Pendekar2 Negeri Tayli 02

Begitulah ia pikir yang tidak-tidak, Tiba-tiba didengarnya suara tindakan orang dari belakang, ternyata A Ci telah menyusulnya pula, Kata anak dara itu, "Cihu, engkau ini benar-benar orang kejam, sekali tidak mau menunggu, tetap tidak menunggu, sedikitpun engkau tidak punya rasa kasihan."
Siau Hong tertawa geli, katanya, "A Ci, mengapa kau bicara tentang kasihan segala? Dari siapakah pernah kau dengar kata-kata kasihan?"
"Dari ibuku," sahut A Ci, "Beliau mengatakan padaku bahwa menjadi orang itu jangan kejam, jangan galak, tapi harus 'welas asih'."
"Apa yang dikatakan ibumu memang benar, cuma saying sejak kecil kamu sudah berpisah dengan beliau hingga mendapat didikan jahat dari gurumu," kata Siau Hong.
"Baiklah, Cihu, selanjutnya aku akan berada bersamamudan akan banyak belajar hal-hal yang baik darimu," kata A Ci dengan tertawa.
Siau Hong berjingkrak kaget, cepat ia goyang-goyang tangannya sambil berseru, "Wah, tak bisa jadi, Apa gunanya kau ikut orang kasar seperti aku ini? Sudahlah, A Ci, lekas kau pergi saja, kalau berada bersamamu malah pikiranku menjadi kesal dan kusut, untuk pikir secara tenang sedikit saja tak dapat."
"Apa yang hendak kau pikirkan, coba katakanlah, biar aku membantumu memikirkannya," kata A Ci, "Cihu, engkau ini memang seorang baik, mudah ditipu orang."
Mendongkol dan geli Siau Hong oleh ucapan dara itu, katanya, "Kamu hanya seorang anak perempuan, tahu apa?
Memangnya sesuatu yang tak dapat kupikirkan sebaliknya mesti minta nasihatmu?"
"Sudah tentu, banyak hal-hal aneh yang justru tak mungkin dapat kau pikirkan," kata A Ci, Ia merandek dan meraup secomot salju, ia kepal hingga keras, lalu disambitkan, Kemudian ia tanya, "Cihu, untuk apakah kau pergi keluar Gan-bun-koan?"
"Tidak untuk apa-apa," sahut Siau Hong sambil geleng kepala. "Disana aku akan mengangon domba dan menggembala sapi untuk melewatkan hidupku ini, habis perkara."
"Lalu, siapakah yang akan memasak makanan bagimu?
Siapakah yang akan membuatkan pakaian bagimu?" tanya A Ci.
Siau Hong melengak, memang tak pernah terpikir olehnya tenttang soal-soal itu, Segera ia menjawab sekenanya, "Tentang sandang-pangan kan gampang? Orang Cidan kami hanya makan daging kambing dan sapi, bajunya buatan dari kulit domba dan sapi, dimana-mana dapat dijadikan tempat tinggal, bukankah sangat sederhana?"
"Dan tatkala engkau kesepian, siapakah yang akan mengajak bicara padamu?" tanya A Ci.
"Gampang, sesudah aku berada diantara suku bangsa sendiri, tentu saja akan mendapat banyak kawan sebangsa." sahut Siau Hong.
"Tapi yang mereka bicarakan dan lakukan melulu urusan berburu, menunggang kuda, menyembelih sapi dan menyembelih kambing, hal-hal begitu kan membosankan?"
ujar A Ci.
Siau Hong merasa ucapan anak dara itu beralasan juga, Ia hanya menghela napas dan tidak menjawab.
"Apakah engkau harus kembali ketempat suku bangsamu sana?" A Ci bertanya pula, "Jika engkau tidak pulang kesana, tapi tinggal disini untuk berkelahi, minum arak, baik mati atau akan hidup, bukankah cara demikian lebih menyenangkan, lebih memuaskan?"
Mendengar itu, seketika dada Siau Hong terasa panas, semangat kesatrianya tergugah lagi, Ia mendongak dan bersuit panjang. "Ya, ucapanmu betul juga!" katanya kemudian."
"Eh, Cihu," tiba-tiba A Ci menarik-narik lengan Siau Hong,
"Sudahlah, jangan engkau pulang kesana dan aku pun takkan pulang ke Sing-siok-hai, aku akan membantumu berkelahi dan minum arak."
Siau Hong tertawa oleh sifat anak dara yang masih ke-kanak2an itu, katanya, "Kamu kan Toasuci dari Sing-siok-pai, jika mereka kehilangan Toasuci dan ahli-waris kan bias berabe?"
"Kedudukanku sebagai Toasuci ini diperoleh dengan menipu, setiap waktu bila rahasiaku ketahuan mereka, tentu jiwaku bisa melayang, maka lebih baik kuikut denganmu untuk berkelahi dan minum arak saja."
"Bicara tentang minum arak, kekuatanmu minum terlalu sedikit, mungkin setengah mangkuk saja kamu akan mabuk,"
ujar Siau Hong dengan tersenyum. "Tentang kepandaianmu berkelahi juga tidak cukup, bukan mustahil akhirnya nanti bukan lagi kau bantu aku, tapi akulah yang membantumu."
A Ci menjadi masgul oleh jawaban itu, ia berkerut kening dan sesudah beberapa tindak lagi, sekonyong-konyong ia duduk ditanah dan menangis keras-keras.
Siau Hong terkejut oleh kelakuan anak dara itu, cepat ia tanya. "He, ada. . . ada apakah?"
Tapi A Ci tidak menggubrisnya, ia tetap menangis tergerung-gerung dengan sangat berduka. Sejak Siau Hong kenal A Ci, selalu ia lihat anak dara itu mau menang sendiri, sekalipun waktu diringkus oleh anak murid Sing-siok-pai juga dia tetap kepala batu, sedikit pun tidak gentar, sungguh tidak nyana sekarang anak dara itu bisa menangis sedemikian rupa hingga Siau Hong dibuatnya bingung malah.
"He, A Ci cilik, mengapakah kamu ini?" tanya Siau Hong pula.
"Kau. . . kau pergilah, jangan. . . .jangan urus diriku lagi, huk-huk, biar aku mati menangis saja disini, supaya engkau merasa senang, huk-huk-huk!" demikian sahut A Ci dengan terguguk.
"Seorang sehat masakah bisa mati menangis." ujar Siau Hong dengan tersenyum.
"Aku justru ingin mati menangis," sahut A Ci sambil tersedu-sedan.
"Jika begitu, boleh kamu menangis terus disini, jangan terburu napsu, menangislah perlahan-lahan, dan aku takkan mengawanimu lagi," kata Siau Hong dengan tertawa, lalu ia melangkah pergi.
Tapi baru dua tindak ia melangkah, tiba-tiba suara tangis A Ci berhenti, sedikitpun tiada suara lagi, Ia menjadi heran, ketika menoleh ia lihat anak dara itu tiarap diatas tanah salju tanpa bergerak.
Diam-diam Siau Hong geli, "Hah, anak dara ini memang suka aleman, biarlah takkan kugubris dia lagi." Segera ia tinggal pergi tanpa menoleh.
Sesudah beberapa li jauhnya, ketika ia berpaling kebelakang, ia lihat ditanah salju itu keadaan sunyi senyap, tanah salju sekitar situ sangat datar dan luas, sepanjang mata memandang dapat terlihat dengan jelas tanpa teraling-aling oleh pepohonan apapun, Ia lihat A Ci masih tetap menggeletak ditanah salju itu tanpa bergerak sedikitpun.
Diam-diam ia menjadi ragu, "Anak dara ini memang aneh tingkah lakunya, bukan mustahil sekali ia menggeletak, lalu tidak berbangkit untuk selamanya."
Segera teringat pula olehnya pesan tinggalan A Cu, tanpa kuasa lagi segera ia putar balik dengan langkah lebar.
Setibanya didekat A Ci, benar juga ia lihat anak dara itu masih bertiarap ditanah salju, keadaannya masih tetap seperti waktu ditinggalkan tadi, sedikitpun tidak bergeser.
Sesudah lebih dekat lagi, Siau Hong terkesiap, ia lihat tubuh A Ci seakan-akan terbingkai dalam salju yang tebalnya beberapa senti, tapi salju yang mengelilingi tubuhnya itu sedikit pun tidak mencair, Padahal tubuh manusia itu bersuhu panas, kalau tengkurap sekian lama diatas salju tentu salju disekitarnya akan cair menjadi air.
Kini salju disitu tetap beku, jangan-jangan anak dara itu benar-benar sudah mati? Dalam Khawatirnya Siau Hong coba meraba pipi sigadis, tapi dimana tangannya menyentuh ia merasa tubuh A Ci itu sudah dingin, waktu memeriksa napasnya pula, juga sudah berhenti.
Namun Siau Hong pernah menyaksikan anak dara itu pura-pura mati tenggelam dalam danau untuk menipu ayahnya, ia tahu didalam Sing-siok-pai ada semacam ilmu 'Ku-sit-kang'(kura-kura mengeram), maka ia pun tidak begitu khawatir lagi, Segera ia gunakan dua jari dan menutuk dua kali di-iga A Ci, Ia salurkan tenaga dalamnya kebagian hiat-to itu.
Maka terdengar A Ci bersuara sekali lalu membuka mata pelahan, waktu melihat Siau Hong mendadak ia berpaling sedikit dan sekali mulut mengap, sekonyong-konyong sebatang jarum kecil warna hijau gelap menyambar ketengah- tengah alis Siau Hong.
Waktu itu jarak Siau Hong dengan anak dara itu tiada satu meter jauhnya, betapapun ia tidak menyangka mendadak A Ci bisa menyerangnya secara keji. Sambaran jarum itu pun sangat cepat, biar pun ilmu silat Siau Hong maha tinggi juga sukar untuk menghindar pada saat mendadak dan dari jarak sedekat itu.
Sekilas teringat olehnya betapa jahat senjata rahasia berbisa dari Sing-siok-pai, bila sampai kena, pasti harapan untuk hidup sangat tipis, Tanpa pikir lagi ia mengebas sebisanya dengan tangan kanan, kontan serangkum angin keras berjangkit.
Dalam saat kepepet, maka tenaga yang digunakan itu merupakan himpunan tenaga yang ada, kalau tidak, jangan harap dapat mengguncang pergi jarum lembut yang menyambar dari jarak dekat itu, Maka begitu tangan kanan bekerja, seketika tubuhnya menggeser juga kekanan, maka terenduslah bau busuk amis yang terbawa angin, dan jarum berbisa itupun menyambar lewat disamping pipinya, hanya berjarak beberapa mili saja jauhnya, sungguh ia boleh
dikatakan lolos dari lubang jarum.
Dan pada saat yang sama itulah tubuh A Ci juga terpental oleh tenaga pukulan maha dahsyat itu, tanpa bersuara lagi badan A Ci melayang hingga jauh dan terbanting diatas tanah.
Diam-diam Siau Hong bersyukur nyaris dimakan jarum berbisa itu, Tapi demi melihat A Ci terpental oleh tenaga pukulannya, ia jadi kaget pula.
"Wah, celaka! Mana dia tahan oleh tenaga pukulanku?
Mungkin dia sudah binasa oleh pukulanku?" demikian pikirnya dengan khawatir, Cepat ia memburu ketempat A Ci, ia lihat mata anak dara itu tertutup rapat, ujung mulut mengeluarkan darah, mukanya pucat, sekali ini benar-benar sudah berhenti napasnya.
Seketika Siau Hong mematung, katanya dalam hati.
"Kembali aku memukul mati dia, kembali aku membunuh adik perempuan A Cu lagi, pada hal sebelum meninggal dia minta. ..minta kujaga adiknya, tetapi. . . tetapi aku memukul mati dia."
Begitulah dengan rasa cemas ia coba tempelkan tangannya dipunggung A Ci dan menyalurkan tenaga murni sendiri sekuatnya ketubuh anak dara itu, Selang sesaat, tampak A Ci bergerak sedikit, Sungguh girang Siau Hong tidak kepalang, ia berseru, "A Ci, A Ci! Kamu tidak boleh mati, betapapun aku harus menghidupkanmu."
Tapi setelah bergerak sedikit, lalu A Ci tidak berkutik lagi, Siau Hong sangat gelisah, cuma sebagai orang yang sudah berpengalaman, sedapat mungkin ia bisa menguasai perasaannya dan tenangkan diri, Segera ia duduk bersila ditanah salju itu, pelahan ia taruh badan A Ci di pangkuannya, kedua telapak tangan ditempelkan kepunggung dan pelahan menyalurkan tenaga murni kedalam tubuh A Ci, Ia tahu luka A Ci sangat parah, maka sedapat mungkin ia harus menolong.
Selang tak lama, dari ubun-ubun Siau Hong sendiri tampak menguapkan asap tipis, suatu tanda ia telah mengerahkan tenaga sekuatnya.
Kira-kira setengah jam ia berusaha, akhirnya tubuh A Ci tampak bergerak sedikit dan pelahan dapat memanggil, "Cihu!"
Sungguh girang Siau Hong bukan buatan, ia meneruskan tenaganya dan tidak mengajak bicara padanya, Ia merasa badan A Ci lambat-laun mulai hangat, hidungnya juga mulai bernapas lagi.
Khawatir usahanya gagal setengah jalan, maka Siau Hong tidak berani berhenti, ia kerahkan tenaga sedapat mungkin.
Kira-kira menjelang lohor, ia merasa pernapasan A Ci sudah pulih kembali dan barulah ia berani berbangkit, ia pondong anak dara itu dan melanjutkan perjalanan dengan cepat, Tapi ia lihat air muka A Ci itu tetap pucat bagai mayat, maka ia tidak berani ayal, sambil berjalan cepat, tangan tetap
menempel dipunggung anak dara itu dan tiada hentinya menyalurkan tenaga murni.
Kira-kira satu jam kemudian, sampailah disuatu kota kecil, Celakanya kota ini tiada rumah penginapan, terpaksa Siau Hong melanjutkan perjalanan ke utara, Lebih dua puluh li lagi, akhirnya ia mendapatkan sebuah penginapan yang sederhana, penginapan itu tiada pelayan hingga pemilik hotel sendiri melayani tamunya.
Segera Siau Hong minta disediakan semangkuk kuah hangat, dengan sendok pelahan ia menyuapi A Ci, Tapi hanya beberapa cegukan saja kuah yang diminum A Ci lentas ditumpahkan kembali, bahkan diantara air kuah itu penuh bercampur darah mati.Siau Hong sangat cemas, ia pikir luka A Ci yang parah ini besar kemungkinan tak bisa disembuhkan lagi, Sedangkan Giam-ong-tik, si tabib sakti Sih-sin-ih itu entah berada dimana, sekalipun berada disitu juga, belum tentu mampu menyembuhkan A Ci, Tapi, diam-diam ia berjanji pada diri sendiri harus menyelamatkan jiwa anak dara itu biarpun
tenaga sendiri akan terkuras habis, dengan demikian barulah ia merasa tidak mengecewakan pesan A Cu yang telah pasrahkan nasib A Ci padanya itu.
Padahal sebabnya dia hantam A Ci adalah karena anak dara itu hendak menyerangnya lebih dulu, dalam keadaan begitu, bila dia tidak memukulnya tentu jiwa sendiri yang akan terancam, maka terpaksa ia mesti melukai A Ci, Andaikan A Cu menyaksikan kejadian itu, tentu ia pun takkan menyalahkan Siau Hong, sebab kejadian itu adalah gara-gara perbuatan A Ci sendiri.
Semalam suntuk Siau Hong tak bisa tidur, sampai esok paginya ia masih tetap menyalurkan tenaga murni sendiri untuk mempertahankan jiwa A Ci.
Dahulu waktu A Cu terluka olehnya, hanya terkadang saja Siau Hong menyalurkan tenaga murninya bila keadaan gadis itu tampak lemah, Tapi kini keadaan A Ci jauh lebih parah, kedua tangannya tidak boleh berpisah dengan punggung A Ci, sekali berpisah, tentu napas anak dara itu lantas putus.
Keadaan begitu berlangsung hingga esok hari kedua, Meski tenaga Siau Hong sangat kuat, tapi selama dua hari dua malam mengerahkan tenaga cara begitu, mau tak mau terasa sangat lelah juga, Arak yang tersedia dihotel kecil itu pun habis diminum olehnya, Ia minta pemilik hotel menambahkan ditempat lain tapi sialan, uangnya habis.
Bagi Siau Hong tidak menjadi soal tidak makan nasi, tapi sehari tidak minum arak baginya akan terasa ketagihan, Kini dalam keadaan lelah dan banyak pikiran, ia lebih perlu dibantu dengan arak untuk menguatkan semangat.
Ia pikir mungkin dibadan A Ci masih terdapat uang sangu, Segera ia membuka buntalan kecil yang dibawa anak dara itu, benar juga ia lihat didalamnya ada tiga potong uang emas, ia
ambil sepotong dan ditaruhkan dimeja, ia merasa buntalan kain terikat oleh seutas tali halus, ujung tali itu terikat dikantungan kain dan ujung yang lain terikat dipinggang A Ci.
Segera ia coba melepaskan ujung tali yang terikat pada tali pinggang itu, Sesudah berkutetan sebentar barulah tali itu dapat dilepaskannya, tapi waktu ia tarik, terasa ujung tali yang lain agak berat, terang masih terikat sesuatu benda lain, Cuma benda itu tertutup dalam baju hingga tidak kelihatan bagaimana bentuknya.
Dan ketika Siau Hong melepaskan tali itu, 'trang-tring', mendadak terjatuh sebuah benda berwarna hijau mengkilat,
Itulah sebuah Giok-ting yang kecil mungil.
Siau Hong menghela napas melihat benda itu, terang itulah Giok-ting yang dipertengkarkan antara murid Sing-siok-pai tempo hari, Ia jemput dan menaruhnya diatas meja, Ia lihat Giok-ting itu berukir sangat indah, diantara warna hijau kemala itu lamat-lamat kelihatan jalur merah jambon hingga
makin menambah kebagusan warnanya.
Selamanya Siau Hong tidak suka benda-benda permainan begitu, dalam pandangannya biarpun benda mestika apapun juga tidak lebih cuma batu belaka yang tiada artinya, maka sesudah memandangnya sekejap, ia pun tidak memperhatikan lagi.
Pikirnya kemudian, "A Ci ini benar-benar sangat licin, berulang ia mengatakan Giok-ting ini telah diserahkan padaku, padahal masih tersimpan didalam bajunya, Saudara seperguruannya itu percaya saja apa yang dia katakan bahwa barang telah diserahkan padaku, pula mereka tidak ada yang menggeledah badannya, sebab itulah buntalan ini tidak ditemukan, Sedangkan sekarang jiwanya masih sukar diramalkan, buat apa pikrkan benda demikian ini?"
Segera ia panggil pengurus hotel dan menyerahkan uang emas itu padanya agar dibelikan arak dan daging.
Begitulah ia terus menyalurkan tenaga murni sendiri untuk mempertahankan jiwa A Ci, Sampai hari keempat, keadaan Siau Hong benar-benar sudah payah, ia tidak tahan lagi, terpaksa ia genggam kedua tangan A Ci dan merangkulnya, ia biarkan gadis itu bersandar didepan dadanya, ia menyalurkan tenaga murni melalui tangannya, sebentar kemudia, ia merasa mata sepat dan sukar dipentang lagi, Akhirnya ia pun terpulas, Tapi karena selalu Khawatirkan mati hidup A Ci, hanya
sebentar saja ia sudah terjaga bangun.
Keadaan begitu kembali lewat lagi dua hari, ia lihat keadaan A Ci tiada tanda gawat, tapi juga tiada kemajuan untuk sembuh, Terkadang anak dara itu membuka mata juga, tapi matanya buram, bahkan bicara pun tak bisa.
Siau Hong tambah masgul, untuk menghibur diri ia minum arak sepuas-puasnya, Ia pikir terus tinggal di hotel kecil itu pun bukan jalan yang baik, terpaksa ia harus berangkat lagi, ia berharap akan menemukan jalan untuk menyelamatkan A Ci, dari pada mati konyol di hotel kecil itu.
Dipondongnya A Ci dengan tangan kirinya, dengan tangan kanan ia ambil kantungan kain milik A Ci itu dan disimpannya didalam baju sendiri, Ia lihat Pek-giok-giok-ting itu masih terletak diatas meja, pikirnya. "Benda yang membikin celaka orang ini lebih baik dihancurkan saja."
Tapi ia urung menggepuknya ketika tiba-tiba terpikir pula olehnya, "Dengan susah payah A Ci mencuri barang ini, jelas benda ini berguna baginya, Tampaknya ia sudah tak bias disembuhkan lagi, Pada sebelum ajalnya bila mendadak ia tanya benda kesukaannya ini dan dapat kuperlihatkan
padanya, dengan begitu ia akan mangkat dengan rasa puas dari pada nanti mati menyesal, kalau aku tak bias mengunjukkan benda ini."
Begitulah segera ia jemput lagi Giok-ting itu, begitu tripod itu terpegang tangannya, segera terasa didalamnya ada sesuatu yang sedang merayap-rayap, Karuan Siau Hong heran dan tertarik, ia coba mengamat-amati, ia lihat disamping tripod itu ada lima lubang amat kecil, Waktu diperhatikan pula bagian leher tripod itu, ternyata disitu terdapat suatu garis yang sangat halus, agaknya tripod
itu terbagi menjadi dua bagian.
Ia coba menggunakan jari kecil dan jari manis untuk menjepit tripod itu, lalu menggunakan jari jempol dan jari telunjuk untuk memutar bagian atas tripod, benar juga bagian itu dapat diputar, Sesudah diputar beberapa kali, akhirnya terbukalah tutupnya.
Tapi ia menjadi kaget ketika mengetahui isi tripod itu, Kiranya didalamnya terdapat dua ekor serangga berbisa yang saling antup, yang seekor adalah kalajengking dan yang lain adalah seekor kelabang, keduanya sedang tarung dengan ramai.
Sebagai seorang yang berpengalaman, segera Siau Hong tahu binatang beracun itu memang sengaja dipiara oleh golongan Sing-siok-pai, Tanpa pikir lagi ia tuang keluar kalajengking dan kelabang itu, sekali injak ia bikin mati gepeng, Lalu ia tutup kembali Giok-ting itu dan dimasukkan kedalam kantungan kain semula, Ia bereskan rekening hotel, lalu berangkat menuju ke utara menempuh hujan salju.
Ia tahu permusuhannya dengan tokoh-tokoh persilatan Tionggoan sudah terlalu mendalam, ia sendiri tidak sudi menyamar pula, kalau ia menuju lagi ke utara, makin lama makin dekat dengan ibukota Sung, disitu pasti akan kepergok oleh ksatria Tionggoan yang terkenal.
Untuk membunuh orang lagi ia sudah tidak mau, pula ia memondong A Ci, sudah tentu tidak leluasa untuk bertempur.
Sebab itulah ia tidak mau melalui jalan raya, tapi yang dipilih adalah jalan kecil pegunungan yang sepi, Dengan cara begitu, sudah beberapa ratus li ia tempuh perjalanan dan ternyata selamat tanpa ketemukan sesuatu rintangan apa pun.
Suatu hari, sampailah ia disuatu kota, Ditepi jalan ia lihat suatu toko obat, diatas papan merek toko tertulis, "Ong Thong-ti, tabib turun temurun." Ia pikir ditempat kecil begitu masakah ada tabib pandai? Tapi tiada halangan dicoba dulu.
Segera ia bawa A Ci kedalam toko obat itu untuk minta pertolongan, Sesudah tabib she Ong itu memegang nadi A Ci, tiba-tiba ia pandang Siau Hong, lalu pegang nadi A Ci lagi, kemudian pandang pula pada Siau Hong dan memegang nadi lagi, begitulah berulang-ulang ia lakukan seperti itu dengan air muka terheran-heran, Sekonyong-konyong ia lepaskan nadi A Ci lalu nadi Siau Hong yang diperiksanya.
Karuan Siau Hong gusar, katanya, "Sinshe aku minta kau periksa penyakit adikku dan bukan diriku."
Tapi Ong-sinshe itu menggeleng-geleng kepala, sahutnya, "Kulihat engkau inilah yang sakit, pikiranmu agak kacau dan semangatmu lesu, kukira engkau yang perlu diobati,"
"Mengapa pikiranku kacau? Bukankah aku sehat-sehat saja?" ujar Siau Hong.
"Habis nadi nona ini sudah berhenti, orangnya sudah mati sejak tadi-tadi, hanya saja badannya belum lagi dingin dan kaku, untuk apa kau bawa kemari untuk mencari tabib?" kata Ong-sinshe itu. "Bukankah engkau sendiri yang lagi pepat pikiran dan perlu diberi obat untuk menenangkan diri? Ai, saudara, orang mati tak bisa hidup kembali, sebaiknya engkau juga jangan terlalu berduka, lebih baik bawalah pulang jenazah adikmu ini dan lekas dikubur saja."
Siau Hong jadi serba runyam tapi apa yang dikatakan Sinshe Ong itu toh beralasan juga, Hakikatnya A Ci memang sudah lama mati, soalnya karena seluruh tenaga murninya hingga setitik kesempatan hidup A Ci itu masih dipertahankan hal itu sudah tentu tidak ketahui oleh tabib kampungan seperti
Sinshe Ong itu.
Dan selagi Siau Hong berbangkit hendak pergi, tiba-tiba dilihatnya seorang berdandan sebagai Koankeh (pengurus rumah tangga) berlari-lari masuk kedalam toko obat sambil berseru, "
"Lekas, lekas! Mana Lo-san-jin-som yang paling baik?
Lothaiya kami mendadak terserang penyakit angin duduk dan segera akan putus napasnya, maka perlu jinsom yang baik itu untuk menahan sebentar nyawanya."
"Ya, ya, ada, ada! Ini Lo-san-jin-som yang paling baik!" demikian kuasa toko obat itu cepat memberikan apa yang diminta.
Siau Hong tertarik oleh kata-kata mereka itu, "Lo-san-jin- som, untuk menahan sebentar nyawa orang yang akan mati," bila seorang sudah sakit parah dan akan putus napasnya, kalau diusap beberapa cegukan sari Jinsom (Kolesom), maka napasnya yang sudah lemah itu dapat ditunda sebentar hingga tidak sampai putus dengan cepat, dengan demikian orang yang hampir mati itu dapat meninggalkan pesan apa-apa kepada ahli-warisnya, Hal itu sebenarnya juga diketahui oleh Siau Hong, cuma ia tidak pikirkan bahwa hal itu juga dapat digunakan terhadap diri A Ci.
Dalam pada itu dilihatnya pengurus toko obat telah mengeluarkan suatu kotak kayu merah, dengan hati-hati ia membuka kotak itu, maka tertampaklah tiga tangkai Jinsom sebesar ibu jari.
Menurut cerita yang pernah didengar Siau Hong, katanya Jinsom itu makin besar dan makin kasar akan makin baik, kulit Jinsom harus yang kasap, yang banyak berkerut-kerut dan dalam, itulah yang berharga, jika bentuk Jinsom sudah menyerupai badan manusia, ada kepala kaki dan tangan, itu menandakan Jinsom tua yang paling sukar dicari, maka terhitung barang pilihan yang sangat mahal.
Begitulah koankeh tadi lantas memilih satu tangkai Jinsom dan buru-buru pergi lagi, Segera Siau Hong mengeluarkan uang, ia beli sisa kedua tangkai Jinsom itu, Didalam toko obat itu memang tersedia alat-alat penyeduh obat bagi pembeli, segera ia minta dibuatkan kuah Jinson dan pelahan disuapkan untuk A Ci.
Sekali ini tidak tumpah lagi, sesudah minum pula beberapa suapan, Siau Hong coba periksa nadi A Ci dan ternyata pelahan mulai dapat berdenyut, napasnya juga mulai terasa lancar sedikit. Karuan ia sangat girang.
Sebaliknya Ong sinshe yang menyaksikan disamping itu hanya geleng-geleng kepala saja, katanya malah, "Saudara, Jinsom itu tidak mudah memperolehnya, kalau dibuang secara begitu sangatlah sayang, Jinsom toh bukan obat dewa mujarap yang dapat menghidupkan orang yang sudah mati, kalau dapat, orang kaya umumnya tentu takkan mati untuk selamanya.
Sudah beberapa hari ini Siau Hong sangat kesal, kini mendengar ocehan si tabib yang bersifat menyindir itu, sungguh ia ingin menggampar bacotnya supaya diam, Untung ia dapat menguasai diri, ia merasa bukan pada tempatnya memukul seorang yang tidak paham ilmu silat.
Segera ia pondong A Ci dan tinggal pergi, sayup-sayup ia dengar si tabib masih mengolok-olok, "Huh, benar-benar seorang sinting, orang mati dibawa lari kian kemari, tampaknya jiwa sendiri juga tidak tahan lama lagi."
Ia tidak tahu bahwa sebenarnya jiwanyalah yang barusan hampir mendaftarkan diri kepada raja akhirat, Jika gamparan Siau Hong tadi dilontarkan, biarpun sepuluh orang tabib seperti dia juga akan binasa.
Sekeluarnya dari toko obat itu, Siau Hong pikir, "Jinsom itu kabarnya banyak tumbuh dipegunungan Tiang-pek-san yang bersuhu dingin, biarlah kuputar kearah timur laut sana untuk mencari jinsom, boleh jadi dengan bahan obat itu kesehatan A Ci akan dapat dipulihkan."
Segera ia mengarah ke timur laut, sepanjang jalan kalau ketemu toko obat ia lantas membeli jinsom untuk A Ci, sampai akhirnya ia kehabisan sangu, terpaksa ia mesti berlaku tidak sungkan-sungkan lagi, ia masuk ke toko obat dan 'mengambil' jinsom yang diperlukan, dengan sendirinya pegawai toko obat tidak dapat merintanginya.
Setelah banyak minum jinsom, ternyata keadaan A Ci banyak lebih baik, terkadang ia dapat membuka mata dan memanggil pelahan, "Cihu!" Malamnya waktu tidur, meski untuk beberapa jam tidak diberi saluran hawa murni Siau Hong juga anak dara itu dapat bernapas sendiri dengan lancar.
Begitulah makin menuju ke utara makin dingin hawanya, akhirnya Siau Hong menggendong A Ci dan sampailah dilereng gunung Tiang-pek-san, Meski pegunungan itu tersohor banyak menghasilkan jinsom tapi kalau tidak paham cara mencarinya, biarpun dicari ubek-ubekan setahun dua tahun juga belum tentu dapat menemukannya.
Dan makin menuju ke utara makin sedikit orang yang dijumpai ditengah jalan, Sampai akhirnya sepanjang jalan melulu hutan belukar belaka, dengan lereng gunung yang memutih perak tertutup salju, Terkadang sampai beberapa hari tidak pernah dijumpai seorang pun.
Diam-diam Siau Hong mengeluh, "Wah celaka! Tanah pegunungan ini penuh salju belaka, dimana dapat kucari jinsom? Lebih baik kuputar balik saja ketempat yang ramai ditinggali orang, kalau punya uang aku dapat membeli, kalau kehabisan uang lantas merampas."
Begitulah ia lantas putar kembali kearah semula sambil menggendong A Ci, Tatkala itu hawa sangat dingin, salju berpuluh senti tebalnya ditanah, jalannya sangat sulit, coba kalau ilmu silat Siau Hong kurang tinggi, dengan menggendong seorang begitu, umpama tidak mati kedinginan juga pasti akan kejeblos kedalam tanah salju dan sukar meloloskan diri.
Sampai hari ketiga, cuaca tampak mendung, agaknya hujan salju besar akan turun pula, Sekitarnya tertampak tanah salju belaka, jangankan tapak manusia, sekalipun bekas tapak binatang juga tidak kelihatan, Siau Hong merasa dirinya seperti terombang-ambing ditengah samudera raya, angin meniup dengan kencang dan suara menderu-deru ditepi telinga.
Ia insaf telah sesat jalan, telah kehilangan arah. Beberapa kali ia coba panjat keatas pohon untuk memeriksa, tapi seputar hanya rimba belaka yang tertutup salju, cara bagaimana dapat mengenal arah lagi.
Yang dia khawatirkan adalah A Ci, terpaksa ia buka jubah luar sendiri dan membungkus anak dara itu dalam pelukannya, Sudah tiga hari lamanya Siau Hong tidak makan apa-apa, dilautan salju seluas itu juga tidak nampak seekor binatang paling kecil sekalipun sebangsa ayam alas, kelinci dan
sebagainya.
Ia pikir sia-sia saja kalau sembarangan berjalan, lebih baik mengaso dulu ditengah rimba itu, nanti bila salju sudah reda, dari bintang atau bulan dilangit tentu dapat dibedakan arah
yang tepat.
Maka ia lantas mencari suatu tempat berteduh, suatu tempat yang teraling-aling dari tiupan angin, ia mencari kayu kering dan menyalakan api, Makin lama makin besar api unggun itu hingga badan mulai terasa agak hangat, Saking kelaparan Siau Hong merasa perut berkeruyukan, ia lihat diakar pohon sebelahnya tumbuh beberapa buah jamur yang berwarna putih kelabu, tampaknya tidak beracun, segera ia petik dan dipanggang sekedarnya diatas api, lalu dimakan sekedar tangsal perut.
Sesudah makan beberapa buah jamur kayu itu, semangatnya sedikit terbangkit juga, Ia angkat A Ci agar bersandar didadanya untuk menghangatkan badan ditepi api unggun, ia sendiri merasa mengantuk sekali. Selagi siap-siap akan pulas, mendadak terdengar suara auman harimau yang
keras, Siau Hong sangat girang, "Ini dia ada harimau, sebentar dapatlah makan daging macan."
Ia coba mendengarkan lagi, ia dengar seluruhnya ada dua ekor harimau sedang lari datang dengan cepat, Tapi lantas terdengar pula suara bentakan manusia, agaknya ada orang sedang mengejar raja hutan itu.
Siau Hong tambah girang mendengar suara manusia itu, ia dengar kedua ekor harimau itu berlari cepat kearah sana, segera ia rebahkan A Ci, dengan ginkang yang tinggi ia memotong jalan untuk mencegat datangnya harimau.
Waktu itu salju makin turun dengan lebat dan angin meniup semakin kencang, Kira-kira beberapa ratus meter Siau Hong berlari, tertampaklah didepan adalah tanah datar yang luas, dua ekor harimau kumbang sedang lari datang sambil mengaum-ngaum, Dibelakang binatang buas itu ada seorang laki-laki tegap berjubah kulit, tangan membawa sebatang garpu baja yang besar sedang mengejar kedua ekor harimau sambil membentak-bentak.
Kedua ekor harimau kumbang itu besarnya luar biasa, tapi seorang diri pemburu itu ternyata berani mengejarnya, nyalinya itu sungguh harus dipuji.
Sesudah berlari-lari sebentar, salah seekor harimau itu mengaum kebelakang, mendadak binatang itu memutar-balik terus menerkam kearah laki-laki itu, Tapi sekali garpu baja pemburu itu menegak, ia incar leher harimau terus menusuk.
Namun gerak-gerik harimau itu juga sangat gesit, sedikit mengengos dapatlah garpu itu dihindarkannya, Dalam pada itu harimau yang kedua telah menerkam juga kearah si pemburu.
Gerakan pemburu itu ternyata cepat luar biasa, tahu-tahu ia putar poroknya dan "bluk", tepat pinggang harimau itu kena digebuknya dengan keras, Karena kesakitan, harimau itu
mengaum pula, lalu lari sambil mencawat ekor, Harimau yang lain juga tidak berani garang lagi dan ikut lari.
Siau Hong melihat gerak-gerik pemburu itu memang cekatan, tenaga juga kuat, agaknya tidak mahir ilmu silat, hanya paham kebiasaan dan sifat-sifat binatang buas, kenal watak harimau umumnya, maka sebelum harimau mulai menerkam, lebih dulu ia papak dengan poroknya untuk menantikan leher harimau, Namun untuk memburu dua ekor harimau kumbang seperti itu juga tidak gampang baginya.
Segera Siau Hong berseru, "Jangan khawatir Lauheng (saudara), marilah kubantu memburu harimau!" Berbareng itu ia terus memburu maju dan mencegat jalan lari harimau- harimau tadi.
Melihat muncul mendadak seorang Siau Hong, pemburu itu terkejut dan berkaok-kaok, Tapi apa yang dikatakan tak dipahami Siau Hong, mungkin pemburu itu bukan bangsa Han.
Ia tidak menghiraukannya, segera ia hantam kepala harimau, "prak", tepat harimau itu kena digenjot, tapi raja hutan itu cuma terguling ditanah, lalu dengan menggerung kembali menubruk kearah Siau Hong.
Pukulan Siau Hong itu sudah memakai lebih dari separoh tenaganya, biarpun jago silat paling tangguh juga pasti akan kepala remuk dan otak hancur, tapi rupanya tulang kepala harimau itu sangat keras, raja hutan itu hanya jatuh terguling saja dan tidak binasa.
"Bagus binatang!" bentak Siau Hong sambil mengengos untuk menghindarkan tubrukan, berbareng tangan kiri terus memotong dari atas kebawah, "crat", tepat punggung harimau kena dipotong oleh telapak tangannya. Sabetan itu lebih keras dari pada pukulannya tadi, seketika harimau itu terhuyung-huyung kedepan, rupanya binatang itu pun dapat melihat gelagat jelek dan cepat lari ketakutan.
Sudah tentu Siau Hong tidak membiarkan mangsanya lari, cepat ia memburu dan sekali tangkap, dengan tepat ekor harimau itu kena ditarik oleh tangan kanannya, ia barengi
membentak sambil tangan kiri memegang pula ekor harimau itu, sekali tarik dan angkat, memangnya harimau itu sedang lari kedepan, karena tenaga tarik dan betot itu, seketika harimau itu mencelat ke udara.
Dengan porok bajanya pemburu tadi tengah bertarung dengan harimau yang lain, Ketika mendadak melihat Siau Hong dapat melempar harimau ke udara, sungguh kagetnya bukan buatan.
Sementara itu tertampak harimau yang mencelat ke udara itu sedang menubruk kebawah dengan pentang mulut dan ulur cakar kearah Siau Hong, Mendadak Siau Hong membentak pula kedua tangannya memukul sekaligus, "bruk" tepat sekali perut harimau itu kena dihantam.
Perut harimau adalah bagian yang lemah, pukulan 'Sepasang langit membuyarkan mega' itu adalah kungfu kebanggaan Siau Hong, karuan isi perut harimau itu kontan hancur lebur didalam, sesudah berkelojotan sebentar harimau itu pun mati diatas tanah salju.
Sungguh kagum si pemburu tadi tidak terhingga menyaksikan Siau Hong dapat membunuh mati harimau dengan bertangan kosong, Pikirnya, "Aku membawa senjata, kalau aku tak mampu membinasakan harimau ini, bukankah aku akan ditertawakan olehnya."
Segera ia keluarkan tenaga raksasa pembawaannya, ia putar poroknya kekanan dan kekiri hingga badan harimau itu berulang-ulang tertusuk, mungkin saking kesakitan, binatang itu menjadi kalap, dengan menyeringai hingga kelihatan siungnya yang putih menyeramkan, segera harimau itu hendak menggigit si pemburu.
Dengan gesit pemburu itu dapat menghindarkan tubrukan harimau, menyusul poroknya terus menusuk dari samping, 'Crat', tepat leher raja hutan itu kena ditusuk, Sekali pemburu itu mengangkat poroknya keatas, tanpa ampun lagi harimau itu menggerung dan terjungkal, Segera pemburu itu tahan sekuat-kuatnya hingga harimau itu terpantek ditanah oleh poroknya itu. Melihat betapa tangkasnya pemburu itu, mau tak mau Siau Hong memuji dalam hati.
Harimau yang lehernya dipantek dengan parok baja si pemburu itu, semula keempat kakinya masih meronta-ronta dan mencakar serabutan, tapi sesudah lama, akhirnya tidak bergerak lagi, Pembiru itu lantas terbahak-bahak sambil mengangkat kembali porok bajanya, Ia berpaling kepada Siau Hong sambil mengacungkan jari jempolnya, dan berkata beberapa patah kata yang tak dipahami Siau Hong, Tapi dari sikapnya itu Siau Hong tahu orang lagi memuji keperkasaan dirinya, Maka ia pun balas mengunjuk jari jempol sambil berkata,
"Ehm, kamu juga perkasa dan gagah!"
Orang itu sangat girang, ia tuding hidung sendiri dan berkata, "Wanyen Akut!"
Siau Hong menduga mungkin itulah namanya, maka ia pun tuding hidung sendiri dan menjawab "Siau Hong!"
"Siau Hong? Cidan?" tanya orang itu.
Siau Hong mengangguk.
"Ya, Cidan!" sahutnya, lalu ia balas tanya sambil tuding orang itu, "Dan kau ?"
"Wanyan Akut! Nuchen!" sahut pemburu itu.
Siau Hong pernah mendengar bahwa di timur negeri Liau, di utara Korea terdapat suatu suku bangsa Nuchen (kerajaannya terkenal dengan sebutan Chin atau Kim), Suku bangsa itu gagah perkasa dan pandai berperang, Dan pemburu yang bernama Wanyen Akut ini kiranya suku bangsa Nuchen yang terkenal itu.
Meski tidak paham bahasa masing-masing, tapi ditempat yang sunyi terpencil itu dapat bertemu seorang kawan, betapapun mereka merasa sangat senang, Segera Siau Hong member tanda untuk memeberitahu bahwa dirinya masih mempunyai seorang kawan lagi.
Rupanya Akut dapat menangkap maksudnya, Ia mengangguk dan mengangkat harimau hasil buruannya tadi, Begitu pula Siau Hong lantas angkat juga harimau yang dibinasakannya dan menuju ketempat A Ci, Akut mengikuti dibelakangnya.
Karena kelaparan dan kedinginan, keadaan A Ci sangat lemah, Cepat Siau Hong mengangkat harimau buruan Aku tadi, dari luka binatang yang masih mengalirkan darah segar itu, ia cekoki anak dara itu dengan darah harimau, Setelah kemasukkan darah harimau yang hangat itu, semangat A Ci tampak agak segar.
Siau Hong sangat girang, segera ia menyobek kedua paha harimau terus dipanggang diatas api unggun.
Melihat cara Siau Hong mencabik paha harimau bagaikan menyobek paha ayam gampangnya, karuan Akut terkesima memandangi kedua tangan Siau Hong, Sejenak kemudian, tiba-tiba ia memegang-megang telapak tangan Siau Hong dengan penuh rasa kagum.
Selesai memanggang daging harimau, segera Siau Hong dan Akut makan sekenyang-kenyangnya, Lalu Akut memberi tanda gerakan tangan untuk tanya maksud tujuan Siau Hong, Maka Siau Hong menerangkan dengan gerakan tangan bahwa tujuannya ingin mencari jinsom untuk menyembuhkan penyakit A Ci dan setiba di sini mereka sesat jalan.
Akut terbahak-bahak, ia geraki tangannya kesana kesini untuk menyatakan bahwa adalah sangat gampang jika ingin mencari jinsom, bahwa ditempat mereka tersedia jinsom secukupnya. Siau Hong sangat girang, segera ia berbangkit dengan tangan kiri ia pondong A Ci, tangan kanan mengangkat bangkai harimau buruannya itu.
Kembali Akut mengunjukkan jari jempolnya dan memuji, "Benar-benar tenaga raksasa!"
Rupanya Akut sangat apal dengan tempat disekitar situ, meski dibawah hujan salju dan tiupan angin kencang toh dia tidak sesat jalan, Ketika hari sudah gelap, mereka lantas bermalam ditengah hutan, esok paginya melanjutkan perjalanan lagi.
Begitulah mereka terus menuju kearah barat, pada siang hari ketiga, Siau Hong melihat ditanah salju situ sudah banyak bekas tapak kaki manusia, Akut berulang-ulang member tanda pula untuk menerangkan bahwa sudah dekat dengan tempat tinggal suku mereka.
Benar juga, sesudah melintasi dua lereng bukit lagi, terlihatlah
diarah tenggara sana banyak terdapat tanda dari kulit binatang, jumlahnya ada beberapa ratus buah, Ketika Akut bersuit, segera dari perkemahan itu ada orang memapak kedatangan mereka.
Sesudah dekat, Siau Hong lihat didepan setiap tenda tentu dinyalakan api unggun dan dikerumuni kaum wanita yang asyik menjahit kulit binatang dan mengolah daging binatang hasil buruan mereka. Akut membawa Siau Hong menuju kesuatu tenda terbesar ditengah-tengah perkemahan itu.
Sesudah masuk kedalam tenda besar itu Siau Hong lihat disitu terdapat belasan orang yang sedang duduk sambil minum arak, Melihat kedatangan Akut, seketika orang-orang itu bersorak menyambutnya.
Segera Akut menunjuk Siau Hong, sambil menuding sambil omong, Melihat kelakuan itu, Siau Hong tahu Akut sedang menceritakan cara bagaimana dia membinasakan harimau, Maka orang-orang itu lantas mengerumuni Siau Hong dan mengunjuk ibu jari mereka sebagai tanda memuji.
Tengah ramai, tiba-tiba masuk pula seorang Han yang berdandan sebagai saudagar, Orang itu lantas menyapa pada Siau Hong. "Apakah tuan ini dapat bicara bahasa Han ?"
Sungguh Siau Hong girang sekali, cepat ia menjawab. "Sudah tentu dapat!"
Sesudah tanya keterangan kepada saudagar bangsa Han itu, barulah diketahui bahwa perkemahan itu adalah tempat tinggal kepala suku Nuchen, orang tua yang berjenggot diantara belasan orang tadi adalah kepala suku sendiri, namanya Hurip. Kepala suku itu mempunyai sebelas orang putra, semuanya gagah perkasa, Akut adalah putranya yang kedua.
Saudagar Han itu bernama Kho Tok-sing, setiap musim dingin tentu datang kesitu untuk membeli kulit harimau dan jinsom, pada musim semi baru meninggalkan tempat ini, Kho Tok-sing fasih berbahasa Nuchen, maka ia lantas menjadi juru bahasa Siau Hong.
Orang Nuchen paling menghormat pada kaum ksatria perkasa,
Wanyen Akut itu tergolong pemuda yang gagah perwira, maka sangat disayang ayahnya, suku bangsanya juga sangat cinta padanya, Jika Akut memuji setinggi langit pada Siau Hong,
dengan sendirinya suku bangsanya ikut menghormat juga dan menyambutnya sebagai tamu agung.
Akut lantas mengosongkan kemah sendiri untuk tempat tinggal Siau Hong dan A cI, Sebagai tokoh berpengaruh dalam bangsa Nuchen, dengan sendirinya tenda itu sangat luas dan bagus.
Malamnya orang Nuchen mengadakan jamuan besar-besaran untuk menghormati Siau Hong, dengan sendirinya daging harimau buruan mereka pun menjadi santapan yang berarti.
Memangnya sudah setengahan bulan Siau Hong tidak pernah minum arak, kini satu kantong dami sati kantong orang Nuchen menyuguhkan arak padanya, karuan ia dapat minum dengan sepuas-puasnya.
Meski arak buatan orang Nuchen tidak begitu sedap, tapi kadarnya sangat keras, orang biasa kalau minum setengah kantung saja pasti akan mabuk, tapi beruntun-runtun Siau Hong dapat menghabiskan belasan kantung tanpa pusing sedikitpun, karuan kekuatan minumnya ini membuat orang-orang Nuchen tercengang.
Semula mereka agak sangsi ketika mendengar cerita Akut tentang Siau Hong membunuh harimau dengan bertangan kosong, kini melihat kekuatan minum arak yang luar biasa itu,
mau tak mau mereka merasa kagum sekali.
Sesudah perjamuan menggembirakan itu, Siau Hong lantas tinggal ditempat orang Nuchen itu dengan senang, Sifat orang Nuchen itu kebanyakan polos jujur, mereka sangat cocok dengan watak ksatria Siau Hong.
Melihat bangsa Nuchen sangat menghormati Siau Hong dengan sendirinya Kho Tok-sing juga segan padanya, Waktu iseng Siau Hong lantas ikut berburu dengan Akut, malam harinya ia belajar bahasa Nuchen dengan Kho Tok-sing, Sesudah cukup lancar berbahasa Nuchen, Siau Hong piker dirinya adalah bangsa Cidan, masakah bahasa bangsa sendiri tidak bisa, bukankah hal ini sangat janggal, Maka ia pun belajar bahasa Cidan pula dengan Kho Tok-sing.
Sebagai saudagar Kho-Tok-sing biasa mondar-mandir diantara tempat tinggal suku bangsa Nuchen, Cidan, Sehe dan lain-lain, maka ia fasih bicara dalam beberapa bahasa, Meski bakat Siau Hong dalam hal bahasa tidak terlalu tinggi, tapi lama kelamaan ia pun dapat bicara dengan lancar, kalau untuk keperluan sehari-hari saja ia sudah tidak perlu juru bahasa lagi.
Dengan cepat beberapa bulan sudah berlalu, musim dingin berganti dengan musim semi, Karena setiap hari A Ci minum sari jinsom, maka kesehatannya sudah banyak maju. Pada umumnya jinsom yang digali orang Nuchen itu adalah jinsom tua dan pilihan, maka nilainya tidaklah sama dengan sembarangan jinsom.
Setiap kali Siau Hong pergi berburu, dari hasil buruannya itu ditukarkannya dengan jinsom untuk A Ci, Penghidupan A Ci yang luar biasa itu mungkin putri raja pun tidak dapat menyamai dia, Setiap hari Siau Hong masih menyalurkan hawa murni ketubuh anak dara itu, cuma sekarang cukup sebentar saja, pula sehari sekali sudah cukup. Terkadang Aci juga dapat bicara beberapa kata, cuma kaki dan tangannya masih belum dapat bergerak, hingga segala keperluan masih perlu bantuan Siau Hong, Dan setiap kali teringat pada pesan tinggalan A Cu, maka Siau Hong rela berbuat apa saja yang dikehendaki anak dara itu.
Suatu hari, Akut bersama belasan orang bangsanya hendak pergi berburu beruang dilereng bukit barat laut, Ia mengajak Siau Hong ikut pergi, Kulit beruang sangat berharga, daging dan minyaknya juga banyak, lebih-lebih telapak kaki beruang, konon adalah bahan masakan yang paling lezat didunia ini.
Karena melihat keadaan A Ci baik-baik saja, Siau Hong lantas terima dengan senang hati ajakan Akut itu, Maka pagi-pagi sekali rombongan mereka lantas berangkat ke utara.
Sementara itu sudah permulaan musim panas salju sudah mencair, tanah pegunungan penuh lumpur hingga perjalanan sukar ditempuh, Tapi orang-orang Nuchen itu ternyata sangat tangkas, menjelang siang hari mereka sudah menempuh sejauh seratus li lebih.
Selagi Siau Hong khawatirkan A Ci bila terlalu jauh ditinggal pergi, tiba-tiba seorang pemburu tua bangsa Nuchen berseru, "Itu dia, beruang! Beruang besar!"
Waktu semua orang memandang kearah yang ditunjuk, ternyata ditanah lumpur itu setapak demi setapak terdapat bekas kaki beruang besar. Semangat semua orang terbangkit seketika, dengan gembira mereka terus mengikuti jejak beruang itu hingga mencapai padang rumput.
Tengah mereka menguber dengan cepat, tiba-tiba terdengar suara derapan kuda yang ramai, dari depan sana muncul suatu pasukan berkuda sedang mendatang dengan cepat.
Padang rumput disitu mendatar luas, maka dapat terlihat dengan jelas ada seekor beruang hitam besar sedang berlari, dibelakangnya menguber beberapa puluh penunggang kuda sambil mem-bentak2, Anggota pasukan itu semuanya bertombak dan ada yang membawa busur dan panah, semuanya kelihatan sangat tangkas.
"Itulah orang Cidan, mereka berjumlah banyak, marilah lekas kita pergi, lekas!" segera Akut memperingatkan kawan-kawannya.
Mendengar rombongan orang-orang itu adalah suku bangsanya sendiri, seketika timbul semacam perasaan baik didalam hati Siau Hong, ia lihat Akut ajak kawan-kawannya putar balik untuk melarikan diri, tapi ia sendiri tidak lantas ikut lari, sebaliknya ia tetap berdiri ditempatnya untuk melihat keadaan selanjutnya.
"Hai, orang Nuchen! Panah dia, panah dia!" mendadak orang-orang Cidan berteriak-teriak dan beruntun-runtun panah mereka berseliweran menyambar kearah Siau Hong.
Diam-diam Siau Hong merasa gusar, mereka tanpa tanya apa pun terus main panah begitu saja, Tapi beberapa batang panah yang menyambar kearahnya itu dapat disampuknya jatuh semua, Mendadak terdengar suara jeritan ngeri, sipemburu tua bangsa Nuchen punggungnya kena panah dan binasa.
Akut telah pimpin beberapa orang kawannya itu bersembunyi kebalik suatu gundukan tanah, dari situ mereka pun balas memanah musuh hingga dua orang Cidan juga jatuh terjungkal.
Yang serba salah adalah Siau Hong, ia berada ditengah-tengah dan entah pihak mana yang harus dibantunya, Dalam pada itu ia masih terus dihujani panah oleh orang-orang Cidan, tapi dengan mudah saja ia dapat menyampuk jatuh semua panah sambil berteriak-teriak, "Hai, apa-apaan kalian ini? Mengapa tanpa tanya sesuatu lantas sembarangan membunuh orang!"
Dari tempat sembunyinya sana Akut teriaki dia. "Siau Hong, lekas kemari, mereka tidak tahu bahwa engkau sebangsa mereka!"
Dan pada saat itu juga dua orang Cidan dengan tombak terhunus sedang menerjang kearah Siau Hong dari kanan dan kiri, Begitu mendekat, terus saja tombak mereka menusuk sasarannya.
Siau Hong tidak ingin membunuh bangsanya sendiri, maka ia hanya tangkap ujung tombak lawan, sedikit ia sendal, kontan kedua orang itu terjungkal kebawah kuda, Segera Siau Hong gunakan kedua tombak rampasan untuk mencungkit tubuh kedua orang Cidan itu, seketika kedua orang itu melayang
kembali kearah kawan-kawan mereka sambil berkaok-kaok ketakutan di udara, lalu terbanting ditanah hingga tak sanggup bangun untuk sekian lamanya.
Beramai-ramai Akut dan kawan-kawannya bersorak.
Maka tertampaklah diantara orang-orang Cidan itu muncul seorang laki-laki setengah umur berbaju merah sedang membentak-bentak memberi perintah, Lalu beberapa puluh orang Cidan membagi diri dalam dua jurusan, dari kanan kiri mereka lantas mengepung dari kejauhan untuk mencegat jalan lari Akut dan kawan-kawannya.
Melihat gelagat jelek, segera Akut bersuit sekali, cepat ia melarikan diri bersama rombongannya, Kembali orang Cidan menghujani mereka dengan panah hingga beberapa orang Nuchen terbinasa lagi.
Melihat kekejaman orang-orang Cidan, walaupun mereka adalah suku bangsanya sendiri, tapi Siau Hong tak memikirkan hal itu lagi, segera ia rampas sebuah busur dan panahnya, beruntun ia memanah empat kali hingga empat orang Cidan kontan terjungkal dari kuda, tapi tidak mati lantaran yang dipanah Siau Hong adalah bagian pundak, kaki dan tempat-tempat yang tidak berbahaya.
Diluar dugaan ketika orang berjubah merah tadi membentak pula, orang-orang cidan itu sedikitpun pantang mundur, mereka terus mengejar dengan gagah berani.
Siau Hong lihat diantara rombongan Akut itu kini hanya tinggal tiga orang pemuda saja yang masih ikut melarikan diri sambil balas memanah musuh, selebihnya sudah terbunuh oleh
orang-orang Cidan.
Padahal dipadang rumput yang datar itu, untuk melarikan diri jelas tidak mudah, tampaknya dalam waktu singkat Akut dan kawan-kawannya pasti juga akan menjadi korban keganasan
orang-orang Cidan.
Selama ini Siau Hong telah dipandang sebagai saudara sendiri oleh orang-orang Nuchen, kalau kawan-kawan karib yang lagi menghadapi bahaya itu tak ditolong olehnya, sungguh rasa hatinya tidak tentram, Sebaliknya bila orang-orang Cidan itu dibunuhnya semua, betapapun mereka adalah suku bangsanya sendiri, ia merasa tidak tega, Jalan satu-satunya sekarang terpaksa orang yang berjubah merah yang merupakan pimpinan mereka itu harus ditawan lebih dulu, lalu
akan memaksa dia memerintahkan orang-orangnya menghentikan pertumpahan darah itu.
Setelah mengambil keputusan, segera Siau Hong berseru,
"Hai, lekas kalian mundur saja! Kalau tidak, terpaksa aku tidak sungkan lagi!"
Tapi sebagai jawabnya, mendadak tiga batang tombak menyambar kearahnya, Karuan Siau Hong sangat mendongkol, Segera ia menerjang kearah sijubah merah dengan cepat.
"Jangan, jangan, Siau-toako, lekas kembali!" Akut berteriak-teriak khawatir demi melihat sahabat baik itu hendak menyerempet bahaya.
Tapi Siau Hong tidak gubris padanya, ia tetap menerjang kedepan, Dengan sendirinya orang-orang Cidan hendak merintanginya, panah dan tombak mereka bagaikan hujan menghambur kearah Siau Hong.
Mendadak Siau Hong membentak sekali, ia tangkap sebatang tombak, sekali pukul ia patahkan tombak panjang itu, dengan ia putar kencang potongan tombak itu hingga segala macam senjata musuh yang menyambar ketubuhnya itu disampuknya jatuh semua, Sedangkan larinya tidak menjadin kendor, hanya sekejap saja ia sudah menerjang sampai didepan sijubah merah.
Si jubah merah yang berewok itu sangat gagah dan angker, ia tidak gugup melihat Siau Hong menerjang tiba, cepat ia terima tiga batang lembing dari pengawalnya, segera lembing pertama ditimpukkan kearah Siau Hong, Tapi sekali tangkap, lembing itu kena dipegang oleh Siau Hong, begitu pula lembing kedua, Habis itu tanpa ampun lagi dua pengawal dikanan kiri sijubah merah terjungkal dari kuda mereka..
"Bagus!" bentak sijubah merah sambil menimpukkan lembing ketiganya.
Tapi dengan menggunakan gaya 'pinjam tenaga untuk balas menyerang' sekali Siau Hong menyampuk dengan tangan kiri keatas, tahu-tahu lembing itu berputar arah dan menyambar balik, "crat" dada kuda tunggangan sijubah merah tepat tertancap oleh lembing itu.
Sambil berteriak kaget, sebelum kudanya roboh sijubah merah mendahului melompat turun, Namun Siau Hong lebih cepat dari dia, tahu-tahu tangan kanan Siau Hong sudah meraih sampai diatas pundak kanannya terus dicengkeram kencang-kencang.
Pada saat itulah Siau Hong dengar suara sambaran senjata dari belakang, sekali kaki memendal, secepat terbang Siau Hong meloncat kedepan hingga beberapa meter jauhnya sambil menggondol sijubah merah, Maka terdengarlah suara "crat cret" dua kali, dua batang tombak telah menancap diatas tanah ditempat Siau Hong berpijak tadi.
Sambil mengempit sijubah merah, segera Siau Hong meloncat pula kekiri hingga jatuh diatas kuda seorang penunggang Cidan, sekali sikat ia bikin orang Cidan itu terperosot kebawah lalu keprak kuda rampasan itu menyingkir ketempat yang luang.
Masih sijubah merah itu merontah-rontah sambil meninju muka Siau Hong, tapi sekali Siau Hong mengempit dengan kencang, si jubah mereha tak bisa berkutik lagi, Segera Siau Hong membentak, "Perintahkan mereka mundur, kalau tidak sekarang juga kukempit mampus dirimu!"
Karena terancam, terpaksa sijubah merah berseru, "Lekas kalian mundur, tidak perlu bertempur lagi!"
Beramai-ramai orang Cidan itu lantas mengurung Siau Hong, mereka ingin mencari kesempatan untuk menolong pemimpin mereka, Tapi dengan tombak patah tadi, Siau Hong mengancam leher sijubah merah, sambil membentak. "Apa minta kubinasakan dia!"
"Lekas kau bebaskan pemimpin kami, kalau tidak, segera kami cincang dirimu menjadi bergedel!" bentak seorang Cidan tua.
Siau Hong terbahak-bahak, Mendadak ia memukul kearah orang tua itu dari jauh "blang", kontan orang itu mencelat dari kudanya hingga jatuh beberapa meter, mulutnya menyemburkan darah, tampaknya tidak mungkin hidup lagi.
Memang Siau Hong sengaja hendak menggertak musuh dengan ilmu 'Pik-khong-ciang'(pukulan dari jauh) yang hebat itu, maka tenaga yang dipakainya tadi cukup keras, Karuan orang Cidan yang tidak pernah menyaksikan ilmu sakti seperti itu menjadi kesima, sejenak kemudian mereka sama menjerit
kaget, dan beramai-ramai mengundurkan kuda mereka dengan rasa khawatir jangan-jangan pukulan Siau Hong itu akan berkenalan pula dengan mereka, sudah tentu mereka tidak mampu melawan pukulan yang mirip ilmu sihir itu.
"Nah, jika kalian tidak lantas mundur dan pergi, segera akan kubinasakan dia!" kata Siau Hong sambil mengangkat telapak tangannya keatas kepala sijubah merah.
"Enyahlah kalian! Mundur semua!" teriak sijubah merah.
Terpaksa orang-orang Cidan itu menurut, mereka undurkan kuda beberapa tindak kebelakang, tapi tetap tidak mau pergi.
Diam-diam Siau Hong pikir, "Disekitar sini adalah padang rumput yang datar, kalau pemimpin mereka ini dilepaskan dan kemudian orang-orang Cidan ini mengejar lagi, akhirnya Akut dan kawan-kawannya tetap tak dapat meloloskan diri,"
Maka ia berkata kepada sijubah merah, "Lekas perintahkan mereka menyediakan empat ekor kuda!"
Si jubah merah menurut, empat ekor kuda lantas diserahkan kepada Akut oleh orang-orangnya, Karena dendam orang Cidan membunuh kawan-kawannya, "blang" kontan Atut menjotos seorang yang menyerahkan kuda itu hingga "knock-out", Meski jumlah mereka lebih banyak, orang-orang Cidan itu tidak berani membalas, ia hanya mendelik sambil memegang dagunya yang ditonjok itu dengan meringis kesakitan.
Lalu Siau Hong berkata pula, "Lekas memberi perintah agar masing-masing membunuh kuda tunggangan sendiri, seekorpun tak boleh tertinggal hidup."
Si jubah merah ternyata seorang yang tegas, tanpa berdebat apapun segera ia memberi perintah, "Semuanya turun dari kuda dan bunuh binatang tunggangan kalian!"
Orang-orang Cidan itu pun tanpa pikir terus melompat turun, masing-masing membunuh kuda sendiri dengan golok dan tombak yang mereka bawa.
Melihat orang-orang Cidan itu begitu taat kepada pimpinan, diam-diam Siau Hong merasa kagum juga, pikirnya, "Tampaknya sijubah merah ini bukan sembarangan orang, masakah setiap perintahnya diturut oleh bawahannya tanpa membangkang sedikitpun, Melihat disiplin mereka yang hebat ini, pantas pasukan Song kalah perang melawan mereka."
Kemudian Siau Hong berkata pula kepada sijubah merah, "Sekarang suruh orang-orangmu pulang semua, siapa pun dilarang mengejar lagi, Kalau ada seorang berani mengejar, segera kupuntir patah sebelah tanganmu, ada dua orang berani mengejar, akan kupatahkan dua lenganmu, Empat anggota badanmu lantas kukutungi semua."
Ancaman Siau Hong membuat sijubah merah gusar tidak kepalang, tapi dibawah tawanan orang ia pun tak dapat berbuat apa-apa, terpaksa ia beri perintah, "Sudahlah, balik pulang segera mengerahkan pasukan besar untuk hancurkan sarang orang Nuchen!"
Serentak orang-orang Cidan mengiakan sambil membungkuk tubuh, Lalu Siau Hong putar kudanya, bersama Akut dan kawan-kawannya yang telah menunggang kuda masing-masing segera balik kearah timur dengan membawa tawanannya yaitu sijubah merah.
Sesudah beberapa li jauhnya, benar juga tiada seorang Cidan yang berani mengejar lagi, maka Siau Hong melompat keatas kuda lain dan membiarkan sijubah merah menunggang kuda sendiri.
Dengan cepat mereka pulang ketempat tinggal orang Nuchen, segera Akut melaporkan peristiwa itu kepada ayahnya Hurip, Ia tuturkan kejadian bertemu dengan musuh, berkat pertolongan Siau Hong mereka dapat diselamatkan dan malah berhasil menawan seorang pemimpin musuh.
