir dia
dengan menangis Hi-tiok menyembah dan minta ampun agar
hukuman itu diringankan asal jangan mengusirnya keluar
Siau-lim-si.
Seketika para paderi hanya saling pandang saja dengan
bingung dan rasa tidak tega. Mestinya kalau melihat
kesungguhan Hi-tiok, bukan mustahil dia akan dapat
memperbaiki segala perbuatannya yang salah itu. Tapi
sekarang soalnya menyangkut nama baik Siau-lim-si, dalam
urusan ini telah menyangkut Cumoti, Cilo Singh dan padri
agung dari Jing-lim-si dan lain-lain. Kalau Hi-tiok dihukum
kurang keras, tentu Siau-lim-si, akan dituduh membela
muridnya sendiri.
Pada saat itulah tiba-tiba muncul seorang padri tua dengan
dipayang dua orang muridnya. Kiranya Hian-to yang tadi
dilukai Cumoti dan pulang ke kamarnya untuk mengaso dia
tetap menguatirkan keadaan di luar, maka sekarang keluar
lagi.
"Hongtiang," demikian Hian-to lantas berkata, "jiwaku ini
berkat pertolongan Hi-tiok, sekarang aku ingin bicara sedikit,
entah boleh tidak?"
Hian-to masih terhitung Suhengnya Hian-cu, ilmu silatnya
sangat tinggi pula, maka biasanya Hian-cu sangat senang
padanya, cepat ia menjawab, "Suheng. silakan duduk,
bicaralah pelahan supaya tidak, mengganggu lukamu."
"Bahwasanya Hi-tiok telah menyelamatkan jiwaku belum
terhitung apa-apa," demikian kata Hian-to. "Sekarang kita
masih ada enam persoalan yang belum bisa diselesaikan,
kalau Hi-tiok dibiarkan tinggal di sini akan besar faedahnya
bagi kita. Jika dia, diusir pergi kita pasti . . . pasti akan
sulitlah."
"Keenam soal yang dimaksudkan Suheng kalau tidak salah
adalah, pertama Cumoti belum bisa digebuk pergi. Kedua
mungkin mengenai peristiwa Polo Singh, Ketiga adalah soal
tantangan Pangcu Kai-pang yaug mengaku bernama Ong sing-
thian itu. Adapun tiga persoalan lain diharap Suheng suka
memberi penjelasan?" demikian Tanya Hian-cit.
Hian-to menghela napas panjang, lalu berkata, "Ialah
mengenai tewasnya Hian-pi, Hian-kho, Hian-thong dan Hian-
lan Sute."
Serentak para padri sama mengucap ''Omitohud" demi
mendengar nama-nama keempat padri yang sudah meninggal
itu.
Seperti dikelahui, Hian-kho Taisu tewas di tangan Kiau
Hong Hian-lan dan Hian-thong terbunuh oleh Ting Jun-jiu,
sedangkan siapa pembunuh Hian-pi sampai sekarang masih
merupakan teka-teki, semua orang hanya tahu Hian-pi terkena
hantaman "Kim-kong-cu", senjata gada yang merupakan
senjata andalan Hian-pi sendiri dan termäsuk satu di antara
ke-72 macam ilmu silat Siau- lim-si.
Semula orang menyangka Hian-pi dibunuh oleh keluarga
Buyung yang terkenal suka menggunakan kepandaian khas
orangnya untuk diserang atas korban itu. Namun kemudian
ketika bertemu dengan Buyung Hok tampak sangat gagah
ksatria dan bukan golongan pengecut yang habis bunuh orang
tidak mau mengaku. Ditambah lagi setelah menyaksikan
Cumoti juga mahir Pan-yak-ciang dan lain-lain ilmu silat Siau-
lim-pai hal ini membuktikan bahwa Buyung Hok bukan satu-
satunya tersangka yang dapat menggunakan senjata '"Kim-
kong-cu."
Maka berkatalah Hian-cu, "Aku sendiri adalah Hongtiang,
tapi sama sekali tak dapat menyelesaikan keenam persoalan
itu, sungguh sangat memalukan. Akan tetapi kepandaian Hi-
tiok sekarang seluruhnya jelas berasal dari Siau-yau-pai,
masakah . . . masakah Siau-lim-si harus . . . ."
Sampai di sini Hian-cu sukar meneruskan lagi. Namun para
padri dapat memahami maksudnya.
Semua orang terdiam sejenak, akhirnya Hian to berkala
pula, "Habis bagaimana kalau menurut pikiran Hongtiang?"
"Omitohud!" sabda Hian-cu. "Kita telah menerima warisan
leluhur, hari ini kita menghadap alangan besar maka menurut
pendapatku, kita harus bertindak menurut garis lurus
sebagaimana mestinya. Lebih baik gugur sebagai satria
daripada hidup menanggung malu. Asalkan kita berjuang
sepenuh tenaga, mungkin nama baik Siau-lim-si masih dapat
kita pertahankan, jika terpaksa, biarlah kita membelanya
dengan mati-matian.”
Hian-cu berkata dengan tegas dan kerang sehingga para
padri serentak menyatakan setuju.
Segera Hian-cu berkata pula kepada Hian-cit, "Sute,
silakan melaksanakan hukum biara kita."
Hian-cit mengiakan dan segera memberi perintah kepada
padri penyambut tamu, "Undanglah Tai-lun Beng-ong dan
para padri agung!"
Diam-diam Hian-to dan Hian-seng merasa menyesal, meski
mereka ada maksud untuk membela Hi-tiok, tapi Hongtiang
lebih mengutamakan nama baik keseluruhan Siau-lim-pai
mereka sehingga mau tidak mau mereka harus tunduk.
Hi-tiok sendiri tidak tahu keputusan itu tak bisa ditarik
kembali lagi, biarpun memohon lagi juga percuma. Pikirnya,
"Setiap orang Siau-lim-si sudah seharusnya mengutamakan
nama baik golongannya. Aku sendiri harus terima akibat dari
perbuatanku sendiri dan sekali-kali tidak boleh unjuk rasa
takut dan minta belas kasihan didepan orang luar sehingga
merosotkan pamor Siau-lim-si."
Begitulah tídak lama kemudian Cumoti, Cilo Singh, Sin-
kong dan lain-lain telah diundang hadir di ruang pendopo.
Menyusul suara genta bertalu-talu pula padri Siau-lim-si juga
sama berkumpul. Lalu mulailah Hian-cu membuka, suara, "Tai-
lun Beng-ong dan para Suheng. sesudah diusut, diketahui
murid Sian-lim-si angkatan Hi yang bernama Hi-tiok telah
melanggar pantangan makan minum arak, membunuh dan
berzinah serta telah berani belajar ilmu silat dan menjabat
pula Ciangbunjin golongan lain. Untuk semua dosanya ini
kepala Kal lut-ih dari Siau-lim-si, Hian cit Sute akan segera
menjatuhkan hukuman yang setimpal sedikit pun tidak boleh
memberi kelonggaran."
Mendengar keputusan Hian-cu ini, Cumoti, Sin kóng dan
laín-laín agak melengak juga. Ketika melihat Bwe-kiam
berempat semula mereka menyangka Hi-tiok telah
menyembunyikan perempuan muda, pantangan yang di
langgarnya paling-paling cuma berzinah saja, siapa tahu dosa
Hi-tiok yang diumumkan Hian-cu sekarang ternyata lebih dari
itu.
To-jin dari Bo-to-si menjadi hwesio ketika usianya sudah
setengah umur, maka ia cukup tahu seluk-beluk orang hidup,
ditambah perangainya juga welas-asih dan suka membantu,
orang dalam kesulitan, maka ia lantas berkata, "Hongtiang
Suheng. keempat nona ini kelihatan masih suci bersih terang
masih perawan, bagi setiap orang yang berpengalaman
dengan gampang akan dapat mengetahuinya. Bahwa tingkah-
laku Hi-tiok tadi agak melampaui batas memang betul tapi
kalau dituduh pelanggaran 'berzìnah' untuk ini kukira agak
berlebih-lebihan.”
"Banyak terima kasih atas petunjuk Suheng.” kata Hian-ci.
"Tapi pelanggaran Hì-tiok ini bukan dimaksudkan atas diri
keempat nona ini. Hi tiok sekarang telah menjadi Cujin dari
Leng-ciu-kiong dan keempat nona ini adalah dayangnya,
maksudnya menyelundup ke biara kami hanya bertujuan
menjaga keselamatan majikan mereka, sebelumnya Hi-tiok
sendiri juga tidak tahu. Memang Siau-lim-si harus merasa
malu telah dapat diselundupi orang luar, tapi jelas ini bukan
kesalahan Hi-tiok."
"Jika demikian, orang luar tidak enak untuk ikut campur
lagi," ujar To-jing.
Sebenarnya semua yang hadir tiada yang kenal “Leng-ciu-
kiong" segala karena selama ini Thian-tan Tong-lo jarang
berkunjung ke Tionggoan dan bergaul dengan orang
persilatan. Hanya Cumoti saja yang pernah mendengar nama
Tong-lo, tapi juga tidak tahu dengan jelas.
Semula Cumoti, Sin-kong, Cilo Singh dan lain-lain
bermaksud jelek terhadap Siau-lim-si, tapi sekarang Hian-cu
bertindak tegas tanpa pandang bulu terhadap anak muridnya
sendiri, di depan orang banyak diumumkan pula dosa Hi-tiok
yang mestinya tidak diketahui orang luar, hal ini membuat
mereka mau-tak-mau harus kagum terhadap kebijaksanaan
ketua Siau-lim-si itu.
Kemudian Hian-cit lantas melangkah maju, dengan suara
lantang ia tanya, "Hi tiok, dosamu yang disebut Hongtiang tadi
apa kamu akui semuanya dan apakah kamu ingin membela
diri?"
"Tecu mengakui semua dosa itu dan rela menerima setiap
hukuman," sahut Hi-tiok.
Seketika semua orang mencurahkan perhatian kepada
Hian-cit untuk mendengarkan sangsi hokum yang hendak
dijatuhkannya.
Maka berserulah Hian-cit, "Hi-tiok melanggar empat
pantangan besar, maka harus dihukum rangket seratus kali di
depan umum. Hi-tiok, kau terima tidak?"
"Tecu terima dengan baik, banyak terima kasih atas
kemurahan hati Thai-supek," sahut Hi-tiok.
"Tanpa izin Hongtiang dan gurumu sendiri kamu
mempelajari ilmu silat golongan lain, maka, ilmu silat yang
kauperoleh dari Siau-lim si akan dipunahkan dan kamu
dihukum pecat, untuk selanjutnya kamu bukan murid Siau-lim-
pai lagi kau terima tidak?" tanya Hian-cit pula.
Hi-tiok menjadi sedih, tapi ia pun tahu keputusan ini tidak
mungkin dihindarkan lagi, terpaksa ia jawab, "Keputusan Thai-
supek memang maha adil, Tecu terima dengan rela."
Tadi para padri dari golongan lain telah menyaksikan Hi-
tiok melabrak Cumoti dengan ilmu silat Siau-lim pai seperti Wi
to ciang dan Lo-han-kun, tapi mereka tidak tahu bahwa
kepandaian Hi tiok yang sebenarnya pada hakikatnya bukan
kungfu Siau-lim-pai. Sebaliknya Cumoti yang mengaku mahir
ke-72 macam ilmu silat Siau-lim-pai sesungguhnya cuma
lahirnya atau gayanya saja yang dipahami. Iwekang Siau-lim-
pai yang asli boleh dikatakan tidak dipahami olehnya, Siau-bu-
siang-kang yang digunakan Hi-tiok tadi sudah tentu juga
dipahami Cumoti, tapi dia tidak kenal Pah-teng-cin-gi, Thian-
san-Hok-yang jiu dan Ciat-bwe-jín segala, maka ia sangka
kepandaian Hi-tiok itu adalah ilmu silat Siau-lim-pai yang lihai.
Sekarang didengarnya ilmu silat Hi-tiok akan dipunahkan,
tentu saja ia sangat girang di dalam hati. Sebaliknya To-jing,
Kat-hian dan lain-lain merasa sangat sayang bagi Hi-tiok.
Maka terdengar Hian-cit berkata pula, "Karena kamu telah
menjadi Ciangbunjin Siau-yau-pai dan Cujin Leng-ciu-kiong,
maka kamu dilarang menjadi murid Budha lagi, selanjutnya
kamu bukan lagi padri Siau-lim-sí."
Hi-tiok sudah yatim piatu, sejak bayi dibesarkan di Siau-
lim-si, sekarang dia diharuskan berpisah dengan tempat
bernaungnya selama ini, betapa pun dia merasa sedih juga
maka menangislah dia dan dengan terguguk ia menyatakan
terima kasih kepada para padri agung Siau-lim-si yang telah
mendidiknya selama ini.
Akhìrnya Hian-cit berkata pula, ''Sekarang hendaklah Hui-
lun mendengarkan keputusan!"
Segera Huí lun melangkah maju dan berlutut.
"Hui-lun", seru Hian-cit, "sebagai guru Hi-tiok kamu salah
mendidik dan kurang memberi petunjuk sehingga
mengakibatkan pelanggaran yang dilakukan Hi-tiok ini.
Sekarang kamu dlhukum rangket 30 kali dan harus bersujud di
dalam Kai lut-ih selama tiga tahun, kauterima tidak."
"Tecu terima dengan rela," sahut Hui-lun dengan gemetar.
Tiba-tiba Hi-tiok berseru, "Thai-supek, Tecu bersedia
mewakilkan suhu menerima hukuman 30 kali rangketan itu!"
"Jika demikian maka Hi tiok akan dirangket 130 kali," kata
Hian-cit. "Ciang-heng Tecu (murid pelaksana hukum), siapkan
pentungan sekarang, Hi-tiok masih anggota Siau-lim-si, maka
hukuman ini harus dilaksanakan tanpa ampun. Nanti sesudah
dia keluar dari keanggotaan biara kita, dan dia akan menjadi
Ciang-bunjin, golongan biara kíta harus menaruh hotmat juga
padanya."
Keempat murid pelaksana hukum segera akan jalankan
perintah itu, tidak lama kemudian mereka telah menyiapkan
empat batang pentungan.
Selagi Hian-cik hendak memberi aba-aba agar hukuman itu
dilakukan, tiba-tiba seorang padri penjaga berlari masuk
sambil mempersembahkan setumpuk kartu nama kepada
Hian-cu, katanya, "Lapor Hongtiang para ksatria Ho-siok
(daerah utara sungai kuning) mohon bertemu!"
Ketika Hian Cu periksa kartu-kartu nama itu jumlah
seluruhnya ada lebih 30 helai dan sebagian besar adalah
ksatria ternama dari daerah utara diantaranya banyak pula
ksatria yang pernah hadir dalam Eng-hiong-tai-hwe di Cip-
hian-ceng dahulu.
Diam-diam Hian-cu heran ada urusan apakah sekaligus
datang ksatria dan tokoh sebanyak itu?
Dalam pada itu di luar biara terdengar suara orang ramai,
para-ksatria sudah tidak sabar menunggu lagi, "Hian-seng
Sute harap keluar menyambut mereka!" kata Hian-cu. Lalu
sambungannya pula, "Hadirin sekalian karena banyak tamu
berkunjung kemari, urusan pembersihan rumah tangga biara
kami ini terpaksa ditunda untuk sementara agar tidak
mengganggu kedatangan pera tamu."
Kemudian ia pun berangkat memapak keluar pendopo.
Tidak lama, tertampaklah Hian-seng dan padri penyambut
tamu datang mengiringi para ksatria Ho-siok.
Hian-cu, Hian-cit, Hian-seng dan lain-lain adalah padri
yang saleh, mereka juga tokoh persilatan terkemuka sehingga
terhadap sesama tokoh persilatan mereka sangat kagum satu
sama lain. Sekarang biarpun sedang menghadapi urusan
dalam yang menekan perasaan, tapi demi nampak datangnya
para kenalan itu, seketika semangat mereka terbangkit juga.
Bahkan diantara pendatang itu ada beberapa orang
merupakan sobat baik Hian-seng dan padri agung lain, maka
sesudah bersalaman dengan mesra, lalu mereka disilakan
masuk pendopo dan dlperkenalkan kepada Cumoti dan lain-
lain.
Sin-kong, Liong-beng dan lain-lain juga bukan kaum
keroco, maka banyak juga kawan mereka diantara para ksatria
Ho siok itu.
Dan baru saja Hian-cu hendak tanya maksud kedatangan
para ksatria Ho-siok itu, tiba-tiba para penyambut tamu
datang lagi melapor bahwa beberapa puluh tokoh Bu-lim dari
daerah Sontang dan Sonsai juga berkunjung tiba. Maka Hiat-
ciam lantas disuruh keluar menyambut lagi.
"Katni diundang Ong-pancu dari Kai-pang untuk
menyaksikan keramaian apakah beliau sendiri belum datang?"
demikian tiba-tiba seorang laki-liki hitam kekar berteriak.
"Buat apa ributi" demikian seorang lagi yang bersuara
tajam melengking menanggapi "Kita sudah datang, kalau ada
ramai-ramai masakah kami kekurangan tontonan?"
Segera Hian-cu membuka suara, "Para kawan telah sudi
berkunjung kemari secara serentak, sungguh Siau-lim-si
merasa mendapat kehormatan besar. Apabila pelayanan
kurang baik. harap suka memberi maaf."
"Ah, Hongtiang tidak perlu sungkan," sahut hadirin
beramai.
Dalam pada itu beberapa tokoh yang menjadi sobat baik
padri Siau-lim-si lantas menuturkan maksud kunjungan
mereka ini. Kiranya Pang-cu Kai-pang yang mengaku bernama
Ong Sing-thian itu sudah menyebarkan kartu undangan
kepada pera ksatria, katanya Siau-lim-pai dan Kai-pang
biasanya sama-sama menjagoi dunia persilatan Tionggoan,
tapi Ong Sing-thian yang baru menjabat sebagai Pangcu itu
ingin menentukan seorang Bu-lim Beng-cu (pemimpin dunia
persilatan) dan mengadakan peraturan tertentu agar ditaati
oleh setiap orang persilatan. Untuk itu telah ditetapkan
tanggal 15 bulan enam Ong Sing-thian akan datang sendiri ke
Siau-lim-si untuk bicara dengan Hian-cu.
Dari kartu undangan yang dipertunjukan itu dapat dibaca
kalimat-kalimat yang bernada congkak, seakan-akan Bu-lim
Beng-cu itu nanti sudah pasti akan diduduki oleh orang yang
bernama Ong Sing-thian itu.
Maksud dan tujuan Ong Sing-thian pun cukup jelas, yaitu
hendak menggunakan kepandaiannya untuk mengalahkan
para padri Siau-lim-si dan menundukkan Siau-lim-pai yang
telah terkenal selama beratus tahun itu.
Begitulah maka tidak lama kemudian telah datang pula
ksatria dari berbagai penjuru, baik dari utara maupun selatan
telah berkumpul semua, padahal jarak kediaman para ksatria
itu terpisah sangat jauh, namun dalam sehari saja mereka
sudah berkumpul, hal ini menandakan persiapan kai-pang
yang rapi dan terang sudah mengaturnya sekian lama.
Hian-cu dan para padri Siau-lim-si tidak memberi komentar
apa-apa, tapi dalam hati mereka sangat gusar dan kuatir pula.
Tindakan Kai-pang ini boleh dikatakan sangat kurangajar.
sebab baru beberapa hari yang lalu mereka menerima surat
Ong Sing-thian yang menyatakan hendak berkunjung ke Siau-
lim-si untuk membicarakan soal Bu-lim Beng-Cu dan
menyatakan pula akan tiba dalam waktu singkat, di dalam
surat itu sama sama sekali tidak disebut-sebut tentang
diundanganya para satria dari berbagai penjuru itu. Siapa
duga sekarang para ksatria itu telah berkumpul hingga Siau-
lim-si kerepotan menghadapi persoalan itu.
Sebenarnya Siau-lim-sl. juga banyak mempunyai sobat
andai di kalangan kongouw, tapi sebelum ini sama sekali tidak
diperoleh kabar apa-apa, jadi sebelum bertanding Siau-lim-si
sudah kebesaran asòr lebih dulu.
Dalam watak Hian seng memang kasar, dengan
mendongkolnya segera ia menegur sobat baiknya yang
bernama Cukat Tiong, bergelar Hopak-sin-tan (si pelor sakti
dari Hopak), serunya, ''Bagus sekali Cujin-loji, kamu mendapat
berita peristiwa ini, tapi diam-diam saja dan tidak mau
mengirim kabar padaku. Ya, anggaplah persahabatan kita kita
selama 30 tahun ini telah putus sampai di sini saja."
Dengan muka merah padam Cukat Tiong memberi
penjelasan, "Aku . . . aku juga baru mendapat kartu undangan
ini pada tiga hari yang lalu tanpa banyak pikir siang-malam
aku lantas memburu kemari, di tengah jalan aku sampai ganti
dua ekor kuda karena kuatir terlambat dan tak sempat
memberi sedikit bantuan kepadamu tua bangka ini, tapi
mengapa engkau malah menyalahkan aku?"
"Jadi kamu bermaksud baik juga, ya?" jengek Hian-seng.
"Mengapa bukan maksud baik?" sahut Cukat Tiong
beruring-uring. "Sekalipun ilmu silat Siau-lim-si kalian maha
tinggi, bila saudara tua ikut datang memberi semangat,
apakah ini bermaksud jelek?"
Karena penjelasan itu barulah Hian-seng merasa lega.
Ketika ksatria lain ditanya, ternyata ada yang terima kartu
undangan lebih dulu bagi yang kediamannya jauh, yang
tempat tinggalnya dekat Siau-lim-si baru terima kartu
undangan beberapa hari yang lalu tapi semuanya segera
berangkat dengan terburu-buru sehingga dapat tiba tepat
pada waktunya.
Jadi bukan para sobat-andai itu tidak mau memberi kabar
kepada Siau-lim-si sebelumnya, rupanya hal itu sudah
diperhitungkan oleh pihak Kai-pang sedemikian rupa sehingga
mereka menaksir datangnya para ksatria itu akan berbareng
sekaligus dalam satu hari saja.
Mengingat kerapian persiapan Kai-pang ini Hian-cu dan
kawan-kawannya menjadi kuatir jangan-jangan pihak Kai-pang
masih banyak tindakan menyusul yang lebih lihai, diam-diam
mereka sangat prihatin dan waspada.
Hari ini adalah tanggal 15 bulan enam sebagaimana di
tetapkan oleh Ong Sing-thian, hawa panas terik.
Memangnya padri Siau lim-si lagi sibuk menghadapi Sin-
kong Sfangjin, Cilo Singh dan lain-lain kemudian menempur
Cumoti dan memeriksa perkara Hi-tiok. Sekarang mendadak
membanjir lagi para ksatria dari segenap penjuru itu, keruan
mereka tambah repot melayaninya.
Untung padri penyambut tamu Siau-lìm-si sudah
berpengalaman, ruang biara juga luas, perbekalan pun cukup
sehingga di bawah pimpinan Hian ceng yang merupakan
kepala bagian penyambut tamu itu dapat berjalan dengan
teratur baik.
Tengah Hian-cu sibuk menghadapi kenalan-kenalan di
antara hadirin itu, tiba-tiba terdengar pula laporan padri
penjaga, '"Pangeran Toan, Tin-lam-ong negeri Taili tiba!"
Hian-cu menjadi girang dan cepat menyambut ke luar
sendiri.
Seperti telah diceritakan, berhubung dengan tewasnya
Hian-pi Taisu, maka padri Siau lim-si menyangka keluarga
Buyung dari Koh-soh yang membunuhnya dan telah
menyebarkan undangan kepada para ksatria di segenap
penjuru untuk merundingkan citra menghadapi Koh-soh
Buyung itu.
Menerima undangan itu, raja Taili segera mengirim
saudaranya sendiri, yaitu Toan Cing sun bersama Hoan Hwa,
Po Thian-sik, Tang Su-kui dan lain-lain untuk membantu Siau-
lim-si.
Tak terdüga sebelumnya Siau Hong telah mengamuk di
Cip-hian-ceng sehingga sebelum Eng-hiong-tai-hwe dibuka
para ksatria itu sudah diobrik-abrik dan kacau balau. Karena
itu para ksatria menganggap Kiau Hong adalah musuh
bersama dunia persilatan Tionggoan sehingga permusuhan
mereka terhadap "Lam Buyung" teralihkan dan "Pak Kian
Hong" yang dijadikan sasaran.
Karena kerajaan Song dan Cidan adalah musuh bebuyutan,
maka ketika Kiau Hong diketahui adalah keturunan bangsa
Cidan. keruan rasa permüsuhan ksatria Tionggoan kepadanya
semakin menjadi-jadi.
Walaupün negeri Taili jauh terletak di selatan dan keluarga
Toan sebenarnya adalah bangsa Han, tapi mereka sudah lama
mendirikan negara dan tidak ingin bermusuhan dengan
kerajaan Liau (negara bangsa Cidan), sebab itu juga tidak
mau ikut bertengkar dengan Kiau Hong. Kemudian ketika Toan
Cing-sun terancam oleh Toan Yan-khing, untung dia ditolong
oleh Kiau Hong, dengan demikian ia menjadi utang budi
malah, kepada Kian Hong.
Sesudah urusan diTionggoan selesai, mestinya Toan Cing-
sun hendak terus pulang ke Taili, tapi di tengah jalan ia
mendapat berita dari negeri Taili bahwa putra mahkota, Toan
Ki, telah diculik oleh Cumoti dan dibawa lari ka Tionggoan.
Keruan ia kaget dan kuatir, segera ia mencari pütranya itu
kemana-mana. ditambah lagi dia berada pula dengan
kekasihnya yang lama, yaitu Cin Ang-bian dan Wi Sing-tiok,
dasar sifat Toan Cing-sun memang romantis dan bangor.
Sekali kecantol urüsan perempuan, lupa daratanlah día
sehingga selama beberapa bulan ini dia masih berada di
Tionggoan.
Paling akhir ini dia mendengar Pangcu Kaì-pang yang baru
bernama Ong Sìng thían hendak terebut pimpinan dengan
Siau-lim-pai sebagai Bu-lim Beng-cu, ia pikir di tempat ramai-
ramai itu mungkin dapat diperoleh sedikit kabatnya sang
putra. Maka buru-buru ia dating ke Siau-lim-si.
Selama itu Wi Sing tiok terus mendampingi Toan Cing-sun,
pertama día merasa berat berpisah dengan kekasihnya, kedua
ingin mencari putrinya si A Ci. Tapi kaum wanita dilarang
masuk ke Siau-lim-si, maka ia sengaja menyamar sebagai
lelaki dan ikut dalam rombongan Toan Cing-sun itu."
Begitulah sesudah Hian-cu menyilakan Toan Ceng-sun dan
rombongannya masuk ke ruang pondopo. Lalu diperkenalkan
kepada para ksatria. Orang pertama yang diperkenalkan
padanya adalah Tai-lun Beng ong Cumoti dari Turfan.
Mendengar nama padri itu, seketika air muka Toan Cing-
sun berubah, la memberi salam dan segera menegur,
"Rupanya putraku yang bodoh itu mendapat perhatian Beng
ong dan kabarnya telah dibawa ke timur sini, sepanjang jalan
tentu telah banyak mendapat petunjuk berharga dariJ Taisu
dan mendapat kemajuan, sungguh aku merasa sangat
berterima kasih."
"Ah, mana, mana!" sahut Cumoti dengan merendah, Tapi
ia lantas geleng kepala pula dan berkata, "Dan sayang,
sungguh sayang!"
Seketika hati Cing-sun berdebut keras ia sangka mungkin
telah terjadi apa-apa atas diri Toan Ki, maka cepat ia tanya,
"Apa maksud ucapan Beng-ong ini?"
"Tempo hari Sianceng telah beruntung dapat bertemu
dengan Koh-eng Taisu, Thian-in Hongtiang dan kakak-
bagindamu, mereka semuanya ramah-tamah, sangat kereng
dan tenang benar-benar kaum ini yang susah dicari. Nama
Tin-lam-ong sendiri terkenal di seluruh jagat, mengapa dalam
urusan anggota keluarga mesti mengunjuk rata kuatir
sedemikian?"
Memang dalam gugup dan kuatirnya nada suara Toan
Cing-sun tadi kedengaran agak gemetàr. Maka Cing-Sun cepat
menenangkan diri, ia pikir kalau benar sang putra mengalami
sesuatu juga ada gunanya dikuatirkan lagi sebaliknya malah
akan ditertawai oleh padri asing ini.
Maka katanya kemudian, "Kasih sayang kepada putra-putri
sendiri adalah sifat dasar setiap orang di dunia ini, kalau
manusia tidak melahirkan putra-putri, tentu manusia akan
lenyap dari dunia ini. Kami adalah orang biasa, sudah tentu
tak dapat dibandingkan padri saleh sebagai Beng-ong yang
welas-asih dan menganggap segala apa di dunia ini cuma
kosong belaka."
Cumoti tersenyum, sahutnya, "Ketika mula-mula aku
bertamu dengan putramu kulihat bentuk kepalanya menonjol
kelak pasti akan menjayakan keluarga Toan dan menjadi Tuan
yang diagungkan di negari Taili."
“Tarima kasih," kata Cing-sun, Tapi diam-diam ia
menggerutu, "Keledai gundul ini sungguh sangat licin,
bícaranya melantur-lantür saja dan membikin hatiku semakin
kuatir.”
Tiba-tiba Cumoti menghela napas dan berkata, “Ai,
sungguh sayang, putra keluarga Toan ini, ternyata tidak punya
rejeki yang báik."
Dan ketika melihat air muka Toan Cing-sun berubah lagi,
lalu dengan tersenyum ia melanjutkan, "Dia ikut datang ke
Tionggoan sini dan bertemu dengan seorang nona cantik
sejak-sejak itu ia melengket dan selalu berada di samping si
Jelita dan hilanglah segala cita-citanya yang muluk-muluk dan
semangat jantannya, ia selalu mengintil di belakang si cántik,
ke mana si cantik pergi, di sana pula dia mengekor. Siapa saja
yang melihat tentu akan mengatakan dia adalah seorang
pemuda bangor, dan tidak memper sebagai seorang pangeran
terhormat."
Sampai di sini tiba-tiba terdengar suara orang tertawa geli,
suara tertawa kaum wanita. Waktu semua orang memandang
ke arah suara tertawa itu, ternyata seorang laki-laki setengah
umur bermuka jelek.
Kiranya orang yang tertawa ini adalah Wi Sing-tiok,dia
adalah ibu A Cu, dan seperti juga A Cu, rupanya sudah
pembawaannya bahwa dia diberkahi dengan kepandaian
menyamar yang amat mahir. Sekarang dia menyaru sebagal
lelaki, baik wajahnya maupun tingkah-lakunya memang persis
sebagai kaum lelaki. Cuma suaranya agak lembut dan kalah
daripada suara A Cu yang pandai menirukan lagak-lagu kaum
lelaki itu.
Ketika melihat perhatian semua orang, tercurahkan
padanya, cepat ia bikin kasar suaranya dan berkata,
"Pangeran cilik negeri Taili itu rupanya memang turunan ayah
harimau tidak nanti melahirkan anak anjing! Hahaha! Sungguh
hebat!"
Bahwasannya Toan Cing-sun adalah seorang pangeran
"Don juan" memang sudah terkenal dikalangan kangouw,
maka demi mendengar Wi Sing-tiok mengatakan kelakuan
Toan Ki itu adalah turunan, para ksatria itu saling-pandang
dengan tertawa geli.
Cing-sun sendiri lantas terbahaik juga, katanya kepada
Cumoti, "Anak tak becus itu . . . . "
"Bukan tidak becus, justru dia sangat becus, malahan
pandai sekali!" potong Cumoti.
Cing-sun tahu orang sengaja menyindir dia pandai
memikat wanita, ia tidak ambil pusing dan melanjutkan,
"Entah sekarang berada di mana dia? jika Beng-ong tahu
kiranya, sudilah kiranya memberi tahu?"
"Dasar Toan-kongcu memang seorang romantis, setiap
hari senantiasa tenggelam dalam lamunan asmara," ujar
Cumoti. "Maka waktu aku bertemu dengan dia paling akhir ini
dia tampak kurus kering dan pucat-pasi, apakah sekarang
masih hidup atau sudah mati aku sendiri sukar
mengatakannya dengan pasti."
Tiba-tiba Cing-sun teringat kejadian di Taili dahulu, Toan Ki
telah mencintai seorang gadis kampungan, Bok Wan-jing,
celakanya secara sangat kebetulan itu justru adalah putrinya
sendiri, jadi tunggal ayah lain Ibu dengan Toan Ki, kejadian itu
membuat pemuda itu sangat terguncang hatinya, kalau
sekarang dia masih terus tergila-gila kepada adik perempuan
sendiri itu, maka urusan benar-benar akan celaka 13.
Selagi Cing-sun merasa kuatir, tiba-tiba seorang padri
muda tampil ke muka dan memberi hormat padanya sambil
menyapa, "Harap Ongya jangan kuatir, Toan-Samteku itu
sama sekali tidak kurus-kering, tubuhnya sehat walafíat dan
segar-bugar.”
Cepat Cíng-sun membalas hormat dengan heran, Kalau
melihat dandanannya, padri itu terang adalah hwesio keroco
Sian-lim-si, kenapa dia menyebut anak Ki sebagai "Samte"
(adik ketiga)''
Maka ia coba tanya, "Apakah belum lama ini Siausuhu
pernah melihat putraku itu?"
Hwesio muda itu bukan lain adalah Hi-tiok. Baru saja dia
hendak menceritakan pertemuannya dengan Toan Ki di Leng-
ciu-kiong, mendadak suara Toan Ki bergema di luar pendopo
sana "Ayah, anak berada di sini, apakah engkau baik-baik
saja?"
Dan baru lenyap suaranya, tahu-tahu sebuah bayangan
orang sudah menyelinap masuk dengan kecepat luar biasa
terus menubruk ke dalam pelukan Toan Cing-sun. síapa lagi
dia kalau bukan Toan Ki.
Jilid ke-72
Iwekang Toan Ki sekarang sudah amat tinggi, telinganya
menjadi sangat tajam pula, maka sebelum masuk ke dalam
biara lantas di dengarnya sang ayah sedang bercakap dengan
Cumoti dan taisu-taisu siau lim si, maka dengan tidak sabar
lagi terus saja ia masuk menggunakan “leng-po-wi-poh" untuk
menyelinap masuk ke dalam pendopo itu.
Kemudain ayah dan anak itu saling rangkul dengan
perasaan yang gembira yang tak terperihkan. Dilihatnya
kondisi sang putra memang kurusan sedikit, tapi penuh
dengan semangat dan sekali-kali tidak pucat pasi sebagai
mana yang dikatakan Cumoti.
Kemudian Toan Ki berpaling kepada Hi-tiok dan menyapa,
“Jiko, kenapa engkau telah menjadi hwesio lagi?''
Hi-tiok telah berlutut setengah harìan di depan patung
Budha untuk mengakui dosanya, sekarang demi nampak Toan
Ki, seketika teringat ia kepada "dewi ¡mpian" itu sehingga
mukanya merah jengah dan sikapnya juga kikuk-kikuk,
dangan sendirinya ia tidak berani sembarangan mencari tahu
dan tanya Toan Ki tentang kekasih yang dirindukannya itu.
Dalam pada Cumoti yakin datangnya Toan ki ke Siau-lim-
si pasti tidak sendirian. Ia tahu pemuda itu sangat kesemsem
pada Giok-yan, hanya nona itulah yang mempunyai daya tarik
sehigga Toan Ki ikut datang ka Siau-lim-si. Sebaliknya ia pun
tahu Giok-yan hanya mencintai kakak misannya, yaitu Buyung
Hok, jika ada satu ada dua, tidak mungkin Giok-yan berpísah
dengan Buyung Hok, karena keyakinan itu, segera kerahkan
tenaga dalam dan berseru, "Buyung kongcu, jika sudah
sampai di Siau-lim-pai kenapa tak lekas masuk biara dan
menyembah Budha."
Para ksatria melengak, mereka heran apakah si Buyung-
kongcu juga sudah dating? Tapi mengapa tìada sesuatu tanda
ke datangannya, sebaliknya padri aslng ini sudah tahu malah?
Mereka tidak tahu bahwa Cumoti hanya berdasarkan
dugaannya saja atas diri Toan Ki dan Giok-yan, padahal ia
sendiri tidak tahu percis datangnya Buyung Hök.
Tak tersangka di luar biara ternyata sunyi-sunyi saja,
selang sejenak barulah terdengar suara Cumoti sendiri yang
berkumandang kembali dari lembah pegunungan sana. Diam-
diam Cumoti terkesiap, ia pikir dugaannya sekali ini ternyata
meleset, sebab kalau Buyung Hok benar ikut datang, tentu dia
akan menjawab seruannya.
Dan baru saja ia hendak tertawa dan mengucapkan kata-
kata untuk menutupi salah duganya itu, tiba-tiba terdengar
suara seorang yang dalam melengking sedang berkata,
"Buyung-kongcu dan Ting-lokoai sedang bertarung dengan
serunya, sesudah Ting-lokoai terbunuh barulah ia dapat
bersembahyang ke Siau-lim-si sini."
Mendengar suara itu, seketika air muka Toan Cing-sun dan
Toan Ki berubah, mereka kenal itu, suara "Ok-koan-boan-ong"
Toan Yan-khing, kepala "Su-ok” yang maha jahat itu.
Dahulu mereka ayah dan anak pernah hampir binasa
ditangan durjana itu, sekarang kepergok lagi di Siau-lim-si,
andaikan nanti tidak mati di tangannya juga pasti akan
kehilangan muka habis-habisan di depan ksatria yang
berkumpul di sini.
Selagi Cing-sun kebat-kebit tak tentram sambil memikirkan
cara menghadapi musuh nanti, dalam pada itu Toan Yan-khing
yang berjubah panjang dan berkaki tongkat südah melangkah
masuk. Di belakangnya tampak mengikut "Bu-ok-put-ok" Yap
Ji-nio, "Hiong-sin-ok-sai" Lam-hai-gok-sin dan "Kiong-hiong-
kek-ok" in Tiong-ho, Jadi “Su-ok” sekaligus telah datang
semua.
Terhadap tetamunya Hian-cu tidak pandang bulu, biarpun
"Su-ok" terkenal maha jahat juga dilayani dengan hormat.
Ketika mendadak melihat Toan Ki juga berada di situ,
seketika wajah Lam-hai-gok-sin berubah merah dan segera
putar tubuh hendak kabur.
Namun Toan Ki sudah lantas menegurnya dengan tertawa,
"Eh, murid baik, apakah sehat-sehat saja selama ini?"
Mendengar panggilan itu, Lam-hai-gok-sin merasa tak bisa
lari lagi, dengan marah-marah ia menjawab, "Maknya, Suhu
keparat, kiranya kamu belum mampus!"
Keruan para hadirin melengak heran mendengar tanya
jawab itu. Pemuda lemah-lembut sebagai Toan Ki memanggil
seorang yang bengis jahat sebagai murid, hal ini saja tidak
aneh, sekarang sang murid memanggil guru dengan cara
sangat kurang ajar, tentu saja hal ini lebih-lebih
mengherankan mereka.
Dalam pada itu Yap Ji-nio yang memondong seorang bayi
berumur antara satu tahunan juga lantas berkata dengan
tertawa, "Ting losian sedang mengunjukkan kesaktiannya
sehingga Buyung-kongcu selalu dihajar habis-habisan.
Pertarungan hebat itu jarang ada dijagat ini, apakah kalian
beramai-ramai tidak ingin pergi melihatnya?"
Mendengar itu, Toan Ki berseru kaget dan segera
mendahului menerobos keluar.
Kiranya dugaan Cumoti tadi memang tidak meleset. Sejak
Toan Ki meninggallcan Lang-ciu-kiong, segera ia menyusul ke
arah Buyung Hok dan Ong Giok-yan dan dapat bertemu
dengan mereka beberapa ratus li di timur Biau-biau-Hong.
Meski Pau Put-tong merasa jemu kepada pemuda dogol itu,
tapi juga tidak berani mengusirnya atau melarang dia dalam
rombongan mereka.
Di tangah jalan mereka mendengar kabar tentang Kai-pang
hendak berebut Bu-lim Beng-cu dengan Siau-lim-pai. Karena
Buyung Hok bercita-cita hendak bersahabat dengan ksatria
seluruh jagat sebagai sebagai modal pergerakannya
membangun karajaan Yan di kemudian hari, maka diam-diam
ia berunding dengan Ting Pak-jwan dan lain-lain.
Menurut perhitungan mereka, jika Kai-pang dan Siau-lim-
pai saling gempur sehingga kedua pihak sama-sama celaka,
maka keluarga Buyung yang akan menarik keuntungannya,
boleh jadi akan dapat merebut gelar sebagai Bu-lim Beng-cu
dan dapat memerintah para ksatria kangouw, dan ini berarti
suatu kesempatan bagus yang tidak boleh disia-siakan bagi
pergerakannya.
Tak tersangka baru saja mereka sampai di kaki gunung, di
situ mereka lantas kepergok Sing-siok lokoai Ting Jun-jiu.
rupanya selama beberapa bulan itu Ting lokoai telah membuka
pintu lebar-lebar untuk menerima murid, tidak peduii dari
golongan dan aliran apa saja asal mau masuk perguruannya
dan tunduk pada perintahnya, mereka semuanya diterima
tanpa syarat lain. Sebab itulah dalam waktu singkat saja
kawanan sampah masyarakat persilatan Tionggoan telah
banyak menggabungkan diri dengan Sing-siok-pai.
Buyung Hok sudah pernah bergebrak beberapa kali
melawan Ting Jun-jiu dan belum pernah ketahuan siapa lebih
unggul dan asor. Sekarang kepergok lagi. ia lihat pihak Lokoai
berjumlah sangat besar diam-diam Buyung Hok merasa kuatir.
Sebaliknya Hong Po-ok yang tidak pernah kenal apa artinya
takut dengan tangkas segera menerjang ditengah-tengah
musuh dan bertempur melawan para pengikut Sing-siok-pai
itu.
Karena tidak mahir ilmu silat maka Toan Ki hendak
mengajak Giok-yan menyingkir saja. Tapi nona itu justru
sangat menaruh perhatian terhadap keselamatan sang Piauko,
maka ia tidak lalu menyingkir.
Jumlah pengikut Sing-siok-pai yang amat bányak itu dalam
waktu singkat saja sudah melanda rombongan Buyung Hok.
Tapi dengan langkah ajaib "Leng-po-wi-poh" dapatlah Toan Ki
lari keluar dari kepungan musuh sehingga bertemu dengan
ayahnya. Sekarang ia dengar Yap ji-nio mengatakan Buyung
Hok dihajar habis-habisan oleh Ting Jun-Jiu dan barulah Toan
Ki ingat kembali kepada keselamatan Giok-yan, ia pikir nona
itu harus lekas digendong keluar dari kepungan musuh.
Begitulah maka secepat terbang ia lari mendahului keluar dari
Siàu-lim-si.
Ting Jun-jiu adalah pembunuh Hian-thong dan Hian-lan,
dengan sendirinya dia dipandang sebagai musuh besar Siau-
lim-pai. Maka saat mendengar iblis tua itu sudah sampai di
situ, seketika gegerlah para padri Siau-lim-si.
Segera Hian-teng mendahului berteriak, “Hari ini kita harus
tangkap hidup-hidup Ting-lokoai untuk membalas dendam
Hian-thong dan Hian lan Suheng!"
"Mereka adalah tamu, kita harus berbuat halus dahulu dan
kemudian baru memakai kekerasan," kata Hian-cu.
Para padri serentak menyatakan baik. dan Hian-cu berkata
pula kepada para tamu, "Para hadirin, apakah suka ikut pergi
menyaksilan pertempuran hebat antara Ting-lokoai melawán
orang she Buyung itu?"
Memang para ksatria sudah getol sekali ingin menyaksikan
pertarungan itu, demi mendengarkan itu, sebagian kaum
muda yang sudah tak sabar lagi segara mendahului berlari ke
luar, Menyusul Su-ok, Sin-kong dan lain-la¡n serta rombongan
Toan Cing-sun juga beramai-ramai ikut dari belakang. Dalam
pada itu para padri Siau-lim-si juga sudah siapkan senjata dan
berbaris keluar.
Sampai di luar biara, padri pengintai yang bertugas
disamping gunung tampak berlari kembali untuk memberi
lapor, "Ribuan orang Sing-siok-pai telah mengepung
rombongan Buyung-kongcu dekat gardu tunggu di tengah
gunung dan bertempur dengan sengit."
Han cu mengangguk tanda tahu. Lalu ia medekat jalan-
batu dan memandang ke bawah, terlihat di bawah sana
manusia berkerumun dengan rapat, tampaknya jumlahnya
tidak kurang dari ribuan orang. Sayup-sayup terdengar pula
sorak-sorai anggota Sing-siok-paí yang menyanjung puji
kepada Ting-lokoai. Sedangkan Tin jun jiu sendiri tampak
memimpin di samping sambil mengelus-elus jenggot.
"Para padri Siau-lim-si, pasang Lo-han-tai-tin (Barisan Lo-
han)!" demikian terdengar Hian-seng berseru.
Serentak kawanan padri siau-lim-si hyang berjumlah 500
orang lebih itu membentuk barisan Lo-han-tai-tin.
Menyusul tarsebarlah padri-padri lain mengelilingi
pegunungan Siau-lim-san sana.
Sudah lama para ksatria sangat ingin melihat "Lo-han-tai
tin" yang hebat, tapi selama ini belum pernah ada orang
menyaksikan barisan 'tersohor' itu. Sekarang mereka lihat para
padri Siau-lim-Si itu tersebar dalam kelompok dan rombongan
dengan warna jubah yang berbeda-beda, bahkan senjata
yang dipakai suatu regu lain pun tidak sama, secepat terbang
para padri berlarian di lereng gunung sehingga dalam sekejap
saja orang-orang Sing siok-pai sudah terkurung di tengah.
Jumlah orang Sing-siok-pai mestinya jauh lebih banyak
daripada pihak Sían-lim-pai, tapi kebanyakan di antara mereka
adalah anggota biar belum terlatih. Kalau bertempur
perseorangan boleh, tapi sekarang harus berperang secara tak
karuan mereka menjadi gugup, seketika puji-puji kepada Sing-
slok Losian menjadi hilang.
“Ting-siangsing dari Sing-siok-pai telah berani datang ke
Siau-lim-si sini tanpa Siau-lim-pai mengundangnya, maka para
ksatria semuanya harap waspada, di samping itu mungkin
mereka melihat apa daerah Tionggoan terdapat wilayah yang
lebih baik dari wilayah barat?'' demikian Hian-Cu berseru.
Tapi para ksatria dari Ho-siok, Kanglam dan lain-lain lantas
berteriak-teriak mencaci-maki Ting jin-jiu yang dikatakan
sebagai hantu, pengganas harus dibasmi oleh setiap orang
persilatan. Lantas mereka pun melolos senjata dan hendak
bertempur bahu membahu dengan Siau-lim-pai.
Takkala itu Buyung Hok dan kawan-kawan sudah berhasil
merobohkan 20-30 orang Sing-siok-pai. Sekarang mereka
kedatangan bala bantuan maka lantas berhenti bertempur.
Sedangkan orang-orang Sing-siok-pai juga tidak berani
menerjang maju lagi.
Kesempatan itu dlgunakan oleh Toan Ki untuk menyelinap
ke tengah orang banyak sana dan dapat mendekati Ong-Giok-
yan, katanya, "Nona Ong, sebentar biia keadaan genting,
biarlah aku menggendongmu lagi untuk lari keluar!"
Muka Giok-yan menjadi merah, sahutnya, “Aku toh tidak
terluka, juga tidak ditutuk orang aku . . . aku sendiri masih
dapat berjalan . . . “
Ia melirik sekejap ke arah Buyung Hok, lalu lanjutnya,
"Kepandaian Piauko juga jauh lebih dari cukup untuk
melindungi aku, maka sebaiknya engkau sendiri lekas lari saja,
Toan-kongcu!"
Sudah tentu kecut rasa hati Toan Ki atas jawaban ítu.
Pikirnya, "Ya, memangnya kepandaianku mana bisa
dibandingkan dengan piaukomu?"
Namun derníkian ia masih merasa berat untuk tinggal pergi
begitu saja. Ia mengada-ada untuk mengajak bicara, "No . . .
nona Ong, apakah kau tahu ayahku juga sudah datang? Beliau
berada. . . berada di sanal"
Sebenarnya sudah cukup lama Giok-yan berkenalan
dengan Toan Ki, tapi selama ini pemuda itu tidak pernah
menceritakan asal-úsulnya. Giok-yan dipandangnya sebagai
dewi kayangan yang suci dan agung sebaliknya ia anggap diri
sendiri seorang yang biasa saja, dalam pandangannya dewi
kayangan tentu tiada memperdulikan pangeran orang biasa.
Jika dia mengatakan asal-usulnya mungkin akan disangka
sengaja mengugulkan kebangsawannya.
Sudah tentu Toan Ki juga tahu cinta si nona hanya
dicurahkan kepada Buyung Hok seorang, Tapi asal sì nona
sudi tertawa atau sedikit memberi angin padanya, maka
senanglah Toan Ki melebihi orang putus lotre 120 juta. Namun
demikian bicara tentang pikiran ingin mempersunting si jelita,
untuk ini Toan Ki juga cukup tahu diri terpikir pun tidak berani.
Ya, tentu juga pernah sekilas keinginan seperti itu, yakni
terkadang terurai di dalam mimpi.
Sebaliknyo Giok-yan juga agak terharu dan merasa terima
kaalh kepada Toan Ki yang telah beberapa kali
menyelamatkan dia tanpa menghiraukan jiwanya sendiri.
Namun begitu pada hakekatnya ia pun tidak pernah
memperhatikan pemuda itu.
Terkadang kalau mereka bicara tentang ilmu sikat dan
ternyata Toan Ki sama sekali tidak becus, maka Giok-yan
hanya tahu Toan Ki adalah seorang pelajar tolol yang hanya
mahir suatu jurus langkah ajaib saja. Sekarang demi
mendengar bahwa ayah pemuda itu pun datang, ia menjadi
agak heran dan bertanya, "'O, apakah ayahmu datang dari
Taili? Kalian ayah dan anak tentu sudah lama berpisah
bukan?”
“Ya," sahut Toan Ki dengan senang. "Nona ong, maukah
kuperkenalkan dirimu kepada ayahku? tentu ayah akan sangat
suka padamu."
Muka Giok-yan menjadi merah pula, sahutnya sambil
geleng kepala, "Tidak, aku tidak mau menemuinya?"
“Mengapa?” tanya Toan Ki agak kecewa. Dan ketika
melihat nona itu tidak rnenjawab. Kembali Toan Ki mengada-
ada pula, "Eh, nona Ong, aku punya seorang saudara angkat
Hi-tiok namanya dia telah menjadi hwesio pula. Dan . . . . dan
ada juga seorang muridku dia juga sudah datang. Woh.
sungguh ramai sekali."
Giok-yan tampak terbelalak heran, pikirnya, ia sendiri tidak
becus ilmu silat, masákáh punya murid segala? Apa barangkali
mengajar dia membaca dan bersanjak?"
Karena merasa geli, tanpa terasa ia tersenyum.
Toan Ki menjadi girang melihat si jelita mau tersenyum,
segera ia menambahkan, "Nona Ong, muridku itu bernama
Gok-losam, bergelar Lam-hai-gok-sin dan punya alias 'Hiong-
sin-ok-sat'. Ilmu silatnya juga tidak lemah!"
"Seorang baik-baik kenapa mesti pakai nama seburuk itu?"
ujar Giok-yan dengan tersenyum. Dari potongan Toan Ki yang
lemah-lembut itu. ia menduga muridnya tentu juga seorang
pelajar muda yang sopan-santun.
Tak terduga Toan Ki lantas menjawab, "Baik apa? Dia
justru tidak baik!”
Begitulah, biarpun terkepung di tengah orang Sing-siok-
pai, tapi dapat berbicara dan membuat Giok-yan tertawa,
sekalipun langit akan ambruk juga tak terpikir lagi oleh Toan
Ki.
Dalam pada itu dengan barisan Lo-han-tai-tin para padri
Siau-lim-si sudah balas mengepung maju dari segenap
penjuru. Ada sekelompok orang Sing-siok-pai hendak
menerjang tapi baru saja sedikit bertempur mereka sudah
kena dilabrak habis-habisan.
Cepat Tìng-lokoai berseru, "jangan bergerak dulu, tetap
pada tempat masing-masing!"
Lalu ia berteriak keras-keras, "Hian-cu Hongtiang, Siau-lim-
si kalian suka mengaku sebagai pemimpin persilatan
Tionggoan, tapi menurut pandanganku sebenarnya kalian
tidak cukup dengan sekali gempur saja!"
Serentak para anggota Sing-siok-pai bersorakan memuji,
"Ya, sekali Sing-siok Losian sudah maju para hwesio Siau-lim-
si pasti akan mampus semua!"
"Kalian mengaku sebagai pemimpin persilatan, tapi
sebentar tentu kalian akan rasakan batapa hebatnya Sing-siok
Losiang"
Bahkan ada yang terus mengeluarkan tambur dan
gembreng untuk mengiringi lagu pujian itu sehingga suasana
menjadi ramai.
Sudah tentu sebagian besar para ksatria tidak pernah
menyaksikan kelakuan pihak Sing-siok-pai itu, keruan mereka
terheran-heran geli.
Di tengah suasana riuh ramai itu, tiba-tiba dari bawah
gunung terdengar suara derapan kuda yang nyaring dan
makin lama makin mendekat, tidak lama kemudian dari balik
lereng sana tertampaklah empat helai bendera kuning yang
besar, pembawa bendera adalah adalah empat penunggang
kuda, bendera itu berkibar-kibar tertiup angin.
Kedua bendera sebelah kanan jelas kelihatan tertulis "Ong.
Cengpangcu Kai-pang", dan kedua bendera sisi kiri tertulis
"Ong, Ciangbun Kek-lok-pai".
Sesudah agak dekat, keempat penunggang kuda itu
melompat turun dari kuda mereka, lalu keempat helai bendera
kuning ditancapkan di suatu tanjakan yang paling tinggi. Dari
dandanan keempat orang itu dapat dikenal mereka adalah
anggota Kai-pang.
"Ini dia, Pangcu Kai-pang Ong Sing-thian sudah tiba?"
demikian para ksatria saling memberi tahu.
Seperti diketahui Ong Sing thian itu adalah nama samaran
Yu Goan-ci. Selain Cumoti, Cilo Singh, Ting Jun-jiu, Buyung
Hok dan kawan-kawannya tiada lagi orang lain yang kenal dia.
Tentang sejak kapan dia diangkat menjadi Pangcu Kai-pang
dan dari mana asal-usul Kekiok-pai itu lebih-lebih tiada
seorang pun yang tahu.
Dan baru saja keempat helai bendera kuning itu
dipancangkan di tempat yang tinggi, menyusul babarisan
penunggang kuda lantas muncul dengan cepat. Yang di muka
adalah ratusan anggota Kai-páng berkentung enam, di
belakangnya ada anggota berkantung tujuh dan belasan
anggota berkantung delapan.
Selang sejenak muncul pula empat Tianglo yang
menggendong sembilan buah kantung. Semuanya tidak
bersuara mereka melompat turun dari kuda terus berbaris di
kedua sisi jalan.
Sementara itu terdengar pula suara derapan kuda yang
berdetak-detak, dua ekor kuda berwarna kelabu mendatang
dengan berjajar. Penunggang sebelah kiri adalah seorang
anak dara cilik berbaju warna ungu, cantik molek tapi biji
matanya tampak guram.
Melihat anak dara itu, seketika Wi-Sing-tiok berseru, "A
Ci!"
Rupanya ia menjadi lupa dirinya di dalam penyamaran
sebagai lelaki sehingga suara seruan itu diucapkan menurut
suara aslinya. Sedangkan, penunggang kuda yang sebelah
kanan berbaju compang-camping penuh tambalan yang luar
biasa adalah air mukanya kaku dingin bagai mayat.
Tapi bagi yang berpengalaman segera mengetahui orang
itu memakai kedok, agaknya muka aslinya tidak ingin
diperlihatkan kepada orang lain. Hal ini menimbulkan rasa
curiga para ksatria. Apa barangkali orang ini adalah tokoh
ternama dalam dunia persilatan dan sengaja menyamar
sebagai Ong Sing-thian, maka muka aslinya tidak mau
diperlihatkan kepada orang lain. Dan kalau dia mampu
menjadi Pangcu Kai-pang terang dia bukanlah tokoh
sembarangan. Wah, jangan-jangan dia adalah Kiau Hong, itu
pangcu Kai-pang yang dahulu sekarang memegang pimpinan
kembali dan lenjuja dJiang memusuhi Siau-lim-pai. Demikian
pikir mereka.
Cumoti dan beberapa orang lainnya pernah kenal muka asli
Goan-ci. tapi sekarang melihat dia berada di atas kudanya,
dengan sikap yang kereng dan gagah, sorot matanya tajam
mengerling kian kemari, sama sekail berbeda dengan Goan-ci
yang lucu dan takut-takut dahulu itu tentu saja mereka
terheran-heran. Terutama Ting Jun jiu yang pernah keok di
tangan Goan-ci itu menjadi lebih-lebih waspada.
Kedatangan Ting-lokoai ini mestinya hendak mengeduk
keuntungan tatkala Siau-lim-pai bertempur dengan Kai-pang,
maka secara licik dia hendak membokong Ong Sing-thian
untuk melenyapkan musuh besar itu. Tak terduga baru sampai
punggung gunung sudah kepergok dengan rombongan
Buyung Hok hingga saling labrak, lalu padri Siau-lim-si juga
membanjir keluar sehingga sebelum pihak Kai-pang tiba pihak
Sing siok-pai sudah bertempur lebih dulu dengan Siau-Lim-pai.
Tadi A Ci juga mendengar seruan ibunya, tapi sekarang dia
ada urusan penting dan tidak ingin bertemu dulu dengan sang
ibu, maka ia pura-pura tidak mendengar, ia berkata kepada
Goan-ci alias Ong Sing-Thian, "Engkoh Sing agaknya banyak
sekali orang yang berada di sekitar, aku seperti mendengar
orang menyanyi mangatakan Sing-siok Losian maha sakti
segala, Apakah bedebah Ting Jun-jiu dan begundalnya itu
juga berada di sini?"
"Ya, benar jumlah mereka ternyata tidak sedikit," sahut
Goan-ci.
"Wah. itulah sangat kebetulan!" seru A Ci dengan tertawa.
"Dengan demikian aku menjadi tidak perlu mencarinya ke
Sing-siok-pai yang jauh itu.”
Sementara itu anggota Kai-pang yang berjalan kaki
berbondong-bondong juga sudah sampai di atas gunung dan
telah berbaris di belakang barisan Goan-ci.
Ketika A Ci mengangkat tanganvya memberi aba-aba
segera, dua orang anggota Kai-pang masing-masing
mengeluarkan segulung kain warna ungu. Waktu dibeberkan,
kiranya adalah dua helai bendera besar dari sutra ungu.
Tatkala itu angina meniup keras, tapi kedua orang Kai-pang
itu cukup tangkas, mereka seperti tiang bendera saja sehingga
kedua bendera itu dapat dibentang dan berkibar.
Maka tertampaklah setiap bendera itu berisi enam huruf
merah yang berbunyi, "Toan, ciangbun Sing-siok-pai."
Dan begitu kedua bendera itu berkibar, seketika anggota
Sing-siok-pai menjadi kacau, segera orang-orang berteriak,
"Ciangbunjin Sing-siok-pai adalah Ting-losian yang terkenal di
seluruh jagat ini, masakah ada Ciangbunjin she Toan apa
segala?"
Menyusul seruan lain, "Huh, mengaku-ngaku dan
memalsu, tidak kenal malu! Apakah jabatan Ciangbujin boleh
diangkat sendiri? Huh, lekas masuk kemari siluman cilik itu,
kalau kamu minta digilas hancur!"
Semua padri Siau-lim-pai dan para ksatria agak terkejut
ketika tiba-tiba mengetahui telah bertambah seorang
Ciangbujin Sing-siok-pai, tapi diam-diam mereka pun senang
dan bersyukur, kalau di antara golongan setan iblis itu saling
gontok-gontokan sendiri.
Kemudian A Ci menepuk tangan tiga kali dan berseru,
"Wahai dengarkan para anggota Sing-siok-pai! Menurut
peraturan kita selama ini, jabatan Ciangbunjin harus direbut
dengan kekuatan.
Siapa paling tinggi ilmu silatnya, dia yang menjadi ketua
menjadi Ciangbunjin. Setengah tahun yang lalu Ting Jun-jiu
telah kuhajar habis-habisan, ia telah berlutut dan menyembah
padaku untuk minta ampun serta mengangkat aku sebagai
gurunya. Kedudukan Ciangbunjin juga dia serahkan padaku
sekalian? Hai, Ting Jun-jiu. kuraagajar benar kamu ini! Kamu
sekarang adalah Toatecu (murid pertama) dan harus memberi
teladan yang baik, mengapa kauberani membohongi guru dan
mengapusi para Sutemu?”
Karena suara A Ci memang nyaring, maka ucapannya itu
dengan jelas sekali dapat didengar oleh semua orang.
Keruan semua orang terheran-heran, Tampaknya A Ci
cukup anak dara berumur 16-17 tahun kedua matanya buta
pula, mengapa dapat mengalahkan Toan lokoai dan menjadi
Ciangbun Sing-siok-Pai?
Toan Cing-sun dan Wi Sing-tiok juga saling pandang
dengan ternganga. Mereka tahu anak dara itu memang betul
murid Ting Jun-Jiu, nakal dan licin ilmu silatnya biasa saja
kalau tidak mau dikatakan rendah, tapi sekarang di depan
umum dia berani mengolok-olok Ting lokoai urusan ini tentu
bisa runyum, dengan kekuatannya yang Cuma terdiri dari
beberapa orang ini betapapun susah melawan Sing-siok-pai
untuk menyelamatkan A Ci.
Sebaliknya walaupun diolok-olok, Ting Jun-jiu tetap
tertawa-tawa saja. Dasar wataknya memang culas dan kejam
sedangkan guru dan suhengnya juga dibunuh olehnya namun
tempo hari ia telah mengalami kekalahan dari Goan-ci.
Waktu itu Goan-ci baru saja mengelotok topeng besi yang
mengerudungi kepalanya itu sehingga mukanya dedel-dowel
tak keruan dan mengerikan, ia mengaku sebagai ketua Kek-
lok-pai dan bernama Ong Sing-Thian, maka Ting Jun-jiu,
menyangka dia adalah gurunya Thi-thau-jin, si kepala besi
yang sebenarnya adalah Goan-ci sendiri.
Sekarang di depan orang banyak A Ci mengibarkan panji
dan mengaku sebagai ketua Sing-lok-pai, keruan dada Ting
Jun jiu- serasa akan meledak, biar bagaimana pun ia bertekad
akan menempur Ong Sing thian dengan mati-matian jika tidak
mau kehilangan pamor.
Maka tetap dengan tersenyum ia lantas menjawab, "A Ci
cilik, ucapanmu memang tidak salah siapa yang kuat, dia yang
menjadi Ciangbunjin golongan kita. Sekarang kaupun
mengincar keduukan Ciangbunjin tentu kamu memiliki
kepandaian. Sungguh-sungguh, maka bolehlah maju untuk
coba-coba beberapa Jurus denganku?"
Baru selesai ucapannya, sekonyong-konyong sesosok
bayangan berkelebat dan tahu-tahu di hadapannya sudah
berdiri seorang. itulah dia Yu Goan-ci.
Sungguh kejut Ting Jun-jiu tak terkatakan oleh kegesitan
Goan-ci itu. Tanpa terasa ia mundur selangkah. Tapi meski dia
sudah melangkah mundur toh tetap Goan-ci masih berada di
depannya dalam jarak seperti tadi, maka dapat diduga tatkala
dia melangkah mundur itu di luar tahunya Goan-ci juga telah
meleset maju. Keruan Ting-lokoai tambah gentar oleh
kecepatan Goan-ci yang luar biasa itu.
Memangnya Ting-lokoai sudah nekat hendak menempur
Goan-ci, sekarang Goan-ci mendesaknya sedemikian rupa,
karuan ia menjadi murka juga. "Aku kan menantang A Ci,
kenapa kamu ikut campur?" tegur Ting-lokoai berbareng
tangannya menarik ke belakang sehingga seorang anak
buahnya kena dicengkeram terus dilemparkan ke arah Goan-
ci.
Tapi Goan-ci cukup gesit dan tangkas, mendadak
tangannya juga menyambar ke belakang dan tepat seorang
anggota Kai-pang berkantung lima yang berdiri kira-kita dua
meter di belakangnya tanpa kuasa terus melayang ke depan
dan menubruk anggota Sing siok-pai yang dilemparkan Ting
Jun jiu tadi.
Melihat benturan yang keras itu, semua orang menduga
kedua orang itu tentu akan sama-sama tertimbuk hancur
binasa. Tak terduga setelah terbentur, segera terdengar suara
mencicit seperti benda hangus, lalu semua orang mengendus
bau sangit dan busuk memualkan. Maka tahulah mereka
bahwa Ting Jun-jiu dan Ong Sing-thian sama-sama
menggunakan racun, cepat mereka menahan napas dan ada
yang pencet hidung sendiri, ada yang lekas-lekas menyingkir
pula.
Kedua orang yang paling tumbuk itu lantas jatuh terkulai
ke tanah tanpa berkutik lagi, rupanya sudah mati sejak tadi.
Dengan gebrakan ini meski sama-sama kuatnya, tapi diam-
diam mereka pun sama jeri dan berbareng melangkah
mundur. Menyusul kedua orang sama-sama menjambret pula
ke belakang dan kembali seorang anggota golongan masing-
masing tanpa kuasa kena ditarik dan terlempar ke depan.
Kedua korban itu saling tumbuk lagi di udara dan
mengeluarkan bau sangit, lalu jatuh dan binasa.
Kiranya kepandaian yang digunakir Ting Jun-jiu dan Goan-
ci adalah semacam ilmu jahat dari Sing-siok-pai yang bernama
"Hu-si-iok" (racun pembusuk Jenazah). Seorang korban
dijambret dari jauh, lalu dilempar ke arah musuh. Padahal
sekali jambret itu sang korban sudah binasa lebih dulu
sehingga sekujur badan mayat itu beracun. Kalau lawan
menangkis dengan tangan pasti akan terkena racun jahat itu.
Andaikan pakai senjata juga racun yang menempel di senjata
itu akan menjalar ke telapak tangan. Bahkan mengegos juga
susah terhindar dari kecipratan hawa berbisa mayat yang
ditimpukkan itu.
Seperti diketahui, sejak Goan-ci mempelajari kungfu Sing-
siok-pai berdasarkan uraian A Ci, maka ia telah melatihnya
dengan giat sehingga mendapat kemajuan pesat. Ia pikir agar
rahasia kepalsuannya tidak terbongkar, maka ia harus
meyakinkan ilmu silat setinggi-tingginya. Dari situlah ia
berhasil meyakinkan ilmu Hu-si-tok dari Sing-siok-pai yang
lihat itu melalui penuturan A Ci.
Biarpun A Ci tergolong seorang nona yang pintar dan
cerdik, tapi karena matanya sudah buta mala ia dengar sendiri
pemuda pujaannya yang mengaku bernama Ong Sing-thian,
ketua Kek-lok-pai itu, dengan sekali hantam telah
mengalahkan Tin Jun-jiu, maka sama sekali ia tidak menduga
bahwa Ong-kongcu yang maha sakti itu sebenarnya justru
memperoleh ilmu silat dari uraiannya. Setiap jurus yang
diuraikan A Ci tentu dipraktekan oleh Goan-ci dengan baik.
Karena dalam badan Goan-ci sudah penuh racun dingin
ulat sutra es, pula ditambah iwekang dari Ih-kim-keng,
dengan sendirinya menjadi luar biasa tenaga dalamnya. Satu
jurus biasa yang tiada artinya bagi A Ci di tangan Goan-ci akan
berubah menjadi maha sakti, Keruan A Ci merasa kagum tak
terhingga.
Sebaliknya Goan-ci juga mengajarkan sedikit cara berlatih
Iwekang menurut Ih-kin-keng. Ia mengatakan ilmu itu adalah
ilmu dasar Kek-lok-pai. Maka A Ci juga lantas melatihnya,
walaupun tidak banyak kemajuannya, tapi badannya tambah
sehat dan segar.
Namun sifat A Ci suka bergerak, disuruh tinggal di tempat
yang sunyi untuk melatih ilmu silat, dengan sendirinya ia jadi
bosan. Maka hanya beberapa bulan saja ia sudah tidak
kerasan dan mendesak Goan-ci membawanya jalan-jalan ke
kota.
Sementara itu kepandaian yang dimiliki A Ci, hampir
seluruhnya sudah dipàhami Goan-ci, terpaksa ia menurut
permintaan dara itu dan berangkat.
Kebetulan ketika bertemu kelenteng kuno waktu mereka
hendak berteduh, diluar dugaan mereka mendengar
percakapan orang-orang anggota Kai-pang tentang pemilihan
Pangcu yang akan diadakan pada hari tertentu di kaki gunung
Hok-gu-san.
Karuan A Ci sangat girang, segera ia suruh Goan-ci
menawan kedua anggota Kai-pang itu setelah ditanya,
akhirnya diketahui bahwa sesudah Siau Hong dipecat, Thong-
kong dan Cit-hoat tianglo berturut-turut juga meninggal dunia,
dalam keadaan tiada pimpinan maka kekuatan Kai-pang
mundur banyak. Sebab itulah para Tianglo Kai-pang
menetapkan hari tertentu untuk mengadakan pemilihan ketua
baru.
Karena pernah tinggal cukup lama bersama Siau Hong, A
Ci banyak dengar cerita tentang kejadian dan peraturan Kai-
pang, maka diketahuinnya anggota Kai-pang sendiri yang
dapat dipilih sebagai Pangcu, Segera ia memaksa kedua
anggota Kai-pang itu mau menerima mereka sebagai anggota.
Karena disiksa dengan cara-cara keji, saking tidak tahan
akhirnya kedua anggota Kai-pang itu menerima dengan baik
keinginan A Ci itu, dan dalam waktu yang tepat dapatlah
mereka ikut hadir di lereng Huk-gu-san.
Tatkala itu kepandaian Goan-ci sudah tentu tak dapat
ditandingi oleh Song-tianglo, Go-tianglo, Tan-tianglo dan lain-
lain. Maka dalam beberapa kali gebrak, dengan mudah sekali
Goan-ci dapat merebut kedudukan Pangcu. Karena melihat
kepandaian Goan-ci memang sangat tinggi dan sukar dijajaki,
maka semua anggota Kai-pang sangat kagum dan takluk
padanya, semuanya merasa beruntung dan bahagia,
memperoleh seorang pemimpin maha sakti.
Seperti diketahui di dalam Kai-pang ada seorang tokoh
yang cerdik pandai bernama Coan Koan-jing, pernah menjabat
Tho-cu (pemimpin) "Tai-si-han-tho" suatu pasukan yang
merupakan tulang punggung Kai-pang. Dengan licin dia
mengadakan fitnah dan hasutan agar anggota Kai-pang
membangkang kepada pimpinan Siau Hong. Kebetulan
kedudukan Siau Hong diketahui memang betul adalah
keturunan bangsa Cidan sehingga akhirnya Siau Hong benar-
benar dipecat dari Kai-pang.
Waktu Coan Koan-jing mengadakan "kudeta" kebetulan
Thong-kong Tianglo dan Cit-hoat Tianglo juga ikut tersangkut
dan ditawan, apalagi sebagian besar anggota Kai-pang
sebenarnya masih sangat sayang kepada Siau Hong yang
gagah perwira itu. Muka tidak lama kemudian Song-tianglo
dan lain-lain lantas mencari sesuatu alasan dan memecat
kedudukan Coan Koan-jing sebagai Tho-cu serta menurunkan
pangkatnya menjadi anggota berkantung lima, padahal
sebelumnya ia berkantung delapan.
Sesudah Goan-ci menjabat Pangcu, Coan Koan-jing lantas
mencari kesempatan baik dan berhasil mendekati A Ci. Dasar
licin, ia pandai menjilat dan mengumpak, ia pintar mencari
macam-macam permainan untuk menyenangkan A Ci yang
buta itu. Bahkan akhirnya ia mengusulkan agar Kai-pang
berebut Bu-lim Beng-cu dengan Siau-lim-pai, supaya "Ong
Sing-thian" dapat menjadi tokoh nomor satu di dunia
persilatan.
Dasar sifat A Ci juga suka menang dan suka mencari
perkara, biarpun buta wataknya itu tetap tidak pernah
berubah, Tentu saja usul Coan Koan-jing itu sangat mencocoki
kesukaannya.
Sebenarnya Goan-ci tidak pernah ingin menjadi Bu-lim
Beng-cu apa segala, tapi ia sudah biasa tunduk kepada segala
apa yang dikatakan A Ci, maka ia pun tidak membantah usul
Coan Koan-Jing itu. Segera segala rencana dan
pelaksanaannya diserahkan pada Coan Koan-jing untuk
mengaturnya. Dan berkumpulnya para ksatria dari segenap
penjuru di Siau-lim-si pada tanggal 15 bulan enam itu bukan
lain adalah hasil karya Coan Koan-jing.
Sebelum Kai-pang berangkat ke Siau-sit-san, sementara itu
pangkat Coan Koan-jing sudah naik empat tingkat, sekarang
dia sudah Tianglo sembilan kantung untuk menggantikan
kedudukan Go-tianglo yang dipukul mati oleh Siau Hong
dahulu, dia dan Song, Go dan Tan Tianglo disebut Su-tai-
tianglo (empat tertua).
Bahwasanya di Siau-sit-san akan bertemu dengan Ting
Jun-jiu, hal ini sama sekali di luar perhitungan Coan Koan-jing.
Tapi ia pun tahu Ting jun-jiu pasti akan menantang A Ci, maka
sebelumnya ìa telah membisiki Goan-ci, asal Ting-lokoai
membuka suara pemuda itu disuruh, segera maju untuk
mewakilkan A Ci.
Sekarang kedua orang sudah bergebrak dan sama-sama
mengetahui kelihaian masing-masing. Mereka masih terus
saling timpuk dengan menggunakan anak buahnya sendiri
sebagai senjata, dan tìap-tiap kali menimpukan orang lantas
sama-sama mundur selangkah. Maka terdengarlah suara
"blak-bluk” berulang-ulang, dalam sekejap saja masing-masing
pihak sudah mengorbankan sembilan anak buahnya sendiri
sehingga di tanah sudah menggeletak 18 sosok mayat yang
menyeramkan.
Dengan ketakutan anak buah Sing-siok-pai lantas main
mundur ke belakang untuk mencari selamat agar tidak
dijadikan korban oleh sang guru. Namun begitu suara puja-
puji mereka kepada Ting-lokoai masih tidak berhenti, cuma
suaranya agak gemetar.
Sebaliknya anggota Kai-pang juga terperanjat ketika
mendadak nampak Pangcu mereka mengeluarkan ilmu berbisa
itu. Ada yang berpikir, "Tindak-tanduk Kai-pang kita
selamanya terkenal mengutamakan keluhuran budi, mana
boleh Pangcu menggunakan ilmu jahat yang tidak cocok
dimiliki oleh seorang ksatria sejati?"
Dan ada pula yang berpendapat, "Andaikan Siau Hong
masih menjadi Pangcu kita tentu beliau akan menggunakan
ilmu sejati dari Kai-pang sendiri untuk menghajar Iblis tua itu."
Begitulah, sesudah kedua orang sama-sama melemparkan
sembilan anak buahnya, maka masing-masing juga sudah
mundur hamper 9 meter jauhnya, jadi jarak mereka sekarang
sudah belasan meter. Ketika Ting Jun-jiu menggunakan
tangannya hendak mencengkeram pula, tahu-tahu ia
menangkap tempat kosong, waktu menoleh, sekilas ia lihat
anak buahnya semua menyingkir agak jauh dengan ketakutan.
Dalam pada itu orang kesepuluh yang dilemparkan Goan-ci
itu sudah menyambar tiba. Keruan Ting Jun-jiu terkejut dan
gusar pula kepada anak buahnya. Dalam keadaan berbahaya,
tanpa pikir lagi ia terus melompat mundur kalangan tengah
anak buahnya.
Sementara itu anggota Kai-pang yang dilemparkan Goan-ci
itu sudah meluncur tiba dengan cepat. Ketika anggota Sing-
siok-pai hendak lari sudah tidak keburu lagi, maka
terdengarlah jeritan takut tujuh atau delapan orang, sekaligus
mereka kena di timpuk oleh mayat itu. Karena mayat itu
benar-benar maha jahat, dalam sekejap saja kedelapan
korban itu bergelimpangan di tanah dengan muka hitam
hangus, sesudah berkelejetan beberapa kali, lalu binasa.
A Ci terlihat senang, ia tertawa mengejek, katanya, “Hei,
Ting-jun-jiu, Ong pangcu adalah pembela aku, ketua Sing-
siok-pai, jika kauingin bertanding dengan aku, kamu harus
mampu menangkan pertandingan dulu, Nah, bagaimana
sekarang yang kalah kamu atau dia?"
Ting Jun-jiu sangat mendongkol, Bicara tentang
kepandaian sejati sekali kali ia tidak kalah. Walaupun tenaga
dalam Goan-ci memang hebat tapi dari caranya melempar
korban tadi terang dia cuma mendapat sedikit kepandaian
kasaran dari A Ci saja, di mana letak perubahan-perubahan
kelihaian ilmu "Hu-si-tok” itu sama sekali tak diketahui. Jadi
kalahnya terletak pada anggota Sing-siok-pai lebih pengecut
dan takut mati sehingga dia kehilangan senjata dan akhirnya
dapat di dahului oleh serangan Goan-ci.
Namun Ting-lokoai lantas mendapat akal tiba-tiba ia
mendongak dan terbahak-bahak.
"Eh, tertawa? Masih tertawa? Apa yang kau tertawakan?''
tanya A Ci.
Tapi Ting Jun-jiu masih terus bergelak tertawa,
sekonyong-konyong kedua tangannya bekerja sekaligus 8
sampai 9 anak buah Sing siuk-pai disambarnya terus
ditimpukkan susul menyusul ke arah Goan-ci dengan cepat
luar biasa.
Goan-ci sendiri, tidak mahir "Hu-si-tok" secara berantai itu,
ia hanya sempat menimpukkan tiga anggota Kai-pang dan
untuk selanjutnya ia jadi kelabakan. Dalam keadaan
berbahaya, terpaksa ia meloncat setinggi-tingginya ke atas
sehingga mayat-mayat berbisa itu menyambar lewat di
bawahnya.
Tujuau Ting lokoai justru ingin memaksa Goan-ci
menghindar, tiba-tiba sabelah tangannya mengayun ke depan
terus ditarik lagi. Maka terdengarlah A Ci menjerit kaget dan
tanpa kuasa tubuhnya terseret dan melayang ke arah Ting
Jun-Jiu.
Keruan semua penonton terparanjat. Mereka tahu ada ilmu
sebangsa "Kim-liong-kang'' (Ilmu menangkap naga), "Na-hou-
kang'' (ilmu menangkap harimau) dan sebagainya yang dapat
mencengkeram musuh dari jarak beberapa meter jauhnya tapi
tidaklah mungkin mencapai sejauh belasan metar seperti Ting-
lokoai sekarang ini. Tentu saja banyak di antara penonton itu
merasa sangat jeri dan kagum pula kepada ilmu sakti Lokoai.
Mereka tidak tahu bahwa cara Ting-lokoai menangkap A Ci
itu bukan dengan kepandaian yang sejati, tapi ia
menggunakan semacam alat yang merupakan satu di antara
ketiga jimat Sing-siok-pai mereka yaitu alat yang disebut "Ju-
ni-soh" (tali benang sutra halus).
Benang sutra yang sangat halus dan bening tembus itu
diperoleh dari ulat sutra salju yang badannya lebih kecil dari
ulat es dan tak berbisa. Tapi sutra yang dihasilkan ulat salju
itu sangat ulet dan kuat. Ulat salju itu tidak dapat membuat
kepompong sehingga sutranya juga sangat terbatas dan susah
dicari. Dahulu sebabnya Leng Jian-li membunuh diri adalah
karena digoda oleh A Ci dengan jaring yang terbuat dari sutra
halus yang tak kelihatan ini.
Sekarang tali sutra yang digunakan Ting Jin-jiu ini jauh
lebih ulet daripada kepunyaan A Ci itu. Ketika sekaligus ia
melemparkan sembilan anak buahnya, berbareng ia pun
mengayunkan tali sutranya. Jadi mayat-mayat berbisa yang
dia lemparkan itu hanya untuk memaksa Goan-ci menyingkir
dan untuk mengetahui pandangan para penonton saja dengan
demikian orang menjadi tidak menduga sama sekali akan tali
sutra yang dia ayunkan itu.
Ketika A Ci terkejut atas serangan itu, namun sudah kasip,
ia kena diseret ke arah Ting lokoai. Menyusul punggung A Ci
lantas dijambret oleh iblis tua itu, bahkan sekalian ditutuk hiat-
to nya supaya tidak dapat berkutik, lalu tali sutra itu digulung
dan dimasukkan ke dalam baju. Jadi melemparkan sembilan
korban, mengayunkan tali sutra, menarik dan menangkap A
Ci, semuanya dilakukan Ting Jun-jiu dengan sekaligus di
tengah gelak tertawanya yang tak putus-putus sampai A Ci
tertawa olehnya.
Saat itu tubuh Goan-ci masih terapung di udara, keruan ia
terkejut dan kuatir ketika melihat A Ci tertangkap musuh.
Dalam pada itu sembilan mayat berbisa sudah melayang lewat
di bawah kakinya, maka waktu turun ia terus menubruk maju
dan sebelah telapak tangan menghantam sekuatnya ke arah
Ting-lokoai.
Cepat Ting Jun-jiu angkat A Ci dan disodorkan ke depan
untuk menerima pukulan Goan-ci yang maha dahsyat itu.
Keruan Goan-ci menjadi bingung. Meski ilmu silatnya sekarang
sudah sangat tinggi, tapi pengalamannya dalam pertempuran
boleh dikata masih hijau, maka waktu pukulan sendiri hendak
mencelakai A Ci tanpa pikir lagi ia tarik kembali tenaga
pukulan sendiri itu, padahal asal dia sedikit miringkan
pukulannya dan dengan sendirinya akan luput mengenal A Ci.
Tapi dia terlalu cinta dan menghormati A Ci, begitu melihat
gelagat jelek, tanpa pikir ia tarik kembali tenaga pukulan
sendiri sehingga dadanya mirip dihantam sendiri oleh tenaga
pukulan yang sama dahsyatnya. Kontan ia sempoyongan
sendiri dan memuntahkan darah segar.
Kalau orang lain mungkin jiwanya sudah melayang, untung
Goan-ci sudah berhasil menyakinkan iwekang dari kitab Ih-kin-
keng. namun begitu pukulan sendiri itu pun membuatnya
tumpah darah. Dan baru dia hendak ganti napas untuk
menyerang pula, namun Ting-lokoai sudah tidak memberi
kesempatan lagi padanya, beruntun-runtun ia memukul empat
kali.
Karena belum sempat menghimpun kembali tenaganya,
terpaksa Goan-ci hanya menangkis sebisanya dan setiap kali ia
menangkis, setiap kali muntah darah pula. Bahkan sedikit pun
Ting-lokoai tidak kenal ampun, menyusul pukulan kelima
dilancarkan lagi untuk membinasakan lawannya.
Melihat itu, para penonton menjadi gempar beberapa
orang berteriak dan membentak akan kekejaman Lokoai itu.
Beberapa ksatria diantaranya juga sudah siap-siap hendak
memberi bantuan kepada "Ong Sing-thian".
Tak terduga baru saja pukulan kelima Ting-Jui jiu sendiri
tergetar mundur selangkah. Bagi para ksatria yang tajarn
pandangannya segara mengetahui bahwa dalam gebrakan itu
Ting-lokoai mengalami kerugian, maka mereka pun urung
memberi bantuan.
Kiranya sesudah muntah darah akhirnya hawa murni Goan-
ci dapat berjalan lancar lagi, tepat dapat menyambut
serangan kelima Ting-lokoai dangan racun jahat ulat es dan
Iwekang yang hebat.
Pada setengah tahun yang lalu Ting Jun-jiu juga pernah
kecundang di bawah pukulan Goan-ci selama setengah tahun
ini melatih tenaga pukulan sudah tentu Ting Jun jiu bukan
tandingannya. Coba kalau Goan-ci tidak terluka lebih dulu,
kelima kali gontokan tadi pasti akan membikin Ting Jun-jiu
yang terdesak mundur dan bukan Goan-ci.
Walaupun sudah tergetar dan dada terasa sesak, namun
Ting-lokoai masih belum kapok dan merasa penasaran. Segera
ia kerahkan segenap tenaganya, sambil membentak, dengan
kumis dan jenggot sama menyengkit saking murkanya, terus
saja ia lontarkan pukulan yang maha dasyat.
Namun Goan-ci malah melangkah maju dan menyambut
pukulan itu sambil berseru, "Lekas lepaskan nona Toan!"
Beruntun-luntun la pun membarengi hantam empat kali
setiap kali menghantam selalu diikuti dengan melangkah ke
depan, Karena majunya itu, sekarang jaraknya dengan Ting
Jun-jiu sudah sangat dekat, asal tangannya meraih tentu A Ci
Akan dapat dirampas olehnya.
Melihat muka Goan-c¡ yang kaku dingin bagai mayat
(karena memakai kedok) itu, mau tak mau Ting-lokoai
menjadi jeri. Tapi ia masih coba tersenyum dan berkata,
"Awas, segera aku akan menggunakan Hu-si-tok lagi, boleh
coba menyambutnya pula!"
Sembari berkata tubuh A Ci terus diangkat dan digoyang-
goyangkan pelahan beberapa kali.
"He. jangan, jangan!" seru Goan-ci dengan suara gemetar,
terang kuatirnya tak terhingga.
Mengapa Goan-ci begitu kuatir? Sebab sekali Ting Jun jiu
menggunakan ilmu "Hu-si-tok", itu berarti seketíka A Ci akan
menjadi mayat berbisa.
Ting Jun jiu memang orang cerdik, demi melihat kelakuan
Goan-ci itu, segera ia tahu bahwa pemuda itu sudah tergila-
gila kepada A Ci. Tentu saja hal ini sangat menguntungkan
dirinya. Tujuannya semula sebenarnya A Ci akan dibinasakan
supaya tidak dapat berebut kedudukan Ciangbujin Sing-siok-
pai mereka. Sekarang melihat Goan ci begitu kuatir atas
keselamatan A Ci maka ia menaksir nona cilik itu tentu dapat
diperat untuk menundukkan Ong Sing-thian yang lihai itu.
Maka berkatalah Ting-lokoai, "Apa kamu tidak ingin dia mati?"
"Ya. le . . , lekas lepaskan dia, lni sang . . . sangat
berbahaya . . . ." demikian sahut Goan-ci dengan terputus-putus.
"Haha, kalau aku mau membunuh dia boleh dikata terlalu
gampang, buat apa melepaskan dia?" sahut Lokoai dengan
tertawa. "Dia adalah muridku yang murtad dan khianat, kalau
orang begini tak dibunuh, siapa yang harus dibunuh?"
"Tapi . . . . tapi dia adalah. , . adalah nona A Ci, ba . , .
bagaimanapun jangan . , . jangan kaubunuh dial Engkau telah
membutakan matanya, maka . . . . maka aku mohon padamu,
jang....jangan membunuh dia lagi! Le . . . lekas kau lepaskan
dia dan aku tentu akan membalaa kebaikan . . . kebaikanmu ini!"
Dalam kuatirnya cara bicara Goan-ci menjadi tak keruan
sehingga sama sekail tidak pantas sebagai seorang Pungcu
atau ketua Kek-lok-pai.
Maka Ting Jin-jiu menjawab, "Untuk mengampuni dia sih
boleh àsal saja kamu menerima beberapa syaratku."
"Boleh, boleh!” sahut Goan-ci cepat, "Jangankan beberapa
syarat, sekalipun seratus atau serìbu syarat juga kuterima."
"Bagus," kata Lokoai. "Nah, pertama, kamu harus segera
mengangkat aku sebagai guru, untuk selanjutnya kamu adalah
murid Sing-siok-pai kami."
Tanpa pikir lagi Goan-ci berlutut dan menyembah, katanya,
"Suhu, terimalah hormat muridmu Ong Sing-thian!"
Dalam pikiran Goan-ci, toh dulu dia sudah pernah
mengangkat Lokoai sebagai guru, kalau sekarang
menyembah, lagi apalah alangannya?
Ia tidak menduga bahwa dengan tindakannya itu para
ksatria telah dibuatnya menjadi panik. Para Tianglo dan
anggota Kai-pang yang terkemuka juga merasa penasaran
sekali. Pikir mereka "Kai-pang kini adalah suatu organisasi
terbesar, selamanya terkenal sebagai golongan yang luhur
budi dan membela keadilan tapi sekarang Pangcu justru
mengangkat guru pada Sing-siok-Lokoai yang terkenal busuk
dan jahat itu. Terang orang demikian tidak dapat
dipertahankan jadi pang-cu kita."
Sebaliknya di pihak Sing-siok-pai serentak berbunyilah
tambur gembreng dan seruling, bergemuruh mereka
menyanyikan lagu Sing-siok losian maha saktl dan macam-
macam sanjung keji yang mendirikan bulu roma
pandengarnya.
Tadi ketika melihat A Ci ditawan Ting Jun jiu, Toan Cing-
sun dan Wi Sing-tiok juga saling pandang dengan kuatir. Tapi
mareka insaf bukan tandingan Sing-sok Lokoai kalau berani
maju tentu akan mengantarkan nyawa belaka. Kemudian
ketika melihat "Ong Sing-thian" berlutut dan minta ampun
demi putri mereka itu, hal ini benar-benar di luar dugaan
mereka,
Diam-diam Wi Sing-tiok sangat heran dan giráng pula,
dengan berbisik-bisik ia berkata kepada Cing-sun, "Lihatlah
itu, betapa mendalam cinta kasih orang, setitik pun engkau
tak dapat memadainya,"
Di sebelah sana Toan Kí juga lagi melirik ke arah Giok-yan,
katanya di dalam hati, "Betapa rindu dendamnya kepada nona
Ong boleh dikata sudah tiada taranya, tapi kalau dibandingkan
Ong-pangcu ini mungkin masih jauh sekali. Coba kalau nona
Ong yang tertawan Sing-siok LoKoai, apakah aku mau berlutut
dan menyembah padanya?"
Berpikir sampai di sini. mendadak semangat Toan Ki
bergolak, ia merasa mati pun rela asalkan demi Ong Giok-yan,
apalagi cuma dihina saja di depan umum. Karena pikiran itu,
tanpa terasa ia berkata, "Mau. aku mau. tentu aku mau!"
Giok-yan menjadi heran, tanyanya, "Kau mau apa?”
“O. ti. . . . tidak, aku . . . aku . . . " Toan Ki menjadi
gelagapan dengan muka merah.
Dalam pada itu habis menyembah Goan-ci sudah berdiri
kembali. Ketika melihat A Ci masih dicengkeram Ting lokoai,
segera ia berkata, "Suhu lekas engkau melepaskan dial"
"Budak cilik ini terlalu kurangajar masakah begini enak
lantas mengampuni dia!” sahut Lokoai dengan mendengus.
"Ya, kecuali kalau kaumau menebus dosanya dengan
membuat beberapa pahala bagiku."
"Ya, ya, Tecu harus membuat pahala apa" tanya Gonn-ci.
"Sekarang Juga boleh kautantang Hongtiang Siau-lim-si
Hian-cu, gempur dan bunuhlah dia," kata Lokoai.
Goan-ci menjadi ragu, jawabnya, "Tecu tiada permusuhan
apa-apa dengan dia, meski Kai-pang hendak berabut
kedudukan dengan Siau-lim-pai, namun tidak perlu saling
membunuh."
Lokoai menjadi gusar, dampratnya, "Kau berani
membangkang pada perintah guru hal ini menandakan
kemunafikanmu, kamu mengangkat guru padaku jadi cuma
pura-pura saja?"
Yang diharapkan Goan-ci asalkan A Ci bias selamat, maka
ia tidak pedulikan lagi tata-krama orang kangouw apa segala.
Segera ia menjawab, "Ya, ya! Cuma . . . Cuma cuma silat
Siau-lim pai teramat lihai, Tecu akan . . . akan berbuat sebisa
mungkin. Tapi . . . tapi harap Suhu juga pegang janji jangan .
. . jangan engkau membikin susah nona A Ci."
"Membunuh Hian-cu atau tidak bergantung padamu,
membunuh A Ci atau tidak bergantung padaku,” sahut Lokoai,
Rupanya dia sengaja menghasut agar Kai-pang bertempur
dengan Siau-Lim-pai, dengan demikian dia dapat mengail di
air keruh.
Terpaksa Goan-cl putar tubuh ke arah Slau lim-pai,
serunya. "Hian-cu Hong-tiang, selamanya Siau-lim-pai dan Kai-
pang sama-sama menjagoi dunia persilatan Tianggoan,
masing-masing tiada di bawah perintah siapa-siapa. Tapi hari
ini kita harus menentukan unggul dan asor, yang menang
akan menjadi Bu-lim Beng-cu, yang kalah mesti tunduk pada
perintahnya,"
Sinar matanya mengerling ke arah para ksatria, lalu
melanjutkan, "Nah, para ksatria hari ini sudah hadir semua di
sini, kalau ada di antaranya yang merasa tidak terima boleh
ciaju untuk bartanding dengan Bu-lim Beng-cu,"
Di balik ucapannya ilu seakan-akan sekarang juga dia
sudah menjadi Bu-lim Beng-cu. Sudah tentu semua oravg
sangat gusar. Tadi pambicaraan Ting Jun-jiu dan Goan-ci juga
sudah didengar para padri Siau-lim-pai, mereka menjadi
sangat murka karena Lokoai berani terang-terang menyuruh
Ong Sing-thian menantang dan membunuh Hian-cu
Hongtiang, Tapi kalau melihat pertarungan kedua orang tadi
terang kepandaian Ong sing-thian itu memang sangat tinggi
lagi keji, maka sukar diramalkan apakah Hian cu mampu
melawannya.
Walaupua Hían-cu tidak suka berkelahi, tapi ia sudah
ditantang secara terbuka, untuk menghindar terang tak bisa
lagi. Terpaksa ia rangkap kedua tangannya dan bersabda,
“Selama beratus tahun ini kai-pang terkenal sebagai saka guru
dunia parsilatan Tionggoan, setiap ksatria di dünia tahu siapa
yang tidak kagum. Pangcu kalian yang dahulu juga bersahabat
sangat karib dengan kami. Sekarang Ong-Pangcu menjabat
sebagai Pang-cu baru, memang kami agak teledor karena
terlambat mengirimkan ucapan selamat. Namun begitu
hubungan kita selama ini sangat baik dan saling menghormati,
entah mengapa hari ini Ong pangcu marah-marah kepada
kami, dapatkah kami diberitahu di mana letak kesalahannya
dan biarlah dipertimbangkan secara adil oleh para ksatria yang
hadir di sini."
Goan-ci rnasih hijau dan kepalang tanggung sekolahnya,
sudah tentu ia tidak dapat berdebat dengan Hian-cu. Tapi
sebeium datang ke Siau lirn-si ia sudah mendapat "kursus”
dari Coan Koan-jing. tentang apa-apa yang harus dikatakan,
maka sekarang ia pun menjawab, "Di utara kerajaan Song kita
ada negeri Taili, dibarat ada Se He dan turfan daa diselat ada
kerajaan Liau keempat negeri aslng itu selala mengìncar tanah
air kita, maka . , . maka . . . "
Ternyata dia telah salah mengatakan letak negeri-nagerl
Taili dan Liau, mestinya Taili terletak dì selatan dan Liau di
utara. Karena itu banyak di antara para pendengarnya tertawa
geli mengejek.
Goan-ci tahu ucapannya ada yang keliru tapi tak mungkin
ditarik kembali lagi, karuan ia menjadi malu, untung la
memakai-kedok sehingga orang lain tidak tahu. Dan sesudah
tergegap-gegap sebentar kemudian la berdehem dan
melanjutkan "Ehem! Kerajaan Song kita terlalu miskin dan dan
lemah, maka kaum kita harus beramai-ramai membela . . ,
membela tanah air dan bersama-sama melawan musuh."
Mendengar ucapannya cukup beralasan serentak para
ksatria memberi aplus tanda setuju.
Keruan Goan-ci menjadi semangat, segara ia
menyambung, "Dan akhir ini, karana gangguan-gangguan
negeri musuh itu, maka . . . mka kewajiban kaum kità juga
tambah barat kita . . . kita harus bersatu-padu. bergotong-
royong untuk menghadapi segala kesukaran itu. Tapi di antara
berbagai golongan dan aliran kita justru masih suka gontok-
gontokan, saling bunuh mambunuh, pendek kata akan
merugikan persatuan kita, seperti tempo hari, hanya seorang
Kiau Hong saja sudah membikin kocar-kacir para ksatria
Tionggoan, apalagi paling akhir Ini kabarnya Sing siok Lo . .
.siok Lo . . . Lo itu juga . . . . "
Sebenarnya Coan-Koan-jing telah mengajarkan dia agar
menyatakan. "Sing-siok Lokoai telah mernbunuh dua padri
agung Siau-lim-si dan orang orang Slau-lim-pai sama sekali
tak berdaya." Kalimat itu sebenarnya sudah diapalkan Goan-ci
di luar kepala, tapi sekarang dia telah mengakui Lokoai
sebagal Suhu, dengan sendirinya ia tidak dapat menyebutnya
sebagai Lokoai maka kata-kata yang hampir diucapkan itu
ditelannya kembali mentah-mentah.
Karena itu para ksatrla msnjadl geli, segera ada orang
menanggapi, "Dia adalah Lokoai (iblis tua), dan kamu adalah
Siau-yau (siluman cilik) Hahaha!"
Namun orang orang Sing-siok pai juga tidak mau kalah
suara, serentak mereka menggema ke angkasa. Tapi pada
waktu suara mereka sudah mulai pila, sekonyong-konyong di
antara orang banyak ada seorang yang mulai menyanyi lagi
dengan suara yang serak tapi bernada tinggi.
Mula-mula ia menyanyi menurunkan irama orang-orang
Sing-siok-pai tadi, begitu pula syairnya juga sama, tapi ketika
sampai pada bait syair yang terakhir, mendadak ia sengaja
menekuk suaranya sedemikian rupa, dan kata-kata pujian
pada Ting Jun-jiu juga diganti sehingga menjadi "Sing-siok
Lokoai, kentut busuk."
Semula orang-orang Sing-siok-pai mengira di antara
kawannya ada yang sengaja menyanyi “solo" dengan suara
tenor. siapa duga kata-kata terakhir itu sama sekali berbeda
daripada syair Lagu yang sebenarnya, kata-kata itu sengaja
ditarik panjang sehingga kedengarannya menjadi sangat
merdu.
Keruan para ksatria tertawa tarpingkal-pingkal, sebaliknya
orang-orang Sing-siok-pai sama mencaci maki.
"Wah. Pau-samko, suaramu boleh juga, ya!" demikian seru
Giok-yan dengan tersenyum.
"Ah, lumayan saja!” sahut Pau Put-tong.
Kiranya penyanyi solo dengan suara tenor itu adalah hasil
karya Pau put-tong yang jahil. Keruan semua orang tambah
geli.
Dan ditengah gelak-tawa dan caci-maki itu Goan-ci
berbisik-bisik berunding dengan Coan Koan-Jing. Lalu berseru
pula, "Mengingat apa yang kukatakan tadi, demi kepentingan
bersama, kami mengusulkan agar di antara kita dipilih seorang
Bu-lim Beng-cu untuk memberi pimpinan pada kita. Untuk ini
entah Hian-cu Hongtiang setuju atau tidak?"
"Usul Ong-pangcu memang cukup beralasan," sahut Hian-
cu dengan kalem. "Cuma ada sesuatu yang aku kurang
mengerti, maka diharap Ong-pangcu suka memberi
penjelasan."
"Tentang apa?" tanya Goan-ci.
"Sekarang Ong-pangcu telah mengangkat Sing-siok Losian
sebagai guru, dengan demikian. engkau sudah terhitung orang
Sing-siok-pai, benar tidak?"
"ini . . . ini adalah utusan pribadiku dan . . . dan tiada
sangkut-pautnya denganmu," sahut Goan-ci dengan tergagap.
"Tapi Sing-siok-pai terhitung aliran benua barat dan bukan
sekaum dengan kita." Sambung Hian-cu. "Maka soal pemilihan
Bu-lim Beng-cu segala sesungguhnya bukanlah urusan Sing-
siok-pai dan juga tidak ada hak buat ikut campur."
“Ya, benar!”
"Tepat sekali ucapan Hongtiang itu!"
"Benar, kamu adalah budak golongan asing mana boleh
mimpi hendak menjadi Beng-cu dunia persilatan Tionggoan
kita!" demikian beramai- ramai para ksatria berteriak.
Goan-ci menjadi bingung dan tak dapat menjawab. ia
pandang Ting Jun jiu dan pandang Coan Koan jing pula
dengan harapan mereka dapat membantu jawabannya.
Maka sesudah berdehem-dehem dulu, lalu Ting Jun-jiu
berseru, "Ucapan, Hong-tiang barusan kurang tepat, sebab
aku berasal dari propinsi Soe-tang dan terhitung suatu
kampung dengan nabi Khong-hu-cu, aku yang membangun
Sing-siok-pai, mana boleh dikatakan sebagal aliran negeri
asing? Kalau bicara tentang asing dan tidak, cikal-bakal Siau-
lim-si sendiri, Tat-mo Cosu (Budhi darma) kan berasal dari
negeri Thian-tiok, agama Budha juga berasal dari negeri
asing, kalau kalian juga dituduh menganut ajaran dan
kepandaian impor, apakah kalian mau terima?"
Sanggahan ini membuât Hian-cu dan lain-lain merasa
susah untuk menjawabnya.
Bahkan Coan Koan-jing juga segera ikut bicara, "Sumber
asal mulanya ilmu silat di dunia ini memang sukar diusut. Ada
kepandaian berasal barat yang dipelajari di negeri timur
sebaliknya banyak juga ilmu negeri timur yang masuk ke
negeri barat. Yang terang Ong-pangcu kita adalah bangsa
awam, Kai-pang juga sudah dikenal sebagai organisasi
terbesar di negeri kita dia dengan sendirinya beliau harus
dianggap sebagai tokoh persilatan Tionggoan, pendek kata
urusan hari ini hanya dapat diputuskan dengan kekuatan dan
tidak perlu berperang lidah, apakah sebentar Sìau-lim-pai atau
Kai-pang akan menang, hal ini akan ditentukan oleh
pertandingan kalian sebagai pemimpin kedua pihak, maka
tidak perlu banyak bicara lagi. Tapi kalau pihak Siau-lim-pai
menyadari bukan tandingan Pangcu kami dan terima mengaku
kalah serta bersedia mengangkat Pangcu kami sebagai Beng-
cu, maka segala pertarungan tentu akan dapat dihindarkan."
Di balik kata-katanya itu seakan-akan menganggap Hian-
cu merasa jeri, maka sengaja menggunakan macam-macam
alasan. Keruan Hian-cu sangat mendongkol, segera ia
melangkah maju dan berkata, ''jika Ong-pangcu sudah
berkeras ingin main-main beberapa jurus denganku, bila
kutolak lagi tentu akan menjadi kurang hormat. Kai-pang
kalian yang telah bersahabat selama beratus tahun dengan
Siau-lim-si kami. Nah, wahai para kawan yang hadir di sini,
oleh karena terpaksa, tiada jalan lain lagi terpaksa kulayani
tantangan Ong-pangcu."
"Ya, kami menyaksikan Siau-lilm-si bukan pihak yang
salah," seru para ksatria.
Dalam pada itu Goan-ci sudah tidak sabar lagi karena
menguatirkan keselamatan A Ci yang masih berada dalam
genggaman Ting-lokoai itu. Segera ia berteriak, "Sudahlah,
tidak perlu banyak cingcong, silakan maju!"
Dasar Goan-ci memang bukan anak baik-baik, pada waktu
kecilnya kurang didikan dan sangat nakal, sesudah besar
bergaul pula dengan A Ci yang jahil itu, maka sedikit-banyak
ia telah ketularan sifat-sifat yang tidak baik, kepandaian yang
dipelajari juga ilmu keji dari golongan Sing-siok-pai. Karena itu
sekarang ia berubah menjadi orang yang tidak kenal kebaikan
dan jahat lagi.
Begitulah maka Hian-cu menanggapi pula, Siancai! Kata-
kata Ong pangcu ini sungguh sangat tidak sesuai dengan
nama Kai-ping yang tersemat selama beratus tahun ini."
"Mau bertempur ayolah lekas bertempur, kalau tidak, boleh
mundur saja!" seru Goan-ci sambil mendesak maju. Sembari
bicara ia pun melirik kearah Ting Jun-jiu yang masih
mencengkeram A Ci itu, rasanya benar-benar tidak sabar lagi.
"Baiklah, kalau begitu biarlah kubelajar kenal dengan Ong-
pangcu punya Hang-liong-sip-pat-Ciang (delapan belas jurus
pukulan penakluk naga) dan Pak-kau-pang-hoat (ilmu pentung
penggebuk anjing), supaya para ksatria yang hadir dapat
kenal betapa hebatnya kepandaian Kai-pang yang kesohor
itu," kata Hian-cu sambil bersiap-siap.
Goan-ci tampak melengok dan menyurut mundur malah.
Sebab walaupun dia telah menjadi Pangcu, tapi Hang-liong-
sip-pat-ciang dan Pak-kau-pang-hoat yang dikatakan itu boleh
dikatakan sejurus pun tidak bisa. Ia pernah dengar bahwa
kedua macan kungfu itu biasanya mesti diajarkan oleh Pangcu
lama kepada Pangcu baru, maka kedua macam ilmu itu
disebut "Tin-pang-sin-kang" (ilmu sakti pemimpin). Terkadang
Hang-liong-sip-pat-Ciang itu juga diajarkan kepada anggota
biasa, sebaliknya Pak-kau pang-hoat hanya diajarkan kepada
Pangcu saja. Boleh dikatakan setiap Pangcu Kai-pang selama
beratus tahun ini tiada satu pun yang tidak mahir dua macam
kepandaian itu. Sekarang Goan-ci disuruh untuk mengunakan
kedua macam ilmu silat yang tak dipahaminya, sudah tentu la
merasa serba susah.
Melihat sikap Goan-ci itu, segera Hian-cu menambahi lagi,
"Aku adalah ketua Siau-lim-si dan tentu akan menggunakan
kepandaian utama golongan kami seperti Kim-kong-pan-yak-
ciang untuk coba-coba dengan Hang-liong-sip-pat-ciang kalian
dan Hok-mo-siang-thong untuk melawan Pak kau pang-hoat
Ong-pangcu. Cuma, ai sungguh sangat disayangkan, selama
ini di antara dua golongan kita hanya saling tukar pikiran saja
dan selamanya tidak pernah digunakan untuk saling gebrak.
Tapi sekarang terpaksa mesti kulayani Ong-pangcu, sungguh
menyesal sekali."
Para ksatria merasa kagum dan hormat terhadap ucapan
Hian-cu yang luhur budi itu. Segera tampak jubah Hian-cu
mulai bergoyang, kedua tangannya terangkap di depan dada,
lalu didorong maju pelahan itulah salam pembukaan ilmu
pukulan Pan-yak-ciang.
Goan-ci juga tidak banyak omong segera telapak tangan
kirinya menghantam, menyusul tangan kanan juga memotong
ke depan dengan cepat sekali. Tenaga pukulan yang susul
menyusul itu memang sangat hebat dan aneh. Maka
terdengarlah suara beradunya tenaga pukulan, menyusul
terdengar suara "brat-bret" dua kali tahu-tahu kedua ujung
ikat pinggang Hian-cu terputus dan melayang ke kanan-kiri.
Kiranya tanaga pukulan kedua tangan Goan-ci itu
mencakup lingkaran yang sangat luas ketika tenaga
pukulannya sebagian dipatahkan oleh pukulan Hian-cu, maka
ujung kain ikal pinggang Hian cu yang berkibaran itu terkupas
putus oleh tenaga pukulan Goan-ci yang menyambar lewat ke
samping itu.
Menyaksikan gebrakan itu, terentak pula ksatria dan padri
Siau-lim-si lama berteriak-teriak, “ini kan kepandaian jahat
Sing-siok-pai dan bukan Heng liong-sip-pat-ciang!"
“Ya, itu bukan kepandaian asli Kai-pang!”
Bahkan di antara anggota Kai-pang juga ada yang
berteriak, "Kita bertanding dengan Siau-lim-pai, maka kita
tidak boleh memakai ilmu jahat golongan lain! Benar, harus
menggunakan Heng-liong-sip-pat-ciang! Kenapa memakai ilmu
jahat golongan lain, membikin malu Kai-pang saja!"
Gebrakan pertama itu sebenarnya Goan-ci lebih unggul,
tapi demi mendengar teriakan-teriakan itu. ia menjadi ragu
sehingga jurus kedua tak bisa dilancarkan lagi. Sebaliknya
orang 'Sing-siok-pai lantas berseru, "Nah, sudah terang ilmu
sakti Sing-siok-pai jauh lebih hebat, buat apa mesti memakai
Heng-liong-sip-pat-ciang apa segala yang tak berguna!"
"Ayo, Ong-suheng, maju dan labrak lagi, bikin keok dia!"
Seketika suara sanjung puji "Sing-siok losian maha sakti”
lantas bergema pula.
Di tengah suara riuh ramai itu sekonyong-konyong dari
bawah gunung berkumandang suara seorang yang keras dan
lantang, "Siapa bilang ilmu silat Sing-siok-pai jauh lebih hebat
daripada Hang-liong-sip-pat-ciang?"
Begitu lantang dan nyaring suara itu sehingga suara ribut
orang banyak tersirap seketika. Dengan terkejut semua orang
sama tutup mulut. Maka terdengarlah suara derapan kuda
yang ramai, belasan penunggang kuda secepat angin telah
menerjang tiba.
Penunggang-penunggang kuda itu seluruhnya memakai
mantel sutra merah, orangnya gagah dan kudanya tangkas,
semua kuda pilihan berwarna hitam mulus. Sesudah dekat,
pandangan semua orang merasa silau. Ternyata tapal kuda itu
semuanya terbuat dari emas.
Jumlah penunggang kuda itu seluruhnya 19 orang. Meski
tidak banyak, tapi pembawa mereka melebihi suatu bárisan
besar.
Sesudah dekat, 18 penunggang kuda itu lantas memisah
kedua sisi, tinggal penunggang kuda yang paling belakang
masuk terus menyusur maju dengan cepat.
Melihat penunggang kuda itu, serentak orang-orang Kai-
pang berteriak-teriak, "Siau-pangcu!, Siau-pangcu!"
Menyusul sebagian besar di antara mereka lantas
merubung maju untuk memberi hormat.
Kiranya panunggang kuda ini memang benar adalah Siau-
hong. Sama sekali tak terduga olehnya bahwa meski dia sudah
dipecat tapi sekarang masih ada anggota Kai-pang sebanyak
ini yang menyembah padanya. Saking terharunya sampai tak
tertahan mengambang air matanya, cepat ia melompat turun
dari kudanya dan balas menghormat.
Segera katanya, “Orang Cidan Siau Hong telah dipecat dan
sudah tiada hubungan lagi dengan Kai-pang mana boleh para
saudara tetap menyapa dengan sebutan lama? Selama
berpisah tentu saudara baik-baik saja bukan?”
Jilid ke-73
Anggota-anggota Kai-pang yang memberi hormat itu
sebagian besar adalah murid berkantung tiga dan empat yang
masih muda dan berjiwa lebih dinamis apa yang mereka
pikirkan segera dilaksanakan. Karena mereka masih sangat
menjunjung pribadi Siau Hong yang luhur budi dan gagah
perwira itu maka begitu bertemu serentak mereka tetap
memanggilnya sebagai "Kiau-pangcu”, mereka lupa bahwa
"Kiau-pangcu" itu sudah dipecat bahkan adalah bangsa Cidan
yang merupakan musuh besar mereka.
Karena jawaban Siau Hong itu, segera ada sebagian yang
menunduk kepala dan mengundurkan diri, tapi masih tetap
ada sebagian yang berkata pula. "Engkau juga baik-baik, Kiau
. . . Kiau . . . . Selama berpisah ini sungguh kami selalu
terkenang Padamu!"
Kedatangan Siau Hong ke Tionggoan ini memang
disengaja, pengiring-pengiringnya itu adalah “18 ksatria
penunggang kuda” yang merupakan jago pilihan bangsa
Cidan. Dahulu Siau Hong hampir mati dikeroyok orang banyak
di Cip-hian-ceng, untung dia ditolong oleh seorang ksatria
berbaju hitam. Hal ini menandakan bahwa betapa pun tinggi
ilmu silatnya juga susah melawan orang banyak yang
berjumlah ratusan. Tapi sekarang ia membawa 18 jago,
apalagi kuda tunggangan mereka juga kuda pilihan, bila perlu
mereka tidak sulit melarikan diri dengan mencamplok kuda.
Ketika masih di bawah gunung tadi Siau Hong sudah
mendengar teriakan orang sing-siok-pai yang membual bahwa
ilmu sakti Sing-siok-pai jauh lebih hebat dari pada Hang-liong-
sip-pat-ciang hal ini membuatnya marah sekali. Mesti bukan
anggota kai-pang lagi, tapi ia tidak terima kalau Hang-liong-
sip-pat-ciang yang lihai itu dihina orang. Bahkan sekilas iapun
melihat Ting jun-jiu menawan seorang dara cilik berbaju ungu
yang segera dikenalnya sebagai a Ci.
Kedatangannya di Tiongoan ini antara lain juga hendak
mencari A Ci. Sekarang melihat anak dara itu ditawan orang,
seketika teringat olehnya pesan terakhir A Cu yang minta dia
menjaga baik-baik adik perempuannya itu. Tanpa piker lagi
segera ia mendekati Ting-lokoai sekali tangan kirinya
terangkat, kontan ia hantam kedepan dengan gerakan ''Gang-
liong-yu-hwe", salah satu jurus Hang-liong-sip-pat-ciang yang
ampuh.
Waktu Siau hong menyerang, jaraknya dengan Ting Jun-jui
masih belasan meter jauhnya, tapi karena datangnya terlalu
cepat sehingga dimana tenaga pukulannya sampai tahu-tahu
jarak mereka hanya tinggal beberapa meter saja.
Ting-lokoai juga sudah kenal nama “Lam Buyung dan Pak
Kiau Hong” yang tersohor, maka dia pun tidak berani
memandang enteng lawan. Ketika melihat Siau Hong mulai
menyerang dari jauh, sekali-kali tak terduga olehnya bahwa
dirinya yang dijadikan sasaran, apalagi menyusul Siau Hong
juga melesat maju dan kembali menyerang dengan jurus
kedua "Gang liong-yu hwe" di lancarkan,jadi tenaga pukulan
pertama didorong oleh tenaga pukulan kedua, karuan
bagaikan gugur gunung dahsyatnya.
Hanya sekejap saja Ting-lokoai merasa, dadanya sesak,
napas susah, tenaga pukulan lawan sungguh bagai air bah
yang melanda dan tak terbendungkan seakañ-akan dirinya
dan A Ci akan tenggelam di tengah gelombang tenaga itu.
Dalam kagetnya Ting-lokoai tidak sempat memikirkan cara
paling sempurna untuk melayani serangan itu. Tapi ia tahu
kalau menangkís dengan sebelah tangan saja tentu bukan
mustahil tangan sendiri akan patah boleh jadi otot tulang
seluruh badan akan tergetar remuk. Sementara itu pukulan
lawan yang dahsyat sudah tiba dalam keadaan genting ia
terpaksa ia melemparkan A Ci ke atas, berbareng kedua
tangannya terus bergerak untuk berjaga di depan dada,
sedangkan ujung kakinya menutuk pelahan dan melompat
mundur.
T¡ba-tiba Siau Hong menyusul serangan "Gang-liong-yu-
hwe” yang ketiga belum lenyap tenaga pukulan yang lebih
dahulu, segera tenaga pukulan lain sudah membanjir lagi.
Lokoai tidak berani menangkisnya dengan keras lawan
keras, ia miringkan pukulannya sehingga kedua tenaga
pukulan Cuma saling senggol saja. namun begitu Lokoaí
merasa lengannya linu pegal dan napas sesak, capat ía
melompat mundur düa-tiga meter jauhnya sambil
mengerahkan hawa berbisa di tangannya untuk berjaga jaga
kalau lawan mendesak maju.
Namun dengan pelahan Siau Hong tangkap dulu A Ci yang
sementara itu baru jatuh dari udara sekalian ia membuka hiat-
to si nona yang tertutuk tadi.
Sejak A Ci ditawan Ting Jun-jiu, walaupun matanya tak
bisa melihat dàn mulut tak dapat bicara, namun segala apa
yang terjadi di sekelilingnya dapat didengarnya dengan jelas,
Maka begitu hiat to terbuka, dengan girang segera ia berseru,
"Cihu yang baik, banyak terima kasih atas pertolonganmu!”
Bila teringat anak dara Itu mengeluyur pergi tanpa pamit
sehingga dirinya dibikin kelabakan mencarinya, sungguh anak
dara yang terlalu nakal, maka Siau Hong menjadi gregatan,
"plok", ia gaplok sekali pantat anak dara itu sambil mengomel,
“kenapa kaupergi tanpa bilang bilang padaku snggaeh aku
bingung mencarimu ke mana-mana?"
Keruan A Ci kesakitan dan berkeok-keok “Aduh cihu busuk,
kenapa engkau memukul orang?”
"Biar, aku justru ingin menghajarmu budak nakal ini!" kata
Siau Hong.
Ketika A Ci berpaling dan sekilas dilihatnya kedua bola
mata anak dara Itu buram tak bersinar terang sudah buta,
sungguh kaget Siau Hong tak terhingga serunya, "Hei kau . . .
matamu kenapa?”
"Tidak apa-apa, biar kenapa kaupusing?" sahut A Ci
dengan uring-uringan.
Dengan munculnya Siau Hong tadi, para ksatria Tionggoan
menjadi panik bila teringat pada kejadian di Cip-hian-ceng
dahulu di mana berpuluh kawan mereka telah dibinasakan
Siau Hong. Mereka menduga sebentar tentu sukar terhindar
pertempuran mati-matian pula. Kemudian ketika mereka
menyaksikan dengan sekali-dua gebrak saja Siau Hong telah
mengalahkan Sing-siok- Lokoai yang malang melintang, tadi
seketika mereka saling pandang dengan kagum dan kuatir
pula. Sebaliknya ada sebagian anggota Sing siok-pai yang
tidak kenal malu masih berani mencaci-maki Siau Hong dan
ada yang menyanjung puji lokoai.
Di sebelah lain Goan-ci merasa jeri juga dengan datangnya
Siau Hong, ketika dilihatnya A Ci digaplok dan diomeli Síau
Hong, ia menjadi tidak tahan dan segera melompat maju serta
berkata, "Lekas lepaskan nona A Ci."
"Síapa kau?" tanya Siau hong sambil menurunkan A Ci
ketanah.
Dahulu Goan-ci sering bertemu dengan Siau Hong ketika
berada di negeri Liam, tapi sekarang muka Goan-ci sudah
berubah sama sekali, kedudukannya juga sudah lain, sudah
tentu Goan-cí tidak perlu takut lagi padanya. Namun
permbawa Siau Hong sebagai "Lam-ih Tai-ong" terlalu berakar
dalam lubuk hatí Goan ci, apalagi Siau Hong telah
menyelamatkan A Ci dengan gagah perkasa, budi kebaikan ini
bagi Goan-ci melampaui dendam terbunuhnya orang tua.
Karenai ítu Goan-ci menjadi kalah pembawa lebih dulu dan
menjawab dengan tetgagap, "Aku adalah . . . adalah Ciangbun
Kek-lok-pai, Kai-pang Pangcu Ong .... Ong Sing Thian.” tapi di
antara anggota Kai-pang sagera ada orang berteriak, "Kamu
südah mengangkat guru pada Sing-siok Lokoai, mana boleh
mengaku sebagai Pangcu lagi!"
“Akulah Ciangbun Slng-siok-pai yang sesungguhnya," kata
A Ci. "Ong-pangcu tadi cuma menjura kepada Sing-siok Lokoai
dengan 'Kap-tan-hoa-Hiat kang (ilmu meluluhkan darah
musuh dengan menjura), apakah kalian sangka dia sungguh-
sungguh ingin menjadi murid Lokoai? Justru Lokoai yang telah
diselomoti, tidak lebih dari tiga hari seluruh badan Ting-lokoal
akan hancur luluh menjadi darah. Kalau kalian tidak percaya
boleh lihat saja nanti!"
Dasar memang jebolan murid Sing-siok pai, kepandaian A
Ci dalam hal membual dan membohong dengan sendirinya
sangat pintar. Maka orang orang Kai pang menjadi ragu
mereka tahu Sing-siok-pai memang memiliki macam-macam
ilmu jahat dan berbisa, apa yang dikatakan A Ci memang
bukan mustahil.
Sebaliknya Siau Hong tahu A Ci sengaja ngaco-belo lagi,
sekilas ia lihat Toan Cing-sun dan Wi Sing tiok juga berada di
situ, ia menjadi girang dan segera berseru, "Kiranya Tin lam
ong juga berada di sini biarlah putrimu ini kuserahtkan kepada
kalian untuk diberi pendidikan sebaik-biaknya."
Lalu ia gandeng tangan A Ci ke arah Toan Cing-sun,
pelaban ia dorong anak dara itu ke depan dan segera
dirangkul oleh Wi Sing tiok dengan air mata berlinang linang.
“O, anakku, ken . . . kenapa keduá matamu ini?” tanya
Sing-tiok dengan menangis.
Sebaliknya A Cì tiada mempunyai rasa kasih sayang
kepada ayah bundanya, maklum sejak kecil ia tidak pernah
merasakan kasih saying orang tua. Dasar wataknya tidak mau
kalah, maka ia pun tidak mau mengakü kedua matanya ítu
díbutakan oleh Ting jun-jiu, dengan suara keras ia menjawab,
“ aku sendiri sengaja membutakan mataku karena aku sedang
melatih semacam ilmu gaib Sing-siok-pai Ting-lokoai sendiri
pun tidak mampu melatih ilmu ini.”
Dalam pada ítu Toan Ki juga sangat girang atas munculnya
Síau Hong, cumu dia belum sempat menyapa sang Toako
karena Siau Hong lagi melabrak Ting Jun jiu, Ia heran ketika
mengetahuí bahwa nona buta itu oleh Siau Hong dikatakan
sebagai putri ayahnya. Tapi la pun tahu sifat sang ayah yang
romantis, segera ia dapat menduga hubungan ayahnya
dengan Wi Sing-tiok.
Sesudah A Ci diserahkan kepada orang tuanya oleh Siau
Hong, segera Toan Ki tampil kemuka dan berseru. “Toako,
bàik-baikkah selama berpisah sungguh sangat merindukan
adikmu ini?”
Sejak Siau Hoing angkat saudara dengan Toan Ki,
walaupun singkat sekali waktu berkumpul mereka, tapi Siau
Hong tetap sangat simpati dan suka sekali kepada Toan Ki,
segera ia pegang kedua tangan adïk angkat îtu dan
menjawab, “banyak sekàli kejadian sesudah berpisah dan
susah diceritakan dalam sekejap untung kita sama-sama
dalam keadaan baik-baik semua."
Belum lagi mereka sempat bicara lebîh banyak tiba-riba
terdengar teriakan orang banyak yang mencaci-maki Siau
Hong, "Hai, orang she Kiau, kamu telah membunuh saudaraku
sakit hati itu belum terbalas, biarlah hari ini aku mengadu jiwa
denganmu!”
"Ya, Kiau Hong adalah anjing Cidan yang harus kita bunuh
bersama, hari inl tidak boleh lagi dià lolos dari Siau-sit-sian
ini!"
Menyusul banyak lagi caci-maki yang menuduh Siau Hong
membunuh ayah atau putranya, semua ingin memuntut balas
atas korban yang dahulu pernah dibunuh oleh Siau Hong di
Cip-bian-ceng.
Makin lama makin banyak yang mendamprat dan memakì,
bukan mustahil dalam sekejap lagì akan terjadi pertempuran
ramai pula. Sebaliknya rombongan Siau Hong hanya 18 orang
saja ia pun bermusuhan dengan Kai-pang, Siau-lim-pai dan
Sing siok-pai, kalau sampai terjadi pertempuran itu berarti
Siau Hong ber-l8 orang harus menandingi seribu orang pasti
sukar baginya untuk meloloskan diri.
Namun Siau hong tidak gentar, dengan suara lantang ia
berseru. “Kedatangan Siau Hong ini mestinya ada suatu
urusan dengan Siau-lim-si jika kalian ingin membunuh orang
she Siau ini, apa kalian mampu atau tidak boleh dicoba nanti,
tapi saat ini aku belum sempat melayani kalian.
Dalam keadaan rebut sudah tentu para ksatria Tionggoan
itu tidak mau menunggu iagi, segera ada beberapa orang
yang kasar melontarkan caci maki yang kotor dan keji. Dan
karena hasutan dan bermain-main mereka lantas merubung
maju hendak mengerubut.
Sebelumnya Siau Hong tidak menduga bahwa dì Siau sit-
san telah berkumpul musuh sebanyak itu, sskarang sudah
tentu ia pun pantang mundur, Tapi ia lihat para ksatra itu
kebanyakan adalah kawan lama, ia kenal mereka sebagai
ksatria yang gagah perwira, sebabnya mereka memusuhi
dirinya adalah lantaran dia di anggap bangsa Cidan, pula ada
orang sengaja menghasut dan mengadu-domba sehingga
terjadi salah paham pembunuh yang pernah terjadi di Cip-hia-
ciang itu sesungguhnya bukan maksud hatinya kalau hari ini
terjadi pertarungan sengit pula susah memperoleh
kemenangan, andaikan dirinya dapat eloloskan diri, tapi
ksatria-ksatria yang dia bawa serta itu pasti sulit lolos.
Sebaliknya kalau para ksatria Tionggoan itu terbunuh lebih
banyak, hal ini berarti memperdalam permusuhan dan makin
menyakitkan hati, lalu apa gunanya semua ini?
Karena pikiran itu, segera Siau Hong mengambil
keputusan, "Di depan orang sebanyak ini terpaksa urusan
yang hendak kutanyakan kepada Siau-Lim-si harus ditunda
dulu dan sementara ini lebih baik aku menghindarkan diri saja
supaya tidak terjadi banjir darah lagi. Bila keadaan di sini
sudah tenang kembali barulah aku akan dtang ke sini pula."
Sesudah mengambil keputusan itu, segera ia berkata
kepada Toan Ki, "Adik yang baik, adaan sekarang sangat
gawat dan susah bagi kita untuk bicara, sementara ini adik
boleh menyingkir dahulu, tempo masih banyak, biarlah kita
bertemu lagi lain hari."
Maksud tujuan Siau Hong adalah minta Toan Ki menyingkir
ke samping agar sebentar bila musuh menerjang ke bawah
gunung Toan Ki takkan ikut terbawa bawa di tengah
pertempuran.
Tapi biarpun Toan Ki tidak mahir ilmu namun wataknya
sangat gagab berani. Ia lihat ksatria yang berjumlah ribuan
orang itu hendak membunuh kakak angkatnya, tanpa terasa
timbul rasa keadilannya, dengan suara keras ia berteriak,
“Toako, pada waktu kita mengangkat saudara apa yang telah
kita ucapkan? Bakankah kita telah bersumpah ada rejeki
dibagi bersama, ada kesukaran dipikul berbareng. Kita tidak
dilahirkan pada hari dan Waktu yang sama, tapi rela mati pada
hari dan waktu yang sama. Hari ini Toako menghadapi
kesukaran manakah adik harus berpeluk tangan dan takut
mati!”
Dahulu dalam setiap kali terancam selalu Toan Ki dapat
menyelamatkan diri dengan langkah aJaib leng Po-wi-poh.
Tapi sekarang ia sama sekali tidak memikirkan atau
menyelamatkan diri, semakin berbahaya keadaannya semakin
teguh tekatnya gugur bersama Siau Hong untuk memenuhi
kéwajibannya sebagai saudara angkat yang sehidup semati.
Hampir seluruh ksatria Tionggoan itu tidak kenal macam
apakah tokoh Toan Ki itu, tapi melihat dia mengaku sebagai
saudara angkat Siau Hong dan bertekat membantunya, sudah
tentu tiada seorang pun yang jeri pada pemuda yang muda
belia dan lemah itu.
Maka Siau Hong berkata pula,'"Adikku yang baik, sungguh
aku sangat berterima kasih pada maksudmu yang luhur ini.
Tapi rasanya tidaklah gampang bila mereka ingin membunuh
aku. Maka lebih baik lekas engkau menyingkir saja agar aku
nanti tidak menguatirkan keselamatanmu sehingga tidak
leluasa melabrak musuh."
“Engkau tidak perlu menguatirkan diriku.” sàhut Toan Ki,
"Aku toh tiada punya permusuhan apa-apa dengan mereka
membunuhku?“
Siau Hong menjadi serba salah menghadapi saudara
angkat yang polos itu, pikirnya dengan rasa pilu, “Jika di dunia
ini orang mau bicara tentang permusuhan atau tidak, tentu
dunia ini akan aman tentram dan tiada percekcokan.“
Dalam pada itu di sebelah sana Toan Cing-sun juga sedang
pesan kepada Hoan Hua dan lain-lain agar sebentar bila Siau
Hong terancam bahaya, mereka harus menyelamatkan
secepat mungkin untuk membalas budi pertolongan Siau Hong
dahulu. Sudah tentu Hoan Hun dm lain-lain mengiakan dan
siap siaga menghadapi segala kemungkinan.
Di pihak lain Buyung Hok juga lagi berunding dengan
kawan-kawannya, Sebenarnya Kongya Kian sangat kagum
sekali kepada pribadi Siau Hong sejak perkenalannya waktu
berlomba minum arak dahulu, maka ia menganjurkan
memberi bantuan kepada Siau Hong. Begitu pula Pau-Put tong
dan Hong Po-ok juga sangat kagum terhadap Siau Hong,
maka mereka pun menyetujui usul Kongya Kian.
Sebaliknya Buyung Hok sendiri berpendapat lain, katanya,
"Saudara-saudara sekalian, kita harus mengutamakan
pembangunan kerajaan Yan Raya kita sebagai tugas utama
dan jangan tertarik kepada Siau hong seorang dan harus
bermusuhan ksatria sejagat."
"Ucapan Kongcu memang benar," kata Ting Pek-jwan.
"Dan cara bagaimana kita harus bertindak?"
"Kita harus menarik simpati orang banyak agar berfaedah
bagi pergerakan kita kelak," kata Buyung Hok, Habis itu,
mendadak ia bersuit keras dan tampil ke muka, serunya
dengan lantang, "Siau-heng, engkau adalah ksatria Cidan dan
terlalu memandang enteng kapada para ksatria Tionggoan
kami, maka hari ini biarlah orang she Buyung dari Koh-soh
belajar kenal dulu dengan kepandaianmu. Kalau aku harus
mati di bawah tangan Siau-hong juga cukup berharga, paling
dikit aku telah berjuang bagi sesama kawan ksatria
Tionggoan. Nah, silakan Siau-heng mulai.''
Ucapan Buyung Hok ini sesungguhnya segaja
diperdengarkan kepada ksatria Tionggoan, Sebab dengan
demikian biarpun nanti kalah atau menang tentu para ksatria
akan memandang Buyung Hok sebagai kawan sehidup semati
mareka.
Benar juga, demi mendangar kata-kata Buyung Hok ítu,
serentak bergemuruhlah suara sorai puji orang banyak.
Maklum, meski mereka ada maksud hendak mengerubut Siau
Hong, tapi sejak tadi tiada seorang pun berani bertindak lebih
dulu, mereka kenal betapa lihainya Siau Hong, sekali sudah
bergebrak, maka beberapa orang yang maju lebih dulu dapat
dipastikan akan binasa oleh pukulan bekas Pangcu Kai-pang
itu. Sekarang tiba-tiba Buyung Hok tampìl ke muka lebih dulu,
keruan mereka sangat senang dan bersemangat.
Nama "Pak Kiau Hong dan Lam Buyüng juga sudah lama
didengar Siau Hong sendiri, ia tahu ilmu silat keluarga Buyung
tentu bukan main hebatnya, Sekarang keluarga Buyung
menantangnya, tentu saja Siau Hong terperanjat, Walaupun
tidak gentar, tapi ia menduga pasti akan menjadi pertarungan
sengit.
Segera ia pun memberi salam dan menjawab "Sudah lama
kudengar nama Buyung-kongcu yang tersohor, sungguh
sangat beruntung hari ini dapat berkenalan di sini."
"Buyung-heng, dalam hal ini terang kaulah yang salah!"
tiba-tiba Toan Ki berseru "Siau-toako sendiri baru sekarang
kenal dirimu dan selama ini kalian tiada permusuhan apa-apa,
mengapa engkau sengaja ikut memusuhi Toako tatkala ia
harus menghadapi musuh sebanyak ini.“
"Wah, rupanya Toan heng hendak menjadi ksatria pembela
keadilan ya? Jika perlu, ayo boleh maju sekalian!" demikian
sahut Buyung hok degan mengejek. Memangnya dia sudah
merasa sirik karena Toan Ki selalu merecoki Giok-yan maka
sekarang rasa dongkolnya telah dilampiaskan sekalian.
Tapi Toan Ki menjawab, "Kepandaian apa yang dapat
menandingimu? Akú hanya bicara secara adik saja."
Dalam pada itu Ting Jun-jiu yang dihantam mundur olah
Siau Hong tadi telah maju kembali. la mengakak tawa dan
berkata, "Orang she Siau kulihat engkau masih terlalu muda,
maka tadi aku mengalah tiga Jurus padamu, tapi jurus
keempat ini aku tak dapat mengalah lagi."
Juga Goan-Ci lantas melangkah maju, katanya kepada Siau
Hong, "Aku Ong Sing-thian mengucapkan terima kasih
padamu karena engkau telah menyelamatkan nona A Ci.
Tetapi sakit hati pembunuhan orang tua sedalam lautan, hari
ini jangan kauharap dapat lolos dengan hidup dari sini orang
she Siau!"
Sementara itu Hian-seng Taisu dari Siau-lim-pai diam-diam
juga telah memberi perintah agar lo-han-tui-tín siap siaga dan
menjaga jalan penting dengan kuat agar Siau Hóng tidak
dapat lolos.
Melihat tiga tokoh terkemuka telah mengepung dirinya,
begitu pula para padri Siau-lim-pai tampak berjaga-jaga
dengan rapat keadaan íní terang jauh lebih berbahaya
daripada pertempuran di Cap-hian-ceng dahulu. Dan sebelum
Siau Hong dapat mengambil tindakan apa-apa, mendadak
terdengar suara kuda meringkik ngeri, 19 ekor kuda bagus
tunggangan mereka tahu-tahü telah roboh semua dengan
mulut berbuih dan binasa.
Karuan Siau Hong kaget, Sedangkan ke-18 ksatria Cidan
tampak membentak-bentak dan lantas menyerang sehingga
dalam sekejap saja belasan orang Sing-siok-pai telah
terbunuh, selebihnya lantas ngacir menggabungkan diri
dengan kawan-kawannya.
Kiranya pada waktu ting jun-jiu maju menantang Siau
Hong lagi, maka anak buahnya juga lantas bertindak dengan
membunuh kuda tunggangan Siau Hong dan kawan-kawannya
dengan menggunakan racun. Dengan demikian Siau hong
dipaksa menghadapi jalan buntu karena tak bisa kabur dengan
menunggang kuda lagi.
Melihat kuda kesayangannya mati secara menggenaskan di
tangan kawanan pengecut itu, seketika darah panas Siau
Hong bergolak dan timbul seketika jiwa ksatrianya dengan
bersuit panjang ia berkata, "Buyung-heng, Ong-pangcu, Ting-
lokoai. ayolah kalian maju sekaligus saja, masakah orang she
Siau ini gentar padamu!"
Karena dia gemas kepada orang-orang Sing-siok-pai yang
keji itu, kontan pukulan pertama ia keluarkan ke arah Ting
Jun-jiu.
Ting-lokoai sudah kenal betapa lihainya Siau Hong, cepat
ia keluarkan kedua tangannya untuk menangkis dengan
sekuatnya.
Tapi Siau Hong sekalian menggeser tenaga pukulan kedua
orang dan memotong miring ke jurusan Buyung Hök.
Kepandaian Buyung Hok yang paling hebat adalah
memutar balikkan serangan musuh untuk menyerang kembali
kepada musuh. Tapi sekarang pukulan Siau Hong membawa
tenaga dua orang yang maha dahsyat, pula datangnya miring
dari samping sehingga entah tempat mana yang diincar,
Buyung Hok menjadi susah untuk menghadapi serangan ini,
terpaksa ia kerahkan segenap tenaga, kedua tangan memapak
ke depan dan berbareng ia pun melompat mundur dua-tiga
meter jauhnya.
Sedikit Siau Hong mengegos sehingga pukulan Buyung
Hok terhindar, mendadak ia menggertak dengan suara
menggeledek, kepalan menjotos lurus ke depan pada Goan ci.
Karena perawakan Siau Hong tinggi besar sehingga hampir
lebih tinggi satu kepala daripada Goan-ci, maka jotosan itu
jadi mengarah muka Goan-ci.
Memangnya Goan-ci sudah jeri menghadapi Siau Hong, ia
menjadi kaget pula ketika mendengar suara gertakannya.
Apalagi serangan Siau Hong itu datangnya mendadak,
sebelumnya ia baru menghantam Ting Jun-Jiu dan Buyung
Hok, tahu-tahu menjotos pula ke arah Goan-ci, tiga kali
serangan itu boleh dikata suatu rangkaian secepat kilat.
Dalam gugupnya segera Goan-ci hendak menangkis,
namun tenaga pukulan lawan terang sudah mendekati
mukanya. Untung dia telah berlatih ilmu ih-kin-keng sehingga
iwekangnya juga banyak bertambah, secara otomatis timbul
daya tolak dari badánnya dan cepat ia mendongakkan
kepalanya ke belakang sambil berjumpalitan püla dengan
demikian kepalanya nyaris háncür oleh pukulan Siau Hong
yang dahsyat itu.
Namun begitu lantas terdengar suara seruan heran para
penonton. Goan-ci merasa mukanya silir dingin tahu-tahu kain
kedoknya sudah hancur menjadi kain kecil-kecil dan
bertebaran bagai Kupu-kupu. Ternyata luput mukanya dari
serangan itu, tapi tidak luput kain kedoknya yang tergetar
hancur oleh tenaga pukulan Siau Hong. Dan ketika melihat
muka pemuda yang mengaku sebagai Ciangbunjin Kok-lok-pai
dan Pangcu Kai pang ítu tak karüan macamnya karena bekas
luka tampaknya sangat seram dan menakutkan, maka muka
mereka sama berseru kaget.
Dengan sekaligus Siau Hong mendesak mundur tiga jago
kelas satù di jaman ini, semangatnya seketika berkobar-kobar
lebih hebat, teriaknya, "Mana arak!"
Segera seorang ksatria Cídan mengiakan dan
menanggalkan sebuah kantung kulit yang menggablok di atas
kuda mati dan berlari-lari mendekati Siau Hong serta
menghaturkan dengan hormat.
Siau Hong copot sumbat kantung kulit itu, ia angkat
kantung itu tinggi-tinggi ke atas, maka tertüanglah arak putih
yang harum. Sambil mendongak, Siau Hong menenggak arak
itu.
Arak yang terisi dalam kantong kulit itu sedikitnya ada 20
kati, tapi Síau Hong terus menenggak tanpa berhenti sehingga
arak seisi kantung terhabis sama sekali. Kelihatan perut Siau
Hong sedíkít kembung, tapi air mukanya tetap biasa saja
tanpa mabük sedikit pun.
Di tengah kejut para penonton, tiba-tiba Siau Hong
memberi tanda pula dan ke 17 ksatria Cidan yang lain masing-
masing juga membawakan pula satu kantung arak.
"Saudara-saudara, Toan-Kongcu ini adalah adik angkatku,"
kata Siau Hong kepada ksatria-ksatria Cidan itu. "Hari ini kita
telah terkepung di tengah musuh, kita hanya berjumlah
belasan orang saja, tentu susah meloloskan diri."
Sampai disini segera ia, menarik tangan Toan Ki dan
berkata pula, "Adikku yang baik, kau bersedia sehidup semati,
sungguh tidak mengecewakan sebagai saudara angkat,
apakah sebentar kita akan mati atau akan hidup biarkan saja,
sekarang kita harus minum dulu sepuas-puasnya!"
Terdorong oleh semangat jantan kakak angkat itu, tanpa
pikir Toan Ki terus terima juga sekantong arak dan menjawab,
"Benar, kita harus minum dulu!"
Dan baru Toan Ki hendak menenggak araknya, sekonyong-
konyong di tengah padri-padri Siau-lim-si telah berlari keluar
seorang, sambil berseru, "Toako dan Samte, kalian hendak
minum arak, kenapa tidak panggil juga padaku?"
Itulah dia Hi tiok.
Ia menyaksikan munculnya Siau Hong yang gagah perwira
dan membikin silau para ksatria maka diam-diam ia pun
sangat kagum. Kemudian dilihatnya Toan Ki secara konsekwen
bersedia sehidup semati dengan kakak angkat itu. Padahal
dahulu waktu dia sendiri mengangkat saudara dengan Toan Ki
di Leng-ciu-kiong, didalam upacara itu telah dimasukkan juga
Siau Hong sebagai Toako mereka. Seorang lelakì sejati harus
bisa pegang, janji dan berani menghadapi segala
kemungkinan apalagi dilihatnya Siau Hong dan Toan Ki yang
bersikap gagah perkasa dihadapan musuh banyak itu, seketika
timbul juga semangat ksatria Hi tiok, ia tidak pikirkan
keselamatan sendiri dan tentang peratüran-peratiran agama
apa segala dan segera tampil kemuka.
Siau Hong belum kenal Hi tìok, maka ia menjadi tertegun
heran ketika Hi tiok memanggìlnya Sebagai Toako. Sebaliknya
Toan Ki lantas memapak maju dan memegang tangan Hi-tiok!,
lalu dìbawanya kehadapan Siau Hong dan berkata, "Toako, dia
juga kakak angkatku. Waktu menjadi hwesio gelarnya adalah
Hi-tiok dan sekarang telah ganti nama menjadì Hi tiok cu. Di
waktu kamì mengangkat saudara, maka Toako juga telah kami
masukkan didalam hitungan. Nah, Jiko lekas kau memberi
hormat kepada Toako!"
Segera Hi-tiok berlutut dan memberi hormat katanya.
"Toako, terimalah salam hormat siaute!"
Siau Hong tersenyum. Dìam-diam ia merasa Toan Ki
benar-benar agak dogol, dia mengangkat saudara dengan
orang masa juga mengikut sertakan sang Toako. Padahal
sekarang jiwanya terancam di tengah kepungan musuh,
namun orang (Hi-tiok) ternyata tidak gentar dan berani tampil
ke muka, hal ini membuktikan dia adalah seorang jantan sejati
seorang lelaki yang setia kawan dan berbudi kalau bisa
bersaudara dengan ksatria demikian juga boleh dikatakan
suatu kehormatan besar.
Karena itu Siau Hong lantas berlutut juga dan membalas
hormat dengan kata-kata ramah tamah. Jadi mereka telah
mengulangi sumpah setia sebagai saudara angkát di depan
para ksatria sejagat.
Siau Hong tidak tahu Hi-tiok memiliki ilmu silat sakti, la
anggap saudara angkat ¡tu Cuma seorang hwesio rendahan di
Siau-lim-si, tapi berani ikut maju untuk memenuhi panggilan
persaudaraan pada saat menghadapi bahaya, kalau dia
disuruh menyingkir tentu malah akan menyinggung
perasaannya.
Maka setelah angkat kantung araknya segera Siau Hong
berkata, "Ke-dua adik yang baik, ke-18 ksatria Cidan ini adalah
kawanku yang setia, hubungan kami sehari-hari mirip saudara
sendiri, maka marilah kita minum bersama, habis itu segera
kita melabrak musuh sekuatnya."
Habis berkata, segera ia membuka sumbat kantung arak
dan menenggak seteguk, lalu diangsurkan kepada Hi-tiok.
Dengan semangat berkobar-kobar Hi-tiok juga tidak pikirkan
larangan minum arak apa segala lagi, segera ìa pun angkat
kantung arak, dan menenggak, kemudian disodorkan kepada
Toan Ki. Dan sesudah Toan Ki minum seteguk lalu ia serahkan
kepada salah seorang Cidan dan begitu seterusnya ke-18
ksatria Cidan itu pun sama-sama mengakat sekantung arak
masing-masing dan menenggaknya.
”Toako," kata Hi-Tiok kemudian kepada Siau Hong,”Sing-
siok Lokoai ini telah membinasakan Suhu dan suhengku, ia
telah membunuh pula Hian-lun dan hian-thong Susiokco dari
Siau lim-si maka sekarang aku hendak menuntut balas
padanya,"
Siau Hong menjadi heran "Kau ber....“ baru saja dia
hendak tanya, tahu-tahu kedua tangan Hi-tiok sudah bergerak
dan menghantam ke arah Ting Jun-jiu.
Melihat ilmu pukulannya sangat aneh dan sangat kuat,
Sian Hong terkejut dan girang pula, katanya di dalam hati,
"Kiranya ilmu silat jiko sedemikian lihai, sungguh aku tidak
menduga sama sekali."
"Lihat pukulan!" mendadak Siau hong juga membentak
dan berbareng kedua kepalan tangannya ke arah Buyung Hok
dan Yan Goan-ci sekaligus.
Rupanya ke-18 ksatria Cidan dapat memahami maksud
Cukong (junjungan) mereka maka tanpa disuruh lagi segera
mereka mengelilingi Toan Ki dan melindunginya.
Dalam pada itu Buyung Hok dan Goan Ci juga telah
menyambut dan menghindarkan serangan Siau Hong tadi.
Sedangkan Hi-tiok juga lagi mencecar Tìng lokoai dengan
Thian-san liok-yang-ciang yang hebat.
Meski Liok-yang-ciang itu adalah cìptaan Thian-san Tong-
lo, tapi dasarnya bersumber dari ilmu Siau-yau-pai. Maka
cuma dua-tiga gebrak saja diam-diam Ting Jun-jiu terperanjat,
ia heran mengapa hwesio cilik ini pun mahir ilmu pukulan
Siau-yau-pai?
Karena sudah pernah adu pukulan dan ke cundang di
tangan Goan-ci, sekarang melihat Hi-tiok mengeluarkan ilmu
pukulan Siau-yau-pai, maka Lòkoai tidak berani sembarangan
menggunakan pukulan barbisa lagi, sebab kuatir tak mempan
terhadap lawan, sebaliknya dirinya sendiri bisa celaka malah.
Karena itu ia ambil keputusan akan menjajaki dulu asal usul si
gundul pacul itu, kemudian baru akan menggunakan racun
bila perlu.
Ilmu silat Siau-yau pai itu mengutamakan kegesitan dan
keluwesen, sedangkan Ting-Lokoai dan Hi-tiok adalah tokoh-
tokoh terkemuka dari golongan mereka, dengan sendirinya
gaya mereka menjadi sangat indah dan cepat luar biasa.
Hampir seluruh ksatria yang hadir itu tidak pernah
menyaksikan ilmu silat golongan Siau yau-pai, maka
semuanya menjadi sangat tertarik, merekaa melihat gaya ilmu
silat Siau-yan-pai itu sangat indah bagai menari, tapi setiap
pukulan selalu mengincar tempat mematikan di tubuh lawan,
sungguh mereka belum pernah lihat dan tidak kenal apa
namanya ilmu silat semacam ini.
Disebelah sana Siau Hong sendiri lagi melawan keroyokan
Buyung Hok dan Goan-ci, untuk sepuluh jurus petama ia selalu
mencecar lawannya, tapi sesudah belasan jurus ia merasa
setiap pukulan Goan-ci penuh mengandung hawa maha
dingin. Pada saat Siau Hong lagi mengadu tenaga dengan
Buyung Hok, Goan ci juga menyerangnya, seketika ia merasa
di serang hawa dingin yang susah di tahan.
Seperti diketahui dalam badan Goan ci sudah penuh racun
dingin dari ulat sutra es, di tambah lagi mendapat pemupukan
iwekang Ih-kin-keng, maka sekarang iwekangnya yang maha
dingin itu sudah merupakan Salah satu Iwekang maha lihai di
dunia ini.
Walaupun Siau Hong sangat gagah perwira, tapi
menghadapi ilmu yang aneh dan lihai itu, mau tak mau ia
merasa susah juga melayani, apalagi kepandaian Buyung Hok
juga seimbang dengan dia, pada waktu Goan-ci terdesak
Buyüng Hok membantunya pula, dengan demikian Siau Hong
menjadi serba repot.
Di bawah keroyokan dua jago seperti Buyung Hok Goan-ci,
keadaan Siau Hong sekarang boleh dikatakan jauh lebih
berbahaya daripada dahulu ketika dikerubuti orang banyak di
Cip hian-Ceng.
Tapi dasar Siau Hong memang gagah perkasa semakin
payah keadaannya semakin semangat daya tempurnya,
tenaga sakti dalam tubuhnya bekerja terus, ia mainkan " Hang
liong-sip-pat-ciang," ilmu pukulan penakluk naga yang maha
dahsyat telah dikeluarkan seluruhnya sehingga Buyung Hok
dan Goan ci sukar mendekat, dengan demikian pula racun
dingin pukulan Goan-ci menjadi susah mencapai tubuhnya.
Namun dengan memainkan ilmu pukulan dahsyat itu,
dengan sendirinya tenaga dalam Siau Hong banyak terkuras.
Asal ratusan jurus lagi tentu kekuatannya akan surut dan
lemah. Goan-ci belum berpengalaman dalam pertarungan, ia
tidak tahu seluk-beluk kelemahan atau keunggulan pihak
sendiri dan pihak lawan. Sebaliknya Buyung Hok yang luas
pengetahunya telah memperhitungkan bila pertarungan
demikian diteruskan, asal dirinya dan Ong Sing-thian dapat
berlahan sampai satu jam, akhirnya pihak sendiri pasti akan
menang.
Biasanya "Pak Kiau Hong" dan "Lam Buyung" (Kiau Hong
di utara dan Buyung di selatan) mempunyai nama harum yang
sederajat di dunia persilatan, hari ini untuk pertama kalinya
kedua tokoh ternama itu bertemu dan saling gebrak, tapi Lam
Buyung memerlukan bantuan Ong-sing-thian dari Kai-pang
untuk mengarubut lawan itu andaikan Siau Hong dapat
dibinasakan, toh hal ini sudah membuktikan bahwa "Lam
Buyung“ sesunggunya kalah lihai daripada "Pak Kiau Hong."
Begitulah diam-diam Buyung Hok berpikir dan menimbang
dalam hati, akhirnya ia berpendapat, "Usaha membangun
kembali kerajaan Yan adalah urusan lebih besar dan nama
pribadi adalah soal kecil, jika sekarang aku dapat menumpas
Siau Hong yang dianggap oleh para ksatria Tionggoan sebagai
musuh bersama mereka, tentu mereka akan kagum dan
mengindahkan diriku dan dengan sendirinya kedudukan Bu-lim
Beng-cu akan kupegang dan mereka akan berada di bawah
perintahku, besar harapan kerajaan Yan akan dapat dibangun
kembali dengan segera. Apalagi kalau Siau Hong sudah
binasa, andaikan orang anggap Lam Buyung lebih asor
daripada Pak Kiau Hong toh kejadian ini pun sudah lampau."
Lalu terpikir pula olehnya, 'Jika Siau Hong binasa, Ong
sing-thian akan merupakan lawan pula. Bila kedudukan Bu lim
Bengcu ini sampai direbut olehnya, maka aku akan diharuskan
tunduk kepada perintahnya. Wah, hal ini pun tidak
menguntungkan."
Karena itu, maka pada waktu menyerang lagi diam-diam ia
menghemat tenaga kelihatannya dia menyerang sekuatnya,
tapi sebenarnya memupuk tenaga sendiri, dengan demikian
daya tekanan Hang-liong-sip-pat-ciang yang dilontarkan Siau
Hong sebagian besar dibebankan kepada Goan-ci. Karena cara
permainan Buyung Hok itu memang cepat dan bagus sehingga
kelicikannya sukar diketahui orang lain.
Begitulah dalam sekejap lagi serang menyerang ketiga
orang itu sudah mencapai ratusan jurus, Berulang Siau Hong
hendak memancing Goan-ci agar mau masuk perangkapnya.
Dengan pengalaman Goan-ci yang masih hijau itu memang
beberapa kali hampir kejeblos ke dalam perangkap Siau Hong,
untung Buyung Hok lantas membantunya dari samping dan
dapat mematahkan setiap serangan Siau Hong. Sebaliknya
tiap tiap pukulan Siau Hong yang maha dahsyat selalu
disambut mentah-mentah oleh Goan ci yang memiliki iwekang
maha kuat.
Saat itu Toan Ki masih berada di tengah lindungan ke-18
ksatria Cidan. Ia menyaksikan sang jiko dapat mendesak Ting
lokoai dan sedikit pun tidak kelihatan asor, sebaliknya sang
Toako yang mesti melawan dua musuh, walaupun
kelihatannya gagah perkasa, setiap pukulannya tampak sangat
dahsyat, tapi mungkin tidak tahan lama.
Diam-diam Toan Ki berpikir, "Tadi aku berkaok-kaok
hendak sehidup semati dengan kedua kakak angkat, tapi
sesudah bertempur aku malah sembunyi di bawah lindungan
orang. Huh, terhitung adik angkat macam apakah aku lni?
Masakah caraku ini dapat dianggap sehidup semati. Huh,
benar-benar memalukan. Biarpun aku tidak mahir ilmu silat,
tapi aku dapat menggoda Buyung hok dengan langkah ajaib
Leng-po-wi-poh agar Toako sempat mampuskan dulu si muka
buruk yang mengaku sebagai Ong-pangcu itu. Ya, aku harus
bertindak demikian."
Karena pikiran ini, segera ia menyelinap ke luar dari
lingkungan ke-18 ksatria Cidan dan berseru lantang, "Buyung-
kongcu, engkau mengaku sebagai ”Lam Buyung' yang sama
derajat dengan 'Pak Kiau Hong' seharusnya engkau mesti satu
lawan satu dengan Toako kami, mengapa engkau pakai
pembantu dan mengeroyok Toako toh dengan demikian kalian
tetap kewalahan, andaikan nanti kalian mampu menandingi
Toako sama kuatnya juga hal ini akan memalukan dan
diterwakan sesama orang Bu-lim. Nah, marilah lebih baik kita
berdua main-main sendiri boleh coba kau serang aku!''
sembari berkata tubuh Toan Ki terus melayang dan
menyerobot ke belakang Buyung Hok, sekali ulur tangan,
segera kuduk Buyung Hok hendak dicengkramnya.
Melihat datangnya Toan Ki sangat cepat dan aneh
langkahnya, tanpa pikir Buyung Hok putar tangannya dan
menampar ke belakang, "plok", dengan tepat pipi kanan Toan
Ki kena digampar sehingga merah bengap, saking sakitnya
sampai air mata Toan Ki bercucuran.
Kiranya langkah ajaib Leng po-wi-poh itu meski sangat
hebat tapi Toan ki sendiri tídak becus ilmu silat, maka langkah
ajaib itu hanya berguna untuk berlari saja menghindarkan
serangan lawan, sekali Toan Ki menggunakan langkah ajaib
itu, biarpun jago kelas satu juga sukar menjamah ujung
bajunya.
Tapi sekarang dia yang hendak menyerang orang. Dengan
caranya yang geremat-geramut sudah tentu tidak dapat
melawan Koh soh Buyung yang berkepandaian lihai. Maka
ketika ditampar sudah tentu Toan Ki tidak mampu mengelak
karuan mukanya lantas merah bengap dan meringis kesakitan.
Sebaliknya ketika telapak tangan Buyung Hok dengan
cepat menyentuh pada pipi Toan Ki seketika ia pun merasa
tenaga dalamnya mendadak tertuang keluar dan menghilang
tak tertahankan lagi, dan karena karena kehilangan tenaga itu
untuk sejenak lengannya ítu terasa kaku. Sudah tentu Buyung
Hok terperanjat, pikirnya, "ilmu sihir atau ilmu siluman apakah
yang dia gunakan rasanya mirip benar dengan Hoa-kang-tai-
hoat milik Ting-lokoai itu? Jangan-jangan ilmu jahat Sing-siok-
pai itu benar-benar telah dipelajari bocah she Toan ini,
terpaksa aku harus lebih hati-hatí menghadapi dia.”
Karena itu, segera ía mendamprat, "Orang she Toan, sejak
kapan kaupun masuk Siok-siok-pai?”
"Apa katamu? . . . " baru Toan Ki hendák bertanya
sekonyong-konyong kaki Buyung Hok melayang tiba sehingga
dia didepak terguling.
Kiranya Buyung Hok mengira orang mahir Hoa-Kang tai-
hoat maka tidak berani menempurnya dari depan lagi, tapi
pada saat tak terduga ía terus menendangnya sehingga Toan
Ki roboh terjungkal. Sama sekali Buyung Hok juga tidak
menduja bahwa dengan mudah lawannya dapat ditendang
terjungkal, segera ia memburu maju dan dengan kaki kanan ia
injak dada Toan Ki yang belum lagi sempat bangun.
'Kau minta mampus atau ingin hidup?" bentak Büyung
Hok.
Sekilas Toañ Ki melihat Siau Hong masih melabrak Ong
Sing-thían dengan sengit, la pikir kalau menjawab dengan
kata-kata kasar tentu akan segera dibunuh oleh Buyung Hok
dan hal ini akan berarti Buyung Hok dapat membantu Ong
Síng thian untuk mengeroyok sang Toako lagi. Akan lebih baik
aku main ulur waktu saja dengan dia. Maka Toan Ki lantas
menjawab, "Apa gunanya mati? Sudah tentu lebih baík hidüp
di dunia ramai ini!"
Sama sekali Buyung Hok tidak menduga bahwa dalam
keadaan terancam jiwanya pelajar tolol ini masih berani bícara
secara jahil dan acuh-tak acuh. Dengan mendongkol ia
membentak pula, "Jika ingin hidup, kamu harus . . . . "
Mestinya ia hendak menyuruh Toan Ki menjura seratus kali
padanya untuk menghinanya di depan orang banyak tapi
lantas terpikir olehnya bila Toan Ki dilepaskan, untuk
membekuknya lagi, mungkin akan susah, maka ucapannya
lantas berganti menjadi, "harus memanggil seratus kali ’kakek’
padaku!"
"Usiamu cuma beberapa tahun lebih tua dari padaku,
masakah cocok untuk menjadi kakekku!” sahut Toan-kí
dengan tertawa.
"Blang," mendadak Buyung Hok menghantam sehingga
mengenai tanah di samping kanan kepala Toan Ki, seketika
debu pasir berhamburan dan berwujud sebuah lubang. Coba
kalau pukulan itu sedikit menceng saja, bukan mustahil kepala
Toan Ki sudah hancur luluh.
"Nah, kau mau memanggil atau tidak?" bentak Buyung
pula.
Toan Ki miringkan kepalanya agar matanya tidak kelilipan
oleh debu pasir dan sekilas dilihatnya Ong Giok-yan berdiri di
antara Pau Put-tong dan Hong Po-ok. Dengan jelas Toan Ki
melihat nona itu sedang memperhatikan dirinya, yang
bertempur dengan Buyung Hok. tapi biarpun dirinya sekarang
sudah kalah dan diancam oleh Buyung Hok, sedikit pun nona
itu ternyata tidak memperlihatkan rasa kuatir. Nyata apa yang
dipikirkan oleh nona itu mungkin hanya satu saja, yaitu sang
Piauko akan membunuh Toan-kongcu?"
Dan kalau dirinya dibunuh Buyung Hok, boleh jadi nona itu
juga takkan sedih. Hancur luluh hati Toan Ki demi melihat
sikap Giok-yan itu. Seketika ia merasa lebih baik mati di
bawah Pukulan Buyung Hok saja daripada kelak akan
menderita siksaan batin yang rindu dendam karena kasih tak
sampai. Maka tanpa pikir ia terus menjawab pertanyaan
Buyung Hok tadi, "Kenapa bukan dirimu saja yang memanggil
seratus kali 'kakek' padaku?"
Karuan Buyung Hok manjadi gusar, sebelah tangannya
terangkat dan segera menghantam kemuka Toan Ki.
Pada saat yang sama, sekoyong-konyong dua sosok
bayangan orang menerjang tiba secepat kilat yang seorang
berteriak. "Jangan melukai putraku!"
Dan yang lain berseru, "Jangan mencelakai Suhuku!"
Mereka adalah Toan Cing-sun dan Lam-hai-go-siu.
Walaupun kedatangan mereka sangat Cepat, tapi toh
sudah terlambat untuk mencegah pukulan Buyung hok itu.
Sebagai tokoh persilatan terkemuka, berbareng dua
rangkuman tenaga pukulan mereka susul menyusul
menyerang ke bagian mematikan di tubuh Buyung Hok.
Dalam keadaan menyerang dan diserang, walau Büyung
Hok dapat membunuh Toan Ki, ia sendiri pasti juga akan
celaka. Sudah tentu ia tidak ingin dirinya celaka maka segera
ia menarik kembali pukulannya tadi dan digunakan untuk
menangkis puluhan Toan Cing-sun, sedangkan tangan lain
juga berputar ke belakang untuk mematahkan serangan Lam-
hai-gok-sin.
Karena benturan tenaga itu, ketiga orang sama-sama
kesiap, ketiganya merasa kepandaian lawan memang sangat
hebat. Karena terburu-buru ingin menyelamatkan putranya,
segera jari telunjuk Toan Cing-sun bergerak dan menutuk lagi
dengan ilmu jari "it yang-ci".
"Awas, Piàuko, ini kungfu It-yang-ci keluarga Toan di Taili,
tidak boleh kau anggap enteng," seru Giok yan.
Dalam pada itu Lam-hai gok-sin juga berteriak teriak,
"Bedebah keparat, meski Suhuku tidak genah, setidak-
tidaknya dia adalah guruku. dan kalau kau pukul Suhuku, itu
berarti memukul aku si Gak luji ini. Bila Suhuku ini mendadak
takut mati terus memanggil 'kakek' padamu, wah, tentu aku
Gak Loji juga akan sial dan cara bagaimana aku harus
memanggil padamu? Bukankah tingkatanku akan merosot tiga
angkatan dan bukankah aku akan menjadi cucumu yang
celaka! Kurangajar! Kamu benar-benar terlalu kurang ajar,
Hari ini biarlah aku mengadu jiwa dengamu!"
Begitulah, sembari memaki segera ia mengeluarkan
senjatanya yang istimewa, yaítu "Gok-hi-cian" (gunting congor
buaya) dan segera menggunting ke kanan dan ke kiri ke arah
Buyung Hok.
Selama hidup Lam hai gok Sin paling takut kalau
tingkatannya berada di bawah orang lain. sampai-sampai
urusan nomor dua dan tiga dalam “Su-ok" juga di perebutkan
dengan Yap Ji-nio, Sekarang jika toan Ki benar-benar
memanggil "kakek" pada Buyung Hok, maka tanpa bisa
dítawar lagi Lam-hai gok-sin juga akan ikut menjadi "cucu''
orang, Hal ini baginya benar-benar suatu kejadian yang sial.
Sebab ítulah ia mati darípada hídup dihina.
Buyüng hok sendiri tidak paham mengapa Lam-Haí-gok-sin
marah-marah dan mencaci-maki padanya, Namun sebelah
kakinya masih tetap! Menginjak di atas dada Toan Ki dan
kedua tangannya dipakai untuk melawan Toan cing sun dan
Lam-Hai gok sin. sesudah belasan jurus lambat-laun ia
merasa Lam-hai-gok-sin lebih mudah dilawan biarpün orang
bersenjata gunting yang aneh. Sebaliknya It-yang-ci yang
dilontarkan Toan Cing-sun benar-benar tidak boleh dipandang
enteng.
Sebab itulah ia mencurahkan perhatiannya untuk melayani
Toan Cing sun dan cuma menggunakan sisa tenaga lain untuk
melawan Lam-hai-Gok sin, bahkan terkadang dengan
pukulannya yang hebat ia desak Gok-sin hingga terpaksa
meloncat mundur.
Toan Ki yang dadanya terinjak, meski sudah meronta ronta
hendak bangun, tetap gagal dan tidak kuat.
Sudah tentu yang paling kuatir adalah Toan Cing sun ia
tahu bila kaki Buyung Hok menginjak lebih keras pasti sang
putra akan muntah darah dan mungkin binasa. Dalam
keadaan demikian terpaksa ia harus menggunakan serangan
kilat untuk menyelamatkan dulu putranya itu. Segera ia
mainkan It-yang ci dengan cepat, ia mencecar dengan
serangan dahsyat.
Tiba-tiba suara seorang berseru mengejek, „Huh, It yang ci
dari Taili mengutamakan sikap agung berwibawa tutukan yang
dahsyat harus tidak harus mengurangi perbawa seorang raja.
Kalau bermain cara hantam kromo demikian masakah dapat
disebut sebagai It-yang ci? Hehe, benar-benar membikin malu
keluarga Toan dari Taili."
Cing-sun kenal pembicara itu adalah musuh besarnya Yan
khing Thaisu alias Toa-ok. Apa yang dikatakannya itu memang
benar, tapi Cing sun sendiri terlalu menguatirkan keselamatan
sang putra, maka pikirannya menjadi kacau dan tidak sempat
memikirkan gaya dan sikap agung lagi.
Dan karena permainan Cing-sun agak kasar, ketika ia
menutuk pula dan tenaga tutukan itu kena dítarík sekekalian
Buyung Hok, "crit", tahu-tahu ketika Lam-hai gok sin kena
tertutuk.
Karuan Lam-hai-Gok-sín berkeok-keok kesakitan dan gelí.
"Maknya . . . . " baru saja ia hendak memaki, mendadak
senjata guntingnya jatuh ke bawah dan mengetuk telapak kaki
sendiri, ia berjingkrak kesakìtàn dan mestinya hendak
mencaci-maki lagi, tapi lantas terpikir olehnya yang
menggunakan It-yang-ci dan salah menyerangnya itu adalah
ayah sang Suhu, kalau memakinya berarti memaki kakeknya
sendirí. Ia pikir orang ini hanya boleh dibunuh dan tidak boleh
dimaki, kalau ada kesempatan biar menggunting saja
kepalanya. Sebab itulah makinya tadi menjadi urung
diteruskan.
Pada waktu Cing sun salah menyerang teman sendiri,
sedikit terpencar perhatiannya itu telah digunakan dengan
baik oleh Buyung Hok, secepat kilat Ia pun menutuk dada
lawan dan dengan tepat mengenai Tiong-tan-hiat. Seketika
Cing-sun meràsa napasnya sesak da n dada kesakitan.
"Bagus, Piauko! Jurus Ya ja-tam-hai yang hebat!" seru
Giok-yan memuji.
Padahal serangan Buyung Hok itu dilakukan dengan
terburu-buru dan tidak mengenai tempat yang mematikan,
tapi Giok-yan sengaja memujinya.
Dalam pada itu serangan Buyung Hok sudah menyusul
pula, segera tangan kanan menyodok ke depan untuk
menghantam dada lawan. Karena napas Cing-sun belum lagi
lancar, terpaksa ia tak dapat menangkis, kontan ia
manyemburkan darah karena hantaman Buyung Hok Itu.
Namun begitu demi menyelamatkan sang putra, tetap ia tidak
mau mengundurkan diri, cepat ia mengerahkan tenaga.
Sementara itu serangan Buyung Hok yang lain sudah tiba
pula.
Toan Ki yang masih terinjak di bawah kaki Buyung Hok
menjadi kaget ketika melihat sang ayah tumpah darah,
sedang serangan Buyung Hok di lontarkan pula, dengan kuatir
segera ia membentak, "Ho , kau berani melukai ayahku!”
Dalam gugupnya, dengan sendirinya tenaga andalannya
bergolak dan meluncur keluar melalui jarínya. Dan itulah
"Siang-yang-kiam" yang keluar dari Lak-mah-sin-kiam yang
tak berujut itu.
"Cret", tahu-tahu lengan baju Buyung Hok terkupas
terpotong oleh Kiam-gi (hawa pedang) yang tak kelihatan itu.
Menyusul hawa pedang terus membentur pukulan Buyung Hok
tadi, kontan Buyung Hok merasa tangan sakit pegal. Ia
terkejut dan cepat melompat mundur.
Bebas dari injakan kaki orang, cepat Toan Ki merangkak
bangun dan kembali jari kecil kiri menuding pula, dengan jurus
"Siau-tik-kiam" ia menusuk ke arah musuh.
Buyung Hok tidak berani ayal, ia kebaskan lengan baju
untuk menangkis, terdengar lagi suara "brat-bret" dua kali,
lengan bajunya terkupas potong oleh hawa pedang.
"Awas Kongcu!" seru Ting Pek-jwan. Itu Bu-heng-Kiam-
gi,(hawa pedang tak berwujud) pakailah senjata ini.”
Berbareng ia lolos pedang sendiri dan dilemparkan kepada
Buyung Hok.
Toan Ki merasa sangat sedih dan dongkol panas tadi
mendengar Gíok-yan bersorak memuji serangan Buyung Hok,
dan yang diserang justru dada ayahnya.
Dengan perasaan yang bergejolak itu, maka tenaga
dalamnya juga ikut bekerja serentak, sekaligus ¡a ményerang
dengan Siau-siang, Siang-heng, Tiong-hang, Kwan-heng ,
Siau-hong dan Biau-heng, Lak-meh-kiam-hoat dikeluarkan
seluruhnya dengan lancar seakan-akan dibantu oleh suatu
kekuatan gaib.
Buyung Hok sendíri juga tambah semangat barusan
mendapat lemparan senjata dari Ting Pek-juan, ia putar
pedang dengan kencang hingga seluruh tubuh seperti
terbungkus dalam lapisan sinar pedang.
Orang-orang Bu-lim biasanya cuma mendengar kepandaian
keluarga Buyung itu sangat tinggi dan luas. boleh dikatakan
serba bisa, tapi tidak menduga bahwa ilmu pedangnya
ternyata sedemikian bagusnya.
Namun begitu, betepa hebat Ilmu pedang Buyung Hok itu
tetap dia tidak dapat mendekati Toan Ki dalam jarak dua-tiga
meter.
Kedua tangan Toan Ki kelihatan menutuk kesana dan ke
sini dan Buyung Hok terpaksa harus berkelit kian kemari
dengan sibuk Sekonyong-konyong terdengar "krek" sekali,
tahu-tahu pedang yang dipegang Buyung hok menjadi belasan
potong dan mencelat ke udara sehingga mengeluarkan Sinar
gemerdep.
Walaupun terkejut, Buyung Hok tidak menjadi gugup,
menyusul ia menghantamkan telapak tangannya sehingga
belasan potong pedang patah itu tertimpuk ke depan dan
mirip hujan senjata rahasia dan menyerang ke arah Toan Ki.
“Haya, celaka!" teriak Toan Ki dengan kelabakan dan
cepat-cepat ia menjatuhkan diri dan bertiarap di atas tanah.
Maklum dia tidak mahir ilmu silat, jangakan dihujani
senjata rahasia sebanyak itu, biarpun sibatang saja dia sudah
kerepotan. Untung juga dia bertiarap hingga belasan pedang
patah itu menyambar lewat di atas kepalanya. Tapi cara
berkelit dengan bertiarap hingga mirip "anjing menubruk tahi"
itu sudah tentu tidak pantas dipandang orang. Sebaliknya
meski pedangnya diputuskan tapi Buyung Hok bisa merubah
menjadi pihak yang menang, tentu saja ia lebih gemilang
daripada lawannya.
”Terimalah senjata ini Kongcu!" seru Hong Po-ok sambil
melemparkan goloknya.
Cepat Buyung Hok sambar senjata itu. Ia lihat Toan Ki
sudah merangkak bangun, segera ia mengejeknya dengan
tertawa, "Jurus Toan-heng barusan mungkin bernama anjing
menubruk tahi, apakah itu termasuk kungfu lihai dari keluarga
Toan di Taili?”
Toan Ki melengak tapi lantas menjawab, ”Bukan!”
Menyusul jarinya bergerak, segera ia menusuk pula
dengan Siau ciang-kiam.
Kembali buyung Hok putar goloknya dengan segera ia
mengeluarkan bermacam-macam ilmu golok dari berbagai
golongan seperti tidak habis-habis kepandaiannya tak
terhingga. Cuma meski ilmu golok Buyung Hok sangat hebat
tetap susah mendekati Toan Ki. Sebaliknya ketika Toan Ki
menusuk lagi dengan jarinya dan terpaksa Buyung Hok
menangkis dengan goloknya, tahu-tahu terdengar "trang"
sekali, kembali golok itu tergetar patah.
Cepat Kongya Kian melemparkan senjatanya sendiri, yaitu
dua batang Boan-koan-pit dari baja, Buyung Hok membuang
golok patah dan sambut Boan-koan pit yang dilemparkan anak
buahnya itu, menyusul ia gunakan untuk menyerang dengan
cepat.
Dalam pada itu semangat pertempuran Toan Ki sudah
tambah kuat, sesudah berpuluh jurus sekarang rasa jerinya
sudah lenyap, Teringat pula ajaran-ajaran Iwekang dari
paman bagindanya Koh-eng Taisu. Segera ia dapat
memainkan Lak-meh-sin-kiam dengan lebih lancar.
Tiba-tiba terdengar Siau Hong berkata padanya, "Samte
permainan Lak-meh-sin-kiam sekaligus ini tampaknya engkau
belum apal betul sehingga banyak lubang yang dapat
digunakan musuh untuk balas menyerang. Lebih baik kamu
menggunakan salah satu macam di antaranya saja.”
"Baik banyak terima kasih atas petunjuk Toako." jawab
Toan Ki. Waktu ia melirik, ia lihat Siau Hong sudah berdiri di
samping dengan berpeluk tangan, sebaliknya Ong Sing-thian
tampak menggeletak di alas tanah dan sedang rnerintih-rintih
kesakitan, ternyata kedua kakinya telah patah.
Kiranya sesudah Toan Ki ikut maju menempur Buyung Hok
sehingga Siau Hong hanya melawan Goan-ci sendirian,
seketika Siau Hong berada di atas angin. Walaupun beberapa
kali mengadu tangan dan merasa hawa dingin pukulan Goan-
ci itu susah ditahan, untung tenaga dalam Síaü Hong teramat
kuat dan tidak sampai keracunan. Segera Siau Hong berganti
siasat sedapat mungkin ia menghindari adu pukulan
sebaliknya ia mengunakan tipu serangan lain. Mendadak ia
memukul susul menyusül dua kali sehingga terpaksa Goan-ci
mesti menangkis sekuatnya, kesempatan ítu segera digunakan
Siau Hong untuk menyapak dengan kakinya.
Kemahiran Goan-ci hanya racun dingin yang diperolehnya
dari ulat es dan iwekang dari Ih tin kang, dalam hal ilmu silat
hanya dipelajarinya sedikit-sedikit dari A Ci, sudah tentu ià
tidak mampu menghindarkan serampangan kaki Sìau Hong.
Maka tanpa ampun lagi, "krak-krek'', kedua tulang kakinya
disapu patah oleh Siau Hong sehingga roboh terjungkal.
"Hm, selamanya Kai-pang méngútamakan kejujuran dan
berdiri di pihak yang baik, sebagai pangcu masakah kamu
malah berkomplotan dengan kawanan siluman Sing-siok-pai?
Benar-benar membikin malu nama baik Kai-pang selama
beratus tahun ini!" damprat Siau Hong.
Sebabnya Goan-ci dapat menjabat Pangcu adalah karana
orang lain tidak mampu melawan ilmu silatnya yang berbisa,
bicara tentang pengalaman dan pengetahuan dia boleh
dikatakan sangat hijau, apalagi dia memakai kedok,
kelakuannya serba sembunyi-sembunyi, segala urusan selalu
bergantung kepada A Ci dan Coan Koan-jing, dengan
sendìrinya para Tionglo Kaì Pang merasa tidak suka padanya.
Apalagi tadi Goan-ci telah menyembah kepada Ting jun-jiu
dan masuk menjadi anggota Sing-siok-pai, tentu saja para
Tianglo semakin memandang hina padanya. Maka sekarang
tiada seorang pun yang mau menolongnya biarpun kedüa
kakinya disarampang patah olah Siau Hong. sebaliknya diam-
diam para Tionglo merasa bersyukur dan senang malah.
Ada juga beberapa orang separti Coan Koan jun dan
begundalnya ingin maju menolong sang Pangcu yang
menggeletak di tanah itu, tapi demi nampak sikap Siau Hong
yang gagah perkasa dan angker itu, mereka menjadi jeri pula.
Sesudah merobohkan Goan-ci, Siau Hong melihat
pertarungan Hi-Tiok melawan Ting Jun-jíu pün sudah
menduduki tempat yang unggul, sebaliknya Toan ki yang
melawan Buyung Hok dengan Lek-meh-sin-kiang terkadang
bagus dan sekali tempo sangat lambat sehingga banyak
kesempatan baik untuk mengalahkan lawan tersia-siakan,
bahkan kalau kena pukül bukan mustahil Toan Ki sendiri yang
akan celaka di tangan Buyung Hok sebab itulah ia lantas
bersuara memberi petunjuk kepada Toan Ki.
Dan karena Toan k¡ melirik sekejap keadaan Siau Hong
yang telah mengalahkan Goan-cí itu sedikít lengah saja telah
digunakan oleh Buyung Hok dengan baik. Sebelah Boan-koan-
pit secepat kilat disambitkan ke dada Toan Ki.
Melihat sambaran Boan koan-pit itu sedemikian hebatnya,
tampaknya akan segera menembus dadanya, Toan Ki menjadi
kelabakan dan berteriak-teriak, "Toako! tolong, Toako!“
Cepat Síau Hong bertindak, dengan Jurus "Kian-liong-cai-
thian" (melihat naga di sawah) salah satu jurus Hang liong sip
pát ciang keras dihantamkan ke depan sehingga Boan koan pit
itu tersampuk dan melengkung bagian Tengahnya, karena itu
arahnya lantas berkisar dan membelok kebelakang kepala
Toan Ki, bahkan terus berputar balik dan menyambar ke arah
Buyung Hok malah.
Kejadian ini pun di luar dugaan Siau Hong sendiri, ia tidak
menduga bahwa selama ini tenaga dalamnya telah maju
sedemikian pesatnya sehingga tanpa terasa tenaga
pukulannya dapat membuat batang potlot baja itu
melengkung, bahkan terus mengitar balik ke árah
penyambitnya.
Sebenarnya tindakan Siau Hong ini hanya secara kebetulan
saja, namun demikian sudah membikin para ksatria melongo
kesima, semuanya terkejut dan merasa kepandaian Siau Hong
benar-benar sudah mencapai tarap yang sukar diukur.
"Nah, itu namanya 'Ih-pi-ci-to, hoan-si-pat sin," teriak
Hoan Hua.
Tapi Buyung Hok sempat mengangkat Boan-koan-pit yang
lain untuk menangkis, "trang", kedua batang Boan-koan-p¡t
kebentur, lengan tergetar sampai kesemutan, diam-diam ia
mengakui betapa kuatnya tenaga Siau Hong. Namun sebelum
Boan-koan-pit yang melengkung tadi terpental jatuh, sekali
tangannya meraup dengan tepat Boan koan-pit bengkok itu
kena ditangkapnya dan dapat digunakan sebagai senjata pula
dalam bentuk gaetan.
Melihat macam-macam kepandaian Buyung Hok yang
serba bagus itu, ditambah lagi tenaga pukulan Siau Hong yang
hebat tadi, seketika bersoraklah para ksatria memberi pujian,
Mereka merasa tontonan hari ini benar-benar berharga untuk
dilihat dan perjalanan mereka ke Siau-lim-pai ini tidak
percuma juga.
Dalam pada itu sesudah terhindar dari serangan Boan
koan-pit, hanya tertegun sejenak saja segera Toan Ki.
menutuk ke depan pula dengan Jari jempol dalam jurus "Siau-
siang-kiam" yang dahsyat. Walaupun Buyung Hok masih dapat
menangkis dengan Boan-koan-pit yang sekarang berbentuk
lain itu namun lambt-laun ia merasa penuh juga.
Sebaliknya. karena mendapat petunjuk dari Siau Hong,
maka sekarang Toan Ki melulu memainkan siau-siang-kiam
sajà sehingga daya tekannya benar-benar bertambah hebat
dan tidak memberi lobang kelemahan bagi Buyung Hok.
Sebenarnya Lak-meh-kiam hoat itu meliputi enam jurus
yang satu lebih hebat daripada yang lain kalau dimainkan
secara berantai. Tapi Toan Ki tidak paham letak kelihaian ilmu
pedang tak berwujud itu, ia cuma memainkan Siau-siang-kiam
secara berulang-ulang. Namun begitu sesudah belasan kali
berulang, Buyung Hok terdesak hingga mandi keringat, ia
main mundur terus dan akhirnya kepepet sampai di samping
sebatang pohon besar. di situlah ia coba bertahan pula
dengan membelakangi pohon.
Setelah memainkan Siau-siang-kiam, segera Toan Ki
menekuk jempolnya dan berganti dengan jari telunjuk,
sekarang yang dimainkan adalah Siau-yang kiam.
Siau-yang-kiam memang kurang dahsyat dibandingkan
Siau siang-kiam, tapi lebih cepat dan lebih ganas. Maka ketika
Jarinya menusuk, seketika Buyung Hok tambah kerepotan
menghindarkan diri.
Melihat keadaan sang Piauko terancam bahaya, Giok yan
menjadi kuatir. Meski ia tahu segala macam Ilmu silat dari
berbagai golongan persilatan.tapi terhadap Lak-meh-sin-kiam
sama sekali tidak paham sehingga tidak dapat memberi
petunjuk apa-apa kepadà sang Piauko maka dia hanya kuatir
saja dan tak berdaya.
Melihat ilmu pedang Toan Ki yang tak berwujud itu makin
dimainkan makin hebat, diam-diam Siau Hong sangat senang
dan kagum. Tiba-tiba hatinya menjadi pedih pula demi
teringat kepada A Cu.
Sebabnya A Cu rela mati mewakilkan ayahnya adalah
lantara kuatir kalau aku tidak dapat melawan Lak-meh-sin-
kiam keluarga Toan mereka. Sedangkan kalau melihat ilmu
pedang yang dimainkan Samte ini memang sedemikian
saktinya, andaikan aku yang diserang seperti Buyung Hok
sekarang. terang aku pun tidak sanggup melawannya. Jadi A
Cu telah mengorbankan jiwanya untuk keselamatan diriku,
padahal aku adalah ....adalah bangsa Cidan yang kasar,
masaakah aku ada harganya untuk mendapatkan cinta si nona
yang suci murni itu? Demikian pikir Siau Hong.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara orang banyak
dari arah barat laut sana sedang berteriak. "Sing síok Lokoai,
kau berani bergebrak dengan Kaucu kami dari Leng ciü kiong?
Sekarang kamu berlutut dan menyembah untuk minta ampun
jika tidak ingin mampus?"
Waktu Siau Hong berpaling, la lihat di lambung gunung
sana berdiri delapan baris kaum wanita ada yang tua dan ada
yang muda. setiap barisan itu memakai pakaian seragam
berbeda warna. Disamping kedelapan barisan wanita itu ada
pula ratusan orang kangouw dengan dandanan berbeda
daripada orang biasa. Orang orang kang-ouw yang tampaknya
gagah dan tangkas itu juga sedang berteriak-teriak, "Kaucu,
lekas tanamkan Sing-si-hu padanya, biar dia tahu rasa!”
"Ya, terhadap Sing-siok Lokoai tiada obat yang lebih
mujarab daripada diberi persen dengan Sing-si-hu!"
Saal itu Hi-tiok sedang melabrak Ting-lokoai dengan
sepenuh tenaga. Baik ilmu silatnya maupun tenaga dalamnya
Hi-tiok berada di atas Ting Jun jiu maka sejak tadi mestinya
dia dapat mengalahkan lawan, cuma dia kurang
berpengalaman di medan tempur sehingga kepardaiannya
yang sejati tidak sempat dikeluarkan seluruhnya. Pula dia
berhati welas asih, banyak tipu serangan mematikan tak mau
digunakannya, apalagi seluruh badan Lokoai boleh dikata
racun melulu, hal ini membuat Hi-tiok agak jeri dan tidak
berani sembarangan menyentuh badannya, makanya sampai
sekian lama ia masih belum dapat merobohkan iblis tua itu.
Ketika mendadak mendengar suara orang banyak yang
memanggil dia, segera Hi-tiok berpaling dan terlihat delapan
daripada sembilan pasukan wanita Leng ciu kiong telah datang
semua. Dan kaum laki-laki itu adalah para Tongcu dan Tocu
yang jumlahnya tidak sedikit.
”Sia-popo. Oh-siangsing, mengapa kalian pun datang
semua?” seru Hi-Tiok dengan girang.
"Lapor Kaucu, hamba sekalian telah menerima berita Bwe-
kiam berempat dan mendapat tahu para keledai gundul Siau-
lim-pai hendak membikin susah kepada Kaucu, maka buru-
buru hamba mengumpulkan para Tongcu dnn Tucu dan
menyusul kemari," demikian sahut Sia-popo. "Dan sekarang
ternyata Cujin tidak kurang suatu apa pun, sungguh hamba
sekalian merasa sangat girang."
"Siau-lim-pai adalah perguruanku, kamu tidak boleh
memakai kata-kata kasar, lekas minta maaf kepada Hongtiang
Siau lim-si," bentak Hi-Tiok.
Sembari berkata tetap Hi-tiok memainkan Thian-san ciat-
bwe-jiu dengan tidak kurang hebatnya.
Sia-popo tampak gugup karena teguran Hi-tiok itu, dengan
hormat ia mengiakan dampratan sang Cujin, lalu mendekati
Hian-cu dan berlutut, ia menyembah beberapa kali dan
berkata, "Sia-Popo dari Leng-ciu-kiong tadi telah bicara secara
kasar dan menyinggung nama baik para Taisu Siau-lim-si,
untuk itu harap Hongtiang suka memaafkan dan mohon diberi
hukuman yang pantas."
Dia bicara dengan sungguh-sungguh dan penuh hormat,
kata demi kata sangat lantang dan jelas, hal ini menandakan
Iwekangnya yang tinggi dan sudah tergolong jago kelas satu.
Hian-cu mengebatkan lengan bajunya berkata, "Ah, Lisicu
tidak perlu banyak adat, silahkan bangun!"
Dengan kebasan langan baju yang menggunakan delapan
bagian tenaga itu mestinya Hiau-cu hendak mengangkat
bangun si nenek, tak tersangka badan Sia-popo cuma sedikit
tergetar saja dan tidak sampai terangkat. Bahkan ia nenek itu
lantas menjura lagi dan minta ampun, habis itu baru dia
berbangkit dengan pelahan dan kembali ke tempatnya tadi.
Para padri Siau lim-si angkatan Hian tadi telah mendengar
penuturan Hi-Tiok tentang pengalamannya di Biau-biau-hong.
sebaliknya padri lain dan para kesatria yang menyaksikan itu
menjadi terheran-heran akan kepandaian si nenek yang luar
biasa itu tampaknya kawan-kawannya baik wanita maupun
laki-laki itu pun bukan kaum lemah, tapi mengapa sudi
mengaku harnba pada Hi-tiok.
Dalam pada itu anggota Sing siok-pai yang dasarnya
memang terdiri dari manusia-manusia rendah dan kurangajar
itu, demi melihat banyak di antaranya wanita Leng-ciu-kiong
itu masih muda dan cantik serentak mereka berkeok-keok dan
bersiul-siul menggoda dengan kata-kata yang kotor.
Sebaliknya para Tongcu dan Tocu itu adalah orang kasar
pula, demi mendengar ucapan orang Sing-siok-pai yang tidak
sopan itu, kontan mereka balas mecaci maki sehingga seketika
itu ramailah suara orang membentak dan memaki.
Bahkan para Tongcu dan Tocu serentak meloloskan
senjata hendak melabrak lawan-lawannya. Tapi anggota Sing-
siok-pai tidak berani sembarangan bergerak karena belum
mendapat perintah guru mereka. Mereka masih tetap mencaci
maki dengan kata-kata yang semakin kotor.
Sementara Toan Ki masih terus memusatkan perhatiannyq
untuk menyerang Buyung Hok dengan Siau-yang-kiam. Karena
tercecer, maka akhirnya Buyung Hok menjadi susah
membendung arah datangnya hawa pedang serangan Toan Ki
itu, terpaksa ia putar sepasang Boan-koan-pit yang lurus dan
bengkok itu untuk melindungi tubuhnya.
Jilid ke-74
"Crit" , sekonyong-konyong hawa pedang Toan Ki
menembus pertahanan Buyung Hok sehingga kopyahnya
terpapas jatuh, seketika rambutnya terurai, keadaannya serba
runyam.
“Jangan, Toan kongcu!" teriak Giok yan dengan kuatir.
Toan Ki terkesiap, menghela napas panjang dan serangan
lain tidak jadi dilontarkan lagi. Katanya di dalam hati, "Ya, aku
tahu yang kau pikirkan hanya piaukomu seorang saja,
andaikan aku membunuhnya, tentu engkau akan sangat
terluka dan selanjutnya takkan tertawa lagi. Aku menghormati
dan mencintaimu, tidak nanti aku membikin dirimu hidup
merana."
Dalam pada itu Buyung Hok telah mengikat kembali
rambutnya dengan wajah pucat, kalau mendapat bantuan
seorang wanita untuk mengatakan ampun kepada lawan,
maka ke mana lagi mukaku harus ditaruh selanjutnya?
Karena pikiran itu, ia lantas membentak, "Seorang laki-laki
biar mati juga tidak sudi minta kemurahan hatimu."
Berbareng ia putar Boan-koan-pit dan menubruk maju lagi.
"Eh, eh, jangan! kita kan tiada permusuhan apa-apa.
Kenapa mesti bertempur lagi?"' seru Toan Ki sambil
menggoyang-goyang kedua tangannya ke depan. "Sudahlah
aku tak mau berkelahi lagi, tak mau lagi!"
Dasar watak Buyung Hok memang tinggi hati selamanya
dia tidak pandang sebelah mata pada siapa pun, tapi sekarang
dia kecundang di depan orang banyak celakanya lawan adalah
orang yang dikenal sebagai pelajar tolol itu, apalagi lawannya
lantas mengalah lantaran Giok-yan ikut minta. Sudah tentu la
tidak mau terima mentah-mentah kekalahannya.
Maka sekali menubruk maju, segera ia gunakan Boan-
koan-pit yang bengkok itu untuk menyerang müka Toan Ki,
sebaliknya Boan-koan-pit lurus menusuk dada lawan, pikirnya,
"Biarlah kau bunuh aku dengan hawa pedang tak kelihatan itu,
marilah kita. gugur bersama daripada hidup menanggung
malu di dunia ini."
Nyata, dengan serangan Buyung Hok itu, terang dia sudah
nekat dan tidak menghiraukan sendiri lagi.
Di lain pihak Toan Ki menjadi bingung juga ketika melihat
Buyung Hok menubruk ke arahnya, kalau ia gunakan Lak-
meh-sin-kiam, kuatír akan membinasakan lawan itu. Dan
karena sedikit ayal serangan Buyung Hok sudah tiba, “Bles”,
tahu-tahu Boan-koan-pit menancap dibadan Toan Ki sedang
dalam kagetnya mengeges sedikit ke kiri sehingga tusukan itu
tidak tepat menembus dadanya tapi menancap bahunya,
begitu hebatnya serangan itu sehingga bahu Toan Ki
tertembus.
Dan Takkala Toan Ki menjerit kaget menyusül Buyung Hok
ayun Boan-kuau-pit lain yang bengkok itu untuk menggaet
leher Toan Ki.
Saat itu Toan telah dipantek oleh Boan-koan-pit sehingga
susah mengelak lagi, tampaknya dia pasti akan dibinasakan
oleh serangan Buyung Hok yang sudáh kalap itu.
Melihat keadaán berbahava itu, kembali Toan Cing-Sun
dan Lam-hai-gok-sin menubruk maju lagi hendak menolong.
Tapi sekali ini Buyung-Hok sudah bertekad harus mernbunuh
Toan Kí, maka ia tidak menghiraukan keselamatan sendiri
yang diserang sekaligus oleh Toan Cing-sun dán Lam-hai-gok-
sin berdua.
Tampaknya leher Toan Kí akan segera dapat digantul oleh
Boan-koan-pitnya yang bengkok itu, walaupün Buyung Hok
sendiri juga takkan terhindar dari kematian karena di serang
bareng oleh Cing-sun dan Gok-sin, di luar dugaan pada detik
yang menentukan itu sekonyong-koyong Buyung Hok merasa
"Sin-to-hiat" di punggungnya terasa kesemutan dan tahu-tahu
badan kena dicengram dan diangkat ke atas oleh tangan
seseorang.
Sin-to-hiat adalah hiat-to terpenting di bagian punggung,
sekalí tempat itü terpegang seketika terasa kedua tangan linu
pegal dan tak bertenaga lagi sehingga senjata yang
dipegangnya juga terjatuh.
Maka mendengar Siau Hong membentak dengan suara
bengis, "Orang sengaja mengampun jiwamu, tapi kamu malah
turun tangan keji. Huh, terhitung ksatria macam apakah ini!"
Kiranya Siau Hong telah mengikuti tindakan Buyung Hok
yang nekat tadi dengan menubruk maju tanpa menghiraukan
keselamatannya sendiri, dalam keadaan begitu, kalau Toan Ki
mau menyerang lagi, dengan gampang sekali jiwa Buyung Hkk
pasti akan melayang.
Tapi sama sekali tak terduga bahwa pada saat yang
menguntungkan itu mendadak Toan Ki “melongok" di tengah
jalan dan tidak mau menyerang, Sebaliknya serangan Buyung
Hok tadi teramat cepat datängnya, walau Siau Hong juga
harus memburu maju secepat kilat terus mencengkram
pinggang Buyung Hok, tapi tidak beruntung Toan Ki sudah
dilukai lebih dulu.
Sebenarnya dengan kepandaian Buyung Hok yang tinggi
itu, meski masih kalah setingkat dari pada Siau Hong, tapi
juga tidak perlu sekali gebrak saja lantas tertawan. Soalnya
waktu itu dia sudah kalap dan nekat, yang dipikir hanya
membinasakan Toan Ki melulu dan sama sekali tidak
menghiraukan keselamatannya sendiri. Sedangkan
cengkeraman Siau Hong itu pun semacam Kim-tiaw-jiu-hoat
yang amat cepat dan lihai, yang diarah juga hiat-to terpenting,
maka Buyung Hok lantas tertangkap dan tak bisa berkutik lagi.
Dasar perawakan Siau Hong juga tinggi besar tangan
panjang dan kaki jangkung, ia pegang Buyung Hok ke atas
hingga mirip elang mencengram anak ayam.
Melihat sang majikan terancam bahaya, serentak Ting Pek-
Jwan, Kongya Kian, Pau Put-tong dan Hong Po-ok berempat
berlari maju sambil berteriak, "Jangan mencelakai Cukong
kami!"
Begitu juga Giok-yan ikut berlari dan berseru, "Piauko!
Piauko!"
Namun berada di bawah cengkraman orang biarpun
Buyung Hok mempunyai kepandaian setinggi langit juga sukar
dikeluarkan. Sungguh ia ingin lebih baik mati saja daripada
menderita hinaan sehebat itu.
Tiba tiba Siau Hong tertawa dingin dan berseru, "Huh, Siau
Hong adalah seorang laki-laki sejati ternyata diberi nama
sejajar dengan manusia rendah seperti ini, sungguh
memalukan saja!"
Dan sekali bergerak segera ia lemparkan Buyung Hok.
Di lempar oleh tenaga Siau Hong yang maha kuat itu,
kontan Buyung Hok mencelat sampai belasan meter jauhnya.
Segara ia melejit hendak berbangkit, tak tersangka ketika Siau
Hong mencengkram hiat to punggungnya tadi, tenaga dalam
Siau Hong telah dikerahkan sehingga menembus seluruh urat
nadinya, maka dalam waktu sekejap saja Buyung Hok tidak
dapat melancarkan kembali jalan darahnya, "Blang", tanpa
ampun lagi ia terbanting di tanah dalam keadaan serba
runyam.
Ting Pek jwan dan lain-lain tidak sempat mengerubut Siau
Hong lagi dan serentak putar balìk dan lari mandekati Buyung-
Hok. Tapi sebelum Pak-jwan dan kawan-kawannya mendekat,
Buyung Hok sudah berbangkit. Dengan muka pucat bagaikan
mayat ia terus lolos pedang yang tergantung di pinggang Tìng
Pek-jwan, menyusul sebelah tangan menolak ke depan
sehingga Pek-jwan dan Giok-yan berlima didesak mundur, lalu
ia angkat pedang terus mengorok leher sendiri.
Keruan Giok-yan terkejut, cepat ia berteriak-teriak, "He,
Piauko, jangan . . . . "
Dan pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara mendesing
nyaring memecah angkasa, sepotong am gi (senjata rahasia)
tahu-tahu menyambar dari tempat jauh dan melintasi
lapangan terus membentur pedang yang terpegang di tangan
Buyung Hok itu. "Trang", kontan Buyung Hok merasa tangan
kesemutan, pedang terlepas dari cekalan telapak tangan
sampai tergetar lecet dan berdarah.
Waktu Buyung Hok memandang ke arah datangnya,
senjata rahasia itu, ia lihat di atas karang sana berdiri seorang
padri berjubah putìh perawakannya tinggi kurus, mukanya
memakai kain kedok putih, hanya kelihatan sepasang matanya
yang bersinar tajam.
Dengan tenang padri jubah putih itu melintas lapangan
yang dikerumuni orang banyak itu dan mendekati Buyung
Hok. Tiba-tiba ia tanya pemuda itu, "Kamu mempunyai putra
atau tidak?"
Sebenarnya semua orang sama terkejut dan kagum ketika
mendengar suara mendesingnya senjata rahasia yang nyaring
memecah angkasa tadi. Kini demi nampak padri berjubah
putih yang menyambitkan senjata rahasia itu mendekati
Buyung Hok dan mengajukan pertanyaan yang aneh itu
mereka tambah heran dan geli pula.
Didengar dari suaranya, agaknya usia padri jubah putih itu
sudah cukup tua. Jubah padri yang dipakai itu pün agak
berbeda daripada jubah yang dipakai oleh hwesio Siau-lim-si.
Begitulah, maka terdengar Buyung Hök menjawab, "Aku
belum kawin, dari mana punya putra!”
"Dan kau punya kakek-moyang atau tidak?" kembali padri
jubah putih bertanya dengan kereng.
Buyung Hok sangat mendongkol, jawabnya dengan ketus,
"Sudah tentu punya! Aku sendiri akan mati, peduli apa
denganmu? Seorang boleh dibunuh dan tidak sudi dihina.
Buyung Hok adalah seorang laki-laki sejati dan tidak mau
terima ucapanmu yang kasar ini."
"Hm, kakek moyangmu mempunyai keturunan ayahmu
mempunyai putra sebagai dirimu. Tapi, tahu betapa gagah
perwiranya raja Yan seperti Buyung Lok, Buyung Tok dan lain-
lain, sungguh tidak nyana akhirnya mesti mengalami nasib
putus keturunan!" demikian padri jubah putih berkata dengan
mengejek.
Buyung Lok, Buyung Tok dan lain-lain adalah raja kerajaan
Yan yang terkenal sangat pandai dan gagah, namanya
disegani kawan dan lawan. mereka itu adalah leluhur Buyung
Hok yang terkenal dalam lembaran sejarah.
Sekarang dalam keadaan kalap dan nekat mendadak
Buyung Hok mendengar nama-nama kakek-moyangnya itu,
seketika ia merasa kepalanya seperti disiram air dingin dan
sadar seketika. Pikirnva, "Mendiang ayahku telah
memperingatkan aku agar mengemban cita-cita membangun
kembali kerajaan Yan sebagai tugas utama dalam hidupku ini.
Sekarang aku terburu napsu dan nekat ingin membunuh diri,
selanjutnya keluarga Buyung tentu akan putus turunan. Ya,
anak saja belum punya, mana aku dapat bicara tentang
perjuangan menjayakan nama keluarga dan membangun
kembali kerajaan Yan?"
Teringat semua itu, seketika Buyung Hok mandi keringat
dingin, tanpa terasa ia berlutut dan menyembah kapada padri
tadi, katanya, "Buyung Hok terlalu bodoh, berkat petunjuk
padri agung yang berharga ini, sungguh selama hidup takkan
kulupakan budi kebaikan ini."
Dengan begitu saja padri itu menerima penghormatan
Buyung Hok, sahutnya, "Ya, sejak dulu sampai sekarang,
seorang pejuang sejati harus berani menghadapi segala
penderitaan Seperti Han-Koat, Toan-ko-cung, semuanya
pernah mengalami kegagalan dan dihina. Tapi akhirnya
mereka berhasil mendirikan dinasti Han dan Tong. Jika mereka
juga memble seperti dirimu dengan menggorok leher sendiri,
hal ini berarti tamatlah segala cita-cita dan hilangnya harapan
leluhur. Sungguh dangkal benar pengetahuanmu!"
Buyung Hok terima petuah itu dengan berlutut mendadak
ia terkesiap dan heran, "Padri saleh ini seakan-akan tahu cita-
cita apa yang terkandung dalam pikiranku sehingga memberi
banyak contoh yang berharga bagiku?"
Maka dengan hikmat ia pun mengakui kesalahannya.
"Nah, bangunlah!” kata padri itu akhirnya.
Dengan hormat Buyung Hok menyembah lagi beberapa
kali, lalu berbangkit.
"llmu silat keturunan keluarga Buyung dari Koh-soh
sungguh sangat hebat dan tiada bandingannya di dunia ini.
soalnya kau sendiri yang belum dapat belajar sampai
tingkatan yang tertinggi," kata pula padri itu. "Memangnya
kaù sangka ilmu silat keluarga Buyung beñar-benar kalah
daripada Lak-meh-sin-kian keluarga Toan dì Taili? Ini, coba
lihat yang jelas!"
Habis berkata, sekonyong-konyong ia mengunakan jari
telunjuknya dan menutuk tiga kali ke depan. Saat itu Toan
Cing-Sun dan Pa Thian-sik berdiri disebelah Toan Ki. Cing-sun
sedang menutuk hiat-to disekitar terluka. Toan Ki yang
tertusuk Boan-koan-pit dan telah dicabut keluar itu. Tak
terduga tiba-tiba jari padri itu menutuk secepat kilat dada
Cing-sun dan Thian-sik lantas terasa kesemutan dan roboh ke
belakang, berbareng Boan-koan-pit yang dicabut dan
dipegang Cing-sun itu lantas terpental dari cekalan dan
meluncur cepat ke depan, "plok" senjata itu menancap diatas
batang pohon di kejauhan sana.
Sesudah roboh, segera Cing-sun dan Thian-sik melompat
bangun dan saling pandang mereka terperanjat. Sungguh tak
terkira hebatnya tenaga tutukan padri jubah putih itu, terang
padri itu tidak bermaksud membunuh mereka, kalau mau pasti
jiwa mereka sudah melayang sejak tadi.
Dalam pada itu terdengar padri jubah putih itu sedang
berkata kepada Buyung Hok, "Nah, inilah 'Jap-hap-ci' (tutukan
campuran) yang hebat dari keluarga Buyung kalian. Dahulu
kupelajari secara tak sengaja dari leluhurmu, padahal aku pun
cuma paham sebagian kecil saja, ilmu silat lain yang tak
kuketahui entah masih berapa banyak. Hehe, masakah
dengan sedikit, kepandaian bocah yang masih hijau sebagai
dirimu ini lantas dapat mengembangkan nama kebesaran Koh-
soh Buyung yang tersohor itu?"
Semula para ksatria juga sangat jeri kepada nama "Koh-
soh Buyung" yang tersohor itu tapi ketika melihat Buyung Hok
dikalahkan habis-habis oleh Toan Ki yang ketolol-tololan itu,
kemudian dibanting pula oleh Siau Hong tanpa bisa berkutik
maka dalam hati para ksatria lantas timbul rasa kecewa
kepada keluarga Buyung yang dianggapnya cuma punya nama
kosong belaka.
Tapi sekarang setelah menyaksikan sì padri jubah putih
memperlihatkan tutukan saktinya, mau tak mau timbul
kembali rasa kagum dan homat para ksatria kepada "Koh-soh
Buyung." Cuma saja dalam hati semua orang sama bertanya-
tanya, “Siapakah gerangan padri ini? Ada hubuungan apakah
antara dia dengan Buyung Hok?"
Kemudian padri baju putih itu berpaling Ke arah Siau
Hong, katanya sambil merangkap tangannya, "Ilmu silatl
Kiaui-tai-hiap sungguh maha sakti dan tidak bernama kosong,
maka ingin kubelajar kenal beberapa jurus denganmu.''
Memangnya Siau Hong sudah siap, maka ketika
merangkap tangannya memberi salam, segera la pun
merangkap kepalan tangan dan balas menghormat sambil
berkata, "Ahh, Taisu tidak perlu sungkan-sungkan!”
Maka terbenturlah dua arus tenaga maha kuat badan
kedua orang pun sama-sama tergeliat sedikit.
Pada saat itulah dari udara tiba-tiba melayang turun
sesosok bayangan hitam laksana elang raksasa menyambar ka
bawah dan dengan tepat jatuh di tengah-tengah antara padri
jubah putih dan Siau Hong yang sedang mengadu kekuatan
itu.
Karena datangnya bayangan orang itu teramat cepat dan
melayang turun dari udara saking terkejutnya sampai semua
orang sama menjerit. Dan sesudah bayangan orang itu berdiri
tegak di atas tanah barulah semua orang dapat melihat jelas
kiranya pada tangan orang itu terpegang seutas tambang
yang sangat panjang, ujung tambang yang lain terikat di
pohon besar yang berada di tempat beberapa meter jauhnya.
Jadi orang itu melayang tiba dengan ayunan tambang yang
panjang itu.
Orang itu tampak berkepala gundul, nyata juga seorang
padri. Terbalik daripada si padri jubah putih yang memakai
kain kedok putih, padri jubah hitam ini juga memakai kain
kedok hitam sekarang cuma kelihatan sinar matanya yang
berkilatan. Kedua padri hitam-putih ini berdiri berhadapan dan
saling pandang.
Kedua padri itu berdiri saling pandang sampai sekian
lamanya dan tetap tiada yang membuka suara.
Semua orang melihat perawakan kedua padri itu sama-
sama sangat tinggi cuma padri jubah hitam agak lebih kekar
dan padri jubah putih lebih kurus.
Di antara para penonton itu hanya ada seorang yang
merasa sangat girang dan terima kasih ialah Siau Hong. Dari
gaya dan cara si padri jubah hitam itu melayang tiba dengan
tambang yang panjang itu dapat dikenali tak lain tak bukan
adalah Hek ih-tai-han (si lelaki baju hitam) yang pernah
menolong jiwanya di Cip-hian ceng dahulu. Cuma waktu itu
Hek-ih-tai-han memakai topi dan berbaju orang biasa,
sedangkan sekarang dia pakai jubah padri.
Tapi dengan pandangan Siau Hong yang tajam segera la
dapat mengenalnya dari gerak gerik dan ilmu silatnya. Apalagi
dahulu sesudak hek-ih-tai-han itu menolongnya dan
mcmbawanya ke atas gunung, di sana mereka telah saling
gebrak belasan jurus, maka Siau Hong tidak pernah
melupakan gerak gerik tuan penolongnya itu.
Banyak di antara hadirin sekarang dahulu juga ikut hadir di
Cip-hian-ceng, cuma takkala itu Hek-ih-tai-han datang dan
pergi dalam sekejap saja sehingga orang lain sukar melihat
gerakannya itu dan dengan sendirinya sekarang pun tiada
seorang pun yang kenal dia.
Sesudah paling pandang sampai sekian lama, tiba-tiba
kedua padri hitam putih itu bicara berbareng, "Kau . . . . " tapi
lantas berhenti púla karena yang diucapkan ternyata sama.
Dan setelah lewat sejénak lagi barulah si padri jubah putih
melanjutkan, "Kau ini siapa?”
"Dan kau sendiri siapa?” balas padri jubah hitam.
Mendengar suara padri jubah hitam itu baru sekarang para
ksatria tahu bahwa padri itu juga sudah tua. Sebaliknya Siau
Hong pun lantas kenal suara itu memang tidak salah lagi
adalah tuan penolongnya, suatu yang pernah memberi
petunjuk dipergunungan sunyi dahulu. Seketika hatinya
berdebar-debar, sungguh ia ingin segera maju mengajak
bicara dan menyatakan terima kasihnya.
Dalam pada itu terdengar si padri jubah putih bertanya
lagi, "Kau sembunyi selama berpuluh tahun dalam Siau-lim-si,
apa maksud tujuanmu?”
“Ya, aku juga tanya padamu, apa pula maksud tujuanmu
kau sembunyi berpuluh tahun di siau-lim-si?" balas tanya si
padri baju hitam.
Karuan tanya-jawab kedua padri hitam-putih itu membuat
para padri Siau-lim-si, baik Hian-cu Hongtiang maupun tertua
yang lain sama merasa terheran-heran dan saling pandang
dengan tegang. Pikir mereka, "Mengapa kedua padri ini
mengaku sembunyi di dalam biara kita selama berpuluh tahun
tanpa kita ketahui? Apa benar bisa terjadi hal begini?”
Sementara itu terdengar si padri jubah putih itu sedang
menjawab, "Aku sembunyi di Siau-lim-si karena ingin
menyelidiki duduk perkara suatu urusan yang sebenarnya."
"Ya, aku sembunyi di Siau-lim-si juga ingin menyelidiki
duduk perkara sebenarnya suatu urusan, " sahut si padri
jubah hitam.
"Urusan yang hendak kuselidiki itu sekarang juga sudah ku
ketahui dengan jelas. Dan bagaimana dengan urusanmu?”
"Urusan yang hendak kuselidlki sekarang juga sudah
kuketahui dengan jelas, " kata si padri jubah putih. "Ilmu silat
saudara sangat hebat dan boleh dikatakan jarang ada
bandingannya. Kita sendiri sudah pernah bertanding tiga kali
dan tetap susah menentukan unggul dan asor. Apakah
sekarang kita perlu bertanding lagi?"
"Aku pun sangat kagum terhadap ilmu silat tuan andaikan
kita bertanding lagi kiranya sukar menentukan kalah atau
menang," sahut padri baju hitam.
Semua orang menjadi lebih heran demi mendengar
pembicaraan kedua "padri“ itu, tidak lazim kaum padri
menggunakan sebutan-sebutan "saudara" atau "tuan" segala.
Maka terdengar padri jubah putih menjawab, "jika begitu,
biar kita saling mengagumi saja dan mempunyai jiwa yang
berdekatan, kita tidak perlu bertanding lagi."
'Baik sekali," kata padri jubah hitam.
Kedua padri lalu saling mengangguk dan jalan berbareng
ke bawah besar di sana serta berduduk berjajar di situ sambil
memejamkan mata sehingga mirip orang bersemedi dan tidak
bicara lagi.
Setelah mengalami kekalahan tadi karena pikiran pepet
seketika hingga Buyung Hok bermaksud membunuh diri, tapi
telah ditolong dan ditegur oleh padri jubah putih dan akhirnya
sadar kembali akan kekeliruan yang cupat itu, sungguh ia
merasa malu dan berterima kasih pula. Pikirnya, "Padri agung
ini katanya kenal leluhurnya siapa yang di kenalnya kakek atau
ayah? Rasanya untuk pergerakanku selanjutnya aku perlu
minta petunjuk yang berharga dari padri agung ini,
kesempatan baik ini tak boleh kulewatkan."
Karena melihat kedua padri Itu sedang semedi, Buyung
Hok lantas mundur kesamping dan tak berani
mengganggunya, ia ambil keputusan akàn menunggu agar
nanti dapat minta petuah yang lebih berharga bila padri jubah
putih itu sudàh berbangkit.
Teringat tadi sang Pìauko hampir saja bunuh diri, perasaan
Giok-yan sampai sekarang belum lagi tentram, ia memegangi
lengan baju Buyung Hok dengan air mata bercucuran.
Sekarang perhatian semua orang lantas terpusat pada Hi-
tiok yang masih terus melabrak Ting Jun-jiu itu.
Tiba-tiba Kiok-kiam teringat sesuatu, segera ia mendekati
Salah seorang ksatria Cidan dan berkata padanya, "Cujin kami
sedang bertempur, pasti perlu minum sedikit arak agar
tenaganya bertambah hebat. Dapatlah kami mendapatkan
sedikit arakmu?"
"Persediaan arak di sini cukup banyak boleh kau ambil
saja." sahut ksatria Cidan itu sambil menyodorkan dua
kantung besar.
"Banyak terima kasih," sahut Kiok-kiam dengan tertawa,
"Kekuatan minum Cujia kami terlalu sedikit, sekantung saja
sudah lebih dari cukup."
Lalu ia menerima satu kantung arak itu ia buka sumbatnya
dan mendekati medan pertempuran, serunya kepada Hi-tiok,
"Cujin, untuk menanam bibit Sing-si-hu pada Sing-siok Lokoai,
bukankah diperlukan, sedikit air arak?"
Habis berkata, segera la angkat melintang kantung arak itu
dan menyodorkan ke depan, seketika arak mancur keluar dari
kantung itu dan menyembur kearah Hi-tiok.
"Bagus adik Kiok!" seru Bwe-kiam bertiga dengan bersorak
gembira.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar dari bawah gunung
ada suara wanita yang sedang menembang membawakan
lagu opera "Nyo Kui-hui mabuk arak."
Di tengah suara tembang itulah arak menyembur bagai
panah dari kantung arak yang dipegangi Kiok-kiam itu.
Saat itu Hi-tiok sedang melabrak Ting Jun-jiu dengan
sekuat tenaga, cuma sayang belum diketemukan cara paling
tepat untuk menundukkan Ting-lokoai. Tadi ketika dia
mendengar teriakan anggota Long-ciu-kiong yang minta dia
menggunakan "Sing-sì-hu", ia merasa cara ini terlalu keji dan
belum mau digunakan. Sekarang melihat Kiok-kiam telah
menuangkan air arak kearahnya, mau-tak-mau ia angsurkan
sebelah tangannya dan meraup segenggam air arak itù.
Pada saat lain dilihatnya dari balik lereng gunung sana
muncul sembilan orang. Kiranya Khim-sian Kheng Kong-leng
berdelapan, yaitu apa yang disebut "Ham kok-pat-yu"
(delapan sahabat dari lembah Ham). murid, murid Liong-uh
lojin, seorang lagi adalah A Pik, dia adalah murid Khong Kong-
leng. Dan yang menembang adalah si pemain sandiwara Li Gui
lut.
Ketika melihat Hi-tiok sedang melabrak Ting Jui-jin,
keadaan sangat seru, segera Kong-leng dan lain-lain berteriak-
teriak memberi semangat, "Ciangbun Susiok hari ini benar-
benar unjuk kesaktiannya, lekas Susiok bunuh Ting-lokoai
untuk membalas sakit hati Suhu!"
Para padri Siau-lim-si menjadi heran mengapa orang-orang
itu menyebut Hi-tiok sebagai susiok mereka.
Dalam pada itu Kiok-kiam masih terus menyemburkan
araknya tanpa berhenti sehingga ada sebagian menyemprot
ke atas kepala Ting Jun-jiu.
sesudah menempur Hi-tiok sampai sekian lama Ting jun-jiu
merasa serangan lawan berubah terus tak habis-habis
sehingga dia sendirì terdesak dab kerepotan, sekarang
mendadak disembur pula oleh air arak tiba-tiba Lokoai
mendapat akal licik sekonyong-konyong lengan bajunya
mengebas sehingga air arak itu muncrat kembali
berhamburaran kearah Hi-tiok bagai hujan mencurah.
Tak kala itu Hi-tiok sedang mengerahkan segenap tenaga
dalamnya sehingga kumpulan iwekang yang diperolehnya dari
Bu-gai-cu, Thian-san Tong-lo dan. Li Jui-sui terbentang sekuat
dinding baja dan membungkus seluruh tubuhnya, sudah tentu
tidak mempan diserang apa pun, malahan sejak tadi berulang
ting-lokoai telah mengguna racun dan tetap tak mampu
merobohkan Hi-tiok. Sekarang arak yang muncrat ke arah Hi-
tiok bagai hujan itu sebelum mendekati baju Hi-tiok sudah
tertolak kembali oleh tenaga dalamnya yang maha dahsyat itu.
Sekonyong-konyong terdengar suara jeritan dua orang.
Kiok-kiam dan A Pik berbareng roboh.
Kiranya air arak yang dihamburkan kembali oleh Ting Jun-
jíü itu, setiap-titik air mengandung racun yang disebarkan oleh
kebasan lengan baju tadi. Kiok-kiam berdiri sangat dekat
medan tempur, A Pik juga sedang berlari ke arah Buyung Hok
dan hendak memberi sembah kepada majikannya itu, maka
keduanya keciprat air arak berbisa itu dan roboh terjungkal.
Sekilas Hi-tiok melihat air muka Kiok-kiam dan A Pik
berubah pucat guram bagai mayat ia kaget dan gusar pula.
Maka timbul juga akhirnya tekadnya untuk menumpas Ting
Jun-jiü, kalau iblis ini belum dibasmi, tentu kelak akan banyak
berbuat kejahatan lagi. Apalagi lantas terdengar Seruan Sih-
sin-ih yang kuatir, ''Susiok, jahat sekali racun ini, lekas Susiok
bekuk Lakoai dan paksa dia menyerahkan obat penawarnya!”
Maka tanpa pikir lagi segara Hi-tiok melancarkan serangan
dengan lebih gencar. Telapak tangan kiri diam-diam
mengerahkan lwekang dan menjalankan Pak-beng-cin-gi.
Tidak lama kemudian air arak yang tergenggam ditangannya
terbeku menjadi beberapa lapis es kecil, menyusul terus
manghantam ke depan beruntun tiga kali.
Ting Jun-jiu merasa diserang oleh hawa yang mengigilkan.
Karuan ia terkejut, ”Kenapa tenaga dalam keledai gundul kecil
ini mendadak bisa berubah?"
Cepat ia mencurahkan pikiran dan bertahan dengan
sepenuh tenaga. Tapi menyusul beberapa hiat to penting di
bagian pundak, perut, paha, betis dan lengan juga terasa
ditempel sesuatu yang maha dingin, Diam-diam Lokoai
memaki, "Kurang ajar, hawa pukulan keledai gundul cilik yang
dingin ini hebat juga sehingga dapat membuat aku menggigil.“
Segera ia pun mengerahkan tenaga untuk bertahan. Tapi
tiba-tiba "Thian-cu-hiat" di kuduk, “Hong-bun-hiat" di bagian
punggung dan “Ci-Sing-hiat” di belakang pinggang juga terasa
sangat dingin.
Dengan pengetahuan dan pengalaman Ting-lokoai yang
luas, seketika ia merasa heran dan curiga, pikirnya, "Biapun
pukulannya lebih dingin lagi juga tidak mungkin dapat
memutar untuk menyerang punggungku, apalagi yang terasa
dingin adalah bagian hiat-to penting, jangan-jangan bangsat
gundul cilik ini ada tipu muslihat yang aneh. hal ini aku perlu
berjaga-jaga."
Karena itu, segera ia pun balas menyerang, kedua lengan
bajunya mengebas berbareng, menyusul sebelah kaki terus
menendang. Cara menendang dengan ditutupi kebasan lengan
baju ini adalah kepandaian sejati Ting Jun-jiu, biasanya sangat
jitu, seratus kali menyerang seratus kali kena, kalau musuh
tidak binasa, tentu juga terluka parah.
Tak disangka serangan kilat yang diandalkan ini sekarang
gagal dan tidak manjur. Baru saja kaki terangkat setengah
jalan, sekonyorg-konyong "Hok-tho-hiat” dan "Yang-kau-hiat"
bagian dada terasa linu pegal, bahkan lantas berubah gatal
tak tertahankan. Tanpa terasa i menjerit. Dan karena merasa
gatal pegal itulah, maka kaki yang akan mengenai sasarannya
itu lantas terasa dan terpaksa ditarik kembali.
Anehnya sekali ia menjerit, maka menyusul ía terus
menjerít-jerit pula beberapa kali. Sebaliknya anak murid Sing-
siok-pai masih terus bersorak memuji tentang Sing-siok Losian
maha sakti segala, bahkan sambil mengolok-olok pihah lawan
dan dikatakan sebentar pasti akan dibinasakan Sing-siok
Losian, lebih baik sekarang juga minta ampun saja.
Jadi sorak-sorai pujian mereka itu diselingi dengan jerit
mengaduh Ting Jun-jiu sehingga kedengarannya menjadi
sangat lucu. Sebagian anak muridnya yang lebih cerdik
dengan segera tutup mulut demi melihat gelagat tidak seperti
dugaan mereka, namun sebagian besar kawannya masih terus
berkaok-kaok dan pentang bacot.
Begitulah, dalam sekejap saja serentak Ting Jun-Jiu
merasa tujuh hiat-to terpenting tubuhnya terasa gatal tak
tertahankan, rasanya seperti digigit dan disusupi oleh beribu
semut kecil, gatal-gatal geli dan sakit nyelekit.
Padahal ketujuh hiat-to itu adalah tempat yang
mematikan, untung ilmu silat Ting-lokoai memang luar biasa
lihainya takkala bertempur ia melindungi tempat-tempat hiat-
to dengan tenaga dalam yang kuat sehingga serangan Sing-si-
hu yang dilancarkan Hi-tiok itu sukar mengenai dia namun
begitu toh tidak urung ketujuh hiat-to itu akhirnya disusupi
oleh lapisan es kecil sebagai bibit Sing-si-hu yang disambitkan
Hi-tiok.
Sebenarnya Sing-si-hu itu bukan sesuatu senjata rahasia
dan juga bukan racun, tapi semacam tenaga yang tak dapat
dipegang dan tak bisa teraba, Ketika Ting Jun-jiu meresa
terserang hawa dingin pada saat itulah Hi-tiok mengerahkan
Iwekangnya untuk menyusupkan lapisan es itu ke dalam
tubuh iblis itu dan es itu dengan segera cair terkena hawa
panas badan dan tidak berbalas lagi. Namun begitu tenaga
dalam Hi-tiok sudah menyusup ke dalam urat nadinya.
Karena merasa gatal pegal tak tertahan, dengan kelabakan
Ting Jun jiu mengeluarkan macam-macam obat yang dia
bawa, sekaligus ia minum beberapa macam obat penawar,
menyusul lantas mengerahkan Iwekangnya untuk menolak
rasa gatal itu, tapi bukannya sembuh, sebaliknya rasa gatal
pegal itu semakin menjadi-jadi. Coba kalau orang lain tentu
sudah berguling guling di atas tanah, Tapi tenaga dalam Ting
Jun jiu memang maha sakti sehingga dia masih dapat
bertahan dengan mati-matian.
Celakanya Sing si-hu itu justru semacam kekuatan yang
aneh, kalau mengenai orang yang tidak mahir ilmu silat, maka
penderitaannya juga tidak berat sebaliknya semakin kuat
Iwekang penderita itu, semakin hebat pula bekerjanya Sing-si-
hu.
Maka tertampaklah Tíng-lokoai mulai sempoyongan seperti
orang mabuk arak mukanya sebentar merah padam dan lain
saat pucat pasi, kedua tangannya bergerak-gerak seperti
menari sikapnya beringas menakutkan.
Melihat penderitaan Lokoai itu. Hi-tiok agak menyesal
pikirnya "meski dosa Iblis ini pantas diberi ganjaran, tapi apa
yang harus dideritanya ternyata sedemikian hebatnya. Tahu
begitu tentu aku cuma menanamkan satu-dua potong Sing si-
hu saja dan kiranya sudahlah cukup.”
Melihat keadaan Suhu mereka yang serba celaka itu. anak
murid Sing-siok-pai yang tadinya masih bersorak-sorai memuji
itu seketika bungkam dan ikut merasa takut pula. Walaupun
masih ada satu-dua di antaranya yang berkepala batu dan
tetap memberi suara yang mengumpak Sing-siok Lokoai,
betapapun suara mereka sudah tidak selantang tadi.
Pada saat itulah mendadak sí pemain sandiwara Li Gui lui
menembang pula dangan membawakan lakon Pat-sian
(delapan dewa) mabuk dangán mengikuti gerak gerik Sing-
siok Lokoai yang sempoyongan seperti orang mabuk itu.
Karuan para ksatria terbahak-bahak geli mendengar
tembang Li Gui-lui yang jenaka itu.
Selang tak lama, akhirnya Ting Jun-Jui tidak tahan lagi, ia
tarik dan betot Jenggotnya sendiri sehingga secomot
janggotnya yang indah memutih perak itu dibubut sendiri dan
bertebaran terbawa angin. Menyusul lantas baju sendiri yang
dirobek-robek sehingga kelihatan kulit badannya yang putih
bersih.
Usia Ting jun jiu sudah lebih 70 tahun, tapi badànnya
masih sehat dan kuat seperti anek muda. Dalam keadaan
kalap, dimana jaringan sampai, di situlah badannya lantas
tergeruk luka, darah lantas mengucur pula. Sembari
menggaruk-garuk dengan sekeras-kerasnya, berbareng ia pun
berteriak-teriak, "Gatal! Aduh, gatal bukan main! Matilah aku!"
Selang tak lama, sebelah kakinya lantas bertekuk lutut,
jerit mengaduhnya semakin mengerikan.
Walaupun para ksatria itu terhitung tokoh-tokoh yang
berpengalaman semua, tapi demi nampak seorang tua
bermuka muda dan bergaya luwes sebagai dawasa, seorang
tokoh terkemuka dunia persilitan seperti Ting Jin-jiu dan
sekarang berubah gila bagai kesurupan setan sambil
mengeluarkan suara jeritan serupa binatang buas itu mau-tak-
mau semua orang ikut ketakutan, sampai Li Gui-lui yang
biasanya suka melucu juga ikut bungkam karena takut. Hanya
kedua padri hitam pütih tadi yang masih tetap duduk semedi
d¡ bawah pohon dengan tenang seakan-akan tidak melihat
dan mendengar apa yang terjadi di sekitarnya.
Maka Hian-cu berkata, "Siancai, Siancai Hi-tiok, boleh kau
hapuskan penderitaan Ting-siangsing sekarang.“
Hi-tiok mengiakan dan menerima baik perintah ketua Siau
lim-si itu.
"Nanti dulu," tiba-tiba Hian cit mencegahnya 'Hongtiang
suheng juga terbinasa di tangan iblis tua ini mana boleh kita
mengampunin dia?"
Di sebelah sana Kheng Kong-leng juga bekata, "Cíangbun
Susiok, engkau adalah ketua dari golongan kita, kenapa masih
tunduk kepada períntah orang lain? Sakit hati Suhu dan Suco
(kakek guru) kita masakah tidak dibalas?"
Seketika Hi-tiok menjadi bingung dan tidak b¡sa
mengambil keputusan.
Maka Sih-sin-ih lantas ikut bicara, "Susiok, lebih penting
memintakan dulu obat penawarnya."
Hi-tiok membenarkan usul itu. Segera ia berkata, "Nona
Bwe-kiam, boleh kau minumkan setengah butir Tin-yang-wan
(pil pemunah gatal) padanya."
Bwe-kiam mengiakan dan mengeluarkan sebuah botol
porselin kecil, ia menuang sebutir obat sebesar kacang. Tapi
demi nampak sikap Ting jun-Jiu yang beringas bagai orang
gila itu, ia menjadi takut dan tidak berani mendekat.
Segera Hi-tiok mengambil pil itu. ia membelahnya separoh,
lalu berseru, "Ting siangsing, coba pentangkan mulutmu, biar
kuminumkan pil pemunah rasa gatal ini!"
Sambil masih menggerung-gerung Ting-lokoai lantas
pentang mulut ke atas. Sekali Hi-tiok menjentik, setengah
butir pil itu lantas melayang kedepan dan tepat masuk
kerongkongan Ting Jun-jiu.
Karena seketika khasiat pil itu belum lagi bekerja, saking
gatalnya sampai Ting Jun-jiu berguling-guling di atas tanah.
Selang tidak lama kemudian rasa gatalnya mulai hilang dan
barulah ia dapat berbangkit. Pikiran sehat iblis tua itu ternyata
tidak hilang, menyadarl dirinya tak dapat melawan lagi maka
sebelum Hi-tiok membuka suara pula, buru-buru ia
mengeluarkan obat penawar dan diberikan kepada Sih-sin ih
katanya, "Yang warna merah obat luar yang putih obat
dalam?"
Rupanya karena menggerung-gerung sekian lamanya,
maka suaranya sekarang berubah serak.
Sih-sin-ih yakin Ting-lokoai tidak berani berdusta dan main
gila lagi maka tanpa ragu ia membubuhkan dan minumkan
obat yang diterimanya dari Lokoai itu kepada Kiok-kíam dan A
Pik.
"Sing-siok Lokoai." seru Bwe-kiam. "separoh pil penghapus
rasa gatal itu hanya bertahan untuk tiga hari saja, lewat tiga
hari tentu rasa gatal geli itu akan kumat pula. Tatkala mana
apakah Cukong Kami akan memberikan obat lagi atau tidak
semuanya bergantung pada tingkah lakumu nanti."
Ting-Jun-Jiu sendiri masih belum hilang rasa
penderitaannya tadi, badannya masih gemetar dan tidak
sanggup bicara lagi.
Dasar anggota Sing siok-pai itu memang manusia licin dan
pengecut, mereka sangat pandai melihat gelagat dan
mengikuti arah angin, demi melihat Ting Jun-Jiu sudah keok,
segera ada dua-tiga orang berlari ke hadapan Hi-tiok, mereka
memberi sembah dan minta diterima sebagai hamba, kata
mereka, "Leng-ciu-kiong Cujin maha bijaksana dan berilmu
maha sakti, hamba sekalian merasa kagum sekali dan bersedia
mengabdi bagi Cujin dengan segenap jiwa raga kami."
"Ya, dan kedudukan bu-lim Beng-cu ini terang tak bisa lain
kecuali Cujin yang berhak memangkunya," timbrung yang lain,
"Dan asal cujin memberi perintah, biar masuk lautan api atau
terjun ke dalam air mendidih pasti hamba sekalian tak berani
menolak."
Bahkan banyak di antaranya demi untuk membuktikan
kesetiaan mereka, terus saja mereka menuding Ting Jun-jiu
dan mencaci-makinya habis-habisan. Malahan ada yang minta
kepada Hi-tiok agar lekas membinasakan Ting-lokai supaya
iblis itu kelak tidak dapat berbuat kejahatan lagi. Menyusul
terdengar suara tambur dan gembreng bergeremuruh dan
serentak orang-orang Sing-siok-pai lantas menyanyikan lagu
“Leng ciu cujin, maha sakti” dan lain-lain, jadi mereka Cuma
menggantikan kata-kata sing-siok Losian dengan Leng-cíu-
Cujin, sedang iramanaya tidak berubah.
Dasar jiwa hi-tiok memang sederhana, demi mendengar
sanjungan puji orang-orang sing-siok-pai itu, mau-tak-mau
agak syur juga hatinya.
Namun Lak-kiam lantas membentak, ''Kalian manusia yang
tidak tahu malu ini masakah menggunakan cara menjilat Sing-
siok Lokoai untuk memuji Cujin kami? Benar-benar terlalu
kurangajar dan tidak tahu malu!"
Seketika orang-orang Sing-siok-pai itu menjadi gugup dan
takut, ada yang menjawab, "Ya, ya! hamba tentu akan
mencari cara dan model lain, tanggung Siankoh (dewi) akan
puas nanti!”
Ada yang bilang, “Keempat siankoh benar-benar secantik
bídadari turun dari kayangan, Kelak pasti memperoleh jodoh
jejaka yang gagah!"
Begitulah macam-macam pujian yang muluk-muluk dan
membuat pendengarannya merasa mengirik yang dikeluarkan
oleh anggota sing-siok-pai itu.
Dan sesudah memberi sembah kepada Hí-Tiok pula
mereka mengundurkan diri ke belakang barisan para Tongcu
dan Tocu dengan rasa bangga dan puas sehingga para ksatria
Tionggoan dan padri Siau-lim-si tidak mereka pandang
sebelah mata lagi.
Kèmudian Hian-cu berkata. "Hi tiok, engkau telah
mendirikan suatu aliran tersendiri diharap kelak akan menuju
ke arah yang baik arah yang berguna bagi sesamanya dan
diharap dapat mengawasi anak muridmu supaya mereka tidak
berbuat kejahatan dan membahayakan sesama orang
kangouw. Jika semua ini dapat kau laksanakan, maka soal
kamu menjadi padri atau tidak adalah sama saja."
"Ya, Hi-tiok menerima pesan Hongtiang dengan rasa
terima kasih," sahut Hi-tiok dengan suara berat.
Lalu Hian-cu menyambung pula, "Keputusan memecat
dirimu tak bisa di tarik kembali lagi, tapi tentang hukuman
rangket boleh dibebaskan!"
Dan belum lagi Hi-tiok menjawab, tiba-tiba terdengar
seorang tertawa terbahak-bahak berkata, "Hahaha! Kukira
Siau-lim-si paling mengutamakan tata tertib dan menegakan
hukum secara teguh, siapa tahu juga cuma sebangsa manusia
yang pandai lihat arah angin saja, hanya berani kepada yang
lemah dan takut kepada yang kuat.”
Waktu semua orang memandang ke arah pembicara itu,
kiranya Tai-lun Beng-ong Cumoti.
Air muka Hian-cu berubah merah, katanya, "Teguran
Beng-ong memang tepat. Kami mengaku salah Hian-cit Sute,
laksanakan hukuman!"
Hiau-cit mengiakan dan berpaling kepada bawahannya
sambil berseru, "Siapkan pentung hukuman!”
Lalu katanya kepada Hi-tiok, "Hi-tiok, sekarang kamu
masih terhitung murid Siu lim-pai, hendaknya bertiarap dan
menerima rangketan."
Hi-tiok menyatakan siap, lalu ia berlutut dan memberi
hormat kepada Hian-cu dan Hian-cit, katanya, "Tocu Hi-tiok
telah melanggar larangan besar biara kita maka dengan
hikmat tecu menerima hukuman rangket menurut peraturan!"
Tapi mendadak bekas orang-orang Sing-siok-pai tadi
berteriak-teriak, "Leng ciu-kiong Cujin kami adalah Bu-lim
Beng Cu, masakah para padri Siau-lim-si berani sembarangan
menyentuh badan beliau?”
"Ya, jika kalian berani mengganggu seujung bulu romanya,
rasakan nanti labrakan kami ini. Biarpun hancur lebur bagi
beliau juga kami merasa bahagia!"
Namun Sia-popo dan kawan-kawannya cukup memahami
pikiran Hi-tiok. segera membentak, "Hai, tutup bacot kalian!
Apakah Leng-ciu-kiong Cujin cocok untuk disebut-sebut oleh
kalian kawanan setan ìblis yang tidak kenal malu ini? Lekas
tutup bacot!"
Karena dampratan itu, seketika orang-orang Sing-siok-pai
tadi bungkam kembali, tampa bernapas pun tidak berani
keras-keras.
"Laksanakan hukum!" bentak Hian cit kemudian.
Segera padri pelaksana hukum dari Kai-lat-ih mendekati
Hi-tiok dan menyingsìng jubahnya keatas sehingga kelihatan
kulit punggungnya, Sedang padri lain lantas mengangkat
pentungan ke atas dan siap memukul.
Hi-Tiok sendiri tidak berani mengerakan tenaga dalam
untuk melawan rangketan itu, ia pikir hukuman itu diterimanya
sebagai akibat perbuatannya sendiri, maka setiap langketan
itu berarti akan mengurangi sebagiaan dosanya. Jika dia
mengerahkan tenaga untuk melawan dan tidak merasakan
sakitnya rangketan itu. maka hukuman itu berarti tiada
berguna baginya. Sebab itulah ia diam saja dan
mengendurkan otot dagingnya untuk menerima hukuman
rangket itu.
Tapi belum lagi pentung padri Siau-lim-si itu dijatuhkan ke
bokong Hi-tiok, sekonyong-konyong terdengar jeritan seorang
wanita yang tajam, "Hoi, nanti dulu! Apa . . . apa itu yang
kelihatan diatas punggungmu?"
Waktu semua orang memandang punggung Hi tiok,
tertampaklah bagian pinggang belakang itu ternyata ada
sebuah titik bekas luka selomotan api dupa yang terjajar
secara rajin.
Umumnya pada waktu setiap biku atau hwesio dinobatkan,
di atas kepalanya yang gundul itulah yang diselomoti dengan
dupa berapi sehingga meninggalkan bekas selomatan itu.
Siapa duga selain diatas kepala, bahkan di punggung Hi-tiok
juga bekas selomotan dupa, malahan bekas selomotan itu
jauh lebih besar, kira-kira sebesar mata uang, hal ini
menandakan selomotan itu dilakukan pada waktu dia masih
bayi sehingga bekas selomotan itu pun ikut membesar takkala
badan Hi-tiok bertumbuh. Maka kalau dilihat sekarang bekas
selomotan itu sudah kurang sempurna lagi.
Ketika semua orang tercengang heran, tiba-tiba di antara
orang banyak berlari keluar seorang perempuan setengah
umur berbaju hijau pupus. rambutnya panjang terurai sampai
di pundak, ke dua pipinya masing-masing terdapat tiga jalur
bekas luka garukan. Dia bukan lain adalah "Bu ok-put-tiok", si
orang kedua dari Su-ok, Yap Ji-nio adanya.
Begitu mendekat, sekali tangannya bergerak, kontan
kedua padri pelaksana hukuman Siau-lim-si tadi ditendang
pergi, menyusul Yap Ji-nio lantas hendak menarik celana Hi-
tiok. Melihat gelagatnya. celana Hi-tiok itu hendak dibelejeti
mentah-mentah tanpa menghiraukan Hi-tiok sebenarnya
bukan anak kecil lagi, tapi pemuda berusia 21 tahun.
Keruan Hi-tiok terkejut dan kelabakan, cepat ia lompat
bangun sambil memegangi celananya yang kedodoran dan
hampir terlepas itu, ia lompat pergi dua-tiga meter jauhnya,
lalu berpaling dan bertanya. "Kau . . . kau mau apa?”
Badan Yap Ji-nio tampak bergemetar, "O.oo . . . anakku!"
mendadak ia berseru, ia pentang kedua tangan terus hendak
merangkul Hi-tiok.
Tapi Hi tiok sempat berkelit sehingga Ji nio menubruk
tampat kosong.
Semua orang merasa heran dan mengira jangan-jangan
wanita ini sudah gila.
Berturut-turut Yap Ji-nio menubruk lagi beberapa kali dan
setiap kali dapat dihindarkan Hi-tiok dengan cepat. Maklum,
sejak Ji-nio dihantam sekali oleh Goan-ci sehingga jatuh
kelengar. Untung dia ditolong seseorang dan ketika sadar
kembali iwekangnya sudah banyak surut. Ginkang yang
mestinya merupakan kepandaian utama Yap Ji-nio juga telah
mundur separoh dari pada tadinya.
Karena menubruk beberapa kali tidak kena, Ji nio tambah
kalap bagai orang gila ia berteriak-terak, Oh. anakku! Ken . . .
kenapa engkau tidak mau mengakui ibumu ini."
Hi tiok terkesiap, perasaannya seperti kena arus listrik
serunya dengan tak lampias, "Engkau . . engkau ibuku?"
“O, anakku," seru Ji-nio. "Tidak lama sesudah aku
melahirkan dirimu aku lantas menyelomot punggung dan
kedua belah bokongmu masing-masing sembilan titik dupa.
Coba kau periksa, bukankah kedua belah bokongmu masing-
masing ada sembilan titik bekas selomotan?"
Sungguh Hi tiok terperanjat luar biasa. Memang benar
bahwa di atas kedua belah bokongnya yang putih halus itu
terdapat sembilan titik bekas selomotan dupa. Karena hal itu
sudah ada sejak kecil, pula tidak tahu asal-usulnya sendiri
maka selamanya ia tidak pernah beberkan rahasia badan
sendiri kepada orang lain.
Terkadang bila dia sedang mandi dan melihat tanda
istimewa di atas bokong sendiri itu selalu ia anggap dirinya
memang dilahirkan sebagai anak Budha, makanya terdapat
bekas selomotan yang aneh itu. Karena itulah meka ia tambah
alim dan sujud kepada agamanya.
Sekarang demi mendengar ucapan Yap Ji-nio itu, rasanya
seperti bunyi halilintar di siang bolong, dengan suara gemetar
dan tak tertahankan ia menagis, "Ya, ya! Memang . . .
memang di atas bokongku ada bekas selomot . . . selomotan
itu. Apa . . . apa engkau . . . ibu yang . . . yang menyelomoti
aku dahulu?”
Maka menangislah ji-nio dengan tergerung-gerung sambil
sesambatan, “Ya, benar! Jika ...Jika bukan aku yang
menyelomot, dari mana . . .àku akan bisa tahu? O, aku telah .
. . telah menemukan putraku , aku menemukan putra
kandungku..O, aku . . . aku sudah menemukan anakku
sekarang!"
Sembari menangis terus saja ia ulur tangan buat
merangkul Hi-tiok.
Sekali ini Hi-tiok tidak menghindar dan menolak lagi, ia
membiarkan dirinya dipeluk Ji-nio.
Sejak kecil Hi-tiok sudah yatim piatu dan dipiara padri
Siau-lim-si. tentang kedua belah bokongnya ada bekas
selomotan dupa hanya dia sendiri yang tahu, sekarang Yap Ji-
nio ternyata dapat mengatakannya dengan jitu, sudah tentu
tidak perlu disangsikan lagi akan kebenaran ucapan Ji-nio tadi.
Untuk pertama kali inilah mendadak Hi-tiok merasakan
cinta kasih seorang ibu yang belum pernah dinikmatinya
selama ini, saking terharu air matanya lantas bercucuran juga.
Serunya dengan suara parau, "Ibu . . . O, ibu! Engkau . . .
.engkau adalah ibuku!“
Kejadian mendadak ini benar-benar di luar dugaan siapa
pun. Dengan terheran-heran semua orang menyaksikan Hi-
tiok dan Yap Ji-nio saling rangkul dan menangis, berduka dan
bergirang pula. Menyaksikan adegan demikian, biarpun hati
para ksatria sekeras baja juga ikut luluh dan terharu.
Maka terdengar Ji-nio berkata, "Anakku, tahun ini engkau
berusia 24 tahun, selama 24 tahun ini, siang malam
senantiasa kupikirkan dirimu. Aku menjadi iri bila melihatnya
orang lain punya anak, sebaliknya anakku sendiri diculik
bangsat terkutuk, makanya aku . . . aku pun suka menculik
anak orang lain. Tetapi . . tetapi anak orang lain sudah tentu
tidak sebaik anaknya sendiri."
"Hahahaha!" tiba-tiba Lam-hai gok-sin tertawa. "Sam-
moai, jadi sebabnya kau suka menculik anak kecil orang untuk
dibuat mainan sesudah bosan memain lantas kau minum
darahnya, kiranya lantaran anakmu sendiri diculik orang.
Sering aku Gak-loji suka tanya padamu, tapi engkau tidak mau
menerangkan sebab musababnya. Ehm, bagus-bagus
sekali..He, bocah Hi-tiok, ibumu adalah adik angkatku, nah,
lekas kau panggil Empek (paman) padaku!"
Mengingat bahwa tingkatannya sekarang ternyata lebih tua
daripada Leng-ciu-kiong Cujin yang berkepandaian maha sakti,
sungguh girang Lam-hai-gok-sìn tidak kepalang.
Sebaliknya terdengar In Tiong-ho berkata sambil geleng
kepala, "Salah, salah! Tidak bisa! Hi-tiok cu adalah saudara
angkat Suhumu, maka kamu harus panggil dia Supek.
Sedangkan aku adalah saudara angkat ibunya, tingkatanku
juga lebih tua dua angkatan daripadamu, maka kamu harus
lekas panggil 'Susiokco' (kakek guru) padaku!”
Lam-hai-gok-sin melengak oleh keterangan itu dipikir-pikir
memang serba salah akhirnya ia meludah dan mendadak
memaki, "Maknya, Locu tidak mau panggil!"
Dalam pada itu Yap ji-nio telah melepaskan rangakulannya
pada Hi-tiok, ia pegang pundaknya dan dipandang dari kanan
dan kiri dengan girang tak terlukiskan. Lalu ia berpaling
kepada Hian-cu dan berkata, "Dia adalah putraku, kamu
keledai gundul ini tidak boleh mengganggu dia!"
Tiba-tiba Hi-tiok teringat sesuatu. Tempo hari waktu dia
memecahkan problem catur pernah dia lihatnya Yap Ji-nio
bersikap sangat mesra pada Sing-siok Lokoai, bahkan
memanggilnya "Engkok Jun-jin yang tercinta” apa segala,
terang di antara mereka berdua seperti ada hubungan
istimewa. Wah, jangan-jangan dirinya adalah putra Ting Jun-
jui.
Sungguh celaka bila betul begitu, Sang ibu adalah Yap Ji-
nio yang bejat dan jahat termasuk satu di antara Su-ok yang
terkutuk dan kalau sang ayah benar benar Ting jun jiu
adanya, maka nama busuknya jauh lebih lebih tak terkatakan
lagi. Yang penting celaka adalah tadi dia malah sudah
melabraknya dan menanamkan Sing si-hu pada tubuhnya
sehingga dia tersiksa setengah hidup. Wah, lantas bagaimana
baiknya? Demikian pikir Hi-tiok.
Hi-tiok coba melirik ke arah Ting Jun-jiu dengan rasa tidak
tentram, mukanya sebentar merah sebentar pucat, kemudian
pun pandang Yap Ji-nio dengan harapan ibunya akan
mengatakan siapakah gerangan ayahnya yang sebenarnya?
Tapi bila sudah di katakan pun ayahnya benar-benar Ting Jun
jiu, wah, kan jadi benar celaka 13? Maka lebih baik tidak
dikatakan saja.
Namun sejak kecil Hi-tiok sudah yatim piatu, sekarang
dapat bertemu dengan ibundanya, sudah tentu ia pun
berharap dapat bertemu dengan ayahnya pula. Ya, biarpun
ayahnya adalah Ting-Jun-jui mau-tidak-mau día harus
mengakuinya.
Tengah Hi-tiok merasa ragu dan serba susah tiba-tiba
terdengar Yap Ji-Nio berseru, ”Entah kampret keparat mana
yang menculik anakku sehingga kita ibu dan anak terpisah
selama 24 tahun, Nah, anakku, marilah kíta menjelajahi dunia
ini dan harus menemukan bangsat keparat itu, kíta akan
mencincang dia hingga hancur luluh. Ibu tidak dapat melawan
dia, tapi ilmu silat anak sekarang maha tinggi, kebetulan dapat
membalas sakit hati ibu."
Mendadak padri jubah hitam yang sejak tadi duduk semadi
di bawah pohon itu berdiri, lalu berkata dengan pelahan,
"Anakmu ini diculik orang atau di rampas orang? Dan bekas
luka enam jalur garukan pada mukamu itu disebabkan apa?"
Air muka Yap Ji-nio berubah hebat, jeritnya dengan suara
tajam, "kau . . . kau siapa? Dari mana kau tahu!"
"Masakah kamu menjadi pangling padaku?" Tanya padri
jubah hitam.
"Hah, kau, ya, benar kau!" Jerit Ji-nio pula segera ia pun
menubruk maju.
Tapi kira-kira dua meter di depan padri itu, mendadak Ji-
nio berdiri tegak sambil menuding dengan beringas dan tidak
berani mendekat lagi.
"Ya, memang akulah yang merampas anakmu itu." kata si
padri jubah hitam. "Dan enam jalur luka pada mukamu itu pun
akulah yang menggaruknya."
"Sebab apa sebenarnya sebab apa kau rampas anakku?"
teriak Ji-niu. "Selamanya kita tidak saling kenal, tiada punya
permusuhan apa pun, tapi mengapa kau . . , kau bikin susah
padaku, membikin aku menderita siang dan malam selama 24
tahun?"
"Tempo hari waktu terkena pukulan Ong-Sing-thian yang
jahat itu, jiwamu mestinya sukar dipertahankan lagi, tapi
siapakah yang menolongmu?" tiba-tiba padri itu bertanya pula.
"Aku tidak tahu," sahut Ji-nio. "Apakah mungkin engkau
yang , . , yang menolong aku?"
"Benar, memang aku," padri itu mengangguk.
Tempo hari waktu Yap Ji-nio jatuh pingsan karena pukulan
Goan-ci itu, dalam keadaan tak sadar dia cuma merasa ada
orang telah menolongnya dengan menyalurkan iwekang yang
sangat tinggi namun orang itu sudah tinggal pergi ketika Ji-nio
siuman kembali. Kemudian Ji-nio pernah tanya Ting jun-jiu
dan Toan Yan-khing, tapi mereka tidak merasa telah
menolongnya sehingga kejadian itu tetap merupakan tanda
tanya didalam hati Ji-nio. Ia tahu perbuatannya sendiri terlalu
jahat sehingga tiada seorang tokoh persilatan dari kalangan
baik-baik sudi menolongnya, sebaliknya sedepat mungkin
malah akan membunuhnya.
Sekarang paderi jubah hitam itu mengaku telah menolong
jiwanya, kalau dilihat dari kepandaiannya yang amat
mengejutkan tadi memang tidak perlu disangsikan lagi akan
kemampuan padri ini. Tapi karenanya juga Ji-nio menjadi lebih
curiga. Dengan termangu-manggu ia pandang padri itu sambil
berkata, “Sebab apa? Sebab . . . sebab apa kau menolong
aku?”
Tiba-tiba padri jubah hitam itu menunjuk Hi tiok dan
berkata. “Siapakah ayah bocah ini?”
Ji-nio tergetar hebat, sahutnya dengan gemetar, "Dia . . .
dia . . . Tidak, tidak dapat kukatakan. Tidak mungkin
kukatakan."
Perasaan Hi-tiok terguncang hebat, cepat ia berlari
mendekati Ji-nio sambil berseru, "Mak, kau katakan pada ku
saja! Siapakah ayahku?"
"Ti . . . tidak, tidak dapat ku katakan," sahut Ji-nio sambil
goyang-goyang kepala.
"Yap Ji-nio," kata padri jubah hitam berkata pelahan-
pelahan, "asalnya kau adalah seorang nona yang baik,
seorang nona yang cantik dan prihatin. Tapi pada waktu kau
berumur 18 tahun kau telah terpeleset oleh seorang lelaki
yang berkedudukan dan berilmu silat tinggi, kau telah
menyerahkan kehormatan kepadanya sehingga melahirkan
anak ini betul tidak?"
Ji-nio tampak diam, seperti patung di tempatnya, sampai
agak lama baru mengangguk dan berkata, “Ya!"
"Lelaki itu memang terlalu serakah, dia Cuma memikirkan
kesenangannya sendiri, memikirkan nama baik dan hari depan
sendiri, sebaliknya tidak ingat kepada dirimu sebagai seorang
nona yang belum menikah dan sudah punya anak, dia tidak
ingat bagai bagaimana keadaanmu yang menyedihkan itu,"
demikian kata padri itu lebih jauh.
"Tidak, tidak!" sahut Ji-nio. "Dia telah memikirkan diriku
dia banyak memberi uang padaku dan mengatur hidupku hari-
hari selanjutnya."
"Tapi mengapa dia tidak mau mengambil dirimu sebagai
istri saja. sebaliknya membiarkan dirimu terlunta-lunta di
rantau!" tanya si padri.
"Aku tak dapat menikah padanya, mana boleh dia
mengambil aku sebagai istri!" sahut Ji-nio. “Tapi dia seorang
baik selamanya dia sangat baik padaku. Hanya aku sendirilah
yang tidak ingin membikin susah padanya. Dia . . . dia adalah
orang baik."
Nyata dari ucapannya itu terang ia masih penuh kenangan
dan rasa bahagia kepada kekasihnya dahulu yang sekarang
telah meninggalkan dia itu, sedikit pun tidak mengurangi
cintanya walaupun sudah menderita dan merana selama ini.
Diam-diam semua orang membatin, "Yap ji-nio terkenal
maha jahat, tapi terhadap kekasihnya itu benar-benar sangat
setia dan cinta murni. Entah siapakah gerangan sang lelaki
itu."
Mendengar kisah roman Ji-nio itu, Toan Ki, Wi Sing-tiok,
Hoan Hoa, Pa thian-sik dan lain-lain tanpa merasa sama
melirik ke arah Toan Cing-sun. Mereka merasa kekasih Yup Ji-
nio itu, baik kedudukan, sifatnya yang romantis dan
perbuatannya, semuanya mirip dengan kelakuan Cing-sun.
Bahkan ada yang berpendapat, "Ya, jika demikian terang
maksud kedatangan Su-ok ke negeri Taili tempo dulu itu benar
kemungkinan ingin membikin perhitungan perkara ini dengan
Tin-lam-ong."
Kalau semua orang menyangka keras kekasih Yap Ji-nio itu
tentu Toan Cing-sun adanya, sebaliknya Cing-sun sendiri juga
merasa ragu dia sedang bertanya kepada dirinya sendirl.
"Wanita yang ku kenal memang tidak sedikit tapi apakah
termasuk juga Yap Ji-nio ini? Mengapa sedikit pun aku tidak
ingat lagi?"
Maka terdengar si padri jubah hitam sedang berkata pula
dengan suara lantang. "Ayah bocah ini sekarang juga berada
di sini, kenapa tidak kau tunjuk dia saja dan suruh dia
mengaku?"
"Ti . . . tidak, aku tidak dapat mengatakannya," sahut Ji-
nio dengan gemetar.
Hi-tiok hanya melirik ke arah Ting Jun-jiu dan ingin tahu
reaksinya. Sebaliknya hati Toan Cing sun juga berdebar-debar.
"Kenapa kau selomot anakmu dengan dupa di bagian
punggung dan kedua belah bokongnya?" tanya si padri pula.
"Tidak, aku tidak tahu? aku tidak tahu!” seru Ji nio sambil
menutupi mukanya. "O, aku mohon padamu, jangan . . .
jangan kau bertanya lagi."
Namun padri itu sedikit pun tidak terpengaruh, la tanya
terus, "Apa barangkali kau ingin anakmu menjadi hwesio sejak
dilahirkan.”
"Tidak, tidak, bukan!" sahut Ji-nio.
"Habis, mengapa?"
"Entah, aku tidak tahu, aku tidak tahu!"
"Sikap kamu tidak mau mengaku pun aku tahu," kata si
padri dengan suara keras. "Ialah lantaran ayah si bocah itu
sebenarnya adalah seorang padri alim dan terhormat."
"O!" Ji-nio merintih dan tak tahan lagi. Ia jatuh pingsan.
Seketika gegerlah para ksatria. Kalau melihat keadaan Yap
Ji-nio itu tentang apa yang dikatakan si padri jubah hitam itu
tidak omong kosong. Jadi orang yang bergendak dengan Ji-nio
sehingga melahirkan Hi tiok itu kiranya juga seorang hwesio.
Maka ramailah orang berbisik-bisik membicarakan ''skandal"
luar biasa itu.
Dalam pada itu Hi-Tiok memayang bangun Yap ji-nio dan
berseru, "Mak, mak! Sadarlah engkau!”
Selang tak lama, pelahan Ji-nio mulai siuman lalu berkata
dengan suara berat, "Nak, lekas kau bawa aku pergi dari sini,
orang ini adalah . . . .adalah hantu , ia serba tahu semua aku
tidak ingin melihat dia lagi. Sakit . . . . sakit hati ini pun tidak
perlu dibalas lagi."
"Ya, mak. marilah kita pergi," sahut Hi-tiok.
"Nanti dulu," cegah si padri tiba-tiba, "Apa yang hendak
kukatakan belum lagi habis. Kau bilang tidak mau membalas
sakit hati lagi. Tapi sakít hatiku belum ku balas. Yap Ji nio,
apakah kau tahu sebab apa aku merampas anakmu? sebabnya
íalah . . . ialah ada orang juga orang merampas anakku
sehingga keluargaku berantakan dan orangnya binasa, kami
suami istri dan ayah anak bercerai berai. Maka perbuatanku
itu hanya membalas dendam belaka."
"Jadi ada orang telah merampas anakmu? Dan engkau
cuma ingin membalas dendam?” Ji nio menegas.
"Benar," sahut si padri jubah hitam, “Aku sengaja
merampas anakmu dan kutaruh di kebun sayur Siau-lim-si
supaya hwesio di situ memeliharanya sehingga dewasa dan
mengajarkan ilmu silat padanya. Sebab anakku sendiri juga
telah dirampas orang dan dibesarkan serta mendapat didikan
ilmu silat dari hwesio Siau-lim-si. Apakah kau ingin melihat
mukaku yang asli?”
Dan tanpa menunggu jawaban Yap Ji-nio, dengan cepat
padri itu menanggalkan kain kedok sendiri. Seketika para
ksatria menjerit kaget.
Ternyata "padri" itu bermuka lebar dan penuh brewok,
wajahnya sangat angker dan gagah, usianya antara 60-an
tahun.
Sungguh kejut dan girang Siau Hong tak terkirakan, cepat
ia memburu maju dan menyembah sambil berseru, "Kau . . .
engkau adalah . . . "
"Hahaha!" orang itu terbahak-bahak, "Anak baik, anak
baik, memang benar aku ini ayahmu. Kita ayah dan anak
mempunyai perawakan dan muka yang serupa, maka tidak
pakai bukti juga semua orang tahu aku adalah bapakmu."
Ketika ia tarik bajunya sendiri sehingga dadanya terbuka,
maka tertampaklah sebuah lukisan cacah kepala serigala, lalu
ia pun tarik bangun Siau Hong dan membuka bajunya, segera
kelihatan juga tato kepala serigala yang menyeringai dengan
kedua taringnya yang menyeramkan di dada Siau Hong itu.
Kedua orang berbareng lantas bersiul sambil menengadah,
suara mereka nyaring berkumandang sehingga lembah
gunung seakan-akan terguncang. 18 ksatria Cidan juga
serentak mencabut golok mereka, pembawa mereka sungguh
luar biasa laksana pasukan raksasa.
Lalu Siau Hong mengeluarkan sebuah bungkusan kecil kain
minyak, dari situ ia mengeluarkan sehelai kertas kuning yang
yang terlipat. Ketika itu dibentang, maka kelihatanlah huruf-
huruf cidan yang tercetak. Itulah tulisan tinggalan ayah Siau
Hong di dinding karang yang diterimanya dari Ti-kong Taisu
dahulu.
"Hahaha, tulisan Siau Wan-san sebelum ajal haha!"
demikian orang tua berewok alias Siau Wan-san terbahak
sambil tuding tulisan di atas kertas yang dibentang Siau Hong
itu. "Haha, anakku pada saat aku terjun ka bawah jurang,
ingin menyusul ibumu, tak tersangka ajalku belum waktunya
tamat, tahu-tahu aku kecantol di dahan pohon raksasa di
bawah jurang dan tidak jadi mati. Dengan demikian gagal
maksudku membunuh diri sebaliknya lantas timbul cita-citaku
untuk membalas dendam. Tatkala di luar Gan-bun-koan
dahulu itu, ibumu yang tak bisa ilmu silat itu tanpa alasan
telah dibunuh jago silat Tionggoan sini, coba katakan, sakit
hati ini harus kita balas atau tidak?”
"Sakit hati ibu sedalam lautan, sudah tentu harus dibalas!"
sahut Siau Hong tegas.
"Orang-orang yang dahulu ikut membinasakan ibumu itu
sebagian besar sudah kubunuh pada waktu itu juga," kata
Siau Wan-san. "Sedangkan Ti kong dan manusia yang
menyamar dan mengaku bernama Tio-ci-sun itu pun sudah
mampus di bunuh anak Ong Kiam-thong, itu Pangcu Kai-pang
sudah mampus karena sakit, baginya boleh dikatakan terlalu
untung. Cuma itu Toa-ok-jin (durjana besar) yang mereka
sebut sebagai Toako pemimpin itu sampai sekarang masih
hidup segar-bugar. Coba katakan nak, cara bagaimana kita
harus menghadapinya."
"Siapakah dia itu!" tanya Siau Hong cepat.
”Ya, siapakah dia?" mendadak Siau Wan-sin bersiul
panjang, sinar matanya bagai kilat menyapu ke arah para
ksatria Tionggoan.
Para ksatria yang kebentrok sinar matanya sama merasa
kebat-kebit. Walaupun mereka tiada sangkut-pautnya dengan
peristiwa di luar Gan-bun-koan dahulu, tapi demi melihat sikap
Siau Wan-san yang gagah berwibawa itu semuanya merasa
jeri dan tiada seorang pun berani bergerak atau bersuara
seakan-akan kuatir menimbulkan bencana bagi mereka
sendiri.
"Anakku," kata Siau wan-san kemudian "pada hari itu aku
bersama ibumu dengan membopong dirimu sedang
berkunjung ke rumah nenekmu, tidak tersangka setiba di luar
Gan-bun-koan mendadak berpuluh jago silat Tionggoan
menyergap kita sehingga ibumu dan para pengiring kita
terbunuh semua. Kerajaan Song memang bermusuhan dengan
bangsa Cidan kita dan bukan kejadian aneh kalau saling
bunuh-membunuh, Tapi para jago silat Tionggoan ini
bersembunyi di lereng bukit sana terang mereka mempunyai
muslihat tertentu. Anakku, apakah kau tahu apa sebabnya?”
Siau Hong menyahut, "Dari Ti-kong Taisu anak mendengar
katanya mereka mendapat berita bahwa jago silat Cidan
hendak menyerbu ke Siau-lim-si dan merampas kitab pusaka
mereka agar ilmu silat mereka dapat disebar-luaskan di negeri
Liau kita dan kelak akan dapat di pergunakan sebagai modal
untuk menyerang kekerajaan Song sebab itulah mereka
menyergap ayah dan membunuh ibu."
"Hehe, hehe! Sebenarnya waktu itu aku tiada maksud
hendak merebut kitab pusaka Síau-lim-si mereka yang
memfitnah aku," kata Siau Wan san dengan tertawa pedih.
"Baik, baik! Sekali Siau Wan-san di fitnah orang, maka aku
lantas sengaja berbuat. Selama 30 tahun ini aku telah
bersembunyi di Siau lim-si dan telah membaca sepuas-
puasnya segala kitab pusaka Ilmu silat mereka. Nah, para
padri saleh Siau-lim-si, kalau kalian mampu bolehlah
membunuh Siau Wan-san. kalau tidak, maka ilmu silat Siau-
líím-paí tentu akan tersebar di negeri Liau. Jika kalian ingin
menjebak aku lagi di Gan-bun-koan pasti kalian akan
terlambat."
Semua padri Siau-lim-si menjadi terperanjat oleh cerita
Siau Wan-san itu. Mereka pikir jika beñar apa yang dikatakan
sehingga ilmu silat Siau-lim-pai tersebar di negeri musuh, itu
berarti orang Cidan akan mirip harimau tumbuh sayap dan
benar-benar membahayakan.
"Ayah," kata Siau Hong. "kalau Toa-ok-jin itu membunuh
ibu, hal ini boleh dikatakan terjadi karena salah paham, Tapi
dia membúnuh juga ayah bunda angkatku Kiau Sam-hoai
suami-istri sehingga anak yang harus menanggung nama
jelek, hal itu sungguh tidak pantas. Maka sebenarnya siapakah
Toa-ok-jin itu, harap ayah memberi tahu saja."
"Hahaha!" tiba-tiba Siau Wan-san tertawa. "Nyata kau pun
salah sangka, anakku!"
"Salah sangka?" Siau Hong menegas dangan heran.
"Ya, kau salah sangka," sahut Wan-san mengangguk.
"Sebab suami-istri orang she Kiau itu akulah yang
membunuhnya!"
"Hah, ayah yang membunuhnya?" Siau Hong menegas
dengan terkejut. "Se . . . sebab apa?"
''Kamu putraku, mestinya keluarga kita dapat hidup
berbahag¡a, tetapi orang Tionggoan ini memandang bangsa
Cidán kita bagai mahluk yang lebih rendah daripada hewan
dan sedikit-sedikit lantas main bunuh bangsa kita." demikian
sahut Wan-san, “Mereka merampas anakku dan diberikan
kepada orang lain. Suami-istri she Kiau itu mengaku sebagai
orang tuamu, ia merampas kebahagiaan keluarga kita dan
tidak mengatakan duduknya perkara padamu, kesalahannya
inilah pantas di hukum mati."
"Tapi . . . tapi ayah dan ibu angkat sangat berbudi pada
anak, mereka adalah orang baik sekali." ujar Siau Hong
dengan rasa pedih. '"Jika demikian, jangan-jangan orang yang
membakar Tan-keh-ceng, yang membunuh Tam-kong dan
Tam-poh apakah juga . . . juga . . . . "
"Benar, semuanya perbuatanku," sahut Wan-san. "Habis,
sudah terang mereka mengetahui biang keladi yang dahulu
memimpin mereka menyergap kita di Gan-bun-koan tapi
mereka tidak mau mengatakan padamu, semuanya melindungi
dìa, bukankah mereka pun pantas dibunuh?"
Untuk sejenak Siau Hong terdiam, pikirnya, “Semula Toa
ok-jin yang kucari itu kusangka sama orangnya dengan 'Toako
pemimpin’ yang dikatakan mereka, siapa tahu pembunuhan-
pembunuhan itu adalah perbuatan ayah. Ai, sungguh sukar
untuk dipahami."
Kemudian ia berkata pula dengan terputus-putus. "Hian . .
. Hian koh Taisu dari Siau-lim-si adalah guru yang telah
mendidik dan membesarkan anak selama ini . . . . " Sampai di
sini suaranya menjadi terguguk-guguk, la menunduk dan air
mata berlinang-linang.
"Hm, masakah orang Tionggoan ada yang baik? Memang,
Hian-koh itu pun mati di bawah pukulanku." kata Siau Wan
san.
Mendengar pengakuan itu serentak para padri Siau-lim-si
sama menyebut, "Omitohud!"
Suara mereka sangat berduka dan penuh kemarahan,
walaupun seketika itu tiada orang yang lantas menantang Siau
Wan-san, tapi dari suara "Omitohud" mereka yang penuh rasa
duka itu terang mereka sudah bertekad akan membikin
perhitungan dengan Siau Wan san.
Jilid ke-75
Siau Wan-san tidak menghiraukan suara padri Siau-Lim-si
itu, ia berkata pula, "Di antara orang-orang yang ikut
membunuh istriku dan merampas putraku terdapat pangcu
Kai-pang dan juga terdapat tokoh Siau lim-pai. Hehe, mereka
ingin menutupi utang darah mereka untuk selamanya dengun
jalan mengubah anakku menjadi orang Han, menyuruh
anakku mengangkat musuh sebagai guru dan menerima waris
kedudukan Pangcu Kai-pang dari musuh. Hehe, pada malam
itu sesudah kuhantam sekali pada Hian-keh, lalu aku sembunyi
di situ. Ketika dia melihat wajahmu sangat mirip aku dia
mengira kamu yang menyerang dia, sampai si gundul kecil
yang melayani Hian-keh juga tidak dapat membedakan mana
dirimu dan aku. Nah bangsa cidan kita sudah disembelih dan
dianiaya, apakah kita tidak masih tidak cukup menderita?”
Baru sekarang Siau Hong paham duduknya perkara.
Makanya malam itu ketika Hian-keh melihat día mendadak
padri tua itu kaget tak terkira sedangkan hwesio cilik juga
memberi kesaksian bahwa dirinya yang memukul Hian-koh,
sudah tentu sama sekali tak terpikir olehnya bahwa pembunuh
yang sebenarnya adalah seorang yang bermuka mírip dengan
dirinya dan mempunyai hubungan darah yang erat.
Maka kemudian Siau Hong berkata. "Jika ayah yang
membunuh orang-orang itu, Jadinya tiada bedanya seperti
anak yang membunuh mereka, maka tuduhan yang selama ini
dilimpahkan padaku juga tidak membuat penasaran. Tentang
orang yang mereka namakan Toako Pemimpin yang
mengepalai kawan-kawan menyergap dan membunuh ibu itu,
apa sekarang ayah dapat menyelidiki dengan jelas siapa orang
itu.”
"Hehe, masakah usahaku selama ini percuma saja? Sudah
tentu telah kuselidiki dengan jelas." ujar Wan-sin. "Jahanam
itu telah mambuat berantakan keluargaku, kalau sekali
kuhantam membinasakan dia, bukankah cara ini terlalu enak
baginya?
............................
Mendengar pernyataan Hian-cu itu seketika menjadi ramai.
Dan mendapat berbagai tanggapan, ada yang menjadi
terkejut dan mencemooh dan ada yang kasihan. Sungguh
siapa pun tidak menduga bahwa Hongtiang atau ketua Siau-
lim-si yang berwibawa dan terhormat itu bisa melakukan
perbuatan semacam itu?
Sesudah agak lama barulah suara berisik itu mulai mereda.
Lalu Hian-cu berkata pula dengan pelahan, suaranya tetap
ramah dan tenang seperti biasanya, "Siau sicu, engkau
terpísah 30 tahun dengan putramu dan baru sekarang dapat
bertemu tapi engkau sudah mengetahui bahwa dia berilmu
silat sangat tinggi, namanya sangat termasyur dan telah
menjadi tokoh terkemuka dunia kongouw, dengan sendirinya
hatinya terhibur dan merasa lega. Sebaliknya setiap hari aku
bertemu dengan putraku, namun tidak kukenal dia, aku
menyangka dia telah diculik penjahat dan tidak tahu mati
hidupnya, malahan siang malam berkuatir baginya."
"Engkau . . . tidak perlu bercerita lagi bahwa engkau . . .
bagaimana? Apa mau di . . . dikata lagi?" seru Yap Ji-nio
dengan menangis.
Namun Hian-cu menjawab dengan suara halus, ”Ji-nio,
kalau kesalahan itu sudah kita perbuat, untuk menyesal juga
sudah terlambal. Ai, selama beberapa tahun ini tentu banyak
membikin susah dirimu?"
"Aku tídak susah," kata Ji-nío dengan menangís. "Kau
sendiri menderita batin tapi tak bisa dikatakan, itulah benar-
benar süsah."
Hian-Cu mengeleng kepala pelahan, lalu katanya kepada
Siau Wan san, "Siau-sicu, pertempuran Gan bun koan ítu
adalah salah pimpinanku. Tapi para saudara telah membela
dan berkorban Jiwa bagiku, biarpun hari ini aku pun mati juga
sudah terlambat. Cuma masih ada suatu hal yang aku benar-
benar tidak paham sampai sekarang.”
Sampai disini tiba-tiba ia perkeras suaranya dàn berseru,
“Buyung Bok, Buyung-siansing, dahulu engkau telah
menyampaikan berita palsu itu padaku, katanya jago jago
Cidan hendak menyerbu Siau-lim-si apakah maksud tujuanmu
dengan kabar palsu itu?”
Kembali semua orang terkejut demi mendengar nama
"Buyung Bok” itu. Di antara para ksatria itu hanya terbatas
orang yang luas pengalamannya saja yang pernah mendengar
bahwa di antara tokoh angkatan tua “Koh soh buyung”
terdapat seorang yang bernama Buyung Bok. Karena tindak
tanduk Buyung Bok itu sangat aneh dan misterius maka jarang
yang kenal mukanya, apalagi dua-tiga puluh tahun paling
akhir ini sudah tiada orang menyebutnya lagi, Kenapa
sekarang mendadak Hian-cu menyebut nama Buyung Bok?
Dan ketika semua orang memandang menurut arah yang
dituju Hian-cu, kiranya yang dimaksud adalah si padri jubah
putih yang masih duduk di bawah pohon itu.
Maka terdengar padri itu tertawa panjang sambil berdiri
katanya, "Hongtiang Taisu, penglihatanmu ternyata sangat
tajam sehingga dapat mengenali diriku."
Habis berkata ia terus tarik satu kedok sendiri sehingga
wajahnya yang putih bagus da agak kurus.
Buyung Hok berdiri tidak jauh di sebelahnya dalam
kagetnya ia terus berteriak, "Hei, ayah jadi engkau belum .,. .
belum meninggal?"
"Buyung-sicu," kata Hian-cu pula, "kita sebenarnya adalah
sahabat lama, selamanya kuhormati kematian dirimu. Maka
takkala kau sampaikan berita itu padaku, dengan sendirinya
aku percaya padamu. Tapi sesuatu peristiwa yang keliru itu,
untuk selanjutnya engkau tidak dapat kutemukan lagi. Tidak
lama kemudian terdengar kabar bahwa engkau telah wafat,
waktu itu aku benar-benar sangat berduka kukira kaupun
sama menyesalnya karena percaya pada kabar orang lain
sehingga terjadi kesalahan besar yang tak bisa ditarik kembali
itu. Siapa tahu . . . ai!"
Suara hembusan napas panjang itu penuh mengandung
rasa menyesal dan cercaan.
Siau Wan-san saling pandang sekejap dengan Siau Hong.
Baru sekarang mereka tahu bahwa manusia yang
menyampaikan berita palsu untuk mengadu domba itu
ternyata adalah Buyung Bok. Seketika timbul suatu pikiran
yang sama dalam benak kedua ayah dan anak itu, yakni, "Jadi
peristiwa menyedihkan di Gan-bun-koan dahulu itu walaupun
dipimpin oleh Hian-cu, tapi dia adalah ketua Siau-lim-si, sudah
sepantasnya dia memikirkan kepentingan bangsa dan
neger¡nya serta kitab pusaka biaranya dengan sendirinya pula
dia bertindak sekuat tenaga. Dan kemudian sesudah tahu
perbuatannya yang salah itu. lalu sebisa mungkin dia berusaha
memperbaíki kesalahannya. Jadì Toa ok-jin atau si durjana
yang sesungguhnya bükanlah Hian-cu melainkan Buyung Bok
adanya."
Karena dendam kesumat selama 30 tahun, maka rasa
permusuhan Siau Wan-san terhadap Hian-cu susah
dihapuskan. Sebaliknya Siau Hong merasa terharu dan kasihan
juga kepada nasib Hian-cu.
Begitulah terdengar Buyung Bok bergelak tertawa,
katanya, "Bangsa Han dan orang Cidan adalah musuh
bebuyutan, asal bertemu lantas saling bunuh tanpa
membedakan salah atau benar, kenapa aku yang disalahkan?
Marilah nak, kita pergi saja!"
Segera ia gandeng tangan Buyung Hok untuk diajak pergi.
“Nanti dulu!" bentak Siau Hong mendadak. "Masäkah
begitu enak lantas hendak mengeluyur pergi?”
"Habis mau apa?" sahut Buyung Bok. "Apakah kau ingin
belajar kenal dengan kepandaian sejati Koh-Boh Buyung?"
"Sakit hati pembunuhan ibu mana boleh tidak dibalas?"
kata Siau Hong. "Segala kejadian yang menyedihkan adalah
karena perbuatanmu. Maka hari ini aku harus menuntut
keadilan padamu,"
"Hahahal" tiba-tiba Buyung Bok tertawa panjang, ia
lepaskan tangan Buyung Hok dan segera melompat pergi, ia
berlari menuju ke atas gunung malah.
"Mari kejar!" seru Wan-san kepada Siau Hong. Kedua
orang segera mengundak ke atas gunung dari jurusan kanan
dan kiri.
Kepandaian ketiga orang itu sudah mencapai tingkatan
tertinggi, maka dalam sekejap saja mereka sudah pergi sangat
jauh dan hanya kelihatan tiga bayangan orang, satu di muka
dan dua di belakang, semuanya menuju ke arah Siau-lim-si
dan untuk sekejap pula lantas menghilang di balik dinding
biara agung itu.
Tindakan Buyung Bok itu benar-benar membuat para
ksatria sangat heran. Pikir mereka, "Kepandaian Buyung Bok
itu sama hebat dengan Siau Wan-san. Tapi kalau ditambah
seorang Siau Hong, pasti Buyung Bok sukar dilawan. Dan
kenapa dia tidak berlari ke bawah gunung, sebaliknya malah
lari ke dalam Siau-lim-si?”
"Ayah. ayah!" Buyung Hok berteriak-teriak dan segera ia
pun menyusul ke atas gunung. Ginkangnya juga sangat tinggi,
tapi kalau dibandingkan ketiga orang didepan ternyata masih
kalah setingkat.
Segera Ting Pak-jwan. Kongya Kian, Pau Put-tong, Hong
Po-ok dan ke-18 ksatria Cidan juga bermaksud memburu ke
atas gunung untuk membantu majikannya masing-masing.
Tapi baru saja mereka akan bergerak, tiba-tiba Hian-cit
membentak. "Pasang barisan dan rintangi mereka?”
Serentak beratus-ratus padri Siau Lim-Si mengerubung
maju dan pasang barisan masing-masing dengan senjata siap
di tangan untuk merintangi setiap orang yang berani maju.
"Siau Lim-si kami adalah tempat suci dan bukan tempat
berkelahi untuk umum, maka perempuan diharap jangan
sembarangan masuk ke sana!” seru Hian-cit pula dengan
garang.
Melihat begitu hebatnya barisan padri Siau-Lim-Si, Pek
jwan insaf tidak mungkin dapat menerjang lewat kesana,
terpaksa ia tidak berani bergerak lagi walaupun dalam hati
sangat menguatirkan keadaan sang majikan.
Sebaliknya Pau Put-tong lantas menanggapi ucapan Hian
Cit tadi, “ Benar, Siau Lim-Si memang tempat suci, tempat suci
untuk mengadakan hubungan gelap dan melahirkan anak
haram!”
Karena kata-kata ini seketika beratus pasang mata dengan
sorot mata yang gusar terpancar arahnya. Tapi dasar watak
Pau Put-tong tidak kenal apa artinya takut biarpun tahu bukan
tandingan salah seorang padri angkatan "Hian" dari Siau-Lim-
Si, tapi sekali dia sudah bicara apa pun juga siap akan
dihadapinya. Maka terhadap pelototan mata beratus padri
Siau-Lim-si itu kontan dibalasnya dengan mendelik pula.
Maka terdengar Hian-cu berkata dengan suara lantang.
"Aku telah melanggar larangan besar agama sehingga
mencemarkan nama baik Siau-Lim-pai. Nah Hian-Cit Sute,
Kalau menurut peraturan apa hukumanku itu?”
“Ini. . . ini . . . Suheng . . . . " sahut Hian cit dengan
tergegap dan ragu.
"Negara mempunyai undang-undang dan keluarga
mempunyai peraturan, setiap golongan, aliran atau
perkumpulan tentu juga punya murid yang menyeleweng."
kata Hian-Cu. "Nah. Murid pelaksana hukuman, siapkan
pentungan dan rangket Hi tiok 130 kali, yang seratus kali
adalah hukuman yang dijatuhkan atas dosanya dan 30 kali
adalah hukuman kepada gurunya yang diwakilkan olehnya."
Segera murid pelaksana hukum memandang Hian-Cit,
ketika padri agung itu mengangguk, dalam pada itu Hi-tiok
sudah bertiarap dan siap menerima hukuman. Segera padri
yang memegang pentungan itu mulai menghantam punggung
dan bokong Hi-tiok sehingga babak belur dan berdarah.
Walau pun dalam hati Yap Ji-nio sangat sedih, tapi
biasanya dia jeri kepada wibawa Hian-cu, maka tidak berani
memohonkan ampun. Dengan susah payah akhirnya Hi-tiok
selesai menerima 130 kali rangketan itu. Karena dia tidak
melawan dengan tenaga dalamnya, maka sakitnya tidak
kepalang sehingga tidak sanggup berdiri lagi.
"Sejak kini kamu dipecat dan bukan padri Siau-lim-si lagi,"
kata Hian-cu.
Hi-tiok mengiakan dengan air mata berlinang-linang.
Lalu Hian-Cu berkata pula, "Hian-cu melanggar pantangan
berzinah, dosanya sama dengan Hi-tiok, tapi dia adalah
Hongtiang, maka hukumannya harus berlipat ganda. Nah,
padri pelaksana hukum, rangket Hian-cu 200 kali. Nama baik
Siau Lim-si harus tetap terpupuk, sedikit pun tldak boleh
pandang bulu dan pilih kasih."
Habis berkata, ia lantas bertiarap sendiri terhadap patung
Budha yang jauh berada di tengah pendopo Siau lim-si di atas
gunung. Ia menyingsing bajunya sendiri sehingga kelihatan
punggungnya.
Seketika para ksatria saling pandang dengan melongok.
Bahwasannya Hongtiang Siau-Lim-si menerima hukuman di
depan umum, sungguh kejadian yang mengejutkan dan luar
biasa.
Dengan ragu Hian-cit coba bertanya, “Suheng Engkau . . .
."
"Laksanakan hukuman semestinya.” seru Hian-Cu. "Nama
baik Siau Lim-Si mana boleh tercemar di tanganku?"
Terpaksa Hian-cit mengiakan dan memberi perintah,
"Baiklah, hukuman dimulai!”
"Maaf Hongtiang!" lebih dulu kedua pelaksana hukuman
memberi hukuman. Habis itu mereka melangkah mundur dua
tindak dan angkat pentungan mereka terus menghantam ke
Hian-Cu secara bergiliran.
Kedua padri pelaksana hukum itu tahu yang membuat
tidak enak Hongtiang mereka adalah di jatuhi hukuman di
depan umum dan bukan soal babak belurnya rangketan itu.
Kalau sekarang mereka merangket dengan ringan tentu akan
di buat comooh orang luar malah. Maka mereka terus
menghantam sebagaimana mestinya tanpa pandang bulu.
Hanya sekejap saja punggung dan bokong Hian-Cu sudah
babak-bundas penuh darah.”
Para padri Siau Lim-si lain sama menunduk sambil berdoa
mereka hanya mendengar kedua padri pelaksana hukum itu
menjatuhkan pentungan mereka dan mengeluarkan suara
"plak-plok" diseling dengan suara hitungan.
Mendadak To-Ling Taisu dari Bo-to-si berseru "Hian Cu
Suheng biara kalian sangat mengutamakan tata tertib dan
menjatuhkan hukuman kepada Hongtiang sendiri tanpa
pandang bulu, sungguh aku sendiri kagum. Cuma usía Hian-cu
Suheng sudah lanjut, piula tidak mau menggunakan
Iwekangnya untuk menahan pukulan ítu, rasanya 200 kali
rangketan akan susah diterimanya. Maka ingin kumohon
ampun baginya sekarang sudah lebih 80 kali rangketan,
sisanya boleh ditunda saja pada lain hari."
"Ya, Setuju, Setujul" segera banyak di antara ksatria itu
menyokong usul To jing.
Tapi sebelum Hian-cit menjawab segera Hian-cu berseru
"Banyak terima kasih atas maksud baik para kawan. Namun
peraturan tetap peraturan dan tidak boleh dltawar. Maka padri
pelaksana hukum, hendaknya rangket terus?“
Sebenarnya kedua padri yang merangket tadi sudah
berhenti, demi mendengar perintah sang ketua terpaksa
mereka menghantam dan menghitung lagi.
Kira-kira empat puluh kali rangketan pula Hian-cu tidak
tahan lagi, kedua tangannya yang menyanggah diatas tanah
itu menjadi lemas sehingga mukanya menempel tanah.
“O, semuanya adalah salahku dan tak dapat menyalahkan
Hongtiang. akulah yang salah karena ditipu orang sehingga
sengaja menggoda Hongtiang maka . . . maka rangketan yang
lain biarlah aku saja yang menerimanya," demikian seru Yap
Ji-nio dengan menangis, la berlari-lari maju hendak tiarap di
atas badan Hian-cu untuk mewakilkan terima rangketan yang
masih kurang itu.
Tapi sebelum mendekat, sekali jari Hiau cu menutuk,
seketika Hiat-to dipinggang Yap Ji-nio tertutuk dan tak
berkutik. "Bodoh. Engkau bukan orang dalam agama dan tidak
bersalah, kenapa minta dihukum?"
Dan ketika Yap Ji-nio terpaksa diam di tempatnya dengan
air mata berlinang lalu Hian-cu berseru, "Teruskan rangketan!“
Dengan susah payah akhirnya genaplah 200 kali rangketan
itu dilaksanakan. Darah sampat mengenangi tanah sekitar
badan Hiaa-Cu di mana dia tengkurap. Sekuat mungkin Hian-
cu menahan diri sehingga tidak sampai jatuh pingsan.
Lalu kedua padri pelaksana hukum memberi hormat
kepada Hian-cu, "Lapor Siaco, hukuman atas Hongtiang sudah
selesai."
Hian-cit cuma mengangguk saja dan tak sanggup bicara.
Sesudah Hian-cu merangkak bangun, lalu ia hendak
menutuk pula Yap Ji-nio untuk membuka hiat-to yang
ditutuknya tadi. Tak terduga karena lukanya terlalu parah
sehingga tutukannya itu menjadi gagal.
Sejak tadi Hi-tiok menunggu di samping ibunya, melihat
kegagalan Hian-cu itu, segera ia mewakilkan membuka hiat to
ibunya.
Tiba-tiba Hian-Cu menggapai pada Ji-nio dan Hi-tiok agar
mendekatinya. Hi-tiok menjadi ragu sesudah berhadapan
dengan ketua Siau-lim-si itu ia tidak tahu apa mesti
memanggil "ayah" atau tetap menyebut “Hongtiang” saja?
Hian-cu lantas berkata kepada para hwesio Siau-Lim-si,
“Empat padri angkatan “Hian” dari Siau-lim-si kita telah
dibunuh orang. Hian-thong dan Hian-lan Sute diketahui
sebagai korban keganasan Ting-siangsing dari Sing siok pai,
Hian koh sute tewas di bawah pukulan Siau-sicu. Masih ada
pula Hian-pi Sute yang belum di ketahui meninggal dibunuh
oleh siapa. Semula aku kira adalah perbuatan ”Koh-soh
Buyung”, Tapi sesudah menyaksikan kepandaian Buyung Bok
losian yang telah menahan bunuh diri putranya, barulah ku
tahu bahwa sahabat lama ini kiranya belum meninggal dan
nyata “Ih-pi-ci-to, hoan-si-pi-sin” memang ilmu sakti nomor
satu di dunia ini. Cuma saja Siau-lim-pai kita selamanya tiada
permusuhan apa-apa dengan Buyung-Losicu, entah mengapa
dengan susah payah dia menjalankan muslihatnya untuk
menghancurkan golongan kita, hal ini benar-benar tidak dapat
kupahami.”
"Tangkap hidup-hidup Buyung Bok dan hukum mäti dia
untuk membalaskan Sakit hati Hian-pi Taisu!"' serentak semua
orang berteriak saking duka dan gusernya.
Tapi Hian-cu menggeleng kepala dan tersenyum, katanya
pula dengan perLahan "Setiap orang mempunyai kesalahan
dan dosa masing-masing, semoga Budha maha kasih memberi
jalan bagi mereka yang tersesat."
Lalu ia mengulurkan lengan yang sebelah memegang
tangan Ji-nio dan yang lain memegang tangan Hi-tiok katanya,
"Orang hidup di dunia ini ada kehendak dan ada kasih, tapi
semuanya sebenarnya hampa belaka, sungguh sulit, Sülit!"
Habis berkata pelahan ia pejamkan mata dan tidak
bersuara lagi.
Ji-nio dan Hi-tiok tidak berani bergerak, sebab mengira
masih ada apa-apa yang hendak dikatakan Hiau-cu. Tak
terduga tangan Hiau-cu yang memegang mereka itu makin
lama makin dingin, Karuan Ji-nio terkejut, cepat ia perìksa
pernapasan Hian-cu dan ternyata sudah berhenti, nyata ketua
Siau-lim-si itu sudah wafat.
"Ken . . . kenapa kau tinggalkan aku dengan begini saja!"
seru Ji-nio dengan wajah pucat. Mendadak ia melompat
setinggi dua-tiga meter ke atas dan membiarkan dirinya
dirinya terbanting ke bawah, "bluk", dengan keras badannya
terkapar di samping Hian-cu, dan sesudah berkelojotan
beberapa kali lalu tidak bergerak lagi.
"Ibu, ibu! Jangan , . . jangan . . . . " seru Hi-tiok dengan
bingung. Waktu ia angkat bangun ibunya, tertampaklah
sebilah belati sudah menancap di hulu hati sang ibu, terang
sukar dihidupkan kembali lagi. Cepat Hi-tiok menutuk hiat-to
disekitar luka itu, kemudian ia hendak menolong Hian-cu pula,
dengan sibuk ia hendak menolong dua orang sekaligus.
Segera Sih-sin-ih ikut maju buat membantu tapi dilihatnya
kedua orang itu sudah berhenti bernapas terang tak tertolong
lagi maka ia berkata, “Susiok hendaklah jangan terlalu
berduka kedua orang tua sudah tak bisa tertolong pula.“
Tapi Hi-tiok masih ngotot dan tidak putus asa, Uia masih
berkutat sampai sekian lama dan sudah tentu tak berhasil. Ia
dengar para padri sedang berdoa, dalam dukanya hi-tiok
lantas menangis juga dengan tergerung-gerung. Selama 24
tahun ini ia hidup yatim-piatu dan tidak pernah merasakan
setitik bahagia hidup kekeluargaanan, baru beberapa hari ini
dia bertemu dengan ayah bundanya, siapa tahu belum ada
satu jam lamanya kedua orang tua itu sudah meninggal
semua. Kalau ada peristiwa yang paling memilükan di dunia ini
rasanya tiada yang lebih tragis daripada Hi-tiok ini.
Tadi semua orang agak memandang hina kepada Hian-cu
karena sebagai ketua Síau-l¡m-si dia telah melanggar
peraturan suci, tapi kemudian mereka merasakan kesalahan
Hian-cu itu telah ditebus dengan hukuman 200 kali rangketan
di depan umum. Sama sekali mereka tidak menduga bahwa
sesudah dirangket, mendadak Hian-cu membunuh diri untuk
menebus dosanya.
Sebenarnya bila Hian-cu ingin menebus dosanya dengan
kematian, maka mestinya hukuman rangket itu tidak perlu
diterimanya, namun dia bertekad sehabis dirangket baru
membunuh diri, hal ini benar-banar perbuatan seorang sejati.
Karena kagum kepada jiwa Hian-cu yang besar itu, segera
banyak di antara para ksatria mendekati jenazah dan memberi
penghormatan terakhir.
Lam-hai-gok-sin juga lantas berkata kepada Yap Ji-nio,
"Jici (kakak kedua), Gak-Losam sekarang tidak akan berebut
urutan lagi denganmu, biarlah engkau saja yang menduduki
tempat kedua itu!''
Selama ini Lam-hai-gok-sin selalu berebut "tua" dengan
Yap-ji-nio, selalu ia mencari daya upaya agar dapat
menduduki tempat kedua dari su-ok itu. Tapi sekarang dia
mengalah dengan ikhlas, hal ini menunjukkan dia juga sangat
berduka dan kagum kepada kematian Yap-ji-nio yang setia itu.
Dalam pada itu orang-orang Kai-pang juga merasa lesu
semua. Dengan penuh semangat mereka mengeluruk ke siau
lim-si, siapa tahu Ong-pancu mereka datang-datang lantas
bertekuk lutut dan mengangkat guru kepada sing-siok lokoai,
bahkan kemudian kedua kaki sang pangcu itu di patahkan
pula oleh siau Hong.
Maka Goan-tianglo lantas berseru , "Saudara-saudara
sekalian, untuk apa lagi kita berdiam di sini? Memangnya ingin
menunggu sedekah nasi basi? Ayolah pergi dari sini!”
Para pengemis serentak mengiakan dan segera hendak
pergi semua.
Tapi mendadak terdengar Pau put-tong berseru kepada
mereka, “He, nanti dulu! Ada sesuatu yang hendak
kuberitahukan kepada Kai-pang.”
Dahulu Tan-tianglo pernah bertempur dengan Pat-tong
dan Po-ok di kota Busik, ia kenal mulut Put-tong tidak ada
kata-kata bersih, maka dengan suara garang segera ia
menanggapi, “Orang she Pau, kalau mau bicara boleh lekas
bicara jika mau kentut lekas kentut!”
"Waduuuh! Baunya bacin!” seru Put-tong sambil pencet
hidungnya sendiri. ”Hai, pengemis tukang kentut, apakah
dalam Kai-pang kalian ada seorang pengemis tua bangka
bernama Ih It-jing?”
Mendengar nama kawannya itu seketika Tan-tianglo
sangat tertarik, jawabnya, ”Jika ada mau apa? Kalau tidak ada
bagaimana?”
”Aku sedang bicara dengan seorang pengemis tukang
kentut dan kamu menanggapi ucapanku, apakah kamu
mengaku sebagai tukang kentut?” tanya Put-tong.
Karena ingin tahu urusan yang menyangkut kepentingan
organisasi mereka sudah tentu Tong Tianglo tidak sabar untuk
adu mulut dengan Put-tong. Maka jawabnya, "Aku ingin tanya
tentang Ih It jing yang kau katakan itu. Dia adalah anggota
kami dan sedang diutus berdinas ke negeri Se He, apakah
saudara mengetahui kabar beritanya?“
"Aku justru ingin bicarakan suatu urusan negeri Se He
dengan kalian," kata Put tong. "Cuma Ih It-jing itu sudah lama
melaporkan diri kepada Giam-lo-ong (Raja akherat)!"
"Hah, apa betul ucapanmu?" Yan-tianglo menegas dengan
agak kaget. "Numpang tanya, ada urusan apa tantang negeri
Se he?"
"Kamu memaki aku bicara sepertl kentut, maka sekarang
aku tidak ingin kentut lagi." sahut Put-tong.
Sungguh Tan-tianglo sangat mendongkol, tapi dia memang
seorang sabar, dengan tertawa ia berkata, "Ya, tadi
umpatanku telah menyinggung perasaan saudara, maaf!"
"Minta maaf sih tidak perlu, asal selanjutnya kamu sedikit
kentut dan banyak bicara, saja.” ujar Put-tong.
"Apa-apaan ini?” demikian pikir Tan-tianglo dengan
mendongkol. Tapi karena ingin minta keterangan terpaksa ia
mengalah. Maka ia hanya diam saja tanpa menjawab.
"Hah, kamu tidak mau bicara, jadi cuma mau kentut saja!"
kembali Put-tong mendesák.
Tapi Tan-tíanglo tetap mengalah, sahutnya tak acuh, "Ah,
jangan bergurau?”
Melihat dirinya sudah menang, kemudian Put-tong berkata,
''Jika kamu sudah mau buka suara, itu berarti tidak mau
kentüt lagi. Baiklah biar kukatakan padamu. Setengah tahun
yang lalu, ketika aku ikut Kongcu kami bersama Ting-toako
dan lain-lain, di tengah perjalanan bertemu dengan dua orang
pengemis, yang satu sudah mampus dan yang lain baru
sekarat. Yang mati itu sangat kurus, mungkín mati kelaparan
karena tidak cukup sedekah yang diperolehnya sehingga
tinggal kulit pembungkus tulang belaka dan akhirnya mampus.
Sungguh kasihan.”
"Müngkin dia Tik Pin, Tik-hiante dari Kai-pang kami,” ujar
Tan-tiang-lo.
"Ketika aku menemukan dia, keadaannya sudah kaku dan
entah día sudah laporkan diri belum kepada Giam-lo-ong,"
tutur Put-tong pula. "Dan karena dia sudah tak bisa bicara,
dengan sendirinya aku tak dapat tanya dia tinggal di mana
dan siapa namanya. Cuma aku pun kuatir jangan-jangan dia
akan memaki aku kalau mau bicara lekas bicara, jika mau
kentut lekas kentut kan celaka!''
Tan-tianglo diam saja mendengarkan ocehan Pau Put-tong.
Diam-diam ia harus mengakui orang she Pau ini sukar diajak
bercekcok, sekali salah omong, maka tidak habis-habis akan
dibalasnya.
"Huh, kamu diam saja, tentu dalam hati kamu mencaci-
maki padaku . . . " begitulah kembali Pau Put-tong mengoceh
dan memberi "kuliah" panjang lebar kepada Tan-tianglo dan
sesudah melihat lawannya itu tetap tidak berani menjawab,
kemudian barulah ia berkata, "Nah, boleh dengarkan sekarang
Selain pengemis mati yang kau katakan she Tik itu, masih ada
seorang pengemis tua yang terluka parah dan mengaku
bernama Ih-It-jing. Dia membawa sehelai maklumat dari
kerajaan Se He dan minta kami menyampaikannya kepada
ketua Kai-pang kalian."
Karena kuatir orang mengolok-olok Tan-tianglo lagi.
Segera Song-tianglo mewakilkan bicara, lebih dulu ia memberi
hormat, lalu berkata, "Pau-siangsing telah menyampaikan
berita ini kepada kami, sungguh kami segenap anggota Kai
pang merasa sangat berterima kasih."
"Tidak, tidak! Begitu tidak segenap anggota Kai-pang
kalian akan berterima kasih padamu," seru Put-tong.
"Apa maksüd ucapan Pau-siansing ini?" tanya Song-tianglo
dengan tercengang.
"Yang terang Pangcu kalian bukan saja tidak terima kasih
padaku, sebaliknya di dalam hati dia pasti akan dendam
padaku sampai ke tulang sumsum!'' kata Püt-tong sambil
menunjuk Yu Goan ci.
"Mengapa bisa begitu? Mohon pau-siansing memberi
keterangan,” kata Song dan Tan-tianglo bersama.
”Habis, Ih-It-jing itu pun kemudian mati dan orang yang
membunuh mereka itu bukan lain adalah Ong-pangcu kalian,"
kata Put-tong.
Seperti diketahui, ketika Goan-ci memukul mati kedua
pengemis she Tik dan Ih, hal itu memang dilihat oleh Pau Put-
tong, Sebelum itu Goan-Ci pernah mendapatkan pemberian
belati dari Hong Po-ok untuk mengupas kerudung besinya,
sebab itulah orang lain tídak tahu bahwa Ong Sing-thian
adalah Yu Goan-ci, tapi bagi Buyung Hok dan kawan-
kawannya sudah dapat menduga akan hal ini.
Karena keterangan Put-tong tadi, maka geregetanlah
kawanan pengemis. Segera Gu-Tianglo mendekati Goan-ci,
dengan suara bengís ia tanya, "Betul tidak keterangannya
itu?"
Karena kedua kakinya dipatahkan oleh Siau Hong, maka
sedari tadi Goan-ci duduk di tanah dengan tidak bicara, diam-
diam ia mengerahkan Iwekangnya untuk menahan sakit.
Ketika mendadak didengarnya Pau Put-Tong membongkar
kejadian tempo hari. Diam-diam ia gugup dan kuatir. Maka
waktu ditegur Cin-tianglo seketika ia menjadi gelagapan dan
tidak sanggup menjawab.
Melíhat sikapnya ítu, tahulah para pengemis bahwa diam-
diam Goan-ci telah mengakui adanya kejadian itu. Namun apa
pún juga dia adalah Pangcu, mereka tak dapat bertindak
padanya.
"Kenapa kau binasakan kedua saudara kita sendiri?" tanya
Go-tianglo pula.
"Aku . . . aku mestinya tidak . . . tidak bermaksud
mencelakai jiwa mereka tapi me . . . . mereka sendirilah yang
tidak tahan," sahut Goan-Ci tergagap.
Karena jawaban ini, maka makin yakinlah Pau Pit-tong
bahwa Ong Sing-thian itu memang benar adalah Yu Goan-ci
yang aneh tindak-tanduknya itu.
Karena tidak ingin borok Kai-pang dikatahui orang luar
terpaksa Song-Tianglo kesampingkan dulu akan kematian
kedua kawannya itu, ia berkata kepada Pau Put-tong, "Entah
maklumat yang diserahkan Ih It-Jing itu apakah Pau-siangsing
membawanya sekarang?”
”Tidak!" jawab Put tong sambil geleng kepala.
Wajah Song tianglo berubah agak kurang senang pikirnya,
"Kurang ajar! Jadi bicara panjang lebar tadì sejak tadi
tujuanmu hanya sengaja hendak mempermainkan orang!”
Dan belum lagi ia tanya pula, tiba-tiba put-tong berpamit,
"Nah, selama gunung tetap menghijau dan sungai selalu
mengalir, biarlah kita bertemu pula kelak!"
Habis itu ia terus putar tubuh dan bertindak menjauh.
"Eh, maklumat negeri Se He itu kenapa tidak saudara
sampaikan kepada kami?" cepat Go-tianglo bertanya.
"Aneh." sahut Put-tong, "Dari mana kau tahu Ih It-jing
menyerahkan maklumat itu kepadaku sehingga kau gunakan
kata 'sampaikan'? Apa barangkali kau sendiri menyaksikannya
tempo hari?”
Dengan menahan rasa gusar Song-tianglo ikut bicara,
"Sudah terang Pau-heng tadi mengatakan Ih It-jing dari Kai-
pang kami membawa sehelai maklumat dari kerajaan Se He
dan minta Pau-heng menyampaikan kepada kami, Apa yang
Pau-heng katakan ini telah didengar pula oleh para ksatria
yang hadir di sini, kenapa mandadak Pau-heng menarik
kembali ucapannya sediri?”
”Tidak, tidak! Aku tidak berkata demikian,’ sahut Put tong.
Dan ketika melihat air muka Song tianglo berubah kurang
senang, segera ia menyambung pula, "Biasanya para Tianglo
Kai-pang terkenal sebagai kaum Jantan sejati, kenapa di
depan para ksatria sejagat ini berani memutar balikan
persoalan, apakah dengan demikian nama baik para Tianglo
takkan runtuh sama sekali?"
Song, Tan dan Go tianglo saling pandang sekejap dengan
muka cemberut, sungguh mereka sangat mendongkol atas
sikap Pau Put tong yang "plin-plan" itu, mereka menjadi ragu
apa mesti ambil tindakan keras atau bersabar.
Akhirnya Tan-tianglo berkata dengan gusar, "Sebenarnya
apa kehendak Pau-heng, harap suka bicara secara blak-blakan
saja."
"Wah, kenapa kamu begini bodoh?" sahut Put-tong. "Eh.
Tan tianglo, tempo hari kamu bertanding dengan Hong-sute
kami di Bu-sik. Waktu itu kau bawa, sebuah kantung besar
dan di dalam kantung berisi seekor ketungging besar,
ketungging besar itu punya ekor panjang, ekor panjang itu
sangat berbisa, sangat berbisa itu kalau mengantup akan bikin
jiwa sang korban melayang, betul tidak?"
Diam-diam Tan-tianglo tambah mendongkol oleh ucapan
Pau Put-tong yang bertele-tele itu, mestinya beberapa kata
yang cekak-aos sengaja diulur-ulur ada ekor, ada sengat,
panjang, besar dan segala. Namun begitu, terpaksa ia pun
mengiakan perkataan orang.
Maka Put-tong berkata lagi, "Bagus! Nah, sekarang aku
ingin bertaruh dengan dirimu, Jika kamu menang, segera aku
akan memberitahukan berita yang dibawa oleh pengemis she
Tik dari Se-He itu. Sebaliknya kalau aku yang menang muka
kamu harus menyerahkan kantung besar dengan isi
ketungging itu, semuanya harus diberikan padaku. Nah, kau
berani bertaruh tidak?”
"Apa yang hendak Pau-heng pertaruhkan?” tanya Tan-
tianglo.
"Barusan Song-Tianglo kalian menuduh dia minta barang
padaku, la berkeras mengatakan kawan kalian yang bernama
Ih it-jing itu minta aku menyampaikan sehelai maklumat
kerajaan Se-He kepada kalian. Padahal sama sekali aku tidak
pernah berkata demikian. Nah, maka kita boleh bertaruh. Jika
benar aku pernah berkata seperti itu maka kalian adalah pihak
yang menang, sebaliknya kalau aku tidak pernah omong
begitu itu berarti aku yang menang."
Tan-tianglo ragu sejenak, ia coba memandang kedua
kawannya dan melihat Song dan Go-tiang|o sama
mengangguk seakan-akan mengatakan di bawah saksi para
ksatria sebanyak ini masakah Pau Put-tong dapat mangkir,
maka boleh bertaruh saja dengan dia.
Segera berkatalah Tan-tianglo, ”Baik, aku bertaruh
denganmu! Tapi entah cara bagaimana Pau-heng hendak
membuktikan pertaruhan ini? Apakah perlu mengangkat
beberapa juri yang jujur dan terhormat di antara para ksatria
yang hadir ini?”
"Bukan, bukan!" sahut Put tong dengan istilahnya yang
khas. "Kaubilang hendak mengangkat beberapa orang yang
jujur dan terhormat di antara hadirin untuk menjadi juri
apakah selain beberapa orang itu, selebihnya bukan orang
jujur dan tidak terhormat, semuanya rendah dan kotor? Ai, ai,
engkau sungguh terlalu menghina para ksatria yang hadir ini
Kai-pang kalian benar-benar terlalu kurangajar!"
”Ah, janganlah Pau-heng bergurau, sekali-kali tiada
maksudku begitu," kata Tan-tianglo dengan mendongkol
"Habis bagaimana kalau menurut usulmu?”
"Kenapa mesti susah?" sahut put-tong. "Kalah atau
menang cukup dengan satu-dua orang saja, biarlah sebentar
aku memecahkan bagimu. Nah. serahkan sini."
Sambil mangucapkan kata-kata terakhir itu, berbareng ia
pun menyodorkan tangannya.
Keruan Tan-tianglo terkejut. "Apa?" tanyanya.
"Apalagi? Kantung ketungging dan obat penawar!”
"Pau-herg belum memberi bukti-bukti nyata, mengapa
sudah anggap dirimu yang menang?"
"Aku kuatir sesudah kalah jangan-jangan kamu mungkir
janji dan tak mau menyerahkan barang-barangmu itu."
"Hahaha!" Tan-tianglo bergelak tertawa. "Hanya makluk
berbisa sekecil ini apa sih artinya, Jika Pau-heng memang
kehendaki, biarlah segera kuberikan dan kenapa mesti pakai
bertaruh segala?"
Sambil bicara ia terus menanggalkan sebuah kantung kain
yang berada di punggungnya dan mengeluarkan sebuah botol
porselen kecil dan diserahkan kepada Put-tong.
Tanpa sungkan lagi Put-tong menerimanya, ia membuka
mulut kantung itu dan melongok isinya, ia lihat di dalam
kantung ada beberapa ekor ketungging besar berwarna
loreng, cepat la menutupnya kembali dan menyimpan obat
penawar tadi. Lalu katanya, "Nah, sekarang akan
kuperlihatkan buktinya mengapa aku menang dan kamu
kalah.“
Lalu ia menanggalkan bajunya. ia kebas-kebas bajunya
dan mengeluarkan isi sakunya yang hanya terdapat beberapa
potong uang perak pecahan, batu api dan besi ketikan api lain
barang tidak ada lagi. Kemudian ia memakai kembali bajunya.
Sudah tentu Song, Tan dan Go-tianglo tidak paham apa
maksud orang. Namun lantas terdengar Pau Put-tong berkata,
"Jiko, boleh kau pegang maklumat itu dan perlihatkan kepada
mereka.“
Sebenarnya Kongya Kian lagi kelebakan menguatirkan
keselamatan Buyung Hok, tapi karena tidak mampu
menembus barisan pertahanan padri Siau-lim-si, terpaksa ia
tidak dapat berbuat apa-apa. Maka dengan tersenyum la
lantas mengeluarkan kertas maklumat dari Se He itu dan
dibentang.
Waktu semua orang memperhatikan ini maklumat itu,
mereka hanya lihat ada sebuah cap merah besar, selebihnya
adalah huruf-huruf yang tidak dikenal.
"Nah, dengarkan yang jelas." demikian kata Put-tong
kemudian. "Tadi aku cuma mengatakan bahwa Ih It-jing
menyerahkan sehelai maklumat kepada kami dan minta kami
menyampaikannya kepada Tianglo kalian betul tidak?"
"Ya, benar," sahut Song-tianglo bertiga dengan girang
karena orang mengaku sendiri apa yang dikatakannya tadi.
"Tapi Song-tianglo berkeras menuduh aku pernah
mengatakan Ih It jing telah menyerahkan sehelai maklumat
padaku dan minta aku menyampaikannya kepada Tianglo
kalian benar tidak?"
"Ya, benar! Memangnya apa bedanya?" seru ketiga Tianglo
itu berbareng.
"Sudah tentu beda, beda besar sekali! Bedanya seperti
langit dan bumi! " teriak Put-tong sambil geleng-geleng
kepala. "Apa yang kukatakan ialah 'kami', tapi Song-tianglo
menuduh 'aku', kami adalah kami dan aku adalah aku, kami
dan aku mana boleh dicampuradukan menjadi satu? Kami
termasuk Buyung-kongcu, Ting-toako, nona Ong dan lain-lain,
sebaliknya aku cuma si 'bukan-bukan' orang she Pau itu, mana
boleh kalian anggap sama dan tiada bedanya?"
Seketika Song, Tan dan Go tianglo menjadi bungkam,
mereka hanya saling pandang belaka. Sama sekali mereka
tidak menduga bahwa Pau Put-tong sengaja main pokrol
bambu, sengaja membeda-bedakan kata 'kami' dan aku
secara membingungkan.
Sekali mendapat angin terus saja Pau Put-tong menyusul
lagi, ”Nah, jadi sudah jelas bukan? Jadi yang harus
menyampaikan berita maklumat ini bukanlah aku si orang she
Pau ini, tapi rombongan kami dari Koh-soh Buyung ini. Aku
sendiri pernah kecundang di tangan kalian di Bu-sik, umpama
aku tidak bermaksud mencari balas pada kalian, tapi berita
demikian terang tak sudi kusampaikan kepada kalian."
Sampai di sini lalu ia berpaling kepada Kongya Kian dan
berkata, "Jiko,. kitia sudah menang, boleh simpan kembali
maklumat itu."
Tan-tianglo sangat cerdik mendengar kata-kata Pau Put
tong tadi segera ia tahu bahwa ocehan Pau Put-tong yang
panjang lebar dan putar kayun itu titik pokoknya adalah
mengenai persoalan kecundangnya di kota Bu-sik dulu.
Maka sambil memberi hormat Tan-tianglo berkata, "Tempo
hari dengan bertangan kosong, Pau heng telah menempur
tongkat baja Go-tianglo kami dan terang Pau-heng tidak lebih
unggul.
Kemudian sesudah Kiau-pangcu kami tampil ke muka,
akhirnya baru dapat menang sejurus pada Pau-heng. Tatkala
itu Pau-heng lantas pergi dengan berdendang tanpa
memikirkan pertarungan hebat itu. Sungguh segenap anggota
Kai-pang kami sangat menghargai jiwa besar Pau-heng, tapi
kenapa Pau-heng sendiri malah merasa rendah hati dan
mengaku kalah di tangan para Tianglo kami? Ingat kukatakan
bahwa sekali-kali tidak pernah terjadi hal seperti itu! Apalagi
Kiau Hong sudah lama putus hubungan dengan Kai-pang
kami, bahkan sekarang boleh dikata dia adalah musuh kita
bersama."
Dia tidak tahu sebabnya Pau Put-tong putar lidah panjang
lebar justru mengharapkan pernyataannya yang terakhir itu.
Jadi Tan-tianglo tanpa sadar telah terjebak.
Maka Pau Put tong lantas menumpangi umpan ítu, ”Kalau
demikian halnya, neh, sekarang kalian boleh pimpin anggota
Kai-pang kalian untuk menawan Kiau Hong yang merupakan
musuh kita bersama itu. Sesudah itu mengingat persahatan
baik kita tentu kami akan menyerahkan maklumat ini padamu.
Bahkan bila kalian tidak kenal huruf cacing dalam maklumat
itu, maka Kongya jiko tentu suka menolong kalian pula untuk
memberi penjelasan secukupnya. Nah bagaimana pendapat
kalian?”
Tan-tianglo menjadi ragu, ia pandang Song tianglo dan
pandang Go-tianglo pila.
"Ya. harus begítu, kanapa mesti ragu?" tiba-tiba seorang
berseru.
Waktu semua orang memandang ke arah pembicara itu,
kiranya Coan Koan-Jing yang terkenal cerdik itu, Terdengar ia
menyambung, "Kerajaan Liau adalah musuh bebuyutan
kerajaan Song kita. Sedang ayah Kiau Hong mengaku telah
sembunyi selama 30 tahun di dalam Siau-lim-si dan banyak
mempelajari iimu silat dari kitab pusaka yang telah dicuri-
bacanya itu. Kalau sekarang kita tidak bersatu menumpasnya,
kelak dia akan menyebarkan kepandaian yang diperolehnya
dari Siau lim-si itu kepada bangsa Cidan mereka, maka itu
berarti suatu bahaya besar bagi bangsa kita."
Semua orang menganggap uraian Coan Koan jing cukup
beralasan. Akan tetapi Hian-cu telah meninggal, Ong Sing-
thian sudah patah kedua kakinya, Siau-lim-pai dan Kai-pang
yang merupakan dua saka guru dunia persilatan Tlonggoan
dalam keadaan tanpa pimpinan. Dalam keadaan demikian
sangat diperlukan seorang yang sanggup memimpin mereka.
Karena itu semua orang Cuma saling pandang belaka dan
tidak dapat mengambil sesuatu keputusan.
Segera Coao Koan-jing berseru pula, "Boleh silakan ketiga
padri agung angkatan Hian dari Siau-lim-si dan katiga Tianglo
dari Kai-pang bersama-sama memimpin dan memberi
komando pada kita. Pendeknya kitä harus membasmi dahulu
Siau Wan-san dan Siau Hong yang merupakan bahaya bagi
kerajaan Song kita. Jika ada urusan lain biarlah ditunda dan
dirembuk lagi nanti.”
"Benar, harap para padri agung dan ketiga Tianglo suka
memimpin kita!"
"Ya, urusan yang menyangkut kepentingan bangsa ini,
harap keenam Locianpwe suka tampil ke muka!”
"Memang harus begitu! Kita akan tunduk kepada setiap
perintah untuk membunuh kedua anjing keparat ini!" demikian
beramai-ramai orang banyak lantas berteriak. Dan dalam
sekejap saja beratus orang itu serentak melolos senjata,
bahkan ada sebagian yang siap menyerbu ke-18 ksatria Cidan
yang masih berada di situ itu.
"Para saudara Cidan itu, silakan kemari!" seru Sia-popo.
Tapi karena tidak tahu apa maksud tujuan nenek itu, maka
ke-18 orang itu tetap diam saja di tempatnya dengan senjata
terhunus dan berdiri merapat. Biarpun tahu bukan tandingan
kaum ksatria Tionggoan yang berjumlah besar itu, tapi
rupanya mereka pun sudah bertekad akan bertempur sampai
titik darah terakhir.
Maka Sia-popo berseru pula, "Leng-cin Pat-poh, lindungilah
ke-18 sahabat Cidan itu!"
Maka larilah kedelapan barisan wanita Leng-cit-kiong ke
depan para ksatila Cidan, Begitu pula para Tongcu dan ToCu
ke-36 pulau dan ke-72 gua.
Para bekas anggota Sing-slok-pai rupanya juga ingin unjuk
jasa di depan majikan baru mereka. Maka tanpa disuruh
mereka pun ikut-ikut merubung maju sambil mamberi
semangat sehingga menambah perbawa mereka.
"Cujin," kata Sia-popo kepada Hi-tiok dengan hormat, "ke-
18 ksatria cidan ini adalah bawahan kakak angkat Cujin, jika
mereka dibunuh orang di depan hidung Cujin, ha! ini akan,
terlalu merosotkan pamor Leng-ciu-kiong kita. Maka kita tidak
boleh tinggal diam, kita harus mengawasi mereka dan harap
Cujin memberi keputusan."
Hi-tiok sendiri sangai berduka atas kematian ayah-ibunya.
Ia sendiri juga tidak dapat mengambil keputusan apa-apa
maka ia cuma mengangguk saja dan berkata, "Lang ciu-kiong
kita dengan Siau lim-pai adalah kawan dan bukan lawan,
hendaknya kita jangan merenggangkan hubungan baik ini
lebih-lebih janganlah sampai terjadi saling bunuh!''
Hian-cit juga tahu pihak Leng-ciu-kiong itu bukan lawan
empuk, maka demi mendengar ucapan Hi tiok itu segera ia
berkata, "Ke 18 orang Cidan ini dibunuh atau tidak tak jadi
soal, untuk sementara ini bolehlah kita kesampingkan du!u.
Nah, Hi-tiok Siansing kami hendak menangkap Siau Hong,
engkau akan membantü pihak mana?“
"Aku . . . aku tidak, membantu pihak mana-mana," sahut
Hi-tiok dengan ragu. ''Siau lim pai adalah tempat asalku, Siau
Hong adalah saudara angkatku, aku tidak boleh memihak
siapa pun juga. Cuma . . . cuma, Susiokco, kumohon engkau
jangan mengganggu Siau toako kami biarlah kunasehati dan
supaya . . supaya jangan menyerang negeri kita."
Diäm-diam Hian cit menganggap ucapan, “Hi-Tiok
siangsing, sebutan 'Sosiokco' hendaklah jangan kau gunakan
lagi."
"Ya, ya aku lupa,'' sahut Hi-Tiok.
“Baiklah, jlka Leng-ciu-kiong sudah menyatakan tidak
membantu salah satu-pihak, makä Siau-lim-pai kami dengan
pihak kalian adalah kawan dan bukan lawan, kedua pihak
jangan sampai bercekcok,” sampai di sini Hian-cit lantas
berpaling kepada ketiga Tianglo Kai-pang dan berkata, "Para
Tianglo, marilah kita pergi ke biara kami untuk melihat
bagaimana jadinya dì sana?"
''Baik!" seru Song-tianglo bertiga. "Ayolah para anggota
Kai-pang, ikutlah semua ke atas gunung."
Segera para padri Siau-lim-si mendahului berangkat dan
disusul dengan anggota Kai-pang dan pada ksatria Tionggoan
lainnya, beramai-ramai mereka menerjang ke atas gunung.
"Sungguh hebat, Samte." kata Ting Pek-jwan sambil
berlari, "hanya dengan lidahmu saja dapat kau tarik bala
bantuan sebanyak ini bagi Cukong dan Kongcu."
"Bukan, bukan ! Sudah tertahan sekian lama., entah
bagaimana keadaan Cukong dan Köngcu sekarang'" sahut Put-
tong.
"Sudahlah, jangan 'bukan, bukan" apa lagi, lekas jalan!"
kata Giok yan sembari percepat langkahnya.
Tiba-tiba dilihatnya Toan Ki juga mengintil di sebelahnya,
maka katanya pula, "Toan-kongcu, apakah kaupun hendak ke
sana? Engkau akan membantu Gihengmu dan memusuhi
Piaukoku?"
Nyata nada ucapannya itu mengunjuk rasa kurang senang.
Rupanya si nona masih gusar kepada Toan Ki karena kejadian
Buyung Hok hendak bunuh diri lantaran dikalahkan Toan Ki
dan Siau Hong tadi.
Toan Ki melengak atas teguran itu dan menghentikan
langkahnya. Sejak perkenalan dengan Giok-yan belum pernah
ia mendapat sikap kaku seperti itu dari si nona, maka ia
terkesima. Seketika ia menjadi gugup dan bingung, selang
sejenak baru ia sanggup bersuara, ”O, aku . . . . aku tidak
bermaksud memusuhi Buyung-kongcu . . . . "
Tapi waktu ia perhatikan sebelahnya, ternyata Giok-yan
dan rombongannya sudah tak kelihatan lagi, di sekitarnya
hanya para ksatria saja yang sedang berlari-lari dengan cepat
ke atas gunung.
Dengan menghela napas Toan Ki membatin, "Jika nona
Ong sudah curiga padaku, buat apa aku mencari penyakit
sendiri ke sana?"
Tapi lantas timbul pula pikiran lain, "Siau-toako akan
dikerubut oleh seribu orang ini, keadaan nya tentu berbahaya,
sedangkan Ji-ko sudah menyatakan tidak membantu salah
satu pihak, kalau aku sendiri tidak membantunya sekuat
tenaga, bukankah percuma saja kami mengangkat saudara?
Ya, biarpun nona Ong akan marah padaku, terpaksa aku tidak
peduli lagi."
Karena pikiran itu, segera ia berlari-lari ke atas gunung.
Karena langkah ajaibnya yang hebat itu, dalam sekejap
saja ia sudah melampaui orang lain. Sampai di depan Siau-lim-
si, kelihatan orang banyak sama mengalir masuk ke dalam
biara agung itu, tanpa pikir ia pun ikut menyelinap ke daiam.
Kompleks Siau-lim-si sangat luas, bangunan berates-ratus
banyaknya. Ia dengar para padri dan orang-orang Kai-pang
berteriak member semangat sambil putar ke sana sini di
antara ruangan dan pendopo yang tak terhitung banyaknya itu
untuk mencari Siau Wan-san ayah dan anak beserta Buyung
Bok ayah dan anak. Namun sampai sekian lama mereka ubek-
ubekan kian kemari tetap tidak menemukan jejak musuh,
bahkan suara saja tidak terdengar.
Orang banyak tampak hilir mudik kian kemari sambil saling
bertanya-tanya, "Di mana orangnya? Ketemu belum?"
Dan Siau-lim-si yang maha agung itu seketika berubah
menjadi seperti pasar ramainya.
Toan Ki sendiri juga bingung, tiba-tiba ia lihat dari pintu
samping sana menyelinap keluar seorang padri tua dengan
tindakan cepat seperti kuatir dipergoki orang. Ia menjadi
tertarik jangan-jangan ada rahasia apa-apa atas padri tua ini,
kalau aku mengintil di belakang padri ini mungkin akan dapat
menemukan jejak Siau-toako daripada mencarinya secara
ngawur, demikian pikirnya.
Segera dengan langkah "Leng-po-wi-poh" yang ajaib itu ia
menglntil di belakang si padri tua. Ia lihat pudri itu berlari ke
tengah hutan yang terletak di samping biara dengan
menyusur sebuah jalan kecil, sesudah membelok dan
menikung beberapa kali, tiba-tiba terbentang sebuah sungai
kecil dengan suara air yang gemercik. Ditepi sungai berdiri
sebuah gedung berloteng dengan megahnya. Dimuka gedung
terpancang sebuah papan bertulisan tiga huruf ”cong-keng-
kok” (gedung penyimpan kitab, gedung perpustakaan).
"Ceng-keng-kok Siau-lim-si sangat terkenal, kiranya
bangunan itu berada di sini dan bukan berada dalam biara
induk mereka," demikian pikir Toan Ki.
Dalam pada itu dilihatnya padri tua tadi langsung menuju
ke dalam Cong-kek-kok itu, maka Toan Ki juga menyusulnya
ke situ. Sampai di depan pintu mendadak dari dalam
melompat keluar dua orang padri setengah umur dan
merintanginya dengan menegur, "Sicu hendak ke mana?"
"Aku . . . aku ingin tahu . . . apakah . . . " sahut Toan Ki
dengan gelagapan.
"Hendaknya Sicu kembali saja, Cong-kang-kok kami bukan
tempat yang boleh dimasuki sembarangan orang," kata salah
seorang padri itu.
Dan padri yaug lain juga berkata, "Oràng she Siau itu tidak
berada di sini!"
"Jika begitu, akulah yang semberono, harap Taisu
memaafkan," kata Toan Ki.
"Ya kami terpaksa menjalankan kewajiban, harap sicu
jangan marah," sahut kedua padri itu.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara seorang
berkumandang keluar dari dalam gedung perpustakaan itu,
”Kau lihat mereka menuju ke jurusan mana?"
Toan Ki kenal suara itu adalah suara Hian Cit. Lalu
terdengar seorang menjawab, "Tecu berempat berjaga di sini,
ketika padri jubah putih itu menerobos masuk kemari,
sekaligus Tecu, Berempat lantas tertutuk sehingga tak
sadarkan diri. Waktu Supek membangunkan Tecu, sementara
itu padri jubah putih itu entah menghilang ke mana."
"Daun jendela ini lantas rusak, Mungkin orangnya
menerobos dan lari ke belakang gunung." demikian terdengar
suara seorang tua lain.
"Ya, tampaknya memang begitu," terdengar Hian-cit
menjawab.
"Dan entah kitab apa yang telah mereka curi dari dari
gedung ini?" ujar padri tua tadi.
"Mereka sudah sembunyi selama berpuluh tahun di sini
dan tiada seorang pun di antara kita yang tahu, sungguh kita
terlalu goblok.", ujar Hian cit. Dan kalau mereka mau mencuri
kitab, bilamana berpuluh tahun itu mereka dapat mencuri
dengan sepuas-puasnya, masakah mesti tunggu sampai
sekarang?"
"Benar juga ucapan Suheng," sahut padri tua. Berbarang
terdengar kedua orang sama-sama menghela napas, agaknya
mereka sangat lesu dan sedih terhadap apa yang telah terjadi.
Toan Ki merasa tidak enak mendengarkan pembicaraan
urusan mereka, maka ia memberi hormat kepada kedua padri
setengah umur tadi, lalu tinggal pergi.
Padahal pembicaraan Hian-cit dengan kawánnya itu
dílakukan di dalam gedung dan dengan suara pelahan, cuma
iwekang Toan Ki sekarang sudah sangat tinggi, maka ia dapat
mendengarnya, sebaliknya kedua padri penjaga pintu itu sama
sekali tidak mendengar apa pun.
Begitulah pelahan Toan Ki berjalan pergi sambil berpikir,
"Mereka mengatakan Siau-toako telah menuju ke belakang
gunung, biarlah aku menyusulnya ke sana."
Lereng pegunungan Siau-lim-san ¡tu sangat rindang
dengan hutan lebat dan jalanan terjal. Sesudah beberapa li
jauhnya, Toan Ki tidak mendengar lagi suara ramai-ramai di
dalam Siau lim-si itu. Keadaan berubah menjadl sunyi senyap,
meski tatkala itu sebenarnya dalam musim panas.
Diam-diam Toan Ki merasa lega demi melihat keadaan
hutan pegunungan yang mudah bagi Siau Hong dan ayahnya
untuk melarikan diri bila dikerubut para ksatria Tionggoan.
Sebaliknya ia jadi kuatir pula kalau sang Toako sampai
membinasakan Buyung Bok ayah dan anak, untuk ini tentu
Giok-yan akan merana seumur hidup dan ini sesungguhnya
juga tidak diharapkannya.
Teringat ada kemungkinan Buyung Hok akan terbunuh
oleh Siau Hong, tanpa terasa ia menjadi bimbang dan berjalan
menurut arah langkah dan makin jauh makin tinggi ke atas
lereng gunung. Tiba-tiba terdengar suara orang berkhotbah
dalam agama Budha, suaranya ramah tapi tandas.
Toan Ki merasa girang, ia pikir kalau di sini ada orang,
”ada baiknya tanya padanya apakah melihat Siau Toako atau
tidak?"
Segera ia menuju ke arah suara orang itu. Sesudah
menyusuri sebuah hutan bambu tiba-tiba tertampak di tanah
hutan bambu itu ada sebuah pelataran di situ berkumpul
beberapa orang. Seorang padri berjubah warna kelabu duduk
mengdengkur di atas sebuah batu karang dan suara khotbah
itu diucapkan olehnya.
Di depan padri itu berlutut beberapa orang bukan saja
termasuk Siau Wan-san, Siau Hong, Buyung Bok dan Buyung
Hok, bahkan padri Thian tiok Cilo Singh dan Polo Singh Sin-
kong, Siangjin Liong-beng Siansan, To-jing Taisu dan lain-lain
serta beberapa padri agung angkatan "Hian" dari Siau-lim-si
juga berlutut di situ. Beberapa meter di sebelah sana tampak
berdiri Cumoti, itu Imam negara Turfan.
Semua orang yang berlutut itu sama menunduk dengan
penuh khidmat mendengarkan khutbah padri jubah kelabu itu
sebaliknya air muka Cumoti tampak mengunjing sikap
mengejek dan merasa tidak sependapat dengan khotbah itu.
Toaa Ki heran mendengar khotbah yang mengandung
filsafat orang hidup dan penuh keberatan itu. Ia lihat jubah
padri itu serupa dengan jubah padri Siau-lim-si, malahan dari
dandanannya kentara kalau kedudukannya sangat rendah,
mungkin padri tukang sapu atau tukang kebun, tapi entah
mungapa para padri agung Siau-lim-si, Siau-toako dan lain-
lain sama berlutut mendengarkan khotbahnya?
Pelahan Toan Ki mendekatinya dengan mengitar ke depan
sana agar dapat melihat jelas wajah padri jubah kelabu itu,
dan untuk itu ia harus menuju ke belakang Siau Hong dan
lain-lain. Karena tidak ingin mengagetkan orang lain, Toan Ki
sengaja membikin pelahan langkahnya dan memutar agak
jauh dengan berjinjit-jinjit. Waktu dekat di sebelah Cumoti.
Tiba-tiba dilihatnya padri itu menoleh padanya dengan
tersenyum, terpaksa Toan Ki juga membalasnya dengan
tersenyum, Tak terduga pada saat itu juga sekonyong-
konyong terasa ada serangkum angin maha kuat menyambar
ke dadanya.
Toan Ki tahu gelagat jelek, sambil menjerit kaget segera ia
bermaksud menggunakan Lak-meh-sin-kiam untuk melawan,
tapi sudah terlambat, dada lantas terasa kesakitan, dalam
keadaan samar-samar masih didengarnya ada orang
bersabda, "Siancai! Siancail"
Habís itu ia lantas tak sadarkan diri . . . .
Kiranya tadi sesudah penyamaran Buyung Bok terbongkar
oleh Hian-cu, ia tahu dirinya sudah terlalu dibenci oleh para
ksatria Tionggoan, maka cepat ia berlari ke atas gunung, ia
tahu komplek bangunan Siau-lim-si itu sangat luas dan sudah
hapal baginya, asal dia sembunyi di salah satu tempat itu
tentu akan sukar ditemukan orang.
Tak terduga Siau Wan-san dan Siau Hong terus
mengejarnya dengan kencang, terutama Siau Hong yang lebih
muda dan tangkas, ketika sampäi di depan biara Siau-lim-si,
jarak mereka sudah tinggal belasan meter saja. Melihat lawan
hampir lari masuk ka dalam pakarangan biara itu, sambil
menggertak segera Siau Hong melontarkan pukulan dahsyat
dari jauh.
Karena serangan itu, terpaksa Buyung Bok terus membalik
tangannya untuk menangkis, ketika kedua tenaga pukulan
beradu, lengan Buyung Bok terasa sakit pegal tergetar, Ia
terkejut, ia tidak menduga bahwa musuh yang masih muda itu
memiliki tenaga sedemikian lihainya. Sekali menyelinap, cepat
ia menyusup masuk ke dalam Siau-lim-si.
Sudah tentu Siau Hong tidak tinggal diam, segera ia
memburu. Sesudah ubek-ubekan, akhirnya Buyung Bok lari
sampai di 'Cong keng-kok,’ Buyung Bok menerjang ke dalam
gedung ini dengan menjebol jendela dan sekaligus menutuk
pinggang empat padri penjaga di situ, Lalu ia membalik tubuh
dan menantang, "Siau Wan-san, apakah kalian ayah dan anak
akan maju berbareng atau kita berdua saja yang bertempur
mati-matian!"
Siau Wan-san tidak lantas manjawab ia merintangi dulu
jalan keluar dan berkata kepada Siau Hong, "Nak, kau cegat di
depan Jendela, jangan sampai dia lolos."
Sesudah Siau Hong mengiakan lalu mereka ayah dan anak
mengambil kedudukan mengepung sehingga Buyung Bok tak
bisa lari lagi, kemudian Siau Wan-san berkata, “Permusuhan
kita terlalu mendalam dan baru akan berakhir bila ada yang
mati. Karena ini bukan pertandingan biasa, sudah tentu kami
ayah dan anak akan maju sekaligus untuk mencabut
nyawamu!”
Buyung Bok terbahak-bahak selagi hendak menjawab,
tiba-tiba terdengar suara tindakan orang dan muncul seorang
kiranya Cumoti. Dia memberi hormat kepada Buyung Bok dan
berkata, ”Buyung sicu, sejak berpisah di Thian-tiok, kemudian
kabarnya engkau telah wafat, sungguh aku ikut berduka cita.
Tak tahunya sicu sengaja mengasingkan diri dengan maksud
tujuan tertentu, sungguh menggembirakan hari ini dapat
bertemu pula di sini.”
"Ah, karena terpaksa, aku mesti pura-pura mati sehingga
memb¡kin Taísu ikut kuatir, sungguh memalukan," sahut
Buyung Bok sambil memberi hormat.
Mendengar percakapan mereka itu, Siau Wan-san saling
pandang dengan Siau Hong. Mereka menduga jika Cumoti
yang lihai itu adalah sahabat Buyung Bok, maka sebentar
padri itu tentu akan membantu pihak lawan dan menang atau
kalah menjadi sukar diramalkan lagi.
Dalam pada itu terdengar Cumoti berkata pula, "Dahulu
Siauceng pernah mendengar uraian Buyung siansing tentang
ilmu pedang di dunia ini katanya 'Lak-meh-sin-kiam' dari
negeri Taili adalah ilmu pedang nomor satu di dunia, tapi
Siansing merasa menyesal karena selama hidup ini tidak
pernah melihatnya. Maka sesudah kudengar berita duka
tentang wafatnya Siansing, segera kupergi ke Taili untuk
memohon kitab Lak-meh-sin-kiam agar dapat kubakar di
depan makam Siansing sekedar sebagai tanda baktiku kepada
sahabat lama. Tak tersangka si tua Koh-eng di Thian-liong-si
itu teramat licik, pada detik terakhir dia menggunakan tenaga
dalamnya untuk merusak kitab pusaka itu sehingga cita-cita
Siauceng untuk memenuhi kewajiban sebagai sahabat tidak
terkabul, sungguh aku sangat menyesal dan malu.”
"Walaupun maksud baik Taisu tidak terlaksana tapi
terhadap pikiran Taisu itu sungguh aku merasa sangat
barterima kasih," ujar Buyung Bok, "Apalagi Lak-meh-sin-kiam
keluarga Toan itu masih tetap dipahami keturunannya, tadi
ketika Toan-kongcu, bertempur dengan putraku yang tak
becus itu, dari gaya dan daya ilmu pedang itu tampak sekali
memang tidak bernama kosong untuk disebut sebagai ilmu
pedang nomor satu di jagat ini."
Pada saat itulah tiba-tiba muncul pula seorang itulah dia
Buyung Hok. Dia agak ketinggalan di belakang sehingga waktu
masuk ke Siau-lim-si lantas kehilangan jejak ayahnya dan Siau
Wan-san berdua. Ketika mencari sampai di Cong-keng-kok
sudah didahului Cumoti pula. Kebetulan ia dapat dengar
ucapan ayahnya tentang dia ditaklukan Toan Ki dengan Lak-
meh-sin-kiam itu, keruan ia menjadi malu.
Sementara itu Buyung Bok berkata pula kepada Cumoti
"Kedua orang ini sudah bertekad akan membunuh diriku entah
bagaimana pendapat Taisu?”
"Sebagai sahabat mana dapat kutinggal diam?" sahut
Cumoti.
Melihat Buyung Hok juga sudah tiba. Siau Hong menjadi
lebih prihatin karena pihak lawan sekarang telah berubah
menjadi tiga orang sedangkan pihak sendiri hanya berdua
saja. Walaupun kepandaian Buyung Hok agak lemah, tapi juga
tidak boleh dipandang ringan.
Namun sadar Siau Hong memang gagah berani dalam
keadaan semakin sulit semakin membangkitnya jiwa
kepahlawanannya, maka dengan suara keras segera ia
membentak, "Pendek kata urusan hari ini harus ada
penyelesaian yang pasti sebelum terjadi mati dan hidup tidak
nanti berakhir. Nah, sambutlah seranganku!"
Habis berkata, kontan ia menghantam ke arah Buyung
Bok.
Cepat Buyung Bok mengebaskan lengan baju dengan
sekuatnya untuk mematahkan serangan itu. Maka
terdengarlah suara "brak" yang keras sebuah rak kayu hancur
berantakan. kitab di atas rak itu pun jatuh berantakan.
"Lam Buyung, Pak Kiau Hong! Nyata memang tidak
bernama kosongi" seru Buyung Bok dengan tersenyum. "Siau
hong, aku ingin bicara sedikit, entah kamu mau
mendengarkan atau tidak?”
"Betapapun engkau akan putar lidah dan bermulut manis
jangan harap akan dapat membatalkan maksudku membalas
sakit hati terbunuhnya istriku," sahut Siau Wan-san,
"Melihat keadaan sekarang, biarpun engkau tetap ingin
membunuhku untuk membalas dendam toh rasanya tidak
mudah," sahut Buyung Bok. "pihak kami ada tiga orang,
sedangkan kalian cuma berdua, coba katakan apakah engkau
yakin pasti akan menang?"
"Biarpun kekuatan pihakmu lebih besar, seorang laki-laki
sejati kenapa mesti gentar menghadapi lawan yang lebih
banyak!" sahut Siau Wan-san.
"Ya, memangnya ksatria sebagai kalian pernah gentar
terhadap siapa?" kata Buyung Bok. "Tetapi takut atau tidak,
yang terang bila kalian ingin membunuh aku pasti tidak
gampang lagi. Maka aku ingin mengadakan kompromi
denganmu, bila kupenuhi cita-cita kalian dalam hal membalas
dendam, hendaknya kalian juga memenuhi suatu
permintaanku."
Siau Wan-san dan Siau Hong menjadi heran dan curiga,
untuk sekian lamanya mereka tidak sanggup menjawab.
Maka Buyung Bok berkata pula, "Asal kalian sanggup
memenuhi syaratku ini, maka kalian boleh maju untuk
membunuhku, untuk ini aku akan mandah dibunuh dan takkan
melawan, Cumoti Suheng dan anak Hok juga tidak boleh
menolongku."
Ucapan ini tidak cuma membuat Siau Hong berdua merasa
heran, bahkan Cumoti dan Buyung Hok juga terkejut. Segera
Buyung Hok berseru, "ayah, Kita kan sudah menang jumlah
orang . . . .”
Cumotl juga berkata, "Ya, kenapa Buyung siansing omong
demikian? Asal aku masih berada di sini, sudah tentu takkan
kubiarkan siapa pun mengusik engkau."
Namun Buyung Bok menjawab, "Maksud baik Taisu
sungguh kuterima dengan terima kasih. Kepada Siau-heng
ingin kuminta penjelasan sesuatu dulu. Dahulu aku sengaja
menyampaikan berita palsu sehingga terjadi malapetaka
besar, apakah Siau-heng mengetahui bagaimana maksud
tujuanku dengan melakukan perbuatan yang rendah itü?”
"Kamu memang manusia rendah dan pengecut segala
kejahatan juga biasa kaulakukan masakah pakai maksud
tujuan apa segala?" damprat Siau Wan-san dengan murka,
dan begitu melangkah maju. Segara ia menghantam.
Namun Cumoti lantas melompat ke depan dan
menangkiskan serangan itu, "Plak" kedua tenaga pukulan
beradu dan ternyata sama kuatnya sehingga diam-diam kedua
orang saling kagum terhadap lawan masing-masing.
"Hendaknya Siau heng jangan marah dahulu harap
dengarkan uraianku sehingga selesai," kata Buyung Bok, "Aku
Buyung Bok jelek-jelek juga mempunyai sedikit nama di dunia
kangouw selamanya aku tidak kenal dengan Siau-heng dan
dengan sendirinya kita tidak parnah bermusuhan dan
mempunyai dendam apa pun, Menganai Hian-cu Hongtiang
dari Siau-lim-si, bahkan aku adalah sobat baiknya yang lama.
Maka kalau aku sampai mencari akal untuk mengadu domba
kalian, jika dipikirkan secara mendalam, mustahil aku tidak
mempunyai maksud tujuan tertentu."
"Maksud tujuan tertentu apa? Coba ka . . . katakan!" teriak
Siau Wan san dengan mata melotot dan marah membara.
"Siau-heng, engkau adalah bangsa Cidan, sedangkan
Cumoti Suheng ini orang Turfan, bagi jago silat Tionggoan
kalian dianggap sebagai bangsa asing dari negeri lain,"
demikian tutur Buyung Bok. "sudah terang putramu adalah
Pang-cu Kai-pang dengan ilmu silat yang tinggi dan
kecerdasan yang terpuji, seorang ksatria yang sukar dicari
yang pernah menjabat Pang-cu mereka, tetapi demi anggota.
Kai-pang mengetahui dia adalah bangsa Cidan, serentak
mereka membangkang, bukan Cuma tidak mengakui dia
sebagai Pangcu, bahkan semua orang hendak membunuhnya.
Coba katakan, Siau-heng, apakah itu adil?”
"Kerajaan Song dan Liau sudah ratusan tahun lamanya
berperang," sahut Siau Wan-san. "setiap kali kedua bangsa itu
bertemu di perbatasan tentu saling membunuh, hal ini sudah
terjadi sejak dulu. Maka kalau orang Kai-pang mengetahui
anakku adalah bangsa musuh, sudah tentu mereka tidak
mengakuinya sebagai Pancu. Soal ini masuk diakal, tak dapat
bicara tentang adil dan tidak.”
Jilid ke-76
Sesudah merandek sejenak, lalu Siau Wan-san
menyambung pula, "Seperti istriku telah dibunuh oleh Hian-
Cu, Ong Kiam-thong dan lain-lain, hal ini juga bukan maksud
mereka yang sebenarnya. Andaikan sengaja juga tidak perlu
diherankan karena antara kedua bangsa memang sedang
bermusuhan. Tetepi kamu sengaja memfitnah dan mengadu
domba, kejahatanmu ini tak dapat diampuni.”
"O, jadi kalau menurut pendapat Siau heng, pertentangan
di antara kedua Negara, baik dalam keadaan perang dan
saling membunuh, yang diutamakan adalah mengalahkan
musuh dan mencapai kemenangan, apakah tidak perlu
menjaga kehoramatan dan menjunjung keluhuran budi?"
tanya Buyung Bok.
"Di medan perang boleh digunakan segala akal dan siasat
untuk mengalahkan musuh, hal ini adalah jamak, buat apa
kau bicara tentang urusan yang tiada sangkut-pautnya dengan
perkara kita sekarang?”
Buyung Bok tersenyum, tiba-tiba ia Tanya pula, "Siau-
heng, kau sangka aku Buyung Bok ini orang dari mana?"
“Koh-soh Buyung, siapa yang tidak kenal? adalah bangsa
Han di daerah Kanglam, masakah perlu engkau menguji aku?"
sahut Siau Wan-san.
"Hahaha justru salahlah sangkaan Siau-heng ini!” kata
Buyung Bok sambil tertawa dan menggoyang kepala. Tiba-tiba
ia berpaling kepada Buyung Hok dan berkata, "Nak, kita ini
bangsa apa?"
"Keluarga Buyung kita adalah bangsa Sianbi, kerajaan Yan
kita dahulu pernah mengguncangkan daerah sekitar Hopak
dan mendirikan negeri yang jaya, cuma sayang musuh terlalu
licin dan ganas sehingga kerajaan kita tertumbangkan,”
demikian sahut Buyung Hok.
"Ayah sengaja memberikan nama 'Hok' (membangun
kembäli) padamu, apakah artinya itu?" tanya Buyung Bok
pula.
"Mungkin ayah ingin anak senantiasa ingat kepada pasan
leluhur kita agar jangan lupa berusaha membangun kembali
kerajaau Yan kita." sahut Buyung Hok.
"Coba keluarkan cap mustika kerajaan kita dan perlihatkan
kepada Siau-siansing berdua," kata Buyung Bok.
Buyung Hok mengiakan dan mengeluarkan sebuah cap
ukiran dari batu kemala hitam persegi. Di atas cap kemala itu
terukir seekor macan tutul yang sangat indah. Ketika Buyung
Hok mengangkat capnya, maka tertampaklah huruf-huruf
yang terukir pada cap itu.
Dengan pandangan yang tajam segera Siau Wan-san, Siau
Hong dan Cumoti dapat melihat bahwa pada setempel itu
terukir tulisan "Pusaka Raja Yan" Mungkin sudah terlalu tua
setempel itu sehingga bagian ujung kelihatan gumpal sedikit.
Tapi terang bukan barang buatan baru walaupun susah
dibedakan tulen atau palsunya.
Lalu Buyung Bok berkata pula, "Coba keluarkan sekalian
daftar silsilah kerajaan Yan kita agar dibaca Siau-siansing."
Kembali Buyung Hok mengiakan. Ia simpan dulu setempelnya,
lalu mengeluarkan sebuah bungkusan sehelai kain minyak,
dari dalam bungkusan la keluarkan sehelai kain sutra kuning
yang tertampak tertulis dua macam huruf. Yang sebelah
kanan hurufnya tak dikenal mungkin tulisan Sianbi, Tapi huruf
sebelah kiri adalah tulisan Han yang jelas tertera nama-nama
raja kerajaan Yan dimulai sejak cikal-bakal mereka dan pada
baris yang terakhir terbaca nama "Buyung Hok," di atas nama
Buyung Hok tertampak pula tertulis nama "Buyung Bok.”
"O, jadi Buyung-siansing sebenarnya adalah pangeran
kerajaan Yan, maafkan bila aku bersikap kurang hormat," kata
Cumoti.
"Ah, aku sendiri dapat selamat sampai sekarang sudah
terhitung untung," ujar Buyung Bok dengan menghela napas.
"Siau heng, sesuai dengan pesan leluhur maka jika keluarga
Buyung dari Sianbi kami ingin membangun kembali kerajaan
Yan, menurut pendapatmu usaha kami ini pantas atau tidak?"
"Yang menang menjadi raja, yang kalah menjadi
penyamun, setiap ksatria ada hak buat berebut kemenangan,
kenapa mesti tanya tentang pantas dan tidak!'' sahut Wan-
san.
"Bagus! Ucapan Siau-heng ini sangat cocok dengan
pikiranku," ujar Buyung Bok. "Jadi kalau keluarga Buyung kami
ingin membangun kembali kerajaan Yan, untuk itu dengan
sendirinya diperlukan kesempatan yang baik. Mengingat
kekuatan kami terlalu lemah dan orang kami terlalu sedikit
untuk membangun kembali suatu negara sudah tentu amat
sukar. Dan kesempatan satu-satunya yang terbuka adalah
bilamana dunia ini kacau-balau bila di seluruh pelosok terjadi
peperangan.
"Hm, jadi kau sengaja membuat berita palsu untuk
mengadu domba, maksud tujuanmu supaya Song dan Liau
berperang dan kaupun akan dapat mengaduk di air keruh?"
jengek Siau Wan-san.
"Benar," jawab Buyung Bok, "kalau terjadi peperangan
antara Song dan Liau, maka kerajaan Yan akan mendapat
kesempatan untuk bergerak."
"Ya. jika terjadi seperti apa yang digambarkan Buyung-
slansing, maka bukan saja kerajaan Yan ada harapan
dibangun kembali, bahkan kerajaan Turfan kami juga dapat
membagì sedikit rejeki," ujar Cumoti.
Namun Siau Wan-san lantas mendengus dan melirik kedua
orang itu dengan menghina.
Tapi Buyung Bok berkata pula, "Putramu menjabat Lam-ih
Tai-ong di negeri Lian, dia memegang kekuasaan militer yang
besar dan berkedudukan di Lamkhia. Jika dià mengerahkan
pasukannya ke selatan dan menduduki daerah utara lembah
Hongho, maka maju setindak lagí dia dapat mengangkat diri
sendiri sebagai raja, kalau tidak ia pun akan tetap disegani
oleh raja Liau. Tatkala mana dia akan sekaligus dapat
menumpas kaum ksatria Tionggoan seperti menginjak semut
mudahnya, dengan demikian dapatlah dia melampiaskan
dendamnya waktu dipecat dan diusir oleh orang Kai-pang."
"Huh, maksudmu kau ingin anakku berjuang bagimu agar
kau sempat menggagap ikan di air keruh dan mambantu
ambisimu yang besar untuk membangun kembali kerajaan
Yan." jengek Siau Wan-san.
"Betul," kata Buyung Bok. "Dan bila sudah begitu, maka
pasukan kami akan dapat bergerak dan membantu pihak Lian,
malahan Turfan, Se he dan Taìli juga dapat bergerak
sekaligus, berlìma negara dapat membagi-bagi kerajaan Song
sebaliknya takkan merugikan kerajaan Liau, bahkan
menguntungkan, masa Siau-heng tidak mau?"
Bicara sampai di sini, mendadak Buyung Bok
mengeluarkan Sebilah belati yang mengkilat terus ditancapkan
di atas meja sebelahnya, lalu berkata pula, "Nah. asal Siau-
heng mau menerima usulku ini, maka boleh silakan segera
mencabut nyawaku untuk membalaskan sakit hati nyonya,
untuk itu
sama sekali aku takkan melawan."
Dan "bret", berbareng ia robek baju sendiri sehingga
kelihatan dadanya.
Uraian Buyung Bok itu sungguh di luar dugaan Siau Wan-
san dan Siau Kong. Mereka sama sekali tidak menduga bahwa
dalam keadaan yang menguntungkan bagi pihaknya itu
Buyung Bok terima dibunuh tanpa, melawan. Maka untuk
sesaat Siau Wan-san berdua menjadi bingung dan tak dapat
menjawab.
Tiba-tiba Cumoti berkata, "Buyung-siansing, kata
pribahasa, kalau bukan bangsa sendiri tentu pikirannya tidak
sama. Apalagi urusan kenegaraan seharusnya tidak segan-
segan main muslihat dan buat licin. Jika Buyung-siansing nanti
meninggal dengan sukarela, sebaliknya ayah dan anak she
Siau itu tidak menepati janji bukankah kematianmu
menjadi sia-sia belaka?"
"Siau-heng sudah mengasingkan diri selama berpuluh
tahun dan baru sekarang muncul di dunia ramai tapi putranya,
Siau-taihiap adalah seorang ksatria termashur, namanya
terkenal di seluruh jagat, kata-katanya seperti emas, mana
bisa mereka ingkar janji?" ujar Buyung Bok. "Sedangkan untuk
seorang nona cilik yang bukan sanak dan bukan kadang saja
dia sudi berkorban dan menghadapi bahaya, masakah
sekarang dia mau ingkar janji sesudah membunuh aku? Sudah
lama kuperhitungkan kejadian ini usiaku sudah lanjut dengan
jiwaku yang sudah lapuk ini untuk menukar tahta, kesempatan
baik ini tidak boleh kusia-siakan!"
Melihat kesungguhan Buyung Bok itu, untuk sejenak Siau
Wan-san menjadi ragu. Ia tanya Siau Hong, "Anakku,
tampaknya orang ini bersungguh-sungguh. Bagaimana dengan
pendapatmu?"
"Tidak boleh jadi!" sahut Siau Hong sambil mendadak
memukul ke arah meja. "Brak", meja itu pecah berantakan
dan belati yang menancap di atasnya menembus papan loteng
dan jatuh ke tingkat bawah Cong-keng-kok itu. Lalu katanya
dengan kereng, “Sakit hati terbunuhnya ibu mana boleh dijual-
belikan? Kalau dapat dibalas harus dibalas, kalau tidak dapat
balas biarlah jiwa kita ayah dan anak tamat di sini pula.
Perbuatan yang kotor dan rendah masakah sudi dilakukan
oleh kami ayah dan anak keluarga Siau?"
Sekonyong-konyong Buyung Bok terbahak-bahak sambil
menengadah, katanya, "Sudah lama kudengar kepandaian
Siau-taihiap tiada bandingannya dan mempunyai pengetahuan
yang luas, siapa tahu hanya seorang yang sok gagah belaka
dan tidak kenal akan kebaikan, Hehe, sungguh menggelikan,
hehe, sungguh mentertawakan!"
Siau Hong tahu orang sedang menyindirnya, namun tetap
jawabnya dengan dingin, "Baik Siau Hong seorang ksatria atau
seorang bodoh, pendek kata tidak sudi diperalat untuk
memenuhi cita-citamu."
"Kauterima gaji rajamu dan harus setia pada kerajaanmu,
tapi kamu cuma ingat pada sakit hati orang tua dan tidak
pikirkan kesetiaan kepada negara, apakah kalian sudah
memenuhi kewajibanmu sebagai pengabdi kerajaan Liau?”
tanya Buyung Bok.
Sambil melangkah maju setindak Siau Hong menjawab
dengan bersitegang, "Apakah kau pernah menyaksikan saling
membunuh secara kejam di daerah perbatasan antara rakyat
Song dan Liau? Apa pernah kau lihat keluarga rakyat kedua
negeri tercerai-berai oleh karena peperangan? Syukurlah di
antara kedua negara telah berhenti perang selama beberapa
puluh tahun, bila sekarang mulai perang lagi, sekali pasukan
berkuda Cidan memasuki wilayah Song, apakah kau dapat
membayangkan betapa banyak orang Song akan menjadi
korban mencara mengerikan?"
Berkata sampai di sini ia lantas ingat kejadian bunuh
membunuh secara kejam antara prajurit Song dan Liau tatkala
mereka mengadakan "panen", maka dengan suara makin
lantang Siau Hong menyambung pula, "Padahal prajurit Song
berjumlah banyak dengan kekayaan alam yang cukup pula
asal mereka mendapat pimpinan panglima yang pandai dan
melabrak kita sekuatnya tidak mungkin kita dapat menang
biarpun kita bergabung menjadi satu. Dan banjir darah
demikian itu hasilnya akan memberi kesempatan kepada
keluarga Buyung kalian untuk membangun kembali kerajaan
Yan, sungguh enak betul perhitunganmu ini?"
"Siancai! Siancai!" demikian tiba tiba terdengar suara
seorang tua menyela di luar jendela. "Siau-kiau memiliki hati
bijak dan pikiran bijaksana sungguh seorang ksatria sejati."
Keruan kelima orang yang berada dalam kong-keng-kok itu
terkejut. Mereka tergolong tokoh-tokoh kelas wahid tapi
mereka sama sekali tidak tahu bahwa di luar jendela ada
orang mengintip pembicaraan mereka.
Maka Buyung Hok segera membentak, "Siapa itu?"
Bareng ia terus menghantam sehingga kedua sayap daun
jendela terpental dan jauh di bawah talang. Maka
tertampaklah di serambi sana seorang padri kurus kering
berjubah warna kelabu, sedang menyapu dengan
membungkuk. Usia padri itu sudah lanjut, rambutnya jarang
dan putih seluruhnya, gerak-geriknya lugas lamban seperti tak
bertenaga dan tampaknya tidak mahir ilmu silat.
"Sudah berapa lama kau sembunyi di sini?” kembali
Buyung Hok menegur.
Pelahan padri tua itu mengangkat kepalanya dia
menjawab, "Apakah Sicu tanya padaku sudah . . . . sudah
betapa lama sembunyi di sini!"
Dari suaranya semua orang yakin padri inilah yang
bersuara memuji ucapan Siau Hong tadi. Tertampak kedua
matanya menyipit dengan sinar mata yang buram tanpa
semangat.
"Ya, sudah berapa lama kau sembunyi di sini?" demikian
Buyung Hok mengulangi pertanyaannya.
Maka padri tua itu menekuk-nekuk jarinya, sesudah
menghitung sekian lamanya, akhirnya dia geleng kepala
sambil berkata dengan mengunjuk rasa menyasal, "Wah, aku .
. aku sudah lupa, entah sudah 42 tahun atau 43 tahun. Aku
masih ingat ketika malam pertama Siau-lokian ini datang
membaca kitab ke sini, tatkala itu aku . . . aku sudah belasan
tahun berada di sini. Kemudian .... kemudian Buyung lokian
juga datang dan tahun yang lalu itu padri Thian-tiok yang
bernama Polo Singh juga datang kemari buat mencuri kitab,
Ah, yang satu pergi dan yang lain datang lagi sehingga kitab
seluruh gedung ini entah diobrak-abrik tak karuan entah apa
yang dikehendaki kalian ini."
Kaget Siau Wan san tak terperikan. Padahal ia yakin tiada
seorang pun tahu ketika dia menyeludup ke dalam Siau-lim-si
untuk memperdalam ilmu silat mengapa padri tua ini dapat
mengetahuinya? Barangkali di bawah tadi padri ini telah
mendengar pembicaraanku dan sekarang sengaja ngaco belo
saja. Maka ia lantas berkata, "Tapi mengapa selama ini aku
tidak pernah melihat dirimu?"
"Dengan penuh perhatian Siau kisu sedang mempelajari
ilmu sakti Siau lim pai dengan sendirinya engkau tidak
memperhatikan diriku." Sahut padri tua itu, "Malahan aku
masih ingat pada malam pertama itu kitab yang dipinjam baca
oleh Siau-kisu kalau tidak salah adalah 'Bu-siang-hiat-ci-boh'.
Dan ai, sejak malam itu Siau-kisu lantas tersesat ke jalan yang
salah. Sayang, Sungguh sayangl"
Sungguh kaget Siau Wan-san tidak kepalang, sebab apa
yang dikatakan padri tua itu memang benar, kitab pertama
yang dibacanya dari gedung perpustakaan pada malam
pertama itu memang betul adalah 'Bu-siang hiat-ci-boh’.
Padahal waktu itu tiada orang lain yang tahu, masakah waktu
itu padri tua ini juga berada di sini dan menyaksikan sendiri?
Begitulah untuk sekian lama Siau Wan-san sampai ternganga
dan tidak sanggup bicara.
Lalu padri tua itu berkata pula, "Waktu Siau-kisu datang
lagi dan kitab yang dipinjam adalah 'Pau-yak-ciang hoat'.
Padahal sebelumnya sengaja kutaruh sejilid kitab 'Hoat-hoa
keng' (nama kitab Budha) di tempat yang suka digerayangi
olehmu dengan harapan isinya dapat dibaca dan dipahami
olehmu, tak terduga Siau-kisu sudah tenggelam dalam ilmu
silat sehingga sama sekali mengesampingkan ajaran-ajaran
Budha yang murni dan yang diutamakan adalah kitab ajaran
ilmu silat, sesudah mengambil lagi 'Hok-mo siang-hoat'
engkau lantas pergi dengan gembira. Ai, orang yang sudah
tersesat entah kapan baru akan sadar kembali?"
Kerana setiap tingkah-lakunya di Cong-keng-kok ini pada
30 tahun yang lalu telah diuraikan padri tua itu dengan tidak
salah sedikit pun, dari kaget pelahan Siau Wan-san menjadi
takut dan dari takut menjadi ngeri sehingga keluar keringat
dingin.
Kemudian padri tua itu berpaling ke arah Buyung Bok.
Melihat sinar mata padri yang buram tapi seakan-akan gaib
dan dapat menembus isi hatinya, setiap rahasia seakan-akan
telah diketahuinya dengan jelas mau-tak-mau Buyung Bok
merasa merinding juga.
Maka terdengar padri tua itu berkata lagi dengan
menghela napas, "Buyung kisu meski orang Sianbi, tapi turun
temurun sudah menetap di Kang lam, semula kukira Buyung-
kisu tentu akan mempelajari kitab Budha yang berada di sini,
tak tersangka baru menemukan sejilid Ciam-hoa-ci-hoat dan
Buyung-kisu lantas girang sekali seperti mendapat mustika."
Sungguh kejut Buyung Bok tak terkatakan sebab kitab
pertama yang dibacanya dalam gedung ini pada pertama kali
ia datang memang betul adalah 'Ciam hoa-ci' seperti dikatakan
padri tua itu. Padahal waktu itu ia telah periksa gedung itu dia
tidak menemukan orang kedua mengapa padri tua ini dapat
mengetahuinya? Ia dengar padri tua berkata pula, "Malahan
hati Buyung-kisu jauh lebih serakah daripada Siau kisu. Kalau
Siau kisu cuma mempelajari cara-cara mengatasi ilmu silat
Siau-lim pai sebaliknya Buyung kisu menguras seluruh ke 72
macam ilmu silat biara kami dan tiga tahun kemudian barulah
kau datang lagi ke sìnì. Tentu selama tiga tahun itu engkau
berusaha sebisanya untuk mamahami ke 72 macam
kepandaian itu boleh jadi sudah kau ajarkan pula kepada
putramu."
Sampai di sini sinar matanya lantas beralih ke arah Buyung
Hok, tapi cuma sekejap saja lantas menggeleng kepala. Ketika
la memandang Cumoti, tiba-tiba ia mengangguk dan berkata,
"O. tahulah aku! Rupanya usia putramu masih terlalu muda
sehingga tidak dapat mempelajari kungfu Siau-lim pai yang
hebat itu, maka telah kau ajarkan kepada seorang padri agung
negeri lain. Tai-lun Beng-ong, engkau salah sama sekali,
engkau telah mencampur aduk dan memutarbalikan kungfu
itu, maka sekarang bencana sudah berada di depan mata."
Cumoti tidak pernah kenal padri tua itu, dengan sendirinya
la tidak gentar padanya. Maka dengan sikap dingin ia
menjawab. "Kau bilang campur aduk putar balik serta bencana
apa segala? Ucapan Taisu ini apakah tidak terlalu dlbesar-
besarkan untuk menakut-nakuti?”
"Tidak, bukan sengaja dibesar-besarkan dan untuk
menakuti, tapi sesungguhnya," sahut si padri tua. "Beng-ong.
harap kau kembalikan saja kitab Ih-kin-keng itu padaku."
Baru sekarang Cumoti terperanjat, la heran dari mana
padri tua ini mengetahui dia telah merebut 'Ih-kin-keng' dari
orang berkepala besi (Goan-ci) itu? Masakah begitu gampang
aku disuruh menyerahkan padamu? Maka ia sengaja
menjawab, "Aku tidak paham 'Ih-kin-keng' apa yang Taisu
maksudkan? Entah kitab apakah itu?”
Maka padri tua itu berkata pula. "Tujuan murid Budha
belajar ilmu silat adalah untuk kesehatan badan, untuk
membela agama dan membasmi kejahatan, dalam
mempelajari setiap macam ilmu silat harus selalu berdasar
pada pikiran kebajikan dan welas asih. Kalau dasar
pengetahuan agama Budha belum kuat, maka pada waktu
belajar silat tentu akan merusak dirinya sendiri. Semakin tinggi
ilmu silatnya semakin berat luka badannya. Kalau yang
dipelajari hanya ilmu pukulan dan tendangan atau permainan
senjata kasaran saja memang tidak besar merugikan diri
sendiri asal badan sehat dan kuat masih dapat bertahan,
tetapi . . . . "
Sampai di sini, tiba-tiba dari bawah loteng melompat naik
beberapa hwesio. Mereka adalah Hian-seng dan Hian-peng
dari Siau-lim-pai, di belakangnya adalah Sin kong Sian-jin. To-
Jing Taisu. Polo Singh dan Cilo Singh dan paling akhir adalah
Hian cin dan Hian-ceng.
Mereka terheran-heran ketika melihat Siau Wan-san dan
anaknya. Buyung Bok dan anaknya serta Cumoti sedang
mendengarkan pembicaraan seorang hwesio tua yang tak
dikenal. Tapi mereka adalah padri saleh dan berpengelaman
mereka tidak lantas mengganggu melainkan berdiri di samping
untuk ikut mendengarkan apa yang dibicarakan.
Padri tua itu pun tidak menghiraukan para pendatang baru
itu, la masih meneruskan uraiannya, "Tetapi kalau yang
dipelajari adalah ilmu silat Siau-lim-pai kami yang tertinggi
sebangsa Ciam-hoa-ci-hoat. Pan-yah-ciang-hoat dan lain-lain
jika ajaran itu tidak dibarengi dengan pengetahuan ajaran
Budha yang welas-asih, maka akhirnya sifat keras dan angkuh
akan merasuk semakin mendalam dan jauh lebih celaka
daripada terserang oleh segala macam senjata atau racun . . .
."
Semua orang merasa ucapan padri tua itu, mengandung
falsafah yang dalam sehingga mereka sangat tertarik.
Maka padri itu melanjutkan, "Sudah ribuan tahun sejarah
Siau-lim-si kami dan dari dahulu kala hingga sekarang hanya
Tat-mo Cosu seorang saja yang serba pandai dalam macam-
macam ilmu selain beliau tidak pernah ada lagi. Kitab ke-72
macam ilmu silat itu selalu berada dalam gedung ini dan
selamanya terbuka untuk dibaca anak murid Siau-lim-pai.
Apakah Beng-ong tahu apa sebabnya?"
"Itu adalah urusan dalam biara kalian sendiri dari mana
orang luar bisa tahu?" sahut Cumoti.
Cian-seng, Hian-ceng dan lain-lain menjadi heran pula.
Kalau melihat dandanan padri tua ini jelas dia adalah padri
pekerja Siau-lim-si tapi mengapa mempunyai pengetahuan
agama sedalam itu.
Hendaknya diketahui bahwa padri pekerja di Siau-lim si itu
tidak diharuskan mengangkat guru? maka juga tidak
mendapat didikan ilmu silat. Tugasnya adalah mengerjakan
segala pekerjaan kasar seperti menyapu, mencuci dan
sebagainya. Mereka tidak termasuk dalam murid-murid
angkatan Hian
Hui, Hi dan Khong maka dengan sendirinya Hian-seng dan
padri agung lain tidak kenal padri tua ini.
Dalam pada itu si padri tua telah melanjutkan uraiannya,
"Ke-72 macam ilmu silat Siau-lim-si kami semuanya dapat
melukai dan membunuh orang, lihai dan ganas, sebab itulah
tiap-tiap macam ilmu silat itu harus disertai dengan ajaran
agama Budha adalah menolong sesamanya, sebaliknya ilmu
silat justru digunakan untuk membunuh sesamanya, keduanya
saling bertentangan. Maka harus diusahakan semakin tinggi
agamanya, semakin besar pikiran welas-asihnya, dengan
demikian barulah ilmu silat dapat diyakinkan dengan semakin
tinggi, namun para padri saleh yang sudah mencapai
tingkatan demikian tentu juga tidak sudi lagi mempelajari ilmu
membunuh lain yang lihai.”
"Omitohud! Mendengar uraian Taisu ini baru sekarang
pikiran Siauceng terbuka," demikian kata To-jing Taisu sambil
memberi hormat.
"Ah, itu cuma sedikit pendapatku yang Cupet, jika salah
masih diharapkan petunjuk dari kalian," sahut si padri tua.
"Harap Taisu sudi memberi ceramah püla," kata hadirin
yang lain.
Sebaliknya Cumoti sedang berpikir, “Ke-72 macam Ilmu
silat Siau-lim-pai itu telah dicuri oleh Buyung siansing dan
disebarkan keluar, tapi sekarang mereka menggunakan
seorang padri tua untuk main sandiwara dan membikin takut
orang lain supaya tidak berani meyakinkan ilmu silat sakti
mereka, Hehe, manakah aku Cumoti dapat ditipu segampang
ini?"
Terdengar si padri tua sedang berkata pula, "Di dalam
Siau-lim-si kami dengan sendirinya juga terdapat satu-dua
orarg yang terlalu kemaruk kepada Ilmu silat dan melupakan
pelajaran agama sehingga akhirnya Cai-hwe-jip-mo (tersesat
dan membakar diri sendiri) atau terluka dalam lumpuh dan tak
bisa disembuhkan. Dahulu Hian-ting Taisu yang berbakat Itu
dalam semalaman urat nadinya mendadak putus semua
sehingga menjadi cacat untuk selamanya. Sebabnya adalah
akibat seperti apa yang kukatakan tadi."