Karuan Hurip sangat girang, ia tidak habis-habis memuji dan menghaturkan terima kasih kepada Siau Hong, Lalu member perintah, "Bawalah anjing Cidan itu kesini!"
Meski sudah jatuh dalam cengkeraman musuh tapi sijubah merah masih sangat angkuh dan kereng, ia berdiri tegak dan tak sudi bertekuk lutut.
Hurip tahu tawanannya itu pasti bangsawan Cidan, segera ia tanya, "Siapa namamu? Apa pangkatmu dinegeri Liau sana?"
Dengan angkuh sijubah merah menjawab, "Aku toh bukan tawananmu, dengan hak apa kau tanya padaku?"
Menurut peraturan umum diantara suku-suku bangsa Cidan dan Nuchen, seorang tawanan termasuk budak milik pribadi orang yang menawannya itu, Baik harta benda atau wanita juga termasuk dalam peraturan itu, hak milik itu tak boleh diganggu gugat oleh orang lain, kecuali jika pemiliknya sengaja menghadiahkan kepadanya, Begitulah peraturan umum dalam suku-suku bangsa yang peradabannya masih belum maju, setiap tawanan adalah budak.
Maka Hurip tertawa, katanya, "Benar juga ucapanmu, hahaha!" Segera sijubah merah mendekati Siau Hong ia tekuk lutut sebelah kaki, ia beri hormat dengan sebelah tangan terangkat kedepan jidat, katanya, "Cukong, engkau memang kesatria gagah, sedikit pun aku tidak menyesal menjadi tawananmu, Jika engkau sudi membebaskan diriku, sebagai balas jasa aku bersedia mengganti dengan tiga kereta emas, tiga puluh kereta perak dan tiga ratus ekor kuda."
Paman Akut yang bernama Polas menyela, "Kamu ini bangsawan Cidan, harta tebusan itu masih jauh dari pada cukup, Saudara Siau, boleh kau lepaskan dia jika dia bersedia menebus dengan 30 kereta emas, 300 kereta perak dan 3000 ekor kuda,"
Polas itu seorang cerdik, ia sengaja menambah harta tebusan itu sepuluh kali lipat dari pada tawaran sijubah merah tadi, maksudnya memang sengaja hendak tawar menawar.
Sebenarnya harta tiga kereta-emas, 30 kereta perak dan 300 ekor kuda yang ditawarkan sijubah merah tadi sudah merupakan harta kekayaan yang sukar didapat, sepanjang sejarah pertempuran antara bangsa Nuchen dan Cidan belum pernah terjadi harta tebusan tawanan sebesar itu.
Maka sebenarnya kalau sijubah merah tak berani menambah lagi tawarannya, ada maksud Polas akan minta Siau Hong menutup 'transaksi' itu alias terima baik tawaran itu.
Diluar dugaan sijubah merah ternyata bukan seorang yang pelit , tanpa pikir ia terima baik harga yang dipasang Polas tadi, dengan tegas ia menjawab, "Baik, kuterima syaratmu itu,"
Mendengar jawaban itu, semua orang Nuchen terkejut, hampir-hampir mereka tidak percaya kepada telinganya sendiri.
Hendaklah maklum, meski peradapan bangsa Nuchen dan Cidan itu masih terbelakang, tapi mereka pun kenal kepercayaan, yang pernah diucapkannya pasti ditepati, apalagi sekarang yang dipersoalkan adalah emas tebusan, jika orang Cidan tidak cukup menyerahkan jumlah yang dijanjikan itu atau sengaja ingkar janji, itu berarti sijubah merah takkan dapat pulang kenegerinya, segala omong besar dan janji kosong itu pun takkan berguna.
Begitulah maka Polas khawatir kalau-kalau tawanannya itu dalam keadaan linglung, maka sengaja ia tegaskan lagi, "Hai, kaudengar jelas tidak kataku tadi? Aku bilang 30 kereta emas, 300 kereta perak dan 3000 ekor kuda!"
"Ya, emas 30 kereta, perak 300 kereta dan kuda 3000 ekor, apa artinya semua itu bagiku!" demikian sijubah merah menjawab dengan sikap yang tetap angkuh, "Kelak kalau kerajaan Liau kami memerintah didunia ini, harta benda sekian itu apa artinya bagi kami?"
Habis itu ia lantas berpaling kearah Siau Hong, sikapnya berubah sangat hormat, katanya, "Cukong, aku hanya tunduk pada perintahmu, omongan orang lain takkan kugubris lagi."
"Siau-hengte," sela Polas, "Coba kau tanya dia sebenarnya dia orang macam apa di negeri Liau mereka?"
Segera sorot mata Siau Hong beralih kepada sijubah merah, Tapi belum lagi ia buka suara atau orang itu sudah mendahului berkata; "Cukong, jika engkau berkeras ingin tanya asal-usulku, terpaksa aku akan mengaku sembarangan untuk mendustaimu dan engkau toh takkan tahu dengan pasti, Engkau adalah seorang ksatria, aku pun seorang ksatria, maka aku tidak ingin dusta, sebab itulah janganlah engkau tanya berbelit-belit padaku."
Mendadak Siau Hong melolos goloknya, sekali jarinya menyelentik, "creng" kontan golok itu patah menjadi dua, Lalu bentaknya dengan suara bengis, "Kau berani tidak mengaku?
Kalau jariku menjentik sekali diatas batok kepalamu, lantas bagaimana jadinya?"
Tapi orang itu ternyata tidak gentar juga dan tidak gugup, sebaliknya ia acungkan jari jempolnya dan memuji, "Bagus, kepandaian hebat, kungfu yang lihai! Sungguh tidak mengecewakan hidupku ini dapat menyaksikan seorang gagah nomor satu didunia ini, Siau-enghiong, jika engkau hendak menggertakku dengan kekerasan, hah, itulah jangan harap, Kalau mau bunuh silakan bunuh, biar pun orang Cidan tak mampu melawanmu, namun jiwanya adalah sama kerasnya seperti engkau."
Siau Hong terbahak-bahak, katanya, "Bagus, bagus! Aku takkan membunuhmu disini, kalau kubunuh begini saja tentu juga kamu takkan takluk, Marilah kita pergi yang jauh sana, nanti kita bertempur lagi lebih sengit."
"Siau-hengte," cepat Polas dan Hurip mencegahnya, "sayanglah kalau orang ini dibunuh, lebih baik kita tahan dia untuk mendapatkan emas tebusan, Jika engkau marah padanya, boleh kau pentung atau hajar dia dengan cambuk saja."
"Tidak," sahut Siau Hong, "Dia berlagak gagah-gagahan, aku justru ingin dia tahu rasa,"
Segera ia pinjam dua pasang busur dengan panahnya pada orang Nuchen disampingnya, dipinjamnya pula dua batang tombak, Lalu ia tarik sijubah merah keluar tenda, lebih dulu ia cemplak keatas kudanya, kemudia katanya kepada sijubah merah, "Nah, naiklah!"
Ternyata orang Cidan itu sedikitpun tidak ragu atau gentar, meski ia tahu pasti akan mati konyol melawan Siau Hong, boleh jadi dirinya akan digoda dulu seperti kucing mempermainkan tikus, lalu dibunuhnya, Tapi ia tidak jeri segera ia pun lompat keatas kuda yang lain dan lalu menuju ke utara.
Sesudah beberapa li jauhnya, tiba-tiba Siau Hong berkata, "Belok ke barat sana!"
Pemandangan disini sangat indah, biarlah aku mati disini saja," sahut sijubah merah.
"Ini sambutlah!" seru Siau Hong pula sambil melemparkan sepasang busur berikut panah dan sebatang tombak padanya.
Senjata itu diterima oleh orang itu, segera ia pun berseru, "Siau-enghiong, biarpun aku sadar bukan tandinganmu, tapi biarpun mati orang Cidan pantang menyerah, Awas, aku akan mulai menyerang!"
"Nanti dulu! Ini, sambut pula!" sahut Siau Hong, Dan kembali ia lemparkan busur dan tombak miliknya itu kepada sijubah merah, Dengan bertangan kosong lalu ia tersenyum-senyum.
Si jubah merah menjadi gusar, katanya, "Hah, jadi hendak kau tempur aku dengan bertangan kosong? Kamu benar-benar terlalu menghina padaku!"
Tapi Siau Hong menggeleng kepala, sahutnya, "Bukan begitu maksudku, Selamanya aku paling menghargai kaum ksatria dan menghormati orang gagah, Meski ilmu silatmu kalah dari padaku, tapi engkau adalah seorang ksatria besar, seorang gagah perkasa, aku bersedia bersahabat denganmu, Nah silakan pulang ketengah-tengah suku bangsamu!"
Karuan sijubah merah terperanjat, katanya dengan tergagap, "Ap. . . apa katamu?"
"Aku bilang engkau adalah seorang ksatria, seorang gagah dan ingin bersahabat denganmu, maka sekarang kuantarmu pulang ke rumah!" sahut Siau Hong tertawa.
Bagaikan orang yang sudah mendaftarkan diri kepada raja akhirat tapi titolak kembali, karuan girang sijubah merah melebihi orang dapat lotre sepuluh juta, Ia coba tanya pula,
"Sungguh-sungguh kau bebaskan diriku? Apakah maksud tujuanmu? Kalau. . . .kalau aku dapat pulang kerumah tentu akan kutambahi emas tebusanku sepluh kali lipat untukmu."
Siau Hong menjadi kurang senang, sahutnya, "Aku anggap kamu sebagai sobat baik, mengapa kamu malah tidak pandang aku sebagai sahabat, Siau Hong adalah seorang laki-laki sejati, masakah tamak terhadap harta benda?"
Si jubah merah merasa malu, cepat ia buang senjatanya, ia lompat turun dari kuda dan berlutut ditanah, katanya, "Banyak terima kasih atas budi pengampunan atas jiwaku ini!"
Segera Siau Hong ikut berlutut dan balas menghormat, sahutnya, "Aku tidak mau membunuh sahabat, tapi juga tidak berani terima penyembahan seperti ini, jika kaum budak tawanan aku akan terima penghormatannya dan jiwanya juga takkan kuampuni."
Sungguh girang dan kagum sijubah merah tak terhingga, sesudah berbangkit ia berkata pula, "Siau-enghiong, jika benar engkau pandang aku sebagai sahabat, bagaimana pendapatmu jika sekiranya aku mohon mengangkat saudara denganmu?"
Sejak Siau Hong masuk Kai-pang, selama itu ia hanya kenal naik pangkat hingga akhirnya diangkat menjadi Pangcu, tapi tidak pernah mengangkat saudara dengan orang, Hanya sekali tejadi waktu dia mengadu minum arak dengan Toan Ki dikota Bu-sik, karena saling mengagumi maka keduanya mengikat persaudaraan angkat.
Kini dalam keadaan terlunta dirantau orang ternyata ada seorang seperti sijubah merah tadi mengangkat saudara dengan dia, karuan ia sangat terharu dan segera menjawab, "Bagus, tentu saja kuterima dengan baik, aku Siau Hong, 33 tahun, entah saudara berusia berapa?"
"Aku Yali Ki, lebih tua sebelas tahun dari pada lokong," sahut sijubah merah dengan tertawa.
"Mengapa Gihong (kakak angkat) masih menyebutku sebagai lokong?" ujar Siau Hong, "Sebagai saudara tua terimalah penghormatanku ini." Habis berkata ia terus memberi hormat kepada sijubah merah alias Yali Ki.
Cepat Yali Ki membalas hormat, kedua orang lantas sembahyang kepada langit dengan menggunakan tiga batang panah sebagai dupa, Sejak itu mereka terikat sebagai saudara angkat.
Dengan girang kemudian Yali Ki berkata, "Saudaraku, engkau she Siau, mirip sekali dengan bangsa Cidan kami."
"Bicara terus terang, sebenarnya Siaute memang orang Cidan," sahut Siau Hong sambil membuka bajunya hingga kelihatan ganbar cacah kepala serigala didadanya itu.
Karuan Yali Ki tambah girang, serunya, "Hai, memang betul engkau adalah kelompok suku Ho dari bangsa Cidan kita, Saudaraku, di negeri orang Nuchen sini terlalu dingin, lebih baik ikut ke Siangkhia saja untuk menikmati kebahagiaan bersama."
"Banyak terima kasih atas maksud baik Giheng," sahut Siau Hong. "Tapi Siaute sudah biasa hidup melarat, penghidupan mewah malah tidak suka, Ditempat orang Nuchen ini Siaute hidup cukup senang dan bebas, Kelak bila Siaute rindu pada Giheng, tentu akan berkunjung kesana."
Dan karena memikirkan keadaan A Ci yang telah ditinggal sekian lamanya, segera ia pun mohon diri, "Giheng, lekas engkau pulang saja agar keluarga dan bawahanmu tidak merasa khawatir."
Yali Ki mengangguk, "Ya, dalam keadaan terburu-buru hari ini kita tak sempat banyak bicara, Sebagai saudara angkat, kelak kta harus lebih sering berhubungan." Habis itu, segera ia mencemplak keatas kuda dan dilarikan cepat ke barat.
Waktu Siau Hong putar kembali kudanya, ia lihat Akut memimpin belasan bawahannya datang menyongsongnya, Agaknya Akut khawatir Siau Hong terjebak oleh akal licik sijubah merah, maka sengaja menyusulnya.
Ketika Siau Hong memberitahu bahwa sijubah merah telah dibebaskan olehnya, sebagai seorang ksatria yang berpandangan luas, Akut sendiri memuji atas kebijaksanaan dan keluhuran budi Siau Hong. . . . .
Suatu hari, tatkala mengobrol iseng Siau Hong memberitahukan Akut tentang penyakit A Ci itu disebabkan terkena pukulannya, Meski jiwanya telah dapat direnggut kembali dari cengkeraman maut berkat jinsom yang telah banyak diminumnya itu, tapi sudah sekian lamanya keadaan anak dara itu belum tampak sembuh, hal inilah yang sangat menyesalkan hati Siau Hong.
Sesudah berpikir, kemudian Akut mengusulkan untuk mencoba obat luka pukulan yang biasa digunakan oleh suku bangsa Nuchen meraka, yaitu koyol buatan dari urat dan tulang harimau dicampur dengan empedu beruang, biasanya koyok itu sangat manjur.
Siau Hong sangat girang mendapat keterangan itu, urat dan tulang harimau cukup banyak tersedia, yang masih perlu hanya empedu beruang saja, Segera ia tanya bagaimana cara pemakaian dan racikan obat itu, harus gilas urat dan tulang harimau menjadi salep, lalu diminumkan kepada A Ci. Dan besok paginya seorang diri ia menuju jauh kerimba pegunungan untuk berburu beruang.
Karena berburu sendirian, maka Siau Hong dapat mengeluarkan ginkang sebebas-bebasnya, Hari pertama hasilnya nihil, hari kedua ia dapat membunuh seekor beruang besar, Segera ia mengambil empedu binatang buas itu dan lari pulang.
Urat tulang harimau dan empedu beruang beserta jinsom adalah barang sangat berharga untuk menyembuhkan luka, terutama empedu beruang yang masih segar adalah barang yang sukar diperoleh, Mungkin jiwa A Ci belum ditakdirkan akan berakhir, maka ia telah dibawa oleh Siau Hong kedaerah pegunungan Tiong-pek-san yang banyak menghasilkan jinsom, urat tulang harimau dan empedu beruang, ditambah lagi Siau Hong memiliki ketangkasan yang tiada taranya hingga obat-obatan itu ber-turut2 dapat dicarikan untuknya.
Setelah lebih dua bulan, sudah ada 20 buah empedu beruang yang dimakan A Ci, lukanya sudah banyak sembuh, tulang iga bagian dada yang patah terpukul juga sudah tersambung kembali, bicaranya juga mulai lancar, walaupun napasnya masih sesak.
Siau Hong sangat lega melihat kemajuan kesehatan A Ci itu, Ia yakin kalau tinggallebih lama disitu tentu ada harapan A Ci akan pulih kembali seperti sediakala.
Suatu petang hari, tengah Siau Hong asyik meracik obat untuk A Ci, tiba-tiba seorang Nuchen datang tergesa-gesa melaporkan padanya, "Siau-toako, ada belasan orang Cidan membawakan hadiah untukmu."
"Hah, hadiah?" seru Siau Hong dengan heran, tapi segera ia tahu pasti hadiah kiriman Saudara angkatnya, Yali Ki.
Waktu Siau Hong keluar, terlihatlah dari jauh iring-iringan kuda sedang mendatang dengan pelahan, diatas kuda penuh termuat barang.
Rupanya pemimpin regu dari Cidan itu telah dipesan oleh Yali Ki tentang wajah Siau Hong, maka begitu melihat segera ia mengenalinya, serentak ia melompat turun dari kudanya serta menghampiri dan memberi sembah, katanya, "Sejak Cukong berpisah dengan Siau-toaya, beliau selalu terkenang padamu, Kini hamba diperintahkan membawa sedikit oleh-oleh dan minta Siau-toaya sudilah berkunjung ke Siang-khia (nama ibukota negeri Liau)," sambil berkata kapten itu lalu menghaturkan daftar hadiah yang dibawanya kepada Siau Hong dengan sikap sangat menghormat.
Siau Hong terima dengan baik daftar barang antaran itu, katanya dengan tertawa, "Banyak terima kasih, silakan berdirilah!"
Dan waktu ia baca daftar antaran itu, ia lihat daftar itu tertulis jumlah barang sebagai berikut; Emas murni lima ribu tahil, perak lima ribu tahil, sutera seribu blok, gandum nomor satu seribu gentas, sapi gemuk seribu ekor, kambing gemuk lima ratus ekor, kuda pilihan tiga ribu ekor, Kecuali itu masih banyak barang berharga lain yang susah disebut satu persatu.
Nyata kalau dibandingkan dengan harga tebusan yang disepakati tempo hari, hadiah yang diantarkan sekarang ini bernilai beberapa kali lipat lebih tinggi. Karuan Siau Hong terperanjat, sama sekali ia tidak menduga akan barang antaran sebanyak ini, dan entah cara bagaimana kapten orang Cidan itu membawanya kemari.
Maka terdengar kapten itu sedang melapor pula, "Cukong khawatir hewan yang kami bawa itu akan hilang ditengah jalan, maka setiap jenis hadiah menurut daftar itu masing-masing ditambah lagi cadangan satu bagian, Tapi berkat rejeki Siau-toaya yang besar, sepanjang jalan hamba tidak menjumpai aral rintang apa-apa sehingga hampir semuanya dapat tiba disini dengan selamat."
"Ai, Yali-toako benar-benar terlalu baik, jika aku tidak menerimanya tentu akan mengecewakan maksud baiknya, tapi kalau kuterima seluruhnya menurut daftar ini, rasanya juga tidak enak," ujar Siau Hong.
"Hamba telah dipesan oleh Cukong agar Siau-toaya harus menerima hadiah ini, kalau tidak, tentu hamba akan dimarahi kelak bila pulang," tutur kapten orang Cidan itu.
Dalam pada itu, tiba-tiba terdengar suara tiupan tanduk yang riuh rendah, orang-orang Nuchen sama membawa senjata dan berkumpul sambil berteriak-teriak, "Awas, ada pasukan musuh lekas melawan!"
Waktu Siau Hong memandang kearah datangnya suara tiupan tanda bahaya itu, ia lihat jurusan sana debu mengepul tinggi memenuhi langit, agaknya ada pasukan besar yang sedang menuju kemari, Segera kapten orang Cidan itu berseru, "Harap saudara-saudara jangan kaget, itu adalah rombongan
ternak milik Siau-toaya." Segera ia pun melarikan kudanya memapak kesana untuk menghindarkan salah paham.
Semula Akut dan kawan-kawan merasa sangsi, tapi sesudah dekat memang betul juga, ditanah pegunungan situ sudah penuh ternak, seratusan orang Cidan sambil mengacungkan cambuk mereka sedang membentak-bentak dan menghalau.
Dalam waktu singkat saja suara berisik gerombolan ternak itu telah membikin suasana menjadi gaduh hingga suara percakapan orang pun sukar terdengar.
Malamnya Siau Hong minta orang-orang Nuchen menyembelih kambing dan sapi untuk menjamu tamu dari Cidan itu, Besok paginya ia keluarkan pula sebagian emas perak yang diterimanya itu untuk dibagikan kepada orang-orang Cidan sebagai persen, Dan sesudah orang-orang Cidan itu pergi, lalu
ia serahkan semua hadiah Yali Ki itu kepada Akut untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang Nuchen.
Pada umumnya orang Nuchen itu hidup secara kolektif, secara bergabung dalam keluarga besar, milik seorang adalah milik semua orang, Mereka pun girang mendapatkan harta benda sebanyak itu, Selama beberapa hari orang-orang Nuchen mengadakan pesta sebagai tanda terima kasih kepada Siau Hong.
Musim panas pergi, musim rontok mendatang pula, Sementara itu kesehatan A Ci sudah lebih baik lagi, Dan sekali tenaga anak dara itu sudah kuat, ia lantas merasa bosan setiap hari hanya rebah didalam kemah, maka sering ia minta Siau Hong membawanya pesiar keluar dengan menunggang kuda.
Segala permintaan A Ci selalu dituruti oleh Siau Hong, Maka beberapa bulan selanjutnya kedua orang itu selalu pesiar bersama keluar, kecuali kalau hujan salju, Bila sudah merasa bosan, mereka lantas membawa tenda untuk bermalam ditengah perjalanan hingga terkadang untuk beberapa hari mereka tidak pulang.
Pada kesempatan itu Siau Hong lantas memburu harimau dan beruang serta mencari jinsom untuk lebih menyembuhkan kesehatan A Ci, Begitulah gara-gara anak dara itu menyambitkan sebatang jarum berbisa, maka celakalah harimau dan beruang di Tiang-pek-san itu, entah berapa banyak jiwa mereka yang telah melayang dibawah hantaman Siau Hong.
Untuk lebih memudahkan pencarian jinsom, setiap kali Siau Hong tentu menuju kearah timur dan utara.
Suatu hari A Ci menyatakan pemandangan didaerah utara itu sudah membosankan, maka minta menuju ke barat saja, Kata Siau Hong, "Di daerah barat sana adalah padang rumput belaka yang amat luas, pemandangannya kurang menarik."
"Padang rumput luas juga sangat menarik," ujar A Ci. "Seperti samudra raya, aku justru tidak pernah melihatnya, Meski Sing-siok-hai kami juga disebut hai (laut), tapi disana lautnya bertepi dan berpantai."
Mendengar anak dara itu menyebut 'Sing-siok-hai' (Ngoring Nor, laut didaratan tinggi pegunungan Kun-lun diwilayah Jinghai), hati Siau Hong terkesiap.
Selama setahun ini ia tinggal bersama orang Nuchen hingga macam-macam urusan dunia persilatan itu telah dilupakan olehnya, Dalam keadaan tak bisa bergerak, anak dara yang nakal itu menjadi mati kutu dan tak bisa bikin gara-gara lagi sama sekali, tak terpikir olehnya bila kesehatan A Ci itu kini sudah pulih kembali dan kumat pula sifatnya yang nakal dan jahat itu, lantas bagaimana?
Ketika ia pandang A Ci, ia lihat air muka anak dara itu masih tetap pucat, pipinya agak mendeluk, biji matanya yang bundar besar itu pun seakan-akan amblas kedalam, itulah ciri-ciri muka yang kurus.
Diam-diam Siau Hong sangat menyesal, seorang nona yang lincah menyenangkan kini telah berubah kurus kering bagai jerangkong akibat dipukul olehnya, Sebaliknya aku malah memikirkan keburukannya, Segera ia berkata dengan tertawa.
"Jika kau ingin pergi ke barat, marilah kita kesana A Ci, nanti kalau kamu sudah sehat, tentu akan kubawamu ke negeri Korea, disana kita dapat memandang lautan yang luas seakan-akan tak berujung, sungguh indah sekali pemandangan demikian itu."
"Bagus, bagus! Kalau perlu sekarang juga kita boleh berangkat!" seru A Ci dengan teriakan sambil bertepuk tangan.
"He, A Ci, kedua tanganmu sudah bisa bergerak?" tanya Siau Hong dengan girang dan kejut.
"Ya, beberapa hari yang lalu sudah dapat bergerak dan hari ini menjadi lebih bebas lagi," sahut A Ci tertawa.
"Ai, kamu ini sungguh nakal, mengapa tidak beritahu padaku," omel Siau Hong dengan girang.
"Aku lebih suka tidak dapat berkutik untuk selamanya asalkan engkau setiap hari berdampingan denganku, Kalau aku sudah sehat, tentu engkau akan mengusir aku lagi," ujar A Ci dengan tertawa, Matanya mengerlingkan sifat-sifat yang licin dan nakal.
Mendengar ucapan yang bernada tulus itu rasa kasih sayang Siau Hong timbul dengan sendirinya, katanya, "Aku adalah orang yang kasar sekali kurang hati-hati lantas melukaimu begitu rupa, kalau setiap hari aku mendampingimu, apa sih untungnya?"
A Ci tidak menjawab, Selang sejenak, tiba-tiba ia berkata dengan suara rendah, "Cihu, tempo hari, kenapa kau pukul aku sekeras itu?"
Tapi Siau Hong tidak ingin mengungkit kejadian lama itu, sahutnya, "Urusan itu sudah lalu, buat apa dibicarakan pula? A Ci, sesudah aku melukaimu sedemikian rupa, sungguh aku merasa sangat menyesal, Kamu dendam padaku atau tidak?"
"Sudah tentu tidak," sahut A Ci, "Cihu, coba pikir, untuk apa aku dendam padamu? Memang kuminta kau dampingi aku, kini bukankah engkau sudah berada di dampingku? Aku sangat senang."
Sebenarnya Siau Hong merasa pikiran anak dara itu sangat aneh dan ada-ada saja, tapi sekarang ini sifatnya sudah berubah sangat baik, mungkin disebabkan dirinya telah merawat dia dengan sepenuh tenaga, memburu harimau dan mencari empedu beruang untuknya, maka telah banyak menghlangkan sifat liarnya itu, Segera ia siapkan kuda, tenda dan alat-alat yang perlu, lalu berangkat kearah barat bersama A Ci.
Kira-kira beberapa li jauhnya, tiba-tiba A Ci bertanya, "Cihu, apakah engkau sudah dapat menerkanya?"
"Menerka soal apa?" sahut Siau Hong bingung.
"Tempo hari mendadak aku menyerang dirimu dengan jarum berbisa, apakah kau tahu sebabnya?" tanya A Ci.
"Pikiranmu selalu aneh-aneh, dari mana aku tahu?" sahut Siau Hong sambil menggeleng.
A Ci menghela napas, katanya, "Jika engkau tak dapat menerkanya, biarlah jangan diterka lagi, Eh, Cihu, lihatlah barisan burung belibis itu, mengapa mereka berbaris dan terbang ke selatan."
Waktu Siau Hong menengadah, ia lihat di angkasa tinggi terdapat dua baris burung belibis dam formasi "V" dan sedang terbang ke arah selatan dengan cepat.
"Hawa sudah hampir dingin, burung belibis tidak tahan dingin, maka mereka mengungsi ke selatan," tutur Siau Hong.
"Dan pada waktu musim semi, mengapa mereka terbang kembali lagi?" tanya A Ci, "Setiap tahun mereka pulang-pergi begitu apakah tidak merasa lelah? Bila mereka takut dingin mengapa tidak tinggal di selatan saja dan tidak perlu pulang ke utara sini?"
Selamanya yang diperhatikan Siau Hong adalah ilmu silat, terhadap kebiasaan sebangsa burung dan binatang segala tak pernah dipikirkannya.
Maka pertanyaan A Ci itu membuatnya gelagapan, Katanya kemudian dengan tertawa. "Apu pun tidak tahu mengapa mereka tidak kenal lelah, mungkin mereka dilahirkan di utara dan rindu pada kampung halaman, maka pada saatnya mereka pun ingin pulang."
"Ya, mungkin begitulah," kata A Ci, "Eh, lihatlah burung belibis kecil itu juga ikut terbang ke selatan, Kelak bila ayah-ibu, Cici dan Cihunya pulang ke utara, dengan sendirinya ia pun ikut."
Mendengar anak dara itu menyebut 'Cici dan Cihu' perasaan Siau Hong tergerak, ia coba melirik, ia lihat A Ci masih mendongak, memandang kawanan burung belibis, suatu tanda ucapannya tadi tidaklah disengaja.
Diam-diam Siau Hong membatin, "Sekali omong saja ia lantas menghubungkan aku dengan ayah bundanya, suatu tanda dalam lubuk hatinya ia sudah pandang aku sebagai familinya yang dekat, Aku tidak boleh lagi meninggalkan dia, sesudah kesahatannya pulih nanti, paling baik kuantar dia pulang ke Taili dan akan kuserahkan kepada orang tuanya, dengan demikian barulah kewajibanku berakhir."
Begitulah sepanjang jalan kedua orang asyik bercakap dan bergurau, bila A Ci merasa letih Siau Hong lantas memondongnya turun dari kuda dan merebahkan dia dalam kereta yang mengikuti di belakang, Bila malam tiba mereka lantas buat kemah.
Sesudah beberapa hari pula, akhirnya mereka mencapai tepian padang rumput yang luas, A Ci sangat senang memandangi padang rumput yang seakan-akan tak berujung itu, Katanya," "Oh!, marilah kita menjelajahi padang rumput yang luas ini, disana tentu jauh lebih indah dari pada disini."
Siau Hong tidak mau menolak keinginan dara itu, segera ia halau kuda dan keretanya ketengah padang rumput.
Sudah beberapa hari Siau Hong dan A Ci melanjutkan perjalanan ditengah padang rumput luas itu, Tatkala itu adalah permulaan musim rontok, rumput masih tumbuh dengan suburnya, hawa sejuk menyegarkan semangat.
Ditengah semak rumput juga banyak terdapat binatang buas sebangsa harimau, serigala dan sebagainya, bila perlu Siau Hong lantas berburu untuk menambah rangsum mereka, penghidupan dalam pengembaraan seperti itu sungguh menggembirakan dan benar-benar hidup dialam bebas.
Selang beberapa hari pula, siang hari itu tiba-tiba mereka lihat dikejauhan sana banyak terdapat perkemahan, seperti perkemahan pasukan tentara dan mirip pula kelompok suku bangsa yang hidup di padang rumput.
"Disana banyak tempat tinggal orang, entah apa yang mereka kerjakan, lebih baik kita pulang saja, jangan mencari gara-gara," kata Siau Hong.
"Emoh, aku justru ingin tahu perkemahan apakah itu," kata A Ci aleman. "Cihu, kakiku belum dapat bergerak, masakah bias mendatangkan perkara bagimu?"
Siau Hong merasa kewalahan terhadap sifat kanak-kanak A Ci yang serba ingin tahu itu, Segera ia halau kudanya kearah perkemahan itu dengan pelahan.
Di padang rumput yang lapang itu, meski perkemahan dapat terlihat dengan jelas, tapi jarak yang sesungguhnya adalah sangat jauh. Sesudah belasan li, mendadak terdengar suara 'tut-tut-tut' suara tiupan tanduk yang ramai, menyusul debu mengepul, dua baris pasukan berkuda tampak terpencar, yang satu baris menuju ke utara dan barisan lain cepat menuju keselatan.
"Celaka, itulah pasukan berkuda bangsa Cidan!" kata Siau Hong dengan terkejut.
"He, bukankah suku bangsamu sendiri? itulah bagus, mengapa kau katakan celaka malah?" ujar A Ci.
"Aku dan kau tidak kenal mereka, lebih baik kita pulang saja,"
kata Siau Hong, Lalu ia putar kudanya hendak kembali kearah datangnya tadi.
Tapi baru beberapa langkah jauhnya, tiba-tiba terdengar suara genderang yang gemuruh, kembali beberapa barisan berkuda Cidan menerjang datang Siau Hong merasa heran, disekitar situ tidak terdapat musuh, apakah mereka sedang latihan atau lagi berburu?
Mendadak terdengar suara teriakan ramai, 'Bidik rusa! Bidiklah rusa!" Serentak terdengar riuh ramai suara sorakan menahan rusa.
Baru sekarang Siau Hong tahu bahwa pasukan Cidan itu sedang berburu secara besar-besaran, Segera ia pondong A Ci keatas kudanya, ia berhentikan kuda dan berdiri diatasnya, untuk memandang suasana perburuan yang hebat itu.
Pasukan berkuda Cidan itu semuanya memakai jubah sulam, didalamnya berlapis baja, jadi dandanan mereka seperti berada dimedan perang saja, Jubah sulam mereka itu pun aneka warna, pasukan ini berwarna merah, pasukan itu berwarna kuning, pasukan lain berwarna biru dan pasukan lain
lagi berwarna hijau, Panji tiap-tiap pasukan seragam dengan warna jubah masing-masing, mereka berlari kian kemari antara pasukan ini dengan pasukan itu, prajuritnya gagah, kudanya kuat, sungguh sangat bersemangat tampaknya, Diam-diam Siau Hong dan A Ci memuji juga.
Rupanya pasukan-pasukan Cidan itu lagi sibuk berburu rusa, terkadang ada juga yang melihat Siau Hong dan A Ci, tapi mereka hanya melirik sekejap saja dan tidak ambil peduli, Pasukan itu telah mengurung beberapa puluh ekor rusa dari tiga jurusan, Terkadang kalau ada seekor rusa yang tiba-tiba menerobos keluar dari barisan, segera seregu pasukan berkuda mengubernya, rusa itu lalu dihalau masuk lagi kedalam garis kepungan.
Tengah Siau Hong menonton, tiba-tiba didengarnya ada suara seruan orang, "Hai, apakah disitu Siau-toaya adanya?"
Siau Hong heran ada orang mengenalnya, Waktu ia berpaling terlihatlah seorang penunggang kuda berjubah hijau mendatangi dengan cepat, Itulah dia si kapten, utusan Yali Ki yang mengantarkan hadiah padanya beberapa bulan yang lalu.
Sesudah dekat dengan Siau Hong, segera kapten itu melompat turun dari kudanya dan berlutut dengan sebelah kaki, katanya, "Cukong kami berada tidak jauh dari sini, Seringkali Cukong membicarakan Siau-toaya, beliau sangat rindu padamu, Hari ini entah angin apakah yang telah meniup Siau-toaya kemari, ayolah silakan lekas menjumpai Cukong kami disana.
Siau Hong juga sangat girang, mendengar Yali Ki berada tidak jauh dari situ, Sahutnya segera. "Aku sedang pesiar tanpa tempat tujuan, tidak terduga giheng kebetulan berada disekitar sini, Baiklah, harap tunjukkan jalan agar aku dapat bertemu dengan beliau."
Segera kapten itu bersuit, dua prajurit berkuda lantas menghampiri. "Lekas laporkan bahwa Siau-toaya dari Tiang-pek-san telah datang." perintah sang kapten.
Kedua prajurit berkuda itu mengiakan dan segera meneruskan laporan itu, Sedang pasukan lain masih terus berburu, hanya kapten tadi ia memimpin suatu pasukan berkuda berjubah hijau mengiring Siau Hong dan A Ci menuju kearah barat.
Diam-diam Siau Hong membatin, "Gihengku itu besar kemungkinan adalah panglima atau pembesar tinggi negeri Liau, kalau tidak, rasanya tidak mungkin berpengaruh seperti ini."
Sepanjang jalan tampak banyak prajurit yang berlalu-lalang, semuanya berpakaian perang, Terdengar si kapten berkata pula, "Kedatangan Siau-toaya ini sangat kebetulan, besok pagi disini akan ada tontonan yang ramai!"
Sekilas Siau Hong melihat A Ci mengunjuk rasa girang oleh kabar itu, segera ia tanya si kapten, "Ada tontonan apakah?"
"Besok adalah hari pertandingan," sahut si kapten, "Kedua pasukan pengawal dari Eng-jiang dan Thai-ho belum ada komandannya, maka perwira Cidan kami akan saling bertanding untuk merebut kedudukan komandan pasukan-pasukan pengawal itu."
Mendengar ada pertandingan silat, dengan sendirinya Siau Hong juga sangat tertarik, Katanya segera dengan tertawa, "Wah, memang kedatangan kami ini sangat kebetulan, aku justru ingin lihat ilmu silat orang Cidan."
"Eh, kapten, besok engkau juga keluarkan kepandaianmu, terimalah selamatku semoga engkau dapat merebut pangkat itu," kata A Ci dengan tertawa.
"Hah, mana hamba mempunyai keberanian seperti itu?" sahut si kapten sambil menjulurkan lidah.
"Eh, kapten, siapa sih namamu?" tanya A Ci.
"Hamba bernama Sili," sahut kapten Sili.
"Untuk berebut kedudukan Thong-leng, andai Cihuku sudi mengajarkan sejurus dua padamu tanggung dengan mudah pangkat itu akan kau peroleh," ujar A Ci dengan tertawa.
Kapten Sili kegirangan, katanya cepat, "Jika Siau-toaya sudi memberi petunjuk padaku, sungguh hamba akan merasa terima kasih sekali, Tentu kedudukan Thong-leng apa segala hamba sih tiada mempunyai rejeki sebesar itu."
Sembari bicara, kira-kira satu dua li jauhnya terlihatlah dari depan mendatang suatu pasukan berkuda, Itulah Hui-him-tui (pasukan beruang terbang) kami!" kata Kapten Sili.
Pasukan berkuda yang datang itu seluruhnya berpakaian kulit beruang, jubah luar terdiri dari kulit beruang hitam dengan topi kulit beruang putih, kelihatannya menjadi gagah sekali, Sesudah dekat, sekali terdengar aba-aba serentak pasukan itu turun dari kuda dan berbaris dikedua sisi jalan sambil berseru," Selamat datang, Siau-toaya!"
Siau Hong menggangkat tangannya sebagai tanda hormat, lalu keprak kudanya kedepan, Sedang pasukan kulit beruang itu lantas mengiring dari belakang.
Beberapa li pula, kembali pasukan berkuda memapak lagi, sekali ini pasukan berkulit harimau, Diam-diam Siau Hong sangat heran, saudara angkatnya itu mempunyai pangkat apa sehingga begitu hebat penyambutannya.
Menjelang magrib, sampailah mereka disuatu perkemahan besar, suatu pasukan berkulit macan tutul menyambut Siau Hong dan A Ci kedalam kemah itu, Semula Siau Hong mengira didalam kemah akan dapat berjumpa dengan Yali Ki, diluar dugaan kemah itu kosong melompong tiada penghuninya,
walaupun segala perabotan lengkap dan mewah, diatas meja juga penuh tersedia makanan dan buah-buahan.
"Cukong menyilakan Siau-toaya bermalam disini, besok akan dapat bertemu dengan beliau." demikian lapor kapten pasukan berkulit macan tutul itu.
Karena sudah terlanjur datang, Siau Hong juga tidak mau banyak bertanya, segera ia ambil tempat duduk dan minum arak sepuasnya, empat dayang siap melayaninya dengan penuh hormat, servisnya harus dipuji.
Besok paginya mereka melanjutkan perjalanan sampai ratusan li ke barat, waktu lohor sampailah mereka disuatu tempat, Kapten Sili berkata pada Siau Hong, "Sesudah melintasi lereng bukit sana, kita akan sampai ditempat tujuan."
Siau Hong lihat lereng gunung didepan sana sangat megah, sebuah sungai besar mengalir dengan gelombang airnya yang mendebur-debur.
Sesudah melintasi bukit, maka terlihatlah panji-panji berkibaran, dimana-mana penuh perkemahan, beratus ribu prajurit berkuda dan infanteri memenuhi suatu tanah lapang dibagian tengah perkemahan, Segera pasukan kulit macan tutul, kulit beruang dan kulit harimau mengeluarkan alat tiup, seketika ramailah suara 'tut-tut-tut' menggema angkasa.
Sekonyong-konyong suara tambur serentak berbunyi, terdengar suara menggegelar memberi penghormatan, seketika pasukan ditanah lapang tadi menyilah minggir, seekor kuda kuning yang gagah membedal keluar, diatas kuda terdapat seorang laki-laki berewok, siapa lagi dia kalau bukan Yali Ki.
Sambil mengeprak kudanya kearah Siau Hong, terus saja Yali Ki berteriak-teriak, "Wahai, Siau-hiante, sungguh aku sudah rindu padamu!"
Siau Hong lantas memapak maju, berbareng kedua orang melompat turun dari kuda dan saling rangkul dengan akrab, Seketika dari segenap penjuru terdengar riuh rendah suara sorakan, "Banswe! Banswe! Banswe!"
Karuan Siau Hong terkejut, mengapa para prajurit itu berseru, "Banswe (berlaksa tahun atas- 'Hidup') Padahal pujian "Banswe" itu hanya lazim diberikan kepada seorang raja.
Ia coba memandang sekelilingnya, ia lihat semua prajurit dan perwira sama membungkuk tubuh dan melolos golok komando sebagai tanda hormat.
Yali Ki sendiri menggandeng tangan Siau Hong dan berdiri disitu sambil memandang kesana-sini dengan sikap yang amat bangga.
Siau Hong merasa bingung, tanyanya dengan tergagap, "Giheng, apakah engkau. . . . ."
"Ya, jika sejak dulu-dulu kau tahu bahwa aku ini raja negeri Liau, tentu engkau tidak mau angkat saudara denganku." sahut Yali Ki dengan terbahak-bahak. "Siau-hiante namaku yang sebenarnya adalah Yali Hungki, budi pertolonganmu dahulu itu selama hidup ini takkan kulupakan."
Meski Siau Hong berjiwa besar dan luas pengalamannya, tapi selamanya tidak pernah berhadapan dengan seorang raja, Kini menyaksikan upacara yang luar biasa itu, mau tak mau ia rada kikuk.
"Sungguh hamba tidak tahu akan baginda sehingga banyak berlaku kurang hormat, harap dimaafkan," katanya segera, lalu hendak berlutut.
Sebagai orang Cidan yang bertemu dengan rajanya, sudah sepantasnya ia berlutut dan memberi sembah Tapi Yali Hungki cepat membangunkannya, katanya dengan tetawa, "Orang yang tidak tahu, tidak salah, Saudaraku, engkau adalah adik angkatku, hari ini kita melulu bicara tentang persaudaraan kita, tentang penghormatan kebesaran boleh dilakukan lain hari saja."
Dan ketika ia memberi tanda, segera dalam pasukannya bergema suara musik sebagai tanda penyambutan tamu agung, Sambil menggandeng lengan Siau Hong, segera Yali Hungki mengajaknya masuk kedalam kemah besar.
Kemah tempat tinggal raja Liau itu terbuat dari kulit sapi rangkap beberapa lapis, diatas kulit itu terlukis macam-macam gambar yang indah, nama kemah itu disebut "Kemah Besar Ruangan Kulit" Sesudah Yali Hungki mengambil tempat duduknya ditengah, ia suruh Siau Hong duduk disebelahnya.
Tidak lama segenap pembesar sipil dan militer yang ikut serta dalam pasukan kerajaan itu semua datang memberi hormat, Saking banyak hingga Siau Hong merasa bingung oleh nama-nama pembesar itu.
Malamnya didalam kemah besar itu diadakan perjamuan, Orang Cidan menghargai kaum wanita sama seperti kaum pria, maka A Ci juga menjadi tamu undangan dalam perjamuan yang sangat meriah itu.
Sesudah setengah perjamuan, belasan jago gulat Cidan tampil kemuka untuk bertanding, Jago gulat itu tidak memakai baju, mereka membetoto dan membanting lawan sekuatnya, pertarungan cukup seru.
Kemudian pembesar Cidan lantas mengajak adu gelas dengan Siau hong sebagai penghormatan mereka, Siau Hong terima baik permintaan mereka, satu persatu ia mengadu gelas dengan mereka hingga jumlah seluruhnya ada ratusan gelas, tapi semangatnya semakin gagah hingga semua orang tercengang.
Yali Hungki sendiri terkenal seorang gagah dan kuat, kali ini ia kena ditawan Siau Hong, Kejadian itu telah diketahui segenap rakyatnya, maka ia sengaja suruh Siau hong pamerkan kepandaiannya untuk menutupi rasa malu sendiri yang ditawan olehnya, Tak terduga bahwa takaran minum arak Siau Hong juga sedemikian lihainya, melulu kekuatan minum arak itu saja sudah cukup membuat para jago Cidan ternganga kagum.
Sungguh girang Yali Hungki tak tak terhingga katanya segera, "Hiante, kamu benar-benar orang gagah nomor satu dinegeri Liau kita!"
"Bukan, dia nomer dua!" tiba-tiba suara seorang menyela.
Waktu semua orang memandang kearah suara itu, kiranya yang bicara adalah A Ci.
"Nona cilik, mengapa kau katakan dia nomer dua? Habis siapakah jago nomer satu itu?" tanya sang baginda dengan tertawa.
"Jago nomer satu dengan sendirinya adalah Sri Baginda Raja sendiri," sahut A Ci, "Betapapun tinggi kepandaian Cihu-ku toh dia mesti tunduk pada perintahmu, sedikitpun tidak boleh membangkang, dengan demikian bukankah engkau lebih gagah dari dia?"
Yali Hungki terbahak-bahak, "Hahahaha! Benar juga! Siau-hiante, aku harus menganugrahi suatu pangkat bangsawan padamu, Biarlah kupikirkan dulu pangkat apakah yang sesuai untukmu." Rupanya ia sudah cukup banyak minum arak, maka ia ketuk-ketuk jidat sendiri untuk berpikir.
"Jangan, jangan!" cepat Siau Hong berseru, "Hamba adalah orang kasar, tidak biasa menikmati kebahagiaan sebagai bangsawan, selamanya hamba suka mengembara kian-kemari, hamba sungguh tidak ingin menjadi pembesar."
"Boleh juga, biar kuberi suatu pangkat yang kerjanya melulu minum arak saja dan tidak perlu bekerja. . . ." kata Yali Hungki dengan tertawa.
Belum selesai ucapannya, mendadak dari jauh terdengar suara 'tut-tut-tut', suara tiupan tanduk yang panjang.
Orang-orang Cidan itu sebenarnya lagi makan minum dengan duduk bersila diatas tanah, Ketika mendadak mendengar suara tiupan itu, serentak mereka sama berdiri dengan wajah gugup terkejut.
Suara 'tut-tut-tut' itu datangnya serasa cepat, semula kedengaran masih sangat jauh, hanya sebentar saja suara itu sudah mendekat, waktu ketiga kalinya berbunyi pula, suara itu sudah dalam jarak dua tiga li saja.
Diam-diam Siau Hong heran, sekalipun lari yang paling cepat atau tokoh persilatan yang memiliki ginkang paling tinggi juga tidak mungkin secepat itu, Tapi akhirnya ia tahu tentu itu pos-pos penjagaan orang Cidan, suara tiupan disatu pos diteruskan kepada pos yang lain sehingga dalam waktu singkat dapat tersiar jauh.
Dan sesudah sampai diluar perkemahan mewah itu, suara 'tut-tut-tut' itu lantas berhenti seketika, Beratus kemah yang tadinya dalam suasana riang gembira itu serentak berubah sunyi senyap.
Yali Hungki ternyata tenang-tenang saja, pelahan ia angkat gelas emas dan habiskan isinya, lalu katanya, "Siangkhia (kota raja Liau) terjadi kerusuhan, marilah kita pulang kesana, Berangkat!"
Sekali ucapan 'berangkat' dikeluarkan, segera panglima pasukan meneruskan titah itu, maka terdengarlah dimana-mana riuh ramai teriakan 'berangkat' secara teratur, sedikitpun tidak kacau.
Pikir Siau Hong, "Negeri Liau kami sudah bersejarah dua ratus tahun, kekuatannya mengguncangkan negeri tetangga, meski ada kerusuhan bagian dalam toh pasukannya tidak gugup, suatu tanda pemimpin-pemimpinnya pandai menjalankan tugasnya."
Sementara itu suara derapan kuda sangat ramai, pasukan perintis sudah berangkat, menyusul pasukan bagian samping dan lain-lain berturut-turut berangkat, Sambil menggandeng tangan Siau Hong berkatalah Yali Ki, "Marilah kita keluar melihatnya!"
Setiba diluar kemah, terlihatlah ditengah kegelapan malam itu pada tiap panji pasukan tergantung sebuah lentera dengan warna menurut tanda pengenal pasukan masing-masing, Ratusan ribu prajurit itu berangkat serentak kearah tenggara, yang terdengar hanya suara ringkik kuda dan tiada suara manusia.
Sungguh Siau Hong sangat kagum, "Begini disiplin pasukan Cidan ini, sudah tentu seratus kali perang seratu kali menang, Tempo hari Sri Baginda terpencil sendirian, makanya dapat kutangkap, kalau beliau mengerahkan pasukannya, sekalipun orang Nuchen sangat perkasa juga tidak dapat melawan mereka."
Dan sesudah sang Baginda keluar kemah, segera pasukan pengawal membongkar tenda, hanya sebentar saja sudah diringkas dengan betul serta dimuat keatas kereta, Waktu panglima pasukan tengah memberi aba-aba, segera berangkatlah iring-iringan mereka, Para menteri dan pembesar lainnya mengiring disekitar Yali Hungki tiada seorang pun yang berani bersuara.
Kiranya berita tentang pemberontakan dikota raja itu meski sudah dilaporkan, tapi sebenarnya siapa pimpinan pemberontak dan bagaimana situasinya belum lagi diketahui, sebab itulah setiap orang merasa masgul.
Sesudah tiga hari pasukan besar itu menempuh perjalanan, malamnya sesudah berkemah baru datanglah laporan dari kurir pertama bahwa pemberontak dipimpin oleh Lam-ih Tai-ong yang telah mengangkat diri sendiri sebagai raja dan menduduki keraton, permaisuri, putra mahkota, putri raja dan keluarga pembesar, semuanya berada dalam tawanan pemberontak.
Mendengar laporan itu, mau tak mau air muka Yali Hungki berubah seketika, Kiranya menurut susunan tata negara Liau, pemerintah sipil dan militer dibagi menjadi dua Ih (Yuan) yaitu Lam Ih dan Pak Ih (Yuan selatan dan utara) Pak Ih Tai-ong, yaitu perdana menteri yang menguasai Ih utara, sekarang ikut serta bersama raja, hanya Lam Ih Tai-ong ditinggal menjaga kotaraja.
Lam Ih Tai-ong itu bernama Yali Nikolu dengan gelar Co-ong, Ayahnya lebih hebat lagi, namanya Yali Conggoan, terhitung paman baginda raja yang sekarang, dengan pangkat Panglima Besar Angkata Perang.
Menurut silsilah kerajaan Liau, kakek Yali Hungki yang bernama Yali Lungco, dalam sejarah kerajaan Liau disebut raja Seng-cong, Raja Seng-cong mempunyai dua orang putra, yang sulung bernama Cong-cin dan yang bungsu bernama Conggoan.
Watak Cong-cin ramah tamah dan welas asih, sebaliknya Conggoan sangat keras dan perkasa, seorang ahli militer, setelah Seng-cong wafat, tahta diteruskan kepada Cing-cin, Tapi permaisurinya lebih suka kepada putra kedua, maka diam-diam ada intrik akan mengangkat Conggoan sebagai raja.
Menurut kebiasaan kerajaan Liau, kekuasaan dan pengaruh ibu suri sangat besar, sebab itulah tahta Cong-cin sebenarnya tidak teguh, keselamatannya juga selalu terancam, Akan tetapi Conggoan telah memberitahukan rencana ibundanya itu kepada kakak bagindanya sehingga intrik ibu suri tak dapat
terlaksana.
Karena itu dengan sendirinya Cong-cin sangat berterima kasih kepada adindanya itu dan mengangkatnya menjadi Hong-thai-te (adik mahkota), artinya jika ia sendiri wafat, maka Conggoan yang akan naik tahta sebagai gantinya.
Yali Cong-cin dalam sejarah kerajaan Liau disebut raja Hin-cong, sesudah dia wafat, tahtanya tidak jadi diserahkan kepada Conggoan, tapi tetap diturunkan kepada putranya sendiri yang bernama Hungki.
Setelah Yali Hungki naik tahta, ia merasa tidak enak hati, maka Conggoan diangkat sebagai Hong-thai-siok (paman mahkota) sebagai tanda bahwa sang paman itu tetap merupakan ahli-waris utama dalam tahta kerajaan Liau, bahkan diangkat pula sebagai panglima besar angkatan perang, kalau menghadap raja dibebaskan dari upacara menyembah, diberi hadiah pula surat penghargaan dan harta benda yang tak ternilai, betapa agung kedudukan Conggoan waktu itu boleh dikatakan tiada bandingannya, Bahkan putranya yang bernama Nikolu juga dianugrahi gelar kebangsawanan sebagai Co-ong dan menjabat sebagai Lam Ih Tai-ong, suatu jabatan penting dalam bidang militer!.
Dahulu Yali Conggoan jelas ada kesempatan menjadi raja dan dia rela menyerahkannya kepada kakaknya, hal ini menandakan dia cukup berbudi dan bijaksana, Kali ini Yali Hungki pesiar keluar untuk berburu, segala urusan pemerintahan telah diserahkan kepada Hong-thai-siok itu tanpa sedikitpun rasa curiga.
Kini mendapat laporan bahwa pemberontak itu adalah Lam Ih Tai-ong Nikolu, sudah tentu Yuli Hungki terkejut dan sedih, Ia kenal watak Nikolu yang licik dan keji, kalau dia memberontak, pasti ayahnya takkan tinggal diam.
Sesudah makan malam, kusir kedua datang pula member lapor bahwa Lam Ih Tai-ong telah mengangkat Hong-thai-siok sebagai raja dan menyebarkan maklumat diseluruh negeri dengan menuduh Yali Hungki telah mengangkangi tahta ayahnya, maka sekarang Hong-thai-siok secara resmi naik tahta serta akan memimpin angkatan perang untuk membasmi kaum pengkhianat dan macam-macam alasan lagi.
Dari maklumat pihak pemberontak yang tersusun rapi itu, bukan mustahil rakyat akan termakan oleh agitasi pihak pemberontak. Dengan gusar Yali Hungki lemparkan surat maklumat yang diterimanya dari kurir itu ke dalam api, perasaannya sedih dan khawatir, pikirnya, "Hong-thai-siok menjabat panglima besar angkatan perang, ia mempunyai pasukan lebih delapan ratus ribu tentara, ditambah lagi anak buah putranya Co-ong, yang menjadi biang keladi pemberontakan ini, Sebaliknya prajurit yang kubawa sekarang cuma lebih seratus ribu orang saja, cara bagaimana aku dapat melawan mereka?" begitulah semalam suntuk ia tak bisa tidur.
Semula ketika Siau Hong mendengar bahwa dirinya hendak diberi suatu pangkat, mestinya ia ingin tinggal pergi tanpa pamit pada malamnya bersama A Ci, tapi kini melihat sang giheng sedang berhalangan, Ia menjadi tidak enak untuk tinggal pergi, betapapun ia pikir harus membantu kesulitan
sang giheng sebagai tanda persaudaraan mereka.
Besok paginya kembali penyelidik datang melapor bahwa Hong-thai-siok dan Co-ong dengan memimpin pasukan tentara sejumlah tiga ratus ribu jiwa sedang datang hendak melabrak Hongsiang.
Karena tiada jalan lain, Yali Hungki pikir sekalipun akhirnya kalah, terpaksa harus bertempur dengan mati-matian, Segera ia kumpulkan para pembesar sipil dan militer untuk berunding, para pembesar itu sangat setia kepada Yali Hungki, mereka bersedia mati bertempur, yang mereka khawatirkan adalah semangat prajurit yang banyak merosot berhubung pada umumnya sanak keluarga mereka masih tertinggal di Siangkhia dan ditahan oleh fihak pemberontak.
Segera Hungki mengeluarkan pengumuman, "Hendaknya para prajurit dan tamtama bertempur sepenuh tenaga, sesudah pemberontakan dipadamkan, selain kenaikan pangkat setiap orang akan diberi hadiah pula yang setimpal."
Habis itu, segera ia memakai baju perang kuning emas, ia pimpin sendiri segenap angkatan perangnya dan memapak pasukan musuh. Melihat raja mereka maju sendiri, seketika semangat para prajurit terbangkit, mereka bersorak-sorai dan bersumpah setia.
Dengan membawa busur dan tombak Siau Hong juga mengiring dibelakang Yali Hungki sebagai pengawal pribadi, Pasukan besar mereka lantas maju kearah tenggara.
Kapten Sili dengan memimpin suatu barisan prajurit berkulit beruang melindungi A Ci dan tinggal dibelakang pasukan, Pada saat itu di padang rumput hanya kedengaran suara derap dan ringkik kuda yang ramai, suara lain boleh dikata tidak terdapat, Siau Hong lihat tangan Yali Hungki yang memegang tali les kuda itu agak gemetar, tahu sang giheng sendiri tidak yakin akan dapat kemenangan dalam pertempuran ini.
Waktu lohor, tiba-tiba didepan terdengar suara tiupan tanduk pula, terang pasukan musuh sudah dekat, Segera komandan pasukan memberi perintah agar prajurit turun dari kuda, Jadi sekarang para prajurit berjalan kaki sambil menuntun kuda, hanya Yali Hungki dan para pembesar yang masih tetap diatas kuda mereka.
Siau Hong agak heran dan bingung melihat kejadian itu, ia tidak tahu mengapa para prajurit itu malah turun dari kuda, sedangkan pasukan musuh sudah dekat.
Maka dengan tertawa Yali Hungki berkata padanya, "Saudaraku, mungkin sudah lama kau tinggal di Tionggoan, maka tidak paham siasat militer dan cara bertempur bangsa kita?"
"Ya, mohon Sri baginda memberi petunjuk," sahut Siau Hong.
"Hehehe, umur bagindamu ini entah dapat bertahan sampai petang nanti atau tidak, buat apa diantara saudara sendiri mesti sungkan lagi," ujar Hungki dengan tertawa.
"Baik, harap Toako memberi penjelasan," sahut Siau Hong.
"Pertempuran di padang rumput yang paling penting adalah tenaga kuda, tenaga manusia adalah soal sekunder," tutur Hungki.
Seketika Siau Hong sadar, katanya, "Ah, benar! Sebabnya prajurit itu turun dari kuda mereka adalah supaya binatang tunggangan mereka tidak terlalu lelah."
"Ya, kalau tenaga kuda terpelihara dengan baik, pada saat menyerbu musuh akan bisa bertempur dengan lancar," kata Yali Hungki. "Sebabnya bangsa Cidan kita selalu menang perang dimasa lalu, kunci rahasianya terletak pada kekuatan kuda inilah."
Sampai disini, tiba-tiba didepan sana tertampak debu mengepul tinggi, nyata musuh sudah sangat dekat, Segera Yali Hungki berkata pula sambil mengangkat cambuknya.
"Hong-thai-siok dan Co-ong sudah berpengalaman dalam pertempuran besar, mengapa mereka mengerahkan pasukan secara ter-gesa2 tanpa menghiraukan tenaga kuda, terang disebabkan dia penuh keyakinan bahwa mereka pasti akan menang."
Belum habis bicaranya, tertampaklah pasukan sayap kanan dan kiri berbareng membunyikan terompet, Waktu Siau Hong memandang jauh kesana, ia lihat dari kanan dan kiri sana masing-masing terdapat dua pasukan musuh, jadi kekuatan kedua pihak sekarang adalah lima lawan satu.
Air muka Yali Hungki berubah tegang seketika melihat kekuatan musuh itu, cepat ia perintahkan siap untuk bertempur dan pasang busur, Segera pasukan depan dan sayap kanan kiri berputar balik, beramai-ramai prajurit memasang tanda komando tertinggi, sekelilingnya dipagar dengan tanduk rusa dalam sekejap saja dipadang rumput situ sudah terpasang suatu benteng kayu yang besar, sekelilingnya dijaga oleh pasukan berkuda, berpuluh ribu pemanah bersembunyi dibalik balok besar benteng kayu itu dengan panah terpasang pada busurnya dan siap memanah.
Diam-diam Siau Hong membatin, "Tak perduli pertempuran besar ini siapa yang menang dan kalah, yang terang bangsa Cidan pasti akan banjir darah, Paling baik kalau giheng yang menang, kalau kalah aku harus berdaya menyelamatkan giheng dan A Ci kesuatu tempat yang aman, Kedudukannya
sebagai raja lebih baik ditinggalkan saja."
Dan baru saja barak pertahanan raja Liau itu selesai dipasang, pasukan perintis pemberontak juga sudah datang, Pasukan itu tidak lantas menyerang, mereka berhenti dalam jarak suatu panahan, lalu membunyikan genderang dan terompet, menyusul pasukan pemberontak dibelakangnya lantas
membanjir kedepan dengan teratur dan rapi.
Melihat kekuatan musuh yang jauh lebih besar itu, Siau Hong pikir sang giheng pasti akan kalah, Ia pikir untuk menyelamatkan gihengnya terpaksa harus bertahan sampai malam gelap nanti, pada siang hari jelas sukar meloloskan diri dari kepungan musuh, Sementara itu hari baru lewat lohor, sang surya sedang memancarkan sinarnya yang panas.
Mendadak terdengar suara genderang pasukan musuh menggelegar memecah angkasa, entah berapa ratus tambur dipukul serentak.
"Pukul tambur!: segera komandan pasukan memberi perintah, Dan beratus-ratus tambur dibentang raja itu pun dibunyikan hingga terjadilah perang tambur.
Sebentar kemudian memdadak suara tambur pasukan musuh berhenti, berpuluh ribu prajurit berkuda musuh sambil berteriak-teriak gemuruh mulai menyerbu dengan tombak terhunus, Tapi batu pasukan musuh itu mencapai jarak panah, segera komandan pasukan pasukan raja mengebaskan panji komandonya, suara tambur pasukan raja juga berhenti serentak dan berpuluh ribu anak panah lantas dihamburkan, Kontan prajurit musuh barisan paling depan roboh terjungkal.
Tapi pasukan musuh itu seperti tidak habis-habisnya, yang didepan roboh, yang dibelakang segera membanjir maju pula hingga kuda yang kehilangan penunggang didepan itu berubah menjadi tameng panah bagi prajurit di belakangnya, Selain itu ada pula pasukan musuh yang membawa perisai anti panah, dibelakang mereka mengikut pasukan pemanah, sesudah maju mendekat, segera mereka pun memanah kearah pertahanan pasukan raja.
Semula Yali Hungki memang agak jeri, tapi demi menghadapi musuh, seketika semangatnya ber-kobar2, dengan tangan kanan ia hunus sebatang golok panjang sembari member perintah dan memberi petunjuk, Melihat baginda raja mereka memimpin sendiri digaris depan, serentak bersoraklah prajurit dan perwiranya, "Banswe! Banswe! Banswe!"
Ketika pasukan pemberontak mendengar suara sorakan itu, mereka sama memandang kearah sini dan melihat Yali Hungki berjubah kuning emas dengan pakaian perangnya sedang memimpin sendiri pasukannya, dibawah wibawa sang raja yang angker itu seketika pasukan musuh merandek dan ragu untuk menyerbu maju.
Melihat kesempatan baik itu, segera Hungki berseru. "Pasukan berkuda sayap kiri mengepung maju, serbu!"
Mendengar perintah itu, Ku-bit-su yang memimpin pasukan sayap kiri lantas mengepung maju dengan tiga puluh ribu prajurit.
Memangnya pasukan pemberontak sudah patah semangat ketika melihat munculnya Yali Hungki digaris depan, sama sekali tidak terduga pula akan diterjang secara mendadak oleh pasukan raja itu, Apalagi Ku-bit-su itu adalah panglima perkasa yang terkenal dinegeri Liau, karuan pasukan pemberontak menjadi kacau-balau, sekali kena diterjang, hanya dalam waktu singkat saja pasukan pemberontak itu lantas kalah dan mundur, Pasukan raja segera mengejar dengan gagah perkasa!
"Toako, sekali ini kita telah menang!" seru Siau hong dengan girang.
Belum lenyap suaranya, sekonyong-konyong terdengar pula suara genderang pasukan musuh berbunyi, pasukan induk pemberontak telah datang, seketika terjadilah hujan panah dan tombak diudara, pertempuran bertambah sengit.
Diam-diam Siau Hong terkesiap oleh pertempuran dahsyat yang tidak pernah dilihatnya itu. Di medan pertempuran begitu, biarpun ilmu silatnya setinggi langit juga tidak berguna. Pertempuran pasukan besar begini berbeda sama sekali dengan pertandingan silat di kalangan Bu-lim, segala kepandaian boleh dikatakan tidak berguna lagi.

Sebentar kemudian, tiba-tiba di pihak pasukan pemberontak ada suara trompet tanda mundur, segera pasukan berkuda pemberontak itu mengundurkan diri bagai air surut cepatnya, berbareng panah menghambur bagai hujan untuk menahan kejaran lawan. Beberapa kali Ku-bit-su memimpin pasukannya menerjang, tapi selalu tertahan, sebaliknya malah terpanah mati beberapa ribu prajuritnya oleh musuh.

“Korban jatuh terlalu banyak, sementara berhenti menyerang,” segera Yalu Hungki memberi perintah.

Pertempuran tadi berlangsung cuma satu jam lebih, tapi sangat dahsyat hingga mayat bergelimpangan, kedua pihak sama-sama jatuh korban tidak sedikit. Sesudah kedua pihak mundur sampai suatu jarak tak tercapai oleh panah, di tanah luang bagian tengah itu penuh berserakan mayat dengan suara rintih tangis yang mengerikan. Maka tertampaklah dari kedua pihak muncul pula suatu pasukan berbaju hitam, masing-masing ada 300 orang banyaknya, agaknya pasukan baju hitam kedua belah pihak ini merupakan pasukan pembersih mayat.

Semula Siau Hong mengira pasukan itu pasti akan menolong prajurit yang terluka untuk dibawa kembali ke tempat sendiri, di luar dugaan prajurit baju hitam itu lantas lolos senjata, semua prajurit musuh yang terluka parah dibinasakan pula, habis membersihkan prajurit yang terluka parah, kemudian ke-600 orang itu berteriak-teriak dan saling tempur pula.

Siau Hong melihat ke-600 orang itu semuanya berilmu silat lumayan, pertarungan cukup sengit walaupun tidak sedahsyat tadi. Maka hanya sebentar saja sudah lebih 200 orang terbacok roboh di tanah. Prajurit baju hitam dari pasukan raja lebih tangkas, korban mereka hanya beberapa puluh orang saja, maka kekuatan selanjutnya menjadi dua-tiga orang melawan seorang dan dengan demikian kalah-menang menjadi lebih nyata lagi, tidak lama keadaan berubah lagi menjadi empat-lima orang melawan seorang.

Dan aneh juga, pasukan besar kedua pihak ternyata hanya bersorak memberi semangat saja tanpa memberi bantuan apa-apa. Meski melihat pasukan pihaknya dikalahkan, toh pasukan pemberontak yang jauh lebih besar itu tidak mau membantu. Akhirnya ke-300 prajurit baju hitam pihak pemberontak dibasmi semua, sebaliknya pasukan baju hitam pihak raja masih sisa hampir 150 orang yang kembali dengan hidup.

Diam-diam Siau Hong merasa heran oleh peraturan pertempuran orang Cidan itu. Sementara itu terdengar Yalu Hungki sedang berseru sambil mengangkat tinggi-tinggi goloknya, “Meski pasukan pemberontak berjumlah banyak, tapi semangat tempur mereka sudah patah, jika kita labrak lagi sekali pasti mereka akan kalah dan lari!”

Serentak prajurit dan perwira pasukan kerajaan bersorak-sorai, “Banswe! Banswe!”

Baru lenyap suara sorakan mereka, tiba-tiba terdengar suara tiupan tanduk di pihak pasukan musuh, tiga penunggang kuda tampak maju dengan perlahan. Seorang di bagian tengah membentangkan sehelai kulit, lalu terdengar ia membaca dengan suara lantang. Kiranya apa yang dibacanya itu adalah “maklumat” pemberontak yang diumumkan oleh Hong-thay-siok, katanya Yalu Hungki telah mengangkangi takhtanya, kini Hong-thay-siok telah naik takhta dan setiap prajurit dan perwira kerajaan diharap setia kepada raja baru dan semuanya akan mendapat kenaikan pangkat dan macam-macam bujukan lagi.

Segera belasan juru panah membidikkan panah mereka ke arah pembaca “maklumat” itu. Tapi dua orang yang mengiringinya itu lantas mengangkat tameng untuk melindunginya hingga orang itu dapat membaca terus. Sekonyong-konyong ketiga ekor kuda tunggangan mereka roboh kena panah, tapi sambil sembunyi di balik perisai, tetap “maklumat” pemberontak itu dapat terbaca habis, lalu mereka mengundurkan diri.

Melihat bawahannya banyak yang terpengaruh oleh provokasi kaum pemberontak itu, segera Ku-bit-su memberi perintah, “Maju ke sana dan balas memaki!”

Segera ada 30 perwira dan prajurit tampil ke muka pasukan, 20 prajurit mengangkat perisai ke depan untuk melindungi, selebihnya belasan orang adalah “tukang maki”, tenggorokan mereka besar dan suara mereka keras, mulut mereka tajam pula.

Maka mulailah “juru maki” pertama itu, ia mencaci maki pihak pemberontak sebagai pengkhianat yang terkutuk, pasti akan mati tak terkubur. Menyusul disambung oleh “juru maki” kedua, ketiga, dan seterusnya, sampai akhirnya kakek moyang musuh dan segala kata-kata caci maki yang kotor juga dihamburkan.

Pengetahuan Siau Hong terhadap bahasa Cidan terbatas, maka apa yang diucapkan “juru maki” itu sebagian besar tak dipahami olehnya. Tapi ia lihat Yalu Hungki berulang-ulang manggut-manggut sebagai tanda pujian, agaknya cara memaki “juru maki” itu sangat pandai dan tepat.

Tiba-tiba terdengar sorak-sorai pasukan pemberontak, dari jauh Siau Hong lihat di antara pasukan musuh itu ada dua penunggang kuda di bawah naungan payung kuning dan panji besar sedang tunjuk sini dan tuding sana dengan cambuk kudanya. Seorang di antaranya berjubah kuning emas mulus bertopi mestika, jenggotnya putih panjang. Seorang lagi berpakaian perang warna kuning, di bawah sinar matahari pakaian perangnya gemerdep berkilauan. Muka orang kedua itu agak kurus, tapi sikapnya sangat tangkas. Diam-diam Siau Hong menduga kedua orang itu mungkin adalah Hong-thay-siok dan Co-ong yang merupakan biang keladi pemberontakan ini.

Mendadak ke-10 “juru maki” tadi berhenti sebentar, mereka mengadakan “diskusi” dulu di antara mereka, habis berunding, serentak mereka menggembor lebih keras, mereka membongkar segala perbuatan jahat pribadi Hong-thay-siok itu, seorang yang prihatin hidupnya hingga tiada suatu borok yang dapat dimaki, maka sasaran makian kesepuluh “juru maki” itu dititikberatkan ke alamat Co-ong, katanya ia bergendakan dengan selir ayahnya sendiri, suka memerkosa wanita baik-baik, dan banyak berbuat kejahatan terhadap rakyat jelata dan macam-macam perbuatan kotor lainnya.

Kesepuluh orang itu memaki berbareng dengan kata-kata yang sama, memangnya suara mereka sangat lantang, paduan suara dari mereka menjadi luar biasa kerasnya hingga sebagian besar dari beratus ribu prajurit itu ikut mendengar caci maki mereka itu. Mendadak Co-ong itu memberi tanda dengan cambuknya, serentak pasukan pemberontak itu berteriak-teriak tak keruan hingga suara makian kesepuluh tukang maki itu tenggelam di tengah suara berisik yang lebih keras itu.

Sesudah suasana agak kacau sebentar, kemudian pasukan pemberontak mengeluarkan beberapa puluh buah kereta dorong dan dihentikan di depan pasukan, segera prajurit musuh menyeret keluar beberapa puluh orang wanita dari dalam kereta, ada yang sudah nenek-nenek, ada yang masih gadis remaja, dandanan mereka semuanya sangat perlente. Dan begitu kaum wanita itu diseret keluar, seketika suara caci maki kedua belah pihak lantas berhenti.

Tiba-tiba Yalu Hungki berteriak, “O, ibu! Bila anak dapat menangkap pengkhianat, pasti akan kucencang hingga hancur luluh pengkhianat-pengkhianat itu untuk melampiaskan sakit hatimu!”

Kiranya si nenek di antara tawanan kaum wanita itu adalah Hong-thay-hou (ibu suri), yaitu ibunya Hungki, Siau-thay-hou. Dan yang lain-lain adalah permaisurinya, Siau-hou dan para selir serta putra-putrinya. Mereka itu telah ditawan seluruhnya oleh Hong-thay-siok dan Co-ong dalam pemberontakan itu.

“Ya, baginda jangan menghiraukan jiwa kami, bunuhlah pengkhianat sekuat tenagamu!” demikian seru Hong-thay-hou dari jauh.

Mendadak beberapa puluh prajurit musuh mengancam para tawanan wanita itu dengan golok di leher, seketika banyak di antara selir raja yang muda itu menjadi ketakutan.

Yalu Hungki menjadi gusar, bentaknya, “Bunuh semua perempuan yang menangis itu!”

Maka terdengarlah suara mendesing anak panah, belasan anak panah menyambar ke depan, langsung beberapa selir raja yang menjerit dan menangis ketakutan tadi terpanah mati.

“Bagus baginda, tepat sekali tindakanmu ini!” seru Honghou (permaisuri) dari jauh. “Tanah air warisan nenek moyang sekali-kali tidak boleh tercengkeram di bawah kekuasaan kaum pengkhianat!”

Melihat ibu suri dan permaisuri sedemikian berani dan teguh jiwanya, bukan saja tak dapat diperalat untuk menekan Yalu Hungki, sebaliknya malah membuat semangat prajurit sendiri tergoyah, segera Co-ong memberi perintah, “Giring mundur tawanan itu! Keluarkan tawanan anggota keluarga prajurit musuh!”

Maka terdengar pula suara tiupan seruling yang tajam melengking sedih, sesudah rombongan ibu suri dan permaisuri digiring mundur, lalu dari barisan belakang digusur keluar berbaris-baris tawanan lelaki perempuan, tua dan muda, seketika terdengar pula suara tangisan memilukan hati dan mengguncang sukma.

Kiranya rombongan tawanan ini adalah anggota keluarga prajurit kerajaan, yaitu pasukan pribadi raja Liau. Biasanya Yalu Hungki sangat baik terhadap pasukan pribadinya itu, anggota keluarga mereka diizinkan tinggal bersama di dalam tangsi, dengan demikian, pertama para prajurit itu akan merasa berterima kasih atas kebaikan budi sang raja, kedua, dapat dipakai pula sebagai sandera agar prajurit-prajurit kepercayaan raja itu tidak berani timbul maksud memberontak.

Siapa duga biang keladi pemberontak sekarang adalah Hong-thay-siok yang paling dipercaya oleh raja itu. Maka anggota keluarga pasukan pribadi raja telah ditawan oleh pihak pemberontak, paling sedikit ada belasan ribu orang yang digiring ke garis depan sekarang dengan maksud untuk melemahkan semangat tempur pasukan raja.

Begitulah Co-ong lantas memerintahkan perwiranya tampil ke muka, dengan suara keras perwira itu berteriak, “Wahai, dengarlah para prajurit pasukan raja! Anggota keluarga kalian telah ditahan di sini, barang siapa menyerahkan diri akan mendapat kenaikan pangkat dan diberi hadiah, tapi kalau membangkang, raja baru telah memberi perintah agar membunuh segenap anggota keluarganya!”

Biasanya bangsa Cidan itu memang kejam dan suka membunuh, sekali mereka mengatakan “akan dibunuh semua”, maka hal itu bukan cuma main gertak saja.

Keruan pihak pasukan raja menjadi panik, sementara itu banyak di antara prajurit itu mengenal anak-istri atau ayah-ibu dalam tawanan musuh, segera terdengar suara ramai orang memanggil anggota keluarga masing-masing.

Dalam pada itu genderang pasukan pemberontak tiba-tiba berbunyi, lalu muncul 2.000 orang algojo dengan kapak dan golok terhunus. Ketika suara genderang berhenti serentak, seketika 2.000 batang kapak dan golok terangkat dan mengincar kepala tawanan anggota keluarga prajurit raja.

“Barang siapa menyerah kepada raja baru akan mendapat hadiah, kalau tidak takluk, segenap anggota keluarga mereka akan dibunuh!” terdengar perwira tadi berseru pula. Ketika tangannya memberi tanda, kembali genderang berbunyi menderang.

Para perwira dan prajurit pasukan raja tahu bila tangan perwira musuh itu memberi tanda lagi, seketika suara genderang akan berhenti dan menyusul ke-2.000 batang kapak dan golok mengilap itu akan membacok ke bawah, dan itu berarti jiwa akan segera melayang.

Biasanya pasukan pribadi raja itu sangat setia kepada junjungannya, kalau Hong-thay-siok dan Co-ong memancing mereka dengan pangkat dan hadiah terang takkan mempan. Tapi kini mereka menyaksikan sanak keluarga sendiri berada di bawah ancaman senjata, mau tak mau hati mereka terguncang dan sangat khawatir.

Dalam pada itu suara genderang masih terus berderang-derang, hati prajurit pribadi raja juga ikut berdebar-debar. Sekonyong-konyong dari pihak pasukan raja ada yang berteriak, “Ibu! O, ibu, jangan membunuh ibuku!”

Segera tertampak seorang prajurit raja membuang tombaknya terus berlari ke arah seorang nenek di barisan musuh. Tapi baru belasan langkah ia berlari, tiba-tiba dari pasukan raja menyambar keluar sebatang anak panah sehingga tepat menembus punggung prajurit itu. Seketika prajurit itu belum mati, dengan nekat ia masih terus lagi ke depan.

Maka ramailah seketika suara teriakan “Ibu! Ayah! Anak!” yang kacau-balau, serentak ada beberapa ratus orang dari pihak pasukan raja berlari ke depan. Perwira kepercayaan Hungki telah berusaha merintangi dengan membunuh beberapa prajurit yang goyah pendiriannya itu, namun sudah kasip, keadaan tak bisa dikuasai lagi.

Dan sesudah beberapa orang melarikan diri ke pihak musuh, menyusul lantas beberapa ribu orang, suasana medan perang menjadi kacau-balau tak keruan, dari 150 ribu prajurit raja, dalam waktu singkat ada 30-90 ribu orang yang lari ke pihak musuh.

Yalu Hungki menghela napas, ia tahu tak bisa mengatasi lagi suasana itu. Pada kesempatan prajurit-prajurit yang melarikan diri tadi sibuk bertemu dengan anggota keluarga mereka dan keadaan masih kacau hingga pasukan pemberontak sementara terisolasi jauh di sana, segera Hungki memberi perintah agar sisa pasukannya mengundurkan diri ke Pegunungan Cong-hong-san di sebelah barat laut.

Segera komandan pasukan memberikan perintah secara diam-diam dan teratur, sisa pasukan yang masih 50-60 ribu orang lantas putar balik ke arah barat. Ketika Co-ong mengetahui dan memerintahkan pasukannya mengejar, tapi karena medan perang terhalang oleh tawanan dan prajurit yang menyerah, untuk mengejar menjadi agak sulit.

Setelah Yalu Hungki membawa sisa pasukannya sampai di kaki Gunung Cong-hong-san, sementara itu hari sudah magrib. Para prajurit sangat lelah dan lapar pula, namun dengan tertib mereka mendaki lereng gunung, di situlah mereka berhenti dan mendirikan kemah, dari atas menghadap ke bawah menjadi lebih kuat menghadapi musuh.

Baru saja kemah selesai dibangun dan belum lagi sempat menanak nasi, pasukan di bawah pimpinan Co-ong sudah mengejar tiba sampai di kaki gunung dan mulai menyerang ke atas.

Namun pasukan raja segera menghamburkan panah dan menggelindingkan batu dari atas hingga pasukan pemberontak dapat digempur mundur. Tapi lantaran itu juga kekuatan pasukan raja kehilangan tiga ribu orang lagi. Sedangkan Co-ong juga lantas menarik mundur pasukannya ketika melihat keadaan tidak menguntungkan untuk menyerang, ia perintahkan pasukannya berkemah di bawah gunung.

Malamnya, Yalu Hungki berdiri di puncak gunung untuk mengintai suasana di perkemahan musuh, ia lihat pelita tak terhitung banyaknya bagaikan bintang di langit berkelip-kelip di kemah pasukan pemberontak itu, jauh di sana tiga barisan obor tampak lagi mendatang pula, terang itu adalah bala bantuan pasukan pemberontak yang sedang mendekat.

Selagi Yalu Hungki merasa sedih, tiba-tiba Pak-ih Ku-bit-su (sebutan pangkat, setingkat kepala staf) datang melapor, “Kira-kira lima belas ribu bawahan hamba telah melarikan diri dan menyerah pada musuh. Untuk ketidakbecusan pimpinan hamba, mohon Baginda sudi memberi hukuman.”

“Itu tak dapat menyalahkanmu, boleh kau pergi mengaso saja,” ujar Hungki.

Ketika kemudian ia berpaling, tiba-tiba dilihatnya Siau Hong sedang termenung-menung sambil memandang jauh ke sana. Segera katanya,” Adikku yang baik, besok pagi-pagi pasukan pemberontak tentu akan menyerang secara besar-besaran, pasti kita akan tertawan seluruhnya. Sebagai kepala negara, aku tidak boleh dinista oleh kaum pemberontak, aku akan membunuh diri untuk mempertanggungjawabkan kewajibanku kepada negara. Adikku, boleh kau bawa adik perempuanmu menerjang pergi saja pada malam ini. Ilmu silatmu sangat tinggi, tidak mungkin musuh mampu merintangimu.”

Ia merandek sejenak, lalu menyambung dengan rasa pilu, “Sebenarnya aku bermaksud menganugerahkan segala kejayaan padamu, siapa duga kakakmu ini sukar menyelamatkan diri sendiri, sebaliknya malah membikin susah padamu.”

“Toako,” sahut Siau Hong, “seorang laki-laki sejati harus berani menghadapi segala kesukaran. Meski hari ini peperangan tak menguntungkan kita, tapi aku dapat melindungimu untuk terjang keluar dari kepungan musuh, kita dapat menghimpun kekuatan lagi untuk membalas dendam ini.”

Tapi Yalu Hungki menggeleng kepala, katanya, “Sedangkan ibu dan istriku sendiri tak mampu kubela, masakah aku masih ada harganya berbicara sebagai lelaki sejati segala? Dalam pandangan bangsa Cidan, yang menang adalah pahlawan, yang kalah adalah pemberontak. Aku sudah kalah habis-habisan, masakan mampu berbangkit kembali? Sudahlah, kalian boleh pergi saja malam ini.”

Siau Hong tahu apa yang dinyatakan kakak angkatnya itu adalah setulus hati, maka ia pun berkata dengan ikhlas, “Jika begitu, aku akan mendampingi Toako untuk menempur musuh dengan mati-matian. Kita adalah saudara angkat, apakah engkau raja atau rakyat jelata, pendek kata engkau adalah saudara angkatku. Kakak angkatnya ada kesukaran, adik angkatnya sudah seharusnya sehidup semati di sampingnya, mana boleh kuselamatkan diri sendiri?”

Air mata Yalu Hungki bercucuran saking terharu, ia pegang tangan Siau Hong erat-erat, katanya, “O, adikku yang baik, terima kasih!”

Sepulangnya di kemah sendiri, Siau Hong melihat A Ci lagi rebah di sudut tenda sana. Gadis itu belum lagi tidur, maka segera ia menyapa, “Cihu, engkau akan marah padaku atau tidak?”

Siau Hong menjadi heran. “Sebab apa marah padamu?” tanyanya.

“Ya, gara-garaku ingin pesiar ke padang rumput hingga sekarang membikin susah padamu,” ujar A Ci. “Cihu, kita akan mati di sini, betul tidak?”

Di bawah sinar obor yang terpasang di luar kemah itu, wajah A Ci yang pucat tampak bersemu merah hingga makin menunjukkan lemah mungil dara itu. Alangkah kasih sayang Siau Hong terhadap gadis cilik itu, sahutnya segera, “Mana bisa aku marah padamu? Coba kalau aku tidak memukulmu hingga terluka parah, tidak nanti kita sampai di tempat ini.”

“Tapi kalau lebih dulu aku tidak menyerangmu dengan jarum berbisa, tentu engkau takkan memukul aku,” ujar A Ci dengan tersenyum.

Perlahan Siau Hong belai rambut si nona. Karena habis sakit keras, rambut A Ci telah rontok sebagian besar hingga kini rambutnya sangat jarang dan kurang subur. Siau Hong menghela napas, katanya, “Kau masih sangat muda, tapi sudah mesti ikut aku menderita dan merana seperti ini.”

“Cihu, sebenarnya aku tidak paham mengapa Cici sedemikian suka padamu,” tiba-tiba A Ci berkata, “dan sekarang aku pun tahulah.”

Siau Hong tidak menjawab, tapi dalam hati membatin, “Tak terhingga cinta cicimu padaku, apa yang kau pahami tentang ini? Padahal aku sendiri pun tidak tahu mengapa A Cu bisa mencintai laki-laki kasar seperti aku, dari mana kau bisa tahu malah?”

Tiba-tiba A Ci menoleh, ia pandang Siau Hong dengan air muka yang aneh, katanya, “Cihu, apakah engkau sudah dapat menebak, sebab apakah tempo hari aku menyerangmu dengan jarum berbisa? Sebenarnya aku tidak bermaksud membunuhmu, aku hanya ingin membikin engkau tak bisa berkutik, dengan begitu aku akan dapat merawat dirimu.”

“Apa sih faedahnya perbuatanmu itu?” tanya Siau Hong.

“Jika engkau tak bisa berkutik sama sekali, itu berarti takkan dapat meninggalkan aku untuk selamanya,” sahut A Ci dengan tersenyum. “Kalau tidak, dalam hatimu tentu kau pandang remeh diriku, setiap saat dapat kau tinggalkan aku dan tidak gubris lagi padaku.”

Diam-diam Siau Hong terkesiap oleh ucapan gadis cilik itu, ia tahu ucapan demikian bukanlah asal omong saja. Ia pikir toh besok akan mati semua, biarlah aku sekarang menghiburnya saja dengan kata-kata manis. Maka ia lantas berkata, “Ah, kau benar-benar masih berpikir secara kanak-kanak. Jika kau memang senang ikut padaku, boleh ikut saja, masakah aku tega menolak permintaanmu?”

Tiba-tiba mata A Ci bercahaya terang, serunya dengan girang, “Betulkah ucapanmu ini, Cihu? Sesudah aku sehat kembali, aku akan tetap ikut di dampingmu dan takkan pulang ke tempat Suhu untuk selamanya dan jangan kau tinggalkan aku lho!”

Siau Hong tahu anak dara ini tidak sedikit berbuat kesalahan pada orang-orang Sing-siok-pay, tentu juga dia tidak berani pulang ke sana. Sedangkan besok pagi kalau pasukan pemberontak menyerang secara besar-besaran, pasti mereka akan gugur bersama, harapan untuk menyelamatkan diri adalah sangat tipis. Maka dengan tertawa ia menjawab, “Eh, bukankah kau ini toasuci ahli waris Sing-siok-pay, kalau tidak pulang ke sana, naga tanpa kepala, lantas bagaimana jadinya nanti dengan orang Sing-siok-pay?”

“Biarkan saja mereka kacau-balau, peduli apa dengan aku?” sahut A Ci dengan mengikik tawa.

Siau Hong tidak bicara lagi, ia tarik selimut untuk menutupi badan A Ci, lalu ia sendiri pun menggelar selimut dan tidur di sudut kemah yang lain.

Besoknya pagi-pagi sekali Siau Hong sudah mendusin, ia pesan Kapten Sili menyediakan kuda dan menjaga A Ci, ia sendiri lantas berkemas dan makan dua kati daging kambing serta minum tiga kati arak. Lalu ia menuju ke tepi gunung.

Tatkala itu langit masih gelap. Selang tidak lama, ufuk timur mulai remang-remang, sang surya mulai memancarkan sinarnya. Segera terdengarlah suara trompet pasukan musuh berbunyi, menyusul ramailah suara gemerencing benturan senjata dan pakaian perang.

Segera pasukan raja memencarkan diri dalam beberapa barisan untuk menjaga tempat-tempat penting yang mungkin diserbu musuh. Siau Hong memandang ke bawah, ia lihat sebelah timur, utara, dan selatan penuh pasukan musuh, begitu banyak jumlah pasukan musuh hingga bagian belakang pasukan musuh itu tak kelihatan karena tertutup kabut.

Tidak lama sinar sang surya yang gilang-gemilang membuyarkan kabut yang menutupi angkasa padang rumput hingga tertampaklah di atas bumi penuh prajurit dan kuda belaka.

Sekonyong-konyong genderang menderu-deru hebat, dua barisan berpanji kuning dari pasukan musuh tampak tampil ke muka, menyusul Hong-thay-siok dan Co-ong melarikan kuda mereka ke kaki gunung, mereka tunjuk sini dan tuding ke atas gunung, tampaknya sangat gembira.

Waktu itu Yalu Hungki berdiri di puncak gunung dikelilingi pengawalnya, ia gemas melihat sikap musuh yang congkak itu, segera ia ambil panah dan busur dari seorang pengawalnya, ia pentang busur dan memanah ke arah Co-ong. Tapi jarak antara mereka sangat jauh, maka hanya mencapai setengah jalan panah itu lantas jatuh ke tanah.

“Hahahaha, Hungki!” dengan bergelak tertawa Co-ong berseru, “Kau telah mengangkangi takhta ayahku selama ini, sudah sepantasnya sekarang kau menyerahkan kembali takhtamu. Maka lekas menyerah saja dan ayah akan mengampuni kematianmu serta akan mengangkatmu menjadi Hong-thay-tit (keponakan mahkota), mau tidak?”

Dengan ucapan yang terakhir itu, ia hendak menyindir bahwa Yalu Hungki telah pura-pura mengangkat ayahnya sebagai Hong-thay-siok, padahal ia mengangkangi takhta kerajaan yang sebenarnya menjadi haknya Yalu Conggoan sendiri.

Hungki menjadi gusar, dampratnya, “Pengkhianat yang tak kenal malu, masih berani kau putar lidah!”

Dalam pada itu Pek-ih Ku-bit-su telah memimpin tiga ribu anak buahnya yang setia dan segera menerjang ke bawah gunung dengan gagah perwira dan dengan tekad lebih baik gugur sebagai ratna daripada hidup sebagai budak.

Untuk sesaat pasukan musuh menjadi kacau juga karena diterjang secara mendadak. Tapi sekali Co-ong memberi tanda, segera belasan ribu prajuritnya mengepung dari samping, maka terdengarlah jerit teriak yang gegap gempita, pertarungan sengit terjadi, tiga ribu prajurit raja itu makin lama makin berkurang, hingga akhirnya gugur seluruhnya.

Pek-ih Ku-bit-su tidak mau menyerah mentah-mentah, sekuat tenaga ia membunuh beberapa orang pula, habis itu ia pun membunuh diri dengan menggorok leher sendiri.

Dengan jelas Hungki dan Siau Hong dapat menyaksikan kejadian itu, tapi mereka tak mampu menolong, mereka hanya mencucurkan air mata terharu atas jiwa kesatria dan gagah berani Ku-bit-su itu.

Kemudian Co-ong maju ke tepi gunung lagi, teriaknya dengan tertawa, “Nah, Hungki, kau mau takluk apa tidak? Hanya sedikit kekuatanmu ini apa yang kau bisa perbuat? Mereka adalah kesatria gagah dari negeri Liau kita, buat apa mesti suruh mereka ikut berkorban jiwa bagimu? Seorang laki-laki sejati harus berani berterus terang dan ambil keputusan tegas, mau menyerah lekas menyerah, mau bertempur ayolah bertempur! Dan kalau insaf ajalmu sudah sampai, lebih baik kau bunuh diri saja daripada jatuh korban lebih banyak lagi.”

Yalu Hungki menghela napas panjang, air matanya berlinang-linang, ia angkat goloknya dan berseru, “Ya, tanah air yang indah permai ini biarlah kuserahkan kepada kalian ayah dan anak. Kita masih terhitung saudara sendiri, kalau kita saling membunuh, buat apa mesti banyak mengorbankan jiwa para prajurit Cidan yang gagah berani.”

Habis berkata, segera goloknya menggorok lehernya sendiri.

Tapi dengan cepat Siau Hong bertindak, dengan kim-na-jiu-hoat ia rebut senjata Yalu Hungki itu, katanya, “Toako, seorang kesatria sejati harus berani gugur di medan bakti, mana boleh mati dengan membunuh diri?”

“Ah, adikku yang baik,” sahut Hungki dengan menghela napas, “para perwira dan prajurit sudah lama mengabdi pada diriku dengan setia. Jika aku pasti akan mati, aku tidak tega minta mereka ikut korbankan jiwa bagiku.”

Dalam pada itu Co-ong sedang berteriak lagi, “Hungki, kau tidak mau membunuh diri, ingin tunggu kapan lagi?”

Sambil berkata ia pun tuding-tuding dengan cambuknya, garangnya bukan main.

Melihat Co-ong makin maju ke bawah puncak gunung, tiba-tiba Siau Hong mendapat akal, bisiknya kepada Yalu Hungki, “Toako, harap pura-pura ajak bicara padanya, diam-diam aku akan menyusur untuk mendekati dia serta memanahnya.

Hungki cukup kenal betapa lihainya Siau Hong, ia jadi girang, sahutnya, “Bagus! Jika lebih dulu dapat mampuskan dia, mati pun aku rela.”

Maka ia lantas berseru keras-keras, “Co-ong, tidaklah jelek aku melayani kalian ayah dan anak, jika ayahmu ingin menjadi raja, soalnya dapat melalui musyawarah, buat apa membunuh rakyat jelata dan prajurit bangsa sendiri hingga kekuatan negara Liau kita patah sehebat ini?”

Sedang Hungki bicara, di sebelah sana diam-diam Siau Hong telah membawa busur dan panah, ia lalu menuntun seekor kuda bagus ke bawah gunung, ia bersembunyi dengan mengempitkan kaki di bawah perut kuda, dan binatang itu terus dilarikan ke depan.

Melihat seekor kuda tanpa penumpang berlari turun dari atas gunung, prajurit musuh mengira kuda itu adalah kuda pelarian yang putus tali kendalinya, hal ini memang sangat umum di medan perang, maka tiada seorang pun yang menaruh curiga. Tapi sesudah dekat, segera ada yang mengetahui bahwa di bawah perut kuda itu menggemblok seorang, segera gemparlah mereka dan berteriak-teriak.

Cepat Siau Hong mendepak kudanya dengan ujung kaki hingga kuda itu membedal secepat terbang ke arah Co-ong, ketika jaraknya tinggal ratusan meter jauhnya, segera ia tarik busur di bawah perut kuda dan terus memanah.

Tapi pengawal Co-ong juga cukup cerdik, segera ada seorang di antaranya mengangkat perisai untuk mengaling-alingi tuannya hingga panah itu tidak mengenai sasarannya. Tapi beruntun-runtun Siau Hong memanah lagi, panah berikutnya telah merobohkan pengawal dan panah yang lain menyambar ke dada Co-ong.

Untung Co-ong cukup sigap dan awas, cepat ia ayun cambuknya untuk menyampuk panah itu. Kepandaian menyampuk panah dengan cambuk adalah kepandaian andalan Co-ong, tapi ia tidak tahu bahwa pemanah itu bertenaga raksasa, meski cambuknya kena sampuk anak panah itu, tapi hanya arahnya saja sedikit terbentur menceng, namun bahu kirinya tetap kena panah.

“Aduh!” Co-ong menjerit, saking kesakitan sampai ia mendekam di atas kuda.

Tanpa ayal lagi panah Siau Hong yang lain menyambar pula, sekali ini jaraknya sudah makin dekat sehingga panah itu menembus punggung Co-ong. Sekali kena panah, tubuh Co-ong lantas terperosot jatuh di bawah kuda.

Dengan hasil itu, Siau Hong pikir mengapa tidak sekalian bereskan jiwa Hong-thay-siok pula? Tapi selagi ia hendak melarikan kuda ke arah sana, sementara itu prajurit musuh telah menghujani panah hingga dalam sekejap saja kudanya berubah menjadi seekor “landak”.

Cepat Siau Hong menjatuhkan diri ke tanah dan menggelinding, dengan gesit dan cepat ia menyelinap dari bawah perut kuda yang satu ke bawah kuda yang lain. Karena khawatir mengenai teman sendiri, prajurit musuh tidak berani sembarangan memanah pula.

Sebagai gantinya segera mereka menusuk dengan tombak, tapi Siau Hong selalu menyelinap ke sini dan menyusup ke sana, ia main terobos di bawah perut kuda hingga pasukan musuh menjadi kacau-balau dan desak-mendesak sendiri serta saling injak, tapi Siau Hong tetap sukar dicari.

Namun sekali Siau Hong sudah terkurung di tengah berpuluh ribu prajurit musuh, untuk meloloskan diri juga tidak gampang lagi. Dari jauh ia dapat melihat Hong-thay-siok sedang memberi perintah di atas kudanya, segera Siau Hong menyusup kian-kemari untuk mendekati raja pemberontak itu. Ia pikir kalau dapat menawan raja pemberontak itu, barulah ia sendiri bisa selamat.

Waktu itu Siau Hong benar-benar seperti seekor binatang buas yang terkurung di dalam perangkap pemburu, ia seruduk sini dan terjang sana, sesudah agak dekat, mendadak ia menggerung sekali, mendadak ia melompat, bagaikan burung ia melayang lewat melalui kepala berpuluh prajurit di depan Hong-thay-siok untuk kemudian turun di depan kuda raja pemberontak itu.

Keruan Hong-thay-siok terkejut, ia angkat cambuknya terus menyabet ke muka Siau Hong. Tapi mendadak Siau Hong mengegos dan melompat maju, ia cemplak ke atas pelana kuda Hong-thay-siok, sekali cengkeram, ia pegang punggung raja pemberontak itu dan diangkat ke atas setinggi-tingginya sambil berteriak, “Kau ingin hidup atau mati? Lekas perintahkan pasukanmu meletakkan senjata!”

Saking ketakutan sampai apa yang dikatakan Siau Hong tak didengar oleh Hong-thay-siok. Saat itu suara teriakan pasukan pemberontak juga riuh rendah memekakkan telinga, beribu anak panah sudah siap mengincar Siau Hong, cuma melihat pucuk pimpinan mereka tertawan di tangan musuh, maka tiada yang berani sembarangan memanah.

Segera Siau Hong mengerahkan tenaga dalam dan berteriak lantang, “Hong-thay-siok memberi perintah agar segenap prajurit meletakkan senjata untuk menunggu titah raja. Baginda raja akan mengampuni kalian, siapa pun takkan diusut kesalahannya dalam pemberontakan ini!”

Lwekang Siau Hong tidak kepalang kuatnya, maka suaranya dapat tersiar hingga jauh dan terdengar cukup jelas oleh prajurit pemberontak itu. Sebenarnya perbawa pasukan pemberontak itu lagi berkobar-kobar, semuanya ingin menangkap Yalu Hungki untuk menerima hadiah dan kenaikan pangkat, siapa duga mendadak Co-ong terpanah mati, kini Hong-thay-siok ditawan musuh pula. Keruan pasukan pemberontak itu seketika mirip balon gembos, semangat mereka patah segera, suasana menjadi panik pula.

Siau Hong sendiri sudah pernah mengalami pemberontakan anggota Kay-pang, ia cukup paham akan perasaan orang waktu itu. Maka ia lantas mengumumkan pengampunan serta takkan mengusut apa yang sudah terjadi untuk menarik simpati pasukan pemberontak itu. Sebab kekuatan musuh saat itu masih sangat besar, sedangkan pihak Yalu Hungki hanya tinggal belasan ribu orang saja, kalau musuh menggempur lagi pasti Yalu Hungki akan tertawan juga, maka tanpa permisi dulu segera Siau Hong mendahului mengeluarkan janji itu untuk menenteramkan perasaan pasukan pemberontak.

Dan benar juga, demi mendengar pengumuman itu, seketika suasana hiruk-pikuk tadi lantas tenang kembali, hanya saja di antara pasukan pemberontak itu masih banyak yang ragu, mereka saling pandang dengan bingung.

Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Siau Hong, ia khawatir jangan-jangan keadaan akan berubah buruk, segera ia berteriak pula, “Baginda ada perintah bahwa tiada seorang pun akan dituntut, semuanya diampuni, setiap orang tetap pada pangkatnya semula. Nah, lekas kalian meletakkan senjata!”

Maka terdengarlah suara gemerantang dan gemerencing, di sana-sini ramai para prajurit pemberontak itu melemparkan senjata mereka ke tanah. Hanya tinggal sebagian saja yang masih ragu.

Siau Hong lantas angkat tubuh Hong-thay-siok dan dibawanya ke atas gunung. Pasukan pemberontak itu tiada seorang pun berani merintangi, di mana kudanya sampai, di depan lantas tersiah sebuah jalan lalu baginya.

Setiba di lamping gunung, dari pasukan raja lantas memapak datang dua barisan untuk menyambut kedatangan Siau Hong dengan hasil yang gilang-gemilang itu. Di atas gunung segera musik berbunyi, suasana gembira ria di antara pasukan raja.

“Hong-thay-siok, lekas memberi perintah agar bawahanmu meletakkan senjata dan jiwamu akan diampuni,” kata Siau Hong kemudian.

“Kau jamin jiwaku?” tanya Hong-thay-siok.

Siau Hong pikir keadaan masih genting, terutama sebagian pasukan pemberontak masih bersangsi, tindakan paling penting sekarang ialah menenteramkan hati prajurit musuh, maka jawabnya lantas, “Sekarang adalah kesempatanmu untuk menebus dosa, asal baginda tahu biang keladinya adalah putramu, beliau tentu akan mengampuni jiwamu!”

Hal itu memang benar, apa yang terjadi itu adalah gara-gara Co-ong yang berambisi besar untuk menjadi raja, yang diharapkan Hong-thay-siok sekarang adalah bebas dari kematian, maka ia lantas menjawab, “Baiklah, aku akan menurut pada permintaanmu!”

Segera Siau Hong menegakkan tubuh Hong-thay-siok di atas kuda dan berteriak keras-keras, “Wahai para prajurit, dengarkanlah perintah Hong-thay-siok!”

Dan Hong-thay-siok lantas berseru, “Pemberontakan yang dijangkitkan Co-ong ini sudah gagal, Co-ong telah menerima ganjarannya yang setimpal, kini Hongsiang (baginda raja) telah mengampuni dosa kalian, maka lekas kalian meletakkan senjata dan mohon ampun kepada Hongsiang!”

Karena Hong-thay-siok sudah tertawan, seperti ular tanpa kepala, betapa pun bandelnya kaum pemberontak juga tak berani membangkang lagi, segera terdengar suara gemerantang senjata, segenap pasukan pemberontak itu sekarang benar-benar takluk semua.

Habis itu baru Siau Hong menggusur Hong-thay-siok ke atas gunung.

Yalu Hungki merasa seperti di alam mimpi saja. Ia girang tidak kepalang, terus saja ia menubruk Siau Hong dan memeluknya erat-erat, katanya dengan mencucurkan air mata terharu, “O, saudaraku, semuanya berkat bantuanmu!”

Dalam pada itu Hong-thay-siok telah berlutut dan memohon, “Hamba merasa berdosa, mohon Baginda suka memberi ampun!”

“Bagaimana pendapatmu, adikku?” tanya Hungki kepada Siau Hong dengan rasa senang.

“Jumlah pasukan pemberontak terlalu banyak, kita harus tenangkan dulu perasaan mereka, maka mohon Baginda suka mengampuni jiwa Hong-thay-siok,” ujar Siau Hong.

“Bagus, apa pun akan kuturut permintaanmu,” kata Hungki dengan tertawa. Lalu ia berpaling kepada Pak-ih-tay-ong, “Segera mengumumkan titahku bahwa Siau Hong telah kuangkat menjadi Co-ong dengan kedudukan sebagai Lam-ih-tay-ong untuk memimpin segenap pasukan pemberontak yang menyerah itu dan segera berangkat pulang ke kota raja.”

Keruan Siau Hong kaget mendengar perintah itu. Sebabnya ia membunuh Co-ong dan menawan Hong-thay-siok, tujuannya melulu ingin menyelamatkan jiwa sang giheng saja, sekali-kali tiada maksud ingin mendapat pangkat segala. Maka seketika ia menjadi bingung malah oleh pengangkatan Yalu Hungki itu.

“Kionghi! Kionghi!” demikian Pak-ih-tay-ong lantas mengaturkan selamat kepada Siau Hong. “Menurut tradisi kerajaan, gelar Co-ong itu tidak boleh diberikan kepada orang di luar keluarga raja. Maka lekaslah Siau-heng mengaturkan terima kasih kepada Hongsiang!”

“Toako,” segera Siau Hong berkata kepada Hungki, “apa yang terjadi hari ini adalah berkat rahmat Tuhan, pasukan pemberontak memang harus menyerah padamu, aku cuma sedikit mengeluarkan tenaga yang tak berarti, mana dapat dianggap sebagai jasa besar segala. Apalagi aku pun tidak biasa dan juga tidak ingin menjadi pembesar, maka mohon Koko suka menarik kembali titahmu tadi.”

Hungki terbahak-bahak, ia rangkul bahu Siau Hong dan berkata, “Gelar Co-ong dan kedudukan sebagai Lam-ih-tay-ong adalah gelar kebangsawanan tertinggi dalam negeri Liau kita, bila adik masih merasa tidak cukup, kakakmu selain menyerahkan takhta padamu, lebih dari itu tiada jalan lagi!”

Keruan Siau Hong terperanjat, ia pikir kakak angkatnya itu saking kegirangan hingga cara omongnya menjadi lupa daratan, jangan-jangan apa yang dikatakan itu dilakukan sungguh-sungguh, tentu keadaan akan tambah runyam. Maka terpaksa Siau Hong berlutut dan berkata, “Ya, hamba Siau Hong menerima titah Baginda itu, banyak terima kasih atas budi baik Baginda!”

Dengan tertawa Yalu Hungki lantas membangunkan Siau Hong.

Lalu Siau Hong berkata pula, “Namun hamba adalah seorang kasar yang tidak paham peraturan dan undang-undang kerajaan, kalau ada kesalahan, mohon Baginda suka memberi ampun.”

“Tidak apa-apa,” kata Yalu Hungki sambil tepuk-tepuk bahu saudara angkat itu. Lalu ia berpaling kepada seorang perwira setengah umur di sebelahnya dan berkata, “Yalu Muko, aku mengangkatmu sebagai Lam-ih Ku-bit-su untuk membantu Siau Hong!”

Girang Yalu Muko bagaikan orang putus lotre, cepat ia berlutut untuk mengaturkan terima kasih. Lalu ia memberi sembah pula kepada Siau Hong.

“Muko,” kata Hungki pula, “dengan perintah Tay-ong, boleh kau pimpin bekas pasukan pemberontak itu pulang dulu ke Siangkhia! Sekarang kami akan pergi menyambangi ibu suri!”

Segera musik di atas gunung bergema, rombongan Yalu Hungki lantas menuju ke bawah gunung. Dalam pada itu panglima pasukan pemberontak sudah mengembalikan ibu suri dan permaisuri kepada kedudukan yang agung serta ditempatkan di tengah perkemahan besar. Waktu Hungki masuk kemah itu, pertemuan kembali antara ibu dan anak serta istri sehabis lolos dari lubang jarum sungguh mengharukan, kemudian mereka pun memberi pujian tinggi atas jasa Siau Hong.

Lalu Yalu Muko membawa Siau Hong untuk diperkenalkan kepada anak buah dan pembesar di bawah Lam-ih.

Tadi Siau Hong telah mempertunjukkan ketangkasannya di tengah pertempuran, betapa gagahnya telah disaksikan sendiri oleh semua orang. Apalagi Co-ong yang dulu itu wataknya kasar dan jahat, maka sekarang mereka terima dengan baik Siau Hong sebagai pimpinan mereka.

“Hongsiang sudah mengampuni dosa pemberontakan kalian, maka selanjutnya kalian harus memperbaiki kesalahan itu, jangan lagi sekali-kali timbul pikiran menyeleweng,” demikian Siau Hong memberi pengarahan di hadapan anak buahnya yang baru itu.

Segera seorang perwira berjenggot putih tampil ke muka dan melapor, “Hong-thay-siok dan Co-ong sudah menahan anggota keluarga kami sebagai sandera, hingga hamba terpaksa ikut memberontak, untuk itu mohon kebijaksanaan Tay-ong untuk menyampaikan kepada Baginda tentang duduk perkara yang sebenarnya.”

“Jika begitu, maka apa yang sudah lalu tidak perlu diungkit lagi,” ujar Siau Hong. Lalu ia berpaling kepada Yalu Muko, “Pasukan boleh mengaso dulu di sini, sesudah makan segera berangkat kembali ke kota raja.”

Kemudian perwira dan bintara di bawah perintah Lam-ih satu per satu maju memberi sembah kepada Siau Hong. Meski Siau Hong tidak pernah menjadi pembesar, tapi ia sudah lama menjabat Pangcu Kay-pang, dalam hal memimpin dan wibawa sudah tentu cukup cakap. Soalnya mungkin ada peraturan pasukan Cidan yang masih belum dipahami, tapi berkat bantuan Yalu Muko, semuanya dapat teratur dengan beres.

Tidak lama Siau Hong membawa pasukannya berangkat, susul-menyusul ibu suri dan permaisuri telah mengirim utusan membawakan harta benda dan jubah sulam untuk Siau Hong. Dan baru saja Siau Hong menerima hadiah itu, datanglah Kapten Sili mengawal A Ci.

Gadis cilik itu sudah berpakaian sutra sulam yang mentereng dan menunggang kuda bagus, katanya semua itu adalah hadiah ibu suri.

Siau Hong menjadi geli melihat tubuh A Ci yang kecil mungil itu seakan-akan terbungkus di dalam jubah sutra sulam yang besar dan gondrong itu hingga mukanya hampir tertutup oleh leher bajunya.

A Ci sendiri tidak ikut menyaksikan caranya Siau Hong membunuh Co-ong dan menawan Hong-thay-siok, ia hanya mendengar cerita ulangan dari Kapten Sili dan bawahannya.

Pada umumnya cerita orang itu suka ditambah-tambahi, suka dibumbu-bumbui, maka ketangkasan Siau Hong dalam cerita itu menjadi jauh lebih lihai seolah-olah malaikat dewata turun ke bumi. Maka begitu bertemu dengan Siau Hong segera A Ci menggerundel, “Cihu, begitu besar jasamu, mengapa sebelumnya sama sekali tidak kau beri tahukan padaku?”

“Apa yang telah kulakukan itu hanya secara kebetulan, dari mana aku bisa tahu sebelumnya dan memberi tahu padamu lebih dulu? Haha, datang-datang kau lantas bicara seperti anak kecil!” demikian Siau Hong menyahut dengan tertawa.

“Cihu, kemari sini,” seru A Ci.

Segera Siau Hong mendekati anak dara itu, ia lihat muka A Ci yang pucat itu bersemu kemerah-merahan, badannya terbungkus oleh jubah sulaman hingga mirip boneka saja, lucu dan menyenangkan, maka Siau Hong terbahak-bahak geli.

“Aku bicara benar-benar padamu, mengapa engkau tertawa, apa sih yang menggelikan?” omel A Ci.

“Karena dandananmu ini mirip boneka, maka aku merasa geli,” sahut Siau Hong.

“Engkau selalu anggap aku sebagai anak kecil, sekarang kau tertawakan aku lagi,” kata A Ci dengan mulut menjengkit.

“Ah, masa aku sengaja mengolok-olokmu,” sahut Siau Hong dengan tertawa. “A Ci, sebenarnya aku menyangka hari ini kita pasti akan mati semua, siapa tahu malah tertimpa rezeki nyasar. Padahal peduli apa Lam-ih-tay-ong atau Co-ong segala, asal kita tidak sampai mati, apa lagi yang kita harapkan?”

“Cihu, apa engkau sangat takut mati?” tiba-tiba A Ci bertanya.

Siau Hong melengak, sahutnya kemudian dengan mengangguk, “Ya, dalam keadaan bahaya, terkadang aku pun takut mati.”

“Hah, kukira engkau adalah seorang gagah perkasa, seorang yang tak gentar mati,” kata A Ci dengan tertawa. “Jika engkau takut mati, tatkala beratus ribu tentara memberontak, mengapa engkau berani menyerbu ke tengah-tengah mereka?”

“Itu namanya sebelum ajal pantang menyerah, kalau aku tidak menerjang musuh, pastilah aku akan mati. Hal mana juga tak bisa dikatakan gagah berani, tidak lebih cuma pergulatan terakhir saja,” kata Siau Hong. “Misalnya kita mengepung seekor beruang atau harimau, sebelum dia tertangkap, pasti juga dia akan menyerang kian-kemari dan mengganas dengan mati-matian.”

“He, engkau misalkan dirimu sebagai binatang,” ujar A Ci dengan tertawa.

Tatkala itu mereka dikelilingi oleh barisan tentara yang panjang dengan panji yang berkibar memenuhi padang rumput. A Ci merasa senang sekali, katanya, “Tempo hari aku telah mengakali Toasuheng sehingga dapat merebut hak ahli waris Sing-siok-pay, kupikir di antara anggota keluarga Sing-siok-pay yang berjumlah beberapa ratus orang itu, kecuali Suhu seorang, akulah pemimpin tertinggi, maka aku merasa sangat senang waktu itu. Tapi kini kalau dibandingkan dengan engkau yang memimpin beratus ribu prajurit ini, terang jauh sekali bedanya. Cihu, kabarnya Kay-pang telah memecat dirimu sebagai pangcu mereka. Hm, cuma suatu organisasi pengemis begitu saja berlagak, boleh kau pimpin tentaramu ini ke sana dan bunuh saja mereka semua.”

“Ai, omongan anak kecil lagi!” ujar Siau Hong sambil menggeleng kepala. “Aku adalah orang Cidan, kalau mereka tidak sudi padaku sebagai pangcu, hal ini adalah tepat. Orang Kay-pang adalah bekas bawahanku dan kawan-kawanku yang baik, mana boleh kubunuh mereka?”

“Tapi mereka telah menuduhmu secara semena-mena dan memecatmu dari pang mereka, dengan sendirinya mereka harus dibunuh, masakah engkau masih anggap mereka sebagai kawanmu?”

Siau Hong sukar menjawab pertanyaan itu, ia hanya geleng-geleng kepala. Ia menjadi muram bila teringat pertarungan di Cip-hian-ceng, di mana ia telah putuskan segala hubungan baik dan persahabatan dengan para kesatria.

“Eh, Cihu, jika mereka mendengar bahwa engkau telah menjadi Lam-ih-tay-ong di negeri Liau, tiba-tiba mereka merasa menyesal dan ingin mengundangmu untuk menjadi pangcu mereka lagi, apakah engkau akan terima undangan mereka?” tiba-tiba A Ci bertanya lagi.

“Mana bisa jadi?” sahut Siau Hong dengan tersenyum. “Para kesatria Kerajaan Song anggap orang Cidan adalah manusia jahanam yang kejam, semakin besar pangkatku di negeri Liau sini, semakin benci pula mereka padaku.”

“Huh, masakah engkau ingin disukai mereka? Mereka benci padamu, kita juga benci pada mereka,” kata A Ci.

Ketika Siau Hong memandang ke arah selatan, ia melihat padang rumput yang luas itu di mana langit bertemu dengan bumi adalah lereng gunung yang berderet-deret, ia pikir di balik pegunungan itulah wilayah Tionggoan. Meski ia adalah orang Cidan, tapi sejak kecil dibesarkan di daerah Tionggoan, dalam hati kecilnya boleh dikatakan lebih cinta kepada tanah Song itu daripada menyukai negeri Liau yang baru dikenalnya ini. Bila dia diperbolehkan menjadi anggota Kay-pang yang paling rendah sekalipun, mungkin akan lebih senang dan tenteram daripada menjadi Lam-ih-tay-ong segala di negeri Liau.

“Cihu,” kata A Ci pula, “kubilang Hongsiang memang pintar, beliau mengangkatmu sebagai Lam-ih-tay-ong, dengan demikian bila kelak negeri Liau berperang dengan negeri lain, tentu engkau harus memimpin tentara untuk melawan musuh dan dengan sendirinya akan selalu menang. Asal engkau menyerbu ke tengah pasukan musuh dan membunuh panglimanya, maka tanpa perang lagi musuh akan menyerah, bukankah dengan mudah saja peperangan lantas berakhir?”

“Kembali omongan anak kecil lagi,” sahut Siau Hong dengan tertawa. “Masakah kau anggap segala peperangan serupa dengan pemberontakan Hong-thay-siok dan Co-ong? Mereka adalah bangsa Liau dan biasanya tunduk pada perintah baginda raja, jika biang keladi mereka tertawan, dengan sendirinya mereka lantas takluk. Tapi peperangan di antara dua negara akan lain soalnya. Biarpun panglimanya kau bunuh, mereka masih mempunyai wakil panglima yang lain, wakil panglima mereka mati, masih ada perwira lain lagi, belum terhitung prajurit dan bintara musuh yang entah berapa jumlahnya, hanya seorang diri aku menyerbu ke tengah-tengah mereka, apa yang dapat kuperbuat?”

“O, kiranya begitu,” kata A Ci. “Eh, Cihu, kau bilang waktu menyerbu musuh dan membunuh Co-ong itu tak dapat dibilang gagah berani, habis selama hidupmu dalam hal apa kau anggap paling gagah berani? Coba, dapatkah kau ceritakan padaku?”

Selamanya Siau Hong tidak suka bicara tentang keperkasaan sendiri, biarpun habis membasmi kaum penjahat atau baru menang bertanding juga tidak pernah dipamerkan kepada orang lain, padahal entah sudah berapa banyak kejadian luar biasa yang telah dialaminya.

Ia merasa tidak akan habis-habis kalau mesti bercerita tentang kegagahannya dahulu. Maka jawabnya, “Setiap kali aku bertempur dengan orang, selalu aku adalah pihak yang terpaksa, maka tak dapat dikatakan tentang gagah berani segala.”

“Tapi kutahu bahwa selama hidupmu pertarungan sengit di Cip-hian-ceng itulah pertempuranmu yang paling gagah berani,” ucap A Ci.

Kembali Siau Hong melengak. “Dari mana kau tahu?” tanyanya.

“Waktu di Siau-keng-oh tempo hari, sesudah kau pergi, ayah dan ibu beserta beberapa bawahannya telah bicara tentang ilmu silatmu dan mereka sama kagum tak terhingga, mereka mengatakan engkau telah menempur para kesatria Tionggoan di Cip-hian-ceng, soalnya cuma membela keselamatan seorang gadis jelita. Gadis jelita itu tentulah ciciku, bukan?” tanya A Ci. “Tatkala mana ayah dan ibu belum tahu bahwa A Cu adalah putri kandung mereka, maka mereka menganggapmu sangat kejam kepada ayah bunda, sangat keji terhadap guru dan ayah-ibu angkatmu, tapi terhadap wanita engkau justru mabuk, mereka bilang engkau adalah manusia yang tidak tahu budi dan lupa kebaikan, sebaliknya kejam dan suka akan kundai licin, engkau dianggap orang jahat yang tidak kenal perikemanusiaan,” bicara sampai di sini, tertawalah gadis itu dengan terkikik-kikik.

“Lupa budi dan tidak tahu kebaikan, kejam dan suka kundai licin? Ai, tentu saja para kesatria benci padaku sampai ke tulang sumsum,” demikian Siau Hong bergumam sendiri.

Selang beberapa hari kemudian, sampailah pasukan besar itu di kota raja. Sebelumnya para pembesar dan pasukan penjaga kota serta rakyat jelata sudah mendapat kabar tentang datangnya Siau Hong, maka berbondong-bondong mereka memapak jauh di luar kota.

Di mana panji pengenal Siau Hong tiba, di situ rakyat jelata lantas berlutut memberi sembah dengan pujian yang tak habis-habis. Maklum, sekaligus ia telah dapat mengamankan pemberontakan, ini berarti telah menyelamatkan jiwa para prajurit beserta anggota keluarganya yang ditawan musuh, sudah tentu rasa terima kasih mereka tak terhingga.

Ketika Siau Hong menjalankan kudanya perlahan mengelilingi kota, sepanjang jalan rakyat bersorak-sorai memberikan pujian secara luar biasa.

Diam-diam Siau Hong terharu oleh suara pujian itu, apalagi air mata rakyat jelata itu tampak berlinang-linang, suatu tanda rasa terima kasih mereka itu memang timbul benar-benar dari lubuk hati yang murni. Pikirnya, “Seorang yang berkedudukan tinggi dan memegang kendali kenegaraan, setiap gerak-gerik dan tindak tanduknya akan menyangkut nasib beratus-ratus ribu, bahkan berjuta-juta rakyatnya. Padahal sebelum aku menyerbu musuh untuk membunuh Co-ong, aku hanya terdorong oleh keinginan membunuh musuh gihengku saja, sama sekali tak tersangka olehku bahwa dengan tindakanku itu tanpa sengaja telah menyelamatkan beratus ribu jiwa manusia.”

Begitulah dengan mendapat sambutan hangat dari penduduk kota, akhirnya rombongan Siau Hong sampai di depan istana Lam-ih-tay-ong.

Meski Siau Hong adalah bekas pangcu, tapi pangcu dari kaum pengemis, hidupnya selalu melarat, tempat tinggalnya sembarang tempat, di mana pun dapat dibuat tidur, baik di emperan, maupun di kolong jembatan, semuanya pernah dilakukan Siau Hong. Tapi kini ia terkesima menyaksikan sebuah gedung yang megah.

Waktu ia dipersilakan masuk oleh Yalu Muko, ia lebih terpesona lagi oleh segala perabotan di dalam istana itu. Sesudah ia periksa seperlunya keadaan dan isi istana itu, lalu ia ambil tempat duduk di atas singgasananya dan menerima sembah perkenalan dari penggawa istana.

Kemudian para kepala kelompok suku juga datang memberi hormat, banyak sekali nama suku bangsa di bawah kekuasaan Kerajaan Liau, seketika Siau Hong juga tidak ingat nama-nama kelompok suku sebanyak itu.

Habis itu para perwira dari pasukan pribadi ibu suri dan permaisuri, para pengawal berbagai istana juga beruntun-runtun datang menghadap.

Akhirnya para utusan berbagai negeri yang berkedudukan di kota raja ketika mengetahui Siau Hong telah diangkat menjadi Lam-ih-tay-ong yang baru, maka beramai-ramai perwakilan dari 59 negara yang berada di bawah pengaruh negeri Liau, seperti negeri Korea, Nuchen, Se He, Tartar, dan lain-lain, semuanya datang untuk berkenalan dengan raja muda yang baru dan berpengaruh ini. Banyak sekali di antaranya membawa oleh-oleh dan mempersembahkan kado dengan maksud mengikat persahabatan.

Begitulah setiap hari Siau Hong sibuk menerima tamu dan menemui pembesar bawahannya. Apa yang dilihatnya adalah emas intan yang gemerlapan dan apa yang didengarnya adalah puji sanjung yang menjilat pantat. Sebagai seorang yang berjiwa jujur lurus, sudah tentu Siau Hong tidak biasa dengan penghidupan seperti itu, lama-kelamaan ia merasa jemu juga.