Tiba-tiba Hian-seng dan Hian-peng berlutut dan memohon,
"Taisu, apakah hian-ting Sute dapat ditolong?"
"Sudah terlambat, tak bisa ditolong lagi," sahut padri tua
itu. "Waktu Hian-ting Taisu memperdalam ilmu silatnya dì sini,
berulang kali pernah kuperingatkan dia tapi dia tetap tak
sadar. Sekarang urat-nadinya sudah putus, cara bagaimana
bisa ditolong?”
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara pelahan 'crit crit-
crit" tiga kali, habis itu lantas tak terdengar apa-apa lagi.
Hian-seng dan lain-lain tahu itulah ilmu jari Bu-siang-hiat-ci
golongan sendiri, maka mereka lama memandang ke arah
Cumoti. Air muka padri asing itu kelihatan agak berubah, tapi
sengaja tersenyum-senyum seperti titdak terjadi apa-apa.
Rupanya semakin mendengarkan uraian si padri tua tadi,
semakin penasaran rasa hati Cumoti. Ia sendiri sudah
mempelajari ke-72 macam ilmu sakti Siau-lim-pai itu, Mengapa
urat-uratnya tidak putus dan menjadi orang cacat? Maka
diam-diam ia melancarkan serangan ''Bu-siang-jiat-ci" ke arah
padri tua itu.
Tak terduga tenaga jarinya cuma berhenti di depan tubuh
padri itu seakan-akan terbentur oleh selapis dinding baja yang
maha kuat dan tak kelihatan, lalu tenaga tutukannya hilang
sirna. Keruan Cumoti terkejut, baru sekarang ia percaya padri
tua ini memang luar biasa dan bukan sengaja hendak
menggertak saja.
Namun padri tua itu anggap serangan Cumoti itu seperti
tidak terjadi, la masih berkata kepada Hian-seng dan Hian-
pang, "Harap kedua Taisu berbangkit. Aku sendiri adalah
petugas dalam Siau-lim-si, mana berani menerima
penghormatan kedua Taisu seperti ini?"
Seketika Hian-seng berdua merasa seperti diangkat oleh
suatu kekuatan yang tak kelihatan sehingga mau-tak-mau
mereka berbangkit, anehnya sedikit pun tidak kelihatan padri
tua itu bergerak. Karuan mereka terperanjat atas kesaktian
padri tua itu.
Padri tua melanjutkan uraiannya, "Ke-72 macam ilmu silat
Siau-lim si kita seluruhnya terbagi dalam hal daya-guna. Yang
dikatakan daya adalah kekuatan badaniah, dan guna adalah
cara menggunakannya. Seperti Tai-lun Beng-ong dan kedua
Polo dan Cilo Suheng dari Thian-tiok, pada badan mereka
sendiri memang sudah memiliki kekuatan iwekang yang tinggi
maka yang dipelajarinya dari biara kita hanya cara
menggunakan ke-72 macam ilmu itu saja walaupun juga
membahayakan, tapi sementara ini masih tidak kelihatan.
Yang diyakinkan Beng-ong sendiri bukankah 'Siau-bu-siang-
kang' dari Siau-yau-pai?”
Kambali Cumoti terkejut, dia mencuri belajar 'Siau-bu-siang
kang' dari Siau-yau-pai, hal ini sama sekali di luar tahu orang,
mengapa padri tua itu bisa tahu? Tapi lantas teringat olehnya,
"Ah, tadi Hi-tiok bertempur denganku, yang dia gunakan juga
Siau-bu-siang-kang. Besar kemungkinan Hi-tiok yang memberi
tahu padanya, kenapa aku mesti heran?"
Karena itu Cumoti lantas menjawab, "Meski Siau-bu-siang-
kang berasal dari golongan To, tapi paling akhir ini murid
agama Budha banyak yang mempelajarinya, maka ilmu ini
boleh dikatakan mencakup ajaran golongan To dan Bud.
Malahan dalam Siau-lim-si kalian sendiri juga terdapat ahli
ilmu itu."
"O, jadi dalam Siau-lim-li juga ada yang mahir 'Siau-bu-
siang-kang’? Baru sekarang kudengar," kata si padri tua
dengan terheran-heran.
Cumoti tidak menjawab lagi, tapi diam-diam ia
menganggap padri tua itu pandai main sandiwara dan pura-
pura tidak tahu.
Maka padri tua itu berkata pula, "Ilmu Siau-bu-siang-kang
memang sangat bagus dan sangat luas, dangan menggunakan
ilmu ini sebagai dasar akan dapat menggunakan ke-72 macam
ilmu silat Siau-lim-si kita. Cuma pada bagian yang paling
penting dengan sendirinya akan kentara ada sedikit
kejanggalannya."
Mendengar Keterangan ini, segera Hian-seng berpaling
kepada Cumoti dan berkata, "Jadi Beng-ong mengaku mahir
ke-72 macam ilmu sakti Siau-lim-pai kami, kiranya begitulah
cara kemahiranmu?"
Namun Cumoti hanya tersenyum saja tanpa menjawab
sindiran itu.
Dalam pada itu si padri tua telah meneruskan. "Bila Beng-
ong cuma mempelajari cara menggunakan ke 72 macam ilmu
silat itu, maka bahayanya tentu juga tidak seberapa dan tak
sampai membahayakan jiwa. Tapi saat ini 'Seng-Cu-hiat' di
badan Beng-ong telah timbul bintik merah dan bagian 'Bi-
olong-hiat' kentara agak gemetar, dari tanda-tanda ini terang
setelah Beng-ong mempelajari ke-72 macam ilmu silat kami,
lalu secara paksa menyakinkan pula lwekang 'lh-kin-keng' …..”
Sampai di sini mendadak ia berhenti dari sorot matanya
tampak sekali dia merasa sangat sayang dan kasihan kepada
orang yang bersangkutan.
Tiba-tiba Cumoti ingat sejak dapat merebut Ih-kin-keng
dari tangan si kepala besi karena tahu kitab itu adalah kitab
pusaka dunia persilatan, maka la lantas melatihnya dengan
giat. Tapi meski sudah dilatih ke sana dan ke sini tetap tiada
kemajuan. Namun dia tidak putus asa, la anggap kitab pusaka
yang namanya sederajat dengan Lak-meh-sin kiam di negeri
Taili itu tentu tidak dapat dipahami dalam waktu singkat maka
dia mempelajarinya dengan lebih tekun.
Sampai akhirnya la mulai merasa pikirannya menjadi
gelisah dan tidak tentram, semakin dilatih semakin tak keruan
jentrungannya. Jika demikian apakah yang dikatakan padri tua
ini memang ada benarnya. Apa latihanku sudah campur-aduk
dan terjungkir balik dan dalam waktu tingkat akan
membahayakan diriku sendiri? Tapi lantas terpikir olehnya
mungkin padri tua ini sengaja menakut-nakuti saja, kalau
masuk perangkapnya maka tamatlah namaku yang tersohor
selama ini. Karena itu ia tidak ambil pusing lagi terhadap
ucapan si padri tadi.
Dalam pada itu si padri tua sedang menatap padanya
dengan penuh perhatian mula-mula ia lihat air muka Cumoti
mengunjuk rasa kejut, lalu kuatir tapi kemudian mengangkat
kening seakan tidak percaya pada apa yang dikatakannya itu.
Maka padri tua memhela napas pelahan, lalu bertanya kepada
Siau Wan san "Siau-kisu paling akhir ini apakah kedua hiat-to
di bagian perutmu ada rasa sakit?”
Seketika badan Siau Wan-san tergetar, sahutnya cepat,
"Ya, penglihatan Taisu memang sangat jitu memang begitulan
halnya."
"Dan di bagian Koan-goan hiat yang mulai kaku dan mati
rasa itu bagaimana keadaannya sekarang?" tanya pula si padri
tua.
Siau Wan san tambah terkejut, sahutnya, "Tempat yang
kaku dan mati rasa ini mula-mula cuma sebesar mata uang,
sesudah sepuluh tahun kini telah berubah menjadi sebesar
mulut mangkok."
Mendengar itu, tahulah Siau Hong bahwa tanda-tanda
yang timbul pada hiat-to di badan ayahnya adalah akibat
melatih ilmu sakti Siau-lim-pai itu. Dan dari nada ucapan sang
ayah agaknya gangguan-gangguan itu sudah berlangsung
beberapa tahun lamanya dan tetap sukar lenyap sehingga
menjadikan kekuatiran besar bagi keselamatannya. Jika
demikian, apa alangannya kalau kiranya sekarang
memohonkan pertolongan kepada padri tua itu atas diri sang
ayah?
Begitulah, maka Siau Hong lantas melangkah maju dan
berlutut dihadapan si padri tua sambil berkata, "Jika Sinceng
(padri sakti) sudah tahu akan sumber penyakit ayahku, mohon
welas-asih Sinceng agar suka memberi pertolongan."
"Silakan bangun, Siau-kisu," kata si padri tua. "Jiwa Siau-
kisu terlalu bajik dan luhur, selalu mengutamakan kepentingan
sesamanya, engkau tidak mau menggunakan permusuhan
pribadi untuk membikin susah rakyat kedua negeri, atas
keluhuran budi Siau-kisu ini, permintaan apa pun juga pasti
akan kupenuhi dengan baik. Maka tidak perlu banyak adat."
Siau Hong sangat girang, sesudah menyembah pula dua
kali barulah ia berbangkit, Lalu padri tua itu bicara pula. "Siau-
lokisu sudah terlalu banyak membunuh orang dan
memperlihatkan korban orang yang tak berdosa, seperti
Kiau Sam-hoai suami istri dan Hian kok Taisu, mestinya
mereka tidak boleh dibunuh."
Sebagai seorang ksatria Cidan, meski usianya sekarang
sudah tua, tapi jiwa Siau Wan-san yang gagah perwira tetap
tidak berkurang, demi mendengar dirinya dicela, segera ia
menjawab, "Aku pun tahu lukaku terluka parah, tapi usiaku
sudah lanjut, putraku sudah jadi omong, biarpun aku akan
mati, apa yang mesti kusesalkan? Tapi kalau Sinceng ingin aku
mengaku salah, itulah tidak boleh jadi."
"Tidak berani kuminta Siau-sicu mengaku salah, semua
luka yang diderita Siau-kisu itu adalah lantaran menyakinkan
ilmu silat Siau-lim-pai, untuk bisa sembuh harus mencari
obatnya di dalam ajaran Budha," berkata sampai di sini tiba-
tiba padri tua itu menoleh kepada Buyung Bok dan
melanjutkan pula, "Buyung-kisu memandang kematian
sebagai pulang ke asalnya dan dengan sendirinya aku tidak
perlu banyak omong. Ketemu kalau kuberi petunjuk jalannya
sehingga Buyung-kisu terhindar dari siksaan seperti ditusuk
jarum setiap hari tiga kali yang timbul dari Yang-pek, Liau-
coan dan Hong-hu-hiat, lantas bagaimana Buyung sicu akan
bicara?''
Air muka Buyung Bok berubah hebat sehingga badan
gemetar. Memang ketiga hiat-to yang disebut itu pada tiap-
tiap hari waktu pagi, siang dan petang selalu menderita
kesakitan bagai ditusuk jarum. Rasa sakit itu makin lama
makin hebat dan tidak dapat disembuhkan dengan obat apa
pun. Bahkan kalau sedikit mengerahkan tenaga, seketika rasa
sakit seperti ditusuk jarum itu semakin merasuk ke tulang
sumsum, karena itulah sudah lama ia kehilangan gairah untuk
hidup terus. Makanya dia rela mati untuk menukar syarat
perjanjian dengan Siau-heng, walaupun katanya demi
membangun kembali kerajaan Yan mereka, tapi sebagian
besar juga lantaran dia telah menderita penyakit payah itu dan
benar-benar membuatnya bosan hidup.
Sekarang mendadak didengarnya padri tua itu menyebut
sumber penyakitnya dengan jitu, karuan kagetnya tak
terkirakan dan membikin hatinya menjadi tak karuan. Seketika
ia merasa penyakit ketiga hiat to yang disebut tadi kerasa
kembali. Padahal waktu itu mestinya belum tiba waktunya
penyakit itu kumat, tapi karena guncangan perasaan sehingga
menimbul kembali penyakitnya yang sudah ditahan itu.
Tapi sebagai seorang tokoh nomor wahid, sudah tentu
Buyung Bok cc|jgan memohon pertolongan kepada seorang
pedri tua yang tak terkenal itu. Maka dengan sekuatnya ia
mengertak gigi untuk menahan rasa tersksa itu.
Buyung Hok cukup kenal watak sang ayah yang suka
menang dan tidak mau mengalah itu, lebih suka terbunuh
daripada dihina di depan umum. Maka ia lantas melangkah
maju, ia memberi hormat kepada Siau Hong dan ayahnya
sambil berkata, "Selama gunung tetap menghijau dan air
sungai tetap mengalir, biarlah sementara ini kami mohon diri
dulu. Jika kalian tetap ingin menuntas balas kepada kami ayah
dan anak, maka kami akan menantikan kedatangan kalian di
tempat kediaman kami di Koh-soh."
Habis itu la lantas gandeng tangan ayahnya dan mengajak
meninggalkan gedung itu.
"jadi begitu tega kau biarkan ayahmu tetap menderita
siksaan penyakit jahat itu?" tanya padri tua.
Wajah Buyung Hok tampak pucat pasi, ia tidak menjawab,
ia tarik tangan ayahnya dan segera hendak bertindak pergi.
"Nanti dulu!" bentak Siau Hong mendadak "Apakah kalian
hendak merat dengan begini saja. Masakah di dunia ini ada
perkara seenak ini? Kalau ayahmu menderita penyakit,
seorang laki-laki sejati tidak nanti menyerang orang yang
sedang terancam bahaya, maka bolehlah dia dilepaskan. Tapi
kau sendiri kan sehat dan kuat!"
Buyung Hok menjadi naik darah, Ia balik membentak, "Jika
begitu, biarlah aku melayani Siau-heng saja!"
Siau Hong bahkan tidak bicara lagi dan kontan
menghantam dengan jurus "Kian-liong-cai-thiat” (nampak
naga di sawah), salah satu jurus serangan hebat dan Hang-
liong sip-pat-ciang.
Melihat serangan hebat itu, cepat Buyung Hok
mengerahkan seluruh tenaganya dan menangkis dengan
kedua tangan.
"Omitohud! Tempat suci ini jangan dibuat gaduh oleh
kalian sehingga membikin marah Budha," kata si padri tua
sambil merangkap kedua tangannya di depan dada.
Aneh juga, rangkapan kedua tangan padri tua itu seketika
berubah menjadi serangkum tenaga yang mirip dinding tak
berwujud dan tak teruntühkan serta mengalang di tengah-
tengah antara Siau Hong dan Buyung Hok sehingga tenaga
pukulan kedua orang yang maha dahsyat itu tertumbuk pada
dinding tak berwujud itu dan hilang sirna tanpa bekas bahkan
tanaga pukulan Siau Hong itu terasa t¡dak terpental balik
sedikit pun, tapi sama sekali lenyap ke dalam dinding tak
kelihatan itu.
Siau Hong terkesiap. Setama hidupnya belum pernah ia
temukan tandingan ia yakin biarpun ilmu silat Hi-tiok sangat
aneh dan lihai, ilmu pedang Toan Ki juga maha sakti namun
kepandaian kedua adik angkat itu toh masih kalah setingkat
daripada dirinya. Tapi sekarang padri tua yang tak terkenal ini
ternyata memiliki kekuatan yang jauh lebih besar daripada
dirinya, maka terang balas dendam hari ini pasti takkan
terkabul.
Dasar Siau Hong memang sangat berbakti kepada orang
tua, teringat keadaan sang ayah, segera ia memberi hormat
dan berkata kepada si padri tua, "Caihe adalah orang kasar
dan tidak kenal sopan-santun, harap Sinceng suka memberi
maaf."
"Mana, mana! Loceng justru sangat mengindahkan Siau-
kisu, sebutan ksatria sejati hanya engkau saja yang pantas
memperolehnya," kata si padri tua dengan tersenyum.
"Ayahku telah berdosa karena banyak membunuh orang,
sebab musababnya adalah lantaran diriku," ucap Siau Hong
pula. "Maka mohon Sinceng sukalah menyembuhkan luka
ayah, untuk segala dosa beliau itu biarlah Caihe yang akan
menanggungnya, biar mati pun Caihe rela."
Padri itu tersenyum, sahutnya, "Tadi sudah kukatakan jika
ingin menyembuhkan luka dalam Siau-lokisu, untuk itu harus
dicari melalui ajaran Budha. Budha timbul dari dalam hati,
Budha adalah kesadaran. Orang lain hanya dapat memberi
petunjuk saja dan tak dapat membantu dengan kekuatan.
Sekarang ingin kutanya Siau-lokisu, jika engkau dapat
menyembuhkan lukamu, apakah engkau juga mau
menyembuhkan luka Buyung-lokisu?"
Siau Wan-san melengak, sahutnya kemudian, "Aku di . . .
disuruh menyembuhkan luka Buyung, . . Buyung si laknat itu?”
"Mulutmu harus kenal balas,...tahu?'' bentak Buyung Hok
dengan gusar.
"Hm,..si laknat tua Buyung itu telah membunuh istriku
tercinta, dan menghancurkan hidupku ini, aku justru ingin
mencencangnya hingga hancur luluh," sahut Siau Waa-san
dengan mengertak gigi.
"O, jadi sebelum Siau-lokisu menyaksikan binasanya
Buyung-lokisu, maka dendam tetap tak terlampias?" tanya si
padri tua.
"Ya," jawab Siau Wan-san tegas. "Aku sembunyi selama 30
tahun di Siau-lim-si, maksud tujuanku justru ingin membalas
dendam."
"Apa susahnya untuk itu?" ujar si padri tua sambil
mengangguk. Tiba-tiba ia berbangkit dan mendekati Buyung
Bok dangan pelahan, mendadak ia mengangkat sebelah
tangannya terus menabok kepala Buyung Bok.
Tadinya Buyung Bok tidak menaruh perhatian apa-apa atas
diri padri tuà itu, demi nampak batok kepalanya mendadak
dihantam, cepat la angkat tangan untuk menangkis,
berbareng tubuhnya lantas menggeser mundur.
Dua gerakan ini luar biasa cepat dan tepatnya sehìngga
Siau Wan-san dan Siau Hong juga diam-diam mengagumi
kepandaian Buyung Bok itu.
Tak tersangka tabokan padri tua itu tetap dilanjutkan
dengan perlahan dan tahu-tahu "plok", dengan tepat "Pek-
hwe-hiat" di ubun-ubun kepala Buyung Bok kena ditabok.
Nyata tangkisan dan geseran Buyung Bok tadi sama sekali tak
dapat menolong dirinya dari serangan itu.
"Pek-hwe-hiat" adalah hiat-to paling lemah dan mematikan
di tubuh manusia, maka begitu kena tabokan itu seketika
tubuh Buyung Bok tergetar, napas lantas terhenti badan terus
roboh ke belakang.
Keruan Buyung Hok terkejut, cepat ia memburu maju dan
memayangnya sambil berteriak-teriak, "Ayah! Ayah!"
Ia lihat mata dan mulut sang ayah terkatup rapat, napas
sudah berhenti, waktu ia raba dadanya, ternyata jantungnya
juga berhenti berdenyut. Sungguh duka dan gusar Buyung
Hok tak kepalang sama sakali tak diduganya bahwa padri tua
yang mengoceh tentang welas-asih dan kebajikan segala itu
bias mendadak turun tangan keji dan membunuh ayahnya.
"Kau . . . . kau bangsat gundul tua bangka!" teriak Buyung
Hok dengan murka. Ia sandarkan jenazah ayahnya di samping
tiang, lalu menubruk maju, kedua tangan menghantam
berbareng dengan dahsyat.
Tapi padri tua itu sama sekail tak ambil pusing. Ketika
tenaga pukulan Buyung Hok tampil mengenai tubuh si padri,
tahu-tahu terasa lepas tertumbuk pada dinding yang tak
berwujud bahkan Buyung Hok sendiri lantas terpental hingga
membentur sebuah rak kitab. Anehnya tenaga pukulan
Buyung Hok yang mengenai dinding tak berwujud itu seakan-
akan punah, sebaliknya ia merasa seperti didorong oleh suatu
tenaga yang lunak sehingga punggungnya yang membentur
rak kitab itu tidak sampai membuat rak itu roboh, bahkan
kitab-kitab yang penuh tertaruh di atas rak juga tidak terjatuh
sejilid pun.
Dasar Buyung Hok memang sangat cerdik, meski la sangat
berduka alas meninggalnya sang ayah, Tapi ia pun tahu ilmu
silat padri tua itu berpuluh kali lebih lihai daripada dirinya, jika
pakai kekerasan terang tiada gunanya. Maka ia lantas
bersendar di rak buku itu, pura-pura terengah-engah
napasnya, tapi diam-diam memikirkan tindakan apa yang
harus diambil atau mesti menggunakan serangan kilat di luar
dugaan lawan.
Namun si padil itu lantas berpaling kepada Siau Wan-san
dan berkata, "Tadi Siau-lokisu menyatakan ingin menyakinkan
sendiri kematian Buyung-lokisu untuk melampiaskan dendam
kesumatmu selama ini. Sekarang Buyung lokisu sudah
meninggal, apakah dendam Siau-lokisu sudah terlampias?"
Siau Waa-sao sendiri sangat terperanjat melihat Buyung
Bok ditabok mati oleh padri tua itu. Maka la menjadi bingung
dan tak dapat menjawab pertanyaan itu.
Selama 30 tahun ini Siau Wan-san selalu berusaha hendak
membalas dendam kematian sang istri, baru tahun terakhir ini
dia mengetahui duduknya perkara, la telah membunuh para
ksatria yang dulu ambil bagian dalam peristiwa berdarah diluar
Gan-bun-koan itu, sampai Hiat-koh Taisu dan Kiau Sam-hoai
suami istri juga dibunuh olehnya.
Akhirnya diketahuinya pula bahwa "Toako Pemímpin."
yang dicari itu adalah ketua Siau-lim-si, Hian-Cu Hongtiang,
malahan di depan para ksatria segenap penjuru itu
dibongkarnya pula borok Hian-cu yarg mengadakan
perzinahan dengan Yap Ji-nio, maka sakit hatinya boleh
dlkatakan terbalas dengan sangat sempurna pula.
"Tapi kemudian demi nampak kematian Hian-cu itu
dilakukan dengan gilang gemilang dan secara ksatria, samar-
samar dalam lubuk hati Siau Wan-san terasa perbuatannya itu
agak keterlaluan, malahan kematian Yap Ji-nio juga membuat
perasaannya agak tidak enak. Cuma waktu itu ia mendapat
tahu pula bahwa biangkeladi yang membikin peristiwa
berdarah itu tak lain tak bukan adalah Buyung Bok alias si
padri jubah putih yang telah sama-sama bersembunyi dalam
Siau-lim-si sama pernah bergebrak beberapa kali dengan
dirinya itu, maka antera amarah Siau Wan-san lantas
tertumplek atas diri Buyung Bok.
la sudah terlalu benci kepada musuh itu sehingga ingin
dapat roakan dagingnya dan mengunyah kulitnya. Sungguh
kalau bisa ia ingin mencabut ototnya dan membakar tulangnya
sekaligus untuk membalas dendam. Siapa duga mendadak
muncul seorang pudrí tua yang tak dikenal dan dengan mudah
sekali musuh besarnya itu dltabok mati olehnya. Seketika Siau
Wan-san menjadi bingung dan seakan-akan kehilangan
pegangan hidup lagi.
Pada waktu mudanya, dengan segenap jiwa-raga Siau
Wan-san ingin berjuang bagi nusa dan bangsanya, ingin
namanya tersohor dan tercatat dalam lembaran sejarah. Dia
adalah teman main sejak kecil dengan istrinya, keduanya
saling mencintai. Sesudah menikah dan melahirkan putra
pertama, semangat patriot Siau Wan-san semakin berkobar
dan cita-citanya semakin tinggi. Tak tersangka lantas terjadi
peristiwa yang mengenaskan di luar Gan-bun-koan, di sana ia
sendiri gagal membunuh diri.
Namun kejadian Itu telah mengubah seluruh pandangan
hidupnya, ia merasa segala nama dan tugas, harta dan
kedudukan, segalanya mirip sampah belaka, yang terpikir
olehnya siang dan malam adalah cara bagaimana menuntut
balas.
Sebenarnya dia adalah seorang ksatria yang berjiwa besar
dan sangat bijaksana, tapi karena dendam kesumat itu dangan
sendirinya wataknya makin lama makin menyendiri dan aneh.
Ditambah lagi telah bersembunyi berpuluh tahun di dalam
Siau-lim-si, siang tidur dan malam keluar, dengan giat ia latih
ilmu silat, selama itu jarang bicara dengan orang, maka tidak
heran kalau perangainya juga berubah luar biasa.
Sebenarnya dia harus merasa puas dan senang karena
musuh-musuhnya yang dibenci itu satu persatu telah terbunuh
olehnya atau mati di hadapannya. Tapi dia justru merasa
sangat sunyi dan hampa, la merasa tiada sesuatu tujuan hidup
lagi di dunia Ini, biarpun hidup terus juga percuma.
Ia coba melirik ka arah Buyung Bok yang bersandar di
tiang itu, tertampak wajah Buyung Bok tenang-tenang saja
dengan mengulum senyum seakan-akan kematiannya itu lebih
menyenangkan daripada hidup.
Begituldh dalam hati Siau Wan san berbalik merasa
Buyung Bok lebih beruntung, sesudah mati maka tamatlah
segalanya. Dalam sekejap itu timbul macam-macam pikiran.
Musuhnya sekarang sudah mati semua, sakit hatinya sudah
terbalas. Tapi ke mana dirinya harus pergi? Apa pulang ke
negeri Liau dan hidup tirakat di luar Gan bun-koan sana? Atau
mengembara tanpa arah tujuan bersama anak Hong?
Tapi ia merasa kemana pun tetap tiada artinya lagi.
Tiba tiba sí padri tua membuka suara pula, "Siau-lokisu,
Jika engkau hendak pergi bolehlah silahkan!”
"Tidak . . . tidak," sahut Wan-san dengan menggeleng, "Ke
mana aku harus pergi? Aku tak bisa pergi ke mana-mana."
"Aku yang membunuh Buyung-lokisu sehingga engkau
tidak dapat membalas dendam dengan tangan sendiri, maka
engkau merasa menyesal bukan?" tanya si padri tua.
“Bukan," sahut Wan-san. "Andaíkan tidak kau binasakan
dia juga aku tidak ingin membunuh dia lagi."
"Ya, tetapi karena kematian ayahnya itu. Buyung-siauhiap
ini sekarang akan menuntut balas padaku dan padamu, lantas
bagaimana baiknya?" tanya si padri.
Dengan rasa hampa dan putus asa Siau Wan-san
menjawab, "Taisu cuma mewakilkan aku membunuh musuh,
Jika Buyüng-siauhíap mau menuntut balas bagi ayáhnya,
biarlah dia tunjukan padaku saja."
Mendadak ia menghela napas, lalu berkata pula, "Ya,
bolehlah dia mencabut nyawaku saja. Anak Hong, kaupun
boleh pulang saja ke negeri Lian, urusan kita sudah selesai,
jalan sudah mencapai titik akhirnya."
"Ayah, engkau . . . " seru Siau Hong.
Tapi si padri tua lantas berkata, "Bila engkau dibunuh
Buyung-siauhiap tentu putramu juga pasti akan menuntut
balas pada Buyung-siauhiap, cara balas membalas ini bilakah
terakhir? Maka lebih baik segala dosa biarlah kupikul saja,
semuanya aku yang menanggungnya!"
Habis berkata ia terus melangkah maju, la angkat
tangannya dan menghantam kepala Siau Wan-san.
Keruan Siau Hong terkejut, karena tadi sudah terjadi, ia
tahu bila padri itu dapat sekali tabok membinasakan Buyung
Bok, maka dengan sendirinya dengan sekali tabok juga
ayahnya akan terbunuh. Tanpa pikir lagi ia membentak, "Nanti
dulu!”
Berbareng kedua tangannya menghantam sekaligus ke
pada si padri tua.
Sebenarnya Siau Hong sangat kagum dan mengindahkan
padri tua itu, tapi sekarang demi untuk menolong sang ayah,
la tidak paduli bahwa pukulan kedua tangannya ini membawa
seluruh tenaganya yang maha dahsyat dan maha kuat biarpun
berotot kawat tulang besi juga akan binasa seketika.
Namun dengan tangan kiri padri tua itu sempat menahan
tenaga pukulan yang dilontarkan Siau Hong, sedang tangan
kanan masih terus menabok kepala Siau Wan-san.
Siau Wan-san sendiri sama sekali tidak berpikir untuk
menghindar atau menangkis serangan itu. Maka tampaknya
telapak tangan kanan si padri tua segera akan mengenai "Pek-
hwe-hiat" di ubun-ubun kepalanya.
Sekonyong-konyong padri itu membentak sekali, tabokan
itu tiba-tiba berubah arah dan menghantam Siau Hong.
Saat itu tenaga pukulan kedua tangan Siau Hong sedang
saling tolak dengan tangan kiri si padri, ketika mendadak
melihat tangan kanan lawan ganti haluan dan menyerang ke
arahnya, cepat Siau Hong tarik kembali tangan kirinya untuk
menangkis sambil berseru "Ayah, lekas lari! Lekas!"
Tak terduga bahwa perubahan pukulan padri tua itu hanya
tipu pancingan belaka sekadar mengurangi daya tekanan
kedua tangan Siau Hong, ketika Siau Hong menarik sebelah
tangannya, segera padri tua itu juga putar balik tangan
kanannya, maka terdengarlah suara "plak" pelahan, dangan
tepat ubun-ubun kepala Siau Wan san kena ditabok.
Dan pada saat itu juga pukulan tangan kanan Siau Hong
juga sudah tiba, "blang", dengan tepat dada padri tua kena
dihantam, "krak-krek", beberapa tulang iga si padri patah.
Namun dengan tersenyum padri tua itu masih berkata,
"Sungguh kepandaian yang bagus! Hang-liong-sip-pat-ciang
memang ilmu pukulan nomor satu di dunia."
Baru selesai ucapannya, tanpa ampun lagi darah segar
terus menyembur dari mulutnya.
Siau Hong tertegun sejenak kemudian ia memayang
bangun tubuh ayahnya. Ia lihat napas sang ayah sudah putus,
denyut Jantungnya juga sudah berhenti, terang orangnya
sudah meninggal.
Pada saat itulah tiba-tiba di bawah sana ada suara seruan
orang, "Apa barangkali berada di atas Cong-keng-kok ini?”
Menyusul terdengar beberapa orang sedang lari
mendatangi.
"Sudah saatnya, marilah pergi!” kata si padri tua dan
segera ia memjambret leher baju jenazah Siau Wan San
dengan tangan kanan, sedang tangan kiri dipakai menjambret
leber baju jenazah Buyung Bok, lalu dengan langkah lebar ia
melayang ke luar jendela.
"Kau . . . kau hendak ke mana?" bentak Siau Hong dan
Buyung Hok berbareng, sekaligus mereka pun sama-sama
menghantam punggung si padri tua.
Hanya sedetik sebelum itu mereka hendak bertempur mati-
matian, tapi sekarang ayah masing-masing telah dibunuh
orang dalam menghadapi musuh bersama mereka lantas
berdiri di Satu pihak dan bersama-sama mengejar musuh.
Gabungan tenaga pukulnn mereka berdua sudah tentu
maha dahsyat. Tapi tubuh si padri tua mirip layang-layang
saja, di bawah dorongan tenaga pukulan Siau Hong dan
Buyung Hok itu ia malahan dapat melayang pergi beberapa
meter jauhnya dengan masih tetap menjinjing dua sosok
tubuh yang sudah tak bernyawa, kemudian ketiga sosok tubuh
turun ke atas tanah dengan cepat dan ringan bagai burung
terbang.
Sekali lompat segera Siau Hong mengudak keluar jendela.
Ia lihat padri tua itu berjalan ke atas gunung dengan
menggondol dua sosok mayat. Dengan mempercepat
langkahnya Siau Hong menduga dalam beberapa tindak saja
dapat menyusul sampai di belakang si padri tua.
Tak terduga bahwa ginkang padri itu benar-benar luar
biasa anehnya dan seperti memiliki ilmu gaib seja, biarpun
Siau Hong mengejar dengan sepenuh tenaga, jaraknya
dengan si padri tetap ada belasan meter jauhnya, berulang ia
pun melontarkan pukulan dari jauh, tapi jaraknya dengan si
padri tetap belasan meter jauhnya, berulang-ulang ia pun
melontarkan pukulan lagi dari jauh, tapi selalu mengenai
tempat kosong.
Maka jauh makin tinggi si padrì menuju ke atas gunung, ia
berputar-putar di antara lereng gunung itu dan akhirnya
sampai di suatu tanah lapang di tengah sebuah hutan, di
situlah ia meletakkan kedua mayat yang dibawanya itu di
bawah sebatang pohon, Ia dudukkan kedua sosok jenazah itu
dengan gaya bersila, lalu ia, sendiri duduk di belakang kedua
mayat, kedua tangannya menahan punggung kedua mayat.
Dan baru saja ia duduk, sementara itu Siau Hong pun sudah
menyusul tiba.
Biarpun Siau Hong tampaknya kasar, menghadapi sesuatu
urusan ia bisa berlaku teliti dan cerdik. Demi melihat tingkah
laku padri tua itu agak luar biasa, maka la pun tidak mau
sembarangan bertindak pula. Ia dengar si padri tua berkata,
"Aku membawa mereka berjalan-jaian untuk melemaskan otot
dan melancarkan darah mereka.”
Hampir-hampir Siau Hong tidak percaya pada telinganya
sendirl. Manakah mungkin mengajak jalan-jalan orang mati
dan katanya untuk melemaskan otot dan melancarkan jalan
darah mereka, apakah maksud yang sebenarnya?
Saking herannya ia coba menegas, “Melemaskan otot dan
melancarkan darah mereka?''
"Ya, karena luka dalam mereka terlalu parah, maka
mereka harus dibiarkan istirahat dulu untuk kemudian baru
disembuhkan,” kata si padri.
Siau Hong terkesiap, sungguh ia tidak habis mengerti,
"Apakah ayah belum meninggal? Jadi padri ini sedang
berusaha menyembuhkan luka dalam ayah? Masakah di dunia
ini ada cara penyembuhan demikian dengan membunuh si
penderita lebih dulu untuk kemudian baru
menyembuhkannya?"
Dalam pada itu Buyung Hok, Cumoti. Hian seng, Hian-
ceng, Sin-kong Siangjin dan lain-lain juga sudah menyusul
tiba. Mereka lihat ubun-ubun kedua jenazah yang digondol lari
si padri tua itu tiba-tiba mulai mengepulkan hawa putih yang
tipis.
Sejenak kemudian si padri tua lantas memutar kedua
mayat sehingga muka berhadapan muka, lalu keempat tangan
mayat itu diaturnya hingga saling menjabat tangan.
"Apa . . . apa yang kau lakukan ini? Tanya Buyung Hok
dengan bingung.
Tapi si padri tua tidak menjawabnya la mulai mengitari
kedua sosok mayat dengan langkah pelahan sambil berulang-
ulang menutuk, terkadang menutuk 'Tai-cui-hiat' di bahu Siau
Wan-san lain saat ia menabok 'Giok-cin-hiat' di punggung
Buyung Bok. Sedangkan hawa putih yang menguap dari ubun-
ubun kedua mayat itu semakin lama makin tebal. Lewat
beberapa saat lagi sekonyong-konyong badan Sian Wan-san
dan Buyung Hok berbareng sama-sama bergarak satu kali.
Keruan Siau Hong dan Buyung Hok terkejut dan bergirang.
"Ayah!" seru mereka bersama.
Sejenak kemudian Siau Wan-san dan Buyung Bok
membuka mata dengan pelahan. sesudah saling pandang
sekejap. Lalu mata mereka terpejam pula Air muka Siau Wan-
san tampak merah bercahaya. sebaliknya air muka Buyung
Bok pucat Menghijau.
Baru sekarang semua orang paham sebabnya padri tua itu
menabok mati dulu kedua orang itu adalah supaya mereka
berhenti bernapas dan jantung berhenti berdenyut, rupanya
cara demikian adalah semacam ilmu penyembuhan luka dalam
yang parah.
Jadi tujuan si padri tua sebenarnya adalah baik, hal ini
mestinya dia dapat menerangkan sebelumnya, kenapa dia
sengaja bergurau sehingga Siau Hong dan Buyung Hok dibikin
kuatir dan marah, malahan dia sendiri sampai merasakan
pukulan dahsyat Siau Hong sehingga tumpah darah.
Begitulah semua orarg merasa heran dan tidak habis
mengerti. Dalam pada itu si padri tua kelihatan masih sibuk
menutuk dan menabok dengan penuh perhatian atas kedua
penderita, semua orang tidak berani membuka suara dan
bertanya. Sebaliknya terdengar suara napas Siau Wan San dan
Buyung Bok dari pelahan mulai cepat dan dari lemah berubah
menjadi kuat.
Menyusul air muka Siau Wan-san tampak semakin merah
sampai akhirnya seakan-akan merah berdarah. Sebaliknya air
muka Buyung Bok tambah hijau mengerikan. Dan tubuh kedua
orang itu pun tampak gemetar agaknya keadaan mereka juga
agak berbahaya.
Semua orang yang menyaksikan itu tahu bahwa air muka
merah itu menandakan hawa Yang terlalu keras, suhu badan
terlalu panas bagai dibakar. Sebaliknya air muka hijau
menunjukkan hawa Im terlalu besar, hawa dingln yang
mengeram dalam badan terlalu kuat.
Pada saat lalu mendadak terdengar si padri tua
membantak, "Haahh! Keempat tangan saling berpegang,
tenaga dalam saling membantu. Im membantu Yang dan Yang
mengurangi Im. Pikiran yang angkara murka pandangan yang
bermusuhan jagat dewa batara hilang sirna!"
Karena bentakan si padri tua, tiba-tiba dua pasang tangan
Siau Wan-san dan Buyung Bok yang tadinya saling genggam
itu lantas saling pegang dengan lebih eral hawa murni masing-
masing lantas membanjir pula pada badan lawan sehingga
tercampur baur dan saling membantu kekurangan masing-
masing, Lalu air muka kedua orang sama-sama berubah
menjadi putih pucat, tak lama kemudian kedua orang sama-
sama membuka mata dan saling tertawa dengan penuh arti
antara sahabat karib.
Sungguh girang Siau Hong dan Buyung Hok tak terkatakan
demi melihat ayah mereka sudah hldup kembali dangan sehat.
Maka tertampaklah kedua orang tua itu lantas bergandengan
tangan dan sama-sama berlutut di hadapan si padri tua.
Lalu berkatalah padri tua itu, "Kalian berdua dari hidup
sampai mati dan dari mati kembali hidup lagi apakah sekarang
masih ada sesuatu yang tak terlepaskan dari pikiran kalian?
Jika tadi kalian lantas mati untuk seterusnya, apakah kalian
masih dapat berpikir tentang membangun kembali kerajaan
Yan atau menuntut balas terbunuhnya istri segala?"
"Tecu telah menjadi hwesio selama 30 tahun di siau-lim-si
secara menyamar dan dengan sendirinya tiada sedikit pun
rasa kesadaran sebagai murid Budha, maka diharap Suhu suka
menerima Tecu," sahut Siau Wan-san.
"Apa engkau tidak ingin lagi membalas sakit hati
terbunuhnya istrimu?" tanya si padri.
"Selama hidup Tecu juga banyak membunuh orang, bila
anggota keluarga orang-orang yang kubunuh itu juga sama
menuntut balas padaku, maka biar Tecu mati seratus kali juga
tidak cukup untuk memenuhi tuntutan mereka," ujar Wan-san.
"Dan engkau bagaimana?" tiba-tiba si padri tua berpaling
pada Buyung Bok.
Buyung Bok tersenyum dan berkata, "Rakyat jelata adalah
manusia, raja juga manusia, Kerajaan Yan dibangun kembali
atau tidak semuanya adalah kosong belaka!"
"Bagus, engkau telah mencapai kebijaksanaan dan
memperoleh kesadaran Siancai! Siaocai!" sabda si padri.
"Mohon Suhu menerima Tecu dan banyak memberi
petunjuk pula," pinta Buyung Bok.
"Kalian ingin pelepasan diri dan menjadi padri, untuk itu
kalian harus minta diterima para Taisu dari Siau-lim-si," kala si
padri tua. "Sekarang ada beberapa patah kata boleh juga
kuuraikan lagi kepada kalian."
Begitulah lalu padri tua itu memberi khotbah lagi. Siau
Hong dan Buyung Hok juga lantas ikut berlutut di depannya.
Ketika khothah padri tua itu sedemikian bagusnya sehingga
Hian-seng, Sin-kong. To-jing, Cilo, Polo Singh dan lain-lain
sangat tertarik maka tanpa terasa akhirnya mereka pun
berlutut untuk mendengarkan khotbah . . . “
Begitulah maka pada waktu Toan Ki sampai di situ, saat
mana si padri tua asyik memberi penjelasan arti khotbahnya
yang penuh filsafat itu, Karena ingin melihat bagaimana wajah
padri tua itu, maka Toan Ki berputar ke depan sana, siapa
tahu Cumoti mendadak menyerang hingga dadanya terkena
tutukan 'Hwe-yam-bo' yang lihai.
Toan Ki lantas tak sadarkan diri dan entah berselang
berapa lama baru siuman kembali. Waktu ia buka mata
pertama-tama yang tertampak olehnya adalah langit-langit
kelabu, menyusul ia tahu dirinya tidur di atas ranjang dengan
berselimut.
Karena seketika itu pikirannya belum jernih sama sekali,
maka ia coba mengingat-ingat kembali apa yang telah terjadi.
Ia ingat telah kena serangan Cumoti, tapi ia tidak mengerti
mengapa bisa berada di tempat tidur itu!
Ia merasa haus sekali dan segera ingin bangun, tapi sedikit
bergerak saja dadanya lantas terasa sakit tidak kepalang
sehingga dia menjerit pelahan.
Maka terdengarlah suara seorang wanita muda berkata dl
luar, "Ah...Toan-kongcu sudah mendusin!"
Dari nada ucapannya itu agaknya merasa sangat girang.
Toan Ki merasa suara wanita muda itu sudah dikenalnya.
Dan baru d¡a mengingat-ingat siapakah geranganya, tiba-tiba
seorang anak dara melangkah masuk drngan tindakan cepat,
Tertampaklah sebuah wajah bulat telur, pipi terdapat sebuah
lekuk kecil yang manis. Kiranya Ciong ling adanya, si nona cilik
yang dahulu berjumpa dengan Toan Ki di sarang orang-orang
'Buliang-kiam' [baca jilid ke 1).
Ayah Ciok Ling, yaitu Ciong Ban-siu, berjuluk 'Kim-jin-cin-
sat' (ketemu orang lantas bunuh), adalah musuh Toan Cing-
sun, ayah Toan Ki. Ketika mengetahui Toan Ki adalah putra
musuh besarnya, Ciong Ban-siu lantas ikut mengatur tipu
muslimat hendak membunuhnya.
Tak tersangka ketika Toan Ki keluar dari rumah batu
tempat dia semula dikurung, tahu-tahu ia membawa seorang
gadis yang keadaan pakaiannya sudah tak karuan, dan gadis
itu ternyata adalah Ciong Ling, jadi Ciong Ban siu tidak
berhasil membikin celaka Toan Ki, sebaliknya membikin malu
putrinya sendiri, Keruan dia keki setengah mati.
Kemudian Ciong Ling digondol lari oleh In Tiong-ho dan
tak diketahui mati hidupnya, terkadang bila ingat akan
kejadian itu, betapapun Toan Ki merasa sedih dan menyesal.
Siapa duga sekarang dapat bertemu kembali dengan anak
dara itu di sini.
Begitülah, maka wajah Ciong Ling menjadi merah juga
ketika sinar matanya berbentruk dengan pandangan Toan Ki.
Tapi ia lantas menegur dengan tersenyum-senyum, "Tentu
engkau sudah lupa padaku bukan? Apa masih ingat aku ini
siapa?"
Melihat sikap Ciong ling itu, dalam benak Toan Ki tiba-tiba
terbayang pula adegan masa dahulu waktu Ciong Ling duduk
di atas belandar kedua kakinya berayun-ayun sambil menyisil
kuaci. Sungguh aneh juga, sampai sekarang ia pun masih
ingat betul sepatu yang dipakai si nona yang berwarna hijau
bersulam bunga kuning kecil itu. Tanpa terasa ia lantas tanya,
"Eh, ke mana sepatumu yang bersulam bunga kuning itu?"
Kembali wajah Ciong ling bersemu merah ia tidak
manduga bahwa Toan Ki ternyata masih ingat kepada
sepátunya itu, hal ini menandai kau bahwa pemuda itu tidak
melupakan dia. Maka dengan tersenyum ia menjawab, "Sudah
lama rusak, heran juga engkau masih ingat tentang itu?"
"Dan kenapa kamu tídak makan kuaci lagi?” tanya pula
Toan Ki dengan tertawa.
"Aih, engkau ini sungguh terlalu! Orang lagi kuatir
setengah mati selama beberapa hari merawat lukamu ini,
masakah masih ada waktu iseng untuk makan kuaci segala?"
jawab Ciong Ling. Tapi segera ia merasa jawabannya itu
terlalu menonjolkan perasaan yang sebenarnya terhadap Tuan
Ki maka kembali wajahnya merah lagi.
Dengan termangu-mangu Toan Ki memandangnya. selang
sejenak baru bertanya pula, "Dan di mana kau punya Kim-
leng-cu, itu ular kecil berwarna emas?”
"Aku sudah lama terlunta-lunta dl luar dan tidak pernah
pulang ke rumah dari mana bisa membawa ular segala?"
sahut Ciong Ling.
"O. ya. tempo hari kamu digondul lari oleh 'Kiong-hiong-
kek-ok' In Tiong-ho," kata Toan Ki tiba tiba. "Wah, aku
menjadi kuatir sekali, Cuma sayang aku tidak mahir ilmu silat,
terpaksa aku suruh muridku si Lam-hai Gok sín untuK
menolongmu. Dan entah cara bagaimana kau dapat
menyelamatkan diri sungguh aku sangat kuatir."
"Muridmu itu ternyata sangat setia padamu,sahut Ciong
Ling dengan tertawa. "Meski ginkang si jangkung itu sangat
hebat, tapi ia membawa diriku dengan sendirinya kurang
leluasa larinya. Maka cuma beberapa li jauhnya ia sudah
tersusul oleh muridmu . . . . "
Sampai di sini ia berhenti, sikapnya tampak malu-malu
kikuk.
"Lalu bagaimana?" tanya Toan Ki.
Mendadak Ciong Ling tertawa, "Hihi, coba kau terka cara
bagalmane muridmu itu memanggil aku? Sungguh aku
menjadi dongkol dan geli pula."
Melihat gaya Ciong Ling yang malu-malu kucing dan
menggiurkan itu, hati Toan Ki terguncang. Teringat olehnya
apa yang dikatakannya dahulu, maka jawabnya dengan
tersenyum, "Ya, dengan sendirinya muridku itu memanggilmu
sebagai 'Sunio' (Ibu guru), betul tidak?"
Dengan tersenyum simpul Ciong Ling lantas bercerita,
"Ketika itu aku dikempit oleh durjana itu, aku meronta-ronta
sekuatnya, tapi tak bisa melepaskan cengkeramannya.
Sungguh hatiku ketakutan setengah mati, tapi aku pun
mendengar muridmu sedang menguber sambil berteriak-
teriak! dengan suaranya yang serak, "Sunio! Sunio! Boleh
mengitik-ngitik ketiaknya, si jangkung itu paling takut geli!"
"Hah, kebetulan," pikirku. Mengitik-ngitìk justru adalah
kepandaianku yarg khas. Maka dengan segera aku mengulur
tangan hendak mengitik-ngitik ketiak durjana itu. Tak terduga
baru saja jariku menempel ketiaknya, belum lagi aku
mengkili-kili, tahu-tahu dia sudah terkekeh-kekeh lebih
dulu. Dan karena tertawanya itu larinya menjadi kendur, maka
dengan segera dia dapat disusul oleh muridmu. Gak-losam,
kamu kena diakali orang! seru durjana jangkung itu. Tapi Gak
losam menjawab. Diakali atau tidak, pendek kata lekas kau
lepaskan ibu guruku, kalau tidak, ini rasakan senjataku
gunting congor buaya itu!”
"Karena terpaksa maka aku dilepaskan oleh durjana
jangkung itu," demikian Ciong Ling melanjutkan ceritanya.
"Dan pada waktu dia lengah segera aku mengitik-ngitik dia
sehingga durjana itu menungging sambil memegangi perutnya
dan terkakak-kakak saking gelinya, semakin dia tertawa
semakin menjadi, aku mengitik-ngitik sampai dia terbatuk-
batuk dan mengucurkan air mata. Akhirnya Gak-losam
memintakan ampun baginya, Sunio, boleh mengampuni dia
saja, kalau mengitik-ngitik lagi, jika sampai napasnya sesak,
mungkin dia bisa mati!"
"Aku menjadi heran, ilmu silat durjana itu sangat tinggi
masakah bisa mati terkili-kili saking geli? Maka jawabku, Ah,
masa ya? Aku tidak percaya, ingin kucoba! Tapi Gak losam
mencegah, "Eh. jangan! Mana boleh dicoba sekali dia mampus
tentu tak bisa dihidupkan lagi. Kelemahan setan jangkung ini
justru terletak pada Thian-cong-hiat di bawah katiaknya,
tempat itu tidak boleh tersentuh sedikit pun.”
"Karena itulah aku tidak jadi mengitik-ngitik dia lagi. Ketika
durjana itu sudah berdiri tegak kembali, dia melotot padaku,
habis itu mendadak ia meludahi Gak-losam sambil memaki,
“Buaya mampus, buaya bacinl Tempat kelemahanku kenapa
kau beritahukan kepada orang luar?”
“Eeh, kau berani memaki orang!” aku mengomel sambil
mengulur tangan hendak mengitik-ngitiknya lagi, Tak
tersangka sekali ini perbuatanku tidak manjur lagi, mendadak
durjana jangkung itu mengayunkan kakinya sehingga aku
kena ditendang terjungkal lalu ia tinggal pergi. Cepat Gak-
losam membangunkan aku sambil bertanya, Sunio, sakit tidak?
"Pada saat itulah tiba-tiba tertampak ayahku memburu tiba
dengan golok terhunus sambil berteriak-teriak, Budak celaka,
kenapa kamu diam di sini, apa ingin mampus? Segera Gak-
losam menoleh dan memaki, "Kurang ajar! Apa mulutmu
minta di sikat ya?”
"Ayahku menjadi gusar sahutnya. Aku memaki anak
perempuanku sendiri, peduli apa denganmu? Aneh juga entah
mengapa mendadak Gak-losam marah-marah. Ia tuding
ayahku dan mendamprat pula "Kau , . . kau bangsat kau
berani menarik keuntungan atas diriku? Biar . . , . biar Gak-
losam mengadu jiwa denganmu?”
Jilid ke-77
“Aneh, dimanakah pernah kutarik keuntungan darimü?
Sahut ayahku, Dengan marah-marah Gak-losam berkata,
Habis, dia kan ibu guruku dia lebih tua satu tingkatan
daripadaku, ini pun apa boleh buat, sebab memang demikian
halnya. Tapi sekarang kauberani mengaka sebagai bapaknya,
bukankah. . . bukankah kamu menjadi lebih tua dua tingkat
dari padaku? Hm, aku Gak losam selamanya bersinggasana di
laut selatan, di sana, siapa yang tidak memanggiku tuan besar
atau kakek-moyang. Tapi setiba di Tionggoan, dimana-mana
aku selalu lebih rendah satu-dua angkatan daripada orang
lain. Sungguh sialan! Maka aku tak mau lagi, ya, tidak mau!”
Ciong Ling memáng gadis lincah dan cerdik, bicaranya
mencorocos terus, cara menirukan lagu bicara Lam-hai-gak-
s¡n Juga sangat mirip mau-tak-mau Toan Ki merasa geli juga.
Lalu si noná melanjutkan ceritanya, "Maka ayahku berkata,
Kau mau atau tidak masa bodoh, yang terang anak dara ini
adalah putriku, dengan sendirinya aku adalah bapaknya,
kenapa kau bilang aku mengaku-ngaku apa segala?”
"Rupanya kewalahan berdebat, mendadak Gak-losam
mencari-carl alasan, katanya, Sudah tentu kamu cuma
mengaku-ngaku saja. coba lihiat, Sunio begini cantik,
sebaliknya kamu sejelek siluman, mana mungkin kamu ini
ayahnya yang tulen? Tentu Sunioku ini putri orang lain dan
bukan keturunanmu. Kamu adalah ayah palsu dan bukan
ayahnya yang asli!"
"Sungguh tidak kepalang murka ayahku, ia angkat
golaknya terus membacok Gak-losam. Cepat aku
mencegahnya, "Ayah, orang ini telah menyelamatkan aku dari
gangguan orang jahat tadi, harap jangan membunuh dia!"
"Sekonyong konyong ayah tambah murka, ia memaki
padaku, Budak busuk, memangnya sejak dulu aku sudah
curiga kamu bukan keturunanku yang sejati, sampai si tolol ini
pun berkata demikian, masakah urusan perlu disangsikan lagi?
Hm, biarlah kumampuskan dia dulu, habis itu akau kubunuh
dirimu dan kemudian membunuh pula ibumu!"
Seperti diketahui ibu Ciong Ling adalah bekas kekasih Toan
Cing-sun, ayah Toan Ki. Makin besar muka Ciong Ling juga
semakin cantik sehingga sedikit pun tidak memper muka
Ciong Ban-Siu yang lonjong bagai muka kuda itu, sudah tentu
rasa cemburu Ciong Ban-siu semakin menjadi-jadi dan
pikirannya juga senantiasa diliputi oleh rasa curiga.
Begitulah sampai di sini air mata Ciong Ling sendiri pun
berlinang-linang dan hampir-hampir menetes. Cepat Toan Ki
menghiburnya, "Jangan kuatir! Aku tahu ayahmu paling takut
bini, tidak nanti dia berani membunuh ibumu."
Ciong Ling tertawa, tanyanya, 'Eh, dari mana kau tahu?"
Karena tertawanya itu, air matanya yang tadinya
berlinang-linang di kelopak mata itu lantas meleleh ke pipi.
"Dahulu waktu aku menyampaikan berita kerumahmu di
Ban-jiat-kok, dengan mataku sendiri küsaksikan ayahmu
sangat penurut pada ibumu, sedikit pun tidak berani
membangkang perintahnya," sahut Toan Ki.
Ciong Ling menghela napas dan untuk sekian lamanya
diam saja.
"Kemudian bagaimana kenapa kamu sampai di sini?" tanya
Toan Ki.
"Waktu kulihat ayah dan muridmu bertempur dan seketika
sukar dilarai, maka aku lantas berteriak-teriak, Hai, Gak-losam,
kamu tidak boleh mencelakai ayahku!' Lalu aku berseru pula
'Ayah, jangan kau celakai Gak-losam! Dan tanpa
memperdulikan bagaimana kesudahan pertarungan meraka
itu, segera kutinggal pergi."
"Ya, ada baiknya juga jalan-jalan keluar untuk menghibur
diri," ujar Toan Ki.
"Sebenarnya aku hendak mencari dirimu, sudah kucari kian
kemari tatap tidak tahu ke mana harus mencarimu?" tutur
Ciong Ling. "Belum lama ini kudengar kabar bahwa para
ksatria seluruh jagat hendak berkumpul di Siau-lim-si, diam-
diam kupikir boleh jadi kaupun akan datang di sana maka aku
lantas berangkat ke Siau-lim-pai sini. Tapi aku sendiri bukan
kaum ksatria atau orang gagah segala, dengan sendirinya aku
tidak berani datang ke Siau-lim si dan terpaksa berkeliaran di
lereng gunung sini untuk mencari kabar dirimu pada setiap
orang yang kujumpai. Untung di sini ada sebuah rumah
kosong tanpa sungkan aku lantas tinggal di sini."
"Dan berkat Tuhan Maha pengasih, akhirnya aku dapat
berjumpa denganmu," tukas Toan Ki dengan pelahan sambil
memegang tangan si nona yang masih terharu, terutama
mengingat si nona yang masih muda-belia itu telah terlunta-
lunta dirantau dan tentu tidak sedikit mengalami penderitaan
hidup, hal ini menandakan betapa cinta si nona kepadanya.
"Kau sendiri kenapa bisa berada di sini?" tanya Ciong Ling
sambil duduk di tepi tempat tidur.
"Ya, aku justru ingin tanya padamu mengapa aku bisa
berada di sini?" sahut Toan Ki dengan mata terbelalak. "Aku
cuma ingat diserang oleh seorang hwesio jahat, dadaku kena
tikaman hawa pikirnya yang tak berrwujud sehingga terluka
parah, tapi apa yang terjadi selanjutnya aku sendiripun tidak
tahu."
"ini benar-benar sangat aneh," kata Ciong Ling sambil
berkerut kening, "Kemarin sore,, waktu kupergi mencari sayur
di kebun dan kembalinya selagi hendak mengolah sayur itu
didapur, tiba-tiba kudengar di dalam kamar ada suara orang
merintih. Aku kaget, dengan membawa bando (pisau perajang
sayur) aku masuk ke dalam kamar. Kulihat di atas tempat
tidurku ada orang. Kutegur beberapa kali, tapi tiada jawaban,
Kukira pasti orang jahat yang hendak mengganggu aku, maka
dengan mengangkat bendo segera hendak kubacok orang
yang rebah di tempat tidurku itu. Wah, untung juga engkau
rebah dengan telentang sehingga sebelum batok kepalamu
pecah oleh senjataku keburu aku sudah mengenali mukamu . .
.."
Berkata sampai di sini si nona tepuk-tepuk dada sendiri
dengan pelahan, suatu tanda hatinya masih berdebar debar
bila teringat kepada kejadian berbahaya waktu itu.
Toan Ki sendirl menduga mungkin tempat dia rebah
sekarang terletak tidak jauh dari Siau-lim-si maka sesudah
dirinya terluka parah, lalu ada orang menolongnya dan dibawa
ke kini.
Kemudian aku memanggilmu, tapi engkau merintih-rintih
saja dan tidak gubris padaku." tutur Ciong Ling pula. "Waktu
kuraba jidatmu, Wàh, panasnya bukan main. Kulihat bajumu
penuh darah, maka kutahu engkau terluka. Waktu kubuka
bajumu untuk periksa lukamu, ternyata sudah diperban
dengan baik dan rapi. Kukuatir mengganggu lukamu itu, maka
tidak berani kubuka perbannya. Aku menunggu lagi sampai
lama sekali dan engkau belum sadar juga. Ai, aku merasa
gìrang dan kuatir pula dan tidak tahu cara bagaimana harus
berbuat."
"Maaf, aku telah membuatmu ikut berkuatir, Sungguh aku
merasa tidak enak," ujar Toan Ki.
Sekonyong-konyong Ciong Ling menarik muka masam,
katanya, "Huh, engkau bukan manusia baik-baik, Tahu begitu,
tentu sejak dulu aku tidak mau pikirkan dirimu. Dari sekarang
juga aku tak mau peduli padamu lagi, apakah engkau akan
hidup atau mati, pandek kata aku tak peduli."
"Eh, ada apa? Kenapa mendadak marah?" tanya Toan Ki
dengan heran.
"Hm, kau tahu sendiri kenapa malah tanya padaku?" sahut
Ciong Liog dengan mendengus dan mencibir.
"Ai, aku benar . . . benar tidak tahu," kata Toan Ki cepat.
"O, nonaku yang baik!, adikku yang manis, harap katakanlah
apa sebabnya?"
“Cih, siapa nonamu, siapa adikmu?" omel Ciong Ling "Apa
yang kaukatakan dalam mimpi tentu kautahu sendiri, kenapa
malah tanya padaku? Sungguh tidak genah."
"Apasih yang kukatakan dalam mimpi?" tanya Toan Ki
dengan gugup, "Itu kuucapkan dalam keadaan tak sadar dan
tidak boleh dianggap betul-betul. Oya, aku menjadi ingat.
Pasti dalam mimpi aku berjumpa denganmu, saking girangnyá
kata-kataku menjadi agak kasar sehingga membikin marah
padamu."
Mendadak Cing Ling termangu-mangu dan mencucurkan
air mata, katanya, "Sampai saat ini engkau masih mau
mendustai aku, Sebenarnya dalam mimpi engkau bertemu
dengan siapa?''
"Sesudah terluka aku lantas, ták sadarkan diri lagi, maka
aku benar-benar tidak tahu apa yang kukatakan waktu
mengigau," sahut Toan Ki.
"Siapa itu nona Ong? Nona Ong itu siapa?" seru Ciong Ling
mendadak dengan suara keras. "Mengapa waktu tak sadarkan
diri selalu kau sebut namanya?"
Toan Ki menjadi pedih sahutnya, "Jadi aku menyebut-
nyebut nama nona Ong?"
"Mengapa tidak? Dalam keadaan tak indar saja kausebut
namanya, apalagi sekarang, tentu sekarang kaupun terkenang
padanya," kata Ciong Ling. "Baiklah, boleh kau panggil kau
punya nona Ong untuk melayanimu saja aku tak mau peduli
lagi.”
Toan Ki menghela napas, sahutnya, "Tapi dalam hati nona
Ong justru tidak pernah terdapat orang macam diriku, biarpun
aku merindukan dia juga tiada gunanya."
"Sebab apa?"' tanya Ciong Ling.
"Dia cuma suka kepada Piaukonya, terhadap diriku dia itu
acuh tak acuh," sahut Toan Ki.
Ciong Ling berubah girang, katanya, "O, terima kasih
kepada langit dan bumi, ternyata orang jahat telah
mendapatkan ganjaran setimpal."
"Aku orang jahat, maksudmu?" tanya Toan Ki.
"Hábis, muridmu Gak losam adalah satu di antara Su ok,
muridmu saja sejahat itu, apalagi gurunya, sudah tentu
jahatnya tiada takaran." kata Ciong Ling.
"Dan bagaimana dengan sang ibu gurúnya?" Toan Ki
menambahkan dengan tertawa.
"Cis!" semprot Ciong Ling dengan wajah marah jengah,
tapi sedap dalam hati. Ia lantas berlari-lari ke dapur. Tidak
lama kemudian la kemudian membawa semangkuk kuah,
katanya, "Kuah ini sudah kusiapkan sejak tadi, hanya
menunggu engkau sadar kembali."
" O . banyak terima kasih," kata Toan Ki. Dan ketika
melihat si nona sudah dekat, segera ia bermaksud bangun
untuk menerima kuah itu, tapi lukanya lantas kesakitan
sehingga menjerit tertahan.
"Jangan bangun, biar aku menyuapmü, kakek-moyang si
jahat," seru Ciong Ling.
”Kakek moyang si jahat apa maksudmu? tanya Toan Ki.
"Habis, engkau kan guru si durjana maha jahat itu,
bukankah engkau adalah kakek moyang si jahat?“
"Dan kau sendiri? . . . . "
Tapi Ciong Ling lantas menyiduk satu sendok kuah yang
masih panas-panas itu, katanya dengan pura pura marah,
"Kau berani sembarangan omong, apa minta disuap dengan
kuah panas ini?"
Toan Ki menjulurkan lidah dan berkata, "Wah, ampun!
Nenek moyang si jahat benar-benar lihai, maha jahat?”
Ciong Ling mengikik tawa sehingga kuah di dalam senduk
hampir-hampir tersiram ke atas badan Toan Ki, cepat ia
tenangkan diri. Ia coba dulu suhu kuah itu dan ternyata sudah
agak dingin. lalu ia suapi Toan Ki.
Sesudah minum beberapa senduk kuah yang disuapkan
Ciong Ling itu, dari jarak dekat dapatlah Toan Ki melihat muka
Ciong Ling yang manis di atas bibirnya ada beberapa butir
keringat yang lembut. Tatkala itu adalah musim panas baju
yang dipakai Ciong Ling tipis dan cekak sehingga tangannya
kelihaian putih bersih laksana salju. Seketika hati Toan Kl
terguncang.
Entah mengapa tiba-tiba teringat olehnya, "Alangkah
bahagianya aku jika yang menyuapi aku sekarang ini adalah
nona Ong, biarpun yang di suapkan padaku ini adalah barang
busuk atau racun juga aku bersedia mati dengan rela."
Melihat Toan Ki termangu-mangu memandang padanya,
sudah tentu sekali-kali Ciong Ling tidak menyangka kalau saat
itu yang dipikirkan pemuda itu adaiah gadis lain. Maka dengan
tersenyum Ciong Ling bertanya, "Apa yang kau lihat?"
Baru saja Toan Ki hendak menjawab, tiba-tiba terdengar
suara berkeriutnya pintu didorong orang, Menyusul tedengar
suara seorang wanita muda sedang berkata, "Bolehlah kita
mengaso sebentar di sini."
Lalu suara seorang lelaki menjawab, "Baiklah! Tentu
engkau masih sangat lelah, sungguh aku ... aku merasa tidak
enak."
"Ah, omong kosongl" semprot si wanita.
Dari suara kedua orang itu dapat dikenali Toan Ki sebagai
suara A Ci dan Goan-ci, Sekarang dia sudah tahu A Ci adalah
anak tidak sah dari ayahnya jadi terhitung saudara satu ayah
lain ibu dengan dirinya.
Diketahuinya adik perempuan itu sejak kecil sudah berguru
pada Sing-siok Lokoai sehingga tingkah-lakunya juga ketularan
sifat liar dan jahat si iblis tua itu, bahkan Leng Jian li, si
tukang pancing, itu tokoh dari Taili justru binasa oleh karena
merasa terhina oleh nona nakal itu.
Toan Ki sendirl sangat akrab dengan Sam-kong dan Su-un
(tiga tokoh dan empat jago) dari Taili itu, bila teringat pada
kematian-Leng Jian-li sungguh ia tidak suka bertemu dangan
adik perempuannya yang terlalu nakal dan binal itu.
Apalagi kemarin ia sendiri telah membantu Siau Hong dan
bermusuhan dengan Goan-ci. Jika sekarang kepergok pula
selagl dia sendiri terluka bukan mustahil jiwanya akan sukar
diselamatkan lagi. Karena itu cepat ia mamberi tanda dengan
jari di depan mulut agar Ciong Ling jangan bersuara.
Si nona paham maksud Toan Ki, ia mengangguk sambil
memegang semangkuk kuah dan tidak berani ditaruh di atas
meja sebab kuatir akan menerbitkan suara.
Kemudian terdengar A Ci sedang berteriak-teriak di luar.
"Hai, apakah di dalam orang?"
Ciong Ling memandang Toan Ki dan tidak menjawab
pertanyaan A Cl itu, pikirnya, "Nona di luar itu besar
kemungkinan adalah nona Ong dan si lelaki adalah Piauko
nona Ong, makanya kakanda Ki tidak ingin bertemu dengan si
dia.”
Sebenarnya Ciong Ling sangat ingin tahu betapa cantik-
moleknya nona Ong itu sehingga dapat membuat kanda Ki
sedemikian kesemsem? Tapi ia tidak berani keluar, ia pikir
kalau sampai kakanda Ki bertemu dengan si dia, wah, tentu
akan runyam malah, maka lebih baik tinggal diam saja, jika
tidak mendadak penyahutnya orang mungkin nona Ong itu
akan pergi dengan sendirinya bersama Piaukonya.
Dalam pada itu terdengar A Ci lagi berteriak-teriak pula di
luar, "Hai, apakah penghuni rumah ini sudah mampus semua,
kenapa tiada seorang pun yang keluar? Kalau tetap tak keluar,
biar nona bumi-hanguskan rumah-gubukmu ini?”
'Wah, galak benar nona Ong ini?" demikian Ciong Ling
membatin.
Tiba-tiba terdengar suara Goan-ci, "Ssst, jangan bersuara,
ada orang datang!”
"Siapa? Apa orang Kai-pang?" tanya A Ci.
"Ada empat atau lima orang, boleh jadi orang-orang Kai
pang, arah yang mareka tuju adalah sini," sahut Goa-ci.
"Para Tianglo Kai-pang itu sudah timbul maksud khianat
padamu, jika kita kepergok mereka tentu bisa celaka," ujar A
Ci.
"Habis bagaimana baiknya?" tanya Goan-ci dengan kuatir.
"Kita sembunyi saja di dalam kamar, engkau terluka parah,
tidak mungkin melawan mereka." kata A Ci.
Diam-diam Toan Ki mengeluh demi mendengar A Ci dan
Goan-ci hendak sembunyi di dalam kamar. Walaupun dirinya
tidak suka kepada adik perempuan tiri itu, tapi tidak menjadi
asal kalau kepergok. Hanya watak Pangcu Kai-pang itu sangat
eksentrik, aneh luar biasa, kalau dipergoki tentu bisa celaka.
Maka cepat Toan Ki memberi isyarat kepada Ciong-Ling
agar anak dara itu lekas berusaha menghindari. Namun di
rumah gubuk yang sempit itu ke mana dapat menghindar?
Asal A Ci dan Goan-ci melangkah masuk tentu akan segera
dilihatnya.
Selagi Ciong Ling celingukan dengan bingung, sementara
itu suara tindakan kedua orang di luar itu terdengar sedang
mendekati kamar. Terpaksa ia berbisik, "Sembunyi di kolong
ranjang.”
Apa yang dikatakan ranjang itu sebenarnya adalah balai-
balai buatan dari pasangan batu yang serba guna, pada
musim dingin kolong balai-balai itu dapat digunakan sebagai
anglo atau tungku pemanas badan dengan membakar api di
bawahnya. Dan karena sekarang adalah musim panas, dengan
sendirinya kolong balai-balai itu kosong, penuh hangus bekas
bakaran. Maka begitu Toan Ki menyusup ke dalam, seketika
hidungnya banyak menghirup debu hangus sehingga hampir
saja bersin, untung dia lantas pancet hidung sendiri dan tidak
jadi mengeluarkan suara.
Ciong Ling meringkuk di sebelah Toan Ki, waktu ia
mengintip keluar sana, dilihatnya sepasang kaki kecil
bersepatu sulam telah melangkah masuk ke dalam kamar,
nyata itulah kaki kaum wanita. Sebaliknya lantas terdengar si
lelaki sedang berkata, "Ai, terpaksa aku mesti digendong kian
kemari olehmu, sungguh aku terlalu merendahkan keagungan
nona."
"Kita senasib, yang satu buta dan yang lain pincang, ini
namanya gotong royong bersatu hati." sahut si wanita muda.
Ciong Ling menjadi heran, katanya di dalam hati, "O, jadi
nona Ong itu adalah orang buta, dia mengendong Piaukonya,
Maka aku tidak melihat kaki lelaki itu.”
Dalam pada itu A Ci telah menaruh Goan-Cí di atas balai-
balai, lalu terdengar Goan-ci berkata. ”He, tempat ini baru saja
direbahi orang, di kolong selimut ini pun masih hangat-
hangat."
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar mara gadubrakan,
pintu didobrak orang sehingga terpentang,beberapa orang
menerjang ke dalam. Seorang di antaranya lantas berkata
dengan kasar, "Ong-pangcu. urusan Kai-pang kita belum
selesai, kenapa kau tinggal pergi begitu saja, apa maksudmu
sebenarnya?”
Itulah Song tianglo. Dia membawa dua murid Kai-pang
berkantong tujuh dan dua orang berkantung enam datang
mencari Yu Goan ci alias Ong Sing-thian, sang Pangcu.
Kiranya sesudah Siau Wan-san ayah dan anak menguber
Buyung Bok ke dalam Siau lim-si dan disusul para padri dan
ksatria Tioaggoan, tinggal orang-orang Kai pang yang merasa
kehilangan pamor habis-habisan, kalau mereka tidak lekas
lekas berdaya, mungkin kedudukan Kai-pang sebagai
organisasi terbesar di dunia persilatan akan susah
dlpertahankan lagi.
Karena marasa percekcokan antara Siau Wan-san dan
Buyung Bok itu tiada sangkut-pautnya dengan Kai-pang, maka
para pengamis itu tidak ingin ikut campur, yang mereka
pikirkan adalah perlu mengangkat seorang pangcu baru yang
bijaksana bagi perkembangan Kai-pang mereka yang jaya.
Tapi waktu mereka mencari Ong Sing thian, ternyata sang
Pangcu sudah menghilang entah kemana. Padahal untuk bisa
mengangkat Pangcu baru diperlukan hadirnya Pangcu lama.
Karena itu para pengemis lantas mencari sang Pangcu,
mereka menduga Ong Sing-thian tidak pergi jauh karena
kedua kakinya sudah patah. Malahan kemudian diketahui pula
bahwa A Ci juga menghilang, maka para pengemis menduga
nona itu pasti kabur bersama Ong Sing-thian.
Song-tianglo sendirl memimpin empat murid Kai-pang dan
mencari di sebelah tenggara Siau- lim-san, dari jauh dilihatnya
baju warna ungu menyelinap ke dalam sebuah rumah petani,
Ia kenal A Ci memakai pakaian ungu, tertampak pula gadis itu
mengendong orang yang mirip Ong Sing-thian, maka cepat ia
memburu tiba dan menerjang ke dalam kamar rumah petani
itu. Betul juga lantas dilihatnya A Ci dan Ong Sing-thian duduk
di atas balal-balai.
Dengan suara dingin A Ci lantas menyemprot, "Song-
tianglo, jika kamu masih menyebut dia sebagai Pangcu,
mengapa kamu gembar-gembor tak karuan sama sekali tidak
pakai peraturan cara ketemu dengan Pangcu kalian?"
Song-tianglo melangak, la pikir banar juga ucapan Si nona
maka katanya, "Pangcu, saudara-saudara kita masih berada di
Siau-lim-san, apa yang harus kami lakukan selanjutnya harap
Pang-Cu memberl petunjuk."
"Apa kalian masih menganggap aku sebagai Pangcu?"
Goan-ci menegas. "Kamu minta aku kembali ke sana, maksud
kalian hanya ingin mambinasakan aku bukan? Tidak, aku tak
mau kesana!"
Segera Song-tianglo memberi tanda kepada keempat
anggota Kai-pang, "Lekas pergi menyampaikan berita bahwa
Pangcu berada di sini."
Keempat orang itu mengiakan. Dan baru saja mereka
hendak melangkah pergi, mendadak A Ci membentak, "Turun
tangan!"
Kontan sebelah tangan Goan-ci menghantam ke depan.
Seketika Ciong Ling dan Toan Ki yang sembunyi di kolong
balai-balai itu merasa hawa dingin menusuk tulang, keempat
anggota Kai-pang tahu-tahu menggeletak di lantai tanpa
bersuara sedikit pun, terang sudah mati.
Kaget dan gusar pula Song-tianglo, sambil siap siaga ia
berkata, "Ter . . . terhadap saudara sendiri ken . . . kenapa
kau turun tangan sekeji ini?"
“Bunuh dia sekalian!" seru A Ci mendadak.
Tanpa ayal lagi kembali Goan-ci menghantam. Ketika
Song-tianglo menangkis, "blak", kontan tubuh pengemis tua
itu mencelat dan terguling-guling keluar pintu.
A Ci tertawa senang, katanya, "Ong-kongcu, orang itu
pasti akan mampus juga, eh, kau lapar tidak? Marilah kita
mencari sedikit makanan."
Segera ia menggendong Goan-ci ke dapur, ia ambil
santapan yang sudah disiapkan oleh Ciong Ling tadi ke
ruangan tamu, lalu dimakan bersama Goan-ci.
”Kedua orang itu benar-benar tidak tahu aturan, masakah
daharan kita disikat begitu saja tanpa permisi," bisik Ciong
Ling di tepi telinga Toan Ki.
"Mereka sangat kejam, sekali serang tentu membunuh
orang, sebentar lagi tentu mereka juga akan ke sini,
mumpung mereka sedang makan minum lebih baik kita
mengeluyur pergi dari pintu belakang saja," ujar Toan Ki
dengan suara perlahan.
Ciong Ling memang tidak ingin melihat pertemuan antara
Toan Ki dengan "nona Ong", sudah tentu ajakan Toan Ki
sangat kebetulan baginya. Maka dengan perlahan mereka
lantas merangkak keluar dari kolong balai-balai. Melihat muka
Toan Ki penuh hangus sehingga sangat lucu kelihatannya,
hampir saja Ciong Ling mengikik geli, Cepat ia dekap mulut
sendiri.
Sesudah keluar pintu kamar dan menyusur ke ruang dapur
baru saja mereka hendak melangkah keluar pintu belakang,
celaka 13, rasa terkili-kili di hidung Toan Ki yang tertahan
sejak tadi tak bisa dikuasai lagi. "Haciim!" ia bersin dengan
keras.
Keruan Ciong Ling mendongkol, dalam pada itu terdengar
suara gadubrakan di ruangan depan tadi, terang suara bersin
Toan Ki telah didengar A Ci. Ciong Ling menjadi gugup, ia lihat
tadi tiada yang dapat dibuat sembunyi, hanya di belakang
dapur itu ada sebuah gudang kayu bakar. Tanpa pikir lagi ia.
tarik Toan Ki dan menyusup ke tengah onggok jerami yang
tertimbun dalam gudang itu.
Dalam pada itu terdengar A Ci sedang bertanya kepada
Goan-ci, "He, seperti ada orang memanggil aku? Kukira di sini
pasti ada orang."
"Ah, besar kemungkinan ada petani di sini, tak perlu
digubris." ujar Goan-ci.
"Masakah tali digubris? Engkau terlalu gegabah, kelak
engkau pasti akan rugi sendiri." Kata A Ci. "Sst, jangan
bersuara!"
Karena matanya buta, dengan sendirinya telinganya
menjadi jauh lebih tajam dan pada orang biasa, samar samar
ia dengar ada suara kresek-kresek di gudang kayu, maka ia
lantas berbisik, "Di tengah onggok rumput ada orang!"
Sesudah menyusup ke dalam onggok jerami, mestinya
Ciong Ling dan Toan Ki tidak berani bersuara atau bergerak
sedikit pun. Tapi mendadak Ciong Ling merasa mukanya
ketetesan cairan, waktu ia raba dan dicium, ia endus bau anyir
darah keruan ia terkejut dan bertanya, “He, lu . . . lukamu
kambuh lagi?“
"Ssst, jangan bersuara!" bisik Toan Ki.
Tapi karena ucapan Ciong Ling itu, suaranya segera
didengar oleh A Ci. Ia menjawab Goan-ci dan memberi tanda
ke arah gudang kayu. Segera Goan-ci menghantam ke sana,
"brak", papan pintu pecah berantakan dan bertebaran
bersama jerami.
Selagi Goan-ci hendak menghantam pula, cepat Ciong Ling
berseru, "Jangan memukul lagi, kami akan keluar!"
Lalu ia memayang Toan Ki dan merangkak keluar dari
tempat sembunyi mereka.
Rupanya luka Toan Ki yang ditikam oleh ”Hwe-yam-to" tak
berwujud serangan Cimoti itu menjadi pecah lagi setelah
banyak bergerak karena diseret sembunyi ke sini dan ke sana
oleh Ciong Ling sehingga darah mengucur lagi.
Waktu dia merangkak keluar dari onggok jerami,
sementara itu badannya sudah berlepotan darah tercampur
hangus, kotoran jerami dan lain-lain sehingga tak keruan
macamnya.
"He, kenapa ada suara seorang nona cilik?“ demikìan tanya
A Ci kepada Goan Ci.
"Ya, seorang lelaki dan seorang nona cilik bersembunyi di
tengah onggok jerami, badan mereka berlepotan darah, kedua
mata dara cilik yang berkilat-kilat itu sedang memandang
dirimu," sahut Goan-ci.
Sejak A Ci buta, ia paling sirik, bila ada orang menyebut
tentang "mata". Sekarang Goan-ci tidak cuma bilang "mata"
saja, bahkan mengatakan "mata yang berkilat-kilat", hal ini
semakin menyinggung perasaannya. Maka tanyanya segera,
"Berkilat-kilat bagaimana? Apakah matanya sangat celi dan
indah?"
Goan-ci tidak tahu A Ci sangat marah, maka jawabnya,
"Pakaian dara silik itu sangat kotor, tentu dia anak petani di
sini. Hanya matanya memang sangat celi dan hitam
mengkilat."
Keruan A Ci tambah murka, sekonyong-konyong timbul
semacam pikirannya yang keji, katanya segera, "Ong-kongcu,
kenapa engkau tidak mencukil matanya yang indah itu!"
Goan-ci terperanjat, tanyanya, "Tanpa sebab mengapa
mencukil matanya?"
Sesudah sekian lamanya berada bersama, A Ci kenal
perangai Goan-ci yang suka sembarangan membikin susah
orang lain. Segera ia berkata pula, "Mataku Sudah dibutakan
Ting-lokoai, maka boleh kau cukil mata nona cilik itu untuk
dipasangkan padaku agar aku dapat melihat lagi, bukan kah
cara demikian sangat baik?"
Tapi Goan-cl menjadi kuatir pikirnya, 'Jika kau dapat
melihat lagi sehingga tahu mukaku yang buruk seperti siluman
ini, tentu engkau tak mau gubris lagi padaku dan boleh jadi
engkau akan mengenàli pula mukaku yang asli dan
mengatahui aku ini si Badut kepala besi, segala Ong Sing-
thian, ketua Kek-lok-pai dan apa lagi tidak lain hanya dusta
belaka, maka pasti engkau akan putuskan hubungan dengan
aku seketika. Wah, permintaanmu ini sakali-kali tak boleh
terjadi."
Karena itu, lalu jawabnya. "Jika aku dapat menyembuhkan
matamu ini biarpun aku harus hancur-lebur juga aku rela tapi .
. . . tapi rasanya tidak dapat lagil"
Walaupun A Ci juga tahu tidak dapat mencukil mata orang
lain untuk menggantikan mata sendiri yang buta, tapi sejak
dia buta sungguh rasa dendamnya tak kepalang, kalau bila ia
ingin setiap manusia di jagat ini juga dibuat buta semua,
dengan demikian barulah ia merasa puas. Maka katanya,
"Engkau bolum mencoba dari mana kau tahu tidak dapat?
Ayo, lekas lakukan cukil dulu matanya itu!"
Memangnya Goan-ci sudah berada di gendongannya, maka
A Ci lantas melangkah ke arah Toan Ki dan Ciong Ling.
Dalam pada itu Ciong Ling menjadi ketakutan demi
mendengar tanya jawab A Ci dan Goan-ci tadi, maka sebelum
A Ci mendekat lebih dulu ia sudah angkat langkah seribu alias
lari. Dasar gerak-gerik Ciong Ling memang lincah dan gesit,
dalam keadaan takut larinya menjadi lebih cepat lagi maka
dalam sekejap saja la sudah lari beberapa puluh meter
jauhnya.
A Ci sandiri buta, menggendong Goan-ci pula, dengan
sendirinya susah mengejar Ciong Ling. Maka waklu
mendengar suara lari Ciong Ling yang sudah menjauh itu, la
tahu tak dapat menyusulnya segara la berhenti dan berkata,
"Jika anak dara itu lari boleh bunuh saja yang lelaki!”
Ciong Ling terperanjat ketika dari jauh mendengar ucapan
A Ci itu, segera ia berhenti lari dan putar balik, la lihat Toan Ki
menggeletak di tanah dan banyak mengucurkan darah,
bentaknya segera, "Anak buta kau berani mencelakai dia?"
Sekarang dia sudah berhadapan dengan A Ci dan dapat
melihat jelas mukanya, ia lihat si "Nona Ong” memang sangat
cantik, sungguh sukar dipercaya bahwa hatinya ternyata
begitu kejam.
'Tutuk dia punya hiat-tol" tiba-tiba A Ci berseru pula.
Walaupun Goan-ci sebenarnya tidak mau, tapi selama ini ia
tidak berani membangkang perintah A Ci, dahulu waktu di
negeri Liau bagitu, sekarang sesudah jadi Pangcu Kai-pang
juga tetap demikian maka demi mendengar perintah A Ci,
seketika ia menutuk ke depan, "crit", kontan Ciong Ling
tertutuk roboh.
'Nona Ong. jangan . . . mencelakai dia!" seru Ciang
Ling."Dia , , . dia selalu terkenang-padamu. dalam mimpi pun
selalu menyebut namamu, dia benar-benar sangat cinta
padamu."
"Heh, apa katamu? Nona Ong?" tanya A Ci dengan heran.
"Apa engkau bu , . , bukan nona Ong!" Ciong Ling
menegas. "Habis siapa engkau?"
A Ci tersenyum, katanya, "Meski Ong-kongcu ini adalah
orang kusendiri, tapi aku sendiri bukan she Ong. boleh juga
asal dia selalu menurut pada perintahku dan tidak boleh
membangkang sedikit pun."
Hati Goan-ci berdebar demi mendengar ucapan A Ci yang
seakan-akan memberi bayangan bila dirinya senantiasa
menurut kemauan si nona, maka ada kemungkinan si nona
akan mau menjadi istrinya. Seketika Goan-Ci merasa
tenggorokannya seperti tersumbat, hendak bicara, tapi berat
sekali rasanya.
Kemudian A Ci menurunkan Goan-ci dan membiarkannya
duduk bersandarkan pohon, lalu katanya, "Nah, lekas mencukil
mata anak dara itu!"
Dalam keadaan kesemsem, tanpa pikir lagi Goan-cì
mengiakan, ia mengulur sebelah tangannya dan mencengkram
kuduk Ciong Ling.
Karuan Ciong Ling Ketakutan dan berteriak-teriak, "Jangan
mencukil mataku, jangan!"
Saat itu Toan Ki dalam keadaan sadar tak sadar, tapi ia
pun lahu kedua orang itu hendak mencukil biji mata Ciong
Ling untuk menggantikan mata A Ci yang sudah buta itu. ia
pun tahu tadi Ciong Ling sebenarnya dapat melarikan diri, tapi
demi untuk menolong dia, si nona lari balik hingga tertangkap.
Maka dengan sekuatnya Toan Ki coba berkata, "Le . . . lebih
baik kalian mencukil biji mataku saja. Kita . . . kita adalah
orang sekeluarga, tentu . . . tentu akan lebih cocok . . . . "
A Ci tidak paham apa yang dikatakan Toan Ki tentang
''orang sekeluarga," tetap mendesak Goan-ci, "Ayo, kenapa
tidak lekas turun tangan.”
"Ya," sahut Goan-Ci dan segera ia seret Ciong ling lebih
dekat, sekali ia puntir kepala Ciong Ling ke atas, lalu dengan
jari kanan hendak mencolok mata kiri si nona.
Untung pada saat itu keburu ada suara bentakan seorang
perempuan, "Hai, apa yang sedang kalian lakukan di situ?"
Goan-ci tertegun, cepat ia menoleh seketika air mukanya
bwrubah, ternyata di bawah pohon, di tepi parit pegunungan
sana berdiri dua orang lelaki dan empat wanita. Kedua orang
lelaki itu adalah Siau Hong dan Hi-tiok, sedang keempat orang
wanita adalah Bwe-kiam dan kawan-kawannya.
Sekilas Siau Hong, sudah lihat Toan Ki menggeletak di situ,
cepat ia melompat maju dan membangunkan Toan Ki.
Katanya dengan berkerut kening, Lukanya pecah lagi dan
mengeluarkan darah sebanyak ini!"
Segera sebelah kakinya berlutut dan menyandarkan tubuh
Toan Ki pada pahanya, lalu di periksanya luka saudara angkat
itu.
Sementara itu Hi-tiok juga sudah mendekatinya katanya
setelah melihat luka Toan Ki itu, "Toako jangan kuatilr
kupunya Kilu-coan-him-coa-wan ini sangat manjur sekali bagi
luka demikian!"
Segera ia menutuk beberapa hiai-to di sekitar luka Toan Ki
itu untuk menghentikan darah yang masih mengucur itu lalu
dijejalkan sebutir Kiu-coan-him-coa-wan ke mulut Toan Ki.
Wajah Toan Ki yang pucat pasi itu menampilkan senyuman
lega, katanya, "Toako, Jiko, lekas . . . lekas cegah mereka
yang hendak men . . . .mencukil mata nona Ciong itu."
Serentak Siau Hong daa Hi-tiok lantas memandang ke arah
Goan-ci.
Dalam gugupnya cepat Goan-ci melepaskan
cengkaramannya atas diri Ciong Ling, Sedangkan A Ci lantas
mengenali suara Siau Hong, katanya segera "Cihu, apa pesan
Enciku sebelum ajalnya? Sesudah kau pukul mati dia,
sekarang engkau melupakan pula segala pesannya padamu?"
Mendengar nona cilik itu menyinggung A Cu kembali Siau
Hong berduka dan medongkol pula maka ia hanya mendengus
sekali dan tidak menjawab.
A Ci berkata pula, "Engkau tidak menjaga diriku dangan
baik dan tidak pusing pula ketika mataku dibutakan oleh Ting-
lokai. Cihu, setiap orang sama engatakan engkau adalah
ksatria nomor satu di jaman ini tapi engkau tidak mampu
melindungi keselamatan adik iparmu sendiri. Apa barangkali
engkau tidak punya kepandaian? Hm, padahal Ting-lokoai
sudah terang bukan tandinganmu, soalnya engkau tidak mau
menjaga dan membela diriku."
"Kau sendiri mengeluyur pergi secara mendadak dan tanpa
pamit, dari mana kudapat mencari dirimu?" sahut Siau Hong.
"Namun . . . namun matamu buta, hal ini memang . . .
memang salahku yang kurang sempuma menjaga
keselamatanmu."
Semula sebenarnya Siau Hong sangat marah ketika
melihat A Ci bikin gara-gara lagi dengan menyuruh Goan-ci
mencukil mata orang lain. Tapi sekarang dia lantas teringat
pesan A Cu pada malam yang gelap gulita dengan hujan badai
di atas jembatan batu itu A Cu kena hantamannya. Lalu
memberi pesan terakhir dalam pelukannya agar selunjutnya
süka menjaga adik perempuannya, yaitu A Ci. Untuk itu Siau
Hong sendiri pernah berjanji jangankan Cuma satu
permintaan, biarpun seratus atau seribu permintaan juga akan
dituruti.
Tapi akhirnya A Ci tersesat ke jalan yang jahat, matanya
buta pula, untuk ini terang dirinya harus bertanggung jawab
karena kurang sempurna mengawasi anak dara cilik itu.
Berpikir sampai di sini, perasaan Siau Hong menjadi pedih,
sorot matanya penuh menunjuk kehalusan budi. Walaupun A
Ci tidak dapat melihat air muka Siau Hong, cukup lama dia
tinggal bersama sang Cihu, maka ia cukup kenal watak Siau
Hong, asal dirinya menyingung tentang A Cu, itu berarti obat
yang paling mujarab, biar urusan maha besar apa pun juga
pasti akan diterima Siau Hong.
Dan karena benci pada Ciong Ling yang telah
menyebutnya "anak buta ' diam-diam ia bersumpah akan
membuat Ciang Ling juga merasa bagaimana rasanya orang
buta. Maka sesudáh menghela napas, lalu ia berkata kepada
Siau Hong, "Cihu mataku buta, segala apa tak bisa kulihat lagi
lebih baik aku mati saja."
"Kau boleh ikut ayahmu pulang ke Taili saja,” Ujar Siau
Hong. "Betapa bahagíanya hidup dalam istana raja Taili sana,
sekali kamu bersuara akan mendapat jawaban orang banyak,
biarpun matamu buta. tapi kamu akan dilayani dayang-dayang
yang tak terhitung banyaknya, tentu kamu takkan susah.”
"Ibuku bukan istri pangeran yang sah. Bila aku tinggal di
Taílí sana, kalau sampai terjadi percekcokan antar anggota
keluarga, sedangkan mataku súdah buta, aku pasti akan
dibunuh orang." kata A Ci.
Benar juga pikir Síau-Hong akan alassan A Ci maka
jawabnya, "Jika begitu boleh kau ikut aku pulang ke Lam-khin,
akan ku suruh orang melayanimu dengan baik supaya bias
hidup dengan tentram dan senang, jauh lebih enak dari pada
terlunta-lunta di dunia kangouw.
"Pulang kembali ke istañamu?" A Ci menegas. "Aduh mak!
Sedangkan dahulu waktu mataku tidak buta hidupku di sana
pun terasa sebat, apalagi sekarang? Kaupun tidak sama
seperti Ong-pangcu íni yang segala apa selalu menurut
padaku. Maka aku lebih suka hidup terlunta-lunta di kangouw
secara bebas."
Siau Hong coba memandang sekejap pada Goan ci
pikirnya, "Urusan begini memang aku tidak dapat melarang
dia. Tampaknya A Ci sudah menyukai Pangcu Kai-pang ini."
Karena itu mendadak rasa bencinya pada Goan-ci
bertambah satu lapis lagi, segera ia Tanya kepada A Ci,
"Saudara Ong ini sebenarnya dari mana asal-usulnya? Apa
sudah pernah kau tanya dia?"
"Sudah tentu aku pernah tanya dia," sahut A Ci. "Cuma
asal-usul seseorang juga tidak selalu dapat dipercaya.
Misalnnya Cihu sendiri dahulu waktu engkau masih menjabat
Pangcu Kai-pang apakah engkau pernah bilang kepada orang
lain bahwa engkau adalah keturunan Cidan?"
Siau Hong menjadi kurang senang karena setiap kata A Ci
itu selaiu berduri. Maka ia hanya mendengus sekali dan tidak
bicara lagi. Dalam hati ia tak bisa ambil keputusan apa mesti
membiarkan A Ci ikut pergi bersama Ong Sing-thian atau
tidak?”
Tapi A Ci lantas berkata, "Cihu, engkau takkan
mempedulikan aku lagi, ya?”
"Habis apa pula kehendakmu?" sahut Siau Hong sambil
berkerut kening.
"Soalnya sangat mudah sekali." ujar A Ci Ku minta engkau
mencukilkan biji mata nona cilik iti dan dipasangkan pada
mataku."
Sesudah merandek sejenak, lalu ia menyambung pula,
"Ong pangcu sudah menyanggupi melakukan hal itu bagiku
bila engkau tidak datang dan mencegahnya, tentu sejak tadi
urusan sudah beres. Ya, boleh juga engkau yang
melakukannya bagiku. Cihu, aku sangat ingin tahu apakah
engkau lebih baik padaku atau Ong-pangcu lebih baik padaku.
Dahulu engkau menghantam patah tulang rusukku, lalu kau
bawa aku jauh ke timur laut sehingga kesehatanku sembuh
kembali, Takkala itu betapa baiknya engkau padaku, apa yang
kumaukan tentu kau lakukan. Kita berdua tinggal dalam satu
kemah, tanpa pikirkan siang atau malam senantiasa kau
pondong tubuhku. Cihu, apakah engkau sudah melupakan
semua itu?”
Mendengar uraian A Ci itu, seketika mata Goan-ci
menyorotkan sinar kebencian yang tak terkatakan, sinar mata
yang buas dan penuh cemburu dan seakan-akan hendak
berkata, "A Ci adalah Milikku, jangan kau coba menyentuhnya
sedikitpun.”
Siau Hong sendiri tidak memperhatikan sinar mata Goan-ci
yang luar biasa itu, la menjawab pertanyaan A Ci tadi,
“Tatkala itu kamu terluka parah karena pukulanku, demi untuk
menyembuhkanmu mau-tak mau aku harus mengikuti segala
keinginanmu. Sedangkan nona cilik ini adalah kawan adik
angkatku, mana boleh kau cukil matanya untuk menggantikan
matamu? Apa lagi di dunia ini pada hakekatnya tiada cara
pengobatan demikian, cara berpikirmu ini sungguh terlalu
aneh!“
Tiba-tiba Hi-tiok menimbrung. " Kulihat kedua mata nona
Toan itu cuma rusak selaputnya saja karena terbakar, kalau
dapat diganti dengan sepasang biji mata orang hidup memang
bukan mustahil akan dapat disembuhkan kembali."
Memang ilmu pengobatan dari golongan Siau-yau-pai
boleh dikata maha sakti, walaupun pengetahuan Hi-tiok dalam
hal ini tidak banyak, tapi dia telah belajar selama beberapa
bulan dengan Thian-san Tong-lo, maka macam-macam cara
pengobatan yang aneh pernah didengarnya juga dari nenek
sakti itu.
Karena keterangan Hi-tiok itu membuat A Ci bersorak
gembira, katanya, "Wah, bagus! Hi-tiok siansing, ucapanmu
tidak mendustai aku bukan?“
"Sudah tentu aku tidak dusta, cuma . . . .”
"Cuma apa?'' A Ci menegas dengan tidak sabar. "O, Hi-tiok
Siansing yang baik, engkau adalah saudara angkat Cihuku,
maka kita pun sebenarnya adalah orang sendiri. Tadi kaupun
sudah mendengar kata-kata Cihu, dia paling sayang padaku.
Eh, Cihu, betapapun engkau harus minta adik angkatmu agar
Suka menyembuhkan mataku."
”Aku memang pernah dengar cerita paman guruku bahwa
biji mata yang belum rusak dapat diganti dengan biji mata
hidup yang lain, cuma cara mengganti biji mata ini aku sendiri
tidak paham," ucap Hi-tiok.
"Jika begitu harap memohonkan pertolongan paman
gurumu itu," sahut A Ci.
"Ai, sayang beliau sudah lama wafat," sahut Hi-tiok sambil
menghela napas.
"Ha, jadi kau sengaja omong kosong untuk
mempermainkan aku," omel A Ci.
"Tidak, tidak," cepat Hi-tiok menerangkan. ''Leng-ciu-kiong
kami banyak banyak menyimpan kitab püsaka, kuyakin ilmu
penyembuhan mata itu juga terdapat di antara kitab-kitab
kami itu. Hanya saja . . . hanya saja . . . . "
"Kamu ini memang aneh, seorang lelaki mengapa suka
bicara demikian rupa, tadi ada 'cuma', sekarang tambah lagi
'hanya saja' apa segala?" kata A Ci.
"Hanya saja siapa yang mau memberikan biji mata hidup
untuk menggantikan matamu?" kata Hi-tiok akhirnya.
"Hihi!" A Ci tertawa. "Kukira, soal apa yang sukar, tak
tahunya Cuma soal biji mata. Ini kan gampang, asal kau cukil
biji mata nona she Ciong itu, bukankah urusan menjadi
beras?”
"Tidak, tidak boleh jadi!" seru Ciong Ling. "Kalian tidak
boleh mencukil mataku."
"Benar!" kata Hi-tiok. "Jika kamu tidak ingin kehilangan
mata, sudah tentü nona Ciong pun tidak ingin buta matanya.
Kata Khong-hu-cu 'Apa yang kita sendiri tidak mau, janganlah
dilimpahkan kepada orang lain.’ Apalagi nona Ciong ini adalah
sobat baik Samte kami . . . "
Berkata sampai sobat baik mendadak hati Hi-tiok tergetar,
"Wah, celaka! Tempo hari ketika aku makan minum bersama
Samte di Leng-ciu-kiong dan saling mengutarakan perasaan
masing-masing diketahui bahwa kekasihnya adalah 'Dewi
impian’ ku pula. Tampaknya sekarang Samte sangat baik pada
nona Ciong ini, Bahkan tadi Samte menyatakan bersedia
matanya dicukil daripada mata nona Ciong yang dicukil, dari
hal ini saja dapat di ketahui betapa mendalam cinta Samte
kepadanya."
Lalu terpikir pula oleh Hi-tiok, "Apa mungkin nona Ciong ini
adalah dewi impian yang pernah berkumpul tiga malam
berturut-turut denganku itu?”
Teringat akan pengalaman tempo dulu itu, kembali hati Hi-
tiok berdebar-debar, ia coba melirik ke arah Ciong Ling ia lihat
meski kepala dan muka nona itu penuh debu hanlus, tapi
semua itu tidak menutupi kecantikannya.
Waktu berkumpulnya Hi-tiok dengan Dewi impiainnya
cukup lama, cuma ketika itu mereka berada di dalam gudang
es yang gelap gulita, maka bagaimana sebenarnya wajah sang
"dewi impian" itu tidaklah jelas baginya, kecuali kalau dia
menggunakan tangannya untuk meraba muka dan bagian-
bagian tertentu barulah mungkin dapat mengenalinya. Tapi
disiang hari bolong, di depan orang banyak mana berani Hi-
tiok menggunakan tangannya untuk meraba mukanya Ciong
Ling?
Karena itu, untuk sekian lamanya la merasa bingung, ia
coba ingat-ingat suara "dewi impian' itu, rasanya agak
berbeda dengan suaranya Ciong Ling. Tapi suara seseorang
besar kemungkinan akan berlainan bila berada didalam
gudang dan berada di luar rumah. Apalagi waktu se dewi
impian bicara dengan dia hanya dilakukan dalam keadaan
bisik-bisik penuh kasih mesra, sedangkan sekarang Ciong Ling
berteriak dan menjerit dalam keadaan ketakutan, suasana
yang berbeda tentu juga tidak heran bila mengakibatkan
perbedaan suara.
Begitulah dengan termanggu-manggu Hi-tiok
memperhatikan Ciong Ling, dalam hati sesungguhnya sangat
ingin mengulurkan tangannya untuk meraba-raba muka si
nona agar dapat diketahui apakah nona itu adalah Dewi
impiannya sendiri atau bukan? Dan karena timbul rasa kasih
mesranya itu, dengan sendirinya air mukanya lantas
mengunjuk rasa lemah lembut dan ramah tamah.
Ciong Ling sampai terheran-heran ia pikir si gundul ini
(rambut Hi-tiok belum tumbuh kembali walau pun sudah ganti
pakaian biasa) tampaknya sangat ramah-tamah, tentu dia
tìdak mau mencukìl mataku. Maka legalah hatinya.
Dalam pada itu A Ci telah berkata pula, "Hi-tiok Siansing,
aku adalah adik perempuan kau punya Samte, sedangkan
nona Ciong ini hanya kawannya saja. Perbedaan ini tentu
sangat besar."
Sementara itu sesudah minum Kiu-coan-him-coa-wan,
dalam sekejap saja darah sudah berhenti mengucur keluar
dari luka Toan Ki, pikirannya juga pelahan-pelahan jernih
kembali, maka beberapa kata-kata A Ci yang terakhir itu dapat
didengarnya dengan jelas. Karena itu ia lantas menjengek dan
berkata, "Hm, jadi kau sudah tahu bahwa kau membunyai
hubungan darah dengan aku, tapi mengapa kau suruh orang
untuk mencelakai aku?”
“Engkoh cilik," sahut A Ci dengan tertawa. "Waktu kau
sembunyi didalam kamar sudah tentu aku tidak tahu bahwa
kau yang berada disitu, kemudìan sesudah mendengar
suaramu barulah aku mengenalimu. Mataku sudah buta jika
tidak mendangarkan susramu, dari mana aku bisa tahu
engkau adalah saudaraku sendiri?"
Benar juga pikir Toan Ki, maka katanya, "Ya, sudah. Jika
Jiko paham cara pengobatan mata, tentu dia akan berusaha
untuk menyembuhkanmu. Tapi biji mata nona Ciong sekali-kali
tak boleh kau ganggu."
"Eh, tadi kudengar engkau membaiki nona Ong dengan
berbagai daya upayamu, mengapa dalam sekejap saja kau
penujui pula nona Ciong ini?” tanya A Ci.
"Ngaco!" sahut Toao Ki dengan muka merah jengah.
"Dan kalau nona Ciong ini adalah calon Enso (kakak ipar
istri kakak), dangan sendirinya tidak boleh kuganggu dia tapi
kalau bukan mengapa aku dilarang?” kata A Ci pula. "Nah,
engkoh cilik, katakanlah terus terang dia Ensoku atau bukan?”
Hi-tiok melirik ke arah Toan Ki dengan hati berdebar-debar
ia tidak tahu Ciong ling, itu sang "Dewi impian" yang
dirindukannya atau bukan? Jika bukan sih tidak menjadi soal,
tapi kalau betul wah, kan runyam bila sampai diambil istri oleh
Toan Ki.
Begitulah, maka Hi-tiok juga ingin tahu apa jawahan Toan
Ki. Ciong Ling pun sedang menantikan keterangan Toan Ki,
pikirnya, "Kiranya nona buta ini adalah adik perempuanmu,
sampai dia juga mengatakan kausuka pada nona Ong maka
hal ini tidak perlu disangsikan lagi. Tapi kenapa tadi kau bilang
aku adalah ibu guru Gak-Losam? Mengapa engkau bersedia
menyerahkan biji matamu untuk mewakilkan mataku yang
akan dicukil nona buta itu?"
Akhirnya terdengar Toan Ki menjawab. "Pendek kata kamu
tidak boleh membikin susah nona Ciong. Usiamu masih
sekecil ini tapi selalu berbuat hal-hal yang tidak pantas. Leng
liam li bukankah mati lantaran marah padamu. Kalau sekarang
kamu berniat jahat lagi, tentu Jiko tak mau mengobati
matamu."
"Waduh lagaknya seperti orang tua mengajar anak
perempuan ya?" sahut A Ci dengan mulut mengjangkit.
Melihat semangat Toan Ki sudah mulai pulih, suaranya
penuh tenaga, maka Siau Hong tahu Kuim-coan-wan yang
diberi Hi-tiok itu sangat manjur, keselamatan adik angkat itu
sekarang tidak perlu dikuatirkan lagi. Segera katanya, ”samte,
marilah kita mengaso dulu ke dalam rumah dan sekaligus
merundingkan langkah-langkah selanjutnya.”
Toan ki mengiakan dan segera bangun, Ciang Ling menjadi
kuatir, serunya, "Eh, hati-hati nanti lukamu kambuh lagi!"
"Obatmu benar-benar sangat manjur, Jiko," käta Siau
Hong.
Hi tiok hanya mengiakan saja, dalam hati ia sedang
memikirkan nada ucapan Ciong Ling yang penuh perhatian
kepada Toan Ki tadi, karena belum tahu persis apakah nona
itu Dewi Impian atau bukan, maka ia pun tidak tahu apa mesti
cemburu atau tidak, ia hanya merasa bingung seakan-akan
kehilangan sesuatu.
Sesudah semua orang masuk ke dalam rumah, Toan Ki
rebah kembali di atas balai-balai dan Siau Hong duduk di
depannya, Bwe-kiam berempat sibuk masak air da menanak
nasi, mereka melayani Siau Hong, Toan Ki, Ciong Ling dan Hi-
tiok dengan Baik, sebaliknya sama sekali tidak gubris kepada
Goan ci dan A Ci.
Tentu saja A Ci sangat mendongkol. Kalau menuruti
wataknya, mestinya keempat dara Leng-ciu-kiong itu sudah
didamprat dan diracun sekalian atau ditinggal pergi saja, tapi
sekarang karena dia perlu minta pertolongan Hi-Tiok untuk
menyembuhkan matanya, terpaksa ia menahan rasa gusar itu.
Siau Hong adalah seorang lelaki yang berhati lapang,
sudah tentu ia tidak mengurusi apakah A Ci sedang marah
marah atau tidak? Dalam isengnya ià menarik laci meja yang
terletak di dekat balai-balai itu, kotika melihat laci meja itu,
seketika ia tertegun.
Melihat sikap sang Toako yang agak aneh itu, Hi-tiok dan
Goan-ci ikut memàndang ke dalam laci. Kiranya di dalamnya
terisi macam-macam mainan kanak-kanak, ada harimau kayu,
anjing-anjingan lempung, bumbung wadah jangkrik dan
beberapa belah pisau kecil yang sudah berkarat. Kesemua itu
adalah barang mainan anak kecil yang tidak perlu diherankan.
Tapi Siau Hong justru ambil harimau kayu itu dan mengamat-
amatinya dengan termangu-mangu.
A Ci tidak tahu apa yang sedang dilakukan Siau Hong,
padahal hidupnya senantiasa ingin disanjung puji dan suka
memerintah tapi di depan Siau Hong dan Hi-tiok mau tak mau
Goan-ci merasa jeri sehingga sama sekali ia tidak berani ajak
bicara pada A Ci, hal ini membuat A Ci semakin mendongkol
dan makin uring-uringan, tiba-tiba sikutnya menumbuk sebuah
alat tenun kayu di sebelahnya sehingga ambruk dalam
gusarnya A Ci terus lolos pedang dan "crat“, ia membacok alat
tenun itu sehingga terbelah menjadi dua.
"A Ci, ada apa?” bentak Siau Hong mendadak.
"Alat tenun itu membentur tanganku hingga kesakitan,
maka kuhancurkan dia, apa sih alangannya?" sahut A Ci.
"Kau keluar sana! Masakah benda dalam rumah ini boleh
kau rusak semaunya?" kata Siau Hong dengan gusar.
"Keluar ya keluarl" sahut A Ci. Dan dengan langkah cepat
ia terus bertindak keluar.
Tak tersangka karena terburu-buru, "duk” batok kepalanya
kebentur tepian pintu. Tapi tanpa bersuara sedikit pun ia
meraba raba jelas jalannya dan tetap melangkah keluar
dengan cepat.
Hati Siau Hong menjadi lemas dan merasa kasihan cepat ia
memburu maju dan memegang tangan A Ci katanya dengan
suara halus "A Ci apakah sakit?"
A Ci tak sangup menjawab lagi, ia putar badan dan
menjatuhkan diri ke dalam pelukan Siau Hong sambil
menangis tersedu-sedan.
Tangan Siau Hong menepuk bahu A Ci, katanya dengan
suara ramah. "Ya, A Ci aku yang salah tidak seharusnya aku
berlaku kasar padamu."
"Engkau . . . engkau sudah berubah, Engkau sudah
berubah." kata A Ci sambil mengangis. "Engkau tidak ..... tidak
seperti dulu lagi."
'Duduklah A Ci, minum sedikit, ya?” bujuk Siau Hong. Lalu
ia ajak masuk nona itu dan mengangkat mangkuk sendini
yang berisi air teh dan disodorkan ke mulut A Ci, sebelah
tangannya digunakan untuk merangkul punggung A Ci.
Dahulu karena menyesal telah melukai nona cilik itu, pula
mengingat pesan terakhir A Cu, maka selama lebih setahun
Siau Hong merawat A Ci, baik makan minum, maupun ganti
pakaian, sisir rambut dan sebagainya selalu Siau Hong
melayaninya seperti terhadap adik perempuan sendiri sedikit
pun tidak mempunyai perasaan di luar garis.
Tatkala itu bila A Ci hendak minum obat karena belum
sanggup duduk tegak, Siau Hong mesti membantunya dengan
merangkul badan si nona agar dapat menegak, lama-lama
kebisaan itu menjadi berakar, maka sekarang ketika memberi
minum Siau Hong pun merangkul punggung si nona seperti
dahulu.
Sesudah A Ci minum beberapa ceguk dengan dirangkul
Siau Hong, perasaan mejadi agak lega katanya kemudian
dengan tertawa, "Cihu, apa engkau masih akan mengusir
aku?"
Siau Hong tidak menjawab, pelahan ia lepaskan tubuh si
nona dan menoleh untuk menaruh kembali mangkuk teh di
atas meja. Karena waktu itu sudah dekat magrib, dalam
keadaan remang-remang tiba-tiba dilihatnya sepasang sinar
mata yang buas bagai binatang sedang menatapnya dengan
penuh kebencian. Ia terkejut. Ia lihat itu lah sorot matanya
Goan-ci yang duduk di pojok sana dengan mengertak gigi,
hidungnya berkembang-kempis seolah-olah binatang liar yang
ingin menerkamnya.
Diam-diam Siau Hong membatin, "Orang ini entah dari
mana asal-usulnya, sungguh sangat luar biasa.”
Dalam pada itu terdengar A Ci, sedang berkata pula, "Cihù,
aku cuma merusakkan sebuah alat tenun lama, kanapa
engkau sedemikian marah?"
"Apa kau tahu bahwa ini adalah rumah ayah bunda
angkatku dan alat tenun yang rusak ini adalah milik ibu
angkatku?" sahut Siau Hong.
Semua orang terkejut mendengar keterangan itu. "Toako,
jadi engkau yang menyelamatkan aku ke sini?" tanya Toan Ki.
Siau Hong mengangguk. Ia pegang harimau kayu yang
kecil itu dan dipandangnya dengan termenung-menung.
Sementara itu hari sudah gelap, Tiok Kiam telah menyalakan
pelita minyak sehingga bayangan Siau Hong yang kekar itu
tersorot ke dinding rumah.
Siau Hong mengamat-amati mainan harimau kayu yang
kecil itu dan berkata dengan suara penuh perasaan, "Ini
adalah mainan yang diukir oleh ayah angkatku. Takkala itu
usiaku kira-kira lima tahun, beliau duduk di samping meja, di
bawah sinar pelita minyak separti sekarang ini, dan mengukir
mainan kayu ini bagiku. Ibu angkat sendiri sibuk menenun
situ. Aku berdiri menunggui ayah angkat yang sedang
mengukir harimau kayu ini, aku menyaksikan moncong
harimau selesai diukir, lalu telinganya, sungguh alangkah
senangnya hatiku . . . . "
Toan Ki dan Hi-tiok tahu akan nasib Siau Hong yang
malang itu, mereka tahu sang Toako itu dibesarkan oleh ayah-
ibu angkatnya, tapi kedua orang tua itu dibunuh oleh Siau
Wan-san,ayah Siau Hong yang sebenarnya. Maka bila
sekarang terkenang budi kebaikan ayah ibu angkatnya di
masa dahulu itu, sudah tentu ia sangat berduka dan terharu.
Kiranya waktu Cumoti mendadak menyerang Toan Ki,
untung juga si padri tua yang sedang berkhotbah itu sempat
mengebaskan lengan bajunya sehingga Cumoti terdorong
pergi beberapa meter jauhnya. Karena itu Cumoti ketakutan
dan lekas-lekas melarikan diri. Siau Hong sendiri lantas
mengadakan pertolongan kepada Toan Ki yang terluka parah
itu dengan bantuan obat luka mujarab pemberian Hian-seng
dari Siau-lim-si.
Untung tenaga dalam Toan Ki sekarang sudah sangat
hebat, tikaman Cumoti yang tak berwujud itu tidak sampai
menembus dadanya sehingga jiwanya masih dapat ditolong.
Di lain pihak Siau Wan-san dan Buyung Bok ternyata sudah
mencapai kesadaran dan mengangkat padri tua yang tak
bernama itu sebagai guru dengan resmi mereka memeluk
agama Budha.
Karena kuatir luka Toan Ki tambah parah bila tak terurus,
segera Siau Hong membawanya ke rumah ayah-ibu angkatnya
dahulü, sesudah menidurkan Toan Ki di balai-balai, lalu tinggal
pergi lagi dengan maksud menemui ayahnya, lain mesti
mengatur ke-18 ksatria Cidan yang mengikutinya dari negeri
Liau itu. Sama sekali ia tidak menduga bahwa tempat
kediaman yang ditinggalkan mendiang ayah-lbu angkotnya itu
sudah ada orang yaitu kenalan lama Toan Ki sendiri,Ciong
Ling.
Waktu Siau Hong sampai di Siau-lim-si pula, keadaan di
sana sudah kembali dalam ketenangan. Rupanya setelah
menyaksikan permusuhan Siau Wan-san dan Buyung Bok yang
mendalam itu telah diselesaikan bahkan sekarang mereka
telah menjadi saudara seperguruan, maka ilmu silat Siau-lim-
pai yang pernah dipelajari Síaü Wan-san, takkan tersebar lagi
ke negeri Liau, hal ini membuat para ksatria Tionggoan sama
merasa lega, maka beramai-ramai mereka lantas mohon diri.
Sementara itu hari sudah gelap, waktu siau hong mohon
bertamu dengan ayahnya, di luar dugaan permintaannya
ditolak menurut padri penyambut tamu yang menyampaikan
permintaan Siau Hong itu, katanya ayahnya sudah melepaskan
diri dari keluarga dan menjadi hwesio, gelarnya sekarang
adalah Hui-ho Hwesio, beliau mengharapkan putranya (Siau
Hong) menggunakan pengaruhnya untuk berusaha sedapat
mungkin hidup berdampingan secara damai antar kedua
negeri Song dan Liau demi kesejahteraan manusia.
Sungguh Siau Hong sangat berduka, sejak kecil berpisah
dengan ayahnya sesudah bertemu sebentar saja sekarang
orang tua itu sudah melepaskan diri dari kekeluargaan,
rasanya untuk seterusnya tiada kesempatan buat bertemu
lagi. Ia pikir demi pesan sang ayah tadi, selaku Lam-ih Tai-ong
harus berusaha mencapai perdamaian di antara negara
tetangga.
Tengah Siau Hong termenung. Tiba-tiba dari dalam Sian-
lim-si beramai-ramai keluar beberapa padri tua, mereka
adalah Sin-kong Sianjin, Cilo Singh dan lain-lain dengan
diantar oleh Hian Cit dan Hian Seng, Polo Singh tampak berdiri
di belakang Hian-Cit dan merangkap tangannya sebagai tanda
hormat mengantar keberangkatan tamu mereka.
Terdengar Cilo Singh berkata, "Sute, aku akan kembali ke
Thian-tiok yang jauh di barat sana dan entah kapan baru bisa
berjumpa pula, apa engkaü sudah bertekad akan menetap di
sini dan tak ingin pulang ke kampung halaman asalmu lagi"
"Mengapa Suheng masih belum menyadari semua ini?"
sahut Polo Sing. "Thian-tiok adalah Tionggoan dan Tionggoan
adalah Thian-Tiok, begitu pula maksud tujuan kedatangan
Budidarma ke timur sini."
Cilo Singh terkesiap, katanya, “Terima kasih atas petunjuk
Sute, baru sekarang pikiranku terbuka. Engkau bukan lagi
Sutekú melainkan guruku."
"Mencapai kesadaran tidak membedakan cepat atau
lambat, yang penting asal sama-sama mencapai kesadaran,"
kata Polo Singh dengan tertawa.
Siau Hong menyingkir ke samping, ia tunggu sesudah Sin-
kong, To jing, Cilo Singh dan lain-lain turun kebawah gunung,
lalu ia pun menyusul di belakang mereka dengan langkah
perlahan, Tapi baru dia melangkah beberapa tindak, tiba-tiba
dari Siau-lim-si keluar lagi seorang, itulah Hi-Tiok adanya.
Sungguh girang Hi-tiok tak terkira demi melihat Siau Hong,
cepat la menyusulnya dan berkata. "Toako, aku sedang
hendak mencari dirimu. Kabarnya Samte terluka parah, entah
bagaimana keadaannya?"
'"Ya, aku telah membawanya kesuatu rumah petani," sahut
Siau Hong.
”Marilah kita pergi melihatnya, boleh?" tanya Hi-tiok.
"Baik sekali." sahut Siau Hong.
Segera mereka berdua berangkat dengan cepat. Tapi
belum ada belasan meter jauhnya, Bwe-kiam berempat tiba-
tiba muncul dari dalam hutan sana dan mengikut ke belakang
mereka. pertengahan jalan Hi Tiok memberitahukan kepada
Siau Hong bahwa ke-18 ksatria Cidan juga sudah pergi dengan
selamat.
Siau Hong menyatakan syukur, diam-diam ia membatin,
"Adik angkat ini sungguh sangat aneh, dia adalah saudara
angkatku atas perantaraan Samte, di luar dugaan takkala aku
terancam bahaya aku telah mendapat bantuannya yang
sangat berharga.”
Selain itu Hi-tiok juga menberitahu bahwa Ting Jun-jiu
sekarang sudah di bawa pengawasan Kai-lut-ih Siau-lim-si,
tiap-tiap tahun pada waktu tertentu padri Siau-lim-si akan
memberì minum obat Leng-ciu-kiong untuk memunahkan
siksaan Sing-si-hu bilamanà kumat dan karena mati hidupnya
Sudah tergenggam di tangan orang, dapat dipastikan iblis tua
itu tidak berani main gila lagi dengan segala kejahatanya.
"Jiko,” kata Siau Hong dengan, tertawa, "engkau telah
membasmi suatu penyakit besar bagi kaum pesilatan, di
bawah pengaruh ajaran agama mungkin Ting jun-jiu akan
dapat mencapai kesadaran atas segala perbuatannya masa
lalu."
Tapi Hi-tiok tampak muram, katanya, "Aku sendiri ingin
menetap di Siau-lim-si, tapi aku justru diusir mereka.
Sebaliknya Ting Jun-jiu yang maha jahat, itu malah dapat
menyucikan diri di sana, sungguh tidak adil."
Siau Hong tersenyum, katanya, "Jite, kamu iri pada
keadaan Ting Jun jiu sekarang. tapi dia justru beribu kali lebih
iri padamu. Engkau adalah Cujin Leng-ciu-kiong dan
membawahkan 36 Tongcu dan 72 Tocu betapa hebat
perbawamu ini masakah engkau merasa tidak senang?"
"Tidak," sahut Hi-Tiok dengan geleng kepala, "Penghuni
Leng-ciu-kiong itu adalah kaum wanita semua. aku sendirl
cuma seorang hwesio kecil, hidup sendirian di antara mereka
sesungguhnya tidak bebas."
"Hahahaha! Apakah kamu masih seorang hwesio kecil?"
sahut Siau Hong dangan terbahak-bahak.
"Tapi akan tiba saatnya nanti akan kuubah Leng-Ciu-kiong
Leng Ciu-si, akan kuperintahkan nenek-nenek dan nona-nona
itu menjadi Nikoh (biksuni) semua."
"Hahahaha!" kembali Siau Hong bergelak tartawa. "Hwesio
tinggal bersama dengan Nikoh, hahahahaha, sungguh berita
luar biasa di dunia ini?"
Begitulah sambil bicara dan tertawa, akhirnya kedua orang
itu sampaì di rumah Kiau Sam-si dan kebetulan mereka
pergoki Goan-ci hendak mencukil mata Ciong Ling dan
syukurlah masih sempat mancegahnya. Baru sekarang A Ci
paham sebabnya Siau Hong marah-marah padanya karena
merusak sebuah alat tenun, kiranya tempat ini adalah bekas
kediaman Siau Hong semasa kecil. Namun begitu dasar watak
A Ci juga keras, meski tahu salah toh día tidak mau minta
maaf.
Maka Toan Ki lantas bertanya, “Toako, Jiko, apakah kalian
melihat ayahku?"
Siau Hong mengatakan tidak, sedang Hi-tíok menjawab,
"Ketika para ksatria Tionggoan beramai-ramai bubar dan
pergi, aku menjadi lupa memberi salam hormat kepada
paman, sungguh aku tidak tahu aturan."
"Jiko, tidak perlu sungkan-sungkan,” kata Toan Ki. "Hanya
saja Toan Yan-khing itu adalah musuh ayah, aku kuatir dia
membikin susah ayahku.”
"Urusan ini tidak perlu dikuatirkan, sekarang juga ku pergi
mencari paman dan bila perlu membantunya, ” ujar Siau
Hong.
"Huh, paman apa segala kenapa tidak memanggil ayah
mertua?” A Cl berolok-olok.
"Ya, apa yang sudah terjadi (maksudnya kematian A Cu)
merupakan penyesalanku selama hidüp, apa mau dikatakan
lagi." sahut Siau hong dengan menghela napas.
Tapi sebelum dia melangkah pergi saat ¡tulah Bwee-kiam
masuk membawakan daharan untuk Toan Ki, demi mendengar
percakapan tadi, ia lantas berkata, "Siau-taihiap tidak perlu
merepotkan diri, biarlah hamba sekarang juga menyampaikan
perintah Cujin agar semua pengikut Leng-ciu-kiong
mengamat-amati Toan Yan-khing, jika kelihatan dia
bermaksud jahat supaya member tanda bunga api, dan segera
kita dapat membantu, bagaimana sengan pendapat Siau-
taihiap?”
"Bagus sekali." Kata Siau Hong dengan girang. "Dangan
bantuan kawan-kawan Leng-ciu-kiong yang tidak sedikit itu
tentu akan lebih baik daripada kita mencarinya dengan Cuma
beberapa orang saja.''
Begitulah Bwee-kiam lantas pergi menyampaikan perintah
itu. Rupanya orang-orang Leng-ciu-kiong itu mempunyai cara
yang sangat tepat dalam mengadakan hubungan. Misalnya Hi-
tiok telah berada di rumah Kiau Sam-hoai, sementara itu para
wanita dari Hian-thian-poh sudah mendapat kabar, di bawah
pimpinan Hu Bin-gi mereka sudah menyusul sampai di sekitar
rumah itu dan diam-diam menjaga keselamatan sang cijin.
Maka legalah hati Toan Ki tentang keselamatan ayahnya.
Tapi segera teringat pula olehnya akan diri Ong Giok yan,
pikirnya, “Dia sudah sangat benci padaku mungkin selanjutnya
dia tak mau gubris lagi padaku.”
Terpikir demikian tanpa terasa ia menghela napas.
Rupanya ciong ling sangat memperhatikan keadaan toan
Ki, maka ia lantas bertanya, “Apa lukamu kesakitan?”
“Ah, tidak hanya sedikit saja.” Sahut Toan Ki.
“Nona Ciong.” Tiba-tiba A Ci menimbrung, “tampaknya
engkau sangat suka pada engkohku ini, tapi sama sekali
engkau tidak kenal perasaannya. Kukira rindumu ini kelak
pasti akan sia-sia belaka.”
"Aku tidak ajak bicara padamu, buat apa banyak omong,"
sahut Ciong Ling.
"Aku cerewet atau tidak memang bukan soal," sahut A Ci
tartawa. "Aku hanya kuatir ada seorang nona yang berpuluh
kali lebih cantik, lebih berbudi dan lebih mesra daripadamu,
terang engkohku takkan suka padamu apa kautahu mengapa
engkohku menghela napas? Orang menghela napas
menandakan perasaannya kurang puas. Kau sendiri tidak
menghela napas karena engkau puas berdampingan dengan
engkohku, sebaliknya engkohku menghela napas disebabkan
dia senang memikirkan seorang nona lain.“
Rupanya A Ci tidak berhasil mencungkil mata Ciong Ling,
maka sekarang sengaja mencari macam-macam kata untuk
menusuk perasaan nona itu agar berduka dan terluka, dengan
demikian barulah a Ci senang.
Mestinya Ciong Ling sangat gusar, tapí kalau dipikir lagi, ia
merasa, apa yang dikatakan A Ci itu juga beralasan, maka
rasa gusarnya berubah menjadi cemas dan sedih. Cuma saja
usianya masih terlalu muda, sifatnya lincah kekanak-kanakan,
walau mencintai Toan Ki, tapi bukan cinta yang meresap, jadi
hanya cinta lahir saja, ia merasa senang terhibur bila dapat
berada bersama dengan Toan Ki. Maka soal toan Ki
merindukan kekasih lain, hal ini hanya membuatnya merasa
berduka sekedarnya saja, selain itu ia pun tidak merasakan
apa-apa lagi.
Maka Toan Ki berkata, "Jangan kau percaya ucapan A Ci
yang ngawur itu, ñona Ciong!"
A Ci menjadi gusar, díkatakan ngawur, itu berarti
menyinggung matanya yang buta, segera ia berkata pula,
"Koko, sebenarnya engkau lebih suka nona Ong atau lebih
senang pada nona Ciong? Noná Ong telah berjanji akan
bertemu dengan aku besok pagi. Coba katakan apa yang kau
pesan tentu kusampaikan padanya."
Mendengar itu, serentak Toan Ki bangun duduk di atas
balai-balai dan cepat tanya, "Benarkah kamu telah berjanji
dengan nona Ong untuk bertemu? Di mana dan kapan,
hendak membicarakan urüsan apa?"
Melihat betapa gugupnya Toan Ki itu, tak perlu
diterangkan lagi juga Ciong tahu entah berapa kalí nona Ong
itü lebih penting dalam pandangan Toan Ki daripada dirinya.
Namun watak Ciong Ling memang lebih lapang, rasa duka
semula sekarang pun sudah hampir lenyap. Coba kalau Giok-
yan, tentu akan berduka setengah mati. Sebäliknya kalau Bok
Wan-jing, tentu dia akan bidikkan panahnya yang berbisa itu
ke arah Toan Ki. Sedang A Ci tentu akan berusaha
membinasakan saingannya.
Malahan Ciong Ling sekarang lantas berkata, "Eh, jangan
bergerak, hati-hati nanti lukamu pecah dan mengucurkan
darah."
Di sebelah sana diam-diam Hi-tiok, mengikuti garak-gerik
mereka, pikirnya, "Nona Cíong ini sedemikian mendalam
cintanya kepada Samte, besar kemungkinan día bukan Dewi
Impianku. Kalau tidak masakah sama sekali dia tidak
mengunjuk sesuatu perasaan ketika mendengar suaraku tadi?”
Tapi segera timbul pula pikiran lain, "Ah, tidak betul seperti
Toan-lolo dan Li Jiu-sui, Sie-popo, Ciok-soh dan lain-lain,
wanita-wanita itu semuanya sangat pintar dan bertipu akal,
sama sekali berbeda daripada kaum lelaki. Bukan mustahil
nona Ciong ini adalah Dewi Impianku, Cuma dia sengaja diam
saja."
Jilid ke-78
Dalam pada itu Toan Ki sedang mendesak A Ci agar
mengatakan di mana Giok-yan akan bertemu dengan nona itu
menurut apa yang dijanjikan. Karena itu, A Ci sengaja bicara
melantur-lantur untuk mempermainkan Toan Ki.
Tak terduga Lam-kiam yang kebetulan berada di situ lantas
menimbrung, katanya, "Toan-kongcu adik perempuanmu
hanya bergurau saja denganmu masakah engkau menanggapi
dengan sungguh-sungguh?”
"Dari mana Cici tahu adikku cuma bergurau saja?" tanya
Toan Ki.
"Kalau kukatakan jangan-jangan nona Toan akan marah
padaku kecuali kalau Cujin mengizinkan aku bicara," ujar Lam-
kiam dengan tenang.
"Jiko," segera Toan Ki berkata kepada Hi-tiok "bolehlah
kau suruh dia bicara."
Hi-tiok mengangguk tanda setuju. Maka Lam-kiam lantas
bícara, “Malahan Cujin sendiri juga menyaksikan cuma beliau
tidak mau bilang. Nona Ong telah ikut bersama rombongan
Büyung-kongcu katanya hendak pergi ke Se He untuk
mengikuti sayembara putri Se He di sana, mungkin saat ini
mereka sudah beratus li jauhnya, dari mana dia dapat berjanji
dengan nona Toan untuk bertemu besok?"
"Budak busuk sudah tahu aku tidak suka kamu ikut omong
kau justru banyak mulut," semprot A Ci, "Kalian berempat
saudara memang serupa, suka usilan. Majikan tidak bicara tapi
kalian selalu suka menimbrung."
"Nona Toan, jangan mengomeli ciciku," tiba-tiba Kiok-kiam
menanggapi di luar sana. "Hendaknya diketahui bahwa aku
adalah pemegang kunci Sin-long-kok tempat penyimpanan
kitab-kitab pusaka Leng-ciu-kiong kami, untük mempelajari
cara menyembuhkan matamu, Cujin harus mencuri kitab ke
Sin-long-kok.”
Diam-diam A Ci terkesiap. Kalau kaum budak itu ikut main
gila, bükan mustahil matanya akan sukar disembuhkan lagi.
"Hm, bagus!" demikian díam-diam ia memakí. "Awas, kelak
bila mataku sudah sembuh, tentu kalian akan rasakan
kelihaíanku."
Toan Ki mengucapkan teríma kasih atas pemberítahuan
Lam-kiam tadi, lalu katanya kepada Siau Hong, "Toako,
apakah benar rombongan Buyung-kongcu telah berangkat ke
negeri Se He?"
"Benar,” sahut Siau Hong. "Lamat-lamat ku dengar hal ¡tu
ketika dia mohon díri kepada ayahandanya.”
“Untuk apakah dia pergi ke sana?” demikian Toan Ki
bergumam sendiri.
"'Mengenai maksud tujuannya aku tahu," Kata Hi-tiok.
“Menurut keterangan Kongya Kian kepala para pengemis Kai-
pang katanya di tengah jalan mereka telah menemukan
seorang anggota Kai-pang yang membawa pulang secarik
maklumat kerajaan Se He tentang sayembara raja Se He yang
lagi mencari menantu pada hari Tiongciu nanti, seluruh ksatria
dan jago muda di segenap perjuru diharap mengikuti
sayembara itu agar dapat dipilíh sebagai Huma (menantu
raja)."
"Eh, Cüjin, mengapa engkau tidak coba-coba ikut
sayembara itu," tiba-tiba Tiok-kiam menimbrung. "Asalkan
Síau-taihiap dan Toan-kongcu tidak menyaingi engkau sangat
mudah bagimu untuk dipilih sebagai Huma."
Dasar sifat Tiok-kiam berempat saudara itu memang masih
kekanak-kanakan biasanya mereka dipandang sebagai cucu
sendiri oleh Tong-lo, Cuma saja watak Tong-lo sangat keras,
maka keempat anak dara itu tidak beraní sembrono kepadà
nenek itu tapí sejak mereka melayani Hi-tiok yang ramah
tamah sedikit pun tidak pernah berlagak tuan besar, maka
Bwe-kiam berempat juga tidak terlalu jeri kepada majikan
baru itu apa yang mereka ingin katakan lantas dikatakan
begitu saja.
Hi-tiok menjadi kikuk, cepat sahutnya, "tidak, tidak
mungkin aku adalah seorang hwesio…”
Tapí belum lanjut ucapannya Bwe-kiam berempat lantas
mengikik tawa.
Karuan muka Hì-tiok menjadi merah ia coba melirik Ciong
Ling, dilihatnya nona itu sedang termangu-mangu
memandangi Toan Ki, sama sekali tidak memperhatikan
kepada apa yang diucapkannya tadi. Tiba-tiba Hi-tiok teringat
kepada pertemuannya dangan sang Dewi Impian di dalam
gudang es istana raja Se He, bukan mustahil Dewi Impian itu
sekarang juga masih berada di sana, kenapa aku tidak pergi
ke sana untuk coba mencarinya?
Tiba-tiba Toan Ki juga berkata padanya, "Jiko Leng-ciu-
kiong kalian sangat berdekatan dengan Se He, kenapa kita
tidak pesiar sekalian ke Se He? Wah, pada hari Tiongciu nanti
pasti akan ramai sekali di kotaraja Se He itu. Dan sesudah itu
barulah kita berkunjung ke tempatmu untuk menikmati arak
simpanan Thian-san Tong-lo yang tak terkatakan harumnya
itu."
Siau Hong sendiri sudah beberapa hari tidak minum arak,
meski ke-18 ksatria Cidan yang dibawanya dari negeri Liau itu
masing-masing membawa kantung kulit besar berisi tuak
pilihan, tapi sekarang pengiring-pengiring itu sudah tidak
mendampingi lagi, maka ia menjadi ketagihan demi
mendengar Toan Ki bicara tentang arak di Leng-ciu-kiong.
Dalam pada itu A Ci lantas mendahului menyatakan setuju,
"Ya, pergi, marilah Cihu, beramai-ramai kita pergi ke sana
semua!”
Ia tahu untuk bisa menyembuhkan matanya yang buta itu
harus ikut Hi-tiok ke Leng-ciu-kiong, tapi kalau tidak didukung
oleh Siau Hong mungkin akan banyak alangannya.
Ketika melihat Siau Kong diam saja, segera A Cl
mendekatinya dan memohon pula, "Cihu, jika engkau tidak
membawa aku ke Leng-ciu-kiong, mata . . . mataku ini tiada
harapan disenbuhkan lagi dan tak bisa melihat untuk
selamanya."
Siau Hong pikir kedua mata anak dara itu memang perlu
disembuhkan. Apalagi rasanya juga sangat berat untuk
berpisah dengan para ksatria Tionggoan dan saudara-saudara
angkat yang baik budi ini, kalau pulang ke negeri Liau tentu
akan hidup kesepian lagi walaupun mempunyai kedudukan
yang agung di sana.
Maka jawabanya kemudian, “Baiklah! Jiko, samte, marilah
kita beramai-ramai pergi ke Se He, kemudian kita
mengunjungi Leng-ciu-kiong samte untuk minum sepuas-
puasnya selama beberapa hari di sana."
Begitulah, esok paginya beramai-ramai mereka lantas
berangkat. Lebih dulu Hi-tiok menyambangi makam ayah-
bundanya (Hian-cu dan Yap Ji-nio), lalu rombongan mereka
berangkat menuju ke barat.
Para wanita Leng-ciu-kiong menyewakan sebuah kereta
keledai bagi Toan Ki dan Yu Goan-ci yang terluka itu. Goan-ci
merasa serba salah, ia lebih suka dihina dan dimaki daripada
berpisah dengan A Ci. Setiap kali asal A Ci mau menyingkap
tirai kereta dan bicara sepatah dua kata dengan dia, maka
Goan-ci akan girang setengah mati.
Cuma sekarang A Ci menunggang kuda dan selalu
mengutil di sebelah Siau Hong, walaupun dalam hati Goan-ci
merasa gelisah, tapi sedikitpun tidak berani mengunjuk rasa
kurang senang terhadap si nona.
Kira-kira dua hari kemudian, kedelapan barisan wanita
Leng-ciu-kiong sudah mulai bergabung kembali, Pimpinan
Hian-thian-poh memberi lapor kepada Hi-tiok dan Toan Ki
bahwa keadaan Toan Ki telah diberitahukan kepada Tin-lam-
ong dan orang tua itu merasa sangat lega beliau cuma
menyampaikan pesan agar Toan Ki selekasnya pulang ke Taili.
Menurut laporan itu katanya rombongan Lam-ong menuju
ke timur-laut, sebaliknya rombongan Toan Yan-khing dan
Lam-hai-gok-sín menuju ke jurusan barat-daya sehingga
kedua rombongan itu tídak nanti kepergok.
Toan Ki merasa senang dan lega oleh keterangan itu, ia
mengucapkan terima kasih kepada para wanita Hian-thian
poh.
Tiba tiba Ciong Ling berkata, "Toan-kongcu, ayahmu
mengharapkan kau lekas pulang ke Taili, mengapa beliau
sendiri malah menuju ke tímur-laut?”
Toan Ki tersenyum dan belum lagi menjawab tiba-tiba A Ci
menyela. "Tentu ayah ditahan oleh ibuku dan dilarang pulang
ke Taili. Nah nona Ciong jika kau ingin menambat hati
engkohku ini maka perlu kau belajar dulu pada ibuku.”
Ciong Ling sendiri tahu kepergian Toan Ki ke Se He ¡ni
sebenarnya ingin berjumpä pula dengan nona Ong itu, tapi ¡a
tidak ambil pusing sebab ia sudah puas karena selama
beberapa hari ini dapat berdampingan dengan Toan Ki. Maka
sekarang ia pun tidak gubris kepada sindiran A Ci itu.
Begitulah mereka melanjutkan perjalanan, karena hawà
sangat panas, pula masih cukup lama dengan hari Tiongciu,
maka perjalanan mereka dilakukan dengan seanaknya saja.
Di tengah jalan keadaan luka Toan Ki dapat sembuh
dengan cepat. Hi tiok juga telah menyambung tulang kaki
Goan-ci yang patah itu dengan kepitan kayu dan tampaknya
besar harapan akan dapat pulih kembali.
Goan-ci sama sekali tidak mau bicara dengan siapa pun,
meski Hi-tiok mengobati kakinya, dalam hatinya tetap penuh
dendam dan benci.
Suatu hari, sampailah mereka di jalan raya Ham-yang di
situ menurut sejarah pernah terjadi pertempuran yang
menentukan antara Lau-pang (cikal-bakal kerajaan Han, 260
seb. M) dan Hang Ih.
Hi-tiok dan Siau Hong tidak banyak bersekolah, maka
mereka menjadi sangat tertarik mendengarkan cerita Toan Ki
tentang sejarah masa lampau.
Tengah mereka asyik mendengarkan cerita Toan Ki, tiba-
tiba terdengar suara derapan kuda lari yang ramai, dari
belakang memburu tiba dua penunggang kuda. Cepat Siau
Hong dan lain-lain menyingkirkan kuda mereka ke tepi jalan
agar kedua penunggang kuda dari belakang itu dapat lewat.
Hanya A Ci saja yang tidak mau menyingkir sebaliknya ia tetap
mengadang di tengah jalan. Bahkán waktu kedua penunggang
kuda itu sudah dekat, mendadak ia ayun pecutnya ke
belakang.
Namun satu di antara kedua penunggan kuda ¡tu pún
sempat angkat pecutnya untuk menangkis cambukan A Ci itu,
bahkan terdengar día teriak, "Toan-kongcu, Siau-taihiap,
harap tahan dulu!”
Waktü Toan Ki menoleh, kiranya kedua pendatang itu
adalah Pah Thian-sik dan Cu Tan-Sin. Dalam pada itu Pah
Thian-sik sudah dapat menangkis cambukan A Ci tadi dan
bersama Cu Tan sin melompat turun dari kuda mereka dan
lantas berlutut memberi hormat kepada Toan Ki.
Mesk¡ Toan Ki adalah tuán muda, tapi nyatanya ía
pandang Pah Thian-sik dan Cu Tan-tan sin sebagai angkatan
tua, maka cepat ia pun melompat turun dari kudanya dan
balas menghormat, katanya, "Apakah ayah baik-baik saja?"
Tapi mendadak terdengar suara sambaran pecut, tahu-
tahu A Ci mencambuk lagi ke atas kepala Pah Thian-sik. Saat
itu Thian-sik belum bangun kembali, terpaksa ia mengegos ke
kiri dengan masih tetap berlutut. Dengan demikian pecut A Ci
itu mengenai tanah, maka Thian-sik sekalian gunakan
dengkulnya untuk menindih ujung pecut. Waktu A Ci hendak
menarik kembali pecutnya, dengan sendirinya tidak kuat.
A Ci tahu bila main betot tentu kalah kuat tenaganya,
maka ia terus lemparkan tangkai pecut ke arah Thian sik.
Rupanya Pah Thian-sik masih mendongkol karena
meninggalnya Leng Jian li gara-gara kenakalan A Ci, maka
sekarang ia sengaja hendak membikin kapok anah dara itu
supaya tidak berani main gila lagi.
Tak sangka bahwa meski mata A Cl sudah buta, tapi
gerak-geriknya masih sangat cepat, tahu-tahu gagang pecut
menyambar tiba, cepat Thian-sik egoskan kepalanya ke
samping, "plok", tidak urung pundaknya terhantam gagang
pecut itu.
"Adik Ci, kembali kamu ngacau lagi?" bentak toan Ki
segera.
"Mengacau apa?" sahut A Ci. "Dia inginkan pecutku maka
kuberikan padanya."
Watak Pah Thian-sik memang sangat sabar, maka ia hanya
tertawa dan berkata, "Banyak terima kasih atas hadiah pecut
nona ini."
Lalu tidak tarik panjang lagi kejadian itu melainkan lantas
mengeluarkan sepucuk surat dihaturkan kepada Toan Ki.
Waktu Toan Ki menerima surat itu, ia lihat di atas sampul
tertulis nama dirinya sebagai penerima surat, la kenal itulah
tulisan sang ayah. Cepat ia betulkan pakaiannya, dengan
khidmat ia buka dan membaca surat itu.
Kiranya isi surat itu membawa pesan Toan Cing-sun agar
bila ada jodoh. Toan Ki disuruh mengikuti sayembara untuk
berebut putri Se He. Dikatakannya bahwa negeri Taili kecil dan
lemah, kalau dapat berbesanan dangan kerajaan Se He, hal ini
akan menguntungkan politik pertahanan kerajaan Taili dan
bagi kesejahteraan rakyat. Adapun soal perjodohan Toan Ki
dengan putri keluarga Ko akan diselesaikan oleh paman
bagindanya kelak.
Habis membaca surat sang ayah, air muka Toan Ki tampak
agak pucat, katanya dengan terputus-putus, "Soal ini . . . ini .
.."
Tapi Pah Thian-sik lantas mengeluarkan sepucuk surat
pula, katanya, "ini adalah surat pribadi Ongya kepada Sri
Baginda di Se He sebagai surat lamaran, harap setiba di
Lengciu surat ini supaya dihaturkan kepada Sri Baginda Se
He.”
"Ya, Kongcu, semoga tujuanmu ini berhasil dengan baik
dan dapat membawa pulang seorang putri cantik molek
sehingga negeri kita pun ikut kukuh dan kuat," kata Cu Tan-
sin dengan tertawa.
Toan Ki tambah kikuk, katanya, "Dari mana ayah
mengetahui bahwa aku pergi ke Se He?"
"Ongya mengetahui Buyung-kongcu hendak melamar putri
Se He beliau menduga tentu Kongcu juga . . . juga akan ikut
pergi ke sana,” tutur Thian-sik.
"Hihihi!" tiba-tiba A Ci tertawa, "ini namanya yang paling
kenal anaknya hanya sang ayah. Ketika ayah mendengar
Buyung Hok hendak pergi ke Se He, segera beliau menduga
nona Ong pasti ikut pergi juga dan dengan sendiriaya beliau
yakin putra mestikanya ini tentu juga akan mengintil ke sana.
Hm, bila belandar di atas menceng, tentu tiang di bawahnya
juga akan miring. Mengapa, dia tidak kenal dirinya sendiri?"
Thîan-sik, Tan-sin dan Toan Ki melengak demi mendengar
ucapan yang kurangajar itu, masakah seorang anak boleh
mencela orang tua secara kasar demikian?
Tapi A Ci lantas berkata pula, "Koko, dalam surat ayah itu
apakah juga menyinggung díriku?"
"Ayah tidak tahu bahwa kamu bersama berada dengan
aku," sahut Toan Ki.
"Ya, dia memang tidak tahu. Tapi apa dia tidak memberi
pesan agar kau cari diriku? Apa tidak suruh kau jaga adik
perempuanmu yang buta?”
Dalam surat Toan Cing-sun itu sama sekali tidak
menyebut-nyebut tentang A Ci, kalau Toan Ki bicara terus
terang dikuatirkan adik perempuannya akan tersinggung,
maka berulang ia mengedipi Thian-sik dan Tan-s¡n agar
mereka mengakui adanya perintah Toan Cing-sun untuk
mencari A Ci.
Tak tersangka Thian-sik berdua sengaja berlagak pilon saja
dan tidak mau menanggapi maksud Toan Ki itu. Sebaliknya
Tan-sin berkata, "Tin-lam-ong minta hamba berdua
mendampingi Kongcu agar bilamana perlu dapat membantu,
betapapun putri Se He harus Kongcu boyong pulang ke Taili,
kalau tidak hamba berdua tentu akan diomeli Ongya, andaikan
tidak diomeli juga hamba berdua merasa malu akan disangka
tidak becus mengasuh.”
"Aku Sudah terang tidak mahir ilmu silat masa bisa
menandingi para ksatria yang datang dari segenap panjuru itu
nanti." sahut Toan Ki dengan tersenyum getir.
Tapi Pah Thian-sik lantas berkatà pula, "Ongya menyuruh
hamba menyampaikan salam kepada Siau-taihiap dan Hi-tiok
Siangsing, beliau berharap kalian sudi mengingat sesama
saudara angkat dan sudi memberi bantuan kepada Kongcu
kami. Kata Ongya ketika bertemu di Siau-lim-san, karena
dalam keadaan tergesa-gesa, maka beliau tidak sempat
bercengkerama dengan Siau-taihiap berdua, sebagai gantinya
sekarang beliau suruh hamba menyampaikan sedikit kado."
Lalu ia mengeluarkan sebuah singa-singaan kemala hijau
dan dihaturkan kepada Siau Hong.
Sedangkan. Cu Tan-sin juga lantas mengeluarkan sebuah
kipas terbuat dari gading, pada daun kipas itu ada tulisan
tangan Toan Cing-sun, ia serahkan kipas itu kepada Hi-tiok.
Siau Hong berdua menerimanya dengan ucapan terima
kasih, kata meraka, "Urusan Samte sudah tentu kami bantu
sepenuh tenaga, masakah perlu pesan lagi dari paman?
Sungguh kami merasa tidak enak, belum-belum sudah
menerima hadiah lebih dulu."
"Apakah kau sangka ayahku berhati begitu baik?" tiba-tiba
A Ci menyela lagi. "Dia justru ingin kalian berdua jangan
berebut menjadi huma dengan engkohku. Dengan janji kalian
ini, maka itu berarti kalian telah tertipu oleh ayahku."
"Ah, sejak Tacimu meninggal, masakah aku mempunyai
niat untuk menikah pula?" ucap Siau Hong dengan menghela
napas.
"Mulutmu berkata demikian, siapa bisa tahu apa yang
terpikir dalam hatimu?" ujar A Ci. "Hi-tiok Siangsing memang
polos dan jujur, tidak romantis seperti engkohku itu, di mana-
mana suka berkasih-kasihan. Jika Hi tiok Siansing belum
pernah mengikat janji dengan orang, bukankah sangat bagus
memperistrikan putri Se He saja?"
"Hm, ma , . . mana boleh jadi!" sahut Hi tiok dengan muka
merah dan menggoyang-goyang tangan. "Aku sendiri pasti
tidak ambil bagian, aku dan Toako tentu akan membantu
Samte mencapai perjodohan yang setimpal ini."
"Banyak terima kasih atas kesanggupan Siau-taihiap dan
Hi-tiok Siangsing," demikian serentak Thian sik dan Tan sin
memberi hormat.
Nyata bukan saja Siau Hong dan Hi-tiok sudah teringat
oleh janji mereka sebagai ucapan ksatria, bahkan dengan
demikian Toan Ki menjadi tak bisa menolak perintah ayahnya.
Begitulah perjalanan mereka akhirnya rnendekati Leng-ciu,
orang Bu-lim yang saling berjumpa di tengah jalan juga
tambah banyak.
Hendaklah maklum bahwa kerajaan Se He meski lebih kecil
daripada kerajaan-kerajaan Song dan Liau, tapi terhitung
suatu negeri besar di daerah barat dengan sendirinya banyak
orang persilatan ingin memperistrikan sang putri yang agung
dan kabarnya cantik pula.
Cuma tokoh-tokoh Bu lim yang ternama pada umumnya
sudah beristri dan berkeluarga. Kalau ada jago muda, dalam
hal ilmu silat juga belum tentu tinggi. Karena itu banyak
bandit-bandit dan petualang-petualang yang masih bujangan
sama menaruh harapan akan dipilih sebagai menantu raja,
maka beramai-ramai mereka sama datang ke Lengciu. Bahkan
banyak tokoh-tokoh dan ksatria tua yang membawa serta
anak muridnya dengan tujuan menguji nasib, eh, siapa tahu
dapat dipungut sebagai menantu raja Se he.
Begitulah, maka sepanjang jalan banyak sekali ksatria
muda yang berpakaian mentereng dan parlente, sampai-
sampai senjata yang mereka bawa juga serba “lux". Maklum,
pada umumnya orang persilatan kebanyakan dari keluarga
mampu, sebaliknya kaum sekolahan kebanyakan adalah
keluarga miskin apalagi kalau kelakuan orang yang pandai silat
Itu tidak baik tentu sumber keüangan jauh lebih mudah
datangnya, misalnya dengan jalan merampas dengan
kekerasan atau mencuri secara diam-diam. Oleh sebab itulah
pakaian mereka sekarang sedapat mungkin serba mewah
dangan tujuan akan mendapat perhatian khusus dari sang
putri.
Pada hari itu rombongan Siau Hong sedang melanjutkan
perjalanan dengan santai. Tiba-tiba terdengar derapan lari
kuda, seorang penunggung kuda tampak datang dari depan,
penunggangnya kelihatan terluka lengan kanan diperban dan
tergantung di depan dada dengan ikatan kain, bajunya juga
sobek, keadaannya kumal.
Síaü Hong dan lain-lain juga tidak ambíl perhatian mereka
menyangka orang ini mungkin terjatuh atau dipukul luka
orang kejadian demíkian adalah sangat jamak bagi orang
persilatan.
Tak terduga, tidak lama kemudian kembali ada tiga
penunggang kuda berlari datang pula dari depan para
penuggang kuda itu semuanya terluka parah ada yang patah
kaki dan ada yang putus lengan. Orang-orang itu seperti
sangat lesu dan malu serta melarikan diri dengan kepala
tertunduk.
"Apa di depan sana ada orang berkelahi, mengapa banyak
orang terluka?" kata Bwe-kiam yang usilan.
Baru lenyap suaranya, kembali dari dépan datang pula dua
orang. Kedua orang ini tidak menunggang kuda, mukanya
penuh darah, satu di antaranya kepalanya diperban dengan
kain dan darah masih merembes keluar.
Segera Tiok-kiam menegur mereka, "Hei, kalian mau obat
luka tidak? Mengapa kalian terluka?"
Tapí orang itu melotot pada Tiok-kiam dengan penuh
kebencian, bahkan meludah ke tanah lalu tinggal pergi tanpa
gubris. Keruan Tiok-kiam menjadi gusar, "sret", segera ia lolos
pedang dan hendak menyerang orang itu.
"Sudahlah," cegah Hi-Tiok. "Orang itu terluka parah, tidak
perlu cekcok dengan dia."
"Adik Tiok kan bermaksud baik hendak memberi obat, tapi
orang itu sedemikian kasarnya, biar dia mampus saja karena
lukanya itu," ujar Lam-Kiam.
Pada saat itulah lagi-lagi ada empat penünggang kuda
sedang mendatangi dengan cepat. Terdengar para
penunggang kuda itu sedang saling damprat dan saling
menyalahkan satu sama lain. Ketika berpapasan dengan
rombongan Siau Hong. Karena kalah banyak, mereka lantas
menyusur ke samping dan lewat dengan cepat.
Dari caci-maki mereka itu agaknya keempat orang itu
sama mengimpikan dipilih menjadi menantu raja Se He, tapi di
depan sana seperti ada suatu rintangan yang tak bisa
ditembus mereka, bahkan mereka dilukai dan ngacir, akhirnya
mereka sama menuduh kawan sendiri yang tidak mau
membantu dan macam-macam lagi.
Tengah Siau Hong dan lain-lain merasa terheran-heran.
tiba-tiba dari depan datang lagi beberapa orang, semuánya
terluka dan babak-belur, ada yang kepalanya bocor, ada yarg
matanya matang biru dan ada yang kakinya pincang.
Dalam herannya segera Ciong Ling memapak maju dan
bertanya, "Hai. apakah orang yang merintangi di depan sana
sangat lihai?"
Seorang laki-laki setengah umur di antaranya mendengus,
jawabnya, "Kamu seorang nona, kamu dapat lewat tanpa
alangan. Tapi kalau lelaki, hm, lebih baik putar balik saja.”
Ucapan ini membuat Siau Hong dan Hi-tiok ikut heran kata
mereka, "Coba lihat ke sana!"
Segera rombongan mereka mempercepat kuda mereka ke
depan.
Kira-kira beberapa li jauhnya tertampaklah sebuah jalanan
sempit di lereng bukit yang berliku-liku itu. Jalanan itu sangat
sempit sehingga cukup dilalui oleh satu penunggang kuda
saja. Sesudah lewat beberapa pengkolan lagi. Akhlrnya
tertampaklah di depan sana berjubel-jubel orang banyak.
Siau Hong coba melarikan kuda ke depan, ia lihat di
tengah jalan yang sempit itu berdiri berjajar dua orang lelaki
kekar. Keduanya sama-sama tinggi besar dan gagah perkasa.
Yang seorang bersenjata gada besi dan yang lalu memegang
sepasang gandan besar dengan garang mereka menghadapi
belasan orang yang menggerombol di depannya.
Terdengar orang-orang bergerombol di depan kedua lelaki
gagah itu riuh-ramai membujuk dan memohon agar mereka
suka memberi jalan bahkan ada yang menjanjikan balas jasa
yang besar malahan juga ada yang mengancam karena kedua
lelaki itu tetap tidak mau menyìngkir.
Akhirnya karena kedua lelaki gagah itu tetap tidak
menggubris ocehan orang banyak itu, maka seorang telah
membentak "Kurangajar, rupanya minta diberi hajar adat baru
mereka mau minggat!”
Berbareng ia terus putar pedang dan menerjang maju,
kontan ia menusuk dada lelaki yang sebelah kiri.
Perawakan lelaki itu sangat tinggi besar, senjatanya juga
sangat antap, tapi gerak-geriknya sangat gesit. Ketika kedua
gandennya ditentukan dengan cepat, pedang penyerang itu
terjepit oleh gandennya.
Sepasang ganden yang berbentuk astokino (segi banyak)
itu beratnya masing-masing lebih 40 kali, maka begitu
terdengar suara "trang" yang keras tahu-tahu pedang yang
terjepit itu patah menjadi beberapa potong. Bahkan lelakl itu
terus ayun sebelah kakinya sehingga dengan tepat perut se
penyerang dengan pedang itu menjerit dan terpental.
“Jite, tenaga orang ini cukup hebat juga," kata Siau Hong
kepada Hi-tiok.
"Ya, memang," sahut Hi-tiok.
Dalam pada itu ada seorang lagi dengan memutar dua
golok sekencang kitiran telah menyeruduk maju, begitu dekat
dengan kedua lelaki gagah tadi, orang itu menggertak sekali
terus menjatuhkan diri ketanah, mendadak ia mainkan
goloknya dengan mengelinding di atas tanah, yang diincar
adalah bagian kaki lawan.
Lelaki bersenjata gada tidak peduli serangan lawan itu,
begitu angkat gadanya segera ia menggemplang ke tengah
sinar golok, maka terdengarlah jeritan ngeri, tahu-tahu kedua
golok orang itu patah, gagang golok menancap di dada
sendiri, badan berlumuran darah, tampaknya lebih banyak
mampusnya daripada hidup lagi.
Berturut-turut orang dilukai, yang lain-lain menjadi
mengkeret dan tidak berani berkoak-koak lagi seperti tadi.
Tiba-tiba terdengar suara "keteprak-keteprak” suara
derapan kaki binatang tunggangan, ternyata seekor keledai
datang dari belakang sana dan penunggangnya adalah
seorang pelajar muda, usianya paling-paling cuma 18-19
tahun, pakaiannya parlente, orangnya cakap, sikapnya halus
dan sopan.
Ketika pemuda itu hendak melampaui rombongan Siau
Hong, karena jalanan sempit terpaksa ia harus menyerempet
kuda-kuda orang lain.
Melihat pemuda itu, mendadak Toan Ki berseru, "He, kau .
. . kau . . . . " tapi ia tidak sanggup melanjutkan. Sebaliknya
pemuda pelajar itu sama sekali tidak memandang padanya, ia
menyalip keledainya ke depan.
"He, Toan-kongcu, kau kenal dia?" tanya Ciong Ling
dengan heran.
Wajah Toan Ki menjadi merah, sahutnya, "O, ti . . . tidak,
aku salah lihat. Dia . . . dia adalah seorang lelaki, dari mana
kukenal dia?”
Karenu ucapannya yang ganjil itu, seketíka A Ci berolok
dengan tertawa, "Koko, jadi engkau hanya kenal kaum wanita
dan tidak kenal orang lelaki?”
Sesudah merandek sejenak, lalu ia tanya pula, "Apakah
orang yang baru saja lewat itu orang lelaki? Padahal sudah
terang dia wanita."
"Kau bilang dia seorang wanita?" Toan Ki menegas.
"Sudah tentu, badannya begitu harum, bau wangil kaum
wanita," sahut A Ci.
Hati Toan Ki berdebur keras, pikirnya, "Ya . . . jangan-
jangan memang benar dia ada adanya?”
Dalam pada itu si pemuda pelajar tadi sudah melarikan
keledainya sampai di depan kedua lelaki gagah dan sedang
membentak, "Minggir!"
Dari suaranya yang nyaring merdu itu. nyata memang
suara orang wanita. Maka Toan Ki tambah yakin lagi, segera ia
berseru. "He, nona Bok Wan . . . Wan-jing, adikku! Kau . . .
kau . . . aku . . . aku , . . kita . . . . kita . . . . "
Begitulah sambil berteriak-teriak tak karuan ia terus keprak
kudanya menyusul ke depan.
"Hati-hati Samte, lukamu belum sembuh!' seru Hi-tiok
kuatir. Segera bersama Pah Thian-sik dan Cu Tan-sin juga
memburu ke depan.
Pemuda pelajar itu hanya menatap sekejap kedua lelaki
gagah itu, sama sekali ia tidak menoleh atas seruan Toan Ki
tadi. Waktu Thian-sik dan Tan-sin mendekat, mereka coba
mengamatinya dari samping. tertampak pemuda itu memang
cantik molek, nyata memang benar Bok wan-jing yang dahulu
pernah ikut Toan-Ki ke istana Tin-lam-ong itu. Diam-diam
mereka merasa malu, masakah orang melek kalah awas
daripada seorang gadis buta.
Seperti diketahui badan Bok Wan-jing mengeluarkan bau
wangi yang khas, maka A Ci dapat mengendus bau harum itu
dengan hidungnya yang tajam, sejak matanya buta, maka
indrà pendengaran dan perciumannya menjadi jauh lebih lihai
daripada orang biasa.
Begitulah ketika Toan Ki sampai di samping Bok Wan-jing,
segera ia hendak manjawilnya dan bertanya dengan suara
halus, "O, adikku, selama ini engkau berada dl mana?
Sungguh aku sangat merindukan dikau!"
Wan-Jing menghindari jamahan tangan Toan Ki, lalu
menoleh dan menjawab dengan suara dingin, "Kau rindu
padaku? Buat apa kau píkirkan diriku? Apa benar engkau
kangen padaku?"
Toan Ki tertegun, ia merasa tidak dapat menjawab
pertanyaan itu.
Sebaliknya satu di antara kedua lelaki gagah tadi lantas
terbahak-bahak, katanya, "Bagus! Jadi kamu adalah anak
perempuan, nah, boleh lewat ke sana!”
Sedang lelaki yang lain juga berkata, "Hanya wanita saja
yang boleh lewat, kaum lelaki busuk tidak boleh. Ho, kamu
lekas enyah, lekas putar baik?”
Sambil berkata jarinya terus menuding Toan Ki, lalu
menyambung pula, "Hm setiap melihat pemuda muka halus
macammu hatiku tentu gemas. Ayo lekas enyah, kalau berani
maju selangkah lagi segera kucencang dirimu!”
"Hai, ucapan saudara ini sungguh aneh," sahut Toan Ki.
“Ini kan jalan raya dan boleh dilalui oleh siapa pun juga sebab
apa saudara melarang aku? Coba terangkan."
“Pangeran Cong-coan karajaan Turfan memberi perintah
agar jalan ini ditutup selama sepuluh hari, sesudah lewat hari
Tiangciu baru jalan ini dibuka kembali," demikian lelaki itu
menjelaskan. "Maka sebelum lewat hari Tiongciu, jalan ini
hanya boleh dilalui kaum wanita dan kaum lelaki dilarang.
Kaum padri boleh lewat orang preman tidak boleh. Orang tua
boleh orang muda dilarang. Mati boleh, hidup tidak boleh. Ini
namanya empat boleh dan empat tidak!"
"Apa alasan peraturan demikian," tanya Toan Ki.
"Alasan? haha. Alasan? ini ganden tuan besar dan gada
kawanku inilah alasannya," sahut lelaki itu dengan galak. “Apa
yang diucapkan pangeran Cong-can itu adalah undang-
undang. Karena kamu kaum lelaki, bukan hwesio lagi bukan
kakek-kakek maka kalau ingin lewat jalan ini kecuali kamu
menjadi bangkai dahulu."
"Huh, banyak rewel apa?" bentak Bok Wan jing, berbareng
dua panah kecil terus menyambar ke arah kedua lelaki itu.
Maka terdengarlah suara "plok-plok" dua kali kedua panah
itu jelas telah menembus baju dada kedua lelaki itu dan
mengeluarkan suara tapi kedua orang itu sama sekali tidak
terluka apa-apa.
Lelaki yang bersenjata gada menjadi gusar, bentaknya,
"Nona cilik yang tidak tahu gelagat, kau berani menyerang
kami?"
Sungguh kejut Boh Wan-jing tak terkatakan ia pikir kedua
lelaki itu besar kemungkinan memakai baju dalam anti senjata
makanya panah berbisa yang dilepaskan itu tak dapat
melukainya.
Dalam pada itu lelaki bersenjata gada itu sudah ulur
tangan hendak mencengkeram Bok Wan jing. Walaupun Wan-
jing berada di atas keledai sekaligus lelaki itu hendak
mengcengkam dada Wan-jing.
"He, saudara jangan kurangajar'" seru Toan ki sambil
angkat tangan kanan untuk merintangi orang.
Tapi lelaki itu mendadak menurunkan tangannya sehingga
pergelangan tangan Toan Ki dengan tepat kena terpegang
malah.
"Bagus! Mari kita besat tubuh si muka halus ini menjadi
dua!" seru lelaki yang bersenjata gandon. Segera ia gunakan
tangan kiri untuk memegang kedua gandennya, sedangkan
tangan kanan dipakai mencengkeram pergelangan tangan kiri
Toan Ki, lalu membetot dengan sekuatnya.
"He, jangan mencelakai engkohkul" teriak Bok Wan-jing
dengan kuatir, berbareng beberapa panah berbisa terus
dibidikkan pula. Tapi hasilnya tetap nihil, meski panah-panah
itu jelas mengenai tubuh kedua musuh, namun sama sekali
tidak dapat melukai mereka.
Di sebelah sana Hi-tiok, Pah Thian-sik dan Cu-Tan- sin
teralang oleh kuda tunggangan Toan Ki dan Bok Wan jing dan
tidak keburu memberi pertolongan. Segera Hi-tiok melompat
ke depan meninggalkan kudanya, ia melayang sampai di
sebelah lelaki bersenjata gada dan segera hendak menusuk
iga lawan.
Tapi mendadak terdengar Toan Ki bergelak tertawa,
katanya, "Hahahaha! Jiko tidak usah kuatir, mereka tidak
mampu mencelakai aku!"
Benar juga, sejenak kemudian kedua lelaki yang gagah
perkasa bagai menara tadi pelahan mulai lemas, kepala
mereka bergeleng-geleng tak bertenaga, berdirinya juga mulai
tidak kuat dan akhirnya "bluk-bluk", kedua orang terguling
semua ke tanah.
Rupanya "Cu-hap kang" di tubuh Toan Ki telah bekerja
sehingga tenaga kedua lelaki itu disedot habis, akhirnya roboh
dengan lemas.
"Kalian Budak banyak melukai dan membunuh orang,
maka ganjaran ini pun setimpal bagi kalian, diharap saja lain
kali jangan main gila lagi." kata Toan Ki.
"Biarpun ingin main gila juga tidak mampu lagi mereka,"
kata Ciong Ling yang juga memburu tiba. Lalu ia berpaling
kepada Bok Wan Jing dan berkata, "Bibi Bok, sungguh tidak
nyata berjumpa lagi dengan engkau di sini."
“Kamu adalah adik perempuanku, kenapa panggil aku
sebagai bibi?" sahut Wan-jing dengan sikap dingin.
“Ah, engkau suka bergurau saja, mengapa aku bisa
menjadi adik perempuaanmu?'' ujar Ciong Ling dengan heran.
"Boleh kau tanya dia kalau tidak percaya," kata Wan-jing
sambil menunjuk Toan Ki.
Ciong Ling lantas menoleh ke arah Toan Ki dengan maksud
ingin penjelasannya.
Diam-diam Toan Ki terkejut. Ia pikir nyonya Ciong (ibü
Ciong Ling) tentu ada hubungan istimewa dengan ayahku,
Kalau tidak tentu Bok Wan jing tidak berani sembarangan
berkata demikian, teringat olehnya kejadian dahulu waktu dia
datang ke Ban-jiat-kok, di tangah lembah maut itu ditemukan
batu nisan yang tertulis “Kuburan Ban Siu Toan" yang berarti
sepuluh ribu kali dendam dengan Toan, untuk bisa memasuki
kuburan yang merupakan tempat kediaman Ciong Ban sin
(Ayah Ciong Ling) ¡tu orang harus menendang tiga kali pada
huruf Toan pada batu nisan ini. Dari sini dapat pula diketahui
betapa dendam dan benci Ciong Ban-sin terhadap keluarga
she Toan.
Begitulah memang kejadian dulu itu sangat mencurigakan.
Tapi lantas terpikir pula olehnya, “Jika nona Ciong ini benar
keturunan ayah kenapa beliau pernah omong di hadapan
Ciong-kokcu bahwa nona Ciong akan diambilnya untuk selirku?
Biarpun kata-kata itu segaja dipakai mengolok-olok Cíong-
kokcu, rasanya juga, tidak pantas dikeluarkan terhadap putra-
putrinya sendiri. Ya, jangan-jangan . . jangan-jangan ayah
sendiripun tidak tahu bahwa . . . bahwa nona Ciong ini
keturunannya?”
Seíketika itu Toan Ki menjadi serba bingung dan terkesima.
Kesempatan itu segera digunakan oleh Orang banyak yang
tadinya dirintangi kedua lelaki gagah tadi untuk meneruskan
perjalanan ke Lengciu.
Tiba-tiba terdengar A Ci berseru kepada Toan Ki, “Koko,
nona yang berbau harum ini apakah juga kekasihmu? Ayolah
perkenalkan dia padaku!"
“jangan ngaco belo, dia . . . dia adalah Encimu, lekas
memberi hormat padanya, " Kata Toan Ki.
"Masakah aku mempunyai rejekí sedemikian baik?" jengek
Wan-jing dengan gusar. Lalu ia pecut keledainya dengan
pelahan dan dilarikan ke depan.
Cepat Toan Ki menyusulnya dan bertanya, "Adikku yang
manis, selama ini engkau berada di mana? Ai, tampaknya
engkau. . . agak kurus sedikit.
Seperti diketahui perangai Bok Wan-jing sangat angkuh
dan tinggi hati sedikit-sedikit suka membunuh orang. Tapi
demi mendengar ucapan Toan Ki ini, seketika terasa pedih
hatinya air mata tak tertahan lagi dan segera bercucuran.
"Adikku, rombongan kami berjumlah banyak dan dapat
saling membantu, ada lebih baik kau ikut bersama kami saja,"
kata Toan Ki.
"Siapa perlu bantuanmu?" sahut Wan-jing. “Tanpa dirimu
bukankah selama ini aku pun bisa hidup sendiri?"
“Tapi . . . tapi banyak sekali ingin kubicarakan denganmu,"
kata Toan Ki. "Adik yang baik berjanjilah bahwa engkau akan
ikut bersama rombongan kami."
"Kau íngin bicara apa dengan aku? Huh, tentu cuma
omong kosong belaka," ujar Wan jing. Walaupun mulutnya
masih bicara teras tapi hatinya sudah lembek dan diam-diam
sudah ragu.
Tentu saja Toan Ki kegirangan, segera ia mengada-ada
lagi, "Adikku, walaupun engkau agak kurusan sedikit, tapi
makin cantik, makin ayu.”
Mendadak Bok Wan-jing menarik muka katanya, "Sebagai
kakakku, selanjutnya jangan kau bicara demikian padaku."
Perasaannya sesungguhnya sangat kusut. Sudah terang
dia tahu Toan Ki adálah kakaknya sendirl dari tunggal ayah
lain Ibu, tapi rasa rindunya kepada pemuda itu selama ini
tidak pernah berkurang bahkan makin hari makin tumbuh.
Sementara itu Toan Ki berkata dengan tertawa, "Apa
salahnya kalau aku bilang kamu makin cantik? Eh, Mengapa . .
. mengapa engkau menyaru sebagai lelaki dan pergi ke
Lengciu? Apakah kaupun ingin dipilih sebagai Huma? Wah,
pemuda pelajar tampan sebagai dirimu tentu sekali lihat putri
Se He akan terpikat?"
“Dan kau sendiri untuk apa pergi ke Lengciu?” Balas tanya
Wan-Jing.
“Aku? Aku . . . aku hanya pergi melihat ramai-ramai saja
dan tiada maksud lain.” sahut Toan Ki dengan wajah sedikit
merah.
"Huh. engkau selalu dusta padaku," jengek Wan-jing.
"Ayah suruh kau pergi melamar putri Se He dan
memerintahkan orang-orang she Pah dan Cu itu sampaikan
surat padamu, apa kau sangka aku tidak tahu?”
“Eh, dari mana kau tahu?” Tanya Toan Ki dengan heran.
“Ibuku mempergoki ayah di tengah jalan, aku sendiri
waktu itu ikut bersama ibu, dengan sendirinya urusan ayah
kudapat mendengarnya," tutur Wan jing.
“Kiranya demikian," kata Toan Ki. "Ya, aku pun tahulah
sekarang!"
"Kau tahu apa?" tanya Wan-jing heran.
"Karena kaü tahu aku hendak pergi ke Langciu makanya
engkau menyusul kemari betul tidak?"
Muka Wan-jing menjadi merah sebab ucapan Toan Ki
dengan jitu telah mengenai isi hatinya. Namun demikian toh
mulutnya tetap tidak mau mengaku sahutnya, "Buat apa aku
menyusul kau ke sini?” Aku cuma ingin tahu betapa cantiknya
putri Se He itu sehingga membikin gempar para ksatria
seluruh jagat ini "
Mestinya Toan Ki ingin memuji dan mengatakan bahwa
kecantikan putri Se He itu, pasti ada separuh kecantíkanmu.
Tapi ia merasa ucapan demikian tidak pantas dikatakan
kepada Adik perempuannya sendiri maka kata-kata yang
hampir tercetus itu ditelannya kembali mentah-mentah.
Dalam pada itu Wan-jing sedang berkata "aku pun ingin
tahu apakah Pangeran dari kerajaan kita dapat mengikat
jodoh dengan putri Se He itu.”
"Sesst, ketahuilah bahwa aku sudah pasti tidak ingin
menjadi Huma kerajaan Se He," kata Toan Ki dengaa pelahan.
"Moimoai, maksudku ini jangan kau bocorkan kepada orang
lain, Pendek kata bila ayah memaksa aku, pasti aku akan
kabur saja."
“Masakah kau berani membangkang perintah ayah?”
"Aku tidak membangkang, tapi Kabur, menghilang?”
"Menghilang dan membangkang perintah apa bedanya?”
ujar Wan-jíng dengan tertawa, "Masakah putri yang cantik
molek itu tidak menarik bagimu?”
Sejak bertemu baru sekarang Wan jing memperlihatkan
tertawanya. Karuan Toan Ki sangat girang, sahutnya,
"Memangnya kau sangka aku mata keranjang serupa ayah?
Asal ketemu lantas süka sehingga banyak menimbulkan gara-
gara?"
"Nah, kulihat kaupun tídak banyak berbeda dengan ayah.
Ayahnya begitu masakah anaknya bisa berlainan? Cuma saja
engkau tidak pünya rejeki sebagai ayah," ujar Wan-jíng. Ia
menghela napas, lalu menyambung, 'Seperti ibu, kalau b¡cara
tentang ayah, wah, bencinya tak terkira, tapi bila bertemu,
maka lemaslah hatinya. Tapi nona-nona di jaman sekarang
tentu tidak ada lagi yang baik seperti ibuku.”
Begitulah mereka melanjutkan perjalanan sambil
mengobrol, tidak lama kemudian Ciong Ling, Hi-tiok, Siau
Hong dan lain-lain juga menyusulnya.
Beberapa li kemudian hari mulai gelap. Tiba-tiba terdengar
suara jeritan kuatir seseorang dari sebelah kiri sana menyusul
ada suara teriakan keras pula, suara orang yang sedang
menghadapi suatu bahaya. Dari suara-suara itu dapat dikenali
ada juga suara Lam-hai gok-sin.
"He, itulah suara muridku!" kata Toan Ki.
"Muridmu orang baik, lekas kita pergí melihatnya!" seru
Ciong Ling.
"Ya, mari cepat!" sahut Hi-tiok. Meskipun Ibunya (Yap Ji-
nio) adalah sekomplotan dengan Lam-hai-goh-sin, maka
sedikit banyak timbul juga rasa kekeluargaannya.
Segera mereka melarikan kuda ke arah suara-suara tadi.
Sesudah melintasi lereng bukit dan menyusur hutan, tiba-tiba
di tepi jurang di depan sana memperlihatkan suatu adegan
yang sangat mendebarkan hati.
Tertampak di atas sebuah karang yang menonjol di tapi
jurang tumbuh sebatang pohon Siong tua sebuah dahan
pohon menjulur ke jurang, di atas dahan kelihatan disanggah
oleh sebatang tongkat pada ujung tongkat itu menggelantung
seorang berjubah hijau. Siapa lagi dia kalau bukan Toan Yan-
khing.
Dengan tangan kiri Toan Yan-khlng menggunakan tongkat
untuk nenahan dahan pohon, tubuhnya tergantung di udara,
sedang tangan kanan yang juga mamegang tongkat pada
ujung tongkat yang dipegang oleh seorang lain ternyata
adalah Lam-hai-gok-sin.
Sambil sebelah tangan memegang ujung tongkat Toan
Yan-khing maka sebelah tangan Lam-hai-gok-sin yang lain
digunakan untuk menjambak rambut seorang lain lagi, orang
ketiga ini adalah Kiong-hiong-kek-ok in Tiong ho.
Kedua tangan In Tiong ho tertampak digunakan untuk
mencengkeram sepasang tangan seorang wanita muda. Jadi
keempat orang itu seakan-akan tergendong menjadi satu dan
terkontal kantil di udara keadaan mereka terang sangat
berbahaya. Asal salah seorang di antara mereka itu lepas
tangan, Maka orang yang di bawahnya tentu akan terjeblos ke
dalam jurang yang curam itu.
Dalam pada itu tiba tiba angin pegunungan meniup santer
sehingga Lam hai-gok-sin, ln Tiong-ho dan wanita muda yang
terkatung-katung di udara itu tertiup setengah putaran.
Tadinya wanita muda itu tergantung mungkur, maka
sekarang mukanya dapat terlihat dengan jelas. Mendadak
terdengar Toan Ki menjerit keras dan himpir-hampir
terperosot jatuh dari kudanya.
Kiranya wanita muda itu bukan lain adalah Ong Giok-yan
yang senantiasa dirindukannya siang dan malam selama ini.
Sesudah tenangkan diri. Toan Ki melihat karang itu sangat
terjal dan berbahaya, tiada mungkin kuda dapat mencapainya.
Maka cepat ia melompat turun dari kudanya dan berlari-lari ke
sana.
Ketika hampir dekat dengan pohon siong tadi, tiba-tiba
dilihatnya dan seorang pendek gendüt berkepala besar sedang
menebang pohon dengan sebatang kapak besar.
Keruan kecut Toan Ki lebih-lebih bukan buatan, cepat ia
berseru, "Hei, hei Apa yang kau lakukan di situ?"
Namun si gendut tidak gubris padanya dan masih
mengayun kapaknya menebang pohon.
Segera Toan Kì gunakan jarinya menuding dapan,
maksudnya hendak menyerang si gendut dengan Lak-meh-sia-
kiam. Tak tersangka karena dia belum mampu menguasai
tenaga murni sendiri, takkala dia ingin menggunakan
kepandaiannya itu jadi tidak manjur, meski dia tüding-tuding
beberapa kali tetap hawa pedang itu sukar dikerahkan.
Terpaksa ia berteriak, "Toako, Jiko, Moaimoai, nona Ciong,
lekas kalian kemari, lekas tolong!"
Di tengah suara sahutan dan bentakan, segera Siau Hong
dan lain-lain memburu tiba.
Kiranya tubuh si gendut itu sangat pendek, karena
teraling-aling oleh batu karang, maka sama sekali tak
kelihatan dari jauh, pula angin pegunungan meniup dengan
santer sehingga suara kapaknya menebang pohon pun tak
terdengar. Untung pohon siong itu sangat besar sehingga
dalam waktu singkat sukar untuk menumbangkannya.
Melihat itu, Siau Hong dan lain-lain menjadi sangat heran
dan kuatir pula, mereka tidak paham mengapa bisa terjadi
adegan semacam permainan akrobat udara itu.
Segera Hi-Tiok beseru, "He. engkoh gemuk, jangan kau
tebang pohon itu!"
Tapi si gendut telah menjawab, "Pohon ini aku yang
tanam, aku suka menebangnya untuk dibikin peti mati, peduli
apa dengan kau?"
Sembari bicara kapaknya juga terus bekerja tanpa
berhenti. Sedangkan di bawah jurang terdengar suara
gembar-gembor Lam-hai-gok-sin.
"Jiko, orang gendut itu susah untuk diajak bicara, harap
kau suka membekuk dia dulu, urusan belakang." pinta Toan Ki.
Hi-Tiok mengiakan. Tapi belum lagi ia bergerak,
sekonyong-konyong seorang yang bertongkat telah melayang
kesana secepat terbang, hanya beberapa kali loncatan saja
orang itu sudah berada di depan si gendut tadi. Dan sesudah
orang itu berdiri tegak barulah semua orang dapat melihat
jelas, kiranya dia adalah Yu Goan ci, entah sejak kapan dia
telah lengeloyor turun darl keretanya.
Bok Wan-jing belum pernah kenal Goan-Ci seketika
mendadak melihat mukanya yang jelek menyeramkan itu, ia
menjerit kaget.
Dalam pada itu Goan-Ci telah menggunakan sebelah
tongkatnya untuk menyanggah tubuhnya tongkat yang lain
terangkat ke atas, lalu katanya dengan tegas, "Siapa pun
dilarang ke sini!”
"He, Ong pangcu, lekas kau bekuk saja saudara gendut itu,
suruh dia jangan menebang pohon lagi," seru Toan Ki cepat.
"Hm, buat apa aku mesti membekuk dia?” sahut Goan-ci
dengan sikap dingin "Apa gunanya aku menaklukan dia?"
"Kalau kau tidak membekuk saudara gendut itu, bila pohon
itu tumbang, semua orang yang bergantungan itu tentu akan
terbantìng mati semua di dalam jurang," kata Toan Ki.
Melihat keadaan sudah kepepet, kalau terlambat sebentar
lagi tentu urusan akan runyam, tanpa pikir lagl Hi-tiok terus
melompat maju. Ia pikir andaikan tidak dapat mencegah
perbuatan si gendut yang sedang menebang pohon itu, paling
tidak harus menarik Toan Yan-khing dan lain-lain ke atas.
Maklum, Hi-tiok merasa utang budi kepada Toan yan-khing
karena tempo hari kepala Su-ok itu telah mengajarkan rahasia
memecahkan problem catur sehingga dia berhasil memperoleh
kepandaian-kepandaian sakti.
Tak terduga, sebelum Hi-tiok bertindak, mendadak Goan-ci
telah menancapkan tongkat ditanah lalu tangan kanan itu
menghantam, kontan serangkum hawa maha dingin
menyambar ke muka Hi-Tiok.
Walau pun Hi-Tiok tidak gentar terhadap serangan berbisa
itu, tapi ia pun tahu tenaga pukulan Goan-ci itu sangat
dahsyat dan tidak boleh di pandang enteng, cepat ia kerahkan
tenaga untuk menangkis. Tapi mendadak pukulan Goan-ci
yang kedua terus diarahkan kedahan pohon, dimana dipakai
menyanggah tongkatnya Toan Yan-khing. Kalau dahan itu
terpukul patah tanpa ampun lagi Toan Yan-khing berempat
pasti akan hancur lebur terjeblos ke dalam jurang.
Keruan Toan Ki kelabakan, cepat ia beteriak, "Tahan dulu!
Jiko, jangan kau maju ke sana, segala urusan boleh
dibicarakan secara baik-baik dan jangan main kekerasan. Ong-
pangcu, sebenarnya apa maksudmu ini? Siapakah yang kau
musuhi? Kenapa kau hendak membikin celaka orang?”
"Toan-kongcu," sahut Goan-ci, "terlalu mudah bagiku jika
mau membekuk si gendut ini. Tapi . . . tapi apa balas jasanya
bagiku?"
"Segala apa akan kuberikan padamu! Apa yang kau minta
tentu akan kupenuhi! Nah, le . . . lekas kau bertindak, kalau
terlambat tentu tidak keburu lagi!" seru Toan Ki.
"Bila si gendut ini sudah kubereskan, segera aku akan
pergi bersama nona A Ci, untuk mana kau dan kawan-
kawanmu tidak boleh merintangi kami, apa kau bersedia
menerima syarat ini?” Tanya Goan-ci.
"A Ci?" Toan Ki menegas. "Tapi . . . tapi dia ingin minta
tolong pada Jiko untuk menyembuhkan matanya, kalau ikut
pergi bersama kau, lantas bagaimana matanya?"
"Jika Hi-tiok Siansing dapat menyembuhkan matanya,
maka aku pun pasti dapat berusaha menyembuhkan
matanya," sahut Goan-ci.
"Ini . . . ini . . . . " dalam pada itu Toan Ki melihat si
gendut masih terus mengapak, kalau-kalau ayal sebentar lagi
urusan tentu akan runyam, Terpaksa ia berkata, "Ya, ba . . .
baiklah, aku terima permintaanmu, le . . . lekas kau . . . . "
Belum habis ia berkata, dl sebelah sana serangan Goan-ci
sudah dilancarkan kearah si gendut.
Ternyata orang gemuk buntak itu sedikitpun tidak gentar
terhadap pukulan Goan-ci itu, dengan tertawa dingin ia buang
kapaknya, ia pasang kuda-kuda dengan kuat, sekali gertak,
kedua tangan terus dipakai memapak pukulan Goan ci itu.
Dari angin pukulan si gendut terdengar dahsyat sekali
tenaganya. Tapi ketika beradu dengan pukulan Goan-ci,
ternyata sedikit pun tidak mengeluarkan suara. Sejenak
kemudian mendadak air muka si gendut berubah hebat, sikap
yang tadinya angkuh dan sombong itu tiba-tiba berubah
sangat aneh seperti seorang yang mendadak melihat suatu
kejadian paling ajaib dan sukar dipercaya didunia ini.
Menyusul dari mulut si gendut tampak mengeluarkan
darah, tubuhnya pelahan mengkeret dan jatuh ke dalam
jurang, Sampai cukup lama barulah terdengar suara "bluk"
sekali tentu tubuh si gendut terbanting di atas batu karang di
bawah jurang bila membayangkan betapa mengerikan badan
si gendut itu hancur lebur seketika semua orang sama merasa
menkirik.
Dalam pada itu Hi-Tiok sudah lantas melompat ke atas
dahan pohon, ia lihat tongkat Toan Yan-khing itu terjepit
dalam dahan, rupanya karena tekanan tenaga dalamnya yang
kuat itu hingga tongkat seperti melengket di dahan dan dapat
menahan bobot tubuh empat orang yang tergantung di
bawahnya.
Sungguh kagum Hi-tiok tak terkatakan atas tenaga dalam
Toan Yan-khing yang hebat itu. Segera ia pegang ujung
tongkat orang dan diletak ke atas.
“Hwesio cilikl" demikian Lam-hai-gok-sin berteriak-teriak di
bawah. “Aku memang sudah tahu kamu seorang baik, coba
kalau kamu tidak menolong kami, wah, bagaimana rasanya
jika kami terkatung-katung di sini sampai tiga hari malam."
"Huh, masih membual segala?" kata In Tiong-ho, "Apa kau
tahan sampai tiga hari malam?”
"Kenapa tidak?" sahut Lam hai-gok-sin dengan gusar.
"Andaikan tidak kuat, asal aku lepaskan jambakanku atas
rambutmu, bukankah lantas jadi? Hm, apa kau minta dicoba?"
Begitulah, biarpun dalam keadaan bahaya toh mereka
berdua masih sempat bertengkar.
Tidak lama kemudian Hi-tiok sudah mengangkat Toan Yan-
khing, Lam-hai-gok-sin dan In Tiong-ho ke atas. Paling akhir,
barulah Ong Giok-yan ditarik ke atas.
Kedua mata nona itu tampak terkatup rapat, napasnya
lemah, nyata sudah lama orangnya jatuh pingsan.
Sungguh girang dan lega rasa hati Toan Ki, tapi merasa
penuh kasih sayang pula. Ia lihat kedua pergelangan tangan
Giok-yan matang biru dan ada bekas kuku In Tiong-ho yang
tandas, tiba-tiba ia teringat kepada sifat In Tiong-ho yang
kejam dan suka mengganggu kaum wanita itu, pernah timbul
maksud jahat durjana itu terhadap Bok Wan-jing dan Ciong
Ling, untung setiap kali dapat ditolong oleh Lam-hai-gok-sin,
maka dapat diduga apa yang terjadi barusan tentu akibat
terulangnya perbuatan jahat In Tiong-ho itu.
Karena pikiran demikian, seketika Toan Ki menjadi gemas
terhadap Tiong-ho, segera la berkata, “Toako, Jiko, orang she
In ini paling jahat hendaknya kau bunuh dia saja!"
"He. salah, salah!" seru Lam-hai-gok-sin tiba-tiba, "Toan . .
. Suhu, justru hari berkat bantuan In-Losi sehingga . . . binimu
. . . Sunio ini dapat diselamatkan. Kalau tidak, wah, tentu
binimu sudah mampus sejak tadi!"
Meski kata-kata Lam-hai gok-sin ini tak karuan, tapi orang
sudah dapat menangkap maksudnya.
Tadi betapa kelabakan dan kuatirnya Toan Ki atas
keselamatan Ong Giok-yan sudah dapat diikuti seluruhnya
oleh Bok Wan-jing, sebelum Giok-yan ditarik ke atas saja
Wan-jing sudah muram dan sedih kemudian waktu melihat
kecantikan Giok-yan memang lain daripada yang lain hati Bok
Wan-jing bertambah tak karuan rasanya.
Begitulah tidak lama kemudian Giok-yan membuka mata
dengan perlahan tiba-tiba ia berseru, "Di . . . . di manakah ini?
Apa di sini akhirat?”
"Hus anak dara ini benar-benar ngaco-belo!" kata Lam-hai-
gok-sin. “Kalau di sini akherat, bukankah kita disini sudah
menjadi setan semua? Mumpung belum resmi menjadi bini
Suhuku, biarlah kupanggil engkau sebagai anak dara lebih
sering. He. anak dara, orang baik-baik mengapa mendadak
mencari kematian? Jika kau sendiri yang mati sebenarnya
tidak menjadi soal bagiku paling-paling kamu Cuma urung
menjadi bini Suhuku, tapi hampir saja In losi juga ikut
mampus bersamamu. Andaikan In-losi mampus juga tidak
mengapa, tapi Toan-lotoa juga hampir-hampir ikut lapor
kepada Giam lo ong, ya. bahkan aku Gak-loji juga hampir ikut
mati konyol, Wah sungguh sialan!"
"Nona Ong, sebenarnya bagaimana duduknya perkara?"
tanya Toan Ki kemudian. "Engkau tentu terkejut dan lelah,
silakan mengaso bersandar di batang pohon ini."
Karena Toan Ki menghiburnya dengan suara ramah-tamah,
mendadák Giok-yan menangis sambil menutup mukanya
dengan kedua tangan. Katanya dengan suara terguguk-guguk,
"Kalian tidak perlu mengurus diriku, aku . . . aku tidak ingin
hidup lagi."
Toan Ki terkejut, pikirnya, “Sebab apa dia ingin mati? Wah,
jangan-jangan . . . jangan-jangan . . . . "
Ia coba melirik In Tiong-ho, ketika melihat sikap si durjana
yang buas dan kejam itu, diam-diam ia mengeluh, "Ai, celaka!
Jangan-Jangan nona Ong telah dinodai durjana ini sehingga
dia ingin membunuh diri?”
Tengah Toan KI merasa sangsi, tiba-tiba Ciong Ling tampil
ke muka dan menegur Lam-hai-gok-sin, "He, Gak-losam, baik-
baikkah kamu selama ini!"
"Eh. jebul kau nona cilik ini!" sahut Gok sin dengan girang.
"Baik, baik sekali! Sekarang aku sudah menjadi Gak-loji dan
bukan Gak-losam lagi!"
"Ai, jangan kau panggll aku 'cilik' apa segala," sahut Ciong
Ling. "Gak-losam, kau . . . , "
"Gak-loji!" sela Gak-sin.
"O, ya, Gak-loji, sebab apakah nona ini ingin membunuh
diri? Apakah gara-gara si Jangkung lagi?” tanya Ciong Ling.
"Bukan, Bukan!" berulang Gak-sin menggeleng kepala.
"Demi allah, dalam urusan ini sifat In losi mendadak berubah
dan telah berbuat baik. Sejak kami kehilangan seorang kawan
Yap Ji-nio, Kami menjadi agak kesal. Waktu kami jalan-jalan
sampai di sini, kebetulan kami melihat Anak dara ini sedang
terjun ke bawah jurang. Sekonyong-konyong timbul welas-asih
In losi, dia melompat untuk menarik tangan anak dara itu.
Tetapi daya terjun anak dara itu terlalu hebat, maka . . . si
dasar In losi memang orang maha jahat, sekarang mendadak
berubah baik, rupanya menjadi agak tidak tahu diri . . . . "
"Keparatl" in Tiong-ho memaki dengan gusar, “Sejak kapan
aku pernah berubah menjadi baik? Orang she ln ini paling
suka kepada nona cantik maka ketika kulihat nona Ong ini
hendak membunuh diri, dengan sendirinya aku merasa sayang
jadi maksud tujuanku hendak membawanya pulang untuk
dijadikan kawan hidup."
Seketika Lam-hai-gok-sin berjingkrak, la balas memaki
sambil menuding, "Kamu jahanam bedebah! Sebabnya Gak-
loji mau menjambak rambutmu adalah karena mengira
sifatmu yang beringas berubah baik, jika tahu maksudmu yang
durhaka ini, lebih baik Kubiarkan kau terbunuh mampus saja
dalam jurang itu Untunglah Toan lotoa cukup cekatan,
tongkatnya tepat waktunya diulurkan kepadaku sehingga
sempat kugapai ujung tongkat itu dan tidak sampai terjerumus
dalam jurang. Tapi bobot kita bertiga ada beberapa ratus kati
baratnya, dengan terkontal kantil di udara, akhirnya Toan-
lotoa juga ikut terseret ke bawah syukur tongkatnya sempat
menyanggah dahan pohon siong itu. Dan baru kami hendak
mencari akal untuk naik ke atas tiba-tiba datanglah si gandut
buntak berkapak dari Turfan itu dia terus menebang pohon . .
.”
"Jadi si gendut buntak itu orang Turfan? Sebab apa dia
hendak membikin celaka kalian?” tanya Ciong Ling.
"Cuhh," Gok-sin meludah, "semuanya gara-gara In-losi, dia
masuk Istana raja Se He untuk mengintip putri kemudian ia
menyiarkan hasil perbuataanya itu. katanya putri Sa He itu
secantik bidadari. Nah, tentu saja dunia menjadi gempar.
Pangeran Turfan, juga mendengar berita yeng di siarkan In-
losi itu, dia minta keterangan kepada kami, tapi kami tidak
mau menjelaskan lebih lanjut maka terjadilah pertarungan
sengit dan mengakibatkan jatuh belasan korban di pihak jago-
jago turfan, lantaran itulah kami Sam-ok lantas bermusuhan
dengan orang-orang Turfan.”
Karena cerita Lam-hai-gok-sin ini, maka sedikit banyak
dapatlah semua orang memahami duduknya perkara. Tapi
sebab apa Ong Giok-yan sampai mau bunuh diri hal inilah
yang belum lagi diketahui.
Dalam pada itu Gok-sin berkata pula, "Nona Ong, Suhuku
sudah berada di sini, kalian adalah kenalan lama, lebih baik
menjadi suami-istri saja dan jangan membunuh diri lagi."
Giok-yan mendongak dan menjawab dengan masih
terguguk-guguk, "Jika kamu sembarang mengoceh lag untuk
menghina aku segara aku akan... akan membenturkan
kepalaku pada batu karang itu dan biar mati saja."
"Eh, jangan, jangan!" seru Toan Ki cepat. Lalu ia menoleh
kepada Gak-sin, "Gak-losam, jangan . . . . "
“Gak-loji,” potong Gak-sin.
"Baik, Gak-loji, Jangan sembarangan berkata lagi." kata
Toan Ki. "Kamu telah berjasa menyelamatkan nona Ong,
sungguh Suhu sangat berterima kasih padamu."
Lam-hai-gok-sin melirik Giok yan dengan matanya yang
kecil aneh itu, katanya, "Kamu tidak mau menjadi Ibu guruku?
Ooo. kelak kamu tentu akan ketinggalan! Itu lihat, nona besar
itu dan nona kecil ìni, semuanya sedang berlomba untuk
menjadi ibu guruku."
Sembari berkata ia pun menuding Bok Wan-jing dan Ciong
Ling.
Muka Wan-jing menjadi merah, "Cis!" semprotnya. Lalu
katanya, "He, di manakah siluman jelek itu?”
Tadi semua orang memusatkan perhatian kepada Hi-Tiok
yang menolong Ong Giok-yan ke atas, baru sekarang sesudah
mendengar ucapan Wan-jing itu semua orang mengetahui
bahwa Yu Goan-ci dan A Ci sudah tidak kelihatan lagi.
"Toako. apakah mereka sudah pergi?" Tanya Toan Ki
kepada Siau Hong. Ia kenal sang Toako adalah seorang cerdik
dan penuh waspada, setiap gerak-gerik Goan-ci dan A Ci tentu
tidak terhindar dari pengamatannya.
"Ya, mereka sudah pergi," sahut Siau Hong. "Kamu sudah
berjanji, dengan sendirinya aku tidak dapat merintangi
mereka."
"Hai. Lotoa, tosi, apa kita akan pulang saja?" mendadak
terdengar Lam-hai-gok-sin berteriak kepada Toan Yan-khing
dan In Tiong-ho yang kelihatan berjalan menuju ke arah
Lengciu. Lalu ia berpaling pula kepada Toan Ki dan berkata,
"Aku akan pergi, ya!"
Habis itu ia terus ayun Langkahnya menyusul ke arah Toan
Yan-khing berdua.
"Nona Ong," kata Ciong Ling kemudian "Engkaü tentu
sangat lelah, marilah kita naik kereta saja."
Lalu ia memayangnya menuju kereta yang ditinggalkan
Goan-ci tadi.
Begitulah rombongan mereka lantas meneruskan
perjalanan ke Lengciu. Menjelang magrib sampailah mereka di
dalam kota. Walaupun Lengciu adalah kota raja Se He, tetapi
kalau dibandingkan kota besar dl Tionggoan dengan
sendirinya kalah jauh besar dan ramainya.
Maka rombongan Siau Hong gagal mendapatkan rumah
penginapan. Maklum, kota Lengciu memang tidak besar,
rumah penginapan yang ada telah penuh diisi oleh para
ksatria yang berbondong-bondong datang handak ikut
sayembara. Terpaksa Siau Hong membawa rombongannya
keluar kota dan dengan susah payah akhirnya menemukan
sebuah kelenteng sebagai tempat bermalam. Kaum lelaki
berkumpul dl suatu kamar serambi timur dan kaum wanita
bersatu kamar di sebelah barat.
Sejak betemu kembali dengan Giok-yan sungguh girang
Toan Ki tak terlukiskan, tapi juga gundah-gulana. Malam itu ia
guling-gelantang tak bisa tidur. Yang selalu terbayang olehnya
ialah Ong Giok-yan, Ia pikir, "Sebab apakah nona Ong hendak
membunuh diri? Ai aku harus mencari akal untuk
menghiburnya? Tetapi aku tidak tahu sebab apa dia hendak
mengbunuh diri, dengan cara bagaimana aku harus
menghiburnya?"
Sang dewi malam memancarkan sinarnya yang terang di
tengah cakrawala, sinar bulan itu menembus ke dalam kamar
melalui celah-celah jendela. Saat itu Toan Ki masih guling-
gelantang tak bisa pulas. Akhirnya pelahan ia bangun dan
keluar ke pelataran tengah kelenteng di situ tumbuh dua
batang pohon Waru yang rindang.
Tatkala itu sudah akhir musim panas, tapi di tengah malam
di daerah sekitar Kamsiok hawa terasa agak dingin. Toan Ki
mondar-mandir di bawah pohon waru itu, lamat-lamat ia
merasa luka di dadanya agak sakit, la tahu tentu siang harinya
telah banyak bergerak sehingga membikin luka itu kambuh
kembali.
"Sebab apakah dia ingin bunuh diri?" demikian timbul pula
pertanyaan ini dalam benaknya.
Karena pertanyaan itu tetap sukar dipecahkan, akhirnya ia
melangkah keluar kelenteng. Di bawah sinar bulan yang
terang itu tiba-tiba dilihatnya ada berkelebatnya bayangan
orang di tepi empang sejauhan sana. Samar-samar bayangan
orang itu seperti kaum wanita, bahkan mirip dengan tubuh
Giok-yan.
Toan Ki terkejut, ''Wa. celaka, jangan-jangan dia . . . dia
hendak bunuh diri lagi."
Cepat ia gunakan ginkang untuk memburu ke sana. Segera
dia keluarkan langkah "Leng-po wi-poh" yang ajaib, maka
cepatnya bukan main dan tak bersuara seperti orang meluncur
dalam air, hanya sekejap saja ia sudah berada dibelakang
bayangan orang itu.
Air empang yang tenang dan bening seperti kaca itu
mencerminkan muka orang itu dengan jelas, memang betul
dia adalah Giok-yan.
Toan Ki tidak berani sembarangan menegurnya, pikirnya,
"Ketika di Siau-sit-san dia sudah kadung benci padaku, waktu
bertemu siang tadi dia juga acuh-tak-acuh padaku, mungkin
dia masih marah padaku. Ya, boleh jadi sebabnya dia ingin
membunuh diri adalah lantaran perbuatanku. Jika begitu,
wahai Toan Ki, kamu terlalu kasar terhadap si cantik dan
mengakibatkan dia gundah merana, kamu benar-benar
berdosa!”
Begitulah Toan Ki sembunyi di belakang pohon dan
termangu mangu menyesalkan dirinya sendiri, makin dipikir
makin merasa dosa sendiri tak terampunkan.
Tiba-tiba dilihatnya air empang yang tenang bening itu
tiba-tiba bergelombang halus, lingkaran gelombang itu
pelahan makin meluas. Waktu Toan Ki memperhatikannya
tertampak beberapa tetes air jatuh di permukaan empang.
Kiranya air mata Giok yan.
Toan Ki semakin kasihan. Tiba-tiba terdengar Giok-yan
menghela napas, lalu pelahan bergumam, "Ai, aku . . . aku
lebih baik mati saja agar tidak merana lebih lama."
Sungguh Toan Ki tidak tahan lagi, segera ia keluar dari
tempat sembunyinya dan barkata, "Nona Ong, seratus kali
salah, semuanya aku yang salah, untuk itu diharap engkau
suka memaafkan. Bila engkau masih tetap marah, terpaksa
aku berlulut padamu."
Habis bicara benar saja ia terus berlutut.
Keruan Giok-yan kaget, serunya gugup "He, apa . . . apa
yang kaulakukan? Le . . . lekas bangun. Kalau . . . sampai
dilihat orang kan tidak enak?”
“Asal nona sudi memaafkan aku dan tak akan marah lagi
padaku, baru aku mau bangun" sahut Toan Ki.
Giok yan menjadi heran, katanya, "Maaf apa padamu?
Marah apa padamu? Ada sangkut-paut apa dengan
urusanmu?"
“Kulihat nona sangat sedih, padahal segala apa biasanya
nona selalu gembira ria, kukira akulah yang membikin
Buyung-kongcu merasa tersinggung sehingga nona juga ikut
masgul. Biarlah aku berjanji, bila lain kali bertemu dengan dia
lagi, biarpun dia akán memaki dan menyerangku. Aku akan
kabür saja dan takkan balas menyerang dia."
Giok-yan nampak membanting-bantíng kaki dan berkata.
""Ai, engkau ini me . . . memang tolol. Aku berdüka sendiri,
sama sekali tiada sangkut pautnya denganmu.”
"Jika begitu, jadi nona tidak marah padaku?”
"Sudah tentu tidak!"
"Jika demikian legalah hatiku." kata Toan Ki sambil
berbangkit.
Tapi mendadak hatinya merasa gundah-gelana. Bila Giok-
yan sangat berduka karena dia sehingga memaki dan
memukulnya, bahkan membacoknya dengan golok sekali pun
dia akan rela. Tadi si nona justru menyatakan sedihnya itu
tiada sangkul-pautnya dengan dia. Seketika Toan Ki merasa
hampa seakan-akan kehilangan sesuatu.
Dalam pada itu tampak Giok-yan sedang menunduk air
matanya bercucuran pula.
Toan Ki menjadi terharu dan berkata," Nona Ong,
sebenarnya ada kesulitan apa, lekas katakan padaku. Dengan
segenap tenagaku tentu akan ku selesaikan untukmu, aku
akan berusaha engkau gembira."
Pelahan Giok-yan mengangkat kepalanya, dengan
pandangan yang sayu ia menjawab, “Toan-kongcu, engkau . .
. sangat baik padaku, sudah tentu aku sangat . . . sangat
berterima kasih, Cuma dalam urusan ini sesungguhnya engkau
tak dapat menolong diriku."
"Aku sendiri memang tidak becus apa-apa," ujar Toan Ki.
”Tetapi Siau-toako dan Hi-tiok Jiko, mereka adalah jago silat
kelas wahid, mereka berada di sini semua, mereka sangat baik
padaku, apa yang kau minta tentu akan dikabulkan oleh
mereka. Apa sebenarnya yang membuatmu berduka, coba
katakan, bisa jadi aku dapat membantumu."
Tiba-tiba air muka Giok-yan yang semula pucat itu berjamu
marah, ia berpaling dan tidak berani menatap sinar mata Toan
Ki, kemudian dengan suara yang lìrih lembut berkata, "Dia . .
.dia katanya ingin menjadí Huma kerajaan Se He maka
Kongya-jiko membujuk padaku agar . . . . demi kebangkitan
kembali kerajaan Yan yang baru, terpaksa dia . . . dia harus
kesampingkan kepentingan pribadinya."
Habis berkata, tiba-tlba ia berpalíng kembali dan
mendekap di atas pundak Toan Ki lalu menangis tersedu-
sedan.
Kejut-kejut senang rasa Toan Ki, sedikit pun ia tidak berani
bergerak. Baru sekarang ¡a paham duduknya perkara, tapi ia
lantas terkesima, entah mesti girang atau susah, Kiranya
lantaran Buyung Hok hendak ikut berebut putri Se He, dan
kalau sudah memperistrikan putri Se He, dengan sendirinya
Giok yan tidak terurus lagi.
Dengan sendirinya lantas terpíkir pula, oleh Toan Ki, "Wah,
bila dia tidak jadi diambil istri oleh Piaukonya, boleh jadi dia
akan lebih lunak kepadaku aku tidak berani mengharapkan
memperistrikan día, asal aku senantiasa dapat melihat
wajahnya yang berseri-seri maka puaslah hatiku. Jika dia suka
kepada ketenangan, maka aku akan mengiringi dia pergi ke
pulau terpencil atau gunung yang sunyi dan selalu
berdampingan dengan dia alangkah bahagia dan senangnya
hidup demikian itu?"
Jilid ke-79
Berpikir tentang hidup yang mengembirakan itu, ia menjadi
lupa daratan dan tanpa terasa kaki tangan bertingkah pula.
Giok-yan sampai kaget, ia mundur selangkah, ketika
melihat wajah Toan Ki bergembira ria, ia tambah pedih,
katanya, "Tadinya ku . . . kusangka engkau adalah orang baik,
makanya aku bicara terus terang padamu, tak tahunya engkau
malah . . . malah menyukurkan kemalanganku ini dan malah
mengejek."
”O, tidak, tidak!" sahut Toan Ki cepat, "Langit di atas, bumi
di bawah, boleh mereka menjadi saksi bahwa sekali-sekali aku
tidak menyukurkan kemalangan nasib nona, bila demikian
pikiranmu, biarlah aka terkutuk dan mati tak terkubur."
"Asal hatimu memang tidak bermaksud jelek siapa sih yang
menyuruhmu bersumpah apa segala?” ujar Giok-yan. "Tapi
sebab apakah tìba-tiba engkau tampak gembirà?"
Baru pertanyaan itu dikemukakan ia sendiri lantas paham
juga persoalannya. Segera teringat olehnya bahwa sebabnya
Toan Ki mendadak gembira tentu karena Buyung Hok akan
menjadi menantu raja Se He dan Toan Ki menjadi besár
harapannya untuk mengikat jodoh dengan dirinya.
Tentang Toan Ki sangat kesemsem padanya sudah tentu
Giok-yan sendiri tahu. Cuma perhatiannya selalu terpusat
kepada diri sang Piauko, terhadap cinta Toan Ki yang tak
terbalas itu terkadang ia sendiri pun merada menyesal. Tapi
dalam hati "cinta" memang sekali-kali tak boleh dipaksakan."
Begitulah maka sesudah paham sebabnya Toan Ki
berjingkrak senang Giok-yan menjadi malu dengan muka
bersemu merah ia mengomel, "Meski engkau tidak mengejek
aku, tapi kaupun tidak bermaksud baik, Aku . . . aku . . . . "
Sampai di sini ia tidak sanggup meneruskan lagi.
Toan Ki terkesiap, diam-diam ia mencerca dirinya sendiri,
"Wahai Toan Ki kenapa tiba-tiba timbul pikiranmu serendah itu
dan bermaksud menggagap ikan di air keruh,” Orang lain
sedang tertimpa kemalàngan tapi aku malah bergirang?
Bukankah perbuatanmu itu sangat memalukan?"
Melihat Toan Ki termenung-menung dengan suara
perlahan Giok-yan bertanya, "Apakah ucapanku tadi salah dan
engkau marah padaku?"
"O, ti . . . tidak, mana bisa kumarah padamu," sahut Toan
Ki.
“Habis, mengapa engkau diam saja?"
"Aku . . . . aku sedang memikirkan sesuatu," kata Toan Ki.
Diam-diam ia sedang menimang-nimang "Kalau
dibandingkan Buyung-kongcu terang aku kalah segalanya,
baik ilmu sìlat mau pun ilmu sastra, kalah ganteng dan kalah
nama, apalagi mereka berdua adalah famili sendiri dan teman
bermain sejak kecil, sudah lama mereka saling menyukai
dalam hal ini lebih-lebih aku bukan tandingannya. Tapi ada
suatu hal aku harus mengalahkan Buyung-kongcu. Ya, supaya
sampai tua pun dalam lubuk hati nona Ong akan tetap
teringat kepadaku bahwa di dùnia ini satu-satunya orang yang
selalu berpìkir demi kepentingannya tiada orang lain kecuali
aku, Toan Ki."
Sesudah ambil ketetapan itu segera ia berkata pula, "Nona
Ong, jangan berduka lagi, biarlah aku berusaha menasehati
Buyung-kongcu supaya dia jangan menjadi Huma kerajaan Se
He dan supaya dia lekan menikah denganmu saja."
Giok-yan terkejut, sahutnya, "He. tidak! Mana boleh jadi?
Piauko justru sangat benci padamu tidak mungkin dia mau
menerima nasehatmu itu."
"Biarlah aku nanti memberi ceramah padanya akan
kukatakan bahwa hidup manusia di dunia ini paling penting
adalah kecocokan antara suami istri keduanya harus cinta
mencintai, Padahal selamanya dia tìdak kenal putri Se He tidak
akan tahu putri itu jelek atau cantik, apakah baik atau jahat
andaikan menjadi istrinya tentu takkan bahagia. Sàbaliknya
akan kukatakan bahwa nona Ong cantik molek, halus budi dan
bijaksana seluruh dunia sukar mencari bandingannya. Apalagi
engkau sangat cinta padanya, masa día tega mengingkarimu
sehingga akan dicaci-maki oleh kaum ksatria di dunia íni?"
Giok-yan sangat terharu mendengar uraian itu katanya
lirih, "Toan-kongcu, engkau memuji díriku hanya untuk
menyenangkan hatiku saja."
"Bukan! Bukan!" sahut Toan Ki cepat. Dan begítü kata-kata
itu diucapkan, segera ia merasa nada sendiri itu ketularan
kebiasaan Pau Püt-tong, ia tertawa geli sendiri lalu
menyambung, "Aku benar-benar berkata dengan setulusnya,
sedikit pun tidak pura-pura untuk menyenangkan hatimu."
Rupanya Giok-yan juga geli oleh ucapan "bukan-bukan"
itu, dari menangis ia menjadi tertawa katanya, "Kenapa
engkau menirukan kebiasaan Pau-samko yang jelek?"
Toan Ki kegirangan melihat si nona tertawa, katanya,
"Pendek kata aku pasti akan membujuk Buyung-kongcu agar
menarik kembali maksudnya hendak menjadi menantu
kerajaan Se He dan lebih baik menikah dengan nona saja."
"Dengan perbüatanmu ini, sebenarnya apa tujuanmu? Apa
sih faedahnya bagimu?" tanya Giok Yan.
”Asal kulihat nona bergembira ria dan tertawa, itu sudah
cukup bagiku,” sahut Toan Ki.
Giok-yan terkesiap, ia merasa jawaban yang sederhana itu
justru sangat tandas melukiskan betapa cinta pemuda itu
kepadanya. Tapi karena segenap perhatiaan Giok-yan telah
dicurahkan kepada Buyung Hok seorang, walaupun terharu
seketika, tapi segera terlupa pula.
Katanya kemudian dengan menghela napas. "Engkau tidak
tahu jalan pikiran Piaukoku. Dia memandang usahanya
membangun kembali kerajaan Yan sebagai tugas utama
hidupnya. Dia bilang seorang lelaki sejati harus
mengutamakan perkembangan dan pemupukan pergerakan,
kalau selalu memikirkan urusan lelaki dan perempuan, itu
bukanlah pahlawan. Dia bilang baik putri Se He itu secantik
bidadari atau sejelek setan, pendek kata dia tidak pikirkan,
yang utama ialah dapat membantu dia membangun kembalí
kerajaan Yan."
”Hal itu memang juga betul," pikir Toan Ki. "Keluarga
Buyung mereka senantiasa ingin menjadi raja, Se He memang
dapat membantu usahanya membangun kembali kerajaan
Yan, urusan nona Ong menjadi . . , menjadi agak sulit."
Ia lihat air mata Giok-yan berlinang-linang pula, segera ia
membusungkan dada dan berkata, "Nona. sudah jangan
kuatir. Biarlah aku saja yang menjadi menantu kerajaan Se
He. Dengan demikian, karena tidak berhasil menjadi Huma,
dia terpaksa akan menikah denganmu."
"Hah, apa?'' seru Giok-yan terkejut dan bergirang.
"Aku akan ikut sayembara dan merebut putri Se He," sahut
Toan Ki.
Ketika di Siau-sit-san Toan Ki telah mengalahkan Buyung
Hok dengan Lak-meh-sin-kiam, kejadian itu disaksikan sendiri
oleh Giok-yan, kalau sekarang Toan Ki benar-benar ikut
perlombaan sayembara, rasanya sang Piaoko akan gagal cita-
citanya untuk menjadi menantu raja Se He.
Karena pikiran demikian, segera Giok-yan berkata dengan
suara pelahan, "O, Toan-kongcu, engkau benar-benar sangat
baik padaku. Tapi . . . . tapi dengan demikian engkau tentu
akan dibenci sekali oleh Piaukoku."'
"Tidak menjadi soal, toh sekarang juga dia sudah sangat
benci padaku," sahut Toan Ki.
"Tadi kukatakan putri Se He itu entah cantik entah jelek,
jika engkau menjadi suaminya, bukankah akan membikin
susah padamu?''
"Demi dirimu, biar bagaimana juga aku rela
menangungnya," demikian mestinya hendak dikatakan Toan
Ki. Tapi sebelum terucapkan, tiba-tiba terpikir olehnya, ''Apa
yang kulakukan ini jika sengaja untuk membuat kau utang
budi padaku bukankah perbuatan demikian terlalu rendah?"
Karena itu lantas katanya,'"Aku tidak akan susah, sebab
ayahku telah memerintahkan padaku agar berusaha ikut
berebut putri Se He, jadi aku cuma melaksanakan perintah
ayah dan tiada sangkut-pautnya denganmu."
Giok-yan adalah nona yang pintar dan cerdik, demi cinta
Toan Ki rela berkorban baginya, walaupun di mulut Toan Ki
tidak menonjolkan hal ini. Tanpa terasa ia genggam tangan
pemuda itu dan berkata, "O, Toan-kongcu, hidupku ini tak
dapat kubalas kebaikanmu se . . . semoga dalam jelmaan
hidup yang akan datang . . . . "
Berkata sampai di sini, suaranya menjadi parau dan
tenggorokan serasa tersumbat, ia tidak sanggup meneruskan
lagi.
Sudah beberapa kali kedua muda-mudi ini bahu-membahu
menghadapi bahaya dan selalu berdampingan, apa yang
pernah terjadi itu adalah terpaksa, sebaliknya sekali ini Giok-
yan sendiri yang terharu, perasaannya timbul dengan
sewajarnya sehingga menggenggam tangan Toan Ki dengan
erat.
Seketika Toan Ki merasa tangannya dipegang oleh tangan
yang halus dan lemas, untuk sejenak ia menjadi lupa daratan,
saat itu biarpun langit akan ambruk juga tak dihiraukannya
lagi Ia pikir si nona sedemikian baik padaku, jangankan Cuma
mengambil istri putri Se He, sekalipun putri kerajaan Song,
kerajaan Liau, kerajaan Koran dan kerajaan Turfan sekalígus
menjadi istriku juga boleh.
Begitulah, saking senangnya, darah lantas bergolak,
padahal lukanya belum sembuh sama sekali maka kepala
menjadi puyeng, badan terhuyung-huyung dan "byuurr”, ia
terperosot dan kecebur ke dalam empang.
Keruan Giok-yan kaget, serunya, "He, Toan-kongcu! Toan-
kongcu!”
Untung air empang itu sangat cetek, karena terendam air
dingin pikiran Toan Ki menjadi jernih, cepat ia merangkak
bangun dengan basah kuyup.
Dan karena teriakan Giok-yan tadi semua orang yang tidur
dalam kelenteng sama terjaga bangun. Siau Hong, Hi-tiok, Pah
Thlan-sik, Cu Tan-sin dan lain-lain sama berlari keluar. Ketika
melihat keadaan Toan Ki yang serba runyam dan air muka.
Giok-yan tampak merah jengah, diam-diam semua orang
merasa geli, mereka menyangka kedua muda-mudi itu sedang
main pat-gulpat di tengah malam sunyi, maka mereka pun
tidak enak untuk bertanya . . . .
Esoknya adalah tanggal 12 bulan, delapan jadi masih ada
tempo tiga hari baru tiba hari Tiongciu. Pagi-pagi Pah Thian-
sik sudah masuk kota untuk mencari berita. Waktu-lohor ia
pulang kembali ke kelenteng dan memberi lapor kepada Toan
Ki, "Kongcu, surat lamaran Ongya telah hamba sampaikan
lepada Le-poh (bagian protokol) dan hamba telah diterima
oleh menteri Le-poh dengan ramah beliau menyatakan adalah
suatu kehormatan besar bagi Se He karena Kongcu mau ikut
melamar putri mereka dan besar kemungkinan cita-cíta
Kongcu akan terkabul."
Tidak lama kemudian, tíba-tiba terdengar riuh ramai di lúar
kelenteng, menyusul ada suara alat tetabuhan pula. Waktu
Thian-sik dan Tan-sin memapak keluar kiranya To silong
(menteri To) dari Le-poh datang untuk menyambut Toan Ki ke
tempat penginapan yang disediakan bagi tamu-tamu agung
kerajaan.
Siau Hong adalah Lam-ih Tai-ong Kerajaan Liau, kalau Se
He mengetahui kedatangannya tentu akan menyambutnya
dengan lebih meriah dan menghormat. Cuma dia telah pesan
kawan-kawannya agar jangan membocorkan kedudukannya,
maka dia dan Hi-Tiok dan lain-lain cuma mengaku sebagaí
pengiring Toan Ki dan bersama-sama pindah ke pondok tamu
asing.
Belum lama mereka mengaso di tempat baru, tiba-tiba
terdengar di ruang belakang sana ada suara caci maki orang,
'Hm, kamu ini kutu macam apa? Kamu juga berani mengincar
putri Se He? Biarlah kukatakan padamu bahwa Huma kerajaan
Se He ini sudah pasti akan diduduki oleh pangeran kami,
kukira kalian lekas merat saja dari sini mencawat ekor!"
Pah Thian-sik dan lain-lain menjadi gusar, mereka tidak
tahu siapakah berani mencaci-maki secara kasar demikian.
Ketika mereka membuka pintu, tertampaklah di pekarangan
sana berdiri tujuh atau delapan lelaki kekar kasar dan sedang
bergembar-gembor tak keruan.
Thian-sik dan Tan-sin adalah pendekar-pendekar Taili yang
terhitung paling pintar dan cerdik. Mereka tidak bersuara,
hanya berdiri di depan pintu saja untuk mendengarkan lebih
jauh. Terdengar caci-maki kawanan lelaki kasar itu makin lama
makin kotor, terkadang juga diselingi dengan kata-kata yang
tak dikenal, agaknya mereka adalah anak buah pangeran
Turfan.
Selagi Thian-sik berpikir cara bagaimana menggebuk pergi
kawanan lelaki itu, mendadak pintu kamar dipojok kiri sana
terdengar dibuka orang dengan keras, menyusul dua orang
melompat keluar, seorang berbaju kuning dan yang lain
berbaju hitam. Keduanya terus menghantam sana dan
menendang situ, hanya dalam sekejap saja tiga. Di antara
kawanan lelaki yang mencaci-maki tadi sudah dirobohkan.
sisanya juga kena dihantam dan dilempar keluar pintu sana.
“Puas! Puas!” seru si lelaki berbaju kuning.
Kiranya mereka adalah Hong Po-ok dan Paù Put-tong.
Mendengar suara kedua orang itu, Giok yan yang berada di
dalam kamar menjadi bimbang, ia bingung apa mesti keluar
untuk bertemu dengan mereka atau tidak.
Dalam pada itu terdengar jago-jago Turfan yang diusir
keluar ítu masih berkaok-keok, "He, manusia she Buyung,
kami kira kamu lebih baik pulang kandang ke Koh-soh saja.
Jangan timbul pikiran hendak memperistrikan putri Se He, Jika
sempat Pangeran kami menjadi gusar menggunakan caramu
untuk diperlakukan atas dirimu dan mengambil adik
perempuanmu sebagai bini muda, maka barulah kamu akan
tahu rasa nanti!"
Hong Po-ok menjadi gemas karena caci-maki yang
demikian kotor itu, segera ia mengudak keluar. Maka
terdengarlah suara "plak-plok, blak-bluk” berulang-ulang,
jago-jago Turfan itu telah dihajar hingga lari tunggang-
langgang.
Tiba-tiba Put Pat-tong memberi hormat kepada Thian-sik
dan Tan-sin dan menyapa, "kiranya Pah-heng dan Cu-heng
juga berada di sini, apakah kalian cuma ingin lihat ramai-ramai
atau mempunyai tujuan lain?"
"Apa tujuan kedatangan Pau-heng sendir¡, begitu pula
maksud tujuan kami," sahut Thian sik.
Air muka Put-tong berubah seketika, tanvanya, "Apakah
Toan-kongcu dari Taili juga ingin melamar putri Se He?"
"Ya," sahut Thian sik. "Kongcu kami adalah putra mahkota
Taili, beliau adalah ahliwaris satu-satunya Sri Baginda yang
sekarang, bila kelak beliau naik tahta bukankah akan
merupakan besanan yang setimpal dengan kerajaan Se He.
Sebaliknya Buyung kongcu hanya jejaka yang tak punya
sandaran apa-apa, meski orangnya cakap tapi bukan keluarga
yang setimpal."
Air muka Pau Put-tong tambah kelam, katanya, "Bukan,
bukan! Kamu cuma tahu satu tapi tidak tahu dua. Kongcu
kami adalah pemuda pilihan di antara kaum pemuda, mana
bisa dibandingi pemuda ketolol-tololan seperti Kongcu kalian?”
"Samko," tiba-tiba Hong Po ok berlari masuk kembali,
"buat apa bertengkar dengan mereka, toh besok akan
diadakan perlombaan di depan baginda raja, biarlah nanti
masing-masing pihak keluarkan kepandaian sejati saja."
”Bukan, bukan!" sahut Put-tong. "Perlombaan di hadapan
baginda raja adalah urusan para Kongcu, sedangkan
pertengkaran mulut ini adalah kewajiban kita."
”Hahaha, soal pertengkaran mulut memang harus diakui di
dunia ini tiada seorang pun mampu melawan Pau-heng, nah,
Siaute terima mengaku kalah padamu," ujar Thian-sik dengan
tertawa.
Dan selagi Pau Put-tong hendak "bukan-bukan” pula,
namun Thian-sik sudah mengundurkan diri ke dalam kamar
bersama Tan sin. "Cu hiante" katanya kemudian, "kalau
menurut kata-kata Pau Put-tong tadi. agaknya Köngcu masih
harus mengikuti pertandingan secara terbuka, padahal luka
Kongcu belum sembuh, sedangkan kungfunya juga terkadang
manjur dan terkadang tidak, bila dalam pertandmgan nanti
Lek-meh-sin kiam tak bisaj dikeluarkan, bukan saja tidak
berhasil menjadi Huma, bahkan jiwanya berbahaya pula, maka
bagaimana menurut pendapatmu?"
Tan-sin juga tak berdaya, terpaksa mereka pergi
membicarakannya dengan Siau Hong dan Hi-tiok.
Menurut Siau Hong, kalau cara pertandingan nanti dapat
diketahui tentu akan lebih mudah mengatur siasat untuk
menghadapinya.
"Jika begitu, marilah Cu-hiante, kita coba pergi tanya
keterangan kepada To silong tentang peraturan pertandingan
itu," ajak Thian-sik segera besama Tan-sin mereka bergegas
pergi.
Siau Hong, Hi tiok dan Toan Ki duduk bersama dan minum
arak sambil mengobrol. Tiba-tiba Siau Hong tanya Toan Ki
tentang pengalamannya memperoleh Lak-meh-sin-kiam itu
dengan maksud hendak mangajarkan semacam cara
mengarahkan tenaga agar adik angkat itu dapat
menggunakan Lak-meh-sin-kiam dengan sesuka hati.
Tak terduga dalam hal teori Iwekang dan sebagainyà sama
sekali Toan Ki tidak paham sehingga sukar untuk
mempelajarinya dalam waktu singkat. Karena tak berdaya,
Siau Hong hanya menggeleng-geleng kepala saja dan
menenggak arak pula.
Kekuatan minum Hi-tiok dan Toan Ki sudah tentu bukan
tandingan Siau Hong maka baru dua-tiga mangkuk saja Toan
Ki sudah menggeletak tak sadarkan diri.
Ketika ia siuman kembali dengan mata yang merah ia lihat
sinar bulan telah menembus masuk melalui celah-celah
jendela, nyata waktu itu sudah tengah malam. Toan Ki
terkesiap, "Semalam aku belum selesai bicara dengan nona
Ong dan keburu tercebur ke dalam empang, entah dia masih
ingin omong apa lagi padaku? Apa tidak mungkin dia sedang
menantikan aku pula di luar sana? Ai, celaka jangan-jangan
dia sudah menunggu terlalu lama dan sekarang sudah kembali
ke kamar karena tidak sabar menanti?"
Buru-buru ia lompat bangun. Saking tergesa-gesanya
sampai hampir hampir-hampir menubruk kursi di depan
tempat tidurnya. Cepat ia tenangkan diri agar tidak membikin
kaget kawan-kawannya dan pelan ia keluar kamar.
Sesudah melintasi pekarangan tengah dan selagi hendak
membuka pintu luar, tiba-tiba terdengar suara orang berbisik
dibelakangnya, "Toan-kongcu, mar¡lah ikut padaku, aku ingin
bicara denganmu.”
Karena tidak menduga-duga, karuan Toan Ki kaget. Ia
dengar suara orang tidak bermaksud baik, segera ia hendak
berpaling, tapi mendadak hiat-to pinggang dlcengkeram orang
dengan keras.
Samar-samar Toan Ki dapat mengenali orang itu, ia coba
tanya, "Apakah engkau Buyung-kongcu?"
"Memang betul aku adanya," sahut orang itu. "Dapatkah
Toan-heng ikut sebentar padaku?"
"Masakah aku berani menolak undangan Buyung-kongcu?"
sahut Toan Ki. "Kuharap sukalah kau lepaskan tanganmu."
"Tidak perlu lagi!” kata Buyung Hok. Mendadak Toan Ki
merasa tubuhnya terapung, agaknya Buyung Hok telah
mencengkeram punggungnya dan dibawa melompat ke atas.
Pada saat demikian kalau Toan Ki mau berteriak tentu Siau
Hong dan Hi-tiok akan terjaga bangun dan datang
menolongnya. Tapi ia pikir, "Jika aku berteriak, tentu nona
Ong akan mendengar juga dan tentu dia akan kurang senang
bila melíhat kami berdua bertengkar. Pasti dia takkan marah
pada Piaukonya melainkan akulah yang akan menjadi sasaran
kemarahannya, maka buat apa aku mencari penyakit?"
Karena itu ia tidak jadi bersuara, Ia membiarkan dirinya
dibawa Buyung Hok dan berlari keluar sana. Walaupun tengah
malam, tapi waktu itu sudah dekat hari Tiongciu, sinar bulan
terang benderang, pemandangan sekitar cukup tertampak
jelas. Ia lihat Buyung Hok berlarí-lari ke luar kota, akhirnya
jalan di kedua tepi kelihatan rumput melulu. Tidak lama
kemudian, mendadak Buyung Hok berhenti dan melemparkan
Toan Ki ke tanah.
"Bluk", Toan Ki terbanting dan meringis kesakitan,
pikirnya, "Orang ini kelihatannya ramah tamah, tapi
kelakuannya ternyata begini kasar."
Segera ia merangkak bangun sambil memegang pinggang
yang sakit, katanya, "Segala urusan boleh Buyung heng
bicarakan dengan baik-baik, mengapa mesti main kasar?"
"Hm, ingin kutanya padamu, apa yang kau bicarakan
dengan Piaomoaiku selama ini?" jengek Buyung Hok.
Muka Toan Ki menjadi merah, sahutnya, “O, tidak . . .
tidak apa-apa, hanya bertemu secara kebetulan dan omong-
omong iseng saja."
"Huh, seorang lelaki sejati, berani berbuat berani
bertanggung jawab, apa yang sudah kau katakan, mengapa
tidak berani mengaku?” ejek Buyung Hok. "Memangnya kau
sangka aku tidak tahu? Hm, kau bicara tentang suami-lstri apa
segala, apakah perlu kuuraikan seluruhnya?"
"Hah, jadi . . . jadi nona Ong memberitahu seluruhnya
padamu?" Toan Ki menegas dengan gelagapan.
"Mana bisa dia katakan padaku!"
"Jika. . . jika begitu, jadi se . . .semalam kau sendiri
mendengarkan semua?"
"Hm, kamu hanya dapat mengapusi nona yang masih
hijau, tapi jangan harap dapat mendustai diriku?” jengek
Buyung Hok.
"Aku dusta tentang apa?" tanya Toan Ki dengan heran.
''Bukankah urusan sudah sangat gamblang.” sahut Buyung
Hok. "Kau sendiri ingin menjadi Huma kerajaan Se He, tapi
takut aku berebut denganmu. maka kamu sengaja mengarang
ocehan yang muluk-muluk untuk memancing aku süpäya
masuk perangkapmu. Hehe, Buyung Hok bukan anak kecil
umur tiga masakah dengan begitu muda dapat kau jebak?
Haha, kamu benar-benar lagi mimpi di siang bolong!"
"Ai. apa yang kukatakan kepada nona Ong itu timbul
setulus hatiku, kuharap engkau dapat menikah dengan dia dan
hidup bahagia sampai hari tua, lain tidak," ucap Toan Ki.
"Terima kasih atas mulutmu yang manis," kata Buyung
Hok. "Tapi Koh-soh Buyung dengan keluarga Toan dari Taili
bukan sanak bukan kadang, buat apa kamu mesti memberi
pujian dan restu sebaik ini? Huh, jika aku sampai tergoda oleh
Giok-yan maka kaulah yang akan menarik keuntungannya dan
menjadi Huma yang diagungkan ya?"
Muka Toan Ki menjadi merah, sahutnya, "Ngaco-belo,
Jelek-Jelek aku adalah pangeran Taili, meski Taili itu negeri
kecil, tidak nanti kuincar Huma kerajaan Se He. Buyung-
kongcu, aku benar-benar memberi nasehat padamu, segala
kedudukan dan kemewahan dalam waktu singkat saja akan
tamat, orang hidup dapat bertahan berapa lama? Andaikan
kau dapat menjadi Huma kerajaan Se He dan dapat naik tahta
sebagai raja Yan, untuk itu entah berapa banyak orang yang
kau bunuh? Sekalipun negeri Tionggoan ini kau sapu bersih
sehingga terjadi banjir darah, apakah kerajaan Yan dapat kau
bangun kembali, hal ini juga masih disangsikan."
Buyung Hok ternyata tidak gusar, ia lalu menjawab dengan
nada dingin, "Hm, kamu selalu bicara tentang kebaikan, tapi
dalam hatimu sebenarnya berbisa."
"Apa mau dikatakan lagi jika engkau tidak percaya pada
maksud baikku," ujar Toan Ki. "Pendek kata aku takkan
membiarkan engkau memperistrikan putri Se He, aku tidak
dapat membiarkan nona Ong berduka dan merana lantaran
dirimu sehingga membunuh diri."
"Kau larang aku memperistrikan putri Se He? Haha, apa
kamu mempunyai kemampuan untuk melarang aku? Hm, aku
justru hendak memperistrikan putri Se He, kau mau apa?”
"Aku pasti akan merintangi maksudmu itu dengan sepenuh
tenagaku," sahut Toan Ki. "seorang diri memang aku tak
berdaya, tapi aku akan minta bantuan kawan-kawanku!"
Buyung Hok terkesiap ia cukup tahu betapa lihai ilmu silat
Siau Hong dan Hi-tiok, Bahkan Toan Ki sendiri dengan Lak-
meh-sin-kiam juga sukar dilawan, untung kepandaian lawan
ini terkadang manjur dan terkadang macet sehingga masih
gampang dihadapi.
"Eh, P¡aumoai, mari sini, ingin kubicara denganmu!” tiba-
tiba ia berseru ke arah sana.
Mendengar Giok-yan berada di situ, Toan Ki terkejut dan
bergirang, cepat ia menoleh. Tapi yang tertampak hanya sínar
bulan yang terang benderang dan tiada satu bayangan
manusia pun.
Baru saja ia mengamat-amati semak-semak pohon di
depan sana yang tampaknya seperti ada berkelebatnya
bayangan orang, sekonyong-konyong punggungnya serasa
kencang lagi, kembali ia dicengkram oleh Buyung Hok, bahkan
badan diangkat pula. Baru sekarang Toan Ki merasa tertipu,
katanya dengan tersenyum getir, "kembali engkau main kasar
lagi, ini kan bukan perbuatan seorang laki-laki sejati?"
"Terhadap manusia rendah sebagai dirimu kenapa masti
pakai cara laki-laki sejati?" sahut Buyung Hok. Lalu ia angkat
tubuh Toan Ki dan menuju ke tepi jalan, di situ terdapat
sebuah sumur mati tanpa bicara lagi ia lemparkan Toan Ki ke
dalam sumur itu.
"Tolong!" segera Toan Ki berteriak-teriak, tapi tubuhnya
lantas terjerumus ke dalam sumur.
Dan baru saja Buyung Hok hendak mencari beberapa
potong batu besar untuk menutup lubang sumur agar Toan Ki
mati kelaparan di dalam situ tiba-tiba terdengar suara seorang
wanita menegurnya, "Piauko, rupanya engkau telah
mempergoki aku? Apa kau ingin bicara sesuatu denganku? Ai,
engkau melemparkan Toan kongcu ke dalam sumur?"
Melihat pendatang ini memang betul Giok-yan adanya,
kening Buyung Hok bekernyit. Waktu ia pura-pura menyebut
sang Piaumoai tadi tujuannya cuma ingin memancing agar
Toan Ki menoleh lalu ia dapat mencengkram hiat-to punggung
pemuda itu dengan mudah, Siapa duga Giok-yan benar-benar
sembunyi di semak-semak pohon sana (yaitu bayangan yang
tertampak oleh Toan Ki tadi).
Ketika mendengar namanya dipanggil, Giok-yan mengira
tempat sembunyinya diketahui Buyung Hok, maka ia lantas
keluar dari tempat sembunyinya.
Rupanya karena hati sedang risau maka selama beberapa
malam ini Giok-yan tak bisa pulas. Tadi ia sedang termenung-
menung di ambang jendela, maka kejadian Toan Ki
dicengkeram Buyung Hok dan dibawa lari dapat dilihatnya, Ia
kuatir kedua orang akan bertengkar lagi sehingga akhirnya
Buyung Hok tak mampu melawan Lak-meh-sin-kiam Toan Ki,
maka cepat ia menyusul keluar dan dapät mengikuti
percakapan Toan Ki dengan Buyung Hok tadi.
Begitulah ia lantas berlari-lari mendekati sumur, ia
melongok ke bawah dan berseru, "Toan Kongcu! Toan-
kongcu! Engkau terluka tidak?”
Waktu dilemparkân ke dalam sumur tadi Toan Ki berada
dalam keadaan terjungkir, kepala di bawah dan kaki di atas.
Untung dasar sumur itu hanya lumpur lunak sehingga
kepalanya tidak pecah, tapi seketika ia pun terbanting pingsan
sehingga seruan Giok-yan itu tak didengarnya.
Sesudah mengulangi seruannya beberapa kali dan tidak
mendapat jawaban, Giok-yan mengira Toan Ki sudah
terbanting mati. Bila teringat selama ini pemuda itu sangat
baik padanya, kematiaanya ini pun boleh dikatakan lantaran
dia, maka menangislah Giok-yan, katanya, "O, Toan-kongcu,
engkau . . . tak boleh mati!”
"Hm, ternyata sedemikian mendalam cintamu padaku?''
jengek Buyung Hok.
"Dia . . . dia menasehatimu dengan baik, Ken . . . kenapa
kau bunuh dia?" kata Giok yan dengan terguguk-guguk.
"Dia adalah lawanku yäng paling besar, bukankah kau
dengar pernyataannya yang hendak merintangi tujuanku
dengan mati-matian?" sahut Buyung Hok. "Tempo hari ketika
di Siau sit-san dia membikin aku malu habis-habisan sehingga
Buyung Hok sukar menancap kaki lagi di dunia kangouw,
orang macam begini sudah tentu tak bisa kubiarkan hidup."
"Kejadian di Siau ilt-san itu memang salah dia, untuk itu
aku sudah pernah mendampratnya dan dia juga telah
mengaku salah."
"Hm. dia mengaku salah? Hanya ucapan begitu lantas
hendak menyelesaikan permusuhan ini? Padahal setiap orang
kangouw sudah sama mengatakan bahwa aku Buyung Hok
dikalahkan oleh Lak-meh-sin-kiam keluarga Toan mereka,
coba kau plklr, apa aku masih bisa hidup bahagia?"
"Piauko, kalah atau menang adalah soal biasa bagi orang
persilatan, kenapa mesti dipikirkan selalu?" ujar Giok-yan
dengan suara halus. "Kejadian tempo hari itu pun telah
diketahui ayahmu dan beliau juga memberi petuah padamu,
buat apa engkau mengungkitnya lagi."
Karena masih meragukan mati-hidupnya Toan Ki, kembali
ia melongok ke dalam sumur dan seru pula, "Toan kongcu!
Toan-kongcu!" Tapi tetap tidak mendapat jawaban apa-apa.
"Sedemíkian kau perhatikan dia, lebih baik kamu menjadi
istrinya saja, buat apa mesti pura-pura suka padaku?" kata
Buyung Hok.
Giok-yan menjadi pedih, sahutnya, "Piauko, aku cinta
padamu dengan hati yang murni, apa engkau tidak percaya?"
"Cinta padaku dengan hati murni? Haha! Tempo hari waktu
berada di rumah penggilingan di tepi Thian-oh, waktu kau
sembunyi dalam onggok jerami dengan telanjang bulat
bersama orang she Toan ini. coba katakan, apa yang kau
lakukan di sana? Apa yang terjadi itu kusaksikan dengan
mataku sendiri, masakah hanya secara kebetulan saja?
Tatkala itu aku hendak membinasakan bocah she Toan ini,
tapi kau beri petunjuk padanya untuk melawan aku. Coba
jawab, berkiblat kepada siapa hatimu sebenarnya? Haha,
haha!"
Giok-yan terkesima saking kagetnya, Ia menegas dengan
suara gemetar, "jadi . . . jadi jago Se He yang berkedok di . . .
di rumah gilingan itu adalah . . . adalah . . .”
"Benar, jago Se He berkedok yang mengaku bernama Li
Yan cong itu bukan lain adalah samaranku," sahut Buyung
Hok.
"Pantas, memangnya aku pun merasa sangsi waktu itu,"
demikian kata Giok-yan dengan suara pelahan seperti
berguman sendiri. "Waktu itu engkau berkata, 'Bila kelak aku
menjadi raja di seluruh Tionggoan', kata-kata demikian persis
nadamu biasanya, aku . . . aku seharusnya mengetahuinya
pada waktu itu."
"Hm, meski kamu tidak tahu pada waktu itu, baru
sekarang mengetahui juga belum terlambat," jengek Buyung
Hok.
"piauko." kata Ciok-van. "Waktu itu aku kena racun kabut
yang di sebarkan oleh orang Se He dan berkat pertolongan
Toan-kongcu barulah jiwaku di selamatkan. Di tengah jalan
kami kehujanan dan basah kuyup, terpaksa berteduh di rumah
gilingan itu, ken . . . kenapa engkau menaruh curiga."
"Hm, kehujanan dan berteduh?” dengus Buyung Hok,
"Waktu aku tiba kalian berdua masih main sembunyi dan pat-
gulipat di situ. Bahkan ketika aku hendak membunuh bocah
she Toan kamu mangancam aku akan menuntut balas
baginya. Nona Ong, karena ancamanmu itulah aku
mengampuni jiwanya. Tak terduga hal itu telah menjadi
penyakit bagiku, akhirnya aku malah terjungkal habis-habisan
di tangannya waktu ketemu lagi di Siau-sit-san."
Mendengar sang piauko tidak memanggil namanya, tapi
menyebutnya sebagai "nona Ong'', Giok-yan tambah pedih
dasar wataknya memang peramah ia tidak ingin bertengkar
dengan sang piauko yang dicintai dan dihormati ini, maka
jawabnya, "Piauko, kalau waktu itu aku mengenali dirimu,
sudah tentu àku takkan mengemukakan pernyataan itu
padamu. Untuk kesalahan itu, biarlah sekarang aku minta
maaf."
Sembari berkata ia memberi hormat, lalu menyambung
pula, "Takkala itu sungguh aku tidak tahu dirimu, tentu
engkau takkan marah pula. Sejak kecil aku menghormatimu,
segala apa aku pun selalu menurut padamu. Maka kata-kataku
yang menyinggung perasaanmu janganlah kau pikirkan dan
sudilah memaafkan."
Apa yang diucapkan Giok-yan dahulu itu memang
menyinggung perasaan Buyung Hok yang angkuh dan tinggi
hati. Sekarang mendengar si nona mohon maaf dengan kata-
kata halus dilihatnya wajah si nona yang cantik molek itu,
teringat pula hubungan baik sejak masih kanak-kanak, mau-
tak-mau hati Buyung Hok menjadi lemas, segera ia memegang
kedua lengan Giok-yan dan berkata, "Piaumoai!"
Sungguh girang Giok-yan tak terkirakan, ia tahu sang
Piauko telah memaafkan dia, terus saja ia menjatuhkan diri ke
pelukan sang Piauko, katanya lirih, "Piauko, jika engkau marah
padaku, boleh engkau damprat dan menghajar diriku, tapi
jangan dendam dalam hati. Piauko, engkau tidak jadi ikut
berebut Huma lagi bukan?”
Semula Buyung Hok menjadi mabuk ketika memeluk tubuh
si nona yang montok dan halus itu, tapi demi mendadak
ditanya tentang Huma segala, seketika hatinya tergetar,
katanya dalam hati, 'Wah, celaka! Wahai Buyung Hok,
mengapa engkau tengelam dalam urusan demikian sehingga
hampir-hampir membikin urusan penting menjadi runyam. Jika
sedikit persoalan pribadi begini saja tak tega memutuskan,
darimana kau dapat bicara tentang pergerakan bagi
kebangkitan kerajaan Yan?”
Segera ia bereskan perasaannya dan mendorong Giok-yan,
katanya, "Piaumoai, hubungan kita hanya sampai di saja, apa
yang pernah kau perbuat dan katakan betapapunu tidak dapat
kulupakan."
"Jika begitu, jadi engkau tetap tidak dapat memaafkan
aku?" tanya Giok-yan dengan hati remuk rendam.
Untuk sejenak terjadilah pertentangan batin Buyung Hok
antara "cinta" dan "usaha" tapi akhirnya ia menggeleng
kepala.
Sungguh hancur luluh hati Giok-yan, tanpa rasa ia tanya,
"Jadi engkâu sudah bertekad akan memperistrikan putri Se He
itu dan takkan peduli lagi padaku?”
Dengan keraskan hati Buyung Hok menggangguk.
Sebelumnya Giok yan sudah pernah membunuh diri, tapi
dapat diselamatkan oleh In tiong-ho, sekarang secara tegas
cintanya, ditolak oleh kekasihnya, seking sedihnya hampir saja
ia tumpah darah. Mendadak teringat olehnya, "Betapapun
Toan-kongcu itu memang sangat cinta padaku, sebaliknya aku
tidak pernah membalas cintanya, malahan sekarang dia telah
mati bagiku, sungguh aku berdosa padanya. Toh sekarang aku
pun tidak ingin hidup lagi, biarlah aku terjun ke sumur saja
agar dapat mati bersatu liang dengan Toan-kongcu untuk
membalas cintanya padaku."
Maka pelahan ia mendekati sumur sambil berpaling dan
berkata, "Píaüko, semoga cita-citamu terkabul dan dapat
memperistrikan putri Se He serta menjadi raja Yan yang jaya!"
Buyung Hök tahu bahwa si nona ada maksud hendak
bunuh diri, segerà ia melangkah maju dan mengulurkan
tangan hendak mencegah. Tapi segera teringat pula olehnya,
asal dia bersuara dan mencegahnya, maka untuk selanjutnya
dirinya tentu akan sukar terlepas dari godaan cinta si nona,
dan itu berarti segala cita-cita pergerakannya akan kandas
seluruhnya. Karena pikiran demikian, maka tangan yang sudah
diulurkan itu tidak jadi menarik kembali si nona.
Giok-yan dapat menerka apa yang dipikirkan sang Piauko,
ia pikir sedemikian tipis budi pekerti pemuda ini, apalagi yang
mesti diberatkan pula segera ia berseru "Toan-kongcu, waktu
hidup kita tak bisa bersamä, biarlah kita mati bersatu kubur
saja."
Habis itu, segera ia terjun ke dalam sumur dengan kepala
di bawah dan kaki di atas.
Akhirnya Büyung Hok berseru sekali juga dan bermaksud
menyambar kaki Giok-yan. Dengan kecekatannya sebenarnya
tidak sukar baginya untuk menyelamatkan nona itu, tapi pada
detik terakhir dia ragu-ragu lagi dan membiarkan Giok-yan
terjun ke dalam sumur. Ia hanya menghela napas dan
berkata, "Piaumoai, dalam hati kecilmu engkau lebih cinta
pada Toan-kongcu, walaupun hidup tak bisa menjadi suami-
istri tapi mati pun bersatu liang, betapapun sudah terkabul
juga cita-citamu.”
“Huh, pura-pura, lelaki palsu!”' tiba-tiba terdengar suara
seorang berkata di belakangnya.
Keruan kejut Buyung Hok tak terkatakan, masakah ada
orang berada di belakang sama sekali tak diketahuinya. Tanpa
bicara lagi ia hantam ke belakang berbareng membalik tubuh.
Di bawah sinar bulan tertampaklah sesosok bayangan
melayang ke depan terbawa oleh angin pukulannya, ringan
dan gesit sekali orang itu.
Tanpa menunggu orang itu menancap kaki di tanah,
segera Buyung Hok melompat maju dan kembali memukul
sambil membentak dengan gusar, "Siapa kamu? Berani main
gila dengan Kongcuya?"
Dalam keadaan terapung orang itu sempat menyambut
serangan Buyung Hok. Lalu orangnya malayang sejauh
beberapa meter baru turun ke tanah. Kiranya dia Cumoti,
imam negara Turfan.
"Haha, sudah terang kamu yang memaksa nona itu
membunuh diri, tapi masih bicara tentang cita-citanya terkabul
segala, apa dengan demikian kau kira dapat menipu orang?"
kata Cumoti dengan tertawa mengejek.
"Ini adalah urusan pribadiku, siapa minta kauikut campur?"
damprat Buyung Hok.
"Segala persoalan di dunia ini setiap orang boleh ikut
campur, apalagi soalnya menyangkut menjadi Huma kerajaan
Se He, ini sudah melampaui urusan pribadimu," sahut Cumoti.
"Hm. jangan-jangan hwesio semacam dirimu juga ingin
menjadi Huma?"
"Hahahaha! Masakah di dunia ini pernah terjadi hwesio
menjadi Huma?"
"Habis mau apa? Hm, aku memang sudah tahu Turfan
kalian tidak bertujuan baik, jelas kau tampil bagi kepentingan
pangeran kalian!”
''Apa yang kau maksudkan dengan tidak berkepentingan
baik? Apa memperistrikan putri Se He itu kau katakan tidak
bertujuan baik? Lantas tujuanmu sendiri apakah baik?"
"Aku ingin merebut putri Se He, hal ini berdasarkan
kemampuanku sendiri dan tidak menggunakan tenaga
bawahan untuk mengacau ditengah jalan sehingga membikin
orang banyak merasa gemas.”
"Kami mengenyahkan manusia-manusia yang tidak tahu
diri itu agar di kota Langciu tidak terlalu penuh dengan
manusia yang memuakkan, hal ini adalah juga demi
kepantinganmu mengapa kamu keberatan?"
"Jika begitu sih memang bagus. Jadi pangeran Turfan
kalian nanti juga akan mengandalkan tenaga sendiri untuk
bertanding dengan orang lain?”
"Benar.” sahut Cumoti.
Melihat jawaban orang yang tegas dan tak gentar ini, mau-
tak-mau Buyung Hok menjadi sangsi sendiri, katanya pula,
"Apakah barangkali pangeran kalian mempunyai ilmu silat
maha tinggi dan tiada bandingannya, maka sudah
memperhitungkan pastì akàn memperoleh kemenangan
nanti?”
"Pangeran cilik itu adalah muridku, kepandaiannya masih
boleh juga, untuk dikatakan maha tinggi dan tiada bandingan
agaknya belum, bahwa pasti menang memang sudah
diperhitungkan dengan baik."
Buyung Hok tambah heran, pikirnya, "Jika aku tanyà
dengan terus terang, tentu dia tidak mau menjawab. Biarlah
aku memancingnya saja."
Maka katanya segera, "Sungguh aneh dia mempunyai
perhitungan pasti akan menang, sebaliknya aku pun sudah
yakin pasti akan menang. Wah, lantas siapa yang benar-benar
akan menang nanti?"
"Rupanya kamu sangat ingin tahu bagaimana perhitungan
pangeran kami untuk mencapai kemenangan, bukan?" tanya
Cumoti dengan tertawa. ”Kukira boleh kukatakan dulu
perhitunganmu, lalu aku pun uraikan perhitungan kami. Kita
dapat berunding dan tukar pikiran, coba perhitungan pihak
siapa yang lebih pandai."
Padahal yang diandalkan Buyung Hok Cuma ilmu silatnya
tinggi, orangnya ganteng, bicara tentang pasti menang
memang tidak ada. Terpaksa jawabnya, "Ah. engkau ini terlalu
licik dan tak bisa dipercaya, kalau kukatakan padamu, jangan-
jangan engkau tidak menerangkan juga akalmu bukankah aku
akan tertipu olehmu?"
"Hahaha!" Cumoti tertawa, "Buyung-siheng, aku adalah
sahabat ayahmu, aku menghormatinya dan dia pun
menghormati aku. Kalau aku tidak berlebihan, betapapun aku
terhitung angkatan lebih tua dari padamu. Apa kamu tidak
merasa keterlaluan dengan, ucapanmu barusan ini?"
"Teguran Beng-ong memang tepat, harap maaf," sahut
Buyung Hok sambil memberi hormat.
"Saudara memang pintar," kata Cumoti dengan tertawa
"Jika kamu sudah mengaku sebagai kaum muda, mengingat
ayahmu, dengan sendirinya aku tidak dapat main menang-
menangan terhadapmu. Nah, biar kukatakan saja terus terang
rencana pangeran kami untuk memperoleh kemenangan
dengan pasti, mudah kujelaskan tentu juga tidak berharga
sepeser pun. Begini, setiap orang yang bermaksud ikut
sayembara dalam pemilihan Huma nanti akan kami
bereskannya satu per satu. Dan kalau tiada lawan lagi yang
berebut dengan pangeran kami dengan sendirinya pangeran
kami akan terpilih bukan? Haha. Hahaha!''
Air muka Buyung Hok berubah seketika, katanya, "Jika
begitu jadi aku . . . ”
"Jangan kuatir," potong Cumoti, "Aku ini sobat lama
ayahmu, tidak mungkin kubunuh putra sobat sendiri. Aku
hanya ingin menasehatimu dengan setulus hati, adalah lebih
selamat bila lekas kau tinggalkan negeri Se He ini."
"Jika aku tidak mau?"
''Untuk itu aku pun takkan menamatkan nyawamu, asal
matamu dicukil atau kaki tanganmu dipotong sebalah
sehingga menjadi cacat, dengan sendirinya putri Se He tidak
mungkin mau dipersunting seorang ksatria gagah yang cacat
badannya."
Sungguh Buyung Hok sangat gusar, cuma ia jeri kepada
ilmu silat padri itu, maka tidak berani sembarangan bergerak.
Ia menunduk untuk memikirkan cara menghadapi lawan
tangguh itu.
Di bawah sinar bulan yang terang, tiba-tiba dilihatnya di
disamping kaki ada sesuatu benda yang sedang bergerak-
gerak. Ketika diperhatikan, kiranya bayangan tangan kanan
Cumoti. Ia terkejut, disangkanya padri itu sedang
mengerahkan tenaga dan siap menyerang. Maka diam-diam ia
pun menghimpun kekuatan untuk menjaga segala
kemungkinan.
Tapi lantas terdengar Cumoti berkata pula, ”Buyung-
siheng, kau desak piaumoaimu bunuh dìri, sungguh sangat
sayang, Apakah kau mau lekas pergi dari Se He sini, maka
urusan kematian nona Ong ini pun boleh kulupakan dan
takkan ku usut lebih lanjut.”
”Hm, dia sendiri yang membunuh diri, apa sangkut
pautnya denganku?” sahut Buyung Hok sambil terus
memperhatikan bayangan tangan padri itu, ia lihat bàyangan
kedua tangan Cumoti masih terus gemetar tak berhenti-henti.
Diam-diam Buyung Hok merasa curiga, kalau padri itu
hendak menyerang, rasanya tidak perlu mengerahkan tenaga
sampai kedua tangan gemetar sekian lama tentu di balik ini
ada sesuatu yang tak beres. Ketika diperhatikan pula, ia lihat
ujung celana dan baju padri itu pun tampak agak gemetar
sedikit, terang disebabkan seluruh badannya gemetar maka
baju dan celana juga ikut bergetar.
Dasar otak Buyung Hok memang cerdas, sekilas pandang
lantas teringat olehnya, "Tempo hari waktu berada di Cong-
keng-kok di Siau lim-si padri tua yang tak diketahui siapa
namanya itu mengatakan Cumoti telah melatih ke-72 macam
ilmu silat Siau lim pai dan kemudian secara paksa mempelajari
pula 'Ih-kin-keng' dikatakan pula latihan Cumoti terbalik dan
nyasar bencana sudah mengancam dalam waktu singkat.
Kalau padri tua itu dengan jitu dapat menunjukkan penyakit
ayah dan Siau Wan-san, maka apa yang dikatakan megenai
Cumoti pasti juga tepat."
Teringat kejadian itu, dari kuatir Buyung Hok berubah
menjadi girang, diam-diam ia mengejek Cumoti sendiri yang
sudah terancam bencana, tapi masih berani menggertak
padanya akan mencukil mata dan membikin buntung kaki dan
tangan segala. Namun untuk menyakinkan pikirannya itu,
segera ia memancing dengan ucapan. “Ai, latihan terbalik,
tenaga dalam nyasar, bencana sudah di depan mata, penyakit
demikian memang paling celaka!"
Sekonyong-konyong Cumoti berteriak bagai serigala
menyalak, suaranya tajam menyeramkan, kontan ia
mecengkeram ke arah Buyung Hok sambil membentak, "Kau
bilang apa? Siapa yang kau maksudkan?"
Buyung Hok berkelit ke samping untuk menghindarkan
cengkeraman itu. Menyusul Cumoti juga putar tubuh sehingga
mukanya tertampak jelas di bawah sinar bulan yang terang,
kelihatan kedua matanya merah membara, mukanya beringas
dan buas, semuanya itu tidak dapat menutupi rasa ketakutan
yang terbayang pada mukanya itu.
Melihat itu, maka Buyung Hok tidak sangsi lagi, katanya
segera, "Aku pun hendak memberi nasehat kepada Beng-ong,
lebih baik Beng-ong lekas meninggalkan Se He dan pulang
saja ke Turfan, asal tidak mengerahkan tenaga, tidak lekas
marah, tidak banyak bergerak, tentu Beng-ong akan dapat
pulang ke negeri sendiri dengan selamat. Kalau tidak, wah,
apa yang pernah di katakan padri tua Siau-lim-si itu tentu
akan terbukti."
“Apa katamu, Apa yang kau ketahui?" Cumoti berteriak,
sikapnya yang biàsanya sabar dan berwibawa itu sekarang
telah berubah sama sekali.
Melihat sikap orang berubah beringas, diam-diam Buyung
Hok merasa jeri juga, ia menyusut mundur setindak.
"Apa yang kau ketahui? Lekas katakan?" bentak Cumoti pula.
Sedapatnya Buyung Hok tenangkan diri, menghela napas,
lalu berkata, "Hawa murni Beng-ong sudah sesat jalan,
keadaan sangat berbahaya, kalau tidak lekas pulang ke
Turfan, boleh juga datang pula ke siau lim-si untuk minta
pertolongan kepada padri sakti itu, jalan ini pun ada harapan
besar bagi keselamatan Beng-Ong."
"Dari mana kau tahu hawa murniku nyasar? ngaco belo
belaka!” sahut Cimoti dengan menyeringai. Berbareng tangan
kiri terus menyusur ke depan, segera hendak mencakar muka
Büyüng Hok.
Kelima jari Cumoti kelihatan agak gemetar, tapi daya
serangan itu tetap sangat dahsyat, sedikitpun tiada tanda-
tanda kacaunya tenaga dalam, diam-diam Buyung Hok
terkejut dan ragu, "Jangan-Jangan aku salah duga?"
Ia pun tidak berani ayal dan malayani lawan dengan
sepenuh tenaga.
"Mengingat hubunganku dengan ayahmu, bìarlah dengan
sepuluh jurus aku tidak membunuhmu sekedar balas jasaku
kepada ayahmu.” bentak Cumoti, Menyusul ia terus
menghantam.
Walaupun Buyung Hok mahir ilmu 'Tue lam-sing-ih, yaitu
dengan cara meminjam tenaga lawan untuk menghantam
kembali lawan, tapi kepandaian Cumoti terlampau hebat
baginya, apalagi setiap serangan hanya dikeluarkan sampai
setengah jalan dan segera berubah serangan baru lagi
sehingga Buyung Hok tidak sempat menggunakan
kemahirannya ítu, sebal¡knya menjadi selalu terdesak,
terpaksa ia hanya bertahan secepatnya untuk mencari
kesempatan.
Ia lihat serangan Cumoti serba lihai dan luar biasa,
semuanya belum pernah dilihatnya. Dan sesudah sepuluh
jurus mendadak Cumoti membentak, ”Sepuluh jurus sudah
selesai, sekarang terimalah kematianmu!”
Sekonyong-konyong Buyung Hok merasa pandangannya
silau, di sekitarnya seperti penuh dengan bayangan cumoti,
dari kanan menendang dan dari kiri memukul, tahu-tahu dari
depan ada serangan, tiba-tiba dari belakang ada yang
menotok lagi. Jadi serangan-serangan itu seakan-akan
membanjir sekaligus cepat untuk ditangkis.
Terpaksa Buyung Hok kerjakan kedua tangannya secepat
kitiran dengan mengerahkan tenaga penuh, ia hanya menjaga
diri dan tidak balas menyerang, ia hanya memainkan ilmu
pukulannya sendirl dan tidak peduli serangan lawan dari mana
datangnya.
Tiba-tiba terdengar napas Cumoti tambah ngos-ngosan,
semakin tersengal-sengal seperti kuda. Seketika semangat
Buyung Hok terbangkit, ia tahu hawa murni padri itu sudah
kacau dan napasnya hampir putus asal bertahan sekuatnya
dan tidak sampai dirobohkan lawan, sedikit lama lagi tentu
padri itu akan menggeletak dan binasa sendiri.
Namun meski napas Cumoti tambah tersengal-sengal,
serangannya juga semakin gencar. Sekonyong-konyong ia
menggertak keras sekali. Tahu-tahu Buyung Hok merasa baju
lehernya kena dicengkeram orang dan tubuhnya terangkat ke
atas hiat-to bagian pinggang dan perut juga lantas kesakitan,
nyata dia sudah tertutuk, kaki-tangan menjadi lemas dan tak
bisa berkutik lagi.
Berulang-ulang Cumoti tertawa dingin sedang napasnya
masih ngos-ngosan, kataaya dengan napas memburu, "Aku . .
. aku suruh enyah, tapi kamu jus . . . justru tidak mau,
sekarang . . . sekarang jangan kausalahkan aku. Hm, cara . . .
cara mana harus kubereskanmu?"
Pada saat itulah dari semak-semak pohon sana muncul
empat jago Turfan, rupanya mereka adalah pengikut Cumoti.
Segera mereka memberi hormat dan berkata, "Adalah sesuatu
titah Beng-ong kepada hamba?"
"Angkat orang ini dan cemplungkan ke dalam sumur itu!"
kata Cümoti. ”Hahaha, ini namanya senjata makam tuan,
memangnya keluarga Buyung kalian paling mahir
menggunakan cara lawan untuk menghadapi lawan, sekarang
kaupun boleh rasakan cara demikian, kamu menyebabkan
kedua muda-mudi mati di dalam sumur sekarang boleh
menyusul mereka.”
Keempat jago Turfan itu mengiakan dan menggoting
Buyung Hok ke tepi sumur. Sungguh rasa menyesal Buyung
Hok tak terkatakan, coba kalau dia tidak kemaruk menjadi
Huma apa segala dan membalas cinta sang Piaumoai, kelak
hidupnya akan bahagia dan takkan mati konyol seperti
sekarang. Dan kalau sudah mati, maka segala impiannya
menjadi raja dengan sendirinya juga lenyap seluruhnya.
Sungguh ia ingin minta ampun kepada Cimoti dan berjanji
takkan ikut berebut putri Se He lagi, celakanya karena hiat-to
tertutuk sehingga tak bisa bersuara, sedang Cumoti melirik
saja sudi padanya, maka untuk minta ampun dengan sorot
mata dan mohon dikasihani menjadi tak dapat pula.
"Cemplungkan dia dan segera menggotong beberapa
potong batu besar untuk menutup liang sumur agar dia tak
bisa keluar lagi andaikan nanti dapat membuka hiat-to sendiri
yang tertutuk itu.” perintah Cumoti.
Keempat Bu-su itu segera melemparkan Buyung Hok ke
dalam sumur, lalu berlari-lari pergi mencari batu karang yang
besar.
Cumoti sendiri napasnya masih terengah-engah tak
berhenti-henti, rasa dadanya sesak dan gopoh tak terkatakan.
Kiranya tempo hari sesudah dia melukai Toan Ki dengan
Hwa-yam-to yang tak berwujut itu, lalu ia melarikan diri ke
bawah gunung. Tapi sebelum sampai di bawah Siau-sit-san,
tiba-tiba ia merasa perutnya Sangat panas bagai dibakar,
lekas ia mengatur napas dan melancarkan tenaga dalam, tapi
terasa tenaga dalam sukar diatur.
Ia terkejut sekali akan apa yang dikatakan si padri tua atas
penyakit yang mengeram dalam badannya. Lekas-lekas ia
mencari suatu tempat sepi untuk istirahat, ia coba untuk
semedi dengan tenang, asal dia tidak mengerahkan tenaga
dalam, maka rasa panas yang bergolak dalam badan menjadi
reda juga, Cuma tenaga pun tak bisa digunakan.
Sesudah malam, lalu Cumoti melanjutkan perjalanan
pulang ke Turfan. Di tengah jalan ia dengar berita tentang
sayembara putri Se He. Sebagai imam besar negara yang ikut
menentukan pemerintahan Turfan, di tengah jalan ia dapat
berhubungan dengan pengintai negerinya sendiri dan segera
menyampaikan laporan ke pada rajanya, ia sendiri lalu
mendahului menuju ke Se He.
Raja Turfan memang sudah lama bermaksud bersekongkol
dengan Se He, maka demi mendengar laporan itu, segera ia
kirim putra mahkotanya bersama-sama jago-jago silat yang
tidak sedikit jumlahnya dengan membawa harta mustika,
golok pusaka dan kuda pilihan, berbondong-bondong menuju
Lengciu. Kotaraja Se He.
Harta mestika dan barang-barang berharga yang dibawa
pangerna Turfan itu digunakan menyogok dan menyuap para
menteri dan pembesar Se He, sedang jago-jago silat yang
dibawa itu ditujukan untuk melawan para ksatria dari berbagai
penjuru yang menjadi saingan dalam perebutan putri Se He.
Pada beberapa hari sebelum Tiongciu, jago-jago Turfan itu
sudah mencegat di tengah jalan dan banyak mengalahkan dan
mengusir kembali berbagai ksatria muda yang datang, tapi
akhirnya rintangan jago silat Turfan itu bobol seperti apa yang
telah diceritakan diatas.
Sesudah berada di kota Lengciu, Cumoti sendiri lantas
mencari tempat sunyi untuk merawat diri sehingga panas
badan yang bergolak laksana dibakar itu pelahan tertahan.
Tapi kalau pikirannya sedikit goncang, maka badan lantas
gemetar tak tertahankan. Sampai akhirnya asal pikirannya
sedikit risau, maka jari kaki dan tangan, alis, bibir dan bagian-
bagian badan lain lantas ikut gemetar tak berhenti-henti.
Sebagai imam negara Turfan yang diagungkan Cumoti
merasa malu kalau keadaannya itu dilihat orang, maka ia
sengaja tinggal terpencil sendirian, dan jarang menemui
orang. Hari itu ia mendapat laporan bahwa Buyung Hok telah
sampai juga di Lengciu. bahkan beberapa jago Turfan telah
dihajar anak buah Buyung Hok.
Diam-diam Cumoti marasa tidak enak atas datangnya
Buyung Hok yang diketahuinya mempunyai wajah yang
tampan dan serba pintar dalam ilmu silat dan sastra, kalau
pemuda itu tidak dienyahkan, tentu pangeran Turfan mereka
sukar manandingi. Ia menaksir bawahannya tidak satupun
yang dapat menandingi Buyung Hok, terpaksa ia sendiri harus
turun tangan, segera ia cari tempat pondokan Buyung Hok.
Tapi setibanya di sana, saat itu Buyung Hok sudah
meninggalkan tempatnya dengan menawan Toan Ki. Karena
sekitar tempat tinggal tamu negara itu telah dipasang
pengintai-pengintai, maka dengan mudah Cumoti memperoleh
"info"' ke mana perginya Buyung Hok dan segera ia
menyusulnya. Setiba di sana, sementara itu Toan Ki sudah
dilemparkan ka dalam sumur dan Buyung Hok sedang bicara
dengan Giok-yan.
Begitulah, maka setelah Buyung Hok dilemparkan ke dalam
sumur oleh para Bu-lim Turfan kemudian pergi mencari batu
karang untuk menympat mulut sumur, dalam pada itu Cumoti
merasa hawa panas dalam badan semakin bergolak seakan-
akan hendak menjebol tubuhnya, Cuma susahnya tiada
sesuatu lubang yang dapat dibuat saluran keluar. Dengan
sendirinya Cumoti sangat menderita.
Saking tak tahan Cumoti sampai mencakar-cakar dada
sendiri. Ia merasa hawa dalam badan seakan-akan terus
melambung, seolah-olah kepala, dada, perut sedang
melambung dan sebentar lagi akan meledak.
Bagì penglihatan orang lain dengan sendirinya tubuh
Cumoti itu tiada berubah apa-apa, tapi dia sendiri merasa
badan seperti melambung bagai bola, sebaliknya hawa murni
dalam badan masih terus membanjir timbul.
Dalam bingungnya Cumoti menutuk tiga kali bagian bahu
kiri, paha kiri dan kanan sehingga berwujud tiga lubang
dengan maksud menyalurkan hawa murni itu keluar badan.
Darah segar memang terus menyucur keluar sebàliknya hawa
murni terap sukar dikeluarkan.
Baru sekarang ia ingat dan percaya penuh kepada apa
yang pernah dikatakan si padri tua di Siau-Lim-si, teranglah
sekarang bencana sudah berada di depan matanya, karuan ia
ketakutan. Tapi apapun juga dia adalah seorang tókoh
kawakan, hatinya takut, pikirannya tidak menjadi kacau.
Sekonyong-konyong terpikir olehnya, ''Ya, dia . . . dia
sendiri (maksüdnya Buyung Bok) kenapa tidak melatihnya.
sebaliknya rahasia seluruh ke-72 macam ilmu sakti itu
dikatakan padaku semua? Padahal aku hanya sahabat yang
saling kenal dalam perjalanan, biarpun satu sama lain menjadi
sangat cocok dan akrab, kenapa dia begitu murah hati dan
rela mamberikan rahasia ilmu sakti sebanyak itu padaku?"
Dalam keadaan terancam bahaya inilah mendadak Cumoti
teringat kepada hubungannya dengan Buyung Bok dahulu.
Sebagai seorang cerdik memang mula-mula Cumoti juga
merasa curiga ketika Buyung Bok menghadiahkan rahasia ilmu
sakti Siau-lim-pai itu padanya, tapi sesudah dia membaca dia
mencobanya, ia merasa apa yang diterimanya itu toh memang
kepandaian sejati maka hilanglah rasa curiganya.
Baru sekarang pada saat menderita dia dapat menyadarî
apa maksud tujuan Buyung Bok dengan hadiahnya itu, nyata
hadiah itu adalah maksud tujuan Buyung Bok yang keji dan
jahat dengan menggunakan dia sebagai kelinci percobaan, di
samping itu sengaja mengadu dombakan dia dengan Siau-
Lim-pai agar Turfan bermusuhan dengan kerajaan Song dan
dengan demikian keluarga Buyung akan ada kesempatan buat
mengail ikan di air karuh.
Kalau tadi waktu Cumoti menangkap Buyung Hok, mau-
tak-mau ia teringat kepada kebaikkan ayah pemuda itu yang
telah menghadiahkan kitab pusaka ilmu silat Siau-lim-pai
padanya, sebab itulah ia tidak membunuhnya segera
melainkan membuangnya ke dalam sumur agar pemuda itu
mati sendiri. Tapi sekarang demi sadar akan maksud jahat
Buyung Bok atas hadiah kitab itu sehingga dia masti
menderita, keruan ia menjadi mûrka, ia melongok ke dalam
sumur dan menghantam tiga kali beruntun secara kalap.
Tapi pukulan-pukulan itu sama sekäli tidak menimbulkan
suara apa-apa, nyata sumur itu sangat dalam sehingga
pukulannya tidak mencapai dasarnya. Dalam Keadaan murka
kembali Cimoti menghantam lagi sekali dengsn sakuat-
kuatnya. dan sudah tentu pukulan ini pun tidak gunanya,
bahkan lebih celaka lagi karena hawa murni dalam tubuhnya
lantas bergolak dengan lebih hebat, seakan-akan menerjang
ke luar melalui lubang bulu roma yang beribu-ribu banyaknya
itu, tapi semuanya buntu dan sukar menerjang keluar.
Tengah Cumoti murka dan kuatir pula, sekonyong-konyong
dari bajunya terjatuh keluar sesuatu benda dan tercemplung
ke dalam sumur. Cepat ia menyambarnya dengan sebelah
tangan, tapi sudah terlambat. Kalau waktu biasa, dengan
iwekangnya yang tinggi tentu dia dapat meraih kembali benda
itu dengan tenaga sedotan "Kim-liong-jiu" (ilmu menawan
naga), tapi sekarang tenaganya sedang bergolak dan sukar
dikuasai lagi.
Sejenak kemud'an terdengar suara "plok" pelahan terang
benda itu sudah jatuh ke dalam sumur. Diam-diam Cumoti
mengeluh, ia coba merogoh sakunya, benar juga yang jatuh
adalah kitab pusaka "Ih-kin-keng" yang direbutnya dari Guan-
ci melalui tangan Cilo Singh itu.
Memangnya Cumoti tahu sebabnya iwekangnya tersesat,
semuanya gara-gara latihan menurut Ih kin-keng itu. Ia pikir
untuk memunahkan siksaan itu tentu juga harus dicari
jalannya melalui kitab itu. Jadi kitab itu merupakan kunci
hidupnya, mana boleh sampai hilang?
Dalam gugupnya tanpa pikir lagi ia terus meloncat ke
dalam sumur. Ia kuatir didalam sumur itu ada sesuatu
rintangan dan kuatir pula Buyung Hok dapat membuka sendiri
hiat-to yang tertutuk dan akan menyergapnya di bawah, maka
sebelum kakinya menyentuh tanah, lebih dulu ia memukul dua
kali ke bawah sekaligus untuk menahan daya turunnya pula.
Sudah tentu pukulannya itu pun tak berguna, daya
turunnya tidak tertahan, sebaliknya badan malah tertolak
miring sehingga "blang", kepalanya membentur dinding
sumur.
Jika waktu biasa, biar kepalanya dikemplang juga takkan
menjadi soal, tapi sekarang matanya lantas berkunang-kunang
dan kepala pusing tujuh keliling, "bluk", ia jatuh tersungkur di
dasar sumur.
Sumur itu adalah sumur mati, sudah lama kering airnya, di
dasar sumur penuh rumput dan daun kering yang sudah
membusuk, saking banyak timbunan daun dan rumput kering
yang sudah busuk itu sehingga berubah menjadi lumpur yang
tebal.
Karena jatuhnya, seketika hidung dan mulut Cumoti
terbenam ke dalam lumpur, ia merasa badannya perlahan
juga amblas ke bawah. Segera ia mencoba merangkak
bangun, tapi celaka, kaki dan tangan terasa lemas semua.
Tengah gugup dan bingung, tiba-tiba terdengar suara
orang berseru di atas sana, “Koksu (imam negara)! Koksu!"
itulah suara keempat jago Turfan tadi.
"Aku berada di sini!" demikian sebut Cumoti.
Tapi begitu ia bicara, seketika lumpur masuk ke dalam
mulut sehingga sukar mengeluarkan suara.
Sayup-sayup terdengar keempat jago Turfan itu sedang
bicara di atas sana, Kata yang seorang, ”Aneh, ke manakah
perginya Koksu?"
Lalu yang lain menjawab, ”Mungkin Koksu tidak sabar
menunggu kita dan telah tinggal pergi lebih dulu. Beliau teiah
pesan agar kita menutup lubang sumur ini dengan batu, maka
boleh kita kerjakan saja."
Terdengar kawan-kawannya menyatakan setuju, lalu
terdengar suara gedabukan, rupanya mereka mulai
mengusung batu-batu besar.
Sungguh kejut Cumoti tak terhingga. Kalau sampâi mulut
sumur tersumbat, maka tamatlah riwayatnya. Segera ia
bermaksud berteriak, tapi bila pentang mulut, maka lumpur
busuk lantas membanjir masuk.
Dalam pada itu terdengar suara gemuruh yang keras,
batu- batu besar sudah menutup lubang sumur. Rupanya
jago-jago Turfan itu ingin melaksanakan perintah sang Koksu
yang mereka puja bagai malaikat dewata, maka mereka telah
mendatangkan batu besar, sekaligus mulut sumur itu ditutup
dan di timbun beberapa potong batu raksasa.
Tidak lama kemudian terdengar jago-jago Turfan itu pun
berangkat pergi dengan tertawa-tawa, rupanya mereka sangat
senang karena telah menjalankan tugas dengan baik.
Cumoti pikir sekali ini jiwanya pasti akan melayang dan
terkubur dalam sumur itu. Dia adalah seorang pandai, baik
agamanya maupun ilmu silatnya, boleh dikata tiada
bandingnya di daerah barat, siapa duga akhirnya akan
terkubur dalam lumpur sumur mati itu. Setiap manusia tentu
akan mati, tapi mati secara penasaran demikian sungguh tidak
rela bagi Cumoti, dalam sedihnya air mata lantas berlinang-
linang.
Meski tubuhnya penüh lumpur, kotornya tak karuan, tapi
seperti biasa orang menangis, ia pun mengangkat tangan
hendak mengusap air mata. Di luar dugaan, baru tangan
kanan terangkat, tiba-tiba menyenggol sesuatu benda, segera
ia memegangnya, kiranya "Ih-kin-keng" yang memang hendak
dicarinya.
Sesaat ítu Cumoti tidak tahu harus menangis lagi atau
mesti tertawa. Kitab pusaka itu sudah ditemukan kembali, tapi
dalam keadaan demikian apa gunanya?
Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita sedang bicara,
"Coba dengarkan, orang-orang Turfan itu telah menutup
mulut sumur dengan batu besar, lantas cara bagaimana kita
dapat keluar dari sini?''
Ternyata yang bicara itu adalah Giok-yan.
Seketika semangat Cumoti tergugah demi mendengar
suara orang, Pikirnya, "Kiranya dia tídak mati, dan entah
sedang bicara dengan siapa? Jika di sini ada orang lain lagi,
dengan bergotong-royong meski batu penyumbat di atas akan
dapat diangkat dan keluar dari sini."
Dalam pada itu terdengar suara seorang lelaki menjawab
ucapan Giok-yan tadi, "Asal aku senantiasa berdampingan
denganmu, biar pun tidak dapat keluar dari sini juga tidak
menjadi soal. Asal engkau berada di sampingku, sumur
berlumpur busuk bagiku akan sama seperti taman di
surgaloka.
Cumoti terkejut mendengar bicara itu, ''Kiranya dia juga
tidak mati? Dia terluka oleh Hwe-yam-to, tentu dia sangat
dendam padaku. Peda saat ini aku sama sekali tak dapat
menggunakan tenaga jika kesempatan ini digunakan olehnya
untuk menuntut balas, wah tentu celakalah aku!"
Kiranya yang bicara tadi adalah Toan Ki ....
Tadi ketika dilemparkan ke dalam sumur oleh Buyung Hok,
seketika Toan Ki pingsan sehingga dia tidak begitu runyam
seperti Cumoti walaupun badan terbenam lumpur.
Kemudian waktu Giok-yan terjun ke dalam sumur sungguh
sangat kebetulan kepala nona itu dengan tepat menumbuk
"Tan-tiong-hiat" di dada Toan Ki sehingga pemuda itu
tertumbuk sadar kembali. Sedang Giok-yan jatuh tepat di atas
badan pemuda itu sehingga tidak sempat terluka bahkan tidak
banyak berlepotan lumpur yang kotor itu.
Ketika mendadak Toan Ki tersadar, pelahan ia lantas
bangun, tiba-tiba terasa pangkuannya bertambah seorang.
Selagi heran dan sangsi, didengarnya Buyung Hok sedang
bicara di atas sumur, 'Piaumoai betapapun dalam hati kecilmu
toh tetap menyintai Toan-kongcu, walaupun hidup tak dapat
menjadi istrinya tapi mati dapat bersama satu liang kubur
betapapun hal ini dapat memenuhi cita-citamu juga."
Ucapan itu dengan jelas dapat didengar oleh Toan Ki,
seketika ia terkesima dan tanpa terasa ia bergumam sendiri,
"Apa? Hah, ti . . . tidak! Tidak! Masakan aku punya rejeki
sebesar itu?"
Di luar dugaan mendadak orang yang berada dalam
pangkuannya itu berkata, "Toan-kongcu, sungguh aku ini
sangat bodoh. Engkau sedemikian baik padaku, tapi aku . . .
aku . . . . "
"Hah? Kau . . . nona Ong?"" seru Toan Ki kaget.
"Ya,” sahut Giok-yan.
Biasanya Toan Ki sangat menghormati nona itu, sedikitpun
tidak berani timbul pikiran rendah dan kotor terhadap nona
yang dipandangnya maha agung dan suci itu. Sekarang demi
mengetahui nona ìtu berada dalam pangkuannya, dalam suka
dan girangnya segera ia hendak berbangkit untuk melepaskan
Giok-yan.
Akan tetapi tempat di dasar sumur itu tidak terlalu luas
(sumur itu sempit di atas dan melebar di bawah) dan penuh
lumpur pula. Baru saja Toan Ki berdiri kedua kaki lantas
amblas ke dalam lumpur, terpaksa ia tetap memondongnya
dan berulang-ulang menyatakan penyesalannya, "Maaf nona,
maaf! Kita berada lumpur, terpaksa aku berlaku kurang sopan
padamu."
Giok-yan menghela napas, dalam hati merasa sangat
berterima kasih. Sesudah mengalami berbagai kejadian
selama ini, terutama peristiwa terakhir, di mana dua kali dia
hendak membunuh diri dan selalu gagal, maka dia benar-
benar sudah paham dan terang gamblang terhadap jiwa
Buyung Hok, betapapun ia tidak dapat menipu dirinya sendiri
lagi akan cinta Buyung Hok itu. Di tambah lagi Toan ki
memang benar-benar sangat mencintai dia dengan setulus
hati dan segenap jiwa raganya, kalau dibandingkan jelas yang
satu sangat berbudi dan cinta secara mendalam, sebaliknya
yang lain rendah budi pekertinya dan Cuma mementingkan
kepentingan pribadi sendiri.
Dia terjun ke dalam sumur, kejadian ini mesti Cuma
berlangsung dalam sekejap saja, tapi dalam benaknya telah
terjadi perubahan sangat besar. Semula dia cuma menyesali
nasib sendiri dan bertekad membunuh diri untuk membalas
kebaikan Toan Ki, tak terduga pemuda itu dan dirinya ternyata
tidak jadi mati.
Sudah tentu kejadian di luar dugaan ini membuatnya
girang tidak kepälang.
Sebenarnya Giok-yan adalah gadis lemah lembut dan
balas-budinya, tapi sekarang sesudah mengalami berbagai
peristiwa dan pukulan batin, mendadak sifatnya berubah
banyak. saking terharunya ia berkata secara terus terang
kepada Toan Ki, "Toan-kongcu, tadínya kusangka engkau
sudah tewas, bila teringat kepada kebaikanmu padaku,
sungguh aku menjadi berduka dan menyesal pula telah
membikin kecewa padamu. Syukurlah Tuhan maha adil,
engkau ternyata baik-baik saja. Dan apa yang kukatakan di
atas tadi juga kau dengar bukan?”
Ketika mengajukan pertanyaan terakhir itu, tanpa terasa
mukanya menjadi merah jengah, ia menyembunyikan
mukanya di samping leher Toan Ki.
Sesaat ìtu tübuh Toan Ki serasa melayang-layang seperti di
alam mimpi. Ternyata apa yang pernah dilamunkan selama ini
dalam sekejap ini telah menjadi kenyataan.
Karuan girang Toan Ki bukan main, tiba-tiba kakinya terasa
lemas, ia jatuh terduduk dalam lumpur, punggungnya
bersandar dinding sumur, tapi tangan masih memondong
tubuh Giok-yan.
Tak terduga beberapa utas rambut Giok-yan menyusup ke
lubang hidung Toan Ki sehingga rasanya seperti dikili-kili,
kontan Toan Ki bersin beberapa kali.
"He. Kenapa? Apa engkau terluka?” tanya Giok Tan.
“O, ti . . . tidak . . . Haciim . . . haciiiim . . . . . . aku tidak
terluka . . . haciiiim . . . dan juga bu. . . . haciiii . . . bukan
masuk angin, aku cuma kelewat senang, maka . . . ha . . .
haciiii maka hampir-hampir jatuh pingsan malah," demikiän
jawab Toan Ki sambil berulang-ulang bersin.
Jilid 80
Karena didasar sumur itu gelap gulita, dengan sendirinya satu-sama-lain
takbisa melihat dengan jelas. Giok-yan hanya tersenyum saja dan tidak
bicara pula. Dalam hati iapun sangat bahagia dan gembira. Sejak kecil
ia kesemsem kepada sang Piauko, tapi tidak mendapat balas cinta
sebagaimana mestinya dan baru sekarang ia benar2 dapat menikmati rasa
cinta kasih antara dua hati yang terjalin menjadi satu.
No... nona Ong, apa sih yang... yang kau katakan diatas tadi, aku tidak
mendengar ucapanmu itu, tanya Toan Ki dengan ter-gagap2.
Kukira engkau adalah seorang lelaki jujur dan tulus, tak terduga kau
juga pintar pura2, sahut Giok-yan dengan tersenyum. Sudah terang kau
telah mendengar apa yang kukatakan tadi, tapi sekarang kau minta aku
mengulangi sekali lagi didepanmu. Idiiih, malu ah, aku takmau katakan
lagi.
Toan Ki menjadi gugup, ia coba menjelaskan: Ti... tidak aku be...
benar2 tidak mendengar apa yang kau katakan tadi. Nah, biar aku
bersumpah, jika aku mendengar, biarlah aku di... Sampai disini
mendadak mulutnya tertutup oleh sebuah tangan yang hangat2 halus. Nyata
Giok-yan telah mendekap mulutnya.
Kalau memang tidak mendengar ja sudah, kenapa mesti pakai bersumpah apa
segala, demikian kata sinona.
Sungguh girang Toan Ki melebihi tadi. Sejak dia kenal Giok-yan, belum
pernah ia diperlakukan sedemikian baiknya oleh nona itu. Maka ia lantas
tanya pula: Habis, apa sih yang kau katakan diatas sumur tadi?
Aku bilang... tapi mendadak Giok-yan merasa serba kikuk dan urung
meneruskan. Ia belokkan kejurusan lain. Biarlah kuterangkan lain kali
saja. Toh hari depan kita masih cukup panyang, buat apa mesti terburu2.
Hari depan kita masih cukup panyang, buat apa mesti ter-buru2! kata2
ini benar2 seperti wahju malaikat dewata yang jatuh dari langit baginya.
Makna daripada kata2 itu sudah terang menyatakan bahwa untuk selanjutnya
Giok-yan akan selalu hidup berdampingan dengan dia.
Namun Toan Ki masih ragu2 atas pendengarannya sendiri, ia masih
menegas: Kau... kau maksudkan untuk seterusnya kita akan selalu berada
bersama?
Giok-yan merangkul leher Toan Ki dan ber-bisik2 ditepi telinganya:
Toan-long, asal kau tidak mencela diriku, tidak marah padaku karena
tempo hari aku telah bersikap dingin padamu, maka untuk selama hidup ini
aku rela ikut bersama kau dan takkan... takkan meninggalkan dikau pula.
Jantung Toan Ki hampir2 meloncat keluar dari mulutnya saking kerasnya
berdebar. Ia tanya pula: Habis bagaimana dengan Piaukomu? Selama ini kau
sangat suka padanya.
Ja, tapi toh dia tidak pernah memperhatikan diriku, sahut Giok-yan. Dan
baru sekarang aku tahu siapakah gerangan orang didunia ini yang benar2
mencintai aku dan mengasihi aku, siapa yang telah memandang diriku lebih
berharga daripada jiwanya.
Kau maksudkan aku? tanya Toan Ki.
Siapa lagi kalau bukan kau, sahut Giok-yan. Tiba2 ia menangis, katanya
pula: Selama hidup Piaukoku itu selalu bermimpi akan menjadi raja Yan.
Tapi maklum juga, sejak turun temurun keluarga Buyung mereka memang
sudah mempunyai cita2 yang muluk2 itu. Sebenarnya Piauko bukan seorang
jahat, dia cuma kepingin menjadi raja, maka segala urusan lain telah
dikesampingkan olehnya.
Mendengar nada sinona ada maksud membela dan mengecilkan kesalahan
Buyung Hok, kembali Toan Ki berkuatir pula. Tanyanya cepat: Nona Ong,
andaikan kelak Piaukomu menginsafi keselahannya dan tiba2 membaiki kau
lagi, lan... lantas bagaimana kau?
Toan-long, sahut Giok-yan dengan menghela napas. Meski aku adalah
seorang wanita bodoh, tapi sekali2 bukan manusia yang bermartabat rendah.
Hari ini aku sudah mengikat janji dengan kau, jika kelak aku berbuat
hal2 yang tidak baik, bukankah akan merusak nama baikku sendiri? Apakah
aku tidak merasa berdosa terhadap cintamu yang murni kepadaku?
Toan Ki kegirangan mendapat jawaban itu, ia berseru gembira, segera ia
angkat sedikit kepala sinona, dia sendiri lalu menunduk hendak mencium.
Dengan malu2 Giok-yan menyambutnya dengan mesra dan empat bibir lantas
terkatup menjadi satu. Tapi baru kepalang-tanggung, se-konyong2 dari
atas terdengar suara menyambarnya sesuatu benda besar yang jatuh
kebawah.
Keruan kedua orang terkejut dan cepat menyisih ketepi dinding. Maka
terdengarlah suara bluk yang keras, sesosok tubuh telah jatuh kedasar
sumur itu.
Siapa itu? tanya Toan Ki.
O, akulah! sahut orang itu yang ternyata adalah Buyung Hok.
Rupanya sesudah Toan Ki sadar kembali, dia lantas roman dengan Giok-yan
sehingga keduanya lupa daratan se-akan2 hidup didunia sendiri, andaikan
saat itu langit akan ambruk atau bumi meledak tentu juga takkan terpikir
oleh mereka. Dengan sendirinya pertarungan sengit antara Ciumoti dan
Buyung Hok yang diatas sumur tadi juga tak mereka pedulikan. Sekarang
demi mendadak Buyung Hok jatuh kedalam sumur, barulah kedua orang itu
kaget dan menyangka Buyung Hok sengaja datang hendak mengganggu janji
setia mereka.
Segera Giok-yan berkata dengan suara gemetar: Piau... Piauko, kau mau
apalagi datang pula ke... kesini? Hidupku ini sekarang sudah kupasrahkan
kepada Toan-kongcu, jika engkau mau membunuh dia, bolehlah kau membunuh
aku sekalian.
Sungguh girang sekali Toan Ki mendengar pernyataan tegas Giok-yan itu.
Mestinya dia tidak kuatir dirinya dibunuh Buyung Hok, yang dikuatirkan
adalah Giok-yan akan terbujuk dan kembali lagi kepangkuan Piaukonya.
Tapi sesudah mendengar ucapan Giok-yan itu, seketika legalah hatinya. Ia
merasa pula sinona telah menjulurkan tangannya untuk menggenggam kedua
tangan sendiri, hal ini makin menambah kepercajaannya, segera ia
berkata: Buyung-kongcu, kau boleh pergi menjadi Huma kerajaan Se He,
aku tak nanti berebutan dengan kau, bahkan aku akan membantu
terlaksananya cita2mu itu. Adapun Piaumoaymu ini sudah menjadi milikku,
kau takkan dapat merebutnya lagi. Giok-yan, betul tidak katamu?
Betul, sahut Giok-yan. Biar mati atau hidup aku sudah pasti akan ikut
kau.
Karena Hiat-to tertutuk, maka Buyung Hok dapat mendengar dan bicara,
cuma takbisa bergerak. Diam2 ia memikir: Mereka berdua belum mengetahui
aku telah dikalahkan Ciumoti dan dalam keadaan tak berkutik, maka mereka
masih sangat jeri padaku, kuatir kalau aku membikin susah mereka. Ja,
hal ini akan menguntungkan diriku, biarlah aku melakukan tipu mengulur
tempo pula.
Maka ia lantas berkata: Piaumoay, sesudah kau menjadi isteri Toankongcu,
maka kita sudah terhitung pamili sendiri. Toan-kongcu adalah
adik iparku, masakah aku tega mencelakai dia lagi?
Dasar Toan Ki memang seorang jujur dan polos, sedang Giok-yan masih
hijau, maka mereka percaja penuh kepada ucapan Buyung Hok itu, dalam
girangnya mereka lantas mengucapkan terima kasih.
Lalu Buyung Hok berkata pula: Toan-hiante, sekarang kita sudah orang
sekeluarga, kalau aku pergi menjadi Huma kerajaan Se He, maka kau
takkan merintangi lagi bukan?
Sudah tentu, sahut Toan Ki cepat. Asal aku dapat memperisterikan
Piaumoaymu, maka tiada cita2ku yang lain lagi, biarpun aku dijadikan
malaikat dewata juga aku tidak mau.
Pelahan2 Giok-yan menggelendot dibahu Toan Ki, girangnya tak
terkatakan.
Dalam pada itu diam2 Buyung Hok coba mengerahkan tenaga dalamnya untuk
membujarkan Hiat-to yang tertutuk Ciumoti tadi. Karena seketika susah
dipunahkan, pula tidak sudi minta pertolongan, maka ia hanya menggerutu
didalam hati: Dasar sifat kaum wanita memang gampang terpengaruh dan
mudah berganti cinta, buktinya memang betul seperti Piaumoay sekarang
ini. Kalau dia ingat kebaikanku, tentu dia sudah mendekati dan
membangunkan aku.
Dia mencerca orang lain, tapi lupa dirinya sendiri yang tak berbudi
sehingga Giok-yan merasa putus asa dan hendak bunuh diri. Padahal tempat
didasar sumur itu luasnya kira2 cuma dua-tiga meter, jarak mereka satusama-
lain sebenarnya sangat dekat, asal Giok-yan melangkah satu tindak
saja sudah dapat mencapai Buyung Hok. Tapi dia merasa jeri, kuatir
kalau Buyung Hok bertipu muslihat dan membikin celaka Toan Ki. Selain
itu iapun takut menimbulkan rasa curiga Toan Ki, maka sejak tadi
selangkahpun Giok-yan tidak berani sembarangan bergerak.
Begitulah, karena pikirannya bingung, maka untuk membuka Hiat-to yang
tertutuk menjadi tambah susah. Sedapat mungkin Buyung Hok coba
tenangkan diri, lalu pelahan2 membuka jalan darah yang tertutuk itu. Dan
baru saja dia dapat bergerak dan mulai berdiri, plok tiba2 ada sesuatu
benda jatuh disebelahnya. Nyata itu adalah Ih-kin-keng yang terlepas
dari baju Ciumoti. Dan karena keadaan gelap gulita, Buyung Hok segera
menyingkir kesamping untuk menjauhi benda yang jatuh itu. Dan untung
karena dia menggeser minggir, maka waktu kemudian Ciumoti melompat turun
tidak sampai menjatuhi tubuhnya.
Kembali tadi. Sesudah Ciumoti dapat menemukan kembali Ih-kin-keng,
saking senangnya ia terus ter-bahak2. Karena luang sumur itu sangat
sempit, maka kumandang suara tertawanya itu sampai men-dengung2 memekak
telinga Toan Ki.
Dan karena tertawanya itu, ternyata Ciumoti tak mampu menghentikan
pula bergolaknya hawa murni yang semakin hebat dan makin melembung
rasanya, pikirannya menjadi kacau, seketika ia menjadi seperti orang
gila, ia menghantam dan menendang serabutan dikumbangan lumpur itu. Dan
sudah tentu serangan2 yang ngawur itu selalu mengenai dinding sumur,
terkadang sangat keras sehingga batu pecah dan debu pasir bertebaran,
tapi terkadang sangat lemah, sedikitpun tak bertenaga.
Giok-yan sangat takut, dengan kencang ia memepet disisi Toan Ki,
bisiknya pelahan: Dia sudah gila, dia sudah gila!
Ja, rupanya dia benar2 sudah gila, sahut Toan Ki.
Sementara itu kebebasan bergerak Buyung Hok sudah pulih kembali, untuk
tidak terkena serangan Ciumoti, segera ia gunakan ilmu cecak merajap
untuk merajap keatas dan menggemblok didinding sumur.
Ciumoti masih terus tertawa dan napasnya juga semakin ter-sengal2,
sebaliknya pukulan dan tendangannya tambah cepat.
Taysu, lebih baik kau duduk saja dan istirahat dengan hati tenang
saja! demikian Giok-yan coba membujuk dengan tabahkan hatinya.
Hahahahaha! Aku takmau! seru Ciumoti sambil ter-bahak2, bahkan ia
terus mencengkeram kearah Giok-yan. Ditempat yang sempit itu, dengan
sendirinya susah bagi Giok-yan untuk menghindar, keruan cengkeraman
Ciumoti itu sudah sampai diatas pundak sinona.
Dengan menjerit kaget lekas2 Giok-yan mengegos. Sedang Toan Ki terus
menggeser maju untuk mengadang didepan sinona, serunya: Kau sembunyi
dibelakangku saja.
Dan pada saat itu juga kedua tangan Ciumoti sudah merangsang maju
lagi dan dengan tepat mencekik leher Toan Ki. Seketika Toan Ki merasa
napasnya menjadi sesak dan takbisa membuka suara.
Giok-yan sangat kuatir, lekas2 ia bantu menarik tangan Ciumoti. Tapi
waktu itu Ciumoti sudah dalam keadaan kalap, meski hawa murninya
bergolak dan susah dikendalikan, tapi tenaga cekikan itu ternyata sangat
kuat. Sudah tentu Giok-yan hanya seperti menarik kecapung menghinggap
ditiang batu saja, sedikitpun takdapat mengendurkan tangan Ciumoti yang
mencekik Toan Ki itu.
Kuatir kalau Toan Ki tercekik mati, saking bingungnya Giok-yan terus
ber-teriak2: Piauko, Piauko, lekas kau menolongnya. Hwesio ini hendak
mencekik mati Toan-kongcu!
Untuk sejenak Buyung Hok menjadi ragu2. Pikirnya: Pemuda she Toan ini
menyatakan hendak membantu aku menjadi Huma kerajaan Se He, tapi entah
omongannya dapat dipercaja atau tidak. Dia pernah mengalahkan aku di
Siau-sit-san sehingga nama keluarga Buyung kami runtuh habis2-an dan
kehilangan muka didepan orang banyak, sekarang dia terancam bahaja, buat
apa aku mesti menolong dia? Apalagi ilmu silat paderi ini sangat tinggi
dan sudah bagiku untuk menandingi dia, biarlah mereka berdua mati konyol
dalam pertarungan mereka, kukira jalan ini paling selamat bagiku.
Karena itu, ia semakin kencang memegang celah2 dinding sumur itu dengan
memasuki jarinya dan tidak mau turun untuk membantu, biar Giok-yan berteriak2
minta tolong sampai suaranya serak, tetap Buyung Hok tidak peduli
dan anggap tidak mendengar.
Sementara itu mata Toan Ki tampak sampai mendelik, keruan Giok-yan
tambah kuatir, ia gunakan kepalan untuk menghantam kepala dan punggung
Ciumoti sambil ber-teriak2. Sudah tentu Ciumoti tidak merasakan
pukulan2 sinona, ia hanya ngos2-an napasnya sambil ter-bahak2 pula,
berbareng masih terus mencekik leher Toan Ki dengan sekuatnya...
Kembali berceritakan rombongan Siau Hong dan lain2.
Pagi itu Pah Thian-sik dan Cu Tan-sin menjadi sibuk karena kehilangan
Toan Ki dan Giok-yan.
Wah, pangeran cilik kita ini memang mirip ajahandanya, di-mana2 suka
main roman, tentu tengah malam dia telah kabur bersama nona Ong dan entah
kemana perginya, demikian kata Tan-sin.
Ja, pangeran cilik kita orangnya ganteng dan romantis, lebih suka
wanita daripada tahta, sahut Thian-sik. Dia jatuh hati kepada nona Ong,
hal ini telah diketahui semua orang. Kalau suruh dia menjadi Huma
kerajaan Se He, ai, kukira sulit. Apalagi sifat pangeran kita ini sangat
kepala batu, dahulu Sri Baginda ingin dia belajar silat, tapi dia tetap
membangkang dan tidak mau, kalau dipaksa, dia lantas minggat dari istana.
Tiada jalan lain, terpaksa kita mencarinya dan membujuknya sedapat
mungkin, ujar Tan-sin.
Pah-heng, kata Tan-sin pula. Aku jadi ingat kejadian dahulu, ketika
pangeran cilik kita minggat dari istana. Siaute dititahkan Ongya untuk
mencarinya, dengan susah pajah akhirnya lantas aku dapat menemukan dia,
siapa duga... sampai disini ia lantas bisik2: siapa duga dia telah
kesemsem kepada nona Bok Wan-jing ini, dan seperti sekarang, ditengah
malam buta merekapun diam2 mengelojor kabur. Untung Siaute sudah menjaga
ditengah jalan sehingga dapat mempergoki mereka.
Wah, jika begitu, maka sekarang inipun salahmu, seru Thian-sik. Kau
sudah berpengalaman, kenapa kejadian dahulu itu boleh terulang lagi?
Bukankah semalam kita harus berjaga secara bergiliran untuk mengawasi
gerak-gerik mereka?
Tan-sin menghela napas gegetun, katanya: Aku mengira dia pasti akan
ingat hubungan baiknya dengan Siau-tayhiap dan Hi-tiok Siansing dan tidak
nanti tinggal pergi begitu saja, siapa tahu... siapa tahu... Mestinya
dia hendak mengatakan siapa tahu pangeran kita ternyata lebih
mementingkan wanita daripada persahabatan,. Tapi kata2 yang tidak pantas
diucapkan kaum bawahan kepada junjungannya ini urung dilontarkan.
Begitulah karena tak berdaja lagi, terpaksa kedua orang itu melaporkan
apa yang terjadi kepada Siau Hong dan Hi-tiok. Segera para kawan
dikerahkan untuk mencari, tapi sudah dicari ubek2an selama sehari,
tetap bajangan Toan Ki dan Giok-yan tak diketemukan.
Malam itu semua orang berkumpul dikamarnya Toan Ki yang kosong itu
untuk berunding. Dan sudah tentu mereka tidak memperoleh sesuatu akal
yang baik untuk mencari pemuda itu.
Tengah mereka bingung, tiba2 bagian protokol kerajaan Se He mengutus
seorang untuk menemui Pah Thian-sik dan memberitahukan bahwa besok malam
hari Tiongchiu baginda raja akan mengadakan perjamuan besar diistana
Se-hwa-koing untuk menghormati para tamu yang datang dari berbagai
penjuru, maka pangeran Tayli itu diharap suka hadir.
Sudah tentu Pah Thian-sik takdapat mengatakan lenyapnya Toan Ki, ia
hanya menyanggupi saja undangan itu.
Utusan itu pernah disuap oleh Pah Thian-sik, maka sikapnya sangat baik,
waktu hampir berpisah, tiba2 ia membisiki Thian-sik pula: Pah-loheng,
biarlah aku memberi info padamu. Dalam perjamuan Sri Baginda besok
malam, disitu juga Sri Baginda akan mengamat-amati gerak-gerik dan
tampan dan kepandaian para tamu calon menantu raja itu. Sesudah
perjamuan boleh jadi akan diadakan perlombaan membuat sjair dan
bersajak, atau mungkin juga memanah dan bertanding silat untuk
menentukan siapa yang sesuai untuk menjadi pasangan Tuan Puteri kami.
Maka besok malam ialah kunci utama bagi sukses tidaknya usaha para
calon, untuk mana diharapkan Toan-kongcu suka memperhatikan.
Ber-ulang2 Pah Thian-sik mengucapkan terima kasih, berbareng ia
mengeluarkan sepotong uang emas dan dijejalkan ketangan utusan itu.
Setiba kembali didalam kamar, segera Thian-sik memberitahukan info yang
baru didapat itu. Katanya pula: Tin-lam-ong telah memberi pesan dengan
wanti2 agar Pangeran cilik kita harus membawa pulang puteri Se He. Kalau
tugas yang diserahkan pada kami ini gagal, maka kami sungguh malu untuk
menemui Ongya lagi.
Tiba2 Tiok-kiam mengikik tawa lalu berkata: Pah-loya, apa boleh hamba
ikut bicara sedikit?
Silakan, sahut Thian-sik.
Sebabnya ajah baginda Toan-kongcu mengharuskan dia menikah dengan
puteri Se He, maksud tujuannya kan ingin besanan dengan kerajaan Se He
untuk memperkuat kedudukan kerajaan Tayli mereka, bukan? tanya Tiokkiam.
Benar, jawab Thian-sik.
Adapun mengenai puteri Se He itu akan secantik bidadari atau sejelek
setan takkan dipikir oleh Toan-ongya, bukan? ganti Kiok-kiam yang
bertanya.
Ja, tetapi sebagai Tuan Puteri yang diagungkan, sekalipun tidak
secantik bidadari, paling tidak toh juga akan punya roman muka yang
lumajan, ujar Tan-sin.
Nah, sekarang kami ada suatu akal, asal puteri Se He dibojong pulang ke
Tayli, maka soal Toan-kongcu akan diketemukan dalam waktu singkat atau
tidak menjadi takkan merupakan soal lagi, sekarang Bwe-kiam yang
berkata.
Dan Lan-kiam juga tidak ketinggalan, katanya: Nanti, kalau Toankongcu
sudah bosan pesiar ke-mana2 dengan nona Ong, lewat setahun atau
dua tahun, tentu dia akan pulang sendiri ke Tayli, tatkala mana juga
belum terlambat untuk minta dia melangsungkan pernikahan dengan puteri Se
He.
Heran dan girang pula Thian-sik dan Tan-sin, kata mereka berbareng: He,
akal para nona ini benar2 sangat baik, coba jelaskan lagi.
Segera Bwe-kiam bicara lebih dulu: Sekarang kalau kita minta nona Bok
menyamar sebagai seorang pemuda pelajar, bukankah akan jauh lebih
tampan daripada Toan-kongcu. Lalu kita minta nona Bok suka menghadiri
perjamuan raja Se He besok malam, kukira tiada seorangpun diantara beribu2
tetamu itu mampu menandingi ketampanannya.
Ja, nona Bok adalah adik perempuan Toan-kongcu, demikian Lan-kiam
menyambung. Kalau adik perempuan mewakilkan kakaknya mengambil isteri
demi kepentingan negara serta untuk memenuhi tugas atas perintah ajah,
bukankah jalan ini boleh dikata sekali tepok beberapa laler?
Dan bila nona Bok sudah terpilih sebagai Huma, untuk melangsungkan
upacara pernikahan tentu masih cukup lama waktunya, dalam pada itu
Toan-kongcu tentu sudah dapat diketemukan, demikian Tiok-kiam
menambahkan.
Ja, andaikan Toan-kongcu tetap belum diketemukan, tiada halangannya
juga kalau nona Bok mewakilkan kakaknya melangsungkan pernikahan,
akhirnya Kiok-kiam menutup usul mereka. Lalu keempat dara itu lantas
tertawa cekikikan.
Dasar anak kembar empat, maka pikiran mereka sama, lagak-lagu merekapun
sama, tertawa sama, diwaktu bicara juga sama dan entah apalagi yang
sama...
Untuk sejenak Pah Thian-sik dan Cu Tan-sin hanya saling pandang
saja. Mereka merasa usul dara2 itu terlalu sembrono, kalau sampai
konangan, tentu urusan akan runyam, bukan saja gagal mengikat perbesanan
dengan Se He, bahkan bukan mustahil raja Se He akan mengamuk dan
menyatakan perang kepada Tayli.
Rupanya Bwe-kiam dapat menerka apa yang dipikirkan Thian-sik berdua,
segera ia berkata pula: Sebenarnya Toan-kongcu toh mempunyai saudara
angkat sebagai Siau-tayhiap dan mestinya tidak perlu mencari sandaran
kepada Se He, cuma Tin-lam-ong telah memberi perintah sehingga terpaksa
mesti diturut. Dan kalau terjadi apa2, Siau-tayhiap adalah Lam-ih Tayong
dari kerajaan Liau dengan kekuatan militer yang dahsjat, asal beliau
mau ikut bicara, maka segala persoalan tentu dapat diatasi, tidak nanti
raja Se He berani main gila kepada kerajaan Tayli.
Sebagai seorang menteri yang dipercaja dan ikut memegang pemerintahan,
sudah tentu Pah Thian-sik bukan seorang bodoh. Mengenai Siau Hong dapat
dijadikan bala bantuan kerajaan Tayli, hal ini memang sudah didalam
perhitungannya. Cuma saja dia merasa tidak enak untuk mengucapkan
sendiri. Kini demi mendengar ucapan Bwe-kiam itu dan Siau Hong juga
mengangguk, maka semangatnya seketika terbangkit. Pikirnya: Usul keempat
dara cilik ini tampaknya seperti permainan anak kecil, tapi selain
jalan ini sesungguhnya juga tiada cara lain, hanya nona Bok entah suka
menerima dan mau menyerempet bahaja atau tidak?
Karena itu, segera ia sengaja berkata: Usul nona2 ini memang akal
sangat bagus, tapi pelaksanaannya benar2 terlalu berbahaja. Pabila sampai
konangan penyamaran nona Bok nanti, tentu ada kemungkinan nona Bok akan
tertawan, apalagi disitu hadir kesatria2 dari segenap penjuru, dalam hal
orangnya sudah tentu nona Bok adalah paling tampan, tapi kalau mesti
bertanding silat dan mengalahkan mereka, wah, ini agak kurang mejakinkan.
Seketika pandangan semua orang lantas beralih kepada Bok Wan-jing dan
ingin tahu bagaimana pendiriannya.
Maka berkatakan Wan-jing: Pah-siansing, kau tidak perlu memancing aku
dengan kata2mu itu, soalnya engkohku... engkohku itu... hanya sampai
disini, mendadak air matanya lantas bercucuran dan tidak sanggup
meneruskan lagi.
Rupanya telah terjadi pertentangan batinnya, teringat olehnya apa yang
dilakukan Toan Ki dengan Giok-yan sekarang adalah mirip dengan kejadian
Toan Ki dalam perjalanan bersama dirinya diwaktu dahulu, coba kalau
pemuda itu bukan kakaknya sendiri, tentu pemuda itupun takkan mengingkar
janji. Tapi sekarang Toan Ki sedang ber-cumbu2an dengan nona lain,
sebaliknya dia sendiri hidup kesepian disini, bahkan para kambrat
kerajaan Tayli malah minta dia berjoang baginya.
Dasar watak Bok Wan-jing memang takmau kalah, dikala pikirannya pepet,
mendadak ia angkat meja didepannya sehingga terbalik, seketika mangkokpiring
pecah berantakan, lalu ia melompat keluar.
Semua orang saling pandang dengan bingung dan merasa kurang senang
pula. Yang paling menyesal adalah Pah Thian-sik, katanya: Semuanya adalah
salahku. Jika aku memohonnya dengan kata2 halus paling2 nona Bok cuma
menolak saja permintaanku, tapi karena aku telah sengaja memancingnya
dengan kata2 yang menyinggung perasaannya, maka dia menjadi marah2.
Begitulah, besoknya semua oran gmasih terus berusaha menemukan Toan Ki,
didalam kota tampak sangat ramai dengan hilir-mudiknya pemuda2 gagah dan
perlente, mungkin sebagian besar akan ikut dalam perjamuan malaman
Tiongthjiu dalam istana raja nanti.
Sampai petang semua orang telah pulang dan Toan Ki tetap tidak
diketemukan. Maka berkatalah Siau Hong: Jika Samte sudah pergi dari
sini, maka beramai2 kitapun boleh pulang saja, tak peduli siapa yang
akan menjadi Huma nanti, semuanya tiada sangkut-pautnya dengan kita.
Ja, ucapan Siau-tayhiap memang benar, supaja kita tidak menyaksikan
orang lain menjadi Huma dan menimbulkan rasa penasaran, ujar Thian-sik.
Eh, Cu-siansing, kau sendiri sudah beristeri belum? demikian tiba2
Ciong Ling tanya kepada Cu Tan-sin. Jikalau Toan-kongcu tidak mau
menjadi Huma, kenapa bukan kau saja yang magang? Eh, siapa tahu kalau
kau akan dianugerahi puteri Se He yang cantik itu, jika demikian,
bukankah juga akan banyak manfaatnya bagi kerajaan Tayli?
Tan-sin tertawa, sahutnya: Ai, nona Ciong ini suka berkelakar saja.
Sudah lama aku punya isteri dan punya selir, banyak pula putera-puteriku,
mana boleh aku ikut2 berlomba berebut puteri seperti kaum muda mereka?
Ciong Ling melelet lidah dan tidak bicara lagi.
Sebaliknya Cu Tan-sin lantas menambahi lagi dengan tertawa: Ja, sayang
wajah nona Ciong sendiri masih terlalu muda, pipimu dekik pula dan
tidak mirip orang lelaki, kalau tidak, wah, tentu kau dapat mewakilkan
engkohmu untuk mengikuti sajembara itu...
Apa? Mewakilkan engkohku? Ciong Ling menegas.
Tan-sin merasa telah kelepasan mulut. Tapi dalam hatinya membatin:
Memangnya kau adalah puteri Tin-lam-ong dari hubungan yang tidak sah,
peristiwa yang masih dirahasiakan ini tidak boleh sembarangan kukatakan.
Pada saat itulah tiba2 terdengar seorang berkata diluar kamar sana:
Pah-siansing, Cu-siansing, marilah kita boleh berangkat sekarang!
Dan dimana kerai tersingkap, masuklah seorang pemuda yang ganteng dan
tampan. Siapa lagi dia kalau bukan Bok Wan-jing yang telah menyamar
sebagai pemuda pelajar.
Keruan semua orang terkejut dan bergirang pula, kata mereka: He, apa
nona Bok sudah bersedia pergi?
Tapi Bok Wan-jing lantas menjawab: Cayhe she Toan bernama Ki, adalah
putera pangeran Tin-lam-ong dari Tayli, diharap ucapan kalian sukalah
hati2.
Walaupun suaranya nyaring merdu sebagai suara wanita, tapi banyak juga
pemuda pelajar yang bersuara lemah-lembut, maka tidak perlu diherankan.
Karena merasa Bok Wan-jing dapat menirukan lagak-lagu Toan Ki, maka
tertawalah semua orang.
Rupanya sesudah marah2 sebentar dan pulang kekamarnya dengan menangis,
besok paginya setelah di-pikir2 pula, ia merasa tidak enak telah berlaku
kasar dihadapan orang banyak, pula ia merasa tertarik juga jika dia
menyamar sebagai Toan Ki untuk ikut berebut puteri Se He dengan jago2
lain. Dalam hati kecilnya lapat2 merasa: Kau (maksudnya Toan Ki) ingin
menikah dan hidup bahagia dengan nona Ong, tapi aku justeru sengaja
mewakilkan kau mengambil seorang Tuan Puteri untuk isterimu, biar hidupmu
kelak selalu cekcok diantara dua isteri, dengan begini barulah kau tahu
rasa.
Kemudian teringat pula olehnya waktu dia datang kekota Tayli dahulu,
dimana ajah Toan Ki juga dihadapkan pada masalah isteri dan kekasih lain
sehingga membuatnya serba salah dan kikuk, kalau sekarang Toan Ki juga
mempunyai seorang isteri Tuan Puteri secara resmi, maka Giok-yan tentu
takkan berhasil menjadi isterinya yang sah.
Begitulah jalan pikiran kaum wanita. Kalau dia sendiri tidak bisa
menjadi isterinya Toan Ki, maka diapun tidak mengijinkan seorang gadis
lain dapat hidup bahagia sebagai istennya. Makin dipikir makin senang,
maka dia lantas mengambil keputusan dan bersedia menyamar sebagai Toan Ki.
Dengan demikian, maka cepat2 Pah Thian-sik dan lain2 lantas ber-gegas2
menyiapkan segala sesuatu yang perlu untuk berangkat menghadiri
perjamuan raja.
Tiba2 Wan-jing berkata: Siau-toako dan Hi-tiok Jiko, bila kalian sudi
ikut aku pergi bersama, aku keperjamuan itu, maka segala apa aku takkan
takut lagi. Kalau tidak, apabila terjadi pertempuran, mana aku mampu
melawan orang. Didalam istana rasanya juga tidak pantas aku sembarangan
membidikan panah berbisa untuk membunuh musuh.
Baiklah, aku dan Jite sudah dipesan oleh paman Toan, sudah tentu kami
akan membantu sekuat tenaga, sahut Siau Hong dengan tertawa.
Segera semua orang berdandan seperlunya untuk ikut pergi. Siau Hong dan
Hi-tiok menyaru sebagai pengiring dari kerajaan Tayli. Ciong Ling dan
Bwe-kiam berempat saudara mestinya ingin ikut juga dengan menyamar
sebagai lelaki, tapi Pah Thian-sik telah mencegah mereka agar jangan
ikut, untuk menjaga penyamaran Bok Wan-jing saja susah, apalagi kalau
ditambah penyamaran mereka berlima, tentu rahasia mereka akan terbongkar.
Karena itu, terpaksa Ciong Ling dan lain2 menurut.
Sesudah rombongan mereka berada ditengah jalan, tiba2 Pah Thian-sik
berseru: Ai, hampir2 membikin urusan menjadi runyam. Bukankah Buyung Hok
itupun akan hadir dan ikut berebut menjadi Huma, dia kenal baik pada
Toan-kongcu, lantas bagaimana nanti?
Siau Hong tertawa, katanya: Pah-heng tidak perlu kuatir. Buyung-kongcu
juga serupa dengan Samte, diapun telah menghilang tanpa pamit, tadi aku
telah mencari tahu ketempatnya, kulihat Ting Pek-jwan, Pau Put-tong dan
kawan2nya juga sedang kelabakan mencari Kongcu mereka.
Wah, ini sangat kebetulan, kata semua orang dengan girang.
Sungguh Siau-tayhiap mempunyai pikiran yang panyang, sampai2
sebelumnya keadaan Buyung Hok juga telah diselidikinya, ujar Tan-sin.
Bukannya aku bisa berpikir panyang, sahut Siau Hong. Aku hanya
kuatirkan kepandaian Buyung Hok yang tinggi itu akan merupakan lawan
paling tangguh bagi nona Bok, maka... hehe, hehe!
Kiranya Siau-tayhiap hendak membujuk dia agar malam ini jangan ikut
hadir dalam perjamuan., kata Pah Thian-sik dengan tertawa.
Agaknya Ciong Ling merasa bingung atas petualangan mereka itu, dengan
mata terbelalak ia tanya: Sebabnya jauh2 Buyung-kongcu datang kesini
justeru ingin menjadi Huma, mana mungkin dia dapat dibujuk olehmu? Apa
memangnya Siau-tayhiap adalah sobat baiknya Buyung-kongcu.
Sobat sih bukan, sela Bok Wan-jing dengan tertawa, Cuma kepalan Siautayhiap
terlalu keras baginya, maka dia terpaksa mesti menurut
nasihatnya.
O! Ciong Ling melongo, baru sekarang dia paham duduknya perkara.
Begitulah, setiba rombongan mereka didepan istana, segera Pah Thian-sik
menyodorkan kartu undangan. Maka tertampaklah Le-poh Siang-si (menteri
urusan protokol) kerajaan Se He lantas menyambut keluar sendiri dan
menyilakan rombongan Bok Wan-jing kedalam istana. Ternyata sudah ada
lebih seratus pemuda yang telah hadir disitu dan duduk tersebar diruang
situ, ditengah ada suatu meja yang dilapisi dengan sutera2 kuning
bersulam, mungkin itulah tempat duduk raja Se He sendiri, dikanankirinya
terdapat pula dua baris meja yang dilapis dengan sutera ungu.
Disebelah kanan sudah berduduk seorang pemuda gagah, bermata besar dan
beralis tebal dan memakai jubah merah tua, diatas jubah tersulam dua
ekor harimau, dibelakangnya berdiri delapan jago pengawal.
Segera Pah Thian-sik dan lain2 mengetahui pemuda gagah ini tentu adalah
pangeran Cong-can dari Turfan.
Segera Le-poh Siang-si menyilakan Bok Wan-jing duduk dibarisan meja
sebelah kiri dan tidak dicampurkan dengan orang lain. Hal ini
menunjukkan bahwa diantara pemuda2 pengikut sajembara ini hanya pangeran
Turfan dan pangeran Tayli yang mempunyai kedudukan paling agung, maka
raja Se He menghormatinya dengan cara lain daripada yang lain.
Begitulah para tamu2 be-ramai2 masih terus tiba dan mengambil tempat
duduk masing2. Sesudah semua kursi penuh terisi, lalu dua perwira piket
berseru: Para tamu agung sudah lengkap hadir semua, tutup pintu!
Maka ditengah iringan suara musik pelahan2 pintu istana dirapatkan. Dan
begitu pintu istana tertutup, segara berbaris keluar serombongan pengawal
yang bersenjata lengkap. Menyusul suara musik bergema pula, dua barisan
dayang keraton berjalan keluar dari ruang dalam, tangan masing2 membawa
sebuah Hiolo (anglo dupa) kecil buatan kemala putih, asap tipis tampak
mengepul dari Hiolo2 itu.
Semua orang tahu Sri Baginda sebentar lagi akan keluar, maka semuanya
lantas diam dan menahan napas.
Paling akhir keluarlah empat pengawal berjubah sulam, semuanya
bertangan kosong, lalu berdiri dikedua sisi singgasana raja.
Melihat pelipis keempat pengawal itu semuanya menonjol, maka tahulah
Siau Hong pasti mereka adalah jago pengawal raja yang memiliki ilmu
silat sangat tinggi.
Lalu satu diantara keempat jago pengawal itu berseru: Sri Baginda
tiba, sambutlah!
Semua orang lantas berlutut dengan kepala menunduk.
Maka terdengarlah suara langkah orang yang keluar dari ruang dalam,
lalu duduk diatas singgasana yang sudah tersedia. Dan sesudah jago
pengawal tadi memberi aba2 pula, barulah semua orang berbangkit dan
disilakan kembali ketempat duduk masing2.
Waktu Siau Hong memandang si Raja dilihatnya perawakannya sedang
saja, mukanya kereng, agaknya juga seorang tokoh kesatria didunia
persilatan.
Kemudian Le-poh Siang-si telah maju kesamping singgasana sang raja
dan membentang sehelai amanat, lalu dibacanya dengan suara nyaring:
Paduka Yang Mulia Sri Baginda Raja menyampaikan terima kasih atas
kehadiran tuan2 sekalian, marilah ber-sama2 mengeringkan secawan!
Para tamu menyampaikan sembah hormat, lalu sama2 mengangkat cawan
masing2. Tapi raja itu hanya menempelkan cawannya kebibir sebagai
lambang saja, lalu meninggalkan singgasananya dan masuk kembali keruang
belakang. Segera para pengawal juga ikut masuk semua kebelakang sehingga
dalam sekejap saja suasana telah kembali seperti tadi.
Semua orang saling pandang dengan tercengang, sama sekali tak terduga
oleh mereka bahwa satu kata patah saja tidak bicara dan minum
secegukpun tidak, lalu raja itu sudah mengundurkan diri. Padahal
bagaimana wajah kami seorangpun belum diperiksanya dengan jelas, entah
cara bagaimana dia akan memilih menantunya? demikian pikir semua orang.
Sekarang silakan para hadirin makan minum secara bebas, seru Le-poh
Siang-si.
Segera pelajan membawakan daharan2 yang sudah tersedia semangkuk demi
semangkuk.
Se He adalah negeri pegunungan yang dingin, bahan makanan mereka yang
utama adalah daging sampi dan kambing, biarpun namanya perjamuan
kerajaan, tapi yang disuguhkan juga tidak lebih daripada daging2 sampi
dan kambing dalam potongan2 besar.
Melihat Siau Hong berdiri mengawal disampingnya, Bok Wan-jing merasa
tidak enak, segera ia berbisik: Siau-toako, Hi-tiok Jiko, silakan kalian
berduduk dan ikut makan minum.
Tapi Siau Hong dan Hi-tiok hanya tersenyum saja sambil geleng2 kepala.
Wan-jing kenal watak Siau Hong yang paling gemar minum arak, tiba2 ia
mendapat akal, ia memberi tanda dan memberi perintah: Tuangkan arak!
Sebagai pengawal dalam penyamaran, Siau Hong menurut dan menuangkan
semangkuk arak.
Boleh kau coba rasanya arak ini, kata Wan-jing pula.
Sungguh girang Siau Hong tak terkatakan, hanya dua-tiga kali cegukan
saja arak semangkuk penuh itu sudah dihirupnya kedalam perut.
Coba semangkuk lagi! kata Wan-jing pula. Dan segera Siau Hong minum
lagi semangkuk.
Disebelah sana pangeran Turfan itu juda sedang makan minum. Sesudah
minum beberapa tegukan arak, ia menyambar sepotong daging panggang terus
digeragoti dengan lahapnya. Sesudah daging itu tinggal sekerat tulang
belakang, segera ia melemparkan tulang itu kearah Bok Wan-jing dengan
lagak seperti tidak sengaja. Tapi samberan tulang itu ternyata sangat
cepat, nyata tenaganya tidaklah kecil.
Segera Cu Tan-sin melolos kipasnya dan mengipas sekali kearah tulang
itu. Kontan tulang itu terkipas balik dan menyambar kembali kearah
pangeran Cong-can.
Tapi seorang jago Turfan keburu menangkap tulang itu sambil memaki
dalam bahasanya, se-konyong2 ia angkat sebuah mangkuk besar terus
menimpuk kearah Tan-sin.
Sekali ini berganti Thian-sik yang turun tangan, ia memapak dengan
sekali pukulan, dimana angin pukulannya tiba, kontan mangkuk itu pecah
menjadi beberapa keping dan berhamburan kembali kearah orang2 Turfan.
Lekas2 seorang jago Turfan lain menanggalkan jubahnya, sekali pentang
dan mengebas, tahu2 pecahan mangkuk itu telah kena digulung semua oleh
jubahnya, gerak-geriknya ternyata sangat gesit dan cekatan.
Selagi pertarungan itu akan meningkat, se-konyong2 terdengar suara
genta ber-talu2, lalu muncul dua barisan orang yang ber-macam2
bentuknya, ada yang tinggi, ada yang pendek, ada yang berdandan ringkas,
ada yang berjubah longgar, semuanya bersenjata dalam bentuk yang
beraneka ragam pula.
Seorang pembesar yang berjubah sulam dan berjalan didepan, agaknya
seperti komandan kedua barisan jago2 itu, segera membentak dengan suara
keras: Perjamuan ini diadakan didalam istana, hendaklah tuan2 tahu tatatertib
sedikit! Ini adalah jago2 pilihan dari It-bin-tong negeri kami,
jika tuan2 ingin berkelahi, nah, boleh silakan coba2 dengan mereka
satu-melawan-satu, tapi dilarang main kerubut.
Siau Hong dan lain2 tahu It-bin-tong adalah suatu dewan yang istimewa
dari kerajaan Se He, didalam dewan itu terkumpul banyak sekali jago2
silat pilihan dari segenap penjuru. Karena itu Pah Thian-sik dan
kawan2nya lantas berhenti menyerang, setiap benda yang ditimpukan orang2
Turfan lantas ditangkapnya dan ditaruh diatas meja sendiri, ia tidak
balas menimpuk lagi.
Kemudian pembesar berjubah sulam tadi lantas berkata kepada pangeran
Cong-can: Harap Yang Mulia memberi perintah agar bawahanmu tidak
mengacaukan suasana ketenangan ini.
Melihat jago2 It-bin-tong itu ada ratusan orang jumlahnya, kalau
sampai cekcok dan bertempur, tentu pihaknya takdapat melawan, maka
Cong-can lantas memberi tanda untuk menghentikan pengikutnya yang masih
ber-teriak2 itu.
Helian-ciangkun, apakah Tuan Puteri ada sesuatu perintah? segera Lepoh
Siang-si bertanya kepada pembesar berjubah sulam tadi.
Kiranya pembesar itu adalah Helian Tiat-su, jaitu tokoh yang dahulu
pernah memimpin jago2 It-bin-tong menuju ke Tionggoan, tapi disana
mereka telah dirobohkan dengan kabut berbisa oleh Buyung Hok yang
menyamar sebagai Li Yan-cong.
Setelah mengalami peristiwa yang merugikan itu, segera Helian Tiat-su
membawa rombongannya pulang kandang. Dia pernah melihat Siau Hong palsu
yang disamar A Cu dan pernah kenal Buyung Hok yang disamar Toan Ki, tapi
Siau Hong tulen dan Toan Ki palsu yang berada didalam istana sekarang ini
tidak pernah dikenalnya. Mestinya diantara jago2 It-bin-tong itu juga
terdapat Toan Yan-khing, Lam-hay-gok-sin dan In Tiong-ho, tapi mereka
mempunyai rencananya sendiri dan sudah tentu tidak mau diperalat oleh
kerajaan Se He, maka saat ini mereka sedang bertugas dilain tempat
sehingga penyamaran Siau Hong dan Bok-Wan-jing itu tidak sampai
konangan.
Kemudian Helian Tiat-su lantas berseru: Menurut titah Tuan Puteri, bila
para tamu agung sudah selesai dahar, semuanya disilakan minum teh ke
kamar baca di Jin-hong-kok.
Jing-hong-kok itu diketahui adalah istana kediaman Bun-gi Kongcu,
puteri Se he yang cari jodoh sekarang ini. Keruan para pemuda sangat
senang dan bersemangat, dengan undangan itu, teranglah puteri Se He itu
ingin memilih sendiri calon suaminya. Pikir mereka: Biarpun nanti tidak
terpilih, paling sedikit juga dapat melihat wajah si-cantik sehingga
perjalanan ini tidak sia2 belaka.
Dasar watak pangeran Cong-can memang paling tidak sabaran, dia yang
per-tama2 berdiri dan berseru: Setiap saat kita dapat makan dan minum.
Tapi sekarang paling perlu kita melihat puteri aju lebih dulu!
Benar! serentak sebagian besar hadirin menyokongnya.
Segera Cong-can minta Helian Tiat-su membawa mereka ketempat tujuan.
Mari, pangeran Toan dan para hadirin yang lain! seru Helian Tiat-su dan
dijawab dengan suara sorakan gembira orang banyak.
Demikianlah Helian Tiat-su lantas membawa para calon Huma itu menuju
kebelakang. Sesudah menyusur sebuah taman, lalu membelok beberapa kali,
kemudian waktu melintas sebuah bukit buatan, tiba2 Bok Wan-jing merasa
disebelahnya telah bertambah seorang.
Waktu ia melirik, tanpa merasa ia menjerit tertahan dalam kagetnya.
Ternyata orang disebelahnya tak-lain-tak-bukan adalah Toan Ki.
Apa kau terkejut, pangeran? tanya Toan Ki dengan pelahan dan tertawa.
Apa kau sudah tahu semua? balas tanya Bok Wan-jing dengan berbisik.
Tahu semua sih tidak, tapi melihat gelagatnya dapatlah menerka sebagian
besar persoalannya, sungguh membikin susah kau saja, sahut Toan Ki.
Bok Wan-jing coba mengawasi kanan-kirinya, ia lihat tiada pembesar Se
He didekatnya, sebaliknya dibelakang Toan Ki kelihatan ada dua pemuda.
Yang seorang berusia 30-an dengan sikap agak angkuh, yang seorang lagi
ternyata sangat tampan dan lebih muda.
Hanya sedikit memperhatikan saja segera Wan-jing mengenali pemuda
tampan itu adalah samaran Giok-yan. Seketika ia menjadi gusar, katanya:
Bagus kau, seenaknya kau mengelojor pergi bersama nona Ong, tapi aku yang
harus mewakilkan kau menempuh bahaja ini.
Jangan marah dulu, adikku manis, kata Toan Ki. Kejadian ini agak
panyang untuk diceritakan. Pendek kata aku telah dilemparkan kedalam
sumur oleh orang dan hampir2 mati konyol.
Mendengar pemuda itu mengalami bahaja, seketika rasa perhatiannya
melebihi rasa gusarnya, cepat Wan-jing tanya: Apa kau tidak terluka?
Kulihat air mukamu agak pucat.
Seperti diketahui, didasar sumur itu Toan Ki telah dicekik oleh
Ciumoti sehingga susah bernapas, pelahan2 ia sudah hampir tak sadarkan
diri.
Sebaliknya Buyung Hok yang mendempel di dinding sumur yang lebih tinggi
itu merasa sjukur dan senang, kalau bisa dia berharap Toan ki tercekik
mati saja.
Sudah tentu yang paling kuatir adalah Giok-yan, meski dia telah
menghantam dan menggebuki Ciumoti, tapi masih tetap tak menolong Toan
Ki. Dalam gugup dan bingungnya, mendadak Giok-yan terus menggigit lengan
kanan Ciumoti.
Ketika se-konyong2 merasa Kiok-ti-hiat dilengan kanan menjadi
kesakitan, Ciumoti merasa hawa murni yang bergejolak didalam tubuh dan
tak tersalurkan itu mendadak melanda keluar sebagai ban gembos, hawa
murni itu mengalir dari telapak tangannya dan masuk keleher Toan Ki yang
dicekiknya itu.
Mestinya Ciumoti merasa badannya melembung se-akan2 meledak, tapi
mendadak gembos, seketika ia merasa segar kembali sehingga jari yang
mencekik leher Toan ki itu pelahan2 juga menjadi kendur.
Hendaklah maklum bahwa Ciumoti benar2 seorang tokoh sakti dalam dunia
persilatan yang jarang terdapat, dasar pejakinannya sangat kuat, maka
sekali tenaga dalamnya terhimpun, susahlah bagi Toan Ki untuk menyedot
tenaganya dengan Cu-hap-sin-kang yang ampuh.
Baru sesudah Giok-yan menggigit sekali ditempat Kiok-ti-hiatnya, dalam
kagetnya hawa murni yang bergolak itu lantas membanjir keluar. Dan
sekali hawa murni itu mendapat jalan saluran, maka susahlah tertahan
lagi, serentak tenaga itu mengalir kedalam tubuh Toan Ki dengan tak berhenti2.
Tadinya pikiran Ciumoti memang sudah mulai kacau dan hampir2 tak
sadar, sesudah tenaga dalamnya terkuras keluar hampir separoh, mendadak
pikirannya jernih kembali, keruan ia terperanjat: Wah, celaka! Jika
aku punya tenaga murni tersedot terus seperti ini, pasti dalam waktu tak
lama lagi aku akan lemas dan menjadi orang cacat.
Karena itu sekuatnya ia berusaha melawan, namun sekarang sudah
terlambat. Sesudah hampir separuh tenaga murninya masuk tubuh Toan Ki,
perbandingan kekuatan kedua pihak menjadi lebih nyata lagi, tidak
mungkin Ciumoti dapat melawan, biarpun dia merontak sekuat mungkin tetap
takdapat menahan mengalir keluarnya tenaga murni itu.
Sebaliknya Giok-yan menjadi lega demi melihat akibat gigitannya itu
lantas cekikan Ciumoti itu menjadi agak kendur. Tapi dilihatnya tangan
Ciumoti itu masih tetap memegang leher Toan Ki, segera ia menariknya
pula.
Tak terduga tangan Ciumoti itu sudah seperti terpantek dileher Toan
Ki, biarpun dia menarik dan membetot, tetap tangan Ciumoti takmau lepas.
Walaupun Giok-yan paham (secara teori) ilmu silat berbagai golongan
dan aliran didunia ini, tapi ia tidak tahu ilmu apakah yang digunakan
Ciumoti sekarang ini, karena itu ia pikir ilmu apapun juga tentu akan
merugikan Toan Ki, maka sedapat mungkin ia berusaha hendak menolongnya.
Ciumoti sendiripun mengeluh, didalam hati ia berharap Giok-yan akan
dapat menarik lepas tangannya. Siapa tahu ketika tangan Giok-yan memegang
tangan Ciumoti, seketika nona itu merasa badannya menggigil, tenaga
murninya juga mendadak tersedot keluar dan tak tertahankan.
Kiranya saat itu Toan Ki sudah pingsan, dengan sendirinya asal ketemu
tenaga yang sakti itu tidak kenal kawan atau lawan, asal ketemu tenaga
lantas sedot saja, maka bukan Ciumoti saja yang tenaga murninya
terisap, bahkan Giok-yan juga ikut menjadi korban. Maka tidak lama
kemudian Giok-yan dan Ciumoti telah jatuh pingsan semua.
Selang agak lama, ketika tidak mendengar suara apa2 dari ketiga orang
yang berada dibawah itu, segera Buyung Hok coba memanggil beberapa kali,
tapi tidak mendapat jawaban. Pikirnya: Jangan2 ketiga orang itu sudah
gugur bersama?
Lebih dulu ia menjadi girang. Tapi segera teringat hubungan baik
dirinya dengan Giok-yan, mau-tak-mau ia merasa berduka juga. Kemudian
terpikir pula olehnya: Wah, celaka! Kalau mereka tidak mati, dengan
tenaga gabungan empat orang mungkin akan dapat keluar dari sini, tapi
sekarang tinggal aku seorang, tentu akan susah menyingkirkan batu besar
diatas. Ai, jika kalian ingin mati, kenapa tidak tunggu dulu dan mati
diluar sumur sana saja?
Dan baru ia hendak melompat turun untuk memeriksa keadaan Ciumoti dan
Giok-yan bertiga, tiba2 terdengar ada suara orang bicara diatas,
suaranya berisik ramai, agaknya adalah kaum petani bangsa Se He.
Rupanya mereka berempat telah ribut semalam suntuk didasar sumur itu
dan sekarang fajar sudah menyingsing, banyak kaum petani yang membawa
sajur2-an hendak menjual ke pasar di dalam kota dan lewat disamping
sumur itu.
Diam2 Buyung Hok membatin: Jika aku berteriak minta tolong, para
petani itu belum tentu sanggup memindahkan batu2 karang yang besar itu.
Dan bila merasa tak kuat, tentu mereka akan tinggal pergi dan tak peduli
lagi. Jalan paling baik jalah memancing mereka dengan rejeki.
Maka ia lantas sengaja berteriak: Hei, semua emas ini adalah milikku,
kalian tidak boleh ikut mengangkangi. Ja, biarlah aku membagi kalian 3000
tahil saja. Lalu ia berseru pula dengan suara lain yang sengaja dibuat2:
Tidak bisa! Emas intan sebanyak ini kita ketemukan bersama, sudah
tentu harus kita bagi dengan sama-rata. Kemudian ia sengaja membikin
suaranya setengah tertahan dan berkata; Sssst, jangan keras2, kalau
sampai didengar orang, tentu mereka juga akan minta bagian dan bagian
kita tentu akan berkurang!
Suara tanya-jawab yang sengaja diucapkan Buyung Hok itu ia siarkan
dengan tenaga dalam yang kuat sehingga dapat didengar dengan jelas oleh
para petani yang lewat dipinggir sumur itu.
Dasar manusia, siapa orangnya yang mendengar ada rejeki takkan
ketarik?
Keruan saja para petani itu terkejut dan bergirang pula. Beramai2
mereka lantas merubungi sumur itu dan serentak berebut untuk
menyingkirkan batu2 karang itu. Meski batu2 karang itu sangat besar dan
antap, tapi dengan tenaga gotong-rojong orang banyak, akhirnya batu2 itu
dapat disingkirkan.
Sudah tentu Buyung Hok sudah ber-siap2, ia tidak menunggu sampai batu2
itu disingkirkan semua, baru saja kelihatan ada suatu lowongan yang
cukup untuk diterobos, terus saja ia merembet keatas dan mendadak
wuttt, ia terus melayang keluar.
Tentu saja para petani itu kaget setengah mati karena hanya dalam
sekejap saja bajangan Buyung Hok itu sudah menghilang dikejauhan.
Walaupun masih curiga dan takut, tapi karena daja tarik harta karun,
akhirnya para petani itu tetap menyingkirkan batu2 karang, lalu seorang
kawan mereka yang paling tabah dikerek kedalam sumur dengan tambang.
Setiba didasar sumur, begitu tangannya meraba segera orang itu dapat
memegang badan Ciumoti. Memangnya dia sudah was-was dan kebat-kebit,
begitu kena meraba badan manusia, segera ia menyangka serangka majat.
Keruan kagetnya tak terkatakan, hampir2 sukmanya terbang meninggalkan
raganya. Cepat ia menggoyangkan tambang dan minta dikerek keatas.
Mendengar didalam sumur itu ada orang mati, seketika para petani itu
menjadi ketakutan dan berlari bubaran, mereka sama kuatir ikut
tersangkut perkara pembunuhan, jangan2 harta karun belum diperoleh, tapi
sudah masuk bui lebih dulu.
Begitulah sampai dekat lohor, ber-turut2 ketiga orang didalam sumur itu
barulah siuman kembali.
Orang pertama yang siuman adalah Giok-yan. Begitu sadar kembali, yang
per-tama2 teringat olehnya adalah Toan Ki. Meski saat itu adalah siang
bolong, tapi didasar sumur itu tetap sangat gelap, ia coba meraba dengan
tangannya dan dapat menyentuh Toan Ki, segera ia berseru: Toan-long, o,
Toan-long, ba... bagaimanakah dengan dirimu?
Karena tidak mendapat jawaban Toan Ki, Giok-yan menyangka pemuda itu
sudah mati dicekik Ciumoti, terus saja ia menangis sedih, ia angkat
majat Toan Ki dan merangkulnya dengan kencang didepan dada sambil
sesambatan: O, Toan-long, sedemikian baik dan setiamu kepadaku, tapi
selama ini aku belum pernah membalas apa2 padamu, baru saja kita
berharap akan hidup bahagia di-hari2 yang akan datang, siapa tahu...
siapa tahu jiwamu sudah melayang ditangan paderi jahat ini...
Ucapan nona ini hanya betul separoh saja, demikian tiba2 terdengar
Ciumoti menyela, rupanya iapun sudah sadar. Walaupun Lolap adalah paderi
jahat, tapi aku tidak membunuh Toan-kongcu.
Dan pada saat itu Toan Ki telah siuman juga. Ia mendengar ucapan
Giok-yan yang meresap itu bergema ditepi telinganya, ia menjadi girang.
Tiba2 ia merasa badannya sendiri berada didalam pelukan sinona, segera ia
pura2 masih belum sadar dan tak berani bergerak, kuatir kalau diketahui
Giok-yan dan dilepaskan sehingga tidak dapat lagi merasakan nikmatnya
dalam pelukan sang kekasih.
Dalam pada itu Ciumoti telah berkata: Kekasihmu itu tidaklah
kutewaskan, sebaliknya jiwaku yang hampir2 binasa ditangannya.
Air mata Giok-yan lantas bercucuran, sahutnya: Dalam keadaan begini
kau masih hendak mengapusi aku? Ketahuilah bahwa hatiku seperti disajat2,
lebih baik kaupun cekik mati aku saja agar aku dapat menyusul
Toan-long dialam baka.
Mendengar ucapan sinona yang tulus iklas dan meresap itu, sungguh
girang Toan Ki tak terkira.
Ciumoti sendiri meski sudah kehilangan tenaga murni, tapi pikirannya
masih sangat cermat, pengalamannya juga luas dan kenyang makan asamgaram,
dari suara napas Toan Ki yang pelahan tapi tertahan itu, segera ia
mengetahui pemuda itu sebenarnya sudah sadar, tapi sengaja diam saja,
maka iapun tahu maksudnya. Tiba2 ia menghela napas pelahan dan berkata:
Toan-kongcu, aku telah salah belajar ilmu sakti Siau-lim-pay sehingga
membikin celaka diriku sendiri, untung engkau telah menyedot tenaga
dalamku sehingga aku tidak sampai mati konyol seperti orang gila.
Sekarang meski ilmu silatku sudah punah, namun jiwaku telah selamat,
untuk ini aku harus mengucapkan terima kasih atas pertolonganmu.
Toan Ki adalah seorang yang rendah hati, demi tiba2 mendengar paderi
itu mengucapkan terima kasih padanya, tanpa merasa ia terus menjawab:
Ah, Taysu jangan merendah diri. Cayhe punya kepandaian dan kebaikan apa
sehingga berani dianggap telah menyelamatkan jiwa Taysu?
Giok-yan menjadi girang ketika mendadak mendengar Toan Ki sudah sadar
kembali, tapi ia lantas tercengang pula dan paham sebabnya pemuda itu
sengaja diam saja jalah agar dapat berada didalam pelukannya, keruan ia
menjadi girang2 malu, sekuatnya ia dorong pergi Toan Ki dan mencomel:
Uh, kau ini!
Toan Ki menjadi malu juga karena rahasianya terbongkar. Lekas2 ia
berbangkit dan bersandar didinding sebelah. Tiba2 ia ingat sesuatu dan
bertanya: He, dimanakah Buyung-kongcu?
Ha, aku menjadi lupa juga, dimanakah Piauko? sahut Giok-yan.
Sungguh girang Toan Ki melebihi mendapat warisan demi mendengar kata2
aku menjadi lupa juga. Padahal selama ini perhatian Giok-yan selalu
terpusat kepada Buyung Hok seorang, tapi sekarang walaupun sudah selang
hampir sehari toh nona itu tidak ingat kepada Buyung Hok, hal itu
menandakan bahwa dirinya sekarang sudah bertukar tempat dengan Buyung Hok
dilubuk hati sinona.
Tengah Toan Ki riang gembira, terdengar Ciumoti telah berkata: Sifat
Toan-kongcu sangat tulus dan jujur, rejeki dikemudian hari pasti
tiada takaran. Hari ini Lolap ingin mohon diri, rasanya kelak susah untuk
berjumpa pula. Disini ada satu jilid kitab, bila kelak Kongcu
kebetulan ada tempo, tolonglah kitab ini suka dikembalikan kepada Siaulim-
si. Semoga Kongcu berdua hidup bahagia sampai hari tua.
Habis berkata, segera ia menyerahkan kitab Ih-kin-keng kepada Toan Ki.
Apakah Taysu hendak pulang ke Turfan? tanya Toan Ki.
Mana suka, mungkin pulang kesana, mungkin tidak! sahut Ciumoti dengan
samar2. Lalu ia berbangkit, ia coba menarik tambang panyang yang
ditinggalkan kaum petani tadi dan ternyata cukup kencang, agaknya
ujung atas diikat dibatu karang. Dengan tambang itulah ia lantas
merambat keatas dan tinggal pergi.
Sekarang tinggal Toan Ki berhadapan dengan Giok-yan didalam sumur itu,
walaupun berada ditempat lumpur tapi hati mereka sangat senang, siapapun
tidak punya pikiran buat keluar dari sumur itu. Pelahan2 tangan kedua
orang sama2 menjulur kedepan, empat tangan saling menggenggam, dua
perasaan bersatu.
Lama dan lama sekali barulah Giok-yau berkata,"Toan-
long, apakah lehermu tidak terluka? Marilah kita
memeriksanya di luar sana.”
"Sedikit pun aku tidak merasa sakit, juga tidak perlu buru-
buru keluar dari sini." sahut Toan Ki.
"Jika engkau tidak suka keluar, biar aku mengiringimu di
sini." kata Giok-yan dengan suara mesra. Sekarang dia benar-
benar sudah jinak, sedikit pun tidak membangkang lagi.
Toan Ki menjadi rikuh sendiri, katanya dengan tertawa,
"Tapi engkau tentu tidak betah tinggal di tempat lumpur ini."
Segera ia merangkul pinggang si nona yang ramping itu,
dengan tangan kanan ia pegang tambang, hanya sedikit tarik
saja tahu-tahu tubuhnya sudah mumbul satu-dua meter
tingginya.
Toan Ki sangat heran. la tidak tahu bahwa tenaga dalam
Cumoti yang dikumpulkan selama hidup ini sekarang telah
tersedot semua ke dalam tubuhnya, sebaliknya ia menyangka
sesudah tidur semalam dan lagi bersama kekasih yang
menyenangkan maka tenaganya tambah kuat.
Sesudah keluar sumur, di bawah sinar sang surya
kelihatanlah tubuh mereka penuh Lumpur, mereka saling
pandang dengan tertawa geli. Segera mereka mencari suatü
sungai kecil dan rendam di situ sampai lama, barulah mereka
dapat membersihkan Lumpur yang memenuhi muka, rambut,
baju dan sepatu mereka.
Untung waktu itu hawa tidak terlalu dingin sehingga Giok-
yan tahan berendam dalam air. Kemudian mereka bersandar
dí batu karang di tepi sungai untuk mengeringkan baju yang
basah kuyup di badan mereka itu.
Di sinilah Toan Ki mengamat-amati wajah si nona yang
cantik bak bidadari itu dengan rasa bahagia yang tak
terperikan. Sudah tentü Giok-yan menjadi malu, segera ia
miringkan mukanya ke sini sana.
Begitulah kedua muda-mudi itu bicara mengada-ada untuk
menghilangkan waktu. Tanpa terasa harí sudah petang, tidak
lama kemudian sang dewi malam pun menongol dan pelahan
bergeser ke tengah cakrawala."
Tiba- tíba Toan Kí teringat kepada Buyung Hok, katanya.
"Adik Yan, sekarang cita-citaku telah terkabül, sebaliknya
Piaukomu sekarang sedang mengikuti sayembara perebutan
putri Se He, entah usahanya akan berhasil atau tídak?"
Biasanya bila Giok-yan ingat hal ini, seketika día berduka,
tapi sekarang perasaannya sudah berubah, ia pun agak rikuh
terhadap Buyung Hok dan sebaliknya berharap sang piauko
dapat memperistrikan putri Se He, maka cepat jawabnya, "Ya,
marilah kita lekas pergi melihatnya."
Buru-buru kedua orang itu pulang ke pondok mereka.
Ketika hampir sampai di depan pintu, tiba-tiba di temapt gelap
ada orang berkata, "Kiranya kal¡an pun sudah keluar!”
Jelas itulah suara Buyung Hok.
"Hé. engkau berada di sini?” balas Toan Ki dan Giok-yan
dengan gembira.
'Hm. baru saja menghajar dan membunuh belasan orang
Turfan sehingga tempoku banyak terbuang, " kata Buyung
Hok. "Eh, orang she Toan kenapa kamu tidak hadir sendiri
dalam perjamuan raja, sebaliknya menyuruh seorang nona
menyaru sebagai dirimu? Hm, aku tìdak nanti mem. . . .
membiarkan kau main licik, aku pasti akan bongkar rahasìamu
ini."
"Apa katamu?" sahut Toan Ki dengan heran. "Seorang
nona menyaru apa? Pada hakikatnya aku tidak tahu apa apa."
"Ya, Piauko, kami baru saja keluar dari sumur itu . . . “
hanya sekian Giok-yan bicara dan segera merasa ucapan ini
kurang jujur. Padahal sudah setengah harian ia main roman
dengan Toan Ki di tepi sungai, masakah bilang baru saja
keluar dari sumur sana.
Untung Buyung Hok rupanya sedang terburu-buru hendak
menuju ke istana raja untuk menghadiri perjamuan, maka ia
tidak memperhatikan ucapan Giok-yan dan keadaan
pakaiannya yang kusut itu.
Dalam pada itu Giok-yan berkata pula, "Dia . . . dia sudah
menyanggupi akan membantumu supaya engkau berhasil
merebut putrid Se He. Kalau aku mempunyai seorang tuan
putri sebagai Loso, sudah tentu aku juga ikut gembira."
Semangat Buyung Hok terbangkit, ia menegas, “Apa betul
ucapanmu?”
“Sudah tentu." sahut Toan Ki. "Engkau adalah piauko adik
Yan, terhitung piaukoku pula, Sekarang Piauko ada urusan
masakah pamili sendiri bias tinggal diam saja?”
Sungguh girang sekali Buyung Hok, Sesudah día keluar
dari sumur, di tengah jalan ía kepergok jago-Jago Turfan dan
terjadi pertempuran sengit walaupun menang akhirnya, tapi ia
pun sudah kehabisan tenaga. Ketika hampir sampai di
pondokan tiba-tiba dílihatnya Bok-Wan-jin dan rombongannya
sedang keluar, segera ia sembunyi di dekat situ untuk
mengawasi. Dan baru dia hendak mencari Tíng Pek-jwan dan
lain-lain untuk berunding, tiba-tiba dilihatnya Toan Ki dan
Giok-yan juga telah kembali, lalu ia menegur mereka.
Diam-diam Buyung Hok pikir pelajar tolol ini rupanya
benar-benar ingin memperistrikan piaumoai, dia adalah adik
angkat Siau Hong dan Hi-tiok, jika mereka benar-benar mau
membantu untuk mendapatkan putri Se He boleh tidak perlu
disangsikan lagi. Karena itu segera ia berkata, "Baiklah, waktu
sudah mendesak marilah lekas kita berangkat ke istana."
Di tengah jalan secara ringkas ia ceritakan penyamaran
Bok Wan-jing yang dilihatnya tadi. Maka Toan ki dapat
menerka sebagian apa maksud tujuan penyamaran Wan-jing.
Setiba di pondokan Buyung Hok, sudah tentu Ting-Pek-
jwan dan lain-lain sangat girang. Karena waktu sudah
mendesak buru-buru mereka ganti pakaian. Karena Giok-yan
tak mau berpisah lagi dengan Toan Ki, terpaksa Buyung Hok
membiarkan nona itu ikut dengan menyaru sebagai kaum
lelaki.
Buru-buru mereka berangkat ke istana. Setiba di sana
pintu istana ternyata sudah ditutup, terpaksa Buyung Hok
mencari akal, ia mengajak kawan-kawannya mengitar ke
samping istana, dari situ mereka lantas melompat melintasi
pagar tembok istana yang tinggi itu. Karena sekarang iwekang
Toan Ki sudah tambah hebat, maka dengan enteng dan
gampang sekali ia dapat melayang ke dalam lingkungan
istana.
Mereka terus mencari tempat perjamuan itu dengan ubek-
ubekan di taman. Kebetulan waktu itu perjamuan juga sudah
bubar dan para tamu diundang oleh putri Bun-gi Kongcu ke
Jing-hong-kok untuk untuk minum teh maka dapatlah
rombongan Toan Ki bertemu dengan rombongan Bok Wan-
jing . . . .
Begitu Siau Hong dan lain-lain menjadi girang melihat
Toan Ki sudah kembali dengan selamat. Dengan ikutnya Toan
Ki mereka tidak perlu kuatir rahasia akan terbongkar lagi.
Sesudah orang banyak menyusur lewat taman yang luas
itu, dari jauh tertampak sebuah gedung yang megah
menjulang di tengah pepohonan yang rindang. Setiba di
depan gedung itu. segera Helian Tiat-su berseru, "Para tamu
agung sudah tiba untuk bercengkerama dengan Kongcu!"
Ketika pintu terbuka, keluarlah empat dayang keraton yang
masing-masing membawa sebuah tenglong (lampu
barselubung kain), di belakang mereka adalah seorang
pembesar wanita berbaju ungu, katanya, "Atas kunjungan
para paduka, Kongcu menyilakan masuk untuk minum teh."
"Bagus, bagus! Memangnya aku sudah haus!” segera
Cong-can mendahului berteriak. Dan tanpa disilakan untuk
kedua kalinya, terus saja ia melangkah masuk ke dalam istana
dengan diikuti yang lain-lain dengan desak mendesak seakan-
akan kuatir tidak mendapatkan tempat yang baik yang lebih
dekat dengan sang putri.
Sesudah masuk di dalam istana itu, tertampak ruangan
sangat luas, lantai ruangan dilapisi permadani berbulu yang
berajutkan bunga beraneka warna dengan indah. Banyak meja
teh yang kecil teratur memanjang dalam beberapa baris, di
atas meja tertaruh mangkuk teh bertutup dan berwarna-warni,
setiap mangkuk bertutup itu didampingi pula sebuah piring
kecil berisi beberapa potongan panganan yang entah apa
namanya. Dan di depan sana tersedia sebuah bangku bundar
berkasur sulam yang indah.
Semua orang menduga bangku itu tentu tempat duduk
sang putri. Karena itu mereka saling berebutan mendapatkan
tempat duduk yang berdekatan dengan bangku bundar itu.
Hanya Toan Ki dan Giok-yan saja dengan bergandengan
tangan dan duduk dí suatu pojokan sambil bicara dengan
pelahan seakan-akan cerita mereka itu tidak habis-habis.
Sesudah semua orang mengambil tempat duduk,
kemudian pembesar wanita tadi mengetukkan sebuah palu
kecil pada sepotong "Hum-pan'' (tembikar serupa baki dipakai
penjual bakmi) setelah berbunyi “tok-tok-tok” tiga kali,
suasana dalam ruangan menjadi hening sampai Toan-Ki dan
Giok-yan juga terpaksa berhenti bicara dan menanti keluarnya
Bun-gi Kongcu, sang putri Se He.
Selang tidak lama, terdengarlah suara "kelintang-kelinting",
dari dalam muncul delapan dayang berbaju hijau, mereka
berdiri di kedua sisi. Sejenak pula seorang gadis jelita berbaju
hijau pupus keluar dengan langkah yang menggiurkan.
Seketika pandangan semua orang terbeliak, perawakan
gadis itu langsing ramping gerak-geriknya lemah-lembut,
mukanya sangat cantik pula.
Diam-diam semua orang bersorak memuji, "Orang
mengabarkan kecantikan Bun-gi Kongcu tiada bandingannya,
nyatanya memang bukan omong kosong.”
Pangeran Cong-can dan Buyung Hok mempunyai pikiran
yang sama, yaitu takkan merasa kecewa bila dapat
memperistrikan sang putri cantik itu.
Anehnya putri cantik itu tidak lantas düduk tapi ia maju ke
depan bangku bundar tadi dan memberi hormat kepada
semua orang.
Waktu putri itu masuk, semua orang berdiri untuk
menyambut, maka sekarang banyak pula yang mulutnya
berkecek-kecek memuji kecantikan sang putri. Sebaliknya putri
itu ternyata sangat prihatin, sinar matanya tidak berkelíaran,
matanya menatap ujung hidung sendiri, nyata seorang gadis
pingitan yang sangat sopan dan anggun. Karena itu semua
orang sampai tidak berani bernapas karas-keras, kuatir
membikin kaget sang putrì.
Sejenak kemudian, dengan muka kemerah-merahan
barulah putri itu berkata dengan pelahan, "Atas titah Tuan
Putri, para tamu agung disilahkan minum teh seadanya secara
bebas."
Semua orang saling pandang dengan terkesiap, Busyet jadi
gadis jelita ini bukan Tuan Putri sendiri, tampaknya hanya
seorang dayang príbadi putri saja, Dan segera terpikir pula
oleh mereka, jika dayangnya saja secantik ini, maka sang putri
entah betapa cantiknya.
"Kiranya engkau bukan Tuan Putri sendiri," Káta Cong-can
segerà, "jika begitu, harap lekas mengundang Tuan Putri
keluar.”
"Jika hadirin sudah minum Tuan Putri akan
mempermaklumkan sesuatu lagi,” ulas dayang cantik tadi.
“Bagus, bagus! Tuan Putri ada pesan, sudah tentu akan
menurut saja!"' seru Cong-can dengan tertawa. Dan segera ia
membuka tutup magnkuk yang berisi air teh itu, tanpa banyak
omong lagi ia tuang isi mangkuk itu ke dalam mulut dan
dikunyah.
Kiranya pada masa dahulu, menurut kebiasaan orang
Turfan, mereka menyeduh daun teh dicampur dengan susu
dan gula atau garam, kalau minum sekaligus daun teh juga
ikut dimamah dan dimakan ke dalam perut. Ini adalah
kebiasaan jadi bukan kelakuan kasar pangeran Cong-can.
Sambil masih mengunyah daun teh, segera pula Cong-Can
jejal-jejalkan beberapa potong panganan tadi ke dalam mulut,
lalu berkata, "Nah, aku sudah makan banyak, bolehlah
mengundang keluar sang putrimu!”
Dayang itu mengiakan saja, tapi tidak bergeser melangkah.
Cong-can tahu dia ingin tunggu orang lain selesai minum
baru mau pergi. Sudah tentu Cong-can menjadi gelisah dan
berulang-ulang mendesak orang lain agar lekas habiskan teh
dan makannya.
Dengan susah payah menunggu akhirnya selesai juga
hadirin makan minum, lalu Cong-can tanya pula, "Nah, jadi
sekarang?"
Kembali muka si dayang cantik merah jengah, sahutnya,
"Sekarang Tuan Putri mengundang hadirin berkunjung ke
ruang dalam untuk menikmati lukisan dan tulisan."
"Hah, buat apa melihat lukisan dan tulisan? Aku lebih suka
melihat Tuan Putrimu!” seru Cong-can. Tapi tidak urung ia ikut
berdiri juga bersama orang banyak.
Diam-diam Buyung Hok bergirang. "Sungguh sangat
kebetulan. Resminya sang putri mengundang kàmi menikmati
lukisan dan tulisan, tapi sesungguhnya hendak menguji
kepandaian sastra kami. Orang kasar sebagai pangeran Cong-
can itu sudah tentu tak becus tentang lukisan dan syair apa
segala. Kalau melulu menguji ilmü silat saja aku pun lebih
unggul daripada yang lain, apalagi sekarang sang putri hendäk
menguji kapändaian sastra, tentu saja kemenanganku menjadi
lebih meyakinkan lagi."
Begitulah dengan berseri-seri segera ia pun berdiri dan
siap ikut dayang tadi ke ruangan dalam.
Tapi mendadak dayang itu berkata pula, “Menurut titah
Tuan putri, para nona yang menyamar sebagai lelaki dan para
tuan yang berusia lebih 40 tahun, semüanya disilahkan tinggal
dì istana Guh-hiang-wan ini untuk minum lagi. Sedang hadirin
lain boleh ikut masuk ke ruang dalam.”
Sungguh kejut sekali Bok Wan-jing dan Ong Giok-yan
ternyata penyamaran mereka sejak tadi sudah diketahui
orang.
Tiba-tiba terdengar seruan seorang, “Bukan! Bukan!”
Kembali muka si dayang bersemu merah, rupanya selama
hidup ini dia selalu terkurung di tengah istana selain kaum
Thai-kam (dayang lelaki kebiri , orang kasim), selamanya tak
pernah bertemu dengan kaum lelaki yang sesungguhnya.
Sekarang mendadak berhadapan dengan kaum lelaki
sebanyak ini, sudah tentu ia menjadi kikuk dan grogi.
Jilid 80
Karena didasar sumur itu gelap gulita, dengan sendirinya satu-sama-lain
takbisa melihat dengan jelas. Giok-yan hanya tersenyum saja dan tidak
bicara pula. Dalam hati iapun sangat bahagia dan gembira. Sejak kecil
ia kesemsem kepada sang Piauko, tapi tidak mendapat balas cinta
sebagaimana mestinya dan baru sekarang ia benar2 dapat menikmati rasa
cinta kasih antara dua hati yang terjalin menjadi satu.
No... nona Ong, apa sih yang... yang kau katakan diatas tadi, aku tidak
mendengar ucapanmu itu, tanya Toan Ki dengan ter-gagap2.
Kukira engkau adalah seorang lelaki jujur dan tulus, tak terduga kau
juga pintar pura2, sahut Giok-yan dengan tersenyum. Sudah terang kau
telah mendengar apa yang kukatakan tadi, tapi sekarang kau minta aku
mengulangi sekali lagi didepanmu. Idiiih, malu ah, aku takmau katakan
lagi.
Toan Ki menjadi gugup, ia coba menjelaskan: Ti... tidak aku be...
benar2 tidak mendengar apa yang kau katakan tadi. Nah, biar aku
bersumpah, jika aku mendengar, biarlah aku di... Sampai disini
mendadak mulutnya tertutup oleh sebuah tangan yang hangat2 halus. Nyata
Giok-yan telah mendekap mulutnya.
Kalau memang tidak mendengar ja sudah, kenapa mesti pakai bersumpah apa
segala, demikian kata sinona.
Sungguh girang Toan Ki melebihi tadi. Sejak dia kenal Giok-yan, belum
pernah ia diperlakukan sedemikian baiknya oleh nona itu. Maka ia lantas
tanya pula: Habis, apa sih yang kau katakan diatas sumur tadi?
Aku bilang... tapi mendadak Giok-yan merasa serba kikuk dan urung
meneruskan. Ia belokkan kejurusan lain. Biarlah kuterangkan lain kali
saja. Toh hari depan kita masih cukup panyang, buat apa mesti terburu2.
Hari depan kita masih cukup panyang, buat apa mesti ter-buru2! kata2
ini benar2 seperti wahju malaikat dewata yang jatuh dari langit baginya.
Makna daripada kata2 itu sudah terang menyatakan bahwa untuk selanjutnya
Giok-yan akan selalu hidup berdampingan dengan dia.
Namun Toan Ki masih ragu2 atas pendengarannya sendiri, ia masih
menegas: Kau... kau maksudkan untuk seterusnya kita akan selalu berada
bersama?
Giok-yan merangkul leher Toan Ki dan ber-bisik2 ditepi telinganya:
Toan-long, asal kau tidak mencela diriku, tidak marah padaku karena
tempo hari aku telah bersikap dingin padamu, maka untuk selama hidup ini
aku rela ikut bersama kau dan takkan... takkan meninggalkan dikau pula.
Jantung Toan Ki hampir2 meloncat keluar dari mulutnya saking kerasnya
berdebar. Ia tanya pula: Habis bagaimana dengan Piaukomu? Selama ini kau
sangat suka padanya.
Ja, tapi toh dia tidak pernah memperhatikan diriku, sahut Giok-yan. Dan
baru sekarang aku tahu siapakah gerangan orang didunia ini yang benar2
mencintai aku dan mengasihi aku, siapa yang telah memandang diriku lebih
berharga daripada jiwanya.
Kau maksudkan aku? tanya Toan Ki.
Siapa lagi kalau bukan kau, sahut Giok-yan. Tiba2 ia menangis, katanya
pula: Selama hidup Piaukoku itu selalu bermimpi akan menjadi raja Yan.
Tapi maklum juga, sejak turun temurun keluarga Buyung mereka memang
sudah mempunyai cita2 yang muluk2 itu. Sebenarnya Piauko bukan seorang
jahat, dia cuma kepingin menjadi raja, maka segala urusan lain telah
dikesampingkan olehnya.
Mendengar nada sinona ada maksud membela dan mengecilkan kesalahan
Buyung Hok, kembali Toan Ki berkuatir pula. Tanyanya cepat: Nona Ong,
andaikan kelak Piaukomu menginsafi keselahannya dan tiba2 membaiki kau
lagi, lan... lantas bagaimana kau?
Toan-long, sahut Giok-yan dengan menghela napas. Meski aku adalah
seorang wanita bodoh, tapi sekali2 bukan manusia yang bermartabat rendah.
Hari ini aku sudah mengikat janji dengan kau, jika kelak aku berbuat
hal2 yang tidak baik, bukankah akan merusak nama baikku sendiri? Apakah
aku tidak merasa berdosa terhadap cintamu yang murni kepadaku?
Toan Ki kegirangan mendapat jawaban itu, ia berseru gembira, segera ia
angkat sedikit kepala sinona, dia sendiri lalu menunduk hendak mencium.
Dengan malu2 Giok-yan menyambutnya dengan mesra dan empat bibir lantas
terkatup menjadi satu. Tapi baru kepalang-tanggung, se-konyong2 dari
atas terdengar suara menyambarnya sesuatu benda besar yang jatuh
kebawah.