Kira-kira sebulan kemudian, Yalu Hungki mengundangnya untuk bertemu di istana dan berkata kepada Siau Hong, “Saudaraku yang baik, kedudukanmu adalah Lam-ih-tay-ong, tempat tugasmu adalah Lamkhia, di sana harus kau cari kesempatan untuk melakukan invasi ke Tionggoan. Meski aku merasa berat untuk berpisah denganmu, tapi demi tugas dan kejayaan bangsa, terpaksa silakan lekas berangkat ke selatan dengan pasukanmu.”

Siau Hong terperanjat mendengar baginda raja menitahkan dia memimpin pasukan untuk menjajah ke selatan. Cepat sahutnya, “Soal invasi ke selatan bukanlah urusan kecil, harap Yang Mulia suka meninjau kembali keputusan ini. Hamba cuma seorang persilatan yang kasar, dalam hal siasat militer sama sekali tidak paham.”

“Negeri kita baru mengalami pemberontakan, kita memang harus memelihara kekuatan dahulu,” ujar Hungki dengan tertawa. “Apalagi pemerintah Song sekarang telah mengangkat Suma Kong sebagai perdana menteri, politiknya stabil, rakyatnya patuh, kesempatan untuk menyerbu ke selatan belum ada. Maka sesudah berada di Lamkhia, hendaklah senantiasa kau ingat tujuan kita akan mencaplok kerajaan di selatan itu, kita harus mencari saat yang baik dan tepat, jika ada sesuatu kerusuhan di dalam tubuh pemerintahan Song, segera kita mengerahkan pasukan ke selatan. Bila bagian dalam mereka bersatu, maka hasil kita akan sangat kecil sekali bila menggempur mereka.”

“Betul, memang harus begitu,” sahut Siau Hong.

“Akan tetapi dari manakah kita dapat mengetahui pemerintahan Song dalam keadaan kuat dan rakyatnya patuh dan bersatu?” kata Hungki pula.

“Untuk itu mohon Baginda suka memberi petunjuk,” sahut Siau Hong.

“Hahaha, caranya sejak dulu kala hingga sekarang adalah sama saja,” seru Hungki dengan terbahak-bahak. “Resepnya adalah gunakanlah sebanyak mungkin harta kekayaan untuk membeli mata-mata musuh. Orang selatan paling tamak pada harta, manusia rendah tak terhitung banyaknya di sana. Asal mendapat harta, mereka tidak segan-segan menjual negara. Maka boleh kau suruh Ku-bit-su jangan sayang membuang harta mestika sebanyak mungkin, tentu usahamu akan berhasil.”

Siau Hong mengiakan pesan itu, lalu mohon diri dengan perasaan kesal. Sebagai seorang laki-laki sejati, biasanya sahabat karibnya adalah golongan kesatria yang gagah dan jujur, biarpun sudah banyak pengalamannya menghadapi tipu muslihat keji di kalangan Kangouw, tapi paling-paling juga cuma perbuatan membunuh orang atau membakar rumah secara blakblakan tanpa banyak lika-liku, selamanya belum pernah ia gunakan harta benda untuk memperalat orang lain. Apalagi, walaupun ia adalah orang Cidan, tapi sejak kecil dibesarkan di daerah selatan, sekarang dia ditugaskan oleh Yalu Hungki untuk mencaplok Kerajaan Song, hal ini sebenarnya sangat bertentangan dengan jiwanya.

Ia pikir, “Giheng mengangkatku sebagai Lam-ih-tay-ong, hal ini adalah maksud baiknya, kalau sekarang juga kuletakkan jabatan, betapa pun akan mengecewakan maksud baiknya dan akan mengganggu persaudaraan kami. Biarlah nanti sesudah aku di Lamkhia setelah kujalankan tugasku selama setahun dua tahun, lalu aku akan mohon mengundurkan diri. Dan kalau beliau tidak mengizinkan, diam-diam aku akan tinggal pergi, masakah beliau dapat menahan aku?”

Begitulah ia lantas membawa bawahannya bersama A Ci berangkat ke Lamkhia.

*****

Yang dimaksud Lamkhia pada Kerajaan Liau waktu itu adalah Kota Pakhia (Peking) sekarang. Zaman itu Kerajaan Song menyebutnya sebagai Yankhia, Yutoh, atau Yuciu.

Kota itu sebenarnya termasuk wilayah kekuasaan Tiongkok. Ketika Ciok Keng-tong dari Dinasti Cin mengangkat dirinya sendiri menjadi raja, ia telah minta bala bantuan Kerajaan Liau. Untuk balas jasanya, Ciok Keng-tong menyerahkan wilayah kekuasaan Yan-hun-cap-lak-ciu (16 kota Yan-hun) kepada Kerajaan Liau. Dan di antara ke-16 kota itu termasuk pula Yuciu atau Yankhia.

Ke-16 kota yang dijual oleh Ciok Keng-tong itu adalah tempat-tempat penting dan strategis, selama Dinasti Cin, Ciu, dan Song, pemerintah Tiongkok tidak mampu merebut kembali kota-kota wilayah kekuasaannya itu, bahkan setiap kali terjadi perang, selalu pasukan Liau mendapat keuntungan dari kota-kota penting yang menjadi pangkalan mereka itu dan selalu pasukan Song dikalahkan habis-habisan.

Setiba di dalam kota, Siau Hong lihat jalan di dalam kota sangat lebar dan resik, orang yang berlalu-lalang adalah rakyat kerajaan selatan (Song), yang terdengar juga bahasa Tionghoa. Ia merasa seakan-akan telah pulang ke tempat tinggalnya dahulu. Malahan keramaian dan kemakmuran kota juga lebih baik daripada Siangkhia.

Siau Hong dan A Ci merasa kerasan di kota yang ramai ini. Dengan gembira, esok paginya mereka lantas keluar pesiar dengan dandanan yang sederhana dan tanpa pengawal.

Luas Kota Yankhia itu antara 36 li (kira-kira sama dengan 18 km) persegi. Seluruhnya ada delapan pintu gerbang kota. Letak istana Lam-ih-tay-ong itu di barat laut di dalam benteng kota.

Sesudah Siau Hong dan A Ci pesiar hampir setengah hari, mereka melihat di mana-mana toko dan pasar ramai dikunjungi orang, di sana-sini juga banyak terdapat kelenteng.

Sebagai Lam-ih-tay-ong, maka wilayah kekuasaan Siau Hong bukan cuma Yan-hun-cap-lak-ciu saja, bahkan Tay-tong-hu dan sekitarnya di sebelah barat, Tay-ting-hu di sebelah selatan juga termasuk wilayah kekuasaannya. Dan sebagai raja muda, terpaksa ia mesti tinggal di dalam istana.

Sesudah melakukan tugasnya beberapa hari, ia lantas merasa pusing kepala, untung Lam-ih Ku-bit-su, kepala stafnya Siau Hong, yaitu Yalu Muko, cukup cekatan dan pandai mengatur, maka ia percayakan semua pekerjaan dinas kepadanya.

Menjadi pembesar setinggi Siau Hong itu juga ada enaknya. Di dalam istana tersedia barang berharga yang tak terhitung banyaknya, empedu beruang dan tulang harimau boleh dimakan bagai makan nasi saja oleh A Ci. Dengan perawatan demikian, akhirnya kesehatan A Ci menjadi pulih seperti sediakala, pada permulaan musim dingin ia sudah dapat bergerak dengan bebas.

Dasar gadis itu memang lincah dan suka bergerak, maka begitu sudah sehat kembali, segera A Ci pesiar beberapa kali ke seluruh pelosok kota, kemudian dengan dikawal oleh Kapten Sili, mereka mulai pesiar keluar kota yang berdekatan.

Suatu hati, hujan salju baru saja reda, dengan memakai baju kulit berbulu halus, A Ci datang ke Istana Soan-kau-tian, tempat tinggal Siau Hong, ia berkata, “Cihu, aku merasa bosan tinggal di kota, ayolah kita pergi berburu saja!”

Sekian lamanya tinggal dalam istana, memang Siau Hong juga merasa kesal, maka ajakan A Ci itu diterima dengan senang hati. Tapi ia tidak suka berburu secara besar-besaran, maka hanya beberapa pengawal dibawanya untuk melayani A Ci. Pula khawatir akan mengejutkan penduduk setempat, maka mereka berdandan sebagai prajurit biasa, membawa busur dan panah, dengan berkuda mereka ke luar kota dan menuju ke utara.

Kira-kira belasan li jauhnya di luar kota, mereka hanya memperoleh beberapa ekor kelinci saja, binatang lain yang lebih besar tidak kelihatan.

“Marilah kita coba-coba ke bagian selatan,” kata Siau Hong. Segera ia membawa rombongannya berputar ke barat terus ke selatan.

Kira-kira belasan li lagi, tiba-tiba seekor kijang berlari keluar dari semak-semak. Cepat A Ci mengambil busur dan panah, tapi ketika ia hendak menarik busurnya, ternyata tenaganya tak cukup. Nyata meski kesehatannya sudah pulih, tapi tenaga belum kuat.

Segera Siau Hong mendekatinya, ia gunakan tangan kiri memegang tali gendewa dari belakang A Ci, lalu tangan kanan mementang gendewa, sekali bidik, anak panah itu meluncur dengan cepat, kontan kijang itu menggeletak terkena panah. Maka bersoraklah para pengiringnya.

Ketika Siau Hong lepas tangan, ia pandang A Ci dengan tersenyum. Tapi ia menjadi terkejut demi tampak air mata anak dara itu berlinang-linang. Tanyanya dengan heran, “He, kenapa menangis? Kau tidak senang aku membantumu memanah kijang tadi?”

“Aku... aku sudah menjadi orang cacat, sampai gendewa saja tidak... tidak mampu menariknya lagi,” sahut A Ci dengan air mata bercucuran.

“Ai, kenapa kau tidak sabaran begitu, asal kau merawat diri dengan baik, tentu tenagamu akan pulih kembali,” hibur Siau Hong. “Dan kelak bila betul tak bisa pulih, pasti akan kuajarkan cara melatih lwekang padamu, pasti tenagamu akan bertambah kuat.”

Maka tertawalah A Ci, katanya, “Engkau harus pegang janji dengan baik, engkau harus mengajarkan lwekang padaku.”

“Baik, pasti akan kuajarkan,” sahut Siau Hong.

Tengah bicara, tiba-tiba terdengar suara ramai derapan kuda lari dari arah selatan, ada suatu pasukan sedang mendatang dari tanah salju sana. Meski pasukan itu tidak memasang panji pengenal, tapi segera Siau Hong dapat melihat pasukan itu adalah tentara Liau. Terdengar prajurit dan perwira pasukan itu bersorak-sorai dan menyanyi-nyanyi dengan riang gembira, di belakang mereka tampak banyak tawanan pula, agaknya mereka habis pulang dari menang perang.

“Kita tidak perang dengan siapa pun, dari mana pasukan ini bisa menang perang?” pikir Siau Hong.

Ia lihat pasukan itu menuju ke timur, yaitu arah Kota Lamkhia. Segera ia katakan pada pengiringnya, “Coba pergi tanya mereka, pasukan dari manakah dan untuk apa datang ke sini?”

Pengiring itu mengiakan dan menambahkan pula, “Mungkin kawan kita sendiri yang habis pulang dari ‘panen’.”

Lalu ia larikan kudanya menghampiri pasukan itu.

Ketika komandan pasukan itu mengetahui Lam-ih-tay-ong berada di situ, serentak mereka bersorak gembira, mereka turun dari kuda dan dengan langkah cepat menghampiri Siau Hong untuk memberi hormat, berbareng mereka lantas bersorak, “Hidup Tay-ong!”

Siau Hong hanya angkat tangannya sebagai hormat. Ia lihat pasukan itu berjumlah antara 800 orang, di atas kuda mereka penuh termuat macam-macam barang, ada bahan pangan, ada bahan sandang, dan benda-benda berharga lainnya. Tawanan yang mereka ringkus juga ada 800 jiwa banyaknya, sebagian besar adalah wanita muda, tapi ada juga sedikit anak dan orang tua. Dari dandanan mereka dapat diketahui adalah orang Song, banyak di antaranya sedang menangis sedih, keadaan sangat mengenaskan.

“Hari ini adalah giliran pasukan hamba yang dinas ‘tah-cau-kok’ (panen), berkat Tay-ong yang mulia, hasil kami lumayan juga,” demikian komandan pasukan itu memberi lapor. Lalu ia berpaling ke belakang dan berteriak, “Ayo, kawan-kawan! Lekas persembahkan wanita muda yang paling cantik dan harta benda yang paling berharga, kita persilakan Tay-ong memilih sendiri!”

Segera anak buahnya mengiakan, dalam sekejap saja lebih 20 orang wanita muda yang cantik digusur ke depan Siau Hong, banyak pula emas intan dan batu permata yang berharga terserak di atas sehelai selimut, semuanya itu menantikan pilihan Siau Hong.

Umumnya orang Cidan paling menghormat pada kesatria gagah, bila Siau Hong sudi menerima wanita tawanan dan harta rampasan mereka dari hasil “panen” itu, maka hal mana akan merupakan suatu kehormatan besar bagi mereka.

Dahulu di luar Gan-bun-koan, Siau Hong juga pernah menyaksikan pasukan tentara Song merampok dan menawan orang-orang Cidan. Sekarang ia melihat pasukan Cidan yang menawan orang Song. Keadaan tawanan yang mengenaskan itu sama saja tiada bedanya.

Sesudah sekian lamanya tinggal di negeri Liau, pada garis besarnya Siau Hong sudah paham peraturan militer negeri itu. Pasukan tentara Liau itu tidak mendapat gaji dan catu ransum, segala keperluan perwira dan prajuritnya, seluruhnya diperoleh dengan merampas dari pihak musuh. Maka setiap hari ada pasukan yang dikirim untuk merampas sandang pangan dari rakyat negeri tetangga seperti Korea, Song, Se He, Nuchen, dan lain-lain, perbuatan mereka ini diberi nama “tah-cau-kok” atau panen. Padahal tiada bedanya dengan garong.

Sebab itulah tentara Song juga membalas dengan melakukan “panen” pada orang Cidan dengan cara yang sama. Maka penghidupan penduduk di sekitar perbatasan itu menjadi sangat melarat dan tidak aman, setiap saat selalu hidup dalam ketakutan.

Sebenarnya Siau Hong merasa cara demikian itu terlalu kejam dan zalim, cuma ia sendiri tidak berniat menjadi pembesar untuk selamanya, setelah sekadar memenuhi keinginan Yalu Hungki, lalu ia akan meletakkan jabatan dan tinggal pergi. Sebab itulah ia tidak memberi suatu saran apa-apa tentang politik dan ketatanegaraan.

Kini dengan mata kepala sendiri menyaksikan keadaan mengenaskan dari para tawanan itu, mau tak mau ia merasa tak tega. Segera ia tanya komandan pasukan itu, “Dari mana kalian memperoleh hasil panen ini?”

Dengan penuh hormat komandan itu melapor, “Harap Tay-ong maklum, hasil ‘panen’ hamba ini diperoleh dari perbatasan di luar Takciu. Sejak Tay-ong kemari, hamba tidak berani mencari ransum lagi di sekitar sini.”

Dari jawaban itu Siau Hong menarik kesimpulan dahulu mereka tentu banyak melakukan penggarongan milik orang Song di sekitar Lamkhia. Segera ia tanya kepada seorang gadis yang dihadapkan kepadanya itu dalam bahasa Han, “Kau berasal dari mana?”

Gadis itu berlutut, sahutnya dengan menangis, “Hamba adalah orang Thio-koh-jun, mohon belas kasihan Tay-ong, sudilah mengampuni hamba dan bebaskan hamba untuk berkumpul kembali dengan orang tua.”

Waktu Siau Hong memandang ke arah tawanan-tawanan itu, ia melihat beberapa ratus orang itu berlutut semua, hanya ada seorang pemuda yang tetap berdiri dengan bersitegang.

Berdiri di tengah beratus tawanan yang berlutut itu, dengan sendirinya pemuda itu kelihatan sangat menonjol. Siau Hong lihat usia pemuda itu antara 16-17 tahun, raut mukanya lonjong, matanya bersinar, sedikit pun tidak gentar padanya. Segera ia tanya, “Hai, pemuda, kau berasal dari mana?”

“Ada suatu urusan rahasia penting ingin kubicarakan padamu secara berhadapan,” sahut pemuda itu.

“Baiklah, majulah ke sini,” kata Siau Hong.

Pemuda itu angkat kedua tangannya ke atas, ternyata tangannya terikat dengan kencang. Terdengar ia berseru, “Silakan meninggalkan pengiringmu ke sana, urusan penting ini tidak boleh didengar orang lain.”

Siau Hong merasa heran, ia pikir seorang pemuda keroco begitu masakah mempunyai urusan rahasia penting segala? Tapi dia berasal dari selatan, boleh jadi membawa rahasia militer Kerajaan Song. Sebagai seorang kesatria, Siau Hong benci kepada manusia rendah yang suka menjual negara dan bangsa, maka sebenarnya ia tidak mau gubris pada pemuda itu. Tapi mengingat hal yang akan diberitahukan mungkin di luar dugaannya, ia pikir tiada halangannya untuk mendengarkannya.

Segera ia larikan kuda meninggalkan pengiringnya kira-kira puluhan meter jauhnya, lalu ia panggil pemuda itu, “Nah, majulah ke sini!”
Pemuda itu lantas ikut ke sana, ia angkat kedua tangannya yang terikat itu, katanya, “Harap memotong tali pengikat tanganku ini, hendak kukeluarkan sesuatu barang untukmu.”

Tanpa pikir Siau Hong melolos goloknya, “sret”, sekali ayun, ia tebas tali pengikat kedua tangan pemuda itu. Begitu cepat dan jitu tebasan Siau Hong hingga membuat pemuda itu berjingkat kaget ketika mengetahui golok itu sudah menyambar lewat tangannya, tali pengikatnya sudah putus dan tangannya tidak terluka apa-apa.

“Nah, barang apa?” tanya Siau Hong kemudian dengan tersenyum sambil menyarungkan kembali goloknya.

Segera pemuda itu merogoh saku, ia ambil sesuatu benda, digenggam, lalu mendekati Siau Hong sambil menyodorkan tangannya dan berkata, “Ini, boleh kau periksa sendiri.”

Selagi Siau Hong hendak ulur tangan menerima barang orang, sekilas dilihatnya benda dalam genggaman pemuda itu seperti dapat bergerak, ia jadi curiga dan urung menerima, katanya, “Coba buka tanganmu?”

Pemuda itu sadar tipu muslihatnya telah gagal, mendadak air mukanya berubah hebat, sekonyong-konyong makhluk pada tangannya itu dilemparkan ke muka Siau Hong.

Tapi sekali sampuk dengan cambuk kuda, Siau Hong hantam makhluk kecil itu ke tanah. Waktu diamati, kiranya seekor ular kecil hitam mulus. Ia kerut kening dan tidak menaruh perhatian atas ular itu, ia pikir pemuda itu benar-benar kurang ajar, masa mempermainkanku dengan ular.

Di luar dugaan, begitu ular itu ke tanah, mendadak ular melompat ke atas lagi dan hendak memagut kaki Siau Hong. Sama sekali Siau Hong tidak menyangka ular sekecil itu bisa melejit ke atas, ia terperanjat dan cepat mengangkat kakinya ke samping hingga pagutan ular itu kena di kaki depan kuda tunggangannya.

Sekali tergigit ular, seketika kuda itu lemas lunglai ke tanah. Cepat Siau Hong melompat turun, ia lihat kudanya sudah tak bisa berkutik lagi, hanya berkelojotan sekali, lantas binasa.

Bahkan si pemuda lantas memburu maju lagi, ia sambar ular kecil itu terus dilemparkan pula ke arah Siau Hong.

Melihat ular itu begitu lihai, Siau Hong tidak berani gegabah lagi, ia kerahkan tenaga pada cambuknya terus menyabet, “plok”, ular itu terpental hingga berpuluh meter jauhnya, tapi belum mati, ular itu merayap, lalu menghilang entah ke mana.

Biarpun Siau Hong sudah banyak pengalaman, tidak urung ia mengirik membayangkan kejadian tadi. Hanya sekali gigit saja ular sekecil itu dapat membinasakan seekor kuda besar dalam waktu singkat sekali, maka betapa jahat upasnya dapat dibayangkan. Apalagi pemuda itu berani pegang ular itu sesukanya, suatu bukti pemuda itu telah menguasai racun ular yang jahat itu.

Sebagai bekas Pangcu Kay-pang, Siau Hong sudah sering menyaksikan anggota Kay-pang main ular, maka ia tidak heran pada ular berbisa. Tapi ular hitam kecil ini sangat ganas, sedangkan untuk bisa menguasai racun ular dengan baik, anggota Kay-pang umumnya mesti berlatih hingga bertahun-tahun lamanya, dan biasanya ahli ular itu terdiri dari pengemis-pengemis yang sudah tua. Tapi pemuda ini baru belasan tahun umurnya, namun sudah memiliki kepandaian selihai ini, sungguh dapat dikatakan luar biasa. Coba tadi kalau dirinya lengah sedikit saja, mungkin jiwanya sekarang sudah melayang.

Dalam pada itu para perwira dan prajurit Cidan beramai-ramai telah memburu maju ketika melihat kuda Siau-tay-ong mereka roboh dan binasa. Namun segera Siau Hong memberi tanda pada mereka dan berseru, “Kalian jangan mendekat ke sini.”

Serentak pasukan Cidan itu berhenti di tempat mereka. Waktu Siau Hong periksa kudanya, ia lihat badan kuda itu telah berubah menjadi hitam dalam waktu singkat. Keruan ia lebih terkesiap. Segera ia berkata dengan manggut-manggut, “Ehm, bagus, bagus! Siapa namamu? Mengapa kau serang aku sekeji ini?”

Tapi pemuda itu bungkam dalam segala bahasa, bahkan ia melirik hina pada Siau Hong.

“Coba mengakulah dan jiwamu mungkin dapat kuampuni,” kata Siau Hong pula.

“Aku gagal membalas sakit hati orang tua, apa mau dikata lagi?” tiba-tiba pemuda itu menyahut dengan ketus.

“Hah, kau ingin membalas sakit hati orang tuamu?” Siau Hong menegas dengan heran. “Siapakah orang tuamu? Apakah aku yang membunuhnya?”

Pemuda itu melangkah maju, tiba-tiba ia tuding hidung Siau Hong dan memaki dengan penuh rasa dendam, “Kiau Hong! Kau telah membunuh pamanku, membunuh ayah-bundaku, sungguh aku... aku ingin mengunyah dagingmu, ingin membeset kulitmu dan mencencang badanmu hingga hancur lebur!”

Mendengar pemuda itu memanggil namanya yang lama, yaitu “Kiau Hong”, pula menuduh dirinya membunuh paman dan ayah bundanya, Siau Hong pikir besar kemungkinan adalah permusuhan yang terjadi di Tionggoan dahulu. Maka tanyanya segera, “Siapakah pamanmu dan siapa ayahmu?”

“Pendek kata aku pun tidak ingin hidup lagi, masakah aku takut padamu? Kaum lelaki keluarga Yu dari Cip-hian-ceng bukanlah manusia yang takut mati!” demikian teriak pemuda itu.

Mendengar pemuda itu menyebut “keluarga Yu dari Cip-hian-ceng”, barulah Siau Hong tahu duduknya perkara.

“O, kiranya kau keturunan Yu-si-siang-hiong dari Cip-hian-ceng?” katanya. “Jika demikian, ayahmu adalah Yu Ki, Yu-jiya bukan?”

Ia berhenti sejenak, lalu menyambung pula, “Dahulu aku pernah dikeroyok para kesatria Tionggoan di tempat tinggalmu, karena terpaksa maka aku melawan keroyokan mereka. Dan ayah serta pamanmu itu tewas dengan membunuh diri. Ya, memang, membunuh diri atau dibunuh orang memang sama saja. Tatkala itu aku telah merampas senjata andalan ayah dan pamanmu hingga mereka terpaksa membunuh diri, katanya untuk memenuhi sumpah perguruan mereka. Adik cilik, siapakah namamu?”

“Namaku Yu Goan-ci,” sahut pemuda itu dengan bersitegang. “Aku tidak perlu kau bunuh diriku, aku sanggup meniru semangat jantan ayah dan pamanku.”

Habis berkata, mendadak ia mencabut keluar sebilah belati dan terus menikam dada sendiri.

Namun cambuk Siau Hong lebih cepat menyambarnya daripada belatinya itu, sekali tergubat, segera belati pemuda itu dibetot terlepas dari cekalan.

Yu Goan-ci menjadi gusar, teriaknya, “Aku ingin membunuh diri juga tidak boleh? Kau anjing Cidan terkutuk, sungguh kau amat kejam!”

Dalam pada itu A Ci telah larikan kudanya mendekati Siau Hong. Segera ia membentak, “Kau setan cilik ini mengapa sembarang memaki orang? Kau ingin mampus ya? Hehehe, jangan kau harap akan begitu gampang!”

Yu Goan-ci terkesima demi mendadak melihat seorang nona cilik yang cantik molek berada di depannya, untuk sekian lama ia tidak sanggup bicara.

“Cihu,” segera A Ci berkata kepada Siau Hong, “bocah ini teramat keji, ia hendak membunuhmu dengan ular berbisa, biarlah kita juga menggunakan cara yang sama menghukumnya agar dia tahu rasa.”

Sebagai murid Sing-siok-pay, bicara tentang menyiksa orang dengan ular atau belatung berbisa mungkin tiada golongan lain yang mampu mengungguli cara mereka.

Segera Siau Hong berkata kepada komandan pasukan tadi, “Orang Song yang kalian tawan ini bolehkah diberikan padaku semua?”

Senang sekali komandan itu, sahutnya, “Asal Tay-ong sudi menerima, tentu saja hamba merasa mendapat kehormatan besar.”

“Setiap prajurit yang telah menyerahkan tawanannya kepadaku, sepulangnya nanti akan mendapat hadiah sebagai ganti kerugian,” kata Siau Hong pula. “Dan sekarang bolehlah kalian berangkat dulu ke kota.”

Dengan girang para prajurit itu mengiakan dan menyatakan terima kasih. Kata komandannya, “Binatang di sini tidak banyak, apakah Tay-ong akan menggunakan babi-babi Song ini sebagai sasaran panah yang hidup? Dahulu Co-ong juga suka permainan begini. Cuma sayang tawanan ini kebanyakan adalah kaum wanita, larinya tidak bisa cepat. Lain kali kami pasti akan mencari babi-babi Song yang laki-laki dan yang tangkas-tangkas untuk keperluan Tay-ong.”

Habis berkata, ia memberi hormat kepada Siau Hong, lalu membawa pergi pasukannya.

“Menggunakan babi-babi Song itu sebagai sasaran panah yang hidup”, kata-kata ini mendengung-dengung dalam telinga Siau Hong, seketika ia seakan-akan melihat kekejaman Co-ong yang telah menggunakan orang-orang Song itu sebagai sasaran anak panahnya, beratus orang Song itu disuruh lari serabutan, lalu satu per satu dipanah dari jauh seperti berburu binatang. Agaknya kekejaman demikian itu bukan cuma sekali dua kali terjadi, tapi tiap orang Cidan telah anggap biasa permainan itu.

Ketika Siau Hong memandang para tawanan itu, ia lihat wajah mereka pucat lesi bagai mayat, bahkan banyak di antaranya gemetar ketakutan, rupanya ada di antara mereka paham bahasa Cidan, maka demi mendengar mereka akan digunakan sebagai sasaran panah, mereka menjadi takut.

Siau Hong menghela napas panjang, ia memandang jauh ke selatan sana, di mana gunung-gemunung menjulang tinggi tertutup awan. Tiba-tiba terpikir olehnya, “Coba kalau tiada orang membongkar rahasia asal usulku, sampai hari ini pasti aku masih anggap diriku adalah rakyat Song, bicaraku sama seperti bahasa mereka, dan makan nasi serupa mereka, apa perbedaannya? Padahal kita semuanya adalah manusia, sama-sama manusia kenapa mesti ada perbedaan antara Cidan, Song, Nuchen, Korea, dan apa segala? Kenapa kita tidak dapat hidup damai berdampingan, sebaliknya mesti saling cakar-cakaran, yang satu ‘panen’ ke wilayah kekuasaan yang lain dan yang lain menggarong dan membunuh ke negeri orang lagi? Yang satu memaki yang lain sebagai anjing Cidan dan yang lain memaki orang sebagai babi Song? Ya, alangkah baiknya jika di dunia ini tiada penindasan manusia atas manusia, tiada penjajahan bangsa atas bangsa, tiada pengisapan orang atas orang, jika semuanya itu tak ada, tentu dunia ini akan aman dan damai.”

Begitulah seketika itu perasaannya bergolak, semangatnya membakar.

Dalam pada itu A Ci mempunyai kerjanya sendiri, ia terus mengamat-amati Yu Goan-ci sambil memikirkan cara bagaimana harus menyiksa pemuda itu. Pikirnya, “Tidak boleh sekali siksa mematikan dia, tapi harus kucari suatu akal yang baik dan menarik untuk mempermainkan dia sekadar pelipur lara hatiku daripada perburuan kijang yang membosankan ini. Eh, ya, dapat kugunakan dia untuk menguji khasiat Pek-giok-giok-ting yang kumiliki ini. Dapat kutangkap beberapa macam ular dan belatung berbisa untuk menggigit tangannya dulu, bila nanti hawa berbisa sudah hampir menyerang jantungnya, lantas kupotong tangannya itu, lalu giliran tangannya yang lain, dengan cara begitu mungkin aku dapat mempermainkannya untuk beberapa hari lamanya.”

Sementara itu setelah pasukan Cidan tadi pergi, lalu Siau Hong berkata kepada para tawanan itu, “Biarlah hari ini kubebaskan kalian. Nah, lekas kalian pergi!”

Tapi para tawanan itu mengira bila mereka lari, lalu mereka akan dipanah. Maka mereka merasa ragu dan tiada yang mau bergerak.

Segera Siau Hong berkata pula, “Sesudah kalian pulang, paling baik kalian meninggalkan daerah perbatasan ini sejauhnya agar kalian tidak menjadi sasaran panenan dan tertangkap pula. Aku hanya dapat menolong kalian satu kali dan tidak mungkin dua kali.”

Mendengar itu, barulah para tawanan itu percaya penuh, seketika gegap gempita sorak gembira mereka, beramai-ramai mereka menjura dan mengaturkan terima kasih kepada Siau Hong. Sungguh mereka tidak menduga bahwa jiwa mereka yang sudah terang akan melayang di negeri Liau itu bisa direnggut kembali dari cengkeraman elmaut.

Pada umumnya kalau orang-orang Song sudah menjadi “hasil panen” orang Cidan, kecuali orang dari keluarga mampu yang sanggup menebus dengan harta benda yang tinggi, kalau tidak, pasti akan mati tak terkubur di tanah asing. Sedangkan para tawanan ini adalah rakyat jelata yang miskin, dari mana mereka mampu menebus jiwa mereka dengan harta benda? Keruan girang mereka tidak kepalang demi mendengar pengampunan Siau Hong itu.

Begitulah Siau Hong melihat para tawanan itu berduyun-duyun menuju ke selatan dengan senang. Lambat laun suasana kembali menjadi sunyi, para tawanan telah pergi semua. Tapi dilihatnya Yu Goan-ci tadi masih berdiri tegak di tempatnya. Segera Siau Hong berkata padanya, “Hei, mengapa kau tidak pergi? Apakah kau tidak punya sangu untuk pulang ke Tionggoan?”

Sembari berkata tangannya lantas merogoh saku dengan maksud mengambil sedikit uang perak untuk pemuda itu.

Tak terduga sakunya tidak membawa apa-apa, tahu-tahu yang terogoh keluar adalah sebuah bungkusan kecil dari kertas minyak.

Siau Hong merasa pedih melihat bungkusan kertas itu. Di dalam bungkusan itu adalah sejilid Ih-kin-keng edisi bahasa Hindu. Dahulu A Cu telah mencuri kitab pusaka itu dari Siau-lim-si dan diberikan padanya. Kini gadis itu sudah meninggal dan kitab itu masih disimpan olehnya dengan sendirinya ia berduka teringat kepada kejadian lalu.

Katanya kemudian dengan menyesal, “Hari ini aku keluar untuk berburu, maka tidak membawa uang, jika kau perlu sangu, boleh ikut aku ke kota untuk ambil.”

Tapi mata Yu Goan-ci mendelik dan merah membara, teriaknya dengan gusar, “Orang she Kiau, kalau mau bunuh lekas bunuh, mau cencang lekas cencang, masakah aku jeri, buat apa mesti mempermainkan aku dengan tipu muslihatmu yang keji? Biarpun orang she Yu ini mati melarat juga tidak sudi menerima uang sepeser pun darimu!”

Siau Hong pikir benar juga ucapan pemuda itu. Dirinya adalah musuh pembunuh orang tua pemuda itu, sudah tentu sakit hati sedalam lautan itu tak bisa diselesaikan begitu saja. Maka katanya, “Aku takkan membunuhmu, jika kau ingin menuntut balas, setiap saat boleh kau cari padaku.”

“Cihu jangan kau lepaskan dia!” tiba-tiba A Ci menyela. “Bocah ini sangat keji, cara balas dendamnya juga tidak beres. Menggunakan ular dan menaruh racun, segala perbuatan kotor dapat dilakukannya. Membabat rumput harus sampai akar-akarnya, jangan meninggalkan bencana di kemudian hari.”

Tapi Siau Hong menggeleng kepala, sahutnya, “Di kalangan Kangouw penuh rintangan, setiap langkah selalu ketemu bahaya, semuanya itu sudah pernah kualami. Dahulu tanpa sengaja telah kupaksa ayah dan pamannya membunuh diri, utang darah itu memang adalah tanggunganku, buat apa sekarang aku mesti membunuh lagi anak keturunan Yu-si-siang-hiong?”

Mendengar pertentangan antara mereka, yang satu bersedia melepaskan dia, si nona justru minta dirinya dibunuh saja. Diam-diam Yu Goan-ci juga ingin bisa lekas angkat kaki agar tidak mati konyol. Tapi demi ingat bila dirinya lari, hal mana berarti mencemarkan nama baik orang tua. Maka sedapat mungkin ia tabahkan hati dan melirik kedua orang di hadapannya itu dengan sikap angkuh.

“A Ci, marilah kita pulang saja, hari ini tiada binatang yang dapat kita buru,” kata Siau Hong kemudian.

“Sebenarnya aku sudah mengatur rapi rencanaku, dan engkau justru sengaja melepaskan dia, sepulangnya di kota aku bisa bermain apa lagi?” demikian A Ci menggerundel. Tapi ia pun tidak berani membantah perintah Siau Hong, segera ia putar kudanya dan ikut pulang ke kota.

Kira-kira belasan meter jauhnya, tiba-tiba ia menoleh dan berkata kepada Yu Goan-ci, “He, anak busuk, boleh kau latih diri 75 tahun lagi untuk kemudian boleh kau cari cihuku untuk menuntut balas!”

Habis berkata, ia tersenyum dan pecut kudanya mencongklang ke depan dengan cepat.

Melihat rombongan Siau Hong menuju ke utara dan tidak putar balik lagi, barulah Yu Goan-ci percaya bahwa jiwanya takkan melayang. Pikirnya heran, “Mengapa bangsat itu tidak membunuh aku? Hm, hakikatnya dia memandang rendah padaku, ia merasa akan bikin kotor tangannya jika membunuh diriku. Dia... dia telah menjadi Tay-ong apa di negeri Liau, untuk menuntut balas selanjutnya akan lebih sulit. Tapi akhirnya aku dapat mengetahui tempat tinggalnya, kelak pasti akan kucari dia lagi. He, Si Hitam di mana? Si Hitam!”

Begitulah ia lantas mencari-cari di semak rumput sekitar situ, yang dicarinya yaitu ular hitam kecil yang menghilang tadi.

Tengah ia cari ke sana dan ke sini, tiba-tiba dilihatnya di semak-semak rumput situ ada sebuah bungkusan kertas kecil. Itulah bungkusan milik Siau Hong yang dirogoh keluar lalu dimasukkan lagi ke dalam baju itu.

Kiranya tadi waktu Siau Hong memasukkan kembali kitab itu ke dalam bajunya, karena dalam keadaan setengah melamun, maka kitab Ih-kin-keng itu tidak tepat masuk ke dalam saku, tapi meleset keluar. Dan ketika ia menggeprak kudanya untuk berangkat, guncangan-guncangan telah menyebabkan kitab itu jatuh ke tanah tanpa disadari olehnya dan kini diketemukan oleh Yu Goan-ci.

Karena tidak kenal tulisan dalam kitab itu, Goan-ci pikir besar kemungkinan itulah tulisan Cidan. Kitab ini pasti berguna bagi musuhnya itu, aku justru tidak mau kembalikan padanya, tentu dia akan kelabakan mencarinya.

Teringat bahwa dengan memegang kitab itu akan bisa membuat musuh kelabakan, sedikit banyak dalam hati kecil pemuda itu timbul semacam rasa terhibur, rasa puas. Dan sudah tentu, sakit hati orang tua sedalam lautan itu tidak mungkin dihapuskan hanya oleh karena sedikit kepuasan itu, tapi apa jeleknya asal dapat membuat Kiau Hong mengalami sesuatu kesukaran, sekalipun cuma kesukaran kecil saja.

Begitulah ia lantas membungkus kembali kitab itu dengan kertas minyak, lalu disimpannya di saku dalam, kemudian ia berangkat ke selatan.

Sebenarnya sejak kecil Goan-ci sudah mendapat pelajaran ilmu silat dari ayahnya. Sayang wataknya tidak cocok dengan ilmu silat, badannya kurus lemah pula, tenaga kurang, maka paman dan ayahnya meski tergolong tokoh persilatan Tionggoan yang kenamaan, tapi dia sendiri sedikit sekali kemajuannya biarpun sudah belajar 3 tahun lamanya, sama sekali tidak sesuai sebagai anak murid jago silat terkemuka.

Ketika Goan-ci menginjak umur dua belas dan tetap tiada kemajuan, Yu Ki ayahnya, telah ganti haluan, ia berunding dengan saudaranya, Yu Ek, untuk menyekolahkan Goan-ci saja, suruh bocah itu belajar ilmu sastra saja daripada ilmu silat tanpa kemajuan, dengan kepandaiannya yang kepalang tanggung itu bukan mustahil kelak akan mengakibatkan jiwanya melayang bila dijajal orang, bahkan nama baik Yu-si-siang-hiong juga akan ikut tercemar.

Sebab itulah, maka setelah berumur dua belas ke atas, Goan-ci tidak belajar ilmu silat lagi melainkan belajar ilmu sastra.

Tapi disuruh sekolah, kembali ia mogok setengah jalan. Ia selalu mengemukakan pikiran yang tidak-tidak, sering ia suka bertanya dan membantah.

Jika gurunya berkata, “Khonghucu bilang: belajar sesuatu ilmu harus sering dipelajari dan lama-lama engkau tentu akan merasa tertarik.”

Maka Goan-ci lantas mendebat, “Belum tentu benar, bergantung juga pada apa yang kita pelajari. Misalnya ayah telah mengajarkan aku main silat, aku sudah sering mempelajarinya, tapi mengapa aku tidak tertarik sedikit pun?”

Sang guru menjadi gusar, “Yang dimaksudkan Khonghucu adalah pelajaran kaum nabi dan tentang kehidupan manusia yang benar, masakah kau maksudkan urusan main silat segala?”

“Ai, jadi pak guru bilang ayahku belajar tidak baik. Awas, nanti akan kukatakan pada ayah,” demikian sahut Goan-ci.

Begitulah akhirnya sang guru lantas angkat kaki saking tak tahan oleh sifat Goan-ci yang bambungan itu. Berulang-ulang diganti guru yang lain selalu dibikin ngacir oleh Goan-ci. Sering juga Yu Ki menghajar putranya itu, tapi dasar kepala batu, semakin dihajar dan digebuk, semakin bandel malah, hingga akhirnya Yu Ki kewalahan sendiri. Karena tiada jalan lain, terpaksa ia tidak peduli lagi.

Sebab itulah, meski kini usia Goan-ci sudah 17 tahun dan putra seorang tokoh persilatan ternama, tapi ia tidak mempunyai kepandaian apa-apa, sastra tidak becus, silat juga tidak pintar. Setiap hari ia hanya ikut seorang anak buah ayahnya untuk belajar menangkap ular dan selalu keluyuran di lereng pegunungan.

Ketika paman dan ayahnya membunuh diri karena senjata mereka dirampas Siau Hong, kemudian ibunya juga bunuh diri menyusul sang suami dengan membenturkan kepala ke pilar, maka terpaksa Goan-ci yang sebatang kara terlunta-lunta di rantau.

Waktu pertempuran sengit di rumahnya itu, ia pun mengintip dari belakang pintu dan tahu musuhnya bernama “Kiau Hong”, wajahnya juga diingatnya dengan baik, ia dengar musuh itu adalah orang Cidan, maka tanpa terasa ia terus menuju ke utara, yang terpikir olehnya ialah ingin mencari Kiau Hong untuk menuntut balas. Dan cara bagaimana ia harus menuntut balas hal ini tidak pernah terpikir olehnya.

Ketika dia berkeliaran kian-kemari di perbatasan, akhirnya ia ikut tertawan oleh pasukan Cidan yang sedang “panen” itu dan secara kebetulan sekali bertemu dengan Siau Hong yang dicarinya.

Begitulah ia pikir, “Paling penting sekarang aku harus lekas pergi dari sini sejauhnya supaya tidak ditangkap kembali olehnya. Aku akan mencari seekor ular berbisa lagi dan diam-diam akan kutaruh di tempat tidurnya, bila dia tidur, tentu dia akan dipagut mampus. Dan no... nona cilik itu, ai, cantik sekali dia!”

Aneh, demi teringat wajah A Ci yang ayu itu, tanpa terasa timbul semacam rasa syur yang sukar dimengerti.

Hidup selama 17 tahun di dunia ini, baru pertama kali ini Goan-ci mempunyai perasaan yang aneh itu. Ia merasa bila membayangkan wajah si nona cilik yang putih kepucat-pucatan dan cantik molek itu, seketika hatinya merasa senang tak terhingga.

Karena sambil melamun, maka tahunya cuma jalan ke depan dengan langkah lebar hingga tidak lama ia sudah melewati serombongan pengungsi. Ia tidak kenal dengan pengungsi-pengungsi yang malang itu, ada di antaranya bermaksud baik dan suruh ia jalan bersama mereka, tapi ia tidak gubris pada tawaran orang, ia tetap berjalan terus ke arahnya sendiri.

Maka sesudah belasan li jauhnya, ia berada sendirian di padang rumput yang luas. Ia merasa perutnya berkeruyukan saking kelaparan. Ia coba celingukan kian-kemari untuk mencari sesuatu yang dapat dimakan, tapi di padang rumput itu melulu rumput dan salju belaka, pikirnya, “Bila aku jadi sapi atau kambing, tentu sekarang aku takkan kelaparan, aku akan dapat makan rumput dengan sekenyang-kenyangnya dan bila haus dapat minum air salju. Tapi, ah, menjadi sapi dan kambing juga tidak enak, setiap waktu mereka dapat disembelih, lebih baik aku tetap menjadi manusia saja walaupun kelaparan.”

Begitulah selagi ia berpikir yang tidak-tidak, tiba-tiba didengarnya suara derapan kuda, mendadak muncul tiga prajurit Cidan berkuda.

Ketika melihat dia, orang-orang Cidan itu bersorak gembira. Dan “sret”, mendadak sebuah tali laso menyambar dan tepat menjerat leher Goan-ci dengan erat.

Seketika Goan-ci merasa napas sesak, cepat ia hendak menarik tali itu. Tak terduga prajurit Cidan yang melempar laso itu lantas bersuit, tahu-tahu kudanya membedal hingga Goan-ci terseret jatuh terus ditarik pergi. Goan-ci hanya sempat menjerit beberapa kali, lalu tak dapat mengeluarkan suara lagi karena tenggorokannya tercekik oleh tali laso.

Khawatir buronannya mati terjerat, segera prajurit Cidan itu menghentikan kudanya. Maka dengan meronta-ronta Goan-ci merangkak bangun, dan baru sedikit ia menarik longgar jeratan laso, mendadak prajurit Cidan itu menarik pula sekuatnya sehingga Goan-ci terhuyung-huyung dan hampir jatuh tersungkur jatuh. Maka tertawalah ketiga prajurit Cidan itu dengan terbahak-bahak.

Kemudian prajurit Cidan itu berkata beberapa patah kepada Goan-ci, tapi pemuda itu tidak paham bahasa Cidan, ia hanya geleng-geleng kepala tanda tidak tahu.

Lalu prajurit Cidan itu memberi isyarat kepada kawan-kawannya. Cuma sekali ini kuda tidak dilarikan melainkan berjalan.

Ketiga prajurit Cidan itu menuju ke arah utara. Walaupun kuda mereka tidak dilarikan, tapi langkah kuda sudah tentu lebih lebar daripada langkah manusia. Dan untuk tidak sampai terseret, terpaksa Goan-ci mesti mengikuti dengan setengah berlari. Keruan hanya sebentar saja ia sudah megap-megap.

Ia lihat arah yang dituju prajurit-prajurit Cidan itu adalah jurusan Siau Hong pergi tadi. Keruan ia sangat ketakutan. Pikirnya, “Mulut keparat Kiau Hong itu ternyata mencla-mencle. Katanya aku dibebaskan, tapi diam-diam suruh orang menguber dan menangkap aku lagi. Dan sekali ini jiwaku pasti akan melayang!”

Waktu ditawan dalam “panen” tentara Cidan semula, ia telah dicampurkan di antara rombongan tawanan lain yang sebagian besar terdiri dari kaum wanita. Cara berjalan kaum wanita sudah tentu tidak terlalu cepat, maka ia dapat mengikut dengan tidak terlalu payah, hanya ketika hendak ditawan punggungnya kena dihantam sekali dengan punggung golok oleh orang Cidan, tempat yang diketuk itu sampai sekarang masih agak kesakitan.

Adapun sekarang untuk kedua kalinya ia tertawan, keadaannya menjadi berbeda. Ia setengah diseret dan terpaksa ikut berlari-lari hingga megap-megap, napasnya makin lama makin sesak. Tanah salju licin pula, berulang ia terpeleset jatuh. Dan setiap kali ia tergelincir, pasti tali laso menggurat satu jalur luka di lehernya hingga darah bercucuran.

Sedangkan prajurit melaso dia itu sedetik pun tidak pernah berhenti, ia tidak peduli mati-hidupnya Yu Goan-ci, pemuda itu diseret terus hingga sampai di kota Lamkhia.

Ketika masuk ke kota, antero badan Goan-ci sudah penuh darah hingga tidak berupa manusia lagi. Dalam keadaan begitu yang dia harap ialah lekas mati saja daripada tersiksa lebih lama.

Sesudah beberapa li lagi, ketiga prajurit Cidan itu menyeret Goan-ci masuk kota, akhirnya mereka menyeretnya ke dalam sebuah istana. Yang dilihat Goan-ci hanya lantai istana itu terdiri dari balok batu hijau semua, pilarnya besar, pintunya tinggi, ia tidak tahu istana apakah itu.

Tidak lama berhenti dalam istana itu, lalu prajurit Cidan itu menyeretnya pula ke suatu lapangan di samping istana. Mendadak prajurit itu bersuit terus kepit kudanya hingga binatang itu membedal cepat.

Sama sekali Goan-ci tidak menduga bahwa setiba di pekarangan itu mendadak orang akan melarikan kudanya lagi. Keruan baru dua-tiga langkah ia lari segera jatuh tersungkur.

Berulang-ulang prajurit Cidan itu bersuit pula hingga kudanya berlari lebih cepat, Yu Goan-ci juga terseret di tanah hingga berputar beberapa kali di pekarangan luas itu. Makin lama makin cepat derap kaki kuda dan makin cepat makin kencang Goan-ci terseret. Belasan bintara dan prajurit Cidan yang berada di situ juga ikut bersorak memberi semangat.

“Kiranya aku hendak diseret sampai mati!” demikian Goan-ci membatin.

Dan hanya sebentar saja, seantero badan Yu Goan-ci tambah babak belur lagi, jidatnya, kaki dan tangannya berulang-ulang membentur batu di tanah pekarangan itu hingga seluruh badan tiada satu tempat pun yang tak sakit.

Di tengah sorak-sorai prajurit-prajurit Cidan itu, tiba-tiba terselip suara tertawa kaum wanita yang nyaring merdu. Dalam keadaan tak sadar, sayup-sayup Goan-ci mendengar wanita itu berkata dengan tertawa, “Hahaha, layang-layang manusia ini mungkin sukar dinaikkan!”

“Wah, layang-layang manusia apa?” demikian Goan-ci membatin pula.

Tapi pada saat itu juga keadaan dirinya kontan memberi jawaban padanya. Ia merasa lehernya terjerat lebih erat, tubuhnya lantas terapung ke atas.

Ternyata maksud prajurit Cidan itu menyeretnya dengan melarikan kuda secepatnya, tujuannya adalah ingin menariknya dengan kencang hingga akhirnya tertarik naik ke udara, ia dianggap sebagai permainan layang-layang saja.

Dan begitu tubuh melayang di udara, lehernya terasa kesakitan hingga hampir saja membuatnya kelengar. Ia merasa hidung dan mulutnya penuh kemasukan angin hingga sukar bernapas. Ia dengar pula wanita itu lagi tepuk tangan dan tertawa, katanya, “Bagus, bagus! Layang-layang manusia benar-benar dapat dinaikkan!”

Waktu Goan-ci memandang ke arah suara itu, sekilas dilihatnya orang yang bertepuk tangan dan tertawa itu tak-lain-tak-bukan adalah si nona baju ungu yang cantik molek itu.

Mendadak tampak gadis yang pernah terbayang olehnya itu, Goan-ci tidak tahu apakah harus bergirang atau bersedih, karena tubuhnya sedang “terbang” di udara, maka ia pun tidak sempat banyak pikir.

Gadis jelita itu memang A Ci adanya.

Ketika Siau Hong membebaskan Yu Goan-ci, gadis itu merasa kurang senang. Sesudah melarikan kudanya tidak jauh, lalu ia pura-pura tertinggal di belakang dan diam-diam memberi perintah pada pengiringnya agar Yu Goan-ci ditangkap kembali, cuma ia pesan pula agar jangan sampai diketahui oleh Siau Hong.

Para pengiring tahu bahwa anak dara itu sangat disayang oleh Siau-tay-ong mereka, segala permintaannya pasti dituruti. Maka mereka tidak berani membantah perintahnya, segera pada suatu tikungan jalan, tatkala Siau Hong tidak menaruh perhatian, tiga orang di antaranya lantas putar balik untuk menangkap Goan-ci.

Setiba di rumah, diam-diam A Ci lantas datang ke istana Yu-seng-kiong untuk menunggu kembalinya para pengiring itu. Ketika Yu Goan-ci benar-benar sudah ditawan kembali, ia lantas tanya orang-orang Cidan di situ adakah sesuatu permainan menarik untuk menyiksa tawanannya itu.

Ada seorang di antaranya mengusulkan main “layang-layang manusia” saja. Dan usul itu diterima dengan baik oleh A Ci dan segera suruh melaksanakannya, benar juga Yu Goan-ci lantas dikerek ke udara sebagai layang-layang hidup.

Saking senangnya, berulang A Ci bersorak gembira, tiba-tiba ia berkata, “Coba, aku ingin memegang juga layang-layang hidup ini!”

Segera ia lompat dengan enteng ke atas kuda prajurit Cidan itu, ia pegang tali “layang-layang” itu dan si prajurit disuruh turun.

Sudah tentu prajurit Cidan itu menurut saja, ia lompat turun dari kudanya dan membiarkan A Ci main “layang-layang manusia” dengan sepuasnya.

Sambil menarik tali “layang-layang” A Ci larikan kudanya sekeliling sambil tertawa senang. Namun ia baru sembuh dari lukanya, betapa pun tenaganya masih terbatas, ketika tangan terasa pegal, ia tak bisa menguasai tali layang-layang pula. “Bluk”, mendadak Yu Goan-ci terbanting ke tanah dengan keras hingga batok kepalanya kebentur batu, keruan saja kepalanya bocor, kecap merah mancur keluar bagai mata air.

A Ci kurang senang karena permainannya putus setengah jalan, katanya dengan mendongkol, “Dasar badan anak busuk ini seperti babi beratnya!”

Dalam pada itu Yu Goan-ci hampir saja pingsan saking sakitnya karena terbanting dari atas, ditambah kepala bocor pula. Sudah begitu si gadis malah menyalahkan dia terlalu berat seperti babi, keruan ia sangat mendongkol. Mestinya ia ingin unjuk gigi dan balas memaki, tapi saking kesakitan ia jadi susah bicara.

Kemudian seorang prajurit Cidan mendekati dia untuk melepaskan laso di lehernya itu. Prajurit yang lain lantas merobek kain bajunya untuk membalut lukanya secara sembarangan, namun darah masih terus mengucur.

“Sudahlah! Ayo kita mulai main lagi! Coba ulur lebih panjang, kita naikkan dia lebih tinggi hingga di atas rumah!” demikian A Ci berkata.

Goan-ci tidak paham apa yang dikatakan anak dara itu, sebab bahasa yang digunakan olehnya adalah bahasa Cidan. Ia hanya melihat anak dara itu tuding-tuding ke atas rumah, ia menduga pasti takkan menguntungkan dirinya.

Benar juga, segera seorang prajurit Cidan menggunakan tali tadi untuk mengikat badannya di bawah bahu, jadi bukan lehernya lagi yang dijerat. Dan sekali membentak, segera prajurit itu larikan kudanya sambil berputar dengan cepat hingga badan Yu Goan-ci kembali melayang-layang di udara.

Makin lama tali yang dipegang prajurit itu makin terulur panjang dan lambat laun badan Yu Goan-ci juga makin terapung. Ketika tali itu tertarik sedemikian kencangnya hingga badan Yu Goan-ci seakan-akan menegak di atas penarik tali itu, mendadak si prajurit membentak terus lepas tangan. Keruan “layang-layang” Yu Goan-ci yang putus talinya seketika meluncur ke sana bagaikan anak panah lepas dari busurnya.

Serentak A Ci dan para prajurit Cidan bersorak-sorai dengan senang.

“Matilah aku sekali ini!” demikian keluh Goan-ci ketika merasa “terbang” ke angkasa. Waktu daya naiknya sudah mencapai titik baliknya, tanpa ampun lagi ia terjungkal ke bawah dengan kepala di bawah dan kaki di atas, ia “terjun” secepat elang menyambar ayam.

Waktu kepalanya sudah hampir membentur lantai batu, sekonyong-konyong empat prajurit Cidan mengayunkan laso masing-masing dan dengan tepat dapat menjerat pinggang Goan-ci, berbareng mereka menarik sekuatnya ke arah sendiri.

Seketika pingsan Goan-ci oleh tenaga betotan keempat orang itu. Dan karena tarikan demikian tubuh Goan-ci jadi tertahan di udara, jarak kepalanya dengan lantai hanya tinggal satu meter tingginya.

Permainan laso orang-orang Cidan itu sesungguhnya berbahaya sekali, asal salah seorang di antaranya terlambat sedikit mengayunkan lasonya atau sedikit telat menarik talinya hingga tarikan mereka tidak berimbang, pasti kepala Yu Goan-ci akan pecah kebentur lantai, andaikan kepala tidak pecah juga tulang leher pasti akan patah dan jiwa tetap melayang.

Begitulah di tengah sorak gembira orang banyak, keempat orang Cidan itu lantas menurunkan Goan-ci ke tanah. Segera A Ci memberi persen masing-masing sepuluh tahil perak kepada prajurit-prajurit Cidan itu. Sesudah mengaturkan terima kasih, segera mereka bertanya pula, “Apakah nona masih ingin acara permainan yang lain?”

Melihat Yu Goan-ci sudah tak sadarkan diri, entah hidup atau mati, pula waktu main “layang-layang” tadi ia pun terlalu banyak menggunakan tenaga hingga sekarang dada terasa agak sakit, maka ia menjawab, “Sudahlah, untuk hari ini sudah cukup. Jika bocah busuk ini tidak mampus, besok boleh dibawa kemari lagi, aku ingin mencari akal lain untuk mempermainkan dia. Orang ini hendak menyerang Siau-tay-ong, ia harus diberi hukuman yang setimpal.”

Para prajurit Cidan itu mengiakan, lalu mengundurkan diri.

Ketika Goan-ci siuman kembali, lebih dulu hidungnya mengendus semacam bau apak. Waktu ia membuka mata, ia tidak melihat apa-apa, yang terpikir olehnya adalah, “Apakah aku sudah mati?”

Tapi segera ia merasa sekujur badan sakit semua, tenggorokan kering sekali. Maklum, seseorang yang terlalu banyak mengeluarkan darah pasti akan merasa haus tak terhingga.

“Air... air....” demikian ia berseru dengan suara serak. Tapi siapa yang mau peduli padanya?

Ia berseru lagi beberapa kali dan akhirnya layap-layap tertidur. Tiba-tiba ia lihat sang paman dan ayahnya sedang bertempur sengit dengan Kiau Hong, begitu sengit pertarungan itu hingga terjadi banjir darah. Dilihatnya pula ibundanya yang penuh kasih itu memeluk dan menghiburnya agar jangan takut. Lalu muncul wajah A Ci yang cantik, kedua mata si gadis yang jeli itu lagi menatapnya dengan sinar mata yang aneh. Tiba-tiba wajah cantik itu menyurut menjadi kecil hingga berbentuk kepala ular berbisa dan hendak memagutnya.

Ia ingin lari, tapi sedikit pun tak bisa bergerak, ia meronta-ronta mati-matian, tapi tetap tak bisa berkutik. Sedangkan ular itu mulai menggigit tangannya, kakinya, lehernya, dan paling hebat adalah gigitan pada jidatnya hingga bonyok. Ia lihat daging di bagian tubuh itu sepotong demi sepotong digigit ular itu, ia ingin menjerit tapi tak dapat bersuara....

Rupanya ia sakit panas lantaran lukanya yang parah itu, maka mengigau dan mimpi buruk. Ia guling gelantang semalam suntuk. Pada waktu sadarnya tersiksa, dalam mimpi pun ia menderita.

Esok paginya waktu dua prajurit Cidan menggusurnya pergi menghadap A Ci, suhu panas badannya masih belum turun. Ia hanya melangkah satu tindak dan lantas jatuh terguling. Segera kedua prajurit Cidan memegangnya dari kanan-kiri, sambil memaki diseretnya ke dalam suatu ruangan yang besar.

“Aku hendak diseret ke mana? Apakah mereka akan memenggal kepalaku?” demikian pikir Goan-ci dalam keadaan setengah sadar.

Ia merasa dirinya diseret melalui dua serambi samping yang panjang, akhirnya sampai di luar suatu ruangan pendopo. Kedua prajurit itu melapor di luar pintu dan dari dalam lantas terdengar suara sahutnya seorang wanita. Ketika pintu dibuka, prajurit-prajurit itu lantas menyeretnya ke dalam.

Waktu Goan-ci mengangkat kepalanya, ia lihat di tengah ruangan itu tergelar selapis permadani yang sangat besar, di sudut permadani sana, di atas sebuah bantal sulaman sedang duduk seorang gadis jelita. Siapa lagi dia kalau bukan A Ci.

Gadis itu berkaki telanjang dan kakinya terletak di atas permadani.

Hati Goan-ci berdebar-debar demi tampak kaki si gadis yang mungil dan putih bersih sebagai salju, halus lemas sebagai sutra. Seketika pandangannya terpantek pada kaki A Ci itu. Lamat-lamat ia lihat beberapa jalur otot hijau tersirat dalam daging kaki yang putih bening seakan-akan tembus pandang itu. Sungguh ia ingin merabanya, ingin memegangnya sekali.

Dalam pada itu ia telah dilepaskan oleh pegangan kedua prajurit tadi hingga ia sempoyongan, tapi segera ia dapat berdiri tegak lagi, sedangkan sorot matanya tidak pernah meninggalkan kaki A Ci. Ia lihat kesepuluh jari kaki si gadis itu putih kemerah-merahan mirip sepuluh kelopak bunga yang mungil.

Sebaliknya dalam pandangan A Ci yang berada di depannya itu adalah seorang pemuda yang jelek lagi penuh darah. Tertampak muka pemuda itu berkerut-kerut beberapa kali, tulang pipinya menonjol, sinar matanya memancarkan sifat rakus dan buas.

A Ci jadi teringat kepada seekor serigala kelaparan yang terluka panah dalam perburuannya, serigala itu tidak terpanah mati, tapi terluka parah dan tak bisa berkutik, sinar mata serigala itu mirip seperti sinar mata Yu Goan-ci sekarang.

A Ci senang melihat sinar mata yang buas dan liar ini, ia suka mendengarkan pekik lengking serigala yang ganas tapi tak berdaya itu. Namun sayang, Yu Goan-ci baginya terlalu lemah, sedikit pun tidak mengadakan perlawanan, jauh untuk bisa merangsang perasaannya.

Kemarin waktu pemuda itu menyerang Siau Hong dengan ular berbisa dan gagal, ia tidak sudi berlutut dan menyembah kepada Siau Hong, cara bicaranya ketus, sikapnya keras, tidak sudi terima uang dari Siau Hong pula. Hal mana sangat menyenangkan A Ci, gadis itu senang melihat orang kepala batu. Ia pikir inilah seekor binatang buas yang sangat lihai. Maka ia ingin menyiksanya, ingin membuatnya sekujur badan babak belur agar dapat menimbulkan sifat liarnya dan supaya “binatang” itu kalap dan menubruknya dan hendak menggigitnya. Sudah tentu gigitan tidak boleh sampai kena.

Akan tetapi ia jadi kecewa ketika menggunakannya sebagai “layang-layang” dan menaikkannya ke angkasa, “binatang” itu ternyata tidak mengadakan perlawanan sama sekali, hal ini kurang menarik baginya....

Begitulah A Ci berkerut kening untuk memikirkan dengan cara bagaimana akan mempermainkan “binatang liar” itu.

Mendadak Yu Goan-ci mengeluarkan suara “uh-uh-uh”, dan entah dari mana datangnya tenaga sekonyong-konyong ia menubruk ke arah kaki A Ci setangkas macan tutul. Tapi ia tidak menubruk orangnya, melainkan kedua kakinya. Ia terus rangkul betis anak dara itu, lalu menunduk dan menciumi betis yang putih itu.

Keruan A Ci menjerit kaget. Cepat dua prajurit Cidan dan empat dayang yang melayani di samping A Ci membentak-bentak. Segera prajurit itu pun memburu maju untuk menarik Goan-ci.

Namun mati-matian Goan-ci merangkul kaki A Ci, betapa pun ia tidak mau lepas. Ketika prajurit Cidan itu menarik sekuatnya, tahu-tahu A Ci ikut terseret jatuh dan terduduk di atas permadani.

Prajurit Cidan itu terperanjat dan gusar pula. Mereka tidak berani menarik lagi, tapi seorang di antaranya lantas menggebuki punggung Yu Goan-ci dan seorang lagi menempeleng mukanya.

Luka di badan Yu Goan-ci telah infeksi hingga menjadikan dia sakit panas dan pikiran tidak sadar, ia sudah mirip orang gila, segala apa yang dihadapi dan dialami sudah tidak terasakan lagi. Ia hanya memeluk betis A Ci seerat-eratnya dan mencium dengan bernafsu.

A Ci merasa bibir orang yang panas dan kering itu sedang mencium dan menjilat kakinya. Ia merasa takut, tapi merasa geli-geli gatal aneh pula. Sekonyong-konyong ia menjerit, “Aduh! Jari kakiku digigit!”

Lekas ia berseru kepada prajurit itu, “Lekas kalian menyingkir dulu, orang ini sudah gila, jangan-jangan jari kakiku akan putus digigit olehnya. Aduh!”

Padahal Yu Goan-ci tidak menggigit melainkan cuma mencucup saja. Meski tidak sakit, namun A Ci khawatir mendadak orang menggigitnya, dalam keadaan begitu, ia tahu tidak boleh pakai kekerasan, ia khawatir prajurit Cidan itu menggebuk dan menghajarnya lagi, dan sekali pemuda itu kalap, mungkin jari kakinya bisa tergigit putus.

Karena tak berdaya sama sekali, terpaksa prajurit-prajurit itu lepas tangan dan mundur.

Lalu A Ci berkata kepada Goan-ci, “Lekas lepaskan kakiku dan jiwamu akan kuampuni, kau akan kubebaskan!”

Namun pikiran Goan-ci saat itu kurang waras, ia tidak gubris apa yang dikatakan itu.

Seorang prajurit sudah siap melolos golok dan bermaksud membacok kepala pemuda kalap itu. Tapi kaki A Ci masih dipeluknya dengan erat, ia khawatir juga bila bacokannya akan melukai A Ci, sebab itulah ia merasa ragu.

Maka A Ci berkata pula, “Hei, kau bukan binatang (padahal tadi ia anggap orang sebagai binatang), mengapa menggigit orang? Lekas buka mulutmu, akan kusuruh orang mengobati lukamu dan membebaskanmu pulang ke Tionggoan!”

Tapi Goan-ci tetap tidak peduli, ia tidak menggigit sungguhan, hanya setengah mencucup, sedangkan tangannya meraba-raba betis dan kaki yang putih merangsang itu. Perasaannya terombang-ambing, semangatnya seakan-akan terbang ke awang-awang, ia merasa seperti menjadi “layang-layang manusia” lagi dan terapung di angkasa bebas.

Mendadak seorang prajurit Cidan mendapat akal, cepat ia cekik leher Goan-ci sekuatnya.

Karena leher tercekik, tanpa terasa Goan-ci membuka mulutnya. Cepat A Ci menarik kembali kakinya dan berbangkit, ia khawatir kalau orang menjadi kalap dan menggigitnya lagi, maka kedua kakinya disurutkan ke belakang bangku berbantal sulam yang dibuat duduk itu.

Sesudah Goan-ci dipisahkan dari A Ci oleh prajurit Cidan tadi, segera prajurit lain menghujani bogem mentah pada muka dan dada pemuda itu hingga darah segar menyembur dari mulutnya, sampai permadani yang indah itu ikut ternoda.

“Berhenti! Jangan menghajarnya lagi!” kata A Ci.

Sesudah kejadian barusan ia merasa anak muda ini tidak terlalu mengecewakan sebagaimana disangkanya tadi. Dalam permainan tertentu mungkin akan cukup merangsang baginya. Maka seketika ia tidak ingin membinasakan pemuda itu.

Setelah prajurit-prajurit itu tidak menghajar Goan-ci lagi, lalu A Ci duduk bersimpuh di atas bangku berbantal sulamannya itu dengan melipat kakinya yang telanjang.

Diam-diam ia pikirkan cara bagaimana agar bisa menyiksanya lagi agar pemuda itu mengamuk bagai binatang.

Ketika ia angkat kepala, tiba-tiba dilihatnya Yu Goan-ci lagi memandangnya dengan sorot mata melekat. Segera ia menegurnya, “Mengapa kau memandang padaku?”

Goan-ci sudah tidak pusingkan mati-hidup sendiri lagi, segera ia menjawab, “Kau cantik, aku suka memandang padamu!”

Muka A Ci menjadi merah. Katanya di dalam hati, “Besar amat nyali bocah ini, berani bicara padaku secara kurang ajar begini?”

Selama hidup A Ci belum pernah dipuji secara terang-terangan oleh seorang pemuda. Waktu dia belajar silat dalam perguruan Sing-siok-pay, para suhengnya menganggapnya sebagai seorang dara cilik yang nakal. Ketika tinggal bersama Siau Hong, kalau bukan khawatir dia main gila, tentu Siau Hong khawatir dia meninggal. Selamanya tiada seorang pun memerhatikan apakah dia cantik atau jelek.

Tapi kini secara terus terang Goan-ci memujinya, mau tak mau timbul juga rasa senang dalam hati A Ci. Pikirnya, “Biarlah kubiarkan dia tinggal di sini, bila iseng dapat kupermainkan dia sekadar pelipur hati. Tapi Cihu pernah menyatakan membebaskan dia, kalau dia tahu aku menawannya lagi, pasti Cihu akan marah. Dan cara bagaimanakah supaya Cihu takkan mengetahui hal ini? Aku bisa melarang siapa pun agar tidak memberitahukan kepada Cihu, tetapi kalau suatu waktu mendadak Cihu datang kemari dan melihatnya, lantas bagaimana?”

Ia merenung sebentar, tiba-tiba ia ingat pada tacinya, yaitu si A Cu yang pandai menyaru itu. Kalau sekarang aku pun suruh bocah ini menyaru, tentu Cihu takkan dapat mengenalnya. Akan tetapi bila suatu ketika ia mencuci muka dan menghilangkan penyamarannya, tetap ada kemungkinan akan diketahui oleh Cihu.

Begitulah alis A Ci yang lentik itu makin terkerut makin rapat. Akhirnya ia dapat suatu akal. Tiba-tiba ia bertepuk tangan sambil berseru dengan tertawa, “Hah, akal bagus! Akal baik!”

Segera ia bicara dalam bahasa Cidan kepada kedua prajurit tadi. Rupanya prajurit-prajurit itu kurang paham, mereka mohon penjelasan lebih lanjut. Dan setelah A Ci memberi petunjuk pula, lalu ia suruh dayang mengeluarkan tiga puluh tahil perak dan diserahkan kepada prajurit-prajurit itu.

Setelah menerima uang, kedua prajurit itu memberi hormat, lalu Yu Goan-ci diseretnya pergi.

“Aku ingin memandang dia, aku ingin memandang nona cantik yang berhati kejam itu!” demikian Goan-ci berteriak-teriak.

Ia berteriak-teriak dalam bahasa Han, sudah tentu para prajurit dan dayang tidak paham artinya. A Ci hanya memandangi dia diseret pergi dengan tersenyum simpul, teringat akalnya yang cerdik itu, semakin dipikir semakin senang dan puas.

Sementara itu Yu Goan-ci telah digusur kembali ke kamar tahanannya yang berbau apak itu. Petangnya, ada orang mengantarkan semangkuk daging kambing dan beberapa potong kue buatan dari tepung terigu. Tapi sakit panas Goan-ci belum reda, ia masih mengigau tak keruan hingga pengantar makanan itu lari ketakutan setelah menaruh makanan yang dibawanya itu.

Dalam keadaan begitu, Goan-ci tidak merasakan kelaparan lagi, hingga makanan itu sama sekali tak tersentuh olehnya.

Malamnya, tiba-tiba datang tiga orang Cidan. Walaupun dalam keadaan sadar tak sadar, namun lamat-lamat Goan-ci dapat merasakan pasti takkan menguntungkan dirinya. Segera ia meronta-ronta dan ingin merangkak keluar dan melarikan diri. Tapi dua orang di antaranya lantas membekuk dia di tanah, lalu dibalik hingga telentang.

Dengan suara serak Goan-ci mencaci maki, “Anjing Cidan, terkutuklah kalian, akan kucencang kalian!”

Tiba-tiba dilihatnya orang Cidan ketiga membawa setangkup benda putih, seperti kapas dan mirip salju. Mendadak benda putih itu diuruk ke atas mukanya. Seketika Goan-ci merasa mukanya basah dingin, pikirannya menjadi jernih sedikit, tapi napasnya menjadi sesak.

“Hah, kiranya mereka hendak membunuh aku dengan menutup jalan pernapasanku!” demikian ia membatin.

Tapi dugaannya lantas terbukti salah. Sebab lubang hidung dan mulutnya lantas dibolongi orang hingga dapat bernapas, tinggal matanya saja yang tak bisa terbuka. Ia merasa mukanya seperti dipijat-pijat orang. Saat itu mukanya seperti tertutup oleh selapis tepung adukan atau tanah liat yang lunak dan licin.

Selama dua hari ini ia sudah kenyang derita, ia tidak merasa heran bila sekarang orang hendak menyiksanya pula dengan sesuatu cara yang aneh.

Selang sejenak, ia merasa lapisan benda yang lunak di mukanya itu dikelotok, disingkap orang dengan perlahan. Waktu ia buka mata, kini dapat dilihatnya benda itu adalah selapis adukan tepung terigu yang liat dan kini telah menjadi sebuah cetakan yang sesuai dengan raut mukanya.

Dengan hati-hati orang Cidan itu memegang cetakan dari tepung itu, khawatir rusak. Segera Goan-ci mencaci maki pula, tapi orang-orang Cidan itu tidak peduli, mereka lantas tinggal pergi.

Diam-diam Goan-ci pikir, “Ah, tentu mereka telah memoles sesuatu obat racun di mukaku, sehingga sebentar lagi pasti mukaku akan membusuk hingga rusak seperti muka setan....”

Begitulah makin dipikir makin khawatir, katanya dalam hati, “Daripada aku mati tersiksa begini, lebih baik aku bunuh diri saja!”

Maka ia lantas benturkan kepalanya ke dinding, “blang”, kepalanya benjut dan orangnya roboh, tapi sial baginya, ia tidak mati, hanya setengah mati.

Mendengar suara benturan itu, penjaga di luar lantas memburu masuk ke dalam kamar tahanan untuk mengikat kaki tangannya. Memangnya Goan-ci sudah menggeletak tak bisa berkutik, maka ia pun masa bodoh diperlakukan orang sesukanya.

Lewat beberapa hari, mukanya ternyata tidak sakit, bahkan juga tidak membusuk segala. Namun ia sudah bertekad ingin mati, biarpun kelaparan sama sekali ia tidak sudi makan segala makanan yang diantarkan padanya.

Sampai hari kelima, ketiga orang Cidan itu datang lagi dan menyeretnya keluar. Dalam derita sengsara Yu Goan-ci itu sebaliknya timbul sesuatu harapan pula. Ia pikir kalau A Ci yang menyuruh mereka menggusur dia untuk disiksa dan dihajar, biarpun badan akan menderita lebih hebat, namun bila dapat melihat wajah si nona yang cantik itu, betapa pun ia merasa puas.

Karena itulah pada air mukanya lantas tersimpul senyuman getir.

Tapi ketiga orang Cidan itu ternyata tidak membawanya menghadap A Ci, sebaliknya menyeretnya ke dalam sebuah kamar yang gelap. Sesudah menuruni sebuah undak-undakan batu yang panjang, akhirnya sampai di suatu ruangan, di mana tertampak api menganga menerangi ruangan itu, seorang pandai besi dengan badan telanjang hingga kelihatan otot dagingnya yang menonjol kuat berdiri di tepi sebuah talenan besi yang besar, pada tangannya memegang sebuah benda kehitam-hitaman dan lagi diperiksa dengan teliti.

Ketika Goan-ci digusur sampai di depan pandai besi itu, segera dua orang di antaranya memegang kedua tangannya, seorang lagi mencengkeram tengkuknya. Lalu si pandai besi mulai mengamat-amati mukanya dari depan dan dari samping, kemudian mengamat-amati benda hitam yang dipegangnya itu seperti lagi ditimbang dan dibandingkan.

Waktu Goan-ci memerhatikan benda yang dipegang si pandai besi itu, kiranya benda itu adalah sebuah topeng besi. Topeng itu terdapat lubang-lubang hidung, mata, dan mulut.

Selagi Goan-ci tidak tahu apa gunanya besi itu, mendadak si pandai besi mengangkat topeng itu terus mengerudung mukanya. Dengan sendirinya Goan-ci bermaksud mengelak dengan mendongak ke belakang. Tapi celaka, tengkuknya telah dipegang orang hingga tak bisa menghindar, akhirnya topeng besi itu tepat menutup mukanya. Seketika ia merasa mukanya dingin segar, kulit mukanya melekat dengan topeng besi itu.

Tapi aneh juga, bentuk topeng itu ternyata pas sekali dengan raut mukanya, seperti barang pesanan saja.

Goan-ci bukan anak bodoh, rasa herannya itu cuma sekejap saja, segera ia tahu duduknya perkara. Sekonyong-konyong ia merasa ngeri, “Hah, topeng ini memang sengaja dibuat untukku. Tempo hari mereka telah mencetak mukaku dengan adukan tepung, tujuannya ialah untuk dipakai sebagai model pembuatan topeng ini. Untuk apakah mereka sengaja membuat topeng besi ini? Jangan-jangan... jangan-jangan....”

Dalam hati ia sudah dapat menerka maksud jahat orang-orang Cidan itu, tapi sebenarnya apa sebabnya, itulah dia tidak tahu, ia pun tidak berani berpikir lagi, maka ia meronta-ronta sekuat tenaga, mati-matian ia berusaha melarikan diri. Tapi ia dipegang oleh tiga orang dengan kuat sehingga tidak bisa berbuat apa-apa.

Kemudian pandai besi itu melepaskan topeng itu, ia mengangguk-angguk dengan rasa puas. Lalu ambil sebuah tanggam besi besar, ia jepit topeng itu dan dimasukkan ke dalam tungku, sesudah topeng terbakar hingga merah, lalu dikeluarkannya untuk digembleng lagi.

Setelah menggembleng sebentar, lalu ia pegang dan raba batok kepala Goan-ci serta tulang pipinya untuk membetulkan bagian yang kurang pas dari topeng itu.

Segera Goan-ci berteriak-teriak memaki, “Anjing Cidan terkutuk, perbuatan jahat apa yang hendak kalian lakukan lagi? Begini kejam tanpa perikemanusiaan, kelak kalian pasti akan masuk neraka, kalian akan digodok dalam minyak mendidih dan dibakar di lautan api!”

Ia memaki dalam bahasa Tionghoa, sudah tentu orang-orang Cidan tidak paham maksudnya. Tapi karena teriakannya itu, si pandai besi mendadak menoleh dan melotot padanya. Lalu ia angkat tanggam besi yang terbakar merah itu dan mencolok ke matanya.

Saking ketakutan hingga Yu Goan-ci cuma terbelalak dan mulut ternganga, untuk menghindar jelas tidak mungkin lantaran dari belakang ia dipegang tiga orang Cidan.

Dan si pandai besi itu ternyata melulu menakut-nakuti dia saja. Melihat Goan-ci ketakutan setengah mati, ia terkekeh-kekeh dan menarik kembali tanggamnya. Lalu ia ambil lagi sepotong besi melengkung untuk mengukur belakang kepala Yu Goan-ci. Sesudah dipukul dan digembleng hingga plat besi yang lekuk itu pas betul, kemudian topeng tadi dan separuh topeng bagian belakang yang baru ini dibakar pula dalam tungku.

Ketika topeng besi itu sudah merah terbakar, pandai besi itu berkata beberapa patah kepada ketiga orang Cidan tadi. Segera Goan-ci digotong untuk direbahkan di atas sebuah meja, tapi kepalanya terjuntai di luar tepian meja. Lalu dua orang Cidan yang lain maju membantu, sekuat tenaga mereka jambak rambut Goan-ci hingga kepala pemuda itu tak bisa bergerak sama sekali.

Dalam pada itu si pandai besi sudah mengeluarkan topeng yang terbakar merah membara itu. Ia berhenti sebentar agar topeng itu agak mendingin. Habis itu mendadak ia membentak sekali, topeng terus dipasang pada muka Yu Goan-ci.

Kontan saja asap putih mengepul dengan bau sangit daging hangus. Goan-ci menjerit ngeri, seketika orangnya semaput.

Kemudian pandai besi itu mengangkat belahan topeng bagian belakang dan dipasangkan pula di belakang kepala Yu Goan-ci. Dua belahan topeng itu kini terpasang dengan rapat di kepalanya. Topeng itu masih sangat panas, begitu menyentuh kulit daging, seketika terbakar bonyok.

Pandai besi itu adalah tukang nomor satu di kota Yankhia, kedua tangkupan topeng buatannya itu ternyata pas sekali dan menutup dengan rapi.

Bagaikan tersiksa di neraka, Yu Goan-ci sendiri tidak tahu sudah lewat berapa lama. Ketika perlahan ia siuman kembali, ia merasa muka dan belakang kepalanya sangat kesakitan. Saking tak tahan, kembali ia pingsan lagi.

Begitulah ia pingsan dan pingsan lagi hingga berulang tiga kali. Ketika akhirnya ia siuman pula, ia berteriak-teriak sekeras-kerasnya, tapi telinga sama sekali tidak mendengar suara teriakan sendiri. Semula ia menyangka dirinya sudah tuli, tapi sesudah berkaok-kaok pula hingga tenggorokan terasa bejat, akhirnya ia baru tahu bahwa pada hakikatnya ia tak bisa mengeluarkan suara.

Tatkala pingsan, ia telah diseret kembali ke kamar tahanannya. Ia rebah tanpa berkutik di tanah, ia mengertak gigi untuk menahan rasa sakit di sekeliling kepala dan mukanya.

Kira-kira dua-tiga jam kemudian, ketika ia coba meraba muka sendiri, maka jelas terbukti bahwa dugaannya ternyata tidak salah sedikit pun. Topeng besi itu sudah mengerudung rapat di atas kepalanya. Dalam murkanya, ia membetot dan menarik topeng besi itu sekuatnya, tapi tangkupan topeng itu sudah saling gigit dengan kencang sekali, mana ia dapat membukanya?

Dalam keadaan murka dan akhirnya menjadi putus asa, tak tertahan lagi ia menangis sedih, air mata bercucuran bagai hujan, tapi suara tangisannya hampir-hampir tak terdengar.

Untung usia Yu Goan-ci masih muda, meski jasmaniah tersiksa sehebat itu, tapi tidak sampai mati, ia masih tahan. Bahkan beberapa hari kemudian, perlahan lukanya mulai sembuh, rasa sakitnya juga makin berkurang. Akhirnya, oh, lapar juga dia. Dan ketika mengendus bau daging kambing dan kue yang diantarkan untuknya, ia tidak tahan lagi, terus saja dimakannya dengan lahap.

Sudah tentu mulutnya tak bisa mengunyah, jadi makannya terpaksa mesti main jejal saja, asal masuk. Dan sekali perutnya kemasukan makanan, lukanya menjadi lebih cepat sembuh dan kesehatan pun lekas pulih.

Kini ia dapat meraba topeng besi itu, ia tahu buah kepala sendiri sudah tertutup rapat oleh kedua tangkup topeng besi dan tidak mungkin dibuka lagi. Ia tidak tahu apa maksud tujuan anjing-anjing Cidan itu menutup kepalanya dengan topeng? Ia sangka segala apa itu tentu atas perintah Siau Hong. Sudah tentu betapa pun ia tidak menduga bahwa sebabnya A Ci memberi topeng padanya, tujuannya justru ingin mengelabui Siau Hong.

Apa yang berlangsung itu dilaksanakan Kapten Sili atas suruhan A Ci. Setiap hari A Ci selalu tanya Sili tentang gerak-gerik Yu Goan-ci setelah pakai topeng besi itu. Semula ia khawatir pemuda itu akan mati hingga gagal segala rencananya. Kemudian ia jadi girang ketika mendapat tahu bahwa kesehatan Goan-ci makin hari makin kuat.

Dalam pada itu Siau Hong lagi dinas inspeksi ke luar kota, A Ci perintahkan Sili membawa Yu Goan-ci menghadap padanya, ia ingin tahu bagaimana bentuk pemuda itu sesudah memakai topeng besi. Ia tunggu di ruang samping istana “Toan-hok-kiong”. Tidak lama kemudian datanglah Kapten Sili bersama tiga prajurit Cidan dengan membawa Yu Goan-ci.

Melihat bentuk Yu Goan-ci itu, sungguh senang A Ci tak terkatakan. Ia pikir, dengan memakai topeng seperti itu, biarpun sang cihu berdiri berhadapan juga takkan kenal pemuda itu. Segera ia berkata, “Sili, topeng ini sangat bagus buatannya, boleh kasih persen lagi 50 tahil perak kepada pandai besi itu.”

“Ya, terima kasih, Kuncu!” sahut Sili.

Kiranya Yalu Hungki sengaja hendak membikin senang Siau Hong, maka A Ci telah dianugerahi gelar Tuan Putri “Toan-hok Kuncu”. Dan istana Toan-hok-kiong itu adalah anugerah juga dari raja.

Dalam pada itu Yu Goan-ci telah melangkah maju dua tindak, dari lubang topeng itu ia dapat melihat muka A Ci yang berseri-seri, elok tak terhingga. Suara si gadis juga nyaring merdu enak didengar. Hati Goan-ci berdebar-debar, dengan ketolol-tololan ia pandang gadis itu tanpa berkedip.

Meski bentuk muka Yu Goan-ci menjadi aneh lantaran memakai topeng besi, tapi A Ci dapat melihat bahwa pemuda itu lagi menatapnya dengan mata tak berkedip. Segera ia menegurnya, “Hei, anak tolol, kenapa kau pandang aku cara begini?”

“Aku... aku... aku tidak tahu,” sahut Goan-ci.

“Enak tidak rasanya memakai topeng itu?” tanya A Ci.

“Kau kira enak atau tidak?” Goan-ci berbalik tanya.

A Ci mengikik tawa. Ia lihat bagian mulut topeng itu hanya berwujud satu celah yang sempit dan tiba cukup untuk minum dan makan saja, untuk menggigit jari kaki terang tidak dapat lagi. Maka dengan tertawa katanya pula, “Aku sengaja memasang topeng pada mukamu supaya kau tidak dapat menggigitku untuk selamanya.”

Seketika Goan-ci bergirang, tanyanya cepat, “Apakah nona ber... maksud membiarkan... membiarkan aku selalu melayani di samping nona?”

“Cis, kau anak busuk ini bukan manusia baik-baik,” semprot A Ci. “Berada di sampingku tentu senantiasa akan kau cari jalan untuk mencelakai aku, mana boleh jadi?”

“Tidak, ti... tidak! Aku pasti... pasti takkan membikin susah nona,” sahut Goan-ci dengan tergagap-gagap. “Musuhku hanyalah Kiau Hong seorang!”

“Kau ingin membunuh cihuku, bukankah sama dengan membikin susah padaku? Apa bedanya?” kata A Ci.

Mendengar itu, entah mengapa, rasa hati Goan-ci menjadi kecut hingga tak bisa menjawab lagi.

“Huh, kau hendak membunuh cihuku, itu namanya lebih sulit daripada naik ke langit,” kata A Ci pula dengan tertawa. “He, anak tolol, kau ingin mati atau tidak?”

“Sudah tentu aku tidak ingin mati,” sahut Goan-ci. “Tapi sekarang kepalaku terpasang benda seperti ini sehingga tidak mirip manusia dan lebih mirip setan, tidak banyak bedanya daripada mati.”

“Jika kau lebih suka mati, boleh juga, akan kupenuhi harapanmu, cuma aku takkan membiarkan kau mati dengan begitu saja,” kata A Ci. Lalu ia berpaling kepada Kapten Sili dan memberi perintah, “Seret dia keluar, penggal dulu sebelah tangannya!”

Sili mengiakan terus hendak menarik Goan-ci.

Keruan pemuda itu ketakutan, cepat ia berteriak, “He, tidak, tidak nona! Aku tidak ingin mati, jangan... jangan kau penggal sebelah tanganku!”

“Sekali aku sudah berkata, susah untuk ditarik kembali, kecuali... ya, kecuali kalau kau berlutut dan menyembah padaku,” kata A Ci dengan tersenyum.

Selagi Goan-ci ragu-ragu, sementara itu Sili telah menariknya pula. Goan-ci tidak berani ayal lagi, cepat ia tekuk lutut dan menyembah, “trang”, mendadak topeng besi membentur lantai.

A Ci terkikik senang, katanya, “Selamanya aku tidak pernah mendengar suara orang menyembah semerdu itu. Eh, coba menjura beberapa kali lagi.”

Walaupun Goan-ci seorang pemuda serbakepalang-tanggung dalam ilmu sastra dan silat, serbasetengah-setengah dan tidak jadi, tapi jelek-jelek ia adalah seorang siaucengcu, seorang tuan muda dari Cip-hian-ceng, biasanya ia disanjung puja oleh setiap orang. Sejak kecil ia sangat dimanja oleh orang tua, sebab ia adalah putra satu-satunya, sudah tentu ia tidak pernah tersiksa dan dihina seperti sekarang ini.

Semula waktu menemukan Siau Hong, ia masih memiliki semangat jantan yang tak terpatahkan, biar mati juga tidak takut. Tapi selama beberapa hari ini ia telah mengalami pukulan hebat, baik jasmani maupun rohani, semangat jantannya yang menyala-nyala itu tanpa terasa surut dan hilang tak berbekas lagi.

Maka demi si A Ci menyatakan hendak memotong lengannya kecuali kalau dia mau menyembah, tanpa pikir ia berlutut dan menyembah. Dan ketika A Ci menyatakan suara benturan topengnya itu enak didengar, terus saja ia menjura berulang-ulang sehingga terdengar suara “tang-tang-tang” yang nyaring.

“Wah, bagus sekali!” demikian kata A Ci dengan tertawa. “Untuk selanjutnya kau harus tunduk kepada perintahku, sedikit pun tidak boleh membangkang, tahu? Kalau membangkang, huh, setiap waktu juga akan kupenggal lenganmu. Nah, ingat tidak?”

“Ya, ya!” cepat Goan-ci menyahut.

“Apakah kau tahu sebabnya aku memasang topeng besi pada mukamu?” tanya A Ci pula.

“Tidak, aku justru ingin tahu,” kata Goan-ci.

“Kau ini sungguh kelewat goblok, telah kuselamatkan jiwamu, tapi kau malah tidak tahu dan tidak berterima kasih padaku,” ujar A Ci. “Apakah kau tidak tahu bahwa Siau-tay-ong hendak mencacahmu hingga luluh, benar-benar kau tidak tahu?”

“Dia adalah pembunuh orang tuaku, sudah tentu ia pun takkan membiarkan aku hidup,” sahut Goan-ci.

“Beliau pura-pura membebaskan kau, tapi diam-diam memerintahkan orang untuk menangkapmu kembali dan suruh mencencangmu hingga menjadi bakso,” demikian A Ci sengaja menakut-nakuti. “Tapi untung kau ketemu aku. Karena melihatmu bocah busuk ini tidak terlalu jelek, kalau dibunuh agak sayang juga rasanya, maka diam-diam aku menyembunyikanmu. Namun demikian, bila pada suatu ketika secara kebetulan Siau-tay-ong datang kemari dan pergoki dirimu, tentu jiwamu tetap akan melayang dan bahkan aku pun ikut tersangkut.”

Tiba-tiba Goan-ci sadar oleh duduknya perkara, ia berseru, “Ah, kiranya nona sengaja menyuruh membuatkan topeng besi ini untukku, sebenarnya maksudnya baik demi untuk menyelamatkan jiwaku supaya tidak dikenal musuh besarku itu. Sungguh aku... aku sangat berterima kasih, sangat ber... berterima kasih.”

Sesudah mempermainkan orang, bahkan orang merasa terima kasih malah, A Ci menjadi senang tak terkatakan. Dengan tersenyum ia berkata lagi, “Nah, makanya lain kali bila bertemu dengan Siau-tay-ong, janganlah sekali-kali kau buka suara agar tidak dikenali beliau. Bila sampai dikenali olehnya, hm, pasti celakalah kau. Nih, lihat! Sekali lengan kirimu ditarik dan ‘cret’, kontan lenganmu lantas putus dan sekali betot pula seketika lenganmu yang lain akan berpisah dengan tubuhmu. Nah, ingat baik pesanku ini.”

“Sili, coba bawa pergi dia, beri pakaian orang Cidan, sikat dan mandikan dulu badannya, idiiih baunya!”

Kapten Sili mengiakan dan membawa pergi Yu Goan-ci.

Tidak lama kemudian pemuda itu dibawa kembali oleh Sili. A Ci lihat pemuda itu sudah berganti pakaian orang Cidan. Untuk menyenangkan hati A Ci, sengaja Sili mendandani Goan-ci hingga topengnya berwarna-warni mirip badut sirkus.

“Hihihihi, kau mirip benar seperti seorang badut,” kata A Ci dengan terkikik-kikik geli. “Eh, ya, akan kuberi suatu nama padamu. Namamu adalah... adalah badut, ya, badut besi, inilah namamu. Selanjutnya kalau aku memanggil badut besi, maka kau harus cepat menjawab tahu? Nah, badut!”

“Sayaaa!” cepat Goan-ci menjawab.

Senang sekali A Ci. Ia merasa mendapatkan suatu hiburan yang paling menggembirakan.

Tiba-tiba ia teringat sesuatu, segera ia berkata, “Sili, bukankah dari negeri Tay-sip (sekarang negeri Arab) ada antaran hadiah seekor singa besar? Nah, bawa kemari singa itu bersama pawangnya, panggil pula belasan orang pengawal kemari!”

Kapten Sili segera meneruskan perintah itu. Maka hanya sebentar saja 16 orang pengawal dengan membawa tombak masuk ke dalam istana, mereka memberi hormat kepada A Ci, lalu membalik tubuh, 16 tombak mereka siap menjaga sang putri.

Tidak berapa lama, tiba-tiba terdengar suara auman singa, delapan laki-laki kekar menggotong datang sebuah kerangkeng besi besar. Di dalam kerangkeng tampak seekor singa jantan sedang berputar kian kemari, bulu lehernya panjang lebat, kuku cakarnya tajam, tampaknya sangat galak. Di depan kerangkeng mendahului berjalan seorang penjinak singa dengan memegang cambuk kulit.

Dengan girang A Ci berkata kepada Yu Goan-ci, “He, badut besi, aku ingin menjajal sesuatu, ingin kulihat kau tunduk kepada perintahku atau tidak.”

Tanpa pikir Goan-ci mengiakan. Tapi perasaannya sudah mendebur demi melihat singa jantan yang gagah dan galak itu.

Maka terdengar A Ci berkata pula, “Sejak kau pakai topeng itu, aku tidak tahu apakah topeng besi itu terpasang kukuh atau tidak di atas kepalamu. Maka cobalah julurkan kepalamu ke dalam kerangkeng dan membiarkan singa itu menggigit, ingin kulihat apakah binatang itu mampu menggigit hancur topengmu atau tidak.”

Keruan Goan-ci terperanjat, cepat serunya, “He, ini... ini jangan dicoba. Kalau topeng hancur, tentu kepalaku....”

“Sungguh tak berguna kau menjadi manusia,” kata A Ci dengan kurang senang. “Masakah soal kecil ini juga ketakutan. Seorang laki-laki sejati harus pandang mati seperti pulang, tahu? Apalagi kukira topengmu juga takkan hancur digigit singa.”

“Nona, urusan ini tidak boleh dibuat main-main,” kata Goan-ci pula. “Andaikan topeng ini takkan hancur, tapi kalau digigit hingga gepeng, wah, tentu kepalaku....”

“Hihihi, paling-paling kepalamu akan ikut gepeng saja, apanya sih yang kau ributkan?” demikian A Ci memotong dengan tertawa. “Ai, kau anak busuk ini memang suka rewel, dasar mukamu memang juga jelek, andaikan kepalamu nanti penjol toh tetap terbungkus di dalam topeng, masakah orang bisa tahu?”

“Aku tidak....”

“Kau tidak mau menurut? Baik, Sili, jebloskan dia saja ke dalam kerangkeng itu untuk umpan singa!” segera A Ci memotong sebelum selesai Goan-ci berkata.

Keruan Goan-ci serbarunyam, ia pikir daripada mati konyol menjadi isi perut singa, lebih baik coba-coba peruntungan saja dengan memasukkan kepala ke dalam kerangkeng itu. Maka cepat ia berteriak, “Nanti dulu, Nona! Baiklah aku menurut!”

“Nah, beginilah baru pintar!” ucap A Ci dengan tertawa. “Ingat, lain kali jangan sekali-kali membangkang, apa yang kukatakan harus segera dilakukan, kalau rewel, hm, biar kau tahu rasa nanti. Sili, hukum dia dengan 30 kali cambukan!”

Kapten Sili mengiakan. Segera ia pinjam cambuk kulit dari si penjinak singa. “Tarr”, kontan ia sabet punggung Goan-ci.

Karena kesakitan Goan-ci sampai menjerit.

“Badut besi,” kata A Ci, “kalau kusuruh orang menghajarmu, itu menandakan aku menghargaimu. Tapi kau gembar-gembor malah, apakah kau tidak suka dihajar?”

“O, suka, tentu suka, terima kasih atas kebaikan Nona!” demikian cepat Goan-ci menjawab.

“Baik. Nah hajar lagi!” seru A Ci.

“Tar, tar, tarr!” segera Kapten Sili menyabet lagi belasan kali. Dengan mengertak gigi Goan-ci bertahan sekuatnya, walaupun sakitnya sebenarnya sampai merasuk tulang, sama sekali ia tidak merintih lagi.

Sebaliknya A Ci kurang puas karena dia diam saja. Katanya pula, “He, badut besi, kau bilang senang dihajar, bukan?”

“Ya, Nona!” sahut Goan-ci.

“Benar-benar suka, bukan dusta? Jangan-jangan kau sengaja menipu aku?”

“Sungguh-sungguh, masakah aku berani menipu Nona!”

“Jika kau benar-benar senang, mengapa kau tidak tertawa? Mengapa tidak menyatakan kepuasanmu atas hajaran itu?”

Rupanya sudah terlalu banyak tersiksa hingga nyalinya pecah, maka Goan-ci menjadi lupa pada artinya murka. Apa yang dikatakan gadis cilik itu ia selalu menurut saja, katanya segera, “Ya, Nona sangat baik padaku, maka menyuruh orang-orang menghajarku, sungguh aku merasa sangat puas!”

“Nah, beginilah baru mendingan,” kata A Ci. “Coba sekarang!”

Segera ia beri tanda, Kapten Sili lantas mengayun cambuk lagi. “Tar”, kembali punggung Goan-ci kena disabet.

“Hahahaha!” benar juga sekali ini Goan-ci terbahak-bahak. Katanya, “Puas sekali aku! Terima kasih Nona!”

“Tarr!” kembali pecut berbunyi dan Goan-ci berkata pula, “Terima kasih atas budi pertolongan jiwaku, Nona! Cambukan ini sungguh sangat memuaskan!”

“Tar, tar!” begitulah berturut-turut lebih 20 kali cambukan menghujani badan Yu Goan-ci, digunggung dengan sabetan tadi, jumlah seluruhnya sudah lebih dari 30 kali.

“Sudahlah, cukup untuk sekarang ini,” segera A Ci menyetop. “Nah, sekarang masukkan kepalamu ke dalam kerangkeng.”

Goan-ci merasa ruas tulang seantero badan seakan-akan retak, dengan sempoyongan ia mendekati kerangkeng singa. Sekali mengertak gigi, dengan nekat ia memasukkan kepalanya ke dalam terali kerangkeng itu.

Melihat tantangan itu, singa itu kaget malah hingga mundur beberapa langkah ke belakang. Binatang itu mengincar dan mengamat-amati topeng besi sejenak, lalu mundur satu langkah lagi sambil meraung.

“Ayolah, perintahkan singamu menggigit, kenapa tidak menggigit?” seru A Ci.

Segera pawang singa membentak-bentak beberapa kali. Karena mendapat perintah, singa itu lantas menubruk maju, sekali pentang mulutnya yang lebar, terus saja ia caplok kepala Yu Goan-ci yang terbungkus topeng besi itu. Maka terdengarlah “krak-krek, krak-krek” yang keras, suara kertakan gigi singa yang beradu dengan besi.

Sejak mula Goan-ci memejamkan mata, maka ia merasa hawa hangat merangsang mukanya melalui lubang-lubang mata, hidung, dan mulut topeng itu. Ia tahu batok kepala belakang sudah tercaplok di dalam mulut singa. Mendadak ia merasa batok kepala depan dan belakang sakit sekali. Kiranya bekas luka di atas kepala yang hangus terkena besi panas dahulu, kini pecah lagi karena gigitan singa.

Ketika singa itu menggigit sekuatnya beberapa kali dan tidak menghasilkan apa-apa, bahkan giginya malah kesakitan, binatang itu menjadi murka, mendadak cakarnya menggaruk ke depan hingga bahu Goan-ci kena dicakar.

Saking kesakitan oleh cakaran itu, tanpa terasa Goan-ci menjerit. Dan ketika mendadak merasa barang yang dicaploknya itu mengeluarkan suara keras, singa itu menjadi kaget dan lepaskan kepala yang digigitnya itu serta menyurut mundur.

Keruan si pawang singa merasa malu karena binatang asuhannya itu kena digertak. Segera ia membentak-bentak pula memerintahkan singa itu menggigit lagi Yu Goan-ci. Sekonyong-konyong Goan-ci menjadi murka, sekuat tenaga ia pegang tengkuk penjinak singa itu, ia jejalkan juga kepala penjinak singa itu ke dalam kerangkeng.

Keruan penjinak singa itu berteriak-teriak. A Ci merasa senang. Ia bertepuk tangan dengan tertawa dan berkata, “Bagus, bagus, permainan bagus! Biarkan mereka, jangan dilerai!”

Mestinya para prajurit Cidan hendak menarik tangan Yu Goan-ci, demi mendengar perintah A Ci itu, mereka urung bertindak.

Sambil berteriak-teriak si penjinak singa meronta-ronta berusaha melepaskan diri. Tapi saat itu Goan-ci juga sudah kalap, betapa pun ia tidak mau melepaskan orang.

Tiada jalan lain, terpaksa pawang singa minta bantuan binatang asuhannya itu, ia berteriak-teriak memberi perintah, “Gigit! Gigit dia! Lekas!”

Mendengar suara perintah, singa itu menggerung keras-keras terus menerkam. Binatang itu hanya tahu sang majikan memerintahkan dia menggigit, tapi tidak tahu apa yang harus digigit. Maka ketika mulutnya yang lebar itu merapat kembali, “kriuk”, tahu-tahu separuh buah kepala penjinak singa sendiri yang kena digerogot hingga darah berceceran dan otak berantakan.

“Hore! Badut besi yang menang!” demikian A Ci bersorak tertawa.

Segera ia memberi perintah agar prajurit Cidan menyeret pergi mayat si penjinak singa dan menggotong pergi kerangkeng singa itu. Lalu katanya kepada Yu Goan-ci, “Badut besi, sekarang kau sudah pintar, pandai menyenangkan hatiku. Ehm, aku akan memberi hadiah padamu. Tetapi, hadiah... hadiah apa ya yang tepat?”

Begitulah ia lantas bertopang dagu dan berpikir....

“Aku tidak perlu diberi hadiah Nona, aku hanya ingin mohon sesuatu padamu,” demikian kata Goan-ci.

“Mohon apa?” tanya A Ci.

“Semoga Nona memperbolehkan aku mengiring di sampingmu untuk menjadi budakmu,” sahut Goan-ci.

“Menjadi budakku?” A Ci menegas. “Mengapa dan untuk apa? Ehm, tahulah aku, tentu kau ingin mencari kesempatan bila Siau-tay-ong datang menjengukku, lalu kau mendadak menyerangnya lagi untuk membalas sakit hati ayah ibumu, betul tidak?”

“Tidak, tidak!” seru Goan-ci cepat. “Sekali-kali bukan begitu maksudku.”

“Habis, masakah kau tidak ingin membalas dendam?”

“Sudah tentu aku sangat ingin. Cuma, kesatu, aku belum mampu menuntut balas. Kedua, tidak boleh merembet diri Nona.”

“Jika begitu mengapa kau mau menjadi budakku?”

“Sebab... sebab Nona adalah... gadis paling cantik di dunia ini, maka aku ingin... ingin melihat engkau setiap hari,” demikian sahut Goan-ci dengan tergegap.

Ucapan ini sebenarnya terlalu kurang ajar dan terlalu berani, bila A Ci adalah seorang gadis biasa, tentu ia akan merasa ucapan Goan-ci itu bersifat rendah dan bukan mustahil akan memerintahkan pemuda itu dibunuh. Tapi A Ci justru senang dipuji, ia suka orang memujinya cantik.

Padahal usianya sekarang juga masih terlalu muda, meski air mukanya memang ayu, tapi bangun tubuhnya belum lagi masak, ditambah habis terluka parah, badannya masih kurus dan wajahnya pucat, masih jauh untuk bisa disebut sebagai “gadis paling cantik di dunia”. Tapi manusia mana yang tidak suka dipuji, apalagi dipuji sebagai gadis tercantik, sudah tentu A Ci sangat senang.

Dan selagi ia hendak menerima permintaan Goan-ci itu, tiba-tiba didengarnya dayang melapor, “Tay-ong datang!”

A Ci melirik Goan-ci sekejap dan bertanya dengan suara rendah, “Kau takut tidak?”

“Tidak... tidak!” sahut Goan-ci dengan agak gemetar. Padahal dia takut setengah mati mendengar kedatangan Siau Hong.

Ketika pintu istana terbuka, tertampaklah Siau Hong melangkah masuk dengan baju kulit yang enteng dan ikat pinggang yang lemas. Ketika melihat di atas lantai banyak tercecer darah, pula melihat bentuk kepala Yu Goan-ci yang aneh itu, Siau Hong menjadi heran dan bertanya kepada A Ci dengan tertawa, “Air mukamu hari ini kelihatan sangat segar, kau lagi main apa? Kepala orang ini memakai topi apa, sungguh aneh?”

“Ini Thi-thau-jin (Manusia Kepala Besi) persembahan dari negeri Kojiang, namanya badut besi, singa pun tidak sanggup menggigit pecah kepalanya. Lihatlah, di situ masih terdapat bekas gigitan singa,” tutur A Ci dengan tertawa.

Waktu Siau Hong memandang topeng besi di kepala Goan-ci, memang benar bekas gigitan singa masih kelihatan jelas.

“Cihu, apakah engkau mampu melepaskan topeng besinya itu?” tiba-tiba A Ci bertanya.

Mendengar itu, keruan semangat Goan-ci seakan-akan terbang meninggalkan raganya. Dia pernah menyaksikan betapa perkasanya Siau Hong ketika dikeroyok para kesatria Tionggoan, dengan kepalan saja ia sanggup menghantam hingga perisai milik ayah dan pamannya mencelat. Kalau orang sekarang hendak melepaskan topeng di kepalanya boleh dikatakan terlalu mudah baginya.

Begitulah, kalau tempo hari waktu dikerudung dengan topeng itu ia menyesal dan berduka tak terhingga, sekarang sebaliknya ia berharap topeng besi itu semoga tetap menutup kepalanya agar tidak dikenal Siau Hong.

Tiba-tiba Siau Hong menggunakan jari untuk menjentik topeng beberapa kali dengan perlahan hingga mengeluarkan suara “trang-tring”. Lalu katanya dengan tertawa, “Topeng ini sangat kuat dan bagus pula buatannya, kalau dirusak, apakah tidak sayang?”

“Menurut cerita utusan negeri Kojiang, katanya badut besi ini bermuka bengis dan menakutkan, lebih mirip setan daripada mirip manusia, siapa yang ketemu dia pasti ketakutan dan lari, sebab itulah orang tuanya membuatkan topeng besi ini untuk dia agar tidak mengganggu orang lain,” demikian tutur A Ci. “Eh, Cihu, aku sangat ingin lihat mukanya yang asli, aku ingin tahu betapa bengis mukanya itu.”

Saking ketakutan hingga Goan-ci gemetar, gigi gemertukan.

Siau Hong dapat melihat manusia kepala besi itu ketakutan luar biasa, maka katanya, “Sudahlah, orang ini sangat ketakutan, buat apa membuka topeng besinya itu? Jika sejak kecil ia sudah pakai topeng, kalau kini dibuka mungkin dia akan putus asa dan sukar untuk hidup terus.”

“Sungguh menarik jika begitu,” seru A Ci sambil bertepuk tangan. “Setiap kali aku menemukan kura-kura, aku suka menangkapnya dan membelejeti kulitnya yang keras itu, aku suka melihat kura-kura tanpa kulit dapat hidup berapa lama.”

Siau Hong berkerut kening, ia merasa terlalu kejam cara anak dara itu membelejeti kura-kura, katanya, “A Ci, seorang anak perempuan mengapa suka membikin susah orang sedemikian rupa?”

“Hm, tentu saja engkau tak suka,” jengek A Ci. “Jika aku sebaik A Cu, tidak nanti kau lupakan diriku selama beberapa hari ini.”

“Meski aku telah diangkat menjadi Lam-ih-tay-ong apa segala sehingga setiap hari selalu sibuk saja, tapi setiap hari aku kan pasti datang menjengukmu?” sahut Siau Hong.

“Menjenguk, ya, memang hanya menjenguk saja sebentar, aku justru tidak suka dijenguk saja dan habis perkara, coba kalau aku jadi A Cu, tentu engkau takkan cuma menjenguk saja, tapi akan selalu mendampingiku.”

Mendengar nama “A Cu” berulang kali disebut, apa yang dikatakan juga memang betul, Siau Hong menjadi tak bisa menjawab, terpaksa ia mengekek tawa dan berkata, “Ya, Cihu kan orang tua, tiada minat buat main dengan kanak-kanak seperti dirimu, bolehlah kau cari teman main yang sebaya denganmu untuk mengawanimu bermain.”

“Kanak-kanak, selalu kau katakan begitu, aku justru bukan kanak-kanak lagi,” sahut A Ci. “Dan kalau engkau tiada minat bermain dengan aku, kenapa datang juga ke sini?”

“Aku ingin tahu kesehatanmu sudah tambah baik tidak dan ingin tahu apakah hari ini kau sudah makan empedu beruang atau belum?” kata Siau Hong.

Mendadak A Ci angkat bantalan pengganjal bangku dan dibanting ke lantai, katanya, “Jika hatiku tidak gembira, biarpun setiap hari makan satu pikul empedu beruang juga tidak berguna!”

Kalau A Cu yang sedang marah-marah, betapa pun juga tentu Siau Hong akan berusaha membujuknya, tapi terhadap anak dara yang suka ngambek, anak perempuan yang nakal dan licin ini, mau tak mau timbul semacam rasa jemu dalam hati Siau Hong, segera katanya, “Ya, sudahlah, boleh kau mengaso saja!”

Habis itu ia lantas tinggal pergi.

A Ci termangu-mangu dan ingin menangis mengikuti kepergian sang cihu. Sekilas tiba-tiba dilihatnya Yu Goan-ci, seketika api kemarahannya ingin dilampiaskan kepada orang sial itu. Teriaknya mendadak, “Sili, cambuk lagi dia 30 kali!”

Kapten Sili mengiakan sambil angkat cambuknya.

“Nona, apakah aku berbuat sesuatu kesalahan lagi?” seru Goan-ci.

Tapi A Ci tidak menjawabnya, sebaliknya ia memberi tanda agar Sili cepat mencambuk.

“Tar!” segera Sili ayun pecutnya, “tar!” kembali pecut menyembat pula punggung sasarannya.

“Nona, sebenarnya apa salahku, harap aku diberi tahu, supaya lain kali kesalahan itu takkan terulang lagi!” teriak Goan-ci dengan menahan sakit, sementara itu pecut Sili masih terus menyabet.

“Bila aku ingin menghajarmu, maka setiap saat dapat kulakukan, tidak perlu kau tanya berbuat salah apa, masakah aku bisa keliru menghajarmu?” demikian kata A Ci. ”Kau tanya dirimu berbuat salah apa, justru karena kau tanya, maka kau harus dihajar!”

“Tapi... tapi Nona lebih dulu menyuruh hajar diriku, baru aku tanya,” ujar Goan-ci.

Dalam pada itu pecut Sili tidak pernah berhenti, punggung Goan-ci masih terus disabet.

“Memang sudah kuduga kau tentu akan tanya, maka kusuruh orang menghajarmu, dan benar juga kau lantas tanya, bukankah itu menandakan dugaanku sangat tepat?” ujar A Ci dengan tertawa. “Sekaligus juga menandakan kau tidak taat benar-benar padaku, seharusnya ketika kau tahu nonamu mendadak ingin menghajar orang, jika kau memang seorang budak setia, seharusnya kau tampil ke muka dan ajukan diri untuk dihajar. Tapi kau malah rewel dan merasa penasaran. Baiklah, kau tidak suka dihajar, maka aku pun tidak mau menghajarmu lagi.”

Hati Goan-ci terkesiap dan merinding demi mendengar ucapan terakhir itu. Ia tahu bila A Ci tidak menghajarnya, tentu akan dicari suatu cara hukuman yang lebih kejam daripada cambukan itu, maka lebih baik sekarang juga ia terima 30 kali cambukan itu. Segera ia berkata, “Ya, memang hamba yang salah, hamba yang salah! Jika Nona sudi menyuruh orang menghajar hamba, hal mana akan berfaedah bagi badan hamba, silakan Nona menyuruhnya menghajar lagi, hajarlah lebih banyak dan lebih keras.”

“Jika begitu baiklah, akan kupenuhi permintaanmu,” kata A Ci. “Nah, Sili, cambuk dia 100 kali bulat, dia sendiri yang minta lebih banyak dicambuk.”

Sudah tentu Yu Goan-ci terperanjat, ia pikir apakah jiwanya bisa dipertahankan setelah dicambuk 100 kali? Tapi urusan sudah telanjur, ia sendiri yang minta dihajar lebih banyak dan lebih keras, kalau sekarang membangkang tentu akan lebih celaka lagi. Terpaksa ia diam saja, ia pikir kalau rewel-rewel, bukan mustahil nona yang nakal dan kejam itu akan menghabiskan jiwanya dengan suatu cara yang sukar diduga.

Dan ketika A Ci mulai memberi tanda, “tar”, segera cambuk Sili bekerja pula tanpa ampun.

“Tar, tar!” Sili terus menyabet hingga lebih 50 kali, saking kesakitan Yu Goan-ci sampai mendeprok, sebaliknya A Ci memandangnya dengan tersenyum simpul, ditunggunya pemuda itu bersuara minta ampun. Dan asal Goan-ci minta ampun, A Ci akan punya bukti lagi untuk menambahi cambukannya.

Tak tersangka Goan-ci sudah dalam keadaan limbung, dalam keadaan sadar-tak-sadar, ia hanya merintih perlahan, tapi tidak minta diampuni. Ketika dicambuk sampai lebih 70 kali, akhirnya Goan-ci jatuh pingsan.

Namun Sili sama sekali tidak mengenal kasihan, ia tetap menjalankan tugasnya sampai genap mencambuk 100 kali barulah berhenti.

Melihat Goan-ci sudah kempas-kempis, lebih banyak matinya daripada hidup, A Ci menjadi kecewa malah, katanya, “Sudahlah, seret pergi saja, orang itu tidak menarik lagi. Sili, boleh kau carikan permainan lain yang lebih menyenangkan!”

Karena hajaran itu, Yu Goan-ci benar-benar babak belur, untuk mana dia mesti menggeletak sebulan penuh barulah sembuh.

Melihat pemuda itu sudah dilupakan oleh A Ci, maka orang Cidan tidak menyiksanya lagi, tapi lantas mencampurkan dia ke dalam rombongan tawanan yang lain untuk melakukan pekerjaan kasar seperti mencuci kandang domba, mengumpulkan kotoran sapi, menjemur kulit dan lain-lain.

Karena kepalanya memakai kerudung besi, maka setiap orang suka mengejek dan menghina Yu Goan-ci, bahkan sesama bangsa Han dalam tawanan itu juga menganggapnya sebagai “siluman”.

Goan-ci terima semua ejekan dan hinaan itu, dengan diam saja hingga mirip orang bisu, orang memaki dan memukulnya, ia pun tidak pernah melawan dan membalas. Hanya kalau kebetulan ada orang lewat menunggang kuda, tentu ia mendongak untuk melihat siapakah gerangan penunggang kuda itu. Yang selalu terpikir olehnya hanya satu, “Bilakah nona cantik itu akan memanggil aku untuk dihajar lagi?”

Begitulah karena dia berharap dapat melihat A Ci, biarpun akan disiksa dengan macam-macam hajaran juga dia rela.

Setelah lewat dua bulan pula, hawa udara perlahan mulai hangat, Yu Goan-ci ikut banyak orang lagi mengangkat batu di luar benteng kota untuk membetulkan tembok benteng.

Tiba-tiba didengarnya suara derapan kuda lari yang riuh, beberapa penunggang kuda keluar dari gerbang selatan, segera terdengar suara tertawa seorang gadis nyaring merdu, “Ai, kiranya badut besi ini belum lagi mati! Kukira dia sudah lama mati! Hei, badut besi, kemarilah!”

Itulah suara A Ci, suara anak gadis yang selalu terkenang oleh Yu Goan-ci siang dan malam, ia terpaku malah di tempatnya ketika mendengar panggilan A Ci itu. Ia merasa jantungnya berdebar dan tangan terasa dingin.

“Badut besi, setan kau, aku memanggilmu, apa kau tidak dengar?” kembali A Ci berseru.

Dan baru sekarang Goan-ci mengiakan, “Ya, Nona!”

Lalu ia mendekati kuda si gadis dan tanpa terasa ia pun memandangnya sekejap.

Ternyata selama empat bulan ini A Ci sudah tambah gemuk sedikit, air mukanya kemerah-merahan dan bercahaya hingga makin menambah kecantikannya, hati Goan-ci berdebar dan karena setengah melamun, kakinya kesandung sesuatu dan keserimpet jatuh.

Di tengah gelak tertawa orang banyak, lekas Goan-ci merangkak bangun dengan rasa malu, sudah tentu tiada seorang pun yang dapat melihat mimik wajahnya itu.

Rupanya A Ci sedang gembira, dengan tertawa ia tanya, “Eh, badut, kenapa kau belum mati?”

“Aku... aku belum lagi membalas kebaikan Nona, maka tidak boleh mati cepat-cepat,” sahut Goan-ci.

A Ci mengikik tawa, katanya, “Aku justru lagi mencari seorang budak yang setia untuk sesuatu tugas, aku khawatir orang Cidan terlalu kasar sehingga tak bisa melaksanakan tugas dengan baik. Sekarang kau ternyata belum mati, itulah sangat kebetulan. Nah, boleh kau ikut padaku!”

Goan-ci mengiakan, lalu mengikut di belakang kudanya.

Segera A Ci memerintahkan Sili dan tiga orang pengawalnya pulang lebih dulu.

Sili kenal watak si gadis, apa yang dikatakan tidak boleh dibantah. Ia lihat orang berkerudung besi ini terlalu lemah, penakut pula, rasanya takkan berbahaya bila dia ikut sang putri. Maka ia hanya pesan junjungannya itu, “Harap Nona hati-hati dan lekas pulang!”

Lalu mereka berempat melompat turun dari kuda dan menunggu di luar gerbang kota. A Ci sendiri lantas menjalankan kudanya perlahan ke depan dengan diikuti Goan-ci berjalan di belakang.

Kira-kira beberapa li jauhnya, tempat yang dituju itu makin sunyi dan akhirnya sampai di suatu lembah pegunungan yang lembap.

Goan-ci merasa jalan di lembah pegunungan itu sangat lunak, terdiri dari tanah dedaunan dan rumput yang sudah kering dan lapuk.

Kira-kira satu-dua li lagi jauhnya, jalan di situ mulai berliku-liku, A Ci tidak dapat menunggang kuda lagi, ia melompat turun dari kudanya, sambil memegang les kuda, ia melanjutkan perjalanan.

Sekitar situ tampak lembap dan dingin, angin meniup dari suatu selat yang sempit hingga kulit daging A Ci dan Goan-ci terasa pedih.

“Sudahlah, di sini saja!” tiba-tiba A Ci berkata. Lalu ia tambat kudanya di suatu pohon dan berkata kepada Goan-ci, “Nah, ingatlah dengan baik, apa yang kau lihat hari ini dilarang diceritakan kepada siapa pun juga, selanjutnya juga tidak boleh menyinggungnya di hadapanku, ingat tidak?”

“Baiklah Nona!” sahut Goan-ci.

Girang Goan-ci sungguh tak terkatakan. A Ci hanya suruh dia ikut sendirian dan kini sampai di tempat sunyi seperti ini, andaikan si gadis nanti akan menghajarnya hingga setengah mati juga dia rela.

Kemudian tertampak A Ci mengeluarkan sebuah giok-ting, tripod atau wajan kemala berkaki tiga, warna tripod itu hijau mulus. Lalu ditaruh di atas tanah dan katanya kepada Goan-ci, “Sebentar bila melihat serangga atau binatang apa pun yang aneh, sekali-kali kau tidak boleh bersuara, tahu tidak?”

Goan-ci mengiakan.

Segera A Ci mengeluarkan pula suatu bungkusan kain kecil, ia keluarkan beberapa potong bahan wewangian yang berwarna-warni, ia remas sedikit tiap-tiap potong bahan wangi-wangian itu ke dalam tripod, lalu ia menyulutnya dengan api hingga terbakar, kemudian menutup tripod itu.

“Marilah kita tunggu di bawah pohon sana,” kata A Ci.

Tapi Goan-ci tidak berani duduk berdekatan dengan si nona, ia menyingkir kira-kira dua-tiga meter jauhnya, ia duduk di atas batu di bawah angin. Ketika angin meniup dan membawa bau harum si gadis, tanpa terasa pikiran Goan-ci melayang-layang dimabuk diri.

Sungguh tak tersangka olehnya bahwa dalam hidupnya ini bisa menemui saat bahagia seperti ini, ia merasa derita sengsara yang dialaminya selama ini tidaklah penasaran.

Begitulah selagi pikiran Goan-ci dimabuk oleh lamunan sendiri, tiba-tiba terdengar di semak-semak rumput sana ada suara gemeresik, seekor binatang merayap tampak muncul.

Dalam urusan lain Goan-ci boleh dikatakan tidak becus, tapi dalam hal menangkap ular dan main binatang merayap lain masih boleh juga kepandaiannya. Maka demi mendengar suara itu, segera ia tahu ada sesuatu makhluk aneh.

Benar juga segera dari tengah rumput hijau itu merayap keluar seekor lipan atau kelabang merah bercahaya, lebih-lebih bagian kepalanya merah membara, sangat berbeda dengan kelabang pada umumnya.

Rupanya karena mengendus bau harum bahan wangi-wangian yang terbakar dalam tripod, maka kelabang itu merayap ke arah situ terus menyusup ke dalam wajan melalui lubang di sampingnya, dan tidak keluar lagi.

Selagi Goan-ci hendak menyatakan bahwa kelabang itu berbisa sangat jahat, tiba-tiba dari belakang terdengar suara gemeresik pula, seekor ketungging berwarna cokelat merayap tiba dengan cepat sekali. Segera Goan-ci bermaksud menginjak mati binatang itu, tapi mendadak A Ci membentaknya, “He, jangan membunuhnya, goblok!”

Maka sebelah kaki Goan-ci yang sudah terangkat itu urung menginjak ke bawah. Dalam pada itu ketungging itu lantas merayap ke arah tripod dan menyusup ke dalamnya. Dalam sekejap saja terdengarlah suara mencicit ramai, kelabang tadi telah bertarung dengan ketungging.

Sejak kecil Goan-ci paling suka mengadu jangkrik dan serangga lain. Kini ia sangat ingin bisa membuka tutup tripod itu untuk menyaksikan pertarungan antara kelabang melawan ketungging itu. Tapi di bawah pengaruh A Ci, ia tidak berani sembarangan bertindak.

Dan belum selesai pertarungan antara kelabang melawan ketungging itu, kembali dari arah lain datang lagi seekor cecak, menyusul dari arah berlawanan datang pula seekor binatang aneh yang bulat bentuknya dan berwarna loreng, entah apa namanya. Kedua binatang ini pun segera menyusup ke dalam wajan, maka tambah ramailah suara mencicit tadi.

Ketika Goan-ci memandang ke arah A Ci, ia lihat gadis itu sangat senang, kedua tangan yang putih halus itu tiada hentinya bergesek-gesek, terdengar gadis itu bergumam perlahan, “Sungguh sangat mujarab, sudah datang empat jenis.”

Belum selesai ucapannya, kembali seekor serangga masuk lagi ke dalam tripod. Itulah seekor laba-laba berbisa.

Dan baru sekarang Goan-ci paham duduknya perkara, “Kiranya nona memilih tempat yang lembap ini untuk mencari binatang dan serangga berbisa ini. Tapi entah apa gunanya, jika untuk melihat pertarungan binatang-binatang itu, mengapa dia tidak membuka tutup tripod?”

Sejenak kemudian, “plok”, tiba-tiba ketungging tadi jatuh keluar wajan dan tak berkutik lagi, terang sudah mati.

Selang tidak lama, berturut-turut bangkai laba-laba, cecak dan serangga bulat yang tak dikenal namanya pun menggelinding keluar semua.

“Hehe, tetap kelabang kepala merah itu yang paling lihai,” seru A Ci dengan senang.

“Nona, dupa apakah yang kau bakar hingga begini banyak serangga bisa terpancing kemari?” tanya Goan-ci.

Mendadak A Ci menarik muka, semprotnya, “Sudah kukatakan tidak boleh bertanya, kau sudah lupa ya? Kalau berani buka mulut lagi, segera kucambuk kau 100 kali!”

“Hamba ter... terlalu senang sehingga lupa daratan, harap... harap Nona memaafkan,” sahut Goan-ci dengan merendah.

A Ci tidak menggubrisnya lagi, segera ia keluarkan pula sebungkus kain, waktu dibuka, kiranya sepotong kain sutra yang tebal. Kain sutra itu bersulam indah dan berwarna-warni menyilaukan mata.

Segera ia bungkus giok-ting itu dengan kain sutra mengilap itu. Ketika Goan-ci memerhatikan bangkai laba-laba, ketungging dan lain-lain, ia lihat binatang itu sudah kering, sari racunnya sudah terisap habis oleh kelabang kepala merah itu.