Keruan kedua orang terkejut dan cepat menyisih ketepi dinding. Maka
terdengarlah suara bluk yang keras, sesosok tubuh telah jatuh kedasar
sumur itu.
Siapa itu? tanya Toan Ki.
O, akulah! sahut orang itu yang ternyata adalah Buyung Hok.
Rupanya sesudah Toan Ki sadar kembali, dia lantas roman dengan Giok-yan
sehingga keduanya lupa daratan se-akan2 hidup didunia sendiri, andaikan
saat itu langit akan ambruk atau bumi meledak tentu juga takkan terpikir
oleh mereka. Dengan sendirinya pertarungan sengit antara Ciumoti dan
Buyung Hok yang diatas sumur tadi juga tak mereka pedulikan. Sekarang
demi mendadak Buyung Hok jatuh kedalam sumur, barulah kedua orang itu
kaget dan menyangka Buyung Hok sengaja datang hendak mengganggu janji
setia mereka.
Segera Giok-yan berkata dengan suara gemetar: Piau... Piauko, kau mau
apalagi datang pula ke... kesini? Hidupku ini sekarang sudah kupasrahkan
kepada Toan-kongcu, jika engkau mau membunuh dia, bolehlah kau membunuh
aku sekalian.
Sungguh girang sekali Toan Ki mendengar pernyataan tegas Giok-yan itu.
Mestinya dia tidak kuatir dirinya dibunuh Buyung Hok, yang dikuatirkan
adalah Giok-yan akan terbujuk dan kembali lagi kepangkuan Piaukonya.
Tapi sesudah mendengar ucapan Giok-yan itu, seketika legalah hatinya. Ia
merasa pula sinona telah menjulurkan tangannya untuk menggenggam kedua
tangan sendiri, hal ini makin menambah kepercajaannya, segera ia
berkata: Buyung-kongcu, kau boleh pergi menjadi Huma kerajaan Se He,
aku tak nanti berebutan dengan kau, bahkan aku akan membantu
terlaksananya cita2mu itu. Adapun Piaumoaymu ini sudah menjadi milikku,
kau takkan dapat merebutnya lagi. Giok-yan, betul tidak katamu?
Betul, sahut Giok-yan. Biar mati atau hidup aku sudah pasti akan ikut
kau.
Karena Hiat-to tertutuk, maka Buyung Hok dapat mendengar dan bicara,
cuma takbisa bergerak. Diam2 ia memikir: Mereka berdua belum mengetahui
aku telah dikalahkan Ciumoti dan dalam keadaan tak berkutik, maka mereka
masih sangat jeri padaku, kuatir kalau aku membikin susah mereka. Ja,
hal ini akan menguntungkan diriku, biarlah aku melakukan tipu mengulur
tempo pula.
Maka ia lantas berkata: Piaumoay, sesudah kau menjadi isteri Toankongcu,
maka kita sudah terhitung pamili sendiri. Toan-kongcu adalah
adik iparku, masakah aku tega mencelakai dia lagi?
Dasar Toan Ki memang seorang jujur dan polos, sedang Giok-yan masih
hijau, maka mereka percaja penuh kepada ucapan Buyung Hok itu, dalam
girangnya mereka lantas mengucapkan terima kasih.
Lalu Buyung Hok berkata pula: Toan-hiante, sekarang kita sudah orang
sekeluarga, kalau aku pergi menjadi Huma kerajaan Se He, maka kau
takkan merintangi lagi bukan?
Sudah tentu, sahut Toan Ki cepat. Asal aku dapat memperisterikan
Piaumoaymu, maka tiada cita2ku yang lain lagi, biarpun aku dijadikan
malaikat dewata juga aku tidak mau.
Pelahan2 Giok-yan menggelendot dibahu Toan Ki, girangnya tak
terkatakan.
Dalam pada itu diam2 Buyung Hok coba mengerahkan tenaga dalamnya untuk
membujarkan Hiat-to yang tertutuk Ciumoti tadi. Karena seketika susah
dipunahkan, pula tidak sudi minta pertolongan, maka ia hanya menggerutu
didalam hati: Dasar sifat kaum wanita memang gampang terpengaruh dan
mudah berganti cinta, buktinya memang betul seperti Piaumoay sekarang
ini. Kalau dia ingat kebaikanku, tentu dia sudah mendekati dan
membangunkan aku.
Dia mencerca orang lain, tapi lupa dirinya sendiri yang tak berbudi
sehingga Giok-yan merasa putus asa dan hendak bunuh diri. Padahal tempat
didasar sumur itu luasnya kira2 cuma dua-tiga meter, jarak mereka satusama-
lain sebenarnya sangat dekat, asal Giok-yan melangkah satu tindak
saja sudah dapat mencapai Buyung Hok. Tapi dia merasa jeri, kuatir
kalau Buyung Hok bertipu muslihat dan membikin celaka Toan Ki. Selain
itu iapun takut menimbulkan rasa curiga Toan Ki, maka sejak tadi
selangkahpun Giok-yan tidak berani sembarangan bergerak.
Begitulah, karena pikirannya bingung, maka untuk membuka Hiat-to yang
tertutuk menjadi tambah susah. Sedapat mungkin Buyung Hok coba
tenangkan diri, lalu pelahan2 membuka jalan darah yang tertutuk itu. Dan
baru saja dia dapat bergerak dan mulai berdiri, plok tiba2 ada sesuatu
benda jatuh disebelahnya. Nyata itu adalah Ih-kin-keng yang terlepas
dari baju Ciumoti. Dan karena keadaan gelap gulita, Buyung Hok segera
menyingkir kesamping untuk menjauhi benda yang jatuh itu. Dan untung
karena dia menggeser minggir, maka waktu kemudian Ciumoti melompat turun
tidak sampai menjatuhi tubuhnya.
Kembali tadi. Sesudah Ciumoti dapat menemukan kembali Ih-kin-keng,
saking senangnya ia terus ter-bahak2. Karena luang sumur itu sangat
sempit, maka kumandang suara tertawanya itu sampai men-dengung2 memekak
telinga Toan Ki.
Dan karena tertawanya itu, ternyata Ciumoti tak mampu menghentikan
pula bergolaknya hawa murni yang semakin hebat dan makin melembung
rasanya, pikirannya menjadi kacau, seketika ia menjadi seperti orang
gila, ia menghantam dan menendang serabutan dikumbangan lumpur itu. Dan
sudah tentu serangan2 yang ngawur itu selalu mengenai dinding sumur,
terkadang sangat keras sehingga batu pecah dan debu pasir bertebaran,
tapi terkadang sangat lemah, sedikitpun tak bertenaga.
Giok-yan sangat takut, dengan kencang ia memepet disisi Toan Ki,
bisiknya pelahan: Dia sudah gila, dia sudah gila!
Ja, rupanya dia benar2 sudah gila, sahut Toan Ki.
Sementara itu kebebasan bergerak Buyung Hok sudah pulih kembali, untuk
tidak terkena serangan Ciumoti, segera ia gunakan ilmu cecak merajap
untuk merajap keatas dan menggemblok didinding sumur.
Ciumoti masih terus tertawa dan napasnya juga semakin ter-sengal2,
sebaliknya pukulan dan tendangannya tambah cepat.
Taysu, lebih baik kau duduk saja dan istirahat dengan hati tenang
saja! demikian Giok-yan coba membujuk dengan tabahkan hatinya.
Hahahahaha! Aku takmau! seru Ciumoti sambil ter-bahak2, bahkan ia
terus mencengkeram kearah Giok-yan. Ditempat yang sempit itu, dengan
sendirinya susah bagi Giok-yan untuk menghindar, keruan cengkeraman
Ciumoti itu sudah sampai diatas pundak sinona.
Dengan menjerit kaget lekas2 Giok-yan mengegos. Sedang Toan Ki terus
menggeser maju untuk mengadang didepan sinona, serunya: Kau sembunyi
dibelakangku saja.
Dan pada saat itu juga kedua tangan Ciumoti sudah merangsang maju
lagi dan dengan tepat mencekik leher Toan Ki. Seketika Toan Ki merasa
napasnya menjadi sesak dan takbisa membuka suara.
Giok-yan sangat kuatir, lekas2 ia bantu menarik tangan Ciumoti. Tapi
waktu itu Ciumoti sudah dalam keadaan kalap, meski hawa murninya
bergolak dan susah dikendalikan, tapi tenaga cekikan itu ternyata sangat
kuat. Sudah tentu Giok-yan hanya seperti menarik kecapung menghinggap
ditiang batu saja, sedikitpun takdapat mengendurkan tangan Ciumoti yang
mencekik Toan Ki itu.
Kuatir kalau Toan Ki tercekik mati, saking bingungnya Giok-yan terus
ber-teriak2: Piauko, Piauko, lekas kau menolongnya. Hwesio ini hendak
mencekik mati Toan-kongcu!
Untuk sejenak Buyung Hok menjadi ragu2. Pikirnya: Pemuda she Toan ini
menyatakan hendak membantu aku menjadi Huma kerajaan Se He, tapi entah
omongannya dapat dipercaja atau tidak. Dia pernah mengalahkan aku di
Siau-sit-san sehingga nama keluarga Buyung kami runtuh habis2-an dan
kehilangan muka didepan orang banyak, sekarang dia terancam bahaja, buat
apa aku mesti menolong dia? Apalagi ilmu silat paderi ini sangat tinggi
dan sudah bagiku untuk menandingi dia, biarlah mereka berdua mati konyol
dalam pertarungan mereka, kukira jalan ini paling selamat bagiku.
Karena itu, ia semakin kencang memegang celah2 dinding sumur itu dengan
memasuki jarinya dan tidak mau turun untuk membantu, biar Giok-yan berteriak2
minta tolong sampai suaranya serak, tetap Buyung Hok tidak peduli
dan anggap tidak mendengar.
Sementara itu mata Toan Ki tampak sampai mendelik, keruan Giok-yan
tambah kuatir, ia gunakan kepalan untuk menghantam kepala dan punggung
Ciumoti sambil ber-teriak2. Sudah tentu Ciumoti tidak merasakan
pukulan2 sinona, ia hanya ngos2-an napasnya sambil ter-bahak2 pula,
berbareng masih terus mencekik leher Toan Ki dengan sekuatnya...
Kembali berceritakan rombongan Siau Hong dan lain2.
Pagi itu Pah Thian-sik dan Cu Tan-sin menjadi sibuk karena kehilangan
Toan Ki dan Giok-yan.
Wah, pangeran cilik kita ini memang mirip ajahandanya, di-mana2 suka
main roman, tentu tengah malam dia telah kabur bersama nona Ong dan entah
kemana perginya, demikian kata Tan-sin.
Ja, pangeran cilik kita orangnya ganteng dan romantis, lebih suka
wanita daripada tahta, sahut Thian-sik. Dia jatuh hati kepada nona Ong,
hal ini telah diketahui semua orang. Kalau suruh dia menjadi Huma
kerajaan Se He, ai, kukira sulit. Apalagi sifat pangeran kita ini sangat
kepala batu, dahulu Sri Baginda ingin dia belajar silat, tapi dia tetap
membangkang dan tidak mau, kalau dipaksa, dia lantas minggat dari istana.
Tiada jalan lain, terpaksa kita mencarinya dan membujuknya sedapat
mungkin, ujar Tan-sin.
Pah-heng, kata Tan-sin pula. Aku jadi ingat kejadian dahulu, ketika
pangeran cilik kita minggat dari istana. Siaute dititahkan Ongya untuk
mencarinya, dengan susah pajah akhirnya lantas aku dapat menemukan dia,
siapa duga... sampai disini ia lantas bisik2: siapa duga dia telah
kesemsem kepada nona Bok Wan-jing ini, dan seperti sekarang, ditengah
malam buta merekapun diam2 mengelojor kabur. Untung Siaute sudah menjaga
ditengah jalan sehingga dapat mempergoki mereka.
Wah, jika begitu, maka sekarang inipun salahmu, seru Thian-sik. Kau
sudah berpengalaman, kenapa kejadian dahulu itu boleh terulang lagi?
Bukankah semalam kita harus berjaga secara bergiliran untuk mengawasi
gerak-gerik mereka?
Tan-sin menghela napas gegetun, katanya: Aku mengira dia pasti akan
ingat hubungan baiknya dengan Siau-tayhiap dan Hi-tiok Siansing dan tidak
nanti tinggal pergi begitu saja, siapa tahu... siapa tahu... Mestinya
dia hendak mengatakan siapa tahu pangeran kita ternyata lebih
mementingkan wanita daripada persahabatan,. Tapi kata2 yang tidak pantas
diucapkan kaum bawahan kepada junjungannya ini urung dilontarkan.
Begitulah karena tak berdaja lagi, terpaksa kedua orang itu melaporkan
apa yang terjadi kepada Siau Hong dan Hi-tiok. Segera para kawan
dikerahkan untuk mencari, tapi sudah dicari ubek2an selama sehari,
tetap bajangan Toan Ki dan Giok-yan tak diketemukan.
Malam itu semua orang berkumpul dikamarnya Toan Ki yang kosong itu
untuk berunding. Dan sudah tentu mereka tidak memperoleh sesuatu akal
yang baik untuk mencari pemuda itu.
Tengah mereka bingung, tiba2 bagian protokol kerajaan Se He mengutus
seorang untuk menemui Pah Thian-sik dan memberitahukan bahwa besok malam
hari Tiongchiu baginda raja akan mengadakan perjamuan besar diistana
Se-hwa-koing untuk menghormati para tamu yang datang dari berbagai
penjuru, maka pangeran Tayli itu diharap suka hadir.
Sudah tentu Pah Thian-sik takdapat mengatakan lenyapnya Toan Ki, ia
hanya menyanggupi saja undangan itu.
Utusan itu pernah disuap oleh Pah Thian-sik, maka sikapnya sangat baik,
waktu hampir berpisah, tiba2 ia membisiki Thian-sik pula: Pah-loheng,
biarlah aku memberi info padamu. Dalam perjamuan Sri Baginda besok
malam, disitu juga Sri Baginda akan mengamat-amati gerak-gerik dan
tampan dan kepandaian para tamu calon menantu raja itu. Sesudah
perjamuan boleh jadi akan diadakan perlombaan membuat sjair dan
bersajak, atau mungkin juga memanah dan bertanding silat untuk
menentukan siapa yang sesuai untuk menjadi pasangan Tuan Puteri kami.
Maka besok malam ialah kunci utama bagi sukses tidaknya usaha para
calon, untuk mana diharapkan Toan-kongcu suka memperhatikan.
Ber-ulang2 Pah Thian-sik mengucapkan terima kasih, berbareng ia
mengeluarkan sepotong uang emas dan dijejalkan ketangan utusan itu.
Setiba kembali didalam kamar, segera Thian-sik memberitahukan info yang
baru didapat itu. Katanya pula: Tin-lam-ong telah memberi pesan dengan
wanti2 agar Pangeran cilik kita harus membawa pulang puteri Se He. Kalau
tugas yang diserahkan pada kami ini gagal, maka kami sungguh malu untuk
menemui Ongya lagi.
Tiba2 Tiok-kiam mengikik tawa lalu berkata: Pah-loya, apa boleh hamba
ikut bicara sedikit?
Silakan, sahut Thian-sik.
Sebabnya ajah baginda Toan-kongcu mengharuskan dia menikah dengan
puteri Se He, maksud tujuannya kan ingin besanan dengan kerajaan Se He
untuk memperkuat kedudukan kerajaan Tayli mereka, bukan? tanya Tiokkiam.
Benar, jawab Thian-sik.
Adapun mengenai puteri Se He itu akan secantik bidadari atau sejelek
setan takkan dipikir oleh Toan-ongya, bukan? ganti Kiok-kiam yang
bertanya.
Ja, tetapi sebagai Tuan Puteri yang diagungkan, sekalipun tidak
secantik bidadari, paling tidak toh juga akan punya roman muka yang
lumajan, ujar Tan-sin.
Nah, sekarang kami ada suatu akal, asal puteri Se He dibojong pulang ke
Tayli, maka soal Toan-kongcu akan diketemukan dalam waktu singkat atau
tidak menjadi takkan merupakan soal lagi, sekarang Bwe-kiam yang
berkata.
Dan Lan-kiam juga tidak ketinggalan, katanya: Nanti, kalau Toankongcu
sudah bosan pesiar ke-mana2 dengan nona Ong, lewat setahun atau
dua tahun, tentu dia akan pulang sendiri ke Tayli, tatkala mana juga
belum terlambat untuk minta dia melangsungkan pernikahan dengan puteri Se
He.
Heran dan girang pula Thian-sik dan Tan-sin, kata mereka berbareng: He,
akal para nona ini benar2 sangat baik, coba jelaskan lagi.
Segera Bwe-kiam bicara lebih dulu: Sekarang kalau kita minta nona Bok
menyamar sebagai seorang pemuda pelajar, bukankah akan jauh lebih
tampan daripada Toan-kongcu. Lalu kita minta nona Bok suka menghadiri
perjamuan raja Se He besok malam, kukira tiada seorangpun diantara beribu2
tetamu itu mampu menandingi ketampanannya.
Ja, nona Bok adalah adik perempuan Toan-kongcu, demikian Lan-kiam
menyambung. Kalau adik perempuan mewakilkan kakaknya mengambil isteri
demi kepentingan negara serta untuk memenuhi tugas atas perintah ajah,
bukankah jalan ini boleh dikata sekali tepok beberapa laler?
Dan bila nona Bok sudah terpilih sebagai Huma, untuk melangsungkan
upacara pernikahan tentu masih cukup lama waktunya, dalam pada itu
Toan-kongcu tentu sudah dapat diketemukan, demikian Tiok-kiam
menambahkan.
Ja, andaikan Toan-kongcu tetap belum diketemukan, tiada halangannya
juga kalau nona Bok mewakilkan kakaknya melangsungkan pernikahan,
akhirnya Kiok-kiam menutup usul mereka. Lalu keempat dara itu lantas
tertawa cekikikan.
Dasar anak kembar empat, maka pikiran mereka sama, lagak-lagu merekapun
sama, tertawa sama, diwaktu bicara juga sama dan entah apalagi yang
sama...
Untuk sejenak Pah Thian-sik dan Cu Tan-sin hanya saling pandang
saja. Mereka merasa usul dara2 itu terlalu sembrono, kalau sampai
konangan, tentu urusan akan runyam, bukan saja gagal mengikat perbesanan
dengan Se He, bahkan bukan mustahil raja Se He akan mengamuk dan
menyatakan perang kepada Tayli.
Rupanya Bwe-kiam dapat menerka apa yang dipikirkan Thian-sik berdua,
segera ia berkata pula: Sebenarnya Toan-kongcu toh mempunyai saudara
angkat sebagai Siau-tayhiap dan mestinya tidak perlu mencari sandaran
kepada Se He, cuma Tin-lam-ong telah memberi perintah sehingga terpaksa
mesti diturut. Dan kalau terjadi apa2, Siau-tayhiap adalah Lam-ih Tayong
dari kerajaan Liau dengan kekuatan militer yang dahsjat, asal beliau
mau ikut bicara, maka segala persoalan tentu dapat diatasi, tidak nanti
raja Se He berani main gila kepada kerajaan Tayli.
Sebagai seorang menteri yang dipercaja dan ikut memegang pemerintahan,
sudah tentu Pah Thian-sik bukan seorang bodoh. Mengenai Siau Hong dapat
dijadikan bala bantuan kerajaan Tayli, hal ini memang sudah didalam
perhitungannya. Cuma saja dia merasa tidak enak untuk mengucapkan
sendiri. Kini demi mendengar ucapan Bwe-kiam itu dan Siau Hong juga
mengangguk, maka semangatnya seketika terbangkit. Pikirnya: Usul keempat
dara cilik ini tampaknya seperti permainan anak kecil, tapi selain
jalan ini sesungguhnya juga tiada cara lain, hanya nona Bok entah suka
menerima dan mau menyerempet bahaja atau tidak?
Karena itu, segera ia sengaja berkata: Usul nona2 ini memang akal
sangat bagus, tapi pelaksanaannya benar2 terlalu berbahaja. Pabila sampai
konangan penyamaran nona Bok nanti, tentu ada kemungkinan nona Bok akan
tertawan, apalagi disitu hadir kesatria2 dari segenap penjuru, dalam hal
orangnya sudah tentu nona Bok adalah paling tampan, tapi kalau mesti
bertanding silat dan mengalahkan mereka, wah, ini agak kurang mejakinkan.
Seketika pandangan semua orang lantas beralih kepada Bok Wan-jing dan
ingin tahu bagaimana pendiriannya.
Maka berkatakan Wan-jing: Pah-siansing, kau tidak perlu memancing aku
dengan kata2mu itu, soalnya engkohku... engkohku itu... hanya sampai
disini, mendadak air matanya lantas bercucuran dan tidak sanggup
meneruskan lagi.
Rupanya telah terjadi pertentangan batinnya, teringat olehnya apa yang
dilakukan Toan Ki dengan Giok-yan sekarang adalah mirip dengan kejadian
Toan Ki dalam perjalanan bersama dirinya diwaktu dahulu, coba kalau
pemuda itu bukan kakaknya sendiri, tentu pemuda itupun takkan mengingkar
janji. Tapi sekarang Toan Ki sedang ber-cumbu2an dengan nona lain,
sebaliknya dia sendiri hidup kesepian disini, bahkan para kambrat
kerajaan Tayli malah minta dia berjoang baginya.
Dasar watak Bok Wan-jing memang takmau kalah, dikala pikirannya pepet,
mendadak ia angkat meja didepannya sehingga terbalik, seketika mangkokpiring
pecah berantakan, lalu ia melompat keluar.
Semua orang saling pandang dengan bingung dan merasa kurang senang
pula. Yang paling menyesal adalah Pah Thian-sik, katanya: Semuanya adalah
salahku. Jika aku memohonnya dengan kata2 halus paling2 nona Bok cuma
menolak saja permintaanku, tapi karena aku telah sengaja memancingnya
dengan kata2 yang menyinggung perasaannya, maka dia menjadi marah2.
Begitulah, besoknya semua oran gmasih terus berusaha menemukan Toan Ki,
didalam kota tampak sangat ramai dengan hilir-mudiknya pemuda2 gagah dan
perlente, mungkin sebagian besar akan ikut dalam perjamuan malaman
Tiongthjiu dalam istana raja nanti.
Sampai petang semua orang telah pulang dan Toan Ki tetap tidak
diketemukan. Maka berkatalah Siau Hong: Jika Samte sudah pergi dari
sini, maka beramai2 kitapun boleh pulang saja, tak peduli siapa yang
akan menjadi Huma nanti, semuanya tiada sangkut-pautnya dengan kita.
Ja, ucapan Siau-tayhiap memang benar, supaja kita tidak menyaksikan
orang lain menjadi Huma dan menimbulkan rasa penasaran, ujar Thian-sik.
Eh, Cu-siansing, kau sendiri sudah beristeri belum? demikian tiba2
Ciong Ling tanya kepada Cu Tan-sin. Jikalau Toan-kongcu tidak mau
menjadi Huma, kenapa bukan kau saja yang magang? Eh, siapa tahu kalau
kau akan dianugerahi puteri Se He yang cantik itu, jika demikian,
bukankah juga akan banyak manfaatnya bagi kerajaan Tayli?
Tan-sin tertawa, sahutnya: Ai, nona Ciong ini suka berkelakar saja.
Sudah lama aku punya isteri dan punya selir, banyak pula putera-puteriku,
mana boleh aku ikut2 berlomba berebut puteri seperti kaum muda mereka?
Ciong Ling melelet lidah dan tidak bicara lagi.
Sebaliknya Cu Tan-sin lantas menambahi lagi dengan tertawa: Ja, sayang
wajah nona Ciong sendiri masih terlalu muda, pipimu dekik pula dan
tidak mirip orang lelaki, kalau tidak, wah, tentu kau dapat mewakilkan
engkohmu untuk mengikuti sajembara itu...
Apa? Mewakilkan engkohku? Ciong Ling menegas.
Tan-sin merasa telah kelepasan mulut. Tapi dalam hatinya membatin:
Memangnya kau adalah puteri Tin-lam-ong dari hubungan yang tidak sah,
peristiwa yang masih dirahasiakan ini tidak boleh sembarangan kukatakan.
Pada saat itulah tiba2 terdengar seorang berkata diluar kamar sana:
Pah-siansing, Cu-siansing, marilah kita boleh berangkat sekarang!
Dan dimana kerai tersingkap, masuklah seorang pemuda yang ganteng dan
tampan. Siapa lagi dia kalau bukan Bok Wan-jing yang telah menyamar
sebagai pemuda pelajar.
Keruan semua orang terkejut dan bergirang pula, kata mereka: He, apa
nona Bok sudah bersedia pergi?
Tapi Bok Wan-jing lantas menjawab: Cayhe she Toan bernama Ki, adalah
putera pangeran Tin-lam-ong dari Tayli, diharap ucapan kalian sukalah
hati2.
Walaupun suaranya nyaring merdu sebagai suara wanita, tapi banyak juga
pemuda pelajar yang bersuara lemah-lembut, maka tidak perlu diherankan.
Karena merasa Bok Wan-jing dapat menirukan lagak-lagu Toan Ki, maka
tertawalah semua orang.
Rupanya sesudah marah2 sebentar dan pulang kekamarnya dengan menangis,
besok paginya setelah di-pikir2 pula, ia merasa tidak enak telah berlaku
kasar dihadapan orang banyak, pula ia merasa tertarik juga jika dia
menyamar sebagai Toan Ki untuk ikut berebut puteri Se He dengan jago2
lain. Dalam hati kecilnya lapat2 merasa: Kau (maksudnya Toan Ki) ingin
menikah dan hidup bahagia dengan nona Ong, tapi aku justeru sengaja
mewakilkan kau mengambil seorang Tuan Puteri untuk isterimu, biar hidupmu
kelak selalu cekcok diantara dua isteri, dengan begini barulah kau tahu
rasa.
Kemudian teringat pula olehnya waktu dia datang kekota Tayli dahulu,
dimana ajah Toan Ki juga dihadapkan pada masalah isteri dan kekasih lain
sehingga membuatnya serba salah dan kikuk, kalau sekarang Toan Ki juga
mempunyai seorang isteri Tuan Puteri secara resmi, maka Giok-yan tentu
takkan berhasil menjadi isterinya yang sah.
Begitulah jalan pikiran kaum wanita. Kalau dia sendiri tidak bisa
menjadi isterinya Toan Ki, maka diapun tidak mengijinkan seorang gadis
lain dapat hidup bahagia sebagai istennya. Makin dipikir makin senang,
maka dia lantas mengambil keputusan dan bersedia menyamar sebagai Toan Ki.
Dengan demikian, maka cepat2 Pah Thian-sik dan lain2 lantas ber-gegas2
menyiapkan segala sesuatu yang perlu untuk berangkat menghadiri
perjamuan raja.
Tiba2 Wan-jing berkata: Siau-toako dan Hi-tiok Jiko, bila kalian sudi
ikut aku pergi bersama, aku keperjamuan itu, maka segala apa aku takkan
takut lagi. Kalau tidak, apabila terjadi pertempuran, mana aku mampu
melawan orang. Didalam istana rasanya juga tidak pantas aku sembarangan
membidikan panah berbisa untuk membunuh musuh.
Baiklah, aku dan Jite sudah dipesan oleh paman Toan, sudah tentu kami
akan membantu sekuat tenaga, sahut Siau Hong dengan tertawa.
Segera semua orang berdandan seperlunya untuk ikut pergi. Siau Hong dan
Hi-tiok menyaru sebagai pengiring dari kerajaan Tayli. Ciong Ling dan
Bwe-kiam berempat saudara mestinya ingin ikut juga dengan menyamar
sebagai lelaki, tapi Pah Thian-sik telah mencegah mereka agar jangan
ikut, untuk menjaga penyamaran Bok Wan-jing saja susah, apalagi kalau
ditambah penyamaran mereka berlima, tentu rahasia mereka akan terbongkar.
Karena itu, terpaksa Ciong Ling dan lain2 menurut.
Sesudah rombongan mereka berada ditengah jalan, tiba2 Pah Thian-sik
berseru: Ai, hampir2 membikin urusan menjadi runyam. Bukankah Buyung Hok
itupun akan hadir dan ikut berebut menjadi Huma, dia kenal baik pada
Toan-kongcu, lantas bagaimana nanti?
Siau Hong tertawa, katanya: Pah-heng tidak perlu kuatir. Buyung-kongcu
juga serupa dengan Samte, diapun telah menghilang tanpa pamit, tadi aku
telah mencari tahu ketempatnya, kulihat Ting Pek-jwan, Pau Put-tong dan
kawan2nya juga sedang kelabakan mencari Kongcu mereka.
Wah, ini sangat kebetulan, kata semua orang dengan girang.
Sungguh Siau-tayhiap mempunyai pikiran yang panyang, sampai2
sebelumnya keadaan Buyung Hok juga telah diselidikinya, ujar Tan-sin.
Bukannya aku bisa berpikir panyang, sahut Siau Hong. Aku hanya
kuatirkan kepandaian Buyung Hok yang tinggi itu akan merupakan lawan
paling tangguh bagi nona Bok, maka... hehe, hehe!
Kiranya Siau-tayhiap hendak membujuk dia agar malam ini jangan ikut
hadir dalam perjamuan., kata Pah Thian-sik dengan tertawa.
Agaknya Ciong Ling merasa bingung atas petualangan mereka itu, dengan
mata terbelalak ia tanya: Sebabnya jauh2 Buyung-kongcu datang kesini
justeru ingin menjadi Huma, mana mungkin dia dapat dibujuk olehmu? Apa
memangnya Siau-tayhiap adalah sobat baiknya Buyung-kongcu.
Sobat sih bukan, sela Bok Wan-jing dengan tertawa, Cuma kepalan Siautayhiap
terlalu keras baginya, maka dia terpaksa mesti menurut
nasihatnya.
O! Ciong Ling melongo, baru sekarang dia paham duduknya perkara.
Begitulah, setiba rombongan mereka didepan istana, segera Pah Thian-sik
menyodorkan kartu undangan. Maka tertampaklah Le-poh Siang-si (menteri
urusan protokol) kerajaan Se He lantas menyambut keluar sendiri dan
menyilakan rombongan Bok Wan-jing kedalam istana. Ternyata sudah ada
lebih seratus pemuda yang telah hadir disitu dan duduk tersebar diruang
situ, ditengah ada suatu meja yang dilapisi dengan sutera2 kuning
bersulam, mungkin itulah tempat duduk raja Se He sendiri, dikanankirinya
terdapat pula dua baris meja yang dilapis dengan sutera ungu.
Disebelah kanan sudah berduduk seorang pemuda gagah, bermata besar dan
beralis tebal dan memakai jubah merah tua, diatas jubah tersulam dua
ekor harimau, dibelakangnya berdiri delapan jago pengawal.
Segera Pah Thian-sik dan lain2 mengetahui pemuda gagah ini tentu adalah
pangeran Cong-can dari Turfan.
Segera Le-poh Siang-si menyilakan Bok Wan-jing duduk dibarisan meja
sebelah kiri dan tidak dicampurkan dengan orang lain. Hal ini
menunjukkan bahwa diantara pemuda2 pengikut sajembara ini hanya pangeran
Turfan dan pangeran Tayli yang mempunyai kedudukan paling agung, maka
raja Se He menghormatinya dengan cara lain daripada yang lain.
Begitulah para tamu2 be-ramai2 masih terus tiba dan mengambil tempat
duduk masing2. Sesudah semua kursi penuh terisi, lalu dua perwira piket
berseru: Para tamu agung sudah lengkap hadir semua, tutup pintu!
Maka ditengah iringan suara musik pelahan2 pintu istana dirapatkan. Dan
begitu pintu istana tertutup, segara berbaris keluar serombongan pengawal
yang bersenjata lengkap. Menyusul suara musik bergema pula, dua barisan
dayang keraton berjalan keluar dari ruang dalam, tangan masing2 membawa
sebuah Hiolo (anglo dupa) kecil buatan kemala putih, asap tipis tampak
mengepul dari Hiolo2 itu.
Semua orang tahu Sri Baginda sebentar lagi akan keluar, maka semuanya
lantas diam dan menahan napas.
Paling akhir keluarlah empat pengawal berjubah sulam, semuanya
bertangan kosong, lalu berdiri dikedua sisi singgasana raja.
Melihat pelipis keempat pengawal itu semuanya menonjol, maka tahulah
Siau Hong pasti mereka adalah jago pengawal raja yang memiliki ilmu
silat sangat tinggi.
Lalu satu diantara keempat jago pengawal itu berseru: Sri Baginda
tiba, sambutlah!
Semua orang lantas berlutut dengan kepala menunduk.
Maka terdengarlah suara langkah orang yang keluar dari ruang dalam,
lalu duduk diatas singgasana yang sudah tersedia. Dan sesudah jago
pengawal tadi memberi aba2 pula, barulah semua orang berbangkit dan
disilakan kembali ketempat duduk masing2.
Waktu Siau Hong memandang si Raja dilihatnya perawakannya sedang
saja, mukanya kereng, agaknya juga seorang tokoh kesatria didunia
persilatan.
Kemudian Le-poh Siang-si telah maju kesamping singgasana sang raja
dan membentang sehelai amanat, lalu dibacanya dengan suara nyaring:
Paduka Yang Mulia Sri Baginda Raja menyampaikan terima kasih atas
kehadiran tuan2 sekalian, marilah ber-sama2 mengeringkan secawan!
Para tamu menyampaikan sembah hormat, lalu sama2 mengangkat cawan
masing2. Tapi raja itu hanya menempelkan cawannya kebibir sebagai
lambang saja, lalu meninggalkan singgasananya dan masuk kembali keruang
belakang. Segera para pengawal juga ikut masuk semua kebelakang sehingga
dalam sekejap saja suasana telah kembali seperti tadi.
Semua orang saling pandang dengan tercengang, sama sekali tak terduga
oleh mereka bahwa satu kata patah saja tidak bicara dan minum
secegukpun tidak, lalu raja itu sudah mengundurkan diri. Padahal
bagaimana wajah kami seorangpun belum diperiksanya dengan jelas, entah
cara bagaimana dia akan memilih menantunya? demikian pikir semua orang.
Sekarang silakan para hadirin makan minum secara bebas, seru Le-poh
Siang-si.
Segera pelajan membawakan daharan2 yang sudah tersedia semangkuk demi
semangkuk.
Se He adalah negeri pegunungan yang dingin, bahan makanan mereka yang
utama adalah daging sampi dan kambing, biarpun namanya perjamuan
kerajaan, tapi yang disuguhkan juga tidak lebih daripada daging2 sampi
dan kambing dalam potongan2 besar.
Melihat Siau Hong berdiri mengawal disampingnya, Bok Wan-jing merasa
tidak enak, segera ia berbisik: Siau-toako, Hi-tiok Jiko, silakan kalian
berduduk dan ikut makan minum.
Tapi Siau Hong dan Hi-tiok hanya tersenyum saja sambil geleng2 kepala.
Wan-jing kenal watak Siau Hong yang paling gemar minum arak, tiba2 ia
mendapat akal, ia memberi tanda dan memberi perintah: Tuangkan arak!
Sebagai pengawal dalam penyamaran, Siau Hong menurut dan menuangkan
semangkuk arak.
Boleh kau coba rasanya arak ini, kata Wan-jing pula.
Sungguh girang Siau Hong tak terkatakan, hanya dua-tiga kali cegukan
saja arak semangkuk penuh itu sudah dihirupnya kedalam perut.
Coba semangkuk lagi! kata Wan-jing pula. Dan segera Siau Hong minum
lagi semangkuk.
Disebelah sana pangeran Turfan itu juda sedang makan minum. Sesudah
minum beberapa tegukan arak, ia menyambar sepotong daging panggang terus
digeragoti dengan lahapnya. Sesudah daging itu tinggal sekerat tulang
belakang, segera ia melemparkan tulang itu kearah Bok Wan-jing dengan
lagak seperti tidak sengaja. Tapi samberan tulang itu ternyata sangat
cepat, nyata tenaganya tidaklah kecil.
Segera Cu Tan-sin melolos kipasnya dan mengipas sekali kearah tulang
itu. Kontan tulang itu terkipas balik dan menyambar kembali kearah
pangeran Cong-can.
Tapi seorang jago Turfan keburu menangkap tulang itu sambil memaki
dalam bahasanya, se-konyong2 ia angkat sebuah mangkuk besar terus
menimpuk kearah Tan-sin.
Sekali ini berganti Thian-sik yang turun tangan, ia memapak dengan
sekali pukulan, dimana angin pukulannya tiba, kontan mangkuk itu pecah
menjadi beberapa keping dan berhamburan kembali kearah orang2 Turfan.
Lekas2 seorang jago Turfan lain menanggalkan jubahnya, sekali pentang
dan mengebas, tahu2 pecahan mangkuk itu telah kena digulung semua oleh
jubahnya, gerak-geriknya ternyata sangat gesit dan cekatan.
Selagi pertarungan itu akan meningkat, se-konyong2 terdengar suara
genta ber-talu2, lalu muncul dua barisan orang yang ber-macam2
bentuknya, ada yang tinggi, ada yang pendek, ada yang berdandan ringkas,
ada yang berjubah longgar, semuanya bersenjata dalam bentuk yang
beraneka ragam pula.
Seorang pembesar yang berjubah sulam dan berjalan didepan, agaknya
seperti komandan kedua barisan jago2 itu, segera membentak dengan suara
keras: Perjamuan ini diadakan didalam istana, hendaklah tuan2 tahu tatatertib
sedikit! Ini adalah jago2 pilihan dari It-bin-tong negeri kami,
jika tuan2 ingin berkelahi, nah, boleh silakan coba2 dengan mereka
satu-melawan-satu, tapi dilarang main kerubut.
Siau Hong dan lain2 tahu It-bin-tong adalah suatu dewan yang istimewa
dari kerajaan Se He, didalam dewan itu terkumpul banyak sekali jago2
silat pilihan dari segenap penjuru. Karena itu Pah Thian-sik dan
kawan2nya lantas berhenti menyerang, setiap benda yang ditimpukan orang2
Turfan lantas ditangkapnya dan ditaruh diatas meja sendiri, ia tidak
balas menimpuk lagi.
Kemudian pembesar berjubah sulam tadi lantas berkata kepada pangeran
Cong-can: Harap Yang Mulia memberi perintah agar bawahanmu tidak
mengacaukan suasana ketenangan ini.
Melihat jago2 It-bin-tong itu ada ratusan orang jumlahnya, kalau
sampai cekcok dan bertempur, tentu pihaknya takdapat melawan, maka
Cong-can lantas memberi tanda untuk menghentikan pengikutnya yang masih
ber-teriak2 itu.
Helian-ciangkun, apakah Tuan Puteri ada sesuatu perintah? segera Lepoh
Siang-si bertanya kepada pembesar berjubah sulam tadi.
Kiranya pembesar itu adalah Helian Tiat-su, jaitu tokoh yang dahulu
pernah memimpin jago2 It-bin-tong menuju ke Tionggoan, tapi disana
mereka telah dirobohkan dengan kabut berbisa oleh Buyung Hok yang
menyamar sebagai Li Yan-cong.
Setelah mengalami peristiwa yang merugikan itu, segera Helian Tiat-su
membawa rombongannya pulang kandang. Dia pernah melihat Siau Hong palsu
yang disamar A Cu dan pernah kenal Buyung Hok yang disamar Toan Ki, tapi
Siau Hong tulen dan Toan Ki palsu yang berada didalam istana sekarang ini
tidak pernah dikenalnya. Mestinya diantara jago2 It-bin-tong itu juga
terdapat Toan Yan-khing, Lam-hay-gok-sin dan In Tiong-ho, tapi mereka
mempunyai rencananya sendiri dan sudah tentu tidak mau diperalat oleh
kerajaan Se He, maka saat ini mereka sedang bertugas dilain tempat
sehingga penyamaran Siau Hong dan Bok-Wan-jing itu tidak sampai
konangan.
Kemudian Helian Tiat-su lantas berseru: Menurut titah Tuan Puteri, bila
para tamu agung sudah selesai dahar, semuanya disilakan minum teh ke
kamar baca di Jin-hong-kok.
Jing-hong-kok itu diketahui adalah istana kediaman Bun-gi Kongcu,
puteri Se he yang cari jodoh sekarang ini. Keruan para pemuda sangat
senang dan bersemangat, dengan undangan itu, teranglah puteri Se He itu
ingin memilih sendiri calon suaminya. Pikir mereka: Biarpun nanti tidak
terpilih, paling sedikit juga dapat melihat wajah si-cantik sehingga
perjalanan ini tidak sia2 belaka.
Dasar watak pangeran Cong-can memang paling tidak sabaran, dia yang
per-tama2 berdiri dan berseru: Setiap saat kita dapat makan dan minum.
Tapi sekarang paling perlu kita melihat puteri aju lebih dulu!
Benar! serentak sebagian besar hadirin menyokongnya.
Segera Cong-can minta Helian Tiat-su membawa mereka ketempat tujuan.
Mari, pangeran Toan dan para hadirin yang lain! seru Helian Tiat-su dan
dijawab dengan suara sorakan gembira orang banyak.
Demikianlah Helian Tiat-su lantas membawa para calon Huma itu menuju
kebelakang. Sesudah menyusur sebuah taman, lalu membelok beberapa kali,
kemudian waktu melintas sebuah bukit buatan, tiba2 Bok Wan-jing merasa
disebelahnya telah bertambah seorang.
Waktu ia melirik, tanpa merasa ia menjerit tertahan dalam kagetnya.
Ternyata orang disebelahnya tak-lain-tak-bukan adalah Toan Ki.
Apa kau terkejut, pangeran? tanya Toan Ki dengan pelahan dan tertawa.
Apa kau sudah tahu semua? balas tanya Bok Wan-jing dengan berbisik.
Tahu semua sih tidak, tapi melihat gelagatnya dapatlah menerka sebagian
besar persoalannya, sungguh membikin susah kau saja, sahut Toan Ki.
Bok Wan-jing coba mengawasi kanan-kirinya, ia lihat tiada pembesar Se
He didekatnya, sebaliknya dibelakang Toan Ki kelihatan ada dua pemuda.
Yang seorang berusia 30-an dengan sikap agak angkuh, yang seorang lagi
ternyata sangat tampan dan lebih muda.
Hanya sedikit memperhatikan saja segera Wan-jing mengenali pemuda
tampan itu adalah samaran Giok-yan. Seketika ia menjadi gusar, katanya:
Bagus kau, seenaknya kau mengelojor pergi bersama nona Ong, tapi aku yang
harus mewakilkan kau menempuh bahaja ini.
Jangan marah dulu, adikku manis, kata Toan Ki. Kejadian ini agak
panyang untuk diceritakan. Pendek kata aku telah dilemparkan kedalam
sumur oleh orang dan hampir2 mati konyol.
Mendengar pemuda itu mengalami bahaja, seketika rasa perhatiannya
melebihi rasa gusarnya, cepat Wan-jing tanya: Apa kau tidak terluka?
Kulihat air mukamu agak pucat.
Seperti diketahui, didasar sumur itu Toan Ki telah dicekik oleh
Ciumoti sehingga susah bernapas, pelahan2 ia sudah hampir tak sadarkan
diri.
Sebaliknya Buyung Hok yang mendempel di dinding sumur yang lebih tinggi
itu merasa sjukur dan senang, kalau bisa dia berharap Toan ki tercekik
mati saja.
Sudah tentu yang paling kuatir adalah Giok-yan, meski dia telah
menghantam dan menggebuki Ciumoti, tapi masih tetap tak menolong Toan
Ki. Dalam gugup dan bingungnya, mendadak Giok-yan terus menggigit lengan
kanan Ciumoti.
Ketika se-konyong2 merasa Kiok-ti-hiat dilengan kanan menjadi
kesakitan, Ciumoti merasa hawa murni yang bergejolak didalam tubuh dan
tak tersalurkan itu mendadak melanda keluar sebagai ban gembos, hawa
murni itu mengalir dari telapak tangannya dan masuk keleher Toan Ki yang
dicekiknya itu.
Mestinya Ciumoti merasa badannya melembung se-akan2 meledak, tapi
mendadak gembos, seketika ia merasa segar kembali sehingga jari yang
mencekik leher Toan ki itu pelahan2 juga menjadi kendur.
Hendaklah maklum bahwa Ciumoti benar2 seorang tokoh sakti dalam dunia
persilatan yang jarang terdapat, dasar pejakinannya sangat kuat, maka
sekali tenaga dalamnya terhimpun, susahlah bagi Toan Ki untuk menyedot
tenaganya dengan Cu-hap-sin-kang yang ampuh.
Baru sesudah Giok-yan menggigit sekali ditempat Kiok-ti-hiatnya, dalam
kagetnya hawa murni yang bergolak itu lantas membanjir keluar. Dan
sekali hawa murni itu mendapat jalan saluran, maka susahlah tertahan
lagi, serentak tenaga itu mengalir kedalam tubuh Toan Ki dengan tak berhenti2.
Tadinya pikiran Ciumoti memang sudah mulai kacau dan hampir2 tak
sadar, sesudah tenaga dalamnya terkuras keluar hampir separoh, mendadak
pikirannya jernih kembali, keruan ia terperanjat: Wah, celaka! Jika
aku punya tenaga murni tersedot terus seperti ini, pasti dalam waktu tak
lama lagi aku akan lemas dan menjadi orang cacat.
Karena itu sekuatnya ia berusaha melawan, namun sekarang sudah
terlambat. Sesudah hampir separuh tenaga murninya masuk tubuh Toan Ki,
perbandingan kekuatan kedua pihak menjadi lebih nyata lagi, tidak
mungkin Ciumoti dapat melawan, biarpun dia merontak sekuat mungkin tetap
takdapat menahan mengalir keluarnya tenaga murni itu.
Sebaliknya Giok-yan menjadi lega demi melihat akibat gigitannya itu
lantas cekikan Ciumoti itu menjadi agak kendur. Tapi dilihatnya tangan
Ciumoti itu masih tetap memegang leher Toan Ki, segera ia menariknya
pula.
Tak terduga tangan Ciumoti itu sudah seperti terpantek dileher Toan
Ki, biarpun dia menarik dan membetot, tetap tangan Ciumoti takmau lepas.
Walaupun Giok-yan paham (secara teori) ilmu silat berbagai golongan
dan aliran didunia ini, tapi ia tidak tahu ilmu apakah yang digunakan
Ciumoti sekarang ini, karena itu ia pikir ilmu apapun juga tentu akan
merugikan Toan Ki, maka sedapat mungkin ia berusaha hendak menolongnya.
Ciumoti sendiripun mengeluh, didalam hati ia berharap Giok-yan akan
dapat menarik lepas tangannya. Siapa tahu ketika tangan Giok-yan memegang
tangan Ciumoti, seketika nona itu merasa badannya menggigil, tenaga
murninya juga mendadak tersedot keluar dan tak tertahankan.
Kiranya saat itu Toan Ki sudah pingsan, dengan sendirinya asal ketemu
tenaga yang sakti itu tidak kenal kawan atau lawan, asal ketemu tenaga
lantas sedot saja, maka bukan Ciumoti saja yang tenaga murninya
terisap, bahkan Giok-yan juga ikut menjadi korban. Maka tidak lama
kemudian Giok-yan dan Ciumoti telah jatuh pingsan semua.
Selang agak lama, ketika tidak mendengar suara apa2 dari ketiga orang
yang berada dibawah itu, segera Buyung Hok coba memanggil beberapa kali,
tapi tidak mendapat jawaban. Pikirnya: Jangan2 ketiga orang itu sudah
gugur bersama?
Lebih dulu ia menjadi girang. Tapi segera teringat hubungan baik
dirinya dengan Giok-yan, mau-tak-mau ia merasa berduka juga. Kemudian
terpikir pula olehnya: Wah, celaka! Kalau mereka tidak mati, dengan
tenaga gabungan empat orang mungkin akan dapat keluar dari sini, tapi
sekarang tinggal aku seorang, tentu akan susah menyingkirkan batu besar
diatas. Ai, jika kalian ingin mati, kenapa tidak tunggu dulu dan mati
diluar sumur sana saja?
Dan baru ia hendak melompat turun untuk memeriksa keadaan Ciumoti dan
Giok-yan bertiga, tiba2 terdengar ada suara orang bicara diatas,
suaranya berisik ramai, agaknya adalah kaum petani bangsa Se He.
Rupanya mereka berempat telah ribut semalam suntuk didasar sumur itu
dan sekarang fajar sudah menyingsing, banyak kaum petani yang membawa
sajur2-an hendak menjual ke pasar di dalam kota dan lewat disamping
sumur itu.
Diam2 Buyung Hok membatin: Jika aku berteriak minta tolong, para
petani itu belum tentu sanggup memindahkan batu2 karang yang besar itu.
Dan bila merasa tak kuat, tentu mereka akan tinggal pergi dan tak peduli
lagi. Jalan paling baik jalah memancing mereka dengan rejeki.
Maka ia lantas sengaja berteriak: Hei, semua emas ini adalah milikku,
kalian tidak boleh ikut mengangkangi. Ja, biarlah aku membagi kalian 3000
tahil saja. Lalu ia berseru pula dengan suara lain yang sengaja dibuat2:
Tidak bisa! Emas intan sebanyak ini kita ketemukan bersama, sudah
tentu harus kita bagi dengan sama-rata. Kemudian ia sengaja membikin
suaranya setengah tertahan dan berkata; Sssst, jangan keras2, kalau
sampai didengar orang, tentu mereka juga akan minta bagian dan bagian
kita tentu akan berkurang!
Suara tanya-jawab yang sengaja diucapkan Buyung Hok itu ia siarkan
dengan tenaga dalam yang kuat sehingga dapat didengar dengan jelas oleh
para petani yang lewat dipinggir sumur itu.
Dasar manusia, siapa orangnya yang mendengar ada rejeki takkan
ketarik?
Keruan saja para petani itu terkejut dan bergirang pula. Beramai2
mereka lantas merubungi sumur itu dan serentak berebut untuk
menyingkirkan batu2 karang itu. Meski batu2 karang itu sangat besar dan
antap, tapi dengan tenaga gotong-rojong orang banyak, akhirnya batu2 itu
dapat disingkirkan.
Sudah tentu Buyung Hok sudah ber-siap2, ia tidak menunggu sampai batu2
itu disingkirkan semua, baru saja kelihatan ada suatu lowongan yang
cukup untuk diterobos, terus saja ia merembet keatas dan mendadak
wuttt, ia terus melayang keluar.
Tentu saja para petani itu kaget setengah mati karena hanya dalam
sekejap saja bajangan Buyung Hok itu sudah menghilang dikejauhan.
Walaupun masih curiga dan takut, tapi karena daja tarik harta karun,
akhirnya para petani itu tetap menyingkirkan batu2 karang, lalu seorang
kawan mereka yang paling tabah dikerek kedalam sumur dengan tambang.
Setiba didasar sumur, begitu tangannya meraba segera orang itu dapat
memegang badan Ciumoti. Memangnya dia sudah was-was dan kebat-kebit,
begitu kena meraba badan manusia, segera ia menyangka serangka majat.
Keruan kagetnya tak terkatakan, hampir2 sukmanya terbang meninggalkan
raganya. Cepat ia menggoyangkan tambang dan minta dikerek keatas.
Mendengar didalam sumur itu ada orang mati, seketika para petani itu
menjadi ketakutan dan berlari bubaran, mereka sama kuatir ikut
tersangkut perkara pembunuhan, jangan2 harta karun belum diperoleh, tapi
sudah masuk bui lebih dulu.
Begitulah sampai dekat lohor, ber-turut2 ketiga orang didalam sumur itu
barulah siuman kembali.
Orang pertama yang siuman adalah Giok-yan. Begitu sadar kembali, yang
per-tama2 teringat olehnya adalah Toan Ki. Meski saat itu adalah siang
bolong, tapi didasar sumur itu tetap sangat gelap, ia coba meraba dengan
tangannya dan dapat menyentuh Toan Ki, segera ia berseru: Toan-long, o,
Toan-long, ba... bagaimanakah dengan dirimu?
Karena tidak mendapat jawaban Toan Ki, Giok-yan menyangka pemuda itu
sudah mati dicekik Ciumoti, terus saja ia menangis sedih, ia angkat
majat Toan Ki dan merangkulnya dengan kencang didepan dada sambil
sesambatan: O, Toan-long, sedemikian baik dan setiamu kepadaku, tapi
selama ini aku belum pernah membalas apa2 padamu, baru saja kita
berharap akan hidup bahagia di-hari2 yang akan datang, siapa tahu...
siapa tahu jiwamu sudah melayang ditangan paderi jahat ini...
Ucapan nona ini hanya betul separoh saja, demikian tiba2 terdengar
Ciumoti menyela, rupanya iapun sudah sadar. Walaupun Lolap adalah paderi
jahat, tapi aku tidak membunuh Toan-kongcu.
Dan pada saat itu Toan Ki telah siuman juga. Ia mendengar ucapan
Giok-yan yang meresap itu bergema ditepi telinganya, ia menjadi girang.
Tiba2 ia merasa badannya sendiri berada didalam pelukan sinona, segera ia
pura2 masih belum sadar dan tak berani bergerak, kuatir kalau diketahui
Giok-yan dan dilepaskan sehingga tidak dapat lagi merasakan nikmatnya
dalam pelukan sang kekasih.
Dalam pada itu Ciumoti telah berkata: Kekasihmu itu tidaklah
kutewaskan, sebaliknya jiwaku yang hampir2 binasa ditangannya.
Air mata Giok-yan lantas bercucuran, sahutnya: Dalam keadaan begini
kau masih hendak mengapusi aku? Ketahuilah bahwa hatiku seperti disajat2,
lebih baik kaupun cekik mati aku saja agar aku dapat menyusul
Toan-long dialam baka.
Mendengar ucapan sinona yang tulus iklas dan meresap itu, sungguh
girang Toan Ki tak terkira.
Ciumoti sendiri meski sudah kehilangan tenaga murni, tapi pikirannya
masih sangat cermat, pengalamannya juga luas dan kenyang makan asamgaram,
dari suara napas Toan Ki yang pelahan tapi tertahan itu, segera ia
mengetahui pemuda itu sebenarnya sudah sadar, tapi sengaja diam saja,
maka iapun tahu maksudnya. Tiba2 ia menghela napas pelahan dan berkata:
Toan-kongcu, aku telah salah belajar ilmu sakti Siau-lim-pay sehingga
membikin celaka diriku sendiri, untung engkau telah menyedot tenaga
dalamku sehingga aku tidak sampai mati konyol seperti orang gila.
Sekarang meski ilmu silatku sudah punah, namun jiwaku telah selamat,
untuk ini aku harus mengucapkan terima kasih atas pertolonganmu.
Toan Ki adalah seorang yang rendah hati, demi tiba2 mendengar paderi
itu mengucapkan terima kasih padanya, tanpa merasa ia terus menjawab:
Ah, Taysu jangan merendah diri. Cayhe punya kepandaian dan kebaikan apa
sehingga berani dianggap telah menyelamatkan jiwa Taysu?
Giok-yan menjadi girang ketika mendadak mendengar Toan Ki sudah sadar
kembali, tapi ia lantas tercengang pula dan paham sebabnya pemuda itu
sengaja diam saja jalah agar dapat berada didalam pelukannya, keruan ia
menjadi girang2 malu, sekuatnya ia dorong pergi Toan Ki dan mencomel:
Uh, kau ini!
Toan Ki menjadi malu juga karena rahasianya terbongkar. Lekas2 ia
berbangkit dan bersandar didinding sebelah. Tiba2 ia ingat sesuatu dan
bertanya: He, dimanakah Buyung-kongcu?
Ha, aku menjadi lupa juga, dimanakah Piauko? sahut Giok-yan.
Sungguh girang Toan Ki melebihi mendapat warisan demi mendengar kata2
aku menjadi lupa juga. Padahal selama ini perhatian Giok-yan selalu
terpusat kepada Buyung Hok seorang, tapi sekarang walaupun sudah selang
hampir sehari toh nona itu tidak ingat kepada Buyung Hok, hal itu
menandakan bahwa dirinya sekarang sudah bertukar tempat dengan Buyung Hok
dilubuk hati sinona.
Tengah Toan Ki riang gembira, terdengar Ciumoti telah berkata: Sifat
Toan-kongcu sangat tulus dan jujur, rejeki dikemudian hari pasti
tiada takaran. Hari ini Lolap ingin mohon diri, rasanya kelak susah untuk
berjumpa pula. Disini ada satu jilid kitab, bila kelak Kongcu
kebetulan ada tempo, tolonglah kitab ini suka dikembalikan kepada Siaulim-
si. Semoga Kongcu berdua hidup bahagia sampai hari tua.
Habis berkata, segera ia menyerahkan kitab Ih-kin-keng kepada Toan Ki.
Apakah Taysu hendak pulang ke Turfan? tanya Toan Ki.
Mana suka, mungkin pulang kesana, mungkin tidak! sahut Ciumoti dengan
samar2. Lalu ia berbangkit, ia coba menarik tambang panyang yang
ditinggalkan kaum petani tadi dan ternyata cukup kencang, agaknya
ujung atas diikat dibatu karang. Dengan tambang itulah ia lantas
merambat keatas dan tinggal pergi.
Sekarang tinggal Toan Ki berhadapan dengan Giok-yan didalam sumur itu,
walaupun berada ditempat lumpur tapi hati mereka sangat senang, siapapun
tidak punya pikiran buat keluar dari sumur itu. Pelahan2 tangan kedua
orang sama2 menjulur kedepan, empat tangan saling menggenggam, dua
perasaan bersatu.
Lama dan lama sekali barulah Giok-yau berkata,"Toan-
long, apakah lehermu tidak terluka? Marilah kita
memeriksanya di luar sana.”
"Sedikit pun aku tidak merasa sakit, juga tidak perlu buru-
buru keluar dari sini." sahut Toan Ki.
"Jika engkau tidak suka keluar, biar aku mengiringimu di
sini." kata Giok-yan dengan suara mesra. Sekarang dia benar-
benar sudah jinak, sedikit pun tidak membangkang lagi.
Toan Ki menjadi rikuh sendiri, katanya dengan tertawa,
"Tapi engkau tentu tidak betah tinggal di tempat lumpur ini."
Segera ia merangkul pinggang si nona yang ramping itu,
dengan tangan kanan ia pegang tambang, hanya sedikit tarik
saja tahu-tahu tubuhnya sudah mumbul satu-dua meter
tingginya.
Toan Ki sangat heran. la tidak tahu bahwa tenaga dalam
Cumoti yang dikumpulkan selama hidup ini sekarang telah
tersedot semua ke dalam tubuhnya, sebaliknya ia menyangka
sesudah tidur semalam dan lagi bersama kekasih yang
menyenangkan maka tenaganya tambah kuat.
Sesudah keluar sumur, di bawah sinar sang surya
kelihatanlah tubuh mereka penuh Lumpur, mereka saling
pandang dengan tertawa geli. Segera mereka mencari suatü
sungai kecil dan rendam di situ sampai lama, barulah mereka
dapat membersihkan Lumpur yang memenuhi muka, rambut,
baju dan sepatu mereka.
Untung waktu itu hawa tidak terlalu dingin sehingga Giok-
yan tahan berendam dalam air. Kemudian mereka bersandar
dí batu karang di tepi sungai untuk mengeringkan baju yang
basah kuyup di badan mereka itu.
Di sinilah Toan Ki mengamat-amati wajah si nona yang
cantik bak bidadari itu dengan rasa bahagia yang tak
terperikan. Sudah tentü Giok-yan menjadi malu, segera ia
miringkan mukanya ke sini sana.
Begitulah kedua muda-mudi itu bicara mengada-ada untuk
menghilangkan waktu. Tanpa terasa harí sudah petang, tidak
lama kemudian sang dewi malam pun menongol dan pelahan
bergeser ke tengah cakrawala."
Tiba- tíba Toan Kí teringat kepada Buyung Hok, katanya.
"Adik Yan, sekarang cita-citaku telah terkabül, sebaliknya
Piaukomu sekarang sedang mengikuti sayembara perebutan
putri Se He, entah usahanya akan berhasil atau tídak?"
Biasanya bila Giok-yan ingat hal ini, seketika día berduka,
tapi sekarang perasaannya sudah berubah, ia pun agak rikuh
terhadap Buyung Hok dan sebaliknya berharap sang piauko
dapat memperistrikan putri Se He, maka cepat jawabnya, "Ya,
marilah kita lekas pergi melihatnya."
Buru-buru kedua orang itu pulang ke pondok mereka.
Ketika hampir sampai di depan pintu, tiba-tiba di temapt gelap
ada orang berkata, "Kiranya kal¡an pun sudah keluar!”
Jelas itulah suara Buyung Hok.
"Hé. engkau berada di sini?” balas Toan Ki dan Giok-yan
dengan gembira.
'Hm. baru saja menghajar dan membunuh belasan orang
Turfan sehingga tempoku banyak terbuang, " kata Buyung
Hok. "Eh, orang she Toan kenapa kamu tidak hadir sendiri
dalam perjamuan raja, sebaliknya menyuruh seorang nona
menyaru sebagai dirimu? Hm, aku tìdak nanti mem. . . .
membiarkan kau main licik, aku pasti akan bongkar rahasìamu
ini."
"Apa katamu?" sahut Toan Ki dengan heran. "Seorang
nona menyaru apa? Pada hakikatnya aku tidak tahu apa apa."
"Ya, Piauko, kami baru saja keluar dari sumur itu . . . “
hanya sekian Giok-yan bicara dan segera merasa ucapan ini
kurang jujur. Padahal sudah setengah harian ia main roman
dengan Toan Ki di tepi sungai, masakah bilang baru saja
keluar dari sumur sana.
Untung Buyung Hok rupanya sedang terburu-buru hendak
menuju ke istana raja untuk menghadiri perjamuan, maka ia
tidak memperhatikan ucapan Giok-yan dan keadaan
pakaiannya yang kusut itu.
Dalam pada itu Giok-yan berkata pula, "Dia . . . dia sudah
menyanggupi akan membantumu supaya engkau berhasil
merebut putrid Se He. Kalau aku mempunyai seorang tuan
putri sebagai Loso, sudah tentu aku juga ikut gembira."
Semangat Buyung Hok terbangkit, ia menegas, “Apa betul
ucapanmu?”
“Sudah tentu." sahut Toan Ki. "Engkau adalah piauko adik
Yan, terhitung piaukoku pula, Sekarang Piauko ada urusan
masakah pamili sendiri bias tinggal diam saja?”
Sungguh girang sekali Buyung Hok, Sesudah día keluar
dari sumur, di tengah jalan ía kepergok jago-Jago Turfan dan
terjadi pertempuran sengit walaupun menang akhirnya, tapi ia
pun sudah kehabisan tenaga. Ketika hampir sampai di
pondokan tiba-tiba dílihatnya Bok-Wan-jin dan rombongannya
sedang keluar, segera ia sembunyi di dekat situ untuk
mengawasi. Dan baru dia hendak mencari Tíng Pek-jwan dan
lain-lain untuk berunding, tiba-tiba dilihatnya Toan Ki dan
Giok-yan juga telah kembali, lalu ia menegur mereka.
Diam-diam Buyung Hok pikir pelajar tolol ini rupanya
benar-benar ingin memperistrikan piaumoai, dia adalah adik
angkat Siau Hong dan Hi-tiok, jika mereka benar-benar mau
membantu untuk mendapatkan putri Se He boleh tidak perlu
disangsikan lagi. Karena itu segera ia berkata, "Baiklah, waktu
sudah mendesak marilah lekas kita berangkat ke istana."
Di tengah jalan secara ringkas ia ceritakan penyamaran
Bok Wan-jing yang dilihatnya tadi. Maka Toan ki dapat
menerka sebagian apa maksud tujuan penyamaran Wan-jing.
Setiba di pondokan Buyung Hok, sudah tentu Ting-Pek-
jwan dan lain-lain sangat girang. Karena waktu sudah
mendesak buru-buru mereka ganti pakaian. Karena Giok-yan
tak mau berpisah lagi dengan Toan Ki, terpaksa Buyung Hok
membiarkan nona itu ikut dengan menyaru sebagai kaum
lelaki.
Buru-buru mereka berangkat ke istana. Setiba di sana
pintu istana ternyata sudah ditutup, terpaksa Buyung Hok
mencari akal, ia mengajak kawan-kawannya mengitar ke
samping istana, dari situ mereka lantas melompat melintasi
pagar tembok istana yang tinggi itu. Karena sekarang iwekang
Toan Ki sudah tambah hebat, maka dengan enteng dan
gampang sekali ia dapat melayang ke dalam lingkungan
istana.
Mereka terus mencari tempat perjamuan itu dengan ubek-
ubekan di taman. Kebetulan waktu itu perjamuan juga sudah
bubar dan para tamu diundang oleh putri Bun-gi Kongcu ke
Jing-hong-kok untuk untuk minum teh maka dapatlah
rombongan Toan Ki bertemu dengan rombongan Bok Wan-
jing . . . .
Begitu Siau Hong dan lain-lain menjadi girang melihat
Toan Ki sudah kembali dengan selamat. Dengan ikutnya Toan
Ki mereka tidak perlu kuatir rahasia akan terbongkar lagi.
Sesudah orang banyak menyusur lewat taman yang luas
itu, dari jauh tertampak sebuah gedung yang megah
menjulang di tengah pepohonan yang rindang. Setiba di
depan gedung itu. segera Helian Tiat-su berseru, "Para tamu
agung sudah tiba untuk bercengkerama dengan Kongcu!"
Ketika pintu terbuka, keluarlah empat dayang keraton yang
masing-masing membawa sebuah tenglong (lampu
barselubung kain), di belakang mereka adalah seorang
pembesar wanita berbaju ungu, katanya, "Atas kunjungan
para paduka, Kongcu menyilakan masuk untuk minum teh."
"Bagus, bagus! Memangnya aku sudah haus!” segera
Cong-can mendahului berteriak. Dan tanpa disilakan untuk
kedua kalinya, terus saja ia melangkah masuk ke dalam istana
dengan diikuti yang lain-lain dengan desak mendesak seakan-
akan kuatir tidak mendapatkan tempat yang baik yang lebih
dekat dengan sang putri.
Sesudah masuk di dalam istana itu, tertampak ruangan
sangat luas, lantai ruangan dilapisi permadani berbulu yang
berajutkan bunga beraneka warna dengan indah. Banyak meja
teh yang kecil teratur memanjang dalam beberapa baris, di
atas meja tertaruh mangkuk teh bertutup dan berwarna-warni,
setiap mangkuk bertutup itu didampingi pula sebuah piring
kecil berisi beberapa potongan panganan yang entah apa
namanya. Dan di depan sana tersedia sebuah bangku bundar
berkasur sulam yang indah.
Semua orang menduga bangku itu tentu tempat duduk
sang putri. Karena itu mereka saling berebutan mendapatkan
tempat duduk yang berdekatan dengan bangku bundar itu.
Hanya Toan Ki dan Giok-yan saja dengan bergandengan
tangan dan duduk dí suatu pojokan sambil bicara dengan
pelahan seakan-akan cerita mereka itu tidak habis-habis.
Sesudah semua orang mengambil tempat duduk,
kemudian pembesar wanita tadi mengetukkan sebuah palu
kecil pada sepotong "Hum-pan'' (tembikar serupa baki dipakai
penjual bakmi) setelah berbunyi “tok-tok-tok” tiga kali,
suasana dalam ruangan menjadi hening sampai Toan-Ki dan
Giok-yan juga terpaksa berhenti bicara dan menanti keluarnya
Bun-gi Kongcu, sang putri Se He.
Selang tidak lama, terdengarlah suara "kelintang-kelinting",
dari dalam muncul delapan dayang berbaju hijau, mereka
berdiri di kedua sisi. Sejenak pula seorang gadis jelita berbaju
hijau pupus keluar dengan langkah yang menggiurkan.
Seketika pandangan semua orang terbeliak, perawakan
gadis itu langsing ramping gerak-geriknya lemah-lembut,
mukanya sangat cantik pula.
Diam-diam semua orang bersorak memuji, "Orang
mengabarkan kecantikan Bun-gi Kongcu tiada bandingannya,
nyatanya memang bukan omong kosong.”
Pangeran Cong-can dan Buyung Hok mempunyai pikiran
yang sama, yaitu takkan merasa kecewa bila dapat
memperistrikan sang putri cantik itu.
Anehnya putri cantik itu tidak lantas düduk tapi ia maju ke
depan bangku bundar tadi dan memberi hormat kepada
semua orang.
Waktu putri itu masuk, semua orang berdiri untuk
menyambut, maka sekarang banyak pula yang mulutnya
berkecek-kecek memuji kecantikan sang putri. Sebaliknya putri
itu ternyata sangat prihatin, sinar matanya tidak berkelíaran,
matanya menatap ujung hidung sendiri, nyata seorang gadis
pingitan yang sangat sopan dan anggun. Karena itu semua
orang sampai tidak berani bernapas karas-keras, kuatir
membikin kaget sang putrì.
Sejenak kemudian, dengan muka kemerah-merahan
barulah putri itu berkata dengan pelahan, "Atas titah Tuan
Putri, para tamu agung disilahkan minum teh seadanya secara
bebas."
Semua orang saling pandang dengan terkesiap, Busyet jadi
gadis jelita ini bukan Tuan Putri sendiri, tampaknya hanya
seorang dayang príbadi putri saja, Dan segera terpikir pula
oleh mereka, jika dayangnya saja secantik ini, maka sang putri
entah betapa cantiknya.
"Kiranya engkau bukan Tuan Putri sendiri," Káta Cong-can
segerà, "jika begitu, harap lekas mengundang Tuan Putri
keluar.”
"Jika hadirin sudah minum Tuan Putri akan
mempermaklumkan sesuatu lagi,” ulas dayang cantik tadi.
“Bagus, bagus! Tuan Putri ada pesan, sudah tentu akan
menurut saja!"' seru Cong-can dengan tertawa. Dan segera ia
membuka tutup magnkuk yang berisi air teh itu, tanpa banyak
omong lagi ia tuang isi mangkuk itu ke dalam mulut dan
dikunyah.
Kiranya pada masa dahulu, menurut kebiasaan orang
Turfan, mereka menyeduh daun teh dicampur dengan susu
dan gula atau garam, kalau minum sekaligus daun teh juga
ikut dimamah dan dimakan ke dalam perut. Ini adalah
kebiasaan jadi bukan kelakuan kasar pangeran Cong-can.
Sambil masih mengunyah daun teh, segera pula Cong-Can
jejal-jejalkan beberapa potong panganan tadi ke dalam mulut,
lalu berkata, "Nah, aku sudah makan banyak, bolehlah
mengundang keluar sang putrimu!”
Dayang itu mengiakan saja, tapi tidak bergeser melangkah.
Cong-can tahu dia ingin tunggu orang lain selesai minum
baru mau pergi. Sudah tentu Cong-can menjadi gelisah dan
berulang-ulang mendesak orang lain agar lekas habiskan teh
dan makannya.
Dengan susah payah menunggu akhirnya selesai juga
hadirin makan minum, lalu Cong-can tanya pula, "Nah, jadi
sekarang?"
Kembali muka si dayang cantik merah jengah, sahutnya,
"Sekarang Tuan Putri mengundang hadirin berkunjung ke
ruang dalam untuk menikmati lukisan dan tulisan."
"Hah, buat apa melihat lukisan dan tulisan? Aku lebih suka
melihat Tuan Putrimu!” seru Cong-can. Tapi tidak urung ia ikut
berdiri juga bersama orang banyak.
Diam-diam Buyung Hok bergirang. "Sungguh sangat
kebetulan. Resminya sang putri mengundang kàmi menikmati
lukisan dan tulisan, tapi sesungguhnya hendak menguji
kepandaian sastra kami. Orang kasar sebagai pangeran Cong-
can itu sudah tentu tak becus tentang lukisan dan syair apa
segala. Kalau melulu menguji ilmü silat saja aku pun lebih
unggul daripada yang lain, apalagi sekarang sang putri hendäk
menguji kapändaian sastra, tentu saja kemenanganku menjadi
lebih meyakinkan lagi."
Begitulah dengan berseri-seri segera ia pun berdiri dan
siap ikut dayang tadi ke ruangan dalam.
Tapi mendadak dayang itu berkata pula, “Menurut titah
Tuan putri, para nona yang menyamar sebagai lelaki dan para
tuan yang berusia lebih 40 tahun, semüanya disilahkan tinggal
dì istana Guh-hiang-wan ini untuk minum lagi. Sedang hadirin
lain boleh ikut masuk ke ruang dalam.”
Sungguh kejut sekali Bok Wan-jing dan Ong Giok-yan
ternyata penyamaran mereka sejak tadi sudah diketahui
orang.
Tiba-tiba terdengar seruan seorang, “Bukan! Bukan!”
Kembali muka si dayang bersemu merah, rupanya selama
hidup ini dia selalu terkurung di tengah istana selain kaum
Thai-kam (dayang lelaki kebiri , orang kasim), selamanya tak
pernah bertemu dengan kaum lelaki yang sesungguhnya.
Sekarang mendadak berhadapan dengan kaum lelaki
sebanyak ini, sudah tentu ia menjadi kikuk dan grogi.
Jilid ke-81
Selang, sejenak barulah dia berkata, "Entah apa yang
bukan? Harap tuan itu suka memberi petunjuk!"
"Petunjuk sih tidak ada, hanya ada. Penjelasan sedikit
saja,” demikian kata Pau Put tong. ''Kulihat kamu agak malu
dan kikuk, maka tak perlu kau tanya lagi, biar aku sendiri yang
menguraikan saja.”
"Terima kasih," sahut si dayang dengan tersenyum manis.
"Nah, tentu kau tahu bahwa jauh-jauh kami datang ke sini
tujuannya adalah ingin melihat Tuan Putrimu," kata Put-tong.
"Betapa susah payahnya kami menempuh perjalanan jauh ini,
ada yang terkubur di tengah gurun pasir karena angin badai,
ada yang menjadi mangsa binatang buas sehingga yang
beruntung lolos dari elmaut itu akhirnya dapat sampai di
Lengciu sini, tujuannya ialah ingin melihat wajah sang Putri
saja. Sekarang lantaran ayah-bundaku beberapa tahun lebih
dulu melahirkan aku sehingga umurku sekarang sudah 4O
tahun lebih sedikit, maka perjalananku yang susah payah ini
akan menjadi sia-sia belaka. Jika tahu akan jadi begini, tentu
sejak mula aku minta ibuku jangan terburu-buru melahirkan
diriku dan ditunda dulu untuk beberapa tahun."
"Hihi, tuan ini suka bergurau," kata si dayang dengan
tertawa. "Kelahiran seseorang masakah dapat di tentukan oleh
manusianya sendiri?"
Melihat Pau Put-tong mengada ada tak habis-habis
pengeran Cong-can menjadi gusar, bentaknya dengan
mendelik, "Kalau Tuan Putri sudah menitahkan begitu, kita
semua harus turut saja, buat apa mesti cerewet lagi?"
Pau Put-tong menjadi gusar juga, mendadak ia mendapat
akal, dengan mengejek ia menjawab, "Eh, Pangeran Yang
Mulia, apa yang kukatakan tadi sesungguhnya juga demi
kepentinganmu Tahun inì engkau sudah beruntung empat
satu, walaupun tidak terlalu tua, kau. sudah lebih dari 40
tahun sebagaimana ditentukan Tuan Putri tadi dan tiada
harapan untuk melihat wajah yang cantik, bukankah sia-sia
saja kedatanganmu ini?"
Padahal usia pangeran Cong can baru menanjak 28 tahun,
cuma dia penuh berewok sehingga orang lain sukar menaksir
berapa umurnya.
Dayang cantik itu masih hijau dan tidak tahu seluk beluk
orang hidup, dengan sendirinya ia tidak dapat menaksir usia
orang lelaki, maka ia menjadi sangsi apakah ucapan Put-tong
itu sungguh-sungguh atau cuma geguyon.
Ia lihat pangeran Cong-can menjadi gusar dan segera
hendak melabrak Pau Put-tong, dengan rasa kuatir cepat ia
mencegah. “Eh, jangan . . . jangan kalian bertengkar, kukira
orang yang paling tahu umur masing-masing adalah tuan-tuan
sendiri, maka siapa-siapa yang merasa, sudah berumur lebih
40 tahun disilakan tetap tinggal di sini, yang belum mencapai
40 tahun boleh ikut ke ruang dalam."
"Baik, usiaku belum ada 30 tahun, sudah tentu aku ikut ke
ruang dalam." demikian Pau Put-tong menirukan lagak lagu
sang pangeran. Habis berkata dengan langkah lebar ia terus
bertindak ke dalam.
Si dayang mestinya ingin mencegah, tapi malu-malu dan
kikuk-kikuk serta tak berani. Sudah tentu kesempatan itu
segera digunakan oleh orang-orang lain untuk ikut masuk ke
ruang dalam. Jangankan yang berumur 40 tahun, sekalipun
yang berusia 50-60 tahun Juga banyak yang ikut masuk,
hanya tinggal belasan orang tua yang menjaga kedüdükan
dan kehormatan masing-masing, merekalah yang tetap tinggal
di situ. begitu pula Bok-wan-jing dan Ong Giok yan.
Mestinya Toan Ki jugä ingin tinggal sajä untuk mengawani
Giok-yan, tapi nona itu mendesak dan mendorongnya agar
ikut membantu Buyung Hok.
Karena itu terpaksa Toan Ki ikut melangkah masuk ke
ruang dalam dengan rasa berat, melangkah satu tindak tiga
kali menoleh, berat rasanya seperti hendak berangkat ke
tempat jauh, seakan-akan sekali berpisah tentu takkan
bertemu lagi dalam beberapa tahun lamanya.
Di tepi sungai ada empat obor yang terang maka dengan
jelas semua orang dapat melihat langkah dayang cantik itu
berarti menjerumuskan diri ke dalam sungai. Karena itu ada
sebagian besar hadirin sama menjerit kaget.
Tak terduga dayang cantik itu ternyata tidak terjerumus ke
dalam sungai, sebaliknya kelihatan tetap berjalan dengan gaya
berlenggang yang luwes dan dengan aman mencapai di
seberang sungai sana.
Dalam kagetnya semua orang lantas yakin permukaan
sungai itu pasti ada sesuatu benda berpijak, kalau tidak,
mustahil orang mampu melangkah di udara seperti si dayang
itu.
Benar juga waktu semua orang memperhatikan, maka
kelihatanlah di antara kedua tepi sungai terpasang seutas tali
baja yang sangat halus. Karena tali baja itu sangat kecil,
warnanya hitam pula di dasar sungai juga sangat gelap
sehingga di bawah cahaya obor itu orang sukar mengetahui
akan jembatan tali itu.
Tampaknya sungai itu sangat dalam, kalau sampai
terjerumus, andaikan tidak mati juga pasti setengah mati. Tapi
para pendatang ini sudah tentu bukan tokoh persilatan
pasaran atau kodian, mereka adalah jago silat pilihan, maka
segera ada orang mengeluarkan ginkang, dengan enteng
menyeberang melalui jembatan tali yang hamper-hampir tak
kelihatan itu.
Dalam hal Ilmu silat sejati Toan Ki memang tergolong
kelas kambing. tapi bicara tentang ginkang dia sudah mahir
"Leng-po-wi-poh", dengan enteng saja dia dapat
menyeberangi sungai dengan digendong Pah Thian-sik.
Padahal sesudah Toan Ki mendapat tambahan tenaga
dalam Cumoti. ginkangnya saat ini boleh dikata tiada
bandingannya, cuma saja Pah Thían-sik tidak tahu, sedang
Toan Ki sendiri pula tidak menyadari hal ini.
Begitulah, sesudah semua orang melintasi sungai itu,
entah dengan menggunakan alat apa dan di mana, ketika si
dayang tadi menggeraki tangannya, "siuut", tahu-tahu tali
baja itu mengkerut dan menghilang ke dalam semak-semak
rumput.
Keruan semua orang tambah kebat-kebit dan kuatir.
Dengan demikian mereka telah menghadapi jalan buntu untuk
putar kembali. Mereka menjadi tambah curiga jangan-jangan
orang Se He benar-benar bermaksud jahat?
Begitulah rombongan orang-orang itu lantas masuk ke
ruang dalam dengan menyusuri sebuah serambi yang
panjang. Diam-diam mereka merasa heran. Padahal Jinghong-
kok itu dari luar tampaknya tidak begítu megah, siapa
tahu dí bagian dalam ternyata mempunyai dunia lain, masih
ada tempat seluas itu.
Sesudah menyusuri serambi yang panjang itu, kemudian
sampailah mereka di depan sebuah pintu besar terbuat dari
batu. Dayang cantik itu mengeluarkan sepotong logam kecil
dan memukul pelahan beberapa kali di daun pintu batu yang
terdiri dari daun sayap itu, kemudian pintu batu itu lantas
terbuka.
Para hadirin ini tergolong tokoh-tokoh yang sudah kenyang
asam garam alias banyak berpengalaman, maka demi melihat
daun pintu batu itu tebalnya balasan senti, kuatnya bukan
kepalang, diam-diam mereka merasa curiga, "Jangan-jangan
sesudah masuk, lalu pintu batu ini ditutup kembali, bukankah
sakaligus kita akan terkurung semua? Bukan mustahil raja Se
He sengaja memancing kita dengan sayembara mencari
menantu tapi sebenarnya hendak membasmi habis kaum
ksatria sebanyak mungkin di dunia ini?"
Tapi mereka sudah telanjur datang, betapapun harus
dihadapi apalagi mereka sudah tentu tidak mau unjuk lemah
di depan orang banyak dan putar balik untuk dituduh sebagai
pengecut. Maka tanpa pikir lagi mereka melangkah masuk
semua. Benar juga pintu batu itu lantas merapat kembali.
Di dalam situ kembali ada sebuah jalan yang panjang,
kedua tepi jalan ternyata pelita-pelita yang terang. Ujung jalan
itu kembali menghadang sebuah pintu batu pula. Lewat pintu
batu ini kembali ada jalanan panjang, lalu pintu lagi. Jadi
berturut-turut mereka menembus tiga buah pintu batu. Maka
biarpun orang yang tadinya paling acuh, mau-tak-mau
sekarang pun mulai merasa was-was dan curiga.
Dan sesudah membelok ke sana sini beberapa kali tiba-tiba
terdengar suara gemerciknya air, mereka telah sampai di tepi
sebuah sungai yang dalam. Di dalam lingkungan istana
terdapat sungai sungguh suatu hal yang sukar dibayangkan
orang.
"Untuk sampai di kamar tulis sana, lebih dahulu harus
melintasi sungai ini. Nah, silakan!” kata si dayang cantik, habis
itu sekali bergerak, dengan enteng ia terus melangkah ke
dalam sungai itu.
Karena itu diam-diam mereka sama waspada, tapi tiada
seorang pun mengutarakan pikirannya, sebab kuatir akan di
tertawai teman-teman yang lain sebagai pengecut, takut mati.
Diam-diam ada juga yang merasa menyesal mengapa begitu
tolol tanpa membawa senjata waktu masuk istana tadi.
Dalam pada itu sesudah menggulung jembatan tali tadi
lalu si dayang berkata, ''Marilah, hadirin silahkan ikut ke sini."
Dan sesudah semua orang dibawa menyusuri sebuah
hutan bambu, akhirnya sampailah di depan sebuah pintu gua.
Dayang itu mengetuk beberapa kali pada pintu gua itu,
ketika pintu terbuka, si dayang cantik berkata, "Silakan masuk,
tuan-tuan!"
Habis itu ia lantas mendahului melangkah ke dalam gua.
Diam-diam Pâh Thian-sik merasa ragu, ia tanya Cu Tansin,
"Bagaimana pikiranmu?"
Tan-sin sendiri merasa sangsi apa mesti minta Toan Ki
tinggal di luar gua saja atau membiarkan tuan muda mereka
menyerempet bahaya? Tapi kalau tidak berani menyerempet
bahaya, pasti tiada harapan buat dipilih menjadi Huma.
Tengah kedua orang merasa serba salah, tertampak Toan
Ki melangkah masuk ke dalam gua itu bersama Siau Hong.
Maka tanpa pikir lagi segera Thian-sik dan Tan-sin ikut dari
belakang.
Di dalam gua itu mereka mesti menempuh suatu jalan
yang panjang untuk akhirnya pandangan mereka lantas
terbeliak. Ternyata mereka sudah berada di sebuah ruangan
yang sangat luas.
Ruangan ini dua kali lebih luas daripada ruangan istana di
mana mereka minum teh tadi, nyata sekali ruangan ini adalah
sebuah gua alam di puncak gunung yang telah diperbaiki dan
dipajang secara indah oleh tenaga manusia, Dinding-dinding
ruangan ini tergosok sangat halus dan licin, sekeliling dinding
penuh terhias lukisan dan tulisan indah.
Pada umumnya dl dalam sesuatu gua tentu mengeluarkan
air atau berhawa lembab, tapi ruangan ini ternyata sangat
kering, sedikitpun tidak terasa berbau lembab.
Di sisi ruangan itu terdapat sebuah meja, terletak alat tulis
lengkap dan beberapa jilid kitab. Di sebelahnya ada beberapa
rak buku, beberapa buah kursi serta beberapa buah bangku
batu dan meja batu yang agak kecil.
Kemudian terdengar si dayang cantik berseru, "Di sini
adalah kamar tulis Tuan Putri kami, sekarang silakan hadirin
menikmati lukisan dan tulisan secara bebas!"
Melihat keadaan ruang yang luas dan kosong sedikitpun
tiada mirip kamar tulis seorang Tuan Putri sudah tentu semua
orang terheran-heran dan sangsi pula. Tapi di ruangan itu
penuh pigura lukisan dan tulisan indah, hal ini memang nyata
terbukti.
Para pendatang ini adalah jago-jago silat semua, kalau
mereka pun bisa tulis menulis sudah terhitung pintar, mana
mungkin mereka dapat membedakan lukisan indah dan
bermutu atau tidak.
Siau Hong dan Hi-tiok meski berilmu silat sangat tinggi,
dalam hal seni sastra mereka pun tidak paham. Maka sesudah
berada dalam ruangan itu, mereka berdua lantas duduk
berjajar di lantai untuk mengawasi gerak-gerik orang lain.
Pengalaman Siau Hong jauh lebih luas daripada Hi tiok,
meski tampaknya dia acuh-tak-acuh seperti tidak tertarik oleh
lukisan yang memenuhi dinding ruangan itu, padahal
pandangannya tidak pernah meninggalkan tingkah pola si
dayang cantik tadi, Dia anggap dayang itu adalah kunci
daripada keselamatan hadirin ini apabila diam-diam raja Se He
main muslihat untuk menjebak mereka maka orang yang
bergerak lebih dulu tentu dayang cantik itu.
Jadi sekarang Siau Hong mirip seekor harimau yang diamdiam
sedang mengintai mangsanya. Walaupun kelihatannya
tenang-tenang saja, tapi sebenarnya siap siaga, asal ada
sedikit perubahan yang tidak menguntungkan segera ia akan
menubruk ke arah si dayang dan takkan memberi kesempatan
lolos baginya.
Sebaliknya orang-orang seperti Toan Ki, Cu Tan-sin,
Buyung Hok, Kongya Kian dan lain-lain karena mereka
memang tergolong cendikiawan, terhitung kaum terpelajar,
asal melihat sebangsa tulisan atau lukisan tentu sangat
tertarik maka saat itu mereka sedang mendekati hiasan
dinding yang tak terhitung jumlahnya itu untuk menikmatinya.
Ting Pek-Jwan lebih hati-hati kelakuannya, Ia pura-pura
sedang menikmati lukisan dan kitab yang berada di rak buku.
Sedang Pah Thian-sik berlagak sedang melihat lukisan, tapi
sebenarnya sedang memeriksa dinding itu dan sudut ruangan
untuk mengetahui apa tiada sesuatu yang mencurigakan.
Hanya Pau Put-tong saja yang tidak mau tinggal diam,
sambil memandang lukisan-lukisan itu tiada hentinya pula ia
mengoceh, dia mencela lukisan ini terlalu kaku gambarnya dan
mengatakan lukisan itu seperti cákar ayam, sebentar lagi
bilang lukisan itu warnanya salah lain saat mengejek lukisan
itu kurang kuat gayanya, penulisnya tentu kurang makan dan
macam-macam cemooh lagi.
Padahal walaupun Se He terbílang suatu negeri yang
terpencíl dí wilayah barat, sejarahnya juga belum tua, sudah
tentu lukisan yang tersímpan tak dapat dibandingkan dengan
kerajaan Song dan Liau. Tapi lukisan yang menjadi koleksí
kerajaan betapapun tentu tetap juga bukan lukisan
sembarangan.
Di antara lukisan koleksi putri Se He itu banyak terdapat
lukisan dan tulisan seniman ternama jaman kuno, namun
begitu semuanya itu tiada sepeserpun dalam penilaian Pau
Put-Tong yang memang disengaja itu.
Sudah tentu si dayang sangat terkejut dan heran atas
ocehan Pau Put-tong yang ngawur itu, ia coba mendekati dan
bertanya dengan suara pelakan, "Maaf tuan! Apakah lukisan
dan tulisan ini benar-benar kurang baik seperti apa yang kau
katakan? Padahal Tuan Putri kami mengatakan lukisan-lukisan
ini semuanya barang pilihan."
"Tuan Putri kalian tinggal terasing di daerah terpencil ini,
selamanya tidak kenal dunia luar sehingga tidak tahu
sastrawan dan seniman negeri Tionggoan kami maka
seharusnya Tuan Putri kalian mesti sering-sering pesiar ke
negeri kami untuk menambah pengalamannya," demikian Puttong
mengoceh. "Dan, ah, adik cilik, kaupun mesti ikut Tuan
Putrimu jalan-jalan ke sana untuk menambah pengalaman.
Nanti memberi kabar lebih dulu padaku ya dan jangan lupa
mampir di rumahku.”
Dayang itu mengangguk menyatakan baik dengan tertawa.
Dalam pada itu Toan Ki juga sedang memandangi lukisanlukisan
itu dengan teliti, sampai di depan sebuah lukisan
seorang wanita cantik, mendadak ia terkejut dan bersuara
heran.
Kiranya wanita cantik dalam lukisan itu sangat mirip
dengan Giok-yan. Sebelah tangannya memegang jarum dan
tangan lain memegang benang sambil duduk dl samping
jendela sedang menyusupkan benang ke lubang jarum, di atas
lutut wanita terlukis itu tertaruh sepotong kain sutra, jadi
menggambarkan wanita cantik itu sedang menyulam.
"Jiko, cobalah kemari!" seru Toan Ki kepada Hi- tiok.
Hi-tiok mengiakan dan mendekatinya.
Ia juga terheran-heran melihat lukisan itu. ia pikir gambar
yang melukiskan nona Ong kembali terdapat sebuah pula di
sini. Wanita dalam lukisan pemberian guruku itu tiada bedanya
dengan wajah wanita lukisan ini, hanya gayanya saja yang
berlainan.
Toan Ki sendiri makin melihat juga makin heran. Tanpa
terasa ia mengulur tangan untuk meraba lukisan itu. Ketika
jarinya menyentuh dinding, ia merasa pada dinding itu banyak
garis yang berdakak-dekak. Waktu dia mengamat-amati lebih
jelas, kiranya di atas dinding memang terukir banyak sekali
gambar orang-orangan, ada yang duduk, ada yang berdiri dan
ada yang sedang melompat gayanya aneka ragam.
Gambar orang-orangan itu semuanya dikurung dengan
sebuah lingkaran, di luar lingkaran sebagian besar tercatat
pula angka-angka dan huruf-huruf mengenai anatomi.
Sekali memandang saja segera Hi-tiok dapat mengenal
ukiran-ukiran dalam lingkaran-lingkaran itu mirip seperti ukiran
yang dipelajarinya di kamar batu Leng-ciu-kiong itu, Ia tahu
ukiran-ukiran ini adalah rahasia berlatih ilmu silat yang maha
sakti, kalau tenaga dalam belum cukup kuat, tentu akan bikin
celaka sendiri orang yang mempelajarinya seperti halnya Bwe
kiam dan Tiok kiam berempat tempo hari.
Kuatir kalau Toan Ki juga mengalami kecelakaan, maka
cepat Hi-tiok memperingatkannya, "Samte, lukisan-lukisan ini
tidak boleh dipandang."
"sebab apa?" tanya Toan Ki.
"Ukiran ini adalah semacam rahasia ilmu silat yang amat
tinggi, jika mempelajari secara ngawur, bukannya baik.
sebaliknya bisa celaka," bisik Hi-tiok.
Toan Ki memang tidak berhasrat belajar ilmu silat apa
segala, maka segera ia kesampingkan ukiran-ukiran dinding
itu dan kembali menikmati lukisan "si cantik sedang
menyulam" tadi.
Selama beberapa hari ini hubungannya dengan Giok-yan
sudah sangat erat, wajah si nona boleh dikata sudah
dipandangnya dangan jelas-jemelas, terutama ketika
sama berbaring di tepi sungai untuk menjemur badan mereka
yang basah kuyup, di sana ia telah memandang muka Giokyan
sedemikian rupa sehingga nona itu merasa malu.
Sekarang sesudah dia mengamat-amati pula lukisan itu
segera dapatlah dibedakan ciri-ciri gambar ini tidak sama
dengan Giok-yan. Wajah yang dilukis memang sangat mirip
Giok-yan Cuma perawakan wanita dalam lukisan itu lebih
bernas lebih montok, mata alisnya bersemangat tangkas dan
gagah, sebaliknya Giok-yan sangat lemah-lembut, usia orang
dalam lukisan juga lebih tua tiga-empat tahun daripada Giokyan.
Di sebelah sana biarpun Pau Put-tong mengoceh tak
karuan, tapi setiap tutur-kata dan gerak-gerik Toan Ki dan Hitiok
selalu diperhatikan olehnya. Maka demi mendengar Hitiok
mengatakan ukiran di dinding itu adalah semacam ilmu
silat yang sangat tinggi segera ia mendengus, "Huh, ilmu silat
maha sakti apa? Huh, hwesio cilik memang suka membual!”
Habis berkala ia terus ikut-lkut memperhatikan ukiran
dinding.
“Gambar-gambar itu jangan dipandang tuan-tuan,''
demikian si dayang lantas memperingatkan, "Tuan Putri
pernah mengatakan bila orang tidak mempunyai dasar kungfu
yang kuat, kalau memandang gambar itu tentu akan celaka
daripada mendapat faedahnya.”
“Dan kalau sudah mempunyai dasar kungfu yang kuat,
tentu akan berfaedah bukan?" demikian jawab Pau Put-tong
yang kepala batu, "Nah, dasar kepandaianku justru sudah
sangat kuat."
Sebenarnya Pah Put-tong cuma bersifat tak mau kalah
saja, pada hakikatnya dia tiada maksud buat mengintip
rahasia ilmu silat orang. Tak terduga baru saja la memandang
gaya sebuah ukiran itu seketika ia terpengaruh, la merasa
banyak sekali perubahan lanjutan dari gaya gambar orangorangàn
itu dan sukar dipahami, tanpa terasa ia ulur tangan
dan angkat kaki dan mulai main menurut gaya ukiran itu.
Dalam sekejap saja lantas ada orang lain mengetahui
keadaan Pau Put-tong yang aneh itu, menyusul mereka pun
melihat ukiran-ukiran di dinding. Maka terdengarlah suara
orang banyak, ada yang berkata, "He, dl sini ada gambar
ukiran!”
Dan di sana juga ada yang bilang, "Ya, di sini juga ada!"
Dan begitulah, beramai-ramai orang banyak lantas
menyingkap lukisan untuk memeriksa ukiran dinding di
bawahnya.
Tapi mereka hanya melihat sejenak saja. Tánpa terasa kaki
tangan mereka pun ikut-ikut bergerak dan menari seperti
orang sinting.
Diam-diam Hi-tiok terkejut, cepat ia mendekati Siau-Hong
dan berkata, "Toako, gambar-gambar itu terang tidak boleh
dipandang, kalau memandang lagi mungkin semua orang akan
celaka. Jika sampai ada yang kalap, wah, tentu keadaan bias
kacau-balau."
Siau Hong mengangguk, segera ia membentak keraskeras,
"Hendaknya semua orang jangan memandang ukiran
didinding itu. Kita sudah berada di tempat bahaya, lekas kita
berkumpul untuk berunding apa yang perlu dilakukan."
Karena suara gertakan itu, segera ada beberapa orang
sadar kembali dan menurut untuk berkumpul. Namun daya
pengaruh ukiran-ukiran dinding itu. ternyata sangat besar,
barang siapa asal memandang sekejap salah satu gambar
ukiran itu dan sedikit berpikir, seketika akan merasa gaya
gambar itu dapat memecahkan persoalan sulit ilmu silat yang
selama ini sukar dipecahkan olehnya. Tapi sebenarnya gaya
itu cara bagai mana harus memulainya dan bagaimana
selanjutnya, hal ini menjadi samar-samar pula dan diraba
sehingga tanpa terasa kaki dan tangan ikut-ikut bergerak
untuk menirukannya.
Melihat orang-orang itu seperti sudah senewen semua,
walaupun biasanya Siau Hong sangat tabah, mau-tak-mau ia
merasa kebat-kabit juga.
Sekonyong-konyong terdengar seorang menjerit keraskeras
sambil berputar-putar beberapa kali, lalu jatuh terguling
di lantai. Menyusul ada seorang lagi yang mengeluarkan suara
rintihan, mendadak terus menubruk dinding batu sambil
mencakar dan mencengkeram secara kalap seakan-akan ingin
mengelotoki ukiran dinding itu.
Siau Hong tahu bilâ tidak segera mencegah orang-orang
itu agar berhenti melihat ukiran, kalau sampai sedikit lama lagi
tentu akan terjadi bencana atau banjir darah.
Sedikit berpikir segera ia mendapat akal, "krek", ia tarik
sandaran kursi di sebelahnya sehingga sempel ketika
sempalan kayu ia putar dan digosok-gosok dengan kedua
tangan, seketika berubah menjadi remukan kayu yang kecilkecil,
Cepat ia hantarkan kayu-kayu kecil itu sebagai senjata
rahasia, maka terdengarlah suara mendesis-desis yang ramai,
hanya sekejap saja pelita dalam kamar itu sudah padam
semua dan keadaan menjadi gelap gulita.
Dalam keadaan gelap hanya terdengar suara pernapasan
orang banyak yang masih terengah-engah, banyak pula yang
menghela napas lega dan bersyukur, "Wah, hampir saja!"
Segera Siau Hong berseru, "Silakan semua orang duduk di
tempat semula masing-masing dan jangan sembarangan
bergerak supaya tidak terjebak pesawat rahasia yang mungkin
terdapat di ruangan ini. Ukiran di dinding itu sangat besar
daya pengaruhnya, hendaklah sekali-kali jangan disentuh,
apalagi dipandang."
Habis berseru, tiba-tiba, Siau Hong menahan suaranya
dengan pelahan dan berkata, "Maaf, harap lekas buka pintu
agar semua orang dapat keluar dari sini."
Kiranya pada waktu menghamburkan senjata rahasianya
untuk memadamkan pelita-pelita itu, berbareng Siau Hong
melompat maju dan dapat memegang tangan si dayang cantik
tadi.
Sudah tentu ilmu silat dayang itu pun tidak rendah, dalam
kagetnya sebelah tangannya yang lain terüs menghantam,
namun segera kena di tangkap pula oleh Siau Hong sehingga
tak bisa berkutik.
Dayang itu menjadi kuatír dan malu pula serta tak berani
bergerak.
Demi mendengar ucapan Siau Hong yang halus itu, segera
ia berkata, "Lepas . . .lepaskan tanganku!”
Siau Hong lantas lepaskan tangan si dayang itu. Meski
dalam keadaan gelap gulita, tapi dengan kepandaiannya ia
tidak kuatir dayang itu akan main gila padanya.
Lalu dayang itu berkata, “Kan sudah kukatakan tadi
kepada mereka bahwa ukiran di dinding itu jangan dipandang,
kalau belum mempunyai dasar kepandaian yang kuat tentu
akan membikin celaka diri sendiri, tapi mereka sendirilah yang
tidak mempercaya pada omonganku."
"Kau suruh aku jangan lihat, aku justru ingin lihat. Kalau
kau suruh aku lihat, tentu sejak tadi aku tak sudi melihat,"
sahut Pau Put-tong sambil duduk di lantai walaupun kepalanya
masih puyeng dan enek rasa di dada.
Diam-diam Siau Hong harus mengakui memang si dayang
tadi sudah memperingatkan mereka jangan melihat ukiranukiran
dinding, agaknya memang tidak sengaja hendak
menjebak. Jika begitu apa maksud tujuan sebenarnya putri Se
He itu mengundang orang banyak ke sini?
Begitulah, selagi Siau Hong berpikir, tiba-tiba hidungnya
mengendus bau harum yang halus. Ia terkejut dan cepat
pencet hidung sendiri. Ia masih ingat dahulu para anggota
Kai- pang pernah dirobohkan oleh bau harum berbisa oleh
jago-jago Ih-bin-tong Se He. Segera ia mengerahkan hawa
murni dalam tubuh dan mengatur pernapasan, tapi tidak
merasa ada sesuatu alangan.
Dalam pada itu tiba-tiba terdengar suara seorang wanita
yang merdu lagi bicara, "Tuan Putri Bon-gi Kongcu tiba!”
Mendengar datangnya sang putri, semua orang menjadi
kaget dan senang pula. Cuma sayang keadaan gelap gulita
sehingga tidak dapat melihat jelas wajah sang putri.
Kemudian suara yang merdu, suara wanita muda, berkata
pula, "Tuan Putri mempermaklumkan bahwa di dinding kamar
beliau banyak terukir gambar, mengenai ilmu silat, ukiranukiran
itu mestinya tidak boleh dilihat oleh orang luar,
makanya sengaja dialing-aling dengan lukisan, tak terduga
ukiran-ukiran, itu masih terlihat juga oleh kalian. Tuan Putri
minta perhatian kalian agar jangan sekali-kali menyalakan
pelita atau mengatik batu api, kalau tidak, mungkin kalian
akan menghadapi bahaya lagi dan akan membìkin tidak enak
kedua belah pihak. Sekarang Tuan Putri ingin bicara sedikit
dengan hadirin dan terpaksa dilakukan dalam keadaan gelap,
cara yang kurang menghormat ini diharap hadirin suka
memaafkan."
Hábis itu, terdengar suara berkeriut-keriut, pintu batu tadi
tahu-tahu terbuka, Lalu wanita muda itu bicara pula, "Nah,
jika di antara hadirin ada yang tidak ingin tinggal lebih lama di
sini, sekarang boleh silakan keluar saja dan kembali ke
ruangan tamu di depan tadi, sepanjang jalan akan ada orang
memberi petunjuk sehingga takkan kesasar."
Mendengar sang putri sudah datang, sudah tentu semua
orang tidak mau pergi. Apa lagi suara bicara wanita muda itu
sangat ramah-tamah, sedikitpun tidak mengandung nada
kasar atau jahat sekarang pintu batu dibuka pula sehingga
boleh keluar masuk dengan bebas seketika rasa takut mereka
tadi lenyap sama sekali dan tiada seorangpun yang mau pergi
dari sini.
“Ternyata hadirin tiada yang ingin pergi sungguh Tuan
Putri merasa sangat terima kasíh. Sekarang sekedar sebagai
tanda mata atas kedatangan hadirin dari jauh, maka Tuan
Putri bersedia menghadiahkan kepada setiap orang sebuah
lukisan dan tulisan yàng berada di sini. Jelek-jelek lukisan dan
tulisan ini adalah koleksi Tuan Putri kami selama bertahuntahun,
diharap hadirin sudi menerimanya. Dan nanti bila para
hadirin hendak pergi dari sini boleh sekalian pilih dan ambil
sendiri."
Banyak diantara tokoh-tokoh persilatan itu adalah orang
kasar, sudah tentu mereka tidak tertarik oleh lukisan apa
segala. Tapi merekapun tahu lukisan-lukisan itu barang seni
pilihan dan bernilai daripada tiada mendapat apa-apa, boleh
juga nanti diambil untuk dibawa pulang, demikian pikir
mereka.
Hanya Toan Ki saja yang sangat girang, ia bertekad nanti
akan ambil lukisan "si cantik sedang menyulam” tadi untuk
diperlihatkan kepada Giok-yan.
Sebaliknya pangeran Cóng-can lain pikirannya. Ia sudah
menunggu setengah harian, bicara ke sana ke mari sang putri
belum lagi muncul, hanya dayang itu yang mewakilkan bicara.
Tentu saja ia menjadi aseran, segera ìa berteriak, ''Bun-gi
Kongcu, jika di sini tidak boleh menyalakan pelita, marilah
kita berganti tempat untuk bertemu? Dalam keadaan gelap
gulita begini engkau tidak dapat melihat aku dan aku tak bisa
memandang dirimu, sungguh konyol!"
Segera dayang tadi berkata, "Jika hadirín ingin melihat
Tuan Putri untuk ini tidak sulit."
"Ya. kami ingin melihat Tuan Putri! Segera ingin!" demikian
ratusan orang itu berteriak-teriak dalam keadaan gelap gulita.
Selain itu banyak pula yang berteriak-teriak. "Lekas
menyalakan lampu, kami takkan melihat ukiran di dinding itu,
masakah ukiran itu akan lebih menarik daripada paras Tuan
Putri yang cantik bak bidadari? Ya asal melihat sekejap saja
wajah Kongcu dan lampu boleh segera di padamkan lagi!
Benar! Silahkan Kongcu tampil ke muka.”
"Diam! Harap hadirin tanang dulu!” demikian seru si
dayang. Dan sesudah suara teriakan-teriakan itu mereda, lalu
ia menyambung "Adapun maksud Tuan Putri mengundang
hadirin ke Se He ini, memangnya beliau ingin menjumpa
dengan beliau. Sekarang Tuan Putri ada tiga soal yang akan
ditanyakan kepada kalian, barang siapa dapat memberikan
jawaban yang dibenarkan Tuan Putri, maka dengan segera
beliau akan menemuinya.”
Seketika semua orang bersorak gembira dan bilang "Eh,
kiranya pakai ujian lisan apa segala!”
Dan ada yang berkata, "Wah, celaka! Aku hanya mahir
putar golok dan main tombak, kalau aku diuji tentang
membaca dan bersyair segala, aku bisa runyam!”
Kemudian si dayang mengumumkan lagi, “soal-soal yang
hendak ditanyakan Tuan Putri kepada hadirin sekalian sudah
diberitahukan kepadaku, maka sekarang silahkan siapa yang
ingin lebih dulu?”
Serentak banyak di antara hadirin itu berebut maju ke
depan dan berteriak-teriak, "Aku lebih dulu! Tidak, aku dulu!
Kamu tadi belakangku, kenapa menyerobot barisanku?”
Si dayang tertawa geli, katanya, "Sudahlah, hadirin
sekalian jangan bertengkar. Padahal orang yang maju lebih
dahulu akan rugi sendiri.”
Sesudah berpikir, semua orang merasa apa yang dikatakan
si dayang memang benar juga. Karena diuji belakangan tentu
akan dapat mendengarkan jawaban-jawaban orang lain yang
telah diujikan dapat menperbaki kesalahannya, kalau benar
akan bias ditiru. Oleh karena itu, seketika semua orang
berbalik ogah-ogahan untuk dia lebih dulu dan saling
mengalah.
"Bagus! Jika kalian berebut lebih dulu, biar aku
belakangan. Tapi sekarang kalian takut menjadi perintis jalan,
maka boleh aku menjadi pembuka buat kalian. Nah,
dengarkanlah Tuan Putri namaku Pau Put-tong. sudah punya
anak dan beristri, yang kuharap hanya melihat muka Tuan
Putri yang cantik lain tidak."
"Pau-siangsing ternyata seorang yang suka berterus
terang," kata si dayang, "Sekarang dengarkan ketiga soal yang
hendak ditanyakan Tuan Putri, ini pertanyaan pertama :
Selama hidup Pau-siansing tentu pernah merasakan sesuatu
yang paling gembira dan bahagia, Nah di manakah Pausiansing
pernah merasakan saat-saat yang paling gembira dan
bahagia itu?”
Pau Put-tong berpikir sejenak, lalu menjawab, "Di dalam
sebuah kolam, di situ aku mandi sepuas-puasnya bersama
jantung hatiku, sungguh aku merasa sangat gembira dan
bahagia, Nah, Puas dan apakah jawabanku ini tepat?"
"Tepat atau tidak bergantung pada keputusan Tuan Putri
nanti,” kata si dayang. “Sekarang pertanyaan kedua : Selama
hidup Pau-siansing ini. siapakah orang yang paling kau cintai?"
"Namanya Pau Put-cing," sahut Pu-tong tanpa pikir.
"Dan pertanyaan ketiga : Bagaimana wajah orang yang
paling dicintai Pau-singsing itu?" Tanya si dayang.
"Wajahnya sungguh istimewa," sahut Put-tong. "Dia baru
berumur tiga tahun, matanya satu besar, satu kecil, hidungnya
pesek, kupingnya lebar, kalau diberi perintah ia
membangkang. Bila kusuruh dia tertawa, eh malah dia
menangis dan sekali menangis sedikitnya tiga jam lamanya.
Dia bukan lain adalah putri pertama hatiku Pau Put-cing!”
Semua orang tertawa ngakak, begitu pula si dayang
terpingkal-pingkal geli. Mereka merasa jawaban Pau Put-tong
itu sungguh sangat jujur dan terus terang.
Lalu si dayang berkata. "Pau-siansing silahkan tungggu di
samping dulu. Sekarang silakan orang kedua."
Karena buru-buru ingin berkumpul kembali dengan Giokyan,
maka Toan Ki mendahului maju, ia membungkuk tubuh
memberi salam, lalu berkata, "Caihe Toan Ki dari Taili, dengan
ini menyampaikan salam hormat kepada Kongcu, Atas
penyambutan dan pelayanan yang telah kuterima dengan
jalan ini pula kusampaíkan terima kasih."
"O, kiranya putra mahkota dari Taili, harap Yang Mulia
jangan sungkan-sungkan, bahkan kalau ada pelayanan yang
kurang sempurna diharap yang Mulia suka memaafkan," kata
si dayang.
"Ah. Cici tidak perlu rendah hati, " sahut Toan Ki. "Apabila
hari ini Tuan Putri tiada tempo senggang, boleh juga
pertemuan ini ditunda sampai lain hari."
"Karena Yang Mulia sudah ikut hadir di sini maka silakan
juga menjawab ketiga pertanyaan tadi," demikian kata si
dayang. “Nah, pertanyaan pertama itu ialah : Di manakah
selama hidup Yang Mulia ini merasa paling gembira dan
bahagia?"
Tanpa pikir Toan Ki menjawab, "Di dalam lumpur sebuah
sumur kering."
Seketika bergemuruhlah gelak-tawa orang banyak. Toan Ki
juga tidak memberi penjelasan lebih lanjut, hanya Buyung Hok
saja yang tahu sebab apa pemuda itu merasa senang dan
bahagia di dalam sumur kering.
Maka terdengar ejekan seorang dengan suara bisik-bisik
kepada kawannya, "Apa barangkali dia seekor halus atau
bekicot makanya merasa senang di dalam Lumpur?”
Dalam pada itu dengan menahan rasa gelí si dayang
bertanya pula, "Dan selama hidup Pángeran siapakah yang
paling engkau cintai, siapakah namanya?”
Baru Toan Ki hendak menjawab, sekonyong-konyong
kedua belah tangan bajunya terasa dijawab orang. Darì
sebelah kanan Pah Thian-sik mengisiknya, "Jawablah
ayahanda!"
Sedang Cu Tan-sin juga memberi nasehat dengan lirih di
sebelah lain, "katakana ibunda!"
Rupanya kedua "punakawan" itu merasa jawaban Toan Ki
yang pertama tadi terlalu menyimpang, maka kuatir jawaban
kedua ini akan di tertawai lagì oleh orang banyak. Padahal
kedatangannya ini adalah untuk melamar putri Se He, kalau
sekarang Toan Ki mengaku selama hidupnya telah mencintai
seorang nona lain, pasti runyam maksud tujuan kedatangan
mereka ini.
Sebab itülah yang satu menganjurkan menjawab bahwa
orang yang saling dicintai adalah ayahanda, seorang lelaki
harus setia kepada, raja dan berbäkti kepada ayah, inilah jalan
pikiran Pah Thian sik. Sebaliknya Cu Tan-sin menyuruh Toan
Ki menjawab orang yang paling dicintai adalah ibunda,
seorang anak harus cinta pada sang ibu, lnilah jalan pikiran
kaum sastrawan sebagai Cu Tan-sin.
Toan Ki sendiri mestinya akan menjawab bahwa orang
yang paling dicintainya adalah Ong Giok-yan, tapi Thian-sik
dan Tan-sin keburu menjawabnya sehingga Toan Ki urung
membuka mulut. Segera teringat olehnya bahwa dirinya
adalah putra mahkota kerajaan Taili yang setiap gerak-gerik
dan tutur-katanya menyangkut kehormatan negara. Sebab
itulah ia lantas memuruti nasehat kedua abdi pengiringnya
dan menjawab, "Orang yang paling kucintai sudah tentu
adalah ayah-bundaku.”
Lalu si dayang bertanya pula, "Dan bagaimana dengan
wajah ayah-bunda Yang Mulia? Apakah mirip dengan
engkau?"
"Ayahku bermuka lebar, beralis tebal dan bermata besar,
sikapnya gagah" baru sampai di sini mendadak ia tertegun.
Baru sekarang ia merasa muka sendiri kiranya tidak mirip sang
ayah, tapi lebih mamper sang ibu. Hal ini sebelumnya tidak
pernah terpikir olehnya.
Melihat ucapan Toan Ki berhenti ditengah jalan, si dayang
merasa Pangeran itu sudah selesai, tidak enak menguraikan
muka ibunya yang berkedudukan sebagai permaisuri Tin-lamong
yang diagungkan itu di depan orang banyak. Maka ia pun
tidak Tanya lebih jauh, ia hanya mengucapkan terima kasih
atas jawaban Toan Ki dan mohon dia mengaso ke samping.
Di sebelah sana pangeran cong-can menjadi iri ketika
melihat sikap si dayang yang sampai menghormati Toan Ki itu.
Pikirnya, “Kamu adalah pangeran, aku pun pangeran. Negeri
Turfan kami jauh lebih besar dan kuat daripada negerimu,
masakah kamu bisa lebih unggul dari padaku?”
Karena pikíran itu, segera ia melangkah maju dan berkata,
"Pangeran Cong-can dari Turfan mohon bertemu dengan
Tuan-Putri."
"Atas kehadiran Yang Mulia sungguh selaku anggota
kerajaan kami merasa mendapat kehormatan besar.” Kata si
dayang sambil memberi hormat, “Sekarang Yang Mulia
disilahkan juga menjawab ketiga pertanyaan itu.”
Cong-can adalah orang kasar dan tidak suka berliku-liku,
dengan tertawa ia berkata, "Ketiga pertanyaan Tuan Putri itu
sudah kudengar, maka tidak perlu kau Tanya lagi satu per
satu, biarlah kujawab sekaligus saja. Nah selama hidupku ini
tempat yang membikin aku paling senang dan bahagia adalah
kelak bila aku telah menjadi Huma, di kamar pengantin pada
malam pertama itulah tempatnya. Adapun orang yang paling
kuciantai selama hidup ini adalah Bon-gi Kongcu, sudah tentu
dia she Li, sedangkan namanya aku tidak tahu, sesudah
menjadi istriku tentu akan dia beritahukan padaku. Tentang
mukanya sudah tentu dia secantik bidadari. Haha, tepat tidak
ketiga jawabanku ini.”
Sebagian besar hadirin itu sesungguhnya mempunyai
pendapat yang sama seperti jawaban pangeran Cong-can itu.
Sekarang Cong-can telah memberi jawaban lebih dulu, maka
diam-diam mereka sangat menyesal tidak sejak tadi-tadi minta
diuji dan memberi jawaban seperti itu. Kalau sekarang
menjawab lagi serupa tentu diolok-olok orang lalu sebagai
penjiplak.
Begitulah Siau Hong telah mengikuti ujian dari si dayang
terhadap orang banyak itu satu persatu, sampai akhirnya ia
merasa bosan. Coba kalau tidak ingin tahu bagaimana hasil
sayembara itu tentu sejak tadi sudah ia tinggal pergi.
Tengah Siau Hong merasa kesal, tiba-tiba terdengar suara
Buyung Hok berkata. "Caihe Buyung Hok dari Koh-soh dengan
hormat menyampaikan salam kepada Tuan Putri.”
"O, kiranya Buyung-kongcu yang tersohor dengan Ih-pi-cito
dan hoan-si-pi-sin itu, biarpun selama ini hamba berada
dalam keraton, sering juga kudengar nama kebesaran
Buyung-kongcu," demikian puji si dayang.
Diam-diam Buyung Hok merasa senang dan bangga, kalau
dayang itu kenal namanya, dengan sendirinya Tuan Putrinya
juga mengenalnya, bisa jadi mereka sering membicarakan
dirinya. Karena itu, ia menjawab dengan kata-kata yang
rendah hati.
Lalu si dayang berkata pula, "Meski negeri Se He
tempatnya terpencil, sering juga kami dengar tentang 'Pak
Kiau Hong dan Lam Buyung' yang tersohor. Konon Pak Kiau
Hong sekarang sedang berganti she Siau dan menduduki
jabatan tinggi di negeri Liau, entah hal ini betul atau tidak?"
"Ya, memang betul," sahut Buyung Hok. Padahal dia tahu
Siau Hong juga ikut hadir di situ, tapi dia sengaja tak mau
mengatakan.
"Nama Buyung-kongcu sejajar dengan Siau-taihiap, tentu
kalián adalah kenalan baik, entah bagaimana potongan Siautaihiap
itu? Ilmu silatnya kalau dibandingkan Buyung-kongcu
kira-kira siapa yang lebih unggul?" demikian si dayang
bertanya lagi.
Keruan pertanyaan ini membuat Buyung Hok merah
mukanya. Dia pernah bertempur melawan Siau Hong dan
kalah tinggi ilmu silatnya, hal ini telah dilihat orang banyak,
sekarang kalau dia mengakui kenyataan itu tentu dia akan
ditertawai oleh ksatria-ksatria seluruh jagat.
Tapi dasar jiwa Buyung Hok memang agak sempit, dia
tetap tidak rela mengakui keunggulan Siau hong, maka ia
menjadi dadaran dan menjawab, “Apakah pertanyaan nona ini
termasuk ketiga pertanyaan yang hendak diujikan oleh Tuan
Putri?”
"O, tidak, harap maaf," sahut dayang itu cepat, "Soalnya
sudah lama hamba dengar nama kebesaran Siau-taihiap,
saking kagumnya maka hamba mengajukan pertanyaan ini."
"Siau-taihiap saat ini juga berada di sini, bila perlu nona
boleh langsung tanyakan padanya saja,” kata Buyung Hok.
Keterangan ini membuat suasana ruangan itu menjadi
gempar seketika. Maklum nama Siau Hong sangat termasyur
dan disegani oleh setiap orang persilatan.
Agaknya si dayang juga terpengaruh, katanya dengan
suara agak gemetar, "Oo, kiranya Siau-täihiap juga sudi
berkunjung kemari, karena sebelumnya tidak tahu, maka
sudilah memaafkan bila ada penyambutan yang kurang
sempurna,"
Tapi Siau Hong hanya mendengus saja dan tidak
menjawab.
Mendengar nada si dayang jauh lebih hormat kepada Siau
Hong daripada dia, diam-diam Buyung Hok menjädi kuatir,
"Wah, Siau Hong itu pun belum beristri, dia menjabat Lam-ih
Tai-ong kerajaan Liau dan memegang kekuasaan militer yang
besar, terang aku yang tak punya apa-apa ini bukan
bandingannya. Bila putri Se He penujui dia, Wah, bi . . . bisa
runyam ini!"
Dalam pada itu terdengar si dayang sedang berkata,
"Biarlah hamba tanya dulu pada Buyung-kongcu, harap Siautäihiap
suka menunggu untuk sementara, maaf."
Begitulah sesudah minta maaf dengan kata-kata yang
merendah, lalu dayang itu tanya Buyung Hok, "Nah,
pertanyaan pertama adalah di tempat manakah Buyungkongcu
merasa paling senang dan bahagia selama hidup ini?”
Pertanyaan ini jelas sudah didengar Buyung Hok sejak tadi,
tapi sekarang demi ia sendiri yang ditanya, seketika ia jadi
melongo dan sukar menjawab.
Selama hidup Buyung-Hok boleh dikata senantiasa giat
berusaha membangun kembali kerajaan Yan dan tidak pernah
mengalami waktu senang dan bahagia. Maka dengan tertegun
sejenak, akhirnya ia menjawab, "Untuk merasa benar-benar
senang dan bahagia, bagiku adalah pada masa yang akan
datang dan tidak terjadi pada waktu yang lalu."
Si dayang melengak. Ia mengira Buyung Hok akan
menjawab seperti pangeran Cong-can dan lain-lain dengan
mengatakan akan merasa senang dan bahagia bila dapat
mempersunting sang putri. Tak terduga Buyung Hok
menjawab sedikit samar-samar dengan melambangkan bahwa
rasa senang dan bahagianya adalah kelak bila dia sudah naik
tahta menjadi raja Yan yang jaya.
Begitulah dengan tersenyum lalu si dayang bertanya pula.
"Dan siapakah orang yang paling dícintai Buyung-kongcu
selama hidup ini?”
Buyung Hok menghela napas, sahutnya, "Tidak ada, aku
tidak pernah mencintai siapapun.”
"Jika begitu, maka pertanyaan ketiga tidak perlu lagi," ujar
si dayang.
"Kuharap setelah bertemu dengan Tuan Putrimu akan
dapat kuberi jawaban pertanyaan kedua dan ketiga ini,” ujar
buyung Hok.
"Baiklah silahkan Buyung Hok mengaso dulu ke sampíng,"
kata si dayang "Sekarang Siau-taihiap pun hadir di sini, maka
maafkan bila hamba juga mengajukan ketiga pertanyaan ini."
Tapi meski dia mengulangi lagi ucapannya tetap tidak
terdengar jawaban Siau-Hong.
“Toako kami sudah pergi, harap nona jangan marah."
Tiba-tiba Hi-tiok berkata.
"O Siau-taihiap sudah pergi?" si dayang menegas dengan
terkejüt.
Kiranya setelah mengikuti ketiga pertanyaan Bun-gi
Kongcu itu, Siau-Hong menduga di balik pertanyaan itu tentu
mempunyai makna yang dalam, yang terang putri se He itu
tiada maksud jahat hendak membikin susah para tamunya. Ia
menjadi teringat kepada A Cu sehingga berduka. Ia pikir bila
ketiga pertanyaan putri Se He itu juga diajukan kepadanya,
maka sukarlah baginya untuk membeberkan rahasia
perasaannya di depan orang banyak. Karena itu segera ia
keluar ruang batu tanpa diketahui orang lain.
"Entah sebab apa Siau-taihiap mengundurkan diri dari sini?
Apakah karena marah kepada perlakuan kami yang kurang
hormat ini?" tanya si dayang.
"Toako kami bukanlah orang yang berjiwa kerdil," ujar Hitiok,
"Kukira beliau takkan marah kepada kalian. Ya, aku
menduga dia ketagihan arak, maka kembali ke ruangan depan
sana untuk minum sepuasnya."
"Benar juga. Sudah lama Siau-taihiap tersohor sebagai
jago minum arak yang tiada bandinganya di sini tidak tersedia
arak yang baik, pantas Siau-taihiap kurang senang. Diharap
anda suka menyampaikan rasa penyesalan Tuan putri kami
bila bertemu dengan Siau-taihiap."
Dayang ini ternyata pandai bicara dan pintar melayani
tamu, jauh berbeda daripada dayang yang menyambut
mereka dengan malu-malu tadi.
Dalam pada itu si dayang bertanya lagi, "Dan siapakah
nama tuan yang terhormat?"
“Aku? O . . . aku . . . aku bergelar Hi-tiok!" katanya dengan
gugup.
"Di manakah Hi-tiok Siansing merasa paling senang dan
bahagia?" tanya si dayang.
Hi-tiok menghela napas pelahan, sahutnya, "Ah, tempat itu
adalah sebuah gudang es yang gelap gulita."
Baru dia mengatakan "gudang es", tiba-tiba terdengar
suara kaget tertahan seorang wanita, menyusul terdengar
suara nyaring pecahnya cangkir yang jatuh ke lantai.
"Dan siapakah nama orang yang paling di cintai tuan
selama hidup ini?" kembali si dayang menanya.
"Aku . . . aku tidak tahu siapa nama nona itu," sahut Hitiok.
Seketika bergemuruhlah gelak-tawa orang banyak. Mereka
semua pikir apakah orang ini agak sinting, masakah tidak
kenal nama si nona lantas jatuh cinta?
Tapi dayang berkata. "Tidak kenal nama nona itu, hal ini
pun tidak perlu diherankan. Banyak juga cerita kuno yang
mengatakan seorang pemuda jatuh cinta kepada bidadari
yang turun dari kayangan dan dengan sendirinya tidak kenal
siapa namanya. Nah. Hi-tiok Siansing, apakah wajah nona
kekasihmu itu juga secantik bidadari?"
"Bagaimana mukanya, selama hidupku ini pun tidak pernah
melihatnya."
Keruan suara gelak-tawa seketika menggelegar lagi
menggema ruangan batu itu. Semuanya menganggap ucapan
Hi-tiok itu benar-benar sesuatu yang paling menggelikan di
dunia ini. Ada juga yang menganggap Hi-tiok sengaja
membadut.
Di tengah suara tertawa ramai itu tiba-tiba terdengar suara
seorang wanita bertanya kepada Hi-tiok dengan perlahan,
"Apakah engkau ini . . . . 'Kakanda dalam impian'?"
"Hah, apakah . . . apakah engkau 'Dewi Impian?' O,
sungguh aku sangat merindukan dikau!" sahut Hi-tiok dengan
terkejut, suaranya sampai gemetar.
Terus saja ia mengulur tangan dan melangkah ke depan,
terendus bau hàrum yang memabukkan sebuah tangan yang
halus hangat terus menggenggam tanganya, lalu suara
seorang yang sudah sangat dikenalnya membisiki dia, "O,
Kakanda impianku, justru karena ingin mencari engkau, maka
aku mohon ayah baginda mengeluarkan maklumat tentang
sayembara pemilihan Huma untuk memancing kedatanganmu
ini."
"Hah, Jadi engkau ini putri . . . . "
"Ya, marilah kita bicara di dalam saja. O, Kakanda
impianku, sudah lama sekali, siang dan malam senantiasa
kuharap akan tiba saatnya seperti sekarang ini . . . "
Begitulah ditengah suara gelak tawa orang banyak yang
belum berhenti itu sepasang kekasih itu diam-diam
menyelinap ke ruang dalam dengan tangan bergandengan
tangan tanpa diketahui oleh siapa pun.
Sedang si dayang masih terus mengajukan ketiga
pertanyaan tadi kepada para tamu, sampai semua orang
selesai diuji, lalu ia berkata, "Sekarang silahkan hadirin
kembali ke ruang depan untuk minum lagi dan lukisan-lukisan
sebagai tanda mata akan segera dikirim ke sana agar tuantuan
dapat memilihnya sendiri. Apabila tuan Putri ingin
bertemu dengan siapa dengan sendirinya beliau akan
menyampaikan undangannya.”
Dalam keadaan masih gelap gulita segera banyak di antara
hadirin itu berteriak-teriak, "Tidak, kami ingin melihat Tuan
Putrimu! Ya, sekarang juga! Mengapa kami disuruh kian
kemari, bukankah sengaja menpermainkan orang?"
"Sudahlah tuan-tuan," kata si dayang. "Kukira lebih baik
tuan-tuan menunggu dulu di ruangan depan sana, kenapa
mesti ribut-ribut, kalau sampai Tuan Putri marah, bukankah
urusan bisa runyam?"
Rupanya ucapan terakhir itu sangat mujarab, seketika
semua orang tenang kembali dan terpaksa keluar dari kamar
batu itu. Di luar cahaya obor terang benderang menerangi
sepanjang jalan, akhirnya semua orang kembali lagi ke ruang
permulaan tadi untuk minum teh.
Sesudah berdampingan kembali dengan Giok-yan, lalu
Toan Ki menceritakan ketiga pertanyaan yang diajukan oleh
putri Se He itu. Ketika mendengar Toan Ki memberi jawaban
bahwa tempat yang membuatnya paling senang dan bahagia
selama hidup ini adalah di dalam lumpur sumur kering itu.
Giok-yan menjadi geli den tertawa ngikik. Katanya dengan
muka kemerah-merahan, "Ya, aku pun serupa engkau."
Tidak beberapa lama, seorang Thaikam membawa keluar
sepondong güluñgan lukisan dan menyilakan para tamunya
masing-masing memilih sebuah.
Para tamu itu sedang menanti dengan tidak sabar akan di
temui putri cantik atau tidak, sudah tentu mereka tidak
memikirkan tentang lukisan apa segala. Maka dengan bebas
Toan Ki dapat memilih lukisan "si cantik sedang menyulam"
itu.
Begìtulah, ia lantas membentang lukisan itu dan menikmati
keindahannya bersama Giok-yan. Mendadak teringat olehnya
bahwa Hi-tiok juga memiliki sebuah lukisan yang mirip, segera
ia hendak minta sang Jiko mengeluarkan lukisannya untuk
dibanding. Tapi meski ia melongok ke sana dan ke sini, di
ruangan itu ternyata tidak kelihatan bayangan Hi-tiok.
“Jiko! Jiko!" ia coba berseru memanggil, tetap tiada orang
menyahut. Diam-diam Toan Ki heran ia pikir apakah sang Jiko
sudah pergi bersama Siau-toako atau karena mengalami
sesuatu?
Tengah Toan Ki merasa kuatir, tiba-tiba seorang dayang
cantik mendekatinya dan berkata, “Hi tiok Siansing mengirim
surat untuk Yang Mulia.”
Sembari bicara ia pun menyodorkan sehelai kertas surat
yang indah dan terlipat.
Waktu Toan Ki membuka lipatan surat itu, segera
hidungnya mengendus bau harum semerbak. Ia lihat surat itu
tertulis:
Samte,
“Aku sangat senang, senang sekali, sungguh bahagia tak
terkatakan. Maaf telah sia-siakan perjalananmu ini, terpaksa
mesti mengecewakan pesan paman pula, habis apa daya,
tiada jalan lain.”
Toan Ki tahu sang Jiko bekas hwesio itu tidak banyak
bersekolah, dalam hal tulis menulis memang kurang mahir.
Tapi surat ini benar-benar tak keruan juntrungannya, entah
apa yang dimaksudkan "senang dan bahagia" itu. Maka Toan
Ki hanya termangu-mangu memegangi surat itu.
Di sebelah sana pangeran Cong-can menjadi cemburu
ketika melihat seorang dayang cantik menyerahkan secarik
surat kepada Toan Ki, pikirnya. "Kurang ajar, ternyata benar
putri cantik itu telah kau serobot lebih dulu. Hm, tidak bisa!"
Segera ia menggertak sekali terus menubruk maju ke arah
Toan Ki.
Begitulah sampai di depan Toan Ki, secepat kilat kertas
surat yang dipegang Toan Ki terus direbutnya, berbareng
kepalan kanan terus menggenjot dada pemuda itu.
Saat itu Toan Ki sedang menyelami apa arti bunyi surat Hitiok,
maka sama sekali ia tidak tahu menghindar ketika
pukulan Cong-can tiba. Apalagi serangan Cong-can itu secepat
kilat, andaikan hendak berkelit juga tidak keburu lagi. Maka
terdengar suara "bluk, brak, aduuuhh!" berturut-turut.
Kontan tubuh pangeran Cong-can terpental sampai
beberapa meter jauhnya dan terbantlng di atas sebuah meja,
meja ambruk, cawan pecah berantakan dan Cong-can sendiri
berteriak kesakitan.
Dasar orang kasar, biarpun masih rebah telentang, terus
saja ia bentang surat yang di rebutnya dari Toan Ki dan
segera díbaca dengan suara keras, "Aku sangat senang,
senang sekali, bahagia tak terkatakan . . . . "
Padahal dengan jelas-jemelas semua orang melihat dia
terpental dan terbanting sampaí menjerit kesakitan, mengapa
sekarang malah berseru, “Sangat senang dan bahagia"?
Karuan semua orang melongo terheran-heran.
Melihat Toan Ki kena pukul, segera Giok-yan mendekati
dan bertanya, "Apakah sakit dan terluka?"
"Tidak, tidak apa-apa.” sahut Toan Ki. "Aku menerima
sepucuk surat dari jiko, rupanya pangeran Turfan ini salah
paham dan menyangka putri Se He mengundang aku untuk
berjumpa dengan dia."
Melihat Cukong mereka terjungkal, terentak para jago
Turfan ikut menerjang maju, ada yang membangunkan Congcan,
banyak pula yang mengelilingi Toan Ki dan hendak
melabraknya.
"Kita tidak perlu lama-lama tinggal di tempat begini,
marilah kita pulang saja," kata Toan Ki kepada kawankawannya.
"Nanti dulu, Kongcu, urusan masih belum selesai, kenapa
terburu-buru. " ujar Pah Thian-sik.
“Ya, di dalam istana Se He ini masakah kita jeri kepada
orang Turfan!” kata Tan-sin. "Bolah jadi sebentar lagi Kongcu
akan ditemui putri cantik, kalau kita tinggal pergi begini saja
bukankah sangat kurang sopan?"
Begitulah kedua orang membujuk Toan Ki agar tinggal lagi
di situ untuk sementara waktu. Benar juga, dari dalam telah
keluar dua-tiga jago It-bin tong dan membentak agar orangorang
Turfan itu jangan sembarangan bertindak sendirisendiri.
Di sana Cong-can juga sudah merangkak bangun, karena
melihat surat itu bukan berasal dari Bun-gi kongcu yang
mengundang Toan Ki, rasa gusarnya manjadi reda.
Dalam pada itu tiba-tiba tampak Boh Wan-jing menggapi
tangan pada Toan Ki sambil memperlihatkan sehelai kertas.
Toan Ki menggangguk, lalu mendekatinya untuk menerima
kertas itu.
Bok Wan-jing dalam penyamaran sebagai Toan Ki dan
bercämpur di antara orang banyak sehingga orang lain tidak
memperhatikan dia. Sekarang pangeran Cong-can sedang
mengawasi gerak-gerik Toan Ki, demi melihat Bok Wan-jing,
segera dapat diketahuinya dandanan kedua orang itu serupa
sekilas pandang tampaknya sangat mirip. Keruan ia terkejut.
Lalu dilihatnya pula Toan Ki menerima sürat dari Bok Wan-jing
dan dibaca, air mukanya tampak aneh. Diam-diam Cong-can
curiga lagi. Ia pikir surat itu pasti kiriman Bun-gi Köngcu.
Segera ia membentak, "Satu kali kau dapat mengelabui aku,
jangan lagi mengira dapat menipu aku untuk kedua kalinya!"
Habis itu kembali ia mengeruduk maju lagi dan sekaligus
surat yang dipegang Toan Ki di rebutnya pula.
Ia sudah kapok dan tak berani menghantam Toan Ki lagi.
Namun sebagai gantinya segera ia gunakan kedua kakinya
untuk menendang perut Toan Ki secara berantai,
tendangannya cepat, caranya ganas pula.
Tak terduga tempat yang dia tendang itu justru adalah
pusat himpunan tenaga murni Toan Ki, tanpa bergerak juga
segera tenaga dalamnya timbul reaksi sendiri, Maka betapa
cepat dan kuatnya tendangan Cong-can segera menimbulkan
tenaga pentalan yang sama cepat dan sama kuatnya. Kontan
terdengar suara gedebukan dibarengi dengan suara jeritan,
tubuh Cong-can terpental balik dan melayang lewat di atas
kepala belasan orang, lalu menumbuk beberapa buah meja
dan akhirnya terbanting ke bawah.
Untung kulit daging pangeran Turfan itu cukup kasar lagi
tebal. Toan Ki juga tidak sengaja hendak melukai dia, mana
jatuhnya itu walaupun agak berat, namun tidak sampai
mengalami cidera.
Dan begitu tubuh Cong-can menggeletak di lantai, segera
ia bentang surat yang dia rebut itu dan dibacanya pula dengan
suara keras, "Ada orang lihai hendak membunuh ayahmu
juga. Lekas pergi menolongnya."
Keruan semua orang dibuat bingung pula mengapa Congcan
menyatakan "Ayahku berarti ayahmu juga?" Apa mungkin
pangeran Turfan dan pangeran Taili dialirkan tunggal ayah?
Sebaliknya Toan Ki, Pah Thian-sik dan Cu Tan-sin Cukup
jelas akan isi surat itu. Surat itu ditulis oleh Bok Wan-jing,
maka apa yang dikatakan, "Ayahku adalah ayahmu" itu
dengan sendirinya yang dimaksud ialah Toan cing-sun.
Begitulah, maka mereka lantas mengelilingi Wan-jing untuk
tanya soalnya.
Tutur Wan-jing, "Tidak lama sesudah kalian masuk ke
dalam, segera Bwe-kian dan Lam-kiam masuk kemari memberi
laporan sesuatu kepada Hi-tiok Siansing, tapi karena tidak
menemui majikan mereka, maka mereka memberitahukan
padaku bahwa mereka mendapat berita ada beberapa orang
lihai telah mengatur jebakan hendak membikin susah ayah.
Jebakan itu diatur di sepanjang jalan di sekitar Sujwan Selatan
yang merupakan jalan yang harus dilalui ayah bila hendak
pulang ke Taili. Sekarang orang-orang Leng-ciu-kiong telah
disebarkan untuk menyusul ayah dan memperingatkannya
agar waspada, berbareng mereka pun menyampaikan berita
kesini.”
"Dan di manakah enci Bwe-kiam dan Lam-kiam?" tanya
Toan Ki dengan kuatir.
"Hm, dalam pandanganmu hanya tertampak nona Ong
seorang saja orang lain masakah kelihatan olehmu?” sahut
Wan jing. "Tadi mestinya mereka ingin bicara denganmu, tapi
beberapa kali dipanggil engkau diam saja, entah engkau
sengaja tidak menggubris atau benar-benar tidak melihat
mereka."
"Aku . . . aku benar-benar tidak mengetahui kedatangan
mereka," kata Toan Ki dengan muka merah.
"Dan sekarang mereka sudah pergi mencari Hi-tiok Jiko
dan tidak menunggumu lagi," tutur Wan-jing "Mestinya aku
hendak memanggilmu, tapi kuatir tak kau gubris, terpaksa aku
menulis secarik surat dan disampaikan padamu."
Toan Ki jadi menyesal dan gegetun pula. Ia tahu
perhatiannya sendiri sedari tadi memang ditumplekkan atas
diri Giok-yan seorang, biarpun saat itu langit ambruk mungkin
juga tak di gubrisnya. Maka tentang datangnya Bwe-kiam
berdua dan teguran Bok Wan-jing tentu tak terdengar
olehnya.
Segera ia minta nasehat pada Thian-sik dan Tan-sin,
"Bagaimana pendapat para paman? Apakah kita harus
menyusul ayah sekarang juga?"
"Ya, harus demikian," sahut Thian-sik berdua. Mereka
anggap keselamatan Tin-lam-ong juga lebih penting daripada
urusan lain, apakah Toan Ki berhasil menjadi Huma kerajaan
Se He atau tidak terpaksa mesti dikesampingkan dulu.
Begitulah mereka lantas tinggalkan istana itu. Toan Ki dan
Giok-yan kembali ke pondok untuk menemui Ciong Ling, lalu
bebenah seperlunya untuk berangkat bersama.
Sedang Pah Thian-sik pergi mohon diri kepada Le-poh
Siang bahwa pangeran mahkota harus segera pulang, karena
waktu tidak mengizinkan, maka menteri itu diminta
menyampaikan pamit mereka kepada Sri Baginda.
Sesudah urusan selesai segera Thian-sik dan Tan-sin
menyusul Toan Ki berdua, kira-kira dua-tiga puluh li di selatan
Lengciu barulah mereka bergabung.
Rombongan mereka terus menuju ke selatan tanpa
berhenti. Sepanjang jalan berulang-ulang mereka menerima
berita dari anak buah Leng-ciu-kiong yang mengabarkan
bahwa rombongan Tin-Lam-ong sedang menuju ke selatan.
Berita lain mengatakan Tin-Lam-Ong berada bersama dua
wanita. Kedua wanita ini pernah saling labrak di kota Ciong
kwan dan ternyata sama kuatnya, syukur dapat dilerai oleh
Tin-Lam-Ong.
Toan Ki tahu bahwa kedua wanita itu yang satu adalah Cin
Ang-bian, ibu Bok Wan-jing, dan yang lain adalah Wi sing-tiok,
ibunya A Cu dan A Ci.
Bicara tentang ilmu silat agaknya Cin ang-bian lebih
unggul, tapi bicara tentang kecerdikan harus diakui Wi Singtiok
lebih unggul. Namun ayah bagindanya yang melerai
mereka tentu segala urusan dapat didamaikan.
Benar juga. Berita menyusul dari anak buah Leng-ciu-kiong
mengatakan bahwa sekarang kedua nyonya itu sudah damai
kembali dan sedang makan minum di suatu restoran bersama
Tin lam-ong. Anak buah Hian thian poh telah memberi isyarat
dan memperingatkan ada musuh di tengah jalan yang hendak
menjebaknya.
Dalam perjalanan Toan Ki juga bertukar pikiran dengan
Thian sik dan Tan-sin, mereka merasa musuh Tin-lan-ong
yang paling lihai selain Toan Yan khing, itu kepala dari Su ok,
rasanya tidak orang lain lagi?
Teringat pada Toan Yan-khing, mau-tak-mau mereka
merasa kuatir. Ilmu Toan Yan-khing sangat tinggi, di seluruh
negeri Taili hanya Po ting-to seorang saja yang mampu
melawannya, kalau di tengah jalan Tin-Lam-ong sampai
masuk perangkapnya tentu celaka. Tapi apa daya, terpaksa
mereka mempercepat perjalanan untuk menyusul rombongan
Tin-Lam-ong, jika dapat bergabung tentu akan dapat
membantunya untuk melawan Toan Yan-khing.
"Begitu berhadapan dengan Toan Yan-khing, tak perlu
banyak bicara lagí, segera kita menyerubut durjana itu, biarlah
kita mengeroyoknya beramai-ramai, jangan lagi seperti di tepi
telaga tempo hari dan membiarkan dia satu melawan satu
dengan Ongya,” ujar Thian-sik.
"Benar," sahut Tan sin. "Kita berdua ditambah Toankongcu,
nona Bok, nona Ong dan nona Ciong, ada lagi Ongya
sendiri dengan Hoa-toako. Tang-jiko dan lain-lain, mustahil
kita sebanyak ini tidak dapat mengalahkan durjana yang maha
jahat itu?"
"Ya, dengan durjana itu kukira memang tidak perlu bicara
tata cara dunia persilatan lagi, " kata Toan Ki.
Segera mereka mempercepat perjalanan. Ketika hampir
dekat dengan kota Congciu, tiba-tiba terlihat dua penunggang
kuda sedang mendatang secepat terbang. Sesudah dekat
kedua penunggang wanita melompat turun dan berseru,
"Anak buah Hian-thian-poh dari Leng-ciu-kiong menyampaikan
salam hormat kapada Toan-kongcu dari Taili."
Cepat Toan Ki melompat turun dari kudanya dan
menjawab. "Banyak terima kasih àtas bantuan para Cici,
silakan bangun! Apakah kalian telah melihat ayahku?"
''Lapor Kongcu,''demikian wanita yang lebih tua di sebelah
kanan membuka suara, "sesudah Tin-Lam-ong mendapat
isyarat peringatan kami, rombongan beliau sudah ganti haluan
dan menuju ke arah timur, katanya akan berputar untuk
kemudian membelok kembali ke Taili, dengan demikian
supaya musuh kecelik."
Maka legalah hati Toan Ki, katanya dengan girang, "Bagus!
Memangnya buat apa ayah mau bertempur dengan jahanam
itu. Selamat paling perlu dan bukan karena jeri pada mereka.
Dan apakah kedua Cici mengetahui siapakah musuh yang
hendak mencegat ayah-ibu? Berita kalian ini bermula didapat
dari mana?”
“Mula-mula nona Bwe-kiam mendengar cerita dari seorang
nona," demikian tutur wanita tadi. "Katanya nona itu bernama
A Pik apa, katanya murid perempuan dari murid keponakan
majikan kami . . . . "
"Ah, kiranya A Pik," seru Giok-yan.
"O, kiranya nona A Pik, aku kenal dia, Asalnya dia adalah
pelayan Buyung-kongcu," kata Toan Ki.
"Benarlah jika demikian," kata si wanita tadi, "Menurut
nona Bwe-kiam, katanya usia nona A Pik itu sebaya dengan
dia, pula sesama orang Leng-ciu-kiong, maka keduanya
sangat cocok. Menurut nona A Pik di tengah jalan dia
mendapat kabar, ada seorang tokoh yang sangat lihai hendak
mengganggu Toan-ongya. Nona A Pik mengaku kenal baik
Toan-kongcu, dahulu Kongcu sangat ramah padanya, maka
sekarang dia sengaja dating buat menyampaikan berita itu.”
Toan Ki menjadi teringat kejadian dahulu waktu pertama
kali bertemu dengan A Pik justru dengan perantaraan A Pik
dan A Cu dia dapat berkenalan dengan Giok-yan. Siapa duga
sekali ini A Pik kembali menyampaikan berita penting pula
padanya, seketika timbul rasa terima kasihnya yang tak
terhingga.
"Dan di manakah nona A Pìk sekarang?” tanya Toan Ki.
"Hamba tidak tahu." sahut wanita setengah umur tadi.
"Tapi menurut nona Bwe-kiam, agaknya lawan Toan-ongya itu
memang sangat lihai, untuk itu kongcu perlu lebih waspada
hendaknya.”
Sesudah Toan Ki mengucapkan terima kasih, lalu kedua
wanita Hian-thian-poh mencemplak ke atas kuda mereka dan
mendahului pergi.
"Bagaimana pendapatmu. Pah-pekhu (paman)?" tanya
Toan Ki.
"Jika Ongya sudah berputar ke arah timur maka boleh kita
langsung ke selatan, rasanya di sekitar Sengtoh akan dapat
bergabung dengan Ongya," ujar Thian-sik.
"Usul paman memang cocok dengan pikiranku," kata Toan
Ki.
Segera rombongan mereka meneruskan perjalanan ke
selatan, akhirnya sampailah mereka di kota Sengtoh. Suatu
kota yang paling ramai dan makmur di propinsi Sujwan.
Tiga hari lamanya Toan Ki dan kawan-kawan pesìar di kota
itu, tapi tidak nampak Toan Cing-sun atau rombongannya.
Diam-diam Thian-sik dan lain-lain menduga mungkin Tin-Lamong
ditemani dua istri cantik sehingga sepanjang jalan sengaja
pesiar sepuas-puasnya, sebab kalau sudah pulang sampai di
Taili, tentu tidak dapat lagi hidup bebas dan gembira seperti
sekarang.
Terpaksa Toan Ki dan rombongannya meneruskan
perjalanan ke selatan pula. Selama beberapa hari mereka
tidak menerima berita dari perngintai-pengintai wanita Lengciu-
kiong lagi. Tapi Karena sudah makin dekat dengan wilayah
Taili maka perasaan mereka pun semakin lega.
Sepanjang jalan Toan Ki merasa gembira ria berdampingan
dengan kekasih yang cantik, tapi ia pun kuatir Bok Wan-jing
akan marah, maka ia tidak berani terlalu dingin terhadap nona
itu, terkadang ia sengaja mengajaknya bicara dan bercanda.
Wan-jing tahu Toan Ki adalah kakaknya sendiri, di tengah
jalan ia pun memberitahu pada Ciong Ling bahwa dara cilik itu
sebenarnya juga anak Toan Cing-sun. Karena itu kedua orang
lantas berganti sebutan dan saling panggil sebagai kakak dan
adik. Walaupun mereka masih merasa murung bila
menyaksikan betapa kasih-mesranya Toan Ki dan Giok-yan,
tapi lambat-laun rasa duka itu pun berkurang sehingga tak
terasa lagi.
Suatu petang, ketika mereka hampir sampai di kota Yangliu-
tin, mendadak udara mendung, menyusul air hujan lantas
menebas besar-besar. Cepat-cepat mereka larikan kuda ke
depan untuk mencari tempat berteduh.
Setelah membelok ke balik sebuah hutan, tertampaklah di
tepi sungai kecil sana berdiri, beberapa buah rumah tembok.
Toan Ki dan lain-lain merasa girang, cepat mereka menuju
kesana.
Sesudah dekat tertampak di bawah ampar berdiri seorang
tuan sedang memandangi awan mendung yang makin lama
makin tebal dan gelap.
Segera Tan-sin melompat turun dari kudanya, ia memberi
hormat dan menyapa, "Ter¡malah salamku, Lotiang (bapak),
rombongan kami ini kehujanan di tengah jalan, maka ingín
mohon mondok untuk sementara di tempat Lotiang, entah
boleh atau tidak?”
"Boleh, sudah tentu boleh," sahut orang tua itu. "Orang
yang keluar rumah tidak mungkin membawa serta pula
rumah. Tuan tuan dan nona-nona silakan masuk.”
Tan-sin mengucapkan terima kasih. Tapi diam-diam ia
terkesiap ketika melihat kerut mata si orang tua yang tajam
itu, suaranya juga nyaring dan kuat, logatnya tìdak mirip logat
penduduk setempat.
Serentak semua orang masuk ke dalam rumah, lalu Tan sin
menunjuk Toan Ki dan diperkenalkan kepada tuan rumah, "Ini
adalah tuan muda kami Li-kongcu, baru pulang menjenguk
pamili di Sengtoh. Dan saudara itu adalah Ciok-toako, aku
sendiri she Tan. Kalau tidak keberatan, numpang Tanya she
Lotiang yang mulia?"
"O, aku she Keh," sahut si orang tua dengan tertawa,
"Baiklah, silahkan Li-kongcu, Ciok-toako dan nona-nona masuk
ke ruangan dalam untuk minum-minum dulu. Melihat
gelagatnya, mungkín hujan ini takkan reda dalam waktu
singkat."
Mendengar Tan-sin telah memperkenalkan nama palsu,
segera Toan Ki merasa urusan agak ganjil, semua orang lantas
ikut berlaku hati-hati.
Orang tua ¡tu membawa mereka ke sebuah kamar
sampìng yang teratur rapi dan bersih, di dinding terhias
beberapa piguran lukisan, dari kamar itu dapat diduga tuan
rumannya pasti bukan orang kampungan. Tan-sin saling
pandang dengan Thian-sik, mereka tambah was-was.
“Tuan-tuan dan nona-nona silahkan duduk, segera kusuruh
membawakan teh," kata si orang tua.
Tan-sin mengucapkan terima kasih. Ketika orang tua itu
melangkah keluar, seketika ia merapatkan pintu kamar.
Waktu pintu itu tertutup, segera kelihatan di belakang
pintu tergantung sebuah lukisan yang mengambarkan
beberapa tangkai bunga kamelia dari jenis dan warna yang
berbeda.
Tailì adalah tempat paling banyak tumbuh bunga Teh-hoa
(kamelia), maka Toan Ki menjadi girang melihat lukisan itu.
Tiba-tiba tertampak lukisan itu disertai pula sebait tulisan yang
berbunyi. "Taili punya Teh-hoa tiada bandingannya jenisnya
seluruhnya ada 71 macam lebih besar dari Bo-ten . . . "
Jilid ke-82
Begitulah tulisan itu, anehnya pada bagian-bagian tertentu
dari tulisan itu terdapat kekurangan satu huruf dan lalu satu
huruf lagi, entah sengaja dilowongi atau karena penulisnya
lupa pula tentang Jenis bunga kamelia itu seluruhnya mestinya
berjumlah 72 macam.
Kebetulan di atas meja situ tersedia alat-alat tulisi lengkap,
sebagai seorang pencinta bunga kamelia dan suka bersanjak,
melihat ketidak lengkapan tulísan pada lukisan itu, langsung
Toan Ki mengambil pit dan menambahkan tulisan-tulisan yang
kurang itu, begitu pula tentang jenis kamelia, ia tambahkan
menjadi 72 macam.
“Bagus, dengan ditambahkannya tulisanmu, maka
sempurnalah lukisan itu," seru Ciong Ling dengan tertawa.
Belum lenyap suaranya, tiba-tiba si orang tua tadi
melangkah masuk dan seketika ia merapatkan pintu pula.
ketika melihat lowongan tulisan pada lukisan itu sekarang
telah terisi, segera mukanya berseri-seri, katanya dengan
tertawa, "Sungguh tamu agung, tamu agung! Rupanya aku
sudah berlaku kurang hormat. Lukisan ini adalah buah tangan
seorang sobatku, rupanya dia seorang pelupa waktu
membubuhkan tulisan itu tiba-tiba ia lupa beberapa huruf di
antaranya, katanya mau pulang dulu untuk memeriksa
catatannya dan kelak akan diisi lagi. Ai, siapa duga sesudah
pulang dia lantas jatuh sakit dan akhirnya meninggal sehingga
tulisannya ini tetap lowong. Tak nyana sekarang Lî-kongcu
yang terpelajar ini sudi memenuhi cita-cita sobatku yang
belum terlaksana itu. sungguh aku harus mengucapkan terima
kasih banyak-banyak, Lekas siapkan arak, bikin pesta!"
Segitulah ia berteriak-teriak sambil lari keluar.
Tidak lama kemudian, orang tua ini datang pula dengan
dandanan yang serba baru, ia mengundang Toan Ki dan
kawan-kawannya menghadiri perjamuan d¡ ruangan tamu.
Karena waktu itu hujan masih lebat sehíngga tidak
mungkin untuk meneruskan perjalanan, pula undangan orang
tua itu agaknya sengat sungguh-sungguh dan susah ditolak,
terpaksa Toan Ki dan lain-lain menuju ke rüangan depan.
Ternyata di atas meja sudah tersedia belasan macam masakan
ada ayam, ada itik dan ada daging.
Setelah mengucapkan terima kasih, lalu Toan Kid an
kawan-kawan lantas mengambil tempat duduk sendiri-sendiri.
Segera si orang tua she Keh menuangkan arak, ia sendiri
mendahului minum setegük sambil berkecak-kecak untük
mencicipi rasanya, menyusul lantas minum lagi seteguk besar.
Lalu Katanya dengan tertawa, "Meski arak kampung, tapi
rasanyá masih boleh juga. Li-Kongcu sebenarnya bápak ini
orang daerah Kanglam, karena menghindari musuh, maka
pindah dan hídup di tempat jauh ini, selama ini aku sangat
merindukan kampung halamanku.”
Sambil omong ia terus menuangkan arak ke pada para
tamunya."
Mendengar si orang tua menguraikan asal-usulnya sendiri,
walaupun tak bisa dipercaya seluruhnya, tapi rasa curiga Pah
Thian-sik dan lain-lain menjadliagak berkurang. Apalagi orang
itu telah mendahului minum arak, mereka menjadi tidak kuatir
lagi, segera mereka pun makan minum sepuasnya. Cuma
Thian-sik dan Tan-sin memang lebih hati-hati, mereka minum
sedikit, waktu makan juga selalu mengawasi gerak-gerik si
orang tua, kalau tuan rumah itu sudah mencicipi santapan itu
barulah mereka berani ikut makan.
Sampai malamnya hujan masih tetap belum reda, pula si
orang tua menahan mereka dengan setulus hati, terpaksa
Toan Ki dan kawan-kawannya menginap di iltu.
Sebelum tidur Thian-sik memperingatkan Wan-jing agar
tangen sedikit, jangan tidur sampai lupa daratan, sebab
tempat itu tampaknya agak mencurigakan. Karena itu Wan-
jing membiarkan Giok-yan tidur bersama Ciong Ling, ia sediri
hanya rebah tanpa ganti pakaian, dalam lengan baju sudah
siap dengan panah berbisa. Maski dia tidak berani tidur
nyenyak, sampai fajat menyingsing ternyata tidak terjadi
sesuatu.
Sementara itu hujan sudah terang, sesudah cuci muka dan
berdandan, lalu Toan Ki mohon diri kepada si orang tua.
Mereka diantar sampai jauh oleh orang tua she Keh itu
dengan sangat menghormat. Diam-diam Toan Ki dan lain-lain
sangat benar sesudah berpisah.
Kata Pah Thian-sik, "Sungguh susah dimengerti bagaimana
asal-usul orang tua itu, sekali ini aku benar-benar salah mata."
"Engkau tidak salah mata, Pah-heng." Ujar Tan-sin. "Kukira
orang tua itu semula tidak bermaksud baik. Dia baru berubah
sikap sesudah melihat Kongcuya kita mengisi tulisan dalam
lukisannya itu. Kongcu, menurut pikiranmu, adakah sesuatu
yang aneh dalam lukisan dan tulisan yang tak lengkap itu?"
"Lukisan itu hanya beberapa jenis kamelia yang biasa saja
dan tiada sesuatu yang aneh, begitu pula tulisan itu cuma
catatan yang umum.” sahut Toan Ki.
Karena tidak dapat menarik sesuatu kesimpulan, terpaksa
mereka tidak tarik panjang kejadian itu.
"Paling baik kalau sepanjang jalan dapat menemui lagi
tulisan yang kurang lengkap pada lukisan seperti kemarin itu,
dengan demikian Toan-kongcu kita akan dapat mengisinya
untuk mencari ganti jasa makan minum dan pondokan gratis
sungguh menyenangkan juga," demikian kata Ciong Ling.
Semua orang tertawa atas banyolan nona cilik itu.
Tapi aneh juga, kelakar Ciong Ling itu ternyata
mendatangkan kejadian sungguhan, berulang-ulang mereka
benar-benar menemukan lukisan dengan tulisan yang tidak
lengkap dan lukisan-lukisan itu semuanya menggambarkan
bunga kamelia. Toan Ki juga tidak sungkan-sungkan lagi, asal
melihat segera ia angkat alat tulis dan mengisi huruf yang
tidak lengkap itu. Dan asal dia sudah mengisi, segera pemilik
lukisan memberi layanan yang memuaskan dengan gratis.
Dalam herannya beberapa kali Cu Tan-sin dan Pah Thian-
sik coba memancing kata-kata pemilik lukisan itu, tapi
jawaban yang diperoleh semuanya sama, semuanya
mengatakan tulisan dalam gambar itu memang belum lengkap
dan berkat bantuan Toan Ki, sungguh mereka sangat
berterima kasih.
Sebaliknya Toan Ki dan Ciong Ling masih bersifat kekanak-
kanak, mereka merasa senang dengan permainan demikian
itu, makin banyak lukisan yang bertuliskan kurang lengkap,
makin menarik bagi mereka.
Giok-yan sendiri tidak terlalu memusingkan urusan itu, Asal
dilihatnya Toan Ki gembira, maka ia pun merasa senang.
Sebaliknya Bok Wan-jing tidak pernah kenal apa arti takut,
maka ia tidak peduli kejadian itu akan mendatangkan kebaikan
atau bencana.
Hanya Pah Thian-sik dan Cu Tan-sin saja yang semakin
kuatir. Dari apa yang diatur oleh pihak lawan yang rapi itu
mereka menduga di balik itu pasti ada tipu muslihat yang
belum diketahui.
Tapi meski mereka sudah berhati-hati dan menyelami
setiap sesuatu yang mencurigakan. Toh tetap tidak
menemukan bukti apa pun.
Begitulah perjalanan yang makan tempo cukup lama itu
makin lama makin ke selatan. Tatkala itu sudah pertengahan
bulan sepuluh tapi hawa juga tidak dingin, sepanjang jalan
gunung menghijau dan hutan berkerumun rimbun, suatu
pemandangan yang berbeda dengan keadaan alam di wilayah
Se He.
Pada suatu petang, ketika sampai di padang rumput,
sepanjang mata memandang hanya rumput yang memanjang
lebat di sebelah kiri sana adalah rimba yang lebat. Tampaknya
dalam jarak beberapa puluh li tiada perkampungan penduduk.
Maka berkatalah Thian-sik, "Kongcu, keadaan di sini agak
berbahaya, lebih baik kita mencari suatu tempat untuk
bermalam."
Toan Ki menyatakan setuju, cuma ia tanya kemana harus
mencari tempat berteduh di padang rumput seluas itu.
"Di lautan rumput seperti ini sangat banyak nyamuk dan
serangga berbisa, banyak pula Ciang-gi (hawa lembab atau
panas) yang bisa mendatangkan penyakit," kata Tan-sin.
"Maka kalau tiada tempat pondokan yang baik, biarlah kita
bermalam di atas pohon saja untuk menghindari serangan
hawa berbisa dan binatang buas atau nyamuk."
Segera rombongan mereka membelok ke arah hutan yang
rimbun itu.
Giok-yan lama tinggal di daerah pedalaman, tapi
selamanya dia belum pernah pesiar ke tempat lain. Maka
waktu mendengar Tan-sin bercerita tentang Ciang-gi yang
berbahaya itu, segera ia tanya lebih jauh apakah sebenarnya
Ciang-gi.
"Ciang-gi adalah hawa lembab atau hawa panas yang
berbisa di daerah pegunungan atau hutan belantara yang
jarang didatangi manusia,'' demikian tutur Tan-sin. "Menurut
cerita oreng Taili kami. katanya dalam bulan tiga banyak
berjangkit Tho-hoa-ciang (hawa bunga delima berbisa), konon
kedua macam Ciang-gi inilah yang paling berbahaya. Padahal
segala macam hawa berbisa tentu mendatangkan penyakit,
terutama musim panas, serangga berbisa dan nyamuk
berkembang biak dengan subur, masa-masa itulah paling
berbahaya. Sekarang hawa sudah mendekati musim dingin,
keadaan tentu akan lebih baik. Cuma di sekitar sini hawa
sangat lembab, rumput yang memanjang bagai lautan ini pun
setahun demi setahun membusuk, maka hawa lembab yang
berbisa tentu juga lebih keras."
"Wah, kiranya hawa berbisa juga diberi nama-nama begitu
indah, jika demikian apakah ada juga Toh-hoa-ciang (hawa
bunga kamelia berbisa)?" tanya Giok-yan tiba-tiba.
Seketika Toan Ki dan lain-lain tertawa geli oleh pertanyaan
si nona, Sahut Tan-sin, ''Orang Taili kami paling suka kepada
bunga kamelia, maka tidak menghubung-hubungkan bunga
yang indah itu dengan hawa berbisa yang membahayakan
itu."
Tengah bicara rombongan mereka sudah mulai memasuki
hutan lebat itu. Karena tanah disitu memang lembab dan
menyerupai lumpur, maka kuda mereka menjadi payah juga
jalannya.
“Kukira kita tak perlu terlalu jauh menjelajahi hutan ini,"
ujar Thian-sik. "Marilah kita boleh berhenti saja disini,
beramai-ramai kita membikin sarang diatas pohon untuk
bermalam, bila sang surya sudah menyingsing dan hawa
berbisa sudah mulai sirna barulah kita melanjutkan
perjalanan."
"Apakah sesudah matahari terbit dan hawa berbisa itu
akan kurang mambahayakan lagi?" Tanya Giok-yan.
Thian-sik membenarkan.
Mendadak Ciong Ling berseru kaget sambil menunjuk
kejurusan timur laut, "Wah, celaka! Disana sudah timbul hawa
berbisa! Hawa berbisa jenis apakah itu?"
Waktu semua orang mamandang kearah yang ditunjuk,
benar juga tertampak segumpal awan yang ditunjuk, benar
juga tertampak segumpal awan yang sedang mengepul keatas
dari tengah rimba sana.
Mendadak Thian-sik terbahak-bahak, katanya, "Nona
Ciong, itu adalah asap cerobong dari orang yang sedang
menanak nasi."
Sesudah diperhatikan memang betul gumpalan awan itu
adalah asap dan bukan hawa berbisa segala, Maka tertawalah
semua orang, semangat mereka pun terbangkit, jika ada asap,
tentu disana ada manusia.
Segera mereka batalkan maksud berkemah diatas pohon,
tapi beramai-ramai menuju ke tempat mengumpulnya asap
itu. Sesudah dekat, ternyata hutan di situ terdapat beberapa
buah rumah papan, di samping rumah banyak bertumpuk
kayu gelondongan, nyata rumah-rumah itu adalah kediaman
tukang tebang kayu.
Tan-sin tampil ke depan dan berseru, "Hai, Toako
penebang kayu, ada orang dalam perjalanan ingin mohon
mondok semalam di sini, boleh tidak?”
Tapi sampai sekian lama tiada suara jawaban dari dalam
rumah meski Tan-sin telah mengulangi pula ucapannya.
Padahak asap dapur di dalam rumah masih tetap mengepul,
suatu tanda rumah itu pasti ada penghuninya.
Dengan penasaran Tan-sin mengeluarkan kipasnya yang
biasa digunakan sebagai senjata, dengan pelahan ia buka
pintu dan melangkah masuk ke dalam rumah.
Ternyata tiada bayangan seorang pun di dalam rumah.
sebaliknya terdengar suara "pletak-pletok", suara terbakarnya
kayu. Segera Tan-sin menuju ke ruang belakang dan masuk
ke dapur. Maka tertampaklah di depan tungku ada seorang
nenek bungkuk sedang menunggui api dapur.
"Lopopo (nenek tua), apakah di sini masih ada orang lain
lagi?" segera Tan-sin menegur.
Namun nenek itu hanya memandanginya dengan
melonggok seperti tak mendengar apa pun, Ketika Tan-sin
mengulangi lagi ucapannya barulah nenek itu mrnuding
telinga dan mulut sendiri sambil mengeluarkan suara "ah-uh"
yang kaku. Nyata nenek itu seorang tuli dan bisu.
Waktu Tan-sin kembali ke ruang depan, sementara itu
Thian-sik, Toan Ki dan lain-lain juga sudah memeriksa rumah-
rumah lain dan semuanya tiada penghuninya kecuali nenek
tuli dan bisu itu. Pah Thian-sik juga telah mengelilingi rumah
papan itu dan ternyata tiada menemukan sesuatu tanda, yang
mencurigakan.
"Nenek itu bisu lagi tuli, susah untuk diajak bicara,"
demikian tutur Tan-sin. "Biasanya nona Ong paling sabar,
silakan engkau coba-coba bicara dengan dia."
Giok-yan mengiakan, "Baiklah, coba kuhubungi dia."
Segera ia masuk ke dapur dan main tuding sana dan
tuding sini dengan isyarat tangan, lalu memberikan nenek itu
serenceng uang perak, ah, ternyata berhasil juga membikin
terang duduknya perkara. Sesudah nenek itu menanak nasi,
lalu Giok-yan minta sedikit berás kepada si nenek untuk
menanak nasi bagi kawan-kawannya walaupun tiada lauk-
pauk dan arak, terpaksa mereka tangsal perut apa adanya.
"Kìta boleh bermalam dí rumah ini dan jangan terpencar,"
kata Thian-sik.
Segera ia membagi kaum lelaki tidur di kamar sebelah
kanan dan kaum wanita di kamar sebelah kiri. Sebagai
penerangan si nenek telah menyalakan sebuah pelita minyak
dan dltaruh di alas meja ruang tengah.
Saking lelahnya dalam perjalanan, segera semua orang
merebahkan diri untuk tidur. Baru saja mereka hendak pulas,
tiba-tiba terdengar di ruang tengah ada suara ''tik tik tik",
suara orang mematik api tapi tidak menyala-nyala.
Segera Thian-sik keluar dari kamarnya, ia lihat pelita
minyak di atas meja sudah padam, dalam kegelapan terdengar
suara "tik-tik-tiK" yang tak berhenti-henti, rupanya si nenek
sedang mengetik api hendak menyalakan kembali pintu itu.
Mengetik api dengan pisau dan batu api mestinya tidak
sulit kecuali kalau kawulnya (selaput) basah atau kurang baik.
Segera Thian-sik mengeluakan alat ketikan api sendiri,
"tik", sekali ketik saja api lantas menyala dan terus menyulut
pelita minyak di atas meja itu.
Si nenek tampak tersenyum senang, lalu meminjam alat
ketik api Pah Thian-sik sambil menuding-nuding ke arah dapur
sebagai tanda hendak menyalakan api pula di sana. Tanpa
pikir Thian-sik menyerahkan alat ketikan api itu, lalu ditinggal
masuk kamar untuk tidur lagi.
Selang tak lama, kembali di ruangan tengah terdengar
suara "tik-tik-tik" pula. Toan Ki dan lain-lain terjaga bangun
lagi. Dari sela-sela dinding mereka melihat keadaan di luar
sana gelap gulita, rupanya pelita minyak itu kembali padam.
“Saling tuanya mungkin nenek itu sudah pikun,“
demikianlah Tan sin mengerundel dengan tertawa. Mestinya ia
tidak mau ambil pusing, tapi suara “tak-tik-tak-tik" itu justru
tidak berhenti-henti dan sangat mengganggu, seakan-akan
kalau api belum menyala, maka semalam suntuk nenek itu
akan mengetik terus.
Tan-sin merasa sebel, segera ia keluar, dalam kegelapan ia
lihat si nenek terus mengetik api dengan ngotot. Segera Tan-
sin mengeluarkan alat api sendiri, "tik" sekali api lantas
dinyalakan dan pelita itu disulutnya.
Si nenek tertawa, ia memberi tanda hendak meminjam alat
ketikan api itu kepada Tan-sin untuk membuat api di dapur,
sudah tentu Tan-sin meminjamkan dan masuk kembali untuk
tidur.
Tak terduga, tidak lama kemudian kembali di ruang tengah
terdengar pula suara "tik-tik-tik" yang berisik. Diam-diam
Thian-sik dan Tan-sin mendongkol dan menggerutu entah
nenek itu main gila apa, selalu menggangu orang tidur.
Namun begitu di luar masih terus berbunyi “tak-tik-tak-tik” tak
berhenti-henti.
Thian-sik melompat keluar. Ia rebut pisau dan batu api si
nenek dan mengetiknya, tapi sekali ini api sukar menyala,
waktu ia raba alat-alat itu, ternyata bukan miliknya sendiri,
segera ia tanya dengan heran, "Dimanakah pisau dan batu
apiku?"
Namun ia jadi geli sendiri, muring-muring kepada seorang
bisu-tuli sudah tentu tak ada gunanya.
Dalam pada itu Bok Wan-jing telah keluar juga, ia
keluarkan pisau dan batu api dan berkata, "Pah-sooksiok,
apakah engkau ingin membuat api?"
"Nenek ini lho, masakan berkutatan sejak tadi dan
mengganggu orang tidur saja, sungguh aneh," sahut Thian-sik
sambil menerima alat ketikan api yang disodorkan Boh Wan-
Jing dan sekali ketik api lantas menyala serta menyulut pelita
minyak tadi.
Si nenek tertawa puas sambil memandangi pelita yang
sudah menyala itu.
"Nona Bok silakan tidur lagi agar besok pagi-pagi bisa
berangkat," kata Thian sik sambil kembali ke kamarnva
sendiri.
Siapa tahu, tidak seberapa lama, kembali suara "tak-tik-
tak-tik" itu berjangkit pula. Serentak Thian-Sin dan Tan-sin
melompat bangun bersama, tapi sebelum berlari keluar
mendadak mereka merasa perbutuan Si nenek itu sangat
mencurigakan, di balik itu pasti ada tipu muslihat tertentu.
Pelahan Thian-sik menjawil kawannya, lalu kedua orang
terbagi dua arah untuk mengepung si nenek.
Dan baru saja mereka hendak menubruk maju, tiba-tiba
hidung mereka mengendus bau harum. Ternyata orang yang
sedang membuat api itu bukan lagi si nenek melainkan Bok-
Wan-jing.
"He, kiranya nona Bok?" tanya Thian-sik.
''Ya," sahut si nona "Aku merasa tempat ini agak
mencurigakan, maka ingin menyalakan pelita untuk
memeriksanya.”
"Coba, biar kubuatkan api," kata Thian-sik. Lalu ia
menerima alat ketikan api itu dari Wan-Jing.
Tapi meski dia sudah mengetik berulang-ulang, setitik
belatu api pun tidak kelihatan, Thian-sik terkejut, serunya,
"Batu api ini tidak baik. Nona Bok, batu ini telah ditukar oleh
nenek itu."
”Cepat kita cari nenek itu, jangan sampai dia sempat lari,"
ujar Tan-sin.
Segera Bok Wan-jing lari ke dapur, sedang Thian-sik dan
Tan-sin mengejar keluar rumah. Tapi hanya sekejap itu saja si
nenek sudah menghilang entah ke mana.
"Jangan mengajar lagi, melindungi Kongcu lebih penting,"
ujar Tan-sin.
Segera mereka kembali ke dalam rumah. Sementara itu
Toan Ki, Giok-yan dan Ciong Ling juga sudah bangun semua.
"Siapa yang membawa alat pembuat api? Nyalakan pelita
lebih dulu," kata Thian-sik.
"Pisau dan batu apiku telah dipinjam oleh nenek itu,"
terdengar dua orang menjawab berbareng. Mereka adalah
Giok yan dan Ciong Ling.
Diam-diam Thian-sik dan Tan-sin mengeluh. Mereka sudah
berhati-hati, akhlrnya toh masih terjebak oleh musuh.
Toan Ki mengeluarkan batu api dan coba mengetiknya,
namun tidak berhasil juga, sama sekali tidak mengeluarkan
lelatu.
"Kongcu, apakah nenek itu pun pernäh pinjam alat ketik
apimu?" tanya Tan-sin.
"Ya, sebelum dahar tadi,'' sahut Toan Ki. "Habis pakai lalu
ia kembalikan padaku."
"Batu api Kongcu itu telah ditukar olehnya,” ujar Tan-sin.
Seketika semua orang terdiam, dalam kegelapan hanya
terdengar suara bunyi serangga di sekeliling rumah. Malam itu
kebetulan akhir bulan, sinar bintang juga guram.
Mereka berenam berkumpul di dalam rumah, diam-diam
mereka merasa keadaan di sekeliling situ sangat berbahaya.
Sejak Toan Ki mengisi tulisan lukisan dan mendapat pelayanan
si orang tua she Keh, memangnya mereka sudah was-was
terhadap tipu muslihat musuh. Tapi meski mereka sudah
mencari dan menyelidiki, tetap tidak menemukan sesuatu
yang mencurigakan. Mereka piker kalau musuh muncul
sekaligus akan lebih gampang diselesaikan sebaliknya kalau
main kucing-kucingan begini sungguh sukar untuk dilayani.
Nenek itu telah menipu alat pembuat api kita, tujuannya
ialah supaya kita tak dapat menyalakan pelita dan mereka
akan dapat menjalankan tipu muslihat dalam keadaan gelap,"
demikian pendapat Bok Wan-jing.
"Benar," kata Thian-sik. "Dalam keadaan gelap, kalau
mereka menggunakan mahluk berbisa yang kecil-kecil untuk
menyerang kita, wah, bias celaka."
Mendadak Ciong Ling menjerit ketakutan. Waktu semua
orang menanyakan apa yang terjadi dara cilik itu menjawab,
"Aku paling takut pada kelabang dan ketungging, kalau
mereka menggunakan binatang berbisa itu untuk menyerang
kita, tentu celakalah kita. Jika ular aku tidak takut."
"Nona Ciong jangan takut, biarlah kita menyalakan api
dulu," kata Thian-sik.
"Alat-alatnya sudah tidak ada, cara bagaimana menyalakan
api?" tanya Ciong Ling.
"Musuh sengaja bikin kita tak bisa menyalakan api, maka
kita justru akan membuat api, kukira pasti bisa," kata Thian-
sik.
Segera ia pergi ke dapúr untuk mengambil dua potong
kayu bakar dan diserahkan kepada Tan-sin, katanya, "Cu-
hianto, buatlah serbuk kayu, makin halus makin baik."
Tan-sin dapat menangkap maksud sang kawan, ia pun
menyalakan kebulatan tekadnya takkan menyerah kepada tipu
muslihat musuh. Segera ia mengeluarkan sebilah belati dan
mulai mengeruki kayu itu üntuk mendapatkan serbuk kayu
yang halus.
Toan Ki, Bok Wan-jing dan lain-lain segera, membantunya,
mereka keluarkan pisau yang dibawanya dan memotong dan
mengerik kayu-kayu itu menjadi bubuk halus. Tapi dalam hati
semua orang merasa kebat-kebit karena tidak tahu bila musuh
akan menyerang. Maka semuanya tidak bicara, hanya
memperhatikan setiap suaru di luar rumah.
Tidak lama kemudian, waktu Thian sik merasa serbuk kayu
sudah terkumpul dua genggam banyaknya, segera ia
mencakupnya menjadi satu, lalu diambilnya pula secuil kawul
dan disusupkan di tengah serbuk kayu. Ia pegang golok
sendiri dan pinjam pula golok Wan-jing, dengan merapatkan
punggung kedua gaman itu la gesek sekeras-kerasnya
sehingga meletikkan lelatu apí. Serbuk kayu itu terkena lelatu
dan segera menyala, tapi lantas pudar lagi karena belum
mengenai kawulnya.
Sesudah diulangi lagi oleh Thian-sik, akhirnya api dapat
dinyalakan, Toan Kí berseru girang, segera ia menyuluh pelita
minyak di atas meja itu
Kuatir pelita itu akan padam pula, Tan-sik menyalakan juga
pelita yang terdapat di kamar dan dapur. Walaupun cahaya
api tidak terlalu terang, namun demikian toh akhirnya mereka
telah menyalekan api, seketika semangat mereka terbangkit
seperti orang habis menang perang.
Di antara keenam orang itu, Pah Thian-sik, Cu Tan-sin dan
Bok Wan-jing cukup luas pengalamannya, ilmu silat mereka
pun tinggi, sebaliknya ketiga orang lainnya masih hijau, kalau
musuh benar-benar menyerang secara besar-besaran tentu
akan sukar melawan. Maka keenam orang hanya saling
pandang saja dengan hati kebat-kebit untuk menunggu
perkembangan selanjutnya.
Tapi yang terdengar hanya suara angin mendesir di luar
diseling suara serangga yang ramai, selama itu tiada sesuatu
pula yang aneh.
Waktu Toan Ki menoleh, tiba-tiba ia lihat kedua tiang
rumah masing-màsing terukir tulisan dalam bentuk "Tui lian"
(sajak timpalan) bunyinya kira-kira begini:
Air mengalir di sungai musim semi bunga kamelia ( )
( ) memenuhi langit di musim panas buah leci merah.
Jadi dalam setiap bait syair itu masing-masing juga lowong
satu huruf sebagaimana telah di alami sebelumnya. Waktu
Toan Ki mengamat-amati, ia lihat Tui-lian itu diukir dengan
tenaga jari pada tiang kayu itu sehingga dalamnya sampai
satu senti lebih.
Selagi Toan Ki hendak memeriksa lebih jauh, di sebelah
sana Ciong Ling berseru, "Di sini juga ada tulisan!"
Ketika Toan Ki membacanya, ternyata pada sebuah papan
di sebelah sana juga terukir dua baris huruf yang berbunyi:
Gaun hijau muka ( ) seperti sudah kenal
Bulan ( ) bunga kemelia mekar sepanjang jalan.
Dari tulisan yang mendekuk itu tertampak jelas juga terukir
dengan jari seperti tulisan pada kedua tiang itu.
Waktu makan tadi cahaya pelita agak guram sehingga
huruf-huruf itu tidak terlihat, sekarang sesudah empat pelita
dinyalakan sekaligus barulah huruf-huruf yang terukir itu
dapat dibaca.
"Sepanjang jalan aku sudah banyak mengìsi tulisan yang
tidak lengkap itu, apakah perbuatanku ini akan mendatangkan
kebaikan atau bencana juga tak perlu dipikir lagi, biarlah kita
lihat apa yang hendak dilakukan oleh lawan," kata Toan Ki.
Segera ia mengacungkan jarinya, maka terdengarlah suara
"crat-crit" berulang-ulang, segera ia mengisi lalu huruf "putih"
pada bait pertama di atas tiang tadi sehingga bunyinya
menjadi "Air mengalir di sungai musim semi kamelia putih".
Menyusul bait kedua diisinya satu huruf "awan" sehingga
bunyinya menjadi "Awan memenuhi langit di musim panas
buah leci merah".
Maka lengkaplah sanjak itu sekarang.
Dasar tenaga dalam Toan Ki sekarang sudah sangat kuat,
di mana jarinya tiba, di situ bubuk kayu lantas rontok bagai
diserok. Keruan Ciong Ling sangat senang, ¡a bersorak
memuji, "Wah, tahu begini lihai jarimu, tentu tadi kita tidak
perlu susah-susah mencari serbuk kayu lagi."
Dalam pada itu tertampak Toan Ki telah mengisi pula
huruf-huruf yang kurang pada syair di atas papan sana
sehingga lengkapnya sekarang berbunyi.
Gaun hijaú muka cantik seperti sudah kenal. Bulan
sembilan bunga Camelia mekar sepanjang jalan.
Sembari menulis mulut Toan Ki juga menyairkan sanjak
yang romantis itu, berbareng ia pun melirik Giok-yan sehingga
nona itu merah jengah dan berpaling ke arah lain.
"Kayu apakah yang dijadikan tiang dan papan rumah ini,
sungguh harum sekali." ujar Ciong Ling.
Waktu semua orang mengendus, benar juga mereka
merasa dekukan kayu bekas ukiran jari Toan Ki itu sayup-
sayup mengeluarkan bau harum semerbak seperti harum
bunga melati dan seperti wàngi bunga mawar pula.
Anehnya makin lama bau wangi itu makin harum sehingga
membikin semangat terbangkit dan perasaan segar.
"Celaka, bau wangi ini mungkin berbisa, lekas tutup
hidung!" seru Tan-sin dengan kuatir.
Karena peringatan itu, segera semua orang mengeluarkan
saputangan atau ujung baju untuk menutup hidung dan
mulut. Tapi sudah tidak sedikit bau harum yang mereka sedot,
kalau hawa berbisa seharusnya mereka merasa kepala pusing
dan mata berkunang-kunang, namun sedikit pun mereka tidak
merasakan sesuatu.
Selang sejenak, mereka tak bisa menahan napas lebih
lama lagi, terpaksa membuka mulut sehingga bau wangi itu
banyak terisap, namun masih tetap tiada sesuatu yang
mencurigakan. Maka legalah mereka dan pelahan melepaskan
tutup hidung.
"Kayu wangi ini benar-benar sukar dicari, biarlah kita
membawanya pulang beberapa keping." ujar Ciong Ling.
Belum lenyap suaranya, tiba-tiba telinga semua orang
seperti mendengar suara mendengung. Kembali Tan-sin
terperanjat. katanya, "Celaka, racun mulai bekerja, telingaku
sudah mulai mendengung!"
"Ya, telingaku juga!" sahut Thian-sik.
Tapi Boh Wan-jing lain pendapat, katanya, “Ini bukan
telinga mendengung, tapi sepertì suara rombongan tawon
dalam jumlah besar sedang terbang kemari.”
Benar juga, hanya sekejap saja suara mendengung itu
makin lama makin keras seakan-akan ada beratus ribu ekor
tawon sedang membanjir tiba.
Mendengar suara aneh itu, seketika wajah semua orang
menampakkan semacam rasa yang susah dilukiskan. Mestinya
tawon tidaklah menakutkan, tapi suara mendengung sehebat
itu benar-benar selamanya tidak pernah terdengar, pula belum
tahu dengan pasti apa benar lebah atau bukan.
Sesaat itu semua orang sampai termangu-mangu bingung.
Dalam pada itu suara mendengung itu makin lama makin
dekat dan makin keras serta mengerikan seakan-akan suara
setan iblis yang hendak menyambar nyawa.
Dengan takut Ciong Ling memegangi lengan Bok Wan-jing.
Giok-yan juga pegang tangan Toan Ki dengan kencang, Hari
keenam orang sama berdebar-debar.
Sebelumnya mereka pun sudah tahu bahwa di sekeliling
situ tentu sudah bersembunyi musuh, tapi sama sekali tak
menduga bahwa sebelum menyerang musuh bisa
menyebarkan dulu suara yang menyeramkan itu.
Sekonyong-konyong terdengar suara "plok”, suara sesuatu
benda kecil menumbuk papan rumah, menyusul terdengar
pula "plak-plok" berulang yang sukar dihitung jumlahnya.
"Benar tawon!" teriak Ciong Ling dan Bok Wan-Jing
berbareng.
Tiba-tiba terdengar pula suara ringkík kuda yang kesakitan
sambil membeker dan berloncatan.
"Kuda kita diantup lawon!" seru Ciong Ling.
"Biar kupotong tali kandali agar kuda-kuda itu dapat
menyelamatkan diri," ujar Tan-sin, "Bret" segera ia róbek baju
sendiri untuk membungkus kepalanya.
Tapi baru saja ia membuka pintu, bagaikan angin lesus
saja tahu-tahu kawanan tawon dalam jumlah beribu-ribu
banyaknya terus menerjang kedalam rumah. Ciong Ling dan
Giok-yan sama menjerit kaget, sedang Pah Thian-sik cepat
menarik minggir Cu Tan-sin, berbareng daun pintu ia depak
sehingga tertutup rapat lagi.
Namun begitu toh di didalam rumah sudah penuh dengan
tawon. Dan begitu sudah masuk, terus saja kawanan lebah itu
menyerang setiap orang yang berada di situ. Hanya dalam
sekejap saja, baik kepala, tangan dan muka semua orang
kena disengat belasan sampai puluhan kali.
Cepat Tan sin menggunakan kipasnya untuk memukul dan
menyampuk sekuatnya, Begitu pula Toan Ki, Bok Wan-jing,
Giok-yan dan Ciong Ling juga membunuh kawanan lebah itu
dengan menahan rasa sakit.
Karena Thian-sik, Tan-sín, Toan Ki dan Bok Wan-jing
membasmi dengan sepenuh tenaga , maka tidak lama
kemudian kawanan tawon itu hanya tinggal beberapa puluh
ekor saja.
Sungguh aneh juga, kawanan tawon itu tetap pantang
mundur, bagai laron menyambar pelita saja mareka masih
terus menerjang dan mengantup setiap orang yang dapat
diserangnya. Dan baru sejenak kemudian kawanan tawon
yang berhasil menyusup ke dalam rumah itu terbasmi habis.
Saking kesakitan diantup tawon Ciong Ling dan Giok-yan
sampai menangis, Dalam pada itu suara tawon menubruk
dinding papan di luar rumah masih terus terdengar bagai
tetesan air hujan riuhnya, entah betapa juta kawanan lebah
itu sedang menerjang tiba.
Dengan melupakan rasa sakit melepuh karena antupan
tawon tadi, cepat semua orang berusaha menyumbat lubang
dan celah dinding yang mungkin disusupi kawanan tawon.
Kemudian mereka hanya saling memandangi muka masing-
masing yang benjol-benjol dan merah melepuh itu.
"Untung kita berada dalam rumah ini, kalau di tempat
terbuka, wah, tentu binasa dikeroyok kawanan tawon
sebanyak itu." kata Toan Ki.
“Kawanan tawon ini adalah alat serangan musuh, tentu
mereka takkan berhenti begitu saja, bukan mustahil rumah
papan ini akan di jebol mereka," ujar Wan-jing.
Besar juga, belum lenyap ucapannya, sekonyong-konyong
terdengar suara "blang” yang sangat keras, sepotong batu
besar jatuh di atap rumah, menyusul lantas terdengar pula
suara gemuruh disertai berhembusnya debu pasir, dua potong
batu besár jatuh ke bawah menembus atap rumah.
Pelita di dalam rumah seketìka padam, cepat Toan Ki
merangkul Giok-yan kedalam pelukannya untuk melindungi
kepala dan mukanya. Maka terdengarlah suara mendengung-
dengung yang memekak telinga, semua orang tahu tidak
mungkin membendung kawanan lebah sebannyak itu,
terpaksa mereka hanya menggunakan lengan baju untuk
menutupi mukanya sendiri.
Hanya sekejap saja tangan dan bagian tubuh lalu yang
terbuka lantas kena tersengat, sakitnya tidak kepalang. Tidak
lama kemudian, Saking tak tahan, robohlah semua orang tak
sadarkan diri, pingsan.
Toan Ki pernah makan katak merah, mestinya kebal
terhadap segala macam racun, tapi káwanan lebah ini adalah
piaraan manusia, sengatnya bukan racun lebah biasa, tapi
sesudah diantup sekian banyak lebah itu akhirnya ia pingsan
juga. Cuma dia mempunyai tenaga dalam paling kuat, maka di
antara keenam orang itu, dia pula yang pertama-tama siuman
kembali.
Begitu sadar segera ia merasa Giok-yan tidak berada
dalam pelukannya lagi. Sebaliknya dalam kegelapan ia merasa
kedua kaki dan tangannya diringkus orang dengan tali,
matanya juga tertutup oleh kain hitam bahkan mulut pun
tersumbat sehingga bernapas saja susah, apalagi bìcara. Ia
merasa tempat-tempat bekas diantup tawon itu masih sangat
sakit, ia merasa dirinya duduk di atas tanah, tapi di mana dan
sudah berepa lama sama sekali tak diketahuinya.
Tengah Toan Ki merasa bingung, tiba-tiba terdengar
seorang wanita sedang berteriak dengan bengis, "Aku sudah
banyak mengorbankan tenaga dan pikiran dan ingin
menangkap anjing tua she Toan dari Taili itu, mengapa yang
tertangkap adalah anjing kecil ini!”
Toan Ki merasa suara itu sudah pernah dikenalnya, tapi
tak teringat seketika siapa dia.
Dalam pada itu suara seorang wanita tua lagi menjawab,
"Hamba telah menurut segala perintah siocia, sedikit pun tidak
menyimpang."
"Hm, kuduga di dalam hai ini tentu ada sesuatu yang tak
beres," kata suara wanita tadi.
"Anjing tua itu dari utara menuju ke selatan, mengapa dia
mendadak membelok ketimur? Dan mengapa arak obat yang
telah kita atur kepanjang jalän itu sampai diminum semua oleh
anjing cilik itu?”
Toan Ki tahu apa yang dimaksudkan "anjing tua" itu tentu
adalah ayahnya, Toan Cing-sun, dan "anjing cilik" yang
dimaksud adalah dirinya. Dari suara percakapan mereka itu
agaknya mereka berada diruangan sebelah.
Lalu terdengar si wanita tua menjawab pula, "Hamba
sudah melaksanakan segala petunjuk Siocia, soal Toan-ongya
mendadak membelok ke timur agaknya ada hubungannya
dengan budak-budak she Cin dan she Wi itu."
"Ken . . . kenapa kau panggil dia, Toan-ongya pula!"
semprot si wanita tadi dengan gusar.
"Ya, dah . . . dahulu Siocia menyuruh hambä
memanggilnya Toan-kongcu, sekarang . . . sekarang usianya
sudah lanjut, maka . . . . "
"Diam, tidak boleh menyebutnya lagi" bentak si wanita
tadi. Dan sejenak kemudian tiba-tiba ia menghela napas dan
bergumam sendiri, "Ya, usia . . . usianya sekarang memang
sudah lanjut!"
Mendengar percakapan kedua wanita itu, seketika legahlah
hatì Toan Ki Pikirnya, "Kukira siapa? Tak tahunya kembali
adalah seorang bekas kekasih ayah pula. Dia mencari perkara
kepada ayah tentu juga lantaran iri dan cemburu. Dia
mengarahkan kawanan lebah untuk merobohkan kami,
tujuannya tentu ingin menangkap ayah dan Cin-ih (bibi Cin)
dan Wi ih (bibi Wi), tapi keliru tangkap kami yang menjadi
korban. Jika demikian agaknya ia pun takkan membikin susah
kami. Tapi siapakah bibi ini? Aku seperti sudah kenal
padanya?”
Sementara itu si wanita tadi berkata pula, "Menurut
laporanmu, jadi tulisan yang tidak lengkap yang kita atur
sepanjang jalan itu telah diisi semua dengan tepat oleh anjing
cilik itu? Hm aku justru tidak percaya, masakah anjing cilik itu
juga paham syair gubahan si anjing tua, masakah begitu
kebetulan?”
"Syair yang dipahami bapaknya, kalau anaknya juga
paham, hal itu juga tidak mengherankan," ujar si nenek.
''Aku justru tidak percaya perempuan hina-dina itu dapat
melahirkan anak sepintar itu?" kata wanita tadi dengan gusar.
Mendengar ibunya dicerca, sungguh Toan Ki sangat gusar,
segera ia bermaksud mendampratnya, tapi baru bibirnya
bergerak segera ia ingat mulutnya sendiri tersumbat, sudah
tentu tak bisa bicara.
Dalam pada itu si nenek lagi bicara, "Siocia, urusan sudah
lalu sekian lamanya, buat apa engkau selalu memikirkannya?
Apalagi yang bersalah padamu adalah Toan kongcu dan bukan
putranya? Maka . . . maka sukalah Siocia mengampuni anak
muda itu saja. Rasanya penderitaannya kena antup Cui-jin-
hong (tawon pembuat mabuk) yang kita terbangkan itu juga
sudah cukup baginya."
"Kau minta aku mengampuni anak jadah she Toan itu?"
teriak si wanita dengan suara tajam melengking, “Hm, kalau
aku sudah mencencang dia barulah aku mengampuni dia."
Diam-diam Toan Ki membatin, "Yang bersalah padamu
adalah ayahku dan bukan diriku, mengapa engkau sedemikian
benci padaku? Kiranya kawanan lebah itu bernama Cui jing-
hong. Entah cara bagaimana dia memelihara kawanan lebah
itu sehingga dapat dikerahkan untuk mengantup kami?
Siapakah gerangan wanita ini? Suaranya seperti sudah
kukenal, tapi aku tidak ingat. Siapakah dia?"
Sedang Toan Ki mengingat-ingat kembali, tiba-tiba
terdengar Suara seorang lelaki berseru, "Kohma (bibi),
keponakan menyampaikan salam hormat!"
Suara lelakil itu membuat Toan Ki terkejut. Seketika pula
tanda tanya yang berkecamuk dalam benaknya tadi terjawab
semuanya.
Lelaki yang bersuara itu ternyata Buyung Hok adanya.
Maka bibi yang dia panggil itu dengan sendirinya adalah Ong-
hujin dari Man-to-san-ceng di Koh-soh atau Ibu Giok-yan atau
calon ibu mertua sendiri. Pantas ia merasa sudah kenal
suaranya.
Seketika itu perasaan Toan berdebar-debar bagaikan
belasan buah timba yang naik turun menímba air sumur.
Pikirannya menjadi kacau dan adegan-adegan kejadian di
Man-to san ceng dahulu lantas terbayang pula olehnya . . "
Waktu itu Toan Ki dibawa lari oleh A Cu dan A Pik untuk
menghindari kejaran Cumoti dan akhirnya. kesasar ke Mao-to-
san-ceng, perkampungan tempat kediaman Giok-yan dengan
ibunya, Ia menjadl heran melihat tempat itu melulu tertanam
bunga kamelia dan tiada tumbuh bunga jenis lain.
Menurut peraturan Man-to-san-ceng yang aneh itu, setiap
orang lelaki yang berani masuk ke situ, bila tertangkap tentu
akan dìtabas kedua kakinya. Bahkan menurut nyonya Ong asal
orang Taili dan she Toan, maka orang itu pasti akan dikubur
hidup-hidup seperti Cin Goan-cun yang bergelar "Nau-kang-
Ong," dia bukan orang Taili, hanya lantaran rumahnya dekat
dengan Taili dan dia telah dikubur hidup-hidup oleh Ong-hujin.
Toan Ki adalah orang Taili dan she Toan, dia mestinya juga
akan dikubur hidup-hidup oleh nyonya Ong cuma kemudian
diketahuinya Toan Ki mahir merawat bunga kamelia maka
nyonya Ong mengampuni jiwanya bahkan mengadakan
perjamuan untuk pemuda itu.
Tapi lantaran di tengah perjamuan itu Toan Ki bercerita
tentang sejenis bunga kamelia yang bernama "muka si cantik
tercakar", bunga kamelia itu berwarna putih dan pada kelopak
bunga itu ada garis-garis merah yang halus, karena itulah
diibaratkan muka si cantik luka tercakar. Toan Ki mengatakan,
apabila wanita cantik, maka tingkah lakunya seharusnya
lemah-lembut dan berbudi halus tapi kalau muka si cantik
sampai ada luka tercakar, hal itu menandakan si cantik saban-
saban suka berkelahi dengan orang, maka wanita cantik
demikian menjadi tidak dapat dikatakan cantik lagi.
Rupanya kata-kata itu telah menyinggung perasaan Ong-
hujin, nyonya itu menjadi gusar dan mendamprat Toan Ki, ia
menuduh pemuda itu sengaja hendak mengacau dan
mengolok-oloknya. Apakah wanita cantik lantas tidak boleh
belajar ilmu silat? Di mana letak kebaikannya wanita yang
lemah-lembut dan pendiam? Demikian Ong-hüjin lantas
menjebloskan Toan Ki ke dalam kamar tahanan, bahkan
hampir-hampir saja jiwanya melayang.
Apa yang terjadi dahulu itu bagi Toan Ki hanya dirasakan
perangai Ong hujin terlalu aneh dan luar biasa. Sekarang demi
mendengar Buyung Hok memanggilnya "bibi", seketika
teringatlah Toan Ki, kiranya suara yang sejak tadi terasa
sudah dikenalnya itu Ong hujin adanya. Seketika ia menjadi
paham pula duduknya perkara, "Ah, kiranya dia (nyonya Ong)
juga bekas kekasih ayah, pantas dia sedemikian cinta pada
bunga kamelia, sebaliknya begitu benci pada orang she Toan
dari Taili."
Begitulah, segala kejadian yang dahulu sukar dimengerti
olehnya sekarang demi mengetahui letak persoalannya, maka
jelaslah baginya. Nyata sebabnya Ong-hujin cinta pada bunga
kamelia tentu disebabkan pada waktu dia bercinta-cintaan
dengan ayahnya dahulu ada sangkut-pautnya dengan jenis
bunga itu. Dan sebabnya dia begitu benci pada orang she
Toan atau orang Taili, bahkan tidak segan-segan
menguburnya hidup-hidup, terang disebabkan ayahnya she
Toan dan berasal dari Taili yang telah menghianati cintanya,
maka dia dendam sehingga setiap orang she Toan atau orang
dari Taili juga ikut dibencinya.
Malahan Toan Ki menyaksikan sendiri Ong-hujin
menangkap seorang pemuda dan memberi ancaman agar
pemuda itu segera pulang dan membunuh istrinya yang sah,
lalu secara resmi mengawini kekasihnya dari perhubungan
gelap di luar itu. Ketika pemuda itu tidak mau, segera Ong-
hujin hendak membunuhnya sehingga akhirnya pemuda itu
menurut dengan ketakutan.
Dari kejadian itu kelihatan bahwa di dalam hati kecil Ong-
hujin juga terdapat harapan agar ayah membunuh istri
resminya untuk kemudian menikah dengan dia.
Dan ketika tanpa sengaja Toan Ki menyinggung tentang
orang wanita cantik bila suka berkelahi tentu akan menjadi
tidak cantik, hal ini membuat Ong-hujin menjadi gusar. Maka
dapat dibayangkan dahulu dia tentu juga sering bertengkar
dengan ayah lantaran urusan pribadi itu.
Bagtulah banyak sekali hal-hal yang tadinya sukar
dipahami sekarang menjadi jelas bagi Toan Ki. Namun begitu
perasaan Toan Ki toh tidak merasa lega, sebaliknya
perasaannya seakan-akan ditindih oleh sepotong batu yang
semakin berat. Apa sebabnya, seketika ia pun tidak tahu.
Pendek kata ia merasakan hubungan antara ibu Giok-yan
dengan ayahnya dahulu membuatnya merasa tidak enak, di
dalam lubuk hatinya mendadak timbul semacam firasat yang
menakutkan . . .
Dalam pada itu terdengar Ong-hujin sedang menjawab
teguran Buyung Hok tadi. "Ah, kiranya Hiantit yang datang!
Bagus, bukankah kamu sudah hampir naik tahta, sudah
hampir menjadi maharaja Yan jaya?"
Nyata sekali nadanya mengandung sindiran tajam.
Tapi Buyung Hok menjawabnya, "Hal itu memang cita-cita
yang ditinggalkan leluhur kita, Tit-ji sendiri tidak becus,
sehingga selama ini hanya terlunta di kangouw tanpa sesuatu
hasil, makanya sekarang mohon bantuan bibi agar ikut
mengatasi keadaan demi pesan kakek dahulu yang bibi sendiri
juga ikut mendengarnya."
"Bagus, jadi kau sengaja menggunakan nama kakek untuk
memaksa aku?" sahut Ong-hujin dengan ejekan. "Padahal
anak perempuan yang sudah menikah adalah mirip air telah
digebyur keluar, masakah aku ada lagi sangkut-pautnya
dengan soal menjadi raja yang diimpikan keluarga Buyung?
Sebabnya aku melarang kau datang ke Man-to-san-ceng dan
melarang Giok-yan bergaul denganmu justru karena aku kuatir
terikat hubungan kekeluargaan pula dengan pamili Buyung.
Nah, di manakah Giok-yan, telah kau bawa dia ke mana?"
"Di manakah Giok-yan?" kata ini bagai bunyi halilintar yang
menggelegar di telinga Toan Ki. Memang sejak tadi juga dia
sedang menguatirkan nona itu.
Tadi waktu kawanan lebah mulai menyerang Giok-yan
dirangkul oleh Toan Ki untuk mengaling-alingnya dari antupan
tawon, tapi sekarang ke manakah nona itu? Kalau menurut
nada pertanyaan Ong-hujin, agaknya dia benar-benar tidak
tahu di mana beradanya Giok-yan.
Maka terdengar Buyung Hok sedang menjawab, "Ke mana
perginya Piaumoai, dari mana kutahu? Dia selalu berada
bersama dengan Toan-kongcu dari Taili boleh jadi kedua
orang itu sudah lama sembahyangi Allah dan menjadi suami-
istri?”
"Hah? Kau . . . kau omong apa!" bentak Ong-hujin dengan
suara terpurtus-putus. Mendadak terdengar suara "blang”
sekali, nyonya itu mengebrak meja, lalu katanya pula dengan
gusar. '"Kenapa kamu tidak menjaga Piaumoaimu? Dia adalah
seorang nona muda yang masih hijau, sekarang kau biarkan
dia kelayapan di dunia kangouw dan sedikit pun tidak kau
pikirkan keselamatannya?”
“Mengapa bibi marah-marah padaku?" sahut Buyung Hok.
"Bukankah bibi kuatir aku memperistrikan Piaumoai, kuatir dia
menjadi anggota keluarga Buyung yang mengimpikan menjadi
Kaisar. Dan sekarang urusan menjadi baik, dia sudah menjadi
istri Toan-kongcu dari Taili kelak dia akan menjadi permaisuri
kerajaan Taili secara resmi bukankah itu suatu berita baik?"
Mendadak Ong-hujin menggebrak meja pula sambil
membentak, "Omong kosong! Berita baik apa? Justru tidak
boleh terjadi!"
Di kamar sebalah sejak tadi Toan Ki memang sudah kebat-
kebit dan kuatir, demi mendengar ucapan Ong-hujin, "Justru
tidak bolah terjadi!" keruan ia tambah cemas. Keluhnya diam-
diam, "Celaka, sungguh celaka! Aku den Giok-yan benar-benar
bernasib malang dan banyak aral melintang sekarang ibunya
mengatakan pula "Justru tidak boleh terjadi . . . . "
Dalam pada itu tiba-tiba terdengar seorang berseru,
"Bukan, bukan! Nona Ong dan Toan kongcu adalah suatu
pasangan yang setimpal, perjodohan yang baik ini Hujin
menganggapnya tidak boleh terjadi. Ini terang salah!"
"Sekali aku bilang tidak boleh jadi tetap tidak boleh jadi!"
bentak Ong-hujin dengan gusar. "Pau Put-tong, kau berani
membantah ucapanku, apa kamu ingin kuperintahkan orang
untuk membunuh anak Perempuanmu?"
Biasanya Pau Put-tong adalah seorang yang tidak takut
pada langit dan gentar pada bumi, ucapan siapa pun pasti
akan dibantahnya. Tapi aneh juga, sekali dibentak oleh Ong-
hujin, seketika ia cep-kelakep alias bungkam dan tak berani
bersuara lagi.
Diam-diam Toan Ki berteriak di dalam hati. "Pau-samko,
lekas kau bantah ucapan nyonya itu, lekas, tolonglah, lekas!
Ucapan nyonya itu sama sekali 'bo-ceng-li', lekas kau debat
dia. Hanyalah kau seorang ksatria yang berani mendebatnya
berdasarkan kebenaran."
Tak tersangka sesudah ditunggu dan ditunggu lagi
keadaan di sebelah terap sunyi saja, nyata Pau Put-tong tidak
berani bicara lagi.
Hal ini bukan lantaran Pau Put-tong takut anak
perempuannya akan dibunuh suruhan Ong-hujin, tapi karena
turun temurun keluarga Pau sudah menjadi abdi pengiring
keluarga Buyung yang setia dan patuh, sedangkan Ong-hujin
masih terhitung majikannya, jika dia benar-benar marah, jika
dia benar-benar marah, sudah tentu Pau Put-tong menjadi
jeri.
Maka rasa gusar Ong hujin menjadi reda kerena Pau Put-
tong tak berani membantahnya lagi, segera ia berkata kepada
Buyung Hok, “Hiantit, kau datang mencari aku, adakah suatu
permohonan pula? Tentu kamu sedang mengincar sesuatu
milikku lagi?"
"Kohma, Tit-ji adalah sanak keluargamu yang terdekat,
kalau Tit-ji merasa kangen padamu, masakah datang
menyambangi engkau juga tidak boleh? Dan kalau datang apa
pasti Tit-ji sedang mengincar sesuatu barangmu?" demikian
sahut Buyung Hok dengan tertawa.
"Hehe. jadi kaupun pernah kangen pada bibimu ini? Bila
sejak dulu kau kangen padaku, rasanya bibi pasti takkan hidup
merana sebagai sekarang ini," ucap Ong-hujin dengan ketus.
Namun Buyung Hok menghadapinya dengan cengar-
cengir, katanya, "Apa barangkali ada sesuatu yang tidak
menyenangkan hati bibi, silakan bibi katakan saja pada Tit-ji,
tanggung akan kubikin senang hati bibi".
"Fui," semprot Ong-hujin. "hanya beberapa tahun tidak
bertemu kamu sudah pintar menjilat.”
"Mengapa bibi anggap menjilat?” sahut Buyung Hok.
"Kalau perasaan orang lain mungkin Tit-ji sukar menjajakinya,
tapi aku ini kan sanak bibi yang terdekat, urusan apa yang
dipikirkan bibi. andaikan tidak dapat kuterka seluruhnya,
paling sediklt juga dapat kuraba tujuh atau delapan bagian.
Untuk membikin senang bibi, bukan àku sengaja membual,
kukira tidaklah sukar bagiku.”
“O. ya? Jika begitu, boleh juga coba mengatakannya. Tapi
awas, Jika sembarangan mengoceh, tentu akan kugampar
mulutmu!"
Buyung Hok tidak menjawab lagi, mendadak ia menarik
sesuatu dan berdendang, "Gaun hijau muka cantik seperti
sudah kenal, bulan sembilan bunga kamelia mekar sepanjang
Jalan!"
Ong-hujin terkejut. "Da . . . dari mana kau tahu? Apakah
su . . . . . sudah kau datangi rumah papan di lautan rumput
itu?" tanyanya dengan suara terputus-putus.
Melihat bibinya sudah mulai termakan oleh ucapannya.
Buyung Hok lantas "jual mahal", sahutnya kemudian, "Pendek
kata bibi tidak perlu tanya dari mana kudapat tahu, cukup bibi
katakan saja mau tidak bertemu dengan orang itu?”
”Ber . . . bertemu dengan siapa?" kata Ong-hujin dengan
suara terputus-putus dan lemah, nyata nadanya sudah
berubah, tadi garang, sekarang sudah mengandung nada
mohon tahu.
"Orang yang Tit-ji maksudkan adalah orang yang dikenang
oleh bibi, aír mengalir di sungai musim semi bunga kamelia
putih, awan memenuhi langit di musim panas buah leci
merah!"
Ong-hujin tergetar, tanyanya dengan suara lemah, "Cara .
. . cara bagaimana aku dapat berjumpa dengan dia?"
"Bibi sudah berusaha dengan susah payah hendak
menangkap orang itu, tak terduga perangkap yang bibi
pasang tetap meleset dan dia dapat menghindarkan diri.
Kupikir sebenarnya tidak susah untuk berjumpa dengan dia,
untuk itu dia harus ditangkap, yang penting dia harus mau
tunduk pada segala perintah bibi."
Ong-hujin menghela napas, katanya, "Aku sudah pasang
perangkap sedemikian rapinya, toh masih dapat dihindarkan
olehnya. Maka aku tak punya akal lain yang lebih sempurna
lagi."
"Tit-ji tahu di mana orang itu berada, bilamana bibi
percaya padaku, silakan menerangkan padaku tentang
perangkap yang telah dipasang bibi, bias jadi dari situ Tit-ji
akan dapat mengatur siasat yang diperlukan."
"Kita adalah orang sekeluarga masakah tidak percaya.”
kata Ong-hujin.
“Perangkap yang kupasang sekali ini adalah lebah 'Cui-jin-
hong' Telah kupelihara beberapa ratus sarang tawon, di
perkampungan Man-to-san-ceng tiada tumbuh bunga lain
kecuali kamelia, maka kawanan tawon tidak perlu mencari
madu ke tempat lain.”
"Benar, maka kawanan tawon itu pun tidak suka pada bau
harum lain kecuali bau harum, kamelia,” tukas Buyung Hok.
"Sungguh tidak sedikit jerih-payahku selama memelihara
kawanan tawon itu," kata Ong-hujin. “Telah kucampur obat
bius dalam madu yang biasa dimakan tawon-tawon itu dengan
sedikit demi sedikit sehingga setiap orang yang kena disengat
oleh tawon itu tentu akan jatuh pingsan selama belasan hari."
Toan Ki terkejut mendengar keterangan itu. ia pikir
jangan-jangan dirinya sudah pingsan selama belasan hari
seperti apa yang dikatakan itu?
Dalam pada itu terdengar Buyung Hok lagi berkata, "Tipu
bibi sungguh sangat rapi dan susah diduga orang. Tapi cara
bagaimana bibi dapat menyuruh kawanan tawon itu
menyengat orang?”
“Untuk itu di dalam makanan orang yang menjadi sasaran
harus dicampurkan sedikit obat khusus," tutur Ong hujin.
"Meskì obat ini tak berwarna dan tak berbau, tapi rasanya
agak pahit, maka tidak boleh diberikan dalam kadar yang
banyak sekaligus. apalagi orang itu pun sangat cerdik, begitu
pula pengirìng-peringiringnya, untuk meracuni mereka pasti
tìdak mudah, maka terpaksa aku harus mengatur siasat,
sepanjang jalan kusediakan daharan bagi mereka dan diam-
dìam aku mencekoki mereka dengan obat yang tak berbisa
!tu.”
Mendengar itu, baru sekarang Toan Ki paham duduknya
perkara, jadi santapan yang telah dinikmatinya secara gratis
sebagaì balas jasa dari tuan rumah yang tulisan dalam lukisan
telah dilengkapinya itu adalah perangkap yang dipasang Ong-
hujin rupanya orang-orang yang dipasang nyonya itu telah
diberitahu asal ketemu orang yang dapat mengisi kekurangan
tulisan di dalam lukisan itu, maka dialah Tin-lam-ong dari Taili
yang sedang diincar, lalu dalam daharan yang disediakan itu
dicampuri obat bius.
Terdengar Ong-hujin lagi menyambung ceritanya, "Siapa
tahu telah terjadi salah wesel, orang itu tidak menuju
kejurusan sini, Sebaliknya putranya yang datang kemari.
Rupanya setan cilik telah menghapalkan sanjak yang digubah
bapaknya, tentu setan cilik ini pun seorang pemuda bangor.
Sepanjang jalan setan cilik itu mengisi huruf-huruf yang
kurang lengkap dalam lukisan dan dapat makan minum
sepuas-puasnya secara gratis sehingga santapan bercampur
obat yang kusediakan untuk bâpaknya telah dihabiskan
olehnya, dan akhirnya sampailah di rumah papan di tengah
lautan rumput itu. Pelita minyak di rumah itu pun sudah
dicampur obat, di tengah tiang kayu rumah itu pun kumasuki
obat, waktu setan cilik itu menggores papan kayu itu sehingga
bau harüm obat-obatan yang tersembunyí di dalamnya terasa
seketika kawanan tawon terpancíng tíba. Ai, siapa duga
rencana yang kujalankan itu terlaksana dengan baik, tapi
sasaran yang tiba ternyata keliru. Setan cilik ¡ni telah merusak
rencanaku, Hm, kalau aku tidak mencencang día rasa
mendongkolku tak terlampiaskan.”
Diam-diam Toan Ki merasa ngeri juga mendengar ucapan
Ong-hujin yang penuh dendam dan benci itu. Diam-diâm ia
harus mengakui betapa rapinya perangkap yang dipasang
nyonya itu, Celakanya secara tidak sengaja dirinya yang
menggantikan sang ayah dan masuk perangkap itu. Tapi ia
pun merasa lega pula bila teringat dengan kejadian salah
sasaran ini, maka ayahnya sekaranng tentu dapat lolos dari
ancaman bahaya.
Dalam pada itu terdengar Ong-hujin lagi berkata dengan
suara marah, "Aku menyuruh budak ini menyamar sebagai tua
bangka yang bisu dan tuli untuk mengatur perangkap di
rumah papan itu, apalagi dia juga kenal orang itu, siapa tahu
akhirnya terjadi juga salah sasaran seperti sekarang ini."
Lalu terdengar si wanita tua tadi membela dirl. "Siocia,
seperti hamba sudah memberi laporan bahwa karena tidak
melihat Toan-kongcu berada di antara kawanan pendatang
itu, maka hamba telah menipu alat ketikan api mereka agar
mereka tidak dapat menyalakan pelita minyak dan kawanan
tawon itu takkan terpancing datang. Siapa tahu orang-orang
itu terlalu cerdik, akhirnya mereka dapat juga menyalakan
pelita minyak."
"Hm, pendek kata, memang kamu yang tidak becus,"
jengek Ong-hujin.
"Bibi, sesudah mengantup orang, apakah kawanan tawon
itu tak bisa digunakan lagi?” Tanya Buyung Hok.
"Tawon yang telah menyengat orang itu tak lama
kemudian akan matí," sahut nyonya Ong, "Tapi yang tawon
yang kupelihara itu beratus-ratus ribu jumlahnya, kalau cuma
mati beberapa ekor apa alangannya?"
"Bagus," seru Buyung Hok. "Jika begitu, sesudah yang
muda, segera kita dapat menangkap pula yang tua. Tit-ji pikir
bila kita mengambil sesuatu benda milik bocah itu, lalu kita
perlihatkan kepada . . . kepada orang itu, maka tidak susah
kiranya untuk memancing ke rumah papan di lautan rumput
sana."
“Nah, keponakanku yang baik, betapapun otak orang
muda memang lebih tajam, " seru Ong-hujin dengan girang
sambil berbangkit. "Bagus sekali usulmu ini, sebagai ayah
yang baik bila dia tahu anaknya berada dalam cengkraman
kita, tentu dia akan memburu kemari untuk menolongnya,
takkala mana kita akan dapat menggunakan kawanan tawon
lagi.”
"Ya, tatkala mana andaikan tanpa bantuan tawon juga
tidak menjadi soal lagi, asal bibi menaruh sedikit obat bius
dalam arak dan disuguhkan padanya, masakah dia takkan
minum dengan gembirä?" demikian kata Buyung Hok.
Ong-hujin lantas terbayang pada adegan pertemuannya
dengan Toan-Cing-sun dan akan menyuguhkan arak nanti,
seketika nyonya itu berseri-seri, rasanya menjadi lemas,
katanya dengan penuh manisnya madu, "Ya benar, Kita pakai
usulmu ini."
"Bibi, akal Tit-ji ini masih böleh juga, bukan?"
"Baiklah, kalau tidak terjadi apa-apa, tentu bibi akan
membalas jasamu," sahüt Ong-hujin dengan tertawa senang
"Sekarang langkah pertama kita harus menyelidiki dulu di
mana beradanya orang yang tak punya perasaan itu."
"Sebenarnya Tit-ji sudah mendengar sedikit kabar, dalam
urusan ini memang ada kesulitan besar,” ujar Buyung Hok.
"Ada kesulitan apa lagi?” tanya Ong-hujin dengan kening
bekernyit, “cepat katakan, kamu memang suka 'jual mahal'
ya?"
"Soalnya orang itu sekarang telah ditawan orang tertentu
dan keselamatannya terancam?" tutur Buyung Hok.
“Brak”, karena kagetnya sebuah mangkuk teh tertampar
oleh tangan Ong-hujin dan jatuh pecah berantakan.
Toan Ki juga terkejut mendengar berita itu, kalau mulutnya
tidak tersumbat tentu ia pun menjerit kaget.
Terdengar Ong-hujin berkata dengan suara gemetar, "Sia .
. . siapa yang menawannya? Kenapa tidak kau katakan sejak
tadi? Betapapun kita harus mencari akal untuk menolongnya."
"Susahnya ilmu silat lawan teramat tinggi dan Tit-ji sekali-
kali bukan tandingannya," tutur Buyung Hok. "Maka kita hanya
boleh melawannya dengan akal dan tidak boleh menandingi
dia dengan kekerasan."
Ong-hujin menjadi sedikit lega demi mendengar ucapan
Buyung Hok itu, segera ia Tanya pula, “Cara bagaimana
melawannya dengan akal lekas katakan?"
“Kukira kawanan tawon bibi itu masih boleh digunakan
sekali lagi,'" ujar Buyung Hok. "Asal, kita ganti beberapa tiang
dan ubah tulisannya, umpama kita tulis nama raja Taili pada
atas tiang itu, maka musuh tentu akan gusar bila
membacanya dan tentu akan menghapusnya, dengan begitu
bau obat segera akan keluar dari dalam tiang kayu itu."
"Apa orang yang menawannya adalah orang yang bernama
Toan Yan-khing yang sedang merebut tahta dengan dia itu?"
tanya Ong-hujin.
Buyung Hok membenarkan.
"Hah, jadi . . . jadi dia tertawan oleh Toan Yan-king," seru
Ong-hujin dengan kuatir padahal Toan Yan-khing itu
senantìasa ingin membinasakan dia, bisa jadi saat ini dia su . .
. sudah terbunuh olehnya."
"Bibi tidak perlu kuatir," ujar Buyung Hok dengan tertawa,
"Dalam urusan mereka itu masih ada suatu persoalan besar
yang harus bibi ketahui."
"Persoalan apa?" tanya Ong hujin dengan tak sabar.
"Raja Taili sekarang adalah Toan Cing-bing," käta Buyung
Hök "Dan kekasih bibi itu sudah lama diangkat sebagai
pangeran mahkota secara resmi hal ini telah diketahui oleh
rakyat seluruh negeri Taili. Toan Cing bing terkenal sebagai
seorang raja yang bijaksana. Tin lam ong yang akan
menggantikan dia pun memperoleh nama baik di kalangan
rakyat jelata, kalau Toan Yan khing membunuhnya begitu saja
tentu akan mengakibatkan kekacauan kerajaan Taili dan tahta
yang diincar Tóan Yan khing menjadi takkan teguh dan akan
gagal."
"Beralasan juga ucapanmu.” ujar Ong-hujin. Tapi dari
mana kau tahu semuanya itu?"
“Sebagian kudengar dari orang lain, sebagian pula adalah
menurut rekaanku," sahut Buyung Hok.
"Ya, selama hidupmu senantiasa ingin menjadi raja, maka
dalam hal persoalan tahta yang dihadapi kerajaan Taili sudah
tentu kamu dapat merabanya dengan jelas."
"Ah, bibi terilalu memuji diriku," sahut Buyung Hok dengan
tertawa. "Menurut dugaanku, sesudah Tin lam ong ditawan
Toan Yan-khing, tidak nanti dia membunuhnya melaínkán
akan berusaha membiarkan Tin- lam-ong naik tahta dulu,
habis itu dengan akal lain Tin-lam-ong akan dipaksa
menyerahkan tahta kepadanya secara resmi."
"Secara resmi bagaimana?" tanya Ong-hujin.
"Sebenarnya ayah Toan Yan-khing adalah raja Taili, Cuma
ketika terjadi kerusuhan dan tahtanya digulingkan oleh
pembesar dorna, dalam keadaan kacau Toan Yan-khing lenyap
entah ke mana. Sebab itulah Toan Cing-bing dapat menjadi
raja Taili yang sekarang. Padahal putra mahkota yang tulen
sebenarnya adalah Toan Yan-khing yang terkenal sebagai
Yan-khing Taícu. Kalau nanti Tin-lam-ong naik tahta, dia tídak
punya keturunan, kalau Toan Yan-khing di angkat sebagai
putra mahkota, hal ini boleh díkata sangat lumrah dan masuk
diakal."
Ong-hujin merasa heran, tanyanya, “Bukankah jelas dia
mempunyai seorang putra, mengapa kau bilang dia tidak
punya keturunan?”
"Eh, mengapa bibi lupa, bukankah baru saja bibi
menyatakan sendiri akan mencencang bocah she Toan ini?
Setelah dicencang, masakah dia bisa hidup lagí?”
"Ya, benar! Bocah ini adalah anak jadah yang dilahirkan
budak hina-dina itu, jika dibiarkan hidup hanya akan membikin
marah saja padaku."
Tanya-jawab kedua orang itu dapat didengar oleh Toan Ki
yang berada di ruangan sebelah. Pikirnya, "Wah, celaka!
Sekali íni aku pasti akan mati konyol. Giok-yan entah berada di
mana pula? Kalau día berada di sini, bila jadi Ong-hujin akan
mengampuni jiwakü mengingat kebaikan putrinya padaku."
“Asal saat ini jiwanya tidak berbahaya maka legalah hatiku.
Aku tidak ingin dia menjadi raja apapun segala, sebaliknya
akan ku suruh dia ikut pulang ke Man-to-san-ceng saja,"
demikian Ong-hujin lagi berkata.
"Sesudah Tin-lam-ong menyerahkan tahtanya sudah tentu
día akan ikut bibi ke Man-to-san-ceng, tatkala mana biarpun
dia disurüh tínggal terus di Taili juga dia tidak kerasan lagi.
Cuma saja dia harus terus menjabatnya entah untuk setengah
bulan atau sepuluh hari, pendek kata dia harus menjabat dulu
untuk kemudian baru dia digulingkan, Kalau tidak, tentu Toan
Yan-khing tak mau.”
Toan Yan-khing mau atau tidak peduli apa dengan aku?”
Dengus Ong-hujin. “Kita tangkap saja dia sesudah Toan-
kongcu diselamatkan lalu binasakan dia, masakah kita mau
peduli dia mau apa tidak?”
“Tapi bibi lupa bahwa kita belum lagi dapat menangkap
Toan Yan-khing,” kata Buyung Hok, untuk hal ini masih sangat
jauh untuk dibicarakan.”
"Tapi di mana dia berada sekarang tentu kau tahu,” kata
ong-hujin. "Keponakanku yang baik, bibimü cukup kenal
watakmu. Dengan membantu urusanku ini sebenarnya balas
jasa apa yang kau harapkan? Untuk itu sebaiknya kita bicara
di muka sacara blak-blakan saja."
"Kita adalah pamili sedarah-daging, untuk sedikit urusan
bibi ini masakah Tit-ji berani mengharapkan sesuatu balas
jasa?" ujar Buyung Hok. "Pendek kata Tit-ji akan bertindak
sekuat tenaga bibi dan tidak mengharapkan sesuatu balas jasa
apa-apa."
Ong-hujin tertegun sejenak sambil melirik pemuda itu. Ia
kenal watak Buyung Hok mirip ayahnya yang cerdik dan licik,
selamanya hanya mau untung dan tidak mau dirugikan, maka
mustahil kalau sekarang pemuda ini akan membantunya
dengan Cuma-cuma. Segera ia berkata, "Baiklah, jika kamu
tidak mau bicara terus terang sekarang, kelak kalau kau minta
sesuatu padaku, maka jangan kau menyesal aku tak bias
memenuhi permintaanmu.”
"Sekali Tit-ji bilang tidak menginginkan balas jasa, maka
pasti tidak.” Sahut Buyung Hok dengan tertawa. “Andaikan
kelak urusan sudah selesai dan bibi merasa senang untuk
memberi persen bebarapa ribu tahil emas atau
menghadiahkan baberapa jilid kitab pusaka ilmu silat, untuk
itu saja Tit-ji mungkin sudah merasa puas.”
Ong-hujin menjadi ragu menhadäpi síkap Buyung Hok ini,
ia tidak tahu apa yang dirancang pemuda itu di balìk mulutnya
yang manis itu? Tapi selantas berkata. “Baiklah coba uraikan
cara bagaimana kita harus menangkap Toan Yan-khing dan
cara bagaimana menolong si dia?"
“Langkah pertama bukankah kita harus memancing Toan
Yan-khing datang kerümah papan di lautan rumput itu dengan
membawa serta Tin-lam-ong?”
"Benar, dan dengan cara bagaimana dapat kau pancing
Toan Yan-khing ke situ?"
"¡ni soal gampang," ujar Büyung Hok. “Toan Yan-khing
ingin menjadi raja Taili, untuk itu día harus melakukan dua hal
Pertama menawan Toan Cing sun dan memaksanya
memindahkan hak tahta kepadanya. Kedua, Toan Ki akan
dibunuhnya agar Toan Cing-sun tidak punya keturunan.
Dengan sesuatu benda milik Toan Ki dapat kita perlihatkan
kepada Toan Cing sun dan día tentu ingin menolong putra
kesayangannya, dengan demikian Toan Yan khing tentu juga
akan ikut menyusul kemari. Maka bocah she Toan yang bibi
tangkap sekarang iní tídaklah keliru dan besar manfaatnya
untuk dipakai sebagal umpan."
"Ehm, boleb juga akalmu ini," kata Ong-hujin.
"Ya, bahkan Ticí akan berusaha sedapat mungkin untük
melaksanakan perangkap kita ini supaya bibi akan lebih
senang." sahut Buyung Hok dengan tertawa. "Eh, bibi, boleh
kau süruh bawa keluar bocah she Toan itu."
“Dia belum sadar tersengat tawonku itu, paling sedikit
harus tiga harí lagi baru dapat sadar." Kata Ong-hüjin. "Bocah
itu berada di kamar sebelah, kalau tidak pingsan, tentu
pembicaraan kita ini akan didengar olehnya, Sekarang aku
ingin tanya sesuatu lagi padamu. Meski . . . meski Tin Lam-
ong itu orang tidak punya perasaan, tapi dia terhitung seorang
gagah ksatria masakah Toan Yan-khing mampu memaksa dia
menyerahkan tahtanya? Jangan-jangan Toan Yan-khing
menggunakan kekurangan dan menyiksanya?”
Sampai di sini tertampak sekali betapa perhatiannya
terhadap keselamatan Toan Cing sun.
Buyung Hok menghela napas, sahutnya, "Bibi, hal ini lebih
baik jangan ditanyakan saja, kalau Tit-ji katakan terus terang
tentu akan membikin bibi marah."
"Lekas katakan, lekas, perlu berlagak,” desak Ong-hujin.
"Sepertí kukatakan tadi bahwa orang she Toan itu tidak
punya perasaan hal ini rupanya memang tidak salah," ujar
Buyung Hok dengan gegerutun. "Padahal wanita cántik
sebagai bibi biarpun dia sengaja mencarí ke seluruh pelosok
dunía juga sukar didapatkan. Sungguh harus diakui, entah
rejeki apa yang telah menimpa orang she Toan itu sehingga
dia dapat memperoleh simpati bibi. Dan seharusnya dia nanti
merasa puas dan setia kepada bibi, siapa tahu . . . siapa tahu,
di . . . di dunia, ini ternyata ada manusia sebodoh dia itu,
bidadari dia tidak mau, dia justru mencari bini betina dalam
lumpur . . . . "
"Apa? Kau . . . kau maksudkan dia . . . dia main gila lagi
dengan . . . . dengan wanita lain? Siapa perempuan itu?"
"Ah, perampuan hina-dina begitu masakah ada harganya
untuk dísebut-sebüt? Biarpun dia dijadikan budak bibi juga
tídak sesuai buat apa bibi mesti marah pada orang seperti ítu
sehingga menurunkan harga diri bibi sendiri?”
Tapi Ong-hujin tambah gusar ia menggebrak meja
sehingga gedubrukan suaranya, serunya dengan suara
melengking, "Kurangajar! Dia . . . . dia meninggalkan aku dan
pulang ke Taili untuk menjadi pangeran, hal ini aku tidak
menyesal, dia sudah punya istri aku pun tidak menyalakan dia,
habis perkenalanku dengan dia terjadi sesudah dia menikah.
Akan tetapi sekarang kau bilang dia . . . . dia main gila lagi
dengan perempuan lain. Nah siapa, . . siapa perempuan itu,
siapa? Lekas katakan?”
Mendengar Ong-hujin sedemikìan murkanya, mau-tak-mau
Toan Kí merasa berdebar-debar juga. Sungguh tak terduga
olehnya bahwa Giok-yan yang lemah-lembut dan halus budi
itu ternyata mempunyai ibu yang begitu galak. Sungguh luar
biasa pula bahwa ayah dapat berkasih-kasihan dengan nyonya
lihai ini.
Jilid ke-83
Tapi lantas terpikir pula olehnya. "Namun semua bekas
kekasih ayah memang mempunyai perangai yang aneh dan
berbeda-beda. Cin Ang-bian punya putri (Bok Wan-jing) yang
suka membunuh, sedang Wi Sing-tiok melahirkan putri nakal
sebagai A Ci, maka dapat diduga sifat Wi Sing-tiok juga tak
berbeda jauh dengan putrinya itu. Umpama ibu, dia tidak mau
tinggal bersama dengan ayah dan sengaja hidup menjadi
Nikoh di tempat terasing, sampai bujukan paman baginda tak
dihiraukan olehnya, sebabnya mungkin adalah karena
perbuatan ayah yang bangor, di mana-mana ada kekasih.
Sungguh, urusan asmara adalah sesuatu yang sukar
diselesaikan.”
Dalam pada itu terdengar Buyung Hok sedang berkata,
"Sudahlah, buat apa bibi masih marah-marah? Silakan tenang
dan mengaso, Biarlah Tit-ji menceritakan dengan perlahan."
"Tidak kauceritakan juga aku dapat menerka.” sahut Ong-
hujin. “Tentu Toan Yan-khing itu telah berhasil membekuk
seseorang gendak manuasia she Toan itu dan memaksa dia
harus menyerahkan tahta padanya, kalau syarat ini tidak
dipenuhi, maka perempuan hina itu akan dibunuh betul tidak?
Hm, watak orang she Toan yang busuk itu masakah aku tidak
kenal? Jika dipaksa, sekalipun lehernya diancam dengan golok
juga tak mungkin dia mau menyerah. Akan tetapi bila
perempuan yang dia sukai terancam sedikit saja, maka apa
pun dia akan menurut. Hm, apakali perempuan hina-dina itu
sangat cantik? Dengan cara apa siluman itu dapat memikat
manusia she Toan itu? Lekas katakana, siapa perempuan hina-
dina itu?"
“Katakan sih boleh saja, Cuma bibi sendiri hendaknya
jangan marah, sebab perempuan hina-dina itu tidak hanya
seorang saja.”
''Hah, tidak hanya seorang, apakah ada dua orang?'' teriak
Ong-hujin dengan murka sambil mengebrak meja.
Buyung Hok menggeleng-geleng kepala sambil menghela
napas, sahutnya kemudian, "Ya, buhkän tidak cuma dua orang
saja!”
"Hah? Lebih dari dua malah?” teriak Ong-hujin semakin
gusar. "Jadi' dalam perjalanan juga dia main gila dengan
perempuan sebanyak itu, satu tídak cukup, bahkan ada lagi
yang kedüa dan ketiga?”
“Bahkan lebih dari tiga,” sahut Buyung Hok dengan geleng-
geleng kepala. “saat itu seluruhnya ada empat orang
perempuan yang mendampingi dia. Tapi buat apa bibi mesti
marah? Nanti bila dia sudah naik tahta, soal istri muda atau
selir toh sudah jamak baginya. Biarpun kerajaan Taili tidak
sebesar Song atau Lian, dalam istananya andaikan tiada 3000
selir cantik, 300 rasanya tentu ada.”
“Cis! Sebab itulah aku keberatan kalau dia menjadi raja,
tiada seorang raja di dunia ini manusia baik-baik.” teriak Ong-
hujin. “Nah, lekas katakan, siapakah keempat perempuan
yang mendampingi dia itu?”
Toan Ki juga terheran-heran mendengar keterangan
Buyung Hok itu, ia hanya tahu ayahnya didampingi Cin Ang-
bian dan Wi Sing-tiok berdua mengapa mendadak bisa
bertambah dengan dua wanita lain lagi?
Dalam pada itu terdengar Buyung Hok sedang menjawab,
"Keempat perempuan itu seorang she Cin, seorang lagi she Wi
dan . . . "
"Hm, jadi kedua ekor siluman rase itu mengoda dia lagi,"
jengek Ong-hujin.
"Dan seorang lagi adalah wanita yang sudah bersuami,
kudengar mereka menyebutnya sebagai Ciong hujin, agaknya
nyonya itu sedang mencari-cari seorang putrinya,” demikian
tutur Buyung Hok. "Tampaknya Ciong-hujin itu cukup sopan,
sedikitpun dia tidak memberi hati kepada Tin-lam-ong,
sebaliknya Tin-lam-ong juga menghadapinya dengan menurut
aturan."
"Huh, pura-pura, main sandiwara belaka,” jengek Ong-
hujin, "Jika betul sopan, seharusnya dia meninggalkan dia,
kenapa sekarang dia bersáma dia? Lalu siapa lagi perempuan
yang keempat?”
"Yang keempat itu bukanlah wanita hina," ujar Buyung
Hok, "Dia adalah istri kawin sah Tin-lam-ong sendiri."
Serentak Toan Ki dan Ong-hujin sama-sama terkejut. Yang
seorang heran mengapa ibunya mendadak juga datang,
sedang yang lain tidak menduga kalau Tin lam-ong bisa
membawa serta istrinya dalam perjalanan itu?
"Apakah bibi merasa heran?" Tanya Buyung Hok dengan
tertawa. "Padahal kalau bibi mau berpikir secara mendalam,
tentu sedikitpun tidak terasa heran. Maklum, sudah lebih
setahun Tin-lam-ong meninggalkan Taili, sedangkan di
Tionggoan terkenal banyak wanita yang cantik-cantik, ada
wanita secantik bidadari sebagai bibi, ada lagi wanita genit
sebagai Wi Sing-tiok, sudah tentu permaisuri Tin-lam-ong
merasa kuatir dan cepat-cepat menyusul suaminya."
“Cis, masakah kau jajarkan diriku dengan kawanan
perempuan hina-dina itu?" semprot Ong-hujin. "Dan
bagaimana dengan keempat perempuan itu apa sekarang
masih menggerombol menjadi sate?”
"Jangan kuatir bibi,” ujar Buyung Hok dengan tertawa.
"Ketika sampai di Siang líong-tíok, di situlah Tin-lam-ong kalah
habis-habisan, sekaligus mereka kena diciduk oleh Toan Yan-
khing. Seluruhnya, baik lelaki mau pun wanitanya, semua
kena ditutuk dan tertawan. Waktu itu Toan Yan-khing sedang
mencurahkan perhatiannya untuk menghadapi rombongan
Tin-lam-ong sehingga sama sekali tidak mengira kejadian itu
dapat kusaksikan dengan baik. Cepat saja Tit-ji kaburkan
kudaku dan mendahului mereka, kutaksir sedikitnya telah
kutinggalkan mereka sejauh 200 li jauhnya, mungkin dua hari
lagi baru mereka akan sampai di sini. Nah, bibi, urusan tidak
boleh ayal lagi, kita harus lekas mengatur kawanan tawon dan
obat bius itu, berbareng kita mengirim orang pergi memancing
Toan Yan-khing ke sini . . . . “
Belum habis ucapannya, tiba-tiba dari jauh terdengar
kumandang suara seorang yang tajam melengking, "Sudah
sejak tadi aku datang kemari, maka tidak perlu kau pancing
lagi, hanya kawanan tawon dan obat bius itu perlu lekas kalian
mengaturnya."
Dari lengking suara itu dapat ditaksir orangnya tentu masih
beberapa ratus meter jaühnya di sana, tapi bagi pendengaran
Ong-hujin dan Buyung Hok suara itu terasa berada di tepi
telinga mereka. Air muka kedua orang berubah seketika.
Dalam pada itu di luar lantas terdengar suara bentakan Pau
Put-tong dan Hong Pod-oke yang sedang menerjang ke arah
suara tadi.
"Awas. kepandaian orang ini sangat hebat. Jangan
memandang enteng!" serta Buyung Hok sambil memburu
keluar pintu.
Di bawah cahaya bulan tertampak bayangan hijau
berkelebat, menyusul sesosok bayangan kelabu dan sesosok
bayangan kuning telah menerjang maju, Itulah Ting Pek-jwan
dan Kongya Kian yang ikut mengerebut dari kanan dan kiri.
Bayangan hijau itu memang betul adalah Toan Yan-khing,
dengan tongkat kiri menyanggah tanah, segera tongkat kanan
digunakan menutuk Ting Pek-jwan dan Kongya Kian, hanya
dalam sekejap saja ia sudah melancarkan tujuh atau delapan
kali serangan mematikan. Sekuatnya Pek-jwan masih dapat
bertahan, tapi Kongya Kian tidak sanggup melawan sehingga
terdesak mundur beberapa langkah. Dalam jeda itu Pau Put-
tong dan Hong Po-ok yang mendahului menerjang tadi juga
telah putar balik, Toan Yan-khing lantas terkepung di tengah.
Tapi dengan satu lawan empat kelihatan Toan Yan-khing
masih lebih unggul. Buyung Hok tahu orang itu sangat
tangguh, cepat ia berbisik kepada Ong-hujin, "Bibi, tolong
pinjam dulu pedangmu."
Segera Ong hujin melolos pedangnya dan berpesan, "Hati-
hatilah!"
Semangat Buyung Hok terbangkit karena memegang
senjata itu, Ia tahu pedang itu adalah pedang mestika yang
dapat memotong besi bagai memotong sayur. Sekali bergerak,
pedang menyambar, segera ia melompat maju dan menusuk
ke arah Toan Yan-khing.
Yan- khing tak berani mengadu tongkatnya dengan pedang
lawan, tubuhnya menggeser cepat ke sana-sini dan berulang
melancarkan serangan berbahaya. Dia dikeroyok lima, Buyung
Hok adalah tokoh kelas wahid pula, tapi sungguh aneh, sama
sekali ia tidak bertahan atas serangan lawan, sebaliknya
tongkatnya berputar dengan cepat dan selalu mendahului
menyerang malah sehingga terpaksa Buyung Hok harus
menarik kembali senjatanya untuk menangkis dan dengan
sendirinya tak sampai melancatkan serangan balasan lagi.
Ilmu silat Ong-hujin tidak terlalu tinggi, hanya
pengalamannya banyak dan pengetahuannya luas,
pengetahuan ilmu silatnya (secara teori) bahkan lebih tinggi
daripada putrinya, yaitu Giok-yan, Sekarang dilihatnya kungfu
yang digunakan Toan Yan-khing ini adalah kapandaian dari
keluarga Toan dari Taili ia menjadi kuatir dan risau pula
hatinya.
Hendaklah maklum bahwa dahulu waktu Ong-hujin sedang
berpacaran dengan Toan Cing-sun selain mereka telah berjanji
setia, dengan sendirinya mereka pun bertukar pikiran tentang
ilmu silat dan Toan Cing-sun pernah mempertunjukkan it-yang
ci dan kepandaian keluarga Toan yang lain.
Sekarang dilihatnya Ilmu silat keluarga Toan itu dimainkan
oleh Toan Yan-khing secara hebat, gerakannya mirip dengan
kekasihnya dahulu, tidak salah kalau Ong-hujin menjadi risau
terkenang pada masa lalu.
Tiba-tiba teringat olehnya Toan Cing sun telah ditawan
orang ini, mungkin bekas kekasih itu pun berada di sekitar
sini. Sekarang orang jahat itu sedang dikerubut Buyung Hok
dan kawan-kawannya, mengapa kesempatan ini tak
kugunakan untuk menolong Toan-long?
Demikianlah diam-diam Ong-hujin lantas hendak keluar
dan mencari ke sekitar sana. Tapi baru saja melangkah,
sekonyong-konyong terdengar Hong Po-ok menjerit, di tengah
kalangan pertempuran sudah berubah. Hong Po-ok kelihatan
mengeletak di tanah, tongkat kiri Toan Yan-khing selalu
menyambar kian kemari pada badan lawan dalam jarak
belasan senti, tapi serangan yang mematikan tidak lantas
dilancarkan. Sedang Buyung Hok, Ting Pek-jwan dan lain-lain
telah menghujami serangan pada Toan Yan-khing, namun
semuanya kena ditangkis oleh tongkat kanan Yan-khing.
Keadaan begitu jelas menunjukkan bahwa Toan Yan Khing
sebenarnya dapat mencabut nyawa Hong Po-ok dengan
gampang, Cuma saja untuk sementara dia belum mau turun
tangan jahat.
Rupanya lantaran itu Buyung Hok mendadak melompat
mundur dan berteriak, “Berhenti dulu!”
Maka cepat Ting Pak-jwan, kongya Kian dan PAu Put-tong
juga lantas melompat mundur.
“Terima kasih atas kemurahan hatimu, Toan Siangsing,”
kata Buyung Hok. "Memangnya kita tiada permusuhan apa-
apa, sejak kini orang Buyung dari Koh-soh mengaku kalah
padamu.”
Belum lagi Yan-khing menjawab, sekonyong-konyong Hong
Po-ok berteriak, “Kongcuya, orang she Hong tidak becus, apa
artinya selembar jiwaku ini, hendaklah Kongcuya jangan
sekali-kali mengaku kalah hanya lantaran diriku!"
Yan-khing tertawa, kerongkongannya mengeluarkan suara
“Krok-krok” bagai ayam keselek, katanya, "Orang she Hong
sungguh seorang ksatria tulen.”
Berbareng ia tarik kembali tongkatnya yang mengancam di
atas badan Hong Po-ok yang masìh menggeletak di tanah itu.
Mendadak Po-ok melompat bangun, sinar golok
berkelebat, kontan ia membacok pula ke atas kepala Toan
Yan-khing sambil berteriak, “Rasakan pula golokku ini!''
Ketika Toan Yan-khing mengangkat tongkatnya ke atas,
seketika Po-ok merasa tangannya seperti tergetar oleh
sesuatu tenaga maha dahsyat dan tak tertahan lagi. goloknya
terlepas dari cekalan menyusul pinggangnya, juga kesakitan,
tiba-tiba tongkat lawan sudah menyabet pinggangnya, kontan
tubuhnya terlempar.
"Kungfu Toan-sìansing sungguh maha sakti, sungguh aku
sangat kagum." demikian kata Buyung Hok. "Marilah dari
lawan kita menjadi kawan, bagaimana kalau aku mengikat
persahabatan dengan Toan-siansing?"
"Baru saja kamu sedang bicara tentang mengatur kawanan
tawon dan hendak membikin celaka padaku, sekarang kalian
tak sanggup melawan aku, lantas kamu hendak main tipu
muslihat apa?" jawab Toan Yan-khing.
“Soalnya bila kita berdua bergabung akan berguna, kalau
bermusuhan tentu akan sama-sama celaka,” ujar Buyung Hok.
"Yan-khing Thaicu, engkau adalah ahliwaris yang sebenarnya
dari kerajaan Taili. tahtamu telah dirampas orang, mengapa
engkau tidak mencari akal untuk merebutnya kembali?”
"Itu adalah urusanku sendiri, apa sangkut pautnya
denganmu?" sahut Yan-khing dengan melirik hina.
"Jika engkau ingin naik tahta untuk menjadi raja Taili,
engkau perlu mendapat bantuanku." ujar Buyung Hok.
"Huh, aku justru tidak percaya kamu akan membantu
diriku. Bisa jadi kau ingin sekali tebas membinasakan aku."
"Tidak, aku ingin membantumu menduduki kembali
tahtamu adalah karena kepentinganku pula," ujar Buyung
Hok. "Pertama, aku sangat benci pada bocah bernama Toan Ki
itu, dia telah membikin malu padaku di Siau-sit-san sehingga
hampir aku bunuh diri, nama keluarga Buyung kami telah
dijatuhkan olehnya, sebab itulah aku ingin membantumu
merebut kembali tahtamu sekedar melampiaskan dendamku
padanya. Kedua, sesudah engkau menjadi raja Taili, aku pun
ada urusan lain yang mengharapkan bantuanmu!"
Walaupun Toan Yan-khing tahu Buyung Hok sangat licin
dan banyak akal, tentu tiada maksud baik terhadapnya. Tapi
demi mendengar uraian Buyung Hok itu, mau-tak-mau ia
menjadi tertarik. Ketika di Siau-sit san tempo hari Yan-khing
sendiri menyaksikan Buyung Hok dikalahkan Toan Ki dan
hampir-hampir saja membunuh diri. Bila teringat kepada
kelihaian Toan Ki itu diam-diam ia pun merasa bukan
tandingan Lak-meh-sin-kiam yang dimiliki Toan Ki itu.
walaupun sekarang Toan Cing-sun sudah tertawan olehnya,
tapi ia pun tidak yakin semua itu akan dapat digertak dengan
ancaman atas jiwa ayahnya.
Karena itulah ia lantas bertanya, "Tapi kamu kan tak dapat
melawan si Toan Ki, lantas dengan cara bägaimana kamu
dapat mengatasi dia?"
Maka buyung Hok menjadi merah jengah, sahutnya
kemudian. “Kalau tak bisa melawan dengan kekerasan harus
dihadapi dengan akal. Pendek kata soal Toan Ki itu akulah
yang bertanggung Jawab untuk menangkapnya dan
diserahkan kepadamu dan boleh ditindak sehendakmu."
Yan-khing menjadi girang. Memang yang masih dikuatirkan
olehnya adalah kepandaian Toan Ki yang sakti itu, kalau
sekarang Buyung Hok menyatakan sanggup menangkapnya,
hal ini berarti akan berkurang suatu ancaman baginya. Tapi
segera terpikir olehnya jangan-Jangan Buyung Hok cuma
omong besar saja dan sengaja hendak menipunya, untuk ini
perlu waspada, Maka katanya pula, "Kamu menyatakan
sanggup menangkap Toan Ki, siapa tahu kamu tidak omong
kosong belaka, yang penting harus buktikan lebih dulu."
Buyung Hok tersenyum, sahutnya, "Ong-hujin ini adalah
bibiku, saat ini si bocah Toan Ki sudah tertawan oleh bibi,
maka belíau justru lägi merencanakan untuk menukar bocah
itu dengan orang tawananmu. Inilah sebenarnya maksud
tujuan kami hendak memancing kedatanganmu ke sini.”
Dalam pada itu Ong-hujin telah menyingkir belasan meter
dari tempat bicara kedua orang itu, Ía sedang celingukan kian
kemari untuk mencari Toan Cing Sun. Ketika lamat-lamat
mendengar pembicaraan Buyung Hok itu, cepat ia putar balik.
Segera Toan Yan-Khing membungkuk tubuh sebagai
hormat, katanya dengan suara dalam kerongkongan,
"Terimalah hormatku ini. Entah siapakah gerangan yang Ong-
hujin ingin tukar?"
Air muka Ong-hujin menjadi merah. Siang malam yang
selalu terkenang olehnya adalah Toan Cing-sun seorang, tapi
sebagai seorang janda sudah tentu tidak pantas dia
mengutarakan perasaannya itu kepada orang luar. Sebab
itulah ia menjadi gelagapan dan tak bisa menjawab.
"Toan Cing sun, ayah si bocah Toan Ki itu dahulu pernah
menyakiti hati bibiku, permusuhan mereka boleh dikatakan
sedalam lautan,“ tutur Buyung Hok. "Sebab itulah bibi ingin
janjimu, kelak bila sudah kau terima kembali tahta kerajaan
taili, segera harus kau serahkan Toan Cing-sun itu kepada
bibi, dan untuk selanjutnya apakah Toan Cing-sun itu akan
dibunuh atau dibakar biar terserah pada bibi."
Toan Yan-khing mengakak-tawa, pikirnya, "Sesudah Toan
Cing-sun menyerahkan tahta padaku, memangnya segera
akan kuhukum mati dia, jika kau mau mewakilkan aku
membinasakan dia, sudah tentu kebetulan bagiku."
Tapi ia pun cukup cerdik, ia merasa urusan ini jadinya
terlalu mudah, jangän-jangan di dalamnya tersembünyi tipu
muslihat lain. Segera ia tanya pula, "Buyung-kongcu, kau
biläng akan minta bantuanku bila aku sudah naik tahta, Untuk
itu aku sendiri tidak tahu apakah mampu membantu atau
tidak,maka lebih baik sekarang juga kita bicara di muka
supaya kelak tidak menyesal jika aku tak dapat memberi
bantuan."
Buyung Hok tertawa, sahutnya, "Dengan ucapan Toan-
siansing ini, sekarang aku menjadi lebih percaya lagi padamu.
Karena kita harus tetapkan jual-beli ini. maka urutan pribadi
ini jadi tidak perlu kututupi lagi. Harap maklum bahwa
keluarga Buyung kami adalah keturunan raja Yan masa
dahulu, turun temurun leluhur kami telah meninggalkan pesan
agar berusaha memulihkan kembali kerajaan Yan yang Jaya.
Tapi kekuatanku sendiri terlalu lemah dan susah
mengsukseskan pesan leluhur itu. Maka bila nanti Pangeran
sudah naik tahta menjadi raja Taili, ingin kumohon bantuan
kerajaan Taìli sebagai modal pembangunan kembali kerajaan
Yan."
Bahwasanya Buyung Hok adalah keturunan raja Yan, hal
ini dìam-diam sudah menimbulkan curiga Toan Yan-khing
ketika menyaksikan Buyung Bok mencegah Buyung Hok bunuh
diri di Siau-sit-san tempo harì. Sekarang rahasia besar
pribadinya diceritakan sendiri pula oleh Buyung Hok, hal ini
menandakan maksud tujuannya benar-benar sangat tulus.
Maka pikir Yan khing, "Dia ingin membangun kembali kerajaan
Yan, untuk itu dia tentu sekaligus akan bermusuhan dengan
kerajaan Song dan Liau yang besar, padahal kerajaan Taili
kami sangat kecil dan lemah, untuk menjaga diri saja tidak
kuat, apalagi memusuhi negara-negara besar tersebut. Pula
aku belum mendapat dukungan rakyat seluruhnya bila naik
tahta, mana boleh aku menjangkitkan peperangan pula. Ya,
biarlah sekarang aku pura-pura menyanggupi dia, kelak jika
ada kesempatan yang baik akan kubunuhnya saja."
Dengan pikiran demikian, lalu sahutnya, "Negeri Taili
sangat kecil dan miskin, bantuan yang dapat diberikan rasanya
tidaklah seberapa. Semoga kelak usahamu akan berhasil dan
kerajaan Taili dan kerajaan Yan akan selalu terikat menjadi
negeri saudara atau negara keluarga.”
Segera Buyung Hok memberi sambah hormat. "Jika
Buyung HoK dapat membangun kembali kerajaan leluhur,
maka turun temurun kerajaan Yan akan menjadi negeri di
bawah perlindungan kerajaan Taili dan sekali-kali takkan lupa
kepada budi kebaikan Sri Baginda."
Girang Toan Yan-khing tak terkatakan mendengar dirinya
disebut sebagai "Sri Baginda", Apalagi nada Buyung Hok itu
diucapkan dengan penuh haru dan terima kasih, cepat ia
membangunkan dan berkata, "Buyung-kongcu tidak perlu
banyak adat. Sekarang si bocah Toan Ki itu entah berada di
mana?"
"Dan di mana Toan Cing-sun itu?” demikian Ong-hujin
menyela sebelum Buyung Hok menjawab.
"Harap Sri Baginda sudi mengaso dulu di tempat kediaman
bibi tentang Toan Ki itu dengan segera tentu akan
diserahkan," ujar Buyung Hok.
“Baiklah jika begitu," kata Yan khing dan mendadak dari
perutnya mengeluarkan suara suitan tajam melengking.
Ong-hujin sampai kaget. Tapi lantas terdengar dari jauh
ada suara derapan kuda lari dan gemertak roda yang riuh,
satu iring-iringan kereta-kereta keledai sedang mendatangi.
Sejenak kemudian dapatlah terlihat dengan jelas iring-iringan
itu terdiri dua penunggang kuda yang mengawal dua kereta
keledai besar.
Sesudah dekat, dengan serta-marta Ong-hujin memburu
maju, ia menyelinap lewat di sebelah kedua penunggang kuda
itu dan segera hendak menyingkap tirai kereta untuk
memeriksa isi kereta itu.
Tapi mendadak di depannya mengadang seorang yang
bermulut besar dan bermata kecil, kupingnya lebar kepala
gundul. Orang aneh ini membentak, "Kau mau apa?”
Ong-hujin terkejut dan cepat melompat mundur. Baru
sekarang dia dapat melihat jelas si muka buruk itu berpaju
pendek warna kuning tua, tangan memegang cambuk,
agaknya dia si kusir kereta.
Tiba-tiba Yan-khing berseru, “Samte, ini Ong-hujin, mari
kita mengaso dulu di tempat kediamannya, para tamu dalam
kereta itu pun dibawa sekalian!”
Kiranya kusir itu adalah Lam-hai-gok-sin.
Waktu tirai kereta terbuka, maka turunlah seorang
penumpang dengan langkah sempoyongan. Seketika perasaan
Ong-hujin menjadi pedih, air mata berlinang-linang. Ia lihat
penumpang kereta yang turun itu bermuka pucat, rambut di
kedua pelipisnya agak ubanan, siapa lagi dia kalau bukan
Toan Cíng-sun, kekasih yang dirindukannya siang dan malam
selama ini?
Watak Ong-hujin memang tidak sabaran, sebenarnya ia
tak bisa menunggu lagi dan segera memburu maju dan
menyapa. "Toan . . Toan . . . baik-baikkah kau?”
Ketika mendengar suaranya. Toan Cing-sun terkejut,
waktu dia menoleh dan melihat Ong-hujin serentak air
mukanya berubah pucat.
Kiranya Toan Cing-sun adalah orang berdosa, di mana-
mana ia banyak utang asmara karena kelakuannya yang
bangor itu. Dan di antara "kreditor" sebanyak itu hanya Ong-
hujin yang paling dia takuti. Kalau Cin Ang-bian, Wi Sing-tiok
dan lain-lain paling-paling cuma aleman saja dan minta selalu
didampingi Cing-sun, dan puaslah sudah. Tetapi Ong hujin ini
justru selalu mendesak Cing-sun membunuh istrinya yang sah
untuk kemudian mengawini dia. Sudah tentu permintaan
demikian tak mungkin dilakukan oleh Cing-sun.
Dengan sendírinya percekcokan itu lantas meruncing,
terpaksa Cing-sun ambil langkah seribu alias kabur tanpa
pamit. Sungguh tak terduga olehnya bahwa dalam keadaan
runyam menjadi tawanan seperti sekarang ini justru kepergok
lagi dengan bekas kekasih yang disegani ítu.
Walaupun Cing-sun suka main cinta dan tidak murni
mencintai setiap kekasihnya, tapi selalu ia menghadapi setiap
kekasíh itu dengan hati tulüs. Maka begitu melihat Ong-hujin,
sekilas ia terperanjat dan segera ia pun memikirkan dulu
kepentingan Ong-hujin, cepat ia berseru, "A Mong, lekas lari,
tua bangka berjubah hijaü adalah seorang maha durjana,
jangan sampai kaupun tertangkap olehnya!”
Sebareng itu ia terus mengadang di tengah antara Ong-
hujin dan Toan Yan-khing sambil mendesak lagi, "Lekas lari,
lekas A Mong!"
Padahal Cing sun sendiri sudah tertutuk oleh Toan Yan-
khing, untuk berjalan saja sukar, dari mana dia mampu
membela keselamatan Ong Hujin.
Namun sekali ia memanggil “A Mong”, yaitu nama kecil
Ong-Hujin, hal ini menandakan betapa perhatiaanya kepada
bekas kekasih itu dan nadanya juga benar-benar timbul dari
hatinya yang tulus, maka buyarlah seketika rasa dendam dan
benci yang dikandung Ong hujin tadi, hanya saja di hadapán
Toan Yan khing dan Buyung Hok betapapun ia tidak enak
memperlihatkan perasaannya, maka ia hanya mendengus saja
dan menjawab, "Huh, keselamatamu sendiri tak terjamin,
tidak perlu gubris utusan orang lain. Dia maha durjana,
memangnya kausendiri maha budiman?"
Habis ini ia lantas berpaling kepada Yan-khing dan berkata,
“Silakan masuk ke dalam rumah, Pangeran!”
Melihat sikap Cing-sun terhadap Ong-hüjin, diam-diam
Yan-khing menduga musuh itu pasti lebih besar cinta daripada
bencinya terhadap nyonya itu. sebaliknya biarpun Ong-hujin
ade sesuatu dendam terhadap Cing-sun rasanya juga lebih
banyak cintanya daripada rasa permusuhannya. Pikirnya,
"Terang hubungan kedua orang ini sangat luar biasa. sekali-
kali aku tak boleh masuk perangkap mereka."
Tapi dasar kepandaiannya tinggi dan nyalinya besar,
walaupun dalam hati merasa was-was, namun sedikit pun ia
tidak gentar, dengan angkuh ia lantas masuk ke dalam rumah.
Tempat itu adalah suatu perkampungan yang segaja diatur
oleh Ong-hujin untuk menawan Toan Cing-sun, dalam
pekarangan rumah penuh tertanam bunga kamelia, di bawah
sinar bulan remang-remang tertampak keadaan di situ terawat
sangat bersih dan indah.
Melihat cara mengatur tanaman bunga Kamelia itu tiada
ubahnya seperti taman bunga di Koh-soh, di sana Cing-sun
dan Ong-hujin pernah tenggelam di tengah lautan madu
asmara, seketika perasaan Cing-sun menjadi pedih, katanya
dengan suara perlahan. "Kiranya di . . . di sini adalah tempat
kediamanmu?"
"Hm, jadi kamu masih ingat?" Jengek Ong-hujin.
"Sudah tentu masih," sahut Cing-sun dengan lirih.
Begitulah beramai-ramai semua orang lantas ikut masuk ke
dalam rumah. Lam-hai-gok-sin juga telah menurunkan semua
tawanan yang berada dalam kereta keledai tadi. Pada suatu
kereta itu berisi Su Pek-hong, yaitu istri kawin sah Toan Cing-
sun, lalu Ciong-hüjin. Cin Ang-bian dan Wi Sing-tiok berempat.
Kereta lain berisi Hoan Hwa, siáu Tiok sing dan Tang Su-kui
bertiga menteri setia kerajaan Taili.
Rupanya mereka kena ditutuk dengan tenaga berat oleh
Toan Yan-khing, maka sama sekali tak bias membangkang
diseret dan digusur oleh Lam-hai-gok-sin serta In Tiong-ho,
paling-paling mereka cuma dapat mencaci-maki saja. Sedang
kusir kereta tetap tinggal di luar rumah dan merawat keledai
mereka.
Tempo hari, setelah Toan Cing-sun mengirim Pak Thian-sik
dan Cu Tan-sin mengiringi Toan Ki pergi ke Se He untuk
mengikuti sayembara perebutan menantu raja Se He, tidak
lama kemudian ia lantas mendapati pesan Po-ting-to, yaitu
kakak bagindanya dari Taili yang memerintahkan dia lekas
pulang ke taili untuk menggantikan tahtanya, Po-ting to
sendiri sudah ambil keputusan akan menjadi hwesio di thing-
liong-si.
Kerajaan Taili adalah penganut agama Budha, maka raja
Taili pada masa terakhir selamanya meninggalkan tahta untuk
menjadi hwesio. Sebab itulah ketika Cing-sun menerima
kiriman kakak bagindanya itu, walaupun merasa berat, tapi
juga tidak heran akan pilihan kakak bagindanya itu. Maka
bergegas-gegas ia lantas pulang ke Taili dengan membawa
serta Ciu Ang-bian dan Wi Sing tiok.
Di tengah jalan mereka mendapat berita dari para wanita
Ling-ciu-kiong yang memperingatkan bahwa di sepanjang
jalan mereka harus hati-hati menghadapi berbagai perangkap
yang telah dipasang oleh musuhnya yang lihai.
Cing-sun coba bertukar pikiran dengan Hoan Hwa dan lain-
lain, mereka sependapat bahwa apa yang dikatakan "musuh
lihai" itu tentu bukan lain daripada Toan Yan-khing. Musuh ini
memang sukar untuk dihadapi, jalan paling baik adalah
menghindari saja.
Sebab itulah mereka ganti arah dan berputar ke timur dulu
untuk kemudian baru membelok ke selatan. Ia tídak tahu
bahwa berita itu diperoleh A Pik dari pelayan-pelayan Ong-
hujin sehingga yang diketahuí A Pik kurang lengkap.
Perangkap memang beñar ada, tapi sebenarnya tiada maksud
Ong-hujin hendak membikin celaka Cing-sun.
Dan karena pergantían arah perjalanan Cing-sun itu maka
segala apa yang telah direncanakan Ong-hujin itu menjadi
meleset dan menimpa diri Toan Ki. Sebaliknya Cing-sun jadi
kepergok dan ditawan oleh Toan Yan-khíng. Dalam
pertarungan di pesisir Koa-im-lan, rombongan Cing-sun kalah
habis-habisan, Hoa Hek-liang kena dihantam Lam-hai-gok-sin
hingga kecemplung ke laut, yang lain juga tertutuk dan
tertawan oleh Toan Yan-khing.
Begitulah Buyung Hok lantas menyuruh Ting Pek-jwan dan
kawan-kawannya mangawas-awasi di luar rumäh, ia sendiri
berlagak sebagai tuan rumah untuk mengatur ini dan itu guna
melâyani tetamu.
Ong-hujin sendiri sedang memperhatikan Su Pek-hong, Cin
Ang-bian, Ciong-hujin dan Wi Sing-tiok berempat. Ia merasa
setiap wanita itu mempunyai kegenitan dan kecantikan
masing-masing, walaupun Ong-hujîn merasa dirînya tidak
kalah daripada wanita-wanita saingannya itu, tapi dasarnya
memang tinggi hati, maka ia enggan disama-ratakan dengan
mereka yang dianggapnya perempuan hina.
Di sebelah sana demi mengingat ayah-ibunya datang
semua, tapi tertawan oleh musuh, maka di samping merasa
girang Toan Ki juga kuatir pula.
Dalam pada itu terdengar Toan Yan-khing sedang berkata,
“Ong hujin, setelah urusanku selesai dengan sendirinya Toan
Cing-sun akan kuserahkan padamu dan masa-bodoh apa yang
hendak kau perbuat atas dirinya. Sekarang di manakah si
bocah Toan Ki itu?”
Ong-hujin tidak menjawab, ia hanya bertepuk tangan tiga
kali, dua pelayan wanita lantas muncul dan menunggu
perintah dengan hormat.
"Bawa si bocah she Toan itu ke sini?” seru Ong hujin.
Yan-khing duduk di kursi dengan tangan kiri menahan
pundak kanan Toan Cing-sun. Maklum, ia sangat jeri terhadap
Lek-meh-sín-kiam milik Toan Ki, apalagi ia meragukan
persengkongkolan Ong hujin dan Buyung Hok jika Toan Ki
mendadak dibebaskan dan menyerang padanya, tentu urusan
bisa runyam, maka ia sengaja mengancam Toan Cing-sua
agar Toan Ki tidak berani sembarangan bertindak.
Tidak lama kemudian, terdengar suara tindakan orang
banyak, empat pelayan muncul dengan menggotong musuh
Toan Ki.
Kaki dan tangan Toan Ki terikat oleh tali kulit kerbau,
mulutnya tersumbat matanya tertutup pula oleh kain hitam,
maka orang lain sukar mengetahui apakah pemuda itu masih
hidup atau sudah mati.
"Anak Ki!" teriak Su Pok-hong dan segera hendak
menubruk maju.
Tapi Ong-hujin mendorongnya sambil membentak, "Jangan
bergerak! Duduklah di tempatmu.”
Karena nyonya Toan Cing-sun itu tertutuk dan sedang
kehilangan tenaganya, maka dorongan itu membuatnya jatuh
kembali di atas kursinya dan tak bias berkutik lagi.
“Bocah ini telah minum obat bius yang kuberikan, mati sih
belum, tapi untuk sementara waktu jelas pikirannya belum
sadar kembali," demikian tutur Ong-hujin. "Nah, Yan-khing
Thaicu, jika perlu boleh kau periksa yang betul, aku kan tidak
salah tangkap orang?"
Yan-khing mengangguk-angguk, sahutnya, "Ya memang
tidak salah."
Rupanya Ong-hujin terlalu yakin pada kekuatan obat
sengatan tawon piaraannya, ia tidak tahu bahwa dalam tubuh
Toan Ki telah penuh tenaga sakti Cu-hap-sin-kang yang
ampuh, anak muda itu hanya kehilangan ingatan sebentar
saja dan sejenak kemudian pikiran sehatnya lantas pulih
kembali, soalnya kaki tangan Toan Ki teringkus sehingga
keadaannya mirip orang yang masih belum sadar kembali.
"A Mong, mengapa kau tangkap anak Ki. Dia kan tidak
bersalah padamu?" demikian Cing-sun menegur dengan
tersenyum getir.
Ong-hujin hanya mendengus saja dan tidak menjawab. Ia
tidak mau unjuk perasaan rindunya kepada Toan Cing-sun di
depan orang banyak, tapi ia pun tidak tega mendampratnya
dengan kata-kata keji.
Buyung Hok sangat cerdik, ia kuatir sang bibi terpengaruh
oleh rindu-dendamnya sehingga menggagalkan rencana
usahanya, maka cepat ia menyela, “Mengapa bilang dia tidak
bersalah terhadap bibiku? Dia . . . dia telah memelet Piau-
moaiku yang bernama Giok-yan dan mencemarkan
kesuciannya. Nah, bibi, orang macam begini mati pun tidak
cukup untuk menebus dosanya, buat apa mesti menunggu lagi
...."
Belum habis ucapannya mendadak Cing-sun dan Ong-hujin
menjerit bersama, "Apa katamu? Dia . . . dia . . . . "
Air muka Cing-sun tampak pucat pasi, ia berpaling pada
Ong-hujin dan bertanya dengan suara lirih, "Apakah anak
perempuan . . . dan diberi nama Giok-yan?”
Perangai Ong-hujin mestinya sangat keras, sejak tadi ia
bersabar sedapatnya, tapi sekarang ia benar-benar tidak tahan
lagi, ia menjerit dan menangis, "Semuanya gara-garamu lelaki
yang tidak punya perasaan, engkau telah membikin susah
diriku, bahkan sekarang membikin celaka putri darah-
dagingmu sendiri Giok-yan, dia adalah putrimu sendiri."
Habis ítu, mendadak ia putar ke samping terüs menendang
Toan Ki secara serabutan sambil memaki, “Kamu ini setan
perusak wanita yang melebihi binatang, bajingan tengik yang
tak punya perásaan sampaì-sampai adik perempuanmu sendiri
juga kau rusak, sungguh aku . . . aku ingin mencencang
binatang cilik ini."
Dan karena jerit tangis dan makiannya, semua orang yang
berada di situ sama tercengang. Su Pek-hiong, Cia Ang-bian
dan lain-lain kenal watak Toan Cing-sun, maka dengan segera
mereka tahu persoalannya, tentu dulu Cing-sun main gila
dengan Ong-hujin dan hasilnya melahirkan seorang putri
diberi nama Giok yan.
Begitu pula Toan Yan-khing, Buyung Hok dan yang lain-
lain, sedikit pikir saja segera mereka pun dapat memahami
duduknya perkara. Hanya Lam-hai-gok-sin saja yang
melongok heran, Yang terang baginya adalah orang yang
menggeletak di tanah itu adalah Suhunya, maka cepat ia
mendorong pergi Ong-hujin yang masih mencaci-maki dan
menendang Toan Ki itu sambil membentak, “He, día ini
guruku, kau berani menendang guruku itu berarti seakan-akan
menendang aku pula. Kau memaki guruku sebagai binatang
dan bajingan, bukankah aku ikut-ikut menjadi binatang dan
bajingan? Kamu perempuan bawel ini apa minta kukorek
hatimu untuk kumakan?”
"Gak-losam, jangan kurangajar terhadap Ong-hujin!" cepat
Yan-khing mencegahnya, "Bocah she Toan ini adalah manusia
yang tidak tahu malu, dengan kata-kata manis lidahnya yang
tidak bertulang itu dia menipumu untuk menyebutnya sebagai
Suhu, maka sekarang kebetulan kau dapat membinasakan día
agar kelak kamu tidak dibikin malu lagi di depan orang
kangouw.”
“Tidak,” jawab Lam-hai-gok-sin dengan geleng kepala.
“Dia adalah guruku, hal ini jelas barang tulen dan harga pas,
dia tidak menipu aku, mana boleh kubinasakan guruku
sendiri?”
Sembari berkata ia terus hendak melepaskan tali kulit yang
meringkus Toan Ki itu.
"Gak-losam," seru Yan-khing pula, "dengarkan nasehatku,
jangan sekali-kali menuruti keinginanmu sendiri, lebih baik
keluarkan gunting congor buayamu itu dan gunting saja buah
kepala bocah she Toan ini."
"Tidak, Lotoa! Hari ini Gak loji tak mau menurut
nasehatmu lagi, aku harus menyelamatkan guruku?" sahut
Gak-sin sembari membetot tali kulit sehingga tali yang
mengikat tangan Toan Ki itu terbetot putus seketika.
Karuan Yan-khing kaget. Ia pikir kalau Toan Ki sampai
terlepas dan sekali pemuda itu mengeluarkan Lak-meh-sin-
kiam, maka pasti tiada seorang pun sanggup melawannya,
jangankan segala rencana dan usaha akan gagal total bahkan
jiwa sendiri pun akan terancam.
Dalam kuatirnya tanpa pikir lagi tongkatnya terus
menyodok ke depan dengan cepat, yang diarah adalah
punggung Lam-hai-gok-sin, di mana tongkatnya tiba kontan
tubuh Lam hai-gok-sin tertembus.
Ketika mendadak merasa punggung dan dadanya
kesakitan tahu-tahu Lam-hai-gok-sin melihat, ujung sebàtàng
tongkat baja sudah sudah menongol didepan dadánya. Sesaat
d¡a menjadi bingung ia menoleh dan memandang Toan Yan-
khing dengan sorot mata penuh tanda tanya, ia tídak paham
mengapa Toan-lotoa mendadak bisa turun tangan keji
padanya.
Dasar watak Toan Yan-khing memang maha jáhat dan
buas, dia adalah kepala "Su-tai-ok-jin" atau singkatnya "Su-
ok” dengan sendirinya dia adalah manusia yang paling ganas,
sekali sudah menyerang tentu tidak kenal ampun lagi. Pula día
sudah terlalu jeri terhadap Lak-meh-sin-kiam kemahiran Toan
Ki itu, ia kuatir sekali bila pemuda itu sampai dilepaskan Lam
hai-gok-sin, itu berarti maut baginya. Sebab itülah walaupun
sebenarnya tiada maksudnya hendàk membunuh begundalnya
sendiri, tapi sekali tongkatnya menyodok toh tetap mengenai
tubuh Lam-hai-gok-sin sehingga tembus.
Melihat sorot mata Gok-sin yang heran dan cemas itu,
dalam lubuk hati Toan Yan-khing juga terkilas rasa menyesal.
Namun perasaan itu hanya timbul sekilas saja dan lantas
hilang, segera ia tarik kembali tongkatnya untuk menyusul
dipakai menyepak tubuh Gok-sin sambil membentak, "In-losi,
tanamlah mayatnya. Inilah contohnya bila tidak mau tunduk
pada kata-kata Lotoa!"
Lam-hai-gok-sin hanya sempat menjerit sekali, lalu
terguling di tanah, dari lubang dada dan punggungnya lantas
menyembur keluar darah segar bagai mata air, kedua
matanya tampak masih mendelik penasaran.
Segera In Tiong menyeret keluar jenazah Gok-sin itu.
Meskl dia dan Gok sin sama-sama anggota "Su-ok", tapi
biasanya kedua orang tidak akur, pernah beberapa kali Gak-
sin merintangi perbuatannya yang jahat, karena ilmu silatnya
kalah tangguh, terpaksa ia mengalah. Sekarang dilihatnya
Gak-sin telah dibunuh oleh Lotoa, sudah tentu ia merasa
senang, dengan hilangnya seteru itu kelak ia dapat berbuat
apa pun tanpa rintangan lagi.
Semua orang pun tahu Lam-hai-gok-sin adalah begundal
Toan Yan-khing yang paling karib, tapi sedikit tidak cocok
segera nyawanya dicabut, betapa kejamnya sungguh tiada
taranya. Keruan semua orang ikut kebat-kebit menyaksikan
adegan mengerikan itu.
Sebalíknya Yan-Khing lantas berkata dengan tertawa
dingin, "Siapa yang menurut padaku akan hidup dan siapa
melawan aku pasti mati!”
Habis itu tongkatnya diangkat pula terus menikam dada
Toan Ki yang menggeletak di atas tanah itu.
Tapi tiba-tiba terdengar suara seorang wanita berkata, "Di
luar Thian-liong-si, di bawah pohon Bodi, si pengemis kuntet,
si Kion-Im (Budhasatwa) rambut panjang!”
Ketika mendengar kata-kata "di luar Thian-liong-si",
tongkat baja yang sudah terangkat ke atas itu lantas terhenti
di udara dan tidak jadi ditikamkan. Dan sesudah habis
mendengar ucapan itu seluruhnya, tahu-tahu tongkat Toan
Yan-khing bergemetar dan akhírnya diluruskan kembali
dengan pelahan.
Waktu menoleh, bertemulah pandangannya dengan Su
Pek-hong, nyonya Toan Cing-sun. Ia lihat sinar mata si nyonya
seakan-akan penuh kata-kata yang ingin diutarakan padanya.
Seketika hati Yan-khing tergetar, katanya dengan suara
gemetar, "Budha Koan . . . . Koan-im . . . ."
Tertampak nyonya Toan mengangguk-angguk dan
menjawab dengan suara lirih. "Apa . . . apakah kau tahu siapa
anak ini?"
Sedetik itu, pikiran Toan Yan-khing menjadi pusing,
pandangannya merasa kabur, pikirannya kembali kepada masa
20 tahun yang lalu, pada suatu malam bulan purnama . . . .
Pada hari itu akhirnya ia dapat pulang sampai di Taili
dengan susah payah dan tiba di luar Thian-liong-si. Dalam
perjalanan itu di sekitar Ohlam dan kuitang ia kepergok dan
dikerubuti musuh tangguh, walaupun berakhir dengan
kemenangan, semua musuh dapat ditumpasnya, tapi ia sendiri
pun menderita luka parah, kedua kakinya buntung, mukanya
rusak, bahkan tenggorokannya terbacok dan hampir putus
sehingga tak bisa bersuara lagi.
Dalam keadaan terluka sedemikian hebatnya ia tidak mirip
manusia lagi, seluruh tubuhnya kotor dengan luka yang belum
sembuh dan berbau busuk, di mana dia datang, disitu dia
dirubung lalat. Tapi dia adalah putra mahkota kerajaan Taili.
Ayahnya terbunuh dalam pemberontakan dorna, dia berhasil
melarikan diri dalam keadaan kacau-balau itu, akhirnya ia
pulang kembali sesudah mahir ilmu silat.
Ia tahu raja Taili yang sekarang. Toan Cing-bing, adalah
saudara sepupunya, tapi yang berhak menjadí raja sebenarnya
adalah dia sendiri dan bukan Toan Cing-bing. Ia tahu Toan
Cing-bing sangat bijaksana dan cinta rakyat, makanya
mendapat dukungan luas di kalangan masyarakat,
kedudükannya yang sudah belasan tahun itu sangat kokoh
dan tak tergoyahkan. Semua pembesar, baik sipil maupun
militer juga mendukung sepenuhnya kepada raja yang
sekarang sehingga tiada seoràng pun yang mau pikirkan lagi
putra mahkota yang telah hilang itu.
Dalam keadaan begitú kalau dia unjuk diri begitu saja di
kota Taili tentu akan membahayakan keselamatannya, sebab
setiap pembesar tentu akan mengambil hati sang baginda,
asal raja senang, tentu dia akan dibunuhnya untuk
memperoleh pujian sang raja.
Sebenarnya dia tidak perlu takut karena ilmu silatnya
cükup tinggi, tapi sekarang ia terluka parah, untuk melawan
seorang prajurit biasa saja tidak sanggup.
Begitulah ia merangkak dan menggeremet, akhirnya ia
dapat tampak di luar Thian-liong-si. Harapan satu-satunya
baginya adalah ingin mínta keadilan pada Koh-eng Taisu.
Kog-eng Taisu adalah saudara sekandung ayah
bagindanya, jadi terbilang pamannya yang terdekat. Koh-eng
juga terhitung paman Toan Cing-bing. Koh-eng adalah
seorang padri saleh, sedang Thian liong-si adalah suatu
tempat perlindungan bagi dinasti kerajaan Taili, berbagai raja
Taíli bila turun tahta dan menyepi menjadi padri, yang dituju
tentu adalah Thian-liong-si. Karena tidak berani
memperlihatkan dirinya di kota Taili, Maka Yan-khing ingin
menemui Koh-eng dahulu.
Akan tetapi padri penyambut tamu di Thian-liong-si
memberitahükan padanya bahwa Koh-eng Taisu sédang
menyepi, sedang bersemedi dan berpuasa, dan tidak diketahui
bilakah selesainya. Padri itu tanya Toan Yan-khing ada urusan
apa dan boleh meninggalkan pesan saja agar nanti dilaporkan
kepada Koh-eng.
Terhadap manusia yang tidak mirip manüsia dan setan
tidak memper setan sebagai Toan Yan-khing tatkala itu, sikap
si padri penyambut tamu itu boleh dikata sudah cukup ramah-
tamah. Sudah tentu Toan Yan-khing tidak berani
memperkenalkan dirinya, ia memberi jawaban dengan samar-
samar dan lantas mohon diri. Ia merangkak kebawah pohon
bodi yang berada tidak jauh di samping Thian-liong-si dan
duduk di situ untuk menunggu selesainya Koh-eng berpuasa.
Sekarang dia adalah manusia penyakitan yang paling kotor
dan paling hina di dunia ini, padahal dia sebenarnya adalah
putra mahkota kerajaan Taili yang diagungkan, tahta kerajaan
itu sebenarnya adalah haknya.
Begitulah ia duduk termenung di kawah pohon bodi itu,
ketika sang dewi malam telah menghiasi tengah cakrawala,
tiba-tiba ia lihat seorang wanita berbaju putih mulus muncul
dari balik kabut malam dan pelahan mendekat ke arahnya.
Di tengah semak pohon berkabut tebal itu terpaksa rambut
si wanita baju putih yang panjang terutai menutupi bahunya.
Waktu itu mukanya membelakangi sinar bulan. walaupun
remang-remang tapi Yan-khing tetap terpesona oleh
keluwesan dan kecantikannya, ia merasa wanita itu secantik
Budha Kwan-im, ia pikir tentu dewi Koan-im yang turun dari
kayangan untuk menolong calon raja yang sedang menderita
ini. Diam-diam ia pun berdoa semoga dewi Koan-im memberi
berkah agar dia bisa kembali pada tahta kerajaannya, untuk
itu kelak ia akan membuatkan patung dewi Koan-im dan
membangun sebuah biara untuk memujanya.
Sementara itu si wanita pelahan telah mendekat, lalu
berputar tubuh ke sebelah sana, Yan-khing hanya dapat
melihatnya dari samping, kelihatan mukanya pucat pasi bagai
mayat. Tiba-tiba terdengar wanita itu bergumam sendiri
dengan pelahan, “Aku telah melayanimu dengan sepenuh
jiwa-ragaku, tetapi engkau sama . . . . sama sekali tidak
menaruh diriku di dalam hatimu. Engkau sudah punya seorang
perempuan dan masih inginkan wanita lain pula. Engkau telah
melupakan semua janji setia kita dahulu. Berkali-kali aku
memberi maaf padamu, tapi sekarang aku tidak bias
mengampunimu lagi. Engkau telah berdosa padaku dengan
meninggalkan aku dan main gila dengan orang lain, maka aku
pun akan mencari dan main gila dengan orang lain. Kalian
lelaki bangsa Han memandang rendah pada wanita Pai kami,
menganggap kami sebagai hewan yang tak berharga, aku aku
. . . aku harus membalas dendam, wanita Pai kami pun takkan
menganggap lelaki bangsa Han kalian sebagai manusia, aku
harus balas dendam."
Ia bergumam dengan suara lirih, tapi nadanya kedengaran
penuh rasa benci dan murka.
Diam-Diam Yana-khing membatin, "Kiranya dia seorang
wanita Pai, tentu dia telah dipermainkan oleh lelaki bangsa
Han, maka marah-marah dan dendam."
Hendaklah diketahui bahwa orang Pai itu adalah salah satu
suku bangsa di negeri Taili, pada umumnya wanita Pai itu ayu-
ayu, cantik-cantik, kulitnya putih melebihi suku bangsa lain,
Cuma kaum lelakinya sangat lemah, jumlah mereka sedikit
pula, maka suku Pai sering terdesak oleh bangsa Han.
Melihat wanita itu pelahan berlalu di depannya, mendadak
Yan-khing berpikir, "Ah, tidak betul. Walaupun wanita Pai
terkenal cantik-cantik, tapi tidak mungkin memiliki tubuh
sebagai dewi kayangan, apalagi baju putih yang dikenakannya
itu mirip sutra yang tipis, wanita Pai tidak mungkin
mempunyai pakaian seindah itu. Ya, tentu dia dewi Koan-im
yang turun dari kayangan untuk menolong aku. ke . . .
kesempatan baik ini jangan kusia-siakan."
Maklum Yan-khing berada dalam keadaan menderita dan
putus asa, terpaksa ia berharap akan pertolongan malaikat
dewata untuk menyelamatkan dia dari keadaan tersiksa itu. Ia
lihat sang dewi sudah hampir menjauh, sekuat mungkin ia
merangkak dan ingin berteriak, "Tolong Dewi . . . . "
Tapi dari tenggorokannya paling-paling cuma keluar suara
"krok-krok" bagai suara ayam mengorok.
Ketika mendengar di bawah pohon bodi itu ada sesuatu
suara, si waníta baju putih lantas menoleh, ia lihat dì atas
tanah situ meringkúk ada sesuatu makluk yang tak mirip
manusia dan tidak seperti setan sedang merangkak-rangkak.
Waktu diamat-amati lebih jauh, akhirnya baru diketahui adalah
seorang pengemis yang kotor dan berlepotan darah kering. Di
seluruh badan pengemis dekil ini penuh luka, dari tempat
luka-luka ítu masih mengucurkan darah dan berbau busuk
pula.
Samula wanita itu kaget melihat keadaan Yan-khing dan
bermaksud melarikan diri. Tapi perasaan wanita itu tadi
sedang penuh benci dan dendam, dalam keadaan murka tiba-
tìba timbul pikirannya hendak membalas dendam
ketidaksetìaan sang suami, yaitu dengan jalan mencemarkan
dìri sendiri, menghina diri sendiri.
Maka demi melihat keadaan pengemis yang mengerikan itu
segera timbul pikirannya, “Kebetulan, aku íngin mencari
seorang yang paling jelek paling kotor dan paling hina didunia
ini kepadanya akan kuserahkan tubuhku ini. Engkau adalah
seorang pangeran, seorang Taiciangbun (Panglima besar), tapi
aku justru menyukai seorang pengemis dekil dan berbau
busuk.”
Dia sama sekali tidak mengira bahwa Toan Yan-khing
sebenarnya adalah putra mahkota yang tulen, mukanya
sebenarnya sangat tampan, Cuma saying dia dikerubut musuh
sehingga menderita luk-luka diseantaro tubuhnya.
Begitulah wanita itu tidak bersuara lagi. Tapi ia pelahan
membuka bajunya dan mendekati Yan-khing, tanpa bicara ia
menjatuhkan dirinya kedalam pelukan Yan-khing, kedua
tangannya yang putih sebagai salju terus merangkul leher
sang "kekasih" dan . . . . “
Jika sang dewi malam di cakrawala itu punya perasaan
tentu dia akan terheran-heran mengapa seorang nyonya yang
cantik lagi agung itu mau menyerahkan tubuhnya yang putih
bersih itu kepada seorang pengemis yang kotor dan berbau
busuk itu?
Sampai sekian lama sesudah si wanita baju putih tinggal
pergi Yan-khing masih merasa sepertí di alam mímpi. Ia tidak
tahu apa yang terjadi itu benar-benar atau cuma khayal
belaka? Apakah manusia tulen atau benar-benar dewi Koan-im
yang turun dari kayangan?
Tapi hidungnya jelas mengendus bau harum yang timbul
dari badan sang dewi tadi. Waktu ia berpaling, ia lihat di atas
tanah masih jelas terlihat beberapa huruf yang ditulísnya
dengan jari tadi dan berbunyí, "Apakah engkau ini dewi Koan-
im berambut panjang?"
Waktu ia menulis demikian untuk menanyakannya dan
sang dewi mengangguk-angguk. Habis itu mendadak
beberapa tetes air jatuh di atas tanah di sebelah tulisan itu.
Air itu entah air matanya atau air wahyu sang dewi Koan-im?
Begitulah dalam keadaan terluka parah dan putus asa
mendadak Yan-khing mendapat wahyu si dewi Koan-im
berbaju putih itu. seketika semangatnya terbangkit, ia yakin
belum ditakdirkan akan tamat riwayatnya, tapi kelak pasti
akan kembali kepada kerajaanya, Ia harus berarti menghadapi
kesulitan dan gemblengan hidup yang dideritanya sekarang.
Dengan pulihnya kepercayaan atas diri sendiri itu, seketika
pandangan Yan-khing menjadi terang, pikiran yang semula
pepat itu menjadi jernih kembali.
Esok paginya ketika diketahui Koh-Eng belum membuka
puàsanya, segera ia berlutut dan menyembah di bawah
pohon, bodi untük menyatakan rasa terima kasihnya atas
wahyu sang Budha, ia potong dua batang kayu bodi dan
dipakai sebagai tongkat penyanggah tubuh, lalu tinggal pergi.
Ia tidak berani, tinggal dalam wilayah Taili maka jauh
menyepi di pegunungan dearah selatan untuk melatih ilmu
silatnya lebih jauh.
Ilmu silat keluarga Toan dari Taili tersohor sangat hebat,
maka Yan-khing tidak perlu mencari guru lain, cukup
menyakinkan ilmu silat keluarganya sendiri.
Pada lima tahun pertama Yan-khing dapat menyembuhkan
luka-lukanya dan belajar menggunakan tongkat sebagai ganti
kedua kakinya yang sudah bunting itu. Lalu ia mencurahkan
kekuatan It-yan-ci yang hebat itu pada tongkat yang
digunakan sebagai Senjata pula. Sesudah berlatih lima tahun
lagi, kemudian ia mulai mengembara dunia kangouw, Ía
mendatangi musuh-musuhnya, semuanya dibunuhnya habis
tanpa kecuali. Karena perbuatannya yang keji dan kejam luar
biasa itu, maka memperoleh gelar sebagai "Thian-he-te-it-tai-
ok-jín" atau si maha durjana di dunia ini.
Pernah beberapa kali Yan-khing menyusup pulang ke Taili
dengan maksud memcari kesempatan untuk merebut tahta,
tapi setiap kali ia mendapatkan kenyataan bahwa kedudukan
Toan Cing-bing sudah sangat berakar dan sukar ditumbangkan
terpaksa ia mundur teratur.
Paling akhir ini dia mengadu tanaga dalam dengan Ui-bi-
ceng, si padri beralis kuning, dan tampaknya dia sudah pasti
akan menang Eh, siapa tahu mendadak muncul si bocah Toan
Ki sehingga kemenangannya yang sudah di ambang pintu itu
berbalik menjadi kekalahan.
Sekarang Ong-hujin telah menawan Toan Ki kesempatan
ini akan digunakannya untuk membinasakan anak muda itu
dengan tongkatnya dan sekaligus melenyapkan ahli waris
satu-satunya Toan Cing-bing dan Toan Cing-sun itu. Siapa
duga mendadak terdengar ucapan “di luar Thian-liong si, di
bawah pohon bodi si pengemis kotor dan si dewi Koan-im
berambut panjang."
Ucapan itu sangat lirih, tapi bagi pendengaran Toan Yan-
khing, bagaikan bunyí halilintar di siang bolong. Ketika
dilihatnya pula air muka Toan hujin, dalam hatinya tiada
habis-habis bertanya, "Apakah . . . apakah dia inilah si dewi
Koan-im pada malam bulan purnama itu . . . . "
Tiba-tiba Toan hujin melepaskan rambutnya yang panjang
itu sehingga terurai di atas pundak dan sebagian terurai di
mukanya, itulah wajah "si dewi Koan-im" di bawah pohon bodi
di luar Thian-liong di malam itu.
Sekarang Yan khing tidak sangsi lagi, sungguh di luar
dugáannya bahwa wanita yang disangkanya sang dewi Koan-
Im itu kiranya adalah Tin-lam-Ong-hui, permaisuri pangeran
mahkota kerajaan Taili yang sekarang.
Tapi segera timbul pertanyaan yang sukar dipahami
olehnya, "Sebab apakah día berbuat demikian? Mengapa dia
penujui seorang pengemís kotor dan berbau busuk seperti
diriku pada waktu itu?
Yan-khing menunduk dan termenung-menung tidak habis
mengerti. Sokonyong-konyong beberapa titik air menetes di
atas tanah, mirip benar dengan kejadian malam pertama itu.
itu bukan air biasa, entah air mata atau air wahyu sang dewi?
Waktu ia mendongak, ia lihat sorot mata Toan-hujin yang
sayu-rawan dan mengembang air mata itu, seketika hatinya
yang keras menjadi lunak, katanya dengan suara yang serak,
"Apakah kau minta aku mengampuni jiwa putramu ini?"
Toan-hujin tampak menggeleng kepala, katanya,
"Lehernya berkalung sebuah mainan, di situ terukir pek-ji
(jam, hari dan tahun) kelahirannya."
Yan khing menjadi heran, nyonya itu bukan minta
pengampunan jiwa anaknya, tapi malah menyuruhnya melihat
mainan kalung dan tentang pek-ji segala, apakah artinya
semua ini?
Tapi sejak dia tahu duduknya perkara kejadian "di bawah
pohon bodi di luar Thian-liing-si" itu, secara otomatis timbul
semacam rasa hormat dan segannya terhadap Toan-hujin.
Maka ia lantas menjulurkan tongkatnya untuk membuka dulu
hiat-to si nyonya yang ditutuknya, kemudian baru ia periksa
leher Toan Ki.
Benar juga di leher anak muda itu ditemukan sebuah
kalung emas yang sangat lembut, bagian bawah yang tertutup
baju itu terdapat sebuah mainan emas yang berbentuk pelat
kecil persegi dan terukir tulisan "selamat panjang umur",
ketika pelat emas itu dibalik, di situ ada tulisan: "Lahir pada
tanggal 1 bulan 11 tahun kedua raja Po-ting Taili."
Melihat tanggal lahir itu, kembali Yan-khing terkesíap. Ia
masih ingat betul justru pada bulan dua tahun kedua raja Po-
ting itulah dia terluka parah dikeroyok musuh dan akhirnya
sampai di luar Thian-liong-si. Anak muda ini dilahirkan dalam
bulan 11, jaraknya dengan kejadian malam itu tepat adalah
sepuluh bulan, Wah, jangan-jangan kandungan sepuluh bulan
itu akhirnya melahirkan bocah ini, jadi anak muda
dihadapannya ini adalah putraku?
Oleh karena muka Toan Yan-khing sudah rusak sehingga
kerut dan mimik wajahnya tak kelihatan lagi, sekilas orang
pun tak tahu betapa terguncang hatinya tatkala itu.
Waktu Yan-khing memandang pula ka arah Toan-hujin, ia
lihat nyonya itu mengangguk pelahan dan bergumam, "karma!
Karma!"
Selama hidup Toan Yan-khing tidak pernah kenal
mesranya berkasih-kasihan kaum muda-mudi dan kebahagian
rumah tangga, kini mendadak diketahuinya di dunia ini
ternyata ada seorang pemuda keturunan sendiri, maka betapa
rasa girangnya sungguh susah untuk dilukiskan.
Saat itu ia merasa segala pangkat dan kedudukan, sekali
pun raja di dunia ini, semuanya itu tidak lebih berbahagia
daripada mempunyai seorang putra. Bila teringat baru saja ia
hamper menikam mati putranya sendiri dengan tongkatnya
tadi, sungguh ia merasa bersyukur dan bergirang hal itu tidak
sampai terjadi. Saking girangnya sungguh ia ingin berteriak
dan berjingkrak.
"Trang", tanpa terasa sebuah tongkat jatub ke tanah.
Menyusul kepala pun terasa sedikit pening, tangan yang lain
terasa lemas, "trang", kembali tongkat yang lain pun jatuh ke
tanah.
"Hahahaaahh! Aku mempunyai seorang putra. Aku
mempunyai seorang putra!" demikian darí dalam rongga
dadanya ingin tercetus suara teriakan yang nyaring.
Sekilas dilihatnya wajah Toan Cing-sun menampilkan rasa
heran dan bingung, terang dia sama sekali tidak paham apa
yang diucapkan istrinya tadi.
Sungguh rasa bangga Toan Yan khing tak terkatakan.
"Hm, biarpun kamu berhasil menjadi raja Taili dan aku gagal
menggantikanmu, namun aku tidak perlu iri. Aku mempunyai
putra, dan kau tidak punya."
Pada saat itulah kembali kepalanya terasa pusing pula,
pandangannya agak kabur sedikit, ia mengira hal ini adalah
karena dia terlampau senang maka kepala pusing malah.
Tapi pada saat lain tiba-tiba terdengar gedebukan seorang
telah roboh terkulai di samping pintu, itulah Ih Tiong-ho
adanya.
"Celaka!" keluh Yen-khing dalam hati. Cepat tangan kiri
bergerak mencengkaram. ia kerahkan tenaga dalam untuk
menarik kembali tongkat bajanya yang jatuh tadi.
Di luar dugaan, cengkramannya itu ternyata tidak
membawa hasil sebagaimana yang dlharapkannya, tenaga
dalamnya sukar dikeluarkan lagi, tongkat baja yang terletak di
tanah sedikit pun tidak bergeming.
Karüan kejut Yan-khing melebihi tadi. Tapi ìa pun tídak
mengunjuk sesuatu tanda apa-apa, kembali ia kerahkan
tenaga dan tangan kanan mencengkeram pula. Namun
tongkat itu tetap tidak bergerak, tenaga dalamnya tetap susah
dlkeluarkan. Maká yakinlah día bahwa diam-diam ia telàh
diselomoti orang.
Tiba-tiba terdengar Buyung Hok berkata, "Toan-tianho
(pangeran Toan), di kamar sebelah ada seorang ingin buru-
buru bertemu dengan engkau, maka sudilah engkau datang ke
sebelah untuk menemuinya."
"Siapa dia? Lebih baik Buyung-kongcu membawanya ke
sini saja," ujar Yan khing.
"Dia tak dapat berjalan, lebih baik silakan Tianho yang
datang ke sini, " sahut Buyung Hok.
Mendengar itu, maka teranglah bagi Toan Yan-khing. Tidak
perlu disangsikan lagi orang yang diam-diam menggunakan
obat bius (yang membuatnya kehilangan tenaga dalam) itu
pasti Buyung Hok. Mungkin pemuda itu jeri kepada ilmu
silatnya yang lihai dan kuatir racun yang disebarkan itu tidak
bekerja dengan baik, maka untuk sementara masih tidak
berani menggunakan kekerasan secara blak-blakan, Ia
sengaja minta dia berjalan untuk menjajaki apakah lawan
masih bertenaga atau tidak. Padahal Yan-khing merasa sejak
masuk ke dalam rumah tadi senantiasa berlaku waspada dan
tidak pernah minum seceguk air pun, pula tidak mengendus
bau apa-apa, mengapa tahu-tahu sudah kena dikerjai orang
dan keracunan?
"Ya, mungkin tadi sesudah mendengar ucapan Toan-hujin,
saking girangnya aku menjadi lupa daratan dan tidak berjaga-
jaga sesuatu gerak-gerik yang mencurigakan di sekitarku
sehingga aku terpedaya," demikian pikirnya.
Biarpun watak Toan Yan-khing sangat buas dan kejam,
tapi ia pun berjiwa ksatria. Sekali dia kecundang, maka ia
terima mengaku kalah dan pasrah pada nasib, sama sekali ia
tidak gusar dan mencaci-maki. Hanya dengan nada mengejek
ia berkata, "Buyung-kongcu, keluarga Toan dari Taili kami
biasanya tidak suka menggunakan racun, kamu seharusnya
menghadapi aku dengan menggunakan ‘It-yang-ci’ saja.
Dengan ucapannya ia maksudkan Koh-soh Buyung yang
biasanya terkenal dengan istilah "Ih-pi-ci-to, hoan-si-pi-sin",
seharusnya Buyung Hok mengalahkan Yan-khing dengan It-
yang-ci yang merupakan ilmu andalan keluarga Toan, kalau
menggunakan racun, hal ini sesungguhnya terlalu pengecut.
Tapi Buyung Hok hanya tersenyum, sahutnya, “Orang
gagah perkasa sebagai Toan-tianho sudah tentu tidak dapat
dipersamakan dengan orang biasa. 'Ang-hoa-tai-bu' (kabut
bunga merah) yang kugunakan ini asalnya kuperoleh dari
orang Se He, hanya sedikit kutambahi bahan campuran
sehingga tidak berbau dan tidak berwarna, jadi sebenarnya
bukan barang buatan keluarga Buyung kami."
Diam-diam Yan-khing terkejut, tentang kejadian jago It-
bin-tong dari Se He merobohkan kawanan pengemis Kai-pang
dengan racun kabut yang tak berbau dan tak kelihatan itu
pernah juga dia dengar laporannya. Tak tersangka hari ini ia
sendiri pun terselomot oleh racun kabut itu. Segera ia
pejamkan mata dan tutup mulut, diam-diam ia mengatur
pernapasan dan berusaha mendesak keluar hawa racun yang
telah meresap ke dalam tübuh.
"Untuk memunahkan racun kabut ini biarpun mengerahkan
tenaga dalam dan mengatur pernapasan, semuanya tiada
gunanya . . . . “
Belum habis Buyung Hok bicara, mendadak Ong-hujin
membentaknya. "Mengapa bibimu sendiri juga kau selomoti?
Mana obat penawarnya. Serahkan!”
"Maaf bibi, hanya untuk sementara saja, sebentar tentu
Tit-ji akan memberi obat penawar kepada bibi." sahut Buyung
Hok.
"Sebentar apa segala? Lekas berikan obat penawarnya
sekarang jugai" jerit Ong-hujín dengan gusar.
“Maaf bibi, sungguh maaf, obat penawarnya tidak berada
padaku," kata Buyung Hok.
Mestinya hiat-to nyonya Toan yang tertutuk itu sudah
dibuka oleh Toan Yan-khing, tapi belum lagi lagi berbuat apa-
apa kembali ia roboh pula terkena racun kabut bungah merah.
Di antara orang yang berada dalam rumah itu Buyung Hok
telah makan obat penawar sebelumnya dan Toan Ki tidak
mempan segala macam racun hanya mereka berdua ini yang
tidak keracunan.
Namun begitu Toan Ki justru sedang mengalami siksaan
batin yang tak terkatakan pedihnya. Tadi ia dengar Ong-hujin
berkata kepada Toan Cing-sun bahwa Giok-yan sebenarnya
adalah anak darah dagingnya, tatkala itu dada Toan ki serasa
digodam satu kali, napasnya menjadi sesak dan hamper-
hampir jatuh kelenger.
Memangnya Toan Ki sudah merasa kebat-kebit, merasa
urusan pasti takkan menguntungkan dia, ketika dari kamar
sebelah ia dengar pembicaraan Ong hujin dan Buyung Hok
yang menceritakan hubungan cinta antara nyonya itu dengan
ayahnya. Waktu itu ia sudah kuatir akan terjadi seperti halnya
Bok Wan-Jing jangan-jangan Giok-yan adalah adik
perempuannya pula.
Ketika kemudian ia dengar sendiri pengakuan Ong-hujin
akan hal yang dikuatirkan olehnya itu, maka ia tidak sangsi
lagil akan kebenarannya. Sesaat itu ia merasa langit seakan-
akan berputar-pular dan bumi terbalik, coba kalau tangan dan
kakinya tidak terikat dan mulutnya tidak tersumbat tentu dia
sudah seruduk sini dan terjang sana sambil menjerit-Jerit dan
berteriak- teriak seperti orang gila.
Perasaannya teramat duka merana, tiba-tiba ia merasa
segumpal hawa menyumbat dirongga dadanya sehingga
napasnya susah diatur. Kaki tangannya terasa sedingin es dan
pelahan menjadi kaku.
Keruan ia terkejut, "Wah, celaka! Tanda-tanda ini tentu
adalah apa yang dikatakan paman sebagai ‘Cau-hwe-jip-mo’
semakin tinggi iwekangnya semakin berbahaya pula bila
penyakit itu sampai berjangkit. Tapi mengapa aku . . . aku
bisa terkena penyakit demikian?”
Ia merasa hawa sedingin es itu dalam sekejap saja sudah
mencapai siku dan dengkulnya. Semula Toan Ki merasa kuatir,
tapi lantas terpikir olehnya, "Jika Giok-yan adalah adik
perempuanku dari satu ayah, maka rinduku kepadanya selama
ini akhirnya buyar sirna, lalu untuk apa lagi aku hidup di dunia
ini? Ya, biarlah aku terkena penyakit Cau-Hwe-jip-mo, biar aku
hancur lebur menjadi abu, biar aku mati dan tidak tahu apa-
apa supaya terhindar dari siksaan batin selama hidup nanti."
Begitulah, karena dia sedang tersiksa batin sendiri, maka
apa yang dikatakan ibunya tentang "di luar Thian-liong-si, di
bawah pohon bodi dan kata-kata lain kecuali Toan-hujin
sendiri dan Toan Yan-khing, orang lain boleh dikata tak ada
yang paham apa artinya. Dan dengan sendirinya Toan Ki
lebih-lebih tidak memperhatikan ucapan-ucapan itu, andaikan
memperhatikan juga sekali-kali dia tak paham mengapa Toan
Yan-khing bisa jadi ayahnya yang sesungguhnya dan bukan
Toan Cing-sun.
Dalam pada itu Toan Yan-khing sedang mengerahkan
tenaga dalamnya, tapi meski sudah sekian lama tetap tidak
berhasil, sebaliknya dada terasa sumpek dan enek, kalau bisa
ingin tumpah-tumpah sepuasnya. Cepat ia tenangkan diri, ia
duduk dengan mata terpejam, tidak bicara dan tidak bergerak.
"Toan-Hianho," kata Buyung Hok kemudian, "meski aku
telah menghina dirimu dengan kabut beracun, tapi tiada
maksudku untuk membikin susah padamu, asal tianho mau
berjanji sesuatu padaku, maka selain akan kuberikan obat
penawar dengan hormat, bahkan akan menjera dan mohon
ampun kepada Tianho."
"Hei, usia orang she Toan sudah sebanyak ini, selamaini
juga tidak sedikit mengalami gelombang badai, mana aku
dapat dipaksa berjanji sesuatu di bawah ancaman orang!"
sahùt Yan-khing dengan menjengek.
"Masakah aku berani mengancam Toan-tianhe?” ujar
Buyung Hok. "Nah, biarlah hadirin di sini menjadi saksi semua,
sekarang juga ku mintà maaf lebih dulu kepada Tianho, habis
itu barulah mohon bantuan sesuatu kepada Tianho dengan
segala hormat.”
Habis berkata, benar juga ia lantas berlutut dan
menyembah dengan segala kerendahan hati yang tulus.
Semua orang terheran-heran melihat Buyung Hok
mendadak menjalankan penghormatan sebesar itu. Padahal
saat itu dia sudah menguasai keadaan, mati hidup semua
orang boleh dikatakan tergantung kepada keputusannya.
Seumpama dia seorang ksatria kangouw yang suka bicara
tentang itikat orang kangouw, rasanya sudah cukup ia
memberi hormat sekedarnya saja kepada Toan Yan-khing
yang lebih tua, tapi mengapa mesti pakai berlutut dan
menyembah segala?
Yan-khing sendiri tidak paham atas kelakuan Buyung Hok,
tapi mau-tak-mau rasa marahnya agak berkurang juga melihat
orang begitu menghormat padanya. Katanya kemudian,
"Merendahkan diri kepada orang, di balik itu tentu ada sesuatu
maksud tujuan. Nah, hendaknya Buyung-kongcu bicara terus
terang saja, apa kehendakmu sebenarnya?”
"Adapun cita-citaku kiranya Tianho sendiripun sudah cukup
mengetahui." Sahut Buyung Hok. “Yang senantiasa kucita-
citakan siang dan malam adalah membangun kembali
kerajaan Yan. Maka sekarang akan kubantu dan mendukung
Tianho naik tahta sebagai reja Taili, Tianho sendiri tiada anak
keturunan, maka aku rela mengangkat Tianhe sebagai Gihu
(ayah angkat). Dengan demikian untuk selanjutnya kita akan
dapat bekerja sama dengan lebih erat demi pergerakan kita
bersama, bukankah cara ini sangat baik dan sama-sama
menguntungkan?”
Mendengar ucapan "Tianhe toh tiada punya anak
keturunan" yang dikatakan Buyung Hok itu, tanpa terasa Yan-
khing berpaling ké arah Toan-hujin, dua pasang mata saling
menatap, sesaat itu mereka seakan-akan sudah bercakap-
cakap beratus ribu kata-kata.
Maka Yan-khing hanya mengekek tawa saja dan tidak
menjawab sanjungan Buyung Hok tadi, Katanya di dalâm hati,
"Kalau kata-katamu ini kau ajukan setengah Jam yang lalu
memang merupakan usul yang menarik. Tapi saat ini aku
sudah tahu mempunyai seorang putra, bahkan putraku lebih
lihai daripada dirimu, mana bisa kuwariskan tahtaku kepada
orang lain?”
Dalam pada itu terdengar Buyung Hok sedang mengoceh
lagi panjang lebar tentang betapa baiknya bila mereka
bergabung dan terikat menjadi keluarga, bahkan kerajaan
Song tentu akan dapat mereka hancurkan, begitu pula
kerajaan Se He dan macam-macam kata-kata muluk lagi.
Akhirnya Yan-khing bertanya, "Jadi maksudmu ingin aku
mengakui dirimu sebagai anak angkat?"
"Benar." sahut Buyung Hok.
Diam-diam Yan-khing merancang di dalam hati, "Saat ini
aku masih keracunan dan tak bisa berkutik, terpaksa aku
pura-pura menerima permintaannya, sebentar bila tenagaku
sudah pulih boleh segera kubunuh dia.”
Karena itu ia berkata dengan lagak ogah-ogahan, "Jika
demikian, bukankah kamu harus ganti she Toan? Dan sesudah
menjadi ahli warisku keluaga Buyung seluruhnya berarti akan
putus turunan pula, apakah semuanya ini dapat kau lakoni?”
Yan-khing cukup tahu bahwa di balik maksud Buyung Hok
itu tentu ada rencana lain yang lebih luas, umpama sesudah
mewariskan tahta kerajaan taili, dalam jangka waktu tertentu
tentu dia akan menguasai dan menempatkan orang-orangnya
dalam pos-pos pemerintahan yang penting, habis itu lantas
mulai menggeser dan membunuh orang-orang yang berani
melawannya atau pembesar-pembesar keluarga Toan yang
setia. Dan kalau usaha kudeta itu sudah berhasil tentu dia
akan kembali she Buyung làgi, bahkan bukan mustahil nama
kerajaan Taili akan digantinya pula menjadi kerajaan Yan.
Oleh karena itulah Yan khing sengaja méngajukan
pertanyaan yang mempersulit sebagai dasar agar Buyung Hok
tidak menaruh curiga, berbeda kalau dia terima itu begitu saja
apa yang dimohon Buyung Hok, hal ini akan kelihatan kurang
wajar dan kurang tulus.
Benar juga Buyung Hok lantas termenung-menung,
sahutnya dengan ragu, “Tentang ini . . . . tentang ini . . . . "
Padahal apa yang terbayang dalam benaknya yaitu
tindakan apa yang harus diperbuatnya bila kelak dapat
menggantikan Toan Yan-khing sebagai raja Taili, memang
tidak berselisih jauh dengan apa yang terduga oleh Toan Yan-
khing. Maka Buyung Hok juga sengaja pura-pura sangsi atas
pertanyaan Yan-khing tadi, sebab kalau mengiakan begitu saja
tentu akan kentara maksud tujuannya yang tidak baik.
Maka sesudah ragu sejenak, lalu katanya, "Walaupun aku
bukan manusia yang suka lupa kepadá sumbernya dan
seorang yang tak berbakti kepada leluhur, tapi demi usaha
besar harus kesampingkan kepentingan pribadi yang kecil. Bila
aku sudah mengangkat Tianhe sebagai ayah, seharusnya aku
setia kepada keluarga Toan dan tidak boleh bercabang hati.”
Jilid ke 84
"Hahahahaha! Bagus, bagus!" Yan-khing terbahak-bahak,
"Selama ini aku selalu mengembara di dunia kangouw, tidak
punya istri dan tidak punya anak, tapi pada hari ini, sekarang
dapat memperoleh seorang putra cakap, sungguh hidupku ini
tidaklah sia-sia. Mempunyai putra pintar dan tampan sebagai
dirimu, sungguh rejekiku terlampau besar.”
Di balik kata-kata Toan Yan-khing ini yang dimaksudkan
sebenarnya adalah putranya sendiri yaitu Toan Ki, hal ini
terkecuali Toan-hujin seorang saja, yang lain sudah tentu
tidak paham latar belakang ucapannya itu, sebaliknya semua
orang mengira dia susah menerima permohonan Buyung Hok
dan akan memunggutnya sebagai anak dan kelak akan
mewariskan tahta kepadanya.
Keruan girang Buyung Hok melebihi orang putus lotre,
katanya, “ Tianhe adalah angkatan tua yang terhormat
dikalangan Bulin, sekali omong tentu akan pegang janji dan
takkan hianat, Nah Gihu, terimalah hormat putramu ini.”
Habis itu, kaki berlutut dan segera hendak menyembah
pula. Pada saat itulah tiba-tiba terdengar seorang berteriak di
luar, "Bukan, bukan! Hal ini mana boleh jadi!”
Menyusul tirai tersingkap dan masuklah seorang. Kiranya
Pau Put-tong adanya.
Air muka Buyung Hok agak masam kärena orang
mengganggunya, tanyanya, "Ada apa Pau-samko?”
"Kongya adalah keturunan lurus keluarga Buyung dan
jelèk-jelek adalah ahli waris kerajaan Yan, sekarang mana
boleh sembarangan berganti she Toan?" seru Pau Put-tong.
“Walaupun usaha membangun kembali kerajaan Yan akan
menghadapi berbagai kesulitan, tapi kita tetap akan berjuang
dengan sepenuh tenaga dan kekuatan. Kalau usaha kita
berhasil sudah tentu inilah yang sangat kita harapkan,
andaikan gagal betapapun kita tetap seorang ksatria, seorang
perwira gemblengan. Tapi sekarang Kongcu akan mengangkat
ayah kepada orang yang manusia bukan dan setan pun tidak
ini, biarpun kelak Kongcu berhasil menjadi raja juga tidak
gilang gemilang. Apalagi seorang she Buyung ingin menjadi
raja Taili, hal ini pun tidak mungkin terjadi."
Sungguh gusar Buyung Hok tak terlukiskan karena ucapan
Pau Put-tong yang kurang ajar itu. Tapi Put-tong adalah
pengiringnya yang setia, tatkala tenaganya sangat dibutuhkan
seperti sekarang ia tidak ingin mendengarnya secara terang-
terangan didepan orang luar, maka jawabannya dengan
dingin, "Pau-samko, rupanya engkau belum paham duduknya
perkara, untuk menjelaskan juga susah dalam waktu singkat,
biarlah kelak akan ku terangkan dengan pelahan.
“Bukan, bukan!” seru Put-tong dengan istilah yang khas.
"Kongcu, biarpun Put-tong seorang goblok, tapi maksud
tujuanmu juga dapat kuraba beberapa bagian. Agaknya
kongcu ingin meniru Han Sin di jaman Han-ko-co dan untuk
sementara terima dihina dan merendah pada orang agar
kelak dapat dapat dípakai sebagaì modal pengerahan, Hàrì ini
Kongcu pura-pura berganti she Toan, kelak kalau sudah
memegang kekuasaan lalu engkau berganti she Buyung
kembali, bahkan mengganti kerajaan Taili menjadi kerajaan
Yan, atau mungkin engkau akan mengerahkan pasukan untuk
menyerang kerajaan Song dan memerangi kerajaan Liau
untuk memulihkan wilayah kekuasaan Yan dahulu. Akan
tetapi, Kongya, meski cita-citanya ini sangat baik, namun
dengan demikian engkau akan menjadi manusia yang tidak
setia, tidak berbakti, tidak bijaksana dan tidak berbudi. Coba
apakah takkan malu pada diri sendiri, apakah engkau takkan
dicaci maki para ksatria seluruh jagat. Maka kukira tentang
raja apa segala, lebih baik jangan dipikirkan lagi.”
Sungguh Buyung Hok sangat mendongkol, tapi ia bersabar
sedapat mungkin, sahutnya, "Ah, Pau-samko terlalu
berlebihan, mengapa aku dikatakan tidak setia, tidak berbakti,
tidak bijaksana dan tidak berbudi? Bukan ngaco belo saja?”
"Bukan, bukan mengaco-belo!" seru Put-tong. "Coba,
sekarang engkau takluk kepadá Taili dan kelak engkau akan
memberontak dan mengkhianatinya, itu jelas tidak setia.
Sekarang engkau mengakui Toan Yan-khing sebagai ayah
angkat, padahal engkau dilahirkan dari keluarga Buyung, itu
berarti engkau tidak berbakti kepada keluarga buyung, bila
kelak engkau menghianati Toan Yan-khing itu pun berarti
tidak berbakti kepada ayah angkat. Kelak kaupun akan
menumpas dan membunuh pembesar kerajaan Taili, itu
berarti tidak bijaksana, dan . . . . “
"Dân aku menjual kawan demi kepentingan sendiri, ini
berarti tidak berbudi?" demikian sambung Buyung Hok dengan
menjengak. Berbareng itu "plok", sekonyong-konyong
punggung Pau Put-tong dihantam sakali.
Pukulan Buyung Hok itu kelihatannya tidak keras, tapi ia
menggunakan tenaga dalam yang kuat dan tepat mengatasi
hiat –to, yaitu sin-to-hiat, Leng-tai-hiat dan ci yan-hiat yang
mematikan, Pau-Put-tong sama sekali menduga bahwa tuan
muda yang menjadi asuhannya sejak kecil sehingga besar itu
ternyata tega turun tangan keji padanya, karuan kontan ia
tumpah darah dan roboh binasa.
Waktu Put-tong mulai berdebat dengan Buyung Hok,
ketiga kawannya, yaitu Ting Pek-jwan, Kongya Kian dan Hong
Po-ok juga ikut mendengarkan dengan berdiri di luar pintu,
walaupun terasa kata-kata Pau Put-tong agak kelewat berani
terhadap sang majikan, tapi merekapun merasa tepat dan
beralasan.
Kini demi melihat Buyung Hok memukul Pau Put-tong
karuan mereka terkejut, berbareng mereka pun menerobos
masuk ke dalam.
Segera Po-ok mendukung tubuh Pau Put-tong yang sudah
tak berkutik ìtu dan berseru, "Samko! Samko! Kenapakah
engkau?"
Terlihat air mata bercucuran membasahi pipi Pau Put tong,
tapi napasnya sudah putus. Nyata pada saat jiwanya
melayang Pau Put tong merasa sangat terduka dan
penasaran.
"Samko, meski engkau tak bias bernapas lagi, tapi engkau
tentu ingin bertanya kepada Kongcuya sebab apakah engkau
dibunuh?'' seru Po ok sambil menoleh dan menatap Buyung
Hok dengan sorot mata berlugas.
"Kongcuya," Pek-jwan ikut bicara, "bahwasannya sifat Pau
samte memang suka berdebat dan bertengkar dengan orang,
hal ini cukup engkau ketahui. Sekali pun dalam kata katanya
tadi dia bersikap kurang menghormat padamu, mestinya
cukup Kongcu menegur dan memberi dampratan selayaknya
saja, mengapa tega mencabüt nyawanya?"
Sebenanya yang menjadikan gusarnya Buyung Hok
bukanlah sikap pau Put-tong yang kurang ajar itu melainkan
karena Pau Put-tong berani bicara secara blak-blakan dan
mengorek semua tipu muslihatnya yang berencana itu, hal íni
tentu akan menimbulkan kecurigaan Toan Yan khíng dan
mungkin tak jadi memungutnya sebagai anak dan dengan
sendirinya pula akan gagal menjadi ahli waris kerajaan Taili.
Andaikan dia tetap diterima sebagai putra mahkota, tentu pula
rencananya akan menghadapi banyak kesulitan dan gagal
membangun kembali kerajaan Yan.
Begitulah dalam murkanya Buyung Hok terpaksa turun
tangan keji untuk memperlihatkan kepada Toan Yan-khing
akan ketulusan hatinya untuk menjadi anak angkat keluarga
Toan. Sekarang ia ditegur oleh Ting Pak-jwan, diam-diam ia
serba susah lagi. Tapi segera ia ambil keputusan lebih baik
cekcok dengan Pek jwan dan kawan-kawannya daripada
menimbulkan curiga Toan Yan-khing.
Begitulah ia lantas menjawab, "Tentang kata-kata Pau
samko yang kasar tadi sebenarnya tidak menjadi soal. Tapi
dengan tulus aku ingin mengangkat Toan-tianhe sebagai Gihu,
tapi dia sengaja memecah belah hubungan baik kami, dosa
nya ini mana boleh kuampuni?”
"Jadi dalam pandangan Kongcu, Pau Put-tong yang telah
mengabdi padamu selama belasan tahun ini jauh tiada
harganya untuk dibandingkan dengan seorang Toan Yan-
khing?” teriak Po-ok dengan marah.
"Hendaknya Hong-siko jangan marah," sahut Buyung Hok.
”Bahwasannya aku minta masuk menjadi keluarga Toan, hal
ini kulakukan dengan setulus hati dan sedikit pun tiada
maksud lain. Tapi Pau-samko telah mengukur jiwa seorang
ksatria dengan jiwa kaum pengecut. Inilah yang tak dapat
kuterima dan terpaksa kuberi hukuman setimpal padanya."
"Jadi maksud Kongcuya itu tak bisa ditarik kembali lagi?”
Kongya Kian menegas dengan dingin.
"Ya. benar,” sahut Buyung Hok.
Seketika Kongya Kian, Ting Pak-jwan dan Hong Po ok
pandang-memandang. Agaknya pikiran mereka sama,
serentak mereka saling mengangguk.
Lalu Pek-jwan berseru dengan suara lantang, ''Kongcuya,
kami berempat meski bukan saudara sekandung. tapi kami
telah bersumpah mati atau hidup tetap bersatu, hubungan
kami melebihi saudara sekandung. Hal ini tentu Kongcuya
cukup mengetahui?”
Alis Buyung Hok menjengkit, sahutnya dengan ketus.
"Apakah maksud Ting-toako hendak menuntut balas kematian
Pau-samko? Biarpun kalian bertiga maju sekaligus juga aku
tidak gentar.”
Tiba-tiba Pek-jwan menghela napas panjang, katanya,
"Kami adalah hamba pengiring keluarga Buyung, mana kami
berani malu kami terhadap Kongcuya. Orang bilang, kalau
cocok boleh tinggal, kalau tidak cocok boleh pergi. Maka kami
bertiga untuk selanjutnya tak dapat melayani Kongcu lagi.
Kaum ksatria yang íngin memutuskan hubungan tidäk pantas
menggunakan kata-kata kotor, maka biarlah kita berpisah
secara baik-baik, semoga Kongcuya menjaga diri dengan
baik!"
Melihat ketiga abdi pengiringnya segera akan
meninggalkan dirinya mau-tak-mau Buyung Hok merasa berat
juga apalagi bila nanti berada di Taili tentu akan sangat
membutuhkan tenaga mereka. Maka ia coba menahannya,
katanya, "Ting-toako, kalian tidak pernah menyinggung
perasaanku. Sesungguhnya aku pun tidak sirik apa-apa
kepada kalian, mengapa kalian hendak meninggalkan aku
begitu saja? Dahulu ayah cukup baik terhadap kalian, juga
kalian pernah berjanji akan membantuku sepenuh tenaga, jika
sekarang kalian tinggalkan aku, apakah kalian tidak merasa
mengingkari janji sendiri?”
Maka Ting Pak Jwan juga tampak muram, sahutnya. ” Jika
Kongcu tidak mengungkit-ngungkit losiansing dibawa-bawa,
maka tentang perbuatan mengangkat orang lain menjadi
ayah, berganti she dan mengabdi kepada negara lain segala
apakah perbuatan demikian ini dapat dipertanggungjawabkan
kepada Losiansing? Ya, kami memang pernah berjanji kepada
losiangsing akan membantu sepenuh tenaga pada Kongcuya
untuk membangun kembali kerajaan Yan dan
mengembangkan kejayaan keluarga Buyung, tapi sekali-klai
tidak berjanji akan membantu Kongcu untuk memajukan
kerajaan Taili dan mengembangkan nama keluarga Toan.”
Jawaban Ting Pek-jwan itu membuat air muka Buyung Hok
sebentar merah dan sebentar pucat serta tak dapat
mendebatnya.
Berbareng Ting jwan, Kongya Kian dan Hong po-ok lantas
memberi hormat dan berkata, "Selamat tinggal Kongcuya."
Lalu Po-ok memanggul jenazah Pau Put-tong bertíga orang
lantas bertindak pergi dengan langkah lebar tanpa menoleh
lagi.
Buyung Hok coba menenangkan diri dan berlagak
menyakinkan diri, katanya kepada Toan Yan-khing, “Harap
Gihu suka maklum, ketiga orang ini adalah hamba pengiring
keluarga anak selama berpuluh tahun, tapi demi kesetiaan
anak kepada kerajaan Taili dan keluarga Toan, dengan tidak
segan-segan anak membunuh satu diantaranya dan mengusir
ketiga orang lain. Anak akan ikut ke Taili seorang diri, sedikit
pun anak tiada maksud tujuan lain.”
"Bagus, sangat bagus!” sahut Toan Yan-khing sambil
mengangguk.
"Dan sekarang juga biarlah anak memberikan obat
penawar kepada Gihu, " ucap Buyung Hok. Segera ia
keluarkan sebuah botol porselen kecil.
Tapi baru saja ia hendak menyodorkan botol kecil itu
kepada Yan-khing, tiba-tiba pikirannya tergerak, "Wah, jika dia
sudah sembuh dari keracunan kabut bunga merah, segera aku
akan kehilangan alat ancaman padanya. Untuk selanjutnya
terpaksa aku harus mengambil hatinya dan tidak boleh
mengadu akal lagi dengan dia. Yang paling día benci adalah si
Toan Ki, biarlah sekarang aku membunuh budak itu lebih dulu,
kemudian barulah aku memberikan obat penawar padanya.”
Karena pikirannya itu, "sret” segera ia loloskan pedang dan
berkata, "Gihu adapun sumbangsih anak yang pertama
kepada Gihu adalah ingin kubunuh si bocah Toan Ki íni agar
Toan Cing-sun kehilangan keturunan, dengan demikian mau-
tak-mau dia akan terpaksa menyerahkan tahta kepadamu."
Waktu itu Toan Ki masih menggeletak di atas tanah
dengan mata tertutup oleh kain hitam, meski matanya tak bisa
memandang, tapi apa yang dikatakan Buyung Hok itu dapat
didengarnya dengan jelas. Ia berpikir, Giok-yan yang kucintai
itu telah berubah menjadi adik perempuanku lagi sehingga
cintaku kepadanya jadi sia-sia belaka. Memangnya aku tidak
ingin hidup, jika kau bunuh aku kan kebetulan bagiku."
Begitulah rupanya Toan Ki menjadi putus asa dan patah
hati karena mendengar pembicaraan Ong-hujin telah diketahui
Goik-Yan yang dikasihi itu ternyata adik perempuannya pula
seperti halnya Bok-wan-jing, maka ia lebih suka mati saja
daripada hidup merana, apalagi saat itu hawa murninya juga
tersesat sehingga Cau-hwa-Jip-mo, biarpun hendak melawan
serangan Buyung Hok juga tidak mampu, karena itu ia
mandak dibunuh dan menerima ajalnya.
Dalam pada itu perasaan Toan-hujin bagaikan disayat-
sayat ketika dilihatnya Buyung Hok sedang mendekati Toan Ki
dengan pedang terhunus. "Oooo!" mendadak ia menjerit
kuatir.
Cepat Yan-khing berkata, "Nak, kebaktianmu ini sungguh
harus dipuji Bocah Toan Ki itu terlalu menyakiti hatiku,
berulang ia mempermainkan aku, paman dan ayahnya,
mengangkangi pula tahtaku sehingga hidupku merana dan
badanku cacat begini, untuk semua itu ayah ingin membunuh
bangsat cilik itu dengan tanganku sendiri sekedar
melampiaskan rasa dendamku."
"Baiklah," kata Buyung Hok, Lalu la membalik tubuh dan
menyodorkan pedang kepada Toan Yan-khing. Tapi segera ia
berseru pula, "Ai, anak benar-benar sudah pikun, seharusnya
kuberikan obat penawar lebih dulu."
Dan Segera ia mengeluarkan, sebotol obat tadi.
Tapi sekilas dilihatnya air muka Toan Yan-khing sedang
mengunjuk rasa senang dan seperti lagi mengedip mata
kepada seseorang.
Buyung Hok adalah orang maha cerdik, segera ia
mengikuti arah mata Toan Yan-khing, ia masih sempat melihat
Toan-hujín sedang menggangguk pelahan, air mukanya juga
mengunjuk rasa bersyukur dan berterima kasih yang tak
terhingga.
Melihat itu, seketika timbul rasa curiga Buyung Hok. Cuma
mimpi pun dia tidak menyangka bahwa Toan Ki sebenarnya
adalah putra Toan Yan-khing dari hubüngan gelap dengan
Toan-hujin atau Su Pek-hong, bahwa Toan Yan-khing lebih
suka mengorbankan jiwanya sendiri daripada menyaksikan
putra satu-satunya itu mati konyol dibünuh orang, sedangkan
soal tahta kerajaan segala lebih-lebih tak terpikir pula olehnya.
Sebaliknya pikiran yang pertama-tama timbul dalam benak
Buyung Hok adalah, "Jangan-jangan di antara Toan Cing-sun
dan Toan Yan-khing ada persekongkolan? Betapapun mereka
adalah sesama keluarga Toan dari Tàlli, mereka adalah
saudára sepupu sendiri, hubungan mereka tentu lebih baik
daripada diriku yang tiada sangkut-paut apa-apa dengan
mereka.”
Tapi segera terpikir pula olehnya, "Jalan baik satu-satunya
sekarang ialah aku harus bertindak dengan tegas dan cepat,
aku harus berbuat beberapa jasa besar bagi Toan Yan-khing
untuk memperkuat kepercayaannya kepadaku.”
Segera ia berpaling ke arah Toan Cing-sun dan berkata,
"Tin lam-ong, setelah pulang ke Taili, kira-kira berapa lama
lagi engkau akan dapat menggantikan tahta kakakmu, dan
sesudah naik tahta, untuk berapa lama engkau akan berada di
singgasanamu dan kemudian menurunkan tahta lagi kepada
Gihuku?”
Cing-sun sangat memandang hina terhadap pribadi Buyung
Hok, maka jawabnya dengan acuh-tak-acuh, "Kakak
bagindaku memiliki Iwekang yang sangat tinggi, tenaganya
masìh amat kuat, boleh jadi dia akan bertahta selama 20 atau
30 tahun lagi. Bilamana beliau mewariskan tahtanya
kepadaku, baru pertama kali aku menjadi raja, sudah tentu
aku akan menikmati dengan baik-baik dan sedikitnya aku
harus bertahta 30 tahun. Habis itu, giliran anak Ki yang akan
menyambung tahtaku, tatkala mana dia sudah berusia 70 atau
80 tahun adaikan dia cuma menjadi raja selama 20 tahun,
maka total seluruhnya kaupun perlu tunggu lagi kira-kira 100
tahun "
"Ngaco belo!" damprat Buyung Hok. "Tidak kata aku
memberi batas waktu sebulan padamu untuk naik tahta
menjadi raja, sebulan lagi kamu harus menyerahkan
singgasanamu kepada Gihuku, Yan-khing Thaicu."
Tapi Cing-sun sudah jelas melihat situasi di depan mata
sekarang. Nyata Toan Yan-khing dan Buyung Hok akan
menggunakan dia sebagai batu loncatan untuk menuju tahta
kerajaan Taili, sesudah dia menurunkan tahtanya kepada Toan
Yan-khing nanti barulah mereka akan membunuhnya, Tapi
sekarang dia masih diperlukan, tentu tidak berani
mengganggunya seujung rambut pun, bahkan kalau ada
musuh tentu mereka akan membelanya malah. Sebaliknya
Toan Ki yang berada dalam keadaan terancam.
Karena pikiran, segera Cing-sun terbahak dan berkata,
"Tahtaku nanti hanya dapat kuturun kepada anakku Toan Ki,
jika aku disuruh mempercepat mengundurkan diri juga boleh,
tapi tidak mungkin tahtaku diserahkan kepada orang luar."
"Dengan telingaku sendiri kudengar kami berjanji akan
menyerahkan tahta kepada Yan-khing Thaicu, kenapa
sekarang kamu ingkar janji sendiri?” kata Buyung Hok dengan
gusar.
"Cara bagaimana telingamu dapat mendengar sendiri?"
sahut Cing-sun dengan dingin. "Hehe, kakak Yan-khing,
tentunya engkau tidak mengira bahwa 'walang hendak
menangkap tonggeret, tak tahunya di belakang mengincar
pula si burung gereja'. Rupanya waktu engkau menjebak aku,
takkala itu si Buyung-kongcu yang bagus ini pun siap
mengincar diriku.”
Buyung Hok terkesiap, "Celaka ucapanku agak tidak tepat.
Dasar tua bangka dan licin, Tin-lam-ong ini sungguh sukar
dilayani.”
Maka cepat membelok pokok pembicaraan, katanya
dengan mengejek, “Hm, bagus juga, biar kumampuskan dulu
Toan Ki si anak keparat ini, nanti kamu boleh mewariskan
tahtamu kepada arwah setannya.”
Habis berkata kembali ia hunus pedangnya dan akan
melangkah maju pula.
"Hahahaha! Memangnya kau anggap aku Toan Cing-sun ini
manusia apa?" seru Cing-sun dengan bergelak tawa. "Jika kau
bunuh putraku, apakah kau kira aku lantas rela dipermainkan
olehmu? Nah, jika mau bunuh boleh lekas membunuhnya,
kalau perlu boleh juga bunuhlah aku sekalian."
Sesaat Buyung Hok menjadi ragu malah oleh tantangan
itu. Kalau dia mau membunub Toan Ki sekarang boleh dikata
terlalu mudah, hanya sekali ayun pedang dan beres sudah.
Tapi ia pun kuatir Cing sun menjadi kalap karena putranya
dibunuh dan benar-benar tidak pikir akan jiwa sendiri, jika
demikian maka tahta yang akan diterima Toan Yan-khing
tentu akan gagal pula.
Begitulah sambil menghunus pedang yang gemerlapan
sehingga wajahnya yang putih bersih kelihatan bersemu hijau
kepucat-pucatan, Buyung Hok berpaling ke arah Toan Yan-
khing untuk mendengarkan pendapat atau perintahnya.
Maka berkatalah Yan-khing, "Orang ini biasanya memang
sangat kepala batu, berani berkata dan berani berbuat. Bila
dia benar-benar bunuh diri dengan minum racun atau
membenturkan kepalanya sehingga pecah, maka rencana kita
yang muluk-muluk akan menjadi buyar pula dengan sia-sia.
Baiklah, sementara ini kita jangan membunuh bocah Toan Ki
itu, sekali dia sudah jatuh dalam cengkeraman kita, tak perlu
takut dia akan terbang ke langit. Sekarang berikan obat
penawarmu itu kepadaku."
"Ya," sahut Buyüng Hok.
Di mulut dia mengiakan, tapi dalam batín ia sedang
berpikir, "Barusan Yan-khing Thaicu mengedipi Toan-hujin,
apakah artinya itu? Selama pertanyaan ini belum terjawab,
betapapun tetap menyangsikan bila kuberikan obat penawar
padanya. Tapi kalau aku mengulur waktu lagi tentu dia akan
gusar, lantas bagaimana baiknya?"
Dalam keadaan ragu kebetulan saat itu terdengar Ong-
hujin berteriak-teriak, "Buyung Hok, kamu anak kurangajar,
kau bilang akan memberi obat penawar kepada bibi, tapi
sesudah kau dapatkan seorang ayah angkat seperti siluman
itu lantas lupa kepada bibimu. Jika tidak lekas kau beri obat
penawar, jangan kau salahkan aku akan memaki dengan kata-
kata kotor. Dan siluman yang tidak mirip manusia dan lebih
mirip setan . . . . . "
Buyung Hok merasa kebetulan mendengar caci maki Ong-
hujin itu, katanya terhadap Toan Yan-khing, "Gihu, watak
bibiku memang keras, kalau ucapannya ada yang
menyinggung perasaan Gihu mohon suka dimaafkan. Ayar dia
tidak ribut lagi, biarlah anak menyembuhkan dia lebih dulu,
habis itu baru Gihu."
Habis berkata ia terus menyodorkan botol kecil ke hidung
Ong-hujin.
Seketika Ong-hujin mengendus bau busuk dari dalam bolol
porselen kecil itu. Segera ia hendak mendamprat Buyung Hok,
disangkanya keponakannya itu lagi mempermainkannya. Tak
terduga, mendadak kaki dan tangannya terasa mulai
bertenaga, lewat sejenak pula lantas terasa dapat bergerak
seperti biasa. Tanpa bicara lagi ia terus sambar botol kecil itu
dari tangan Buyung Hok dan menciumnya dengan keras-keras
dan tak berhenti-henti.
Untuk mengulur waktu, Buyung Hok tidak mencegah
perbuatan Ong-hujin itu, hanya diam-diam ia mengawasi
gerak-gerik Toan Yan-khing dan Toan-hujin.
Tiba-tiba terdengar Ong-hujin berseru, "Tit-ji, mengapa
tidak kau bunuh saja ketiga perempuan siluman rase itu untuk
melampiaskan rasa dendam bibi ini."
Hati Buyung Hok tergerak, pikirnya, "Benar juga, Wi Sing-
tiok, Cin Ang-bian dan Ciong-hujin itu semua kekasih Tin-lam-
ong, kalau kugunakan jiwa mereka untuk memaksa Tin-lam-
ong, agar menyerahkan tahtanya kepada Yan-khing Thaisu,
jalan ini mungkin akan berhasil, berbareng juga dapat
membikin senang hati bibi."
Segera ia mengacungkan ujung pedang ke arah Wi Sing-
tiok sambil mengancam, "Tin-lam-ong, kau mau menyerahkan
tahtamu kepada Yan-khing Thaicu atau tidak? Kalau tidak,
selir kesayanganmu ini satu per satu akan kubinasakan."
Ternyata Toan Cing-sun tídak mau pandang barang
sekejap pun, sebaliknya bersikap menentang malah. Keruan
Buyung Hok menjadi kalap, pedang terus menusuk ke depan,
kontan darah menyembur keluar dari dada Wi Sing-tiok,
nyonya itu tidak sempat bicara sedikit pun lantas binasa.
Menyusul ujung pedang Buyung Hok beralih ke perut Cin
Ang-bian dan bertanya kepada Toan-Cing-Sun, “Kau mau
menyerahkan tahta atau tidak?“
Lagi-lagi Cing-sun tidak menggubrisnya dan kembali
Buyung membunuh pula ibu Bok Wan-jing itu dengan
menubleskan pedang ke perutnya. Kemudian ujung
pedangnya lantas berberganti arah dan mengancam hulu hati
Ciong-hujin.
Tatkala itu sorot mata Buyung Hok telah memantulkan
sinar kebiruan, air mukanya pucat menghijau. Ketika melihat
Toan Cing-sun tetap tidak menggubrisnya, ia tambah gemas,
kontan ia bunuh Ciong hujin pula.
Sesudah membunuh Wi Sing-tiok, Cín Ang-bian dan Ciong-
hujin bertiga, ketika melihat Cing-sun tetap berdiri kaku dan
tidak ada reaksi apa-apa, karuan Buyung Hok tambah
geregetan, serunya kalap, "Tin-lam-ong, lekas katakan kau
mau menyerahkan tahtamu atau tidak? Kalau tetap diam saja
biar kubunuh sekalian bibiku ini!"
Sembari berkata ujung pedangnya terus mengarah dada
Ong-hujin sambil mendesak maju selangkah demi selangkah.
"Toan-long!" seru Ong-hujín dengan suara gemetar. "Apa
engkau benar-benar sedemikian benci padaku sehingga ingin
membikin celaka diriku?"
Rupanya ia cukup kenal watak Buyung Hok yang keji dan
ganas itu, demi mencapai cita-citanya tentu dia tidak pikirkan
tentang bibi atau bukan. Asal Cing-sun mau memperhatikan
cintanya kepadanya, tentu Buyung Hok takkan segera
membunuhnya, tapi akan memperalat dia untuk memaksa
kehendaknya atas diri Toan Cing-sun.
Karena tempat Ong-hujin berdiri berada di depan Toan
Cing-sun, maka Cing-sun dapat melihat sorot matanya yang
mengunjuk rasa ketakutan dengan muka yang cantik itu mirip
benar dengan wajah Wi Sing-tiok yang sudah menemui
ajalnya itu, mau tak mau terbayanglah hubungan asmara
mereka masa lampau, seketika perasaan Cíng-sun tergugah.
Segera ia mencaci-maki, "Perempuan tua bangka perempuan
bejat yang tídak tahu diri, kamu yang mengakibatkan ketiga
kekasihku terbunuh semua, coba kalau aku dapat bergerak,
sungguh aku ingin mencencangmu sehingga hancur lebur. Ayo
Buyung Hok, tusuk saja biar mampus perempuan keparat itu!”
Ia tahu semakin keji caci-makinya semakin membuat ragu
Buyung Hok dan tidak beraní sembarangan membunuh
bibinya.
Segera Ong-hujin jadi paham juga, dengan caci-maki Toan
Cing-sun itu, terang dia telah tergugah hatinya akan
hubungan mereka masa lampau dan dengan mencaci maki itu
Cing-sun telah membuat ragu Buyung Hok dan tidak jadi
membunuhnya.
Namun karena rindunya kepada Toan Cing-sun selama
belasan tahun berpisah ini telah membuat pikirannya banyak
berubah. Ketika dilihatnya tiga sosok mayat menggeletak di
depannya, sebatang pedang dengan berlumuran darah
mengancam dadanya, sekonyong-konyong pikiran sehatnya
menjadi kabur.
Apalagi caci maki Cing sun yang keji itu dengan
menggunakan macam-macam kata rendah dan kotor sehingga
kalau dibandingkan sumpah setia mereka yang penuh kata-
kata madu masa dahulu, sungguh bedanya seperti langit dan
bumi. Maka air matanya lantas bercucuran, katanya, "Toan
long, apakah engkau telah melupakan semua ucapanmu yang
pernah kaukatakan padaku dahulu? Apa sedikit pun engkau
tidak memikirkan diriku lagi? O, Toan-long, ketahuilah bahwa
sampai detik ini aku masih tetap cinta padamu. Kita sudah
berpisah sekian lama, dengan susah-payah akhirnya baru kita
dapat bertemu seperti sekarang ini, tapi mengapa engkau
tidak sudi bicara secara ramah padaku? . . . apa engkau tidak
pernah melihat pu . . . putrimu yang kulahirkan si Giok-yan
ini? Apakah engkau tidak suka padanya?”
Diam-diam Cing-sun menjadi kuatir, "Wah, tampaknya
pikiran A Mong agak kacau. Kalau aku mengutarakan sedikit
perasaan cintaku padanya tentu jiwanya akan segera
melayang dí ujung pedang Buyung Hok."
Karena itulah ia lantas membentak dengan suara bengis,
"Perempuan keparat, kita sudah lama putus hubungan,
mengapa kamu masih ada muka untuk mengoceh! Hm, kalau
bisa aku ingin menghajarmu untuk melampiaskan rasa benciku
padamu!''
"O, Toan-long, tega amat kau!” seru Ong-hujin dengan
menangis. Mendadak tubuhnya nubruk ke depan sehingga
tepat menerjang ujung pedang yang mengancam di depan
dadanya.
Sesaat itu Buyung Hok menjadi ragu apakah mesti menarik
pedangnya atau tidak, namun tubuh Ong-hujin tahunya sudah
menerjang maju sehingga ujung pedangnya, maka darah
segar lantas menyembur keluar dari dada Ong-hujin.
"Toan long. O, Toan long, tega benar kau!" Ong-hujin
masih sempat berseru pula dengan suara gemetar.
Melihat tüsukan itu tepat mengenai tempat yang
mematikan dan terang bekas kekasih itu sukar tertolong lagi.
Seketika air mata bercucuran di pipí Toan Cing-sun, katanya
dengan suara parau, " A Mong, O. Mong, sebabnya aku
mencaci-makí sebenarnya jüstru ingin keselamataan dirimu.
Pertemuaan kita hari ini sesungguhnya membuat hatiku girang
tak terkatakan, masa aku benci padamu, mana mungkin aku
lupa padamu kita dahulu, Cintaku padamu akan tetap suci
bersih sebagaimana waktu kupersembahkan setangkai bunga
kamelia putih padamu."
Wajah Ong-hujin yang pucat itu menampilkan senyuman
puas, katanya dengan lemah, "Baiklah jika begitu, memang
aku yakin dalam lubuk hatimu tentu akan selalu terukir
bayanganku dan selamanya takkan pernah melupakan daku . .
.."
Begitulah makin lemah suaranya ketika kepalanya miring
ke samping dan mangkatlah dia.
"Nah, Tin-lam-ong, perempuan yang kau cintai satu per
satu telah mati bagimu, apa barangkali untuk penghabisan kali
istrimu yang sah ini pun tidak kaupikirkan dan akan dibiarkan
dia mati juga karena gara-garamu?" ancam Buyung Hok
dengan menjengek, ujung pedang lantas mengancam pula
dada Toan-hujin.
Tatkala itu Toan Ki masih menggeletak di atas tanah, ia
dengar Wi Sing-tiok, Cin Ang-bian, Ciong-hujin dan Ong-hujin
satu persatu telah binasa di bawah pedang Buyung Hok,
bahkan sekarang jiwa ibunya diancam pula untuk menggertak
ayahnya, betapapun hubungan darah antara Ibu dan anak
melebihi segalanya, tentu saja Toan Ki kuatir dan kelabakan.
Sungguh ia ingin berteriak ''Jangan menyentuh ibuku! Jangan
mencelakai ibuku!"
Tapi mulutnya tersumbat sehingga tidak dapat bersuara
sedikit pun, ia hanya berusaha meronta sekuatnya, tapi hawa
murni dalam tubuhnya seakan-akan buntu, sama sekali tak
dapat dikerahkan sedikit pun.
Dàlam pada itu terdengar Buyung Hok berkata, "Tin-lam-
Ong, aku akan menghitung tiga kali kalau kamu tetap bandel
dan tak mau berjanji akan menyerahkan tahta kepada Yan-
khìng thaicu maka dengan segera jiwa permaisurimu akan
melayang juga.
"Jangan! Jangan mencelakai ibukul" demikian Toan Ki
hendak berteriak tapi suaranya sukar diucapkan.
Syukurlah lamat-lamat ia dengar Toan Yan khing sedang
berkata kepada Buyung Hok, "Nanti dulu, urusan ini harus kita
pikirkan lebih panjang.”
"Gihu!" demikian Buyung Hok menjawab. "urusan hari
adalah maha penting dan menyangkut rencana hari depan kita
kalau dia tetap tidak mau berjanji untuk menyerahkan tahta
kepada Gihu, maka semua rencana kita akan gagal
seluruhnya. Nah, satu . . . . "
"Jika kau ingin aku berjanji, lebih dulu harus kau penuhi
suatu syaratku," tiba-tiba Cing-sun menyela.
"Kalau mau bilang mau jika tidak katakan tidak. Jangan
kaukira aku dapat diakali dengan tipu mengulur waktu. Nah,
dua . . . bagaimana?”
Cíng-sun menghela napas panjang "Ya, apa mau dikatakan
lagi, selama hidupku memang sudah penuh berlumuran dosa,
kalau sekarang bisa matí bersama-sama rasanya juga tidak
penasaran."
"Jadi kamu benar-benar tidak mau menuruti? Nah, tiga . . .
.”
Begitu kata "tiga" diucapkan Buyung Hok, tertampak Toan
Cin-sun lantas berpaling ke arah lain dan tak menggubris lagi
padanya.
Dengan murka baru saja Buyung Hok hendak menusukkan
pedangnya ke dada Toan hujin. Sekonyong-konyong bahu
kanan terasa ditumbuk sesuatu, tanpa kuasa ia tergeliat ke
samping. Menyusul lantas kelihaian Toan Ki melompat bangun
dan menyeruduk ke arah perutnya dengan kepala.
Karena tidak terduga-duga, cepat Buyung Hok menerobos
serudukan Toan Ki itu, pikirnya "Bocah ini sudah kena sengat
kawanan tawon beracun, dan terkena pula racun kabut bunga
merah, di bawah racun ganda ini mengapa dia masih dapat
melompat bangun?"
Sebaliknya karena menyeruduk tidak kena sasarannya,
akhirnya kepala Toan Ki menyerempet tepian meja sehingga
kepalanya benjut. Dalam keadaân gugup dan kuatir ia tidak
ingat kepalanya yang benjut dan sakit itu. segera ia meronta
sekuatnya dan entah dari mana datangnya tenaga, tahu-tahu
tali kulit yang mengikat kedua tangannya menjadi putus.
Kiranya semula karena hati Toan Ki merasa berduka
sehingga hawa murni dalam tubuhnya tersesat ke urat yang
salah. Kemudian ketika mendengar Buyung Hok hendak
membunuh ibunya, saking kuatir dan gugupnya ia menjadi
lupa akan dirinya apakah terkena penyakit Cau-hwe-jip-mo
atau tidak karena itu hawa murni yang sesat jalan tadi secara
otomatis lantas masuk kembali ke jalan yang benar.
Hendaklah maklum bahwa seorang yang berlatih iwekang
adalah dengan jalan mencurahkan pikirannya untuk mengatur
tenaga dalam agar berjalan menuruti urat nadi yang tepat.
Kalau sampai Cau-hwe-jip-mo, yaitu tenaga dalam tersesat
(kira-kira sama dengan penyakit kelumpuhan) semakin merasa
gelisah dan gugup dengan maksud hendak menarik kembali
jalannya hawa yang tersesat itu maka hasilnya akan terjadi
sebaliknya malah bukannya hawa sesat jalan itu àkan ditarik
kembali sebaliknya makin menjurus ke jalan yang salah.
Tapi sekarang yang terpikir oleh Toan Ki adalah melulu
keselamatan ibundanya dan hawa murninya tidak terpengaruh
oleh pikiran yang kacau tadi maka dengan sendirinya hawa
murni itu masuk kembali kejalan yang benar menurut arahnya.
Waktu dia dengar Buyung Hok mengucapkan kata-kata "tiga,"
seketika ia lupa dirinya berada dalam ringkusan musuh dan
segera melompat bangun terus menyeruduk ke arah suara
Buyung Hok jadi di luar dugaannya mendadak tubuhnya dapat
bergerak kembali.
Begitu kedua tangannya terlepas dari ringkusan tali kulit,
demi mendengar Buyung Hok sedang memaki, sebelum
musuh sempat menyerang, terus saja ia mendahului
mengeluarkan "Siang-yang-kiam" dari Lak-meh-sin-kiam yang
lihai, kontan Jari manisnya menuding ke arah Buyung Hok.
Pedang yang dipegang Buyung Hok adalah pedang wasiat
Man-to-san-ceng yang dapat memotong sayur. Ketika ia
hendak menusuk, tahu-tahu hawa pedang Toan Ki sudah
menyambar tiba cepat ia berkelit ke samping dañ kontan balas
menusuk dengan pedangnya.
Saat itu kedua mata Toan Ki masih tertutup oleh kain
hitam, mulutnya juga masih tersumbat. Kalau mulut takh bisa
bicara sih tidak menjadi soal. Tapi mata tak dapat memandang
di mana beradanya musuh, karuan Toan Ki menjadi
kelabakan, dalam gugupnya itu terpaksa kedua tangannya
bergerak ke sana dan ke sini, jarinya menuding secara
serabutan agar lawan tidak berani mendesak maju.
Diam-diam Buyung Hok membatin, "Keadaan sudah
berubah dan membahayakan, sebelum dia dapat melihat aku
harus mendahului membinasakan diä.”
Segera pedàngnya mengacung lurus ke depan dengan
gerak tipu "Tai-kang-long-liu" (sungai mengalir ke timur)
secepat kilat ia tusuk pula dada Toan Ki.
Saat itu kedua tangan Toan Ki sedang bergerak ke sana-
sini dan menuding serabutan. Ketika mendadak terdengar
angin tajam menyambar tiba, cepat ia berkelit, namun sudah
terlambat sedikit, “Cret” bahunya kena tusukan.
Karena kesakitan dengan gugup Toan Ki meloncat mundur,
di luar dugaan, "blang!". Tahu-tahu kepalanya membentur
belandar rumah dan tambah benjut.
Hendaklah maklum bahwa sesudah Toan Ki berhasil
menyedot tenaga dalam Cumoti di sumur kering itu, maka
betapa hebat kekuatannya boleh dikata sukar diukur lagi.
Karena itulah hanya sedikit meloncat saja tingginya sudah
mencapa¡ belandar rumah.
Dalam keadaan masih terapung di udara segera Toan Ki
berpikir, "Mataku tak dapat melihat apa-apa, dengan
sendirinya aku tak dapat menyerang dia dengan jitu,
sebaliknya setiap saat ada kemungkinan aku akan dibunuh
olehnya, wah, apa akalku sekarang? Jika melulu aku yang
terbunuh tidak menjadi soal, tapi ibu dan ayah tentu juga tak
tertolong lagi."
Dan karena tubuhnya terapung, dengan sendirinya kakinya
meronta-ronta, eh, di luar dugaan, "praakk", tahu-tahu tali
kulit yang meringkus kedua kaki pun putus semua.
Karuan Toan Ki kegirangan, "Bagus! Jika kedua kaki sudah
dapat bebas bergerak, biarlah aku menggunakan "Leng-po-wi-
poh" untuk menghindarkan serangannya. Tempo hari ketika
dia menyamar sebagai Li Yan-cong dari Se He dan hendak
membunuh aku di rumah gilingan, dia juga tidak berkutik
menghadapi langkahku yang ajaib ini.”
Begitulah, maka sewaktu sebelum kakinya baru saja
menyentuh tanah, terus saja kaki yang lain menggeser ke
samping, sedikit badan mengegos, dengan tepat tusukan
Buyung Hok yang dilontarkan pun dapat dihindarkannya.
Orang lain hanya melihat berkelebatnya sinar pedang
menyambar lewat di samping dadanya, selisihnya hanya satu-
dua senti saja, tampaknya sangat berbahaya, tapi gayanya
sangat indah dan langkah ajaib itu tak terlukiskan.
Sebenarnya hal ini pun secara kebetulan saja, Coba kalau
mata Toan Ki tidak tertutup dan tidak menggunakan "Leng-po-
wi-poh", karena dia sama sekali tidak mahir gerak ilmu silat,
maka dapat dipastikan jiwanya sudah melayang di ujung
pedang Buyung Hok yang tidak kenal ampun itu.
Dalam pada itu Buyung Hok lantas pergencar serangannya,
tapi tetap tidak dapat mengenai Toan Ki. Rupanya ia menjadi
gelisah dan merasa malu pula. Ia lihat Toan Ki tetap memakai
kain kedok, seakan-akan sengaja mempermainkan dia, karuan
ia tambah panas hatinya. Pikirnya, ”Terhadap seorang yang
matanya tertutup kain saja aku tak mampu menang, masakah
aku masih ada muka untuk hidup di dunia ini?"
Begitulah, dengan mata merah membara saking
gemasnya, ia putar pedang secepat kitiran dan menyambar
kian kemari di ruangan itu, hanya dalam sekejap saja Toan Ki
sudah terbungkus di tengah lingkaran pedangnya.
Ruangan itu memang tidak terlalu luas, maka semua
orang, termasuk Toan Yan-khing, Toan Cin-sun, Toan-hujin,
Hoan Hwa dan lain-lain ikut terdesak mundur oleh gemerlap
sinar pedang yang dingin tajam itu, maka mereka sampai
merasa perih.
Sebaliknya Toan Ki tampak dapat berjalan ke kanan dan
melangkah ke kiri dengan seenaknya saja bagaikan orang lagi
berjalan-jalan iseng di taman. Dan aneh juga, biarpun Buyung
Hok putar pedangnya sedemikian gencarnya dan serangannya
bertubi-tubi, tapi hasilnya tetap nihil, sampai ujung baju lawan
saja tak bisa menyenggolnya, Karuan lama-lama Buyung Hok
menjadi kelabakan sendiri dan seperti orang kebakaran
jenggot.
Dengan menggunakan langkah ajaib "Leng-po-wi-poh",
dengan sendirinya Buyung Hok sukar melukai Toan Ki. Namun
begitu Toan Ki sendiri menjadi ragu dan berpikir, ”Aku hanya
diserang melulu dan tak bisa balas menyerang, mataku tak
kelihatan pula, Jika mendadák ibu atau ayahku yang dia
serang, wah tentu mereka akan celaka?"
Begitulah, rupanya ia tetap lupa bahwa matanya hanya
tertutup oleh selapis kain hitam saja, sedangkan tangannya
sekarang sudah bebas, mestinya dengan dampang kain hitam
itu dapat dilepaskannya. Namun ia tetap tidak pikir sampai ke
situ.
Padahal hal itu yang dipikirkan oleh Buyung Hok hanya
Toan Kí seorang yang dianggapnya sebagai bibit penyakit
utama baginya. maka ia tidak berpikir untuk membunuh Toan-
hujin atau orang lain.
Akan tetapi meski dia sudah menyerang berpuluh kali,
bahkan sampai ratusan kali, tetap tidak mampu melukai Toan
Ki, apalagi hendak membunuhnya. Dalam gelisahnya tiba-tiba
hatinya tergerak, pikirnya, “ Rupanya bocah íni mahir ilmu
"Thing-hong-pian-gi" (mendengarkan suara angin
membedakan arah serangan) untuk menghindari seranganku.
Coba kalau aku ganti ilmu pedangku, akan kuserang dengan
pukulan supaya tidak mengeluarkan suara, dengan demikian
tentu bocah keparat ini tidak mampu menghindar.”
Maka mendadak ia perlambat permainan pedangnya, ia
ubah serangannya, tiba-tiba ia menusuk dengan pelahan
sehingga tidak mengeluarkan suara sambaran angin atau
mendengingnya logam.
Ia tidak tahu bahwa "Leng-po-wi-poh'' yang dimainkan
Toan Ki itu adalah semacam langkah ajaib yang tersusun
demikian rupa orangnya melangkah menurutkan apa yang
sudah teratur itu dan peduli musuh akan menyerang dengan
cara bagaimana pun, biar senjatanya mengeluarkan suara
gemuruh bagai guntur atau menyambar secepat kilat tanpa
suara, semuanya itu tetap tiada sangkut-pautnya atau
mempengaruhi langkah ajaib itu. Sebaliknya jika lawan
menyerang secara ngawur maka dengan mudah Toan Ki akan
dirobohkan malah. Jadi langkah ajaib ini susah diikuti oleh
serangan yang menurutkan ilmu silat sejati, sebaliknya mudah
meruntuhkannya hanya dengan serangan yang tak beratur
yang ngawur.
Sebagài tokoh silat terkemuka seperti Toan Yan-Khing
mestinya ia dapàt menjajaki sampai dimana letak kemujizatan
kepandaian Toan Ki itu, tapi sejak diketahui pemuda itu adalah
putranya sendiri, mau-tak-mau ia lantas mencurahkan
perhatian atas keselamatan pemuda itu, dan karena perhatian
itulah telah memencarkan perhatiannya. Maka demi melihat
Buyung Hok mengubah permainan pedangnya dan menusuk
dengan tidak mengeluarkan suara karuan ia terkejut, cepat ia
berseru dengan suara dalam perut, "Awas, Nak! Lebih baik
lekas kau bunuh dia saja. Jika mendadak ia buka kain hitam
yang menutupi matanya itu tentu kita yang akan binasa
ditangannya."
Buyung Hok terperanjat dan diam-diam memaki, "Sungguh
goblok, bukankah ucapanmu ini berarti membikin sadar
musuh?”
Benar saja, ucapan Yan-khing itu telah menyadarkan Toan
Ki, untuk seketika ia tertegun, segera ia tarik lepas kain hitam
yang menutupi matanya itu.
Tapi sekonyong-konyong matanya menjadi silau, pedang
musuh yang mengkilat sudah menyambar sampai di mukanya.
Dasar Toan Ki memang tidak mahir ilmu silat, lebih-lebih
tiada pengalaman medan tempur karuan ia menjadi kaget dan
kelabakan atas datangnya serangan itu, cepat ia berkelit
sebisanya. Dan karena bingungnya itu, langkahnya yang ajaib
itü menjadi kacau. Dálam päda itu serangan susulan Buyung
Hpk yang lain sudah tiba pula, "cret", tanpa ampun lagi paha
kiri Toan Ki tertusuk kembali. Kontan pemuda itu terguling ke
tanah.
Sungguh girang Büyung Hok tidak kepalang segera ia
memburu maju, kembali pedangnya menusuk lagi ke dada
Toan Ki.
Namun Toan Ki sempat siap siaga, dengan setengah rebah
di tanah segera ia memapak dengan jurus "Siau-tik-kiam".
Biarpun pahanya terluka dan darah mengucur keluar bagai
mata air, kedua tangannya dapat digerakan dengan bebas, ia
mainkan "Lak-meh-sin-kiam” yang lihai itu dengan menuding
ke atas dan ke bawah secara bertubi-tübi sehingga Buyung
Hok berbalik terdesak dan sükar menangkis.
Waktu di Siau-sit-san tempo hari juga Buyung Hok sudah
pernah dibikin keok oleh Toan Ki, apalagi sekarang iwekang
Toan Ki sudah bertambah kuat dengan tenaga dalam yang
disedotnya dari Cumoti. Keruan betapa lihai Lak-meh-sin-kiam
yang dimainkannya boleh dikata tiada bandingannya.
Hanya dalam beberapa jurus saja lantas terdengar suara
”cring” sekali, pedang Buyung Hok terlepas dari cekalan,
mencelat ke atas dan menancap di belandar rumah. Bahkan
menyusul terdengar pula "cret" sekali, bahu Buyung Hok
terluka oleh tusukan hawa padang Lak-meh-sing-kiam.
Setelah pedang terpental dan bahu terluka, Buyung Hok
insaf bila ayal sejenak lagi di situ tentu akan mati konyol
dibunuh oleh Toan Ki. Maka sambil menjerit keras-keras
sekali, cepat ia melompat keluar dan melarikan diri.
Pelahan Toan Ki merangkak bangun dan berseru, "Ibu,
ayah, kalian tidak terluka?”
Tapi ibunya balas berseru. "lekas robek kain bajumu dan
balut dulu lukamu!"
"Ah, tak apa-apa," sahut Toan Ki. Segera ia ambil botol
kecil, yang masih dipegang Ong-hujin yang sudah tak
bernyawa itu dan diserahkan kepada ibunya.
Hanya beberapa kali saja mengendus isi botol itu segera
Toan-hujin merasa segar kembali, lalu nyonya itu membalut
luka Toan Ki.
Kemudian Cing-sun memberi petunjuk kepada Toan Ki cara
mengarahkan tenaga untuk membuka hiat-to semua orang
yang tertutuk itu, lalu diberi cium obat penawar dalam botol
kecil itu untuk menawarkan racun kabut bunga merah.
Akhirnya cuma tinggal Toan Yan-khing saja seorang yang
masih meringkuk di kursinya dalam keadaan lumpuh tak
berkutik.
Mendadak Cing-sun melompat ke atas, ia cabut pedang
yang menancap di belandar yang ditinggalkan Buyung Hok
tadi. Ujung pedang ìtu berlumuran darah Wi Sing-tiok. Cín
Ang-bian, Ciong-hujin dan Ong-hujin berempat. Setiap wanita
itu pernah bersumpah setia dengan Cing-sun dan mempunyai
ikatan jiwa-raga yang mendalam.
Meski watak Toan Cing-sun itu bangor dan cintanya tidak
teguh, tapi setiap kali bila dia mencintai seorang wanita, maka
kasih yang dicurahkannya juga sangat tulus dan tidak segan-
segan berkorban apa pun bagi kekasih itu.
Hendaklah maklum bahwa negeri Taili terletak dì wilayah
selatan yang terpencil di mana hidup suku-suku bangsa yang
adat istiadatnya tidak sama dengan bangsa Han, mereka tidak
terikat oleh adat kuno yang mengekang kebebasan dan tidak
terlalu memandang penting soal kesucian wanita sebelum
kawin. Sebab itulah meski Cing-sun adalah seorang ksatria
persilatan, tapi dalam hal wanita cantik ia tak bisa mengekang
diri sehingga banyak utang cinta di dunia kangouw.
Sekarang dilihatnya mayat keempat wanita bekas
kekasihnya itu bergelimpangan di atas tanah, kepala Ong-
hujin berbantalkan paha Ciu Ang-bian, badan Ciong-hujin
melintang di atas perut Wi sing-tiok. Keempat mereka itu pada
masa hidupnya pernah merasa kerinduan kasihnya dan lebih
banyak duka dari pada sukanya, bahkan akhirnya berkorban
jiwa pula baginya.
Tadi waktu Wi Sing-siok dibunuh oleh Buyung Hok, tatkala
itu Cing-sun sudah bertekad akan ikut bunuh diri, sekarang ia
lebih-lebih tiada pilihan lagi, pikirnya, "Anak Ki sekarang sudah
dewasa dan serba pintar, untuk selanjutnya kerajaan Taili
tidak perlu kuatir tak ada kepala negara yang bijaksana,
bagiku menjadi lebih-lebih tidak perlu berkuatir apa-apa lagi."
Tiba-tiba ia berpaling dan berkata kepada sang istri,
"Hujin, aku telah berdosa padamu, Dalam hatiku, para wanita
ini serupa dengan dirimu, semuanya jantung hatiku, cintaku
kepada mereka adalah tulus dan sungguh-sungguh, cintaku
kepadamu juga tulus dan murni!"
"Kakak Sun, kau . . . jangan . . . . . “ Teriak Toan-hujin
sambil menubruk ke arah sang suami.
Tadi karena Toan Ki ingin menolong ibunya, maka
sekaligus ia mengerahkan tenaga untukmelabrak Buyung Hok,
tapi kemudian setelah Buyung Hok melarikan diri, sesudah
rasa kuatirnya hilang, sekonyong-konyong ia ingat, He, tadi
aku dalam keadaan lumpuh, kenapa mendadak sudah baik?”
Karena kejutnya itu, kembali ia roboh, badan meringkuk
lemas dan tak sanggup berdiri lagi.
Dalam pada itu terdengar jeritan ngeri Toan-hujin,
ternyata Toan Cing-sun telah menobloskan pedang ke dada
sendiri. Cepat Toan-hujin mencabut keluar pedang itu dan
menutup luka sang suami dengan sebelah tangannya sambil
menangis, “O, engkoh Sun, biarpun engkau mempunyai
seratus atau seribu wanita lain juga aku tetap cinta padamu.
Terkadang aku memang marah dan dendam padamu, namun .
. . namun . . . semuanya itu sudah lalu . . . . "
Tikaman Toan Cing-sun atas dada sendiri itu tepat
mengenai jantung, begitu pedang masuk dada seketika pula
jiwanya melayang, maka ia tidak sempat lagi mendengarkan
jerit tangis sang istri.
Segera Toan-hujin membalik ujung pedang ke arah
dadanya sendiri, dan baru saja hendak ditusukkan, tiba-tiba
terdengar teriakan Toan Ki, “Ibu! . . . “
Dan karena sedikit ayalnya itu, arah pedang menjadi
melenceng dan menusuk ke dalam perut.
Melihat ayah ibunya sama mati dengan membunuh diri,
sungguh kaget Toan Ki tak terkatakan, kaki terasa lemas,
terus ia merangkak mendekati kedua orang tua yang
berlumuran darah dan mengeletak itu.
"Ibu! Ayah! Kalian meng . . . mengapa . . . . “
"Anakku, ayah dan ibu akan mangkat, hen . . . . . .
hendaknya jaga dirimu sendiri dengan baik”,pesan Toan-hujin
dengan lemah.
”Ti . . . tidak ibu! Jang . . . jangan kau tinggalkan anak!
Ayah! Dia . . . dia bagaimana? Demikian seru Toan Ki sambil
menangis dan merangkul pundak sang ibu. Maksudnya hendak
mencabut pedang yang menancap di perut ibunya itu, tapi
kuatir pula kalau pedang dicabut mungkin akan mempercepat
kematian orang tua itu.
”Kau . . . harus . . . harus meniru pamanmu. Nah, jadilah
seorang raja yang . . . yang baik, seorang raja yang arif,"
pesan Toan-hujin.
Tiba-tiba terdengar Toao Yan-khing berkata, ”Lekas
berikan obat penawar itu padaku, biar aku yang menolong
ibumu.”
Tapi Toan Ki menjadi gusar, bentaknya, "Semuanya gara-
garamu si bangsat tua ini, kamu yang menangkap ayahku
sehingga dia terbinasa. Dendamku padamu sedalam lautan!"
Mendadak ia melompat bangun, ia sambar sebatang
tongkat Toan Yan-khing yang terjatuh di lantai tadi, dengan
tongkat itu segera ia hendak mengepruk kepala Toan Yan-
khing.
"Jangan!" sekonyong-konyong Toan-hujin menjerit.
Toan Ki tercengang, tanyanya sambil menoleh, "Ibu.
bangsat ini musuh utama kita, biarlah anak membalaskan sakit
hatimu dan ayah."
Namun Toan-hujin tetap berseru dengan suara tajam,
"jang . . . jangan berbuat kesalahan demikian!”
"Aku . . . . aku berbuat salah?" Toan Ki menegas dengan
penuh tanda tanya. Tapi ia lantas menggertak gigi dan
membentak pula, "Tidak, aku harus membunuh bangsat ini!”
Dan segera ia angkat tongkat pula.