Sementara itu A Ci sedang mengikat bungkusan kain sutra itu dengan kencang seakan-akan khawatir kalau kelabang di dalam giok-ting itu akan merayap keluar. Kemudian ia masukkan bungkusan itu ke dalam tas kulit di pelana kudanya.

“Marilah kita pulang!” katanya dengan tertawa.

Sambil mengikut di belakang kuda si gadis, diam-diam Goan-ci membatin, “Tripod hijau itu sungguh aneh, yang lebih aneh lagi adalah dupa wangi yang dia bakar itu. Hanya karena mengendus bau wangi dupa itulah maka serangga-serangga itu terpancing kemari.”

Setiba kembali di istana Toan-hok-tian, segera A Ci memerintahkan pengawalnya membersihkan sebuah kamar yang kecil di samping istana untuk tempat tinggal Yu Goan-ci. Keruan girang Goan-ci melebihi orang mendapat warisan, sebab ia tahu selanjutnya setiap hari akan dapat melihat A Ci.

Benar juga, esok paginya A Ci memanggilnya pula dan membawa dia masuk ke ruangan istana samping, lalu A Ci sendiri menutup pintu ruangan hingga di dalam situ cuma tinggal mereka berdua.

Hati Goan-ci berdebar-debar sebab tidak tahu apa yang hendak dilakukan si nona.

Tiba-tiba A Ci mendekati sebuah guci, ia buka tutup guci itu dan berkata kepada Goan-ci, “Coba lihat, sangat tangkas bukan?”

Waktu Goan-ci ikut melongok ke dalam guci, ia lihat kelabang yang ditangkapnya kemarin itu sedang merayap-rayap dengan cepat dalam guci.

“Sekarang kita pergi mencari lagi sejenis binatang berbisa yang lain,” ajak A Ci.

Goan-ci tidak berani banyak bertanya, ia hanya mengiakan saja, walaupun dalam hati ia sangat heran, seorang nona cantik demikian mengapa suka main binatang berbisa yang menjijikkan dan berbahaya seperti itu?

Tidak lama kemudian mereka telah sampai di suatu lembah pegunungan lain, di situ A Ci menyalakan dupa dalam giok-ting hingga lima jenis binatang berbisa dipancing datang lagi. Dan sesudah pertarungan berakhir, sekali ini yang menang adalah seekor laba-laba hitam.

Setelah pulang, A Ci menaruh laba-laba itu di dalam sebuah guci yang lain. Ia suruh Goan-ci membawa kasur bantalnya ke ruangan istana dan menjaga di situ.

Goan-ci sudah biasa main ular dan serangga berbisa, ia tahu binatang merayap seperti itu sangat pintar menyusup, di mana tampaknya tiada lubang, sering kali binatang-binatang merayap itu dapat menyusup keluar. Dan kalau ada salah seekor laba-laba atau kelabang yang lari keluar pasti dia yang akan tersengat mampus. Sebaliknya kalau sampai binatang itu ada yang hilang, tentu dia akan dihajar mati oleh A Ci.

Oleh karena itu semalam suntuk boleh dikata Goan-ci tidak berani tidur, dengan hati kebat-kebit sebentar-sebentar ia bangun untuk memeriksa kedua guci itu.

Esok paginya, dengan cara yang sama A Ci dapat pula menangkap seekor katak buduk. Hari keempat ia berusaha menangkap binatang berbisa yang lain, tapi tiada sesuatu yang memuaskan, yang dapat dipancing datang hanya sebangsa serangga kecil yang kurang lihai racunnya. Sesudah pindah tempat lagi, akhirnya dapat ditangkapnya seekor ketungging hijau gelap.

Hari kelima ia tidak dapat menangkap binatang berbisa lain. Hari keenam juga usahanya nihil. Sampai hari ketujuh, dapatlah A Ci menangkap seekor ular hijau kecil.

A Ci sangat girang setelah dapat mengumpulkan kelima jenis binatang berbisa itu. Ia suruh Goan-ci memelihara binatang-binatang itu, setiap hari menyembelih seekor ayam jago, darah ayam jago dibuat makanan binatang-binatang berbisa itu.

Kira-kira belasan hari kemudian, A Ci datang lagi ke ruangan istana samping itu, ia lihat kelima binatang berbisa itu sudah gemuk-gemuk semua, ia sangat senang. Segera ia keluarkan giok-ting pula dan menyalakan dupa.

“Bukalah kelima tutup guci,” katanya kepada Goan-ci.

Cepat Goan-ci melaksanakan perintah itu, ia buka semua tutup guci dan lekas-lekas menyingkir.

Maka terdengarlah suara gemeresik, kelima jenis binatang berbisa itu telah mengendus bau wangi dupa, mereka berebut merayap keluar dari guci masing-masing terus menyusup ke dalam giok-ting. Lantas terdengarlah suara mencicit ramai, kelima jenis binatang itu saling bertarung dengan sengit.

Kelima jenis binatang berbisa itu masing-masing sudah pernah mengisap racun dari jenis binatang yang lain, ditambah lagi selama belasan hari telah diloloh dengan darah ayam jago, keruan mereka sangat tangkas dan sangat bersemangat, begitu ketemu musuh, segera menyerang dengan ganas.

Dan pertama-tama katak buduk itu yang tidak tahan, lebih dulu katak itu jatuh keluar giok-ting, menyusul ular hijau itu pun mati. Tidak lama kemudian, laba-laba loreng dan ketungging pun mencelat keluar semua. Pemenang terakhir tetap kelabang berkepala merah yang tertangkap pertama itu.

Kelabang itu tampak merayap keluar dari giok-ting untuk mengisap sari racun lawan-lawannya yang sudah mati itu. Maka badan kelabang itu perlahan mulai melembung, rupanya sangat kenyang dengan cairan yang diisapnya. Kepalanya yang merah itu mulai bersemu ungu, lalu menghijau dan membiru.

Semua itu diikuti A Ci dengan penuh rasa senang, betapa girangnya dapat terlihat dari napasnya yang berat. Terdengarlah gadis itu berkata dengan suara rendah, “Jadi, jadilah! Dapatlah kulatih ilmu ini!”

Baru sekarang Goan-ci tahu bahwa sebabnya si gadis menangkap binatang berbisa itu, kiranya ingin melatih sesuatu ilmu.

Sementara itu setelah kelabang tadi kenyang mengisap sari racun lawan-lawannya yang mati itu, lalu merayap kembali ke dalam giok-ting.

“Badut besi, bagaimana pendapatmu tentang perlakuanku kepadamu selama ini?” tanya A Ci tiba-tiba.

“O, sungguh sangat baik, aku merasa utang budi kepada Nona,” sahut Goan-ci. “Biarpun hancur lebur badanku ini juga susah membalas kebaikan Nona.”

“Apa betul-betul ucapanmu itu?” A Ci menegas.

“Sudah tentu, masakah hamba berani berdusta,” kata Goan-ci. “Asal Nona ada perintah, tidak nanti hamba menolak.”

“Bagus jika begitu,” kata A Ci. “Nah, ketahuilah bahwa ilmu yang akan kulatih itu diperlukan seorang pembantu. Apakah kau mau membantu aku? Jika ilmu itu sudah selesai kuyakinkan, tentu aku akan memberi hadiah padamu.”

“Sudah tentu hamba menurut perintah saja, tidak berani bicara tentang hadiah segala,” sahut Goan-ci.

“Baiklah! Nah, sekarang juga aku akan mulai berlatih,” kata A Ci.

Habis berkata, ia terus duduk bersila, kedua tangan saling bergesek-gesek, kedua mata terpejam, selang sebentar, lalu katanya, “Coba gunakan tangan untuk menangkap kelabang itu, jika kelabang itu menggigit tanganmu, sekali-kali kau tidak boleh bergerak, biarkan kelabang itu mengisap darahmu, makin banyak dia mengisap akan lebih baik.”

Sejak kecil Yu Goan-ci sudah biasa main ular dan serangga berbisa, ia tahu binatang merayap seperti kelabang itu sangat jahat upasnya. Kalau tergigit, tentu tempat luka itu akan bengkak, apalagi kelabang kepala merah ini telah mengalahkan binatang berbisa lain, sudah tentu jauh lebih lihai daripada kelabang biasa. Kini A Ci menyuruh tangannya dibiarkan digigit oleh kelabang itu untuk mengisap darahnya, keruan ia merinding dan ragu-ragu.

Seketika A Ci menarik muka, tanyanya, “Kenapa? Kau tidak mau?”

“Bukan tidak mau, Nona,” sahut Goan-ci. “Cuma... cuma....”

“Cuma apa? Cuma takut mati bukan?” semprot A Ci.

Goan-ci tak bisa menjawab. Ia pikir baru saja ia menyatakan bersedia hancur lebur bagi si gadis dan sekarang tangannya disuruh digigitkan kelabang sudah merasa jeri. Ia coba melirik A Ci, dilihatnya wajah si gadis bersungut, bibir mencibir hina. Seketika Goan-ci merasa kena sihir, dengan segera ia berkata, “Baik, akan kuturut perintah Nona.”

Dengan mengertak gigi ia buka tutup guci, ia pejamkan mata dan julurkan tangan ke dalam guci. Dan begitu jari menyentuh dasar guci itu, segera jari tengah terasa sakit seperti tertusuk jarum. Hampir-hampir ia tarik kembali tangannya kalau A Ci tidak keburu berseru mencegahnya.

Terpaksa Goan-ci menahan sakit sekuatnya, waktu ia buka mata, ia lihat kelabang itu telah menggigit jari tengahnya dan benar juga sedang mengisap darahnya.

Bulu roma Goan-ci serasa berdiri semua, sungguh ia ingin membanting kelabang itu ke tanah dan sekali gecek mampuskan binatang itu. Meski berdiri mungkur, ia merasa mata A Ci yang tajam itu seakan-akan menembus punggungnya hingga dia tidak berani berkutik.

Untung rasa sakit gigitan kelabang itu tidak terlalu hebat. Maka lambat laun badan kelabang itu tampak melar, membesar. Sebaliknya jari tengah Goan-ci lamat-lamat seperti bersemu ungu, warna ungu makin tandas hingga akhirnya menjadi hitam. Selang tak lama, warna hitam itu menjalar dari jari menuju ke telapak tangan, lalu naik ke lengan dan ke bahu.

Tapi saat itu Goan-ci sudah tidak menghiraukan jiwanya lagi, ia anggap sepi saja segala bahaya, sebaliknya ia mengulum senyum malah, cuma senyumannya tertutup oleh topeng besi, maka A Ci tidak dapat melihatnya.

Dalam pada itu, setelah mengisap darah sekian lamanya, kepala kelabang yang hijau biru itu telah kembali menjadi merah lagi. A Ci terus memerhatikan badan kelabang itu dengan mata tak berkedip. Ketika mendadak kelabang itu melepaskan jari Yu Goan-ci dan mendekam di dalam giok-ting, selang sejenak, tertampaklah dari lubang bawah giok-ting itu menitik cairan darah setetes demi setetes.

A Ci tampak sangat girang, segera ia menggunakan telapak tangannya untuk menahan cairan darah itu, ia duduk bersila dan mengerahkan tenaga dalam hingga cairan darah di telapak tangan itu terisap masuk ke dalam tangan.

Diam-diam Goan-ci membatin, “Itu adalah darahku, sekarang telah berpindah ke dalam tubuhnya. Agaknya dia sedang melatih semacam ilmu pukulan berbisa sebangsa Ngo-tok-ciang (Ilmu Pukulan Pancabisa), barangkali?”

Sudah tentu ia tidak tahu bahwa giok-ting itu adalah benda pusaka Sing-siok-pay, apa yang dilatih oleh A Ci itu adalah “Hoa-kang-tay-hoat” yang paling ditakuti oleh jago silat mana pun di dunia ini.

Begitulah, ketika kemudian darah beracun dalam badan kelabang itu sudah menetes keluar semua, maka kelabang itu pun lantas mati.

Waktu A Ci menggosok-gosok kedua tangan sendiri, ia lihat telapak tangannya tetap putih bersih sebagai kemala, sedikit pun tiada noda darah, maka tahulah dia bahwa cara berlatih Hoa-kang-tay-hoat yang pernah didengarnya dari sang guru itu memang tepat dan tidak salah sedikit pun, ia girang sekali, segera ia angkat giok-ting dan menuang keluar kelabang yang sudah mati itu ke lantai, lalu tinggal pergi dengan cepat, sekejap pun dia tidak pandang lagi kepada Yu Goan-ci seakan-akan pemuda itu sama saja seperti bangkai kelabang yang tiada gunanya lagi.

Dengan termangu-mangu dan rasa kecewa Goan-ci memandangi kepergian A Ci. Ketika kemudian ia membuka baju sendiri, ia lihat warna hitam tadi sudah menjalar sampai di bagian ketiak, berbareng itu lengannya mulai terasa gatal dan pegal. Rasa gatal dan pegal itu datangnya teramat cepat, dalam sekejap saja ia merasa seperti digigit oleh beratus ribu ekor semut.

Cepat Goan-ci melonjak bangun, segera ia menggaruk tangan yang gatal itu. Tapi lebih celaka lagi, sesudah digaruk rasa gatalnya semakin menjadi hingga serasa tulang sumsum juga dimasuki oleh serangga yang sedang merayap-rayap di situ.

Pada umumnya rasa sakit dapat ditahan dan rasa gatal sukar untuk ditahan. Keruan Goan-ci berjingkrak-jingkrak dan berteriak-teriak. Berulang-ulang ia membenturkan kepalanya di dinding hingga mengeluarkan suara nyaring, ia berharap dirinya bisa pingsan oleh benturan itu, dengan demikian ia takkan merasakan derita gatal dan pegal luar biasa itu.

Ketika ia membentur-bentur lagi kepalanya beberapa kali, tiba-tiba dari bajunya jatuh keluar suatu bungkusan kertas, sejilid buku yang sudah kuning itu terserak di lantai. Itulah kitab dalam bahasa Hindu kuno yang ditemukannya di padang rumput tempo hari.

Dalam keadaan gatal tak tertahankan, sudah tentu ia tidak sempat mengurus barangnya yang sudah jatuh itu. Tanpa sengaja, sekilas terlihat olehnya halaman kitab yang terbuka itu melukiskan seorang padri asing yang kurus kering. Gaya lukisan itu sangat aneh, padri itu terlukis sedang menungging, kepalanya dimasukkan ke selangkangan, jadi memandang ke belakang, sedang kedua tangan memegang kedua kaki sendiri.

Goan-ci sendiri lagi kegatalan sambil berjingkrak-jingkrak hingga tak menaruh perhatian kepada gaya lukisan yang aneh itu, ia masih terus melonjak-lonjak dan berjingkrak-jingkrak seperti orang gila, saking gatalnya hingga rasanya lebih enak mati saja.

Akhirnya saking tak tahan, ia rebahkan diri di lantai sambil menarik-narik baju sendiri hingga sobek dan hancur, ia gosok-gosokkan badan sendiri ke lantai hingga lecet dan mengeluarkan darah.

Begitulah ketika Goan-ci bergelimpangan di lantai sambil menggosok-gosok badannya di lantai, entah mengapa, tahu-tahu kepalanya menerobos ke selangkangan sendiri. Karena dia memakai kerudung besi, buah kepalanya menjadi amat besar, sekali telanjur terjepit di selangkangan, kepalanya menjadi sukar ditarik kembali. Segera ia bermaksud mengeluarkan kepalanya dengan tangan, tapi tanpa sengaja dan dengan sendirinya kedua tangan lantas memegang kaki sendiri.

Ia kelabakan sendiri hingga akhirnya megap-megap. Saking lelah, ia tak bisa berkutik dan terpaksa berhenti sementara untuk ganti napas. Dan tanpa sengaja ia lihat kitab yang jatuh terbuka dan berada di depan matanya. Padri kurus kering yang terlukis dalam kitab itu gayanya persis seperti dia sekarang.

Keruan ia sangat heran dan geli pula.

Yang paling aneh adalah sesudah dia bergaya seperti padri dalam lukisan itu, meski rasa gatal dalam tubuhnya masih tetap sama, namun napasnya menjadi banyak lebih longgar. Maka ia tidak perlu terburu-buru mengeluarkan kepalanya dari selangkangan sendiri, dengan cara begitulah ia mendekam di lantai.

Dan karena kepalanya menerobos di bawah selangkangan, maka matanya menjadi lebih dekat dengan kitab itu. Waktu ia pandang lagi padri dalam lukisan, mendadak ia lihat tubuh padri itu terlukis sedikit garis-garis yang halus. Kitab itu sudah tua, kertasnya sudah kotor kekuning-kuningan, goresan-goresan yang halus itu sebenarnya susah terbaca, tapi kini Goan-ci menungging hingga mukanya hampir menempel di atas kitab, maka garis-garis halus itu dapat terlihat jelas.

Saat itu lengan kanan Goan-ci terasa gatal tak terhingga, dan otomatis pandangannya terarah kepada lengan kanan padri kurus dalam lukisan itu. Ia lihat garis halus pada lengan padri itu dari telapak tangan menjurus naik ke tenggorokan, ke dada, ke perut, dan sesudah melingkar kian-kemari akhirnya naik ke bahu terus ke ubun-ubun kepala.

Karena mata memandang garis-garis halus dalam lukisan itu, dengan sendirinya hati ikut berpikir juga, maka terasalah rasa gatal aneh di lengannya itu berubah menjadi suatu arus hawa hangat dan menggeser menurut jalan garis dalam lukisan itu, mula-mula mengalir ke tenggorokan, kemudian ke dada, ke perut dan begitu seterusnya hingga akhirnya sampai ke ubun-ubun kepala, kemudian lenyap perlahan.

Begitulah berulang ia gunakan pikiran dan setiap kali lantas timbul suatu arus hawa hangat dan mengalir ke dalam otak, sebaliknya rasa gatal di lengan menjadi banyak berkurang.

Heran dan kejut juga Goan-ci, tapi ia tidak sempat menyelami sebab musababnya, segera ia lakukan cara itu hingga lebih 30 kali dan rasa gatal di lengan hanya tinggal sedikit saja, ketika ia melanjutkan belasan kali lagi, rasa gatal itu lantas hilang sirna.

Ketika kemudian ia dapat mengangkat kembali kepalanya, ia periksa lengannya, ia lihat warna hitam yang naik ke atas tadi kini sudah lenyap sama sekali. Saking girangnya, ia sampai berjingkrak. Tapi mendadak ia berteriak, “Ai, celaka! Sekarang racun kelabang itu telah masuk semua ke dalam otakku!”

Namun rasa gatalnya sekarang sudah hilang, keadaan badannya sehat seperti biasa, meski ada kemungkinan akan timbul sesuatu di kemudian hari juga tidak dihiraukan lagi. Ia pikir, “Masakah di dunia ini ada kejadian secara begini kebetulan? Dalam keadaan tidak sengaja, tahu-tahu aku menirukan gaya seperti padri dalam lukisan itu? Apakah semua ini memang takdir Ilahi?”

Esok paginya, baru saja ia menerobos keluar dari kolong selimutnya, tiba-tiba A Ci datang ke situ. Ketika melihat pakaian pemuda itu hancur hingga hampir telanjang, A Ci menjerit kaget, katanya, “He, kenapa kau belum mampus?”

Goan-ci terkejut dan cepat menyusup lagi ke dalam selimut, sahutnya, “Ya, hamba belum mati!”

Diam-diam ia merasa pedih karena si gadis menganggapnya sudah mati.

“Boleh juga jika kau belum mati,” kata A Ci kemudian. “Nah, lekas pakai baju dan ikut aku pergi menangkap binatang berbisa lain.”

Goan-ci mengiakan. Ia tunggu setelah A Ci keluar, segera ia minta satu setel pakaian kepada prajurit Cidan yang jaga di situ.

Lalu ia ikut A Ci keluar kota untuk mencari binatang berbisa seperti tempo hari. Dan sudah tentu, setiap kali berhasil menangkap sejenis binatang berbisa, selalu Goan-ci yang digunakan sebagai “kelinci percobaan” untuk latihan A Ci yang hendak meyakinkan “Hoa-kang-tay-hoat”. Tapi setiap kali Goan-ci selalu menggunakan cara yang dilihatnya dalam lukisan itu untuk menghapus racun yang masuk ke badannya.

Begitulah maka berturut-turut Goan-ci telah digigit oleh laba-laba hijau, kemudian seekor ketungging besar. Setiap kali A Ci mengira pemuda itu akan mati, tapi ia menjadi terheran-heran bila esok paginya melihat Goan-ci masih sehat walafiat.

Keadaan itu berlangsung terus hingga selama tiga bulan, belasan li di sekitar kota itu boleh dikatakan sukar didapatkan binatang berbisa lagi, kalau ada hanya tinggal yang kecil dan kurang berguna. Karena itu, tempat yang mereka datangi menjadi makin jauh di luar kota.

Suatu hari, mereka sampai di suatu tempat kira-kira lebih 30 li di barat kota, di situ A Ci menyalakan dupa wangi. Setelah ditunggu hampir satu jam, akhirnya terdengar suara gemeresik di antara semak-semak rumput sana, segera A Ci berseru, “Awas, tiarap ke bawah!”

Cepat Goan-ci menurut, ia mendekam ke tanah. Maka terdengarlah suara gemeresik itu tambah keras, suaranya aneh luar biasa.

Di antara suara aneh itu tercampur pula bau amis yang memuakkan, Goan-ci tidak berani bergerak sambil menahan napas. Ia melihat di mana semak rumput tersingkap, muncul segera seekor ular sawa yang sangat besar.

Kepala ular sawa itu berbentuk segitiga, di atas kepalanya menonjol sepotong daging yang aneh.

Pada umumnya di daerah utara jarang terdapat ular, lebih-lebih ular sawa aneh begitu, selamanya belum pernah dilihat oleh Goan-ci.

Sementara ular sawa raksasa itu sudah merayap sampai di dekat giok-ting, lalu melingkari tripod itu. Badan ular itu panjangnya ada dua-tiga meter, besarnya sebulat lengan manusia, sudah tentu tidak dapat menyusup ke dalam giok-ting seperti binatang merayap yang lain. Tapi dia sangat tertarik oleh bau wangi dupa di dalam giok-ting, maka berulang-ulang ular itu membentur giok-ting dengan kepalanya.

Sungguh sama sekali A Ci tidak menduga bahwa dupa yang dibakarnya itu dapat memancing datang seekor ular sawa raksasa seperti itu. Seketika ia menjadi bingung juga, perlahan ia geser ke samping Goan-ci dan berkata padanya dengan suara tertahan, “Celaka benar! Bagaimana baiknya sekarang? Bila ular itu membikin remuk giok-ting tentu runyam usahaku selama ini!”

Selama ini Goan-ci selalu dibentak dan dimaki oleh A Ci, belum pernah ia dengar suara ramah tamah si gadis seperti sekarang, nadanya mengajak berunding padanya, keruan ia terkesiap dan merasa bahagia pula. Segera ia menjawab, “Jangan khawatir, biar kugebah pergi ular itu!”

Segera ia bangkit dan melangkah ke arah ular sawa raksasa.

Demi mendengar suara tindakan orang, seketika badan ular itu melingkar-lingkar dan kepalanya menegak sambil menjulur-julurkan lidahnya yang merah dengan suara mendesis-desis siap untuk memagut.

Melihat betapa garangnya ular itu, mau tak mau Goan-ci merasa jeri juga. Ada maksudnya menjemput sepotong batu untuk menimpuk ular itu, tapi ia khawatir luput hingga mengenai giok-ting malah.

Tengah ragu dan bingung, tiba-tiba terasa angin dingin meniup dari sini-sana, waktu ia berpaling, ia lihat dari arah barat laut sana ada suatu sumbu api sedang menjalar ke arah sini, hanya dalam sekejap saja jalur api sudah menjalar sampai di depannya.

Waktu ia awasi, kiranya bukan sumbu api, tapi di tengah semak-semak rumput itu ada sejenis makhluk yang aneh, di mana binatang itu merayap lewat, di situ rumput yang tadinya hijau segar lantas hangus seperti habis terbakar. Berbareng itu Goan-ci merasa kakinya sangat kedinginan.

Cepat Goan-ci mundur beberapa tindak, waktu ia perhatikan binatang merayap yang aneh dan sedang mendekati giok-ting itu, kini dapat dilihatnya dengan jelas, kiranya seekor ulat sutra.

Ulat sutra itu warnanya putih bening kehijau-hijauan, bentuknya serupa ular sutra umumnya, cuma besarnya lebih sekali lipat hingga mirip seekor cacing. Pula badannya bening tembus seperti kaca.

Tadi ular sawa raksasa itu sangat galak, kepalanya menegak dan mendesis-desis mengancam musuh, tapi sekarang ternyata sangat ketakutan terhadap ulat sutra itu, sedapat mungkin ia hendak menyembunyikan kepalanya ke bawah lingkaran badannya.

Tapi dengan cepat luar biasa ulat sutra putih itu telah merambat ke atas badan ular sawa itu, sepanjang jalan yang dirambatnya itu, seketika punggung ular sawa itu terbakar suatu garis hangus. Waktu ulat itu merayap sampai di atas kepala ular, kontan kepala ular itu pecah merekah bagaikan dibelah dengan pisau yang tajam.

Segera ulat sutra itu menyusup ke dalam kelenjar bisa dalam kepala ular sawa itu untuk mengisap cairan bisa ular. Hanya sebentar saja cairan berbisa itu sudah kering terisap hingga badan ulat itu melar lebih besar satu kali lipat, tampaknya ulat yang bening itu menjadi mirip sebuah botol kecil yang penuh terisi cairan hijau.

Girang dan kejut A Ci melihat kelihaian ulat sutra itu, katanya dengan suara lirih, “Ulat sutra ini sungguh hebat, tampaknya adalah rajanya binatang berbisa!”

Sebaliknya Goan-ci diam-diam sangat cemas dan khawatir, ia pikir, “Jika darahku diisap oleh ulat sutra berbisa sejahat ini, pasti jiwaku akan amblas sekali ini!”

Dalam pada itu ulat sutra itu mulai merayap di sekitar giok-ting, lalu merambat ke atas tripod itu. Setiap tempat yang dilaluinya tentu meninggalkan suatu bekas hangus.

Tapi ulat itu seperti dapat berpikir, ia hanya merayap satu keliling di atas giok-ting dan seakan-akan tahu bila menyusup ke dalam tentu ia akan mati. Maka berbeda dengan binatang berbisa yang lain, ia tidak mau menyusup ke dalam giok-ting, sebaliknya merayap turun lagi dan tinggal pergi ke arah datangnya tadi.

“Lekas kejar, lekas!” seru A Ci.

Segera ia mengeluarkan kain satin untuk membungkus kembali giok-ting, lalu mengejar ke arah ulat sutra tadi dengan diikuti Goan-ci.

Meski ulat sutra itu cuma seekor binatang kecil, tapi merayapnya ternyata sangat cepat. Untung di mana dia lewat tentu meninggalkan bekas, maka untuk mengikuti jejaknya menjadi tidak susah.

Dan sekali mengejar ternyata sudah beberapa li jauhnya. Tiba-tiba terdengar di depan ada suara gemerciknya air, terlihat sebuah sungai melintang di situ. Bekas hangus yang ditinggalkan ulat sutra itu pun lantas menghilang setiba di tepi sungai. Waktu memandang ke tepi seberang, di sana juga tiada bekas jejak ulat. Mungkin sekali ulat itu kecemplung ke dalam sungai, kemudian hanyut terbawa air.

Dengan kesal A Ci mengomel, “Tadi mengapa kau tidak mengejar lebih cepat dan sekarang ke mana harus mencarinya? Pendek kata, kau harus menemukan kembali ulat itu!”

Sudah tentu Goan-ci gelisah dan bingung, ia mencari kian-kemari dan sudah tentu hasilnya nihil. Setelah mencari lagi satu-dua jam, sementara itu hari sudah hampir gelap, A Ci tidak sabar lagi, segera katanya dengan gusar, “Betapa pun kau wajib menangkapnya kembali untukku, kalau tidak, maka kau pun tidak perlu menemui aku lagi!”

Habis berkata, ia mencemplak ke atas kudanya dan tinggal pulang ke kota.

Keruan Goan-ci semakin gelisah, terpaksa ia mencari terus ke hilir sungai. Sesudah beberapa li lagi, cuaca sudah mulai remang-remang, tiba-tiba dilihatnya di semak-semak rumput di seberang sana ada bekas hangus dilalui ulat sutra itu. Saking girangnya sampai Goan-ci berteriak, “Nona sudah ketemu sekarang!”

Dan sudah tentu suaranya tak didengar oleh siapa pun, sebab A Ci sudah lama tinggal pergi. Segera Goan-ci menyeberangi sungai itu, ia kejar terus mengikuti jejak hangus itu. Ia lihat jalur hangus itu menyusur sepanjang jalan pegunungan itu dan menuju ke lereng bukit di depan sana.

Dengan penuh semangat Goan-ci berlari lebih cepat. Ketika kemudian ia mengangkat kepala, tiba-tiba dilihatnya di ujung jalan pegunungan itu berdiri sebuah kelenteng besar dan megah. Sesudah dekat, Goan-ci lihat papan kelenteng itu tertulis lima huruf besar “Ci-kian Bin-tiong-si”.

Ia tidak sempat memerhatikan keadaan kelenteng itu, yang dipentingkan adalah mengikuti jejak hangus itu. Ia lihat jalur hangus itu mengitar ke samping kelenteng, lalu menyusur ke belakang rumah berhala itu.

Ia dengar di dalam kelenteng suara genta dan bok-hi (kentungan) sedang berbunyi, di sana-sini terdengar suara pembacaan kitab, terang padri dalam kuil itu sedang liam-keng, melakukan sembahyang petang. Dari suara berisik itu, agaknya padri penghuni kelenteng itu tidak sedikit jumlahnya.

Sejak Goan-ci kepalanya dikerudungi topeng besi itu, ia merasa malu diri dan enggan muncul di depan umum. Karena khawatir diketahui padri dalam kelenteng, segera ia putar ke samping kelenteng, ia lihat jalur hangus itu melintasi suatu tanah pekarangan, lalu masuk ke suatu kebun sayur.

Goan-ci sangat girang, ia menduga dalam kebun sayur itu tak ada orang, mengingat waktu itu sudah magrib dan para padri sedang sembahyang, cepat ia menuju kebun itu, ia yakin ulat itu tentu lagi makan daun sayur dalam kebun dan dengan gampang akan dapat ditangkapnya.

Tapi baru saja ia sampai di luar pagar bambu kebun sayur itu, tiba-tiba didengarnya di dalam kebun ada suara orang sedang mencaci maki. Terdengar orang itu lagi mendamprat, “Kenapa kau begini kurang ajar, sendirian mengeluyur pergi pesiar? Sampai Locu (bapakmu, kata olok-olok) kelabakan setengah mati mencarimu dan khawatir kau takkan pulang untuk selamanya. Jauh-jauh Locu telah membawamu ke sini dari puncak Kun-lun-san, tapi dasar kau memang tidak kenal kebaikan Locu. Kalau kelakuanmu terus begini, bagaimana hari depanmu? Tentu tiada seorang pun yang akan kasihan pada nasibmu kelak!”

Meski suara orang itu kedengaran sangat marah, namun mengandung juga rasa kasih sayang, jadi lebih mirip orang tua yang sedang memberi petuah kepada anaknya yang nakal.

Diam-diam Goan-ci pikir, “Dia bilang membawanya jauh-jauh dari puncak Kun-lun-san, maka hubungan mereka terang bukan antara ayah dan anak, melainkan guru dan murid atau angkatan tua lainnya.”

Sembari berpikir segera ia pun merunduk maju ke tepi pagar bambu dan mengintip ke dalam kebun. Maka tampaklah pembicara itu adalah seorang hwesio.

Potongan hwesio itu sangat lucu, sudah pendek lagi gemuk, jadi bundar buntek mirip “bakpao”.

Pada umumnya kepala hwesio itu tercukur kelimis, tapi dia justru tidak cukur rambut, bahkan mukanya, lengannya, dan dadanya penuh tumbuh rambut yang panjang. Sebaliknya pakaiannya rapi dan bersih sekali.

Padri itu tampak sedang menuding ke tanah dengan marah-marah sambil mendamprat.

Sungguh Goan-ci heran tak terkatakan, sebab di depan padri itu tiada seorang pun. Tapi ketika ia perhatikan, seketika ia terkejut dan girang. Kiranya yang didamprat habis-habisan oleh hwesio buntak itu tak-lain-tak-bukan adalah ulat sutra raksasa yang sedang dicarinya itu.

Memangnya potongan hwesio buntak itu sangat aneh, ternyata tingkah lakunya terlebih mengherankan, masakah dia mendamprat seekor ulat seperti dia memaki anaknya saja?

Dalam pada itu ulat sutra raksasa itu tampak merayap-rayap dengan cepat di atas tanah seperti sedang berusaha melarikan diri, namun ia hanya dapat mengitar saja di situ, setiap kali ia seperti terbentur oleh sebuah dinding yang tak berwujud, lalu berputar balik.

Waktu Goan-ci perhatikan lebih cermat, lamat-lamat terlihat di atas tanah itu tergambar sebuah lingkaran warna kuning, ulat sutra itu merayap ke sini dan menyusup ke sana, tapi tidak dapat melintasi lingkaran kuning itu. Maka pahamlah Goan-ci akan duduknya perkara, “Tentu lingkaran kuning itu digambar dengan semacam obat bubuk, dan obat itu justru adalah obat antiulat sutra!”

Begitulah sesudah hwesio buntak itu memaki sebentar pula, kemudian ia merogoh keluar sepotong barang dan digerogoti. Kiranya barang itu adalah sepotong congor kambing rebus.

Nikmat sekali kelihatannya hwesio itu makan daging kambing, kemudian ia tanggalkan sebuah buli-buli rusak dari pinggangnya, ia buka sumbat houlo (buli-buli buatan dari sejenis labu yang dikeringkan) dan menenggak dengan bernafsu.

Segera Goan-ci mencium bau arak yang harum. Pikirnya, “Kiranya orang ini adalah hwesio sontoloyo yang tidak pantang makan daging dan minum arak. Tampaknya ulat sutra ini piaraannya, makanya ia sangat sayang pada binatang itu. Lantas cara bagaimana aku harus mencurinya?”

Tengah Goan-ci mencari akal, tiba-tiba didengarnya ada suara orang berseru di sebelah kebun sana, “Sam-ceng! Sam-ceng!”

Hwesio buntak itu kelihatan terkejut demi mendengar suara panggilan itu, cepat ia menyembunyikan houlo dan congor kambing yang belum habis dimakan itu ke dalam onggokan rumput kering di situ.

Dalam pada itu suara orang tadi lagi memanggil pula, “Sam-ceng! Sam-ceng! Di mana kau, mengapa kau tidak sembahyang magrib, tapi mengumpet di mana?”

Cepat hwesio buntak itu menjemput sebatang cangkul yang berada di sisinya, segera ia pura-pura lagi mencangkul di ladang sayur, lalu menjawab, “Aku berada di sini! Aku lagi mencangkul sayur atas perintah Hongtiang, maka tidak sempat melakukan ibadah!”

Maka tertampaklah orang yang memanggil itu lagi mendekat, kiranya seorang hwesio setengah umur, dengan muka kereng ia berkata, “Ibadat pagi dan sore harus dilakukan setiap orang, untuk mencangkul mengapa mesti dilakukan pada waktu sembahyang? Ayo lekas ke sana, habis melakukan kewajiban boleh datang lagi ke sini untuk mencangkul lagi!”

Si padri buntak yang dipanggil sebagai Sam-ceng itu mengiakan, lalu menaruh cangkul dan ikut pergi bersama hwesio yang memanggilnya itu tanpa berani menoleh, rupanya khawatir perbuatannya tadi ketahuan.

Menunggu setelah kedua padri itu menghilang dan sekitar situ sudah sunyi, diam-diam Goan-ci menerobos pagar bambu dan masuk ke dalam kebun. Ia lihat ulat sutra itu masih merayap kian-kemari ingin keluar dari lingkaran kuning. Untuk sejenak Goan-ci menjadi bingung cara bagaimana harus menangkap ulat itu.

Tiba-tiba ia mendapat akal, segera ia menggerayangi onggok rumput kering dan mengeluarkan houlo yang disembunyikan si padri buntak tadi. Ia coba kocok buli-buli itu dan ternyata masih ada isinya setengah. Ia minum beberapa ceguk araknya, lalu membuang sisanya, perlahan ia pasang mulut houlo itu ke garis lingkaran kuning itu. Dan begitu mulut houlo melintang di garis itu, cepat sekali ulat itu lantas menyusup ke dalam houlo.

Girang Goan-ci tak terkatakan, cepat ia tutup sumbat houlo, sambil mendekap houlo dengan kedua tangan, segera ia menerobos keluar pagar bambu dan cepat lari kembali ke arah datangnya tadi.

Tapi baru beberapa puluh meter jauhnya ia tinggalkan kelenteng itu, segera ia merasa kedua tangannya itu kedinginan, hawa dingin itu merembes keluar dari dalam houlo. Begitu dingin hingga tangannya serasa akan beku, ia benar-benar tidak sanggup lagi memegangi houlo itu.

Saking tak tahan akan rasa dingin itu, ia coba taruh houlo itu di atas kepalanya. Tapi cara ini lebih celaka lagi baginya. Sebab hawa dingin itu pun menembus topeng besi yang dipakainya hingga kepalanya kedinginan seakan-akan beku, bahkan darah seluruh tubuh juga serasa beku semua.

Tiba-tiba Goan-ci mendapat akal lagi, ia lepaskan ikat pinggang, ia ikatkan pinggang houlo itu dan mencangkingnya dengan tangan. Tali ikat pinggang itu tak tertembus hawa dingin, maka ia dapat menjinjingnya dengan selamat untuk melanjutkan perjalanan. Namun begitu hawa dingin masih merembes keluar dari dalam houlo hingga dalam sekejap saja di luar houlo telah membeku menjadi selapis es.

Goan-ci berjalan dengan setengah berlari, waktu hari gelap barulah ia sampai di kota, pintu gerbang kota sudah ditutup, terpaksa ia bermalam di luar benteng kota, esok paginya barulah ia datang ke Toan-hok-tian untuk melapor kepada A Ci tentang hasilnya itu.

A Ci sangat girang, segera ia perintahkan Goan-ci memiara ulat sutra itu di dalam guci.

Tatkala itu sudah permulaan musim panas, hawa agak hangat di daerah utara. Tapi sejak ulat sutra itu dipelihara dalam istana samping, seketika hawa dalam istana itu tambah dingin, tidak lama kemudian bahkan air teh di dalam teko dan cangkir juga beku menjadi es.

Malam itu meski Goan-ci tidur berselimut, tapi dia kedinginan sampai menggigil. Pikirnya, “Ulat sutra ini sungguh sangat aneh, benar-benar jarang terdapat di dunia ini. Bila nanti nona menggunakan ulat ini untuk mengisap darahku, andaikan aku tidak mati keracunan juga pasti akan mati beku.”

Ketika A Ci mendapati keadaan aneh dalam istana itu, segera ia tahu ulat sutra itu bukanlah binatang sembarangan. Berulang ia menangkap pula beberapa ekor ular dan serangga berbisa lain untuk diadu dengan ulat sutra itu, tapi semua kalah, asal dilingkari sekali oleh ulat sutra itu, seketika lawannya mati kedinginan, lalu cairan racunnya diisap kering oleh ulat sutra.

Belasan hari kemudian, tiada satu pun binatang berbisa lain yang dapat diadu lagi dengan ulat sutra itu.

Suatu hari A Ci datang ke ruangan samping istana dan berkata kepada Goan-ci, “Badut besi, hari ini kita akan menggunakan ulat sutra ini. Nah, ulurkan tanganmu ke dalam guci, biarkan ulat itu mengisap darahmu!”

Memang selama beberapa hari ini hati Goan-ci selalu kebat-kebit, siang berkhawatir dan malam bermimpi buruk, yang ditakuti justru adalah perintah seperti si nona sekarang ini. Dan sekali nona itu sudah memberi perintah, betapa pun dia pasti akan menjadi korban ulat itu, untuk minta ampun juga percuma. Dengan rasa pedih Goan-ci memandang A Ci tanpa berkata dan tidak bergerak.

Sementara itu A Ci sudah duduk bersila untuk mengerahkan lwekangnya, yang terpikir olehnya saat itu adalah Hoa-kang-tay-hoat yang akan berhasil dilatihnya itu bukan mustahil akan jauh lebih lihai daripada gurunya sendiri. Dan ketika melihat Goan-ci diam saja, segera ia memerintah lagi, “Nah, ulurkan tanganmu!”

Air mata Goan-ci bercucuran, tiba-tiba ia berlutut dan menjura kepada A Ci, katanya, “Nona, bila ilmu silatmu sudah berhasil kau yakinkan, hendaklah jangan melupakan hambamu yang berkorban bagimu ini. Aku she Yu bernama Goan-ci, dan bukan badut besi atau badut tembaga segala.”

A Ci tersenyum, sahutnya, “Baiklah, aku akan mengingatnya, namamu Yu Goan-ci. Kau sangat setia padaku, sungguh bagus, seorang budak yang setia!”

Pujian A Ci itu dirasakan oleh Goan-ci sebagai hiburan sebelum ajalnya, kembali ia menjura tiga kali lagi dan menyatakan terima kasih.

Tapi setiap manusia di dunia ini pasti mempunyai rasa takut mati. Yu Goan-ci juga tidak rela mati konyol secara begitu. Teringat olehnya tempo hari sesudah ia digigit oleh kelabang, jiwanya yang hampir amblas itu dapat tertolong oleh gaya menjungkir si padri kurus kering dalam lukisan itu. Maka sekarang mencobanya lagi secara untung-untungan siapa tahu kalau akan berhasil juga.

Segera ia berdiri dengan berjinjit, ia menekuk tubuh dan menyusupkan kepala ke bawah selangkangan, dengan demikian ia menjulurkan tangan ke dalam guci, sedangkan pikiran tertuju kepada garis merah yang terlukis pada si padri kurus dalam kitab itu.

Mendadak “clekit”, jari telunjuknya terasa sakit dan gatal, suatu arus hawa dingin terus merasuk ke dalam tubuh. Namun Goan-ci sudah siap sedia, pikirannya melulu tertuju kepada garis merah di dalam lukisan padri kurus itu. Ia merasa hawa dingin itu benar-benar dapat mengalir menurut relnya, yaitu mengikuti garis merah yang diingat-ingat olehnya. Maka hawa dingin itu mulai mengalir dari jari ke lengan, dari lengan ke bahu, ke dada dan berputar untuk kemudian sampai di ubun-ubun kepala.

Meski garis yang dilalui itu terasa dingin merasuk tulang, tapi rasa dingin itu sangat halus hingga Goan-ci masih sanggup bertahan.

Semula A Ci sangat geli melihat kelakuan Goan-ci yang aneh itu. Tapi sesudah agak lama pemuda itu tetap berjungkir, mau tak mau A Ci merasa sangsi. Ia coba mendekat, ia lihat ulat sutra di dalam guci telah menggigit jari telunjuk pemuda itu.

Karena badan ulat sutra itu berwarna putih bening, maka dapat terlihat dengan jelas darah yang diisap itu mengalir masuk ke dalam perut ulat, sesudah itu berputar di dalam badan, lalu aliran darah mencurah keluar kembali ke jari Yu Goan-ci.

Selang agak lama lagi, lambat laun kerudung besi, pakaian, kaki, dan tangan Goan-ci mulai beku oleh selapis es.

“Budak ini terang sudah mati, badan orang hidup umumnya panas, mana dapat beku menjadi es?” demikian A Ci berkata di dalam hati.

Ia lihat dalam badan ulat sutra itu masih ada darah yang mengalir, terang belum selesai ulat itu mengisap darah. Terpaksa ia mesti bersabar dan menunggu ulat itu jatuh sendiri bila sudah kenyang mengisap darah, lalu ia akan gecek mati ulat itu untuk mengambil sari bisanya guna melatih Hoa-kang-tay-hoat yang mukjizat itu.

Begitulah A Ci menaruh perhatian penuh akan keadaan ulat sutra itu sambil siap memegang sebatang tongkat untuk menggeceknya. Sekonyong-konyong dilihatnya badan ulat sutra itu mengeluarkan hawa panas.

Selagi A Ci terkejut dan terheran-heran, “blek”, tahu-tahu ulat itu jatuh ke dalam guci. Kontan saja A Ci mengetuk dengan tongkat yang dipegangnya.

Semula ia duga gecekannya itu belum tentu dapat membinasakan ulat itu mengingat binatang itu sangat licin dan gesit. Siapa duga, sekali ulat sutra itu jatuh ke dalam guci, seketika menggeletak dengan perut di atas tanpa berkutik, maka sekali gecek segera ulat sutra itu gepeng dan hancur.

A Ci sangat girang, cepat ia masukkan tangan ke dalam guci, ia poles cairan darah ulat itu pada kedua telapak tangan sendiri, lalu pejamkan mata dan mengerahkan lwekang, maka dengan cepat cairan darah ulat sutra itu terisap kering ke dalam telapak tangan. Ia tahu khasiat ulat sutra itu sangat sukar dicari, maka berulang-ulang A Ci poles cairan darah ulat pada tangannya, setelah cairan itu kering betul, barulah ia berhenti.

Kemudian ia bangkit, ia lihat Goan-ci masih berjungkir, seluruh badan penuh terbungkus es. Sudah tentu A Ci sangat heran, ia coba meraba badan orang, ia merasa dingin sekali, untuk sejenak A Ci memandang keadaan aneh itu dengan bingung, lalu tinggal pergi.

Esok paginya A Ci datang ke ruangan istana pula, ia lihat Goan-ci masih tetap terjungkir dan es yang membeku di atas badan pemuda itu bertambah tebal. Terkejut dan geli pula A Ci. Segera ia memanggil Sili dan menyuruhnya menyeret pergi mayat Yu Goan-ci itu untuk dikubur.

Dengan beberapa anak buah segera mengangkut mayat Goan-ci keluar kota dengan kereta kuda.
Sudah biasa orang Cidan pandang orang Han seperti hewan, maka Sili malas untuk mengubur Goan-ci, ketika dilihatnya di tepi jalan ada sebuah sungai kecil, terus saja ia buang mayat Goan-ci ke dalam sungai, lalu pulang ke kota.

Dan karena keteledoran Sili inilah jiwa Yu Goan-ci jadi selamat malah.

Kiranya ketika jari Goan-ci kena digigit ulat sutra, segera ia gunakan ilmu dalam “Ih-kin-keng” yang dilihatnya, yaitu lukisan si padri kurus yang berjungkir dengan gaya aneh itu, dengan demikian hawa berbisa ulat sutra itu dapat dipunahkan.

Ia tidak tahu bahwa “Ih-kin-keng” adalah buah kalam Tat-mo Locou sendiri, apa yang diajarkan dalam kitab pusaka itu adalah pengantar ilmu lwekang yang mahatinggi, dan karena peniruan Goan-ci itu, sesudah darahnya disedot ulat sutra kemudian ia dapat menarik kembali darahnya pula hingga sari bisa mahalihai dari ulat sutra yang tiada bandingannya di dunia ini telah ikut terisap ke dalam tubuh Goan-ci sendiri.

Mestinya, jika Goan-ci sudah memahami kunci rahasia melakukan ilmu meditasi dalam “Ih-kin-keng”, dengan sendirinya ia akan dapat memunahkan racun ulat itu secara bertahap, tapi sekarang dia cuma dapat melakukan satu gaya saja, yaitu dengan berdiri menjungkir, maka racun ulat sutra yang mahaaneh itu bersarang semua di dalam tubuhnya.

Memangnya bisa ulat sutra itu adalah sejenis racun mahadingin yang tiada bandingannya, ditambah lagi dalam tubuh Goan-ci sudah terhimpun kadar racun dari kelabang, ular, dan lain-lain, jadi sudah beracun ditambah racun lagi, keruan seketika ia beku kedinginan.

Bila Sili melaksanakan perintah A Ci dengan baik serta mengubur Goan-ci di dalam tanah, pasti mayat itu akhirnya akan menjadi kerangka “mumi” (jenazah yang tidak membusuk).

Tapi kini ia dibuang ke kali, maka terhanyutlah Goan-ci mengikuti arus. Dan sekali terhanyut hingga sejauh lebih 20 li, akhirnya tersangkut pada sebuah batu karang di tikungan sungai yang sempit. Selang tak lama, air sungai di sekeliling tubuhnya ikut membeku hingga Goan-ci seolah-olah terbungkus dalam peti mati hablur atau kristal.

Tapi karena diguyur terus oleh arus sungai, setitik demi setitik hawa dingin dalam tubuh Goan-ci tergesek-gesek hilang, akhirnya es yang membeku di luar di luar badannya mencair. Untung dia memakai kerudung besi, barang logam lebih cepat tertembus hawa dingin, tapi juga cepat panasnya. Maka es yang membeku di sekitar topeng besi cair paling dulu. Setelah digerojok air sungai sejenak pula Goan-ci terbatuk-batuk dan pikirannya sadar kembali, segera ia merangkak naik dari dalam sungai.

Ia merasa seperti habis bermimpi. Ia duduk di tepi kali sambil menunggu mencairnya es yang masih melekat di sekujur badannya. Teringat olehnya betapa setianya kepada A Ci, ia korbankan awak sendiri digigit binatang-binatang berbisa untuk membantu gadis itu berlatih ilmu, tapi ketika dirinya disangka sudah mati, ternyata gadis itu sedikit pun tidak mengunjuk rasa menyesal, bahkan membuangnya ke kali seperti bangkai anjing saja.

Ia masih ingat ketika dirinya mulai beku, A Ci sendiri asyik memoles cairan darah ulat sutra pada telapak tangan untuk meyakinkan ilmunya. Kemudian gadis itu hanya memandangnya dengan terheran-heran dan merasa geli, sedikit pun gadis itu tidak memperlihatkan rasa kasihan atau menyesal.

Kemudian ia pikir pula, “Begitu lihai racun ulat sutra itu, setelah nona mengisapnya ke dalam telapak tangan, terang ilmu sakti tok-ciang (pukulan berbisa) kini sudah berhasil dilatihnya, kalau aku pulang ke sana untuk menemui... untuk menemui dia....”

Berpikir sampai di sini, sekonyong-konyong ia bergidik sendiri, katanya di dalam hati, “Ya, bila dia melihat aku lagi, pasti aku akan digunakan untuk menguji pukulan saktinya yang berbisa itu. Dan jika betul ilmu saktinya itu sudah jadi, tentu jiwaku akan melayang seketika oleh serangannya. Dan jika betul ilmu sakti itu belum jadi, tentu aku akan disuruh mencari binatang berbisa lain sehingga ilmu yang dilatihnya itu berhasil, akhirnya aku pula yang akan dipakai sebagai kelinci percobaan. Jadi jiwaku tetap akan melayang. Daripada mati konyol, buat apa aku pulang ke sana?”

Ia berdiri dan meloncat-loncat beberapa kali agar batu es yang masih melekat di badan itu rontok. Kemudian ia merasa bingung ke mana harus pergi?

Tengah merasa bimbang, tiba-tiba didengarnya suara tertawa nyaring mengikik terbawa angin lalu suara seorang gadis sedang bicara, “Cihu, sudah lama sekali engkau tidak menemani aku pesiar ke luar rumah, maka sekarang kita harus pesiar sepuas-puasnya!”

Dari suara yang merdu genit itu, segera Goan-ci mengenali pembicara itu tak-lain-tak-bukan adalah A Ci. Keruan ia terkejut, “Wah, celaka, rupanya dia sedang mencari diriku lagi? Agaknya dia datang bersama Kiau Hong.”

Tidak lama kemudian, terdengar suara derapan kaki kuda, dua penunggang kuda tampak mendatangi dengan cepat. Karena di sekitar situ tiada suatu tempat sembunyi yang baik, terpaksa Goan-ci menyusup ke dalam semak-semak rumput di belakang pohon.

Dan karena sedikit gerakan itu, Siau Hong yang bermata amat tajam sempat melihat di semak-semak rumput itu ada sesuatu yang mencurigakan. Serunya segera, “A Ci, di balik pohon itu rupanya ada seekor binatang, kalau bukan menjangan tentu serigala!”

“Sungguh amat jeli pandanganmu, begini jauh jaraknya engkau dapat mengetahui,” ujar A Ci dengan tertawa. Lalu ia larikan kudanya lebih dekat, rupanya khawatir binatang buruannya akan lari, segera ia mendahului memanah.

Sudah tentu Goan-ci tidak berani bergerak, terpaksa ia pasrah nasib. Untung Siau Hong dan A Ci tidak melihat jelas jejaknya, maka panah itu menyambar lewat di samping kepalanya dan menancap di tanah. Coba kalau kena kerudung besi pada kepalanya itu, meski tidak terluka juga pasti akan mengeluarkan suara keras dan jejak Goan-ci tentu akan ketahuan.

Dan secara kebetulan pula di tengah semak-semak itu memang bersembunyi dua ekor kelinci, ketika panah yang dibidikkan A Ci itu menancap di situ, kedua kelinci itu kaget dan melarikan diri.

Maka tertawalah A Ci, katanya, “Hahaha, lihatlah, Cihu! Sekali ini engkau telah salah lihat, hanya dua ekor kelinci, tapi kau sangka menjangan dan serigala!”

Segera ia pun memburu ke arah kelinci tadi dan berturut-turut ia panah roboh sasarannya itu.

Selagi A Ci menjulurkan badan dari atas kuda hendak menjemput binatang buruannya itu, tiba-tiba terdengar suara seorang menegur di seberang kali sana, “Nona cilik, kau lihat Han-giok-jan (ulat sutra kemala dingin) piaraanku atau tidak?”

Ketika A Ci mendongak, ia lihat yang bicara itu adalah seorang hwesio berpotongan aneh, sudah gemuk, lagi pendek, hingga mirip sebuah bola raksasa.

Dari tempat sembunyinya Goan-ci dapat melihat jelas bahwa hwesio yang menegur A Ci itu adalah Sam-ceng yang dilihatnya di kebun sayur kelenteng Bin-tiong-si itu. Padri itu menyatakan ulat yang disebut “Han-giok-jan” itu adalah piaraannya. Sedang orang yang membunuh ulat itu memang betul adalah A Ci, maka tepatlah orangnya yang hendak dicari padri itu. Demikian pikir Goan-ci.

Sementara itu A Ci kelihatan melengak oleh pertanyaan Sam-ceng tadi, tapi segera ia mengikik sambil mendekap di atas pelana kuda.

Sam-ceng menjadi gusar, katanya pula, “Aku tanya padamu, aku mempunyai seekor ulat sutra putih piaraanku, di mana dia lewat, di situ tentu meninggalkan bekas hangus. Nah, kau lihat tidak? Kalau melihatnya bilang melihat, kalau tidak bilang tidak, apa yang kau gelikan? Mengapa tertawa?”

Masih A Ci tidak menjawab, dengan tertawa ia berkata kepada Siau Hong malah, “Cihu, lihatlah bola raksasa itu, sungguh lucu!”

“Hus,” bentak Siau Hong. “Bocah cilik sembarang omong, jangan kurang ajar kepada Thaysuhu.”

Melihat potongan Sam-ceng yang luar biasa, suaranya sangat lantang pula, sejak mula Siau Hong sudah tahu padri itu pasti seorang persilatan. Ketika mendengar padri itu mencari ulat apa yang disebut “Han-giok-jan” segala, ia menduga ulat itu pasti bukan sembarangan ulat, maka sedapat mungkin ia ingin menghindarkan percekcokan.

Dalam pada itu A Ci telah bertanya dengan tertawa, “He, Toahwesio, apakah ulat sutra itu peliharaanmu?”

“Ya, ya betul!” cepat Sam-ceng menyahut. “Jauh-jauh aku membawanya kemari dari puncak Kun-lun-san, bila nona melihat ulat itu harap suka memberi tahu.”

“Di mana ulatmu itu lalu, di situ lantas meninggalkan jalur bekas hangus, betul tidak?” tanya A Ci pula.

“Ya, ya benar!” sahut Sam-ceng. Padahal pertanyaan A Ci itu hanya mengulangi apa yang dikatakannya tadi.

“Dan ulatmu itu mahadingin, bukan? Segala benda yang dekat dengan dia seketika akan beku menjadi es, betul tidak?” tanya A Ci.

“Ya, benar! Benar! Sedikit pun tidak salah!” ulang Sam-ceng.

“Jika begitu, kemarin aku melihat ulat sutra itu bertarung melawan seekor kelabang dan ulatmu mati digigit kelabang itu,” kata A Ci.

“Kentut! Kentutmu busuk!” damprat Sam-ceng marah-marah. “Ulatku itu adalah raja dari segala binatang berbisa di dunia ini, segala ular atau binatang berbisa lain kalau ketemu dia pasti akan ketakutan hingga tak berani berkutik, masakah dia dapat dikalahkan oleh kelabang apa?”

Karena dimaki, A Ci bertambah jahil dan sengaja menggoda pula, katanya, “Jika kau tidak percaya, masa bodoh! Yang pasti kemarin aku melihat seekor ulat sutra putih bening dan aneh, sekali injak segera kugecek mati ulat itu.”

Sekonyong-konyong Sam-ceng meloncat setinggi dua-tiga meter hingga mirip sebuah bola raksasa yang membal ke udara. Ia berteriak-teriak, “Kentut! Kentut busuk! Ulatku itu gesitnya secepat angin, kalau kau tidak mempunyai obat antiulat itu, mana dapat kau bunuh dia? Bila hendak kau injak dia, sebelum kena mungkin kau sudah digigit mampus olehnya.”

Segera A Ci merogoh saku, ia keluarkan suatu bungkusan kecil, sesudah dibuka, benar juga isinya adalah bangkai ulat sutra yang dimaksudkan itu. Badan ulat itu sudah kena digecek oleh pentung kayu A Ci, cairan darahnya juga sudah terpencet keluar, maka bangkai ulat itu sudah berubah gepeng dan kering.

Rupanya A Ci tahu bahwa ulat sutra itu sangat luar biasa, ia duga bangkainya mungkin masih berguna, maka sengaja disimpannya dengan baik.

Melihat ulat sutra piaraannya itu benar-benar sudah mati, seketika wajah Sam-ceng berubah pucat lesi bagai mayat. Tubuhnya tampak sempoyongan pula, mendadak ia mendeprok di tanah dan menangis tergerung-gerung. Sekonyong-konyong ia merampas bangkai ulat itu dari tangan A Ci, ia peluk erat-erat di depan dadanya, sambil menangis sembari sesambatan, “O, jantung hatiku! O, putraku yang manis! Dengan susah payah aku membawamu dari Kun-lun-san, tujuanku ingin piara dikau dengan baik. Tapi kau justru tidak mau dengar kataku, kau suka kelayapan sendirian, akhirnya kau digecek mati oleh budak setan ini!”

Demikian makin menangis makin sedih, sampai akhirnya suara padri buntak itu menjadi serak dan hampir tak terdengar.

A Ci merasa geli, ia bersorak gembira. Sebaliknya Siau Hong tahu padri buntak itu pasti tidak mau menyudahi persoalan ini dengan demikian saja. Segera ia menarik les kuda dan bermaksud mengaling di depan A Ci untuk menjaga segala kemungkinan, habis itu barulah ia akan minta maaf kepada padri pendek gemuk itu.

Tak terduga, belum berhenti menangis, tahu-tahu badan Sam-ceng membal lagi ke atas mirip sebuah bola raksasa, terus menumbuk ke arah A Ci.

Serangan ini datangnya teramat cepat, belum lagi kuda Siau Hong berada di depan A Ci dan tubuh Sam-ceng yang bundar itu sudah menyambar tiba.

Mendengar sambaran angin yang keras itu cepat Siau Hong membentak, “Jangan mengganggu orang!”

Berbareng tangan meraih ke depan, ia jambret punggung A Ci terus diangkat ke atas pelana kudanya.

Maka terdengarlah suara “bluk” yang keras, tubuh Sam-ceng yang mirip gentong itu kena tumbuk kuda tunggangan A Ci, begitu hebat tenaga tumbukan itu hingga kuda sebesar itu mencelat pergi dan terbanting mati seketika.

Muka A Ci sampai pucat saking kagetnya. Sama sekali tak terduga olehnya bahwa tumbukan si padri katai yang lucu potongannya itu sedemikian lihainya.

Dan sekali tumbuk membinasakan kuda A Ci, menyusul Sam-ceng lantas membal lagi dan kembali menerjang ke arah A Ci.

Segera Siau Hong mengempit kudanya agar mencongklang ke depan untuk menghindarkan serangan itu. Namun datangnya Sam-ceng ternyata cepat luar biasa, langkah kuda pun kalah cepat.

Melihat gelagat jelek, untuk menahan serudukan hwesio buntak itu terpaksa Siau Hong harus mengeluarkan tenaga pukulannya. Tapi terang A Ci yang bersalah, gadis itu telah membinasakan ulat sutra piaraan orang, mana boleh dia membela pihak yang salah dan melukai orang?

Tanpa pikir segera Siau Hong rangkul A Ci, cepat ia melayang pergi beberapa meter jauhnya.

“Bruk”, kembali kuda tunggangan Siau Hong menjadi korban, binatang itu kena ditumbuk oleh Sam-ceng hingga mencelat pula. Bahkan sekali ini jauh lebih keras daripada tadi, kuda itu menabrak sebatang pohon hingga perutnya tembus oleh dahan pohon yang patah tertumbuk itu.

Sama sekali Sam-ceng tidak ambil pusing apa yang terjadi itu, untuk ketiga kalinya ia menyeruduk pula ke arah Siau Hong dan A Ci.

Keruan Siau Hong terheran-heran, ia tidak habis mengerti cara menyerang orang yang aneh itu. Bilamana lawan bersenjata, dan padri itu main seruduk begitu, apakah bukan berarti menggunakan badan daging untuk diadu dengan senjata tajam dan akan mampus sendiri?

Dalam pada itu Sam-ceng masih belum kapok dan masih menyeruduk terus, sekali ini Siau Hong tidak mau menghindar lagi, serunya, “Thaysuhu, mengapa kau desak orang sedemikian rupa? Biarlah aku minta maaf padamu dan mengaku salah saja.”

Sebenarnya Sam-ceng sudah mulai menyeruduk lagi, demi mendengar ucapan Siau Hong itu, mendadak ia bisa mengerem, sekonyong-konyong tubuhnya berjumpalitan ke atas hingga beberapa kali putaran. Kesempatan itu segera digunakan Siau Hong untuk melangkah mundur beberapa tindak bersama A Ci. Dan sejenak kemudian barulah Sam-ceng turun ke tanah dengan enteng.

Tapi begitu pundaknya menggesek tanah, segera ia menggelinding maju pula, ia menerjang ke kaki Siau Hong sambil berteriak, “Kembalikan ulatku! Kembalikan ulatku!”

Caranya Sam-ceng main gelinding di tanah itu ternyata sama sekali berbeda daripada ilmu silat yang biasa terdapat di dunia persilatan. Tertampak padri itu menekuk kaki dan tangan memegang kepala, jadi meringkuk bagaikan sebuah bola, lalu menggelinding cepat ke arah lawan.

Diam-diam Siau Hong heran pula oleh cara berkelahi si padri buntak yang bodoh ini, kalau mau, sekali hantam pasti padri itu akan dapat dihancurkan olehnya. Tapi ia tidak bermaksud jahat, ia hanya melangkah ke samping untuk mengelakkan terjangan musuh. Tapi sekilas lantas terlihat olehnya di tanah situ sudah tersebar sepetak bubuk kuning.

Syukur Siau Hong dapat bertindak menurut keadaan, meski ia tidak tahu di mana letak keganjilan bubuk kuning itu, yang terang di atas tanah situ tadi tidak terdapat bubuk kuning seperti itu, jadi jelas disebarkan oleh hwesio gendut ini ketika dia main gelinding tadi. Dan bila kaki sampai menginjak bubuk kuning itu, bukan mustahil akan kena ditipu lawan.

Segera Siau Hong meloncat ke atas, sambil bersuit nyaring, menyusul ia mengapung lebih tinggi sambil merangkul A Ci untuk menghindarkan bubuk kuning di bawah kaki.

Kiranya bubuk kuning itu memang benar adalah bubuk beracun yang disebarkan oleh Sam-ceng Hwesio. Asal kaki Siau Hong menginjak ke bawah di mana bubuk beracun itu bertebaran, maka dia dan A Ci pasti akan menyedot bubuk kuning dan akibatnya sekujur badan akan lemah lunglai serta pasrah nasib kepada musuh.

Melihat Siau Hong teramat cerdik, tampaknya akan terpancing, tahu-tahu orangnya mengapung ke atas, Sam-ceng segera menerjang lagi, tubuhnya yang bulat itu kembali membal ke atas untuk menumbuk Siau Hong. Ia pikir lawan merangkul seorang lagi, betapa pun tenaga mengapungnya juga terbatas, dan asal dapat menumbuknya hingga ketiga orang terbanting bersama ke bawah, pasti lawan akan keracunan oleh perangkap yang telah dipasangnya itu.

Tapi ketika Siau Hong melihat padri itu membal lagi ke atas, dan tampaknya benturan sukar dielakkan lagi, segera ia gunakan kaki kanan untuk menjejak perlahan ke tubuh orang, dengan tenaga jejakan itu Siau Hong dapat melayang pergi sambil membawa A Ci.

Sebaliknya tumbukan Sam-ceng itu menggunakan antero tenaganya yang ada dan belum lagi kena menumbuk sasarannya, atau dia sudah ditolak kembali oleh jejakan kaki Siau Hong. Keruan tenaga yang telah dikerahkannya itu nyasar hingga mirip stir mobil yang susah dikuasai lagi. Tubuhnya anjlok ke bawah bagaikan sepotong batu.

Biasanya kalau tubuhnya jatuh ke tanah dapat segera membal ke atas lagi. Tapi sekali ini ia tidak bisa menguasai diri lagi, kedua kaki terjulur kaku ke bawah, maka terdengarlah suara “krek, bluk”, kedua tulang kakinya patah dan tubuh terbanting hingga terguling.

Bagi Siau Hong, maksudnya menjejak dengan kakinya tadi sebenarnya hanya untuk menghindarkan bubuk racun yang ditebarkan orang di tanah itu, sama sekali tak terduga olehnya bahwa lwekang yang dilatih padri katai itu sedemikian anehnya, sekali tenaga dalamnya nyasar, seketika tubuhnya tak bisa dikuasai lagi dan terbanting begitu saja.

Melihat kedua kaki Sam-ceng patah, Siau Hong merasa sangat menyesal, segera ia berkata, “Thaysuhu, rebahlah dulu, jangan bergerak, segera akan kusuruh orang mengantarmu pulang. Di kuil manakah engkau menetap?”

Sambil menahan rasa sakit, sedikit pun Sam-ceng tidak merintih, sahutnya dengan ketus, “Di mana-mana aku dapat menetap, buat apa kau pusing aku berasal dari kuil mana? Kakiku patah dapat kuobati sendiri, siapa minta belas kasihanmu?”

“Itulah bagus jika kau sendiri dapat menyembuhkan,” kata Siau Hong. “Adapun aku bernama Siau Hong, jika kau ingin menuntut balas, silakan datang ke kota Lamkhia untuk mencari aku. A Ci, marilah kita pergi!”

Tapi sebelum melangkah pergi, sengaja A Ci menggoda Sam-ceng pula, ia mengiming-iming dengan muka badut yang dibikin-bikin, lalu katanya, “Aku she Toan bernama Ci, jika kau ingin menuntut balas, silakan datang ke Lamkhia untuk mencari aku.”

Lalu ia tinggal pergi sambil menggandeng tangan Siau Hong.

Sudah tentu apa yang terjadi itu dapat disaksikan oleh Yu Goan-ci yang bersembunyi di tengah semak-semak rumput itu. Ketika melihat A Ci sudah pergi, ia merasa lega. Tapi entah mengapa, terasa juga olehnya seolah-olah kehilangan sesuatu. Lebih-lebih dilihatnya A Ci menggandeng tangan Siau Hong dengan mesra, tanpa merasa Goan-ci merasa iri.

Tiba-tiba terdengar Sam-ceng berteriak-teriak, “Air, air! Aku minta air!”

Sudah tentu teriakannya itu sia-sia belaka, sebab di sekitar situ tiada orang lain lagi. Diam-diam Goan-ci membatin, “Ulat sutra piaraannya itu akulah yang mencurinya hingga mengakibatkan padri itu sangat berduka dan patah pula kakinya, sungguh aku berdosa padanya.”

Maka demi mendengar seruan Sam-ceng yang minta air, segera ia menerobos keluar dari tempat sembunyinya dan berkata, “Harap menunggu sebentar, Thaysuhu, akan kuambilkan air untukmu.”

Ketika menoleh dan melihat kepala Goan-ci yang aneh itu, semula Sam-ceng kaget juga, tanyanya, “Hei, kau... kau ini apa?”

“Aku? Sudah tentu aku ini manusia,” sahut Goan-ci. “Tunggulah sebentar, akan kuambilkan air.”

Lalu ia berlari ke tepi sungai, dengan kedua tangannya ia meraup air dan lari kembali untuk disiramkan ke mulut Sam-ceng.

“Kurang, belum cukup! Aku minta lagi!” kata Sam-ceng.

Goan-ci mengiakan, lalu mengambilkan lagi dua tangkup air. Kemudian katanya, “Thaysuhu, gerak-gerikmu tidak leluasa, jaraknya dari sini ke Bin-tiong-si tidak terlalu jauh, biarlah aku menggendongmu pulang ke sana!”

Mendadak biji mata Sam-ceng yang bulat besar itu melotot, ia pandang Goan-ci dengan heran. Cuma kepala pemuda itu tertutup oleh kerudung besi, maka bagaimana air mukanya sukar diketahui. Segera Sam-ceng membentak, “Dari mana kau tahu aku padri dari Bin-tiong-si?”

Karena teguran itu, Goan-ci menjadi gelagapan, ia mengeluh urusan bisa celaka, jangan-jangan perbuatannya akan diketahui orang. Terpaksa ia menjawab, “Di sekitar sini hanya terdapat sebuah kuil saja, maka kuyakin Thaysuhu pasti berasal dari sana.”

“O, pintar amat kau,” kata Sam-ceng. “Tapi aku pun tidak perlu digendong, cukup asal kau ambilkan sebuah houlo yang kusembunyikan di kebun sayur Bin-tiong-si, dengan arak obat dalam houlo itu akan dapat menyembuhkan lukaku ini.”

“Masakah di kebun sayur itu masih ada sebuah houlo lagi? Bukankah....” baru sekian Goan-ci berkata, segera ia sadar telah salah mulut, cepat ia berhenti omong dengan kikuk.

“O, ya, aku sendiri yang pikun, memang houlo itu sudah hilang, terpaksa silakan kau gendong aku pulang ke sana,” kata Sam-ceng.

“Baiklah,” sahut Goan-ci, segera ia berjongkok dan membiarkan Sam-ceng menggemblok di punggungnya.

Ia lihat tembok Bin-tiong-si itu kelihatan dari jauh, jaraknya paling-paling cuma satu-dua li saja, tentu tidak terlalu sukar menggendong padri buntak itu ke sana.

Tak terduga baru dia melangkah beberapa tindak, sekonyong-konyong terasa sepuluh jari Sam-ceng yang kuat bagai cengkeram besi itu mencekik lehernya, begitu keras cekikan itu hingga napas Goan-ci serasa putus.

Keruan ia terkejut, segera ia bermaksud membanting padri itu ke tanah. Siapa duga cekikan Sam-ceng semakin kencang, bahkan kedua lutut kakinya juga mengepit kuat-kuat di pinggangnya. Maka waktu Goan-ci mengipratkan tubuh padri itu dengan maksud membantingnya ke tanah, bukannya padri itu terlepas dari gendongan, sebaliknya Goan-ci sendiri merasa pinggang kesakitan.

Maka terdengar Sam-ceng berkata, “Bagus, jadi houlo yang kusembunyikan itu dicuri olehmu, bukan? Ayolah mengaku saja, maling cilik! Kau curi arakku, kenapa menggondol pula houlo itu?”

Karena berada di bawah cengkeraman orang, terpaksa Goan-ci menyangkal mati-matian, “Tidak, tidak! Aku tidak mencuri houlomu!”

“Ketika aku bilang di kebun sayur itu masih ada sebuah houlo, segera kau merasa heran, bukankah itu menandakan kau telah mencuri houloku, kalau bukan kau, habis siapa?” kata Sam-ceng.

Melihat orang tidak menyinggung tentang ulat sutra, Goan-ci pikir melulu urusan mencuri houlo saja kan sepele, apalagi untuk menyangkal juga tidak dapat, maka sahutnya, “Baiklah, anggaplah houlo itu memang betul telah kucuri, biarlah aku mengembalikan padamu nanti.”

Sam-ceng terbahak-bahak girang. Tapi sekonyong-konyong ia menangis pula, dengan terguguk-guguk ia bertanya, “Siaucat (maling kecil), waktu kau curi houlo itu, kau lihat mestikaku Han-giok-jan atau tidak?”

“Han-giok-jan apa itu? Aku tidak melihat apa-apa, hanya di tanah ada suatu lingkaran dan tiada ulat atau binatang lain,” sahut Goan-ci.

“Ai, dasar anak itu memang bandel, akhirnya kena digecek mati oleh orang,” kata Sam-ceng. “Siaucat, ayolah berjalan ke arah timur.”

“Ke timur? Ke mana?” tanya Goan-ci.

Tapi lehernya lantas terasa dicekik lagi oleh Sam-ceng. Padri itu membentak, “Jika kukatakan ke timur, maka kau kudu ke timur, jangan banyak cincong, tahu?”

Karena dicekik hingga kesakitan, Goan-ci kapok dan terpaksa menurut perintah padri buntak itu.

Meski perawakan Sam-ceng itu katai, tapi gemuknya melebihi babi, maka bobotnya tidaklah enteng. Sesudah beberapa li jauhnya, Goan-ci merasa lemas, napasnya megap-megap, ia mengeluh, “Aku tidak kuat lagi, Taysu, marilah mengaso sebentar dulu!”

“Aku tidak menyuruhmu mengaso, kau berani berhenti?” bentak Sam-ceng dengan gusar. “Ayo, lekas jalan terus!”

Sembari berkata, kakinya mengempit lebih kencang hingga mirip orang menunggang kuda saja.

Agar tidak tersiksa, terpaksa Goan-ci menurut sekuatnya melangkah ke depan, dan makin lama makin payah. Sesudah beberapa li lagi, akhirnya ia benar-benar tidak kuat lagi, mendadak ia jatuh tersungkur, mulut berbusa dan napas senen-kemis, ngos-ngosan seperti kuda habis berpacu.

Tapi sama sekali Sam-ceng tidak peduli, ia masih mendesak terus, “Ayo, jalan, lekas jalan!”

Bahkan ia terus main gebuk pula ke punggung Goan-ci.

“Biarpun kau hantam mati diriku juga aku tidak sanggup lagi,” demikian sahut Goan-ci.

“Kau tidak mau jalan? Apa minta kumampuskanmu sungguh-sungguh?” ancam Sam-ceng.

Syukur pada saat itu juga, tiba-tiba di belakang mereka ada suara bentakan orang lain.

“Sam-ceng, besar amat nyalimu, kau berani melarikan diri ke sini? Ayo, lekas pulang, Hongtiang menitahkan kami menangkapmu!”

Ketika Goan-ci berpaling, ia lihat dari sana dua padri berjubah kelabu sedang mengejar kemari secepat terbang. Padri yang berada di depan adalah hwesio setengah umur yang pernah dilihatnya di kebun sayur itu dan hwesio di belakangnya berusia lebih muda.

“Suheng, kedua kakiku dipatahkan musuh, sementara ini tidak sanggup bergerak, bila nanti kakiku sudah sembuh, tentu aku akan pulang sendiri untuk minta ampun kepada Hongtiang,” demikian Sam-ceng memohon.

“Tidak bisa,” bentak padri setengah umur itu. “Jika ada orang dapat menggendongmu melarikan diri, tentu orang ini pula harus menggendongmu pulang ke sana. Eh, orang... orang ini aneh benar?”

Begitulah ia jadi melongo kaget demi melihat kepala besi Goan-ci yang aneh itu. Namun kawannya, si padri yang lebih muda lantas berkata, “Manusia siluman seperti ini pasti bukan orang baik-baik, ayolah sekalian kita tawan pulang ke kuil!”

“Jika kedua Suheng sudah bertekad memaksa aku pulang, terpaksa aku pun menurut saja,” kata Sam-ceng kemudian. Lalu ia membentak kepada Goan-ci, “Siaucat, ayo ikut kedua Suheng pulang ke sana!”

“Aku... aku tidak kuat berjalan lagi, harus... harus mengaso dulu,” sahut Goan-ci.

“Tidak bisa!” bentak Sam-ceng pula. “Kita harus sampai di rumah sebelum hari gelap.”

“Benar,” si padri setengah umur tadi menimbrung. “Ayolah, lekas, pakai mengaso dulu apa segala?”

Habis berkata, terus saja ia jemput sebatang ranting kayu terus menyembat pundak Goan-ci.

Keruan Goan-ci meringis kesakitan. Ia tidak paham mengapa seorang padri juga begitu jahat dan main pukul orang semau-maunya. Terpaksa ia meronta bangun, ia gendong Sam-ceng pula dan kembali ke arah datangnya tadi, dan sudah tentu dengan terhuyung-huyung dan sempoyongan.

Kedua padri itu mengawasi dari belakang Goan-ci, mereka lihat kedua tulang betis Sam-ceng memang betul patah, kedua kaki itu untal-antil, maka mereka menjadi lengah. Ketika sampai di suatu lereng di tepi jurang, sekonyong-konyong Sam-ceng menggunakan tangan kanan untuk menahan pundak Goan-ci, tahu-tahu tubuhnya melayang terus menumbuk ke arah padri setengah umur.

Keruan padri itu kaget, ia memaki, dan karena tidak sempat melolos senjata, segera ia memapak dengan sekali hantaman. Di luar dugaan, begitu mendekat Sam-ceng lantas menghantam juga hingga kedua tangan beradu, “plak”, tubuh Sam-ceng membal ke atas, segera ia menyeruduk pula ke arah si padri muda.

Cepat si padri muda itu mundur dua tindak, dengan gaya “Ji-liong-cut-tong” atau Dua Ekor Naga Keluar Gua, kedua kepalan terus menghantam dada Sam-ceng.

Tapi di tengah jalan Sam-ceng telah ganti haluan, ia tidak menyeruduk terus, dengan tangan kiri menahan kepalan lawan, dengan tenaga tolakan itu kembali tubuhnya mumbul ke atas. Menyusul sebelah tangannya menghantam kepala lawan. Kemudian dengan sekali berjumpalitan, tahu-tahu ia sudah kembali lagi ke atas gendongan Goan-ci.

Tadi waktu Sam-ceng “terbang” meninggalkan gendongannya, segera Goan-ci merasa bebas dari tindihan bobot ratusan kati, tapi belum lagi ia sempat melarikan diri, tahu-tahu Sam-ceng sudah “hinggap” kembali di atas punggungnya, bahkan terus mencekik lehernya pula hingga terpaksa Goan-ci tidak berani berkutik.

Dalam pada itu tertampak si padri setengah umur dan yang muda tadi perlahan mendeprok ke tanah, tubuh mereka meringkuk bagai “cacing kena air abu” sembari berkelojotan.

Heran dan kejut Goan-ci, pikirnya, “Dengan ilmu apakah hingga Sam-ceng Hwesio ini dapat membinasakan mereka dengan secara begitu mudah?”

Hanya sebentar saja, kedua padri itu mengeluarkan suara rintihan dan sesudah kejat-kejat lagi berapa kali, lalu binasa.

“Ini, lihat!” tiba-tiba Sam-ceng berkata dengan bangga sembari memperlihatkan telapak tangan kanannya kepada Goan-ci.

Waktu Goan-ci memerhatikan, kiranya dari tengah tangan kanan padri itu menonjol keluar sebuah jarum emas yang sangat halus, dari batang jarum itu masih kelihatan ada noda-noda darah.

Maka tahulah Goan-ci, kiranya di tengah-tengah telapak tangan padri itu terdapat jarum dan mungkin berbisa pula, makanya dua kali gaplok lantas makan dua korban.

“Awas! Jika kau berani rewel, segera aku pun mampuskan kau!” demikian Sam-ceng mengancam sambil pura-pura hendak menusuk mata Goan-ci dengan jarumnya. Segera ia memerintahkan pula, “Ayo, jalan! Ke timur, lekas!”

Goan-ci tidak berani membantah, terutama ia pun ngeri melihat kekejian hwesio buntak itu. Aneh juga, entah dari mana datangnya tenaga, meski badan letih dan hati takut, tapi ia dapat berjalan dengan cepat ke arah yang diminta.

Sementara itu hari sudah mulai gelap, diam-diam Goan-ci membatin, “Kedua kakimu sudah patah, seketika tak mungkin sembuh, nanti bila kau sudah tidur, pasti aku ada kesempatan untuk melarikan diri.”

Tak tersangka Sam-ceng itu juga bukan orang bodoh. Ketika hari sudah gelap, ia suruh Goan-ci menyusup ke tengah semak-semak rumput, ia suruh pemuda itu rebah, sedangkan ia sendiri lantas meringkuk seperti bola dan duduk di atas kerudung besi Yu Goan-ci, tidak lama kemudian ia pun mendengkur.

Sungguh mendongkol dan payah sekali Yu Goan-ci. Ia tahu bila dirinya berani bergerak, pasti padri jahat itu akan terjaga dan akibatnya ia sendiri akan dihajar. Terpaksa ia tahan sedapat mungkin, bayangkan betapa celakanya kalau kepala seseorang ditindih, sedangkan orang yang menindih itu mendengkur seenaknya semalam suntuk. Sebaliknya bila terkadang Sam-ceng menggeser pantat, seketika kepala Goan-ci seakan-akan dipuntir, mukanya yang melekat dengan kerudung besi itu bagaikan disayat-sayat.

Dengan cara begitulah Goan-ci tersiksa hingga esok paginya. Meski Sam-ceng sudah dapat menyambung tulang kakinya yang patah itu, tapi untuk bisa sembuh hingga dapat berjalan paling sedikit kudu sebulan atau dua bulan lagi. Diam-diam Goan-ci mengeluh, apakah selama itu setiap saat dirinya diharuskan menggendong “bola daging” raksasa itu?

Waktu tengah hari, sampailah mereka di suatu kota kecil. Mereka mengaso untuk tangsel perut di suatu kedai bakmi.

Kebetulan Goan-ci lihat seorang belantik kuda lewat di situ dengan menggiring beberapa ekor kuda. Segera ia berkata kepada Sam-ceng, “Thaysuhu, silakan kau beli seekor kuda untuk ditunggangi, bukankah akan jauh lebih cepat daripada perjalananku yang mesti menggendongmu?”

“Ngaco-belo,” bentak Sam-ceng. “Menunggang kuda apakah lebih leluasa daripada digendong orang? Dapatkah kuda membawa aku ke dalam rumah dan menaikkan aku ke ranjang? Dapatkah kuda mengantar aku berak ke kakus?”

Benar juga pikir Goan-ci, maka ia hanya menghela napas dan tidak berkata lagi.

Agar supaya “kuda” tunggangannya dapat berjalan dengan cepat, maka Sam-ceng membiarkan Goan-ci makan sekenyang-kenyangnya. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan lagi. Sore harinya mereka membelok ke selatan. Sepanjang jalan tiba-tiba Sam-ceng memberi khotbah kepada Goan-ci tentang ajaran Buddha, katanya alam ini menciptakan segala makhluk hidup di dunia, apakah orang itu bahagia atau menderita, semua itu sudah ditakdirkan, dan bila seorang berdosa pada jelmaan hidup yang lalu, maka akan terima karma pada hidup yang akan datang dan menjelma menjadi kuda atau kerbau guna tunggangan orang.

Ia perumpamakan Goan-ci, meski tidak dijelmakan menjadi kuda, tapi sudah ditakdirkan menjadi budak, maka itu pun karma, katanya. Untuk itu hidupnya harus mengabdi dengan baik-baik kepada orang, banyak berbuat kebajikan, supaya dalam titisan yang akan datang dapat hidup senang.

Tapi Goan-ci sangat meragukan ocehan hwesio yang lain di mulut lain dalam perbuatan itu. Pikirnya, “Kau sendiri sekaligus telah membunuh dua orang segolonganmu, caramu begitu kejam, bukan mustahil sebelumnya kau pun sudah banyak membunuh orang, tapi sekarang kau bicara tentang berbuat kebajikan apa segala?”

Namun di bawah kekangan orang, terpaksa Goan-ci tak berani mendebat apa-apa. Ia terus menuju ke selatan. Beberapa hari kemudian, hawa udara mulai hangat. Goan-ci mendengar Sam-ceng mencari keterangan pada orang di tepi jalan tentang pantai laut. Diam-diam Goan-ci bergirang, ia pikir, “Baik juga pergi ke laut, di sana ada kapal, dan aku akan terbebas dijadikan kuda tunggangan terus-menerus.”

Selang beberapa hari lagi, lewat tengah hari mereka mengaso dan beli minuman di suatu kedai di tepi jalan, Goan-ci basah kuyup oleh air keringat, berulang ia habiskan beberapa mangkuk air teh dingin, tapi rasa dahaganya masih belum lenyap.

Sekonyong-konyong terdengar suara mangkuk pecah, mangkuk teh yang dipegang Sam-ceng itu jatuh hancur, dengan suara tertahan padri itu berkata kepada Goan-ci dengan rasa khawatir, “Lekas, lekas berangkat!”

Dan belum lagi Goan-ci sempat menaruh mangkuk teh, cepat sekali jari Sam-ceng yang kuat laksana kait baja sudah mencengkeram pundaknya, tubuh yang bundar itu lantas menggemblok di atas punggung Goan-ci.

“Lekas berangkat ke barat, makin cepat makin baik!” bentak Sam-ceng.

Terpaksa Goan-ci berbangkit dan melangkah pergi secepat mungkin. Namun sudah kasip, di sekeliling sudah ramai suara orang mengucapkan sabda Buddha, “Omitohud!”

Karena leher dicekik lagi oleh Sam-ceng, terpaksa Goan-ci berlari sekuatnya ke arah barat. Tapi tahu-tahu dua padri berjubah kuning dengan membawa sian-theng (tongkat padri) sudah mengadang di depannya. Goan-ci miringkan tubuh dan bermaksud menyelinap lewat ke samping, tapi kembali dicegat lagi oleh dua padri jubah kuning yang lain. Menyusul dari berbagai penjuru merubung datang pula padri-padri dengan jubah yang sama, seluruhnya ada delapan orang, semuanya mengacungkan senjata mereka kepada Sam-ceng.

“Ya, sudahlah!” kata Sam-ceng akhirnya. “Para Sute dan Sutit, memang kepandaianmu sangat hebat, akhirnya aku dapat diketemukan kalian. Baiklah, segera aku akan ikut pulang bersama kalian. Nah, setan cilik, boleh kau ikut berangkat dengan mereka!”

Diam-diam Goan-ci mengira padri-padri itu dari Bin-tiong-si, ia pikir sekali ini Sam-ceng pasti tak bisa berkutik lagi, tidak mungkin ia mampu membinasakan kedelapan padri itu sekaligus.

Benar saja, sepanjang jalan Sam-ceng tidak berani bertingkah lagi. Kedelapan padri itu pun tidak mengajak bicara padanya. Namun Goan-ci tetap sengsara, setiap hari ia masih diharuskan menggendong Sam-ceng. Cuma arahnya sekarang menuju selatan dan tidak kembali ke Bin-tiong-si.

Begitulah mereka telah menempuh perjalanan jauh hingga sebulan lebih, karena sudah biasa, Goan-ci tidak merasakan payah lagi. Semula ia pun sering berpikir ke manakah mereka hendak pergi, mengapa terus menuju ke selatan? Tapi lama-kelamaan ia menjadi bosan, ia benar-benar mirip seekor kuda saja, terhadap nasib sendiri dan ke mana padri-padri itu hendak membawanya pergi, sama sekali ia tidak ambil pusing lagi.

Sampai akhirnya, jalan yang mereka tempuh semakin berliku-liku dan terjal, yaitu jalan pegunungan yang sepi dan makin lama makin meninggi.

Lewat tengah hari pada hari itu, akhirnya mereka sampai di depan sebuah kelenteng besar, waktu Goan-ci mendongak, ia lihat pigura pintu kelenteng itu tertulis tiga huruf besar “Siau-lim-si.”

Dahulu Goan-ci juga sering dengar cerita ayah dan pamannya bahwa Siau-lim-si itu adalah sumbernya ilmu silat di daerah Tionggoan, setiap orang sangat berharap dapat belajar di kuil pujaan itu. Namun selama setahun ini Goan-ci sudah kenyang menderita, terhadap segala urusan di luar ia tidak tertarik lagi. Yang diharapkan adalah setiap hari berkurang jalannya dan berkurang digebuk oleh Sam-ceng, hal-hal mana sudah dirasakan puas olehnya. Kini tahu-tahu sampai di Siau-lim-si, semula ia juga tergetar, tapi segera ia hadapi dengan sikap dingin saja. Jika nasibnya tetap begitu, biarpun saat itu ia berada di istana raja juga tidak menarik baginya.

Begitulah beramai-ramai mereka lantas masuk ke ruangan pendopo, seorang padri di situ berkata, “Bawa saja ke Kay-lut-ih (ruang hukuman)!”

Kedelapan padri itu mengiakan, lalu membawa Goan-ci keluar dari pintu samping, melalui sebuah jalan kecil, akhirnya sampai di suatu ruangan yang seram.

Dari ruangan itu keluar seorang padri tua, katanya dengan suara serak, “Atas titah Kay-lut-ih Siuco (kepala ruang hukum), karena tanpa izin Sam-ceng berani turun gunung, lebih dulu supaya dihukum rangket 100 kali dan boleh dilaksanakan dalam sepuluh hari. Habis itu akan diselidiki pula kejahatan yang telah diperbuatnya ketika turun gunung, hukuman akan dijatuhkan nanti sesuai perbuatannya.”

Tanpa bicara lagi segera dua padri yang berada di situ menarik Sam-ceng dan ditiarapkan di lantai.

Seketika Goan-ci merasa enteng punggungnya, ia merasa sangat lega.

Kemudian dilihatnya salah seorang padri yang menangkap Sam-ceng tadi mendekati padri tua itu dan bicara bisik-bisik sejenak sambil tuding-tuding Yu Goan-ci. Padri tua itu tampak manggut-manggut, lalu berkata, “Siaucat she Yu itu membantu Sam-ceng melarikan diri hingga merusak tata tertib kita, ia pun dihukum rangket 100 kali, hukuman lain akan dijatuhkan pula jika kesalahan telah diketahui.”

Segera seorang padri mengetuk punggung Goan-ci sambil membentak, “Lekas tiarap untuk terima hukuman!”

Sedikit pun Goan-ci tidak membangkang, segera ia tiarap. Pikirnya, “Apa yang kalian hendak perbuat atas diriku, boleh silakan berbuat sesukamu. Kalian mengatakan aku bersalah, buat apa aku membantah?”

Dalam pada itu si padri tua lantas masuk ke ruangan dalam sesudah memutuskan hukuman tadi. Menyusul keluarlah empat padri lain, mereka terus menyeret Sam-ceng dan Goan-ci ke dalam ruangan hukuman yang luas. Beberapa padri di antaranya terus membekuk Sam-ceng, sedangkan tongkat kayu lantas menggebuk pantatnya. Setelah genap 30 kali Sam-ceng dirangket, kemudian menjadi giliran Goan-ci.

Goan-ci merasakan ke-30 kali rangketan itu jauh lebih keras daripada rangketan kepada Sam-ceng tadi. Diam-diam ia penasaran, ia percaya padri-padri pelaksana hukuman itu berat sebelah, sudah tentu mengeloni sesama kawan sendiri.

Keruan 30 kali rangketan itu membikin pantat Goan-ci babak belur dan “berbunga”, darah berceceran membasahi celananya. Selang tujuh hari, belum lagi lukanya itu sembuh, kembali ia dihajar lagi sehingga genap 100 kali rangketan.

Kemudian seorang padri mengumumkan padanya, “Siaucat she Yu diputuskan kerja paksa di kebun sayur, di sana harus menginsafi dosanya yang telah dibuatnya supaya diampuni Buddha yang mahakasih!”

Dengan limbung Goan-ci turut saja segala keputusan itu, ia ikut padri itu ke kebun sayur dan menghadap padri pengurus.

Padri pengurus kebun sayur itu bernama Yan-kin. Perawakannya kurus kecil, mukanya sempit mirip kunyuk, dua biji gigi depannya sudah rontok hingga kalau bicara selalu bocor.

Ia sangat ketarik demi melihat kerudung besi aneh yang dipakai Yu Goan-ci itu. Ia duduk bertumpang kaki di sebuah bangku panjang seraya menanyakan asal usul pemuda itu.

Sudah tentu Goan-ci tidak sudi berterus terang hingga nama baik ayah dan pamannya ikut tercemar. Maka ia mengaku seorang desa biasa yang ditawan oleh orang Cidan hingga banyak menderita sengsara.

Dasar Yan-kin itu memang ceriwis, ia suka bicara yang tidak-tidak dan bertanya secara melilit, segala tetek bengek juga ditanyakan hingga jelas. Namun Goan-ci sudah bertekad tidak mau mengaku terus terang, jika didesak, maka ia hanya menjawab dengan singkat saja antara, “Ya. Tidak! Entah!”

Keruan Yan-kin kewalahan. Tapi ia masih tidak mau sudah, meski sudah waktunya makan, ia tidak makan tapi tanya terus. Tentu saja Goan-ci mendongkol tak terkatakan.

Dan sesudah benar-benar tidak dapat mengorek sesuatu pengakuan apa-apa dari Goan-ci akhirnya Yan-kin berkata, “Baiklah, sekarang boleh mulai kerja. Pikul dulu 20 pikul kotoran untuk rabuk tanaman sayur. Ingat, di sini tidak boleh malas. Kau sudah bicara setengah harian di sini, kerjamu nanti harus lebih giat untuk menambah tempo yang terbuang ini.”

Goan-ci mengiakan saja, tapi dalam hati ia menggerutu, “Kau sendiri yang cerewet dan bertanya tidak habis-habis, tapi aku yang disalahkan!”

Walaupun tak diberi makan, luka rangketan di pantatnya belum sembuh pula, namun Goan-ci menahan semua derita itu dan tetap memikul kotoran untuk merabuk tanaman.

Kebun sayur Siau-lim-si itu sangat luas, kira-kira ada sepuluh hektare. Para padri pekerja, kuli-kuli tetap dan sambilan seluruhnya ada 38-40 orang.

Sebagai orang baru, pula memakai kerudung besi yang aneh, maka Goan-ci menjadi sasaran ejekan dan bulan-bulanan mereka, segala pekerjaan yang kotor dan kasar selalu diserahkan padanya.

Sesudah mengalami penderitaan selama ini, makin lama pikiran Goan-ci makin bebal, terhadap segala apa dianggapnya sepi saja, bahkan perbedaan antara suka dan duka juga sudah kabur baginya. Ia terima saja semua ejekan dan hinaan orang, ia hidup tanpa tujuan dan sekadar melewatkan waktu saja. Hanya dalam mimpi saja terkadang ia masih ingat kepada A Ci.

Suatu petang hari, sehabis memberi rabuk tanaman, Goan-ci merasa sangat capek. Ia dengar genta tanda waktu makan sudah berbunyi. Segera ia menuju ke ruangan makan bagi para pekerja kasar. Tiba-tiba didengarnya Yan-kin memanggil, “A Yu, antarkan semangkuk nasi ini kepada Suhu yang berada di rumah kecil di tengah hutan bambu itu. Dia sakit, tak dapat bangun.”

Goan-ci mengiakan, semangkuk penuh terisi nasi dibawanya ke hutan bambu melalui sebuah jalan kecil. Hutan bambu itu sangat luas, sampai sekian lama masih belum tembus. Ia lihat di tengah hutan yang rindang itu ada sebuah rumah batu kecil, ia dekati pintu rumah dan memanggil dari luar, “Suhu! Suhu! Aku mengantarkan nasi untukmu!”

Ia dengar ada suara sahutan orang yang lirih di dalam rumah. Segera Goan-ci mendorong pintu dan masuk ke dalam. Ia lihat di atas tikar yang digelar di tanah itu rebah seorang menghadap ke dinding. Di dalam rumah tiada ranjang, tiada meja, tiada kursi dan sebagainya, yang ada melulu tikar yang dibuat tidur itu di samping sebuah kendi air.

“Ini nasi untukmu, Suhu!” demikian Goan-ci menyapa pula.

Tapi orang itu menjawab, “Aku tidak lapar, tidak mau makan, bawalah kembali!”

Suaranya kedengaran berat dan selama bicara pun tidak berpaling. Dan karena orang menyatakan tidak mau makan, tanpa rewel Goan-ci lantas membawa kembali nasi itu kepada Yan-kin.

Besok siangnya, kembali Yan-kin menyuruh dia mengantarkan nasi lagi kepada orang itu dan orang itu tetap tidak mau makan.

Begitulah berturut-turut empat-lima hari Goan-ci disuruh mengantar nasi kepada orang itu dan orang itu tetap tidak mau makan, bahkan berpaling juga tidak pernah.

Goan-ci sekarang sudah ibarat orang yang tak punya otak, meski kelakuan orang itu agak luar biasa, sedikit pun ia tidak menaruh perhatian.

Siapakah orang itu? Mengapa tidak mau makan nasi? Apakah tidak mati kelaparan? Semua itu ia tidak ambil pusing. Cukup asal ia lakukan kewajibannya saja. Bila Yan-kin suruh ia antar nasi, dia lantas antar nasi. Orang itu menyatakan tidak mau makan, ia lantas bawa kembali. Habis perkara.

Sampai hari kelima, kembali ia antar nasi lagi dan orang itu tetap menyatakan, “Aku tidak lapar, tidak mau makan, bawalah kembali!”

“Baik!” sahut Goan-ci dengan dingin seperti biasa. Lalu putar tubuh keluar dari rumah batu kecil itu.

Di luar dugaan, sekali ini mendadak orang itu melompat bangun dari tikarnya, segera lengan Goan-ci dicengkeram olehnya sambil memaki, “Kau ini sungguh seorang yang tidak punya perasaan....”

Baru sekian ucapannya tiba-tiba ia berseru heran ketika melihat kerudung besi di atas kepala Yu Goan-ci itu.

Sebaliknya sekarang Goan-ci juga dapat melihat jelas muka orang, yaitu seorang padri yang kurus lagi hitam, matanya celung dan hidungnya panjang, dari mukanya itu dapat dipastikan bukanlah padri bangsa Tionghoa. Mukanya penuh keriput pula, namun susah untuk menaksir usianya.

“Barang apakah di atas kepalamu ini?” demikian tanya padri itu.

“Kerudung besi!” sahut Goan-ci.

“Siapa yang memasangnya untukmu?”

“Orang Cidan!”

“Kenapa tidak dilepaskan?”

“Tidak dapat dibuka!”

“Selama empat hari beruntun aku tidak makan, kenapa kau tidak peduli dan juga tidak minta Ti-khek-ceng (padri urusan tamu) menjenguk diriku atau memanggilkan tabib, apa alasanmu?” demikian tanya padri itu. Meski dia bangsa barat, tapi sangat fasih berbahasa Tionghoa.

“Apakah engkau akan mati atau hidup, peduli apa dengan aku?” sahut Goan-ci ketus.

Keruan padri asing itu menjadi gusar, sekali sambar, segera pundak Goan-ci dicengkeramnya. Seketika Goan-ci merasa tulang pundaknya sakit sekali seakan-akan remuk, tapi ia sudah biasa menahan sakit, dia tidak melawan, juga tidak meronta, bahkan juga tidak mengeluh. Ia anggap sepi saja siksaan itu.

Tentu saja padri asing itu terheran-heran. “Kau merasa sakit tidak?” tanyanya.

“Sakit atau tidak, sangkut paut apa dengan aku?” sahut Goan-ci.

Padri itu tambah heran, tanyanya, “Mengapa ‘tiada sangkut paut’, apakah tulang pundak ini bukan punyamu? Kalau perlu akan kuremas lebih keras supaya tulangmu hancur!”

Habis berkata, benar juga ia meremas terlebih kuat.

Keruan Goan-ci meringis-ringis. Tapi meski badan tersiksa, jiwanya boleh dikata sudah mati rasa. Ia tidak melawan, juga tidak minta ampun. Dalam hati ia hanya berpikir, “Mungkin sudah takdir tulang pundakku ini akan diremas hancur olehnya, apa yang perlu kukatakan lagi?”

Dan padri asing itu menjadi kewalahan sendiri, akhirnya ia merasa kagum juga oleh keteguhan jiwa pemuda itu. Katanya kemudian, “Bagus, bagus! Hanya seorang pesuruh dalam Siau-lim-si saja sudah sehebat ini. Boleh kau pergi saja!”

Maka dengan membawa mangkuk nasi itu Goan-ci tinggalkan hutan bambu itu. Ternyata di tengah jalan ia sudah ditunggu oleh Yan-kin. Dengan tertawa dingin Yan-kin berkata padanya, “A Yu, kejadian di Bin-tiong-si telah terbongkar, ayolah ikut ke Kay-lut-ih!”

Mendengar “Bin-tiong-si” disebut, Goan-ci pikir tentu Sam-ceng telah memperoleh bukti-bukti tentang dicurinya ulat sutra itu, jika demikian, terang tak bisa menyangkal lagi, terpaksa harus pasrah pada nasib.

Setiba di Kay-lut-ih, ia lihat padri tua yang pertama kali diketemukan di ruang hukum itu juga berdiri di situ, dengan tawar padri itu berkata, “Yu Goan-ci, menurut pengakuan Sam-ceng, katanya segala kejahatan yang terjadi di Bin-tiong-si itu adalah perbuatanmu, betul tidak?”

“Benar, memang perbuatanku,” sahut Goan-ci tanpa pikir.

Padri tua itu agak heran juga mendengar pengakuan terus terang itu, katanya pula, “Jika kau sendiri sudah mengaku salah, aku pun tidak perlu bikin susah padamu. Tentang hukuman rangket akan kubatalkan. Sekarang pergilah ke Cian-hwe-pang (kamar bertobat), hendaknya direnungkan dengan baik-baik, habis itu nanti memberi jawaban padaku.”

Segera Yan-kin membawa Goan-ci ke belakang Kay-lut-ih, yaitu suatu pekarangan kosong, di tengah pekarangan terdapat empat pilar batu berbentuk persegi, pilar batu itu besar-besar dan berdiri berjajar.

Ketika Yan-kin menarik salah satu pilar batu itu, maka terbukalah sebuah pintu. Kiranya dalam pilar besar itu berwujud sebuah kamar batu yang sempit. Segera Yan-kin suruh Goan-ci masuk ke dalam kamar batu itu, lalu pintunya ditutup.

“Cian-hwe-pang” atau kamar bertobat itu daripada dikatakan sebagai “kamar” adalah lebih tepat dikatakan sebuah peti mati batu yang ditegakkan. Berada di dalam peti batu itu, jangankan hendak duduk, bahkan berputar tubuh pun Goan-ci merasa sukar.

Di atas peti batu itu terdapat dua lubang kecil sekadar sebagai jalan hawa. Katanya di dalam hati, “Apa sih yang harus kurenungkan? Apa sih yang harus kutobatkan?”

Pada saat itu juga, tiba-tiba didengarnya ada suara jeritan melengking bagai babi hendak disembelih, suara itu tembus masuk melalui lubang angin kecil itu. Ia kenal itulah suara Sam-ceng. Terdengar padri buntak itu lagi berteriak, “Jangan! Jangan! Badanku segemuk ini mana dapat masuk ke dalam Cian-hwe-pang?”

Tapi padri tua Kay-lut-ih berkata, “Menurut peraturan biara kita selama ribuan tahun ini, setiap murid yang berdosa harus bertobat di dalam Cian-hwe-pang. Nah, masuklah, lekas!”

“Tapi... tapi badanku segede ini mana bisa dijejalkan ke situ?” bantah Sam-ceng dengan khawatir.

Goan-ci merasa geli juga bila membayangkan badan Sam-ceng yang bulat laksana bola itu.

Dalam pada itu terdengar si padri tua sedang berkata dengan ketus, “Peduli badanmu gede atau tidak. Pendek kata kau harus masuk ke situ. Ayolah dorong dia ke dalam dan tutup pintunya!”

Lamat-lamat terdengar beberapa orang mulai mendorong dan menggencet, sebaliknya terdengar Sam-ceng berteriak-teriak. Tapi padri tua itu sedikit pun tidak kenal ampun, dengan tegas ia laksanakan hukum biara.

“Biar akan kulaporkan kepada Hongtiang bahwa kalian menganiaya diriku, kalian sungguh kejam, masakah badanku segemuk ini kalian paksa dan jejalkan ke dalam kamar ba... auuh! Wah, celaka....” demikian Sam-ceng berteriak-teriak dan menjerit.

Tapi si padri tua tidak ambil pusing, katanya, “Ayo dorong lebih keras sedikit, cepat! Satu, dua, tiga!”

“Ai, baunya! Sampai ampasnya juga tergencet keluar!” tiba-tiba salah seorang padri yang ikut mendorong itu berseru sambil pencet hidung sendiri.

“Tak apa, lekas dorong lagi! Nah sudah masuk sebagian besar, tinggal kurang sedikit. Ayo, dorong lebih keras!” demikian kata si padri tua.

Begitulah, sesudah didorong dan digencet secara paksa oleh orang banyak, akhirnya badan Sam-ceng yang gede itu kena dijejalkan ke dalam peti batu itu walaupun sampai terkencing-kencing dan terberak-berak.

Sam-ceng sendiri sudah lemas, sedikit pun tidak kuat melawan lagi. Ia menangis terguguk-guguk.

Diam-diam Goan-ci heran juga, peti batu sedemikian sempitnya, tapi badan Sam-ceng yang bulat buntak itu ternyata dapat dijejalkan ke dalamnya.

Sekonyong-konyong terdengar Sam-ceng berteriak-teriak, “Keluarkan aku, keluarkan aku! Aku akan mengaku, aku tak berani menyangkal lagi!”

“Kau boleh mengaku dahulu, kemudian kulepaskan kau!” ujar si padri tua.

“Ya, aku... aku telah mencuri 33 tahil perak di Bin-tiong-si sana untuk membeli arak, aku pernah menyembelih tiga ekor anjing, pernah membunuh tujuh orang hwesio dan tiga orang biasa, aku... aku juga punya...punya gendak di luar dan... dan berjudi segala.”

“Tadi kau bilang semua itu adalah perbuatan Thi-thau-jin itu?” kata si padri tua.

“O, ya, ya, memang perbuatan Thi-thau-jin itu dan bukan perbuatanku, aku lupa!”

“Ah, rupanya pikiranmu masih kacau, boleh kau mengaso sehari semalam dulu di dalam kamar batu ini, kalau besok pikiranmu sudah jernih, bolehlah kau bicara lagi,” kata si padri tua.

“He, he! Jangan, jangan! Satu jam saja pasti aku akan mati gepeng di sini!” seru Sam-ceng. “Baiklah, aku akan mengaku terus terang. Memang semua itu adalah perbuatanku.”

“Lalu perbuatan jahat apa yang dilakukan Thi-thau-jin itu?” tanya si padri tua.

“O, dia... dia hanya mencuri houlo dan minum arakku,” sahut Sam-ceng.

“Adakah perbuatan lainnya?” si padri tua menegas.

“Aku... aku tidak tahu. Lekas... lekas keluarkan aku!” teriak Sam-ceng sambil terengah-engah.

“Hah, kau pintar memfitnah orang juga,” ujar si padri tua. “Nah, keluarkan dulu Thi-thau-jin itu.”

Segera padri yang lain mengiakan dan membuka pintu kamar batu, Yu Goan-ci lantas ditarik keluar.

Dari celah-celah pintu batu Goan-ci dapat melihat daging Sam-ceng yang gemuk itu sampai mencotot keluar. Coba kalau kamar batu itu buatan dari kayu, tentu kamar itu akan pecah sendiri. Lalu si padri tua berkata kepada Goan-ci, “Tentang kejadian di Bin-tiong-si itu kini Sam-ceng sudah mengaku semua. Kenapa tadi kau tidak mau menjelaskan duduknya perkara?”

“Ya, apa mau dikatakan lagi?” sahut Goan-ci sambil angkat pundak.

“Sebenarnya kau pernah berbuat kejahatan tidak?” tanya si padri pula.

“Hidupku ini ternyata banyak rintangan dan kenyang derita, mungkin karma, karena hidupku pada jelmaan yang lalu banyak berbuat kejahatan,” sahut Goan-ci.

Mendengar itu, si padri tua merasa puas, ia merasa rikuh juga karena orang tak berdosa telah dibikin susah. Maka ia lantas pesan Yan-kin, “Jiwa Thi-thau-jin ini ternyata sangat baik. Padri asing Polo Singh itu sedang sakit, boleh kau suruh Thi-thau-jin ini khusus meladeni dia, tidak perlu suruh dia bercocok tanam lagi di kebun.”

Yan-kin mengiakan atas perintah itu.

“Wah, matilah aku! Lekas keluarkan aku!” demikian terdengar Sam-ceng lagi berteriak-teriak. Terdengar pula suara pletak dan pletok, keriang dan keriut, kiranya seluruh tulang badan Sam-ceng itu tergencet, tatkala saling gesek, maka mengeluarkan suara.

Mendengar suara itu, Goan-ci menduga tulang iga Sam-ceng tentu telah patah beberapa buah.

“Aku sudah mengaku semua, mengapa belum melepaskan aku? Bukankah... bukankah kalian dusta belaka?” demikian Sam-ceng menggembor pula.

Segera Yan-kin suruh Goan-ci menjura kepada padri tua pelaksana hukuman itu untuk mengaturkan terima kasih karena memberikan pekerjaan ringan kepadanya.

Bagi Goan-ci sebenarnya sudah tidak kenal terima kasih apa segala kepada orang lain. Ia pun tidak merasakan apa faedahnya ia ditugaskan melayani si padri asing yang bernama Polo Singh itu. Tapi karena disuruh Yan-kin, ia hanya menurut saja, ia berlutut dan mengaturkan terima kasih.

Lalu Yan-kin membawanya ke rumah kecil tempat tinggal Polo Singh di hutan bambu itu. Padri asing itu masih tetap rebah menghadap dinding, sama sekali tidak peduli kepada kedatangan mereka.

Sampai waktunya makan siang, seperti biasa Goan-ci mengantarkan nasi kepada Polo Singh. Tapi padri itu menyatakan tidak mau makan, lalu tidak gubris lagi padanya.

Dua hari berturut-turut keadaan begitu berlangsung terus, suara Polo Singh makin lama makin lemah. Ketika Ti-khek-ceng mendapat tahu, datanglah dia untuk menjenguk. Habis itu belasan hwesio tua juga berturut-turut datang. Goan-ci melayani di samping, ia dapat mendengar Ti-khek-ceng memperkenalkan nama-nama padri tua itu sebagai kepala ruang Lo-han-tong, Tat-mo-ih, Kay-lut-ih, dan lain-lain beserta wakil-wakilnya. Nyata padri-padri tua itu adalah gembong-gembong Siau-lim-si.

Diam-diam Goan-ci menaksir Polo Singh itu tentu bukan orang sembarangan, ditilik dari sikap para padri Siau-lim-si yang sedemikian menghormatinya.

Sampai beberapa hari penyakit Polo Singh masih belum sembuh, terkadang ia pun mau makan sedikit bubur, tapi tak bisa bangun, setiap hari hanya rebah dengan menghadap dinding. Untung sifat Polo Singh cukup ramah hingga Goan-ci tidak tersiksa.

Selang dua hari lagi, mendadak Polo Singh merintih-rintih keras di tengah malam, ia sesambatan menyatakan kepalanya sakit seakan-akan pecah. Ia terguling-guling di lantai sambil memegangi kepala sendiri.

Goan-ci menjadi bingung, cepat ia lapor kepada Yan-kin, lalu Yan-kin mengundang seorang padri tabib dari Jing-kian-ih (ruang kesehatan) untuk memeriksa penyakit Polo Singh. Sesudah ditusuk jarum dan diberi obat segala, sampai pagi hari baru keadaannya rada tenang.

Penyakit Polo Singh itu beruntun-runtun kumat lagi beberapa kali, hingga padri tabib dari Jing-kian-ih geleng-geleng kepala dan menyatakan, “Padri asing ini menderita semacam penyakit aneh dari negeri Thian-tiok yang tak terdapat di sini, tampaknya sukar untuk disembuhkan.”

Keadaan Polo Singh makin lama makin lemah. Suatu kali ia bangun hendak buang air, tapi mendadak kaki terasa lemas dan jatuh terjungkal, kepala sampai bocor membentur dinding. Ketika para hwesio tua mendapat tahu, beramai-ramai mereka datang menjenguk lagi.

Begitulah penyakit Polo Singh itu makin payah hingga lebih sebulan lamanya.

Malam itu, mungkin pada siang harinya Goan-ci terlalu banyak gegares rujak atau gado-gado, maka tengah malam mendadak ia sakit perut dan kecirit. Lekas-lekas ia berlari-lari ke tengah hutan bambu untuk kuras perut.

Habis kadahajat, selagi ia membetulkan celananya, di bawah sinar bulan sekonyong-konyong dilihatnya dari bawah tanah di tempat beberapa meter jauhnya sana menongol sebuah kepala manusia. Keruan Goan-ci kaget setengah mati dan hampir menjerit karena disangkanya ada setan.

Syukur sebelum ia bersuara, dengan cepat kepala itu sudah menerobos ke atas hingga kelihatan seluruh tubuhnya. Goan-ci melongo ketika mengetahui orang itu adalah Polo Singh. Sungguh sukar untuk dimengerti, Polo Singh yang sakitnya sudah payah, bergerak saja susah, tahu-tahu sekarang berubah sedemikian tangkasnya. Begitu ia menerobos keluar dari bawah tanah, “siuut”, segesit kucing ia terus meloncat ke atas pohon bambu.

Tentu saja Goan-ci terheran-heran, “Jadi selama ini ia hanya pura-pura sakit saja. Tapi mengapa ia dapat menerobos keluar dari bawah tanah? Dan kini hendak ke mana?”

Dalam pada itu pohon bambu tampak berkeresek sedikit, tahu-tahu Polo Singh sudah melayang dari pohon bambu ini ke pohon bambu yang lain segesit kera. Ketika pohon bambu itu menyendal, seketika tubuh Polo Singh melayang lebih jauh lagi ke arah barat laut sana dengan cepat.

Coba kalau Goan-ci tidak menyaksikan sendiri, tentu ia takkan menyangka di atas pohon bambu itu ada orang menghinggap. Mestinya Goan-ci sudah apatis terhadap segala apa pun. Namun betapa pun juga dia masih muda, rasa ingin tahunya belum lenyap seluruhnya.

Segera ia pun tertarik oleh kejadian itu. Ia coba periksa tempat di mana Polo Singh menongol tadi. Kiranya di situ terdapat sebuah lubang, di samping lubang ada sebuah papan yang diuruk tanah dan daun kering.

Nyata papan itu adalah penutup lubang, jika Polo Singh menerobos masuk lubang itu, lalu ia tutup kembali papan itu hingga tak terlihat lagi dari atas. Apalagi tempat itu pun jarang didatangi orang.

“Lubang ini entah tembus ke mana? Coba kumelihatnya,” demikian pikir Goan-ci. Segera ia pun menerobos ke dalam lubang tanah itu laksana gangsir.

Tak terduga lorong di bawah tanah itu ternyata sangat cekak. Baru ia merangkak beberapa meter, tahu-tahu ia lantas menyusup ke atas. Waktu Goan-ci menongol ke permukaan tanah, tiba-tiba ia merasa geli sendiri.

Kiranya tempat ia berada sekarang adalah tempat tidur Polo Singh sehari-hari itu. Lubang yang dipakai masuk-keluar itu tertutup oleh tikar, sehari-hari Polo Singh rebah di atas tikar itu hingga siapa pun tiada yang menyangka bahwa di bawah tikar terdapat sebuah lubang gangsir raksasa.

Diam-diam Goan-ci membatin, “Polo Singh ini sangat aneh kelakuannya, entah ke mana dia sekarang?”

Karena tertarik, segera Goan-ci mendatangi pula hutan bambu itu menurut arah yang dituju Polo Singh tadi. Lamat-lamat ia merasa tingkah laku padri asing secara sembunyi-sembunyi seperti maling khawatir kepergok itu tentu mempunyai sesuatu maksud tujuan tertentu. Dan kalau sekarang ia mengetahui rahasia perbuatannya, bila ketahuan, pasti padri asing itu takkan mengampuni jiwanya.

Begitulah, dari jauh ia lihat Polo Singh masih hinggap di atas pohon bambu. Segera Goan-ci merayap maju, sesudah agak dekat, ia tidak berani maju lagi.

Selang tak lama, tiba-tiba rembulan tertutup oleh segumpal awan tebal hingga keadaan menjadi gelap. Mendadak terdengar suara angin mendesir, bambu yang dihinggapi Polo Singh tadi tampak mental sekali dan tahu-tahu padri asing itu melompat ke tengah semak-semak pohon di depan sana.

Melihat ginkang orang sedemikian lihainya, Goan-ci sampai ternganga kagum, ia tidak berani mengintai lebih jauh lagi, cepat ia kembali ke kamarnya untuk tidur.

Tidak lama kemudian, tiba-tiba terdengar di sebelah kamar Polo Singh ada suara orang mendengkur, terang padri itu sudah kembali. Diam-diam Goan-ci bersyukur dirinya kembali lebih dulu hingga tidak sampai diketahui.

Besok paginya waktu Goan-ci bangun, ia lihat Polo Singh masih tetap rebah menghadap dinding dan pura-pura tambah payah keadaan sakitnya.

Goan-ci tidak omong apa-apa, ia ambil cangkul dan pergi ke hutan bambu itu untuk mencari anak buluh atau rebung. Ia mendatangi semak-semak pohon tempat Polo Singh menyusup semalam.

Tapi baru beberapa meter ia masuk ke daerah situ, tiba-tiba dari balik pohon sana muncul seorang hwesio dan membentaknya dengan suara bengis, “Ada apa kau datang ke Cong-keng-lau (gedung perpustakaan) ini?”

“O, aku... aku sedang mencari rebung,” sahut Goan-ci.

“Pergi, lekas pergi dari sini! Kalau tidak ada izin dari Hongtiang, sekali-kali tidak boleh mendekati Cong-keng-lau,” kata padri itu sambil memberi tanda agar Goan-ci lekas enyah.

Berulang Goan-ci mengiakan, lalu kembali ke hutan bambu untuk memotong rebung. Pikirnya, “Kiranya di semak-semak pohon sana adalah tempat Cong-keng-lau, tanpa izin Hongtiang siapa pun dilarang mendekati. Jika begitu, semalam diam-diam Polo Singh telah menyelundup ke dalam Cong-keng-lau, apakah dia sengaja datang ke sana untuk mencuri kitab?”

Setelah mengetahui sebabnya Polo Singh pura-pura sakit dan menggangsir, tujuannya ternyata melulu ingin menyelundup ke Cong-keng-lau, maka Goan-ci tidak menaruh perhatian lagi. Sesudah mengumpulkan sekeranjang rebung, lalu ia membawanya ke kebun untuk diserahkan kepada Yan-kin.

“Ya, harus beginilah, kerjalah yang giat, supaya tidak sia-sia aku mendidikmu selama ini,” demikian Yan-kin memuji. “Nah, bawalah ke dapur sana!”

Goan-ci mengiakan dan membawa rebung itu ke dapur. Di sana padri koki sedang masak suatu kuali besar kuah sayur. Segera padri koki itu mencidukkan semangkuk kuah itu untuk Goan-ci. Kemudian mengisi semangkuk kuah pula dan suruh Goan-ci mengantarkan untuk Polo Singh.

Maka dengan membawa semangkuk kuah itu Goan-ci datang ke kamar Polo Singh. Tapi hwesio itu tetap tidak mau minum.

Kuah itu bukan sembarang kuah, di dalam kuah itu terdapat hio-koh (jamur kuping) yang wangi, terdapat kim-can (jarum mas, sejenis tumbuhan), sawi putih, rebung, dan sebagainya hingga mengeluarkan bau sedap yang membangkitkan selera makan orang.

Polo Singh tidak tahan juga oleh bau sedap kuah itu, tiba-tiba ia berkata, “Baiklah, coba kuminum sedikit!”

Dengan pura-pura tak bisa berbangkit, ia terima mangkuk kuah itu dengan tetap rebah miring. Ketika ia taruh mangkuk kuah itu di lantai, sekilas Goan-ci melihat kuah di dalam mangkuk yang bening itu mencerminkan bayangan sebagian kitab yang bertulisan aneh.

Hati Goan-ci tergerak, “Huruf-huruf asing itu agaknya mirip benar dengan tulisan dalam kitabku itu. Kiranya setiap hari Polo Singh ini rebah di sini sebenarnya lagi membaca kitab yang bertulisan aneh ini. Ah, tahulah aku sekarang, kiranya tengah malam buta ia menyelundup masuk ke Cong-keng-lau tujuannya juga untuk mencuri kitab tulisan asing ini untuk dibacanya.”

Tapi sesudah dipikir pula bahwa hwesio memang seharusnya liam-keng (membaca kitab suci), dengan sendirinya padri asing juga mesti membaca kitab bertulisan asing, ini adalah jamak, maka Goan-ci tidak merasa heran lagi, ia pikir mungkin orang asing ini memang suka main sembunyi-sembunyi seperti maling, maka untuk selanjutnya ia pun tidak menaruh perhatian lagi kepala Polo Singh.

Kira-kira sebulan kemudian, pada suatu malam, selagi Goan-ci tidur dengan nyenyaknya, tiba-tiba ia terjaga bangun oleh cahaya yang sangat terang. Waktu ia memandang, ia lihat cahaya terang itu tembus keluar dari kamar Polo Singh di sebelah. Cahaya itu menyilaukan mata, berpuluh kali lebih terang daripada cahaya lilin yang biasanya terpasang di kamar Polo Singh.

Sudah tentu Goan-ci sangat heran. Ia coba mengintip melalui sela-sela dinding. Tapi ia jadi terkejut mengetahui apa yang berada di kamar sebelah itu.

Kiranya dalam kamar Polo Singh itu sedang bersila lima hwesio tua, semuanya berkasa (kasa=jubah padri) merah. Tiga di antara kelima padri tua itu dikenal Goan-ci, karena pernah datang menjenguk Polo Singh. Goan-ci tahu kedudukan para padri tua itu sangat tinggi dalam Siau-lim-si.

Kelima padri tua itu duduk mengitar di atas tikar, tikar yang biasa dibuat tidur Polo Singh itu sudah tersingkap hingga kelihatan lubang di bawah tanah. Polo Singh sendiri tidak kelihatan di situ. Goan-ci menduga padri asing itu pasti pergi mencuri kitab lagi, dan sekali ini maling itu pasti akan tertangkap tangan.

Waktu Goan-ci perhatikan kelima padri tua itu, ia lihat tangan kanan setiap orangnya terangkat di depan dada dengan memegang serenceng tasbih, namun biji tasbih itu tidak bergerak sebagaimana biasanya kalau hwesio sedang membaca kitab, tapi telapak tangan setiap orang itu terbuka menghadap ke depan, mengarah lubang di tanah yang digali Polo Singh itu.

Sebenarnya Goan-ci tidak mempunyai perasaan apa-apa terhadap Polo Singh, cuma sejak ia ditugaskan melayani padri asing itu, ia tidak pernah menderita siksaan lagi, maka ia harap keadaan demikian bisa berlangsung terus. Kini melihat kepungan kelima padri tua Siau-lim-si, mau tak mau Goan-ci berkhawatir bagi Polo Singh, tapi lamat-lamat ia merasa tertarik juga karena bakal menyaksikan suatu pertunjukan yang hebat.

Tidak lama kemudian, sekonyong-konyong lengan baju kiri kelima padri tua itu mengibas serentak, api lilin dalam kamar itu menjadi tertekan oleh angin kibasan itu, tapi segera sumbu api itu menyala lagi hingga bertambah terang kelihatannya.
Ketika Goan-ci hilang silaunya, tahu-tahu di dalam kamar sudah bertambah seorang, itulah dia Polo Singh yang baru saja menerobos keluar dari lubang bawah tanah. Tangan padri asing itu kelihatan memegang tiga jilid kitab. Sudah tentu ia pun terkejut demi tampak di tepi lubang itu sudah siap kelima padri tua.

Maka terdengarlah kelima padri tua itu serentak menyebut, “Omitohud!”

Lalu tangan kanan mereka perlahan menolak ke depan hingga lengan baju mereka tampak melembung seketika bagaikan lima helai layar.

Sekonyong-konyong Polo Singh berjumpalitan sekali terus menjungkir, ia berdiri dengan kepala di bawah dan kaki di atas. Kedua kaki tiada hentinya berputar-putar di atas, makin putar makin cepat.