"Nanti dulu!" teriak Toan-hujin. "Coba kemari, ingin
kukatakan padamu."
Segera Toan Ki berjongkok dan menempelkan telinganya
ke tepl bibir sang ibu, ia dengar ibunya membisikinya, "Nak,
Toan Yan-khing ini sebenarnya ayahmu yang tulen, Soalnya
karena suamiku berbuat salah padaku, dalam marahku aku
pun berbuat sesuatu yang menyeleweng dan akhirnya terlahir
dirimu. Hal ini tak diketahui suamiku, dia tetap mengira kamu
adalah anaknya, padahal bukan. Jadi ayahmu yang
sebenarnya ialah Toan Yan-khing ini, maka tak boleh kau
bunuh dia, kalau . . . kalau kamu membunuhnya berarti
berbuat durhaka. Selamanya aku tak pernah suka padanya,
tapi kamu tak boleh ikut berdosa dan berbuat salah sehingga
kelak bila kamu mangkat tak . . . . takkan mencapai nirwana.
Mestinya aku tidak ingin memberitahukan hal ini padamu agar
tidak merusak nama baik suamiku, tapi . . . tapi apa daya,
terpaksa kukatakan . . . ."
Begitulah dalam waktu singkat kejadian yang sama sekali
di luar dugaan bagaikan bunyi halilintar susul menyusul
membuat Toan Ki terlongong-longong dan sangsi, hampir-
hampir ia tidak percaya pada telinganya sendirinya.
"Mak. . tapi ini tidak betul, ini . . . ini tidak betul!" seru
Toan Ki sambil tetap merangkul ibunya.
”Lekas berikan obat penawar padaku agar ibumu dapat
tertolong.” Yan-khing berseru pula.
Melihat keadan ibunya makin payah. Toan Ki tak sempat
banyak berpikir lagi, segera ia jumput kembali botol porselen
kecil tadi untuk menawarkan racun yang disedot Toan Yan-
khing tadi.
Sesudah pulih kembali tenaganya, segera Yan-khing
menjemput tongkatnya. "crit-crit-crit", beruntun ia tutuk
beberapa tempat hiat-to di sekitar luka Toan-hujin.
"Jang . . . jangan kau sentuh tubuhku lagi," kata Toan-
hujin sambil mengoyang-goyang kepala. Lalu bertanya pula
kepada Toan Ki, “Nak, aku ingin bicara lagi padamu.”
Segera Toan Ki menempelkan telinganya ke tepi mulut
sang ibu.
Dengan berbìsik-bisik Toan-hujin berkata padanya, "Meski
Toan Yan-khing ini sesama she dan satu angkatan dengan
suamiku Toan Cing-sun tapi mereka bukan saudara
sekandung. Maka beberapa putriku yang terlahir dari lain ibu
itu seperti nona Bok, nona Ong, nona Ciong dan lain-lain, asal
kamu suka boleh pilih yang mana saja untuk kawin, bahkan
bila senang boleh juga kau ambil semuanya, sebagai seorang
raja bila kelak naik tahta, adalah jamak bila mempunyai
beberapa istri. Mungkin bangsa Han mereka hanya pantanga
tentang sesama she tak boleh menikah dan sebagainya, tapi
kita adalah orang Tailì dan tidak peduli adat istiadat kuno itu,
asal bukan saudar sekandung boleh kauambil sebagai istri."
Toan-hujin menghela napas, katanya pula, "Anakku yang
baik, sayang aku tak dapat menyaksikan sendiri dirimu
mengenakan jubah kebesaranmu dan duduk di atas
singgasanmu, tapi Aku tahu, kamu pasti akan menjadi seorang
kepala negara, seorang pemimpin rakyat yang arif dan
bijaksanan.”
Sampai di sini sekonyong-konyong ia tekan gagang pedang
sehingga senjata yang maha tajam itu menembus perutnya.
"Mak!” jerit Toan Ki sambil menubruk tubuh sang ibu. Ia
lihat ibunya pelahan memejamkan mata dengan tersenyum.
Pada saat lain sekonyong-konyong ia merasa punggung
terasa kaku, menyusul beberapa hiat-to bagian pinggang, kaki
dan bahunya juga ditutuk orang. Lalu terdengar suara orang
yang sangat lirih tapi jelas berkumandang ke telinganya, ”Aku
adalah ayahmu, Toan Yan-khing. Demi untuk menjaga pamor
Tin-Lam-ong, Anak Ki aku sengaja bicara padamu dengan
menggunakan ilmu ”Thoan-im-jip-bit” (semacam ilmu
mengirim gelombang suara). Apakah kau dengar apa yang
dikatakan ibumu tadi?”
Kiranya biarkan Toan-hujin kepada Toan Ki tadi meski
sangat lirih tapi tatkala itu Toan Yan-khing sudah sembuh dari
keracunan, iwekangnya sudah pulih, maka ia dapat
mendengar pembicaan Toan-hujin dan mengetahui nyonya itu
telah membeberkan rahasia mereka dahulu.
Tapi dengan cepat Toan Ki menjawab, "Aku tak
mendengar, aku tidak mendengar apa-apa! Aku hanya
menginginkan ayah dan ibuku sendiri?"
Yan-khing menjadi gusar, katanya, ”Jadi kamu tidak mau
mengakui aku sebagai ayahmu?”
”Tidak! Tidak! Aku tidak percaya! Tidak percaya!” seru
Toan Ki.
"Saat ini jiwamu tergenggam dalam tanganku untuk
membunuhmu adalah terlalu mudah bagiku. Apalagi
sebenarnya kamu memang putraku, sekarang kamu tidak
mengakui ayahmu sendiri bukankah kamu ini anak yang tidak
berbakti?”
Toan Ki tak bisa menjawab. Ia percaya apa yang dikatakan
ibunya itu memang betul. Tapi selama lebih 20 tahun ini ia
memanggil Toan Cing-sun sebagai ayah, selama itu pula Cing-
sun juga sangat kasih-sayang padanya. sudah tentu ia tidak
tega mengesampingkan Toan Cing-sun untuk mengaku ayah
kepada orang yang selama ini tiada sesuatu hubungan
kekeluagaan dengan dirinya? Bahkan sekarang ayah-ibunya
sudah meninggal semua, kematian mereka boleh dlkata
adalah gara-gara perbuatan Toan Yan-khing, sudah tentu hal
ini semakin membuatnya serba salah untuk mengakui musuh
sebagai ayah.
Karena pikiran demikian, dengan ketus Toan Ki menjawab,
"Tidak, biarpun kau bunuh aku tetap aku takkan
mengakuimu."
Keruan Yan-khing tambah murka, pikirnya, "Meski aku
punya seorang putra, tapi putra ini tidak sudi mengakui aku
sebagai ayahnya, hal ini sama dengan tidak punya anak.”
Dalam kalapnya pikiran jahatnya lantas timbul tongkat
diangkat dan segera hendak mengetuk punggung Toan Ki.
Tapi baru saja ujung tongkat menyentuh baju punggung
pemuda itu, tiba tiba hatinya menjadi lemah, ia menghela
napas panjang, katanya di dalam hàti, "Aku telah hidup
sengsara selama ini, di dunia tiada seorang pun dekat
denganku, akhirnya dapat díketahui aku mempunyai seorang
putra, mengapa aku tega membunuhnya pula dengan
Tanganku sendiri? Ya, sudahlah baik dia akan mengakui aku
atau tidak, betapapun dia tetap anak keturunanku."
Kemudian terpikir pula olehnya, ”Sekarang Cing-sun sudah
mati, dengan sendirinya anakku ìnilah yang menjadi ahliwaris
kerajaan Taili, jadi tahta kerajaan Taili akan kembali lagi
kepada orang keturunan lurus ayahku. Biarpun aku tidak
berhasil menjadi raja, tapi anakku yang akan naik tahta. Hal
ini pun sama saja dan cita-citaku selama ini boleh dikatakan
sudah tercapai dan terkabul."
Dalam pada itu terdengar Toan Ki lagi berteriak padanya,
"Kamu hendak membunuh aku, kenapa tidak lekas
kaulakukan?"
Tapi Yan-khing lantas menepuk Hìat-to Toan Ki yang
tertutuk. lalu berkata padanya tetap dengan gelombang suara
yang lembüt, "Aku takkan membunuh putraku sendiri. Jika
kamu tidak mau mengakui aku, maka boleh kau gunakan Lak-
meh-sin-kiam untuk membunuh aku, bolah kau tuntaskan
balas bagi kematian Toan Cing-sun suami-istri."
Habis berkata, dengan membusungkan dada ia menantikan
ajalnya yang akan ditimpahkan oleh Toan Ki padanya.
Dalam saat demikian hati Toan Yan-khing merasa penuh
penyesalan dan pedih, perasaan yang sudah memenuhi
rongga dadanya sejak dia terluka parah sehingga menjadi
cacad. Untuk melampiaskan perasaan dendamnya itu selalu ia
berbuat segala kejahatan yang melampaui batas. Tapi
sekarang ia merasa selama hidup ini hanya dilewatkan dengan
percuma saja, maka lebih baik mati di tangan putranya sendirl
dan segalanya akan menjadi impas.
Toan Ki mengusap air matanya, perasaannya menjadi
bimbang. Pikirnya hendak menggunakan Lak-Meh-sin-kiam
untuk membunuh maha durjana di depan matanya ini guna
membalas sakit hati ayah-ibunya, namun pesan sang ibu pada
sebelum mangkat sayup-sayup berkumandang pula
ditelinganya, musuh ini justru adalah ayahnya yang
sebenarnya, cara bagaimana ia dapat membunuhnya?
Sesudah menunggu sejenak dan Toan Ki masih ragu, jari
pemuda itu sudah mulai menuding, tapi lantas diturunkan pula
ke bawah, diangkat lalu ditarik kembali lagi, rupanya pemuda
itu tatap bimbang untuk turun tangan.
Maka dengan dingin Yan-khing berkata, "Seorang laki-laki
sejati, kalau mau berbuat harus segera lakukan, kenapa mesti
ragu-ragu dan takut-takut?”
Tapi dengan menggertak gigi akhirnya Toan Ki tetap
menarik kembali tangannya, katanya, "Ibu tentu tìdak
mendustai aku. Aku takkan membunuhmu.”
Sungguh girang Toan Yan-khing tak terlukiskan, ia
terbahak-bahak senang. Ia tahu akhirnya sang putra toh
mengakui ayah juga padanya. Maka puaslah dia. Segera ia
jemput kembali kedua tongkatnya dan melangkah pergi.
Sampai In Tiong-ho yang masih mengeletak sadarkan diri itu
pun tak dipedulikan lagi.
Dengan harapan kalau-kalau ayah-ibunya masih hidup,
maka Toan Ki coba memeriksa kedua orang tua itu, tapi
denyut nadi mereka sudah berhenti, terang tiada mungkin
hidup kembali. Maka tak tahan lagi air matanya bercucuran
dan duduk lemas dilantai.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara seorang wanita
berkata padanya. ”Harap Toan-kongcu jangan berduka. Kami
terlambat datang menolong, sungguh kami pantas dihukum
mati."
Waktu Toan Ki menoleh, ia lihat di depan pintu berdiri
tujuh atau delapan orang wanita dengan dipimpin oleh dua
orang yang wajahnya seperti pinang dibelah dua. Segera ia
kenal mereka adalah kawanan dayang Hi-tiok di Leng-ciu-
kiong, Cuma siapa kedua dayang kembar itu ia tidak sanggüp
membedakannya.
Dengan air mata masih berlinang Toan Ki menjawab
dengan terguguk-guguk, "Ayah-ibuku telah dibunuh orang!”
Kiranya kedua dayang kembar yang datang itu adalah
Tiok-kiam dan Kiok-kiam. Segera Tiok kiam berkata, "Toan-
kongcu, ketika majikan kami mendapat kabar akan bahaya
yang mengancam ayah Kongcu dalam perjalanan segera
beliau memerintahkan hamba bersama para kawan memburu
kemari untuk menolong, cuma sayang agak terlambat
kedatangan kami."
"Nona Ong yang terkurung di suatu kamar tahanan
sekarang sudah kami selamatkan, haräp Köngcu jangan
kuatir," lapor Kiok-kiam.
Sejenak kemudian, tiba-tiba dari jauh berkumandang suara
suitan ramai. Maka berkata pula Tiok-kiam, ”Itu dia, Bwe-cici
dan lam-cici juga sudah datang semua.”
Tidak lama kemudian, belasan penunggang kuda telah
sampai di depan rumah dengan dipimpin oleh bwe-kiam dan
Lam-kiam. Dengan langkah cepat kedua dara itu menerobos
ke dalam rumah, ketika melihat mayat bergelimpangan di situ,
berulang mereka mengentak kaki dan menyatakan menyesal.
Kata Bwe kiam sambil memberi hormat kepada Toan Ki,
"Majikan kami menyampaikan salam kepada Toan-kongcu,
beliau merasa ada suatu hal telah sangat merugikan Toan-
kongcu, tapi beliau terpaksa berbuat demikian, jalan lain tidak
ada, Untuk itu majikan hanya mohon Toan-kongcu suka
memberi maaf, sungguh beliau merasa malu untuk menemui
Toan-kongcu."
Toan Ki sendiri tidak paham apa yang dikatakan dayang itu
(mengenai putri Se He yang sekarang telah diperistri oleh Hi-
tiok) ) ia hanya menjawab dengan masih terguguk-guguk,
"Kami adalah saudara angkat sendiri, sudah tentu tidak perlu
sungkan-sungkan. Sekarang ibu dan ayahku sudah meninggal
dunia, masa aku sempat memikirkan urusan tetek-bengek
lagi?”
Dalam pada itu Hoan Hwa, Siau Tiok-sing dan Ting Su kui
bertiga juga sudah sembuh dari keracunan setelah mencium
obat dalam botol porselen kecil itu, hiat-to mereka yang
tertutuk juga sudah punah. Ketika melihat In Tiong-ho masih
menggeletak di tanah, seketika Siau Tiok-sing menjadi gusar,
sekali goloknya membacok, kontan tubuh "Kiong-hion-kek-ok"
In Tiong-ho terkutung menjadi dua.
Lalu ketiga orang memberi hormat kepada jenazah Tin-
lam-ong suami-istri dan menangis sedih.
Esok paginya Hoan Hwa dan lain-lain membagi tugas dan
sibuk mengurus layon Tin-lam-ong suami istri. Sampai lohor,
para dayang Leng-ciu-kiong juga telah datang dengan
membawa Giok-yan, Pah thian-sik, Cu Tan-sin, Ciong ling dan
lain-lain. Mereka keracunan akibat sengat tawon yang berbisa
itu, maka sampai saat itu mereka masih tertidur nyenyak tak
sadarkan diri.
Melihat Giok-yan dalam keadaan baik-baik walaupun belum
sadar, di samping berduka Toan Ki menjadi sangat girang
pula. Segera ia menyaksikan jenazah kedua orang tua
dlmasukkan ke dalam peti. Begitu pula jenazah Ong-hujin dan
lain-lain.
Tempat di mana mereka berada itu sudah termasuk
wilayah negeri Taili. Ketika Hoan Hwa memberikan perintah
setempat, karuan para pembesar dan petugas setempat kaget
dan ketakutan setengah mati. Tin-lam-ong suami istri
mendadak meninggal di wilayah kekuasaan mereka tanpa
diketahui oleh mereka, sungguh tanggung-jawab ini tidaklah
kecil. Maka dengan tergopoh-gopoh kawanan pembesar itu
sibuk mengumpulkan orang untuk mengurus dan mengantar
layon Tin-Lam-ong dan lain-lain.
Sesudah Giok-yan, Pah Thian-sik. Ciong Ling dan lain-lain
sadar kembali dan mengetahui ibu dan junjungan mereka
telah meninggal, dengan sendirinya mereka pun sangat
berduka. Dan karena kuatir terjadi apa-apa di tengah jalan,
maka para dayang Leng ciu-kiong ikut mengantar rombongan
Toan Ki sampai di kotaraja Taili.
Berita tentang wafatnya Tin-lam-ong dalam perjalanan dan
jenazah telah dibawa pulang oleh putra mahkota sudah tersiar
luas di kotaraja, maka berbondong rakyat menyambutnya
dengan duka-cita sepanjang jalan. Toan Ki langsung menuju
ke keraton untuk memberi lapor tentang kematian ayah-
ibundanya kepada sang paman baginda, sedangkan Giok-yan
dan lain-lain diatur tempat pondokannya oleh Cu Tan-sin.
Setiba di istana Toan Ki melihat pamannya, yaitu Toan
Cing-bing, menangis sedih sehingga matanya merah bandol.
Begitu melihat Toan Ki, terus saja Toan Cing-bing berseru, "O.
anakku. . bag . . . bagaimana bisa terjadi demikian?"
Dan kedua orang lanlas saling rangkul dengan penuh duka.
Toan Ki tak berani berbohong, ia menceritakan segala apa
yang terjadi, bahkan tentang apa yang didengarnya dari pesan
Ibunya juga diceritakan seluruhnya. Habis menutur lalu ia beri
sembah kepada sang paman, "Jika ayah ternyata bukan ayah
sah anak maka jelas anak adalah orang yang tak genah untuk
selanjutnya tak dapat berdiam lagi dalam istana."
Diam-diam Cing-bing tercengang selama mengikuti cerita
Toan Ki itu, berulang ia menghela napas akan karma peristiwa
itu. Ia peluk Toan Ki dan berkata, "Nak, seluk-beluk tentang
hal ayahmu hanya kamu dan Toan Yan-khing saja yang tahu,
mestinya tidak perlu kau beritahukan padaku sejelas ini, tapi
tetap kau tuturkan tanpa dusta sedikit pun, hal ini
menandakan kejujuranmu. Aku dan ayahmu memang tiada
punya keturunan, jangankan kau aslinya memang she Toan,
sekalipun bukan orang she Toan juga aku sudah bertekad
akan mengangkat dirimu sebagai ahliwarisku. Tahtaku ini
memangnya milik Yan-khing Thaicu, aku telah mengangkangi
selama puluhan tahun, diam-diam aku sendiri pun merasa
malu, sekarang kita telah diatur sedemikian rupa oleh takdir,
sungguh sangat kebetulan dan baik sekali."
Habis berkata ia terus menanggalkan kopiah kain kuning
yang dipakainya sehingga kelihatan kepalanya yang gundul
kelimis dengan bekas selomotan dupa, yaitu tanda orang yang
sudah dibaptiskan menjadi murid Budha.
Toan Ki terkejut, serunya, "He, paman engkau . . . "
"Ya, tempo hari waktu menghadapi Cumoti, di Thian-long-
si aku sudah dibaptiskan oleh Suhu dan diberi nama Thian-
tim, hal ini kausendiri pun menyaksikan," kata Cing-bing.
"Waktu itu sebenarnya segera akan kuserahkan tahta kepada
ayahmu. Cuma ayahmu tatkala itu masih berada di Tionggoan,
negara tidak boleh tanpa pimpinan terpaksa kumohon restu
guruku untuk sementara memangku jabatanku sampai
pulangnya ayahmu. Siapa duga ayahmu telah meninggal
dalam perjalanan, maka sekarang biarlah aku mewariskan
tahtaku ini kepadamu."
Keruan Toan Ki terperanjat, sahutnya. "Mana anak berani?
Usia anak terlalu muda dan tiada punya pengalaman, mana
berani kujabat kedudukan setinggi ini? Apalagì asal usul anak
tidaklah jelas lebih baik biarlah anak mengasingkan diri saja . .
."
"Tantang asal-usulmu untuk selanjutnya tidak boleh
disebut-sebut lagi," bentak Toan Cing-bing. "Aku hanya ingin
bertanya bagaimana ayah-ibumu terhadapmu selama ini?"
"Budi kebaikan kedua orang tua sungguh sedalam lautan
dan setinggi gunung," sahut Toan Ki dengan terguguk.
"Nah, jika kauingin membalas budi kebaikan orang tua,
maka harus kaujaga nama baik mereka." ujar Cing-bing.
"Untuk menjadi raja yang baik harus selalu ingat dua hal.
Pertama, cinta kepada rakyat. Kedua, dapat menerima saran-
saran dan kritikan Watakmu memang jujur dan welas-asih,
rasanya kaupun takkan berbuat sewenang-wenang terhadap
rakyat. Cuma kelak bila usiamu sudah mulai menanjak,
janganlah sekali-kali menganggap dirimu, maha pandai dan
timbul pikiran yang melampaui batas, umpamanya timbul
maksud hendak mengganggu persahabatan dengan negeri
tetangga ingin menjajah dan sebagainya . . . . "
Jika di kerajaan Taili Toan Cing-bing sedang menurunkan
tahtanya kepada anak keponakannya, yaitu Toan Ki dengan
pesan agar cinta kepada rakyat dan dapat menerima saran
dan kritik serta jangan sekali-kali timbul pikiran hendak
menggangu atau mencampuri urusan dalam negeri tetangga.
Adalah pada waktu yang sama, jauh di kota raja Song sana
juga telah terjadi peristiwa tinggi.
Tatkala itu Ibusuri yang memegang tampuk pimpinan
sementara sebagai raja sedang sakit keras. Dìa sedang
memberi pesan kepada cucunya, Tio Hi, yang kini sudah
berusia 18 tahun (karena usianya masih muda, maka ibu suri
untuk sementara menjabat sebagai Mangkubumi dan sudah
berjalan hampir 10 tahun).
Tio Hi itu dalam sejarah terkenal sebagai kaisar Ciat-cong.
Dia naik tahta dalam usía sembilan tahun dengan didampingi
neneknya sebagai Màngkubumi. Namun dengan
bertambahnya umur, bertambah pula ambisinya. Maka pada
saat ibusuri (neneknya) dekat dengan ajalnya, dlpanggilnya
sang cucu dan diberi pesan sebagaimana tersebut di atas.
"Nak, kamu sudah menjadi raja selama sembilan tahun,"
demikian kata ibusuri lebih lanjut. "Akan tatapi, selama
sembilan tahun ini yang benar-benar menjadi raja adalah
nenekmu, segala urusan diputuskan oleh nenek, maka . . .
maka kamu tentu sangat marah dan benci kepada nenekmu
bukan?"
"Mana cucu berani marah dan benci kepada nenek?" sahut
Tío Hi. Nenek sudi mewakilkan cucu sebagai raja dan
mengerjakan sesuatu yang sebenarnya adalah tugasku
sehingga aku tidak perlu susah, hal ini justru sangat
menyenangkan cucu."
lbusuri menghela napas, lalu katanya pula dengan pelahan,
"Al, kamu mirip sekali dengan ayahmu, pintar lagi cekatan,
selalu ingin melakukan sesuatu usaha besar-besaran. Aku tahu
dalam hati tentu kau benci padaku."
Tio-Hi tersenyum, sahutnya, '"Nenek tentu kenal watak
cucu. Tapi semua orang penting dalam istana ini adalah orang
kepercayaan nenek, begitu pula para pembesar adalah nenek
sendiri yang mengangkatnya, cucu selainnya menurut kepada
segala perintah nenek dapat berbuat apa?”
"Jadi yang senantiasa kau harapkan adalah seperti
sekarang ini, asal aku mati dan kamu akan punya kesempatan
untuk berkuasa secara penuh, begitu?" tanya Ibusuri dengan
suara ketus.
"Segala apa yang dimiliki cucu ini seluruhnya adalah
pemberian nenek, waktu ayah baginda wafat dahulu, kalau
nenek tidak berkeras mengangkat cucu, tentu para pembesar
telah mengangkat kakak pangeran yang lain. Maka atas budi
kebaikan nenek, mana cucu berani melupakannya Hanya saja
. . . hanya saja . . . . "
"Hanya apa?" ibusuri menegas. “Apa yang ingin
kaukatakan boleh katakan terus terang saja, kenapa mesti
gelagapan dan mundur maju?”
"Begini nenek," sáhüt Tío Hi. "Pernah cucü dengar cerita
orang, katanya sebabnya nenek mau mengangkat cucu
sebagai raja adalah lantaran usiaku masih terlalu kecil
sehingga nenek sendiri dapat pegang kemudi pemerintahan."
Habis mengucapkan kata-kata itu, hati Tio Hi berdebar-
debar, ia coba melirik keluar pintu, ia lihat para Thaikam
(orang kasim) yang berjaga di luar itu adalah dayang
kepercayaan sendiri, semuanya bersenjata, penjagaan cukup
keras. Maka tenanglah perasaannya.
Ibusuri tampak manggut-manggut, katanya kemudian, "Ya,
apa yang kaukatakan memang betul. Aku memang ingin
memegang kemudi pemeritahan sendiri, makanya aku sengaja
mengangkat dirimu yang masih kecil sebagai pengganti
ayahmu. Dan selama sembilan tahun ini bagáimana dengan
pemerintahan di bawah pimpinanku?"
Tío Hi mengeluarkan segulung kertas, katanya, ”Nenek,
menurut pembesar negeri tetangga, seperti kerajan Korea,
mereka banyak memberi sanjung puji kepada nenek, katanya
selama sembilan tahun ini nenek telah banyak memajukan
kesejahteraan negara dan rakyat. Kukira semua íni nenek
sendiri pun sudah mendapat laporan. Dan barusan ada orang
kita pulang dari utara, katanya perdana menteri Liau telah
mengajukan petisi kepada rajanya, dalam petisi itu disinggung
tentang politik pemerintahan nenek selama ini. Karena hal ini
adalah penilaian pembesar negeri musuh, apakah sekiranya
nenek suka mendengarkannya?”
Jilid ke 85
"Apakah dipuji atau dicaci-maki, masa-bodohlah! Yang
terang ajalku sudah takkan lebih lama lagi daripada ma . . .
malam ini, entah matahari esok pagi dapat kulihat pula atau
tidak? Coba . . . apa yang dikatakan perdana menteri negeri
Liau itu?"
Rupanya meski Ibusuri tahu ajalnya sudah sampai dan
takkan bertahan sampai besok paginya, tapi rasa bangga dan
ingin tahunya tetap mendorongnya bertanya tentang petisi
perdana menteri Liau yang diajukan kepada rajanya yang
menyangkut namanya itu.
Maka berkatalah Tio Hi, "Menurut petisi perdana menteri
Liau itu, katanya selama nenek memerintah negari ini keadaan
aman tentram, rakyat hidup sejahtera, katanya nenek pandai
memakai tenaga yang cakap, membuang peraturan yang
merugikan rakyat dan mengandalkan peraturan baru yang
bijaksana. Pemerintahan di bawah pimpinan nenek bersih dari
korupsi, begitu pula para pembesar hidup sederhana dan
benar-benar mengabdi kepada rakyat. Maka nenek diibaratkan
sebagai raja Hiau dan raja Sun wanita di jaman ini . . . ”
Mendengar sampai di sini, tiba-tiba sorot mata ibusuri yang
tadinya guram itu memancarkan beberapa titik sinar
kepuasan. Katanya dengan bergumam, ”Bagai raja Hiau dan
raja Sun wanita jaman kini, tapi biarpun begitu juga tidak
terhindar daripada kemuliaan”
Habis berkata, sekonyong-konyong terkilas sesuatu
didalam benaknya, segera ia bertanya, "Ya, mengapa perdana
menteri Liau itu sengaja menyinggung diriku? Ah. Kamu harus
hati-hati Nak! Me . . . mereka tahu ajalku sudah dekat, maka
mereka bermaksud menghinamu."
“Menghina aku? Hm!" ujar Tio Hi dengan sikap angkuh.
"Biarpun bagaimana tidaklah gampang mereka akan berbuat
sesukanya padaku. Ya, kutahu orang Cidan mempunyai mata-
mata di negeri kita, terutama dl kota raja ini, maka tentang
sakitnya nenek mereka cukup tahu jelas. Tetapi apakah kita
tidak punya mata-mata di tempat mereka? Bukankah isi petisi
yang diajukan perdana menteri ini pun jatuh di tangan kita?
Memang, di antara raja dan pembesar Cidan itu sudah
berunding dengan baik-baik katanya b¡la . . . bila nenek wafat,
kalau pembesar militer dan sipil kita tiada sesüatu perubahan
apa-apa dan tiada mengadakan gerakan baru, maka mereka
akan diam saja. Sebaliknya bila anak mengadakan sesuatu
perubahan dan gerakan maka . . . hm, maka mereka akan
mendahului mengadakan kontra gerakan serentak."
"Jadi maksud mereka akan mendahului menyerang ke
selatan?” ibusuri menegas.
"Ya, begitulah maksud mereka,” sahut Tio Hi. Ia putar
tubuh dan berjalan ke tepi jendela, ia lihat bintang-bintang
berkelip memenuhi cakrawala nan biru gelap, sambil
memandang langit sebelah utara ia menyambung pula, "Tapi
kenapa aku mesti keder? Negeri Song kita luas dan kaya-raya,
prajurit kita kuat dan berjumlah banyak, apa kita harus takut
kepada orang Cidan? Ya, andaikan mereka tidak bergerak ke
selatan, akhirnya aku pun akan menuju ke utara untuk
mencoba mengukur kekuatan mereka.”
Karena sudah tua, maka pendengaran Ibusuri kurang
tajam, ia menegas, "Apa yang kau katakan? Kau bilang
mengukur kekuatan apa?"
Tio Hi mendekati pembaringan neneknya, katanya.
"Nenek, rakyat Song kita berjumlah puluhan kali lebih banyak
daripada orang Cidan, perbekalan kita juga lebih lengkap.
Apakah klta masih takut kepada mereka yang berjumlah tidak
seberapa itu?"
"Apa maksudmu hendak berperang dengan orang Liau?"
Ibusuri menegas dengan suara gemetar. "Kakekmu Kaisar Cin-
cong sedemikian tangkas, beliau telah berjuang mati-matian
dan akhirnya berhasil mengadakan perjanjian perdamaian
dengan orang Cidan, masakah . . . masakah sekarang boleh
sembarangan kau serang lebih dülu!"
"Tentu saja nenek menjadi untung anak dan menganggap
anak masih penuh ingusan yang tidak tahu apa-apa.” ujar Tio
Hi dengan penasaran. ”Andaikan anak tidak dapat disamakan
dengan para kaisar leluhur, namun kita juga jangan menilai
rendah diri kita sendiri. Dahulu kita bukan tandingan negeri
Liau, apakah untuk selamanya kita juga takkan mampu
melawannya?”
Sebenarnya banvak sekali pesan yang hendak diucapkan
Ibusuri, tapi ia merasa tenaganya makin lemah, pikirannya
serasa hampa, hendak bicara pun rasanya berat. Namun
dalam lubuk hatinya selalu bergema suara yang tegas yang
mengatakan, ”Prajurit lemah berbahaya untuk perang, jangan
buang-buang korban percuma, jangan sembarangan
mengadakan gerakan militer."
Setelah menarik napas panjang, akhirnya ia berkata
dengan pelahan, ”Nak, selama beberapa tahun ini aku
memegang tampuk pemerintahan, aku lupa mengerjarkan
padamu tentang keadaan negara kita, kesalahan ini adalah
tanggung jawabku. Ya, aku merasa banyak hal yang harus
kubicarakan denganmu, siapa duga . . . siapa duga . . . . "
Ia terbatuk-batuk beberapa kali, lalu melanjutkan, "Siapa
duga ajalku tinggal beberapa jam lagi sehingga aku tak dapat
bicara banyak padamu. Hendaknya diketahui, walau pun
benar rakyat kita berjumlah puluhan kali lebih banyak dan
perbekalan lebih lengkap, tapi rakyat kita pada umumnya
lemah, tidak sekuat dan setangkas orang Cidan, apalagi kalau
terjadi perang, tentu rakyat yang tak berdosa akan ikut
menjadi korban dan entah berapa banyak prajurit dan rakyat
biasa akan terbunuh dan entah berapa banyak rumah
penduduk akan musnah. Seorang pemimpin, seorang raja
setiap saat harus berpikir secara bijaksana, jangankan soal
menang atau kalah dalam peperangan sukar diramalkan,
kekali pun yakin pasti akan menang lebih baik peperangan ini
tidak terjadi.''
"Pikiran nenek ini adalah pikiran kolot yang sudah
ketinggalan jaman," ujar Tio Hi, ”Sebagian besar wilayah kita
telah dìkangkangi musuh, setiap tahun kita harus mengirim
upeti kepada orang Cidan, kita diperlakukan sebagai tanah
jajahan, apakah kita harus menerima hinaan demikian terus
menerus? Leluhur kita dahulu beberapa kali perang dengan
negeri Liau, bukankah soalnya karena ingin mempertahankan
kejayaan kerajaan Song kita. Pendek kata anak pasti akan
meneruskan cita-cita leluhur yang belum terkabul ini. Selama
cita-cita ini belum terlaksana, aku bersumpah akan terus
berjuang atau lebih baik hancur seperti kursi ini.”
Habis berkata, mendadak ia lolos pedang yang tergantung
di pinggangnya dan membacok sebuah kursi di sampingnya
sehingga terbelah menjadi dua.
Biasanya seorang raja tidak pernah membawa senjata di
dalam istana, sekarang Ibusuri melihat anak kecil itu
mendadak lolos pedang dan membacok kursi, karena ia
terkejut dan mendadak duduk sambil menuding Tio Hi, "Jadi .
. . jadi kamu tetap kepala batu dan ingin perang dengan . . . .
dengan negeri Liau . . . . ”
Tio Hi ketakutan di bawah pengaruh wibawa sang nenek,
ia menyusut mundur beberapa tindak dengan sempoyongan
dengan hati berdebar-debar, serunya, "Le . . . lekas kalian
kemari!”
Mendengar teriakan junjungan mereka, cepat para Taikam
yang berjaga di luar berlari-masuk.
"Dia . . . coba kalian periksa dia, ken . . . .kenapa dia . . . ''
seru Tio Hi dengan terputus-putus sambil menunjuk ibusuri.
Tadi dia berlagak gagah dan berkeras ingin melabrak
orang Cidan untuk melaksanakan cita-citanya, tapi sekali
digertak oleh seorang nenek yang kurus dan sakit-sakitan,
seketika nyalinya mengkeret.
Dalam pada itu seorang Thaikam telah mendekati Ibusuri
untuk memeriksa denyut nadinya, kemudian tuturnya, "Lepot
Hongsiang (Sri Baginda) Ibusuri telah wafat.”
”Haah! Bagus, bagus!" seru Tio Hi sambil terbahak-bahak.
”sekarang aku benar-benar menjadi raja! Haha, aku menjadi
raja benar-benar!”
Sebetulnya dia sudah menjadi raja selama sembilan tahun,
cuma selama ini kekuasaan yang sebenarnya berada di tangan
ibusuri dan baru sekarang dia sadar dirinya adalah raja . . . .
Begitulah setelah memegang kekuasaan sendiri, langkah
pertama yang diambil Tío Hi ialah memecat Le-poh Siang-si So
Sik (dalam sejarah terkenal dengan nama So Tong-po),
menteri kebudayan, dan dikirim ke daerah sebagai bupati.
Padahal nama So Tong-po terkenal di seluruh negeri dan
merupakan menteri kesayangan ibusuri, karuan tindakan Tio
Hi itu menimbulkan percakapan ramai di kalangan pembesar.
Banyak di antara pembesar-pembesar itu tidak dapat
menyetujui tindakan raja yang masih muda belia itu, tapi ada
juga sementara pembesar yang diam-diam merasa senang,
mereka berharap raja yang muda itu akan menjalankan politik
baru sehingga mereka akan mendapat kesempatan untuk naik
pangkat dan memupuk kekayaan lagi dengan jalan korupsi.
Ada juga satu-dua pembesar yang jujur mengajukan petisi
kepada Tio Hi agar meninjau kembali keputusannya atas
pemecatan So Tong-po itu, serta menjalankan pemerintahan
baru secara lebih bijaksana. Tapi dasar darah muda, Tio Hi
tidak menerima saran dan kritik yang diajukan pembesar-
pembesar jujur itu, sebaliknya pembesar yang berani
membantah keinginannya lantas dipecat dan dipenjarakan,
sudah tentu hal-hal demikian membuat pemerintahannya
menjadi tidak stabil.
Apa yang terjadi pada pemerintah Song sudah tentu
disapaikan oleh mata-mata musuh ke Siangkhia, ibu kota
kerajaan Liau.
Demi mendapat laporan tentang wafatnya Ibusuri kerajaan
Song dan raja Tio Hi yang masih muda belia itu banyak
melakukan tindakan yang merugikan tubuh pemerintahan
Song sendiri, keruan raja Liau, yaitu Yalu Hung-ki, sangat
senang, segera ia melakukan perjalanan ke Lamkhia untuk
berunding dengan Lam-ih Tai-ong Siau Hong.
Oleh karena sudah ada pengalaman pemberontakan Coh-
ong, maka perjalanana Hung-ki ini hanya membawa tiga ribu
prajurit. sisanya ditinggalkan di kotaraja dan langsung di
bawah perintah permaisuri. Selain itu ada 50 ribu prajurit
cadangan lain yang akan menyusul ke selatan secara
bergelombang sebagai bala bantuan.
Tidak lama pasukan kerajaan Liau itu sudah tiba di luar
kota Lamkhia. Kebetulan hari itu Siau Hong dengan membawa
puluhan prajurit pengawalnya yang sedang berburu di luar
kota sebelah utara. Ketika mendapat laporan kedatangan Sri
Baginda, cepat ia menapak lebih ke utara lagi. Ketika melihat
panji berkibar, barisan Sri Baginda sudah dekat, segera Siau
Hong melompat turun dari kudanya dan berlutut di atas tanah
untuk menyambut.
Hung-ki tertawa terbahak-bahak dan melompat turun dari
kudanya, katanya, "Saudaraku, meski-resminya kita adalah
raja dan bawahan, tapi hubungan kita lebih daripada saudara
sekandung, mengapa engkau mesti menjalankan
penghormatan sebesar ini?"
Segera ia membangunkan Siau Hong dan bertanya
pula,"Apakah sudah banyak hasil buruanmu?''
"Selama beberapa hari ini hawa terlalu dingin, kawanan
binatang banyak yang mengungsi ke selatan, maka setengah
hari berburu hanya mendapat beberapa ekor kelinci dan
menjangan saja, binatang yang besar susah ditemukan,”
demikian tutur Siau Hong.
Hung-ki juga sangat gemar berburu, segera ia mengajak,
"Marilah kita coba berburu ke bagian selatan sana."
"Di bagian selatan kita berbatasan dengan negeri
tetangga, hamba kuatir timbul peristiwa yang dapat
mengganggu persahabatan kedua negeri, maka hamba
melarang bawahan berburu ke sana."
Kening Hung-ki berkenyit mendengar laporan itu, katanya,
"Jika begitu, apa juga tidak pernah melakukan 'panen' dan
mencari 'rumput'?''
"Tidak," sahut Siau Hong.
"Baiklah, hari ini kita bersaudara telah berkumpul, biarlah
kita melanggar satu kali ketentuan demikian itu." kata Hung-
ki.
Siau Hong menerima baik ajakannya.
Maka terdengarlah suara tiupan tanduk yang ramai. Yalu
Hung-ki dan Siau Hong melarikan kuda mereka dengan
berjajar, mereka mengitari benteng Lemkhia dan menuju ke
selatan kota, di belakang mereka menyusul ketiga ribu prajurit
pengawal Liau.
Kira-kira dua-tiga puluh li jauhnya, serentak ketiga ribu
prajurit itu berteriak-teriak dan bersorak-sorai sambil
berpencar ke dua jurusan dalam bentuk lurus dan kemudian
mengepung kembali dalam bentuk lingkaran yang semakin
lama semakin gempar. Seketika itu terdengar suara ringkik
kuda dan gonggongan anjing pemburu yang riuh ramai.
Lingkaran perburuan mereka semakin lama semakin ciut.
Hanya sebentar saja lingkaran kepungan mereka sudah
berada dalam jarak ratusan meter saja, maka tertampak
banyak binatang-binatang kecil sebangsa kelinci, rusa dan
sebagiannya berlari kebingungan dari semak-semak rumput.
Hung-ki tidak sudi memburu binatang kecil yang tak berarti
itu. Tapi meski sudah ditunggu dan dicari sampai sekian lama
tetap tiada tampak seekor binatang besar sebangsa harimau,
beruang dan lain-lain.
Selagi Hung-ki merasa kesal, tiba-tiba terdengar suara
teriakan riuh ramai dari arah tenggara sana. Ada belasan
orang lelaki sedang lari datang dengan ketakutan setengah
mati. Melihat dandanan mereka agaknya orang-orang Song
yang bekerja sebagai tukang kayu, kaum pemburu dan
sebagainya.
Boleh jadi lantran tidak mendapatkan mangsa buruan yang
diharapkan, para prajurit Liau tahu raja mereka tentu kurang
senang. Kebetulan mereka dapat mengepung belasn orang
Song, maka mereka lantas menghardik dan menggiringnya ke
hadapan raja mereka.
"Bagus sekali!” kata Yalu Hung-ki dengan tertawa senang
demi melihat datangnya belasan orang Song itu. Segera ia
menarik busur dan membidikkan panahnya.
Terdengar suara mendenging berulang-ulang, setiap anak
panah itu tiada yang meleset, dalam sekejap saja enam orang
Song itu sudah roboh terguling, dada mereka tertembus oleh
panah dan terpantek di atas tanah.
Karuan sisanya menjadi ketakutàn, segera mereka putar
balik hendak menyelamatkan diri. Tapi lagi-lagi mereka
terpaksa putar balik di bawah ancaman ujung tombak para
prajurit cidan.
Siau Hong tidak tega menyaksikan pembunuhan kejam
demikian, serunya, “Sri Baginda!"
"Baiklah sisanya kuberikan padamu, biar aku menilai
kepandaian memanah saudaraku,” sahut Hung ki dengan
tertawa.
Tapi Siau Hong menggeleng kepala, katanya, “Orang-
orang itu tidak berdosa biarlah mereka diampuni saja.”
“Jumlah orang selatan teramat banyak, mereka harus
dibunuh habis, barulah dunia ini akan aman tentram.” Ujar
Hung ki dengan tertawa. “Salah mereka sendiri, mereka salah
terlahir sebagai orang selatan dan itulah dosa mereka.”
Habis berkata kembali panahnya berturut-turut
menyambar ke depan lagi, satu panah satu korban, kontan
belasan orang Song itu roboh tanpa kecuali, ada yang mati
seketika, ada yang terpanah perutnya, isi perut keluar dan
merintih sebelum binasa.
"Hidup Sri Baginda!" demikian prajurit Cidan bersorak sorai
memuji.
Saat itu kalau Siau Hong mau mencegah perbuatan Yalu
Hung-ki sebenarnya tidak sukar, misalnya dengan menyampuk
jatuh panah yang dibidikkan itu. Tapi di hadapan pasukan
sebanyak itu berani merintangi keinginan raja, hal inii tentu
akan membuatnya malu dan akan merupakan tindakan yang
durhaka kepada atasannya. Namun demikian air muka Siau
Hong mau-tak-mau menampilkan rasa tidak setuju atas
perbuatan Hung-ki itu.
"Bagaimana?" tanya Hung-ki dengan tertawa. Dan baru
saja ia hendak menyimpan kembali busurnya. Tiba-tiba
seorang penunggang kuda menerjang tiba secepat terbang
menembus kepungan para prajurit.
Melihat penunggang kuda itu berdandan sebagai bangsa
Han, tanpa bicara lagi Hung-ki lantas memasang panah dan
mebidik pula.
Di luar dugaan, sekonyong-konyong orang itu mengangkat
sebelah tangannya dengan dua jari aja anak panah yang
menyambar ke mukanya itu kena dijepitnya.
Sementara itu panah kedua yang dibidikkan Hung-ki sudah
menyambar tiba pula. Tapi dengan satu jari tangan yang lain
kembali orang itu dapat menangkap panah kedua itu. Sedang
lari kudanya tidak pernah berhenti dan masih terus menerjang
maju.
Berulang-ulang Hung-ki melepaskan panahnya secara
berantai, yang satu belum mencapai sasarannya atau panah
yang lain sudah menyusul pula, boleh dikata hampir berwujud
iring-iringan panahnya.
Tapi betapa cepat ia membidikkan panahnya, cara
menangkap panah orang itu pun tidak kalah cepatnya. Maka
dalam sekejap saja yang seorang sudah melepaskan belasan
batang panah, sebaliknya yang lain juga sudah menangkap
belasan anak panak.
Dalam pada itu jarak kedua orang sudah dekat, sekarang
Siau Hong sudah dapat melihat jelas pendatang itu, Ia terkejut
dan berteriak, “Hei! Kau A Ci jangan sembrono terhadap
Hongsiang.”
Tapi penunggang kuda itu lantas mengikik ketawa, ia
lemparkan belasan anak panah yang ditangkapnya tadi ke
udara, serunya, "Cihu, apakah kau tahu akan kedatanganku,
maka engkau, sengaja datang memapak aku?”
Habis berkata, mendadak ia lompat dari kudanya dan
melayang lewat di atas kepala belasan prajurit yang
menghadangnya itu, lalu hinggap di depan pelana kuda
tunggangan Siau Hong.
Dia tetap memakai baju ungu, potongan badannya tambah
padat dan menggiurkan, siapa lagi dia kalau bukan A Ci
adanya? Yang luar biasa adalah kedua matanya yang tadinya
buram itu sekarang sudah bersinar.
Siau Hong terkejut dan bergirang pula, serunya, "Hei. A Ci
ken . . . kenapa matamu sudah sembuh kembali."
”Ya. Jikomu itu yang menyembuhkan aku.” sahut A ci
dengan tertawa, ”Nah, baik tidak muka aku?”
Siau Hong memandang sekejap kepada anak itu,
mendadak hatinya terkesiap. Ia merasa di antara sorot mata
anak dara itu seperti mengandung semacam rasa duka dan
hampa yang sukar dilukiskan. Seyogyanya, karena ke dua
matanya sudah sembuh dan dapat melihat kembali, pula
dapat bertemu dengan Siau Hong, seharusnya anak dara itu
akan kegirangan, tapi mengapa perasaan yang disampaikan
melalui sorot matanya itu sedemikian sedihnya? Namun dari
suara tertawanya tadi jelas pula penuh rasa kegirangan. Maka
pikir Siau Hong, "Tentu si A Ci cilik telah mengalami sesuatu
yang tidak menyenangkan di tengah perjalanan."
Tengah Siau Hong melamun itulah, sekonyong-konyong A
Ci menjerit kaget sambil menarik tubuhnya melepaskan diri
dari pelana kuda Siau Hong terus melompat ke depan.
Pada saat yang sama Siau Hong juga merasa ada orang
menyergap dari belakang, cepat ia membalik tubuh sambil
menyilangkan kedua tangan di depan dada untuk menjaga
segala kemungkinan. Maka tertampaklah sebatang tombak
bercabang sedang menyambar kearahnya.
Ternyata tombak itu keburu dipegang oleh A Ci segera
ditimpukkan kembali sehingga dengan tepat menancap di
dada seorang dan menggeletak terpantek.
Kiranya orang itu adalah salah seorang pemburu bangsa
Han tadi, dia roboh kena panah Yalu Hung-ki, tapi hanya
sekarat dan tidak lantas mati, ketika dia melihat Siau Hong
memakai baju pembesar Liau, segera ia kerahkan segenap
dari tenaganya yang masih ada dan menimpukkan tombaknya
dengan harapan dapat membinasakan Siau Hong sekedar
membalas dendamnya.
Tak terduga perbuatannya itu sempat dilíhat oleh A Ci
yang berhadapan dengan Siau Hong, segera anak dara itu
melompat maju untuk menangkap tombaknya dan berbalik
senjata makan tuan, pemburu itu sendiri segera terbinasa
malah. Padahal kalau cuma kepandaian seorang pemburu saja
tidak mungkin dapat menyergap Siau Hong dari belakang.
Sambil menuding pemburu yang sudah tak bernyawa itu A
Ci memaki, "Kamu anjing dan babi yang tidak tahu diri, kau
berani coba-coba membokong C¡huku?"
Melihat kedua mata si pemburu yang sudah mati itu masih
mendelik dengan mengertak gigi, wajahnya penuh rasa
murka, Diam-diam Siau Hong merasa tidak tega. Pikirnya,
“Selamanya aku tiada dendam apa-apa, tapi dia berusaha
hendak membunuh aku. Hal ini disebabkan permusuhan
antara kedua negara dan antar bangsa, jadi bukan lantaran
permusuhan pribadi antara diriku dengan dia. Permusuhan
antara negeri Song dan Liau sebenarnya terjadi lantaran apa?
Kalau menurut orang Song katanya orang cidan menjajah
wilayah kekuasaan mereka, sebaliknya orang Cidan kami
mengatakan orang Song tidak pegang janji dan tidak kenal
budi. Sungguh sukar dipastikan siapakah yang benar dan
siapa yang salah!”
Di sebelah sana ketika melihat A Ci menimpuk mati si
pemburu dengan tombak rampasannya, Hung-ki sangat
senang, katanya, "Nona bàìk, sungguh gesit dan cekatan
sekali dirimu ini. Sudah tentu tombak pemburu itu tak
mungkin dapat membunuh Lam-ih Tai-ong kita, tapi jika
sampai dia terluka sedikit saja hal ini berarti akan
mengganggu rencanaku. Nona baik, aku sedang berpikir cara
bagaimana harus memberi penghargaan atas jasamu ini?”
Dan sebelum Hung-ki memberi keputusan, tiba-tiba A Ci
mendahului, "Hongsiang, engkau telah mengangkat Cihuku
sebagai pembesar yang berkuasa, maka aku pun ingin diberi
pangkat agar aku bisa mencicipi rasanya menjadi pembesar.
Tidak perlu dengan pangkat setinggi Cihu, tapi jangan terlalu
rendah pangkatku agar tidak dipandang hina oleh orang lain.”
"Hahaha!" Hung-ki tertawa. "Di negeri Liau kita memang
ada kaum wanita ikut mengurus tatanegara, tapi tiada kaum
wanita yang diangkat menjadi pembesar. Baik begini saja,
akan ku beri gelar Kongcu (Putri) padamu. Ehm..gelar apakah
yang pantas? . . .Ya, baiklah sebut saja sebagai ‘Panglam
Kongcu’.”
"Ah, emoh! Aku tidak mau menjadi Kongcu segala!" sahut
A Ci dengan mulut menjengkit.
"Mengapa tidak mau?" tanya Hung-ki dengan heran.
"Habis engkau adalah saudara angkat Cihuku, kalau aku
terima gelarmu itu, kan tingkatanku menjadi sejajar dengan
putrimu sendiri, bukankah aku menjadi lebih rendah
setingkat?”
Hung ki cukup pandai meraba pikiran orang. Ia dengar A Ci
memanggil Cihu kepada Siau Hong dengan nada yang sangat
mesra. Sebaliknya Siau Hong meski mempunyai kedudukan
sedemikian tinggi hidupnya ternyata sangat prihatin,
selamanya tidak suka berdekatan dengan kaum wanita.
Padahal kalau menurut kebiasaan orang Cidan, jangankan
cuma empat istri dan lima selir, bahkan delapan, istri dan
puluhan selir juga bukan sesuatu yang luar biasa. Dari sini
dapat diduga Siau-Hong tentu juga anak dara ini.
Maka katanya dengan tertawa, "Gelar Kongcu yang
kuberikan ini adalah Kongcu gede dan bukan Kongcu cilik,
tingkatannya sama dengan adik perempuanku dan tidak sama
dengan anakku, Malahan tidak melulu mengangkatmu menjadi
'Panglam Kongcu', bahkan aku pun akan melaksanakan
sesuatu cita-citamu, mau?"
Wajah A Ci menjadi merah, tanyanya, 'Cita-citaku apakah?
Dari mana Sri Baginda mendapat tahu? Seorang raja sebesar
engkau mengapa juga sembarang omong."
Biasanya A Ci memang tidak takut siapa pun, maka bicara
dengan Yalu Hung-ki juga tidak pakai penghormatan secara
seorang bawahan terhadap rajanya. Kerajaan Liau memang
tidak memandang berat pada sesuatu yang kolot. Siau Hong
adalah orang kesayangan Hung-ki pula, maka Hung-ki hanya
menanggapi dengan tertawa saja mendengar ucapan A ci tadi.
Katanya, "Jika kamu tidak mau menjadi Panglam Kongcu,
baiklah tak jadi kuberi gelar itu padamu. Nah, satu, dua, tiga
kau mau tidak?”
Akhirnya A Ci memberi sembah hormat dan berkata
dengan pelahan, " A Ci mengucapkan banyak terima kasih
atas budí Sri Baginda."
Siau Hong juga lantas memberi hormat dan mengucapkan
terima kasih. Sejak membunuh A Cu, Siau Hong anggap A Ci
sebagai adik perempuannya sendiri. Sekarang anak dara itu
mendapat gelar bangsawan dari sang raja, dengan sendirinya
ia pun ikut menyatakan terima kasihnya.
Sebaliknya Hung-ki salah sangka lagi, ia mengira
dugaannya tadi semakin tepat. Pikirnya, Biarlah nanti aku
akan menikahkan mereka secara besar-besaran, habis itu aku
lantas menugaskan dia mengadakan infasi ke selatan dan
dengan sendirinya dia akan bekerja mati-matian bagiku."
Di lain pihak Siau Hong juga sedang menimang-nimang.
"Kunjungan Hongsiang ke selatan sekali ini entah ada maksud
tujuan apa? Sebab apa dia memberi gelar Putri kepada A Ci,
bahkan dengan nama ’Pang Lam’? Pang-lam artinya
mengamankan selatan, jangan-jangan dia bermaksud
Menyerbu ke selatan untuk menaklukkan kerajaan Song?”
Dalam pada itu Hung-ki sudah lantas menggenggam
tangan Siau Hong dan berkata, "saudaraku, sudah lama kita
tidak bertemu, marilah kita pergi ke sana buat bicara."
Kedua orang lantas melarikan kuda mereka ke selatan,
hanya sebentar saja mereka sudah mencapai sejauh 20 li
lebih. Di sekitar mereka hanya sawah ladang belaka tapi apa
yang tumbuh di tengah sawah ladang itu bukan padi, gandum
atau bahan pangan lain, sebaliknya adalah rumput ilalang dan
duri belukar melulu.
Diam-dlan Siau Hong berpikir,. "Orang Song kuatir
kepergok prajurit Cidan yang sengaja memang mengadakan
‘panen’ sehingga mereka lebih suka meninggalkan beribu-ribu
hektar tanah yang subur ini untuk menyelamatkan diri. Ai
setiap jengkal tanah ini entah terpendam betapa banyak tetes
darah dan jiwa.”
Tiba-tiba Hung-ki mengayunkan cambuknya dan melarikan
kudanya ke sebuah bukit kecil, di atas kudanya di puncak
bukit itulah dia memandang sekeliling alam semesta dengan
bangga.
Siau Hong menyusulnya ke atas bukit. Ia pun memandang
ke arah selatan yang dipandang Hung-ki itu. Tertampaklah
gunung gemunung melingkar-lingkar menyusuri bumi nan luas
ini.
"Saudaraku," kata Hung-ki sambil menuding ke selatan
dengan cambuknya, “aku masih ingat, pada 30 tahun yang
lalu ayah baginda pernah mengajak aku ke sini dan menunjuk
negeri Song yang indah permai itu kepadaku."
Siau Hong mengiakan saja dan tidak tahu apa maksud
ucapan Hung-ki itu.
Maka Hung-ki melanjutkan, "Sejak kecil kau hidup di tanah
orang selatan itu, tentu telah kau jelajahi wilayah selatan sana
dan cukup kenal bagaimana bangsa mereka bertempat tinggal
di selatan dan tentu lebih senang daripada tinggal di negeri
kita yang dingin dan sengsara ini, bukan?”
"Tempat dî mana-mana sama saja dan susah untuk
dikatakan tinggal di mana akan lebih senang asalkan hidup
bebas dan pikiran tentram tentu menjadi senang. Orang utara
tidak biasa tinggal di daerah selatan. Tuhan telah mengatur
demikian bagi umatnya, kalau kita sengaja memaksa
kehendak ilahi itu tentu akan membikin susah diri sendiri.”
"Jika demikian, kamu adalah orang utara yang dibesarkan
dan hidup biasa di daerah selatan, lalu pindah pula tinggal ke
utara sini, bukankah kamu merasa kesal?"
"Hamba adalah kaum kelana kangouw yang biasa hidup
terlunta-lunta, dimana pun dapat menetap, dengan sendirinya
tidak dapat dipersamakan dengan kaum petani atau kaum
gembala. Malahan Baginda telah menganugrahi tempat
menetap dan kedudukan yang tinggi, sungguh hati hamba
sangat berterima kasih, apa yang mesti aku sesalkan lagi?”
Hung-ki menoleh dan memandang sekejap pada Siau
Hong. Tapi Siau Hong tidak ingin saling menatap dengan
rajanya itu, dengan tersenyum ia mengalihkan pandangannya
ke arah lain.
"Saudaraku," kata Hung-ki dengan pelahan, "mesti
hubungan kita adalah raja dan bawahan, tapi sebenarnya kita
adalah saudara angkat. Dahulu kita dapat bicara secara dari
hati ke hati, segala apa dibicarakan secara bebas. Tapi
sesudah lama tak bertemu, mengapa kamu bersikap seperti
orang yang baru kenal denganku?”
Siau Hong menjawab, "Dahulu hamba tidak tahu akan diri
Baginda sehingga secara sembrono berani mengangkat
saudara segala, sesudah tahu, hamba mana berani bersikap
sebagai saudará angkat terhadap bagianda?”
Hung-ki menghela napas, katanya, “Sungguh aku sangat
gegetun sebagai seorang raja aku malah tak dapat bebas
bergaul dengan seorang sahabat karib. Saudara, kalau aku
ikut berkelana di dunia kangouw mungkin akan hidup lebih
bebas dan lebih senang tanpa sesuátu ikatan apa pun."
"Tidak sukar apabila Baginda suka bersahabat" sahut Siau
Hong. ''Hamba mempunyai dua orang saudara angkat di
didaerah Tionggoan, yang satu adalah Hi-tiok däri Leng-Ciu-
kiong, yang seorang lagi adalah Toan Ki dari Taili, mereka
adalah lelaki yang berdarah panas, semuanya sangat jujur dan
baik. Jika Baginada suka berkenalan dengan mereka, hamba
bersedia mengundang mereka pesiar ke negeri Liau kita ini.”
Rupanya sesudah Siau Hong pulang ke Lam-khia, setiap
hari día hanya bergaul dengan perwira dan prajurit bangsa
Cidan, dalam hal kesukaan dan kebiasaaan hidup boleh dikata
sangat berbeda, maka día menjadi kangen kepada Hi-tiok dan
Toan Ki, ia sangat berharap dapat mengundang kedua
saudara angkat itu pesiar ke negeri Liau, dan tinggal bersama
beberapa waktu lamanya.
Hung-ki sangat senang atas usul Siau Hong itu katanya,
"Jika orang yang akan diundang itu adalah saudara-
saudaramu, maka mereka pun terhitung saudara-angkatku.
Boleh kau kirim berita kilat untuk mengundang mereka pesiar
ke sini. Jika mereka mau menjabat sesuatu tugas, tentu akan
kuberi pangkat yang tidak kecil bagi mereka."
Siau Hong tersenyum, sahutnya, "Untuk mengundang
mereka pesiar ke sini mungkin tidak menjadi soal, tapi kedua
saudara angkat itu terang tidak mau menjadi pembesar."
Huñg-ki termenung sejenak, katanya kemudian,
"Saudaraku, dalam tutür-kata dan semangatmu tampaknya
ada sesuatu ganjalan hati yang kurang menyenangkan.
Padahal kekayaanku berlimpah-lampah, kekuasaanku merata
di seluruh negeri, urusan apakah yang tidak dapat
membantumu? Mengapa sesuatu perasaanmu yang tak
tercapai tidak kau ceritakan pada kakak-angkatmu iní?"
Siau Hong sangat terharu, sahutnya, ”Ya, untuk bicara
terus terang, sebenarnya ada sesuatu urusan yang menjadi
penyesalanku selama hidup. Tapi sesuatu yang sudah salah
tidak mungkin dapat ditarik kembali lagi.”
Lalu berceritalah dia tentang hubungannya dengan A Cu
dan akhirnya nona itu keliru dipukul mati olehnya, semuanya
itu ia ceritakan secara ringkas.
”Pantas!” seru Hung-ki sambil tepuk paha. ”Makanya
selama sudah 40 tahun dan tetap belum mau kawin, kiranya
mempunyai pengalaman pahit yang senantiasa tak dapat kau
lupakan. Tapi, Saudaraku, sebabnya kamu sampai berbuat
salah, kalau dicari pangkal persoalannya dan biangkeladi dari
kejadian itu, semua ini adalah gara-gara perbutan orang-orang
Han yang jahat itu. Lebih-lebih kawanan pengemis Kai-pang
itu harus dikatakan sebagai manusia-manusia yang tidak kenal
budi dan lupa kepada kebaikanmu. Namun untuk semua itu
pun tak perlu kausesalkan lagi. Pada waktunya bila aku sudah
mengerahkan pasukan dan menyerbu ke selatan, Hm, masti
akan kubunuh ludes semua orang Bu-lian daerah Tionggoan
termasuk kawanan kera dari Kaipang itu untuk melampiaskan
rasa dendam terbunuhnya ibumu di Gan-bun-koan serta
dendammu waktu dikeroyok di Cip-hiang-ceng dahulu. Jika
kamu sudah terpikat oleh wanita Tionggoan yang cantik-cantik
itu, maka boleh kau pilih seribu atau dua ribu orang untuk
melayanimu, apasih susahnya bagiku untuk mengerjakan
urusan demikian?"
Wajah Siau Hong menampilkan senyuman getir, katanya
dalam hati, "Sekali aku telah salah membunuh A Cu, maka
selama hidupku ini sudah pasti takkan menikah. Sekali A Cu
tetap A Cu, biarpun sampai dunia kiamat juga hatiku hanya
terisi oleh A Cu, biarpun seribu atau dua ribu wanita cantik lain
juga tak dapat menggantikan tempat A Cu dalam lubuk hatiku.
Hongsiang sendiri sudah biasa dirubung oleh beratus dan
beribu dayang dan selir, sudah tentu tidak pernah kenal apa
artinya 'cinta sejati'."
Maka katanya kemudian, "Banyak terima kasih atas
maksud baik Hongsiang. Sesungguhnya permusuhan hamba
dengan orang-orang persílatan Tioaggoan sudah kuhapus.
Sudah terlalu banyak orang pesilatan Tionggoan yang tewas di
tanganku, kalau mesti balas-membalas terus menerus takkan
ada habis-habisnya Apalagi kalau sampai terjadi bencana
perang, tentu akan membawa malapetaka lebih luas lagi.”
“Hahahahaha” Hüng-ki berlagak tertawa. “Orang Song
sebenarnya sangat lemah dan hanya pandai omong besar
saja, digempur sekali di medan perang maka mereka kocar-
kacir. Apalagi saudaraku gagah perkasa tiada tandingannya,
kalau kau pimpin pasukan dan menyerbu ke selatan tentu
dengan mudah seluruh wilayah selatan akan tergenggam
ditanganmu, mengapa kau bilang mengakibatkan mala petaka
peperangan segala? Saudaraku, kedatanganku ini secara
mendadak apakah kau tahu urusan macam apa?”
“Hamba justru ingin mohon diberitahu.” Sahut Siau Hong.
“Urusan pertama sudah tentu karena aku sudah kangen
padamu dan ingin bertemu,” ujar Hung-ki dengan tertawa. “
Baru-baru ini Hiante telah mengadakan perjalanan ke barat,
keadaan wilayah Se He dan kekuatan pasukannya tentu
Hiante sudah cukup mempelajarinya dengan baik. Kalau
menurut pandangan Hiante, apakah sekiranya Se He dapat
kita taklukkan?”
Siau Hong terkejut, pikirnya, “Wah sungguh berat sekali
ambisi Hongsiang ini, sudah ingin menjajah Kerajaan Song ke
selatan, ingin menaklukan Se He pula.”
Maka jawabnya. ”Ya, perjalanan hamba ke barat ini hanya
ingin melihat keramaian sayembara kerajaan Se He yang
sedang mencari menantu bagi putrinya itu, sama sekali tidak
kupikirkan tentang keadaan wilayah negeri itu dan
kemungkinan menyerbu ke sana. Untuk ini hendaknya Baginda
maklum bahwa hamba biasa berkelana di kanggoan dan
banyak mengalami pertempuran berbahaya dari dekat, tapi
bicara lentang memimpin pasukan dan melakukan peperangan
secara besar-besaran sesungguhnya hamba tidak paham
sedikit pun."
"Ah, saudaraku tidak perlu rendah hati,” ujar Hung-ki
dengan tertawa. "Kedatanganku ini urusan kedua adalah
hendak menaikan pangkat saudaraku dan memberi gelar. Nah,
hiante siap untuk menerima pengangkatan.”
”Tapi . . . tapi hamba sudah utang budi terlalu banyak dan
tidak berani mengharapkan . . . ”
Belum Siau Hong selesaí omong Hüng-ki sudah lantas
berseru dengan suara lantang, "Lam ih Tai ong Siau Hong
mendengarkan titah!"
Tarpaksa S¡au Hong melompat turun dari kudanya dan
menyembah di atas tanah.
Tedengar Hung-ki berkata, "Lam-ih Tai-ong Siau Hong
telah banyak berjasa bagi negára, telah mencurahkan segenap
jiwa-raganya bagiku, maka sekarang diberi gelar Raja Muda
sebagai Song-ong dengan jabatan Penglam-tai-goan-swe
untuk memimpin angkatan perang kita. Sekian."
Siau Hong menjadi ragu dan bingung, katanya kemudian,
"Hamba sesungguhnya tidak berjasa apa-apa dan tidak berani
menerima pengangkatan sebesar itu.”
"Kenapa? Apa kau tolak dan tidak mau menerima titah
ini?” tanya Hung-ki.
Mendengat nada sang raja rada bengis dan tahu
pengangkatan itu susah dielakkan lagi, terpaksa Siau hong
memberi sembah dan menyatakan terima kasih.
Hung-ki terbahak-bahak, katanya, "Nah, beginilah baru
benar-benar saudaraku yang baik.”
Ia angkat bangun Siau Hong, lalu katanya pula,
”Saudaraku, kedatanganku ke sini tidak Cuma terbatas sampai
di Lamkhia saja, aku sendiri akan terus menuju ke Pianling
(ibu kota kerajaan Song, Khaifing sekarang).”
Kembali Siau hong terkejut. " O, jadi . . jadi Baginda
hendak pergi ke Pianling, lalu bagai . . . bagaimana . . . ”
Tanyanya dengan tak tegas.
“Begini,"kata Hüng-ki dengan tertawa, "Selaku Pang-lam
tai-goan-swe (panglima besar pengaman selatan) boleh kau
pimpin angkatan perang kita berangkat ke selatan dahulu, kita
langsung menyerbu ke Pianling, Kelak istana Song-ong
saudaraku boleh menggunakan istana yang dipakai si bocah
Tio Hi di Pianling itu.”
"Apakah maksud Bagindä ¡alah kita akan segera
memerangi kerajaan song?” Siau Hong menegas.
"Bukan aku hendak memerangi kerajaan Song mereka,
tapi orang selatan itulah yang ingin mengukur kekuatan
dengan aku,” tutur Hung-ki, “Pada waktu perempuan tua
bangka ibüsuri kerajaan selatan itu memerintah, boleh
dikatakan pemerintahan mereka cukup teratur dan terbina
dengan baik, meski sudah lama ada maksudku menyerbu ke
selatan, tapi selama ini aku tidak berani yakin akan menang.
Namun sekarang perempuan tua itu sudah mampus, si bocah
ingusan Tio Hi itu ternyata berani main gila padaku diam-diam
ia berani mengirim pasukannya, mereka telah mengerahkan
kekuatan dan perbekalan secara besar-besaran, ternyata
sekali bocah she Tio itu mempunyai maksud tertentu dan
kalau tidak ditujukan kepadaku memangnya kepada siapa
lagi?”
"Menurut pendapat hamba, biarpun mereka akan
bertingkah apa pun boleh masa bodoh, “ ujar Siau Hong.
“Sudah sekian tahun lamanya diantara kedua negeri kita tidak
pernah terjadi sesuatu insiden, suasana kedua negeri sama-
sama aman tentram. Jika Tio Hi berani main gila dan
menyerang kita, sudah tentu kita akan gempur mereka hingga
kocar-kacír. Tetapí bila día sudah gentar kepada wíbawa dan
keküatan baginda dan tidak berani sembarangan bergerak,
maka sebaiknya kita jangan urus kelakuan seorang bocah
seperti Tio Hi itü."
“Rupanya saudaraku tidak paham." ujar Hung-ki.
“Ketahuílah bahwa wilayah kerajaan selatan itu sangat luas
dengan penduduk yang besar sekali dan kekayaan alam yang
berlimpah-limpah, kalau secara kebetulan mereka
mendapatkan seorang pemimpin yang gagah dan pintar serta
memusuhi negeri Liau kita, maka sesungguhnya kita sukar
melawan mereka, Sukurlah sekarang si bocah Tio kí terlalu
banyak bertingkah dan sembarangan berbuat banyak di antara
pembesar-pembesarnya yang cerdik dan pandai telah dia
pecat sampai-sampai So Tong-po juga dia pecat. Saat íni
pemerintahan mereka sedang mengalami guncangan hebat,
antara pemimpin dan bawahan terjadi perselisihan
paham,intinya suatu kesempatan baik bagiku. Kalau sekarang
aku tidak cepat bergerak mau tunggu kapan lagi?”
Siau Hong memandang jauh ke selatan sana di depan
matanya lantas terbayang adegan beratus-ratus ribu prajurit
Liau yang gagah dan tangkas sedang menerjang ke selatan, di
mana dilanda api perperangan seketika rumah penduduk
terbakar menjadi lautan api, tak terhitung jumlah manusia
tua-muda, wanita dan kanak-kanak yang bergelimpangan di
bawah telapakan kuda, ada yang binasa, ada yang sekarat
dan masih merintih-rintih, diudara anak panah berterbangan,
pasukan kedua pihak saling membunuh dan bergulingan di
tanah, darah membanjir bagai air sungai, tulang belulang
berserakan di mana-mana . . . . “
Dalam pada itu Yalu hung-ki sedang berkata pula dengan
suara keras, “Turun-temurun leluhur bangsa Cidan kita selalu
ingin mencakup kerajaan selatan ke dalam peta kekuasaan
kita, usaha leluhur kita beberapa kali selalu mengalami
kegagalan. Tapi sekarang rupanya sudah ditakdirkan cita-cita
leluhur itu akan terlaksana dan terukir dalam lembaran
sejarah, betapa bahagianya dan hebat pergerakan kita itu?”
Namun Siau Hong lantas berlutut dan menyembah,
katanya “Mohon Baginda suka mendengarkan sedikit
permohonanku?”
Hung0ki terkesiap, sahutnya’ ”Apa yang kau inginkan? Asal
tenagaku dapat mencapainya pasti akan kululuskan setiap
permintaanmu.”
Siau Hong berkata, "Hamba mohon sudilah Baginda
memikirkan jiwa beratus ribu rakyat kedua negari yang tak
berdosa dan sukalah menarik kembali maksud Baginda akan
menyerbu ke selatan. Penghidupan bangsa Cidan kita
selamanya mengembala dan beternak, sekali pun nanti dapat
memerintah negeri selatan juga tiada gunanya. Apa lagi dalam
peperangan yang dahsyat nanti juga sukar dikatakan akan
menang atau tidak, bila terjadi sesuatu kekalahan bagi kita,
bukankah hal ini malah akan merusak nama kebesaran
Baginda sekarang?”
Mendengar apa yang dikatakan Siau Hong sedari tadi
nadanya tetap menolak untuk menyerbu ke selatan, sudah
tentu dalam hati Hung-ki merasa kurang senang. Padahal
selamanya orang Cidan, terutama pembesar-pembesar dan
bangsawannya, apabila raja mendengar perintah “Menyerbu
ke selatan”, maka tiada seorang pun tak merasa senang dan
ingin segera melaksanakan perintah itu, mengapa Siau Hong
malah menolak dan mencegah maksudnya?”
Waktu Hung-ki melirik saudara angkat itu, ia lihat kedua
alis Siau Hong bekernyit rapat-rapat, akan ada sesuatu yang
menyedihkannya. Diam-diam Hung-ki berpikir pula, “Aku telah
memberi gelar Song-ong padanya dan mengangkat dia
sebagai Peng-lam-tai-goan-swe, gelar dan jabatan itu di
seluruh negeri ini hanya berada dibawahku seorang saja dan
diatas siapapun, lantas soal apa yang membuatnya tidak
gembira? Ya, tentu karena sejarah hidupnya ini, meski dia
bangsa Cidan, tapi sejak kecil dia dipiara dan dibesarkan orang
Han, dia boleh dikata setengah bangsa Han dan dengan
sendirinya tanah kerajaan Song merupakan tanah airnya yang
kedua, makanya Demi mendengar maksudku hendak
menyerbu ke selatan dia lantas sedih dan berusaha mencegah
dan merintangi maksudku. Jika demikian naga-naganya
biarpun kupakai dia memimpin pasukan dan bergerak ke
selatan juga dia takkan bertugas dengan sepenuh tenaga dan
pikiran.”
Karena pikiran itu, akhirnya Hung-ki berkata, “Saudaraku,
maksudku untuk menyerbu kerajaan selatan itu sudah tekadku
yang bulat, maka tak perlu kau bicara lebih banyak.”
“Namun,” berkata pula Siau Hong, “perang adalah
persoalan besar bagi suatu negara, untuk ini mohon Baginda
suka memikirkannya masak-masak. Apabila maksud Baginda
sudah bulat dan tak bisa diubah lagi, maka mohon Baginda
suka mengangkat petugas lain yang lebih cakap dan
bijaksana. Hamba sendiri rasanya tidak mampu memnuhi
kewajiban dan mungkin akan membikin runyam usaha
baginda ini.”
Kedatangan Hung-ki ke kota Lamkhia ini sebenarnya
dengan penuh semangat dengan harapan Siau Hong akan
setuju dan membantunya menyerbu ke selatan, siapa tahu
dugaannya meleset sejak semula Siau Hong sudah menolak
gelar dan jabatan panglima besar yang diberikan, bahkan
berusaha mencegah maksud tujuannya, karuan Hung-ki
menjadi tidak senang. Katanya kemudian dengan kaku. ”Jika
demikian, jadi dalam pandanganmu agaknya kerajaan selatan
itu jauh lebih penting bagimu daripada negeri Liau kita ini?
Apakah kamu lebih setia kepada kerajaan selatan itu daripada
berbakti bagi kerajaan Liau kita yang jaya ini?”
Seketika Siau Hong menyembah pula di atas tanah.
Sahutnya, "Harap Baginda maklum, sekali Siau Hong adalah
bangsa Cidan, selamanya tetap bangsa Cidan dan dengan
sendirinya harus setia pula kepada kerajaan Liau kita. Jika
negeri Liau kita menghadapi sesuatu bahaya, biarpun masuk
lautan api atau terjun ke dalam air mendidih juga sekali-kali
Siau Hong tak berani menolak.”
”Baik,” kata Hung-ki. ”Tentu kau tahu bahwa si bocah Tio
Hi itu sekarang lagi mengincar wilayah negara kita. Kata
pribahasa, ’yang turun tangan lebih dahulu akan lebih kuat,
yang turun tangan belakangan tentu celaka’. Nah kalau kita
tidak mendahului menggempur mereka, bisa jadi negara kita
yang akan dimusnahkan oleh mereka. Karuan cara tentang
masuk lautan api dan terjun ke dalam air mendidih segala,
sedangkan tugas berbakti kepada negara yang kuperintahkan
padamu saja ditolak olehmu.”
"Tapi selama hidup hamba sudah terlalu banyak
membunuh orang, sesungguhnya hamba tidak ingin kedua
tanganku ini berlumuran darah lebih banyak lagi, maka mohon
Baginda suka meluluskan permintaan hamba untuk
mengundurkan diri dengan hidup mengasingkan diri ke
pegunungan saja,“ demikian kata Siau Hong.
Hung-ki tambah murka demi mendengar Siau Hong minta
berhenti dari jabatannya, seketika timbul maksud
membunuhnya, segera tangannya meraba goloknya dan
hendak mencabut senjata itu serta membacok leher Siau
Hong. Untung lantas terpikir olehnya, “ilmu silat orang ini
sangat lihai kalau sekali bacok tidak kena, tentu aku yang
akan terbunuh malah olehnya. Apalagi dahulu dia telah
berjasa menyelamatkan jiwaku, bahkan mengangkat raja pula
dengan aku. Kalau Cuma sedikit kesalahan paham ini lantas
kubunuh orang kepercayaanku sendiri yang berjasa, ini
rasanya tidak pantas.”
Maka Hung0ki menghela napas panjang, katanya sambil
tangannya masih memegang gagang golok, “Rupanya di
antara kita ada perselisihan pendapat dan sukar untuk
disesuaikan untuk sementara waktu ini. Baiklah boleh kau
pulang dulu untuk memikirkan lebih msak, semoga kamu akan
mengubah pikiran dan menerima titahku untuk mengerahkan
pasukkan ke selatan.”
Biarpun mendekam di atas tanah, tapi betapa tinggi ilmu
silat Siau Hong, boleh dikata setiap gerak-gerik orang di
sekitarnya tentu diketahui olehnya, apalagi tangan Hung-ki
yang meraba gagang golok dan timbul maksud membunuhnya
itu, sudah tentu dapat diketahuinya dengan baik.Ia pun
sungkan bila bicara lagi dengan sang raja, pada akhirnya
kedua orang tentu akan cekcok secara terbuka, hal ini pun
tidak diinginkannya. Maka demi mendengar perintah Hung-ki
menyuruhnya pulang dulu, segera ia menyatakan baik dan
berbangkit.
Hung-ki pun tidak bicara pula, ia mendahului melarikan
kudanya dan pergi dengan cepat. Segera Siau Hong
mencamplak ke atas kuda dan menyusul sang raja. Kalau
datangnya tadi mereka melarikan kuda dengan sejajar, adalah
pulangnya sekarang yang satu berada di muka dan yang lain
ketinggalan di belakang dalam jarak puluhan meter jauhnya.
Siau Hong sadar ucapannya tadi telah menimbulkan rasa
sirik dan curiga Yalu Hung-ki, kalau dia menyusul dan
menjajarkan tentu akan makin membikin perasaan sang raja
tidak enak. Maka ia lantas melambatkan kudanya dan jauh
tertinggal di belakang.
Setiba dalam kota, Siau Hong menyusul ke depan Hung-ki
dan mengundang sang raja agar tinggal saja di istana Lam-ih
Tai-ong.
Tapi Hung-ki berkata dengan tertawa, “Aku tidak ingin
membikin repot dirimu. Hendaknya kamu dapat tinggal lebih
senang dan berpikirlah secara mendalam untung-rugi dan
baik-buruknya dari apa yang kita bicarakan tadi. Aku sendiri
akan tinggal di kemahku saja.”
Siau Hong juga tidak memaksa. Ia mengantarkan sang
Baginda ke perkemahannya.
Dari kotaraja Hung-ki membawa banyak benda mustika,
kuda bagus dan wanita cantik, ia memberikan hadiah secara
komplit kepada Siau Hong. Sesudah mengucapkan terima
kasih, lalu Siau Hong pulang ke istananya.
Selama Siau hong sendiri tidak mengurusi pemerintahan,
segala dokumen dan kitab lebih-lebih tak pernah diurusnya,
sebab itulah di istananya tiada tersedia kamar kerja apa
segala. Sehari-hari ia duduk di lantai bersama para perwiranya
untuk makan-minum sepuasnya dan bebas sebagaimana
dahulu ketika dia masih menjadi Pangcu kawanan pengemis di
Tionggoan.
Sekarang setelah Siau Hong pulang dari mengantar Yalu
Hung-ki, sementara itu hari sudah petang. Waktu melangkah
masuk ke ruangan pendopo tertampak di bawah lilin besar
yang bergoyang-goyang, di atas kursi kebesarannya yang
berlapiskan kulit harimau itu duduk seorang nona berbaju
ungu. Itulah dia A Ci adanya.
Siau Hong menggelengkan kepala, katanya, “Aku
mempunyai urusan lain. Kedatanganmu kembali ini sudah
tentu sangat menyenangkan aku, A Ci, didunia ini yang selalu
ku pikirkan hanya engkau seorang aku kuatir kamu mengalami
sesuatu yang buruk. Sekarang kamu berada disisiku pula,
matamu sudah sembuh lagi, maka aku tidak perlu kuatir apa-
apa pula.
“Cihu, bukan saja mataku yang sudah sembuh, bahkan
Hongsiang memberi gelar putri padaku.” Ujar A Ci dengan
tertawa.
"Kamu diberi gelar kebesaran itu, apakah kamu sangat
senang?” tanya Siau Hong sembari mengangkat sebuah
kantong kulit besar yang terletak di ruangan situ, ia buka
sumbat kantong arak itu dan minum beberapa kali.
“Dan selamat juga padamu. Cihu, engkau juga telah naik
pangkat," kata A Ci dengan tertawa.
Siau Hong menghela napas, sahutnya, "Ai, Hongsiang
memberi gelar Song-Ong padaku dan mengangkat aku
menjadi Peng-lam-tai-goan-swe, ia memerintahkan aku
memimpin pasukan menyerang kerajaan Song di selatan.
Coba pikirkan sekali sudah terjadi perang, betapa banyak
rakyat jelata tak berdosa yang akan menjadi korban. Karena
itu aku tidak mau terima tugas itu dan Hongsiang menjadi
marah.”
"Cihu, kaupun aneh," ujar A Ci. "Menurut cerita yang
kudengar, katanya di Cip-hian-ceng pernah kau bunuh jago-
jago persilatan Tionggoan yang tak terhitung jumlahnya,
untuk itu tak pernah kulihat engkau menyesal. Kalaui orang-
orang selatan itu sedemikian kejam dan jahat padamu, hari ini
kebetulan engkau diberi kesempatan oleh Hongsiang untuk
membalas dendam, mengapa cihu berbalik merasa kurang
senang?”
Siau Hong menggangkat kantung arak dan minum pula
seteguk, lalu menghela napas panjang, kemudian berkata,
”Dahulu aku dan encimu di kepung musuh, kalau aku tidak
bertempur sekuat tenaga tentu akan hancur lebur dicencang
mereka jadi soalnya karena terpaksa. Diantara orang-orang
yang kubunuh dahulu itu tidak sedikit adalah sobat sendiri,
kalau teringat sungguh aku sangat pedih.”
“Ah, tahulah aku,” setu A Ci. “Jadi dahulu A Cu minta
engkau membunuh. Jika demikian, sekarang aku minta demi
diriku maukah kau bunuh orang-orang selatan itu?”
Siau Hong melototi nona itu sekejap, sahutnya, "Jiwa
manusia dalam ucapanmu sama saja seperti menyembelih
ayam dan kambing. Ketahuilah ayahmu meski orang Tailí, tapi
ibumu sendiri adalah orang Song di selatan sana."
Mulut A Ci menjengkit dan mendadak pula ke arah lain,
katanya, "Ya, sudah lama kutahu dalam hatimu biarpun seribu
orang A Ci juga tak dapat membandingi seorang A Cu. Selaksa
A Ci yang hidup juga tak dapat menggantikan seorang A Cu
yang sudah mati. Tampaknya aku lebih baik lekas mati saja,
dengan demikian barulah engkau akan sedikit memikirkan
diriku. Tahu begini, lebih . . . lebih baik aku tidak perlu jauh-
jauh datang ke sini untuk menyambangimu. Ya, bilakah
pernah . . . pernah kau tahu diriku dalam hatimu?"
Hati Siau Hong tergetar demi mendengar ucapan A Ci yang
setengah mengomel dengan nada penuh kekosongan hati itu.
Jangan-jangan nona cilik ini diam-diam jatuh cinta padaku? Ini
sekali-kali tidak boleh terjadi!
Maka cepat katanya, "A Ci, usiamu masih kecil, kamu
hanya nakal dan tidak paham urusan orang tua . . . ."
"Orang tua atau anak kecil apa segala, sudah lama juga
aku bukan anak kecil lagi!" sela A Ci. "Engkau telah berjanji
pada Cici akan menjaga diriku, tetapi . . . tetapi engkau hanya
memikirkan asal aku bisa makan, punya sandang dan habis
perkara, apa . . . apa kah pernah kau pikirkan sesuatu
urusanku? Selama ini engkau tidak pernah peduli bagaimana
dan apa yang terkandung dalam hatiku.”
Makin mendengarkan makin terkesiap hati Siau Hong
sampai-sampai ia tidak berani menjawab.
Maka sambil berdiri mungkur A Ci melanjutkan."Waktu
mataku buta, kutahu engkau pasti tidak suka padaku, maka
aku sendiri pun tidak berani dekat-dekat denganmu. Sekarang
mataku sudah sembuh, dan engkau tetap tidak gubris padaku.
Memangnya dalam . . . dalam hal apa aku kalah daripada A
Cu? Apakah wajahku lebih buruk dari dia? Aku kalah pintar
dari dia? Ya, ya, hanya karena dia sudah mati, maka setiap
saat engkau selalu terkenang padanya. Huk-hukkkk, aku . . .
sungguh akupun ingin pada suatu ketika dipukul mati agar
supaya kaupun akan selalu teringat padaku sebagaimana
halnya kau pikirkan A Cu . . . ?
Saking dukanya mendadak ia membalik tubuh lagi terus
menubruk ke dalam pelukan Siau Hong dan menangis
terguguk-guguk.
Seketika siau hong menjadi bingung dan tidak tahu apa
yang harus dikatakan.
Sesudah menangis sebentar, kemudian A Ci berkata pula,
“Masakah engkau sangka aku masih anak kecil saja? Padahal
pada waktu kusaksikan engkau memukul mati Cici pada
malam hujan badai itu, lalu engkau menangis sedemikian
sedihnya, sejak itulah aku lantas sangat menyukaimu. Sejak
itu dalam hatiku lantas timbul suara keputusan bahwa selama
hidupku ini akan selalu ikut padamu. Namun engkau justru
tidak boleh, maka diam-diam aku berjanji dalam hati,'Baiklah,
engkau melarang aku ikut padamu, biarlah aku membikinmu
cacat selama hidup, biar engkau tergantung pada diriku dan
selama hidup hidup terpikir akan ikut padaku'."
Sekonyong-konyong Siau hong teringat apa yang terjadi
dahulu, serunya, "Hah, jadi dahulu kau serang aku dengan
jarum berbisa karena maksud tujuanmu hendak membikin aku
cacat selama hidup?”
Mendadak A Ci mengguncang-guncangkan bahu Siau Hong
sambil menjerit, "Kau, Kau . .Kerbau dungu, jadi kau baru
tahu setelah aku sendiri mengatakan sekarang? Selama ini
engkau tidak pernah memikirkan apa kandungan berita?”
Pelahan Siau Hong membelai rambut A Cl, katanya dengan
suara pelahan, "A Ci, hendaknya maklum bahwa usiaku satu
kali lipat lebih tua daripadamu, aku hanya dapat menjagamu
seperti paman atau seperti kakakmu sendiri. Selama hidupku
ini hanya mencintai seorang wanita saja, yaitu Encimu. Di
dunia ini takkan ada wanita kedua yang dapat menggantikan
tempat A Cu dalam hatiku dan aku pun takkan pernah
mencintai pula wanita mana pun, Hongsiang telah
menghadiahkan banyak wanita cantik padaku, tapi selama ini
aku tidak pernah memperhatikan apalagi menjamah mereka.
Jika aku memperhatikan dirimu, semua itu kulakukan demi A
Cu dan bukan lantaran dirimu sendiri."
A Ci menjadi dongkol dan murka, mendadak A Ci gampar
pipi Siau Hong sekali.
Kalau Siau Hong mau berkelit sudah tentu dengan mudah
tamparan itu dapat dihindarkannya, Tapi ketika dilihatnya air
muka A Ci pucat pasi saking gusarnya, bahkan sekujur badan
gemetar, sorot matanya penuh memantulkan rasa pedih yang
tak terperikan sehingga membuat orang tidak tega
memandangnya, maka ia tidak tega menghindarkan serangan
anak dara itu.
Sebaliknya sesudah menanpar, seketika A Ci menyesal
malah, serunya, "Cihu, O.Cihu, aku . . . . akulah yang salah,
boleh . . . boleh kau balas memukul aku, pukullah aku!"
"Ai, bukankah sifatmu ini terlalu kekanak-kanakkan?" sahut
Siau Hong. "A Ci, di dunia ini tiada urusan maha besar apa-
apa, kamu tidak perlu berduka sedemikian rupa. Eh, sorot
matamu . . . mengapa sedemikian sedih dan pilu? Cìhu adalah
seorang lelaki kasar, bila kamu selalu mendampingi aku,
sungguh akan membikin susah padamu."
"Sinar mataku selalu memantulkan rasa duka derita
bukan?" A Ci menegas. "Ai, semua ini gara-gara siluman jelek
yang membikin susah padaku.”
”Siluman jelek apa maksudmu?" tanya Siau Hong.
"Ini.. kedua biji mataku ini adalah pemberian siluman jelek,
yaitu Thi-thau-Jin (orang berkepala besi) tempo hari itu," tutur
A Ci.
Seketika Siau Hong masih belum paham, ia tanya pula,
“Siluman jelek, Thi-thau-jin apa?”
Tin the, orang yang mengaku sebagai Kai-pang Pangcu,
katanya bernama Ong-sing-thian katanya Ciangbunjin Kek-lok-
pai segala. Tak tahunya, hihihihi, kikira siapa dia? Sungguh
bisa bikin mules perut orang jika kukatakan jahatnya, dia
adalah Yu Goan-ci, itu orang yang kukerudungi dengan topeng
besi dahulu. Entah dari mana dia berhasil mempelajari
semacam kungfu sakti dan aneh, dengan kepandaiannya itu
dia selalu ikut di sisiku dan berusaha membikin senang hatiku.
Sungguh kurang ajar, akulah yang telah tertipu, selama ini aku
panggil dia sebagai Ong kongcu dengan segala hormat, kalau
teringat sekarang sungguh aku menjadi malu sendiri.”
"Oooohh, kíranya Kai-pang Pangcu itu adalah si badut
kepala besi yang pernah kau permalukan dia?” siau Hong
menegas dengan terheran-heran. “Pantas, maka mukanya
penuh bekas luka, mungkin disebabkan dia membuka topeng
secara paksa sehingga kulit mukanya menjadi rusak. Tapi
orang itu tidak dendam atas kejadian yang telah lalu dan mau
melayanimu dengan baik, sungguh susah dicari
bandingannya.”
"Hm, susah dicari apa? Masakah dia punya maksud baik
padaku?” jengek A Ci. “Dia justru sengaja mendustai aku agar
aku mau diperistri olehnya.”
Siau Hong manjadi teringat pada adegan ketika di rumah
ayah angkatnya di Siau-Sit-san dahulu di sana ia lihat sinar
mata Yu-Goang-Ci yang sedemikian memperhatikan A Ci itu
lamat-lamat mengandung rasa cinta yang mendalam, Cuma
waktu itu dirinya tidak memperhatikan lebih lanjut. Maka
katanya, “Dan sesudah kau tahu duduknya perkara, saking
gusarnya lantas kau bunuh dia lalu mencukil biji matanya?”
A Ci menggeleng kepala, sahutnya, “Tidak aku tidak
membunuh dia, Kedua biji mata ini pun dia berikan padaku
secara sukarela.”
Keruan Siau Hong terperanjat, seketika ia tidak paham
mengapa bisa terjadi demikian, dan tanyanya,” Sebab apa dia
bersedia mencukil biji matanya sendiri untuk diberikan
padamu?”
“Habis, salahnya sendiri yang ketolol-tololan,” katanya A ci.
“Ketika aku dan dia datang ke Leng-ciu-kiong dan bertemu
dengan saudara-angkatmu Hi-Tiok-cu untuk minta dia
menyembuhkan mataku Hi-tiok-cu mencari kitab-kitab
pusakanya dan mempelajari sampai setengah harian, akhirnya
dia mengatakan bahwa untuk menyembuhkan mataku hanya
ada suatu jalan, yaitu mesti menggunakan biji mata orang
yang hidup untuk menggantikan biji mataku. Coba pikir, ke
mana harus kucari biji mata orang hidup. Sudah tentu aku tak
dapat minta tukar mata dengan salah seorang dayang Leng-
ciu-kiong, selagi aku mohon pertolongan kepada Hi-tiok-cu.
Aku lantas minta Yu Goan-ci turun gunung untuk menculik
seorang desa. Siapa duga mendadak dia menangis sedih,
katanya bila nanti mataku sudah sembuh dan dapt melihat
wajahnya yang asli tentu tak suka dan tak mau gubris lagi
padanya. Aku berjanji takkan berbuat demikian, tapi dia tetap
tidak percaya. Siapa tahu mendadak ia memegang sebilah
belati terus menemui Hi-tiok-cu dan minta beliau
menggantikan biji mataku. Thi-thau-jin itu bersedia menukar
biji matanya untukku. Semula Hi-tiok-cu tidak mau, tapi Thi-
thau-jin lantas mengiris mukanya satu kali dengan belati dan
menyatakan tekadnya bila Hi-tiok-cu tetap tak mau, maka
dengan segera dia akan bunuh diri. Karena tiada jalan lain,
terpaksa Hi-tiok-cu meluluskan permintaannya dan mencukil
matanya untuk menggantikan mataku.”
Dengan tenang dan sewajarnya saja A Ci menuturkan
kejadian itu seperti sesuatu yang jamak, tapi bagi pandangan
Siau Hong ucapan itu dirasakan sebagai sesuatu yang jauh
lebih mendebarkan dan mengerikan daripada kejadian atau
pertarungan sengit yang pernah dialaminya selama hidup ini.
Dengan tangan gemetar Siau Hong melemparkan kantong
arak yang dipegangnya tadi dan berkata, “A Ci apakah benar
Thi-thau-jin itu secara suka rela memberikan biji matanya
kepadamu?”
“Ya, benar,” sahut A Ci.
“Kau . . . sungguh seorang yang berhati batu dan tak
punya perasaan, masakah orang memberikan biji matanya
padamu telah kau terima dengan begitu saja?”
Mendengar nada Siau Hong itu kereng dan bengis, kembali
mata A ci mengambang dan hendak menangis lagi. Mendadak
katanya, “Cihu, jika matamu buta, aku pun rela memberikan
biji mataku padamu.”
Siau Hong jadi terharu oleh ucapan yang tulus dan
berperasaan mendalam itu, katanya dengan suara lembut, “A
Ci, pemuda she Yu itu sedemikian mencintaimu, bahagia yang
seharusnya kau nikmati itu ternyata tidak kau sadari. Padahal
selain dia ke mana lagi akan kau cari seorang kekasih yang
benar-benar mencintaimu di dunia ini? Dia sekarang berada di
manakah?”
"Besar kemungkinan masih berada di leng-ciu-kiong,“
sahut A Ci. “Dia sudah tidak punya mata lagi, cara bagaimana
dia dapat meninggalkan pegunungan yang curam dan
berbahaya itu?”
“Ah, boleh jadi jika dapat memperoleh biji mata seorang
pesakitan yang harus dihukum mati untuk menyembuhkan
dia.” Ujar Siau hong.
“Tidak mungkin,” kata A Ci. “Hwesio cilik itu . . . eh, keliru,
Hi-tiok-cu itu bilang bahwa waktu matanya dicukil, maka urat-
uratnya sudah putus semua dan tidak dapat diganti lagi
seperti aku.”
“Jika begitu, lekas kau kembali ke sana untuk....
0oooo halaman 55-56 tidak ada oooo0
Tidak berbudi, bíla menyerbu dan membunuh rakyat tak
berdosa berarti tidak bijaksana, dan dengan melanggar pesan
ayah berarti tidak berbakti. O, tuhan, cara bagaimana
hambamu ini harus berbuat di antara kesetiaan, kebaktian,
kebijaksanaan dan peri budi? Ai, apa mau dikata lagi, biarlah
jabatan Lam-ih Tai ong kutinggalkan saja dan kabur tampa
pamit. Akan tetapi ke mana aku akan pergi? O, dunia seluas
ini ternyata tiada tempat berteduh bagiku.”
Ia mengangkat kantung arak yang terbuang tadi dan
menenggak pula beberapa kali. Pikirnya, ”Biar kutunggu
pulangnya A ci, aku akan mengajak dia ke bian-biau-hong
supaya dia dapat berkumpul dengan pemuda she Yu itu,
berbareng aku dapat tinggal untuk sementara waktu di tempat
itu, kemudian akan kupikirkan lagi apa yang harus ku lakukan
selanjutnya.”
oOOo + oOOo
Bercerita tentang A ci yang dipanggil menghadap itu.
Begitu bertemu dengan Yalu hung-ki, langsung nona itu
berseru, ”Hongsiang, gelar Pang-lam Kongcu ini biarlah
kuserahkan kembali padamu, aku tidak mau memilikinya lagi!”
Seperti apa yang telah diduga Siau hong memang maksud
Hung-ki memanggil A Ci tak lain tak bukan ialah ingin minta
nona membujuk Siau Hong supaya menerima tugas yang telah
diberikannya itu. Tapi tiba-tiba A Ci lantas menyatakan hendak
mengembalikannya gelar putrinya, keruan Hung-ki berkerut
kening, katanya dengan kurang senang, "Sesuatu gelar yang
diberikan kerajaan adalah urusan besar dan bukan mainan
kekanak-kanak, mana boleh semuanya kau terima, dan kau
kembalikan dengan begini saja!"
Mengingat hubungannya dengan Siau Hong biasanya
Hung-ki juga ramah-tamah terhadap A Ci, tapi sekarang
ucapannya agak keras sehingga menangíslah A Ci.
Pada saat itulah t!ba-tiba terdengar suara orang wanita
sedang bicara, "Ai, mengapa Hongsiang marah-marah
sehingga membikin ketakutan seorang nona cilik!”
Habis itu tertampaklah dari dalam keluar seorang wanita
cantik dan anggun.
A Ci kenal dia adalah Bok-kuihui, selir kesayangan Yalu
Hung-ki. Segera ia berkata, "Kebetulan dengan kedatangan
Kuihui (gelar selir raja), silakan memberi peradilan, aku hanya
menyatakan tidak mau menjad! Pang-lam Kongcu dan
Hongsiang lantas marah-marah padaku."
Melihat kecantikan yang khas tatkala menangis itu Bok-
kuihui melirik sekejap pada Hungki-ki dan berkata dengan
tertawa, "Hongsiang, jika dia tidak mau menjadi Pang-lam
Kongcu, maka bolehlah engkau menganugrahi dia sebagai
Pang-lam Kui-hui."
Maksudnya kalau A Ci tidak mau diberi gelar putri, boleh
ambil saja sebagai selir.
Tapi Hung-ki lantas tepuk paha dan berseru, “Ngaco!
Ngaco! Aku memberi gelar kepada bocah ini adalah demi
kepentingan Siau-hiante, yang seorang Pang-lam Kongcu dan
yang lain pang-lam Tai-goan-swe, dengan demikian mereka
akan dapat menikah dengan segala keagungan. Siapa tahu
Siau-hiante, tidak mau menjadi Pang-lam-Tai-goan-swe dan
dara cilik ini pun tidak mau menjadi Pang-lam Kongcu. Ya, ya,
tentu lantaran kamu ini orang selatan, maka tldak ingin kita
pergi pang-lam (Mengamankan selatan), ya?"
Nyata di balik ucapannya ini sudah terkandung nada
mengancam. Tapi A Ci menjawab, "Aku justru tidak urus
apakah kalian akan mengamankan selatan atau akan
mengamankan timur dan barat segala, semuanya aku tak
peduli. Yang terang cihu . . . Cihu ingin aku mengawini
seorang siluman jelek yang kedua matanya buta."
Hung-ki dan Bok-kuihui jadi terheran-heran, tanya mereka
bersama, "Sebab apa?"
Sudah tentu A Ci tidak berani menceritakan seluk-beluknya
tentang Yu Goan-ci, ia terus menjawab, "Sebab Cihu tidak
suka padaku, maka aku dipaksa menikah dengan orang lain."
Pada waktu itulah di luar kemah ada suara orang
memanggil pelahan, "Hongsiang!"
Hung-Ki coba melongok keluar, ia lihat seorang
kepercayaan sendiri yang sengaja ditugaskan untuk menjadi
pengawal Siau Hong, dengan berbisik orang itu berkata,
"Lapor Hongsiang, Siau Hong telah menempelkan pita segala
di pintu istana dan membungkus setempel emas dengan kain
dan digantung di atas belandar, melihat gelagatnya agaknya
dia . . . dia akan minggat tanpa pamit."
Mendengar laporan itu. Hung-kí menjadi gusar. Teriaknya,
"Kurangajar! Benar-benar kurang-ajar!"
Dan sesudah berpikir sejenak, lalu memberi perintah,
"Panggil lekas komandan pasukan pengawal!"
Hanya sebentar saja komandan pasukan pengawal
kerajaan sudah menghadap. Segera Hung-ki memberi
perintah, "Lekas pimpin pasukanmu dan kepung istana Lam-ih
Tai-ong!"
Lalu ia pun memberi perintah agar pintu gerbang benteng
kota ditutup semua, siapa pun dilarang masuk-keluar.
Rupanya dia kuatir Siau Hong memberontak dengan
bawahannya, maka berulang-ulang ia memberi perintah pula,
ia panggil menghadap para perwira tinggi bawahan Lam-ih
Tai-ong seorang demi seorang.
Di dalam kemah Bok-kuihui dapat mendengar suara ramai-
ramai di luar itu, menyusul pula suara derap kaki kuda dan
barisan prajurit riuh rendah tak berhentl-henti, terjadi suatu
peristiwa hebat.
Adat istiadat bangsa Cidan memang lebih bebas, begitu
pula pergaulan antara pria dan wanita. Maka Bok-kuihui lantas
keluar dan coba tanya kepada Hung-ki, "Telah terjadi
peristiwa apakah, sampai Baginda sedemikian gusarnya?”
"'Kurangajar!" seru Hung-ki dengan marah. "Siau Hong ini
benar-benar manusia yang tidak kenal kebaikan, dia
bermaksud menghianat dan meninggalkan aku, Jiwa orang ini
condong kepada kerajaan Song, tentu dia akan
menyampaikan berita tentang gerak-gerikku kepada orang
selatan sana. Dia banyak mengetahui rahasia militer kerajaan
Liau kita, kalau dia sampai lolos ke selatan tentu akan
merupakan ancaman dan sangat berbahaya bagiku.”
"Biasanya Baginda suka memuji ilmu silat Siau Hong
sangat lihai, kalau Sri Baginda tidak berhasil menangkap dia
sehingga dia dapat lolos, tentu akan membawa bencana di
kemudian hari bagi bangsa kita," ujar Bok-kuihui.
"Ya. memang!''sahut Hung-ki. Lalu ia berteriak, "Lekas
perintahkan kepadaku Hui-liong-eng (batalyon naga terbang),
Hui-hou-eng (batalyon harimau terbang) dan Hui-pa-eng
(batalyon macan tutul) agar secepat kilat dikerahkan ke istana
Lam-ih Tai-ong dan memberi bantuan kepada pasukan
bayangkari."
Segera perintah sang raja diteruskan oleh ajudannya.
"Untuk membekuk orang she Siau itu, hamba mempunyai
suatu akal, Baginda,” kata Bok-kuihui, lalu ia berbisik-bisik di
tepi telinga sang raja.
Hung-ki tampak manggut-manggut dan berkata, "Ya. boleh
juga. Kalau aksi ini berhasil tentu akan ada hadiah besar."
"Ah, asal Baginda senang saja sudah merupakan hadiah
besar bagi hamba. Baginda sedemikian baik padaku, apalagi
yang kuserakahi?" sahut Bok-kuihui dengan tersenyum.
Dalam pada itu A Ci masih duduk sendirian, didalam
kemah. Biarpun di luar terjadi geger-geger sedikit pun dia
tidak ambil pusing. Baginya adalah kejadian biasa orang-orang
Cidan bergembar-gembor riuh rendah, bilamana hendak pergi
berburu juga sering orang-orang itu ribut-ribut sedemikian
rupa. Sudah tentu sama sekali tak terpikir oleh A Ci bahwa
sekali ini adalah lain daripada yang lain, bahwa Hung-ki
sedang mengarahkan pasukannya untuk menangkap Siau
Hong.
Dengan duduk termenung-menung, pikiran anak dara itu
sedang kusut, pikirnya, "Hari ini baru dapat kubeberkan isi
hatiku kepada Cihu, tetapi . . . tetapi dia tidak pernah
memikirkan diriku sedikit pun, sebaliknya aku disuruh pergi
menemani siluman jelek itu. Biarpun mati juga aku tidak sudi,
tidak mau!”
Tiba-tiba sebuah tangan pelahan meraba pundaknya. A Ci
terkejut dan mendongak, ia lihat Bok-kuihui dengan sorot
mata yang lemah-lembut sedang bertanya dengan tersenyum,
"Adik cilik, apa yang sedang kau kenangkan? Sedang
merindukan Cihumu, bukan?"
Meski adat A Cl gèsit dan nakal, tapi sekali isi hatinya kena
terkorek, mau-tak-mau mukanya menjadi merah juga, ia
menunduk dan tidak menjawab.
Bok-Kuihui lantas duduk, ia pegang dan mengelus sebelah
tangan A Ci, katanya pula dengan suara halus. "Adik cilik,
orang lelaki kebanyakan memang bersifat kasar dan suka
marah, lebih-lebíh orang seperti Hongsiang kita dan Lam-ih
Tai-ong, mereka adalah ksatria gagah perwira pada jaman ini,
untük menarik hati mereka sudah tentu tidak gampang."
A Ci mengangguk, ia merasa apa yang diucapkan Bok-
kuihui itu memang betul.
Jilid ke-86
“Tentu kau tahu,” demikian Bok-kuihui menyambung.
“Wanita dalam istana kerajaan kita entah berapa ribu
jumlahnya, yang jauh lebih cantik dari padaku entah berapa
banyak, sebabnya Hongsiang hanya menyukai aku saja, hal ini
sebagian adalah karena ada jodoh, disamping itu berkat jasa
si padri tua di Seng-tik-si kotaraja itu. adik cilik, kaupun tidak
perlu sedih kalau Cihumu sekarang tidak memikirkan dirimu.
Kelak bila aku sudah ikut Hongsiang pulang ke kotaraja
bolehlah kau ikut ke Seng-tik-si untuk memohon pertolongan
kepada padri tua yang sakti itu, dia tentu punya akal yang
bagus.
“Akal bagus apa yang dipunyai padri tua itu?” Tanya A Ci
heran dan tertarik.
“Hal ini akan kukatakan padamu, tapi jangan sekali-kali
kau katakan kepada orang ketiga. Untuk ini kamu harus
bersumpah bahwa kamu takkan membocorkan rahasia.”
“Baik, Kalau kukatakan rahasia yang kudengar dari Bok-
kuihui ini kepada orang lain, biarlah aku binasa dicincang
orang dan mati tak terkubur.”
“O, adik yang baik, ketahuilah bahwa padri tua itu maha
sakti, dahulu sesudah aku menyembah dan memohon
padanya, lalu dia memberikan sebotol kecil air suci, aku
disuruh berdoa dengan sujud dan diam-diam air suci itu
diminumkan kepada lelaki yang kusukai. Habis itu maka lelaki
itu selamanya akan mencintai aku seorang saja, sampai mati
pun hatinya takkan berubah.”
Habis berkata ia lantas mengeluarkan satu botol porselen
kecil warna jambon dan dipegang dengan hati-hati seakan-
akan kuatir jatuh atau hilang.
A Ci menjadi heran dan bergirang pula, cepat ia memohon,
“O, enci yang baik, bolehkah kulihat macam apakah air itu?”
“Melihat sih boleh saja, tapi hati-hati jangan sampai
tumpah, lho.” sahut Bok-kuihui sambil menyodorkan botol
porselen itu dengan hati-hati.
A Ci menerima botol kecil itu, ia coba membuka tutupnya
dan mengendus sekali, terasa bau harum sedap.
Segera Bok-kuihui mengambil kembali botol porselen itu
dan menutup sumbatnya serta berkata, “Sebenarnya dapat
kubagi sedikit air ini untukmu. Tetapi kukuatir kalau mendadak
Hongsiang berubah pikiran dan masih kuperlukan air suci ini.”
“Tadi engkau bilang Hongsiang sudah minum satu kali dan
takkan berubah pikiran padamu?” A Ci menegas.
“Walaupun demikian, aku tetap kuatir, aku tidak tahu
khasiat air suci ini apakah benar-benar dapat bertahan sekian
lama. Aku pun kuatir air gaib ini jatuh ke tangan selir yang lain
dan mereka pun diam-diam memberi minum kepada
Hongsiang, andaikan Hongsiang takkan balik pikiran padaku
juga sedikitnya akan berbagi pikirannya . . . . “
Baru bicara sampai di sini, tiba-tiba terdengar Yalu Hung-ki
sedang memanggil di luar. Cepat Bok-kuihui mengiakan dan
berlari keluar, “Bluk,” tahu-tahu botol porselen kecil tadi jatuh
dari bajunya tanpa diketahui olehnya.
A Ci terkejut dan bergirang pula, begitu Bok-kuihui
melangkah keluar kemah, cepat ia jemput botol kecil itu dan
dikantungi. Pikirannya, “Aku harus lekas bawa air ini untuk
diminumkan pada Cihu, habis itu akan kuisi dengan air biasa,
lalu ku kembalikan kepada Bok-kuihui.”
Begitulah, segera A Ci merangkah keluar melalui belakang
kemah dan berlari pulang ke istana Lam-ih Tai-ong. Tapi
tertampak olehnya di luar istana sudah penuh pasukan seperti
terjadi sesuatu urusan genting. Waktu melihat A Ci menjuju ke
istana para prajurit dan perwiranya juga tidak merintanginya.
Sesudah masuk pendopo, segera A Ci melihat Siau Hong
sedang berjalan mondar-mandir dengan berpunggung tangan
di dekat titian seperti orang yang tidak sabar lagi.
Begitu melihat A Ci, seketika Siau Hong sangat girang,
katanya, “Hah, baik sekali kamu sudah pulang. A Ci sungguh
aku sangat kuatir kamu akan ditahan oleh Hongsiang. Marilah
sekarang juga kita lantas berangkat, kalau terlambat mungkin
tidak keburu lagi.”
‘Akan kemana kita? Mengapa terburu-buru? Sebab apa
Hongsiang akan menahan aku,” Tanya A Ci dengan heran.
“Coba dengarkan.” Kata Siau Hong.
Waktu mereka diam, maka terdengarlah derap ramai suara
kuda lari kian kemari disertai gemerincingnya suara senjata
dan pakaian perang prajurit di segenap penjuru.
“Ada apakah itu? Engkau akan memimpin pasukan pergi
perang?” Tanya A Ci.
“Prajurit-prajurit itu tidak di bawah pimpinanku lagi.“ Sahut
Siau Hong dengan tersenyum getir. “Hongsiang sudah
mencurigai aku, rupanya dia hendak menangkap aku.”
“Bagus, sudah lama kita tidak berkelahi, marilah sekarang
juga kita terjang keluar!” ajak A Ci dengan senang.
Namun Siau Hong menggeleng kepala, katanya, “Tidak
sedikit kebaikan yang telah kuterima dari Hongsiang, bahkan
beliau telah mengangkat aku menjadi Lam-ih Tai-ong,
sebabnya sekarang aku dicurigai adalah lantaran aku berkeras
tidak mau mengadakan ekspedisi ke selatan. Kalau aku
melukai bawahannya, ini akan merusak hubungan baik
persaudaraanku dengan beliau selama ini sehingga akan
ditertawai para ksatria bahwa aku adalah manusia yang lupa
pada budi orang A Ci biarlah kita berangkat begini saja, kita
pergi secara diam-diam tanpa pamit, asal mereka tidak dapat
menangkap aku, maka cukuplah.”
“Ya, marilah kita berangkat,” sahut A Ci. “Dan ke mana,
Cihu?”
“Ke Leng-ciu-kiong di Biau-biau-hong,” sahut Siau Hong.
Seketika air muka A Ci cemberut, katanya, “Ti . . . tidak,
aku tidak mau bertemu dengan siluman jelek itu.”
“Urusan sudah kepepet, pergi ke Biau-biau-hong atau tidak
biarlah kita rundingkan lagi sesudah lolos dari bahaya, “ ujar
Siau Hong.
Diam-diam A Ci berpikir, “Akan kau antar aku ke Biau-biau-
hong, terang sama sekali engkau tidak menaruh hati padaku.
Bila selekasnya kuberi minum air suci enci ini badamu, asal
engkau jatuh hati padaku, engkau tentu akan menurut segala
apa yang kukatakan. Kalau terlambat, mungkin air suci ini
akan dirampas kembali oleh Bok-kuihui.”
Setelah ambil keputusan, segera ia berkata, “Baiklah,
tunggu sebentar, akan kubawa beberapa potong baju untuk
persediaan ditengah perjalanan.”
Cepat ia masuk ke ruang belakang, ia ambil sebuah
mangkuk dan menuang air suci botol porselen itu ke dalam
mangkuk, lalu dicampur dengan setengah mangkuk arak,
diam-diam ia berdoa, “Semoga malaikat dewata memberi
berkah agar Siau Hong minum air suci ini, selanjutnya akan
mencintai A Ci sepenuh hati dan akan menikah dengan aku
serta takkan terkenang lagi kepada enci A Cu.”
Habis berdoa, lalu ia kembali ke ruangan pendopo,
katanya, “Cihu, silahkan minum semangkuk arak ini untuk
memperkuat semangatmu, sekali kita sudah pergi, terang kita
takkan kembali lagi.”
Tanpa ragu Siau Hong menyambut suguhan itu, dibawah
sinar lilin dilihatnya kedua tangan A Ci agak gemetar, sorot
matanya menunjukkan sinar yang aneh, air mukanya tampak
bersemangat dan ramah pula. Hati Siau Hong agak
terguncang, “Dahulu A Cu sangat menyukai aku, takkala itu air
mukanya juga serupa ini, ai, tampaknya A Ci benar-benar
jatuh hati padaku.”
Segera ia angkat mangkuk arak itu, hanya beberapa kali
teguk saja sudah dihabiskan isi mangkuk itu. Lalukatanya.
“Apakah pakaianmu sudah kau bawa?”
A ci sangat girang melihat air suci bercampur arak itu telah
di minum habis oleh Siau hong, sahutnya cepat, “Tidak perlu
membawa baju lagi, marilah kita berangkat!”
Siau Hong sendiri sudah siapkan sebuah buntalan
(Rangsel) berisi beberapa potong baju dan sedikit uang receh
sekedar sangu. Sesudah menggendong rangselnya, segera
Siau Hong berkata pelahan, “Mereka pasti kuatir aku akan lari
ke selatan, maka kita justru lari ke utara saja.”
Ia gendong tangan A Ci dan pelahan membuka pintu
samping, coba mengintip keluar. Di lihatnya ada dua pengawal
sedang ronda kemari.
Dengan sembunyi di belakang pintu, Siau Hong sengaja
bedehem untuk memancing kedua penjaga.
Benar juga kedua penjaga itu lantas mendekati pintu
hendak memeriksa. Tapi secepat kilat Siau Hong menutuk
jatuh mereka dan diseret ke tempat yang tak kelihatan.
Bisiknya kepada A Ci, “Lekas ganti pakaian kedua orang ini.”
“Bagus!” sahut A Ci dengan gembira.
Cepat mereka mempelajari pakaian kedua penjaga itu
untuk dipakai mereka sendiri, lalu dengan tangan membawa
tombak rampasan mereka jalan berjajar ke depan seperti
penjaga biasa.
Baru belasan tindak jauhnya mereka lantas kepergok
seorang Sip-hu-tiang (komandan sepuluh orang, setingkat
sersan sekarang) dengan sepuluh orang prajurit pasukan
pengawal raja yang sedang meronda. Cepat Siau Hong dan A
Ci menyisih ke tepi jalan dan memberi hormat.
Sip-hu-tiang itu hanya manggut-manggut saja dan lantas
lewat. Dibawah sinar obor yang cukup terang itu sekilas
terlihat olehnya pakaian perang yang dikenakan A Ci itu
kedodoran sehingga menyeret tanah, waktu dia perhatikan
pula, kelihatan golok yang tergantung dipinggang A Ci juga
setengah terseret di tanah Sip-hi-tiang itu menjadi gusar,
terus saja ia tonjok pundak A Ci sambil membentak, “Macam
apa seragammu ini?”
A Ci menyangka rahasianya ketahuan, tanpa bicara lagi ia
menangkis sambil menarik, menyusul kakinya menendang
perut Sip-hu-tiang itu. Kontan sersan itu menjerit kesakitan
dan jatuh terguling.
“Lekas lari,” ajak Siau Hong, Ia pegang tangan A Ci terus
kabur.
Namun kesepuluh prajurit tadi sempat berteriak-teriak,
“Ada mata-mata musuh! Ada mata-mata !”
Sebegitu jauh mereka belum tahu kedua orang itu adalah
samaran Siau Hong dan A Ci.
Tidak jauh mereka berlari, tiba-tiba mereka dipapak oleh
belasan prajurit penunggang kuda. Segera Siau Hong
mendahului menggertak dan putar tombaknya, sekali sapu,
kontan prajurit-prajurit itu mencelat dari kuda mereka. Cepat
Siau Hong angkat A Ci ke atas seekor kuda, ia sendiri pun
mencamplak kuda yang lain, lalu mereka berputar arah dan
menerjang ke pintu kota utara.
Ternyata dugaan Siau Hong tidak meleset, orang-orang
Cidan menyangka Siau Hong pasti akan lari ke selatan, maka
penjagaan bagian utara agak kendur. Apalagi penjaga-penjaga
itu sama kenal Siau Hong, dengan sendirinya mereka pun jeri,
hanya terpaksa oleh perintah raja mereka coba mencegat, tapi
sekali digertak dan diterjang Siau Hong, sebagian besar lantas
menyingkir dan memberi jalan, kemudian mereka hanya
berteriak-teriak dan mengejar dari belakang.
Waktu komandan pasukan pengawal raja memburu tiba
dengan pasukan berjumlah besar, namun Siau Hong dan A Ci
sudah kabur cukup jauh.
Ketika sampai di pintu gerbang utara, Siau Hong melihat
pintu sudah tertutup rapat, di depan pintu penuh berbaris
ratusan prajurit dengan tombak terhunus. Nyata jalan larinya
teralang.
Kalau mau, sudah tentu Siau Hong dapat mengocar-
kacirkan ratusan prajurit itu dengan gampang, tapi yang dia
tuju hanya meloloskan diri dan tidak ingin melukai bangsanya
sendiri. Maka ia rangkul A Ci ke atas kudanya sendiri,
menyusul pada suatu ketika yang baik ia terus meloncat ke
atas tembok benteng kota, dengan bantuan tombaknya, sekali
tancap di tembok, segera tubuhnya terlempar lagi lebih tinggi
dan akhirnya mencapai tempat yang dituju.
Waktu ia melongok ke luar benteng, keadaanya ternyata
gelap gulita. Rupanya orang Cidan memang tidak menduga
Siau Hong akan kabur ke jurusan utara, maka di sini tiada
diberi penjagaan apa-apa.
Segera Siau Hong bersuit panjang, lalu, katanya dengan
suara lantang berkumandang, ”Hendaknya para prajuri
menyampaikan kepada Hongsiang bahwa Siau Hong telah
berdosa dan kabur tanpa pamit, biarlah di kemudian hari Siau
Hong akan membalas budi kebaikan Hongsiang.”
Lalu ia rangkul pinggang A Ci dan siap melompat keluar
benteng kota. Asal dia sudah turun ke sana, itu berarti seperti
burung terbang di angkasa bebas tanpa rintangan apa pun.
Di Luar dugaan, baru saja ia hendak melompat sekonyong-
konyong perutnya terasa sakit, menyusul kedua lengannya
juga terasa kaku, mau-tak-mau tangan yang merangkul
pinggang A Ci itu menjadi kendur. Bahkan kedua kaki lantas
terasa lemas dan jatuh terduduk, perutnya terasa disayat-
sayat sakitnya tidak kepalang sehingga mengeluarkan suara
rintihan.
Keruan A Ci terperanjat, ”He Cihu, kenapa?”
Seluruh badan Siau Hong serasa kejang semua, gigi
sampai gemertakan, sahutnya dengan terputus-putus, ”Aku . .
. aku terkena ra . . . racun jahat. Tunggu . . . . tunggu
sebentar, biar kuke . . . kerahkan tenaga untuk mengeluarkan
racunnya . . . ”
Segera ia mengerahkan tenaga murninya keperut dengan
tujuan hendak mendesak keluar racun yang mengeram di
dalam perut itu. Tapi celaka, mendingan kalau dia tidak
menggunakan tenaga, sedikit dia mengerahkan tenaga,
seketika seantaro badan terasa sakit semua dan tenaga sukar
dikerahkan lagi.
Namun Siau Hong tidak menjadi bingung takkala
berbahaya, ia dengar suara riuh rendah derapan kuda berlari-
lari kearahnya, beribu prajurit sedang lari dari selatan ke
sebelah utara. Ia coba mengatur napas. Ia merasa anggota
badan sudah mati rasa.
”A Ci, lekas melarikan diri saja, aku . . . aku tak dapat
mengiringmu lagi,” katanya dengan perasaan berat.
A Ci adalah anak cerdik, sedikit berpikir saja segera paham
duduknya perkara, jelas dirinya telah tertipu oleh Bok-kuihui.
Air suci itu bukanlah air suci melainkan racun belaka.
Tentu saja A Ci menjadi kuatir dan menyesal pula, ia
rangkul leher Siau Hong dan menangis dengan sedih, katanya
sambil terguguk, ”O, cihu, aku . . . akulah yang membikin
susah pada mu. Racun . . . racun ini akulah yang memberi
minum padamu.”
Siau Hong terkesiap ia tidak paham mengapa bisa terjadi
demikian, tanyanya, ”Sebab apa kau ingin membinasakan
aku?”
”Tidak, tidak!” sahut A Ci sambil menangis, ”Aku tiada niat
membunuhmu. Aku tertipu oleh Bok-kuihui. Dia memberi
sebotol kecil air kepadaku, katanya kalau diminumkan
padamu, untuk selanjutnya engkau tentu akan suka padaku
dan akan . . . akan mengawiniku. O, aku benar-benar terlalu
bodoh sehingga kena tertipu. O, Cihu, biarlah aku mati
bersamamu saja, kita takkan berpisah lagi untuk selamanya.”
Habis berkata, segera ia lolos golok dan hendak
menggorok leher sendiri.
”Nan . . . nanti dulu!” seru Siau Hong, ia merasa seluruh
badannya panas bagai dibakar dan serasa disayat-sayat pula
sehingga susah menggunakan pikiran. Selang sejenak baru dia
paham penuturan A Ci, ktanya, ”Tapi aku . . . aku takkan mati,
tidak perlu kau bunuh diri.”
Dalam pada itu terdengar kedua daun pintu gerbang
benteng kota yang berat dan besar itu sedang dibuka dan
mengeluarkan suara keriut-keriut.
Begitu pintu gerbang terpentang, berbondong-bondong
keluarlah beberapa ratus prajurit berkuda sambil bersorak dan
mengatur barisan, menyusul barisan berkuda masih terus
membanjir dari kota selatan dan keluar benteng.
Waktu Siau Hong memandang jauh ke utara, keadaan
yang tadinya gelap gulita dan tiada seorangpun itu sekarang
telah berubah menjadi terang benderang oleh beribu orang
yang menerjang ke utara sehingga beberapa li jauhnya. Waktu
memandang kembali ke selatan, ternyata hampir setengah
kota penuh api obor.
”Nyata Hongsiang telah mengerahkan seluruh pasukannya
untuk menangkap aku seorang.” demikian pikir Siau Hong.
Sementara itu di mana-mana, di luar dan di dalam benteng
kota terdengar teriakan riuh-rendah. ”Tangkap penghianat
Siau Hong! Tangkap penghianat! Wahai Siau Hong, lekas
menyerahkan diri!”
Perut Siau Hong kembali terasa sakit keras, katanya
dengan suara perlahan, ”A Ci, lekas berusaha menyelamatkan
diri saja!”
”Tidak,” sahut A Ci tegas. ”Aku . . . akulah yang
meracunimu, mana boleh kucari hidup sendiri? Aku . . . aku
akan mati bersamamu.”
Siau Hong tersenyum getir, katanya, ”Ini bukan racun yang
dapat membinasakan orang, tapi hanya membuat aku terluka
parah dan lumpuh saja supaya tidak bisa bergerak.”
”Apa betul?” tanya A Ci dengan girang. Dan segera ia
membalik tubuh, sekuatnya ia tarik Siau Hong untuk
digendongnya.
Tapi karena perawakannya kecil, sebaliknya badan Siau
Hong tinggi besar, dengan sendirinya kedua kaki Siau Hong
terseret di atas tanah.
Pada saat itulah belasan Bu-su (jago) Cidan sudah
merambat ke atas tembok benteng. Sebelah tangan mereka
bergolok dan tangan lain membawa obor. Tapi mereka jeri
kepada Siau Hong sehingga tidak berani mendekat.
”Tiada gunanya melawan, biarkan kita di tangkap mereka
saja!” ujar Siau Hong.
”Tidak, tidak!” sahut A Ci dengan menangis. ”Siapa saja
yang berani menggangu seujung rambutmu, segera kubunuh
fia.”
”A Ci, adikku yang baik, jangan kau bunuh orang untuk
membela aku. Jika aku mau membunuh orang tentu kuterima
titah raja dan menyerang ke selatan, maka peristiwa sekarang
pun tidak perlu terjadi lagi.”
Lalu Siau Hong membentak jago-jago Cidan tadi. ’Kenapa
takut-takut begitu. Ayo menemui Hongsiang bersamaku!”
Untuk sejenak kawanan Bu-su itu tercengang, tapi mereka
lantas memberi hormat dan menjawab, ”Baik! Kami hanya
bertindak menurut perintah sehingga berlaku kasar terhadap
Tai-ong, harap Tai-ong jangan marah!”
Maklumlah, meski tidak lama Siau Hong menjabat Lam-ih
Tai-ong tapi namanya dan wibawanya sangat di segani oleh
setiap perwira dan bintara Cidan. Ketika berada di tengah
orang banyak mereka pun ikut berteriak, ”Tangkap penghianat
Siau Hong”, tapi sesudah berhadapan dengan sendirinya
timbul rasa jeri dan hormat mereka sehingga tidak berani
bersikap kasar lagi.
Begitulah, sekuatnya Siau Hong berusaha berdiri dengan
berpegangan di pundak A Ci, isi perutnya sakit bukan
kepalang bagai dipuntir-puntir. Para Bu-su tadi juga lantas
memasukkan kembali golok mereka ke sarungnya, lalu
mengawal di belakang Siau Hong yang setindak demi setindak
turun ke bawah tembok benteng melalui undak-undakan batu.
Ketika melihat Siau Hong, tanpa terasa para perwira dan
bintara Cidan lantas melompat turun dari kuda mereka.
Seketika suasana di luar dan di dalam kota menjadi sunyi
senyap meski jumlah prajurit itu berpuluh ribu jumlahnya.
Di bawah cahaya obor Siau Hong dapat melihat air muka
dan sikap para prajurit yuang menunjukkan rasa hormat da
segan padanya itu, tiba-tiba Siau Hong merasa lega dan puas.
Pikirnya, ”Jika aku jadi menggerakkan pasukan ke selatan,
berpuluh ribu prajurit yang hadir di sini tentu akan separuh tak
dapat pulang kembali ke kampung halaman. Jika aku dapat
menyelamatkan jiwa tak berdosa sebanyak ini, sekali pun aku
akan dihukum mati oleh Hongsiang juga aku tidak menyesal.
Kuatirnya kalau . . . kalau aku dihukum mati dan Hongsiang
akan menugaskan panglima lain untuk tetap menyerbu ke
selatan.”
Berpikir sampai disini, kembali dadanya kesakitan dan
tubuhnya sempoyongan. Cepat seoerang perwira memberikan
kuda tunggangannya dan membantu Siau Hong naik kuda itu.
A Ci juga mendapatkan seekor kuda dan mengikuti dari
belakang.
Begitulah secara beramai-ramai Siau Hong digiring kembali
ke istana. Walaupun berhasil menangkap Siau Hong dan hal
ini merupakan jasa besar bagi mereka, tapi para perwira dan
prajurit Cidan tiada seorang pun yang mengunjuk rasa
senang.
Sesudah menyusur jalan kota, membelok ke sana dan di
sini kemudian mereka sampai di Poh-be-kio (Jembatan kuda
putih). Siau Hong larikan kudanya melintasi jembatan itu
dengan disusul oleh A Ci. Tapi ketika kudanya sampai di atas
jembatan, sekonyong-konyong A Ci berdiri, ”Byuuur”, ia terjun
ke sungai dan menghilang.
Mula-mula Siau Hong kaget oleh kejadian itu, tapi segera
ia merasa girang. Sebab teringat olehnya pertemuannya yang
pertama dengan nona nakal itu takkala itu A Ci pura-pura mati
kelelap di dalam danau. Dalam hal berenang dan menyelam
dalam air nona itu sangat mahir, bahkan ayah-bundanya juga
kena dikelabuhinya. Sekarang kalau anak dara itu melarikan
diri melalui air, hal ini teramatlah bagus hanya saja Siau Hong
merasa gegetun pula, sebab untuk selanjutnya mungkin tidak
dapat berjumpa lagi dengan anak dara itu.
Tapi ia sengaja berseru, “O, A Ci, mengapa engaku bunuh
diri, Hongsiang tentu takkan menyalakanmu, buat apa engkau
terjun ke dalam sungai?”
Mendengar ucapan Siau Hong itu, pula melihat A Ci benar-
benar karam di dalam sungai dan tidak muncul pula, para
perwira Cidan mengira anak dara itu memang sengaja bunuh
diri. Apalagi Yalu Hung-ki hanya memberi perintah menangkap
Siau Hong dan tidak termasuk A Ci, maka sekarang apakah
anak dara itu akan bunuh diri atau akan lari tak perlu mereka
pikirkan, mereka tetap melanjutkan perjalanan ke depan.
Sampai di istana Lam-ih Tai-ong, Hung-ki ternyata tidak
mau menemui Siau Hong, ia memberi perintah agar komandan
pasukan pengawal menahan tawanannya itu.
Mengingat Siau Hong memiliki tenaga sakti dengan ilmu
silat maha tinggi, kamar penjara biasa akan sukar mengurung
dia. Maka komandan bayangkari itu mendapat akal, ia suruh
bawahannya memborgol kaki dan tangan Siau Hong dengan
rantai besi, lalu dimasukkan ke sebuah kandang beruji besi.
Kandang beruji besi ini adalah kandang singa yang dahulu
pernah dibuat permainan oleh A Ci itu.
Diluar kandang besi itu berjaga beratus prajurit, semuanya
bertombak dan berbaris secara berlapis-lapis mengepung di
sekitar kurungan. Asal Siau Hong sedikit sembarangan
bergerak, serentak tombak para prajurit itu akan menusuk ke
dalam kandang sehingga Siau Hong tak sempat memutuskan
borgolnya dan membobol kandang dalam saat sesingkat itu.
Malahan di luar istana penuh pula pasukan pengawal
pribadi Hung-ki yang mengadakan penjagaan secara keras
sekali. Sebaliknya perwira-perwira yang semula bertugas
dalam kota Lam-khia itu sekarang dipindahkan ke luar kota,
rupanya Hung-ki kuatirkan perwira-perwira itu tetap setia
kepada Siau Hong fan mungkin akan berusaha menolong
bekas atasan mereka.
Di dalam kurungan itu Siau Hong sendiri tidak sempat
memikirkan urusan lain karena dia sedang mengertak gigi
menahan derita siksaan badan yang kesakitan. Sesudah 12
jam kemudian, sampai malam hari kedua, rasa sakit itu baru
berkurang. Bekerjanya racun mulai hilang. Tenaga Siau Hong
pelahan juga mulai pulih.
Tapi dalam keadaan terkurung apa yang bisa
diperbuatnya? Terpaksa Siau hong lapangkan hati, ia tidak
mau berpikir susah-susah, selama hidupnya banyak kejadian
berbahaya pernah dialaminya, ia tidak tahu apakah riwayatnya
akan tamat begini saja di dalam kandang besi itu?
Untunglah para prajurit yang menjaganya itu masih hormat
dan segan padanya, walaupun penjagaan sangat kuat dan
tidak pernah lengah, tapi pelayanan makan-minum tidak
pernah berkurang seperti biasa. Siau Hong juga tidak ambil
pusing, ia makan-minum sepuas-puasnya sehingga guci arak
dalam beberapa hari saja sudah bertumpuk-tumpuk setinggi
manusia.
Hung-ki sendiri tetap tidak pernah datang menjenguk, tapi
dia mengirim beberapa orang belakang, omong untuk
membujuknya, katanya Hongsiang adalah orang yang baik
budi, mengingat persaudaraan masa lalu, maka tidak tega
menggunakan kekerasan untuk menyiksanya asal saja Siau
Hong mau mengaku salah dan minta ampun, semua urusan
akan segera beres.
Tapi Siau Hong adalah seorang lelaki sejati, masa dia mau
tunduk dan minta mapun? Terhadap para pembujuk itu
bahkan ia tidak sudi mengubrisnya, ia hanya minum arak
sendiri sepuas-puasnya.
Dengan begitu telah berlangsung hampir sebulan lamanya.
Para pembujuk itu juga tidak bosan-bosan, setiap hari mereka
datang dan putar lidh tak berhenti-henti, mereka mengulangi
lagi macam-macam bujukan dengan logika-logika yang sudah
basi. Walaupun mereka tahu bujukan mereka itu tidak
mempan mengubah pikiran Siau Hong, tapi mereka masih
terus cerewet tanpa kenal lelah.
Lama-lama Siau Hong sendiri curiga. Pikirnya, “Hongsiang
bukan orang bodoh, masakah dia sengaja mengirim
pembujuk-pembujuk demikian tanpa membawa hasil apa-apa?
Ah, di balik urusan ini tentu ada sesuatu yang tak beres!”
Begitulah ia coba merenungkan apa sebabnya. Mendadak
teringat olehnya, “Ya, tentu Hongsiang telah mengirim
panglima lain dan mengerahkan pasukannya menyerbu
keselatan secara besar-besaran, sebaliknya dia sengaja
mengelabui aku dengan mengirim orang-orang yang tak
berguna ini untuk membujuk segala. Padahal sudah terang
aku tidak dapat melawan mereka, setiap saat dia dapat
membunuh aku, kenapa mesti susah-susah membujuk tanpa
hasil?”
Sesudah Siau Hong berpikir lagi, akhirnya ia pun paham,
“Ya, karena Hongsiang selalu menganggap dirinya sebagai
seorang Enghiong (pahlawan, ksatria), maka dia ingin aku
menyerah padanya lahir batin. Sekarang dia memimpin
pasukan sendiri menyerbu ke selatan, kalau berhasil
menduduki wilayah Song, kemudian dia akan datang padaku
dan pamerkan hasilnya itu. Rupanya dia tahu wataku sangat
keras, dia kuatir dalam gusarku mungkin akan mogok makan
dan bunuh diri, maka dia sengaja mengirim manusia-manisia
tak berguna ini untuk mengobrol tak karuan padaku.”
Tapi dia terkurung dalam kandang besi dan susah
meloloskan diri, terpaksa ia kesampingkan segala urusan.
Biarpun dia tidak mau menerima perintah Yalu Hung-ki untuk
menyerang kerajaan Song, tapi sekarang Hung-ki sudah
melakukan tindakannya itu, urusan tak bisa ditarik kembali lagi
terang tidak sedikit akan jatuh korban yang tak berdosa maka
selain menghela napas panjangdan minum arak sepuas-
puasnya, ia tidak mau banyak berpikir lagi.
Ketika didengarnya keempat pembujuk itu masih
mengoceh tak habis-habis, sekonyong-konyong Siau Hong
bertanya, “Pasukan Cidan kita tentunya sudah menyebrangi
Hoang-ho (Sungai Kuning) secara besar-besaran bukan?”
Para pembujuk itu tercengang san saling pandang dengan
bingung mereka tidak tahu cara bagaimana harus menjawab.
Akhirnya salah seorang pembujuk itu berkata, “Ucapan Siau-
taikong juga ada benarnya, pasukan kita dalam waktu singkat
ini segera akan dikerahkan meski belum menyeberangi Hoang-
ho, rasanya kejadian itu akan berlangsung dalam waktu
singkat saja.”
“O, kiranya pasukan kita belum lagi dikerahkan dan entah
bilakah akan tiba hari yang baik itu?” tanya Siau Hong.
Keempat pembujuk itu saling mengedipkan mata, mereka
anggap rahasia yang maha penting itu tidak boleh
diberitahukan kepada Siau Hong. Maka yang seorang hanya
menjawab, “Ah, kami hanya pejabat rendahan saja, dari mana
bisa mengetahui rahasia militer yang penting itu?”
Dan yang lain berkata, “Asal pikiran Siau-taikong sudah
berubah, tentu Hongsiang sendiri akan mengajak Tai-ong
untuk berunding tentang urusan militer dan kenegaraan yang
maha penting itu.”
Siau Hong hanya mendengus saja dan tidak bertanya pula.
Pikirnya, “Jika serangan Hongsiang berhasil dengan lancar dan
dapat menduduki wilayah Song, tentu beliau akan mengiring
aku ke Pangliang untuk menemui dia. Tapi kalau usahanya
gagal dan pulang dengan tangan hampa, dia tentu malu untuk
menemui aku, dan langkah pertama yang akan dia ambil
adalah membunuh diriku. Ai, sebenarnya kuharapkan dia
berhasil menjajah Song atau mengharapkan dia gagal dan
kalah saja? Wahai Siau Hong! Mungkin sulit juga bagimu
untuk menjawab pertanyaan ini?”
Besoknya waktu petang, kembali keempat pembujuk itu
datang. Para prajurit yang bertugas menjaga Siau Hong juga
sudah bosen mendengarkan ocehan pembujuk yang tiada
kata-kata baru selalu itu-itu saja. Maka ketika melihat
kedatangan pembujuk-pembujuk itu, dengan kening
berkernyit prajurit-prajurit itu lantas berdiri menjauh.
Pembujuk pertama berdehem dulu, lalu membuka suara,
“Siau-taiong, ada firman dari Hongsiang, harap engkau
menerimanya. Kalau engkau menolak titahnya ini, engkau
sendirilah yang berdosa dan harus menerima ganjarannya.”
Kata-kata seperti itu sebenarnya entah sudah beratus kali
didengar oleh Siau Hong dan muak baginya. Akan tetapi sekali
ini agak luar biasa, ia mendengar suara pembujuk ini rada
aneh, yaitu suara serak seperti orang sakit bengek. Maka
tanpa terasa Siau Hong memandang sekejap kepadanya. Dan
sekali memandang, seketika Siau Hong terheran-heran.
Ia lihat pembujuk itu sedang berkedip-kedip dan
memicingkan mata dengan macam-macam air muka yang
aneh. Ketika diperhatikan, Siau Hong merasa muka orang ini
tidak sama dengan pembujuk yang pernah dilihatnya. Waktu
diperhatikan lebih jauh, Siau Hong menjadi kaget dan
bergirang pula.
Ternyata kumis dan jenggot pembujuk yang jarang-jarang
ini semuanya tempelan belaka mukanya terpoles tinta bak
yang kehitam-hitaman sehingga sangat jelek tampaknya. Tapi
matanya jeli dan mulutnya kecil, air muka yang cantik itu
tertampak jelas dibalik kumis dan jenggot palsu yang jarang-
jarng itu, siapa lagi dia kalau bukan A Ci.
Terdengar anak dara itu lagi berkata sambil menahan
suara yang dibikin-bikin, “ini, apa yang dititahkan Hongsiang
ini selamanya tentu benar, asal kamu melakukan apa yang
dikehendaki Hongsiang tentu akan besar faedahnya bagimu.
Nah, ini adalah firman tertulis dari maha raja Liau kita,
hendaknya kau baca dan mempelajarinya dengan baik-baik.”
Habis berkata lantas dikeluarkan sehelai kertas dan
dibentang ke depan Siau Hong.
Sementara itu hari sudah mulai gelap, beberapa perajurit penjaga itu
lagi sibuk menyalakan pelita2 disekitar ruangan pendopo itu.
Berkat cahaja lampu itu Siau Hong dapat melihat tulisan2 diatas kertas
yang dibentangkan itu, ternyata tulisan dalam beberapa huruf kecil itu
berbunyi: Bala bantuan sudah tiba, malam ini juga lepas dari bahaja.
Siau Hong mendengus tanpa bicara, hanya kepalanya menggeleng pelahan.
Tapi A Ci lantas berkata dengan nada yang di-buat2: Pasukan kita yang
dikerahkan kali ini tidaklah sedikit jumlahnya. Perajurit2 kita tangkas
dan perbekalan cukup, sudah tentu kita akan menang dimana pasukan kita
tiba, maka janganlah engkau kuatir.
Tidak, justeru karena aku tidak ingin banyak menimbulkan korban,
makanya aku telah dikurung disini oleh Hongsiang, kata Siau Hong.
Untuk menangkan perang, yang diperlukan adalah perhitungan yang tepat
dan siasat yang lihay, mana boleh berpikir tentang korban yang akan
jatuh? ujar A Ci.
Siau Hong coba melirik ketiga orang pembujuk yang lain, kelihatan
diantaranya ada yang sedang goyang2 kipas yang mereka bawa, ada yang
kebas2 lengan baju secara sembunyi2 se-olah2 kuatir muka asli mereka
dikenali orang, terang mereka itu adalah bala bantuan yang dibawa sendiri
oleh A Ci.
Dengan menghela napas kemudian Siau Hong berkata: Ja, aku sangat
berterima kasih kepada maksud baikmu, tetapi hendaklah maklum bahwa
penjagaan musuh sangat rapat dan keras, untuk merebut wilajah kedudukan
mereka lebih2 tidaklah mudah..................
Belum selesai ucapannya, tiba2 terdengar beberapa perajurit penjaga
tadi sedang men-jerit2 kaget: He, ada ular! Ada ular berbisa! Darimana
datangnya ular2 berbisa sebanyak ini!
Waktu Siau Hong menoleh, benar juga dilihatnya diambang pintu, dari
celah2 jendela dan lantai ruangan situ sudah penuh dibanjiri ular2
berbisa. Binatang2 merajap itu menyusur kian kemari dengan kepala
mendongak dan lidah men-desis2, suasana menjadi kacau balau dan
perajurit2 itu berlari kian kemari untuk menghindari.
Hati Siau Hong tergerak: Melihat gelagatnya, agaknya kawanan ular ini
sengaja dilepaskan oleh saudaraku dari anggota Kay-pang!
Dalam pada itu para perajurit penjaga tadi sedang menggunakan
senjata mereka untuk membunuh dan mengusir kawanan ular. Malahan
komandan piket yang menjaga Siau Hong lantas memberi perintah: Para
perajurit yang menjaga Siau-tayong tidak boleh sembarangan menyingkir
pergi, yang membangkang akan dihukum mati!
Rupanya komandan piket itu cukup cerdik, ia melihat datangnya kawanan
ular itu agak aneh dan luar biasa, ia kuatir kalau perajurit2 penjaga
itu bingung menghadapi kawanan ular dan kesempatan itu akan digunakan
oleh Siau Hong untuk meloloskan diri.
Karena perintah itu, terpaksa para perajurit yang menjaga disekitar
kurungan tidak berani sembarangan bergerak, mereka tetap mengarahkan
ujung tumbak mereka kepada Siau Hong yang mengeram didalam kurungan itu.
Namun tidak urung mereka menjadi kebat-kebit juga, sambil mengancam
Siau Hong, pandangan merekapun ber-ulang2 diarahkan kepada kawanan ular,
bila ada ular yang mendekat lantas mereka bunuh.
Selagi suasana menjadi kacau, se-konyong2 terdengar pula suara riuh
ramai dibelakang istana: Api! Ada api! Kebakaran! Kebakaran! Tolong! Ada
kebakaran! Tolong!
Segera komandan piket tadi berseru: Kahur, lekas pergi memberi lapor
kepada komandan, tanyakan apakah Siau-tayong harus segera dipindahkan
atau tidak?
Yang bernama Kahur itu adalah seorang Pek-hu-tiang (kepala seratus
orang, pangkat setingkat kapten). Ia mengiakan dan membalik tubuh. Baru
saja dia hendak berlari pergi untuk menunaikan tugasnya, tiba2 seorang
telah membentaknya didepan pintu ruangan: Tetap ditempatmu masing2,
jangan terkena tipu pancingan musuh, awas, kalau ada orang menyerbu
kesini segera Siau Hong dibunuh dahulu!
Ternyata yang bicara adalah komandan pasukan pengawal yang hendak
dimintai petunjuk itu sudah datang sendiri. Dia bersenjata golok
panyang dan dengan gagah berdiri didepan pintu.
Se-konyong2 sesuatu bajangan emas berkelebat, seekor ular kecil
berwarna emas telah melayang keatas dan menyambar kemuka komandan pasukan
pengawal itu. Cepat perwira itu menyampuk dengan senjatanya, namun
lebih dulu sudah terdengar suara mendesingnya senjata rahasia, seketika
ruangan situ menjadi gelap gulita. Rupanya ada orang menyambitkan
senjata2 rahasia untuk memadamkan pelita.
Maka terdengarlah komandan pasukan pengawal itu menjerit ngeri sekali,
dia sudah dipagut oleh ular warna emas tadi dan roboh terguling.
Kiranya satu diantara keempat orang pembujuk palsu tadi adalah Ciong
Ling yang menyamar. Dia telah melepaskan Kim-leng-cu dan berhasil
membinasakan perwira musuh.
Tanpa ajal lagi A Ci lantas mengeluarkan golok mestika, cepat ia
memotong putus rantai besi yang menyambung diatas borgol Siau Hong.
Baru Siau Hong merasa ragu2 apakah dirinya dapat keluar dari kurungan
terali besi yang kuat itu, mendadak tanah ditengah kurung besi dimana dia
berpijak itu terasa blong, tubuhnya terasa anjlok kebawah.
Ia dengar A Ci sedang berkata diluar kurungan dengan suara setengah
tertahan: Lekas lari melalui jalan dibawah tanah!
Dan belum lagi kaki Siau Hong menyentuh tanah, tiba2 terasa kedua
kakinya telah dicengkeram oleh sepasang tangan terus ditarik lagi
kebawah. Ketika dapat berdiri tegak dibawah tanah, dilihatnya orang yang
menariknya itu adalah Hoa Hek-kin, itu jago tukang gangsir dari Tayli.
Ternyata Hoa Hek-kin telah giat bekerja selama belasan hari sehingga
berhasil menggangsir dan membuat sebuah lorong dibawah tanah yang
menembus tepat dibawah kurungan besi Siau Hong.
Segera Hek-kin menarik Siau Hong dan merangkak mundur untuk keluar dari
lubang gangsir itu. Betapa cepatnya cara Hoa Hek-kin merangkak ternyata
tidak kalah daripada orang berjalan ditanah datar. Hanya sekejap saja
puluhan meter lubang gangsir itu telah dilaluinya, lalu ia memayang Siau
Hong untuk berdiri dan menerobos keluar dari liang itu.
Ternyata dimulut liang itu sudah menunggu tiga orang. Mereka adalah
Toan Ki, Hoan Hwa dan Pah Thian-sik. Begitu melihat Siau Hong telah
ditolong keluar dengan selamat, terus saja Toan Ki menyapa sambil
menubruk maju untuk merangkul sang Toako.
Siau Hong tepuk2 punggung Toan Ki, lalu katanya dengan tertawa: Hari
ini barulah aku menyaksikan ilmu sakti Hoa-suto, sungguh aku kagum sekali
dan banyak terima kasih.
Sungguh Siaujin (hamba) teramat bangga atas pujian Siau-tayong ini,
sahut Hoa Hek-kin dengan rendah hati. Tempat di mana mereka berada itu
tidak terlalu jauh dari istana Lam-ih Tay-ong, maka terdengarlah dimana2
penuh suara teriakan perajurit Liau yang riuh rendah. Terdengar
pula orang meniup terompet dan lewat dibelakang rumah sana disertai suara
teriakan2: Awas! Musuh telah menyerang pintu gerbang timur, pasukan
pengawal raja harus tetap berada ditempat tugasnya dan tidak boleh
sembarangan bergerak!
Siau-tayong, marilah kita teryang keluar melalui pintu gerbang sebelah
barat, ajak Hoan Hwa yang merupakan ahli siasat dari kerajaan Tayli.
Belum lagi Siau Hong menjawab, tiba2 dari lubang gangsir dibawah tanah
itu terdengar suara seruan A Ci yang penuh rasa sjukur dan girang.
Cihu, tunggu dulu padaku! Menyusul anak dara itu lantas meloncat
keluar dari mulut liang seperti kelinci gesitnya. Yanggut anak dara itu
masih penuh jenggot palsu, mukanya penuh debu tanah dan kotor. Namun
bagi penglihatan Siau Hong, sejak dia kenal A Ci, hanya saat inilah
anak dara itu paling cantik tampaknya.
Segera A Ci melolos pula goloknya hendak memotong borgolnya Siau Hong,
tapi borgol itu menempel rapat ditangan Siau Hong, bilamana sedikit
kurang tepat tentu akan melukainya. Maka ia menjadi ragu2, akhirnya ia
serahkan senjatanya kepada Toan Ki dan meminta: Koko, harap engkau yang
memotongnya!
Toan Ki lantas angkat golok itu, dimana tenaga dalamnya disalurkan,
dengan mudah saja borgol besi itu dapat dipapasnya sebagai memotong kaju
mudahnya.
Dalam pada itu dari lubang gangsir itu telah menerobos keluar pula tiga
orang. Yang pertama adalah Ciong Ling, lalu Bok Wan-jing dan orang
ketiga adalah seorang anggota Kay-pang berkantong delapan.
Anggota Kay-pang itu adalah ahli memain ular, kawanan ular yang
membanjiri ruang tadi adalah hasil pekerjaannya yang sukses. Demi
melihat Siau Hong telah dapat diselamatkan tanpa halangan suatu apapun,
dengan air mata ber-linang2 anggota Kay-pang berkantong delapan itu
lantas menyapa: Pangcu, selama ini engkau .... sampai disini ia tak
sanggup meneruskan lagi saking terharunya.
Sudah lama sekali Siau Hong tidak pernah mendengar orang menyebutnya
sebagai Pangcu, mau-tak-mau ia menjadi terharu juga demi nampak sikap
anggota Kay-pang yang sedemikian setia padanya itu. Sahutnya dengan suara
parau: Sungguh aku sangat berterima kasih atas bantuanmu.
Sungguh bangga dan terharu pula anggota Kay-pang berkantong delapan itu
atas pujian Siau Hong, tak tertahankan lagi air matanya lantas
bercucuran sebagai hujan.
Kawan2 kita sudah mulai bergerak dipintu gerbang timur, marilah kita
lantas kabur saja mumpung suasana sedang kacau! demikian ajak Hoan
Hwa. Dan paling baik Siau Tayong janganlah perlihatkan dirimu agar tidak
dikenali oleh pihak musuh.
Siau Hong mengiakan atas saran itu. Segera mereka meneryang keluar
melalui pintu depan. Waktu Siau Hong menoleh, kiranya rumah dimana mereka
keluar itu adalah sebuah rumah yang sudah rusak tak terawat dan tidak
menarik bila dipandang dari luar.
Karena A Ci sedikit banyak telah menguasai bahasa Cidan, maka dia
lantas ber-teriak2: Kebakaran! Kebakaran! Lekas tolong kebakaran!
Dengan menirukan apa yang dikatakan A Ci itu, segera Hoan Hwa dan Hoa
Hek-kin juga ikut2 berteriak.
Pah Thian-sik memiliki Ginkang yang paling tinggi, maka bila
disekitarnya tiada perajurit Liau, segera ia menyalakan api sehingga
dalam sekejap saja ada belasan tempat beryangkit kebakaran lagi.
Begitulah mereka bersembilan terus berlari kepintu gerbang barat. Toan
Ki dan lain2 telah menyaru sebagai orang Cidan, apalagi suasana didalam
kota telah menjadi kacau-balau sehingga rombongan mereka tidak
menimbulkan perhatian orang lain. Terkadang bila ada pasukan berkuda
Cidan meneryang tiba, segera mereka menyingkir kepojok jalan yang
sepi dan gelap untuk menghindari.
Sekaligus mereka telah melintasi belasan jalanan kota, terdengar suara
terompet berbunyi disebelah utara diseling dengan jerit orang yang
ramai: Wah, celaka! Pasukan musuh telah membobol pintu gerbang utara,
Hongsiang telah ditawan musuh! Hongsiang telah ditawan musuh!
Keruan Siau Hong juga terkejut, ia berhenti dan berkata: Apakah betul
raja Liau tertawan? Samte, raja Liau itu adalah saudara-angkatku,
biarpun dia tidak setia padaku, tapi tidak boleh aku melupakan budinya,
maka .... maka janganlah kau mencelakai dia ....
Cihu jangan kuatir, kata A Ci dengan tertawa. Berita tertawannya
raja Liau itu adalah siasat kita yang sengaja disiarluaskan oleh para
Tongcu dari Leng-ciu-kiong untuk membingungkan pihak musuh. Padahal
didalam kota Lamkhia ini terdapat pasukan penjaga yang kuat, raja
merekapun dikelilingi oleh puluhan ribu perajurit, masakah begitu
gampang untuk menangkapnya?
O, jadi para pengikut Jite itupun datang juga? Siau Hong menegas
dengan girang dan kejut.
Tidak cuma pengikut2 si Hwesio cilik saja yang datang, bahkan Hwesio
cilik itupun sudah tiba, malahan bininya juga dibawa kemari sekalian,
kata A Ci.
Hwesio cilik apa dan bininya siapa? tanya Siau Hong dengan bingung.
Masakah Cihu sudah lupa? sahut A Ci dengan tertawa. Hwesio cilik
adalah si Hi-tiok-cu, bininya bukan lain adalah puteri kerajaan Se He
yang dimenangkannya dalam sajembara tempo hari. Hanya saja puteri itu
selalu menutupi mukanya dengan kerudung sehingga selain Hwesio cilik,
orang lain tiada satupun yang boleh melihatnya. Ketika kutanya si Hwesio
cilik: Bagaimana macam binimu itu, dia cantik atau tidak? Namun si
Hwesio cilik hanya ter-senyum2 saja dan tidak pernah menjawab.
Walaupun sedang melarikan diri, tapi tiba2 mendengar hal2 yang menarik
itu mau-tak-mau Siau Hong merasa bersjukur juga bagi Hi-tiok yang
berhasil memperisterikan puteri Se He itu, tanpa merasa ia memandang
sekejap kearah Toan Ki.
Seperti diketahui, ketika be-ramai2 mereka pergi ke Se He untuk
mengikuti sajembara, sebelum hasil sajembara itu diumumkan, Siau Hong
sudah meninggalkan negeri itu lebih dulu.
Rupanya Toan Ki tahu perasaan sang Toako, dengan tertawa ia berkata:
Toako tidak perlu bersangsi, sebab Siaute sama sekali tidak sirik atas
kejadian itu. Jiko juga tidak terhitung mengingkari janji. Urusan
ini memang agak panyang untuk diceritakan, biarlah nanti akan
kujelaskan dengan pelahan2.
Tengah bicara, kembali mereka telah berlari suatu jarak yang cukup
jauh, tertampak sebuah panggung besar ditengah lapangan didepan sana
juga sedang terbakar, api men-jilat2 dengan hebatnya. Dua helai bendera
yang terpancang diatas tiang bendera didepan panggung itupun sudah
terjilat api.
Siau Hong mengetahui lapangan itu adalah alun2 terbesar yang berada
dikota Lamkhia, biasanya digunakan untuk latihan berbaris perajurit
Liau. Tapi entah sejak kapan didirikan panggung besar itu, ternyata ia
sendiri tidak pernah mengetahui.
Sri Baginda, setelah podium kebesaran dan bendera kerajaan Liau ini
terbakar, ini akan merupakan alamat jelek bagi gerakan militer Liau,
mungkin rencana menyerang kerajaan Song terpaksa harus dipikirkan lagi
oleh Yalu Hung-ki demikian kata Pah Thian-sik dengan tertawa.
Mendengar Thian-sik memanggil Sri Baginda dan tampak Toan Ki telah
manggut2, keruan Siau Hong ter-heran2. Segera ia tanya: Samte, apakah
kau... kau sudah menjadi raja?
Dengan muram Toan Ki menjawab: Ja, secara mendadak ajah telah
meninggal dalam perjalanan pulang, paman baginda telah meninggalkan
tahta pula dan menjadi paderi dikuil Thian-liong-si, maka Siaute disuruh
menggantikan tahtanya. Padahal Siaute sama sekali tidak punya kepandaian
apa2, sungguh memalukan untuk memangku jabatan setinggi ini.
Ai, Samte! seru Siau Hong terkejut. Engkau sekarang adalah kepala
negara Tayli, mana boleh engkau sembarangan menghadapi bahaja bagi
kepentinganku? Pabila terjadi sesuatu halangan, cara bagaimana aku akan
bertanggung-jawab kepada rakjat dan negeri Tayli kalian?
Toan Ki tertawa, katanya: Tayli adalah sebuah negeri kecil yang jauh
terpencil didaerah selatan, sebutan raja adalah cuma nama kosong
belaka, dipandang juga Siaute tidak memper seorang raja, sungguh hanya
membikin malu saja. Adapun hubungan kita melebihi saudara sekandung,
jika Toako ada kesukaran, masakah Siaute boleh tinggal diam tanpa ikut
campur?
Apalagi Siau-tayong telah berusaha mencegah raja Liau memerangi
kerajaan Song, untuk ini kami rakjat seluruh negeri Tayli ikut merasa
berterima kasih padamu, demikian Thian-sik ikut bicara. Hendaklah
maklum, pabila raja Liau berhasil menundukkan Song, maka langkah kedua
sudah tentu akan mencaplok Tayli pula. Padahal negeri kami kecil dan
lemah, mana dapat melawan pasukan Liau yang tangkas dan kuat? Maka Siautayong
telah menyelamatkan kerajaan Song berarti pula telah menolong
negeri Tayli kami. Kalau sekarang orang Tayli mencurahkan segenap
tenaganya untuk mengabdi kepada Siau-tayong tentunya juga sudah
sepantasnya.
Aku hanya seorang yang paham ilmu silat saja, soalnya aku tidak tega
membiarkan kedua negeri saling perang dan menimbulkan korban yang tak
berdosa, mana aku berani anggap berjasa hanya karena sedikit usahaku
itu? sahut Siau Hong.
Sedang bicara, tiba2 bagian selatan sana api ber-kilat2 menjulang
tinggi, penduduk dalam ber-kelompok2 ber-bondong2 menyelamatkan diri
tercampur diantara pasukan2 Liau yang coba menenangkan suasana.
Terdengar teriakan orang: Hwesio2 Siau-lim-si dari selatan bersama
orang2 gagah yang tidak sedikit jumlahnya telah membobol pintu gerbang
selatan! Lalu ada pula yang berteriak: Lam-ih Tay-ong Siau Hong telah
memberontak dan takluk kepada kerajaan Song, raja Liau sudah dibunuh
olehnya!
Malahan ada beberapa orang Cidan lantas menanggapi dengan mengertak
gigi: Siau Hong itu telah mengkhianati bangsa dan menyerah kepada musuh,
sungguh aku ingin dapat menggigit dagingnya dan mengunyahnya mentah2.
Apa benar Sri Baginda telah dibunuh oleh bangsat maha durjana Siau
Hong itu? demikian tanya seorang kawannya dengan gugup.
Mengapa tidak benar? sahut seorang Cidan yang lain. Dengan mataku
sendiri aku menyaksikan Siau Hong meneryang kedepan Sri Baginda dan
dengan tumbaknya ia telah menusuk dada Sri Baginda sehingga tembus.
Bangsat keparat Siau Hong itu mengapa sedemikian kejamnya?
Sesungguhnya dia itu orang Cidan atau bangsa Han? kata seorang tua
dengan sengit.
Konon dia adalah orang Song yang sengaja menyaru sebagai orang Cidan,
bangsat itu benar2 sangat licin dan kejam melebihi binatang! sahut pula
kawannya tadi.
Mendengar orang2 itu sambil lari sembari mencaci maki dan mengutuki
Siau Hong, keruan A Ci menjadi gusar, ia angkat cambuknya terus
menyabet kearah orang Cidan yang lewat disisinya.
Namun Siau Hong keburu mencegahnya, sambil meng-goyang2 kepalanya ia
berkata dengan suara tertahan: Biarkan mereka bicara sesukanya, jangan
digubris! Lalu iapun bertanya: Apakah benar2 para paderi sakti dari
Siau-lim-si juga ikut datang?
Harap Pangcu maklum, ketika nona Toan (A Ci) keluar dari kota
Lamkhia, diluar kota dia lantas bertemu dengan Go-tianglo dari Kay-pang
kita dan membicarakan tentang pengorbanan Pangcu, demi untuk menolong
jiwa rakjat dan negeri Song kita, katanya Pangcu telah berusaha
mencegah rencana raja Liau akan menyerbu negeri Song sehingga
menimbulkan amarah raja Liau serta ditawan. Atas cerita itu Go-tianglo
tak dapat mempercajainya karena Pangcu diketahui adalah orang Cidan,
masakah mungkin pikiranmu condong kepada negeri Song kita? Maka diam2
beliau telah menyusup kedalam kota Lamkhia untuk menyelidiki sendiri
persoalan Pangcu ini dan akhirnya dapat diketahui dengan pasti bahwa apa
yang diceritakan nona Toan ternyata benar adanya. Segera Go-tianglo
menyebarkan perintah 'Jing-tiok-leng' (titah bambu hijau) dan
memberitahukan kepada para kesatria Tionggoan tentang kebaikan budi dan
jiwa kesatria Pangcu, dan karena terharu dan terima kasih atas
keluhuran budi Pangcu itu, maka dengan dibawah pimpinan paderi2 Siaulim-
si itu, para kesatria Tionggoan lantas ber-bondong2 datang keutara
sini untuk menolong Pangcu.
Siau Hong menjadi teringat kepada peristiwa di Cip-hian-ceng tempo
dulu, dimana dia bertarung dan dikerubut oleh para kesatria Tionggoan
sehingga tidak sedikit jago2 silat telah dibunuh olehnya. Tapi hari ini
para kesatria itu justeru datang untuk menolongnya, sungguh hatinya
menjadi berduka dan berterima kasih pula.
Ja, begitulah, maka dengan cepat berita tentang Cihu itu telah
disebarkan oleh para pengemis dari Kay-pang sehingga dalam waktu singkat
telah diketahui oleh para kesatria di-mana2. Ai, celaka! Wah sayang,
sungguh sayang! demikian tiba2 A Ci berseru gegetun.
Ada apakah? tanya Toan Ki kaget.
Wah, aku punya Pek-giok-giok-ting (wajan kemala hijau) yang kugunakan
untuk memancing datangnya kawanan ular dan kutaruh diruangan pendopo
sana, dalam keadaan ter-buru2 aku menjadi lupa mengambilnya kembali,
sahut A Ci.
Sudahlah, benda yang tak berarti itu buat apa mesti selalu dipikirkan
dan dibawa terus kemanapun kau pergi? ujar Toan Ki dengan tertawa.
Hm, kau anggap wajan itu benda tak berarti? Kalau tiada benda mestika
itu, tentu kawanan ular itu takkan membanjiri ruangan itu sedemikian
cepatnya dan Cihu tentu juga susah untuk meloloskan diri secara
begini mudah, demikian bantah A Ci.
Tengah bicara, tiba2 terdengar suara riuh ramainya orang bertempur.
Dibawah cahaja api kelihatan perajurit2 Liau dalam jumlah besar sedang
saling gasak sendiri.
Aneh, mengapa bertempur sendiri ... ujar Siau Hong dengan heran.
Toako, yang terdapat kain putih dileher mereka itu adalah kawan kita
sendiri, kata Toan Ki.
Segera A Ci mengeluarkan sepotong kain putih dan diserahkan kepada
Siau Hong, katanya: Ikatlah dilehermu, Cihu!
Sekilas pandang Siau Hong merasa bingung juga untuk membedakan mana
adalah perajurit kawan dan lawan, ia merasa bingung pihak mana yang
harus dibunuhnya. Dan ditengah suasana yang gaduh itu terkadang terjadi
perajurit2 Liau yang sebenarnya telah saling membunuh. Sebaliknya
perajurit2 Liau palsu yang pakai tanda kain putih dileher itu dapat
mengajunkan senjata mereka dengan jitu keatas badan perajurit dan
perwira Liau yang tulen sehingga orang2 Liau satu persatu bergelimpangan
binasa.
Sambil memegangi kain putih yang diterimanya dari A Ci itu, tangan
Siau Hong menjadi gemetar, dalam hatinya seakan sedang menjerit: Aku
adalah orang Liau, aku bukan orang Han! Aku orang Liau dan bukan orang
Han! Betapapun kain putih ini tak dapat dipakai diatas leherku!
Dan pada saat itulah tiba2 terdengar suara mencicit ber-ulang2, pintu
gerbang barat yang antap itu telah didorong terpentang oleh orang. Berbondong2
Toan Ki dan Hoan Hwa lantas meneryang keluar dengan mengapit
disamping Siau Hong.
Dibawah cahaja api yang terang benderang itu tertampak jelas anggota2
Kay-pang dalam jumlah besar sudah menunggu diluar kota dengan membawa
kuda. Ketika melihat Siau Hong, serentak mereka bersorak-sorai: Kiaupangcu!
Kiau-pangcu!
Ditengah malam gelap tertampak kedua barisan obor lantas menyingkir
minggir, lalu seorang penunggang kuda tampak maju kedepan. Penunggang
kuda itu adalah seorang pengemis tua, dengan kedua tangannya terangkat
keatas ia memegangi Pak-kau-pang, itu pentung penggebuk anjing yang
merupakan benda tanda pengenal Pangcu dari Kay-pang. Pengemis tua itu
ternyata Go-tiang-lo adanya.
Sesudah berada didepan Siau Hong cepat Go-tianglo melompat turun dari
kudanya dan berlutut, katanya: Go Tiang-hong atas nama para anggota Kaypang
dengan ini mempersembahkan kembali Pak-kau-pang ini kepada Pangcu.
Kami telah gegabah dan goblok sehingga telah banyak membikin susah
Pangcu yang tidak bersalah, sungguh kami lebih bodoh daripada hewan,
untuk mana dimohon Pangcu suka memberi ampun dan sudilah melupakan apa
yang telah lalu dan kembali menjadi Pangcu kita untuk memimpin kami
yang selama ini seperti kanak2 yang kehilangan orang tua. Sembari
berkata iapun menyodorkan Pak-kau-pang ketangan Siau Hong.
Siau Hong menjadi terharu menghadapi kawan2 seperjoangan dimasa lalu
ini, katanya: Go-tianglo, Cayhe memang benar2 adalah orang Cidan.
Sungguh aku merasa terima kasih tak terhingga atas budi kebaikan kalian.
Tentang kedudukan Pangcu sekali2 aku tidak dapat menjabatnya.
Berbareng iapun membangunkan Go-tianglo.
Go-tianglo adalah seorang yang berhati lurus, ia menjadi bingung atas
sikap Siau Hong itu, katanya sambil garuk2 kepala: Engkau... engkau
mengaku sebagai orang Cidan pula dan tak... tak mau menjadi Pangcu?
Ah, Kiau-pangcu, sudahlah, jangan kau marah lagi kepada perbuatan kami
yang ngawur dahulu itu dan terimalah kembali jabatanmu!
Dalam pada itu terdengar suara tambur perang didalam kota mendadak
berbunyi menggelegar, terang ada pasukan besar Liau segera akan
meneryang keluar.
Cepat Toan Ki berkata: Go-tianglo, marilah kita lekas berangkat,
pasukan musuh terlalu kuat, jika mereka sempat menyusun kekuatan tentu
kita tak dapat melawannya.
Siau Hong tahu juga sebabnya orang2 Kay-pang bersama kesatria2
Tionggoan itu dapat unggul sementara adalah karena mereka menyerang
secara mendadak sehingga berhasil, tapi kalau benar2 bertempur melawan
pasukan Liau sudah tentu ribuan orang2 Kangouw itu bukan tandingan
pasukan Liau yang berjumlah ratusan ribu dan terlatih dengan baik itu.
Apalagi kalau terjadi pertempuran tentu akan banyak menimbulkan korban
pula, hal ini sangat berlawanan dengan keinginannya, maka ia lantas
berkata: Go-tianglo, urusan Pangcu biarlah dibicarakan nanti. Yang
penting sekarang lekaslah kau memberi perintah agar para saudara kita
segera mundur kebarat sana.
Go-tianglo mengiakan dan segera memberi perintah itu. Serentak barisan
belakang Kay-pang berubah menjadi barisan depan dan cepat mengundurkan
diri kejurusan barat. Tidak lama kemudian Hi-tiok juga telah menyusul
tiba dengan membawa para perajurit wanita dan 36 Tongcu dan 72 Tocu.
Sesudah beberapa li jauhnya, para jago negeri Tayli dibawah pimpinan
Siau Tiok-sing dan Cu Tan-sin juga sudah menyusul datang. Tapi para
kesatria Tionggoan dan para paderi Siau-lim-si tetap tidak kelihatan.
Bahkan sajup2 terdengar pertempuran yang gegap-gempita didalam kota
Lamkhia.
Rupanya para kesatria Tionggoan dan para paderi Siau-lim telah kena
dicegat musuh didalam kota, biarlah kita menunggu dulu sementara, ujar
Siau Hong.
Tidak lama kemudian suara pertempuran didalam kota tadi makin lama
makin keras. Toan Ki merasa tidak enak, katanya: Harap Toako tunggu dulu
disini, biarlah aku pergi membantu mereka.
Habis berkata ia lantas memimpin para jago Tayli dan memburu kembali
kekota Lamkhia.
Sementara itu subuh sudah tiba, cuaca mulai terang. Siau Hong sendiri
merasa sedih dan kuatir, ia tidak tahu para kesatria Tionggoan itu dapat
meloloskan diri atau tidak.
Suara pertempuran semakin dahsjat, para jago negeri Tayli telah
meneryang kembali kedalam pasukan musuh, tapi para kesatria Tionggoan
tetap belum kelihatan lolos dari kepungan.
Tiba2 datang seorang kurir anggota Kay-pang dan memberi laporan:
Beberapa ribu perajurit Liau telah menjaga rapat pintu gerbang barat,
jago2 Tayli tidak dapat menyerbu kedalam kota, sebaliknya para kesatria
Tionggoan juga tidak dapat meneryang keluar.
Segera Hi-tiok memberi tanda dan berseru: Orang2 Leng-ciu-kiong
ikutlah padaku untuk memberi bantuan kesana. Segera ia pimpin anak
buahnya yang berjumlah ribuan orang itu dan meneryang kembali kearah
Lamkhia.
Diatas kudanya Siau Hong coba memandang kebelakang, tertampak kota
Lamkhia penuh diliputi asap yang mengepul tebal, di-mana2 terdapat
gumpalan api yang me-nyala2, sungguh susah untuk dibayangkan betapa
jadinya kota itu didalam kancah kekacauan perang itu.
Sesudah ditunggu setengahan jam pula, kembali seorang kurir memberi
lapor lagi : Toan-ongya dari Tayli dan Hi-tiok Siansing dari Leng-ciukiong
telah berhasil membobol kepungan musuh dan sudah menyerbu kedalam
kota.
Biasanya jika ada pertempuran Siau Hong selalu memimpin dan tampil
paling depan tapi sekarang dia hanya menunggu dari jauh, rasanya cemas
dan kuatir pula. Maka akhirnya ia berkata : Biarlah aku pergi melihatnya!
Cepat A Ci, Bok Wan-jing dan Ciong Ling mencegahnya : Jangan,
justeru orang Liau lagi incar dirimu jangan sekali2 engkau menempuh
bahaja ini.
Tidak apa2, jangan kuatir, ujar Siau Hong. Segera ia melarikan
kudanya kedepan dengan disusul oleh para anggota Kay-pang.
Sampai diluar pintu gerbang barat kota Lam-khia, tertampak dibawah
tembok benteng, ditepi jalan dan disepanyang sungai yang mengelilingi
benteng kota itu penuh bergelimpangan majat2 yang be-ratus2 banyaknya.
Ada perajurit dan perwira Cidan, ada juga anak buahnya Toan Ki dan Hitiok.
Pintu gerbang kota setengah tertutup, beberapa Tocu bawahannya Hi-tiok
tampak memutar senjata mereka sedang menjaga disamping pintu dan sedang
menghajar perajurit2 Liau yang meneryang maju agar mereka tidak dapat
menutup pintu gerbang itu.
Tiba2 terdengar suara riuh ramai kuda2 berlari dari sebelah utara dan
selatan. Siau Hong terkejut, serunya: Celaka, pasukan Liau secara
besar2an hendak mengepung kita dari jurusan2 selatan dan utara.
Cepat ia meloncat keatas, kakinya memancal sekali didinding benteng,
dengan tenaga dorongan itu tubuhnya lantas mencelat keatas dan
menghinggap diatas tembok benteng, dari situ ia dapat memandang jauh
kedalam kota. Maka tertampaklah bagian barat kota, dalam lingkaran seluas
satu li lebih itu terdapat gerombol2an orang disana-sini, nyata para
kesatria Tionggoan telah dipotong dan di-pisah2kan oleh perajurit2 Liau
yang berjumlah lebih banyak itu dan sedang dikerubut dalam kelompok2
lebih kecil.
Walaupun para kesatria Tionggoan itu berilmu silat tinggi, tapi setiap
orangnya harus melawan beberapa orang sampai belasan perajurit Liau yang
tangkas, lama kelamaan mereka menjadi kewalahan juga.
Dengan berdiri diatas tembok benteng Siau Hong dapat memandang kedalam
dan keluar kota. Ia menjadi bingung juga menghadapi suasana pertempuran
itu. Para kesatria Tionggoan yang terkepung itu telah bertempur mati2an
demi untuk menolong dia, maka tidaklah mungkin ia menyaksikan para
kesatria Tionggoan itu terbinasa dibawah senjata perajurit Liau tanpa
memberi bantuan. Tapi kalau dia melompat turun dan menolong mereka, ini
berarti dia secara terang2an bermusuhan dengan pihak Liau dan menjadi
seorang pengkhianat bangsa. Hal ini tidak saja berdosa kepada leluhurnya
sendiri, bahkan selamanya akan dicaci-maki dan dikutuki oleh bangsanya
sendiri.
Jika dia cuma melarikan diri saja dan meninggalkan negerinya
sendiri, perbuatan demikian paling2 akan dianggap sebagai tidak setia.
Tetapi kalau angkat senjata dan menyerang bangsa dan negerinya sendiri,
ini benar2 perbuatan pengkhianatan yang maha berdosa.
Biasanya Siau Hong dapat bertindak cepat dan tegas, tapi sekarang ia
menjadi serba susah. Sekilas tertampak olehnya dipojok bawah benteng
sana ada beberapa jago Cidan sedang mengerubuti dua paderi tua Siaulim-
si. Salah seorang paderi tua itu bersenjata golok, mulutnya
menyemburkan darah, terang sudah terluka parah.
Waktu diperhatikan lebih jauh, segera Siau Hong mengenal paderi tua
itu adalah Hian-bing Taysu. Paderi yang lain bersenjata tongkat dan
sedang berusaha mati2an untuk melindungi kawannya yang terluka. Paderi
bersenjata tongkat ini ternyata Hian-sik adanya.
Saat itu dua jago Cidan sedang angkat parang mereka untuk membacok
kearah Hian-bing. Segera Hian-bing angkat tangan kanannya dengan maksud
hendak menangkis dengan goloknya. Tak tersangka lukanya sudah teramat
parah, baru saja lengannya terangkat sebatas dada, sungguh celaka,
rasanya sudah tidak kuat lagi. Cepat Hian-sik memberi bantuan,
tongkatnya menyampuk, trang-trang, kedua parang musuh telah terbentur
balik. Saking kuat tenaganya Hian-sik sehingga kedua jago Cidan tak
mampu menguasai lagi senjatanya sendiri, kedua parang itu membacok
dibatok kepalanya sendiri sehingga pecah berantakan.
Sudah tentu Hian-sik sangat girang. Tapi mendadak terdengar Hian-bing
menjerit, tahu2 pundak kirinya sudah berlumuran darah, ternyata kena
dilukai pula oleh musuh.
Kontan Hian-sik balas menyabet dengan tongkatnya sehingga jago Cidan
yang melukai Hian-bing itu terhantam dan remuk tulang dadanya. Dan karena
serangannya yang hendak membela kawan itu, ia sendiri menjadi kurang
penjagaan, kesempatan itu telah digunakan oleh seorang jago Cidan yang
lain untuk menusukkan tumbaknya kedada Hian-sik.
Cret, Hian-sik tidak sempat menangkis, perutnya dengan tepat tertusuk
tembus dan terpantek diatas dinding benteng. Namun Hian-sik tidak lantas
tewas, dengan tenaganya yang masih ada mendadak ia menggertak sekali,
tongkatnya lantas mengemplang kebawah sehingga kepala orang Cidan itu
hancur lebur dan mati lebih dulu daripada Hian-sik sendiri.
Melihat perut Hian-sik tertembus tumbak musuh dan terang tak bisa hidup
lagi, Hian-bing menjadi bingung sehingga permainan goloknya tak keruan
jurusnya, dengan air mata bercucuran ia ber-teriak2: Sute! Sute!
Darah panas Siau Hong menjadi bergolak, ia tidak dapat menahan
perasaannya lagi, mendadak ia berteriak keras2: Ini Siau Hong berada
disini! Kalau mau bunuh boleh bunuhlah aku, tapi jangan membunuh orang
lain yang tak berdosa! Berbareng Siau Hong lantas melompat turun kebawah,
dimana kakinya melayang, sebelum dia menyentuh tanah, kontan empat jago
Cidan sudah lantas didepaknya hingga mencelat. Dan setelah berdiri
tegak, cepat ia menarik Hian-bing dan tangan lain pegang tongkatnya
Hian-sik sambil berkata: Hian-sik Taysu, bantuan Cayhe ini terlambat
datangnya, sungguh dosaku tak terhingga besarnya. Menyusul tongkat yang
dipegangnya itu terus disabetkan sehingga dua jago Cidan terpaksa
melompat menyingkir.
Tidak, kami yang telah memfitnah Kiau-pangcu sebagai orang Cidan
adalah lebih besar pula dosa kami, sahut Hian-sik dengan tersenyum getir.
Dan sjukurlah sekarang duduknya perkara dapat dibikin jelas .........
belum selesai ucapannya, sekali kepalanya menunduk ternyata napasnya
sudah berhenti.
Sambil melindungi Hian-bing segera Siau Hong meneryang kearah beberapa
jago Tayli yang sedang dikerubut musuh disebelah kiri sana.
Melihat Lam-ih Tay-ong mereka mendadak muncul dengan gagah berwibawa,
mau-tak-mau para perajurit dan perwira Liau menjadi jeri. Sebaliknya
Siau Hong lantas kerjakan tongkatnya, walaupun ia tidak ingin membunuh
orang, tapi terluka juga bila berkenalan dengan tongkatnya.
Perajurit2 ber-teriak2 ketakutan dan be-ramai2 menyingkir mundur
sehingga Siau Hong dapat meneryang kian kemari dengan cepat dan
leluasa, hanya dalam waktu singkat ia sudah dapat mengumpulkan dua-tiga
ratus kesatria Tionggoan yang tadinya bercerai-berai dan terkepung tadi.
Hendaklah saudara2 jangan terpisah lagi, bergabungklah dalam rombongan
besar untuk bertempur bersama! seru Siau Hong.
Segera ia memimpin dua-tiga ratus orang itu dan bergeser kesana dan
kesini, bila ada kawan yang terkepung lantas didekatinya untuk
menolongnya keluar. Maka rombongannya itu makin lama makin bertambah
banyak jumlahnya. Sampai akhirnya sudah lebih seribu.
Lalu Siau Hong menggabungkan diri dengan rombongan2 Hi-tiok, Toan Ki
dan para kesatria Tionggoan dibawah pimpinan Hian-to Taysu dari Siau-limsi
terus meneryang kepintu gerbang kota. Siau Hong mendahului memburu
kedepan, dengan gagah ia berdiri diatas pintu gerbang dan membiarkan
rombongan2 para kesatria Tionggoan, Tayli dan Leng-ciu-kiong keluar kota
dengan aman. Pasukan Liau yang mengejar itu ternyata tidak berani
menyerbu maju, mereka hanya ber-teriak2 dari jauh dan gentar terhadap
wibawa Lam-ih Tay-ong mereka.
Menunggu sesudah semua orang sudah keluar benteng dengan selamat,
paling akhir barulah Siau Hong sendiri menyusul keluar kota. Waktu ia
menoleh kebelakang, tertampak majat bergelimpangan di-mana2 dan bertumpuk2,
entah berapa banyak korban yang jatuh dalam pertempuran sengit
itu.
Tiba2 terlihat olehnya diantara majat2 yang menggeletak didalam kota
itu terdapat dua perwira wanita Leng-ciu-kiong yang berlumuran darah dan
sedang me-rintih2 dan me-ronta2 hendak berdiri tapi rupanya tidak kuat
lagi.
Tanpa pikir Siau Hong meneryang masuk lagi kedalam kota, ia pegang
punggung kedua wanita itu dan dibawa lari keluar. Tapi tidak seberapa
jauhnya, mendadak terdengar suara tambur menggelegar mengguncang bumi,
dua pasukan Liau secara besar2an telah menyerbu tiba dari arah kanan dan
kiri.
Seketika Siau Hong merasa cemas. Kedua pasukan musuh itu jumlahnya
paling sedikit ada sepuluh ribu banyaknya, sedangkan kawan2 dipihak
sendiri sudah bertempur sekian lamanya, kalau tidak terluka tentu juga
sudah terlalu letih, cara bagaimana akan dapat menghadapi pasukan musuh
yang bertenaga baru ini?
Cepat ia berteriak: Kawan2 dari Kay-pang mengiring dari belakang,
serahkan kuda tunggangan kalian kepada kawan2 lain yang terluka dan
biarkan mereka mundur lebih dulu!
Anggota2 Kay-pang mengiakan serentak dan be-ramai2 melompat turun dari
kuda mereka. Lalu Siau Hong berteriak pula:
Pasang Pak-kau-tay-tin (barisan besar menggebuk anjing)!
Maka terdengarlah suara tembang para pengemis yang sedang minta2 sambil
mengatur barisan secara selapis demi selapis.
Hian-to Taysu, Jite dan Samte, lekas memimpin bawahan kalian mundur
dulu kejurusan barat, biarkan kami yang menjaga dibagian belakang!
teriak Siau Hong lagi.
Dibawah sinar matahari ujung golok dan tumbak pasukan Liau itu tampak
gemilapan menyilaukan mata, berpuluh ribu kuda berlari serentak
meneryang tiba, suaranya benar2 menggetar sukma dan menakutkan.
Melihat kekuatan musuh yang luar biasa itu, Hi-tiok dan Toan Ki
menaksir Pak-kau-tay-tin yang dipasang anggota Kay-pang itu betapapun
juga susah menahan terjangan pasukan musuh. Maka mereka berdua lantas
berdiri dikanan-kiri Siau Hong dan berkata: Toako, kita adalah saudara
angkat, kalau ada kesukaran biarlah ditanggung beramai, mati atau hidup
harus bersama pula.
Jika begitu, lekas perintahkan bawahan kalian mundur lebih dulu, kata
Siau Hong.
Cepat Hi-tiok dan Toan Ki lantas meneruskan perintah itu kepada anakbuahnya
masing2.
Siapa tahu bawahan Leng-ciu-kiong telah menyatakan tidak mau
meninggalkan majikan mereka didalam keadaan bahaja, lebih2 para jago
Tayli juga tidak mau mengundurkan diri dan membiarkan raja mereka
menghadapi maut.
Dalam pada itu pasukan berkuda Liau sudah makin dekat, panah yang
dibidikkan sudah hampir mencapai tempat dimana Siau Hong dan kawan2nya
berada.
Hian-to mestinya sudah mundur lebih dulu dengan memimpin para kesatria
Tionggoan, tapi sekarang demi nampak rombongan Siau Hong terancam
bahaja, seketika ada beberapa puluh orang diantaranya berlari kembali
untuk membantu.
Diam2 Siau Hong mengeluh. Pikirnya: Biarpun ilmu silat kawan2 ini
sangat tinggi, tapi mereka tidak kenal ilmu peperangan dan tidak tahu
disiplin militer, cara bagaimana mereka akan sanggup melawan pasukan
Liau yang berjumlah besar? Kematianku adalah tidak menjadi soal, tapi
kalau para kawan juga dibinasakan oleh perajurit Liau diluar kota
Lamkhia ini, lantas bagaimana aku ...
Selagi bingung dan entah tindakan apa yang harus diambilnya. Sekonyong2
ditengah pasukan Liau itu terdengar suara gembreng yang nyaring
dan ditabuh secara menitir. Nyata itulah tanda menarik mundurnya
pasukan.
Begitu mendengar suara titir gembreng itu, seketika pasukan Liau yang
sedang meneryang kedepan itu serentak membalik haluan, kuda mereka
berputar, barisan belakang lantas berubah menjadi barisan muka dan beramai2
mundur ke utara dan selatan, dari arah mana mereka datang tadi.
Siau Hong menjadi ter-heran2 dan tidak mengerti apa yang sudah
terjadi. Walaupun pasukan Liau sudah mundur, tapi dilihatnya jauh
dibelakang pasukan Liau sana debu mengepul tinggi disertai suara teriakan
riuh ramai, rupanya bagian belakang pasukan Liau itu telah digempur oleh
pasukan yang lain pula.
Keruan Siau Hong tambah heran: Mengapa dibelakang pasukan Liau ada
pasukan pihak lain lagi, jangan2 terjadi pemberontakan pula? Dan
siapakah yang memberontak? Dari muka dan belakang Hongsiang digencet
musuh, tentu keadaannya sangat tidak menguntungkan.
Begitulah jiwa kesatria Siau Hong, baru saja dia terhindar dari
kepungan pasukan Liau, sekarang dia sudah lantas menguatirkan
keselamatannya Yalu Hung-ki.
Melihat pasukan Liau mendadak ditarik kembali, segera para anggota Kaypang
ber-teriak2, tapi karena tiada perintahnya Siau Hong mereka tidak
berani sembarangan mengejar dan membunuh musuh.
Waktu Siau Hong melompat dan berdiri diatas kudanya untuk memandang
jauh kebagian belakang pasukan Liau, dilihatnya disana banyak berkibar
panji2 warna putih, diudarapun terjadi hujan panah dan perajurit Liau
banyak yang terjungkal jatuh dari kudanya. Akhirnya sadarlah Siau Hong:
Ah, kiranya adalah kawan2-ku dari suku Nukhen yang telah tiba. Entah dari
mana mereka.
Ilmu memanah pemburu2 Nukhen itu sungguh sangat lihay, merekapun sangat
gagah dan tangkas dimedan perang. Setiap seratus orang mereka terbagi
menjadi satu pasukan kecil, dengan menunggang kuda mereka ber-teriak2
terus meneryang ketengahKarena
diteryang secara mendadak, seketika barisan perajurit Liau
menjadi kacau balau. Pula suku Nukhen itu memang tangkas dan gagah
berani, panglima Liau dapat melihat gelagat, ia kuatir digencet pula
oleh pasukan yang dipimpin Siau Hong, maka cepat2 ia memberi tanda
menarik mundur pasukannya.
Hoan Hwa berpangkat Suma atau menteri urusan perang, maka dia mahir
ilmu kemiliteran. Ia melihat ada kesempatan bagus, segera katanya kepada
Siau Hong: Siau-tayong, lekas kita serbu saja, inilah saat yang paling
bagus untuk menghancurkan musuh.
Tapi Siau Hong hanya menggeleng kepala saja.
Jarak dari sini ke Gan-bun-koan terlalu jauh, kalau kesempatan bagus
ini tidak kita gunakan untuk menghancurkan pasukan Liau, kelak tentu
akan membahajakan malah, demikian kata Hoan Hwa pula. Apalagi jumlah
musuh terlalu banyak dan jumlah kita sedikit, kita belum tentu dapat
mengundurkan diri dengan aman dan selamat.
Namun Siau Hong tetap menggeleng kepala.
Sungguh Hoan Hwa tidak habis mengerti. Pikirnya: Siau-tayong tidak mau
menyerang dan membunuh musuh, jangan2 dia masih berharap kelak akan
dapat memperbaiki hubungan dengan raja Liau?
Dalam pada itu terlihat orang2 Nukhen dalam kelompok2 kecil dengan
telanyang setengah badan, ada yang bermantelkan kulit binatang, masih
terus meneryang musuh sambil menghujani panah sehingga musuh kalang
kabut. Ada lebih seribu orang perajurit Liau yang tidak sempat masuk
seluruhnya kedalam kota, semuanya telah dipanah mati dibawah benteng
kota.
Pemburu2 Nukhen itu kalau habis membunuh musuh segera buah kepala sang
korban dipenggal olehnya dan digantung disabuknya. Maka diantara orang2
Nukhen itu ada yang membawa puluhan buah kepala yang penuh tergantung
dipinggangnya.
Para kesatria sudah banyak berpengalaman dalam pertarungan sengit, tapi
pembunuhan secara kejam dan biadab seperti orang2 Nukhen ini baru
pertama kali ini dilihatnya. Keruan mereka terkesiap.
Tiba2 diantara pemburu2 Nukhen itu muncul seorang lelaki tinggi besar
sambil ber-teriak2: Siau-toako, Siau-toako, Wanyan Akut telah datang
membantu engkau berkelahi dengan orang Cidan!
Kiranya dia adalah saudara angkat Siau Hong ketika bertemu dipegunungan
Tiang-pek-san dahulu, jaitu Wanyan Akut dari suku Nukhen.
Sungguh girang Siau Hong tak terkatakan, cepat ia memapak maju, kedua
orang lantas saling rangkul dan berjabat tangan dengan terharu.
Siau-toako, dahulu engkau telah pergi tanpa pamit, sungguh aku sangat
kuatir dan rindu sekali, demikian kata Akut. Kemudian dari penyelidik
dapat diketahui bahwa engkau telah menjadi pembesar dinegeri Liau, hal
inipun tidak menjadi soal. Cuma orang Liau itu sangat licin, kukira
kedudukanmu mungkin tak bisa tahan lama. Benar juga, kemarin dulu
penyelidik memberi laporan pula, katanya engkau telah dikurung oleh raja
Liau keparat itu sebagai binatang, sungguh kami merasa sangat kuatir dan
lekas2 memburu kemari. Sjukurlah Siau-toako ternyata baik2 saja, kami
merasa girang sekali
Banyak terima kasih atas bantuan saudaraku sahut Siau Hong.
Baru sekian bicaranya, tiba2 dari atas benteng telah berhamburan anak
panah kearah mereka. Cuma jarak mereka cukup jauh dari tembok
benteng, anak2 panah itu tidak dapat mencapai mereka. Kurangajar
anjing2 Liau itu, aku sedang bicara dengan Toako, kenapa mereka
sengaja mengganggu, maki Akut dengan gusar. Habis berkata, ia pentang
busurnya, susul menyusul tiga kali membidik ia memanah dari bawah benteng
keatas, maka terdengarlah suara jeritan ngeri tiga kali, tiga orang
perajurit Liau kontan terjungkal kebawah.
Kalau panah perajurit2 Liau itu tidak dapat mencapainya, sebaliknya
tiga kali panah Akut itu dengan mudah telah menggulingkan tiga orang,
maka dapat dibayangkan betapa kuat dan jitu kepandaian memanah jago
Nukhen itu. Keruan perajurit2 Liau menjadi ketakutan, sambil berteriak2
lekas mereka memasang tameng.
Sementara itu suara tambur didalam kota Lamkhia kedengaran masih gegapgempita,
agaknya pihak Liau sedang menghimpun tenaga lagi. Segera Akut
berseru kepada anak buahnya: Wahai kawan2, dengarkanlah! Anjing Cidan
itu rupanya ber-siap2 akan keluar lagi dari lubang anjingnya, hajo kita
bersiap untuk membunuhnya dengan se-puas2-nya!
Orang2 Nukhen itu berteriak senang sebagai suara ribuan binatang yang
mengaum secara serentak.
Diam2 Siau Hong menjadi kuatir. Kalau peperangan ini sampai
berlangsung, maka korban yang akan jatuh dari kedua pihak tentu tidaklah
sedikit. Cepat katanya: Saudaraku yang baik, kedatanganmu ini adalah
untuk menolong aku dan sekarang aku sudah lolos dari bahaja, buat apa
mesti bertempur lagi dengan orang. Sudah lama sekali kita tidak
berjumpa, marilah kita mencari suatu tempat yang aman dan tenang untuk
bicara dan minum se-puas2nya.
Benar juga, marilah kita berangkat, sahut Akut.
Tapi mendadak pintu gerbang kota terpentang, sepasukan tentara Liau
berkuda dan berpakaian lapis baja telah meneryang keluar. Akut
mencaci-maki. Ia pentang busur dan memanah, kontan muka seorang perwira
yang berada paling depan itu terguling dari kudanya.
Orang2 Nukhen yang lain be-ramai2 juga melepaskan panah, yang mereka
arah selalu bagian muka. Dasar ilmu memanah orang2 Nukhen itu memang
pandai, ujung panah berbisa pula, maka sasarannya yang terkena panah itu
tanpa bersuara sama sekali seketika terjungkal dan binasa.
Hanya dalam sekejap saja didepan pintu gerbang kota sudah
bergelimpangan beberapa ratus majat bercampur kuda tumpuk menumpuk
sehingga menyumbat pintu gerbang itu. Perajurit Liau yang lain menjadi
ketakutan dan cepat2 menutup pintu dan tidak berani mengejar lagi.
Dengan memimpin anak buahnya Wanyan Akut masih terus mondar-mandir
dibawah benteng sambil mencaci-maki dan menantang. Sudah tentu mereka
tidak mendapat jawaban.
Marilah kita berangkat, saudaraku! ajak Siau Hong.
Terpaksa Akut mengiakan. Tapi dia masih menuding keatas benteng dan
berteriak keras: Dengarkan anjing2 Liau! Untunglah kalian tidak
mengganggu seujung rambut Toako kami, maka bolehlah jiwa anjing kalian
diampuni. Coba kalau tidak, tentu kami meratakan bentengmu dan menumpas
habis anjing2 Liau kalian!
Habis itu ia lantas mengikuti Siau Hong kearah barat. Kira2 belasan li
jauhnya, sampailah mereka diatas sebuah bukit. Akut lantas melompat
turun dari kudanya, ia ambil kantong arak dari pelana kudanya dan
diberikan kepada Siau Hong sambil berkata: Silakan minum arak, Toako.
Siau Hong juga tidak menolak, ia angkat kantong arak itu dan sekaligus
ditenggaknya hingga hampir habis, lalu ia kembalikan kepada Akut.
Sesudah Akutpun minum habis sisa arak itu, katanya kemudian: Toako,
daripada pergi kelain tempat yang belum tentu tujuannya, adalah lebih
baik ikut bersama kami kembali kepegunungan Tiang-pek-san, disana kita
dapat berburu dan minum arak serta hidup dengan bebas merdeka.
Tapi Siau Hong cukup kenal sifat Yalu Hung-ki yang angkuh dan tinggi
hati, hari ini pasukan Liau telah diteryang sehingga kocar-kacir oleh
Wanyan Akut dan kawan2nya, bahkan telah dicaci-maki pula olehnya, untuk
semua ini Hung-ki tentu tidak dapat menerimanya dengan mentah2, tapi
pasti akan mengerahkan pasukannya untuk bertempur lagi. Meski orang
Nukhen sangat tangkas dan gagah berani, tapi jumlah mereka hanya
sedikit, memang belum diketahui akan menang atau kalah, tapi adalah lebih
baik kalau pertempuran sengit dapat dihindarkan.
Teringat oleh Siau Hong selama beberapa bulan tinggal di pegunungan
Tiang-pek-san dahulu, dimana selain sibuk mengobati A Ci boleh dikata
tiada punya rasa kuatir urusan lain, lebih tiada terpikir tentang
kedudukan dan kemewahan orang hidup segala. Dan kalau untuk selanjutnya
dapat hidup bersama dengan suku Nukhen rasanya dapat juga menghindarkan
segala urusan yang mengesalkan. Maka dia lantas menjawab: Saudaraku,
para kesatria dari Tionggoan ini jauh2 datang kemari adalah karena ingin
menolong aku. Maka biarlah aku mengantar mereka ke Gan-bun-koan dulu,
habis itu aku akan kembali kesini untuk berkumpul dengan saudaraku orang2
Nukhen.
Bagus! seru Akut dengan girang. Jika begitu biarkan kutunggu saja
didepan sana. Orang2 Tionggoan itu tampaknya sok cerewet dan besar
kemungkinan bukan manusia baik2, maka akupun sungkan untuk berkenalan
dengan mereka.
Habis berkata ia lantas mohon diri dan membawa kawan2nya menuju
keutara.
Melihat datang dan perginya orang2 Nukhen itu sebagai angin lesus
cepatnya dan sangat tangkas pula, diam2 para kesatria Tionggoan
menganggap orang2 Nukhen itu lebih lihay daripada orang2 Liau. Untung
mereka adalah kawannya Kiau-pangcu, kalau tidak tentu urusan bisa
runyam.
Dalam pada itu rombongan2 para kesatria itu sudah bergabung menjadi
satu, mereka ramai membicarakan suasana pertempuran sengit diluar kota
Lamkhia tadi.
Siau Hong lantas memberi hormat kepada para kesatria, serunya: Banyak
terima kasih atas budi pertolongan kalian yang tidak memikirkan dosa Siau
Hong dahulu, sebaliknya jauh2 datang kemari untuk menolong diriku, budi
ini sungguh susah dibalas selama hidupku ini.
Ah, mengapa Kiau-pangcu berkata demikian, sahut Hian-to selaku
pimpinan para kesatria Tionggoan yang menganggap Siau Hong masih tetap
Pangcu Kay-pang dan tetap she Kiau. Padahal apa yang terjadi dahulu itu
hanya karena salah paham belaka. Apalagi kita sama2 orang Bu-lim dan
seharusnya bantu membantu bila ada kesukaran. Pula Kiau-pangcu telah
rela mengorbankan kedudukan yang diagungkan di negeri Liau demi
keselamatan ber-juta2 rakjat Tionggoan, untuk budi kebaikan inilah kami
harus menyatakan terima kasih kepada Kiau-pangcu.
Segera Hoan Hwa juga berkata: Para Enghiong yang terhormat, menurut
pendapatku, mungkin sekali pasukan Liau takkan rela dengan kekalahan
mereka tadi, maka mereka masih akan datang mengejar kita. Entah apakah
diantara kawan2 ada yang berpendapat lain?
Serentak banyak diantara para kesatria itu berteriak: Bila pasukan
musuh berani mengejar, hajolah kita hajar mereka lagi, masakah kita
mesti takut?
Soalnya bukan takut atau tidak, ujar Hoan Hwa, tapi jumlah musuh
terlalu banyak dan jumlah kita sangat sedikit, kalau bertempur ditempat
lapang begini akan tidak menguntungkan kita. Maka menurut pendapatku
adalah lebih baik kalau kita mundur dulu kebarat, pertama jarak kita
akan lebih dekat dengan pasukan Song dan bila perlu mungkin kita akan
mendapat bantuan. Selain itu makin jauh pasukan musuh mengejar kita
tentu jumlah musuh lebih2 terpencar dan berjumlah sedikit, dengan
demikian kita akan cari kesempatan untuk menggempur kembali mereka.
Para kesatria sama menyatakan setuju. Segera Hi-tiok memimpin anak
buah Leng-ciu-kiong sebagai barisan pertama, menyusul adalah Toan Ki
dengan jago2 Tayli, lalu Hianto bersama para kesatria Tionggoan, sedang
Siau Hong memimpin anggota2 Kay-pang mengiringi dari belakang.
Empat pasukan itu masing2 berjarak satu-dua li jauhnya, kurir berkuda
kian kemari menyampaikan berita, kalau ada musuh segera dapat saling
membantu.
Sesudah menempuh perjalanan satu hari, malamnya mereka lantas bermalam
diudara terbuka, sjukurlah semalam suntuk mereka tidak diganggu oleh
pasukan Liau, maka lambat-laun rasa was-was semua orang menjadi reda.
Esok paginya mereka meneruskan perjalanan. Siau Hong yang selalu
didampingi oleh A Ci telah coba menanyai anak dara itu: Apakah pemuda
she Yu itu masih tinggal di Leng-ciu-kiong?
Mulut A Ci yang kecil itu menjengkit, sahutnya: Siapa yang tahu?
Tentunya juga masih disana. Kedua matanya sudah buta, masakah dia dapat
pergi dari pegunungan yang curam itu? Nyata nadanya tetap tiada punya
rasa perhatian sedikitpun kepada Yu Goan-ci yang telah rela mengorbankan
matanya bagi anak dara itu.
Petang hari itu mereka telah sampai di Pek-lok-po, sebuah kota dikaki
gunung Ngo-tay-san, disitulah pasukan2 mereka berkemah mengaso.
Hoan Hwa memang mahir ilmu siasat dan pandai mengatur barisan,
sepanyang jalan ia telah meninggalkan ber-kelompok2 kesatria yang
tangkas untuk menjaga tempat2 yang strategis, kalau ada jembatan lantas
dihancurkan untuk memperlambat pasukan musuh bila mengejar.
Sampai hari ketiga, tiba2 terlihat disebelah timur sana asap mengepul
tinggi mencakar langit. Terang itulah tanda pasukan Liau sedang
mengejar kearah mereka.
Melihat itu, para kesatria kembali ber-debar2. Ada diantaranya yang sok
gagah dan suka bertempur seketika hendak memutar balik kesana untuk
membantu regu2 yang ditinggalkan Hoan Hwa itu, tapi mereka keburu
dicegah oleh Hian-to dan Hoan Hwa.
Malam itu rombongan2 mereka bermalam dilereng sebuah gunung. Sampai
tengah malam mendadak mereka dikejutkan oleh suara teriakan kaget orang.
Seketika para kesatria terjaga bangun terus menyiapkan senjata masing2.
Ternyata disebelah utara sana merah membara, entah benda apa yang
sedang terbakar sehingga berwujut lautan api sehebat itu.
Siau Hong saling pandang sekejap dengan Hoan Hwa, diam2 kedua orang
sama2 merasakan alamat yang tidak enak.
Siau-tayong, menurut pandanganmu, bukankah ini pertanda pasukan Liau
sedang memutar dari jurusan sana untuk menyerang kemari? tanya Hoan Hwa.
Raja Liau memang sudah bertekad akan menyerang Song dan sedang
mengerahkan pasukannya secara besar2an, boleh jadi ini adalah
pasukannya dari bagian utara, sahut Siau Hong.
Ai, kebakaran besar itu entah telah banyak mengambil korban harta benda
dan jiwa rakjat jelata yang tak berdosa! kata Hoan Hwa dengan menghela
napas.
Siau Hong tidak mau mengucapkan kata2 jelek bagi alamatnya Yalu Hungki
yang masih dianggapnya sebagai kakak-angkat, tapi dia cukup kenal
watak raja Liau itu, karena telah mengalami kekalahan dibawah serangan
orang2 Nukhen, tentu Hung-ki merasa sangat penasaran sehingga rasa
dendamnya seluruhnya telah dilampiaskan atas diri rakjat jelata yang
tidak bersalah. Tentu pasukan yang dikerahkan ini tidak kenal ampun lagi,
asal ketemu orang tentu dibunuh dan kalau melihat rumah pasti dibakarnya.
Api yang ber-kobar2 dengan hebat itu sampai fajar sudah menyingsing
masih belum juga padam, sampai sore harinya, kembali disebelah selatan
kelihatan api me-nyala2 pula. Dibawah sinar matahari cahaja api tidak
begitu jelas, tapi asap tebal tertampak mengepul tebal menembus awan.
Sebenarnya Hian-to memimpin kawan2nya berjalan didepan, ketika melihat
kebakaran disebelah selatan itu, segera ia menghentikan kudanya dan
menunggu ditepi jalan. Sesudah Siau Hong mendekat, lalu ia bertanya:
Kiau Pangcu, pasukan Liau telah mengepung kita dari tiga jurusan,
menurut pandanganmu apakah Gan-bun-koan dapat dipertahankan? Aku sudah
mengirim orang untuk menyampaikan berita kilat ke Gan-bun-koan, cuma
saja panglima penjaga benteng itu mungkin terlalu pengecut dan tiada
punya semangat tempur, boleh jadi sulit untuk menahan serbuan pasukan
berkuda orang Cidan.
Siau Hong terdiam, ia merasa susah untuk menjawab.
Lalu Hian-to berkata pula: Tampaknya hanya orang Nukhen saja yang
dapat menghadapi ketangkasan orang Cidan. Kelak bila kerajaan Song kita
berserikat dengan orang Nukhen, dengan digencet dari utara dan selatan
mungkin akan dapat memaksa bangsa Cidan berpikir dua kali dan tidak
berani sembarangan menyerbu keselatan.
Siau Hong tahu maksud paderi Siau-lim-si itu jalah ingin dirinya
berusaha menghubungi pemimpin suku bangsa Nukhen, jaitu Wanyan Akut. Tapi
demi teringat dirinya sesungguhnya adalah orang Cidan, mana boleh
bersekongkol dengan bangsa lain untuk menyerang bangsa dan tanah airnya
sendiri?
Untuk membelokkan pokok pembicaraan maka mendadak ia bertanya: Hian-to
Taysu, apakah ajahku baik2 saja berada didalam kuil agung kalian?
Hian-to tertegun, jawabnya: Ajah Kiau-pangcu sudah masuk kedalam
lingkungan Budha dan menyucikan diri diruang belakang Siau-lim-si,
keberangkatan kami ke Lamkhia kali ini tidak diberitahukan kepada ajahmu
supaja tidak merisaukan perasaannya.
Sungguh aku ingin pergi menemui beliau untuk menanyakan sesuatu
padanya, kata Siau Hong.
O, Hian-to tidak bersuara lebih lanjut.
Aku ingin tanya kepada beliau: Jikalau pasukan Liau menyerang Siaulim-
si, lantas tindakan apa yang akan dilakukan oleh beliau? kata Siau
Hong.
Sudah tentu beliau akan berbangkit untuk menumpas musuh, membela agama
dan menyelamatkan kuil, apa yang perlu diragukan lagi? ujar Hian-to.
Akan tetapi ajah adalah orang Cidan, apakah dia mau disuruh membela
orang Han untuk membunuh bangsanya sendiri?
Hian-to merenung sejenak, katanya kemudian: Pangcu ternyata benar2
orang Cidan yang telah meninggalkan kegelapan dan menuju kejalan yang
terang, sungguh harus diberi hormat dan mengagumkan.
Taysu adalah orang Han dan selalu anggap Han adalah pihak yang terang
dan pihak Cidan adalah pihak yang gelap. Sebaliknya bangsa Cidan kami
memandang kerajaan Liau yang jaja adalah pihak yang terang dan
kerajaan Song adalah pihak yang gelap. Padahal leluhur dari bangsa kami
telah banyak menderita, kami di-uber2 dan dibunuh oleh suku bangsa Sianbi
dan lain2 sehingga terpaksa berlari kian kemari untuk menyelamatkan diri,
betapa sengsaranya sungguh susah dilukiskan. Ketika kerajaan Tong negeri
kalian, karena ilmu silat bangsa Han kalian telah berkembang dengan
hebat, karena itu tidak sedikit pula kesatria2 bangsa Cidan kami
menjadi korban lagi dan banyak sekali kaum wanita kami diculik dan
ditawan. Sekarang ilmu silat bangsa Han kalian sudah banyak mundur, maka
berbalik bangsa Cidan kami yang akan membunuh kalian. Jika bunuh
membunuh secara bergilir ini berlangsung terus, bilakah baru akan
berakhir?
Hian-to menghela napas, katanya: Hanya kalau segenap raja2 dan
penguasa2 didunia ini sudah memeluk agama Budha yang mengutamakan welasasih
kepada sesamanya, dengan demikian barulah didunia ini takkan ada
peperangan dan saling bunuh membunuh.
Ja, entah bilakah baru akan tiba saat aman dan damai bagi dunia ini,
sahut Siau Hong.
Begitulah rombongan mereka terus menuju kebarat. Mereka melihat di
jurusan2 timur, utara dan selatan rupanya siang dan malam pasukan Liau
terus main bunuh dan bakar dimana mereka tiba. Dengan gusar para pahlawan
mencaci-maki kekejaman musuh dan bertekad akan melabrak pasukan musuh
dengan mati2an.
Pasukan Liau semakin dekat, akhirnya kita tentu tiada jalan mundur
lagi, demikian ujar Hoan Hwa. Menurut pendapatku ada lebih baik kita
pencarkan diri saja agar musuh merasa bingung kemana harus mengejar
kita.
Cara demikian bukankah berarti kita telah mengaku kalah? seru Gotianglo
dari Kay-pang. Hoan-suma, jangan engkau membesarkan kekuatan
musuh dan menilai rendah tenaga kita sendiri. Pendek kata, apakah akan
menang atau kalah, kita harus melabrak habis2an anjing2 Liau itu.
Bicara sampai disini, tiba2 terdengar suara mendesing, sebatang anak
panah menyambar dari arah tenggara sana dan kontan seorang murid
berkantong lima dari Kay-pang roboh terpanah, menyusul dari balik bukit
sana sepasukan Liau lantas meneryang tiba sambil ber-teriak2.
Rupanya pasukan Liau ini telah menyusul mereka dengan memotong jalan,
jumlah pasukan ini kira2 ada 500 orang.
Serbu! teriak Go-tianglo dan segera mendahului meneryang musuh.
Memangnya para pahlawan sudah menahan gusar dan dendam sejak tadi,
kini mereka dapat melampiaskan perasaan mereka, segera mereka menyerbu
dengan gagah berani. Karena jumlah dipihak pahlawan2 ini lebih besar
daripada pasukan Liau, ilmu silat mereka tinggi2 pula, maka ditengah
suara teriakan riuh ramai perajurit2 Liau telah dilabrak hingga kocarkacir,
bagaikan membacok semangka dan memotong sajur cepatnya, hanya
sekejap saja 500-an perajurit Liau itu telah disapu bersih oleh para
pahlawan.
Ada belasan orang Bu-su Cidan sempat mendaki bukit dan hendak
melarikan diri tapi merekapun tersusul oleh jago2 silat Tionggoan yang
tinggi Ginkangnya dan terbunuh habis pula.
Setelah menangkan peperangan ini, para pahlawan sama bersorak gembira,
semangat mereka me-nyala2 lebih hebat.
Tapi diam2 Hoan Hwa berkata kepada Hian-to, Hi-tiok, Toan Ki dan
beberapa pimpinan lain: Yang kita basmi ini hanya suatu pasukan Liau yang
kecil, sesudah terjadi kontak ini, pasukan Liau yang lebih kuat tentu
akan membanjir tiba. Marilah kita lekas mundur pula kebarat!
Baru selesai ia bicara, mendadak terdengar suara gemuruh disebelah
timur sana. Waktu para pahlawan memandang kearah sana, tertampaklah debu
mengepul tinggi hingga mirip awan mendung yang menutupi langit.
Seketika para kesatria hanya saling pandang belaka, keadaan menjadi
sunyi senyap, hanya terdengar suara riuh gemuruh itu tambah menggelegar
dari jauh. Terang itulah pasukan induk Liau yang serentak dilarikan
untuk meneryang kemari. Dari suaranya ini entah berapa ratus ribu
jumlahnya.
Para kesatria sudah banyak mengalami pertarungan sengit didunia
Kangouw, tapi suara gemuruhnya pasukan besar dilarikan seperti sekarang
ini sungguh tidak pernah didengar mereka. Dibandingkan dengan perang
diluar kota Lamkhia, terang kekuatan pasukan Liau sekarang jauh lebih
hebat dan susah ditaksir. Menghadapi suasana medan perang sedemikian ini
tanpa merasa hati para kesatria menjadi ber-debar2 dan kebat-kebit.
Segera Hoan Hwa berseru: Saudara2 sekalian, kekuatan musuh teramat
besar, daripada mati konyol percuma, biarlah kita menghindari untuk
sementara, asal gunung tetap menghijau, tak perlu kuatir tiada kaju
bakar. Marilah kita mengundurkan diri untuk mencari kesempatan buat
menggempur kembali.
Segera para kesatria melarikan kuda mereka kearah barat dengan cepat.
Mereka mendengar suara riuh gemuruh masih terus menggelegar dibelakang
mereka tak ber-henti2.
Semalam suntuk mereka tidak mengaso, menjelang fajar mereka sudah
dekat dengan Gan-bun-koan. Para kesatria mengeprak kuda mereka lebih
cepat. Mereka berharap asal dapat melintasi benteng itu, tentu pasukan
Liau tidak mudah akan membobol benteng pertahanan yang merupakan
perbatasan kedua negeri itu.
Sepanyang jalan ternyata tidak sedikit kuda2 para kesatria binasa
keletihan. Maka ada yang terpaksa berlari dengan Ginkang, ada yang dua
orang menunggang satu kuda.
Waktu terang tanah, jarak mereka dengan Gan-bun-koan hanya tinggal
belasan li saja, maka legalah para kesatria. Mereka lantas melompat
turun dari atas kuda, dengan berjalan kaki mereka memberi kesempatan
kepada kuda mereka untuk melepaskan lelah. Sebaliknya suara riuh gemuruh
berlarinya pasukan besar Liau dibelakang mereka tidaklah berkurang,
bahkan bertambah hebat.
Siau Hong menurun kesebelah bukit sana. Tiba2 dilihatnya sepotong batu
karang besar. Hatinya terkesiap. Teringat olehnya inilah tempatnya dimana
dahulu Hian-cu dan Ong-pangcu memimpin para kesatria Tionggoan
menyergap ajahnya dan membunuh ibunya.
Waktu menoleh, dilihatnya didinding karang sana masih jelas penuh
bekas tatahan senjata. Terang itulah bekas tempat tulisan yang
ditinggalkan ajahnya yang kemudian telah dihapus oleh Hian-cu.
Pelahan2 Siau Hong berpaling pula, tertampaklah disebelah dinding
karang itu ada sebatang pohon, telinganya se-akan2 masih mendengar suara
A Cu yang dahulu sembunyi dibalik pohon itu: Kiau-toaya, jangan engkau
memukul lagi, nanti bukit ini akan hancur kena hantamanmu.
Ia ter-mangu2 sejenak, tiba2 ucapan A Cu yang lemah lembut dengan
jelas bergema pula dalam benaknya: Sudah lima hari lima malam kunantikan
engkau disini, kukuatir engkau takkan datang. Tapi . akhirnya engkau toh
datang juga. Banyak terima kasih kepada Thian yang maha murah hati,
akhirnya engkau telah datang dengan selamat.
Tanpa merasa air mata Siau Hong bercucuran, ia mendekati pohon itu
dan me-raba2 batang pohon, ia melihat pohon itu sudah jauh lebih tinggi
daripada waktu pertemuannya dengan A Cu dahulu. Sungguh tak terkatakan
rasa duka hati Siau Hong, ia lupa kepada segala apa yang sedang terjadi
disekitarnya pada saat itu.
Se-konyong2 terdengar teriakan melengking seorang: Cihu, lekas lari,
lekas mundur! Menyusul A Ci telah mendekatinya dan me-narik2 lengan
bajunya.
Waktu Siau Hong mengangkat kepalanya, ia melihat dari jurusan2 timur,
utara dan selatan telah membanjir pasukan Liau dengan tumbak2 teracung
keatas sebagai hutan bambu. Nyata pasukan Liau itu merapat dalam
pengepungan mereka.
Siau Hong mengangguk, katanya: Baiklah, mari kita mundur kedalam Ganbun-
koan.
Dalam pada itu kesatria2 lain sudah mendahului sampai didepan Gan-bunkoan,
tapi ketika Siau Hong dan A Ci sampai disitu, pintu gerbang
benteng pertahanan itu masih tetap tertutup rapat, tertampak air muka
para kesatria penuh rasa mendongkol dan penasaran.
Diatas benteng kelihatan berdiri seorang perwira pasukan Song dan
sedang berkata dengan suara lantang: Menurut perintah Thio-ciangkun yang
menjadi komandan pasukan penjaga benteng Gan-bun-koan ini, bahwasanya
bila kalian adalah rakjat tionggoan dan mestinya boleh masuk kedalam
benteng tapi entah diantara kalian terdapat tidak mata2 musuh, maka
diputuskan kalian harus membuang semua senjata yang kalian bawa untuk
diperiksa satu persatu, sesudah terang kalian adalah orang banyak, maka
dengan kebaikan hati Thio-ciangkun kalian nanti akan diperbolehkan masuk
benteng.
Seketika ributlah para kesatria demi mendengar ocehan perwira itu. Ada
yang berkata: Sungguh tidak pantas. Kita ber-lari2 sekian jauhnya dan
melawan musuh dengan sepenuh tenaga, tapi sampai disini malah dicurigai
lagi sebagai mata2 musuh.
Ja, sebabnya kita membawa senjata adalah karena ingin membantu kawan
untuk melawan pasukan Liau. Kalau senjata kita dilucuti, cara
bagaimana kita dapat berperang lagi? demikian kata yang lain.
Bahkan ada diantaranya yang berwatak berangasan sudah lantas mencacimaki:
Kurangajar! Sudah berjoang mati2an tidak mendapat pujian
sebaliknya dicurigai secara tidak beralasan. Apa benar kita tidak
diperbolehkan masuk kedalam benteng atau kita be-ramai2 mesti menyerbu
saja kedalam?
Agar urusan tidak menjadi lebih runyam, segera Hian-to mencegah kata2
kasar para kawan. Lalu serunya kepada perwira tadi: Harap sukalah memberi
lapor kepada Thio-ciangkun bahwa kami semuanya adalah rakjat Song yang
setia dan berjoang bagi negara. Pasukan musuh sekejap lagi akan tiba,
kalau mesti pakai memeriksa dan menggeledah segala, mungkin akan
berbahaja dan terlambat bagi keselamatan kami.
Rupanya perwira itupun sudah mendengar suara caci-maki tidak puas
dari para kesatria, pula dilihatnya banyak diantara rombongan Hian-to itu
aneka macam pakaiannya dan tidak mirip dengan rakjat umumnya didaerah
Tionggoan, maka perwira itu lantas bertanya lagi: Hwesio tua, kau bilang
kalian adalah rakjat Song yang baik2, tapi kulihat banyak diantara
rombongan itu tidak mirip dengan orang Tionggoan kita? Namun demikian, ja
sudahlah, aku akan memberi kelonggaran, mereka yang benar2 adalah rakjat
Song akan dibolehkan masuk, sebaliknya mereka yang bukan rakjat Song kita
dilarang masuk.
Untuk sejenak para kesatria menjadi saling pandang dengan penuh
mendongkol. Hendaklah maklum bahwa anak buahnya Toan Ki itu adalah rakjat
kerajaan Tayli, sedangkan anak buahnya Hi-tiok lebih2 tak keruan, mereka
adalah gado2, campuran dari berbagai bangsa, ada orang Se-ek, ada orang
Se He, Turfan, Korea dan lain2. Kalau sekarang yang dibolehkan masuk
benteng hanya rakjat Song saja, itu berarti sebagian besar anak buah
kerajaan Tayli dan Leng-ciu-kiong tak bisa ikut masuk kedalam.
Terpaksa Hian-to membujuk lagi: Mohon kebijaksanaan Ciangkun bahwa
banyak diantara kawan2 kami ini terdiri dari orang Tayli, Se He dan
lain2, mereka semuanya telah membantu kita melabrak pasukan Liau, jadi
mereka adalah kawan dan bukan lawan, mengapa mesti di-beda2kan tentang
rakjat Song atau bukan?
Kiranya perjalanan Toan Ki kedaerah utara kali ini telah dirahasiakan
dengan sangat rapat, ia tidak ingin diketahui kedudukannya sebagai kepala
negara Tayli untuk menjaga kalau2 mendadak negerinya diserang oleh
kerajaan Song atau mungkin juga dia akan dijebak dan ditawan sebagai
sandera. Sebab itulah dalam jawaban Hian-to itu tidak di-singgung2
tentang didalam rombongannya terdapat seorang tokoh maha penting itu.
Maka terdengar perwira tadi berkata dengan kurang senang: Gan-bun-koan
adalah gerbang terpenting diwilajah utara kerajaan Song, tempat ini
merupakan kunci utama keselamatan negara. Coba lihatlah, pasukan Liau
sudah tiba secara besar2an, kalau aku sembarangan membuka pintu sehingga
memberi kesempatan kepada pasukan Liau untuk menyerbu masuk kemari, lalu
siapa yang akan bertanggung-jawab atas malapetaka yang akan timbul
nanti?
Sungguh mendongkol sekali Go-tianglo, ia tidak tahan lagi, segera ia
berteriak: Kenapa kau hanya membacot saja sejak tadi dan tidak lekas2
membuka pintu? Kalau kau buka sejak tadi bukankah saat ini kami sudah
didalam benteng dan takkan menimbulkan malapetaka segala?
Perwira itu menjadi gusar, damperatnya: Kau pengemis tua bangka ini
berani sembarangan kentut didepan tuan-besarmu? -- Dan sekali ia memberi
tanda, serentak diatas benteng muncul ribuan perajurit pemanah dengan
anak panah sudah terpasang dibusurnya serta mengincar kebawah benteng.
Nah, lebih baik kalian lekas mundur saja, lekas! Kalau rewel2 lagi tak
habis2 sehingga mengacaukan pikiran perajurit kami, segera akan
kuperintahkan melepaskan panah, demikian perwira itu mengancam.
Hian-to menghela napas panyang dan tidak berdaja menghadapi perwira
yang kepala batu dan susah untuk diajak bicara itu.
Saat itu para kesatria berada ditengah selat Gan-bun-koan. Kedua sisi
benteng itu adalah tebing bukit yang terjal meninggi kelangit. Sebabnya
diberi nama Gan-bun-koan atau benteng pintu burung belibis, jaitu sebagai
perumpamaan bahwa sekalipun burung belibis jika hendak terbang keselatan
juga terpaksa mesti terbang menyusur selat bukit yang terjal dan tinggi
itu untuk melukiskan betapa berbahajanya benteng itu.
Diantara kesatria2 dan pahlawan2 itu tidak sedikit terdapat jago silat
yang memiliki Ginkang yang tinggi, dengan mudah saja mereka dapat
mendaki bukit dan melintas kebalik gunung sana untuk menyelamatkan diri
bila dikejar musuh, tapi sebagian besar pahlawan lainnya tentu tak
terhindar dari kebinasaan dibawah senjata pasukan Liau yang sebentar
lagi akan membanjir tiba itu.
Sementara itu pasukan Liau sudah makin dekat, hanya karena terhalang
oleh keadaan pegunungan yang luar biasa itu, maka terpaksa mereka mesti
menyempitkan kepungan mereka dari kanan dan kiri dan akhirnya terpusat
menjadi satu jurusan terus meneryang maju kedepan. Suara tambur
bergemuruh memekak telinga. Saat itu yang terdengar hanya suara tambur
perang, suara derap larinya kuda tercampur suara gemerincingnya suara
pakaian perang para perajuritnya dan suara menderunya panji2 tertiup
angin, sebaliknya tak terdengar sama sekali berisiknya suara manusia,
dari ini dapat dibayangkan betapa tegas dan keras disiplinnya pasukan
Liau yang kuat itu.
Begitulah sebaris demi sebaris pasukan Liau terus mendesak maju
kedepan benteng Gan-bun-koan. Sesudah mencapai jarak kira2 satu
panahan, lalu barisan2 itu berhenti. Sepanyang mata memandang, di-mana2
hanya tertampak panji2 berkibar dan gemilapannya senjata, entah berapa
jumlahnya pasukan Liau yang datang itu.
Melihat keadaan sudah kepepet, Siau Hong merasa tidak dapat tinggal
diam lagi. Segera ia berseru lantang: Harap para kawan tunggu sementara
ditempatnya masing2 dan jangan sembarangan bergerak, biarlah Cayhe
bicara sendiri dengan raja Liau. Dan tanpa peduli seruan Toan Ki dan A
Ci yang mencegah maksudnya itu, segera ia memutar kudanya dan dilarikan
cepat kearah pasukan Liau.
Siau Hong angkat kedua tangannya lurus keatas kepala sebagai tanda dia
tiada membawa sesuatu senjata. Lalu ia berteriak sekerasnya: Sri Baginda
raja Liau yang mulia, Siau Hong ingin bicara sedikit dengan engkau,
harap engkau sudi tampil kemuka!
Dia bicara dengan menggunakan tenaga dalam yang kuat, maka suaranya
dapat berkumandang hingga jauh. Ratusan ribu perajurit dan perwira Liau
boleh dikata tiada satupun yang tidak mendengarnya dengan jelas. Mautak-
mau setiap orang Cidan itu berubah air mukanya.
Selang agak lama, mendadak terdengar suara gemuruh tambur dan terompet
ditengah pasukan Liau, beratus ribu perajurit Liau itu serentak menyiah
kepinggir sebagai ombak terbelah kedua sisi. Maka tertampaklah delapan
buah panji kuning emas ber-kibar2 tertiup angin dan dilarikan kedepan
oleh delapan orang kesatria penunggang kuda.
Dibelakang kedelapan panji kuning itu menyusul barisan2 bersenjata
tumbak, golok dan kapak, pemanah dan golok-tameng. Sesudah tampil
kedepan, lalu barisan2 itu memisah kedua samping. Habis itu barulah
tampak belasan jenderal dengan pakaian perang yang mentereng
mengiringkan Yalu Hung-ki maju kedepan.
Serentak perajurit2 Liau bersorak-sorai: Banswe! Banswe! (Banswe =
Hidup).Demikian bergemuruhnya suara sorakan itu se-akan2 menggetarkan
lembah pegunungan dan memecah bumi.
Melihat perbawa musuh sedemikian hebat, keruan perajurit Song yang
menjaga Gan-bun-koan itu menjadi terpengaruh dan keder.
Waktu Yalu Hung-ki mendadak angkat golok mestika yang dipegangnya itu
keatas, seketika suara gemuruh pasukannya lantas berhenti, bahkan suasana
menjadi sunyi senyap, kecuali suara ringkik kuda yang terkadang
terdengar, boleh dikata tiada suara lain lagi.
Sesudah Hung-ki menurunkan kembali goloknya, tiba2 ia berseru kepada
Siau Hong: Siau-tayong, Siau-hiante yang baik, kau bilang akan membawa
pasukan Liau kedalam benteng, mengapa sampai saat ini pintu gerbang belum
lagi dibuka?
Mendengar ucapan Yalu Hung-ki ini, segera juru-bahasa yang berada
diatas benteng lantas menterjemahkan arti ucapan itu kepada Thiociangkun,
itu panglima penjaga Gan-bun-koan.
Keruan pasukan Song diatas benteng itu lantas geger, be-ramai2 mereka
mencaci-maki dan mengutuki Siau Hong.
Siau Hong tahu maksud ucapan Hung-ki itu sengaja hendak mengadu-domba
agar dia dicurigai oleh pasukan Song dan tidak berani membuka pintu
gerbang benteng untuk memasukkan pahlawan2 Tionggoan itu.
Segera Siau Hong melompat turun dari kudanya, ia melangkah maju sambil
berkata: Baginda, Siau Hong merasa telah mengkhianati budi kebaikanmu
sehingga Baginda sendiri sampai maju sendiri kemedan perang, sungguh
dosaku tak terbilang besarnya.
Baru sekian saja dia bicara, se-konyong2 dua sosok bajangan orang
melayang lewat dikedua sisinya. Begitu cepat kedua bajangan itu sebagai
kilat, terus saja mereka meneryang kearah Yalu Hung-ki. Kiranya mereka
adalah Hi-tiok bersama Toan Ki.
Rupanya kedua orang itu melihat gelagat tidak menguntungkan urusan hari
ini, harus berani bertindak lebih dahulu dengan menangkap raja Liau
sebagai sandera (barang jaminan), dengan demikian barulah keselamatan
orang banyak dapat terjamin. Maka begitu saling memberi tanda, serentak
mereka meneryang maju dari kanan-kiri.
Ketika akan maju kedepan pasukan untuk menemui Siau Hong memangnya
Yalu Hung-ki juga sudah menduga kemungkinan saudara angkat akan
menggunakan tipu lama ketika Siau Hong menawan Cho-ong dan puteranya
digaris depan waktu raja muda itu memberontak, maka sebelumnya Hung-ki
juga sudah bersiap siaga.
Benar juga, sekali ia memberi aba2, serentak tiga ratus perajurit
bertameng lantas merubung maju. Tiga ratus buah tameng laksana dinding
baja yang kuat telah mengadang didepan Yalu Hung-ki. Bahkan jago
tumbak, jago kapak juga serentak berbaris didepan barisan tameng itu.
Namun sekarang Hi-tiok bukan Hi-tiok jaman dulu lagi, dia sudah
memperoleh ajaran murni dari Thian-san Tong-lo dan Li Jiu-sui, dia
telah mejakinkan pula seluruh ilmu silat yang terukir didinding Lengciu-
kiong, betapa tinggi kepandaiannya sekarang boleh dikata tiada
bandingannya dan dapat dikeluarkan sesuka hatinya menurut keadaan.
Sedangkan Toan Ki sekarang juga lain Toan Ki yang dulu, dia sudah
memperoleh antero tenaga murni Ciumoti, betapa hebat Lwekangnya juga
susah diukur. Apalagi kalau dia sudah keluarkan langkah ajaib Leng-powi-
poh, biarpun penjagaan serapat baja juga dapat ditembusnya.
Begitulah, maka dengan menyelinap kesana dan menerobos kesitu, dengan
cepat dan gesit sekali Toan Ki telah merangsang maju melalui
perajurit2 bertumbak dan berkapak, asal ada sedikit lubang saja segera
diterobos olehnya.
Para perajurit Liau itu segera menggunakan senjata mereka untuk
membacok dan menusuk, tapi perbuatan mereka itu berbalik celaka, bukan
saja luput mengenai Toan Ki, sebaliknya karena jarak diantara mereka
sendiri terlalu dekat, sehingga hampir seluruhnya serangan mereka
mengenai kawannya sendiri.
Adapun Hi-tiok juga lantas bekerja dengan cepat, kedua tangannya
menyambar kekanan dan kekiri, asal ada perajurit Liau kena
dicengkeramnya, kontan terus dilemparkannya keluar barisan. Sambil
melempar orang ia terus mendesak maju kearah Yalu Hung-ki.
Mendadak dua perwira Cidan meneryang maju, dua tumbak mereka menusuk
berbareng kedadanya Hi-tiok. Se-konyong2 Hi-tiok meloncat keatas, kedua
kakinya masing2 menginjak diatas ujung tumbak musuh. Kedua perwira
Cidan itu mem-bentak2 sambil mengajun tumbak mereka dengan maksud hendak
menjungkirkan Hi-tiok kebawah.
Tapi dengan meminjam daja guncangan tumbak2 lawan, Hi-tiok terus
melayang keatas udara untuk kemudian lantas menyambar keatas kepala Yalu
Hung-ki.
Jadi yang satu selicin belut dan yang lain secepat burung terbang,
tahu2 Toan Ki dan Hi-tiok sudah meneryang sampai didekat raja Liau itu.
Keruan Hung-ki terkejut, cepat ia angkat golok-mestikanya dan
membacok kearah Hi-tiok yang sedang menubruk dari atas.
Tapi dari atas Hi-tiok sudah lantas mengulurkan tangannya dan menahan
diatas golok-mestikanya, berbareng orangnya lantas meluncur turun,
dimana tangannya bergerak, dengan cepat pergelangan tangan kanan Hung-ki
sudah kena dipegang olehnya.
Dan pada saat yang hampir sama Toan Ki juga sudah menyelinap tiba dari
rintangan perajurit2 Liau dan dapat mencengkeram tangan kiri Hung-ki.
Ikutlah! bentak Toan Ki dan Hi-tiok berbareng. Segera mereka angkat
tubuh Hung-ki dari atas kudanya dan melompat kedepan untuk dibawa lari
secepat terbang.
Ditengah jerit kaget dan kuatir perwira dan perajurit Liau yang riuh
ramai itu, seketika mereka menjadi bingung karena raja mereka sudah
kena ditawan musuh. Ada beberapa pengawal pribadi Hung-ki memburu maju
hendak menolong, tapi semuanya kena ditendang mencelat oleh Hi-tiok dan
Toan Ki.
Karena berhasil menawan raja Liau, sungguh girang Hi-tiok dan Toan Ki
tak terkatakan. Mendadak mereka melihat Siau Hong telah memapak tiba,
berbareng mereka lantas berseru: Toako!
Tak terduga mendadak Siau Hong menggerakkan kedua telapak tangannya
berbareng, sekaligus ia serang kedua saudara angkat itu. Keruan Hi-tiok
dan Toan Ki terkejut, tampaknya daja pukulan Siau Hong sebagai gugur
gunung dahsjatnya dan susah dielakkan pula. Terpaksa mereka angkat tangan
masing2 untuk menangkis. Maka terdengarlah suara plak-plok dua kali,
empat tangan beradu dan menimbulkan angin yang menderu keras.
Kesempatan itu segera digunakan oleh Siau Hong untuk memburu maju, ia
tarik Yalu Hung-ki kearahnya.
Dalam pada itu pasukan Liau dan kesatria2 Tionggoan juga telah
membanjir maju dari arahnya masing2, yang satu pihak ingin merebut
kembali raja mereka dan pihak lain ingin membantu Siau Hong, Hi-tiok dan
Toan Ki.
Sudah tentu siapapun tidak menduga bahwa mendadak Siau Hong telah
mengadu pukulan dengan kedua saudara-angkatnya. Karena itulah orang2
kedua pihak sama2 tercengang.
Segera terdengar Siau Hong berseru lantang: Jangan bergerak, siapapun
jangan bergerak, dengarkan dulu, aku ingin bicara dengan raja Liau!
Serentak pasukan Liau dan kesatria2 Tionggoan berhenti di tempatnya
masing2, kedua pihak sama2 kuatir membikin susah orangnya sendiri, maka
mereka hanya ber-teriak2 saja dari jauh dan tidak berani meneryang
maju, lebih2 tidak berani melepaskan panah.
Dalam pada itu Hi-tiok dan Toan Ki juga telah menyingkir kira2
beberapa tindak dibelakangnya Yalu Hung-ki untuk menjaga kalau2 raja
Liau itu lari kembali kedalam pasukannya serta untuk merintangi bila ada
jago Cidan memburu maju hendak menolong rajanya.
Saat itu wajah Yalu Hung-ki sudah pucat pasi, pikirnya: Watak Siau
Hong ini sangat keras, aku telah mengurung dia didalam kerangkeng
berterali besi dan menghina dia habis2an. Sekarang aku berbalik tertawan
olehnya, tentu dia akan membalas dendam se-puas2-nya dan mungkin jiwaku
takkan diampuni lagi olehnya.
Tak tersangka Siau Hong telah berkata: Baginda, kedua orang ini adalah
saudara-angkatku, mereka takkan membikin susah padamu, jangan kau
kuatir.
Hung-ki mendengus sekali dan tidak menjawab, ia menoleh memandang
sekejap kepada Hi-tiok, lalu memandang sekejap pula pada Toan Ki.
Jiteku ini bernama Hi-tiok-cu, adalah majikan dari Leng-ciu-kiong,
dan Samte ini adalah Toan-kongcu dari kerajaan Tayli, demikian Siau
Hong memperkenalkan. Nama2 mereka juga pernah hamba ceritakan kepada
Sri Baginda.
Ja, ternyata tidak bernama kosong, benar2 sangat hebat! sahut Hung-ki
sambil manggut2.
Kami akan segera melepaskan Sri Baginda kembali ke pasukanmu, cuma
kami ingin mohon sesuatu dari Baginda, kata Siau Hong pula.
Hung-ki hampir2 tidak percaja kepada telinganya sendiri. Pikirnya:
Didunia ini masakah ada urusan sedemikian enaknya? Ah, ja, tahulah aku,
mungkin Siau Hong sudah berbalik pikiran dan akan kembali padaku, maka ia
akan mohon aku menganugrahi mereka bertiga dengan pangkat yang tinggi.
Maka dengan muka tersenyum simpul ia menjawab: Kalian ada permohonan
apa, sudah tentu aku akan memenuhi dengan baik.
Baginda sekarang telah menjadi tawanan kedua saudara-angkatku ini,
kata Siau Hong. Menurut peraturan bangsa Cidan kita, untuk bisa bebas
Sri Baginda harus memberi tebusan dengan sesuatu.
Seketika Hung-ki mengerut kening. Apa yang kalian kehendaki? tanyanya.
Maafkan kelancangan hamba yang telah mewakilkan kedua saudara-angkatku
untuk bicara dengan terus terang, yang kami inginkan hanya suatu janji
Baginda saja, sahut Siau Hong.
Kerut kening Hung-ki semakin rapat. Soal apa? tanyanya pula.
Kami hanya mohon Baginda suka berjanji akan segera menarik mundur
pasukanmu dan untuk selama hidup Sri Baginda akan melarang setiap
perajurit Liau mendekati perbatasan wilajah antara kedua negeri Liau dan
Song.
Toan Ki sangat girang mendengar sjarat yang dikemukakan oleh Siau Hong
itu. Pikirnya: Asal pasukan Liau tidak melintasi wilajah perbatasannya
dengan Song dan dengan sendirinya juga tak dapat mengancam negeri Tayli
kami.
Karena itu, cepat iapun berseru: Ja, betul, asal kau mau berjanji
dan segera kami akan melepaskan kau.
Tapi lantas teringat olehnya bahwa tertawannya raja Liau itu sebagian
juga berkat tenaga sang Jiko dan entah bagaimana pendapatnya tentang
sjarat yang dikemukakan Siau Hong itu. Maka ia lantas bertanya kepada Hitiok:
Jiko, tebusan apa yang kau inginkan dari raja Cidan ini?
Hi-tiok menggeleng kepala, sahutnya: Akupun mengharapkan janjinya itu
saja.
Air muka Hung-ki tampak bersengut, katanya: Hm, kalian berani memaksa
dan mengancam diriku? Dan bagaimana kalau aku menolak permintaanmu?
Jika begitu, tiada jalan lain, terpaksa gugur bersama, kata Siau
Hong. Dahulu waktu kita mengangkat-saudara kita juga pernah bersumpah
untuk hidup dan mati bersama.
Hung-ki tertegun. Pikirnya: Siau Hong ini adalah seorang nekat yang
tidak kenal apa artinya takut. Dia berani berkata dan berani berbuat, apa
yang sudah diucapkan selamanya dipegang teguh. Kalau aku menolak
permintaannya, jangan2 dia benar2 menyerang diriku, sungguh celaka
jika aku mesti binasa ditangan seorang nekat sebagai dia ini.
Karena itulah mendadak ia bergelak tertawa dan berseru dengan lantang:
Dengan jiwaku Yalu Hung-ki ini dapat menyelamatkan ber-juta2 jiwa dari
rakjat kedua negara, haha, saudaraku yang baik, apa kau pandang jiwaku
sedemikian tinggi nilainya?
Sri Baginda adalah orang yang diagungkan dinegeri Liau, diseluruh
jagat ini masakah ada orang lain yang lebih tinggi nilainya daripada
Baginda? sahut Siau Hong.
Kembali Hung-ki tertawa, katanya: Jika demikian, dahulu orang Nukhen
hanya minta tebusan padaku sebanyak 30 kereta emas, 300 kereta perak dan
3000 ekor kuda, penilaian mereka sesungguhnya terlalu dangkal, bukan?
Siau Hong membungkuk tubuh kepada kakak-angkat itu dan tidak menjawab
lagi.
Hung-ki coba menoleh kebelakang, tertampak jago pengawalnya yang
paling dekat juga lebih dari puluhan meter jauhnya, betapapun pasti
susah untuk menolong dirinya. Mengingat jiwanya yang lebih berharga
daripada segala benda apapun didunia ini, terpaksa Yalu Hung-ki menerima
sjarat yang diajukan Siau Hong. Segera ia mengeluarkan sebatang anak
panah, ia angkat keatas, sekali tekuk, krak, patahlah anak panah itu
terus dibuangnya keatas tanah sambil berkata: Kuterima sjaratmu!
Banyak terima kasih, Baginda, kata Siau Hong.
Segera Hung-ki memutar tubuh dan hendak melangkah pergi, tapi tertampak
olehnya Hi-tiok dan Toan Ki masih mengawasi dirinya dengan sorot mata
ber-api2 dan tiada tanda2 mau memberi jalan padanya. Terpaksa ia menoleh
lagi memandang kepada Siau Hong, dilihatnya Siau Hong juga diam saja.
Maka tahulah Hung-ki apa maksud mereka, terang mereka masih kuatir kalau2
dirinya mengingkar janji hanya dengan ucapannya tadi.
Hung-ki lantas melolos golok-mestikanya dan diangkat tinggi keatas,
lalu serunya keras2: Wahai, dengarkanlah para perajurit dan perwira
Liau!
Serentak terdengar tambur perang ditengah pasukan Liau bergemuruh
ditabuh, lalu berhenti seketika.
Kemudian Yalu Hung-ki berseru pula: Sekarang juga kuperintahkan
menghentikan peperangan ini, negeri Song dan Liau adalah negeri
bersaudara, maka hari ini juga pasukan kita lantas ditarik mundur. Untuk
selama hidupku ini aku melarang setiap perajurit Liau melintasi
perbatasan. Habis berkata, ketika golok-mestikanya diturunkan, kembali
tambur bergemuruh ditabuh lagi.
Dan baru sekarang Siau Hong membuka suara: Dengan hormat silakan Sri
Baginda kembali ke pasukan!
Hi-tiok dan Toan Ki segera menyingkir kesamping dan memutar
kebelakangnya Siau Hong.
Hung-ki merasa girang dan malu pula. Meski ia ingin lekas2 meninggalkan
tempat berbahaja itu, tapi iapun tidak sudi mempertontonkan kelemahannya
didepan Siau Hong dan pasukan kedua pihak, maka ia berlaku tenang sedapat
mungkin dan melangkah kembali kepihak pasukannya dengan pelahan2.
Segera berpuluh pengawal pribadinya melarikan kuda mereka memapak
maju. Semula langkah Hung-ki masih pelahan, tapi tanpa merasa jalannya
makin lama makin cepat, sehingga akhirnya kedua kakinya terasa lemas seakan2
jatuh, jalannya menjadi ter-hujung2, kedua tangannya bergemetar
dan keringat memenuhi dahinya.
Ketika para pengawalnya sampai didepannya dan membawakan kuda
tunggangannya, namun sekujur badan Hung-ki sudah lemas semua rasanya,
biarpun sebelah kakinya sudah menginjak pelana, tapi tidak kuat
mencemplak keatas kudanya.
Cepat dua pengawalnya menahan bahunya dan mengangkatnya keatas, dengan
demikian barulah Hung-ki dapat naik keatas kudanya.
Melihat raja mereka telah kembali dengan selamat, serentak para
perajurit Liau ber-sorak2 lagi riuh rendah.
Dalam pada itu demi mendengar raja Liau memberi perintah kepada
pasukannya untuk mundur dan menyatakan selama hidupnya akan melarang
setiap perajurit Liau melanggar perbatasan kedua negeri, maka baik
tentera Song diatas benteng maupun para kesatria diluar benteng juga
serentak bersorak gembira.
Semua orang cukup kenal sifat orang Cidan yang kejam dan suka
membunuh, tapi selamanya dapat pegang janji, apalagi sekarang raja
Liau sendiri yang mengumumkan janjinya didepan pasukan kedua pihak,
kalau kelak mengingkar janji, tentu diapun akan dipandang hina oleh
rakjatnya sendiri dan tahta kerajaannya mungkin akan guncang.
Begitulah dengan wajah guram Yalu Hung-ki merasa malu benar2 karena
telah memberikan janji sebesar itu dibawah ancaman Siau Hong.
Peristiwa ini benar2 sangat menurunkan perbawanya dan memerosotkan pamor
kerajaan Liau. Tapi dari suara sorak-sorai sambutan pasukannya dapat
dirasakan pula bahwa apa yang sudah terjadi itu ternyata tidak
mengurangi dukungan para perajurit dan perwiranya kepadanya. Ketika ia
memandang para perajuritnya, tertampak wajah setiap orang bercahaja
dan ber-seri2.
Rupanya para perajurit itu demi mendengar pasukan mereka segera akan
ditarik mundur sehingga terhindar dari kemungkinan mati dimedan perang
dan tidak lama lagi akan dapat berkumpul kembali dengan sanak
keluarganya, maka mereka menjadi kegirangan.
Maklum, sekalipun orang Cidan gagah berani, tapi siapapun tak dapat
menjamin akan mati-hidup setiap orang dimedan perang. Maka demi
mendengar mereka akan terhindar dari bencana perang, dengan sendirinya
mereka sangat senang, terkecuali beberapa perwira diantaranya yang
mengimpikan akan mengeduk keuntungan dan naik pangkat dalam peperangan
itu.
Diam2 Hung-ki terkesiap: Kiranya semangat perajurit2ku juga sudah
bosan perang, kalau aku berkeras mengerahkan mereka menyerbu keselatan,
bukan mustahil akupun akan menderita kekalahan Lalu teringat pula
olehnya: Orang2 Nukhen itu benar2 sangat kurangajar, mereka selalu
merupakan ancaman dibelakang punggungku, maka aku harus menumpas dulu
manusia2 biadab itu.
Segera ia mengacungkan golok-mestikanya keatas dan berseru: Harap Pakih
Tay-ong memberi perintah, barisan belakang segera berubah menjadi
barisan muka, kita langsung pulang ke Lamkhia!
Serentak genderang berbunyi lagi dan meneruskan titah raja itu. Maka
terdengarlah suara sorak-sorai gegap gempita yang makin menjauh dan
makin menjauh.
Ketika Yalu Hung-ki berpaling, ia melihat Siau Hong masih berdiri
ditempatnya tanpa bergerak sedikitpun, sorot matanya tampak cemas.
Hung-ki tertawa dingin dan berseru: Siau-tayong, kau telah berjasa
besar bagi kerajaan Song, terang hadiah besar dan kedudukan tinggi
sedang menantikan dirimu dalam waktu singkat.
Sri Baginda, mendadak Siau Hong menjawab dengan suara keras: Sekali
Siau Hong adalah bangsa Cidan maka untuk selamanya juga tetap bangsa
Cidan. Hari ini hamba telah memaksakan kehendak atas Baginda sehingga
menjadi seorang Cidan yang maha berdosa, untuk selanjutnya apakah Siau
Hong masih ada muka untuk hidup didunia ini!
Se-konyong2 ia jemput kedua potong panah patah yang dibuang Hung-ki
tadi, sekali tenaga dalam dikerahkan, crat-crat, mendadak ia tikam ulu
hati sendiri dengan kedua potong panah patah itu.
Hung-ki menjerit kaget dan segera memutar kudanya dan dilarikan
beberapa tindak, tapi lantas menghentikan kudanya lagi.
Kejut Hi-tiok dan Toan Ki tak terkatakan, berbareng mereka melompat
maju sambil berteriak: Toako! Toako!
Namun kedua potong panah patah itu dengan tepat telah menancap di ulu
hati Siau Hong. Kedua mata sang Toako tertampak terpejam rapat, nyata
orangnya sudah meninggal.
Cepat Hi-tiok merobek baju sang Toako dengan maksud hendak memberi
pertolongan kilat. Namun luka Siau Hong teramat parah, dengan tepat ulu
hatinya tertembus kedua potong panah patah, terang susah untuk dihidupkan
lagi. Terlihat diatas dada sang Toako sebuah kepala serigala yang
menyeringai bertaring dan sangat buas tampaknya.
Hi-tiok dan Toan Ki menangis sedih dan memberi hormat terakhir kepada
sang Toako. Be-ramai2 anggota2 Kay-pang juga berkerumun maju untuk
memberi hormat.
Kiau-pangcu, seru Go-tianglo sambil me-mukul2 dadanya sendiri, meski
engkau adalah orang Cidan, tapi jauh lebih gagah dan lebih kesatria
daripada orang2 Han yang tak berguna sebagai kami ini!
Para kesatria Tionggoan be-ramai2 juga mengerumuni pahlawan pembela
perdamaian itu dan ramai mempercakapkannya. Ada yang bertanya: Kiaupangcu
ternyata benar adalah orang Cidan? Jika demikian mengapa dia
malah membela pihak Song kita?
Ja, tampaknya ditengah bangsa Cidan juga terdapat kaum kesatria dan
pahlawan, demikian kata seorang lain.
Sejak kecil dia dibesarkan di-tengah2 bangsa Han kita, sehingga dapat
menteladani budi luhur bangsa kita, sambung yang lain lagi.
Kalau kedua negara sudah berdamai dan dia sudah menjadi juru
penyelamat rakjat kedua pihak, mestinya dia toh tidak perlu membunuh
diri, demikian pendapat yang lain.
Kau tahu apa? ujar kawannya. Meski dia berjasa bagi kerajaan Song,
tapi dia telah dipandang sebagai pengkhianat dinegerinya sendiri. Jadi
dia membunuh diri karena takut atas dosanya sendiri.
Takut dosa apa? Kesatria besar sebagai Kiau-pangcu masakah perlu
merasa takut ? tukas kawannya tadi.
Sebaliknya Yalu Hung-ki menjadi bingung sendiri demi menyaksikan Siau
Hong telah membunuh diri. Pikirnya: Dia sebenarnya berjasa bagi
kerajaan Liau atau berdosa ? Dengan susah pajah dia telah mencegah aku
menyerang wilajah Song, sebenarnya dia berjoang bagi orang Han atau bagi
bangsa Cidan ? Sejak dia mengangkat-saudara dengan aku, selamanya dia
sangat setia padaku. Hari ini dia telah membunuh diri didepan Gan-bunkoan,
tampaknya bukan maksudnya karena kemaruk kepada kedudukan di negeri
Song sana, habis .... habis apa sebabnya ?
Maka berderaplah beratus ribu telapak kaki kuda menuju keutara, para
perwira Cidan ber-ulang2 masih menoleh kebelakang untuk memandang tubuh
Siau Hong yang menggeletak diatas tanah dan sudah tak bernyawa itu.
Terdengar pula suara berkaoknya burung, serombongan burung belibis
sedang terbang dari utara lewat diatas kepala pasukan tentara dan menuju
keselatan melintasi benteng Gan-bun-koan.
Makin lama makin menjauh suara gemuruh derap pasukan Liau itu. Hitiok,
Toan Ki dan lain2 masih berdiri ter-mangu2 disamping jenazah Siau
Hong, ada yang menangis ter-gerung2, ada yang cuma mencucurkan air
mata dengan kepala menunduk.
Tiba2 terdengar jerit lengking seorang wanita muda : Minggir !
Minggir! Semuanya minggir! Kalian sudah menyebabkan kematian Cihuku,
tapi masih pura2 menangis apa segala disini, apa gunanya ?
Sambil berkata wanita muda itu sembari men-dorong2 minggir orang banyak
yang berkerumun disekitar jenazah Siau Hong. Siapa lagi dia kalau bukan
A Ci ?
Hi-tiok dan lain2 sudah tentu tidak pikirkan ucapan anak dara yang
sebenarnya menyinggung perasaan itu, maka mereka lantas sama menyingkir
memberi jalan kepada A Ci.
Untuk sejenak A Ci ter-mangu2 memandang jenazah Siau Hong, kemudian
ia berkata dengan suara halus: Cihu, orang2 ini semuanya orang busuk,
kau jangan gubris pada mereka, hanya A Ci saja yang benar2 berlaku
baik kepadamu.
Habis berkata ia terus berjongkok untuk memondong jenazah Siau Hong.
Tapi tubuh Siau Hong sangat tinggi dan besar, separo badannya terpondong,
tapi kedua kakinya tetap terseret diatas tanah.
A Ci berkata pula: Cihu, aku tahu sekarang kau baru menurut padaku,
biarpun kupondong dirimu juga, kau tak mendorong pergi aku lagi. Ja,
harus beginilah memangnya!
Hi-tiok dan Toan Ki saling pandang sekejap, pikir mereka: Agaknya dia
terlalu berduka sehingga pikirannya berubah kurang waras.
Lalu Toan Ki coba menghiburnya dengan suara halus: Adikku, secara
kesatria Siau-toako telah gugur, orang meninggal toh tak dapat hidup
kembali, hendaklah kau... kau ...
Tapi A Ci lantas mendorong minggir sambil membentak: Jangan kau
merebut Cihuku, dia adalah milikku, siapapun tidak boleh menyentuhnya!
Toan Ki menoleh dan mengedipi Bok Wan-jing.
Wan-jing paham maksudnya dan segera mendekati A Ci, katanya dengan
pelahan: Adik kecil, Siau-toako telah wafat, marilah kita berunding
cara bagaimana sebaiknya untuk memakamkan dia ....
Tak terduga mendadak A Ci menjerit tajam sehingga Bok Wan-jing
terkaget dan tersentak mundur.
Pergi! Pergi! Enyahlah semua! demikian seru A Ci. Kaum lelaki bukan
manusia baik, kaum wanitanya juga bukan orang baik! Kau bermaksud
meracuni Cihuku, kau suruh dia minum arak sehingga tak bisa berkutik.
Hm, jika kau berani mendekat segera akan kubunuh kau lebih dulu.
Keruan Bok Wan-jing mengerut kening dan geleng2 kepala kepada Toan Ki.
Pada saat itulah tiba2 dilereng bukit disisi kiri benteng Gan-bun-koan
sana ada suara teriakan orang: A Ci! A Ci! Ha, aku sudah mendengar
suaramu! Dimanakah engkau sekarang? Dimana?
Suara itu kedengaran sangat memilukan hati, banyak diantara kesatria
Tionggoan itu mengenal suara orang itu, jaitu orang yang pernah menjadi
Pangcu dari Kay-pang dan memakai nama samaran sebagai Ong Sing-thian,
aslinya bernama Yu Goan-ci.
Waktu semua orang memandang kearah datangnya suara, maka tertampaklah
kedua tangan Goan-ci masing2 memegangi sebatang tongkat bambu, tongkat
kiri dipakai sebagai alat pencari jalan, tongkat kanan sebaliknya
menumpang diatas pundak seorang laki2 setengah umur dan sedang muncul
dari kelokan gunung sana.
Hi-tiok dan lain2 menjadi ter-heran2. Waktu mereka memperhatikan
silelaki setengah umur, kiranya dia adalah Oh-lotoa yang ditugaskan
menjaga Leng-ciu-kiong oleh Hi-tiok.
Wajah Oh-lotoa tampak kurus pucat, bajunya compang-camping dan
memperlihatkan sikap yang penasaran karena terpaksa.
Maka tahulah Hi-tiok dan lain2. Rupanya Oh-lotoa telah dipaksa oleh Goan-ci yang sudah buta itu agar membawanya pergi mencari A Ci. Bukan mustahil sepanyang jalan Oh-lotoa telah banyak menderita siksaan Goanci.
Untuk apa kau datang kesini? demikian tiba2 A Ci mendamperat dengan gusar. Aku tidak ingin melihat kau, tidak ingin melihat kau lagi!
Sebaliknya Goan-ci menjadi girang, serunya: Ha, engkau ternyata benar berada disini. Aku dapat mengenali suaramu, akhirnya aku dapat menemukan dikau! Dan ketika dia dorong tongkatnya sedikit, tanpa kuasa lagi Ohlotoa lantas berlari kedepan secepat terbang.
Cepat sekali datangnya Goan-ci dan Oh-lotoa itu, hanya dalam sekejap saja sudah sampai disamping A Ci.
Hi-tiok, Toan Ki dan lain2 sedang dalam keadaan tak berdaja, demi nampak datangnya Yu Goan-ci, mereka pikir pemuda ini rela mengorbankan kedua biji matanya untuk A Ci, dengan sendirinya mereka mempunyai hubungan yang sangat baik, maka boleh jadi pemuda buta ini akan dapat menyadarkan A Ci. Sebab itulah Hi-tiok dan lain2 lantas menyingkir beberapa tindak lebih jauh dan tidak ingin mengganggu percakapan kedua muda-mudi itu.
Maka terdengar Goan-ci telah menyapa: Nona A Ci, engkau baik2 saja bukan? Apa ada orang berani membikin susah padamu? Meski selebar mukanya sudah rusak, tapi dari nada ucapannya itu terang sekali dia merasa sangat girang dan penuh perhatiannya kepada sianak dara.
Aku telah dibikin susah oleh orang lain, apa yang hendak kau lakukan? sahut A Ci. Siapakah dia? cepat Goan-ci menegas. Lekas nona katakan padaku, biar aku akan menghajarnya sampai mampus!
A Ci tertawa dingin, katanya sambil menunjuk para hadirin yang berada disekitarnya: Itulah, mereka semuanya telah membikin susah padaku, sekaligus boleh kau membunuh habis mereka!
Baik, sahut Goan-ci. Lalu ia bertanya kepada Oh-lo-toa: Hei, lau-Oh (Oh si tua), orang2 macam apakah yang telah berani membikin susah kepada nona A Ci itu?
Wah, banyak sekali jumlahnya, engkau tak sanggup membunuh mereka, sahut Oh-lotoa.
Biarpun tak dapat juga akan kulakukan, kata Goan-ci. Habis, siapa suruh mereka berani main gila kepada nona A Ci?
Tiba2 A Ci berkata lagi dengan gusar: Sekarang aku sudah berada bersama dengan Cihu, untuk selanjutnya kami takkan berpisah lagi selamanya. Nah, lekas enyahlah kau, aku tak ingin melihat kau pula.
Sungguh sedih Goan-ci bukan buatan, katanya: Ja... jadi engkau tak... takkan menemui aku lagi.... ?
Ja, ja, tahulah aku, biji mataku ini adalah pemberianmu, seru A Ci dengan suara keras. Cihu mengatakan aku telah utang budi kepadamu, maka aku diharuskan melajani kau dengan baik. Tapi aku justeru tidak suka.
Habis berkata, mendadak tangan-kanannya terus mencongkel kedalam matanya sendiri, terus dikorek keluar biji matanya, lalu dilemparkannya kepada Goan-ci sambil berteriak: Ini, kukembalikan padamu! Sejak kini aku tidak utang apa2 lagi padamu dan Cihu tak dapat memaksa aku mengikuti kau pula.
Meski kedua mata Goan-ci sudah buta, tapi demi didengarnya jerit kaget orang2 yang berada disekitarnya, suaranya penuh rasa kuatir dan ngeri, maka tahu juga dia apa yang telah terjadi. Dengan suara parau ia berteriak: O, nona A Ci, nona A Ci!
Tapi begitu biji mata sendiri sudah dikorek keluar, segera A Ci memondong jenazah Siau Hong dan melangkah kedepan sambil berkata dengan suara halus mesra: Cihu, sekarang kita tidak utang apa2 lagi kepada siapapun. Dahulu aku telah melukai kau dengan jarum berbisa, tujuanku jalah ingin engkau selalu berdampingan dengan aku. Dan sekarang barulah cita2ku itu terkabul. Sambil bicara ia terus melangkah semakin jauh kedepan dengan memondong jenazah Siau Hong.
Melihat darah bercucuran dari cekung matanya A Ci hingga membasahi mukanya yang putih cantik itu, hati semua orang merasa ngeri dan kasihan pula. Maka ketika melihat anak dara itu berjalan mendekat semua orang lantas menyingkir kesamping.
A Ci berjalan lurus kedepan dan pelahan2 sampai ditepi jurang.
Semua orang menjadi kuatir dan segera ber-teriak2: Berhenti! Awas, didepan adalah jurang yang curam!
Bahkan Toan Ki juga terus memburu maju sambil berseru: Awas adikku, yang ... Namun sudah terlambat, A Ci masih melangkah lurus kedepan, mendadak kakinya menginjak tempat kosong dan terjerumuslah anak dara itu bersama jenazah Siau Hong kedalam jurang yang tak terkirakan
dalamnya itu.
Tepat pada saat itu Toan Ki juga telah memburu sampai ditepi jurang cepat ia ulur tangannya untuk menjambret, tapi yang kena hanya secabik kain baju adik perempuannya itu dan orangnya tetap terjerumus kebawah.
Waktu Toan Ki melongok kedalam jurang, yang tertampak hanya awan belaka yang menutup rapat dipermukaan jurang sehingga tidak diketahui betapa dalamnya jurang itu, bajangan A Ci dan Siau Hong dengan sendirinya tak terlihat sedikitpun.
Para kesatria yang berdiri ditepi jurang semuanya ikut menghela napas gegetun, lebih2 yang berilmu silat agak rendahan menjadi ngeri membayangkan betapa dalam dan terjalnya jurang.
Hian-to dan beberapa kawannya yang berusia lebih lanjut, mengetahui cerita tentang dahulu Hian-cu, Ong-pangcu dan lain2 pernah menyergap jago2 Cidan diluar Gan-bun-koan dan ibunya Siau Hong justeru terkubur didasar jurang itu. Tak terduga bahwa beberapa puluh tahun kemudian Siau Hong dan A Ci juga terkubur pula didalam jurang itu.
Pada saat lain tiba2 terdengar suara genderang berbunyi diatas benteng, perwira yang menyampaikan perintah komandannya tadi sedang berseru pula kepada para kesatria: Atas perintah Thio-ciangkun, panglima militer benteng Gan-bun-koan, bahwasanya kalian ternyata bukan mata2 musuh dari negeri Liau, maka kalian dapat diijinkan masuk benteng, tapi kalian harus taat kepada undang2 dan berlaku sopan-santun, dilarang membikin rusuh dan mengacaukan suasana tenteram, hendaklah kalian maklum.
Tapi para kesatria diluar benteng serentak menjawab dengan mencacimaki, ada yang berteriak: Persetan dengan perintah panglimamu itu, biarpun mati juga kami tidak sudi masuk kedalam benteng yang dijaga pembesar anjing macam kalian itu!
Coba kalau pembesar anjing itu tidak bersikap plintat-plintut, tentu juga Siau-tayhiap takkan tewas seperti sekarang ini! Demikian ditambahkan seorang kesatria lain.
Begitulah be-ramai2 para kesatria mencaci-maki sambil menuding perwira diatas benteng itu. Sedangkan Hi-tiok dan Toan Ki telah berlutut dan memberi hormat kearah jurang, lalu pergilah mereka dengan mendaki gunung dan melintasi bukit tanpa menghiraukan siperwira yang mencak2
diatas benteng karena dicaci-maki oleh para kesatria itu.
Apa yang terjadi diluar Gan-bun-koan ini lantas digunakan baik oleh panglima penjaga benteng itu untuk membuat laporan kilat ke kotaraja, katanya dia telah memimpin sendiri pasukannya dan bertempur mati2an selama beberapa hari menghadapi pasukan Liau yang berjumlah ratusan ribu orang, berkat lindungan Thian dan Sri Baginda serta semangat tempur para perajurit, perwira dan bintara, akhirnya berhasil membinasakan Lam-ih Tay-ong kerajaan Liau yang bernama Siau Hong dan raja Liau Yalu Hung-ki kemudian mengundurkan diri dengan kekalahan habis2an.
Raja Song sangat girang mendapat laporan itu, segera ia mengirimkan firman yang memberi penghargaan se-tinggi2nya kepada para perajurit, perwira dan bintara, pangkat mereka seluruhnya dinaikkan setingkat disertai hadiah2 yang besar. Para pembesar dipemerintah pusat juga tidak ketinggalan untuk merajakan kemenangan itu secara besar2an.
Sementara itu Toan Ki telah ambil perpisahan dengan Hi-tiok ditengah jalan, bersama Bok Wan-jing, Ciong Ling, Hoan Hwa, Pah Thian-sik dan lain2, mereka lantas pulang ke Tayli.
Setiba didalam wilajah negeri Tayli, jauh2 calon permaisuri Ong Giok yan dan para pembesar sudah menantikan dan menyambut mereka. Ketika Toan Ki bercerita tentang Siau Hong dan A Ci, Giok-yan menjadi terharu dan menangis, semua orangpun ikut berduka.
Rombongan mereka terus menuju keselatan, karena Toan Ki tidak ingin membikin kaget kepada penduduk setempat maka rombongannya tidak mengenakan pakaian kebesaran, tapi tetap menyamar sebagai kaum saudagar dan orang pelancongan.
Sepanyang jalan tiada terjadi apa2, akhirnya sampailah mereka diluar kota-raja Tayli. Toan Ki ingin pergi ke Thian-liong-si lebih dulu untuk menyampaikan sembah bakti kepada Koh-eng Taysu dan paman bagindanya, Toan Cing-bing.
Tatkala itu sudah menjelang magrib, hari sudah mulai gelap. Ketika lalu disebuah hutan didekat Thian-liong-si, tiba2 ditengah hutan itu terdengar suara teriakan seorang anak kecil: Sri Baginda, Paduka Yang Mulia, nah, aku sudah menyembah padamu, mengapa aku tidak diberi permen?
Toan Ki dan lain2 menjadi ter-heran2. Mengapa ditempat ini, bahkan seorang anak kecil dapat mengenali penyamarannya.
Tanpa merasa rombongan mereka lantas membelok kedalam hutan itu untuk melihat siapakah sebenarnya anak kecil itu. Tapi mendadak terdengar pula seorang sedang berkata: Kalian harus berseru: Dirgahajulah! Semoga Sri Baginda hidup bahagia dan panyang umur! Habis itu barulah akan kuberi permen.
Suara orang itu terdengar sudah sangat dikenal mereka. Itulah Buyung Hok adanya.
Toan Ki dan Giok-yan terkejut, cepat kedua orang bergandeng tangan dan bersembunyi dibalik pohon sambil memandang kearah datangnya suara itu. Maka tertampaklah Buyung Hok sedang duduk diatas sebuah kuburan, kepalanya memakai kopiah raja buatan dari kertas dan sikapnya dibikin keren.
Didepannya ada tujuh atau delapan orang anak kampung sedang berlutut dan be-ramai2 lagi mengucapkan: Dirgahaju! Sri Baginda bahagia, panyang umur!
Sambil ber-teriak2 tak keruan menirukan apa yang diajarkan Buyung Hok tadi sambil tiada hentinya menyembah, malahan sudah ada yang menjulurkan tangannya sambil berkata: Mana permennya? Mana permennya?
Terdengar Buyung Hok telah menjawab: Para pengabdiku, silakan bangun.
Sekarang kerajaan Yan kita sudah kubangkitkan kembali dan aku sudah naik tahta, dengan sendirinya para pengabdiku akan mendapat ganjaran yang setimpal menurut jasa masing2.
Lalu ia merogoh keluar segenggam permen dan di-bagi2kan kepada anak2 kecil tadi.
Anak2 itu ber-jingkrak2 kegirangan sambil berlari pergi, semuanya berteriak2:
Besok kita akan datang minta permen lagi!
Maka tahulah Giok-yan bahwa pikiran sang Piauko sudah tidak waras lagi karena gila hormat dan mengimpikan menjadi kaisar, tapi tak terkabul.
Sungguh hati Giok-yan tak terkatakan dukanya.
Pelahan2 Toan Ki menarik tangan sang kekasih, ia memberi isjarat tangan dan semua orang lantas mundur keluar hutan secara diam2.
Buyung Hok terlihat masih duduk diatas kuburan tadi dan mulutnya tampak berkomat-kamit tak ber-henti2 entah sedang mengoceh apa ..........
Tamat
Serentak orang-orang yang merasa terkena Sing si-hu lantas merubung maju sehingga Hi-tiok dan Ha Tai-pà terkurung di tengah.
Seorang tua lantas menarik bangun Ha Tài pa, katanya, "Sudahlah, jangan menjura lagi kita beramaì-ramaì juga ingin minta tolong pada Inkong."
Melihat Ha Tai-pa sudah bangkit, baruilah Hi-tiok ikùt berdiri kembali, katanya, "Harap kalian Jangan ribut dulu, dengarkan ucapanku!"
Mendengar-bakal tuan penolong mereka hendak “pidato”, seketika suasana menjadi sunyi senyap.
Dan sesudah semua orang tidak bersuara lagi itu Hi-tiok angkat bicara, "untuk memunahkan sing-si-hu boleh dikatakan tidak sulit bagiku. Tapi harus kuketahui dulu dengan tepat tempat mana yang terkena penyakit ítü, apakáh kalian masing-masing mengetahui sendiri?"
Maka semua orang menjadi ribut lagí, ada yang menyatakan tahu. ada yang bilang tempat hiat-to yang terkena 'Sing-si-hu, dan ada yang mencaci maki karena tidak tahu letak tempat yang keracunan.
Mendadak seorang di antaranya membentak, "Diam! Diam semua! Cara ribut seperti kalian ini, tentu Hi-tiok-cu Siansing tidak dapat mendengarkan dengan baik."
Ternyata yang bersuara itu adalah, kepala para petualang itu, yaitu Oh-loloa.
Maka keadaan menjadi tenang seketika.
Lalu Hi-tiok berkata, "Meski Caihe mendapatkan ajaran Tong-Io tentang cara memunahkan Sing-si-hu . . . . "
Belum habis ia bicara, serentak beberapa orang lantas berteriak. "Bagus, bagus sekali!" "Hahahahaaaaha Jiwa kita bakal selamat semua!"
Maka Hi-tiok melanjutkan, "Tapi dalam hal memeriksa dan menentukan tempat penyakit mungkin sungguh harus kukatakan kepandaianku terlalu dangkal. Tapi kalian juga tidak perlu kuatir asal tahu betul letak tempat yang terkena Sing-si-hu, tentu akan kutolong untuk memunahkannya. Andaikan tidak tahu tempatnya, kita juga bisa tukar pikiran dan dapat memecahkannya, pendek kata akhirnya pasti akan kusémbuhkan kalian."
Seketika para petualang itu bersorak gembira sehingga seluruh ruang terguncang seakan-akan runtuh.
Dan sesudah sùara sorak-sorai itu mereda, tiba-tiba Bwe-kiam berkata dengan dingin "Hm, jika Cujin hendak memunahkan Sing-si-hu kalian hal ini adalah berkat belas kasihan beliau. Akan tetapi kalian telah berani mati membikin Tong-lo menghilang dari istana dan àkhirnya beliau wafat di rantau, kalian berani menyerbu pula ke sini sehingga mengakibatkan tidak sedikit korban di antara kawan Kia-thian-poh. Coba katakan yang kalian ini cara bagaimana harus diperhitungkan?”
Para petualang saling pandang dengan kebat-kebit mereka tahu apa yang dikatakan Bwe-kiam itu memang betul. Jika Hi-tiok adalah ahli waris Thian-san Tòng-lo, maka terhadap dosa méreka tentu takkan dibiarkan begitu saja. Mereka menjadi takut dan bingung.
Untunglah Oh-lotoa segera berkata pula, “Tentang ucapan nona ini memang benar. Dosa kami memang terlalu besar, maka kami rela menerima hukuman dari Hi-tiok Cu Siansing."
Mendengar ucapan Oh-lotoa itu, para petualang yang lain paham juga maksudnya, segera mereka ikut berseru. "Benar, dosa kami terlalu banyak, hukuman apa yang hendak dijatuhkan Hi-tiok cu Siansing kepada kami, dengan rela kami siap menerimanya."
Ada di antaranya yang kapok benar-benar oleh siksaan Sing-si-hu, terus saja mereka menyembah berulang-ulang sambil minta ampun.
Hi-tiok sendiri menjadi bingung malah katanya kepada Bwe-kiam, "Enci Bwe- kiam, bagaimana menurut pendapatmu?”
“Mereka ini bukan manusia baik, mereka telah membunuh kawan kita sebanyak ini, harus suruh mereka mengganti nyawa," sahut bwe-kiam.
Tongcu dari Giok-sian-tong adalah seorang kakek berumur 70-an tahun, ia memberi hormat kepada bwe-kiam dan berkata,' "Nona, karena kami terlalu tak tahan oleh siksaan Sing-si-hu, dalam keadaan, kalap sehingga tanpa pikir berani main gila ke Biau-biàu-hong sini, untuk, ini mohon nona sudi memberi ampun."
Tapi Bwe-kiam lantas mênarik muka dan berkata, "Tidak, mereka yang pernah membunuh orang harus segera menahan lengan kanan sendiri ini adalah hukuman yang paling ringan."
Sampai di sini ia merasa telah mendahului perintah sang majikan, maka cepat ia berpaling kepada Hi-tiok dan berkata, "Betul tidak, Cujin?"
Hi-tiok merasa hukuman demikian terlalu kejam, tapi ia pun tidak ingin membikin menyesal Bwe-kiam maka sahutnya, ' "Ini….ini....kukira......”
Sekonyong-konyong di antara orang banyak itu tampil ke muka seorang pemuda yang ganteng dan tampan, itulah dia Toan Ki, pangeran dari Taili.
Dasar Toan Ki memang suka usilan, suka ikut campur urusan orang lain yang dianggapnya tidak adil. Maka ia memberi salam kepada Hi-tiok, dan berkata dengan tertawa,. "Saudara Hi-tiok, ketika orang-orang ini hendak menyerbu Biau-biau-hong, seják mula juga aku tidak setuju biarpun aku telah memberi nasihat, tetapi mereka tidak msu gubris, dan hari ini mereka telah berdosa, untuk ini adalah pantas jika saudara Hi-tiok memberi hukuman yáng setimpal. Maka sekarang ingin kuminta suatu tugas dari saudara apa boleh serahkan kepadaku untuk memberikan hukuman kepada kawan-kawan ini?"
Tempo hari Hi-tiok juga dengar sendiri ketika Toan Ki mencegah para petualang itu menyerang biau-biau-hong. Maka ia cukup kenal watak pangeran Taili yang berbudi ini, diam-diam ia pun sangat menghormat padanya. Memangnya sekarang ia sedang b¡ngung mengambil keputusan maka ia menjadi girang atas ucapan Toan Ki itu sahutnya, "Bagus,. bagus! Jika Toan-kongcu sudi membantu memecahkan soal ini, sungguh aku merasa sangat berterima kasih.”
Semula para petualang itu sangat mendongkol karena Toan Ki berani ikut campur urusan dan bahkan mendamprat mereka, segera banyak di antaranya hendak mencaci-maki, Di luar dugaan Hi-tiok lantas menerima saran Toan Ki tanpa pikir, karuan méreka mengkeret dan menekan kembali caci-maki yang hamper dílontarkan itu.
Toan Ki berdehem dulu sekali üntuk melicinkan tenggokkannya, lalu ia menarik suara, “Terima kasih atas kepercayaan saudara Hi-tiok kepádaku tentang dosa para hadirin ini memang térlalu besar, tapi hukuman yang kujatuhkan juga tidak ringan.
Sekárang Hí-tiok cu Siansing sudah menyerahkán tugas penyelesaian ini padaku, bila di antara kalian ada yang membangkang tentu Hi tiok-cu Siansing tak mau memunahkan lagi Sing-si-hu kalian. Sekarang hukuman pertama adalah…… adalah kalian harus menyembah delapan kali dengan penuh khitmad di hadapan layon tong lolo, kalian harus berdoa dan menyatakan kalian telah insaf atas segala dosa yang pernah diperbuat kalian, jika kalian tidak berdoa dengan bersungguh-sungguh, maka dosa kalian akan tambah satu kali lipat.”
"Bagus, bagus! Hukumán pertama ini sangat tepat!" kata Hi-tiok dengan senang.
Semulá para petualang itu tidak tahu Kongcu yang ketolol-tololan ini entah dengan cara bagaimaná akan menghukum mereka, maka hati mereka sebenarnya sedang kebat kebit sekarang demi mendengar bahwa merekà hanya dihukum menyembáh di depan layoñ Tong-lolo, keruan mereka girang setengah mati dan serentak menyatákan tùnduk kepada hukuman itu, andaikan nanti sambil menyembah dan diam-diam mereka mengutuk Tòng lolo kan juga tiada orang tahu.
Sebaliknya Toan Ki tambah bersemangat karena syarat pertama yang dikemukakan itu serentak diteríma semua orang, segera ia berkata pula, "Dan syarat kedua, kalian juga diharuskan menjura di depan layon para saudari Kin-thian-poh yang telah gugur. Barang siapa di antara kalian yang telah membunuh diharuskan juga menyembah dan berdoa, disamping itu harus berkabung pula sebagai tanda berduka cita. Dan bagi yang tidak membunuh dengan segera saudara Hi tiok-cu akan menyembuhkan penyakitnya sebagai tanda restu."
Memangnya sebágian besar dí antará para petualang tidak membunuh orang diatas Biau-biau-hong, dengan sendirinya mereka lantas berseru menyatakan tunduk. Sedangkan sebagian lain yang merasa telah membunuh anggota Kin-thian-poh tadinya mereka hendak dihukum oleb Bwe-kiam dengan menyuruh mereka menebas lengan kanan sendiri, tapi sekarang mereka cuma di hukum menyembah, dan berkabung saja, hukuman ringan yang berbeda seperti langit dan bumi itu tentu saja cepat-cepat diterima mereka dengan baik.
Akhirnya Toan Ki berkata pula, “Dan syarat yang ketiga, kalian diharuskah tunduk kepada perintah Leng-ciu-kiong untuk selama-selamanya, dilarang mempunyai maksud jahat apa yang dikatakan Hi-tiok-cu Siansing kalian harus tunduk padanya.
Bukan saja harus menghormati Hi-tiok cu Siansing, bahkan terhadap saudari Bwe-kiam berempat juga kalian mesti menghormat padanya, tidak boleh bersikap kasar dan kurang ajar pada mereka. Nah, sekian saja. Jika diantara kalian ada yang merasa tidak setuju, bolehlah lekas maju untuk coba-coba ukur tenaga dengan Hi tiok-cu Siansing, bukan mustahil kalian akan diberi hajaran yang setimpal olehnya."
Sudah tentu para-petualang itu tidak berani banyak cingcong, serentak mereka menyatakan taat dan tunduk bahkan ada yang menyatakan hukuman yang dijatuhkan kepada mereka itu terlalu ringan dan minta ditinjau kembali.
Namun Toan Ki tetap menyatakan Cuma sekian saja pidatonya, lalu katanya kepada Hi-tiok, "Saudara Hi tiok bagaimana pendapatmu atas ketiga syarat hukuman yang kusebut inl?"
"Tepat sekali, banyak terima kasih,"' sahut Hi-tiok. Lalu ia pun berpaling kepada Bwe-kiam berempat dan berkata, "Kalian tentu setuju pula atas syarat-syarat hukuman itu, bukan?"
Sahut Bwe-kiam, "Cujin, engkau adalah penguasa tertinggi di Leng cu-kiong ini, apa yang Cujin rasakan baik, sudah tentu hamba sekalian menurut saja."
Hi-tiok tersenyum dan berkata pula, "Akhirnya aku . . . aku ingin bicara lagi sedikit, entah . . . entah pantas tidak kalau kukatakan terus terang?"
"Hamba dari ke-36 gua dan ke-72 pulau selamanya berada di bawah perintah- Biau-biau-hong, jika Kaucu ada perintah. Apa-apa, tiada satu pun di antara hamba sekalian berani membangkang." seru Oh-lotoa selaku kepala para petualang itu, "Tantang ketiga syarat hukuman yang diputuskan Toan kongcu barusan itu sesungguhnya terlalu longgar dan sangat menguntungkan kami yang berdósa ini.
Andaikan Kaucu sendiri akan menjatuhkan hukuman lain pula, hamba sekalian tetap akan taat dan rela menerimanya."
Maka berkatalah Hi-tiok, "Usiaku masih terlalu mudà dan pengalamanku sangat cetek, hanya berkat mendapat ajaran beberapa jurus ilmu silat dari Tong-lolo saja, sebenarnya aku malu untuk dipanggil sebagai “Kaucu” segala. Aku hanya mempunyai dua titik pikiran, entah . . . entah benar tidak, biarlah kukatakan terus terang dan harap para hadirin mempertimbangkannya."
Sejak kecil Hi-tiok selalu menduduki tempat yang rendah, kerjanya Cuma dibentak dan diperintah orang, selamanya dia tidak pernah punya hak untuk mengemukakan pendapat segala, sekarang dia mesti bicara di hadapan orang banyak, dengan sendirlnya ia tambah kikuk dan tergegap suaranya.
Diam-diam Bwe-kiam berempat sama berpikir "Mengapa Cujìn.bersikap demikian masakah terhàdap kaum hamba yang pantas dihukum mati juga mesti sungkan-sungkan?"
Maka terdengar Oh lotoa berkata, "Sedemikian baik dan ramah Kaucu terhadap kami sungguh biarpun hancur-lebur juga hamba sekalian merasa tidak cukup untuk membalas budi kebaikan Kaucu Ini. Maka bila Kaucu ada perintah apa-apa, silakan bicara saja!”
"Ya, ya, aku tidak pandai bicarä, hendaklah kalian jangün . . . jangan mentertawai aku," ujar Hi-tiok. "Adapun dua Soal yang hendak kukatakan adalah. pertama, ini rasanya terlalu bersifat pribadi, sebab aku berasal . . . berasal dari Siau-lim-si, maka dari itu ingin kuminta bantuan kalian agar selajutnya di kalangan kongouw janganlah membikin susah anak murid Siau-lim-pai. Ini adalah permintaanku dengan tulus hati dan berani kukatakan sebagai perintah."
Segera Oh-lötoa berteriak kepada orang banyak. "Nah, menurut perintah Kaucu, untuk selanjutnya bila para saudara bertemu dengan para taisu dari Siau-lim-pai, kalian harus menaruh hormat pada mereka, sekali-kali tidak boleh berbuat kurangajar!"
Serentak para petualang berseru menyatakan taat.
Mendengar permintaan pertama telah disanggupi semua orang dengan bulat maka Hi-tiok menjadi tambah besar, segera ia berkata pula, “Terima kasih atas kesediaan kalian. Tentang hal Kedua tak lain ialah kuharap kalian suka mengingat sesamanya dan jangan sembarangan membunuh orang. Paling baik kalau segala mahluk berjiwa jangan kalian bunuh, kalau semut saja sayang pada jiwa mereka, apalagi makhluk hidup lainya. Bahkan kalau bisa hendaknya pantang makan barang berjiwa pula. Cuma pantangan ini memang tidak mudah untuk dilakoni sebab aku sendiri akhirnya juga melanggar larangan demikian ini. Pendek ....pendek kata membunuh orang adalah perbuatan yang tidak baik maka hendaknya jangan membunuh!"
"Nah, dengarkan para kerabat bawahan Leng ciu-kiong, Kaucu memberi perintah agar selanjutnya jangan sembarangan membunuh orang tak berdosa dan makhluk berjiwa, kalau melanggar tentu akan mendapat hukuman yang setimpal." Demikian seru Oh-Lotoa.
Dan kembali para petualang itu berseru menyatakan tunduk.
"Oh-siansing engkau memang lebih pandai bicara dengan singkat saja mereka telah menerima kata-katamu," ujar Hi-tiok dengan tertawa. “Eh, di manakah letak bagian badanmu yang terkena Sing-si-hu. Coba katakan, biar segera kupunahkan bagimu.”
Sebabnya Oh lotoa berani menyérempet bahaya memimpin pemberontakan ini tiadà lain ialah ingin memunahkan penyakit Sing-si-hu yang menyiksa jiwa raganya itu, sekarang mendengar Hi Tiok siap untuk menyembuhkan dia keruan girangnya tak terkatakan saking terima kasihnya ia terus berlutut dan menyembah pada Hi-tiòk.''
Lekas Hi-tiok juga berlutut untuk membalas hormat dan bertanya pula, “Oh-siànsing luka perutmu yang tertimpuk biji cemara tempo hari apakah sekarang sudah sembuh?"
Sementara itu Bwe-kiam berempat sudah menggerakan pesawat rahasia sehingga batu raksasa yang menyumbat pintu gerbang pendopo itu terbuka dan serentak para anggota Cù-thian-poh, Hian-Thian-poh dan lain-lain,membanjir masuk berbareng terdengar pula suàra bentakkan dan teriakan Ting Pek-Jwan, Pau Put-tong dan kawan-kawannya berbondong-bondong mereka pun menerobos ke dalam.
Kiranya tadi mereka telah keluar hendak bertempur dengan Thian-san Tong-lo, tapi mereka tidak menemukan si nenek, sebaliknya kebentur para anggota Cu-thian-poh dan lain-lain yang sudah tiba di depan Leng ciu-kiong dengan mengusung layon Tong-lo, dasar ucapan Pau Tut-ong memang kasar, watak Hong Po-ok juga paling gemar berkelàhi maka tanpa banyak omong terus saja merekà bergebrak dengan orang-orang Leng cui-kiong.
Sudah tentu.Ting Pek-jwàn berempat kewalahan melawan keroyokan para wanita
Leng-ciu-kiong yang cukup lihai itu, maka mereka terdesak mundur dan menderita
luka yang tidak ringan. Untung pada saat yang gawat itu pintu gerbang dibuka olah
Bwe-kiam berempat dan berseru untuk menghentikan pertempuran mereka, dengan
demikian Ting Pekjwan berempat tidak sampai binasa dikerubut lawan yang jauh
lebih banyak itu.
Begitulah segera para wanita dari kesembilan bagian Leng-ciu-kiong itu lantas
maju memberi hormat kepada Hi-tiok dan atas perintah Hi-tiok di ruang pendopo itu
lantas diadakan perjamuan untuk melayani para petualang.
Buyung Hok merasa dirinya tiada gunanya tinggal lagi disitu, segera ia
membawa Ting Pek jwan dan lain-lain memohon diri. Sementara ítu Kiam-sin Tok
Put-hoan dan Hü-long Siancu Cui Lik-boa entah sejak kapan sudah mengeluyur
pergi.
Melihat Buyung Hok hendak pergi, dengan sangat Hi-tiok menahannya. Tapi
Buyung Hok berkata, " Aku turut bersalah pada Biau-biau-hong, berkat kemurahan
hati saudara, maka kesalahanku itü tidak diusut lebih jauh, sungguh kami merasa
berterima kasih."
Dengan rendah hati Hi-tiok menjawab, "Ai, jangan berkata demikian. Kepandaian
kedua Kongcu (maksúdnya Buyung Hok dan Toan Ki) serba pintar dan hebat, aku
sendiri merasa kagum tak terhingga dan ingin . . . ingin bisa banyak meminta
petunjuk kepada Kongcu berdua, sebab . . . . sebab aku sendiri sesungguhnya terlalu
. , . terlalu bodoh!”
Sesudah mengalami pertempuran tadi dan menderita beberapa luka, memangnya
Pau-Put-tong lagi mendongkol, sekarang mendengar ucapan Hi tiok yang seperti
sengaja dibikin-bikin itu, ditambah Hi-tiok ternyata menyimpan gambar Ong Gook
yan, keruan Put-tong menjadi curiga dari mana keledai gundul ini memperoleh
gambar nona Ong itu, terang dia seorang hwesio munafik dan cabul. Karena itu,
segera Put-tong berseru, "Haha, Siausuhu minta kedua Kongcu tinggal terus di sini
yang benar kau ingin si cantik yang tinggal di sini. Kenapa tidak kau katakan terus
terang minta nona Ong tinggal di Biau-biau-hong"
Hi tiok menjadi bingung safiutnya, "Ap . . .apa maksudmu? Nona , . . nona Ong
apa?"
"Alah pakai pura-pura tldak tahu?" ejek Put tong. "Pikiranmu tidak tulus,
memangnya kaukira orang dari keluarga Koh-soh Buyung semuanya dungu dan tidak
tahu maksudmu! Hehe, sungguh menggelikan!"
"Aku tidak paham apa yang Siansing maksudkan," sahut Hi-tiok. "Entah urusan
apa yang menggelikan?"
Dasar watak Pau Put-tong memang kukuh dan tidak mau kalah, sekali
penyakitnya angot, biarpun menghadapi bahaya juga tak terpikir lagi olehnya. Terus
saja ia mencak-mencak dan berteriak-teriak, "Kau keledai gundul cilik ini mengaku
sebagai hwesio Siau-lim-si, jika benar kamu murid suatu golongan yang tersohor
mengapa kau ganti bulu masuk ke golongan yang terkenal jahat dan bergaul dengan
kaum setan iblis yang tak keruan ini? Hm, asal melihat dirimu aku lantas dongkol.
Seorang hweslo mempunyai gendak beratus wanita merasa tidak cukup, sekarang
mala hendak menaksir nona Ong pula, Hm..ingin kukatakan padamu bahwa nona
Ong adalah kepunyaan Buyung-kongcu kami, katak buduk macam dirimu ini
hendaklah jangan mengimpikan sang bidadari lebih baik lekas sadar kembali dari
lamunan itu."
Begitulah makin bicara makin semangat, sampai akhirnya ia benar-benar
mencak-mencak dan memaki-maki sambil menuding hidung Hi-tiok.
Tentu saja Hi-tiok tambah bingung, sahutnya "Aku . . . aku ti. . . tidak …..”
Pada saat itulah mendadak Oh-lotoa dan Hi Tai-pa serentak menubruk maju
sambil membentak dan mengacungkan senjata mereka yang berupa golok dan
ganden raksasa, berbareng mereka menyerang Pau Put-tong.
Buyung Hok tahu para petualang yang lagi disembuhkan oleh Hi-tiok itu sekarang
tentu akan membantu Hi-tiok dengan mati-matian jika sampai terjadi pertempuran
tentu akan sukar meloloskan diri. Maka cepat ia pun melompat maju, ia keluarkan
kepandaiannya yang khas "Tau-coan-sing-ih” sekali bergerak ia putar balikkan
serangan lawan, bacokan golok Oh-lotoa diputar membacok ke arah Ha Tai-pa,
sebaliknya ganden Ha Tai pa digeser menjadi menghantam ke arah Oh-lotoa. Màka
terdengar suara "trang" yang keras kedua senjata saling bentur sendiri dan lelatu api
meletik.
Menyusul itu Buyung Hok terus mendorong pundak, Pau Put-tong sehingga
punggawanya itu terpental keluar pintu. Habis itu ia memberi hormat kepada Hi-tiok
dan bertata, "Maaf, mohon pamit!"
Dan sedikit ìa melompat, tahu-tahu ia sudah berade di luar pintu.
Ia tahu pintu pendopo itu terpasang pesawat rahasia, bila batu raksasa tadi
digeser untuk menyumbat pula, maka mereka pasti tidak bisa lari.
Sebaliknya sama sekali tiada maksud Hi-tiok hendak memùsuhi Buyung Hok,
maka cepat sahutnya. "Nanti dulu, Kongcu, bukan .... bukan begitu maksudku, aku. .
, aku . . . ."
Mendadak Buyung Hok membalik tubuh dan berseru dengan kencang, "Apakah,
saudara menganggap dirimu tiada tandingannya di dunia ini ingin memberi putunjuk
beberapa jurus padaku?”
"O, ti . . . tidak, aku ti . . . tidak... . . " sahut Hi-tiok dengan gelagapan sambil
goyang tangannya.
"Kunjunganku ke sini memang agak sembrono, apa barangkali saudara ingin
menahan kami di sini?" seru Buyung Hok pula.
Tetap Hi-tiok menggeleng kepala dan berkata, “Bu . . . bukan begitu maksudku”
Dengan angkuh Buyung Hok memandang pada Tongcu dan Tocu serta Bwe-kiam
berempat dan para anggota Kim-thian-poh. Karena terpengaruh oleh sikapnya yang
kereng, seketika tiada seorang pun berani maju.
Selang sejenak, tiba-tiba Buyung Hok mengebaskan lengan bajunya dan berkata
"Mari berangkat!"
Segera ia melangkah pergi dengan cepat di iringi kawan-kawannya.
"Kaucu," seru Oh-lotoa kepada Hi-tiok jika dia dibiarkan pergi dari Biau-bian-
hong. Lantas ke mana pamor kita akan ditaruh? Harap Kaucu lekas memberi
perintah untuk menahan mereka."
"Sudahlah," ujar Hl-tiok sambil geleng kepala "Aku . . . aku pun tidak tahu
mengapa día marah-marah padaku? Ai, tungguh aku tidak paham . . "
Sementara itu Giok-yan ikut pergi di antara rombongan Buyung Hok itu, ketika
tidak, melihat Toan Ki tiba-tiba ia berpaling dan berseru, "Sampai bertemu lagi,
Toan-kongcu!"
Hati Toan Ki tergetar rasanya menjadi pedih dan tenggorokannya seakan-akan
tersumbat, dengan sekuatnya, ia pun menjawab, "Ya, sam….sampai bertemu!"
Ia lihat bayangan Ong Giok-yan semakin menjauh dan tidak pernah berpaling
pula, hanya telinganya masih berkumandang ucapan Pau Put-hong tadi yang
mengatakan, "Nona Ong adalah kepunyaan Buyung-kongcu, orang lain hendaknya
jangan menaksirnya sepertí katak buduk mengimpikan bidadari. Ya, memang benar
ketika berdiri dí depan pintu tadí betapa gagah perkasanya Buyung-kongcu. Hanya
sekàlì saja dia telah mematahkan serangan dua lawan kuat, caranya itu
menunjukkan betapa tinggi ilmu silatnya. Sebaliknya orang tak punya kepandaian
apa-apa.
Seperti diriku ini, dimana-mana hanya dibuat buah tertawaan orang, sudah tentu
tidak dipandang sebelah mata oleh si día? Ai, betapa mesra dan kasih sayangnya
nona Ong ketika menandangi piaukonya itu. Sebaliknya aku Toan Ki lah, benar-benar
seperti, seekor katak buduk yang mengimpikan bidadari!"
Begitulah sesaat itu dì ruang pendopo itu tengah tertegun dua orang pemuda, Hi-
tiok dan Toan Ki.
Hi-tiok merasa heran dan sangsi, la garuk-garuk kepala dan bingung.
Sebaliknya Toan Ki termangu-mangu dan muram durja. Kedua orang saling
berhadapan dan diam saja sehingga mirip dua pemuda linglung.
Sampai agak lama baru Toan Ki menghela napas dan berkata, "Saudara Hi-tiok
rupanya kita senasib dan setanggungan. Rasa rindu dendam yang terukir dalam hati
sanubari cara bagaimana menghiburnya?"
Muka Hi-tiok menjadi merah jengah. Disangkanya Toan Ki mengetahui
hubungannya dengan si dewi impian? Maka dengan tergegap-gegap ia tanya, "Da . .
. dari mana Toan-heng meng . . . ….mengetahuinya?"
"Hendaklah saudara Hi-tiok jangan kuatir, menyukai wanita cantik adalah sifat
pembawaan setiap manusia," ujar Toan Ki, "Kita sebenarnya senasib dan mempunyaì
pangalaman yang sama, sayang kita tidak kenal sejak dulu-dulu. Ilmu silat saudara
maha tinggi, tetapi dalam soal asmara yang diutamakan adalah jodoh satu sama
lain. tidak peduli betapa tinggi ilmu silatmu atau pengetahuanmu sangat luas, kalau
tiada jodoh, tetap tidak jadi,"
"Hanya bergantung jodoh satu sama lain, ya, jodoh itu memang cuma dapat di ..
ditemukan dan tak dapat dicar¡ sendiri . . . Ya, sesudah berpisah, dunia seluas Ini, ke
mana lagi dapat mencarinya?" demikian Hi-tiok berguman sendiri.
Yang dimaksudkan Hí-tíok dengan sendírinya ialah "Dewi impiannya," sebaliknya
Toan Ki menyangka jika Hi-tíok menyimpan gámbar Ong Giok-yan, terang dia juga
cinta pada nona itu seperti Toan Ki sendiri. Dan sebabnya Hi-tiok cekcok dengan
Buyung Hok tadi disangka oleh Toan Ki tentu juga lantaran berebut Ong Giok-yan.
Dasar Hi-tiok dan Toan-Ki mempunyai sifat ketolol-tololan yang sama maka
makin bicara makin melantur, tapi juga makin cocok satu sama lain. sementara itu
para wanita Leng-ciu-kiong sudah menyiapkan perjamuan, segera Hi tiok
menggandeng tangan Toan Ki dan diajak dahar bersama.
Para Tongcu dan Tocu terhitung bawahan Leng-ciu-kiong dengan sendirinya tiada
seorang pun berani bersatu meja dengan Hi-tiok. Sebaliknya Hi-tiok sendiri tidak
paham tata-krama segala maka ia pun tidak mengajak mereka, ia hanya asyik bicara
sendiri dengan Toan Ki.
Memangnya Toan Ki sangat kesemsem terhadap Ong Giok-yan, maka dia tiada
habis-habis memuji nona itu, memuji perangainya yang halus dan kecantikannya
yang tiada taranya.
Sebaliknya Hi-tiok menyangka yang dipuji Toan Ki adalah ''dewi impiannya",
dengan sendirinya ia tidak berani tanya Toan Ki, mengapa kenal si "dia", lebih-lebih
tidak berani Hi-tiok mencari keterangan asal-usul dewi impannya itu, hanya hatinya
saja yang berdebar-debar, pikirnya,
"Sesudah Tong-lo meninggal, kusangka di dunia ini tiada seorang pun yang tahu
lagi akan si dewi impianku, tak tersangka, Tuhan Maha Kasih. Toan-kongcu juga
mengeotahuinya, Tapi dari ucapan-ucapan Toan-kongcu ini. tampaknya ia pun
sangat kesemsem padanya, jika aku membeberkan kejadian dalam gudang es, di
sana aku telah main cinta dengan si dia. Ah, tentu Toan-kongcu akan gusar dan
segera pergi dari sini, han ini berarti aku, tak dapat mencari tahu, hal keterangan
dewi impianku itu.“
Begitulah maka segera ia pun memberi suara dan ikut memuji si nona yang
dikatakan Toan Ki. Dan karena kedua orang sama-sama tidak menyebut nama si
nona yang mereka bicarakan, biarpun sudah sekian lama mereka mengobrol, tetap
mereka tidak tahu bahwa di antara mereka telah "salah wesel."
Dalam pada itu Bwe-kiam berempat bergiliran menyuguhkan arak, kalau Toan Ki
menegak secawan, maka Hi-tiok juga lantas mengiringi secawan sambil masih terus
bicara dan memuji si jelita.
Sampai tengah malam, para petualang sama berbangkit untuk memohon diri dan
ditunjukkan tempat mengaso oleh para dayang. Sedangkan Hi tiok masih terus
minum arak bersama Toan Ki meski sudah tidak sedikit mereka menenggak.
Dahulu waktu Toan Ki berlomba minum dengan Sian Hong di kota Bu-sik, dengan
sengaja Toan Ki mendesak arak yang diminumnya itu keluar melalui jarinya, tapi
sekarang ia minum arak sebagai pelipur hati nan lara, maka la minum dengan
sungguh-sungguh, setiap cawan arak itu benar-benar masuk seluruhnya ke dalam
perut.
Dalam keadaan sudah agak sinting ia berkata kepada Hi-tiok. "Saudara, aku
mempunyai seorang saudara angkat, namanya Siau Hong. Orang itu adalah ksatria
sejati, pahlawan tulen, takaran minum arak juga tiada bandingannya. Jika. Saudara
bertemu dengan dia, kuyakin saudara akan kagum dan suka padanya. Cuma sayang
dia tidak berada di sini. Kalau ada, kita bertiga dapat mengikat persaudaran dan
minum bersama dengan sepuas-puasnya, sungguh akan merupakan suatu
kesenangan hidup yang bahagia."
Selama hidup Hi-tiok tidak minum arak, sekarang dia minum sekian banyak
berkat Iwekangnya yang tinggi, namun begitu toh pikirannya juga sudah kabur,
lidahnya terasa kelu. Wataknya yang biasanya takut-takut sekarang berubah menjadi
pemberani, tiba-tiba ia pun berkata, "Toan-heng, jika . . . jika engkau tidak mencela
diriku, bolehlah kita berdua mengangkat saudara lebih dulu. kelak bila berjumpa
dengan Siau-tauko boleh kita mengulangi mengangkat saudara sekali lagi."
Toan Ki sangat girang, sahutnya, "Bagus. Bagus! Entah berapa umur saudara ,
sekarang?"
Begitulah kedua orang lantas mengemukakan usia masing-masing dan ternyata
Hi-tiok lebih tua dua tahun.
"Jiko" segera Toan Ki memanggilnya sebagai kakak kedua. "terimalah hormat
Siaute ini!"
Dan segera ia berbangkit dan menjura kepada kakak angkat itu.
Cepat Hi-tiok hendak membalas hormat tapi karena terpengaruh oleh bekerjanya
arak kakinya terasa lemas, mendadak sempoyongan dan jatuh terduduk.
Lekás Toan Ki membangunkan Hi-tíok dan tanpa sengaja hawa murni kedua
orang saling beradu sama-sama merasakan tenaga dalam masing-masing sangat
kuat, cepat mereka sama, sama menahan kembali tenaga sendiri.
Saat itu Toan Ki juga agak mabuk sehingga langkahnya sempoyongan,
sekonyong-konyong kedua orang berbahak-bahak dan saling rangkul sehingga sama-
sama terguling di lantai.
"Jika, Siaute tidak mabuk, marilah kita minum lagi seratus cawan," seru Toan Ki.
"Baik, kakak tentu akan mengiringimu minum sepuasnya" sahut Hi-tiok.
"Orang hidup harus bergembira sepuasnya, marilah kita habiskan secawan ini,
hahaha!" seru Toan Ki.
Kedua orang makin lama makin kelelep sehingga akhirnya sama sekali tak
sabarkan diri.
Esok paginya ketika Hi-tiok mendusin. Ia merasa dirinya tidur di atas sebuah
ranjang yang sangat empuk dan halus. Waktu ia buka mata dan memandang keluar
kelambu, dilihatnya ia berada di dalam sebuah kamer tidur yang sangat luas, tidak
banyak alat perabot dalam kamar besar itu sehingga kelihatan longgar tapi banyak
terdapat hiasan barang antik dan lukisan kuno yang indah.
Dalam pada itu kelihatan seorang dara cilik membawa sebuah nampan porselen
sedang mendekati tempat tidurnya. Segera Hi-tiok mengenalinya sebagai lam kiam,
"Silakan cuci muka dulu."
Karena semalam terlalu banyak minum arak, mulut Hi-tiok terasa sangat sepat
dan tenggorokan terasa kering. Ketika dilihatnya di atas nampan yang dibawakan
Lam-kiam itu ada semangkuk air teh, terus saja ia angkat dan diminumnya hingga
habis.
Kiranya air itu bukanlah air teh melainkan wedang kolosom yang selama hidup
Hi-tiok belum pernah merasakannya, habis minum la pun tidak tahu air Apakah yang
terasa manis-manis pahit itu.
Kemudian ia berkata kepada Lam-kiam, "Terima kasih atas pelayananmu.
Sekarang aku . . .aku hendak bangun boleh kaukeluar dulul"
Tapi belum lagi Lam-kiam keluar, tiba-tiba dari luar masuk lagi seorang nona cilik
lain, yaitu Kiok-kiam. Dengan tersenyum ia berkata, "Kami taci beradik akan
melayani Cujin berganti pakaian!"
Sembari berkata ia terus mengambilkan serangkat baju dan celana dalam, warna
hijau pupus yang sudah tersedia di kursi yang terletak di ujung tempat tidur sana.
Keruan Hi-tiok serba kikuk, mukanya merah jengah, sahutnya, "Tidak, tidak!" Aku
tidak perlu dilayani kalian, aku kan tidak sakit, cuma habis mabuk arak saja. Wah,
cilaka, baru sekarang aku ingat telah melanggar pantangan ajaran Budha lagi, Eh, di
manakah Samte? Di manakah Toan-kongcu, ke mana dia pergi? Apa kalian melihat
dia?”
Sambil tertawa Lam-kiam menjawab, "Toan-kongcu telah berangkat menyusul
kekasihnya. Sebelum pergi beliau suruh hamba menyampaikan pesan kepada Cujin,
katanya bila urusan di sini udah selesai, Cujin diminta berkunjung ke tonggoan dan
dapat bertemu ia sana."
“Ai, masih ada urusan penting yang hendak kutanyakan padanya, mengapa día
pergi begitu saja” seru Hi-tiók terkejut atas pérginya Toan Ki secará mendadak tanpa
pamit itu. Segera ia melompat bangun dari tempat tidür dengan maksud hendak
menyusul Toan Ki untuk menanyakan dimana tempat-tinggal "dewi impian" yang di
rindukannya itu.
Tapi demi mendadak melihat dirinya hanya menggunakan baju dalam yang putih
bersih, tiba-tiba ia menjerit kaget dan cepat menutup badannya dengan selimut.
Serunya dengan heran, “Hei, mengapa aku sudah ganti pakaian?'
Rúpányá waktu ia keluar dari Siau lim-si, baju dalam yang dipakai adalah büatán
dari kain kasar dan karena sudah, terpakai sekian bulan pakaian dalam itu pula
sudah rombeng dan kotor. Sebaliknya baju yang melekat pada badannya sekarang
tipis halus dan bersih pula, ia sendiri tidak tahu baju itu terbuat dari bahan sutra
atau katun, pendek kata pastilah bahan yang sangat mahal.
Maka dengan tertawa Kiok-kiam menjawab, “Semalam Cujin mabuk, maka kami
berempat saudara melakukannya, apakah Cujin sama sekali tidak berasa?"
Hi-tiok tambah kaget mendengar keterangan itu, sekilas ia lihat Kiok-kiam dan
Lam-kiam yang cantík manís seketika hati Hi-tiok berdebar-debar. Waktu ia coba
melihat dada sendiri, ia lihat kotoran dan daki-daki yang biasa tertimbun di situ
sekarang sudah tergosok bersih. Ia menjadi ragu dan berkata, "Wah, aku benar-
benar mabuk untung masih dapat mandi sendiri."
"Semalam Cujin sama sekali tidak sadarkan diri lagi," kata Lam-tiam dengan
tartawa, "dan kami berempatlah yang mencuci badan Cujin."
"Haaah?" teriak Hi-tiok kaget dan hampir-hampir jatuh keblengar, berulang-ulang
ia menjerit pula. "Wah. cialat!"
Keruan Kiok-kiam dan Lam-kiam ketakutan oleh sikap Hi tiok itu, cepat mereka
bertanya, "Cujin, apakah ada suatu yang tidak betul?"
"Aku adalah orang lelaki, badanku kotor lagi berbau busuk, mana boleh kalian
berempat mengerjakan tugas-tügas yang tidak baik ini.” ujar Hi-tiok dengan
menyengir.
"Kami berempat adalah hamba Cujin yang setia andaikan hamba sekalian ada
berbuat sesuatu kesalahan, mohon Cujin memberi hukuman yang setimpal," kata
Lim-kiam dengan khitmad. Habis berkata bersama Kiok-kiam mereka terus berlutut
dan menyembah.
Melihat kedua dara cilik itu marasa takut-takut padanya Hi-tiok menjadi teringat
kepada Siopopo, Cio-soh dan lain-lain yang pernah juga merasa takut ketika dirinya
membalas hormat mereka sekarang Kiok-kiam berdua juga ketakutan karena
mendengar ucapannya yang ramah-tamah, boleh jadi mereka sudah biasa dibawab
pengaruh Tong lo yang berwatak aneh itu, semakin nenek itu bersikap ramah dan
berkata dengan halus, itu berarti maut bagi orang yang diperlakukan dengan ramah-
tamah itu.
Maka Hi-tiok berkata lagi, "Ya, baiklah kalian boleh Keluar sana, aku sendiri dapat
berpakaian dan tidak perlu dilayanl kalian."
Terpaksa Kiok-kiam berdua berbangkit dengan air mata berlinang-linang, mereka
mengundurkan diri keluar dengan menangis.
Hi-tiok menjadi heran, cepat ia tanya pula, "He, ada apakah Mengapa kalian
menangis? Apa barangkali ucapanku ada yang salah?"
Kiok-klam berdua berhenti di luar pintu dan berkata, "Cujin, hal ini tentu
disebabkan Cujin sudah . . . sudah jemu kepada kami..." Belum habis ucapannya air
mata merekapun bercucuran.
"O, tidak, tidak," sahut Hi-tiok sambil goyang-goyang tangan. “Mungkin aku tidak
pandai bicara sehingga kalian tidak paham rnaksudku. Soalnya aku adalah seorang
lelaki dari kálián adalah wanlta. ini menjadi………menjádi kurang leluasa dan . ..dan
sungguh aku tiáda bermaksud lain, Budha menjadi saksi, sungguh mati aku tidak
mendustai kalian."
Melihat gerak-gerik Hi-tiok yang serba kikuk dan lucu itu. Kiok-kiam berdua
menjadi geli, kata mereka kemudian, "Maafkan kaml jika demikian halnya.
Selamanya penghuni Leng-ciu-kiong tidak pernah terdapat orang laki dan kami pun
belum selamanya tidak pernah melihat kaum lelaki. Cujin adalah langit dan hamba
sekalian adalah bumi masakah mesti dibeda-bedakan antara lelaki dan perempuan
ségala?"
Dan segera Lam-kiam berdua mendekati Hi tiok lagi untuk melayaninya
berpakaian dan bersepatu. Tidak lama kemudian Tlok-kiam dan Bwe-kiam juga
datang, yang lalu menyisirkan rambut Hi-tiok, yang lain mencucí mukanya.
Karuan Hi tiok serba kikuk, tapi juga tidak beranl bersuara lagi karena kuatir
menimbulkan rasa kurang senang keempat dayang itu.
Ia menduga Toan Ki tentu sudah pergi jauh, untuk menyusulnya juga tidak
keburu lagi, apalagi para TongCu dan Tocu itu sedang memerlukan pértolongannya
untuk memunahkan ,Sing-si-hu. mereka, maka sesudah sarapan pagi, lalu ia menuju
ke ruang pendopo untuk menemui para.petualang itu kemudian ia menyembuhkan
dulu dua orang yang paling menderita karena siksaan racun Sing-si-hu.
Tapi untuk melenyapkan racun Sing-sl-hu itu harus digunakan tenaga murni
dengan memainkan "Thian-san-liok-yan-Jiu,". Bagi Iwekang Hi-Tiok yang tinggi
sekarang sudah tentu tidak merasa lelah biarpun sekaligus berpuluh-puluh orang
harus di sembuhkannya. Soalnya Sing-si-hu yang dltanamkan Tong-lo pada badan
para petualang itu masing-masing berbeda tempatnya, untuk mencari tempatnya
dan memikirkan jalan memusnahkannya. hal inilah yang agak memusingkan Hi-tìok.
Sebab itulah, sampai lohor baru beberapa orang saja yang dapat disembuhkan oleh
Hi-tiok.
Sesudah mekan slang dan istlrahat sébentar diam-diam Hi-tiok merasa kesal
karéna tldak dapat memunahkan para penderita itu dengan lancar.
Melihat sang majikan berkerut kening dan pusing oleh cara memunahkan Sing-si-
hu, tiba-tiba Bwe-kiam memberitahu, “Cujin, di belakang istana leng-ciu-kiong ini
terdapat banyak ukiran dinding tinggalan majikan-majikan lama dari ratusan tahun
yang lalu, Hamba pernah mendengar cerita Tong lo yang mengatakan bahwà ukiran
dinding itu ada sangkut pautnya dengan Sing-si-hu. Apakah barangkali Cujin ada
minat untuk melihatnya?”
Hi-tiok melonjak girang. "Bagus" serunya dan segera ia minta Bwe-kiam
berémpat mengantarnya.
Setiba di taman bunga belakang Leng-ciu-long, beramai-ramai Bwe-kiam
berempat memindahkan sebuah gunung-gunungan sehingga dibawahnya terlihatlah
sebuah lubang masuK Ke suatu jalan di bawah tanah. Dengan membawa obor
segera Bwe-kiam mendahului masuk ke situ di ikuti Hi-tiok dan ketiga dayang lain.
Sepanjang jalan lorong itu Bwe-kiam berkali-kali mematilkan pesawat rahasia
yang dipasang di sltu agar tidak menghamburkan senjata berbisa dan sebagainya.
Jalan itu berliku-liku, terkadang agak longgar dan lain saat menyempit lagi, nyata
jalan itu dibuat di dalam gua yang menembus kedalam perut gunung.
Sesudah sekian jauhnya mereka menyusur jalan dalam gua alam itu, akhirnya
Bwe-kiam manolak sebuah batu besar sehingga terbukalah sebuah pintu di bagian
dalamnya adalah sebuah ruangan. Bwe-kiam berdiri menyisih lalu berkata, "Silakan
Cujin masuk, di dalam situ adalah sebuah kamar batu, hamba sekalian tidak berani
ikut masuk."
"Mengapa tidak berani? Apakah di dalam itu berbahaya?"' tanya Hi-liok.
"Bukan karena berbahaya, tapi ini adalah tempat suci Leng-ciu-kiorg kita, hamba
sekalian tidak boleh sembarangan masuk ke situ," sahut bwe-kiam.
"Ah, tidak apa-apa, ayolah ikut masuk saja,” ujar Hi-tiok, "Jalan di luar sini terlalu
sempit, tentu kalian tak leluasa berdiri terus di sini."
Keempat dara cilik itu tampak saling pandang dengan rasa girang. Maka Bwe-
kiam berkata pula, “Cujin, menurut pesan Tong lolo sebelum wafat,beliau
menyatakan kepada hamba, berempat bila kami tetap taat dan setia melayani beliau,
tanpa berbuat sesuatu kesalahan, maka setelah kami berusia 40 tahun, kami akan
diperbolehkan masuk ke dalam kamar batu ini, setiap tahun kami boleh tinggal satu
hari di sini, untuk mempelajari kungfu yang terukir didinding kamar itu. Sekarang
walaupun Cujin sangat berbudi baik hati, tapi apa yang pernah dikatakan Tong-lolo
sekali-kali kami tak boleh melangarnya, kami harus menunggu lagi selama 22 tahun."
"Hah, 22 tahun lagi? Kan barabe? Tak kala mana kalian sendiri tentu juga sudah
tua, lalu masih mampu apa belajar ilmu silat lagi?" demikian kata Hi tiok. "Ayolah
masuk saja sekarang bersama aku!"
Keempat dayang itu menjadi girang. Cepat mereka berlulut dan menyembah.
"Bangunlah, lekas bangun!" kata Hi-tiok. “Tempat ini sangat sempit, tidak perlu
banyak adat.”
Kemudian mereka berlima memasuki kamar batu itu bersama. Ternyata dinding
sekeliling kamar itu tergosok sangat licin, dinding dinding itu penuh terukir lingkaran-
lingkaran sebenar mangkuk im tiap-tiap lingkaran itu terukir pula gambar, ada
gambar manusia, ada gambar binatang, ada huruf-huruf yang sudah tidak lengkap
lagi, ada pula gambaran tanda-tanda dan garis-garis yang susah dipahami. Di sisi
setiap lingkaran itu, sedikitnya ada beberapa ratus buah, untuk melihatnya lagi tak
bisa habis seketika.
"Cujin, marilah kita mengikutinya mulai dari nomor pertama, betul tidak?” ujar
Bwe-kiam.
Hi-tiok mengangguk setuju. Lalu dengan penerangan obor mereka berlima mulai
meneliti gambar ukiran pertama. Dan sekali pandang saja saja Hi-tiok mengenali
lukisan itu menunjukkan jurus pembukaan gaya Thian-san-ciat-bwe-jiu. Waktu
memandang pula gambar kedua, benar juga jurus kedua dari Thian san-ciat-bwe-jiu
dan begitu seterusnya.
Selesai gambar Thian-san-ciat-bwe-jiu, menyusul adalah gambar penjelasan
Thian-san-lion yang-jiu, setiap gerak-geriknya dan setiap kunci sarinya telah ditulis
semua di dalam lingkaran yang terukir di dinding batu itu.
Sesudah gambar Thian-san-lion-yang-jiu, selanjutnya adalah gerak tipu ilmu silat
lain-lain.
Jurus ilmu silat itu meliputi ilmu silat yang pernah diajarkan Tong-lo kepada Hi-
tiok ketika nenek itu bertanding dengan Li Jiu sui setelah lolos dari gudang es. Cuma
penjelasan-penjelasan dalam gambar sekarang ini dirasakan oleh Hi-tiok jauh lebih
jelas dan lebih lengkap daripada apa yang pernah didengarnya dari Tong lo itu. Maka
sedikit ia pikir saja segera ia dapat memahaminya dengan baik."
Tempo hari waktu Thian san Tong Lo mengajarkan tipu-tipu silat itu kepada Hi-
tiok untuk mengalahkan Li Jiu-sui, saat itu karena terbatas oleh waktu, maka apa
yang diajarkan nenek itu hanya garis besarnya daripada setiap tipu silat itu,
sedangkan saripati yang paling bagus dan secara terperinci tak diajarkan. Sekarang
Hi-tiok mengerahkan hawa murni dalam tubuhnya menurut petunjuk-petunjuk yang
dibacanya pada gambar-gambar di dinding itu seketika ia merasa badannya sangat
ringan dan seakan-akan hendak mengapung sendiri.
Selagi Hi-tiok merasa semangatnya berkobar-kobar dan tenaganya memuncak
sekonyong-konyong didengarnya suara jerit kaget orang. Hi-tiok terkejut ia menoleh
dan melihat Lam-kiam dan Tiok-kiam sedang terhuyung-huyung dan akhirnya jatuh
ke lantai. Bwe-kiam dan Biok-kiam juga tampak sempoyongan sambil berpegangan
dinding, wajahnya tampak pucat.
Lekas-lekas Hi-tiok mendekat dan membangunkan mereka, katanya, "Hai, ada
apakah?"
"Cu . . . Cujin," sahut Bwe-kiam dengan tak lancar, "kekuatan kami terlalu . . .
terlalu rendah dan tidak dapat mengi . . . mengikuti gambar-gambar dinding ini,
biarlah kami . . . kami menunggu di luar saja,"
Habis berkata, keempat dara itu lantas berjalan keluar, kamar batu itu dengan
merambat dinding.
Hi-tiok tertegun sejenak, kemudian ia pun menyusul keluar. Ia lihat keempat
dayang itu duduk bersila di jalan lorong itu dan sedang mengerahkan tenaga, badan
mereka tertampak agak gemetar dengan wajah pucat menderita.
Segera Hi-tiok tahu keempat dayang itu telah terluka dalam yang tidak ringan,
cepat ia gunakan Thian-san-hok-yang-jiu untuk menepuk masing-masing satu kali di
punggung mereka, Seketika suatu arus hawa hangat segar menembus jalan darah
keempat dayang itu dan air muka mereka lantas segar kembali, tidak lama kemudian
jidat meraka tampak berkeringat, kemudian berturut-turut mendongak dan berseru,
"Terima kasih atas pertolongan Cujin.” Dan berbareng mereka pun menyembah.
"Sudahlah apa yang telah terjadi, tanpa sebab kenapa kalian bisa terluka?" tanya
Hi-tiok sambil membangunkan mereka.
"Cujin," tutur Bwe-kiam sambil, menghela napas, "baru sekarang kami tahu
bahwa sebabnya Tong-lolo suruh kami masuk ke kamar batu ini bila usia kami sudah
40 tahun, ternyata beliau memang tidak ingin membikin susah kami. Ternyata
gambar-gambar dinding ini teramat hebat dan tinggi, kekuatan hamba sekalian
masih belum mencapai tarap yang cukup untuk mempelajarinya, Tapi dengan
sembrono tadi hamba berani coba-coba berlatih dengan mengikuti gambar-gambar
itu, dan karena tenaga tidak cukup, seketika hawa murni yang bergolak dalam tubuh
nyasar ke urat nadi. Coba kalau Cujin tidak lantas menolong, tentu hamba sekalian
akan celaka."
"O, kiranya demikian, jika begitu, akulah yang salah, mestinya aku tidak boleh
menyuruh kalian ikut masuk ke situ." kata Hi-tiok.
Serentak-keempat, dayang itu menyembah lagi dan minta ampun, " Ai, itu kan
maksud baik Cujin adalah salah hamba sendiri yang berani ikut-ikut berlatih secara
sembrono."
Kemudian Bwe-kiam berkata, "Dengan kekuatan Cujin yang maha tinggi, untuk
melatih ilmu sakti menurut gambar dinding itu tentu akan sangat besar manfaatnya.
Dahulu Tong-lo sering tinggal sampai berbulan-bulan dalam kamar batu itu untuk
mempelajari ilmu sakti itu. Sebabnya para keparat Tongcu dan Tocu itu berani
menyerang Leng-ciu-kiong tujuan mereka juga ingin mencari tahu di mana tempat
penyimpanan benda pusaka Tong lolo. Tapi para saudara tetap setia dan jujur,
biarpun mati tidak mau menyerah kepada mereka. Mestinya, kami berempat
brrmaksud memancing kawanan bangsat itu masuk ke jalan lorong batu ini, sekali
hamba membuka pesawat rahasia, sekaligus mereka akan binasa semua di sini."
"Ilmu sakti menurut gambar di dinding itu memang maha hebat," ujar Hi-tiok.
"Aku Cuma melatih beberapa jurus di antaranya dan semangatku lantas terasa
berkibar-kibar dan tenagaku penuh, biarlah kita kembali saja dan akan ku
sembuhkan sing-si-hu mereka itu. Kalian sendiri boleh pergi mengaso dulu."
Segera mereka berlima keluar dari jauh di bawah tanah itu, Hi-tiok kembali ke
ruang pendopo dan beberapa orang Tongcu di antaranya telah disembuhkan lagi.
Dan begitulah seterusnya, singkatnya saja, setiap hari Hi-tiok tentu menggunakan
Thian-san-liok-yang-jiu untuk memunahkan racun Sing-si-hu para Tongcu dan Tocu
itu. Bila semangatnya terasa lesu dan tenaga kurang, segera ia pergi ke kamar batu
untuk menyakinkan ilmu sakti dengan ditunggui oleh Bwe-kiam berempat, mereka
...tidak pernah ikut masuk lagi ke dalam kamar batu.
Di samping itu setiap hari Hi-tiok juga memberi petunjuk ilmu silat kepada Bwe-
kiam berempat dan para wànita lain, ia mengajar dengan sungguh-sungguh dan
secara adil tanpa pandang bulu atau pilih kasih.
Keadaan begitu berlangsung sampai hampir sebulan lamanya barulah Sing-si-hu
para petualang itu dipunahkan seluruhnya. Sebaliknya setiap hari Hi-tiok mempelajari
ilmu sakti yang tertera di dinding kamar batu. Itu sehingga kepandaiannya juga maju
sangat pesat, jauh berbeda daripada waktu mula-mula datang ke Biau-biau-hong.
Sesudah racun Siag-si-hu merasa disembuhkan, para Tongcu dan Tocu itu sudah
tentu sangat berterima kasih kepada Hi-tiok, apalagi Hi-tiok sangat ramah kepada
mereka, biarpun mereka adalah manusia yang tidak kenal apa artinya kebaikan,
sekarang mau-tak-mau mereka pun merasakan utang budi dan takluk betul-betul
kepada Hi tiok.
Akhirnya mereka pun mohon diri dan kembali ke tempatnya masing-masing
sesudah menyatakan terima kasih.
Dengan perginya para petualang itu, suasana di Biau-biau-hong menjadi sunyi,
sekarang di atas gunung itu hanya tinggal Hi-tiok sendiri merupakan satu-satunya
orang lelaki. Dalam keadaan kesepian Hi-tiok termenung, "Sejak kecil aku sudah
yatim piatu dan diberikan oleh Suhu di Siau-lin-si. Jika sejak kini aku tidak pulang ke
Siau-lim-si, rasanya aku menjadi lupa budi dan tidak ingat kebaikan Suhu. Maka aku
harus pulang ka sana. aku harus mengaku dosaku di depan Suhu dan tongtiang."
Karena pikiran itu, segera ia memberitahukan maksudnya itu kepada Bwe kiam
berempat dan para wanita, hari itu juga ia hendak berangkat dan segala urusan di
Leng-ciu-hong ia serahkan kepada. pimpinan Sio-popo dan Giok-soh sekalian.
Bwe-kiam berempat minta ikut agar dapat selalu melayani sang majikan, tapi Hi-
tiok berkata. “Kepergianku ke Siau-lim-ti adalah untuk menjadi hwesio pula. Masakah
di dunia ini ada hwesio yang hidup dengan dilayani kaum dayang?”
Tapi Bwe-kiam berempat tidak percaya dan tetap ingin ikut. Terpaksa Hi-tiok
mengambil pisau cukur dan mencukur rambut sendiri sehingga halus klimis dan
kelihatan bintik-bintik hitam bekas momotan api dupa di atas kepalanya.
Melihat itu barulah Bwe-kiam berempat mau percaya, terpaksa mereka
mengantar keberangkatan Hi-tiok dengan rasa berat.
Sementara itu Hi-tiok sudah berpakaian asalnya, yaitu pakaian hwesió Siau-lim-si.
Dengan langkah lebar ia langsung menuju pegunungan Siaw-lim-san. Karena
wataknya suka mengalah, dengan sendirinya sepanjang jalan tiada terjadi
percekcokan dengan orang begitu pula kaum penjahat juga tiada yang menaksir
seorang hwesio miskin seperti dia. Maka dengan aman akhirnya dia pulang sampai
Siau-lim-si.
Sesudah pulang kandang, tanpa terasa timbul rasa malu dan terharu Hi-tiok.
Hanya dalam beberapa bulan saja ia meninggalkan biara suci itu, tapi dirinya sudah
melanggar pantangan agama tentang membunuh, makanan barang berjiwa, minum
arak dan wanita. Untuk dosanya itu entah nanti Hong tiang dan gurunya akan
mengampuninya atau tidak.
Begitulah dengan rasa tidak tentram ia memasuki Siau-lim si dan langsung
menemui gurunya Hui-Lun.
Melihat pulangnya Hi tiok secara mendadak Hui-lun terperanjat juga dan segerà
bertanya, "Aku menyuruhmu mengirim surat, mengapa sampai sekarang baru pulang?"
Hi-tiok berlutut dan menyembah dengan penuh menyesal sambil menangis mengerung-gerung, Tuturnya, "Suhu, Tecu pun . . . pantas dihukum mati. Sesudah Tecu turun gunung, Tecu menjadi lupa daratan dan melanggar semua ajaran yang rasanya sering Suhu peringatkan padaku."
Air muka Hui-lun berubah seketika, ia menegaskan, "Apa? Kau . . . kamu sembarangan makan?"
"Ya," sahut Hi-tiok. "Bahkan lebih dari itu, akuu juga melanggar larangan lain,"
"Wah, dasar sontoloyo," seru Hui-lun. "Jadi kamu . . . juga telah minum arak segala?"
"Ya, bahkan Tecu minum sampai mabuk dan lupa daratan," sahut Hi-tiok.
Hui-lun menghela napas panjang dan tiba-tiba air matanya berlinang-linang, katanya. "Sejak kecil kamu tampaknya sangat jujur dan teguh imanmu, mengapa baru menginjak dunia ramai lantas terjerumus ke kolam lumpur sedemikian pa? Ai, ei...,"
Melihat Suhu sangat berduka, Hi-tiok bertambah gugup, katanya, "Suhu, larangan yang Tecu langgar bahkan lebih dari itu, Tecu telah melanggar . . , melanggar pula . . . "
Belum lagi Hi-tiok sempat menjelaskan dirinya telah melanggar pantangan membunuh dan main perempuan, tiba-tiba terdengar suara genta tanda berkumpulnya para padri angkàtan Huí dalam Siau-lim-si.
Maka Hui-lun lantas berbangkit, iá mengusap air matanya dan berkata, "Terlalu banyak pelanggaranmu maka aku pun sukar membelamu, bolehlah kaupergi sendiri ke Kai-lut-ih (bagian pelaksana hukum) untuk melaporkan diri saja dan mungkin kamu akan mendapat keringanan, Malahan aku sendiri pun takkan terluput dari hukuman."
Habis berkata, ia ambil Kai-to (golok paderi) yang tergantung di dinding dan buru-buru pergi ke ruang pendopo.
Segera Hi-tiok melapor sendiri ke Kai lut-ih, setiba di depan ruangan, itu, dengan hormat ia berkata, "Tecu Hi-tiok telah melanggar pantangan Budha, maka dengan sangat berharap Tianglo menjatuhkan hukuman yang setimpal."
Berulang-ulang Hi-tiok melapor, tapi tiada jawaban dari tertua Kai-lut-ih. Tiba-tiba dari dalam keluar seorang padri setengah umur dan berkata padanya, "Siucu dan Cianglut (kepala dan pelaksana) Susiok setiang ada urusan penting dan tiada tempo buat mendengarkan laporanmu, boleh kamu berlutut dan tunggu saja di sini!"
Hi-tiok mengiakan dan menurut. Tapi dari lohor ia tunggu sehingga petang tetap tiada seorang pun yang menggubris padanya. Untung iwekang Hi-tiok sekarang sudah sangat tinggi, biarpun tidak makan minum dan berlutut setengah harian, tetap dia bertahan tanpa merasa letih.
Sementara itu terdengar beduk berbunyi, sudah waktunya para padri bersembahyang magrib, Pelahan Hi tiok juga mengapalkan kitab suci dan berdoa menyatakan penyesalan atas dosanya.
Kemudian datang pula padri setengah umur tadi dan berkata padanya, "Hi-tiok, dalam beberapa hari ini biara kita sedang menghadapi urusan penting para Tianglo tiada tempo buat mengurus perkaramu. Dengan sujud kamu telah berlutut dan berdoa di sini, tampaknya kamu memang ingin memperbaiki kesalahanmu dengan sunggub-sungguh. Maka boleh begini saja, sementara ini kau pergi ke kebun sayur untuk membantu pikul rabuk dan menyiram tananam sambil menunggu panggilan.
Jika para Tianglo sudah senggang, tentu kamu akan dipanggil dan perkaramu akan diputuskan menurut kesalahanmu yang sebenarnya.”
Dengan penuh khitmad Hi-tiok mengiakan dan menyatakan terima kasih. Dan sasudah memberi hormat, lalui ia berbangkit, karena dia tidak seketika diusir, maka ia menaruh harapan bahwa dosanya mungkin akan dapat diampuni.
Segera ia menuju ke kebun sayur untuk menemui padri pengurus kebun, yaitu Yan-kian Hwesio, kata Hi-tiok, "Suheng aku telah melanggar peraturan biara kita, maka para Tianglo menghukum aku bekerja berat di kebun sini."
Yan-kin itu seorang hwesio yang tidak punya kepandaian, tapi suka usilan, suka ikut campur urusan tetek-bengek. Luas kebun sayur itu ada beberapa hektar, kuli kebun ada 30-40 orang, seterusnya di bawah pimpinan Yan-kin, maka sedikit banyak Yan-kis, suka berlagak sebagai mandor besar. Sekarang mendengar laporan Hi-tiok itu, Yan kin sangat girang segera ia tanya, “Larangan apa yang telah káulanggar?"
"Terlalu banyak dan sukar diceritakan satu per satu," sahut Hi-tiok.
"Sukar diceritakan satu per satu apa? Aku justru minta kamu mengaku secara jujur dan katakan padaku dengan terus terang," ujar Yan-kin dengan gusar, "Jangankan cuma seorang hwesio keroco sebagai dirimu, sekalipun para Tianglo bila dijatuhi hukuman kerja di kebun ini, tentu juga akan kutanya apa dosa mereka dengan jelas dan mereka harus menjawab dengan terus terang. Hm, melihat mukamu ini merah gemuk, huh, tentu kamu telah melanggar pantangan makan, belum tidak."
"Ya, memang benar," sahut Hi-tiok.
"Nah, apa katamu, sekali terka saja lantas kena," demikian kata Yan-kin dengan sòmbong.
"Huh, bukan mustahil diam-diam kaupun telah minum arak.”
"Ya, memang betul, pada suatu hari aku telah minum arak sehingga mabuk dan tidak sadarkan diri," sahut Hi-tiok.
"Wah, berani betul kamu ini, ya!” omel Yan-kin. "Dan biasanya bila kamu sudah kenyang menenggak arak tentu hatimu akan terkilin dan memikirkan hal yang tidak-tidak, ya, terasakan timbul napsu berahimu dan ingin tidur dengan orang perempuan, bahkan tidak cuma ingin satu kali, sedikitnya kamu ingin tujuh atau delapan kali. Ayo kamu berani mungkir?"
'Manaku berani berdusta kepada Suheng," sahut Hi-tiok. "Bukan saja aku pernah ingin, bahkan sudah pernah berbuat."
"Hah, malahan kamu sudah pernah berbuat?" damprat Yan-kin dengan marah- marah, tapi hatinya sangat senang karena tuduhannya diakui Hi-tiok. “Dasar kamu ini hwesio sontoloyo, kamu telah merusak nama baik Siau-lim-si kita. Nah, selain melanggar pantangan main perempuan, pelanggaran lain apa yang telah kaulakukan lagi? Mencuri? kamu pernah nyolong barang milik orang lain, atau pernah berkelahi dengan orang tidak?"
"Tidak cuma berkelahi saja, bahkan pernah membunuh orang, malahan beberapa orang yang telah kubunuh." sahut Hi-tiok dengan kepala menunduk.
"Hah, kamu pernah membunuh orang?" Yan-kin menegas dengan, terkejut sambil menyurut mundur beberapa tindak.
Dasar Yan-kin memang pengecut, kepada kaum lemah dia suka menindas, terhadap orang jahat dia takut. Demi mendengar Hi-tiòk mengaku pernah mambunuh orang, babkan lebih dari Seorang yang dibunuhnya, karuan ia menjadi ketakutan dan kuatir kelau mendadak Hi-tiok mengamuk tentu dia bukan tandingannya.
Sesudah menenangkan diri, kemudian ia berbicara dengan nada ramah dan tertawa-tawa yang dibuat-buat, "Biasanya ilmu silat memang pegang peranan pokok di dunia ini, bila mahir ilmu silat, tentu suatu waktu bias membunuh orang. Wah kepandaian Sute tentu sangat lihai."
"Sunguh memalukan kalau kuceritakan, sedikit kepandaian yang kudapat dari perguruan kita sekarang sudah punah semua, sedikit pun tidak tertinggal lagi," sahut Hl-tiok.
Kembali Yan-kin bergirang pula, katanya, “Ehm, bagus, bagusi"
Ia sangka ilmu silat Hi-tiok itu tentu dimusnahkan oleh Tianglo Siau-lím-si berhubung dosa Hi-tiok terlalu besar.
Tapi segera terpikir pula olehnya, "Walaupun ilmu silatnya katanya sudah punah, tapi bila ada sisa sedikit saja tentu juga sukar kulawan."
Karena itu timbul suatu akalnya, katanya segera, "Sute, kamu dihukum kerja berat di kebun sayur kan juga ada baiknya untuk menggembleng jiwarnu agat kelak lebih teguh. Menurut peraturan kita di sini, barang siapa melanggar pantangan agama, terutama yang tangannya pernah berlumuran darah, maka untuk bekerja disini dia harus diborgol kaki dan tangannya. Ini adalah peraturan turun temurun leluhur kita, entah Suté mau tunduk tidak pada peraturan ini. Jika tidak mau, biarlah aku meneruskan persoalan ini kepada Kai-lut-ih,"
"Jika memang begitu peraturannya sudah tentu aku menurut saja," kata Hi-tiok.
Diam-diam Yan-kin bergirang, segera ia mengeluarkan borgo! Dan membelenggu tangan dan kaki Hi-tiok. Di bagian pelaksana hukum biara dan kebun sayur itu memang selain tersedia borgol yang biasanya digunakan untuk menghukum padri jahat yang melanggar peraturan. Maklum, padri-padri Sau-llm-si itu berjumlah tidak sedikit dan dengan sendirinya terkadang ada satu-dua di antaranya yang berbuat kejahatan.
Begitulah, maka Yan-kin menjadi besar pula hatinya setelah Hi-tiok diborgol.
Dengan mentang-mentang ia lantas mendamprat, "Hwesío geblek, usiamu masih semuda ini tapi nyalimu sudah sebesar langit dan berani melanggar pantangan apa pun. Hari ini kalau tidak kuberi hukuman yang setimpal padamu rasanya sukar melampiaskan hatiku yang gemas."
Habis berkata la terus mengambil sebatang ranting kayu dan menyabet serabulan pada kepala Hi-tíok. Sedikit pun Hi-tiok tidak mengelak dan tidak melawan, dia Cuma berdoa saja sambil menahan rasa sakit dengan mengerahkan hawa murni dalam tubuhnya dan tidak berani menolak dangan tenaga dalam yang kuat. Karena itu, hanya sebentar saja kepala dan mukanya sudah babak-belur dan berdarah.
Melihat Hi-tiok diam saja dihajar, tidak mengelak dan tidak membantah, keruan Yan-kin tambah dapat hati, ia percaya penuh Ilmu silat Hi-liok tentu sudah punah semua, maka ia boleh menviiksanya sepuas-puasnya. Apalagi kalau mengingat Hi-tiok telah makan daging dan minum arak sampai mabuk, main perempuan pula
dengan segala kenikmatan, sebaliknya dirinya sendiri hidup percuma selama lebih 40 tahun dan selamanya tidak pernah mencicip apa-apa yang telah dirasakan oleh Hi tiok itu, teringat semua itu, seketika timbul rasa dengki dan siriknya, segera ia menghajar dengan lebih keras sampai ranting kayu itu patah barulah dia berhenti.
Akhirnya dengan suara gemas ia berkata pula, "Sekarang pergilah, setiap hari kamu hurus mengangkut 300 pikul air rabuk untuk menyiram tananam sayur, kalau kurang satu pikul saja tentu akan kuhantam patah kedua kakimu dengan pentung atau kayu pikulan."
Sesudah dihajar Yan-kin, bukannya dendam, sebaliknya Hi-tiok merasa lega malah. Pikirnya, "Aku telah melanggar peraturan sebanyak itu, memangnya aku pantas dihukum berat, semakin berat hukuman yarg kuterima, semakin ringan pula dosa yang kutanggung ini."
Maka cepat ia menyatakan taat kepada perintah Yan-kin Itu, ia pergi ke serambi belakang untuk mengambil tong rabuk dan pikulan, lalu pergi mengambil air rabuk untuk menyiram sayur.
Menyiram sayur adalah pekerjaan yang makan waktu dan kudu sabar, segayung demi segayung diciduk dari tong air untuk menghabiskan 300 Pikul sudah tentu bukan pekerjaan sekejap waktu.
Namun sedikit pun Hi-tiok tidak berhenti kerja giat dan rajin, malahan untuk itu ia kerja lembur, sampai fajar menyingsing pun belum rampung. Untung tenaga dalam Hi-tiok sangat kuat, ia tidak merasa letih, sesudah 300 pikul air rabuk dan sedemikian dikerjakan barulah dia pergi ke kandang kayu untuk tidur.
Tapi baru sebentar saja ia Lepus, Yan-kin sudah datang dan membangunkan dia dengan tendangan dan gebukan sambil memaki, "Hwesio malas pagi-pagi begini sudah tidur di sini! Ayo lekas pergi memotong kayu!"
Hi-tiok mengiakan saja tanpa membantah, segera perintah itu dikerjakan dengan baik.
Begitulah berturut-turut lima atau enam hari Hi-tiok memotong kayu dan menyiram sayur, dicambuk dan dihajar sehingga sekujur badannya penuh luka, entah berapa kali dia dipentung dan dicambuk oleh Yan-kin.
Sampai hari ketujuh, ketika Hi-tiok sedang menyiram sayur, tiba-tiba terdengar Yan-kin mendatanginya. Hi-tiok tidak heran bila bakal terima dampratan dan bayaran pula.
Di luar dugaan, tiba-tiba Yan-kin menyapa padanya, "Wah, Sute tentu sangat lelah!"
Berbareng ia terus mengeluarkan kunci untuk membuka borgol Hi-tiok.
"Ah, sudah biasa masih kurang sedikit, bila selesai barulah aku pergi mengaso," sahut Hi-tiok.
"Sudahlah Sute boleh pergi mengaso saja hari ini biar kukerjakan untukmu." Kata Yan-kin.
"Silakan sute pergi makan dulu, daharan sudah tersedia di dalam rumah sana.
Selama beberapa hari ini aku telah banyak berbuat kajur padamu, sungguh aku sangat menyesal, harap Sute suka memaafkan."
Mendengar nada Yan-kin itu mendadak berubah 160 derajat, Hi-tiok sangat heran. Ketika ia berpaling, ia lihat mata dan hidung Yan-king matang biru seperti habis dihajar orang. Keruan Hi-tiok tambah heran.
Sebaliknyn Yan-kin tampah takut-takut, dan merengek-rangek, "Ai, dasar mataku sudah lamur dan buram berbuat kasar pada Sute, jika .. . jika sute tidak sudi mengampuni aku hatiku . . . celaka. . . celakalah diriku."
"Aku sendiri berdosa dan pantas dihukum, apa yang dilakukan Suheng juga sudah pada tempatnya," ujar Hi-tiok.
Air rnuka Yan-kin mendadak berubah, "plak-plok", plak-plok tiba-tiba ia tempeleng muka sendiri beberapa kali, lalu berkata, "Sute, O, Sute, mohon belas kasihanmu, Jangan……janganlah marah padaku, aku . . . . "
Habis berkata, kembali berulang-ulang ia tampar muka sendiri dengan keras.
Tentu saja Hi-tiok terheran-heran, tanyanya,.
"Hei, kenapa Suheng ini? Mengapa berbuat demikian!"
Tapi Yan-kin terus berlutut, ia pegang, baju Hi-tiok dan berkata, "Mohon . . . mohon Sute memberi ampuun, kalau . . . kalau tidak, maka kedua biji mataku ini sukar diselamatkan lagi.
"Ah. bagaimana Suheng ini sama sekali aku tidak paham maksudmu," sahut Hi- tiok dengan bingung.
"Ya, asal Sute suka mengampuni aku dan takkan mencukil biji mataku, maka selama hidup aku akan mengabdi padamu sebagai balas budimu yang besar ini," kata pula yan-kin.
"Sungguh aneh Suheng ini, bilakah aku pernah menyatakan hendak mencukil matamu?" sahut Hi tiok dengan melongo.
Air muka Yan-kin tampah pucat pasi, katanya, "Jika Sute berkeras tidak sudi memberi ampun, dasar mataku sendiri yang sudah lamur, terpaksa aku melaksanakan hukumanku sendiri."
Habis berkata terus ia menjulurkan dua jari tangan dan bertidak mencolok matanya sendiri.
Namun Hi-tiok sempat memegang tangan Yan-kin dan bertanya, "Siapakah yang memaksamu mencukit mata sendiri?"
"Aku . . , aku tak berani bilang, kalau . . . tahu kukatakan tentü Ji . . . jiwaku akan melayang," sahut Yan-kin dengan ketakutan.
Hi-tiok tambah heran, ia tidak tahu siapakah orang dalam siau-lim-si yang mempunyai pengaruh sedemikian besar sehingga membuat Yan-kin ketakutan setengah mati."
Ia coba tanya lagi, "Apakah kaumaksud tadi Hongtiang (ketua)?" .
"Bukan," sahut Yan-kin.
"Habis siapa? Apa para Tianglo dari Tat-hi jiu, Lo-li tin-ih atau Kai-hit-ih?" Hi-tiok mendesak pula.
Tapi Yan-kin tetap menjawab bukan katanya, "Sute, aku tidak berani menjelaskan siapa orangnya, aku hanya mohon engkau suka menganpuni aku. Kata mereka jika aku ingin menyelamatkan mataku, asal engkau sendiri yang mengucapkan mengampunì dosaku, maka selamatlah aku."
Sembari bicara tampak dia melirik ke samping dengan rasa takut. Waktu Hi-tiok memandang ke arah yang dilirik Yan-kin itu, ia lihat di bawah emper rumah sana duduk empat padri, semuanya berjubah padrì warnu kelabu dan berkopiah, muka mereka menghadap ke sana sehingga tidak jelas terlihat.
Jilid ke-70
Diam-diam Hi-tiok heran, "Apakah ke empat suheng ini
yang dia maksudkan. Tentu mereka adalah orang penting
dalam biara, karena Yan-kin suka mengganas pada hwesio
yang dihukumkerja di kebun, maka sekarang mereka memberi
ganjaran setimpal kepada Yan-kin.
Tapi akhirnya Hi-tiok berkata juga, "Sudahlah aku tidak
marah pada suheng, sudah sejak tadi aku mengampuni
kesalahanmu."
Sungguh girang Yan-kin tidak kepalang, cepat ia
menyembah pula sehingga kepalanya penuh berlepotan air
rabuk yang berbau busuk, tapi sedikit pun dia tidak
menghiraukan.
"Lekas bangun, suheng jangan melakukan penghormatan
sebesar ini," kata Hi-tiok.
Sesudah berdiri dengan penuh hormat Yan-kin
mengundang Hi-tiok ke ruang makan, ia menuangkan teh dan
mengambilkan nasi dan lauk-pauk, ia melayani Hi-tiok sendiri
dengan servis lengkap.
Karena tak bisa menolak lagi, terpaksa Hi-tiok membiarkan
Yan-kin melayaninya. Bahkan tiba-tiba Yan-kin berbisik-bisik
padanya, "Apa sute ingín minum arak? Dan daging anjing?
Mau? jika mau segera akan kucarikan."
"Wah, Omitohud! Dosa-dosa! Mana boleh ini!" demikian Hi-
tiok terkejut dan berdoa.
Sebaliknya Yan-kin malah mengedip dan memicingkan
matanya dengan penuh rahasia, lalu berbisik pula, "Jangan
kuatir, segala dosa aku yang tanggung. Biarpun segera
kupergi mengambilkan untuk dinikmati Sute."
"Jangan, jangan! Perbuatan yang melanggar pantangan ini
sekali kali jangan Suheng sebut-sebut lagi," cepat Hi-tiok
memerintahnya.
"Jika Sute merasa tidak aman makan minum puasnya di
sini, boleh juga Sute keluar biara dan turun gunung sana,"
ujar Yan-kin pula. "Bila nanti Kai-lut-ih tanya, biarlah
kukatakan Sute sedang kusuruh pergi membeli bahan
keperluan kebun, tentu akan kututupi apa yang terjadi ini,
tidak perlu kuatir."
Hi tiok menjadi kurang senang oleh ucapan Yan-kin yang
makin tidak pantas itu, katanya dangan goyang-goyang
tangan, "Dengan sujud kau menyadari dosaku yang sudah-
sudah, maka segala larangan tak berani kulanggar lagi. Apa
yang Suheng katakan barusan ini jangan disinggung-singgung pula."
Tarpaksa Yan-kin mengiakan, Tapi dalam hati ia mengomel,
"Huh, dasar hwesio Sontoloyo, pakai pura-pura segala."
Karena Hi-tiok sudah berkata begitu, terpaksa ia tidak
berani banyak rewel lagi, gegerutu ia melayani Hi-tiok dahar
apa adanya, lalu menyilahkannya mengaso ke kamar tidur
Yan-kin sendiri.
Begitulah selama beberapa hari Yan-kin terus melayani Hi-
tiok dengan penuh hormat dan sangat baik melebihi melayani
kakek-moyangnya.
Pada hari ketiga sesudah Hi-tiok makan siang, Yan-kin
menyeduh satu teko teh wangi, ia menuangkan secawan dan
disuguhkan kepada Hi tiok dengan hormat.
"Ai, mengapa Suheng sedemikian sungkan padaku," kata
Hi-tiok. "Aku adalah seorang berdosa yang sedang menunggu
hukuman, sungguh aku merasa tidak enak bila Suheng
sedemikian baik padaku."
Pada saat itulah, sekonyong-konyong terdengar suara
genta ditabuh bertalu-talu dan tak terputus-putus, itulah tanda
berkumpulnya semua padri Siau-lim-si. Suara demikian jarang
dibunyikan kecuali hari-hari penting, setiap tahun belum tentu
terjadi itu-dua kali.
Muka berkatalah Yan-kin, "Hongtiang membunyikan genta
untuk mengumpulkan kita mari kita pergi ke Tai-hiong-po-tian
(pendopo utama)."
Hi-tiok menyatakan setuju dan beramai-ramai dengan
belasan padri lain buru-buru mereka menuju ke ruang
pendopo.
Di sana tertampak sudah berkumpul dua ratus orang
sedang padri lain masih berbondong-bondong datang. Hanya
dalam sekejap saja seluruh penghuni biara, sebanyak 500
orang lebih sudah berkumpul di situ dan berbaris menurut
urut-urutan tingkatan masing-masing.
Walaupun jumlah orang sangat banyak, tapi semuanya
sangat prihatin dan diam saja sehingga suasana pendopo
sunyi lenyap. Hi-tiok berbaris di antara padri angkatan yang
memakai gelar "Hi". Sekilas ia lihat wajah padri angkatan yang
lebih tua tampak sangat serius, sangat prihatin.
Diam-diam Hi-tiok kebat-kebit, "Wah, jangan-jangan
dosaku terlalu besar, maka Hongtiang sengaja mengumpulkan
segenap padri untuk menyaksikan hukumanku. Melihat
gelagatnya, naga-naganya bukan mustahil aku akan dipecat
dan diusir pula dari sini."
Tengah berpikir dan kuatir, tiba-tiba terdengar mara genta
dipalu tiga kali, serentak semua padri mengucapkan,
"Omitohud!"
Lalu ketua Siau lim-ii, Hian-cu dan tiga padri angkatan
"Hian" diiringi tujuh padri lain muncul dari belakang sana.
Serentak para padri membungkuk tubuh untuk memberi
hormat, Kemudian. Kian-cu mengambil tempal duduk masing-
masing dan ketujuh padri yang tak dikenal itu pun menduduki
tempat tamu.
Waktu Hi-tiok memperhatikan ketujuh padri itu, usia
mereka tampak sudah tua dan dari dandanan mereka terang
adalah padri tamu dari biara lain. Padri pertama yang duduk di
ujung atas berusia paling tua, kira-kira ada 70 tahun,
tubuhnya kecil tapi sinar matanya tajam berkilat-kìlat dan
berwibawa.
Segera Hian-cu berseru kepeda para padri, "Ini adalah Sin-
kong Siangjiu, Hongtiang jing liong-si di Ngo-tai-lan, harap
kalian memberi hormat."
Diam-diam para padri Siau-lim-si berseru heran. Mereka
tahu Sin-kong Siangjin sangat terkenal di dunia persilatan, dia
dan Hian-cu Taisu disebut orang Bu-lim sebagal Hang-liong-lo
han dan Hok-hou-lo-han, yaitu nama dua Budha penakluk
naga dan harimau sebagai tanda penghargaan kepada
mereka.
Melulu bicara tentang ilmu adat, konon kepandaian Sin-
kong Siangjin masih di atas Hian-cu.
Cuma Jing-liang-si lebih kecil, kedudukannya di dunia
persilatan jugi jauh di bawah Siau-lim-si, maka bicara tenteng
nama sebaliknya Hian-cu lebih terkenal dan disegani.
Biasanya Sin-kong Siangjin terkenal sangat angkuh, jarang
dia bergaul dengan dunia persilatan hubungan dengan Siau-
lim-si juga tidak baik tapi sekarang dia berkunjung sendiri ke
Siau-lim-si maka dapat dikatakan tentu ada sesuatu yang luar
biasa.
Begitulah sesudah para padri memberi hormat kepada Sin-
kong, lalu Hian-cu memperkenalkan pula keenam padri yang
lain.
Keenam Taisu ini juga ada yang datang dari Jing-liang-si,
adapula Cuma kenalan Sin-kong Siangjin saja. Tapi semuanya
adalah pada agung dan saleh.
“Sungguh kita harus merasa bahagia hari ini mendapat
kehormatan atas kunjungan mereka, maka aku sengaja
mengumpulkan kalian untuk berkenalan dengan Siangjin,
diharap Siangjin suka memberikan ceramah seperlunya demi
perkembangan agama kita.”
Untuk itu segenap padri Siau-lim-si mengucapkan terima
kasih.
"Jangan sungkan," sahut Sin-kong Siangjin. Dia bertubuh
pendek kecil, tapi suaranya kecil nyaring dan keras sebagai
auman siaga heran semua orang terkejut.
Maka terdengar sih kong Siangjiu melanjutkan, "Siau-lim-si
adalah sebuah biara suci yang terpuji, sudah lama sekali aku
sangat mengaguminya maka pada 60 tahun yang lalu pernah
kudatang kemari untuk mohon diterima sebagai murid tetapi
rupanya aku tidak memenuhi syarat dan ditolak. Kini 60 tahun
kemudian aku berkunjung kemari lagi, keadaan tempat
tampaknya masih tetap sama, cuma orangnya yang sudah
jauh berbeda, sungguh halus dibuat gegetun."
Mendengar ucapan Sin-kong itu, kembali para padri
terkesiap. Dari nadanya itu terang dia agak dendam pada
Siau-lim-si, maka bukan mustahil kedatangannya ini bertujuan
hendak cari perkara.
Watak Hian-cu agak ramah dan sabar, maka dengan
tenang ia menjawab, " O , kiranya dahulu Suheng pernah
ingin masuki Siau-Lim-si kita. Walaupun tidak jadi, tapi biara
agung di dunla ini sama saja, buktinya hari ini Suheng dapat
menjadi pemimpin Jing-liang-si, hal ini pun merupakan
kehormatan bagi murid-murid Budha seluruhnya, Adapun
dahulu Suheng telah ditolak oleh Siau-lim-si sehingga
membuat Suheng kurang senang untuk itu di sini kumuhonkan
maaf sebesar-besanya. Namun begitu akhirnya Suhong dapat
memimpin suatu cabang tersendiri dan sangat berjasa bagi
agama kita, kalau diingat rasanya pertemuan ini memang
sudah takdir dan jodoh."
Habis berkata ia merangkap tangannya dan memberi
hormat,
Sin-liong Siangjin berbangkit dan membalas hormat Hian-
cu lalu sahutnya, "Sebenarnya dahulu kumohon diterima di
Siau-lim-si adalah lantaran sangat kagum kepada
kepemimpinan Siau-Lim-si yang terkenal di dunia persilatan,
tapi yang lebih penting adalah karena Siau-lim-si terkenal
mempunyai disiplin yang keras dan peraturan yang baik,
segala apa mengutamakan pri-keadilan."
Sampai di sini, mendadak sinar matanya (sng berkilat-kilat
itu mengerling patung Budha yang terpuja di ruang pendopo
itu, lalu sambungnya dengan mengejek, "Tapi tidak nyana
bahwa di dunia ini ternyata banyak terdapat hal-hal yang tidak
sesuai dengan kenyataan. Tahu begini jauh baik dahulu aku
tidak perlu berkunjung ke sini."
Ucapan Sin-kong yang terakhir im seketika membuat para
padri Siau-lim-si merasa kurang sening. Cuma disiplin Siau-
lim-si sangat keras biarpun mereka merasa gusar, tetap
mareka diam saja.
Maka Hian-cu Hongtiong lantas menjawab,”Sancai, Siancai!
Mengapa suheng berkata demikian? Andaikan di antara
anggota biara kami yang sangat banyak ini ada yang berbuat
salah untuk ini harap suheng suka bicara terang agar kalau
salah biar dihukum, kalau keliru biar diperbaiki. Tapi dengan
ucapan Suheng barusan seakan-akan nama baik Siau lim-si
yang bersejarah beratus tahun ini telah Suheng hapus dengan
sekaligus, hal ini sesungguhnya agak keterlaluan."
"Numpang tanya Suheng, biara kita ini apakah kantor
pembesar negeri atau sarang penyamun?” tanya Sìn-kong
Siang jin.
"Siaucang tidak paham apa maksud perkataan suheng,
mohon diberi penjelasan," sahut Hian-cu.
"Kalau pembesar negeri memang suka menangkap dan
memenjarakan orang penyamun suka menculik orang dan
minta tebusan, semua itu adalah kejadian biasa," kata Sin-
kong. "Tetapi siau-lim-si bukan kantor pembesar dan juga
bukan sarang penyamun, mengapa boleh sembarangan
menahan orang dan dilarang pergi. Numpang tanya Suheng
dengan perbuatan Siau-lim-si yang sewenang-wenang ini
apakah masih dapat disebut sebagai tempat suci agama
Budha?"
Sekilas Hian-cu melirik padri keempat yang duduk dibaris
Sin-kong itu diam-diam ia membatin, "Mata padri itu cekung,
kulitnya hitam, memang tidak sangsi dia bukan padri sini,
sekarang hadir disini dan memang datang dari Thian-lok
terang kedatangannya ini hendak meminta Polo Sing cuma
tidak diketahui mengapa dia bisa bersekongkol dengan Sin-
kong dari Jing-liang-pai.”
Tiba-tiba ia mendapat pikiran, segera ia bertanya, "Suheng
ada sesuatu yang tidak jelas, mohon Suheng memberi
keterangan. Umpama kalau seseorang mengerayangi Ngo-tai-
san dan hendak mencuri kitab pusaka kalian “Hok-hou-boh”
dan laia-lain lantas cara bagaimana Suheng akan mengambil
tindakan terhadap orang itu."
Sin-kong bergelak tertawa, ia berpaling dan berkata
kepada padri bermuka hitam itu. "Maha,dengan demikian jadi
Hian-cu Taisu telah mengaku sendiri bahwa Polo Singh
Suheng memang betul di Sian-lim-si sini."
Kiranya paderi muka hitam itu tak lain tak bukan adalah
Cilo Singh, Suheng Polo Singh yang tempo hari pernah
bertemu dengan Goan-cl di tengah jalan dan telah dikalahkan
serta ngacir kembali ke Thian-tiok, tapi di tengah jalan dia
bertemu dangan seorang padri Tionghoa yang tua dan
bertongkat baja, padri tua itu tiada hentinya mengamat-amati
Cilo Singh dengan sikap yang mencurigakan.
Memangnya Ciio Singh lagi msndongkol, karena dia fasih
bahasa Tionghoa, segera ia tegur padri tua itu secara kasar
dan menyuruh dia lekas enyah. Dasar watak padri tua itupun
berangasan sekali cekcok maka bertempuriah kedua orang itu.
Lebih satu jam lamanya mereka bertempur dan tetap sama
kuat, Sampai hari sudah hampir gelap, tiba-tiba padri tua itu
berteriak minta pertempuran diberhentikan, katanya, "Hai,
padri asing ilmu silatmu sangat tinggi, cuma sayang
perangaimu terlalu kasar dan kurang sopan.”
"Ah, kaupun setali tiga uang, tidak perlu mengolok-olok
aku," sahut Cilo Singh.
Memang di antara mereka tiada bermusùhan apa-apa,
sesudah bertarung sekian lama, timbul rasa suka satu sama
lain di antara mereka, maka mereka lantas saling tanya nama
masing-masing.
Ternyata padri tua itu bergelar Sin-im, dia adalah Sute Sin-
kong Siangjin, ketua Jing-liang-si, Kemudian Sin-lm tanya
maksud kedatangan Cilo Singh ke Tionghoa ini yang dijawab
oieh Cilo Singh tentang ditahannys Polo Singh di Siau-lim-si.
Dasar sifat Sin-im memang suka usilan, suka cari perkara,
pula sudah lama dia merase iri kepada Siau Lim Si yang
tersohor itu, terdorong lagl oleh perangainya yang sok
dihadapan sahabat baru itu, maka ia berkata, “ilmu silat
Suhengku Sin kong tiada tandingannya di dunia ini, selama ini
S¡au-lim-si juga tak dipandang sebelah mata oleh beliau.
Marilah kuperkenal kan engkau kepada suhengku itu, tentu
beliau dapat membantumu menolong Sutemu.”
Begitulah maka Sin-im membawa Cilo Singh pulang ke
Jìng-Liang-si untuk menemui Sin-kong.
Kalau Sin im itu seorang yang kasar, sebaliknya sin-kong
adaiah seorang yang pintar menggunakan otak. Ia pikir ketua
Siau-lim-sl adalah seorang yang ramah tamah, kalau dia
sampai menahan Polo Singh, dapat diduga pasti ada sebab
pula yang penting.
Segera ia melayani Cilo Singh dengan baik dan perlahan
memancing keterangannya, tidak sampai setengah bulan,
segala rahasia Cilo Singh telah dapat dikorek. Dapat diketahui
oleh Sin-kong bahwa kepergian polo Singh ke Siau lim si itu
adalah ingin mendapatkan kitab pusaka jika kitab itu belum
didapat dan tertangkap paling-paling Polo Singh akan digebah
pergi dan selesailah urusannya.
Tapi sekarang Polo Singh ditahan dan dilarang pergi, jelas
karena kitab yang hendaki dicuri itu sudah terpegang oleh
Polo Singh dan tentu pula sudah diapalkan isinya. Pula kalau
kitab yang dicuri itu adalah kitab ajaran agama biasa, tentu
siau-lim-si tidak perlu ribut, bila sekarang Polo singh sampai
ditahan, maka dapat dipastikan kitab yang dicuri tentu kitab
pusaka tentang ilmu rahasia Siau-lim-si.
Teringat akan “kitab pusaka ilmu silat Siau-lim-si," seketika
Sin-kong sangat, tertarik dan berhasrat memilikinya.
Hendaklah maklum bahwa Sin-kong ini sesungguhnya
seorang yang berbakat sangat tinggi. seorang jenius yang
jarang ada. Cuma sayang sumber Ilmu silat Jing-liong-si itu
jauh dibandingkan Siau-lim-si, apa yang dapat diyakinkan Sin
kong itu sangat terbatas dan sebagian besar juga tergolong
kepandaian kasaran yang tak bisa dianggap sebagai kungfu
kelas satu. Namun begitu toh ilmu silat Sin-kong juga terlatih
sampai tingkatan yang tinggi sekali ini membuktikan betapa
cerdas dan tinggi bakat pambawaan Sin-kong.
Dahulu waktu dia mohon masuk menjadi murid Siau-lim-si,
tatkala itu ia baru berumur 17 tahunan, Biau-yap Siansu,
ketua Siau-lim-si pada waktu itu, merasa kecerdasan Sin-kong
itu terlalu menonjol, sebaliknya jiwanya kerdil dan bukan
seorang ahli waris baik, jika diterima masuk siau-lim-si tentu di
kemudian hari akan menimbulkan gara-gara, maka dia telah
menolaknya dengan kata-kata halus. Lantaran itulah Sin-kong
akhirnya masuk Jing-liang-si dan ketika usianya baru 30 tahun
kepandainnya sudah menjago seluruh biara itu, bahkan tidak
lama kemudian diangkat pula sebagai ahli waris dan menjadi
ketua Jing-liong-si.
Dengan kepandaiannya sekarang Sin-kong tentu sudah
jauh melampaui segala kitab pusaka Jing liong-si yang ada,
untuk bisa menanjak lebih tinggi lagi terang sukar kecuali
mencari jalan keluar lain.
Sekarang ia dengar keterangan Cilo Singh itu, setelah
dipikir beberapa hari akhirnya ia mengambil suatu keputusan,
ia akan tampil ke muka untuk membantu Cilo Singh dan
membebaskan Polo Singh dari tahanan Siau-lim-si.
Ia tahu jumlah orang Siau lim-si sangat banyak tapi
tentunya alim dan suka bicara tentang kebenaran, sebagai
murid Budha masakah mereka berani menahan orang secara
paksa dan asal Polo Singh dapat dikeluarkan, rasanya tidak
susah untuk mengorek rahasianya tentang ilmu silat biara Siau
lim-si.
Karena itulah, segera ia mengirim anak buahnya untuk
menyampaikan undangan kepada Hong-beng Taisu dari Tai-
siang-kok-si di thai-long-hu. To-jing Taisu dari Bo-to-si di
daerah kanglam, Kat-hian Taisu dari Tong-lim-si di Lo-San dan
Yong-ti Taisu dari Ceng-eng-si di Tiang lam. Bersama keempat
padri agung itu, ditambah Kim-im dan Cilo Singh, mereka
bertujuh lantas mendatangi Siau-lim-si.
Kedudukan keempat padri agung itu meski bukan ketua
sesuatu golongan tapi nama mereka cukup terkenal di Bu-lim,
cuma mereka labih mengutamakan ajaran agama daripada
ilmu silatnya, tapi kedudukan mereka menjadi kurang
menonjol di biara masing-masing.
Kembali tadi demi mendengar Sin-kong Sianjin
mengatakan dia telah mengaku sendiri adanya Polo Singh,
nada Sin-kong itu pun penuh itu, biarpun Hian-cu biasanya
sangat sabar, tanpa terasa timbul juga rasa gusarnya, segera
ia berkata, "Padri Thian liok yang bernama Polo singh itu
memang benar pernah berkunjung kesini, mengenai hal ini
bilakah aku pernah memenyangkal?”
”Kalau tidak menyangkal, itulah paling baik” Seru Sin-kong
sambil terbahak bahak. "Nah, mereka adalah Liong-beng Taisu
dan Siang-kok-si di si-hong, dan ini adalah Kat-hian Taisu dari
tong-lim-si di Lo-san, yang itu adalah Yong-ti Taisu dari Ceng-
eng-si di Tiang an dan yang terakhir itu adalah To-jing Taisu
dari Bo-to-si dari Kang lam. Mereka semuanya padri agung
dari biara paling terkenal di negarl ini, aku sengaja
mengundang meraka ke sini dengan permohonan mereka
suka menjadi saksi. Baru saja Hong lang Suheng mengaku
Polo Singh dari Thian-liok memang berada di biara kalian ini,
maka diharap sekarang juga suka bebaskan dia agar dapat
pulang ke negeri asalnya dan supaya sesama kaum kita di
negeri sahabat itu tidak mengatakan kita berlaku sewenang-
wenang dan menahan saudara sendiri sesama agama."
Begitulah dengan kata-kata tajam Sin-kong menuduh Siau-
lim-si menahan kawan sesama agama maka bagi orang Siau
lim-si yang tak tahu kejadian sebenarnya, mereka menduga
Hian-cu tentu akan terpaksa membebaskan Polo Singh.
Maka terdengarlah Hian-cu menjawab, "O, kiranya
keempat Taisu itu adalah tokoh yang sangat terkenal di Bu-
lim, sudah lama sekali kukagum kepada nama mereka,
sekarang dapat berkenalan, sungguh sangat beruntung!"
Habis berkata, segera ia merangkap tangan untuk
memberi hormat. Ia sengaja bicara menyimpang kepada hal-
hal yang bukan mengenai persoalan pokok untuk mengulur
tempo sembari mencari akal cara bagaimana harus
menghadapi Sin-kong Siangjìn.
Keempat padri agung itu berbangkit untuk membalas
hormat, sahut mereka, "Jika Polo Singh Suheng dari Thian-tiok
memang betul berada di sini, bila dia telah melanggar sesuatu
pentangan dan membikin marah Hong-tiang, untuk itu
diharapkan Hongtiang suka mengingat sesama agama dan
membiarkan Cilo Singh Suheng ini membawa kembali Sutenya,
untuk itu kami merasa sangat berterima kasih."
Diam-diam Hian-cu membatin, "Tidaklah susah untuk
melepaskan Polo Singh, tapi sekali dia dibebaskan, itu berarti
rahasia ilmu silat Siau-lim-si untuk seterusnya akan terbuka
bagi pihak luar."
Begitulah dengan rasa serba susah, Hian-cu menjadi
bingung Cara bagaimana harus menjawab, untuk mengulur
waktu terpaksa berulang ulang ia menyebut "Omitohud!"
Sesudah agak lama katanya kemudian, "Polo singh Suheng
berkunjung ke biara kami ini, semua anggota kami telah
menyambut dan melayani dia sebagai kawan yang datang darí
negerí budha yang terhormat. Tak terduga diam-diam
menggali torowongan di bawah tanah dan menyelundup ke
gedung perpustakaan untuk mencuri kitab pusaka ilmu silat
kami yang sudah turun-temurun ini. "Nah, Sin-kong Siangjin,
apa yang kutanyakan tadi belum kaujawab, coba umpamanya
Jing-liang-si kalian yang digerayang, lalu Suheng sendiri
selaku Hongtiang akan Ambil tindakan apa?"
Sin-kong tersenyum, sahutnya, "Tinggi atau rendahnya
ilmu silat setiap orang bergantung keyakinan masing-masing.
Soal kitab pusaka segala adalah soal sekunder. Bila kebetulan
ada satu-dua orang ksatria sudi berkunjung ke Jing-liang dan
mampu mencuri kitab pusaka kami, maka aku akan mengaku
diri sendiri tak becus dan apa mau dikatakan lagi. Habis orang
cuma membaca kadarnya sekedar ilmu silatmu, apakah jiwa
orang ikut dihabiskan atau menahannya selama hidup? Ehh,
bukankah keterlaluan!”
Hian-cu tersenyum, katanya, "Jika kitab yang di curi itu
hanya kitab pasaran yang tiada harganya, sudah tentu tiada
alangannya untuk diketahui oleh umum. Tapi kalau Intisari
kitab pusaka kalian memang sangat hebat dan sangat
berguna, sesudah dicuri lalu kebetulan jatuh di tangan
manusia yang sombong dan berjiwa kerdil, maka akibatnya
tentu akan celaka, tentu akan merupakan bencana bagi dunia
persilatan."
Ucapan Hian-cu tetap ramah-tamah, tapi kata-kata
"manusia vang sombong dan berjiwa kerdil" jelas sengaja
ditujukan kepada Sin-kong SianJin.
Keruan Sia-kong Siang-jin kurang senang, sahutnya,
"Ucapan Hong-tiang ini hanya alasan sepihak saja, besar
kemungkinan masih ada persoalan lain lagi. Yang terang Cilo
Singh sudah jauh-jauh datang kemari mamakah Hongtiang
tidak mengizinkan dia menemui suteya!"
Hian-cu pikir kalau tetap melarang Polo singh bertemu
dengan Cilo Singh hal ini tentu akan disangka Siau lim-si
bersalah dan para padri agung dari Bo-to-il dan lain-lain tentu
juga akan kurang puas, maka katanya kemudian, "Baik,
undang Polo Singh Suheng kemari!"
Sesudah perintah itu diteruskan, tidah lama kemudian
empat padri tua telah membawa Polo Singh ke ruang
pendopo.
Melihat Cilo Singh hadir disitu, saking gìrang dan terharu
sampai Polo Singh meneteskan air mata terus menubruk maju
untuk merangkulnya. Maka bicaralah mereka dalam bahasa
mereka yang sukar dipahami, tapi dapat diduga Polo singh lagi
menuturkàn pengalamannya tentang mencuri kitab dan
tertangkap serta dikurung oleh pihak Siau-lim-si.
Sebaliknya Cilo Singh tampak mengangguk-angguk,
akhirnya dengan, suara yang lantang Cilo singh berseru dalam
bahasa Tionghoa "Hongtiang siau-lim-si bohong. Polo Singh
tidak pernah mencuri kitab ilmu silat apa segala dia cuma
mencuri kitab ajaran Budha, yang memang berasal dari negeri
Thian-liok kami. Dia hanya membacanya saja dan bukan
sesuatu pelanggaran kejahatan apalagi karena Cosu adalah
bangsa kami beliau telah mengajarkan ilmu silat pada kalian
sebaliknya kalian malah mengurung padri Thian-liok terang ini
sangat tidak bersahabat dan . . . . dan tak kenal budi
kebaikan."
Karena alasan Cilo Singh yang cukup kuat dan seketika
padri Siau lim si menjadi bungkam. Kalau Polo Singh tetap
menyangkal mencuri kitab ilmu silat, sedangkan barang bukti
tidak ada, dengan sendirinya tuduhan pihak Siau-lim-si kurang
kuat.
Akhirnya Hian-cu berkata, "Siancai! Orang beragama tidak
boleh berdusta. Polo Singh Suheng jika engkau berdusta apa
engkau tidak akan masuk neraka. Coba jawab, Tai-kim-kong
kun-keng (kitap ilmu pukulan sakti) pernah kau curi dan
membacanya atau tidak?"
"Tidak, yang pernah kupinjam baca hanya kitab Kim-kong-
keng (nama kitap agama Budha)." sahut Polo Singh.
"Dan Pan-yak-ciang-hoat-keng milik Siau lim-si kami
pernah kaucuri dan membacanya iya tidak?" tanya Hian-cu
pula.
"Tidak, aku cuma pernah pinjam baca sebentar pan-yak-
po-mi-sim-kong," sahut Polo Singh. Tapi kitab-kitab itu hanya
kubaca saja, kitab itu sudah seharusnyá dipelajari oleh murid
budha kita sekalian, Siauceng hanya pinjam baca dan sekedar
memperdalam pengetahuanku tentang agama kita, entah di
mana jelek kesalahanku?"
Perlu diketahui bahwa Polo Singh itu memang seorang
yang pintar dan cerdik, pengetahuan juga sangat luas,
makanya dia dikirim oleh kerabat-kerabatnya dari Thian-liok
untuk mencuri kitab ke Siau-lim-si. Sekarang dia berdebat
dengan menitik beratkan pada ajaran agama, ia tak semua
tuduhan tentang mencuri kitab ilmu silat segala, dengan
demikian Siau-lim-si berbalik kelihatan di pihak yang salah dan
pelit, masakah ilmu ajaran agama dipinjam baca saja tidak
boleh.
Hian-cu juga tidak tanya lagi, ia hanya menyebut,
"Omitohud!"
Mendadak sesosok bayangan melesat maju di sebelahnya
dan kontan menghantam punggung Polo Singh. Pukulan itu
sangat dahsyat dan cepat luar biasa, tempat yang diarah juga
Ci-yang-hiat yang mematikan di punggung Polo Singh.
Serangan yang maha hebat itu datangnya juga mendadak
sehingga tampaknya sukar dicegah lagi.
Tiba-tiba Polo Sing membaliki kedua tangan belakang
sehingga pukulan penyerang tadi seperti kebentur dinding
baja. Tapi menyusul terus orang itu berubah menjadi telapak
tangan ia memotong kuduk Polo Singh.
Baru sekarang tertampak jelas penyerang itu adaláh
saorang padri Siau lim-si yang memakai kasa (jubah padri)
merah.
Gerakan Polo Singh juga sangat cepat, ia putar tubuh dan
menunduk kepala, berbareng jari kirinya menujuk telapak
tangan penyerangnya. Jika padri, Siau-lim-si itu tidak tarik
kembali tangannya, itu berarti tangannya disodorkan sendiri
untuk ditutuk Polo Singh dan bukan mustahil tangannya akan
cacat untuk selamanya.
Maka cepat padri tua itu tarik kembali tangannya dan
menggeser ke samping Polo Singh, menyusul ia menyerang
pula secara bertubi-tubi sehingga dalam sekejab saja sudah
memberondong tujuh kali pukulan yuug mengarah tujuh
tempat yang berbeda-béda, cepatnya susah dilukiskan.
Karena tiada jalan buat menghindari, terpaksa Polo Sing
juga balas menghantam tujuh kali. maka terdengarlah suara
"plak-plok" yang ramai. pukulan kedua orang saling bentur,
cepat dan tepat sekali kepalan kedua orang itu saling beradu
sehingga mirip dua saudara seperguruan yang sedang
berlatih.
Sesudah saling hantam, mendadak Polo Singh teringat
sesuatu, ia bersuara sadar dan segera melompat mundur.
Padri Siau-lim-si itu pun tidàk menyerang lagi, tapi pelahan
mengundurkan diri sambil memberi hormat kepada Hian-cu.
Dengan tersenyum Hian-cu berkata kepada Sin-kong
Siangjin. "Bagaimana, Siangjin?"
Lalu ia pun berpaling kepada Liong-beng To jing dan lain-
lain, "Harap para Suheng suka memberi peradilan dengan
bijaksana!"
Seketika suasana ruang pendopo menjadi sunyi senyap,
hanya terdengar Sin-kong mendengus sekali atas pertanyaan
Hian-Cu itu.
Sejak Hi-tiok mendengar Sin-kong menyinggung soal Siau-
lim-si menahan padri Thian-liok, maka tahulah dia bahwa
urusan yang hendak dibicarakan sekarang tiada sangkut-
pautnya dengan urusan sendiri, maka ia menjadi lega. Ketika
menyaksikan seorang kakek gurunya menyerang Polo singh
dan setiap serangannya dapat dipatahkan oleh padri asing itu,
sesudah beberapa gebrak lalu kedua orang berhenti
bertempur.
Dengan kepandaian, Hi-tiok sekarang dapat dilihatnya
bahwa jurus-jurus serangan kedua orang itu belum mencapai
tingkatan yang tertinggi, entah mengapa mereka cuma
bergebrak dua-tiga kali lantas berhenti, Hongtiang sendiri
tampak agak senang dan pihak lawan seperti merasa malu,
padahal dalam beberapa gebrakan itu sana sekali Polo Singh
tidak kelah.
Kemudian terdengar Liong-beng Taisu berdehem sekali,
lalu berkata, "Tadi Polo Singh Suheng telah menggunakan tiga
jurus serangan yang berbeda-beda dan seperti berasal dari
Pan-yak sing-hoat, Mo-ko-ci-hoat dan Kim-kong-kun-hoat."
"Hahahal" Sin-kong menanggapi dengan tertawa.
“Ternyata kalangan agama Budha di negeri kita ini tidak
sedikit mendapat kebaikan dari negeri Thian-tiok, Dahulu
Budhitama datang ke timur sini dengan membawa
kepandaiannya dan mendirikan Siau-lim-si yang agung, ilmu
silat berasal dari Thian-tiok itu ternyata turun temurun sampai
sekarang dan cara yang dimainkan Siau-lim-si tadi juga cocok
satu sama lain dengan Ilmu silat padri agung dari Thian-liok,
sungguh harus dibuat girang dan dipuji."
Para padri Siau-lim-si merasa gusar atas ucapan Sin-kong
yang memutar balikkan persoalan itu. Barusan padri yang
perkasa merah, Hian siang, Sute Hian-cu, secara mendadak
menjajal Polo Singh yang menyangkal telah mencuri baca
kitab ilmu silat siau-lim-pai, dengan serangannya ia paksa Polo
Singh mau-tak-mau harus menangkis dengan Pan-yak-ci sing-
hoat dan lain-lain kepandaian yang jelas adalah kungfu Siau-
lim-si.
Dari bukti nyata yang dimainkan Polo Singh tadi benar
terjadi seperti dugaan Hian-sing. Siapa tahu Sin-kong Sianjin
justru sengaja memutar balikkan kenyataan dan mengatakan
kepandaian Polo Singh itu berasal dari negeri Thian-tiok
sendiri.
Maka Hian-cu lantas menjawab, "Bahwasanya agama biara
kami dan ilmu silatnya berasal dari ujaran Dharma Cosu, hal
ini memang tidak salah Dan kalau Polo Singh bicara terus
terang untuk memintanya, dengin hormat kami pasti akan
memberikan kitab tinggalan Dharma Cosu Itu. Akan tetapi
pencipta Pan-yak ciang-hoat adalah Goan-goan Taisu,
Hongtiang angkatan ke-8 biara kami. Mo-ko ci-hoat adalah
ciptaan Pat-ci Thau-to, seorang tokoh terpandai angkatan tua
kami begitu pula Kim-kong-ciang-hoat juga ciptaan gabungan
beberapa padri agung angkatan ke-11 biara kami tiga macam
kungfu itu sama sekali berbeda dengan ilmu silat dari Thian-
liok, bagi tokoh-tokoh yang hadir di sini tentu tidak sulit untuk
membedakannya dan tidak perlu banyak kuberi penjelasan."
Liong-beng berempat merasa apa yang dikatakan hian-cu
memang tidak salah, maka bersama-sama mereka tanya Sin-
kong, "Bagaimana pendapatmu, Siang-jin?"
Sin-kong tersenyum, sahutnya, "Apa yang dikatakan
Hongtiang barusan hanya pembelaan sepihak saja. Padahal
tempo hari Cilo Singh sudah pernah bilang padaku tentang
ilmu silat thian-liok yang mirip dengan ilmu silat Tiongkok di
antaranya juga disebut-sebut Tan-yak-ciang-hoat dan lain-lain,
dia mengatakan jurus Thian-lu-hong yang dimainkan Hian-sing
Suheng tadi itu bahasa hindu kuno disebut 'abisnitor', dan apa
yang dikatakan Cilo Singh Suheng itu benar atau tidak!"
Dengan terkejut bercampur marah Hian-cu menjawab,
"Pandangan Suheng memang sangat teliti, Kagum, sungguh
kagum!"
Kiranya sin-kong Siangjin memang sangat cerdas, hanya
melihat sekejap saja pertarungan Polo Singh melawan Hian-
sing tadi segera dapat dikehuinya di mana letak intisari jurus
Pan-yak-cing-hoat yang dikatakan itu, maka dia sengaja
menyatakan mendengar cerita dari Cilo Singh untuk
membuktikan bahwa ilmu silat itu memang berasal dari Thian-
liok. Apalagi ia sendiri pun sangat keruk kepada ilmu silat
Siau-lim-pai.
Sesudah menyaksikan beberapa gebrakan Hian-sing tadi,
ia anggap padri Siau-lim-si itu benar-benar terlalu goblok,
masakah ilmu sakti tinggi angkatan tua mereka cuma
dipahami sedikit saja kalau aku diberi kesempatan
mempelajari bukan mustahil aku akan menjadi jagoan nomor
satu di dunia ini.
Bagi Hian-cu, sudah tentu tahu apa yang dikatakan Sin-
kong itu bohong belaka dan sengaja mau menang sendiri saja.
Tapi diam-diam memuji juga atas bakat dan kecerdasan Sin-
kong yang luar biasa itu. Sesudah berpikir sejenak, lalu
bertanya kepada Hian sing, "Sute, hendaknya kau pergi ke
Cong keng-kak (gedung perpustakaan) dan bawa kemari
ketiga kitab yang tercatat ketiga ilmu ilmu silat tadi."
Hìan-sing menyatakan baik dan segera keluar. Tidak lama
kemudian ia datang kembal dengan membawa ketiga jilid
kitab yang dminta itu. padahal jarak ruang pendopo itu
dengan Cong-keng kok cukup jauh, maka dapat di bayangkan
betapa hebat ginkang Hian-sing. diam-diam para padri Siau
lim-si sangat mengagumi Jago mereka yang lihai itu.
Ketiga kitab itu tampak sudah sangat tua kertasnya sudah
kuning. Sesudah kitab-kiiab itu terletak di atas meja, lalu Hian-
cu berkata, "Para Suheng silakan periksa, dalam kitab-kitab itu
tercatat asal-usul terciptanya ilmu-ilmu tadi. Andaikan para
Suheng tidak percaya pada omonganku apakah bukti tinggalan
tokoh-tokoh angkatan tua Siau-lim-si ini juga dapat dianggap
bohong? Apakah mungkin para tertua Siau-lim-si yang dulu
sudah melakukan tindakan-tindakan yang tidak tahu malu?"
Ucapannya yang terakhir itu sengaja hendak menyinggung
perasaan Sin-kong, tapi Sin-kong pura-pura tidak tahu, ia
ambil kitab Pan-yak-ciang-hóat, lalu membacanya sehalaman
demi sehalaman. Kedua kitab yang lain masing-masing diambil
dan dibaca oleh Liong-beng Tiansu dan To jiu Taisu, Tapi
Liong-bcos berdua Cuma membaca kata pengantarnya dan
catatan-catatan penting laìn dengan sekedarnya, lalu
diserahkan kepada Kat-thian dan Yong-ti Taisu.
Keempat padri agung itu merasa kitab-kitab itu adalah
kitab pusaka Siau-lim-si dan tidak pantas dibaca oleh orang
luar. Apalagi Hian-cu telah berani memperlihatkan kitab
pusakanya, tentu tuduhannya kepada Polo Singh tidak
beralasan, kalau mereka membaca dengan teliti akan berarti
menyangsikan ucapan Hian-cu dan hal ini berarti tidak sopan.
Tidak demikian halnya dengan Sin-kong, dia tidak
sungkan-sungkan lagi dan membaca dengan teliti jelas dia
sangaja mencari ciri-ciri kelemahan kitab itu untuk digunakan
sebagai bahan bantahan terhadap Hian-cu. Seketika itu
suasana ruang pendopo menjadi sunyi, hanya terdengar suara
keresekan Sin Kong membalik-balik halaman kitab.
Sampai sekian lamanya Sin-kong membaca kilat itu dengan
teliti, tapi air mukanya tetap tenang tanpa menujuk sesuatu
perasaan, Selesai membaca kitab yang satu kemudian kitab
yang lain dibacanya pula. Dan setelah dia menutup halaman
terakhir kitap ketiga, kemudian ia serahkan semuanya kepada
Hian-cu. Lalu memejamkan mata dan termenung.
Melihat kelakuan Sin kong itu Hian-Cu menjadi sangsi dan
heran pula.
Sejenak kemudian, tiba-tiba Sin-kong membuka mata dan
berkata kepada Cilo Singh. "Cilo Suheng, tempo hari engkau
telah menguraikan segala rahasia yak-ciang-hoat itu padaku,
aku masih ingat dalam bahasa Hindu yang kauuraikan itu
berbunyi. . . . "
Begitulah Sin kong lantas mengucapkan serentetan kalimat
dalam bahasa Hindu kuno, kemudian ia uraikan pula
terjemahannya dalam bahasa Tionghoa akhirnya ia tanya pula
pada Cilo Singh,
“Betut tidak bunyi kunci rahasia yaug merupakan inti Pan-
yak-ciang-hoat yang kauuraikan padaku itu Cilo Suheng?"
"Benar, benar! Memang begitulah bunyinya!" sahut Cilo
Singh tanpa piker.
"Dan tentang isi Kim-kong-kun-hoat dan ko-ko ci-hoat
yang pernah Suheng uraikan itu, bagian-bagian yang penting
juga masih kuingat dengan baik," ujar Sin-kong pula. Lalu ia
mengapalkan di luar kepala dalam bahasa Hindu kuno,
kemudian terjemahannya dalam bahasa Tionghoa.
Seketika air muka Hian-cu dan padri agung Siau-lim-si
yang lain sama berubah pucat. Sebab apa yang diapalkan Sin-
kong itu memang sedikit pun tidak salah adalah isi ketiga kitab
yang dikatakan itu.
Sungguh tidak nyana bahwa ingatan Sin-kong sedemikian
baiknya, hanya sekali baca saja sudah dapat mengapalkan di
luar kepala, pula dia mahir bahasa hindu kuno sehingga lebih
dulu ia menjemahkannya ke dalam bahasa Hindu, lalu
mengapalkan kembali dalam bahasa Tionghoa seperti apa
yang telah dibacanya, dengan demikian menjadi seakan-akan
kitab itu awal mulanya adalah bahasa Hindu, kemudian baru
diterjemahkan dalam bahasa Tionghoa.
Dengan begini dosa Polo Singh yang mencuri kitab itu
dapat dicuci bersih, sebaliknya pihak Siau-lim-si menjadi
tertunduk malah sebagai pihak yang menjiplak. Kalau
berdebat belum tentu dapat mengalahkan Sin-kong yang
pintar main lidah itu, maka Hian-cu menjadi sangat dongkol,
tapi tidak berdaya.
Tiba-tiba Hian sing tampil ke muka lagi dan berkata
kepada Cilo Singh, "Taisu bilang Pan-yak ciang dan lain-lain
diperoleh Siau-lim-si dari negeri kalian dan dengan sendirinya
taisu juga sangat
mahir. Untuk membuktikan benar tidaknya urusan ini
adalah sangat mudah. Sekarang ingin kupelajari kenal dengan
ke tiga macam kepandaian Taisu yang hebat ini, kita sama-
sama menggunakan ketiga macam Ilmu silat itu, harap Taisu
sudi memberi petunjuk."
Habis berkata, sekali lompat, tahu-tahu la sudah berdiri di
depan Cilo Singh. Diam-diam Hian-cu mengakui tindakan sing
Sute yang tepat itu, mengapa dirinya tidak teringat pada
akaldemlkian ini? Sebaliknya Sin-kong Siangjin juga terkesiap,
sebab Cilo Singh sudah tentu tidak paham Pan-yak-ciang
segala. Lantas bagaimana harus melayani tantangan Hian-sing
itu?”
Benar juga tampak wajah Cilo Singh menunjuk rasa serba
susah, tapi la pun berkata, "llmu silat negeri kami terlalu luas
dan banyak sama halnya seperti Siau-lim-si terkenal
mempunyai 72 macam ilmu silat khaas yang lihai. Sekarang
ingin kutanya juga kepada Taisu, apakah Taisu sendiri mahir
seluruh kepandaian Siau-lim-si itu. Jika aku juga menyebut
tiga macam diantaranya apakah Taisu sanggup
memainkannya?"
Bantahan ini membuat Hian-sing tertegun. Memang di
antara tokoh-tokoh Siau-lim si jarang sekali ada seorang
memiliki beberapa macam kepandaian dari ke 72 macam ilmu
silat Itu. Hian-sing sendiri sudah terhitung sangat luas
pengetahuannya, tapi juga cuma paham enam macam saja
dari ke-72 macam ilmu silat itu.
Selagi Hian-sing mencari jawaban yang tepat sekonyong-
konyong dari luar berkumandang suara seorang yang nyaring
lantang, "Para padri agung dari Thian-tiok dan Thianggoan
berkumpul di Siau-lim-si untuk membicarakan ilmu silat,
sungguh suatu peristiwa yang menarik. Untung Siaùceng ada
Jodoh dan dapat ikut menyaksikan, entah para padri agung
kedua pihak memperbolehkan atau tidak!"
Suara orang itu kedengaran sangat jelas walaupun
berkumandang dari jauh, maka dapat dibayangkan betapa
hebat Iwekang orang Itu.
Hian-cu tercengang juga segera ia menjawab dengan
mengerahkan tenaga dalamnya,”Jika lawan sesama agama
marilah silahkan masuk saja!"
Lalu dengan pelahan katanya pula, "Hian-bin dan Hian-sik
Sute, harap mewakilkan aku menyambut tamu."
Selagi Hian-bin dan Hain-sik mengiakan dan belum keluar,
tiba-tiba orang di luar itu sudah menanggapi, "Tidak usah
menyambut, tamunya sudah datang! Sudah lama kudengar
Hian-hin Taisu dan Hian-sik Taisu tersohor dengan kepandaian
masing-masing yang tiada bandingannya di dunia ini hari ini
dapat berkenalan, sungguh sangat beruntung.”
Setiap dia berkata satu kalimat dan setiap kali suaranya
makin mendekat. Ketika selesai ucapannya, tahu-íahu di pintu
pendopo itu pun sudah muncul seorang padri setengah umur
berwajah keren dan agung, dengan merangkap kedua
tangannya padri ¡tu berkata dengan tersenyum, "Padri gunung
dari negeri Turfan, Cumoti menyampaikan salam hormat
kepada Hongtiang Siau-lim si!"
Memang semua orang sudah sangat terperanjat oleh
kepandaiannya, sekarang mendengar pula namanya sebagai
Cumoti, seketika banyak di antaranya bersuara, "Ah, kiranya
Kok-su negeri Turfan Tin lun Beng-ong!"
Segera Hian-cu berbangkit dan melangkah maju. ia
membalas hormat dan berkata, "Beng ong adalah imam
sesuatu negara dan sudi berkunjung kemari, sungguh kami
merasa sangat bahagia. Kebetulan hari ini biasa kami sedang
menghadapi sesuatu kesulitan yang harus diputuskan secara
adil maka mohon kebijaksanaan Beng-ong agar suka ikut
memberi pandapat."
Habis berkata. lalu ia perkenalkan Sin-kong Siangjin, Cilo
dan Polo Singh serta Liong beng Taisu dan lain-lain.
Cilo Singh sudah pernah bertemu dengan Cumoti, malahan
'"Ih-kin-keng" yang direbutnya dengan susah payah dari Yu
Goan-ci telah diampas pula oleh Cumoti. Sekarang bertemu
lagi di sini diam-diam Cilo Singh merasa kuatir dan jeri, tapi
juga mendongkol. Namun apa daya, ia tahu kepandaian
sendiri jauh di bawah orang, terpaksa ia diam saja, in hanya
memberi hormat ketika diperkenalkan oleh Hian-cu.
Sebaliknya Cumoti Juga cuma tersenyum saja kepadanya
dan tidak mengungkit apa yang pernah terjadi.
Selesai berkenalan, Hian-cu menyediakan suatu tempat
terhormat di bagian tengah sehingga lebih terhormat daripada
tempat duduk Sin-kong.
Cumoti merendah sejenak dan kemudian berduduk.
Sebaliknya Sin-kong sangat mendongkol diam-diam ia ambil
keputusan nanti pasti akan menjajal sampai di mana
kepandaian padri, Turfan Itu.
Lalu Cumoti membuka suara. "Tadi Hongtiang minta
Siauceng ikut ambil bagian untuk mempertimbangkan urusan
kalian ini, sebenarnya sama sekali Siauceng tidab berani ikut
campur.Cuma tadi Siauceng telah mendengar perdebatan
antara Hian-sing Taisu dau Cilo Singh Taisu mengenal ilmu
silat masing-masing, untuk itu aku meraba kedua Taisu sama-
sama ada bagian yang salah."
Para hadirin terkesiap oleh ucapan Cumoti yang sombong
ini, Cilo Singh sudah pernah kenal lihainya Cumoti, maka ia
tidak berani menantangnya. Tapi watak Hian-sing Taisu
sangat keras pula, tidak kenal kepandaian Cumoti yang sejati,
maka ia yang pertama-tama tidak tahan, segera ia melangkah
maju dan bertanya, "Di manakah bagian kesalahanku, mohon
petunjuk."
Cumoti tersenyum sahutnya, "Tadi Cilo Singh Suheng
membantah ucapan Taisu, maksudnya seakan-akan hendak
bilang tak mungkin ada orang yang mampu memahami
seluruh ke-72 macam ilmu silat Siau-lim-pai, maka ingin
kukatakan ucapan ini salah. Siau-lim-pai, selain murid
golongan kalian, orang lain tidak mungkin bisa kalau bisa,
pastilah hasil mencuri belajar dari golonganmu. Untuk Ini ingin
kukataksn bahwa ucapan Taisu ini pun keliru."
Semua orang menjadi bingung. Cumoti mencela kesalahan
kedua belah pihak, lantas apa maksut tujuannya yang
sebenarnya?
Maka dengan suara lantang Hian-sing bertanya, "Jika
menurut ucapan Beng-ong barusan, jadi engkau hendak
mengatakan bahwa benar ada orang yang sekaligus mahir ke-
72 macam ilmu silat dari Siau-lim-pai kami?"
"Benar," sahut Cumoti dengan mengangguk.
"Numpang tanya, siapakah gerangan ksatria besar itu?"
tanya Hian-sing.
"Terima Kasih, sebutan itu terlalu hormat bagiku," sahut
Cumoti.
"Apa? Jadi orang itu adalah Beng-ong sendiri.” Hian-san
menegas dengan melotot.
Cimoti merangkap tangannya dengan sikap sangat
khidmat, sahutnya, "Ya, betul!"
Jawaban ini membuat padri Siau-lim-si semua melonjak,
pikir mereka, "Orang ini berani omong besar sedemikian rupa,
apa barangkali orang gila?”
Hendaklah maklum bahwa pada umumnya padri Siau-lim-si
itu ada yang mempelajari ilmu pukulan, Ada yang belajar ilmu
tendangan dan ada pula yang menyakinkan ginkang, ada yang
mengutamakan senjata dan sebagainya, masing-masing
mempunyai kepandaian sendiri-sendiri dari ke-72 macam ilmu
silat Siau-lim-si, Menurut sejarah di antara padri angkatan dulu
hanya pernah terjadi seorang yang mahir 13 macam ilmu silat
dari Ke-72 macam itu dan mendapatkan gelar "Cap san-coat-
sin-ceng" atau padri sakti tiga belas ilmu. Selama sejarah Siau-
lim-si hanya padri 13 ilmu sakti itulah yang luar biasa dan
belum pernah ada yang lebih dari itu. jangankan lagi hendak
menyakinkan ke-72 macam ilmu silat itu secara lengkap. Maka
darì itu tentü saja tiada seorang pun percaya atas bualan
Cumoti itu.
Apalagi dari ke-72 macam ilmu silat Siau lim-pai itu ada
belasan macam di antaranya boleh dikatakan sangat sulit
dilatih, dengan jumlah padri Siau-lim-si sekarang yang lebih
dari 500 orang, kalau di kumpulkan kepandaian mereka juga
belum tentu lengkap meliputi ke-72 macam ilmu silat itu.
Sekarang usía Cumoti yang kelihatan baru setengah umur,
andaikan sejak "brojol" dari kandungan ibunya sudah mulai
belajar silat juga belum tentu dapat lengkap mempelajari ke-
72 macam ilmu silai itu, pula dia bukan orang Siau lim-pai,
dari mana dia dapat mempelajarinya?
Begitulah, maka diam-diam Hian-sing menyangsikan kata-
kata Cumoti itu tapi lahirnya ia tetap sopan, katanya pula.
"Beng-ong sendiri bukan orang Siau lim-pai kami, apakah
terhadap Pan-yak-ciang Mo-ko-ci dan Kim-kong-kun juga
pernah mempelajarinya!"
"Ah, hanya sedikit saja, diharap Taisu memberi petunjuk,”
sahut Cumoti dengan tersenyum.
Habis itu, tubuhnya sedikit miring, telapak tangan kiri
terangkat lurus dan kepalan kanan terus menyodok ka depan,
maka terdengarlah "trang" sekali, sebuah wajan perunggu
yang biasanya dipakai membakar kertas dupa terangkat ke
atas.
Itulah sejurus pukulan Kim-kong-kuh-hoat yang hebat,
wajan itu terpukul dan berbunyi, tapi tidak terpental pergi
melainkan cuma meloncat ke atas. Bahkan sebelum wajan itu
jatuh ke tanah, menyusul telapak tangan kiri Cumoti terus
dipukulnya pula, gayanya adalah jurus pukulan Pan-yak-ciang
yang lihai, maka terdengar suara "bluk'' sekali. banyak abu
dupa dalam wajan itu tertumpah keluar, di tengah
berhamburnya debu, dari atas wajan seperti jatuh sesuatu
benda entah apa kurang jelas.
Tatkala mana wajan itu sudah mulai menurun ke bawah
dengan tiba-tiba Cumoti menjulurkan jempolnya dan
rnenggasut ke depan, seketika suatu arus tenaga jari
memancar ke depan sehingga wajan yang sedang menurun itu
tergeser pergi se tengah meter jauhnya.
Beruntun-runtun Cumoti menggeser tiga kali dan wajan itu
pun tertolak sejauh satu setengah meter. lalu jatuh di alas
lantai batu. di ruang pendopo itu.
Sungguh kagum tak terhingga Hian-cu, Hian-sing dan padri
agung Siau-lim-si yang lain. Mereka kenal tiga kali menggesut
dengan jari jempol disebut "Sam-jip-te-gik", yaitu salah satu
jurus yang hebat dari ilmu jari Mo-gi-ci-hoat yang tua.
Namanya disebut "Sam-jip-ta-gik" atau tiga masuk neraka,
yaitu menggambarkan betapa bahaya mempelajari ilmu itu
ibarat untuk mempelajarinya, gesutan saja mesti masuk
neraka satu kali.
Sementara itu debu dupa sudab mulai jatuh lantai
sehingga kelihatan di atas lantai terdapat sepotong benda
sebesar telapak tangan. Waktu d¡perhatikan tanpa terasa para
padri sama berseru kaget.
Kiranya benda itu adalah sepotong perunggu berbentuk
telapak tangan. Dari pinggiran wajan perunggu yang masih
baru dan mengkilap terang baru saja terkupas dari wajan
perunggu.
"Permainan “Kasa-hok-mo-kang” ini bila kurang sempurna,
harap Hungtiang Suheng suka memberi petunjuk seperlùnya,"
Demìkìan Cumoti berkata dengan tersenyum sambil
mengebaskan jubahnya dan tahu-tahu wajan perunggu yang
terletak baberapa meter jauhny? itu tiba-tiba berputar sendiri
seperti hidup.
Setelah berputar beberapa kali, ketika berhentì sisi wajan
yang tadinya menghadap keluar sekarang berubah menhadap
ke dalam sehingga kelihatan di pinggir badan wajan itu
terkupas selapis dalam bentuk telapak tangan, bagian wajan
yang terkupas itu pun tampak kuning mengkilap.
Bagi padri Siau-lim-si yang agak rendah kepandaiannya
baru sekarang paham duduknya perkara, kiranya tenaga
pukulan telapak tangan Cumoti tadi setajam golok pusaka,
sehingga wajan itu terkupas mentah-mentah sepotong. Yang
hebat kalah bagian yang terkupas bukan sisi sini melainkan
sisi yang melainkan sisi yang tadinya menghadap ke sana.
Diam-diam Hian-sing menaksir dirinya juga sanggup
mengupas lapisan wajan itu dengan telapak tangan, tapi
untuk mengupas bagian wajan sebelah sana yang tak
kelihatan itu harus diakui tidak mampu.
Seketika ia menjadi putus asa, pikirnya, Rupanya apa yang
dikatakan padri asing ini memang tidak bohong, ke-72 macam
ilmu silat Siau-lim-si kami memang berasal dari Thian-liok dan
dia telah dapat mempelajari di tempat asalnya sehingga jauh
lebih pandai daripada apa yang kami pelajari.
Karena itu, segera Hian-sing merangkap, tangan dan
memberi hormat, katanya, "Ilmu sakti beng-ong memang
tiada taranya, sungguh Siauceng, sangat kagum."
"Kasa-hok-mo-kang” atau ilmu jubah penakluk iblis, yaitu
kepandaian kebahasan jubah yang dimainkan Cumoti terakhir
tadi adalah ilmu andalan Hian-cu yang dilatihnya selama hidup
ini dia yakin dengan ilmu saktinya itu sudah dapat menjagoi
dunia ini, siapa duga sekarang Cumoti juga mahir ilmu itu,
bahkan sembari bicara sambil mengebaskan lengan jubah
tanpa mengurangi kekuatannya, hal ini sekali-kali tak mungkin
dilakukan oleh Hian-cu sendiri, seketika ia menjadi berduka
dan menyesal tak terhingga.
Saat itu ruang pandopo itu menjadi sunyi sepi, semua
orang ternganga kesima di bawah pengaruh ilmu sakti Cumoti
itu.
Tiba-tiba terdengar Hian-cu menghela napas panjang,
katanya, “Baru sekarang kupercaya bahwa di atas langit masih
ada langit, di atas orang pandai masin ada orang yang lebih
pandai. Aku sendiri sùdah melatih diri selama berpuluh tahun,
tapi sesungguhnya tiada arti apa-apa dalam pandangan Tai-
lun Bong-ong. Ya, Polo Singh Suheng, Siau lim-si adalah
tempat miskin yang tiada harganya untuk dibuat tempat
tinggal, maka silakan boleh kau pergi!"
Ucapan Hian-cu itu membuat Cilo dan Polo Singh sangat
girang. Sebaliknya Sin-kong Siangjin merasa girang dan juga
sedih. Girangnya karena diketahui Polo Singh benar-benar
mahir ilmu silat Siau-lim-si yang tiada bandingannya, dan
sekarang Hian-cu mau melepaskan dia. Sebaliknya ia sedih
karena dibebaskannya Polo Singh adalah Jasa Cumoti yang
berkepandaian maha tinggi, maka sulitlah kalau dirinya
sekarang bendak mendapatkan ilmu silat Siau lim-si dari
tangan Polo Singh.
Sedangkan Cumoti tenang-tenang saja atas tindakan Hian-
cu itu, katanya sambil mengangkat tangan, "siancai!
Hongtiang Suheng jangan terlalu rendah hati."
Seketika para padri Sian-lim-si menunduk dengan patah
semangat. Bahwasannya Hian Cu terpaksa sampai
mengucapkan kata-kata tadi, itu berarti dia mengakui ilmu
silat Siau-lim-si memang lebih asor daripada kepandaian
Cumoti.
Selama bebarapa ratus tahun Siau-lim-sl mempunyai nama
di dunia persilatan dan tidak pernah mengalami kekalahan
seperti hari ini. Memang masih ad a jalan lain yaitu bila main
keroyok, dengan jumlah padri Siau-lim-si yang lebih 500 orang
itu memang cukup kuat untuk mengalahkan musuh, tapi
perbuatan demikian kalau terdengar bukankah nama Siau-lim-
si akan runtuh habis-habisan?"
Kalau Hian-cu merasa serbà susah dan kehabisan akal,
Liong-beng, To-jing dan padri lain juga merasa ikut malu,
bahwa keadaan bisa berubah menjadi demikian sungguh
bukan maksud tujuan mereka semula.
Begitulah segala apa yang terjadi di ruang pendopo itù
sejak semula disaksikan hi-tiok, Ketika mendengar ucapan
Hongtiang yang terakhir tadi lalu para padri Siau-lim-si sama
menunduk lesu, waktu ia melirik ke arah gurunya, yaitu Hui-
lun, air mata padri itu tampak berlinang-linang sangat duka,
bahkan ada beberapa Susioknya tampak memukuli dada
sendiri sambil menangis sedih.
Walaupun Hi-tiok tidak paham seluk-beluknya, tapi ia tahu
ilmu silat yang ditunjukkan Cumoti tadi tiada tandingannya
maka dengan bebas dia dapat membawa pergi Polo Singh.
Cuma ada sesuatu yang membingungkan Hi-tiok, yaitu ilmu
silat Pan-yak-ciang dun lain-lain yang dimainkan Cumoti tadi,
apakah cara mainnya itu benar atau salah, karena dia sendiri
tidak pernah belajar ilmu silat itu, dengan sendirinya tidak
tahu, tapi iwekang yang digunakan Cumoti untuk mainkan
ilmu-ilmu silat itu dapat dilihatnya dengan jelas yaitu "Siau-bu-
siang-kang."
Siau-bu-siang-kang itu pernah Hi-tiok pelajari dari Bu-gai-
cu, kemudian ketika Thian san Tong-lo mengajarkan "Thian-
san-ciat-bwe-jiu" padanya nenek itu merasakan Hi-tiok
memiliki ilmu- Iwekang yang hebat itu sehingga marah dan
berduka, sebab Siau-bu-siang-kang itu setahu si nenek oleh
guru mereka hanya diajarkan kepada Li Jiu sui seorang saja,
sekarang Bu-gai-cu dapat menurunkan ilmu itu kepada Hi-tiok,
maka tidak perlu disangsikan lagi bahwa diantara Bu-gai cu
dan Li Jin-Sui tentu mempunyai hubungan istimewa.
Kemudian setelah tong-lo tenang kembali dengan jelas ia
uraikan cara mengerahkan Siau bu-siang-kang itu kepada Hi-
tiok, tapi bagian yang penting yang lebih sempurna baru
diperolehnya dari Li jiu-sui ketika kedua orang itu bertanding
ilmu silat ciptaan masing-masing.
Pengetahuan Hi-tiok dalam ilmu silat bukan saja sangat
dangkal, bahkan boleh dikatakan sangat sederhana. Hanya
Siau-bu-siang-kang saja Ia belajar benar sudah apal sekali.
Ditambah pula dia banyak membaca ukiran dinding di bawah
tanah Leng-ciu-kiong sehingga Siau-bu-siang-kang itu dapat
dipahaminya dengan lebih sempurna.
Siau-bu-siang-kang ita sebenarnya adalah ilmu golongan
To (Taoisme), samanya sama dengan "Bu-sing" ajaran agama
Budha, namun pada hakikatnya berbeda. Tadi begitu
mendengar suara datangnya Cumotl segara Hi-tiok terkesiap
dan tahu iwekang padri itu sangat tinggi. Kemudian
menyaksikan pula Cumoti memainkan ilmu silatnya,
kelihaiannya banyak perubahannya, semua itu berkat tenaga
Siau-bu-siang-kang. Ia dengar Cümoti mengaku mahir ke-72
macam ilmu silat Síau-lim-si, tapi waktu main yang diandalkan
hanya tenaga Siau-bu-siang kang saja untuk mengelabui
pandangan orang.
Jadi Hi-tiok merasa heran, apa yang dimainkan Cumoti itu
sudah terang adalah Siau-bu-siang kang, mengapa orang
mengaku sebagai ilma silat Siau-lim-pai dan tampaknya Hian-
cu Hongtiang dan padri agung lain tiada seorang pun yang
berani menyingkap kepalsuannya itu.
Ia tidak tahu bahwa ilmu Sian-bu-siang-kang dari golongan
To itu sangat hebat dan luas sekalî, sedangkan tokoh-tokoh
yang berada di pendopo Siau-lim-si sekarang adalah hwasio
seluruhnya dari dengan sendirinya tidak pernah belajar
Iwekang dari golongan To, sebab itulah dengan mudah
mereka dapat dikelabui antara Bu-sing-kang dari agama
Budha dan Siau-bu-siang-kang agama To.
Karena melihat keadaan semakin suram, para Tionglo
tampak berduka, marah, lesu, tapi tak bisa berbuat apa-apa,
terang Síau-lim-si bakal menghadapi malapetaka, mestinya Hi
tiok bermaksud tampil untuk membongkar kepalsuan ilmu silat
Cimoti tadi. tapi Hi-tiok hanya seorang hwesio keroco
angkatan muda yang biasanya tidak ada hak bicara di dalam
Siau-lim-si, sekarang melihat suasana dalarn pendopo sangat
hikdmat dan tegang, kata-kata yàng sudah siap di mulutnya
itu akhìrnya ditelannya kembali mentah-mentah.
Maka terdengar Cimoti membuka suara pula, "Jadi kalau
menurut ucapan Hongtiang tadi itu berarti Hongtiang
mengakui ke-72 macam ilmu silat itu bukan hasil ciptaan biara
kalian. Maka dari itu, sejak kini kata-kata 'coat' yang
menyatakan kungfu khas ciptaan biara kalian haruslah diganti
kalau tidak mau dihapus."
Hiau cu diam saja dengan rasa pedih seperti di sayat-
sayat.
Tiba-tiba Seorang padri tua bertubuh tinggi besar berseru,
“Beng ong sudah berada di pihak yang menang, Hongtiang
kami juga telah mengizinkan kepergian padri thian-liok itu,
mengapa Beng-ong masih terus mendesak orang tanpa
memberi kelonggaran sedikit pun?"
"Siauceug hanya ingin Hongtiang mengucapkan sesuatu
untuk dipermaklumkan kepada kawan-kawan Bu-lim," sahut
Cumoti dengan tersenyum.
"Menurut pondapatku ada baiknya sejak kini Siau-lim-si
dibubarkan saja dan para padri boleh menggabungkan diri
kepada Jing liang-si, Bo to-si dan biara lain untuk mencari hari
depan sendiri-sendiri, dengan demikian bukankah lebih baik
dari pada sekadar cari hidup di dalam Siau-lim-si yang hanya
bernama kosong belaka ini?"
Ucapan Cumoti ini membuat padri Siau lim-si tidak tahan
lagi betapapun sabarnya, seketika ramailah suara dampratan
mereka. Baru. Sekarang para padri Siau-Iim-si itu mulai sadar
bahwa kedatangan Cumoti itu kiranya bermaksud
meruntuhkan Siau-lim-si agar dunia persilatan di Tiongkok
kehilangan tulang punggungnya yang paling kuat.
Maka terdengar Cumoti berkata pula dengan lantang,
"Seorang diri Siauceng terjunjung kemari sebenarnya ingin
belajar kenal dengan Siau-lim-si yang terkenal sebagal tiang
penegak dunia persilatan Tionggoan. Tapi sesudah mendengar
kata-kata para Taisu dengan perbuatannya, hehehe. Terpaksa
harus kukatakan bahwa Siau-lim-si agaknya masih kalah
daripada Thian-liong-si yang jauh terletak di negeri Taili yang
terpencil sana. Ai, benar-benar sangat, mengecewakan
perjalananku ini.”
Tiba-tiba seorang padri angkatan "Hian" berteriak, "Koh-
ong Tuisu dan Thian-in Hongtiang dari Thian-lion-si di negeri
Taili adalah padri saleh yang tinggi agamanya, setiap kawan
agama memang sangat mengaguminya. Orang beragama
sudah lama tidak punya pikiran ingin unggul, buat apa Beng-
Ong mesti membanding-bandingkan antara Siau-lim-si kaml
dengan Thian-Hong-si di Tailî."
Sembari berkata seorang padri tua dengan muka merah
maju ke depan dengan pelahan sambil jari jempol dan jari
telunjuk terkatup di depan dada, wajahnya tersenyum simpul
dengan sikap ramah. Kiranya dia ini Hian-to Taisu, terhitung
Suhengnya, Hian-cu.
Cimoti juga menghadapinya dengan tersenyum, katanya,
“Sudah lama kagum kepada 'Ciam-hoa-ci' (ilmu jari petik
bunga) Hian-to Taisu yang maha saktî, hari ini dapat
berkenalan, sungguh sangat beruntung!"
Sembari bicara kedua jarinya juga terkatup dengan gaya
hendak memetik bunga dan Siap di depan dada.
Begitulah kedua orang sama-sama mengangkat tangan ke-
depan dan berbareng menyentikan tiga jari terhadap pihak
lawan, Maka terdengarlah suara "pluk-pluk-pluk" tiga kali
tenaga jari kedua orang saling beradu, Tubuh Hian-to Taisu
sempoyongan ke belakang dan mendadak dari dadanya
mancur keluar tiga jalur darah bagai air mancur.
Kiranya sesudah mengadu tenaga jari, hian-to ternyata
kalah kuat dan dada kana tenaga sentikan Cumoti sehingga
mirip ditikam tiga kali oleh senjata tajam. Seketika darah
menyembur keluar melalui lubang tikaman jari itu.
Hian-to Taisu itu seorang yang baik hati dan sangat ramah,
dia sangat disukai oleh padri muda di Siau-lim-si. Dahulu Hi-
tiok juga pernah melayani Hian-to selama beberapa bulan,
pada waktu senggang sering juga Hian-to memberi petunjuk
ilmu silat padanya, maka Hi-tiok mempunyai kesan sangat
baik pada Hian-to. Sekarang melihat padri itu terluka parah,
kalau tidak segera ditolong tentu akan membahayakan
jiwanya.
Maka tanpa pikir lagi segera Hi-tiok menyelinap keluar dan
mendekati Hian-to. Sebelum tiba orangnya sebelah tangan Hi-
tiok lebih dulu menolak ke depan, dan cepat luar biasa tahu-
tahu tiga jalur air darah yang menyambar keluar dari dada
Hian-to itu tertolak kembali masuk ke dalam rongga dada
padri tua itu.
Hi-tiok pernah mendapat didikan ilmu pengobatan dari So
Sing-ho, kemudian dapat belajar pula ilmu pemunah Sing si-
hu, maka dalam urusan menolong dan menyembuhkan luka
orang boleh dikata tiada seorang pun di dunia ini lebih mahir
daripada Hi-tiok sekarang.
Begitulah dengan cepat luar biasa tangan Hi-tiok bekerja,
ia tutuk beberapa kali, dalam sekejap saja belasan hiat-to
tubuh padri tua itu telah ditutuknya untuk menghentikan
mengucurnya darah. Menyusul ia jejalin sebutir pil Kiu-coan-
bim-coawan buatan leng-ciu-kiong ke mulut Hian-to Taisu.
Tempo hari waktu Hi-tiok mendapat petunjuk Toan Yan-
khíng sehingga berhasil memecahkan problem catut ciptaan
Bu-gai-cu, tatkala mana Cumoti pernah bertemu sakall dangan
Hi-tiok. tapi kemudian Hi-tiok masuk ke dalam rumah sampai
lama sekali, dálam pada itu Cumoti sudah meninggalkan
tempat itu sehingga tidak ikut menyaksikan Hi-tiok
menyembuhkan luka Hui-hong Pau Put tong dan lain-lain.
Kemudian Waktu Hi tiok menggendong Thian san Tong-lo
dan tergelincir dari puncak gunung di situ Cimoti bersama
Buyung Hok, Ting Jin jiu dan Toan Ki telah menggunakan Hi-
tiok sebagai bola dan dioper ke sana dan ke sini. Dan
beberapa kali pertemuan itu sama sekali ia tidak merasa ada
sesuatu yang luar biasa atas diri Hi-tiok.
Siapa duga Sekarang ia melihat hwesio keroco itu tampil
lagi dan dengan cara yang sangat cepat dan lihai telah
menutup jalan darah Hian to, sungguh kepandaian yang luar
biasa dan belum pernah terlihat selama hidupnya, keruan
Cumoti terperanjat.
Bagi orang Siau-lim-si, tentang Hi-tiok memukul mati Hían-
lan Taisu dan menjadi Clangbunjin Siau-yan-pai, semua itu
telah dilaporkan oleh Hui-hong dan kawan-kawannya ketika
mereka pulang dengan membawa jenazah Hian-lan, Tapi
kemudian Hian cu dan padri agung Siau-lim-si yang lain dapat
mengetahui dari janazah Hian lan bahwa kematian Hian-lan itu
adalah akibat serangan "Sam-siau-siau-yau-san”, bubuk
berbisa yang ditebarkan oleh Ting Jun-Jiu. Mereka menunggu
pulangnya Hi-tiok yang tidak kunjung datang, pernah juga
mengirim orang untuk mencarinya tapi tidak ketemu.
Ketika beberapa hari yang lalu Hi-tiok pulang di Siau-lim-si,
Kebetulan di biara Agung itu sedang menghadapi kesulitan.
Kiranya Siau-lim-si telah terima surat dari Pangcu Kai-pang
yang mengaku bernama 'Ong Sing-thian, dengan permintaan
Sian-lim-pai mengakui Ong Sing-thian itu sebagai Bu-lim Beng-
cu (pemimpin duaia persilatan) di Tionggoan.
Berhubungan dengan itu, selama beberapa hari itu Hian-cu
berunding dengan para padri tua angkatan "Hian" dan "Hui"
untuk mencari jalan cara menghadapi manusia Ong Sing-thian
yang tidak pernah dikenal itu (siapa Ong Sing-thian tentu
pembaca masih ingat —pen).
Padahal Kai-pang adalah suatu organisasi terbesar di dunia
kangouw dan terkenal sebagai Suatu golongan yang baik dan
berjuang demi keadilan, biasanya jugá mempunya! hubungan
yang baik dengan Siau-lim-sí dan sama-sama membela
kebenaran begi sesama orang Bu-lím, masakah sekarang
mendadak ingin berdiri di atas Siau-lim-si seakan-akan
memandang síau-lim-si sebagai saingan terbesar, hal ini
benar-benar membuat Hian cu dan para padri menjadi
bingung.
Karena melihat Hongtiang dan para paman guru sedang
sibuk, Hui-lun, guru Hi-tiok, menjadi tidak berani malaporkan
tentang pulangnya Hi-tiok, sebab itulah tentang Hi-tlok kerja
di kebun sayur juga tidak diketahui oleh para padri agung.
Sekarang mendadak nampak Hi-tiok tampil ke muka dan
dengan cara yang maha sakti telah menolong Hian-to, keruan
semua orang terheran-heran dan terkejut.
Begitulah, sesudah memberi obat kepada Hian-to, lalu Hi-
tiok berkata, "Thaisupek, hendaknya engkau jangan
mengerahkan tenaga agar lukarnu tidak berdarah lagi."
Berbareng ia robek kain jubah sendiri untuk membalut luka
di dada kakek guru itu.
"Tai-lun Beng-Ong punya Ciam-hoa-ci sungguh maha . . .
maha hebat, aku. meng . . . mengaku kalah." kata Hian-to
dengan tersenyum getir.
"Toasupek, yang dia gunakan itu bukan Ciam-hoa-ci, juga
bukan kungfu dari kalangan Budha," tutur Hi-tiok.
Mendengar ucapan Hi-tiok itu, diam-diam para padri siau-
lim-si menggeleng kepala atas kedangkalan pengetahuannya.
Sudah terang permainan ilmu jari Cimoti tadi serupa dongan
caranya Hian-to, masakah dikatakan bukan Ciam-hoa-ci yang
merupakan salah satu kepandaian khas siau-lim-si? Sedangkan
Tai-lun Beng-ong itu adalah imam negara turfan, setiap lima
tahun sekali tentu beliau mengadakan khotbah sscara terbuka
di Tai-lun-si di atas gunung Tai-goat-san dan dari segenap
penjuru banyak kaum padri berkumpul ke sana untuk
mendengarkan khotbahnya. Jadi terang Cumoti adalah padri
Budha yang tersohor masakan ilmu silat yang dimainkan tadi
dikatakan bukan kepandaian kalangan Budha?
Sebaliknya tidak demikian dengan Cumoti ia terkejut
mendengar ucapan Hi-tiok tadi. Tapi sebagai seorang yang
berpengalaman luas dan belum pernah terkalahkan, di Taili ia
telah mengalahkan Thian-sin, Thian-siang dan Koh-eng Taisu,
sampai di Tionggoan pernah juga bergebrak dengan Buyung
hok, Ting Jun-jiu dan lain-lain, walaupun belum berakhir
dengan kalah atau menang, tapi terang dirinya lebih unggul.
Sekarang melibat Hi-tiok cuma seorang hwesio keroco baru 20
tahun lebih, biarpun memiliki kepandaian sakti juga terbatas.
Kedatangan Cumoti ke Siau-lim-si ini memang bertujuan
merobohkan nama baik biara agung yang bersejarah ribuan
tahun itu, sudah tentu dia tidak mau mengkarel di depan
seorang hwesio cilik saja. Maka dengan tersenyum ia lantas
berkata, "Siausuhu bilang kepandaian ku ini bukan ilmu silat
kalangan Budha, ei, kamu benar-benar terlalu meremehkan
ilmu silat Siau-lim si yang tersohor ini!"
Hi-tiolc tldak pandai berdebat, maka ia hanya, menjawab,
"Ciam-hoa-ci yang di mainkan Hian-to Thaisupek sudah tentu
ilmu silat ajaran Budha, tapi kau . . . kau punya itu bukan . . .
.“
Sembari bicara ia pun angkat tangan kirinya dan
menirukan gaya Hian-to tadi, beruntun-runtun ia menyentik
tiga kali dengan menggunakan tenaga Siau-bu-siang-kang.
Selentikan Hi-tiok itu tidak berani ditujukan ke arah
Cumoti, tapi dia menyelentikan ke arah sebuah genta besar
yang tergantung di samping. Maka terdengarlah suara "tang
tang tang" tiga kali. Tenaga selentikan Hi tiok itu mengenai
genta besar dan menumbulkan suara keras bagai dipalu.
“Kepandaian hebat!" seru Cimoti. "Silakan coba jurus Pan-
yat-ciangku ini!"
Berbareng ia angkat kedua telapak tangannya seperti
memberi hormat, tapi tidak merangkap, melainkan terbuka ke
depan maka terdengarlah suara mendesir pelahan, serangkum
tenaga pukulan menyambar ke arah Hi-tiok dengan sangat
dahsyat. ltulah jurus "Kiap-kok-thian-hong" (angin mendesir di
lembah gunung) dari ilmu pukulan Pan-yak ciang-hoat. . . .
Jilid ke-71
Melihat serangan Cumoti yang maha dahsyat ftu. Hi-tiok
terpaksa menangkisnya, segera ia gunakan satu jurus "Thian-
san-ciat-bwe-jiu" sehingga tenaga pukulan Cumoti dipatahkan.
Cumoti terkesiap karena merasa tenaga pukulan Hi-tiok itu
dengan jitu dapat memunahkan serangannya dan jelas adalah
Siau bu-siang-kang pula, tapi segera ia berkata dengan
tertawa.
"Siausuhu, apakah kepandaianmu ini adalah kepandaian
golongan Budha? Kedatanganku ini ingin belajar kenal dengan
ilmu sakti Siau-lim-pai, kenapa kamu malah menggunakan
kepandaian darl golongan tak karuan? Memangnya Siau-lim-
pai yang terkenal hebat di negari Song ini cuma bernama
kosong belaka dan tidak mampu melawan ilmu negeri lain
yang dekil?"
Cumoti meimang sangat cerdìk, sekalì gebrak dan merasa
dirinya sukar menandingi Hi-tiok, maka segera ia mengunakan
ucapan itu untut mendesak agar Hi tiok hanya menggunakan
ilmu silat Siau-lim-pai saja.
Sudah tentu Hí-tíolc tidak kenal kelicikan orang, jawabnya,
"Bakat Siau-ceng terlalu bodoh ilmu silat dari golongan sendiri
hanya paham sejurus Lo-han-kun dan Wi to-ciang yang
merüpakan dasar pelajaran ilmu silat golongan kami, dengan
sendirinya aku tidak sanggup melawan Tai-su."
Cumoti tertawa, katanya, "Jika demikian, jadi kaupun tahu
sendiri bukan tandinganku, maka boleh kamu mundur saja."
Hi-tiok mengiakan dan memberi hormat, lalu
mengundurkan diri ke tempatnya semula.
Sebaliknya Hian-cu Hongtiang cukup cerdik meski dia tidak
tahu dari mana Hi-tiok memperoleh kepandaiannya, tapi
dilihat dari beberapa jurus yang dimainkan Hi-tiok tadi terang
gerakannya sangat aneh dan bagus. Iwekangnya sangat kuat
dan mampu untuk menandingi Cumoti. Dalam keadaan
menentukan ini boleh juga Hi-tiok disuruh maju walaupun
kalah umpamanya, paling tidak tenaga Cumoti akan susut
lebih dulu.
Maka katanya segera, "Tai-lun Beng-ong mengaku mahir
ke-72 macam ilmu silat golongan kami, sungguh kami sangat
kagum kepada pengetahuanmu yang maha luas itu. Nah, Hi-
tiok kamu adalah murid angkatan kelima golongan kita
sekarang, mestinya kamu tidak sesuai untuk bergebrak
dengan jagoan nomor satu dari negeri Taufan sebagai Beng-
Ong, tapi jauh-jauh Beng-ong sudah datang ke sini
kesempatan bagus ini sukar dicari, maka bolehlah kau minta
petunjuk beberapa jurus kepada Beng-ong dengan kepandaian
Ho-han-kun dan Wi-to-ciangmu itu."
Karena diperintah sang Hongtiang, dengan sendirinya Hi-
tiok tidak berani membantah, segerà ia mengiakan dan
melangkah maju pula, katanya sambil memberi hormat,
"Silakan Beng-ong memberi petunjuk!"'
la pikir pihak lawan adalah tokoh ternama, tentu takkan
menyerang lebih dahulu, maka segera ia membuka serangan
lebih, dulu dalam gaya "Leng-san-pai-hud" (menyembah
Budha di gunung suci), yaitu suatu serangan pembukaan darl
Wi-to-ciang yang sudah dipelajarinya dengan masak.
Mestinya gerakan "Leng-san-pai-hud" itu Cuma suatu gaya
pemberian hormat sebagai tanda merendah diri, tak terpikir
bahwa sekarang Hi-tiok sudah penuh dengan lwekang "pak-
beng-cin-gi" yang diperolehnya dari Bu gai-cu, ditambah lagi
ajaran-ajaran Thian-san Tong-lo dan Li Jiu-sui, bahkan tidak
sedikit manfaat yang diperolehnya dari ukiran di dindirg keluar
batu bawah tanah Leng ciu-kiong. maka sekali dia bergaya
memberi hormat dangan kedua tangannya terangkat, seketika
jubahnya lantai mclembung hawa murninya bekerja untuk
melindungi seluruh tubuhnya.
Karena Hi tiok sudah mulai, terpaksa,Cumoti melayani,
segera sebelah telapak tangannya menghantam ke depan
sehingga mengeluarkan suara rnendesir dari angin pukulannya
itulah ilmu sakti pukulan Pan-yak-ciang.
Wi-to-ciang yang dimainkan Hi-tiok adalah ilmu pukulan
dasar, bagi setiap murid Siau-lim-pai yang muiai belajar silat
sebaliknya Pan yak-ciang hoat adalah ilmu pukulan yang maha
sakti, untuk melatihnya diperlukan waktu puluhan tahun maka
selama sejarah Siau-lim-si boleh dikata tidak pernah terjadi
Wi-to-ciang digunakan melawan Pan-yak-ciang."
Tapi sekarang Hi-tiok sedikit pun tidak gentar begiltu
pukulan lawan tiba cepat ia mengegos dan balas menyerang
pula, sekali ini kedua telapak tangannya menyodok ke depan
dalam gerakan yang bernama "San-bun hou-hoat" (membela
agama di depan gunung), gerak-serangannya tetap biasa saja
tapi membawa tenaga yang maha dahsyat.
Cumoti putar ke samping, dengan jari yang tersembunyi di
balik lengan baju segera ia menutuk ke depan. Cepat Hi–tiok
menghindarkan tenaga tutukan hebat yang tak kelihatan itu.
Namun Cimoti sudah menduga ke mana Hi-tìok pasti akan
menghindar, maka menyusul ia lantas menghantam dengan
pululan Kim-kong-kun, "bluk", pundak Hi-tiok dengan tepat
kena digenjot sehingga orangnya terhuyung huyung
kebelakang.
Maka tertawalah Cumoti, katanya, "Siausuhu mau
mengaku kalah atau belum?"
Ia menduga dengan pukulan dahsyat itu tentu dapat
menghancurkan tulang pundak lawan.
Tak terduga bahwa Hi-tiok memiliki "Pak-bong-cin-gi" yang
tidak gentar terhadap pukulan apa pun, bahkan setiap kali
kena hantaman, setiap kali hawa murninya tambah Kuat
malah.
Begitulah maka dengan cepat Hi-tíok lantas menerjang
maju pula, kedua telapak tangannya menggaplúk dari kiri ke
kanan, serangan ini bernama "Hong-sui-kui hal" (air bah
mengalir ke Laut) tenaga dalam yang dibawa pukulannya itu
sedahsyat air bah melanda.
Karuan Cumoti terkejut sudah terang lawan kena hantam
tapi tidak cedera bahkan dapat balas menyerang dengan
pukulan yang lebih dahsyat. Lekas ia pun manangkis
sekuatnya, menyusul kedua kaki juga menendang secara
berantai, plak-plok, dalam sekejap saja ia menendang tujuh
kali dan seluruhnya mengenai dada Hi-tiok.
Tendangan ini pun termasuk salah satu kepandaian Siau-
lim-pai yang disebut "Ju-eng-sui-beng" (seperti bayangan
mengikut bendanya), yaitu menggambarkan betapa cepatnya
tendangan itu secara susul-menyusul. Sampai tendangan
ketujuh Hi-tiok mencelat beberapa meter jauhnya. Bahkan
Cumoti tidak memberi kesempatan lagi kepada Hi-tiok, jarinya
menutuk dua kali pula dari jauh sehingga mengeluarkan suara
mencicit, itulah "To-lo-ci-hoat” yang lihai.
Tapi Hi-tiok sempat pasang kuda-kuda dan menyambut
dengan pukulan "Hek-hou-thau-sim" (harimau kumbang
mencuri hati), salah satu pukulan Lo-han-kun.
Serangan Hi-tiok ini sebenarnya terlalu dangkal, sebab
setiap orang Siau-lim-si boleh dikata pasti paham gerak
serangan itu, tapi sekararg dikerahkan oleh Hi-tiok dengan
tenaga Siau-bu-siang-kang, maka tenaga tutukan Cumoti yang
hebat itu kena dipatahkan di tengah jalan.
Rupanya Cumoti sengaja hendak pamer kepandaiannya,
habis To-lo-ci-hoat segera berganti membelah dengan telapak
tangannya dalam ilmu, "Jian-bok-to-hoat" (ilmu golok
membakar kayu).
Ilmu golok yang dimainkan dengan telapak tangan kosong
ini cepat luar biasa, sekaligds ia dapat membelah dan
membacok 9 x 9 = 81 kali di sekeliling sebatang kayu, kayu itu
tidak terbelah menjadi dua tapi dari hawa panas yang keluar
dari "golok tangan" Itu dapat membuat kayu Itu terbakar.
Mendiang guru Siau Hong, yaitu Hian-kho Taisu sangat mahir
ilmu gulok Ini, tapl sejak dia wafat, di Siau-lim-si tiada seorang
pun, yang mahir lagi.
Cumoti mulai memotong sekali, "bluk”, dengan tepat
lengan kanan Hi-tiok kena ditabas.
"Cepat amat!" Seru Hi-tiok sambil balas menghantam, dan
baru kepalan sempat di tengah jalan kembali lengannya kena
dibacok lagi.
Walau pun Cumoti menggunakan telapak tangan sebagai
golok, tapi tenagànya dikerahkan pada tepi telapak tangan,
kerasnya tidak kalah daripada golok baja dan cukup kuat
untuk mengutungkan lengan. Tapi beruntun Hi tiok kena
ditebas dua kali dan tetap tidak beralangan apa-apa
sebaliknya telapak tangan Cumoti malah terasa kesakitan.
Sunggu kejut Cumoti tak terkatakan, sekilas terpikir
olehnya jangan-jangan hwesio keroco ini memakai baju
pusaka dan sebagainya, kalau tidak biarpun dia memiliki ilmu
kebal sebangsa Kim-ciong-loh dan Tiat-poh-san juga tak tahan
oleh serangan barusan yang hebat itu.
Terpikir demikian, segera ia ganti serangan, sekarang yang
diarah selalu bagian muka Hi-tiok ia mencakar dan menutuk,
beruntun ia keluarkan beberapa macam ilmu sakti Siau-lim-pai
untuk menyerang mata dan tenggorokan Hi-tiok.
Karena serangan kilat ini Hi-tiok menjadi kelabakan dan
terdesak mundur, tapi ia masih tetap balas memukul sekali
demi sekali seluruhnya adalah tipu "Hok-hou thau-sim"
anehnya selalu Cumati terdesak mundur kelakah kebelakang,
dan oleh karena satu langkah itulah maka macam-macam
serangan Cumoti itu menjadi susah mencapai sasarannya,
sekalipun menyenggol saja tidak bisa.
Dengan gemas kembali Cumoti mangeluarkan belasan
macam kepandaian Siau-lim-pai yang berbeda-beda untuk
menyerang Hi-tiok. Para padri Siau-lim-si sampai terkesima
menyaksikan itu, diam-diam mereka mengakui ucapan Cumoti
yang mengaku mahir ke-72 macam ilmu silat Siau-lim-pai dan
ternyata tidak omong kosong belaka.
Sebaliknya Hi-tiok tetap melayani dengan Loh-han-kun
saja, jika kececer, segera ia menghantam dengan "Hek-hou-
thau-Sim", bila terdesak, kembali menyambut dengan pukulan
"Hek-hon-thán sim", jadi itu-itu saja gerak tipu yang
digunakan Hl-tiok. lain tidak.
Keruan kelakuannya menjadi lucu, semua orang
menganggapnya kelewat bodoh, biar guru silat pasaran pun
akan mentertawainya.
Jadi yang satu maha lihai dan yang lain kelewat bodoh,
namun yang lihai toh tak dapat merobohkan yang bodoh,
sebab di dalam gerakan "Hek-hou-thau-sim" yang dímainkan
Hi-tiok itu justru membawa tenaga dalam yang makin dahsyat,
jarak kedua orang juga makin lama makin jauh.
Sekarang Cumoti dapat merasakan bahwa tenaga dalam
yang dikeluarkan Hi-tiok Itu ternyata juga. mengandung Siau-
bu-siang-kang, bahkan terasa lebih kuat daripada dirinya,
cuma saja cara menggunakannya tidak tepat dan kurang
pandai. Tapi kalau pertarungan diteruskan, susah juga untuk
memperoleh kemenangan.
Maka ketika dilihatnya Hi-tlok menghantam lagi dalam
"Hong-hou-thai-sim", yaitu pukulan yang disodok mengarah
hulu hati lawan, segera Cumoti mencengkeram ke depan,
kedua tangannya memegang berbareng sehingga kepalan Hi
tiok tertangkap, segera kedua tangannya menekuk jari jempol
dan jari kecil Hi-tiok dan ditelingkung ke atas.
Kim-na-jiu-boat atau ilmu memegang dan menangkap ini
sangat hebat sekali, Hi-tiok tidak dapat menggunakan gerakan
"Hok-hou-thau-sim" untuk menghadapi Cumoti lagi. Tapi
karena jarinya tertekuk, saking kesakitan dengan sendirinya ia
keluarkan "Thian-san-ciat-bwe-jiu" ajaran Thian san Tong lo,
tangan kanan Hi-tiok yang terpegang itu mendadak memuntir
dan membalik ke atas, dengan cepat dan tepat sekall ia balas
mencengkeram pergelangan kiri Cumoti.
Sungguh sama sekall tak terduga oleh Cumoti bahwa
tangan yang sudah terpegang itu mendadak bisa
mengeluarkan semacam kekuatan yang aneh dan memberosot
lepas dari cengkeramannya, bahkan berbalik tangan sendiri
yang terpegang malah.
Biarpun pengetahuan ilmu silat Cumoti sangat luas, tapi
Thian-san-ciat-bwe-jiu ini adalah ciptaan Tong-lo sendiri
sehingga dia tidak kenal asal-usul kungfu Hi-tiok itu.
Dalam kejutnya segera Cumotl merasa pergelangan tangan
kirinya seakan-akan terjepit oleh anggam besi dan sukar
terlepas. Untung dalam keadaan gugup Hi-tiok cuma berharap
menyenyelamatkan diri dan tidak sempat menyerang pula
maka ia cuma pegang tangan Cumoti dengan kencang agar
lawan itu tidak dapat menelingkung dirinya sebaliknya lupa
memencet urat nadi pergelangan tangan Cumoti.
Karena sedikit kesalahan itu, segera Cumoti mengerahkan
tenaga dalam sehingga tangan Hi-tiok tergetar seakan-akan
retak. Dalam keadaan kaku agak hi-tiok kuatir kalau
cekalannya dilepaskan tentu Cumoti akan menyerang pula
dengan cara-cara yang lebih lihai maka sekuatnya ia kerahkan
beng-cin-gi pula.
Berturut-turut Cumoti meronta tiga kali dan tetap tak
terlepas, keruan ia sangat takut, cepat ia gunakan telapak
tangan kanan untuk membacok leher Hi-tiok. Dalarn gugupnya
ia tidak sempat menggunakan ilmu silat Siau-lim-pai lagi tapi
bacokan tangan ini menggunakan kepandaiannya yang berasal
dari Turfan.
Sekarang mereka bertempur dari jarak dekat, maka ketika
merasa terancam segera tangan kiri Hi-tiok menggunakan
Thian san-liok-yang-jiu untuk mematahkan serangan Cumoti.
Sekali serangan gagal, dengan sendirinya Cumoti
melontarkan serangan lain pula, tapi Liok yang-jiu juga
beruntun-runtun dimainkan Hi-tiok sehinggà setiap serangan
Cumoti dapat dipatahkan.
Sudah tentu para penonton banyak yang terheran-heran,
mereka bertarung dari jarak dekat boleh dikatakan saling
bergumul, tangan kiri Cumoti kelihatan dicengkeram kencang
olah Hi-tiok, sedang tangan kanan Cumoti berulang-ulang
menghantam, tapi selalu tidak dapat mencapai sasarannya.
Bahkan lama kelamaan mereka merasa terdesak oleh angin
pukulan Cumoti yang membadai, makin larna makin kuat
sehingga menyesakkan napas.
Walaupun setiap bacokan telapak tangan Camoti itu sangat
dahsyat dan tajam melebihi senjata, tapi Thian-san-liok-yang
jiu yang dimainkan Hi-tiok sekarang sudah sangat hebat,
terutama sesudah dia menyelami pelajaran yang terukir di
dinding kamar batu di bawah tanah Leng-cin-kiong itu. Cuma
sayang selama ini dia belum pernah menggunakannya untuk
bergebrak dangan orang, sekarang baru mulai dicoba sudah
harus menghadapi jago kelas sátu seperti Cumoti dan mesti
bergumul dari jarak dekat, menyadari seluruh kepandaiannya
itu paling-paling cuma dua-tiga bagian saja yang dapat
dimainkannya. Apalagi tenaga serangan Cumoti makin lama
makin lihai sehingga yang dipikir oleh Hi-tiok asal dapat
selamat saja, maka permainannya juga cuma mengutamakan
menjaga diri saja.
Sebenarnya bukan maksud Hi-tiok hendak menangkap
Cimoti, soalnya la merasa ilmu silat lawan lebih pandai
berpuluh kali lipat daripada dirinya, serangan sebelah tangan
saja sedahsyat itu apalagi kalau menyerang dengan kedua
tangan, bukan mustahil jiwanya akan melayang seketika.
Lantaran itulah secara mati-matian Hi-tiok terus pegang
pergelangan tangan Cumoti agar sebelah tangan itu tak bisa
digunakan untuk menyerang.
Walaupun bodoh sekali pikiran Hi-tiok itu, tapi dalam saat
berbahaya ternyata berguna juga. memang benar serangan
hebat dari Cumoti menjadi kencang karena hanya sebelah
tangan saja yang digerakkan. Sebaliknya bagi Hi-tiok yang
belum masak betul dalam menggunakan kepandaian
permainan sebelah tangan menjadi lebih leluasa daripadà
permainan dua tangan, dengan demikian, kedua orang terus
bergebrak sampai ratusan jurus dan keadaan masih tetap
sama kuat.
Bagi padri agung seperti Hian-cu, Sin kong Hian to, Liong
beng, Cilo Singh dan lain-lain. mereka dapat melihat Cumoti
tidak dapat melepaskan tangan kirinya yang terpegang Hi-tiok,
sedangkan tangan kiri Hi-tiok sama sekali tidak dapat
melawan serangan tangan kanan Cumoti, jadi kedua orang itu
sama sama unggul di lengan sebelah kanan dan asor di
tangan sebelah kiri. Pertarungan demikian ini, biarpun para
paderi itu sudah kenyang asam garam juga belum pernah
menyaksikan selama hidup ini.
Menyaksíkan pertempuran itu, hampir seluruh padri Siau-
lim-si merasa heran dan kuatir pula. Mereka tidak tahu selama
Hi-tiok menghilang setengah tahun entah dari mana dapat
mempelajari ilmu silat sehebat itu. Mereka melihat serangan
Cumoti itu sangat lihai, asal Hi Tiok kena dihantam sekali pasti
tamatlah riwayatnya. Sebaliknya dalam keadaan tangan lawan
terpegang Hi-tiok jika salah seorang padri Siau-liam-si itu
berani maju membantu maka dengan sekali tonjok saja cukup
membikin jiwa Cumoti melayang.
Tapi sudah tentu mereka tidak mau bertindak demikian
sehingga dapat meruntuhkan nama baik sendiri. Maka para
padri itu hanya kebat-kebit merasa kuatir mengikuti
pertarungan kedua orang itu.
Sesudah ratusan jurus lagi, rasa takut Hi-tiok pelahan
mulai hilang, maka permainan Thian-san-liong yang jitu dapat
dilontarkan dengan lebih lancar, cara melontarkan tenaga
serangannya dapat diketahuinya pula, maka lambat laun
dalam sepuluh gebrakan ia dapat balas menyerang satu-dua
kali dan tidak lama kemudian dapat balas menyerang sampai
tiga-empat kali.
Melihat keadaan Hi-tiok tambah baik dan terhindar dari
kemungkinan bahaya, diam-diam para padri Siau-lim-si ikut
bergirang.
Dalam pada itu sejak munculnya Cumoti, timbul
pertentangan batin Sin-kong Siangjin, ia berharap Cumoti
menjatuhkan nama baik Siau-lim-pai, tapi tidak suka pula
kalau padri asing itu malang melintang di Tionggoan.
Ketika dilihatnya Cumoti bergebrak dengan Hi-tiok sampai
sekian lama dan masih belum terpisahkan, diam-diam ia
berharap kedua orang itu akan babak-bonyok dan akhirnya
gugur bersama, dengan demikian ia sendiri akan dapat
mengeduk keuntungan biarpun nanti susah memperoleh
kepandaian Siau-lim-paì yang lain dari Polo Singh, namun dari
pan-yak-ciang, Mo-ko-ci-hoat dan Kim-leng-kun yang telah
dihapalkannya tadì dapatlah dibawa pulang ke Jing-liang-si
untuk dipelajari lebih mendalam dan dikombinasikan dengan
demikian bukan mustahil kelak dirinya akan menjadi cakal
bakal gabungan ketiga macam kungfu sakti itu.
Sebaliknya Polo Singh juga mempunyai pikiran sendiri.
Selama ini dia sembunyi di Ceng-keng-kok dan telah banyak
membaca kitab pusaka Siau-lim-pai, ia merasa ilmu silat
tinggalan padri agung Siau-lim-si yang dulu memang sangat
luas dan hebat, makin dipelajari makin sukar dijajali sehingga
lambat-laun Polo Singh sendiri tenggelam dalam keasyikannya.
Sekarang sang Suheng hendak memapaknya pulang, ia
merasa apa yang sudah dibaca dan teringat baik itu masih
bukan apa-apa kalau dibandingkan kepandaian yang
dìpertunjukkan Cumoti dan Hi-tiok sekarang. Pulang ke
kampung halaman memang menyenangkan, tapi berat juga
rasanya jika kesempatan mempelajari ilmu silat secara lebih
mendalam susah diketemukan lagi di kemudian hari.
Hendaklah maklum bahwa Polo Singh ini seorang padri
Thian-tiok yang, berbakat dan gila ilmu silat. Seperti juga
dalam bidang lain, misalnya seni main catur, main piano,
melukis dan sebagainya, semakin dipelajari semakin terasa tak
habis-habis dan tiada batas-batasnya, ilmu yang dipelajari itu,
asal tahu di dunia ini ada pihak lain yang lebih pandai, maka
sedapat mungkin ingin belajar kenal dan mengukur
kepandaian lawan itu.
Maksud tujuan Polo Singh semula adalah ingin mencuri
kitab pusaka Siau-lim-si untuk dibawa pulang ke Thian-tiòk,
tak terduga olehnya bahwa ilmu silat Siau-lim-si itu ternyata
sedemikian luasnya, semakin dipelajari semakin terasa tidak
habis-habis, maka sekarang ia pun merasa saying dan berat
untuk meninggalkan biara agung itu.
Dalam pada itu keadaan Hi-tiok sekarang sudah tambah
baik, dari dua kali serangan Cumoti ia sudah mampu balas
menyerang satu kali, walaupun masih lebih banyak diserang
daripada menyerang tapi tenaga dalamnya, makin lama
makin, kuat sehingga tiap-tiap kali Cumoti merasa makin sulit
untuk menangkis.
Suatu ketika, mendadak Hi-tiok ganti tipu serangan. ia
tidak menggunakan Thian-san-liok-yang-jiu, tapi tiba-tiba
sejurus pukulan ajaran Li-Jiu-sui dahulu dilontarkannya, yang
diincar adalah bagian selangkangan.
Sekali berhasil membikin lawannya terdesak, segera
semangat Hi-tiok terbangkit, menyusul ia keluarkan sejurus
ajaran Thian-san Tong-lo ketika bertanding melawan Li Jiu-sui,
mendadak telapak tangannya menyambar ke atas kepala
Cumoti dengan gaya hendak menjambak. Walaupun kepala
Cumoti gundul kelimis, tapi jika kena digaruk bukan tidak
mungkin kepalanya akan pecah.
Ternyata serangan yang dilontarkan Hi-tiok itu adalah
ciptaan Li Jin-sui dan Thian-san Tong-lo, tipu serangannya keji
dan lihai pula, yaitu seperti lazimnya kaum wanita berkelahi
dan main. jambak, cakar dan mencengkram bagian-bagian
yang terlarang segala.
Keruan Hian-cu dan padri agung lain sama berkerut kening
menyaksikan tipu serangan Hi-tiok yang semakin aneh dan
keji itu. Selama sejarah Siau-lim-si belum pernah terdapat
kungfu sedemikian aneh dan kejinya.
Dalam pada itu Cumati sendiri juga sudah merasa keadaan
sangat tidak menguntungkan baginya. Berulang-ulang ia
membetot dan meronta, tapi tetap sukar terlepas. Jika dia
mengerahkan tenaga maka tenaga pegangan Hi-tiok juga
tambah kuat.
Dalam keadaan tak berdaya, timbul seketika napsu
jahatnya untuk membunuh Hi-tiok, Berturut-turut ia
menyerang pula tiga kali ketika Hi-tiok menangkis, pada suatu
kesempatan Cumoti mencabut sebilah belati kecil yung terselip
dalam kaos kakinya terus menikam bahu Hi-tiok.
Kepandaian yang dipelajari Hi tiok itu adalah bertangan
kosong, ketika mendadak sinar senjata berkelebat, belati
musuh tahu-tahu menusuk tiba, ia menjadi bingung cara
bagaimana menangkisnya, tanpa pikir segera ia mendahului
sambar tangan orang yang memegang belati itu yang
digunakan adalah Kim-na-jiu-hoat yang cepat lagi jitu dari
Thian-san-kiat-hwe-jiu maka tahu-tahu pergelangan tangan
Cumoti kena dicengkeramnya.
Tapi pada saat itu juga mendadak Cumoti mengerahkan
tenaganya sambil lepas tangan sehingga belati itu meluncur ke
depan. Karena kedua tangan Hi-tiok digunakan untuk
mencengkeram kedua tangan lawan ia tak bisa mengelak lagi,
tanpa ampun belati itu menancap di pundaknya.
Para penonton sama menjerit kaget. Pada saat itulah tiba-
tiba diantara orang banyak melompat keluar empat padri,
serentak sinar tajam berkelebat, sekaligus ujung empat
batang pedang mengancam tenggorokan Cumoti.
Dalam kagetnya Cumoti meronta sekuatnya dan hendak
melompat mundur, tapi cekalan Hi-tiok ternyata sangat kuat,
sedikitpun tidak bergeming. Cumoti merasa lehernya "nyes"
dingin, ujung keempat pedang telah menyentuh kulit
dagingnya. Bahkan terdengar keempat padri itu membentak
bersama, "Manusia tak kenal malu, lekas serahkan Jiwamu!"
Dari suara mereka yang nyaring merdu itu kedengaran
seperti suara kaum wanita muda.
Segera Hi-tiok dapat mengenali mereka adalah Bwe-kiam
berempat, cuma mereka memakai kopian padri sehingga ikat
rambut mereka tertutup, jubah padri yang mereka pakai juga
jubah padri Siau-lim-si. Keruan Hi-tiok terkejut dan heran,
serunya, "Jangan mengganggu jiwanya!"
Bwe-kiam mengiakan, tapi ujung pedang mereka masih
tetap mengancam tenggorokan Cumoti.
"Hahahaha!" tiba-tiba Cumoti bergelak tertawa. "Rupanya
Siau-lim-si tidak cuma pandai main keroyok bahkan diam diam
menyembunyikan wanita di dalam kuilnya. Nama baik selama
beratus tahun kiranya cuma begini. Hahaha, baru sekarang
aku tahu!"
Hi-tiok sangat gugup dan bingung sehingga cekalan kedua
tangan dilepaskan. Segera Kiok-kiam membuang pedangnya
dan cepat mencabut belati yang menancap dipundak sang
majikan lalu menggunakan saputangannya untuk membalut
luka Hi-tiok. Sedangkan ujung pedang Bwe kiam bertiga masih
tetap mengancam tenggorokan Cumoti.
"Meng . . . mengapa kalian datang kemari?" tanya Hi-tiok
dengan gugup.
Sebelum Bwe-kiam berempat menjawab, sekonyong-
konyong tangan kanan Cumoti bergerak, dangan ilmu "Hwe-
yam-to" yang sakti tiba-tiba terdengar "trang-tring-treng" tiga
kali, ketiga pedang Bwe-kiam bertiga patah seketika. Keruan
Bwe-kiam bertiga terkejut cepat mereka melompat mundur,
ketika diperiksa, ternyata senjata mereka hanya tertinggal
bagian gagangnya saja.
"Nah, Hòngtiang Suheng, apa yang hendak kau katakan
lagi?” seru Cumoti kepada Hian-cu Taisu sambil tertawa.
Air muka Hian-cu tampak membesi, sahutnya, "Seluk-beluk
kejadian ini aku sendiri tidak paham, tapi pasti akan kuselidiki
dan diputus menurut tata tertib biara kami. Sekarang boleh
silakan Beng-Ong dan para Suheng mengaso dulu ke pondok
tamu yang tersedia."
"Jika demikian terpaksa mengganggu," sahut Cumoti
sambil memberi hormat.
Ketika Hian-cu membalas hormat, kedua tangan Cumoti
yang terangkup itu menggeser ke samping dan diam-diam
mengerahkan tenaga, maka terdengarlah suara "bar-ber"
beberapa kali disusul jerit kaget Bwe-kiam berempat, kopiah
padri mereka tersampuk jatuh semua sehingga kelihatan
rambut mereka yang panjang dan indah, banyak pula rambut
putus yang ikut bertebaran jatuh ke lantai bersama kopiah.
Tenaga Hwe-yam-to yang digunakan Cumoti tidak cuma
menyampuk jatuh kopiah keempat ñona itu, bahkan memapas
sebagian rambut mereka yang lemas, maka dapat
dibayangkan betapa hebat iwekang Cumoti yang telah
mencapai tingkatan paling sempurna itu.
Dengan demontrasi kepandaiannya bukan saja Cumoti
hendak pamer kekuatan yang cuma memotong rambut dan
tidak melukai orangnya sebagai tanda kemurahan batinya,
berbareng ia sengaja menelanjangi penyamaran keempat
nona itu agar pihak Siau-lim-si tidak bisa menyangkal terhadap
bukti-bukti nyata itu.
Keruan air muka Hian-cu tampak masam, katanya
kemudian, "Para Suheng, silakan!"
Serentak Sin-kong, Cilo Singh dan lain-lain lantas
berbangkit dan diantar oleh padri penyambut tamu ke ruang
istirahat. Mereka menduga Hian-cu sebentar lagi pasti akan
mengambil tindakan tegas mengingat pelanggaran Hi-tiok
yang luar biasa itu, jangankan di dalam Siau-lim-si terdapat
beberapa gadis yang menyeru sebagai padri biarpun wanita
biasa saja tidak boleh sembarangan masuk ke dalam kuil suci
itu.
Dan baru saja para tamu itu keluar segera berkatalàh Bwe-
kíam, "Cujin, hamba sekalian diam-diam telah menyusul ke
sini untuk melayani Cujin harap engkau jangan marah kepada
kami."
Lam-kiam juga berkata, "Itu hwesio yang bernama Yam-
kin benar-benar terlalu kurang ajar, dia baru tahu rasa
sesudah kami beri hajaran setimpal padanya sehingga tidak
berani lagi menganiaya Cujin, tak terduga hwesio besar tadi
telah melukai Cujin pula."
Baru sekarang Hi-tiok paham duduknya perkara,Rupanya
tempo hari Yan-kin telah dihajar oleh Bwe-kiam berempat
sehingga babak belur dan diancam pula, pantas Yan-kin lantas
ketakutan dan sikapnya berubah baik padanya. "Jika demikian,
teranglah Bwe-kiam berempat sudah cukup lama menyamar
dan menyelundup ke dalam Siau-lim-si, wah, urusan bisa
runyam," demikian pikir Hi-tiok.
Cepat Hi-tiok berlutut dan menyembah patung Budha di
ruang pendopo itu dan berdoa. "Dosa Tecu teramat besar
sehingga mendatangkan malapetaka yang tak terperikan
kepada biara kita mohon Hongtiang memberi hukuman
seberat-beratnya."
"Cujin," tiba-liba Kiok-kiam berseru, "buat apa engkau
menjadi hwesio segala, lebih baik marilah kita pulang saja ke
Biau-biau-hong daripada makan nasi dan minum air tawar di
sini, bahkan mesti diperintah lagi oleh orang?"
Segera Tiok-kiam juga berkata sambil menuding Hian-cu,
"He, kamu hwesio tua ini, kalau bicara hendaknya sopan
sedikit, tahu! Jangan terlalu garang kepada Cujin kami. Awas,
kami berempat ini takkan sungkan-sungkan ambil tindakan
padamu."
"Diam," bentak Hi-tiok dengan gugup. "Kalian sudah
mengacau di sini, masih banyak bicara apa lagi? Lekas tutup
mulut!"
Tapi keempat nona itu masih terus bicara ini dan itu tak
berhenti-henti.
Para padri Siau-lim-ii saling pandang dengan melongo.
Mereka melihat keempat nona itu sama rupa dan sama
tingkah-lakunya, semuanya cantik dan lincah, tak tahu apa
artinya diam, mereka tidak tahu dari mana datangnya
keempat nona nakal demikian.
Seperti telah diceritakan, Bwe-kiam berempat adalah
kembar empat, asalnya adalah putri keluarga miskin di kaki
gunung Tai-soat-san, orang tua mereka memang sudah punya
beberapa orang anak, ketika mereka dilahirkan pula sekaligus,
sudah tentu orang tua mereka tidak sanggup piara mereka
dan terpaksa , dibuang di tempat sunyi.
Kebetulan Thian-san Tong-lo lewat di situ dan mendengar
suara tangisan orok, ketika mengetahui ada bayi kembar
empal yang dibuang orang tuanya, nenek itu sangat tertarik
dan segera di bawa pulang ke Lcng-ciu-kiong. Di sanalah Bwe-
kiam berempat dibesarkan dan diajarkan ilmu silat.
Walaupun Bwe-kiam berempat separti dayangnya Tong-lo,
tapi sesungguhnya mirip nenek dengan cucu-cucu dan mereka
sangat disayang oleh Tong-lo. Selamanya mereka pun tidak
pernah turun gunung, dengan sendirinya mereka tidak kenal
dunia ramai dengan seluk-beluknya, selamanya mereka cuma
tunduk kepada Tong-lo seorang, sesudah Hi-tiok
menggantikan sebagai majikan, mereka juga meladeninya
dengan penuh setia, bahkan karena sifat Hi-tiok yang ramah-
tamah kepada mereka sehingga mereka tidak begitu takut
seperti terhadap Tong-lo . . . .
Begitulah maka Hian-cu kemudian berkata, "Kecuali para
Suheng dan Sute angkatan Hian dan Hui-lun yang boleh
tinggal di sini, yang lain-lain silahkan kembali ke ruangan
masing-masing?"
Para padri mengiakan dan berturut-turut keluar dari ruang
pendopo itu. Hanya sekejap saja ruang itu tinggal kurang lebih
30 padri tua serta Hui-lun, guru Hi-tiok, ditambah Hi-tiok dan
keempat dayangnya.
Segera Hui-lun juga melangkah maju dan berlutut di
hadapan Hian-cu, katanya, "Tacu tidak becus mengajar muríd
sehingga mengeluarkan murid murtad seperti ini, mohon
Hungtiang. Menjatuhkan hukuman setimpal."
"Hihihihi!” tiba-tiba Tiok-kiam mengikik geli. “Hanya sedikit
kepandaian seperti kamu ini juga berani menjadi guru Cujin
kami! Apakah semalam kamu belum kapok jatuh terguling
beberapa kali. dijegal oleh Toaci kami?"
"Wah, celaka!" demikian diam-diam Hi-tiok mengeluh.
"Jadi guruku juga telah dipermainkan oleh mereka."
Dalam pada itu terdengar Bwe-kiam berkata dengan
tertawa. "Kudengar dari Yan-kin, katanya kamu ini guru Cujin
kami, maka aku sengaja hendak menguji dirimu, coba kalau
Sam-moai barusan tidak bilang padamu, sampai mati pun
kamu tidak tahu mengapa bisa jatuh terguling beberapa kali.
Hihihi, sungguh lucu!"
"Hian-ciam, Hian-gui, Hian-liam dan Hian-ceng Sute, harap
kalian menghentikan tingkah laku keempat nona ini," tiba-tiba
Hian-cu berkata.
Keempat padri tua yang disebut itu mengiakan dengan
hormat. lalu mereka berpaling kepada Bwe-kiam berempat
dan berkata, "Atas perintah Hongtiang pada kalian, harap
jangan sembarangan bicara dan bertingkah lagi!"
"Kami justru mau bicara dan bertingkah, mau apa?” sahut
Bwe-kiam.
"Jika begitu, terpaksa maafkan kami!” kata keempat padri
tua itu berbareng dan sekali jubah mereka mengebas dengan
teraling-aling kain jubah mereka terus mencengkeram
pergelangan tangan Bwe-kiam berempat. Keempat padri lua
itu menggunakan Kim-na jiu-hoat yang berbeda, tapi
semuanya adalah kepandaian Siau lim-pai yang sangat lihai.
Di antara keempat nona itu hanya Kiok-kiam saja yang
masih bersenjata pedang, senjata ketiga dari lain sudah
dipatahkan oleh Cumoti tadi. Maka dengan cepat Kiok-kiam
putar pedangnya untuk melindungi ketiga saudaranya itu dan
Bwe-kiam bertiga juga menggunakan pedang patah mereka
untuk menyerang lawan.
Keruan Hi-tiok kelabakan, cepat ia berkata, "Jangan!
Lemparkan pedang kalian dan jangan bergerak!"
Karena dibentak oleh sang majikan Bwe-kiam berempat
tertegun, sehingga gerangan mereka berhenti di tengah jalan.
Memangnya kepandaian, mereka bukan tandingan keempat
padri tua Siau-lim-si, maka dengan mudah sekali mereka kena
ditangkap.
Sekuatnya Bwe-kiam membetot tangannya yang terpegang
tapi tak bisa lepas. Dia mengomel, "Kami tunduk kepada
perintah Cujin, makanya sungkan pada kalian, kenapa kalian
main pegang-pegang segala? Aduh, sakiiitt! Jangan pegang
terlalu keras!"
Lam-kiam juga mendamprat, "Keledai gundul kecil, lekas
lepaskan tanganku!"
"Kau mau lepas tidak? Kalau tidak, segera akan kumaki
binimu, hoi!" demikian Tiok-kiam juga berteriak-teriak.
Dasar anak dara yang masih hijau, masakah padri tua
bangka dimaki sebagai "keledai gundul kecil" dan hwesio
dianggap punya bini seperti orang biasa.
Bahkan Kiok-kiam berseru, "Biar aku meludahi dia!"
"Cuh", mendadak ia menyemburkan ludahnya ke arah
Hian-ceng.
Namun sedikit menunduk dapatlah Hian-Ceng
menghindarkan air ludah itu, berbareng ia keraskan
cekatannya sehingga Kiok-kiam menjerit kesakitan.
Begitulah, Tai-hiong-po-tian yang merupakan ruang
pendopo suci dan angker itu dalam sekejap itu ramai dengan
jerit seru anak-anak dara.
Akhirnya Hian-Cu mengancam, “Keempat nona harap
tenang dan jangan ribut, kalau tidak menurut hendaknya para
Sute tutuk hiat-to bisu mereka!"
Supaya tidak ditutuk, sebab hal itu berarti hilangnya
kebebasan mereka, terpaksa Bwe-kiam berempat tidak berani
ribut lagi, sambil moncongkan mulut mereka melorok kepada
Hian-cu. Hian-ceng berempat juga lantas lepaskan cekalan
mereka dan berdiri di samping untuk mengawasi keempat
dara itu.
Lalu Hian-cu berkata, "Hi tiok, coba sekarang ceritakan
pengalamanmu selama ini, tidak boleh mengurangi sedikit pun
apa yang terjadi."
"Tecu akan memberi lapor dengan sejujurnya," sahut Hi-
tiok sambil menyembah.
Lalu berceritalah dia semua kejadian yang dialaminya,
dimulai dia ditugaskan mengirim surat dan ditawan Yap Ji-nio,
lalu ketemu dengan Hian-lan dan lain-lain dan secara
kebetulan dapat memecahkan problem catur sehingga menjadi
Ciangbunjin Siau-yau-pai, tentang dia digoda A Ci sehingga
melanggar pantangan makan barang berjiwa akhirnya tentang
pertamuannya dengan Thian-san Tong-lo dan kejadian dalam
gudang es, di sana dia bertemu pula dengan Li Jiu-sui dan
akhirnya dia menjadi majikan Leng ciu kiong. Bahkan tentang
pelanggarannya main-main dengan dewi impiannya juga
diceritakan tanpa mengurangi sedikit pun walau cara
menguraikannya agak maiu-malu dan tergagap-gagap tak
lancar.
Para padri terheran-heran sekali atas pengalaman Hi-tiok
yang aneh itu, kalau melihat apa yang terjadi tadi mereka
percaya cerita Hi-tiok itu pasti tidak bohoñg, sebab kalau Hi-
tiok tidak menyerap ilmu sakti Bu gai-cu, Tong-lo dan Li Jiu-sui
bertiga, pula telah mempelajari banyak ilmu sakti di dinding
kamar batu di Leng-ciu-kiong pasti tidak mungkin dia mampu
menandingi Tai-lun Beng-ong. yang maha lihai itu.
Begitulah sehabis melapor, berulang Hi-tiok menjura dan
minta ampun atas segala dosanya sambil menangis.
Setelah termenung sejenak kemudian Hian-cu berkata,
"Para Suheng dan Sute pengalaman Hi-tiok ini memang benar
luar biasa. Urusan ini menyangkut nama suci biara kita, aku
sendiri merasa sulit untuk, mengambil keputusan, maka
diharap para Suheng dan Sute suka memberi pandangan
superlunya."
Watak Hian-ceng paling keras, segera ia manggembor,
"Lapor Hongtiang, menurut pendapatku, Walaupun kesalahan
Hi-tiok teramat besar, tapi jasanya juga tidak kecil. Coba kalau
tadì dia tidak mengalahkan padri asing itu, tentu pamor biara
kita akan runtuh habis-habisan. Maka aku mengusulkan boleh
perintahkan Hi-tiok masuk ke Tat-mo-ih untuk memperdalam
ilmu silatnya dan agar menginsafi dosa-dosanya, untuk
selanjutnya dilarang keluar biara dan tidak boleh ikut campur
urusan biara."
Hendaknya dikelahui bahwa mempelajari ilmu silat di Tat-
mo-ih adalah tugas kehormatan, bagi padri Siau-lim-si, kalau
ilmu silatnya belum mencapai tingkatan tertinggi tidak
mungkin dapat di terima. Di antara padri angkatan Hian
sebanyak lebih 30 orang itu cuma 7 atau 8 orang saja yang
pernah masuk Tat-mo-ih, bahkan Hian-song sendiri belum
pernah. Sekarang dia mengusulkan Hi-tiok dikirim ke Tat-mo-
ih, ini bukan lagi hukuman melainkan boleh dikatakan scbagai
anugerah malah.
Tapi kepala Kai-lut-ih. Hian-cit Taisu, lantas berkata,
"Dengan kepandaiannya memang cukup syarat untuk masuk
Tat-mo-ih, tapi ilmu silat yang dia pelajari adalah dari
golongan luar, apakah Tat-mo-ih kita boleh dimasuki oleh jago
silat seperti dia, hal ini apakah sudah dipikirkan oleh Hian-
song Sute?"
Mendengar itu, para padri sama menunduk dan berpìkir,
mereka merasa usul Hian-seng itu memang kurang pantas.
"Habis bagaimana kalau menurut pendapat Suheng?"
Tanya Hian-seng kepada Hian-cit.
"Tentang ini, aku pun serba susah," sahut Hiau cit. "Hi-tiok
berjasa dan berdosa pula. Ada jasa harus diberi ganjaran, ada
dosa harus dihukum. Keempat nòna ini telah menyelundup ke
dalam biara kita, hal ini bukan atas perintah Hi-tiok, maka kita
dapat katakan terus terang duduknya perkara kepada Cumoti,
Sin kong dan lain-lain. Apakah nanti mereka mau percaya atau
tidak boleh terserah, pokoknya dalam hati kita dapat
bertanggung jawab kepada diri kita sendiri dan tak perlu
pusing kepada sangkaan jelek orang lain. Tapi Saal Hi-tiok
mengingkari perguruan sendiri dan belajar lagi kepada
golongan lain, di Siau-lim-si kita sudah tiada tempat lagi
baginya."
Maksud ucapan Hiaa-cit itu terang hendak memecat Hi-tiok
dari Siau-lim-si. Hukuman ini merupakan hukuman paling
berat dalam agama mereka, Keruan para padri saling pandang
dengan kuatir.
Dalam pada itu Hian-cit berkata pula, "Berulang dia
melanggar pantangan agama, mestinya ilmu silatnya harus
dipunahkan, kemudian baru diusir pergi. Tapi ilmu silat yang
pernah dimilikinya sudah dipunahkan orang lain lebih dulu,
kepandaian yang dimilikinya sekarang bukan lagi ilmu silat
golongan kita, maka kita tidak berhak buat memunahkannya."
Mendengar kepala Kai-lut-ih itu memutuskan mengusir dia
dengan menangis Hi-tiok menyembah dan minta ampun agar
hukuman itu diringankan asal jangan mengusirnya keluar
Siau-lim-si.
Seketika para paderi hanya saling pandang saja dengan
bingung dan rasa tidak tega. Mestinya kalau melihat
kesungguhan Hi-tiok, bukan mustahil dia akan dapat
memperbaiki segala perbuatannya yang salah itu. Tapi
sekarang soalnya menyangkut nama baik Siau-lim-si, dalam
urusan ini telah menyangkut Cumoti, Cilo Singh dan padri
agung dari Jing-lim-si dan lain-lain. Kalau Hi-tiok dihukum
kurang keras, tentu Siau-lim-si, akan dituduh membela
muridnya sendiri.
Pada saat itulah tiba-tiba muncul seorang padri tua dengan
dipayang dua orang muridnya. Kiranya Hian-to yang tadi
dilukai Cumoti dan pulang ke kamarnya untuk mengaso dia
tetap menguatirkan keadaan di luar, maka sekarang keluar
lagi.
"Hongtiang," demikian Hian-to lantas berkata, "jiwaku ini
berkat pertolongan Hi-tiok, sekarang aku ingin bicara sedikit,
entah boleh tidak?"
Hian-to masih terhitung Suhengnya Hian-cu, ilmu silatnya
sangat tinggi pula, maka biasanya Hian-cu sangat senang
padanya, cepat ia menjawab, "Suheng. silakan duduk,
bicaralah pelahan supaya tidak, mengganggu lukamu."
"Bahwasanya Hi-tiok telah menyelamatkan jiwaku belum
terhitung apa-apa," demikian kata Hian-to. "Sekarang kita
masih ada enam persoalan yang belum bisa diselesaikan,
kalau Hi-tiok dibiarkan tinggal di sini akan besar faedahnya
bagi kita. Jika dia, diusir pergi kita pasti . . . pasti akan
sulitlah."
"Keenam soal yang dimaksudkan Suheng kalau tidak salah
adalah, pertama Cumoti belum bisa digebuk pergi. Kedua
mungkin mengenai peristiwa Polo Singh, Ketiga adalah soal
tantangan Pangcu Kai-pang yaug mengaku bernama Ong sing-
thian itu. Adapun tiga persoalan lain diharap Suheng suka
memberi penjelasan?" demikian Tanya Hian-cit.
Hian-to menghela napas panjang, lalu berkata, "Ialah
mengenai tewasnya Hian-pi, Hian-kho, Hian-thong dan Hian-
lan Sute."
Serentak para padri sama mengucap ''Omitohud" demi
mendengar nama-nama keempat padri yang sudah meninggal
itu.
Seperti dikelahui, Hian-kho Taisu tewas di tangan Kiau
Hong Hian-lan dan Hian-thong terbunuh oleh Ting Jun-jiu,
sedangkan siapa pembunuh Hian-pi sampai sekarang masih
merupakan teka-teki, semua orang hanya tahu Hian-pi terkena
hantaman "Kim-kong-cu", senjata gada yang merupakan
senjata andalan Hian-pi sendiri dan termäsuk satu di antara
ke-72 macam ilmu silat Siau- lim-si.
Semula orang menyangka Hian-pi dibunuh oleh keluarga
Buyung yang terkenal suka menggunakan kepandaian khas
orangnya untuk diserang atas korban itu. Namun kemudian
ketika bertemu dengan Buyung Hok tampak sangat gagah
ksatria dan bukan golongan pengecut yang habis bunuh orang
tidak mau mengaku. Ditambah lagi setelah menyaksikan
Cumoti juga mahir Pan-yak-ciang dan lain-lain ilmu silat Siau-
lim-pai hal ini membuktikan bahwa Buyung Hok bukan satu-
satunya tersangka yang dapat menggunakan senjata '"Kim-
kong-cu."
Maka berkatalah Hian-cu, "Aku sendiri adalah Hongtiang,
tapi sama sekali tak dapat menyelesaikan keenam persoalan
itu, sungguh sangat memalukan. Akan tetapi kepandaian Hi-
tiok sekarang seluruhnya jelas berasal dari Siau-yau-pai,
masakah . . . masakah Siau-lim-si harus . . . ."
Sampai di sini Hian-cu sukar meneruskan lagi. Namun para
padri dapat memahami maksudnya.
Semua orang terdiam sejenak, akhirnya Hian to berkala
pula, "Habis bagaimana kalau menurut pikiran Hongtiang?"
"Omitohud!" sabda Hian-cu. "Kita telah menerima warisan
leluhur, hari ini kita menghadap alangan besar maka menurut
pendapatku, kita harus bertindak menurut garis lurus
sebagaimana mestinya. Lebih baik gugur sebagai satria
daripada hidup menanggung malu. Asalkan kita berjuang
sepenuh tenaga, mungkin nama baik Siau-lim-si masih dapat
kita pertahankan, jika terpaksa, biarlah kita membelanya
dengan mati-matian.”
Hian-cu berkata dengan tegas dan kerang sehingga para
padri serentak menyatakan setuju.
Segera Hian-cu berkata pula kepada Hian-cit, "Sute,
silakan melaksanakan hukum biara kita."
Hian-cit mengiakan dan segera memberi perintah kepada
padri penyambut tamu, "Undanglah Tai-lun Beng-ong dan
para padri agung!"
Diam-diam Hian-to dan Hian-seng merasa menyesal, meski
mereka ada maksud untuk membela Hi-tiok, tapi Hongtiang
lebih mengutamakan nama baik keseluruhan Siau-lim-pai
mereka sehingga mau tidak mau mereka harus tunduk.
Hi-tiok sendiri tidak tahu keputusan itu tak bisa ditarik
kembali lagi, biarpun memohon lagi juga percuma. Pikirnya,
"Setiap orang Siau-lim-si sudah seharusnya mengutamakan
nama baik golongannya. Aku sendiri harus terima akibat dari
perbuatanku sendiri dan sekali-kali tidak boleh unjuk rasa
takut dan minta belas kasihan didepan orang luar sehingga
merosotkan pamor Siau-lim-si."
Begitulah tídak lama kemudian Cumoti, Cilo Singh, Sin-
kong dan lain-lain telah diundang hadir di ruang pendopo.
Menyusul suara genta bertalu-talu pula padri Siau-lim-si juga
sama berkumpul. Lalu mulailah Hian-cu membuka, suara, "Tai-
lun Beng-ong dan para Suheng. sesudah diusut, diketahui
murid Sian-lim-si angkatan Hi yang bernama Hi-tiok telah
melanggar pantangan makan minum arak, membunuh dan
berzinah serta telah berani belajar ilmu silat dan menjabat
pula Ciangbunjin golongan lain. Untuk semua dosanya ini
kepala Kal lut-ih dari Siau-lim-si, Hian cit Sute akan segera
menjatuhkan hukuman yang setimpal sedikit pun tidak boleh
memberi kelonggaran."
Mendengar keputusan Hian-cu ini, Cumoti, Sin kóng dan
laín-laín agak melengak juga. Ketika melihat Bwe-kiam
berempat semula mereka menyangka Hi-tiok telah
menyembunyikan perempuan muda, pantangan yang di
langgarnya paling-paling cuma berzinah saja, siapa tahu dosa
Hi-tiok yang diumumkan Hian-cu sekarang ternyata lebih dari
itu.
To-jin dari Bo-to-si menjadi hwesio ketika usianya sudah
setengah umur, maka ia cukup tahu seluk-beluk orang hidup,
ditambah perangainya juga welas-asih dan suka membantu,
orang dalam kesulitan, maka ia lantas berkata, "Hongtiang
Suheng. keempat nona ini kelihatan masih suci bersih terang
masih perawan, bagi setiap orang yang berpengalaman
dengan gampang akan dapat mengetahuinya. Bahwa tingkah-
laku Hi-tiok tadi agak melampaui batas memang betul tapi
kalau dituduh pelanggaran 'berzìnah' untuk ini kukira agak
berlebih-lebihan.”
"Banyak terima kasih atas petunjuk Suheng.” kata Hian-ci.
"Tapi pelanggaran Hì-tiok ini bukan dimaksudkan atas diri
keempat nona ini. Hi tiok sekarang telah menjadi Cujin dari
Leng-ciu-kiong dan keempat nona ini adalah dayangnya,
maksudnya menyelundup ke biara kami hanya bertujuan
menjaga keselamatan majikan mereka, sebelumnya Hi-tiok
sendiri juga tidak tahu. Memang Siau-lim-si harus merasa
malu telah dapat diselundupi orang luar, tapi jelas ini bukan
kesalahan Hi-tiok."
"Jika demikian, orang luar tidak enak untuk ikut campur
lagi," ujar To-jing.
Sebenarnya semua yang hadir tiada yang kenal “Leng-ciu-
kiong" segala karena selama ini Thian-tan Tong-lo jarang
berkunjung ke Tionggoan dan bergaul dengan orang
persilatan. Hanya Cumoti saja yang pernah mendengar nama
Tong-lo, tapi juga tidak tahu dengan jelas.
Semula Cumoti, Sin-kong, Cilo Singh dan lain-lain
bermaksud jelek terhadap Siau-lim-si, tapi sekarang Hian-cu
bertindak tegas tanpa pandang bulu terhadap anak muridnya
sendiri, di depan orang banyak diumumkan pula dosa Hi-tiok
yang mestinya tidak diketahui orang luar, hal ini membuat
mereka mau-tak-mau harus kagum terhadap kebijaksanaan
ketua Siau-lim-si itu.
Kemudian Hian-cit lantas melangkah maju, dengan suara
lantang ia tanya, "Hi tiok, dosamu yang disebut Hongtiang tadi
apa kamu akui semuanya dan apakah kamu ingin membela
diri?"
"Tecu mengakui semua dosa itu dan rela menerima setiap
hukuman," sahut Hi-tiok.
Seketika semua orang mencurahkan perhatian kepada
Hian-cit untuk mendengarkan sangsi hokum yang hendak
dijatuhkannya.
Maka berserulah Hian-cit, "Hi-tiok melanggar empat
pantangan besar, maka harus dihukum rangket seratus kali di
depan umum. Hi-tiok, kau terima tidak?"
"Tecu terima dengan baik, banyak terima kasih atas
kemurahan hati Thai-supek," sahut Hi-tiok.
"Tanpa izin Hongtiang dan gurumu sendiri kamu
mempelajari ilmu silat golongan lain, maka, ilmu silat yang
kauperoleh dari Siau-lim si akan dipunahkan dan kamu
dihukum pecat, untuk selanjutnya kamu bukan murid Siau-lim-
pai lagi kau terima tidak?" tanya Hian-cit pula.
Hi-tiok menjadi sedih, tapi ia pun tahu keputusan ini tidak
mungkin dihindarkan lagi, terpaksa ia jawab, "Keputusan Thai-
supek memang maha adil, Tecu terima dengan rela."
Tadi para padri dari golongan lain telah menyaksikan Hi-
tiok melabrak Cumoti dengan ilmu silat Siau-lim pai seperti Wi
to ciang dan Lo-han-kun, tapi mereka tidak tahu bahwa
kepandaian Hi tiok yang sebenarnya pada hakikatnya bukan
kungfu Siau-lim-pai. Sebaliknya Cumoti yang mengaku mahir
ke-72 macam ilmu silat Siau-lim-pai sesungguhnya cuma
lahirnya atau gayanya saja yang dipahami. Iwekang Siau-lim-
pai yang asli boleh dikatakan tidak dipahami olehnya, Siau-bu-
siang-kang yang digunakan Hi-tiok tadi sudah tentu juga
dipahami Cumoti, tapi dia tidak kenal Pah-teng-cin-gi, Thian-
san-Hok-yang jiu dan Ciat-bwe-jín segala, maka ia sangka
kepandaian Hi-tiok itu adalah ilmu silat Siau-lim-pai yang lihai.
Sekarang didengarnya ilmu silat Hi-tiok akan dipunahkan,
tentu saja ia sangat girang di dalam hati. Sebaliknya To-jing,
Kat-hian dan lain-lain merasa sangat sayang bagi Hi-tiok.
Maka terdengar Hian-cit berkata pula, "Karena kamu telah
menjadi Ciangbunjin Siau-yau-pai dan Cujin Leng-ciu-kiong,
maka kamu dilarang menjadi murid Budha lagi, selanjutnya
kamu bukan lagi padri Siau-lim-sí."
Hi-tiok sudah yatim piatu, sejak bayi dibesarkan di Siau-
lim-si, sekarang dia diharuskan berpisah dengan tempat
bernaungnya selama ini, betapa pun dia merasa sedih juga
maka menangislah dia dan dengan terguguk ia menyatakan
terima kasih kepada para padri agung Siau-lim-si yang telah
mendidiknya selama ini.
Akhìrnya Hian-cit berkata pula, ''Sekarang hendaklah Hui-
lun mendengarkan keputusan!"
Segera Huí lun melangkah maju dan berlutut.
"Hui-lun", seru Hian-cit, "sebagai guru Hi-tiok kamu salah
mendidik dan kurang memberi petunjuk sehingga
mengakibatkan pelanggaran yang dilakukan Hi-tiok ini.
Sekarang kamu dlhukum rangket 30 kali dan harus bersujud di
dalam Kai lut-ih selama tiga tahun, kauterima tidak."
"Tecu terima dengan rela," sahut Hui-lun dengan gemetar.
Tiba-tiba Hi-tiok berseru, "Thai-supek, Tecu bersedia
mewakilkan suhu menerima hukuman 30 kali rangketan itu!"
"Jika demikian maka Hi tiok akan dirangket 130 kali," kata
Hian-cit. "Ciang-heng Tecu (murid pelaksana hukum), siapkan
pentungan sekarang, Hi-tiok masih anggota Siau-lim-si, maka
hukuman ini harus dilaksanakan tanpa ampun. Nanti sesudah
dia keluar dari keanggotaan biara kita, dan dia akan menjadi
Ciang-bunjin, golongan biara kíta harus menaruh hotmat juga
padanya."
Keempat murid pelaksana hukum segera akan jalankan
perintah itu, tidak lama kemudian mereka telah menyiapkan
empat batang pentungan.
Selagi Hian-cik hendak memberi aba-aba agar hukuman itu
dilakukan, tiba-tiba seorang padri penjaga berlari masuk
sambil mempersembahkan setumpuk kartu nama kepada
Hian-cu, katanya, "Lapor Hongtiang para ksatria Ho-siok
(daerah utara sungai kuning) mohon bertemu!"
Ketika Hian Cu periksa kartu-kartu nama itu jumlah
seluruhnya ada lebih 30 helai dan sebagian besar adalah
ksatria ternama dari daerah utara diantaranya banyak pula
ksatria yang pernah hadir dalam Eng-hiong-tai-hwe di Cip-
hian-ceng dahulu.
Diam-diam Hian-cu heran ada urusan apakah sekaligus
datang ksatria dan tokoh sebanyak itu?
Dalam pada itu di luar biara terdengar suara orang ramai,
para-ksatria sudah tidak sabar menunggu lagi, "Hian-seng
Sute harap keluar menyambut mereka!" kata Hian-cu. Lalu
sambungannya pula, "Hadirin sekalian karena banyak tamu
berkunjung kemari, urusan pembersihan rumah tangga biara
kami ini terpaksa ditunda untuk sementara agar tidak
mengganggu kedatangan pera tamu."
Kemudian ia pun berangkat memapak keluar pendopo.
Tidak lama, tertampaklah Hian-seng dan padri penyambut
tamu datang mengiringi para ksatria Ho-siok.
Hian-cu, Hian-cit, Hian-seng dan lain-lain adalah padri
yang saleh, mereka juga tokoh persilatan terkemuka sehingga
terhadap sesama tokoh persilatan mereka sangat kagum satu
sama lain. Sekarang biarpun sedang menghadapi urusan
dalam yang menekan perasaan, tapi demi nampak datangnya
para kenalan itu, seketika semangat mereka terbangkit juga.
Bahkan diantara pendatang itu ada beberapa orang
merupakan sobat baik Hian-seng dan padri agung lain, maka
sesudah bersalaman dengan mesra, lalu mereka disilakan
masuk pendopo dan dlperkenalkan kepada Cumoti dan lain-
lain.
Sin-kong, Liong-beng dan lain-lain juga bukan kaum
keroco, maka banyak juga kawan mereka diantara para ksatria
Ho siok itu.
Dan baru saja Hian-cu hendak tanya maksud kedatangan
para ksatria Ho-siok itu, tiba-tiba para penyambut tamu
datang lagi melapor bahwa beberapa puluh tokoh Bu-lim dari
daerah Sontang dan Sonsai juga berkunjung tiba. Maka Hiat-
ciam lantas disuruh keluar menyambut lagi.
"Katni diundang Ong-pancu dari Kai-pang untuk
menyaksikan keramaian apakah beliau sendiri belum datang?"
demikian tiba-tiba seorang laki-liki hitam kekar berteriak.
"Buat apa ributi" demikian seorang lagi yang bersuara
tajam melengking menanggapi "Kita sudah datang, kalau ada
ramai-ramai masakah kami kekurangan tontonan?"
Segera Hian-cu membuka suara, "Para kawan telah sudi
berkunjung kemari secara serentak, sungguh Siau-lim-si
merasa mendapat kehormatan besar. Apabila pelayanan
kurang baik. harap suka memberi maaf."
"Ah, Hongtiang tidak perlu sungkan," sahut hadirin
beramai.
Dalam pada itu beberapa tokoh yang menjadi sobat baik
padri Siau-lim-si lantas menuturkan maksud kunjungan
mereka ini. Kiranya Pang-cu Kai-pang yang mengaku bernama
Ong Sing-thian itu sudah menyebarkan kartu undangan
kepada pera ksatria, katanya Siau-lim-pai dan Kai-pang
biasanya sama-sama menjagoi dunia persilatan Tionggoan,
tapi Ong Sing-thian yang baru menjabat sebagai Pangcu itu
ingin menentukan seorang Bu-lim Beng-cu (pemimpin dunia
persilatan) dan mengadakan peraturan tertentu agar ditaati
oleh setiap orang persilatan. Untuk itu telah ditetapkan
tanggal 15 bulan enam Ong Sing-thian akan datang sendiri ke
Siau-lim-si untuk bicara dengan Hian-cu.
Dari kartu undangan yang dipertunjukan itu dapat dibaca
kalimat-kalimat yang bernada congkak, seakan-akan Bu-lim
Beng-cu itu nanti sudah pasti akan diduduki oleh orang yang
bernama Ong Sing-thian itu.
Maksud dan tujuan Ong Sing-thian pun cukup jelas, yaitu
hendak menggunakan kepandaiannya untuk mengalahkan
para padri Siau-lim-si dan menundukkan Siau-lim-pai yang
telah terkenal selama beratus tahun itu.
Begitulah maka tidak lama kemudian telah datang pula
ksatria dari berbagai penjuru, baik dari utara maupun selatan
telah berkumpul semua, padahal jarak kediaman para ksatria
itu terpisah sangat jauh, namun dalam sehari saja mereka
sudah berkumpul, hal ini menandakan persiapan kai-pang
yang rapi dan terang sudah mengaturnya sekian lama.
Hian-cu dan para padri Siau-lim-si tidak memberi komentar
apa-apa, tapi dalam hati mereka sangat gusar dan kuatir pula.
Tindakan Kai-pang ini boleh dikatakan sangat kurangajar.
sebab baru beberapa hari yang lalu mereka menerima surat
Ong Sing-thian yang menyatakan hendak berkunjung ke Siau-
lim-si untuk membicarakan soal Bu-lim Beng-Cu dan
menyatakan pula akan tiba dalam waktu singkat, di dalam
surat itu sama sama sekali tidak disebut-sebut tentang
diundanganya para satria dari berbagai penjuru itu. Siapa
duga sekarang para ksatria itu telah berkumpul hingga Siau-
lim-si kerepotan menghadapi persoalan itu.
Sebenarnya Siau-lim-sl. juga banyak mempunyai sobat
andai di kalangan kongouw, tapi sebelum ini sama sekali tidak
diperoleh kabar apa-apa, jadi sebelum bertanding Siau-lim-si
sudah kebesaran asòr lebih dulu.
Dalam watak Hian seng memang kasar, dengan
mendongkolnya segera ia menegur sobat baiknya yang
bernama Cukat Tiong, bergelar Hopak-sin-tan (si pelor sakti
dari Hopak), serunya, ''Bagus sekali Cujin-loji, kamu mendapat
berita peristiwa ini, tapi diam-diam saja dan tidak mau
mengirim kabar padaku. Ya, anggaplah persahabatan kita kita
selama 30 tahun ini telah putus sampai di sini saja."
Dengan muka merah padam Cukat Tiong memberi
penjelasan, "Aku . . . aku juga baru mendapat kartu undangan
ini pada tiga hari yang lalu tanpa banyak pikir siang-malam
aku lantas memburu kemari, di tengah jalan aku sampai ganti
dua ekor kuda karena kuatir terlambat dan tak sempat
memberi sedikit bantuan kepadamu tua bangka ini, tapi
mengapa engkau malah menyalahkan aku?"
"Jadi kamu bermaksud baik juga, ya?" jengek Hian-seng.
"Mengapa bukan maksud baik?" sahut Cukat Tiong
beruring-uring. "Sekalipun ilmu silat Siau-lim-si kalian maha
tinggi, bila saudara tua ikut datang memberi semangat,
apakah ini bermaksud jelek?"
Karena penjelasan itu barulah Hian-seng merasa lega.
Ketika ksatria lain ditanya, ternyata ada yang terima kartu
undangan lebih dulu bagi yang kediamannya jauh, yang
tempat tinggalnya dekat Siau-lim-si baru terima kartu
undangan beberapa hari yang lalu tapi semuanya segera
berangkat dengan terburu-buru sehingga dapat tiba tepat
pada waktunya.
Jadi bukan para sobat-andai itu tidak mau memberi kabar
kepada Siau-lim-si sebelumnya, rupanya hal itu sudah
diperhitungkan oleh pihak Kai-pang sedemikian rupa sehingga
mereka menaksir datangnya para ksatria itu akan berbareng
sekaligus dalam satu hari saja.
Mengingat kerapian persiapan Kai-pang ini Hian-cu dan
kawan-kawannya menjadi kuatir jangan-jangan pihak Kai-pang
masih banyak tindakan menyusul yang lebih lihai, diam-diam
mereka sangat prihatin dan waspada.
Hari ini adalah tanggal 15 bulan enam sebagaimana di
tetapkan oleh Ong Sing-thian, hawa panas terik.
Memangnya padri Siau lim-si lagi sibuk menghadapi Sin-
kong Sfangjin, Cilo Singh dan lain-lain kemudian menempur
Cumoti dan memeriksa perkara Hi-tiok. Sekarang mendadak
membanjir lagi para ksatria dari segenap penjuru itu, keruan
mereka tambah repot melayaninya.
Untung padri penyambut tamu Siau-lìm-si sudah
berpengalaman, ruang biara juga luas, perbekalan pun cukup
sehingga di bawah pimpinan Hian ceng yang merupakan
kepala bagian penyambut tamu itu dapat berjalan dengan
teratur baik.
Tengah Hian-cu sibuk menghadapi kenalan-kenalan di
antara hadirin itu, tiba-tiba terdengar pula laporan padri
penjaga, '"Pangeran Toan, Tin-lam-ong negeri Taili tiba!"
Hian-cu menjadi girang dan cepat menyambut ke luar
sendiri.
Seperti telah diceritakan, berhubung dengan tewasnya
Hian-pi Taisu, maka padri Siau lim-si menyangka keluarga
Buyung dari Koh-soh yang membunuhnya dan telah
menyebarkan undangan kepada para ksatria di segenap
penjuru untuk merundingkan citra menghadapi Koh-soh
Buyung itu.
Menerima undangan itu, raja Taili segera mengirim
saudaranya sendiri, yaitu Toan Cing sun bersama Hoan Hwa,
Po Thian-sik, Tang Su-kui dan lain-lain untuk membantu Siau-
lim-si.
Tak terdüga sebelumnya Siau Hong telah mengamuk di
Cip-hian-ceng sehingga sebelum Eng-hiong-tai-hwe dibuka
para ksatria itu sudah diobrik-abrik dan kacau balau. Karena
itu para ksatria menganggap Kiau Hong adalah musuh
bersama dunia persilatan Tionggoan sehingga permusuhan
mereka terhadap "Lam Buyung" teralihkan dan "Pak Kian
Hong" yang dijadikan sasaran.
Karena kerajaan Song dan Cidan adalah musuh bebuyutan,
maka ketika Kiau Hong diketahui adalah keturunan bangsa
Cidan. keruan rasa permüsuhan ksatria Tionggoan kepadanya
semakin menjadi-jadi.
Walaupün negeri Taili jauh terletak di selatan dan keluarga
Toan sebenarnya adalah bangsa Han, tapi mereka sudah lama
mendirikan negara dan tidak ingin bermusuhan dengan
kerajaan Liau (negara bangsa Cidan), sebab itu juga tidak
mau ikut bertengkar dengan Kiau Hong. Kemudian ketika Toan
Cing-sun terancam oleh Toan Yan-khing, untung dia ditolong
oleh Kiau Hong, dengan demikian ia menjadi utang budi
malah, kepada Kian Hong.
Sesudah urusan diTionggoan selesai, mestinya Toan Cing-
sun hendak terus pulang ke Taili, tapi di tengah jalan ia
mendapat berita dari negeri Taili bahwa putra mahkota, Toan
Ki, telah diculik oleh Cumoti dan dibawa lari ka Tionggoan.
Keruan ia kaget dan kuatir, segera ia mencari pütranya itu
kemana-mana. ditambah lagi dia berada pula dengan
kekasihnya yang lama, yaitu Cin Ang-bian dan Wi Sing-tiok,
dasar sifat Toan Cing-sun memang romantis dan bangor.
Sekali kecantol urüsan perempuan, lupa daratanlah día
sehingga selama beberapa bulan ini dia masih berada di
Tionggoan.
Paling akhir ini dia mendengar Pangcu Kaì-pang yang baru
bernama Ong Sìng thían hendak terebut pimpinan dengan
Siau-lim-pai sebagai Bu-lim Beng-cu, ia pikir di tempat ramai-
ramai itu mungkin dapat diperoleh sedikit kabatnya sang
putra. Maka buru-buru ia dating ke Siau-lim-si.
Selama itu Wi Sing tiok terus mendampingi Toan Cing-sun,
pertama día merasa berat berpisah dengan kekasihnya, kedua
ingin mencari putrinya si A Ci. Tapi kaum wanita dilarang
masuk ke Siau-lim-si, maka ia sengaja menyamar sebagai
lelaki dan ikut dalam rombongan Toan Cing-sun itu."
Begitulah sesudah Hian-cu menyilakan Toan Ceng-sun dan
rombongannya masuk ke ruang pondopo. Lalu diperkenalkan
kepada para ksatria. Orang pertama yang diperkenalkan
padanya adalah Tai-lun Beng ong Cumoti dari Turfan.
Mendengar nama padri itu, seketika air muka Toan Cing-
sun berubah, la memberi salam dan segera menegur,
"Rupanya putraku yang bodoh itu mendapat perhatian Beng
ong dan kabarnya telah dibawa ke timur sini, sepanjang jalan
tentu telah banyak mendapat petunjuk berharga dariJ Taisu
dan mendapat kemajuan, sungguh aku merasa sangat
berterima kasih."
"Ah, mana, mana!" sahut Cumoti dengan merendah, Tapi
ia lantas geleng kepala pula dan berkata, "Dan sayang,
sungguh sayang!"
Seketika hati Cing-sun berdebut keras ia sangka mungkin
telah terjadi apa-apa atas diri Toan Ki, maka cepat ia tanya,
"Apa maksud ucapan Beng-ong ini?"
"Tempo hari Sianceng telah beruntung dapat bertemu
dengan Koh-eng Taisu, Thian-in Hongtiang dan kakak-
bagindamu, mereka semuanya ramah-tamah, sangat kereng
dan tenang benar-benar kaum ini yang susah dicari. Nama
Tin-lam-ong sendiri terkenal di seluruh jagat, mengapa dalam
urusan anggota keluarga mesti mengunjuk rata kuatir
sedemikian?"
Memang dalam gugup dan kuatirnya nada suara Toan
Cing-sun tadi kedengaran agak gemetàr. Maka Cing-Sun cepat
menenangkan diri, ia pikir kalau benar sang putra mengalami
sesuatu juga ada gunanya dikuatirkan lagi sebaliknya malah
akan ditertawai oleh padri asing ini.
Maka katanya kemudian, "Kasih sayang kepada putra-putri
sendiri adalah sifat dasar setiap orang di dunia ini, kalau
manusia tidak melahirkan putra-putri, tentu manusia akan
lenyap dari dunia ini. Kami adalah orang biasa, sudah tentu
tak dapat dibandingkan padri saleh sebagai Beng-ong yang
welas-asih dan menganggap segala apa di dunia ini cuma
kosong belaka."
Cumoti tersenyum, sahutnya, "Ketika mula-mula aku
bertamu dengan putramu kulihat bentuk kepalanya menonjol
kelak pasti akan menjayakan keluarga Toan dan menjadi Tuan
yang diagungkan di negari Taili."
“Tarima kasih," kata Cing-sun, Tapi diam-diam ia
menggerutu, "Keledai gundul ini sungguh sangat licin,
bícaranya melantur-lantür saja dan membikin hatiku semakin
kuatir.”
Tiba-tiba Cumoti menghela napas dan berkata, “Ai,
sungguh sayang, putra keluarga Toan ini, ternyata tidak punya
rejeki yang báik."
Dan ketika melihat air muka Toan Cing-sun berubah lagi,
lalu dengan tersenyum ia melanjutkan, "Dia ikut datang ke
Tionggoan sini dan bertemu dengan seorang nona cantik
sejak-sejak itu ia melengket dan selalu berada di samping si
Jelita dan hilanglah segala cita-citanya yang muluk-muluk dan
semangat jantannya, ia selalu mengintil di belakang si cántik,
ke mana si cantik pergi, di sana pula dia mengekor. Siapa saja
yang melihat tentu akan mengatakan dia adalah seorang
pemuda bangor, dan tidak memper sebagai seorang pangeran
terhormat."
Sampai di sini tiba-tiba terdengar suara orang tertawa geli,
suara tertawa kaum wanita. Waktu semua orang memandang
ke arah suara tertawa itu, ternyata seorang laki-laki setengah
umur bermuka jelek.
Kiranya orang yang tertawa ini adalah Wi Sing-tiok,dia
adalah ibu A Cu, dan seperti juga A Cu, rupanya sudah
pembawaannya bahwa dia diberkahi dengan kepandaian
menyamar yang amat mahir. Sekarang dia menyaru sebagal
lelaki, baik wajahnya maupun tingkah-lakunya memang persis
sebagai kaum lelaki. Cuma suaranya agak lembut dan kalah
daripada suara A Cu yang pandai menirukan lagak-lagu kaum
lelaki itu.
Ketika melihat perhatian semua orang, tercurahkan
padanya, cepat ia bikin kasar suaranya dan berkata,
"Pangeran cilik negeri Taili itu rupanya memang turunan ayah
harimau tidak nanti melahirkan anak anjing! Hahaha! Sungguh
hebat!"
Bahwasannya Toan Cing-sun adalah seorang pangeran
"Don juan" memang sudah terkenal dikalangan kangouw,
maka demi mendengar Wi Sing-tiok mengatakan kelakuan
Toan Ki itu adalah turunan, para ksatria itu saling-pandang
dengan tertawa geli.
Cing-sun sendiri lantas terbahaik juga, katanya kepada
Cumoti, "Anak tak becus itu . . . . "
"Bukan tidak becus, justru dia sangat becus, malahan
pandai sekali!" potong Cumoti.
Cing-sun tahu orang sengaja menyindir dia pandai
memikat wanita, ia tidak ambil pusing dan melanjutkan,
"Entah sekarang berada di mana dia? jika Beng-ong tahu
kiranya, sudilah kiranya memberi tahu?"
"Dasar Toan-kongcu memang seorang romantis, setiap
hari senantiasa tenggelam dalam lamunan asmara," ujar
Cumoti. "Maka waktu aku bertemu dengan dia paling akhir ini
dia tampak kurus kering dan pucat-pasi, apakah sekarang
masih hidup atau sudah mati aku sendiri sukar
mengatakannya dengan pasti."
Tiba-tiba Cing-sun teringat kejadian di Taili dahulu, Toan Ki
telah mencintai seorang gadis kampungan, Bok Wan-jing,
celakanya secara sangat kebetulan itu justru adalah putrinya
sendiri, jadi tunggal ayah lain Ibu dengan Toan Ki, kejadian itu
membuat pemuda itu sangat terguncang hatinya, kalau
sekarang dia masih terus tergila-gila kepada adik perempuan
sendiri itu, maka urusan benar-benar akan celaka 13.
Selagi Cing-sun merasa kuatir, tiba-tiba seorang padri
muda tampil ke muka dan memberi hormat padanya sambil
menyapa, "Harap Ongya jangan kuatir, Toan-Samteku itu
sama sekali tidak kurus-kering, tubuhnya sehat walafíat dan
segar-bugar.”
Cepat Cíng-sun membalas hormat dengan heran, Kalau
melihat dandanannya, padri itu terang adalah hwesio keroco
Sian-lim-si, kenapa dia menyebut anak Ki sebagai "Samte"
(adik ketiga)''
Maka ia coba tanya, "Apakah belum lama ini Siausuhu
pernah melihat putraku itu?"
Hwesio muda itu bukan lain adalah Hi-tiok. Baru saja dia
hendak menceritakan pertemuannya dengan Toan Ki di Leng-
ciu-kiong, mendadak suara Toan Ki bergema di luar pendopo
sana "Ayah, anak berada di sini, apakah engkau baik-baik
saja?"
Dan baru lenyap suaranya, tahu-tahu sebuah bayangan
orang sudah menyelinap masuk dengan kecepat luar biasa
terus menubruk ke dalam pelukan Toan Cing-sun. síapa lagi
dia kalau bukan Toan Ki.
Jilid ke-72
Iwekang Toan Ki sekarang sudah amat tinggi, telinganya
menjadi sangat tajam pula, maka sebelum masuk ke dalam
biara lantas di dengarnya sang ayah sedang bercakap dengan
Cumoti dan taisu-taisu siau lim si, maka dengan tidak sabar
lagi terus saja ia masuk menggunakan “leng-po-wi-poh" untuk
menyelinap masuk ke dalam pendopo itu.
Kemudain ayah dan anak itu saling rangkul dengan
perasaan yang gembira yang tak terperihkan. Dilihatnya
kondisi sang putra memang kurusan sedikit, tapi penuh
dengan semangat dan sekali-kali tidak pucat pasi sebagai
mana yang dikatakan Cumoti.
Kemudian Toan Ki berpaling kepada Hi-tiok dan menyapa,
“Jiko, kenapa engkau telah menjadi hwesio lagi?''
Hi-tiok telah berlutut setengah harìan di depan patung
Budha untuk mengakui dosanya, sekarang demi nampak Toan
Ki, seketika teringat ia kepada "dewi ¡mpian" itu sehingga
mukanya merah jengah dan sikapnya juga kikuk-kikuk,
dangan sendirinya ia tidak berani sembarangan mencari tahu
dan tanya Toan Ki tentang kekasih yang dirindukannya itu.
Dalam pada Cumoti yakin datangnya Toan ki ke Siau-lim-
si pasti tidak sendirian. Ia tahu pemuda itu sangat kesemsem
pada Giok-yan, hanya nona itulah yang mempunyai daya tarik
sehigga Toan Ki ikut datang ka Siau-lim-si. Sebaliknya ia pun
tahu Giok-yan hanya mencintai kakak misannya, yaitu Buyung
Hok, jika ada satu ada dua, tidak mungkin Giok-yan berpísah
dengan Buyung Hok, karena keyakinan itu, segera kerahkan
tenaga dalam dan berseru, "Buyung kongcu, jika sudah
sampai di Siau-lim-pai kenapa tak lekas masuk biara dan
menyembah Budha."
Para ksatria melengak, mereka heran apakah si Buyung-
kongcu juga sudah dating? Tapi mengapa tìada sesuatu tanda
ke datangannya, sebaliknya padri aslng ini sudah tahu malah?
Mereka tidak tahu bahwa Cumoti hanya berdasarkan
dugaannya saja atas diri Toan Ki dan Giok-yan, padahal ia
sendiri tidak tahu percis datangnya Buyung Hök.
Tak tersangka di luar biara ternyata sunyi-sunyi saja,
selang sejenak barulah terdengar suara Cumoti sendiri yang
berkumandang kembali dari lembah pegunungan sana. Diam-
diam Cumoti terkesiap, ia pikir dugaannya sekali ini ternyata
meleset, sebab kalau Buyung Hok benar ikut datang, tentu dia
akan menjawab seruannya.
Dan baru saja ia hendak tertawa dan mengucapkan kata-
kata untuk menutupi salah duganya itu, tiba-tiba terdengar
suara seorang yang dalam melengking sedang berkata,
"Buyung-kongcu dan Ting-lokoai sedang bertarung dengan
serunya, sesudah Ting-lokoai terbunuh barulah ia dapat
bersembahyang ke Siau-lim-si sini."
Mendengar suara itu, seketika air muka Toan Cing-sun dan
Toan Ki berubah, mereka kenal itu, suara "Ok-koan-boan-ong"
Toan Yan-khing, kepala "Su-ok” yang maha jahat itu.
Dahulu mereka ayah dan anak pernah hampir binasa
ditangan durjana itu, sekarang kepergok lagi di Siau-lim-si,
andaikan nanti tidak mati di tangannya juga pasti akan
kehilangan muka habis-habisan di depan ksatria yang
berkumpul di sini.
Selagi Cing-sun kebat-kebit tak tentram sambil memikirkan
cara menghadapi musuh nanti, dalam pada itu Toan Yan-khing
yang berjubah panjang dan berkaki tongkat südah melangkah
masuk. Di belakangnya tampak mengikut "Bu-ok-put-ok" Yap
Ji-nio, "Hiong-sin-ok-sai" Lam-hai-gok-sin dan "Kiong-hiong-
kek-ok" in Tiong-ho, Jadi “Su-ok” sekaligus telah datang
semua.
Terhadap tetamunya Hian-cu tidak pandang bulu, biarpun
"Su-ok" terkenal maha jahat juga dilayani dengan hormat.
Ketika mendadak melihat Toan Ki juga berada di situ,
seketika wajah Lam-hai-gok-sin berubah merah dan segera
putar tubuh hendak kabur.
Namun Toan Ki sudah lantas menegurnya dengan tertawa,
"Eh, murid baik, apakah sehat-sehat saja selama ini?"
Mendengar panggilan itu, Lam-hai-gok-sin merasa tak bisa
lari lagi, dengan marah-marah ia menjawab, "Maknya, Suhu
keparat, kiranya kamu belum mampus!"
Keruan para hadirin melengak heran mendengar tanya
jawab itu. Pemuda lemah-lembut sebagai Toan Ki memanggil
seorang yang bengis jahat sebagai murid, hal ini saja tidak
aneh, sekarang sang murid memanggil guru dengan cara
sangat kurang ajar, tentu saja hal ini lebih-lebih
mengherankan mereka.
Dalam pada itu Yap Ji-nio yang memondong seorang bayi
berumur antara satu tahunan juga lantas berkata dengan
tertawa, "Ting losian sedang mengunjukkan kesaktiannya
sehingga Buyung-kongcu selalu dihajar habis-habisan.
Pertarungan hebat itu jarang ada dijagat ini, apakah kalian
beramai-ramai tidak ingin pergi melihatnya?"
Mendengar itu, Toan Ki berseru kaget dan segera
mendahului menerobos keluar.
Kiranya dugaan Cumoti tadi memang tidak meleset. Sejak
Toan Ki meninggallcan Lang-ciu-kiong, segera ia menyusul ke
arah Buyung Hok dan Ong Giok-yan dan dapat bertemu
dengan mereka beberapa ratus li di timur Biau-biau-Hong.
Meski Pau Put-tong merasa jemu kepada pemuda dogol itu,
tapi juga tidak berani mengusirnya atau melarang dia dalam
rombongan mereka.
Di tangah jalan mereka mendengar kabar tentang Kai-pang
hendak berebut Bu-lim Beng-cu dengan Siau-lim-pai. Karena
Buyung Hok bercita-cita hendak bersahabat dengan ksatria
seluruh jagat sebagai sebagai modal pergerakannya
membangun karajaan Yan di kemudian hari, maka diam-diam
ia berunding dengan Ting Pak-jwan dan lain-lain.
Menurut perhitungan mereka, jika Kai-pang dan Siau-lim-
pai saling gempur sehingga kedua pihak sama-sama celaka,
maka keluarga Buyung yang akan menarik keuntungannya,
boleh jadi akan dapat merebut gelar sebagai Bu-lim Beng-cu
dan dapat memerintah para ksatria kangouw, dan ini berarti
suatu kesempatan bagus yang tidak boleh disia-siakan bagi
pergerakannya.
Tak tersangka baru saja mereka sampai di kaki gunung, di
situ mereka lantas kepergok Sing-siok lokoai Ting Jun-jiu.
rupanya selama beberapa bulan itu Ting lokoai telah membuka
pintu lebar-lebar untuk menerima murid, tidak peduii dari
golongan dan aliran apa saja asal mau masuk perguruannya
dan tunduk pada perintahnya, mereka semuanya diterima
tanpa syarat lain. Sebab itulah dalam waktu singkat saja
kawanan sampah masyarakat persilatan Tionggoan telah
banyak menggabungkan diri dengan Sing-siok-pai.
Buyung Hok sudah pernah bergebrak beberapa kali
melawan Ting Jun-jiu dan belum pernah ketahuan siapa lebih
unggul dan asor. Sekarang kepergok lagi. ia lihat pihak Lokoai
berjumlah sangat besar diam-diam Buyung Hok merasa kuatir.
Sebaliknya Hong Po-ok yang tidak pernah kenal apa artinya
takut dengan tangkas segera menerjang ditengah-tengah
musuh dan bertempur melawan para pengikut Sing-siok-pai
itu.
Karena tidak mahir ilmu silat maka Toan Ki hendak
mengajak Giok-yan menyingkir saja. Tapi nona itu justru
sangat menaruh perhatian terhadap keselamatan sang Piauko,
maka ia tidak lalu menyingkir.
Jumlah pengikut Sing-siok-pai yang amat bányak itu dalam
waktu singkat saja sudah melanda rombongan Buyung Hok.
Tapi dengan langkah ajaib "Leng-po-wi-poh" dapatlah Toan Ki
lari keluar dari kepungan musuh sehingga bertemu dengan
ayahnya. Sekarang ia dengar Yap ji-nio mengatakan Buyung
Hok dihajar habis-habisan oleh Ting Jun-Jiu dan barulah Toan
Ki ingat kembali kepada keselamatan Giok-yan, ia pikir nona
itu harus lekas digendong keluar dari kepungan musuh.
Begitulah maka secepat terbang ia lari mendahului keluar dari
Siàu-lim-si.
Ting Jun-jiu adalah pembunuh Hian-thong dan Hian-lan,
dengan sendirinya dia dipandang sebagai musuh besar Siau-
lim-pai. Maka saat mendengar iblis tua itu sudah sampai di
situ, seketika gegerlah para padri Siau-lim-si.
Segera Hian-teng mendahului berteriak, “Hari ini kita harus
tangkap hidup-hidup Ting-lokoai untuk membalas dendam
Hian-thong dan Hian lan Suheng!"
"Mereka adalah tamu, kita harus berbuat halus dahulu dan
kemudian baru memakai kekerasan," kata Hian-cu.
Para padri serentak menyatakan baik. dan Hian-cu berkata
pula kepada para tamu, "Para hadirin, apakah suka ikut pergi
menyaksilan pertempuran hebat antara Ting-lokoai melawán
orang she Buyung itu?"
Memang para ksatria sudah getol sekali ingin menyaksikan
pertarungan itu, demi mendengarkan itu, sebagian kaum
muda yang sudah tak sabar lagi segara mendahului berlari ke
luar, Menyusul Su-ok, Sin-kong dan lain-la¡n serta rombongan
Toan Cing-sun juga beramai-ramai ikut dari belakang. Dalam
pada itu para padri Siau-lim-si juga sudah siapkan senjata dan
berbaris keluar.
Sampai di luar biara, padri pengintai yang bertugas
disamping gunung tampak berlari kembali untuk memberi
lapor, "Ribuan orang Sing-siok-pai telah mengepung
rombongan Buyung-kongcu dekat gardu tunggu di tengah
gunung dan bertempur dengan sengit."
Han cu mengangguk tanda tahu. Lalu ia medekat jalan-
batu dan memandang ke bawah, terlihat di bawah sana
manusia berkerumun dengan rapat, tampaknya jumlahnya
tidak kurang dari ribuan orang. Sayup-sayup terdengar pula
sorak-sorai anggota Sing-siok-paí yang menyanjung puji
kepada Ting-lokoai. Sedangkan Tin jun jiu sendiri tampak
memimpin di samping sambil mengelus-elus jenggot.
"Para padri Siau-lim-si, pasang Lo-han-tai-tin (Barisan Lo-
han)!" demikian terdengar Hian-seng berseru.
Serentak kawanan padri siau-lim-si hyang berjumlah 500
orang lebih itu membentuk barisan Lo-han-tai-tin.
Menyusul tarsebarlah padri-padri lain mengelilingi
pegunungan Siau-lim-san sana.
Sudah lama para ksatria sangat ingin melihat "Lo-han-tai
tin" yang hebat, tapi selama ini belum pernah ada orang
menyaksikan barisan 'tersohor' itu. Sekarang mereka lihat para
padri Siau-lim-Si itu tersebar dalam kelompok dan rombongan
dengan warna jubah yang berbeda-beda, bahkan senjata
yang dipakai suatu regu lain pun tidak sama, secepat terbang
para padri berlarian di lereng gunung sehingga dalam sekejap
saja orang-orang Sing siok-pai sudah terkurung di tengah.
Jumlah orang Sing-siok-pai mestinya jauh lebih banyak
daripada pihak Sían-lim-pai, tapi kebanyakan di antara mereka
adalah anggota biar belum terlatih. Kalau bertempur
perseorangan boleh, tapi sekarang harus berperang secara tak
karuan mereka menjadi gugup, seketika puji-puji kepada Sing-
slok Losian menjadi hilang.
“Ting-siangsing dari Sing-siok-pai telah berani datang ke
Siau-lim-si sini tanpa Siau-lim-pai mengundangnya, maka para
ksatria semuanya harap waspada, di samping itu mungkin
mereka melihat apa daerah Tionggoan terdapat wilayah yang
lebih baik dari wilayah barat?'' demikian Hian-Cu berseru.
Tapi para ksatria dari Ho-siok, Kanglam dan lain-lain lantas
berteriak-teriak mencaci-maki Ting jin-jiu yang dikatakan
sebagai hantu, pengganas harus dibasmi oleh setiap orang
persilatan. Lantas mereka pun melolos senjata dan hendak
bertempur bahu membahu dengan Siau-lim-pai.
Takkala itu Buyung Hok dan kawan-kawan sudah berhasil
merobohkan 20-30 orang Sing-siok-pai. Sekarang mereka
kedatangan bala bantuan maka lantas berhenti bertempur.
Sedangkan orang-orang Sing-siok-pai juga tidak berani
menerjang maju lagi.
Kesempatan itu dlgunakan oleh Toan Ki untuk menyelinap
ke tengah orang banyak sana dan dapat mendekati Ong-Giok-
yan, katanya, "Nona Ong, sebentar biia keadaan genting,
biarlah aku menggendongmu lagi untuk lari keluar!"
Muka Giok-yan menjadi merah, sahutnya, “Aku toh tidak
terluka, juga tidak ditutuk orang aku . . . aku sendiri masih
dapat berjalan . . . “
Ia melirik sekejap ke arah Buyung Hok, lalu lanjutnya,
"Kepandaian Piauko juga jauh lebih dari cukup untuk
melindungi aku, maka sebaiknya engkau sendiri lekas lari saja,
Toan-kongcu!"
Sudah tentu kecut rasa hati Toan Ki atas jawaban ítu.
Pikirnya, "Ya, memangnya kepandaianku mana bisa
dibandingkan dengan piaukomu?"
Namun derníkian ia masih merasa berat untuk tinggal pergi
begitu saja. Ia mengada-ada untuk mengajak bicara, "No . . .
nona Ong, apakah kau tahu ayahku juga sudah datang? Beliau
berada. . . berada di sanal"
Sebenarnya sudah cukup lama Giok-yan berkenalan
dengan Toan Ki, tapi selama ini pemuda itu tidak pernah
menceritakan asal-úsulnya. Giok-yan dipandangnya sebagai
dewi kayangan yang suci dan agung sebaliknya ia anggap diri
sendiri seorang yang biasa saja, dalam pandangannya dewi
kayangan tentu tiada memperdulikan pangeran orang biasa.
Jika dia mengatakan asal-usulnya mungkin akan disangka
sengaja mengugulkan kebangsawannya.
Sudah tentu Toan Ki juga tahu cinta si nona hanya
dicurahkan kepada Buyung Hok seorang, Tapi asal sì nona
sudi tertawa atau sedikit memberi angin padanya, maka
senanglah Toan Ki melebihi orang putus lotre 120 juta. Namun
demikian bicara tentang pikiran ingin mempersunting si jelita,
untuk ini Toan Ki juga cukup tahu diri terpikir pun tidak berani.
Ya, tentu juga pernah sekilas keinginan seperti itu, yakni
terkadang terurai di dalam mimpi.
Sebaliknyo Giok-yan juga agak terharu dan merasa terima
kaalh kepada Toan Ki yang telah beberapa kali
menyelamatkan dia tanpa menghiraukan jiwanya sendiri.
Namun begitu pada hakekatnya ia pun tidak pernah
memperhatikan pemuda itu.
Terkadang kalau mereka bicara tentang ilmu sikat dan
ternyata Toan Ki sama sekali tidak becus, maka Giok-yan
hanya tahu Toan Ki adalah seorang pelajar tolol yang hanya
mahir suatu jurus langkah ajaib saja. Sekarang demi
mendengar bahwa ayah pemuda itu pun datang, ia menjadi
agak heran dan bertanya, "'O, apakah ayahmu datang dari
Taili? Kalian ayah dan anak tentu sudah lama berpisah
bukan?”
“Ya," sahut Toan Ki dengan senang. "Nona ong, maukah
kuperkenalkan dirimu kepada ayahku? tentu ayah akan sangat
suka padamu."
Muka Giok-yan menjadi merah pula, sahutnya sambil
geleng kepala, "Tidak, aku tidak mau menemuinya?"
“Mengapa?” tanya Toan Ki agak kecewa. Dan ketika
melihat nona itu tidak rnenjawab. Kembali Toan Ki mengada-
ada pula, "Eh, nona Ong, aku punya seorang saudara angkat
Hi-tiok namanya dia telah menjadi hwesio pula. Dan . . . . dan
ada juga seorang muridku dia juga sudah datang. Woh.
sungguh ramai sekali."
Giok-yan tampak terbelalak heran, pikirnya, ia sendiri tidak
becus ilmu silat, masákáh punya murid segala? Apa barangkali
mengajar dia membaca dan bersanjak?"
Karena merasa geli, tanpa terasa ia tersenyum.
Toan Ki menjadi girang melihat si jelita mau tersenyum,
segera ia menambahkan, "Nona Ong, muridku itu bernama
Gok-losam, bergelar Lam-hai-gok-sin dan punya alias 'Hiong-
sin-ok-sat'. Ilmu silatnya juga tidak lemah!"
"Seorang baik-baik kenapa mesti pakai nama seburuk itu?"
ujar Giok-yan dengan tersenyum. Dari potongan Toan Ki yang
lemah-lembut itu. ia menduga muridnya tentu juga seorang
pelajar muda yang sopan-santun.
Tak terduga Toan Ki lantas menjawab, "Baik apa? Dia
justru tidak baik!”
Begitulah, biarpun terkepung di tengah orang Sing-siok-
pai, tapi dapat berbicara dan membuat Giok-yan tertawa,
sekalipun langit akan ambruk juga tak terpikir lagi oleh Toan
Ki.
Dalam pada itu dengan barisan Lo-han-tai-tin para padri
Siau-lim-si sudah balas mengepung maju dari segenap
penjuru. Ada sekelompok orang Sing-siok-pai hendak
menerjang tapi baru saja sedikit bertempur mereka sudah
kena dilabrak habis-habisan.
Cepat Tìng-lokoai berseru, "jangan bergerak dulu, tetap
pada tempat masing-masing!"
Lalu ia berteriak keras-keras, "Hian-cu Hongtiang, Siau-lim-
si kalian suka mengaku sebagai pemimpin persilatan
Tionggoan, tapi menurut pandanganku sebenarnya kalian
tidak cukup dengan sekali gempur saja!"
Serentak para anggota Sing-siok-pai bersorakan memuji,
"Ya, sekali Sing-siok Losian sudah maju para hwesio Siau-lim-
si pasti akan mampus semua!"
"Kalian mengaku sebagai pemimpin persilatan, tapi
sebentar tentu kalian akan rasakan batapa hebatnya Sing-siok
Losiang"
Bahkan ada yang terus mengeluarkan tambur dan
gembreng untuk mengiringi lagu pujian itu sehingga suasana
menjadi ramai.
Sudah tentu sebagian besar para ksatria tidak pernah
menyaksikan kelakuan pihak Sing-siok-pai itu, keruan mereka
terheran-heran geli.
Di tengah suasana riuh ramai itu, tiba-tiba dari bawah
gunung terdengar suara derapan kuda yang nyaring dan
makin lama makin mendekat, tidak lama kemudian dari balik
lereng sana tertampaklah empat helai bendera kuning yang
besar, pembawa bendera adalah adalah empat penunggang
kuda, bendera itu berkibar-kibar tertiup angin.
Kedua bendera sebelah kanan jelas kelihatan tertulis "Ong.
Cengpangcu Kai-pang", dan kedua bendera sisi kiri tertulis
"Ong, Ciangbun Kek-lok-pai".
Sesudah agak dekat, keempat penunggang kuda itu
melompat turun dari kuda mereka, lalu keempat helai bendera
kuning ditancapkan di suatu tanjakan yang paling tinggi. Dari
dandanan keempat orang itu dapat dikenal mereka adalah
anggota Kai-pang.
"Ini dia, Pangcu Kai-pang Ong Sing-thian sudah tiba?"
demikian para ksatria saling memberi tahu.
Seperti diketahui Ong Sing thian itu adalah nama samaran
Yu Goan-ci. Selain Cumoti, Cilo Singh, Ting Jun-jiu, Buyung
Hok dan kawan-kawannya tiada lagi orang lain yang kenal dia.
Tentang sejak kapan dia diangkat menjadi Pangcu Kai-pang
dan dari mana asal-usul Kekiok-pai itu lebih-lebih tiada
seorang pun yang tahu.
Dan baru saja keempat helai bendera kuning itu
dipancangkan di tempat yang tinggi, menyusul babarisan
penunggang kuda lantas muncul dengan cepat. Yang di muka
adalah ratusan anggota Kai-páng berkentung enam, di
belakangnya ada anggota berkantung tujuh dan belasan
anggota berkantung delapan.
Selang sejenak muncul pula empat Tianglo yang
menggendong sembilan buah kantung. Semuanya tidak
bersuara mereka melompat turun dari kuda terus berbaris di
kedua sisi jalan.
Sementara itu terdengar pula suara derapan kuda yang
berdetak-detak, dua ekor kuda berwarna kelabu mendatang
dengan berjajar. Penunggang sebelah kiri adalah seorang
anak dara cilik berbaju warna ungu, cantik molek tapi biji
matanya tampak guram.
Melihat anak dara itu, seketika Wi-Sing-tiok berseru, "A
Ci!"
Rupanya ia menjadi lupa dirinya di dalam penyamaran
sebagai lelaki sehingga suara seruan itu diucapkan menurut
suara aslinya. Sedangkan, penunggang kuda yang sebelah
kanan berbaju compang-camping penuh tambalan yang luar
biasa adalah air mukanya kaku dingin bagai mayat.
Tapi bagi yang berpengalaman segera mengetahui orang
itu memakai kedok, agaknya muka aslinya tidak ingin
diperlihatkan kepada orang lain. Hal ini menimbulkan rasa
curiga para ksatria. Apa barangkali orang ini adalah tokoh
ternama dalam dunia persilatan dan sengaja menyamar
sebagai Ong Sing-thian, maka muka aslinya tidak mau
diperlihatkan kepada orang lain. Dan kalau dia mampu
menjadi Pangcu Kai-pang terang dia bukanlah tokoh
sembarangan. Wah, jangan-jangan dia adalah Kiau Hong, itu
pangcu Kai-pang yang dahulu sekarang memegang pimpinan
kembali dan lenjuja dJiang memusuhi Siau-lim-pai. Demikian
pikir mereka.
Cumoti dan beberapa orang lainnya pernah kenal muka asli
Goan-ci. tapi sekarang melihat dia berada di atas kudanya,
dengan sikap yang kereng dan gagah, sorot matanya tajam
mengerling kian kemari, sama sekail berbeda dengan Goan-ci
yang lucu dan takut-takut dahulu itu tentu saja mereka
terheran-heran. Terutama Ting Jun jiu yang pernah keok di
tangan Goan-ci itu menjadi lebih-lebih waspada.
Kedatangan Ting-lokoai ini mestinya hendak mengeduk
keuntungan tatkala Siau-lim-pai bertempur dengan Kai-pang,
maka secara licik dia hendak membokong Ong Sing-thian
untuk melenyapkan musuh besar itu. Tak terduga baru sampai
punggung gunung sudah kepergok dengan rombongan
Buyung Hok hingga saling labrak, lalu padri Siau-lim-si juga
membanjir keluar sehingga sebelum pihak Kai-pang tiba pihak
Sing siok-pai sudah bertempur lebih dulu dengan Siau-Lim-pai.
Tadi A Ci juga mendengar seruan ibunya, tapi sekarang dia
ada urusan penting dan tidak ingin bertemu dulu dengan sang
ibu, maka ia pura-pura tidak mendengar, ia berkata kepada
Goan-ci alias Ong Sing-Thian, "Engkoh Sing agaknya banyak
sekali orang yang berada di sekitar, aku seperti mendengar
orang menyanyi mangatakan Sing-siok Losian maha sakti
segala, Apakah bedebah Ting Jun-jiu dan begundalnya itu
juga berada di sini?"
"Ya, benar jumlah mereka ternyata tidak sedikit," sahut
Goan-ci.
"Wah. itulah sangat kebetulan!" seru A Ci dengan tertawa.
"Dengan demikian aku menjadi tidak perlu mencarinya ke
Sing-siok-pai yang jauh itu.”
Sementara itu anggota Kai-pang yang berjalan kaki
berbondong-bondong juga sudah sampai di atas gunung dan
telah berbaris di belakang barisan Goan-ci.
Ketika A Ci mengangkat tanganvya memberi aba-aba
segera, dua orang anggota Kai-pang masing-masing
mengeluarkan segulung kain warna ungu. Waktu dibeberkan,
kiranya adalah dua helai bendera besar dari sutra ungu.
Tatkala itu angina meniup keras, tapi kedua orang Kai-pang
itu cukup tangkas, mereka seperti tiang bendera saja sehingga
kedua bendera itu dapat dibentang dan berkibar.
Maka tertampaklah setiap bendera itu berisi enam huruf
merah yang berbunyi, "Toan, ciangbun Sing-siok-pai."
Dan begitu kedua bendera itu berkibar, seketika anggota
Sing-siok-pai menjadi kacau, segera orang-orang berteriak,
"Ciangbunjin Sing-siok-pai adalah Ting-losian yang terkenal di
seluruh jagat ini, masakah ada Ciangbunjin she Toan apa
segala?"
Menyusul seruan lain, "Huh, mengaku-ngaku dan
memalsu, tidak kenal malu! Apakah jabatan Ciangbujin boleh
diangkat sendiri? Huh, lekas masuk kemari siluman cilik itu,
kalau kamu minta digilas hancur!"
Semua padri Siau-lim-pai dan para ksatria agak terkejut
ketika tiba-tiba mengetahui telah bertambah seorang
Ciangbujin Sing-siok-pai, tapi diam-diam mereka pun senang
dan bersyukur, kalau di antara golongan setan iblis itu saling
gontok-gontokan sendiri.
Kemudian A Ci menepuk tangan tiga kali dan berseru,
"Wahai dengarkan para anggota Sing-siok-pai! Menurut
peraturan kita selama ini, jabatan Ciangbunjin harus direbut
dengan kekuatan.
Siapa paling tinggi ilmu silatnya, dia yang menjadi ketua
menjadi Ciangbunjin. Setengah tahun yang lalu Ting Jun-jiu
telah kuhajar habis-habisan, ia telah berlutut dan menyembah
padaku untuk minta ampun serta mengangkat aku sebagai
gurunya. Kedudukan Ciangbunjin juga dia serahkan padaku
sekalian? Hai, Ting Jun-jiu. kuraagajar benar kamu ini! Kamu
sekarang adalah Toatecu (murid pertama) dan harus memberi
teladan yang baik, mengapa kauberani membohongi guru dan
mengapusi para Sutemu?”
Karena suara A Ci memang nyaring, maka ucapannya itu
dengan jelas sekali dapat didengar oleh semua orang.
Keruan semua orang terheran-heran, Tampaknya A Ci
cukup anak dara berumur 16-17 tahun kedua matanya buta
pula, mengapa dapat mengalahkan Toan lokoai dan menjadi
Ciangbun Sing-siok-Pai?
Toan Cing-sun dan Wi Sing-tiok juga saling pandang
dengan ternganga. Mereka tahu anak dara itu memang betul
murid Ting Jun-Jiu, nakal dan licin ilmu silatnya biasa saja
kalau tidak mau dikatakan rendah, tapi sekarang di depan
umum dia berani mengolok-olok Ting lokoai urusan ini tentu
bisa runyum, dengan kekuatannya yang Cuma terdiri dari
beberapa orang ini betapapun susah melawan Sing-siok-pai
untuk menyelamatkan A Ci.
Sebaliknya walaupun diolok-olok, Ting Jun-jiu tetap
tertawa-tawa saja. Dasar wataknya memang culas dan kejam
sedangkan guru dan suhengnya juga dibunuh olehnya namun
tempo hari ia telah mengalami kekalahan dari Goan-ci.
Waktu itu Goan-ci baru saja mengelotok topeng besi yang
mengerudungi kepalanya itu sehingga mukanya dedel-dowel
tak keruan dan mengerikan, ia mengaku sebagai ketua Kek-
lok-pai dan bernama Ong Sing-Thian, maka Ting Jun-jiu,
menyangka dia adalah gurunya Thi-thau-jin, si kepala besi
yang sebenarnya adalah Goan-ci sendiri.
Sekarang di depan orang banyak A Ci mengibarkan panji
dan mengaku sebagai ketua Sing-lok-pai, keruan dada Ting
Jun jiu- serasa akan meledak, biar bagaimana pun ia bertekad
akan menempur Ong Sing thian dengan mati-matian jika tidak
mau kehilangan pamor.
Maka tetap dengan tersenyum ia lantas menjawab, "A Ci
cilik, ucapanmu memang tidak salah siapa yang kuat, dia yang
menjadi Ciangbunjin golongan kita. Sekarang kaupun
mengincar keduukan Ciangbunjin tentu kamu memiliki
kepandaian. Sungguh-sungguh, maka bolehlah maju untuk
coba-coba beberapa Jurus denganku?"
Baru selesai ucapannya, sekonyong-konyong sesosok
bayangan berkelebat dan tahu-tahu di hadapannya sudah
berdiri seorang. itulah dia Yu Goan-ci.
Sungguh kejut Ting Jun-jiu tak terkatakan oleh kegesitan
Goan-ci itu. Tanpa terasa ia mundur selangkah. Tapi meski dia
sudah melangkah mundur toh tetap Goan-ci masih berada di
depannya dalam jarak seperti tadi, maka dapat diduga tatkala
dia melangkah mundur itu di luar tahunya Goan-ci juga telah
meleset maju. Keruan Ting-lokoai tambah gentar oleh
kecepatan Goan-ci yang luar biasa itu.
Memangnya Ting-lokoai sudah nekat hendak menempur
Goan-ci, sekarang Goan-ci mendesaknya sedemikian rupa,
karuan ia menjadi murka juga. "Aku kan menantang A Ci,
kenapa kamu ikut campur?" tegur Ting-lokoai berbareng
tangannya menarik ke belakang sehingga seorang anak
buahnya kena dicengkeram terus dilemparkan ke arah Goan-
ci.
Tapi Goan-ci cukup gesit dan tangkas, mendadak
tangannya juga menyambar ke belakang dan tepat seorang
anggota Kai-pang berkantung lima yang berdiri kira-kita dua
meter di belakangnya tanpa kuasa terus melayang ke depan
dan menubruk anggota Sing siok-pai yang dilemparkan Ting
Jun jiu tadi.
Melihat benturan yang keras itu, semua orang menduga
kedua orang itu tentu akan sama-sama tertimbuk hancur
binasa. Tak terduga setelah terbentur, segera terdengar suara
mencicit seperti benda hangus, lalu semua orang mengendus
bau sangit dan busuk memualkan. Maka tahulah mereka
bahwa Ting Jun-jiu dan Ong Sing-thian sama-sama
menggunakan racun, cepat mereka menahan napas dan ada
yang pencet hidung sendiri, ada yang lekas-lekas menyingkir
pula.
Kedua orang yang paling tumbuk itu lantas jatuh terkulai
ke tanah tanpa berkutik lagi, rupanya sudah mati sejak tadi.
Dengan gebrakan ini meski sama-sama kuatnya, tapi diam-
diam mereka pun sama jeri dan berbareng melangkah
mundur. Menyusul kedua orang sama-sama menjambret pula
ke belakang dan kembali seorang anggota golongan masing-
masing tanpa kuasa kena ditarik dan terlempar ke depan.
Kedua korban itu saling tumbuk lagi di udara dan
mengeluarkan bau sangit, lalu jatuh dan binasa.
Kiranya kepandaian yang digunakir Ting Jun-jiu dan Goan-
ci adalah semacam ilmu jahat dari Sing-siok-pai yang bernama
"Hu-si-iok" (racun pembusuk Jenazah). Seorang korban
dijambret dari jauh, lalu dilempar ke arah musuh. Padahal
sekali jambret itu sang korban sudah binasa lebih dulu
sehingga sekujur badan mayat itu beracun. Kalau lawan
menangkis dengan tangan pasti akan terkena racun jahat itu.
Andaikan pakai senjata juga racun yang menempel di senjata
itu akan menjalar ke telapak tangan. Bahkan mengegos juga
susah terhindar dari kecipratan hawa berbisa mayat yang
ditimpukkan itu.
Seperti diketahui, sejak Goan-ci mempelajari kungfu Sing-
siok-pai berdasarkan uraian A Ci, maka ia telah melatihnya
dengan giat sehingga mendapat kemajuan pesat. Ia pikir agar
rahasia kepalsuannya tidak terbongkar, maka ia harus
meyakinkan ilmu silat setinggi-tingginya. Dari situlah ia
berhasil meyakinkan ilmu Hu-si-tok dari Sing-siok-pai yang
lihat itu melalui penuturan A Ci.
Biarpun A Ci tergolong seorang nona yang pintar dan
cerdik, tapi karena matanya sudah buta mala ia dengar sendiri
pemuda pujaannya yang mengaku bernama Ong Sing-thian,
ketua Kek-lok-pai itu, dengan sekali hantam telah
mengalahkan Tin Jun-jiu, maka sama sekali ia tidak menduga
bahwa Ong-kongcu yang maha sakti itu sebenarnya justru
memperoleh ilmu silat dari uraiannya. Setiap jurus yang
diuraikan A Ci tentu dipraktekan oleh Goan-ci dengan baik.
Karena dalam badan Goan-ci sudah penuh racun dingin
ulat sutra es, pula ditambah iwekang dari Ih-kim-keng,
dengan sendirinya menjadi luar biasa tenaga dalamnya. Satu
jurus biasa yang tiada artinya bagi A Ci di tangan Goan-ci akan
berubah menjadi maha sakti, Keruan A Ci merasa kagum tak
terhingga.
Sebaliknya Goan-ci juga mengajarkan sedikit cara berlatih
Iwekang menurut Ih-kin-keng. Ia mengatakan ilmu itu adalah
ilmu dasar Kek-lok-pai. Maka A Ci juga lantas melatihnya,
walaupun tidak banyak kemajuannya, tapi badannya tambah
sehat dan segar.
Namun sifat A Ci suka bergerak, disuruh tinggal di tempat
yang sunyi untuk melatih ilmu silat, dengan sendirinya ia jadi
bosan. Maka hanya beberapa bulan saja ia sudah tidak
kerasan dan mendesak Goan-ci membawanya jalan-jalan ke
kota.
Sementara itu kepandaian yang dimiliki A Ci, hampir
seluruhnya sudah dipàhami Goan-ci, terpaksa ia menurut
permintaan dara itu dan berangkat.
Kebetulan ketika bertemu kelenteng kuno waktu mereka
hendak berteduh, diluar dugaan mereka mendengar
percakapan orang-orang anggota Kai-pang tentang pemilihan
Pangcu yang akan diadakan pada hari tertentu di kaki gunung
Hok-gu-san.
Karuan A Ci sangat girang, segera ia suruh Goan-ci
menawan kedua anggota Kai-pang itu setelah ditanya,
akhirnya diketahui bahwa sesudah Siau Hong dipecat, Thong-
kong dan Cit-hoat tianglo berturut-turut juga meninggal dunia,
dalam keadaan tiada pimpinan maka kekuatan Kai-pang
mundur banyak. Sebab itulah para Tianglo Kai-pang
menetapkan hari tertentu untuk mengadakan pemilihan ketua
baru.
Karena pernah tinggal cukup lama bersama Siau Hong, A
Ci banyak dengar cerita tentang kejadian dan peraturan Kai-
pang, maka diketahuinnya anggota Kai-pang sendiri yang
dapat dipilih sebagai Pangcu, Segera ia memaksa kedua
anggota Kai-pang itu mau menerima mereka sebagai anggota.
Karena disiksa dengan cara-cara keji, saking tidak tahan
akhirnya kedua anggota Kai-pang itu menerima dengan baik
keinginan A Ci itu, dan dalam waktu yang tepat dapatlah
mereka ikut hadir di lereng Huk-gu-san.
Tatkala itu kepandaian Goan-ci sudah tentu tak dapat
ditandingi oleh Song-tianglo, Go-tianglo, Tan-tianglo dan lain-
lain. Maka dalam beberapa kali gebrak, dengan mudah sekali
Goan-ci dapat merebut kedudukan Pangcu. Karena melihat
kepandaian Goan-ci memang sangat tinggi dan sukar dijajaki,
maka semua anggota Kai-pang sangat kagum dan takluk
padanya, semuanya merasa beruntung dan bahagia,
memperoleh seorang pemimpin maha sakti.
Seperti diketahui di dalam Kai-pang ada seorang tokoh
yang cerdik pandai bernama Coan Koan-jing, pernah menjabat
Tho-cu (pemimpin) "Tai-si-han-tho" suatu pasukan yang
merupakan tulang punggung Kai-pang. Dengan licin dia
mengadakan fitnah dan hasutan agar anggota Kai-pang
membangkang kepada pimpinan Siau Hong. Kebetulan
kedudukan Siau Hong diketahui memang betul adalah
keturunan bangsa Cidan sehingga akhirnya Siau Hong benar-
benar dipecat dari Kai-pang.
Waktu Coan Koan-jing mengadakan "kudeta" kebetulan
Thong-kong Tianglo dan Cit-hoat Tianglo juga ikut tersangkut
dan ditawan, apalagi sebagian besar anggota Kai-pang
sebenarnya masih sangat sayang kepada Siau Hong yang
gagah perwira itu. Muka tidak lama kemudian Song-tianglo
dan lain-lain lantas mencari sesuatu alasan dan memecat
kedudukan Coan Koan-jing sebagai Tho-cu serta menurunkan
pangkatnya menjadi anggota berkantung lima, padahal
sebelumnya ia berkantung delapan.
Sesudah Goan-ci menjabat Pangcu, Coan Koan-jing lantas
mencari kesempatan baik dan berhasil mendekati A Ci. Dasar
licin, ia pandai menjilat dan mengumpak, ia pintar mencari
macam-macam permainan untuk menyenangkan A Ci yang
buta itu. Bahkan akhirnya ia mengusulkan agar Kai-pang
berebut Bu-lim Beng-cu dengan Siau-lim-pai, supaya "Ong
Sing-thian" dapat menjadi tokoh nomor satu di dunia
persilatan.
Dasar sifat A Ci juga suka menang dan suka mencari
perkara, biarpun buta wataknya itu tetap tidak pernah
berubah, Tentu saja usul Coan Koan-jing itu sangat mencocoki
kesukaannya.
Sebenarnya Goan-ci tidak pernah ingin menjadi Bu-lim
Beng-cu apa segala, tapi ia sudah biasa tunduk kepada segala
apa yang dikatakan A Ci, maka ia pun tidak membantah usul
Coan Koan-Jing itu. Segera segala rencana dan
pelaksanaannya diserahkan pada Coan Koan-jing untuk
mengaturnya. Dan berkumpulnya para ksatria dari segenap
penjuru di Siau-lim-si pada tanggal 15 bulan enam itu bukan
lain adalah hasil karya Coan Koan-jing.
Sebelum Kai-pang berangkat ke Siau-sit-san, sementara itu
pangkat Coan Koan-jing sudah naik empat tingkat, sekarang
dia sudah Tianglo sembilan kantung untuk menggantikan
kedudukan Go-tianglo yang dipukul mati oleh Siau Hong
dahulu, dia dan Song, Go dan Tan Tianglo disebut Su-tai-
tianglo (empat tertua).
Bahwasanya di Siau-sit-san akan bertemu dengan Ting
Jun-jiu, hal ini sama sekali di luar perhitungan Coan Koan-jing.
Tapi ia pun tahu Ting jun-jiu pasti akan menantang A Ci, maka
sebelumnya ìa telah membisiki Goan-ci, asal Ting-lokoai
membuka suara pemuda itu disuruh, segera maju untuk
mewakilkan A Ci.
Sekarang kedua orang sudah bergebrak dan sama-sama
mengetahui kelihaian masing-masing. Mereka masih terus
saling timpuk dengan menggunakan anak buahnya sendiri
sebagai senjata, dan tìap-tiap kali menimpukan orang lantas
sama-sama mundur selangkah. Maka terdengarlah suara
"blak-bluk” berulang-ulang, dalam sekejap saja masing-masing
pihak sudah mengorbankan sembilan anak buahnya sendiri
sehingga di tanah sudah menggeletak 18 sosok mayat yang
menyeramkan.
Dengan ketakutan anak buah Sing-siok-pai lantas main
mundur ke belakang untuk mencari selamat agar tidak
dijadikan korban oleh sang guru. Namun begitu suara puja-
puji mereka kepada Ting-lokoai masih tidak berhenti, cuma
suaranya agak gemetar.
Sebaliknya anggota Kai-pang juga terperanjat ketika
mendadak nampak Pangcu mereka mengeluarkan ilmu berbisa
itu. Ada yang berpikir, "Tindak-tanduk Kai-pang kita
selamanya terkenal mengutamakan keluhuran budi, mana
boleh Pangcu menggunakan ilmu jahat yang tidak cocok
dimiliki oleh seorang ksatria sejati?"
Dan ada pula yang berpendapat, "Andaikan Siau Hong
masih menjadi Pangcu kita tentu beliau akan menggunakan
ilmu sejati dari Kai-pang sendiri untuk menghajar Iblis tua itu."
Begitulah, sesudah kedua orang sama-sama melemparkan
sembilan anak buahnya, maka masing-masing juga sudah
mundur hamper 9 meter jauhnya, jadi jarak mereka sekarang
sudah belasan meter. Ketika Ting Jun-jiu menggunakan
tangannya hendak mencengkeram pula, tahu-tahu ia
menangkap tempat kosong, waktu menoleh, sekilas ia lihat
anak buahnya semua menyingkir agak jauh dengan ketakutan.
Dalam pada itu orang kesepuluh yang dilemparkan Goan-ci
itu sudah menyambar tiba. Keruan Ting Jun-jiu terkejut dan
gusar pula kepada anak buahnya. Dalam keadaan berbahaya,
tanpa pikir lagi ia terus melompat mundur kalangan tengah
anak buahnya.
Sementara itu anggota Kai-pang yang dilemparkan Goan-ci
itu sudah meluncur tiba dengan cepat. Ketika anggota Sing-
siok-pai hendak lari sudah tidak keburu lagi, maka
terdengarlah jeritan takut tujuh atau delapan orang, sekaligus
mereka kena di timpuk oleh mayat itu. Karena mayat itu
benar-benar maha jahat, dalam sekejap saja kedelapan
korban itu bergelimpangan di tanah dengan muka hitam
hangus, sesudah berkelejetan beberapa kali, lalu binasa.
A Ci terlihat senang, ia tertawa mengejek, katanya, “Hei,
Ting-jun-jiu, Ong pangcu adalah pembela aku, ketua Sing-
siok-pai, jika kauingin bertanding dengan aku, kamu harus
mampu menangkan pertandingan dulu, Nah, bagaimana
sekarang yang kalah kamu atau dia?"
Ting Jun-jiu sangat mendongkol, Bicara tentang
kepandaian sejati sekali kali ia tidak kalah. Walaupun tenaga
dalam Goan-ci memang hebat tapi dari caranya melempar
korban tadi terang dia cuma mendapat sedikit kepandaian
kasaran dari A Ci saja, di mana letak perubahan-perubahan
kelihaian ilmu "Hu-si-tok” itu sama sekali tak diketahui. Jadi
kalahnya terletak pada anggota Sing-siok-pai lebih pengecut
dan takut mati sehingga dia kehilangan senjata dan akhirnya
dapat di dahului oleh serangan Goan-ci.
Namun Ting-lokoai lantas mendapat akal tiba-tiba ia
mendongak dan terbahak-bahak.
"Eh, tertawa? Masih tertawa? Apa yang kau tertawakan?''
tanya A Ci.
Tapi Ting Jun-jiu masih terus bergelak tertawa,
sekonyong-konyong kedua tangannya bekerja sekaligus 8
sampai 9 anak buah Sing siuk-pai disambarnya terus
ditimpukkan susul menyusul ke arah Goan-ci dengan cepat
luar biasa.
Goan-ci sendiri, tidak mahir "Hu-si-tok" secara berantai itu,
ia hanya sempat menimpukkan tiga anggota Kai-pang dan
untuk selanjutnya ia jadi kelabakan. Dalam keadaan
berbahaya, terpaksa ia meloncat setinggi-tingginya ke atas
sehingga mayat-mayat berbisa itu menyambar lewat di
bawahnya.
Tujuau Ting lokoai justru ingin memaksa Goan-ci
menghindar, tiba-tiba sabelah tangannya mengayun ke depan
terus ditarik lagi. Maka terdengarlah A Ci menjerit kaget dan
tanpa kuasa tubuhnya terseret dan melayang ke arah Ting
Jun-Jiu.
Keruan semua penonton terparanjat. Mereka tahu ada ilmu
sebangsa "Kim-liong-kang'' (Ilmu menangkap naga), "Na-hou-
kang'' (ilmu menangkap harimau) dan sebagainya yang dapat
mencengkeram musuh dari jarak beberapa meter jauhnya tapi
tidaklah mungkin mencapai sejauh belasan metar seperti Ting-
lokoai sekarang ini. Tentu saja banyak di antara penonton itu
merasa sangat jeri dan kagum pula kepada ilmu sakti Lokoai.
Mereka tidak tahu bahwa cara Ting-lokoai menangkap A Ci
itu bukan dengan kepandaian yang sejati, tapi ia
menggunakan semacam alat yang merupakan satu di antara
ketiga jimat Sing-siok-pai mereka yaitu alat yang disebut "Ju-
ni-soh" (tali benang sutra halus).
Benang sutra yang sangat halus dan bening tembus itu
diperoleh dari ulat sutra salju yang badannya lebih kecil dari
ulat es dan tak berbisa. Tapi sutra yang dihasilkan ulat salju
itu sangat ulet dan kuat. Ulat salju itu tidak dapat membuat
kepompong sehingga sutranya juga sangat terbatas dan susah
dicari. Dahulu sebabnya Leng Jian-li membunuh diri adalah
karena digoda oleh A Ci dengan jaring yang terbuat dari sutra
halus yang tak kelihatan ini.
Sekarang tali sutra yang digunakan Ting Jin-jiu ini jauh
lebih ulet daripada kepunyaan A Ci itu. Ketika sekaligus ia
melemparkan sembilan anak buahnya, berbareng ia pun
mengayunkan tali sutranya. Jadi mayat-mayat berbisa yang
dia lemparkan itu hanya untuk memaksa Goan-ci menyingkir
dan untuk mengetahui pandangan para penonton saja dengan
demikian orang menjadi tidak menduga sama sekali akan tali
sutra yang dia ayunkan itu.
Ketika A Ci terkejut atas serangan itu, namun sudah kasip,
ia kena diseret ke arah Ting lokoai. Menyusul punggung A Ci
lantas dijambret oleh iblis tua itu, bahkan sekalian ditutuk hiat-
to nya supaya tidak dapat berkutik, lalu tali sutra itu digulung
dan dimasukkan ke dalam baju. Jadi melemparkan sembilan
korban, mengayunkan tali sutra, menarik dan menangkap A
Ci, semuanya dilakukan Ting Jun-jiu dengan sekaligus di
tengah gelak tertawanya yang tak putus-putus sampai A Ci
tertawa olehnya.
Saat itu tubuh Goan-ci masih terapung di udara, keruan ia
terkejut dan kuatir ketika melihat A Ci tertangkap musuh.
Dalam pada itu sembilan mayat berbisa sudah melayang lewat
di bawah kakinya, maka waktu turun ia terus menubruk maju
dan sebelah telapak tangan menghantam sekuatnya ke arah
Ting-lokoai.
Cepat Ting Jun-jiu angkat A Ci dan disodorkan ke depan
untuk menerima pukulan Goan-ci yang maha dahsyat itu.
Keruan Goan-ci menjadi bingung. Meski ilmu silatnya sekarang
sudah sangat tinggi, tapi pengalamannya dalam pertempuran
boleh dikata masih hijau, maka waktu pukulan sendiri hendak
mencelakai A Ci tanpa pikir lagi ia tarik kembali tenaga
pukulan sendiri itu, padahal asal dia sedikit miringkan
pukulannya dan dengan sendirinya akan luput mengenal A Ci.
Tapi dia terlalu cinta dan menghormati A Ci, begitu melihat
gelagat jelek, tanpa pikir ia tarik kembali tenaga pukulan
sendiri sehingga dadanya mirip dihantam sendiri oleh tenaga
pukulan yang sama dahsyatnya. Kontan ia sempoyongan
sendiri dan memuntahkan darah segar.
Kalau orang lain mungkin jiwanya sudah melayang, untung
Goan-ci sudah berhasil menyakinkan iwekang dari kitab Ih-kin-
keng. namun begitu pukulan sendiri itu pun membuatnya
tumpah darah. Dan baru dia hendak ganti napas untuk
menyerang pula, namun Ting-lokoai sudah tidak memberi
kesempatan lagi padanya, beruntun-runtun ia memukul empat
kali.
Karena belum sempat menghimpun kembali tenaganya,
terpaksa Goan-ci hanya menangkis sebisanya dan setiap kali ia
menangkis, setiap kali muntah darah pula. Bahkan sedikit pun
Ting-lokoai tidak kenal ampun, menyusul pukulan kelima
dilancarkan lagi untuk membinasakan lawannya.
Melihat itu, para penonton menjadi gempar beberapa
orang berteriak dan membentak akan kekejaman Lokoai itu.
Beberapa ksatria diantaranya juga sudah siap-siap hendak
memberi bantuan kepada "Ong Sing-thian".
Tak terduga baru saja pukulan kelima Ting-Jui jiu sendiri
tergetar mundur selangkah. Bagi para ksatria yang tajarn
pandangannya segara mengetahui bahwa dalam gebrakan itu
Ting-lokoai mengalami kerugian, maka mereka pun urung
memberi bantuan.
Kiranya sesudah muntah darah akhirnya hawa murni Goan-
ci dapat berjalan lancar lagi, tepat dapat menyambut
serangan kelima Ting-lokoai dangan racun jahat ulat es dan
Iwekang yang hebat.
Pada setengah tahun yang lalu Ting Jun-jiu juga pernah
kecundang di bawah pukulan Goan-ci selama setengah tahun
ini melatih tenaga pukulan sudah tentu Ting Jun jiu bukan
tandingannya. Coba kalau Goan-ci tidak terluka lebih dulu,
kelima kali gontokan tadi pasti akan membikin Ting Jun-jiu
yang terdesak mundur dan bukan Goan-ci.
Walaupun sudah tergetar dan dada terasa sesak, namun
Ting-lokoai masih belum kapok dan merasa penasaran. Segera
ia kerahkan segenap tenaganya, sambil membentak, dengan
kumis dan jenggot sama menyengkit saking murkanya, terus
saja ia lontarkan pukulan yang maha dasyat.
Namun Goan-ci malah melangkah maju dan menyambut
pukulan itu sambil berseru, "Lekas lepaskan nona Toan!"
Beruntun-luntun la pun membarengi hantam empat kali
setiap kali menghantam selalu diikuti dengan melangkah ke
depan, Karena majunya itu, sekarang jaraknya dengan Ting
Jun-jiu sudah sangat dekat, asal tangannya meraih tentu A Ci
Akan dapat dirampas olehnya.
Melihat muka Goan-c¡ yang kaku dingin bagai mayat
(karena memakai kedok) itu, mau tak mau Ting-lokoai
menjadi jeri. Tapi ia masih coba tersenyum dan berkata,
"Awas, segera aku akan menggunakan Hu-si-tok lagi, boleh
coba menyambutnya pula!"
Sembari berkata tubuh A Ci terus diangkat dan digoyang-
goyangkan pelahan beberapa kali.
"He. jangan, jangan!" seru Goan-ci dengan suara gemetar,
terang kuatirnya tak terhingga.
Mengapa Goan-ci begitu kuatir? Sebab sekali Ting Jun jiu
menggunakan ilmu "Hu-si-tok", itu berarti seketíka A Ci akan
menjadi mayat berbisa.
Ting Jun jiu memang orang cerdik, demi melihat kelakuan
Goan-ci itu, segera ia tahu bahwa pemuda itu sudah tergila-
gila kepada A Ci. Tentu saja hal ini sangat menguntungkan
dirinya. Tujuannya semula sebenarnya A Ci akan dibinasakan
supaya tidak dapat berebut kedudukan Ciangbujin Sing-siok-
pai mereka. Sekarang melihat Goan ci begitu kuatir atas
keselamatan A Ci maka ia menaksir nona cilik itu tentu dapat
diperat untuk menundukkan Ong Sing-thian yang lihai itu.
Maka berkatalah Ting-lokoai, "Apa kamu tidak ingin dia mati?"
"Ya. le . . , lekas lepaskan dia, lni sang . . . sangat
berbahaya . . . ." demikian sahut Goan-ci dengan terputus-putus.
"Haha, kalau aku mau membunuh dia boleh dikata terlalu
gampang, buat apa melepaskan dia?" sahut Lokoai dengan
tertawa. "Dia adalah muridku yang murtad dan khianat, kalau
orang begini tak dibunuh, siapa yang harus dibunuh?"
"Tapi . . . . tapi dia adalah. , . adalah nona A Ci, ba . , .
bagaimanapun jangan . , . jangan kaubunuh dial Engkau telah
membutakan matanya, maka . . . . maka aku mohon padamu,
jang....jangan membunuh dia lagi! Le . . . lekas kau lepaskan
dia dan aku tentu akan membalaa kebaikan . . . kebaikanmu ini!"
Dalam kuatirnya cara bicara Goan-ci menjadi tak keruan
sehingga sama sekail tidak pantas sebagai seorang Pungcu
atau ketua Kek-lok-pai.
Maka Ting Jin-jiu menjawab, "Untuk mengampuni dia sih
boleh àsal saja kamu menerima beberapa syaratku."
"Boleh, boleh!” sahut Goan-ci cepat, "Jangankan beberapa
syarat, sekalipun seratus atau serìbu syarat juga kuterima."
"Bagus," kata Lokoai. "Nah, pertama, kamu harus segera
mengangkat aku sebagai guru, untuk selanjutnya kamu adalah
murid Sing-siok-pai kami."
Tanpa pikir lagi Goan-ci berlutut dan menyembah, katanya,
"Suhu, terimalah hormat muridmu Ong Sing-thian!"
Dalam pikiran Goan-ci, toh dulu dia sudah pernah
mengangkat Lokoai sebagai guru, kalau sekarang
menyembah, lagi apalah alangannya?
Ia tidak menduga bahwa dengan tindakannya itu para
ksatria telah dibuatnya menjadi panik. Para Tianglo dan
anggota Kai-pang yang terkemuka juga merasa penasaran
sekali. Pikir mereka "Kai-pang kini adalah suatu organisasi
terbesar, selamanya terkenal sebagai golongan yang luhur
budi dan membela keadilan tapi sekarang Pangcu justru
mengangkat guru pada Sing-siok-Lokoai yang terkenal busuk
dan jahat itu. Terang orang demikian tidak dapat
dipertahankan jadi pang-cu kita."
Sebaliknya di pihak Sing-siok-pai serentak berbunyilah
tambur gembreng dan seruling, bergemuruh mereka
menyanyikan lagu Sing-siok losian maha saktl dan macam-
macam sanjung keji yang mendirikan bulu roma
pandengarnya.
Tadi ketika melihat A Ci ditawan Ting Jun jiu, Toan Cing-
sun dan Wi Sing-tiok juga saling pandang dengan kuatir. Tapi
mareka insaf bukan tandingan Sing-sok Lokoai kalau berani
maju tentu akan mengantarkan nyawa belaka. Kemudian
ketika melihat "Ong Sing-thian" berlutut dan minta ampun
demi putri mereka itu, hal ini benar-benar di luar dugaan
mereka,
Diam-diam Wi Sing-tiok sangat heran dan giráng pula,
dengan berbisik-bisik ia berkata kepada Cing-sun, "Lihatlah
itu, betapa mendalam cinta kasih orang, setitik pun engkau
tak dapat memadainya,"
Di sebelah sana Toan Kí juga lagi melirik ke arah Giok-yan,
katanya di dalam hati, "Betapa rindu dendamnya kepada nona
Ong boleh dikata sudah tiada taranya, tapi kalau dibandingkan
Ong-pangcu ini mungkin masih jauh sekali. Coba kalau nona
Ong yang tertawan Sing-siok LoKoai, apakah aku mau berlutut
dan menyembah padanya?"
Berpikir sampai di sini. mendadak semangat Toan Ki
bergolak, ia merasa mati pun rela asalkan demi Ong Giok-yan,
apalagi cuma dihina saja di depan umum. Karena pikiran itu,
tanpa terasa ia berkata, "Mau. aku mau. tentu aku mau!"
Giok-yan menjadi heran, tanyanya, "Kau mau apa?”
“O. ti. . . . tidak, aku . . . aku . . . " Toan Ki menjadi
gelagapan dengan muka merah.
Dalam pada itu habis menyembah Goan-ci sudah berdiri
kembali. Ketika melihat A Ci masih dicengkeram Ting lokoai,
segera ia berkata, "Suhu lekas engkau melepaskan dial"
"Budak cilik ini terlalu kurangajar masakah begini enak
lantas mengampuni dia!” sahut Lokoai dengan mendengus.
"Ya, kecuali kalau kaumau menebus dosanya dengan
membuat beberapa pahala bagiku."
"Ya, ya, Tecu harus membuat pahala apa" tanya Gonn-ci.
"Sekarang Juga boleh kautantang Hongtiang Siau-lim-si
Hian-cu, gempur dan bunuhlah dia," kata Lokoai.
Goan-ci menjadi ragu, jawabnya, "Tecu tiada permusuhan
apa-apa dengan dia, meski Kai-pang hendak berabut
kedudukan dengan Siau-lim-pai, namun tidak perlu saling
membunuh."
Lokoai menjadi gusar, dampratnya, "Kau berani
membangkang pada perintah guru hal ini menandakan
kemunafikanmu, kamu mengangkat guru padaku jadi cuma
pura-pura saja?"
Yang diharapkan Goan-ci asalkan A Ci bias selamat, maka
ia tidak pedulikan lagi tata-krama orang kangouw apa segala.
Segera ia menjawab, "Ya, ya! Cuma . . . Cuma cuma silat
Siau-lim pai teramat lihai, Tecu akan . . . akan berbuat sebisa
mungkin. Tapi . . . tapi harap Suhu juga pegang janji jangan .
. . jangan engkau membikin susah nona A Ci."
"Membunuh Hian-cu atau tidak bergantung padamu,
membunuh A Ci atau tidak bergantung padaku,” sahut Lokoai,
Rupanya dia sengaja menghasut agar Kai-pang bertempur
dengan Siau-Lim-pai, dengan demikian dia dapat mengail di
air keruh.
Terpaksa Goan-cl putar tubuh ke arah Slau lim-pai,
serunya. "Hian-cu Hong-tiang, selamanya Siau-lim-pai dan Kai-
pang sama-sama menjagoi dunia persilatan Tianggoan,
masing-masing tiada di bawah perintah siapa-siapa. Tapi hari
ini kita harus menentukan unggul dan asor, yang menang
akan menjadi Bu-lim Beng-cu, yang kalah mesti tunduk pada
perintahnya,"
Sinar matanya mengerling ke arah para ksatria, lalu
melanjutkan, "Nah, para ksatria hari ini sudah hadir semua di
sini, kalau ada di antaranya yang merasa tidak terima boleh
ciaju untuk bartanding dengan Bu-lim Beng-cu,"
Di balik ucapannya ilu seakan-akan sekarang juga dia
sudah menjadi Bu-lim Beng-cu. Sudah tentu semua oravg
sangat gusar. Tadi pambicaraan Ting Jun-jiu dan Goan-ci juga
sudah didengar para padri Siau-lim-pai, mereka menjadi
sangat murka karena Lokoai berani terang-terang menyuruh
Ong Sing-thian menantang dan membunuh Hian-cu
Hongtiang, Tapi kalau melihat pertarungan kedua orang tadi
terang kepandaian Ong sing-thian itu memang sangat tinggi
lagi keji, maka sukar diramalkan apakah Hian cu mampu
melawannya.
Walaupua Hían-cu tidak suka berkelahi, tapi ia sudah
ditantang secara terbuka, untuk menghindar terang tak bisa
lagi. Terpaksa ia rangkap kedua tangannya dan bersabda,
“Selama beratus tahun ini kai-pang terkenal sebagai saka guru
dunia parsilatan Tionggoan, setiap ksatria di dünia tahu siapa
yang tidak kagum. Pangcu kalian yang dahulu juga bersahabat
sangat karib dengan kami. Sekarang Ong-Pangcu menjabat
sebagai Pang-cu baru, memang kami agak teledor karena
terlambat mengirimkan ucapan selamat. Namun begitu
hubungan kita selama ini sangat baik dan saling menghormati,
entah mengapa hari ini Ong pangcu marah-marah kepada
kami, dapatkah kami diberitahu di mana letak kesalahannya
dan biarlah dipertimbangkan secara adil oleh para ksatria yang
hadir di sini."
Goan-ci rnasih hijau dan kepalang tanggung sekolahnya,
sudah tentu ia tidak dapat berdebat dengan Hian-cu. Tapi
sebeium datang ke Siau lirn-si ia sudah mendapat "kursus”
dari Coan Koan-jing. tentang apa-apa yang harus dikatakan,
maka sekarang ia pun menjawab, "Di utara kerajaan Song kita
ada negeri Taili, dibarat ada Se He dan turfan daa diselat ada
kerajaan Liau keempat negeri aslng itu selala mengìncar tanah
air kita, maka . , . maka . . . "
Ternyata dia telah salah mengatakan letak negeri-nagerl
Taili dan Liau, mestinya Taili terletak dì selatan dan Liau di
utara. Karena itu banyak di antara para pendengarnya tertawa
geli mengejek.
Goan-ci tahu ucapannya ada yang keliru tapi tak mungkin
ditarik kembali lagi, karuan ia menjadi malu, untung la
memakai-kedok sehingga orang lain tidak tahu. Dan sesudah
tergegap-gegap sebentar kemudian la berdehem dan
melanjutkan "Ehem! Kerajaan Song kita terlalu miskin dan dan
lemah, maka kaum kita harus beramai-ramai membela . . ,
membela tanah air dan bersama-sama melawan musuh."
Mendengar ucapannya cukup beralasan serentak para
ksatria memberi aplus tanda setuju.
Keruan Goan-ci menjadi semangat, segara ia
menyambung, "Dan akhir ini, karana gangguan-gangguan
negeri musuh itu, maka . . . mka kewajiban kaum kità juga
tambah barat kita . . . kita harus bersatu-padu. bergotong-
royong untuk menghadapi segala kesukaran itu. Tapi di antara
berbagai golongan dan aliran kita justru masih suka gontok-
gontokan, saling bunuh mambunuh, pendek kata akan
merugikan persatuan kita, seperti tempo hari, hanya seorang
Kiau Hong saja sudah membikin kocar-kacir para ksatria
Tionggoan, apalagi paling akhir Ini kabarnya Sing siok Lo . .
.siok Lo . . . Lo itu juga . . . . "
Sebenarnya Coan-Koan-jing telah mengajarkan dia agar
menyatakan. "Sing-siok Lokoai telah mernbunuh dua padri
agung Siau-lim-si dan orang orang Slau-lim-pai sama sekali
tak berdaya." Kalimat itu sebenarnya sudah diapalkan Goan-ci
di luar kepala, tapi sekarang dia telah mengakui Lokoai
sebagal Suhu, dengan sendirinya ia tidak dapat menyebutnya
sebagai Lokoai maka kata-kata yang hampir diucapkan itu
ditelannya kembali mentah-mentah.
Karena itu para ksatrla msnjadl geli, segera ada orang
menanggapi, "Dia adalah Lokoai (iblis tua), dan kamu adalah
Siau-yau (siluman cilik) Hahaha!"
Namun orang orang Sing-siok pai juga tidak mau kalah
suara, serentak mereka menggema ke angkasa. Tapi pada
waktu suara mereka sudah mulai pila, sekonyong-konyong di
antara orang banyak ada seorang yang mulai menyanyi lagi
dengan suara yang serak tapi bernada tinggi.
Mula-mula ia menyanyi menurunkan irama orang-orang
Sing-siok-pai tadi, begitu pula syairnya juga sama, tapi ketika
sampai pada bait syair yang terakhir, mendadak ia sengaja
menekuk suaranya sedemikian rupa, dan kata-kata pujian
pada Ting Jun-jiu juga diganti sehingga menjadi "Sing-siok
Lokoai, kentut busuk."
Semula orang-orang Sing-siok-pai mengira di antara
kawannya ada yang sengaja menyanyi “solo" dengan suara
tenor. siapa duga kata-kata terakhir itu sama sekali berbeda
daripada syair Lagu yang sebenarnya, kata-kata itu sengaja
ditarik panjang sehingga kedengarannya menjadi sangat
merdu.
Keruan para ksatria tertawa tarpingkal-pingkal, sebaliknya
orang-orang Sing-siok-pai sama mencaci maki.
"Wah. Pau-samko, suaramu boleh juga, ya!" demikian seru
Giok-yan dengan tersenyum.
"Ah, lumayan saja!” sahut Pau Put-tong.
Kiranya penyanyi solo dengan suara tenor itu adalah hasil
karya Pau put-tong yang jahil. Keruan semua orang tambah
geli.
Dan ditengah gelak-tawa dan caci-maki itu Goan-ci
berbisik-bisik berunding dengan Coan Koan-Jing. Lalu berseru
pula, "Mengingat apa yang kukatakan tadi, demi kepentingan
bersama, kami mengusulkan agar di antara kita dipilih seorang
Bu-lim Beng-cu untuk memberi pimpinan pada kita. Untuk ini
entah Hian-cu Hongtiang setuju atau tidak?"
"Usul Ong-pangcu memang cukup beralasan," sahut Hian-
cu dengan kalem. "Cuma ada sesuatu yang aku kurang
mengerti, maka diharap Ong-pangcu suka memberi
penjelasan."
"Tentang apa?" tanya Goan-ci.
"Sekarang Ong-pangcu telah mengangkat Sing-siok Losian
sebagai guru, dengan demikian. engkau sudah terhitung orang
Sing-siok-pai, benar tidak?"
"ini . . . ini adalah utusan pribadiku dan . . . dan tiada
sangkut-pautnya denganmu," sahut Goan-ci dengan tergagap.
"Tapi Sing-siok-pai terhitung aliran benua barat dan bukan
sekaum dengan kita." Sambung Hian-cu. "Maka soal pemilihan
Bu-lim Beng-cu segala sesungguhnya bukanlah urusan Sing-
siok-pai dan juga tidak ada hak buat ikut campur."
“Ya, benar!”
"Tepat sekali ucapan Hongtiang itu!"
"Benar, kamu adalah budak golongan asing mana boleh
mimpi hendak menjadi Beng-cu dunia persilatan Tionggoan
kita!" demikian beramai- ramai para ksatria berteriak.
Goan-ci menjadi bingung dan tak dapat menjawab. ia
pandang Ting Jun jiu dan pandang Coan Koan jing pula
dengan harapan mereka dapat membantu jawabannya.
Maka sesudah berdehem-dehem dulu, lalu Ting Jun-jiu
berseru, "Ucapan, Hong-tiang barusan kurang tepat, sebab
aku berasal dari propinsi Soe-tang dan terhitung suatu
kampung dengan nabi Khong-hu-cu, aku yang membangun
Sing-siok-pai, mana boleh dikatakan sebagal aliran negeri
asing? Kalau bicara tentang asing dan tidak, cikal-bakal Siau-
lim-si sendiri, Tat-mo Cosu (Budhi darma) kan berasal dari
negeri Thian-tiok, agama Budha juga berasal dari negeri
asing, kalau kalian juga dituduh menganut ajaran dan
kepandaian impor, apakah kalian mau terima?"
Sanggahan ini membuât Hian-cu dan lain-lain merasa
susah untuk menjawabnya.
Bahkan Coan Koan-jing juga segera ikut bicara, "Sumber
asal mulanya ilmu silat di dunia ini memang sukar diusut. Ada
kepandaian berasal barat yang dipelajari di negeri timur
sebaliknya banyak juga ilmu negeri timur yang masuk ke
negeri barat. Yang terang Ong-pangcu kita adalah bangsa
awam, Kai-pang juga sudah dikenal sebagai organisasi
terbesar di negeri kita dia dengan sendirinya beliau harus
dianggap sebagai tokoh persilatan Tionggoan, pendek kata
urusan hari ini hanya dapat diputuskan dengan kekuatan dan
tidak perlu berperang lidah, apakah sebentar Sìau-lim-pai atau
Kai-pang akan menang, hal ini akan ditentukan oleh
pertandingan kalian sebagai pemimpin kedua pihak, maka
tidak perlu banyak bicara lagi. Tapi kalau pihak Siau-lim-pai
menyadari bukan tandingan Pangcu kami dan terima mengaku
kalah serta bersedia mengangkat Pangcu kami sebagai Beng-
cu, maka segala pertarungan tentu akan dapat dihindarkan."
Di balik kata-katanya itu seakan-akan menganggap Hian-
cu merasa jeri, maka sengaja menggunakan macam-macam
alasan. Keruan Hian-cu sangat mendongkol, segera ia
melangkah maju dan berkata, ''jika Ong-pangcu sudah
berkeras ingin main-main beberapa jurus denganku, bila
kutolak lagi tentu akan menjadi kurang hormat. Kai-pang
kalian yang telah bersahabat selama beratus tahun dengan
Siau-lim-si kami. Nah, wahai para kawan yang hadir di sini,
oleh karena terpaksa, tiada jalan lain lagi terpaksa kulayani
tantangan Ong-pangcu."
"Ya, kami menyaksikan Siau-lilm-si bukan pihak yang
salah," seru para ksatria.
Dalam pada itu Goan-ci sudah tidak sabar lagi karena
menguatirkan keselamatan A Ci yang masih berada dalam
genggaman Ting-lokoai itu. Segera ia berteriak, "Sudahlah,
tidak perlu banyak cingcong, silakan maju!"
Dasar Goan-ci memang bukan anak baik-baik, pada waktu
kecilnya kurang didikan dan sangat nakal, sesudah besar
bergaul pula dengan A Ci yang jahil itu, maka sedikit-banyak
ia telah ketularan sifat-sifat yang tidak baik, kepandaian yang
dipelajari juga ilmu keji dari golongan Sing-siok-pai. Karena itu
sekarang ia berubah menjadi orang yang tidak kenal kebaikan
dan jahat lagi.
Begitulah maka Hian-cu menanggapi pula, Siancai! Kata-
kata Ong pangcu ini sungguh sangat tidak sesuai dengan
nama Kai-ping yang tersemat selama beratus tahun ini."
"Mau bertempur ayolah lekas bertempur, kalau tidak, boleh
mundur saja!" seru Goan-ci sambil mendesak maju. Sembari
bicara ia pun melirik kearah Ting Jun-jiu yang masih
mencengkeram A Ci itu, rasanya benar-benar tidak sabar lagi.
"Baiklah, kalau begitu biarlah kubelajar kenal dengan Ong-
pangcu punya Hang-liong-sip-pat-Ciang (delapan belas jurus
pukulan penakluk naga) dan Pak-kau-pang-hoat (ilmu pentung
penggebuk anjing), supaya para ksatria yang hadir dapat
kenal betapa hebatnya kepandaian Kai-pang yang kesohor
itu," kata Hian-cu sambil bersiap-siap.
Goan-ci tampak melengok dan menyurut mundur malah.
Sebab walaupun dia telah menjadi Pangcu, tapi Hang-liong-
sip-pat-ciang dan Pak-kau-pang-hoat yang dikatakan itu boleh
dikatakan sejurus pun tidak bisa. Ia pernah dengar bahwa
kedua macan kungfu itu biasanya mesti diajarkan oleh Pangcu
lama kepada Pangcu baru, maka kedua macam ilmu itu
disebut "Tin-pang-sin-kang" (ilmu sakti pemimpin). Terkadang
Hang-liong-sip-pat-Ciang itu juga diajarkan kepada anggota
biasa, sebaliknya Pak-kau pang-hoat hanya diajarkan kepada
Pangcu saja. Boleh dikatakan setiap Pangcu Kai-pang selama
beratus tahun ini tiada satu pun yang tidak mahir dua macam
kepandaian itu. Sekarang Goan-ci disuruh untuk mengunakan
kedua macam ilmu silat yang tak dipahaminya, sudah tentu la
merasa serba susah.
Melihat sikap Goan-ci itu, segera Hian-cu menambahi lagi,
"Aku adalah ketua Siau-lim-si dan tentu akan menggunakan
kepandaian utama golongan kami seperti Kim-kong-pan-yak-
ciang untuk coba-coba dengan Hang-liong-sip-pat-ciang kalian
dan Hok-mo-siang-thong untuk melawan Pak kau pang-hoat
Ong-pangcu. Cuma, ai sungguh sangat disayangkan, selama
ini di antara dua golongan kita hanya saling tukar pikiran saja
dan selamanya tidak pernah digunakan untuk saling gebrak.
Tapi sekarang terpaksa mesti kulayani Ong-pangcu, sungguh
menyesal sekali."
Para ksatria merasa kagum dan hormat terhadap ucapan
Hian-cu yang luhur budi itu. Segera tampak jubah Hian-cu
mulai bergoyang, kedua tangannya terangkap di depan dada,
lalu didorong maju pelahan itulah salam pembukaan ilmu
pukulan Pan-yak-ciang.
Goan-ci juga tidak banyak omong segera telapak tangan
kirinya menghantam, menyusul tangan kanan juga memotong
ke depan dengan cepat sekali. Tenaga pukulan yang susul
menyusul itu memang sangat hebat dan aneh. Maka
terdengarlah suara beradunya tenaga pukulan, menyusul
terdengar suara "brat-bret" dua kali tahu-tahu kedua ujung
ikat pinggang Hian-cu terputus dan melayang ke kanan-kiri.
Kiranya tanaga pukulan kedua tangan Goan-ci itu
mencakup lingkaran yang sangat luas ketika tenaga
pukulannya sebagian dipatahkan oleh pukulan Hian-cu, maka
ujung kain ikal pinggang Hian cu yang berkibaran itu terkupas
putus oleh tenaga pukulan Goan-ci yang menyambar lewat ke
samping itu.
Menyaksikan gebrakan itu, terentak pula ksatria dan padri
Siau-lim-si lama berteriak-teriak, “ini kan kepandaian jahat
Sing-siok-pai dan bukan Heng liong-sip-pat-ciang!"
“Ya, itu bukan kepandaian asli Kai-pang!”
Bahkan di antara anggota Kai-pang juga ada yang
berteriak, "Kita bertanding dengan Siau-lim-pai, maka kita
tidak boleh memakai ilmu jahat golongan lain! Benar, harus
menggunakan Heng-liong-sip-pat-ciang! Kenapa memakai ilmu
jahat golongan lain, membikin malu Kai-pang saja!"
Gebrakan pertama itu sebenarnya Goan-ci lebih unggul,
tapi demi mendengar teriakan-teriakan itu. ia menjadi ragu
sehingga jurus kedua tak bisa dilancarkan lagi. Sebaliknya
orang 'Sing-siok-pai lantas berseru, "Nah, sudah terang ilmu
sakti Sing-siok-pai jauh lebih hebat, buat apa mesti memakai
Heng-liong-sip-pat-ciang apa segala yang tak berguna!"
"Ayo, Ong-suheng, maju dan labrak lagi, bikin keok dia!"
Seketika suara sanjung puji "Sing-siok losian maha sakti”
lantas bergema pula.
Di tengah suara riuh ramai itu sekonyong-konyong dari
bawah gunung berkumandang suara seorang yang keras dan
lantang, "Siapa bilang ilmu silat Sing-siok-pai jauh lebih hebat
daripada Hang-liong-sip-pat-ciang?"
Begitu lantang dan nyaring suara itu sehingga suara ribut
orang banyak tersirap seketika. Dengan terkejut semua orang
sama tutup mulut. Maka terdengarlah suara derapan kuda
yang ramai, belasan penunggang kuda secepat angin telah
menerjang tiba.
Penunggang-penunggang kuda itu seluruhnya memakai
mantel sutra merah, orangnya gagah dan kudanya tangkas,
semua kuda pilihan berwarna hitam mulus. Sesudah dekat,
pandangan semua orang merasa silau. Ternyata tapal kuda itu
semuanya terbuat dari emas.
Jumlah penunggang kuda itu seluruhnya 19 orang. Meski
tidak banyak, tapi pembawa mereka melebihi suatu bárisan
besar.
Sesudah dekat, 18 penunggang kuda itu lantas memisah
kedua sisi, tinggal penunggang kuda yang paling belakang
masuk terus menyusur maju dengan cepat.
Melihat penunggang kuda itu, serentak orang-orang Kai-
pang berteriak-teriak, "Siau-pangcu!, Siau-pangcu!"
Menyusul sebagian besar di antara mereka lantas
merubung maju untuk memberi hormat.
Kiranya panunggang kuda ini memang benar adalah Siau-
hong. Sama sekali tak terduga olehnya bahwa meski dia sudah
dipecat tapi sekarang masih ada anggota Kai-pang sebanyak
ini yang menyembah padanya. Saking terharunya sampai tak
tertahan mengambang air matanya, cepat ia melompat turun
dari kudanya dan balas menghormat.
Segera katanya, “Orang Cidan Siau Hong telah dipecat dan
sudah tiada hubungan lagi dengan Kai-pang mana boleh para
saudara tetap menyapa dengan sebutan lama? Selama
berpisah tentu saudara baik-baik saja bukan?”
Jilid ke-73
Anggota-anggota Kai-pang yang memberi hormat itu
sebagian besar adalah murid berkantung tiga dan empat yang
masih muda dan berjiwa lebih dinamis apa yang mereka
pikirkan segera dilaksanakan. Karena mereka masih sangat
menjunjung pribadi Siau Hong yang luhur budi dan gagah
perwira itu maka begitu bertemu serentak mereka tetap
memanggilnya sebagai "Kiau-pangcu”, mereka lupa bahwa
"Kiau-pangcu" itu sudah dipecat bahkan adalah bangsa Cidan
yang merupakan musuh besar mereka.
Karena jawaban Siau Hong itu, segera ada sebagian yang
menunduk kepala dan mengundurkan diri, tapi masih tetap
ada sebagian yang berkata pula. "Engkau juga baik-baik, Kiau
. . . Kiau . . . . Selama berpisah ini sungguh kami selalu
terkenang Padamu!"
Kedatangan Siau Hong ke Tionggoan ini memang
disengaja, pengiring-pengiringnya itu adalah “18 ksatria
penunggang kuda” yang merupakan jago pilihan bangsa
Cidan. Dahulu Siau Hong hampir mati dikeroyok orang banyak
di Cip-hian-ceng, untung dia ditolong oleh seorang ksatria
berbaju hitam. Hal ini menandakan bahwa betapa pun tinggi
ilmu silatnya juga susah melawan orang banyak yang
berjumlah ratusan. Tapi sekarang ia membawa 18 jago,
apalagi kuda tunggangan mereka juga kuda pilihan, bila perlu
mereka tidak sulit melarikan diri dengan mencamplok kuda.
Ketika masih di bawah gunung tadi Siau Hong sudah
mendengar teriakan orang sing-siok-pai yang membual bahwa
ilmu sakti Sing-siok-pai jauh lebih hebat dari pada Hang-liong-
sip-pat-ciang hal ini membuatnya marah sekali. Mesti bukan
anggota kai-pang lagi, tapi ia tidak terima kalau Hang-liong-
sip-pat-ciang yang lihai itu dihina orang. Bahkan sekilas iapun
melihat Ting jun-jiu menawan seorang dara cilik berbaju ungu
yang segera dikenalnya sebagai a Ci.
Kedatangannya di Tiongoan ini antara lain juga hendak
mencari A Ci. Sekarang melihat anak dara itu ditawan orang,
seketika teringat olehnya pesan terakhir A Cu yang minta dia
menjaga baik-baik adik perempuannya itu. Tanpa piker lagi
segera ia mendekati Ting-lokoai sekali tangan kirinya
terangkat, kontan ia hantam kedepan dengan gerakan ''Gang-
liong-yu-hwe", salah satu jurus Hang-liong-sip-pat-ciang yang
ampuh.
Waktu Siau hong menyerang, jaraknya dengan Ting Jun-jui
masih belasan meter jauhnya, tapi karena datangnya terlalu
cepat sehingga dimana tenaga pukulannya sampai tahu-tahu
jarak mereka hanya tinggal beberapa meter saja.
Ting-lokoai juga sudah kenal nama “Lam Buyung dan Pak
Kiau Hong” yang tersohor, maka dia pun tidak berani
memandang enteng lawan. Ketika melihat Siau Hong mulai
menyerang dari jauh, sekali-kali tak terduga olehnya bahwa
dirinya yang dijadikan sasaran, apalagi menyusul Siau Hong
juga melesat maju dan kembali menyerang dengan jurus
kedua "Gang liong-yu hwe" di lancarkan,jadi tenaga pukulan
pertama didorong oleh tenaga pukulan kedua, karuan
bagaikan gugur gunung dahsyatnya.
Hanya sekejap saja Ting-lokoai merasa, dadanya sesak,
napas susah, tenaga pukulan lawan sungguh bagai air bah
yang melanda dan tak terbendungkan seakañ-akan dirinya
dan A Ci akan tenggelam di tengah gelombang tenaga itu.
Dalam kagetnya Ting-lokoai tidak sempat memikirkan cara
paling sempurna untuk melayani serangan itu. Tapi ia tahu
kalau menangkís dengan sebelah tangan saja tentu bukan
mustahil tangan sendiri akan patah boleh jadi otot tulang
seluruh badan akan tergetar remuk. Sementara itu pukulan
lawan yang dahsyat sudah tiba dalam keadaan genting ia
terpaksa ia melemparkan A Ci ke atas, berbareng kedua
tangannya terus bergerak untuk berjaga di depan dada,
sedangkan ujung kakinya menutuk pelahan dan melompat
mundur.
T¡ba-tiba Siau Hong menyusul serangan "Gang-liong-yu-
hwe” yang ketiga belum lenyap tenaga pukulan yang lebih
dahulu, segera tenaga pukulan lain sudah membanjir lagi.
Lokoai tidak berani menangkisnya dengan keras lawan
keras, ia miringkan pukulannya sehingga kedua tenaga
pukulan Cuma saling senggol saja. namun begitu Lokoaí
merasa lengannya linu pegal dan napas sesak, capat ía
melompat mundur düa-tiga meter jauhnya sambil
mengerahkan hawa berbisa di tangannya untuk berjaga jaga
kalau lawan mendesak maju.
Namun dengan pelahan Siau Hong tangkap dulu A Ci yang
sementara itu baru jatuh dari udara sekalian ia membuka hiat-
to si nona yang tertutuk tadi.
Sejak A Ci ditawan Ting Jun-jiu, walaupun matanya tak
bisa melihat dàn mulut tak dapat bicara, namun segala apa
yang terjadi di sekelilingnya dapat didengarnya dengan jelas,
Maka begitu hiat to terbuka, dengan girang segera ia berseru,
"Cihu yang baik, banyak terima kasih atas pertolonganmu!”
Bila teringat anak dara Itu mengeluyur pergi tanpa pamit
sehingga dirinya dibikin kelabakan mencarinya, sungguh anak
dara yang terlalu nakal, maka Siau Hong menjadi gregatan,
"plok", ia gaplok sekali pantat anak dara itu sambil mengomel,
“kenapa kaupergi tanpa bilang bilang padaku snggaeh aku
bingung mencarimu ke mana-mana?"
Keruan A Ci kesakitan dan berkeok-keok “Aduh cihu busuk,
kenapa engkau memukul orang?”
"Biar, aku justru ingin menghajarmu budak nakal ini!" kata
Siau Hong.
Ketika A Ci berpaling dan sekilas dilihatnya kedua bola
mata anak dara Itu buram tak bersinar terang sudah buta,
sungguh kaget Siau Hong tak terhingga serunya, "Hei kau . . .
matamu kenapa?”
"Tidak apa-apa, biar kenapa kaupusing?" sahut A Ci
dengan uring-uringan.
Dengan munculnya Siau Hong tadi, para ksatria Tionggoan
menjadi panik bila teringat pada kejadian di Cip-hian-ceng
dahulu di mana berpuluh kawan mereka telah dibinasakan
Siau Hong. Mereka menduga sebentar tentu sukar terhindar
pertempuran mati-matian pula. Kemudian ketika mereka
menyaksikan dengan sekali-dua gebrak saja Siau Hong telah
mengalahkan Sing-siok- Lokoai yang malang melintang, tadi
seketika mereka saling pandang dengan kagum dan kuatir
pula. Sebaliknya ada sebagian anggota Sing siok-pai yang
tidak kenal malu masih berani mencaci-maki Siau Hong dan
ada yang menyanjung puji lokoai.
Di sebelah lain Goan-ci merasa jeri juga dengan datangnya
Siau Hong, ketika dilihatnya A Ci digaplok dan diomeli Síau
Hong, ia menjadi tidak tahan dan segera melompat maju serta
berkata, "Lekas lepaskan nona A Ci."
"Síapa kau?" tanya Siau hong sambil menurunkan A Ci
ketanah.
Dahulu Goan-ci sering bertemu dengan Siau Hong ketika
berada di negeri Liam, tapi sekarang muka Goan-ci sudah
berubah sama sekali, kedudukannya juga sudah lain, sudah
tentu Goan-cí tidak perlu takut lagi padanya. Namun
permbawa Siau Hong sebagai "Lam-ih Tai-ong" terlalu berakar
dalam lubuk hatí Goan ci, apalagi Siau Hong telah
menyelamatkan A Ci dengan gagah perkasa, budi kebaikan ini
bagi Goan-ci melampaui dendam terbunuhnya orang tua.
Karenai ítu Goan-ci menjadi kalah pembawa lebih dulu dan
menjawab dengan tetgagap, "Aku adalah . . . adalah Ciangbun
Kek-lok-pai, Kai-pang Pangcu Ong .... Ong Sing Thian.” tapi di
antara anggota Kai-pang sagera ada orang berteriak, "Kamu
südah mengangkat guru pada Sing-siok Lokoai, mana boleh
mengaku sebagai Pangcu lagi!"
“Akulah Ciangbun Slng-siok-pai yang sesungguhnya," kata
A Ci. "Ong-pangcu tadi cuma menjura kepada Sing-siok Lokoai
dengan 'Kap-tan-hoa-Hiat kang (ilmu meluluhkan darah
musuh dengan menjura), apakah kalian sangka dia sungguh-
sungguh ingin menjadi murid Lokoai? Justru Lokoai yang telah
diselomoti, tidak lebih dari tiga hari seluruh badan Ting-lokoal
akan hancur luluh menjadi darah. Kalau kalian tidak percaya
boleh lihat saja nanti!"
Dasar memang jebolan murid Sing-siok pai, kepandaian A
Ci dalam hal membual dan membohong dengan sendirinya
sangat pintar. Maka orang orang Kai pang menjadi ragu
mereka tahu Sing-siok-pai memang memiliki macam-macam
ilmu jahat dan berbisa, apa yang dikatakan A Ci memang
bukan mustahil.
Sebaliknya Siau Hong tahu A Ci sengaja ngaco-belo lagi,
sekilas ia lihat Toan Cing-sun dan Wi Sing tiok juga berada di
situ, ia menjadi girang dan segera berseru, "Kiranya Tin lam
ong juga berada di sini biarlah putrimu ini kuserahtkan kepada
kalian untuk diberi pendidikan sebaik-biaknya."
Lalu ia gandeng tangan A Ci ke arah Toan Cing-sun,
pelaban ia dorong anak dara itu ke depan dan segera
dirangkul oleh Wi Sing tiok dengan air mata berlinang linang.
“O, anakku, ken . . . kenapa keduá matamu ini?” tanya
Sing-tiok dengan menangis.
Sebaliknya A Cì tiada mempunyai rasa kasih sayang
kepada ayah bundanya, maklum sejak kecil ia tidak pernah
merasakan kasih saying orang tua. Dasar wataknya tidak mau
kalah, maka ia pun tidak mau mengakü kedua matanya ítu
díbutakan oleh Ting jun-jiu, dengan suara keras ia menjawab,
“ aku sendiri sengaja membutakan mataku karena aku sedang
melatih semacam ilmu gaib Sing-siok-pai Ting-lokoai sendiri
pun tidak mampu melatih ilmu ini.”
Dalam pada ítu Toan Ki juga sangat girang atas munculnya
Síau Hong, cumu dia belum sempat menyapa sang Toako
karena Siau Hong lagi melabrak Ting Jun jiu, Ia heran ketika
mengetahuí bahwa nona buta itu oleh Siau Hong dikatakan
sebagai putri ayahnya. Tapi la pun tahu sifat sang ayah yang
romantis, segera ia dapat menduga hubungan ayahnya
dengan Wi Sing-tiok.
Sesudah A Ci diserahkan kepada orang tuanya oleh Siau
Hong, segera Toan Ki tampil kemuka dan berseru. “Toako,
bàik-baikkah selama berpisah sungguh sangat merindukan
adikmu ini?”
Sejak Siau Hoing angkat saudara dengan Toan Ki,
walaupun singkat sekali waktu berkumpul mereka, tapi Siau
Hong tetap sangat simpati dan suka sekali kepada Toan Ki,
segera ia pegang kedua tangan adïk angkat îtu dan
menjawab, “banyak sekàli kejadian sesudah berpisah dan
susah diceritakan dalam sekejap untung kita sama-sama
dalam keadaan baik-baik semua."
Belum lagi mereka sempat bicara lebîh banyak tiba-riba
terdengar teriakan orang banyak yang mencaci-maki Siau
Hong, "Hai, orang she Kiau, kamu telah membunuh saudaraku
sakit hati itu belum terbalas, biarlah hari ini aku mengadu jiwa
denganmu!”
"Ya, Kiau Hong adalah anjing Cidan yang harus kita bunuh
bersama, hari inl tidak boleh lagi dià lolos dari Siau-sit-sian
ini!"
Menyusul banyak lagi caci-maki yang menuduh Siau Hong
membunuh ayah atau putranya, semua ingin memuntut balas
atas korban yang dahulu pernah dibunuh oleh Siau Hong di
Cip-bian-ceng.
Makin lama makin banyak yang mendamprat dan memakì,
bukan mustahil dalam sekejap lagì akan terjadi pertempuran
ramai pula. Sebaliknya rombongan Siau Hong hanya 18 orang
saja ia pun bermusuhan dengan Kai-pang, Siau-lim-pai dan
Sing siok-pai, kalau sampai terjadi pertempuran itu berarti
Siau Hong ber-l8 orang harus menandingi seribu orang pasti
sukar baginya untuk meloloskan diri.
Namun Siau hong tidak gentar, dengan suara lantang ia
berseru. “Kedatangan Siau Hong ini mestinya ada suatu
urusan dengan Siau-lim-si jika kalian ingin membunuh orang
she Siau ini, apa kalian mampu atau tidak boleh dicoba nanti,
tapi saat ini aku belum sempat melayani kalian.
Dalam keadaan rebut sudah tentu para ksatria Tionggoan
itu tidak mau menunggu iagi, segera ada beberapa orang
yang kasar melontarkan caci maki yang kotor dan keji. Dan
karena hasutan dan bermain-main mereka lantas merubung
maju hendak mengerubut.
Sebelumnya Siau Hong tidak menduga bahwa dì Siau sit-
san telah berkumpul musuh sebanyak itu, sskarang sudah
tentu ia pun pantang mundur, Tapi ia lihat para ksatra itu
kebanyakan adalah kawan lama, ia kenal mereka sebagai
ksatria yang gagah perwira, sebabnya mereka memusuhi
dirinya adalah lantaran dia di anggap bangsa Cidan, pula ada
orang sengaja menghasut dan mengadu-domba sehingga
terjadi salah paham pembunuh yang pernah terjadi di Cip-hia-
ciang itu sesungguhnya bukan maksud hatinya kalau hari ini
terjadi pertarungan sengit pula susah memperoleh
kemenangan, andaikan dirinya dapat eloloskan diri, tapi
ksatria-ksatria yang dia bawa serta itu pasti sulit lolos.
Sebaliknya kalau para ksatria Tionggoan itu terbunuh lebih
banyak, hal ini berarti memperdalam permusuhan dan makin
menyakitkan hati, lalu apa gunanya semua ini?
Karena pikiran itu, segera Siau Hong mengambil
keputusan, "Di depan orang sebanyak ini terpaksa urusan
yang hendak kutanyakan kepada Siau-Lim-si harus ditunda
dulu dan sementara ini lebih baik aku menghindarkan diri saja
supaya tidak terjadi banjir darah lagi. Bila keadaan di sini
sudah tenang kembali barulah aku akan dtang ke sini pula."
Sesudah mengambil keputusan itu, segera ia berkata
kepada Toan Ki, "Adik yang baik, adaan sekarang sangat
gawat dan susah bagi kita untuk bicara, sementara ini adik
boleh menyingkir dahulu, tempo masih banyak, biarlah kita
bertemu lagi lain hari."
Maksud tujuan Siau Hong adalah minta Toan Ki menyingkir
ke samping agar sebentar bila musuh menerjang ke bawah
gunung Toan Ki takkan ikut terbawa bawa di tengah
pertempuran.
Tapi biarpun Toan Ki tidak mahir ilmu namun wataknya
sangat gagab berani. Ia lihat ksatria yang berjumlah ribuan
orang itu hendak membunuh kakak angkatnya, tanpa terasa
timbul rasa keadilannya, dengan suara keras ia berteriak,
“Toako, pada waktu kita mengangkat saudara apa yang telah
kita ucapkan? Bakankah kita telah bersumpah ada rejeki
dibagi bersama, ada kesukaran dipikul berbareng. Kita tidak
dilahirkan pada hari dan Waktu yang sama, tapi rela mati pada
hari dan waktu yang sama. Hari ini Toako menghadapi
kesukaran manakah adik harus berpeluk tangan dan takut
mati!”
Dahulu dalam setiap kali terancam selalu Toan Ki dapat
menyelamatkan diri dengan langkah aJaib leng Po-wi-poh.
Tapi sekarang ia sama sekali tidak memikirkan atau
menyelamatkan diri, semakin berbahaya keadaannya semakin
teguh tekatnya gugur bersama Siau Hong untuk memenuhi
kéwajibannya sebagai saudara angkat yang sehidup semati.
Hampir seluruh ksatria Tionggoan itu tidak kenal macam
apakah tokoh Toan Ki itu, tapi melihat dia mengaku sebagai
saudara angkat Siau Hong dan bertekat membantunya, sudah
tentu tiada seorang pun yang jeri pada pemuda yang muda
belia dan lemah itu.
Maka Siau Hong berkata pula,'"Adikku yang baik, sungguh
aku sangat berterima kasih pada maksudmu yang luhur ini.
Tapi rasanya tidaklah gampang bila mereka ingin membunuh
aku. Maka lebih baik lekas engkau menyingkir saja agar aku
nanti tidak menguatirkan keselamatanmu sehingga tidak
leluasa melabrak musuh."
“Engkau tidak perlu menguatirkan diriku.” sàhut Toan Ki,
"Aku toh tiada punya permusuhan apa-apa dengan mereka
membunuhku?“
Siau Hong menjadi serba salah menghadapi saudara
angkat yang polos itu, pikirnya dengan rasa pilu, “Jika di dunia
ini orang mau bicara tentang permusuhan atau tidak, tentu
dunia ini akan aman tentram dan tiada percekcokan.“
Dalam pada itu di sebelah sana Toan Cing-sun juga sedang
pesan kepada Hoan Hua dan lain-lain agar sebentar bila Siau
Hong terancam bahaya, mereka harus menyelamatkan
secepat mungkin untuk membalas budi pertolongan Siau Hong
dahulu. Sudah tentu Hoan Hun dm lain-lain mengiakan dan
siap siaga menghadapi segala kemungkinan.
Di pihak lain Buyung Hok juga lagi berunding dengan
kawan-kawannya, Sebenarnya Kongya Kian sangat kagum
sekali kepada pribadi Siau Hong sejak perkenalannya waktu
berlomba minum arak dahulu, maka ia menganjurkan
memberi bantuan kepada Siau Hong. Begitu pula Pau-Put tong
dan Hong Po-ok juga sangat kagum terhadap Siau Hong,
maka mereka pun menyetujui usul Kongya Kian.
Sebaliknya Buyung Hok sendiri berpendapat lain, katanya,
"Saudara-saudara sekalian, kita harus mengutamakan
pembangunan kerajaan Yan Raya kita sebagai tugas utama
dan jangan tertarik kepada Siau hong seorang dan harus
bermusuhan ksatria sejagat."
"Ucapan Kongcu memang benar," kata Ting Pek-jwan.
"Dan cara bagaimana kita harus bertindak?"
"Kita harus menarik simpati orang banyak agar berfaedah
bagi pergerakan kita kelak," kata Buyung Hok, Habis itu,
mendadak ia bersuit keras dan tampil ke muka, serunya
dengan lantang, "Siau-heng, engkau adalah ksatria Cidan dan
terlalu memandang enteng kapada para ksatria Tionggoan
kami, maka hari ini biarlah orang she Buyung dari Koh-soh
belajar kenal dulu dengan kepandaianmu. Kalau aku harus
mati di bawah tangan Siau-hong juga cukup berharga, paling
dikit aku telah berjuang bagi sesama kawan ksatria
Tionggoan. Nah, silakan Siau-heng mulai.''
Ucapan Buyung Hok ini sesungguhnya segaja
diperdengarkan kepada ksatria Tionggoan, Sebab dengan
demikian biarpun nanti kalah atau menang tentu para ksatria
akan memandang Buyung Hok sebagai kawan sehidup semati
mareka.
Benar juga, demi mendangar kata-kata Buyung Hok ítu,
serentak bergemuruhlah suara sorai puji orang banyak.
Maklum, meski mereka ada maksud hendak mengerubut Siau
Hong, tapi sejak tadi tiada seorang pun berani bertindak lebih
dulu, mereka kenal betapa lihainya Siau Hong, sekali sudah
bergebrak, maka beberapa orang yang maju lebih dulu dapat
dipastikan akan binasa oleh pukulan bekas Pangcu Kai-pang
itu. Sekarang tiba-tiba Buyung Hok tampìl ke muka lebih dulu,
keruan mereka sangat senang dan bersemangat.
Nama "Pak Kiau Hong dan Lam Buyüng juga sudah lama
didengar Siau Hong sendiri, ia tahu ilmu silat keluarga Buyung
tentu bukan main hebatnya, Sekarang keluarga Buyung
menantangnya, tentu saja Siau Hong terperanjat, Walaupun
tidak gentar, tapi ia menduga pasti akan menjadi pertarungan
sengit.
Segera ia pun memberi salam dan menjawab "Sudah lama
kudengar nama Buyung-kongcu yang tersohor, sungguh
sangat beruntung hari ini dapat berkenalan di sini."
"Buyung-heng, dalam hal ini terang kaulah yang salah!"
tiba-tiba Toan Ki berseru "Siau-toako sendiri baru sekarang
kenal dirimu dan selama ini kalian tiada permusuhan apa-apa,
mengapa engkau sengaja ikut memusuhi Toako tatkala ia
harus menghadapi musuh sebanyak ini.“
"Wah, rupanya Toan heng hendak menjadi ksatria pembela
keadilan ya? Jika perlu, ayo boleh maju sekalian!" demikian
sahut Buyung hok degan mengejek. Memangnya dia sudah
merasa sirik karena Toan Ki selalu merecoki Giok-yan maka
sekarang rasa dongkolnya telah dilampiaskan sekalian.
Tapi Toan Ki menjawab, "Kepandaian apa yang dapat
menandingimu? Akú hanya bicara secara adik saja."
Dalam pada itu Ting Jun-jiu yang dihantam mundur olah
Siau Hong tadi telah maju kembali. la mengakak tawa dan
berkata, "Orang she Siau kulihat engkau masih terlalu muda,
maka tadi aku mengalah tiga Jurus padamu, tapi jurus
keempat ini aku tak dapat mengalah lagi."
Juga Goan-Ci lantas melangkah maju, katanya kepada Siau
Hong, "Aku Ong Sing-thian mengucapkan terima kasih
padamu karena engkau telah menyelamatkan nona A Ci.
Tetapi sakit hati pembunuhan orang tua sedalam lautan, hari
ini jangan kauharap dapat lolos dengan hidup dari sini orang
she Siau!"
Sementara itu Hian-seng Taisu dari Siau-lim-pai diam-diam
juga telah memberi perintah agar lo-han-tui-tín siap siaga dan
menjaga jalan penting dengan kuat agar Siau Hóng tidak
dapat lolos.
Melihat tiga tokoh terkemuka telah mengepung dirinya,
begitu pula para padri Siau-lim-pai tampak berjaga-jaga
dengan rapat keadaan íní terang jauh lebih berbahaya
daripada pertempuran di Cap-hian-ceng dahulu. Dan sebelum
Siau Hong dapat mengambil tindakan apa-apa, mendadak
terdengar suara kuda meringkik ngeri, 19 ekor kuda bagus
tunggangan mereka tahu-tahü telah roboh semua dengan
mulut berbuih dan binasa.
Karuan Siau Hong kaget, Sedangkan ke-18 ksatria Cidan
tampak membentak-bentak dan lantas menyerang sehingga
dalam sekejap saja belasan orang Sing-siok-pai telah
terbunuh, selebihnya lantas ngacir menggabungkan diri
dengan kawan-kawannya.
Kiranya pada waktu ting jun-jiu maju menantang Siau
Hong lagi, maka anak buahnya juga lantas bertindak dengan
membunuh kuda tunggangan Siau Hong dan kawan-kawannya
dengan menggunakan racun. Dengan demikian Siau hong
dipaksa menghadapi jalan buntu karena tak bisa kabur dengan
menunggang kuda lagi.
Melihat kuda kesayangannya mati secara menggenaskan di
tangan kawanan pengecut itu, seketika darah panas Siau
Hong bergolak dan timbul seketika jiwa ksatrianya dengan
bersuit panjang ia berkata, "Buyung-heng, Ong-pangcu, Ting-
lokoai. ayolah kalian maju sekaligus saja, masakah orang she
Siau ini gentar padamu!"
Karena dia gemas kepada orang-orang Sing-siok-pai yang
keji itu, kontan pukulan pertama ia keluarkan ke arah Ting
Jun-jiu.
Ting-lokoai sudah kenal betapa lihainya Siau Hong, cepat
ia keluarkan kedua tangannya untuk menangkis dengan
sekuatnya.
Tapi Siau Hong sekalian menggeser tenaga pukulan kedua
orang dan memotong miring ke jurusan Buyung Hök.
Kepandaian Buyung Hok yang paling hebat adalah
memutar balikkan serangan musuh untuk menyerang kembali
kepada musuh. Tapi sekarang pukulan Siau Hong membawa
tenaga dua orang yang maha dahsyat, pula datangnya miring
dari samping sehingga entah tempat mana yang diincar,
Buyung Hok menjadi susah untuk menghadapi serangan ini,
terpaksa ia kerahkan segenap tenaga, kedua tangan memapak
ke depan dan berbareng ia pun melompat mundur dua-tiga
meter jauhnya.
Sedikit Siau Hong mengegos sehingga pukulan Buyung
Hok terhindar, mendadak ia menggertak dengan suara
menggeledek, kepalan menjotos lurus ke depan pada Goan ci.
Karena perawakan Siau Hong tinggi besar sehingga hampir
lebih tinggi satu kepala daripada Goan-ci, maka jotosan itu
jadi mengarah muka Goan-ci.
Memangnya Goan-ci sudah jeri menghadapi Siau Hong, ia
menjadi kaget pula ketika mendengar suara gertakannya.
Apalagi serangan Siau Hong itu datangnya mendadak,
sebelumnya ia baru menghantam Ting Jun-Jiu dan Buyung
Hok, tahu-tahu menjotos pula ke arah Goan-ci, tiga kali
serangan itu boleh dikata suatu rangkaian secepat kilat.
Dalam gugupnya segera Goan-ci hendak menangkis,
namun tenaga pukulan lawan terang sudah mendekati
mukanya. Untung dia telah berlatih ilmu ih-kin-keng sehingga
iwekangnya juga banyak bertambah, secara otomatis timbul
daya tolak dari badánnya dan cepat ia mendongakkan
kepalanya ke belakang sambil berjumpalitan püla dengan
demikian kepalanya nyaris háncür oleh pukulan Siau Hong
yang dahsyat itu.
Namun begitu lantas terdengar suara seruan heran para
penonton. Goan-ci merasa mukanya silir dingin tahu-tahu kain
kedoknya sudah hancur menjadi kain kecil-kecil dan
bertebaran bagai Kupu-kupu. Ternyata luput mukanya dari
serangan itu, tapi tidak luput kain kedoknya yang tergetar
hancur oleh tenaga pukulan Siau Hong. Dan ketika melihat
muka pemuda yang mengaku sebagai Ciangbunjin Kok-lok-pai
dan Pangcu Kai pang ítu tak karüan macamnya karena bekas
luka tampaknya sangat seram dan menakutkan, maka muka
mereka sama berseru kaget.
Dengan sekaligus Siau Hong mendesak mundur tiga jago
kelas satù di jaman ini, semangatnya seketika berkobar-kobar
lebih hebat, teriaknya, "Mana arak!"
Segera seorang ksatria Cídan mengiakan dan
menanggalkan sebuah kantung kulit yang menggablok di atas
kuda mati dan berlari-lari mendekati Siau Hong serta
menghaturkan dengan hormat.
Siau Hong copot sumbat kantung kulit itu, ia angkat
kantung itu tinggi-tinggi ke atas, maka tertüanglah arak putih
yang harum. Sambil mendongak, Siau Hong menenggak arak
itu.
Arak yang terisi dalam kantong kulit itu sedikitnya ada 20
kati, tapi Síau Hong terus menenggak tanpa berhenti sehingga
arak seisi kantung terhabis sama sekali. Kelihatan perut Siau
Hong sedíkít kembung, tapi air mukanya tetap biasa saja
tanpa mabük sedikit pun.
Di tengah kejut para penonton, tiba-tiba Siau Hong
memberi tanda pula dan ke 17 ksatria Cidan yang lain masing-
masing juga membawakan pula satu kantung arak.
"Saudara-saudara, Toan-Kongcu ini adalah adik angkatku,"
kata Siau Hong kepada ksatria-ksatria Cidan itu. "Hari ini kita
telah terkepung di tengah musuh, kita hanya berjumlah
belasan orang saja, tentu susah meloloskan diri."
Sampai disini segera ia, menarik tangan Toan Ki dan
berkata pula, "Adikku yang baik, kau bersedia sehidup semati,
sungguh tidak mengecewakan sebagai saudara angkat,
apakah sebentar kita akan mati atau akan hidup biarkan saja,
sekarang kita harus minum dulu sepuas-puasnya!"
Terdorong oleh semangat jantan kakak angkat itu, tanpa
pikir Toan Ki terus terima juga sekantong arak dan menjawab,
"Benar, kita harus minum dulu!"
Dan baru Toan Ki hendak menenggak araknya, sekonyong-
konyong di tengah padri-padri Siau-lim-si telah berlari keluar
seorang, sambil berseru, "Toako dan Samte, kalian hendak
minum arak, kenapa tidak panggil juga padaku?"
Itulah dia Hi tiok.
Ia menyaksikan munculnya Siau Hong yang gagah perwira
dan membikin silau para ksatria maka diam-diam ia pun
sangat kagum. Kemudian dilihatnya Toan Ki secara konsekwen
bersedia sehidup semati dengan kakak angkat itu. Padahal
dahulu waktu dia sendiri mengangkat saudara dengan Toan Ki
di Leng-ciu-kiong, didalam upacara itu telah dimasukkan juga
Siau Hong sebagai Toako mereka. Seorang lelakì sejati harus
bisa pegang, janji dan berani menghadapi segala
kemungkinan apalagi dilihatnya Siau Hong dan Toan Ki yang
bersikap gagah perkasa dihadapan musuh banyak itu, seketika
timbul juga semangat ksatria Hi tiok, ia tidak pikirkan
keselamatan sendiri dan tentang peratüran-peratiran agama
apa segala dan segera tampil kemuka.
Siau Hong belum kenal Hi tìok, maka ia menjadi tertegun
heran ketika Hi tiok memanggìlnya Sebagai Toako. Sebaliknya
Toan Ki lantas memapak maju dan memegang tangan Hi-tiok!,
lalu dìbawanya kehadapan Siau Hong dan berkata, "Toako, dia
juga kakak angkatku. Waktu menjadi hwesio gelarnya adalah
Hi-tiok dan sekarang telah ganti nama menjadì Hi tiok cu. Di
waktu kamì mengangkat saudara, maka Toako juga telah kami
masukkan didalam hitungan. Nah, Jiko lekas kau memberi
hormat kepada Toako!"
Segera Hi-tiok berlutut dan memberi hormat katanya.
"Toako, terimalah salam hormat siaute!"
Siau Hong tersenyum. Dìam-diam ia merasa Toan Ki
benar-benar agak dogol, dia mengangkat saudara dengan
orang masa juga mengikut sertakan sang Toako. Padahal
sekarang jiwanya terancam di tengah kepungan musuh,
namun orang (Hi-tiok) ternyata tidak gentar dan berani tampil
ke muka, hal ini membuktikan dia adalah seorang jantan sejati
seorang lelaki yang setia kawan dan berbudi kalau bisa
bersaudara dengan ksatria demikian juga boleh dikatakan
suatu kehormatan besar.
Karena itu Siau Hong lantas berlutut juga dan membalas
hormat dengan kata-kata ramah tamah. Jadi mereka telah
mengulangi sumpah setia sebagai saudara angkát di depan
para ksatria sejagat.
Siau Hong tidak tahu Hi-tiok memiliki ilmu silat sakti, la
anggap saudara angkat ¡tu Cuma seorang hwesio rendahan di
Siau-lim-si, tapi berani ikut maju untuk memenuhi panggilan
persaudaraan pada saat menghadapi bahaya, kalau dia
disuruh menyingkir tentu malah akan menyinggung
perasaannya.
Maka setelah angkat kantung araknya segera Siau Hong
berkata, "Ke-dua adik yang baik, ke-18 ksatria Cidan ini adalah
kawanku yang setia, hubungan kami sehari-hari mirip saudara
sendiri, maka marilah kita minum bersama, habis itu segera
kita melabrak musuh sekuatnya."
Habis berkata, segera ia membuka sumbat kantung arak
dan menenggak seteguk, lalu diangsurkan kepada Hi-tiok.
Dengan semangat berkobar-kobar Hi-tiok juga tidak pikirkan
larangan minum arak apa segala lagi, segera ìa pun angkat
kantung arak, dan menenggak, kemudian disodorkan kepada
Toan Ki. Dan sesudah Toan Ki minum seteguk lalu ia serahkan
kepada salah seorang Cidan dan begitu seterusnya ke-18
ksatria Cidan itu pun sama-sama mengakat sekantung arak
masing-masing dan menenggaknya.
”Toako," kata Hi-Tiok kemudian kepada Siau Hong,”Sing-
siok Lokoai ini telah membinasakan Suhu dan suhengku, ia
telah membunuh pula Hian-lun dan hian-thong Susiokco dari
Siau lim-si maka sekarang aku hendak menuntut balas
padanya,"
Siau Hong menjadi heran "Kau ber....“ baru saja dia
hendak tanya, tahu-tahu kedua tangan Hi-tiok sudah bergerak
dan menghantam ke arah Ting Jun-jiu.
Melihat ilmu pukulannya sangat aneh dan sangat kuat,
Sian Hong terkejut dan girang pula, katanya di dalam hati,
"Kiranya ilmu silat jiko sedemikian lihai, sungguh aku tidak
menduga sama sekali."
"Lihat pukulan!" mendadak Siau hong juga membentak
dan berbareng kedua kepalan tangannya ke arah Buyung Hok
dan Yan Goan-ci sekaligus.
Rupanya ke-18 ksatria Cidan dapat memahami maksud
Cukong (junjungan) mereka maka tanpa disuruh lagi segera
mereka mengelilingi Toan Ki dan melindunginya.
Dalam pada itu Buyung Hok dan Goan Ci juga telah
menyambut dan menghindarkan serangan Siau Hong tadi.
Sedangkan Hi-tiok juga lagi mencecar Tìng lokoai dengan
Thian-san liok-yang-ciang yang hebat.
Meski Liok-yang-ciang itu adalah cìptaan Thian-san Tong-
lo, tapi dasarnya bersumber dari ilmu Siau-yau-pai. Maka
cuma dua-tiga gebrak saja diam-diam Ting Jun-jiu terperanjat,
ia heran mengapa hwesio cilik ini pun mahir ilmu pukulan
Siau-yau-pai?
Karena sudah pernah adu pukulan dan ke cundang di
tangan Goan-ci, sekarang melihat Hi-tiok mengeluarkan ilmu
pukulan Siau-yau-pai, maka Lòkoai tidak berani sembarangan
menggunakan pukulan barbisa lagi, sebab kuatir tak mempan
terhadap lawan, sebaliknya dirinya sendiri bisa celaka malah.
Karena itu ia ambil keputusan akan menjajaki dulu asal usul si
gundul pacul itu, kemudian baru akan menggunakan racun
bila perlu.
Ilmu silat Siau-yau pai itu mengutamakan kegesitan dan
keluwesen, sedangkan Ting-Lokoai dan Hi-tiok adalah tokoh-
tokoh terkemuka dari golongan mereka, dengan sendirinya
gaya mereka menjadi sangat indah dan cepat luar biasa.
Hampir seluruh ksatria yang hadir itu tidak pernah
menyaksikan ilmu silat golongan Siau yau-pai, maka
semuanya menjadi sangat tertarik, merekaa melihat gaya ilmu
silat Siau-yan-pai itu sangat indah bagai menari, tapi setiap
pukulan selalu mengincar tempat mematikan di tubuh lawan,
sungguh mereka belum pernah lihat dan tidak kenal apa
namanya ilmu silat semacam ini.
Disebelah sana Siau Hong sendiri lagi melawan keroyokan
Buyung Hok dan Goan-ci, untuk sepuluh jurus petama ia selalu
mencecar lawannya, tapi sesudah belasan jurus ia merasa
setiap pukulan Goan-ci penuh mengandung hawa maha
dingin. Pada saat Siau Hong lagi mengadu tenaga dengan
Buyung Hok, Goan ci juga menyerangnya, seketika ia merasa
di serang hawa dingin yang susah di tahan.
Seperti diketahui dalam badan Goan ci sudah penuh racun
dingin dari ulat sutra es, di tambah lagi mendapat pemupukan
iwekang Ih-kin-keng, maka sekarang iwekangnya yang maha
dingin itu sudah merupakan Salah satu Iwekang maha lihai di
dunia ini.
Walaupun Siau Hong sangat gagah perwira, tapi
menghadapi ilmu yang aneh dan lihai itu, mau tak mau ia
merasa susah juga melayani, apalagi kepandaian Buyung Hok
juga seimbang dengan dia, pada waktu Goan-ci terdesak
Buyüng Hok membantunya pula, dengan demikian Siau Hong
menjadi serba repot.
Di bawah keroyokan dua jago seperti Buyung Hok Goan-ci,
keadaan Siau Hong sekarang boleh dikatakan jauh lebih
berbahaya daripada dahulu ketika dikerubuti orang banyak di
Cip hian-Ceng.
Tapi dasar Siau Hong memang gagah perkasa semakin
payah keadaannya semakin semangat daya tempurnya,
tenaga sakti dalam tubuhnya bekerja terus, ia mainkan " Hang
liong-sip-pat-ciang," ilmu pukulan penakluk naga yang maha
dahsyat telah dikeluarkan seluruhnya sehingga Buyung Hok
dan Goan ci sukar mendekat, dengan demikian pula racun
dingin pukulan Goan-ci menjadi susah mencapai tubuhnya.
Namun dengan memainkan ilmu pukulan dahsyat itu,
dengan sendirinya tenaga dalam Siau Hong banyak terkuras.
Asal ratusan jurus lagi tentu kekuatannya akan surut dan
lemah. Goan-ci belum berpengalaman dalam pertarungan, ia
tidak tahu seluk-beluk kelemahan atau keunggulan pihak
sendiri dan pihak lawan. Sebaliknya Buyung Hok yang luas
pengetahunya telah memperhitungkan bila pertarungan
demikian diteruskan, asal dirinya dan Ong Sing-thian dapat
berlahan sampai satu jam, akhirnya pihak sendiri pasti akan
menang.
Biasanya "Pak Kiau Hong" dan "Lam Buyung" (Kiau Hong
di utara dan Buyung di selatan) mempunyai nama harum yang
sederajat di dunia persilatan, hari ini untuk pertama kalinya
kedua tokoh ternama itu bertemu dan saling gebrak, tapi Lam
Buyung memerlukan bantuan Ong-sing-thian dari Kai-pang
untuk mengarubut lawan itu andaikan Siau Hong dapat
dibinasakan, toh hal ini sudah membuktikan bahwa "Lam
Buyung“ sesunggunya kalah lihai daripada "Pak Kiau Hong."
Begitulah diam-diam Buyung Hok berpikir dan menimbang
dalam hati, akhirnya ia berpendapat, "Usaha membangun
kembali kerajaan Yan adalah urusan lebih besar dan nama
pribadi adalah soal kecil, jika sekarang aku dapat menumpas
Siau Hong yang dianggap oleh para ksatria Tionggoan sebagai
musuh bersama mereka, tentu mereka akan kagum dan
mengindahkan diriku dan dengan sendirinya kedudukan Bu-lim
Beng-cu akan kupegang dan mereka akan berada di bawah
perintahku, besar harapan kerajaan Yan akan dapat dibangun
kembali dengan segera. Apalagi kalau Siau Hong sudah
binasa, andaikan orang anggap Lam Buyung lebih asor
daripada Pak Kiau Hong toh kejadian ini pun sudah lampau."
Lalu terpikir pula olehnya, 'Jika Siau Hong binasa, Ong
sing-thian akan merupakan lawan pula. Bila kedudukan Bu lim
Bengcu ini sampai direbut olehnya, maka aku akan diharuskan
tunduk kepada perintahnya. Wah, hal ini pun tidak
menguntungkan."
Karena itu, maka pada waktu menyerang lagi diam-diam ia
menghemat tenaga kelihatannya dia menyerang sekuatnya,
tapi sebenarnya memupuk tenaga sendiri, dengan demikian
daya tekanan Hang-liong-sip-pat-ciang yang dilontarkan Siau
Hong sebagian besar dibebankan kepada Goan-ci. Karena cara
permainan Buyung Hok itu memang cepat dan bagus sehingga
kelicikannya sukar diketahui orang lain.
Begitulah dalam sekejap lagi serang menyerang ketiga
orang itu sudah mencapai ratusan jurus, Berulang Siau Hong
hendak memancing Goan-ci agar mau masuk perangkapnya.
Dengan pengalaman Goan-ci yang masih hijau itu memang
beberapa kali hampir kejeblos ke dalam perangkap Siau Hong,
untung Buyung Hok lantas membantunya dari samping dan
dapat mematahkan setiap serangan Siau Hong. Sebaliknya
tiap tiap pukulan Siau Hong yang maha dahsyat selalu
disambut mentah-mentah oleh Goan ci yang memiliki iwekang
maha kuat.
Saat itu Toan Ki masih berada di tengah lindungan ke-18
ksatria Cidan. Ia menyaksikan sang jiko dapat mendesak Ting
lokoai dan sedikit pun tidak kelihatan asor, sebaliknya sang
Toako yang mesti melawan dua musuh, walaupun
kelihatannya gagah perkasa, setiap pukulannya tampak sangat
dahsyat, tapi mungkin tidak tahan lama.
Diam-diam Toan Ki berpikir, "Tadi aku berkaok-kaok
hendak sehidup semati dengan kedua kakak angkat, tapi
sesudah bertempur aku malah sembunyi di bawah lindungan
orang. Huh, terhitung adik angkat macam apakah aku lni?
Masakah caraku ini dapat dianggap sehidup semati. Huh,
benar-benar memalukan. Biarpun aku tidak mahir ilmu silat,
tapi aku dapat menggoda Buyung hok dengan langkah ajaib
Leng-po-wi-poh agar Toako sempat mampuskan dulu si muka
buruk yang mengaku sebagai Ong-pangcu itu. Ya, aku harus
bertindak demikian."
Karena pikiran ini, segera ia menyelinap ke luar dari
lingkungan ke-18 ksatria Cidan dan berseru lantang, "Buyung-
kongcu, engkau mengaku sebagai ”Lam Buyung' yang sama
derajat dengan 'Pak Kiau Hong' seharusnya engkau mesti satu
lawan satu dengan Toako kami, mengapa engkau pakai
pembantu dan mengeroyok Toako toh dengan demikian kalian
tetap kewalahan, andaikan nanti kalian mampu menandingi
Toako sama kuatnya juga hal ini akan memalukan dan
diterwakan sesama orang Bu-lim. Nah, marilah lebih baik kita
berdua main-main sendiri boleh coba kau serang aku!''
sembari berkata tubuh Toan Ki terus melayang dan
menyerobot ke belakang Buyung Hok, sekali ulur tangan,
segera kuduk Buyung Hok hendak dicengkramnya.
Melihat datangnya Toan Ki sangat cepat dan aneh
langkahnya, tanpa pikir Buyung Hok putar tangannya dan
menampar ke belakang, "plok", dengan tepat pipi kanan Toan
Ki kena digampar sehingga merah bengap, saking sakitnya
sampai air mata Toan Ki bercucuran.
Kiranya langkah ajaib Leng po-wi-poh itu meski sangat
hebat tapi Toan ki sendiri tídak becus ilmu silat, maka langkah
ajaib itu hanya berguna untuk berlari saja menghindarkan
serangan lawan, sekali Toan Ki menggunakan langkah ajaib
itu, biarpun jago kelas satu juga sukar menjamah ujung
bajunya.
Tapi sekarang dia yang hendak menyerang orang. Dengan
caranya yang geremat-geramut sudah tentu tidak dapat
melawan Koh soh Buyung yang berkepandaian lihai. Maka
ketika ditampar sudah tentu Toan Ki tidak mampu mengelak
karuan mukanya lantas merah bengap dan meringis kesakitan.
Sebaliknya ketika telapak tangan Buyung Hok dengan
cepat menyentuh pada pipi Toan Ki seketika ia pun merasa
tenaga dalamnya mendadak tertuang keluar dan menghilang
tak tertahankan lagi, dan karena karena kehilangan tenaga itu
untuk sejenak lengannya ítu terasa kaku. Sudah tentu Buyung
Hok terperanjat, pikirnya, "ilmu sihir atau ilmu siluman apakah
yang dia gunakan rasanya mirip benar dengan Hoa-kang-tai-
hoat milik Ting-lokoai itu? Jangan-jangan ilmu jahat Sing-siok-
pai itu benar-benar telah dipelajari bocah she Toan ini,
terpaksa aku harus lebih hati-hatí menghadapi dia.”
Karena itu, segera ía mendamprat, "Orang she Toan, sejak
kapan kaupun masuk Siok-siok-pai?”
"Apa katamu? . . . " baru Toan Ki hendák bertanya
sekonyong-konyong kaki Buyung Hok melayang tiba sehingga
dia didepak terguling.
Kiranya Buyung Hok mengira orang mahir Hoa-Kang tai-
hoat maka tidak berani menempurnya dari depan lagi, tapi
pada saat tak terduga ía terus menendangnya sehingga Toan
Ki roboh terjungkal. Sama sekali Buyung Hok juga tidak
menduja bahwa dengan mudah lawannya dapat ditendang
terjungkal, segera ia memburu maju dan dengan kaki kanan ia
injak dada Toan Ki yang belum lagi sempat bangun.
'Kau minta mampus atau ingin hidup?" bentak Büyung
Hok.
Sekilas Toañ Ki melihat Siau Hong masih melabrak Ong
Sing-thían dengan sengit, la pikir kalau menjawab dengan
kata-kata kasar tentu akan segera dibunuh oleh Buyung Hok
dan hal ini akan berarti Buyung Hok dapat membantu Ong
Síng thian untuk mengeroyok sang Toako lagi. Akan lebih baik
aku main ulur waktu saja dengan dia. Maka Toan Ki lantas
menjawab, "Apa gunanya mati? Sudah tentu lebih baík hidüp
di dunia ramai ini!"
Sama sekali Buyung Hok tidak menduga bahwa dalam
keadaan terancam jiwanya pelajar tolol ini masih berani bícara
secara jahil dan acuh-tak acuh. Dengan mendongkol ia
membentak pula, "Jika ingin hidup, kamu harus . . . . "
Mestinya ia hendak menyuruh Toan Ki menjura seratus kali
padanya untuk menghinanya di depan orang banyak tapi
lantas terpikir olehnya bila Toan Ki dilepaskan, untuk
membekuknya lagi, mungkin akan susah, maka ucapannya
lantas berganti menjadi, "harus memanggil seratus kali ’kakek’
padaku!"
"Usiamu cuma beberapa tahun lebih tua dari padaku,
masakah cocok untuk menjadi kakekku!” sahut Toan-kí
dengan tertawa.
"Blang," mendadak Buyung Hok menghantam sehingga
mengenai tanah di samping kanan kepala Toan Ki, seketika
debu pasir berhamburan dan berwujud sebuah lubang. Coba
kalau pukulan itu sedikit menceng saja, bukan mustahil kepala
Toan Ki sudah hancur luluh.
"Nah, kau mau memanggil atau tidak?" bentak Buyung
pula.
Toan Ki miringkan kepalanya agar matanya tidak kelilipan
oleh debu pasir dan sekilas dilihatnya Ong Giok-yan berdiri di
antara Pau Put-tong dan Hong Po-ok. Dengan jelas Toan Ki
melihat nona itu sedang memperhatikan dirinya, yang
bertempur dengan Buyung Hok. tapi biarpun dirinya sekarang
sudah kalah dan diancam oleh Buyung Hok, sedikit pun nona
itu ternyata tidak memperlihatkan rasa kuatir. Nyata apa yang
dipikirkan oleh nona itu mungkin hanya satu saja, yaitu sang
Piauko akan membunuh Toan-kongcu?"
Dan kalau dirinya dibunuh Buyung Hok, boleh jadi nona itu
juga takkan sedih. Hancur luluh hati Toan Ki demi melihat
sikap Giok-yan itu. Seketika ia merasa lebih baik mati di
bawah Pukulan Buyung Hok saja daripada kelak akan
menderita siksaan batin yang rindu dendam karena kasih tak
sampai. Maka tanpa pikir ia terus menjawab pertanyaan
Buyung Hok tadi, "Kenapa bukan dirimu saja yang memanggil
seratus kali 'kakek' padaku?"
Karuan Buyung Hok manjadi gusar, sebelah tangannya
terangkat dan segera menghantam kemuka Toan Ki.
Pada saat yang sama, sekoyong-konyong dua sosok
bayangan orang menerjang tiba secepat kilat yang seorang
berteriak. "Jangan melukai putraku!"
Dan yang lain berseru, "Jangan mencelakai Suhuku!"
Mereka adalah Toan Cing-sun dan Lam-hai-go-siu.
Walaupun kedatangan mereka sangat Cepat, tapi toh
sudah terlambat untuk mencegah pukulan Buyung hok itu.
Sebagai tokoh persilatan terkemuka, berbareng dua
rangkuman tenaga pukulan mereka susul menyusul
menyerang ke bagian mematikan di tubuh Buyung Hok.
Dalam keadaan menyerang dan diserang, walau Büyung
Hok dapat membunuh Toan Ki, ia sendiri pasti juga akan
celaka. Sudah tentu ia tidak ingin dirinya celaka maka segera
ia menarik kembali pukulannya tadi dan digunakan untuk
menangkis puluhan Toan Cing-sun, sedangkan tangan lain
juga berputar ke belakang untuk mematahkan serangan Lam-
hai-gok-sin.
Karena benturan tenaga itu, ketiga orang sama-sama
kesiap, ketiganya merasa kepandaian lawan memang sangat
hebat. Karena terburu-buru ingin menyelamatkan putranya,
segera jari telunjuk Toan Cing-sun bergerak dan menutuk lagi
dengan ilmu jari "it yang-ci".
"Awas, Piàuko, ini kungfu It-yang-ci keluarga Toan di Taili,
tidak boleh kau anggap enteng," seru Giok yan.
Dalam pada itu Lam-hai gok-sin juga berteriak teriak,
"Bedebah keparat, meski Suhuku tidak genah, setidak-
tidaknya dia adalah guruku. dan kalau kau pukul Suhuku, itu
berarti memukul aku si Gak luji ini. Bila Suhuku ini mendadak
takut mati terus memanggil 'kakek' padamu, wah, tentu aku
Gak Loji juga akan sial dan cara bagaimana aku harus
memanggil padamu? Bukankah tingkatanku akan merosot tiga
angkatan dan bukankah aku akan menjadi cucumu yang
celaka! Kurangajar! Kamu benar-benar terlalu kurang ajar,
Hari ini biarlah aku mengadu jiwa dengamu!"
Begitulah, sembari memaki segera ia mengeluarkan
senjatanya yang istimewa, yaítu "Gok-hi-cian" (gunting congor
buaya) dan segera menggunting ke kanan dan ke kiri ke arah
Buyung Hok.
Selama hidup Lam hai gok Sin paling takut kalau
tingkatannya berada di bawah orang lain. sampai-sampai
urusan nomor dua dan tiga dalam “Su-ok" juga di perebutkan
dengan Yap Ji-nio, Sekarang jika toan Ki benar-benar
memanggil "kakek" pada Buyung Hok, maka tanpa bisa
dítawar lagi Lam-hai gok-sin juga akan ikut menjadi "cucu''
orang, Hal ini baginya benar-benar suatu kejadian yang sial.
Sebab ítulah ia mati darípada hídup dihina.
Buyüng hok sendiri tidak paham mengapa Lam-Haí-gok-sin
marah-marah dan mencaci-maki padanya, Namun sebelah
kakinya masih tetap! Menginjak di atas dada Toan Ki dan
kedua tangannya dipakai untuk melawan Toan cing sun dan
Lam-Hai gok sin. sesudah belasan jurus lambat-laun ia
merasa Lam-hai-gok-sin lebih mudah dilawan biarpün orang
bersenjata gunting yang aneh. Sebaliknya It-yang-ci yang
dilontarkan Toan Cing-sun benar-benar tidak boleh dipandang
enteng.
Sebab itulah ia mencurahkan perhatiannya untuk melayani
Toan Cing sun dan cuma menggunakan sisa tenaga lain untuk
melawan Lam-hai-Gok sin, bahkan terkadang dengan
pukulannya yang hebat ia desak Gok-sin hingga terpaksa
meloncat mundur.
Toan Ki yang dadanya terinjak, meski sudah meronta ronta
hendak bangun, tetap gagal dan tidak kuat.
Sudah tentu yang paling kuatir adalah Toan Cing sun ia
tahu bila kaki Buyung Hok menginjak lebih keras pasti sang
putra akan muntah darah dan mungkin binasa. Dalam
keadaan demikian terpaksa ia harus menggunakan serangan
kilat untuk menyelamatkan dulu putranya itu. Segera ia
mainkan It-yang ci dengan cepat, ia mencecar dengan
serangan dahsyat.
Tiba-tiba suara seorang berseru mengejek, „Huh, It yang ci
dari Taili mengutamakan sikap agung berwibawa tutukan yang
dahsyat harus tidak harus mengurangi perbawa seorang raja.
Kalau bermain cara hantam kromo demikian masakah dapat
disebut sebagai It-yang ci? Hehe, benar-benar membikin malu
keluarga Toan dari Taili."
Cing-sun kenal pembicara itu adalah musuh besarnya Yan
khing Thaisu alias Toa-ok. Apa yang dikatakannya itu memang
benar, tapi Cing sun sendiri terlalu menguatirkan keselamatan
sang putra, maka pikirannya menjadi kacau dan tidak sempat
memikirkan gaya dan sikap agung lagi.
Dan karena permainan Cing-sun agak kasar, ketika ia
menutuk pula dan tenaga tutukan itu kena dítarík sekekalian
Buyung Hok, "crit", tahu-tahu ketika Lam-hai gok sin kena
tertutuk.
Karuan Lam-hai-Gok-sín berkeok-keok kesakitan dan gelí.
"Maknya . . . . " baru saja ia hendak memaki, mendadak
senjata guntingnya jatuh ke bawah dan mengetuk telapak kaki
sendiri, ia berjingkrak kesakìtàn dan mestinya hendak
mencaci-maki lagi, tapi lantas terpikir olehnya yang
menggunakan It-yang-ci dan salah menyerangnya itu adalah
ayah sang Suhu, kalau memakinya berarti memaki kakeknya
sendirí. Ia pikir orang ini hanya boleh dibunuh dan tidak boleh
dimaki, kalau ada kesempatan biar menggunting saja
kepalanya. Sebab itulah makinya tadi menjadi urung
diteruskan.
Pada waktu Cing sun salah menyerang teman sendiri,
sedikit terpencar perhatiannya itu telah digunakan dengan
baik oleh Buyung Hok, secepat kilat Ia pun menutuk dada
lawan dan dengan tepat mengenai Tiong-tan-hiat. Seketika
Cing-sun meràsa napasnya sesak da n dada kesakitan.
"Bagus, Piauko! Jurus Ya ja-tam-hai yang hebat!" seru
Giok-yan memuji.
Padahal serangan Buyung Hok itu dilakukan dengan
terburu-buru dan tidak mengenai tempat yang mematikan,
tapi Giok-yan sengaja memujinya.
Dalam pada itu serangan Buyung Hok sudah menyusul
pula, segera tangan kanan menyodok ke depan untuk
menghantam dada lawan. Karena napas Cing-sun belum lagi
lancar, terpaksa ia tak dapat menangkis, kontan ia
manyemburkan darah karena hantaman Buyung Hok Itu.
Namun begitu demi menyelamatkan sang putra, tetap ia tidak
mau mengundurkan diri, cepat ia mengerahkan tenaga.
Sementara itu serangan Buyung Hok yang lain sudah tiba
pula.
Toan Ki yang masih terinjak di bawah kaki Buyung Hok
menjadi kaget ketika melihat sang ayah tumpah darah,
sedang serangan Buyung Hok di lontarkan pula, dengan kuatir
segera ia membentak, "Ho , kau berani melukai ayahku!”
Dalam gugupnya, dengan sendirinya tenaga andalannya
bergolak dan meluncur keluar melalui jarínya. Dan itulah
"Siang-yang-kiam" yang keluar dari Lak-mah-sin-kiam yang
tak berujut itu.
"Cret", tahu-tahu lengan baju Buyung Hok terkupas
terpotong oleh Kiam-gi (hawa pedang) yang tak kelihatan itu.
Menyusul hawa pedang terus membentur pukulan Buyung Hok
tadi, kontan Buyung Hok merasa tangan sakit pegal. Ia
terkejut dan cepat melompat mundur.
Bebas dari injakan kaki orang, cepat Toan Ki merangkak
bangun dan kembali jari kecil kiri menuding pula, dengan jurus
"Siau-tik-kiam" ia menusuk ke arah musuh.
Buyung Hok tidak berani ayal, ia kebaskan lengan baju
untuk menangkis, terdengar lagi suara "brat-bret" dua kali,
lengan bajunya terkupas potong oleh hawa pedang.
"Awas Kongcu!" seru Ting Pek-jwan. Itu Bu-heng-Kiam-
gi,(hawa pedang tak berwujud) pakailah senjata ini.”
Berbareng ia lolos pedang sendiri dan dilemparkan kepada
Buyung Hok.
Toan Ki merasa sangat sedih dan dongkol panas tadi
mendengar Gíok-yan bersorak memuji serangan Buyung Hok,
dan yang diserang justru dada ayahnya.
Dengan perasaan yang bergejolak itu, maka tenaga
dalamnya juga ikut bekerja serentak, sekaligus ¡a ményerang
dengan Siau-siang, Siang-heng, Tiong-hang, Kwan-heng ,
Siau-hong dan Biau-heng, Lak-meh-kiam-hoat dikeluarkan
seluruhnya dengan lancar seakan-akan dibantu oleh suatu
kekuatan gaib.
Buyung Hok sendíri juga tambah semangat barusan
mendapat lemparan senjata dari Ting Pek-juan, ia putar
pedang dengan kencang hingga seluruh tubuh seperti
terbungkus dalam lapisan sinar pedang.
Orang-orang Bu-lim biasanya cuma mendengar kepandaian
keluarga Buyung itu sangat tinggi dan luas. boleh dikatakan
serba bisa, tapi tidak menduga bahwa ilmu pedangnya
ternyata sedemikian bagusnya.
Namun begitu, betepa hebat Ilmu pedang Buyung Hok itu
tetap dia tidak dapat mendekati Toan Ki dalam jarak dua-tiga
meter.
Kedua tangan Toan Ki kelihatan menutuk kesana dan ke
sini dan Buyung Hok terpaksa harus berkelit kian kemari
dengan sibuk Sekonyong-konyong terdengar "krek" sekali,
tahu-tahu pedang yang dipegang Buyung hok menjadi belasan
potong dan mencelat ke udara sehingga mengeluarkan Sinar
gemerdep.
Walaupun terkejut, Buyung Hok tidak menjadi gugup,
menyusul ia menghantamkan telapak tangannya sehingga
belasan potong pedang patah itu tertimpuk ke depan dan
mirip hujan senjata rahasia dan menyerang ke arah Toan Ki.
“Haya, celaka!" teriak Toan Ki dengan kelabakan dan
cepat-cepat ia menjatuhkan diri dan bertiarap di atas tanah.
Maklum dia tidak mahir ilmu silat, jangakan dihujani
senjata rahasia sebanyak itu, biarpun sibatang saja dia sudah
kerepotan. Untung juga dia bertiarap hingga belasan pedang
patah itu menyambar lewat di atas kepalanya. Tapi cara
berkelit dengan bertiarap hingga mirip "anjing menubruk tahi"
itu sudah tentu tidak pantas dipandang orang. Sebaliknya
meski pedangnya diputuskan tapi Buyung Hok bisa merubah
menjadi pihak yang menang, tentu saja ia lebih gemilang
daripada lawannya.
”Terimalah senjata ini Kongcu!" seru Hong Po-ok sambil
melemparkan goloknya.
Cepat Buyung Hok sambar senjata itu. Ia lihat Toan Ki
sudah merangkak bangun, segera ia mengejeknya dengan
tertawa, "Jurus Toan-heng barusan mungkin bernama anjing
menubruk tahi, apakah itu termasuk kungfu lihai dari keluarga
Toan di Taili?”
Toan Ki melengak tapi lantas menjawab, ”Bukan!”
Menyusul jarinya bergerak, segera ia menusuk pula
dengan Siau ciang-kiam.
Kembali buyung Hok putar goloknya dengan segera ia
mengeluarkan bermacam-macam ilmu golok dari berbagai
golongan seperti tidak habis-habis kepandaiannya tak
terhingga. Cuma meski ilmu golok Buyung Hok sangat hebat
tetap susah mendekati Toan Ki. Sebaliknya ketika Toan Ki
menusuk lagi dengan jarinya dan terpaksa Buyung Hok
menangkis dengan goloknya, tahu-tahu terdengar "trang"
sekali, kembali golok itu tergetar patah.
Cepat Kongya Kian melemparkan senjatanya sendiri, yaitu
dua batang Boan-koan-pit dari baja, Buyung Hok membuang
golok patah dan sambut Boan-koan pit yang dilemparkan anak
buahnya itu, menyusul ia gunakan untuk menyerang dengan
cepat.
Dalam pada itu semangat pertempuran Toan Ki sudah
tambah kuat, sesudah berpuluh jurus sekarang rasa jerinya
sudah lenyap, Teringat pula ajaran-ajaran Iwekang dari
paman bagindanya Koh-eng Taisu. Segera ia dapat
memainkan Lak-meh-sin-kiam dengan lebih lancar.
Tiba-tiba terdengar Siau Hong berkata padanya, "Samte
permainan Lak-meh-sin-kiam sekaligus ini tampaknya engkau
belum apal betul sehingga banyak lubang yang dapat
digunakan musuh untuk balas menyerang. Lebih baik kamu
menggunakan salah satu macam di antaranya saja.”
"Baik banyak terima kasih atas petunjuk Toako." jawab
Toan Ki. Waktu ia melirik, ia lihat Siau Hong sudah berdiri di
samping dengan berpeluk tangan, sebaliknya Ong Sing-thian
tampak menggeletak di alas tanah dan sedang rnerintih-rintih
kesakitan, ternyata kedua kakinya telah patah.
Kiranya sesudah Toan Ki ikut maju menempur Buyung Hok
sehingga Siau Hong hanya melawan Goan-ci sendirian,
seketika Siau Hong berada di atas angin. Walaupun beberapa
kali mengadu tangan dan merasa hawa dingin pukulan Goan-
ci itu susah ditahan, untung tenaga dalam Síaü Hong teramat
kuat dan tidak sampai keracunan. Segera Siau Hong berganti
siasat sedapat mungkin ia menghindari adu pukulan
sebaliknya ia mengunakan tipu serangan lain. Mendadak ia
memukul susul menyusül dua kali sehingga terpaksa Goan-ci
mesti menangkis sekuatnya, kesempatan ítu segera digunakan
Siau Hong untuk menyapak dengan kakinya.
Kemahiran Goan-ci hanya racun dingin yang diperolehnya
dari ulat es dan iwekang dari Ih tin kang, dalam hal ilmu silat
hanya dipelajarinya sedikit-sedikit dari A Ci, sudah tentu ià
tidak mampu menghindarkan serampangan kaki Sìau Hong.
Maka tanpa ampun lagi, "krak-krek'', kedua tulang kakinya
disapu patah oleh Siau Hong sehingga roboh terjungkal.
"Hm, selamanya Kai-pang méngútamakan kejujuran dan
berdiri di pihak yang baik, sebagai pangcu masakah kamu
malah berkomplotan dengan kawanan siluman Sing-siok-pai?
Benar-benar membikin malu nama baik Kai-pang selama
beratus tahun ini!" damprat Siau Hong.
Sebabnya Goan-ci dapat menjabat Pangcu adalah karana
orang lain tidak mampu melawan ilmu silatnya yang berbisa,
bicara tentang pengalaman dan pengetahuan dia boleh
dikatakan sangat hijau, apalagi dia memakai kedok,
kelakuannya serba sembunyi-sembunyi, segala urusan selalu
bergantung kepada A Ci dan Coan Koan-jing, dengan
sendìrinya para Tionglo Kaì Pang merasa tidak suka padanya.
Apalagi tadi Goan-ci telah menyembah kepada Ting jun-jiu
dan masuk menjadi anggota Sing-siok-pai, tentu saja para
Tianglo semakin memandang hina padanya. Maka sekarang
tiada seorang pun yang mau menolongnya biarpun kedüa
kakinya disarampang patah olah Siau Hong. sebaliknya diam-
diam para Tionglo merasa bersyukur dan senang malah.
Ada juga beberapa orang separti Coan Koan jun dan
begundalnya ingin maju menolong sang Pangcu yang
menggeletak di tanah itu, tapi demi nampak sikap Siau Hong
yang gagah perkasa dan angker itu, mereka menjadi jeri pula.
Sesudah merobohkan Goan-ci, Siau Hong melihat
pertarungan Hi-Tiok melawan Ting Jun-jíu pün sudah
menduduki tempat yang unggul, sebaliknya Toan ki yang
melawan Buyung Hok dengan Lek-meh-sin-kiang terkadang
bagus dan sekali tempo sangat lambat sehingga banyak
kesempatan baik untuk mengalahkan lawan tersia-siakan,
bahkan kalau kena pukül bukan mustahil Toan Ki sendiri yang
akan celaka di tangan Buyung Hok sebab itulah ia lantas
bersuara memberi petunjuk kepada Toan Ki.
Dan karena Toan k¡ melirik sekejap keadaan Siau Hong
yang telah mengalahkan Goan-cí itu sedikít lengah saja telah
digunakan oleh Buyung Hok dengan baik. Sebelah Boan-koan-
pit secepat kilat disambitkan ke dada Toan Ki.
Melihat sambaran Boan koan-pit itu sedemikian hebatnya,
tampaknya akan segera menembus dadanya, Toan Ki menjadi
kelabakan dan berteriak-teriak, "Toako! tolong, Toako!“
Cepat Síau Hong bertindak, dengan Jurus "Kian-liong-cai-
thian" (melihat naga di sawah) salah satu jurus Hang liong sip
pát ciang keras dihantamkan ke depan sehingga Boan koan pit
itu tersampuk dan melengkung bagian Tengahnya, karena itu
arahnya lantas berkisar dan membelok kebelakang kepala
Toan Ki, bahkan terus berputar balik dan menyambar ke arah
Buyung Hok malah.
Kejadian ini pun di luar dugaan Siau Hong sendiri, ia tidak
menduga bahwa selama ini tenaga dalamnya telah maju
sedemikian pesatnya sehingga tanpa terasa tenaga
pukulannya dapat membuat batang potlot baja itu
melengkung, bahkan terus mengitar balik ke árah
penyambitnya.
Sebenarnya tindakan Siau Hong ini hanya secara kebetulan
saja, namun demikian sudah membikin para ksatria melongo
kesima, semuanya terkejut dan merasa kepandaian Siau Hong
benar-benar sudah mencapai tarap yang sukar diukur.
"Nah, itu namanya 'Ih-pi-ci-to, hoan-si-pat sin," teriak
Hoan Hua.
Tapi Buyung Hok sempat mengangkat Boan-koan-pit yang
lain untuk menangkis, "trang", kedua batang Boan-koan-p¡t
kebentur, lengan tergetar sampai kesemutan, diam-diam ia
mengakui betapa kuatnya tenaga Siau Hong. Namun sebelum
Boan-koan-pit yang melengkung tadi terpental jatuh, sekali
tangannya meraup dengan tepat Boan koan-pit bengkok itu
kena ditangkapnya dan dapat digunakan sebagai senjata pula
dalam bentuk gaetan.
Melihat macam-macam kepandaian Buyung Hok yang
serba bagus itu, ditambah lagi tenaga pukulan Siau Hong yang
hebat tadi, seketika bersoraklah para ksatria memberi pujian,
Mereka merasa tontonan hari ini benar-benar berharga untuk
dilihat dan perjalanan mereka ke Siau-lim-pai ini tidak
percuma juga.
Dalam pada itu sesudah terhindar dari serangan Boan
koan-pit, hanya tertegun sejenak saja segera Toan Ki.
menutuk ke depan pula dengan Jari jempol dalam jurus "Siau-
siang-kiam" yang dahsyat. Walaupun Buyung Hok masih dapat
menangkis dengan Boan-koan-pit yang sekarang berbentuk
lain itu namun lambt-laun ia merasa penuh juga.
Sebaliknya. karena mendapat petunjuk dari Siau Hong,
maka sekarang Toan Ki melulu memainkan siau-siang-kiam
sajà sehingga daya tekannya benar-benar bertambah hebat
dan tidak memberi lobang kelemahan bagi Buyung Hok.
Sebenarnya Lak-meh-kiam hoat itu meliputi enam jurus
yang satu lebih hebat daripada yang lain kalau dimainkan
secara berantai. Tapi Toan Ki tidak paham letak kelihaian ilmu
pedang tak berwujud itu, ia cuma memainkan Siau-siang-kiam
secara berulang-ulang. Namun begitu sesudah belasan kali
berulang, Buyung Hok terdesak hingga mandi keringat, ia
main mundur terus dan akhirnya kepepet sampai di samping
sebatang pohon besar. di situlah ia coba bertahan pula
dengan membelakangi pohon.
Setelah memainkan Siau-siang-kiam, segera Toan Ki
menekuk jempolnya dan berganti dengan jari telunjuk,
sekarang yang dimainkan adalah Siau-yang kiam.
Siau-yang-kiam memang kurang dahsyat dibandingkan
Siau siang-kiam, tapi lebih cepat dan lebih ganas. Maka ketika
Jarinya menusuk, seketika Buyung Hok tambah kerepotan
menghindarkan diri.
Melihat keadaan sang Piauko terancam bahaya, Giok yan
menjadi kuatir. Meski ia tahu segala macam Ilmu silat dari
berbagai golongan persilatan.tapi terhadap Lak-meh-sin-kiam
sama sekali tidak paham sehingga tidak dapat memberi
petunjuk apa-apa kepadà sang Piauko maka dia hanya kuatir
saja dan tak berdaya.
Melihat ilmu pedang Toan Ki yang tak berwujud itu makin
dimainkan makin hebat, diam-diam Siau Hong sangat senang
dan kagum. Tiba-tiba hatinya menjadi pedih pula demi
teringat kepada A Cu.
Sebabnya A Cu rela mati mewakilkan ayahnya adalah
lantara kuatir kalau aku tidak dapat melawan Lak-meh-sin-
kiam keluarga Toan mereka. Sedangkan kalau melihat ilmu
pedang yang dimainkan Samte ini memang sedemikian
saktinya, andaikan aku yang diserang seperti Buyung Hok
sekarang. terang aku pun tidak sanggup melawannya. Jadi A
Cu telah mengorbankan jiwanya untuk keselamatan diriku,
padahal aku adalah ....adalah bangsa Cidan yang kasar,
masaakah aku ada harganya untuk mendapatkan cinta si nona
yang suci murni itu? Demikian pikir Siau Hong.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara orang banyak
dari arah barat laut sana sedang berteriak. "Sing síok Lokoai,
kau berani bergebrak dengan Kaucu kami dari Leng ciü kiong?
Sekarang kamu berlutut dan menyembah untuk minta ampun
jika tidak ingin mampus?"
Waktu Siau Hong berpaling, la lihat di lambung gunung
sana berdiri delapan baris kaum wanita ada yang tua dan ada
yang muda. setiap barisan itu memakai pakaian seragam
berbeda warna. Disamping kedelapan barisan wanita itu ada
pula ratusan orang kangouw dengan dandanan berbeda
daripada orang biasa. Orang orang kang-ouw yang tampaknya
gagah dan tangkas itu juga sedang berteriak-teriak, "Kaucu,
lekas tanamkan Sing-si-hu padanya, biar dia tahu rasa!”
"Ya, terhadap Sing-siok Lokoai tiada obat yang lebih
mujarab daripada diberi persen dengan Sing-si-hu!"
Saal itu Hi-tiok sedang melabrak Ting-lokoai dengan
sepenuh tenaga. Baik ilmu silatnya maupun tenaga dalamnya
Hi-tiok berada di atas Ting Jun jiu maka sejak tadi mestinya
dia dapat mengalahkan lawan, cuma dia kurang
berpengalaman di medan tempur sehingga kepardaiannya
yang sejati tidak sempat dikeluarkan seluruhnya. Pula dia
berhati welas asih, banyak tipu serangan mematikan tak mau
digunakannya, apalagi seluruh badan Lokoai boleh dikata
racun melulu, hal ini membuat Hi-tiok agak jeri dan tidak
berani sembarangan menyentuh badannya, makanya sampai
sekian lama ia masih belum dapat merobohkan iblis tua itu.
Ketika mendadak mendengar suara orang banyak yang
memanggil dia, segera Hi-tiok berpaling dan terlihat delapan
daripada sembilan pasukan wanita Leng ciu kiong telah datang
semua. Dan kaum laki-laki itu adalah para Tongcu dan Tocu
yang jumlahnya tidak sedikit.
”Sia-popo. Oh-siangsing, mengapa kalian pun datang
semua?” seru Hi-Tiok dengan girang.
"Lapor Kaucu, hamba sekalian telah menerima berita Bwe-
kiam berempat dan mendapat tahu para keledai gundul Siau-
lim-pai hendak membikin susah kepada Kaucu, maka buru-
buru hamba mengumpulkan para Tongcu dnn Tucu dan
menyusul kemari," demikian sahut Sia-popo. "Dan sekarang
ternyata Cujin tidak kurang suatu apa pun, sungguh hamba
sekalian merasa sangat girang."
"Siau-lim-pai adalah perguruanku, kamu tidak boleh
memakai kata-kata kasar, lekas minta maaf kepada Hongtiang
Siau lim-si," bentak Hi-Tiok.
Sembari berkata tetap Hi-tiok memainkan Thian-san ciat-
bwe-jiu dengan tidak kurang hebatnya.
Sia-popo tampak gugup karena teguran Hi-tiok itu, dengan
hormat ia mengiakan dampratan sang Cujin, lalu mendekati
Hian-cu dan berlutut, ia menyembah beberapa kali dan
berkata, "Sia-Popo dari Leng-ciu-kiong tadi telah bicara secara
kasar dan menyinggung nama baik para Taisu Siau-lim-si,
untuk itu harap Hongtiang suka memaafkan dan mohon diberi
hukuman yang pantas."
Dia bicara dengan sungguh-sungguh dan penuh hormat,
kata demi kata sangat lantang dan jelas, hal ini menandakan
Iwekangnya yang tinggi dan sudah tergolong jago kelas satu.
Hian-cu mengebatkan lengan bajunya berkata, "Ah, Lisicu
tidak perlu banyak adat, silahkan bangun!"
Dengan kebasan langan baju yang menggunakan delapan
bagian tenaga itu mestinya Hiau-cu hendak mengangkat
bangun si nenek, tak tersangka badan Sia-popo cuma sedikit
tergetar saja dan tidak sampai terangkat. Bahkan ia nenek itu
lantas menjura lagi dan minta ampun, habis itu baru dia
berbangkit dengan pelahan dan kembali ke tempatnya tadi.
Para padri Siau lim-si angkatan Hian tadi telah mendengar
penuturan Hi-Tiok tentang pengalamannya di Biau-biau-hong.
sebaliknya padri lain dan para kesatria yang menyaksikan itu
menjadi terheran-heran akan kepandaian si nenek yang luar
biasa itu tampaknya kawan-kawannya baik wanita maupun
laki-laki itu pun bukan kaum lemah, tapi mengapa sudi
mengaku harnba pada Hi-tiok.
Dalam pada itu anggota Sing siok-pai yang dasarnya
memang terdiri dari manusia-manusia rendah dan kurangajar
itu, demi melihat banyak di antaranya wanita Leng-ciu-kiong
itu masih muda dan cantik serentak mereka berkeok-keok dan
bersiul-siul menggoda dengan kata-kata yang kotor.
Sebaliknya para Tongcu dan Tocu itu adalah orang kasar
pula, demi mendengar ucapan orang Sing-siok-pai yang tidak
sopan itu, kontan mereka balas mecaci maki sehingga seketika
itu ramailah suara orang membentak dan memaki.
Bahkan para Tongcu dan Tocu serentak meloloskan
senjata hendak melabrak lawan-lawannya. Tapi anggota Sing-
siok-pai tidak berani sembarangan bergerak karena belum
mendapat perintah guru mereka. Mereka masih tetap mencaci
maki dengan kata-kata yang semakin kotor.
Sementara Toan Ki masih terus memusatkan perhatiannyq
untuk menyerang Buyung Hok dengan Siau-yang-kiam. Karena
tercecer, maka akhirnya Buyung Hok menjadi susah
membendung arah datangnya hawa pedang serangan Toan Ki
itu, terpaksa ia putar sepasang Boan-koan-pit yang lurus dan
bengkok itu untuk melindungi tubuhnya.
Jilid ke-74
"Crit" , sekonyong-konyong hawa pedang Toan Ki
menembus pertahanan Buyung Hok sehingga kopyahnya
terpapas jatuh, seketika rambutnya terurai, keadaannya serba
runyam.
“Jangan, Toan kongcu!" teriak Giok yan dengan kuatir.
Toan Ki terkesiap, menghela napas panjang dan serangan
lain tidak jadi dilontarkan lagi. Katanya di dalam hati, "Ya, aku
tahu yang kau pikirkan hanya piaukomu seorang saja,
andaikan aku membunuhnya, tentu engkau akan sangat
terluka dan selanjutnya takkan tertawa lagi. Aku menghormati
dan mencintaimu, tidak nanti aku membikin dirimu hidup
merana."
Dalam pada itu Buyung Hok telah mengikat kembali
rambutnya dengan wajah pucat, kalau mendapat bantuan
seorang wanita untuk mengatakan ampun kepada lawan,
maka ke mana lagi mukaku harus ditaruh selanjutnya?
Karena pikiran itu, ia lantas membentak, "Seorang laki-laki
biar mati juga tidak sudi minta kemurahan hatimu."
Berbareng ia putar Boan-koan-pit dan menubruk maju lagi.
"Eh, eh, jangan! kita kan tiada permusuhan apa-apa.
Kenapa mesti bertempur lagi?"' seru Toan Ki sambil
menggoyang-goyang kedua tangannya ke depan. "Sudahlah
aku tak mau berkelahi lagi, tak mau lagi!"
Dasar watak Buyung Hok memang tinggi hati selamanya
dia tidak pandang sebelah mata pada siapa pun, tapi sekarang
dia kecundang di depan orang banyak celakanya lawan adalah
orang yang dikenal sebagai pelajar tolol itu, apalagi lawannya
lantas mengalah lantaran Giok-yan ikut minta. Sudah tentu la
tidak mau terima mentah-mentah kekalahannya.
Maka sekali menubruk maju, segera ia gunakan Boan-
koan-pit yang bengkok itu untuk menyerang müka Toan Ki,
sebaliknya Boan-koan-pit lurus menusuk dada lawan, pikirnya,
"Biarlah kau bunuh aku dengan hawa pedang tak kelihatan itu,
marilah kita. gugur bersama daripada hidup menanggung
malu di dunia ini."
Nyata, dengan serangan Buyung Hok itu, terang dia sudah
nekat dan tidak menghiraukan sendiri lagi.
Di lain pihak Toan Ki menjadi bingung juga ketika melihat
Buyung Hok menubruk ke arahnya, kalau ia gunakan Lak-
meh-sin-kiam, kuatír akan membinasakan lawan itu. Dan
karena sedikit ayal serangan Buyung Hok sudah tiba, “Bles”,
tahu-tahu Boan-koan-pit menancap dibadan Toan Ki sedang
dalam kagetnya mengeges sedikit ke kiri sehingga tusukan itu
tidak tepat menembus dadanya tapi menancap bahunya,
begitu hebatnya serangan itu sehingga bahu Toan Ki
tertembus.
Dan Takkala Toan Ki menjerit kaget menyusül Buyung Hok
ayun Boan-kuau-pit lain yang bengkok itu untuk menggaet
leher Toan Ki.
Saat itu Toan telah dipantek oleh Boan-koan-pit sehingga
susah mengelak lagi, tampaknya dia pasti akan dibinasakan
oleh serangan Buyung Hok yang sudáh kalap itu.
Melihat keadaán berbahava itu, kembali Toan Cing-Sun
dan Lam-hai-gok-sin menubruk maju lagi hendak menolong.
Tapi sekali ini Buyung-Hok sudah bertekad harus mernbunuh
Toan Kí, maka ia tidak menghiraukan keselamatan sendiri
yang diserang sekaligus oleh Toan Cing-sun dán Lam-hai-gok-
sin berdua.
Tampaknya leher Toan Kí akan segera dapat digantul oleh
Boan-koan-pitnya yang bengkok itu, walaupün Buyung Hok
sendiri juga takkan terhindar dari kematian karena di serang
bareng oleh Cing-sun dan Gok-sin, di luar dugaan pada detik
yang menentukan itu sekonyong-koyong Buyung Hok merasa
"Sin-to-hiat" di punggungnya terasa kesemutan dan tahu-tahu
badan kena dicengram dan diangkat ke atas oleh tangan
seseorang.
Sin-to-hiat adalah hiat-to terpenting di bagian punggung,
sekalí tempat itü terpegang seketika terasa kedua tangan linu
pegal dan tak bertenaga lagi sehingga senjata yang
dipegangnya juga terjatuh.
Maka mendengar Siau Hong membentak dengan suara
bengis, "Orang sengaja mengampun jiwamu, tapi kamu malah
turun tangan keji. Huh, terhitung ksatria macam apakah ini!"
Kiranya Siau Hong telah mengikuti tindakan Buyung Hok
yang nekat tadi dengan menubruk maju tanpa menghiraukan
keselamatannya sendiri, dalam keadaan begitu, kalau Toan Ki
mau menyerang lagi, dengan gampang sekali jiwa Buyung Hkk
pasti akan melayang.
Tapi sama sekali tak terduga bahwa pada saat yang
menguntungkan itu mendadak Toan Ki “melongok" di tengah
jalan dan tidak mau menyerang, Sebaliknya serangan Buyung
Hok tadi teramat cepat datängnya, walau Siau Hong juga
harus memburu maju secepat kilat terus mencengkram
pinggang Buyung Hok, tapi tidak beruntung Toan Ki sudah
dilukai lebih dulu.
Sebenarnya dengan kepandaian Buyung Hok yang tinggi
itu, meski masih kalah setingkat dari pada Siau Hong, tapi
juga tidak perlu sekali gebrak saja lantas tertawan. Soalnya
waktu itu dia sudah kalap dan nekat, yang dipikir hanya
membinasakan Toan Ki melulu dan sama sekali tidak
menghiraukan keselamatannya sendiri. Sedangkan
cengkeraman Siau Hong itu pun semacam Kim-tiaw-jiu-hoat
yang amat cepat dan lihai, yang diarah juga hiat-to terpenting,
maka Buyung Hok lantas tertangkap dan tak bisa berkutik lagi.
Dasar perawakan Siau Hong juga tinggi besar tangan
panjang dan kaki jangkung, ia pegang Buyung Hok ke atas
hingga mirip elang mencengram anak ayam.
Melihat sang majikan terancam bahaya, serentak Ting Pek-
Jwan, Kongya Kian, Pau Put-tong dan Hong Po-ok berempat
berlari maju sambil berteriak, "Jangan mencelakai Cukong
kami!"
Begitu juga Giok-yan ikut berlari dan berseru, "Piauko!
Piauko!"
Namun berada di bawah cengkraman orang biarpun
Buyung Hok mempunyai kepandaian setinggi langit juga sukar
dikeluarkan. Sungguh ia ingin lebih baik mati saja daripada
menderita hinaan sehebat itu.
Tiba tiba Siau Hong tertawa dingin dan berseru, "Huh, Siau
Hong adalah seorang laki-laki sejati ternyata diberi nama
sejajar dengan manusia rendah seperti ini, sungguh
memalukan saja!"
Dan sekali bergerak segera ia lemparkan Buyung Hok.
Di lempar oleh tenaga Siau Hong yang maha kuat itu,
kontan Buyung Hok mencelat sampai belasan meter jauhnya.
Segara ia melejit hendak berbangkit, tak tersangka ketika Siau
Hong mencengkram hiat to punggungnya tadi, tenaga dalam
Siau Hong telah dikerahkan sehingga menembus seluruh urat
nadinya, maka dalam waktu sekejap saja Buyung Hok tidak
dapat melancarkan kembali jalan darahnya, "Blang", tanpa
ampun lagi ia terbanting di tanah dalam keadaan serba
runyam.
Ting Pek jwan dan lain-lain tidak sempat mengerubut Siau
Hong lagi dan serentak putar balìk dan lari mandekati Buyung-
Hok. Tapi sebelum Pak-jwan dan kawan-kawannya mendekat,
Buyung Hok sudah berbangkit. Dengan muka pucat bagaikan
mayat ia terus lolos pedang yang tergantung di pinggang Tìng
Pek-jwan, menyusul sebelah tangan menolak ke depan
sehingga Pek-jwan dan Giok-yan berlima didesak mundur, lalu
ia angkat pedang terus mengorok leher sendiri.
Keruan Giok-yan terkejut, cepat ia berteriak-teriak, "He,
Piauko, jangan . . . . "
Dan pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara mendesing
nyaring memecah angkasa, sepotong am gi (senjata rahasia)
tahu-tahu menyambar dari tempat jauh dan melintasi
lapangan terus membentur pedang yang terpegang di tangan
Buyung Hok itu. "Trang", kontan Buyung Hok merasa tangan
kesemutan, pedang terlepas dari cekalan telapak tangan
sampai tergetar lecet dan berdarah.
Waktu Buyung Hok memandang ke arah datangnya,
senjata rahasia itu, ia lihat di atas karang sana berdiri seorang
padri berjubah putìh perawakannya tinggi kurus, mukanya
memakai kain kedok putih, hanya kelihatan sepasang matanya
yang bersinar tajam.
Dengan tenang padri jubah putih itu melintas lapangan
yang dikerumuni orang banyak itu dan mendekati Buyung
Hok. Tiba-tiba ia tanya pemuda itu, "Kamu mempunyai putra
atau tidak?"
Sebenarnya semua orang sama terkejut dan kagum ketika
mendengar suara mendesingnya senjata rahasia yang nyaring
memecah angkasa tadi. Kini demi nampak padri berjubah
putih yang menyambitkan senjata rahasia itu mendekati
Buyung Hok dan mengajukan pertanyaan yang aneh itu
mereka tambah heran dan geli pula.
Didengar dari suaranya, agaknya usia padri jubah putih itu
sudah cukup tua. Jubah padri yang dipakai itu pün agak
berbeda daripada jubah yang dipakai oleh hwesio Siau-lim-si.
Begitulah, maka terdengar Buyung Hök menjawab, "Aku
belum kawin, dari mana punya putra!”
"Dan kau punya kakek-moyang atau tidak?" kembali padri
jubah putih bertanya dengan kereng.
Buyung Hok sangat mendongkol, jawabnya dengan ketus,
"Sudah tentu punya! Aku sendiri akan mati, peduli apa
denganmu? Seorang boleh dibunuh dan tidak sudi dihina.
Buyung Hok adalah seorang laki-laki sejati dan tidak mau
terima ucapanmu yang kasar ini."
"Hm, kakek moyangmu mempunyai keturunan ayahmu
mempunyai putra sebagai dirimu. Tapi, tahu betapa gagah
perwiranya raja Yan seperti Buyung Lok, Buyung Tok dan lain-
lain, sungguh tidak nyana akhirnya mesti mengalami nasib
putus keturunan!" demikian padri jubah putih berkata dengan
mengejek.
Buyung Lok, Buyung Tok dan lain-lain adalah raja kerajaan
Yan yang terkenal sangat pandai dan gagah, namanya
disegani kawan dan lawan. mereka itu adalah leluhur Buyung
Hok yang terkenal dalam lembaran sejarah.
Sekarang dalam keadaan kalap dan nekat mendadak
Buyung Hok mendengar nama-nama kakek-moyangnya itu,
seketika ia merasa kepalanya seperti disiram air dingin dan
sadar seketika. Pikirnva, "Mendiang ayahku telah
memperingatkan aku agar mengemban cita-cita membangun
kembali kerajaan Yan sebagai tugas utama dalam hidupku ini.
Sekarang aku terburu napsu dan nekat ingin membunuh diri,
selanjutnya keluarga Buyung tentu akan putus turunan. Ya,
anak saja belum punya, mana aku dapat bicara tentang
perjuangan menjayakan nama keluarga dan membangun
kembali kerajaan Yan?"
Teringat semua itu, seketika Buyung Hok mandi keringat
dingin, tanpa terasa ia berlutut dan menyembah kapada padri
tadi, katanya, "Buyung Hok terlalu bodoh, berkat petunjuk
padri agung yang berharga ini, sungguh selama hidup takkan
kulupakan budi kebaikan ini."
Dengan begitu saja padri itu menerima penghormatan
Buyung Hok, sahutnya, "Ya, sejak dulu sampai sekarang,
seorang pejuang sejati harus berani menghadapi segala
penderitaan Seperti Han-Koat, Toan-ko-cung, semuanya
pernah mengalami kegagalan dan dihina. Tapi akhirnya
mereka berhasil mendirikan dinasti Han dan Tong. Jika mereka
juga memble seperti dirimu dengan menggorok leher sendiri,
hal ini berarti tamatlah segala cita-cita dan hilangnya harapan
leluhur. Sungguh dangkal benar pengetahuanmu!"
Buyung Hok terima petuah itu dengan berlutut mendadak
ia terkesiap dan heran, "Padri saleh ini seakan-akan tahu cita-
cita apa yang terkandung dalam pikiranku sehingga memberi
banyak contoh yang berharga bagiku?"
Maka dengan hikmat ia pun mengakui kesalahannya.
"Nah, bangunlah!” kata padri itu akhirnya.
Dengan hormat Buyung Hok menyembah lagi beberapa
kali, lalu berbangkit.
"llmu silat keturunan keluarga Buyung dari Koh-soh
sungguh sangat hebat dan tiada bandingannya di dunia ini.
soalnya kau sendiri yang belum dapat belajar sampai
tingkatan yang tertinggi," kata pula padri itu. "Memangnya
kaù sangka ilmu silat keluarga Buyung beñar-benar kalah
daripada Lak-meh-sin-kian keluarga Toan dì Taili? Ini, coba
lihat yang jelas!"
Habis berkata, sekonyong-konyong ia mengunakan jari
telunjuknya dan menutuk tiga kali ke depan. Saat itu Toan
Cing-Sun dan Pa Thian-sik berdiri disebelah Toan Ki. Cing-sun
sedang menutuk hiat-to disekitar terluka. Toan Ki yang
tertusuk Boan-koan-pit dan telah dicabut keluar itu. Tak
terduga tiba-tiba jari padri itu menutuk secepat kilat dada
Cing-sun dan Thian-sik lantas terasa kesemutan dan roboh ke
belakang, berbareng Boan-koan-pit yang dicabut dan
dipegang Cing-sun itu lantas terpental dari cekalan dan
meluncur cepat ke depan, "plok" senjata itu menancap diatas
batang pohon di kejauhan sana.
Sesudah roboh, segera Cing-sun dan Thian-sik melompat
bangun dan saling pandang mereka terperanjat. Sungguh tak
terkira hebatnya tenaga tutukan padri jubah putih itu, terang
padri itu tidak bermaksud membunuh mereka, kalau mau pasti
jiwa mereka sudah melayang sejak tadi.
Dalam pada itu terdengar padri jubah putih itu sedang
berkata kepada Buyung Hok, "Nah, inilah 'Jap-hap-ci' (tutukan
campuran) yang hebat dari keluarga Buyung kalian. Dahulu
kupelajari secara tak sengaja dari leluhurmu, padahal aku pun
cuma paham sebagian kecil saja, ilmu silat lain yang tak
kuketahui entah masih berapa banyak. Hehe, masakah
dengan sedikit, kepandaian bocah yang masih hijau sebagai
dirimu ini lantas dapat mengembangkan nama kebesaran Koh-
soh Buyung yang tersohor itu?"
Semula para ksatria juga sangat jeri kepada nama "Koh-
soh Buyung" yang tersohor itu tapi ketika melihat Buyung Hok
dikalahkan habis-habis oleh Toan Ki yang ketolol-tololan itu,
kemudian dibanting pula oleh Siau Hong tanpa bisa berkutik
maka dalam hati para ksatria lantas timbul rasa kecewa
kepada keluarga Buyung yang dianggapnya cuma punya nama
kosong belaka.
Tapi sekarang setelah menyaksikan sì padri jubah putih
memperlihatkan tutukan saktinya, mau tak mau timbul
kembali rasa kagum dan homat para ksatria kepada "Koh-soh
Buyung." Cuma saja dalam hati semua orang sama bertanya-
tanya, “Siapakah gerangan padri ini? Ada hubuungan apakah
antara dia dengan Buyung Hok?"
Kemudian padri baju putih itu berpaling Ke arah Siau
Hong, katanya sambil merangkap tangannya, "Ilmu silatl
Kiaui-tai-hiap sungguh maha sakti dan tidak bernama kosong,
maka ingin kubelajar kenal beberapa jurus denganmu.''
Memangnya Siau Hong sudah siap, maka ketika
merangkap tangannya memberi salam, segera la pun
merangkap kepalan tangan dan balas menghormat sambil
berkata, "Ahh, Taisu tidak perlu sungkan-sungkan!”
Maka terbenturlah dua arus tenaga maha kuat badan
kedua orang pun sama-sama tergeliat sedikit.
Pada saat itulah dari udara tiba-tiba melayang turun
sesosok bayangan hitam laksana elang raksasa menyambar ka
bawah dan dengan tepat jatuh di tengah-tengah antara padri
jubah putih dan Siau Hong yang sedang mengadu kekuatan
itu.
Karena datangnya bayangan orang itu teramat cepat dan
melayang turun dari udara saking terkejutnya sampai semua
orang sama menjerit. Dan sesudah bayangan orang itu berdiri
tegak di atas tanah barulah semua orang dapat melihat jelas
kiranya pada tangan orang itu terpegang seutas tambang
yang sangat panjang, ujung tambang yang lain terikat di
pohon besar yang berada di tempat beberapa meter jauhnya.
Jadi orang itu melayang tiba dengan ayunan tambang yang
panjang itu.
Orang itu tampak berkepala gundul, nyata juga seorang
padri. Terbalik daripada si padri jubah putih yang memakai
kain kedok putih, padri jubah hitam ini juga memakai kain
kedok hitam sekarang cuma kelihatan sinar matanya yang
berkilatan. Kedua padri hitam-putih ini berdiri berhadapan dan
saling pandang.
Kedua padri itu berdiri saling pandang sampai sekian
lamanya dan tetap tiada yang membuka suara.
Semua orang melihat perawakan kedua padri itu sama-
sama sangat tinggi cuma padri jubah hitam agak lebih kekar
dan padri jubah putih lebih kurus.
Di antara para penonton itu hanya ada seorang yang
merasa sangat girang dan terima kasih ialah Siau Hong. Dari
gaya dan cara si padri jubah hitam itu melayang tiba dengan
tambang yang panjang itu dapat dikenali tak lain tak bukan
adalah Hek ih-tai-han (si lelaki baju hitam) yang pernah
menolong jiwanya di Cip-hian ceng dahulu. Cuma waktu itu
Hek-ih-tai-han memakai topi dan berbaju orang biasa,
sedangkan sekarang dia pakai jubah padri.
Tapi dengan pandangan Siau Hong yang tajam segera la
dapat mengenalnya dari gerak gerik dan ilmu silatnya. Apalagi
dahulu sesudak hek-ih-tai-han itu menolongnya dan
mcmbawanya ke atas gunung, di sana mereka telah saling
gebrak belasan jurus, maka Siau Hong tidak pernah
melupakan gerak gerik tuan penolongnya itu.
Banyak di antara hadirin sekarang dahulu juga ikut hadir di
Cip-hian-ceng, cuma takkala itu Hek-ih-tai-han datang dan
pergi dalam sekejap saja sehingga orang lain sukar melihat
gerakannya itu dan dengan sendirinya sekarang pun tiada
seorang pun yang kenal dia.
Sesudah paling pandang sampai sekian lama, tiba-tiba
kedua padri hitam putih itu bicara berbareng, "Kau . . . . " tapi
lantas berhenti púla karena yang diucapkan ternyata sama.
Dan setelah lewat sejénak lagi barulah si padri jubah putih
melanjutkan, "Kau ini siapa?”
"Dan kau sendiri siapa?” balas padri jubah hitam.
Mendengar suara padri jubah hitam itu baru sekarang para
ksatria tahu bahwa padri itu juga sudah tua. Sebaliknya Siau
Hong pun lantas kenal suara itu memang tidak salah lagi
adalah tuan penolongnya, suatu yang pernah memberi
petunjuk dipergunungan sunyi dahulu. Seketika hatinya
berdebar-debar, sungguh ia ingin segera maju mengajak
bicara dan menyatakan terima kasihnya.
Dalam pada itu terdengar si padri jubah putih bertanya
lagi, "Kau sembunyi selama berpuluh tahun dalam Siau-lim-si,
apa maksud tujuanmu?”
“Ya, aku juga tanya padamu, apa pula maksud tujuanmu
kau sembunyi berpuluh tahun di siau-lim-si?" balas tanya si
padri baju hitam.
Karuan tanya-jawab kedua padri hitam-putih itu membuat
para padri Siau-lim-si, baik Hian-cu Hongtiang maupun tertua
yang lain sama merasa terheran-heran dan saling pandang
dengan tegang. Pikir mereka, "Mengapa kedua padri ini
mengaku sembunyi di dalam biara kita selama berpuluh tahun
tanpa kita ketahui? Apa benar bisa terjadi hal begini?”
Sementara itu terdengar si padri jubah putih itu sedang
menjawab, "Aku sembunyi di Siau-lim-si karena ingin
menyelidiki duduk perkara suatu urusan yang sebenarnya."
"Ya, aku sembunyi di Siau-lim-si juga ingin menyelidiki
duduk perkara sebenarnya suatu urusan, " sahut si padri
jubah hitam.
"Urusan yang hendak kuselidiki itu sekarang juga sudah ku
ketahui dengan jelas. Dan bagaimana dengan urusanmu?”
"Urusan yang hendak kuselidlki sekarang juga sudah
kuketahui dengan jelas, " kata si padri jubah putih. "Ilmu silat
saudara sangat hebat dan boleh dikatakan jarang ada
bandingannya. Kita sendiri sudah pernah bertanding tiga kali
dan tetap susah menentukan unggul dan asor. Apakah
sekarang kita perlu bertanding lagi?"
"Aku pun sangat kagum terhadap ilmu silat tuan andaikan
kita bertanding lagi kiranya sukar menentukan kalah atau
menang," sahut padri baju hitam.
Semua orang menjadi lebih heran demi mendengar
pembicaraan kedua "padri“ itu, tidak lazim kaum padri
menggunakan sebutan-sebutan "saudara" atau "tuan" segala.
Maka terdengar padri jubah putih menjawab, "jika begitu,
biar kita saling mengagumi saja dan mempunyai jiwa yang
berdekatan, kita tidak perlu bertanding lagi."
'Baik sekali," kata padri jubah hitam.
Kedua padri lalu saling mengangguk dan jalan berbareng
ke bawah besar di sana serta berduduk berjajar di situ sambil
memejamkan mata sehingga mirip orang bersemedi dan tidak
bicara lagi.
Setelah mengalami kekalahan tadi karena pikiran pepet
seketika hingga Buyung Hok bermaksud membunuh diri, tapi
telah ditolong dan ditegur oleh padri jubah putih dan akhirnya
sadar kembali akan kekeliruan yang cupat itu, sungguh ia
merasa malu dan berterima kasih pula. Pikirnya, "Padri agung
ini katanya kenal leluhurnya siapa yang di kenalnya kakek atau
ayah? Rasanya untuk pergerakanku selanjutnya aku perlu
minta petunjuk yang berharga dari padri agung ini,
kesempatan baik ini tak boleh kulewatkan."
Karena melihat kedua padri Itu sedang semedi, Buyung
Hok lantas mundur kesamping dan tak berani
mengganggunya, ia ambil keputusan akàn menunggu agar
nanti dapat minta petuah yang lebih berharga bila padri jubah
putih itu sudàh berbangkit.
Teringat tadi sang Pìauko hampir saja bunuh diri, perasaan
Giok-yan sampai sekarang belum lagi tentram, ia memegangi
lengan baju Buyung Hok dengan air mata bercucuran.
Sekarang perhatian semua orang lantas terpusat pada Hi-
tiok yang masih terus melabrak Ting Jun-jiu itu.
Tiba-tiba Kiok-kiam teringat sesuatu, segera ia mendekati
Salah seorang ksatria Cidan dan berkata padanya, "Cujin kami
sedang bertempur, pasti perlu minum sedikit arak agar
tenaganya bertambah hebat. Dapatlah kami mendapatkan
sedikit arakmu?"
"Persediaan arak di sini cukup banyak boleh kau ambil
saja." sahut ksatria Cidan itu sambil menyodorkan dua
kantung besar.
"Banyak terima kasih," sahut Kiok-kiam dengan tertawa,
"Kekuatan minum Cujia kami terlalu sedikit, sekantung saja
sudah lebih dari cukup."
Lalu ia menerima satu kantung arak itu ia buka sumbatnya
dan mendekati medan pertempuran, serunya kepada Hi-tiok,
"Cujin, untuk menanam bibit Sing-si-hu pada Sing-siok Lokoai,
bukankah diperlukan, sedikit air arak?"
Habis berkata, segera la angkat melintang kantung arak itu
dan menyodorkan ke depan, seketika arak mancur keluar dari
kantung itu dan menyembur kearah Hi-tiok.
"Bagus adik Kiok!" seru Bwe-kiam bertiga dengan bersorak
gembira.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar dari bawah gunung
ada suara wanita yang sedang menembang membawakan
lagu opera "Nyo Kui-hui mabuk arak."
Di tengah suara tembang itulah arak menyembur bagai
panah dari kantung arak yang dipegangi Kiok-kiam itu.
Saat itu Hi-tiok sedang melabrak Ting Jun-jiu dengan
sekuat tenaga, cuma sayang belum diketemukan cara paling
tepat untuk menundukkan Ting-lokoai. Tadi ketika dia
mendengar teriakan anggota Long-ciu-kiong yang minta dia
menggunakan "Sing-sì-hu", ia merasa cara ini terlalu keji dan
belum mau digunakan. Sekarang melihat Kiok-kiam telah
menuangkan air arak kearahnya, mau-tak-mau ia angsurkan
sebelah tangannya dan meraup segenggam air arak itù.
Pada saat lain dilihatnya dari balik lereng gunung sana
muncul sembilan orang. Kiranya Khim-sian Kheng Kong-leng
berdelapan, yaitu apa yang disebut "Ham kok-pat-yu"
(delapan sahabat dari lembah Ham). murid, murid Liong-uh
lojin, seorang lagi adalah A Pik, dia adalah murid Khong Kong-
leng. Dan yang menembang adalah si pemain sandiwara Li Gui
lut.
Ketika melihat Hi-tiok sedang melabrak Ting Jui-jin,
keadaan sangat seru, segera Kong-leng dan lain-lain berteriak-
teriak memberi semangat, "Ciangbun Susiok hari ini benar-
benar unjuk kesaktiannya, lekas Susiok bunuh Ting-lokoai
untuk membalas sakit hati Suhu!"
Para padri Siau-lim-si menjadi heran mengapa orang-orang
itu menyebut Hi-tiok sebagai susiok mereka.
Dalam pada itu Kiok-kiam masih terus menyemburkan
araknya tanpa berhenti sehingga ada sebagian menyemprot
ke atas kepala Ting Jun-jiu.
sesudah menempur Hi-tiok sampai sekian lama Ting jun-jiu
merasa serangan lawan berubah terus tak habis-habis
sehingga dia sendirì terdesak dab kerepotan, sekarang
mendadak disembur pula oleh air arak tiba-tiba Lokoai
mendapat akal licik sekonyong-konyong lengan bajunya
mengebas sehingga air arak itu muncrat kembali
berhamburaran kearah Hi-tiok bagai hujan mencurah.
Tak kala itu Hi-tiok sedang mengerahkan segenap tenaga
dalamnya sehingga kumpulan iwekang yang diperolehnya dari
Bu-gai-cu, Thian-san Tong-lo dan. Li Jui-sui terbentang sekuat
dinding baja dan membungkus seluruh tubuhnya, sudah tentu
tidak mempan diserang apa pun, malahan sejak tadi berulang
ting-lokoai telah mengguna racun dan tetap tak mampu
merobohkan Hi-tiok. Sekarang arak yang muncrat ke arah Hi-
tiok bagai hujan itu sebelum mendekati baju Hi-tiok sudah
tertolak kembali oleh tenaga dalamnya yang maha dahsyat itu.
Sekonyong-konyong terdengar suara jeritan dua orang.
Kiok-kiam dan A Pik berbareng roboh.
Kiranya air arak yang dihamburkan kembali oleh Ting Jun-
jíü itu, setiap-titik air mengandung racun yang disebarkan oleh
kebasan lengan baju tadi. Kiok-kiam berdiri sangat dekat
medan tempur, A Pik juga sedang berlari ke arah Buyung Hok
dan hendak memberi sembah kepada majikannya itu, maka
keduanya keciprat air arak berbisa itu dan roboh terjungkal.
Sekilas Hi-tiok melihat air muka Kiok-kiam dan A Pik
berubah pucat guram bagai mayat ia kaget dan gusar pula.
Maka timbul juga akhirnya tekadnya untuk menumpas Ting
Jun-jiü, kalau iblis ini belum dibasmi, tentu kelak akan banyak
berbuat kejahatan lagi. Apalagi lantas terdengar Seruan Sih-
sin-ih yang kuatir, ''Susiok, jahat sekali racun ini, lekas Susiok
bekuk Lakoai dan paksa dia menyerahkan obat penawarnya!”
Maka tanpa pikir lagi segara Hi-tiok melancarkan serangan
dengan lebih gencar. Telapak tangan kiri diam-diam
mengerahkan lwekang dan menjalankan Pak-beng-cin-gi.
Tidak lama kemudian air arak yang tergenggam ditangannya
terbeku menjadi beberapa lapis es kecil, menyusul terus
manghantam ke depan beruntun tiga kali.
Ting Jun-jiu merasa diserang oleh hawa yang mengigilkan.
Karuan ia terkejut, ”Kenapa tenaga dalam keledai gundul kecil
ini mendadak bisa berubah?"
Cepat ia mencurahkan pikiran dan bertahan dengan
sepenuh tenaga. Tapi menyusul beberapa hiat to penting di
bagian pundak, perut, paha, betis dan lengan juga terasa
ditempel sesuatu yang maha dingin, Diam-diam Lokoai
memaki, "Kurang ajar, hawa pukulan keledai gundul cilik yang
dingin ini hebat juga sehingga dapat membuat aku menggigil.“
Segera ia pun mengerahkan tenaga untuk bertahan. Tapi
tiba-tiba "Thian-cu-hiat" di kuduk, “Hong-bun-hiat" di bagian
punggung dan “Ci-Sing-hiat” di belakang pinggang juga terasa
sangat dingin.
Dengan pengetahuan dan pengalaman Ting-lokoai yang
luas, seketika ia merasa heran dan curiga, pikirnya, "Biapun
pukulannya lebih dingin lagi juga tidak mungkin dapat
memutar untuk menyerang punggungku, apalagi yang terasa
dingin adalah bagian hiat-to penting, jangan-jangan bangsat
gundul cilik ini ada tipu muslihat yang aneh. hal ini aku perlu
berjaga-jaga."
Karena itu, segera ia pun balas menyerang, kedua lengan
bajunya mengebas berbareng, menyusul sebelah kaki terus
menendang. Cara menendang dengan ditutupi kebasan lengan
baju ini adalah kepandaian sejati Ting Jun-jiu, biasanya sangat
jitu, seratus kali menyerang seratus kali kena, kalau musuh
tidak binasa, tentu juga terluka parah.
Tak disangka serangan kilat yang diandalkan ini sekarang
gagal dan tidak manjur. Baru saja kaki terangkat setengah
jalan, sekonyorg-konyong "Hok-tho-hiat” dan "Yang-kau-hiat"
bagian dada terasa linu pegal, bahkan lantas berubah gatal
tak tertahankan. Tanpa terasa i menjerit. Dan karena merasa
gatal pegal itulah, maka kaki yang akan mengenai sasarannya
itu lantas terasa dan terpaksa ditarik kembali.
Anehnya sekali ia menjerit, maka menyusul ía terus
menjerít-jerit pula beberapa kali. Sebaliknya anak murid Sing-
siok-pai masih terus bersorak memuji tentang Sing-siok Losian
maha sakti segala, bahkan sambil mengolok-olok pihah lawan
dan dikatakan sebentar pasti akan dibinasakan Sing-siok
Losian, lebih baik sekarang juga minta ampun saja.
Jadi sorak-sorai pujian mereka itu diselingi dengan jerit
mengaduh Ting Jun-jiu sehingga kedengarannya menjadi
sangat lucu. Sebagian anak muridnya yang lebih cerdik
dengan segera tutup mulut demi melihat gelagat tidak seperti
dugaan mereka, namun sebagian besar kawannya masih terus
berkaok-kaok dan pentang bacot.
Begitulah, dalam sekejap saja serentak Ting Jun-Jiu
merasa tujuh hiat-to terpenting tubuhnya terasa gatal tak
tertahankan, rasanya seperti digigit dan disusupi oleh beribu
semut kecil, gatal-gatal geli dan sakit nyelekit.
Padahal ketujuh hiat-to itu adalah tempat yang
mematikan, untung ilmu silat Ting-lokoai memang luar biasa
lihainya takkala bertempur ia melindungi tempat-tempat hiat-
to dengan tenaga dalam yang kuat sehingga serangan Sing-si-
hu yang dilancarkan Hi-tiok itu sukar mengenai dia namun
begitu toh tidak urung ketujuh hiat-to itu akhirnya disusupi
oleh lapisan es kecil sebagai bibit Sing-si-hu yang disambitkan
Hi-tiok.
Sebenarnya Sing-si-hu itu bukan sesuatu senjata rahasia
dan juga bukan racun, tapi semacam tenaga yang tak dapat
dipegang dan tak bisa teraba, Ketika Ting Jun-jiu meresa
terserang hawa dingin pada saat itulah Hi-tiok mengerahkan
Iwekangnya untuk menyusupkan lapisan es itu ke dalam
tubuh iblis itu dan es itu dengan segera cair terkena hawa
panas badan dan tidak berbalas lagi. Namun begitu tenaga
dalam Hi-tiok sudah menyusup ke dalam urat nadinya.
Karena merasa gatal pegal tak tertahan, dengan kelabakan
Ting Jun jiu mengeluarkan macam-macam obat yang dia
bawa, sekaligus ia minum beberapa macam obat penawar,
menyusul lantas mengerahkan Iwekangnya untuk menolak
rasa gatal itu, tapi bukannya sembuh, sebaliknya rasa gatal
pegal itu semakin menjadi-jadi. Coba kalau orang lain tentu
sudah berguling guling di atas tanah, Tapi tenaga dalam Ting
Jun jiu memang maha sakti sehingga dia masih dapat
bertahan dengan mati-matian.
Celakanya Sing si-hu itu justru semacam kekuatan yang
aneh, kalau mengenai orang yang tidak mahir ilmu silat, maka
penderitaannya juga tidak berat sebaliknya semakin kuat
Iwekang penderita itu, semakin hebat pula bekerjanya Sing-si-
hu.
Maka tertampaklah Tíng-lokoai mulai sempoyongan seperti
orang mabuk arak mukanya sebentar merah padam dan lain
saat pucat pasi, kedua tangannya bergerak-gerak seperti
menari sikapnya beringas menakutkan.
Melihat penderitaan Lokoai itu. Hi-tiok agak menyesal
pikirnya "meski dosa Iblis ini pantas diberi ganjaran, tapi apa
yang harus dideritanya ternyata sedemikian hebatnya. Tahu
begitu tentu aku cuma menanamkan satu-dua potong Sing si-
hu saja dan kiranya sudahlah cukup.”
Melihat keadaan Suhu mereka yang serba celaka itu. anak
murid Sing-siok-pai yang tadinya masih bersorak-sorai memuji
itu seketika bungkam dan ikut merasa takut pula. Walaupun
masih ada satu-dua di antaranya yang berkepala batu dan
tetap memberi suara yang mengumpak Sing-siok Lokoai,
betapapun suara mereka sudah tidak selantang tadi.
Pada saat itulah mendadak sí pemain sandiwara Li Gui lui
menembang pula dangan membawakan lakon Pat-sian
(delapan dewa) mabuk dangán mengikuti gerak gerik Sing-
siok Lokoai yang sempoyongan seperti orang mabuk itu.
Karuan para ksatria terbahak-bahak geli mendengar
tembang Li Gui-lui yang jenaka itu.
Selang tak lama, akhirnya Ting Jun-Jui tidak tahan lagi, ia
tarik dan betot Jenggotnya sendiri sehingga secomot
janggotnya yang indah memutih perak itu dibubut sendiri dan
bertebaran terbawa angin. Menyusul lantas baju sendiri yang
dirobek-robek sehingga kelihatan kulit badannya yang putih
bersih.
Usia Ting jun jiu sudah lebih 70 tahun, tapi badànnya
masih sehat dan kuat seperti anek muda. Dalam keadaan
kalap, dimana jaringan sampai, di situlah badannya lantas
tergeruk luka, darah lantas mengucur pula. Sembari
menggaruk-garuk dengan sekeras-kerasnya, berbareng ia pun
berteriak-teriak, "Gatal! Aduh, gatal bukan main! Matilah aku!"
Selang tak lama, sebelah kakinya lantas bertekuk lutut,
jerit mengaduhnya semakin mengerikan.
Walaupun para ksatria itu terhitung tokoh-tokoh yang
berpengalaman semua, tapi demi nampak seorang tua
bermuka muda dan bergaya luwes sebagai dawasa, seorang
tokoh terkemuka dunia persilitan seperti Ting Jin-jiu dan
sekarang berubah gila bagai kesurupan setan sambil
mengeluarkan suara jeritan serupa binatang buas itu mau-tak-
mau semua orang ikut ketakutan, sampai Li Gui-lui yang
biasanya suka melucu juga ikut bungkam karena takut. Hanya
kedua padri hitam pütih tadi yang masih tetap duduk semedi
d¡ bawah pohon dengan tenang seakan-akan tidak melihat
dan mendengar apa yang terjadi di sekitarnya.
Maka Hian-cu berkata, "Siancai, Siancai Hi-tiok, boleh kau
hapuskan penderitaan Ting-siangsing sekarang.“
Hi-tiok mengiakan dan menerima baik perintah ketua Siau
lim-si itu.
"Nanti dulu," tiba-tiba Hian cit mencegahnya 'Hongtiang
suheng juga terbinasa di tangan iblis tua ini mana boleh kita
mengampunin dia?"
Di sebelah sana Kheng Kong-leng juga bekata, "Cíangbun
Susiok, engkau adalah ketua dari golongan kita, kenapa masih
tunduk kepada períntah orang lain? Sakit hati Suhu dan Suco
(kakek guru) kita masakah tidak dibalas?"
Seketika Hi-tiok menjadi bingung dan tidak b¡sa
mengambil keputusan.
Maka Sih-sin-ih lantas ikut bicara, "Susiok, lebih penting
memintakan dulu obat penawarnya."
Hi-tiok membenarkan usul itu. Segera ia berkata, "Nona
Bwe-kiam, boleh kau minumkan setengah butir Tin-yang-wan
(pil pemunah gatal) padanya."
Bwe-kiam mengiakan dan mengeluarkan sebuah botol
porselin kecil, ia menuang sebutir obat sebesar kacang. Tapi
demi nampak sikap Ting jun-Jiu yang beringas bagai orang
gila itu, ia menjadi takut dan tidak berani mendekat.
Segera Hi-tiok mengambil pil itu. ia membelahnya separoh,
lalu berseru, "Ting siangsing, coba pentangkan mulutmu, biar
kuminumkan pil pemunah rasa gatal ini!"
Sambil masih menggerung-gerung Ting-lokoai lantas
pentang mulut ke atas. Sekali Hi-tiok menjentik, setengah
butir pil itu lantas melayang kedepan dan tepat masuk
kerongkongan Ting Jun-jiu.
Karena seketika khasiat pil itu belum lagi bekerja, saking
gatalnya sampai Ting Jun-jiu berguling-guling di atas tanah.
Selang tidak lama kemudian rasa gatalnya mulai hilang dan
barulah ia dapat berbangkit. Pikiran sehat iblis tua itu ternyata
tidak hilang, menyadarl dirinya tak dapat melawan lagi maka
sebelum Hi-tiok membuka suara pula, buru-buru ia
mengeluarkan obat penawar dan diberikan kepada Sih-sin ih
katanya, "Yang warna merah obat luar yang putih obat
dalam?"
Rupanya karena menggerung-gerung sekian lamanya,
maka suaranya sekarang berubah serak.
Sih-sin-ih yakin Ting-lokoai tidak berani berdusta dan main
gila lagi maka tanpa ragu ia membubuhkan dan minumkan
obat yang diterimanya dari Lokoai itu kepada Kiok-kíam dan A
Pik.
"Sing-siok Lokoai." seru Bwe-kiam. "separoh pil penghapus
rasa gatal itu hanya bertahan untuk tiga hari saja, lewat tiga
hari tentu rasa gatal geli itu akan kumat pula. Tatkala mana
apakah Cukong Kami akan memberikan obat lagi atau tidak
semuanya bergantung pada tingkah lakumu nanti."
Ting-Jun-Jiu sendiri masih belum hilang rasa
penderitaannya tadi, badannya masih gemetar dan tidak
sanggup bicara lagi.
Dasar anggota Sing siok-pai itu memang manusia licin dan
pengecut, mereka sangat pandai melihat gelagat dan
mengikuti arah angin, demi melihat Ting Jun-Jiu sudah keok,
segera ada dua-tiga orang berlari ke hadapan Hi-tiok, mereka
memberi sembah dan minta diterima sebagai hamba, kata
mereka, "Leng-ciu-kiong Cujin maha bijaksana dan berilmu
maha sakti, hamba sekalian merasa kagum sekali dan bersedia
mengabdi bagi Cujin dengan segenap jiwa raga kami."
"Ya, dan kedudukan bu-lim Beng-cu ini terang tak bisa lain
kecuali Cujin yang berhak memangkunya," timbrung yang lain,
"Dan asal cujin memberi perintah, biar masuk lautan api atau
terjun ke dalam air mendidih pasti hamba sekalian tak berani
menolak."
Bahkan banyak di antaranya demi untuk membuktikan
kesetiaan mereka, terus saja mereka menuding Ting Jun-jiu
dan mencaci-makinya habis-habisan. Malahan ada yang minta
kepada Hi-tiok agar lekas membinasakan Ting-lokai supaya
iblis itu kelak tidak dapat berbuat kejahatan lagi. Menyusul
terdengar suara tambur dan gembreng bergeremuruh dan
serentak orang-orang Sing-siok-pai lantas menyanyikan lagu
“Leng ciu cujin, maha sakti” dan lain-lain, jadi mereka Cuma
menggantikan kata-kata sing-siok Losian dengan Leng-cíu-
Cujin, sedang iramanaya tidak berubah.
Dasar jiwa hi-tiok memang sederhana, demi mendengar
sanjungan puji orang-orang sing-siok-pai itu, mau-tak-mau
agak syur juga hatinya.
Namun Lak-kiam lantas membentak, ''Kalian manusia yang
tidak tahu malu ini masakah menggunakan cara menjilat Sing-
siok Lokoai untuk memuji Cujin kami? Benar-benar terlalu
kurangajar dan tidak tahu malu!"
Seketika orang-orang Sing-siok-pai itu menjadi gugup dan
takut, ada yang menjawab, "Ya, ya! hamba tentu akan
mencari cara dan model lain, tanggung Siankoh (dewi) akan
puas nanti!”
Ada yang bilang, “Keempat siankoh benar-benar secantik
bídadari turun dari kayangan, Kelak pasti memperoleh jodoh
jejaka yang gagah!"
Begitulah macam-macam pujian yang muluk-muluk dan
membuat pendengarannya merasa mengirik yang dikeluarkan
oleh anggota sing-siok-pai itu.
Dan sesudah memberi sembah kepada Hí-Tiok pula
mereka mengundurkan diri ke belakang barisan para Tongcu
dan Tocu dengan rasa bangga dan puas sehingga para ksatria
Tionggoan dan padri Siau-lim-si tidak mereka pandang
sebelah mata lagi.
Kèmudian Hian-cu berkata. "Hi tiok, engkau telah
mendirikan suatu aliran tersendiri diharap kelak akan menuju
ke arah yang baik arah yang berguna bagi sesamanya dan
diharap dapat mengawasi anak muridmu supaya mereka tidak
berbuat kejahatan dan membahayakan sesama orang
kangouw. Jika semua ini dapat kau laksanakan, maka soal
kamu menjadi padri atau tidak adalah sama saja."
"Ya, Hi-tiok menerima pesan Hongtiang dengan rasa
terima kasih," sahut Hi-tiok dengan suara berat.
Lalu Hian-cu menyambung pula, "Keputusan memecat
dirimu tak bisa di tarik kembali lagi, tapi tentang hukuman
rangket boleh dibebaskan!"
Dan belum lagi Hi-tiok menjawab, tiba-tiba terdengar
seorang tertawa terbahak-bahak berkata, "Hahaha! Kukira
Siau-lim-si paling mengutamakan tata tertib dan menegakan
hukum secara teguh, siapa tahu juga cuma sebangsa manusia
yang pandai lihat arah angin saja, hanya berani kepada yang
lemah dan takut kepada yang kuat.”
Waktu semua orang memandang ke arah pembicara itu,
kiranya Tai-lun Beng-ong Cumoti.
Air muka Hian-cu berubah merah, katanya, "Teguran
Beng-ong memang tepat. Kami mengaku salah Hian-cit Sute,
laksanakan hukuman!"
Hiau-cit mengiakan dan berpaling kepada bawahannya
sambil berseru, "Siapkan pentung hukuman!”
Lalu katanya kepada Hi-tiok, "Hi-tiok, sekarang kamu
masih terhitung murid Siu lim-pai, hendaknya bertiarap dan
menerima rangketan."
Hi-tiok menyatakan siap, lalu ia berlutut dan memberi
hormat kepada Hian-cu dan Hian-cit, katanya, "Tocu Hi-tiok
telah melanggar larangan besar biara kita maka dengan
hikmat tecu menerima hukuman rangket menurut peraturan!"
Tapi mendadak bekas orang-orang Sing-siok-pai tadi
berteriak-teriak, "Leng ciu-kiong Cujin kami adalah Bu-lim
Beng Cu, masakah para padri Siau-lim-si berani sembarangan
menyentuh badan beliau?”
"Ya, jika kalian berani mengganggu seujung bulu romanya,
rasakan nanti labrakan kami ini. Biarpun hancur lebur bagi
beliau juga kami merasa bahagia!"
Namun Sia-popo dan kawan-kawannya cukup memahami
pikiran Hi-tiok. segera membentak, "Hai, tutup bacot kalian!
Apakah Leng-ciu-kiong Cujin cocok untuk disebut-sebut oleh
kalian kawanan setan ìblis yang tidak kenal malu ini? Lekas
tutup bacot!"
Karena dampratan itu, seketika orang-orang Sing-siok-pai
tadi bungkam kembali, tampa bernapas pun tidak berani
keras-keras.
"Laksanakan hukum!" bentak Hian cit kemudian.
Segera padri pelaksana hukum dari Kai-lat-ih mendekati
Hi-tiok dan menyingsìng jubahnya keatas sehingga kelihatan
kulit punggungnya, Sedang padri lain lantas mengangkat
pentungan ke atas dan siap memukul.
Hi-Tiok sendiri tidak berani mengerakan tenaga dalam
untuk melawan rangketan itu, ia pikir hukuman itu diterimanya
sebagai akibat perbuatannya sendiri, maka setiap langketan
itu berarti akan mengurangi sebagiaan dosanya. Jika dia
mengerahkan tenaga untuk melawan dan tidak merasakan
sakitnya rangketan itu. maka hukuman itu berarti tiada
berguna baginya. Sebab itulah ia diam saja dan
mengendurkan otot dagingnya untuk menerima hukuman
rangket itu.
Tapi belum lagi pentung padri Siau-lim-si itu dijatuhkan ke
bokong Hi-tiok, sekonyong-konyong terdengar jeritan seorang
wanita yang tajam, "Hoi, nanti dulu! Apa . . . apa itu yang
kelihatan diatas punggungmu?"
Waktu semua orang memandang punggung Hi tiok,
tertampaklah bagian pinggang belakang itu ternyata ada
sebuah titik bekas luka selomotan api dupa yang terjajar
secara rajin.
Umumnya pada waktu setiap biku atau hwesio dinobatkan,
di atas kepalanya yang gundul itulah yang diselomoti dengan
dupa berapi sehingga meninggalkan bekas selomatan itu.
Siapa duga selain diatas kepala, bahkan di punggung Hi-tiok
juga bekas selomotan dupa, malahan bekas selomotan itu
jauh lebih besar, kira-kira sebesar mata uang, hal ini
menandakan selomotan itu dilakukan pada waktu dia masih
bayi sehingga bekas selomotan itu pun ikut membesar takkala
badan Hi-tiok bertumbuh. Maka kalau dilihat sekarang bekas
selomotan itu sudah kurang sempurna lagi.
Ketika semua orang tercengang heran, tiba-tiba di antara
orang banyak berlari keluar seorang perempuan setengah
umur berbaju hijau pupus. rambutnya panjang terurai sampai
di pundak, ke dua pipinya masing-masing terdapat tiga jalur
bekas luka garukan. Dia bukan lain adalah "Bu ok-put-tiok", si
orang kedua dari Su-ok, Yap Ji-nio adanya.
Begitu mendekat, sekali tangannya bergerak, kontan
kedua padri pelaksana hukuman Siau-lim-si tadi ditendang
pergi, menyusul Yap Ji-nio lantas hendak menarik celana Hi-
tiok. Melihat gelagatnya. celana Hi-tiok itu hendak dibelejeti
mentah-mentah tanpa menghiraukan Hi-tiok sebenarnya
bukan anak kecil lagi, tapi pemuda berusia 21 tahun.
Keruan Hi-tiok terkejut dan kelabakan, cepat ia lompat
bangun sambil memegangi celananya yang kedodoran dan
hampir terlepas itu, ia lompat pergi dua-tiga meter jauhnya,
lalu berpaling dan bertanya. "Kau . . . kau mau apa?”
Badan Yap Ji-nio tampak bergemetar, "O.oo . . . anakku!"
mendadak ia berseru, ia pentang kedua tangan terus hendak
merangkul Hi-tiok.
Tapi Hi tiok sempat berkelit sehingga Ji nio menubruk
tampat kosong.
Semua orang merasa heran dan mengira jangan-jangan
wanita ini sudah gila.
Berturut-turut Yap Ji-nio menubruk lagi beberapa kali dan
setiap kali dapat dihindarkan Hi-tiok dengan cepat. Maklum,
sejak Ji-nio dihantam sekali oleh Goan-ci sehingga jatuh
kelengar. Untung dia ditolong seseorang dan ketika sadar
kembali iwekangnya sudah banyak surut. Ginkang yang
mestinya merupakan kepandaian utama Yap Ji-nio juga telah
mundur separoh dari pada tadinya.
Karena menubruk beberapa kali tidak kena, Ji nio tambah
kalap bagai orang gila ia berteriak-terak, Oh. anakku! Ken . . .
kenapa engkau tidak mau mengakui ibumu ini."
Hi tiok terkesiap, perasaannya seperti kena arus listrik
serunya dengan tak lampias, "Engkau . . engkau ibuku?"
“O, anakku," seru Ji-nio. "Tidak lama sesudah aku
melahirkan dirimu aku lantas menyelomot punggung dan
kedua belah bokongmu masing-masing sembilan titik dupa.
Coba kau periksa, bukankah kedua belah bokongmu masing-
masing ada sembilan titik bekas selomotan?"
Sungguh Hi tiok terperanjat luar biasa. Memang benar
bahwa di atas kedua belah bokongnya yang putih halus itu
terdapat sembilan titik bekas selomotan dupa. Karena hal itu
sudah ada sejak kecil, pula tidak tahu asal-usulnya sendiri
maka selamanya ia tidak pernah beberkan rahasia badan
sendiri kepada orang lain.
Terkadang bila dia sedang mandi dan melihat tanda
istimewa di atas bokong sendiri itu selalu ia anggap dirinya
memang dilahirkan sebagai anak Budha, makanya terdapat
bekas selomotan yang aneh itu. Karena itulah meka ia tambah
alim dan sujud kepada agamanya.
Sekarang demi mendengar ucapan Yap Ji-nio itu, rasanya
seperti bunyi halilintar di siang bolong, dengan suara gemetar
dan tak tertahankan ia menagis, "Ya, ya! Memang . . .
memang di atas bokongku ada bekas selomot . . . selomotan
itu. Apa . . . apa engkau . . . ibu yang . . . yang menyelomoti
aku dahulu?”
Maka menangislah ji-nio dengan tergerung-gerung sambil
sesambatan, “Ya, benar! Jika ...Jika bukan aku yang
menyelomot, dari mana . . .àku akan bisa tahu? O, aku telah .
. . telah menemukan putraku , aku menemukan putra
kandungku..O, aku . . . aku sudah menemukan anakku
sekarang!"
Sembari menangis terus saja ia ulur tangan buat
merangkul Hi-tiok.
Sekali ini Hi-tiok tidak menghindar dan menolak lagi, ia
membiarkan dirinya dipeluk Ji-nio.
Sejak kecil Hi-tiok sudah yatim piatu dan dipiara padri
Siau-lim-si. tentang kedua belah bokongnya ada bekas
selomotan dupa hanya dia sendiri yang tahu, sekarang Yap Ji-
nio ternyata dapat mengatakannya dengan jitu, sudah tentu
tidak perlu disangsikan lagi akan kebenaran ucapan Ji-nio tadi.
Untuk pertama kali inilah mendadak Hi-tiok merasakan
cinta kasih seorang ibu yang belum pernah dinikmatinya
selama ini, saking terharu air matanya lantas bercucuran juga.
Serunya dengan suara parau, "Ibu . . . O, ibu! Engkau . . .
.engkau adalah ibuku!“
Kejadian mendadak ini benar-benar di luar dugaan siapa
pun. Dengan terheran-heran semua orang menyaksikan Hi-
tiok dan Yap Ji-nio saling rangkul dan menangis, berduka dan
bergirang pula. Menyaksikan adegan demikian, biarpun hati
para ksatria sekeras baja juga ikut luluh dan terharu.
Maka terdengar Ji-nio berkata, "Anakku, tahun ini engkau
berusia 24 tahun, selama 24 tahun ini, siang malam
senantiasa kupikirkan dirimu. Aku menjadi iri bila melihatnya
orang lain punya anak, sebaliknya anakku sendiri diculik
bangsat terkutuk, makanya aku . . . aku pun suka menculik
anak orang lain. Tetapi . . tetapi anak orang lain sudah tentu
tidak sebaik anaknya sendiri."
"Hahahaha!" tiba-tiba Lam-hai gok-sin tertawa. "Sam-
moai, jadi sebabnya kau suka menculik anak kecil orang untuk
dibuat mainan sesudah bosan memain lantas kau minum
darahnya, kiranya lantaran anakmu sendiri diculik orang.
Sering aku Gak-loji suka tanya padamu, tapi engkau tidak mau
menerangkan sebab musababnya. Ehm, bagus-bagus
sekali..He, bocah Hi-tiok, ibumu adalah adik angkatku, nah,
lekas kau panggil Empek (paman) padaku!"
Mengingat bahwa tingkatannya sekarang ternyata lebih tua
daripada Leng-ciu-kiong Cujin yang berkepandaian maha sakti,
sungguh girang Lam-hai-gok-sìn tidak kepalang.
Sebaliknya terdengar In Tiong-ho berkata sambil geleng
kepala, "Salah, salah! Tidak bisa! Hi-tiok cu adalah saudara
angkat Suhumu, maka kamu harus panggil dia Supek.
Sedangkan aku adalah saudara angkat ibunya, tingkatanku
juga lebih tua dua angkatan daripadamu, maka kamu harus
lekas panggil 'Susiokco' (kakek guru) padaku!”
Lam-hai-gok-sin melengak oleh keterangan itu dipikir-pikir
memang serba salah akhirnya ia meludah dan mendadak
memaki, "Maknya, Locu tidak mau panggil!"
Dalam pada itu Yap ji-nio telah melepaskan rangakulannya
pada Hi-tiok, ia pegang pundaknya dan dipandang dari kanan
dan kiri dengan girang tak terlukiskan. Lalu ia berpaling
kepada Hian-cu dan berkata, "Dia adalah putraku, kamu
keledai gundul ini tidak boleh mengganggu dia!"
Tiba-tiba Hi-tiok teringat sesuatu. Tempo hari waktu dia
memecahkan problem catur pernah dia lihatnya Yap Ji-nio
bersikap sangat mesra pada Sing-siok Lokoai, bahkan
memanggilnya "Engkok Jun-jin yang tercinta” apa segala,
terang di antara mereka berdua seperti ada hubungan
istimewa. Wah, jangan-jangan dirinya adalah putra Ting Jun-
jui.
Sungguh celaka bila betul begitu, Sang ibu adalah Yap Ji-
nio yang bejat dan jahat termasuk satu di antara Su-ok yang
terkutuk dan kalau sang ayah benar benar Ting jun jiu
adanya, maka nama busuknya jauh lebih lebih tak terkatakan
lagi. Yang penting celaka adalah tadi dia malah sudah
melabraknya dan menanamkan Sing si-hu pada tubuhnya
sehingga dia tersiksa setengah hidup. Wah, lantas bagaimana
baiknya? Demikian pikir Hi-tiok.
Hi-tiok coba melirik ke arah Ting Jun-jiu dengan rasa tidak
tentram, mukanya sebentar merah sebentar pucat, kemudian
pun pandang Yap Ji-nio dengan harapan ibunya akan
mengatakan siapakah gerangan ayahnya yang sebenarnya?
Tapi bila sudah di katakan pun ayahnya benar-benar Ting Jun
jiu, wah, kan jadi benar celaka 13? Maka lebih baik tidak
dikatakan saja.
Namun sejak kecil Hi-tiok sudah yatim piatu, sekarang
dapat bertemu dengan ibundanya, sudah tentu ia pun
berharap dapat bertemu dengan ayahnya pula. Ya, biarpun
ayahnya adalah Ting-Jun-jui mau-tidak-mau día harus
mengakuinya.
Tengah Hi-tiok merasa ragu dan serba susah tiba-tiba
terdengar Yap Ji-Nio berseru, ”Entah kampret keparat mana
yang menculik anakku sehingga kita ibu dan anak terpisah
selama 24 tahun, Nah, anakku, marilah kíta menjelajahi dunia
ini dan harus menemukan bangsat keparat itu, kíta akan
mencincang dia hingga hancur luluh. Ibu tidak dapat melawan
dia, tapi ilmu silat anak sekarang maha tinggi, kebetulan dapat
membalas sakit hati ibu."
Mendadak padri jubah hitam yang sejak tadi duduk semadi
di bawah pohon itu berdiri, lalu berkata dengan pelahan,
"Anakmu ini diculik orang atau di rampas orang? Dan bekas
luka enam jalur garukan pada mukamu itu disebabkan apa?"
Air muka Yap Ji-nio berubah hebat, jeritnya dengan suara
tajam, "kau . . . kau siapa? Dari mana kau tahu!"
"Masakah kamu menjadi pangling padaku?" Tanya padri
jubah hitam.
"Hah, kau, ya, benar kau!" Jerit Ji-nio pula segera ia pun
menubruk maju.
Tapi kira-kira dua meter di depan padri itu, mendadak Ji-
nio berdiri tegak sambil menuding dengan beringas dan tidak
berani mendekat lagi.
"Ya, memang akulah yang merampas anakmu itu." kata si
padri jubah hitam. "Dan enam jalur luka pada mukamu itu pun
akulah yang menggaruknya."
"Sebab apa sebenarnya sebab apa kau rampas anakku?"
teriak Ji-niu. "Selamanya kita tidak saling kenal, tiada punya
permusuhan apa pun, tapi mengapa kau . . , kau bikin susah
padaku, membikin aku menderita siang dan malam selama 24
tahun?"
"Tempo hari waktu terkena pukulan Ong-Sing-thian yang
jahat itu, jiwamu mestinya sukar dipertahankan lagi, tapi
siapakah yang menolongmu?" tiba-tiba padri itu bertanya pula.
"Aku tidak tahu," sahut Ji-nio. "Apakah mungkin engkau
yang , . , yang menolong aku?"
"Benar, memang aku," padri itu mengangguk.
Tempo hari waktu Yap Ji-nio jatuh pingsan karena pukulan
Goan-ci itu, dalam keadaan tak sadar dia cuma merasa ada
orang telah menolongnya dengan menyalurkan iwekang yang
sangat tinggi namun orang itu sudah tinggal pergi ketika Ji-nio
siuman kembali. Kemudian Ji-nio pernah tanya Ting jun-jiu
dan Toan Yan-khing, tapi mereka tidak merasa telah
menolongnya sehingga kejadian itu tetap merupakan tanda
tanya didalam hati Ji-nio. Ia tahu perbuatannya sendiri terlalu
jahat sehingga tiada seorang tokoh persilatan dari kalangan
baik-baik sudi menolongnya, sebaliknya sedepat mungkin
malah akan membunuhnya.
Sekarang paderi jubah hitam itu mengaku telah menolong
jiwanya, kalau dilihat dari kepandaiannya yang amat
mengejutkan tadi memang tidak perlu disangsikan lagi akan
kemampuan padri ini. Tapi karenanya juga Ji-nio menjadi lebih
curiga. Dengan termangu-manggu ia pandang padri itu sambil
berkata, “Sebab apa? Sebab . . . sebab apa kau menolong
aku?”
Tiba-tiba padri jubah hitam itu menunjuk Hi tiok dan
berkata. “Siapakah ayah bocah ini?”
Ji-nio tergetar hebat, sahutnya dengan gemetar, "Dia . . .
dia . . . Tidak, tidak dapat kukatakan. Tidak mungkin
kukatakan."
Perasaan Hi-tiok terguncang hebat, cepat ia berlari
mendekati Ji-nio sambil berseru, "Mak, kau katakan pada ku
saja! Siapakah ayahku?"
"Ti . . . tidak, tidak dapat ku katakan," sahut Ji-nio sambil
goyang-goyang kepala.
"Yap Ji-nio," kata padri jubah hitam berkata pelahan-
pelahan, "asalnya kau adalah seorang nona yang baik,
seorang nona yang cantik dan prihatin. Tapi pada waktu kau
berumur 18 tahun kau telah terpeleset oleh seorang lelaki
yang berkedudukan dan berilmu silat tinggi, kau telah
menyerahkan kehormatan kepadanya sehingga melahirkan
anak ini betul tidak?"
Ji-nio tampak diam, seperti patung di tempatnya, sampai
agak lama baru mengangguk dan berkata, “Ya!"
"Lelaki itu memang terlalu serakah, dia Cuma memikirkan
kesenangannya sendiri, memikirkan nama baik dan hari depan
sendiri, sebaliknya tidak ingat kepada dirimu sebagai seorang
nona yang belum menikah dan sudah punya anak, dia tidak
ingat bagai bagaimana keadaanmu yang menyedihkan itu,"
demikian kata padri itu lebih jauh.
"Tidak, tidak!" sahut Ji-nio. "Dia telah memikirkan diriku
dia banyak memberi uang padaku dan mengatur hidupku hari-
hari selanjutnya."
"Tapi mengapa dia tidak mau mengambil dirimu sebagai
istri saja. sebaliknya membiarkan dirimu terlunta-lunta di
rantau!" tanya si padri.
"Aku tak dapat menikah padanya, mana boleh dia
mengambil aku sebagai istri!" sahut Ji-nio. “Tapi dia seorang
baik selamanya dia sangat baik padaku. Hanya aku sendirilah
yang tidak ingin membikin susah padanya. Dia . . . dia adalah
orang baik."
Nyata dari ucapannya itu terang ia masih penuh kenangan
dan rasa bahagia kepada kekasihnya dahulu yang sekarang
telah meninggalkan dia itu, sedikit pun tidak mengurangi
cintanya walaupun sudah menderita dan merana selama ini.
Diam-diam semua orang membatin, "Yap ji-nio terkenal
maha jahat, tapi terhadap kekasihnya itu benar-benar sangat
setia dan cinta murni. Entah siapakah gerangan sang lelaki
itu."
Mendengar kisah roman Ji-nio itu, Toan Ki, Wi Sing-tiok,
Hoan Hoa, Pa thian-sik dan lain-lain tanpa merasa sama
melirik ke arah Toan Cing-sun. Mereka merasa kekasih Yup Ji-
nio itu, baik kedudukan, sifatnya yang romantis dan
perbuatannya, semuanya mirip dengan kelakuan Cing-sun.
Bahkan ada yang berpendapat, "Ya, jika demikian terang
maksud kedatangan Su-ok ke negeri Taili tempo dulu itu benar
kemungkinan ingin membikin perhitungan perkara ini dengan
Tin-lam-ong."
Kalau semua orang menyangka keras kekasih Yap Ji-nio itu
tentu Toan Cing-sun adanya, sebaliknya Cing-sun sendiri juga
merasa ragu dia sedang bertanya kepada dirinya sendirl.
"Wanita yang ku kenal memang tidak sedikit tapi apakah
termasuk juga Yap Ji-nio ini? Mengapa sedikit pun aku tidak
ingat lagi?"
Maka terdengar si padri jubah hitam sedang berkata pula
dengan suara lantang. "Ayah bocah ini sekarang juga berada
di sini, kenapa tidak kau tunjuk dia saja dan suruh dia
mengaku?"
"Ti . . . tidak, aku tidak dapat mengatakannya," sahut Ji-
nio dengan gemetar.
Hi-tiok hanya melirik ke arah Ting Jun-jiu dan ingin tahu
reaksinya. Sebaliknya hati Toan Cing sun juga berdebar-debar.
"Kenapa kau selomot anakmu dengan dupa di bagian
punggung dan kedua belah bokongnya?" tanya si padri pula.
"Tidak, aku tidak tahu? aku tidak tahu!” seru Ji nio sambil
menutupi mukanya. "O, aku mohon padamu, jangan . . .
jangan kau bertanya lagi."
Namun padri itu sedikit pun tidak terpengaruh, la tanya
terus, "Apa barangkali kau ingin anakmu menjadi hwesio sejak
dilahirkan.”
"Tidak, tidak, bukan!" sahut Ji-nio.
"Habis, mengapa?"
"Entah, aku tidak tahu, aku tidak tahu!"
"Sikap kamu tidak mau mengaku pun aku tahu," kata si
padri dengan suara keras. "Ialah lantaran ayah si bocah itu
sebenarnya adalah seorang padri alim dan terhormat."
"O!" Ji-nio merintih dan tak tahan lagi. Ia jatuh pingsan.
Seketika gegerlah para ksatria. Kalau melihat keadaan Yap
Ji-nio itu tentang apa yang dikatakan si padri jubah hitam itu
tidak omong kosong. Jadi orang yang bergendak dengan Ji-nio
sehingga melahirkan Hi tiok itu kiranya juga seorang hwesio.
Maka ramailah orang berbisik-bisik membicarakan ''skandal"
luar biasa itu.
Dalam pada itu Hi-Tiok memayang bangun Yap ji-nio dan
berseru, "Mak, mak! Sadarlah engkau!”
Selang tak lama, pelahan Ji-nio mulai siuman lalu berkata
dengan suara berat, "Nak, lekas kau bawa aku pergi dari sini,
orang ini adalah . . . .adalah hantu , ia serba tahu semua aku
tidak ingin melihat dia lagi. Sakit . . . . sakit hati ini pun tidak
perlu dibalas lagi."
"Ya, mak. marilah kita pergi," sahut Hi-tiok.
"Nanti dulu," cegah si padri tiba-tiba, "Apa yang hendak
kukatakan belum lagi habis. Kau bilang tidak mau membalas
sakit hati lagi. Tapi sakít hatiku belum ku balas. Yap Ji nio,
apakah kau tahu sebab apa aku merampas anakmu? sebabnya
íalah . . . ialah ada orang juga orang merampas anakku
sehingga keluargaku berantakan dan orangnya binasa, kami
suami istri dan ayah anak bercerai berai. Maka perbuatanku
itu hanya membalas dendam belaka."
"Jadi ada orang telah merampas anakmu? Dan engkau
cuma ingin membalas dendam?” Ji nio menegas.
"Benar," sahut si padri jubah hitam, “Aku sengaja
merampas anakmu dan kutaruh di kebun sayur Siau-lim-si
supaya hwesio di situ memeliharanya sehingga dewasa dan
mengajarkan ilmu silat padanya. Sebab anakku sendiri juga
telah dirampas orang dan dibesarkan serta mendapat didikan
ilmu silat dari hwesio Siau-lim-si. Apakah kau ingin melihat
mukaku yang asli?”
Dan tanpa menunggu jawaban Yap Ji-nio, dengan cepat
padri itu menanggalkan kain kedok sendiri. Seketika para
ksatria menjerit kaget.
Ternyata "padri" itu bermuka lebar dan penuh brewok,
wajahnya sangat angker dan gagah, usianya antara 60-an
tahun.
Sungguh kejut dan girang Siau Hong tak terkirakan, cepat
ia memburu maju dan menyembah sambil berseru, "Kau . . .
engkau adalah . . . "
"Hahaha!" orang itu terbahak-bahak, "Anak baik, anak
baik, memang benar aku ini ayahmu. Kita ayah dan anak
mempunyai perawakan dan muka yang serupa, maka tidak
pakai bukti juga semua orang tahu aku adalah bapakmu."
Ketika ia tarik bajunya sendiri sehingga dadanya terbuka,
maka tertampaklah sebuah lukisan cacah kepala serigala, lalu
ia pun tarik bangun Siau Hong dan membuka bajunya, segera
kelihatan juga tato kepala serigala yang menyeringai dengan
kedua taringnya yang menyeramkan di dada Siau Hong itu.
Kedua orang berbareng lantas bersiul sambil menengadah,
suara mereka nyaring berkumandang sehingga lembah
gunung seakan-akan terguncang. 18 ksatria Cidan juga
serentak mencabut golok mereka, pembawa mereka sungguh
luar biasa laksana pasukan raksasa.
Lalu Siau Hong mengeluarkan sebuah bungkusan kecil kain
minyak, dari situ ia mengeluarkan sehelai kertas kuning yang
yang terlipat. Ketika itu dibentang, maka kelihatanlah huruf-
huruf cidan yang tercetak. Itulah tulisan tinggalan ayah Siau
Hong di dinding karang yang diterimanya dari Ti-kong Taisu
dahulu.
"Hahaha, tulisan Siau Wan-san sebelum ajal haha!"
demikian orang tua berewok alias Siau Wan-san terbahak
sambil tuding tulisan di atas kertas yang dibentang Siau Hong
itu. "Haha, anakku pada saat aku terjun ka bawah jurang,
ingin menyusul ibumu, tak tersangka ajalku belum waktunya
tamat, tahu-tahu aku kecantol di dahan pohon raksasa di
bawah jurang dan tidak jadi mati. Dengan demikian gagal
maksudku membunuh diri sebaliknya lantas timbul cita-citaku
untuk membalas dendam. Tatkala di luar Gan-bun-koan
dahulu itu, ibumu yang tak bisa ilmu silat itu tanpa alasan
telah dibunuh jago silat Tionggoan sini, coba katakan, sakit
hati ini harus kita balas atau tidak?”
"Sakit hati ibu sedalam lautan, sudah tentu harus dibalas!"
sahut Siau Hong tegas.
"Orang-orang yang dahulu ikut membinasakan ibumu itu
sebagian besar sudah kubunuh pada waktu itu juga," kata
Siau Wan-san. "Sedangkan Ti kong dan manusia yang
menyamar dan mengaku bernama Tio-ci-sun itu pun sudah
mampus di bunuh anak Ong Kiam-thong, itu Pangcu Kai-pang
sudah mampus karena sakit, baginya boleh dikatakan terlalu
untung. Cuma itu Toa-ok-jin (durjana besar) yang mereka
sebut sebagai Toako pemimpin itu sampai sekarang masih
hidup segar-bugar. Coba katakan nak, cara bagaimana kita
harus menghadapinya."
"Siapakah dia itu!" tanya Siau Hong cepat.
”Ya, siapakah dia?" mendadak Siau Wan-sin bersiul
panjang, sinar matanya bagai kilat menyapu ke arah para
ksatria Tionggoan.
Para ksatria yang kebentrok sinar matanya sama merasa
kebat-kebit. Walaupun mereka tiada sangkut-pautnya dengan
peristiwa di luar Gan-bun-koan dahulu, tapi demi melihat sikap
Siau Wan-san yang gagah berwibawa itu semuanya merasa
jeri dan tiada seorang pun berani bergerak atau bersuara
seakan-akan kuatir menimbulkan bencana bagi mereka
sendiri.
"Anakku," kata Siau wan-san kemudian "pada hari itu aku
bersama ibumu dengan membopong dirimu sedang
berkunjung ke rumah nenekmu, tidak tersangka setiba di luar
Gan-bun-koan mendadak berpuluh jago silat Tionggoan
menyergap kita sehingga ibumu dan para pengiring kita
terbunuh semua. Kerajaan Song memang bermusuhan dengan
bangsa Cidan kita dan bukan kejadian aneh kalau saling
bunuh-membunuh, Tapi para jago silat Tionggoan ini
bersembunyi di lereng bukit sana terang mereka mempunyai
muslihat tertentu. Anakku, apakah kau tahu apa sebabnya?”
Siau Hong menyahut, "Dari Ti-kong Taisu anak mendengar
katanya mereka mendapat berita bahwa jago silat Cidan
hendak menyerbu ke Siau-lim-si dan merampas kitab pusaka
mereka agar ilmu silat mereka dapat disebar-luaskan di negeri
Liau kita dan kelak akan dapat di pergunakan sebagai modal
untuk menyerang kekerajaan Song sebab itulah mereka
menyergap ayah dan membunuh ibu."
"Hehe, hehe! Sebenarnya waktu itu aku tiada maksud
hendak merebut kitab pusaka Síau-lim-si mereka yang
memfitnah aku," kata Siau Wan san dengan tertawa pedih.
"Baik, baik! Sekali Siau Wan-san di fitnah orang, maka aku
lantas sengaja berbuat. Selama 30 tahun ini aku telah
bersembunyi di Siau lim-si dan telah membaca sepuas-
puasnya segala kitab pusaka Ilmu silat mereka. Nah, para
padri saleh Siau-lim-si, kalau kalian mampu bolehlah
membunuh Siau Wan-san. kalau tidak, maka ilmu silat Siau-
líím-paí tentu akan tersebar di negeri Liau. Jika kalian ingin
menjebak aku lagi di Gan-bun-koan pasti kalian akan
terlambat."
Semua padri Siau-lim-si menjadi terperanjat oleh cerita
Siau Wan-san itu. Mereka pikir jika beñar apa yang dikatakan
sehingga ilmu silat Siau-lim-pai tersebar di negeri musuh, itu
berarti orang Cidan akan mirip harimau tumbuh sayap dan
benar-benar membahayakan.
"Ayah," kata Siau Hong. "kalau Toa-ok-jin itu membunuh
ibu, hal ini boleh dikatakan terjadi karena salah paham, Tapi
dia membúnuh juga ayah bunda angkatku Kiau Sam-hoai
suami-istri sehingga anak yang harus menanggung nama
jelek, hal itu sungguh tidak pantas. Maka sebenarnya siapakah
Toa-ok-jin itu, harap ayah memberi tahu saja."
"Hahaha!" tiba-tiba Siau Wan-san tertawa. "Nyata kau pun
salah sangka, anakku!"
"Salah sangka?" Siau Hong menegas dangan heran.
"Ya, kau salah sangka," sahut Wan-san mengangguk.
"Sebab suami-istri orang she Kiau itu akulah yang
membunuhnya!"
"Hah, ayah yang membunuhnya?" Siau Hong menegas
dengan terkejut. "Se . . . sebab apa?"
''Kamu putraku, mestinya keluarga kita dapat hidup
berbahag¡a, tetapi orang Tionggoan ini memandang bangsa
Cidán kita bagai mahluk yang lebih rendah daripada hewan
dan sedikit-sedikit lantas main bunuh bangsa kita." demikian
sahut Wan-san, “Mereka merampas anakku dan diberikan
kepada orang lain. Suami-istri she Kiau itu mengaku sebagai
orang tuamu, ia merampas kebahagiaan keluarga kita dan
tidak mengatakan duduknya perkara padamu, kesalahannya
inilah pantas di hukum mati."
"Tapi . . . tapi ayah dan ibu angkat sangat berbudi pada
anak, mereka adalah orang baik sekali." ujar Siau Hong
dengan rasa pedih. '"Jika demikian, jangan-jangan orang yang
membakar Tan-keh-ceng, yang membunuh Tam-kong dan
Tam-poh apakah juga . . . juga . . . . "
"Benar, semuanya perbuatanku," sahut Wan-san. "Habis,
sudah terang mereka mengetahui biang keladi yang dahulu
memimpin mereka menyergap kita di Gan-bun-koan tapi
mereka tidak mau mengatakan padamu, semuanya melindungi
dìa, bukankah mereka pun pantas dibunuh?"
Untuk sejenak Siau Hong terdiam, pikirnya, “Semula Toa
ok-jin yang kucari itu kusangka sama orangnya dengan 'Toako
pemimpin’ yang dikatakan mereka, siapa tahu pembunuhan-
pembunuhan itu adalah perbuatan ayah. Ai, sungguh sukar
untuk dipahami."
Kemudian ia berkata pula dengan terputus-putus. "Hian . .
. Hian koh Taisu dari Siau-lim-si adalah guru yang telah
mendidik dan membesarkan anak selama ini . . . . " Sampai di
sini suaranya menjadi terguguk-guguk, la menunduk dan air
mata berlinang-linang.
"Hm, masakah orang Tionggoan ada yang baik? Memang,
Hian-koh itu pun mati di bawah pukulanku." kata Siau Wan
san.
Mendengar pengakuan itu serentak para padri Siau-lim-si
sama menyebut, "Omitohud!"
Suara mereka sangat berduka dan penuh kemarahan,
walaupun seketika itu tiada orang yang lantas menantang Siau
Wan-san, tapi dari suara "Omitohud" mereka yang penuh rasa
duka itu terang mereka sudah bertekad akan membikin
perhitungan dengan Siau Wan san.
Jilid ke-75
Siau Wan-san tidak menghiraukan suara padri Siau-Lim-si
itu, ia berkata pula, "Di antara orang-orang yang ikut
membunuh istriku dan merampas putraku terdapat pangcu
Kai-pang dan juga terdapat tokoh Siau lim-pai. Hehe, mereka
ingin menutupi utang darah mereka untuk selamanya dengun
jalan mengubah anakku menjadi orang Han, menyuruh
anakku mengangkat musuh sebagai guru dan menerima waris
kedudukan Pangcu Kai-pang dari musuh. Hehe, pada malam
itu sesudah kuhantam sekali pada Hian-keh, lalu aku sembunyi
di situ. Ketika dia melihat wajahmu sangat mirip aku dia
mengira kamu yang menyerang dia, sampai si gundul kecil
yang melayani Hian-keh juga tidak dapat membedakan mana
dirimu dan aku. Nah bangsa cidan kita sudah disembelih dan
dianiaya, apakah kita tidak masih tidak cukup menderita?”
Baru sekarang Siau Hong paham duduknya perkara.
Makanya malam itu ketika Hian-keh melihat día mendadak
padri tua itu kaget tak terkira sedangkan hwesio cilik juga
memberi kesaksian bahwa dirinya yang memukul Hian-koh,
sudah tentu sama sekali tak terpikir olehnya bahwa pembunuh
yang sebenarnya adalah seorang yang bermuka mírip dengan
dirinya dan mempunyai hubungan darah yang erat.
Maka kemudian Siau Hong berkata. "Jika ayah yang
membunuh orang-orang itu, Jadinya tiada bedanya seperti
anak yang membunuh mereka, maka tuduhan yang selama ini
dilimpahkan padaku juga tidak membuat penasaran. Tentang
orang yang mereka namakan Toako Pemimpin yang
mengepalai kawan-kawan menyergap dan membunuh ibu itu,
apa sekarang ayah dapat menyelidiki dengan jelas siapa orang
itu.”
"Hehe, masakah usahaku selama ini percuma saja? Sudah
tentu telah kuselidiki dengan jelas." ujar Wan-sin. "Jahanam
itu telah mambuat berantakan keluargaku, kalau sekali
kuhantam membinasakan dia, bukankah cara ini terlalu enak
baginya?
............................
Mendengar pernyataan Hian-cu itu seketika menjadi ramai.
Dan mendapat berbagai tanggapan, ada yang menjadi
terkejut dan mencemooh dan ada yang kasihan. Sungguh
siapa pun tidak menduga bahwa Hongtiang atau ketua Siau-
lim-si yang berwibawa dan terhormat itu bisa melakukan
perbuatan semacam itu?
Sesudah agak lama barulah suara berisik itu mulai mereda.
Lalu Hian-cu berkata pula dengan pelahan, suaranya tetap
ramah dan tenang seperti biasanya, "Siau sicu, engkau
terpísah 30 tahun dengan putramu dan baru sekarang dapat
bertemu tapi engkau sudah mengetahui bahwa dia berilmu
silat sangat tinggi, namanya sangat termasyur dan telah
menjadi tokoh terkemuka dunia kongouw, dengan sendirinya
hatinya terhibur dan merasa lega. Sebaliknya setiap hari aku
bertemu dengan putraku, namun tidak kukenal dia, aku
menyangka dia telah diculik penjahat dan tidak tahu mati
hidupnya, malahan siang malam berkuatir baginya."
"Engkau . . . tidak perlu bercerita lagi bahwa engkau . . .
bagaimana? Apa mau di . . . dikata lagi?" seru Yap Ji-nio
dengan menangis.
Namun Hian-cu menjawab dengan suara halus, ”Ji-nio,
kalau kesalahan itu sudah kita perbuat, untuk menyesal juga
sudah terlambal. Ai, selama beberapa tahun ini tentu banyak
membikin susah dirimu?"
"Aku tídak susah," kata Ji-nío dengan menangís. "Kau
sendiri menderita batin tapi tak bisa dikatakan, itulah benar-
benar süsah."
Hian-Cu mengeleng kepala pelahan, lalu katanya kepada
Siau Wan san, "Siau-sicu, pertempuran Gan bun koan ítu
adalah salah pimpinanku. Tapi para saudara telah membela
dan berkorban Jiwa bagiku, biarpun hari ini aku pun mati juga
sudah terlambat. Cuma masih ada suatu hal yang aku benar-
benar tidak paham sampai sekarang.”
Sampai disini tiba-tiba ia perkeras suaranya dàn berseru,
“Buyung Bok, Buyung-siansing, dahulu engkau telah
menyampaikan berita palsu itu padaku, katanya jago jago
Cidan hendak menyerbu Siau-lim-si apakah maksud tujuanmu
dengan kabar palsu itu?”
Kembali semua orang terkejut demi mendengar nama
"Buyung Bok” itu. Di antara para ksatria itu hanya terbatas
orang yang luas pengalamannya saja yang pernah mendengar
bahwa di antara tokoh angkatan tua “Koh soh buyung”
terdapat seorang yang bernama Buyung Bok. Karena tindak
tanduk Buyung Bok itu sangat aneh dan misterius maka jarang
yang kenal mukanya, apalagi dua-tiga puluh tahun paling
akhir ini sudah tiada orang menyebutnya lagi, Kenapa
sekarang mendadak Hian-cu menyebut nama Buyung Bok?
Dan ketika semua orang memandang menurut arah yang
dituju Hian-cu, kiranya yang dimaksud adalah si padri jubah
putih yang masih duduk di bawah pohon itu.
Maka terdengar padri itu tertawa panjang sambil berdiri
katanya, "Hongtiang Taisu, penglihatanmu ternyata sangat
tajam sehingga dapat mengenali diriku."
Habis berkata ia terus tarik satu kedok sendiri sehingga
wajahnya yang putih bagus da agak kurus.
Buyung Hok berdiri tidak jauh di sebelahnya dalam
kagetnya ia terus berteriak, "Hei, ayah jadi engkau belum .,. .
belum meninggal?"
"Buyung-sicu," kata Hian-cu pula, "kita sebenarnya adalah
sahabat lama, selamanya kuhormati kematian dirimu. Maka
takkala kau sampaikan berita itu padaku, dengan sendirinya
aku percaya padamu. Tapi sesuatu peristiwa yang keliru itu,
untuk selanjutnya engkau tidak dapat kutemukan lagi. Tidak
lama kemudian terdengar kabar bahwa engkau telah wafat,
waktu itu aku benar-benar sangat berduka kukira kaupun
sama menyesalnya karena percaya pada kabar orang lain
sehingga terjadi kesalahan besar yang tak bisa ditarik kembali
itu. Siapa tahu . . . ai!"
Suara hembusan napas panjang itu penuh mengandung
rasa menyesal dan cercaan.
Siau Wan-san saling pandang sekejap dengan Siau Hong.
Baru sekarang mereka tahu bahwa manusia yang
menyampaikan berita palsu untuk mengadu domba itu
ternyata adalah Buyung Bok. Seketika timbul suatu pikiran
yang sama dalam benak kedua ayah dan anak itu, yakni, "Jadi
peristiwa menyedihkan di Gan-bun-koan dahulu itu walaupun
dipimpin oleh Hian-cu, tapi dia adalah ketua Siau-lim-si, sudah
sepantasnya dia memikirkan kepentingan bangsa dan
neger¡nya serta kitab pusaka biaranya dengan sendirinya pula
dia bertindak sekuat tenaga. Dan kemudian sesudah tahu
perbuatannya yang salah itu. lalu sebisa mungkin dia berusaha
memperbaíki kesalahannya. Jadì Toa ok-jin atau si durjana
yang sesungguhnya bükanlah Hian-cu melainkan Buyung Bok
adanya."
Karena dendam kesumat selama 30 tahun, maka rasa
permusuhan Siau Wan-san terhadap Hian-cu susah
dihapuskan. Sebaliknya Siau Hong merasa terharu dan kasihan
juga kepada nasib Hian-cu.
Begitulah terdengar Buyung Bok bergelak tertawa,
katanya, "Bangsa Han dan orang Cidan adalah musuh
bebuyutan, asal bertemu lantas saling bunuh tanpa
membedakan salah atau benar, kenapa aku yang disalahkan?
Marilah nak, kita pergi saja!"
Segera ia gandeng tangan Buyung Hok untuk diajak pergi.
“Nanti dulu!" bentak Siau Hong mendadak. "Masäkah
begitu enak lantas hendak mengeluyur pergi?”
"Habis mau apa?" sahut Buyung Bok. "Apakah kau ingin
belajar kenal dengan kepandaian sejati Koh-Boh Buyung?"
"Sakit hati pembunuhan ibu mana boleh tidak dibalas?"
kata Siau Hong. "Segala kejadian yang menyedihkan adalah
karena perbuatanmu. Maka hari ini aku harus menuntut
keadilan padamu,"
"Hahahal" tiba-tiba Buyung Bok tertawa panjang, ia
lepaskan tangan Buyung Hok dan segera melompat pergi, ia
berlari menuju ke atas gunung malah.
"Mari kejar!" seru Wan-san kepada Siau Hong. Kedua
orang segera mengundak ke atas gunung dari jurusan kanan
dan kiri.
Kepandaian ketiga orang itu sudah mencapai tingkatan
tertinggi, maka dalam sekejap saja mereka sudah pergi sangat
jauh dan hanya kelihatan tiga bayangan orang, satu di muka
dan dua di belakang, semuanya menuju ke arah Siau-lim-si
dan untuk sekejap pula lantas menghilang di balik dinding
biara agung itu.
Tindakan Buyung Bok itu benar-benar membuat para
ksatria sangat heran. Pikir mereka, "Kepandaian Buyung Bok
itu sama hebat dengan Siau Wan-san. Tapi kalau ditambah
seorang Siau Hong, pasti Buyung Bok sukar dilawan. Dan
kenapa dia tidak berlari ke bawah gunung, sebaliknya malah
lari ke dalam Siau-lim-si?”
"Ayah. ayah!" Buyung Hok berteriak-teriak dan segera ia
pun menyusul ke atas gunung. Ginkangnya juga sangat tinggi,
tapi kalau dibandingkan ketiga orang didepan ternyata masih
kalah setingkat.
Segera Ting Pak-jwan. Kongya Kian, Pau Put-tong, Hong
Po-ok dan ke-18 ksatria Cidan juga bermaksud memburu ke
atas gunung untuk membantu majikannya masing-masing.
Tapi baru saja mereka akan bergerak, tiba-tiba Hian-cit
membentak. "Pasang barisan dan rintangi mereka?”
Serentak beratus-ratus padri Siau Lim-Si mengerubung
maju dan pasang barisan masing-masing dengan senjata siap
di tangan untuk merintangi setiap orang yang berani maju.
"Siau Lim-si kami adalah tempat suci dan bukan tempat
berkelahi untuk umum, maka perempuan diharap jangan
sembarangan masuk ke sana!” seru Hian-cit pula dengan
garang.
Melihat begitu hebatnya barisan padri Siau-Lim-Si, Pek
jwan insaf tidak mungkin dapat menerjang lewat kesana,
terpaksa ia tidak berani bergerak lagi walaupun dalam hati
sangat menguatirkan keadaan sang majikan.
Sebaliknya Pau Put-tong lantas menanggapi ucapan Hian
Cit tadi, “ Benar, Siau Lim-Si memang tempat suci, tempat suci
untuk mengadakan hubungan gelap dan melahirkan anak
haram!”
Karena kata-kata ini seketika beratus pasang mata dengan
sorot mata yang gusar terpancar arahnya. Tapi dasar watak
Pau Put-tong tidak kenal apa artinya takut biarpun tahu bukan
tandingan salah seorang padri angkatan "Hian" dari Siau-Lim-
Si, tapi sekali dia sudah bicara apa pun juga siap akan
dihadapinya. Maka terhadap pelototan mata beratus padri
Siau-Lim-si itu kontan dibalasnya dengan mendelik pula.
Maka terdengar Hian-cu berkata dengan suara lantang.
"Aku telah melanggar larangan besar agama sehingga
mencemarkan nama baik Siau-Lim-pai. Nah Hian-Cit Sute,
Kalau menurut peraturan apa hukumanku itu?”
“Ini. . . ini . . . Suheng . . . . " sahut Hian cit dengan
tergegap dan ragu.
"Negara mempunyai undang-undang dan keluarga
mempunyai peraturan, setiap golongan, aliran atau
perkumpulan tentu juga punya murid yang menyeleweng."
kata Hian-Cu. "Nah. Murid pelaksana hukuman, siapkan
pentungan dan rangket Hi tiok 130 kali, yang seratus kali
adalah hukuman yang dijatuhkan atas dosanya dan 30 kali
adalah hukuman kepada gurunya yang diwakilkan olehnya."
Segera murid pelaksana hukum memandang Hian-Cit,
ketika padri agung itu mengangguk, dalam pada itu Hi-tiok
sudah bertiarap dan siap menerima hukuman. Segera padri
yang memegang pentungan itu mulai menghantam punggung
dan bokong Hi-tiok sehingga babak belur dan berdarah.
Walau pun dalam hati Yap Ji-nio sangat sedih, tapi
biasanya dia jeri kepada wibawa Hian-cu, maka tidak berani
memohonkan ampun. Dengan susah payah akhirnya Hi-tiok
selesai menerima 130 kali rangketan itu. Karena dia tidak
melawan dengan tenaga dalamnya, maka sakitnya tidak
kepalang sehingga tidak sanggup berdiri lagi.
"Sejak kini kamu dipecat dan bukan padri Siau-lim-si lagi,"
kata Hian-cu.
Hi-tiok mengiakan dengan air mata berlinang-linang.
Lalu Hian-Cu berkata pula, "Hian-cu melanggar pantangan
berzinah, dosanya sama dengan Hi-tiok, tapi dia adalah
Hongtiang, maka hukumannya harus berlipat ganda. Nah,
padri pelaksana hukum, rangket Hian-cu 200 kali. Nama baik
Siau Lim-si harus tetap terpupuk, sedikit pun tldak boleh
pandang bulu dan pilih kasih."
Habis berkata, ia lantas bertiarap sendiri terhadap patung
Budha yang jauh berada di tengah pendopo Siau lim-si di atas
gunung. Ia menyingsing bajunya sendiri sehingga kelihatan
punggungnya.
Seketika para ksatria saling pandang dengan melongok.
Bahwasannya Hongtiang Siau-Lim-si menerima hukuman di
depan umum, sungguh kejadian yang mengejutkan dan luar
biasa.
Dengan ragu Hian-cit coba bertanya, “Suheng Engkau . . .
."
"Laksanakan hukuman semestinya.” seru Hian-Cu. "Nama
baik Siau Lim-Si mana boleh tercemar di tanganku?"
Terpaksa Hian-cit mengiakan dan memberi perintah,
"Baiklah, hukuman dimulai!”
"Maaf Hongtiang!" lebih dulu kedua pelaksana hukuman
memberi hukuman. Habis itu mereka melangkah mundur dua
tindak dan angkat pentungan mereka terus menghantam ke
Hian-Cu secara bergiliran.
Kedua padri pelaksana hukum itu tahu yang membuat
tidak enak Hongtiang mereka adalah di jatuhi hukuman di
depan umum dan bukan soal babak belurnya rangketan itu.
Kalau sekarang mereka merangket dengan ringan tentu akan
di buat comooh orang luar malah. Maka mereka terus
menghantam sebagaimana mestinya tanpa pandang bulu.
Hanya sekejap saja punggung dan bokong Hian-Cu sudah
babak-bundas penuh darah.”
Para padri Siau Lim-si lain sama menunduk sambil berdoa
mereka hanya mendengar kedua padri pelaksana hukum itu
menjatuhkan pentungan mereka dan mengeluarkan suara
"plak-plok" diseling dengan suara hitungan.
Mendadak To-Ling Taisu dari Bo-to-si berseru "Hian Cu
Suheng biara kalian sangat mengutamakan tata tertib dan
menjatuhkan hukuman kepada Hongtiang sendiri tanpa
pandang bulu, sungguh aku sendiri kagum. Cuma usía Hian-cu
Suheng sudah lanjut, piula tidak mau menggunakan
Iwekangnya untuk menahan pukulan ítu, rasanya 200 kali
rangketan akan susah diterimanya. Maka ingin kumohon
ampun baginya sekarang sudah lebih 80 kali rangketan,
sisanya boleh ditunda saja pada lain hari."
"Ya, Setuju, Setujul" segera banyak di antara ksatria itu
menyokong usul To jing.
Tapi sebelum Hian-cit menjawab segera Hian-cu berseru
"Banyak terima kasih atas maksud baik para kawan. Namun
peraturan tetap peraturan dan tidak boleh dltawar. Maka padri
pelaksana hukum, hendaknya rangket terus?“
Sebenarnya kedua padri yang merangket tadi sudah
berhenti, demi mendengar perintah sang ketua terpaksa
mereka menghantam dan menghitung lagi.
Kira-kira empat puluh kali rangketan pula Hian-cu tidak
tahan lagi, kedua tangannya yang menyanggah diatas tanah
itu menjadi lemas sehingga mukanya menempel tanah.
“O, semuanya adalah salahku dan tak dapat menyalahkan
Hongtiang. akulah yang salah karena ditipu orang sehingga
sengaja menggoda Hongtiang maka . . . maka rangketan yang
lain biarlah aku saja yang menerimanya," demikian seru Yap
Ji-nio dengan menangis, la berlari-lari maju hendak tiarap di
atas badan Hian-cu untuk mewakilkan terima rangketan yang
masih kurang itu.
Tapi sebelum mendekat, sekali jari Hiau cu menutuk,
seketika Hiat-to dipinggang Yap Ji-nio tertutuk dan tak
berkutik. "Bodoh. Engkau bukan orang dalam agama dan tidak
bersalah, kenapa minta dihukum?"
Dan ketika Yap Ji-nio terpaksa diam di tempatnya dengan
air mata berlinang lalu Hian-cu berseru, "Teruskan rangketan!“
Dengan susah payah akhirnya genaplah 200 kali rangketan
itu dilaksanakan. Darah sampat mengenangi tanah sekitar
badan Hiaa-Cu di mana dia tengkurap. Sekuat mungkin Hian-
cu menahan diri sehingga tidak sampai jatuh pingsan.
Lalu kedua padri pelaksana hukum memberi hormat
kepada Hian-cu, "Lapor Siaco, hukuman atas Hongtiang sudah
selesai."
Hian-cit cuma mengangguk saja dan tak sanggup bicara.
Sesudah Hian-cu merangkak bangun, lalu ia hendak
menutuk pula Yap Ji-nio untuk membuka hiat-to yang
ditutuknya tadi. Tak terduga karena lukanya terlalu parah
sehingga tutukannya itu menjadi gagal.
Sejak tadi Hi-tiok menunggu di samping ibunya, melihat
kegagalan Hian-cu itu, segera ia mewakilkan membuka hiat to
ibunya.
Tiba-tiba Hian-Cu menggapai pada Ji-nio dan Hi-tiok agar
mendekatinya. Hi-tiok menjadi ragu sesudah berhadapan
dengan ketua Siau-lim-si itu ia tidak tahu apa mesti
memanggil "ayah" atau tetap menyebut “Hongtiang” saja?
Hian-cu lantas berkata kepada para hwesio Siau-Lim-si,
“Empat padri angkatan “Hian” dari Siau-lim-si kita telah
dibunuh orang. Hian-thong dan Hian-lan Sute diketahui
sebagai korban keganasan Ting-siangsing dari Sing siok pai,
Hian koh sute tewas di bawah pukulan Siau-sicu. Masih ada
pula Hian-pi Sute yang belum di ketahui meninggal dibunuh
oleh siapa. Semula aku kira adalah perbuatan ”Koh-soh
Buyung”, Tapi sesudah menyaksikan kepandaian Buyung Bok
losian yang telah menahan bunuh diri putranya, barulah ku
tahu bahwa sahabat lama ini kiranya belum meninggal dan
nyata “Ih-pi-ci-to, hoan-si-pi-sin” memang ilmu sakti nomor
satu di dunia ini. Cuma saja Siau-lim-pai kita selamanya tiada
permusuhan apa-apa dengan Buyung-Losicu, entah mengapa
dengan susah payah dia menjalankan muslihatnya untuk
menghancurkan golongan kita, hal ini benar-benar tidak dapat
kupahami.”
"Tangkap hidup-hidup Buyung Bok dan hukum mäti dia
untuk membalaskan Sakit hati Hian-pi Taisu!"' serentak semua
orang berteriak saking duka dan gusernya.
Tapi Hian-cu menggeleng kepala dan tersenyum, katanya
pula dengan perLahan "Setiap orang mempunyai kesalahan
dan dosa masing-masing, semoga Budha maha kasih memberi
jalan bagi mereka yang tersesat."
Lalu ia mengulurkan lengan yang sebelah memegang
tangan Ji-nio dan yang lain memegang tangan Hi-tiok katanya,
"Orang hidup di dunia ini ada kehendak dan ada kasih, tapi
semuanya sebenarnya hampa belaka, sungguh sulit, Sülit!"
Habis berkata pelahan ia pejamkan mata dan tidak
bersuara lagi.
Ji-nio dan Hi-tiok tidak berani bergerak, sebab mengira
masih ada apa-apa yang hendak dikatakan Hiau-cu. Tak
terduga tangan Hiau-cu yang memegang mereka itu makin
lama makin dingin, Karuan Ji-nio terkejut, cepat ia perìksa
pernapasan Hian-cu dan ternyata sudah berhenti, nyata ketua
Siau-lim-si itu sudah wafat.
"Ken . . . kenapa kau tinggalkan aku dengan begini saja!"
seru Ji-nio dengan wajah pucat. Mendadak ia melompat
setinggi dua-tiga meter ke atas dan membiarkan dirinya
dirinya terbanting ke bawah, "bluk", dengan keras badannya
terkapar di samping Hian-cu, dan sesudah berkelojotan
beberapa kali lalu tidak bergerak lagi.
"Ibu, ibu! Jangan , . . jangan . . . . " seru Hi-tiok dengan
bingung. Waktu ia angkat bangun ibunya, tertampaklah
sebilah belati sudah menancap di hulu hati sang ibu, terang
sukar dihidupkan kembali lagi. Cepat Hi-tiok menutuk hiat-to
disekitar luka itu, kemudian ia hendak menolong Hian-cu pula,
dengan sibuk ia hendak menolong dua orang sekaligus.
Segera Sih-sin-ih ikut maju buat membantu tapi dilihatnya
kedua orang itu sudah berhenti bernapas terang tak tertolong
lagi maka ia berkata, “Susiok hendaklah jangan terlalu
berduka kedua orang tua sudah tak bisa tertolong pula.“
Tapi Hi-tiok masih ngotot dan tidak putus asa, Uia masih
berkutat sampai sekian lama dan sudah tentu tak berhasil. Ia
dengar para padri sedang berdoa, dalam dukanya hi-tiok
lantas menangis juga dengan tergerung-gerung. Selama 24
tahun ini ia hidup yatim-piatu dan tidak pernah merasakan
setitik bahagia hidup kekeluargaanan, baru beberapa hari ini
dia bertemu dengan ayah bundanya, siapa tahu belum ada
satu jam lamanya kedua orang tua itu sudah meninggal
semua. Kalau ada peristiwa yang paling memilükan di dunia ini
rasanya tiada yang lebih tragis daripada Hi-tiok ini.
Tadi semua orang agak memandang hina kepada Hian-cu
karena sebagai ketua Síau-l¡m-si dia telah melanggar
peraturan suci, tapi kemudian mereka merasakan kesalahan
Hian-cu itu telah ditebus dengan hukuman 200 kali rangketan
di depan umum. Sama sekali mereka tidak menduga bahwa
sesudah dirangket, mendadak Hian-cu membunuh diri untuk
menebus dosanya.
Sebenarnya bila Hian-cu ingin menebus dosanya dengan
kematian, maka mestinya hukuman rangket itu tidak perlu
diterimanya, namun dia bertekad sehabis dirangket baru
membunuh diri, hal ini benar-banar perbuatan seorang sejati.
Karena kagum kepada jiwa Hian-cu yang besar itu, segera
banyak di antara para ksatria mendekati jenazah dan memberi
penghormatan terakhir.
Lam-hai-gok-sin juga lantas berkata kepada Yap Ji-nio,
"Jici (kakak kedua), Gak-Losam sekarang tidak akan berebut
urutan lagi denganmu, biarlah engkau saja yang menduduki
tempat kedua itu!''
Selama ini Lam-hai-gok-sin selalu berebut "tua" dengan
Yap-ji-nio, selalu ia mencari daya upaya agar dapat
menduduki tempat kedua dari su-ok itu. Tapi sekarang dia
mengalah dengan ikhlas, hal ini menunjukkan dia juga sangat
berduka dan kagum kepada kematian Yap-ji-nio yang setia itu.
Dalam pada itu orang-orang Kai-pang juga merasa lesu
semua. Dengan penuh semangat mereka mengeluruk ke siau
lim-si, siapa tahu Ong-pancu mereka datang-datang lantas
bertekuk lutut dan mengangkat guru kepada sing-siok lokoai,
bahkan kemudian kedua kaki sang pangcu itu di patahkan
pula oleh siau Hong.
Maka Goan-tianglo lantas berseru , "Saudara-saudara
sekalian, untuk apa lagi kita berdiam di sini? Memangnya ingin
menunggu sedekah nasi basi? Ayolah pergi dari sini!”
Para pengemis serentak mengiakan dan segera hendak
pergi semua.
Tapi mendadak terdengar Pau put-tong berseru kepada
mereka, “He, nanti dulu! Ada sesuatu yang hendak
kuberitahukan kepada Kai-pang.”
Dahulu Tan-tianglo pernah bertempur dengan Pat-tong
dan Po-ok di kota Busik, ia kenal mulut Put-tong tidak ada
kata-kata bersih, maka dengan suara garang segera ia
menanggapi, “Orang she Pau, kalau mau bicara boleh lekas
bicara jika mau kentut lekas kentut!”
"Waduuuh! Baunya bacin!” seru Put-tong sambil pencet
hidungnya sendiri. ”Hai, pengemis tukang kentut, apakah
dalam Kai-pang kalian ada seorang pengemis tua bangka
bernama Ih It-jing?”
Mendengar nama kawannya itu seketika Tan-tianglo
sangat tertarik, jawabnya, ”Jika ada mau apa? Kalau tidak ada
bagaimana?”
”Aku sedang bicara dengan seorang pengemis tukang
kentut dan kamu menanggapi ucapanku, apakah kamu
mengaku sebagai tukang kentut?” tanya Put-tong.
Karena ingin tahu urusan yang menyangkut kepentingan
organisasi mereka sudah tentu Tong Tianglo tidak sabar untuk
adu mulut dengan Put-tong. Maka jawabnya, "Aku ingin tanya
tentang Ih It jing yang kau katakan itu. Dia adalah anggota
kami dan sedang diutus berdinas ke negeri Se He, apakah
saudara mengetahui kabar beritanya?“
"Aku justru ingin bicarakan suatu urusan negeri Se He
dengan kalian," kata Put tong. "Cuma Ih It-jing itu sudah lama
melaporkan diri kepada Giam-lo-ong (Raja akherat)!"
"Hah, apa betul ucapanmu?" Yan-tianglo menegas dengan
agak kaget. "Numpang tanya, ada urusan apa tantang negeri
Se he?"
"Kamu memaki aku bicara sepertl kentut, maka sekarang
aku tidak ingin kentut lagi." sahut Put-tong.
Sungguh Tan-tianglo sangat mendongkol, tapi dia memang
seorang sabar, dengan tertawa ia berkata, "Ya, tadi
umpatanku telah menyinggung perasaan saudara, maaf!"
"Minta maaf sih tidak perlu, asal selanjutnya kamu sedikit
kentut dan banyak bicara, saja.” ujar Put-tong.
"Apa-apaan ini?” demikian pikir Tan-tianglo dengan
mendongkol. Tapi karena ingin minta keterangan terpaksa ia
mengalah. Maka ia hanya diam saja tanpa menjawab.
"Hah, kamu tidak mau bicara, jadi cuma mau kentut saja!"
kembali Put-tong mendesák.
Tapi Tan-tíanglo tetap mengalah, sahutnya tak acuh, "Ah,
jangan bergurau?”
Melihat dirinya sudah menang, kemudian Put-tong berkata,
''Jika kamu sudah mau buka suara, itu berarti tidak mau
kentüt lagi. Baiklah biar kukatakan padamu. Setengah tahun
yang lalu, ketika aku ikut Kongcu kami bersama Ting-toako
dan lain-lain, di tengah perjalanan bertemu dengan dua orang
pengemis, yang satu sudah mampus dan yang lain baru
sekarat. Yang mati itu sangat kurus, mungkín mati kelaparan
karena tidak cukup sedekah yang diperolehnya sehingga
tinggal kulit pembungkus tulang belaka dan akhirnya mampus.
Sungguh kasihan.”
"Müngkin dia Tik Pin, Tik-hiante dari Kai-pang kami,” ujar
Tan-tiang-lo.
"Ketika aku menemukan dia, keadaannya sudah kaku dan
entah día sudah laporkan diri belum kepada Giam-lo-ong,"
tutur Put-tong pula. "Dan karena dia sudah tak bisa bicara,
dengan sendirinya aku tak dapat tanya dia tinggal di mana
dan siapa namanya. Cuma aku pun kuatir jangan-jangan dia
akan memaki aku kalau mau bicara lekas bicara, jika mau
kentut lekas kentut kan celaka!''
Tan-tianglo diam saja mendengarkan ocehan Pau Put-tong.
Diam-diam ia harus mengakui orang she Pau ini sukar diajak
bercekcok, sekali salah omong, maka tidak habis-habis akan
dibalasnya.
"Huh, kamu diam saja, tentu dalam hati kamu mencaci-
maki padaku . . . " begitulah kembali Pau Put-tong mengoceh
dan memberi "kuliah" panjang lebar kepada Tan-tianglo dan
sesudah melihat lawannya itu tetap tidak berani menjawab,
kemudian barulah ia berkata, "Nah, boleh dengarkan sekarang
Selain pengemis mati yang kau katakan she Tik itu, masih ada
seorang pengemis tua yang terluka parah dan mengaku
bernama Ih-It-jing. Dia membawa sehelai maklumat dari
kerajaan Se He dan minta kami menyampaikannya kepada
ketua Kai-pang kalian."
Karena kuatir orang mengolok-olok Tan-tianglo lagi.
Segera Song-tianglo mewakilkan bicara, lebih dulu ia memberi
hormat, lalu berkata, "Pau-siangsing telah menyampaikan
berita ini kepada kami, sungguh kami segenap anggota Kai
pang merasa sangat berterima kasih."
"Tidak, tidak! Begitu tidak segenap anggota Kai-pang
kalian akan berterima kasih padamu," seru Put-tong.
"Apa maksüd ucapan Pau-siansing ini?" tanya Song-tianglo
dengan tercengang.
"Yang terang Pangcu kalian bukan saja tidak terima kasih
padaku, sebaliknya di dalam hati dia pasti akan dendam
padaku sampai ke tulang sumsum!'' kata Püt-tong sambil
menunjuk Yu Goan ci.
"Mengapa bisa begitu? Mohon pau-siansing memberi
keterangan,” kata Song dan Tan-tianglo bersama.
”Habis, Ih-It-jing itu pun kemudian mati dan orang yang
membunuh mereka itu bukan lain adalah Ong-pangcu kalian,"
kata Put-tong.
Seperti diketahui, ketika Goan-ci memukul mati kedua
pengemis she Tik dan Ih, hal itu memang dilihat oleh Pau Put-
tong, Sebelum itu Goan-Ci pernah mendapatkan pemberian
belati dari Hong Po-ok untuk mengupas kerudung besinya,
sebab itulah orang lain tídak tahu bahwa Ong Sing-thian
adalah Yu Goan-ci, tapi bagi Buyung Hok dan kawan-
kawannya sudah dapat menduga akan hal ini.
Karena keterangan Put-tong tadi, maka geregetanlah
kawanan pengemis. Segera Gu-Tianglo mendekati Goan-ci,
dengan suara bengís ia tanya, "Betul tidak keterangannya
itu?"
Karena kedua kakinya dipatahkan oleh Siau Hong, maka
sedari tadi Goan-ci duduk di tanah dengan tidak bicara, diam-
diam ia mengerahkan Iwekangnya untuk menahan sakit.
Ketika mendadak didengarnya Pau Put-Tong membongkar
kejadian tempo hari. Diam-diam ia gugup dan kuatir. Maka
waktu ditegur Cin-tianglo seketika ia menjadi gelagapan dan
tidak sanggup menjawab.
Melíhat sikapnya ítu, tahulah para pengemis bahwa diam-
diam Goan-ci telah mengakui adanya kejadian itu. Namun apa
pún juga dia adalah Pangcu, mereka tak dapat bertindak
padanya.
"Kenapa kau binasakan kedua saudara kita sendiri?" tanya
Go-tianglo pula.
"Aku . . . aku mestinya tidak . . . tidak bermaksud
mencelakai jiwa mereka tapi me . . . . mereka sendirilah yang
tidak tahan," sahut Goan-Ci tergagap.
Karena jawaban ini, maka makin yakinlah Pau Pit-tong
bahwa Ong Sing-thian itu memang benar adalah Yu Goan-ci
yang aneh tindak-tanduknya itu.
Karena tidak ingin borok Kai-pang dikatahui orang luar
terpaksa Song-Tianglo kesampingkan dulu akan kematian
kedua kawannya itu, ia berkata kepada Pau Put-tong, "Entah
maklumat yang diserahkan Ih It-Jing itu apakah Pau-siangsing
membawanya sekarang?”
”Tidak!" jawab Put tong sambil geleng kepala.
Wajah Song tianglo berubah agak kurang senang pikirnya,
"Kurang ajar! Jadi bicara panjang lebar tadì sejak tadi
tujuanmu hanya sengaja hendak mempermainkan orang!”
Dan belum lagi ia tanya pula, tiba-tiba put-tong berpamit,
"Nah, selama gunung tetap menghijau dan sungai selalu
mengalir, biarlah kita bertemu pula kelak!"
Habis itu ia terus putar tubuh dan bertindak menjauh.
"Eh, maklumat negeri Se He itu kenapa tidak saudara
sampaikan kepada kami?" cepat Go-tianglo bertanya.
"Aneh." sahut Put-tong, "Dari mana kau tahu Ih It-jing
menyerahkan maklumat itu kepadaku sehingga kau gunakan
kata 'sampaikan'? Apa barangkali kau sendiri menyaksikannya
tempo hari?”
Dengan menahan rasa gusar Song-tianglo ikut bicara,
"Sudah terang Pau-heng tadi mengatakan Ih It-jing dari Kai-
pang kami membawa sehelai maklumat dari kerajaan Se He
dan minta Pau-heng menyampaikan kepada kami, Apa yang
Pau-heng katakan ini telah didengar pula oleh para ksatria
yang hadir di sini, kenapa mandadak Pau-heng menarik
kembali ucapannya sediri?”
”Tidak, tidak! Aku tidak berkata demikian,’ sahut Put tong.
Dan ketika melihat air muka Song tianglo berubah kurang
senang, segera ia menyambung pula, "Biasanya para Tianglo
Kai-pang terkenal sebagai kaum Jantan sejati, kenapa di
depan para ksatria sejagat ini berani memutar balikan
persoalan, apakah dengan demikian nama baik para Tianglo
takkan runtuh sama sekali?"
Song, Tan dan Go tianglo saling pandang sekejap dengan
muka cemberut, sungguh mereka sangat mendongkol atas
sikap Pau Put tong yang "plin-plan" itu, mereka menjadi ragu
apa mesti ambil tindakan keras atau bersabar.
Akhirnya Tan-tianglo berkata dengan gusar, "Sebenarnya
apa kehendak Pau-heng, harap suka bicara secara blak-blakan
saja."
"Wah, kenapa kamu begini bodoh?" sahut Put-tong. "Eh.
Tan tianglo, tempo hari kamu bertanding dengan Hong-sute
kami di Bu-sik. Waktu itu kau bawa, sebuah kantung besar
dan di dalam kantung berisi seekor ketungging besar,
ketungging besar itu punya ekor panjang, ekor panjang itu
sangat berbisa, sangat berbisa itu kalau mengantup akan bikin
jiwa sang korban melayang, betul tidak?"
Diam-diam Tan-tianglo tambah mendongkol oleh ucapan
Pau Put-tong yang bertele-tele itu, mestinya beberapa kata
yang cekak-aos sengaja diulur-ulur ada ekor, ada sengat,
panjang, besar dan segala. Namun begitu, terpaksa ia pun
mengiakan perkataan orang.
Maka Put-tong berkata lagi, "Bagus! Nah, sekarang aku
ingin bertaruh dengan dirimu, Jika kamu menang, segera aku
akan memberitahukan berita yang dibawa oleh pengemis she
Tik dari Se-He itu. Sebaliknya kalau aku yang menang muka
kamu harus menyerahkan kantung besar dengan isi
ketungging itu, semuanya harus diberikan padaku. Nah, kau
berani bertaruh tidak?”
"Apa yang hendak Pau-heng pertaruhkan?” tanya Tan-
tianglo.
"Barusan Song-Tianglo kalian menuduh dia minta barang
padaku, la berkeras mengatakan kawan kalian yang bernama
Ih it-jing itu minta aku menyampaikan sehelai maklumat
kerajaan Se-He kepada kalian. Padahal sama sekali aku tidak
pernah berkata demikian. Nah, maka kita boleh bertaruh. Jika
benar aku pernah berkata seperti itu maka kalian adalah pihak
yang menang, sebaliknya kalau aku tidak pernah omong
begitu itu berarti aku yang menang."
Tan-tianglo ragu sejenak, ia coba memandang kedua
kawannya dan melihat Song dan Go-tiang|o sama
mengangguk seakan-akan mengatakan di bawah saksi para
ksatria sebanyak ini masakah Pau Put-tong dapat mangkir,
maka boleh bertaruh saja dengan dia.
Segera berkatalah Tan-tianglo, ”Baik, aku bertaruh
denganmu! Tapi entah cara bagaimana Pau-heng hendak
membuktikan pertaruhan ini? Apakah perlu mengangkat
beberapa juri yang jujur dan terhormat di antara para ksatria
yang hadir ini?”
"Bukan, bukan!" sahut Put tong dengan istilahnya yang
khas. "Kaubilang hendak mengangkat beberapa orang yang
jujur dan terhormat di antara hadirin untuk menjadi juri
apakah selain beberapa orang itu, selebihnya bukan orang
jujur dan tidak terhormat, semuanya rendah dan kotor? Ai, ai,
engkau sungguh terlalu menghina para ksatria yang hadir ini
Kai-pang kalian benar-benar terlalu kurangajar!"
”Ah, janganlah Pau-heng bergurau, sekali-kali tiada
maksudku begitu," kata Tan-tianglo dengan mendongkol
"Habis bagaimana kalau menurut usulmu?”
"Kenapa mesti susah?" sahut put-tong. "Kalah atau
menang cukup dengan satu-dua orang saja, biarlah sebentar
aku memecahkan bagimu. Nah. serahkan sini."
Sambil mangucapkan kata-kata terakhir itu, berbareng ia
pun menyodorkan tangannya.
Keruan Tan-tianglo terkejut. "Apa?" tanyanya.
"Apalagi? Kantung ketungging dan obat penawar!”
"Pau-herg belum memberi bukti-bukti nyata, mengapa
sudah anggap dirimu yang menang?"
"Aku kuatir sesudah kalah jangan-jangan kamu mungkir
janji dan tak mau menyerahkan barang-barangmu itu."
"Hahaha!" Tan-tianglo bergelak tertawa. "Hanya makluk
berbisa sekecil ini apa sih artinya, Jika Pau-heng memang
kehendaki, biarlah segera kuberikan dan kenapa mesti pakai
bertaruh segala?"
Sambil bicara ia terus menanggalkan sebuah kantung kain
yang berada di punggungnya dan mengeluarkan sebuah botol
porselen kecil dan diserahkan kepada Put-tong.
Tanpa sungkan lagi Put-tong menerimanya, ia membuka
mulut kantung itu dan melongok isinya, ia lihat di dalam
kantung ada beberapa ekor ketungging besar berwarna
loreng, cepat la menutupnya kembali dan menyimpan obat
penawar tadi. Lalu katanya, "Nah, sekarang akan
kuperlihatkan buktinya mengapa aku menang dan kamu
kalah.“
Lalu ia menanggalkan bajunya. ia kebas-kebas bajunya
dan mengeluarkan isi sakunya yang hanya terdapat beberapa
potong uang perak pecahan, batu api dan besi ketikan api lain
barang tidak ada lagi. Kemudian ia memakai kembali bajunya.
Sudah tentu Song, Tan dan Go-tianglo tidak paham apa
maksud orang. Namun lantas terdengar Pau Put-tong berkata,
"Jiko, boleh kau pegang maklumat itu dan perlihatkan kepada
mereka.“
Sebenarnya Kongya Kian lagi kelebakan menguatirkan
keselamatan Buyung Hok, tapi karena tidak mampu
menembus barisan pertahanan padri Siau-lim-si, terpaksa ia
tidak dapat berbuat apa-apa. Maka dengan tersenyum la
lantas mengeluarkan kertas maklumat dari Se He itu dan
dibentang.
Waktu semua orang memperhatikan ini maklumat itu,
mereka hanya lihat ada sebuah cap merah besar, selebihnya
adalah huruf-huruf yang tidak dikenal.
"Nah, dengarkan yang jelas." demikian kata Put-tong
kemudian. "Tadi aku cuma mengatakan bahwa Ih It-jing
menyerahkan sehelai maklumat kepada kami dan minta kami
menyampaikannya kepada Tianglo kalian betul tidak?"
"Ya, benar," sahut Song-tianglo bertiga dengan girang
karena orang mengaku sendiri apa yang dikatakannya tadi.
"Tapi Song-tianglo berkeras menuduh aku pernah
mengatakan Ih It jing telah menyerahkan sehelai maklumat
padaku dan minta aku menyampaikannya kepada Tianglo
kalian benar tidak?"
"Ya, benar! Memangnya apa bedanya?" seru ketiga Tianglo
itu berbareng.
"Sudah tentu beda, beda besar sekali! Bedanya seperti
langit dan bumi! " teriak Put-tong sambil geleng-geleng
kepala. "Apa yang kukatakan ialah 'kami', tapi Song-tianglo
menuduh 'aku', kami adalah kami dan aku adalah aku, kami
dan aku mana boleh dicampuradukan menjadi satu? Kami
termasuk Buyung-kongcu, Ting-toako, nona Ong dan lain-lain,
sebaliknya aku cuma si 'bukan-bukan' orang she Pau itu, mana
boleh kalian anggap sama dan tiada bedanya?"
Seketika Song, Tan dan Go tianglo menjadi bungkam,
mereka hanya saling pandang belaka. Sama sekali mereka
tidak menduga bahwa Pau Put-tong sengaja main pokrol
bambu, sengaja membeda-bedakan kata 'kami' dan aku
secara membingungkan.
Sekali mendapat angin terus saja Pau Put-tong menyusul
lagi, ”Nah, jadi sudah jelas bukan? Jadi yang harus
menyampaikan berita maklumat ini bukanlah aku si orang she
Pau ini, tapi rombongan kami dari Koh-soh Buyung ini. Aku
sendiri pernah kecundang di tangan kalian di Bu-sik, umpama
aku tidak bermaksud mencari balas pada kalian, tapi berita
demikian terang tak sudi kusampaikan kepada kalian."
Sampai di sini lalu ia berpaling kepada Kongya Kian dan
berkata, "Jiko,. kitia sudah menang, boleh simpan kembali
maklumat itu."
Tan-tianglo sangat cerdik mendengar kata-kata Pau Put
tong tadi segera ia tahu bahwa ocehan Pau Put-tong yang
panjang lebar dan putar kayun itu titik pokoknya adalah
mengenai persoalan kecundangnya di kota Bu-sik dulu.
Maka sambil memberi hormat Tan-tianglo berkata, "Tempo
hari dengan bertangan kosong, Pau heng telah menempur
tongkat baja Go-tianglo kami dan terang Pau-heng tidak lebih
unggul.
Kemudian sesudah Kiau-pangcu kami tampil ke muka,
akhirnya baru dapat menang sejurus pada Pau-heng. Tatkala
itu Pau-heng lantas pergi dengan berdendang tanpa
memikirkan pertarungan hebat itu. Sungguh segenap anggota
Kai-pang kami sangat menghargai jiwa besar Pau-heng, tapi
kenapa Pau-heng sendiri malah merasa rendah hati dan
mengaku kalah di tangan para Tianglo kami? Ingat kukatakan
bahwa sekali-kali tidak pernah terjadi hal seperti itu! Apalagi
Kiau Hong sudah lama putus hubungan dengan Kai-pang
kami, bahkan sekarang boleh dikata dia adalah musuh kita
bersama."
Dia tidak tahu sebabnya Pau Put-tong putar lidah panjang
lebar justru mengharapkan pernyataannya yang terakhir itu.
Jadi Tan-tianglo tanpa sadar telah terjebak.
Maka Pau Put tong lantas menumpangi umpan ítu, ”Kalau
demikian halnya, neh, sekarang kalian boleh pimpin anggota
Kai-pang kalian untuk menawan Kiau Hong yang merupakan
musuh kita bersama itu. Sesudah itu mengingat persahatan
baik kita tentu kami akan menyerahkan maklumat ini padamu.
Bahkan bila kalian tidak kenal huruf cacing dalam maklumat
itu, maka Kongya jiko tentu suka menolong kalian pula untuk
memberi penjelasan secukupnya. Nah bagaimana pendapat
kalian?”
Tan-tianglo menjadi ragu, ia pandang Song tianglo dan
pandang Go-tianglo pila.
"Ya. harus begítu, kanapa mesti ragu?" tiba-tiba seorang
berseru.
Waktu semua orang memandang ke arah pembicara itu,
kiranya Coan Koan-Jing yang terkenal cerdik itu, Terdengar ia
menyambung, "Kerajaan Liau adalah musuh bebuyutan
kerajaan Song kita. Sedang ayah Kiau Hong mengaku telah
sembunyi selama 30 tahun di dalam Siau-lim-si dan banyak
mempelajari iimu silat dari kitab pusaka yang telah dicuri-
bacanya itu. Kalau sekarang kita tidak bersatu menumpasnya,
kelak dia akan menyebarkan kepandaian yang diperolehnya
dari Siau lim-si itu kepada bangsa Cidan mereka, maka itu
berarti suatu bahaya besar bagi bangsa kita."
Semua orang menganggap uraian Coan Koan jing cukup
beralasan. Akan tetapi Hian-cu telah meninggal, Ong Sing-
thian sudah patah kedua kakinya, Siau-lim-pai dan Kai-pang
yang merupakan dua saka guru dunia persilatan Tlonggoan
dalam keadaan tanpa pimpinan. Dalam keadaan demikian
sangat diperlukan seorang yang sanggup memimpin mereka.
Karena itu semua orang Cuma saling pandang belaka dan
tidak dapat mengambil sesuatu keputusan.
Segera Coao Koan-jing berseru pula, "Boleh silakan ketiga
padri agung angkatan Hian dari Siau-lim-si dan katiga Tianglo
dari Kai-pang bersama-sama memimpin dan memberi
komando pada kita. Pendeknya kitä harus membasmi dahulu
Siau Wan-san dan Siau Hong yang merupakan bahaya bagi
kerajaan Song kita. Jika ada urusan lain biarlah ditunda dan
dirembuk lagi nanti.”
"Benar, harap para padri agung dan ketiga Tianglo suka
memimpin kita!"
"Ya, urusan yang menyangkut kepentingan bangsa ini,
harap keenam Locianpwe suka tampil ke muka!”
"Memang harus begitu! Kita akan tunduk kepada setiap
perintah untuk membunuh kedua anjing keparat ini!" demikian
beramai-ramai orang banyak lantas berteriak. Dan dalam
sekejap saja beratus orang itu serentak melolos senjata,
bahkan ada sebagian yang siap menyerbu ke-18 ksatria Cidan
yang masih berada di situ itu.
"Para saudara Cidan itu, silakan kemari!" seru Sia-popo.
Tapi karena tidak tahu apa maksud tujuan nenek itu, maka
ke-18 orang itu tetap diam saja di tempatnya dengan senjata
terhunus dan berdiri merapat. Biarpun tahu bukan tandingan
kaum ksatria Tionggoan yang berjumlah besar itu, tapi
rupanya mereka pun sudah bertekad akan bertempur sampai
titik darah terakhir.
Maka Sia-popo berseru pula, "Leng-cin Pat-poh, lindungilah
ke-18 sahabat Cidan itu!"
Maka larilah kedelapan barisan wanita Leng-cit-kiong ke
depan para ksatila Cidan, Begitu pula para Tongcu dan ToCu
ke-36 pulau dan ke-72 gua.
Para bekas anggota Sing-slok-pai rupanya juga ingin unjuk
jasa di depan majikan baru mereka. Maka tanpa disuruh
mereka pun ikut-ikut merubung maju sambil mamberi
semangat sehingga menambah perbawa mereka.
"Cujin," kata Sia-popo kepada Hi-tiok dengan hormat, "ke-
18 ksatria cidan ini adalah bawahan kakak angkat Cujin, jika
mereka dibunuh orang di depan hidung Cujin, ha! ini akan,
terlalu merosotkan pamor Leng-ciu-kiong kita. Maka kita tidak
boleh tinggal diam, kita harus mengawasi mereka dan harap
Cujin memberi keputusan."
Hi-tiok sendiri sangai berduka atas kematian ayah-ibunya.
Ia sendiri juga tidak dapat mengambil keputusan apa-apa
maka ia cuma mengangguk saja dan berkata, "Lang ciu-kiong
kita dengan Siau lim-pai adalah kawan dan bukan lawan,
hendaknya kita jangan merenggangkan hubungan baik ini
lebih-lebih janganlah sampai terjadi saling bunuh!''
Hian-cit juga tahu pihak Leng-ciu-kiong itu bukan lawan
empuk, maka demi mendengar ucapan Hi tiok itu segera ia
berkata, "Ke 18 orang Cidan ini dibunuh atau tidak tak jadi
soal, untuk sementara ini bolehlah kita kesampingkan du!u.
Nah, Hi-tiok Siansing kami hendak menangkap Siau Hong,
engkau akan membantü pihak mana?“
"Aku . . . aku tidak, membantu pihak mana-mana," sahut
Hi-tiok dengan ragu. ''Siau lim pai adalah tempat asalku, Siau
Hong adalah saudara angkatku, aku tidak boleh memihak
siapa pun juga. Cuma . . . cuma, Susiokco, kumohon engkau
jangan mengganggu Siau toako kami biarlah kunasehati dan
supaya . . supaya jangan menyerang negeri kita."
Diäm-diam Hian cit menganggap ucapan, “Hi-Tiok
siangsing, sebutan 'Sosiokco' hendaklah jangan kau gunakan
lagi."
"Ya, ya aku lupa,'' sahut Hi-Tiok.
“Baiklah, jlka Leng-ciu-kiong sudah menyatakan tidak
membantu salah satu-pihak, makä Siau-lim-pai kami dengan
pihak kalian adalah kawan dan bukan lawan, kedua pihak
jangan sampai bercekcok,” sampai di sini Hian-cit lantas
berpaling kepada ketiga Tianglo Kai-pang dan berkata, "Para
Tianglo, marilah kita pergi ke biara kami untuk melihat
bagaimana jadinya dì sana?"
''Baik!" seru Song-tianglo bertiga. "Ayolah para anggota
Kai-pang, ikutlah semua ke atas gunung."
Segera para padri Siau-lim-si mendahului berangkat dan
disusul dengan anggota Kai-pang dan pada ksatria Tionggoan
lainnya, beramai-ramai mereka menerjang ke atas gunung.
"Sungguh hebat, Samte." kata Ting Pek-jwan sambil
berlari, "hanya dengan lidahmu saja dapat kau tarik bala
bantuan sebanyak ini bagi Cukong dan Kongcu."
"Bukan, bukan ! Sudah tertahan sekian lama., entah
bagaimana keadaan Cukong dan Köngcu sekarang'" sahut Put-
tong.
"Sudahlah, jangan 'bukan, bukan" apa lagi, lekas jalan!"
kata Giok yan sembari percepat langkahnya.
Tiba-tiba dilihatnya Toan Ki juga mengintil di sebelahnya,
maka katanya pula, "Toan-kongcu, apakah kaupun hendak ke
sana? Engkau akan membantu Gihengmu dan memusuhi
Piaukoku?"
Nyata nada ucapannya itu mengunjuk rasa kurang senang.
Rupanya si nona masih gusar kepada Toan Ki karena kejadian
Buyung Hok hendak bunuh diri lantaran dikalahkan Toan Ki
dan Siau Hong tadi.
Toan Ki melengak atas teguran itu dan menghentikan
langkahnya. Sejak perkenalan dengan Giok-yan belum pernah
ia mendapat sikap kaku seperti itu dari si nona, maka ia
terkesima. Seketika ia menjadi gugup dan bingung, selang
sejenak baru ia sanggup bersuara, ”O, aku . . . . aku tidak
bermaksud memusuhi Buyung-kongcu . . . . "
Tapi waktu ia perhatikan sebelahnya, ternyata Giok-yan
dan rombongannya sudah tak kelihatan lagi, di sekitarnya
hanya para ksatria saja yang sedang berlari-lari dengan cepat
ke atas gunung.
Dengan menghela napas Toan Ki membatin, "Jika nona
Ong sudah curiga padaku, buat apa aku mencari penyakit
sendiri ke sana?"
Tapi lantas timbul pula pikiran lain, "Siau-toako akan
dikerubut oleh seribu orang ini, keadaan nya tentu berbahaya,
sedangkan Ji-ko sudah menyatakan tidak membantu salah
satu pihak, kalau aku sendiri tidak membantunya sekuat
tenaga, bukankah percuma saja kami mengangkat saudara?
Ya, biarpun nona Ong akan marah padaku, terpaksa aku tidak
peduli lagi."
Karena pikiran itu, segera ia berlari-lari ke atas gunung.
Karena langkah ajaibnya yang hebat itu, dalam sekejap
saja ia sudah melampaui orang lain. Sampai di depan Siau-lim-
si, kelihatan orang banyak sama mengalir masuk ke dalam
biara agung itu, tanpa pikir ia pun ikut menyelinap ke daiam.
Kompleks Siau-lim-si sangat luas, bangunan berates-ratus
banyaknya. Ia dengar para padri dan orang-orang Kai-pang
berteriak member semangat sambil putar ke sana sini di
antara ruangan dan pendopo yang tak terhitung banyaknya itu
untuk mencari Siau Wan-san ayah dan anak beserta Buyung
Bok ayah dan anak. Namun sampai sekian lama mereka ubek-
ubekan kian kemari tetap tidak menemukan jejak musuh,
bahkan suara saja tidak terdengar.
Orang banyak tampak hilir mudik kian kemari sambil saling
bertanya-tanya, "Di mana orangnya? Ketemu belum?"
Dan Siau-lim-si yang maha agung itu seketika berubah
menjadi seperti pasar ramainya.
Toan Ki sendiri juga bingung, tiba-tiba ia lihat dari pintu
samping sana menyelinap keluar seorang padri tua dengan
tindakan cepat seperti kuatir dipergoki orang. Ia menjadi
tertarik jangan-jangan ada rahasia apa-apa atas padri tua ini,
kalau aku mengintil di belakang padri ini mungkin akan dapat
menemukan jejak Siau-toako daripada mencarinya secara
ngawur, demikian pikirnya.
Segera dengan langkah "Leng-po-wi-poh" yang ajaib itu ia
menglntil di belakang si padri tua. Ia lihat pudri itu berlari ke
tengah hutan yang terletak di samping biara dengan
menyusur sebuah jalan kecil, sesudah membelok dan
menikung beberapa kali, tiba-tiba terbentang sebuah sungai
kecil dengan suara air yang gemercik. Ditepi sungai berdiri
sebuah gedung berloteng dengan megahnya. Dimuka gedung
terpancang sebuah papan bertulisan tiga huruf ”cong-keng-
kok” (gedung penyimpan kitab, gedung perpustakaan).
"Ceng-keng-kok Siau-lim-si sangat terkenal, kiranya
bangunan itu berada di sini dan bukan berada dalam biara
induk mereka," demikian pikir Toan Ki.
Dalam pada itu dilihatnya padri tua tadi langsung menuju
ke dalam Cong-kek-kok itu, maka Toan Ki juga menyusulnya
ke situ. Sampai di depan pintu mendadak dari dalam
melompat keluar dua orang padri setengah umur dan
merintanginya dengan menegur, "Sicu hendak ke mana?"
"Aku . . . aku ingin tahu . . . apakah . . . " sahut Toan Ki
dengan gelagapan.
"Hendaknya Sicu kembali saja, Cong-kang-kok kami bukan
tempat yang boleh dimasuki sembarangan orang," kata salah
seorang padri itu.
Dan padri yaug lain juga berkata, "Oràng she Siau itu tidak
berada di sini!"
"Jika begitu, akulah yang semberono, harap Taisu
memaafkan," kata Toan Ki.
"Ya kami terpaksa menjalankan kewajiban, harap sicu
jangan marah," sahut kedua padri itu.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara seorang
berkumandang keluar dari dalam gedung perpustakaan itu,
”Kau lihat mereka menuju ke jurusan mana?"
Toan Ki kenal suara itu adalah suara Hian Cit. Lalu
terdengar seorang menjawab, "Tecu berempat berjaga di sini,
ketika padri jubah putih itu menerobos masuk kemari,
sekaligus Tecu, Berempat lantas tertutuk sehingga tak
sadarkan diri. Waktu Supek membangunkan Tecu, sementara
itu padri jubah putih itu entah menghilang ke mana."
"Daun jendela ini lantas rusak, Mungkin orangnya
menerobos dan lari ke belakang gunung." demikian terdengar
suara seorang tua lain.
"Ya, tampaknya memang begitu," terdengar Hian-cit
menjawab.
"Dan entah kitab apa yang telah mereka curi dari dari
gedung ini?" ujar padri tua tadi.
"Mereka sudah sembunyi selama berpuluh tahun di sini
dan tiada seorang pun di antara kita yang tahu, sungguh kita
terlalu goblok.", ujar Hian cit. Dan kalau mereka mau mencuri
kitab, bilamana berpuluh tahun itu mereka dapat mencuri
dengan sepuas-puasnya, masakah mesti tunggu sampai
sekarang?"
"Benar juga ucapan Suheng," sahut padri tua. Berbarang
terdengar kedua orang sama-sama menghela napas, agaknya
mereka sangat lesu dan sedih terhadap apa yang telah terjadi.
Toan Ki merasa tidak enak mendengarkan pembicaraan
urusan mereka, maka ia memberi hormat kepada kedua padri
setengah umur tadi, lalu tinggal pergi.
Padahal pembicaraan Hian-cit dengan kawánnya itu
dílakukan di dalam gedung dan dengan suara pelahan, cuma
iwekang Toan Ki sekarang sudah sangat tinggi, maka ia dapat
mendengarnya, sebaliknya kedua padri penjaga pintu itu sama
sekali tidak mendengar apa pun.
Begitulah pelahan Toan Ki berjalan pergi sambil berpikir,
"Mereka mengatakan Siau-toako telah menuju ke belakang
gunung, biarlah aku menyusulnya ke sana."
Lereng pegunungan Siau-lim-san ¡tu sangat rindang
dengan hutan lebat dan jalanan terjal. Sesudah beberapa li
jauhnya, Toan Ki tidak mendengar lagi suara ramai-ramai di
dalam Siau lim-si itu. Keadaan berubah menjadl sunyi senyap,
meski tatkala itu sebenarnya dalam musim panas.
Diam-diam Toan Ki merasa lega demi melihat keadaan
hutan pegunungan yang mudah bagi Siau Hong dan ayahnya
untuk melarikan diri bila dikerubut para ksatria Tionggoan.
Sebaliknya ia jadi kuatir pula kalau sang Toako sampai
membinasakan Buyung Bok ayah dan anak, untuk ini tentu
Giok-yan akan merana seumur hidup dan ini sesungguhnya
juga tidak diharapkannya.
Teringat ada kemungkinan Buyung Hok akan terbunuh
oleh Siau Hong, tanpa terasa ia menjadi bimbang dan berjalan
menurut arah langkah dan makin jauh makin tinggi ke atas
lereng gunung. Tiba-tiba terdengar suara orang berkhotbah
dalam agama Budha, suaranya ramah tapi tandas.
Toan Ki merasa girang, ia pikir kalau di sini ada orang,
”ada baiknya tanya padanya apakah melihat Siau Toako atau
tidak?"
Segera ia menuju ke arah suara orang itu. Sesudah
menyusuri sebuah hutan bambu tiba-tiba tertampak di tanah
hutan bambu itu ada sebuah pelataran di situ berkumpul
beberapa orang. Seorang padri berjubah warna kelabu duduk
mengdengkur di atas sebuah batu karang dan suara khotbah
itu diucapkan olehnya.
Di depan padri itu berlutut beberapa orang bukan saja
termasuk Siau Wan-san, Siau Hong, Buyung Bok dan Buyung
Hok, bahkan padri Thian tiok Cilo Singh dan Polo Singh Sin-
kong, Siangjin Liong-beng Siansan, To-jing Taisu dan lain-lain
serta beberapa padri agung angkatan "Hian" dari Siau-lim-si
juga berlutut di situ. Beberapa meter di sebelah sana tampak
berdiri Cumoti, itu Imam negara Turfan.
Semua orang yang berlutut itu sama menunduk dengan
penuh khidmat mendengarkan khutbah padri jubah kelabu itu
sebaliknya air muka Cumoti tampak mengunjing sikap
mengejek dan merasa tidak sependapat dengan khotbah itu.
Toaa Ki heran mendengar khotbah yang mengandung
filsafat orang hidup dan penuh keberatan itu. Ia lihat jubah
padri itu serupa dengan jubah padri Siau-lim-si, malahan dari
dandanannya kentara kalau kedudukannya sangat rendah,
mungkin padri tukang sapu atau tukang kebun, tapi entah
mungapa para padri agung Siau-lim-si, Siau-toako dan lain-
lain sama berlutut mendengarkan khotbahnya?
Pelahan Toan Ki mendekatinya dengan mengitar ke depan
sana agar dapat melihat jelas wajah padri jubah kelabu itu,
dan untuk itu ia harus menuju ke belakang Siau Hong dan
lain-lain. Karena tidak ingin mengagetkan orang lain, Toan Ki
sengaja membikin pelahan langkahnya dan memutar agak
jauh dengan berjinjit-jinjit. Waktu dekat di sebelah Cumoti.
Tiba-tiba dilihatnya padri itu menoleh padanya dengan
tersenyum, terpaksa Toan Ki juga membalasnya dengan
tersenyum, Tak terduga pada saat itu juga sekonyong-
konyong terasa ada serangkum angin maha kuat menyambar
ke dadanya.
Toan Ki tahu gelagat jelek, sambil menjerit kaget segera ia
bermaksud menggunakan Lak-meh-sin-kiam untuk melawan,
tapi sudah terlambat, dada lantas terasa kesakitan, dalam
keadaan samar-samar masih didengarnya ada orang
bersabda, "Siancai! Siancail"
Habís itu ia lantas tak sadarkan diri . . . .
Kiranya tadi sesudah penyamaran Buyung Bok terbongkar
oleh Hian-cu, ia tahu dirinya sudah terlalu dibenci oleh para
ksatria Tionggoan, maka cepat ia berlari ke atas gunung, ia
tahu komplek bangunan Siau-lim-si itu sangat luas dan sudah
hapal baginya, asal dia sembunyi di salah satu tempat itu
tentu akan sukar ditemukan orang.
Tak terduga Siau Wan-san dan Siau Hong terus
mengejarnya dengan kencang, terutama Siau Hong yang lebih
muda dan tangkas, ketika sampäi di depan biara Siau-lim-si,
jarak mereka sudah tinggal belasan meter saja. Melihat lawan
hampir lari masuk ka dalam pakarangan biara itu, sambil
menggertak segera Siau Hong melontarkan pukulan dahsyat
dari jauh.
Karena serangan itu, terpaksa Buyung Bok terus membalik
tangannya untuk menangkis, ketika kedua tenaga pukulan
beradu, lengan Buyung Bok terasa sakit pegal tergetar, Ia
terkejut, ia tidak menduga bahwa musuh yang masih muda itu
memiliki tenaga sedemikian lihainya. Sekali menyelinap, cepat
ia menyusup masuk ke dalam Siau-lim-si.
Sudah tentu Siau Hong tidak tinggal diam, segera ia
memburu. Sesudah ubek-ubekan, akhirnya Buyung Bok lari
sampai di 'Cong keng-kok,’ Buyung Bok menerjang ke dalam
gedung ini dengan menjebol jendela dan sekaligus menutuk
pinggang empat padri penjaga di situ, Lalu ia membalik tubuh
dan menantang, "Siau Wan-san, apakah kalian ayah dan anak
akan maju berbareng atau kita berdua saja yang bertempur
mati-matian!"
Siau Wan-san tidak lantas manjawab ia merintangi dulu
jalan keluar dan berkata kepada Siau Hong, "Nak, kau cegat di
depan Jendela, jangan sampai dia lolos."
Sesudah Siau Hong mengiakan lalu mereka ayah dan anak
mengambil kedudukan mengepung sehingga Buyung Bok tak
bisa lari lagi, kemudian Siau Wan-san berkata, “Permusuhan
kita terlalu mendalam dan baru akan berakhir bila ada yang
mati. Karena ini bukan pertandingan biasa, sudah tentu kami
ayah dan anak akan maju sekaligus untuk mencabut
nyawamu!”
Buyung Bok terbahak-bahak selagi hendak menjawab,
tiba-tiba terdengar suara tindakan orang dan muncul seorang
kiranya Cumoti. Dia memberi hormat kepada Buyung Bok dan
berkata, ”Buyung sicu, sejak berpisah di Thian-tiok, kemudian
kabarnya engkau telah wafat, sungguh aku ikut berduka cita.
Tak tahunya sicu sengaja mengasingkan diri dengan maksud
tujuan tertentu, sungguh menggembirakan hari ini dapat
bertemu pula di sini.”
"Ah, karena terpaksa, aku mesti pura-pura mati sehingga
memb¡kin Taísu ikut kuatir, sungguh memalukan," sahut
Buyung Bok sambil memberi hormat.
Mendengar percakapan mereka itu, Siau Wan-san saling
pandang dengan Siau Hong. Mereka menduga jika Cumoti
yang lihai itu adalah sahabat Buyung Bok, maka sebentar
padri itu tentu akan membantu pihak lawan dan menang atau
kalah menjadi sukar diramalkan lagi.
Dalam pada itu terdengar Cumoti berkata pula, "Dahulu
Siauceng pernah mendengar uraian Buyung siansing tentang
ilmu pedang di dunia ini katanya 'Lak-meh-sin-kiam' dari
negeri Taili adalah ilmu pedang nomor satu di dunia, tapi
Siansing merasa menyesal karena selama hidup ini tidak
pernah melihatnya. Maka sesudah kudengar berita duka
tentang wafatnya Siansing, segera kupergi ke Taili untuk
memohon kitab Lak-meh-sin-kiam agar dapat kubakar di
depan makam Siansing sekedar sebagai tanda baktiku kepada
sahabat lama. Tak tersangka si tua Koh-eng di Thian-liong-si
itu teramat licik, pada detik terakhir dia menggunakan tenaga
dalamnya untuk merusak kitab pusaka itu sehingga cita-cita
Siauceng untuk memenuhi kewajiban sebagai sahabat tidak
terkabul, sungguh aku sangat menyesal dan malu.”
"Walaupun maksud baik Taisu tidak terlaksana tapi
terhadap pikiran Taisu itu sungguh aku merasa sangat
barterima kasih," ujar Buyung Bok, "Apalagi Lak-meh-sin-kiam
keluarga Toan itu masih tetap dipahami keturunannya, tadi
ketika Toan-kongcu, bertempur dengan putraku yang tak
becus itu, dari gaya dan daya ilmu pedang itu tampak sekali
memang tidak bernama kosong untuk disebut sebagai ilmu
pedang nomor satu di jagat ini."
Pada saat itulah tiba-tiba muncul pula seorang itulah dia
Buyung Hok. Dia agak ketinggalan di belakang sehingga waktu
masuk ke Siau-lim-si lantas kehilangan jejak ayahnya dan Siau
Wan-san berdua. Ketika mencari sampai di Cong-keng-kok
sudah didahului Cumoti pula. Kebetulan ia dapat dengar
ucapan ayahnya tentang dia ditaklukan Toan Ki dengan Lak-
meh-sin-kiam itu, keruan ia menjadi malu.
Sementara itu Buyung Bok berkata pula kepada Cumoti
"Kedua orang ini sudah bertekad akan membunuh diriku entah
bagaimana pendapat Taisu?”
"Sebagai sahabat mana dapat kutinggal diam?" sahut
Cumoti.
Melihat Buyung Hok juga sudah tiba. Siau Hong menjadi
lebih prihatin karena pihak lawan sekarang telah berubah
menjadi tiga orang sedangkan pihak sendiri hanya berdua
saja. Walaupun kepandaian Buyung Hok agak lemah, tapi juga
tidak boleh dipandang ringan.
Namun sadar Siau Hong memang gagah berani dalam
keadaan semakin sulit semakin membangkitnya jiwa
kepahlawanannya, maka dengan suara keras segera ia
membentak, "Pendek kata urusan hari ini harus ada
penyelesaian yang pasti sebelum terjadi mati dan hidup tidak
nanti berakhir. Nah, sambutlah seranganku!"
Habis berkata, kontan ia menghantam ke arah Buyung
Bok.
Cepat Buyung Bok mengebaskan lengan baju dengan
sekuatnya untuk mematahkan serangan itu. Maka
terdengarlah suara "brak" yang keras sebuah rak kayu hancur
berantakan. kitab di atas rak itu pun jatuh berantakan.
"Lam Buyung, Pak Kiau Hong! Nyata memang tidak
bernama kosongi" seru Buyung Bok dengan tersenyum. "Siau
hong, aku ingin bicara sedikit, entah kamu mau
mendengarkan atau tidak?”
"Betapapun engkau akan putar lidah dan bermulut manis
jangan harap akan dapat membatalkan maksudku membalas
sakit hati terbunuhnya istriku," sahut Siau Wan-san,
"Melihat keadaan sekarang, biarpun engkau tetap ingin
membunuhku untuk membalas dendam toh rasanya tidak
mudah," sahut Buyung Bok. "pihak kami ada tiga orang,
sedangkan kalian cuma berdua, coba katakan apakah engkau
yakin pasti akan menang?"
"Biarpun kekuatan pihakmu lebih besar, seorang laki-laki
sejati kenapa mesti gentar menghadapi lawan yang lebih
banyak!" sahut Siau Wan-san.
"Ya, memangnya ksatria sebagai kalian pernah gentar
terhadap siapa?" kata Buyung Bok. "Tetapi takut atau tidak,
yang terang bila kalian ingin membunuh aku pasti tidak
gampang lagi. Maka aku ingin mengadakan kompromi
denganmu, bila kupenuhi cita-cita kalian dalam hal membalas
dendam, hendaknya kalian juga memenuhi suatu
permintaanku."
Siau Wan-san dan Siau Hong menjadi heran dan curiga,
untuk sekian lamanya mereka tidak sanggup menjawab.
Maka Buyung Bok berkata pula, "Asal kalian sanggup
memenuhi syaratku ini, maka kalian boleh maju untuk
membunuhku, untuk ini aku akan mandah dibunuh dan takkan
melawan, Cumoti Suheng dan anak Hok juga tidak boleh
menolongku."
Ucapan ini tidak cuma membuat Siau Hong berdua merasa
heran, bahkan Cumoti dan Buyung Hok juga terkejut. Segera
Buyung Hok berseru, "ayah, Kita kan sudah menang jumlah
orang . . . .”
Cumotl juga berkata, "Ya, kenapa Buyung siansing omong
demikian? Asal aku masih berada di sini, sudah tentu takkan
kubiarkan siapa pun mengusik engkau."
Namun Buyung Bok menjawab, "Maksud baik Taisu
sungguh kuterima dengan terima kasih. Kepada Siau-heng
ingin kuminta penjelasan sesuatu dulu. Dahulu aku sengaja
menyampaikan berita palsu sehingga terjadi malapetaka
besar, apakah Siau-heng mengetahui bagaimana maksud
tujuanku dengan melakukan perbuatan yang rendah itü?”
"Kamu memang manusia rendah dan pengecut segala
kejahatan juga biasa kaulakukan masakah pakai maksud
tujuan apa segala?" damprat Siau Wan-san dengan murka,
dan begitu melangkah maju. Segara ia menghantam.
Namun Cumoti lantas melompat ke depan dan
menangkiskan serangan itu, "Plak" kedua tenaga pukulan
beradu dan ternyata sama kuatnya sehingga diam-diam kedua
orang saling kagum terhadap lawan masing-masing.
"Hendaknya Siau heng jangan marah dahulu harap
dengarkan uraianku sehingga selesai," kata Buyung Bok, "Aku
Buyung Bok jelek-jelek juga mempunyai sedikit nama di dunia
kangouw selamanya aku tidak kenal dengan Siau-heng dan
dengan sendirinya kita tidak parnah bermusuhan dan
mempunyai dendam apa pun, Menganai Hian-cu Hongtiang
dari Siau-lim-si, bahkan aku adalah sobat baiknya yang lama.
Maka kalau aku sampai mencari akal untuk mengadu domba
kalian, jika dipikirkan secara mendalam, mustahil aku tidak
mempunyai maksud tujuan tertentu."
"Maksud tujuan tertentu apa? Coba ka . . . katakan!" teriak
Siau Wan san dengan mata melotot dan marah membara.
"Siau-heng, engkau adalah bangsa Cidan, sedangkan
Cumoti Suheng ini orang Turfan, bagi jago silat Tionggoan
kalian dianggap sebagai bangsa asing dari negeri lain,"
demikian tutur Buyung Bok. "sudah terang putramu adalah
Pang-cu Kai-pang dengan ilmu silat yang tinggi dan
kecerdasan yang terpuji, seorang ksatria yang sukar dicari
yang pernah menjabat Pang-cu mereka, tetapi demi anggota.
Kai-pang mengetahui dia adalah bangsa Cidan, serentak
mereka membangkang, bukan Cuma tidak mengakui dia
sebagai Pangcu, bahkan semua orang hendak membunuhnya.
Coba katakan, Siau-heng, apakah itu adil?”
"Kerajaan Song dan Liau sudah ratusan tahun lamanya
berperang," sahut Siau Wan-san. "setiap kali kedua bangsa itu
bertemu di perbatasan tentu saling membunuh, hal ini sudah
terjadi sejak dulu. Maka kalau orang Kai-pang mengetahui
anakku adalah bangsa musuh, sudah tentu mereka tidak
mengakuinya sebagai Pancu. Soal ini masuk diakal, tak dapat
bicara tentang adil dan tidak.”
Jilid ke-76
Sesudah merandek sejenak, lalu Siau Wan-san
menyambung pula, "Seperti istriku telah dibunuh oleh Hian-
Cu, Ong Kiam-thong dan lain-lain, hal ini juga bukan maksud
mereka yang sebenarnya. Andaikan sengaja juga tidak perlu
diherankan karena antara kedua bangsa memang sedang
bermusuhan. Tetepi kamu sengaja memfitnah dan mengadu
domba, kejahatanmu ini tak dapat diampuni.”
"O, jadi kalau menurut pendapat Siau heng, pertentangan
di antara kedua Negara, baik dalam keadaan perang dan
saling membunuh, yang diutamakan adalah mengalahkan
musuh dan mencapai kemenangan, apakah tidak perlu
menjaga kehoramatan dan menjunjung keluhuran budi?"
tanya Buyung Bok.
"Di medan perang boleh digunakan segala akal dan siasat
untuk mengalahkan musuh, hal ini adalah jamak, buat apa
kau bicara tentang urusan yang tiada sangkut-pautnya dengan
perkara kita sekarang?”
Buyung Bok tersenyum, tiba-tiba ia Tanya pula, "Siau-
heng, kau sangka aku Buyung Bok ini orang dari mana?"
“Koh-soh Buyung, siapa yang tidak kenal? adalah bangsa
Han di daerah Kanglam, masakah perlu engkau menguji aku?"
sahut Siau Wan-san.
"Hahaha justru salahlah sangkaan Siau-heng ini!” kata
Buyung Bok sambil tertawa dan menggoyang kepala. Tiba-tiba
ia berpaling kepada Buyung Hok dan berkata, "Nak, kita ini
bangsa apa?"
"Keluarga Buyung kita adalah bangsa Sianbi, kerajaan Yan
kita dahulu pernah mengguncangkan daerah sekitar Hopak
dan mendirikan negeri yang jaya, cuma sayang musuh terlalu
licin dan ganas sehingga kerajaan kita tertumbangkan,”
demikian sahut Buyung Hok.
"Ayah sengaja memberikan nama 'Hok' (membangun
kembäli) padamu, apakah artinya itu?" tanya Buyung Bok
pula.
"Mungkin ayah ingin anak senantiasa ingat kepada pasan
leluhur kita agar jangan lupa berusaha membangun kembali
kerajaau Yan kita." sahut Buyung Hok.
"Coba keluarkan cap mustika kerajaan kita dan perlihatkan
kepada Siau-siansing berdua," kata Buyung Bok.
Buyung Hok mengiakan dan mengeluarkan sebuah cap
ukiran dari batu kemala hitam persegi. Di atas cap kemala itu
terukir seekor macan tutul yang sangat indah. Ketika Buyung
Hok mengangkat capnya, maka tertampaklah huruf-huruf
yang terukir pada cap itu.
Dengan pandangan yang tajam segera Siau Wan-san, Siau
Hong dan Cumoti dapat melihat bahwa pada setempel itu
terukir tulisan "Pusaka Raja Yan" Mungkin sudah terlalu tua
setempel itu sehingga bagian ujung kelihatan gumpal sedikit.
Tapi terang bukan barang buatan baru walaupun susah
dibedakan tulen atau palsunya.
Lalu Buyung Bok berkata pula, "Coba keluarkan sekalian
daftar silsilah kerajaan Yan kita agar dibaca Siau-siansing."
Kembali Buyung Hok mengiakan. Ia simpan dulu setempelnya,
lalu mengeluarkan sebuah bungkusan sehelai kain minyak,
dari dalam bungkusan la keluarkan sehelai kain sutra kuning
yang tertampak tertulis dua macam huruf. Yang sebelah
kanan hurufnya tak dikenal mungkin tulisan Sianbi, Tapi huruf
sebelah kiri adalah tulisan Han yang jelas tertera nama-nama
raja kerajaan Yan dimulai sejak cikal-bakal mereka dan pada
baris yang terakhir terbaca nama "Buyung Hok," di atas nama
Buyung Hok tertampak pula tertulis nama "Buyung Bok.”
"O, jadi Buyung-siansing sebenarnya adalah pangeran
kerajaan Yan, maafkan bila aku bersikap kurang hormat," kata
Cumoti.
"Ah, aku sendiri dapat selamat sampai sekarang sudah
terhitung untung," ujar Buyung Bok dengan menghela napas.
"Siau heng, sesuai dengan pesan leluhur maka jika keluarga
Buyung dari Sianbi kami ingin membangun kembali kerajaan
Yan, menurut pendapatmu usaha kami ini pantas atau tidak?"
"Yang menang menjadi raja, yang kalah menjadi
penyamun, setiap ksatria ada hak buat berebut kemenangan,
kenapa mesti tanya tentang pantas dan tidak!'' sahut Wan-
san.
"Bagus! Ucapan Siau-heng ini sangat cocok dengan
pikiranku," ujar Buyung Bok. "Jadi kalau keluarga Buyung kami
ingin membangun kembali kerajaan Yan, untuk itu dengan
sendirinya diperlukan kesempatan yang baik. Mengingat
kekuatan kami terlalu lemah dan orang kami terlalu sedikit
untuk membangun kembali suatu negara sudah tentu amat
sukar. Dan kesempatan satu-satunya yang terbuka adalah
bilamana dunia ini kacau-balau bila di seluruh pelosok terjadi
peperangan.
"Hm, jadi kau sengaja membuat berita palsu untuk
mengadu domba, maksud tujuanmu supaya Song dan Liau
berperang dan kaupun akan dapat mengaduk di air keruh?"
jengek Siau Wan-san.
"Benar," jawab Buyung Bok, "kalau terjadi peperangan
antara Song dan Liau, maka kerajaan Yan akan mendapat
kesempatan untuk bergerak."
"Ya. jika terjadi seperti apa yang digambarkan Buyung-
slansing, maka bukan saja kerajaan Yan ada harapan
dibangun kembali, bahkan kerajaan Turfan kami juga dapat
membagì sedikit rejeki," ujar Cumoti.
Namun Siau Wan-san lantas mendengus dan melirik kedua
orang itu dengan menghina.
Tapi Buyung Bok berkata pula, "Putramu menjabat Lam-ih
Tai-ong di negeri Lian, dia memegang kekuasaan militer yang
besar dan berkedudukan di Lamkhia. Jika dià mengerahkan
pasukannya ke selatan dan menduduki daerah utara lembah
Hongho, maka maju setindak lagí dia dapat mengangkat diri
sendiri sebagai raja, kalau tidak ia pun akan tetap disegani
oleh raja Liau. Tatkala mana dia akan sekaligus dapat
menumpas kaum ksatria Tionggoan seperti menginjak semut
mudahnya, dengan demikian dapatlah dia melampiaskan
dendamnya waktu dipecat dan diusir oleh orang Kai-pang."
"Huh, maksudmu kau ingin anakku berjuang bagimu agar
kau sempat menggagap ikan di air keruh dan mambantu
ambisimu yang besar untuk membangun kembali kerajaan
Yan." jengek Siau Wan-san.
"Betul," kata Buyung Bok. "Dan bila sudah begitu, maka
pasukan kami akan dapat bergerak dan membantu pihak Lian,
malahan Turfan, Se he dan Taìli juga dapat bergerak
sekaligus, berlìma negara dapat membagi-bagi kerajaan Song
sebaliknya takkan merugikan kerajaan Liau, bahkan
menguntungkan, masa Siau-heng tidak mau?"
Bicara sampai di sini, mendadak Buyung Bok
mengeluarkan Sebilah belati yang mengkilat terus ditancapkan
di atas meja sebelahnya, lalu berkata pula, "Nah. asal Siau-
heng mau menerima usulku ini, maka boleh silakan segera
mencabut nyawaku untuk membalaskan sakit hati nyonya,
untuk itu
sama sekali aku takkan melawan."
Dan "bret", berbareng ia robek baju sendiri sehingga
kelihatan dadanya.
Uraian Buyung Bok itu sungguh di luar dugaan Siau Wan-
san dan Siau Kong. Mereka sama sekali tidak menduga bahwa
dalam keadaan yang menguntungkan bagi pihaknya itu
Buyung Bok terima dibunuh tanpa, melawan. Maka untuk
sesaat Siau Wan-san berdua menjadi bingung dan tak dapat
menjawab.
Tiba-tiba Cumoti berkata, "Buyung-siansing, kata
pribahasa, kalau bukan bangsa sendiri tentu pikirannya tidak
sama. Apalagi urusan kenegaraan seharusnya tidak segan-
segan main muslihat dan buat licin. Jika Buyung-siansing nanti
meninggal dengan sukarela, sebaliknya ayah dan anak she
Siau itu tidak menepati janji bukankah kematianmu
menjadi sia-sia belaka?"
"Siau-heng sudah mengasingkan diri selama berpuluh
tahun dan baru sekarang muncul di dunia ramai tapi putranya,
Siau-taihiap adalah seorang ksatria termashur, namanya
terkenal di seluruh jagat, kata-katanya seperti emas, mana
bisa mereka ingkar janji?" ujar Buyung Bok. "Sedangkan untuk
seorang nona cilik yang bukan sanak dan bukan kadang saja
dia sudi berkorban dan menghadapi bahaya, masakah
sekarang dia mau ingkar janji sesudah membunuh aku? Sudah
lama kuperhitungkan kejadian ini usiaku sudah lanjut dengan
jiwaku yang sudah lapuk ini untuk menukar tahta, kesempatan
baik ini tidak boleh kusia-siakan!"
Melihat kesungguhan Buyung Bok itu, untuk sejenak Siau
Wan-san menjadi ragu. Ia tanya Siau Hong, "Anakku,
tampaknya orang ini bersungguh-sungguh. Bagaimana dengan
pendapatmu?"
"Tidak boleh jadi!" sahut Siau Hong sambil mendadak
memukul ke arah meja. "Brak", meja itu pecah berantakan
dan belati yang menancap di atasnya menembus papan loteng
dan jatuh ke tingkat bawah Cong-keng-kok itu. Lalu katanya
dengan kereng, “Sakit hati terbunuhnya ibu mana boleh dijual-
belikan? Kalau dapat dibalas harus dibalas, kalau tidak dapat
balas biarlah jiwa kita ayah dan anak tamat di sini pula.
Perbuatan yang kotor dan rendah masakah sudi dilakukan
oleh kami ayah dan anak keluarga Siau?"
Sekonyong-konyong Buyung Bok terbahak-bahak sambil
menengadah, katanya, "Sudah lama kudengar kepandaian
Siau-taihiap tiada bandingannya dan mempunyai pengetahuan
yang luas, siapa tahu hanya seorang yang sok gagah belaka
dan tidak kenal akan kebaikan, Hehe, sungguh menggelikan,
hehe, sungguh mentertawakan!"
Siau Hong tahu orang sedang menyindirnya, namun tetap
jawabnya dengan dingin, "Baik Siau Hong seorang ksatria atau
seorang bodoh, pendek kata tidak sudi diperalat untuk
memenuhi cita-citamu."
"Kauterima gaji rajamu dan harus setia pada kerajaanmu,
tapi kamu cuma ingat pada sakit hati orang tua dan tidak
pikirkan kesetiaan kepada negara, apakah kalian sudah
memenuhi kewajibanmu sebagai pengabdi kerajaan Liau?”
tanya Buyung Bok.
Sambil melangkah maju setindak Siau Hong menjawab
dengan bersitegang, "Apakah kau pernah menyaksikan saling
membunuh secara kejam di daerah perbatasan antara rakyat
Song dan Liau? Apa pernah kau lihat keluarga rakyat kedua
negeri tercerai-berai oleh karena peperangan? Syukurlah di
antara kedua negara telah berhenti perang selama beberapa
puluh tahun, bila sekarang mulai perang lagi, sekali pasukan
berkuda Cidan memasuki wilayah Song, apakah kau dapat
membayangkan betapa banyak orang Song akan menjadi
korban mencara mengerikan?"
Berkata sampai di sini ia lantas ingat kejadian bunuh
membunuh secara kejam antara prajurit Song dan Liau tatkala
mereka mengadakan "panen", maka dengan suara makin
lantang Siau Hong menyambung pula, "Padahal prajurit Song
berjumlah banyak dengan kekayaan alam yang cukup pula
asal mereka mendapat pimpinan panglima yang pandai dan
melabrak kita sekuatnya tidak mungkin kita dapat menang
biarpun kita bergabung menjadi satu. Dan banjir darah
demikian itu hasilnya akan memberi kesempatan kepada
keluarga Buyung kalian untuk membangun kembali kerajaan
Yan, sungguh enak betul perhitunganmu ini?"
"Siancai! Siancai!" demikian tiba tiba terdengar suara
seorang tua menyela di luar jendela. "Siau-kiau memiliki hati
bijak dan pikiran bijaksana sungguh seorang ksatria sejati."
Keruan kelima orang yang berada dalam kong-keng-kok itu
terkejut. Mereka tergolong tokoh-tokoh kelas wahid tapi
mereka sama sekali tidak tahu bahwa di luar jendela ada
orang mengintip pembicaraan mereka.
Maka Buyung Hok segera membentak, "Siapa itu?"
Bareng ia terus menghantam sehingga kedua sayap daun
jendela terpental dan jauh di bawah talang. Maka
tertampaklah di serambi sana seorang padri kurus kering
berjubah warna kelabu, sedang menyapu dengan
membungkuk. Usia padri itu sudah lanjut, rambutnya jarang
dan putih seluruhnya, gerak-geriknya lugas lamban seperti tak
bertenaga dan tampaknya tidak mahir ilmu silat.
"Sudah berapa lama kau sembunyi di sini?” kembali
Buyung Hok menegur.
Pelahan padri tua itu mengangkat kepalanya dia
menjawab, "Apakah Sicu tanya padaku sudah . . . . sudah
betapa lama sembunyi di sini!"
Dari suaranya semua orang yakin padri inilah yang
bersuara memuji ucapan Siau Hong tadi. Tertampak kedua
matanya menyipit dengan sinar mata yang buram tanpa
semangat.
"Ya, sudah berapa lama kau sembunyi di sini?" demikian
Buyung Hok mengulangi pertanyaannya.
Maka padri tua itu menekuk-nekuk jarinya, sesudah
menghitung sekian lamanya, akhirnya dia geleng kepala
sambil berkata dengan mengunjuk rasa menyasal, "Wah, aku .
. aku sudah lupa, entah sudah 42 tahun atau 43 tahun. Aku
masih ingat ketika malam pertama Siau-lokian ini datang
membaca kitab ke sini, tatkala itu aku . . . aku sudah belasan
tahun berada di sini. Kemudian .... kemudian Buyung lokian
juga datang dan tahun yang lalu itu padri Thian-tiok yang
bernama Polo Singh juga datang kemari buat mencuri kitab,
Ah, yang satu pergi dan yang lain datang lagi sehingga kitab
seluruh gedung ini entah diobrak-abrik tak karuan entah apa
yang dikehendaki kalian ini."
Kaget Siau Wan san tak terperikan. Padahal ia yakin tiada
seorang pun tahu ketika dia menyeludup ke dalam Siau-lim-si
untuk memperdalam ilmu silat mengapa padri tua ini dapat
mengetahuinya? Barangkali di bawah tadi padri ini telah
mendengar pembicaraanku dan sekarang sengaja ngaco belo
saja. Maka ia lantas berkata, "Tapi mengapa selama ini aku
tidak pernah melihat dirimu?"
"Dengan penuh perhatian Siau kisu sedang mempelajari
ilmu sakti Siau lim pai dengan sendirinya engkau tidak
memperhatikan diriku." Sahut padri tua itu, "Malahan aku
masih ingat pada malam pertama itu kitab yang dipinjam baca
oleh Siau-kisu kalau tidak salah adalah 'Bu-siang-hiat-ci-boh'.
Dan ai, sejak malam itu Siau-kisu lantas tersesat ke jalan yang
salah. Sayang, Sungguh sayangl"
Sungguh kaget Siau Wan-san tidak kepalang, sebab apa
yang dikatakan padri tua itu memang benar, kitab pertama
yang dibacanya dari gedung perpustakaan pada malam
pertama itu memang betul adalah 'Bu-siang hiat-ci-boh’.
Padahal waktu itu tiada orang lain yang tahu, masakah waktu
itu padri tua ini juga berada di sini dan menyaksikan sendiri?
Begitulah untuk sekian lama Siau Wan-san sampai ternganga
dan tidak sanggup bicara.
Lalu padri tua itu berkata pula, "Waktu Siau-kisu datang
lagi dan kitab yang dipinjam adalah 'Pau-yak-ciang hoat'.
Padahal sebelumnya sengaja kutaruh sejilid kitab 'Hoat-hoa
keng' (nama kitab Budha) di tempat yang suka digerayangi
olehmu dengan harapan isinya dapat dibaca dan dipahami
olehmu, tak terduga Siau-kisu sudah tenggelam dalam ilmu
silat sehingga sama sekali mengesampingkan ajaran-ajaran
Budha yang murni dan yang diutamakan adalah kitab ajaran
ilmu silat, sesudah mengambil lagi 'Hok-mo siang-hoat'
engkau lantas pergi dengan gembira. Ai, orang yang sudah
tersesat entah kapan baru akan sadar kembali?"
Kerana setiap tingkah-lakunya di Cong-keng-kok ini pada
30 tahun yang lalu telah diuraikan padri tua itu dengan tidak
salah sedikit pun, dari kaget pelahan Siau Wan-san menjadi
takut dan dari takut menjadi ngeri sehingga keluar keringat
dingin.
Kemudian padri tua itu berpaling ke arah Buyung Bok.
Melihat sinar mata padri yang buram tapi seakan-akan gaib
dan dapat menembus isi hatinya, setiap rahasia seakan-akan
telah diketahuinya dengan jelas mau-tak-mau Buyung Bok
merasa merinding juga.
Maka terdengar padri tua itu berkata lagi dengan
menghela napas, "Buyung kisu meski orang Sianbi, tapi turun
temurun sudah menetap di Kang lam, semula kukira Buyung-
kisu tentu akan mempelajari kitab Budha yang berada di sini,
tak tersangka baru menemukan sejilid Ciam-hoa-ci-hoat dan
Buyung-kisu lantas girang sekali seperti mendapat mustika."
Sungguh kejut Buyung Bok tak terkatakan sebab kitab
pertama yang dibacanya dalam gedung ini pada pertama kali
ia datang memang betul adalah 'Ciam hoa-ci' seperti dikatakan
padri tua itu. Padahal waktu itu ia telah periksa gedung itu dia
tidak menemukan orang kedua mengapa padri tua ini dapat
mengetahuinya? Ia dengar padri tua berkata pula, "Malahan
hati Buyung-kisu jauh lebih serakah daripada Siau kisu. Kalau
Siau kisu cuma mempelajari cara-cara mengatasi ilmu silat
Siau-lim pai sebaliknya Buyung kisu menguras seluruh ke 72
macam ilmu silat biara kami dan tiga tahun kemudian barulah
kau datang lagi ke sìnì. Tentu selama tiga tahun itu engkau
berusaha sebisanya untuk mamahami ke 72 macam
kepandaian itu boleh jadi sudah kau ajarkan pula kepada
putramu."
Sampai di sini sinar matanya lantas beralih ke arah Buyung
Hok, tapi cuma sekejap saja lantas menggeleng kepala. Ketika
la memandang Cumoti, tiba-tiba ia mengangguk dan berkata,
"O. tahulah aku! Rupanya usia putramu masih terlalu muda
sehingga tidak dapat mempelajari kungfu Siau-lim pai yang
hebat itu, maka telah kau ajarkan kepada seorang padri agung
negeri lain. Tai-lun Beng-ong, engkau salah sama sekali,
engkau telah mencampur aduk dan memutarbalikan kungfu
itu, maka sekarang bencana sudah berada di depan mata."
Cumoti tidak pernah kenal padri tua itu, dengan sendirinya
la tidak gentar padanya. Maka dengan sikap dingin ia
menjawab. "Kau bilang campur aduk putar balik serta bencana
apa segala? Ucapan Taisu ini apakah tidak terlalu dlbesar-
besarkan untuk menakut-nakuti?”
"Tidak, bukan sengaja dibesar-besarkan dan untuk
menakuti, tapi sesungguhnya," sahut si padri tua. "Beng-ong.
harap kau kembalikan saja kitab Ih-kin-keng itu padaku."
Baru sekarang Cumoti terperanjat, la heran dari mana
padri tua ini mengetahui dia telah merebut 'Ih-kin-keng' dari
orang berkepala besi (Goan-ci) itu? Masakah begitu gampang
aku disuruh menyerahkan padamu? Maka ia sengaja
menjawab, "Aku tidak paham 'Ih-kin-keng' apa yang Taisu
maksudkan? Entah kitab apakah itu?”
Maka padri tua itu berkata pula. "Tujuan murid Budha
belajar ilmu silat adalah untuk kesehatan badan, untuk
membela agama dan membasmi kejahatan, dalam
mempelajari setiap macam ilmu silat harus selalu berdasar
pada pikiran kebajikan dan welas asih. Kalau dasar
pengetahuan agama Budha belum kuat, maka pada waktu
belajar silat tentu akan merusak dirinya sendiri. Semakin tinggi
ilmu silatnya semakin berat luka badannya. Kalau yang
dipelajari hanya ilmu pukulan dan tendangan atau permainan
senjata kasaran saja memang tidak besar merugikan diri
sendiri asal badan sehat dan kuat masih dapat bertahan,
tetapi . . . . "
Sampai di sini, tiba-tiba dari bawah loteng melompat naik
beberapa hwesio. Mereka adalah Hian-seng dan Hian-peng
dari Siau-lim-pai, di belakangnya adalah Sin kong Sian-jin. To-
Jing Taisu. Polo Singh dan Cilo Singh dan paling akhir adalah
Hian cin dan Hian-ceng.
Mereka terheran-heran ketika melihat Siau Wan-san dan
anaknya. Buyung Bok dan anaknya serta Cumoti sedang
mendengarkan pembicaraan seorang hwesio tua yang tak
dikenal. Tapi mereka adalah padri saleh dan berpengelaman
mereka tidak lantas mengganggu melainkan berdiri di samping
untuk ikut mendengarkan apa yang dibicarakan.
Padri tua itu pun tidak menghiraukan para pendatang baru
itu, la masih meneruskan uraiannya, "Tetapi kalau yang
dipelajari adalah ilmu silat Siau-lim-pai kami yang tertinggi
sebangsa Ciam-hoa-ci-hoat. Pan-yah-ciang-hoat dan lain-lain
jika ajaran itu tidak dibarengi dengan pengetahuan ajaran
Budha yang welas-asih, maka akhirnya sifat keras dan angkuh
akan merasuk semakin mendalam dan jauh lebih celaka
daripada terserang oleh segala macam senjata atau racun . . .
."
Semua orang merasa ucapan padri tua itu, mengandung
falsafah yang dalam sehingga mereka sangat tertarik.
Maka padri itu melanjutkan, "Sudah ribuan tahun sejarah
Siau-lim-si kami dan dari dahulu kala hingga sekarang hanya
Tat-mo Cosu seorang saja yang serba pandai dalam macam-
macam ilmu selain beliau tidak pernah ada lagi. Kitab ke-72
macam ilmu silat itu selalu berada dalam gedung ini dan
selamanya terbuka untuk dibaca anak murid Siau-lim-pai.
Apakah Beng-ong tahu apa sebabnya?"
"Itu adalah urusan dalam biara kalian sendiri dari mana
orang luar bisa tahu?" sahut Cumoti.
Cian-seng, Hian-ceng dan lain-lain menjadi heran pula.
Kalau melihat dandanan padri tua ini jelas dia adalah padri
pekerja Siau-lim-si tapi mengapa mempunyai pengetahuan
agama sedalam itu.
Hendaknya diketahui bahwa padri pekerja di Siau-lim si itu
tidak diharuskan mengangkat guru? maka juga tidak
mendapat didikan ilmu silat. Tugasnya adalah mengerjakan
segala pekerjaan kasar seperti menyapu, mencuci dan
sebagainya. Mereka tidak termasuk dalam murid-murid
angkatan Hian
Hui, Hi dan Khong maka dengan sendirinya Hian-seng dan
padri agung lain tidak kenal padri tua ini.
Dalam pada itu si padri tua telah melanjutkan uraiannya,
"Ke-72 macam ilmu silat Siau-lim-si kami semuanya dapat
melukai dan membunuh orang, lihai dan ganas, sebab itulah
tiap-tiap macam ilmu silat itu harus disertai dengan ajaran
agama Budha adalah menolong sesamanya, sebaliknya ilmu
silat justru digunakan untuk membunuh sesamanya, keduanya
saling bertentangan. Maka harus diusahakan semakin tinggi
agamanya, semakin besar pikiran welas-asihnya, dengan
demikian barulah ilmu silat dapat diyakinkan dengan semakin
tinggi, namun para padri saleh yang sudah mencapai
tingkatan demikian tentu juga tidak sudi lagi mempelajari ilmu
membunuh lain yang lihai.”
"Omitohud! Mendengar uraian Taisu ini baru sekarang
pikiran Siauceng terbuka," demikian kata To-jing Taisu sambil
memberi hormat.
"Ah, itu cuma sedikit pendapatku yang Cupet, jika salah
masih diharapkan petunjuk dari kalian," sahut si padri tua.
"Harap Taisu sudi memberi ceramah püla," kata hadirin
yang lain.
Sebaliknya Cumoti sedang berpikir, “Ke-72 macam Ilmu
silat Siau-lim-pai itu telah dicuri oleh Buyung siansing dan
disebarkan keluar, tapi sekarang mereka menggunakan
seorang padri tua untuk main sandiwara dan membikin takut
orang lain supaya tidak berani meyakinkan ilmu silat sakti
mereka, Hehe, manakah aku Cumoti dapat ditipu segampang
ini?"
Terdengar si padri tua sedang berkata pula, "Di dalam
Siau-lim-si kami dengan sendirinya juga terdapat satu-dua
orarg yang terlalu kemaruk kepada Ilmu silat dan melupakan
pelajaran agama sehingga akhirnya Cai-hwe-jip-mo (tersesat
dan membakar diri sendiri) atau terluka dalam lumpuh dan tak
bisa disembuhkan. Dahulu Hian-ting Taisu yang berbakat Itu
dalam semalaman urat nadinya mendadak putus semua
sehingga menjadi cacat untuk selamanya. Sebabnya adalah
akibat seperti apa yang kukatakan tadi."
Tiba-tiba Hian-seng dan Hian-peng berlutut dan memohon,
"Taisu, apakah hian-ting Sute dapat ditolong?"
"Sudah terlambat, tak bisa ditolong lagi," sahut padri tua
itu. "Waktu Hian-ting Taisu memperdalam ilmu silatnya dì sini,
berulang kali pernah kuperingatkan dia tapi dia tetap tak
sadar. Sekarang urat-nadinya sudah putus, cara bagaimana
bisa ditolong?”
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara pelahan 'crit crit-
crit" tiga kali, habis itu lantas tak terdengar apa-apa lagi.
Hian-seng dan lain-lain tahu itulah ilmu jari Bu-siang-hiat-ci
golongan sendiri, maka mereka lama memandang ke arah
Cumoti. Air muka padri asing itu kelihatan agak berubah, tapi
sengaja tersenyum-senyum seperti titdak terjadi apa-apa.
Rupanya semakin mendengarkan uraian si padri tua tadi,
semakin penasaran rasa hati Cumoti. Ia sendiri sudah
mempelajari ke-72 macam ilmu sakti Siau-lim-pai itu, Mengapa
urat-uratnya tidak putus dan menjadi orang cacat? Maka
diam-diam ia melancarkan serangan ''Bu-siang-jiat-ci" ke arah
padri tua itu.
Tak terduga tenaga jarinya cuma berhenti di depan tubuh
padri itu seakan-akan terbentur oleh selapis dinding baja yang
maha kuat dan tak kelihatan, lalu tenaga tutukannya hilang
sirna. Keruan Cumoti terkejut, baru sekarang ia percaya padri
tua ini memang luar biasa dan bukan sengaja hendak
menggertak saja.
Namun padri tua itu anggap serangan Cumoti itu seperti
tidak terjadi, la masih berkata kepada Hian-seng dan Hian-
pang, "Harap kedua Taisu berbangkit. Aku sendiri adalah
petugas dalam Siau-lim-si, mana berani menerima
penghormatan kedua Taisu seperti ini?"
Seketika Hian-seng berdua merasa seperti diangkat oleh
suatu kekuatan yang tak kelihatan sehingga mau-tak-mau
mereka berbangkit, anehnya sedikit pun tidak kelihatan padri
tua itu bergerak. Karuan mereka terperanjat atas kesaktian
padri tua itu.
Padri tua melanjutkan uraiannya, "Ke-72 macam ilmu silat
Siau-lim si kita seluruhnya terbagi dalam hal daya-guna. Yang
dikatakan daya adalah kekuatan badaniah, dan guna adalah
cara menggunakannya. Seperti Tai-lun Beng-ong dan kedua
Polo dan Cilo Suheng dari Thian-tiok, pada badan mereka
sendiri memang sudah memiliki kekuatan iwekang yang tinggi
maka yang dipelajarinya dari biara kita hanya cara
menggunakan ke-72 macam ilmu itu saja walaupun juga
membahayakan, tapi sementara ini masih tidak kelihatan.
Yang diyakinkan Beng-ong sendiri bukankah 'Siau-bu-siang-
kang' dari Siau-yau-pai?”
Kambali Cumoti terkejut, dia mencuri belajar 'Siau-bu-siang
kang' dari Siau-yau-pai, hal ini sama sekali di luar tahu orang,
mengapa padri tua itu bisa tahu? Tapi lantas teringat olehnya,
"Ah, tadi Hi-tiok bertempur denganku, yang dia gunakan juga
Siau-bu-siang-kang. Besar kemungkinan Hi-tiok yang memberi
tahu padanya, kenapa aku mesti heran?"
Karena itu Cumoti lantas menjawab, "Meski Siau-bu-siang-
kang berasal dari golongan To, tapi paling akhir ini murid
agama Budha banyak yang mempelajarinya, maka ilmu ini
boleh dikatakan mencakup ajaran golongan To dan Bud.
Malahan dalam Siau-lim-si kalian sendiri juga terdapat ahli
ilmu itu."
"O, jadi dalam Siau-lim-li juga ada yang mahir 'Siau-bu-
siang-kang’? Baru sekarang kudengar," kata si padri tua
dengan terheran-heran.
Cumoti tidak menjawab lagi, tapi diam-diam ia
menganggap padri tua itu pandai main sandiwara dan pura-
pura tidak tahu.
Maka padri tua itu berkata pula, "Ilmu Siau-bu-siang-kang
memang sangat bagus dan sangat luas, dangan menggunakan
ilmu ini sebagai dasar akan dapat menggunakan ke-72 macam
ilmu silat Siau-lim-si kita. Cuma pada bagian yang paling
penting dengan sendirinya akan kentara ada sedikit
kejanggalannya."
Mendengar Keterangan ini, segera Hian-seng berpaling
kepada Cumoti dan berkata, "Jadi Beng-ong mengaku mahir
ke-72 macam ilmu sakti Siau-lim-pai kami, kiranya begitulah
cara kemahiranmu?"
Namun Cumoti hanya tersenyum saja tanpa menjawab
sindiran itu.
Dalam pada itu si padri tua telah meneruskan. "Bila Beng-
ong cuma mempelajari cara menggunakan ke 72 macam ilmu
silat itu, maka bahayanya tentu juga tidak seberapa dan tak
sampai membahayakan jiwa. Tapi saat ini 'Seng-Cu-hiat' di
badan Beng-ong telah timbul bintik merah dan bagian 'Bi-
olong-hiat' kentara agak gemetar, dari tanda-tanda ini terang
setelah Beng-ong mempelajari ke-72 macam ilmu silat kami,
lalu secara paksa menyakinkan pula lwekang 'lh-kin-keng' …..”
Sampai di sini mendadak ia berhenti dari sorot matanya
tampak sekali dia merasa sangat sayang dan kasihan kepada
orang yang bersangkutan.
Tiba-tiba Cumoti ingat sejak dapat merebut Ih-kin-keng
dari tangan si kepala besi karena tahu kitab itu adalah kitab
pusaka dunia persilatan, maka la lantas melatihnya dengan
giat. Tapi meski sudah dilatih ke sana dan ke sini tetap tiada
kemajuan. Namun dia tidak putus asa, la anggap kitab pusaka
yang namanya sederajat dengan Lak-meh-sin kiam di negeri
Taili itu tentu tidak dapat dipahami dalam waktu singkat maka
dia mempelajarinya dengan lebih tekun.
Sampai akhirnya la mulai merasa pikirannya menjadi
gelisah dan tidak tentram, semakin dilatih semakin tak keruan
jentrungannya. Jika demikian apakah yang dikatakan padri tua
ini memang ada benarnya. Apa latihanku sudah campur-aduk
dan terjungkir balik dan dalam waktu tingkat akan
membahayakan diriku sendiri? Tapi lantas terpikir olehnya
mungkin padri tua ini sengaja menakut-nakuti saja, kalau
masuk perangkapnya maka tamatlah namaku yang tersohor
selama ini. Karena itu ia tidak ambil pusing lagi terhadap
ucapan si padri tadi.
Dalam pada itu si padri tua sedang menatap padanya
dengan penuh perhatian mula-mula ia lihat air muka Cumoti
mengunjuk rasa kejut, lalu kuatir tapi kemudian mengangkat
kening seakan tidak percaya pada apa yang dikatakannya itu.
Maka padri tua memhela napas pelahan, lalu bertanya kepada
Siau Wan san "Siau-kisu paling akhir ini apakah kedua hiat-to
di bagian perutmu ada rasa sakit?”
Seketika badan Siau Wan-san tergetar, sahutnya cepat,
"Ya, penglihatan Taisu memang sangat jitu memang begitulan
halnya."
"Dan di bagian Koan-goan hiat yang mulai kaku dan mati
rasa itu bagaimana keadaannya sekarang?" tanya pula si padri
tua.
Siau Wan san tambah terkejut, sahutnya, "Tempat yang
kaku dan mati rasa ini mula-mula cuma sebesar mata uang,
sesudah sepuluh tahun kini telah berubah menjadi sebesar
mulut mangkok."
Mendengar itu, tahulah Siau Hong bahwa tanda-tanda
yang timbul pada hiat-to di badan ayahnya adalah akibat
melatih ilmu sakti Siau-lim-pai itu. Dan dari nada ucapan sang
ayah agaknya gangguan-gangguan itu sudah berlangsung
beberapa tahun lamanya dan tetap sukar lenyap sehingga
menjadikan kekuatiran besar bagi keselamatannya. Jika
demikian, apa alangannya kalau kiranya sekarang
memohonkan pertolongan kepada padri tua itu atas diri sang
ayah?
Begitulah, maka Siau Hong lantas melangkah maju dan
berlutut dihadapan si padri tua sambil berkata, "Jika Sinceng
(padri sakti) sudah tahu akan sumber penyakit ayahku, mohon
welas-asih Sinceng agar suka memberi pertolongan."
"Silakan bangun, Siau-kisu," kata si padri tua. "Jiwa Siau-
kisu terlalu bajik dan luhur, selalu mengutamakan kepentingan
sesamanya, engkau tidak mau menggunakan permusuhan
pribadi untuk membikin susah rakyat kedua negeri, atas
keluhuran budi Siau-kisu ini, permintaan apa pun juga pasti
akan kupenuhi dengan baik. Maka tidak perlu banyak adat."
Siau Hong sangat girang, sesudah menyembah pula dua
kali barulah ia berbangkit, Lalu padri tua itu bicara pula. "Siau-
lokisu sudah terlalu banyak membunuh orang dan
memperlihatkan korban orang yang tak berdosa, seperti
Kiau Sam-hoai suami istri dan Hian kok Taisu, mestinya
mereka tidak boleh dibunuh."
Sebagai seorang ksatria Cidan, meski usianya sekarang
sudah tua, tapi jiwa Siau Wan-san yang gagah perwira tetap
tidak berkurang, demi mendengar dirinya dicela, segera ia
menjawab, "Aku pun tahu lukaku terluka parah, tapi usiaku
sudah lanjut, putraku sudah jadi omong, biarpun aku akan
mati, apa yang mesti kusesalkan? Tapi kalau Sinceng ingin aku
mengaku salah, itulah tidak boleh jadi."
"Tidak berani kuminta Siau-sicu mengaku salah, semua
luka yang diderita Siau-kisu itu adalah lantaran menyakinkan
ilmu silat Siau-lim-pai, untuk bisa sembuh harus mencari
obatnya di dalam ajaran Budha," berkata sampai di sini tiba-
tiba padri tua itu menoleh kepada Buyung Bok dan
melanjutkan pula, "Buyung-kisu memandang kematian
sebagai pulang ke asalnya dan dengan sendirinya aku tidak
perlu banyak omong. Ketemu kalau kuberi petunjuk jalannya
sehingga Buyung-kisu terhindar dari siksaan seperti ditusuk
jarum setiap hari tiga kali yang timbul dari Yang-pek, Liau-
coan dan Hong-hu-hiat, lantas bagaimana Buyung sicu akan
bicara?''
Air muka Buyung Bok berubah hebat sehingga badan
gemetar. Memang ketiga hiat-to yang disebut itu pada tiap-
tiap hari waktu pagi, siang dan petang selalu menderita
kesakitan bagai ditusuk jarum. Rasa sakit itu makin lama
makin hebat dan tidak dapat disembuhkan dengan obat apa
pun. Bahkan kalau sedikit mengerahkan tenaga, seketika rasa
sakit seperti ditusuk jarum itu semakin merasuk ke tulang
sumsum, karena itulah sudah lama ia kehilangan gairah untuk
hidup terus. Makanya dia rela mati untuk menukar syarat
perjanjian dengan Siau-heng, walaupun katanya demi
membangun kembali kerajaan Yan mereka, tapi sebagian
besar juga lantaran dia telah menderita penyakit payah itu dan
benar-benar membuatnya bosan hidup.
Sekarang mendadak didengarnya padri tua itu menyebut
sumber penyakitnya dengan jitu, karuan kagetnya tak
terkirakan dan membikin hatinya menjadi tak karuan. Seketika
ia merasa penyakit ketiga hiat to yang disebut tadi kerasa
kembali. Padahal waktu itu mestinya belum tiba waktunya
penyakit itu kumat, tapi karena guncangan perasaan sehingga
menimbul kembali penyakitnya yang sudah ditahan itu.
Tapi sebagai seorang tokoh nomor wahid, sudah tentu
Buyung Bok cc|jgan memohon pertolongan kepada seorang
pedri tua yang tak terkenal itu. Maka dengan sekuatnya ia
mengertak gigi untuk menahan rasa tersksa itu.
Buyung Hok cukup kenal watak sang ayah yang suka
menang dan tidak mau mengalah itu, lebih suka terbunuh
daripada dihina di depan umum. Maka ia lantas melangkah
maju, ia memberi hormat kepada Siau Hong dan ayahnya
sambil berkata, "Selama gunung tetap menghijau dan air
sungai tetap mengalir, biarlah sementara ini kami mohon diri
dulu. Jika kalian tetap ingin menuntas balas kepada kami ayah
dan anak, maka kami akan menantikan kedatangan kalian di
tempat kediaman kami di Koh-soh."
Habis itu la lantas gandeng tangan ayahnya dan mengajak
meninggalkan gedung itu.
"jadi begitu tega kau biarkan ayahmu tetap menderita
siksaan penyakit jahat itu?" tanya padri tua.
Wajah Buyung Hok tampak pucat pasi, ia tidak menjawab,
ia tarik tangan ayahnya dan segera hendak bertindak pergi.
"Nanti dulu!" bentak Siau Hong mendadak "Apakah kalian
hendak merat dengan begini saja. Masakah di dunia ini ada
perkara seenak ini? Kalau ayahmu menderita penyakit,
seorang laki-laki sejati tidak nanti menyerang orang yang
sedang terancam bahaya, maka bolehlah dia dilepaskan. Tapi
kau sendiri kan sehat dan kuat!"
Buyung Hok menjadi naik darah, Ia balik membentak, "Jika
begitu, biarlah aku melayani Siau-heng saja!"
Siau Hong bahkan tidak bicara lagi dan kontan
menghantam dengan jurus "Kian-liong-cai-thiat” (nampak
naga di sawah), salah satu jurus serangan hebat dan Hang-
liong sip-pat-ciang.
Melihat serangan hebat itu, cepat Buyung Hok
mengerahkan seluruh tenaganya dan menangkis dengan
kedua tangan.
"Omitohud! Tempat suci ini jangan dibuat gaduh oleh
kalian sehingga membikin marah Budha," kata si padri tua
sambil merangkap kedua tangannya di depan dada.
Aneh juga, rangkapan kedua tangan padri tua itu seketika
berubah menjadi serangkum tenaga yang mirip dinding tak
berwujud dan tak teruntühkan serta mengalang di tengah-
tengah antara Siau Hong dan Buyung Hok sehingga tenaga
pukulan kedua orang yang maha dahsyat itu tertumbuk pada
dinding tak berwujud itu dan hilang sirna tanpa bekas bahkan
tanaga pukulan Siau Hong itu terasa t¡dak terpental balik
sedikit pun, tapi sama sekali lenyap ke dalam dinding tak
kelihatan itu.
Siau Hong terkesiap. Setama hidupnya belum pernah ia
temukan tandingan ia yakin biarpun ilmu silat Hi-tiok sangat
aneh dan lihai, ilmu pedang Toan Ki juga maha sakti namun
kepandaian kedua adik angkat itu toh masih kalah setingkat
daripada dirinya. Tapi sekarang padri tua yang tak terkenal ini
ternyata memiliki kekuatan yang jauh lebih besar daripada
dirinya, maka terang balas dendam hari ini pasti takkan
terkabul.
Dasar Siau Hong memang sangat berbakti kepada orang
tua, teringat keadaan sang ayah, segera ia memberi hormat
dan berkata kepada si padri tua, "Caihe adalah orang kasar
dan tidak kenal sopan-santun, harap Sinceng suka memberi
maaf."
"Mana, mana! Loceng justru sangat mengindahkan Siau-
kisu, sebutan ksatria sejati hanya engkau saja yang pantas
memperolehnya," kata si padri tua dengan tersenyum.
"Ayahku telah berdosa karena banyak membunuh orang,
sebab musababnya adalah lantaran diriku," ucap Siau Hong
pula. "Maka mohon Sinceng sukalah menyembuhkan luka
ayah, untuk segala dosa beliau itu biarlah Caihe yang akan
menanggungnya, biar mati pun Caihe rela."
Padri itu tersenyum, sahutnya, "Tadi sudah kukatakan jika
ingin menyembuhkan luka dalam Siau-lokisu, untuk itu harus
dicari melalui ajaran Budha. Budha timbul dari dalam hati,
Budha adalah kesadaran. Orang lain hanya dapat memberi
petunjuk saja dan tak dapat membantu dengan kekuatan.
Sekarang ingin kutanya Siau-lokisu, jika engkau dapat
menyembuhkan lukamu, apakah engkau juga mau
menyembuhkan luka Buyung-lokisu?"
Siau Wan-san melengak, sahutnya kemudian, "Aku di . . .
disuruh menyembuhkan luka Buyung, . . Buyung si laknat itu?”
"Mulutmu harus kenal balas,...tahu?'' bentak Buyung Hok
dengan gusar.
"Hm,..si laknat tua Buyung itu telah membunuh istriku
tercinta, dan menghancurkan hidupku ini, aku justru ingin
mencencangnya hingga hancur luluh," sahut Siau Waa-san
dengan mengertak gigi.
"O, jadi sebelum Siau-lokisu menyaksikan binasanya
Buyung-lokisu, maka dendam tetap tak terlampias?" tanya si
padri tua.
"Ya," jawab Siau Wan-san tegas. "Aku sembunyi selama 30
tahun di Siau-lim-si, maksud tujuanku justru ingin membalas
dendam."
"Apa susahnya untuk itu?" ujar si padri tua sambil
mengangguk. Tiba-tiba ia berbangkit dan mendekati Buyung
Bok dangan pelahan, mendadak ia mengangkat sebelah
tangannya terus menabok kepala Buyung Bok.
Tadinya Buyung Bok tidak menaruh perhatian apa-apa atas
diri padri tuà itu, demi nampak batok kepalanya mendadak
dihantam, cepat la angkat tangan untuk menangkis,
berbareng tubuhnya lantas menggeser mundur.
Dua gerakan ini luar biasa cepat dan tepatnya sehìngga
Siau Wan-san dan Siau Hong juga diam-diam mengagumi
kepandaian Buyung Bok itu.
Tak tersangka tabokan padri tua itu tetap dilanjutkan
dengan perlahan dan tahu-tahu "plok", dengan tepat "Pek-
hwe-hiat" di ubun-ubun kepala Buyung Bok kena ditabok.
Nyata tangkisan dan geseran Buyung Bok tadi sama sekali tak
dapat menolong dirinya dari serangan itu.
"Pek-hwe-hiat" adalah hiat-to paling lemah dan mematikan
di tubuh manusia, maka begitu kena tabokan itu seketika
tubuh Buyung Bok tergetar, napas lantas terhenti badan terus
roboh ke belakang.
Keruan Buyung Hok terkejut, cepat ia memburu maju dan
memayangnya sambil berteriak-teriak, "Ayah! Ayah!"
Ia lihat mata dan mulut sang ayah terkatup rapat, napas
sudah berhenti, waktu ia raba dadanya, ternyata jantungnya
juga berhenti berdenyut. Sungguh duka dan gusar Buyung
Hok tak kepalang sama sakali tak diduganya bahwa padri tua
yang mengoceh tentang welas-asih dan kebajikan segala itu
bias mendadak turun tangan keji dan membunuh ayahnya.
"Kau . . . . kau bangsat gundul tua bangka!" teriak Buyung
Hok dengan murka. Ia sandarkan jenazah ayahnya di samping
tiang, lalu menubruk maju, kedua tangan menghantam
berbareng dengan dahsyat.
Tapi padri tua itu sama sekail tak ambil pusing. Ketika
tenaga pukulan Buyung Hok tampil mengenai tubuh si padri,
tahu-tahu terasa lepas tertumbuk pada dinding yang tak
berwujud bahkan Buyung Hok sendiri lantas terpental hingga
membentur sebuah rak kitab. Anehnya tenaga pukulan
Buyung Hok yang mengenai dinding tak berwujud itu seakan-
akan punah, sebaliknya ia merasa seperti didorong oleh suatu
tenaga yang lunak sehingga punggungnya yang membentur
rak kitab itu tidak sampai membuat rak itu roboh, bahkan
kitab-kitab yang penuh tertaruh di atas rak juga tidak terjatuh
sejilid pun.
Dasar Buyung Hok memang sangat cerdik, meski la sangat
berduka alas meninggalnya sang ayah, Tapi ia pun tahu ilmu
silat padri tua itu berpuluh kali lebih lihai daripada dirinya, jika
pakai kekerasan terang tiada gunanya. Maka ia lantas
bersendar di rak buku itu, pura-pura terengah-engah
napasnya, tapi diam-diam memikirkan tindakan apa yang
harus diambil atau mesti menggunakan serangan kilat di luar
dugaan lawan.
Namun si padil itu lantas berpaling kepada Siau Wan-san
dan berkata, "Tadi Siau-lokisu menyatakan ingin menyakinkan
sendiri kematian Buyung-lokisu untuk melampiaskan dendam
kesumatmu selama ini. Sekarang Buyung lokisu sudah
meninggal, apakah dendam Siau-lokisu sudah terlampias?"
Siau Waa-sao sendiri sangat terperanjat melihat Buyung
Bok ditabok mati oleh padri tua itu. Maka la menjadi bingung
dan tak dapat menjawab pertanyaan itu.
Selama 30 tahun ini Siau Wan-san selalu berusaha hendak
membalas dendam kematian sang istri, baru tahun terakhir ini
dia mengetahui duduknya perkara, la telah membunuh para
ksatria yang dulu ambil bagian dalam peristiwa berdarah diluar
Gan-bun-koan itu, sampai Hiat-koh Taisu dan Kiau Sam-hoai
suami istri juga dibunuh olehnya.
Akhirnya diketahuinya pula bahwa "Toako Pemímpin."
yang dicari itu adalah ketua Siau-lim-si, Hian-Cu Hongtiang,
malahan di depan para ksatria segenap penjuru itu
dibongkarnya pula borok Hian-cu yarg mengadakan
perzinahan dengan Yap Ji-nio, maka sakit hatinya boleh
dlkatakan terbalas dengan sangat sempurna pula.
"Tapi kemudian demi nampak kematian Hian-cu itu
dilakukan dengan gilang gemilang dan secara ksatria, samar-
samar dalam lubuk hati Siau Wan-san terasa perbuatannya itu
agak keterlaluan, malahan kematian Yap Ji-nio juga membuat
perasaannya agak tidak enak. Cuma waktu itu ia mendapat
tahu pula bahwa biangkeladi yang membikin peristiwa
berdarah itu tak lain tak bukan adalah Buyung Bok alias si
padri jubah putih yang telah sama-sama bersembunyi dalam
Siau-lim-si sama pernah bergebrak beberapa kali dengan
dirinya itu, maka antera amarah Siau Wan-san lantas
tertumplek atas diri Buyung Bok.
la sudah terlalu benci kepada musuh itu sehingga ingin
dapat roakan dagingnya dan mengunyah kulitnya. Sungguh
kalau bisa ia ingin mencabut ototnya dan membakar tulangnya
sekaligus untuk membalas dendam. Siapa duga mendadak
muncul seorang pudrí tua yang tak dikenal dan dengan mudah
sekali musuh besarnya itu dltabok mati olehnya. Seketika Siau
Wan-san menjadi bingung dan seakan-akan kehilangan
pegangan hidup lagi.
Pada waktu mudanya, dengan segenap jiwa-raga Siau
Wan-san ingin berjuang bagi nusa dan bangsanya, ingin
namanya tersohor dan tercatat dalam lembaran sejarah. Dia
adalah teman main sejak kecil dengan istrinya, keduanya
saling mencintai. Sesudah menikah dan melahirkan putra
pertama, semangat patriot Siau Wan-san semakin berkobar
dan cita-citanya semakin tinggi. Tak tersangka lantas terjadi
peristiwa yang mengenaskan di luar Gan-bun-koan, di sana ia
sendiri gagal membunuh diri.
Namun kejadian Itu telah mengubah seluruh pandangan
hidupnya, ia merasa segala nama dan tugas, harta dan
kedudukan, segalanya mirip sampah belaka, yang terpikir
olehnya siang dan malam adalah cara bagaimana menuntut
balas.
Sebenarnya dia adalah seorang ksatria yang berjiwa besar
dan sangat bijaksana, tapi karena dendam kesumat itu dangan
sendirinya wataknya makin lama makin menyendiri dan aneh.
Ditambah lagi telah bersembunyi berpuluh tahun di dalam
Siau-lim-si, siang tidur dan malam keluar, dengan giat ia latih
ilmu silat, selama itu jarang bicara dengan orang, maka tidak
heran kalau perangainya juga berubah luar biasa.
Sebenarnya dia harus merasa puas dan senang karena
musuh-musuhnya yang dibenci itu satu persatu telah terbunuh
olehnya atau mati di hadapannya. Tapi dia justru merasa
sangat sunyi dan hampa, la merasa tiada sesuatu tujuan hidup
lagi di dunia Ini, biarpun hidup terus juga percuma.
Ia coba melirik ka arah Buyung Bok yang bersandar di
tiang itu, tertampak wajah Buyung Bok tenang-tenang saja
dengan mengulum senyum seakan-akan kematiannya itu lebih
menyenangkan daripada hidup.
Begituldh dalam hati Siau Wan san berbalik merasa
Buyung Bok lebih beruntung, sesudah mati maka tamatlah
segalanya. Dalam sekejap itu timbul macam-macam pikiran.
Musuhnya sekarang sudah mati semua, sakit hatinya sudah
terbalas. Tapi ke mana dirinya harus pergi? Apa pulang ke
negeri Liau dan hidup tirakat di luar Gan bun-koan sana? Atau
mengembara tanpa arah tujuan bersama anak Hong?
Tapi ia merasa kemana pun tetap tiada artinya lagi.
Tiba tiba sí padri tua membuka suara pula, "Siau-lokisu,
Jika engkau hendak pergi bolehlah silahkan!”
"Tidak . . . tidak," sahut Wan-san dengan menggeleng, "Ke
mana aku harus pergi? Aku tak bisa pergi ke mana-mana."
"Aku yang membunuh Buyung-lokisu sehingga engkau
tidak dapat membalas dendam dengan tangan sendiri, maka
engkau merasa menyesal bukan?" tanya si padri tua.
“Bukan," sahut Wan-san. "Andaíkan tidak kau binasakan
dia juga aku tidak ingin membunuh dia lagi."
"Ya, tetapi karena kematian ayahnya itu. Buyung-siauhiap
ini sekarang akan menuntut balas padaku dan padamu, lantas
bagaimana baiknya?" tanya si padri.
Dengan rasa hampa dan putus asa Siau Wan-san
menjawab, "Taisu cuma mewakilkan aku membunuh musuh,
Jika Buyüng-siauhíap mau menuntut balas bagi ayáhnya,
biarlah dia tunjukan padaku saja."
Mendadak ia menghela napas, lalu berkata pula, "Ya,
bolehlah dia mencabut nyawaku saja. Anak Hong, kaupun
boleh pulang saja ke negeri Lian, urusan kita sudah selesai,
jalan sudah mencapai titik akhirnya."
"Ayah, engkau . . . " seru Siau Hong.
Tapi si padri tua lantas berkata, "Bila engkau dibunuh
Buyung-siauhiap tentu putramu juga pasti akan menuntut
balas pada Buyung-siauhiap, cara balas membalas ini bilakah
terakhir? Maka lebih baik segala dosa biarlah kupikul saja,
semuanya aku yang menanggungnya!"
Habis berkata ia terus melangkah maju, la angkat
tangannya dan menghantam kepala Siau Wan-san.
Keruan Siau Hong terkejut, karena tadi sudah terjadi, ia
tahu bila padri itu dapat sekali tabok membinasakan Buyung
Bok, maka dengan sendirinya dengan sekali tabok juga
ayahnya akan terbunuh. Tanpa pikir lagi ia membentak, "Nanti
dulu!”
Berbareng kedua tangannya menghantam sekaligus ke
pada si padri tua.
Sebenarnya Siau Hong sangat kagum dan mengindahkan
padri tua itu, tapi sekarang demi untuk menolong sang ayah,
la tidak paduli bahwa pukulan kedua tangannya ini membawa
seluruh tenaganya yang maha dahsyat dan maha kuat biarpun
berotot kawat tulang besi juga akan binasa seketika.
Namun dengan tangan kiri padri tua itu sempat menahan
tenaga pukulan yang dilontarkan Siau Hong, sedang tangan
kanan masih terus menabok kepala Siau Wan-san.
Siau Wan-san sendiri sama sekali tidak berpikir untuk
menghindar atau menangkis serangan itu. Maka tampaknya
telapak tangan kanan si padri tua segera akan mengenai "Pek-
hwe-hiat" di ubun-ubun kepalanya.
Sekonyong-konyong padri itu membentak sekali, tabokan
itu tiba-tiba berubah arah dan menghantam Siau Hong.
Saat itu tenaga pukulan kedua tangan Siau Hong sedang
saling tolak dengan tangan kiri si padri, ketika mendadak
melihat tangan kanan lawan ganti haluan dan menyerang ke
arahnya, cepat Siau Hong tarik kembali tangan kirinya untuk
menangkis sambil berseru "Ayah, lekas lari! Lekas!"
Tak terduga bahwa perubahan pukulan padri tua itu hanya
tipu pancingan belaka sekadar mengurangi daya tekanan
kedua tangan Siau Hong, ketika Siau Hong menarik sebelah
tangannya, segera padri tua itu juga putar balik tangan
kanannya, maka terdengarlah suara "plak" pelahan, dangan
tepat ubun-ubun kepala Siau Wan san kena ditabok.
Dan pada saat itu juga pukulan tangan kanan Siau Hong
juga sudah tiba, "blang", dengan tepat dada padri tua kena
dihantam, "krak-krek", beberapa tulang iga si padri patah.
Namun dengan tersenyum padri tua itu masih berkata,
"Sungguh kepandaian yang bagus! Hang-liong-sip-pat-ciang
memang ilmu pukulan nomor satu di dunia."
Baru selesai ucapannya, tanpa ampun lagi darah segar
terus menyembur dari mulutnya.
Siau Hong tertegun sejenak kemudian ia memayang
bangun tubuh ayahnya. Ia lihat napas sang ayah sudah putus,
denyut Jantungnya juga sudah berhenti, terang orangnya
sudah meninggal.
Pada saat itulah tiba-tiba di bawah sana ada suara seruan
orang, "Apa barangkali berada di atas Cong-keng-kok ini?”
Menyusul terdengar beberapa orang sedang lari
mendatangi.
"Sudah saatnya, marilah pergi!” kata si padri tua dan
segera ia memjambret leher baju jenazah Siau Wan San
dengan tangan kanan, sedang tangan kiri dipakai menjambret
leber baju jenazah Buyung Bok, lalu dengan langkah lebar ia
melayang ke luar jendela.
"Kau . . . kau hendak ke mana?" bentak Siau Hong dan
Buyung Hok berbareng, sekaligus mereka pun sama-sama
menghantam punggung si padri tua.
Hanya sedetik sebelum itu mereka hendak bertempur mati-
matian, tapi sekarang ayah masing-masing telah dibunuh
orang dalam menghadapi musuh bersama mereka lantas
berdiri di Satu pihak dan bersama-sama mengejar musuh.
Gabungan tenaga pukulnn mereka berdua sudah tentu
maha dahsyat. Tapi tubuh si padri tua mirip layang-layang
saja, di bawah dorongan tenaga pukulan Siau Hong dan
Buyung Hok itu ia malahan dapat melayang pergi beberapa
meter jauhnya dengan masih tetap menjinjing dua sosok
tubuh yang sudah tak bernyawa, kemudian ketiga sosok tubuh
turun ke atas tanah dengan cepat dan ringan bagai burung
terbang.
Sekali lompat segera Siau Hong mengudak keluar jendela.
Ia lihat padri tua itu berjalan ke atas gunung dengan
menggondol dua sosok mayat. Dengan mempercepat
langkahnya Siau Hong menduga dalam beberapa tindak saja
dapat menyusul sampai di belakang si padri tua.
Tak terduga bahwa ginkang padri itu benar-benar luar
biasa anehnya dan seperti memiliki ilmu gaib seja, biarpun
Siau Hong mengejar dengan sepenuh tenaga, jaraknya
dengan si padri tetap ada belasan meter jauhnya, berulang ia
pun melontarkan pukulan dari jauh, tapi jaraknya dengan si
padri tetap belasan meter jauhnya, berulang-ulang ia pun
melontarkan pukulan lagi dari jauh, tapi selalu mengenai
tempat kosong.
Maka jauh makin tinggi si padrì menuju ke atas gunung, ia
berputar-putar di antara lereng gunung itu dan akhirnya
sampai di suatu tanah lapang di tengah sebuah hutan, di
situlah ia meletakkan kedua mayat yang dibawanya itu di
bawah sebatang pohon, Ia dudukkan kedua sosok jenazah itu
dengan gaya bersila, lalu ia, sendiri duduk di belakang kedua
mayat, kedua tangannya menahan punggung kedua mayat.
Dan baru saja ia duduk, sementara itu Siau Hong pun sudah
menyusul tiba.
Biarpun Siau Hong tampaknya kasar, menghadapi sesuatu
urusan ia bisa berlaku teliti dan cerdik. Demi melihat tingkah
laku padri tua itu agak luar biasa, maka la pun tidak mau
sembarangan bertindak pula. Ia dengar si padri tua berkata,
"Aku membawa mereka berjalan-jaian untuk melemaskan otot
dan melancarkan darah mereka.”
Hampir-hampir Siau Hong tidak percaya pada telinganya
sendirl. Manakah mungkin mengajak jalan-jalan orang mati
dan katanya untuk melemaskan otot dan melancarkan jalan
darah mereka, apakah maksud yang sebenarnya?
Saking herannya ia coba menegas, “Melemaskan otot dan
melancarkan darah mereka?''
"Ya, karena luka dalam mereka terlalu parah, maka
mereka harus dibiarkan istirahat dulu untuk kemudian baru
disembuhkan,” kata si padri.
Siau Hong terkesiap, sungguh ia tidak habis mengerti,
"Apakah ayah belum meninggal? Jadi padri ini sedang
berusaha menyembuhkan luka dalam ayah? Masakah di dunia
ini ada cara penyembuhan demikian dengan membunuh si
penderita lebih dulu untuk kemudian baru
menyembuhkannya?"
Dalam pada itu Buyung Hok, Cumoti. Hian seng, Hian-
ceng, Sin-kong Siangjin dan lain-lain juga sudah menyusul
tiba. Mereka lihat ubun-ubun kedua jenazah yang digondol lari
si padri tua itu tiba-tiba mulai mengepulkan hawa putih yang
tipis.
Sejenak kemudian si padri tua lantas memutar kedua
mayat sehingga muka berhadapan muka, lalu keempat tangan
mayat itu diaturnya hingga saling menjabat tangan.
"Apa . . . apa yang kau lakukan ini? Tanya Buyung Hok
dengan bingung.
Tapi si padri tua tidak menjawabnya la mulai mengitari
kedua sosok mayat dengan langkah pelahan sambil berulang-
ulang menutuk, terkadang menutuk 'Tai-cui-hiat' di bahu Siau
Wan-san lain saat ia menabok 'Giok-cin-hiat' di punggung
Buyung Bok. Sedangkan hawa putih yang menguap dari ubun-
ubun kedua mayat itu semakin lama makin tebal. Lewat
beberapa saat lagi sekonyong-konyong badan Sian Wan-san
dan Buyung Hok berbareng sama-sama bergarak satu kali.
Keruan Siau Hong dan Buyung Hok terkejut dan bergirang.
"Ayah!" seru mereka bersama.
Sejenak kemudian Siau Wan-san dan Buyung Bok
membuka mata dengan pelahan. sesudah saling pandang
sekejap. Lalu mata mereka terpejam pula Air muka Siau Wan-
san tampak merah bercahaya. sebaliknya air muka Buyung
Bok pucat Menghijau.
Baru sekarang semua orang paham sebabnya padri tua itu
menabok mati dulu kedua orang itu adalah supaya mereka
berhenti bernapas dan jantung berhenti berdenyut, rupanya
cara demikian adalah semacam ilmu penyembuhan luka dalam
yang parah.
Jadi tujuan si padri tua sebenarnya adalah baik, hal ini
mestinya dia dapat menerangkan sebelumnya, kenapa dia
sengaja bergurau sehingga Siau Hong dan Buyung Hok dibikin
kuatir dan marah, malahan dia sendiri sampai merasakan
pukulan dahsyat Siau Hong sehingga tumpah darah.
Begitulah semua orarg merasa heran dan tidak habis
mengerti. Dalam pada itu si padri tua kelihatan masih sibuk
menutuk dan menabok dengan penuh perhatian atas kedua
penderita, semua orang tidak berani membuka suara dan
bertanya. Sebaliknya terdengar suara napas Siau Wan San dan
Buyung Bok dari pelahan mulai cepat dan dari lemah berubah
menjadi kuat.
Menyusul air muka Siau Wan-san tampak semakin merah
sampai akhirnya seakan-akan merah berdarah. Sebaliknya air
muka Buyung Bok tambah hijau mengerikan. Dan tubuh kedua
orang itu pun tampak gemetar agaknya keadaan mereka juga
agak berbahaya.
Semua orang yang menyaksikan itu tahu bahwa air muka
merah itu menandakan hawa Yang terlalu keras, suhu badan
terlalu panas bagai dibakar. Sebaliknya air muka hijau
menunjukkan hawa Im terlalu besar, hawa dingln yang
mengeram dalam badan terlalu kuat.
Pada saat lalu mendadak terdengar si padri tua
membantak, "Haahh! Keempat tangan saling berpegang,
tenaga dalam saling membantu. Im membantu Yang dan Yang
mengurangi Im. Pikiran yang angkara murka pandangan yang
bermusuhan jagat dewa batara hilang sirna!"
Karena bentakan si padri tua, tiba-tiba dua pasang tangan
Siau Wan-san dan Buyung Bok yang tadinya saling genggam
itu lantas saling pegang dengan lebih eral hawa murni masing-
masing lantas membanjir pula pada badan lawan sehingga
tercampur baur dan saling membantu kekurangan masing-
masing, Lalu air muka kedua orang sama-sama berubah
menjadi putih pucat, tak lama kemudian kedua orang sama-
sama membuka mata dan saling tertawa dengan penuh arti
antara sahabat karib.
Sungguh girang Siau Hong dan Buyung Hok tak terkatakan
demi melihat ayah mereka sudah hldup kembali dangan sehat.
Maka tertampaklah kedua orang tua itu lantas bergandengan
tangan dan sama-sama berlutut di hadapan si padri tua.
Lalu berkatalah padri tua itu, "Kalian berdua dari hidup
sampai mati dan dari mati kembali hidup lagi apakah sekarang
masih ada sesuatu yang tak terlepaskan dari pikiran kalian?
Jika tadi kalian lantas mati untuk seterusnya, apakah kalian
masih dapat berpikir tentang membangun kembali kerajaan
Yan atau menuntut balas terbunuhnya istri segala?"
"Tecu telah menjadi hwesio selama 30 tahun di siau-lim-si
secara menyamar dan dengan sendirinya tiada sedikit pun
rasa kesadaran sebagai murid Budha, maka diharap Suhu suka
menerima Tecu," sahut Siau Wan-san.
"Apa engkau tidak ingin lagi membalas sakit hati
terbunuhnya istrimu?" tanya si padri.
"Selama hidup Tecu juga banyak membunuh orang, bila
anggota keluarga orang-orang yang kubunuh itu juga sama
menuntut balas padaku, maka biar Tecu mati seratus kali juga
tidak cukup untuk memenuhi tuntutan mereka," ujar Wan-san.
"Dan engkau bagaimana?" tiba-tiba si padri tua berpaling
pada Buyung Bok.
Buyung Bok tersenyum dan berkata, "Rakyat jelata adalah
manusia, raja juga manusia, Kerajaan Yan dibangun kembali
atau tidak semuanya adalah kosong belaka!"
"Bagus, engkau telah mencapai kebijaksanaan dan
memperoleh kesadaran Siancai! Siaocai!" sabda si padri.
"Mohon Suhu menerima Tecu dan banyak memberi
petunjuk pula," pinta Buyung Bok.
"Kalian ingin pelepasan diri dan menjadi padri, untuk itu
kalian harus minta diterima para Taisu dari Siau-lim-si," kala si
padri tua. "Sekarang ada beberapa patah kata boleh juga
kuuraikan lagi kepada kalian."
Begitulah lalu padri tua itu memberi khotbah lagi. Siau
Hong dan Buyung Hok juga lantas ikut berlutut di depannya.
Ketika khothah padri tua itu sedemikian bagusnya sehingga
Hian-seng, Sin-kong. To-jing, Cilo, Polo Singh dan lain-lain
sangat tertarik maka tanpa terasa akhirnya mereka pun
berlutut untuk mendengarkan khotbah . . . “
Begitulah maka pada waktu Toan Ki sampai di situ, saat
mana si padri tua asyik memberi penjelasan arti khotbahnya
yang penuh filsafat itu, Karena ingin melihat bagaimana wajah
padri tua itu, maka Toan Ki berputar ke depan sana, siapa
tahu Cumoti mendadak menyerang hingga dadanya terkena
tutukan 'Hwe-yam-bo' yang lihai.
Toan Ki lantas tak sadarkan diri dan entah berselang
berapa lama baru siuman kembali. Waktu ia buka mata
pertama-tama yang tertampak olehnya adalah langit-langit
kelabu, menyusul ia tahu dirinya tidur di atas ranjang dengan
berselimut.
Karena seketika itu pikirannya belum jernih sama sekali,
maka ia coba mengingat-ingat kembali apa yang telah terjadi.
Ia ingat telah kena serangan Cumoti, tapi ia tidak mengerti
mengapa bisa berada di tempat tidur itu!
Ia merasa haus sekali dan segera ingin bangun, tapi sedikit
bergerak saja dadanya lantas terasa sakit tidak kepalang
sehingga dia menjerit pelahan.
Maka terdengarlah suara seorang wanita muda berkata dl
luar, "Ah...Toan-kongcu sudah mendusin!"
Dari nada ucapannya itu agaknya merasa sangat girang.
Toan Ki merasa suara wanita muda itu sudah dikenalnya.
Dan baru d¡a mengingat-ingat siapakah geranganya, tiba-tiba
seorang anak dara melangkah masuk drngan tindakan cepat,
Tertampaklah sebuah wajah bulat telur, pipi terdapat sebuah
lekuk kecil yang manis. Kiranya Ciong ling adanya, si nona cilik
yang dahulu berjumpa dengan Toan Ki di sarang orang-orang
'Buliang-kiam' [baca jilid ke 1).
Ayah Ciok Ling, yaitu Ciong Ban-siu, berjuluk 'Kim-jin-cin-
sat' (ketemu orang lantas bunuh), adalah musuh Toan Cing-
sun, ayah Toan Ki. Ketika mengetahui Toan Ki adalah putra
musuh besarnya, Ciong Ban-siu lantas ikut mengatur tipu
muslimat hendak membunuhnya.
Tak tersangka ketika Toan Ki keluar dari rumah batu
tempat dia semula dikurung, tahu-tahu ia membawa seorang
gadis yang keadaan pakaiannya sudah tak karuan, dan gadis
itu ternyata adalah Ciong Ling, jadi Ciong Ban siu tidak
berhasil membikin celaka Toan Ki, sebaliknya membikin malu
putrinya sendiri, Keruan dia keki setengah mati.
Kemudian Ciong Ling digondol lari oleh In Tiong-ho dan
tak diketahui mati hidupnya, terkadang bila ingat akan
kejadian itu, betapapun Toan Ki merasa sedih dan menyesal.
Siapa duga sekarang dapat bertemu kembali dengan anak
dara itu di sini.
Begitülah, maka wajah Ciong Ling menjadi merah juga
ketika sinar matanya berbentruk dengan pandangan Toan Ki.
Tapi ia lantas menegur dengan tersenyum-senyum, "Tentu
engkau sudah lupa padaku bukan? Apa masih ingat aku ini
siapa?"
Melihat sikap Ciong ling itu, dalam benak Toan Ki tiba-tiba
terbayang pula adegan masa dahulu waktu Ciong Ling duduk
di atas belandar kedua kakinya berayun-ayun sambil menyisil
kuaci. Sungguh aneh juga, sampai sekarang ia pun masih
ingat betul sepatu yang dipakai si nona yang berwarna hijau
bersulam bunga kuning kecil itu. Tanpa terasa ia lantas tanya,
"Eh, ke mana sepatumu yang bersulam bunga kuning itu?"
Kembali wajah Ciong ling bersemu merah ia tidak
manduga bahwa Toan Ki ternyata masih ingat kepada
sepátunya itu, hal ini menandai kau bahwa pemuda itu tidak
melupakan dia. Maka dengan tersenyum ia menjawab, "Sudah
lama rusak, heran juga engkau masih ingat tentang itu?"
"Dan kenapa kamu tídak makan kuaci lagi?” tanya pula
Toan Ki dengan tertawa.
"Aih, engkau ini sungguh terlalu! Orang lagi kuatir
setengah mati selama beberapa hari merawat lukamu ini,
masakah masih ada waktu iseng untuk makan kuaci segala?"
jawab Ciong Ling. Tapi segera ia merasa jawabannya itu
terlalu menonjolkan perasaan yang sebenarnya terhadap Tuan
Ki maka kembali wajahnya merah lagi.
Dengan termangu-mangu Toan Ki memandangnya. selang
sejenak baru bertanya pula, "Dan di mana kau punya Kim-
leng-cu, itu ular kecil berwarna emas?”
"Aku sudah lama terlunta-lunta dl luar dan tidak pernah
pulang ke rumah dari mana bisa membawa ular segala?"
sahut Ciong Ling.
"O. ya. tempo hari kamu digondul lari oleh 'Kiong-hiong-
kek-ok' In Tiong-ho," kata Toan Ki tiba tiba. "Wah, aku
menjadi kuatir sekali, Cuma sayang aku tidak mahir ilmu silat,
terpaksa aku suruh muridku si Lam-hai Gok sín untuK
menolongmu. Dan entah cara bagaimana kau dapat
menyelamatkan diri sungguh aku sangat kuatir."
"Muridmu itu ternyata sangat setia padamu,sahut Ciong
Ling dengan tertawa. "Meski ginkang si jangkung itu sangat
hebat, tapi ia membawa diriku dengan sendirinya kurang
leluasa larinya. Maka cuma beberapa li jauhnya ia sudah
tersusul oleh muridmu . . . . "
Sampai di sini ia berhenti, sikapnya tampak malu-malu
kikuk.
"Lalu bagaimana?" tanya Toan Ki.
Mendadak Ciong Ling tertawa, "Hihi, coba kau terka cara
bagalmane muridmu itu memanggil aku? Sungguh aku
menjadi dongkol dan geli pula."
Melihat gaya Ciong Ling yang malu-malu kucing dan
menggiurkan itu, hati Toan Ki terguncang. Teringat olehnya
apa yang dikatakannya dahulu, maka jawabnya dengan
tersenyum, "Ya, dengan sendirinya muridku itu memanggilmu
sebagai 'Sunio' (Ibu guru), betul tidak?"
Dengan tersenyum simpul Ciong Ling lantas bercerita,
"Ketika itu aku dikempit oleh durjana itu, aku meronta-ronta
sekuatnya, tapi tak bisa melepaskan cengkeramannya.
Sungguh hatiku ketakutan setengah mati, tapi aku pun
mendengar muridmu sedang menguber sambil berteriak-
teriak! dengan suaranya yang serak, "Sunio! Sunio! Boleh
mengitik-ngitik ketiaknya, si jangkung itu paling takut geli!"
"Hah, kebetulan," pikirku. Mengitik-ngitìk justru adalah
kepandaianku yarg khas. Maka dengan segera aku mengulur
tangan hendak mengitik-ngitik ketiak durjana itu. Tak terduga
baru saja jariku menempel ketiaknya, belum lagi aku
mengkili-kili, tahu-tahu dia sudah terkekeh-kekeh lebih
dulu. Dan karena tertawanya itu larinya menjadi kendur, maka
dengan segera dia dapat disusul oleh muridmu. Gak-losam,
kamu kena diakali orang! seru durjana jangkung itu. Tapi Gak
losam menjawab. Diakali atau tidak, pendek kata lekas kau
lepaskan ibu guruku, kalau tidak, ini rasakan senjataku
gunting congor buaya itu!”
"Karena terpaksa maka aku dilepaskan oleh durjana
jangkung itu," demikian Ciong Ling melanjutkan ceritanya.
"Dan pada waktu dia lengah segera aku mengitik-ngitik dia
sehingga durjana itu menungging sambil memegangi perutnya
dan terkakak-kakak saking gelinya, semakin dia tertawa
semakin menjadi, aku mengitik-ngitik sampai dia terbatuk-
batuk dan mengucurkan air mata. Akhirnya Gak-losam
memintakan ampun baginya, Sunio, boleh mengampuni dia
saja, kalau mengitik-ngitik lagi, jika sampai napasnya sesak,
mungkin dia bisa mati!"
"Aku menjadi heran, ilmu silat durjana itu sangat tinggi
masakah bisa mati terkili-kili saking geli? Maka jawabku, Ah,
masa ya? Aku tidak percaya, ingin kucoba! Tapi Gak losam
mencegah, "Eh. jangan! Mana boleh dicoba sekali dia mampus
tentu tak bisa dihidupkan lagi. Kelemahan setan jangkung ini
justru terletak pada Thian-cong-hiat di bawah katiaknya,
tempat itu tidak boleh tersentuh sedikit pun.”
"Karena itulah aku tidak jadi mengitik-ngitik dia lagi. Ketika
durjana itu sudah berdiri tegak kembali, dia melotot padaku,
habis itu mendadak ia meludahi Gak-losam sambil memaki,
“Buaya mampus, buaya bacinl Tempat kelemahanku kenapa
kau beritahukan kepada orang luar?”
“Eeh, kau berani memaki orang!” aku mengomel sambil
mengulur tangan hendak mengitik-ngitiknya lagi, Tak
tersangka sekali ini perbuatanku tidak manjur lagi, mendadak
durjana jangkung itu mengayunkan kakinya sehingga aku
kena ditendang terjungkal lalu ia tinggal pergi. Cepat Gak-
losam membangunkan aku sambil bertanya, Sunio, sakit tidak?
"Pada saat itulah tiba-tiba tertampak ayahku memburu tiba
dengan golok terhunus sambil berteriak-teriak, Budak celaka,
kenapa kamu diam di sini, apa ingin mampus? Segera Gak-
losam menoleh dan memaki, "Kurang ajar! Apa mulutmu
minta di sikat ya?”
"Ayahku menjadi gusar sahutnya. Aku memaki anak
perempuanku sendiri, peduli apa denganmu? Aneh juga entah
mengapa mendadak Gak-losam marah-marah. Ia tuding
ayahku dan mendamprat pula "Kau , . . kau bangsat kau
berani menarik keuntungan atas diriku? Biar . . , . biar Gak-
losam mengadu jiwa denganmu?”
Jilid ke-77
“Aneh, dimanakah pernah kutarik keuntungan darimü?
Sahut ayahku, Dengan marah-marah Gak-losam berkata,
Habis, dia kan ibu guruku dia lebih tua satu tingkatan
daripadaku, ini pun apa boleh buat, sebab memang demikian
halnya. Tapi sekarang kauberani mengaka sebagai bapaknya,
bukankah. . . bukankah kamu menjadi lebih tua dua tingkat
dari padaku? Hm, aku Gak losam selamanya bersinggasana di
laut selatan, di sana, siapa yang tidak memanggiku tuan besar
atau kakek-moyang. Tapi setiba di Tionggoan, dimana-mana
aku selalu lebih rendah satu-dua angkatan daripada orang
lain. Sungguh sialan! Maka aku tak mau lagi, ya, tidak mau!”
Ciong Ling memáng gadis lincah dan cerdik, bicaranya
mencorocos terus, cara menirukan lagu bicara Lam-hai-gak-
s¡n Juga sangat mirip mau-tak-mau Toan Ki merasa geli juga.
Lalu si noná melanjutkan ceritanya, "Maka ayahku berkata,
Kau mau atau tidak masa bodoh, yang terang anak dara ini
adalah putriku, dengan sendirinya aku adalah bapaknya,
kenapa kau bilang aku mengaku-ngaku apa segala?”
"Rupanya kewalahan berdebat, mendadak Gak-losam
mencari-carl alasan, katanya, Sudah tentu kamu cuma
mengaku-ngaku saja. coba lihiat, Sunio begini cantik,
sebaliknya kamu sejelek siluman, mana mungkin kamu ini
ayahnya yang tulen? Tentu Sunioku ini putri orang lain dan
bukan keturunanmu. Kamu adalah ayah palsu dan bukan
ayahnya yang asli!"
"Sungguh tidak kepalang murka ayahku, ia angkat
golaknya terus membacok Gak-losam. Cepat aku
mencegahnya, "Ayah, orang ini telah menyelamatkan aku dari
gangguan orang jahat tadi, harap jangan membunuh dia!"
"Sekonyong konyong ayah tambah murka, ia memaki
padaku, Budak busuk, memangnya sejak dulu aku sudah
curiga kamu bukan keturunanku yang sejati, sampai si tolol ini
pun berkata demikian, masakah urusan perlu disangsikan lagi?
Hm, biarlah kumampuskan dia dulu, habis itu akau kubunuh
dirimu dan kemudian membunuh pula ibumu!"
Seperti diketahui ibu Ciong Ling adalah bekas kekasih Toan
Cing-sun, ayah Toan Ki. Makin besar muka Ciong Ling juga
semakin cantik sehingga sedikit pun tidak memper muka
Ciong Ban-Siu yang lonjong bagai muka kuda itu, sudah tentu
rasa cemburu Ciong Ban-siu semakin menjadi-jadi dan
pikirannya juga senantiasa diliputi oleh rasa curiga.
Begitulah sampai di sini air mata Ciong Ling sendiri pun
berlinang-linang dan hampir-hampir menetes. Cepat Toan Ki
menghiburnya, "Jangan kuatir! Aku tahu ayahmu paling takut
bini, tidak nanti dia berani membunuh ibumu."
Ciong Ling tertawa, tanyanya, 'Eh, dari mana kau tahu?"
Karena tertawanya itu, air matanya yang tadinya
berlinang-linang di kelopak mata itu lantas meleleh ke pipi.
"Dahulu waktu aku menyampaikan berita kerumahmu di
Ban-jiat-kok, dengan mataku sendiri küsaksikan ayahmu
sangat penurut pada ibumu, sedikit pun tidak berani
membangkang perintahnya," sahut Toan Ki.
Ciong Ling menghela napas dan untuk sekian lamanya
diam saja.
"Kemudian bagaimana kenapa kamu sampai di sini?" tanya
Toan Ki.
"Waktu kulihat ayah dan muridmu bertempur dan seketika
sukar dilarai, maka aku lantas berteriak-teriak, Hai, Gak-losam,
kamu tidak boleh mencelakai ayahku!' Lalu aku berseru pula
'Ayah, jangan kau celakai Gak-losam! Dan tanpa
memperdulikan bagaimana kesudahan pertarungan meraka
itu, segera kutinggal pergi."
"Ya, ada baiknya juga jalan-jalan keluar untuk menghibur
diri," ujar Toan Ki.
"Sebenarnya aku hendak mencari dirimu, sudah kucari kian
kemari tatap tidak tahu ke mana harus mencarimu?" tutur
Ciong Ling. "Belum lama ini kudengar kabar bahwa para
ksatria seluruh jagat hendak berkumpul di Siau-lim-si, diam-
diam kupikir boleh jadi kaupun akan datang di sana maka aku
lantas berangkat ke Siau-lim-pai sini. Tapi aku sendiri bukan
kaum ksatria atau orang gagah segala, dengan sendirinya aku
tidak berani datang ke Siau-lim si dan terpaksa berkeliaran di
lereng gunung sini untuk mencari kabar dirimu pada setiap
orang yang kujumpai. Untung di sini ada sebuah rumah
kosong tanpa sungkan aku lantas tinggal di sini."
"Dan berkat Tuhan Maha pengasih, akhirnya aku dapat
berjumpa denganmu," tukas Toan Ki dengan pelahan sambil
memegang tangan si nona yang masih terharu, terutama
mengingat si nona yang masih muda-belia itu telah terlunta-
lunta dirantau dan tentu tidak sedikit mengalami penderitaan
hidup, hal ini menandakan betapa cinta si nona kepadanya.
"Kau sendiri kenapa bisa berada di sini?" tanya Ciong Ling
sambil duduk di tepi tempat tidur.
"Ya, aku justru ingin tanya padamu mengapa aku bisa
berada di sini?" sahut Toan Ki dengan mata terbelalak. "Aku
cuma ingat diserang oleh seorang hwesio jahat, dadaku kena
tikaman hawa pikirnya yang tak berrwujud sehingga terluka
parah, tapi apa yang terjadi selanjutnya aku sendiripun tidak
tahu."
"ini benar-benar sangat aneh," kata Ciong Ling sambil
berkerut kening, "Kemarin sore,, waktu kupergi mencari sayur
di kebun dan kembalinya selagi hendak mengolah sayur itu
didapur, tiba-tiba kudengar di dalam kamar ada suara orang
merintih. Aku kaget, dengan membawa bando (pisau perajang
sayur) aku masuk ke dalam kamar. Kulihat di atas tempat
tidurku ada orang. Kutegur beberapa kali, tapi tiada jawaban,
Kukira pasti orang jahat yang hendak mengganggu aku, maka
dengan mengangkat bendo segera hendak kubacok orang
yang rebah di tempat tidurku itu. Wah, untung juga engkau
rebah dengan telentang sehingga sebelum batok kepalamu
pecah oleh senjataku keburu aku sudah mengenali mukamu . .
.."
Berkata sampai di sini si nona tepuk-tepuk dada sendiri
dengan pelahan, suatu tanda hatinya masih berdebar debar
bila teringat kepada kejadian berbahaya waktu itu.
Toan Ki sendirl menduga mungkin tempat dia rebah
sekarang terletak tidak jauh dari Siau-lim-si maka sesudah
dirinya terluka parah, lalu ada orang menolongnya dan dibawa
ke kini.
Kemudian aku memanggilmu, tapi engkau merintih-rintih
saja dan tidak gubris padaku." tutur Ciong Ling pula. "Waktu
kuraba jidatmu, Wàh, panasnya bukan main. Kulihat bajumu
penuh darah, maka kutahu engkau terluka. Waktu kubuka
bajumu untuk periksa lukamu, ternyata sudah diperban
dengan baik dan rapi. Kukuatir mengganggu lukamu itu, maka
tidak berani kubuka perbannya. Aku menunggu lagi sampai
lama sekali dan engkau belum sadar juga. Ai, aku merasa
gìrang dan kuatir pula dan tidak tahu cara bagaimana harus
berbuat."
"Maaf, aku telah membuatmu ikut berkuatir, Sungguh aku
merasa tidak enak," ujar Toan Ki.
Sekonyong-konyong Ciong Ling menarik muka masam,
katanya, "Huh, engkau bukan manusia baik-baik, Tahu begitu,
tentu sejak dulu aku tidak mau pikirkan dirimu. Dari sekarang
juga aku tak mau peduli padamu lagi, apakah engkau akan
hidup atau mati, pandek kata aku tak peduli."
"Eh, ada apa? Kenapa mendadak marah?" tanya Toan Ki
dengan heran.
"Hm, kau tahu sendiri kenapa malah tanya padaku?" sahut
Ciong Liog dengan mendengus dan mencibir.
"Ai, aku benar . . . benar tidak tahu," kata Toan Ki cepat.
"O, nonaku yang baik!, adikku yang manis, harap katakanlah
apa sebabnya?"
“Cih, siapa nonamu, siapa adikmu?" omel Ciong Ling "Apa
yang kaukatakan dalam mimpi tentu kautahu sendiri, kenapa
malah tanya padaku? Sungguh tidak genah."
"Apasih yang kukatakan dalam mimpi?" tanya Toan Ki
dengan gugup, "Itu kuucapkan dalam keadaan tak sadar dan
tidak boleh dianggap betul-betul. Oya, aku menjadi ingat.
Pasti dalam mimpi aku berjumpa denganmu, saking girangnyá
kata-kataku menjadi agak kasar sehingga membikin marah
padamu."
Mendadak Cing Ling termangu-mangu dan mencucurkan
air mata, katanya, "Sampai saat ini engkau masih mau
mendustai aku, Sebenarnya dalam mimpi engkau bertemu
dengan siapa?''
"Sesudah terluka aku lantas, ták sadarkan diri lagi, maka
aku benar-benar tidak tahu apa yang kukatakan waktu
mengigau," sahut Toan Ki.
"Siapa itu nona Ong? Nona Ong itu siapa?" seru Ciong Ling
mendadak dengan suara keras. "Mengapa waktu tak sadarkan
diri selalu kau sebut namanya?"
Toan Ki menjadi pedih sahutnya, "Jadi aku menyebut-
nyebut nama nona Ong?"
"Mengapa tidak? Dalam keadaan tak indar saja kausebut
namanya, apalagi sekarang, tentu sekarang kaupun terkenang
padanya," kata Ciong Ling. "Baiklah, boleh kau panggil kau
punya nona Ong untuk melayanimu saja aku tak mau peduli
lagi.”
Toan Ki menghela napas, sahutnya, "Tapi dalam hati nona
Ong justru tidak pernah terdapat orang macam diriku, biarpun
aku merindukan dia juga tiada gunanya."
"Sebab apa?"' tanya Ciong Ling.
"Dia cuma suka kepada Piaukonya, terhadap diriku dia itu
acuh tak acuh," sahut Toan Ki.
Ciong Ling berubah girang, katanya, "O, terima kasih
kepada langit dan bumi, ternyata orang jahat telah
mendapatkan ganjaran setimpal."
"Aku orang jahat, maksudmu?" tanya Toan Ki.
"Hábis, muridmu Gak losam adalah satu di antara Su ok,
muridmu saja sejahat itu, apalagi gurunya, sudah tentu
jahatnya tiada takaran." kata Ciong Ling.
"Dan bagaimana dengan sang ibu gurúnya?" Toan Ki
menambahkan dengan tertawa.
"Cis!" semprot Ciong Ling dengan wajah marah jengah,
tapi sedap dalam hati. Ia lantas berlari-lari ke dapur. Tidak
lama kemudian la kemudian membawa semangkuk kuah,
katanya, "Kuah ini sudah kusiapkan sejak tadi, hanya
menunggu engkau sadar kembali."
" O . banyak terima kasih," kata Toan Ki. Dan ketika
melihat si nona sudah dekat, segera ia bermaksud bangun
untuk menerima kuah itu, tapi lukanya lantas kesakitan
sehingga menjerit tertahan.
"Jangan bangun, biar aku menyuapmü, kakek-moyang si
jahat," seru Ciong Ling.
”Kakek moyang si jahat apa maksudmu? tanya Toan Ki.
"Habis, engkau kan guru si durjana maha jahat itu,
bukankah engkau adalah kakek moyang si jahat?“
"Dan kau sendiri? . . . . "
Tapi Ciong Ling lantas menyiduk satu sendok kuah yang
masih panas-panas itu, katanya dengan pura pura marah,
"Kau berani sembarangan omong, apa minta disuap dengan
kuah panas ini?"
Toan Ki menjulurkan lidah dan berkata, "Wah, ampun!
Nenek moyang si jahat benar-benar lihai, maha jahat?”
Ciong Ling mengikik tawa sehingga kuah di dalam senduk
hampir-hampir tersiram ke atas badan Toan Ki, cepat ia
tenangkan diri. Ia coba dulu suhu kuah itu dan ternyata sudah
agak dingin. lalu ia suapi Toan Ki.
Sesudah minum beberapa senduk kuah yang disuapkan
Ciong Ling itu, dari jarak dekat dapatlah Toan Ki melihat muka
Ciong Ling yang manis di atas bibirnya ada beberapa butir
keringat yang lembut. Tatkala itu adalah musim panas baju
yang dipakai Ciong Ling tipis dan cekak sehingga tangannya
kelihaian putih bersih laksana salju. Seketika hati Toan Kl
terguncang.
Entah mengapa tiba-tiba teringat olehnya, "Alangkah
bahagianya aku jika yang menyuapi aku sekarang ini adalah
nona Ong, biarpun yang di suapkan padaku ini adalah barang
busuk atau racun juga aku bersedia mati dengan rela."
Melihat Toan Ki termangu-mangu memandang padanya,
sudah tentu sekali-kali Ciong Ling tidak menyangka kalau saat
itu yang dipikirkan pemuda itu adaiah gadis lain. Maka dengan
tersenyum Ciong Ling bertanya, "Apa yang kau lihat?"
Baru saja Toan Ki hendak menjawab, tiba-tiba terdengar
suara berkeriutnya pintu didorong orang, Menyusul tedengar
suara seorang wanita muda sedang berkata, "Bolehlah kita
mengaso sebentar di sini."
Lalu suara seorang lelaki menjawab, "Baiklah! Tentu
engkau masih sangat lelah, sungguh aku ... aku merasa tidak
enak."
"Ah, omong kosongl" semprot si wanita.
Dari suara kedua orang itu dapat dikenali Toan Ki sebagai
suara A Ci dan Goan-ci, Sekarang dia sudah tahu A Ci adalah
anak tidak sah dari ayahnya jadi terhitung saudara satu ayah
lain ibu dengan dirinya.
Diketahuinya adik perempuan itu sejak kecil sudah berguru
pada Sing-siok Lokoai sehingga tingkah-lakunya juga ketularan
sifat liar dan jahat si iblis tua itu, bahkan Leng Jian li, si
tukang pancing, itu tokoh dari Taili justru binasa oleh karena
merasa terhina oleh nona nakal itu.
Toan Ki sendirl sangat akrab dengan Sam-kong dan Su-un
(tiga tokoh dan empat jago) dari Taili itu, bila teringat pada
kematian-Leng Jian-li sungguh ia tidak suka bertemu dangan
adik perempuannya yang terlalu nakal dan binal itu.
Apalagi kemarin ia sendiri telah membantu Siau Hong dan
bermusuhan dengan Goan-ci. Jika sekarang kepergok pula
selagl dia sendiri terluka bukan mustahil jiwanya akan sukar
diselamatkan lagi. Karena itu cepat ia mamberi tanda dengan
jari di depan mulut agar Ciong Ling jangan bersuara.
Si nona paham maksud Toan Ki, ia mengangguk sambil
memegang semangkuk kuah dan tidak berani ditaruh di atas
meja sebab kuatir akan menerbitkan suara.
Kemudian terdengar A Ci sedang berteriak-teriak di luar.
"Hai, apakah di dalam orang?"
Ciong Ling memandang Toan Ki dan tidak menjawab
pertanyaan A Cl itu, pikirnya, "Nona di luar itu besar
kemungkinan adalah nona Ong dan si lelaki adalah Piauko
nona Ong, makanya kakanda Ki tidak ingin bertemu dengan si
dia.”
Sebenarnya Ciong Ling sangat ingin tahu betapa cantik-
moleknya nona Ong itu sehingga dapat membuat kanda Ki
sedemikian kesemsem? Tapi ia tidak berani keluar, ia pikir
kalau sampai kakanda Ki bertemu dengan si dia, wah, tentu
akan runyam malah, maka lebih baik tinggal diam saja, jika
tidak mendadak penyahutnya orang mungkin nona Ong itu
akan pergi dengan sendirinya bersama Piaukonya.
Dalam pada itu terdengar A Ci lagi berteriak-teriak pula di
luar, "Hai, apakah penghuni rumah ini sudah mampus semua,
kenapa tiada seorang pun yang keluar? Kalau tetap tak keluar,
biar nona bumi-hanguskan rumah-gubukmu ini?”
'Wah, galak benar nona Ong ini?" demikian Ciong Ling
membatin.
Tiba-tiba terdengar suara Goan-ci, "Ssst, jangan bersuara,
ada orang datang!”
"Siapa? Apa orang Kai-pang?" tanya A Ci.
"Ada empat atau lima orang, boleh jadi orang-orang Kai
pang, arah yang mareka tuju adalah sini," sahut Goa-ci.
"Para Tianglo Kai-pang itu sudah timbul maksud khianat
padamu, jika kita kepergok mereka tentu bisa celaka," ujar A
Ci.
"Habis bagaimana baiknya?" tanya Goan-ci dengan kuatir.
"Kita sembunyi saja di dalam kamar, engkau terluka parah,
tidak mungkin melawan mereka." kata A Ci.
Diam-diam Toan Ki mengeluh demi mendengar A Ci dan
Goan-ci hendak sembunyi di dalam kamar. Walaupun dirinya
tidak suka kepada adik perempuan tiri itu, tapi tidak menjadi
asal kalau kepergok. Hanya watak Pangcu Kai-pang itu sangat
eksentrik, aneh luar biasa, kalau dipergoki tentu bisa celaka.
Maka cepat Toan Ki memberi isyarat kepada Ciong-Ling
agar anak dara itu lekas berusaha menghindari. Namun di
rumah gubuk yang sempit itu ke mana dapat menghindar?
Asal A Ci dan Goan-ci melangkah masuk tentu akan segera
dilihatnya.
Selagi Ciong Ling celingukan dengan bingung, sementara
itu suara tindakan kedua orang di luar itu terdengar sedang
mendekati kamar. Terpaksa ia berbisik, "Sembunyi di kolong
ranjang.”
Apa yang dikatakan ranjang itu sebenarnya adalah balai-
balai buatan dari pasangan batu yang serba guna, pada
musim dingin kolong balai-balai itu dapat digunakan sebagai
anglo atau tungku pemanas badan dengan membakar api di
bawahnya. Dan karena sekarang adalah musim panas, dengan
sendirinya kolong balai-balai itu kosong, penuh hangus bekas
bakaran. Maka begitu Toan Ki menyusup ke dalam, seketika
hidungnya banyak menghirup debu hangus sehingga hampir
saja bersin, untung dia lantas pancet hidung sendiri dan tidak
jadi mengeluarkan suara.
Ciong Ling meringkuk di sebelah Toan Ki, waktu ia
mengintip keluar sana, dilihatnya sepasang kaki kecil
bersepatu sulam telah melangkah masuk ke dalam kamar,
nyata itulah kaki kaum wanita. Sebaliknya lantas terdengar si
lelaki sedang berkata, "Ai, terpaksa aku mesti digendong kian
kemari olehmu, sungguh aku terlalu merendahkan keagungan
nona."
"Kita senasib, yang satu buta dan yang lain pincang, ini
namanya gotong royong bersatu hati." sahut si wanita muda.
Ciong Ling menjadi heran, katanya di dalam hati, "O, jadi
nona Ong itu adalah orang buta, dia mengendong Piaukonya,
Maka aku tidak melihat kaki lelaki itu.”
Dalam pada itu A Ci telah menaruh Goan-Cí di atas balai-
balai, lalu terdengar Goan-ci berkata. ”He, tempat ini baru saja
direbahi orang, di kolong selimut ini pun masih hangat-
hangat."
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar mara gadubrakan,
pintu didobrak orang sehingga terpentang,beberapa orang
menerjang ke dalam. Seorang di antaranya lantas berkata
dengan kasar, "Ong-pangcu. urusan Kai-pang kita belum
selesai, kenapa kau tinggal pergi begitu saja, apa maksudmu
sebenarnya?”
Itulah Song tianglo. Dia membawa dua murid Kai-pang
berkantong tujuh dan dua orang berkantung enam datang
mencari Yu Goan ci alias Ong Sing-thian, sang Pangcu.
Kiranya sesudah Siau Wan-san ayah dan anak menguber
Buyung Bok ke dalam Siau lim-si dan disusul para padri dan
ksatria Tioaggoan, tinggal orang-orang Kai pang yang merasa
kehilangan pamor habis-habisan, kalau mereka tidak lekas
lekas berdaya, mungkin kedudukan Kai-pang sebagai
organisasi terbesar di dunia persilatan akan susah
dlpertahankan lagi.
Karena marasa percekcokan antara Siau Wan-san dan
Buyung Bok itu tiada sangkut-pautnya dengan Kai-pang, maka
para pengamis itu tidak ingin ikut campur, yang mereka
pikirkan adalah perlu mengangkat seorang pangcu baru yang
bijaksana bagi perkembangan Kai-pang mereka yang jaya.
Tapi waktu mereka mencari Ong Sing thian, ternyata sang
Pangcu sudah menghilang entah kemana. Padahal untuk bisa
mengangkat Pangcu baru diperlukan hadirnya Pangcu lama.
Karena itu para pengemis lantas mencari sang Pangcu,
mereka menduga Ong Sing-thian tidak pergi jauh karena
kedua kakinya sudah patah. Malahan kemudian diketahui pula
bahwa A Ci juga menghilang, maka para pengemis menduga
nona itu pasti kabur bersama Ong Sing-thian.
Song-tianglo sendirl memimpin empat murid Kai-pang dan
mencari di sebelah tenggara Siau- lim-san, dari jauh dilihatnya
baju warna ungu menyelinap ke dalam sebuah rumah petani,
Ia kenal A Ci memakai pakaian ungu, tertampak pula gadis itu
mengendong orang yang mirip Ong Sing-thian, maka cepat ia
memburu tiba dan menerjang ke dalam kamar rumah petani
itu. Betul juga lantas dilihatnya A Ci dan Ong Sing-thian duduk
di atas balal-balai.
Dengan suara dingin A Ci lantas menyemprot, "Song-
tianglo, jika kamu masih menyebut dia sebagai Pangcu,
mengapa kamu gembar-gembor tak karuan sama sekali tidak
pakai peraturan cara ketemu dengan Pangcu kalian?"
Song-tianglo melangak, la pikir banar juga ucapan Si nona
maka katanya, "Pangcu, saudara-saudara kita masih berada di
Siau-lim-san, apa yang harus kami lakukan selanjutnya harap
Pang-Cu memberl petunjuk."
"Apa kalian masih menganggap aku sebagai Pangcu?"
Goan-ci menegas. "Kamu minta aku kembali ke sana, maksud
kalian hanya ingin mambinasakan aku bukan? Tidak, aku tak
mau kesana!"
Segera Song-tianglo memberi tanda kepada keempat
anggota Kai-pang, "Lekas pergi menyampaikan berita bahwa
Pangcu berada di sini."
Keempat orang itu mengiakan. Dan baru saja mereka
hendak melangkah pergi, mendadak A Ci membentak, "Turun
tangan!"
Kontan sebelah tangan Goan-ci menghantam ke depan.
Seketika Ciong Ling dan Toan Ki yang sembunyi di kolong
balai-balai itu merasa hawa dingin menusuk tulang, keempat
anggota Kai-pang tahu-tahu menggeletak di lantai tanpa
bersuara sedikit pun, terang sudah mati.
Kaget dan gusar pula Song-tianglo, sambil siap siaga ia
berkata, "Ter . . . terhadap saudara sendiri ken . . . kenapa
kau turun tangan sekeji ini?"
“Bunuh dia sekalian!" seru A Ci mendadak.
Tanpa ayal lagi kembali Goan-ci menghantam. Ketika
Song-tianglo menangkis, "blak", kontan tubuh pengemis tua
itu mencelat dan terguling-guling keluar pintu.
A Ci tertawa senang, katanya, "Ong-kongcu, orang itu
pasti akan mampus juga, eh, kau lapar tidak? Marilah kita
mencari sedikit makanan."
Segera ia menggendong Goan-ci ke dapur, ia ambil
santapan yang sudah disiapkan oleh Ciong Ling tadi ke
ruangan tamu, lalu dimakan bersama Goan-ci.
”Kedua orang itu benar-benar tidak tahu aturan, masakah
daharan kita disikat begitu saja tanpa permisi," bisik Ciong
Ling di tepi telinga Toan Ki.
"Mereka sangat kejam, sekali serang tentu membunuh
orang, sebentar lagi tentu mereka juga akan ke sini,
mumpung mereka sedang makan minum lebih baik kita
mengeluyur pergi dari pintu belakang saja," ujar Toan Ki
dengan suara perlahan.
Ciong Ling memang tidak ingin melihat pertemuan antara
Toan Ki dengan "nona Ong", sudah tentu ajakan Toan Ki
sangat kebetulan baginya. Maka dengan perlahan mereka
lantas merangkak keluar dari kolong balai-balai. Melihat muka
Toan Ki penuh hangus sehingga sangat lucu kelihatannya,
hampir saja Ciong Ling mengikik geli, Cepat ia dekap mulut
sendiri.
Sesudah keluar pintu kamar dan menyusur ke ruang dapur
baru saja mereka hendak melangkah keluar pintu belakang,
celaka 13, rasa terkili-kili di hidung Toan Ki yang tertahan
sejak tadi tak bisa dikuasai lagi. "Haciim!" ia bersin dengan
keras.
Keruan Ciong Ling mendongkol, dalam pada itu terdengar
suara gadubrakan di ruangan depan tadi, terang suara bersin
Toan Ki telah didengar A Ci. Ciong Ling menjadi gugup, ia lihat
tadi tiada yang dapat dibuat sembunyi, hanya di belakang
dapur itu ada sebuah gudang kayu bakar. Tanpa pikir lagi ia.
tarik Toan Ki dan menyusup ke tengah onggok jerami yang
tertimbun dalam gudang itu.
Dalam pada itu terdengar A Ci sedang bertanya kepada
Goan-ci, "He, seperti ada orang memanggil aku? Kukira di sini
pasti ada orang."
"Ah, besar kemungkinan ada petani di sini, tak perlu
digubris." ujar Goan-ci.
"Masakah tali digubris? Engkau terlalu gegabah, kelak
engkau pasti akan rugi sendiri." Kata A Ci. "Sst, jangan
bersuara!"
Karena matanya buta, dengan sendirinya telinganya
menjadi jauh lebih tajam dan pada orang biasa, samar samar
ia dengar ada suara kresek-kresek di gudang kayu, maka ia
lantas berbisik, "Di tengah onggok rumput ada orang!"
Sesudah menyusup ke dalam onggok jerami, mestinya
Ciong Ling dan Toan Ki tidak berani bersuara atau bergerak
sedikit pun. Tapi mendadak Ciong Ling merasa mukanya
ketetesan cairan, waktu ia raba dan dicium, ia endus bau anyir
darah keruan ia terkejut dan bertanya, “He, lu . . . lukamu
kambuh lagi?“
"Ssst, jangan bersuara!" bisik Toan Ki.
Tapi karena ucapan Ciong Ling itu, suaranya segera
didengar oleh A Ci. Ia menjawab Goan-ci dan memberi tanda
ke arah gudang kayu. Segera Goan-ci menghantam ke sana,
"brak", papan pintu pecah berantakan dan bertebaran
bersama jerami.
Selagi Goan-ci hendak menghantam pula, cepat Ciong Ling
berseru, "Jangan memukul lagi, kami akan keluar!"
Lalu ia memayang Toan Ki dan merangkak keluar dari
tempat sembunyi mereka.
Rupanya luka Toan Ki yang ditikam oleh ”Hwe-yam-to" tak
berwujud serangan Cimoti itu menjadi pecah lagi setelah
banyak bergerak karena diseret sembunyi ke sini dan ke sana
oleh Ciong Ling sehingga darah mengucur lagi.
Waktu dia merangkak keluar dari onggok jerami,
sementara itu badannya sudah berlepotan darah tercampur
hangus, kotoran jerami dan lain-lain sehingga tak keruan
macamnya.
"He, kenapa ada suara seorang nona cilik?“ demikìan tanya
A Ci kepada Goan Ci.
"Ya, seorang lelaki dan seorang nona cilik bersembunyi di
tengah onggok jerami, badan mereka berlepotan darah, kedua
mata dara cilik yang berkilat-kilat itu sedang memandang
dirimu," sahut Goan-ci.
Sejak A Ci buta, ia paling sirik, bila ada orang menyebut
tentang "mata". Sekarang Goan-ci tidak cuma bilang "mata"
saja, bahkan mengatakan "mata yang berkilat-kilat", hal ini
semakin menyinggung perasaannya. Maka tanyanya segera,
"Berkilat-kilat bagaimana? Apakah matanya sangat celi dan
indah?"
Goan-ci tidak tahu A Ci sangat marah, maka jawabnya,
"Pakaian dara silik itu sangat kotor, tentu dia anak petani di
sini. Hanya matanya memang sangat celi dan hitam
mengkilat."
Keruan A Ci tambah murka, sekonyong-konyong timbul
semacam pikirannya yang keji, katanya segera, "Ong-kongcu,
kenapa engkau tidak mencukil matanya yang indah itu!"
Goan-ci terperanjat, tanyanya, "Tanpa sebab mengapa
mencukil matanya?"
Sesudah sekian lamanya berada bersama, A Ci kenal
perangai Goan-ci yang suka sembarangan membikin susah
orang lain. Segera ia berkata pula, "Mataku Sudah dibutakan
Ting-lokoai, maka boleh kau cukil mata nona cilik itu untuk
dipasangkan padaku agar aku dapat melihat lagi, bukan kah
cara demikian sangat baik?"
Tapi Goan-cl menjadi kuatir pikirnya, 'Jika kau dapat
melihat lagi sehingga tahu mukaku yang buruk seperti siluman
ini, tentu engkau tak mau gubris lagi padaku dan boleh jadi
engkau akan mengenàli pula mukaku yang asli dan
mengatahui aku ini si Badut kepala besi, segala Ong Sing-
thian, ketua Kek-lok-pai dan apa lagi tidak lain hanya dusta
belaka, maka pasti engkau akan putuskan hubungan dengan
aku seketika. Wah, permintaanmu ini sakali-kali tak boleh
terjadi."
Karena itu, lalu jawabnya. "Jika aku dapat menyembuhkan
matamu ini biarpun aku harus hancur-lebur juga aku rela tapi .
. . . tapi rasanya tidak dapat lagil"
Walaupun A Ci juga tahu tidak dapat mencukil mata orang
lain untuk menggantikan mata sendiri yang buta, tapi sejak
dia buta sungguh rasa dendamnya tak kepalang, kalau bila ia
ingin setiap manusia di jagat ini juga dibuat buta semua,
dengan demikian barulah ia merasa puas. Maka katanya,
"Engkau bolum mencoba dari mana kau tahu tidak dapat?
Ayo, lekas lakukan cukil dulu matanya itu!"
Memangnya Goan-ci sudah berada di gendongannya, maka
A Ci lantas melangkah ke arah Toan Ki dan Ciong Ling.
Dalam pada itu Ciong Ling menjadi ketakutan demi
mendengar tanya jawab A Ci dan Goan-ci tadi, maka sebelum
A Ci mendekat lebih dulu ia sudah angkat langkah seribu alias
lari. Dasar gerak-gerik Ciong Ling memang lincah dan gesit,
dalam keadaan takut larinya menjadi lebih cepat lagi maka
dalam sekejap saja la sudah lari beberapa puluh meter
jauhnya.
A Ci sandiri buta, menggendong Goan-ci pula, dengan
sendirinya susah mengejar Ciong Ling. Maka waklu
mendengar suara lari Ciong Ling yang sudah menjauh itu, la
tahu tak dapat menyusulnya segara la berhenti dan berkata,
"Jika anak dara itu lari boleh bunuh saja yang lelaki!”
Ciong Ling terperanjat ketika dari jauh mendengar ucapan
A Ci itu, segera ia berhenti lari dan putar balik, la lihat Toan Ki
menggeletak di tanah dan banyak mengucurkan darah,
bentaknya segera, "Anak buta kau berani mencelakai dia?"
Sekarang dia sudah berhadapan dengan A Ci dan dapat
melihat jelas mukanya, ia lihat si "Nona Ong” memang sangat
cantik, sungguh sukar dipercaya bahwa hatinya ternyata
begitu kejam.
'Tutuk dia punya hiat-tol" tiba-tiba A Ci berseru pula.
Walaupun Goan-ci sebenarnya tidak mau, tapi selama ini ia
tidak berani membangkang perintah A Ci, dahulu waktu di
negeri Liau bagitu, sekarang sesudah jadi Pangcu Kai-pang
juga tetap demikian maka demi mendengar perintah A Ci,
seketika ia menutuk ke depan, "crit", kontan Ciong Ling
tertutuk roboh.
'Nona Ong. jangan . . . mencelakai dia!" seru Ciang
Ling."Dia , , . dia selalu terkenang-padamu. dalam mimpi pun
selalu menyebut namamu, dia benar-benar sangat cinta
padamu."
"Heh, apa katamu? Nona Ong?" tanya A Ci dengan heran.
"Apa engkau bu , . , bukan nona Ong!" Ciong Ling
menegas. "Habis siapa engkau?"
A Ci tersenyum, katanya, "Meski Ong-kongcu ini adalah
orang kusendiri, tapi aku sendiri bukan she Ong. boleh juga
asal dia selalu menurut pada perintahku dan tidak boleh
membangkang sedikit pun."
Hati Goan-ci berdebar demi mendengar ucapan A Ci yang
seakan-akan memberi bayangan bila dirinya senantiasa
menurut kemauan si nona, maka ada kemungkinan si nona
akan mau menjadi istrinya. Seketika Goan-Ci merasa
tenggorokannya seperti tersumbat, hendak bicara, tapi berat
sekali rasanya.
Kemudian A Ci menurunkan Goan-ci dan membiarkannya
duduk bersandarkan pohon, lalu katanya, "Nah, lekas mencukil
mata anak dara itu!"
Dalam keadaan kesemsem, tanpa pikir lagi Goan-cì
mengiakan, ia mengulur sebelah tangannya dan mencengkram
kuduk Ciong Ling.
Karuan Ciong Ling Ketakutan dan berteriak-teriak, "Jangan
mencukil mataku, jangan!"
Saat itu Toan Ki dalam keadaan sadar tak sadar, tapi ia
pun lahu kedua orang itu hendak mencukil biji mata Ciong
Ling untuk menggantikan mata A Ci yang sudah buta itu. ia
pun tahu tadi Ciong Ling sebenarnya dapat melarikan diri, tapi
demi untuk menolong dia, si nona lari balik hingga tertangkap.
Maka dengan sekuatnya Toan Ki coba berkata, "Le . . . lebih
baik kalian mencukil biji mataku saja. Kita . . . kita adalah
orang sekeluarga, tentu . . . tentu akan lebih cocok . . . . "
A Ci tidak paham apa yang dikatakan Toan Ki tentang
''orang sekeluarga," tetap mendesak Goan-ci, "Ayo, kenapa
tidak lekas turun tangan.”
"Ya," sahut Goan-Ci dan segera ia seret Ciong ling lebih
dekat, sekali ia puntir kepala Ciong Ling ke atas, lalu dengan
jari kanan hendak mencolok mata kiri si nona.
Untung pada saat itu keburu ada suara bentakan seorang
perempuan, "Hai, apa yang sedang kalian lakukan di situ?"
Goan-ci tertegun, cepat ia menoleh seketika air mukanya
bwrubah, ternyata di bawah pohon, di tepi parit pegunungan
sana berdiri dua orang lelaki dan empat wanita. Kedua orang
lelaki itu adalah Siau Hong dan Hi-tiok, sedang keempat orang
wanita adalah Bwe-kiam dan kawan-kawannya.
Sekilas Siau Hong, sudah lihat Toan Ki menggeletak di situ,
cepat ia melompat maju dan membangunkan Toan Ki.
Katanya dengan berkerut kening, Lukanya pecah lagi dan
mengeluarkan darah sebanyak ini!"
Segera sebelah kakinya berlutut dan menyandarkan tubuh
Toan Ki pada pahanya, lalu di periksanya luka saudara angkat
itu.
Sementara itu Hi-tiok juga sudah mendekatinya katanya
setelah melihat luka Toan Ki itu, "Toako jangan kuatilr
kupunya Kilu-coan-him-coa-wan ini sangat manjur sekali bagi
luka demikian!"
Segera ia menutuk beberapa hiai-to di sekitar luka Toan Ki
itu untuk menghentikan darah yang masih mengucur itu lalu
dijejalkan sebutir Kiu-coan-him-coa-wan ke mulut Toan Ki.
Wajah Toan Ki yang pucat pasi itu menampilkan senyuman
lega, katanya, "Toako, Jiko, lekas . . . lekas cegah mereka
yang hendak men . . . .mencukil mata nona Ciong itu."
Serentak Siau Hong daa Hi-tiok lantas memandang ke arah
Goan-ci.
Dalam gugupnya cepat Goan-ci melepaskan
cengkaramannya atas diri Ciong Ling, Sedangkan A Ci lantas
mengenali suara Siau Hong, katanya segera "Cihu, apa pesan
Enciku sebelum ajalnya? Sesudah kau pukul mati dia,
sekarang engkau melupakan pula segala pesannya padamu?"
Mendengar nona cilik itu menyinggung A Cu kembali Siau
Hong berduka dan medongkol pula maka ia hanya mendengus
sekali dan tidak menjawab.
A Ci berkata pula, "Engkau tidak menjaga diriku dangan
baik dan tidak pusing pula ketika mataku dibutakan oleh Ting-
lokai. Cihu, setiap orang sama engatakan engkau adalah
ksatria nomor satu di jaman ini tapi engkau tidak mampu
melindungi keselamatan adik iparmu sendiri. Apa barangkali
engkau tidak punya kepandaian? Hm, padahal Ting-lokoai
sudah terang bukan tandinganmu, soalnya engkau tidak mau
menjaga dan membela diriku."
"Kau sendiri mengeluyur pergi secara mendadak dan tanpa
pamit, dari mana kudapat mencari dirimu?" sahut Siau Hong.
"Namun . . . namun matamu buta, hal ini memang . . .
memang salahku yang kurang sempuma menjaga
keselamatanmu."
Semula sebenarnya Siau Hong sangat marah ketika
melihat A Ci bikin gara-gara lagi dengan menyuruh Goan-ci
mencukil mata orang lain. Tapi sekarang dia lantas teringat
pesan A Cu pada malam yang gelap gulita dengan hujan badai
di atas jembatan batu itu A Cu kena hantamannya. Lalu
memberi pesan terakhir dalam pelukannya agar selunjutnya
süka menjaga adik perempuannya, yaitu A Ci. Untuk itu Siau
Hong sendiri pernah berjanji jangankan Cuma satu
permintaan, biarpun seratus atau seribu permintaan juga akan
dituruti.
Tapi akhirnya A Ci tersesat ke jalan yang jahat, matanya
buta pula, untuk ini terang dirinya harus bertanggung jawab
karena kurang sempurna mengawasi anak dara cilik itu.
Berpikir sampai di sini, perasaan Siau Hong menjadi pedih,
sorot matanya penuh menunjuk kehalusan budi. Walaupun A
Ci tidak dapat melihat air muka Siau Hong, cukup lama dia
tinggal bersama sang Cihu, maka ia cukup kenal watak Siau
Hong, asal dirinya menyingung tentang A Cu, itu berarti obat
yang paling mujarab, biar urusan maha besar apa pun juga
pasti akan diterima Siau Hong.
Dan karena benci pada Ciong Ling yang telah
menyebutnya "anak buta ' diam-diam ia bersumpah akan
membuat Ciang Ling juga merasa bagaimana rasanya orang
buta. Maka sesudáh menghela napas, lalu ia berkata kepada
Siau Hong, "Cihu mataku buta, segala apa tak bisa kulihat lagi
lebih baik aku mati saja."
"Kau boleh ikut ayahmu pulang ke Taili saja,” Ujar Siau
Hong. "Betapa bahagíanya hidup dalam istana raja Taili sana,
sekali kamu bersuara akan mendapat jawaban orang banyak,
biarpun matamu buta. tapi kamu akan dilayani dayang-dayang
yang tak terhitung banyaknya, tentu kamu takkan susah.”
"Ibuku bukan istri pangeran yang sah. Bila aku tinggal di
Taílí sana, kalau sampai terjadi percekcokan antar anggota
keluarga, sedangkan mataku súdah buta, aku pasti akan
dibunuh orang." kata A Ci.
Benar juga pikir Síau-Hong akan alassan A Ci maka
jawabnya, "Jika begitu boleh kau ikut aku pulang ke Lam-khin,
akan ku suruh orang melayanimu dengan baik supaya bias
hidup dengan tentram dan senang, jauh lebih enak dari pada
terlunta-lunta di dunia kangouw.
"Pulang kembali ke istañamu?" A Ci menegas. "Aduh mak!
Sedangkan dahulu waktu mataku tidak buta hidupku di sana
pun terasa sebat, apalagi sekarang? Kaupun tidak sama
seperti Ong-pangcu íni yang segala apa selalu menurut
padaku. Maka aku lebih suka hidup terlunta-lunta di kangouw
secara bebas."
Siau Hong coba memandang sekejap pada Goan ci
pikirnya, "Urusan begini memang aku tidak dapat melarang
dia. Tampaknya A Ci sudah menyukai Pangcu Kai-pang ini."
Karena itu mendadak rasa bencinya pada Goan-ci
bertambah satu lapis lagi, segera ia Tanya kepada A Ci,
"Saudara Ong ini sebenarnya dari mana asal-usulnya? Apa
sudah pernah kau tanya dia?"
"Sudah tentu aku pernah tanya dia," sahut A Ci. "Cuma
asal-usul seseorang juga tidak selalu dapat dipercaya.
Misalnnya Cihu sendiri dahulu waktu engkau masih menjabat
Pangcu Kai-pang apakah engkau pernah bilang kepada orang
lain bahwa engkau adalah keturunan Cidan?"
Siau Hong menjadi kurang senang karena setiap kata A Ci
itu selaiu berduri. Maka ia hanya mendengus sekali dan tidak
bicara lagi. Dalam hati ia tak bisa ambil keputusan apa mesti
membiarkan A Ci ikut pergi bersama Ong Sing-thian atau
tidak?”
Tapi A Ci lantas berkata, "Cihu, engkau takkan
mempedulikan aku lagi, ya?”
"Habis apa pula kehendakmu?" sahut Siau Hong sambil
berkerut kening.
"Soalnya sangat mudah sekali." ujar A Ci Ku minta engkau
mencukilkan biji mata nona cilik iti dan dipasangkan pada
mataku."
Sesudah merandek sejenak, lalu ia menyambung pula,
"Ong pangcu sudah menyanggupi melakukan hal itu bagiku
bila engkau tidak datang dan mencegahnya, tentu sejak tadi
urusan sudah beres. Ya, boleh juga engkau yang
melakukannya bagiku. Cihu, aku sangat ingin tahu apakah
engkau lebih baik padaku atau Ong-pangcu lebih baik padaku.
Dahulu engkau menghantam patah tulang rusukku, lalu kau
bawa aku jauh ke timur laut sehingga kesehatanku sembuh
kembali, Takkala itu betapa baiknya engkau padaku, apa yang
kumaukan tentu kau lakukan. Kita berdua tinggal dalam satu
kemah, tanpa pikirkan siang atau malam senantiasa kau
pondong tubuhku. Cihu, apakah engkau sudah melupakan
semua itu?”
Mendengar uraian A Ci itu, seketika mata Goan-ci
menyorotkan sinar kebencian yang tak terkatakan, sinar mata
yang buas dan penuh cemburu dan seakan-akan hendak
berkata, "A Ci adalah Milikku, jangan kau coba menyentuhnya
sedikitpun.”
Siau Hong sendiri tidak memperhatikan sinar mata Goan-ci
yang luar biasa itu, la menjawab pertanyaan A Ci tadi,
“Tatkala itu kamu terluka parah karena pukulanku, demi untuk
menyembuhkanmu mau-tak mau aku harus mengikuti segala
keinginanmu. Sedangkan nona cilik ini adalah kawan adik
angkatku, mana boleh kau cukil matanya untuk menggantikan
matamu? Apa lagi di dunia ini pada hakekatnya tiada cara
pengobatan demikian, cara berpikirmu ini sungguh terlalu
aneh!“
Tiba-tiba Hi-tiok menimbrung. " Kulihat kedua mata nona
Toan itu cuma rusak selaputnya saja karena terbakar, kalau
dapat diganti dengan sepasang biji mata orang hidup memang
bukan mustahil akan dapat disembuhkan kembali."
Memang ilmu pengobatan dari golongan Siau-yau-pai
boleh dikata maha sakti, walaupun pengetahuan Hi-tiok dalam
hal ini tidak banyak, tapi dia telah belajar selama beberapa
bulan dengan Thian-san Tong-lo, maka macam-macam cara
pengobatan yang aneh pernah didengarnya juga dari nenek
sakti itu.
Karena keterangan Hi-tiok itu membuat A Ci bersorak
gembira, katanya, "Wah, bagus! Hi-tiok siansing, ucapanmu
tidak mendustai aku bukan?“
"Sudah tentu aku tidak dusta, cuma . . . .”
"Cuma apa?'' A Ci menegas dengan tidak sabar. "O, Hi-tiok
Siansing yang baik, engkau adalah saudara angkat Cihuku,
maka kita pun sebenarnya adalah orang sendiri. Tadi kaupun
sudah mendengar kata-kata Cihu, dia paling sayang padaku.
Eh, Cihu, betapapun engkau harus minta adik angkatmu agar
Suka menyembuhkan mataku."
”Aku memang pernah dengar cerita paman guruku bahwa
biji mata yang belum rusak dapat diganti dengan biji mata
hidup yang lain, cuma cara mengganti biji mata ini aku sendiri
tidak paham," ucap Hi-tiok.
"Jika begitu harap memohonkan pertolongan paman
gurumu itu," sahut A Ci.
"Ai, sayang beliau sudah lama wafat," sahut Hi-tiok sambil
menghela napas.
"Ha, jadi kau sengaja omong kosong untuk
mempermainkan aku," omel A Ci.
"Tidak, tidak," cepat Hi-tiok menerangkan. ''Leng-ciu-kiong
kami banyak banyak menyimpan kitab püsaka, kuyakin ilmu
penyembuhan mata itu juga terdapat di antara kitab-kitab
kami itu. Hanya saja . . . hanya saja . . . . "
"Kamu ini memang aneh, seorang lelaki mengapa suka
bicara demikian rupa, tadi ada 'cuma', sekarang tambah lagi
'hanya saja' apa segala?" kata A Ci.
"Hanya saja siapa yang mau memberikan biji mata hidup
untuk menggantikan matamu?" kata Hi-tiok akhirnya.
"Hihi!" A Ci tertawa. "Kukira, soal apa yang sukar, tak
tahunya Cuma soal biji mata. Ini kan gampang, asal kau cukil
biji mata nona she Ciong itu, bukankah urusan menjadi
beras?”
"Tidak, tidak boleh jadi!" seru Ciong Ling. "Kalian tidak
boleh mencukil mataku."
"Benar!" kata Hi-tiok. "Jika kamu tidak ingin kehilangan
mata, sudah tentü nona Ciong pun tidak ingin buta matanya.
Kata Khong-hu-cu 'Apa yang kita sendiri tidak mau, janganlah
dilimpahkan kepada orang lain.’ Apalagi nona Ciong ini adalah
sobat baik Samte kami . . . "
Berkata sampai sobat baik mendadak hati Hi-tiok tergetar,
"Wah, celaka! Tempo hari ketika aku makan minum bersama
Samte di Leng-ciu-kiong dan saling mengutarakan perasaan
masing-masing diketahui bahwa kekasihnya adalah 'Dewi
impian’ ku pula. Tampaknya sekarang Samte sangat baik pada
nona Ciong ini, Bahkan tadi Samte menyatakan bersedia
matanya dicukil daripada mata nona Ciong yang dicukil, dari
hal ini saja dapat di ketahui betapa mendalam cinta Samte
kepadanya."
Lalu terpikir pula oleh Hi-tiok, "Apa mungkin nona Ciong ini
adalah dewi impian yang pernah berkumpul tiga malam
berturut-turut denganku itu?”
Teringat akan pengalaman tempo dulu itu, kembali hati Hi-
tiok berdebar-debar, ia coba melirik ke arah Ciong Ling ia lihat
meski kepala dan muka nona itu penuh debu hanlus, tapi
semua itu tidak menutupi kecantikannya.
Waktu berkumpulnya Hi-tiok dengan Dewi impiainnya
cukup lama, cuma ketika itu mereka berada di dalam gudang
es yang gelap gulita, maka bagaimana sebenarnya wajah sang
"dewi impian" itu tidaklah jelas baginya, kecuali kalau dia
menggunakan tangannya untuk meraba muka dan bagian-
bagian tertentu barulah mungkin dapat mengenalinya. Tapi
disiang hari bolong, di depan orang banyak mana berani Hi-
tiok menggunakan tangannya untuk meraba mukanya Ciong
Ling?
Karena itu, untuk sekian lamanya la merasa bingung, ia
coba ingat-ingat suara "dewi impian' itu, rasanya agak
berbeda dengan suaranya Ciong Ling. Tapi suara seseorang
besar kemungkinan akan berlainan bila berada didalam
gudang dan berada di luar rumah. Apalagi waktu se dewi
impian bicara dengan dia hanya dilakukan dalam keadaan
bisik-bisik penuh kasih mesra, sedangkan sekarang Ciong Ling
berteriak dan menjerit dalam keadaan ketakutan, suasana
yang berbeda tentu juga tidak heran bila mengakibatkan
perbedaan suara.
Begitulah dengan termanggu-manggu Hi-tiok
memperhatikan Ciong Ling, dalam hati sesungguhnya sangat
ingin mengulurkan tangannya untuk meraba-raba muka si
nona agar dapat diketahui apakah nona itu adalah Dewi
impiannya sendiri atau bukan? Dan karena timbul rasa kasih
mesranya itu, dengan sendirinya air mukanya lantas
mengunjuk rasa lemah lembut dan ramah tamah.
Ciong Ling sampai terheran-heran ia pikir si gundul ini
(rambut Hi-tiok belum tumbuh kembali walau pun sudah ganti
pakaian biasa) tampaknya sangat ramah-tamah, tentu dia
tìdak mau mencukìl mataku. Maka legalah hatinya.
Dalam pada itu A Ci telah berkata pula, "Hi-tiok Siansing,
aku adalah adik perempuan kau punya Samte, sedangkan
nona Ciong ini hanya kawannya saja. Perbedaan ini tentu
sangat besar."
Sementara itu sesudah minum Kiu-coan-him-coa-wan,
dalam sekejap saja darah sudah berhenti mengucur keluar
dari luka Toan Ki, pikirannya juga pelahan-pelahan jernih
kembali, maka beberapa kata-kata A Ci yang terakhir itu dapat
didengarnya dengan jelas. Karena itu ia lantas menjengek dan
berkata, "Hm, jadi kau sudah tahu bahwa kau membunyai
hubungan darah dengan aku, tapi mengapa kau suruh orang
untuk mencelakai aku?”
“Engkoh cilik," sahut A Ci dengan tertawa. "Waktu kau
sembunyi didalam kamar sudah tentu aku tidak tahu bahwa
kau yang berada disitu, kemudìan sesudah mendengar
suaramu barulah aku mengenalimu. Mataku sudah buta jika
tidak mendangarkan susramu, dari mana aku bisa tahu
engkau adalah saudaraku sendiri?"
Benar juga pikir Toan Ki, maka katanya, "Ya, sudah. Jika
Jiko paham cara pengobatan mata, tentu dia akan berusaha
untuk menyembuhkanmu. Tapi biji mata nona Ciong sekali-kali
tak boleh kau ganggu."
"Eh, tadi kudengar engkau membaiki nona Ong dengan
berbagai daya upayamu, mengapa dalam sekejap saja kau
penujui pula nona Ciong ini?” tanya A Ci.
"Ngaco!" sahut Toao Ki dengan muka merah jengah.
"Dan kalau nona Ciong ini adalah calon Enso (kakak ipar
istri kakak), dangan sendirinya tidak boleh kuganggu dia tapi
kalau bukan mengapa aku dilarang?” kata A Ci pula. "Nah,
engkoh cilik, katakanlah terus terang dia Ensoku atau bukan?”
Hi-tiok melirik ke arah Toan Ki dengan hati berdebar-debar
ia tidak tahu Ciong ling, itu sang "Dewi impian" yang
dirindukannya atau bukan? Jika bukan sih tidak menjadi soal,
tapi kalau betul wah, kan runyam bila sampai diambil istri oleh
Toan Ki.
Begitulah, maka Hi-tiok juga ingin tahu apa jawahan Toan
Ki. Ciong Ling pun sedang menantikan keterangan Toan Ki,
pikirnya, "Kiranya nona buta ini adalah adik perempuanmu,
sampai dia juga mengatakan kausuka pada nona Ong maka
hal ini tidak perlu disangsikan lagi. Tapi kenapa tadi kau bilang
aku adalah ibu guru Gak-Losam? Mengapa engkau bersedia
menyerahkan biji matamu untuk mewakilkan mataku yang
akan dicukil nona buta itu?"
Akhirnya terdengar Toan Ki menjawab. "Pendek kata kamu
tidak boleh membikin susah nona Ciong. Usiamu masih
sekecil ini tapi selalu berbuat hal-hal yang tidak pantas. Leng
liam li bukankah mati lantaran marah padamu. Kalau sekarang
kamu berniat jahat lagi, tentu Jiko tak mau mengobati
matamu."
"Waduh lagaknya seperti orang tua mengajar anak
perempuan ya?" sahut A Ci dengan mulut mengjangkit.
Melihat semangat Toan Ki sudah mulai pulih, suaranya
penuh tenaga, maka Siau Hong tahu Kuim-coan-wan yang
diberi Hi-tiok itu sangat manjur, keselamatan adik angkat itu
sekarang tidak perlu dikuatirkan lagi. Segera katanya, ”samte,
marilah kita mengaso dulu ke dalam rumah dan sekaligus
merundingkan langkah-langkah selanjutnya.”
Toan ki mengiakan dan segera bangun, Ciang Ling menjadi
kuatir, serunya, "Eh, hati-hati nanti lukamu kambuh lagi!"
"Obatmu benar-benar sangat manjur, Jiko," käta Siau
Hong.
Hi tiok hanya mengiakan saja, dalam hati ia sedang
memikirkan nada ucapan Ciong Ling yang penuh perhatian
kepada Toan Ki tadi, karena belum tahu persis apakah nona
itu Dewi Impian atau bukan, maka ia pun tidak tahu apa mesti
cemburu atau tidak, ia hanya merasa bingung seakan-akan
kehilangan sesuatu.
Sesudah semua orang masuk ke dalam rumah, Toan Ki
rebah kembali di atas balai-balai dan Siau Hong duduk di
depannya, Bwe-kiam berempat sibuk masak air da menanak
nasi, mereka melayani Siau Hong, Toan Ki, Ciong Ling dan Hi-
tiok dengan Baik, sebaliknya sama sekali tidak gubris kepada
Goan ci dan A Ci.
Tentu saja A Ci sangat mendongkol. Kalau menuruti
wataknya, mestinya keempat dara Leng-ciu-kiong itu sudah
didamprat dan diracun sekalian atau ditinggal pergi saja, tapi
sekarang karena dia perlu minta pertolongan Hi-Tiok untuk
menyembuhkan matanya, terpaksa ia menahan rasa gusar itu.
Siau Hong adalah seorang lelaki yang berhati lapang,
sudah tentu ia tidak mengurusi apakah A Ci sedang marah
marah atau tidak? Dalam isengnya ià menarik laci meja yang
terletak di dekat balai-balai itu, kotika melihat laci meja itu,
seketika ia tertegun.
Melihat sikap sang Toako yang agak aneh itu, Hi-tiok dan
Goan-ci ikut memàndang ke dalam laci. Kiranya di dalamnya
terisi macam-macam mainan kanak-kanak, ada harimau kayu,
anjing-anjingan lempung, bumbung wadah jangkrik dan
beberapa belah pisau kecil yang sudah berkarat. Kesemua itu
adalah barang mainan anak kecil yang tidak perlu diherankan.
Tapi Siau Hong justru ambil harimau kayu itu dan mengamat-
amatinya dengan termangu-mangu.
A Ci tidak tahu apa yang sedang dilakukan Siau Hong,
padahal hidupnya senantiasa ingin disanjung puji dan suka
memerintah tapi di depan Siau Hong dan Hi-tiok mau tak mau
Goan-ci merasa jeri sehingga sama sekali ia tidak berani ajak
bicara pada A Ci, hal ini membuat A Ci semakin mendongkol
dan makin uring-uringan, tiba-tiba sikutnya menumbuk sebuah
alat tenun kayu di sebelahnya sehingga ambruk dalam
gusarnya A Ci terus lolos pedang dan "crat“, ia membacok alat
tenun itu sehingga terbelah menjadi dua.
"A Ci, ada apa?” bentak Siau Hong mendadak.
"Alat tenun itu membentur tanganku hingga kesakitan,
maka kuhancurkan dia, apa sih alangannya?" sahut A Ci.
"Kau keluar sana! Masakah benda dalam rumah ini boleh
kau rusak semaunya?" kata Siau Hong dengan gusar.
"Keluar ya keluarl" sahut A Ci. Dan dengan langkah cepat
ia terus bertindak keluar.
Tak tersangka karena terburu-buru, "duk” batok kepalanya
kebentur tepian pintu. Tapi tanpa bersuara sedikit pun ia
meraba raba jelas jalannya dan tetap melangkah keluar
dengan cepat.
Hati Siau Hong menjadi lemas dan merasa kasihan cepat ia
memburu maju dan memegang tangan A Ci katanya dengan
suara halus "A Ci apakah sakit?"
A Ci tak sangup menjawab lagi, ia putar badan dan
menjatuhkan diri ke dalam pelukan Siau Hong sambil
menangis tersedu-sedan.
Tangan Siau Hong menepuk bahu A Ci, katanya dengan
suara ramah. "Ya, A Ci aku yang salah tidak seharusnya aku
berlaku kasar padamu."
"Engkau . . . engkau sudah berubah, Engkau sudah
berubah." kata A Ci sambil mengangis. "Engkau tidak ..... tidak
seperti dulu lagi."
'Duduklah A Ci, minum sedikit, ya?” bujuk Siau Hong. Lalu
ia ajak masuk nona itu dan mengangkat mangkuk sendini
yang berisi air teh dan disodorkan ke mulut A Ci, sebelah
tangannya digunakan untuk merangkul punggung A Ci.
Dahulu karena menyesal telah melukai nona cilik itu, pula
mengingat pesan terakhir A Cu, maka selama lebih setahun
Siau Hong merawat A Ci, baik makan minum, maupun ganti
pakaian, sisir rambut dan sebagainya selalu Siau Hong
melayaninya seperti terhadap adik perempuan sendiri sedikit
pun tidak mempunyai perasaan di luar garis.
Tatkala itu bila A Ci hendak minum obat karena belum
sanggup duduk tegak, Siau Hong mesti membantunya dengan
merangkul badan si nona agar dapat menegak, lama-lama
kebisaan itu menjadi berakar, maka sekarang ketika memberi
minum Siau Hong pun merangkul punggung si nona seperti
dahulu.
Sesudah A Ci minum beberapa ceguk dengan dirangkul
Siau Hong, perasaan mejadi agak lega katanya kemudian
dengan tertawa, "Cihu, apa engkau masih akan mengusir
aku?"
Siau Hong tidak menjawab, pelahan ia lepaskan tubuh si
nona dan menoleh untuk menaruh kembali mangkuk teh di
atas meja. Karena waktu itu sudah dekat magrib, dalam
keadaan remang-remang tiba-tiba dilihatnya sepasang sinar
mata yang buas bagai binatang sedang menatapnya dengan
penuh kebencian. Ia terkejut. Ia lihat itu lah sorot matanya
Goan-ci yang duduk di pojok sana dengan mengertak gigi,
hidungnya berkembang-kempis seolah-olah binatang liar yang
ingin menerkamnya.
Diam-diam Siau Hong membatin, "Orang ini entah dari
mana asal-usulnya, sungguh sangat luar biasa.”
Dalam pada itu terdengar A Ci, sedang berkata pula, "Cihù,
aku cuma merusakkan sebuah alat tenun lama, kanapa
engkau sedemikian marah?"
"Apa kau tahu bahwa ini adalah rumah ayah bunda
angkatku dan alat tenun yang rusak ini adalah milik ibu
angkatku?" sahut Siau Hong.
Semua orang terkejut mendengar keterangan itu. "Toako,
jadi engkau yang menyelamatkan aku ke sini?" tanya Toan Ki.
Siau Hong mengangguk. Ia pegang harimau kayu yang
kecil itu dan dipandangnya dengan termenung-menung.
Sementara itu hari sudah gelap, Tiok Kiam telah menyalakan
pelita minyak sehingga bayangan Siau Hong yang kekar itu
tersorot ke dinding rumah.
Siau Hong mengamat-amati mainan harimau kayu yang
kecil itu dan berkata dengan suara penuh perasaan, "Ini
adalah mainan yang diukir oleh ayah angkatku. Takkala itu
usiaku kira-kira lima tahun, beliau duduk di samping meja, di
bawah sinar pelita minyak separti sekarang ini, dan mengukir
mainan kayu ini bagiku. Ibu angkat sendiri sibuk menenun
situ. Aku berdiri menunggui ayah angkat yang sedang
mengukir harimau kayu ini, aku menyaksikan moncong
harimau selesai diukir, lalu telinganya, sungguh alangkah
senangnya hatiku . . . . "
Toan Ki dan Hi-tiok tahu akan nasib Siau Hong yang
malang itu, mereka tahu sang Toako itu dibesarkan oleh ayah-
ibu angkatnya, tapi kedua orang tua itu dibunuh oleh Siau
Wan-san,ayah Siau Hong yang sebenarnya. Maka bila
sekarang terkenang budi kebaikan ayah ibu angkatnya di
masa dahulu itu, sudah tentu ia sangat berduka dan terharu.
Kiranya waktu Cumoti mendadak menyerang Toan Ki,
untung juga si padri tua yang sedang berkhotbah itu sempat
mengebaskan lengan bajunya sehingga Cumoti terdorong
pergi beberapa meter jauhnya. Karena itu Cumoti ketakutan
dan lekas-lekas melarikan diri. Siau Hong sendiri lantas
mengadakan pertolongan kepada Toan Ki yang terluka parah
itu dengan bantuan obat luka mujarab pemberian Hian-seng
dari Siau-lim-si.
Untung tenaga dalam Toan Ki sekarang sudah sangat
hebat, tikaman Cumoti yang tak berwujud itu tidak sampai
menembus dadanya sehingga jiwanya masih dapat ditolong.
Di lain pihak Siau Wan-san dan Buyung Bok ternyata sudah
mencapai kesadaran dan mengangkat padri tua yang tak
bernama itu sebagai guru dengan resmi mereka memeluk
agama Budha.
Karena kuatir luka Toan Ki tambah parah bila tak terurus,
segera Siau Hong membawanya ke rumah ayah-ibu angkatnya
dahulü, sesudah menidurkan Toan Ki di balai-balai, lalu tinggal
pergi lagi dengan maksud menemui ayahnya, lain mesti
mengatur ke-18 ksatria Cidan yang mengikutinya dari negeri
Liau itu. Sama sekali ia tidak menduga bahwa tempat
kediaman yang ditinggalkan mendiang ayah-lbu angkotnya itu
sudah ada orang yaitu kenalan lama Toan Ki sendiri,Ciong
Ling.
Waktu Siau Hong sampai di Siau-lim-si pula, keadaan di
sana sudah kembali dalam ketenangan. Rupanya setelah
menyaksikan permusuhan Siau Wan-san dan Buyung Bok yang
mendalam itu telah diselesaikan bahkan sekarang mereka
telah menjadi saudara seperguruan, maka ilmu silat Siau-lim-
pai yang pernah dipelajari Síaü Wan-san, takkan tersebar lagi
ke negeri Liau, hal ini membuat para ksatria Tionggoan sama
merasa lega, maka beramai-ramai mereka lantas mohon diri.
Sementara itu hari sudah gelap, waktu siau hong mohon
bertamu dengan ayahnya, di luar dugaan permintaannya
ditolak menurut padri penyambut tamu yang menyampaikan
permintaan Siau Hong itu, katanya ayahnya sudah melepaskan
diri dari keluarga dan menjadi hwesio, gelarnya sekarang
adalah Hui-ho Hwesio, beliau mengharapkan putranya (Siau
Hong) menggunakan pengaruhnya untuk berusaha sedapat
mungkin hidup berdampingan secara damai antar kedua
negeri Song dan Liau demi kesejahteraan manusia.
Sungguh Siau Hong sangat berduka, sejak kecil berpisah
dengan ayahnya sesudah bertemu sebentar saja sekarang
orang tua itu sudah melepaskan diri dari kekeluargaan,
rasanya untuk seterusnya tiada kesempatan buat bertemu
lagi. Ia pikir demi pesan sang ayah tadi, selaku Lam-ih Tai-ong
harus berusaha mencapai perdamaian di antara negara
tetangga.
Tengah Siau Hong termenung. Tiba-tiba dari dalam Sian-
lim-si beramai-ramai keluar beberapa padri tua, mereka
adalah Sin-kong Sianjin, Cilo Singh dan lain-lain dengan
diantar oleh Hian Cit dan Hian Seng, Polo Singh tampak berdiri
di belakang Hian-Cit dan merangkap tangannya sebagai tanda
hormat mengantar keberangkatan tamu mereka.
Terdengar Cilo Singh berkata, "Sute, aku akan kembali ke
Thian-tiok yang jauh di barat sana dan entah kapan baru bisa
berjumpa pula, apa engkaü sudah bertekad akan menetap di
sini dan tak ingin pulang ke kampung halaman asalmu lagi"
"Mengapa Suheng masih belum menyadari semua ini?"
sahut Polo Sing. "Thian-tiok adalah Tionggoan dan Tionggoan
adalah Thian-Tiok, begitu pula maksud tujuan kedatangan
Budidarma ke timur sini."
Cilo Singh terkesiap, katanya, “Terima kasih atas petunjuk
Sute, baru sekarang pikiranku terbuka. Engkau bukan lagi
Sutekú melainkan guruku."
"Mencapai kesadaran tidak membedakan cepat atau
lambat, yang penting asal sama-sama mencapai kesadaran,"
kata Polo Singh dengan tertawa.
Siau Hong menyingkir ke samping, ia tunggu sesudah Sin-
kong, To jing, Cilo Singh dan lain-lain turun kebawah gunung,
lalu ia pun menyusul di belakang mereka dengan langkah
perlahan, Tapi baru dia melangkah beberapa tindak, tiba-tiba
dari Siau-lim-si keluar lagi seorang, itulah Hi-Tiok adanya.
Sungguh girang Hi-tiok tak terkira demi melihat Siau Hong,
cepat la menyusulnya dan berkata. "Toako, aku sedang
hendak mencari dirimu. Kabarnya Samte terluka parah, entah
bagaimana keadaannya?"
'"Ya, aku telah membawanya kesuatu rumah petani," sahut
Siau Hong.
”Marilah kita pergi melihatnya, boleh?" tanya Hi-tiok.
"Baik sekali." sahut Siau Hong.
Segera mereka berdua berangkat dengan cepat. Tapi
belum ada belasan meter jauhnya, Bwe-kiam berempat tiba-
tiba muncul dari dalam hutan sana dan mengikut ke belakang
mereka. pertengahan jalan Hi Tiok memberitahukan kepada
Siau Hong bahwa ke-18 ksatria Cidan juga sudah pergi dengan
selamat.
Siau Hong menyatakan syukur, diam-diam ia membatin,
"Adik angkat ini sungguh sangat aneh, dia adalah saudara
angkatku atas perantaraan Samte, di luar dugaan takkala aku
terancam bahaya aku telah mendapat bantuannya yang
sangat berharga.”
Selain itu Hi-tiok juga menberitahu bahwa Ting Jun-jiu
sekarang sudah di bawa pengawasan Kai-lut-ih Siau-lim-si,
tiap-tiap tahun pada waktu tertentu padri Siau-lim-si akan
memberì minum obat Leng-ciu-kiong untuk memunahkan
siksaan Sing-si-hu bilamanà kumat dan karena mati hidupnya
Sudah tergenggam di tangan orang, dapat dipastikan iblis tua
itu tidak berani main gila lagi dengan segala kejahatanya.
"Jiko,” kata Siau Hong dengan, tertawa, "engkau telah
membasmi suatu penyakit besar bagi kaum pesilatan, di
bawah pengaruh ajaran agama mungkin Ting jun-jiu akan
dapat mencapai kesadaran atas segala perbuatannya masa
lalu."
Tapi Hi-tiok tampak muram, katanya, "Aku sendiri ingin
menetap di Siau-lim-si, tapi aku justru diusir mereka.
Sebaliknya Ting Jun-jiu yang maha jahat, itu malah dapat
menyucikan diri di sana, sungguh tidak adil."
Siau Hong tersenyum, katanya, "Jite, kamu iri pada
keadaan Ting Jun jiu sekarang. tapi dia justru beribu kali lebih
iri padamu. Engkau adalah Cujin Leng-ciu-kiong dan
membawahkan 36 Tongcu dan 72 Tocu betapa hebat
perbawamu ini masakah engkau merasa tidak senang?"
"Tidak," sahut Hi-Tiok dengan geleng kepala, "Penghuni
Leng-ciu-kiong itu adalah kaum wanita semua. aku sendirl
cuma seorang hwesio kecil, hidup sendirian di antara mereka
sesungguhnya tidak bebas."
"Hahahaha! Apakah kamu masih seorang hwesio kecil?"
sahut Siau Hong dangan terbahak-bahak.
"Tapi akan tiba saatnya nanti akan kuubah Leng-Ciu-kiong
Leng Ciu-si, akan kuperintahkan nenek-nenek dan nona-nona
itu menjadi Nikoh (biksuni) semua."
"Hahahaha!" kembali Siau Hong bergelak tartawa. "Hwesio
tinggal bersama dengan Nikoh, hahahahaha, sungguh berita
luar biasa di dunia ini?"
Begitulah sambil bicara dan tertawa, akhirnya kedua orang
itu sampaì di rumah Kiau Sam-si dan kebetulan mereka
pergoki Goan-ci hendak mencukil mata Ciong Ling dan
syukurlah masih sempat mancegahnya. Baru sekarang A Ci
paham sebabnya Siau Hong marah-marah padanya karena
merusak sebuah alat tenun, kiranya tempat ini adalah bekas
kediaman Siau Hong semasa kecil. Namun begitu dasar watak
A Ci juga keras, meski tahu salah toh día tidak mau minta
maaf.
Maka Toan Ki lantas bertanya, “Toako, Jiko, apakah kalian
melihat ayahku?"
Siau Hong mengatakan tidak, sedang Hi-tíok menjawab,
"Ketika para ksatria Tionggoan beramai-ramai bubar dan
pergi, aku menjadi lupa memberi salam hormat kepada
paman, sungguh aku tidak tahu aturan."
"Jiko, tidak perlu sungkan-sungkan,” kata Toan Ki. "Hanya
saja Toan Yan-khing itu adalah musuh ayah, aku kuatir dia
membikin susah ayahku.”
"Urusan ini tidak perlu dikuatirkan, sekarang juga ku pergi
mencari paman dan bila perlu membantunya, ” ujar Siau
Hong.
"Huh, paman apa segala kenapa tidak memanggil ayah
mertua?” A Cl berolok-olok.
"Ya, apa yang sudah terjadi (maksudnya kematian A Cu)
merupakan penyesalanku selama hidüp, apa mau dikatakan
lagi." sahut Siau hong dengan menghela napas.
Tapi sebelum dia melangkah pergi saat ¡tulah Bwee-kiam
masuk membawakan daharan untuk Toan Ki, demi mendengar
percakapan tadi, ia lantas berkata, "Siau-taihiap tidak perlu
merepotkan diri, biarlah hamba sekarang juga menyampaikan
perintah Cujin agar semua pengikut Leng-ciu-kiong
mengamat-amati Toan Yan-khing, jika kelihatan dia
bermaksud jahat supaya member tanda bunga api, dan segera
kita dapat membantu, bagaimana sengan pendapat Siau-
taihiap?”
"Bagus sekali." Kata Siau Hong dengan girang. "Dangan
bantuan kawan-kawan Leng-ciu-kiong yang tidak sedikit itu
tentu akan lebih baik daripada kita mencarinya dengan Cuma
beberapa orang saja.''
Begitulah Bwee-kiam lantas pergi menyampaikan perintah
itu. Rupanya orang-orang Leng-ciu-kiong itu mempunyai cara
yang sangat tepat dalam mengadakan hubungan. Misalnya Hi-
tiok telah berada di rumah Kiau Sam-hoai, sementara itu para
wanita dari Hian-thian-poh sudah mendapat kabar, di bawah
pimpinan Hu Bin-gi mereka sudah menyusul sampai di sekitar
rumah itu dan diam-diam menjaga keselamatan sang cijin.
Maka legalah hati Toan Ki tentang keselamatan ayahnya.
Tapi segera teringat pula olehnya akan diri Ong Giok yan,
pikirnya, “Dia sudah sangat benci padaku mungkin selanjutnya
dia tak mau gubris lagi padaku.”
Terpikir demikian tanpa terasa ia menghela napas.
Rupanya ciong ling sangat memperhatikan keadaan toan
Ki, maka ia lantas bertanya, “Apa lukamu kesakitan?”
“Ah, tidak hanya sedikit saja.” Sahut Toan Ki.
“Nona Ciong.” Tiba-tiba A Ci menimbrung, “tampaknya
engkau sangat suka pada engkohku ini, tapi sama sekali
engkau tidak kenal perasaannya. Kukira rindumu ini kelak
pasti akan sia-sia belaka.”
"Aku tidak ajak bicara padamu, buat apa banyak omong,"
sahut Ciong Ling.
"Aku cerewet atau tidak memang bukan soal," sahut A Ci
tartawa. "Aku hanya kuatir ada seorang nona yang berpuluh
kali lebih cantik, lebih berbudi dan lebih mesra daripadamu,
terang engkohku takkan suka padamu apa kautahu mengapa
engkohku menghela napas? Orang menghela napas
menandakan perasaannya kurang puas. Kau sendiri tidak
menghela napas karena engkau puas berdampingan dengan
engkohku, sebaliknya engkohku menghela napas disebabkan
dia senang memikirkan seorang nona lain.“
Rupanya A Ci tidak berhasil mencungkil mata Ciong Ling,
maka sekarang sengaja mencari macam-macam kata untuk
menusuk perasaan nona itu agar berduka dan terluka, dengan
demikian barulah a Ci senang.
Mestinya Ciong Ling sangat gusar, tapí kalau dipikir lagi, ia
merasa, apa yang dikatakan A Ci itu juga beralasan, maka
rasa gusarnya berubah menjadi cemas dan sedih. Cuma saja
usianya masih terlalu muda, sifatnya lincah kekanak-kanakan,
walau mencintai Toan Ki, tapi bukan cinta yang meresap, jadi
hanya cinta lahir saja, ia merasa senang terhibur bila dapat
berada bersama dengan Toan Ki. Maka soal toan Ki
merindukan kekasih lain, hal ini hanya membuatnya merasa
berduka sekedarnya saja, selain itu ia pun tidak merasakan
apa-apa lagi.
Maka Toan Ki berkata, "Jangan kau percaya ucapan A Ci
yang ngawur itu, ñona Ciong!"
A Ci menjadi gusar, díkatakan ngawur, itu berarti
menyinggung matanya yang buta, segera ia berkata pula,
"Koko, sebenarnya engkau lebih suka nona Ong atau lebih
senang pada nona Ciong? Noná Ong telah berjanji akan
bertemu dengan aku besok pagi. Coba katakan apa yang kau
pesan tentu kusampaikan padanya."
Mendengar itu, serentak Toan Ki bangun duduk di atas
balai-balai dan cepat tanya, "Benarkah kamu telah berjanji
dengan nona Ong untuk bertemu? Di mana dan kapan,
hendak membicarakan urüsan apa?"
Melihat betapa gugupnya Toan Ki itu, tak perlu
diterangkan lagi juga Ciong tahu entah berapa kalí nona Ong
itü lebih penting dalam pandangan Toan Ki daripada dirinya.
Namun watak Ciong Ling memang lebih lapang, rasa duka
semula sekarang pun sudah hampir lenyap. Coba kalau Giok-
yan, tentu akan berduka setengah mati. Sebäliknya kalau Bok
Wan-jing, tentu dia akan bidikkan panahnya yang berbisa itu
ke arah Toan Ki. Sedang A Ci tentu akan berusaha
membinasakan saingannya.
Malahan Ciong Ling sekarang lantas berkata, "Eh, jangan
bergerak, hati-hati nanti lukamu pecah dan mengucurkan
darah."
Di sebelah sana diam-diam Hi-tiok, mengikuti garak-gerik
mereka, pikirnya, "Nona Cíong ini sedemikian mendalam
cintanya kepada Samte, besar kemungkinan día bukan Dewi
Impianku. Kalau tidak masakah sama sekali dia tidak
mengunjuk sesuatu perasaan ketika mendengar suaraku tadi?”
Tapi segera timbul pula pikiran lain, "Ah, tidak betul seperti
Toan-lolo dan Li Jiu-sui, Sie-popo, Ciok-soh dan lain-lain,
wanita-wanita itu semuanya sangat pintar dan bertipu akal,
sama sekali berbeda daripada kaum lelaki. Bukan mustahil
nona Ciong ini adalah Dewi Impianku, Cuma dia sengaja diam
saja."
Jilid ke-78
Dalam pada itu Toan Ki sedang mendesak A Ci agar
mengatakan di mana Giok-yan akan bertemu dengan nona itu
menurut apa yang dijanjikan. Karena itu, A Ci sengaja bicara
melantur-lantur untuk mempermainkan Toan Ki.
Tak terduga Lam-kiam yang kebetulan berada di situ lantas
menimbrung, katanya, "Toan-kongcu adik perempuanmu
hanya bergurau saja denganmu masakah engkau menanggapi
dengan sungguh-sungguh?”
"Dari mana Cici tahu adikku cuma bergurau saja?" tanya
Toan Ki.
"Kalau kukatakan jangan-jangan nona Toan akan marah
padaku kecuali kalau Cujin mengizinkan aku bicara," ujar Lam-
kiam dengan tenang.
"Jiko," segera Toan Ki berkata kepada Hi-tiok "bolehlah
kau suruh dia bicara."
Hi-tiok mengangguk tanda setuju. Maka Lam-kiam lantas
bícara, “Malahan Cujin sendiri juga menyaksikan cuma beliau
tidak mau bilang. Nona Ong telah ikut bersama rombongan
Büyung-kongcu katanya hendak pergi ke Se He untuk
mengikuti sayembara putri Se He di sana, mungkin saat ini
mereka sudah beratus li jauhnya, dari mana dia dapat berjanji
dengan nona Toan untuk bertemu besok?"
"Budak busuk sudah tahu aku tidak suka kamu ikut omong
kau justru banyak mulut," semprot A Ci, "Kalian berempat
saudara memang serupa, suka usilan. Majikan tidak bicara tapi
kalian selalu suka menimbrung."
"Nona Toan, jangan mengomeli ciciku," tiba-tiba Kiok-kiam
menanggapi di luar sana. "Hendaknya diketahui bahwa aku
adalah pemegang kunci Sin-long-kok tempat penyimpanan
kitab-kitab pusaka Leng-ciu-kiong kami, untük mempelajari
cara menyembuhkan matamu, Cujin harus mencuri kitab ke
Sin-long-kok.”
Diam-diam A Ci terkesiap. Kalau kaum budak itu ikut main
gila, bükan mustahil matanya akan sukar disembuhkan lagi.
"Hm, bagus!" demikian díam-diam ia memakí. "Awas, kelak
bila mataku sudah sembuh, tentu kalian akan rasakan
kelihaíanku."
Toan Ki mengucapkan teríma kasih atas pemberítahuan
Lam-kiam tadi, lalu katanya kepada Siau Hong, "Toako,
apakah benar rombongan Buyung-kongcu telah berangkat ke
negeri Se He?"
"Benar,” sahut Siau Hong. "Lamat-lamat ku dengar hal ¡tu
ketika dia mohon díri kepada ayahandanya.”
“Untuk apakah dia pergi ke sana?” demikian Toan Ki
bergumam sendiri.
"'Mengenai maksud tujuannya aku tahu," Kata Hi-tiok.
“Menurut keterangan Kongya Kian kepala para pengemis Kai-
pang katanya di tengah jalan mereka telah menemukan
seorang anggota Kai-pang yang membawa pulang secarik
maklumat kerajaan Se He tentang sayembara raja Se He yang
lagi mencari menantu pada hari Tiongciu nanti, seluruh ksatria
dan jago muda di segenap perjuru diharap mengikuti
sayembara itu agar dapat dipilíh sebagai Huma (menantu
raja)."
"Eh, Cüjin, mengapa engkau tidak coba-coba ikut
sayembara itu," tiba-tiba Tiok-kiam menimbrung. "Asalkan
Síau-taihiap dan Toan-kongcu tidak menyaingi engkau sangat
mudah bagimu untuk dipilih sebagai Huma."
Dasar sifat Tiok-kiam berempat saudara itu memang masih
kekanak-kanakan biasanya mereka dipandang sebagai cucu
sendiri oleh Tong-lo, Cuma saja watak Tong-lo sangat keras,
maka keempat anak dara itu tidak beraní sembrono kepadà
nenek itu tapí sejak mereka melayani Hi-tiok yang ramah
tamah sedikit pun tidak pernah berlagak tuan besar, maka
Bwe-kiam berempat juga tidak terlalu jeri kepada majikan
baru itu apa yang mereka ingin katakan lantas dikatakan
begitu saja.
Hi-tiok menjadi kikuk, cepat sahutnya, "tidak, tidak
mungkin aku adalah seorang hwesio…”
Tapí belum lanjut ucapannya Bwe-kiam berempat lantas
mengikik tawa.
Karuan muka Hì-tiok menjadi merah ia coba melirik Ciong
Ling, dilihatnya nona itu sedang termangu-mangu
memandangi Toan Ki, sama sekali tidak memperhatikan
kepada apa yang diucapkannya tadi. Tiba-tiba Hi-tiok teringat
kepada pertemuannya dangan sang Dewi Impian di dalam
gudang es istana raja Se He, bukan mustahil Dewi Impian itu
sekarang juga masih berada di sana, kenapa aku tidak pergi
ke sana untuk coba mencarinya?
Tiba-tiba Toan Ki juga berkata padanya, "Jiko Leng-ciu-
kiong kalian sangat berdekatan dengan Se He, kenapa kita
tidak pesiar sekalian ke Se He? Wah, pada hari Tiongciu nanti
pasti akan ramai sekali di kotaraja Se He itu. Dan sesudah itu
barulah kita berkunjung ke tempatmu untuk menikmati arak
simpanan Thian-san Tong-lo yang tak terkatakan harumnya
itu."
Siau Hong sendiri sudah beberapa hari tidak minum arak,
meski ke-18 ksatria Cidan yang dibawanya dari negeri Liau itu
masing-masing membawa kantung kulit besar berisi tuak
pilihan, tapi sekarang pengiring-pengiring itu sudah tidak
mendampingi lagi, maka ia menjadi ketagihan demi
mendengar Toan Ki bicara tentang arak di Leng-ciu-kiong.
Dalam pada itu A Ci lantas mendahului menyatakan setuju,
"Ya, pergi, marilah Cihu, beramai-ramai kita pergi ke sana
semua!”
Ia tahu untuk bisa menyembuhkan matanya yang buta itu
harus ikut Hi-tiok ke Leng-ciu-kiong, tapi kalau tidak didukung
oleh Siau Hong mungkin akan banyak alangannya.
Ketika melihat Siau Kong diam saja, segera A Cl
mendekatinya dan memohon pula, "Cihu, jika engkau tidak
membawa aku ke Leng-ciu-kiong, mata . . . mataku ini tiada
harapan disenbuhkan lagi dan tak bisa melihat untuk
selamanya."
Siau Hong pikir kedua mata anak dara itu memang perlu
disembuhkan. Apalagi rasanya juga sangat berat untuk
berpisah dengan para ksatria Tionggoan dan saudara-saudara
angkat yang baik budi ini, kalau pulang ke negeri Liau tentu
akan hidup kesepian lagi walaupun mempunyai kedudukan
yang agung di sana.
Maka jawabanya kemudian, “Baiklah! Jiko, samte, marilah
kita beramai-ramai pergi ke Se He, kemudian kita
mengunjungi Leng-ciu-kiong samte untuk minum sepuas-
puasnya selama beberapa hari di sana."
Begitulah, esok paginya beramai-ramai mereka lantas
berangkat. Lebih dulu Hi-tiok menyambangi makam ayah-
bundanya (Hian-cu dan Yap Ji-nio), lalu rombongan mereka
berangkat menuju ke barat.
Para wanita Leng-ciu-kiong menyewakan sebuah kereta
keledai bagi Toan Ki dan Yu Goan-ci yang terluka itu. Goan-ci
merasa serba salah, ia lebih suka dihina dan dimaki daripada
berpisah dengan A Ci. Setiap kali asal A Ci mau menyingkap
tirai kereta dan bicara sepatah dua kata dengan dia, maka
Goan-ci akan girang setengah mati.
Cuma sekarang A Ci menunggang kuda dan selalu
mengutil di sebelah Siau Hong, walaupun dalam hati Goan-ci
merasa gelisah, tapi sedikitpun tidak berani mengunjuk rasa
kurang senang terhadap si nona.
Kira-kira dua hari kemudian, kedelapan barisan wanita
Leng-ciu-kiong sudah mulai bergabung kembali, Pimpinan
Hian-thian-poh memberi lapor kepada Hi-tiok dan Toan Ki
bahwa keadaan Toan Ki telah diberitahukan kepada Tin-lam-
ong dan orang tua itu merasa sangat lega beliau cuma
menyampaikan pesan agar Toan Ki selekasnya pulang ke Taili.
Menurut laporan itu katanya rombongan Lam-ong menuju
ke timur-laut, sebaliknya rombongan Toan Yan-khing dan
Lam-hai-gok-sín menuju ke jurusan barat-daya sehingga
kedua rombongan itu tídak nanti kepergok.
Toan Ki merasa senang dan lega oleh keterangan itu, ia
mengucapkan terima kasih kepada para wanita Hian-thian
poh.
Tiba tiba Ciong Ling berkata, "Toan-kongcu, ayahmu
mengharapkan kau lekas pulang ke Taili, mengapa beliau
sendiri malah menuju ke tímur-laut?”
Toan Ki tersenyum dan belum lagi menjawab tiba-tiba A Ci
menyela. "Tentu ayah ditahan oleh ibuku dan dilarang pulang
ke Taili. Nah nona Ciong jika kau ingin menambat hati
engkohku ini maka perlu kau belajar dulu pada ibuku.”
Ciong Ling sendiri tahu kepergian Toan Ki ke Se He ¡ni
sebenarnya ingin berjumpä pula dengan nona Ong itu, tapi ¡a
tidak ambil pusing sebab ia sudah puas karena selama
beberapa hari ini dapat berdampingan dengan Toan Ki. Maka
sekarang ia pun tidak gubris kepada sindiran A Ci itu.
Begitulah mereka melanjutkan perjalanan, karena hawà
sangat panas, pula masih cukup lama dengan hari Tiongciu,
maka perjalanan mereka dilakukan dengan seanaknya saja.
Di tengah jalan keadaan luka Toan Ki dapat sembuh
dengan cepat. Hi tiok juga telah menyambung tulang kaki
Goan-ci yang patah itu dengan kepitan kayu dan tampaknya
besar harapan akan dapat pulih kembali.
Goan-ci sama sekali tidak mau bicara dengan siapa pun,
meski Hi-tiok mengobati kakinya, dalam hatinya tetap penuh
dendam dan benci.
Suatu hari, sampailah mereka di jalan raya Ham-yang di
situ menurut sejarah pernah terjadi pertempuran yang
menentukan antara Lau-pang (cikal-bakal kerajaan Han, 260
seb. M) dan Hang Ih.
Hi-tiok dan Siau Hong tidak banyak bersekolah, maka
mereka menjadi sangat tertarik mendengarkan cerita Toan Ki
tentang sejarah masa lampau.
Tengah mereka asyik mendengarkan cerita Toan Ki, tiba-
tiba terdengar suara derapan kuda lari yang ramai, dari
belakang memburu tiba dua penunggang kuda. Cepat Siau
Hong dan lain-lain menyingkirkan kuda mereka ke tepi jalan
agar kedua penunggang kuda dari belakang itu dapat lewat.
Hanya A Ci saja yang tidak mau menyingkir sebaliknya ia tetap
mengadang di tengah jalan. Bahkán waktu kedua penunggang
kuda itu sudah dekat, mendadak ia ayun pecutnya ke
belakang.
Namun satu di antara kedua penunggan kuda ¡tu pún
sempat angkat pecutnya untuk menangkis cambukan A Ci itu,
bahkan terdengar día teriak, "Toan-kongcu, Siau-taihiap,
harap tahan dulu!”
Waktü Toan Ki menoleh, kiranya kedua pendatang itu
adalah Pah Thian-sik dan Cu Tan-Sin. Dalam pada itu Pah
Thian-sik sudah dapat menangkis cambukan A Ci tadi dan
bersama Cu Tan sin melompat turun dari kuda mereka dan
lantas berlutut memberi hormat kepada Toan Ki.
Mesk¡ Toan Ki adalah tuán muda, tapi nyatanya ía
pandang Pah Thian-sik dan Cu Tan-tan sin sebagai angkatan
tua, maka cepat ia pun melompat turun dari kudanya dan
balas menghormat, katanya, "Apakah ayah baik-baik saja?"
Tapi mendadak terdengar suara sambaran pecut, tahu-
tahu A Ci mencambuk lagi ke atas kepala Pah Thian-sik. Saat
itu Thian-sik belum bangun kembali, terpaksa ia mengegos ke
kiri dengan masih tetap berlutut. Dengan demikian pecut A Ci
itu mengenai tanah, maka Thian-sik sekalian gunakan
dengkulnya untuk menindih ujung pecut. Waktu A Ci hendak
menarik kembali pecutnya, dengan sendirinya tidak kuat.
A Ci tahu bila main betot tentu kalah kuat tenaganya,
maka ia terus lemparkan tangkai pecut ke arah Thian sik.
Rupanya Pah Thian-sik masih mendongkol karena
meninggalnya Leng Jian li gara-gara kenakalan A Ci, maka
sekarang ia sengaja hendak membikin kapok anah dara itu
supaya tidak berani main gila lagi.
Tak sangka bahwa meski mata A Cl sudah buta, tapi
gerak-geriknya masih sangat cepat, tahu-tahu gagang pecut
menyambar tiba, cepat Thian-sik egoskan kepalanya ke
samping, "plok", tidak urung pundaknya terhantam gagang
pecut itu.
"Adik Ci, kembali kamu ngacau lagi?" bentak toan Ki
segera.
"Mengacau apa?" sahut A Ci. "Dia inginkan pecutku maka
kuberikan padanya."
Watak Pah Thian-sik memang sangat sabar, maka ia hanya
tertawa dan berkata, "Banyak terima kasih atas hadiah pecut
nona ini."
Lalu tidak tarik panjang lagi kejadian itu melainkan lantas
mengeluarkan sepucuk surat dihaturkan kepada Toan Ki.
Waktu Toan Ki menerima surat itu, ia lihat di atas sampul
tertulis nama dirinya sebagai penerima surat, la kenal itulah
tulisan sang ayah. Cepat ia betulkan pakaiannya, dengan
khidmat ia buka dan membaca surat itu.
Kiranya isi surat itu membawa pesan Toan Cing-sun agar
bila ada jodoh. Toan Ki disuruh mengikuti sayembara untuk
berebut putri Se He. Dikatakannya bahwa negeri Taili kecil dan
lemah, kalau dapat berbesanan dangan kerajaan Se He, hal ini
akan menguntungkan politik pertahanan kerajaan Taili dan
bagi kesejahteraan rakyat. Adapun soal perjodohan Toan Ki
dengan putri keluarga Ko akan diselesaikan oleh paman
bagindanya kelak.
Habis membaca surat sang ayah, air muka Toan Ki tampak
agak pucat, katanya dengan terputus-putus, "Soal ini . . . ini .
.."
Tapi Pah Thian-sik lantas mengeluarkan sepucuk surat
pula, katanya, "ini adalah surat pribadi Ongya kepada Sri
Baginda di Se He sebagai surat lamaran, harap setiba di
Lengciu surat ini supaya dihaturkan kepada Sri Baginda Se
He.”
"Ya, Kongcu, semoga tujuanmu ini berhasil dengan baik
dan dapat membawa pulang seorang putri cantik molek
sehingga negeri kita pun ikut kukuh dan kuat," kata Cu Tan-
sin dengan tertawa.
Toan Ki tambah kikuk, katanya, "Dari mana ayah
mengetahui bahwa aku pergi ke Se He?"
"Ongya mengetahui Buyung-kongcu hendak melamar putri
Se He beliau menduga tentu Kongcu juga . . . juga akan ikut
pergi ke sana,” tutur Thian-sik.
"Hihihi!" tiba-tiba A Ci tertawa, "ini namanya yang paling
kenal anaknya hanya sang ayah. Ketika ayah mendengar
Buyung Hok hendak pergi ke Se He, segera beliau menduga
nona Ong pasti ikut pergi juga dan dengan sendiriaya beliau
yakin putra mestikanya ini tentu juga akan mengintil ke sana.
Hm, bila belandar di atas menceng, tentu tiang di bawahnya
juga akan miring. Mengapa, dia tidak kenal dirinya sendiri?"
Thîan-sik, Tan-sin dan Toan Ki melengak demi mendengar
ucapan yang kurangajar itu, masakah seorang anak boleh
mencela orang tua secara kasar demikian?
Tapi A Ci lantas berkata pula, "Koko, dalam surat ayah itu
apakah juga menyinggung díriku?"
"Ayah tidak tahu bahwa kamu bersama berada dengan
aku," sahut Toan Ki.
"Ya, dia memang tidak tahu. Tapi apa dia tidak memberi
pesan agar kau cari diriku? Apa tidak suruh kau jaga adik
perempuanmu yang buta?”
Dalam surat Toan Cing-sun itu sama sekali tidak
menyebut-nyebut tentang A Ci, kalau Toan Ki bicara terus
terang dikuatirkan adik perempuannya akan tersinggung,
maka berulang ia mengedipi Thian-sik dan Tan-s¡n agar
mereka mengakui adanya perintah Toan Cing-sun untuk
mencari A Ci.
Tak tersangka Thian-sik berdua sengaja berlagak pilon saja
dan tidak mau menanggapi maksud Toan Ki itu. Sebaliknya
Tan-sin berkata, "Tin-lam-ong minta hamba berdua
mendampingi Kongcu agar bilamana perlu dapat membantu,
betapapun putri Se He harus Kongcu boyong pulang ke Taili,
kalau tidak hamba berdua tentu akan diomeli Ongya, andaikan
tidak diomeli juga hamba berdua merasa malu akan disangka
tidak becus mengasuh.”
"Aku Sudah terang tidak mahir ilmu silat masa bisa
menandingi para ksatria yang datang dari segenap panjuru itu
nanti." sahut Toan Ki dengan tersenyum getir.
Tapi Pah Thian-sik lantas berkatà pula, "Ongya menyuruh
hamba menyampaikan salam kepada Siau-taihiap dan Hi-tiok
Siangsing, beliau berharap kalian sudi mengingat sesama
saudara angkat dan sudi memberi bantuan kepada Kongcu
kami. Kata Ongya ketika bertemu di Siau-lim-san, karena
dalam keadaan tergesa-gesa, maka beliau tidak sempat
bercengkerama dengan Siau-taihiap berdua, sebagai gantinya
sekarang beliau suruh hamba menyampaikan sedikit kado."
Lalu ia mengeluarkan sebuah singa-singaan kemala hijau
dan dihaturkan kepada Siau Hong.
Sedangkan. Cu Tan-sin juga lantas mengeluarkan sebuah
kipas terbuat dari gading, pada daun kipas itu ada tulisan
tangan Toan Cing-sun, ia serahkan kipas itu kepada Hi-tiok.
Siau Hong berdua menerimanya dengan ucapan terima
kasih, kata meraka, "Urusan Samte sudah tentu kami bantu
sepenuh tenaga, masakah perlu pesan lagi dari paman?
Sungguh kami merasa tidak enak, belum-belum sudah
menerima hadiah lebih dulu."
"Apakah kau sangka ayahku berhati begitu baik?" tiba-tiba
A Ci menyela lagi. "Dia justru ingin kalian berdua jangan
berebut menjadi huma dengan engkohku. Dengan janji kalian
ini, maka itu berarti kalian telah tertipu oleh ayahku."
"Ah, sejak Tacimu meninggal, masakah aku mempunyai
niat untuk menikah pula?" ucap Siau Hong dengan menghela
napas.
"Mulutmu berkata demikian, siapa bisa tahu apa yang
terpikir dalam hatimu?" ujar A Ci. "Hi-tiok Siangsing memang
polos dan jujur, tidak romantis seperti engkohku itu, di mana-
mana suka berkasih-kasihan. Jika Hi tiok Siansing belum
pernah mengikat janji dengan orang, bukankah sangat bagus
memperistrikan putri Se He saja?"
"Hm, ma , . . mana boleh jadi!" sahut Hi tiok dengan muka
merah dan menggoyang-goyang tangan. "Aku sendiri pasti
tidak ambil bagian, aku dan Toako tentu akan membantu
Samte mencapai perjodohan yang setimpal ini."
"Banyak terima kasih atas kesanggupan Siau-taihiap dan
Hi-tiok Siangsing," demikian serentak Thian sik dan Tan sin
memberi hormat.
Nyata bukan saja Siau Hong dan Hi-tiok sudah teringat
oleh janji mereka sebagai ucapan ksatria, bahkan dengan
demikian Toan Ki menjadi tak bisa menolak perintah ayahnya.
Begitulah perjalanan mereka akhirnya rnendekati Leng-ciu,
orang Bu-lim yang saling berjumpa di tengah jalan juga
tambah banyak.
Hendaklah maklum bahwa kerajaan Se He meski lebih kecil
daripada kerajaan-kerajaan Song dan Liau, tapi terhitung
suatu negeri besar di daerah barat dengan sendirinya banyak
orang persilatan ingin memperistrikan sang putri yang agung
dan kabarnya cantik pula.
Cuma tokoh-tokoh Bu lim yang ternama pada umumnya
sudah beristri dan berkeluarga. Kalau ada jago muda, dalam
hal ilmu silat juga belum tentu tinggi. Karena itu banyak
bandit-bandit dan petualang-petualang yang masih bujangan
sama menaruh harapan akan dipilih sebagai menantu raja,
maka beramai-ramai mereka sama datang ke Lengciu. Bahkan
banyak tokoh-tokoh dan ksatria tua yang membawa serta
anak muridnya dengan tujuan menguji nasib, eh, siapa tahu
dapat dipungut sebagai menantu raja Se he.
Begitulah, maka sepanjang jalan banyak sekali ksatria
muda yang berpakaian mentereng dan parlente, sampai-
sampai senjata yang mereka bawa juga serba “lux". Maklum,
pada umumnya orang persilatan kebanyakan dari keluarga
mampu, sebaliknya kaum sekolahan kebanyakan adalah
keluarga miskin apalagi kalau kelakuan orang yang pandai silat
Itu tidak baik tentu sumber keüangan jauh lebih mudah
datangnya, misalnya dengan jalan merampas dengan
kekerasan atau mencuri secara diam-diam. Oleh sebab itulah
pakaian mereka sekarang sedapat mungkin serba mewah
dangan tujuan akan mendapat perhatian khusus dari sang
putri.
Pada hari itu rombongan Siau Hong sedang melanjutkan
perjalanan dengan santai. Tiba-tiba terdengar derapan lari
kuda, seorang penunggung kuda tampak datang dari depan,
penunggangnya kelihatan terluka lengan kanan diperban dan
tergantung di depan dada dengan ikatan kain, bajunya juga
sobek, keadaannya kumal.
Síaü Hong dan lain-lain juga tidak ambíl perhatian mereka
menyangka orang ini mungkin terjatuh atau dipukul luka
orang kejadian demíkian adalah sangat jamak bagi orang
persilatan.
Tak terduga, tidak lama kemudian kembali ada tiga
penunggang kuda berlari datang pula dari depan para
penuggang kuda itu semuanya terluka parah ada yang patah
kaki dan ada yang putus lengan. Orang-orang itu seperti
sangat lesu dan malu serta melarikan diri dengan kepala
tertunduk.
"Apa di depan sana ada orang berkelahi, mengapa banyak
orang terluka?" kata Bwe-kiam yang usilan.
Baru lenyap suaranya, kembali dari dépan datang pula dua
orang. Kedua orang ini tidak menunggang kuda, mukanya
penuh darah, satu di antaranya kepalanya diperban dengan
kain dan darah masih merembes keluar.
Segera Tiok-kiam menegur mereka, "Hei, kalian mau obat
luka tidak? Mengapa kalian terluka?"
Tapí orang itu melotot pada Tiok-kiam dengan penuh
kebencian, bahkan meludah ke tanah lalu tinggal pergi tanpa
gubris. Keruan Tiok-kiam menjadi gusar, "sret", segera ia lolos
pedang dan hendak menyerang orang itu.
"Sudahlah," cegah Hi-Tiok. "Orang itu terluka parah, tidak
perlu cekcok dengan dia."
"Adik Tiok kan bermaksud baik hendak memberi obat, tapi
orang itu sedemikian kasarnya, biar dia mampus saja karena
lukanya itu," ujar Lam-Kiam.
Pada saat itulah lagi-lagi ada empat penünggang kuda
sedang mendatangi dengan cepat. Terdengar para
penunggang kuda itu sedang saling damprat dan saling
menyalahkan satu sama lain. Ketika berpapasan dengan
rombongan Siau Hong. Karena kalah banyak, mereka lantas
menyusur ke samping dan lewat dengan cepat.
Dari caci-maki mereka itu agaknya keempat orang itu
sama mengimpikan dipilih menjadi menantu raja Se He, tapi di
depan sana seperti ada suatu rintangan yang tak bisa
ditembus mereka, bahkan mereka dilukai dan ngacir, akhirnya
mereka sama menuduh kawan sendiri yang tidak mau
membantu dan macam-macam lagi.
Tengah Siau Hong dan lain-lain merasa terheran-heran.
tiba-tiba dari depan datang lagi beberapa orang, semuánya
terluka dan babak-belur, ada yang kepalanya bocor, ada yarg
matanya matang biru dan ada yang kakinya pincang.
Dalam herannya segera Ciong Ling memapak maju dan
bertanya, "Hai. apakah orang yang merintangi di depan sana
sangat lihai?"
Seorang laki-laki setengah umur di antaranya mendengus,
jawabnya, "Kamu seorang nona, kamu dapat lewat tanpa
alangan. Tapi kalau lelaki, hm, lebih baik putar balik saja.”
Ucapan ini membuat Siau Hong dan Hi-tiok ikut heran kata
mereka, "Coba lihat ke sana!"
Segera rombongan mereka mempercepat kuda mereka ke
depan.
Kira-kira beberapa li jauhnya tertampaklah sebuah jalanan
sempit di lereng bukit yang berliku-liku itu. Jalanan itu sangat
sempit sehingga cukup dilalui oleh satu penunggang kuda
saja. Sesudah lewat beberapa pengkolan lagi. Akhlrnya
tertampaklah di depan sana berjubel-jubel orang banyak.
Siau Hong coba melarikan kuda ke depan, ia lihat di
tengah jalan yang sempit itu berdiri berjajar dua orang lelaki
kekar. Keduanya sama-sama tinggi besar dan gagah perkasa.
Yang seorang bersenjata gada besi dan yang lalu memegang
sepasang gandan besar dengan garang mereka menghadapi
belasan orang yang menggerombol di depannya.
Terdengar orang-orang bergerombol di depan kedua lelaki
gagah itu riuh-ramai membujuk dan memohon agar mereka
suka memberi jalan bahkan ada yang menjanjikan balas jasa
yang besar malahan juga ada yang mengancam karena kedua
lelaki itu tetap tidak mau menyìngkir.
Akhirnya karena kedua lelaki gagah itu tetap tidak
menggubris ocehan orang banyak itu, maka seorang telah
membentak "Kurangajar, rupanya minta diberi hajar adat baru
mereka mau minggat!”
Berbareng ia terus putar pedang dan menerjang maju,
kontan ia menusuk dada lelaki yang sebelah kiri.
Perawakan lelaki itu sangat tinggi besar, senjatanya juga
sangat antap, tapi gerak-geriknya sangat gesit. Ketika kedua
gandennya ditentukan dengan cepat, pedang penyerang itu
terjepit oleh gandennya.
Sepasang ganden yang berbentuk astokino (segi banyak)
itu beratnya masing-masing lebih 40 kali, maka begitu
terdengar suara "trang" yang keras tahu-tahu pedang yang
terjepit itu patah menjadi beberapa potong. Bahkan lelakl itu
terus ayun sebelah kakinya sehingga dengan tepat perut se
penyerang dengan pedang itu menjerit dan terpental.
“Jite, tenaga orang ini cukup hebat juga," kata Siau Hong
kepada Hi-tiok.
"Ya, memang," sahut Hi-tiok.
Dalam pada itu ada seorang lagi dengan memutar dua
golok sekencang kitiran telah menyeruduk maju, begitu dekat
dengan kedua lelaki gagah tadi, orang itu menggertak sekali
terus menjatuhkan diri ketanah, mendadak ia mainkan
goloknya dengan mengelinding di atas tanah, yang diincar
adalah bagian kaki lawan.
Lelaki bersenjata gada tidak peduli serangan lawan itu,
begitu angkat gadanya segera ia menggemplang ke tengah
sinar golok, maka terdengarlah jeritan ngeri, tahu-tahu kedua
golok orang itu patah, gagang golok menancap di dada
sendiri, badan berlumuran darah, tampaknya lebih banyak
mampusnya daripada hidup lagi.
Berturut-turut orang dilukai, yang lain-lain menjadi
mengkeret dan tidak berani berkoak-koak lagi seperti tadi.
Tiba-tiba terdengar suara "keteprak-keteprak” suara
derapan kaki binatang tunggangan, ternyata seekor keledai
datang dari belakang sana dan penunggangnya adalah
seorang pelajar muda, usianya paling-paling cuma 18-19
tahun, pakaiannya parlente, orangnya cakap, sikapnya halus
dan sopan.
Ketika pemuda itu hendak melampaui rombongan Siau
Hong, karena jalanan sempit terpaksa ia harus menyerempet
kuda-kuda orang lain.
Melihat pemuda itu, mendadak Toan Ki berseru, "He, kau .
. . kau . . . . " tapi ia tidak sanggup melanjutkan. Sebaliknya
pemuda pelajar itu sama sekali tidak memandang padanya, ia
menyalip keledainya ke depan.
"He, Toan-kongcu, kau kenal dia?" tanya Ciong Ling
dengan heran.
Wajah Toan Ki menjadi merah, sahutnya, "O, ti . . . tidak,
aku salah lihat. Dia . . . dia adalah seorang lelaki, dari mana
kukenal dia?”
Karenu ucapannya yang ganjil itu, seketíka A Ci berolok
dengan tertawa, "Koko, jadi engkau hanya kenal kaum wanita
dan tidak kenal orang lelaki?”
Sesudah merandek sejenak, lalu ia tanya pula, "Apakah
orang yang baru saja lewat itu orang lelaki? Padahal sudah
terang dia wanita."
"Kau bilang dia seorang wanita?" Toan Ki menegas.
"Sudah tentu, badannya begitu harum, bau wangil kaum
wanita," sahut A Ci.
Hati Toan Ki berdebur keras, pikirnya, "Ya . . . jangan-
jangan memang benar dia ada adanya?”
Dalam pada itu si pemuda pelajar tadi sudah melarikan
keledainya sampai di depan kedua lelaki gagah dan sedang
membentak, "Minggir!"
Dari suaranya yang nyaring merdu itu. nyata memang
suara orang wanita. Maka Toan Ki tambah yakin lagi, segera ia
berseru. "He, nona Bok Wan . . . Wan-jing, adikku! Kau . . .
kau . . . aku . . . aku , . . kita . . . . kita . . . . "
Begitulah sambil berteriak-teriak tak karuan ia terus keprak
kudanya menyusul ke depan.
"Hati-hati Samte, lukamu belum sembuh!' seru Hi-tiok
kuatir. Segera bersama Pah Thian-sik dan Cu Tan-sin juga
memburu ke depan.
Pemuda pelajar itu hanya menatap sekejap kedua lelaki
gagah itu, sama sekali ia tidak menoleh atas seruan Toan Ki
tadi. Waktu Thian-sik dan Tan-sin mendekat, mereka coba
mengamatinya dari samping. tertampak pemuda itu memang
cantik molek, nyata memang benar Bok wan-jing yang dahulu
pernah ikut Toan-Ki ke istana Tin-lam-ong itu. Diam-diam
mereka merasa malu, masakah orang melek kalah awas
daripada seorang gadis buta.
Seperti diketahui badan Bok Wan-jing mengeluarkan bau
wangi yang khas, maka A Ci dapat mengendus bau harum itu
dengan hidungnya yang tajam, sejak matanya buta, maka
indrà pendengaran dan perciumannya menjadi jauh lebih lihai
daripada orang biasa.
Begitulah ketika Toan Ki sampai di samping Bok Wan-jing,
segera ia hendak manjawilnya dan bertanya dengan suara
halus, "O, adikku, selama ini engkau berada dl mana?
Sungguh aku sangat merindukan dikau!"
Wan-Jing menghindari jamahan tangan Toan Ki, lalu
menoleh dan menjawab dengan suara dingin, "Kau rindu
padaku? Buat apa kau píkirkan diriku? Apa benar engkau
kangen padaku?"
Toan Ki tertegun, ia merasa tidak dapat menjawab
pertanyaan itu.
Sebaliknya satu di antara kedua lelaki gagah tadi lantas
terbahak-bahak, katanya, "Bagus! Jadi kamu adalah anak
perempuan, nah, boleh lewat ke sana!”
Sedang lelaki yang lain juga berkata, "Hanya wanita saja
yang boleh lewat, kaum lelaki busuk tidak boleh. Ho, kamu
lekas enyah, lekas putar baik?”
Sambil berkata jarinya terus menuding Toan Ki, lalu
menyambung pula, "Hm setiap melihat pemuda muka halus
macammu hatiku tentu gemas. Ayo lekas enyah, kalau berani
maju selangkah lagi segera kucencang dirimu!”
"Hai, ucapan saudara ini sungguh aneh," sahut Toan Ki.
“Ini kan jalan raya dan boleh dilalui oleh siapa pun juga sebab
apa saudara melarang aku? Coba terangkan."
“Pangeran Cong-coan karajaan Turfan memberi perintah
agar jalan ini ditutup selama sepuluh hari, sesudah lewat hari
Tiangciu baru jalan ini dibuka kembali," demikian lelaki itu
menjelaskan. "Maka sebelum lewat hari Tiongciu, jalan ini
hanya boleh dilalui kaum wanita dan kaum lelaki dilarang.
Kaum padri boleh lewat orang preman tidak boleh. Orang tua
boleh orang muda dilarang. Mati boleh, hidup tidak boleh. Ini
namanya empat boleh dan empat tidak!"
"Apa alasan peraturan demikian," tanya Toan Ki.
"Alasan? haha. Alasan? ini ganden tuan besar dan gada
kawanku inilah alasannya," sahut lelaki itu dengan galak. “Apa
yang diucapkan pangeran Cong-can itu adalah undang-
undang. Karena kamu kaum lelaki, bukan hwesio lagi bukan
kakek-kakek maka kalau ingin lewat jalan ini kecuali kamu
menjadi bangkai dahulu."
"Huh, banyak rewel apa?" bentak Bok Wan jing, berbareng
dua panah kecil terus menyambar ke arah kedua lelaki itu.
Maka terdengarlah suara "plok-plok" dua kali kedua panah
itu jelas telah menembus baju dada kedua lelaki itu dan
mengeluarkan suara tapi kedua orang itu sama sekali tidak
terluka apa-apa.
Lelaki yang bersenjata gada menjadi gusar, bentaknya,
"Nona cilik yang tidak tahu gelagat, kau berani menyerang
kami?"
Sungguh kejut Boh Wan-jing tak terkatakan ia pikir kedua
lelaki itu besar kemungkinan memakai baju dalam anti senjata
makanya panah berbisa yang dilepaskan itu tak dapat
melukainya.
Dalam pada itu lelaki bersenjata gada itu sudah ulur
tangan hendak mencengkeram Bok Wan jing. Walaupun Wan-
jing berada di atas keledai sekaligus lelaki itu hendak
mengcengkam dada Wan-jing.
"He, saudara jangan kurangajar'" seru Toan ki sambil
angkat tangan kanan untuk merintangi orang.
Tapi lelaki itu mendadak menurunkan tangannya sehingga
pergelangan tangan Toan Ki dengan tepat kena terpegang
malah.
"Bagus! Mari kita besat tubuh si muka halus ini menjadi
dua!" seru lelaki yang bersenjata gandon. Segera ia gunakan
tangan kiri untuk memegang kedua gandennya, sedangkan
tangan kanan dipakai mencengkeram pergelangan tangan kiri
Toan Ki, lalu membetot dengan sekuatnya.
"He, jangan mencelakai engkohkul" teriak Bok Wan-jing
dengan kuatir, berbareng beberapa panah berbisa terus
dibidikkan pula. Tapi hasilnya tetap nihil, meski panah-panah
itu jelas mengenai tubuh kedua musuh, namun sama sekali
tidak dapat melukai mereka.
Di sebelah sana Hi-tiok, Pah Thian-sik dan Cu-Tan- sin
teralang oleh kuda tunggangan Toan Ki dan Bok Wan jing dan
tidak keburu memberi pertolongan. Segera Hi-tiok melompat
ke depan meninggalkan kudanya, ia melayang sampai di
sebelah lelaki bersenjata gada dan segera hendak menusuk
iga lawan.
Tapi mendadak terdengar Toan Ki bergelak tertawa,
katanya, "Hahahaha! Jiko tidak usah kuatir, mereka tidak
mampu mencelakai aku!"
Benar juga, sejenak kemudian kedua lelaki yang gagah
perkasa bagai menara tadi pelahan mulai lemas, kepala
mereka bergeleng-geleng tak bertenaga, berdirinya juga mulai
tidak kuat dan akhirnya "bluk-bluk", kedua orang terguling
semua ke tanah.
Rupanya "Cu-hap kang" di tubuh Toan Ki telah bekerja
sehingga tenaga kedua lelaki itu disedot habis, akhirnya roboh
dengan lemas.
"Kalian Budak banyak melukai dan membunuh orang,
maka ganjaran ini pun setimpal bagi kalian, diharap saja lain
kali jangan main gila lagi." kata Toan Ki.
"Biarpun ingin main gila juga tidak mampu lagi mereka,"
kata Ciong Ling yang juga memburu tiba. Lalu ia berpaling
kepada Bok Wan Jing dan berkata, "Bibi Bok, sungguh tidak
nyata berjumpa lagi dengan engkau di sini."
“Kamu adalah adik perempuanku, kenapa panggil aku
sebagai bibi?" sahut Wan-jing dengan sikap dingin.
“Ah, engkau suka bergurau saja, mengapa aku bisa
menjadi adik perempuaanmu?'' ujar Ciong Ling dengan heran.
"Boleh kau tanya dia kalau tidak percaya," kata Wan-jing
sambil menunjuk Toan Ki.
Ciong Ling lantas menoleh ke arah Toan Ki dengan maksud
ingin penjelasannya.
Diam-diam Toan Ki terkejut. Ia pikir nyonya Ciong (ibü
Ciong Ling) tentu ada hubungan istimewa dengan ayahku,
Kalau tidak tentu Bok Wan jing tidak berani sembarangan
berkata demikian, teringat olehnya kejadian dahulu waktu dia
datang ke Ban-jiat-kok, di tangah lembah maut itu ditemukan
batu nisan yang tertulis “Kuburan Ban Siu Toan" yang berarti
sepuluh ribu kali dendam dengan Toan, untuk bisa memasuki
kuburan yang merupakan tempat kediaman Ciong Ban sin
(Ayah Ciong Ling) ¡tu orang harus menendang tiga kali pada
huruf Toan pada batu nisan ini. Dari sini dapat pula diketahui
betapa dendam dan benci Ciong Ban-sin terhadap keluarga
she Toan.
Begitulah memang kejadian dulu itu sangat mencurigakan.
Tapi lantas terpikir pula olehnya, “Jika nona Ciong ini benar
keturunan ayah kenapa beliau pernah omong di hadapan
Ciong-kokcu bahwa nona Ciong akan diambilnya untuk selirku?
Biarpun kata-kata itu segaja dipakai mengolok-olok Cíong-
kokcu, rasanya juga, tidak pantas dikeluarkan terhadap putra-
putrinya sendiri. Ya, jangan-jangan . . jangan-jangan ayah
sendiripun tidak tahu bahwa . . . bahwa nona Ciong ini
keturunannya?”
Seíketika itu Toan Ki menjadi serba bingung dan terkesima.
Kesempatan itu segera digunakan oleh Orang banyak yang
tadinya dirintangi kedua lelaki gagah tadi untuk meneruskan
perjalanan ke Lengciu.
Tiba-tiba terdengar A Ci berseru kepada Toan Ki, “Koko,
nona yang berbau harum ini apakah juga kekasihmu? Ayolah
perkenalkan dia padaku!"
“jangan ngaco belo, dia . . . dia adalah Encimu, lekas
memberi hormat padanya, " Kata Toan Ki.
"Masakah aku mempunyai rejekí sedemikian baik?" jengek
Wan-jing dengan gusar. Lalu ia pecut keledainya dengan
pelahan dan dilarikan ke depan.
Cepat Toan Ki menyusulnya dan bertanya, "Adikku yang
manis, selama ini engkau berada di mana? Ai, tampaknya
engkau. . . agak kurus sedikit.
Seperti diketahui perangai Bok Wan-jing sangat angkuh
dan tinggi hati sedikit-sedikit suka membunuh orang. Tapi
demi mendengar ucapan Toan Ki ini, seketika terasa pedih
hatinya air mata tak tertahan lagi dan segera bercucuran.
"Adikku, rombongan kami berjumlah banyak dan dapat
saling membantu, ada lebih baik kau ikut bersama kami saja,"
kata Toan Ki.
"Siapa perlu bantuanmu?" sahut Wan-jing. “Tanpa dirimu
bukankah selama ini aku pun bisa hidup sendiri?"
“Tapi . . . tapi banyak sekali ingin kubicarakan denganmu,"
kata Toan Ki. "Adik yang baik berjanjilah bahwa engkau akan
ikut bersama rombongan kami."
"Kau íngin bicara apa dengan aku? Huh, tentu cuma
omong kosong belaka," ujar Wan jing. Walaupun mulutnya
masih bicara teras tapi hatinya sudah lembek dan diam-diam
sudah ragu.
Tentu saja Toan Ki kegirangan, segera ia mengada-ada
lagi, "Adikku, walaupun engkau agak kurusan sedikit, tapi
makin cantik, makin ayu.”
Mendadak Bok Wan-jing menarik muka katanya, "Sebagai
kakakku, selanjutnya jangan kau bicara demikian padaku."
Perasaannya sesungguhnya sangat kusut. Sudah terang
dia tahu Toan Ki adálah kakaknya sendirl dari tunggal ayah
lain Ibu, tapi rasa rindunya kepada pemuda itu selama ini
tidak pernah berkurang bahkan makin hari makin tumbuh.
Sementara itu Toan Ki berkata dengan tertawa, "Apa
salahnya kalau aku bilang kamu makin cantik? Eh, Mengapa . .
. mengapa engkau menyaru sebagai lelaki dan pergi ke
Lengciu? Apakah kaupun ingin dipilih sebagai Huma? Wah,
pemuda pelajar tampan sebagai dirimu tentu sekali lihat putri
Se He akan terpikat?"
“Dan kau sendiri untuk apa pergi ke Lengciu?” Balas tanya
Wan-Jing.
“Aku? Aku . . . aku hanya pergi melihat ramai-ramai saja
dan tiada maksud lain.” sahut Toan Ki dengan wajah sedikit
merah.
"Huh. engkau selalu dusta padaku," jengek Wan-jing.
"Ayah suruh kau pergi melamar putri Se He dan
memerintahkan orang-orang she Pah dan Cu itu sampaikan
surat padamu, apa kau sangka aku tidak tahu?”
“Eh, dari mana kau tahu?” Tanya Toan Ki dengan heran.
“Ibuku mempergoki ayah di tengah jalan, aku sendiri
waktu itu ikut bersama ibu, dengan sendirinya urusan ayah
kudapat mendengarnya," tutur Wan jing.
“Kiranya demikian," kata Toan Ki. "Ya, aku pun tahulah
sekarang!"
"Kau tahu apa?" tanya Wan-jing heran.
"Karena kaü tahu aku hendak pergi ke Langciu makanya
engkau menyusul kemari betul tidak?"
Muka Wan-jing menjadi merah sebab ucapan Toan Ki
dengan jitu telah mengenai isi hatinya. Namun demikian toh
mulutnya tetap tidak mau mengaku sahutnya, "Buat apa aku
menyusul kau ke sini?” Aku cuma ingin tahu betapa cantiknya
putri Se He itu sehingga membikin gempar para ksatria
seluruh jagat ini "
Mestinya Toan Ki ingin memuji dan mengatakan bahwa
kecantikan putri Se He itu, pasti ada separuh kecantíkanmu.
Tapi ia merasa ucapan demikian tidak pantas dikatakan
kepada Adik perempuannya sendiri maka kata-kata yang
hampir tercetus itu ditelannya kembali mentah-mentah.
Dalam pada itu Wan-jing sedang berkata "aku pun ingin
tahu apakah Pangeran dari kerajaan kita dapat mengikat
jodoh dengan putri Se He itu.”
"Sesst, ketahuilah bahwa aku sudah pasti tidak ingin
menjadi Huma kerajaan Se He," kata Toan Ki dengaa pelahan.
"Moimoai, maksudku ini jangan kau bocorkan kepada orang
lain, Pendek kata bila ayah memaksa aku, pasti aku akan
kabur saja."
“Masakah kau berani membangkang perintah ayah?”
"Aku tidak membangkang, tapi Kabur, menghilang?”
"Menghilang dan membangkang perintah apa bedanya?”
ujar Wan-jíng dengan tertawa, "Masakah putri yang cantik
molek itu tidak menarik bagimu?”
Sejak bertemu baru sekarang Wan jing memperlihatkan
tertawanya. Karuan Toan Ki sangat girang, sahutnya,
"Memangnya kau sangka aku mata keranjang serupa ayah?
Asal ketemu lantas süka sehingga banyak menimbulkan gara-
gara?"
"Nah, kulihat kaupun tídak banyak berbeda dengan ayah.
Ayahnya begitu masakah anaknya bisa berlainan? Cuma saja
engkau tidak pünya rejeki sebagai ayah," ujar Wan-jíng. Ia
menghela napas, lalu menyambung, 'Seperti ibu, kalau b¡cara
tentang ayah, wah, bencinya tak terkira, tapi bila bertemu,
maka lemaslah hatinya. Tapi nona-nona di jaman sekarang
tentu tidak ada lagi yang baik seperti ibuku.”
Begitulah mereka melanjutkan perjalanan sambil
mengobrol, tidak lama kemudian Ciong Ling, Hi-tiok, Siau
Hong dan lain-lain juga menyusulnya.
Beberapa li kemudian hari mulai gelap. Tiba-tiba terdengar
suara jeritan kuatir seseorang dari sebelah kiri sana menyusul
ada suara teriakan keras pula, suara orang yang sedang
menghadapi suatu bahaya. Dari suara-suara itu dapat dikenali
ada juga suara Lam-hai gok-sin.
"He, itulah suara muridku!" kata Toan Ki.
"Muridmu orang baik, lekas kita pergí melihatnya!" seru
Ciong Ling.
"Ya, mari cepat!" sahut Hi-tiok. Meskipun Ibunya (Yap Ji-
nio) adalah sekomplotan dengan Lam-hai-goh-sin, maka
sedikit banyak timbul juga rasa kekeluargaannya.
Segera mereka melarikan kuda ke arah suara-suara tadi.
Sesudah melintasi lereng bukit dan menyusur hutan, tiba-tiba
di tepi jurang di depan sana memperlihatkan suatu adegan
yang sangat mendebarkan hati.
Tertampak di atas sebuah karang yang menonjol di tapi
jurang tumbuh sebatang pohon Siong tua sebuah dahan
pohon menjulur ke jurang, di atas dahan kelihatan disanggah
oleh sebatang tongkat pada ujung tongkat itu menggelantung
seorang berjubah hijau. Siapa lagi dia kalau bukan Toan Yan-
khing.
Dengan tangan kiri Toan Yan-khlng menggunakan tongkat
untuk nenahan dahan pohon, tubuhnya tergantung di udara,
sedang tangan kanan yang juga mamegang tongkat pada
ujung tongkat yang dipegang oleh seorang lain ternyata
adalah Lam-hai-gok-sin.
Sambil sebelah tangan memegang ujung tongkat Toan
Yan-khing maka sebelah tangan Lam-hai-gok-sin yang lain
digunakan untuk menjambak rambut seorang lain lagi, orang
ketiga ini adalah Kiong-hiong-kek-ok in Tiong ho.
Kedua tangan In Tiong ho tertampak digunakan untuk
mencengkeram sepasang tangan seorang wanita muda. Jadi
keempat orang itu seakan-akan tergendong menjadi satu dan
terkontal kantil di udara keadaan mereka terang sangat
berbahaya. Asal salah seorang di antara mereka itu lepas
tangan, Maka orang yang di bawahnya tentu akan terjeblos ke
dalam jurang yang curam itu.
Dalam pada itu tiba tiba angin pegunungan meniup santer
sehingga Lam hai-gok-sin, ln Tiong-ho dan wanita muda yang
terkatung-katung di udara itu tertiup setengah putaran.
Tadinya wanita muda itu tergantung mungkur, maka
sekarang mukanya dapat terlihat dengan jelas. Mendadak
terdengar Toan Ki menjerit keras dan himpir-hampir
terperosot jatuh dari kudanya.
Kiranya wanita muda itu bukan lain adalah Ong Giok-yan
yang senantiasa dirindukannya siang dan malam selama ini.
Sesudah tenangkan diri. Toan Ki melihat karang itu sangat
terjal dan berbahaya, tiada mungkin kuda dapat mencapainya.
Maka cepat ia melompat turun dari kudanya dan berlari-lari ke
sana.
Ketika hampir dekat dengan pohon siong tadi, tiba-tiba
dilihatnya dan seorang pendek gendüt berkepala besar sedang
menebang pohon dengan sebatang kapak besar.
Keruan kecut Toan Ki lebih-lebih bukan buatan, cepat ia
berseru, "Hei, hei Apa yang kau lakukan di situ?"
Namun si gendut tidak gubris padanya dan masih
mengayun kapaknya menebang pohon.
Segera Toan Kì gunakan jarinya menuding dapan,
maksudnya hendak menyerang si gendut dengan Lak-meh-sia-
kiam. Tak tersangka karena dia belum mampu menguasai
tenaga murni sendiri, takkala dia ingin menggunakan
kepandaiannya itu jadi tidak manjur, meski dia tüding-tuding
beberapa kali tetap hawa pedang itu sukar dikerahkan.
Terpaksa ia berteriak, "Toako, Jiko, Moaimoai, nona Ciong,
lekas kalian kemari, lekas tolong!"
Di tengah suara sahutan dan bentakan, segera Siau Hong
dan lain-lain memburu tiba.
Kiranya tubuh si gendut itu sangat pendek, karena
teraling-aling oleh batu karang, maka sama sekali tak
kelihatan dari jauh, pula angin pegunungan meniup dengan
santer sehingga suara kapaknya menebang pohon pun tak
terdengar. Untung pohon siong itu sangat besar sehingga
dalam waktu singkat sukar untuk menumbangkannya.
Melihat itu, Siau Hong dan lain-lain menjadi sangat heran
dan kuatir pula, mereka tidak paham mengapa bisa terjadi
adegan semacam permainan akrobat udara itu.
Segera Hi-Tiok beseru, "He. engkoh gemuk, jangan kau
tebang pohon itu!"
Tapi si gendut telah menjawab, "Pohon ini aku yang
tanam, aku suka menebangnya untuk dibikin peti mati, peduli
apa dengan kau?"
Sembari bicara kapaknya juga terus bekerja tanpa
berhenti. Sedangkan di bawah jurang terdengar suara
gembar-gembor Lam-hai-gok-sin.
"Jiko, orang gendut itu susah untuk diajak bicara, harap
kau suka membekuk dia dulu, urusan belakang." pinta Toan Ki.
Hi-Tiok mengiakan. Tapi belum lagi ia bergerak,
sekonyong-konyong seorang yang bertongkat telah melayang
kesana secepat terbang, hanya beberapa kali loncatan saja
orang itu sudah berada di depan si gendut tadi. Dan sesudah
orang itu berdiri tegak barulah semua orang dapat melihat
jelas, kiranya dia adalah Yu Goan ci, entah sejak kapan dia
telah lengeloyor turun darl keretanya.
Bok Wan-jing belum pernah kenal Goan-Ci seketika
mendadak melihat mukanya yang jelek menyeramkan itu, ia
menjerit kaget.
Dalam pada itu Goan-Ci telah menggunakan sebelah
tongkatnya untuk menyanggah tubuhnya tongkat yang lain
terangkat ke atas, lalu katanya dengan tegas, "Siapa pun
dilarang ke sini!”
"He, Ong pangcu, lekas kau bekuk saja saudara gendut itu,
suruh dia jangan menebang pohon lagi," seru Toan Ki cepat.
"Hm, buat apa aku mesti membekuk dia?” sahut Goan-ci
dengan sikap dingin "Apa gunanya aku menaklukan dia?"
"Kalau kau tidak membekuk saudara gendut itu, bila pohon
itu tumbang, semua orang yang bergantungan itu tentu akan
terbantìng mati semua di dalam jurang," kata Toan Ki.
Melihat keadaan sudah kepepet, kalau terlambat sebentar
lagi tentu urusan akan runyam, tanpa pikir lagl Hi-tiok terus
melompat maju. Ia pikir andaikan tidak dapat mencegah
perbuatan si gendut yang sedang menebang pohon itu, paling
tidak harus menarik Toan Yan-khing dan lain-lain ke atas.
Maklum, Hi-tiok merasa utang budi kepada Toan yan-khing
karena tempo hari kepala Su-ok itu telah mengajarkan rahasia
memecahkan problem catur sehingga dia berhasil memperoleh
kepandaian-kepandaian sakti.
Tak terduga, sebelum Hi-tiok bertindak, mendadak Goan-ci
telah menancapkan tongkat ditanah lalu tangan kanan itu
menghantam, kontan serangkum hawa maha dingin
menyambar ke muka Hi-Tiok.
Walau pun Hi-Tiok tidak gentar terhadap serangan berbisa
itu, tapi ia pun tahu tenaga pukulan Goan-ci itu sangat
dahsyat dan tidak boleh di pandang enteng, cepat ia kerahkan
tenaga untuk menangkis. Tapi mendadak pukulan Goan-ci
yang kedua terus diarahkan kedahan pohon, dimana dipakai
menyanggah tongkatnya Toan Yan-khing. Kalau dahan itu
terpukul patah tanpa ampun lagi Toan Yan-khing berempat
pasti akan hancur lebur terjeblos ke dalam jurang.
Keruan Toan Ki kelabakan, cepat ia beteriak, "Tahan dulu!
Jiko, jangan kau maju ke sana, segala urusan boleh
dibicarakan secara baik-baik dan jangan main kekerasan. Ong-
pangcu, sebenarnya apa maksudmu ini? Siapakah yang kau
musuhi? Kenapa kau hendak membikin celaka orang?”
"Toan-kongcu," sahut Goan-ci, "terlalu mudah bagiku jika
mau membekuk si gendut ini. Tapi . . . tapi apa balas jasanya
bagiku?"
"Segala apa akan kuberikan padamu! Apa yang kau minta
tentu akan kupenuhi! Nah, le . . . lekas kau bertindak, kalau
terlambat tentu tidak keburu lagi!" seru Toan Ki.
"Bila si gendut ini sudah kubereskan, segera aku akan
pergi bersama nona A Ci, untuk mana kau dan kawan-
kawanmu tidak boleh merintangi kami, apa kau bersedia
menerima syarat ini?” Tanya Goan-ci.
"A Ci?" Toan Ki menegas. "Tapi . . . tapi dia ingin minta
tolong pada Jiko untuk menyembuhkan matanya, kalau ikut
pergi bersama kau, lantas bagaimana matanya?"
"Jika Hi-tiok Siansing dapat menyembuhkan matanya,
maka aku pun pasti dapat berusaha menyembuhkan
matanya," sahut Goan-ci.
"Ini . . . ini . . . . " dalam pada itu Toan Ki melihat si
gendut masih terus mengapak, kalau-kalau ayal sebentar lagi
urusan tentu akan runyam, Terpaksa ia berkata, "Ya, ba . . .
baiklah, aku terima permintaanmu, le . . . lekas kau . . . . "
Belum habis ia berkata, dl sebelah sana serangan Goan-ci
sudah dilancarkan kearah si gendut.
Ternyata orang gemuk buntak itu sedikitpun tidak gentar
terhadap pukulan Goan-ci itu, dengan tertawa dingin ia buang
kapaknya, ia pasang kuda-kuda dengan kuat, sekali gertak,
kedua tangan terus dipakai memapak pukulan Goan ci itu.
Dari angin pukulan si gendut terdengar dahsyat sekali
tenaganya. Tapi ketika beradu dengan pukulan Goan-ci,
ternyata sedikit pun tidak mengeluarkan suara. Sejenak
kemudian mendadak air muka si gendut berubah hebat, sikap
yang tadinya angkuh dan sombong itu tiba-tiba berubah
sangat aneh seperti seorang yang mendadak melihat suatu
kejadian paling ajaib dan sukar dipercaya didunia ini.
Menyusul dari mulut si gendut tampak mengeluarkan
darah, tubuhnya pelahan mengkeret dan jatuh ke dalam
jurang, Sampai cukup lama barulah terdengar suara "bluk"
sekali tentu tubuh si gendut terbanting di atas batu karang di
bawah jurang bila membayangkan betapa mengerikan badan
si gendut itu hancur lebur seketika semua orang sama merasa
menkirik.
Dalam pada itu Hi-Tiok sudah lantas melompat ke atas
dahan pohon, ia lihat tongkat Toan Yan-khing itu terjepit
dalam dahan, rupanya karena tekanan tenaga dalamnya yang
kuat itu hingga tongkat seperti melengket di dahan dan dapat
menahan bobot tubuh empat orang yang tergantung di
bawahnya.
Sungguh kagum Hi-tiok tak terkatakan atas tenaga dalam
Toan Yan-khing yang hebat itu. Segera ia pegang ujung
tongkat orang dan diletak ke atas.
“Hwesio cilikl" demikian Lam-hai-gok-sin berteriak-teriak di
bawah. “Aku memang sudah tahu kamu seorang baik, coba
kalau kamu tidak menolong kami, wah, bagaimana rasanya
jika kami terkatung-katung di sini sampai tiga hari malam."
"Huh, masih membual segala?" kata In Tiong-ho, "Apa kau
tahan sampai tiga hari malam?”
"Kenapa tidak?" sahut Lam hai-gok-sin dengan gusar.
"Andaikan tidak kuat, asal aku lepaskan jambakanku atas
rambutmu, bukankah lantas jadi? Hm, apa kau minta dicoba?"
Begitulah, biarpun dalam keadaan bahaya toh mereka
berdua masih sempat bertengkar.
Tidak lama kemudian Hi-tiok sudah mengangkat Toan Yan-
khing, Lam-hai-gok-sin dan In Tiong-ho ke atas. Paling akhir,
barulah Ong Giok-yan ditarik ke atas.
Kedua mata nona itu tampak terkatup rapat, napasnya
lemah, nyata sudah lama orangnya jatuh pingsan.
Sungguh girang dan lega rasa hati Toan Ki, tapi merasa
penuh kasih sayang pula. Ia lihat kedua pergelangan tangan
Giok-yan matang biru dan ada bekas kuku In Tiong-ho yang
tandas, tiba-tiba ia teringat kepada sifat In Tiong-ho yang
kejam dan suka mengganggu kaum wanita itu, pernah timbul
maksud jahat durjana itu terhadap Bok Wan-jing dan Ciong
Ling, untung setiap kali dapat ditolong oleh Lam-hai-gok-sin,
maka dapat diduga apa yang terjadi barusan tentu akibat
terulangnya perbuatan jahat In Tiong-ho itu.
Karena pikiran demikian, seketika Toan Ki menjadi gemas
terhadap Tiong-ho, segera la berkata, “Toako, Jiko, orang she
In ini paling jahat hendaknya kau bunuh dia saja!"
"He. salah, salah!" seru Lam-hai-gok-sin tiba-tiba, "Toan . .
. Suhu, justru hari berkat bantuan In-Losi sehingga . . . binimu
. . . Sunio ini dapat diselamatkan. Kalau tidak, wah, tentu
binimu sudah mampus sejak tadi!"
Meski kata-kata Lam-hai gok-sin ini tak karuan, tapi orang
sudah dapat menangkap maksudnya.
Tadi betapa kelabakan dan kuatirnya Toan Ki atas
keselamatan Ong Giok-yan sudah dapat diikuti seluruhnya
oleh Bok Wan-jing, sebelum Giok-yan ditarik ke atas saja
Wan-jing sudah muram dan sedih kemudian waktu melihat
kecantikan Giok-yan memang lain daripada yang lain hati Bok
Wan-jing bertambah tak karuan rasanya.
Begitulah tidak lama kemudian Giok-yan membuka mata
dengan perlahan tiba-tiba ia berseru, "Di . . . . di manakah ini?
Apa di sini akhirat?”
"Hus anak dara ini benar-benar ngaco-belo!" kata Lam-hai-
gok-sin. “Kalau di sini akherat, bukankah kita disini sudah
menjadi setan semua? Mumpung belum resmi menjadi bini
Suhuku, biarlah kupanggil engkau sebagai anak dara lebih
sering. He. anak dara, orang baik-baik mengapa mendadak
mencari kematian? Jika kau sendiri yang mati sebenarnya
tidak menjadi soal bagiku paling-paling kamu Cuma urung
menjadi bini Suhuku, tapi hampir saja In losi juga ikut
mampus bersamamu. Andaikan In-losi mampus juga tidak
mengapa, tapi Toan-lotoa juga hampir-hampir ikut lapor
kepada Giam lo ong, ya. bahkan aku Gak-loji juga hampir ikut
mati konyol, Wah sungguh sialan!"
"Nona Ong, sebenarnya bagaimana duduknya perkara?"
tanya Toan Ki kemudian. "Engkau tentu terkejut dan lelah,
silakan mengaso bersandar di batang pohon ini."
Karena Toan Ki menghiburnya dengan suara ramah-tamah,
mendadák Giok-yan menangis sambil menutup mukanya
dengan kedua tangan. Katanya dengan suara terguguk-guguk,
"Kalian tidak perlu mengurus diriku, aku . . . aku tidak ingin
hidup lagi."
Toan Ki terkejut, pikirnya, “Sebab apa dia ingin mati? Wah,
jangan-jangan . . . jangan-jangan . . . . "
Ia coba melirik In Tiong-ho, ketika melihat sikap si durjana
yang buas dan kejam itu, diam-diam ia mengeluh, "Ai, celaka!
Jangan-Jangan nona Ong telah dinodai durjana ini sehingga
dia ingin membunuh diri?”
Tengah Toan KI merasa sangsi, tiba-tiba Ciong Ling tampil
ke muka dan menegur Lam-hai-gok-sin, "He, Gak-losam, baik-
baikkah kamu selama ini!"
"Eh. jebul kau nona cilik ini!" sahut Gok sin dengan girang.
"Baik, baik sekali! Sekarang aku sudah menjadi Gak-loji dan
bukan Gak-losam lagi!"
"Ai, jangan kau panggll aku 'cilik' apa segala," sahut Ciong
Ling. "Gak-losam, kau . . . , "
"Gak-loji!" sela Gak-sin.
"O, ya, Gak-loji, sebab apakah nona ini ingin membunuh
diri? Apakah gara-gara si Jangkung lagi?” tanya Ciong Ling.
"Bukan, Bukan!" berulang Gak-sin menggeleng kepala.
"Demi allah, dalam urusan ini sifat In losi mendadak berubah
dan telah berbuat baik. Sejak kami kehilangan seorang kawan
Yap Ji-nio, Kami menjadi agak kesal. Waktu kami jalan-jalan
sampai di sini, kebetulan kami melihat Anak dara ini sedang
terjun ke bawah jurang. Sekonyong-konyong timbul welas-asih
In losi, dia melompat untuk menarik tangan anak dara itu.
Tetapi daya terjun anak dara itu terlalu hebat, maka . . . si
dasar In losi memang orang maha jahat, sekarang mendadak
berubah baik, rupanya menjadi agak tidak tahu diri . . . . "
"Keparatl" in Tiong-ho memaki dengan gusar, “Sejak kapan
aku pernah berubah menjadi baik? Orang she ln ini paling
suka kepada nona cantik maka ketika kulihat nona Ong ini
hendak membunuh diri, dengan sendirinya aku merasa sayang
jadi maksud tujuanku hendak membawanya pulang untuk
dijadikan kawan hidup."
Seketika Lam-hai-gok-sin berjingkrak, la balas memaki
sambil menuding, "Kamu jahanam bedebah! Sebabnya Gak-
loji mau menjambak rambutmu adalah karena mengira
sifatmu yang beringas berubah baik, jika tahu maksudmu yang
durhaka ini, lebih baik Kubiarkan kau terbunuh mampus saja
dalam jurang itu Untunglah Toan lotoa cukup cekatan,
tongkatnya tepat waktunya diulurkan kepadaku sehingga
sempat kugapai ujung tongkat itu dan tidak sampai terjerumus
dalam jurang. Tapi bobot kita bertiga ada beberapa ratus kati
baratnya, dengan terkontal kantil di udara, akhirnya Toan-
lotoa juga ikut terseret ke bawah syukur tongkatnya sempat
menyanggah dahan pohon siong itu. Dan baru kami hendak
mencari akal untuk naik ke atas tiba-tiba datanglah si gandut
buntak berkapak dari Turfan itu dia terus menebang pohon . .
.”
"Jadi si gendut buntak itu orang Turfan? Sebab apa dia
hendak membikin celaka kalian?” tanya Ciong Ling.
"Cuhh," Gok-sin meludah, "semuanya gara-gara In-losi, dia
masuk Istana raja Se He untuk mengintip putri kemudian ia
menyiarkan hasil perbuataanya itu. katanya putri Sa He itu
secantik bidadari. Nah, tentu saja dunia menjadi gempar.
Pangeran Turfan, juga mendengar berita yeng di siarkan In-
losi itu, dia minta keterangan kepada kami, tapi kami tidak
mau menjelaskan lebih lanjut maka terjadilah pertarungan
sengit dan mengakibatkan jatuh belasan korban di pihak jago-
jago turfan, lantaran itulah kami Sam-ok lantas bermusuhan
dengan orang-orang Turfan.”
Karena cerita Lam-hai-gok-sin ini, maka sedikit banyak
dapatlah semua orang memahami duduknya perkara. Tapi
sebab apa Ong Giok-yan sampai mau bunuh diri hal inilah
yang belum lagi diketahui.
Dalam pada itu Gok-sin berkata pula, "Nona Ong, Suhuku
sudah berada di sini, kalian adalah kenalan lama, lebih baik
menjadi suami-istri saja dan jangan membunuh diri lagi."
Giok-yan mendongak dan menjawab dengan masih
terguguk-guguk, "Jika kamu sembarang mengoceh lag untuk
menghina aku segara aku akan... akan membenturkan
kepalaku pada batu karang itu dan biar mati saja."
"Eh, jangan, jangan!" seru Toan Ki cepat. Lalu ia menoleh
kepada Gak-sin, "Gak-losam, jangan . . . . "
“Gak-loji,” potong Gak-sin.
"Baik, Gak-loji, Jangan sembarangan berkata lagi." kata
Toan Ki. "Kamu telah berjasa menyelamatkan nona Ong,
sungguh Suhu sangat berterima kasih padamu."
Lam-hai-gok-sin melirik Giok yan dengan matanya yang
kecil aneh itu, katanya, "Kamu tidak mau menjadi Ibu guruku?
Ooo. kelak kamu tentu akan ketinggalan! Itu lihat, nona besar
itu dan nona kecil ìni, semuanya sedang berlomba untuk
menjadi ibu guruku."
Sembari berkata ia pun menuding Bok Wan-jing dan Ciong
Ling.
Muka Wan-jing menjadi merah, "Cis!" semprotnya. Lalu
katanya, "He, di manakah siluman jelek itu?”
Tadi semua orang memusatkan perhatian kepada Hi-Tiok
yang menolong Ong Giok-yan ke atas, baru sekarang sesudah
mendengar ucapan Wan-jing itu semua orang mengetahui
bahwa Yu Goan-ci dan A Ci sudah tidak kelihatan lagi.
"Toako. apakah mereka sudah pergi?" Tanya Toan Ki
kepada Siau Hong. Ia kenal sang Toako adalah seorang cerdik
dan penuh waspada, setiap gerak-gerik Goan-ci dan A Ci tentu
tidak terhindar dari pengamatannya.
"Ya, mereka sudah pergi," sahut Siau Hong. "Kamu sudah
berjanji, dengan sendirinya aku tidak dapat merintangi
mereka."
"Hai. Lotoa, tosi, apa kita akan pulang saja?" mendadak
terdengar Lam-hai-gok-sin berteriak kepada Toan Yan-khing
dan In Tiong-ho yang kelihatan berjalan menuju ke arah
Lengciu. Lalu ia berpaling pula kepada Toan Ki dan berkata,
"Aku akan pergi, ya!"
Habis itu ia terus ayun Langkahnya menyusul ke arah Toan
Yan-khing berdua.
"Nona Ong," kata Ciong Ling kemudian "Engkaü tentu
sangat lelah, marilah kita naik kereta saja."
Lalu ia memayangnya menuju kereta yang ditinggalkan
Goan-ci tadi.
Begitulah rombongan mereka lantas meneruskan
perjalanan ke Lengciu. Menjelang magrib sampailah mereka di
dalam kota. Walaupun Lengciu adalah kota raja Se He, tetapi
kalau dibandingkan kota besar dl Tionggoan dengan
sendirinya kalah jauh besar dan ramainya.
Maka rombongan Siau Hong gagal mendapatkan rumah
penginapan. Maklum, kota Lengciu memang tidak besar,
rumah penginapan yang ada telah penuh diisi oleh para
ksatria yang berbondong-bondong datang handak ikut
sayembara. Terpaksa Siau Hong membawa rombongannya
keluar kota dan dengan susah payah akhirnya menemukan
sebuah kelenteng sebagai tempat bermalam. Kaum lelaki
berkumpul dl suatu kamar serambi timur dan kaum wanita
bersatu kamar di sebelah barat.
Sejak betemu kembali dengan Giok-yan sungguh girang
Toan Ki tak terlukiskan, tapi juga gundah-gulana. Malam itu ia
guling-gelantang tak bisa tidur. Yang selalu terbayang olehnya
ialah Ong Giok-yan, Ia pikir, "Sebab apakah nona Ong hendak
membunuh diri? Ai aku harus mencari akal untuk
menghiburnya? Tetapi aku tidak tahu sebab apa dia hendak
mengbunuh diri, dengan cara bagaimana aku harus
menghiburnya?"
Sang dewi malam memancarkan sinarnya yang terang di
tengah cakrawala, sinar bulan itu menembus ke dalam kamar
melalui celah-celah jendela. Saat itu Toan Ki masih guling-
gelantang tak bisa pulas. Akhirnya pelahan ia bangun dan
keluar ke pelataran tengah kelenteng di situ tumbuh dua
batang pohon Waru yang rindang.
Tatkala itu sudah akhir musim panas, tapi di tengah malam
di daerah sekitar Kamsiok hawa terasa agak dingin. Toan Ki
mondar-mandir di bawah pohon waru itu, lamat-lamat ia
merasa luka di dadanya agak sakit, la tahu tentu siang harinya
telah banyak bergerak sehingga membikin luka itu kambuh
kembali.
"Sebab apakah dia ingin bunuh diri?" demikian timbul pula
pertanyaan ini dalam benaknya.
Karena pertanyaan itu tetap sukar dipecahkan, akhirnya ia
melangkah keluar kelenteng. Di bawah sinar bulan yang
terang itu tiba-tiba dilihatnya ada berkelebatnya bayangan
orang di tepi empang sejauhan sana. Samar-samar bayangan
orang itu seperti kaum wanita, bahkan mirip dengan tubuh
Giok-yan.
Toan Ki terkejut, ''Wa. celaka, jangan-jangan dia . . . dia
hendak bunuh diri lagi."
Cepat ia gunakan ginkang untuk memburu ke sana. Segera
dia keluarkan langkah "Leng-po wi-poh" yang ajaib, maka
cepatnya bukan main dan tak bersuara seperti orang meluncur
dalam air, hanya sekejap saja ia sudah berada dibelakang
bayangan orang itu.
Air empang yang tenang dan bening seperti kaca itu
mencerminkan muka orang itu dengan jelas, memang betul
dia adalah Giok-yan.
Toan Ki tidak berani sembarangan menegurnya, pikirnya,
"Ketika di Siau-sit-san dia sudah kadung benci padaku, waktu
bertemu siang tadi dia juga acuh-tak-acuh padaku, mungkin
dia masih marah padaku. Ya, boleh jadi sebabnya dia ingin
membunuh diri adalah lantaran perbuatanku. Jika begitu,
wahai Toan Ki, kamu terlalu kasar terhadap si cantik dan
mengakibatkan dia gundah merana, kamu benar-benar
berdosa!”
Begitulah Toan Ki sembunyi di belakang pohon dan
termangu mangu menyesalkan dirinya sendiri, makin dipikir
makin merasa dosa sendiri tak terampunkan.
Tiba-tiba dilihatnya air empang yang tenang bening itu
tiba-tiba bergelombang halus, lingkaran gelombang itu
pelahan makin meluas. Waktu Toan Ki memperhatikannya
tertampak beberapa tetes air jatuh di permukaan empang.
Kiranya air mata Giok yan.
Toan Ki semakin kasihan. Tiba-tiba terdengar Giok-yan
menghela napas, lalu pelahan bergumam, "Ai, aku . . . aku
lebih baik mati saja agar tidak merana lebih lama."
Sungguh Toan Ki tidak tahan lagi, segera ia keluar dari
tempat sembunyinya dan barkata, "Nona Ong, seratus kali
salah, semuanya aku yang salah, untuk itu diharap engkau
suka memaafkan. Bila engkau masih tetap marah, terpaksa
aku berlulut padamu."
Habis bicara benar saja ia terus berlutut.
Keruan Giok-yan kaget, serunya gugup "He, apa . . . apa
yang kaulakukan? Le . . . lekas bangun. Kalau . . . sampai
dilihat orang kan tidak enak?”
“Asal nona sudi memaafkan aku dan tak akan marah lagi
padaku, baru aku mau bangun" sahut Toan Ki.
Giok yan menjadi heran, katanya, "Maaf apa padamu?
Marah apa padamu? Ada sangkut-paut apa dengan
urusanmu?"
“Kulihat nona sangat sedih, padahal segala apa biasanya
nona selalu gembira ria, kukira akulah yang membikin
Buyung-kongcu merasa tersinggung sehingga nona juga ikut
masgul. Biarlah aku berjanji, bila lain kali bertemu dengan dia
lagi, biarpun dia akán memaki dan menyerangku. Aku akan
kabür saja dan takkan balas menyerang dia."
Giok-yan nampak membanting-bantíng kaki dan berkata.
""Ai, engkau ini me . . . memang tolol. Aku berdüka sendiri,
sama sekali tiada sangkut pautnya denganmu.”
"Jika begitu, jadi nona tidak marah padaku?”
"Sudah tentu tidak!"
"Jika demikian legalah hatiku." kata Toan Ki sambil
berbangkit.
Tapi mendadak hatinya merasa gundah-gelana. Bila Giok-
yan sangat berduka karena dia sehingga memaki dan
memukulnya, bahkan membacoknya dengan golok sekali pun
dia akan rela. Tadi si nona justru menyatakan sedihnya itu
tiada sangkul-pautnya dengan dia. Seketika Toan Ki merasa
hampa seakan-akan kehilangan sesuatu.
Dalam pada itu tampak Giok-yan sedang menunduk air
matanya bercucuran pula.
Toan Ki menjadi terharu dan berkata," Nona Ong,
sebenarnya ada kesulitan apa, lekas katakan padaku. Dengan
segenap tenagaku tentu akan ku selesaikan untukmu, aku
akan berusaha engkau gembira."
Pelahan Giok-yan mengangkat kepalanya, dengan
pandangan yang sayu ia menjawab, “Toan-kongcu, engkau . .
. sangat baik padaku, sudah tentu aku sangat . . . sangat
berterima kasih, Cuma dalam urusan ini sesungguhnya engkau
tak dapat menolong diriku."
"Aku sendiri memang tidak becus apa-apa," ujar Toan Ki.
”Tetapi Siau-toako dan Hi-tiok Jiko, mereka adalah jago silat
kelas wahid, mereka berada di sini semua, mereka sangat baik
padaku, apa yang kau minta tentu akan dikabulkan oleh
mereka. Apa sebenarnya yang membuatmu berduka, coba
katakan, bisa jadi aku dapat membantumu."
Tiba-tiba air muka Giok-yan yang semula pucat itu berjamu
marah, ia berpaling dan tidak berani menatap sinar mata Toan
Ki, kemudian dengan suara yang lìrih lembut berkata, "Dia . .
.dia katanya ingin menjadí Huma kerajaan Se He maka
Kongya-jiko membujuk padaku agar . . . . demi kebangkitan
kembali kerajaan Yan yang baru, terpaksa dia . . . dia harus
kesampingkan kepentingan pribadinya."
Habis berkata, tiba-tlba ia berpalíng kembali dan
mendekap di atas pundak Toan Ki lalu menangis tersedu-
sedan.
Kejut-kejut senang rasa Toan Ki, sedikit pun ia tidak berani
bergerak. Baru sekarang ¡a paham duduknya perkara, tapi ia
lantas terkesima, entah mesti girang atau susah, Kiranya
lantaran Buyung Hok hendak ikut berebut putri Se He, dan
kalau sudah memperistrikan putri Se He, dengan sendirinya
Giok yan tidak terurus lagi.
Dengan sendirinya lantas terpíkir pula, oleh Toan Ki, "Wah,
bila dia tidak jadi diambil istri oleh Piaukonya, boleh jadi dia
akan lebih lunak kepadaku aku tidak berani mengharapkan
memperistrikan día, asal aku senantiasa dapat melihat
wajahnya yang berseri-seri maka puaslah hatiku. Jika dia suka
kepada ketenangan, maka aku akan mengiringi dia pergi ke
pulau terpencil atau gunung yang sunyi dan selalu
berdampingan dengan dia alangkah bahagia dan senangnya
hidup demikian itu?"
Jilid ke-79
Berpikir tentang hidup yang mengembirakan itu, ia menjadi
lupa daratan dan tanpa terasa kaki tangan bertingkah pula.
Giok-yan sampai kaget, ia mundur selangkah, ketika
melihat wajah Toan Ki bergembira ria, ia tambah pedih,
katanya, "Tadinya ku . . . kusangka engkau adalah orang baik,
makanya aku bicara terus terang padamu, tak tahunya engkau
malah . . . malah menyukurkan kemalanganku ini dan malah
mengejek."
”O, tidak, tidak!" sahut Toan Ki cepat, "Langit di atas, bumi
di bawah, boleh mereka menjadi saksi bahwa sekali-sekali aku
tidak menyukurkan kemalangan nasib nona, bila demikian
pikiranmu, biarlah aka terkutuk dan mati tak terkubur."
"Asal hatimu memang tidak bermaksud jelek siapa sih yang
menyuruhmu bersumpah apa segala?” ujar Giok-yan. "Tapi
sebab apakah tìba-tiba engkau tampak gembirà?"
Baru pertanyaan itu dikemukakan ia sendiri lantas paham
juga persoalannya. Segera teringat olehnya bahwa sebabnya
Toan Ki mendadak gembira tentu karena Buyung Hok akan
menjadi menantu raja Se He dan Toan Ki menjadi besár
harapannya untuk mengikat jodoh dengan dirinya.
Tentang Toan Ki sangat kesemsem padanya sudah tentu
Giok-yan sendiri tahu. Cuma perhatiannya selalu terpusat
kepada diri sang Piauko, terhadap cinta Toan Ki yang tak
terbalas itu terkadang ia sendiri pun merada menyesal. Tapi
dalam hati "cinta" memang sekali-kali tak boleh dipaksakan."
Begitulah maka sesudah paham sebabnya Toan Ki
berjingkrak senang Giok-yan menjadi malu dengan muka
bersemu merah ia mengomel, "Meski engkau tidak mengejek
aku, tapi kaupun tidak bermaksud baik, Aku . . . aku . . . . "
Sampai di sini ia tidak sanggup meneruskan lagi.
Toan Ki terkesiap, diam-diam ia mencerca dirinya sendiri,
"Wahai Toan Ki kenapa tiba-tiba timbul pikiranmu serendah itu
dan bermaksud menggagap ikan di air keruh,” Orang lain
sedang tertimpa kemalàngan tapi aku malah bergirang?
Bukankah perbuatanmu itu sangat memalukan?"
Melihat Toan Ki termenung-menung dengan suara
perlahan Giok-yan bertanya, "Apakah ucapanku tadi salah dan
engkau marah padaku?"
"O, ti . . . tidak, mana bisa kumarah padamu," sahut Toan
Ki.
“Habis, mengapa engkau diam saja?"
"Aku . . . . aku sedang memikirkan sesuatu," kata Toan Ki.
Diam-diam ia sedang menimang-nimang "Kalau
dibandingkan Buyung-kongcu terang aku kalah segalanya,
baik ilmu sìlat mau pun ilmu sastra, kalah ganteng dan kalah
nama, apalagi mereka berdua adalah famili sendiri dan teman
bermain sejak kecil, sudah lama mereka saling menyukai
dalam hal ini lebih-lebih aku bukan tandingannya. Tapi ada
suatu hal aku harus mengalahkan Buyung-kongcu. Ya, supaya
sampai tua pun dalam lubuk hati nona Ong akan tetap
teringat kepadaku bahwa di dùnia ini satu-satunya orang yang
selalu berpìkir demi kepentingannya tiada orang lain kecuali
aku, Toan Ki."
Sesudah ambil ketetapan itu segera ia berkata pula, "Nona
Ong, jangan berduka lagi, biarlah aku berusaha menasehati
Buyung-kongcu supaya dia jangan menjadi Huma kerajaan Se
He dan supaya dia lekan menikah denganmu saja."
Giok-yan terkejut, sahutnya, "He. tidak! Mana boleh jadi?
Piauko justru sangat benci padamu tidak mungkin dia mau
menerima nasehatmu itu."
"Biarlah aku nanti memberi ceramah padanya akan
kukatakan bahwa hidup manusia di dunia ini paling penting
adalah kecocokan antara suami istri keduanya harus cinta
mencintai, Padahal selamanya dia tìdak kenal putri Se He tidak
akan tahu putri itu jelek atau cantik, apakah baik atau jahat
andaikan menjadi istrinya tentu takkan bahagia. Sàbaliknya
akan kukatakan bahwa nona Ong cantik molek, halus budi dan
bijaksana seluruh dunia sukar mencari bandingannya. Apalagi
engkau sangat cinta padanya, masa día tega mengingkarimu
sehingga akan dicaci-maki oleh kaum ksatria di dunia íni?"
Giok-yan sangat terharu mendengar uraian itu katanya
lirih, "Toan-kongcu, engkau memuji díriku hanya untuk
menyenangkan hatiku saja."
"Bukan! Bukan!" sahut Toan Ki cepat. Dan begítü kata-kata
itu diucapkan, segera ia merasa nada sendiri itu ketularan
kebiasaan Pau Püt-tong, ia tertawa geli sendiri lalu
menyambung, "Aku benar-benar berkata dengan setulusnya,
sedikit pun tidak pura-pura untuk menyenangkan hatimu."
Rupanya Giok-yan juga geli oleh ucapan "bukan-bukan"
itu, dari menangis ia menjadi tertawa katanya, "Kenapa
engkau menirukan kebiasaan Pau-samko yang jelek?"
Toan Ki kegirangan melihat si nona tertawa, katanya,
"Pendek kata aku pasti akan membujuk Buyung-kongcu agar
menarik kembali maksudnya hendak menjadi menantu
kerajaan Se He dan lebih baik menikah dengan nona saja."
"Dengan perbüatanmu ini, sebenarnya apa tujuanmu? Apa
sih faedahnya bagimu?" tanya Giok Yan.
”Asal kulihat nona bergembira ria dan tertawa, itu sudah
cukup bagiku,” sahut Toan Ki.
Giok-yan terkesiap, ia merasa jawaban yang sederhana itu
justru sangat tandas melukiskan betapa cinta pemuda itu
kepadanya. Tapi karena segenap perhatiaan Giok-yan telah
dicurahkan kepada Buyung Hok seorang, walaupun terharu
seketika, tapi segera terlupa pula.
Katanya kemudian dengan menghela napas. "Engkau tidak
tahu jalan pikiran Piaukoku. Dia memandang usahanya
membangun kembali kerajaan Yan sebagai tugas utama
hidupnya. Dia bilang seorang lelaki sejati harus
mengutamakan perkembangan dan pemupukan pergerakan,
kalau selalu memikirkan urusan lelaki dan perempuan, itu
bukanlah pahlawan. Dia bilang baik putri Se He itu secantik
bidadari atau sejelek setan, pendek kata dia tidak pikirkan,
yang utama ialah dapat membantu dia membangun kembalí
kerajaan Yan."
”Hal itu memang juga betul," pikir Toan Ki. "Keluarga
Buyung mereka senantiasa ingin menjadi raja, Se He memang
dapat membantu usahanya membangun kembali kerajaan
Yan, urusan nona Ong menjadi . . , menjadi agak sulit."
Ia lihat air mata Giok-yan berlinang-linang pula, segera ia
membusungkan dada dan berkata, "Nona. sudah jangan
kuatir. Biarlah aku saja yang menjadi menantu kerajaan Se
He. Dengan demikian, karena tidak berhasil menjadi Huma,
dia terpaksa akan menikah denganmu."
"Hah, apa?'' seru Giok-yan terkejut dan bergirang.
"Aku akan ikut sayembara dan merebut putri Se He," sahut
Toan Ki.
Ketika di Siau-sit-san Toan Ki telah mengalahkan Buyung
Hok dengan Lak-meh-sin-kiam, kejadian itu disaksikan sendiri
oleh Giok-yan, kalau sekarang Toan Ki benar-benar ikut
perlombaan sayembara, rasanya sang Piaoko akan gagal cita-
citanya untuk menjadi menantu raja Se He.
Karena pikiran demikian, segera Giok-yan berkata dengan
suara pelahan, "O, Toan-kongcu, engkau benar-benar sangat
baik padaku. Tapi . . . . tapi dengan demikian engkau tentu
akan dibenci sekali oleh Piaukoku."'
"Tidak menjadi soal, toh sekarang juga dia sudah sangat
benci padaku," sahut Toan Ki.
"Tadi kukatakan putri Se He itu entah cantik entah jelek,
jika engkau menjadi suaminya, bukankah akan membikin
susah padamu?''
"Demi dirimu, biar bagaimana juga aku rela
menangungnya," demikian mestinya hendak dikatakan Toan
Ki. Tapi sebelum terucapkan, tiba-tiba terpikir olehnya, ''Apa
yang kulakukan ini jika sengaja untuk membuat kau utang
budi padaku bukankah perbuatan demikian terlalu rendah?"
Karena itu lantas katanya,'"Aku tidak akan susah, sebab
ayahku telah memerintahkan padaku agar berusaha ikut
berebut putri Se He, jadi aku cuma melaksanakan perintah
ayah dan tiada sangkut-pautnya denganmu."
Giok-yan adalah nona yang pintar dan cerdik, demi cinta
Toan Ki rela berkorban baginya, walaupun di mulut Toan Ki
tidak menonjolkan hal ini. Tanpa terasa ia genggam tangan
pemuda itu dan berkata, "O, Toan-kongcu, hidupku ini tak
dapat kubalas kebaikanmu se . . . semoga dalam jelmaan
hidup yang akan datang . . . . "
Berkata sampai di sini, suaranya menjadi parau dan
tenggorokan serasa tersumbat, ia tidak sanggup meneruskan
lagi.
Sudah beberapa kali kedua muda-mudi ini bahu-membahu
menghadapi bahaya dan selalu berdampingan, apa yang
pernah terjadi itu adalah terpaksa, sebaliknya sekali ini Giok-
yan sendiri yang terharu, perasaannya timbul dengan
sewajarnya sehingga menggenggam tangan Toan Ki dengan
erat.
Seketika Toan Ki merasa tangannya dipegang oleh tangan
yang halus dan lemas, untuk sejenak ia menjadi lupa daratan,
saat itu biarpun langit akan ambruk juga tak dihiraukannya
lagi Ia pikir si nona sedemikian baik padaku, jangankan Cuma
mengambil istri putri Se He, sekalipun putri kerajaan Song,
kerajaan Liau, kerajaan Koran dan kerajaan Turfan sekalígus
menjadi istriku juga boleh.
Begitulah, saking senangnya, darah lantas bergolak,
padahal lukanya belum sembuh sama sekali maka kepala
menjadi puyeng, badan terhuyung-huyung dan "byuurr”, ia
terperosot dan kecebur ke dalam empang.
Keruan Giok-yan kaget, serunya, "He, Toan-kongcu! Toan-
kongcu!”
Untung air empang itu sangat cetek, karena terendam air
dingin pikiran Toan Ki menjadi jernih, cepat ia merangkak
bangun dengan basah kuyup.
Dan karena teriakan Giok-yan tadi semua orang yang tidur
dalam kelenteng sama terjaga bangun. Siau Hong, Hi-tiok, Pah
Thlan-sik, Cu Tan-sin dan lain-lain sama berlari keluar. Ketika
melihat keadaan Toan Ki yang serba runyam dan air muka.
Giok-yan tampak merah jengah, diam-diam semua orang
merasa geli, mereka menyangka kedua muda-mudi itu sedang
main pat-gulpat di tengah malam sunyi, maka mereka pun
tidak enak untuk bertanya . . . .
Esoknya adalah tanggal 12 bulan, delapan jadi masih ada
tempo tiga hari baru tiba hari Tiongciu. Pagi-pagi Pah Thian-
sik sudah masuk kota untuk mencari berita. Waktu-lohor ia
pulang kembali ke kelenteng dan memberi lapor kepada Toan
Ki, "Kongcu, surat lamaran Ongya telah hamba sampaikan
lepada Le-poh (bagian protokol) dan hamba telah diterima
oleh menteri Le-poh dengan ramah beliau menyatakan adalah
suatu kehormatan besar bagi Se He karena Kongcu mau ikut
melamar putri mereka dan besar kemungkinan cita-cíta
Kongcu akan terkabul."
Tidak lama kemudian, tíba-tiba terdengar riuh ramai di lúar
kelenteng, menyusul ada suara alat tetabuhan pula. Waktu
Thian-sik dan Tan-sin memapak keluar kiranya To silong
(menteri To) dari Le-poh datang untuk menyambut Toan Ki ke
tempat penginapan yang disediakan bagi tamu-tamu agung
kerajaan.
Siau Hong adalah Lam-ih Tai-ong Kerajaan Liau, kalau Se
He mengetahui kedatangannya tentu akan menyambutnya
dengan lebih meriah dan menghormat. Cuma dia telah pesan
kawan-kawannya agar jangan membocorkan kedudukannya,
maka dia dan Hi-Tiok dan lain-lain cuma mengaku sebagaí
pengiring Toan Ki dan bersama-sama pindah ke pondok tamu
asing.
Belum lama mereka mengaso di tempat baru, tiba-tiba
terdengar di ruang belakang sana ada suara caci maki orang,
'Hm, kamu ini kutu macam apa? Kamu juga berani mengincar
putri Se He? Biarlah kukatakan padamu bahwa Huma kerajaan
Se He ini sudah pasti akan diduduki oleh pangeran kami,
kukira kalian lekas merat saja dari sini mencawat ekor!"
Pah Thian-sik dan lain-lain menjadi gusar, mereka tidak
tahu siapakah berani mencaci-maki secara kasar demikian.
Ketika mereka membuka pintu, tertampaklah di pekarangan
sana berdiri tujuh atau delapan lelaki kekar kasar dan sedang
bergembar-gembor tak keruan.
Thian-sik dan Tan-sin adalah pendekar-pendekar Taili yang
terhitung paling pintar dan cerdik. Mereka tidak bersuara,
hanya berdiri di depan pintu saja untuk mendengarkan lebih
jauh. Terdengar caci-maki kawanan lelaki kasar itu makin lama
makin kotor, terkadang juga diselingi dengan kata-kata yang
tak dikenal, agaknya mereka adalah anak buah pangeran
Turfan.
Selagi Thian-sik berpikir cara bagaimana menggebuk pergi
kawanan lelaki itu, mendadak pintu kamar dipojok kiri sana
terdengar dibuka orang dengan keras, menyusul dua orang
melompat keluar, seorang berbaju kuning dan yang lain
berbaju hitam. Keduanya terus menghantam sana dan
menendang situ, hanya dalam sekejap saja tiga. Di antara
kawanan lelaki yang mencaci-maki tadi sudah dirobohkan.
sisanya juga kena dihantam dan dilempar keluar pintu sana.
“Puas! Puas!” seru si lelaki berbaju kuning.
Kiranya mereka adalah Hong Po-ok dan Paù Put-tong.
Mendengar suara kedua orang itu, Giok yan yang berada di
dalam kamar menjadi bimbang, ia bingung apa mesti keluar
untuk bertemu dengan mereka atau tidak.
Dalam pada itu terdengar jago-jago Turfan yang diusir
keluar ítu masih berkaok-keok, "He, manusia she Buyung,
kami kira kamu lebih baik pulang kandang ke Koh-soh saja.
Jangan timbul pikiran hendak memperistrikan putri Se He, Jika
sempat Pangeran kami menjadi gusar menggunakan caramu
untuk diperlakukan atas dirimu dan mengambil adik
perempuanmu sebagai bini muda, maka barulah kamu akan
tahu rasa nanti!"
Hong Po-ok menjadi gemas karena caci-maki yang
demikian kotor itu, segera ia mengudak keluar. Maka
terdengarlah suara "plak-plok, blak-bluk” berulang-ulang,
jago-jago Turfan itu telah dihajar hingga lari tunggang-
langgang.
Tiba-tiba Put Pat-tong memberi hormat kepada Thian-sik
dan Tan-sin dan menyapa, "kiranya Pah-heng dan Cu-heng
juga berada di sini, apakah kalian cuma ingin lihat ramai-ramai
atau mempunyai tujuan lain?"
"Apa tujuan kedatangan Pau-heng sendir¡, begitu pula
maksud tujuan kami," sahut Thian sik.
Air muka Put-tong berubah seketika, tanvanya, "Apakah
Toan-kongcu dari Taili juga ingin melamar putri Se He?"
"Ya," sahut Thian sik. "Kongcu kami adalah putra mahkota
Taili, beliau adalah ahliwaris satu-satunya Sri Baginda yang
sekarang, bila kelak beliau naik tahta bukankah akan
merupakan besanan yang setimpal dengan kerajaan Se He.
Sebaliknya Buyung kongcu hanya jejaka yang tak punya
sandaran apa-apa, meski orangnya cakap tapi bukan keluarga
yang setimpal."
Air muka Pau Put-tong tambah kelam, katanya, "Bukan,
bukan! Kamu cuma tahu satu tapi tidak tahu dua. Kongcu
kami adalah pemuda pilihan di antara kaum pemuda, mana
bisa dibandingi pemuda ketolol-tololan seperti Kongcu kalian?”
"Samko," tiba-tiba Hong Po ok berlari masuk kembali,
"buat apa bertengkar dengan mereka, toh besok akan
diadakan perlombaan di depan baginda raja, biarlah nanti
masing-masing pihak keluarkan kepandaian sejati saja."
”Bukan, bukan!" sahut Put-tong. "Perlombaan di hadapan
baginda raja adalah urusan para Kongcu, sedangkan
pertengkaran mulut ini adalah kewajiban kita."
”Hahaha, soal pertengkaran mulut memang harus diakui di
dunia ini tiada seorang pun mampu melawan Pau-heng, nah,
Siaute terima mengaku kalah padamu," ujar Thian-sik dengan
tertawa.
Dan selagi Pau Put-tong hendak "bukan-bukan” pula,
namun Thian-sik sudah mengundurkan diri ke dalam kamar
bersama Tan sin. "Cu hiante" katanya kemudian, "kalau
menurut kata-kata Pau Put-tong tadi. agaknya Köngcu masih
harus mengikuti pertandingan secara terbuka, padahal luka
Kongcu belum sembuh, sedangkan kungfunya juga terkadang
manjur dan terkadang tidak, bila dalam pertandmgan nanti
Lek-meh-sin kiam tak bisaj dikeluarkan, bukan saja tidak
berhasil menjadi Huma, bahkan jiwanya berbahaya pula, maka
bagaimana menurut pendapatmu?"
Tan-sin juga tak berdaya, terpaksa mereka pergi
membicarakannya dengan Siau Hong dan Hi-tiok.
Menurut Siau Hong, kalau cara pertandingan nanti dapat
diketahui tentu akan lebih mudah mengatur siasat untuk
menghadapinya.
"Jika begitu, marilah Cu-hiante, kita coba pergi tanya
keterangan kepada To silong tentang peraturan pertandingan
itu," ajak Thian-sik segera besama Tan-sin mereka bergegas
pergi.
Siau Hong, Hi tiok dan Toan Ki duduk bersama dan minum
arak sambil mengobrol. Tiba-tiba Siau Hong tanya Toan Ki
tentang pengalamannya memperoleh Lak-meh-sin-kiam itu
dengan maksud hendak mangajarkan semacam cara
mengarahkan tenaga agar adik angkat itu dapat
menggunakan Lak-meh-sin-kiam dengan sesuka hati.
Tak terduga dalam hal teori Iwekang dan sebagainyà sama
sekali Toan Ki tidak paham sehingga sukar untuk
mempelajarinya dalam waktu singkat. Karena tak berdaya,
Siau Hong hanya menggeleng-geleng kepala saja dan
menenggak arak pula.
Kekuatan minum Hi-tiok dan Toan Ki sudah tentu bukan
tandingan Siau Hong maka baru dua-tiga mangkuk saja Toan
Ki sudah menggeletak tak sadarkan diri.
Ketika ia siuman kembali dengan mata yang merah ia lihat
sinar bulan telah menembus masuk melalui celah-celah
jendela, nyata waktu itu sudah tengah malam. Toan Ki
terkesiap, "Semalam aku belum selesai bicara dengan nona
Ong dan keburu tercebur ke dalam empang, entah dia masih
ingin omong apa lagi padaku? Apa tidak mungkin dia sedang
menantikan aku pula di luar sana? Ai, celaka jangan-jangan
dia sudah menunggu terlalu lama dan sekarang sudah kembali
ke kamar karena tidak sabar menanti?"
Buru-buru ia lompat bangun. Saking tergesa-gesanya
sampai hampir hampir-hampir menubruk kursi di depan
tempat tidurnya. Cepat ia tenangkan diri agar tidak membikin
kaget kawan-kawannya dan pelan ia keluar kamar.
Sesudah melintasi pekarangan tengah dan selagi hendak
membuka pintu luar, tiba-tiba terdengar suara orang berbisik
dibelakangnya, "Toan-kongcu, mar¡lah ikut padaku, aku ingin
bicara denganmu.”
Karena tidak menduga-duga, karuan Toan Ki kaget. Ia
dengar suara orang tidak bermaksud baik, segera ia hendak
berpaling, tapi mendadak hiat-to pinggang dlcengkeram orang
dengan keras.
Samar-samar Toan Ki dapat mengenali orang itu, ia coba
tanya, "Apakah engkau Buyung-kongcu?"
"Memang betul aku adanya," sahut orang itu. "Dapatkah
Toan-heng ikut sebentar padaku?"
"Masakah aku berani menolak undangan Buyung-kongcu?"
sahut Toan Ki. "Kuharap sukalah kau lepaskan tanganmu."
"Tidak perlu lagi!” kata Buyung Hok. Mendadak Toan Ki
merasa tubuhnya terapung, agaknya Buyung Hok telah
mencengkeram punggungnya dan dibawa melompat ke atas.
Pada saat demikian kalau Toan Ki mau berteriak tentu Siau
Hong dan Hi-tiok akan terjaga bangun dan datang
menolongnya. Tapi ia pikir, "Jika aku berteriak, tentu nona
Ong akan mendengar juga dan tentu dia akan kurang senang
bila melíhat kami berdua bertengkar. Pasti dia takkan marah
pada Piaukonya melainkan akulah yang akan menjadi sasaran
kemarahannya, maka buat apa aku mencari penyakit?"
Karena itu ia tidak jadi bersuara, Ia membiarkan dirinya
dibawa Buyung Hok dan berlari keluar sana. Walaupun tengah
malam, tapi waktu itu sudah dekat hari Tiongciu, sinar bulan
terang benderang, pemandangan sekitar cukup tertampak
jelas. Ia lihat Buyung Hok berlarí-lari ke luar kota, akhirnya
jalan di kedua tepi kelihatan rumput melulu. Tidak lama
kemudian, mendadak Buyung Hok berhenti dan melemparkan
Toan Ki ke tanah.
"Bluk", Toan Ki terbanting dan meringis kesakitan,
pikirnya, "Orang ini kelihatannya ramah tamah, tapi
kelakuannya ternyata begini kasar."
Segera ia merangkak bangun sambil memegang pinggang
yang sakit, katanya, "Segala urusan boleh Buyung heng
bicarakan dengan baik-baik, mengapa mesti main kasar?"
"Hm, ingin kutanya padamu, apa yang kau bicarakan
dengan Piaomoaiku selama ini?" jengek Buyung Hok.
Muka Toan Ki menjadi merah, sahutnya, “O, tidak . . .
tidak apa-apa, hanya bertemu secara kebetulan dan omong-
omong iseng saja."
"Huh, seorang lelaki sejati, berani berbuat berani
bertanggung jawab, apa yang sudah kau katakan, mengapa
tidak berani mengaku?” ejek Buyung Hok. "Memangnya kau
sangka aku tidak tahu? Hm, kau bicara tentang suami-lstri apa
segala, apakah perlu kuuraikan seluruhnya?"
"Hah, jadi . . . jadi nona Ong memberitahu seluruhnya
padamu?" Toan Ki menegas dengan gelagapan.
"Mana bisa dia katakan padaku!"
"Jika. . . jika begitu, jadi se . . .semalam kau sendiri
mendengarkan semua?"
"Hm, kamu hanya dapat mengapusi nona yang masih
hijau, tapi jangan harap dapat mendustai diriku?” jengek
Buyung Hok.
"Aku dusta tentang apa?" tanya Toan Ki dengan heran.
''Bukankah urusan sudah sangat gamblang.” sahut Buyung
Hok. "Kau sendiri ingin menjadi Huma kerajaan Se He, tapi
takut aku berebut denganmu. maka kamu sengaja mengarang
ocehan yang muluk-muluk untuk memancing aku süpäya
masuk perangkapmu. Hehe, Buyung Hok bukan anak kecil
umur tiga masakah dengan begitu muda dapat kau jebak?
Haha, kamu benar-benar lagi mimpi di siang bolong!"
"Ai. apa yang kukatakan kepada nona Ong itu timbul
setulus hatiku, kuharap engkau dapat menikah dengan dia dan
hidup bahagia sampai hari tua, lain tidak," ucap Toan Ki.
"Terima kasih atas mulutmu yang manis," kata Buyung
Hok. "Tapi Koh-soh Buyung dengan keluarga Toan dari Taili
bukan sanak bukan kadang, buat apa kamu mesti memberi
pujian dan restu sebaik ini? Huh, jika aku sampai tergoda oleh
Giok-yan maka kaulah yang akan menarik keuntungannya dan
menjadi Huma yang diagungkan ya?"
Muka Toan Ki menjadi merah, sahutnya, "Ngaco-belo,
Jelek-Jelek aku adalah pangeran Taili, meski Taili itu negeri
kecil, tidak nanti kuincar Huma kerajaan Se He. Buyung-
kongcu, aku benar-benar memberi nasehat padamu, segala
kedudukan dan kemewahan dalam waktu singkat saja akan
tamat, orang hidup dapat bertahan berapa lama? Andaikan
kau dapat menjadi Huma kerajaan Se He dan dapat naik tahta
sebagai raja Yan, untuk itu entah berapa banyak orang yang
kau bunuh? Sekalipun negeri Tionggoan ini kau sapu bersih
sehingga terjadi banjir darah, apakah kerajaan Yan dapat kau
bangun kembali, hal ini juga masih disangsikan."
Buyung Hok ternyata tidak gusar, ia lalu menjawab dengan
nada dingin, "Hm, kamu selalu bicara tentang kebaikan, tapi
dalam hatimu sebenarnya berbisa."
"Apa mau dikatakan lagi jika engkau tidak percaya pada
maksud baikku," ujar Toan Ki. "Pendek kata aku takkan
membiarkan engkau memperistrikan putri Se He, aku tidak
dapat membiarkan nona Ong berduka dan merana lantaran
dirimu sehingga membunuh diri."
"Kau larang aku memperistrikan putri Se He? Haha, apa
kamu mempunyai kemampuan untuk melarang aku? Hm, aku
justru hendak memperistrikan putri Se He, kau mau apa?”
"Aku pasti akan merintangi maksudmu itu dengan sepenuh
tenagaku," sahut Toan Ki. "seorang diri memang aku tak
berdaya, tapi aku akan minta bantuan kawan-kawanku!"
Buyung Hok terkesiap ia cukup tahu betapa lihai ilmu silat
Siau Hong dan Hi-tiok, Bahkan Toan Ki sendiri dengan Lak-
meh-sin-kiam juga sukar dilawan, untung kepandaian lawan
ini terkadang manjur dan terkadang macet sehingga masih
gampang dihadapi.
"Eh, P¡aumoai, mari sini, ingin kubicara denganmu!” tiba-
tiba ia berseru ke arah sana.
Mendengar Giok-yan berada di situ, Toan Ki terkejut dan
bergirang, cepat ia menoleh. Tapi yang tertampak hanya sínar
bulan yang terang benderang dan tiada satu bayangan
manusia pun.
Baru saja ia mengamat-amati semak-semak pohon di
depan sana yang tampaknya seperti ada berkelebatnya
bayangan orang, sekonyong-konyong punggungnya serasa
kencang lagi, kembali ia dicengkram oleh Buyung Hok, bahkan
badan diangkat pula. Baru sekarang Toan Ki merasa tertipu,
katanya dengan tersenyum getir, "kembali engkau main kasar
lagi, ini kan bukan perbuatan seorang laki-laki sejati?"
"Terhadap manusia rendah sebagai dirimu kenapa masti
pakai cara laki-laki sejati?" sahut Buyung Hok. Lalu ia angkat
tubuh Toan Ki dan menuju ke tepi jalan, di situ terdapat
sebuah sumur mati tanpa bicara lagi ia lemparkan Toan Ki ke
dalam sumur itu.
"Tolong!" segera Toan Ki berteriak-teriak, tapi tubuhnya
lantas terjerumus ke dalam sumur.
Dan baru saja Buyung Hok hendak mencari beberapa
potong batu besar untuk menutup lubang sumur agar Toan Ki
mati kelaparan di dalam situ tiba-tiba terdengar suara seorang
wanita menegurnya, "Piauko, rupanya engkau telah
mempergoki aku? Apa kau ingin bicara sesuatu denganku? Ai,
engkau melemparkan Toan kongcu ke dalam sumur?"
Melihat pendatang ini memang betul Giok-yan adanya,
kening Buyung Hok bekernyit. Waktu ia pura-pura menyebut
sang Piaumoai tadi tujuannya cuma ingin memancing agar
Toan Ki menoleh lalu ia dapat mencengkram hiat-to punggung
pemuda itu dengan mudah, Siapa duga Giok-yan benar-benar
sembunyi di semak-semak pohon sana (yaitu bayangan yang
tertampak oleh Toan Ki tadi).
Ketika mendengar namanya dipanggil, Giok-yan mengira
tempat sembunyinya diketahui Buyung Hok, maka ia lantas
keluar dari tempat sembunyinya.
Rupanya karena hati sedang risau maka selama beberapa
malam ini Giok-yan tak bisa pulas. Tadi ia sedang termenung-
menung di ambang jendela, maka kejadian Toan Ki
dicengkeram Buyung Hok dan dibawa lari dapat dilihatnya, Ia
kuatir kedua orang akan bertengkar lagi sehingga akhirnya
Buyung Hok tak mampu melawan Lak-meh-sin-kiam Toan Ki,
maka cepat ia menyusul keluar dan dapät mengikuti
percakapan Toan Ki dengan Buyung Hok tadi.
Begitulah ia lantas berlari-lari mendekati sumur, ia
melongok ke bawah dan berseru, "Toan Kongcu! Toan-
kongcu! Engkau terluka tidak?”
Waktu dilemparkân ke dalam sumur tadi Toan Ki berada
dalam keadaan terjungkir, kepala di bawah dan kaki di atas.
Untung dasar sumur itu hanya lumpur lunak sehingga
kepalanya tidak pecah, tapi seketika ia pun terbanting pingsan
sehingga seruan Giok-yan itu tak didengarnya.
Sesudah mengulangi seruannya beberapa kali dan tidak
mendapat jawaban, Giok-yan mengira Toan Ki sudah
terbanting mati. Bila teringat selama ini pemuda itu sangat
baik padanya, kematiaanya ini pun boleh dikatakan lantaran
dia, maka menangislah Giok-yan, katanya, "O, Toan-kongcu,
engkau . . . tak boleh mati!”
"Hm, ternyata sedemikian mendalam cintamu padaku?''
jengek Buyung Hok.
"Dia . . . dia menasehatimu dengan baik, Ken . . . kenapa
kau bunuh dia?" kata Giok yan dengan terguguk-guguk.
"Dia adalah lawanku yäng paling besar, bukankah kau
dengar pernyataannya yang hendak merintangi tujuanku
dengan mati-matian?" sahut Buyung Hok. "Tempo hari ketika
di Siau sit-san dia membikin aku malu habis-habisan sehingga
Buyung Hok sukar menancap kaki lagi di dunia kangouw,
orang macam begini sudah tentu tak bisa kubiarkan hidup."
"Kejadian di Siau ilt-san itu memang salah dia, untuk itu
aku sudah pernah mendampratnya dan dia juga telah
mengaku salah."
"Hm. dia mengaku salah? Hanya ucapan begitu lantas
hendak menyelesaikan permusuhan ini? Padahal setiap orang
kangouw sudah sama mengatakan bahwa aku Buyung Hok
dikalahkan oleh Lak-meh-sin-kiam keluarga Toan mereka,
coba kau plklr, apa aku masih bisa hidup bahagia?"
"Piauko, kalah atau menang adalah soal biasa bagi orang
persilatan, kenapa mesti dipikirkan selalu?" ujar Giok-yan
dengan suara halus. "Kejadian tempo hari itu pun telah
diketahui ayahmu dan beliau juga memberi petuah padamu,
buat apa engkau mengungkitnya lagi."
Karena masih meragukan mati-hidupnya Toan Ki, kembali
ia melongok ke dalam sumur dan seru pula, "Toan kongcu!
Toan-kongcu!" Tapi tetap tidak mendapat jawaban apa-apa.
"Sedemíkian kau perhatikan dia, lebih baik kamu menjadi
istrinya saja, buat apa mesti pura-pura suka padaku?" kata
Buyung Hok.
Giok-yan menjadi pedih, sahutnya, "Piauko, aku cinta
padamu dengan hati yang murni, apa engkau tidak percaya?"
"Cinta padaku dengan hati murni? Haha! Tempo hari waktu
berada di rumah penggilingan di tepi Thian-oh, waktu kau
sembunyi dalam onggok jerami dengan telanjang bulat
bersama orang she Toan ini. coba katakan, apa yang kau
lakukan di sana? Apa yang terjadi itu kusaksikan dengan
mataku sendiri, masakah hanya secara kebetulan saja?
Tatkala itu aku hendak membinasakan bocah she Toan ini,
tapi kau beri petunjuk padanya untuk melawan aku. Coba
jawab, berkiblat kepada siapa hatimu sebenarnya? Haha,
haha!"
Giok-yan terkesima saking kagetnya, Ia menegas dengan
suara gemetar, "jadi . . . jadi jago Se He yang berkedok di . . .
di rumah gilingan itu adalah . . . adalah . . .”
"Benar, jago Se He berkedok yang mengaku bernama Li
Yan cong itu bukan lain adalah samaranku," sahut Buyung
Hok.
"Pantas, memangnya aku pun merasa sangsi waktu itu,"
demikian kata Giok-yan dengan suara pelahan seperti
berguman sendiri. "Waktu itu engkau berkata, 'Bila kelak aku
menjadi raja di seluruh Tionggoan', kata-kata demikian persis
nadamu biasanya, aku . . . aku seharusnya mengetahuinya
pada waktu itu."
"Hm, meski kamu tidak tahu pada waktu itu, baru
sekarang mengetahui juga belum terlambat," jengek Buyung
Hok.
"piauko." kata Ciok-van. "Waktu itu aku kena racun kabut
yang di sebarkan oleh orang Se He dan berkat pertolongan
Toan-kongcu barulah jiwaku di selamatkan. Di tengah jalan
kami kehujanan dan basah kuyup, terpaksa berteduh di rumah
gilingan itu, ken . . . kenapa engkau menaruh curiga."
"Hm, kehujanan dan berteduh?” dengus Buyung Hok,
"Waktu aku tiba kalian berdua masih main sembunyi dan pat-
gulipat di situ. Bahkan ketika aku hendak membunuh bocah
she Toan kamu mangancam aku akan menuntut balas
baginya. Nona Ong, karena ancamanmu itulah aku
mengampuni jiwanya. Tak terduga hal itu telah menjadi
penyakit bagiku, akhirnya aku malah terjungkal habis-habisan
di tangannya waktu ketemu lagi di Siau-sit-san."
Mendengar sang piauko tidak memanggil namanya, tapi
menyebutnya sebagai "nona Ong'', Giok-yan tambah pedih
dasar wataknya memang peramah ia tidak ingin bertengkar
dengan sang piauko yang dicintai dan dihormati ini, maka
jawabnya, "Piauko, kalau waktu itu aku mengenali dirimu,
sudah tentu àku takkan mengemukakan pernyataan itu
padamu. Untuk kesalahan itu, biarlah sekarang aku minta
maaf."
Sembari berkata ia memberi hormat, lalu menyambung
pula, "Takkala itu sungguh aku tidak tahu dirimu, tentu
engkau takkan marah pula. Sejak kecil aku menghormatimu,
segala apa aku pun selalu menurut padamu. Maka kata-kataku
yang menyinggung perasaanmu janganlah kau pikirkan dan
sudilah memaafkan."
Apa yang diucapkan Giok-yan dahulu itu memang
menyinggung perasaan Buyung Hok yang angkuh dan tinggi
hati. Sekarang mendengar si nona mohon maaf dengan kata-
kata halus dilihatnya wajah si nona yang cantik molek itu,
teringat pula hubungan baik sejak masih kanak-kanak, mau-
tak-mau hati Buyung Hok menjadi lemas, segera ia memegang
kedua lengan Giok-yan dan berkata, "Piaumoai!"
Sungguh girang Giok-yan tak terkirakan, ia tahu sang
Piauko telah memaafkan dia, terus saja ia menjatuhkan diri ke
pelukan sang Piauko, katanya lirih, "Piauko, jika engkau marah
padaku, boleh engkau damprat dan menghajar diriku, tapi
jangan dendam dalam hati. Piauko, engkau tidak jadi ikut
berebut Huma lagi bukan?”
Semula Buyung Hok menjadi mabuk ketika memeluk tubuh
si nona yang montok dan halus itu, tapi demi mendadak
ditanya tentang Huma segala, seketika hatinya tergetar,
katanya dalam hati, 'Wah, celaka! Wahai Buyung Hok,
mengapa engkau tengelam dalam urusan demikian sehingga
hampir-hampir membikin urusan penting menjadi runyam. Jika
sedikit persoalan pribadi begini saja tak tega memutuskan,
darimana kau dapat bicara tentang pergerakan bagi
kebangkitan kerajaan Yan?”
Segera ia bereskan perasaannya dan mendorong Giok-yan,
katanya, "Piaumoai, hubungan kita hanya sampai di saja, apa
yang pernah kau perbuat dan katakan betapapunu tidak dapat
kulupakan."
"Jika begitu, jadi engkau tetap tidak dapat memaafkan
aku?" tanya Giok-yan dengan hati remuk rendam.
Untuk sejenak terjadilah pertentangan batin Buyung Hok
antara "cinta" dan "usaha" tapi akhirnya ia menggeleng
kepala.
Sungguh hancur luluh hati Giok-yan, tanpa rasa ia tanya,
"Jadi engkâu sudah bertekad akan memperistrikan putri Se He
itu dan takkan peduli lagi padaku?”
Dengan keraskan hati Buyung Hok menggangguk.
Sebelumnya Giok yan sudah pernah membunuh diri, tapi
dapat diselamatkan oleh In tiong-ho, sekarang secara tegas
cintanya, ditolak oleh kekasihnya, seking sedihnya hampir saja
ia tumpah darah. Mendadak teringat olehnya, "Betapapun
Toan-kongcu itu memang sangat cinta padaku, sebaliknya aku
tidak pernah membalas cintanya, malahan sekarang dia telah
mati bagiku, sungguh aku berdosa padanya. Toh sekarang aku
pun tidak ingin hidup lagi, biarlah aku terjun ke sumur saja
agar dapat mati bersatu liang dengan Toan-kongcu untuk
membalas cintanya padaku."
Maka pelahan ia mendekati sumur sambil berpaling dan
berkata, "Píaüko, semoga cita-citamu terkabul dan dapat
memperistrikan putri Se He serta menjadi raja Yan yang jaya!"
Buyung Hök tahu bahwa si nona ada maksud hendak
bunuh diri, segerà ia melangkah maju dan mengulurkan
tangan hendak mencegah. Tapi segera teringat pula olehnya,
asal dia bersuara dan mencegahnya, maka untuk selanjutnya
dirinya tentu akan sukar terlepas dari godaan cinta si nona,
dan itu berarti segala cita-cita pergerakannya akan kandas
seluruhnya. Karena pikiran demikian, maka tangan yang sudah
diulurkan itu tidak jadi menarik kembali si nona.
Giok-yan dapat menerka apa yang dipikirkan sang Piauko,
ia pikir sedemikian tipis budi pekerti pemuda ini, apalagi yang
mesti diberatkan pula segera ia berseru "Toan-kongcu, waktu
hidup kita tak bisa bersamä, biarlah kita mati bersatu kubur
saja."
Habis itu, segera ia terjun ke dalam sumur dengan kepala
di bawah dan kaki di atas.
Akhirnya Büyung Hok berseru sekali juga dan bermaksud
menyambar kaki Giok-yan. Dengan kecekatannya sebenarnya
tidak sukar baginya untuk menyelamatkan nona itu, tapi pada
detik terakhir dia ragu-ragu lagi dan membiarkan Giok-yan
terjun ke dalam sumur. Ia hanya menghela napas dan
berkata, "Piaumoai, dalam hati kecilmu engkau lebih cinta
pada Toan-kongcu, walaupun hidup tak bisa menjadi suami-
istri tapi mati pun bersatu liang, betapapun sudah terkabul
juga cita-citamu.”
“Huh, pura-pura, lelaki palsu!”' tiba-tiba terdengar suara
seorang berkata di belakangnya.
Keruan kejut Buyung Hok tak terkatakan, masakah ada
orang berada di belakang sama sekali tak diketahuinya. Tanpa
bicara lagi ia hantam ke belakang berbareng membalik tubuh.
Di bawah sinar bulan tertampaklah sesosok bayangan
melayang ke depan terbawa oleh angin pukulannya, ringan
dan gesit sekali orang itu.
Tanpa menunggu orang itu menancap kaki di tanah,
segera Buyung Hok melompat maju dan kembali memukul
sambil membentak dengan gusar, "Siapa kamu? Berani main
gila dengan Kongcuya?"
Dalam keadaan terapung orang itu sempat menyambut
serangan Buyung Hok. Lalu orangnya malayang sejauh
beberapa meter baru turun ke tanah. Kiranya dia Cumoti,
imam negara Turfan.
"Haha, sudah terang kamu yang memaksa nona itu
membunuh diri, tapi masih bicara tentang cita-citanya terkabul
segala, apa dengan demikian kau kira dapat menipu orang?"
kata Cumoti dengan tertawa mengejek.
"Ini adalah urusan pribadiku, siapa minta kauikut campur?"
damprat Buyung Hok.
"Segala persoalan di dunia ini setiap orang boleh ikut
campur, apalagi soalnya menyangkut menjadi Huma kerajaan
Se He, ini sudah melampaui urusan pribadimu," sahut Cumoti.
"Hm. jangan-jangan hwesio semacam dirimu juga ingin
menjadi Huma?"
"Hahahaha! Masakah di dunia ini pernah terjadi hwesio
menjadi Huma?"
"Habis mau apa? Hm, aku memang sudah tahu Turfan
kalian tidak bertujuan baik, jelas kau tampil bagi kepentingan
pangeran kalian!”
''Apa yang kau maksudkan dengan tidak berkepentingan
baik? Apa memperistrikan putri Se He itu kau katakan tidak
bertujuan baik? Lantas tujuanmu sendiri apakah baik?"
"Aku ingin merebut putri Se He, hal ini berdasarkan
kemampuanku sendiri dan tidak menggunakan tenaga
bawahan untuk mengacau ditengah jalan sehingga membikin
orang banyak merasa gemas.”
"Kami mengenyahkan manusia-manusia yang tidak tahu
diri itu agar di kota Langciu tidak terlalu penuh dengan
manusia yang memuakkan, hal ini adalah juga demi
kepantinganmu mengapa kamu keberatan?"
"Jika begitu sih memang bagus. Jadi pangeran Turfan
kalian nanti juga akan mengandalkan tenaga sendiri untuk
bertanding dengan orang lain?”
"Benar.” sahut Cumoti.
Melihat jawaban orang yang tegas dan tak gentar ini, mau-
tak-mau Buyung Hok menjadi sangsi sendiri, katanya pula,
"Apakah barangkali pangeran kalian mempunyai ilmu silat
maha tinggi dan tiada bandingannya, maka sudah
memperhitungkan pastì akàn memperoleh kemenangan
nanti?”
"Pangeran cilik itu adalah muridku, kepandaiannya masih
boleh juga, untuk dikatakan maha tinggi dan tiada bandingan
agaknya belum, bahwa pasti menang memang sudah
diperhitungkan dengan baik."
Buyung Hok tambah heran, pikirnya, "Jika aku tanyà
dengan terus terang, tentu dia tidak mau menjawab. Biarlah
aku memancingnya saja."
Maka katanya segera, "Sungguh aneh dia mempunyai
perhitungan pasti akan menang, sebaliknya aku pun sudah
yakin pasti akan menang. Wah, lantas siapa yang benar-benar
akan menang nanti?"
"Rupanya kamu sangat ingin tahu bagaimana perhitungan
pangeran kami untuk mencapai kemenangan, bukan?" tanya
Cumoti dengan tertawa. ”Kukira boleh kukatakan dulu
perhitunganmu, lalu aku pun uraikan perhitungan kami. Kita
dapat berunding dan tukar pikiran, coba perhitungan pihak
siapa yang lebih pandai."
Padahal yang diandalkan Buyung Hok Cuma ilmu silatnya
tinggi, orangnya ganteng, bicara tentang pasti menang
memang tidak ada. Terpaksa jawabnya, "Ah. engkau ini terlalu
licik dan tak bisa dipercaya, kalau kukatakan padamu, jangan-
jangan engkau tidak menerangkan juga akalmu bukankah aku
akan tertipu olehmu?"
"Hahaha!" Cumoti tertawa, "Buyung-siheng, aku adalah
sahabat ayahmu, aku menghormatinya dan dia pun
menghormati aku. Kalau aku tidak berlebihan, betapapun aku
terhitung angkatan lebih tua dari padamu. Apa kamu tidak
merasa keterlaluan dengan, ucapanmu barusan ini?"
"Teguran Beng-ong memang tepat, harap maaf," sahut
Buyung Hok sambil memberi hormat.
"Saudara memang pintar," kata Cumoti dengan tertawa
"Jika kamu sudah mengaku sebagai kaum muda, mengingat
ayahmu, dengan sendirinya aku tidak dapat main menang-
menangan terhadapmu. Nah, biar kukatakan saja terus terang
rencana pangeran kami untuk memperoleh kemenangan
dengan pasti, mudah kujelaskan tentu juga tidak berharga
sepeser pun. Begini, setiap orang yang bermaksud ikut
sayembara dalam pemilihan Huma nanti akan kami
bereskannya satu per satu. Dan kalau tiada lawan lagi yang
berebut dengan pangeran kami dengan sendirinya pangeran
kami akan terpilih bukan? Haha. Hahaha!''
Air muka Buyung Hok berubah seketika, katanya, "Jika
begitu jadi aku . . . ”
"Jangan kuatir," potong Cumoti, "Aku ini sobat lama
ayahmu, tidak mungkin kubunuh putra sobat sendiri. Aku
hanya ingin menasehatimu dengan setulus hati, adalah lebih
selamat bila lekas kau tinggalkan negeri Se He ini."
"Jika aku tidak mau?"
''Untuk itu aku pun takkan menamatkan nyawamu, asal
matamu dicukil atau kaki tanganmu dipotong sebalah
sehingga menjadi cacat, dengan sendirinya putri Se He tidak
mungkin mau dipersunting seorang ksatria gagah yang cacat
badannya."
Sungguh Buyung Hok sangat gusar, cuma ia jeri kepada
ilmu silat padri itu, maka tidak berani sembarangan bergerak.
Ia menunduk untuk memikirkan cara menghadapi lawan
tangguh itu.
Di bawah sinar bulan yang terang, tiba-tiba dilihatnya di
disamping kaki ada sesuatu benda yang sedang bergerak-
gerak. Ketika diperhatikan, kiranya bayangan tangan kanan
Cumoti. Ia terkejut, disangkanya padri itu sedang
mengerahkan tenaga dan siap menyerang. Maka diam-diam ia
pun menghimpun kekuatan untuk menjaga segala
kemungkinan.
Tapi lantas terdengar Cumoti berkata pula, ”Buyung-
siheng, kau desak piaumoaimu bunuh dìri, sungguh sangat
sayang, Apakah kau mau lekas pergi dari Se He sini, maka
urusan kematian nona Ong ini pun boleh kulupakan dan
takkan ku usut lebih lanjut.”
”Hm, dia sendiri yang membunuh diri, apa sangkut
pautnya denganku?” sahut Buyung Hok sambil terus
memperhatikan bayangan tangan padri itu, ia lihat bàyangan
kedua tangan Cumoti masih terus gemetar tak berhenti-henti.
Diam-diam Buyung Hok merasa curiga, kalau padri itu
hendak menyerang, rasanya tidak perlu mengerahkan tenaga
sampai kedua tangan gemetar sekian lama tentu di balik ini
ada sesuatu yang tak beres. Ketika diperhatikan pula, ia lihat
ujung celana dan baju padri itu pun tampak agak gemetar
sedikit, terang disebabkan seluruh badannya gemetar maka
baju dan celana juga ikut bergetar.
Dasar otak Buyung Hok memang cerdas, sekilas pandang
lantas teringat olehnya, "Tempo hari waktu berada di Cong-
keng-kok di Siau lim-si padri tua yang tak diketahui siapa
namanya itu mengatakan Cumoti telah melatih ke-72 macam
ilmu silat Siau lim pai dan kemudian secara paksa mempelajari
pula 'Ih-kin-keng' dikatakan pula latihan Cumoti terbalik dan
nyasar bencana sudah mengancam dalam waktu singkat.
Kalau padri tua itu dengan jitu dapat menunjukkan penyakit
ayah dan Siau Wan-san, maka apa yang dikatakan megenai
Cumoti pasti juga tepat."
Teringat kejadian itu, dari kuatir Buyung Hok berubah
menjadi girang, diam-diam ia mengejek Cumoti sendiri yang
sudah terancam bencana, tapi masih berani menggertak
padanya akan mencukil mata dan membikin buntung kaki dan
tangan segala. Namun untuk menyakinkan pikirannya itu,
segera ia memancing dengan ucapan. “Ai, latihan terbalik,
tenaga dalam nyasar, bencana sudah di depan mata, penyakit
demikian memang paling celaka!"
Sekonyong-konyong Cumoti berteriak bagai serigala
menyalak, suaranya tajam menyeramkan, kontan ia
mecengkeram ke arah Buyung Hok sambil membentak, "Kau
bilang apa? Siapa yang kau maksudkan?"
Buyung Hok berkelit ke samping untuk menghindarkan
cengkeraman itu. Menyusul Cumoti juga putar tubuh sehingga
mukanya tertampak jelas di bawah sinar bulan yang terang,
kelihatan kedua matanya merah membara, mukanya beringas
dan buas, semuanya itu tidak dapat menutupi rasa ketakutan
yang terbayang pada mukanya itu.
Melihat itu, maka Buyung Hok tidak sangsi lagi, katanya
segera, "Aku pun hendak memberi nasehat kepada Beng-ong,
lebih baik Beng-ong lekas meninggalkan Se He dan pulang
saja ke Turfan, asal tidak mengerahkan tenaga, tidak lekas
marah, tidak banyak bergerak, tentu Beng-ong akan dapat
pulang ke negeri sendiri dengan selamat. Kalau tidak, wah,
apa yang pernah di katakan padri tua Siau-lim-si itu tentu
akan terbukti."
“Apa katamu, Apa yang kau ketahui?" Cumoti berteriak,
sikapnya yang biàsanya sabar dan berwibawa itu sekarang
telah berubah sama sekali.
Melihat sikap orang berubah beringas, diam-diam Buyung
Hok merasa jeri juga, ia menyusut mundur setindak.
"Apa yang kau ketahui? Lekas katakan?" bentak Cumoti pula.
Sedapatnya Buyung Hok tenangkan diri, menghela napas,
lalu berkata, "Hawa murni Beng-ong sudah sesat jalan,
keadaan sangat berbahaya, kalau tidak lekas pulang ke
Turfan, boleh juga datang pula ke siau lim-si untuk minta
pertolongan kepada padri sakti itu, jalan ini pun ada harapan
besar bagi keselamatan Beng-Ong."
"Dari mana kau tahu hawa murniku nyasar? ngaco belo
belaka!” sahut Cimoti dengan menyeringai. Berbareng tangan
kiri terus menyusur ke depan, segera hendak mencakar muka
Büyüng Hok.
Kelima jari Cumoti kelihatan agak gemetar, tapi daya
serangan itu tetap sangat dahsyat, sedikitpun tiada tanda-
tanda kacaunya tenaga dalam, diam-diam Buyung Hok
terkejut dan ragu, "Jangan-Jangan aku salah duga?"
Ia pun tidak berani ayal dan malayani lawan dengan
sepenuh tenaga.
"Mengingat hubunganku dengan ayahmu, bìarlah dengan
sepuluh jurus aku tidak membunuhmu sekedar balas jasaku
kepada ayahmu.” bentak Cumoti, Menyusul ia terus
menghantam.
Walaupun Buyung Hok mahir ilmu 'Tue lam-sing-ih, yaitu
dengan cara meminjam tenaga lawan untuk menghantam
kembali lawan, tapi kepandaian Cumoti terlampau hebat
baginya, apalagi setiap serangan hanya dikeluarkan sampai
setengah jalan dan segera berubah serangan baru lagi
sehingga Buyung Hok tidak sempat menggunakan
kemahirannya ítu, sebal¡knya menjadi selalu terdesak,
terpaksa ia hanya bertahan secepatnya untuk mencari
kesempatan.
Ia lihat serangan Cumoti serba lihai dan luar biasa,
semuanya belum pernah dilihatnya. Dan sesudah sepuluh
jurus mendadak Cumoti membentak, ”Sepuluh jurus sudah
selesai, sekarang terimalah kematianmu!”
Sekonyong-konyong Buyung Hok merasa pandangannya
silau, di sekitarnya seperti penuh dengan bayangan cumoti,
dari kanan menendang dan dari kiri memukul, tahu-tahu dari
depan ada serangan, tiba-tiba dari belakang ada yang
menotok lagi. Jadi serangan-serangan itu seakan-akan
membanjir sekaligus cepat untuk ditangkis.
Terpaksa Buyung Hok kerjakan kedua tangannya secepat
kitiran dengan mengerahkan tenaga penuh, ia hanya menjaga
diri dan tidak balas menyerang, ia hanya memainkan ilmu
pukulannya sendirl dan tidak peduli serangan lawan dari mana
datangnya.
Tiba-tiba terdengar napas Cumoti tambah ngos-ngosan,
semakin tersengal-sengal seperti kuda. Seketika semangat
Buyung Hok terbangkit, ia tahu hawa murni padri itu sudah
kacau dan napasnya hampir putus asal bertahan sekuatnya
dan tidak sampai dirobohkan lawan, sedikit lama lagi tentu
padri itu akan menggeletak dan binasa sendiri.
Namun meski napas Cumoti tambah tersengal-sengal,
serangannya juga semakin gencar. Sekonyong-konyong ia
menggertak keras sekali. Tahu-tahu Buyung Hok merasa baju
lehernya kena dicengkeram orang dan tubuhnya terangkat ke
atas hiat-to bagian pinggang dan perut juga lantas kesakitan,
nyata dia sudah tertutuk, kaki-tangan menjadi lemas dan tak
bisa berkutik lagi.
Berulang-ulang Cumoti tertawa dingin sedang napasnya
masih ngos-ngosan, kataaya dengan napas memburu, "Aku . .
. aku suruh enyah, tapi kamu jus . . . justru tidak mau,
sekarang . . . sekarang jangan kausalahkan aku. Hm, cara . . .
cara mana harus kubereskanmu?"
Pada saat itulah dari semak-semak pohon sana muncul
empat jago Turfan, rupanya mereka adalah pengikut Cumoti.
Segera mereka memberi hormat dan berkata, "Adalah sesuatu
titah Beng-ong kepada hamba?"
"Angkat orang ini dan cemplungkan ke dalam sumur itu!"
kata Cümoti. ”Hahaha, ini namanya senjata makam tuan,
memangnya keluarga Buyung kalian paling mahir
menggunakan cara lawan untuk menghadapi lawan, sekarang
kaupun boleh rasakan cara demikian, kamu menyebabkan
kedua muda-mudi mati di dalam sumur sekarang boleh
menyusul mereka.”
Keempat jago Turfan itu mengiakan dan menggoting
Buyung Hok ke tepi sumur. Sungguh rasa menyesal Buyung
Hok tak terkatakan, coba kalau dia tidak kemaruk menjadi
Huma apa segala dan membalas cinta sang Piaumoai, kelak
hidupnya akan bahagia dan takkan mati konyol seperti
sekarang. Dan kalau sudah mati, maka segala impiannya
menjadi raja dengan sendirinya juga lenyap seluruhnya.
Sungguh ia ingin minta ampun kepada Cimoti dan berjanji
takkan ikut berebut putri Se He lagi, celakanya karena hiat-to
tertutuk sehingga tak bisa bersuara, sedang Cumoti melirik
saja sudi padanya, maka untuk minta ampun dengan sorot
mata dan mohon dikasihani menjadi tak dapat pula.
"Cemplungkan dia dan segera menggotong beberapa
potong batu besar untuk menutup liang sumur agar dia tak
bisa keluar lagi andaikan nanti dapat membuka hiat-to sendiri
yang tertutuk itu.” perintah Cumoti.
Keempat Bu-su itu segera melemparkan Buyung Hok ke
dalam sumur, lalu berlari-lari pergi mencari batu karang yang
besar.
Cumoti sendiri napasnya masih terengah-engah tak
berhenti-henti, rasa dadanya sesak dan gopoh tak terkatakan.
Kiranya tempo hari sesudah dia melukai Toan Ki dengan
Hwa-yam-to yang tak berwujut itu, lalu ia melarikan diri ke
bawah gunung. Tapi sebelum sampai di bawah Siau-sit-san,
tiba-tiba ia merasa perutnya Sangat panas bagai dibakar,
lekas ia mengatur napas dan melancarkan tenaga dalam, tapi
terasa tenaga dalam sukar diatur.
Ia terkejut sekali akan apa yang dikatakan si padri tua atas
penyakit yang mengeram dalam badannya. Lekas-lekas ia
mencari suatu tempat sepi untuk istirahat, ia coba untuk
semedi dengan tenang, asal dia tidak mengerahkan tenaga
dalam, maka rasa panas yang bergolak dalam badan menjadi
reda juga, Cuma tenaga pun tak bisa digunakan.
Sesudah malam, lalu Cumoti melanjutkan perjalanan
pulang ke Turfan. Di tengah jalan ia dengar berita tentang
sayembara putri Se He. Sebagai imam besar negara yang ikut
menentukan pemerintahan Turfan, di tengah jalan ia dapat
berhubungan dengan pengintai negerinya sendiri dan segera
menyampaikan laporan ke pada rajanya, ia sendiri lalu
mendahului menuju ke Se He.
Raja Turfan memang sudah lama bermaksud bersekongkol
dengan Se He, maka demi mendengar laporan itu, segera ia
kirim putra mahkotanya bersama-sama jago-jago silat yang
tidak sedikit jumlahnya dengan membawa harta mustika,
golok pusaka dan kuda pilihan, berbondong-bondong menuju
Lengciu. Kotaraja Se He.
Harta mestika dan barang-barang berharga yang dibawa
pangerna Turfan itu digunakan menyogok dan menyuap para
menteri dan pembesar Se He, sedang jago-jago silat yang
dibawa itu ditujukan untuk melawan para ksatria dari berbagai
penjuru yang menjadi saingan dalam perebutan putri Se He.
Pada beberapa hari sebelum Tiongciu, jago-jago Turfan itu
sudah mencegat di tengah jalan dan banyak mengalahkan dan
mengusir kembali berbagai ksatria muda yang datang, tapi
akhirnya rintangan jago silat Turfan itu bobol seperti apa yang
telah diceritakan diatas.
Sesudah berada di kota Lengciu, Cumoti sendiri lantas
mencari tempat sunyi untuk merawat diri sehingga panas
badan yang bergolak laksana dibakar itu pelahan tertahan.
Tapi kalau pikirannya sedikit goncang, maka badan lantas
gemetar tak tertahankan. Sampai akhirnya asal pikirannya
sedikit risau, maka jari kaki dan tangan, alis, bibir dan bagian-
bagian badan lain lantas ikut gemetar tak berhenti-henti.
Sebagai imam negara Turfan yang diagungkan Cumoti
merasa malu kalau keadaannya itu dilihat orang, maka ia
sengaja tinggal terpencil sendirian, dan jarang menemui
orang. Hari itu ia mendapat laporan bahwa Buyung Hok telah
sampai juga di Lengciu. bahkan beberapa jago Turfan telah
dihajar anak buah Buyung Hok.
Diam-diam Cumoti marasa tidak enak atas datangnya
Buyung Hok yang diketahuinya mempunyai wajah yang
tampan dan serba pintar dalam ilmu silat dan sastra, kalau
pemuda itu tidak dienyahkan, tentu pangeran Turfan mereka
sukar manandingi. Ia menaksir bawahannya tidak satupun
yang dapat menandingi Buyung Hok, terpaksa ia sendiri harus
turun tangan, segera ia cari tempat pondokan Buyung Hok.
Tapi setibanya di sana, saat itu Buyung Hok sudah
meninggalkan tempatnya dengan menawan Toan Ki. Karena
sekitar tempat tinggal tamu negara itu telah dipasang
pengintai-pengintai, maka dengan mudah Cumoti memperoleh
"info"' ke mana perginya Buyung Hok dan segera ia
menyusulnya. Setiba di sana, sementara itu Toan Ki sudah
dilemparkan ka dalam sumur dan Buyung Hok sedang bicara
dengan Giok-yan.
Begitulah, maka setelah Buyung Hok dilemparkan ke dalam
sumur oleh para Bu-lim Turfan kemudian pergi mencari batu
karang untuk menympat mulut sumur, dalam pada itu Cumoti
merasa hawa panas dalam badan semakin bergolak seakan-
akan hendak menjebol tubuhnya, Cuma susahnya tiada
sesuatu lubang yang dapat dibuat saluran keluar. Dengan
sendirinya Cumoti sangat menderita.
Saking tak tahan Cumoti sampai mencakar-cakar dada
sendiri. Ia merasa hawa dalam badan seakan-akan terus
melambung, seolah-olah kepala, dada, perut sedang
melambung dan sebentar lagi akan meledak.
Bagì penglihatan orang lain dengan sendirinya tubuh
Cumoti itu tiada berubah apa-apa, tapi dia sendiri merasa
badan seperti melambung bagai bola, sebaliknya hawa murni
dalam badan masih terus membanjir timbul.
Dalam bingungnya Cumoti menutuk tiga kali bagian bahu
kiri, paha kiri dan kanan sehingga berwujud tiga lubang
dengan maksud menyalurkan hawa murni itu keluar badan.
Darah segar memang terus menyucur keluar sebàliknya hawa
murni terap sukar dikeluarkan.
Baru sekarang ia ingat dan percaya penuh kepada apa
yang pernah dikatakan si padri tua di Siau-Lim-si, teranglah
sekarang bencana sudah berada di depan matanya, karuan ia
ketakutan. Tapi apapun juga dia adalah seorang tókoh
kawakan, hatinya takut, pikirannya tidak menjadi kacau.
Sekonyong-konyong terpikir olehnya, ''Ya, dia . . . dia
sendiri (maksüdnya Buyung Bok) kenapa tidak melatihnya.
sebaliknya rahasia seluruh ke-72 macam ilmu sakti itu
dikatakan padaku semua? Padahal aku hanya sahabat yang
saling kenal dalam perjalanan, biarpun satu sama lain menjadi
sangat cocok dan akrab, kenapa dia begitu murah hati dan
rela mamberikan rahasia ilmu sakti sebanyak itu padaku?"
Dalam keadaan terancam bahaya inilah mendadak Cumoti
teringat kepada hubungannya dengan Buyung Bok dahulu.
Sebagai seorang cerdik memang mula-mula Cumoti juga
merasa curiga ketika Buyung Bok menghadiahkan rahasia ilmu
sakti Siau-lim-pai itu padanya, tapi sesudah dia membaca dia
mencobanya, ia merasa apa yang diterimanya itu toh memang
kepandaian sejati maka hilanglah rasa curiganya.
Baru sekarang pada saat menderita dia dapat menyadarî
apa maksud tujuan Buyung Bok dengan hadiahnya itu, nyata
hadiah itu adalah maksud tujuan Buyung Bok yang keji dan
jahat dengan menggunakan dia sebagai kelinci percobaan, di
samping itu sengaja mengadu dombakan dia dengan Siau-
Lim-pai agar Turfan bermusuhan dengan kerajaan Song dan
dengan demikian keluarga Buyung akan ada kesempatan buat
mengail ikan di air karuh.
Kalau tadi waktu Cumoti menangkap Buyung Hok, mau-
tak-mau ia teringat kepada kebaikkan ayah pemuda itu yang
telah menghadiahkan kitab pusaka ilmu silat Siau-lim-pai
padanya, sebab itulah ia tidak membunuhnya segera
melainkan membuangnya ke dalam sumur agar pemuda itu
mati sendiri. Tapi sekarang demi sadar akan maksud jahat
Buyung Bok atas hadiah kitab itu sehingga dia masti
menderita, keruan ia menjadi mûrka, ia melongok ke dalam
sumur dan menghantam tiga kali beruntun secara kalap.
Tapi pukulan-pukulan itu sama sekäli tidak menimbulkan
suara apa-apa, nyata sumur itu sangat dalam sehingga
pukulannya tidak mencapai dasarnya. Dalam Keadaan murka
kembali Cimoti menghantam lagi sekali dengsn sakuat-
kuatnya. dan sudah tentu pukulan ini pun tidak gunanya,
bahkan lebih celaka lagi karena hawa murni dalam tubuhnya
lantas bergolak dengan lebih hebat, seakan-akan menerjang
ke luar melalui lubang bulu roma yang beribu-ribu banyaknya
itu, tapi semuanya buntu dan sukar menerjang keluar.
Tengah Cumoti murka dan kuatir pula, sekonyong-konyong
dari bajunya terjatuh keluar sesuatu benda dan tercemplung
ke dalam sumur. Cepat ia menyambarnya dengan sebelah
tangan, tapi sudah terlambat. Kalau waktu biasa, dengan
iwekangnya yang tinggi tentu dia dapat meraih kembali benda
itu dengan tenaga sedotan "Kim-liong-jiu" (ilmu menawan
naga), tapi sekarang tenaganya sedang bergolak dan sukar
dikuasai lagi.
Sejenak kemud'an terdengar suara "plok" pelahan terang
benda itu sudah jatuh ke dalam sumur. Diam-diam Cumoti
mengeluh, ia coba merogoh sakunya, benar juga yang jatuh
adalah kitab pusaka "Ih-kin-keng" yang direbutnya dari Guan-
ci melalui tangan Cilo Singh itu.
Memangnya Cumoti tahu sebabnya iwekangnya tersesat,
semuanya gara-gara latihan menurut Ih kin-keng itu. Ia pikir
untuk memunahkan siksaan itu tentu juga harus dicari
jalannya melalui kitab itu. Jadi kitab itu merupakan kunci
hidupnya, mana boleh sampai hilang?
Dalam gugupnya tanpa pikir lagi ia terus meloncat ke
dalam sumur. Ia kuatir didalam sumur itu ada sesuatu
rintangan dan kuatir pula Buyung Hok dapat membuka sendiri
hiat-to yang tertutuk dan akan menyergapnya di bawah, maka
sebelum kakinya menyentuh tanah, lebih dulu ia memukul dua
kali ke bawah sekaligus untuk menahan daya turunnya pula.
Sudah tentu pukulannya itu pun tak berguna, daya
turunnya tidak tertahan, sebaliknya badan malah tertolak
miring sehingga "blang", kepalanya membentur dinding
sumur.
Jika waktu biasa, biar kepalanya dikemplang juga takkan
menjadi soal, tapi sekarang matanya lantas berkunang-kunang
dan kepala pusing tujuh keliling, "bluk", ia jatuh tersungkur di
dasar sumur.
Sumur itu adalah sumur mati, sudah lama kering airnya, di
dasar sumur penuh rumput dan daun kering yang sudah
membusuk, saking banyak timbunan daun dan rumput kering
yang sudah busuk itu sehingga berubah menjadi lumpur yang
tebal.
Karena jatuhnya, seketika hidung dan mulut Cumoti
terbenam ke dalam lumpur, ia merasa badannya perlahan
juga amblas ke bawah. Segera ia mencoba merangkak
bangun, tapi celaka, kaki dan tangan terasa lemas semua.
Tengah gugup dan bingung, tiba-tiba terdengar suara
orang berseru di atas sana, “Koksu (imam negara)! Koksu!"
itulah suara keempat jago Turfan tadi.
"Aku berada di sini!" demikian sebut Cumoti.
Tapi begitu ia bicara, seketika lumpur masuk ke dalam
mulut sehingga sukar mengeluarkan suara.
Sayup-sayup terdengar keempat jago Turfan itu sedang
bicara di atas sana, Kata yang seorang, ”Aneh, ke manakah
perginya Koksu?"
Lalu yang lain menjawab, ”Mungkin Koksu tidak sabar
menunggu kita dan telah tinggal pergi lebih dulu. Beliau teiah
pesan agar kita menutup lubang sumur ini dengan batu, maka
boleh kita kerjakan saja."
Terdengar kawan-kawannya menyatakan setuju, lalu
terdengar suara gedabukan, rupanya mereka mulai
mengusung batu-batu besar.
Sungguh kejut Cumoti tak terhingga. Kalau sampâi mulut
sumur tersumbat, maka tamatlah riwayatnya. Segera ia
bermaksud berteriak, tapi bila pentang mulut, maka lumpur
busuk lantas membanjir masuk.
Dalam pada itu terdengar suara gemuruh yang keras,
batu- batu besar sudah menutup lubang sumur. Rupanya
jago-jago Turfan itu ingin melaksanakan perintah sang Koksu
yang mereka puja bagai malaikat dewata, maka mereka telah
mendatangkan batu besar, sekaligus mulut sumur itu ditutup
dan di timbun beberapa potong batu raksasa.
Tidak lama kemudian terdengar jago-jago Turfan itu pun
berangkat pergi dengan tertawa-tawa, rupanya mereka sangat
senang karena telah menjalankan tugas dengan baik.
Cumoti pikir sekali ini jiwanya pasti akan melayang dan
terkubur dalam sumur itu. Dia adalah seorang pandai, baik
agamanya maupun ilmu silatnya, boleh dikata tiada
bandingnya di daerah barat, siapa duga akhirnya akan
terkubur dalam lumpur sumur mati itu. Setiap manusia tentu
akan mati, tapi mati secara penasaran demikian sungguh tidak
rela bagi Cumoti, dalam sedihnya air mata lantas berlinang-
linang.
Meski tubuhnya penüh lumpur, kotornya tak karuan, tapi
seperti biasa orang menangis, ia pun mengangkat tangan
hendak mengusap air mata. Di luar dugaan, baru tangan
kanan terangkat, tiba-tiba menyenggol sesuatu benda, segera
ia memegangnya, kiranya "Ih-kin-keng" yang memang hendak
dicarinya.
Sesaat ítu Cumoti tidak tahu harus menangis lagi atau
mesti tertawa. Kitab pusaka itu sudah ditemukan kembali, tapi
dalam keadaan demikian apa gunanya?
Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita sedang bicara,
"Coba dengarkan, orang-orang Turfan itu telah menutup
mulut sumur dengan batu besar, lantas cara bagaimana kita
dapat keluar dari sini?''
Ternyata yang bicara itu adalah Giok-yan.
Seketika semangat Cumoti tergugah demi mendengar
suara orang, Pikirnya, "Kiranya dia tídak mati, dan entah
sedang bicara dengan siapa? Jika di sini ada orang lain lagi,
dengan bergotong-royong meski batu penyumbat di atas akan
dapat diangkat dan keluar dari sini."
Dalam pada itu terdengar suara seorang lelaki menjawab
ucapan Giok-yan tadi, "Asal aku senantiasa berdampingan
denganmu, biar pun tidak dapat keluar dari sini juga tidak
menjadi soal. Asal engkau berada di sampingku, sumur
berlumpur busuk bagiku akan sama seperti taman di
surgaloka.
Cumoti terkejut mendengar bicara itu, ''Kiranya dia juga
tidak mati? Dia terluka oleh Hwe-yam-to, tentu dia sangat
dendam padaku. Peda saat ini aku sama sekali tak dapat
menggunakan tenaga jika kesempatan ini digunakan olehnya
untuk menuntut balas, wah tentu celakalah aku!"
Kiranya yang bicara tadi adalah Toan Ki ....
Tadi ketika dilemparkan ke dalam sumur oleh Buyung Hok,
seketika Toan Ki pingsan sehingga dia tidak begitu runyam
seperti Cumoti walaupun badan terbenam lumpur.
Kemudian waktu Giok-yan terjun ke dalam sumur sungguh
sangat kebetulan kepala nona itu dengan tepat menumbuk
"Tan-tiong-hiat" di dada Toan Ki sehingga pemuda itu
tertumbuk sadar kembali. Sedang Giok-yan jatuh tepat di atas
badan pemuda itu sehingga tidak sempat terluka bahkan tidak
banyak berlepotan lumpur yang kotor itu.
Ketika mendadak Toan Ki tersadar, pelahan ia lantas
bangun, tiba-tiba terasa pangkuannya bertambah seorang.
Selagi heran dan sangsi, didengarnya Buyung Hok sedang
bicara di atas sumur, 'Piaumoai betapapun dalam hati kecilmu
toh tetap menyintai Toan-kongcu, walaupun hidup tak dapat
menjadi istrinya tapi mati dapat bersama satu liang kubur
betapapun hal ini dapat memenuhi cita-citamu juga."
Ucapan itu dengan jelas dapat didengar oleh Toan Ki,
seketika ia terkesima dan tanpa terasa ia bergumam sendiri,
"Apa? Hah, ti . . . tidak! Tidak! Masakan aku punya rejeki
sebesar itu?"
Di luar dugaan mendadak orang yang berada dalam
pangkuannya itu berkata, "Toan-kongcu, sungguh aku ini
sangat bodoh. Engkau sedemikian baik padaku, tapi aku . . .
aku . . . . "
"Hah? Kau . . . nona Ong?"" seru Toan Ki kaget.
"Ya,” sahut Giok-yan.
Biasanya Toan Ki sangat menghormati nona itu, sedikitpun
tidak berani timbul pikiran rendah dan kotor terhadap nona
yang dipandangnya maha agung dan suci itu. Sekarang demi
mengetahui nona ìtu berada dalam pangkuannya, dalam suka
dan girangnya segera ia hendak berbangkit untuk melepaskan
Giok-yan.
Akan tetapi tempat di dasar sumur itu tidak terlalu luas
(sumur itu sempit di atas dan melebar di bawah) dan penuh
lumpur pula. Baru saja Toan Ki berdiri kedua kaki lantas
amblas ke dalam lumpur, terpaksa ia tetap memondongnya
dan berulang-ulang menyatakan penyesalannya, "Maaf nona,
maaf! Kita berada lumpur, terpaksa aku berlaku kurang sopan
padamu."
Giok-yan menghela napas, dalam hati merasa sangat
berterima kasih. Sesudah mengalami berbagai kejadian
selama ini, terutama peristiwa terakhir, di mana dua kali dia
hendak membunuh diri dan selalu gagal, maka dia benar-
benar sudah paham dan terang gamblang terhadap jiwa
Buyung Hok, betapapun ia tidak dapat menipu dirinya sendiri
lagi akan cinta Buyung Hok itu. Di tambah lagi Toan ki
memang benar-benar sangat mencintai dia dengan setulus
hati dan segenap jiwa raganya, kalau dibandingkan jelas yang
satu sangat berbudi dan cinta secara mendalam, sebaliknya
yang lain rendah budi pekertinya dan Cuma mementingkan
kepentingan pribadi sendiri.
Dia terjun ke dalam sumur, kejadian ini mesti Cuma
berlangsung dalam sekejap saja, tapi dalam benaknya telah
terjadi perubahan sangat besar. Semula dia cuma menyesali
nasib sendiri dan bertekad membunuh diri untuk membalas
kebaikan Toan Ki, tak terduga pemuda itu dan dirinya ternyata
tidak jadi mati.
Sudah tentu kejadian di luar dugaan ini membuatnya
girang tidak kepälang.
Sebenarnya Giok-yan adalah gadis lemah lembut dan
balas-budinya, tapi sekarang sesudah mengalami berbagai
peristiwa dan pukulan batin, mendadak sifatnya berubah
banyak. saking terharunya ia berkata secara terus terang
kepada Toan Ki, "Toan-kongcu, tadínya kusangka engkau
sudah tewas, bila teringat kepada kebaikanmu padaku,
sungguh aku menjadi berduka dan menyesal pula telah
membikin kecewa padamu. Syukurlah Tuhan maha adil,
engkau ternyata baik-baik saja. Dan apa yang kukatakan di
atas tadi juga kau dengar bukan?”
Ketika mengajukan pertanyaan terakhir itu, tanpa terasa
mukanya menjadi merah jengah, ia menyembunyikan
mukanya di samping leher Toan Ki.
Sesaat ìtu tübuh Toan Ki serasa melayang-layang seperti di
alam mimpi. Ternyata apa yang pernah dilamunkan selama ini
dalam sekejap ini telah menjadi kenyataan.
Karuan girang Toan Ki bukan main, tiba-tiba kakinya terasa
lemas, ia jatuh terduduk dalam lumpur, punggungnya
bersandar dinding sumur, tapi tangan masih memondong
tubuh Giok-yan.
Tak terduga beberapa utas rambut Giok-yan menyusup ke
lubang hidung Toan Ki sehingga rasanya seperti dikili-kili,
kontan Toan Ki bersin beberapa kali.
"He. Kenapa? Apa engkau terluka?” tanya Giok Tan.
“O, ti . . . tidak . . . Haciim . . . haciiiim . . . . . . aku tidak
terluka . . . haciiiim . . . dan juga bu. . . . haciiii . . . bukan
masuk angin, aku cuma kelewat senang, maka . . . ha . . .
haciiii maka hampir-hampir jatuh pingsan malah," demikiän
jawab Toan Ki sambil berulang-ulang bersin.
Jilid 80
Karena didasar sumur itu gelap gulita, dengan sendirinya satu-sama-lain
takbisa melihat dengan jelas. Giok-yan hanya tersenyum saja dan tidak
bicara pula. Dalam hati iapun sangat bahagia dan gembira. Sejak kecil
ia kesemsem kepada sang Piauko, tapi tidak mendapat balas cinta
sebagaimana mestinya dan baru sekarang ia benar2 dapat menikmati rasa
cinta kasih antara dua hati yang terjalin menjadi satu.
No... nona Ong, apa sih yang... yang kau katakan diatas tadi, aku tidak
mendengar ucapanmu itu, tanya Toan Ki dengan ter-gagap2.
Kukira engkau adalah seorang lelaki jujur dan tulus, tak terduga kau
juga pintar pura2, sahut Giok-yan dengan tersenyum. Sudah terang kau
telah mendengar apa yang kukatakan tadi, tapi sekarang kau minta aku
mengulangi sekali lagi didepanmu. Idiiih, malu ah, aku takmau katakan
lagi.
Toan Ki menjadi gugup, ia coba menjelaskan: Ti... tidak aku be...
benar2 tidak mendengar apa yang kau katakan tadi. Nah, biar aku
bersumpah, jika aku mendengar, biarlah aku di... Sampai disini
mendadak mulutnya tertutup oleh sebuah tangan yang hangat2 halus. Nyata
Giok-yan telah mendekap mulutnya.
Kalau memang tidak mendengar ja sudah, kenapa mesti pakai bersumpah apa
segala, demikian kata sinona.
Sungguh girang Toan Ki melebihi tadi. Sejak dia kenal Giok-yan, belum
pernah ia diperlakukan sedemikian baiknya oleh nona itu. Maka ia lantas
tanya pula: Habis, apa sih yang kau katakan diatas sumur tadi?
Aku bilang... tapi mendadak Giok-yan merasa serba kikuk dan urung
meneruskan. Ia belokkan kejurusan lain. Biarlah kuterangkan lain kali
saja. Toh hari depan kita masih cukup panyang, buat apa mesti terburu2.
Hari depan kita masih cukup panyang, buat apa mesti ter-buru2! kata2
ini benar2 seperti wahju malaikat dewata yang jatuh dari langit baginya.
Makna daripada kata2 itu sudah terang menyatakan bahwa untuk selanjutnya
Giok-yan akan selalu hidup berdampingan dengan dia.
Namun Toan Ki masih ragu2 atas pendengarannya sendiri, ia masih
menegas: Kau... kau maksudkan untuk seterusnya kita akan selalu berada
bersama?
Giok-yan merangkul leher Toan Ki dan ber-bisik2 ditepi telinganya:
Toan-long, asal kau tidak mencela diriku, tidak marah padaku karena
tempo hari aku telah bersikap dingin padamu, maka untuk selama hidup ini
aku rela ikut bersama kau dan takkan... takkan meninggalkan dikau pula.
Jantung Toan Ki hampir2 meloncat keluar dari mulutnya saking kerasnya
berdebar. Ia tanya pula: Habis bagaimana dengan Piaukomu? Selama ini kau
sangat suka padanya.
Ja, tapi toh dia tidak pernah memperhatikan diriku, sahut Giok-yan. Dan
baru sekarang aku tahu siapakah gerangan orang didunia ini yang benar2
mencintai aku dan mengasihi aku, siapa yang telah memandang diriku lebih
berharga daripada jiwanya.
Kau maksudkan aku? tanya Toan Ki.
Siapa lagi kalau bukan kau, sahut Giok-yan. Tiba2 ia menangis, katanya
pula: Selama hidup Piaukoku itu selalu bermimpi akan menjadi raja Yan.
Tapi maklum juga, sejak turun temurun keluarga Buyung mereka memang
sudah mempunyai cita2 yang muluk2 itu. Sebenarnya Piauko bukan seorang
jahat, dia cuma kepingin menjadi raja, maka segala urusan lain telah
dikesampingkan olehnya.
Mendengar nada sinona ada maksud membela dan mengecilkan kesalahan
Buyung Hok, kembali Toan Ki berkuatir pula. Tanyanya cepat: Nona Ong,
andaikan kelak Piaukomu menginsafi keselahannya dan tiba2 membaiki kau
lagi, lan... lantas bagaimana kau?
Toan-long, sahut Giok-yan dengan menghela napas. Meski aku adalah
seorang wanita bodoh, tapi sekali2 bukan manusia yang bermartabat rendah.
Hari ini aku sudah mengikat janji dengan kau, jika kelak aku berbuat
hal2 yang tidak baik, bukankah akan merusak nama baikku sendiri? Apakah
aku tidak merasa berdosa terhadap cintamu yang murni kepadaku?
Toan Ki kegirangan mendapat jawaban itu, ia berseru gembira, segera ia
angkat sedikit kepala sinona, dia sendiri lalu menunduk hendak mencium.
Dengan malu2 Giok-yan menyambutnya dengan mesra dan empat bibir lantas
terkatup menjadi satu. Tapi baru kepalang-tanggung, se-konyong2 dari
atas terdengar suara menyambarnya sesuatu benda besar yang jatuh
kebawah.
Keruan kedua orang terkejut dan cepat menyisih ketepi dinding. Maka
terdengarlah suara bluk yang keras, sesosok tubuh telah jatuh kedasar
sumur itu.
Siapa itu? tanya Toan Ki.
O, akulah! sahut orang itu yang ternyata adalah Buyung Hok.
Rupanya sesudah Toan Ki sadar kembali, dia lantas roman dengan Giok-yan
sehingga keduanya lupa daratan se-akan2 hidup didunia sendiri, andaikan
saat itu langit akan ambruk atau bumi meledak tentu juga takkan terpikir
oleh mereka. Dengan sendirinya pertarungan sengit antara Ciumoti dan
Buyung Hok yang diatas sumur tadi juga tak mereka pedulikan. Sekarang
demi mendadak Buyung Hok jatuh kedalam sumur, barulah kedua orang itu
kaget dan menyangka Buyung Hok sengaja datang hendak mengganggu janji
setia mereka.
Segera Giok-yan berkata dengan suara gemetar: Piau... Piauko, kau mau
apalagi datang pula ke... kesini? Hidupku ini sekarang sudah kupasrahkan
kepada Toan-kongcu, jika engkau mau membunuh dia, bolehlah kau membunuh
aku sekalian.
Sungguh girang sekali Toan Ki mendengar pernyataan tegas Giok-yan itu.
Mestinya dia tidak kuatir dirinya dibunuh Buyung Hok, yang dikuatirkan
adalah Giok-yan akan terbujuk dan kembali lagi kepangkuan Piaukonya.
Tapi sesudah mendengar ucapan Giok-yan itu, seketika legalah hatinya. Ia
merasa pula sinona telah menjulurkan tangannya untuk menggenggam kedua
tangan sendiri, hal ini makin menambah kepercajaannya, segera ia
berkata: Buyung-kongcu, kau boleh pergi menjadi Huma kerajaan Se He,
aku tak nanti berebutan dengan kau, bahkan aku akan membantu
terlaksananya cita2mu itu. Adapun Piaumoaymu ini sudah menjadi milikku,
kau takkan dapat merebutnya lagi. Giok-yan, betul tidak katamu?
Betul, sahut Giok-yan. Biar mati atau hidup aku sudah pasti akan ikut
kau.
Karena Hiat-to tertutuk, maka Buyung Hok dapat mendengar dan bicara,
cuma takbisa bergerak. Diam2 ia memikir: Mereka berdua belum mengetahui
aku telah dikalahkan Ciumoti dan dalam keadaan tak berkutik, maka mereka
masih sangat jeri padaku, kuatir kalau aku membikin susah mereka. Ja,
hal ini akan menguntungkan diriku, biarlah aku melakukan tipu mengulur
tempo pula.
Maka ia lantas berkata: Piaumoay, sesudah kau menjadi isteri Toankongcu,
maka kita sudah terhitung pamili sendiri. Toan-kongcu adalah
adik iparku, masakah aku tega mencelakai dia lagi?
Dasar Toan Ki memang seorang jujur dan polos, sedang Giok-yan masih
hijau, maka mereka percaja penuh kepada ucapan Buyung Hok itu, dalam
girangnya mereka lantas mengucapkan terima kasih.
Lalu Buyung Hok berkata pula: Toan-hiante, sekarang kita sudah orang
sekeluarga, kalau aku pergi menjadi Huma kerajaan Se He, maka kau
takkan merintangi lagi bukan?
Sudah tentu, sahut Toan Ki cepat. Asal aku dapat memperisterikan
Piaumoaymu, maka tiada cita2ku yang lain lagi, biarpun aku dijadikan
malaikat dewata juga aku tidak mau.
Pelahan2 Giok-yan menggelendot dibahu Toan Ki, girangnya tak
terkatakan.
Dalam pada itu diam2 Buyung Hok coba mengerahkan tenaga dalamnya untuk
membujarkan Hiat-to yang tertutuk Ciumoti tadi. Karena seketika susah
dipunahkan, pula tidak sudi minta pertolongan, maka ia hanya menggerutu
didalam hati: Dasar sifat kaum wanita memang gampang terpengaruh dan
mudah berganti cinta, buktinya memang betul seperti Piaumoay sekarang
ini. Kalau dia ingat kebaikanku, tentu dia sudah mendekati dan
membangunkan aku.
Dia mencerca orang lain, tapi lupa dirinya sendiri yang tak berbudi
sehingga Giok-yan merasa putus asa dan hendak bunuh diri. Padahal tempat
didasar sumur itu luasnya kira2 cuma dua-tiga meter, jarak mereka satusama-
lain sebenarnya sangat dekat, asal Giok-yan melangkah satu tindak
saja sudah dapat mencapai Buyung Hok. Tapi dia merasa jeri, kuatir
kalau Buyung Hok bertipu muslihat dan membikin celaka Toan Ki. Selain
itu iapun takut menimbulkan rasa curiga Toan Ki, maka sejak tadi
selangkahpun Giok-yan tidak berani sembarangan bergerak.
Begitulah, karena pikirannya bingung, maka untuk membuka Hiat-to yang
tertutuk menjadi tambah susah. Sedapat mungkin Buyung Hok coba
tenangkan diri, lalu pelahan2 membuka jalan darah yang tertutuk itu. Dan
baru saja dia dapat bergerak dan mulai berdiri, plok tiba2 ada sesuatu
benda jatuh disebelahnya. Nyata itu adalah Ih-kin-keng yang terlepas
dari baju Ciumoti. Dan karena keadaan gelap gulita, Buyung Hok segera
menyingkir kesamping untuk menjauhi benda yang jatuh itu. Dan untung
karena dia menggeser minggir, maka waktu kemudian Ciumoti melompat turun
tidak sampai menjatuhi tubuhnya.
Kembali tadi. Sesudah Ciumoti dapat menemukan kembali Ih-kin-keng,
saking senangnya ia terus ter-bahak2. Karena luang sumur itu sangat
sempit, maka kumandang suara tertawanya itu sampai men-dengung2 memekak
telinga Toan Ki.
Dan karena tertawanya itu, ternyata Ciumoti tak mampu menghentikan
pula bergolaknya hawa murni yang semakin hebat dan makin melembung
rasanya, pikirannya menjadi kacau, seketika ia menjadi seperti orang
gila, ia menghantam dan menendang serabutan dikumbangan lumpur itu. Dan
sudah tentu serangan2 yang ngawur itu selalu mengenai dinding sumur,
terkadang sangat keras sehingga batu pecah dan debu pasir bertebaran,
tapi terkadang sangat lemah, sedikitpun tak bertenaga.
Giok-yan sangat takut, dengan kencang ia memepet disisi Toan Ki,
bisiknya pelahan: Dia sudah gila, dia sudah gila!
Ja, rupanya dia benar2 sudah gila, sahut Toan Ki.
Sementara itu kebebasan bergerak Buyung Hok sudah pulih kembali, untuk
tidak terkena serangan Ciumoti, segera ia gunakan ilmu cecak merajap
untuk merajap keatas dan menggemblok didinding sumur.
Ciumoti masih terus tertawa dan napasnya juga semakin ter-sengal2,
sebaliknya pukulan dan tendangannya tambah cepat.
Taysu, lebih baik kau duduk saja dan istirahat dengan hati tenang
saja! demikian Giok-yan coba membujuk dengan tabahkan hatinya.
Hahahahaha! Aku takmau! seru Ciumoti sambil ter-bahak2, bahkan ia
terus mencengkeram kearah Giok-yan. Ditempat yang sempit itu, dengan
sendirinya susah bagi Giok-yan untuk menghindar, keruan cengkeraman
Ciumoti itu sudah sampai diatas pundak sinona.
Dengan menjerit kaget lekas2 Giok-yan mengegos. Sedang Toan Ki terus
menggeser maju untuk mengadang didepan sinona, serunya: Kau sembunyi
dibelakangku saja.
Dan pada saat itu juga kedua tangan Ciumoti sudah merangsang maju
lagi dan dengan tepat mencekik leher Toan Ki. Seketika Toan Ki merasa
napasnya menjadi sesak dan takbisa membuka suara.
Giok-yan sangat kuatir, lekas2 ia bantu menarik tangan Ciumoti. Tapi
waktu itu Ciumoti sudah dalam keadaan kalap, meski hawa murninya
bergolak dan susah dikendalikan, tapi tenaga cekikan itu ternyata sangat
kuat. Sudah tentu Giok-yan hanya seperti menarik kecapung menghinggap
ditiang batu saja, sedikitpun takdapat mengendurkan tangan Ciumoti yang
mencekik Toan Ki itu.
Kuatir kalau Toan Ki tercekik mati, saking bingungnya Giok-yan terus
ber-teriak2: Piauko, Piauko, lekas kau menolongnya. Hwesio ini hendak
mencekik mati Toan-kongcu!
Untuk sejenak Buyung Hok menjadi ragu2. Pikirnya: Pemuda she Toan ini
menyatakan hendak membantu aku menjadi Huma kerajaan Se He, tapi entah
omongannya dapat dipercaja atau tidak. Dia pernah mengalahkan aku di
Siau-sit-san sehingga nama keluarga Buyung kami runtuh habis2-an dan
kehilangan muka didepan orang banyak, sekarang dia terancam bahaja, buat
apa aku mesti menolong dia? Apalagi ilmu silat paderi ini sangat tinggi
dan sudah bagiku untuk menandingi dia, biarlah mereka berdua mati konyol
dalam pertarungan mereka, kukira jalan ini paling selamat bagiku.
Karena itu, ia semakin kencang memegang celah2 dinding sumur itu dengan
memasuki jarinya dan tidak mau turun untuk membantu, biar Giok-yan berteriak2
minta tolong sampai suaranya serak, tetap Buyung Hok tidak peduli
dan anggap tidak mendengar.
Sementara itu mata Toan Ki tampak sampai mendelik, keruan Giok-yan
tambah kuatir, ia gunakan kepalan untuk menghantam kepala dan punggung
Ciumoti sambil ber-teriak2. Sudah tentu Ciumoti tidak merasakan
pukulan2 sinona, ia hanya ngos2-an napasnya sambil ter-bahak2 pula,
berbareng masih terus mencekik leher Toan Ki dengan sekuatnya...
Kembali berceritakan rombongan Siau Hong dan lain2.
Pagi itu Pah Thian-sik dan Cu Tan-sin menjadi sibuk karena kehilangan
Toan Ki dan Giok-yan.
Wah, pangeran cilik kita ini memang mirip ajahandanya, di-mana2 suka
main roman, tentu tengah malam dia telah kabur bersama nona Ong dan entah
kemana perginya, demikian kata Tan-sin.
Ja, pangeran cilik kita orangnya ganteng dan romantis, lebih suka
wanita daripada tahta, sahut Thian-sik. Dia jatuh hati kepada nona Ong,
hal ini telah diketahui semua orang. Kalau suruh dia menjadi Huma
kerajaan Se He, ai, kukira sulit. Apalagi sifat pangeran kita ini sangat
kepala batu, dahulu Sri Baginda ingin dia belajar silat, tapi dia tetap
membangkang dan tidak mau, kalau dipaksa, dia lantas minggat dari istana.
Tiada jalan lain, terpaksa kita mencarinya dan membujuknya sedapat
mungkin, ujar Tan-sin.
Pah-heng, kata Tan-sin pula. Aku jadi ingat kejadian dahulu, ketika
pangeran cilik kita minggat dari istana. Siaute dititahkan Ongya untuk
mencarinya, dengan susah pajah akhirnya lantas aku dapat menemukan dia,
siapa duga... sampai disini ia lantas bisik2: siapa duga dia telah
kesemsem kepada nona Bok Wan-jing ini, dan seperti sekarang, ditengah
malam buta merekapun diam2 mengelojor kabur. Untung Siaute sudah menjaga
ditengah jalan sehingga dapat mempergoki mereka.
Wah, jika begitu, maka sekarang inipun salahmu, seru Thian-sik. Kau
sudah berpengalaman, kenapa kejadian dahulu itu boleh terulang lagi?
Bukankah semalam kita harus berjaga secara bergiliran untuk mengawasi
gerak-gerik mereka?
Tan-sin menghela napas gegetun, katanya: Aku mengira dia pasti akan
ingat hubungan baiknya dengan Siau-tayhiap dan Hi-tiok Siansing dan tidak
nanti tinggal pergi begitu saja, siapa tahu... siapa tahu... Mestinya
dia hendak mengatakan siapa tahu pangeran kita ternyata lebih
mementingkan wanita daripada persahabatan,. Tapi kata2 yang tidak pantas
diucapkan kaum bawahan kepada junjungannya ini urung dilontarkan.
Begitulah karena tak berdaja lagi, terpaksa kedua orang itu melaporkan
apa yang terjadi kepada Siau Hong dan Hi-tiok. Segera para kawan
dikerahkan untuk mencari, tapi sudah dicari ubek2an selama sehari,
tetap bajangan Toan Ki dan Giok-yan tak diketemukan.
Malam itu semua orang berkumpul dikamarnya Toan Ki yang kosong itu
untuk berunding. Dan sudah tentu mereka tidak memperoleh sesuatu akal
yang baik untuk mencari pemuda itu.
Tengah mereka bingung, tiba2 bagian protokol kerajaan Se He mengutus
seorang untuk menemui Pah Thian-sik dan memberitahukan bahwa besok malam
hari Tiongchiu baginda raja akan mengadakan perjamuan besar diistana
Se-hwa-koing untuk menghormati para tamu yang datang dari berbagai
penjuru, maka pangeran Tayli itu diharap suka hadir.
Sudah tentu Pah Thian-sik takdapat mengatakan lenyapnya Toan Ki, ia
hanya menyanggupi saja undangan itu.
Utusan itu pernah disuap oleh Pah Thian-sik, maka sikapnya sangat baik,
waktu hampir berpisah, tiba2 ia membisiki Thian-sik pula: Pah-loheng,
biarlah aku memberi info padamu. Dalam perjamuan Sri Baginda besok
malam, disitu juga Sri Baginda akan mengamat-amati gerak-gerik dan
tampan dan kepandaian para tamu calon menantu raja itu. Sesudah
perjamuan boleh jadi akan diadakan perlombaan membuat sjair dan
bersajak, atau mungkin juga memanah dan bertanding silat untuk
menentukan siapa yang sesuai untuk menjadi pasangan Tuan Puteri kami.
Maka besok malam ialah kunci utama bagi sukses tidaknya usaha para
calon, untuk mana diharapkan Toan-kongcu suka memperhatikan.
Ber-ulang2 Pah Thian-sik mengucapkan terima kasih, berbareng ia
mengeluarkan sepotong uang emas dan dijejalkan ketangan utusan itu.
Setiba kembali didalam kamar, segera Thian-sik memberitahukan info yang
baru didapat itu. Katanya pula: Tin-lam-ong telah memberi pesan dengan
wanti2 agar Pangeran cilik kita harus membawa pulang puteri Se He. Kalau
tugas yang diserahkan pada kami ini gagal, maka kami sungguh malu untuk
menemui Ongya lagi.
Tiba2 Tiok-kiam mengikik tawa lalu berkata: Pah-loya, apa boleh hamba
ikut bicara sedikit?
Silakan, sahut Thian-sik.
Sebabnya ajah baginda Toan-kongcu mengharuskan dia menikah dengan
puteri Se He, maksud tujuannya kan ingin besanan dengan kerajaan Se He
untuk memperkuat kedudukan kerajaan Tayli mereka, bukan? tanya Tiokkiam.
Benar, jawab Thian-sik.
Adapun mengenai puteri Se He itu akan secantik bidadari atau sejelek
setan takkan dipikir oleh Toan-ongya, bukan? ganti Kiok-kiam yang
bertanya.
Ja, tetapi sebagai Tuan Puteri yang diagungkan, sekalipun tidak
secantik bidadari, paling tidak toh juga akan punya roman muka yang
lumajan, ujar Tan-sin.
Nah, sekarang kami ada suatu akal, asal puteri Se He dibojong pulang ke
Tayli, maka soal Toan-kongcu akan diketemukan dalam waktu singkat atau
tidak menjadi takkan merupakan soal lagi, sekarang Bwe-kiam yang
berkata.
Dan Lan-kiam juga tidak ketinggalan, katanya: Nanti, kalau Toankongcu
sudah bosan pesiar ke-mana2 dengan nona Ong, lewat setahun atau
dua tahun, tentu dia akan pulang sendiri ke Tayli, tatkala mana juga
belum terlambat untuk minta dia melangsungkan pernikahan dengan puteri Se
He.
Heran dan girang pula Thian-sik dan Tan-sin, kata mereka berbareng: He,
akal para nona ini benar2 sangat baik, coba jelaskan lagi.
Segera Bwe-kiam bicara lebih dulu: Sekarang kalau kita minta nona Bok
menyamar sebagai seorang pemuda pelajar, bukankah akan jauh lebih
tampan daripada Toan-kongcu. Lalu kita minta nona Bok suka menghadiri
perjamuan raja Se He besok malam, kukira tiada seorangpun diantara beribu2
tetamu itu mampu menandingi ketampanannya.
Ja, nona Bok adalah adik perempuan Toan-kongcu, demikian Lan-kiam
menyambung. Kalau adik perempuan mewakilkan kakaknya mengambil isteri
demi kepentingan negara serta untuk memenuhi tugas atas perintah ajah,
bukankah jalan ini boleh dikata sekali tepok beberapa laler?
Dan bila nona Bok sudah terpilih sebagai Huma, untuk melangsungkan
upacara pernikahan tentu masih cukup lama waktunya, dalam pada itu
Toan-kongcu tentu sudah dapat diketemukan, demikian Tiok-kiam
menambahkan.
Ja, andaikan Toan-kongcu tetap belum diketemukan, tiada halangannya
juga kalau nona Bok mewakilkan kakaknya melangsungkan pernikahan,
akhirnya Kiok-kiam menutup usul mereka. Lalu keempat dara itu lantas
tertawa cekikikan.
Dasar anak kembar empat, maka pikiran mereka sama, lagak-lagu merekapun
sama, tertawa sama, diwaktu bicara juga sama dan entah apalagi yang
sama...
Untuk sejenak Pah Thian-sik dan Cu Tan-sin hanya saling pandang
saja. Mereka merasa usul dara2 itu terlalu sembrono, kalau sampai
konangan, tentu urusan akan runyam, bukan saja gagal mengikat perbesanan
dengan Se He, bahkan bukan mustahil raja Se He akan mengamuk dan
menyatakan perang kepada Tayli.
Rupanya Bwe-kiam dapat menerka apa yang dipikirkan Thian-sik berdua,
segera ia berkata pula: Sebenarnya Toan-kongcu toh mempunyai saudara
angkat sebagai Siau-tayhiap dan mestinya tidak perlu mencari sandaran
kepada Se He, cuma Tin-lam-ong telah memberi perintah sehingga terpaksa
mesti diturut. Dan kalau terjadi apa2, Siau-tayhiap adalah Lam-ih Tayong
dari kerajaan Liau dengan kekuatan militer yang dahsjat, asal beliau
mau ikut bicara, maka segala persoalan tentu dapat diatasi, tidak nanti
raja Se He berani main gila kepada kerajaan Tayli.
Sebagai seorang menteri yang dipercaja dan ikut memegang pemerintahan,
sudah tentu Pah Thian-sik bukan seorang bodoh. Mengenai Siau Hong dapat
dijadikan bala bantuan kerajaan Tayli, hal ini memang sudah didalam
perhitungannya. Cuma saja dia merasa tidak enak untuk mengucapkan
sendiri. Kini demi mendengar ucapan Bwe-kiam itu dan Siau Hong juga
mengangguk, maka semangatnya seketika terbangkit. Pikirnya: Usul keempat
dara cilik ini tampaknya seperti permainan anak kecil, tapi selain
jalan ini sesungguhnya juga tiada cara lain, hanya nona Bok entah suka
menerima dan mau menyerempet bahaja atau tidak?
Karena itu, segera ia sengaja berkata: Usul nona2 ini memang akal
sangat bagus, tapi pelaksanaannya benar2 terlalu berbahaja. Pabila sampai
konangan penyamaran nona Bok nanti, tentu ada kemungkinan nona Bok akan
tertawan, apalagi disitu hadir kesatria2 dari segenap penjuru, dalam hal
orangnya sudah tentu nona Bok adalah paling tampan, tapi kalau mesti
bertanding silat dan mengalahkan mereka, wah, ini agak kurang mejakinkan.
Seketika pandangan semua orang lantas beralih kepada Bok Wan-jing dan
ingin tahu bagaimana pendiriannya.
Maka berkatakan Wan-jing: Pah-siansing, kau tidak perlu memancing aku
dengan kata2mu itu, soalnya engkohku... engkohku itu... hanya sampai
disini, mendadak air matanya lantas bercucuran dan tidak sanggup
meneruskan lagi.
Rupanya telah terjadi pertentangan batinnya, teringat olehnya apa yang
dilakukan Toan Ki dengan Giok-yan sekarang adalah mirip dengan kejadian
Toan Ki dalam perjalanan bersama dirinya diwaktu dahulu, coba kalau
pemuda itu bukan kakaknya sendiri, tentu pemuda itupun takkan mengingkar
janji. Tapi sekarang Toan Ki sedang ber-cumbu2an dengan nona lain,
sebaliknya dia sendiri hidup kesepian disini, bahkan para kambrat
kerajaan Tayli malah minta dia berjoang baginya.
Dasar watak Bok Wan-jing memang takmau kalah, dikala pikirannya pepet,
mendadak ia angkat meja didepannya sehingga terbalik, seketika mangkokpiring
pecah berantakan, lalu ia melompat keluar.
Semua orang saling pandang dengan bingung dan merasa kurang senang
pula. Yang paling menyesal adalah Pah Thian-sik, katanya: Semuanya adalah
salahku. Jika aku memohonnya dengan kata2 halus paling2 nona Bok cuma
menolak saja permintaanku, tapi karena aku telah sengaja memancingnya
dengan kata2 yang menyinggung perasaannya, maka dia menjadi marah2.
Begitulah, besoknya semua oran gmasih terus berusaha menemukan Toan Ki,
didalam kota tampak sangat ramai dengan hilir-mudiknya pemuda2 gagah dan
perlente, mungkin sebagian besar akan ikut dalam perjamuan malaman
Tiongthjiu dalam istana raja nanti.
Sampai petang semua orang telah pulang dan Toan Ki tetap tidak
diketemukan. Maka berkatalah Siau Hong: Jika Samte sudah pergi dari
sini, maka beramai2 kitapun boleh pulang saja, tak peduli siapa yang
akan menjadi Huma nanti, semuanya tiada sangkut-pautnya dengan kita.
Ja, ucapan Siau-tayhiap memang benar, supaja kita tidak menyaksikan
orang lain menjadi Huma dan menimbulkan rasa penasaran, ujar Thian-sik.
Eh, Cu-siansing, kau sendiri sudah beristeri belum? demikian tiba2
Ciong Ling tanya kepada Cu Tan-sin. Jikalau Toan-kongcu tidak mau
menjadi Huma, kenapa bukan kau saja yang magang? Eh, siapa tahu kalau
kau akan dianugerahi puteri Se He yang cantik itu, jika demikian,
bukankah juga akan banyak manfaatnya bagi kerajaan Tayli?
Tan-sin tertawa, sahutnya: Ai, nona Ciong ini suka berkelakar saja.
Sudah lama aku punya isteri dan punya selir, banyak pula putera-puteriku,
mana boleh aku ikut2 berlomba berebut puteri seperti kaum muda mereka?
Ciong Ling melelet lidah dan tidak bicara lagi.
Sebaliknya Cu Tan-sin lantas menambahi lagi dengan tertawa: Ja, sayang
wajah nona Ciong sendiri masih terlalu muda, pipimu dekik pula dan
tidak mirip orang lelaki, kalau tidak, wah, tentu kau dapat mewakilkan
engkohmu untuk mengikuti sajembara itu...
Apa? Mewakilkan engkohku? Ciong Ling menegas.
Tan-sin merasa telah kelepasan mulut. Tapi dalam hatinya membatin:
Memangnya kau adalah puteri Tin-lam-ong dari hubungan yang tidak sah,
peristiwa yang masih dirahasiakan ini tidak boleh sembarangan kukatakan.
Pada saat itulah tiba2 terdengar seorang berkata diluar kamar sana:
Pah-siansing, Cu-siansing, marilah kita boleh berangkat sekarang!
Dan dimana kerai tersingkap, masuklah seorang pemuda yang ganteng dan
tampan. Siapa lagi dia kalau bukan Bok Wan-jing yang telah menyamar
sebagai pemuda pelajar.
Keruan semua orang terkejut dan bergirang pula, kata mereka: He, apa
nona Bok sudah bersedia pergi?
Tapi Bok Wan-jing lantas menjawab: Cayhe she Toan bernama Ki, adalah
putera pangeran Tin-lam-ong dari Tayli, diharap ucapan kalian sukalah
hati2.
Walaupun suaranya nyaring merdu sebagai suara wanita, tapi banyak juga
pemuda pelajar yang bersuara lemah-lembut, maka tidak perlu diherankan.
Karena merasa Bok Wan-jing dapat menirukan lagak-lagu Toan Ki, maka
tertawalah semua orang.
Rupanya sesudah marah2 sebentar dan pulang kekamarnya dengan menangis,
besok paginya setelah di-pikir2 pula, ia merasa tidak enak telah berlaku
kasar dihadapan orang banyak, pula ia merasa tertarik juga jika dia
menyamar sebagai Toan Ki untuk ikut berebut puteri Se He dengan jago2
lain. Dalam hati kecilnya lapat2 merasa: Kau (maksudnya Toan Ki) ingin
menikah dan hidup bahagia dengan nona Ong, tapi aku justeru sengaja
mewakilkan kau mengambil seorang Tuan Puteri untuk isterimu, biar hidupmu
kelak selalu cekcok diantara dua isteri, dengan begini barulah kau tahu
rasa.
Kemudian teringat pula olehnya waktu dia datang kekota Tayli dahulu,
dimana ajah Toan Ki juga dihadapkan pada masalah isteri dan kekasih lain
sehingga membuatnya serba salah dan kikuk, kalau sekarang Toan Ki juga
mempunyai seorang isteri Tuan Puteri secara resmi, maka Giok-yan tentu
takkan berhasil menjadi isterinya yang sah.
Begitulah jalan pikiran kaum wanita. Kalau dia sendiri tidak bisa
menjadi isterinya Toan Ki, maka diapun tidak mengijinkan seorang gadis
lain dapat hidup bahagia sebagai istennya. Makin dipikir makin senang,
maka dia lantas mengambil keputusan dan bersedia menyamar sebagai Toan Ki.
Dengan demikian, maka cepat2 Pah Thian-sik dan lain2 lantas ber-gegas2
menyiapkan segala sesuatu yang perlu untuk berangkat menghadiri
perjamuan raja.
Tiba2 Wan-jing berkata: Siau-toako dan Hi-tiok Jiko, bila kalian sudi
ikut aku pergi bersama, aku keperjamuan itu, maka segala apa aku takkan
takut lagi. Kalau tidak, apabila terjadi pertempuran, mana aku mampu
melawan orang. Didalam istana rasanya juga tidak pantas aku sembarangan
membidikan panah berbisa untuk membunuh musuh.
Baiklah, aku dan Jite sudah dipesan oleh paman Toan, sudah tentu kami
akan membantu sekuat tenaga, sahut Siau Hong dengan tertawa.
Segera semua orang berdandan seperlunya untuk ikut pergi. Siau Hong dan
Hi-tiok menyaru sebagai pengiring dari kerajaan Tayli. Ciong Ling dan
Bwe-kiam berempat saudara mestinya ingin ikut juga dengan menyamar
sebagai lelaki, tapi Pah Thian-sik telah mencegah mereka agar jangan
ikut, untuk menjaga penyamaran Bok Wan-jing saja susah, apalagi kalau
ditambah penyamaran mereka berlima, tentu rahasia mereka akan terbongkar.
Karena itu, terpaksa Ciong Ling dan lain2 menurut.
Sesudah rombongan mereka berada ditengah jalan, tiba2 Pah Thian-sik
berseru: Ai, hampir2 membikin urusan menjadi runyam. Bukankah Buyung Hok
itupun akan hadir dan ikut berebut menjadi Huma, dia kenal baik pada
Toan-kongcu, lantas bagaimana nanti?
Siau Hong tertawa, katanya: Pah-heng tidak perlu kuatir. Buyung-kongcu
juga serupa dengan Samte, diapun telah menghilang tanpa pamit, tadi aku
telah mencari tahu ketempatnya, kulihat Ting Pek-jwan, Pau Put-tong dan
kawan2nya juga sedang kelabakan mencari Kongcu mereka.
Wah, ini sangat kebetulan, kata semua orang dengan girang.
Sungguh Siau-tayhiap mempunyai pikiran yang panyang, sampai2
sebelumnya keadaan Buyung Hok juga telah diselidikinya, ujar Tan-sin.
Bukannya aku bisa berpikir panyang, sahut Siau Hong. Aku hanya
kuatirkan kepandaian Buyung Hok yang tinggi itu akan merupakan lawan
paling tangguh bagi nona Bok, maka... hehe, hehe!
Kiranya Siau-tayhiap hendak membujuk dia agar malam ini jangan ikut
hadir dalam perjamuan., kata Pah Thian-sik dengan tertawa.
Agaknya Ciong Ling merasa bingung atas petualangan mereka itu, dengan
mata terbelalak ia tanya: Sebabnya jauh2 Buyung-kongcu datang kesini
justeru ingin menjadi Huma, mana mungkin dia dapat dibujuk olehmu? Apa
memangnya Siau-tayhiap adalah sobat baiknya Buyung-kongcu.
Sobat sih bukan, sela Bok Wan-jing dengan tertawa, Cuma kepalan Siautayhiap
terlalu keras baginya, maka dia terpaksa mesti menurut
nasihatnya.
O! Ciong Ling melongo, baru sekarang dia paham duduknya perkara.
Begitulah, setiba rombongan mereka didepan istana, segera Pah Thian-sik
menyodorkan kartu undangan. Maka tertampaklah Le-poh Siang-si (menteri
urusan protokol) kerajaan Se He lantas menyambut keluar sendiri dan
menyilakan rombongan Bok Wan-jing kedalam istana. Ternyata sudah ada
lebih seratus pemuda yang telah hadir disitu dan duduk tersebar diruang
situ, ditengah ada suatu meja yang dilapisi dengan sutera2 kuning
bersulam, mungkin itulah tempat duduk raja Se He sendiri, dikanankirinya
terdapat pula dua baris meja yang dilapis dengan sutera ungu.
Disebelah kanan sudah berduduk seorang pemuda gagah, bermata besar dan
beralis tebal dan memakai jubah merah tua, diatas jubah tersulam dua
ekor harimau, dibelakangnya berdiri delapan jago pengawal.
Segera Pah Thian-sik dan lain2 mengetahui pemuda gagah ini tentu adalah
pangeran Cong-can dari Turfan.
Segera Le-poh Siang-si menyilakan Bok Wan-jing duduk dibarisan meja
sebelah kiri dan tidak dicampurkan dengan orang lain. Hal ini
menunjukkan bahwa diantara pemuda2 pengikut sajembara ini hanya pangeran
Turfan dan pangeran Tayli yang mempunyai kedudukan paling agung, maka
raja Se He menghormatinya dengan cara lain daripada yang lain.
Begitulah para tamu2 be-ramai2 masih terus tiba dan mengambil tempat
duduk masing2. Sesudah semua kursi penuh terisi, lalu dua perwira piket
berseru: Para tamu agung sudah lengkap hadir semua, tutup pintu!
Maka ditengah iringan suara musik pelahan2 pintu istana dirapatkan. Dan
begitu pintu istana tertutup, segara berbaris keluar serombongan pengawal
yang bersenjata lengkap. Menyusul suara musik bergema pula, dua barisan
dayang keraton berjalan keluar dari ruang dalam, tangan masing2 membawa
sebuah Hiolo (anglo dupa) kecil buatan kemala putih, asap tipis tampak
mengepul dari Hiolo2 itu.
Semua orang tahu Sri Baginda sebentar lagi akan keluar, maka semuanya
lantas diam dan menahan napas.
Paling akhir keluarlah empat pengawal berjubah sulam, semuanya
bertangan kosong, lalu berdiri dikedua sisi singgasana raja.
Melihat pelipis keempat pengawal itu semuanya menonjol, maka tahulah
Siau Hong pasti mereka adalah jago pengawal raja yang memiliki ilmu
silat sangat tinggi.
Lalu satu diantara keempat jago pengawal itu berseru: Sri Baginda
tiba, sambutlah!
Semua orang lantas berlutut dengan kepala menunduk.
Maka terdengarlah suara langkah orang yang keluar dari ruang dalam,
lalu duduk diatas singgasana yang sudah tersedia. Dan sesudah jago
pengawal tadi memberi aba2 pula, barulah semua orang berbangkit dan
disilakan kembali ketempat duduk masing2.
Waktu Siau Hong memandang si Raja dilihatnya perawakannya sedang
saja, mukanya kereng, agaknya juga seorang tokoh kesatria didunia
persilatan.
Kemudian Le-poh Siang-si telah maju kesamping singgasana sang raja
dan membentang sehelai amanat, lalu dibacanya dengan suara nyaring:
Paduka Yang Mulia Sri Baginda Raja menyampaikan terima kasih atas
kehadiran tuan2 sekalian, marilah ber-sama2 mengeringkan secawan!
Para tamu menyampaikan sembah hormat, lalu sama2 mengangkat cawan
masing2. Tapi raja itu hanya menempelkan cawannya kebibir sebagai
lambang saja, lalu meninggalkan singgasananya dan masuk kembali keruang
belakang. Segera para pengawal juga ikut masuk semua kebelakang sehingga
dalam sekejap saja suasana telah kembali seperti tadi.
Semua orang saling pandang dengan tercengang, sama sekali tak terduga
oleh mereka bahwa satu kata patah saja tidak bicara dan minum
secegukpun tidak, lalu raja itu sudah mengundurkan diri. Padahal
bagaimana wajah kami seorangpun belum diperiksanya dengan jelas, entah
cara bagaimana dia akan memilih menantunya? demikian pikir semua orang.
Sekarang silakan para hadirin makan minum secara bebas, seru Le-poh
Siang-si.
Segera pelajan membawakan daharan2 yang sudah tersedia semangkuk demi
semangkuk.
Se He adalah negeri pegunungan yang dingin, bahan makanan mereka yang
utama adalah daging sampi dan kambing, biarpun namanya perjamuan
kerajaan, tapi yang disuguhkan juga tidak lebih daripada daging2 sampi
dan kambing dalam potongan2 besar.
Melihat Siau Hong berdiri mengawal disampingnya, Bok Wan-jing merasa
tidak enak, segera ia berbisik: Siau-toako, Hi-tiok Jiko, silakan kalian
berduduk dan ikut makan minum.
Tapi Siau Hong dan Hi-tiok hanya tersenyum saja sambil geleng2 kepala.
Wan-jing kenal watak Siau Hong yang paling gemar minum arak, tiba2 ia
mendapat akal, ia memberi tanda dan memberi perintah: Tuangkan arak!
Sebagai pengawal dalam penyamaran, Siau Hong menurut dan menuangkan
semangkuk arak.
Boleh kau coba rasanya arak ini, kata Wan-jing pula.
Sungguh girang Siau Hong tak terkatakan, hanya dua-tiga kali cegukan
saja arak semangkuk penuh itu sudah dihirupnya kedalam perut.
Coba semangkuk lagi! kata Wan-jing pula. Dan segera Siau Hong minum
lagi semangkuk.
Disebelah sana pangeran Turfan itu juda sedang makan minum. Sesudah
minum beberapa tegukan arak, ia menyambar sepotong daging panggang terus
digeragoti dengan lahapnya. Sesudah daging itu tinggal sekerat tulang
belakang, segera ia melemparkan tulang itu kearah Bok Wan-jing dengan
lagak seperti tidak sengaja. Tapi samberan tulang itu ternyata sangat
cepat, nyata tenaganya tidaklah kecil.
Segera Cu Tan-sin melolos kipasnya dan mengipas sekali kearah tulang
itu. Kontan tulang itu terkipas balik dan menyambar kembali kearah
pangeran Cong-can.
Tapi seorang jago Turfan keburu menangkap tulang itu sambil memaki
dalam bahasanya, se-konyong2 ia angkat sebuah mangkuk besar terus
menimpuk kearah Tan-sin.
Sekali ini berganti Thian-sik yang turun tangan, ia memapak dengan
sekali pukulan, dimana angin pukulannya tiba, kontan mangkuk itu pecah
menjadi beberapa keping dan berhamburan kembali kearah orang2 Turfan.
Lekas2 seorang jago Turfan lain menanggalkan jubahnya, sekali pentang
dan mengebas, tahu2 pecahan mangkuk itu telah kena digulung semua oleh
jubahnya, gerak-geriknya ternyata sangat gesit dan cekatan.
Selagi pertarungan itu akan meningkat, se-konyong2 terdengar suara
genta ber-talu2, lalu muncul dua barisan orang yang ber-macam2
bentuknya, ada yang tinggi, ada yang pendek, ada yang berdandan ringkas,
ada yang berjubah longgar, semuanya bersenjata dalam bentuk yang
beraneka ragam pula.
Seorang pembesar yang berjubah sulam dan berjalan didepan, agaknya
seperti komandan kedua barisan jago2 itu, segera membentak dengan suara
keras: Perjamuan ini diadakan didalam istana, hendaklah tuan2 tahu tatatertib
sedikit! Ini adalah jago2 pilihan dari It-bin-tong negeri kami,
jika tuan2 ingin berkelahi, nah, boleh silakan coba2 dengan mereka
satu-melawan-satu, tapi dilarang main kerubut.
Siau Hong dan lain2 tahu It-bin-tong adalah suatu dewan yang istimewa
dari kerajaan Se He, didalam dewan itu terkumpul banyak sekali jago2
silat pilihan dari segenap penjuru. Karena itu Pah Thian-sik dan
kawan2nya lantas berhenti menyerang, setiap benda yang ditimpukan orang2
Turfan lantas ditangkapnya dan ditaruh diatas meja sendiri, ia tidak
balas menimpuk lagi.
Kemudian pembesar berjubah sulam tadi lantas berkata kepada pangeran
Cong-can: Harap Yang Mulia memberi perintah agar bawahanmu tidak
mengacaukan suasana ketenangan ini.
Melihat jago2 It-bin-tong itu ada ratusan orang jumlahnya, kalau
sampai cekcok dan bertempur, tentu pihaknya takdapat melawan, maka
Cong-can lantas memberi tanda untuk menghentikan pengikutnya yang masih
ber-teriak2 itu.
Helian-ciangkun, apakah Tuan Puteri ada sesuatu perintah? segera Lepoh
Siang-si bertanya kepada pembesar berjubah sulam tadi.
Kiranya pembesar itu adalah Helian Tiat-su, jaitu tokoh yang dahulu
pernah memimpin jago2 It-bin-tong menuju ke Tionggoan, tapi disana
mereka telah dirobohkan dengan kabut berbisa oleh Buyung Hok yang
menyamar sebagai Li Yan-cong.
Setelah mengalami peristiwa yang merugikan itu, segera Helian Tiat-su
membawa rombongannya pulang kandang. Dia pernah melihat Siau Hong palsu
yang disamar A Cu dan pernah kenal Buyung Hok yang disamar Toan Ki, tapi
Siau Hong tulen dan Toan Ki palsu yang berada didalam istana sekarang ini
tidak pernah dikenalnya. Mestinya diantara jago2 It-bin-tong itu juga
terdapat Toan Yan-khing, Lam-hay-gok-sin dan In Tiong-ho, tapi mereka
mempunyai rencananya sendiri dan sudah tentu tidak mau diperalat oleh
kerajaan Se He, maka saat ini mereka sedang bertugas dilain tempat
sehingga penyamaran Siau Hong dan Bok-Wan-jing itu tidak sampai
konangan.
Kemudian Helian Tiat-su lantas berseru: Menurut titah Tuan Puteri, bila
para tamu agung sudah selesai dahar, semuanya disilakan minum teh ke
kamar baca di Jin-hong-kok.
Jing-hong-kok itu diketahui adalah istana kediaman Bun-gi Kongcu,
puteri Se he yang cari jodoh sekarang ini. Keruan para pemuda sangat
senang dan bersemangat, dengan undangan itu, teranglah puteri Se He itu
ingin memilih sendiri calon suaminya. Pikir mereka: Biarpun nanti tidak
terpilih, paling sedikit juga dapat melihat wajah si-cantik sehingga
perjalanan ini tidak sia2 belaka.
Dasar watak pangeran Cong-can memang paling tidak sabaran, dia yang
per-tama2 berdiri dan berseru: Setiap saat kita dapat makan dan minum.
Tapi sekarang paling perlu kita melihat puteri aju lebih dulu!
Benar! serentak sebagian besar hadirin menyokongnya.
Segera Cong-can minta Helian Tiat-su membawa mereka ketempat tujuan.
Mari, pangeran Toan dan para hadirin yang lain! seru Helian Tiat-su dan
dijawab dengan suara sorakan gembira orang banyak.
Demikianlah Helian Tiat-su lantas membawa para calon Huma itu menuju
kebelakang. Sesudah menyusur sebuah taman, lalu membelok beberapa kali,
kemudian waktu melintas sebuah bukit buatan, tiba2 Bok Wan-jing merasa
disebelahnya telah bertambah seorang.
Waktu ia melirik, tanpa merasa ia menjerit tertahan dalam kagetnya.
Ternyata orang disebelahnya tak-lain-tak-bukan adalah Toan Ki.
Apa kau terkejut, pangeran? tanya Toan Ki dengan pelahan dan tertawa.
Apa kau sudah tahu semua? balas tanya Bok Wan-jing dengan berbisik.
Tahu semua sih tidak, tapi melihat gelagatnya dapatlah menerka sebagian
besar persoalannya, sungguh membikin susah kau saja, sahut Toan Ki.
Bok Wan-jing coba mengawasi kanan-kirinya, ia lihat tiada pembesar Se
He didekatnya, sebaliknya dibelakang Toan Ki kelihatan ada dua pemuda.
Yang seorang berusia 30-an dengan sikap agak angkuh, yang seorang lagi
ternyata sangat tampan dan lebih muda.
Hanya sedikit memperhatikan saja segera Wan-jing mengenali pemuda
tampan itu adalah samaran Giok-yan. Seketika ia menjadi gusar, katanya:
Bagus kau, seenaknya kau mengelojor pergi bersama nona Ong, tapi aku yang
harus mewakilkan kau menempuh bahaja ini.
Jangan marah dulu, adikku manis, kata Toan Ki. Kejadian ini agak
panyang untuk diceritakan. Pendek kata aku telah dilemparkan kedalam
sumur oleh orang dan hampir2 mati konyol.
Mendengar pemuda itu mengalami bahaja, seketika rasa perhatiannya
melebihi rasa gusarnya, cepat Wan-jing tanya: Apa kau tidak terluka?
Kulihat air mukamu agak pucat.
Seperti diketahui, didasar sumur itu Toan Ki telah dicekik oleh
Ciumoti sehingga susah bernapas, pelahan2 ia sudah hampir tak sadarkan
diri.
Sebaliknya Buyung Hok yang mendempel di dinding sumur yang lebih tinggi
itu merasa sjukur dan senang, kalau bisa dia berharap Toan ki tercekik
mati saja.
Sudah tentu yang paling kuatir adalah Giok-yan, meski dia telah
menghantam dan menggebuki Ciumoti, tapi masih tetap tak menolong Toan
Ki. Dalam gugup dan bingungnya, mendadak Giok-yan terus menggigit lengan
kanan Ciumoti.
Ketika se-konyong2 merasa Kiok-ti-hiat dilengan kanan menjadi
kesakitan, Ciumoti merasa hawa murni yang bergejolak didalam tubuh dan
tak tersalurkan itu mendadak melanda keluar sebagai ban gembos, hawa
murni itu mengalir dari telapak tangannya dan masuk keleher Toan Ki yang
dicekiknya itu.
Mestinya Ciumoti merasa badannya melembung se-akan2 meledak, tapi
mendadak gembos, seketika ia merasa segar kembali sehingga jari yang
mencekik leher Toan ki itu pelahan2 juga menjadi kendur.
Hendaklah maklum bahwa Ciumoti benar2 seorang tokoh sakti dalam dunia
persilatan yang jarang terdapat, dasar pejakinannya sangat kuat, maka
sekali tenaga dalamnya terhimpun, susahlah bagi Toan Ki untuk menyedot
tenaganya dengan Cu-hap-sin-kang yang ampuh.
Baru sesudah Giok-yan menggigit sekali ditempat Kiok-ti-hiatnya, dalam
kagetnya hawa murni yang bergolak itu lantas membanjir keluar. Dan
sekali hawa murni itu mendapat jalan saluran, maka susahlah tertahan
lagi, serentak tenaga itu mengalir kedalam tubuh Toan Ki dengan tak berhenti2.
Tadinya pikiran Ciumoti memang sudah mulai kacau dan hampir2 tak
sadar, sesudah tenaga dalamnya terkuras keluar hampir separoh, mendadak
pikirannya jernih kembali, keruan ia terperanjat: Wah, celaka! Jika
aku punya tenaga murni tersedot terus seperti ini, pasti dalam waktu tak
lama lagi aku akan lemas dan menjadi orang cacat.
Karena itu sekuatnya ia berusaha melawan, namun sekarang sudah
terlambat. Sesudah hampir separuh tenaga murninya masuk tubuh Toan Ki,
perbandingan kekuatan kedua pihak menjadi lebih nyata lagi, tidak
mungkin Ciumoti dapat melawan, biarpun dia merontak sekuat mungkin tetap
takdapat menahan mengalir keluarnya tenaga murni itu.
Sebaliknya Giok-yan menjadi lega demi melihat akibat gigitannya itu
lantas cekikan Ciumoti itu menjadi agak kendur. Tapi dilihatnya tangan
Ciumoti itu masih tetap memegang leher Toan Ki, segera ia menariknya
pula.
Tak terduga tangan Ciumoti itu sudah seperti terpantek dileher Toan
Ki, biarpun dia menarik dan membetot, tetap tangan Ciumoti takmau lepas.
Walaupun Giok-yan paham (secara teori) ilmu silat berbagai golongan
dan aliran didunia ini, tapi ia tidak tahu ilmu apakah yang digunakan
Ciumoti sekarang ini, karena itu ia pikir ilmu apapun juga tentu akan
merugikan Toan Ki, maka sedapat mungkin ia berusaha hendak menolongnya.
Ciumoti sendiripun mengeluh, didalam hati ia berharap Giok-yan akan
dapat menarik lepas tangannya. Siapa tahu ketika tangan Giok-yan memegang
tangan Ciumoti, seketika nona itu merasa badannya menggigil, tenaga
murninya juga mendadak tersedot keluar dan tak tertahankan.
Kiranya saat itu Toan Ki sudah pingsan, dengan sendirinya asal ketemu
tenaga yang sakti itu tidak kenal kawan atau lawan, asal ketemu tenaga
lantas sedot saja, maka bukan Ciumoti saja yang tenaga murninya
terisap, bahkan Giok-yan juga ikut menjadi korban. Maka tidak lama
kemudian Giok-yan dan Ciumoti telah jatuh pingsan semua.
Selang agak lama, ketika tidak mendengar suara apa2 dari ketiga orang
yang berada dibawah itu, segera Buyung Hok coba memanggil beberapa kali,
tapi tidak mendapat jawaban. Pikirnya: Jangan2 ketiga orang itu sudah
gugur bersama?
Lebih dulu ia menjadi girang. Tapi segera teringat hubungan baik
dirinya dengan Giok-yan, mau-tak-mau ia merasa berduka juga. Kemudian
terpikir pula olehnya: Wah, celaka! Kalau mereka tidak mati, dengan
tenaga gabungan empat orang mungkin akan dapat keluar dari sini, tapi
sekarang tinggal aku seorang, tentu akan susah menyingkirkan batu besar
diatas. Ai, jika kalian ingin mati, kenapa tidak tunggu dulu dan mati
diluar sumur sana saja?
Dan baru ia hendak melompat turun untuk memeriksa keadaan Ciumoti dan
Giok-yan bertiga, tiba2 terdengar ada suara orang bicara diatas,
suaranya berisik ramai, agaknya adalah kaum petani bangsa Se He.
Rupanya mereka berempat telah ribut semalam suntuk didasar sumur itu
dan sekarang fajar sudah menyingsing, banyak kaum petani yang membawa
sajur2-an hendak menjual ke pasar di dalam kota dan lewat disamping
sumur itu.
Diam2 Buyung Hok membatin: Jika aku berteriak minta tolong, para
petani itu belum tentu sanggup memindahkan batu2 karang yang besar itu.
Dan bila merasa tak kuat, tentu mereka akan tinggal pergi dan tak peduli
lagi. Jalan paling baik jalah memancing mereka dengan rejeki.
Maka ia lantas sengaja berteriak: Hei, semua emas ini adalah milikku,
kalian tidak boleh ikut mengangkangi. Ja, biarlah aku membagi kalian 3000
tahil saja. Lalu ia berseru pula dengan suara lain yang sengaja dibuat2:
Tidak bisa! Emas intan sebanyak ini kita ketemukan bersama, sudah
tentu harus kita bagi dengan sama-rata. Kemudian ia sengaja membikin
suaranya setengah tertahan dan berkata; Sssst, jangan keras2, kalau
sampai didengar orang, tentu mereka juga akan minta bagian dan bagian
kita tentu akan berkurang!
Suara tanya-jawab yang sengaja diucapkan Buyung Hok itu ia siarkan
dengan tenaga dalam yang kuat sehingga dapat didengar dengan jelas oleh
para petani yang lewat dipinggir sumur itu.
Dasar manusia, siapa orangnya yang mendengar ada rejeki takkan
ketarik?
Keruan saja para petani itu terkejut dan bergirang pula. Beramai2
mereka lantas merubungi sumur itu dan serentak berebut untuk
menyingkirkan batu2 karang itu. Meski batu2 karang itu sangat besar dan
antap, tapi dengan tenaga gotong-rojong orang banyak, akhirnya batu2 itu
dapat disingkirkan.
Sudah tentu Buyung Hok sudah ber-siap2, ia tidak menunggu sampai batu2
itu disingkirkan semua, baru saja kelihatan ada suatu lowongan yang
cukup untuk diterobos, terus saja ia merembet keatas dan mendadak
wuttt, ia terus melayang keluar.
Tentu saja para petani itu kaget setengah mati karena hanya dalam
sekejap saja bajangan Buyung Hok itu sudah menghilang dikejauhan.
Walaupun masih curiga dan takut, tapi karena daja tarik harta karun,
akhirnya para petani itu tetap menyingkirkan batu2 karang, lalu seorang
kawan mereka yang paling tabah dikerek kedalam sumur dengan tambang.
Setiba didasar sumur, begitu tangannya meraba segera orang itu dapat
memegang badan Ciumoti. Memangnya dia sudah was-was dan kebat-kebit,
begitu kena meraba badan manusia, segera ia menyangka serangka majat.
Keruan kagetnya tak terkatakan, hampir2 sukmanya terbang meninggalkan
raganya. Cepat ia menggoyangkan tambang dan minta dikerek keatas.
Mendengar didalam sumur itu ada orang mati, seketika para petani itu
menjadi ketakutan dan berlari bubaran, mereka sama kuatir ikut
tersangkut perkara pembunuhan, jangan2 harta karun belum diperoleh, tapi
sudah masuk bui lebih dulu.
Begitulah sampai dekat lohor, ber-turut2 ketiga orang didalam sumur itu
barulah siuman kembali.
Orang pertama yang siuman adalah Giok-yan. Begitu sadar kembali, yang
per-tama2 teringat olehnya adalah Toan Ki. Meski saat itu adalah siang
bolong, tapi didasar sumur itu tetap sangat gelap, ia coba meraba dengan
tangannya dan dapat menyentuh Toan Ki, segera ia berseru: Toan-long, o,
Toan-long, ba... bagaimanakah dengan dirimu?
Karena tidak mendapat jawaban Toan Ki, Giok-yan menyangka pemuda itu
sudah mati dicekik Ciumoti, terus saja ia menangis sedih, ia angkat
majat Toan Ki dan merangkulnya dengan kencang didepan dada sambil
sesambatan: O, Toan-long, sedemikian baik dan setiamu kepadaku, tapi
selama ini aku belum pernah membalas apa2 padamu, baru saja kita
berharap akan hidup bahagia di-hari2 yang akan datang, siapa tahu...
siapa tahu jiwamu sudah melayang ditangan paderi jahat ini...
Ucapan nona ini hanya betul separoh saja, demikian tiba2 terdengar
Ciumoti menyela, rupanya iapun sudah sadar. Walaupun Lolap adalah paderi
jahat, tapi aku tidak membunuh Toan-kongcu.
Dan pada saat itu Toan Ki telah siuman juga. Ia mendengar ucapan
Giok-yan yang meresap itu bergema ditepi telinganya, ia menjadi girang.
Tiba2 ia merasa badannya sendiri berada didalam pelukan sinona, segera ia
pura2 masih belum sadar dan tak berani bergerak, kuatir kalau diketahui
Giok-yan dan dilepaskan sehingga tidak dapat lagi merasakan nikmatnya
dalam pelukan sang kekasih.
Dalam pada itu Ciumoti telah berkata: Kekasihmu itu tidaklah
kutewaskan, sebaliknya jiwaku yang hampir2 binasa ditangannya.
Air mata Giok-yan lantas bercucuran, sahutnya: Dalam keadaan begini
kau masih hendak mengapusi aku? Ketahuilah bahwa hatiku seperti disajat2,
lebih baik kaupun cekik mati aku saja agar aku dapat menyusul
Toan-long dialam baka.
Mendengar ucapan sinona yang tulus iklas dan meresap itu, sungguh
girang Toan Ki tak terkira.
Ciumoti sendiri meski sudah kehilangan tenaga murni, tapi pikirannya
masih sangat cermat, pengalamannya juga luas dan kenyang makan asamgaram,
dari suara napas Toan Ki yang pelahan tapi tertahan itu, segera ia
mengetahui pemuda itu sebenarnya sudah sadar, tapi sengaja diam saja,
maka iapun tahu maksudnya. Tiba2 ia menghela napas pelahan dan berkata:
Toan-kongcu, aku telah salah belajar ilmu sakti Siau-lim-pay sehingga
membikin celaka diriku sendiri, untung engkau telah menyedot tenaga
dalamku sehingga aku tidak sampai mati konyol seperti orang gila.
Sekarang meski ilmu silatku sudah punah, namun jiwaku telah selamat,
untuk ini aku harus mengucapkan terima kasih atas pertolonganmu.
Toan Ki adalah seorang yang rendah hati, demi tiba2 mendengar paderi
itu mengucapkan terima kasih padanya, tanpa merasa ia terus menjawab:
Ah, Taysu jangan merendah diri. Cayhe punya kepandaian dan kebaikan apa
sehingga berani dianggap telah menyelamatkan jiwa Taysu?
Giok-yan menjadi girang ketika mendadak mendengar Toan Ki sudah sadar
kembali, tapi ia lantas tercengang pula dan paham sebabnya pemuda itu
sengaja diam saja jalah agar dapat berada didalam pelukannya, keruan ia
menjadi girang2 malu, sekuatnya ia dorong pergi Toan Ki dan mencomel:
Uh, kau ini!
Toan Ki menjadi malu juga karena rahasianya terbongkar. Lekas2 ia
berbangkit dan bersandar didinding sebelah. Tiba2 ia ingat sesuatu dan
bertanya: He, dimanakah Buyung-kongcu?
Ha, aku menjadi lupa juga, dimanakah Piauko? sahut Giok-yan.
Sungguh girang Toan Ki melebihi mendapat warisan demi mendengar kata2
aku menjadi lupa juga. Padahal selama ini perhatian Giok-yan selalu
terpusat kepada Buyung Hok seorang, tapi sekarang walaupun sudah selang
hampir sehari toh nona itu tidak ingat kepada Buyung Hok, hal itu
menandakan bahwa dirinya sekarang sudah bertukar tempat dengan Buyung Hok
dilubuk hati sinona.
Tengah Toan Ki riang gembira, terdengar Ciumoti telah berkata: Sifat
Toan-kongcu sangat tulus dan jujur, rejeki dikemudian hari pasti
tiada takaran. Hari ini Lolap ingin mohon diri, rasanya kelak susah untuk
berjumpa pula. Disini ada satu jilid kitab, bila kelak Kongcu
kebetulan ada tempo, tolonglah kitab ini suka dikembalikan kepada Siaulim-
si. Semoga Kongcu berdua hidup bahagia sampai hari tua.
Habis berkata, segera ia menyerahkan kitab Ih-kin-keng kepada Toan Ki.
Apakah Taysu hendak pulang ke Turfan? tanya Toan Ki.
Mana suka, mungkin pulang kesana, mungkin tidak! sahut Ciumoti dengan
samar2. Lalu ia berbangkit, ia coba menarik tambang panyang yang
ditinggalkan kaum petani tadi dan ternyata cukup kencang, agaknya
ujung atas diikat dibatu karang. Dengan tambang itulah ia lantas
merambat keatas dan tinggal pergi.
Sekarang tinggal Toan Ki berhadapan dengan Giok-yan didalam sumur itu,
walaupun berada ditempat lumpur tapi hati mereka sangat senang, siapapun
tidak punya pikiran buat keluar dari sumur itu. Pelahan2 tangan kedua
orang sama2 menjulur kedepan, empat tangan saling menggenggam, dua
perasaan bersatu.
Lama dan lama sekali barulah Giok-yau berkata,"Toan-
long, apakah lehermu tidak terluka? Marilah kita
memeriksanya di luar sana.”
"Sedikit pun aku tidak merasa sakit, juga tidak perlu buru-
buru keluar dari sini." sahut Toan Ki.
"Jika engkau tidak suka keluar, biar aku mengiringimu di
sini." kata Giok-yan dengan suara mesra. Sekarang dia benar-
benar sudah jinak, sedikit pun tidak membangkang lagi.
Toan Ki menjadi rikuh sendiri, katanya dengan tertawa,
"Tapi engkau tentu tidak betah tinggal di tempat lumpur ini."
Segera ia merangkul pinggang si nona yang ramping itu,
dengan tangan kanan ia pegang tambang, hanya sedikit tarik
saja tahu-tahu tubuhnya sudah mumbul satu-dua meter
tingginya.
Toan Ki sangat heran. la tidak tahu bahwa tenaga dalam
Cumoti yang dikumpulkan selama hidup ini sekarang telah
tersedot semua ke dalam tubuhnya, sebaliknya ia menyangka
sesudah tidur semalam dan lagi bersama kekasih yang
menyenangkan maka tenaganya tambah kuat.
Sesudah keluar sumur, di bawah sinar sang surya
kelihatanlah tubuh mereka penuh Lumpur, mereka saling
pandang dengan tertawa geli. Segera mereka mencari suatü
sungai kecil dan rendam di situ sampai lama, barulah mereka
dapat membersihkan Lumpur yang memenuhi muka, rambut,
baju dan sepatu mereka.
Untung waktu itu hawa tidak terlalu dingin sehingga Giok-
yan tahan berendam dalam air. Kemudian mereka bersandar
dí batu karang di tepi sungai untuk mengeringkan baju yang
basah kuyup di badan mereka itu.
Di sinilah Toan Ki mengamat-amati wajah si nona yang
cantik bak bidadari itu dengan rasa bahagia yang tak
terperikan. Sudah tentü Giok-yan menjadi malu, segera ia
miringkan mukanya ke sini sana.
Begitulah kedua muda-mudi itu bicara mengada-ada untuk
menghilangkan waktu. Tanpa terasa harí sudah petang, tidak
lama kemudian sang dewi malam pun menongol dan pelahan
bergeser ke tengah cakrawala."
Tiba- tíba Toan Kí teringat kepada Buyung Hok, katanya.
"Adik Yan, sekarang cita-citaku telah terkabül, sebaliknya
Piaukomu sekarang sedang mengikuti sayembara perebutan
putri Se He, entah usahanya akan berhasil atau tídak?"
Biasanya bila Giok-yan ingat hal ini, seketika día berduka,
tapi sekarang perasaannya sudah berubah, ia pun agak rikuh
terhadap Buyung Hok dan sebaliknya berharap sang piauko
dapat memperistrikan putri Se He, maka cepat jawabnya, "Ya,
marilah kita lekas pergi melihatnya."
Buru-buru kedua orang itu pulang ke pondok mereka.
Ketika hampir sampai di depan pintu, tiba-tiba di temapt gelap
ada orang berkata, "Kiranya kal¡an pun sudah keluar!”
Jelas itulah suara Buyung Hok.
"Hé. engkau berada di sini?” balas Toan Ki dan Giok-yan
dengan gembira.
'Hm. baru saja menghajar dan membunuh belasan orang
Turfan sehingga tempoku banyak terbuang, " kata Buyung
Hok. "Eh, orang she Toan kenapa kamu tidak hadir sendiri
dalam perjamuan raja, sebaliknya menyuruh seorang nona
menyaru sebagai dirimu? Hm, aku tìdak nanti mem. . . .
membiarkan kau main licik, aku pasti akan bongkar rahasìamu
ini."
"Apa katamu?" sahut Toan Ki dengan heran. "Seorang
nona menyaru apa? Pada hakikatnya aku tidak tahu apa apa."
"Ya, Piauko, kami baru saja keluar dari sumur itu . . . “
hanya sekian Giok-yan bicara dan segera merasa ucapan ini
kurang jujur. Padahal sudah setengah harian ia main roman
dengan Toan Ki di tepi sungai, masakah bilang baru saja
keluar dari sumur sana.
Untung Buyung Hok rupanya sedang terburu-buru hendak
menuju ke istana raja untuk menghadiri perjamuan, maka ia
tidak memperhatikan ucapan Giok-yan dan keadaan
pakaiannya yang kusut itu.
Dalam pada itu Giok-yan berkata pula, "Dia . . . dia sudah
menyanggupi akan membantumu supaya engkau berhasil
merebut putrid Se He. Kalau aku mempunyai seorang tuan
putri sebagai Loso, sudah tentu aku juga ikut gembira."
Semangat Buyung Hok terbangkit, ia menegas, “Apa betul
ucapanmu?”
“Sudah tentu." sahut Toan Ki. "Engkau adalah piauko adik
Yan, terhitung piaukoku pula, Sekarang Piauko ada urusan
masakah pamili sendiri bias tinggal diam saja?”
Sungguh girang sekali Buyung Hok, Sesudah día keluar
dari sumur, di tengah jalan ía kepergok jago-Jago Turfan dan
terjadi pertempuran sengit walaupun menang akhirnya, tapi ia
pun sudah kehabisan tenaga. Ketika hampir sampai di
pondokan tiba-tiba dílihatnya Bok-Wan-jin dan rombongannya
sedang keluar, segera ia sembunyi di dekat situ untuk
mengawasi. Dan baru dia hendak mencari Tíng Pek-jwan dan
lain-lain untuk berunding, tiba-tiba dilihatnya Toan Ki dan
Giok-yan juga telah kembali, lalu ia menegur mereka.
Diam-diam Buyung Hok pikir pelajar tolol ini rupanya
benar-benar ingin memperistrikan piaumoai, dia adalah adik
angkat Siau Hong dan Hi-tiok, jika mereka benar-benar mau
membantu untuk mendapatkan putri Se He boleh tidak perlu
disangsikan lagi. Karena itu segera ia berkata, "Baiklah, waktu
sudah mendesak marilah lekas kita berangkat ke istana."
Di tengah jalan secara ringkas ia ceritakan penyamaran
Bok Wan-jing yang dilihatnya tadi. Maka Toan ki dapat
menerka sebagian apa maksud tujuan penyamaran Wan-jing.
Setiba di pondokan Buyung Hok, sudah tentu Ting-Pek-
jwan dan lain-lain sangat girang. Karena waktu sudah
mendesak buru-buru mereka ganti pakaian. Karena Giok-yan
tak mau berpisah lagi dengan Toan Ki, terpaksa Buyung Hok
membiarkan nona itu ikut dengan menyaru sebagai kaum
lelaki.
Buru-buru mereka berangkat ke istana. Setiba di sana
pintu istana ternyata sudah ditutup, terpaksa Buyung Hok
mencari akal, ia mengajak kawan-kawannya mengitar ke
samping istana, dari situ mereka lantas melompat melintasi
pagar tembok istana yang tinggi itu. Karena sekarang iwekang
Toan Ki sudah tambah hebat, maka dengan enteng dan
gampang sekali ia dapat melayang ke dalam lingkungan
istana.
Mereka terus mencari tempat perjamuan itu dengan ubek-
ubekan di taman. Kebetulan waktu itu perjamuan juga sudah
bubar dan para tamu diundang oleh putri Bun-gi Kongcu ke
Jing-hong-kok untuk untuk minum teh maka dapatlah
rombongan Toan Ki bertemu dengan rombongan Bok Wan-
jing . . . .
Begitu Siau Hong dan lain-lain menjadi girang melihat
Toan Ki sudah kembali dengan selamat. Dengan ikutnya Toan
Ki mereka tidak perlu kuatir rahasia akan terbongkar lagi.
Sesudah orang banyak menyusur lewat taman yang luas
itu, dari jauh tertampak sebuah gedung yang megah
menjulang di tengah pepohonan yang rindang. Setiba di
depan gedung itu. segera Helian Tiat-su berseru, "Para tamu
agung sudah tiba untuk bercengkerama dengan Kongcu!"
Ketika pintu terbuka, keluarlah empat dayang keraton yang
masing-masing membawa sebuah tenglong (lampu
barselubung kain), di belakang mereka adalah seorang
pembesar wanita berbaju ungu, katanya, "Atas kunjungan
para paduka, Kongcu menyilakan masuk untuk minum teh."
"Bagus, bagus! Memangnya aku sudah haus!” segera
Cong-can mendahului berteriak. Dan tanpa disilakan untuk
kedua kalinya, terus saja ia melangkah masuk ke dalam istana
dengan diikuti yang lain-lain dengan desak mendesak seakan-
akan kuatir tidak mendapatkan tempat yang baik yang lebih
dekat dengan sang putri.
Sesudah masuk di dalam istana itu, tertampak ruangan
sangat luas, lantai ruangan dilapisi permadani berbulu yang
berajutkan bunga beraneka warna dengan indah. Banyak meja
teh yang kecil teratur memanjang dalam beberapa baris, di
atas meja tertaruh mangkuk teh bertutup dan berwarna-warni,
setiap mangkuk bertutup itu didampingi pula sebuah piring
kecil berisi beberapa potongan panganan yang entah apa
namanya. Dan di depan sana tersedia sebuah bangku bundar
berkasur sulam yang indah.
Semua orang menduga bangku itu tentu tempat duduk
sang putri. Karena itu mereka saling berebutan mendapatkan
tempat duduk yang berdekatan dengan bangku bundar itu.
Hanya Toan Ki dan Giok-yan saja dengan bergandengan
tangan dan duduk dí suatu pojokan sambil bicara dengan
pelahan seakan-akan cerita mereka itu tidak habis-habis.
Sesudah semua orang mengambil tempat duduk,
kemudian pembesar wanita tadi mengetukkan sebuah palu
kecil pada sepotong "Hum-pan'' (tembikar serupa baki dipakai
penjual bakmi) setelah berbunyi “tok-tok-tok” tiga kali,
suasana dalam ruangan menjadi hening sampai Toan-Ki dan
Giok-yan juga terpaksa berhenti bicara dan menanti keluarnya
Bun-gi Kongcu, sang putri Se He.
Selang tidak lama, terdengarlah suara "kelintang-kelinting",
dari dalam muncul delapan dayang berbaju hijau, mereka
berdiri di kedua sisi. Sejenak pula seorang gadis jelita berbaju
hijau pupus keluar dengan langkah yang menggiurkan.
Seketika pandangan semua orang terbeliak, perawakan
gadis itu langsing ramping gerak-geriknya lemah-lembut,
mukanya sangat cantik pula.
Diam-diam semua orang bersorak memuji, "Orang
mengabarkan kecantikan Bun-gi Kongcu tiada bandingannya,
nyatanya memang bukan omong kosong.”
Pangeran Cong-can dan Buyung Hok mempunyai pikiran
yang sama, yaitu takkan merasa kecewa bila dapat
memperistrikan sang putri cantik itu.
Anehnya putri cantik itu tidak lantas düduk tapi ia maju ke
depan bangku bundar tadi dan memberi hormat kepada
semua orang.
Waktu putri itu masuk, semua orang berdiri untuk
menyambut, maka sekarang banyak pula yang mulutnya
berkecek-kecek memuji kecantikan sang putri. Sebaliknya putri
itu ternyata sangat prihatin, sinar matanya tidak berkelíaran,
matanya menatap ujung hidung sendiri, nyata seorang gadis
pingitan yang sangat sopan dan anggun. Karena itu semua
orang sampai tidak berani bernapas karas-keras, kuatir
membikin kaget sang putrì.
Sejenak kemudian, dengan muka kemerah-merahan
barulah putri itu berkata dengan pelahan, "Atas titah Tuan
Putri, para tamu agung disilahkan minum teh seadanya secara
bebas."
Semua orang saling pandang dengan terkesiap, Busyet jadi
gadis jelita ini bukan Tuan Putri sendiri, tampaknya hanya
seorang dayang príbadi putri saja, Dan segera terpikir pula
oleh mereka, jika dayangnya saja secantik ini, maka sang putri
entah betapa cantiknya.
"Kiranya engkau bukan Tuan Putri sendiri," Káta Cong-can
segerà, "jika begitu, harap lekas mengundang Tuan Putri
keluar.”
"Jika hadirin sudah minum Tuan Putri akan
mempermaklumkan sesuatu lagi,” ulas dayang cantik tadi.
“Bagus, bagus! Tuan Putri ada pesan, sudah tentu akan
menurut saja!"' seru Cong-can dengan tertawa. Dan segera ia
membuka tutup magnkuk yang berisi air teh itu, tanpa banyak
omong lagi ia tuang isi mangkuk itu ke dalam mulut dan
dikunyah.
Kiranya pada masa dahulu, menurut kebiasaan orang
Turfan, mereka menyeduh daun teh dicampur dengan susu
dan gula atau garam, kalau minum sekaligus daun teh juga
ikut dimamah dan dimakan ke dalam perut. Ini adalah
kebiasaan jadi bukan kelakuan kasar pangeran Cong-can.
Sambil masih mengunyah daun teh, segera pula Cong-Can
jejal-jejalkan beberapa potong panganan tadi ke dalam mulut,
lalu berkata, "Nah, aku sudah makan banyak, bolehlah
mengundang keluar sang putrimu!”
Dayang itu mengiakan saja, tapi tidak bergeser melangkah.
Cong-can tahu dia ingin tunggu orang lain selesai minum
baru mau pergi. Sudah tentu Cong-can menjadi gelisah dan
berulang-ulang mendesak orang lain agar lekas habiskan teh
dan makannya.
Dengan susah payah menunggu akhirnya selesai juga
hadirin makan minum, lalu Cong-can tanya pula, "Nah, jadi
sekarang?"
Kembali muka si dayang cantik merah jengah, sahutnya,
"Sekarang Tuan Putri mengundang hadirin berkunjung ke
ruang dalam untuk menikmati lukisan dan tulisan."
"Hah, buat apa melihat lukisan dan tulisan? Aku lebih suka
melihat Tuan Putrimu!” seru Cong-can. Tapi tidak urung ia ikut
berdiri juga bersama orang banyak.
Diam-diam Buyung Hok bergirang. "Sungguh sangat
kebetulan. Resminya sang putri mengundang kàmi menikmati
lukisan dan tulisan, tapi sesungguhnya hendak menguji
kepandaian sastra kami. Orang kasar sebagai pangeran Cong-
can itu sudah tentu tak becus tentang lukisan dan syair apa
segala. Kalau melulu menguji ilmü silat saja aku pun lebih
unggul daripada yang lain, apalagi sekarang sang putri hendäk
menguji kapändaian sastra, tentu saja kemenanganku menjadi
lebih meyakinkan lagi."
Begitulah dengan berseri-seri segera ia pun berdiri dan
siap ikut dayang tadi ke ruangan dalam.
Tapi mendadak dayang itu berkata pula, “Menurut titah
Tuan putri, para nona yang menyamar sebagai lelaki dan para
tuan yang berusia lebih 40 tahun, semüanya disilahkan tinggal
dì istana Guh-hiang-wan ini untuk minum lagi. Sedang hadirin
lain boleh ikut masuk ke ruang dalam.”
Sungguh kejut sekali Bok Wan-jing dan Ong Giok-yan
ternyata penyamaran mereka sejak tadi sudah diketahui
orang.
Tiba-tiba terdengar seruan seorang, “Bukan! Bukan!”
Kembali muka si dayang bersemu merah, rupanya selama
hidup ini dia selalu terkurung di tengah istana selain kaum
Thai-kam (dayang lelaki kebiri , orang kasim), selamanya tak
pernah bertemu dengan kaum lelaki yang sesungguhnya.
Sekarang mendadak berhadapan dengan kaum lelaki
sebanyak ini, sudah tentu ia menjadi kikuk dan grogi.
Jilid 80
Karena didasar sumur itu gelap gulita, dengan sendirinya satu-sama-lain
takbisa melihat dengan jelas. Giok-yan hanya tersenyum saja dan tidak
bicara pula. Dalam hati iapun sangat bahagia dan gembira. Sejak kecil
ia kesemsem kepada sang Piauko, tapi tidak mendapat balas cinta
sebagaimana mestinya dan baru sekarang ia benar2 dapat menikmati rasa
cinta kasih antara dua hati yang terjalin menjadi satu.
No... nona Ong, apa sih yang... yang kau katakan diatas tadi, aku tidak
mendengar ucapanmu itu, tanya Toan Ki dengan ter-gagap2.
Kukira engkau adalah seorang lelaki jujur dan tulus, tak terduga kau
juga pintar pura2, sahut Giok-yan dengan tersenyum. Sudah terang kau
telah mendengar apa yang kukatakan tadi, tapi sekarang kau minta aku
mengulangi sekali lagi didepanmu. Idiiih, malu ah, aku takmau katakan
lagi.
Toan Ki menjadi gugup, ia coba menjelaskan: Ti... tidak aku be...
benar2 tidak mendengar apa yang kau katakan tadi. Nah, biar aku
bersumpah, jika aku mendengar, biarlah aku di... Sampai disini
mendadak mulutnya tertutup oleh sebuah tangan yang hangat2 halus. Nyata
Giok-yan telah mendekap mulutnya.
Kalau memang tidak mendengar ja sudah, kenapa mesti pakai bersumpah apa
segala, demikian kata sinona.
Sungguh girang Toan Ki melebihi tadi. Sejak dia kenal Giok-yan, belum
pernah ia diperlakukan sedemikian baiknya oleh nona itu. Maka ia lantas
tanya pula: Habis, apa sih yang kau katakan diatas sumur tadi?
Aku bilang... tapi mendadak Giok-yan merasa serba kikuk dan urung
meneruskan. Ia belokkan kejurusan lain. Biarlah kuterangkan lain kali
saja. Toh hari depan kita masih cukup panyang, buat apa mesti terburu2.
Hari depan kita masih cukup panyang, buat apa mesti ter-buru2! kata2
ini benar2 seperti wahju malaikat dewata yang jatuh dari langit baginya.
Makna daripada kata2 itu sudah terang menyatakan bahwa untuk selanjutnya
Giok-yan akan selalu hidup berdampingan dengan dia.
Namun Toan Ki masih ragu2 atas pendengarannya sendiri, ia masih
menegas: Kau... kau maksudkan untuk seterusnya kita akan selalu berada
bersama?
Giok-yan merangkul leher Toan Ki dan ber-bisik2 ditepi telinganya:
Toan-long, asal kau tidak mencela diriku, tidak marah padaku karena
tempo hari aku telah bersikap dingin padamu, maka untuk selama hidup ini
aku rela ikut bersama kau dan takkan... takkan meninggalkan dikau pula.
Jantung Toan Ki hampir2 meloncat keluar dari mulutnya saking kerasnya
berdebar. Ia tanya pula: Habis bagaimana dengan Piaukomu? Selama ini kau
sangat suka padanya.
Ja, tapi toh dia tidak pernah memperhatikan diriku, sahut Giok-yan. Dan
baru sekarang aku tahu siapakah gerangan orang didunia ini yang benar2
mencintai aku dan mengasihi aku, siapa yang telah memandang diriku lebih
berharga daripada jiwanya.
Kau maksudkan aku? tanya Toan Ki.
Siapa lagi kalau bukan kau, sahut Giok-yan. Tiba2 ia menangis, katanya
pula: Selama hidup Piaukoku itu selalu bermimpi akan menjadi raja Yan.
Tapi maklum juga, sejak turun temurun keluarga Buyung mereka memang
sudah mempunyai cita2 yang muluk2 itu. Sebenarnya Piauko bukan seorang
jahat, dia cuma kepingin menjadi raja, maka segala urusan lain telah
dikesampingkan olehnya.
Mendengar nada sinona ada maksud membela dan mengecilkan kesalahan
Buyung Hok, kembali Toan Ki berkuatir pula. Tanyanya cepat: Nona Ong,
andaikan kelak Piaukomu menginsafi keselahannya dan tiba2 membaiki kau
lagi, lan... lantas bagaimana kau?
Toan-long, sahut Giok-yan dengan menghela napas. Meski aku adalah
seorang wanita bodoh, tapi sekali2 bukan manusia yang bermartabat rendah.
Hari ini aku sudah mengikat janji dengan kau, jika kelak aku berbuat
hal2 yang tidak baik, bukankah akan merusak nama baikku sendiri? Apakah
aku tidak merasa berdosa terhadap cintamu yang murni kepadaku?
Toan Ki kegirangan mendapat jawaban itu, ia berseru gembira, segera ia
angkat sedikit kepala sinona, dia sendiri lalu menunduk hendak mencium.
Dengan malu2 Giok-yan menyambutnya dengan mesra dan empat bibir lantas
terkatup menjadi satu. Tapi baru kepalang-tanggung, se-konyong2 dari
atas terdengar suara menyambarnya sesuatu benda besar yang jatuh
kebawah.
Keruan kedua orang terkejut dan cepat menyisih ketepi dinding. Maka
terdengarlah suara bluk yang keras, sesosok tubuh telah jatuh kedasar
sumur itu.
Siapa itu? tanya Toan Ki.
O, akulah! sahut orang itu yang ternyata adalah Buyung Hok.
Rupanya sesudah Toan Ki sadar kembali, dia lantas roman dengan Giok-yan
sehingga keduanya lupa daratan se-akan2 hidup didunia sendiri, andaikan
saat itu langit akan ambruk atau bumi meledak tentu juga takkan terpikir
oleh mereka. Dengan sendirinya pertarungan sengit antara Ciumoti dan
Buyung Hok yang diatas sumur tadi juga tak mereka pedulikan. Sekarang
demi mendadak Buyung Hok jatuh kedalam sumur, barulah kedua orang itu
kaget dan menyangka Buyung Hok sengaja datang hendak mengganggu janji
setia mereka.
Segera Giok-yan berkata dengan suara gemetar: Piau... Piauko, kau mau
apalagi datang pula ke... kesini? Hidupku ini sekarang sudah kupasrahkan
kepada Toan-kongcu, jika engkau mau membunuh dia, bolehlah kau membunuh
aku sekalian.
Sungguh girang sekali Toan Ki mendengar pernyataan tegas Giok-yan itu.
Mestinya dia tidak kuatir dirinya dibunuh Buyung Hok, yang dikuatirkan
adalah Giok-yan akan terbujuk dan kembali lagi kepangkuan Piaukonya.
Tapi sesudah mendengar ucapan Giok-yan itu, seketika legalah hatinya. Ia
merasa pula sinona telah menjulurkan tangannya untuk menggenggam kedua
tangan sendiri, hal ini makin menambah kepercajaannya, segera ia
berkata: Buyung-kongcu, kau boleh pergi menjadi Huma kerajaan Se He,
aku tak nanti berebutan dengan kau, bahkan aku akan membantu
terlaksananya cita2mu itu. Adapun Piaumoaymu ini sudah menjadi milikku,
kau takkan dapat merebutnya lagi. Giok-yan, betul tidak katamu?
Betul, sahut Giok-yan. Biar mati atau hidup aku sudah pasti akan ikut
kau.
Karena Hiat-to tertutuk, maka Buyung Hok dapat mendengar dan bicara,
cuma takbisa bergerak. Diam2 ia memikir: Mereka berdua belum mengetahui
aku telah dikalahkan Ciumoti dan dalam keadaan tak berkutik, maka mereka
masih sangat jeri padaku, kuatir kalau aku membikin susah mereka. Ja,
hal ini akan menguntungkan diriku, biarlah aku melakukan tipu mengulur
tempo pula.
Maka ia lantas berkata: Piaumoay, sesudah kau menjadi isteri Toankongcu,
maka kita sudah terhitung pamili sendiri. Toan-kongcu adalah
adik iparku, masakah aku tega mencelakai dia lagi?
Dasar Toan Ki memang seorang jujur dan polos, sedang Giok-yan masih
hijau, maka mereka percaja penuh kepada ucapan Buyung Hok itu, dalam
girangnya mereka lantas mengucapkan terima kasih.
Lalu Buyung Hok berkata pula: Toan-hiante, sekarang kita sudah orang
sekeluarga, kalau aku pergi menjadi Huma kerajaan Se He, maka kau
takkan merintangi lagi bukan?
Sudah tentu, sahut Toan Ki cepat. Asal aku dapat memperisterikan
Piaumoaymu, maka tiada cita2ku yang lain lagi, biarpun aku dijadikan
malaikat dewata juga aku tidak mau.
Pelahan2 Giok-yan menggelendot dibahu Toan Ki, girangnya tak
terkatakan.
Dalam pada itu diam2 Buyung Hok coba mengerahkan tenaga dalamnya untuk
membujarkan Hiat-to yang tertutuk Ciumoti tadi. Karena seketika susah
dipunahkan, pula tidak sudi minta pertolongan, maka ia hanya menggerutu
didalam hati: Dasar sifat kaum wanita memang gampang terpengaruh dan
mudah berganti cinta, buktinya memang betul seperti Piaumoay sekarang
ini. Kalau dia ingat kebaikanku, tentu dia sudah mendekati dan
membangunkan aku.
Dia mencerca orang lain, tapi lupa dirinya sendiri yang tak berbudi
sehingga Giok-yan merasa putus asa dan hendak bunuh diri. Padahal tempat
didasar sumur itu luasnya kira2 cuma dua-tiga meter, jarak mereka satusama-
lain sebenarnya sangat dekat, asal Giok-yan melangkah satu tindak
saja sudah dapat mencapai Buyung Hok. Tapi dia merasa jeri, kuatir
kalau Buyung Hok bertipu muslihat dan membikin celaka Toan Ki. Selain
itu iapun takut menimbulkan rasa curiga Toan Ki, maka sejak tadi
selangkahpun Giok-yan tidak berani sembarangan bergerak.
Begitulah, karena pikirannya bingung, maka untuk membuka Hiat-to yang
tertutuk menjadi tambah susah. Sedapat mungkin Buyung Hok coba
tenangkan diri, lalu pelahan2 membuka jalan darah yang tertutuk itu. Dan
baru saja dia dapat bergerak dan mulai berdiri, plok tiba2 ada sesuatu
benda jatuh disebelahnya. Nyata itu adalah Ih-kin-keng yang terlepas
dari baju Ciumoti. Dan karena keadaan gelap gulita, Buyung Hok segera
menyingkir kesamping untuk menjauhi benda yang jatuh itu. Dan untung
karena dia menggeser minggir, maka waktu kemudian Ciumoti melompat turun
tidak sampai menjatuhi tubuhnya.
Kembali tadi. Sesudah Ciumoti dapat menemukan kembali Ih-kin-keng,
saking senangnya ia terus ter-bahak2. Karena luang sumur itu sangat
sempit, maka kumandang suara tertawanya itu sampai men-dengung2 memekak
telinga Toan Ki.
Dan karena tertawanya itu, ternyata Ciumoti tak mampu menghentikan
pula bergolaknya hawa murni yang semakin hebat dan makin melembung
rasanya, pikirannya menjadi kacau, seketika ia menjadi seperti orang
gila, ia menghantam dan menendang serabutan dikumbangan lumpur itu. Dan
sudah tentu serangan2 yang ngawur itu selalu mengenai dinding sumur,
terkadang sangat keras sehingga batu pecah dan debu pasir bertebaran,
tapi terkadang sangat lemah, sedikitpun tak bertenaga.
Giok-yan sangat takut, dengan kencang ia memepet disisi Toan Ki,
bisiknya pelahan: Dia sudah gila, dia sudah gila!
Ja, rupanya dia benar2 sudah gila, sahut Toan Ki.
Sementara itu kebebasan bergerak Buyung Hok sudah pulih kembali, untuk
tidak terkena serangan Ciumoti, segera ia gunakan ilmu cecak merajap
untuk merajap keatas dan menggemblok didinding sumur.
Ciumoti masih terus tertawa dan napasnya juga semakin ter-sengal2,
sebaliknya pukulan dan tendangannya tambah cepat.
Taysu, lebih baik kau duduk saja dan istirahat dengan hati tenang
saja! demikian Giok-yan coba membujuk dengan tabahkan hatinya.
Hahahahaha! Aku takmau! seru Ciumoti sambil ter-bahak2, bahkan ia
terus mencengkeram kearah Giok-yan. Ditempat yang sempit itu, dengan
sendirinya susah bagi Giok-yan untuk menghindar, keruan cengkeraman
Ciumoti itu sudah sampai diatas pundak sinona.
Dengan menjerit kaget lekas2 Giok-yan mengegos. Sedang Toan Ki terus
menggeser maju untuk mengadang didepan sinona, serunya: Kau sembunyi
dibelakangku saja.
Dan pada saat itu juga kedua tangan Ciumoti sudah merangsang maju
lagi dan dengan tepat mencekik leher Toan Ki. Seketika Toan Ki merasa
napasnya menjadi sesak dan takbisa membuka suara.
Giok-yan sangat kuatir, lekas2 ia bantu menarik tangan Ciumoti. Tapi
waktu itu Ciumoti sudah dalam keadaan kalap, meski hawa murninya
bergolak dan susah dikendalikan, tapi tenaga cekikan itu ternyata sangat
kuat. Sudah tentu Giok-yan hanya seperti menarik kecapung menghinggap
ditiang batu saja, sedikitpun takdapat mengendurkan tangan Ciumoti yang
mencekik Toan Ki itu.
Kuatir kalau Toan Ki tercekik mati, saking bingungnya Giok-yan terus
ber-teriak2: Piauko, Piauko, lekas kau menolongnya. Hwesio ini hendak
mencekik mati Toan-kongcu!
Untuk sejenak Buyung Hok menjadi ragu2. Pikirnya: Pemuda she Toan ini
menyatakan hendak membantu aku menjadi Huma kerajaan Se He, tapi entah
omongannya dapat dipercaja atau tidak. Dia pernah mengalahkan aku di
Siau-sit-san sehingga nama keluarga Buyung kami runtuh habis2-an dan
kehilangan muka didepan orang banyak, sekarang dia terancam bahaja, buat
apa aku mesti menolong dia? Apalagi ilmu silat paderi ini sangat tinggi
dan sudah bagiku untuk menandingi dia, biarlah mereka berdua mati konyol
dalam pertarungan mereka, kukira jalan ini paling selamat bagiku.
Karena itu, ia semakin kencang memegang celah2 dinding sumur itu dengan
memasuki jarinya dan tidak mau turun untuk membantu, biar Giok-yan berteriak2
minta tolong sampai suaranya serak, tetap Buyung Hok tidak peduli
dan anggap tidak mendengar.
Sementara itu mata Toan Ki tampak sampai mendelik, keruan Giok-yan
tambah kuatir, ia gunakan kepalan untuk menghantam kepala dan punggung
Ciumoti sambil ber-teriak2. Sudah tentu Ciumoti tidak merasakan
pukulan2 sinona, ia hanya ngos2-an napasnya sambil ter-bahak2 pula,
berbareng masih terus mencekik leher Toan Ki dengan sekuatnya...
Kembali berceritakan rombongan Siau Hong dan lain2.
Pagi itu Pah Thian-sik dan Cu Tan-sin menjadi sibuk karena kehilangan
Toan Ki dan Giok-yan.
Wah, pangeran cilik kita ini memang mirip ajahandanya, di-mana2 suka
main roman, tentu tengah malam dia telah kabur bersama nona Ong dan entah
kemana perginya, demikian kata Tan-sin.
Ja, pangeran cilik kita orangnya ganteng dan romantis, lebih suka
wanita daripada tahta, sahut Thian-sik. Dia jatuh hati kepada nona Ong,
hal ini telah diketahui semua orang. Kalau suruh dia menjadi Huma
kerajaan Se He, ai, kukira sulit. Apalagi sifat pangeran kita ini sangat
kepala batu, dahulu Sri Baginda ingin dia belajar silat, tapi dia tetap
membangkang dan tidak mau, kalau dipaksa, dia lantas minggat dari istana.
Tiada jalan lain, terpaksa kita mencarinya dan membujuknya sedapat
mungkin, ujar Tan-sin.
Pah-heng, kata Tan-sin pula. Aku jadi ingat kejadian dahulu, ketika
pangeran cilik kita minggat dari istana. Siaute dititahkan Ongya untuk
mencarinya, dengan susah pajah akhirnya lantas aku dapat menemukan dia,
siapa duga... sampai disini ia lantas bisik2: siapa duga dia telah
kesemsem kepada nona Bok Wan-jing ini, dan seperti sekarang, ditengah
malam buta merekapun diam2 mengelojor kabur. Untung Siaute sudah menjaga
ditengah jalan sehingga dapat mempergoki mereka.
Wah, jika begitu, maka sekarang inipun salahmu, seru Thian-sik. Kau
sudah berpengalaman, kenapa kejadian dahulu itu boleh terulang lagi?
Bukankah semalam kita harus berjaga secara bergiliran untuk mengawasi
gerak-gerik mereka?
Tan-sin menghela napas gegetun, katanya: Aku mengira dia pasti akan
ingat hubungan baiknya dengan Siau-tayhiap dan Hi-tiok Siansing dan tidak
nanti tinggal pergi begitu saja, siapa tahu... siapa tahu... Mestinya
dia hendak mengatakan siapa tahu pangeran kita ternyata lebih
mementingkan wanita daripada persahabatan,. Tapi kata2 yang tidak pantas
diucapkan kaum bawahan kepada junjungannya ini urung dilontarkan.
Begitulah karena tak berdaja lagi, terpaksa kedua orang itu melaporkan
apa yang terjadi kepada Siau Hong dan Hi-tiok. Segera para kawan
dikerahkan untuk mencari, tapi sudah dicari ubek2an selama sehari,
tetap bajangan Toan Ki dan Giok-yan tak diketemukan.
Malam itu semua orang berkumpul dikamarnya Toan Ki yang kosong itu
untuk berunding. Dan sudah tentu mereka tidak memperoleh sesuatu akal
yang baik untuk mencari pemuda itu.
Tengah mereka bingung, tiba2 bagian protokol kerajaan Se He mengutus
seorang untuk menemui Pah Thian-sik dan memberitahukan bahwa besok malam
hari Tiongchiu baginda raja akan mengadakan perjamuan besar diistana
Se-hwa-koing untuk menghormati para tamu yang datang dari berbagai
penjuru, maka pangeran Tayli itu diharap suka hadir.
Sudah tentu Pah Thian-sik takdapat mengatakan lenyapnya Toan Ki, ia
hanya menyanggupi saja undangan itu.
Utusan itu pernah disuap oleh Pah Thian-sik, maka sikapnya sangat baik,
waktu hampir berpisah, tiba2 ia membisiki Thian-sik pula: Pah-loheng,
biarlah aku memberi info padamu. Dalam perjamuan Sri Baginda besok
malam, disitu juga Sri Baginda akan mengamat-amati gerak-gerik dan
tampan dan kepandaian para tamu calon menantu raja itu. Sesudah
perjamuan boleh jadi akan diadakan perlombaan membuat sjair dan
bersajak, atau mungkin juga memanah dan bertanding silat untuk
menentukan siapa yang sesuai untuk menjadi pasangan Tuan Puteri kami.
Maka besok malam ialah kunci utama bagi sukses tidaknya usaha para
calon, untuk mana diharapkan Toan-kongcu suka memperhatikan.
Ber-ulang2 Pah Thian-sik mengucapkan terima kasih, berbareng ia
mengeluarkan sepotong uang emas dan dijejalkan ketangan utusan itu.
Setiba kembali didalam kamar, segera Thian-sik memberitahukan info yang
baru didapat itu. Katanya pula: Tin-lam-ong telah memberi pesan dengan
wanti2 agar Pangeran cilik kita harus membawa pulang puteri Se He. Kalau
tugas yang diserahkan pada kami ini gagal, maka kami sungguh malu untuk
menemui Ongya lagi.
Tiba2 Tiok-kiam mengikik tawa lalu berkata: Pah-loya, apa boleh hamba
ikut bicara sedikit?
Silakan, sahut Thian-sik.
Sebabnya ajah baginda Toan-kongcu mengharuskan dia menikah dengan
puteri Se He, maksud tujuannya kan ingin besanan dengan kerajaan Se He
untuk memperkuat kedudukan kerajaan Tayli mereka, bukan? tanya Tiokkiam.
Benar, jawab Thian-sik.
Adapun mengenai puteri Se He itu akan secantik bidadari atau sejelek
setan takkan dipikir oleh Toan-ongya, bukan? ganti Kiok-kiam yang
bertanya.
Ja, tetapi sebagai Tuan Puteri yang diagungkan, sekalipun tidak
secantik bidadari, paling tidak toh juga akan punya roman muka yang
lumajan, ujar Tan-sin.
Nah, sekarang kami ada suatu akal, asal puteri Se He dibojong pulang ke
Tayli, maka soal Toan-kongcu akan diketemukan dalam waktu singkat atau
tidak menjadi takkan merupakan soal lagi, sekarang Bwe-kiam yang
berkata.
Dan Lan-kiam juga tidak ketinggalan, katanya: Nanti, kalau Toankongcu
sudah bosan pesiar ke-mana2 dengan nona Ong, lewat setahun atau
dua tahun, tentu dia akan pulang sendiri ke Tayli, tatkala mana juga
belum terlambat untuk minta dia melangsungkan pernikahan dengan puteri Se
He.
Heran dan girang pula Thian-sik dan Tan-sin, kata mereka berbareng: He,
akal para nona ini benar2 sangat baik, coba jelaskan lagi.
Segera Bwe-kiam bicara lebih dulu: Sekarang kalau kita minta nona Bok
menyamar sebagai seorang pemuda pelajar, bukankah akan jauh lebih
tampan daripada Toan-kongcu. Lalu kita minta nona Bok suka menghadiri
perjamuan raja Se He besok malam, kukira tiada seorangpun diantara beribu2
tetamu itu mampu menandingi ketampanannya.
Ja, nona Bok adalah adik perempuan Toan-kongcu, demikian Lan-kiam
menyambung. Kalau adik perempuan mewakilkan kakaknya mengambil isteri
demi kepentingan negara serta untuk memenuhi tugas atas perintah ajah,
bukankah jalan ini boleh dikata sekali tepok beberapa laler?
Dan bila nona Bok sudah terpilih sebagai Huma, untuk melangsungkan
upacara pernikahan tentu masih cukup lama waktunya, dalam pada itu
Toan-kongcu tentu sudah dapat diketemukan, demikian Tiok-kiam
menambahkan.
Ja, andaikan Toan-kongcu tetap belum diketemukan, tiada halangannya
juga kalau nona Bok mewakilkan kakaknya melangsungkan pernikahan,
akhirnya Kiok-kiam menutup usul mereka. Lalu keempat dara itu lantas
tertawa cekikikan.
Dasar anak kembar empat, maka pikiran mereka sama, lagak-lagu merekapun
sama, tertawa sama, diwaktu bicara juga sama dan entah apalagi yang
sama...
Untuk sejenak Pah Thian-sik dan Cu Tan-sin hanya saling pandang
saja. Mereka merasa usul dara2 itu terlalu sembrono, kalau sampai
konangan, tentu urusan akan runyam, bukan saja gagal mengikat perbesanan
dengan Se He, bahkan bukan mustahil raja Se He akan mengamuk dan
menyatakan perang kepada Tayli.
Rupanya Bwe-kiam dapat menerka apa yang dipikirkan Thian-sik berdua,
segera ia berkata pula: Sebenarnya Toan-kongcu toh mempunyai saudara
angkat sebagai Siau-tayhiap dan mestinya tidak perlu mencari sandaran
kepada Se He, cuma Tin-lam-ong telah memberi perintah sehingga terpaksa
mesti diturut. Dan kalau terjadi apa2, Siau-tayhiap adalah Lam-ih Tayong
dari kerajaan Liau dengan kekuatan militer yang dahsjat, asal beliau
mau ikut bicara, maka segala persoalan tentu dapat diatasi, tidak nanti
raja Se He berani main gila kepada kerajaan Tayli.
Sebagai seorang menteri yang dipercaja dan ikut memegang pemerintahan,
sudah tentu Pah Thian-sik bukan seorang bodoh. Mengenai Siau Hong dapat
dijadikan bala bantuan kerajaan Tayli, hal ini memang sudah didalam
perhitungannya. Cuma saja dia merasa tidak enak untuk mengucapkan
sendiri. Kini demi mendengar ucapan Bwe-kiam itu dan Siau Hong juga
mengangguk, maka semangatnya seketika terbangkit. Pikirnya: Usul keempat
dara cilik ini tampaknya seperti permainan anak kecil, tapi selain
jalan ini sesungguhnya juga tiada cara lain, hanya nona Bok entah suka
menerima dan mau menyerempet bahaja atau tidak?
Karena itu, segera ia sengaja berkata: Usul nona2 ini memang akal
sangat bagus, tapi pelaksanaannya benar2 terlalu berbahaja. Pabila sampai
konangan penyamaran nona Bok nanti, tentu ada kemungkinan nona Bok akan
tertawan, apalagi disitu hadir kesatria2 dari segenap penjuru, dalam hal
orangnya sudah tentu nona Bok adalah paling tampan, tapi kalau mesti
bertanding silat dan mengalahkan mereka, wah, ini agak kurang mejakinkan.
Seketika pandangan semua orang lantas beralih kepada Bok Wan-jing dan
ingin tahu bagaimana pendiriannya.
Maka berkatakan Wan-jing: Pah-siansing, kau tidak perlu memancing aku
dengan kata2mu itu, soalnya engkohku... engkohku itu... hanya sampai
disini, mendadak air matanya lantas bercucuran dan tidak sanggup
meneruskan lagi.
Rupanya telah terjadi pertentangan batinnya, teringat olehnya apa yang
dilakukan Toan Ki dengan Giok-yan sekarang adalah mirip dengan kejadian
Toan Ki dalam perjalanan bersama dirinya diwaktu dahulu, coba kalau
pemuda itu bukan kakaknya sendiri, tentu pemuda itupun takkan mengingkar
janji. Tapi sekarang Toan Ki sedang ber-cumbu2an dengan nona lain,
sebaliknya dia sendiri hidup kesepian disini, bahkan para kambrat
kerajaan Tayli malah minta dia berjoang baginya.
Dasar watak Bok Wan-jing memang takmau kalah, dikala pikirannya pepet,
mendadak ia angkat meja didepannya sehingga terbalik, seketika mangkokpiring
pecah berantakan, lalu ia melompat keluar.
Semua orang saling pandang dengan bingung dan merasa kurang senang
pula. Yang paling menyesal adalah Pah Thian-sik, katanya: Semuanya adalah
salahku. Jika aku memohonnya dengan kata2 halus paling2 nona Bok cuma
menolak saja permintaanku, tapi karena aku telah sengaja memancingnya
dengan kata2 yang menyinggung perasaannya, maka dia menjadi marah2.
Begitulah, besoknya semua oran gmasih terus berusaha menemukan Toan Ki,
didalam kota tampak sangat ramai dengan hilir-mudiknya pemuda2 gagah dan
perlente, mungkin sebagian besar akan ikut dalam perjamuan malaman
Tiongthjiu dalam istana raja nanti.
Sampai petang semua orang telah pulang dan Toan Ki tetap tidak
diketemukan. Maka berkatalah Siau Hong: Jika Samte sudah pergi dari
sini, maka beramai2 kitapun boleh pulang saja, tak peduli siapa yang
akan menjadi Huma nanti, semuanya tiada sangkut-pautnya dengan kita.
Ja, ucapan Siau-tayhiap memang benar, supaja kita tidak menyaksikan
orang lain menjadi Huma dan menimbulkan rasa penasaran, ujar Thian-sik.
Eh, Cu-siansing, kau sendiri sudah beristeri belum? demikian tiba2
Ciong Ling tanya kepada Cu Tan-sin. Jikalau Toan-kongcu tidak mau
menjadi Huma, kenapa bukan kau saja yang magang? Eh, siapa tahu kalau
kau akan dianugerahi puteri Se He yang cantik itu, jika demikian,
bukankah juga akan banyak manfaatnya bagi kerajaan Tayli?
Tan-sin tertawa, sahutnya: Ai, nona Ciong ini suka berkelakar saja.
Sudah lama aku punya isteri dan punya selir, banyak pula putera-puteriku,
mana boleh aku ikut2 berlomba berebut puteri seperti kaum muda mereka?
Ciong Ling melelet lidah dan tidak bicara lagi.
Sebaliknya Cu Tan-sin lantas menambahi lagi dengan tertawa: Ja, sayang
wajah nona Ciong sendiri masih terlalu muda, pipimu dekik pula dan
tidak mirip orang lelaki, kalau tidak, wah, tentu kau dapat mewakilkan
engkohmu untuk mengikuti sajembara itu...
Apa? Mewakilkan engkohku? Ciong Ling menegas.
Tan-sin merasa telah kelepasan mulut. Tapi dalam hatinya membatin:
Memangnya kau adalah puteri Tin-lam-ong dari hubungan yang tidak sah,
peristiwa yang masih dirahasiakan ini tidak boleh sembarangan kukatakan.
Pada saat itulah tiba2 terdengar seorang berkata diluar kamar sana:
Pah-siansing, Cu-siansing, marilah kita boleh berangkat sekarang!
Dan dimana kerai tersingkap, masuklah seorang pemuda yang ganteng dan
tampan. Siapa lagi dia kalau bukan Bok Wan-jing yang telah menyamar
sebagai pemuda pelajar.
Keruan semua orang terkejut dan bergirang pula, kata mereka: He, apa
nona Bok sudah bersedia pergi?
Tapi Bok Wan-jing lantas menjawab: Cayhe she Toan bernama Ki, adalah
putera pangeran Tin-lam-ong dari Tayli, diharap ucapan kalian sukalah
hati2.
Walaupun suaranya nyaring merdu sebagai suara wanita, tapi banyak juga
pemuda pelajar yang bersuara lemah-lembut, maka tidak perlu diherankan.
Karena merasa Bok Wan-jing dapat menirukan lagak-lagu Toan Ki, maka
tertawalah semua orang.
Rupanya sesudah marah2 sebentar dan pulang kekamarnya dengan menangis,
besok paginya setelah di-pikir2 pula, ia merasa tidak enak telah berlaku
kasar dihadapan orang banyak, pula ia merasa tertarik juga jika dia
menyamar sebagai Toan Ki untuk ikut berebut puteri Se He dengan jago2
lain. Dalam hati kecilnya lapat2 merasa: Kau (maksudnya Toan Ki) ingin
menikah dan hidup bahagia dengan nona Ong, tapi aku justeru sengaja
mewakilkan kau mengambil seorang Tuan Puteri untuk isterimu, biar hidupmu
kelak selalu cekcok diantara dua isteri, dengan begini barulah kau tahu
rasa.
Kemudian teringat pula olehnya waktu dia datang kekota Tayli dahulu,
dimana ajah Toan Ki juga dihadapkan pada masalah isteri dan kekasih lain
sehingga membuatnya serba salah dan kikuk, kalau sekarang Toan Ki juga
mempunyai seorang isteri Tuan Puteri secara resmi, maka Giok-yan tentu
takkan berhasil menjadi isterinya yang sah.
Begitulah jalan pikiran kaum wanita. Kalau dia sendiri tidak bisa
menjadi isterinya Toan Ki, maka diapun tidak mengijinkan seorang gadis
lain dapat hidup bahagia sebagai istennya. Makin dipikir makin senang,
maka dia lantas mengambil keputusan dan bersedia menyamar sebagai Toan Ki.
Dengan demikian, maka cepat2 Pah Thian-sik dan lain2 lantas ber-gegas2
menyiapkan segala sesuatu yang perlu untuk berangkat menghadiri
perjamuan raja.
Tiba2 Wan-jing berkata: Siau-toako dan Hi-tiok Jiko, bila kalian sudi
ikut aku pergi bersama, aku keperjamuan itu, maka segala apa aku takkan
takut lagi. Kalau tidak, apabila terjadi pertempuran, mana aku mampu
melawan orang. Didalam istana rasanya juga tidak pantas aku sembarangan
membidikan panah berbisa untuk membunuh musuh.
Baiklah, aku dan Jite sudah dipesan oleh paman Toan, sudah tentu kami
akan membantu sekuat tenaga, sahut Siau Hong dengan tertawa.
Segera semua orang berdandan seperlunya untuk ikut pergi. Siau Hong dan
Hi-tiok menyaru sebagai pengiring dari kerajaan Tayli. Ciong Ling dan
Bwe-kiam berempat saudara mestinya ingin ikut juga dengan menyamar
sebagai lelaki, tapi Pah Thian-sik telah mencegah mereka agar jangan
ikut, untuk menjaga penyamaran Bok Wan-jing saja susah, apalagi kalau
ditambah penyamaran mereka berlima, tentu rahasia mereka akan terbongkar.
Karena itu, terpaksa Ciong Ling dan lain2 menurut.
Sesudah rombongan mereka berada ditengah jalan, tiba2 Pah Thian-sik
berseru: Ai, hampir2 membikin urusan menjadi runyam. Bukankah Buyung Hok
itupun akan hadir dan ikut berebut menjadi Huma, dia kenal baik pada
Toan-kongcu, lantas bagaimana nanti?
Siau Hong tertawa, katanya: Pah-heng tidak perlu kuatir. Buyung-kongcu
juga serupa dengan Samte, diapun telah menghilang tanpa pamit, tadi aku
telah mencari tahu ketempatnya, kulihat Ting Pek-jwan, Pau Put-tong dan
kawan2nya juga sedang kelabakan mencari Kongcu mereka.
Wah, ini sangat kebetulan, kata semua orang dengan girang.
Sungguh Siau-tayhiap mempunyai pikiran yang panyang, sampai2
sebelumnya keadaan Buyung Hok juga telah diselidikinya, ujar Tan-sin.
Bukannya aku bisa berpikir panyang, sahut Siau Hong. Aku hanya
kuatirkan kepandaian Buyung Hok yang tinggi itu akan merupakan lawan
paling tangguh bagi nona Bok, maka... hehe, hehe!
Kiranya Siau-tayhiap hendak membujuk dia agar malam ini jangan ikut
hadir dalam perjamuan., kata Pah Thian-sik dengan tertawa.
Agaknya Ciong Ling merasa bingung atas petualangan mereka itu, dengan
mata terbelalak ia tanya: Sebabnya jauh2 Buyung-kongcu datang kesini
justeru ingin menjadi Huma, mana mungkin dia dapat dibujuk olehmu? Apa
memangnya Siau-tayhiap adalah sobat baiknya Buyung-kongcu.
Sobat sih bukan, sela Bok Wan-jing dengan tertawa, Cuma kepalan Siautayhiap
terlalu keras baginya, maka dia terpaksa mesti menurut
nasihatnya.
O! Ciong Ling melongo, baru sekarang dia paham duduknya perkara.
Begitulah, setiba rombongan mereka didepan istana, segera Pah Thian-sik
menyodorkan kartu undangan. Maka tertampaklah Le-poh Siang-si (menteri
urusan protokol) kerajaan Se He lantas menyambut keluar sendiri dan
menyilakan rombongan Bok Wan-jing kedalam istana. Ternyata sudah ada
lebih seratus pemuda yang telah hadir disitu dan duduk tersebar diruang
situ, ditengah ada suatu meja yang dilapisi dengan sutera2 kuning
bersulam, mungkin itulah tempat duduk raja Se He sendiri, dikanankirinya
terdapat pula dua baris meja yang dilapis dengan sutera ungu.
Disebelah kanan sudah berduduk seorang pemuda gagah, bermata besar dan
beralis tebal dan memakai jubah merah tua, diatas jubah tersulam dua
ekor harimau, dibelakangnya berdiri delapan jago pengawal.
Segera Pah Thian-sik dan lain2 mengetahui pemuda gagah ini tentu adalah
pangeran Cong-can dari Turfan.
Segera Le-poh Siang-si menyilakan Bok Wan-jing duduk dibarisan meja
sebelah kiri dan tidak dicampurkan dengan orang lain. Hal ini
menunjukkan bahwa diantara pemuda2 pengikut sajembara ini hanya pangeran
Turfan dan pangeran Tayli yang mempunyai kedudukan paling agung, maka
raja Se He menghormatinya dengan cara lain daripada yang lain.
Begitulah para tamu2 be-ramai2 masih terus tiba dan mengambil tempat
duduk masing2. Sesudah semua kursi penuh terisi, lalu dua perwira piket
berseru: Para tamu agung sudah lengkap hadir semua, tutup pintu!
Maka ditengah iringan suara musik pelahan2 pintu istana dirapatkan. Dan
begitu pintu istana tertutup, segara berbaris keluar serombongan pengawal
yang bersenjata lengkap. Menyusul suara musik bergema pula, dua barisan
dayang keraton berjalan keluar dari ruang dalam, tangan masing2 membawa
sebuah Hiolo (anglo dupa) kecil buatan kemala putih, asap tipis tampak
mengepul dari Hiolo2 itu.
Semua orang tahu Sri Baginda sebentar lagi akan keluar, maka semuanya
lantas diam dan menahan napas.
Paling akhir keluarlah empat pengawal berjubah sulam, semuanya
bertangan kosong, lalu berdiri dikedua sisi singgasana raja.
Melihat pelipis keempat pengawal itu semuanya menonjol, maka tahulah
Siau Hong pasti mereka adalah jago pengawal raja yang memiliki ilmu
silat sangat tinggi.
Lalu satu diantara keempat jago pengawal itu berseru: Sri Baginda
tiba, sambutlah!
Semua orang lantas berlutut dengan kepala menunduk.
Maka terdengarlah suara langkah orang yang keluar dari ruang dalam,
lalu duduk diatas singgasana yang sudah tersedia. Dan sesudah jago
pengawal tadi memberi aba2 pula, barulah semua orang berbangkit dan
disilakan kembali ketempat duduk masing2.
Waktu Siau Hong memandang si Raja dilihatnya perawakannya sedang
saja, mukanya kereng, agaknya juga seorang tokoh kesatria didunia
persilatan.
Kemudian Le-poh Siang-si telah maju kesamping singgasana sang raja
dan membentang sehelai amanat, lalu dibacanya dengan suara nyaring:
Paduka Yang Mulia Sri Baginda Raja menyampaikan terima kasih atas
kehadiran tuan2 sekalian, marilah ber-sama2 mengeringkan secawan!
Para tamu menyampaikan sembah hormat, lalu sama2 mengangkat cawan
masing2. Tapi raja itu hanya menempelkan cawannya kebibir sebagai
lambang saja, lalu meninggalkan singgasananya dan masuk kembali keruang
belakang. Segera para pengawal juga ikut masuk semua kebelakang sehingga
dalam sekejap saja suasana telah kembali seperti tadi.
Semua orang saling pandang dengan tercengang, sama sekali tak terduga
oleh mereka bahwa satu kata patah saja tidak bicara dan minum
secegukpun tidak, lalu raja itu sudah mengundurkan diri. Padahal
bagaimana wajah kami seorangpun belum diperiksanya dengan jelas, entah
cara bagaimana dia akan memilih menantunya? demikian pikir semua orang.
Sekarang silakan para hadirin makan minum secara bebas, seru Le-poh
Siang-si.
Segera pelajan membawakan daharan2 yang sudah tersedia semangkuk demi
semangkuk.
Se He adalah negeri pegunungan yang dingin, bahan makanan mereka yang
utama adalah daging sampi dan kambing, biarpun namanya perjamuan
kerajaan, tapi yang disuguhkan juga tidak lebih daripada daging2 sampi
dan kambing dalam potongan2 besar.
Melihat Siau Hong berdiri mengawal disampingnya, Bok Wan-jing merasa
tidak enak, segera ia berbisik: Siau-toako, Hi-tiok Jiko, silakan kalian
berduduk dan ikut makan minum.
Tapi Siau Hong dan Hi-tiok hanya tersenyum saja sambil geleng2 kepala.
Wan-jing kenal watak Siau Hong yang paling gemar minum arak, tiba2 ia
mendapat akal, ia memberi tanda dan memberi perintah: Tuangkan arak!
Sebagai pengawal dalam penyamaran, Siau Hong menurut dan menuangkan
semangkuk arak.
Boleh kau coba rasanya arak ini, kata Wan-jing pula.
Sungguh girang Siau Hong tak terkatakan, hanya dua-tiga kali cegukan
saja arak semangkuk penuh itu sudah dihirupnya kedalam perut.
Coba semangkuk lagi! kata Wan-jing pula. Dan segera Siau Hong minum
lagi semangkuk.
Disebelah sana pangeran Turfan itu juda sedang makan minum. Sesudah
minum beberapa tegukan arak, ia menyambar sepotong daging panggang terus
digeragoti dengan lahapnya. Sesudah daging itu tinggal sekerat tulang
belakang, segera ia melemparkan tulang itu kearah Bok Wan-jing dengan
lagak seperti tidak sengaja. Tapi samberan tulang itu ternyata sangat
cepat, nyata tenaganya tidaklah kecil.
Segera Cu Tan-sin melolos kipasnya dan mengipas sekali kearah tulang
itu. Kontan tulang itu terkipas balik dan menyambar kembali kearah
pangeran Cong-can.
Tapi seorang jago Turfan keburu menangkap tulang itu sambil memaki
dalam bahasanya, se-konyong2 ia angkat sebuah mangkuk besar terus
menimpuk kearah Tan-sin.
Sekali ini berganti Thian-sik yang turun tangan, ia memapak dengan
sekali pukulan, dimana angin pukulannya tiba, kontan mangkuk itu pecah
menjadi beberapa keping dan berhamburan kembali kearah orang2 Turfan.
Lekas2 seorang jago Turfan lain menanggalkan jubahnya, sekali pentang
dan mengebas, tahu2 pecahan mangkuk itu telah kena digulung semua oleh
jubahnya, gerak-geriknya ternyata sangat gesit dan cekatan.
Selagi pertarungan itu akan meningkat, se-konyong2 terdengar suara
genta ber-talu2, lalu muncul dua barisan orang yang ber-macam2
bentuknya, ada yang tinggi, ada yang pendek, ada yang berdandan ringkas,
ada yang berjubah longgar, semuanya bersenjata dalam bentuk yang
beraneka ragam pula.
Seorang pembesar yang berjubah sulam dan berjalan didepan, agaknya
seperti komandan kedua barisan jago2 itu, segera membentak dengan suara
keras: Perjamuan ini diadakan didalam istana, hendaklah tuan2 tahu tatatertib
sedikit! Ini adalah jago2 pilihan dari It-bin-tong negeri kami,
jika tuan2 ingin berkelahi, nah, boleh silakan coba2 dengan mereka
satu-melawan-satu, tapi dilarang main kerubut.
Siau Hong dan lain2 tahu It-bin-tong adalah suatu dewan yang istimewa
dari kerajaan Se He, didalam dewan itu terkumpul banyak sekali jago2
silat pilihan dari segenap penjuru. Karena itu Pah Thian-sik dan
kawan2nya lantas berhenti menyerang, setiap benda yang ditimpukan orang2
Turfan lantas ditangkapnya dan ditaruh diatas meja sendiri, ia tidak
balas menimpuk lagi.
Kemudian pembesar berjubah sulam tadi lantas berkata kepada pangeran
Cong-can: Harap Yang Mulia memberi perintah agar bawahanmu tidak
mengacaukan suasana ketenangan ini.
Melihat jago2 It-bin-tong itu ada ratusan orang jumlahnya, kalau
sampai cekcok dan bertempur, tentu pihaknya takdapat melawan, maka
Cong-can lantas memberi tanda untuk menghentikan pengikutnya yang masih
ber-teriak2 itu.
Helian-ciangkun, apakah Tuan Puteri ada sesuatu perintah? segera Lepoh
Siang-si bertanya kepada pembesar berjubah sulam tadi.
Kiranya pembesar itu adalah Helian Tiat-su, jaitu tokoh yang dahulu
pernah memimpin jago2 It-bin-tong menuju ke Tionggoan, tapi disana
mereka telah dirobohkan dengan kabut berbisa oleh Buyung Hok yang
menyamar sebagai Li Yan-cong.
Setelah mengalami peristiwa yang merugikan itu, segera Helian Tiat-su
membawa rombongannya pulang kandang. Dia pernah melihat Siau Hong palsu
yang disamar A Cu dan pernah kenal Buyung Hok yang disamar Toan Ki, tapi
Siau Hong tulen dan Toan Ki palsu yang berada didalam istana sekarang ini
tidak pernah dikenalnya. Mestinya diantara jago2 It-bin-tong itu juga
terdapat Toan Yan-khing, Lam-hay-gok-sin dan In Tiong-ho, tapi mereka
mempunyai rencananya sendiri dan sudah tentu tidak mau diperalat oleh
kerajaan Se He, maka saat ini mereka sedang bertugas dilain tempat
sehingga penyamaran Siau Hong dan Bok-Wan-jing itu tidak sampai
konangan.
Kemudian Helian Tiat-su lantas berseru: Menurut titah Tuan Puteri, bila
para tamu agung sudah selesai dahar, semuanya disilakan minum teh ke
kamar baca di Jin-hong-kok.
Jing-hong-kok itu diketahui adalah istana kediaman Bun-gi Kongcu,
puteri Se he yang cari jodoh sekarang ini. Keruan para pemuda sangat
senang dan bersemangat, dengan undangan itu, teranglah puteri Se He itu
ingin memilih sendiri calon suaminya. Pikir mereka: Biarpun nanti tidak
terpilih, paling sedikit juga dapat melihat wajah si-cantik sehingga
perjalanan ini tidak sia2 belaka.
Dasar watak pangeran Cong-can memang paling tidak sabaran, dia yang
per-tama2 berdiri dan berseru: Setiap saat kita dapat makan dan minum.
Tapi sekarang paling perlu kita melihat puteri aju lebih dulu!
Benar! serentak sebagian besar hadirin menyokongnya.
Segera Cong-can minta Helian Tiat-su membawa mereka ketempat tujuan.
Mari, pangeran Toan dan para hadirin yang lain! seru Helian Tiat-su dan
dijawab dengan suara sorakan gembira orang banyak.
Demikianlah Helian Tiat-su lantas membawa para calon Huma itu menuju
kebelakang. Sesudah menyusur sebuah taman, lalu membelok beberapa kali,
kemudian waktu melintas sebuah bukit buatan, tiba2 Bok Wan-jing merasa
disebelahnya telah bertambah seorang.
Waktu ia melirik, tanpa merasa ia menjerit tertahan dalam kagetnya.
Ternyata orang disebelahnya tak-lain-tak-bukan adalah Toan Ki.
Apa kau terkejut, pangeran? tanya Toan Ki dengan pelahan dan tertawa.
Apa kau sudah tahu semua? balas tanya Bok Wan-jing dengan berbisik.
Tahu semua sih tidak, tapi melihat gelagatnya dapatlah menerka sebagian
besar persoalannya, sungguh membikin susah kau saja, sahut Toan Ki.
Bok Wan-jing coba mengawasi kanan-kirinya, ia lihat tiada pembesar Se
He didekatnya, sebaliknya dibelakang Toan Ki kelihatan ada dua pemuda.
Yang seorang berusia 30-an dengan sikap agak angkuh, yang seorang lagi
ternyata sangat tampan dan lebih muda.
Hanya sedikit memperhatikan saja segera Wan-jing mengenali pemuda
tampan itu adalah samaran Giok-yan. Seketika ia menjadi gusar, katanya:
Bagus kau, seenaknya kau mengelojor pergi bersama nona Ong, tapi aku yang
harus mewakilkan kau menempuh bahaja ini.
Jangan marah dulu, adikku manis, kata Toan Ki. Kejadian ini agak
panyang untuk diceritakan. Pendek kata aku telah dilemparkan kedalam
sumur oleh orang dan hampir2 mati konyol.
Mendengar pemuda itu mengalami bahaja, seketika rasa perhatiannya
melebihi rasa gusarnya, cepat Wan-jing tanya: Apa kau tidak terluka?
Kulihat air mukamu agak pucat.
Seperti diketahui, didasar sumur itu Toan Ki telah dicekik oleh
Ciumoti sehingga susah bernapas, pelahan2 ia sudah hampir tak sadarkan
diri.
Sebaliknya Buyung Hok yang mendempel di dinding sumur yang lebih tinggi
itu merasa sjukur dan senang, kalau bisa dia berharap Toan ki tercekik
mati saja.
Sudah tentu yang paling kuatir adalah Giok-yan, meski dia telah
menghantam dan menggebuki Ciumoti, tapi masih tetap tak menolong Toan
Ki. Dalam gugup dan bingungnya, mendadak Giok-yan terus menggigit lengan
kanan Ciumoti.
Ketika se-konyong2 merasa Kiok-ti-hiat dilengan kanan menjadi
kesakitan, Ciumoti merasa hawa murni yang bergejolak didalam tubuh dan
tak tersalurkan itu mendadak melanda keluar sebagai ban gembos, hawa
murni itu mengalir dari telapak tangannya dan masuk keleher Toan Ki yang
dicekiknya itu.
Mestinya Ciumoti merasa badannya melembung se-akan2 meledak, tapi
mendadak gembos, seketika ia merasa segar kembali sehingga jari yang
mencekik leher Toan ki itu pelahan2 juga menjadi kendur.
Hendaklah maklum bahwa Ciumoti benar2 seorang tokoh sakti dalam dunia
persilatan yang jarang terdapat, dasar pejakinannya sangat kuat, maka
sekali tenaga dalamnya terhimpun, susahlah bagi Toan Ki untuk menyedot
tenaganya dengan Cu-hap-sin-kang yang ampuh.
Baru sesudah Giok-yan menggigit sekali ditempat Kiok-ti-hiatnya, dalam
kagetnya hawa murni yang bergolak itu lantas membanjir keluar. Dan
sekali hawa murni itu mendapat jalan saluran, maka susahlah tertahan
lagi, serentak tenaga itu mengalir kedalam tubuh Toan Ki dengan tak berhenti2.
Tadinya pikiran Ciumoti memang sudah mulai kacau dan hampir2 tak
sadar, sesudah tenaga dalamnya terkuras keluar hampir separoh, mendadak
pikirannya jernih kembali, keruan ia terperanjat: Wah, celaka! Jika
aku punya tenaga murni tersedot terus seperti ini, pasti dalam waktu tak
lama lagi aku akan lemas dan menjadi orang cacat.
Karena itu sekuatnya ia berusaha melawan, namun sekarang sudah
terlambat. Sesudah hampir separuh tenaga murninya masuk tubuh Toan Ki,
perbandingan kekuatan kedua pihak menjadi lebih nyata lagi, tidak
mungkin Ciumoti dapat melawan, biarpun dia merontak sekuat mungkin tetap
takdapat menahan mengalir keluarnya tenaga murni itu.
Sebaliknya Giok-yan menjadi lega demi melihat akibat gigitannya itu
lantas cekikan Ciumoti itu menjadi agak kendur. Tapi dilihatnya tangan
Ciumoti itu masih tetap memegang leher Toan Ki, segera ia menariknya
pula.
Tak terduga tangan Ciumoti itu sudah seperti terpantek dileher Toan
Ki, biarpun dia menarik dan membetot, tetap tangan Ciumoti takmau lepas.
Walaupun Giok-yan paham (secara teori) ilmu silat berbagai golongan
dan aliran didunia ini, tapi ia tidak tahu ilmu apakah yang digunakan
Ciumoti sekarang ini, karena itu ia pikir ilmu apapun juga tentu akan
merugikan Toan Ki, maka sedapat mungkin ia berusaha hendak menolongnya.
Ciumoti sendiripun mengeluh, didalam hati ia berharap Giok-yan akan
dapat menarik lepas tangannya. Siapa tahu ketika tangan Giok-yan memegang
tangan Ciumoti, seketika nona itu merasa badannya menggigil, tenaga
murninya juga mendadak tersedot keluar dan tak tertahankan.
Kiranya saat itu Toan Ki sudah pingsan, dengan sendirinya asal ketemu
tenaga yang sakti itu tidak kenal kawan atau lawan, asal ketemu tenaga
lantas sedot saja, maka bukan Ciumoti saja yang tenaga murninya
terisap, bahkan Giok-yan juga ikut menjadi korban. Maka tidak lama
kemudian Giok-yan dan Ciumoti telah jatuh pingsan semua.
Selang agak lama, ketika tidak mendengar suara apa2 dari ketiga orang
yang berada dibawah itu, segera Buyung Hok coba memanggil beberapa kali,
tapi tidak mendapat jawaban. Pikirnya: Jangan2 ketiga orang itu sudah
gugur bersama?
Lebih dulu ia menjadi girang. Tapi segera teringat hubungan baik
dirinya dengan Giok-yan, mau-tak-mau ia merasa berduka juga. Kemudian
terpikir pula olehnya: Wah, celaka! Kalau mereka tidak mati, dengan
tenaga gabungan empat orang mungkin akan dapat keluar dari sini, tapi
sekarang tinggal aku seorang, tentu akan susah menyingkirkan batu besar
diatas. Ai, jika kalian ingin mati, kenapa tidak tunggu dulu dan mati
diluar sumur sana saja?
Dan baru ia hendak melompat turun untuk memeriksa keadaan Ciumoti dan
Giok-yan bertiga, tiba2 terdengar ada suara orang bicara diatas,
suaranya berisik ramai, agaknya adalah kaum petani bangsa Se He.
Rupanya mereka berempat telah ribut semalam suntuk didasar sumur itu
dan sekarang fajar sudah menyingsing, banyak kaum petani yang membawa
sajur2-an hendak menjual ke pasar di dalam kota dan lewat disamping
sumur itu.
Diam2 Buyung Hok membatin: Jika aku berteriak minta tolong, para
petani itu belum tentu sanggup memindahkan batu2 karang yang besar itu.
Dan bila merasa tak kuat, tentu mereka akan tinggal pergi dan tak peduli
lagi. Jalan paling baik jalah memancing mereka dengan rejeki.
Maka ia lantas sengaja berteriak: Hei, semua emas ini adalah milikku,
kalian tidak boleh ikut mengangkangi. Ja, biarlah aku membagi kalian 3000
tahil saja. Lalu ia berseru pula dengan suara lain yang sengaja dibuat2:
Tidak bisa! Emas intan sebanyak ini kita ketemukan bersama, sudah
tentu harus kita bagi dengan sama-rata. Kemudian ia sengaja membikin
suaranya setengah tertahan dan berkata; Sssst, jangan keras2, kalau
sampai didengar orang, tentu mereka juga akan minta bagian dan bagian
kita tentu akan berkurang!
Suara tanya-jawab yang sengaja diucapkan Buyung Hok itu ia siarkan
dengan tenaga dalam yang kuat sehingga dapat didengar dengan jelas oleh
para petani yang lewat dipinggir sumur itu.
Dasar manusia, siapa orangnya yang mendengar ada rejeki takkan
ketarik?
Keruan saja para petani itu terkejut dan bergirang pula. Beramai2
mereka lantas merubungi sumur itu dan serentak berebut untuk
menyingkirkan batu2 karang itu. Meski batu2 karang itu sangat besar dan
antap, tapi dengan tenaga gotong-rojong orang banyak, akhirnya batu2 itu
dapat disingkirkan.
Sudah tentu Buyung Hok sudah ber-siap2, ia tidak menunggu sampai batu2
itu disingkirkan semua, baru saja kelihatan ada suatu lowongan yang
cukup untuk diterobos, terus saja ia merembet keatas dan mendadak
wuttt, ia terus melayang keluar.
Tentu saja para petani itu kaget setengah mati karena hanya dalam
sekejap saja bajangan Buyung Hok itu sudah menghilang dikejauhan.
Walaupun masih curiga dan takut, tapi karena daja tarik harta karun,
akhirnya para petani itu tetap menyingkirkan batu2 karang, lalu seorang
kawan mereka yang paling tabah dikerek kedalam sumur dengan tambang.
Setiba didasar sumur, begitu tangannya meraba segera orang itu dapat
memegang badan Ciumoti. Memangnya dia sudah was-was dan kebat-kebit,
begitu kena meraba badan manusia, segera ia menyangka serangka majat.
Keruan kagetnya tak terkatakan, hampir2 sukmanya terbang meninggalkan
raganya. Cepat ia menggoyangkan tambang dan minta dikerek keatas.
Mendengar didalam sumur itu ada orang mati, seketika para petani itu
menjadi ketakutan dan berlari bubaran, mereka sama kuatir ikut
tersangkut perkara pembunuhan, jangan2 harta karun belum diperoleh, tapi
sudah masuk bui lebih dulu.
Begitulah sampai dekat lohor, ber-turut2 ketiga orang didalam sumur itu
barulah siuman kembali.
Orang pertama yang siuman adalah Giok-yan. Begitu sadar kembali, yang
per-tama2 teringat olehnya adalah Toan Ki. Meski saat itu adalah siang
bolong, tapi didasar sumur itu tetap sangat gelap, ia coba meraba dengan
tangannya dan dapat menyentuh Toan Ki, segera ia berseru: Toan-long, o,
Toan-long, ba... bagaimanakah dengan dirimu?
Karena tidak mendapat jawaban Toan Ki, Giok-yan menyangka pemuda itu
sudah mati dicekik Ciumoti, terus saja ia menangis sedih, ia angkat
majat Toan Ki dan merangkulnya dengan kencang didepan dada sambil
sesambatan: O, Toan-long, sedemikian baik dan setiamu kepadaku, tapi
selama ini aku belum pernah membalas apa2 padamu, baru saja kita
berharap akan hidup bahagia di-hari2 yang akan datang, siapa tahu...
siapa tahu jiwamu sudah melayang ditangan paderi jahat ini...
Ucapan nona ini hanya betul separoh saja, demikian tiba2 terdengar
Ciumoti menyela, rupanya iapun sudah sadar. Walaupun Lolap adalah paderi
jahat, tapi aku tidak membunuh Toan-kongcu.
Dan pada saat itu Toan Ki telah siuman juga. Ia mendengar ucapan
Giok-yan yang meresap itu bergema ditepi telinganya, ia menjadi girang.
Tiba2 ia merasa badannya sendiri berada didalam pelukan sinona, segera ia
pura2 masih belum sadar dan tak berani bergerak, kuatir kalau diketahui
Giok-yan dan dilepaskan sehingga tidak dapat lagi merasakan nikmatnya
dalam pelukan sang kekasih.
Dalam pada itu Ciumoti telah berkata: Kekasihmu itu tidaklah
kutewaskan, sebaliknya jiwaku yang hampir2 binasa ditangannya.
Air mata Giok-yan lantas bercucuran, sahutnya: Dalam keadaan begini
kau masih hendak mengapusi aku? Ketahuilah bahwa hatiku seperti disajat2,
lebih baik kaupun cekik mati aku saja agar aku dapat menyusul
Toan-long dialam baka.
Mendengar ucapan sinona yang tulus iklas dan meresap itu, sungguh
girang Toan Ki tak terkira.
Ciumoti sendiri meski sudah kehilangan tenaga murni, tapi pikirannya
masih sangat cermat, pengalamannya juga luas dan kenyang makan asamgaram,
dari suara napas Toan Ki yang pelahan tapi tertahan itu, segera ia
mengetahui pemuda itu sebenarnya sudah sadar, tapi sengaja diam saja,
maka iapun tahu maksudnya. Tiba2 ia menghela napas pelahan dan berkata:
Toan-kongcu, aku telah salah belajar ilmu sakti Siau-lim-pay sehingga
membikin celaka diriku sendiri, untung engkau telah menyedot tenaga
dalamku sehingga aku tidak sampai mati konyol seperti orang gila.
Sekarang meski ilmu silatku sudah punah, namun jiwaku telah selamat,
untuk ini aku harus mengucapkan terima kasih atas pertolonganmu.
Toan Ki adalah seorang yang rendah hati, demi tiba2 mendengar paderi
itu mengucapkan terima kasih padanya, tanpa merasa ia terus menjawab:
Ah, Taysu jangan merendah diri. Cayhe punya kepandaian dan kebaikan apa
sehingga berani dianggap telah menyelamatkan jiwa Taysu?
Giok-yan menjadi girang ketika mendadak mendengar Toan Ki sudah sadar
kembali, tapi ia lantas tercengang pula dan paham sebabnya pemuda itu
sengaja diam saja jalah agar dapat berada didalam pelukannya, keruan ia
menjadi girang2 malu, sekuatnya ia dorong pergi Toan Ki dan mencomel:
Uh, kau ini!
Toan Ki menjadi malu juga karena rahasianya terbongkar. Lekas2 ia
berbangkit dan bersandar didinding sebelah. Tiba2 ia ingat sesuatu dan
bertanya: He, dimanakah Buyung-kongcu?
Ha, aku menjadi lupa juga, dimanakah Piauko? sahut Giok-yan.
Sungguh girang Toan Ki melebihi mendapat warisan demi mendengar kata2
aku menjadi lupa juga. Padahal selama ini perhatian Giok-yan selalu
terpusat kepada Buyung Hok seorang, tapi sekarang walaupun sudah selang
hampir sehari toh nona itu tidak ingat kepada Buyung Hok, hal itu
menandakan bahwa dirinya sekarang sudah bertukar tempat dengan Buyung Hok
dilubuk hati sinona.
Tengah Toan Ki riang gembira, terdengar Ciumoti telah berkata: Sifat
Toan-kongcu sangat tulus dan jujur, rejeki dikemudian hari pasti
tiada takaran. Hari ini Lolap ingin mohon diri, rasanya kelak susah untuk
berjumpa pula. Disini ada satu jilid kitab, bila kelak Kongcu
kebetulan ada tempo, tolonglah kitab ini suka dikembalikan kepada Siaulim-
si. Semoga Kongcu berdua hidup bahagia sampai hari tua.
Habis berkata, segera ia menyerahkan kitab Ih-kin-keng kepada Toan Ki.
Apakah Taysu hendak pulang ke Turfan? tanya Toan Ki.
Mana suka, mungkin pulang kesana, mungkin tidak! sahut Ciumoti dengan
samar2. Lalu ia berbangkit, ia coba menarik tambang panyang yang
ditinggalkan kaum petani tadi dan ternyata cukup kencang, agaknya
ujung atas diikat dibatu karang. Dengan tambang itulah ia lantas
merambat keatas dan tinggal pergi.
Sekarang tinggal Toan Ki berhadapan dengan Giok-yan didalam sumur itu,
walaupun berada ditempat lumpur tapi hati mereka sangat senang, siapapun
tidak punya pikiran buat keluar dari sumur itu. Pelahan2 tangan kedua
orang sama2 menjulur kedepan, empat tangan saling menggenggam, dua
perasaan bersatu.
Lama dan lama sekali barulah Giok-yau berkata,"Toan-
long, apakah lehermu tidak terluka? Marilah kita
memeriksanya di luar sana.”
"Sedikit pun aku tidak merasa sakit, juga tidak perlu buru-
buru keluar dari sini." sahut Toan Ki.
"Jika engkau tidak suka keluar, biar aku mengiringimu di
sini." kata Giok-yan dengan suara mesra. Sekarang dia benar-
benar sudah jinak, sedikit pun tidak membangkang lagi.
Toan Ki menjadi rikuh sendiri, katanya dengan tertawa,
"Tapi engkau tentu tidak betah tinggal di tempat lumpur ini."
Segera ia merangkul pinggang si nona yang ramping itu,
dengan tangan kanan ia pegang tambang, hanya sedikit tarik
saja tahu-tahu tubuhnya sudah mumbul satu-dua meter
tingginya.
Toan Ki sangat heran. la tidak tahu bahwa tenaga dalam
Cumoti yang dikumpulkan selama hidup ini sekarang telah
tersedot semua ke dalam tubuhnya, sebaliknya ia menyangka
sesudah tidur semalam dan lagi bersama kekasih yang
menyenangkan maka tenaganya tambah kuat.
Sesudah keluar sumur, di bawah sinar sang surya
kelihatanlah tubuh mereka penuh Lumpur, mereka saling
pandang dengan tertawa geli. Segera mereka mencari suatü
sungai kecil dan rendam di situ sampai lama, barulah mereka
dapat membersihkan Lumpur yang memenuhi muka, rambut,
baju dan sepatu mereka.
Untung waktu itu hawa tidak terlalu dingin sehingga Giok-
yan tahan berendam dalam air. Kemudian mereka bersandar
dí batu karang di tepi sungai untuk mengeringkan baju yang
basah kuyup di badan mereka itu.
Di sinilah Toan Ki mengamat-amati wajah si nona yang
cantik bak bidadari itu dengan rasa bahagia yang tak
terperikan. Sudah tentü Giok-yan menjadi malu, segera ia
miringkan mukanya ke sini sana.
Begitulah kedua muda-mudi itu bicara mengada-ada untuk
menghilangkan waktu. Tanpa terasa harí sudah petang, tidak
lama kemudian sang dewi malam pun menongol dan pelahan
bergeser ke tengah cakrawala."
Tiba- tíba Toan Kí teringat kepada Buyung Hok, katanya.
"Adik Yan, sekarang cita-citaku telah terkabül, sebaliknya
Piaukomu sekarang sedang mengikuti sayembara perebutan
putri Se He, entah usahanya akan berhasil atau tídak?"
Biasanya bila Giok-yan ingat hal ini, seketika día berduka,
tapi sekarang perasaannya sudah berubah, ia pun agak rikuh
terhadap Buyung Hok dan sebaliknya berharap sang piauko
dapat memperistrikan putri Se He, maka cepat jawabnya, "Ya,
marilah kita lekas pergi melihatnya."
Buru-buru kedua orang itu pulang ke pondok mereka.
Ketika hampir sampai di depan pintu, tiba-tiba di temapt gelap
ada orang berkata, "Kiranya kal¡an pun sudah keluar!”
Jelas itulah suara Buyung Hok.
"Hé. engkau berada di sini?” balas Toan Ki dan Giok-yan
dengan gembira.
'Hm. baru saja menghajar dan membunuh belasan orang
Turfan sehingga tempoku banyak terbuang, " kata Buyung
Hok. "Eh, orang she Toan kenapa kamu tidak hadir sendiri
dalam perjamuan raja, sebaliknya menyuruh seorang nona
menyaru sebagai dirimu? Hm, aku tìdak nanti mem. . . .
membiarkan kau main licik, aku pasti akan bongkar rahasìamu
ini."
"Apa katamu?" sahut Toan Ki dengan heran. "Seorang
nona menyaru apa? Pada hakikatnya aku tidak tahu apa apa."
"Ya, Piauko, kami baru saja keluar dari sumur itu . . . “
hanya sekian Giok-yan bicara dan segera merasa ucapan ini
kurang jujur. Padahal sudah setengah harian ia main roman
dengan Toan Ki di tepi sungai, masakah bilang baru saja
keluar dari sumur sana.
Untung Buyung Hok rupanya sedang terburu-buru hendak
menuju ke istana raja untuk menghadiri perjamuan, maka ia
tidak memperhatikan ucapan Giok-yan dan keadaan
pakaiannya yang kusut itu.
Dalam pada itu Giok-yan berkata pula, "Dia . . . dia sudah
menyanggupi akan membantumu supaya engkau berhasil
merebut putrid Se He. Kalau aku mempunyai seorang tuan
putri sebagai Loso, sudah tentu aku juga ikut gembira."
Semangat Buyung Hok terbangkit, ia menegas, “Apa betul
ucapanmu?”
“Sudah tentu." sahut Toan Ki. "Engkau adalah piauko adik
Yan, terhitung piaukoku pula, Sekarang Piauko ada urusan
masakah pamili sendiri bias tinggal diam saja?”
Sungguh girang sekali Buyung Hok, Sesudah día keluar
dari sumur, di tengah jalan ía kepergok jago-Jago Turfan dan
terjadi pertempuran sengit walaupun menang akhirnya, tapi ia
pun sudah kehabisan tenaga. Ketika hampir sampai di
pondokan tiba-tiba dílihatnya Bok-Wan-jin dan rombongannya
sedang keluar, segera ia sembunyi di dekat situ untuk
mengawasi. Dan baru dia hendak mencari Tíng Pek-jwan dan
lain-lain untuk berunding, tiba-tiba dilihatnya Toan Ki dan
Giok-yan juga telah kembali, lalu ia menegur mereka.
Diam-diam Buyung Hok pikir pelajar tolol ini rupanya
benar-benar ingin memperistrikan piaumoai, dia adalah adik
angkat Siau Hong dan Hi-tiok, jika mereka benar-benar mau
membantu untuk mendapatkan putri Se He boleh tidak perlu
disangsikan lagi. Karena itu segera ia berkata, "Baiklah, waktu
sudah mendesak marilah lekas kita berangkat ke istana."
Di tengah jalan secara ringkas ia ceritakan penyamaran
Bok Wan-jing yang dilihatnya tadi. Maka Toan ki dapat
menerka sebagian apa maksud tujuan penyamaran Wan-jing.
Setiba di pondokan Buyung Hok, sudah tentu Ting-Pek-
jwan dan lain-lain sangat girang. Karena waktu sudah
mendesak buru-buru mereka ganti pakaian. Karena Giok-yan
tak mau berpisah lagi dengan Toan Ki, terpaksa Buyung Hok
membiarkan nona itu ikut dengan menyaru sebagai kaum
lelaki.
Buru-buru mereka berangkat ke istana. Setiba di sana
pintu istana ternyata sudah ditutup, terpaksa Buyung Hok
mencari akal, ia mengajak kawan-kawannya mengitar ke
samping istana, dari situ mereka lantas melompat melintasi
pagar tembok istana yang tinggi itu. Karena sekarang iwekang
Toan Ki sudah tambah hebat, maka dengan enteng dan
gampang sekali ia dapat melayang ke dalam lingkungan
istana.
Mereka terus mencari tempat perjamuan itu dengan ubek-
ubekan di taman. Kebetulan waktu itu perjamuan juga sudah
bubar dan para tamu diundang oleh putri Bun-gi Kongcu ke
Jing-hong-kok untuk untuk minum teh maka dapatlah
rombongan Toan Ki bertemu dengan rombongan Bok Wan-
jing . . . .
Begitu Siau Hong dan lain-lain menjadi girang melihat
Toan Ki sudah kembali dengan selamat. Dengan ikutnya Toan
Ki mereka tidak perlu kuatir rahasia akan terbongkar lagi.
Sesudah orang banyak menyusur lewat taman yang luas
itu, dari jauh tertampak sebuah gedung yang megah
menjulang di tengah pepohonan yang rindang. Setiba di
depan gedung itu. segera Helian Tiat-su berseru, "Para tamu
agung sudah tiba untuk bercengkerama dengan Kongcu!"
Ketika pintu terbuka, keluarlah empat dayang keraton yang
masing-masing membawa sebuah tenglong (lampu
barselubung kain), di belakang mereka adalah seorang
pembesar wanita berbaju ungu, katanya, "Atas kunjungan
para paduka, Kongcu menyilakan masuk untuk minum teh."
"Bagus, bagus! Memangnya aku sudah haus!” segera
Cong-can mendahului berteriak. Dan tanpa disilakan untuk
kedua kalinya, terus saja ia melangkah masuk ke dalam istana
dengan diikuti yang lain-lain dengan desak mendesak seakan-
akan kuatir tidak mendapatkan tempat yang baik yang lebih
dekat dengan sang putri.
Sesudah masuk di dalam istana itu, tertampak ruangan
sangat luas, lantai ruangan dilapisi permadani berbulu yang
berajutkan bunga beraneka warna dengan indah. Banyak meja
teh yang kecil teratur memanjang dalam beberapa baris, di
atas meja tertaruh mangkuk teh bertutup dan berwarna-warni,
setiap mangkuk bertutup itu didampingi pula sebuah piring
kecil berisi beberapa potongan panganan yang entah apa
namanya. Dan di depan sana tersedia sebuah bangku bundar
berkasur sulam yang indah.
Semua orang menduga bangku itu tentu tempat duduk
sang putri. Karena itu mereka saling berebutan mendapatkan
tempat duduk yang berdekatan dengan bangku bundar itu.
Hanya Toan Ki dan Giok-yan saja dengan bergandengan
tangan dan duduk dí suatu pojokan sambil bicara dengan
pelahan seakan-akan cerita mereka itu tidak habis-habis.
Sesudah semua orang mengambil tempat duduk,
kemudian pembesar wanita tadi mengetukkan sebuah palu
kecil pada sepotong "Hum-pan'' (tembikar serupa baki dipakai
penjual bakmi) setelah berbunyi “tok-tok-tok” tiga kali,
suasana dalam ruangan menjadi hening sampai Toan-Ki dan
Giok-yan juga terpaksa berhenti bicara dan menanti keluarnya
Bun-gi Kongcu, sang putri Se He.
Selang tidak lama, terdengarlah suara "kelintang-kelinting",
dari dalam muncul delapan dayang berbaju hijau, mereka
berdiri di kedua sisi. Sejenak pula seorang gadis jelita berbaju
hijau pupus keluar dengan langkah yang menggiurkan.
Seketika pandangan semua orang terbeliak, perawakan
gadis itu langsing ramping gerak-geriknya lemah-lembut,
mukanya sangat cantik pula.
Diam-diam semua orang bersorak memuji, "Orang
mengabarkan kecantikan Bun-gi Kongcu tiada bandingannya,
nyatanya memang bukan omong kosong.”
Pangeran Cong-can dan Buyung Hok mempunyai pikiran
yang sama, yaitu takkan merasa kecewa bila dapat
memperistrikan sang putri cantik itu.
Anehnya putri cantik itu tidak lantas düduk tapi ia maju ke
depan bangku bundar tadi dan memberi hormat kepada
semua orang.
Waktu putri itu masuk, semua orang berdiri untuk
menyambut, maka sekarang banyak pula yang mulutnya
berkecek-kecek memuji kecantikan sang putri. Sebaliknya putri
itu ternyata sangat prihatin, sinar matanya tidak berkelíaran,
matanya menatap ujung hidung sendiri, nyata seorang gadis
pingitan yang sangat sopan dan anggun. Karena itu semua
orang sampai tidak berani bernapas karas-keras, kuatir
membikin kaget sang putrì.
Sejenak kemudian, dengan muka kemerah-merahan
barulah putri itu berkata dengan pelahan, "Atas titah Tuan
Putri, para tamu agung disilahkan minum teh seadanya secara
bebas."
Semua orang saling pandang dengan terkesiap, Busyet jadi
gadis jelita ini bukan Tuan Putri sendiri, tampaknya hanya
seorang dayang príbadi putri saja, Dan segera terpikir pula
oleh mereka, jika dayangnya saja secantik ini, maka sang putri
entah betapa cantiknya.
"Kiranya engkau bukan Tuan Putri sendiri," Káta Cong-can
segerà, "jika begitu, harap lekas mengundang Tuan Putri
keluar.”
"Jika hadirin sudah minum Tuan Putri akan
mempermaklumkan sesuatu lagi,” ulas dayang cantik tadi.
“Bagus, bagus! Tuan Putri ada pesan, sudah tentu akan
menurut saja!"' seru Cong-can dengan tertawa. Dan segera ia
membuka tutup magnkuk yang berisi air teh itu, tanpa banyak
omong lagi ia tuang isi mangkuk itu ke dalam mulut dan
dikunyah.
Kiranya pada masa dahulu, menurut kebiasaan orang
Turfan, mereka menyeduh daun teh dicampur dengan susu
dan gula atau garam, kalau minum sekaligus daun teh juga
ikut dimamah dan dimakan ke dalam perut. Ini adalah
kebiasaan jadi bukan kelakuan kasar pangeran Cong-can.
Sambil masih mengunyah daun teh, segera pula Cong-Can
jejal-jejalkan beberapa potong panganan tadi ke dalam mulut,
lalu berkata, "Nah, aku sudah makan banyak, bolehlah
mengundang keluar sang putrimu!”
Dayang itu mengiakan saja, tapi tidak bergeser melangkah.
Cong-can tahu dia ingin tunggu orang lain selesai minum
baru mau pergi. Sudah tentu Cong-can menjadi gelisah dan
berulang-ulang mendesak orang lain agar lekas habiskan teh
dan makannya.
Dengan susah payah menunggu akhirnya selesai juga
hadirin makan minum, lalu Cong-can tanya pula, "Nah, jadi
sekarang?"
Kembali muka si dayang cantik merah jengah, sahutnya,
"Sekarang Tuan Putri mengundang hadirin berkunjung ke
ruang dalam untuk menikmati lukisan dan tulisan."
"Hah, buat apa melihat lukisan dan tulisan? Aku lebih suka
melihat Tuan Putrimu!” seru Cong-can. Tapi tidak urung ia ikut
berdiri juga bersama orang banyak.
Diam-diam Buyung Hok bergirang. "Sungguh sangat
kebetulan. Resminya sang putri mengundang kàmi menikmati
lukisan dan tulisan, tapi sesungguhnya hendak menguji
kepandaian sastra kami. Orang kasar sebagai pangeran Cong-
can itu sudah tentu tak becus tentang lukisan dan syair apa
segala. Kalau melulu menguji ilmü silat saja aku pun lebih
unggul daripada yang lain, apalagi sekarang sang putri hendäk
menguji kapändaian sastra, tentu saja kemenanganku menjadi
lebih meyakinkan lagi."
Begitulah dengan berseri-seri segera ia pun berdiri dan
siap ikut dayang tadi ke ruangan dalam.
Tapi mendadak dayang itu berkata pula, “Menurut titah
Tuan putri, para nona yang menyamar sebagai lelaki dan para
tuan yang berusia lebih 40 tahun, semüanya disilahkan tinggal
dì istana Guh-hiang-wan ini untuk minum lagi. Sedang hadirin
lain boleh ikut masuk ke ruang dalam.”
Sungguh kejut sekali Bok Wan-jing dan Ong Giok-yan
ternyata penyamaran mereka sejak tadi sudah diketahui
orang.
Tiba-tiba terdengar seruan seorang, “Bukan! Bukan!”
Kembali muka si dayang bersemu merah, rupanya selama
hidup ini dia selalu terkurung di tengah istana selain kaum
Thai-kam (dayang lelaki kebiri , orang kasim), selamanya tak
pernah bertemu dengan kaum lelaki yang sesungguhnya.
Sekarang mendadak berhadapan dengan kaum lelaki
sebanyak ini, sudah tentu ia menjadi kikuk dan grogi.
Jilid ke-81
Selang, sejenak barulah dia berkata, "Entah apa yang
bukan? Harap tuan itu suka memberi petunjuk!"
"Petunjuk sih tidak ada, hanya ada. Penjelasan sedikit
saja,” demikian kata Pau Put tong. ''Kulihat kamu agak malu
dan kikuk, maka tak perlu kau tanya lagi, biar aku sendiri yang
menguraikan saja.”
"Terima kasih," sahut si dayang dengan tersenyum manis.
"Nah, tentu kau tahu bahwa jauh-jauh kami datang ke sini
tujuannya adalah ingin melihat Tuan Putrimu," kata Put-tong.
"Betapa susah payahnya kami menempuh perjalanan jauh ini,
ada yang terkubur di tengah gurun pasir karena angin badai,
ada yang menjadi mangsa binatang buas sehingga yang
beruntung lolos dari elmaut itu akhirnya dapat sampai di
Lengciu sini, tujuannya ialah ingin melihat wajah sang Putri
saja. Sekarang lantaran ayah-bundaku beberapa tahun lebih
dulu melahirkan aku sehingga umurku sekarang sudah 4O
tahun lebih sedikit, maka perjalananku yang susah payah ini
akan menjadi sia-sia belaka. Jika tahu akan jadi begini, tentu
sejak mula aku minta ibuku jangan terburu-buru melahirkan
diriku dan ditunda dulu untuk beberapa tahun."
"Hihi, tuan ini suka bergurau," kata si dayang dengan
tertawa. "Kelahiran seseorang masakah dapat di tentukan oleh
manusianya sendiri?"
Melihat Pau Put-tong mengada ada tak habis-habis
pengeran Cong-can menjadi gusar, bentaknya dengan
mendelik, "Kalau Tuan Putri sudah menitahkan begitu, kita
semua harus turut saja, buat apa mesti cerewet lagi?"
Pau Put-tong menjadi gusar juga, mendadak ia mendapat
akal, dengan mengejek ia menjawab, "Eh, Pangeran Yang
Mulia, apa yang kukatakan tadi sesungguhnya juga demi
kepentinganmu Tahun inì engkau sudah beruntung empat
satu, walaupun tidak terlalu tua, kau. sudah lebih dari 40
tahun sebagaimana ditentukan Tuan Putri tadi dan tiada
harapan untuk melihat wajah yang cantik, bukankah sia-sia
saja kedatanganmu ini?"
Padahal usia pangeran Cong can baru menanjak 28 tahun,
cuma dia penuh berewok sehingga orang lain sukar menaksir
berapa umurnya.
Dayang cantik itu masih hijau dan tidak tahu seluk beluk
orang hidup, dengan sendirinya ia tidak dapat menaksir usia
orang lelaki, maka ia menjadi sangsi apakah ucapan Put-tong
itu sungguh-sungguh atau cuma geguyon.
Ia lihat pangeran Cong-can menjadi gusar dan segera
hendak melabrak Pau Put-tong, dengan rasa kuatir cepat ia
mencegah. “Eh, jangan . . . jangan kalian bertengkar, kukira
orang yang paling tahu umur masing-masing adalah tuan-tuan
sendiri, maka siapa-siapa yang merasa, sudah berumur lebih
40 tahun disilakan tetap tinggal di sini, yang belum mencapai
40 tahun boleh ikut ke ruang dalam."
"Baik, usiaku belum ada 30 tahun, sudah tentu aku ikut ke
ruang dalam." demikian Pau Put-tong menirukan lagak lagu
sang pangeran. Habis berkata dengan langkah lebar ia terus
bertindak ke dalam.
Si dayang mestinya ingin mencegah, tapi malu-malu dan
kikuk-kikuk serta tak berani. Sudah tentu kesempatan itu
segera digunakan oleh orang-orang lain untuk ikut masuk ke
ruang dalam. Jangankan yang berumur 40 tahun, sekalipun
yang berusia 50-60 tahun Juga banyak yang ikut masuk,
hanya tinggal belasan orang tua yang menjaga kedüdükan
dan kehormatan masing-masing, merekalah yang tetap tinggal
di situ. begitu pula Bok-wan-jing dan Ong Giok yan.
Mestinya Toan Ki jugä ingin tinggal sajä untuk mengawani
Giok-yan, tapi nona itu mendesak dan mendorongnya agar
ikut membantu Buyung Hok.
Karena itu terpaksa Toan Ki ikut melangkah masuk ke
ruang dalam dengan rasa berat, melangkah satu tindak tiga
kali menoleh, berat rasanya seperti hendak berangkat ke
tempat jauh, seakan-akan sekali berpisah tentu takkan
bertemu lagi dalam beberapa tahun lamanya.
Di tepi sungai ada empat obor yang terang maka dengan
jelas semua orang dapat melihat langkah dayang cantik itu
berarti menjerumuskan diri ke dalam sungai. Karena itu ada
sebagian besar hadirin sama menjerit kaget.
Tak terduga dayang cantik itu ternyata tidak terjerumus ke
dalam sungai, sebaliknya kelihatan tetap berjalan dengan gaya
berlenggang yang luwes dan dengan aman mencapai di
seberang sungai sana.
Dalam kagetnya semua orang lantas yakin permukaan
sungai itu pasti ada sesuatu benda berpijak, kalau tidak,
mustahil orang mampu melangkah di udara seperti si dayang
itu.
Benar juga waktu semua orang memperhatikan, maka
kelihatanlah di antara kedua tepi sungai terpasang seutas tali
baja yang sangat halus. Karena tali baja itu sangat kecil,
warnanya hitam pula di dasar sungai juga sangat gelap
sehingga di bawah cahaya obor itu orang sukar mengetahui
akan jembatan tali itu.
Tampaknya sungai itu sangat dalam, kalau sampai
terjerumus, andaikan tidak mati juga pasti setengah mati. Tapi
para pendatang ini sudah tentu bukan tokoh persilatan
pasaran atau kodian, mereka adalah jago silat pilihan, maka
segera ada orang mengeluarkan ginkang, dengan enteng
menyeberang melalui jembatan tali yang hamper-hampir tak
kelihatan itu.
Dalam hal Ilmu silat sejati Toan Ki memang tergolong
kelas kambing. tapi bicara tentang ginkang dia sudah mahir
"Leng-po-wi-poh", dengan enteng saja dia dapat
menyeberangi sungai dengan digendong Pah Thian-sik.
Padahal sesudah Toan Ki mendapat tambahan tenaga
dalam Cumoti. ginkangnya saat ini boleh dikata tiada
bandingannya, cuma saja Pah Thían-sik tidak tahu, sedang
Toan Ki sendiri pula tidak menyadari hal ini.
Begitulah, sesudah semua orang melintasi sungai itu,
entah dengan menggunakan alat apa dan di mana, ketika si
dayang tadi menggeraki tangannya, "siuut", tahu-tahu tali
baja itu mengkerut dan menghilang ke dalam semak-semak
rumput.
Keruan semua orang tambah kebat-kebit dan kuatir.
Dengan demikian mereka telah menghadapi jalan buntu untuk
putar kembali. Mereka menjadi tambah curiga jangan-jangan
orang Se He benar-benar bermaksud jahat?
Begitulah rombongan orang-orang itu lantas masuk ke
ruang dalam dengan menyusuri sebuah serambi yang
panjang. Diam-diam mereka merasa heran. Padahal Jinghong-
kok itu dari luar tampaknya tidak begítu megah, siapa
tahu dí bagian dalam ternyata mempunyai dunia lain, masih
ada tempat seluas itu.
Sesudah menyusuri serambi yang panjang itu, kemudian
sampailah mereka di depan sebuah pintu besar terbuat dari
batu. Dayang cantik itu mengeluarkan sepotong logam kecil
dan memukul pelahan beberapa kali di daun pintu batu yang
terdiri dari daun sayap itu, kemudian pintu batu itu lantas
terbuka.
Para hadirin ini tergolong tokoh-tokoh yang sudah kenyang
asam garam alias banyak berpengalaman, maka demi melihat
daun pintu batu itu tebalnya balasan senti, kuatnya bukan
kepalang, diam-diam mereka merasa curiga, "Jangan-jangan
sesudah masuk, lalu pintu batu ini ditutup kembali, bukankah
sakaligus kita akan terkurung semua? Bukan mustahil raja Se
He sengaja memancing kita dengan sayembara mencari
menantu tapi sebenarnya hendak membasmi habis kaum
ksatria sebanyak mungkin di dunia ini?"
Tapi mereka sudah telanjur datang, betapapun harus
dihadapi apalagi mereka sudah tentu tidak mau unjuk lemah
di depan orang banyak dan putar balik untuk dituduh sebagai
pengecut. Maka tanpa pikir lagi mereka melangkah masuk
semua. Benar juga pintu batu itu lantas merapat kembali.
Di dalam situ kembali ada sebuah jalan yang panjang,
kedua tepi jalan ternyata pelita-pelita yang terang. Ujung jalan
itu kembali menghadang sebuah pintu batu pula. Lewat pintu
batu ini kembali ada jalanan panjang, lalu pintu lagi. Jadi
berturut-turut mereka menembus tiga buah pintu batu. Maka
biarpun orang yang tadinya paling acuh, mau-tak-mau
sekarang pun mulai merasa was-was dan curiga.
Dan sesudah membelok ke sana sini beberapa kali tiba-tiba
terdengar suara gemerciknya air, mereka telah sampai di tepi
sebuah sungai yang dalam. Di dalam lingkungan istana
terdapat sungai sungguh suatu hal yang sukar dibayangkan
orang.
"Untuk sampai di kamar tulis sana, lebih dahulu harus
melintasi sungai ini. Nah, silakan!” kata si dayang cantik, habis
itu sekali bergerak, dengan enteng ia terus melangkah ke
dalam sungai itu.
Karena itu diam-diam mereka sama waspada, tapi tiada
seorang pun mengutarakan pikirannya, sebab kuatir akan di
tertawai teman-teman yang lain sebagai pengecut, takut mati.
Diam-diam ada juga yang merasa menyesal mengapa begitu
tolol tanpa membawa senjata waktu masuk istana tadi.
Dalam pada itu sesudah menggulung jembatan tali tadi
lalu si dayang berkata, ''Marilah, hadirin silahkan ikut ke sini."
Dan sesudah semua orang dibawa menyusuri sebuah
hutan bambu, akhirnya sampailah di depan sebuah pintu gua.
Dayang itu mengetuk beberapa kali pada pintu gua itu,
ketika pintu terbuka, si dayang cantik berkata, "Silakan masuk,
tuan-tuan!"
Habis itu ia lantas mendahului melangkah ke dalam gua.
Diam-diam Pâh Thian-sik merasa ragu, ia tanya Cu Tansin,
"Bagaimana pikiranmu?"
Tan-sin sendiri merasa sangsi apa mesti minta Toan Ki
tinggal di luar gua saja atau membiarkan tuan muda mereka
menyerempet bahaya? Tapi kalau tidak berani menyerempet
bahaya, pasti tiada harapan buat dipilih menjadi Huma.
Tengah kedua orang merasa serba salah, tertampak Toan
Ki melangkah masuk ke dalam gua itu bersama Siau Hong.
Maka tanpa pikir lagi segera Thian-sik dan Tan-sin ikut dari
belakang.
Di dalam gua itu mereka mesti menempuh suatu jalan
yang panjang untuk akhirnya pandangan mereka lantas
terbeliak. Ternyata mereka sudah berada di sebuah ruangan
yang sangat luas.
Ruangan ini dua kali lebih luas daripada ruangan istana di
mana mereka minum teh tadi, nyata sekali ruangan ini adalah
sebuah gua alam di puncak gunung yang telah diperbaiki dan
dipajang secara indah oleh tenaga manusia, Dinding-dinding
ruangan ini tergosok sangat halus dan licin, sekeliling dinding
penuh terhias lukisan dan tulisan indah.
Pada umumnya dl dalam sesuatu gua tentu mengeluarkan
air atau berhawa lembab, tapi ruangan ini ternyata sangat
kering, sedikitpun tidak terasa berbau lembab.
Di sisi ruangan itu terdapat sebuah meja, terletak alat tulis
lengkap dan beberapa jilid kitab. Di sebelahnya ada beberapa
rak buku, beberapa buah kursi serta beberapa buah bangku
batu dan meja batu yang agak kecil.
Kemudian terdengar si dayang cantik berseru, "Di sini
adalah kamar tulis Tuan Putri kami, sekarang silakan hadirin
menikmati lukisan dan tulisan secara bebas!"
Melihat keadaan ruang yang luas dan kosong sedikitpun
tiada mirip kamar tulis seorang Tuan Putri sudah tentu semua
orang terheran-heran dan sangsi pula. Tapi di ruangan itu
penuh pigura lukisan dan tulisan indah, hal ini memang nyata
terbukti.
Para pendatang ini adalah jago-jago silat semua, kalau
mereka pun bisa tulis menulis sudah terhitung pintar, mana
mungkin mereka dapat membedakan lukisan indah dan
bermutu atau tidak.
Siau Hong dan Hi-tiok meski berilmu silat sangat tinggi,
dalam hal seni sastra mereka pun tidak paham. Maka sesudah
berada dalam ruangan itu, mereka berdua lantas duduk
berjajar di lantai untuk mengawasi gerak-gerik orang lain.
Pengalaman Siau Hong jauh lebih luas daripada Hi tiok,
meski tampaknya dia acuh-tak-acuh seperti tidak tertarik oleh
lukisan yang memenuhi dinding ruangan itu, padahal
pandangannya tidak pernah meninggalkan tingkah pola si
dayang cantik tadi, Dia anggap dayang itu adalah kunci
daripada keselamatan hadirin ini apabila diam-diam raja Se He
main muslihat untuk menjebak mereka maka orang yang
bergerak lebih dulu tentu dayang cantik itu.
Jadi sekarang Siau Hong mirip seekor harimau yang diamdiam
sedang mengintai mangsanya. Walaupun kelihatannya
tenang-tenang saja, tapi sebenarnya siap siaga, asal ada
sedikit perubahan yang tidak menguntungkan segera ia akan
menubruk ke arah si dayang dan takkan memberi kesempatan
lolos baginya.
Sebaliknya orang-orang seperti Toan Ki, Cu Tan-sin,
Buyung Hok, Kongya Kian dan lain-lain karena mereka
memang tergolong cendikiawan, terhitung kaum terpelajar,
asal melihat sebangsa tulisan atau lukisan tentu sangat
tertarik maka saat itu mereka sedang mendekati hiasan
dinding yang tak terhitung jumlahnya itu untuk menikmatinya.
Ting Pek-Jwan lebih hati-hati kelakuannya, Ia pura-pura
sedang menikmati lukisan dan kitab yang berada di rak buku.
Sedang Pah Thian-sik berlagak sedang melihat lukisan, tapi
sebenarnya sedang memeriksa dinding itu dan sudut ruangan
untuk mengetahui apa tiada sesuatu yang mencurigakan.
Hanya Pau Put-tong saja yang tidak mau tinggal diam,
sambil memandang lukisan-lukisan itu tiada hentinya pula ia
mengoceh, dia mencela lukisan ini terlalu kaku gambarnya dan
mengatakan lukisan itu seperti cákar ayam, sebentar lagi
bilang lukisan itu warnanya salah lain saat mengejek lukisan
itu kurang kuat gayanya, penulisnya tentu kurang makan dan
macam-macam cemooh lagi.
Padahal walaupun Se He terbílang suatu negeri yang
terpencíl dí wilayah barat, sejarahnya juga belum tua, sudah
tentu lukisan yang tersímpan tak dapat dibandingkan dengan
kerajaan Song dan Liau. Tapi lukisan yang menjadi koleksí
kerajaan betapapun tentu tetap juga bukan lukisan
sembarangan.
Di antara lukisan koleksi putri Se He itu banyak terdapat
lukisan dan tulisan seniman ternama jaman kuno, namun
begitu semuanya itu tiada sepeserpun dalam penilaian Pau
Put-Tong yang memang disengaja itu.
Sudah tentu si dayang sangat terkejut dan heran atas
ocehan Pau Put-tong yang ngawur itu, ia coba mendekati dan
bertanya dengan suara pelakan, "Maaf tuan! Apakah lukisan
dan tulisan ini benar-benar kurang baik seperti apa yang kau
katakan? Padahal Tuan Putri kami mengatakan lukisan-lukisan
ini semuanya barang pilihan."
"Tuan Putri kalian tinggal terasing di daerah terpencil ini,
selamanya tidak kenal dunia luar sehingga tidak tahu
sastrawan dan seniman negeri Tionggoan kami maka
seharusnya Tuan Putri kalian mesti sering-sering pesiar ke
negeri kami untuk menambah pengalamannya," demikian Puttong
mengoceh. "Dan, ah, adik cilik, kaupun mesti ikut Tuan
Putrimu jalan-jalan ke sana untuk menambah pengalaman.
Nanti memberi kabar lebih dulu padaku ya dan jangan lupa
mampir di rumahku.”
Dayang itu mengangguk menyatakan baik dengan tertawa.
Dalam pada itu Toan Ki juga sedang memandangi lukisanlukisan
itu dengan teliti, sampai di depan sebuah lukisan
seorang wanita cantik, mendadak ia terkejut dan bersuara
heran.
Kiranya wanita cantik dalam lukisan itu sangat mirip
dengan Giok-yan. Sebelah tangannya memegang jarum dan
tangan lain memegang benang sambil duduk dl samping
jendela sedang menyusupkan benang ke lubang jarum, di atas
lutut wanita terlukis itu tertaruh sepotong kain sutra, jadi
menggambarkan wanita cantik itu sedang menyulam.
"Jiko, cobalah kemari!" seru Toan Ki kepada Hi- tiok.
Hi-tiok mengiakan dan mendekatinya.
Ia juga terheran-heran melihat lukisan itu. ia pikir gambar
yang melukiskan nona Ong kembali terdapat sebuah pula di
sini. Wanita dalam lukisan pemberian guruku itu tiada bedanya
dengan wajah wanita lukisan ini, hanya gayanya saja yang
berlainan.
Toan Ki sendiri makin melihat juga makin heran. Tanpa
terasa ia mengulur tangan untuk meraba lukisan itu. Ketika
jarinya menyentuh dinding, ia merasa pada dinding itu banyak
garis yang berdakak-dekak. Waktu dia mengamat-amati lebih
jelas, kiranya di atas dinding memang terukir banyak sekali
gambar orang-orangan, ada yang duduk, ada yang berdiri dan
ada yang sedang melompat gayanya aneka ragam.
Gambar orang-orangan itu semuanya dikurung dengan
sebuah lingkaran, di luar lingkaran sebagian besar tercatat
pula angka-angka dan huruf-huruf mengenai anatomi.
Sekali memandang saja segera Hi-tiok dapat mengenal
ukiran-ukiran dalam lingkaran-lingkaran itu mirip seperti ukiran
yang dipelajarinya di kamar batu Leng-ciu-kiong itu, Ia tahu
ukiran-ukiran ini adalah rahasia berlatih ilmu silat yang maha
sakti, kalau tenaga dalam belum cukup kuat, tentu akan bikin
celaka sendiri orang yang mempelajarinya seperti halnya Bwe
kiam dan Tiok kiam berempat tempo hari.
Kuatir kalau Toan Ki juga mengalami kecelakaan, maka
cepat Hi-tiok memperingatkannya, "Samte, lukisan-lukisan ini
tidak boleh dipandang."
"sebab apa?" tanya Toan Ki.
"Ukiran ini adalah semacam rahasia ilmu silat yang amat
tinggi, jika mempelajari secara ngawur, bukannya baik.
sebaliknya bisa celaka," bisik Hi-tiok.
Toan Ki memang tidak berhasrat belajar ilmu silat apa
segala, maka segera ia kesampingkan ukiran-ukiran dinding
itu dan kembali menikmati lukisan "si cantik sedang
menyulam" tadi.
Selama beberapa hari ini hubungannya dengan Giok-yan
sudah sangat erat, wajah si nona boleh dikata sudah
dipandangnya dangan jelas-jemelas, terutama ketika
sama berbaring di tepi sungai untuk menjemur badan mereka
yang basah kuyup, di sana ia telah memandang muka Giokyan
sedemikian rupa sehingga nona itu merasa malu.
Sekarang sesudah dia mengamat-amati pula lukisan itu
segera dapatlah dibedakan ciri-ciri gambar ini tidak sama
dengan Giok-yan. Wajah yang dilukis memang sangat mirip
Giok-yan Cuma perawakan wanita dalam lukisan itu lebih
bernas lebih montok, mata alisnya bersemangat tangkas dan
gagah, sebaliknya Giok-yan sangat lemah-lembut, usia orang
dalam lukisan juga lebih tua tiga-empat tahun daripada Giokyan.
Di sebelah sana biarpun Pau Put-tong mengoceh tak
karuan, tapi setiap tutur-kata dan gerak-gerik Toan Ki dan Hitiok
selalu diperhatikan olehnya. Maka demi mendengar Hitiok
mengatakan ukiran di dinding itu adalah semacam ilmu
silat yang sangat tinggi segera ia mendengus, "Huh, ilmu silat
maha sakti apa? Huh, hwesio cilik memang suka membual!”
Habis berkala ia terus ikut-lkut memperhatikan ukiran
dinding.
“Gambar-gambar itu jangan dipandang tuan-tuan,''
demikian si dayang lantas memperingatkan, "Tuan Putri
pernah mengatakan bila orang tidak mempunyai dasar kungfu
yang kuat, kalau memandang gambar itu tentu akan celaka
daripada mendapat faedahnya.”
“Dan kalau sudah mempunyai dasar kungfu yang kuat,
tentu akan berfaedah bukan?" demikian jawab Pau Put-tong
yang kepala batu, "Nah, dasar kepandaianku justru sudah
sangat kuat."
Sebenarnya Pah Put-tong cuma bersifat tak mau kalah
saja, pada hakikatnya dia tiada maksud buat mengintip
rahasia ilmu silat orang. Tak terduga baru saja la memandang
gaya sebuah ukiran itu seketika ia terpengaruh, la merasa
banyak sekali perubahan lanjutan dari gaya gambar orangorangàn
itu dan sukar dipahami, tanpa terasa ia ulur tangan
dan angkat kaki dan mulai main menurut gaya ukiran itu.
Dalam sekejap saja lantas ada orang lain mengetahui
keadaan Pau Put-tong yang aneh itu, menyusul mereka pun
melihat ukiran-ukiran di dinding. Maka terdengarlah suara
orang banyak, ada yang berkata, "He, dl sini ada gambar
ukiran!”
Dan di sana juga ada yang bilang, "Ya, di sini juga ada!"
Dan begitulah, beramai-ramai orang banyak lantas
menyingkap lukisan untuk memeriksa ukiran dinding di
bawahnya.
Tapi mereka hanya melihat sejenak saja. Tánpa terasa kaki
tangan mereka pun ikut-ikut bergerak dan menari seperti
orang sinting.
Diam-diam Hi-tiok terkejut, cepat ia mendekati Siau-Hong
dan berkata, "Toako, gambar-gambar itu terang tidak boleh
dipandang, kalau memandang lagi mungkin semua orang akan
celaka. Jika sampai ada yang kalap, wah, tentu keadaan bias
kacau-balau."
Siau Hong mengangguk, segera ia membentak keraskeras,
"Hendaknya semua orang jangan memandang ukiran
didinding itu. Kita sudah berada di tempat bahaya, lekas kita
berkumpul untuk berunding apa yang perlu dilakukan."
Karena suara gertakan itu, segera ada beberapa orang
sadar kembali dan menurut untuk berkumpul. Namun daya
pengaruh ukiran-ukiran dinding itu. ternyata sangat besar,
barang siapa asal memandang sekejap salah satu gambar
ukiran itu dan sedikit berpikir, seketika akan merasa gaya
gambar itu dapat memecahkan persoalan sulit ilmu silat yang
selama ini sukar dipecahkan olehnya. Tapi sebenarnya gaya
itu cara bagai mana harus memulainya dan bagaimana
selanjutnya, hal ini menjadi samar-samar pula dan diraba
sehingga tanpa terasa kaki dan tangan ikut-ikut bergerak
untuk menirukannya.
Melihat orang-orang itu seperti sudah senewen semua,
walaupun biasanya Siau Hong sangat tabah, mau-tak-mau ia
merasa kebat-kabit juga.
Sekonyong-konyong terdengar seorang menjerit keraskeras
sambil berputar-putar beberapa kali, lalu jatuh terguling
di lantai. Menyusul ada seorang lagi yang mengeluarkan suara
rintihan, mendadak terus menubruk dinding batu sambil
mencakar dan mencengkeram secara kalap seakan-akan ingin
mengelotoki ukiran dinding itu.
Siau Hong tahu bilâ tidak segera mencegah orang-orang
itu agar berhenti melihat ukiran, kalau sampai sedikit lama lagi
tentu akan terjadi bencana atau banjir darah.
Sedikit berpikir segera ia mendapat akal, "krek", ia tarik
sandaran kursi di sebelahnya sehingga sempel ketika
sempalan kayu ia putar dan digosok-gosok dengan kedua
tangan, seketika berubah menjadi remukan kayu yang kecilkecil,
Cepat ia hantarkan kayu-kayu kecil itu sebagai senjata
rahasia, maka terdengarlah suara mendesis-desis yang ramai,
hanya sekejap saja pelita dalam kamar itu sudah padam
semua dan keadaan menjadi gelap gulita.
Dalam keadaan gelap hanya terdengar suara pernapasan
orang banyak yang masih terengah-engah, banyak pula yang
menghela napas lega dan bersyukur, "Wah, hampir saja!"
Segera Siau Hong berseru, "Silakan semua orang duduk di
tempat semula masing-masing dan jangan sembarangan
bergerak supaya tidak terjebak pesawat rahasia yang mungkin
terdapat di ruangan ini. Ukiran di dinding itu sangat besar
daya pengaruhnya, hendaklah sekali-kali jangan disentuh,
apalagi dipandang."
Habis berseru, tiba-tiba, Siau Hong menahan suaranya
dengan pelahan dan berkata, "Maaf, harap lekas buka pintu
agar semua orang dapat keluar dari sini."
Kiranya pada waktu menghamburkan senjata rahasianya
untuk memadamkan pelita-pelita itu, berbareng Siau Hong
melompat maju dan dapat memegang tangan si dayang cantik
tadi.
Sudah tentu ilmu silat dayang itu pun tidak rendah, dalam
kagetnya sebelah tangannya yang lain terüs menghantam,
namun segera kena di tangkap pula oleh Siau Hong sehingga
tak bisa berkutik.
Dayang itu menjadi kuatír dan malu pula serta tak berani
bergerak.
Demi mendengar ucapan Siau Hong yang halus itu, segera
ia berkata, "Lepas . . .lepaskan tanganku!”
Siau Hong lantas lepaskan tangan si dayang itu. Meski
dalam keadaan gelap gulita, tapi dengan kepandaiannya ia
tidak kuatir dayang itu akan main gila padanya.
Lalu dayang itu berkata, “Kan sudah kukatakan tadi
kepada mereka bahwa ukiran di dinding itu jangan dipandang,
kalau belum mempunyai dasar kepandaian yang kuat tentu
akan membikin celaka diri sendiri, tapi mereka sendirilah yang
tidak mempercaya pada omonganku."
"Kau suruh aku jangan lihat, aku justru ingin lihat. Kalau
kau suruh aku lihat, tentu sejak tadi aku tak sudi melihat,"
sahut Pau Put-tong sambil duduk di lantai walaupun kepalanya
masih puyeng dan enek rasa di dada.
Diam-diam Siau Hong harus mengakui memang si dayang
tadi sudah memperingatkan mereka jangan melihat ukiranukiran
dinding, agaknya memang tidak sengaja hendak
menjebak. Jika begitu apa maksud tujuan sebenarnya putri Se
He itu mengundang orang banyak ke sini?
Begitulah, selagi Siau Hong berpikir, tiba-tiba hidungnya
mengendus bau harum yang halus. Ia terkejut dan cepat
pencet hidung sendiri. Ia masih ingat dahulu para anggota
Kai- pang pernah dirobohkan oleh bau harum berbisa oleh
jago-jago Ih-bin-tong Se He. Segera ia mengerahkan hawa
murni dalam tubuh dan mengatur pernapasan, tapi tidak
merasa ada sesuatu alangan.
Dalam pada itu tiba-tiba terdengar suara seorang wanita
yang merdu lagi bicara, "Tuan Putri Bon-gi Kongcu tiba!”
Mendengar datangnya sang putri, semua orang menjadi
kaget dan senang pula. Cuma sayang keadaan gelap gulita
sehingga tidak dapat melihat jelas wajah sang putri.
Kemudian suara yang merdu, suara wanita muda, berkata
pula, "Tuan Putri mempermaklumkan bahwa di dinding kamar
beliau banyak terukir gambar, mengenai ilmu silat, ukiranukiran
itu mestinya tidak boleh dilihat oleh orang luar,
makanya sengaja dialing-aling dengan lukisan, tak terduga
ukiran-ukiran, itu masih terlihat juga oleh kalian. Tuan Putri
minta perhatian kalian agar jangan sekali-kali menyalakan
pelita atau mengatik batu api, kalau tidak, mungkin kalian
akan menghadapi bahaya lagi dan akan membìkin tidak enak
kedua belah pihak. Sekarang Tuan Putri ingin bicara sedikit
dengan hadirin dan terpaksa dilakukan dalam keadaan gelap,
cara yang kurang menghormat ini diharap hadirin suka
memaafkan."
Hábis itu, terdengar suara berkeriut-keriut, pintu batu tadi
tahu-tahu terbuka, Lalu wanita muda itu bicara pula, "Nah,
jika di antara hadirin ada yang tidak ingin tinggal lebih lama di
sini, sekarang boleh silakan keluar saja dan kembali ke
ruangan tamu di depan tadi, sepanjang jalan akan ada orang
memberi petunjuk sehingga takkan kesasar."
Mendengar sang putri sudah datang, sudah tentu semua
orang tidak mau pergi. Apa lagi suara bicara wanita muda itu
sangat ramah-tamah, sedikitpun tidak mengandung nada
kasar atau jahat sekarang pintu batu dibuka pula sehingga
boleh keluar masuk dengan bebas seketika rasa takut mereka
tadi lenyap sama sekali dan tiada seorangpun yang mau pergi
dari sini.
“Ternyata hadirin tiada yang ingin pergi sungguh Tuan
Putri merasa sangat terima kasíh. Sekarang sekedar sebagai
tanda mata atas kedatangan hadirin dari jauh, maka Tuan
Putri bersedia menghadiahkan kepada setiap orang sebuah
lukisan dan tulisan yàng berada di sini. Jelek-jelek lukisan dan
tulisan ini adalah koleksi Tuan Putri kami selama bertahuntahun,
diharap hadirin sudi menerimanya. Dan nanti bila para
hadirin hendak pergi dari sini boleh sekalian pilih dan ambil
sendiri."
Banyak diantara tokoh-tokoh persilatan itu adalah orang
kasar, sudah tentu mereka tidak tertarik oleh lukisan apa
segala. Tapi merekapun tahu lukisan-lukisan itu barang seni
pilihan dan bernilai daripada tiada mendapat apa-apa, boleh
juga nanti diambil untuk dibawa pulang, demikian pikir
mereka.
Hanya Toan Ki saja yang sangat girang, ia bertekad nanti
akan ambil lukisan "si cantik sedang menyulam” tadi untuk
diperlihatkan kepada Giok-yan.
Sebaliknya pangeran Cóng-can lain pikirannya. Ia sudah
menunggu setengah harian, bicara ke sana ke mari sang putri
belum lagi muncul, hanya dayang itu yang mewakilkan bicara.
Tentu saja ia menjadi aseran, segera ìa berteriak, ''Bun-gi
Kongcu, jika di sini tidak boleh menyalakan pelita, marilah
kita berganti tempat untuk bertemu? Dalam keadaan gelap
gulita begini engkau tidak dapat melihat aku dan aku tak bisa
memandang dirimu, sungguh konyol!"
Segera dayang tadi berkata, "Jika hadirín ingin melihat
Tuan Putri untuk ini tidak sulit."
"Ya. kami ingin melihat Tuan Putri! Segera ingin!" demikian
ratusan orang itu berteriak-teriak dalam keadaan gelap gulita.
Selain itu banyak pula yang berteriak-teriak. "Lekas
menyalakan lampu, kami takkan melihat ukiran di dinding itu,
masakah ukiran itu akan lebih menarik daripada paras Tuan
Putri yang cantik bak bidadari? Ya asal melihat sekejap saja
wajah Kongcu dan lampu boleh segera di padamkan lagi!
Benar! Silahkan Kongcu tampil ke muka.”
"Diam! Harap hadirin tanang dulu!” demikian seru si
dayang. Dan sesudah suara teriakan-teriakan itu mereda, lalu
ia menyambung "Adapun maksud Tuan Putri mengundang
hadirin ke Se He ini, memangnya beliau ingin menjumpa
dengan beliau. Sekarang Tuan Putri ada tiga soal yang akan
ditanyakan kepada kalian, barang siapa dapat memberikan
jawaban yang dibenarkan Tuan Putri, maka dengan segera
beliau akan menemuinya.”
Seketika semua orang bersorak gembira dan bilang "Eh,
kiranya pakai ujian lisan apa segala!”
Dan ada yang berkata, "Wah, celaka! Aku hanya mahir
putar golok dan main tombak, kalau aku diuji tentang
membaca dan bersyair segala, aku bisa runyam!”
Kemudian si dayang mengumumkan lagi, “soal-soal yang
hendak ditanyakan Tuan Putri kepada hadirin sekalian sudah
diberitahukan kepadaku, maka sekarang silahkan siapa yang
ingin lebih dulu?”
Serentak banyak di antara hadirin itu berebut maju ke
depan dan berteriak-teriak, "Aku lebih dulu! Tidak, aku dulu!
Kamu tadi belakangku, kenapa menyerobot barisanku?”
Si dayang tertawa geli, katanya, "Sudahlah, hadirin
sekalian jangan bertengkar. Padahal orang yang maju lebih
dahulu akan rugi sendiri.”
Sesudah berpikir, semua orang merasa apa yang dikatakan
si dayang memang benar juga. Karena diuji belakangan tentu
akan dapat mendengarkan jawaban-jawaban orang lain yang
telah diujikan dapat menperbaki kesalahannya, kalau benar
akan bias ditiru. Oleh karena itu, seketika semua orang
berbalik ogah-ogahan untuk dia lebih dulu dan saling
mengalah.
"Bagus! Jika kalian berebut lebih dulu, biar aku
belakangan. Tapi sekarang kalian takut menjadi perintis jalan,
maka boleh aku menjadi pembuka buat kalian. Nah,
dengarkanlah Tuan Putri namaku Pau Put-tong. sudah punya
anak dan beristri, yang kuharap hanya melihat muka Tuan
Putri yang cantik lain tidak."
"Pau-siangsing ternyata seorang yang suka berterus
terang," kata si dayang, "Sekarang dengarkan ketiga soal yang
hendak ditanyakan Tuan Putri, ini pertanyaan pertama :
Selama hidup Pau-siansing tentu pernah merasakan sesuatu
yang paling gembira dan bahagia, Nah di manakah Pausiansing
pernah merasakan saat-saat yang paling gembira dan
bahagia itu?”
Pau Put-tong berpikir sejenak, lalu menjawab, "Di dalam
sebuah kolam, di situ aku mandi sepuas-puasnya bersama
jantung hatiku, sungguh aku merasa sangat gembira dan
bahagia, Nah, Puas dan apakah jawabanku ini tepat?"
"Tepat atau tidak bergantung pada keputusan Tuan Putri
nanti,” kata si dayang. “Sekarang pertanyaan kedua : Selama
hidup Pau-siansing ini. siapakah orang yang paling kau cintai?"
"Namanya Pau Put-cing," sahut Pu-tong tanpa pikir.
"Dan pertanyaan ketiga : Bagaimana wajah orang yang
paling dicintai Pau-singsing itu?" Tanya si dayang.
"Wajahnya sungguh istimewa," sahut Put-tong. "Dia baru
berumur tiga tahun, matanya satu besar, satu kecil, hidungnya
pesek, kupingnya lebar, kalau diberi perintah ia
membangkang. Bila kusuruh dia tertawa, eh malah dia
menangis dan sekali menangis sedikitnya tiga jam lamanya.
Dia bukan lain adalah putri pertama hatiku Pau Put-cing!”
Semua orang tertawa ngakak, begitu pula si dayang
terpingkal-pingkal geli. Mereka merasa jawaban Pau Put-tong
itu sungguh sangat jujur dan terus terang.
Lalu si dayang berkata. "Pau-siansing silahkan tungggu di
samping dulu. Sekarang silakan orang kedua."
Karena buru-buru ingin berkumpul kembali dengan Giokyan,
maka Toan Ki mendahului maju, ia membungkuk tubuh
memberi salam, lalu berkata, "Caihe Toan Ki dari Taili, dengan
ini menyampaikan salam hormat kepada Kongcu, Atas
penyambutan dan pelayanan yang telah kuterima dengan
jalan ini pula kusampaíkan terima kasih."
"O, kiranya putra mahkota dari Taili, harap Yang Mulia
jangan sungkan-sungkan, bahkan kalau ada pelayanan yang
kurang sempurna diharap yang Mulia suka memaafkan," kata
si dayang.
"Ah. Cici tidak perlu rendah hati, " sahut Toan Ki. "Apabila
hari ini Tuan Putri tiada tempo senggang, boleh juga
pertemuan ini ditunda sampai lain hari."
"Karena Yang Mulia sudah ikut hadir di sini maka silakan
juga menjawab ketiga pertanyaan tadi," demikian kata si
dayang. “Nah, pertanyaan pertama itu ialah : Di manakah
selama hidup Yang Mulia ini merasa paling gembira dan
bahagia?"
Tanpa pikir Toan Ki menjawab, "Di dalam lumpur sebuah
sumur kering."
Seketika bergemuruhlah gelak-tawa orang banyak. Toan Ki
juga tidak memberi penjelasan lebih lanjut, hanya Buyung Hok
saja yang tahu sebab apa pemuda itu merasa senang dan
bahagia di dalam sumur kering.
Maka terdengar ejekan seorang dengan suara bisik-bisik
kepada kawannya, "Apa barangkali dia seekor halus atau
bekicot makanya merasa senang di dalam Lumpur?”
Dalam pada itu dengan menahan rasa gelí si dayang
bertanya pula, "Dan selama hidup Pángeran siapakah yang
paling engkau cintai, siapakah namanya?”
Baru Toan Ki hendak menjawab, sekonyong-konyong
kedua belah tangan bajunya terasa dijawab orang. Darì
sebelah kanan Pah Thian-sik mengisiknya, "Jawablah
ayahanda!"
Sedang Cu Tan-sin juga memberi nasehat dengan lirih di
sebelah lain, "katakana ibunda!"
Rupanya kedua "punakawan" itu merasa jawaban Toan Ki
yang pertama tadi terlalu menyimpang, maka kuatir jawaban
kedua ini akan di tertawai lagì oleh orang banyak. Padahal
kedatangannya ini adalah untuk melamar putri Se He, kalau
sekarang Toan Ki mengaku selama hidupnya telah mencintai
seorang nona lain, pasti runyam maksud tujuan kedatangan
mereka ini.
Sebab itülah yang satu menganjurkan menjawab bahwa
orang yang saling dicintai adalah ayahanda, seorang lelaki
harus setia kepada, raja dan berbäkti kepada ayah, inilah jalan
pikiran Pah Thian sik. Sebaliknya Cu Tan-sin menyuruh Toan
Ki menjawab orang yang paling dicintai adalah ibunda,
seorang anak harus cinta pada sang ibu, lnilah jalan pikiran
kaum sastrawan sebagai Cu Tan-sin.
Toan Ki sendiri mestinya akan menjawab bahwa orang
yang paling dicintainya adalah Ong Giok-yan, tapi Thian-sik
dan Tan-sin keburu menjawabnya sehingga Toan Ki urung
membuka mulut. Segera teringat olehnya bahwa dirinya
adalah putra mahkota kerajaan Taili yang setiap gerak-gerik
dan tutur-katanya menyangkut kehormatan negara. Sebab
itulah ia lantas memuruti nasehat kedua abdi pengiringnya
dan menjawab, "Orang yang paling kucintai sudah tentu
adalah ayah-bundaku.”
Lalu si dayang bertanya pula, "Dan bagaimana dengan
wajah ayah-bunda Yang Mulia? Apakah mirip dengan
engkau?"
"Ayahku bermuka lebar, beralis tebal dan bermata besar,
sikapnya gagah" baru sampai di sini mendadak ia tertegun.
Baru sekarang ia merasa muka sendiri kiranya tidak mirip sang
ayah, tapi lebih mamper sang ibu. Hal ini sebelumnya tidak
pernah terpikir olehnya.
Melihat ucapan Toan Ki berhenti ditengah jalan, si dayang
merasa Pangeran itu sudah selesai, tidak enak menguraikan
muka ibunya yang berkedudukan sebagai permaisuri Tin-lamong
yang diagungkan itu di depan orang banyak. Maka ia pun
tidak Tanya lebih jauh, ia hanya mengucapkan terima kasih
atas jawaban Toan Ki dan mohon dia mengaso ke samping.
Di sebelah sana pangeran cong-can menjadi iri ketika
melihat sikap si dayang yang sampai menghormati Toan Ki itu.
Pikirnya, “Kamu adalah pangeran, aku pun pangeran. Negeri
Turfan kami jauh lebih besar dan kuat daripada negerimu,
masakah kamu bisa lebih unggul dari padaku?”
Karena pikíran itu, segera ia melangkah maju dan berkata,
"Pangeran Cong-can dari Turfan mohon bertemu dengan
Tuan-Putri."
"Atas kehadiran Yang Mulia sungguh selaku anggota
kerajaan kami merasa mendapat kehormatan besar.” Kata si
dayang sambil memberi hormat, “Sekarang Yang Mulia
disilahkan juga menjawab ketiga pertanyaan itu.”
Cong-can adalah orang kasar dan tidak suka berliku-liku,
dengan tertawa ia berkata, "Ketiga pertanyaan Tuan Putri itu
sudah kudengar, maka tidak perlu kau Tanya lagi satu per
satu, biarlah kujawab sekaligus saja. Nah selama hidupku ini
tempat yang membikin aku paling senang dan bahagia adalah
kelak bila aku telah menjadi Huma, di kamar pengantin pada
malam pertama itulah tempatnya. Adapun orang yang paling
kuciantai selama hidup ini adalah Bon-gi Kongcu, sudah tentu
dia she Li, sedangkan namanya aku tidak tahu, sesudah
menjadi istriku tentu akan dia beritahukan padaku. Tentang
mukanya sudah tentu dia secantik bidadari. Haha, tepat tidak
ketiga jawabanku ini.”
Sebagian besar hadirin itu sesungguhnya mempunyai
pendapat yang sama seperti jawaban pangeran Cong-can itu.
Sekarang Cong-can telah memberi jawaban lebih dulu, maka
diam-diam mereka sangat menyesal tidak sejak tadi-tadi minta
diuji dan memberi jawaban seperti itu. Kalau sekarang
menjawab lagi serupa tentu diolok-olok orang lalu sebagai
penjiplak.
Begitulah Siau Hong telah mengikuti ujian dari si dayang
terhadap orang banyak itu satu persatu, sampai akhirnya ia
merasa bosan. Coba kalau tidak ingin tahu bagaimana hasil
sayembara itu tentu sejak tadi sudah ia tinggal pergi.
Tengah Siau Hong merasa kesal, tiba-tiba terdengar suara
Buyung Hok berkata. "Caihe Buyung Hok dari Koh-soh dengan
hormat menyampaikan salam kepada Tuan Putri.”
"O, kiranya Buyung-kongcu yang tersohor dengan Ih-pi-cito
dan hoan-si-pi-sin itu, biarpun selama ini hamba berada
dalam keraton, sering juga kudengar nama kebesaran
Buyung-kongcu," demikian puji si dayang.
Diam-diam Buyung Hok merasa senang dan bangga, kalau
dayang itu kenal namanya, dengan sendirinya Tuan Putrinya
juga mengenalnya, bisa jadi mereka sering membicarakan
dirinya. Karena itu, ia menjawab dengan kata-kata yang
rendah hati.
Lalu si dayang berkata pula, "Meski negeri Se He
tempatnya terpencil, sering juga kami dengar tentang 'Pak
Kiau Hong dan Lam Buyung' yang tersohor. Konon Pak Kiau
Hong sekarang sedang berganti she Siau dan menduduki
jabatan tinggi di negeri Liau, entah hal ini betul atau tidak?"
"Ya, memang betul," sahut Buyung Hok. Padahal dia tahu
Siau Hong juga ikut hadir di situ, tapi dia sengaja tak mau
mengatakan.
"Nama Buyung-kongcu sejajar dengan Siau-taihiap, tentu
kalián adalah kenalan baik, entah bagaimana potongan Siautaihiap
itu? Ilmu silatnya kalau dibandingkan Buyung-kongcu
kira-kira siapa yang lebih unggul?" demikian si dayang
bertanya lagi.
Keruan pertanyaan ini membuat Buyung Hok merah
mukanya. Dia pernah bertempur melawan Siau Hong dan
kalah tinggi ilmu silatnya, hal ini telah dilihat orang banyak,
sekarang kalau dia mengakui kenyataan itu tentu dia akan
ditertawai oleh ksatria-ksatria seluruh jagat.
Tapi dasar jiwa Buyung Hok memang agak sempit, dia
tetap tidak rela mengakui keunggulan Siau hong, maka ia
menjadi dadaran dan menjawab, “Apakah pertanyaan nona ini
termasuk ketiga pertanyaan yang hendak diujikan oleh Tuan
Putri?”
"O, tidak, harap maaf," sahut dayang itu cepat, "Soalnya
sudah lama hamba dengar nama kebesaran Siau-taihiap,
saking kagumnya maka hamba mengajukan pertanyaan ini."
"Siau-taihiap saat ini juga berada di sini, bila perlu nona
boleh langsung tanyakan padanya saja,” kata Buyung Hok.
Keterangan ini membuat suasana ruangan itu menjadi
gempar seketika. Maklum nama Siau Hong sangat termasyur
dan disegani oleh setiap orang persilatan.
Agaknya si dayang juga terpengaruh, katanya dengan
suara agak gemetar, "Oo, kiranya Siau-täihiap juga sudi
berkunjung kemari, karena sebelumnya tidak tahu, maka
sudilah memaafkan bila ada penyambutan yang kurang
sempurna,"
Tapi Siau Hong hanya mendengus saja dan tidak
menjawab.
Mendengar nada si dayang jauh lebih hormat kepada Siau
Hong daripada dia, diam-diam Buyung Hok menjädi kuatir,
"Wah, Siau Hong itu pun belum beristri, dia menjabat Lam-ih
Tai-ong kerajaan Liau dan memegang kekuasaan militer yang
besar, terang aku yang tak punya apa-apa ini bukan
bandingannya. Bila putri Se He penujui dia, Wah, bi . . . bisa
runyam ini!"
Dalam pada itu terdengar si dayang sedang berkata,
"Biarlah hamba tanya dulu pada Buyung-kongcu, harap Siautäihiap
suka menunggu untuk sementara, maaf."
Begitulah sesudah minta maaf dengan kata-kata yang
merendah, lalu dayang itu tanya Buyung Hok, "Nah,
pertanyaan pertama adalah di tempat manakah Buyungkongcu
merasa paling senang dan bahagia selama hidup ini?”
Pertanyaan ini jelas sudah didengar Buyung Hok sejak tadi,
tapi sekarang demi ia sendiri yang ditanya, seketika ia jadi
melongo dan sukar menjawab.
Selama hidup Buyung-Hok boleh dikata senantiasa giat
berusaha membangun kembali kerajaan Yan dan tidak pernah
mengalami waktu senang dan bahagia. Maka dengan tertegun
sejenak, akhirnya ia menjawab, "Untuk merasa benar-benar
senang dan bahagia, bagiku adalah pada masa yang akan
datang dan tidak terjadi pada waktu yang lalu."
Si dayang melengak. Ia mengira Buyung Hok akan
menjawab seperti pangeran Cong-can dan lain-lain dengan
mengatakan akan merasa senang dan bahagia bila dapat
mempersunting sang putri. Tak terduga Buyung Hok
menjawab sedikit samar-samar dengan melambangkan bahwa
rasa senang dan bahagianya adalah kelak bila dia sudah naik
tahta menjadi raja Yan yang jaya.
Begitulah dengan tersenyum lalu si dayang bertanya pula.
"Dan siapakah orang yang paling dícintai Buyung-kongcu
selama hidup ini?”
Buyung Hok menghela napas, sahutnya, "Tidak ada, aku
tidak pernah mencintai siapapun.”
"Jika begitu, maka pertanyaan ketiga tidak perlu lagi," ujar
si dayang.
"Kuharap setelah bertemu dengan Tuan Putrimu akan
dapat kuberi jawaban pertanyaan kedua dan ketiga ini,” ujar
buyung Hok.
"Baiklah silahkan Buyung Hok mengaso dulu ke sampíng,"
kata si dayang "Sekarang Siau-taihiap pun hadir di sini, maka
maafkan bila hamba juga mengajukan ketiga pertanyaan ini."
Tapi meski dia mengulangi lagi ucapannya tetap tidak
terdengar jawaban Siau-Hong.
“Toako kami sudah pergi, harap nona jangan marah."
Tiba-tiba Hi-tiok berkata.
"O Siau-taihiap sudah pergi?" si dayang menegas dengan
terkejüt.
Kiranya setelah mengikuti ketiga pertanyaan Bun-gi
Kongcu itu, Siau-Hong menduga di balik pertanyaan itu tentu
mempunyai makna yang dalam, yang terang putri se He itu
tiada maksud jahat hendak membikin susah para tamunya. Ia
menjadi teringat kepada A Cu sehingga berduka. Ia pikir bila
ketiga pertanyaan putri Se He itu juga diajukan kepadanya,
maka sukarlah baginya untuk membeberkan rahasia
perasaannya di depan orang banyak. Karena itu segera ia
keluar ruang batu tanpa diketahui orang lain.
"Entah sebab apa Siau-taihiap mengundurkan diri dari sini?
Apakah karena marah kepada perlakuan kami yang kurang
hormat ini?" tanya si dayang.
"Toako kami bukanlah orang yang berjiwa kerdil," ujar Hitiok,
"Kukira beliau takkan marah kepada kalian. Ya, aku
menduga dia ketagihan arak, maka kembali ke ruangan depan
sana untuk minum sepuasnya."
"Benar juga. Sudah lama Siau-taihiap tersohor sebagai
jago minum arak yang tiada bandinganya di sini tidak tersedia
arak yang baik, pantas Siau-taihiap kurang senang. Diharap
anda suka menyampaikan rasa penyesalan Tuan putri kami
bila bertemu dengan Siau-taihiap."
Dayang ini ternyata pandai bicara dan pintar melayani
tamu, jauh berbeda daripada dayang yang menyambut
mereka dengan malu-malu tadi.
Dalam pada itu si dayang bertanya lagi, "Dan siapakah
nama tuan yang terhormat?"
“Aku? O . . . aku . . . aku bergelar Hi-tiok!" katanya dengan
gugup.
"Di manakah Hi-tiok Siansing merasa paling senang dan
bahagia?" tanya si dayang.
Hi-tiok menghela napas pelahan, sahutnya, "Ah, tempat itu
adalah sebuah gudang es yang gelap gulita."
Baru dia mengatakan "gudang es", tiba-tiba terdengar
suara kaget tertahan seorang wanita, menyusul terdengar
suara nyaring pecahnya cangkir yang jatuh ke lantai.
"Dan siapakah nama orang yang paling di cintai tuan
selama hidup ini?" kembali si dayang menanya.
"Aku . . . aku tidak tahu siapa nama nona itu," sahut Hitiok.
Seketika bergemuruhlah gelak-tawa orang banyak. Mereka
semua pikir apakah orang ini agak sinting, masakah tidak
kenal nama si nona lantas jatuh cinta?
Tapi dayang berkata. "Tidak kenal nama nona itu, hal ini
pun tidak perlu diherankan. Banyak juga cerita kuno yang
mengatakan seorang pemuda jatuh cinta kepada bidadari
yang turun dari kayangan dan dengan sendirinya tidak kenal
siapa namanya. Nah. Hi-tiok Siansing, apakah wajah nona
kekasihmu itu juga secantik bidadari?"
"Bagaimana mukanya, selama hidupku ini pun tidak pernah
melihatnya."
Keruan suara gelak-tawa seketika menggelegar lagi
menggema ruangan batu itu. Semuanya menganggap ucapan
Hi-tiok itu benar-benar sesuatu yang paling menggelikan di
dunia ini. Ada juga yang menganggap Hi-tiok sengaja
membadut.
Di tengah suara tertawa ramai itu tiba-tiba terdengar suara
seorang wanita bertanya kepada Hi-tiok dengan perlahan,
"Apakah engkau ini . . . . 'Kakanda dalam impian'?"
"Hah, apakah . . . apakah engkau 'Dewi Impian?' O,
sungguh aku sangat merindukan dikau!" sahut Hi-tiok dengan
terkejut, suaranya sampai gemetar.
Terus saja ia mengulur tangan dan melangkah ke depan,
terendus bau hàrum yang memabukkan sebuah tangan yang
halus hangat terus menggenggam tanganya, lalu suara
seorang yang sudah sangat dikenalnya membisiki dia, "O,
Kakanda impianku, justru karena ingin mencari engkau, maka
aku mohon ayah baginda mengeluarkan maklumat tentang
sayembara pemilihan Huma untuk memancing kedatanganmu
ini."
"Hah, Jadi engkau ini putri . . . . "
"Ya, marilah kita bicara di dalam saja. O, Kakanda
impianku, sudah lama sekali, siang dan malam senantiasa
kuharap akan tiba saatnya seperti sekarang ini . . . "
Begitulah ditengah suara gelak tawa orang banyak yang
belum berhenti itu sepasang kekasih itu diam-diam
menyelinap ke ruang dalam dengan tangan bergandengan
tangan tanpa diketahui oleh siapa pun.
Sedang si dayang masih terus mengajukan ketiga
pertanyaan tadi kepada para tamu, sampai semua orang
selesai diuji, lalu ia berkata, "Sekarang silahkan hadirin
kembali ke ruang depan untuk minum lagi dan lukisan-lukisan
sebagai tanda mata akan segera dikirim ke sana agar tuantuan
dapat memilihnya sendiri. Apabila tuan Putri ingin
bertemu dengan siapa dengan sendirinya beliau akan
menyampaikan undangannya.”
Dalam keadaan masih gelap gulita segera banyak di antara
hadirin itu berteriak-teriak, "Tidak, kami ingin melihat Tuan
Putrimu! Ya, sekarang juga! Mengapa kami disuruh kian
kemari, bukankah sengaja menpermainkan orang?"
"Sudahlah tuan-tuan," kata si dayang. "Kukira lebih baik
tuan-tuan menunggu dulu di ruangan depan sana, kenapa
mesti ribut-ribut, kalau sampai Tuan Putri marah, bukankah
urusan bisa runyam?"
Rupanya ucapan terakhir itu sangat mujarab, seketika
semua orang tenang kembali dan terpaksa keluar dari kamar
batu itu. Di luar cahaya obor terang benderang menerangi
sepanjang jalan, akhirnya semua orang kembali lagi ke ruang
permulaan tadi untuk minum teh.
Sesudah berdampingan kembali dengan Giok-yan, lalu
Toan Ki menceritakan ketiga pertanyaan yang diajukan oleh
putri Se He itu. Ketika mendengar Toan Ki memberi jawaban
bahwa tempat yang membuatnya paling senang dan bahagia
selama hidup ini adalah di dalam lumpur sumur kering itu.
Giok-yan menjadi geli den tertawa ngikik. Katanya dengan
muka kemerah-merahan, "Ya, aku pun serupa engkau."
Tidak beberapa lama, seorang Thaikam membawa keluar
sepondong güluñgan lukisan dan menyilakan para tamunya
masing-masing memilih sebuah.
Para tamu itu sedang menanti dengan tidak sabar akan di
temui putri cantik atau tidak, sudah tentu mereka tidak
memikirkan tentang lukisan apa segala. Maka dengan bebas
Toan Ki dapat memilih lukisan "si cantik sedang menyulam"
itu.
Begìtulah, ia lantas membentang lukisan itu dan menikmati
keindahannya bersama Giok-yan. Mendadak teringat olehnya
bahwa Hi-tiok juga memiliki sebuah lukisan yang mirip, segera
ia hendak minta sang Jiko mengeluarkan lukisannya untuk
dibanding. Tapi meski ia melongok ke sana dan ke sini, di
ruangan itu ternyata tidak kelihatan bayangan Hi-tiok.
“Jiko! Jiko!" ia coba berseru memanggil, tetap tiada orang
menyahut. Diam-diam Toan Ki heran ia pikir apakah sang Jiko
sudah pergi bersama Siau-toako atau karena mengalami
sesuatu?
Tengah Toan Ki merasa kuatir, tiba-tiba seorang dayang
cantik mendekatinya dan berkata, “Hi tiok Siansing mengirim
surat untuk Yang Mulia.”
Sembari bicara ia pun menyodorkan sehelai kertas surat
yang indah dan terlipat.
Waktu Toan Ki membuka lipatan surat itu, segera
hidungnya mengendus bau harum semerbak. Ia lihat surat itu
tertulis:
Samte,
“Aku sangat senang, senang sekali, sungguh bahagia tak
terkatakan. Maaf telah sia-siakan perjalananmu ini, terpaksa
mesti mengecewakan pesan paman pula, habis apa daya,
tiada jalan lain.”
Toan Ki tahu sang Jiko bekas hwesio itu tidak banyak
bersekolah, dalam hal tulis menulis memang kurang mahir.
Tapi surat ini benar-benar tak keruan juntrungannya, entah
apa yang dimaksudkan "senang dan bahagia" itu. Maka Toan
Ki hanya termangu-mangu memegangi surat itu.
Di sebelah sana pangeran Cong-can menjadi cemburu
ketika melihat seorang dayang cantik menyerahkan secarik
surat kepada Toan Ki, pikirnya. "Kurang ajar, ternyata benar
putri cantik itu telah kau serobot lebih dulu. Hm, tidak bisa!"
Segera ia menggertak sekali terus menubruk maju ke arah
Toan Ki.
Begitulah sampai di depan Toan Ki, secepat kilat kertas
surat yang dipegang Toan Ki terus direbutnya, berbareng
kepalan kanan terus menggenjot dada pemuda itu.
Saat itu Toan Ki sedang menyelami apa arti bunyi surat Hitiok,
maka sama sekali ia tidak tahu menghindar ketika
pukulan Cong-can tiba. Apalagi serangan Cong-can itu secepat
kilat, andaikan hendak berkelit juga tidak keburu lagi. Maka
terdengar suara "bluk, brak, aduuuhh!" berturut-turut.
Kontan tubuh pangeran Cong-can terpental sampai
beberapa meter jauhnya dan terbantlng di atas sebuah meja,
meja ambruk, cawan pecah berantakan dan Cong-can sendiri
berteriak kesakitan.
Dasar orang kasar, biarpun masih rebah telentang, terus
saja ia bentang surat yang di rebutnya dari Toan Ki dan
segera díbaca dengan suara keras, "Aku sangat senang,
senang sekali, bahagia tak terkatakan . . . . "
Padahal dengan jelas-jemelas semua orang melihat dia
terpental dan terbanting sampaí menjerit kesakitan, mengapa
sekarang malah berseru, “Sangat senang dan bahagia"?
Karuan semua orang melongo terheran-heran.
Melihat Toan Ki kena pukul, segera Giok-yan mendekati
dan bertanya, "Apakah sakit dan terluka?"
"Tidak, tidak apa-apa.” sahut Toan Ki. "Aku menerima
sepucuk surat dari jiko, rupanya pangeran Turfan ini salah
paham dan menyangka putri Se He mengundang aku untuk
berjumpa dengan dia."
Melihat Cukong mereka terjungkal, terentak para jago
Turfan ikut menerjang maju, ada yang membangunkan Congcan,
banyak pula yang mengelilingi Toan Ki dan hendak
melabraknya.
"Kita tidak perlu lama-lama tinggal di tempat begini,
marilah kita pulang saja," kata Toan Ki kepada kawankawannya.
"Nanti dulu, Kongcu, urusan masih belum selesai, kenapa
terburu-buru. " ujar Pah Thian-sik.
“Ya, di dalam istana Se He ini masakah kita jeri kepada
orang Turfan!” kata Tan-sin. "Bolah jadi sebentar lagi Kongcu
akan ditemui putri cantik, kalau kita tinggal pergi begini saja
bukankah sangat kurang sopan?"
Begitulah kedua orang membujuk Toan Ki agar tinggal lagi
di situ untuk sementara waktu. Benar juga, dari dalam telah
keluar dua-tiga jago It-bin tong dan membentak agar orangorang
Turfan itu jangan sembarangan bertindak sendirisendiri.
Di sana Cong-can juga sudah merangkak bangun, karena
melihat surat itu bukan berasal dari Bun-gi kongcu yang
mengundang Toan Ki, rasa gusarnya manjadi reda.
Dalam pada itu tiba-tiba tampak Boh Wan-jing menggapi
tangan pada Toan Ki sambil memperlihatkan sehelai kertas.
Toan Ki menggangguk, lalu mendekatinya untuk menerima
kertas itu.
Bok Wan-jing dalam penyamaran sebagai Toan Ki dan
bercämpur di antara orang banyak sehingga orang lain tidak
memperhatikan dia. Sekarang pangeran Cong-can sedang
mengawasi gerak-gerik Toan Ki, demi melihat Bok Wan-jing,
segera dapat diketahuinya dandanan kedua orang itu serupa
sekilas pandang tampaknya sangat mirip. Keruan ia terkejut.
Lalu dilihatnya pula Toan Ki menerima sürat dari Bok Wan-jing
dan dibaca, air mukanya tampak aneh. Diam-diam Cong-can
curiga lagi. Ia pikir surat itu pasti kiriman Bun-gi Köngcu.
Segera ia membentak, "Satu kali kau dapat mengelabui aku,
jangan lagi mengira dapat menipu aku untuk kedua kalinya!"
Habis itu kembali ia mengeruduk maju lagi dan sekaligus
surat yang dipegang Toan Ki di rebutnya pula.
Ia sudah kapok dan tak berani menghantam Toan Ki lagi.
Namun sebagai gantinya segera ia gunakan kedua kakinya
untuk menendang perut Toan Ki secara berantai,
tendangannya cepat, caranya ganas pula.
Tak terduga tempat yang dia tendang itu justru adalah
pusat himpunan tenaga murni Toan Ki, tanpa bergerak juga
segera tenaga dalamnya timbul reaksi sendiri, Maka betapa
cepat dan kuatnya tendangan Cong-can segera menimbulkan
tenaga pentalan yang sama cepat dan sama kuatnya. Kontan
terdengar suara gedebukan dibarengi dengan suara jeritan,
tubuh Cong-can terpental balik dan melayang lewat di atas
kepala belasan orang, lalu menumbuk beberapa buah meja
dan akhirnya terbanting ke bawah.
Untung kulit daging pangeran Turfan itu cukup kasar lagi
tebal. Toan Ki juga tidak sengaja hendak melukai dia, mana
jatuhnya itu walaupun agak berat, namun tidak sampai
mengalami cidera.
Dan begitu tubuh Cong-can menggeletak di lantai, segera
ia bentang surat yang dia rebut itu dan dibacanya pula dengan
suara keras, "Ada orang lihai hendak membunuh ayahmu
juga. Lekas pergi menolongnya."
Keruan semua orang dibuat bingung pula mengapa Congcan
menyatakan "Ayahku berarti ayahmu juga?" Apa mungkin
pangeran Turfan dan pangeran Taili dialirkan tunggal ayah?
Sebaliknya Toan Ki, Pah Thian-sik dan Cu Tan-sin Cukup
jelas akan isi surat itu. Surat itu ditulis oleh Bok Wan-jing,
maka apa yang dikatakan, "Ayahku adalah ayahmu" itu
dengan sendirinya yang dimaksud ialah Toan cing-sun.
Begitulah, maka mereka lantas mengelilingi Wan-jing untuk
tanya soalnya.
Tutur Wan-jing, "Tidak lama sesudah kalian masuk ke
dalam, segera Bwe-kian dan Lam-kiam masuk kemari memberi
laporan sesuatu kepada Hi-tiok Siansing, tapi karena tidak
menemui majikan mereka, maka mereka memberitahukan
padaku bahwa mereka mendapat berita ada beberapa orang
lihai telah mengatur jebakan hendak membikin susah ayah.
Jebakan itu diatur di sepanjang jalan di sekitar Sujwan Selatan
yang merupakan jalan yang harus dilalui ayah bila hendak
pulang ke Taili. Sekarang orang-orang Leng-ciu-kiong telah
disebarkan untuk menyusul ayah dan memperingatkannya
agar waspada, berbareng mereka pun menyampaikan berita
kesini.”
"Dan di manakah enci Bwe-kiam dan Lam-kiam?" tanya
Toan Ki dengan kuatir.
"Hm, dalam pandanganmu hanya tertampak nona Ong
seorang saja orang lain masakah kelihatan olehmu?” sahut
Wan jing. "Tadi mestinya mereka ingin bicara denganmu, tapi
beberapa kali dipanggil engkau diam saja, entah engkau
sengaja tidak menggubris atau benar-benar tidak melihat
mereka."
"Aku . . . aku benar-benar tidak mengetahui kedatangan
mereka," kata Toan Ki dengan muka merah.
"Dan sekarang mereka sudah pergi mencari Hi-tiok Jiko
dan tidak menunggumu lagi," tutur Wan-jing "Mestinya aku
hendak memanggilmu, tapi kuatir tak kau gubris, terpaksa aku
menulis secarik surat dan disampaikan padamu."
Toan Ki jadi menyesal dan gegetun pula. Ia tahu
perhatiannya sendiri sedari tadi memang ditumplekkan atas
diri Giok-yan seorang, biarpun saat itu langit ambruk mungkin
juga tak di gubrisnya. Maka tentang datangnya Bwe-kiam
berdua dan teguran Bok Wan-jing tentu tak terdengar
olehnya.
Segera ia minta nasehat pada Thian-sik dan Tan-sin,
"Bagaimana pendapat para paman? Apakah kita harus
menyusul ayah sekarang juga?"
"Ya, harus demikian," sahut Thian-sik berdua. Mereka
anggap keselamatan Tin-lam-ong juga lebih penting daripada
urusan lain, apakah Toan Ki berhasil menjadi Huma kerajaan
Se He atau tidak terpaksa mesti dikesampingkan dulu.
Begitulah mereka lantas tinggalkan istana itu. Toan Ki dan
Giok-yan kembali ke pondok untuk menemui Ciong Ling, lalu
bebenah seperlunya untuk berangkat bersama.
Sedang Pah Thian-sik pergi mohon diri kepada Le-poh
Siang bahwa pangeran mahkota harus segera pulang, karena
waktu tidak mengizinkan, maka menteri itu diminta
menyampaikan pamit mereka kepada Sri Baginda.
Sesudah urusan selesai segera Thian-sik dan Tan-sin
menyusul Toan Ki berdua, kira-kira dua-tiga puluh li di selatan
Lengciu barulah mereka bergabung.
Rombongan mereka terus menuju ke selatan tanpa
berhenti. Sepanjang jalan berulang-ulang mereka menerima
berita dari anak buah Leng-ciu-kiong yang mengabarkan
bahwa rombongan Tin-Lam-ong sedang menuju ke selatan.
Berita lain mengatakan Tin-Lam-Ong berada bersama dua
wanita. Kedua wanita ini pernah saling labrak di kota Ciong
kwan dan ternyata sama kuatnya, syukur dapat dilerai oleh
Tin-Lam-Ong.
Toan Ki tahu bahwa kedua wanita itu yang satu adalah Cin
Ang-bian, ibu Bok Wan-jing, dan yang lain adalah Wi sing-tiok,
ibunya A Cu dan A Ci.
Bicara tentang ilmu silat agaknya Cin ang-bian lebih
unggul, tapi bicara tentang kecerdikan harus diakui Wi Singtiok
lebih unggul. Namun ayah bagindanya yang melerai
mereka tentu segala urusan dapat didamaikan.
Benar juga. Berita menyusul dari anak buah Leng-ciu-kiong
mengatakan bahwa sekarang kedua nyonya itu sudah damai
kembali dan sedang makan minum di suatu restoran bersama
Tin lam-ong. Anak buah Hian thian poh telah memberi isyarat
dan memperingatkan ada musuh di tengah jalan yang hendak
menjebaknya.
Dalam perjalanan Toan Ki juga bertukar pikiran dengan
Thian sik dan Tan-sin, mereka merasa musuh Tin-lan-ong
yang paling lihai selain Toan Yan khing, itu kepala dari Su ok,
rasanya tidak orang lain lagi?
Teringat pada Toan Yan-khing, mau-tak-mau mereka
merasa kuatir. Ilmu Toan Yan-khing sangat tinggi, di seluruh
negeri Taili hanya Po ting-to seorang saja yang mampu
melawannya, kalau di tengah jalan Tin-Lam-ong sampai
masuk perangkapnya tentu celaka. Tapi apa daya, terpaksa
mereka mempercepat perjalanan untuk menyusul rombongan
Tin-Lam-ong, jika dapat bergabung tentu akan dapat
membantunya untuk melawan Toan Yan-khing.
"Begitu berhadapan dengan Toan Yan-khing, tak perlu
banyak bicara lagí, segera kita menyerubut durjana itu, biarlah
kita mengeroyoknya beramai-ramai, jangan lagi seperti di tepi
telaga tempo hari dan membiarkan dia satu melawan satu
dengan Ongya,” ujar Thian-sik.
"Benar," sahut Tan sin. "Kita berdua ditambah Toankongcu,
nona Bok, nona Ong dan nona Ciong, ada lagi Ongya
sendiri dengan Hoa-toako. Tang-jiko dan lain-lain, mustahil
kita sebanyak ini tidak dapat mengalahkan durjana yang maha
jahat itu?"
"Ya, dengan durjana itu kukira memang tidak perlu bicara
tata cara dunia persilatan lagi, " kata Toan Ki.
Segera mereka mempercepat perjalanan. Ketika hampir
dekat dengan kota Congciu, tiba-tiba terlihat dua penunggang
kuda sedang mendatang secepat terbang. Sesudah dekat
kedua penunggang wanita melompat turun dan berseru,
"Anak buah Hian-thian-poh dari Leng-ciu-kiong menyampaikan
salam hormat kapada Toan-kongcu dari Taili."
Cepat Toan Ki melompat turun dari kudanya dan
menjawab. "Banyak terima kasih àtas bantuan para Cici,
silakan bangun! Apakah kalian telah melihat ayahku?"
''Lapor Kongcu,''demikian wanita yang lebih tua di sebelah
kanan membuka suara, "sesudah Tin-Lam-ong mendapat
isyarat peringatan kami, rombongan beliau sudah ganti haluan
dan menuju ke arah timur, katanya akan berputar untuk
kemudian membelok kembali ke Taili, dengan demikian
supaya musuh kecelik."
Maka legalah hati Toan Ki, katanya dengan girang, "Bagus!
Memangnya buat apa ayah mau bertempur dengan jahanam
itu. Selamat paling perlu dan bukan karena jeri pada mereka.
Dan apakah kedua Cici mengetahui siapakah musuh yang
hendak mencegat ayah-ibu? Berita kalian ini bermula didapat
dari mana?”
“Mula-mula nona Bwe-kiam mendengar cerita dari seorang
nona," demikian tutur wanita tadi. "Katanya nona itu bernama
A Pik apa, katanya murid perempuan dari murid keponakan
majikan kami . . . . "
"Ah, kiranya A Pik," seru Giok-yan.
"O, kiranya nona A Pik, aku kenal dia, Asalnya dia adalah
pelayan Buyung-kongcu," kata Toan Ki.
"Benarlah jika demikian," kata si wanita tadi, "Menurut
nona Bwe-kiam, katanya usia nona A Pik itu sebaya dengan
dia, pula sesama orang Leng-ciu-kiong, maka keduanya
sangat cocok. Menurut nona A Pik di tengah jalan dia
mendapat kabar, ada seorang tokoh yang sangat lihai hendak
mengganggu Toan-ongya. Nona A Pik mengaku kenal baik
Toan-kongcu, dahulu Kongcu sangat ramah padanya, maka
sekarang dia sengaja dating buat menyampaikan berita itu.”
Toan Ki menjadi teringat kejadian dahulu waktu pertama
kali bertemu dengan A Pik justru dengan perantaraan A Pik
dan A Cu dia dapat berkenalan dengan Giok-yan. Siapa duga
sekali ini A Pik kembali menyampaikan berita penting pula
padanya, seketika timbul rasa terima kasihnya yang tak
terhingga.
"Dan di manakah nona A Pìk sekarang?” tanya Toan Ki.
"Hamba tidak tahu." sahut wanita setengah umur tadi.
"Tapi menurut nona Bwe-kiam, agaknya lawan Toan-ongya itu
memang sangat lihai, untuk itu kongcu perlu lebih waspada
hendaknya.”
Sesudah Toan Ki mengucapkan terima kasih, lalu kedua
wanita Hian-thian-poh mencemplak ke atas kuda mereka dan
mendahului pergi.
"Bagaimana pendapatmu. Pah-pekhu (paman)?" tanya
Toan Ki.
"Jika Ongya sudah berputar ke arah timur maka boleh kita
langsung ke selatan, rasanya di sekitar Sengtoh akan dapat
bergabung dengan Ongya," ujar Thian-sik.
"Usul paman memang cocok dengan pikiranku," kata Toan
Ki.
Segera rombongan mereka meneruskan perjalanan ke
selatan, akhirnya sampailah mereka di kota Sengtoh. Suatu
kota yang paling ramai dan makmur di propinsi Sujwan.
Tiga hari lamanya Toan Ki dan kawan-kawan pesìar di kota
itu, tapi tidak nampak Toan Cing-sun atau rombongannya.
Diam-diam Thian-sik dan lain-lain menduga mungkin Tin-Lamong
ditemani dua istri cantik sehingga sepanjang jalan sengaja
pesiar sepuas-puasnya, sebab kalau sudah pulang sampai di
Taili, tentu tidak dapat lagi hidup bebas dan gembira seperti
sekarang.
Terpaksa Toan Ki dan rombongannya meneruskan
perjalanan ke selatan pula. Selama beberapa hari mereka
tidak menerima berita dari perngintai-pengintai wanita Lengciu-
kiong lagi. Tapi Karena sudah makin dekat dengan wilayah
Taili maka perasaan mereka pun semakin lega.
Sepanjang jalan Toan Ki merasa gembira ria berdampingan
dengan kekasih yang cantik, tapi ia pun kuatir Bok Wan-jing
akan marah, maka ia tidak berani terlalu dingin terhadap nona
itu, terkadang ia sengaja mengajaknya bicara dan bercanda.
Wan-jing tahu Toan Ki adalah kakaknya sendiri, di tengah
jalan ia pun memberitahu pada Ciong Ling bahwa dara cilik itu
sebenarnya juga anak Toan Cing-sun. Karena itu kedua orang
lantas berganti sebutan dan saling panggil sebagai kakak dan
adik. Walaupun mereka masih merasa murung bila
menyaksikan betapa kasih-mesranya Toan Ki dan Giok-yan,
tapi lambat-laun rasa duka itu pun berkurang sehingga tak
terasa lagi.
Suatu petang, ketika mereka hampir sampai di kota Yangliu-
tin, mendadak udara mendung, menyusul air hujan lantas
menebas besar-besar. Cepat-cepat mereka larikan kuda ke
depan untuk mencari tempat berteduh.
Setelah membelok ke balik sebuah hutan, tertampaklah di
tepi sungai kecil sana berdiri, beberapa buah rumah tembok.
Toan Ki dan lain-lain merasa girang, cepat mereka menuju
kesana.
Sesudah dekat tertampak di bawah ampar berdiri seorang
tuan sedang memandangi awan mendung yang makin lama
makin tebal dan gelap.
Segera Tan-sin melompat turun dari kudanya, ia memberi
hormat dan menyapa, "Ter¡malah salamku, Lotiang (bapak),
rombongan kami ini kehujanan di tengah jalan, maka ingín
mohon mondok untuk sementara di tempat Lotiang, entah
boleh atau tidak?”
"Boleh, sudah tentu boleh," sahut orang tua itu. "Orang
yang keluar rumah tidak mungkin membawa serta pula
rumah. Tuan tuan dan nona-nona silakan masuk.”
Tan-sin mengucapkan terima kasih. Tapi diam-diam ia
terkesiap ketika melihat kerut mata si orang tua yang tajam
itu, suaranya juga nyaring dan kuat, logatnya tìdak mirip logat
penduduk setempat.
Serentak semua orang masuk ke dalam rumah, lalu Tan sin
menunjuk Toan Ki dan diperkenalkan kepada tuan rumah, "Ini
adalah tuan muda kami Li-kongcu, baru pulang menjenguk
pamili di Sengtoh. Dan saudara itu adalah Ciok-toako, aku
sendiri she Tan. Kalau tidak keberatan, numpang Tanya she
Lotiang yang mulia?"
"O, aku she Keh," sahut si orang tua dengan tertawa,
"Baiklah, silahkan Li-kongcu, Ciok-toako dan nona-nona masuk
ke ruangan dalam untuk minum-minum dulu. Melihat
gelagatnya, mungkín hujan ini takkan reda dalam waktu
singkat."
Mendengar Tan-sin telah memperkenalkan nama palsu,
segera Toan Ki merasa urusan agak ganjil, semua orang lantas
ikut berlaku hati-hati.
Orang tua ¡tu membawa mereka ke sebuah kamar
sampìng yang teratur rapi dan bersih, di dinding terhias
beberapa piguran lukisan, dari kamar itu dapat diduga tuan
rumannya pasti bukan orang kampungan. Tan-sin saling
pandang dengan Thian-sik, mereka tambah was-was.
“Tuan-tuan dan nona-nona silahkan duduk, segera kusuruh
membawakan teh," kata si orang tua.
Tan-sin mengucapkan terima kasih. Ketika orang tua itu
melangkah keluar, seketika ia merapatkan pintu kamar.
Waktu pintu itu tertutup, segera kelihatan di belakang
pintu tergantung sebuah lukisan yang mengambarkan
beberapa tangkai bunga kamelia dari jenis dan warna yang
berbeda.
Tailì adalah tempat paling banyak tumbuh bunga Teh-hoa
(kamelia), maka Toan Ki menjadi girang melihat lukisan itu.
Tiba-tiba tertampak lukisan itu disertai pula sebait tulisan yang
berbunyi. "Taili punya Teh-hoa tiada bandingannya jenisnya
seluruhnya ada 71 macam lebih besar dari Bo-ten . . . "
Jilid ke-82
Begitulah tulisan itu, anehnya pada bagian-bagian tertentu
dari tulisan itu terdapat kekurangan satu huruf dan lalu satu
huruf lagi, entah sengaja dilowongi atau karena penulisnya
lupa pula tentang Jenis bunga kamelia itu seluruhnya mestinya
berjumlah 72 macam.
Kebetulan di atas meja situ tersedia alat-alat tulisi lengkap,
sebagai seorang pencinta bunga kamelia dan suka bersanjak,
melihat ketidak lengkapan tulísan pada lukisan itu, langsung
Toan Ki mengambil pit dan menambahkan tulisan-tulisan yang
kurang itu, begitu pula tentang jenis kamelia, ia tambahkan
menjadi 72 macam.
“Bagus, dengan ditambahkannya tulisanmu, maka
sempurnalah lukisan itu," seru Ciong Ling dengan tertawa.
Belum lenyap suaranya, tiba-tiba si orang tua tadi
melangkah masuk dan seketika ia merapatkan pintu pula.
ketika melihat lowongan tulisan pada lukisan itu sekarang
telah terisi, segera mukanya berseri-seri, katanya dengan
tertawa, "Sungguh tamu agung, tamu agung! Rupanya aku
sudah berlaku kurang hormat. Lukisan ini adalah buah tangan
seorang sobatku, rupanya dia seorang pelupa waktu
membubuhkan tulisan itu tiba-tiba ia lupa beberapa huruf di
antaranya, katanya mau pulang dulu untuk memeriksa
catatannya dan kelak akan diisi lagi. Ai, siapa duga sesudah
pulang dia lantas jatuh sakit dan akhirnya meninggal sehingga
tulisannya ini tetap lowong. Tak nyana sekarang Lî-kongcu
yang terpelajar ini sudi memenuhi cita-cita sobatku yang
belum terlaksana itu. sungguh aku harus mengucapkan terima
kasih banyak-banyak, Lekas siapkan arak, bikin pesta!"
Segitulah ia berteriak-teriak sambil lari keluar.
Tidak lama kemudian, orang tua ini datang pula dengan
dandanan yang serba baru, ia mengundang Toan Ki dan
kawan-kawannya menghadiri perjamuan d¡ ruangan tamu.
Karena waktu itu hujan masih lebat sehíngga tidak
mungkin untuk meneruskan perjalanan, pula undangan orang
tua itu agaknya sengat sungguh-sungguh dan susah ditolak,
terpaksa Toan Ki dan lain-lain menuju ke rüangan depan.
Ternyata di atas meja sudah tersedia belasan macam masakan
ada ayam, ada itik dan ada daging.
Setelah mengucapkan terima kasih, lalu Toan Kid an
kawan-kawan lantas mengambil tempat duduk sendiri-sendiri.
Segera si orang tua she Keh menuangkan arak, ia sendiri
mendahului minum setegük sambil berkecak-kecak untük
mencicipi rasanya, menyusul lantas minum lagi seteguk besar.
Lalu Katanya dengan tertawa, "Meski arak kampung, tapi
rasanyá masih boleh juga. Li-Kongcu sebenarnya bápak ini
orang daerah Kanglam, karena menghindari musuh, maka
pindah dan hídup di tempat jauh ini, selama ini aku sangat
merindukan kampung halamanku.”
Sambil omong ia terus menuangkan arak ke pada para
tamunya."
Mendengar si orang tua menguraikan asal-usulnya sendiri,
walaupun tak bisa dipercaya seluruhnya, tapi rasa curiga Pah
Thian-sik dan lain-lain menjadliagak berkurang. Apalagi orang
itu telah mendahului minum arak, mereka menjadi tidak kuatir
lagi, segera mereka pun makan minum sepuasnya. Cuma
Thian-sik dan Tan-sin memang lebih hati-hati, mereka minum
sedikit, waktu makan juga selalu mengawasi gerak-gerik si
orang tua, kalau tuan rumah itu sudah mencicipi santapan itu
barulah mereka berani ikut makan.
Sampai malamnya hujan masih tetap belum reda, pula si
orang tua menahan mereka dengan setulus hati, terpaksa
Toan Ki dan kawan-kawannya menginap di iltu.
Sebelum tidur Thian-sik memperingatkan Wan-jing agar
tangen sedikit, jangan tidur sampai lupa daratan, sebab
tempat itu tampaknya agak mencurigakan. Karena itu Wan-
jing membiarkan Giok-yan tidur bersama Ciong Ling, ia sediri
hanya rebah tanpa ganti pakaian, dalam lengan baju sudah
siap dengan panah berbisa. Maski dia tidak berani tidur
nyenyak, sampai fajat menyingsing ternyata tidak terjadi
sesuatu.
Sementara itu hujan sudah terang, sesudah cuci muka dan
berdandan, lalu Toan Ki mohon diri kepada si orang tua.
Mereka diantar sampai jauh oleh orang tua she Keh itu
dengan sangat menghormat. Diam-diam Toan Ki dan lain-lain
sangat benar sesudah berpisah.
Kata Pah Thian-sik, "Sungguh susah dimengerti bagaimana
asal-usul orang tua itu, sekali ini aku benar-benar salah mata."
"Engkau tidak salah mata, Pah-heng." Ujar Tan-sin. "Kukira
orang tua itu semula tidak bermaksud baik. Dia baru berubah
sikap sesudah melihat Kongcuya kita mengisi tulisan dalam
lukisannya itu. Kongcu, menurut pikiranmu, adakah sesuatu
yang aneh dalam lukisan dan tulisan yang tak lengkap itu?"
"Lukisan itu hanya beberapa jenis kamelia yang biasa saja
dan tiada sesuatu yang aneh, begitu pula tulisan itu cuma
catatan yang umum.” sahut Toan Ki.
Karena tidak dapat menarik sesuatu kesimpulan, terpaksa
mereka tidak tarik panjang kejadian itu.
"Paling baik kalau sepanjang jalan dapat menemui lagi
tulisan yang kurang lengkap pada lukisan seperti kemarin itu,
dengan demikian Toan-kongcu kita akan dapat mengisinya
untuk mencari ganti jasa makan minum dan pondokan gratis
sungguh menyenangkan juga," demikian kata Ciong Ling.
Semua orang tertawa atas banyolan nona cilik itu.
Tapi aneh juga, kelakar Ciong Ling itu ternyata
mendatangkan kejadian sungguhan, berulang-ulang mereka
benar-benar menemukan lukisan dengan tulisan yang tidak
lengkap dan lukisan-lukisan itu semuanya menggambarkan
bunga kamelia. Toan Ki juga tidak sungkan-sungkan lagi, asal
melihat segera ia angkat alat tulis dan mengisi huruf yang
tidak lengkap itu. Dan asal dia sudah mengisi, segera pemilik
lukisan memberi layanan yang memuaskan dengan gratis.
Dalam herannya beberapa kali Cu Tan-sin dan Pah Thian-
sik coba memancing kata-kata pemilik lukisan itu, tapi
jawaban yang diperoleh semuanya sama, semuanya
mengatakan tulisan dalam gambar itu memang belum lengkap
dan berkat bantuan Toan Ki, sungguh mereka sangat
berterima kasih.
Sebaliknya Toan Ki dan Ciong Ling masih bersifat kekanak-
kanak, mereka merasa senang dengan permainan demikian
itu, makin banyak lukisan yang bertuliskan kurang lengkap,
makin menarik bagi mereka.
Giok-yan sendiri tidak terlalu memusingkan urusan itu, Asal
dilihatnya Toan Ki gembira, maka ia pun merasa senang.
Sebaliknya Bok Wan-jing tidak pernah kenal apa arti takut,
maka ia tidak peduli kejadian itu akan mendatangkan kebaikan
atau bencana.
Hanya Pah Thian-sik dan Cu Tan-sin saja yang semakin
kuatir. Dari apa yang diatur oleh pihak lawan yang rapi itu
mereka menduga di balik itu pasti ada tipu muslihat yang
belum diketahui.
Tapi meski mereka sudah berhati-hati dan menyelami
setiap sesuatu yang mencurigakan. Toh tetap tidak
menemukan bukti apa pun.
Begitulah perjalanan yang makan tempo cukup lama itu
makin lama makin ke selatan. Tatkala itu sudah pertengahan
bulan sepuluh tapi hawa juga tidak dingin, sepanjang jalan
gunung menghijau dan hutan berkerumun rimbun, suatu
pemandangan yang berbeda dengan keadaan alam di wilayah
Se He.
Pada suatu petang, ketika sampai di padang rumput,
sepanjang mata memandang hanya rumput yang memanjang
lebat di sebelah kiri sana adalah rimba yang lebat. Tampaknya
dalam jarak beberapa puluh li tiada perkampungan penduduk.
Maka berkatalah Thian-sik, "Kongcu, keadaan di sini agak
berbahaya, lebih baik kita mencari suatu tempat untuk
bermalam."
Toan Ki menyatakan setuju, cuma ia tanya kemana harus
mencari tempat berteduh di padang rumput seluas itu.
"Di lautan rumput seperti ini sangat banyak nyamuk dan
serangga berbisa, banyak pula Ciang-gi (hawa lembab atau
panas) yang bisa mendatangkan penyakit," kata Tan-sin.
"Maka kalau tiada tempat pondokan yang baik, biarlah kita
bermalam di atas pohon saja untuk menghindari serangan
hawa berbisa dan binatang buas atau nyamuk."
Segera rombongan mereka membelok ke arah hutan yang
rimbun itu.
Giok-yan lama tinggal di daerah pedalaman, tapi
selamanya dia belum pernah pesiar ke tempat lain. Maka
waktu mendengar Tan-sin bercerita tentang Ciang-gi yang
berbahaya itu, segera ia tanya lebih jauh apakah sebenarnya
Ciang-gi.
"Ciang-gi adalah hawa lembab atau hawa panas yang
berbisa di daerah pegunungan atau hutan belantara yang
jarang didatangi manusia,'' demikian tutur Tan-sin. "Menurut
cerita oreng Taili kami. katanya dalam bulan tiga banyak
berjangkit Tho-hoa-ciang (hawa bunga delima berbisa), konon
kedua macam Ciang-gi inilah yang paling berbahaya. Padahal
segala macam hawa berbisa tentu mendatangkan penyakit,
terutama musim panas, serangga berbisa dan nyamuk
berkembang biak dengan subur, masa-masa itulah paling
berbahaya. Sekarang hawa sudah mendekati musim dingin,
keadaan tentu akan lebih baik. Cuma di sekitar sini hawa
sangat lembab, rumput yang memanjang bagai lautan ini pun
setahun demi setahun membusuk, maka hawa lembab yang
berbisa tentu juga lebih keras."
"Wah, kiranya hawa berbisa juga diberi nama-nama begitu
indah, jika demikian apakah ada juga Toh-hoa-ciang (hawa
bunga kamelia berbisa)?" tanya Giok-yan tiba-tiba.
Seketika Toan Ki dan lain-lain tertawa geli oleh pertanyaan
si nona, Sahut Tan-sin, ''Orang Taili kami paling suka kepada
bunga kamelia, maka tidak menghubung-hubungkan bunga
yang indah itu dengan hawa berbisa yang membahayakan
itu."
Tengah bicara rombongan mereka sudah mulai memasuki
hutan lebat itu. Karena tanah disitu memang lembab dan
menyerupai lumpur, maka kuda mereka menjadi payah juga
jalannya.
“Kukira kita tak perlu terlalu jauh menjelajahi hutan ini,"
ujar Thian-sik. "Marilah kita boleh berhenti saja disini,
beramai-ramai kita membikin sarang diatas pohon untuk
bermalam, bila sang surya sudah menyingsing dan hawa
berbisa sudah mulai sirna barulah kita melanjutkan
perjalanan."
"Apakah sesudah matahari terbit dan hawa berbisa itu
akan kurang mambahayakan lagi?" Tanya Giok-yan.
Thian-sik membenarkan.
Mendadak Ciong Ling berseru kaget sambil menunjuk
kejurusan timur laut, "Wah, celaka! Disana sudah timbul hawa
berbisa! Hawa berbisa jenis apakah itu?"
Waktu semua orang mamandang kearah yang ditunjuk,
benar juga tertampak segumpal awan yang ditunjuk, benar
juga tertampak segumpal awan yang sedang mengepul keatas
dari tengah rimba sana.
Mendadak Thian-sik terbahak-bahak, katanya, "Nona
Ciong, itu adalah asap cerobong dari orang yang sedang
menanak nasi."
Sesudah diperhatikan memang betul gumpalan awan itu
adalah asap dan bukan hawa berbisa segala, Maka tertawalah
semua orang, semangat mereka pun terbangkit, jika ada asap,
tentu disana ada manusia.
Segera mereka batalkan maksud berkemah diatas pohon,
tapi beramai-ramai menuju ke tempat mengumpulnya asap
itu. Sesudah dekat, ternyata hutan di situ terdapat beberapa
buah rumah papan, di samping rumah banyak bertumpuk
kayu gelondongan, nyata rumah-rumah itu adalah kediaman
tukang tebang kayu.
Tan-sin tampil ke depan dan berseru, "Hai, Toako
penebang kayu, ada orang dalam perjalanan ingin mohon
mondok semalam di sini, boleh tidak?”
Tapi sampai sekian lama tiada suara jawaban dari dalam
rumah meski Tan-sin telah mengulangi pula ucapannya.
Padahak asap dapur di dalam rumah masih tetap mengepul,
suatu tanda rumah itu pasti ada penghuninya.
Dengan penasaran Tan-sin mengeluarkan kipasnya yang
biasa digunakan sebagai senjata, dengan pelahan ia buka
pintu dan melangkah masuk ke dalam rumah.
Ternyata tiada bayangan seorang pun di dalam rumah.
sebaliknya terdengar suara "pletak-pletok", suara terbakarnya
kayu. Segera Tan-sin menuju ke ruang belakang dan masuk
ke dapur. Maka tertampaklah di depan tungku ada seorang
nenek bungkuk sedang menunggui api dapur.
"Lopopo (nenek tua), apakah di sini masih ada orang lain
lagi?" segera Tan-sin menegur.
Namun nenek itu hanya memandanginya dengan
melonggok seperti tak mendengar apa pun, Ketika Tan-sin
mengulangi lagi ucapannya barulah nenek itu mrnuding
telinga dan mulut sendiri sambil mengeluarkan suara "ah-uh"
yang kaku. Nyata nenek itu seorang tuli dan bisu.
Waktu Tan-sin kembali ke ruang depan, sementara itu
Thian-sik, Toan Ki dan lain-lain juga sudah memeriksa rumah-
rumah lain dan semuanya tiada penghuninya kecuali nenek
tuli dan bisu itu. Pah Thian-sik juga telah mengelilingi rumah
papan itu dan ternyata tiada menemukan sesuatu tanda, yang
mencurigakan.
"Nenek itu bisu lagi tuli, susah untuk diajak bicara,"
demikian tutur Tan-sin. "Biasanya nona Ong paling sabar,
silakan engkau coba-coba bicara dengan dia."
Giok-yan mengiakan, "Baiklah, coba kuhubungi dia."
Segera ia masuk ke dapur dan main tuding sana dan
tuding sini dengan isyarat tangan, lalu memberikan nenek itu
serenceng uang perak, ah, ternyata berhasil juga membikin
terang duduknya perkara. Sesudah nenek itu menanak nasi,
lalu Giok-yan minta sedikit berás kepada si nenek untuk
menanak nasi bagi kawan-kawannya walaupun tiada lauk-
pauk dan arak, terpaksa mereka tangsal perut apa adanya.
"Kìta boleh bermalam dí rumah ini dan jangan terpencar,"
kata Thian-sik.
Segera ia membagi kaum lelaki tidur di kamar sebelah
kanan dan kaum wanita di kamar sebelah kiri. Sebagai
penerangan si nenek telah menyalakan sebuah pelita minyak
dan dltaruh di alas meja ruang tengah.
Saking lelahnya dalam perjalanan, segera semua orang
merebahkan diri untuk tidur. Baru saja mereka hendak pulas,
tiba-tiba terdengar di ruang tengah ada suara ''tik tik tik",
suara orang mematik api tapi tidak menyala-nyala.
Segera Thian-sik keluar dari kamarnya, ia lihat pelita
minyak di atas meja sudah padam, dalam kegelapan terdengar
suara "tik-tik-tiK" yang tak berhenti-henti, rupanya si nenek
sedang mengetik api hendak menyalakan kembali pintu itu.
Mengetik api dengan pisau dan batu api mestinya tidak
sulit kecuali kalau kawulnya (selaput) basah atau kurang baik.
Segera Thian-sik mengeluakan alat ketikan api sendiri,
"tik", sekali ketik saja api lantas menyala dan terus menyulut
pelita minyak di atas meja itu.
Si nenek tampak tersenyum senang, lalu meminjam alat
ketik api Pah Thian-sik sambil menuding-nuding ke arah dapur
sebagai tanda hendak menyalakan api pula di sana. Tanpa
pikir Thian-sik menyerahkan alat ketikan api itu, lalu ditinggal
masuk kamar untuk tidur lagi.
Selang tak lama, kembali di ruangan tengah terdengar
suara "tik-tik-tik" pula. Toan Ki dan lain-lain terjaga bangun
lagi. Dari sela-sela dinding mereka melihat keadaan di luar
sana gelap gulita, rupanya pelita minyak itu kembali padam.
“Saling tuanya mungkin nenek itu sudah pikun,“
demikianlah Tan sin mengerundel dengan tertawa. Mestinya ia
tidak mau ambil pusing, tapi suara “tak-tik-tak-tik" itu justru
tidak berhenti-henti dan sangat mengganggu, seakan-akan
kalau api belum menyala, maka semalam suntuk nenek itu
akan mengetik terus.
Tan-sin merasa sebel, segera ia keluar, dalam kegelapan ia
lihat si nenek terus mengetik api dengan ngotot. Segera Tan-
sin mengeluarkan alat api sendiri, "tik" sekali api lantas
dinyalakan dan pelita itu disulutnya.
Si nenek tertawa, ia memberi tanda hendak meminjam alat
ketikan api itu kepada Tan-sin untuk membuat api di dapur,
sudah tentu Tan-sin meminjamkan dan masuk kembali untuk
tidur.
Tak terduga, tidak lama kemudian kembali di ruang tengah
terdengar pula suara "tik-tik-tik" yang berisik. Diam-diam
Thian-sik dan Tan-sin mendongkol dan menggerutu entah
nenek itu main gila apa, selalu menggangu orang tidur.
Namun begitu di luar masih terus berbunyi “tak-tik-tak-tik” tak
berhenti-henti.
Thian-sik melompat keluar. Ia rebut pisau dan batu api si
nenek dan mengetiknya, tapi sekali ini api sukar menyala,
waktu ia raba alat-alat itu, ternyata bukan miliknya sendiri,
segera ia tanya dengan heran, "Dimanakah pisau dan batu
apiku?"
Namun ia jadi geli sendiri, muring-muring kepada seorang
bisu-tuli sudah tentu tak ada gunanya.
Dalam pada itu Bok Wan-jing telah keluar juga, ia
keluarkan pisau dan batu api dan berkata, "Pah-sooksiok,
apakah engkau ingin membuat api?"
"Nenek ini lho, masakan berkutatan sejak tadi dan
mengganggu orang tidur saja, sungguh aneh," sahut Thian-sik
sambil menerima alat ketikan api yang disodorkan Boh Wan-
Jing dan sekali ketik api lantas menyala serta menyulut pelita
minyak tadi.
Si nenek tertawa puas sambil memandangi pelita yang
sudah menyala itu.
"Nona Bok silakan tidur lagi agar besok pagi-pagi bisa
berangkat," kata Thian sik sambil kembali ke kamarnva
sendiri.
Siapa tahu, tidak seberapa lama, kembali suara "tak-tik-
tak-tik" itu berjangkit pula. Serentak Thian-Sin dan Tan-sin
melompat bangun bersama, tapi sebelum berlari keluar
mendadak mereka merasa perbutuan Si nenek itu sangat
mencurigakan, di balik itu pasti ada tipu muslihat tertentu.
Pelahan Thian-sik menjawil kawannya, lalu kedua orang
terbagi dua arah untuk mengepung si nenek.
Dan baru saja mereka hendak menubruk maju, tiba-tiba
hidung mereka mengendus bau harum. Ternyata orang yang
sedang membuat api itu bukan lagi si nenek melainkan Bok-
Wan-jing.
"He, kiranya nona Bok?" tanya Thian-sik.
''Ya," sahut si nona "Aku merasa tempat ini agak
mencurigakan, maka ingin menyalakan pelita untuk
memeriksanya.”
"Coba, biar kubuatkan api," kata Thian-sik. Lalu ia
menerima alat ketikan api itu dari Wan-Jing.
Tapi meski dia sudah mengetik berulang-ulang, setitik
belatu api pun tidak kelihatan, Thian-sik terkejut, serunya,
"Batu api ini tidak baik. Nona Bok, batu ini telah ditukar oleh
nenek itu."
”Cepat kita cari nenek itu, jangan sampai dia sempat lari,"
ujar Tan-sin.
Segera Bok Wan-jing lari ke dapur, sedang Thian-sik dan
Tan-sin mengejar keluar rumah. Tapi hanya sekejap itu saja si
nenek sudah menghilang entah ke mana.
"Jangan mengajar lagi, melindungi Kongcu lebih penting,"
ujar Tan-sin.
Segera mereka kembali ke dalam rumah. Sementara itu
Toan Ki, Giok-yan dan Ciong Ling juga sudah bangun semua.
"Siapa yang membawa alat pembuat api? Nyalakan pelita
lebih dulu," kata Thian-sik.
"Pisau dan batu apiku telah dipinjam oleh nenek itu,"
terdengar dua orang menjawab berbareng. Mereka adalah
Giok yan dan Ciong Ling.
Diam-diam Thian-sik dan Tan-sin mengeluh. Mereka sudah
berhati-hati, akhlrnya toh masih terjebak oleh musuh.
Toan Ki mengeluarkan batu api dan coba mengetiknya,
namun tidak berhasil juga, sama sekali tidak mengeluarkan
lelatu.
"Kongcu, apakah nenek itu pun pernäh pinjam alat ketik
apimu?" tanya Tan-sin.
"Ya, sebelum dahar tadi,'' sahut Toan Ki. "Habis pakai lalu
ia kembalikan padaku."
"Batu api Kongcu itu telah ditukar olehnya,” ujar Tan-sin.
Seketika semua orang terdiam, dalam kegelapan hanya
terdengar suara bunyi serangga di sekeliling rumah. Malam itu
kebetulan akhir bulan, sinar bintang juga guram.
Mereka berenam berkumpul di dalam rumah, diam-diam
mereka merasa keadaan di sekeliling situ sangat berbahaya.
Sejak Toan Ki mengisi tulisan lukisan dan mendapat pelayanan
si orang tua she Keh, memangnya mereka sudah was-was
terhadap tipu muslihat musuh. Tapi meski mereka sudah
mencari dan menyelidiki, tetap tidak menemukan sesuatu
yang mencurigakan. Mereka piker kalau musuh muncul
sekaligus akan lebih gampang diselesaikan sebaliknya kalau
main kucing-kucingan begini sungguh sukar untuk dilayani.
Nenek itu telah menipu alat pembuat api kita, tujuannya
ialah supaya kita tak dapat menyalakan pelita dan mereka
akan dapat menjalankan tipu muslihat dalam keadaan gelap,"
demikian pendapat Bok Wan-jing.
"Benar," kata Thian-sik. "Dalam keadaan gelap, kalau
mereka menggunakan mahluk berbisa yang kecil-kecil untuk
menyerang kita, wah, bias celaka."
Mendadak Ciong Ling menjerit ketakutan. Waktu semua
orang menanyakan apa yang terjadi dara cilik itu menjawab,
"Aku paling takut pada kelabang dan ketungging, kalau
mereka menggunakan binatang berbisa itu untuk menyerang
kita, tentu celakalah kita. Jika ular aku tidak takut."
"Nona Ciong jangan takut, biarlah kita menyalakan api
dulu," kata Thian-sik.
"Alat-alatnya sudah tidak ada, cara bagaimana menyalakan
api?" tanya Ciong Ling.
"Musuh sengaja bikin kita tak bisa menyalakan api, maka
kita justru akan membuat api, kukira pasti bisa," kata Thian-
sik.
Segera ia pergi ke dapúr untuk mengambil dua potong
kayu bakar dan diserahkan kepada Tan-sin, katanya, "Cu-
hianto, buatlah serbuk kayu, makin halus makin baik."
Tan-sin dapat menangkap maksud sang kawan, ia pun
menyalakan kebulatan tekadnya takkan menyerah kepada tipu
muslihat musuh. Segera ia mengeluarkan sebilah belati dan
mulai mengeruki kayu itu üntuk mendapatkan serbuk kayu
yang halus.
Toan Ki, Bok Wan-jing dan lain-lain segera, membantunya,
mereka keluarkan pisau yang dibawanya dan memotong dan
mengerik kayu-kayu itu menjadi bubuk halus. Tapi dalam hati
semua orang merasa kebat-kebit karena tidak tahu bila musuh
akan menyerang. Maka semuanya tidak bicara, hanya
memperhatikan setiap suaru di luar rumah.
Tidak lama kemudian, waktu Thian sik merasa serbuk kayu
sudah terkumpul dua genggam banyaknya, segera ia
mencakupnya menjadi satu, lalu diambilnya pula secuil kawul
dan disusupkan di tengah serbuk kayu. Ia pegang golok
sendiri dan pinjam pula golok Wan-jing, dengan merapatkan
punggung kedua gaman itu la gesek sekeras-kerasnya
sehingga meletikkan lelatu apí. Serbuk kayu itu terkena lelatu
dan segera menyala, tapi lantas pudar lagi karena belum
mengenai kawulnya.
Sesudah diulangi lagi oleh Thian-sik, akhirnya api dapat
dinyalakan, Toan Kí berseru girang, segera ia menyuluh pelita
minyak di atas meja itu
Kuatir pelita itu akan padam pula, Tan-sik menyalakan juga
pelita yang terdapat di kamar dan dapur. Walaupun cahaya
api tidak terlalu terang, namun demikian toh akhirnya mereka
telah menyalekan api, seketika semangat mereka terbangkit
seperti orang habis menang perang.
Di antara keenam orang itu, Pah Thian-sik, Cu Tan-sin dan
Bok Wan-jing cukup luas pengalamannya, ilmu silat mereka
pun tinggi, sebaliknya ketiga orang lainnya masih hijau, kalau
musuh benar-benar menyerang secara besar-besaran tentu
akan sukar melawan. Maka keenam orang hanya saling
pandang saja dengan hati kebat-kebit untuk menunggu
perkembangan selanjutnya.
Tapi yang terdengar hanya suara angin mendesir di luar
diseling suara serangga yang ramai, selama itu tiada sesuatu
pula yang aneh.
Waktu Toan Ki menoleh, tiba-tiba ia lihat kedua tiang
rumah masing-màsing terukir tulisan dalam bentuk "Tui lian"
(sajak timpalan) bunyinya kira-kira begini:
Air mengalir di sungai musim semi bunga kamelia ( )
( ) memenuhi langit di musim panas buah leci merah.
Jadi dalam setiap bait syair itu masing-masing juga lowong
satu huruf sebagaimana telah di alami sebelumnya. Waktu
Toan Ki mengamat-amati, ia lihat Tui-lian itu diukir dengan
tenaga jari pada tiang kayu itu sehingga dalamnya sampai
satu senti lebih.
Selagi Toan Ki hendak memeriksa lebih jauh, di sebelah
sana Ciong Ling berseru, "Di sini juga ada tulisan!"
Ketika Toan Ki membacanya, ternyata pada sebuah papan
di sebelah sana juga terukir dua baris huruf yang berbunyi:
Gaun hijau muka ( ) seperti sudah kenal
Bulan ( ) bunga kemelia mekar sepanjang jalan.
Dari tulisan yang mendekuk itu tertampak jelas juga terukir
dengan jari seperti tulisan pada kedua tiang itu.
Waktu makan tadi cahaya pelita agak guram sehingga
huruf-huruf itu tidak terlihat, sekarang sesudah empat pelita
dinyalakan sekaligus barulah huruf-huruf yang terukir itu
dapat dibaca.
"Sepanjang jalan aku sudah banyak mengìsi tulisan yang
tidak lengkap itu, apakah perbuatanku ini akan mendatangkan
kebaikan atau bencana juga tak perlu dipikir lagi, biarlah kita
lihat apa yang hendak dilakukan oleh lawan," kata Toan Ki.
Segera ia mengacungkan jarinya, maka terdengarlah suara
"crat-crit" berulang-ulang, segera ia mengisi lalu huruf "putih"
pada bait pertama di atas tiang tadi sehingga bunyinya
menjadi "Air mengalir di sungai musim semi kamelia putih".
Menyusul bait kedua diisinya satu huruf "awan" sehingga
bunyinya menjadi "Awan memenuhi langit di musim panas
buah leci merah".
Maka lengkaplah sanjak itu sekarang.
Dasar tenaga dalam Toan Ki sekarang sudah sangat kuat,
di mana jarinya tiba, di situ bubuk kayu lantas rontok bagai
diserok. Keruan Ciong Ling sangat senang, ¡a bersorak
memuji, "Wah, tahu begini lihai jarimu, tentu tadi kita tidak
perlu susah-susah mencari serbuk kayu lagi."
Dalam pada itu tertampak Toan Ki telah mengisi pula
huruf-huruf yang kurang pada syair di atas papan sana
sehingga lengkapnya sekarang berbunyi.
Gaun hijaú muka cantik seperti sudah kenal. Bulan
sembilan bunga Camelia mekar sepanjang jalan.
Sembari menulis mulut Toan Ki juga menyairkan sanjak
yang romantis itu, berbareng ia pun melirik Giok-yan sehingga
nona itu merah jengah dan berpaling ke arah lain.
"Kayu apakah yang dijadikan tiang dan papan rumah ini,
sungguh harum sekali." ujar Ciong Ling.
Waktu semua orang mengendus, benar juga mereka
merasa dekukan kayu bekas ukiran jari Toan Ki itu sayup-
sayup mengeluarkan bau harum semerbak seperti harum
bunga melati dan seperti wàngi bunga mawar pula.
Anehnya makin lama bau wangi itu makin harum sehingga
membikin semangat terbangkit dan perasaan segar.
"Celaka, bau wangi ini mungkin berbisa, lekas tutup
hidung!" seru Tan-sin dengan kuatir.
Karena peringatan itu, segera semua orang mengeluarkan
saputangan atau ujung baju untuk menutup hidung dan
mulut. Tapi sudah tidak sedikit bau harum yang mereka sedot,
kalau hawa berbisa seharusnya mereka merasa kepala pusing
dan mata berkunang-kunang, namun sedikit pun mereka tidak
merasakan sesuatu.
Selang sejenak, mereka tak bisa menahan napas lebih
lama lagi, terpaksa membuka mulut sehingga bau wangi itu
banyak terisap, namun masih tetap tiada sesuatu yang
mencurigakan. Maka legalah mereka dan pelahan melepaskan
tutup hidung.
"Kayu wangi ini benar-benar sukar dicari, biarlah kita
membawanya pulang beberapa keping." ujar Ciong Ling.
Belum lenyap suaranya, tiba-tiba telinga semua orang
seperti mendengar suara mendengung. Kembali Tan-sin
terperanjat. katanya, "Celaka, racun mulai bekerja, telingaku
sudah mulai mendengung!"
"Ya, telingaku juga!" sahut Thian-sik.
Tapi Boh Wan-jing lain pendapat, katanya, “Ini bukan
telinga mendengung, tapi sepertì suara rombongan tawon
dalam jumlah besar sedang terbang kemari.”
Benar juga, hanya sekejap saja suara mendengung itu
makin lama makin keras seakan-akan ada beratus ribu ekor
tawon sedang membanjir tiba.
Mendengar suara aneh itu, seketika wajah semua orang
menampakkan semacam rasa yang susah dilukiskan. Mestinya
tawon tidaklah menakutkan, tapi suara mendengung sehebat
itu benar-benar selamanya tidak pernah terdengar, pula belum
tahu dengan pasti apa benar lebah atau bukan.
Sesaat itu semua orang sampai termangu-mangu bingung.
Dalam pada itu suara mendengung itu makin lama makin
dekat dan makin keras serta mengerikan seakan-akan suara
setan iblis yang hendak menyambar nyawa.
Dengan takut Ciong Ling memegangi lengan Bok Wan-jing.
Giok-yan juga pegang tangan Toan Ki dengan kencang, Hari
keenam orang sama berdebar-debar.
Sebelumnya mereka pun sudah tahu bahwa di sekeliling
situ tentu sudah bersembunyi musuh, tapi sama sekali tak
menduga bahwa sebelum menyerang musuh bisa
menyebarkan dulu suara yang menyeramkan itu.
Sekonyong-konyong terdengar suara "plok”, suara sesuatu
benda kecil menumbuk papan rumah, menyusul terdengar
pula "plak-plok" berulang yang sukar dihitung jumlahnya.
"Benar tawon!" teriak Ciong Ling dan Bok Wan-Jing
berbareng.
Tiba-tiba terdengar pula suara ringkík kuda yang kesakitan
sambil membeker dan berloncatan.
"Kuda kita diantup lawon!" seru Ciong Ling.
"Biar kupotong tali kandali agar kuda-kuda itu dapat
menyelamatkan diri," ujar Tan-sin, "Bret" segera ia róbek baju
sendiri untuk membungkus kepalanya.
Tapi baru saja ia membuka pintu, bagaikan angin lesus
saja tahu-tahu kawanan tawon dalam jumlah beribu-ribu
banyaknya terus menerjang kedalam rumah. Ciong Ling dan
Giok-yan sama menjerit kaget, sedang Pah Thian-sik cepat
menarik minggir Cu Tan-sin, berbareng daun pintu ia depak
sehingga tertutup rapat lagi.
Namun begitu toh di didalam rumah sudah penuh dengan
tawon. Dan begitu sudah masuk, terus saja kawanan lebah itu
menyerang setiap orang yang berada di situ. Hanya dalam
sekejap saja, baik kepala, tangan dan muka semua orang
kena disengat belasan sampai puluhan kali.
Cepat Tan sin menggunakan kipasnya untuk memukul dan
menyampuk sekuatnya, Begitu pula Toan Ki, Bok Wan-jing,
Giok-yan dan Ciong Ling juga membunuh kawanan lebah itu
dengan menahan rasa sakit.
Karena Thian-sik, Tan-sín, Toan Ki dan Bok Wan-jing
membasmi dengan sepenuh tenaga , maka tidak lama
kemudian kawanan tawon itu hanya tinggal beberapa puluh
ekor saja.
Sungguh aneh juga, kawanan tawon itu tetap pantang
mundur, bagai laron menyambar pelita saja mareka masih
terus menerjang dan mengantup setiap orang yang dapat
diserangnya. Dan baru sejenak kemudian kawanan tawon
yang berhasil menyusup ke dalam rumah itu terbasmi habis.
Saking kesakitan diantup tawon Ciong Ling dan Giok-yan
sampai menangis, Dalam pada itu suara tawon menubruk
dinding papan di luar rumah masih terus terdengar bagai
tetesan air hujan riuhnya, entah betapa juta kawanan lebah
itu sedang menerjang tiba.
Dengan melupakan rasa sakit melepuh karena antupan
tawon tadi, cepat semua orang berusaha menyumbat lubang
dan celah dinding yang mungkin disusupi kawanan tawon.
Kemudian mereka hanya saling memandangi muka masing-
masing yang benjol-benjol dan merah melepuh itu.
"Untung kita berada dalam rumah ini, kalau di tempat
terbuka, wah, tentu binasa dikeroyok kawanan tawon
sebanyak itu." kata Toan Ki.
“Kawanan tawon ini adalah alat serangan musuh, tentu
mereka takkan berhenti begitu saja, bukan mustahil rumah
papan ini akan di jebol mereka," ujar Wan-jing.
Besar juga, belum lenyap ucapannya, sekonyong-konyong
terdengar suara "blang” yang sangat keras, sepotong batu
besar jatuh di atap rumah, menyusul lantas terdengar pula
suara gemuruh disertai berhembusnya debu pasir, dua potong
batu besár jatuh ke bawah menembus atap rumah.
Pelita di dalam rumah seketìka padam, cepat Toan Ki
merangkul Giok-yan kedalam pelukannya untuk melindungi
kepala dan mukanya. Maka terdengarlah suara mendengung-
dengung yang memekak telinga, semua orang tahu tidak
mungkin membendung kawanan lebah sebannyak itu,
terpaksa mereka hanya menggunakan lengan baju untuk
menutupi mukanya sendiri.
Hanya sekejap saja tangan dan bagian tubuh lalu yang
terbuka lantas kena tersengat, sakitnya tidak kepalang. Tidak
lama kemudian, Saking tak tahan, robohlah semua orang tak
sadarkan diri, pingsan.
Toan Ki pernah makan katak merah, mestinya kebal
terhadap segala macam racun, tapi káwanan lebah ini adalah
piaraan manusia, sengatnya bukan racun lebah biasa, tapi
sesudah diantup sekian banyak lebah itu akhirnya ia pingsan
juga. Cuma dia mempunyai tenaga dalam paling kuat, maka di
antara keenam orang itu, dia pula yang pertama-tama siuman
kembali.
Begitu sadar segera ia merasa Giok-yan tidak berada
dalam pelukannya lagi. Sebaliknya dalam kegelapan ia merasa
kedua kaki dan tangannya diringkus orang dengan tali,
matanya juga tertutup oleh kain hitam bahkan mulut pun
tersumbat sehingga bernapas saja susah, apalagi bìcara. Ia
merasa tempat-tempat bekas diantup tawon itu masih sangat
sakit, ia merasa dirinya duduk di atas tanah, tapi di mana dan
sudah berepa lama sama sekali tak diketahuinya.
Tengah Toan Ki merasa bingung, tiba-tiba terdengar
seorang wanita sedang berteriak dengan bengis, "Aku sudah
banyak mengorbankan tenaga dan pikiran dan ingin
menangkap anjing tua she Toan dari Taili itu, mengapa yang
tertangkap adalah anjing kecil ini!”
Toan Ki merasa suara itu sudah pernah dikenalnya, tapi
tak teringat seketika siapa dia.
Dalam pada itu suara seorang wanita tua lagi menjawab,
"Hamba telah menurut segala perintah siocia, sedikit pun tidak
menyimpang."
"Hm, kuduga di dalam hai ini tentu ada sesuatu yang tak
beres," kata suara wanita tadi.
"Anjing tua itu dari utara menuju ke selatan, mengapa dia
mendadak membelok ketimur? Dan mengapa arak obat yang
telah kita atur kepanjang jalän itu sampai diminum semua oleh
anjing cilik itu?”
Toan Ki tahu apa yang dimaksudkan "anjing tua" itu tentu
adalah ayahnya, Toan Cing-sun, dan "anjing cilik" yang
dimaksud adalah dirinya. Dari suara percakapan mereka itu
agaknya mereka berada diruangan sebelah.
Lalu terdengar si wanita tua menjawab pula, "Hamba
sudah melaksanakan segala petunjuk Siocia, soal Toan-ongya
mendadak membelok ke timur agaknya ada hubungannya
dengan budak-budak she Cin dan she Wi itu."
"Ken . . . kenapa kau panggil dia, Toan-ongya pula!"
semprot si wanita tadi dengan gusar.
"Ya, dah . . . dahulu Siocia menyuruh hambä
memanggilnya Toan-kongcu, sekarang . . . sekarang usianya
sudah lanjut, maka . . . . "
"Diam, tidak boleh menyebutnya lagi" bentak si wanita
tadi. Dan sejenak kemudian tiba-tiba ia menghela napas dan
bergumam sendiri, "Ya, usia . . . usianya sekarang memang
sudah lanjut!"
Mendengar percakapan kedua wanita itu, seketika legahlah
hatì Toan Ki Pikirnya, "Kukira siapa? Tak tahunya kembali
adalah seorang bekas kekasih ayah pula. Dia mencari perkara
kepada ayah tentu juga lantaran iri dan cemburu. Dia
mengarahkan kawanan lebah untuk merobohkan kami,
tujuannya tentu ingin menangkap ayah dan Cin-ih (bibi Cin)
dan Wi ih (bibi Wi), tapi keliru tangkap kami yang menjadi
korban. Jika demikian agaknya ia pun takkan membikin susah
kami. Tapi siapakah bibi ini? Aku seperti sudah kenal
padanya?”
Sementara itu si wanita tadi berkata pula, "Menurut
laporanmu, jadi tulisan yang tidak lengkap yang kita atur
sepanjang jalan itu telah diisi semua dengan tepat oleh anjing
cilik itu? Hm aku justru tidak percaya, masakah anjing cilik itu
juga paham syair gubahan si anjing tua, masakah begitu
kebetulan?”
"Syair yang dipahami bapaknya, kalau anaknya juga
paham, hal itu juga tidak mengherankan," ujar si nenek.
''Aku justru tidak percaya perempuan hina-dina itu dapat
melahirkan anak sepintar itu?" kata wanita tadi dengan gusar.
Mendengar ibunya dicerca, sungguh Toan Ki sangat gusar,
segera ia bermaksud mendampratnya, tapi baru bibirnya
bergerak segera ia ingat mulutnya sendiri tersumbat, sudah
tentu tak bisa bicara.
Dalam pada itu si nenek lagi bicara, "Siocia, urusan sudah
lalu sekian lamanya, buat apa engkau selalu memikirkannya?
Apalagi yang bersalah padamu adalah Toan kongcu dan bukan
putranya? Maka . . . maka sukalah Siocia mengampuni anak
muda itu saja. Rasanya penderitaannya kena antup Cui-jin-
hong (tawon pembuat mabuk) yang kita terbangkan itu juga
sudah cukup baginya."
"Kau minta aku mengampuni anak jadah she Toan itu?"
teriak si wanita dengan suara tajam melengking, “Hm, kalau
aku sudah mencencang dia barulah aku mengampuni dia."
Diam-diam Toan Ki membatin, "Yang bersalah padamu
adalah ayahku dan bukan diriku, mengapa engkau sedemikian
benci padaku? Kiranya kawanan lebah itu bernama Cui jing-
hong. Entah cara bagaimana dia memelihara kawanan lebah
itu sehingga dapat dikerahkan untuk mengantup kami?
Siapakah gerangan wanita ini? Suaranya seperti sudah
kukenal, tapi aku tidak ingat. Siapakah dia?"
Sedang Toan Ki mengingat-ingat kembali, tiba-tiba
terdengar Suara seorang lelaki berseru, "Kohma (bibi),
keponakan menyampaikan salam hormat!"
Suara lelakil itu membuat Toan Ki terkejut. Seketika pula
tanda tanya yang berkecamuk dalam benaknya tadi terjawab
semuanya.
Lelaki yang bersuara itu ternyata Buyung Hok adanya.
Maka bibi yang dia panggil itu dengan sendirinya adalah Ong-
hujin dari Man-to-san-ceng di Koh-soh atau Ibu Giok-yan atau
calon ibu mertua sendiri. Pantas ia merasa sudah kenal
suaranya.
Seketika itu perasaan Toan berdebar-debar bagaikan
belasan buah timba yang naik turun menímba air sumur.
Pikirannya menjadi kacau dan adegan-adegan kejadian di
Man-to san ceng dahulu lantas terbayang pula olehnya . . "
Waktu itu Toan Ki dibawa lari oleh A Cu dan A Pik untuk
menghindari kejaran Cumoti dan akhirnya. kesasar ke Mao-to-
san-ceng, perkampungan tempat kediaman Giok-yan dengan
ibunya, Ia menjadl heran melihat tempat itu melulu tertanam
bunga kamelia dan tiada tumbuh bunga jenis lain.
Menurut peraturan Man-to-san-ceng yang aneh itu, setiap
orang lelaki yang berani masuk ke situ, bila tertangkap tentu
akan dìtabas kedua kakinya. Bahkan menurut nyonya Ong asal
orang Taili dan she Toan, maka orang itu pasti akan dikubur
hidup-hidup seperti Cin Goan-cun yang bergelar "Nau-kang-
Ong," dia bukan orang Taili, hanya lantaran rumahnya dekat
dengan Taili dan dia telah dikubur hidup-hidup oleh Ong-hujin.
Toan Ki adalah orang Taili dan she Toan, dia mestinya juga
akan dikubur hidup-hidup oleh nyonya Ong cuma kemudian
diketahuinya Toan Ki mahir merawat bunga kamelia maka
nyonya Ong mengampuni jiwanya bahkan mengadakan
perjamuan untuk pemuda itu.
Tapi lantaran di tengah perjamuan itu Toan Ki bercerita
tentang sejenis bunga kamelia yang bernama "muka si cantik
tercakar", bunga kamelia itu berwarna putih dan pada kelopak
bunga itu ada garis-garis merah yang halus, karena itulah
diibaratkan muka si cantik luka tercakar. Toan Ki mengatakan,
apabila wanita cantik, maka tingkah lakunya seharusnya
lemah-lembut dan berbudi halus tapi kalau muka si cantik
sampai ada luka tercakar, hal itu menandakan si cantik saban-
saban suka berkelahi dengan orang, maka wanita cantik
demikian menjadi tidak dapat dikatakan cantik lagi.
Rupanya kata-kata itu telah menyinggung perasaan Ong-
hujin, nyonya itu menjadi gusar dan mendamprat Toan Ki, ia
menuduh pemuda itu sengaja hendak mengacau dan
mengolok-oloknya. Apakah wanita cantik lantas tidak boleh
belajar ilmu silat? Di mana letak kebaikannya wanita yang
lemah-lembut dan pendiam? Demikian Ong-hüjin lantas
menjebloskan Toan Ki ke dalam kamar tahanan, bahkan
hampir-hampir saja jiwanya melayang.
Apa yang terjadi dahulu itu bagi Toan Ki hanya dirasakan
perangai Ong hujin terlalu aneh dan luar biasa. Sekarang demi
mendengar Buyung Hok memanggilnya "bibi", seketika
teringatlah Toan Ki, kiranya suara yang sejak tadi terasa
sudah dikenalnya itu Ong hujin adanya. Seketika ia menjadi
paham pula duduknya perkara, "Ah, kiranya dia (nyonya Ong)
juga bekas kekasih ayah, pantas dia sedemikian cinta pada
bunga kamelia, sebaliknya begitu benci pada orang she Toan
dari Taili."
Begitulah, segala kejadian yang dahulu sukar dimengerti
olehnya sekarang demi mengetahui letak persoalannya, maka
jelaslah baginya. Nyata sebabnya Ong-hujin cinta pada bunga
kamelia tentu disebabkan pada waktu dia bercinta-cintaan
dengan ayahnya dahulu ada sangkut-pautnya dengan jenis
bunga itu. Dan sebabnya dia begitu benci pada orang she
Toan atau orang Taili, bahkan tidak segan-segan
menguburnya hidup-hidup, terang disebabkan ayahnya she
Toan dan berasal dari Taili yang telah menghianati cintanya,
maka dia dendam sehingga setiap orang she Toan atau orang
dari Taili juga ikut dibencinya.
Malahan Toan Ki menyaksikan sendiri Ong-hujin
menangkap seorang pemuda dan memberi ancaman agar
pemuda itu segera pulang dan membunuh istrinya yang sah,
lalu secara resmi mengawini kekasihnya dari perhubungan
gelap di luar itu. Ketika pemuda itu tidak mau, segera Ong-
hujin hendak membunuhnya sehingga akhirnya pemuda itu
menurut dengan ketakutan.
Dari kejadian itu kelihatan bahwa di dalam hati kecil Ong-
hujin juga terdapat harapan agar ayah membunuh istri
resminya untuk kemudian menikah dengan dia.
Dan ketika tanpa sengaja Toan Ki menyinggung tentang
orang wanita cantik bila suka berkelahi tentu akan menjadi
tidak cantik, hal ini membuat Ong-hujin menjadi gusar. Maka
dapat dibayangkan dahulu dia tentu juga sering bertengkar
dengan ayah lantaran urusan pribadi itu.
Bagtulah banyak sekali hal-hal yang tadinya sukar
dipahami sekarang menjadi jelas bagi Toan Ki. Namun begitu
perasaan Toan Ki toh tidak merasa lega, sebaliknya
perasaannya seakan-akan ditindih oleh sepotong batu yang
semakin berat. Apa sebabnya, seketika ia pun tidak tahu.
Pendek kata ia merasakan hubungan antara ibu Giok-yan
dengan ayahnya dahulu membuatnya merasa tidak enak, di
dalam lubuk hatinya mendadak timbul semacam firasat yang
menakutkan . . .
Dalam pada itu terdengar Ong-hujin sedang menjawab
teguran Buyung Hok tadi. "Ah, kiranya Hiantit yang datang!
Bagus, bukankah kamu sudah hampir naik tahta, sudah
hampir menjadi maharaja Yan jaya?"
Nyata sekali nadanya mengandung sindiran tajam.
Tapi Buyung Hok menjawabnya, "Hal itu memang cita-cita
yang ditinggalkan leluhur kita, Tit-ji sendiri tidak becus,
sehingga selama ini hanya terlunta di kangouw tanpa sesuatu
hasil, makanya sekarang mohon bantuan bibi agar ikut
mengatasi keadaan demi pesan kakek dahulu yang bibi sendiri
juga ikut mendengarnya."
"Bagus, jadi kau sengaja menggunakan nama kakek untuk
memaksa aku?" sahut Ong-hujin dengan ejekan. "Padahal
anak perempuan yang sudah menikah adalah mirip air telah
digebyur keluar, masakah aku ada lagi sangkut-pautnya
dengan soal menjadi raja yang diimpikan keluarga Buyung?
Sebabnya aku melarang kau datang ke Man-to-san-ceng dan
melarang Giok-yan bergaul denganmu justru karena aku kuatir
terikat hubungan kekeluargaan pula dengan pamili Buyung.
Nah, di manakah Giok-yan, telah kau bawa dia ke mana?"
"Di manakah Giok-yan?" kata ini bagai bunyi halilintar yang
menggelegar di telinga Toan Ki. Memang sejak tadi juga dia
sedang menguatirkan nona itu.
Tadi waktu kawanan lebah mulai menyerang Giok-yan
dirangkul oleh Toan Ki untuk mengaling-alingnya dari antupan
tawon, tapi sekarang ke manakah nona itu? Kalau menurut
nada pertanyaan Ong-hujin, agaknya dia benar-benar tidak
tahu di mana beradanya Giok-yan.
Maka terdengar Buyung Hok sedang menjawab, "Ke mana
perginya Piaumoai, dari mana kutahu? Dia selalu berada
bersama dengan Toan-kongcu dari Taili boleh jadi kedua
orang itu sudah lama sembahyangi Allah dan menjadi suami-
istri?”
"Hah? Kau . . . kau omong apa!" bentak Ong-hujin dengan
suara terpurtus-putus. Mendadak terdengar suara "blang”
sekali, nyonya itu mengebrak meja, lalu katanya pula dengan
gusar. '"Kenapa kamu tidak menjaga Piaumoaimu? Dia adalah
seorang nona muda yang masih hijau, sekarang kau biarkan
dia kelayapan di dunia kangouw dan sedikit pun tidak kau
pikirkan keselamatannya?”
“Mengapa bibi marah-marah padaku?" sahut Buyung Hok.
"Bukankah bibi kuatir aku memperistrikan Piaumoai, kuatir dia
menjadi anggota keluarga Buyung yang mengimpikan menjadi
Kaisar. Dan sekarang urusan menjadi baik, dia sudah menjadi
istri Toan-kongcu dari Taili kelak dia akan menjadi permaisuri
kerajaan Taili secara resmi bukankah itu suatu berita baik?"
Mendadak Ong-hujin menggebrak meja pula sambil
membentak, "Omong kosong! Berita baik apa? Justru tidak
boleh terjadi!"
Di kamar sebalah sejak tadi Toan Ki memang sudah kebat-
kebit dan kuatir, demi mendengar ucapan Ong-hujin, "Justru
tidak bolah terjadi!" keruan ia tambah cemas. Keluhnya diam-
diam, "Celaka, sungguh celaka! Aku den Giok-yan benar-benar
bernasib malang dan banyak aral melintang sekarang ibunya
mengatakan pula "Justru tidak boleh terjadi . . . . "
Dalam pada itu tiba-tiba terdengar seorang berseru,
"Bukan, bukan! Nona Ong dan Toan kongcu adalah suatu
pasangan yang setimpal, perjodohan yang baik ini Hujin
menganggapnya tidak boleh terjadi. Ini terang salah!"
"Sekali aku bilang tidak boleh jadi tetap tidak boleh jadi!"
bentak Ong-hujin dengan gusar. "Pau Put-tong, kau berani
membantah ucapanku, apa kamu ingin kuperintahkan orang
untuk membunuh anak Perempuanmu?"
Biasanya Pau Put-tong adalah seorang yang tidak takut
pada langit dan gentar pada bumi, ucapan siapa pun pasti
akan dibantahnya. Tapi aneh juga, sekali dibentak oleh Ong-
hujin, seketika ia cep-kelakep alias bungkam dan tak berani
bersuara lagi.
Diam-diam Toan Ki berteriak di dalam hati. "Pau-samko,
lekas kau bantah ucapan nyonya itu, lekas, tolonglah, lekas!
Ucapan nyonya itu sama sekali 'bo-ceng-li', lekas kau debat
dia. Hanyalah kau seorang ksatria yang berani mendebatnya
berdasarkan kebenaran."
Tak tersangka sesudah ditunggu dan ditunggu lagi
keadaan di sebelah terap sunyi saja, nyata Pau Put-tong tidak
berani bicara lagi.
Hal ini bukan lantaran Pau Put-tong takut anak
perempuannya akan dibunuh suruhan Ong-hujin, tapi karena
turun temurun keluarga Pau sudah menjadi abdi pengiring
keluarga Buyung yang setia dan patuh, sedangkan Ong-hujin
masih terhitung majikannya, jika dia benar-benar marah, jika
dia benar-benar marah, sudah tentu Pau Put-tong menjadi
jeri.
Maka rasa gusar Ong hujin menjadi reda kerena Pau Put-
tong tak berani membantahnya lagi, segera ia berkata kepada
Buyung Hok, “Hiantit, kau datang mencari aku, adakah suatu
permohonan pula? Tentu kamu sedang mengincar sesuatu
milikku lagi?"
"Kohma, Tit-ji adalah sanak keluargamu yang terdekat,
kalau Tit-ji merasa kangen padamu, masakah datang
menyambangi engkau juga tidak boleh? Dan kalau datang apa
pasti Tit-ji sedang mengincar sesuatu barangmu?" demikian
sahut Buyung Hok dengan tertawa.
"Hehe. jadi kaupun pernah kangen pada bibimu ini? Bila
sejak dulu kau kangen padaku, rasanya bibi pasti takkan hidup
merana sebagai sekarang ini," ucap Ong-hujin dengan ketus.
Namun Buyung Hok menghadapinya dengan cengar-
cengir, katanya, "Apa barangkali ada sesuatu yang tidak
menyenangkan hati bibi, silakan bibi katakan saja pada Tit-ji,
tanggung akan kubikin senang hati bibi".
"Fui," semprot Ong-hujin. "hanya beberapa tahun tidak
bertemu kamu sudah pintar menjilat.”
"Mengapa bibi anggap menjilat?” sahut Buyung Hok.
"Kalau perasaan orang lain mungkin Tit-ji sukar menjajakinya,
tapi aku ini kan sanak bibi yang terdekat, urusan apa yang
dipikirkan bibi. andaikan tidak dapat kuterka seluruhnya,
paling sediklt juga dapat kuraba tujuh atau delapan bagian.
Untuk membikin senang bibi, bukan àku sengaja membual,
kukira tidaklah sukar bagiku.”
“O. ya? Jika begitu, boleh juga coba mengatakannya. Tapi
awas, Jika sembarangan mengoceh, tentu akan kugampar
mulutmu!"
Buyung Hok tidak menjawab lagi, mendadak ia menarik
sesuatu dan berdendang, "Gaun hijau muka cantik seperti
sudah kenal, bulan sembilan bunga kamelia mekar sepanjang
Jalan!"
Ong-hujin terkejut. "Da . . . dari mana kau tahu? Apakah
su . . . . . sudah kau datangi rumah papan di lautan rumput
itu?" tanyanya dengan suara terputus-putus.
Melihat bibinya sudah mulai termakan oleh ucapannya.
Buyung Hok lantas "jual mahal", sahutnya kemudian, "Pendek
kata bibi tidak perlu tanya dari mana kudapat tahu, cukup bibi
katakan saja mau tidak bertemu dengan orang itu?”
”Ber . . . bertemu dengan siapa?" kata Ong-hujin dengan
suara terputus-putus dan lemah, nyata nadanya sudah
berubah, tadi garang, sekarang sudah mengandung nada
mohon tahu.
"Orang yang Tit-ji maksudkan adalah orang yang dikenang
oleh bibi, aír mengalir di sungai musim semi bunga kamelia
putih, awan memenuhi langit di musim panas buah leci
merah!"
Ong-hujin tergetar, tanyanya dengan suara lemah, "Cara .
. . cara bagaimana aku dapat berjumpa dengan dia?"
"Bibi sudah berusaha dengan susah payah hendak
menangkap orang itu, tak terduga perangkap yang bibi
pasang tetap meleset dan dia dapat menghindarkan diri.
Kupikir sebenarnya tidak susah untuk berjumpa dengan dia,
untuk itu dia harus ditangkap, yang penting dia harus mau
tunduk pada segala perintah bibi."
Ong-hujin menghela napas, katanya, "Aku sudah pasang
perangkap sedemikian rapinya, toh masih dapat dihindarkan
olehnya. Maka aku tak punya akal lain yang lebih sempurna
lagi."
"Tit-ji tahu di mana orang itu berada, bilamana bibi
percaya padaku, silakan menerangkan padaku tentang
perangkap yang telah dipasang bibi, bias jadi dari situ Tit-ji
akan dapat mengatur siasat yang diperlukan."
"Kita adalah orang sekeluarga masakah tidak percaya.”
kata Ong-hujin.
“Perangkap yang kupasang sekali ini adalah lebah 'Cui-jin-
hong' Telah kupelihara beberapa ratus sarang tawon, di
perkampungan Man-to-san-ceng tiada tumbuh bunga lain
kecuali kamelia, maka kawanan tawon tidak perlu mencari
madu ke tempat lain.”
"Benar, maka kawanan tawon itu pun tidak suka pada bau
harum lain kecuali bau harum, kamelia,” tukas Buyung Hok.
"Sungguh tidak sedikit jerih-payahku selama memelihara
kawanan tawon itu," kata Ong-hujin. “Telah kucampur obat
bius dalam madu yang biasa dimakan tawon-tawon itu dengan
sedikit demi sedikit sehingga setiap orang yang kena disengat
oleh tawon itu tentu akan jatuh pingsan selama belasan hari."
Toan Ki terkejut mendengar keterangan itu. ia pikir
jangan-jangan dirinya sudah pingsan selama belasan hari
seperti apa yang dikatakan itu?
Dalam pada itu terdengar Buyung Hok lagi berkata, "Tipu
bibi sungguh sangat rapi dan susah diduga orang. Tapi cara
bagaimana bibi dapat menyuruh kawanan tawon itu
menyengat orang?”
“Untuk itu di dalam makanan orang yang menjadi sasaran
harus dicampurkan sedikit obat khusus," tutur Ong hujin.
"Meskì obat ini tak berwarna dan tak berbau, tapi rasanya
agak pahit, maka tidak boleh diberikan dalam kadar yang
banyak sekaligus. apalagi orang itu pun sangat cerdik, begitu
pula pengirìng-peringiringnya, untuk meracuni mereka pasti
tìdak mudah, maka terpaksa aku harus mengatur siasat,
sepanjang jalan kusediakan daharan bagi mereka dan diam-
dìam aku mencekoki mereka dengan obat yang tak berbisa
!tu.”
Mendengar itu, baru sekarang Toan Ki paham duduknya
perkara, jadi santapan yang telah dinikmatinya secara gratis
sebagaì balas jasa dari tuan rumah yang tulisan dalam lukisan
telah dilengkapinya itu adalah perangkap yang dipasang Ong-
hujin rupanya orang-orang yang dipasang nyonya itu telah
diberitahu asal ketemu orang yang dapat mengisi kekurangan
tulisan di dalam lukisan itu, maka dialah Tin-lam-ong dari Taili
yang sedang diincar, lalu dalam daharan yang disediakan itu
dicampuri obat bius.
Terdengar Ong-hujin lagi menyambung ceritanya, "Siapa
tahu telah terjadi salah wesel, orang itu tidak menuju
kejurusan sini, Sebaliknya putranya yang datang kemari.
Rupanya setan cilik telah menghapalkan sanjak yang digubah
bapaknya, tentu setan cilik ini pun seorang pemuda bangor.
Sepanjang jalan setan cilik itu mengisi huruf-huruf yang
kurang lengkap dalam lukisan dan dapat makan minum
sepuas-puasnya secara gratis sehingga santapan bercampur
obat yang kusediakan untuk bâpaknya telah dihabiskan
olehnya, dan akhirnya sampailah di rumah papan di tengah
lautan rumput itu. Pelita minyak di rumah itu pun sudah
dicampur obat, di tengah tiang kayu rumah itu pun kumasuki
obat, waktu setan cilik itu menggores papan kayu itu sehingga
bau harüm obat-obatan yang tersembunyí di dalamnya terasa
seketika kawanan tawon terpancíng tíba. Ai, siapa duga
rencana yang kujalankan itu terlaksana dengan baik, tapi
sasaran yang tiba ternyata keliru. Setan cilik ¡ni telah merusak
rencanaku, Hm, kalau aku tidak mencencang día rasa
mendongkolku tak terlampiaskan.”
Diam-diam Toan Ki merasa ngeri juga mendengar ucapan
Ong-hujin yang penuh dendam dan benci itu. Diam-diâm ia
harus mengakui betapa rapinya perangkap yang dipasang
nyonya itu, Celakanya secara tidak sengaja dirinya yang
menggantikan sang ayah dan masuk perangkap itu. Tapi ia
pun merasa lega pula bila teringat dengan kejadian salah
sasaran ini, maka ayahnya sekaranng tentu dapat lolos dari
ancaman bahaya.
Dalam pada itu terdengar Ong-hujin lagi berkata dengan
suara marah, "Aku menyuruh budak ini menyamar sebagai tua
bangka yang bisu dan tuli untuk mengatur perangkap di
rumah papan itu, apalagi dia juga kenal orang itu, siapa tahu
akhirnya terjadi juga salah sasaran seperti sekarang ini."
Lalu terdengar si wanita tua tadi membela dirl. "Siocia,
seperti hamba sudah memberi laporan bahwa karena tidak
melihat Toan-kongcu berada di antara kawanan pendatang
itu, maka hamba telah menipu alat ketikan api mereka agar
mereka tidak dapat menyalakan pelita minyak dan kawanan
tawon itu takkan terpancing datang. Siapa tahu orang-orang
itu terlalu cerdik, akhirnya mereka dapat juga menyalakan
pelita minyak."
"Hm, pendek kata, memang kamu yang tidak becus,"
jengek Ong-hujin.
"Bibi, sesudah mengantup orang, apakah kawanan tawon
itu tak bisa digunakan lagi?” Tanya Buyung Hok.
"Tawon yang telah menyengat orang itu tak lama
kemudian akan matí," sahut nyonya Ong, "Tapi yang tawon
yang kupelihara itu beratus-ratus ribu jumlahnya, kalau cuma
mati beberapa ekor apa alangannya?"
"Bagus," seru Buyung Hok. "Jika begitu, sesudah yang
muda, segera kita dapat menangkap pula yang tua. Tit-ji pikir
bila kita mengambil sesuatu benda milik bocah itu, lalu kita
perlihatkan kepada . . . kepada orang itu, maka tidak susah
kiranya untuk memancing ke rumah papan di lautan rumput
sana."
“Nah, keponakanku yang baik, betapapun otak orang
muda memang lebih tajam, " seru Ong-hujin dengan girang
sambil berbangkit. "Bagus sekali usulmu ini, sebagai ayah
yang baik bila dia tahu anaknya berada dalam cengkraman
kita, tentu dia akan memburu kemari untuk menolongnya,
takkala mana kita akan dapat menggunakan kawanan tawon
lagi.”
"Ya, tatkala mana andaikan tanpa bantuan tawon juga
tidak menjadi soal lagi, asal bibi menaruh sedikit obat bius
dalam arak dan disuguhkan padanya, masakah dia takkan
minum dengan gembirä?" demikian kata Buyung Hok.
Ong-hujin lantas terbayang pada adegan pertemuannya
dengan Toan-Cing-sun dan akan menyuguhkan arak nanti,
seketika nyonya itu berseri-seri, rasanya menjadi lemas,
katanya dengan penuh manisnya madu, "Ya benar, Kita pakai
usulmu ini."
"Bibi, akal Tit-ji ini masih böleh juga, bukan?"
"Baiklah, kalau tidak terjadi apa-apa, tentu bibi akan
membalas jasamu," sahüt Ong-hujin dengan tertawa senang
"Sekarang langkah pertama kita harus menyelidiki dulu di
mana beradanya orang yang tak punya perasaan itu."
"Sebenarnya Tit-ji sudah mendengar sedikit kabar, dalam
urusan ini memang ada kesulitan besar,” ujar Buyung Hok.
"Ada kesulitan apa lagi?” tanya Ong-hujin dengan kening
bekernyit, “cepat katakan, kamu memang suka 'jual mahal'
ya?"
"Soalnya orang itu sekarang telah ditawan orang tertentu
dan keselamatannya terancam?" tutur Buyung Hok.
“Brak”, karena kagetnya sebuah mangkuk teh tertampar
oleh tangan Ong-hujin dan jatuh pecah berantakan.
Toan Ki juga terkejut mendengar berita itu, kalau mulutnya
tidak tersumbat tentu ia pun menjerit kaget.
Terdengar Ong-hujin berkata dengan suara gemetar, "Sia .
. . siapa yang menawannya? Kenapa tidak kau katakan sejak
tadi? Betapapun kita harus mencari akal untuk menolongnya."
"Susahnya ilmu silat lawan teramat tinggi dan Tit-ji sekali-
kali bukan tandingannya," tutur Buyung Hok. "Maka kita hanya
boleh melawannya dengan akal dan tidak boleh menandingi
dia dengan kekerasan."
Ong-hujin menjadi sedikit lega demi mendengar ucapan
Buyung Hok itu, segera ia Tanya pula, “Cara bagaimana
melawannya dengan akal lekas katakan?"
“Kukira kawanan tawon bibi itu masih boleh digunakan
sekali lagi,'" ujar Buyung Hok. "Asal, kita ganti beberapa tiang
dan ubah tulisannya, umpama kita tulis nama raja Taili pada
atas tiang itu, maka musuh tentu akan gusar bila
membacanya dan tentu akan menghapusnya, dengan begitu
bau obat segera akan keluar dari dalam tiang kayu itu."
"Apa orang yang menawannya adalah orang yang bernama
Toan Yan-khing yang sedang merebut tahta dengan dia itu?"
tanya Ong-hujin.
Buyung Hok membenarkan.
"Hah, jadi . . . jadi dia tertawan oleh Toan Yan-king," seru
Ong-hujin dengan kuatir padahal Toan Yan-khing itu
senantìasa ingin membinasakan dia, bisa jadi saat ini dia su . .
. sudah terbunuh olehnya."
"Bibi tidak perlu kuatir," ujar Buyung Hok dengan tertawa,
"Dalam urusan mereka itu masih ada suatu persoalan besar
yang harus bibi ketahui."
"Persoalan apa?" tanya Ong hujin dengan tak sabar.
"Raja Taili sekarang adalah Toan Cing-bing," käta Buyung
Hök "Dan kekasih bibi itu sudah lama diangkat sebagai
pangeran mahkota secara resmi hal ini telah diketahui oleh
rakyat seluruh negeri Taili. Toan Cing bing terkenal sebagai
seorang raja yang bijaksana. Tin lam ong yang akan
menggantikan dia pun memperoleh nama baik di kalangan
rakyat jelata, kalau Toan Yan khing membunuhnya begitu saja
tentu akan mengakibatkan kekacauan kerajaan Taili dan tahta
yang diincar Tóan Yan khing menjadi takkan teguh dan akan
gagal."
"Beralasan juga ucapanmu.” ujar Ong-hujin. Tapi dari
mana kau tahu semuanya itu?"
“Sebagian kudengar dari orang lain, sebagian pula adalah
menurut rekaanku," sahut Buyung Hok.
"Ya, selama hidupmu senantiasa ingin menjadi raja, maka
dalam hal persoalan tahta yang dihadapi kerajaan Taili sudah
tentu kamu dapat merabanya dengan jelas."
"Ah, bibi terilalu memuji diriku," sahut Buyung Hok dengan
tertawa. "Menurut dugaanku, sesudah Tin lam ong ditawan
Toan Yan-khing, tidak nanti dia membunuhnya melaínkán
akan berusaha membiarkan Tin- lam-ong naik tahta dulu,
habis itu dengan akal lain Tin-lam-ong akan dipaksa
menyerahkan tahta kepadanya secara resmi."
"Secara resmi bagaimana?" tanya Ong-hujin.
"Sebenarnya ayah Toan Yan-khing adalah raja Taili, Cuma
ketika terjadi kerusuhan dan tahtanya digulingkan oleh
pembesar dorna, dalam keadaan kacau Toan Yan-khing lenyap
entah ke mana. Sebab itulah Toan Cing-bing dapat menjadi
raja Taili yang sekarang. Padahal putra mahkota yang tulen
sebenarnya adalah Toan Yan-khing yang terkenal sebagai
Yan-khing Taícu. Kalau nanti Tin-lam-ong naik tahta, dia tídak
punya keturunan, kalau Toan Yan-khing di angkat sebagai
putra mahkota, hal ini boleh díkata sangat lumrah dan masuk
diakal."
Ong-hujin merasa heran, tanyanya, “Bukankah jelas dia
mempunyai seorang putra, mengapa kau bilang dia tidak
punya keturunan?”
"Eh, mengapa bibi lupa, bukankah baru saja bibi
menyatakan sendiri akan mencencang bocah she Toan ini?
Setelah dicencang, masakah dia bisa hidup lagí?”
"Ya, benar! Bocah ini adalah anak jadah yang dilahirkan
budak hina-dina itu, jika dibiarkan hidup hanya akan membikin
marah saja padaku."
Tanya-jawab kedua orang itu dapat didengar oleh Toan Ki
yang berada di ruangan sebelah. Pikirnya, "Wah, celaka!
Sekali íni aku pasti akan mati konyol. Giok-yan entah berada di
mana pula? Kalau día berada di sini, bila jadi Ong-hujin akan
mengampuni jiwakü mengingat kebaikan putrinya padaku."
“Asal saat ini jiwanya tidak berbahaya maka legalah hatiku.
Aku tidak ingin dia menjadi raja apapun segala, sebaliknya
akan ku suruh dia ikut pulang ke Man-to-san-ceng saja,"
demikian Ong-hujin lagi berkata.
"Sesudah Tin-lam-ong menyerahkan tahtanya sudah tentu
día akan ikut bibi ke Man-to-san-ceng, tatkala mana biarpun
dia disurüh tínggal terus di Taili juga dia tidak kerasan lagi.
Cuma saja dia harus terus menjabatnya entah untuk setengah
bulan atau sepuluh hari, pendek kata dia harus menjabat dulu
untuk kemudian baru dia digulingkan, Kalau tidak, tentu Toan
Yan-khing tak mau.”
Toan Yan-khing mau atau tidak peduli apa dengan aku?”
Dengus Ong-hujin. “Kita tangkap saja dia sesudah Toan-
kongcu diselamatkan lalu binasakan dia, masakah kita mau
peduli dia mau apa tidak?”
“Tapi bibi lupa bahwa kita belum lagi dapat menangkap
Toan Yan-khing,” kata Buyung Hok, untuk hal ini masih sangat
jauh untuk dibicarakan.”
"Tapi di mana dia berada sekarang tentu kau tahu,” kata
ong-hujin. "Keponakanku yang baik, bibimü cukup kenal
watakmu. Dengan membantu urusanku ini sebenarnya balas
jasa apa yang kau harapkan? Untuk itu sebaiknya kita bicara
di muka sacara blak-blakan saja."
"Kita adalah pamili sedarah-daging, untuk sedikit urusan
bibi ini masakah Tit-ji berani mengharapkan sesuatu balas
jasa?" ujar Buyung Hok. "Pendek kata Tit-ji akan bertindak
sekuat tenaga bibi dan tidak mengharapkan sesuatu balas jasa
apa-apa."
Ong-hujin tertegun sejenak sambil melirik pemuda itu. Ia
kenal watak Buyung Hok mirip ayahnya yang cerdik dan licik,
selamanya hanya mau untung dan tidak mau dirugikan, maka
mustahil kalau sekarang pemuda ini akan membantunya
dengan Cuma-cuma. Segera ia berkata, "Baiklah, jika kamu
tidak mau bicara terus terang sekarang, kelak kalau kau minta
sesuatu padaku, maka jangan kau menyesal aku tak bias
memenuhi permintaanmu.”
"Sekali Tit-ji bilang tidak menginginkan balas jasa, maka
pasti tidak.” Sahut Buyung Hok dengan tertawa. “Andaikan
kelak urusan sudah selesai dan bibi merasa senang untuk
memberi persen bebarapa ribu tahil emas atau
menghadiahkan baberapa jilid kitab pusaka ilmu silat, untuk
itu saja Tit-ji mungkin sudah merasa puas.”
Ong-hujin menjadi ragu menhadäpi síkap Buyung Hok ini,
ia tidak tahu apa yang dirancang pemuda itu di balìk mulutnya
yang manis itu? Tapi selantas berkata. “Baiklah coba uraikan
cara bagaimana kita harus menangkap Toan Yan-khing dan
cara bagaimana menolong si dia?"
“Langkah pertama bukankah kita harus memancing Toan
Yan-khing datang kerümah papan di lautan rumput itu dengan
membawa serta Tin-lam-ong?”
"Benar, dan dengan cara bagaimana dapat kau pancing
Toan Yan-khing ke situ?"
"¡ni soal gampang," ujar Büyung Hok. “Toan Yan-khing
ingin menjadi raja Taili, untuk itu día harus melakukan dua hal
Pertama menawan Toan Cing sun dan memaksanya
memindahkan hak tahta kepadanya. Kedua, Toan Ki akan
dibunuhnya agar Toan Cing-sun tidak punya keturunan.
Dengan sesuatu benda milik Toan Ki dapat kita perlihatkan
kepada Toan Cing sun dan día tentu ingin menolong putra
kesayangannya, dengan demikian Toan Yan khing tentu juga
akan ikut menyusul kemari. Maka bocah she Toan yang bibi
tangkap sekarang iní tídaklah keliru dan besar manfaatnya
untuk dipakai sebagal umpan."
"Ehm, boleb juga akalmu ini," kata Ong-hujin.
"Ya, bahkan Ticí akan berusaha sedapat mungkin untük
melaksanakan perangkap kita ini supaya bibi akan lebih
senang." sahut Buyung Hok dengan tertawa. "Eh, bibi, boleh
kau süruh bawa keluar bocah she Toan itu."
“Dia belum sadar tersengat tawonku itu, paling sedikit
harus tiga harí lagi baru dapat sadar." Kata Ong-hüjin. "Bocah
itu berada di kamar sebelah, kalau tidak pingsan, tentu
pembicaraan kita ini akan didengar olehnya, Sekarang aku
ingin tanya sesuatu lagi padamu. Meski . . . meski Tin Lam-
ong itu orang tidak punya perasaan, tapi dia terhitung seorang
gagah ksatria masakah Toan Yan-khing mampu memaksa dia
menyerahkan tahtanya? Jangan-jangan Toan Yan-khing
menggunakan kekurangan dan menyiksanya?”
Sampai di sini tertampak sekali betapa perhatiannya
terhadap keselamatan Toan Cing sun.
Buyung Hok menghela napas, sahutnya, "Bibi, hal ini lebih
baik jangan ditanyakan saja, kalau Tit-ji katakan terus terang
tentu akan membikin bibi marah."
"Lekas katakan, lekas, perlu berlagak,” desak Ong-hujin.
"Sepertí kukatakan tadi bahwa orang she Toan itu tidak
punya perasaan hal ini rupanya memang tidak salah," ujar
Buyung Hok dengan gegerutun. "Padahal wanita cántik
sebagai bibi biarpun dia sengaja mencarí ke seluruh pelosok
dunía juga sukar didapatkan. Sungguh harus diakui, entah
rejeki apa yang telah menimpa orang she Toan itu sehingga
dia dapat memperoleh simpati bibi. Dan seharusnya dia nanti
merasa puas dan setia kepada bibi, siapa tahu . . . siapa tahu,
di . . . di dunia, ini ternyata ada manusia sebodoh dia itu,
bidadari dia tidak mau, dia justru mencari bini betina dalam
lumpur . . . . "
"Apa? Kau . . . kau maksudkan dia . . . dia main gila lagi
dengan . . . . dengan wanita lain? Siapa perempuan itu?"
"Ah, perampuan hina-dina begitu masakah ada harganya
untuk dísebut-sebüt? Biarpun dia dijadikan budak bibi juga
tídak sesuai buat apa bibi mesti marah pada orang seperti ítu
sehingga menurunkan harga diri bibi sendiri?”
Tapi Ong-hujin tambah gusar ia menggebrak meja
sehingga gedubrukan suaranya, serunya dengan suara
melengking, "Kurangajar! Dia . . . . dia meninggalkan aku dan
pulang ke Taili untuk menjadi pangeran, hal ini aku tidak
menyesal, dia sudah punya istri aku pun tidak menyalakan dia,
habis perkenalanku dengan dia terjadi sesudah dia menikah.
Akan tetapi sekarang kau bilang dia . . . . dia main gila lagi
dengan perempuan lain. Nah siapa, . . siapa perempuan itu,
siapa? Lekas katakan?”
Mendengar Ong-hujin sedemikìan murkanya, mau-tak-mau
Toan Kí merasa berdebar-debar juga. Sungguh tak terduga
olehnya bahwa Giok-yan yang lemah-lembut dan halus budi
itu ternyata mempunyai ibu yang begitu galak. Sungguh luar
biasa pula bahwa ayah dapat berkasih-kasihan dengan nyonya
lihai ini.
Jilid ke-83
Tapi lantas terpikir pula olehnya. "Namun semua bekas
kekasih ayah memang mempunyai perangai yang aneh dan
berbeda-beda. Cin Ang-bian punya putri (Bok Wan-jing) yang
suka membunuh, sedang Wi Sing-tiok melahirkan putri nakal
sebagai A Ci, maka dapat diduga sifat Wi Sing-tiok juga tak
berbeda jauh dengan putrinya itu. Umpama ibu, dia tidak mau
tinggal bersama dengan ayah dan sengaja hidup menjadi
Nikoh di tempat terasing, sampai bujukan paman baginda tak
dihiraukan olehnya, sebabnya mungkin adalah karena
perbuatan ayah yang bangor, di mana-mana ada kekasih.
Sungguh, urusan asmara adalah sesuatu yang sukar
diselesaikan.”
Dalam pada itu terdengar Buyung Hok sedang berkata,
"Sudahlah, buat apa bibi masih marah-marah? Silakan tenang
dan mengaso, Biarlah Tit-ji menceritakan dengan perlahan."
"Tidak kauceritakan juga aku dapat menerka.” sahut Ong-
hujin. “Tentu Toan Yan-khing itu telah berhasil membekuk
seseorang gendak manuasia she Toan itu dan memaksa dia
harus menyerahkan tahta padanya, kalau syarat ini tidak
dipenuhi, maka perempuan hina itu akan dibunuh betul tidak?
Hm, watak orang she Toan yang busuk itu masakah aku tidak
kenal? Jika dipaksa, sekalipun lehernya diancam dengan golok
juga tak mungkin dia mau menyerah. Akan tetapi bila
perempuan yang dia sukai terancam sedikit saja, maka apa
pun dia akan menurut. Hm, apakali perempuan hina-dina itu
sangat cantik? Dengan cara apa siluman itu dapat memikat
manusia she Toan itu? Lekas katakana, siapa perempuan hina-
dina itu?"
“Katakan sih boleh saja, Cuma bibi sendiri hendaknya
jangan marah, sebab perempuan hina-dina itu tidak hanya
seorang saja.”
''Hah, tidak hanya seorang, apakah ada dua orang?'' teriak
Ong-hujin dengan murka sambil mengebrak meja.
Buyung Hok menggeleng-geleng kepala sambil menghela
napas, sahutnya kemudian, "Ya, buhkän tidak cuma dua orang
saja!”
"Hah? Lebih dari dua malah?” teriak Ong-hujin semakin
gusar. "Jadi' dalam perjalanan juga dia main gila dengan
perempuan sebanyak itu, satu tídak cukup, bahkan ada lagi
yang kedüa dan ketiga?”
“Bahkan lebih dari tiga,” sahut Buyung Hok dengan geleng-
geleng kepala. “saat itu seluruhnya ada empat orang
perempuan yang mendampingi dia. Tapi buat apa bibi mesti
marah? Nanti bila dia sudah naik tahta, soal istri muda atau
selir toh sudah jamak baginya. Biarpun kerajaan Taili tidak
sebesar Song atau Lian, dalam istananya andaikan tiada 3000
selir cantik, 300 rasanya tentu ada.”
“Cis! Sebab itulah aku keberatan kalau dia menjadi raja,
tiada seorang raja di dunia ini manusia baik-baik.” teriak Ong-
hujin. “Nah, lekas katakan, siapakah keempat perempuan
yang mendampingi dia itu?”
Toan Ki juga terheran-heran mendengar keterangan
Buyung Hok itu, ia hanya tahu ayahnya didampingi Cin Ang-
bian dan Wi Sing-tiok berdua mengapa mendadak bisa
bertambah dengan dua wanita lain lagi?
Dalam pada itu terdengar Buyung Hok sedang menjawab,
"Keempat perempuan itu seorang she Cin, seorang lagi she Wi
dan . . . "
"Hm, jadi kedua ekor siluman rase itu mengoda dia lagi,"
jengek Ong-hujin.
"Dan seorang lagi adalah wanita yang sudah bersuami,
kudengar mereka menyebutnya sebagai Ciong hujin, agaknya
nyonya itu sedang mencari-cari seorang putrinya,” demikian
tutur Buyung Hok. "Tampaknya Ciong-hujin itu cukup sopan,
sedikitpun dia tidak memberi hati kepada Tin-lam-ong,
sebaliknya Tin-lam-ong juga menghadapinya dengan menurut
aturan."
"Huh, pura-pura, main sandiwara belaka,” jengek Ong-
hujin, "Jika betul sopan, seharusnya dia meninggalkan dia,
kenapa sekarang dia bersáma dia? Lalu siapa lagi perempuan
yang keempat?”
"Yang keempat itu bukanlah wanita hina," ujar Buyung
Hok, "Dia adalah istri kawin sah Tin-lam-ong sendiri."
Serentak Toan Ki dan Ong-hujin sama-sama terkejut. Yang
seorang heran mengapa ibunya mendadak juga datang,
sedang yang lain tidak menduga kalau Tin lam-ong bisa
membawa serta istrinya dalam perjalanan itu?
"Apakah bibi merasa heran?" Tanya Buyung Hok dengan
tertawa. "Padahal kalau bibi mau berpikir secara mendalam,
tentu sedikitpun tidak terasa heran. Maklum, sudah lebih
setahun Tin-lam-ong meninggalkan Taili, sedangkan di
Tionggoan terkenal banyak wanita yang cantik-cantik, ada
wanita secantik bidadari sebagai bibi, ada lagi wanita genit
sebagai Wi Sing-tiok, sudah tentu permaisuri Tin-lam-ong
merasa kuatir dan cepat-cepat menyusul suaminya."
“Cis, masakah kau jajarkan diriku dengan kawanan
perempuan hina-dina itu?" semprot Ong-hujin. "Dan
bagaimana dengan keempat perempuan itu apa sekarang
masih menggerombol menjadi sate?”
"Jangan kuatir bibi,” ujar Buyung Hok dengan tertawa.
"Ketika sampai di Siang líong-tíok, di situlah Tin-lam-ong kalah
habis-habisan, sekaligus mereka kena diciduk oleh Toan Yan-
khing. Seluruhnya, baik lelaki mau pun wanitanya, semua
kena ditutuk dan tertawan. Waktu itu Toan Yan-khing sedang
mencurahkan perhatiannya untuk menghadapi rombongan
Tin-lam-ong sehingga sama sekali tidak mengira kejadian itu
dapat kusaksikan dengan baik. Cepat saja Tit-ji kaburkan
kudaku dan mendahului mereka, kutaksir sedikitnya telah
kutinggalkan mereka sejauh 200 li jauhnya, mungkin dua hari
lagi baru mereka akan sampai di sini. Nah, bibi, urusan tidak
boleh ayal lagi, kita harus lekas mengatur kawanan tawon dan
obat bius itu, berbareng kita mengirim orang pergi memancing
Toan Yan-khing ke sini . . . . “
Belum habis ucapannya, tiba-tiba dari jauh terdengar
kumandang suara seorang yang tajam melengking, "Sudah
sejak tadi aku datang kemari, maka tidak perlu kau pancing
lagi, hanya kawanan tawon dan obat bius itu perlu lekas kalian
mengaturnya."
Dari lengking suara itu dapat ditaksir orangnya tentu masih
beberapa ratus meter jaühnya di sana, tapi bagi pendengaran
Ong-hujin dan Buyung Hok suara itu terasa berada di tepi
telinga mereka. Air muka kedua orang berubah seketika.
Dalam pada itu di luar lantas terdengar suara bentakan Pau
Put-tong dan Hong Pod-oke yang sedang menerjang ke arah
suara tadi.
"Awas. kepandaian orang ini sangat hebat. Jangan
memandang enteng!" serta Buyung Hok sambil memburu
keluar pintu.
Di bawah cahaya bulan tertampak bayangan hijau
berkelebat, menyusul sesosok bayangan kelabu dan sesosok
bayangan kuning telah menerjang maju, Itulah Ting Pek-jwan
dan Kongya Kian yang ikut mengerebut dari kanan dan kiri.
Bayangan hijau itu memang betul adalah Toan Yan-khing,
dengan tongkat kiri menyanggah tanah, segera tongkat kanan
digunakan menutuk Ting Pek-jwan dan Kongya Kian, hanya
dalam sekejap saja ia sudah melancarkan tujuh atau delapan
kali serangan mematikan. Sekuatnya Pek-jwan masih dapat
bertahan, tapi Kongya Kian tidak sanggup melawan sehingga
terdesak mundur beberapa langkah. Dalam jeda itu Pau Put-
tong dan Hong Po-ok yang mendahului menerjang tadi juga
telah putar balik, Toan Yan-khing lantas terkepung di tengah.
Tapi dengan satu lawan empat kelihatan Toan Yan-khing
masih lebih unggul. Buyung Hok tahu orang itu sangat
tangguh, cepat ia berbisik kepada Ong-hujin, "Bibi, tolong
pinjam dulu pedangmu."
Segera Ong hujin melolos pedangnya dan berpesan, "Hati-
hatilah!"
Semangat Buyung Hok terbangkit karena memegang
senjata itu, Ia tahu pedang itu adalah pedang mestika yang
dapat memotong besi bagai memotong sayur. Sekali bergerak,
pedang menyambar, segera ia melompat maju dan menusuk
ke arah Toan Yan-khing.
Yan- khing tak berani mengadu tongkatnya dengan pedang
lawan, tubuhnya menggeser cepat ke sana-sini dan berulang
melancarkan serangan berbahaya. Dia dikeroyok lima, Buyung
Hok adalah tokoh kelas wahid pula, tapi sungguh aneh, sama
sekali ia tidak bertahan atas serangan lawan, sebaliknya
tongkatnya berputar dengan cepat dan selalu mendahului
menyerang malah sehingga terpaksa Buyung Hok harus
menarik kembali senjatanya untuk menangkis dan dengan
sendirinya tak sampai melancatkan serangan balasan lagi.
Ilmu silat Ong-hujin tidak terlalu tinggi, hanya
pengalamannya banyak dan pengetahuannya luas,
pengetahuan ilmu silatnya (secara teori) bahkan lebih tinggi
daripada putrinya, yaitu Giok-yan, Sekarang dilihatnya kungfu
yang digunakan Toan Yan-khing ini adalah kapandaian dari
keluarga Toan dari Taili ia menjadi kuatir dan risau pula
hatinya.
Hendaklah maklum bahwa dahulu waktu Ong-hujin sedang
berpacaran dengan Toan Cing-sun selain mereka telah berjanji
setia, dengan sendirinya mereka pun bertukar pikiran tentang
ilmu silat dan Toan Cing-sun pernah mempertunjukkan it-yang
ci dan kepandaian keluarga Toan yang lain.
Sekarang dilihatnya Ilmu silat keluarga Toan itu dimainkan
oleh Toan Yan-khing secara hebat, gerakannya mirip dengan
kekasihnya dahulu, tidak salah kalau Ong-hujin menjadi risau
terkenang pada masa lalu.
Tiba-tiba teringat olehnya Toan Cing sun telah ditawan
orang ini, mungkin bekas kekasih itu pun berada di sekitar
sini. Sekarang orang jahat itu sedang dikerubut Buyung Hok
dan kawan-kawannya, mengapa kesempatan ini tak
kugunakan untuk menolong Toan-long?
Demikianlah diam-diam Ong-hujin lantas hendak keluar
dan mencari ke sekitar sana. Tapi baru saja melangkah,
sekonyong-konyong terdengar Hong Po-ok menjerit, di tengah
kalangan pertempuran sudah berubah. Hong Po-ok kelihatan
mengeletak di tanah, tongkat kiri Toan Yan-khing selalu
menyambar kian kemari pada badan lawan dalam jarak
belasan senti, tapi serangan yang mematikan tidak lantas
dilancarkan. Sedang Buyung Hok, Ting Pek-jwan dan lain-lain
telah menghujami serangan pada Toan Yan-khing, namun
semuanya kena ditangkis oleh tongkat kanan Yan-khing.
Keadaan begitu jelas menunjukkan bahwa Toan Yan Khing
sebenarnya dapat mencabut nyawa Hong Po-ok dengan
gampang, Cuma saja untuk sementara dia belum mau turun
tangan jahat.
Rupanya lantaran itu Buyung Hok mendadak melompat
mundur dan berteriak, “Berhenti dulu!”
Maka cepat Ting Pak-jwan, kongya Kian dan PAu Put-tong
juga lantas melompat mundur.
“Terima kasih atas kemurahan hatimu, Toan Siangsing,”
kata Buyung Hok. "Memangnya kita tiada permusuhan apa-
apa, sejak kini orang Buyung dari Koh-soh mengaku kalah
padamu.”
Belum lagi Yan-khing menjawab, sekonyong-konyong Hong
Po-ok berteriak, “Kongcuya, orang she Hong tidak becus, apa
artinya selembar jiwaku ini, hendaklah Kongcuya jangan
sekali-kali mengaku kalah hanya lantaran diriku!"
Yan-khing tertawa, kerongkongannya mengeluarkan suara
“Krok-krok” bagai ayam keselek, katanya, "Orang she Hong
sungguh seorang ksatria tulen.”
Berbareng ia tarik kembali tongkatnya yang mengancam di
atas badan Hong Po-ok yang masìh menggeletak di tanah itu.
Mendadak Po-ok melompat bangun, sinar golok
berkelebat, kontan ia membacok pula ke atas kepala Toan
Yan-khing sambil berteriak, “Rasakan pula golokku ini!''
Ketika Toan Yan-khing mengangkat tongkatnya ke atas,
seketika Po-ok merasa tangannya seperti tergetar oleh
sesuatu tenaga maha dahsyat dan tak tertahan lagi. goloknya
terlepas dari cekalan menyusul pinggangnya, juga kesakitan,
tiba-tiba tongkat lawan sudah menyabet pinggangnya, kontan
tubuhnya terlempar.
"Kungfu Toan-sìansing sungguh maha sakti, sungguh aku
sangat kagum." demikian kata Buyung Hok. "Marilah dari
lawan kita menjadi kawan, bagaimana kalau aku mengikat
persahabatan dengan Toan-siansing?"
"Baru saja kamu sedang bicara tentang mengatur kawanan
tawon dan hendak membikin celaka padaku, sekarang kalian
tak sanggup melawan aku, lantas kamu hendak main tipu
muslihat apa?" jawab Toan Yan-khing.
“Soalnya bila kita berdua bergabung akan berguna, kalau
bermusuhan tentu akan sama-sama celaka,” ujar Buyung Hok.
"Yan-khing Thaicu, engkau adalah ahliwaris yang sebenarnya
dari kerajaan Taili. tahtamu telah dirampas orang, mengapa
engkau tidak mencari akal untuk merebutnya kembali?”
"Itu adalah urusanku sendiri, apa sangkut pautnya
denganmu?" sahut Yan-khing dengan melirik hina.
"Jika engkau ingin naik tahta untuk menjadi raja Taili,
engkau perlu mendapat bantuanku." ujar Buyung Hok.
"Huh, aku justru tidak percaya kamu akan membantu
diriku. Bisa jadi kau ingin sekali tebas membinasakan aku."
"Tidak, aku ingin membantumu menduduki kembali
tahtamu adalah karena kepentinganku pula," ujar Buyung
Hok. "Pertama, aku sangat benci pada bocah bernama Toan Ki
itu, dia telah membikin malu padaku di Siau-sit-san sehingga
hampir aku bunuh diri, nama keluarga Buyung kami telah
dijatuhkan olehnya, sebab itulah aku ingin membantumu
merebut kembali tahtamu sekedar melampiaskan dendamku
padanya. Kedua, sesudah engkau menjadi raja Taili, aku pun
ada urusan lain yang mengharapkan bantuanmu!"
Walaupun Toan Yan-khing tahu Buyung Hok sangat licin
dan banyak akal, tentu tiada maksud baik terhadapnya. Tapi
demi mendengar uraian Buyung Hok itu, mau-tak-mau ia
menjadi tertarik. Ketika di Siau-sit san tempo hari Yan-khing
sendiri menyaksikan Buyung Hok dikalahkan Toan Ki dan
hampir-hampir saja membunuh diri. Bila teringat kepada
kelihaian Toan Ki itu diam-diam ia pun merasa bukan
tandingan Lak-meh-sin-kiam yang dimiliki Toan Ki itu.
walaupun sekarang Toan Cing-sun sudah tertawan olehnya,
tapi ia pun tidak yakin semua itu akan dapat digertak dengan
ancaman atas jiwa ayahnya.
Karena itulah ia lantas bertanya, "Tapi kamu kan tak dapat
melawan si Toan Ki, lantas dengan cara bägaimana kamu
dapat mengatasi dia?"
Maka buyung Hok menjadi merah jengah, sahutnya
kemudian. “Kalau tak bisa melawan dengan kekerasan harus
dihadapi dengan akal. Pendek kata soal Toan Ki itu akulah
yang bertanggung Jawab untuk menangkapnya dan
diserahkan kepadamu dan boleh ditindak sehendakmu."
Yan-khing menjadi girang. Memang yang masih dikuatirkan
olehnya adalah kepandaian Toan Ki yang sakti itu, kalau
sekarang Buyung Hok menyatakan sanggup menangkapnya,
hal ini berarti akan berkurang suatu ancaman baginya. Tapi
segera terpikir olehnya jangan-Jangan Buyung Hok cuma
omong besar saja dan sengaja hendak menipunya, untuk ini
perlu waspada, Maka katanya pula, "Kamu menyatakan
sanggup menangkap Toan Ki, siapa tahu kamu tidak omong
kosong belaka, yang penting harus buktikan lebih dulu."
Buyung Hok tersenyum, sahutnya, "Ong-hujin ini adalah
bibiku, saat ini si bocah Toan Ki sudah tertawan oleh bibi,
maka belíau justru lägi merencanakan untuk menukar bocah
itu dengan orang tawananmu. Inilah sebenarnya maksud
tujuan kami hendak memancing kedatanganmu ke sini.”
Dalam pada itu Ong-hujin telah menyingkir belasan meter
dari tempat bicara kedua orang itu, Ía sedang celingukan kian
kemari untuk mencari Toan Cing Sun. Ketika lamat-lamat
mendengar pembicaraan Buyung Hok itu, cepat ia putar balik.
Segera Toan Yan-Khing membungkuk tubuh sebagai
hormat, katanya dengan suara dalam kerongkongan,
"Terimalah hormatku ini. Entah siapakah gerangan yang Ong-
hujin ingin tukar?"
Air muka Ong-hujin menjadi merah. Siang malam yang
selalu terkenang olehnya adalah Toan Cing-sun seorang, tapi
sebagai seorang janda sudah tentu tidak pantas dia
mengutarakan perasaannya itu kepada orang luar. Sebab
itulah ia menjadi gelagapan dan tak bisa menjawab.
"Toan Cing sun, ayah si bocah Toan Ki itu dahulu pernah
menyakiti hati bibiku, permusuhan mereka boleh dikatakan
sedalam lautan,“ tutur Buyung Hok. "Sebab itulah bibi ingin
janjimu, kelak bila sudah kau terima kembali tahta kerajaan
taili, segera harus kau serahkan Toan Cing-sun itu kepada
bibi, dan untuk selanjutnya apakah Toan Cing-sun itu akan
dibunuh atau dibakar biar terserah pada bibi."
Toan Yan-khing mengakak-tawa, pikirnya, "Sesudah Toan
Cing-sun menyerahkan tahta padaku, memangnya segera
akan kuhukum mati dia, jika kau mau mewakilkan aku
membinasakan dia, sudah tentu kebetulan bagiku."
Tapi ia pun cukup cerdik, ia merasa urusan ini jadinya
terlalu mudah, jangän-jangan di dalamnya tersembünyi tipu
muslihat lain. Segera ia tanya pula, "Buyung-kongcu, kau
biläng akan minta bantuanku bila aku sudah naik tahta, Untuk
itu aku sendiri tidak tahu apakah mampu membantu atau
tidak,maka lebih baik sekarang juga kita bicara di muka
supaya kelak tidak menyesal jika aku tak dapat memberi
bantuan."
Buyung Hok tertawa, sahutnya, "Dengan ucapan Toan-
siansing ini, sekarang aku menjadi lebih percaya lagi padamu.
Karena kita harus tetapkan jual-beli ini. maka urutan pribadi
ini jadi tidak perlu kututupi lagi. Harap maklum bahwa
keluarga Buyung kami adalah keturunan raja Yan masa
dahulu, turun temurun leluhur kami telah meninggalkan pesan
agar berusaha memulihkan kembali kerajaan Yan yang Jaya.
Tapi kekuatanku sendiri terlalu lemah dan susah
mengsukseskan pesan leluhur itu. Maka bila nanti Pangeran
sudah naik tahta menjadi raja Taili, ingin kumohon bantuan
kerajaan Taìli sebagai modal pembangunan kembali kerajaan
Yan."
Bahwasanya Buyung Hok adalah keturunan raja Yan, hal
ini dìam-diam sudah menimbulkan curiga Toan Yan-khing
ketika menyaksikan Buyung Bok mencegah Buyung Hok bunuh
diri di Siau-sit-san tempo harì. Sekarang rahasia besar
pribadinya diceritakan sendiri pula oleh Buyung Hok, hal ini
menandakan maksud tujuannya benar-benar sangat tulus.
Maka pikir Yan khing, "Dia ingin membangun kembali kerajaan
Yan, untuk itu dia tentu sekaligus akan bermusuhan dengan
kerajaan Song dan Liau yang besar, padahal kerajaan Taili
kami sangat kecil dan lemah, untuk menjaga diri saja tidak
kuat, apalagi memusuhi negara-negara besar tersebut. Pula
aku belum mendapat dukungan rakyat seluruhnya bila naik
tahta, mana boleh aku menjangkitkan peperangan pula. Ya,
biarlah sekarang aku pura-pura menyanggupi dia, kelak jika
ada kesempatan yang baik akan kubunuhnya saja."
Dengan pikiran demikian, lalu sahutnya, "Negeri Taili
sangat kecil dan miskin, bantuan yang dapat diberikan rasanya
tidaklah seberapa. Semoga kelak usahamu akan berhasil dan
kerajaan Taili dan kerajaan Yan akan selalu terikat menjadi
negeri saudara atau negara keluarga.”
Segera Buyung Hok memberi sambah hormat. "Jika
Buyung HoK dapat membangun kembali kerajaan leluhur,
maka turun temurun kerajaan Yan akan menjadi negeri di
bawah perlindungan kerajaan Taili dan sekali-kali takkan lupa
kepada budi kebaikan Sri Baginda."
Girang Toan Yan-khing tak terkatakan mendengar dirinya
disebut sebagai "Sri Baginda", Apalagi nada Buyung Hok itu
diucapkan dengan penuh haru dan terima kasih, cepat ia
membangunkan dan berkata, "Buyung-kongcu tidak perlu
banyak adat. Sekarang si bocah Toan Ki itu entah berada di
mana?"
"Dan di mana Toan Cing-sun itu?” demikian Ong-hujin
menyela sebelum Buyung Hok menjawab.
"Harap Sri Baginda sudi mengaso dulu di tempat kediaman
bibi tentang Toan Ki itu dengan segera tentu akan
diserahkan," ujar Buyung Hok.
“Baiklah jika begitu," kata Yan khing dan mendadak dari
perutnya mengeluarkan suara suitan tajam melengking.
Ong-hujin sampai kaget. Tapi lantas terdengar dari jauh
ada suara derapan kuda lari dan gemertak roda yang riuh,
satu iring-iringan kereta-kereta keledai sedang mendatangi.
Sejenak kemudian dapatlah terlihat dengan jelas iring-iringan
itu terdiri dua penunggang kuda yang mengawal dua kereta
keledai besar.
Sesudah dekat, dengan serta-marta Ong-hujin memburu
maju, ia menyelinap lewat di sebelah kedua penunggang kuda
itu dan segera hendak menyingkap tirai kereta untuk
memeriksa isi kereta itu.
Tapi mendadak di depannya mengadang seorang yang
bermulut besar dan bermata kecil, kupingnya lebar kepala
gundul. Orang aneh ini membentak, "Kau mau apa?”
Ong-hujin terkejut dan cepat melompat mundur. Baru
sekarang dia dapat melihat jelas si muka buruk itu berpaju
pendek warna kuning tua, tangan memegang cambuk,
agaknya dia si kusir kereta.
Tiba-tiba Yan-khing berseru, “Samte, ini Ong-hujin, mari
kita mengaso dulu di tempat kediamannya, para tamu dalam
kereta itu pun dibawa sekalian!”
Kiranya kusir itu adalah Lam-hai-gok-sin.
Waktu tirai kereta terbuka, maka turunlah seorang
penumpang dengan langkah sempoyongan. Seketika perasaan
Ong-hujin menjadi pedih, air mata berlinang-linang. Ia lihat
penumpang kereta yang turun itu bermuka pucat, rambut di
kedua pelipisnya agak ubanan, siapa lagi dia kalau bukan
Toan Cíng-sun, kekasih yang dirindukannya siang dan malam
selama ini?
Watak Ong-hujin memang tidak sabaran, sebenarnya ia
tak bisa menunggu lagi dan segera memburu maju dan
menyapa. "Toan . . Toan . . . baik-baikkah kau?”
Ketika mendengar suaranya. Toan Cing-sun terkejut,
waktu dia menoleh dan melihat Ong-hujin serentak air
mukanya berubah pucat.
Kiranya Toan Cing-sun adalah orang berdosa, di mana-
mana ia banyak utang asmara karena kelakuannya yang
bangor itu. Dan di antara "kreditor" sebanyak itu hanya Ong-
hujin yang paling dia takuti. Kalau Cin Ang-bian, Wi Sing-tiok
dan lain-lain paling-paling cuma aleman saja dan minta selalu
didampingi Cing-sun, dan puaslah sudah. Tetapi Ong hujin ini
justru selalu mendesak Cing-sun membunuh istrinya yang sah
untuk kemudian mengawini dia. Sudah tentu permintaan
demikian tak mungkin dilakukan oleh Cing-sun.
Dengan sendírinya percekcokan itu lantas meruncing,
terpaksa Cing-sun ambil langkah seribu alias kabur tanpa
pamit. Sungguh tak terduga olehnya bahwa dalam keadaan
runyam menjadi tawanan seperti sekarang ini justru kepergok
lagi dengan bekas kekasih yang disegani ítu.
Walaupun Cing-sun suka main cinta dan tidak murni
mencintai setiap kekasihnya, tapi selalu ia menghadapi setiap
kekasíh itu dengan hati tulüs. Maka begitu melihat Ong-hujin,
sekilas ia terperanjat dan segera ia pun memikirkan dulu
kepentingan Ong-hujin, cepat ia berseru, "A Mong, lekas lari,
tua bangka berjubah hijaü adalah seorang maha durjana,
jangan sampai kaupun tertangkap olehnya!”
Sebareng itu ia terus mengadang di tengah antara Ong-
hujin dan Toan Yan-khing sambil mendesak lagi, "Lekas lari,
lekas A Mong!"
Padahal Cing sun sendiri sudah tertutuk oleh Toan Yan-
khing, untuk berjalan saja sukar, dari mana dia mampu
membela keselamatan Ong Hujin.
Namun sekali ia memanggil “A Mong”, yaitu nama kecil
Ong-Hujin, hal ini menandakan betapa perhatiaanya kepada
bekas kekasih itu dan nadanya juga benar-benar timbul dari
hatinya yang tulus, maka buyarlah seketika rasa dendam dan
benci yang dikandung Ong hujin tadi, hanya saja di hadapán
Toan Yan khing dan Buyung Hok betapapun ia tidak enak
memperlihatkan perasaannya, maka ia hanya mendengus saja
dan menjawab, "Huh, keselamatamu sendiri tak terjamin,
tidak perlu gubris utusan orang lain. Dia maha durjana,
memangnya kausendiri maha budiman?"
Habis ini ia lantas berpaling kepada Yan-khing dan berkata,
“Silakan masuk ke dalam rumah, Pangeran!”
Melihat sikap Cing-sun terhadap Ong-hüjin, diam-diam
Yan-khing menduga musuh itu pasti lebih besar cinta daripada
bencinya terhadap nyonya itu. sebaliknya biarpun Ong-hujin
ade sesuatu dendam terhadap Cing-sun rasanya juga lebih
banyak cintanya daripada rasa permusuhannya. Pikirnya,
"Terang hubungan kedua orang ini sangat luar biasa. sekali-
kali aku tak boleh masuk perangkap mereka."
Tapi dasar kepandaiannya tinggi dan nyalinya besar,
walaupun dalam hati merasa was-was, namun sedikit pun ia
tidak gentar, dengan angkuh ia lantas masuk ke dalam rumah.
Tempat itu adalah suatu perkampungan yang segaja diatur
oleh Ong-hujin untuk menawan Toan Cing-sun, dalam
pekarangan rumah penuh tertanam bunga kamelia, di bawah
sinar bulan remang-remang tertampak keadaan di situ terawat
sangat bersih dan indah.
Melihat cara mengatur tanaman bunga Kamelia itu tiada
ubahnya seperti taman bunga di Koh-soh, di sana Cing-sun
dan Ong-hujin pernah tenggelam di tengah lautan madu
asmara, seketika perasaan Cing-sun menjadi pedih, katanya
dengan suara perlahan. "Kiranya di . . . di sini adalah tempat
kediamanmu?"
"Hm, jadi kamu masih ingat?" Jengek Ong-hujin.
"Sudah tentu masih," sahut Cing-sun dengan lirih.
Begitulah beramai-ramai semua orang lantas ikut masuk ke
dalam rumah. Lam-hai-gok-sin juga telah menurunkan semua
tawanan yang berada dalam kereta keledai tadi. Pada suatu
kereta itu berisi Su Pek-hong, yaitu istri kawin sah Toan Cing-
sun, lalu Ciong-hüjin. Cin Ang-bian dan Wi Sing-tiok berempat.
Kereta lain berisi Hoan Hwa, siáu Tiok sing dan Tang Su-kui
bertiga menteri setia kerajaan Taili.
Rupanya mereka kena ditutuk dengan tenaga berat oleh
Toan Yan-khing, maka sama sekali tak bias membangkang
diseret dan digusur oleh Lam-hai-gok-sin serta In Tiong-ho,
paling-paling mereka cuma dapat mencaci-maki saja. Sedang
kusir kereta tetap tinggal di luar rumah dan merawat keledai
mereka.
Tempo hari, setelah Toan Cing-sun mengirim Pak Thian-sik
dan Cu Tan-sin mengiringi Toan Ki pergi ke Se He untuk
mengikuti sayembara perebutan menantu raja Se He, tidak
lama kemudian ia lantas mendapati pesan Po-ting-to, yaitu
kakak bagindanya dari Taili yang memerintahkan dia lekas
pulang ke taili untuk menggantikan tahtanya, Po-ting to
sendiri sudah ambil keputusan akan menjadi hwesio di thing-
liong-si.
Kerajaan Taili adalah penganut agama Budha, maka raja
Taili pada masa terakhir selamanya meninggalkan tahta untuk
menjadi hwesio. Sebab itulah ketika Cing-sun menerima
kiriman kakak bagindanya itu, walaupun merasa berat, tapi
juga tidak heran akan pilihan kakak bagindanya itu. Maka
bergegas-gegas ia lantas pulang ke Taili dengan membawa
serta Ciu Ang-bian dan Wi Sing tiok.
Di tengah jalan mereka mendapat berita dari para wanita
Ling-ciu-kiong yang memperingatkan bahwa di sepanjang
jalan mereka harus hati-hati menghadapi berbagai perangkap
yang telah dipasang oleh musuhnya yang lihai.
Cing-sun coba bertukar pikiran dengan Hoan Hwa dan lain-
lain, mereka sependapat bahwa apa yang dikatakan "musuh
lihai" itu tentu bukan lain daripada Toan Yan-khing. Musuh ini
memang sukar untuk dihadapi, jalan paling baik adalah
menghindari saja.
Sebab itulah mereka ganti arah dan berputar ke timur dulu
untuk kemudian baru membelok ke selatan. Ia tídak tahu
bahwa berita itu diperoleh A Pik dari pelayan-pelayan Ong-
hujin sehingga yang diketahuí A Pik kurang lengkap.
Perangkap memang beñar ada, tapi sebenarnya tiada maksud
Ong-hujin hendak membikin celaka Cing-sun.
Dan karena pergantían arah perjalanan Cing-sun itu maka
segala apa yang telah direncanakan Ong-hujin itu menjadi
meleset dan menimpa diri Toan Ki. Sebaliknya Cing-sun jadi
kepergok dan ditawan oleh Toan Yan-khíng. Dalam
pertarungan di pesisir Koa-im-lan, rombongan Cing-sun kalah
habis-habisan, Hoa Hek-liang kena dihantam Lam-hai-gok-sin
hingga kecemplung ke laut, yang lain juga tertutuk dan
tertawan oleh Toan Yan-khing.
Begitulah Buyung Hok lantas menyuruh Ting Pek-jwan dan
kawan-kawannya mangawas-awasi di luar rumäh, ia sendiri
berlagak sebagai tuan rumah untuk mengatur ini dan itu guna
melâyani tetamu.
Ong-hujin sendiri sedang memperhatikan Su Pek-hong, Cin
Ang-bian, Ciong-hujin dan Wi Sing-tiok berempat. Ia merasa
setiap wanita itu mempunyai kegenitan dan kecantikan
masing-masing, walaupun Ong-hujîn merasa dirînya tidak
kalah daripada wanita-wanita saingannya itu, tapi dasarnya
memang tinggi hati, maka ia enggan disama-ratakan dengan
mereka yang dianggapnya perempuan hina.
Di sebelah sana demi mengingat ayah-ibunya datang
semua, tapi tertawan oleh musuh, maka di samping merasa
girang Toan Ki juga kuatir pula.
Dalam pada itu terdengar Toan Yan-khing sedang berkata,
“Ong hujin, setelah urusanku selesai dengan sendirinya Toan
Cing-sun akan kuserahkan padamu dan masa-bodoh apa yang
hendak kau perbuat atas dirinya. Sekarang di manakah si
bocah Toan Ki itu?”
Ong-hujin tidak menjawab, ia hanya bertepuk tangan tiga
kali, dua pelayan wanita lantas muncul dan menunggu
perintah dengan hormat.
"Bawa si bocah she Toan itu ke sini?” seru Ong hujin.
Yan-khing duduk di kursi dengan tangan kiri menahan
pundak kanan Toan Cing-sun. Maklum, ia sangat jeri terhadap
Lek-meh-sín-kiam milik Toan Ki, apalagi ia meragukan
persengkongkolan Ong hujin dan Buyung Hok jika Toan Ki
mendadak dibebaskan dan menyerang padanya, tentu urusan
bisa runyam, maka ia sengaja mengancam Toan Cing-sua
agar Toan Ki tidak berani sembarangan bertindak.
Tidak lama kemudian, terdengar suara tindakan orang
banyak, empat pelayan muncul dengan menggotong musuh
Toan Ki.
Kaki dan tangan Toan Ki terikat oleh tali kulit kerbau,
mulutnya tersumbat matanya tertutup pula oleh kain hitam,
maka orang lain sukar mengetahui apakah pemuda itu masih
hidup atau sudah mati.
"Anak Ki!" teriak Su Pok-hong dan segera hendak
menubruk maju.
Tapi Ong-hujin mendorongnya sambil membentak, "Jangan
bergerak! Duduklah di tempatmu.”
Karena nyonya Toan Cing-sun itu tertutuk dan sedang
kehilangan tenaganya, maka dorongan itu membuatnya jatuh
kembali di atas kursinya dan tak bias berkutik lagi.
“Bocah ini telah minum obat bius yang kuberikan, mati sih
belum, tapi untuk sementara waktu jelas pikirannya belum
sadar kembali," demikian tutur Ong-hujin. "Nah, Yan-khing
Thaicu, jika perlu boleh kau periksa yang betul, aku kan tidak
salah tangkap orang?"
Yan-khing mengangguk-angguk, sahutnya, "Ya memang
tidak salah."
Rupanya Ong-hujin terlalu yakin pada kekuatan obat
sengatan tawon piaraannya, ia tidak tahu bahwa dalam tubuh
Toan Ki telah penuh tenaga sakti Cu-hap-sin-kang yang
ampuh, anak muda itu hanya kehilangan ingatan sebentar
saja dan sejenak kemudian pikiran sehatnya lantas pulih
kembali, soalnya kaki tangan Toan Ki teringkus sehingga
keadaannya mirip orang yang masih belum sadar kembali.
"A Mong, mengapa kau tangkap anak Ki. Dia kan tidak
bersalah padamu?" demikian Cing-sun menegur dengan
tersenyum getir.
Ong-hujin hanya mendengus saja dan tidak menjawab. Ia
tidak mau unjuk perasaan rindunya kepada Toan Cing-sun di
depan orang banyak, tapi ia pun tidak tega mendampratnya
dengan kata-kata keji.
Buyung Hok sangat cerdik, ia kuatir sang bibi terpengaruh
oleh rindu-dendamnya sehingga menggagalkan rencana
usahanya, maka cepat ia menyela, “Mengapa bilang dia tidak
bersalah terhadap bibiku? Dia . . . dia telah memelet Piau-
moaiku yang bernama Giok-yan dan mencemarkan
kesuciannya. Nah, bibi, orang macam begini mati pun tidak
cukup untuk menebus dosanya, buat apa mesti menunggu lagi
...."
Belum habis ucapannya mendadak Cing-sun dan Ong-hujin
menjerit bersama, "Apa katamu? Dia . . . dia . . . . "
Air muka Cing-sun tampak pucat pasi, ia berpaling pada
Ong-hujin dan bertanya dengan suara lirih, "Apakah anak
perempuan . . . dan diberi nama Giok-yan?”
Perangai Ong-hujin mestinya sangat keras, sejak tadi ia
bersabar sedapatnya, tapi sekarang ia benar-benar tidak tahan
lagi, ia menjerit dan menangis, "Semuanya gara-garamu lelaki
yang tidak punya perasaan, engkau telah membikin susah
diriku, bahkan sekarang membikin celaka putri darah-
dagingmu sendiri Giok-yan, dia adalah putrimu sendiri."
Habis ítu, mendadak ia putar ke samping terüs menendang
Toan Ki secara serabutan sambil memaki, “Kamu ini setan
perusak wanita yang melebihi binatang, bajingan tengik yang
tak punya perásaan sampaì-sampai adik perempuanmu sendiri
juga kau rusak, sungguh aku . . . aku ingin mencencang
binatang cilik ini."
Dan karena jerit tangis dan makiannya, semua orang yang
berada di situ sama tercengang. Su Pek-hiong, Cia Ang-bian
dan lain-lain kenal watak Toan Cing-sun, maka dengan segera
mereka tahu persoalannya, tentu dulu Cing-sun main gila
dengan Ong-hujin dan hasilnya melahirkan seorang putri
diberi nama Giok yan.
Begitu pula Toan Yan-khing, Buyung Hok dan yang lain-
lain, sedikit pikir saja segera mereka pun dapat memahami
duduknya perkara. Hanya Lam-hai-gok-sin saja yang
melongok heran, Yang terang baginya adalah orang yang
menggeletak di tanah itu adalah Suhunya, maka cepat ia
mendorong pergi Ong-hujin yang masih mencaci-maki dan
menendang Toan Ki itu sambil membentak, “He, día ini
guruku, kau berani menendang guruku itu berarti seakan-akan
menendang aku pula. Kau memaki guruku sebagai binatang
dan bajingan, bukankah aku ikut-ikut menjadi binatang dan
bajingan? Kamu perempuan bawel ini apa minta kukorek
hatimu untuk kumakan?”
"Gak-losam, jangan kurangajar terhadap Ong-hujin!" cepat
Yan-khing mencegahnya, "Bocah she Toan ini adalah manusia
yang tidak tahu malu, dengan kata-kata manis lidahnya yang
tidak bertulang itu dia menipumu untuk menyebutnya sebagai
Suhu, maka sekarang kebetulan kau dapat membinasakan día
agar kelak kamu tidak dibikin malu lagi di depan orang
kangouw.”
“Tidak,” jawab Lam-hai-gok-sin dengan geleng kepala.
“Dia adalah guruku, hal ini jelas barang tulen dan harga pas,
dia tidak menipu aku, mana boleh kubinasakan guruku
sendiri?”
Sembari berkata ia terus hendak melepaskan tali kulit yang
meringkus Toan Ki itu.
"Gak-losam," seru Yan-khing pula, "dengarkan nasehatku,
jangan sekali-kali menuruti keinginanmu sendiri, lebih baik
keluarkan gunting congor buayamu itu dan gunting saja buah
kepala bocah she Toan ini."
"Tidak, Lotoa! Hari ini Gak loji tak mau menurut
nasehatmu lagi, aku harus menyelamatkan guruku?" sahut
Gak-sin sembari membetot tali kulit sehingga tali yang
mengikat tangan Toan Ki itu terbetot putus seketika.
Karuan Yan-khing kaget. Ia pikir kalau Toan Ki sampai
terlepas dan sekali pemuda itu mengeluarkan Lak-meh-sin-
kiam, maka pasti tiada seorang pun sanggup melawannya,
jangankan segala rencana dan usaha akan gagal total bahkan
jiwa sendiri pun akan terancam.
Dalam kuatirnya tanpa pikir lagi tongkatnya terus
menyodok ke depan dengan cepat, yang diarah adalah
punggung Lam-hai-gok-sin, di mana tongkatnya tiba kontan
tubuh Lam hai-gok-sin tertembus.
Ketika mendadak merasa punggung dan dadanya
kesakitan tahu-tahu Lam-hai-gok-sin melihat, ujung sebàtàng
tongkat baja sudah sudah menongol didepan dadánya. Sesaat
d¡a menjadi bingung ia menoleh dan memandang Toan Yan-
khing dengan sorot mata penuh tanda tanya, ia tídak paham
mengapa Toan-lotoa mendadak bisa turun tangan keji
padanya.
Dasar watak Toan Yan-khing memang maha jáhat dan
buas, dia adalah kepala "Su-tai-ok-jin" atau singkatnya "Su-
ok” dengan sendirinya dia adalah manusia yang paling ganas,
sekali sudah menyerang tentu tidak kenal ampun lagi. Pula día
sudah terlalu jeri terhadap Lak-meh-sin-kiam kemahiran Toan
Ki itu, ia kuatir sekali bila pemuda itu sampai dilepaskan Lam
hai-gok-sin, itu berarti maut baginya. Sebab itülah walaupun
sebenarnya tiada maksudnya hendàk membunuh begundalnya
sendiri, tapi sekali tongkatnya menyodok toh tetap mengenai
tubuh Lam-hai-gok-sin sehingga tembus.
Melihat sorot mata Gok-sin yang heran dan cemas itu,
dalam lubuk hati Toan Yan-khing juga terkilas rasa menyesal.
Namun perasaan itu hanya timbul sekilas saja dan lantas
hilang, segera ia tarik kembali tongkatnya untuk menyusul
dipakai menyepak tubuh Gok-sin sambil membentak, "In-losi,
tanamlah mayatnya. Inilah contohnya bila tidak mau tunduk
pada kata-kata Lotoa!"
Lam-hai-gok-sin hanya sempat menjerit sekali, lalu
terguling di tanah, dari lubang dada dan punggungnya lantas
menyembur keluar darah segar bagai mata air, kedua
matanya tampak masih mendelik penasaran.
Segera In Tiong menyeret keluar jenazah Gok-sin itu.
Meskl dia dan Gok sin sama-sama anggota "Su-ok", tapi
biasanya kedua orang tidak akur, pernah beberapa kali Gak-
sin merintangi perbuatannya yang jahat, karena ilmu silatnya
kalah tangguh, terpaksa ia mengalah. Sekarang dilihatnya
Gak-sin telah dibunuh oleh Lotoa, sudah tentu ia merasa
senang, dengan hilangnya seteru itu kelak ia dapat berbuat
apa pun tanpa rintangan lagi.
Semua orang pun tahu Lam-hai-gok-sin adalah begundal
Toan Yan-khing yang paling karib, tapi sedikit tidak cocok
segera nyawanya dicabut, betapa kejamnya sungguh tiada
taranya. Keruan semua orang ikut kebat-kebit menyaksikan
adegan mengerikan itu.
Sebalíknya Yan-Khing lantas berkata dengan tertawa
dingin, "Siapa yang menurut padaku akan hidup dan siapa
melawan aku pasti mati!”
Habis itu tongkatnya diangkat pula terus menikam dada
Toan Ki yang menggeletak di atas tanah itu.
Tapi tiba-tiba terdengar suara seorang wanita berkata, "Di
luar Thian-liong-si, di bawah pohon Bodi, si pengemis kuntet,
si Kion-Im (Budhasatwa) rambut panjang!”
Ketika mendengar kata-kata "di luar Thian-liong-si",
tongkat baja yang sudah terangkat ke atas itu lantas terhenti
di udara dan tidak jadi ditikamkan. Dan sesudah habis
mendengar ucapan itu seluruhnya, tahu-tahu tongkat Toan
Yan-khing bergemetar dan akhírnya diluruskan kembali
dengan pelahan.
Waktu menoleh, bertemulah pandangannya dengan Su
Pek-hong, nyonya Toan Cing-sun. Ia lihat sinar mata si nyonya
seakan-akan penuh kata-kata yang ingin diutarakan padanya.
Seketika hati Yan-khing tergetar, katanya dengan suara
gemetar, "Budha Koan . . . . Koan-im . . . ."
Tertampak nyonya Toan mengangguk-angguk dan
menjawab dengan suara lirih. "Apa . . . apakah kau tahu siapa
anak ini?"
Sedetik itu, pikiran Toan Yan-khing menjadi pusing,
pandangannya merasa kabur, pikirannya kembali kepada masa
20 tahun yang lalu, pada suatu malam bulan purnama . . . .
Pada hari itu akhirnya ia dapat pulang sampai di Taili
dengan susah payah dan tiba di luar Thian-liong-si. Dalam
perjalanan itu di sekitar Ohlam dan kuitang ia kepergok dan
dikerubuti musuh tangguh, walaupun berakhir dengan
kemenangan, semua musuh dapat ditumpasnya, tapi ia sendiri
pun menderita luka parah, kedua kakinya buntung, mukanya
rusak, bahkan tenggorokannya terbacok dan hampir putus
sehingga tak bisa bersuara lagi.
Dalam keadaan terluka sedemikian hebatnya ia tidak mirip
manusia lagi, seluruh tubuhnya kotor dengan luka yang belum
sembuh dan berbau busuk, di mana dia datang, disitu dia
dirubung lalat. Tapi dia adalah putra mahkota kerajaan Taili.
Ayahnya terbunuh dalam pemberontakan dorna, dia berhasil
melarikan diri dalam keadaan kacau-balau itu, akhirnya ia
pulang kembali sesudah mahir ilmu silat.
Ia tahu raja Taili yang sekarang. Toan Cing-bing, adalah
saudara sepupunya, tapi yang berhak menjadí raja sebenarnya
adalah dia sendiri dan bukan Toan Cing-bing. Ia tahu Toan
Cing-bing sangat bijaksana dan cinta rakyat, makanya
mendapat dukungan luas di kalangan masyarakat,
kedudükannya yang sudah belasan tahun itu sangat kokoh
dan tak tergoyahkan. Semua pembesar, baik sipil maupun
militer juga mendukung sepenuhnya kepada raja yang
sekarang sehingga tiada seoràng pun yang mau pikirkan lagi
putra mahkota yang telah hilang itu.
Dalam keadaan begitú kalau dia unjuk diri begitu saja di
kota Taili tentu akan membahayakan keselamatannya, sebab
setiap pembesar tentu akan mengambil hati sang baginda,
asal raja senang, tentu dia akan dibunuhnya untuk
memperoleh pujian sang raja.
Sebenarnya dia tidak perlu takut karena ilmu silatnya
cükup tinggi, tapi sekarang ia terluka parah, untuk melawan
seorang prajurit biasa saja tidak sanggup.
Begitulah ia merangkak dan menggeremet, akhirnya ia
dapat tampak di luar Thian-liong-si. Harapan satu-satunya
baginya adalah ingin mínta keadilan pada Koh-eng Taisu.
Kog-eng Taisu adalah saudara sekandung ayah
bagindanya, jadi terbilang pamannya yang terdekat. Koh-eng
juga terhitung paman Toan Cing-bing. Koh-eng adalah
seorang padri saleh, sedang Thian liong-si adalah suatu
tempat perlindungan bagi dinasti kerajaan Taili, berbagai raja
Taíli bila turun tahta dan menyepi menjadi padri, yang dituju
tentu adalah Thian-liong-si. Karena tidak berani
memperlihatkan dirinya di kota Taili, Maka Yan-khing ingin
menemui Koh-eng dahulu.
Akan tetapi padri penyambut tamu di Thian-liong-si
memberitahükan padanya bahwa Koh-eng Taisu sédang
menyepi, sedang bersemedi dan berpuasa, dan tidak diketahui
bilakah selesainya. Padri itu tanya Toan Yan-khing ada urusan
apa dan boleh meninggalkan pesan saja agar nanti dilaporkan
kepada Koh-eng.
Terhadap manusia yang tidak mirip manüsia dan setan
tidak memper setan sebagai Toan Yan-khing tatkala itu, sikap
si padri penyambut tamu itu boleh dikata sudah cukup ramah-
tamah. Sudah tentu Toan Yan-khing tidak berani
memperkenalkan dirinya, ia memberi jawaban dengan samar-
samar dan lantas mohon diri. Ia merangkak kebawah pohon
bodi yang berada tidak jauh di samping Thian-liong-si dan
duduk di situ untuk menunggu selesainya Koh-eng berpuasa.
Sekarang dia adalah manusia penyakitan yang paling kotor
dan paling hina di dunia ini, padahal dia sebenarnya adalah
putra mahkota kerajaan Taili yang diagungkan, tahta kerajaan
itu sebenarnya adalah haknya.
Begitulah ia duduk termenung di kawah pohon bodi itu,
ketika sang dewi malam telah menghiasi tengah cakrawala,
tiba-tiba ia lihat seorang wanita berbaju putih mulus muncul
dari balik kabut malam dan pelahan mendekat ke arahnya.
Di tengah semak pohon berkabut tebal itu terpaksa rambut
si wanita baju putih yang panjang terutai menutupi bahunya.
Waktu itu mukanya membelakangi sinar bulan. walaupun
remang-remang tapi Yan-khing tetap terpesona oleh
keluwesan dan kecantikannya, ia merasa wanita itu secantik
Budha Kwan-im, ia pikir tentu dewi Koan-im yang turun dari
kayangan untuk menolong calon raja yang sedang menderita
ini. Diam-diam ia pun berdoa semoga dewi Koan-im memberi
berkah agar dia bisa kembali pada tahta kerajaannya, untuk
itu kelak ia akan membuatkan patung dewi Koan-im dan
membangun sebuah biara untuk memujanya.
Sementara itu si wanita pelahan telah mendekat, lalu
berputar tubuh ke sebelah sana, Yan-khing hanya dapat
melihatnya dari samping, kelihatan mukanya pucat pasi bagai
mayat. Tiba-tiba terdengar wanita itu bergumam sendiri
dengan pelahan, “Aku telah melayanimu dengan sepenuh
jiwa-ragaku, tetapi engkau sama . . . . sama sekali tidak
menaruh diriku di dalam hatimu. Engkau sudah punya seorang
perempuan dan masih inginkan wanita lain pula. Engkau telah
melupakan semua janji setia kita dahulu. Berkali-kali aku
memberi maaf padamu, tapi sekarang aku tidak bias
mengampunimu lagi. Engkau telah berdosa padaku dengan
meninggalkan aku dan main gila dengan orang lain, maka aku
pun akan mencari dan main gila dengan orang lain. Kalian
lelaki bangsa Han memandang rendah pada wanita Pai kami,
menganggap kami sebagai hewan yang tak berharga, aku aku
. . . aku harus membalas dendam, wanita Pai kami pun takkan
menganggap lelaki bangsa Han kalian sebagai manusia, aku
harus balas dendam."
Ia bergumam dengan suara lirih, tapi nadanya kedengaran
penuh rasa benci dan murka.
Diam-Diam Yana-khing membatin, "Kiranya dia seorang
wanita Pai, tentu dia telah dipermainkan oleh lelaki bangsa
Han, maka marah-marah dan dendam."
Hendaklah diketahui bahwa orang Pai itu adalah salah satu
suku bangsa di negeri Taili, pada umumnya wanita Pai itu ayu-
ayu, cantik-cantik, kulitnya putih melebihi suku bangsa lain,
Cuma kaum lelakinya sangat lemah, jumlah mereka sedikit
pula, maka suku Pai sering terdesak oleh bangsa Han.
Melihat wanita itu pelahan berlalu di depannya, mendadak
Yan-khing berpikir, "Ah, tidak betul. Walaupun wanita Pai
terkenal cantik-cantik, tapi tidak mungkin memiliki tubuh
sebagai dewi kayangan, apalagi baju putih yang dikenakannya
itu mirip sutra yang tipis, wanita Pai tidak mungkin
mempunyai pakaian seindah itu. Ya, tentu dia dewi Koan-im
yang turun dari kayangan untuk menolong aku. ke . . .
kesempatan baik ini jangan kusia-siakan."
Maklum Yan-khing berada dalam keadaan menderita dan
putus asa, terpaksa ia berharap akan pertolongan malaikat
dewata untuk menyelamatkan dia dari keadaan tersiksa itu. Ia
lihat sang dewi sudah hampir menjauh, sekuat mungkin ia
merangkak dan ingin berteriak, "Tolong Dewi . . . . "
Tapi dari tenggorokannya paling-paling cuma keluar suara
"krok-krok" bagai suara ayam mengorok.
Ketika mendengar di bawah pohon bodi itu ada sesuatu
suara, si waníta baju putih lantas menoleh, ia lihat dì atas
tanah situ meringkúk ada sesuatu makluk yang tak mirip
manusia dan tidak seperti setan sedang merangkak-rangkak.
Waktu diamat-amati lebih jauh, akhirnya baru diketahui adalah
seorang pengemis yang kotor dan berlepotan darah kering. Di
seluruh badan pengemis dekil ini penuh luka, dari tempat
luka-luka ítu masih mengucurkan darah dan berbau busuk
pula.
Samula wanita itu kaget melihat keadaan Yan-khing dan
bermaksud melarikan diri. Tapi perasaan wanita itu tadi
sedang penuh benci dan dendam, dalam keadaan murka tiba-
tìba timbul pikirannya hendak membalas dendam
ketidaksetìaan sang suami, yaitu dengan jalan mencemarkan
dìri sendiri, menghina diri sendiri.
Maka demi melihat keadaan pengemis yang mengerikan itu
segera timbul pikirannya, “Kebetulan, aku íngin mencari
seorang yang paling jelek paling kotor dan paling hina didunia
ini kepadanya akan kuserahkan tubuhku ini. Engkau adalah
seorang pangeran, seorang Taiciangbun (Panglima besar), tapi
aku justru menyukai seorang pengemis dekil dan berbau
busuk.”
Dia sama sekali tidak mengira bahwa Toan Yan-khing
sebenarnya adalah putra mahkota yang tulen, mukanya
sebenarnya sangat tampan, Cuma saying dia dikerubut musuh
sehingga menderita luk-luka diseantaro tubuhnya.
Begitulah wanita itu tidak bersuara lagi. Tapi ia pelahan
membuka bajunya dan mendekati Yan-khing, tanpa bicara ia
menjatuhkan dirinya kedalam pelukan Yan-khing, kedua
tangannya yang putih sebagai salju terus merangkul leher
sang "kekasih" dan . . . . “
Jika sang dewi malam di cakrawala itu punya perasaan
tentu dia akan terheran-heran mengapa seorang nyonya yang
cantik lagi agung itu mau menyerahkan tubuhnya yang putih
bersih itu kepada seorang pengemis yang kotor dan berbau
busuk itu?
Sampai sekian lama sesudah si wanita baju putih tinggal
pergi Yan-khing masih merasa sepertí di alam mímpi. Ia tidak
tahu apa yang terjadi itu benar-benar atau cuma khayal
belaka? Apakah manusia tulen atau benar-benar dewi Koan-im
yang turun dari kayangan?
Tapi hidungnya jelas mengendus bau harum yang timbul
dari badan sang dewi tadi. Waktu ia berpaling, ia lihat di atas
tanah masih jelas terlihat beberapa huruf yang ditulísnya
dengan jari tadi dan berbunyí, "Apakah engkau ini dewi Koan-
im berambut panjang?"
Waktu ia menulis demikian untuk menanyakannya dan
sang dewi mengangguk-angguk. Habis itu mendadak
beberapa tetes air jatuh di atas tanah di sebelah tulisan itu.
Air itu entah air matanya atau air wahyu sang dewi Koan-im?
Begitulah dalam keadaan terluka parah dan putus asa
mendadak Yan-khing mendapat wahyu si dewi Koan-im
berbaju putih itu. seketika semangatnya terbangkit, ia yakin
belum ditakdirkan akan tamat riwayatnya, tapi kelak pasti
akan kembali kepada kerajaanya, Ia harus berarti menghadapi
kesulitan dan gemblengan hidup yang dideritanya sekarang.
Dengan pulihnya kepercayaan atas diri sendiri itu, seketika
pandangan Yan-khing menjadi terang, pikiran yang semula
pepat itu menjadi jernih kembali.
Esok paginya ketika diketahui Koh-Eng belum membuka
puàsanya, segera ia berlutut dan menyembah di bawah
pohon, bodi untük menyatakan rasa terima kasihnya atas
wahyu sang Budha, ia potong dua batang kayu bodi dan
dipakai sebagai tongkat penyanggah tubuh, lalu tinggal pergi.
Ia tidak berani, tinggal dalam wilayah Taili maka jauh
menyepi di pegunungan dearah selatan untuk melatih ilmu
silatnya lebih jauh.
Ilmu silat keluarga Toan dari Taili tersohor sangat hebat,
maka Yan-khing tidak perlu mencari guru lain, cukup
menyakinkan ilmu silat keluarganya sendiri.
Pada lima tahun pertama Yan-khing dapat menyembuhkan
luka-lukanya dan belajar menggunakan tongkat sebagai ganti
kedua kakinya yang sudah bunting itu. Lalu ia mencurahkan
kekuatan It-yan-ci yang hebat itu pada tongkat yang
digunakan sebagai Senjata pula. Sesudah berlatih lima tahun
lagi, kemudian ia mulai mengembara dunia kangouw, Ía
mendatangi musuh-musuhnya, semuanya dibunuhnya habis
tanpa kecuali. Karena perbuatannya yang keji dan kejam luar
biasa itu, maka memperoleh gelar sebagai "Thian-he-te-it-tai-
ok-jín" atau si maha durjana di dunia ini.
Pernah beberapa kali Yan-khing menyusup pulang ke Taili
dengan maksud memcari kesempatan untuk merebut tahta,
tapi setiap kali ia mendapatkan kenyataan bahwa kedudukan
Toan Cing-bing sudah sangat berakar dan sukar ditumbangkan
terpaksa ia mundur teratur.
Paling akhir ini dia mengadu tanaga dalam dengan Ui-bi-
ceng, si padri beralis kuning, dan tampaknya dia sudah pasti
akan menang Eh, siapa tahu mendadak muncul si bocah Toan
Ki sehingga kemenangannya yang sudah di ambang pintu itu
berbalik menjadi kekalahan.
Sekarang Ong-hujin telah menawan Toan Ki kesempatan
ini akan digunakannya untuk membinasakan anak muda itu
dengan tongkatnya dan sekaligus melenyapkan ahli waris
satu-satunya Toan Cing-bing dan Toan Cing-sun itu. Siapa
duga mendadak terdengar ucapan “di luar Thian-liong si, di
bawah pohon bodi si pengemis kotor dan si dewi Koan-im
berambut panjang."
Ucapan itu sangat lirih, tapi bagi pendengaran Toan Yan-
khing, bagaikan bunyí halilintar di siang bolong. Ketika
dilihatnya pula air muka Toan hujin, dalam hatinya tiada
habis-habis bertanya, "Apakah . . . apakah dia inilah si dewi
Koan-im pada malam bulan purnama itu . . . . "
Tiba-tiba Toan hujin melepaskan rambutnya yang panjang
itu sehingga terurai di atas pundak dan sebagian terurai di
mukanya, itulah wajah "si dewi Koan-im" di bawah pohon bodi
di luar Thian-liong di malam itu.
Sekarang Yan khing tidak sangsi lagi, sungguh di luar
dugáannya bahwa wanita yang disangkanya sang dewi Koan-
Im itu kiranya adalah Tin-lam-Ong-hui, permaisuri pangeran
mahkota kerajaan Taili yang sekarang.
Tapi segera timbul pertanyaan yang sukar dipahami
olehnya, "Sebab apakah día berbuat demikian? Mengapa dia
penujui seorang pengemís kotor dan berbau busuk seperti
diriku pada waktu itu?
Yan-khing menunduk dan termenung-menung tidak habis
mengerti. Sokonyong-konyong beberapa titik air menetes di
atas tanah, mirip benar dengan kejadian malam pertama itu.
itu bukan air biasa, entah air mata atau air wahyu sang dewi?
Waktu ia mendongak, ia lihat sorot mata Toan-hujin yang
sayu-rawan dan mengembang air mata itu, seketika hatinya
yang keras menjadi lunak, katanya dengan suara yang serak,
"Apakah kau minta aku mengampuni jiwa putramu ini?"
Toan-hujin tampak menggeleng kepala, katanya,
"Lehernya berkalung sebuah mainan, di situ terukir pek-ji
(jam, hari dan tahun) kelahirannya."
Yan khing menjadi heran, nyonya itu bukan minta
pengampunan jiwa anaknya, tapi malah menyuruhnya melihat
mainan kalung dan tentang pek-ji segala, apakah artinya
semua ini?
Tapi sejak dia tahu duduknya perkara kejadian "di bawah
pohon bodi di luar Thian-liing-si" itu, secara otomatis timbul
semacam rasa hormat dan segannya terhadap Toan-hujin.
Maka ia lantas menjulurkan tongkatnya untuk membuka dulu
hiat-to si nyonya yang ditutuknya, kemudian baru ia periksa
leher Toan Ki.
Benar juga di leher anak muda itu ditemukan sebuah
kalung emas yang sangat lembut, bagian bawah yang tertutup
baju itu terdapat sebuah mainan emas yang berbentuk pelat
kecil persegi dan terukir tulisan "selamat panjang umur",
ketika pelat emas itu dibalik, di situ ada tulisan: "Lahir pada
tanggal 1 bulan 11 tahun kedua raja Po-ting Taili."
Melihat tanggal lahir itu, kembali Yan-khing terkesíap. Ia
masih ingat betul justru pada bulan dua tahun kedua raja Po-
ting itulah dia terluka parah dikeroyok musuh dan akhirnya
sampai di luar Thian-liong-si. Anak muda ini dilahirkan dalam
bulan 11, jaraknya dengan kejadian malam itu tepat adalah
sepuluh bulan, Wah, jangan-jangan kandungan sepuluh bulan
itu akhirnya melahirkan bocah ini, jadi anak muda
dihadapannya ini adalah putraku?
Oleh karena muka Toan Yan-khing sudah rusak sehingga
kerut dan mimik wajahnya tak kelihatan lagi, sekilas orang
pun tak tahu betapa terguncang hatinya tatkala itu.
Waktu Yan-khing memandang pula ka arah Toan-hujin, ia
lihat nyonya itu mengangguk pelahan dan bergumam, "karma!
Karma!"
Selama hidup Toan Yan-khing tidak pernah kenal
mesranya berkasih-kasihan kaum muda-mudi dan kebahagian
rumah tangga, kini mendadak diketahuinya di dunia ini
ternyata ada seorang pemuda keturunan sendiri, maka betapa
rasa girangnya sungguh susah untuk dilukiskan.
Saat itu ia merasa segala pangkat dan kedudukan, sekali
pun raja di dunia ini, semuanya itu tidak lebih berbahagia
daripada mempunyai seorang putra. Bila teringat baru saja ia
hamper menikam mati putranya sendiri dengan tongkatnya
tadi, sungguh ia merasa bersyukur dan bergirang hal itu tidak
sampai terjadi. Saking girangnya sungguh ia ingin berteriak
dan berjingkrak.
"Trang", tanpa terasa sebuah tongkat jatub ke tanah.
Menyusul kepala pun terasa sedikit pening, tangan yang lain
terasa lemas, "trang", kembali tongkat yang lain pun jatuh ke
tanah.
"Hahahaaahh! Aku mempunyai seorang putra. Aku
mempunyai seorang putra!" demikian darí dalam rongga
dadanya ingin tercetus suara teriakan yang nyaring.
Sekilas dilihatnya wajah Toan Cing-sun menampilkan rasa
heran dan bingung, terang dia sama sekali tidak paham apa
yang diucapkan istrinya tadi.
Sungguh rasa bangga Toan Yan khing tak terkatakan.
"Hm, biarpun kamu berhasil menjadi raja Taili dan aku gagal
menggantikanmu, namun aku tidak perlu iri. Aku mempunyai
putra, dan kau tidak punya."
Pada saat itulah kembali kepalanya terasa pusing pula,
pandangannya agak kabur sedikit, ia mengira hal ini adalah
karena dia terlampau senang maka kepala pusing malah.
Tapi pada saat lain tiba-tiba terdengar gedebukan seorang
telah roboh terkulai di samping pintu, itulah Ih Tiong-ho
adanya.
"Celaka!" keluh Yen-khing dalam hati. Cepat tangan kiri
bergerak mencengkaram. ia kerahkan tenaga dalam untuk
menarik kembali tongkat bajanya yang jatuh tadi.
Di luar dugaan, cengkramannya itu ternyata tidak
membawa hasil sebagaimana yang dlharapkannya, tenaga
dalamnya sukar dikeluarkan lagi, tongkat baja yang terletak di
tanah sedikit pun tidak bergeming.
Karüan kejut Yan-khing melebihi tadi. Tapi ìa pun tídak
mengunjuk sesuatu tanda apa-apa, kembali ia kerahkan
tenaga dan tangan kanan mencengkeram pula. Namun
tongkat itu tetap tidak bergerak, tenaga dalamnya tetap susah
dlkeluarkan. Maká yakinlah día bahwa diam-diam ia telàh
diselomoti orang.
Tiba-tiba terdengar Buyung Hok berkata, "Toan-tianho
(pangeran Toan), di kamar sebelah ada seorang ingin buru-
buru bertemu dengan engkau, maka sudilah engkau datang ke
sebelah untuk menemuinya."
"Siapa dia? Lebih baik Buyung-kongcu membawanya ke
sini saja," ujar Yan khing.
"Dia tak dapat berjalan, lebih baik silakan Tianho yang
datang ke sini, " sahut Buyung Hok.
Mendengar itu, maka teranglah bagi Toan Yan-khing. Tidak
perlu disangsikan lagi orang yang diam-diam menggunakan
obat bius (yang membuatnya kehilangan tenaga dalam) itu
pasti Buyung Hok. Mungkin pemuda itu jeri kepada ilmu
silatnya yang lihai dan kuatir racun yang disebarkan itu tidak
bekerja dengan baik, maka untuk sementara masih tidak
berani menggunakan kekerasan secara blak-blakan, Ia
sengaja minta dia berjalan untuk menjajaki apakah lawan
masih bertenaga atau tidak. Padahal Yan-khing merasa sejak
masuk ke dalam rumah tadi senantiasa berlaku waspada dan
tidak pernah minum seceguk air pun, pula tidak mengendus
bau apa-apa, mengapa tahu-tahu sudah kena dikerjai orang
dan keracunan?
"Ya, mungkin tadi sesudah mendengar ucapan Toan-hujin,
saking girangnya aku menjadi lupa daratan dan tidak berjaga-
jaga sesuatu gerak-gerik yang mencurigakan di sekitarku
sehingga aku terpedaya," demikian pikirnya.
Biarpun watak Toan Yan-khing sangat buas dan kejam,
tapi ia pun berjiwa ksatria. Sekali dia kecundang, maka ia
terima mengaku kalah dan pasrah pada nasib, sama sekali ia
tidak gusar dan mencaci-maki. Hanya dengan nada mengejek
ia berkata, "Buyung-kongcu, keluarga Toan dari Taili kami
biasanya tidak suka menggunakan racun, kamu seharusnya
menghadapi aku dengan menggunakan ‘It-yang-ci’ saja.
Dengan ucapannya ia maksudkan Koh-soh Buyung yang
biasanya terkenal dengan istilah "Ih-pi-ci-to, hoan-si-pi-sin",
seharusnya Buyung Hok mengalahkan Yan-khing dengan It-
yang-ci yang merupakan ilmu andalan keluarga Toan, kalau
menggunakan racun, hal ini sesungguhnya terlalu pengecut.
Tapi Buyung Hok hanya tersenyum, sahutnya, “Orang
gagah perkasa sebagai Toan-tianho sudah tentu tidak dapat
dipersamakan dengan orang biasa. 'Ang-hoa-tai-bu' (kabut
bunga merah) yang kugunakan ini asalnya kuperoleh dari
orang Se He, hanya sedikit kutambahi bahan campuran
sehingga tidak berbau dan tidak berwarna, jadi sebenarnya
bukan barang buatan keluarga Buyung kami."
Diam-diam Yan-khing terkejut, tentang kejadian jago It-
bin-tong dari Se He merobohkan kawanan pengemis Kai-pang
dengan racun kabut yang tak berbau dan tak kelihatan itu
pernah juga dia dengar laporannya. Tak tersangka hari ini ia
sendiri pun terselomot oleh racun kabut itu. Segera ia
pejamkan mata dan tutup mulut, diam-diam ia mengatur
pernapasan dan berusaha mendesak keluar hawa racun yang
telah meresap ke dalam tübuh.
"Untuk memunahkan racun kabut ini biarpun mengerahkan
tenaga dalam dan mengatur pernapasan, semuanya tiada
gunanya . . . . “
Belum habis Buyung Hok bicara, mendadak Ong-hujin
membentaknya. "Mengapa bibimu sendiri juga kau selomoti?
Mana obat penawarnya. Serahkan!”
"Maaf bibi, hanya untuk sementara saja, sebentar tentu
Tit-ji akan memberi obat penawar kepada bibi." sahut Buyung
Hok.
"Sebentar apa segala? Lekas berikan obat penawarnya
sekarang jugai" jerit Ong-hujín dengan gusar.
“Maaf bibi, sungguh maaf, obat penawarnya tidak berada
padaku," kata Buyung Hok.
Mestinya hiat-to nyonya Toan yang tertutuk itu sudah
dibuka oleh Toan Yan-khing, tapi belum lagi lagi berbuat apa-
apa kembali ia roboh pula terkena racun kabut bungah merah.
Di antara orang yang berada dalam rumah itu Buyung Hok
telah makan obat penawar sebelumnya dan Toan Ki tidak
mempan segala macam racun hanya mereka berdua ini yang
tidak keracunan.
Namun begitu Toan Ki justru sedang mengalami siksaan
batin yang tak terkatakan pedihnya. Tadi ia dengar Ong-hujin
berkata kepada Toan Cing-sun bahwa Giok-yan sebenarnya
adalah anak darah dagingnya, tatkala itu dada Toan ki serasa
digodam satu kali, napasnya menjadi sesak dan hamper-
hampir jatuh kelenger.
Memangnya Toan Ki sudah merasa kebat-kebit, merasa
urusan pasti takkan menguntungkan dia, ketika dari kamar
sebelah ia dengar pembicaraan Ong hujin dan Buyung Hok
yang menceritakan hubungan cinta antara nyonya itu dengan
ayahnya. Waktu itu ia sudah kuatir akan terjadi seperti halnya
Bok Wan-Jing jangan-jangan Giok-yan adalah adik
perempuannya pula.
Ketika kemudian ia dengar sendiri pengakuan Ong-hujin
akan hal yang dikuatirkan olehnya itu, maka ia tidak sangsi
lagil akan kebenarannya. Sesaat itu ia merasa langit seakan-
akan berputar-pular dan bumi terbalik, coba kalau tangan dan
kakinya tidak terikat dan mulutnya tidak tersumbat tentu dia
sudah seruduk sini dan terjang sana sambil menjerit-Jerit dan
berteriak- teriak seperti orang gila.
Perasaannya teramat duka merana, tiba-tiba ia merasa
segumpal hawa menyumbat dirongga dadanya sehingga
napasnya susah diatur. Kaki tangannya terasa sedingin es dan
pelahan menjadi kaku.
Keruan ia terkejut, "Wah, celaka! Tanda-tanda ini tentu
adalah apa yang dikatakan paman sebagai ‘Cau-hwe-jip-mo’
semakin tinggi iwekangnya semakin berbahaya pula bila
penyakit itu sampai berjangkit. Tapi mengapa aku . . . aku
bisa terkena penyakit demikian?”
Ia merasa hawa sedingin es itu dalam sekejap saja sudah
mencapai siku dan dengkulnya. Semula Toan Ki merasa kuatir,
tapi lantas terpikir olehnya, "Jika Giok-yan adalah adik
perempuanku dari satu ayah, maka rinduku kepadanya selama
ini akhirnya buyar sirna, lalu untuk apa lagi aku hidup di dunia
ini? Ya, biarlah aku terkena penyakit Cau-Hwe-jip-mo, biar aku
hancur lebur menjadi abu, biar aku mati dan tidak tahu apa-
apa supaya terhindar dari siksaan batin selama hidup nanti."
Begitulah, karena dia sedang tersiksa batin sendiri, maka
apa yang dikatakan ibunya tentang "di luar Thian-liong-si, di
bawah pohon bodi dan kata-kata lain kecuali Toan-hujin
sendiri dan Toan Yan-khing, orang lain boleh dikata tak ada
yang paham apa artinya. Dan dengan sendirinya Toan Ki
lebih-lebih tidak memperhatikan ucapan-ucapan itu, andaikan
memperhatikan juga sekali-kali dia tak paham mengapa Toan
Yan-khing bisa jadi ayahnya yang sesungguhnya dan bukan
Toan Cing-sun.
Dalam pada itu Toan Yan-khing sedang mengerahkan
tenaga dalamnya, tapi meski sudah sekian lama tetap tidak
berhasil, sebaliknya dada terasa sumpek dan enek, kalau bisa
ingin tumpah-tumpah sepuasnya. Cepat ia tenangkan diri, ia
duduk dengan mata terpejam, tidak bicara dan tidak bergerak.
"Toan-Hianho," kata Buyung Hok kemudian, "meski aku
telah menghina dirimu dengan kabut beracun, tapi tiada
maksudku untuk membikin susah padamu, asal tianho mau
berjanji sesuatu padaku, maka selain akan kuberikan obat
penawar dengan hormat, bahkan akan menjera dan mohon
ampun kepada Tianho."
"Hei, usia orang she Toan sudah sebanyak ini, selamaini
juga tidak sedikit mengalami gelombang badai, mana aku
dapat dipaksa berjanji sesuatu di bawah ancaman orang!"
sahùt Yan-khing dengan menjengek.
"Masakah aku berani mengancam Toan-tianhe?” ujar
Buyung Hok. "Nah, biarlah hadirin di sini menjadi saksi semua,
sekarang juga ku mintà maaf lebih dulu kepada Tianho, habis
itu barulah mohon bantuan sesuatu kepada Tianho dengan
segala hormat.”
Habis berkata, benar juga ia lantas berlutut dan
menyembah dengan segala kerendahan hati yang tulus.
Semua orang terheran-heran melihat Buyung Hok
mendadak menjalankan penghormatan sebesar itu. Padahal
saat itu dia sudah menguasai keadaan, mati hidup semua
orang boleh dikatakan tergantung kepada keputusannya.
Seumpama dia seorang ksatria kangouw yang suka bicara
tentang itikat orang kangouw, rasanya sudah cukup ia
memberi hormat sekedarnya saja kepada Toan Yan-khing
yang lebih tua, tapi mengapa mesti pakai berlutut dan
menyembah segala?
Yan-khing sendiri tidak paham atas kelakuan Buyung Hok,
tapi mau-tak-mau rasa marahnya agak berkurang juga melihat
orang begitu menghormat padanya. Katanya kemudian,
"Merendahkan diri kepada orang, di balik itu tentu ada sesuatu
maksud tujuan. Nah, hendaknya Buyung-kongcu bicara terus
terang saja, apa kehendakmu sebenarnya?”
"Adapun cita-citaku kiranya Tianho sendiripun sudah cukup
mengetahui." Sahut Buyung Hok. “Yang senantiasa kucita-
citakan siang dan malam adalah membangun kembali
kerajaan Yan. Maka sekarang akan kubantu dan mendukung
Tianho naik tahta sebagai reja Taili, Tianho sendiri tiada anak
keturunan, maka aku rela mengangkat Tianhe sebagai Gihu
(ayah angkat). Dengan demikian untuk selanjutnya kita akan
dapat bekerja sama dengan lebih erat demi pergerakan kita
bersama, bukankah cara ini sangat baik dan sama-sama
menguntungkan?”
Mendengar ucapan "Tianhe toh tiada punya anak
keturunan" yang dikatakan Buyung Hok itu, tanpa terasa Yan-
khing berpaling ké arah Toan-hujin, dua pasang mata saling
menatap, sesaat itu mereka seakan-akan sudah bercakap-
cakap beratus ribu kata-kata.
Maka Yan-khing hanya mengekek tawa saja dan tidak
menjawab sanjungan Buyung Hok tadi, Katanya di dalâm hati,
"Kalau kata-katamu ini kau ajukan setengah Jam yang lalu
memang merupakan usul yang menarik. Tapi saat ini aku
sudah tahu mempunyai seorang putra, bahkan putraku lebih
lihai daripada dirimu, mana bisa kuwariskan tahtaku kepada
orang lain?”
Dalam pada itu terdengar Buyung Hok sedang mengoceh
lagi panjang lebar tentang betapa baiknya bila mereka
bergabung dan terikat menjadi keluarga, bahkan kerajaan
Song tentu akan dapat mereka hancurkan, begitu pula
kerajaan Se He dan macam-macam kata-kata muluk lagi.
Akhirnya Yan-khing bertanya, "Jadi maksudmu ingin aku
mengakui dirimu sebagai anak angkat?"
"Benar." sahut Buyung Hok.
Diam-diam Yan-khing merancang di dalam hati, "Saat ini
aku masih keracunan dan tak bisa berkutik, terpaksa aku
pura-pura menerima permintaannya, sebentar bila tenagaku
sudah pulih boleh segera kubunuh dia.”
Karena itu ia berkata dengan lagak ogah-ogahan, "Jika
demikian, bukankah kamu harus ganti she Toan? Dan sesudah
menjadi ahli warisku keluaga Buyung seluruhnya berarti akan
putus turunan pula, apakah semuanya ini dapat kau lakoni?”
Yan-khing cukup tahu bahwa di balik maksud Buyung Hok
itu tentu ada rencana lain yang lebih luas, umpama sesudah
mewariskan tahta kerajaan taili, dalam jangka waktu tertentu
tentu dia akan menguasai dan menempatkan orang-orangnya
dalam pos-pos pemerintahan yang penting, habis itu lantas
mulai menggeser dan membunuh orang-orang yang berani
melawannya atau pembesar-pembesar keluarga Toan yang
setia. Dan kalau usaha kudeta itu sudah berhasil tentu dia
akan kembali she Buyung làgi, bahkan bukan mustahil nama
kerajaan Taili akan digantinya pula menjadi kerajaan Yan.
Oleh karena itulah Yan khing sengaja méngajukan
pertanyaan yang mempersulit sebagai dasar agar Buyung Hok
tidak menaruh curiga, berbeda kalau dia terima itu begitu saja
apa yang dimohon Buyung Hok, hal ini akan kelihatan kurang
wajar dan kurang tulus.
Benar juga Buyung Hok lantas termenung-menung,
sahutnya dengan ragu, “Tentang ini . . . . tentang ini . . . . "
Padahal apa yang terbayang dalam benaknya yaitu
tindakan apa yang harus diperbuatnya bila kelak dapat
menggantikan Toan Yan-khing sebagai raja Taili, memang
tidak berselisih jauh dengan apa yang terduga oleh Toan Yan-
khing. Maka Buyung Hok juga sengaja pura-pura sangsi atas
pertanyaan Yan-khing tadi, sebab kalau mengiakan begitu saja
tentu akan kentara maksud tujuannya yang tidak baik.
Maka sesudah ragu sejenak, lalu katanya, "Walaupun aku
bukan manusia yang suka lupa kepadá sumbernya dan
seorang yang tak berbakti kepada leluhur, tapi demi usaha
besar harus kesampingkan kepentingan pribadi yang kecil. Bila
aku sudah mengangkat Tianhe sebagai ayah, seharusnya aku
setia kepada keluarga Toan dan tidak boleh bercabang hati.”
Jilid ke 84
"Hahahahaha! Bagus, bagus!" Yan-khing terbahak-bahak,
"Selama ini aku selalu mengembara di dunia kangouw, tidak
punya istri dan tidak punya anak, tapi pada hari ini, sekarang
dapat memperoleh seorang putra cakap, sungguh hidupku ini
tidaklah sia-sia. Mempunyai putra pintar dan tampan sebagai
dirimu, sungguh rejekiku terlampau besar.”
Di balik kata-kata Toan Yan-khing ini yang dimaksudkan
sebenarnya adalah putranya sendiri yaitu Toan Ki, hal ini
terkecuali Toan-hujin seorang saja, yang lain sudah tentu
tidak paham latar belakang ucapannya itu, sebaliknya semua
orang mengira dia susah menerima permohonan Buyung Hok
dan akan memunggutnya sebagai anak dan kelak akan
mewariskan tahta kepadanya.
Keruan girang Buyung Hok melebihi orang putus lotre,
katanya, “ Tianhe adalah angkatan tua yang terhormat
dikalangan Bulin, sekali omong tentu akan pegang janji dan
takkan hianat, Nah Gihu, terimalah hormat putramu ini.”
Habis itu, kaki berlutut dan segera hendak menyembah
pula. Pada saat itulah tiba-tiba terdengar seorang berteriak di
luar, "Bukan, bukan! Hal ini mana boleh jadi!”
Menyusul tirai tersingkap dan masuklah seorang. Kiranya
Pau Put-tong adanya.
Air muka Buyung Hok agak masam kärena orang
mengganggunya, tanyanya, "Ada apa Pau-samko?”
"Kongya adalah keturunan lurus keluarga Buyung dan
jelèk-jelek adalah ahli waris kerajaan Yan, sekarang mana
boleh sembarangan berganti she Toan?" seru Pau Put-tong.
“Walaupun usaha membangun kembali kerajaan Yan akan
menghadapi berbagai kesulitan, tapi kita tetap akan berjuang
dengan sepenuh tenaga dan kekuatan. Kalau usaha kita
berhasil sudah tentu inilah yang sangat kita harapkan,
andaikan gagal betapapun kita tetap seorang ksatria, seorang
perwira gemblengan. Tapi sekarang Kongcu akan mengangkat
ayah kepada orang yang manusia bukan dan setan pun tidak
ini, biarpun kelak Kongcu berhasil menjadi raja juga tidak
gilang gemilang. Apalagi seorang she Buyung ingin menjadi
raja Taili, hal ini pun tidak mungkin terjadi."
Sungguh gusar Buyung Hok tak terlukiskan karena ucapan
Pau Put-tong yang kurang ajar itu. Tapi Put-tong adalah
pengiringnya yang setia, tatkala tenaganya sangat dibutuhkan
seperti sekarang ia tidak ingin mendengarnya secara terang-
terangan didepan orang luar, maka jawabannya dengan
dingin, "Pau-samko, rupanya engkau belum paham duduknya
perkara, untuk menjelaskan juga susah dalam waktu singkat,
biarlah kelak akan ku terangkan dengan pelahan.
“Bukan, bukan!” seru Put-tong dengan istilah yang khas.
"Kongcu, biarpun Put-tong seorang goblok, tapi maksud
tujuanmu juga dapat kuraba beberapa bagian. Agaknya
kongcu ingin meniru Han Sin di jaman Han-ko-co dan untuk
sementara terima dihina dan merendah pada orang agar
kelak dapat dapat dípakai sebagaì modal pengerahan, Hàrì ini
Kongcu pura-pura berganti she Toan, kelak kalau sudah
memegang kekuasaan lalu engkau berganti she Buyung
kembali, bahkan mengganti kerajaan Taili menjadi kerajaan
Yan, atau mungkin engkau akan mengerahkan pasukan untuk
menyerang kerajaan Song dan memerangi kerajaan Liau
untuk memulihkan wilayah kekuasaan Yan dahulu. Akan
tetapi, Kongya, meski cita-citanya ini sangat baik, namun
dengan demikian engkau akan menjadi manusia yang tidak
setia, tidak berbakti, tidak bijaksana dan tidak berbudi. Coba
apakah takkan malu pada diri sendiri, apakah engkau takkan
dicaci maki para ksatria seluruh jagat. Maka kukira tentang
raja apa segala, lebih baik jangan dipikirkan lagi.”
Sungguh Buyung Hok sangat mendongkol, tapi ia bersabar
sedapat mungkin, sahutnya, "Ah, Pau-samko terlalu
berlebihan, mengapa aku dikatakan tidak setia, tidak berbakti,
tidak bijaksana dan tidak berbudi? Bukan ngaco belo saja?”
"Bukan, bukan mengaco-belo!" seru Put-tong. "Coba,
sekarang engkau takluk kepadá Taili dan kelak engkau akan
memberontak dan mengkhianatinya, itu jelas tidak setia.
Sekarang engkau mengakui Toan Yan-khing sebagai ayah
angkat, padahal engkau dilahirkan dari keluarga Buyung, itu
berarti engkau tidak berbakti kepada keluarga buyung, bila
kelak engkau menghianati Toan Yan-khing itu pun berarti
tidak berbakti kepada ayah angkat. Kelak kaupun akan
menumpas dan membunuh pembesar kerajaan Taili, itu
berarti tidak bijaksana, dan . . . . “
"Dân aku menjual kawan demi kepentingan sendiri, ini
berarti tidak berbudi?" demikian sambung Buyung Hok dengan
menjengak. Berbareng itu "plok", sekonyong-konyong
punggung Pau Put-tong dihantam sakali.
Pukulan Buyung Hok itu kelihatannya tidak keras, tapi ia
menggunakan tenaga dalam yang kuat dan tepat mengatasi
hiat –to, yaitu sin-to-hiat, Leng-tai-hiat dan ci yan-hiat yang
mematikan, Pau-Put-tong sama sekali menduga bahwa tuan
muda yang menjadi asuhannya sejak kecil sehingga besar itu
ternyata tega turun tangan keji padanya, karuan kontan ia
tumpah darah dan roboh binasa.
Waktu Put-tong mulai berdebat dengan Buyung Hok,
ketiga kawannya, yaitu Ting Pek-jwan, Kongya Kian dan Hong
Po-ok juga ikut mendengarkan dengan berdiri di luar pintu,
walaupun terasa kata-kata Pau Put-tong agak kelewat berani
terhadap sang majikan, tapi merekapun merasa tepat dan
beralasan.
Kini demi melihat Buyung Hok memukul Pau Put-tong
karuan mereka terkejut, berbareng mereka pun menerobos
masuk ke dalam.
Segera Po-ok mendukung tubuh Pau Put-tong yang sudah
tak berkutik ìtu dan berseru, "Samko! Samko! Kenapakah
engkau?"
Terlihat air mata bercucuran membasahi pipi Pau Put tong,
tapi napasnya sudah putus. Nyata pada saat jiwanya
melayang Pau Put tong merasa sangat terduka dan
penasaran.
"Samko, meski engkau tak bias bernapas lagi, tapi engkau
tentu ingin bertanya kepada Kongcuya sebab apakah engkau
dibunuh?'' seru Po ok sambil menoleh dan menatap Buyung
Hok dengan sorot mata berlugas.
"Kongcuya," Pek-jwan ikut bicara, "bahwasannya sifat Pau
samte memang suka berdebat dan bertengkar dengan orang,
hal ini cukup engkau ketahui. Sekali pun dalam kata katanya
tadi dia bersikap kurang menghormat padamu, mestinya
cukup Kongcu menegur dan memberi dampratan selayaknya
saja, mengapa tega mencabüt nyawanya?"
Sebenanya yang menjadikan gusarnya Buyung Hok
bukanlah sikap pau Put-tong yang kurang ajar itu melainkan
karena Pau Put-tong berani bicara secara blak-blakan dan
mengorek semua tipu muslihatnya yang berencana itu, hal íni
tentu akan menimbulkan kecurigaan Toan Yan khíng dan
mungkin tak jadi memungutnya sebagai anak dan dengan
sendirinya pula akan gagal menjadi ahli waris kerajaan Taili.
Andaikan dia tetap diterima sebagai putra mahkota, tentu pula
rencananya akan menghadapi banyak kesulitan dan gagal
membangun kembali kerajaan Yan.
Begitulah dalam murkanya Buyung Hok terpaksa turun
tangan keji untuk memperlihatkan kepada Toan Yan-khing
akan ketulusan hatinya untuk menjadi anak angkat keluarga
Toan. Sekarang ia ditegur oleh Ting Pak-jwan, diam-diam ia
serba susah lagi. Tapi segera ia ambil keputusan lebih baik
cekcok dengan Pek jwan dan kawan-kawannya daripada
menimbulkan curiga Toan Yan-khing.
Begitulah ia lantas menjawab, "Tentang kata-kata Pau
samko yang kasar tadi sebenarnya tidak menjadi soal. Tapi
dengan tulus aku ingin mengangkat Toan-tianhe sebagai Gihu,
tapi dia sengaja memecah belah hubungan baik kami, dosa
nya ini mana boleh kuampuni?”
"Jadi dalam pandangan Kongcu, Pau Put-tong yang telah
mengabdi padamu selama belasan tahun ini jauh tiada
harganya untuk dibandingkan dengan seorang Toan Yan-
khing?” teriak Po-ok dengan marah.
"Hendaknya Hong-siko jangan marah," sahut Buyung Hok.
”Bahwasannya aku minta masuk menjadi keluarga Toan, hal
ini kulakukan dengan setulus hati dan sedikit pun tiada
maksud lain. Tapi Pau-samko telah mengukur jiwa seorang
ksatria dengan jiwa kaum pengecut. Inilah yang tak dapat
kuterima dan terpaksa kuberi hukuman setimpal padanya."
"Jadi maksud Kongcuya itu tak bisa ditarik kembali lagi?”
Kongya Kian menegas dengan dingin.
"Ya. benar,” sahut Buyung Hok.
Seketika Kongya Kian, Ting Pak-jwan dan Hong Po ok
pandang-memandang. Agaknya pikiran mereka sama,
serentak mereka saling mengangguk.
Lalu Pek-jwan berseru dengan suara lantang, ''Kongcuya,
kami berempat meski bukan saudara sekandung. tapi kami
telah bersumpah mati atau hidup tetap bersatu, hubungan
kami melebihi saudara sekandung. Hal ini tentu Kongcuya
cukup mengetahui?”
Alis Buyung Hok menjengkit, sahutnya dengan ketus.
"Apakah maksud Ting-toako hendak menuntut balas kematian
Pau-samko? Biarpun kalian bertiga maju sekaligus juga aku
tidak gentar.”
Tiba-tiba Pek-jwan menghela napas panjang, katanya,
"Kami adalah hamba pengiring keluarga Buyung, mana kami
berani malu kami terhadap Kongcuya. Orang bilang, kalau
cocok boleh tinggal, kalau tidak cocok boleh pergi. Maka kami
bertiga untuk selanjutnya tak dapat melayani Kongcu lagi.
Kaum ksatria yang íngin memutuskan hubungan tidäk pantas
menggunakan kata-kata kotor, maka biarlah kita berpisah
secara baik-baik, semoga Kongcuya menjaga diri dengan
baik!"
Melihat ketiga abdi pengiringnya segera akan
meninggalkan dirinya mau-tak-mau Buyung Hok merasa berat
juga apalagi bila nanti berada di Taili tentu akan sangat
membutuhkan tenaga mereka. Maka ia coba menahannya,
katanya, "Ting-toako, kalian tidak pernah menyinggung
perasaanku. Sesungguhnya aku pun tidak sirik apa-apa
kepada kalian, mengapa kalian hendak meninggalkan aku
begitu saja? Dahulu ayah cukup baik terhadap kalian, juga
kalian pernah berjanji akan membantuku sepenuh tenaga, jika
sekarang kalian tinggalkan aku, apakah kalian tidak merasa
mengingkari janji sendiri?”
Maka Ting Pak Jwan juga tampak muram, sahutnya. ” Jika
Kongcu tidak mengungkit-ngungkit losiansing dibawa-bawa,
maka tentang perbuatan mengangkat orang lain menjadi
ayah, berganti she dan mengabdi kepada negara lain segala
apakah perbuatan demikian ini dapat dipertanggungjawabkan
kepada Losiansing? Ya, kami memang pernah berjanji kepada
losiangsing akan membantu sepenuh tenaga pada Kongcuya
untuk membangun kembali kerajaan Yan dan
mengembangkan kejayaan keluarga Buyung, tapi sekali-klai
tidak berjanji akan membantu Kongcu untuk memajukan
kerajaan Taili dan mengembangkan nama keluarga Toan.”
Jawaban Ting Pek-jwan itu membuat air muka Buyung Hok
sebentar merah dan sebentar pucat serta tak dapat
mendebatnya.
Berbareng Ting jwan, Kongya Kian dan Hong po-ok lantas
memberi hormat dan berkata, "Selamat tinggal Kongcuya."
Lalu Po-ok memanggul jenazah Pau Put-tong bertíga orang
lantas bertindak pergi dengan langkah lebar tanpa menoleh
lagi.
Buyung Hok coba menenangkan diri dan berlagak
menyakinkan diri, katanya kepada Toan Yan-khing, “Harap
Gihu suka maklum, ketiga orang ini adalah hamba pengiring
keluarga anak selama berpuluh tahun, tapi demi kesetiaan
anak kepada kerajaan Taili dan keluarga Toan, dengan tidak
segan-segan anak membunuh satu diantaranya dan mengusir
ketiga orang lain. Anak akan ikut ke Taili seorang diri, sedikit
pun anak tiada maksud tujuan lain.”
"Bagus, sangat bagus!” sahut Toan Yan-khing sambil
mengangguk.
"Dan sekarang juga biarlah anak memberikan obat
penawar kepada Gihu, " ucap Buyung Hok. Segera ia
keluarkan sebuah botol porselen kecil.
Tapi baru saja ia hendak menyodorkan botol kecil itu
kepada Yan-khing, tiba-tiba pikirannya tergerak, "Wah, jika dia
sudah sembuh dari keracunan kabut bunga merah, segera aku
akan kehilangan alat ancaman padanya. Untuk selanjutnya
terpaksa aku harus mengambil hatinya dan tidak boleh
mengadu akal lagi dengan dia. Yang paling día benci adalah si
Toan Ki, biarlah sekarang aku membunuh budak itu lebih dulu,
kemudian barulah aku memberikan obat penawar padanya.”
Karena pikirannya itu, "sret” segera ia loloskan pedang dan
berkata, "Gihu adapun sumbangsih anak yang pertama
kepada Gihu adalah ingin kubunuh si bocah Toan Ki íni agar
Toan Cing-sun kehilangan keturunan, dengan demikian mau-
tak-mau dia akan terpaksa menyerahkan tahta kepadamu."
Waktu itu Toan Ki masih menggeletak di atas tanah
dengan mata tertutup oleh kain hitam, meski matanya tak bisa
memandang, tapi apa yang dikatakan Buyung Hok itu dapat
didengarnya dengan jelas. Ia berpikir, Giok-yan yang kucintai
itu telah berubah menjadi adik perempuanku lagi sehingga
cintaku kepadanya jadi sia-sia belaka. Memangnya aku tidak
ingin hidup, jika kau bunuh aku kan kebetulan bagiku."
Begitulah rupanya Toan Ki menjadi putus asa dan patah
hati karena mendengar pembicaraan Ong-hujin telah diketahui
Goik-Yan yang dikasihi itu ternyata adik perempuannya pula
seperti halnya Bok-wan-jing, maka ia lebih suka mati saja
daripada hidup merana, apalagi saat itu hawa murninya juga
tersesat sehingga Cau-hwa-Jip-mo, biarpun hendak melawan
serangan Buyung Hok juga tidak mampu, karena itu ia
mandak dibunuh dan menerima ajalnya.
Dalam pada itu perasaan Toan-hujin bagaikan disayat-
sayat ketika dilihatnya Buyung Hok sedang mendekati Toan Ki
dengan pedang terhunus. "Oooo!" mendadak ia menjerit
kuatir.
Cepat Yan-khing berkata, "Nak, kebaktianmu ini sungguh
harus dipuji Bocah Toan Ki itu terlalu menyakiti hatiku,
berulang ia mempermainkan aku, paman dan ayahnya,
mengangkangi pula tahtaku sehingga hidupku merana dan
badanku cacat begini, untuk semua itu ayah ingin membunuh
bangsat cilik itu dengan tanganku sendiri sekedar
melampiaskan rasa dendamku."
"Baiklah," kata Buyung Hok, Lalu la membalik tubuh dan
menyodorkan pedang kepada Toan Yan-khing. Tapi segera ia
berseru pula, "Ai, anak benar-benar sudah pikun, seharusnya
kuberikan obat penawar lebih dulu."
Dan Segera ia mengeluarkan, sebotol obat tadi.
Tapi sekilas dilihatnya air muka Toan Yan-khing sedang
mengunjuk rasa senang dan seperti lagi mengedip mata
kepada seseorang.
Buyung Hok adalah orang maha cerdik, segera ia
mengikuti arah mata Toan Yan-khing, ia masih sempat melihat
Toan-hujín sedang menggangguk pelahan, air mukanya juga
mengunjuk rasa bersyukur dan berterima kasih yang tak
terhingga.
Melihat itu, seketika timbul rasa curiga Buyung Hok. Cuma
mimpi pun dia tidak menyangka bahwa Toan Ki sebenarnya
adalah putra Toan Yan-khing dari hubüngan gelap dengan
Toan-hujin atau Su Pek-hong, bahwa Toan Yan-khing lebih
suka mengorbankan jiwanya sendiri daripada menyaksikan
putra satu-satunya itu mati konyol dibünuh orang, sedangkan
soal tahta kerajaan segala lebih-lebih tak terpikir pula olehnya.
Sebaliknya pikiran yang pertama-tama timbul dalam benak
Buyung Hok adalah, "Jangan-jangan di antara Toan Cing-sun
dan Toan Yan-khing ada persekongkolan? Betapapun mereka
adalah sesama keluarga Toan dari Tàlli, mereka adalah
saudára sepupu sendiri, hubungan mereka tentu lebih baik
daripada diriku yang tiada sangkut-paut apa-apa dengan
mereka.”
Tapi segera terpikir pula olehnya, "Jalan baik satu-satunya
sekarang ialah aku harus bertindak dengan tegas dan cepat,
aku harus berbuat beberapa jasa besar bagi Toan Yan-khing
untuk memperkuat kepercayaannya kepadaku.”
Segera ia berpaling ke arah Toan Cing-sun dan berkata,
"Tin lam-ong, setelah pulang ke Taili, kira-kira berapa lama
lagi engkau akan dapat menggantikan tahta kakakmu, dan
sesudah naik tahta, untuk berapa lama engkau akan berada di
singgasanamu dan kemudian menurunkan tahta lagi kepada
Gihuku?”
Cing-sun sangat memandang hina terhadap pribadi Buyung
Hok, maka jawabnya dengan acuh-tak-acuh, "Kakak
bagindaku memiliki Iwekang yang sangat tinggi, tenaganya
masìh amat kuat, boleh jadi dia akan bertahta selama 20 atau
30 tahun lagi. Bilamana beliau mewariskan tahtanya
kepadaku, baru pertama kali aku menjadi raja, sudah tentu
aku akan menikmati dengan baik-baik dan sedikitnya aku
harus bertahta 30 tahun. Habis itu, giliran anak Ki yang akan
menyambung tahtaku, tatkala mana dia sudah berusia 70 atau
80 tahun adaikan dia cuma menjadi raja selama 20 tahun,
maka total seluruhnya kaupun perlu tunggu lagi kira-kira 100
tahun "
"Ngaco belo!" damprat Buyung Hok. "Tidak kata aku
memberi batas waktu sebulan padamu untuk naik tahta
menjadi raja, sebulan lagi kamu harus menyerahkan
singgasanamu kepada Gihuku, Yan-khing Thaicu."
Tapi Cing-sun sudah jelas melihat situasi di depan mata
sekarang. Nyata Toan Yan-khing dan Buyung Hok akan
menggunakan dia sebagai batu loncatan untuk menuju tahta
kerajaan Taili, sesudah dia menurunkan tahtanya kepada Toan
Yan-khing nanti barulah mereka akan membunuhnya, Tapi
sekarang dia masih diperlukan, tentu tidak berani
mengganggunya seujung rambut pun, bahkan kalau ada
musuh tentu mereka akan membelanya malah. Sebaliknya
Toan Ki yang berada dalam keadaan terancam.
Karena pikiran, segera Cing-sun terbahak dan berkata,
"Tahtaku nanti hanya dapat kuturun kepada anakku Toan Ki,
jika aku disuruh mempercepat mengundurkan diri juga boleh,
tapi tidak mungkin tahtaku diserahkan kepada orang luar."
"Dengan telingaku sendiri kudengar kami berjanji akan
menyerahkan tahta kepada Yan-khing Thaicu, kenapa
sekarang kamu ingkar janji sendiri?” kata Buyung Hok dengan
gusar.
"Cara bagaimana telingamu dapat mendengar sendiri?"
sahut Cing-sun dengan dingin. "Hehe, kakak Yan-khing,
tentunya engkau tidak mengira bahwa 'walang hendak
menangkap tonggeret, tak tahunya di belakang mengincar
pula si burung gereja'. Rupanya waktu engkau menjebak aku,
takkala itu si Buyung-kongcu yang bagus ini pun siap
mengincar diriku.”
Buyung Hok terkesiap, "Celaka ucapanku agak tidak tepat.
Dasar tua bangka dan licin, Tin-lam-ong ini sungguh sukar
dilayani.”
Maka cepat membelok pokok pembicaraan, katanya
dengan mengejek, “Hm, bagus juga, biar kumampuskan dulu
Toan Ki si anak keparat ini, nanti kamu boleh mewariskan
tahtamu kepada arwah setannya.”
Habis berkata kembali ia hunus pedangnya dan akan
melangkah maju pula.
"Hahahaha! Memangnya kau anggap aku Toan Cing-sun ini
manusia apa?" seru Cing-sun dengan bergelak tawa. "Jika kau
bunuh putraku, apakah kau kira aku lantas rela dipermainkan
olehmu? Nah, jika mau bunuh boleh lekas membunuhnya,
kalau perlu boleh juga bunuhlah aku sekalian."
Sesaat Buyung Hok menjadi ragu malah oleh tantangan
itu. Kalau dia mau membunub Toan Ki sekarang boleh dikata
terlalu mudah, hanya sekali ayun pedang dan beres sudah.
Tapi ia pun kuatir Cing sun menjadi kalap karena putranya
dibunuh dan benar-benar tidak pikir akan jiwa sendiri, jika
demikian maka tahta yang akan diterima Toan Yan-khing
tentu akan gagal pula.
Begitulah sambil menghunus pedang yang gemerlapan
sehingga wajahnya yang putih bersih kelihatan bersemu hijau
kepucat-pucatan, Buyung Hok berpaling ke arah Toan Yan-
khing untuk mendengarkan pendapat atau perintahnya.
Maka berkatalah Yan-khing, "Orang ini biasanya memang
sangat kepala batu, berani berkata dan berani berbuat. Bila
dia benar-benar bunuh diri dengan minum racun atau
membenturkan kepalanya sehingga pecah, maka rencana kita
yang muluk-muluk akan menjadi buyar pula dengan sia-sia.
Baiklah, sementara ini kita jangan membunuh bocah Toan Ki
itu, sekali dia sudah jatuh dalam cengkeraman kita, tak perlu
takut dia akan terbang ke langit. Sekarang berikan obat
penawarmu itu kepadaku."
"Ya," sahut Buyüng Hok.
Di mulut dia mengiakan, tapi dalam batín ia sedang
berpikir, "Barusan Yan-khing Thaicu mengedipi Toan-hujin,
apakah artinya itu? Selama pertanyaan ini belum terjawab,
betapapun tetap menyangsikan bila kuberikan obat penawar
padanya. Tapi kalau aku mengulur waktu lagi tentu dia akan
gusar, lantas bagaimana baiknya?"
Dalam keadaan ragu kebetulan saat itu terdengar Ong-
hujin berteriak-teriak, "Buyung Hok, kamu anak kurangajar,
kau bilang akan memberi obat penawar kepada bibi, tapi
sesudah kau dapatkan seorang ayah angkat seperti siluman
itu lantas lupa kepada bibimu. Jika tidak lekas kau beri obat
penawar, jangan kau salahkan aku akan memaki dengan kata-
kata kotor. Dan siluman yang tidak mirip manusia dan lebih
mirip setan . . . . . "
Buyung Hok merasa kebetulan mendengar caci maki Ong-
hujin itu, katanya terhadap Toan Yan-khing, "Gihu, watak
bibiku memang keras, kalau ucapannya ada yang
menyinggung perasaan Gihu mohon suka dimaafkan. Ayar dia
tidak ribut lagi, biarlah anak menyembuhkan dia lebih dulu,
habis itu baru Gihu."
Habis berkata ia terus menyodorkan botol kecil ke hidung
Ong-hujin.
Seketika Ong-hujin mengendus bau busuk dari dalam bolol
porselen kecil itu. Segera ia hendak mendamprat Buyung Hok,
disangkanya keponakannya itu lagi mempermainkannya. Tak
terduga, mendadak kaki dan tangannya terasa mulai
bertenaga, lewat sejenak pula lantas terasa dapat bergerak
seperti biasa. Tanpa bicara lagi ia terus sambar botol kecil itu
dari tangan Buyung Hok dan menciumnya dengan keras-keras
dan tak berhenti-henti.
Untuk mengulur waktu, Buyung Hok tidak mencegah
perbuatan Ong-hujin itu, hanya diam-diam ia mengawasi
gerak-gerik Toan Yan-khing dan Toan-hujin.
Tiba-tiba terdengar Ong-hujin berseru, "Tit-ji, mengapa
tidak kau bunuh saja ketiga perempuan siluman rase itu untuk
melampiaskan rasa dendam bibi ini."
Hati Buyung Hok tergerak, pikirnya, "Benar juga, Wi Sing-
tiok, Cin Ang-bian dan Ciong-hujin itu semua kekasih Tin-lam-
ong, kalau kugunakan jiwa mereka untuk memaksa Tin-lam-
ong, agar menyerahkan tahtanya kepada Yan-khing Thaisu,
jalan ini mungkin akan berhasil, berbareng juga dapat
membikin senang hati bibi."
Segera ia mengacungkan ujung pedang ke arah Wi Sing-
tiok sambil mengancam, "Tin-lam-ong, kau mau menyerahkan
tahtamu kepada Yan-khing Thaicu atau tidak? Kalau tidak,
selir kesayanganmu ini satu per satu akan kubinasakan."
Ternyata Toan Cing-sun tídak mau pandang barang
sekejap pun, sebaliknya bersikap menentang malah. Keruan
Buyung Hok menjadi kalap, pedang terus menusuk ke depan,
kontan darah menyembur keluar dari dada Wi Sing-tiok,
nyonya itu tidak sempat bicara sedikit pun lantas binasa.
Menyusul ujung pedang Buyung Hok beralih ke perut Cin
Ang-bian dan bertanya kepada Toan-Cing-Sun, “Kau mau
menyerahkan tahta atau tidak?“
Lagi-lagi Cing-sun tidak menggubrisnya dan kembali
Buyung membunuh pula ibu Bok Wan-jing itu dengan
menubleskan pedang ke perutnya. Kemudian ujung
pedangnya lantas berberganti arah dan mengancam hulu hati
Ciong-hujin.
Tatkala itu sorot mata Buyung Hok telah memantulkan
sinar kebiruan, air mukanya pucat menghijau. Ketika melihat
Toan Cing-sun tetap tidak menggubrisnya, ia tambah gemas,
kontan ia bunuh Ciong hujin pula.
Sesudah membunuh Wi Sing-tiok, Cín Ang-bian dan Ciong-
hujin bertiga, ketika melihat Cing-sun tetap berdiri kaku dan
tidak ada reaksi apa-apa, karuan Buyung Hok tambah
geregetan, serunya kalap, "Tin-lam-ong, lekas katakan kau
mau menyerahkan tahtamu atau tidak? Kalau tetap diam saja
biar kubunuh sekalian bibiku ini!"
Sembari berkata ujung pedangnya terus mengarah dada
Ong-hujin sambil mendesak maju selangkah demi selangkah.
"Toan-long!" seru Ong-hujín dengan suara gemetar. "Apa
engkau benar-benar sedemikian benci padaku sehingga ingin
membikin celaka diriku?"
Rupanya ia cukup kenal watak Buyung Hok yang keji dan
ganas itu, demi mencapai cita-citanya tentu dia tidak pikirkan
tentang bibi atau bukan. Asal Cing-sun mau memperhatikan
cintanya kepadanya, tentu Buyung Hok takkan segera
membunuhnya, tapi akan memperalat dia untuk memaksa
kehendaknya atas diri Toan Cing-sun.
Karena tempat Ong-hujin berdiri berada di depan Toan
Cing-sun, maka Cing-sun dapat melihat sorot matanya yang
mengunjuk rasa ketakutan dengan muka yang cantik itu mirip
benar dengan wajah Wi Sing-tiok yang sudah menemui
ajalnya itu, mau tak mau terbayanglah hubungan asmara
mereka masa lampau, seketika perasaan Cíng-sun tergugah.
Segera ia mencaci-maki, "Perempuan tua bangka perempuan
bejat yang tídak tahu diri, kamu yang mengakibatkan ketiga
kekasihku terbunuh semua, coba kalau aku dapat bergerak,
sungguh aku ingin mencencangmu sehingga hancur lebur. Ayo
Buyung Hok, tusuk saja biar mampus perempuan keparat itu!”
Ia tahu semakin keji caci-makinya semakin membuat ragu
Buyung Hok dan tidak beraní sembarangan membunuh
bibinya.
Segera Ong-hujin jadi paham juga, dengan caci-maki Toan
Cing-sun itu, terang dia telah tergugah hatinya akan
hubungan mereka masa lampau dan dengan mencaci maki itu
Cing-sun telah membuat ragu Buyung Hok dan tidak jadi
membunuhnya.
Namun karena rindunya kepada Toan Cing-sun selama
belasan tahun berpisah ini telah membuat pikirannya banyak
berubah. Ketika dilihatnya tiga sosok mayat menggeletak di
depannya, sebatang pedang dengan berlumuran darah
mengancam dadanya, sekonyong-konyong pikiran sehatnya
menjadi kabur.
Apalagi caci maki Cing sun yang keji itu dengan
menggunakan macam-macam kata rendah dan kotor sehingga
kalau dibandingkan sumpah setia mereka yang penuh kata-
kata madu masa dahulu, sungguh bedanya seperti langit dan
bumi. Maka air matanya lantas bercucuran, katanya, "Toan
long, apakah engkau telah melupakan semua ucapanmu yang
pernah kaukatakan padaku dahulu? Apa sedikit pun engkau
tidak memikirkan diriku lagi? O, Toan-long, ketahuilah bahwa
sampai detik ini aku masih tetap cinta padamu. Kita sudah
berpisah sekian lama, dengan susah-payah akhirnya baru kita
dapat bertemu seperti sekarang ini, tapi mengapa engkau
tidak sudi bicara secara ramah padaku? . . . apa engkau tidak
pernah melihat pu . . . putrimu yang kulahirkan si Giok-yan
ini? Apakah engkau tidak suka padanya?”
Diam-diam Cing-sun menjadi kuatir, "Wah, tampaknya
pikiran A Mong agak kacau. Kalau aku mengutarakan sedikit
perasaan cintaku padanya tentu jiwanya akan segera
melayang dí ujung pedang Buyung Hok."
Karena itulah ia lantas membentak dengan suara bengis,
"Perempuan keparat, kita sudah lama putus hubungan,
mengapa kamu masih ada muka untuk mengoceh! Hm, kalau
bisa aku ingin menghajarmu untuk melampiaskan rasa benciku
padamu!''
"O, Toan-long, tega amat kau!” seru Ong-hujin dengan
menangis. Mendadak tubuhnya nubruk ke depan sehingga
tepat menerjang ujung pedang yang mengancam di depan
dadanya.
Sesaat itu Buyung Hok menjadi ragu apakah mesti menarik
pedangnya atau tidak, namun tubuh Ong-hujin tahunya sudah
menerjang maju sehingga ujung pedangnya, maka darah
segar lantas menyembur keluar dari dada Ong-hujin.
"Toan long. O, Toan long, tega benar kau!" Ong-hujin
masih sempat berseru pula dengan suara gemetar.
Melihat tüsukan itu tepat mengenai tempat yang
mematikan dan terang bekas kekasih itu sukar tertolong lagi.
Seketika air mata bercucuran di pipí Toan Cing-sun, katanya
dengan suara parau, " A Mong, O. Mong, sebabnya aku
mencaci-makí sebenarnya jüstru ingin keselamataan dirimu.
Pertemuaan kita hari ini sesungguhnya membuat hatiku girang
tak terkatakan, masa aku benci padamu, mana mungkin aku
lupa padamu kita dahulu, Cintaku padamu akan tetap suci
bersih sebagaimana waktu kupersembahkan setangkai bunga
kamelia putih padamu."
Wajah Ong-hujin yang pucat itu menampilkan senyuman
puas, katanya dengan lemah, "Baiklah jika begitu, memang
aku yakin dalam lubuk hatimu tentu akan selalu terukir
bayanganku dan selamanya takkan pernah melupakan daku . .
.."
Begitulah makin lemah suaranya ketika kepalanya miring
ke samping dan mangkatlah dia.
"Nah, Tin-lam-ong, perempuan yang kau cintai satu per
satu telah mati bagimu, apa barangkali untuk penghabisan kali
istrimu yang sah ini pun tidak kaupikirkan dan akan dibiarkan
dia mati juga karena gara-garamu?" ancam Buyung Hok
dengan menjengek, ujung pedang lantas mengancam pula
dada Toan-hujin.
Tatkala itu Toan Ki masih menggeletak di atas tanah, ia
dengar Wi Sing-tiok, Cin Ang-bian, Ciong-hujin dan Ong-hujin
satu persatu telah binasa di bawah pedang Buyung Hok,
bahkan sekarang jiwa ibunya diancam pula untuk menggertak
ayahnya, betapapun hubungan darah antara Ibu dan anak
melebihi segalanya, tentu saja Toan Ki kuatir dan kelabakan.
Sungguh ia ingin berteriak ''Jangan menyentuh ibuku! Jangan
mencelakai ibuku!"
Tapi mulutnya tersumbat sehingga tidak dapat bersuara
sedikit pun, ia hanya berusaha meronta sekuatnya, tapi hawa
murni dalam tubuhnya seakan-akan buntu, sama sekali tak
dapat dikerahkan sedikit pun.
Dàlam pada itu terdengar Buyung Hok berkata, "Tin-lam-
Ong, aku akan menghitung tiga kali kalau kamu tetap bandel
dan tak mau berjanji akan menyerahkan tahta kepada Yan-
khìng thaicu maka dengan segera jiwa permaisurimu akan
melayang juga.
"Jangan! Jangan mencelakai ibukul" demikian Toan Ki
hendak berteriak tapi suaranya sukar diucapkan.
Syukurlah lamat-lamat ia dengar Toan Yan khing sedang
berkata kepada Buyung Hok, "Nanti dulu, urusan ini harus kita
pikirkan lebih panjang.”
"Gihu!" demikian Buyung Hok menjawab. "urusan hari
adalah maha penting dan menyangkut rencana hari depan kita
kalau dia tetap tidak mau berjanji untuk menyerahkan tahta
kepada Gihu, maka semua rencana kita akan gagal
seluruhnya. Nah, satu . . . . "
"Jika kau ingin aku berjanji, lebih dulu harus kau penuhi
suatu syaratku," tiba-tiba Cing-sun menyela.
"Kalau mau bilang mau jika tidak katakan tidak. Jangan
kaukira aku dapat diakali dengan tipu mengulur waktu. Nah,
dua . . . bagaimana?”
Cíng-sun menghela napas panjang "Ya, apa mau dikatakan
lagi, selama hidupku memang sudah penuh berlumuran dosa,
kalau sekarang bisa matí bersama-sama rasanya juga tidak
penasaran."
"Jadi kamu benar-benar tidak mau menuruti? Nah, tiga . . .
.”
Begitu kata "tiga" diucapkan Buyung Hok, tertampak Toan
Cin-sun lantas berpaling ke arah lain dan tak menggubris lagi
padanya.
Dengan murka baru saja Buyung Hok hendak menusukkan
pedangnya ke dada Toan hujin. Sekonyong-konyong bahu
kanan terasa ditumbuk sesuatu, tanpa kuasa ia tergeliat ke
samping. Menyusul lantas kelihaian Toan Ki melompat bangun
dan menyeruduk ke arah perutnya dengan kepala.
Karena tidak terduga-duga, cepat Buyung Hok menerobos
serudukan Toan Ki itu, pikirnya "Bocah ini sudah kena sengat
kawanan tawon beracun, dan terkena pula racun kabut bunga
merah, di bawah racun ganda ini mengapa dia masih dapat
melompat bangun?"
Sebaliknya karena menyeruduk tidak kena sasarannya,
akhirnya kepala Toan Ki menyerempet tepian meja sehingga
kepalanya benjut. Dalam keadaân gugup dan kuatir ia tidak
ingat kepalanya yang benjut dan sakit itu. segera ia meronta
sekuatnya dan entah dari mana datangnya tenaga, tahu-tahu
tali kulit yang mengikat kedua tangannya menjadi putus.
Kiranya semula karena hati Toan Ki merasa berduka
sehingga hawa murni dalam tubuhnya tersesat ke urat yang
salah. Kemudian ketika mendengar Buyung Hok hendak
membunuh ibunya, saking kuatir dan gugupnya ia menjadi
lupa akan dirinya apakah terkena penyakit Cau-hwe-jip-mo
atau tidak karena itu hawa murni yang sesat jalan tadi secara
otomatis lantas masuk kembali ke jalan yang benar.
Hendaklah maklum bahwa seorang yang berlatih iwekang
adalah dengan jalan mencurahkan pikirannya untuk mengatur
tenaga dalam agar berjalan menuruti urat nadi yang tepat.
Kalau sampai Cau-hwe-jip-mo, yaitu tenaga dalam tersesat
(kira-kira sama dengan penyakit kelumpuhan) semakin merasa
gelisah dan gugup dengan maksud hendak menarik kembali
jalannya hawa yang tersesat itu maka hasilnya akan terjadi
sebaliknya malah bukannya hawa sesat jalan itu àkan ditarik
kembali sebaliknya makin menjurus ke jalan yang salah.
Tapi sekarang yang terpikir oleh Toan Ki adalah melulu
keselamatan ibundanya dan hawa murninya tidak terpengaruh
oleh pikiran yang kacau tadi maka dengan sendirinya hawa
murni itu masuk kembali kejalan yang benar menurut arahnya.
Waktu dia dengar Buyung Hok mengucapkan kata-kata "tiga,"
seketika ia lupa dirinya berada dalam ringkusan musuh dan
segera melompat bangun terus menyeruduk ke arah suara
Buyung Hok jadi di luar dugaannya mendadak tubuhnya dapat
bergerak kembali.
Begitu kedua tangannya terlepas dari ringkusan tali kulit,
demi mendengar Buyung Hok sedang memaki, sebelum
musuh sempat menyerang, terus saja ia mendahului
mengeluarkan "Siang-yang-kiam" dari Lak-meh-sin-kiam yang
lihai, kontan Jari manisnya menuding ke arah Buyung Hok.
Pedang yang dipegang Buyung Hok adalah pedang wasiat
Man-to-san-ceng yang dapat memotong sayur. Ketika ia
hendak menusuk, tahu-tahu hawa pedang Toan Ki sudah
menyambar tiba cepat ia berkelit ke samping dañ kontan balas
menusuk dengan pedangnya.
Saat itu kedua mata Toan Ki masih tertutup oleh kain
hitam, mulutnya juga masih tersumbat. Kalau mulut takh bisa
bicara sih tidak menjadi soal. Tapi mata tak dapat memandang
di mana beradanya musuh, karuan Toan Ki menjadi
kelabakan, dalam gugupnya itu terpaksa kedua tangannya
bergerak ke sana dan ke sini, jarinya menuding secara
serabutan agar lawan tidak berani mendesak maju.
Diam-diam Buyung Hok membatin, "Keadaan sudah
berubah dan membahayakan, sebelum dia dapat melihat aku
harus mendahului membinasakan diä.”
Segera pedàngnya mengacung lurus ke depan dengan
gerak tipu "Tai-kang-long-liu" (sungai mengalir ke timur)
secepat kilat ia tusuk pula dada Toan Ki.
Saat itu kedua tangan Toan Ki sedang bergerak ke sana-
sini dan menuding serabutan. Ketika mendadak terdengar
angin tajam menyambar tiba, cepat ia berkelit, namun sudah
terlambat sedikit, “Cret” bahunya kena tusukan.
Karena kesakitan dengan gugup Toan Ki meloncat mundur,
di luar dugaan, "blang!". Tahu-tahu kepalanya membentur
belandar rumah dan tambah benjut.
Hendaklah maklum bahwa sesudah Toan Ki berhasil
menyedot tenaga dalam Cumoti di sumur kering itu, maka
betapa hebat kekuatannya boleh dikata sukar diukur lagi.
Karena itulah hanya sedikit meloncat saja tingginya sudah
mencapa¡ belandar rumah.
Dalam keadaan masih terapung di udara segera Toan Ki
berpikir, "Mataku tak dapat melihat apa-apa, dengan
sendirinya aku tak dapat menyerang dia dengan jitu,
sebaliknya setiap saat ada kemungkinan aku akan dibunuh
olehnya, wah, apa akalku sekarang? Jika melulu aku yang
terbunuh tidak menjadi soal, tapi ibu dan ayah tentu juga tak
tertolong lagi."
Dan karena tubuhnya terapung, dengan sendirinya kakinya
meronta-ronta, eh, di luar dugaan, "praakk", tahu-tahu tali
kulit yang meringkus kedua kaki pun putus semua.
Karuan Toan Ki kegirangan, "Bagus! Jika kedua kaki sudah
dapat bebas bergerak, biarlah aku menggunakan "Leng-po-wi-
poh" untuk menghindarkan serangannya. Tempo hari ketika
dia menyamar sebagai Li Yan-cong dari Se He dan hendak
membunuh aku di rumah gilingan, dia juga tidak berkutik
menghadapi langkahku yang ajaib ini.”
Begitulah, maka sewaktu sebelum kakinya baru saja
menyentuh tanah, terus saja kaki yang lain menggeser ke
samping, sedikit badan mengegos, dengan tepat tusukan
Buyung Hok yang dilontarkan pun dapat dihindarkannya.
Orang lain hanya melihat berkelebatnya sinar pedang
menyambar lewat di samping dadanya, selisihnya hanya satu-
dua senti saja, tampaknya sangat berbahaya, tapi gayanya
sangat indah dan langkah ajaib itu tak terlukiskan.
Sebenarnya hal ini pun secara kebetulan saja, Coba kalau
mata Toan Ki tidak tertutup dan tidak menggunakan "Leng-po-
wi-poh", karena dia sama sekali tidak mahir gerak ilmu silat,
maka dapat dipastikan jiwanya sudah melayang di ujung
pedang Buyung Hok yang tidak kenal ampun itu.
Dalam pada itu Buyung Hok lantas pergencar serangannya,
tapi tetap tidak dapat mengenai Toan Ki. Rupanya ia menjadi
gelisah dan merasa malu pula. Ia lihat Toan Ki tetap memakai
kain kedok, seakan-akan sengaja mempermainkan dia, karuan
ia tambah panas hatinya. Pikirnya, ”Terhadap seorang yang
matanya tertutup kain saja aku tak mampu menang, masakah
aku masih ada muka untuk hidup di dunia ini?"
Begitulah, dengan mata merah membara saking
gemasnya, ia putar pedang secepat kitiran dan menyambar
kian kemari di ruangan itu, hanya dalam sekejap saja Toan Ki
sudah terbungkus di tengah lingkaran pedangnya.
Ruangan itu memang tidak terlalu luas, maka semua
orang, termasuk Toan Yan-khing, Toan Cin-sun, Toan-hujin,
Hoan Hwa dan lain-lain ikut terdesak mundur oleh gemerlap
sinar pedang yang dingin tajam itu, maka mereka sampai
merasa perih.
Sebaliknya Toan Ki tampak dapat berjalan ke kanan dan
melangkah ke kiri dengan seenaknya saja bagaikan orang lagi
berjalan-jalan iseng di taman. Dan aneh juga, biarpun Buyung
Hok putar pedangnya sedemikian gencarnya dan serangannya
bertubi-tubi, tapi hasilnya tetap nihil, sampai ujung baju lawan
saja tak bisa menyenggolnya, Karuan lama-lama Buyung Hok
menjadi kelabakan sendiri dan seperti orang kebakaran
jenggot.
Dengan menggunakan langkah ajaib "Leng-po-wi-poh",
dengan sendirinya Buyung Hok sukar melukai Toan Ki. Namun
begitu Toan Ki sendiri menjadi ragu dan berpikir, ”Aku hanya
diserang melulu dan tak bisa balas menyerang, mataku tak
kelihatan pula, Jika mendadák ibu atau ayahku yang dia
serang, wah tentu mereka akan celaka?"
Begitulah, rupanya ia tetap lupa bahwa matanya hanya
tertutup oleh selapis kain hitam saja, sedangkan tangannya
sekarang sudah bebas, mestinya dengan dampang kain hitam
itu dapat dilepaskannya. Namun ia tetap tidak pikir sampai ke
situ.
Padahal hal itu yang dipikirkan oleh Buyung Hok hanya
Toan Kí seorang yang dianggapnya sebagai bibit penyakit
utama baginya. maka ia tidak berpikir untuk membunuh Toan-
hujin atau orang lain.
Akan tetapi meski dia sudah menyerang berpuluh kali,
bahkan sampai ratusan kali, tetap tidak mampu melukai Toan
Ki, apalagi hendak membunuhnya. Dalam gelisahnya tiba-tiba
hatinya tergerak, pikirnya, “ Rupanya bocah íni mahir ilmu
"Thing-hong-pian-gi" (mendengarkan suara angin
membedakan arah serangan) untuk menghindari seranganku.
Coba kalau aku ganti ilmu pedangku, akan kuserang dengan
pukulan supaya tidak mengeluarkan suara, dengan demikian
tentu bocah keparat ini tidak mampu menghindar.”
Maka mendadak ia perlambat permainan pedangnya, ia
ubah serangannya, tiba-tiba ia menusuk dengan pelahan
sehingga tidak mengeluarkan suara sambaran angin atau
mendengingnya logam.
Ia tidak tahu bahwa "Leng-po-wi-poh'' yang dimainkan
Toan Ki itu adalah semacam langkah ajaib yang tersusun
demikian rupa orangnya melangkah menurutkan apa yang
sudah teratur itu dan peduli musuh akan menyerang dengan
cara bagaimana pun, biar senjatanya mengeluarkan suara
gemuruh bagai guntur atau menyambar secepat kilat tanpa
suara, semuanya itu tetap tiada sangkut-pautnya atau
mempengaruhi langkah ajaib itu. Sebaliknya jika lawan
menyerang secara ngawur maka dengan mudah Toan Ki akan
dirobohkan malah. Jadi langkah ajaib ini susah diikuti oleh
serangan yang menurutkan ilmu silat sejati, sebaliknya mudah
meruntuhkannya hanya dengan serangan yang tak beratur
yang ngawur.
Sebagài tokoh silat terkemuka seperti Toan Yan-Khing
mestinya ia dapàt menjajaki sampai dimana letak kemujizatan
kepandaian Toan Ki itu, tapi sejak diketahui pemuda itu adalah
putranya sendiri, mau-tak-mau ia lantas mencurahkan
perhatian atas keselamatan pemuda itu, dan karena perhatian
itulah telah memencarkan perhatiannya. Maka demi melihat
Buyung Hok mengubah permainan pedangnya dan menusuk
dengan tidak mengeluarkan suara karuan ia terkejut, cepat ia
berseru dengan suara dalam perut, "Awas, Nak! Lebih baik
lekas kau bunuh dia saja. Jika mendadak ia buka kain hitam
yang menutupi matanya itu tentu kita yang akan binasa
ditangannya."
Buyung Hok terperanjat dan diam-diam memaki, "Sungguh
goblok, bukankah ucapanmu ini berarti membikin sadar
musuh?”
Benar saja, ucapan Yan-khing itu telah menyadarkan Toan
Ki, untuk seketika ia tertegun, segera ia tarik lepas kain hitam
yang menutupi matanya itu.
Tapi sekonyong-konyong matanya menjadi silau, pedang
musuh yang mengkilat sudah menyambar sampai di mukanya.
Dasar Toan Ki memang tidak mahir ilmu silat, lebih-lebih
tiada pengalaman medan tempur karuan ia menjadi kaget dan
kelabakan atas datangnya serangan itu, cepat ia berkelit
sebisanya. Dan karena bingungnya itu, langkahnya yang ajaib
itü menjadi kacau. Dálam päda itu serangan susulan Buyung
Hpk yang lain sudah tiba pula, "cret", tanpa ampun lagi paha
kiri Toan Ki tertusuk kembali. Kontan pemuda itu terguling ke
tanah.
Sungguh girang Büyung Hok tidak kepalang segera ia
memburu maju, kembali pedangnya menusuk lagi ke dada
Toan Ki.
Namun Toan Ki sempat siap siaga, dengan setengah rebah
di tanah segera ia memapak dengan jurus "Siau-tik-kiam".
Biarpun pahanya terluka dan darah mengucur keluar bagai
mata air, kedua tangannya dapat digerakan dengan bebas, ia
mainkan "Lak-meh-sin-kiam” yang lihai itu dengan menuding
ke atas dan ke bawah secara bertubi-tübi sehingga Buyung
Hok berbalik terdesak dan sükar menangkis.
Waktu di Siau-sit-san tempo hari juga Buyung Hok sudah
pernah dibikin keok oleh Toan Ki, apalagi sekarang iwekang
Toan Ki sudah bertambah kuat dengan tenaga dalam yang
disedotnya dari Cumoti. Keruan betapa lihai Lak-meh-sin-kiam
yang dimainkannya boleh dikata tiada bandingannya.
Hanya dalam beberapa jurus saja lantas terdengar suara
”cring” sekali, pedang Buyung Hok terlepas dari cekalan,
mencelat ke atas dan menancap di belandar rumah. Bahkan
menyusul terdengar pula "cret" sekali, bahu Buyung Hok
terluka oleh tusukan hawa padang Lak-meh-sing-kiam.
Setelah pedang terpental dan bahu terluka, Buyung Hok
insaf bila ayal sejenak lagi di situ tentu akan mati konyol
dibunuh oleh Toan Ki. Maka sambil menjerit keras-keras
sekali, cepat ia melompat keluar dan melarikan diri.
Pelahan Toan Ki merangkak bangun dan berseru, "Ibu,
ayah, kalian tidak terluka?”
Tapi ibunya balas berseru. "lekas robek kain bajumu dan
balut dulu lukamu!"
"Ah, tak apa-apa," sahut Toan Ki. Segera ia ambil botol
kecil, yang masih dipegang Ong-hujin yang sudah tak
bernyawa itu dan diserahkan kepada ibunya.
Hanya beberapa kali saja mengendus isi botol itu segera
Toan-hujin merasa segar kembali, lalu nyonya itu membalut
luka Toan Ki.
Kemudian Cing-sun memberi petunjuk kepada Toan Ki cara
mengarahkan tenaga untuk membuka hiat-to semua orang
yang tertutuk itu, lalu diberi cium obat penawar dalam botol
kecil itu untuk menawarkan racun kabut bunga merah.
Akhirnya cuma tinggal Toan Yan-khing saja seorang yang
masih meringkuk di kursinya dalam keadaan lumpuh tak
berkutik.
Mendadak Cing-sun melompat ke atas, ia cabut pedang
yang menancap di belandar yang ditinggalkan Buyung Hok
tadi. Ujung pedang ìtu berlumuran darah Wi Sing-tiok. Cín
Ang-bian, Ciong-hujin dan Ong-hujin berempat. Setiap wanita
itu pernah bersumpah setia dengan Cing-sun dan mempunyai
ikatan jiwa-raga yang mendalam.
Meski watak Toan Cing-sun itu bangor dan cintanya tidak
teguh, tapi setiap kali bila dia mencintai seorang wanita, maka
kasih yang dicurahkannya juga sangat tulus dan tidak segan-
segan berkorban apa pun bagi kekasih itu.
Hendaklah maklum bahwa negeri Taili terletak dì wilayah
selatan yang terpencil di mana hidup suku-suku bangsa yang
adat istiadatnya tidak sama dengan bangsa Han, mereka tidak
terikat oleh adat kuno yang mengekang kebebasan dan tidak
terlalu memandang penting soal kesucian wanita sebelum
kawin. Sebab itulah meski Cing-sun adalah seorang ksatria
persilatan, tapi dalam hal wanita cantik ia tak bisa mengekang
diri sehingga banyak utang cinta di dunia kangouw.
Sekarang dilihatnya mayat keempat wanita bekas
kekasihnya itu bergelimpangan di atas tanah, kepala Ong-
hujin berbantalkan paha Ciu Ang-bian, badan Ciong-hujin
melintang di atas perut Wi sing-tiok. Keempat mereka itu pada
masa hidupnya pernah merasa kerinduan kasihnya dan lebih
banyak duka dari pada sukanya, bahkan akhirnya berkorban
jiwa pula baginya.
Tadi waktu Wi Sing-siok dibunuh oleh Buyung Hok, tatkala
itu Cing-sun sudah bertekad akan ikut bunuh diri, sekarang ia
lebih-lebih tiada pilihan lagi, pikirnya, "Anak Ki sekarang sudah
dewasa dan serba pintar, untuk selanjutnya kerajaan Taili
tidak perlu kuatir tak ada kepala negara yang bijaksana,
bagiku menjadi lebih-lebih tidak perlu berkuatir apa-apa lagi."
Tiba-tiba ia berpaling dan berkata kepada sang istri,
"Hujin, aku telah berdosa padamu, Dalam hatiku, para wanita
ini serupa dengan dirimu, semuanya jantung hatiku, cintaku
kepada mereka adalah tulus dan sungguh-sungguh, cintaku
kepadamu juga tulus dan murni!"
"Kakak Sun, kau . . . jangan . . . . . “ Teriak Toan-hujin
sambil menubruk ke arah sang suami.
Tadi karena Toan Ki ingin menolong ibunya, maka
sekaligus ia mengerahkan tenaga untukmelabrak Buyung Hok,
tapi kemudian setelah Buyung Hok melarikan diri, sesudah
rasa kuatirnya hilang, sekonyong-konyong ia ingat, He, tadi
aku dalam keadaan lumpuh, kenapa mendadak sudah baik?”
Karena kejutnya itu, kembali ia roboh, badan meringkuk
lemas dan tak sanggup berdiri lagi.
Dalam pada itu terdengar jeritan ngeri Toan-hujin,
ternyata Toan Cing-sun telah menobloskan pedang ke dada
sendiri. Cepat Toan-hujin mencabut keluar pedang itu dan
menutup luka sang suami dengan sebelah tangannya sambil
menangis, “O, engkoh Sun, biarpun engkau mempunyai
seratus atau seribu wanita lain juga aku tetap cinta padamu.
Terkadang aku memang marah dan dendam padamu, namun .
. . namun . . . semuanya itu sudah lalu . . . . "
Tikaman Toan Cing-sun atas dada sendiri itu tepat
mengenai jantung, begitu pedang masuk dada seketika pula
jiwanya melayang, maka ia tidak sempat lagi mendengarkan
jerit tangis sang istri.
Segera Toan-hujin membalik ujung pedang ke arah
dadanya sendiri, dan baru saja hendak ditusukkan, tiba-tiba
terdengar teriakan Toan Ki, “Ibu! . . . “
Dan karena sedikit ayalnya itu, arah pedang menjadi
melenceng dan menusuk ke dalam perut.
Melihat ayah ibunya sama mati dengan membunuh diri,
sungguh kaget Toan Ki tak terkatakan, kaki terasa lemas,
terus ia merangkak mendekati kedua orang tua yang
berlumuran darah dan mengeletak itu.
"Ibu! Ayah! Kalian meng . . . mengapa . . . . “
"Anakku, ayah dan ibu akan mangkat, hen . . . . . .
hendaknya jaga dirimu sendiri dengan baik”,pesan Toan-hujin
dengan lemah.
”Ti . . . tidak ibu! Jang . . . jangan kau tinggalkan anak!
Ayah! Dia . . . dia bagaimana? Demikian seru Toan Ki sambil
menangis dan merangkul pundak sang ibu. Maksudnya hendak
mencabut pedang yang menancap di perut ibunya itu, tapi
kuatir pula kalau pedang dicabut mungkin akan mempercepat
kematian orang tua itu.
”Kau . . . harus . . . harus meniru pamanmu. Nah, jadilah
seorang raja yang . . . yang baik, seorang raja yang arif,"
pesan Toan-hujin.
Tiba-tiba terdengar Toao Yan-khing berkata, ”Lekas
berikan obat penawar itu padaku, biar aku yang menolong
ibumu.”
Tapi Toan Ki menjadi gusar, bentaknya, "Semuanya gara-
garamu si bangsat tua ini, kamu yang menangkap ayahku
sehingga dia terbinasa. Dendamku padamu sedalam lautan!"
Mendadak ia melompat bangun, ia sambar sebatang
tongkat Toan Yan-khing yang terjatuh di lantai tadi, dengan
tongkat itu segera ia hendak mengepruk kepala Toan Yan-
khing.
"Jangan!" sekonyong-konyong Toan-hujin menjerit.
Toan Ki tercengang, tanyanya sambil menoleh, "Ibu.
bangsat ini musuh utama kita, biarlah anak membalaskan sakit
hatimu dan ayah."
Namun Toan-hujin tetap berseru dengan suara tajam,
"jang . . . jangan berbuat kesalahan demikian!”
"Aku . . . . aku berbuat salah?" Toan Ki menegas dengan
penuh tanda tanya. Tapi ia lantas menggertak gigi dan
membentak pula, "Tidak, aku harus membunuh bangsat ini!”
Dan segera ia angkat tongkat pula.
"Nanti dulu!" teriak Toan-hujin. "Coba kemari, ingin
kukatakan padamu."
Segera Toan Ki berjongkok dan menempelkan telinganya
ke tepl bibir sang ibu, ia dengar ibunya membisikinya, "Nak,
Toan Yan-khing ini sebenarnya ayahmu yang tulen, Soalnya
karena suamiku berbuat salah padaku, dalam marahku aku
pun berbuat sesuatu yang menyeleweng dan akhirnya terlahir
dirimu. Hal ini tak diketahui suamiku, dia tetap mengira kamu
adalah anaknya, padahal bukan. Jadi ayahmu yang
sebenarnya ialah Toan Yan-khing ini, maka tak boleh kau
bunuh dia, kalau . . . kalau kamu membunuhnya berarti
berbuat durhaka. Selamanya aku tak pernah suka padanya,
tapi kamu tak boleh ikut berdosa dan berbuat salah sehingga
kelak bila kamu mangkat tak . . . . takkan mencapai nirwana.
Mestinya aku tidak ingin memberitahukan hal ini padamu agar
tidak merusak nama baik suamiku, tapi . . . tapi apa daya,
terpaksa kukatakan . . . ."
Begitulah dalam waktu singkat kejadian yang sama sekali
di luar dugaan bagaikan bunyi halilintar susul menyusul
membuat Toan Ki terlongong-longong dan sangsi, hampir-
hampir ia tidak percaya pada telinganya sendirinya.
"Mak. . tapi ini tidak betul, ini . . . ini tidak betul!" seru
Toan Ki sambil tetap merangkul ibunya.
”Lekas berikan obat penawar padaku agar ibumu dapat
tertolong.” Yan-khing berseru pula.
Melihat keadan ibunya makin payah. Toan Ki tak sempat
banyak berpikir lagi, segera ia jumput kembali botol porselen
kecil tadi untuk menawarkan racun yang disedot Toan Yan-
khing tadi.
Sesudah pulih kembali tenaganya, segera Yan-khing
menjemput tongkatnya. "crit-crit-crit", beruntun ia tutuk
beberapa tempat hiat-to di sekitar luka Toan-hujin.
"Jang . . . jangan kau sentuh tubuhku lagi," kata Toan-
hujin sambil mengoyang-goyang kepala. Lalu bertanya pula
kepada Toan Ki, “Nak, aku ingin bicara lagi padamu.”
Segera Toan Ki menempelkan telinganya ke tepi mulut
sang ibu.
Dengan berbìsik-bisik Toan-hujin berkata padanya, "Meski
Toan Yan-khing ini sesama she dan satu angkatan dengan
suamiku Toan Cing-sun tapi mereka bukan saudara
sekandung. Maka beberapa putriku yang terlahir dari lain ibu
itu seperti nona Bok, nona Ong, nona Ciong dan lain-lain, asal
kamu suka boleh pilih yang mana saja untuk kawin, bahkan
bila senang boleh juga kau ambil semuanya, sebagai seorang
raja bila kelak naik tahta, adalah jamak bila mempunyai
beberapa istri. Mungkin bangsa Han mereka hanya pantanga
tentang sesama she tak boleh menikah dan sebagainya, tapi
kita adalah orang Tailì dan tidak peduli adat istiadat kuno itu,
asal bukan saudar sekandung boleh kauambil sebagai istri."
Toan-hujin menghela napas, katanya pula, "Anakku yang
baik, sayang aku tak dapat menyaksikan sendiri dirimu
mengenakan jubah kebesaranmu dan duduk di atas
singgasanmu, tapi Aku tahu, kamu pasti akan menjadi seorang
kepala negara, seorang pemimpin rakyat yang arif dan
bijaksanan.”
Sampai di sini sekonyong-konyong ia tekan gagang pedang
sehingga senjata yang maha tajam itu menembus perutnya.
"Mak!” jerit Toan Ki sambil menubruk tubuh sang ibu. Ia
lihat ibunya pelahan memejamkan mata dengan tersenyum.
Pada saat lain sekonyong-konyong ia merasa punggung
terasa kaku, menyusul beberapa hiat-to bagian pinggang, kaki
dan bahunya juga ditutuk orang. Lalu terdengar suara orang
yang sangat lirih tapi jelas berkumandang ke telinganya, ”Aku
adalah ayahmu, Toan Yan-khing. Demi untuk menjaga pamor
Tin-Lam-ong, Anak Ki aku sengaja bicara padamu dengan
menggunakan ilmu ”Thoan-im-jip-bit” (semacam ilmu
mengirim gelombang suara). Apakah kau dengar apa yang
dikatakan ibumu tadi?”
Kiranya biarkan Toan-hujin kepada Toan Ki tadi meski
sangat lirih tapi tatkala itu Toan Yan-khing sudah sembuh dari
keracunan, iwekangnya sudah pulih, maka ia dapat
mendengar pembicaan Toan-hujin dan mengetahui nyonya itu
telah membeberkan rahasia mereka dahulu.
Tapi dengan cepat Toan Ki menjawab, "Aku tak
mendengar, aku tidak mendengar apa-apa! Aku hanya
menginginkan ayah dan ibuku sendiri?"
Yan-khing menjadi gusar, katanya, ”Jadi kamu tidak mau
mengakui aku sebagai ayahmu?”
”Tidak! Tidak! Aku tidak percaya! Tidak percaya!” seru
Toan Ki.
"Saat ini jiwamu tergenggam dalam tanganku untuk
membunuhmu adalah terlalu mudah bagiku. Apalagi
sebenarnya kamu memang putraku, sekarang kamu tidak
mengakui ayahmu sendiri bukankah kamu ini anak yang tidak
berbakti?”
Toan Ki tak bisa menjawab. Ia percaya apa yang dikatakan
ibunya itu memang betul. Tapi selama lebih 20 tahun ini ia
memanggil Toan Cing-sun sebagai ayah, selama itu pula Cing-
sun juga sangat kasih-sayang padanya. sudah tentu ia tidak
tega mengesampingkan Toan Cing-sun untuk mengaku ayah
kepada orang yang selama ini tiada sesuatu hubungan
kekeluagaan dengan dirinya? Bahkan sekarang ayah-ibunya
sudah meninggal semua, kematian mereka boleh dlkata
adalah gara-gara perbuatan Toan Yan-khing, sudah tentu hal
ini semakin membuatnya serba salah untuk mengakui musuh
sebagai ayah.
Karena pikiran demikian, dengan ketus Toan Ki menjawab,
"Tidak, biarpun kau bunuh aku tetap aku takkan
mengakuimu."
Keruan Yan-khing tambah murka, pikirnya, "Meski aku
punya seorang putra, tapi putra ini tidak sudi mengakui aku
sebagai ayahnya, hal ini sama dengan tidak punya anak.”
Dalam kalapnya pikiran jahatnya lantas timbul tongkat
diangkat dan segera hendak mengetuk punggung Toan Ki.
Tapi baru saja ujung tongkat menyentuh baju punggung
pemuda itu, tiba tiba hatinya menjadi lemah, ia menghela
napas panjang, katanya di dalam hàti, "Aku telah hidup
sengsara selama ini, di dunia tiada seorang pun dekat
denganku, akhirnya dapat díketahui aku mempunyai seorang
putra, mengapa aku tega membunuhnya pula dengan
Tanganku sendiri? Ya, sudahlah baik dia akan mengakui aku
atau tidak, betapapun dia tetap anak keturunanku."
Kemudian terpikir pula olehnya, ”Sekarang Cing-sun sudah
mati, dengan sendirinya anakku ìnilah yang menjadi ahliwaris
kerajaan Taili, jadi tahta kerajaan Taili akan kembali lagi
kepada orang keturunan lurus ayahku. Biarpun aku tidak
berhasil menjadi raja, tapi anakku yang akan naik tahta. Hal
ini pun sama saja dan cita-citaku selama ini boleh dikatakan
sudah tercapai dan terkabul."
Dalam pada itu terdengar Toan Ki lagi berteriak padanya,
"Kamu hendak membunuh aku, kenapa tidak lekas
kaulakukan?"
Tapi Yan-khing lantas menepuk Hìat-to Toan Ki yang
tertutuk. lalu berkata padanya tetap dengan gelombang suara
yang lembüt, "Aku takkan membunuh putraku sendiri. Jika
kamu tidak mau mengakui aku, maka boleh kau gunakan Lak-
meh-sin-kiam untuk membunuh aku, bolah kau tuntaskan
balas bagi kematian Toan Cing-sun suami-istri."
Habis berkata, dengan membusungkan dada ia menantikan
ajalnya yang akan ditimpahkan oleh Toan Ki padanya.
Dalam saat demikian hati Toan Yan-khing merasa penuh
penyesalan dan pedih, perasaan yang sudah memenuhi
rongga dadanya sejak dia terluka parah sehingga menjadi
cacad. Untuk melampiaskan perasaan dendamnya itu selalu ia
berbuat segala kejahatan yang melampaui batas. Tapi
sekarang ia merasa selama hidup ini hanya dilewatkan dengan
percuma saja, maka lebih baik mati di tangan putranya sendirl
dan segalanya akan menjadi impas.
Toan Ki mengusap air matanya, perasaannya menjadi
bimbang. Pikirnya hendak menggunakan Lak-Meh-sin-kiam
untuk membunuh maha durjana di depan matanya ini guna
membalas sakit hati ayah-ibunya, namun pesan sang ibu pada
sebelum mangkat sayup-sayup berkumandang pula
ditelinganya, musuh ini justru adalah ayahnya yang
sebenarnya, cara bagaimana ia dapat membunuhnya?
Sesudah menunggu sejenak dan Toan Ki masih ragu, jari
pemuda itu sudah mulai menuding, tapi lantas diturunkan pula
ke bawah, diangkat lalu ditarik kembali lagi, rupanya pemuda
itu tatap bimbang untuk turun tangan.
Maka dengan dingin Yan-khing berkata, "Seorang laki-laki
sejati, kalau mau berbuat harus segera lakukan, kenapa mesti
ragu-ragu dan takut-takut?”
Tapi dengan menggertak gigi akhirnya Toan Ki tetap
menarik kembali tangannya, katanya, "Ibu tentu tìdak
mendustai aku. Aku takkan membunuhmu.”
Sungguh girang Toan Yan-khing tak terlukiskan, ia
terbahak-bahak senang. Ia tahu akhirnya sang putra toh
mengakui ayah juga padanya. Maka puaslah dia. Segera ia
jemput kembali kedua tongkatnya dan melangkah pergi.
Sampai In Tiong-ho yang masih mengeletak sadarkan diri itu
pun tak dipedulikan lagi.
Dengan harapan kalau-kalau ayah-ibunya masih hidup,
maka Toan Ki coba memeriksa kedua orang tua itu, tapi
denyut nadi mereka sudah berhenti, terang tiada mungkin
hidup kembali. Maka tak tahan lagi air matanya bercucuran
dan duduk lemas dilantai.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara seorang wanita
berkata padanya. ”Harap Toan-kongcu jangan berduka. Kami
terlambat datang menolong, sungguh kami pantas dihukum
mati."
Waktu Toan Ki menoleh, ia lihat di depan pintu berdiri
tujuh atau delapan orang wanita dengan dipimpin oleh dua
orang yang wajahnya seperti pinang dibelah dua. Segera ia
kenal mereka adalah kawanan dayang Hi-tiok di Leng-ciu-
kiong, Cuma siapa kedua dayang kembar itu ia tidak sanggüp
membedakannya.
Dengan air mata masih berlinang Toan Ki menjawab
dengan terguguk-guguk, "Ayah-ibuku telah dibunuh orang!”
Kiranya kedua dayang kembar yang datang itu adalah
Tiok-kiam dan Kiok-kiam. Segera Tiok kiam berkata, "Toan-
kongcu, ketika majikan kami mendapat kabar akan bahaya
yang mengancam ayah Kongcu dalam perjalanan segera
beliau memerintahkan hamba bersama para kawan memburu
kemari untuk menolong, cuma sayang agak terlambat
kedatangan kami."
"Nona Ong yang terkurung di suatu kamar tahanan
sekarang sudah kami selamatkan, haräp Köngcu jangan
kuatir," lapor Kiok-kiam.
Sejenak kemudian, tiba-tiba dari jauh berkumandang suara
suitan ramai. Maka berkata pula Tiok-kiam, ”Itu dia, Bwe-cici
dan lam-cici juga sudah datang semua.”
Tidak lama kemudian, belasan penunggang kuda telah
sampai di depan rumah dengan dipimpin oleh bwe-kiam dan
Lam-kiam. Dengan langkah cepat kedua dara itu menerobos
ke dalam rumah, ketika melihat mayat bergelimpangan di situ,
berulang mereka mengentak kaki dan menyatakan menyesal.
Kata Bwe kiam sambil memberi hormat kepada Toan Ki,
"Majikan kami menyampaikan salam kepada Toan-kongcu,
beliau merasa ada suatu hal telah sangat merugikan Toan-
kongcu, tapi beliau terpaksa berbuat demikian, jalan lain tidak
ada, Untuk itu majikan hanya mohon Toan-kongcu suka
memberi maaf, sungguh beliau merasa malu untuk menemui
Toan-kongcu."
Toan Ki sendiri tidak paham apa yang dikatakan dayang itu
(mengenai putri Se He yang sekarang telah diperistri oleh Hi-
tiok) ) ia hanya menjawab dengan masih terguguk-guguk,
"Kami adalah saudara angkat sendiri, sudah tentu tidak perlu
sungkan-sungkan. Sekarang ibu dan ayahku sudah meninggal
dunia, masa aku sempat memikirkan urusan tetek-bengek
lagi?”
Dalam pada itu Hoan Hwa, Siau Tiok-sing dan Ting Su kui
bertiga juga sudah sembuh dari keracunan setelah mencium
obat dalam botol porselen kecil itu, hiat-to mereka yang
tertutuk juga sudah punah. Ketika melihat In Tiong-ho masih
menggeletak di tanah, seketika Siau Tiok-sing menjadi gusar,
sekali goloknya membacok, kontan tubuh "Kiong-hion-kek-ok"
In Tiong-ho terkutung menjadi dua.
Lalu ketiga orang memberi hormat kepada jenazah Tin-
lam-ong suami-istri dan menangis sedih.
Esok paginya Hoan Hwa dan lain-lain membagi tugas dan
sibuk mengurus layon Tin-lam-ong suami istri. Sampai lohor,
para dayang Leng-ciu-kiong juga telah datang dengan
membawa Giok-yan, Pah thian-sik, Cu Tan-sin, Ciong ling dan
lain-lain. Mereka keracunan akibat sengat tawon yang berbisa
itu, maka sampai saat itu mereka masih tertidur nyenyak tak
sadarkan diri.
Melihat Giok-yan dalam keadaan baik-baik walaupun belum
sadar, di samping berduka Toan Ki menjadi sangat girang
pula. Segera ia menyaksikan jenazah kedua orang tua
dlmasukkan ke dalam peti. Begitu pula jenazah Ong-hujin dan
lain-lain.
Tempat di mana mereka berada itu sudah termasuk
wilayah negeri Taili. Ketika Hoan Hwa memberikan perintah
setempat, karuan para pembesar dan petugas setempat kaget
dan ketakutan setengah mati. Tin-lam-ong suami istri
mendadak meninggal di wilayah kekuasaan mereka tanpa
diketahui oleh mereka, sungguh tanggung-jawab ini tidaklah
kecil. Maka dengan tergopoh-gopoh kawanan pembesar itu
sibuk mengumpulkan orang untuk mengurus dan mengantar
layon Tin-Lam-ong dan lain-lain.
Sesudah Giok-yan, Pah Thian-sik. Ciong Ling dan lain-lain
sadar kembali dan mengetahui ibu dan junjungan mereka
telah meninggal, dengan sendirinya mereka pun sangat
berduka. Dan karena kuatir terjadi apa-apa di tengah jalan,
maka para dayang Leng ciu-kiong ikut mengantar rombongan
Toan Ki sampai di kotaraja Taili.
Berita tentang wafatnya Tin-lam-ong dalam perjalanan dan
jenazah telah dibawa pulang oleh putra mahkota sudah tersiar
luas di kotaraja, maka berbondong rakyat menyambutnya
dengan duka-cita sepanjang jalan. Toan Ki langsung menuju
ke keraton untuk memberi lapor tentang kematian ayah-
ibundanya kepada sang paman baginda, sedangkan Giok-yan
dan lain-lain diatur tempat pondokannya oleh Cu Tan-sin.
Setiba di istana Toan Ki melihat pamannya, yaitu Toan
Cing-bing, menangis sedih sehingga matanya merah bandol.
Begitu melihat Toan Ki, terus saja Toan Cing-bing berseru, "O.
anakku. . bag . . . bagaimana bisa terjadi demikian?"
Dan kedua orang lanlas saling rangkul dengan penuh duka.
Toan Ki tak berani berbohong, ia menceritakan segala apa
yang terjadi, bahkan tentang apa yang didengarnya dari pesan
Ibunya juga diceritakan seluruhnya. Habis menutur lalu ia beri
sembah kepada sang paman, "Jika ayah ternyata bukan ayah
sah anak maka jelas anak adalah orang yang tak genah untuk
selanjutnya tak dapat berdiam lagi dalam istana."
Diam-diam Cing-bing tercengang selama mengikuti cerita
Toan Ki itu, berulang ia menghela napas akan karma peristiwa
itu. Ia peluk Toan Ki dan berkata, "Nak, seluk-beluk tentang
hal ayahmu hanya kamu dan Toan Yan-khing saja yang tahu,
mestinya tidak perlu kau beritahukan padaku sejelas ini, tapi
tetap kau tuturkan tanpa dusta sedikit pun, hal ini
menandakan kejujuranmu. Aku dan ayahmu memang tiada
punya keturunan, jangankan kau aslinya memang she Toan,
sekalipun bukan orang she Toan juga aku sudah bertekad
akan mengangkat dirimu sebagai ahliwarisku. Tahtaku ini
memangnya milik Yan-khing Thaicu, aku telah mengangkangi
selama puluhan tahun, diam-diam aku sendiri pun merasa
malu, sekarang kita telah diatur sedemikian rupa oleh takdir,
sungguh sangat kebetulan dan baik sekali."
Habis berkata ia terus menanggalkan kopiah kain kuning
yang dipakainya sehingga kelihatan kepalanya yang gundul
kelimis dengan bekas selomotan dupa, yaitu tanda orang yang
sudah dibaptiskan menjadi murid Budha.
Toan Ki terkejut, serunya, "He, paman engkau . . . "
"Ya, tempo hari waktu menghadapi Cumoti, di Thian-long-
si aku sudah dibaptiskan oleh Suhu dan diberi nama Thian-
tim, hal ini kausendiri pun menyaksikan," kata Cing-bing.
"Waktu itu sebenarnya segera akan kuserahkan tahta kepada
ayahmu. Cuma ayahmu tatkala itu masih berada di Tionggoan,
negara tidak boleh tanpa pimpinan terpaksa kumohon restu
guruku untuk sementara memangku jabatanku sampai
pulangnya ayahmu. Siapa duga ayahmu telah meninggal
dalam perjalanan, maka sekarang biarlah aku mewariskan
tahtaku ini kepadamu."
Keruan Toan Ki terperanjat, sahutnya. "Mana anak berani?
Usia anak terlalu muda dan tiada punya pengalaman, mana
berani kujabat kedudukan setinggi ini? Apalagì asal usul anak
tidaklah jelas lebih baik biarlah anak mengasingkan diri saja . .
."
"Tantang asal-usulmu untuk selanjutnya tidak boleh
disebut-sebut lagi," bentak Toan Cing-bing. "Aku hanya ingin
bertanya bagaimana ayah-ibumu terhadapmu selama ini?"
"Budi kebaikan kedua orang tua sungguh sedalam lautan
dan setinggi gunung," sahut Toan Ki dengan terguguk.
"Nah, jika kauingin membalas budi kebaikan orang tua,
maka harus kaujaga nama baik mereka." ujar Cing-bing.
"Untuk menjadi raja yang baik harus selalu ingat dua hal.
Pertama, cinta kepada rakyat. Kedua, dapat menerima saran-
saran dan kritikan Watakmu memang jujur dan welas-asih,
rasanya kaupun takkan berbuat sewenang-wenang terhadap
rakyat. Cuma kelak bila usiamu sudah mulai menanjak,
janganlah sekali-kali menganggap dirimu, maha pandai dan
timbul pikiran yang melampaui batas, umpamanya timbul
maksud hendak mengganggu persahabatan dengan negeri
tetangga ingin menjajah dan sebagainya . . . . "
Jika di kerajaan Taili Toan Cing-bing sedang menurunkan
tahtanya kepada anak keponakannya, yaitu Toan Ki dengan
pesan agar cinta kepada rakyat dan dapat menerima saran
dan kritik serta jangan sekali-kali timbul pikiran hendak
menggangu atau mencampuri urusan dalam negeri tetangga.
Adalah pada waktu yang sama, jauh di kota raja Song sana
juga telah terjadi peristiwa tinggi.
Tatkala itu Ibusuri yang memegang tampuk pimpinan
sementara sebagai raja sedang sakit keras. Dìa sedang
memberi pesan kepada cucunya, Tio Hi, yang kini sudah
berusia 18 tahun (karena usianya masih muda, maka ibu suri
untuk sementara menjabat sebagai Mangkubumi dan sudah
berjalan hampir 10 tahun).
Tio Hi itu dalam sejarah terkenal sebagai kaisar Ciat-cong.
Dia naik tahta dalam usía sembilan tahun dengan didampingi
neneknya sebagai Màngkubumi. Namun dengan
bertambahnya umur, bertambah pula ambisinya. Maka pada
saat ibusuri (neneknya) dekat dengan ajalnya, dlpanggilnya
sang cucu dan diberi pesan sebagaimana tersebut di atas.
"Nak, kamu sudah menjadi raja selama sembilan tahun,"
demikian kata ibusuri lebih lanjut. "Akan tatapi, selama
sembilan tahun ini yang benar-benar menjadi raja adalah
nenekmu, segala urusan diputuskan oleh nenek, maka . . .
maka kamu tentu sangat marah dan benci kepada nenekmu
bukan?"
"Mana cucu berani marah dan benci kepada nenek?" sahut
Tío Hi. Nenek sudi mewakilkan cucu sebagai raja dan
mengerjakan sesuatu yang sebenarnya adalah tugasku
sehingga aku tidak perlu susah, hal ini justru sangat
menyenangkan cucu."
lbusuri menghela napas, lalu katanya pula dengan pelahan,
"Al, kamu mirip sekali dengan ayahmu, pintar lagi cekatan,
selalu ingin melakukan sesuatu usaha besar-besaran. Aku tahu
dalam hati tentu kau benci padaku."
Tio-Hi tersenyum, sahutnya, '"Nenek tentu kenal watak
cucu. Tapi semua orang penting dalam istana ini adalah orang
kepercayaan nenek, begitu pula para pembesar adalah nenek
sendiri yang mengangkatnya, cucu selainnya menurut kepada
segala perintah nenek dapat berbuat apa?”
"Jadi yang senantiasa kau harapkan adalah seperti
sekarang ini, asal aku mati dan kamu akan punya kesempatan
untuk berkuasa secara penuh, begitu?" tanya Ibusuri dengan
suara ketus.
"Segala apa yang dimiliki cucu ini seluruhnya adalah
pemberian nenek, waktu ayah baginda wafat dahulu, kalau
nenek tidak berkeras mengangkat cucu, tentu para pembesar
telah mengangkat kakak pangeran yang lain. Maka atas budi
kebaikan nenek, mana cucu berani melupakannya Hanya saja
. . . hanya saja . . . . "
"Hanya apa?" ibusuri menegas. “Apa yang ingin
kaukatakan boleh katakan terus terang saja, kenapa mesti
gelagapan dan mundur maju?”
"Begini nenek," sáhüt Tío Hi. "Pernah cucü dengar cerita
orang, katanya sebabnya nenek mau mengangkat cucu
sebagai raja adalah lantaran usiaku masih terlalu kecil
sehingga nenek sendiri dapat pegang kemudi pemerintahan."
Habis mengucapkan kata-kata itu, hati Tio Hi berdebar-
debar, ia coba melirik keluar pintu, ia lihat para Thaikam
(orang kasim) yang berjaga di luar itu adalah dayang
kepercayaan sendiri, semuanya bersenjata, penjagaan cukup
keras. Maka tenanglah perasaannya.
Ibusuri tampak manggut-manggut, katanya kemudian, "Ya,
apa yang kaukatakan memang betul. Aku memang ingin
memegang kemudi pemeritahan sendiri, makanya aku sengaja
mengangkat dirimu yang masih kecil sebagai pengganti
ayahmu. Dan selama sembilan tahun ini bagáimana dengan
pemerintahan di bawah pimpinanku?"
Tío Hi mengeluarkan segulung kertas, katanya, ”Nenek,
menurut pembesar negeri tetangga, seperti kerajan Korea,
mereka banyak memberi sanjung puji kepada nenek, katanya
selama sembilan tahun ini nenek telah banyak memajukan
kesejahteraan negara dan rakyat. Kukira semua íni nenek
sendiri pun sudah mendapat laporan. Dan barusan ada orang
kita pulang dari utara, katanya perdana menteri Liau telah
mengajukan petisi kepada rajanya, dalam petisi itu disinggung
tentang politik pemerintahan nenek selama ini. Karena hal ini
adalah penilaian pembesar negeri musuh, apakah sekiranya
nenek suka mendengarkannya?”
Jilid ke 85
"Apakah dipuji atau dicaci-maki, masa-bodohlah! Yang
terang ajalku sudah takkan lebih lama lagi daripada ma . . .
malam ini, entah matahari esok pagi dapat kulihat pula atau
tidak? Coba . . . apa yang dikatakan perdana menteri negeri
Liau itu?"
Rupanya meski Ibusuri tahu ajalnya sudah sampai dan
takkan bertahan sampai besok paginya, tapi rasa bangga dan
ingin tahunya tetap mendorongnya bertanya tentang petisi
perdana menteri Liau yang diajukan kepada rajanya yang
menyangkut namanya itu.
Maka berkatalah Tio Hi, "Menurut petisi perdana menteri
Liau itu, katanya selama nenek memerintah negari ini keadaan
aman tentram, rakyat hidup sejahtera, katanya nenek pandai
memakai tenaga yang cakap, membuang peraturan yang
merugikan rakyat dan mengandalkan peraturan baru yang
bijaksana. Pemerintahan di bawah pimpinan nenek bersih dari
korupsi, begitu pula para pembesar hidup sederhana dan
benar-benar mengabdi kepada rakyat. Maka nenek diibaratkan
sebagai raja Hiau dan raja Sun wanita di jaman ini . . . ”
Mendengar sampai di sini, tiba-tiba sorot mata ibusuri yang
tadinya guram itu memancarkan beberapa titik sinar
kepuasan. Katanya dengan bergumam, ”Bagai raja Hiau dan
raja Sun wanita jaman kini, tapi biarpun begitu juga tidak
terhindar daripada kemuliaan”
Habis berkata, sekonyong-konyong terkilas sesuatu
didalam benaknya, segera ia bertanya, "Ya, mengapa perdana
menteri Liau itu sengaja menyinggung diriku? Ah. Kamu harus
hati-hati Nak! Me . . . mereka tahu ajalku sudah dekat, maka
mereka bermaksud menghinamu."
“Menghina aku? Hm!" ujar Tio Hi dengan sikap angkuh.
"Biarpun bagaimana tidaklah gampang mereka akan berbuat
sesukanya padaku. Ya, kutahu orang Cidan mempunyai mata-
mata di negeri kita, terutama dl kota raja ini, maka tentang
sakitnya nenek mereka cukup tahu jelas. Tetapi apakah kita
tidak punya mata-mata di tempat mereka? Bukankah isi petisi
yang diajukan perdana menteri ini pun jatuh di tangan kita?
Memang, di antara raja dan pembesar Cidan itu sudah
berunding dengan baik-baik katanya b¡la . . . bila nenek wafat,
kalau pembesar militer dan sipil kita tiada sesüatu perubahan
apa-apa dan tiada mengadakan gerakan baru, maka mereka
akan diam saja. Sebaliknya bila anak mengadakan sesuatu
perubahan dan gerakan maka . . . hm, maka mereka akan
mendahului mengadakan kontra gerakan serentak."
"Jadi maksud mereka akan mendahului menyerang ke
selatan?” ibusuri menegas.
"Ya, begitulah maksud mereka,” sahut Tio Hi. Ia putar
tubuh dan berjalan ke tepi jendela, ia lihat bintang-bintang
berkelip memenuhi cakrawala nan biru gelap, sambil
memandang langit sebelah utara ia menyambung pula, "Tapi
kenapa aku mesti keder? Negeri Song kita luas dan kaya-raya,
prajurit kita kuat dan berjumlah banyak, apa kita harus takut
kepada orang Cidan? Ya, andaikan mereka tidak bergerak ke
selatan, akhirnya aku pun akan menuju ke utara untuk
mencoba mengukur kekuatan mereka.”
Karena sudah tua, maka pendengaran Ibusuri kurang
tajam, ia menegas, "Apa yang kau katakan? Kau bilang
mengukur kekuatan apa?"
Tio Hi mendekati pembaringan neneknya, katanya.
"Nenek, rakyat Song kita berjumlah puluhan kali lebih banyak
daripada orang Cidan, perbekalan kita juga lebih lengkap.
Apakah klta masih takut kepada mereka yang berjumlah tidak
seberapa itu?"
"Apa maksudmu hendak berperang dengan orang Liau?"
Ibusuri menegas dengan suara gemetar. "Kakekmu Kaisar Cin-
cong sedemikian tangkas, beliau telah berjuang mati-matian
dan akhirnya berhasil mengadakan perjanjian perdamaian
dengan orang Cidan, masakah . . . masakah sekarang boleh
sembarangan kau serang lebih dülu!"
"Tentu saja nenek menjadi untung anak dan menganggap
anak masih penuh ingusan yang tidak tahu apa-apa.” ujar Tio
Hi dengan penasaran. ”Andaikan anak tidak dapat disamakan
dengan para kaisar leluhur, namun kita juga jangan menilai
rendah diri kita sendiri. Dahulu kita bukan tandingan negeri
Liau, apakah untuk selamanya kita juga takkan mampu
melawannya?”
Sebenarnya banvak sekali pesan yang hendak diucapkan
Ibusuri, tapi ia merasa tenaganya makin lemah, pikirannya
serasa hampa, hendak bicara pun rasanya berat. Namun
dalam lubuk hatinya selalu bergema suara yang tegas yang
mengatakan, ”Prajurit lemah berbahaya untuk perang, jangan
buang-buang korban percuma, jangan sembarangan
mengadakan gerakan militer."
Setelah menarik napas panjang, akhirnya ia berkata
dengan pelahan, ”Nak, selama beberapa tahun ini aku
memegang tampuk pemerintahan, aku lupa mengerjarkan
padamu tentang keadaan negara kita, kesalahan ini adalah
tanggung jawabku. Ya, aku merasa banyak hal yang harus
kubicarakan denganmu, siapa duga . . . siapa duga . . . . "
Ia terbatuk-batuk beberapa kali, lalu melanjutkan, "Siapa
duga ajalku tinggal beberapa jam lagi sehingga aku tak dapat
bicara banyak padamu. Hendaknya diketahui, walau pun
benar rakyat kita berjumlah puluhan kali lebih banyak dan
perbekalan lebih lengkap, tapi rakyat kita pada umumnya
lemah, tidak sekuat dan setangkas orang Cidan, apalagi kalau
terjadi perang, tentu rakyat yang tak berdosa akan ikut
menjadi korban dan entah berapa banyak prajurit dan rakyat
biasa akan terbunuh dan entah berapa banyak rumah
penduduk akan musnah. Seorang pemimpin, seorang raja
setiap saat harus berpikir secara bijaksana, jangankan soal
menang atau kalah dalam peperangan sukar diramalkan,
kekali pun yakin pasti akan menang lebih baik peperangan ini
tidak terjadi.''
"Pikiran nenek ini adalah pikiran kolot yang sudah
ketinggalan jaman," ujar Tio Hi, ”Sebagian besar wilayah kita
telah dìkangkangi musuh, setiap tahun kita harus mengirim
upeti kepada orang Cidan, kita diperlakukan sebagai tanah
jajahan, apakah kita harus menerima hinaan demikian terus
menerus? Leluhur kita dahulu beberapa kali perang dengan
negeri Liau, bukankah soalnya karena ingin mempertahankan
kejayaan kerajaan Song kita. Pendek kata anak pasti akan
meneruskan cita-cita leluhur yang belum terkabul ini. Selama
cita-cita ini belum terlaksana, aku bersumpah akan terus
berjuang atau lebih baik hancur seperti kursi ini.”
Habis berkata, mendadak ia lolos pedang yang tergantung
di pinggangnya dan membacok sebuah kursi di sampingnya
sehingga terbelah menjadi dua.
Biasanya seorang raja tidak pernah membawa senjata di
dalam istana, sekarang Ibusuri melihat anak kecil itu
mendadak lolos pedang dan membacok kursi, karena ia
terkejut dan mendadak duduk sambil menuding Tio Hi, "Jadi .
. . jadi kamu tetap kepala batu dan ingin perang dengan . . . .
dengan negeri Liau . . . . ”
Tio Hi ketakutan di bawah pengaruh wibawa sang nenek,
ia menyusut mundur beberapa tindak dengan sempoyongan
dengan hati berdebar-debar, serunya, "Le . . . lekas kalian
kemari!”
Mendengar teriakan junjungan mereka, cepat para Taikam
yang berjaga di luar berlari-masuk.
"Dia . . . coba kalian periksa dia, ken . . . .kenapa dia . . . ''
seru Tio Hi dengan terputus-putus sambil menunjuk ibusuri.
Tadi dia berlagak gagah dan berkeras ingin melabrak
orang Cidan untuk melaksanakan cita-citanya, tapi sekali
digertak oleh seorang nenek yang kurus dan sakit-sakitan,
seketika nyalinya mengkeret.
Dalam pada itu seorang Thaikam telah mendekati Ibusuri
untuk memeriksa denyut nadinya, kemudian tuturnya, "Lepot
Hongsiang (Sri Baginda) Ibusuri telah wafat.”
”Haah! Bagus, bagus!" seru Tio Hi sambil terbahak-bahak.
”sekarang aku benar-benar menjadi raja! Haha, aku menjadi
raja benar-benar!”
Sebetulnya dia sudah menjadi raja selama sembilan tahun,
cuma selama ini kekuasaan yang sebenarnya berada di tangan
ibusuri dan baru sekarang dia sadar dirinya adalah raja . . . .
Begitulah setelah memegang kekuasaan sendiri, langkah
pertama yang diambil Tío Hi ialah memecat Le-poh Siang-si So
Sik (dalam sejarah terkenal dengan nama So Tong-po),
menteri kebudayan, dan dikirim ke daerah sebagai bupati.
Padahal nama So Tong-po terkenal di seluruh negeri dan
merupakan menteri kesayangan ibusuri, karuan tindakan Tio
Hi itu menimbulkan percakapan ramai di kalangan pembesar.
Banyak di antara pembesar-pembesar itu tidak dapat
menyetujui tindakan raja yang masih muda belia itu, tapi ada
juga sementara pembesar yang diam-diam merasa senang,
mereka berharap raja yang muda itu akan menjalankan politik
baru sehingga mereka akan mendapat kesempatan untuk naik
pangkat dan memupuk kekayaan lagi dengan jalan korupsi.
Ada juga satu-dua pembesar yang jujur mengajukan petisi
kepada Tio Hi agar meninjau kembali keputusannya atas
pemecatan So Tong-po itu, serta menjalankan pemerintahan
baru secara lebih bijaksana. Tapi dasar darah muda, Tio Hi
tidak menerima saran dan kritik yang diajukan pembesar-
pembesar jujur itu, sebaliknya pembesar yang berani
membantah keinginannya lantas dipecat dan dipenjarakan,
sudah tentu hal-hal demikian membuat pemerintahannya
menjadi tidak stabil.
Apa yang terjadi pada pemerintah Song sudah tentu
disapaikan oleh mata-mata musuh ke Siangkhia, ibu kota
kerajaan Liau.
Demi mendapat laporan tentang wafatnya Ibusuri kerajaan
Song dan raja Tio Hi yang masih muda belia itu banyak
melakukan tindakan yang merugikan tubuh pemerintahan
Song sendiri, keruan raja Liau, yaitu Yalu Hung-ki, sangat
senang, segera ia melakukan perjalanan ke Lamkhia untuk
berunding dengan Lam-ih Tai-ong Siau Hong.
Oleh karena sudah ada pengalaman pemberontakan Coh-
ong, maka perjalanana Hung-ki ini hanya membawa tiga ribu
prajurit. sisanya ditinggalkan di kotaraja dan langsung di
bawah perintah permaisuri. Selain itu ada 50 ribu prajurit
cadangan lain yang akan menyusul ke selatan secara
bergelombang sebagai bala bantuan.
Tidak lama pasukan kerajaan Liau itu sudah tiba di luar
kota Lamkhia. Kebetulan hari itu Siau Hong dengan membawa
puluhan prajurit pengawalnya yang sedang berburu di luar
kota sebelah utara. Ketika mendapat laporan kedatangan Sri
Baginda, cepat ia menapak lebih ke utara lagi. Ketika melihat
panji berkibar, barisan Sri Baginda sudah dekat, segera Siau
Hong melompat turun dari kudanya dan berlutut di atas tanah
untuk menyambut.
Hung-ki tertawa terbahak-bahak dan melompat turun dari
kudanya, katanya, "Saudaraku, meski-resminya kita adalah
raja dan bawahan, tapi hubungan kita lebih daripada saudara
sekandung, mengapa engkau mesti menjalankan
penghormatan sebesar ini?"
Segera ia membangunkan Siau Hong dan bertanya
pula,"Apakah sudah banyak hasil buruanmu?''
"Selama beberapa hari ini hawa terlalu dingin, kawanan
binatang banyak yang mengungsi ke selatan, maka setengah
hari berburu hanya mendapat beberapa ekor kelinci dan
menjangan saja, binatang yang besar susah ditemukan,”
demikian tutur Siau Hong.
Hung-ki juga sangat gemar berburu, segera ia mengajak,
"Marilah kita coba berburu ke bagian selatan sana."
"Di bagian selatan kita berbatasan dengan negeri
tetangga, hamba kuatir timbul peristiwa yang dapat
mengganggu persahabatan kedua negeri, maka hamba
melarang bawahan berburu ke sana."
Kening Hung-ki berkenyit mendengar laporan itu, katanya,
"Jika begitu, apa juga tidak pernah melakukan 'panen' dan
mencari 'rumput'?''
"Tidak," sahut Siau Hong.
"Baiklah, hari ini kita bersaudara telah berkumpul, biarlah
kita melanggar satu kali ketentuan demikian itu." kata Hung-
ki.
Siau Hong menerima baik ajakannya.
Maka terdengarlah suara tiupan tanduk yang ramai. Yalu
Hung-ki dan Siau Hong melarikan kuda mereka dengan
berjajar, mereka mengitari benteng Lemkhia dan menuju ke
selatan kota, di belakang mereka menyusul ketiga ribu prajurit
pengawal Liau.
Kira-kira dua-tiga puluh li jauhnya, serentak ketiga ribu
prajurit itu berteriak-teriak dan bersorak-sorai sambil
berpencar ke dua jurusan dalam bentuk lurus dan kemudian
mengepung kembali dalam bentuk lingkaran yang semakin
lama semakin gempar. Seketika itu terdengar suara ringkik
kuda dan gonggongan anjing pemburu yang riuh ramai.
Lingkaran perburuan mereka semakin lama semakin ciut.
Hanya sebentar saja lingkaran kepungan mereka sudah
berada dalam jarak ratusan meter saja, maka tertampak
banyak binatang-binatang kecil sebangsa kelinci, rusa dan
sebagiannya berlari kebingungan dari semak-semak rumput.
Hung-ki tidak sudi memburu binatang kecil yang tak berarti
itu. Tapi meski sudah ditunggu dan dicari sampai sekian lama
tetap tiada tampak seekor binatang besar sebangsa harimau,
beruang dan lain-lain.
Selagi Hung-ki merasa kesal, tiba-tiba terdengar suara
teriakan riuh ramai dari arah tenggara sana. Ada belasan
orang lelaki sedang lari datang dengan ketakutan setengah
mati. Melihat dandanan mereka agaknya orang-orang Song
yang bekerja sebagai tukang kayu, kaum pemburu dan
sebagainya.
Boleh jadi lantran tidak mendapatkan mangsa buruan yang
diharapkan, para prajurit Liau tahu raja mereka tentu kurang
senang. Kebetulan mereka dapat mengepung belasn orang
Song, maka mereka lantas menghardik dan menggiringnya ke
hadapan raja mereka.
"Bagus sekali!” kata Yalu Hung-ki dengan tertawa senang
demi melihat datangnya belasan orang Song itu. Segera ia
menarik busur dan membidikkan panahnya.
Terdengar suara mendenging berulang-ulang, setiap anak
panah itu tiada yang meleset, dalam sekejap saja enam orang
Song itu sudah roboh terguling, dada mereka tertembus oleh
panah dan terpantek di atas tanah.
Karuan sisanya menjadi ketakutàn, segera mereka putar
balik hendak menyelamatkan diri. Tapi lagi-lagi mereka
terpaksa putar balik di bawah ancaman ujung tombak para
prajurit cidan.
Siau Hong tidak tega menyaksikan pembunuhan kejam
demikian, serunya, “Sri Baginda!"
"Baiklah sisanya kuberikan padamu, biar aku menilai
kepandaian memanah saudaraku,” sahut Hung ki dengan
tertawa.
Tapi Siau Hong menggeleng kepala, katanya, “Orang-
orang itu tidak berdosa biarlah mereka diampuni saja.”
“Jumlah orang selatan teramat banyak, mereka harus
dibunuh habis, barulah dunia ini akan aman tentram.” Ujar
Hung ki dengan tertawa. “Salah mereka sendiri, mereka salah
terlahir sebagai orang selatan dan itulah dosa mereka.”
Habis berkata kembali panahnya berturut-turut
menyambar ke depan lagi, satu panah satu korban, kontan
belasan orang Song itu roboh tanpa kecuali, ada yang mati
seketika, ada yang terpanah perutnya, isi perut keluar dan
merintih sebelum binasa.
"Hidup Sri Baginda!" demikian prajurit Cidan bersorak sorai
memuji.
Saat itu kalau Siau Hong mau mencegah perbuatan Yalu
Hung-ki sebenarnya tidak sukar, misalnya dengan menyampuk
jatuh panah yang dibidikkan itu. Tapi di hadapan pasukan
sebanyak itu berani merintangi keinginan raja, hal inii tentu
akan membuatnya malu dan akan merupakan tindakan yang
durhaka kepada atasannya. Namun demikian air muka Siau
Hong mau-tak-mau menampilkan rasa tidak setuju atas
perbuatan Hung-ki itu.
"Bagaimana?" tanya Hung-ki dengan tertawa. Dan baru
saja ia hendak menyimpan kembali busurnya. Tiba-tiba
seorang penunggang kuda menerjang tiba secepat terbang
menembus kepungan para prajurit.
Melihat penunggang kuda itu berdandan sebagai bangsa
Han, tanpa bicara lagi Hung-ki lantas memasang panah dan
mebidik pula.
Di luar dugaan, sekonyong-konyong orang itu mengangkat
sebelah tangannya dengan dua jari aja anak panah yang
menyambar ke mukanya itu kena dijepitnya.
Sementara itu panah kedua yang dibidikkan Hung-ki sudah
menyambar tiba pula. Tapi dengan satu jari tangan yang lain
kembali orang itu dapat menangkap panah kedua itu. Sedang
lari kudanya tidak pernah berhenti dan masih terus menerjang
maju.
Berulang-ulang Hung-ki melepaskan panahnya secara
berantai, yang satu belum mencapai sasarannya atau panah
yang lain sudah menyusul pula, boleh dikata hampir berwujud
iring-iringan panahnya.
Tapi betapa cepat ia membidikkan panahnya, cara
menangkap panah orang itu pun tidak kalah cepatnya. Maka
dalam sekejap saja yang seorang sudah melepaskan belasan
batang panah, sebaliknya yang lain juga sudah menangkap
belasan anak panak.
Dalam pada itu jarak kedua orang sudah dekat, sekarang
Siau Hong sudah dapat melihat jelas pendatang itu, Ia terkejut
dan berteriak, “Hei! Kau A Ci jangan sembrono terhadap
Hongsiang.”
Tapi penunggang kuda itu lantas mengikik ketawa, ia
lemparkan belasan anak panah yang ditangkapnya tadi ke
udara, serunya, "Cihu, apakah kau tahu akan kedatanganku,
maka engkau, sengaja datang memapak aku?”
Habis berkata, mendadak ia lompat dari kudanya dan
melayang lewat di atas kepala belasan prajurit yang
menghadangnya itu, lalu hinggap di depan pelana kuda
tunggangan Siau Hong.
Dia tetap memakai baju ungu, potongan badannya tambah
padat dan menggiurkan, siapa lagi dia kalau bukan A Ci
adanya? Yang luar biasa adalah kedua matanya yang tadinya
buram itu sekarang sudah bersinar.
Siau Hong terkejut dan bergirang pula, serunya, "Hei. A Ci
ken . . . kenapa matamu sudah sembuh kembali."
”Ya. Jikomu itu yang menyembuhkan aku.” sahut A ci
dengan tertawa, ”Nah, baik tidak muka aku?”
Siau Hong memandang sekejap kepada anak itu,
mendadak hatinya terkesiap. Ia merasa di antara sorot mata
anak dara itu seperti mengandung semacam rasa duka dan
hampa yang sukar dilukiskan. Seyogyanya, karena ke dua
matanya sudah sembuh dan dapat melihat kembali, pula
dapat bertemu dengan Siau Hong, seharusnya anak dara itu
akan kegirangan, tapi mengapa perasaan yang disampaikan
melalui sorot matanya itu sedemikian sedihnya? Namun dari
suara tertawanya tadi jelas pula penuh rasa kegirangan. Maka
pikir Siau Hong, "Tentu si A Ci cilik telah mengalami sesuatu
yang tidak menyenangkan di tengah perjalanan."
Tengah Siau Hong melamun itulah, sekonyong-konyong A
Ci menjerit kaget sambil menarik tubuhnya melepaskan diri
dari pelana kuda Siau Hong terus melompat ke depan.
Pada saat yang sama Siau Hong juga merasa ada orang
menyergap dari belakang, cepat ia membalik tubuh sambil
menyilangkan kedua tangan di depan dada untuk menjaga
segala kemungkinan. Maka tertampaklah sebatang tombak
bercabang sedang menyambar kearahnya.
Ternyata tombak itu keburu dipegang oleh A Ci segera
ditimpukkan kembali sehingga dengan tepat menancap di
dada seorang dan menggeletak terpantek.
Kiranya orang itu adalah salah seorang pemburu bangsa
Han tadi, dia roboh kena panah Yalu Hung-ki, tapi hanya
sekarat dan tidak lantas mati, ketika dia melihat Siau Hong
memakai baju pembesar Liau, segera ia kerahkan segenap
dari tenaganya yang masih ada dan menimpukkan tombaknya
dengan harapan dapat membinasakan Siau Hong sekedar
membalas dendamnya.
Tak terduga perbuatannya itu sempat dilíhat oleh A Ci
yang berhadapan dengan Siau Hong, segera anak dara itu
melompat maju untuk menangkap tombaknya dan berbalik
senjata makan tuan, pemburu itu sendiri segera terbinasa
malah. Padahal kalau cuma kepandaian seorang pemburu saja
tidak mungkin dapat menyergap Siau Hong dari belakang.
Sambil menuding pemburu yang sudah tak bernyawa itu A
Ci memaki, "Kamu anjing dan babi yang tidak tahu diri, kau
berani coba-coba membokong C¡huku?"
Melihat kedua mata si pemburu yang sudah mati itu masih
mendelik dengan mengertak gigi, wajahnya penuh rasa
murka, Diam-diam Siau Hong merasa tidak tega. Pikirnya,
“Selamanya aku tiada dendam apa-apa, tapi dia berusaha
hendak membunuh aku. Hal ini disebabkan permusuhan
antara kedua negara dan antar bangsa, jadi bukan lantaran
permusuhan pribadi antara diriku dengan dia. Permusuhan
antara negeri Song dan Liau sebenarnya terjadi lantaran apa?
Kalau menurut orang Song katanya orang cidan menjajah
wilayah kekuasaan mereka, sebaliknya orang Cidan kami
mengatakan orang Song tidak pegang janji dan tidak kenal
budi. Sungguh sukar dipastikan siapakah yang benar dan
siapa yang salah!”
Di sebelah sana ketika melihat A Ci menimpuk mati si
pemburu dengan tombak rampasannya, Hung-ki sangat
senang, katanya, "Nona bàìk, sungguh gesit dan cekatan
sekali dirimu ini. Sudah tentu tombak pemburu itu tak
mungkin dapat membunuh Lam-ih Tai-ong kita, tapi jika
sampai dia terluka sedikit saja hal ini berarti akan
mengganggu rencanaku. Nona baik, aku sedang berpikir cara
bagaimana harus memberi penghargaan atas jasamu ini?”
Dan sebelum Hung-ki memberi keputusan, tiba-tiba A Ci
mendahului, "Hongsiang, engkau telah mengangkat Cihuku
sebagai pembesar yang berkuasa, maka aku pun ingin diberi
pangkat agar aku bisa mencicipi rasanya menjadi pembesar.
Tidak perlu dengan pangkat setinggi Cihu, tapi jangan terlalu
rendah pangkatku agar tidak dipandang hina oleh orang lain.”
"Hahaha!" Hung-ki tertawa. "Di negeri Liau kita memang
ada kaum wanita ikut mengurus tatanegara, tapi tiada kaum
wanita yang diangkat menjadi pembesar. Baik begini saja,
akan ku beri gelar Kongcu (Putri) padamu. Ehm..gelar apakah
yang pantas? . . .Ya, baiklah sebut saja sebagai ‘Panglam
Kongcu’.”
"Ah, emoh! Aku tidak mau menjadi Kongcu segala!" sahut
A Ci dengan mulut menjengkit.
"Mengapa tidak mau?" tanya Hung-ki dengan heran.
"Habis engkau adalah saudara angkat Cihuku, kalau aku
terima gelarmu itu, kan tingkatanku menjadi sejajar dengan
putrimu sendiri, bukankah aku menjadi lebih rendah
setingkat?”
Hung ki cukup pandai meraba pikiran orang. Ia dengar A Ci
memanggil Cihu kepada Siau Hong dengan nada yang sangat
mesra. Sebaliknya Siau Hong meski mempunyai kedudukan
sedemikian tinggi hidupnya ternyata sangat prihatin,
selamanya tidak suka berdekatan dengan kaum wanita.
Padahal kalau menurut kebiasaan orang Cidan, jangankan
cuma empat istri dan lima selir, bahkan delapan, istri dan
puluhan selir juga bukan sesuatu yang luar biasa. Dari sini
dapat diduga Siau-Hong tentu juga anak dara ini.
Maka katanya dengan tertawa, "Gelar Kongcu yang
kuberikan ini adalah Kongcu gede dan bukan Kongcu cilik,
tingkatannya sama dengan adik perempuanku dan tidak sama
dengan anakku, Malahan tidak melulu mengangkatmu menjadi
'Panglam Kongcu', bahkan aku pun akan melaksanakan
sesuatu cita-citamu, mau?"
Wajah A Ci menjadi merah, tanyanya, 'Cita-citaku apakah?
Dari mana Sri Baginda mendapat tahu? Seorang raja sebesar
engkau mengapa juga sembarang omong."
Biasanya A Ci memang tidak takut siapa pun, maka bicara
dengan Yalu Hung-ki juga tidak pakai penghormatan secara
seorang bawahan terhadap rajanya. Kerajaan Liau memang
tidak memandang berat pada sesuatu yang kolot. Siau Hong
adalah orang kesayangan Hung-ki pula, maka Hung-ki hanya
menanggapi dengan tertawa saja mendengar ucapan A ci tadi.
Katanya, "Jika kamu tidak mau menjadi Panglam Kongcu,
baiklah tak jadi kuberi gelar itu padamu. Nah, satu, dua, tiga
kau mau tidak?”
Akhirnya A Ci memberi sembah hormat dan berkata
dengan pelahan, " A Ci mengucapkan banyak terima kasih
atas budí Sri Baginda."
Siau Hong juga lantas memberi hormat dan mengucapkan
terima kasih. Sejak membunuh A Cu, Siau Hong anggap A Ci
sebagai adik perempuannya sendiri. Sekarang anak dara itu
mendapat gelar bangsawan dari sang raja, dengan sendirinya
ia pun ikut menyatakan terima kasihnya.
Sebaliknya Hung-ki salah sangka lagi, ia mengira
dugaannya tadi semakin tepat. Pikirnya, Biarlah nanti aku
akan menikahkan mereka secara besar-besaran, habis itu aku
lantas menugaskan dia mengadakan infasi ke selatan dan
dengan sendirinya dia akan bekerja mati-matian bagiku."
Di lain pihak Siau Hong juga sedang menimang-nimang.
"Kunjungan Hongsiang ke selatan sekali ini entah ada maksud
tujuan apa? Sebab apa dia memberi gelar Putri kepada A Ci,
bahkan dengan nama ’Pang Lam’? Pang-lam artinya
mengamankan selatan, jangan-jangan dia bermaksud
Menyerbu ke selatan untuk menaklukkan kerajaan Song?”
Dalam pada itu Hung-ki sudah lantas menggenggam
tangan Siau Hong dan berkata, "saudaraku, sudah lama kita
tidak bertemu, marilah kita pergi ke sana buat bicara."
Kedua orang lantas melarikan kuda mereka ke selatan,
hanya sebentar saja mereka sudah mencapai sejauh 20 li
lebih. Di sekitar mereka hanya sawah ladang belaka tapi apa
yang tumbuh di tengah sawah ladang itu bukan padi, gandum
atau bahan pangan lain, sebaliknya adalah rumput ilalang dan
duri belukar melulu.
Diam-dlan Siau Hong berpikir,. "Orang Song kuatir
kepergok prajurit Cidan yang sengaja memang mengadakan
‘panen’ sehingga mereka lebih suka meninggalkan beribu-ribu
hektar tanah yang subur ini untuk menyelamatkan diri. Ai
setiap jengkal tanah ini entah terpendam betapa banyak tetes
darah dan jiwa.”
Tiba-tiba Hung-ki mengayunkan cambuknya dan melarikan
kudanya ke sebuah bukit kecil, di atas kudanya di puncak
bukit itulah dia memandang sekeliling alam semesta dengan
bangga.
Siau Hong menyusulnya ke atas bukit. Ia pun memandang
ke arah selatan yang dipandang Hung-ki itu. Tertampaklah
gunung gemunung melingkar-lingkar menyusuri bumi nan luas
ini.
"Saudaraku," kata Hung-ki sambil menuding ke selatan
dengan cambuknya, “aku masih ingat, pada 30 tahun yang
lalu ayah baginda pernah mengajak aku ke sini dan menunjuk
negeri Song yang indah permai itu kepadaku."
Siau Hong mengiakan saja dan tidak tahu apa maksud
ucapan Hung-ki itu.
Maka Hung-ki melanjutkan, "Sejak kecil kau hidup di tanah
orang selatan itu, tentu telah kau jelajahi wilayah selatan sana
dan cukup kenal bagaimana bangsa mereka bertempat tinggal
di selatan dan tentu lebih senang daripada tinggal di negeri
kita yang dingin dan sengsara ini, bukan?”
"Tempat dî mana-mana sama saja dan susah untuk
dikatakan tinggal di mana akan lebih senang asalkan hidup
bebas dan pikiran tentram tentu menjadi senang. Orang utara
tidak biasa tinggal di daerah selatan. Tuhan telah mengatur
demikian bagi umatnya, kalau kita sengaja memaksa
kehendak ilahi itu tentu akan membikin susah diri sendiri.”
"Jika demikian, kamu adalah orang utara yang dibesarkan
dan hidup biasa di daerah selatan, lalu pindah pula tinggal ke
utara sini, bukankah kamu merasa kesal?"
"Hamba adalah kaum kelana kangouw yang biasa hidup
terlunta-lunta, dimana pun dapat menetap, dengan sendirinya
tidak dapat dipersamakan dengan kaum petani atau kaum
gembala. Malahan Baginda telah menganugrahi tempat
menetap dan kedudukan yang tinggi, sungguh hati hamba
sangat berterima kasih, apa yang mesti aku sesalkan lagi?”
Hung-ki menoleh dan memandang sekejap pada Siau
Hong. Tapi Siau Hong tidak ingin saling menatap dengan
rajanya itu, dengan tersenyum ia mengalihkan pandangannya
ke arah lain.
"Saudaraku," kata Hung-ki dengan pelahan, "mesti
hubungan kita adalah raja dan bawahan, tapi sebenarnya kita
adalah saudara angkat. Dahulu kita dapat bicara secara dari
hati ke hati, segala apa dibicarakan secara bebas. Tapi
sesudah lama tak bertemu, mengapa kamu bersikap seperti
orang yang baru kenal denganku?”
Siau Hong menjawab, "Dahulu hamba tidak tahu akan diri
Baginda sehingga secara sembrono berani mengangkat
saudara segala, sesudah tahu, hamba mana berani bersikap
sebagai saudará angkat terhadap bagianda?”
Hung-ki menghela napas, katanya, “Sungguh aku sangat
gegetun sebagai seorang raja aku malah tak dapat bebas
bergaul dengan seorang sahabat karib. Saudara, kalau aku
ikut berkelana di dunia kangouw mungkin akan hidup lebih
bebas dan lebih senang tanpa sesuátu ikatan apa pun."
"Tidak sukar apabila Baginda suka bersahabat" sahut Siau
Hong. ''Hamba mempunyai dua orang saudara angkat di
didaerah Tionggoan, yang satu adalah Hi-tiok däri Leng-Ciu-
kiong, yang seorang lagi adalah Toan Ki dari Taili, mereka
adalah lelaki yang berdarah panas, semuanya sangat jujur dan
baik. Jika Baginada suka berkenalan dengan mereka, hamba
bersedia mengundang mereka pesiar ke negeri Liau kita ini.”
Rupanya sesudah Siau Hong pulang ke Lam-khia, setiap
hari día hanya bergaul dengan perwira dan prajurit bangsa
Cidan, dalam hal kesukaan dan kebiasaaan hidup boleh dikata
sangat berbeda, maka día menjadi kangen kepada Hi-tiok dan
Toan Ki, ia sangat berharap dapat mengundang kedua
saudara angkat itu pesiar ke negeri Liau, dan tinggal bersama
beberapa waktu lamanya.
Hung-ki sangat senang atas usul Siau Hong itu katanya,
"Jika orang yang akan diundang itu adalah saudara-
saudaramu, maka mereka pun terhitung saudara-angkatku.
Boleh kau kirim berita kilat untuk mengundang mereka pesiar
ke sini. Jika mereka mau menjabat sesuatu tugas, tentu akan
kuberi pangkat yang tidak kecil bagi mereka."
Siau Hong tersenyum, sahutnya, "Untuk mengundang
mereka pesiar ke sini mungkin tidak menjadi soal, tapi kedua
saudara angkat itu terang tidak mau menjadi pembesar."
Huñg-ki termenung sejenak, katanya kemudian,
"Saudaraku, dalam tutür-kata dan semangatmu tampaknya
ada sesuatu ganjalan hati yang kurang menyenangkan.
Padahal kekayaanku berlimpah-lampah, kekuasaanku merata
di seluruh negeri, urusan apakah yang tidak dapat
membantumu? Mengapa sesuatu perasaanmu yang tak
tercapai tidak kau ceritakan pada kakak-angkatmu iní?"
Siau Hong sangat terharu, sahutnya, ”Ya, untuk bicara
terus terang, sebenarnya ada sesuatu urusan yang menjadi
penyesalanku selama hidup. Tapi sesuatu yang sudah salah
tidak mungkin dapat ditarik kembali lagi.”
Lalu berceritalah dia tentang hubungannya dengan A Cu
dan akhirnya nona itu keliru dipukul mati olehnya, semuanya
itu ia ceritakan secara ringkas.
”Pantas!” seru Hung-ki sambil tepuk paha. ”Makanya
selama sudah 40 tahun dan tetap belum mau kawin, kiranya
mempunyai pengalaman pahit yang senantiasa tak dapat kau
lupakan. Tapi, Saudaraku, sebabnya kamu sampai berbuat
salah, kalau dicari pangkal persoalannya dan biangkeladi dari
kejadian itu, semua ini adalah gara-gara perbutan orang-orang
Han yang jahat itu. Lebih-lebih kawanan pengemis Kai-pang
itu harus dikatakan sebagai manusia-manusia yang tidak kenal
budi dan lupa kepada kebaikanmu. Namun untuk semua itu
pun tak perlu kausesalkan lagi. Pada waktunya bila aku sudah
mengerahkan pasukan dan menyerbu ke selatan, Hm, masti
akan kubunuh ludes semua orang Bu-lian daerah Tionggoan
termasuk kawanan kera dari Kaipang itu untuk melampiaskan
rasa dendam terbunuhnya ibumu di Gan-bun-koan serta
dendammu waktu dikeroyok di Cip-hiang-ceng dahulu. Jika
kamu sudah terpikat oleh wanita Tionggoan yang cantik-cantik
itu, maka boleh kau pilih seribu atau dua ribu orang untuk
melayanimu, apasih susahnya bagiku untuk mengerjakan
urusan demikian?"
Wajah Siau Hong menampilkan senyuman getir, katanya
dalam hati, "Sekali aku telah salah membunuh A Cu, maka
selama hidupku ini sudah pasti takkan menikah. Sekali A Cu
tetap A Cu, biarpun sampai dunia kiamat juga hatiku hanya
terisi oleh A Cu, biarpun seribu atau dua ribu wanita cantik lain
juga tak dapat menggantikan tempat A Cu dalam lubuk hatiku.
Hongsiang sendiri sudah biasa dirubung oleh beratus dan
beribu dayang dan selir, sudah tentu tidak pernah kenal apa
artinya 'cinta sejati'."
Maka katanya kemudian, "Banyak terima kasih atas
maksud baik Hongsiang. Sesungguhnya permusuhan hamba
dengan orang-orang persílatan Tioaggoan sudah kuhapus.
Sudah terlalu banyak orang pesilatan Tionggoan yang tewas di
tanganku, kalau mesti balas-membalas terus menerus takkan
ada habis-habisnya Apalagi kalau sampai terjadi bencana
perang, tentu akan membawa malapetaka lebih luas lagi.”
“Hahahahaha” Hüng-ki berlagak tertawa. “Orang Song
sebenarnya sangat lemah dan hanya pandai omong besar
saja, digempur sekali di medan perang maka mereka kocar-
kacir. Apalagi saudaraku gagah perkasa tiada tandingannya,
kalau kau pimpin pasukan dan menyerbu ke selatan tentu
dengan mudah seluruh wilayah selatan akan tergenggam
ditanganmu, mengapa kau bilang mengakibatkan mala petaka
peperangan segala? Saudaraku, kedatanganku ini secara
mendadak apakah kau tahu urusan macam apa?”
“Hamba justru ingin mohon diberitahu.” Sahut Siau Hong.
“Urusan pertama sudah tentu karena aku sudah kangen
padamu dan ingin bertemu,” ujar Hung-ki dengan tertawa. “
Baru-baru ini Hiante telah mengadakan perjalanan ke barat,
keadaan wilayah Se He dan kekuatan pasukannya tentu
Hiante sudah cukup mempelajarinya dengan baik. Kalau
menurut pandangan Hiante, apakah sekiranya Se He dapat
kita taklukkan?”
Siau Hong terkejut, pikirnya, “Wah sungguh berat sekali
ambisi Hongsiang ini, sudah ingin menjajah Kerajaan Song ke
selatan, ingin menaklukan Se He pula.”
Maka jawabnya. ”Ya, perjalanan hamba ke barat ini hanya
ingin melihat keramaian sayembara kerajaan Se He yang
sedang mencari menantu bagi putrinya itu, sama sekali tidak
kupikirkan tentang keadaan wilayah negeri itu dan
kemungkinan menyerbu ke sana. Untuk ini hendaknya Baginda
maklum bahwa hamba biasa berkelana di kanggoan dan
banyak mengalami pertempuran berbahaya dari dekat, tapi
bicara lentang memimpin pasukan dan melakukan peperangan
secara besar-besaran sesungguhnya hamba tidak paham
sedikit pun."
"Ah, saudaraku tidak perlu rendah hati,” ujar Hung-ki
dengan tertawa. "Kedatanganku ini urusan kedua adalah
hendak menaikan pangkat saudaraku dan memberi gelar. Nah,
hiante siap untuk menerima pengangkatan.”
”Tapi . . . tapi hamba sudah utang budi terlalu banyak dan
tidak berani mengharapkan . . . ”
Belum Siau Hong selesaí omong Hüng-ki sudah lantas
berseru dengan suara lantang, "Lam ih Tai ong Siau Hong
mendengarkan titah!"
Tarpaksa S¡au Hong melompat turun dari kudanya dan
menyembah di atas tanah.
Tedengar Hung-ki berkata, "Lam-ih Tai-ong Siau Hong
telah banyak berjasa bagi negára, telah mencurahkan segenap
jiwa-raganya bagiku, maka sekarang diberi gelar Raja Muda
sebagai Song-ong dengan jabatan Penglam-tai-goan-swe
untuk memimpin angkatan perang kita. Sekian."
Siau Hong menjadi ragu dan bingung, katanya kemudian,
"Hamba sesungguhnya tidak berjasa apa-apa dan tidak berani
menerima pengangkatan sebesar itu.”
"Kenapa? Apa kau tolak dan tidak mau menerima titah
ini?” tanya Hung-ki.
Mendengat nada sang raja rada bengis dan tahu
pengangkatan itu susah dielakkan lagi, terpaksa Siau hong
memberi sembah dan menyatakan terima kasih.
Hung-ki terbahak-bahak, katanya, "Nah, beginilah baru
benar-benar saudaraku yang baik.”
Ia angkat bangun Siau Hong, lalu katanya pula,
”Saudaraku, kedatanganku ke sini tidak Cuma terbatas sampai
di Lamkhia saja, aku sendiri akan terus menuju ke Pianling
(ibu kota kerajaan Song, Khaifing sekarang).”
Kembali Siau hong terkejut. " O, jadi . . jadi Baginda
hendak pergi ke Pianling, lalu bagai . . . bagaimana . . . ”
Tanyanya dengan tak tegas.
“Begini,"kata Hüng-ki dengan tertawa, "Selaku Pang-lam
tai-goan-swe (panglima besar pengaman selatan) boleh kau
pimpin angkatan perang kita berangkat ke selatan dahulu, kita
langsung menyerbu ke Pianling, Kelak istana Song-ong
saudaraku boleh menggunakan istana yang dipakai si bocah
Tio Hi di Pianling itu.”
"Apakah maksud Bagindä ¡alah kita akan segera
memerangi kerajaan song?” Siau Hong menegas.
"Bukan aku hendak memerangi kerajaan Song mereka,
tapi orang selatan itulah yang ingin mengukur kekuatan
dengan aku,” tutur Hung-ki, “Pada waktu perempuan tua
bangka ibüsuri kerajaan selatan itu memerintah, boleh
dikatakan pemerintahan mereka cukup teratur dan terbina
dengan baik, meski sudah lama ada maksudku menyerbu ke
selatan, tapi selama ini aku tidak berani yakin akan menang.
Namun sekarang perempuan tua itu sudah mampus, si bocah
ingusan Tio Hi itu ternyata berani main gila padaku diam-diam
ia berani mengirim pasukannya, mereka telah mengerahkan
kekuatan dan perbekalan secara besar-besaran, ternyata
sekali bocah she Tio itu mempunyai maksud tertentu dan
kalau tidak ditujukan kepadaku memangnya kepada siapa
lagi?”
"Menurut pendapat hamba, biarpun mereka akan
bertingkah apa pun boleh masa bodoh, “ ujar Siau Hong.
“Sudah sekian tahun lamanya diantara kedua negeri kita tidak
pernah terjadi sesuatu insiden, suasana kedua negeri sama-
sama aman tentram. Jika Tio Hi berani main gila dan
menyerang kita, sudah tentu kita akan gempur mereka hingga
kocar-kacír. Tetapí bila día sudah gentar kepada wíbawa dan
keküatan baginda dan tidak berani sembarangan bergerak,
maka sebaiknya kita jangan urus kelakuan seorang bocah
seperti Tio Hi itü."
“Rupanya saudaraku tidak paham." ujar Hung-ki.
“Ketahuílah bahwa wilayah kerajaan selatan itu sangat luas
dengan penduduk yang besar sekali dan kekayaan alam yang
berlimpah-limpah, kalau secara kebetulan mereka
mendapatkan seorang pemimpin yang gagah dan pintar serta
memusuhi negeri Liau kita, maka sesungguhnya kita sukar
melawan mereka, Sukurlah sekarang si bocah Tio kí terlalu
banyak bertingkah dan sembarangan berbuat banyak di antara
pembesar-pembesarnya yang cerdik dan pandai telah dia
pecat sampai-sampai So Tong-po juga dia pecat. Saat íni
pemerintahan mereka sedang mengalami guncangan hebat,
antara pemimpin dan bawahan terjadi perselisihan
paham,intinya suatu kesempatan baik bagiku. Kalau sekarang
aku tidak cepat bergerak mau tunggu kapan lagi?”
Siau Hong memandang jauh ke selatan sana di depan
matanya lantas terbayang adegan beratus-ratus ribu prajurit
Liau yang gagah dan tangkas sedang menerjang ke selatan, di
mana dilanda api perperangan seketika rumah penduduk
terbakar menjadi lautan api, tak terhitung jumlah manusia
tua-muda, wanita dan kanak-kanak yang bergelimpangan di
bawah telapakan kuda, ada yang binasa, ada yang sekarat
dan masih merintih-rintih, diudara anak panah berterbangan,
pasukan kedua pihak saling membunuh dan bergulingan di
tanah, darah membanjir bagai air sungai, tulang belulang
berserakan di mana-mana . . . . “
Dalam pada itu Yalu hung-ki sedang berkata pula dengan
suara keras, “Turun-temurun leluhur bangsa Cidan kita selalu
ingin mencakup kerajaan selatan ke dalam peta kekuasaan
kita, usaha leluhur kita beberapa kali selalu mengalami
kegagalan. Tapi sekarang rupanya sudah ditakdirkan cita-cita
leluhur itu akan terlaksana dan terukir dalam lembaran
sejarah, betapa bahagianya dan hebat pergerakan kita itu?”
Namun Siau Hong lantas berlutut dan menyembah,
katanya “Mohon Baginda suka mendengarkan sedikit
permohonanku?”
Hung0ki terkesiap, sahutnya’ ”Apa yang kau inginkan? Asal
tenagaku dapat mencapainya pasti akan kululuskan setiap
permintaanmu.”
Siau Hong berkata, "Hamba mohon sudilah Baginda
memikirkan jiwa beratus ribu rakyat kedua negari yang tak
berdosa dan sukalah menarik kembali maksud Baginda akan
menyerbu ke selatan. Penghidupan bangsa Cidan kita
selamanya mengembala dan beternak, sekali pun nanti dapat
memerintah negeri selatan juga tiada gunanya. Apa lagi dalam
peperangan yang dahsyat nanti juga sukar dikatakan akan
menang atau tidak, bila terjadi sesuatu kekalahan bagi kita,
bukankah hal ini malah akan merusak nama kebesaran
Baginda sekarang?”
Mendengar apa yang dikatakan Siau Hong sedari tadi
nadanya tetap menolak untuk menyerbu ke selatan, sudah
tentu dalam hati Hung-ki merasa kurang senang. Padahal
selamanya orang Cidan, terutama pembesar-pembesar dan
bangsawannya, apabila raja mendengar perintah “Menyerbu
ke selatan”, maka tiada seorang pun tak merasa senang dan
ingin segera melaksanakan perintah itu, mengapa Siau Hong
malah menolak dan mencegah maksudnya?”
Waktu Hung-ki melirik saudara angkat itu, ia lihat kedua
alis Siau Hong bekernyit rapat-rapat, akan ada sesuatu yang
menyedihkannya. Diam-diam Hung-ki berpikir pula, “Aku telah
memberi gelar Song-ong padanya dan mengangkat dia
sebagai Peng-lam-tai-goan-swe, gelar dan jabatan itu di
seluruh negeri ini hanya berada dibawahku seorang saja dan
diatas siapapun, lantas soal apa yang membuatnya tidak
gembira? Ya, tentu karena sejarah hidupnya ini, meski dia
bangsa Cidan, tapi sejak kecil dia dipiara dan dibesarkan orang
Han, dia boleh dikata setengah bangsa Han dan dengan
sendirinya tanah kerajaan Song merupakan tanah airnya yang
kedua, makanya Demi mendengar maksudku hendak
menyerbu ke selatan dia lantas sedih dan berusaha mencegah
dan merintangi maksudku. Jika demikian naga-naganya
biarpun kupakai dia memimpin pasukan dan bergerak ke
selatan juga dia takkan bertugas dengan sepenuh tenaga dan
pikiran.”
Karena pikiran itu, akhirnya Hung-ki berkata, “Saudaraku,
maksudku untuk menyerbu kerajaan selatan itu sudah tekadku
yang bulat, maka tak perlu kau bicara lebih banyak.”
“Namun,” berkata pula Siau Hong, “perang adalah
persoalan besar bagi suatu negara, untuk ini mohon Baginda
suka memikirkannya masak-masak. Apabila maksud Baginda
sudah bulat dan tak bisa diubah lagi, maka mohon Baginda
suka mengangkat petugas lain yang lebih cakap dan
bijaksana. Hamba sendiri rasanya tidak mampu memnuhi
kewajiban dan mungkin akan membikin runyam usaha
baginda ini.”
Kedatangan Hung-ki ke kota Lamkhia ini sebenarnya
dengan penuh semangat dengan harapan Siau Hong akan
setuju dan membantunya menyerbu ke selatan, siapa tahu
dugaannya meleset sejak semula Siau Hong sudah menolak
gelar dan jabatan panglima besar yang diberikan, bahkan
berusaha mencegah maksud tujuannya, karuan Hung-ki
menjadi tidak senang. Katanya kemudian dengan kaku. ”Jika
demikian, jadi dalam pandanganmu agaknya kerajaan selatan
itu jauh lebih penting bagimu daripada negeri Liau kita ini?
Apakah kamu lebih setia kepada kerajaan selatan itu daripada
berbakti bagi kerajaan Liau kita yang jaya ini?”
Seketika Siau Hong menyembah pula di atas tanah.
Sahutnya, "Harap Baginda maklum, sekali Siau Hong adalah
bangsa Cidan, selamanya tetap bangsa Cidan dan dengan
sendirinya harus setia pula kepada kerajaan Liau kita. Jika
negeri Liau kita menghadapi sesuatu bahaya, biarpun masuk
lautan api atau terjun ke dalam air mendidih juga sekali-kali
Siau Hong tak berani menolak.”
”Baik,” kata Hung-ki. ”Tentu kau tahu bahwa si bocah Tio
Hi itu sekarang lagi mengincar wilayah negara kita. Kata
pribahasa, ’yang turun tangan lebih dahulu akan lebih kuat,
yang turun tangan belakangan tentu celaka’. Nah kalau kita
tidak mendahului menggempur mereka, bisa jadi negara kita
yang akan dimusnahkan oleh mereka. Karuan cara tentang
masuk lautan api dan terjun ke dalam air mendidih segala,
sedangkan tugas berbakti kepada negara yang kuperintahkan
padamu saja ditolak olehmu.”
"Tapi selama hidup hamba sudah terlalu banyak
membunuh orang, sesungguhnya hamba tidak ingin kedua
tanganku ini berlumuran darah lebih banyak lagi, maka mohon
Baginda suka meluluskan permintaan hamba untuk
mengundurkan diri dengan hidup mengasingkan diri ke
pegunungan saja,“ demikian kata Siau Hong.
Hung-ki tambah murka demi mendengar Siau Hong minta
berhenti dari jabatannya, seketika timbul maksud
membunuhnya, segera tangannya meraba goloknya dan
hendak mencabut senjata itu serta membacok leher Siau
Hong. Untung lantas terpikir olehnya, “ilmu silat orang ini
sangat lihai kalau sekali bacok tidak kena, tentu aku yang
akan terbunuh malah olehnya. Apalagi dahulu dia telah
berjasa menyelamatkan jiwaku, bahkan mengangkat raja pula
dengan aku. Kalau Cuma sedikit kesalahan paham ini lantas
kubunuh orang kepercayaanku sendiri yang berjasa, ini
rasanya tidak pantas.”
Maka Hung0ki menghela napas panjang, katanya sambil
tangannya masih memegang gagang golok, “Rupanya di
antara kita ada perselisihan pendapat dan sukar untuk
disesuaikan untuk sementara waktu ini. Baiklah boleh kau
pulang dulu untuk memikirkan lebih msak, semoga kamu akan
mengubah pikiran dan menerima titahku untuk mengerahkan
pasukkan ke selatan.”
Biarpun mendekam di atas tanah, tapi betapa tinggi ilmu
silat Siau Hong, boleh dikata setiap gerak-gerik orang di
sekitarnya tentu diketahui olehnya, apalagi tangan Hung-ki
yang meraba gagang golok dan timbul maksud membunuhnya
itu, sudah tentu dapat diketahuinya dengan baik.Ia pun
sungkan bila bicara lagi dengan sang raja, pada akhirnya
kedua orang tentu akan cekcok secara terbuka, hal ini pun
tidak diinginkannya. Maka demi mendengar perintah Hung-ki
menyuruhnya pulang dulu, segera ia menyatakan baik dan
berbangkit.
Hung-ki pun tidak bicara pula, ia mendahului melarikan
kudanya dan pergi dengan cepat. Segera Siau Hong
mencamplak ke atas kuda dan menyusul sang raja. Kalau
datangnya tadi mereka melarikan kuda dengan sejajar, adalah
pulangnya sekarang yang satu berada di muka dan yang lain
ketinggalan di belakang dalam jarak puluhan meter jauhnya.
Siau Hong sadar ucapannya tadi telah menimbulkan rasa
sirik dan curiga Yalu Hung-ki, kalau dia menyusul dan
menjajarkan tentu akan makin membikin perasaan sang raja
tidak enak. Maka ia lantas melambatkan kudanya dan jauh
tertinggal di belakang.
Setiba dalam kota, Siau Hong menyusul ke depan Hung-ki
dan mengundang sang raja agar tinggal saja di istana Lam-ih
Tai-ong.
Tapi Hung-ki berkata dengan tertawa, “Aku tidak ingin
membikin repot dirimu. Hendaknya kamu dapat tinggal lebih
senang dan berpikirlah secara mendalam untung-rugi dan
baik-buruknya dari apa yang kita bicarakan tadi. Aku sendiri
akan tinggal di kemahku saja.”
Siau Hong juga tidak memaksa. Ia mengantarkan sang
Baginda ke perkemahannya.
Dari kotaraja Hung-ki membawa banyak benda mustika,
kuda bagus dan wanita cantik, ia memberikan hadiah secara
komplit kepada Siau Hong. Sesudah mengucapkan terima
kasih, lalu Siau Hong pulang ke istananya.
Selama Siau hong sendiri tidak mengurusi pemerintahan,
segala dokumen dan kitab lebih-lebih tak pernah diurusnya,
sebab itulah di istananya tiada tersedia kamar kerja apa
segala. Sehari-hari ia duduk di lantai bersama para perwiranya
untuk makan-minum sepuasnya dan bebas sebagaimana
dahulu ketika dia masih menjadi Pangcu kawanan pengemis di
Tionggoan.
Sekarang setelah Siau Hong pulang dari mengantar Yalu
Hung-ki, sementara itu hari sudah petang. Waktu melangkah
masuk ke ruangan pendopo tertampak di bawah lilin besar
yang bergoyang-goyang, di atas kursi kebesarannya yang
berlapiskan kulit harimau itu duduk seorang nona berbaju
ungu. Itulah dia A Ci adanya.
Siau Hong menggelengkan kepala, katanya, “Aku
mempunyai urusan lain. Kedatanganmu kembali ini sudah
tentu sangat menyenangkan aku, A Ci, didunia ini yang selalu
ku pikirkan hanya engkau seorang aku kuatir kamu mengalami
sesuatu yang buruk. Sekarang kamu berada disisiku pula,
matamu sudah sembuh lagi, maka aku tidak perlu kuatir apa-
apa pula.
“Cihu, bukan saja mataku yang sudah sembuh, bahkan
Hongsiang memberi gelar putri padaku.” Ujar A Ci dengan
tertawa.
"Kamu diberi gelar kebesaran itu, apakah kamu sangat
senang?” tanya Siau Hong sembari mengangkat sebuah
kantong kulit besar yang terletak di ruangan situ, ia buka
sumbat kantong arak itu dan minum beberapa kali.
“Dan selamat juga padamu. Cihu, engkau juga telah naik
pangkat," kata A Ci dengan tertawa.
Siau Hong menghela napas, sahutnya, "Ai, Hongsiang
memberi gelar Song-Ong padaku dan mengangkat aku
menjadi Peng-lam-tai-goan-swe, ia memerintahkan aku
memimpin pasukan menyerang kerajaan Song di selatan.
Coba pikirkan sekali sudah terjadi perang, betapa banyak
rakyat jelata tak berdosa yang akan menjadi korban. Karena
itu aku tidak mau terima tugas itu dan Hongsiang menjadi
marah.”
"Cihu, kaupun aneh," ujar A Ci. "Menurut cerita yang
kudengar, katanya di Cip-hian-ceng pernah kau bunuh jago-
jago persilatan Tionggoan yang tak terhitung jumlahnya,
untuk itu tak pernah kulihat engkau menyesal. Kalaui orang-
orang selatan itu sedemikian kejam dan jahat padamu, hari ini
kebetulan engkau diberi kesempatan oleh Hongsiang untuk
membalas dendam, mengapa cihu berbalik merasa kurang
senang?”
Siau Hong menggangkat kantung arak dan minum pula
seteguk, lalu menghela napas panjang, kemudian berkata,
”Dahulu aku dan encimu di kepung musuh, kalau aku tidak
bertempur sekuat tenaga tentu akan hancur lebur dicencang
mereka jadi soalnya karena terpaksa. Diantara orang-orang
yang kubunuh dahulu itu tidak sedikit adalah sobat sendiri,
kalau teringat sungguh aku sangat pedih.”
“Ah, tahulah aku,” setu A Ci. “Jadi dahulu A Cu minta
engkau membunuh. Jika demikian, sekarang aku minta demi
diriku maukah kau bunuh orang-orang selatan itu?”
Siau Hong melototi nona itu sekejap, sahutnya, "Jiwa
manusia dalam ucapanmu sama saja seperti menyembelih
ayam dan kambing. Ketahuilah ayahmu meski orang Tailí, tapi
ibumu sendiri adalah orang Song di selatan sana."
Mulut A Ci menjengkit dan mendadak pula ke arah lain,
katanya, "Ya, sudah lama kutahu dalam hatimu biarpun seribu
orang A Ci juga tak dapat membandingi seorang A Cu. Selaksa
A Ci yang hidup juga tak dapat menggantikan seorang A Cu
yang sudah mati. Tampaknya aku lebih baik lekas mati saja,
dengan demikian barulah engkau akan sedikit memikirkan
diriku. Tahu begini, lebih . . . lebih baik aku tidak perlu jauh-
jauh datang ke sini untuk menyambangimu. Ya, bilakah
pernah . . . pernah kau tahu diriku dalam hatimu?"
Hati Siau Hong tergetar demi mendengar ucapan A Ci yang
setengah mengomel dengan nada penuh kekosongan hati itu.
Jangan-jangan nona cilik ini diam-diam jatuh cinta padaku? Ini
sekali-kali tidak boleh terjadi!
Maka cepat katanya, "A Ci, usiamu masih kecil, kamu
hanya nakal dan tidak paham urusan orang tua . . . ."
"Orang tua atau anak kecil apa segala, sudah lama juga
aku bukan anak kecil lagi!" sela A Ci. "Engkau telah berjanji
pada Cici akan menjaga diriku, tetapi . . . tetapi engkau hanya
memikirkan asal aku bisa makan, punya sandang dan habis
perkara, apa . . . apa kah pernah kau pikirkan sesuatu
urusanku? Selama ini engkau tidak pernah peduli bagaimana
dan apa yang terkandung dalam hatiku.”
Makin mendengarkan makin terkesiap hati Siau Hong
sampai-sampai ia tidak berani menjawab.
Maka sambil berdiri mungkur A Ci melanjutkan."Waktu
mataku buta, kutahu engkau pasti tidak suka padaku, maka
aku sendiri pun tidak berani dekat-dekat denganmu. Sekarang
mataku sudah sembuh, dan engkau tetap tidak gubris padaku.
Memangnya dalam . . . dalam hal apa aku kalah daripada A
Cu? Apakah wajahku lebih buruk dari dia? Aku kalah pintar
dari dia? Ya, ya, hanya karena dia sudah mati, maka setiap
saat engkau selalu terkenang padanya. Huk-hukkkk, aku . . .
sungguh akupun ingin pada suatu ketika dipukul mati agar
supaya kaupun akan selalu teringat padaku sebagaimana
halnya kau pikirkan A Cu . . . ?
Saking dukanya mendadak ia membalik tubuh lagi terus
menubruk ke dalam pelukan Siau Hong dan menangis
terguguk-guguk.
Seketika siau hong menjadi bingung dan tidak tahu apa
yang harus dikatakan.
Sesudah menangis sebentar, kemudian A Ci berkata pula,
“Masakah engkau sangka aku masih anak kecil saja? Padahal
pada waktu kusaksikan engkau memukul mati Cici pada
malam hujan badai itu, lalu engkau menangis sedemikian
sedihnya, sejak itulah aku lantas sangat menyukaimu. Sejak
itu dalam hatiku lantas timbul suara keputusan bahwa selama
hidupku ini akan selalu ikut padamu. Namun engkau justru
tidak boleh, maka diam-diam aku berjanji dalam hati,'Baiklah,
engkau melarang aku ikut padamu, biarlah aku membikinmu
cacat selama hidup, biar engkau tergantung pada diriku dan
selama hidup hidup terpikir akan ikut padaku'."
Sekonyong-konyong Siau hong teringat apa yang terjadi
dahulu, serunya, "Hah, jadi dahulu kau serang aku dengan
jarum berbisa karena maksud tujuanmu hendak membikin aku
cacat selama hidup?”
Mendadak A Ci mengguncang-guncangkan bahu Siau Hong
sambil menjerit, "Kau, Kau . .Kerbau dungu, jadi kau baru
tahu setelah aku sendiri mengatakan sekarang? Selama ini
engkau tidak pernah memikirkan apa kandungan berita?”
Pelahan Siau Hong membelai rambut A Cl, katanya dengan
suara pelahan, "A Ci, hendaknya maklum bahwa usiaku satu
kali lipat lebih tua daripadamu, aku hanya dapat menjagamu
seperti paman atau seperti kakakmu sendiri. Selama hidupku
ini hanya mencintai seorang wanita saja, yaitu Encimu. Di
dunia ini takkan ada wanita kedua yang dapat menggantikan
tempat A Cu dalam hatiku dan aku pun takkan pernah
mencintai pula wanita mana pun, Hongsiang telah
menghadiahkan banyak wanita cantik padaku, tapi selama ini
aku tidak pernah memperhatikan apalagi menjamah mereka.
Jika aku memperhatikan dirimu, semua itu kulakukan demi A
Cu dan bukan lantaran dirimu sendiri."
A Ci menjadi dongkol dan murka, mendadak A Ci gampar
pipi Siau Hong sekali.
Kalau Siau Hong mau berkelit sudah tentu dengan mudah
tamparan itu dapat dihindarkannya, Tapi ketika dilihatnya air
muka A Ci pucat pasi saking gusarnya, bahkan sekujur badan
gemetar, sorot matanya penuh memantulkan rasa pedih yang
tak terperikan sehingga membuat orang tidak tega
memandangnya, maka ia tidak tega menghindarkan serangan
anak dara itu.
Sebaliknya sesudah menanpar, seketika A Ci menyesal
malah, serunya, "Cihu, O.Cihu, aku . . . . akulah yang salah,
boleh . . . boleh kau balas memukul aku, pukullah aku!"
"Ai, bukankah sifatmu ini terlalu kekanak-kanakkan?" sahut
Siau Hong. "A Ci, di dunia ini tiada urusan maha besar apa-
apa, kamu tidak perlu berduka sedemikian rupa. Eh, sorot
matamu . . . mengapa sedemikian sedih dan pilu? Cìhu adalah
seorang lelaki kasar, bila kamu selalu mendampingi aku,
sungguh akan membikin susah padamu."
"Sinar mataku selalu memantulkan rasa duka derita
bukan?" A Ci menegas. "Ai, semua ini gara-gara siluman jelek
yang membikin susah padaku.”
”Siluman jelek apa maksudmu?" tanya Siau Hong.
"Ini.. kedua biji mataku ini adalah pemberian siluman jelek,
yaitu Thi-thau-Jin (orang berkepala besi) tempo hari itu," tutur
A Ci.
Seketika Siau Hong masih belum paham, ia tanya pula,
“Siluman jelek, Thi-thau-jin apa?”
Tin the, orang yang mengaku sebagai Kai-pang Pangcu,
katanya bernama Ong-sing-thian katanya Ciangbunjin Kek-lok-
pai segala. Tak tahunya, hihihihi, kikira siapa dia? Sungguh
bisa bikin mules perut orang jika kukatakan jahatnya, dia
adalah Yu Goan-ci, itu orang yang kukerudungi dengan topeng
besi dahulu. Entah dari mana dia berhasil mempelajari
semacam kungfu sakti dan aneh, dengan kepandaiannya itu
dia selalu ikut di sisiku dan berusaha membikin senang hatiku.
Sungguh kurang ajar, akulah yang telah tertipu, selama ini aku
panggil dia sebagai Ong kongcu dengan segala hormat, kalau
teringat sekarang sungguh aku menjadi malu sendiri.”
"Oooohh, kíranya Kai-pang Pangcu itu adalah si badut
kepala besi yang pernah kau permalukan dia?” siau Hong
menegas dengan terheran-heran. “Pantas, maka mukanya
penuh bekas luka, mungkin disebabkan dia membuka topeng
secara paksa sehingga kulit mukanya menjadi rusak. Tapi
orang itu tidak dendam atas kejadian yang telah lalu dan mau
melayanimu dengan baik, sungguh susah dicari
bandingannya.”
"Hm, susah dicari apa? Masakah dia punya maksud baik
padaku?” jengek A Ci. “Dia justru sengaja mendustai aku agar
aku mau diperistri olehnya.”
Siau Hong manjadi teringat pada adegan ketika di rumah
ayah angkatnya di Siau-Sit-san dahulu di sana ia lihat sinar
mata Yu-Goang-Ci yang sedemikian memperhatikan A Ci itu
lamat-lamat mengandung rasa cinta yang mendalam, Cuma
waktu itu dirinya tidak memperhatikan lebih lanjut. Maka
katanya, “Dan sesudah kau tahu duduknya perkara, saking
gusarnya lantas kau bunuh dia lalu mencukil biji matanya?”
A Ci menggeleng kepala, sahutnya, “Tidak aku tidak
membunuh dia, Kedua biji mata ini pun dia berikan padaku
secara sukarela.”
Keruan Siau Hong terperanjat, seketika ia tidak paham
mengapa bisa terjadi demikian, dan tanyanya,” Sebab apa dia
bersedia mencukil biji matanya sendiri untuk diberikan
padamu?”
“Habis, salahnya sendiri yang ketolol-tololan,” katanya A ci.
“Ketika aku dan dia datang ke Leng-ciu-kiong dan bertemu
dengan saudara-angkatmu Hi-Tiok-cu untuk minta dia
menyembuhkan mataku Hi-tiok-cu mencari kitab-kitab
pusakanya dan mempelajari sampai setengah harian, akhirnya
dia mengatakan bahwa untuk menyembuhkan mataku hanya
ada suatu jalan, yaitu mesti menggunakan biji mata orang
yang hidup untuk menggantikan biji mataku. Coba pikir, ke
mana harus kucari biji mata orang hidup. Sudah tentu aku tak
dapat minta tukar mata dengan salah seorang dayang Leng-
ciu-kiong, selagi aku mohon pertolongan kepada Hi-tiok-cu.
Aku lantas minta Yu Goan-ci turun gunung untuk menculik
seorang desa. Siapa duga mendadak dia menangis sedih,
katanya bila nanti mataku sudah sembuh dan dapt melihat
wajahnya yang asli tentu tak suka dan tak mau gubris lagi
padanya. Aku berjanji takkan berbuat demikian, tapi dia tetap
tidak percaya. Siapa tahu mendadak ia memegang sebilah
belati terus menemui Hi-tiok-cu dan minta beliau
menggantikan biji mataku. Thi-thau-jin itu bersedia menukar
biji matanya untukku. Semula Hi-tiok-cu tidak mau, tapi Thi-
thau-jin lantas mengiris mukanya satu kali dengan belati dan
menyatakan tekadnya bila Hi-tiok-cu tetap tak mau, maka
dengan segera dia akan bunuh diri. Karena tiada jalan lain,
terpaksa Hi-tiok-cu meluluskan permintaannya dan mencukil
matanya untuk menggantikan mataku.”
Dengan tenang dan sewajarnya saja A Ci menuturkan
kejadian itu seperti sesuatu yang jamak, tapi bagi pandangan
Siau Hong ucapan itu dirasakan sebagai sesuatu yang jauh
lebih mendebarkan dan mengerikan daripada kejadian atau
pertarungan sengit yang pernah dialaminya selama hidup ini.
Dengan tangan gemetar Siau Hong melemparkan kantong
arak yang dipegangnya tadi dan berkata, “A Ci apakah benar
Thi-thau-jin itu secara suka rela memberikan biji matanya
kepadamu?”
“Ya, benar,” sahut A Ci.
“Kau . . . sungguh seorang yang berhati batu dan tak
punya perasaan, masakah orang memberikan biji matanya
padamu telah kau terima dengan begitu saja?”
Mendengar nada Siau Hong itu kereng dan bengis, kembali
mata A ci mengambang dan hendak menangis lagi. Mendadak
katanya, “Cihu, jika matamu buta, aku pun rela memberikan
biji mataku padamu.”
Siau Hong jadi terharu oleh ucapan yang tulus dan
berperasaan mendalam itu, katanya dengan suara lembut, “A
Ci, pemuda she Yu itu sedemikian mencintaimu, bahagia yang
seharusnya kau nikmati itu ternyata tidak kau sadari. Padahal
selain dia ke mana lagi akan kau cari seorang kekasih yang
benar-benar mencintaimu di dunia ini? Dia sekarang berada di
manakah?”
"Besar kemungkinan masih berada di leng-ciu-kiong,“
sahut A Ci. “Dia sudah tidak punya mata lagi, cara bagaimana
dia dapat meninggalkan pegunungan yang curam dan
berbahaya itu?”
“Ah, boleh jadi jika dapat memperoleh biji mata seorang
pesakitan yang harus dihukum mati untuk menyembuhkan
dia.” Ujar Siau hong.
“Tidak mungkin,” kata A Ci. “Hwesio cilik itu . . . eh, keliru,
Hi-tiok-cu itu bilang bahwa waktu matanya dicukil, maka urat-
uratnya sudah putus semua dan tidak dapat diganti lagi
seperti aku.”
“Jika begitu, lekas kau kembali ke sana untuk....
0oooo halaman 55-56 tidak ada oooo0
Tidak berbudi, bíla menyerbu dan membunuh rakyat tak
berdosa berarti tidak bijaksana, dan dengan melanggar pesan
ayah berarti tidak berbakti. O, tuhan, cara bagaimana
hambamu ini harus berbuat di antara kesetiaan, kebaktian,
kebijaksanaan dan peri budi? Ai, apa mau dikata lagi, biarlah
jabatan Lam-ih Tai ong kutinggalkan saja dan kabur tampa
pamit. Akan tetapi ke mana aku akan pergi? O, dunia seluas
ini ternyata tiada tempat berteduh bagiku.”
Ia mengangkat kantung arak yang terbuang tadi dan
menenggak pula beberapa kali. Pikirnya, ”Biar kutunggu
pulangnya A ci, aku akan mengajak dia ke bian-biau-hong
supaya dia dapat berkumpul dengan pemuda she Yu itu,
berbareng aku dapat tinggal untuk sementara waktu di tempat
itu, kemudian akan kupikirkan lagi apa yang harus ku lakukan
selanjutnya.”
oOOo + oOOo
Bercerita tentang A ci yang dipanggil menghadap itu.
Begitu bertemu dengan Yalu hung-ki, langsung nona itu
berseru, ”Hongsiang, gelar Pang-lam Kongcu ini biarlah
kuserahkan kembali padamu, aku tidak mau memilikinya lagi!”
Seperti apa yang telah diduga Siau hong memang maksud
Hung-ki memanggil A Ci tak lain tak bukan ialah ingin minta
nona membujuk Siau Hong supaya menerima tugas yang telah
diberikannya itu. Tapi tiba-tiba A Ci lantas menyatakan hendak
mengembalikannya gelar putrinya, keruan Hung-ki berkerut
kening, katanya dengan kurang senang, "Sesuatu gelar yang
diberikan kerajaan adalah urusan besar dan bukan mainan
kekanak-kanak, mana boleh semuanya kau terima, dan kau
kembalikan dengan begini saja!"
Mengingat hubungannya dengan Siau Hong biasanya
Hung-ki juga ramah-tamah terhadap A Ci, tapi sekarang
ucapannya agak keras sehingga menangíslah A Ci.
Pada saat itulah t!ba-tiba terdengar suara orang wanita
sedang bicara, "Ai, mengapa Hongsiang marah-marah
sehingga membikin ketakutan seorang nona cilik!”
Habis itu tertampaklah dari dalam keluar seorang wanita
cantik dan anggun.
A Ci kenal dia adalah Bok-kuihui, selir kesayangan Yalu
Hung-ki. Segera ia berkata, "Kebetulan dengan kedatangan
Kuihui (gelar selir raja), silakan memberi peradilan, aku hanya
menyatakan tidak mau menjad! Pang-lam Kongcu dan
Hongsiang lantas marah-marah padaku."
Melihat kecantikan yang khas tatkala menangis itu Bok-
kuihui melirik sekejap pada Hungki-ki dan berkata dengan
tertawa, "Hongsiang, jika dia tidak mau menjadi Pang-lam
Kongcu, maka bolehlah engkau menganugrahi dia sebagai
Pang-lam Kui-hui."
Maksudnya kalau A Ci tidak mau diberi gelar putri, boleh
ambil saja sebagai selir.
Tapi Hung-ki lantas tepuk paha dan berseru, “Ngaco!
Ngaco! Aku memberi gelar kepada bocah ini adalah demi
kepentingan Siau-hiante, yang seorang Pang-lam Kongcu dan
yang lain pang-lam Tai-goan-swe, dengan demikian mereka
akan dapat menikah dengan segala keagungan. Siapa tahu
Siau-hiante, tidak mau menjadi Pang-lam-Tai-goan-swe dan
dara cilik ini pun tidak mau menjadi Pang-lam Kongcu. Ya, ya,
tentu lantaran kamu ini orang selatan, maka tldak ingin kita
pergi pang-lam (Mengamankan selatan), ya?"
Nyata di balik ucapannya ini sudah terkandung nada
mengancam. Tapi A Ci menjawab, "Aku justru tidak urus
apakah kalian akan mengamankan selatan atau akan
mengamankan timur dan barat segala, semuanya aku tak
peduli. Yang terang cihu . . . Cihu ingin aku mengawini
seorang siluman jelek yang kedua matanya buta."
Hung-ki dan Bok-kuihui jadi terheran-heran, tanya mereka
bersama, "Sebab apa?"
Sudah tentu A Ci tidak berani menceritakan seluk-beluknya
tentang Yu Goan-ci, ia terus menjawab, "Sebab Cihu tidak
suka padaku, maka aku dipaksa menikah dengan orang lain."
Pada waktu itulah di luar kemah ada suara orang
memanggil pelahan, "Hongsiang!"
Hung-Ki coba melongok keluar, ia lihat seorang
kepercayaan sendiri yang sengaja ditugaskan untuk menjadi
pengawal Siau Hong, dengan berbisik orang itu berkata,
"Lapor Hongsiang, Siau Hong telah menempelkan pita segala
di pintu istana dan membungkus setempel emas dengan kain
dan digantung di atas belandar, melihat gelagatnya agaknya
dia . . . dia akan minggat tanpa pamit."
Mendengar laporan itu. Hung-kí menjadi gusar. Teriaknya,
"Kurangajar! Benar-benar kurang-ajar!"
Dan sesudah berpikir sejenak, lalu memberi perintah,
"Panggil lekas komandan pasukan pengawal!"
Hanya sebentar saja komandan pasukan pengawal
kerajaan sudah menghadap. Segera Hung-ki memberi
perintah, "Lekas pimpin pasukanmu dan kepung istana Lam-ih
Tai-ong!"
Lalu ia pun memberi perintah agar pintu gerbang benteng
kota ditutup semua, siapa pun dilarang masuk-keluar.
Rupanya dia kuatir Siau Hong memberontak dengan
bawahannya, maka berulang-ulang ia memberi perintah pula,
ia panggil menghadap para perwira tinggi bawahan Lam-ih
Tai-ong seorang demi seorang.
Di dalam kemah Bok-kuihui dapat mendengar suara ramai-
ramai di luar itu, menyusul pula suara derap kaki kuda dan
barisan prajurit riuh rendah tak berhentl-henti, terjadi suatu
peristiwa hebat.
Adat istiadat bangsa Cidan memang lebih bebas, begitu
pula pergaulan antara pria dan wanita. Maka Bok-kuihui lantas
keluar dan coba tanya kepada Hung-ki, "Telah terjadi
peristiwa apakah, sampai Baginda sedemikian gusarnya?”
"'Kurangajar!" seru Hung-ki dengan marah. "Siau Hong ini
benar-benar manusia yang tidak kenal kebaikan, dia
bermaksud menghianat dan meninggalkan aku, Jiwa orang ini
condong kepada kerajaan Song, tentu dia akan
menyampaikan berita tentang gerak-gerikku kepada orang
selatan sana. Dia banyak mengetahui rahasia militer kerajaan
Liau kita, kalau dia sampai lolos ke selatan tentu akan
merupakan ancaman dan sangat berbahaya bagiku.”
"Biasanya Baginda suka memuji ilmu silat Siau Hong
sangat lihai, kalau Sri Baginda tidak berhasil menangkap dia
sehingga dia dapat lolos, tentu akan membawa bencana di
kemudian hari bagi bangsa kita," ujar Bok-kuihui.
"Ya. memang!''sahut Hung-ki. Lalu ia berteriak, "Lekas
perintahkan kepadaku Hui-liong-eng (batalyon naga terbang),
Hui-hou-eng (batalyon harimau terbang) dan Hui-pa-eng
(batalyon macan tutul) agar secepat kilat dikerahkan ke istana
Lam-ih Tai-ong dan memberi bantuan kepada pasukan
bayangkari."
Segera perintah sang raja diteruskan oleh ajudannya.
"Untuk membekuk orang she Siau itu, hamba mempunyai
suatu akal, Baginda,” kata Bok-kuihui, lalu ia berbisik-bisik di
tepi telinga sang raja.
Hung-ki tampak manggut-manggut dan berkata, "Ya. boleh
juga. Kalau aksi ini berhasil tentu akan ada hadiah besar."
"Ah, asal Baginda senang saja sudah merupakan hadiah
besar bagi hamba. Baginda sedemikian baik padaku, apalagi
yang kuserakahi?" sahut Bok-kuihui dengan tersenyum.
Dalam pada itu A Ci masih duduk sendirian, didalam
kemah. Biarpun di luar terjadi geger-geger sedikit pun dia
tidak ambil pusing. Baginya adalah kejadian biasa orang-orang
Cidan bergembar-gembor riuh rendah, bilamana hendak pergi
berburu juga sering orang-orang itu ribut-ribut sedemikian
rupa. Sudah tentu sama sekali tak terpikir oleh A Ci bahwa
sekali ini adalah lain daripada yang lain, bahwa Hung-ki
sedang mengarahkan pasukannya untuk menangkap Siau
Hong.
Dengan duduk termenung-menung, pikiran anak dara itu
sedang kusut, pikirnya, "Hari ini baru dapat kubeberkan isi
hatiku kepada Cihu, tetapi . . . tetapi dia tidak pernah
memikirkan diriku sedikit pun, sebaliknya aku disuruh pergi
menemani siluman jelek itu. Biarpun mati juga aku tidak sudi,
tidak mau!”
Tiba-tiba sebuah tangan pelahan meraba pundaknya. A Ci
terkejut dan mendongak, ia lihat Bok-kuihui dengan sorot
mata yang lemah-lembut sedang bertanya dengan tersenyum,
"Adik cilik, apa yang sedang kau kenangkan? Sedang
merindukan Cihumu, bukan?"
Meski adat A Cl gèsit dan nakal, tapi sekali isi hatinya kena
terkorek, mau-tak-mau mukanya menjadi merah juga, ia
menunduk dan tidak menjawab.
Bok-Kuihui lantas duduk, ia pegang dan mengelus sebelah
tangan A Ci, katanya pula dengan suara halus. "Adik cilik,
orang lelaki kebanyakan memang bersifat kasar dan suka
marah, lebih-lebíh orang seperti Hongsiang kita dan Lam-ih
Tai-ong, mereka adalah ksatria gagah perwira pada jaman ini,
untük menarik hati mereka sudah tentu tidak gampang."
A Ci mengangguk, ia merasa apa yang diucapkan Bok-
kuihui itu memang betul.
Jilid ke-86
“Tentu kau tahu,” demikian Bok-kuihui menyambung.
“Wanita dalam istana kerajaan kita entah berapa ribu
jumlahnya, yang jauh lebih cantik dari padaku entah berapa
banyak, sebabnya Hongsiang hanya menyukai aku saja, hal ini
sebagian adalah karena ada jodoh, disamping itu berkat jasa
si padri tua di Seng-tik-si kotaraja itu. adik cilik, kaupun tidak
perlu sedih kalau Cihumu sekarang tidak memikirkan dirimu.
Kelak bila aku sudah ikut Hongsiang pulang ke kotaraja
bolehlah kau ikut ke Seng-tik-si untuk memohon pertolongan
kepada padri tua yang sakti itu, dia tentu punya akal yang
bagus.
“Akal bagus apa yang dipunyai padri tua itu?” Tanya A Ci
heran dan tertarik.
“Hal ini akan kukatakan padamu, tapi jangan sekali-kali
kau katakan kepada orang ketiga. Untuk ini kamu harus
bersumpah bahwa kamu takkan membocorkan rahasia.”
“Baik, Kalau kukatakan rahasia yang kudengar dari Bok-
kuihui ini kepada orang lain, biarlah aku binasa dicincang
orang dan mati tak terkubur.”
“O, adik yang baik, ketahuilah bahwa padri tua itu maha
sakti, dahulu sesudah aku menyembah dan memohon
padanya, lalu dia memberikan sebotol kecil air suci, aku
disuruh berdoa dengan sujud dan diam-diam air suci itu
diminumkan kepada lelaki yang kusukai. Habis itu maka lelaki
itu selamanya akan mencintai aku seorang saja, sampai mati
pun hatinya takkan berubah.”
Habis berkata ia lantas mengeluarkan satu botol porselen
kecil warna jambon dan dipegang dengan hati-hati seakan-
akan kuatir jatuh atau hilang.
A Ci menjadi heran dan bergirang pula, cepat ia memohon,
“O, enci yang baik, bolehkah kulihat macam apakah air itu?”
“Melihat sih boleh saja, tapi hati-hati jangan sampai
tumpah, lho.” sahut Bok-kuihui sambil menyodorkan botol
porselen itu dengan hati-hati.
A Ci menerima botol kecil itu, ia coba membuka tutupnya
dan mengendus sekali, terasa bau harum sedap.
Segera Bok-kuihui mengambil kembali botol porselen itu
dan menutup sumbatnya serta berkata, “Sebenarnya dapat
kubagi sedikit air ini untukmu. Tetapi kukuatir kalau mendadak
Hongsiang berubah pikiran dan masih kuperlukan air suci ini.”
“Tadi engkau bilang Hongsiang sudah minum satu kali dan
takkan berubah pikiran padamu?” A Ci menegas.
“Walaupun demikian, aku tetap kuatir, aku tidak tahu
khasiat air suci ini apakah benar-benar dapat bertahan sekian
lama. Aku pun kuatir air gaib ini jatuh ke tangan selir yang lain
dan mereka pun diam-diam memberi minum kepada
Hongsiang, andaikan Hongsiang takkan balik pikiran padaku
juga sedikitnya akan berbagi pikirannya . . . . “
Baru bicara sampai di sini, tiba-tiba terdengar Yalu Hung-ki
sedang memanggil di luar. Cepat Bok-kuihui mengiakan dan
berlari keluar, “Bluk,” tahu-tahu botol porselen kecil tadi jatuh
dari bajunya tanpa diketahui olehnya.
A Ci terkejut dan bergirang pula, begitu Bok-kuihui
melangkah keluar kemah, cepat ia jemput botol kecil itu dan
dikantungi. Pikirannya, “Aku harus lekas bawa air ini untuk
diminumkan pada Cihu, habis itu akan kuisi dengan air biasa,
lalu ku kembalikan kepada Bok-kuihui.”
Begitulah, segera A Ci merangkah keluar melalui belakang
kemah dan berlari pulang ke istana Lam-ih Tai-ong. Tapi
tertampak olehnya di luar istana sudah penuh pasukan seperti
terjadi sesuatu urusan genting. Waktu melihat A Ci menjuju ke
istana para prajurit dan perwiranya juga tidak merintanginya.
Sesudah masuk pendopo, segera A Ci melihat Siau Hong
sedang berjalan mondar-mandir dengan berpunggung tangan
di dekat titian seperti orang yang tidak sabar lagi.
Begitu melihat A Ci, seketika Siau Hong sangat girang,
katanya, “Hah, baik sekali kamu sudah pulang. A Ci sungguh
aku sangat kuatir kamu akan ditahan oleh Hongsiang. Marilah
sekarang juga kita lantas berangkat, kalau terlambat mungkin
tidak keburu lagi.”
‘Akan kemana kita? Mengapa terburu-buru? Sebab apa
Hongsiang akan menahan aku,” Tanya A Ci dengan heran.
“Coba dengarkan.” Kata Siau Hong.
Waktu mereka diam, maka terdengarlah derap ramai suara
kuda lari kian kemari disertai gemerincingnya suara senjata
dan pakaian perang prajurit di segenap penjuru.
“Ada apakah itu? Engkau akan memimpin pasukan pergi
perang?” Tanya A Ci.
“Prajurit-prajurit itu tidak di bawah pimpinanku lagi.“ Sahut
Siau Hong dengan tersenyum getir. “Hongsiang sudah
mencurigai aku, rupanya dia hendak menangkap aku.”
“Bagus, sudah lama kita tidak berkelahi, marilah sekarang
juga kita terjang keluar!” ajak A Ci dengan senang.
Namun Siau Hong menggeleng kepala, katanya, “Tidak
sedikit kebaikan yang telah kuterima dari Hongsiang, bahkan
beliau telah mengangkat aku menjadi Lam-ih Tai-ong,
sebabnya sekarang aku dicurigai adalah lantaran aku berkeras
tidak mau mengadakan ekspedisi ke selatan. Kalau aku
melukai bawahannya, ini akan merusak hubungan baik
persaudaraanku dengan beliau selama ini sehingga akan
ditertawai para ksatria bahwa aku adalah manusia yang lupa
pada budi orang A Ci biarlah kita berangkat begini saja, kita
pergi secara diam-diam tanpa pamit, asal mereka tidak dapat
menangkap aku, maka cukuplah.”
“Ya, marilah kita berangkat,” sahut A Ci. “Dan ke mana,
Cihu?”
“Ke Leng-ciu-kiong di Biau-biau-hong,” sahut Siau Hong.
Seketika air muka A Ci cemberut, katanya, “Ti . . . tidak,
aku tidak mau bertemu dengan siluman jelek itu.”
“Urusan sudah kepepet, pergi ke Biau-biau-hong atau tidak
biarlah kita rundingkan lagi sesudah lolos dari bahaya, “ ujar
Siau Hong.
Diam-diam A Ci berpikir, “Akan kau antar aku ke Biau-biau-
hong, terang sama sekali engkau tidak menaruh hati padaku.
Bila selekasnya kuberi minum air suci enci ini badamu, asal
engkau jatuh hati padaku, engkau tentu akan menurut segala
apa yang kukatakan. Kalau terlambat, mungkin air suci ini
akan dirampas kembali oleh Bok-kuihui.”
Setelah ambil keputusan, segera ia berkata, “Baiklah,
tunggu sebentar, akan kubawa beberapa potong baju untuk
persediaan ditengah perjalanan.”
Cepat ia masuk ke ruang belakang, ia ambil sebuah
mangkuk dan menuang air suci botol porselen itu ke dalam
mangkuk, lalu dicampur dengan setengah mangkuk arak,
diam-diam ia berdoa, “Semoga malaikat dewata memberi
berkah agar Siau Hong minum air suci ini, selanjutnya akan
mencintai A Ci sepenuh hati dan akan menikah dengan aku
serta takkan terkenang lagi kepada enci A Cu.”
Habis berdoa, lalu ia kembali ke ruangan pendopo,
katanya, “Cihu, silahkan minum semangkuk arak ini untuk
memperkuat semangatmu, sekali kita sudah pergi, terang kita
takkan kembali lagi.”
Tanpa ragu Siau Hong menyambut suguhan itu, dibawah
sinar lilin dilihatnya kedua tangan A Ci agak gemetar, sorot
matanya menunjukkan sinar yang aneh, air mukanya tampak
bersemangat dan ramah pula. Hati Siau Hong agak
terguncang, “Dahulu A Cu sangat menyukai aku, takkala itu air
mukanya juga serupa ini, ai, tampaknya A Ci benar-benar
jatuh hati padaku.”
Segera ia angkat mangkuk arak itu, hanya beberapa kali
teguk saja sudah dihabiskan isi mangkuk itu. Lalukatanya.
“Apakah pakaianmu sudah kau bawa?”
A ci sangat girang melihat air suci bercampur arak itu telah
di minum habis oleh Siau hong, sahutnya cepat, “Tidak perlu
membawa baju lagi, marilah kita berangkat!”
Siau Hong sendiri sudah siapkan sebuah buntalan
(Rangsel) berisi beberapa potong baju dan sedikit uang receh
sekedar sangu. Sesudah menggendong rangselnya, segera
Siau Hong berkata pelahan, “Mereka pasti kuatir aku akan lari
ke selatan, maka kita justru lari ke utara saja.”
Ia gendong tangan A Ci dan pelahan membuka pintu
samping, coba mengintip keluar. Di lihatnya ada dua pengawal
sedang ronda kemari.
Dengan sembunyi di belakang pintu, Siau Hong sengaja
bedehem untuk memancing kedua penjaga.
Benar juga kedua penjaga itu lantas mendekati pintu
hendak memeriksa. Tapi secepat kilat Siau Hong menutuk
jatuh mereka dan diseret ke tempat yang tak kelihatan.
Bisiknya kepada A Ci, “Lekas ganti pakaian kedua orang ini.”
“Bagus!” sahut A Ci dengan gembira.
Cepat mereka mempelajari pakaian kedua penjaga itu
untuk dipakai mereka sendiri, lalu dengan tangan membawa
tombak rampasan mereka jalan berjajar ke depan seperti
penjaga biasa.
Baru belasan tindak jauhnya mereka lantas kepergok
seorang Sip-hu-tiang (komandan sepuluh orang, setingkat
sersan sekarang) dengan sepuluh orang prajurit pasukan
pengawal raja yang sedang meronda. Cepat Siau Hong dan A
Ci menyisih ke tepi jalan dan memberi hormat.
Sip-hu-tiang itu hanya manggut-manggut saja dan lantas
lewat. Dibawah sinar obor yang cukup terang itu sekilas
terlihat olehnya pakaian perang yang dikenakan A Ci itu
kedodoran sehingga menyeret tanah, waktu dia perhatikan
pula, kelihatan golok yang tergantung dipinggang A Ci juga
setengah terseret di tanah Sip-hi-tiang itu menjadi gusar,
terus saja ia tonjok pundak A Ci sambil membentak, “Macam
apa seragammu ini?”
A Ci menyangka rahasianya ketahuan, tanpa bicara lagi ia
menangkis sambil menarik, menyusul kakinya menendang
perut Sip-hu-tiang itu. Kontan sersan itu menjerit kesakitan
dan jatuh terguling.
“Lekas lari,” ajak Siau Hong, Ia pegang tangan A Ci terus
kabur.
Namun kesepuluh prajurit tadi sempat berteriak-teriak,
“Ada mata-mata musuh! Ada mata-mata !”
Sebegitu jauh mereka belum tahu kedua orang itu adalah
samaran Siau Hong dan A Ci.
Tidak jauh mereka berlari, tiba-tiba mereka dipapak oleh
belasan prajurit penunggang kuda. Segera Siau Hong
mendahului menggertak dan putar tombaknya, sekali sapu,
kontan prajurit-prajurit itu mencelat dari kuda mereka. Cepat
Siau Hong angkat A Ci ke atas seekor kuda, ia sendiri pun
mencamplak kuda yang lain, lalu mereka berputar arah dan
menerjang ke pintu kota utara.
Ternyata dugaan Siau Hong tidak meleset, orang-orang
Cidan menyangka Siau Hong pasti akan lari ke selatan, maka
penjagaan bagian utara agak kendur. Apalagi penjaga-penjaga
itu sama kenal Siau Hong, dengan sendirinya mereka pun jeri,
hanya terpaksa oleh perintah raja mereka coba mencegat, tapi
sekali digertak dan diterjang Siau Hong, sebagian besar lantas
menyingkir dan memberi jalan, kemudian mereka hanya
berteriak-teriak dan mengejar dari belakang.
Waktu komandan pasukan pengawal raja memburu tiba
dengan pasukan berjumlah besar, namun Siau Hong dan A Ci
sudah kabur cukup jauh.
Ketika sampai di pintu gerbang utara, Siau Hong melihat
pintu sudah tertutup rapat, di depan pintu penuh berbaris
ratusan prajurit dengan tombak terhunus. Nyata jalan larinya
teralang.
Kalau mau, sudah tentu Siau Hong dapat mengocar-
kacirkan ratusan prajurit itu dengan gampang, tapi yang dia
tuju hanya meloloskan diri dan tidak ingin melukai bangsanya
sendiri. Maka ia rangkul A Ci ke atas kudanya sendiri,
menyusul pada suatu ketika yang baik ia terus meloncat ke
atas tembok benteng kota, dengan bantuan tombaknya, sekali
tancap di tembok, segera tubuhnya terlempar lagi lebih tinggi
dan akhirnya mencapai tempat yang dituju.
Waktu ia melongok ke luar benteng, keadaanya ternyata
gelap gulita. Rupanya orang Cidan memang tidak menduga
Siau Hong akan kabur ke jurusan utara, maka di sini tiada
diberi penjagaan apa-apa.
Segera Siau Hong bersuit panjang, lalu, katanya dengan
suara lantang berkumandang, ”Hendaknya para prajuri
menyampaikan kepada Hongsiang bahwa Siau Hong telah
berdosa dan kabur tanpa pamit, biarlah di kemudian hari Siau
Hong akan membalas budi kebaikan Hongsiang.”
Lalu ia rangkul pinggang A Ci dan siap melompat keluar
benteng kota. Asal dia sudah turun ke sana, itu berarti seperti
burung terbang di angkasa bebas tanpa rintangan apa pun.
Di Luar dugaan, baru saja ia hendak melompat sekonyong-
konyong perutnya terasa sakit, menyusul kedua lengannya
juga terasa kaku, mau-tak-mau tangan yang merangkul
pinggang A Ci itu menjadi kendur. Bahkan kedua kaki lantas
terasa lemas dan jatuh terduduk, perutnya terasa disayat-
sayat sakitnya tidak kepalang sehingga mengeluarkan suara
rintihan.
Keruan A Ci terperanjat, ”He Cihu, kenapa?”
Seluruh badan Siau Hong serasa kejang semua, gigi
sampai gemertakan, sahutnya dengan terputus-putus, ”Aku . .
. aku terkena ra . . . racun jahat. Tunggu . . . . tunggu
sebentar, biar kuke . . . kerahkan tenaga untuk mengeluarkan
racunnya . . . ”
Segera ia mengerahkan tenaga murninya keperut dengan
tujuan hendak mendesak keluar racun yang mengeram di
dalam perut itu. Tapi celaka, mendingan kalau dia tidak
menggunakan tenaga, sedikit dia mengerahkan tenaga,
seketika seantaro badan terasa sakit semua dan tenaga sukar
dikerahkan lagi.
Namun Siau Hong tidak menjadi bingung takkala
berbahaya, ia dengar suara riuh rendah derapan kuda berlari-
lari kearahnya, beribu prajurit sedang lari dari selatan ke
sebelah utara. Ia coba mengatur napas. Ia merasa anggota
badan sudah mati rasa.
”A Ci, lekas melarikan diri saja, aku . . . aku tak dapat
mengiringmu lagi,” katanya dengan perasaan berat.
A Ci adalah anak cerdik, sedikit berpikir saja segera paham
duduknya perkara, jelas dirinya telah tertipu oleh Bok-kuihui.
Air suci itu bukanlah air suci melainkan racun belaka.
Tentu saja A Ci menjadi kuatir dan menyesal pula, ia
rangkul leher Siau Hong dan menangis dengan sedih, katanya
sambil terguguk, ”O, cihu, aku . . . akulah yang membikin
susah pada mu. Racun . . . racun ini akulah yang memberi
minum padamu.”
Siau Hong terkesiap ia tidak paham mengapa bisa terjadi
demikian, tanyanya, ”Sebab apa kau ingin membinasakan
aku?”
”Tidak, tidak!” sahut A Ci sambil menangis, ”Aku tiada niat
membunuhmu. Aku tertipu oleh Bok-kuihui. Dia memberi
sebotol kecil air kepadaku, katanya kalau diminumkan
padamu, untuk selanjutnya engkau tentu akan suka padaku
dan akan . . . akan mengawiniku. O, aku benar-benar terlalu
bodoh sehingga kena tertipu. O, Cihu, biarlah aku mati
bersamamu saja, kita takkan berpisah lagi untuk selamanya.”
Habis berkata, segera ia lolos golok dan hendak
menggorok leher sendiri.
”Nan . . . nanti dulu!” seru Siau Hong, ia merasa seluruh
badannya panas bagai dibakar dan serasa disayat-sayat pula
sehingga susah menggunakan pikiran. Selang sejenak baru dia
paham penuturan A Ci, ktanya, ”Tapi aku . . . aku takkan mati,
tidak perlu kau bunuh diri.”
Dalam pada itu terdengar kedua daun pintu gerbang
benteng kota yang berat dan besar itu sedang dibuka dan
mengeluarkan suara keriut-keriut.
Begitu pintu gerbang terpentang, berbondong-bondong
keluarlah beberapa ratus prajurit berkuda sambil bersorak dan
mengatur barisan, menyusul barisan berkuda masih terus
membanjir dari kota selatan dan keluar benteng.
Waktu Siau Hong memandang jauh ke utara, keadaan
yang tadinya gelap gulita dan tiada seorangpun itu sekarang
telah berubah menjadi terang benderang oleh beribu orang
yang menerjang ke utara sehingga beberapa li jauhnya. Waktu
memandang kembali ke selatan, ternyata hampir setengah
kota penuh api obor.
”Nyata Hongsiang telah mengerahkan seluruh pasukannya
untuk menangkap aku seorang.” demikian pikir Siau Hong.
Sementara itu di mana-mana, di luar dan di dalam benteng
kota terdengar teriakan riuh-rendah. ”Tangkap penghianat
Siau Hong! Tangkap penghianat! Wahai Siau Hong, lekas
menyerahkan diri!”
Perut Siau Hong kembali terasa sakit keras, katanya
dengan suara perlahan, ”A Ci, lekas berusaha menyelamatkan
diri saja!”
”Tidak,” sahut A Ci tegas. ”Aku . . . akulah yang
meracunimu, mana boleh kucari hidup sendiri? Aku . . . aku
akan mati bersamamu.”
Siau Hong tersenyum getir, katanya, ”Ini bukan racun yang
dapat membinasakan orang, tapi hanya membuat aku terluka
parah dan lumpuh saja supaya tidak bisa bergerak.”
”Apa betul?” tanya A Ci dengan girang. Dan segera ia
membalik tubuh, sekuatnya ia tarik Siau Hong untuk
digendongnya.
Tapi karena perawakannya kecil, sebaliknya badan Siau
Hong tinggi besar, dengan sendirinya kedua kaki Siau Hong
terseret di atas tanah.
Pada saat itulah belasan Bu-su (jago) Cidan sudah
merambat ke atas tembok benteng. Sebelah tangan mereka
bergolok dan tangan lain membawa obor. Tapi mereka jeri
kepada Siau Hong sehingga tidak berani mendekat.
”Tiada gunanya melawan, biarkan kita di tangkap mereka
saja!” ujar Siau Hong.
”Tidak, tidak!” sahut A Ci dengan menangis. ”Siapa saja
yang berani menggangu seujung rambutmu, segera kubunuh
fia.”
”A Ci, adikku yang baik, jangan kau bunuh orang untuk
membela aku. Jika aku mau membunuh orang tentu kuterima
titah raja dan menyerang ke selatan, maka peristiwa sekarang
pun tidak perlu terjadi lagi.”
Lalu Siau Hong membentak jago-jago Cidan tadi. ’Kenapa
takut-takut begitu. Ayo menemui Hongsiang bersamaku!”
Untuk sejenak kawanan Bu-su itu tercengang, tapi mereka
lantas memberi hormat dan menjawab, ”Baik! Kami hanya
bertindak menurut perintah sehingga berlaku kasar terhadap
Tai-ong, harap Tai-ong jangan marah!”
Maklumlah, meski tidak lama Siau Hong menjabat Lam-ih
Tai-ong tapi namanya dan wibawanya sangat di segani oleh
setiap perwira dan bintara Cidan. Ketika berada di tengah
orang banyak mereka pun ikut berteriak, ”Tangkap penghianat
Siau Hong”, tapi sesudah berhadapan dengan sendirinya
timbul rasa jeri dan hormat mereka sehingga tidak berani
bersikap kasar lagi.
Begitulah, sekuatnya Siau Hong berusaha berdiri dengan
berpegangan di pundak A Ci, isi perutnya sakit bukan
kepalang bagai dipuntir-puntir. Para Bu-su tadi juga lantas
memasukkan kembali golok mereka ke sarungnya, lalu
mengawal di belakang Siau Hong yang setindak demi setindak
turun ke bawah tembok benteng melalui undak-undakan batu.
Ketika melihat Siau Hong, tanpa terasa para perwira dan
bintara Cidan lantas melompat turun dari kuda mereka.
Seketika suasana di luar dan di dalam kota menjadi sunyi
senyap meski jumlah prajurit itu berpuluh ribu jumlahnya.
Di bawah cahaya obor Siau Hong dapat melihat air muka
dan sikap para prajurit yuang menunjukkan rasa hormat da
segan padanya itu, tiba-tiba Siau Hong merasa lega dan puas.
Pikirnya, ”Jika aku jadi menggerakkan pasukan ke selatan,
berpuluh ribu prajurit yang hadir di sini tentu akan separuh tak
dapat pulang kembali ke kampung halaman. Jika aku dapat
menyelamatkan jiwa tak berdosa sebanyak ini, sekali pun aku
akan dihukum mati oleh Hongsiang juga aku tidak menyesal.
Kuatirnya kalau . . . kalau aku dihukum mati dan Hongsiang
akan menugaskan panglima lain untuk tetap menyerbu ke
selatan.”
Berpikir sampai disini, kembali dadanya kesakitan dan
tubuhnya sempoyongan. Cepat seoerang perwira memberikan
kuda tunggangannya dan membantu Siau Hong naik kuda itu.
A Ci juga mendapatkan seekor kuda dan mengikuti dari
belakang.
Begitulah secara beramai-ramai Siau Hong digiring kembali
ke istana. Walaupun berhasil menangkap Siau Hong dan hal
ini merupakan jasa besar bagi mereka, tapi para perwira dan
prajurit Cidan tiada seorang pun yang mengunjuk rasa
senang.
Sesudah menyusur jalan kota, membelok ke sana dan di
sini kemudian mereka sampai di Poh-be-kio (Jembatan kuda
putih). Siau Hong larikan kudanya melintasi jembatan itu
dengan disusul oleh A Ci. Tapi ketika kudanya sampai di atas
jembatan, sekonyong-konyong A Ci berdiri, ”Byuuur”, ia terjun
ke sungai dan menghilang.
Mula-mula Siau Hong kaget oleh kejadian itu, tapi segera
ia merasa girang. Sebab teringat olehnya pertemuannya yang
pertama dengan nona nakal itu takkala itu A Ci pura-pura mati
kelelap di dalam danau. Dalam hal berenang dan menyelam
dalam air nona itu sangat mahir, bahkan ayah-bundanya juga
kena dikelabuhinya. Sekarang kalau anak dara itu melarikan
diri melalui air, hal ini teramatlah bagus hanya saja Siau Hong
merasa gegetun pula, sebab untuk selanjutnya mungkin tidak
dapat berjumpa lagi dengan anak dara itu.
Tapi ia sengaja berseru, “O, A Ci, mengapa engaku bunuh
diri, Hongsiang tentu takkan menyalakanmu, buat apa engkau
terjun ke dalam sungai?”
Mendengar ucapan Siau Hong itu, pula melihat A Ci benar-
benar karam di dalam sungai dan tidak muncul pula, para
perwira Cidan mengira anak dara itu memang sengaja bunuh
diri. Apalagi Yalu Hung-ki hanya memberi perintah menangkap
Siau Hong dan tidak termasuk A Ci, maka sekarang apakah
anak dara itu akan bunuh diri atau akan lari tak perlu mereka
pikirkan, mereka tetap melanjutkan perjalanan ke depan.
Sampai di istana Lam-ih Tai-ong, Hung-ki ternyata tidak
mau menemui Siau Hong, ia memberi perintah agar komandan
pasukan pengawal menahan tawanannya itu.
Mengingat Siau Hong memiliki tenaga sakti dengan ilmu
silat maha tinggi, kamar penjara biasa akan sukar mengurung
dia. Maka komandan bayangkari itu mendapat akal, ia suruh
bawahannya memborgol kaki dan tangan Siau Hong dengan
rantai besi, lalu dimasukkan ke sebuah kandang beruji besi.
Kandang beruji besi ini adalah kandang singa yang dahulu
pernah dibuat permainan oleh A Ci itu.
Diluar kandang besi itu berjaga beratus prajurit, semuanya
bertombak dan berbaris secara berlapis-lapis mengepung di
sekitar kurungan. Asal Siau Hong sedikit sembarangan
bergerak, serentak tombak para prajurit itu akan menusuk ke
dalam kandang sehingga Siau Hong tak sempat memutuskan
borgolnya dan membobol kandang dalam saat sesingkat itu.
Malahan di luar istana penuh pula pasukan pengawal
pribadi Hung-ki yang mengadakan penjagaan secara keras
sekali. Sebaliknya perwira-perwira yang semula bertugas
dalam kota Lam-khia itu sekarang dipindahkan ke luar kota,
rupanya Hung-ki kuatirkan perwira-perwira itu tetap setia
kepada Siau Hong fan mungkin akan berusaha menolong
bekas atasan mereka.
Di dalam kurungan itu Siau Hong sendiri tidak sempat
memikirkan urusan lain karena dia sedang mengertak gigi
menahan derita siksaan badan yang kesakitan. Sesudah 12
jam kemudian, sampai malam hari kedua, rasa sakit itu baru
berkurang. Bekerjanya racun mulai hilang. Tenaga Siau Hong
pelahan juga mulai pulih.
Tapi dalam keadaan terkurung apa yang bisa
diperbuatnya? Terpaksa Siau hong lapangkan hati, ia tidak
mau berpikir susah-susah, selama hidupnya banyak kejadian
berbahaya pernah dialaminya, ia tidak tahu apakah riwayatnya
akan tamat begini saja di dalam kandang besi itu?
Untunglah para prajurit yang menjaganya itu masih hormat
dan segan padanya, walaupun penjagaan sangat kuat dan
tidak pernah lengah, tapi pelayanan makan-minum tidak
pernah berkurang seperti biasa. Siau Hong juga tidak ambil
pusing, ia makan-minum sepuas-puasnya sehingga guci arak
dalam beberapa hari saja sudah bertumpuk-tumpuk setinggi
manusia.
Hung-ki sendiri tetap tidak pernah datang menjenguk, tapi
dia mengirim beberapa orang belakang, omong untuk
membujuknya, katanya Hongsiang adalah orang yang baik
budi, mengingat persaudaraan masa lalu, maka tidak tega
menggunakan kekerasan untuk menyiksanya asal saja Siau
Hong mau mengaku salah dan minta ampun, semua urusan
akan segera beres.
Tapi Siau Hong adalah seorang lelaki sejati, masa dia mau
tunduk dan minta mapun? Terhadap para pembujuk itu
bahkan ia tidak sudi mengubrisnya, ia hanya minum arak
sendiri sepuas-puasnya.
Dengan begitu telah berlangsung hampir sebulan lamanya.
Para pembujuk itu juga tidak bosan-bosan, setiap hari mereka
datang dan putar lidh tak berhenti-henti, mereka mengulangi
lagi macam-macam bujukan dengan logika-logika yang sudah
basi. Walaupun mereka tahu bujukan mereka itu tidak
mempan mengubah pikiran Siau Hong, tapi mereka masih
terus cerewet tanpa kenal lelah.
Lama-lama Siau Hong sendiri curiga. Pikirnya, “Hongsiang
bukan orang bodoh, masakah dia sengaja mengirim
pembujuk-pembujuk demikian tanpa membawa hasil apa-apa?
Ah, di balik urusan ini tentu ada sesuatu yang tak beres!”
Begitulah ia coba merenungkan apa sebabnya. Mendadak
teringat olehnya, “Ya, tentu Hongsiang telah mengirim
panglima lain dan mengerahkan pasukannya menyerbu
keselatan secara besar-besaran, sebaliknya dia sengaja
mengelabui aku dengan mengirim orang-orang yang tak
berguna ini untuk membujuk segala. Padahal sudah terang
aku tidak dapat melawan mereka, setiap saat dia dapat
membunuh aku, kenapa mesti susah-susah membujuk tanpa
hasil?”
Sesudah Siau Hong berpikir lagi, akhirnya ia pun paham,
“Ya, karena Hongsiang selalu menganggap dirinya sebagai
seorang Enghiong (pahlawan, ksatria), maka dia ingin aku
menyerah padanya lahir batin. Sekarang dia memimpin
pasukan sendiri menyerbu ke selatan, kalau berhasil
menduduki wilayah Song, kemudian dia akan datang padaku
dan pamerkan hasilnya itu. Rupanya dia tahu wataku sangat
keras, dia kuatir dalam gusarku mungkin akan mogok makan
dan bunuh diri, maka dia sengaja mengirim manusia-manisia
tak berguna ini untuk mengobrol tak karuan padaku.”
Tapi dia terkurung dalam kandang besi dan susah
meloloskan diri, terpaksa ia kesampingkan segala urusan.
Biarpun dia tidak mau menerima perintah Yalu Hung-ki untuk
menyerang kerajaan Song, tapi sekarang Hung-ki sudah
melakukan tindakannya itu, urusan tak bisa ditarik kembali lagi
terang tidak sedikit akan jatuh korban yang tak berdosa maka
selain menghela napas panjangdan minum arak sepuas-
puasnya, ia tidak mau banyak berpikir lagi.
Ketika didengarnya keempat pembujuk itu masih
mengoceh tak habis-habis, sekonyong-konyong Siau Hong
bertanya, “Pasukan Cidan kita tentunya sudah menyebrangi
Hoang-ho (Sungai Kuning) secara besar-besaran bukan?”
Para pembujuk itu tercengang san saling pandang dengan
bingung mereka tidak tahu cara bagaimana harus menjawab.
Akhirnya salah seorang pembujuk itu berkata, “Ucapan Siau-
taikong juga ada benarnya, pasukan kita dalam waktu singkat
ini segera akan dikerahkan meski belum menyeberangi Hoang-
ho, rasanya kejadian itu akan berlangsung dalam waktu
singkat saja.”
“O, kiranya pasukan kita belum lagi dikerahkan dan entah
bilakah akan tiba hari yang baik itu?” tanya Siau Hong.
Keempat pembujuk itu saling mengedipkan mata, mereka
anggap rahasia yang maha penting itu tidak boleh
diberitahukan kepada Siau Hong. Maka yang seorang hanya
menjawab, “Ah, kami hanya pejabat rendahan saja, dari mana
bisa mengetahui rahasia militer yang penting itu?”
Dan yang lain berkata, “Asal pikiran Siau-taikong sudah
berubah, tentu Hongsiang sendiri akan mengajak Tai-ong
untuk berunding tentang urusan militer dan kenegaraan yang
maha penting itu.”
Siau Hong hanya mendengus saja dan tidak bertanya pula.
Pikirnya, “Jika serangan Hongsiang berhasil dengan lancar dan
dapat menduduki wilayah Song, tentu beliau akan mengiring
aku ke Pangliang untuk menemui dia. Tapi kalau usahanya
gagal dan pulang dengan tangan hampa, dia tentu malu untuk
menemui aku, dan langkah pertama yang akan dia ambil
adalah membunuh diriku. Ai, sebenarnya kuharapkan dia
berhasil menjajah Song atau mengharapkan dia gagal dan
kalah saja? Wahai Siau Hong! Mungkin sulit juga bagimu
untuk menjawab pertanyaan ini?”
Besoknya waktu petang, kembali keempat pembujuk itu
datang. Para prajurit yang bertugas menjaga Siau Hong juga
sudah bosen mendengarkan ocehan pembujuk yang tiada
kata-kata baru selalu itu-itu saja. Maka ketika melihat
kedatangan pembujuk-pembujuk itu, dengan kening
berkernyit prajurit-prajurit itu lantas berdiri menjauh.
Pembujuk pertama berdehem dulu, lalu membuka suara,
“Siau-taiong, ada firman dari Hongsiang, harap engkau
menerimanya. Kalau engkau menolak titahnya ini, engkau
sendirilah yang berdosa dan harus menerima ganjarannya.”
Kata-kata seperti itu sebenarnya entah sudah beratus kali
didengar oleh Siau Hong dan muak baginya. Akan tetapi sekali
ini agak luar biasa, ia mendengar suara pembujuk ini rada
aneh, yaitu suara serak seperti orang sakit bengek. Maka
tanpa terasa Siau Hong memandang sekejap kepadanya. Dan
sekali memandang, seketika Siau Hong terheran-heran.
Ia lihat pembujuk itu sedang berkedip-kedip dan
memicingkan mata dengan macam-macam air muka yang
aneh. Ketika diperhatikan, Siau Hong merasa muka orang ini
tidak sama dengan pembujuk yang pernah dilihatnya. Waktu
diperhatikan lebih jauh, Siau Hong menjadi kaget dan
bergirang pula.
Ternyata kumis dan jenggot pembujuk yang jarang-jarang
ini semuanya tempelan belaka mukanya terpoles tinta bak
yang kehitam-hitaman sehingga sangat jelek tampaknya. Tapi
matanya jeli dan mulutnya kecil, air muka yang cantik itu
tertampak jelas dibalik kumis dan jenggot palsu yang jarang-
jarng itu, siapa lagi dia kalau bukan A Ci.
Terdengar anak dara itu lagi berkata sambil menahan
suara yang dibikin-bikin, “ini, apa yang dititahkan Hongsiang
ini selamanya tentu benar, asal kamu melakukan apa yang
dikehendaki Hongsiang tentu akan besar faedahnya bagimu.
Nah, ini adalah firman tertulis dari maha raja Liau kita,
hendaknya kau baca dan mempelajarinya dengan baik-baik.”
Habis berkata lantas dikeluarkan sehelai kertas dan
dibentang ke depan Siau Hong.
Sementara itu hari sudah mulai gelap, beberapa perajurit penjaga itu
lagi sibuk menyalakan pelita2 disekitar ruangan pendopo itu.
Berkat cahaja lampu itu Siau Hong dapat melihat tulisan2 diatas kertas
yang dibentangkan itu, ternyata tulisan dalam beberapa huruf kecil itu
berbunyi: Bala bantuan sudah tiba, malam ini juga lepas dari bahaja.
Siau Hong mendengus tanpa bicara, hanya kepalanya menggeleng pelahan.
Tapi A Ci lantas berkata dengan nada yang di-buat2: Pasukan kita yang
dikerahkan kali ini tidaklah sedikit jumlahnya. Perajurit2 kita tangkas
dan perbekalan cukup, sudah tentu kita akan menang dimana pasukan kita
tiba, maka janganlah engkau kuatir.
Tidak, justeru karena aku tidak ingin banyak menimbulkan korban,
makanya aku telah dikurung disini oleh Hongsiang, kata Siau Hong.
Untuk menangkan perang, yang diperlukan adalah perhitungan yang tepat
dan siasat yang lihay, mana boleh berpikir tentang korban yang akan
jatuh? ujar A Ci.
Siau Hong coba melirik ketiga orang pembujuk yang lain, kelihatan
diantaranya ada yang sedang goyang2 kipas yang mereka bawa, ada yang
kebas2 lengan baju secara sembunyi2 se-olah2 kuatir muka asli mereka
dikenali orang, terang mereka itu adalah bala bantuan yang dibawa sendiri
oleh A Ci.
Dengan menghela napas kemudian Siau Hong berkata: Ja, aku sangat
berterima kasih kepada maksud baikmu, tetapi hendaklah maklum bahwa
penjagaan musuh sangat rapat dan keras, untuk merebut wilajah kedudukan
mereka lebih2 tidaklah mudah..................
Belum selesai ucapannya, tiba2 terdengar beberapa perajurit penjaga
tadi sedang men-jerit2 kaget: He, ada ular! Ada ular berbisa! Darimana
datangnya ular2 berbisa sebanyak ini!
Waktu Siau Hong menoleh, benar juga dilihatnya diambang pintu, dari
celah2 jendela dan lantai ruangan situ sudah penuh dibanjiri ular2
berbisa. Binatang2 merajap itu menyusur kian kemari dengan kepala
mendongak dan lidah men-desis2, suasana menjadi kacau balau dan
perajurit2 itu berlari kian kemari untuk menghindari.
Hati Siau Hong tergerak: Melihat gelagatnya, agaknya kawanan ular ini
sengaja dilepaskan oleh saudaraku dari anggota Kay-pang!
Dalam pada itu para perajurit penjaga tadi sedang menggunakan
senjata mereka untuk membunuh dan mengusir kawanan ular. Malahan
komandan piket yang menjaga Siau Hong lantas memberi perintah: Para
perajurit yang menjaga Siau-tayong tidak boleh sembarangan menyingkir
pergi, yang membangkang akan dihukum mati!
Rupanya komandan piket itu cukup cerdik, ia melihat datangnya kawanan
ular itu agak aneh dan luar biasa, ia kuatir kalau perajurit2 penjaga
itu bingung menghadapi kawanan ular dan kesempatan itu akan digunakan
oleh Siau Hong untuk meloloskan diri.
Karena perintah itu, terpaksa para perajurit yang menjaga disekitar
kurungan tidak berani sembarangan bergerak, mereka tetap mengarahkan
ujung tumbak mereka kepada Siau Hong yang mengeram didalam kurungan itu.
Namun tidak urung mereka menjadi kebat-kebit juga, sambil mengancam
Siau Hong, pandangan merekapun ber-ulang2 diarahkan kepada kawanan ular,
bila ada ular yang mendekat lantas mereka bunuh.
Selagi suasana menjadi kacau, se-konyong2 terdengar pula suara riuh
ramai dibelakang istana: Api! Ada api! Kebakaran! Kebakaran! Tolong! Ada
kebakaran! Tolong!
Segera komandan piket tadi berseru: Kahur, lekas pergi memberi lapor
kepada komandan, tanyakan apakah Siau-tayong harus segera dipindahkan
atau tidak?
Yang bernama Kahur itu adalah seorang Pek-hu-tiang (kepala seratus
orang, pangkat setingkat kapten). Ia mengiakan dan membalik tubuh. Baru
saja dia hendak berlari pergi untuk menunaikan tugasnya, tiba2 seorang
telah membentaknya didepan pintu ruangan: Tetap ditempatmu masing2,
jangan terkena tipu pancingan musuh, awas, kalau ada orang menyerbu
kesini segera Siau Hong dibunuh dahulu!
Ternyata yang bicara adalah komandan pasukan pengawal yang hendak
dimintai petunjuk itu sudah datang sendiri. Dia bersenjata golok
panyang dan dengan gagah berdiri didepan pintu.
Se-konyong2 sesuatu bajangan emas berkelebat, seekor ular kecil
berwarna emas telah melayang keatas dan menyambar kemuka komandan pasukan
pengawal itu. Cepat perwira itu menyampuk dengan senjatanya, namun
lebih dulu sudah terdengar suara mendesingnya senjata rahasia, seketika
ruangan situ menjadi gelap gulita. Rupanya ada orang menyambitkan
senjata2 rahasia untuk memadamkan pelita.
Maka terdengarlah komandan pasukan pengawal itu menjerit ngeri sekali,
dia sudah dipagut oleh ular warna emas tadi dan roboh terguling.
Kiranya satu diantara keempat orang pembujuk palsu tadi adalah Ciong
Ling yang menyamar. Dia telah melepaskan Kim-leng-cu dan berhasil
membinasakan perwira musuh.
Tanpa ajal lagi A Ci lantas mengeluarkan golok mestika, cepat ia
memotong putus rantai besi yang menyambung diatas borgol Siau Hong.
Baru Siau Hong merasa ragu2 apakah dirinya dapat keluar dari kurungan
terali besi yang kuat itu, mendadak tanah ditengah kurung besi dimana dia
berpijak itu terasa blong, tubuhnya terasa anjlok kebawah.
Ia dengar A Ci sedang berkata diluar kurungan dengan suara setengah
tertahan: Lekas lari melalui jalan dibawah tanah!
Dan belum lagi kaki Siau Hong menyentuh tanah, tiba2 terasa kedua
kakinya telah dicengkeram oleh sepasang tangan terus ditarik lagi
kebawah. Ketika dapat berdiri tegak dibawah tanah, dilihatnya orang yang
menariknya itu adalah Hoa Hek-kin, itu jago tukang gangsir dari Tayli.
Ternyata Hoa Hek-kin telah giat bekerja selama belasan hari sehingga
berhasil menggangsir dan membuat sebuah lorong dibawah tanah yang
menembus tepat dibawah kurungan besi Siau Hong.
Segera Hek-kin menarik Siau Hong dan merangkak mundur untuk keluar dari
lubang gangsir itu. Betapa cepatnya cara Hoa Hek-kin merangkak ternyata
tidak kalah daripada orang berjalan ditanah datar. Hanya sekejap saja
puluhan meter lubang gangsir itu telah dilaluinya, lalu ia memayang Siau
Hong untuk berdiri dan menerobos keluar dari liang itu.
Ternyata dimulut liang itu sudah menunggu tiga orang. Mereka adalah
Toan Ki, Hoan Hwa dan Pah Thian-sik. Begitu melihat Siau Hong telah
ditolong keluar dengan selamat, terus saja Toan Ki menyapa sambil
menubruk maju untuk merangkul sang Toako.
Siau Hong tepuk2 punggung Toan Ki, lalu katanya dengan tertawa: Hari
ini barulah aku menyaksikan ilmu sakti Hoa-suto, sungguh aku kagum sekali
dan banyak terima kasih.
Sungguh Siaujin (hamba) teramat bangga atas pujian Siau-tayong ini,
sahut Hoa Hek-kin dengan rendah hati. Tempat di mana mereka berada itu
tidak terlalu jauh dari istana Lam-ih Tay-ong, maka terdengarlah dimana2
penuh suara teriakan perajurit Liau yang riuh rendah. Terdengar
pula orang meniup terompet dan lewat dibelakang rumah sana disertai suara
teriakan2: Awas! Musuh telah menyerang pintu gerbang timur, pasukan
pengawal raja harus tetap berada ditempat tugasnya dan tidak boleh
sembarangan bergerak!
Siau-tayong, marilah kita teryang keluar melalui pintu gerbang sebelah
barat, ajak Hoan Hwa yang merupakan ahli siasat dari kerajaan Tayli.
Belum lagi Siau Hong menjawab, tiba2 dari lubang gangsir dibawah tanah
itu terdengar suara seruan A Ci yang penuh rasa sjukur dan girang.
Cihu, tunggu dulu padaku! Menyusul anak dara itu lantas meloncat
keluar dari mulut liang seperti kelinci gesitnya. Yanggut anak dara itu
masih penuh jenggot palsu, mukanya penuh debu tanah dan kotor. Namun
bagi penglihatan Siau Hong, sejak dia kenal A Ci, hanya saat inilah
anak dara itu paling cantik tampaknya.
Segera A Ci melolos pula goloknya hendak memotong borgolnya Siau Hong,
tapi borgol itu menempel rapat ditangan Siau Hong, bilamana sedikit
kurang tepat tentu akan melukainya. Maka ia menjadi ragu2, akhirnya ia
serahkan senjatanya kepada Toan Ki dan meminta: Koko, harap engkau yang
memotongnya!
Toan Ki lantas angkat golok itu, dimana tenaga dalamnya disalurkan,
dengan mudah saja borgol besi itu dapat dipapasnya sebagai memotong kaju
mudahnya.
Dalam pada itu dari lubang gangsir itu telah menerobos keluar pula tiga
orang. Yang pertama adalah Ciong Ling, lalu Bok Wan-jing dan orang
ketiga adalah seorang anggota Kay-pang berkantong delapan.
Anggota Kay-pang itu adalah ahli memain ular, kawanan ular yang
membanjiri ruang tadi adalah hasil pekerjaannya yang sukses. Demi
melihat Siau Hong telah dapat diselamatkan tanpa halangan suatu apapun,
dengan air mata ber-linang2 anggota Kay-pang berkantong delapan itu
lantas menyapa: Pangcu, selama ini engkau .... sampai disini ia tak
sanggup meneruskan lagi saking terharunya.
Sudah lama sekali Siau Hong tidak pernah mendengar orang menyebutnya
sebagai Pangcu, mau-tak-mau ia menjadi terharu juga demi nampak sikap
anggota Kay-pang yang sedemikian setia padanya itu. Sahutnya dengan suara
parau: Sungguh aku sangat berterima kasih atas bantuanmu.
Sungguh bangga dan terharu pula anggota Kay-pang berkantong delapan itu
atas pujian Siau Hong, tak tertahankan lagi air matanya lantas
bercucuran sebagai hujan.
Kawan2 kita sudah mulai bergerak dipintu gerbang timur, marilah kita
lantas kabur saja mumpung suasana sedang kacau! demikian ajak Hoan
Hwa. Dan paling baik Siau Tayong janganlah perlihatkan dirimu agar tidak
dikenali oleh pihak musuh.
Siau Hong mengiakan atas saran itu. Segera mereka meneryang keluar
melalui pintu depan. Waktu Siau Hong menoleh, kiranya rumah dimana mereka
keluar itu adalah sebuah rumah yang sudah rusak tak terawat dan tidak
menarik bila dipandang dari luar.
Karena A Ci sedikit banyak telah menguasai bahasa Cidan, maka dia
lantas ber-teriak2: Kebakaran! Kebakaran! Lekas tolong kebakaran!
Dengan menirukan apa yang dikatakan A Ci itu, segera Hoan Hwa dan Hoa
Hek-kin juga ikut2 berteriak.
Pah Thian-sik memiliki Ginkang yang paling tinggi, maka bila
disekitarnya tiada perajurit Liau, segera ia menyalakan api sehingga
dalam sekejap saja ada belasan tempat beryangkit kebakaran lagi.
Begitulah mereka bersembilan terus berlari kepintu gerbang barat. Toan
Ki dan lain2 telah menyaru sebagai orang Cidan, apalagi suasana didalam
kota telah menjadi kacau-balau sehingga rombongan mereka tidak
menimbulkan perhatian orang lain. Terkadang bila ada pasukan berkuda
Cidan meneryang tiba, segera mereka menyingkir kepojok jalan yang
sepi dan gelap untuk menghindari.
Sekaligus mereka telah melintasi belasan jalanan kota, terdengar suara
terompet berbunyi disebelah utara diseling dengan jerit orang yang
ramai: Wah, celaka! Pasukan musuh telah membobol pintu gerbang utara,
Hongsiang telah ditawan musuh! Hongsiang telah ditawan musuh!
Keruan Siau Hong juga terkejut, ia berhenti dan berkata: Apakah betul
raja Liau tertawan? Samte, raja Liau itu adalah saudara-angkatku,
biarpun dia tidak setia padaku, tapi tidak boleh aku melupakan budinya,
maka .... maka janganlah kau mencelakai dia ....
Cihu jangan kuatir, kata A Ci dengan tertawa. Berita tertawannya
raja Liau itu adalah siasat kita yang sengaja disiarluaskan oleh para
Tongcu dari Leng-ciu-kiong untuk membingungkan pihak musuh. Padahal
didalam kota Lamkhia ini terdapat pasukan penjaga yang kuat, raja
merekapun dikelilingi oleh puluhan ribu perajurit, masakah begitu
gampang untuk menangkapnya?
O, jadi para pengikut Jite itupun datang juga? Siau Hong menegas
dengan girang dan kejut.
Tidak cuma pengikut2 si Hwesio cilik saja yang datang, bahkan Hwesio
cilik itupun sudah tiba, malahan bininya juga dibawa kemari sekalian,
kata A Ci.
Hwesio cilik apa dan bininya siapa? tanya Siau Hong dengan bingung.
Masakah Cihu sudah lupa? sahut A Ci dengan tertawa. Hwesio cilik
adalah si Hi-tiok-cu, bininya bukan lain adalah puteri kerajaan Se He
yang dimenangkannya dalam sajembara tempo hari. Hanya saja puteri itu
selalu menutupi mukanya dengan kerudung sehingga selain Hwesio cilik,
orang lain tiada satupun yang boleh melihatnya. Ketika kutanya si Hwesio
cilik: Bagaimana macam binimu itu, dia cantik atau tidak? Namun si
Hwesio cilik hanya ter-senyum2 saja dan tidak pernah menjawab.
Walaupun sedang melarikan diri, tapi tiba2 mendengar hal2 yang menarik
itu mau-tak-mau Siau Hong merasa bersjukur juga bagi Hi-tiok yang
berhasil memperisterikan puteri Se He itu, tanpa merasa ia memandang
sekejap kearah Toan Ki.
Seperti diketahui, ketika be-ramai2 mereka pergi ke Se He untuk
mengikuti sajembara, sebelum hasil sajembara itu diumumkan, Siau Hong
sudah meninggalkan negeri itu lebih dulu.
Rupanya Toan Ki tahu perasaan sang Toako, dengan tertawa ia berkata:
Toako tidak perlu bersangsi, sebab Siaute sama sekali tidak sirik atas
kejadian itu. Jiko juga tidak terhitung mengingkari janji. Urusan
ini memang agak panyang untuk diceritakan, biarlah nanti akan
kujelaskan dengan pelahan2.
Tengah bicara, kembali mereka telah berlari suatu jarak yang cukup
jauh, tertampak sebuah panggung besar ditengah lapangan didepan sana
juga sedang terbakar, api men-jilat2 dengan hebatnya. Dua helai bendera
yang terpancang diatas tiang bendera didepan panggung itupun sudah
terjilat api.
Siau Hong mengetahui lapangan itu adalah alun2 terbesar yang berada
dikota Lamkhia, biasanya digunakan untuk latihan berbaris perajurit
Liau. Tapi entah sejak kapan didirikan panggung besar itu, ternyata ia
sendiri tidak pernah mengetahui.
Sri Baginda, setelah podium kebesaran dan bendera kerajaan Liau ini
terbakar, ini akan merupakan alamat jelek bagi gerakan militer Liau,
mungkin rencana menyerang kerajaan Song terpaksa harus dipikirkan lagi
oleh Yalu Hung-ki demikian kata Pah Thian-sik dengan tertawa.
Mendengar Thian-sik memanggil Sri Baginda dan tampak Toan Ki telah
manggut2, keruan Siau Hong ter-heran2. Segera ia tanya: Samte, apakah
kau... kau sudah menjadi raja?
Dengan muram Toan Ki menjawab: Ja, secara mendadak ajah telah
meninggal dalam perjalanan pulang, paman baginda telah meninggalkan
tahta pula dan menjadi paderi dikuil Thian-liong-si, maka Siaute disuruh
menggantikan tahtanya. Padahal Siaute sama sekali tidak punya kepandaian
apa2, sungguh memalukan untuk memangku jabatan setinggi ini.
Ai, Samte! seru Siau Hong terkejut. Engkau sekarang adalah kepala
negara Tayli, mana boleh engkau sembarangan menghadapi bahaja bagi
kepentinganku? Pabila terjadi sesuatu halangan, cara bagaimana aku akan
bertanggung-jawab kepada rakjat dan negeri Tayli kalian?
Toan Ki tertawa, katanya: Tayli adalah sebuah negeri kecil yang jauh
terpencil didaerah selatan, sebutan raja adalah cuma nama kosong
belaka, dipandang juga Siaute tidak memper seorang raja, sungguh hanya
membikin malu saja. Adapun hubungan kita melebihi saudara sekandung,
jika Toako ada kesukaran, masakah Siaute boleh tinggal diam tanpa ikut
campur?
Apalagi Siau-tayong telah berusaha mencegah raja Liau memerangi
kerajaan Song, untuk ini kami rakjat seluruh negeri Tayli ikut merasa
berterima kasih padamu, demikian Thian-sik ikut bicara. Hendaklah
maklum, pabila raja Liau berhasil menundukkan Song, maka langkah kedua
sudah tentu akan mencaplok Tayli pula. Padahal negeri kami kecil dan
lemah, mana dapat melawan pasukan Liau yang tangkas dan kuat? Maka Siautayong
telah menyelamatkan kerajaan Song berarti pula telah menolong
negeri Tayli kami. Kalau sekarang orang Tayli mencurahkan segenap
tenaganya untuk mengabdi kepada Siau-tayong tentunya juga sudah
sepantasnya.
Aku hanya seorang yang paham ilmu silat saja, soalnya aku tidak tega
membiarkan kedua negeri saling perang dan menimbulkan korban yang tak
berdosa, mana aku berani anggap berjasa hanya karena sedikit usahaku
itu? sahut Siau Hong.
Sedang bicara, tiba2 bagian selatan sana api ber-kilat2 menjulang
tinggi, penduduk dalam ber-kelompok2 ber-bondong2 menyelamatkan diri
tercampur diantara pasukan2 Liau yang coba menenangkan suasana.
Terdengar teriakan orang: Hwesio2 Siau-lim-si dari selatan bersama
orang2 gagah yang tidak sedikit jumlahnya telah membobol pintu gerbang
selatan! Lalu ada pula yang berteriak: Lam-ih Tay-ong Siau Hong telah
memberontak dan takluk kepada kerajaan Song, raja Liau sudah dibunuh
olehnya!
Malahan ada beberapa orang Cidan lantas menanggapi dengan mengertak
gigi: Siau Hong itu telah mengkhianati bangsa dan menyerah kepada musuh,
sungguh aku ingin dapat menggigit dagingnya dan mengunyahnya mentah2.
Apa benar Sri Baginda telah dibunuh oleh bangsat maha durjana Siau
Hong itu? demikian tanya seorang kawannya dengan gugup.
Mengapa tidak benar? sahut seorang Cidan yang lain. Dengan mataku
sendiri aku menyaksikan Siau Hong meneryang kedepan Sri Baginda dan
dengan tumbaknya ia telah menusuk dada Sri Baginda sehingga tembus.
Bangsat keparat Siau Hong itu mengapa sedemikian kejamnya?
Sesungguhnya dia itu orang Cidan atau bangsa Han? kata seorang tua
dengan sengit.
Konon dia adalah orang Song yang sengaja menyaru sebagai orang Cidan,
bangsat itu benar2 sangat licin dan kejam melebihi binatang! sahut pula
kawannya tadi.
Mendengar orang2 itu sambil lari sembari mencaci maki dan mengutuki
Siau Hong, keruan A Ci menjadi gusar, ia angkat cambuknya terus
menyabet kearah orang Cidan yang lewat disisinya.
Namun Siau Hong keburu mencegahnya, sambil meng-goyang2 kepalanya ia
berkata dengan suara tertahan: Biarkan mereka bicara sesukanya, jangan
digubris! Lalu iapun bertanya: Apakah benar2 para paderi sakti dari
Siau-lim-si juga ikut datang?
Harap Pangcu maklum, ketika nona Toan (A Ci) keluar dari kota
Lamkhia, diluar kota dia lantas bertemu dengan Go-tianglo dari Kay-pang
kita dan membicarakan tentang pengorbanan Pangcu, demi untuk menolong
jiwa rakjat dan negeri Song kita, katanya Pangcu telah berusaha
mencegah rencana raja Liau akan menyerbu negeri Song sehingga
menimbulkan amarah raja Liau serta ditawan. Atas cerita itu Go-tianglo
tak dapat mempercajainya karena Pangcu diketahui adalah orang Cidan,
masakah mungkin pikiranmu condong kepada negeri Song kita? Maka diam2
beliau telah menyusup kedalam kota Lamkhia untuk menyelidiki sendiri
persoalan Pangcu ini dan akhirnya dapat diketahui dengan pasti bahwa apa
yang diceritakan nona Toan ternyata benar adanya. Segera Go-tianglo
menyebarkan perintah 'Jing-tiok-leng' (titah bambu hijau) dan
memberitahukan kepada para kesatria Tionggoan tentang kebaikan budi dan
jiwa kesatria Pangcu, dan karena terharu dan terima kasih atas
keluhuran budi Pangcu itu, maka dengan dibawah pimpinan paderi2 Siaulim-
si itu, para kesatria Tionggoan lantas ber-bondong2 datang keutara
sini untuk menolong Pangcu.
Siau Hong menjadi teringat kepada peristiwa di Cip-hian-ceng tempo
dulu, dimana dia bertarung dan dikerubut oleh para kesatria Tionggoan
sehingga tidak sedikit jago2 silat telah dibunuh olehnya. Tapi hari ini
para kesatria itu justeru datang untuk menolongnya, sungguh hatinya
menjadi berduka dan berterima kasih pula.
Ja, begitulah, maka dengan cepat berita tentang Cihu itu telah
disebarkan oleh para pengemis dari Kay-pang sehingga dalam waktu singkat
telah diketahui oleh para kesatria di-mana2. Ai, celaka! Wah sayang,
sungguh sayang! demikian tiba2 A Ci berseru gegetun.
Ada apakah? tanya Toan Ki kaget.
Wah, aku punya Pek-giok-giok-ting (wajan kemala hijau) yang kugunakan
untuk memancing datangnya kawanan ular dan kutaruh diruangan pendopo
sana, dalam keadaan ter-buru2 aku menjadi lupa mengambilnya kembali,
sahut A Ci.
Sudahlah, benda yang tak berarti itu buat apa mesti selalu dipikirkan
dan dibawa terus kemanapun kau pergi? ujar Toan Ki dengan tertawa.
Hm, kau anggap wajan itu benda tak berarti? Kalau tiada benda mestika
itu, tentu kawanan ular itu takkan membanjiri ruangan itu sedemikian
cepatnya dan Cihu tentu juga susah untuk meloloskan diri secara
begini mudah, demikian bantah A Ci.
Tengah bicara, tiba2 terdengar suara riuh ramainya orang bertempur.
Dibawah cahaja api kelihatan perajurit2 Liau dalam jumlah besar sedang
saling gasak sendiri.
Aneh, mengapa bertempur sendiri ... ujar Siau Hong dengan heran.
Toako, yang terdapat kain putih dileher mereka itu adalah kawan kita
sendiri, kata Toan Ki.
Segera A Ci mengeluarkan sepotong kain putih dan diserahkan kepada
Siau Hong, katanya: Ikatlah dilehermu, Cihu!
Sekilas pandang Siau Hong merasa bingung juga untuk membedakan mana
adalah perajurit kawan dan lawan, ia merasa bingung pihak mana yang
harus dibunuhnya. Dan ditengah suasana yang gaduh itu terkadang terjadi
perajurit2 Liau yang sebenarnya telah saling membunuh. Sebaliknya
perajurit2 Liau palsu yang pakai tanda kain putih dileher itu dapat
mengajunkan senjata mereka dengan jitu keatas badan perajurit dan
perwira Liau yang tulen sehingga orang2 Liau satu persatu bergelimpangan
binasa.
Sambil memegangi kain putih yang diterimanya dari A Ci itu, tangan
Siau Hong menjadi gemetar, dalam hatinya seakan sedang menjerit: Aku
adalah orang Liau, aku bukan orang Han! Aku orang Liau dan bukan orang
Han! Betapapun kain putih ini tak dapat dipakai diatas leherku!
Dan pada saat itulah tiba2 terdengar suara mencicit ber-ulang2, pintu
gerbang barat yang antap itu telah didorong terpentang oleh orang. Berbondong2
Toan Ki dan Hoan Hwa lantas meneryang keluar dengan mengapit
disamping Siau Hong.
Dibawah cahaja api yang terang benderang itu tertampak jelas anggota2
Kay-pang dalam jumlah besar sudah menunggu diluar kota dengan membawa
kuda. Ketika melihat Siau Hong, serentak mereka bersorak-sorai: Kiaupangcu!
Kiau-pangcu!
Ditengah malam gelap tertampak kedua barisan obor lantas menyingkir
minggir, lalu seorang penunggang kuda tampak maju kedepan. Penunggang
kuda itu adalah seorang pengemis tua, dengan kedua tangannya terangkat
keatas ia memegangi Pak-kau-pang, itu pentung penggebuk anjing yang
merupakan benda tanda pengenal Pangcu dari Kay-pang. Pengemis tua itu
ternyata Go-tiang-lo adanya.
Sesudah berada didepan Siau Hong cepat Go-tianglo melompat turun dari
kudanya dan berlutut, katanya: Go Tiang-hong atas nama para anggota Kaypang
dengan ini mempersembahkan kembali Pak-kau-pang ini kepada Pangcu.
Kami telah gegabah dan goblok sehingga telah banyak membikin susah
Pangcu yang tidak bersalah, sungguh kami lebih bodoh daripada hewan,
untuk mana dimohon Pangcu suka memberi ampun dan sudilah melupakan apa
yang telah lalu dan kembali menjadi Pangcu kita untuk memimpin kami
yang selama ini seperti kanak2 yang kehilangan orang tua. Sembari
berkata iapun menyodorkan Pak-kau-pang ketangan Siau Hong.
Siau Hong menjadi terharu menghadapi kawan2 seperjoangan dimasa lalu
ini, katanya: Go-tianglo, Cayhe memang benar2 adalah orang Cidan.
Sungguh aku merasa terima kasih tak terhingga atas budi kebaikan kalian.
Tentang kedudukan Pangcu sekali2 aku tidak dapat menjabatnya.
Berbareng iapun membangunkan Go-tianglo.
Go-tianglo adalah seorang yang berhati lurus, ia menjadi bingung atas
sikap Siau Hong itu, katanya sambil garuk2 kepala: Engkau... engkau
mengaku sebagai orang Cidan pula dan tak... tak mau menjadi Pangcu?
Ah, Kiau-pangcu, sudahlah, jangan kau marah lagi kepada perbuatan kami
yang ngawur dahulu itu dan terimalah kembali jabatanmu!
Dalam pada itu terdengar suara tambur perang didalam kota mendadak
berbunyi menggelegar, terang ada pasukan besar Liau segera akan
meneryang keluar.
Cepat Toan Ki berkata: Go-tianglo, marilah kita lekas berangkat,
pasukan musuh terlalu kuat, jika mereka sempat menyusun kekuatan tentu
kita tak dapat melawannya.
Siau Hong tahu juga sebabnya orang2 Kay-pang bersama kesatria2
Tionggoan itu dapat unggul sementara adalah karena mereka menyerang
secara mendadak sehingga berhasil, tapi kalau benar2 bertempur melawan
pasukan Liau sudah tentu ribuan orang2 Kangouw itu bukan tandingan
pasukan Liau yang berjumlah ratusan ribu dan terlatih dengan baik itu.
Apalagi kalau terjadi pertempuran tentu akan banyak menimbulkan korban
pula, hal ini sangat berlawanan dengan keinginannya, maka ia lantas
berkata: Go-tianglo, urusan Pangcu biarlah dibicarakan nanti. Yang
penting sekarang lekaslah kau memberi perintah agar para saudara kita
segera mundur kebarat sana.
Go-tianglo mengiakan dan segera memberi perintah itu. Serentak barisan
belakang Kay-pang berubah menjadi barisan depan dan cepat mengundurkan
diri kejurusan barat. Tidak lama kemudian Hi-tiok juga telah menyusul
tiba dengan membawa para perajurit wanita dan 36 Tongcu dan 72 Tocu.
Sesudah beberapa li jauhnya, para jago negeri Tayli dibawah pimpinan
Siau Tiok-sing dan Cu Tan-sin juga sudah menyusul datang. Tapi para
kesatria Tionggoan dan para paderi Siau-lim-si tetap tidak kelihatan.
Bahkan sajup2 terdengar pertempuran yang gegap-gempita didalam kota
Lamkhia.
Rupanya para kesatria Tionggoan dan para paderi Siau-lim telah kena
dicegat musuh didalam kota, biarlah kita menunggu dulu sementara, ujar
Siau Hong.
Tidak lama kemudian suara pertempuran didalam kota tadi makin lama
makin keras. Toan Ki merasa tidak enak, katanya: Harap Toako tunggu dulu
disini, biarlah aku pergi membantu mereka.
Habis berkata ia lantas memimpin para jago Tayli dan memburu kembali
kekota Lamkhia.
Sementara itu subuh sudah tiba, cuaca mulai terang. Siau Hong sendiri
merasa sedih dan kuatir, ia tidak tahu para kesatria Tionggoan itu dapat
meloloskan diri atau tidak.
Suara pertempuran semakin dahsjat, para jago negeri Tayli telah
meneryang kembali kedalam pasukan musuh, tapi para kesatria Tionggoan
tetap belum kelihatan lolos dari kepungan.
Tiba2 datang seorang kurir anggota Kay-pang dan memberi laporan:
Beberapa ribu perajurit Liau telah menjaga rapat pintu gerbang barat,
jago2 Tayli tidak dapat menyerbu kedalam kota, sebaliknya para kesatria
Tionggoan juga tidak dapat meneryang keluar.
Segera Hi-tiok memberi tanda dan berseru: Orang2 Leng-ciu-kiong
ikutlah padaku untuk memberi bantuan kesana. Segera ia pimpin anak
buahnya yang berjumlah ribuan orang itu dan meneryang kembali kearah
Lamkhia.
Diatas kudanya Siau Hong coba memandang kebelakang, tertampak kota
Lamkhia penuh diliputi asap yang mengepul tebal, di-mana2 terdapat
gumpalan api yang me-nyala2, sungguh susah untuk dibayangkan betapa
jadinya kota itu didalam kancah kekacauan perang itu.
Sesudah ditunggu setengahan jam pula, kembali seorang kurir memberi
lapor lagi : Toan-ongya dari Tayli dan Hi-tiok Siansing dari Leng-ciukiong
telah berhasil membobol kepungan musuh dan sudah menyerbu kedalam
kota.
Biasanya jika ada pertempuran Siau Hong selalu memimpin dan tampil
paling depan tapi sekarang dia hanya menunggu dari jauh, rasanya cemas
dan kuatir pula. Maka akhirnya ia berkata : Biarlah aku pergi melihatnya!
Cepat A Ci, Bok Wan-jing dan Ciong Ling mencegahnya : Jangan,
justeru orang Liau lagi incar dirimu jangan sekali2 engkau menempuh
bahaja ini.
Tidak apa2, jangan kuatir, ujar Siau Hong. Segera ia melarikan
kudanya kedepan dengan disusul oleh para anggota Kay-pang.
Sampai diluar pintu gerbang barat kota Lam-khia, tertampak dibawah
tembok benteng, ditepi jalan dan disepanyang sungai yang mengelilingi
benteng kota itu penuh bergelimpangan majat2 yang be-ratus2 banyaknya.
Ada perajurit dan perwira Cidan, ada juga anak buahnya Toan Ki dan Hitiok.
Pintu gerbang kota setengah tertutup, beberapa Tocu bawahannya Hi-tiok
tampak memutar senjata mereka sedang menjaga disamping pintu dan sedang
menghajar perajurit2 Liau yang meneryang maju agar mereka tidak dapat
menutup pintu gerbang itu.
Tiba2 terdengar suara riuh ramai kuda2 berlari dari sebelah utara dan
selatan. Siau Hong terkejut, serunya: Celaka, pasukan Liau secara
besar2an hendak mengepung kita dari jurusan2 selatan dan utara.
Cepat ia meloncat keatas, kakinya memancal sekali didinding benteng,
dengan tenaga dorongan itu tubuhnya lantas mencelat keatas dan
menghinggap diatas tembok benteng, dari situ ia dapat memandang jauh
kedalam kota. Maka tertampaklah bagian barat kota, dalam lingkaran seluas
satu li lebih itu terdapat gerombol2an orang disana-sini, nyata para
kesatria Tionggoan telah dipotong dan di-pisah2kan oleh perajurit2 Liau
yang berjumlah lebih banyak itu dan sedang dikerubut dalam kelompok2
lebih kecil.
Walaupun para kesatria Tionggoan itu berilmu silat tinggi, tapi setiap
orangnya harus melawan beberapa orang sampai belasan perajurit Liau yang
tangkas, lama kelamaan mereka menjadi kewalahan juga.
Dengan berdiri diatas tembok benteng Siau Hong dapat memandang kedalam
dan keluar kota. Ia menjadi bingung juga menghadapi suasana pertempuran
itu. Para kesatria Tionggoan yang terkepung itu telah bertempur mati2an
demi untuk menolong dia, maka tidaklah mungkin ia menyaksikan para
kesatria Tionggoan itu terbinasa dibawah senjata perajurit Liau tanpa
memberi bantuan. Tapi kalau dia melompat turun dan menolong mereka, ini
berarti dia secara terang2an bermusuhan dengan pihak Liau dan menjadi
seorang pengkhianat bangsa. Hal ini tidak saja berdosa kepada leluhurnya
sendiri, bahkan selamanya akan dicaci-maki dan dikutuki oleh bangsanya
sendiri.
Jika dia cuma melarikan diri saja dan meninggalkan negerinya
sendiri, perbuatan demikian paling2 akan dianggap sebagai tidak setia.
Tetapi kalau angkat senjata dan menyerang bangsa dan negerinya sendiri,
ini benar2 perbuatan pengkhianatan yang maha berdosa.
Biasanya Siau Hong dapat bertindak cepat dan tegas, tapi sekarang ia
menjadi serba susah. Sekilas tertampak olehnya dipojok bawah benteng
sana ada beberapa jago Cidan sedang mengerubuti dua paderi tua Siaulim-
si. Salah seorang paderi tua itu bersenjata golok, mulutnya
menyemburkan darah, terang sudah terluka parah.
Waktu diperhatikan lebih jauh, segera Siau Hong mengenal paderi tua
itu adalah Hian-bing Taysu. Paderi yang lain bersenjata tongkat dan
sedang berusaha mati2an untuk melindungi kawannya yang terluka. Paderi
bersenjata tongkat ini ternyata Hian-sik adanya.
Saat itu dua jago Cidan sedang angkat parang mereka untuk membacok
kearah Hian-bing. Segera Hian-bing angkat tangan kanannya dengan maksud
hendak menangkis dengan goloknya. Tak tersangka lukanya sudah teramat
parah, baru saja lengannya terangkat sebatas dada, sungguh celaka,
rasanya sudah tidak kuat lagi. Cepat Hian-sik memberi bantuan,
tongkatnya menyampuk, trang-trang, kedua parang musuh telah terbentur
balik. Saking kuat tenaganya Hian-sik sehingga kedua jago Cidan tak
mampu menguasai lagi senjatanya sendiri, kedua parang itu membacok
dibatok kepalanya sendiri sehingga pecah berantakan.
Sudah tentu Hian-sik sangat girang. Tapi mendadak terdengar Hian-bing
menjerit, tahu2 pundak kirinya sudah berlumuran darah, ternyata kena
dilukai pula oleh musuh.
Kontan Hian-sik balas menyabet dengan tongkatnya sehingga jago Cidan
yang melukai Hian-bing itu terhantam dan remuk tulang dadanya. Dan karena
serangannya yang hendak membela kawan itu, ia sendiri menjadi kurang
penjagaan, kesempatan itu telah digunakan oleh seorang jago Cidan yang
lain untuk menusukkan tumbaknya kedada Hian-sik.
Cret, Hian-sik tidak sempat menangkis, perutnya dengan tepat tertusuk
tembus dan terpantek diatas dinding benteng. Namun Hian-sik tidak lantas
tewas, dengan tenaganya yang masih ada mendadak ia menggertak sekali,
tongkatnya lantas mengemplang kebawah sehingga kepala orang Cidan itu
hancur lebur dan mati lebih dulu daripada Hian-sik sendiri.
Melihat perut Hian-sik tertembus tumbak musuh dan terang tak bisa hidup
lagi, Hian-bing menjadi bingung sehingga permainan goloknya tak keruan
jurusnya, dengan air mata bercucuran ia ber-teriak2: Sute! Sute!
Darah panas Siau Hong menjadi bergolak, ia tidak dapat menahan
perasaannya lagi, mendadak ia berteriak keras2: Ini Siau Hong berada
disini! Kalau mau bunuh boleh bunuhlah aku, tapi jangan membunuh orang
lain yang tak berdosa! Berbareng Siau Hong lantas melompat turun kebawah,
dimana kakinya melayang, sebelum dia menyentuh tanah, kontan empat jago
Cidan sudah lantas didepaknya hingga mencelat. Dan setelah berdiri
tegak, cepat ia menarik Hian-bing dan tangan lain pegang tongkatnya
Hian-sik sambil berkata: Hian-sik Taysu, bantuan Cayhe ini terlambat
datangnya, sungguh dosaku tak terhingga besarnya. Menyusul tongkat yang
dipegangnya itu terus disabetkan sehingga dua jago Cidan terpaksa
melompat menyingkir.
Tidak, kami yang telah memfitnah Kiau-pangcu sebagai orang Cidan
adalah lebih besar pula dosa kami, sahut Hian-sik dengan tersenyum getir.
Dan sjukurlah sekarang duduknya perkara dapat dibikin jelas .........
belum selesai ucapannya, sekali kepalanya menunduk ternyata napasnya
sudah berhenti.
Sambil melindungi Hian-bing segera Siau Hong meneryang kearah beberapa
jago Tayli yang sedang dikerubut musuh disebelah kiri sana.
Melihat Lam-ih Tay-ong mereka mendadak muncul dengan gagah berwibawa,
mau-tak-mau para perajurit dan perwira Liau menjadi jeri. Sebaliknya
Siau Hong lantas kerjakan tongkatnya, walaupun ia tidak ingin membunuh
orang, tapi terluka juga bila berkenalan dengan tongkatnya.
Perajurit2 ber-teriak2 ketakutan dan be-ramai2 menyingkir mundur
sehingga Siau Hong dapat meneryang kian kemari dengan cepat dan
leluasa, hanya dalam waktu singkat ia sudah dapat mengumpulkan dua-tiga
ratus kesatria Tionggoan yang tadinya bercerai-berai dan terkepung tadi.
Hendaklah saudara2 jangan terpisah lagi, bergabungklah dalam rombongan
besar untuk bertempur bersama! seru Siau Hong.
Segera ia memimpin dua-tiga ratus orang itu dan bergeser kesana dan
kesini, bila ada kawan yang terkepung lantas didekatinya untuk
menolongnya keluar. Maka rombongannya itu makin lama makin bertambah
banyak jumlahnya. Sampai akhirnya sudah lebih seribu.
Lalu Siau Hong menggabungkan diri dengan rombongan2 Hi-tiok, Toan Ki
dan para kesatria Tionggoan dibawah pimpinan Hian-to Taysu dari Siau-limsi
terus meneryang kepintu gerbang kota. Siau Hong mendahului memburu
kedepan, dengan gagah ia berdiri diatas pintu gerbang dan membiarkan
rombongan2 para kesatria Tionggoan, Tayli dan Leng-ciu-kiong keluar kota
dengan aman. Pasukan Liau yang mengejar itu ternyata tidak berani
menyerbu maju, mereka hanya ber-teriak2 dari jauh dan gentar terhadap
wibawa Lam-ih Tay-ong mereka.
Menunggu sesudah semua orang sudah keluar benteng dengan selamat,
paling akhir barulah Siau Hong sendiri menyusul keluar kota. Waktu ia
menoleh kebelakang, tertampak majat bergelimpangan di-mana2 dan bertumpuk2,
entah berapa banyak korban yang jatuh dalam pertempuran sengit
itu.
Tiba2 terlihat olehnya diantara majat2 yang menggeletak didalam kota
itu terdapat dua perwira wanita Leng-ciu-kiong yang berlumuran darah dan
sedang me-rintih2 dan me-ronta2 hendak berdiri tapi rupanya tidak kuat
lagi.
Tanpa pikir Siau Hong meneryang masuk lagi kedalam kota, ia pegang
punggung kedua wanita itu dan dibawa lari keluar. Tapi tidak seberapa
jauhnya, mendadak terdengar suara tambur menggelegar mengguncang bumi,
dua pasukan Liau secara besar2an telah menyerbu tiba dari arah kanan dan
kiri.
Seketika Siau Hong merasa cemas. Kedua pasukan musuh itu jumlahnya
paling sedikit ada sepuluh ribu banyaknya, sedangkan kawan2 dipihak
sendiri sudah bertempur sekian lamanya, kalau tidak terluka tentu juga
sudah terlalu letih, cara bagaimana akan dapat menghadapi pasukan musuh
yang bertenaga baru ini?
Cepat ia berteriak: Kawan2 dari Kay-pang mengiring dari belakang,
serahkan kuda tunggangan kalian kepada kawan2 lain yang terluka dan
biarkan mereka mundur lebih dulu!
Anggota2 Kay-pang mengiakan serentak dan be-ramai2 melompat turun dari
kuda mereka. Lalu Siau Hong berteriak pula:
Pasang Pak-kau-tay-tin (barisan besar menggebuk anjing)!
Maka terdengarlah suara tembang para pengemis yang sedang minta2 sambil
mengatur barisan secara selapis demi selapis.
Hian-to Taysu, Jite dan Samte, lekas memimpin bawahan kalian mundur
dulu kejurusan barat, biarkan kami yang menjaga dibagian belakang!
teriak Siau Hong lagi.
Dibawah sinar matahari ujung golok dan tumbak pasukan Liau itu tampak
gemilapan menyilaukan mata, berpuluh ribu kuda berlari serentak
meneryang tiba, suaranya benar2 menggetar sukma dan menakutkan.
Melihat kekuatan musuh yang luar biasa itu, Hi-tiok dan Toan Ki
menaksir Pak-kau-tay-tin yang dipasang anggota Kay-pang itu betapapun
juga susah menahan terjangan pasukan musuh. Maka mereka berdua lantas
berdiri dikanan-kiri Siau Hong dan berkata: Toako, kita adalah saudara
angkat, kalau ada kesukaran biarlah ditanggung beramai, mati atau hidup
harus bersama pula.
Jika begitu, lekas perintahkan bawahan kalian mundur lebih dulu, kata
Siau Hong.
Cepat Hi-tiok dan Toan Ki lantas meneruskan perintah itu kepada anakbuahnya
masing2.
Siapa tahu bawahan Leng-ciu-kiong telah menyatakan tidak mau
meninggalkan majikan mereka didalam keadaan bahaja, lebih2 para jago
Tayli juga tidak mau mengundurkan diri dan membiarkan raja mereka
menghadapi maut.
Dalam pada itu pasukan berkuda Liau sudah makin dekat, panah yang
dibidikkan sudah hampir mencapai tempat dimana Siau Hong dan kawan2nya
berada.
Hian-to mestinya sudah mundur lebih dulu dengan memimpin para kesatria
Tionggoan, tapi sekarang demi nampak rombongan Siau Hong terancam
bahaja, seketika ada beberapa puluh orang diantaranya berlari kembali
untuk membantu.
Diam2 Siau Hong mengeluh. Pikirnya: Biarpun ilmu silat kawan2 ini
sangat tinggi, tapi mereka tidak kenal ilmu peperangan dan tidak tahu
disiplin militer, cara bagaimana mereka akan sanggup melawan pasukan
Liau yang berjumlah besar? Kematianku adalah tidak menjadi soal, tapi
kalau para kawan juga dibinasakan oleh perajurit Liau diluar kota
Lamkhia ini, lantas bagaimana aku ...
Selagi bingung dan entah tindakan apa yang harus diambilnya. Sekonyong2
ditengah pasukan Liau itu terdengar suara gembreng yang nyaring
dan ditabuh secara menitir. Nyata itulah tanda menarik mundurnya
pasukan.
Begitu mendengar suara titir gembreng itu, seketika pasukan Liau yang
sedang meneryang kedepan itu serentak membalik haluan, kuda mereka
berputar, barisan belakang lantas berubah menjadi barisan muka dan beramai2
mundur ke utara dan selatan, dari arah mana mereka datang tadi.
Siau Hong menjadi ter-heran2 dan tidak mengerti apa yang sudah
terjadi. Walaupun pasukan Liau sudah mundur, tapi dilihatnya jauh
dibelakang pasukan Liau sana debu mengepul tinggi disertai suara teriakan
riuh ramai, rupanya bagian belakang pasukan Liau itu telah digempur oleh
pasukan yang lain pula.
Keruan Siau Hong tambah heran: Mengapa dibelakang pasukan Liau ada
pasukan pihak lain lagi, jangan2 terjadi pemberontakan pula? Dan
siapakah yang memberontak? Dari muka dan belakang Hongsiang digencet
musuh, tentu keadaannya sangat tidak menguntungkan.
Begitulah jiwa kesatria Siau Hong, baru saja dia terhindar dari
kepungan pasukan Liau, sekarang dia sudah lantas menguatirkan
keselamatannya Yalu Hung-ki.
Melihat pasukan Liau mendadak ditarik kembali, segera para anggota Kaypang
ber-teriak2, tapi karena tiada perintahnya Siau Hong mereka tidak
berani sembarangan mengejar dan membunuh musuh.
Waktu Siau Hong melompat dan berdiri diatas kudanya untuk memandang
jauh kebagian belakang pasukan Liau, dilihatnya disana banyak berkibar
panji2 warna putih, diudarapun terjadi hujan panah dan perajurit Liau
banyak yang terjungkal jatuh dari kudanya. Akhirnya sadarlah Siau Hong:
Ah, kiranya adalah kawan2-ku dari suku Nukhen yang telah tiba. Entah dari
mana mereka.
Ilmu memanah pemburu2 Nukhen itu sungguh sangat lihay, merekapun sangat
gagah dan tangkas dimedan perang. Setiap seratus orang mereka terbagi
menjadi satu pasukan kecil, dengan menunggang kuda mereka ber-teriak2
terus meneryang ketengahKarena
diteryang secara mendadak, seketika barisan perajurit Liau
menjadi kacau balau. Pula suku Nukhen itu memang tangkas dan gagah
berani, panglima Liau dapat melihat gelagat, ia kuatir digencet pula
oleh pasukan yang dipimpin Siau Hong, maka cepat2 ia memberi tanda
menarik mundur pasukannya.
Hoan Hwa berpangkat Suma atau menteri urusan perang, maka dia mahir
ilmu kemiliteran. Ia melihat ada kesempatan bagus, segera katanya kepada
Siau Hong: Siau-tayong, lekas kita serbu saja, inilah saat yang paling
bagus untuk menghancurkan musuh.
Tapi Siau Hong hanya menggeleng kepala saja.
Jarak dari sini ke Gan-bun-koan terlalu jauh, kalau kesempatan bagus
ini tidak kita gunakan untuk menghancurkan pasukan Liau, kelak tentu
akan membahajakan malah, demikian kata Hoan Hwa pula. Apalagi jumlah
musuh terlalu banyak dan jumlah kita sedikit, kita belum tentu dapat
mengundurkan diri dengan aman dan selamat.
Namun Siau Hong tetap menggeleng kepala.
Sungguh Hoan Hwa tidak habis mengerti. Pikirnya: Siau-tayong tidak mau
menyerang dan membunuh musuh, jangan2 dia masih berharap kelak akan
dapat memperbaiki hubungan dengan raja Liau?
Dalam pada itu terlihat orang2 Nukhen dalam kelompok2 kecil dengan
telanyang setengah badan, ada yang bermantelkan kulit binatang, masih
terus meneryang musuh sambil menghujani panah sehingga musuh kalang
kabut. Ada lebih seribu orang perajurit Liau yang tidak sempat masuk
seluruhnya kedalam kota, semuanya telah dipanah mati dibawah benteng
kota.
Pemburu2 Nukhen itu kalau habis membunuh musuh segera buah kepala sang
korban dipenggal olehnya dan digantung disabuknya. Maka diantara orang2
Nukhen itu ada yang membawa puluhan buah kepala yang penuh tergantung
dipinggangnya.
Para kesatria sudah banyak berpengalaman dalam pertarungan sengit, tapi
pembunuhan secara kejam dan biadab seperti orang2 Nukhen ini baru
pertama kali ini dilihatnya. Keruan mereka terkesiap.
Tiba2 diantara pemburu2 Nukhen itu muncul seorang lelaki tinggi besar
sambil ber-teriak2: Siau-toako, Siau-toako, Wanyan Akut telah datang
membantu engkau berkelahi dengan orang Cidan!
Kiranya dia adalah saudara angkat Siau Hong ketika bertemu dipegunungan
Tiang-pek-san dahulu, jaitu Wanyan Akut dari suku Nukhen.
Sungguh girang Siau Hong tak terkatakan, cepat ia memapak maju, kedua
orang lantas saling rangkul dan berjabat tangan dengan terharu.
Siau-toako, dahulu engkau telah pergi tanpa pamit, sungguh aku sangat
kuatir dan rindu sekali, demikian kata Akut. Kemudian dari penyelidik
dapat diketahui bahwa engkau telah menjadi pembesar dinegeri Liau, hal
inipun tidak menjadi soal. Cuma orang Liau itu sangat licin, kukira
kedudukanmu mungkin tak bisa tahan lama. Benar juga, kemarin dulu
penyelidik memberi laporan pula, katanya engkau telah dikurung oleh raja
Liau keparat itu sebagai binatang, sungguh kami merasa sangat kuatir dan
lekas2 memburu kemari. Sjukurlah Siau-toako ternyata baik2 saja, kami
merasa girang sekali
Banyak terima kasih atas bantuan saudaraku sahut Siau Hong.
Baru sekian bicaranya, tiba2 dari atas benteng telah berhamburan anak
panah kearah mereka. Cuma jarak mereka cukup jauh dari tembok
benteng, anak2 panah itu tidak dapat mencapai mereka. Kurangajar
anjing2 Liau itu, aku sedang bicara dengan Toako, kenapa mereka
sengaja mengganggu, maki Akut dengan gusar. Habis berkata, ia pentang
busurnya, susul menyusul tiga kali membidik ia memanah dari bawah benteng
keatas, maka terdengarlah suara jeritan ngeri tiga kali, tiga orang
perajurit Liau kontan terjungkal kebawah.
Kalau panah perajurit2 Liau itu tidak dapat mencapainya, sebaliknya
tiga kali panah Akut itu dengan mudah telah menggulingkan tiga orang,
maka dapat dibayangkan betapa kuat dan jitu kepandaian memanah jago
Nukhen itu. Keruan perajurit2 Liau menjadi ketakutan, sambil berteriak2
lekas mereka memasang tameng.
Sementara itu suara tambur didalam kota Lamkhia kedengaran masih gegapgempita,
agaknya pihak Liau sedang menghimpun tenaga lagi. Segera Akut
berseru kepada anak buahnya: Wahai kawan2, dengarkanlah! Anjing Cidan
itu rupanya ber-siap2 akan keluar lagi dari lubang anjingnya, hajo kita
bersiap untuk membunuhnya dengan se-puas2-nya!
Orang2 Nukhen itu berteriak senang sebagai suara ribuan binatang yang
mengaum secara serentak.
Diam2 Siau Hong menjadi kuatir. Kalau peperangan ini sampai
berlangsung, maka korban yang akan jatuh dari kedua pihak tentu tidaklah
sedikit. Cepat katanya: Saudaraku yang baik, kedatanganmu ini adalah
untuk menolong aku dan sekarang aku sudah lolos dari bahaja, buat apa
mesti bertempur lagi dengan orang. Sudah lama sekali kita tidak
berjumpa, marilah kita mencari suatu tempat yang aman dan tenang untuk
bicara dan minum se-puas2nya.
Benar juga, marilah kita berangkat, sahut Akut.
Tapi mendadak pintu gerbang kota terpentang, sepasukan tentara Liau
berkuda dan berpakaian lapis baja telah meneryang keluar. Akut
mencaci-maki. Ia pentang busur dan memanah, kontan muka seorang perwira
yang berada paling depan itu terguling dari kudanya.
Orang2 Nukhen yang lain be-ramai2 juga melepaskan panah, yang mereka
arah selalu bagian muka. Dasar ilmu memanah orang2 Nukhen itu memang
pandai, ujung panah berbisa pula, maka sasarannya yang terkena panah itu
tanpa bersuara sama sekali seketika terjungkal dan binasa.
Hanya dalam sekejap saja didepan pintu gerbang kota sudah
bergelimpangan beberapa ratus majat bercampur kuda tumpuk menumpuk
sehingga menyumbat pintu gerbang itu. Perajurit Liau yang lain menjadi
ketakutan dan cepat2 menutup pintu dan tidak berani mengejar lagi.
Dengan memimpin anak buahnya Wanyan Akut masih terus mondar-mandir
dibawah benteng sambil mencaci-maki dan menantang. Sudah tentu mereka
tidak mendapat jawaban.
Marilah kita berangkat, saudaraku! ajak Siau Hong.
Terpaksa Akut mengiakan. Tapi dia masih menuding keatas benteng dan
berteriak keras: Dengarkan anjing2 Liau! Untunglah kalian tidak
mengganggu seujung rambut Toako kami, maka bolehlah jiwa anjing kalian
diampuni. Coba kalau tidak, tentu kami meratakan bentengmu dan menumpas
habis anjing2 Liau kalian!
Habis itu ia lantas mengikuti Siau Hong kearah barat. Kira2 belasan li
jauhnya, sampailah mereka diatas sebuah bukit. Akut lantas melompat
turun dari kudanya, ia ambil kantong arak dari pelana kudanya dan
diberikan kepada Siau Hong sambil berkata: Silakan minum arak, Toako.
Siau Hong juga tidak menolak, ia angkat kantong arak itu dan sekaligus
ditenggaknya hingga hampir habis, lalu ia kembalikan kepada Akut.
Sesudah Akutpun minum habis sisa arak itu, katanya kemudian: Toako,
daripada pergi kelain tempat yang belum tentu tujuannya, adalah lebih
baik ikut bersama kami kembali kepegunungan Tiang-pek-san, disana kita
dapat berburu dan minum arak serta hidup dengan bebas merdeka.
Tapi Siau Hong cukup kenal sifat Yalu Hung-ki yang angkuh dan tinggi
hati, hari ini pasukan Liau telah diteryang sehingga kocar-kacir oleh
Wanyan Akut dan kawan2nya, bahkan telah dicaci-maki pula olehnya, untuk
semua ini Hung-ki tentu tidak dapat menerimanya dengan mentah2, tapi
pasti akan mengerahkan pasukannya untuk bertempur lagi. Meski orang
Nukhen sangat tangkas dan gagah berani, tapi jumlah mereka hanya
sedikit, memang belum diketahui akan menang atau kalah, tapi adalah lebih
baik kalau pertempuran sengit dapat dihindarkan.
Teringat oleh Siau Hong selama beberapa bulan tinggal di pegunungan
Tiang-pek-san dahulu, dimana selain sibuk mengobati A Ci boleh dikata
tiada punya rasa kuatir urusan lain, lebih tiada terpikir tentang
kedudukan dan kemewahan orang hidup segala. Dan kalau untuk selanjutnya
dapat hidup bersama dengan suku Nukhen rasanya dapat juga menghindarkan
segala urusan yang mengesalkan. Maka dia lantas menjawab: Saudaraku,
para kesatria dari Tionggoan ini jauh2 datang kemari adalah karena ingin
menolong aku. Maka biarlah aku mengantar mereka ke Gan-bun-koan dulu,
habis itu aku akan kembali kesini untuk berkumpul dengan saudaraku orang2
Nukhen.
Bagus! seru Akut dengan girang. Jika begitu biarkan kutunggu saja
didepan sana. Orang2 Tionggoan itu tampaknya sok cerewet dan besar
kemungkinan bukan manusia baik2, maka akupun sungkan untuk berkenalan
dengan mereka.
Habis berkata ia lantas mohon diri dan membawa kawan2nya menuju
keutara.
Melihat datang dan perginya orang2 Nukhen itu sebagai angin lesus
cepatnya dan sangat tangkas pula, diam2 para kesatria Tionggoan
menganggap orang2 Nukhen itu lebih lihay daripada orang2 Liau. Untung
mereka adalah kawannya Kiau-pangcu, kalau tidak tentu urusan bisa
runyam.
Dalam pada itu rombongan2 para kesatria itu sudah bergabung menjadi
satu, mereka ramai membicarakan suasana pertempuran sengit diluar kota
Lamkhia tadi.
Siau Hong lantas memberi hormat kepada para kesatria, serunya: Banyak
terima kasih atas budi pertolongan kalian yang tidak memikirkan dosa Siau
Hong dahulu, sebaliknya jauh2 datang kemari untuk menolong diriku, budi
ini sungguh susah dibalas selama hidupku ini.
Ah, mengapa Kiau-pangcu berkata demikian, sahut Hian-to selaku
pimpinan para kesatria Tionggoan yang menganggap Siau Hong masih tetap
Pangcu Kay-pang dan tetap she Kiau. Padahal apa yang terjadi dahulu itu
hanya karena salah paham belaka. Apalagi kita sama2 orang Bu-lim dan
seharusnya bantu membantu bila ada kesukaran. Pula Kiau-pangcu telah
rela mengorbankan kedudukan yang diagungkan di negeri Liau demi
keselamatan ber-juta2 rakjat Tionggoan, untuk budi kebaikan inilah kami
harus menyatakan terima kasih kepada Kiau-pangcu.
Segera Hoan Hwa juga berkata: Para Enghiong yang terhormat, menurut
pendapatku, mungkin sekali pasukan Liau takkan rela dengan kekalahan
mereka tadi, maka mereka masih akan datang mengejar kita. Entah apakah
diantara kawan2 ada yang berpendapat lain?
Serentak banyak diantara para kesatria itu berteriak: Bila pasukan
musuh berani mengejar, hajolah kita hajar mereka lagi, masakah kita
mesti takut?
Soalnya bukan takut atau tidak, ujar Hoan Hwa, tapi jumlah musuh
terlalu banyak dan jumlah kita sangat sedikit, kalau bertempur ditempat
lapang begini akan tidak menguntungkan kita. Maka menurut pendapatku
adalah lebih baik kalau kita mundur dulu kebarat, pertama jarak kita
akan lebih dekat dengan pasukan Song dan bila perlu mungkin kita akan
mendapat bantuan. Selain itu makin jauh pasukan musuh mengejar kita
tentu jumlah musuh lebih2 terpencar dan berjumlah sedikit, dengan
demikian kita akan cari kesempatan untuk menggempur kembali mereka.
Para kesatria sama menyatakan setuju. Segera Hi-tiok memimpin anak
buah Leng-ciu-kiong sebagai barisan pertama, menyusul adalah Toan Ki
dengan jago2 Tayli, lalu Hianto bersama para kesatria Tionggoan, sedang
Siau Hong memimpin anggota2 Kay-pang mengiringi dari belakang.
Empat pasukan itu masing2 berjarak satu-dua li jauhnya, kurir berkuda
kian kemari menyampaikan berita, kalau ada musuh segera dapat saling
membantu.
Sesudah menempuh perjalanan satu hari, malamnya mereka lantas bermalam
diudara terbuka, sjukurlah semalam suntuk mereka tidak diganggu oleh
pasukan Liau, maka lambat-laun rasa was-was semua orang menjadi reda.
Esok paginya mereka meneruskan perjalanan. Siau Hong yang selalu
didampingi oleh A Ci telah coba menanyai anak dara itu: Apakah pemuda
she Yu itu masih tinggal di Leng-ciu-kiong?
Mulut A Ci yang kecil itu menjengkit, sahutnya: Siapa yang tahu?
Tentunya juga masih disana. Kedua matanya sudah buta, masakah dia dapat
pergi dari pegunungan yang curam itu? Nyata nadanya tetap tiada punya
rasa perhatian sedikitpun kepada Yu Goan-ci yang telah rela mengorbankan
matanya bagi anak dara itu.
Petang hari itu mereka telah sampai di Pek-lok-po, sebuah kota dikaki
gunung Ngo-tay-san, disitulah pasukan2 mereka berkemah mengaso.
Hoan Hwa memang mahir ilmu siasat dan pandai mengatur barisan,
sepanyang jalan ia telah meninggalkan ber-kelompok2 kesatria yang
tangkas untuk menjaga tempat2 yang strategis, kalau ada jembatan lantas
dihancurkan untuk memperlambat pasukan musuh bila mengejar.
Sampai hari ketiga, tiba2 terlihat disebelah timur sana asap mengepul
tinggi mencakar langit. Terang itulah tanda pasukan Liau sedang
mengejar kearah mereka.
Melihat itu, para kesatria kembali ber-debar2. Ada diantaranya yang sok
gagah dan suka bertempur seketika hendak memutar balik kesana untuk
membantu regu2 yang ditinggalkan Hoan Hwa itu, tapi mereka keburu
dicegah oleh Hian-to dan Hoan Hwa.
Malam itu rombongan2 mereka bermalam dilereng sebuah gunung. Sampai
tengah malam mendadak mereka dikejutkan oleh suara teriakan kaget orang.
Seketika para kesatria terjaga bangun terus menyiapkan senjata masing2.
Ternyata disebelah utara sana merah membara, entah benda apa yang
sedang terbakar sehingga berwujut lautan api sehebat itu.
Siau Hong saling pandang sekejap dengan Hoan Hwa, diam2 kedua orang
sama2 merasakan alamat yang tidak enak.
Siau-tayong, menurut pandanganmu, bukankah ini pertanda pasukan Liau
sedang memutar dari jurusan sana untuk menyerang kemari? tanya Hoan Hwa.
Raja Liau memang sudah bertekad akan menyerang Song dan sedang
mengerahkan pasukannya secara besar2an, boleh jadi ini adalah
pasukannya dari bagian utara, sahut Siau Hong.
Ai, kebakaran besar itu entah telah banyak mengambil korban harta benda
dan jiwa rakjat jelata yang tak berdosa! kata Hoan Hwa dengan menghela
napas.
Siau Hong tidak mau mengucapkan kata2 jelek bagi alamatnya Yalu Hungki
yang masih dianggapnya sebagai kakak-angkat, tapi dia cukup kenal
watak raja Liau itu, karena telah mengalami kekalahan dibawah serangan
orang2 Nukhen, tentu Hung-ki merasa sangat penasaran sehingga rasa
dendamnya seluruhnya telah dilampiaskan atas diri rakjat jelata yang
tidak bersalah. Tentu pasukan yang dikerahkan ini tidak kenal ampun lagi,
asal ketemu orang tentu dibunuh dan kalau melihat rumah pasti dibakarnya.
Api yang ber-kobar2 dengan hebat itu sampai fajar sudah menyingsing
masih belum juga padam, sampai sore harinya, kembali disebelah selatan
kelihatan api me-nyala2 pula. Dibawah sinar matahari cahaja api tidak
begitu jelas, tapi asap tebal tertampak mengepul tebal menembus awan.
Sebenarnya Hian-to memimpin kawan2nya berjalan didepan, ketika melihat
kebakaran disebelah selatan itu, segera ia menghentikan kudanya dan
menunggu ditepi jalan. Sesudah Siau Hong mendekat, lalu ia bertanya:
Kiau Pangcu, pasukan Liau telah mengepung kita dari tiga jurusan,
menurut pandanganmu apakah Gan-bun-koan dapat dipertahankan? Aku sudah
mengirim orang untuk menyampaikan berita kilat ke Gan-bun-koan, cuma
saja panglima penjaga benteng itu mungkin terlalu pengecut dan tiada
punya semangat tempur, boleh jadi sulit untuk menahan serbuan pasukan
berkuda orang Cidan.
Siau Hong terdiam, ia merasa susah untuk menjawab.
Lalu Hian-to berkata pula: Tampaknya hanya orang Nukhen saja yang
dapat menghadapi ketangkasan orang Cidan. Kelak bila kerajaan Song kita
berserikat dengan orang Nukhen, dengan digencet dari utara dan selatan
mungkin akan dapat memaksa bangsa Cidan berpikir dua kali dan tidak
berani sembarangan menyerbu keselatan.
Siau Hong tahu maksud paderi Siau-lim-si itu jalah ingin dirinya
berusaha menghubungi pemimpin suku bangsa Nukhen, jaitu Wanyan Akut. Tapi
demi teringat dirinya sesungguhnya adalah orang Cidan, mana boleh
bersekongkol dengan bangsa lain untuk menyerang bangsa dan tanah airnya
sendiri?
Untuk membelokkan pokok pembicaraan maka mendadak ia bertanya: Hian-to
Taysu, apakah ajahku baik2 saja berada didalam kuil agung kalian?
Hian-to tertegun, jawabnya: Ajah Kiau-pangcu sudah masuk kedalam
lingkungan Budha dan menyucikan diri diruang belakang Siau-lim-si,
keberangkatan kami ke Lamkhia kali ini tidak diberitahukan kepada ajahmu
supaja tidak merisaukan perasaannya.
Sungguh aku ingin pergi menemui beliau untuk menanyakan sesuatu
padanya, kata Siau Hong.
O, Hian-to tidak bersuara lebih lanjut.
Aku ingin tanya kepada beliau: Jikalau pasukan Liau menyerang Siaulim-
si, lantas tindakan apa yang akan dilakukan oleh beliau? kata Siau
Hong.
Sudah tentu beliau akan berbangkit untuk menumpas musuh, membela agama
dan menyelamatkan kuil, apa yang perlu diragukan lagi? ujar Hian-to.
Akan tetapi ajah adalah orang Cidan, apakah dia mau disuruh membela
orang Han untuk membunuh bangsanya sendiri?
Hian-to merenung sejenak, katanya kemudian: Pangcu ternyata benar2
orang Cidan yang telah meninggalkan kegelapan dan menuju kejalan yang
terang, sungguh harus diberi hormat dan mengagumkan.
Taysu adalah orang Han dan selalu anggap Han adalah pihak yang terang
dan pihak Cidan adalah pihak yang gelap. Sebaliknya bangsa Cidan kami
memandang kerajaan Liau yang jaja adalah pihak yang terang dan
kerajaan Song adalah pihak yang gelap. Padahal leluhur dari bangsa kami
telah banyak menderita, kami di-uber2 dan dibunuh oleh suku bangsa Sianbi
dan lain2 sehingga terpaksa berlari kian kemari untuk menyelamatkan diri,
betapa sengsaranya sungguh susah dilukiskan. Ketika kerajaan Tong negeri
kalian, karena ilmu silat bangsa Han kalian telah berkembang dengan
hebat, karena itu tidak sedikit pula kesatria2 bangsa Cidan kami
menjadi korban lagi dan banyak sekali kaum wanita kami diculik dan
ditawan. Sekarang ilmu silat bangsa Han kalian sudah banyak mundur, maka
berbalik bangsa Cidan kami yang akan membunuh kalian. Jika bunuh
membunuh secara bergilir ini berlangsung terus, bilakah baru akan
berakhir?
Hian-to menghela napas, katanya: Hanya kalau segenap raja2 dan
penguasa2 didunia ini sudah memeluk agama Budha yang mengutamakan welasasih
kepada sesamanya, dengan demikian barulah didunia ini takkan ada
peperangan dan saling bunuh membunuh.
Ja, entah bilakah baru akan tiba saat aman dan damai bagi dunia ini,
sahut Siau Hong.
Begitulah rombongan mereka terus menuju kebarat. Mereka melihat di
jurusan2 timur, utara dan selatan rupanya siang dan malam pasukan Liau
terus main bunuh dan bakar dimana mereka tiba. Dengan gusar para pahlawan
mencaci-maki kekejaman musuh dan bertekad akan melabrak pasukan musuh
dengan mati2an.
Pasukan Liau semakin dekat, akhirnya kita tentu tiada jalan mundur
lagi, demikian ujar Hoan Hwa. Menurut pendapatku ada lebih baik kita
pencarkan diri saja agar musuh merasa bingung kemana harus mengejar
kita.
Cara demikian bukankah berarti kita telah mengaku kalah? seru Gotianglo
dari Kay-pang. Hoan-suma, jangan engkau membesarkan kekuatan
musuh dan menilai rendah tenaga kita sendiri. Pendek kata, apakah akan
menang atau kalah, kita harus melabrak habis2an anjing2 Liau itu.
Bicara sampai disini, tiba2 terdengar suara mendesing, sebatang anak
panah menyambar dari arah tenggara sana dan kontan seorang murid
berkantong lima dari Kay-pang roboh terpanah, menyusul dari balik bukit
sana sepasukan Liau lantas meneryang tiba sambil ber-teriak2.
Rupanya pasukan Liau ini telah menyusul mereka dengan memotong jalan,
jumlah pasukan ini kira2 ada 500 orang.
Serbu! teriak Go-tianglo dan segera mendahului meneryang musuh.
Memangnya para pahlawan sudah menahan gusar dan dendam sejak tadi,
kini mereka dapat melampiaskan perasaan mereka, segera mereka menyerbu
dengan gagah berani. Karena jumlah dipihak pahlawan2 ini lebih besar
daripada pasukan Liau, ilmu silat mereka tinggi2 pula, maka ditengah
suara teriakan riuh ramai perajurit2 Liau telah dilabrak hingga kocarkacir,
bagaikan membacok semangka dan memotong sajur cepatnya, hanya
sekejap saja 500-an perajurit Liau itu telah disapu bersih oleh para
pahlawan.
Ada belasan orang Bu-su Cidan sempat mendaki bukit dan hendak
melarikan diri tapi merekapun tersusul oleh jago2 silat Tionggoan yang
tinggi Ginkangnya dan terbunuh habis pula.
Setelah menangkan peperangan ini, para pahlawan sama bersorak gembira,
semangat mereka me-nyala2 lebih hebat.
Tapi diam2 Hoan Hwa berkata kepada Hian-to, Hi-tiok, Toan Ki dan
beberapa pimpinan lain: Yang kita basmi ini hanya suatu pasukan Liau yang
kecil, sesudah terjadi kontak ini, pasukan Liau yang lebih kuat tentu
akan membanjir tiba. Marilah kita lekas mundur pula kebarat!
Baru selesai ia bicara, mendadak terdengar suara gemuruh disebelah
timur sana. Waktu para pahlawan memandang kearah sana, tertampaklah debu
mengepul tinggi hingga mirip awan mendung yang menutupi langit.
Seketika para kesatria hanya saling pandang belaka, keadaan menjadi
sunyi senyap, hanya terdengar suara riuh gemuruh itu tambah menggelegar
dari jauh. Terang itulah pasukan induk Liau yang serentak dilarikan
untuk meneryang kemari. Dari suaranya ini entah berapa ratus ribu
jumlahnya.
Para kesatria sudah banyak mengalami pertarungan sengit didunia
Kangouw, tapi suara gemuruhnya pasukan besar dilarikan seperti sekarang
ini sungguh tidak pernah didengar mereka. Dibandingkan dengan perang
diluar kota Lamkhia, terang kekuatan pasukan Liau sekarang jauh lebih
hebat dan susah ditaksir. Menghadapi suasana medan perang sedemikian ini
tanpa merasa hati para kesatria menjadi ber-debar2 dan kebat-kebit.
Segera Hoan Hwa berseru: Saudara2 sekalian, kekuatan musuh teramat
besar, daripada mati konyol percuma, biarlah kita menghindari untuk
sementara, asal gunung tetap menghijau, tak perlu kuatir tiada kaju
bakar. Marilah kita mengundurkan diri untuk mencari kesempatan buat
menggempur kembali.
Segera para kesatria melarikan kuda mereka kearah barat dengan cepat.
Mereka mendengar suara riuh gemuruh masih terus menggelegar dibelakang
mereka tak ber-henti2.
Semalam suntuk mereka tidak mengaso, menjelang fajar mereka sudah
dekat dengan Gan-bun-koan. Para kesatria mengeprak kuda mereka lebih
cepat. Mereka berharap asal dapat melintasi benteng itu, tentu pasukan
Liau tidak mudah akan membobol benteng pertahanan yang merupakan
perbatasan kedua negeri itu.
Sepanyang jalan ternyata tidak sedikit kuda2 para kesatria binasa
keletihan. Maka ada yang terpaksa berlari dengan Ginkang, ada yang dua
orang menunggang satu kuda.
Waktu terang tanah, jarak mereka dengan Gan-bun-koan hanya tinggal
belasan li saja, maka legalah para kesatria. Mereka lantas melompat
turun dari atas kuda, dengan berjalan kaki mereka memberi kesempatan
kepada kuda mereka untuk melepaskan lelah. Sebaliknya suara riuh gemuruh
berlarinya pasukan besar Liau dibelakang mereka tidaklah berkurang,
bahkan bertambah hebat.
Siau Hong menurun kesebelah bukit sana. Tiba2 dilihatnya sepotong batu
karang besar. Hatinya terkesiap. Teringat olehnya inilah tempatnya dimana
dahulu Hian-cu dan Ong-pangcu memimpin para kesatria Tionggoan
menyergap ajahnya dan membunuh ibunya.
Waktu menoleh, dilihatnya didinding karang sana masih jelas penuh
bekas tatahan senjata. Terang itulah bekas tempat tulisan yang
ditinggalkan ajahnya yang kemudian telah dihapus oleh Hian-cu.
Pelahan2 Siau Hong berpaling pula, tertampaklah disebelah dinding
karang itu ada sebatang pohon, telinganya se-akan2 masih mendengar suara
A Cu yang dahulu sembunyi dibalik pohon itu: Kiau-toaya, jangan engkau
memukul lagi, nanti bukit ini akan hancur kena hantamanmu.
Ia ter-mangu2 sejenak, tiba2 ucapan A Cu yang lemah lembut dengan
jelas bergema pula dalam benaknya: Sudah lima hari lima malam kunantikan
engkau disini, kukuatir engkau takkan datang. Tapi . akhirnya engkau toh
datang juga. Banyak terima kasih kepada Thian yang maha murah hati,
akhirnya engkau telah datang dengan selamat.
Tanpa merasa air mata Siau Hong bercucuran, ia mendekati pohon itu
dan me-raba2 batang pohon, ia melihat pohon itu sudah jauh lebih tinggi
daripada waktu pertemuannya dengan A Cu dahulu. Sungguh tak terkatakan
rasa duka hati Siau Hong, ia lupa kepada segala apa yang sedang terjadi
disekitarnya pada saat itu.
Se-konyong2 terdengar teriakan melengking seorang: Cihu, lekas lari,
lekas mundur! Menyusul A Ci telah mendekatinya dan me-narik2 lengan
bajunya.
Waktu Siau Hong mengangkat kepalanya, ia melihat dari jurusan2 timur,
utara dan selatan telah membanjir pasukan Liau dengan tumbak2 teracung
keatas sebagai hutan bambu. Nyata pasukan Liau itu merapat dalam
pengepungan mereka.
Siau Hong mengangguk, katanya: Baiklah, mari kita mundur kedalam Ganbun-
koan.
Dalam pada itu kesatria2 lain sudah mendahului sampai didepan Gan-bunkoan,
tapi ketika Siau Hong dan A Ci sampai disitu, pintu gerbang
benteng pertahanan itu masih tetap tertutup rapat, tertampak air muka
para kesatria penuh rasa mendongkol dan penasaran.
Diatas benteng kelihatan berdiri seorang perwira pasukan Song dan
sedang berkata dengan suara lantang: Menurut perintah Thio-ciangkun yang
menjadi komandan pasukan penjaga benteng Gan-bun-koan ini, bahwasanya
bila kalian adalah rakjat tionggoan dan mestinya boleh masuk kedalam
benteng tapi entah diantara kalian terdapat tidak mata2 musuh, maka
diputuskan kalian harus membuang semua senjata yang kalian bawa untuk
diperiksa satu persatu, sesudah terang kalian adalah orang banyak, maka
dengan kebaikan hati Thio-ciangkun kalian nanti akan diperbolehkan masuk
benteng.
Seketika ributlah para kesatria demi mendengar ocehan perwira itu. Ada
yang berkata: Sungguh tidak pantas. Kita ber-lari2 sekian jauhnya dan
melawan musuh dengan sepenuh tenaga, tapi sampai disini malah dicurigai
lagi sebagai mata2 musuh.
Ja, sebabnya kita membawa senjata adalah karena ingin membantu kawan
untuk melawan pasukan Liau. Kalau senjata kita dilucuti, cara
bagaimana kita dapat berperang lagi? demikian kata yang lain.
Bahkan ada diantaranya yang berwatak berangasan sudah lantas mencacimaki:
Kurangajar! Sudah berjoang mati2an tidak mendapat pujian
sebaliknya dicurigai secara tidak beralasan. Apa benar kita tidak
diperbolehkan masuk kedalam benteng atau kita be-ramai2 mesti menyerbu
saja kedalam?
Agar urusan tidak menjadi lebih runyam, segera Hian-to mencegah kata2
kasar para kawan. Lalu serunya kepada perwira tadi: Harap sukalah memberi
lapor kepada Thio-ciangkun bahwa kami semuanya adalah rakjat Song yang
setia dan berjoang bagi negara. Pasukan musuh sekejap lagi akan tiba,
kalau mesti pakai memeriksa dan menggeledah segala, mungkin akan
berbahaja dan terlambat bagi keselamatan kami.
Rupanya perwira itupun sudah mendengar suara caci-maki tidak puas
dari para kesatria, pula dilihatnya banyak diantara rombongan Hian-to itu
aneka macam pakaiannya dan tidak mirip dengan rakjat umumnya didaerah
Tionggoan, maka perwira itu lantas bertanya lagi: Hwesio tua, kau bilang
kalian adalah rakjat Song yang baik2, tapi kulihat banyak diantara
rombongan itu tidak mirip dengan orang Tionggoan kita? Namun demikian, ja
sudahlah, aku akan memberi kelonggaran, mereka yang benar2 adalah rakjat
Song akan dibolehkan masuk, sebaliknya mereka yang bukan rakjat Song kita
dilarang masuk.
Untuk sejenak para kesatria menjadi saling pandang dengan penuh
mendongkol. Hendaklah maklum bahwa anak buahnya Toan Ki itu adalah rakjat
kerajaan Tayli, sedangkan anak buahnya Hi-tiok lebih2 tak keruan, mereka
adalah gado2, campuran dari berbagai bangsa, ada orang Se-ek, ada orang
Se He, Turfan, Korea dan lain2. Kalau sekarang yang dibolehkan masuk
benteng hanya rakjat Song saja, itu berarti sebagian besar anak buah
kerajaan Tayli dan Leng-ciu-kiong tak bisa ikut masuk kedalam.
Terpaksa Hian-to membujuk lagi: Mohon kebijaksanaan Ciangkun bahwa
banyak diantara kawan2 kami ini terdiri dari orang Tayli, Se He dan
lain2, mereka semuanya telah membantu kita melabrak pasukan Liau, jadi
mereka adalah kawan dan bukan lawan, mengapa mesti di-beda2kan tentang
rakjat Song atau bukan?
Kiranya perjalanan Toan Ki kedaerah utara kali ini telah dirahasiakan
dengan sangat rapat, ia tidak ingin diketahui kedudukannya sebagai kepala
negara Tayli untuk menjaga kalau2 mendadak negerinya diserang oleh
kerajaan Song atau mungkin juga dia akan dijebak dan ditawan sebagai
sandera. Sebab itulah dalam jawaban Hian-to itu tidak di-singgung2
tentang didalam rombongannya terdapat seorang tokoh maha penting itu.
Maka terdengar perwira tadi berkata dengan kurang senang: Gan-bun-koan
adalah gerbang terpenting diwilajah utara kerajaan Song, tempat ini
merupakan kunci utama keselamatan negara. Coba lihatlah, pasukan Liau
sudah tiba secara besar2an, kalau aku sembarangan membuka pintu sehingga
memberi kesempatan kepada pasukan Liau untuk menyerbu masuk kemari, lalu
siapa yang akan bertanggung-jawab atas malapetaka yang akan timbul
nanti?
Sungguh mendongkol sekali Go-tianglo, ia tidak tahan lagi, segera ia
berteriak: Kenapa kau hanya membacot saja sejak tadi dan tidak lekas2
membuka pintu? Kalau kau buka sejak tadi bukankah saat ini kami sudah
didalam benteng dan takkan menimbulkan malapetaka segala?
Perwira itu menjadi gusar, damperatnya: Kau pengemis tua bangka ini
berani sembarangan kentut didepan tuan-besarmu? -- Dan sekali ia memberi
tanda, serentak diatas benteng muncul ribuan perajurit pemanah dengan
anak panah sudah terpasang dibusurnya serta mengincar kebawah benteng.
Nah, lebih baik kalian lekas mundur saja, lekas! Kalau rewel2 lagi tak
habis2 sehingga mengacaukan pikiran perajurit kami, segera akan
kuperintahkan melepaskan panah, demikian perwira itu mengancam.
Hian-to menghela napas panyang dan tidak berdaja menghadapi perwira
yang kepala batu dan susah untuk diajak bicara itu.
Saat itu para kesatria berada ditengah selat Gan-bun-koan. Kedua sisi
benteng itu adalah tebing bukit yang terjal meninggi kelangit. Sebabnya
diberi nama Gan-bun-koan atau benteng pintu burung belibis, jaitu sebagai
perumpamaan bahwa sekalipun burung belibis jika hendak terbang keselatan
juga terpaksa mesti terbang menyusur selat bukit yang terjal dan tinggi
itu untuk melukiskan betapa berbahajanya benteng itu.
Diantara kesatria2 dan pahlawan2 itu tidak sedikit terdapat jago silat
yang memiliki Ginkang yang tinggi, dengan mudah saja mereka dapat
mendaki bukit dan melintas kebalik gunung sana untuk menyelamatkan diri
bila dikejar musuh, tapi sebagian besar pahlawan lainnya tentu tak
terhindar dari kebinasaan dibawah senjata pasukan Liau yang sebentar
lagi akan membanjir tiba itu.
Sementara itu pasukan Liau sudah makin dekat, hanya karena terhalang
oleh keadaan pegunungan yang luar biasa itu, maka terpaksa mereka mesti
menyempitkan kepungan mereka dari kanan dan kiri dan akhirnya terpusat
menjadi satu jurusan terus meneryang maju kedepan. Suara tambur
bergemuruh memekak telinga. Saat itu yang terdengar hanya suara tambur
perang, suara derap larinya kuda tercampur suara gemerincingnya suara
pakaian perang para perajuritnya dan suara menderunya panji2 tertiup
angin, sebaliknya tak terdengar sama sekali berisiknya suara manusia,
dari ini dapat dibayangkan betapa tegas dan keras disiplinnya pasukan
Liau yang kuat itu.
Begitulah sebaris demi sebaris pasukan Liau terus mendesak maju
kedepan benteng Gan-bun-koan. Sesudah mencapai jarak kira2 satu
panahan, lalu barisan2 itu berhenti. Sepanyang mata memandang, di-mana2
hanya tertampak panji2 berkibar dan gemilapannya senjata, entah berapa
jumlahnya pasukan Liau yang datang itu.
Melihat keadaan sudah kepepet, Siau Hong merasa tidak dapat tinggal
diam lagi. Segera ia berseru lantang: Harap para kawan tunggu sementara
ditempatnya masing2 dan jangan sembarangan bergerak, biarlah Cayhe
bicara sendiri dengan raja Liau. Dan tanpa peduli seruan Toan Ki dan A
Ci yang mencegah maksudnya itu, segera ia memutar kudanya dan dilarikan
cepat kearah pasukan Liau.
Siau Hong angkat kedua tangannya lurus keatas kepala sebagai tanda dia
tiada membawa sesuatu senjata. Lalu ia berteriak sekerasnya: Sri Baginda
raja Liau yang mulia, Siau Hong ingin bicara sedikit dengan engkau,
harap engkau sudi tampil kemuka!
Dia bicara dengan menggunakan tenaga dalam yang kuat, maka suaranya
dapat berkumandang hingga jauh. Ratusan ribu perajurit dan perwira Liau
boleh dikata tiada satupun yang tidak mendengarnya dengan jelas. Mautak-
mau setiap orang Cidan itu berubah air mukanya.
Selang agak lama, mendadak terdengar suara gemuruh tambur dan terompet
ditengah pasukan Liau, beratus ribu perajurit Liau itu serentak menyiah
kepinggir sebagai ombak terbelah kedua sisi. Maka tertampaklah delapan
buah panji kuning emas ber-kibar2 tertiup angin dan dilarikan kedepan
oleh delapan orang kesatria penunggang kuda.
Dibelakang kedelapan panji kuning itu menyusul barisan2 bersenjata
tumbak, golok dan kapak, pemanah dan golok-tameng. Sesudah tampil
kedepan, lalu barisan2 itu memisah kedua samping. Habis itu barulah
tampak belasan jenderal dengan pakaian perang yang mentereng
mengiringkan Yalu Hung-ki maju kedepan.
Serentak perajurit2 Liau bersorak-sorai: Banswe! Banswe! (Banswe =
Hidup).Demikian bergemuruhnya suara sorakan itu se-akan2 menggetarkan
lembah pegunungan dan memecah bumi.
Melihat perbawa musuh sedemikian hebat, keruan perajurit Song yang
menjaga Gan-bun-koan itu menjadi terpengaruh dan keder.
Waktu Yalu Hung-ki mendadak angkat golok mestika yang dipegangnya itu
keatas, seketika suara gemuruh pasukannya lantas berhenti, bahkan suasana
menjadi sunyi senyap, kecuali suara ringkik kuda yang terkadang
terdengar, boleh dikata tiada suara lain lagi.
Sesudah Hung-ki menurunkan kembali goloknya, tiba2 ia berseru kepada
Siau Hong: Siau-tayong, Siau-hiante yang baik, kau bilang akan membawa
pasukan Liau kedalam benteng, mengapa sampai saat ini pintu gerbang belum
lagi dibuka?
Mendengar ucapan Yalu Hung-ki ini, segera juru-bahasa yang berada
diatas benteng lantas menterjemahkan arti ucapan itu kepada Thiociangkun,
itu panglima penjaga Gan-bun-koan.
Keruan pasukan Song diatas benteng itu lantas geger, be-ramai2 mereka
mencaci-maki dan mengutuki Siau Hong.
Siau Hong tahu maksud ucapan Hung-ki itu sengaja hendak mengadu-domba
agar dia dicurigai oleh pasukan Song dan tidak berani membuka pintu
gerbang benteng untuk memasukkan pahlawan2 Tionggoan itu.
Segera Siau Hong melompat turun dari kudanya, ia melangkah maju sambil
berkata: Baginda, Siau Hong merasa telah mengkhianati budi kebaikanmu
sehingga Baginda sendiri sampai maju sendiri kemedan perang, sungguh
dosaku tak terbilang besarnya.
Baru sekian saja dia bicara, se-konyong2 dua sosok bajangan orang
melayang lewat dikedua sisinya. Begitu cepat kedua bajangan itu sebagai
kilat, terus saja mereka meneryang kearah Yalu Hung-ki. Kiranya mereka
adalah Hi-tiok bersama Toan Ki.
Rupanya kedua orang itu melihat gelagat tidak menguntungkan urusan hari
ini, harus berani bertindak lebih dahulu dengan menangkap raja Liau
sebagai sandera (barang jaminan), dengan demikian barulah keselamatan
orang banyak dapat terjamin. Maka begitu saling memberi tanda, serentak
mereka meneryang maju dari kanan-kiri.
Ketika akan maju kedepan pasukan untuk menemui Siau Hong memangnya
Yalu Hung-ki juga sudah menduga kemungkinan saudara angkat akan
menggunakan tipu lama ketika Siau Hong menawan Cho-ong dan puteranya
digaris depan waktu raja muda itu memberontak, maka sebelumnya Hung-ki
juga sudah bersiap siaga.
Benar juga, sekali ia memberi aba2, serentak tiga ratus perajurit
bertameng lantas merubung maju. Tiga ratus buah tameng laksana dinding
baja yang kuat telah mengadang didepan Yalu Hung-ki. Bahkan jago
tumbak, jago kapak juga serentak berbaris didepan barisan tameng itu.
Namun sekarang Hi-tiok bukan Hi-tiok jaman dulu lagi, dia sudah
memperoleh ajaran murni dari Thian-san Tong-lo dan Li Jiu-sui, dia
telah mejakinkan pula seluruh ilmu silat yang terukir didinding Lengciu-
kiong, betapa tinggi kepandaiannya sekarang boleh dikata tiada
bandingannya dan dapat dikeluarkan sesuka hatinya menurut keadaan.
Sedangkan Toan Ki sekarang juga lain Toan Ki yang dulu, dia sudah
memperoleh antero tenaga murni Ciumoti, betapa hebat Lwekangnya juga
susah diukur. Apalagi kalau dia sudah keluarkan langkah ajaib Leng-powi-
poh, biarpun penjagaan serapat baja juga dapat ditembusnya.
Begitulah, maka dengan menyelinap kesana dan menerobos kesitu, dengan
cepat dan gesit sekali Toan Ki telah merangsang maju melalui
perajurit2 bertumbak dan berkapak, asal ada sedikit lubang saja segera
diterobos olehnya.
Para perajurit Liau itu segera menggunakan senjata mereka untuk
membacok dan menusuk, tapi perbuatan mereka itu berbalik celaka, bukan
saja luput mengenai Toan Ki, sebaliknya karena jarak diantara mereka
sendiri terlalu dekat, sehingga hampir seluruhnya serangan mereka
mengenai kawannya sendiri.
Adapun Hi-tiok juga lantas bekerja dengan cepat, kedua tangannya
menyambar kekanan dan kekiri, asal ada perajurit Liau kena
dicengkeramnya, kontan terus dilemparkannya keluar barisan. Sambil
melempar orang ia terus mendesak maju kearah Yalu Hung-ki.
Mendadak dua perwira Cidan meneryang maju, dua tumbak mereka menusuk
berbareng kedadanya Hi-tiok. Se-konyong2 Hi-tiok meloncat keatas, kedua
kakinya masing2 menginjak diatas ujung tumbak musuh. Kedua perwira
Cidan itu mem-bentak2 sambil mengajun tumbak mereka dengan maksud hendak
menjungkirkan Hi-tiok kebawah.
Tapi dengan meminjam daja guncangan tumbak2 lawan, Hi-tiok terus
melayang keatas udara untuk kemudian lantas menyambar keatas kepala Yalu
Hung-ki.
Jadi yang satu selicin belut dan yang lain secepat burung terbang,
tahu2 Toan Ki dan Hi-tiok sudah meneryang sampai didekat raja Liau itu.
Keruan Hung-ki terkejut, cepat ia angkat golok-mestikanya dan
membacok kearah Hi-tiok yang sedang menubruk dari atas.
Tapi dari atas Hi-tiok sudah lantas mengulurkan tangannya dan menahan
diatas golok-mestikanya, berbareng orangnya lantas meluncur turun,
dimana tangannya bergerak, dengan cepat pergelangan tangan kanan Hung-ki
sudah kena dipegang olehnya.
Dan pada saat yang hampir sama Toan Ki juga sudah menyelinap tiba dari
rintangan perajurit2 Liau dan dapat mencengkeram tangan kiri Hung-ki.
Ikutlah! bentak Toan Ki dan Hi-tiok berbareng. Segera mereka angkat
tubuh Hung-ki dari atas kudanya dan melompat kedepan untuk dibawa lari
secepat terbang.
Ditengah jerit kaget dan kuatir perwira dan perajurit Liau yang riuh
ramai itu, seketika mereka menjadi bingung karena raja mereka sudah
kena ditawan musuh. Ada beberapa pengawal pribadi Hung-ki memburu maju
hendak menolong, tapi semuanya kena ditendang mencelat oleh Hi-tiok dan
Toan Ki.
Karena berhasil menawan raja Liau, sungguh girang Hi-tiok dan Toan Ki
tak terkatakan. Mendadak mereka melihat Siau Hong telah memapak tiba,
berbareng mereka lantas berseru: Toako!
Tak terduga mendadak Siau Hong menggerakkan kedua telapak tangannya
berbareng, sekaligus ia serang kedua saudara angkat itu. Keruan Hi-tiok
dan Toan Ki terkejut, tampaknya daja pukulan Siau Hong sebagai gugur
gunung dahsjatnya dan susah dielakkan pula. Terpaksa mereka angkat tangan
masing2 untuk menangkis. Maka terdengarlah suara plak-plok dua kali,
empat tangan beradu dan menimbulkan angin yang menderu keras.
Kesempatan itu segera digunakan oleh Siau Hong untuk memburu maju, ia
tarik Yalu Hung-ki kearahnya.
Dalam pada itu pasukan Liau dan kesatria2 Tionggoan juga telah
membanjir maju dari arahnya masing2, yang satu pihak ingin merebut
kembali raja mereka dan pihak lain ingin membantu Siau Hong, Hi-tiok dan
Toan Ki.
Sudah tentu siapapun tidak menduga bahwa mendadak Siau Hong telah
mengadu pukulan dengan kedua saudara-angkatnya. Karena itulah orang2
kedua pihak sama2 tercengang.
Segera terdengar Siau Hong berseru lantang: Jangan bergerak, siapapun
jangan bergerak, dengarkan dulu, aku ingin bicara dengan raja Liau!
Serentak pasukan Liau dan kesatria2 Tionggoan berhenti di tempatnya
masing2, kedua pihak sama2 kuatir membikin susah orangnya sendiri, maka
mereka hanya ber-teriak2 saja dari jauh dan tidak berani meneryang
maju, lebih2 tidak berani melepaskan panah.
Dalam pada itu Hi-tiok dan Toan Ki juga telah menyingkir kira2
beberapa tindak dibelakangnya Yalu Hung-ki untuk menjaga kalau2 raja
Liau itu lari kembali kedalam pasukannya serta untuk merintangi bila ada
jago Cidan memburu maju hendak menolong rajanya.
Saat itu wajah Yalu Hung-ki sudah pucat pasi, pikirnya: Watak Siau
Hong ini sangat keras, aku telah mengurung dia didalam kerangkeng
berterali besi dan menghina dia habis2an. Sekarang aku berbalik tertawan
olehnya, tentu dia akan membalas dendam se-puas2-nya dan mungkin jiwaku
takkan diampuni lagi olehnya.
Tak tersangka Siau Hong telah berkata: Baginda, kedua orang ini adalah
saudara-angkatku, mereka takkan membikin susah padamu, jangan kau
kuatir.
Hung-ki mendengus sekali dan tidak menjawab, ia menoleh memandang
sekejap kepada Hi-tiok, lalu memandang sekejap pula pada Toan Ki.
Jiteku ini bernama Hi-tiok-cu, adalah majikan dari Leng-ciu-kiong,
dan Samte ini adalah Toan-kongcu dari kerajaan Tayli, demikian Siau
Hong memperkenalkan. Nama2 mereka juga pernah hamba ceritakan kepada
Sri Baginda.
Ja, ternyata tidak bernama kosong, benar2 sangat hebat! sahut Hung-ki
sambil manggut2.
Kami akan segera melepaskan Sri Baginda kembali ke pasukanmu, cuma
kami ingin mohon sesuatu dari Baginda, kata Siau Hong pula.
Hung-ki hampir2 tidak percaja kepada telinganya sendiri. Pikirnya:
Didunia ini masakah ada urusan sedemikian enaknya? Ah, ja, tahulah aku,
mungkin Siau Hong sudah berbalik pikiran dan akan kembali padaku, maka ia
akan mohon aku menganugrahi mereka bertiga dengan pangkat yang tinggi.
Maka dengan muka tersenyum simpul ia menjawab: Kalian ada permohonan
apa, sudah tentu aku akan memenuhi dengan baik.
Baginda sekarang telah menjadi tawanan kedua saudara-angkatku ini,
kata Siau Hong. Menurut peraturan bangsa Cidan kita, untuk bisa bebas
Sri Baginda harus memberi tebusan dengan sesuatu.
Seketika Hung-ki mengerut kening. Apa yang kalian kehendaki? tanyanya.
Maafkan kelancangan hamba yang telah mewakilkan kedua saudara-angkatku
untuk bicara dengan terus terang, yang kami inginkan hanya suatu janji
Baginda saja, sahut Siau Hong.
Kerut kening Hung-ki semakin rapat. Soal apa? tanyanya pula.
Kami hanya mohon Baginda suka berjanji akan segera menarik mundur
pasukanmu dan untuk selama hidup Sri Baginda akan melarang setiap
perajurit Liau mendekati perbatasan wilajah antara kedua negeri Liau dan
Song.
Toan Ki sangat girang mendengar sjarat yang dikemukakan oleh Siau Hong
itu. Pikirnya: Asal pasukan Liau tidak melintasi wilajah perbatasannya
dengan Song dan dengan sendirinya juga tak dapat mengancam negeri Tayli
kami.
Karena itu, cepat iapun berseru: Ja, betul, asal kau mau berjanji
dan segera kami akan melepaskan kau.
Tapi lantas teringat olehnya bahwa tertawannya raja Liau itu sebagian
juga berkat tenaga sang Jiko dan entah bagaimana pendapatnya tentang
sjarat yang dikemukakan Siau Hong itu. Maka ia lantas bertanya kepada Hitiok:
Jiko, tebusan apa yang kau inginkan dari raja Cidan ini?
Hi-tiok menggeleng kepala, sahutnya: Akupun mengharapkan janjinya itu
saja.
Air muka Hung-ki tampak bersengut, katanya: Hm, kalian berani memaksa
dan mengancam diriku? Dan bagaimana kalau aku menolak permintaanmu?
Jika begitu, tiada jalan lain, terpaksa gugur bersama, kata Siau
Hong. Dahulu waktu kita mengangkat-saudara kita juga pernah bersumpah
untuk hidup dan mati bersama.
Hung-ki tertegun. Pikirnya: Siau Hong ini adalah seorang nekat yang
tidak kenal apa artinya takut. Dia berani berkata dan berani berbuat, apa
yang sudah diucapkan selamanya dipegang teguh. Kalau aku menolak
permintaannya, jangan2 dia benar2 menyerang diriku, sungguh celaka
jika aku mesti binasa ditangan seorang nekat sebagai dia ini.
Karena itulah mendadak ia bergelak tertawa dan berseru dengan lantang:
Dengan jiwaku Yalu Hung-ki ini dapat menyelamatkan ber-juta2 jiwa dari
rakjat kedua negara, haha, saudaraku yang baik, apa kau pandang jiwaku
sedemikian tinggi nilainya?
Sri Baginda adalah orang yang diagungkan dinegeri Liau, diseluruh
jagat ini masakah ada orang lain yang lebih tinggi nilainya daripada
Baginda? sahut Siau Hong.
Kembali Hung-ki tertawa, katanya: Jika demikian, dahulu orang Nukhen
hanya minta tebusan padaku sebanyak 30 kereta emas, 300 kereta perak dan
3000 ekor kuda, penilaian mereka sesungguhnya terlalu dangkal, bukan?
Siau Hong membungkuk tubuh kepada kakak-angkat itu dan tidak menjawab
lagi.
Hung-ki coba menoleh kebelakang, tertampak jago pengawalnya yang
paling dekat juga lebih dari puluhan meter jauhnya, betapapun pasti
susah untuk menolong dirinya. Mengingat jiwanya yang lebih berharga
daripada segala benda apapun didunia ini, terpaksa Yalu Hung-ki menerima
sjarat yang diajukan Siau Hong. Segera ia mengeluarkan sebatang anak
panah, ia angkat keatas, sekali tekuk, krak, patahlah anak panah itu
terus dibuangnya keatas tanah sambil berkata: Kuterima sjaratmu!
Banyak terima kasih, Baginda, kata Siau Hong.
Segera Hung-ki memutar tubuh dan hendak melangkah pergi, tapi tertampak
olehnya Hi-tiok dan Toan Ki masih mengawasi dirinya dengan sorot mata
ber-api2 dan tiada tanda2 mau memberi jalan padanya. Terpaksa ia menoleh
lagi memandang kepada Siau Hong, dilihatnya Siau Hong juga diam saja.
Maka tahulah Hung-ki apa maksud mereka, terang mereka masih kuatir kalau2
dirinya mengingkar janji hanya dengan ucapannya tadi.
Hung-ki lantas melolos golok-mestikanya dan diangkat tinggi keatas,
lalu serunya keras2: Wahai, dengarkanlah para perajurit dan perwira
Liau!
Serentak terdengar tambur perang ditengah pasukan Liau bergemuruh
ditabuh, lalu berhenti seketika.
Kemudian Yalu Hung-ki berseru pula: Sekarang juga kuperintahkan
menghentikan peperangan ini, negeri Song dan Liau adalah negeri
bersaudara, maka hari ini juga pasukan kita lantas ditarik mundur. Untuk
selama hidupku ini aku melarang setiap perajurit Liau melintasi
perbatasan. Habis berkata, ketika golok-mestikanya diturunkan, kembali
tambur bergemuruh ditabuh lagi.
Dan baru sekarang Siau Hong membuka suara: Dengan hormat silakan Sri
Baginda kembali ke pasukan!
Hi-tiok dan Toan Ki segera menyingkir kesamping dan memutar
kebelakangnya Siau Hong.
Hung-ki merasa girang dan malu pula. Meski ia ingin lekas2 meninggalkan
tempat berbahaja itu, tapi iapun tidak sudi mempertontonkan kelemahannya
didepan Siau Hong dan pasukan kedua pihak, maka ia berlaku tenang sedapat
mungkin dan melangkah kembali kepihak pasukannya dengan pelahan2.
Segera berpuluh pengawal pribadinya melarikan kuda mereka memapak
maju. Semula langkah Hung-ki masih pelahan, tapi tanpa merasa jalannya
makin lama makin cepat, sehingga akhirnya kedua kakinya terasa lemas seakan2
jatuh, jalannya menjadi ter-hujung2, kedua tangannya bergemetar
dan keringat memenuhi dahinya.
Ketika para pengawalnya sampai didepannya dan membawakan kuda
tunggangannya, namun sekujur badan Hung-ki sudah lemas semua rasanya,
biarpun sebelah kakinya sudah menginjak pelana, tapi tidak kuat
mencemplak keatas kudanya.
Cepat dua pengawalnya menahan bahunya dan mengangkatnya keatas, dengan
demikian barulah Hung-ki dapat naik keatas kudanya.
Melihat raja mereka telah kembali dengan selamat, serentak para
perajurit Liau ber-sorak2 lagi riuh rendah.
Dalam pada itu demi mendengar raja Liau memberi perintah kepada
pasukannya untuk mundur dan menyatakan selama hidupnya akan melarang
setiap perajurit Liau melanggar perbatasan kedua negeri, maka baik
tentera Song diatas benteng maupun para kesatria diluar benteng juga
serentak bersorak gembira.
Semua orang cukup kenal sifat orang Cidan yang kejam dan suka
membunuh, tapi selamanya dapat pegang janji, apalagi sekarang raja
Liau sendiri yang mengumumkan janjinya didepan pasukan kedua pihak,
kalau kelak mengingkar janji, tentu diapun akan dipandang hina oleh
rakjatnya sendiri dan tahta kerajaannya mungkin akan guncang.
Begitulah dengan wajah guram Yalu Hung-ki merasa malu benar2 karena
telah memberikan janji sebesar itu dibawah ancaman Siau Hong.
Peristiwa ini benar2 sangat menurunkan perbawanya dan memerosotkan pamor
kerajaan Liau. Tapi dari suara sorak-sorai sambutan pasukannya dapat
dirasakan pula bahwa apa yang sudah terjadi itu ternyata tidak
mengurangi dukungan para perajurit dan perwiranya kepadanya. Ketika ia
memandang para perajuritnya, tertampak wajah setiap orang bercahaja
dan ber-seri2.
Rupanya para perajurit itu demi mendengar pasukan mereka segera akan
ditarik mundur sehingga terhindar dari kemungkinan mati dimedan perang
dan tidak lama lagi akan dapat berkumpul kembali dengan sanak
keluarganya, maka mereka menjadi kegirangan.
Maklum, sekalipun orang Cidan gagah berani, tapi siapapun tak dapat
menjamin akan mati-hidup setiap orang dimedan perang. Maka demi
mendengar mereka akan terhindar dari bencana perang, dengan sendirinya
mereka sangat senang, terkecuali beberapa perwira diantaranya yang
mengimpikan akan mengeduk keuntungan dan naik pangkat dalam peperangan
itu.
Diam2 Hung-ki terkesiap: Kiranya semangat perajurit2ku juga sudah
bosan perang, kalau aku berkeras mengerahkan mereka menyerbu keselatan,
bukan mustahil akupun akan menderita kekalahan Lalu teringat pula
olehnya: Orang2 Nukhen itu benar2 sangat kurangajar, mereka selalu
merupakan ancaman dibelakang punggungku, maka aku harus menumpas dulu
manusia2 biadab itu.
Segera ia mengacungkan golok-mestikanya keatas dan berseru: Harap Pakih
Tay-ong memberi perintah, barisan belakang segera berubah menjadi
barisan muka, kita langsung pulang ke Lamkhia!
Serentak genderang berbunyi lagi dan meneruskan titah raja itu. Maka
terdengarlah suara sorak-sorai gegap gempita yang makin menjauh dan
makin menjauh.
Ketika Yalu Hung-ki berpaling, ia melihat Siau Hong masih berdiri
ditempatnya tanpa bergerak sedikitpun, sorot matanya tampak cemas.
Hung-ki tertawa dingin dan berseru: Siau-tayong, kau telah berjasa
besar bagi kerajaan Song, terang hadiah besar dan kedudukan tinggi
sedang menantikan dirimu dalam waktu singkat.
Sri Baginda, mendadak Siau Hong menjawab dengan suara keras: Sekali
Siau Hong adalah bangsa Cidan maka untuk selamanya juga tetap bangsa
Cidan. Hari ini hamba telah memaksakan kehendak atas Baginda sehingga
menjadi seorang Cidan yang maha berdosa, untuk selanjutnya apakah Siau
Hong masih ada muka untuk hidup didunia ini!
Se-konyong2 ia jemput kedua potong panah patah yang dibuang Hung-ki
tadi, sekali tenaga dalam dikerahkan, crat-crat, mendadak ia tikam ulu
hati sendiri dengan kedua potong panah patah itu.
Hung-ki menjerit kaget dan segera memutar kudanya dan dilarikan
beberapa tindak, tapi lantas menghentikan kudanya lagi.
Kejut Hi-tiok dan Toan Ki tak terkatakan, berbareng mereka melompat
maju sambil berteriak: Toako! Toako!
Namun kedua potong panah patah itu dengan tepat telah menancap di ulu
hati Siau Hong. Kedua mata sang Toako tertampak terpejam rapat, nyata
orangnya sudah meninggal.
Cepat Hi-tiok merobek baju sang Toako dengan maksud hendak memberi
pertolongan kilat. Namun luka Siau Hong teramat parah, dengan tepat ulu
hatinya tertembus kedua potong panah patah, terang susah untuk dihidupkan
lagi. Terlihat diatas dada sang Toako sebuah kepala serigala yang
menyeringai bertaring dan sangat buas tampaknya.
Hi-tiok dan Toan Ki menangis sedih dan memberi hormat terakhir kepada
sang Toako. Be-ramai2 anggota2 Kay-pang juga berkerumun maju untuk
memberi hormat.
Kiau-pangcu, seru Go-tianglo sambil me-mukul2 dadanya sendiri, meski
engkau adalah orang Cidan, tapi jauh lebih gagah dan lebih kesatria
daripada orang2 Han yang tak berguna sebagai kami ini!
Para kesatria Tionggoan be-ramai2 juga mengerumuni pahlawan pembela
perdamaian itu dan ramai mempercakapkannya. Ada yang bertanya: Kiaupangcu
ternyata benar adalah orang Cidan? Jika demikian mengapa dia
malah membela pihak Song kita?
Ja, tampaknya ditengah bangsa Cidan juga terdapat kaum kesatria dan
pahlawan, demikian kata seorang lain.
Sejak kecil dia dibesarkan di-tengah2 bangsa Han kita, sehingga dapat
menteladani budi luhur bangsa kita, sambung yang lain lagi.
Kalau kedua negara sudah berdamai dan dia sudah menjadi juru
penyelamat rakjat kedua pihak, mestinya dia toh tidak perlu membunuh
diri, demikian pendapat yang lain.
Kau tahu apa? ujar kawannya. Meski dia berjasa bagi kerajaan Song,
tapi dia telah dipandang sebagai pengkhianat dinegerinya sendiri. Jadi
dia membunuh diri karena takut atas dosanya sendiri.
Takut dosa apa? Kesatria besar sebagai Kiau-pangcu masakah perlu
merasa takut ? tukas kawannya tadi.
Sebaliknya Yalu Hung-ki menjadi bingung sendiri demi menyaksikan Siau
Hong telah membunuh diri. Pikirnya: Dia sebenarnya berjasa bagi
kerajaan Liau atau berdosa ? Dengan susah pajah dia telah mencegah aku
menyerang wilajah Song, sebenarnya dia berjoang bagi orang Han atau bagi
bangsa Cidan ? Sejak dia mengangkat-saudara dengan aku, selamanya dia
sangat setia padaku. Hari ini dia telah membunuh diri didepan Gan-bunkoan,
tampaknya bukan maksudnya karena kemaruk kepada kedudukan di negeri
Song sana, habis .... habis apa sebabnya ?
Maka berderaplah beratus ribu telapak kaki kuda menuju keutara, para
perwira Cidan ber-ulang2 masih menoleh kebelakang untuk memandang tubuh
Siau Hong yang menggeletak diatas tanah dan sudah tak bernyawa itu.
Terdengar pula suara berkaoknya burung, serombongan burung belibis
sedang terbang dari utara lewat diatas kepala pasukan tentara dan menuju
keselatan melintasi benteng Gan-bun-koan.
Makin lama makin menjauh suara gemuruh derap pasukan Liau itu. Hitiok,
Toan Ki dan lain2 masih berdiri ter-mangu2 disamping jenazah Siau
Hong, ada yang menangis ter-gerung2, ada yang cuma mencucurkan air
mata dengan kepala menunduk.
Tiba2 terdengar jerit lengking seorang wanita muda : Minggir !
Minggir! Semuanya minggir! Kalian sudah menyebabkan kematian Cihuku,
tapi masih pura2 menangis apa segala disini, apa gunanya ?
Sambil berkata wanita muda itu sembari men-dorong2 minggir orang banyak
yang berkerumun disekitar jenazah Siau Hong. Siapa lagi dia kalau bukan
A Ci ?
Hi-tiok dan lain2 sudah tentu tidak pikirkan ucapan anak dara yang
sebenarnya menyinggung perasaan itu, maka mereka lantas sama menyingkir
memberi jalan kepada A Ci.
Untuk sejenak A Ci ter-mangu2 memandang jenazah Siau Hong, kemudian
ia berkata dengan suara halus: Cihu, orang2 ini semuanya orang busuk,
kau jangan gubris pada mereka, hanya A Ci saja yang benar2 berlaku
baik kepadamu.
Habis berkata ia terus berjongkok untuk memondong jenazah Siau Hong.
Tapi tubuh Siau Hong sangat tinggi dan besar, separo badannya terpondong,
tapi kedua kakinya tetap terseret diatas tanah.
A Ci berkata pula: Cihu, aku tahu sekarang kau baru menurut padaku,
biarpun kupondong dirimu juga, kau tak mendorong pergi aku lagi. Ja,
harus beginilah memangnya!
Hi-tiok dan Toan Ki saling pandang sekejap, pikir mereka: Agaknya dia
terlalu berduka sehingga pikirannya berubah kurang waras.
Lalu Toan Ki coba menghiburnya dengan suara halus: Adikku, secara
kesatria Siau-toako telah gugur, orang meninggal toh tak dapat hidup
kembali, hendaklah kau... kau ...
Tapi A Ci lantas mendorong minggir sambil membentak: Jangan kau
merebut Cihuku, dia adalah milikku, siapapun tidak boleh menyentuhnya!
Toan Ki menoleh dan mengedipi Bok Wan-jing.
Wan-jing paham maksudnya dan segera mendekati A Ci, katanya dengan
pelahan: Adik kecil, Siau-toako telah wafat, marilah kita berunding
cara bagaimana sebaiknya untuk memakamkan dia ....
Tak terduga mendadak A Ci menjerit tajam sehingga Bok Wan-jing
terkaget dan tersentak mundur.
Pergi! Pergi! Enyahlah semua! demikian seru A Ci. Kaum lelaki bukan
manusia baik, kaum wanitanya juga bukan orang baik! Kau bermaksud
meracuni Cihuku, kau suruh dia minum arak sehingga tak bisa berkutik.
Hm, jika kau berani mendekat segera akan kubunuh kau lebih dulu.
Keruan Bok Wan-jing mengerut kening dan geleng2 kepala kepada Toan Ki.
Pada saat itulah tiba2 dilereng bukit disisi kiri benteng Gan-bun-koan
sana ada suara teriakan orang: A Ci! A Ci! Ha, aku sudah mendengar
suaramu! Dimanakah engkau sekarang? Dimana?
Suara itu kedengaran sangat memilukan hati, banyak diantara kesatria
Tionggoan itu mengenal suara orang itu, jaitu orang yang pernah menjadi
Pangcu dari Kay-pang dan memakai nama samaran sebagai Ong Sing-thian,
aslinya bernama Yu Goan-ci.
Waktu semua orang memandang kearah datangnya suara, maka tertampaklah
kedua tangan Goan-ci masing2 memegangi sebatang tongkat bambu, tongkat
kiri dipakai sebagai alat pencari jalan, tongkat kanan sebaliknya
menumpang diatas pundak seorang laki2 setengah umur dan sedang muncul
dari kelokan gunung sana.
Hi-tiok dan lain2 menjadi ter-heran2. Waktu mereka memperhatikan
silelaki setengah umur, kiranya dia adalah Oh-lotoa yang ditugaskan
menjaga Leng-ciu-kiong oleh Hi-tiok.
Wajah Oh-lotoa tampak kurus pucat, bajunya compang-camping dan
memperlihatkan sikap yang penasaran karena terpaksa.
Maka tahulah Hi-tiok dan lain2. Rupanya Oh-lotoa telah dipaksa oleh Goan-ci yang sudah buta itu agar membawanya pergi mencari A Ci. Bukan mustahil sepanyang jalan Oh-lotoa telah banyak menderita siksaan Goanci.
Untuk apa kau datang kesini? demikian tiba2 A Ci mendamperat dengan gusar. Aku tidak ingin melihat kau, tidak ingin melihat kau lagi!
Sebaliknya Goan-ci menjadi girang, serunya: Ha, engkau ternyata benar berada disini. Aku dapat mengenali suaramu, akhirnya aku dapat menemukan dikau! Dan ketika dia dorong tongkatnya sedikit, tanpa kuasa lagi Ohlotoa lantas berlari kedepan secepat terbang.
Cepat sekali datangnya Goan-ci dan Oh-lotoa itu, hanya dalam sekejap saja sudah sampai disamping A Ci.
Hi-tiok, Toan Ki dan lain2 sedang dalam keadaan tak berdaja, demi nampak datangnya Yu Goan-ci, mereka pikir pemuda ini rela mengorbankan kedua biji matanya untuk A Ci, dengan sendirinya mereka mempunyai hubungan yang sangat baik, maka boleh jadi pemuda buta ini akan dapat menyadarkan A Ci. Sebab itulah Hi-tiok dan lain2 lantas menyingkir beberapa tindak lebih jauh dan tidak ingin mengganggu percakapan kedua muda-mudi itu.
Maka terdengar Goan-ci telah menyapa: Nona A Ci, engkau baik2 saja bukan? Apa ada orang berani membikin susah padamu? Meski selebar mukanya sudah rusak, tapi dari nada ucapannya itu terang sekali dia merasa sangat girang dan penuh perhatiannya kepada sianak dara.
Aku telah dibikin susah oleh orang lain, apa yang hendak kau lakukan? sahut A Ci. Siapakah dia? cepat Goan-ci menegas. Lekas nona katakan padaku, biar aku akan menghajarnya sampai mampus!
A Ci tertawa dingin, katanya sambil menunjuk para hadirin yang berada disekitarnya: Itulah, mereka semuanya telah membikin susah padaku, sekaligus boleh kau membunuh habis mereka!
Baik, sahut Goan-ci. Lalu ia bertanya kepada Oh-lo-toa: Hei, lau-Oh (Oh si tua), orang2 macam apakah yang telah berani membikin susah kepada nona A Ci itu?
Wah, banyak sekali jumlahnya, engkau tak sanggup membunuh mereka, sahut Oh-lotoa.
Biarpun tak dapat juga akan kulakukan, kata Goan-ci. Habis, siapa suruh mereka berani main gila kepada nona A Ci?
Tiba2 A Ci berkata lagi dengan gusar: Sekarang aku sudah berada bersama dengan Cihu, untuk selanjutnya kami takkan berpisah lagi selamanya. Nah, lekas enyahlah kau, aku tak ingin melihat kau pula.
Sungguh sedih Goan-ci bukan buatan, katanya: Ja... jadi engkau tak... takkan menemui aku lagi.... ?
Ja, ja, tahulah aku, biji mataku ini adalah pemberianmu, seru A Ci dengan suara keras. Cihu mengatakan aku telah utang budi kepadamu, maka aku diharuskan melajani kau dengan baik. Tapi aku justeru tidak suka.
Habis berkata, mendadak tangan-kanannya terus mencongkel kedalam matanya sendiri, terus dikorek keluar biji matanya, lalu dilemparkannya kepada Goan-ci sambil berteriak: Ini, kukembalikan padamu! Sejak kini aku tidak utang apa2 lagi padamu dan Cihu tak dapat memaksa aku mengikuti kau pula.
Meski kedua mata Goan-ci sudah buta, tapi demi didengarnya jerit kaget orang2 yang berada disekitarnya, suaranya penuh rasa kuatir dan ngeri, maka tahu juga dia apa yang telah terjadi. Dengan suara parau ia berteriak: O, nona A Ci, nona A Ci!
Tapi begitu biji mata sendiri sudah dikorek keluar, segera A Ci memondong jenazah Siau Hong dan melangkah kedepan sambil berkata dengan suara halus mesra: Cihu, sekarang kita tidak utang apa2 lagi kepada siapapun. Dahulu aku telah melukai kau dengan jarum berbisa, tujuanku jalah ingin engkau selalu berdampingan dengan aku. Dan sekarang barulah cita2ku itu terkabul. Sambil bicara ia terus melangkah semakin jauh kedepan dengan memondong jenazah Siau Hong.
Melihat darah bercucuran dari cekung matanya A Ci hingga membasahi mukanya yang putih cantik itu, hati semua orang merasa ngeri dan kasihan pula. Maka ketika melihat anak dara itu berjalan mendekat semua orang lantas menyingkir kesamping.
A Ci berjalan lurus kedepan dan pelahan2 sampai ditepi jurang.
Semua orang menjadi kuatir dan segera ber-teriak2: Berhenti! Awas, didepan adalah jurang yang curam!
Bahkan Toan Ki juga terus memburu maju sambil berseru: Awas adikku, yang ... Namun sudah terlambat, A Ci masih melangkah lurus kedepan, mendadak kakinya menginjak tempat kosong dan terjerumuslah anak dara itu bersama jenazah Siau Hong kedalam jurang yang tak terkirakan
dalamnya itu.
Tepat pada saat itu Toan Ki juga telah memburu sampai ditepi jurang cepat ia ulur tangannya untuk menjambret, tapi yang kena hanya secabik kain baju adik perempuannya itu dan orangnya tetap terjerumus kebawah.
Waktu Toan Ki melongok kedalam jurang, yang tertampak hanya awan belaka yang menutup rapat dipermukaan jurang sehingga tidak diketahui betapa dalamnya jurang itu, bajangan A Ci dan Siau Hong dengan sendirinya tak terlihat sedikitpun.
Para kesatria yang berdiri ditepi jurang semuanya ikut menghela napas gegetun, lebih2 yang berilmu silat agak rendahan menjadi ngeri membayangkan betapa dalam dan terjalnya jurang.
Hian-to dan beberapa kawannya yang berusia lebih lanjut, mengetahui cerita tentang dahulu Hian-cu, Ong-pangcu dan lain2 pernah menyergap jago2 Cidan diluar Gan-bun-koan dan ibunya Siau Hong justeru terkubur didasar jurang itu. Tak terduga bahwa beberapa puluh tahun kemudian Siau Hong dan A Ci juga terkubur pula didalam jurang itu.
Pada saat lain tiba2 terdengar suara genderang berbunyi diatas benteng, perwira yang menyampaikan perintah komandannya tadi sedang berseru pula kepada para kesatria: Atas perintah Thio-ciangkun, panglima militer benteng Gan-bun-koan, bahwasanya kalian ternyata bukan mata2 musuh dari negeri Liau, maka kalian dapat diijinkan masuk benteng, tapi kalian harus taat kepada undang2 dan berlaku sopan-santun, dilarang membikin rusuh dan mengacaukan suasana tenteram, hendaklah kalian maklum.
Tapi para kesatria diluar benteng serentak menjawab dengan mencacimaki, ada yang berteriak: Persetan dengan perintah panglimamu itu, biarpun mati juga kami tidak sudi masuk kedalam benteng yang dijaga pembesar anjing macam kalian itu!
Coba kalau pembesar anjing itu tidak bersikap plintat-plintut, tentu juga Siau-tayhiap takkan tewas seperti sekarang ini! Demikian ditambahkan seorang kesatria lain.
Begitulah be-ramai2 para kesatria mencaci-maki sambil menuding perwira diatas benteng itu. Sedangkan Hi-tiok dan Toan Ki telah berlutut dan memberi hormat kearah jurang, lalu pergilah mereka dengan mendaki gunung dan melintasi bukit tanpa menghiraukan siperwira yang mencak2
diatas benteng karena dicaci-maki oleh para kesatria itu.
Apa yang terjadi diluar Gan-bun-koan ini lantas digunakan baik oleh panglima penjaga benteng itu untuk membuat laporan kilat ke kotaraja, katanya dia telah memimpin sendiri pasukannya dan bertempur mati2an selama beberapa hari menghadapi pasukan Liau yang berjumlah ratusan ribu orang, berkat lindungan Thian dan Sri Baginda serta semangat tempur para perajurit, perwira dan bintara, akhirnya berhasil membinasakan Lam-ih Tay-ong kerajaan Liau yang bernama Siau Hong dan raja Liau Yalu Hung-ki kemudian mengundurkan diri dengan kekalahan habis2an.
Raja Song sangat girang mendapat laporan itu, segera ia mengirimkan firman yang memberi penghargaan se-tinggi2nya kepada para perajurit, perwira dan bintara, pangkat mereka seluruhnya dinaikkan setingkat disertai hadiah2 yang besar. Para pembesar dipemerintah pusat juga tidak ketinggalan untuk merajakan kemenangan itu secara besar2an.
Sementara itu Toan Ki telah ambil perpisahan dengan Hi-tiok ditengah jalan, bersama Bok Wan-jing, Ciong Ling, Hoan Hwa, Pah Thian-sik dan lain2, mereka lantas pulang ke Tayli.
Setiba didalam wilajah negeri Tayli, jauh2 calon permaisuri Ong Giok yan dan para pembesar sudah menantikan dan menyambut mereka. Ketika Toan Ki bercerita tentang Siau Hong dan A Ci, Giok-yan menjadi terharu dan menangis, semua orangpun ikut berduka.
Rombongan mereka terus menuju keselatan, karena Toan Ki tidak ingin membikin kaget kepada penduduk setempat maka rombongannya tidak mengenakan pakaian kebesaran, tapi tetap menyamar sebagai kaum saudagar dan orang pelancongan.
Sepanyang jalan tiada terjadi apa2, akhirnya sampailah mereka diluar kota-raja Tayli. Toan Ki ingin pergi ke Thian-liong-si lebih dulu untuk menyampaikan sembah bakti kepada Koh-eng Taysu dan paman bagindanya, Toan Cing-bing.
Tatkala itu sudah menjelang magrib, hari sudah mulai gelap. Ketika lalu disebuah hutan didekat Thian-liong-si, tiba2 ditengah hutan itu terdengar suara teriakan seorang anak kecil: Sri Baginda, Paduka Yang Mulia, nah, aku sudah menyembah padamu, mengapa aku tidak diberi permen?
Toan Ki dan lain2 menjadi ter-heran2. Mengapa ditempat ini, bahkan seorang anak kecil dapat mengenali penyamarannya.
Tanpa merasa rombongan mereka lantas membelok kedalam hutan itu untuk melihat siapakah sebenarnya anak kecil itu. Tapi mendadak terdengar pula seorang sedang berkata: Kalian harus berseru: Dirgahajulah! Semoga Sri Baginda hidup bahagia dan panyang umur! Habis itu barulah akan kuberi permen.
Suara orang itu terdengar sudah sangat dikenal mereka. Itulah Buyung Hok adanya.
Toan Ki dan Giok-yan terkejut, cepat kedua orang bergandeng tangan dan bersembunyi dibalik pohon sambil memandang kearah datangnya suara itu. Maka tertampaklah Buyung Hok sedang duduk diatas sebuah kuburan, kepalanya memakai kopiah raja buatan dari kertas dan sikapnya dibikin keren.
Didepannya ada tujuh atau delapan orang anak kampung sedang berlutut dan be-ramai2 lagi mengucapkan: Dirgahaju! Sri Baginda bahagia, panyang umur!
Sambil ber-teriak2 tak keruan menirukan apa yang diajarkan Buyung Hok tadi sambil tiada hentinya menyembah, malahan sudah ada yang menjulurkan tangannya sambil berkata: Mana permennya? Mana permennya?
Terdengar Buyung Hok telah menjawab: Para pengabdiku, silakan bangun.
Sekarang kerajaan Yan kita sudah kubangkitkan kembali dan aku sudah naik tahta, dengan sendirinya para pengabdiku akan mendapat ganjaran yang setimpal menurut jasa masing2.
Lalu ia merogoh keluar segenggam permen dan di-bagi2kan kepada anak2 kecil tadi.
Anak2 itu ber-jingkrak2 kegirangan sambil berlari pergi, semuanya berteriak2:
Besok kita akan datang minta permen lagi!
Maka tahulah Giok-yan bahwa pikiran sang Piauko sudah tidak waras lagi karena gila hormat dan mengimpikan menjadi kaisar, tapi tak terkabul.
Sungguh hati Giok-yan tak terkatakan dukanya.
Pelahan2 Toan Ki menarik tangan sang kekasih, ia memberi isjarat tangan dan semua orang lantas mundur keluar hutan secara diam2.
Buyung Hok terlihat masih duduk diatas kuburan tadi dan mulutnya tampak berkomat-kamit tak ber-henti2 entah sedang mengoceh apa ..........
Tamat