“Ciaaaat!” mendadak kelima padri Siau-lim-si membentak berbareng, serentak mereka pun menghantam. “Blang”, terdengar suara keras, seketika hawa udara menjadi tegang dan menyesakkan napas, saking tak tahan Goan-ci terguncang pingsan seketika.

Selang sebentar, ketika ia siuman kembali, sayup-sayup ia dengar orang menyebut Buddha. Ia coba tenangkan diri, lalu mengintip melalui sela-sela dinding. Kini dilihatnya Polo Singh sudah duduk bersila dengan sikap yang prihatin, kelima padri tua Siau-lim-si duduk mengelilinginya sambil liam-keng bersama. Kitab yang disuarakan mereka itu sangat aneh, sama sekali Goan-ci tidak paham. Agaknya kedua pihak itu kini sudah damai dengan baik.

Sesudah agak lama keenam padri itu liam-keng, kemudian kelima padri Siau-lim-si berbangkit, mereka memberi salam dengan rangkap kedua tangan, lalu salah satu padri tua yang kurus kecil berkata, “Polo Singh Suheng, sejak kini bolehlah engkau masuk-keluar Cong-keng-lau dengan bebas, segala kitab yang ingin kau bawa boleh diambil dan dibaca, engkau tidak perlu main sembunyi-sembunyi dan mencuri pula.”

Polo Singh kelihatan mengangkat kepala dan termangu-mangu sejenak dengan penuh rasa sangsi. Kemudian bertanya, “Dan sampai kapan batas waktunya?”

“Tak terbatas, sampai Suheng wafat kelak,” sahut padri tua kurus kecil itu.

“Apakah kalian hendak memaksa aku membakar diri?” tanya Polo Singh.

“Omitohud! Mengapa Suheng berkata demikian?” sahut padri tua itu. “Suheng datang dari negeri Thian-tiok, sudah tentu kami sambut dengan segala hormat, masakah kami berani berlaku kasar padamu?”

“Sebagai murid Buddha, lebih baik kita bicara blakblakan,” kata Polo Singh. “Kitab yang tersimpan dalam biara kalian ini tidak sedikit diperoleh dari negeri kami. Selama beratus tahun ini keadaan negeri kami banyak terjadi huru-hara sehingga kitab-kitab aslinya banyak tercecer tak keruan, sebab itulah terpaksa kami harus mencari malah ke negeri kalian sini. Kaum Buddha kita mengutamakan berbuat kebaikan, mengapa kalian berjiwa sesempit ini?”

“Omitohud! Mana kami berani berbuat seperti apa yang dimaksudkan Suheng,” sahut padri Siau-lim-si itu. “Bila yang dicari Suheng adalah kitab suci Buddha penolong manusia, sudah tentu kami tidak berani merahasiakannya untuk diri sendiri. Akan tetapi yang diambil dan dibaca Suheng itu justru adalah kitab pusaka ilmu silat biara kami, meski sumber ilmu silat itu berasal dari negerimu, namun selama seratus tahun ini telah banyak diolah dan dirombak serta ditambah oleh padri saleh biara kami, menurut aturan dan sopan santun, mestinya tidak dapat Suheng ambil dan membacanya tanpa permisi.”

“Tadi kau katakan selanjutnya aku bebas masuk-keluar Cong-keng-lau dan boleh membawa kitab di sana sesuka hati, apakah kau sengaja menyindir aku?” tanya Polo Singh.

“Tidak, memang itulah maksud kami sesungguhnya,” sahut si padri kurus kecil itu dengan membungkuk tubuh.

“Kalian tidak perlu bicara secara plintat-plintut, apa yang kalian inginkan atas diriku, boleh katakan terus terang saja,” kata Polo Singh.

“Kami sangat kagum terhadap ilmu keagamaan Suheng yang tinggi, maksud kami ialah supaya Suheng dapat menetap di negeri kami ini untuk memberi khotbah secara luas dan menolong sesamanya menuju ke jalan yang mulia,” sahut si padri tua.

Seketika wajah Polo Singh berubah pucat bagai mayat. Katanya, “Jadi mak... maksudmu akan menahanku di sini, selamanya aku dilarang pulang ke negeri asalku?”

“Biara kami merasa utang budi kepada negeri kalian, masakah kami berani berlaku kasar seperti itu?” sahut si padri tua. “Kami memang minta Suheng tinggal di sini dengan sesungguh hati, harap Suheng sudi menerima permohonan kami ini.”

Habis berkata, kembali ia membungkuk tubuh dan memberi salam, lalu berjalan keluar. Keempat hwesio lain ikut memberi hormat dan berturut-turut keluar juga.

Polo Singh tampak lesu, rupanya ia insaf apa yang dimaksudkan hwesio-hwesio Siau-lim-si itu tak dapat ditarik kembali lagi, yaitu menahan dia selama hidup di sini dan boleh bebas membaca kitab di Cong-keng-lau, tapi apa gunanya biarpun antero kitab di Cong-keng-lau itu dapat dibaca dan dihafalkan di luar kepala?

“Munafik, munafik!” demikian Polo Singh bergumam sendiri. “Sudah terang aku ditahan di sini, tapi katanya aku dimohon dengan sangat agar tinggal di sini dan supaya sudi menerima permintaan mereka. Andaikan aku menolak, apakah boleh?”

Begitulah makin dipikir makin masygul hingga akhirnya ia memukuli batok kepala sendiri, padahal sebabnya Polo Singh pura-pura jatuh sakit di Siau-lim-si adalah agar para hwesio Siau-lim-si itu tidak menaruh curiga padanya, dengan demikian ia dapat menyelundup ke Cong-keng-lau untuk mencuri kitab.

Pembawaan Polo Singh mempunyai daya ingat yang luar biasa, makanya ia diperintahkan oleh gurunya agar datang ke Siau-lim-si untuk membaca kitab dan mengingat semuanya dalam otak, sekembalinya di negeri Thian-tiok nanti ia dapat menghafalkan kembali.

Jadi kedatangannya bukanlah untuk mencuri kitab, melainkan mencuri baca saja. Dan selama ini setiap hari ia rebah di kamarnya dengan menghadap dinding, selama itu ia sudah menghafalkan lebih 30 jilid kitab. Siapa duga akhirnya perbuatannya itu diketahui oleh hwesio Siau-lim-si.

Tapi hwesio-hwesio Siau-lim-si itu juga tidak membikin susah padanya, setelah tahu maksud tujuan Polo Singh, mereka hanya melarang dia pulang ke Thian-tiok. Dengan sendirinya Polo Singh sangat kesal karena rindu kepada tanah airnya, pula hal mana berarti gagal memenuhi kewajiban yang ditugaskan oleh gurunya itu. Maka semalam suntuk ia berkeluh kesah saja tanpa tidur hingga Goan-ci juga ikut terganggu tidurnya.

Beberapa hari kemudian, sekali ini Polo Singh benar-benar jatuh sakit, sering ia termenung-menung sendiri dengan mata mendelik ke arah barat. Goan-ci menjadi takut melihat sikap hwesio itu.

Suatu hari ketika Goan-ci membawakan nasi pula, sekali comot segera Polo Singh meraup sekepal nasi, dan selagi hendak dijejalkan ke dalam mulut, sekonyong-konyong air mukanya terkilas setitik rasa girang. Tiba-tiba ia berseru tertahan, “Hah, dapat, dapat!”

Segera ia habiskan daharannya dengan tergesa-gesa, lalu ia pegang tangan Goan-ci dan tanya padanya, “Aku akan mengajarkan suatu bagian perkataan dan harus kau hafalkan di luar kepala, sekali-kali tidak boleh diketahui oleh hwesio di kelenteng itu, apakah kau mau melakukannya?”

Goan-ci tidak paham apa maksud Polo Singh itu, dengan bingung ia tanya, “Perkataan apakah itu?”

“Kau harus berjanji dulu takkan bilang pada orang lain, dan segera akan kujelaskan padamu,” ujar Polo Singh.

Sejak Goan-ci menderita sengsara di negeri Liau tempo dulu, lalu ia menjadi seorang penurut, apa yang dikatakan orang lain, pasti diturutnya dengan baik tanpa membangkang sedikit pun.

Maka atas permintaan Polo Singh sekarang ia pun tidak banyak rewel, segera ia mengangguk dan menjawab, “Baiklah, jika demikian kehendak Suhu, pasti takkan kukatakan kepada orang lain.”

Polo Singh berpikir sejenak, lalu katanya, “Dan ada lagi sesuatu, setiap hari aku pasti akan menghajar kau hingga babak belur, itu namanya ‘kho-bak-khe’ (tipu menyiksa diri) untuk mengelabui orang luar, untuk ini kau tidak boleh berkeluh kesah kepada siapa pun juga.”

Goan-ci menjadi ragu, sahutnya kemudian, “Aku tidak berbuat kesalahan apa-apa, kenapa Suhu mesti menghajar diriku?”

Polo Singh menjadi gusar, tiba-tiba sorot matanya berubah bengis, katanya, “Kau tidak mau, boleh juga!”

Mendadak ia menggebrak tanah, “bluk”, seketika jubin hijau kamar itu pecah berantakan hingga berwujud sebuah cap tangan yang melekuk, katanya, “Nah, julurkan kepalamu ke sini biar kuhantam tiga kali kepalamu itu!”

“He, he! Jangan, jangan!” cepat Goan-ci minta ampun. “Kalau kau mau hantam, silakan hantam benda lain saja, kepalaku mana tahan digaplok tiga kali olehmu.”

Polo Singh tertawa, katanya, “Makanya jangan membangkang! Nah, ingat dengan baik, Sirohasak, wasnoderangpojisin, hindi, saniluniul-sanluinosam, manifisamo....”

Begitulah ia mengoceh panjang lebar entah apa maksudnya, dan akhirnya ia berkata pula, “Nah, cukup sekian dulu, coba sekarang kau hafalkan.”

Sudah tentu Goan-ci melongo bingung, bahasa asing yang panjang lebar tak diketahui artinya itu jangankan disuruh menghafalkan seluruhnya atau sebagian, bahkan satu kalimat pun ia tak becus.

Maka ketika Polo Singh mendesaknya lagi, paling-paling ia hanya dapat mengucapkan, “Si... si... si....” dan tak dapat meneruskan lagi.

Polo Singh menjadi gusar, kontan saja ia persen Goan-ci dengan sekali jotos hingga pemuda itu terpental dan menumbuk dinding, hampir Goan-ci jatuh kelengar karena hantaman itu.

“Siaucat, sudah kuajarkan sekian lama, masakah sedikit pun kau tidak ingat?” demikian Polo Singh mendamprat.

“Aku... aku tidak paham apa yang diucapkan Suhu, maka tidak dapat menirukan,” sahut Goan-ci sambil memegangi dagunya yang ditoyor itu dan berbangkit.

Beralasan juga pikir Polo Singh, maka katanya pula, “Baiklah. Memang benar juga, tidak paham artinya sudah tentu susah mengingatnya. Marilah kuajarkan padamu.”

Lalu ia suruh Goan-ci mengumpulkan satu tumpuk tanah kering dan diratakan di lantai, lalu ia mulai menulis dengan jari hingga berupa tiga huruf aneh, kemudian ia berkata kepada Goan-ci, “Nah, ikut melafalkan: A-be-r!”

Segera Goan-ci ikut menghafalkan, “Ya, A-be-r!”

Polo Singh bergirang, kembali ia mengajarkan tiga huruf lagi padanya dan dapat diikuti Goan-ci dengan baik.

“Apakah artinya, Suhu?” tanya Goan-ci tiba-tiba.

“Hanya huruf biasa, tiada artinya,” sahut Polo Singh. “Nah, coba ulangi lagi!”

Lalu ia mengajarkan pula tiga huruf lain.

Tapi ketika kemudian ia suruh Goan-ci melafalkan “A-be-r”, ternyata Goan-ci sudah lupa. Keruan Polo Singh jadi gemas, mendadak ia pegang Goan-ci dengan jungkir balik, lalu dikocak-kocak dengan sengit hingga isi perut Goan-ci hampir-hampir rontok keluar.

“Sungguh sialan ketemu orang goblok seperti kau ini,” damprat Polo Singh dengan murka. “Orang tolol semacammu, kalau suruh kau hafalkan 36 jilid kitab pusaka, sampai kapan baru dapat kau hafalkan!”

Habis itu tiba-tiba ia pegang Goan-ci dan dilemparkan keluar pintu.

Keruan Goan-ci meringis kesakitan. Ia pikir daripada bangun untuk dihajar lagi, lebih baik menggeletak di sini saja. Maka sengaja ia tidak mau berbangkit.

Polo Singh menjadi khawatir pemuda itu terbanting mampus, segera ia mendekati Goan-ci dan memayangnya ke dalam rumah, lalu ia bujuk dengan kata-kata manis agar pemuda itu belajar dengan baik-baik. Kemudian ia mengajarkan tulisan-tulisan lain pula.

Khawatir digebuk lagi, terpaksa Goan-ci mengingat mati-matian huruf yang diajarkan Polo Singh itu. Akan tetapi huruf yang diajarkan Polo Singh itu adalah tulisan Hindu kuno atau Sanskerta, hurufnya pelungkar-pelungker seperti cacing, pendek kata tulisan yang tidak memper tulisan, dan sudah tentu sukar untuk diingat.

Bila Goan-ci ingat tulisan bagian depan, tahu-tahu bagian belakang terlupa, kalau bagian belakang teringat dengan baik, kembali bagian depan lupa lagi, jadi yang satu ingat, yang lain lupa, yang lain ingat kembali, yang tadi terlupa pula.

Tentu saja Polo Singh sangat mendongkol, jika dia sudah murka, segera Goan-ci digebuk. Dan makin digebuk, Goan-ci makin bebal, dalam takut dan bingungnya, huruf-huruf yang sudah diingat olehnya menjadi terlupa malah. Jadi ingin cepat malah menjadi cupet, keruan Polo Singh makin uring-uringan.

Padahal bahasa Sanskerta termasuk salah satu bahasa yang paling sulit dipelajari di dunia ini. Biarpun orang yang cerdik pandai juga susah memahaminya dalam waktu singkat. Apalagi dasar pembawaan Goan-ci memang bukan seorang cerdas, ditambah pula Polo Singh ingin lekas berhasil, maka keadaan bukannya seperti apa yang diharapkan, sebaliknya tambah runyam.

Untung juga, sesudah hampir sebulan, jelek-jelek dapatlah Goan-ci menghafalkan semua huruf pokok bahasa Sanskerta yang diajarkan itu. Lalu mulai Polo Singh mengajarkan pemuda itu membaca kalimat demi kalimat.

Begitulah dengan susah payah terpaksa Goan-ci mesti mengalami siksaan lahir-batin lagi, setiap kali ia menderita dalam hal menghafalkan bahasa Sanskerta itu, dalam mimpi di tengah malam juga sering dia terjaga kaget. Dulu ia kenyang disiksa di negeri Liau, tapi itu cuma siksaan lahir saja, siksaan badan belaka, sedangkan pikirannya bebas lepas, apalagi kalau melihat si gadis pujaannya—A Ci—lagi tertawa menggiurkan, biarpun derita sengsara bagaimanapun juga tak terpikir olehnya.

Sekarang ia tersiksa rohani, otaknya penuh diisi dengan huruf cacing oleh Polo Singh yang susah dipahami itu, hal ini dirasakan jauh lebih sengsara daripada tersiksa badaniah.

Untuk mana beberapa kali ia bermaksud menceritakan kesusahannya kepada Yan-kin, tapi setiap kali bila ia akan membuka mulut tentu Yan-kin mendamprat lebih dulu, “Siaucat, baru dihajar sedikit saja lantas berkeluh kesah ya? Apa yang ditugaskan oleh atasanmu, betapa sulitnya juga mesti kau lakukan. Kata sang Buddha, ‘Aku tidak masuk neraka, siapa yang mau masuk neraka?’ Coba, masuk neraka saja beliau lakukan, sedangkan kau cuma digebuk orang saja sudah mengeluh. Mengapa kau tidak meniru jiwa sang Buddha yang mahaluhur itu, korbankanlah dirimu bagi sesamamu!”

Begitulah maka akhirnya Goan-ci tidak berani mengeluh lagi, terpaksa ia belajar bahasa Sanskerta itu dengan mati-matian.

Mungkin juga sudah suratan nasib. Pada suatu malam selagi ia berkemas hendak tidur, tiba-tiba ia dapat meraba kitab yang terbungkus kertas minyak dan tersimpan di dalam bajunya itu. Tiba-tiba teringat olehnya, “He, tulisan dalam kitab ini mirip tulisan yang kupelajari sekarang dari Suhu itu.”

Cepat ia buka kitab itu, benar juga, segera ia kenal dua huruf di antaranya, huruf yang satu adalah angka satu dan huruf yang lain adalah angka tiga....

Seketika Goan-ci sangat tertarik dan semangat belajarnya terbangkit, pikirnya, “Apa yang tertulis dalam kitab ini sedikit pun aku tidak paham, bila aku sudah belajar bahasa Hindu kuno, tentu aku dapat membacanya. Kitab ini adalah penolong jiwaku, tempo hari waktu si nona A Ci memaksa aku melolohi kelabang dengan darahku, berkat kitab inilah jiwaku dapat diselamatkan. Tampaknya apa-apa yang tertulis dalam kitab ini sangat besar manfaatnya.”

Begitulah demi tahu akan kegunaannya, maka ia tidak merasa susah lagi untuk belajar bahasa Sanskerta itu, sebaliknya ia mulai belajar dengan lebih giat. Sebisanya ia ingat dengan baik-baik dengan harapan dalam waktu singkat akan dapat membaca kitab itu dengan jelas.

Ia merasa apa yang tercatat di dalam kitab itu tentu adalah sesuatu yang hebat dan sekali-kali tidak boleh diketahui Polo Singh, hanya pada waktu akan tidur saja ia suka membalik-balik kitab itu untuk membacanya sebentar. Dan pada waktu membaca tulisannya, dengan sendirinya ia pun melihat gambar orang-orangan yang terlukis di samping tulisan-tulisan itu, pikiran menimbulkan hasrat, otomatis ia lantas melakukan cara yang dilihatnya dari garis-garis kuning halus yang terdapat dalam lukisan itu.

Sudah tentu ia tidak tahu bahwa kitab itu adalah “Ih-kin-keng ciptaan Tat-mo Locou”, itu cikal bakal Siau-lim-si yang termasyhur, kitab itu boleh dikatakan merupakan pusaka yang tak ternilai dalam dunia persilatan.

Caranya Goan-ci memahami Ih-kin-keng itu ada baiknya juga. Sebab kalau orang sengaja dan tekun mempelajari Ih-kin-keng, justru hasilnya akan nihil. Sebaliknya bila memahaminya secara acuh-tak-acuh hasilnya justru menakjubkan.

Sebab itulah meski selama ratusan tahun banyak hwesio pandai Siau-lim-si mempelajari Ih-kin-keng secara tekun, hasilnya malah tidak kelihatan. Hanya sekali peristiwa, yaitu kira-kira seratus tahun yang lalu, pernah Siau-lim-si mengeluarkan seorang hwesio sakti.

Orang itu sejak kecil sudah menjadi hwesio, wataknya angin-anginan dan setengah sinting. Gurunya tidak berhasil meyakinkan Ih-kin-keng dan meninggal pada saat melakukan meditasi, kebetulan hwesio sinting itu menunggu di samping sang guru dan tanpa sengaja ia ambil Ih-kin-keng itu dan dibacanya secara acuh-tak-acuh. Eh, siapa duga akhirnya ia menjadi seorang jago sakti.

Ketika ditanya dari mana ia memperoleh ilmu silat setinggi itu? Sampai mati juga ia tidak dapat menerangkan, orang luar juga tidak tahu bahwa itu adalah jasa Ih-kin-keng.

Kini Goan-ci membaca kitab pusaka itu secara tidak sengaja, tanpa terasa dasar ilmu silatnya makin hari makin kuat, jalan yang ditempuhnya itu tak lain tak bukan adalah arah yang pernah dilakukan hwesio sinting dahulu itu.

Bahasa Sanskerta itu memang sangat ruwet dan sulit dipelajari, terutama mengenai tata bahasanya. Tapi untung juga disebabkan bahasa Sanskerta itu susah dipelajari, maka Goan-ci tidak dapat memahami tulisan dalam kitab itu dengan baik, hanya pada waktu malam ia belajar menirukan garis-garis dalam lukisan itu.

Semula ia hanya menirukan secara iseng saja, tapi setengah bulan kemudian, terasalah ada suatu jalur hawa dingin mengalir kian-kemari dalam tubuh menurut bagian yang dilalui garis lukisan itu, dan di mana garis dingin itu sampai, di situ lantas terasa segar sekali.

Maka tanpa pikir panjang segala akibatnya, asal ada tempo luang, untuk seterusnya Goan-ci lantas melakukannya, sampai akhirnya tanpa membaca kitab juga dia sudah hafal jalan yang dilalui oleh garis yang menyegarkan badan itu, biarpun waktu malam, waktu kerja, dan membaca, hawa murni itu tetap jalan terus tanpa berhenti.

Terkadang kalau jalur dingin dalam tubuh itu macet, tak dapat jalan menurut lukisan, maka untuk sementara Goan-ci mengesampingkannya. Aneh juga, lewat beberapa hari kemudian, otomatis jalan itu tembus dengan lancar....

Sang tempo berlalu dengan cepat, tanpa terasa sudah lebih setahun Goan-ci berada di Siau-lim-si. Semula ia juga ingin memahami bahasa Sanskerta agar apa yang tertulis di dalam kitab itu dapat dipelajarinya dengan baik. Tapi karena makin lama makin sukar, bukan mustahil belajar sampai tua juga belum pandai, akhirnya ia batalkan niatnya itu.

Polo Singh sendiri juga putus asa menghadapi murid yang bandel lagi goblok itu. Saking gemasnya, sering kali ia hanya memberi gebukan saja dan tidak mengajar lagi pada Goan-ci.

Tapi hal mana kebetulan malah bagi Goan-ci. Ia terima gebukan-gebukan itu dengan diam saja. Ia merasa pukulan dan tendangan Polo Singh itu makin lama makin tidak terasa sakit, sampai akhirnya hanya terasa gatal-gatal kesemutan saja, sedikit pun tidak sakit lagi.

Ia sangka Polo Singh sudah bosan menghajarnya hingga cara memukulnya tidak sungguh-sungguh, padahal tenaga dalamnya yang kini sudah terpupuk sangat kuat, tanpa terasa lantas menimbulkan daya tahan baginya.

Suatu petang, kembali Polo Singh mengajarkan “huruf cacing” kepada Goan-ci dan sudah tentu tetap tidak masuk otak pemuda itu. Dalam gusarnya Polo Singh menggebuki lagi pemuda itu. Sesudah Goan-ci pergi, Polo Singh jadi berduka dan menyesal.

Ia sendiri sudah terang berada dalam tahanan dan di bawah pengawasan hwesio Siau-lim-si dan sukar pulang ke tanah air, maka ia bermaksud mengajarkan Yu Goan-ci dengan bahasa Sanskerta untuk menghafalkan kitab, lalu pemuda itu akan dikirim ke Thian-tiok untuk menyampaikan isi kitab yang sudah dihafalkannya itu, dengan demikian walaupun ia terkubur di negeri orang lain dalam menunaikan kewajibannya atas perintah guru, namun dia juga sudah berjasa bagi perguruannya diperolehnya kembali kitab-kitab pusaka yang sudah lama hilang itu.

Celakanya Thi-thau-jin yang diajarnya ini goblok seperti kerbau, meski sudah lebih setahun, satu jilid kitab saja belum dapat menghafalkan, jangankan hendak disuruh menghafalkan 36 jilid kitab itu. Tampaknya sampai ajalnya juga sukar terkabul cita-citanya itu. Dalam dukanya, sungguh Polo Singh ingin menangis sepuas-puasnya.

Pada saat itulah, sekonyong-konyong dari jauh terdengar kumandang suara seruling yang sangat aneh.

Sementara itu lwekang Goan-ci sudah sangat tinggi, maka dengan sendirinya pancaindranya juga sangat tajam. Segera suara seruling itu didengar juga olehnya. Padahal biasanya suasana Siau-lim-si itu tenang sunyi, selamanya tidak pernah terdengar suara alat musik, dari manakah datangnya suara seruling itu?

Meski Goan-ci tidak paham seni musik, tapi ia dapat mendengar suara seruling itu terkadang putus, lalu menyambung lagi, tiba-tiba melengking tajam, lain saat nadanya rendah, suaranya sangat aneh.

Selagi Goan-ci merasa heran, tiba-tiba didengarnya di kamar Polo Singh juga berkumandang suara seruling yang serupa. Waktu ia mengintip, ia lihat Polo Singh sedang memegang sebatang seruling pendek dan sedang meniupnya. Tapi hanya tiga kali padri asing itu meniup serulingnya lalu seruling itu disimpan ke dalam baju, air mukanya tampak berseri-seri girang, lalu orangnya berbaring dan dapat tidur nyenyak.

Sejak kenal Polo Singh, belum pernah Goan-ci melihat padri itu sedemikian gembira. Pikirnya, “Suara seruling ini tentu mengandung arti yang penting. Jangan-jangan ada kawannya dari Thian-tiok yang hendak menolongnya?”

Suara seruling tadi didengar oleh Goan-ci, dengan sendirinya dapat didengar juga oleh para hwesio sakti Siau-lim-si. Segera hongtiang memberi perintah agar penjagaan diperkeras untuk menghadapi kemungkinan diserbu musuh, berbareng itu pengawasan kepada Polo Singh juga bertambah keras agar tawanan itu tidak sampai lolos.

Siapa tahu, setengah bulan sudah lalu, keadaan tetap aman tenteram saja, maka penjagaan dalam Siau-lim-si lambat laun menjadi kendur.

Suatu malam, tengah Goan-ci tidur dengan nyenyak, sekonyong-konyong ia terjaga bangun oleh suara mendesis-desis yang sangat perlahan dan aneh. Dasar lwekang Yu Goan-ci sekarang memang sudah sangat kuat, pula sejak kecil ia suka main binatang ular dan serangga, maka suara mendesis itu segera dikenalnya sebagai suara ular yang sedang mengamuk. Cepat ia bangkit duduk dan kembali didengarnya suara mendesis-desis beberapa kali. Kini dapat diketahuinya dengan baik bahwa suara itu datang dari kamar sebelah.

Baru Goan-ci bermaksud berseru untuk memperingatkan Polo Singh, namun belum lagi ia buka mulut atau tiba-tiba terdengar pula beberapa kali suara seruling yang sama seperti suara seruling yang ditiup Polo Singh pada setengah bulan yang lalu itu.

Dengan heran Goan-ci mengintip lagi ke kamar sebelah, ia menjadi kaget dan merinding. Ternyata di dalam kamar Polo Singh itu telah penuh berbagai jenis ular berbisa yang tak terhitung banyaknya, setiap ular itu sama menegak sambil menjulurkan lidah hingga mengeluarkan suara mendesis-desis.

“Wah celaka! Cara bagaimana aku harus menolongnya?” demikian Goan-ci mengeluh. Tapi ketika ia perhatikan lagi, ia lihat kawanan ular berbisa itu sama meringkuk kira-kira dua meter di sekeliling tempat duduk Polo Singh, meski kawanan ular itu berjubel-jubel, namun tiada seekor pun yang berani melanggar lingkaran di sekitar padri itu.

Goan-ci sudah pernah menyaksikan Sam-ceng menggaris suatu lingkaran obat untuk mengurung ulat sutra putih tempo hari. Maka ia menduga Polo Singh pasti juga menggunakan obat antiular di sekelilingnya itu. Maka ia tidak khawatir lagi, ia cuma tetap tidak paham dari manakah mendadak bisa banjir ular berbisa sebanyak itu.

Kemudian dilihatnya Polo Singh mulai meniup serulingnya lagi, suara serulingnya sangat ulem dan merdu. Di antara beratus-ratus ekor ular itu tiba-tiba ada dua ekor ular berbisa warna kuning tampak menegak ke atas, kepala ular itu bergerak-gerak kian-kemari mengikuti irama seruling. Sebaliknya ular-ular lain yang beraneka macamnya itu hanya diam saja. Dalam pada itu gerak-gerik yang menyerupai sedang menari dari kedua ekor ular kuning tadi tampak semakin nyata.

Lalu suara seruling yang ditiup Polo Singh makin keras, segera ada beberapa ekor ular merayap keluar kamar, menyusul belasan ekor yang lain juga ikut merayap keluar.

Maka terdengarlah suara jeritan kaget orang di luar kamar, “He, ada ular! Ada ular!”

Lalu yang lain berseru, “Wah, ular sebanyak ini, mungkin padri Thian-tiok itu sudah digigit mati oleh ular-ular ini!”

“Ya, ya! Lekas lapor kepada Hian-lan Supek!” demikian kata yang lain.

Dalam pada itu kedua ekor ular kuning tadi masih terus “menari” dengan cepat, semakin keras tiupan seruling Polo Singh, semakin banyak ular yang merayap keluar kamar, mungkin karena tidak tahan oleh getaran suara seruling itu hingga sama menyingkir pergi. Hanya kedua ekor ular kuning itu yang sangat bersemangat, kepala mereka menegak, hanya ekor yang digunakan untuk menahan tubuh sambil bergoyang-goyang.

Selang sebentar lagi, tiupan seruling Polo Singh semakin cepat hingga dia sendiri sampai megap-megap. Sedangkan kawanan ular sudah merayap keluar semua, hanya tinggal kedua ekor ular kuning itu yang masih berputar-putar dan bergoyang-goyang dengan cepat.

Mendadak “bluk” sekali, seekor ular kuning itu tidak tahan dan menggeletak di tanah, menyusul seekor lagi juga jatuh ke tanah sambil kelojotan.

Polo Singh berhenti meniup seruling. Segera ia pegang seekor ular kuning itu, ia gunakan sepotong kain tebal yang sudah disiapkan untuk membungkus kepala ular, lalu ia balik perut ular itu ke atas, ia keluarkan sebilah pisau kecil, ia belek satu garis panjang lima-enam senti pada perut ular itu, kemudian perut ular itu dipencetnya beberapa kali, akhirnya dikeluarkannya sebatang tabung kecil sepanjang beberapa senti. Tabung kecil itu mirip potongan batang padi, hanya lebih besar sedikit.

Tangan Polo Singh tampak sedikit gemetar, cepat ia belah tabung itu, dan ternyata di tengah tabung itu ada isinya. Ketika isi itu dibuka, kiranya secarik kertas yang sangat tipis, di atas kertas penuh tertulis huruf-huruf aneh.

Goan-ci menjadi heran, ketika ia mengintip lebih cermat, ia lihat huruf-huruf di atas kertas kecil itu adalah tulisan Sanskerta. Maka tahulah dia, tentu ular itu adalah alat penghubung yang dikirim oleh kawannya.

Dalam pada itu Polo Singh sedang membelek perut ular satunya lagi dengan cara yang sama, dari dalam perut ular itu kembali dikeluarkan lagi sebuah tabung kecil dan terisi secarik kertas juga.

Waktu Goan-ci perhatikan, ia lihat tulisan di atas kertas kedua ini agak mirip dengan tulisan kertas pertama. Benar juga, hanya sekilas baca saja lantas Polo Singh menaruh kertas itu di sampingnya.

Goan-ci membatin, “Cara mengatur kawannya benar-benar sangat hati-hati, dengan menggunakan dua ekor ular, mereka yakin salah seekor tentu akan dapat menyampaikan surat berita itu andaikan seekor lainnya tidak sampai tempat tujuan.”

Lalu terlihat Polo Singh mengeluarkan dua carik kertas tipis dari bawah tikar, ia gunakan arak untuk menulis, kemudian kertas-kertas itu dimasukkan juga ke dalam tabung dan disembunyikan lagi ke dalam perut ular. Ia robek dua potong kain untuk membalut luka di perut ular itu, habis itu ia buka daun jendela dan melepaskan seekor ular kuning itu ke semak-semak.

Selagi ia hendak melepaskan ular yang lain, sekonyong-konyong daun pintu didobrak orang dengan tenaga pukulan yang dahsyat hingga terpentang, di bawah sinar lilin yang bergoyang-goyang, tahu-tahu di dalam kamar sudah bertambah empat hwesio tua. Dari jauh tangan hwesio di sebelah kiri sana memotong lengan kanan Polo Singh hingga mengeluarkan suara angin yang keras.

Rupanya lengan Polo Singh tak tahan hingga ular kuning kedua yang belum sempat dilepaskan itu jatuh ke tanah. Berulang-ulang hwesio di sebelah kiri itu menjentik lagi dan setiap kali ia menjentik, ular kuning itu pun melonjak sekali. Sesudah menjentik tujuh-delapan kali, kepala ular itu tampak bengkak, menyusul lantas hancur dan mati.

Sungguh kejut Goan-ci tak terkatakan, ilmu sakti hwesio tua itu ternyata sedemikian lihainya, hanya menjentik dari jauh saja sudah dapat membunuh ular berbisa itu.

Kemudian terdengar hwesio yang memukul dari jauh itu berkata dengan dingin, “Mengingat sesama murid Buddha, kami sudah memberi kelonggaran kepada segala dosa Suheng, mengapa sekarang Suheng sengaja mendatangkan ular sebanyak ini untuk mengganggu ketenteraman tempat suci kami ini? Bukankah perbuatan Suheng ini agak keterlaluan?”

Tapi Polo Singh diam saja, ia pejamkan mata dan merangkap tangan di depan dada, sama sekali ia tidak ambil pusing teguran itu.

“Bukan mustahil ada sesuatu yang tidak beres pada ular ini,” kata hwesio tua yang lain. “Sim Cong, coba bawa ular ini dan periksa dengan teliti, mengapa badan ular itu dibalut sepotong kain?”

Mendengar itu, Polo Singh sadar usahanya sudah gagal, sekali bergerak, segera ia menghantam ke arah ular mati itu.

Tapi berbareng hwesio tua satunya lagi yang berdiri di dekat pintu juga mengebaskan lengan bajunya hingga serangkum angin keras tepat menahan angin pukulan Polo Singh, seketika padamlah api lilin.

Segera masuklah seorang hwesio setengah umur, yaitu Sim Cong, ia jemput ular mati itu dan mengundurkan diri.

Kemudian keempat hwesio tua itu bersabda berbareng, “Siancay! Siancay!”

Lengan jubah kanan mereka mengebas sekaligus, ketika angin menderu hebat, tahu-tahu daun pintu terlepas dari engselnya dan mencelat keluar hingga jauh.

Menyusul keempat hwesio itu lantas melompat keluar. Mengingat pintu yang tidak terlalu lebar itu, tapi keempat padri itu dapat melayang keluar berbareng tanpa desak-mendesak, suatu tanda betapa lihai ginkang mereka.

Sungguh tak tersangka oleh Goan-ci bahwa kepandaian para hwesio itu sedemikian lihainya, bahkan musuh besarnya, yaitu Kiau Hong yang dianggapnya mempunyai kepandaian tiada tandingannya, kalau dibandingkan dengan beberapa hwesio tua ini mungkin masih kalah jauh.

Padahal lwekang keempat hwesio ini meski sangat tinggi, tapi kalau dibandingkan ilmu silat Siau Hong yang hebat itu, selisihnya sebenarnya masih sangat jauh. Bahkan lwekang Goan-ci sendiri sekarang juga sudah lebih hebat daripada keempat hwesio tua itu, cuma saja ia sendiri tidak sadar.

Dalam pada itu sesudah keempat hwesio tua tadi pergi, karena daun pintunya copot, angin malam lantas meniup silir ke dalam kamar.

Polo Singh yakin sekali ular kuning mati itu sudah dirampas padri Siau-lim-si tentu di antara mereka ada yang kenal bahasa Sanskerta dan rahasianya pasti akan terbongkar. Dengan demikian usahanya agar dapat pulang negeri asalnya menjadi gagal sama sekali. Makin dipikir Polo Singh makin merasa sedih hingga akhirnya ia menangis tergerung-gerung.

Mendengar suara tangisan orang yang memilukan itu, Goan-ci merasa tidak tega. Segera ia menghiburnya, “Suhu, meski salah seekor ularmu terbunuh, toh ular yang satu lagi dapat lolos dan tentu beritamu akan sampai di tempat tujuan, buat apa engkau merasa sedih pula?”

Seketika Polo Singh berhenti menangis oleh teguran itu, katanya, “Kem... kemarilah kau!”

Goan-ci menurut, ia datang ke kamar Polo Singh, katanya, “Biarlah kubetulkan daun pintumu itu!”

“Nanti dulu,” kata Polo Singh. “Dari mana kau tahu masih ada seekor ularku yang berhasil lolos?”

“Aku menyaksikan sendiri, kulihat engkau memasukkan secarik kertas ke dalam tabung kecil dan disembunyikan dalam perut ular itu,” sahut Goan-ci.

“Hm, jangan kau salahkan aku, sekali kau tahu rahasiaku, maka tak bisa kuampunimu lagi!” kata Polo Singh tiba-tiba. Mendadak ia menubruk maju, ia tunggangi punggung Yu Goan-ci sambil mencekik lehernya dengan kuat.

Goan-ci ingin berteriak, tapi karena tercekik, ia tak bisa bersuara. Ia merasa jari orang bagaikan kaitan kuatnya, makin lama makin kencang kesakitan.

Ia sudah biasa dianiaya orang, maka sama sekali tidak ada pikiran buat melawan, hanya dalam hati ia memohon, “Suhu, lepaskan tanganmu, tentang ularmu yang sudah lari itu takkan kuceritakan kepada siapa pun.”

Tapi karena dia tidak bisa bersuara, dengan sendirinya Polo Singh tak mendengar apa-apa. Padahal biarpun dengar juga tidak nanti orang mengampuni dia.

Dalam keadaan tak berdaya dan takut, kaki Goan-ci menjadi lemas dan tekuk lutut. Tapi Polo Singh menindih di atas tubuhnya sambil mencekik terlebih keras.

Lambat laun Goan-ci merasa pandangannya menjadi gelap, katanya di dalam hati, “Tamatlah riwayatku sekali ini.”

Untung pada saat itu juga tiba-tiba di belakang mereka ada suara orang berdehem, lalu berkata, “Polo Singh Suheng, kejahatan apa lagi yang sedang kau lakukan?”

Melihat ada dua hwesio masuk ke kamarnya terpaksa Polo Singh melepaskan Goan-ci, katanya dengan marah-marah, “Ada keperluan apa kalian datang ke sini?”

Tapi kedua padri Siau-lim-si itu tidak menjawab. Satu di antaranya lantas mundur dan bersembunyi di belakang kawannya, lalu ia bentang secarik kertas dan membaca beberapa kalimat yang tidak diketahui apa artinya, kemudian ia berkata, “Dalam suratmu ini kau minta agar pada malam bulan purnama nanti supaya kau dijemput. Tapi, hehehe, sayang, sungguh sayang!”

“Sayang apa?” sahut Polo Singh dengan gusar.

“Sayang karena usahamu ini kepergok hingga suratmu ini dapat kami rampas,” kata padri itu.

“Kalian ini manusia tak kenal budi, bangsa kalian mengambil kitab dari negeri kami, sejak itu kalian kangkangi sebagai milik sendiri!” damprat Polo Singh. “Padahal aku cuma pinjam baca barang yang berasal dari negeri kami sendiri, namun kalian sengaja mempersulit padaku. Minum air harus ingat sumbernya. Seharusnya kalian juga mesti ingat dari manakah asal-usul kitab yang ingin kubaca itu.”

“Jika kitab yang hendak dibaca Suheng itu adalah kitab kuno berasal dari Thian-tiok, sekali-kali kami takkan merintangi maksudmu itu, jangankan hanya membaca, sekalipun hendak menyalinnya juga Siau-lim-si bersedia membantu,” sahut hwesio Siau-lim-si itu. “Tetapi apa yang diincar Suheng itu adalah intisari ilmu silat hasil jerih payah padri saleh Siau-lim-pay selama turun-temurun ini, maka persoalannya menjadi tidak sama seperti apa yang dikatakan olehmu itu.”

“Kitab yang kubaca itu bahasa Hindu, apakah padri bangsa kalian bisa menulisnya dengan huruf Hindu?” sahut Polo Singh dengan gusar.

“Ya, anehnya urusan justru terletak di sini....” ujar padri Siau-lim-si itu.

Sampai di sini, Goan-ci tiada minat buat mendengarkan perdebatan mereka itu. Ia pikir daripada nanti mati konyol dibunuh oleh padri asing itu, lebih baik sekarang juga aku melarikan diri.

Segera ia menyusur hutan bambu dan keluar dari kebun sayur sana. Ia lihat di sekitar situ tiada seorang pun, segera ia lari ke pegunungan di belakang Siau-lim-si itu.

Makin lari makin cepat hingga dalam sekejap saja ia sudah melintasi dua lereng bukit. Ia merasakan kaki sangat enteng, langkahnya cepat, dengan mudah saja ia meninggalkan Siau-lim-si hingga jauh.

Ketika ia berhenti sejenak, ia sendiri menjadi heran, sesudah berlari-lari sekian lama sedikit pun tidak merasa lelah.

Ia tidak tahu bahwa sejak melatih “Ih-kin-keng”, selama beberapa bulan ini tenaga dalamnya sudah terpupuk sangat kuat, Yu Goan-ci kini bukan lagi Yu Goan-ci yang dulu. Soalnya ia tidak pernah keluar dari biara itu, sehingga lwekangnya yang sudah terpupuk kuat itu tidak diketahuinya sama sekali.

Ia pikir saat itu bukan mustahil dirinya sedang dicari Polo Singh atau Yan-kin, kalau tidak bertemu, tentu akan gempar dan mereka pasti akan mengejarnya. Dan bila tertangkap kembali ke Siau-lim-si, pasti celakalah dia. Maka segera Goan-ci tancap gas lagi, ia lari lebih cepat seperti orang kesetanan.

Larinya itu tidak memilih jalan dan membedakan arah lagi, yang dituju adalah hutan belukar yang sepi, semakin jauh meninggalkan Siau-lim-si semakin baik baginya. Maka sekaligus tanpa berhenti, ia lari hingga dua jam lamanya, ketika ia berpaling, ia lihat Siau-lim-si sudah tertutup oleh berlapis-lapis lereng gunung, barulah hatinya agak lega.

Untuk mengaso, ia menyusup ke dalam semak-semak rumput. Ia dengar di sekitarnya sunyi senyap. Untuk sejenak ia ingin rebah. Tapi tiba-tiba dari arah barat-laut sana didengarnya suara seruling yang melengking tajam.

Kejut Goan-ci tak terkira, suara seruling itu serupa dengan suara seruling yang ditiup Polo Singh, yaitu pada waktu padri itu mengundang ular-ular berbisa. Ia bermaksud berbangkit untuk melarikan diri lagi, tapi entah mengapa, kakinya terpaku di situ. Ia menjadi bingung.

Rupanya saking ketakutan hingga kaki terasa lemas, maka ia tidak dapat menguasai kakinya lagi.

Sementara itu suara seruling tadi makin dekat. Ketika Goan-ci mengintip dari tempat sembunyinya, dilihatnya dari sana muncul belasan padri asing berjubah kuning, lengan kiri mereka telanjang di luar jubah, semuanya bermuka hitam dan bermata celung, terang kawanan padri ini adalah sebangsa dengan Polo Singh.

Setiba di tanah landai sebelah kiri atas sana, padri-padri asing itu lantas duduk bersila, empat orang menjadi satu baris, semuanya ada empat baris, jumlahnya menjadi 16 orang.

Diam-diam Goan-ci heran, hendak berbuat apakah ke-16 padri asing ini berada di tempat sunyi itu? Ia menjadi khawatir jangan-jangan dirinya yang sedang dicari mereka.

Walaupun keadaan sebenarnya tidak begitu, tapi rupanya Goan-ci sudah kapok hingga sedikit pun ia tidak berani bergerak di tempat sembunyinya.

Ia lihat sesudah ke-16 orang itu duduk, lalu mereka berkomat-kamit, semula tidak terdengar, tapi lambat laun bertambah keras hingga akhirnya Goan-ci dapat mendengar apa yang disuarakan mereka adalah sebangsa mantra Hindu.

Makin lama makin keras mantra yang dibaca padri-padri asing itu, mantra yang dibaca ke-16 orang itu sama dan senada. Di tengah suara mantra yang makin keras itu, tiba-tiba terdengar suara mendesis-desis dari arah timur-laut sana, suaranya lirih, tapi menyeramkan hingga mendirikan bulu roma bagi yang mendengar.

Begitu suara mendesis itu berjangkit, seketika suara mantra ke-16 padri asing itu agak kacau, tapi segera mereka dapat memulihkan paduan suara yang senada. Ketika suara menyeramkan tadi mendesis-desis dua kali lagi, kembali suara mantra padri asing dikacaukan pula.

Waktu Goan-ci memerhatikan wajah padri-padri asing itu, ia lihat di antaranya mengunjuk rasa gusar, ada pula yang merasa khawatir. Tiba-tiba suara mantra mereka berubah, mereka terbagi menjadi dua kelompok hingga mantra yang mereka baca juga terbagi menjadi dua macam.

Sekonyong-konyong suara mendesis seram tadi juga berubah menjadi “desas-desis”, maka mantra padri-padri asing itu kembali kacau lagi, segera mereka membagi diri pula menjadi empat kelompok hingga mantra yang dibaca mereka sekarang ada empat macam.

Melihat gelagat itu, dapatlah Goan-ci menduga bahwa padri-padri asing itu sedang mengadu ilmu dengan pihak lain. Dan siapakah lawan mereka? Dengan sendirinya adalah hwesio Siau-lim-si. Tentu padri-padri asing ini hendak menolong Polo Singh yang ditahan secara halus di Siau-lim-si itu, tapi hwesio Siau-lim-si tetap tidak mau membebaskan Polo Singh.

Tapi apa yang diduga Goan-ci lantas dibantah oleh kenyataan, tiba-tiba dilihatnya dari arah timur-laut sana muncul suatu rombongan orang. Berdiri di tengah-tengah adalah seorang kakek yang berperawakan tinggi besar, sedikitnya lebih tinggi dua puluh senti daripada orang-orang di sekitarnya, hingga kelihatan sangat mencolok.

Dari mulut kakek itulah tersiul suara desas-desis yang menyeramkan tadi.

Rombongan orang itu semuanya memakai baju kain belacu kuning, setiap orang membawa toya baja yang panjang lagi besar. Sebaliknya kakek itu enak-enak mengipas dengan sebuah kipas bulu angsa putih yang lebar. Air muka kakek itu merah bercahaya, halus lagi seperti muka anak muda, sebaliknya rambutnya sudah beruban semua, begitu pula jenggotnya yang panjang itu sudah memutih perak. Muka muda rambut tua, jadi mirip benar dengan malaikat dewata yang sering dilukiskan orang dalam gambar.

Kira-kira belasan meter jauhnya rombongan orang itu mendekati padri-padri asing itu, lalu berhenti. Ketika si kakek bersuit dengan kuat hingga mengeluarkan suara melengking tajam maka padri-padri asing itu tidak tahan lagi, tiga di antaranya yang berilmu lebih cetek kontan roboh.

Kemudian si kakek goyang-goyang kipasnya beberapa kali, ketika ia bersuit pula beberapa kali lalu mengebas dengan kipasnya hingga suara suitan itu ditiup ke depan, kontan empat padri asing di antaranya roboh pula.

Dengan demikian, maka mantra yang dibaca padri-padri asing itu menjadi kacau-balau.

Sisa kesembilan padri itu masih bertahan sekuat tenaga, mendadak mereka menjungkir dengan kepala di bawah dan kaki di atas, terus berputar dengan cepat.

Goan-ci pernah menyaksikan Polo Singh melawan empat hwesio tua Siau-lim-si dengan cara menjungkir seperti itu, ia tahu ilmu jungkir (yoga) yang dimainkan mereka itu sangat hebat.

Tapi si kakek tersenyum simpul saja, ia incar dengan baik, bila ada kesempatan, segera ia bersuit sekali dan kontan pasti ada padri di pihak lawan yang roboh atau bergoyang-goyang, kemudian berputar cepat lagi. Suara suitan si kakek mirip semacam am-gi atau senjata gelap yang tak berwujud. Maka hanya sebentar saja di antara sembilan padri itu kembali ada empat orang roboh lagi.

Serentak terdengarlah suara puja-puji orang-orang di sekeliling si kakek, ada yang memuji ilmu sakti guru mereka yang dikatakan tiada tandingnya. Ada yang mengejek pihak lawan sebagai kunang-kunang yang berani berlomba dengan sinar matahari. Pendek kata puji sanjung mereka itu muluk-muluk seakan-akan guru mereka adalah malaikat dewata yang mahasakti.

Di tengah sorak puji yang berisik itu, asal si kakek bersuit, seketika lengking tajam suara suitan itu memecahkan suara berisik dan tampaknya sebentar lagi sisa padri yang lain pasti akan dirobohkan seluruhnya.

“Tit-tit-tit”, tiba-tiba di antara padri asing itu ada yang mengeluarkan suara seruling yang aneh. Ketika Goan-ci memerhatikan, dilihatnya seorang di antara kelima padri yang masih menjungkir itu sedang meniup seruling sekuatnya, sedangkan keempat orang kawannya masih terus berputar dengan cepat sambil berjajar di depan padri yang meniup seruling sebagai pengaling serangan suara suitan si kakek.

“Untuk apa dia meniup seruling?” pikir Goan-ci heran.

Tapi segera ia dengar di tengah semak-semak rumput sebelah ada suara keresekan, seekor ular besar loreng merayap tiba.

Goan-ci kenal ular itu sangat berbisa. Tapi ia pun tahu meski manusia pada umumnya takut ular, tapi sebenarnya segala binatang, termasuk ular, juga takut pada manusia. Asal manusia tidak mengganggu mereka, pada umumnya ular juga takkan menyerang manusia.

Maka ia hanya meringkuk saja di tengah semak-semak rumput itu tanpa bergerak sedikit pun. Ia lihat ular berbisa besar itu merayap langsung ke arah si kakek.

Dan belum lagi ular itu merayap keluar semak-semak rumput, sebagian anak murid si kakek sudah lantas menjerit-jerit kaget, “Hai, ada ular! Ada ular! Wah, celaka! Dari manakah datangnya ular sebanyak ini? Awas, Suhu, ular-ular berbisa ini seperti hendak menyerang kita!”

Waktu Goan-ci memandang ke arah teriakan orang-orang itu, benar juga dilihatnya dari segenap penjuru sedang membanjir tiba bermacam-macam jenis ular berbisa yang besar dan kecil ke arah si kakek dan rombongannya.

Keruan anak murid si kakek menjadi panik, segera banyak di antaranya berteriak-teriak pula, “Wah, celaka! Sayang pusaka kita antiular ‘Pek-giok-giok-ting’ tiada berada di sini!”

“Ya, si budak maling A Ci itu bila kelak kita bekuk, kita harus cencang dia hingga hancur lebur!”

“Benar, kalau Pek-giok-giok-ting itu tidak dicuri oleh si budak setan A Ci itu, tentu kita... ah, tidak perlu banyak cincong, lekas bunuh ular! Wah, celaka! Dari mana datang lagi ular yang lebih besar! Lekas bunuh! Lekas!”

Mendengar nama A Ci disinggung, juga nama A Ci dihubungkan dengan “giok-ting”, katanya giok-ting itu adalah pusaka antiular, maka tergetarlah hati Goan-ci, terang A Ci yang dimaksudkan mereka adalah si nona yang dikenalnya di negeri Liau itu. Ia jadi heran apakah nona itu telah mencuri giok-ting dari mereka?

Dalam pada itu anak murid si kakek tampak mengangkat toya baja mereka untuk menghantam ular yang sudah mendekat itu. Sebaliknya si kakek masih tenang-tenang saja, ia tetap bersuit untuk menyerang musuh. Sedangkan padri asing yang meniup seruling itu masih terus meniup tanpa berhenti, dan keempat padri yang lain juga berputar lebih cepat dengan menjungkir.

Diam-diam Goan-ci membatin, “Di tanah lapang yang luas ini, kawanan ular ini dengan mudah akan dapat dibunuh oleh mereka, apa gunanya ular-ular ini?”

Tak terduga kawanan ular itu makin lama makin banyak yang datang hingga dalam waktu singkat saja berkumpul beribu ekor ular di sekitar orang-orang itu. Malahan beberapa ekor di antaranya adalah ular raksasa.

Ketika ular-ular sawa itu merayap tiba, sekali ekornya membalik, seketika dua murid si kakek kena dililitnya. Menyusul dua orang kena dibelit lagi.

Sebenarnya kalau orang-orang itu mau melarikan diri, sudah tentu kawanan ular itu tak mampu mengejar. Tapi guru mereka sedang menghadapi musuh, dengan sendirinya anak muridnya tidak berani melarikan diri. Maka mereka hanya putar senjata untuk membacok dan mengemplang serabutan, dan ular yang dibinasakan mereka sedikitnya lebih seratus ekor, sebaliknya kawan mereka yang luka digigit ular juga ada tujuh atau delapan orang.

Ular-ular sawa raksasa itu sangat kuat, biarpun kena digebuk toya baja juga tidak terasa. Sebaliknya bila ada orang kena dililit, seketika terlilit dengan kencang dan tak terlepas lagi.

Di tengah lengking suara seruling yang makin keras, jumlah ular sawa itu pun bertambah banyak, hanya sebentar saja sudah berkumpul 17 atau 18 ekor ular sawa raksasa.

Melihat gelagat jelek, segera si kakek bermaksud menyingkir. Tak terduga pada saat itu juga ada dua ekor ular kecil mendadak melonjak dan memagut mukanya. Dengan sekali membentak, kakek itu mengibaskan kipasnya, serangkum angin keras menyambar ke depan hingga kedua ekor ular kecil itu tersampuk jatuh ke tanah.

Pada saat lain sekonyong-konyong si kakek merasa betisnya ditubruk oleh makhluk lain, ia tidak berani ayal, cepat ia mengapungkan tubuh ke atas. Tapi celaka, tiba-tiba suara seruling si padri asing tadi mencuit nyaring sekali, berbareng empat ekor ular sawa raksasa memutar ekornya terus membelit ke arah si kakek.

Dalam keadaan terapung di udara, sedapatnya si kakek menghantam dengan kedua tangannya, kontan dua ekor ular kena dihantam pergi, kesempatan itu digunakan olehnya untuk meloncat ke samping sejauh dua-tiga meter. Tapi pada saat yang hampir sama, ekor panjang ular ketiga dan keempat juga menyambar tiba.

Dengan gugup terpaksa si kakek menghantam lagi dengan tenaga pukulan, di mana angin pukulannya sampai, seketika kepala seekor ular sawa raksasa itu hancur lebur.

Dan karena si kakek harus mencurahkan perhatiannya untuk menempur ular sawa raksasa itu, ia tidak sempat bersuit lagi, maka keempat padri yang berputar dengan menjungkir itu ada kesempatan untuk mengeluarkan seruling, berbareng mereka meniup. Di bawah paduan suara lima seruling, kawanan ular semakin membanjir datang.

Dalam pada itu si kakek telah dapat membinasakan tiga ekor ular sawa raksasa yang lain, tapi tidak urung pinggang dan kakinya kena dililit oleh dua ekor ular sawa yang lain lagi.

Mendadak si kakek menggertak sekali, ia kerahkan tenaga sepenuhnya, ular sawa yang melilit pinggangnya kena dibetotnya hingga putus menjadi dua, darah muncrat hingga membasahi tubuhnya. Tapi nyawa ular itu memang panjang, biarpun badan putus, ular itu tidak lantas mati, ketika merasa sakit, ular itu lantas membelit mati-matian dengan lebih erat dan kuat hingga tulang pinggang si kakek serasa hendak patah.

Cepat si kakek meronta beberapa kali hingga badan ular mati itu mengendur. Tapi segera dua ekor ular sawa lain menggubat lagi beberapa lilitan di badannya hingga lengannya ikut tergubat, keruan ia mati kutu dan tak bisa melawan lagi.

Apa yang terjadi itu disaksikan dengan jelas oleh Goan-ci, saking tegangnya sampai ia ikut menahan napas. Sudah terang dilihatnya kakek itu sangat lihai, dengan ilmu sejati yang dimilikinya dengan mudah saja ia dapat merobohkan ke-16 padri asing itu. Siapa tahu kawanan padri asing itu memiliki semacam ilmu sihir yang dapat mengerahkan ular dengan suara seruling, akhirnya dari kalah mereka berubah menjadi menang.

Begitulah, sesudah melihat semua musuh terlilit oleh kawanan ular sawa raksasa, selain merintih atau mencaci maki, musuh sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi, maka kawanan padri asing itu pun berhenti meniup seruling, sekali melejit segera mereka berdiri tegak kembali.

Padri yang meniup seruling pertama tadi berwajah berewok, agaknya dia pemimpin rombongan, segera ia maju ke depan dan berseru, “Sing-siok Lokoay, kita sama-sama datang ke Tionggoan sini, air sungai tidak menggenangi air sumur, mengapa tanpa sebab kau menangkap ular piaraan kami untuk disembelih secara sewenang-wenang?”

Kiranya kakek bermuka muda seperti dewa itu tak lain tak bukan adalah Sing-siok Lokoay Ting Jun-jiu, si iblis tua dari Sing-siok-hay yang ditakuti orang-orang persilatan di Tionggoan.

Berhubung satu di antara ketiga pusakanya yaitu Pek-giok-giok-ting dicuri dan dibawa lari oleh murid perempuannya, yaitu si A Ci, maka berturut-turut ia telah mengirimkan anak muridnya yang lain untuk menguber gadis cilik itu, bahkan murid tertua Ti-sing-cu juga dikerahkan untuk mencari A Ci, tapi sial benar, laporan yang diterimanya selalu tidak menguntungkan.

Paling akhir ia dengar A Ci mempunyai sandaran Pangcu Kay-pang hingga Ti-sing-cu dihajar setengah mati, keruan Sing-siok Lokoay Ting Jun-jiu terkejut dan murka pula. Ia tahu Kay-pang adalah organisasi terbesar di dunia persilatan Tionggoan, untuk melawannya adalah tidak mudah, maka ia sendiri lantas tampil ke timur.

Tujuan utama perjalanan itu adalah ingin menemukan kembali Pek-giok-giok-ting, adapun mengenai pertengkaran dengan Kiau Hong, tentang A Ci yang akan ditangkapnya kembali untuk diberi hukuman setimpal, semua itu adalah soal kedua. Sebab itulah sepanjang jalan ia tidak menimbulkan onar atau mengganggu orang lain.

Ting Jun-jiu memiliki ilmu jahat yang istimewa, yaitu “Hoa-kang-tay-hoat”, ilmu yang khusus dapat memunahkan kepandaian lawan, ilmu Hoa-kang-tay-hoat itu dalam waktu tertentu harus dipelihara dengan baik, yaitu dengan memoles cairan berbisa pada telapak tangannya untuk disedot ke dalam tubuh.

Jika selama tujuh hari hal itu tidak dilakukan, maka ilmu yang dilatihnya itu akan mundur khasiatnya, bahkan kadar racun yang sudah terhimpun selama berpuluh tahun dalam tubuh itu bila tidak dipupuk dengan racun baru, maka lambat laun racun lama akan bekerja dan akan membahayakan diri sendiri.

Dalam hal ini ia pernah menyaksikan seorang angkatan tua perguruannya setelah berhasil meyakinkan Hoa-kang-tay-hoat, tapi ketika bertanding telah dikalahkan oleh gurunya serta dikurung dalam sebuah kamar batu hingga orang itu tidak dapat menangkap binatang berbisa untuk memupuk racun lama dalam tubuh, keruan kadar racun lantas mengamuk dengan hebat hingga saking tak tahan akhirnya orang itu membeset kulit daging sendiri, kemudian masih harus tersiksa oleh luka-luka itu hingga lebih sebulan baru mati orangnya.

Karena itu, biarpun Sing-siok Lokoay adalah seorang mahakejam, tapi bila teringat kepada kejadian mengerikan yang pernah dilihatnya itu, mau-tak-mau ia sendiri pun merinding.

Untuk menghindarkan kegagalan Hoa-kang-tay-hoat yang dilatihnya itu, maka ia perlu menangkap binatang berbisa dengan Pek-giok-giok-ting yang dapat memancing makhluk-makhluk itu dengan mengeluarkan bau dupa yang wangi.

Dengan memiliki giok-ting itu, maka sedikit pun Ting Jun-jiu tidak susah untuk menangkap binatang-binatang berbisa yang aneh-aneh dan lihai, “Hoa-kang-tay-hoat” yang dilatihnya itu juga semakin hebat dan sempurna.

Orang yang melatih ilmu aneh itu mirip seperti orang yang gemar minum arak, sekali sudah nyandu, maka setiap hari akan ketagihan, setiap hari harus minum dan makin minum makin banyak.

Yang luar biasa adalah ilmu itu harus digunakan terhadap musuh, dengan demikian sebagian kadar racun yang terhimpun dalam tubuh dapat dikeluarkan kepada musuh. Tapi Sing-siok-hay terletak di tempat terpencil sejauh itu, ratusan li di seputarnya tiada seorang pun yang berani mendekat, dari mana bisa diperoleh musuh untuk melampiaskan racunnya setiap waktu?

Lantaran itu, maka setiap 7 hari sekali racun terus bertambah, sebaliknya tidak pernah dilampiaskan, sudah tentu makin lama makin tertimbun kadar racun dalam tubuhnya dan dengan sendirinya luar biasa hebatnya Hoa-kang-tay-hoat itu.

Dasar A Ci memang licin, ia menunggu pada hari sesudah giok-ting digunakan gurunya untuk menangkap binatang berbisa, lalu ia mohon diri pergi pesiar. Ketika Sing-siok Lokoay mengetahui giok-ting itu dicuri, hal itu sudah tujuh hari kemudian, yaitu ketika dia hendak menangkap binatang berbisa lagi, dengan menggunakan giok-ting itu.

Dan sudah tentu selama itu A Ci sudah pergi jauh, jalan yang dipilih selalu jalan kecil yang sepi, meski ia diuber-uber oleh para suhengnya yang jauh lebih lihai, tapi mereka kalah cerdik, selalu mereka kena diakali hingga tiada seorang pun dapat menemukan dia.

Setelah kehilangan giok-ting, dengan sendirinya Sing-siok Lokoay sukar menangkap binatang berbisa yang istimewa lagi, yang diperoleh hanya sebangsa ular yang kecil dan tidak besar manfaatnya.

Hal ini tidak terlalu merisaukan dia, yang dikhawatirkan ialah kemungkinan giok-ting yang dibawa lari A Ci itu akan dikenali orang persilatan Tionggoan hingga dihancurkan oleh mereka. Maka selama benda pusaka itu belum ditemukan kembali, selama itu pula ia merasa tidak tenteram.

Sebab itulah, biarpun tidak ingin menjelajahi Tionggoan lagi, akhirnya ia muncul sendiri juga untuk mencari giok-ting itu mengingat usaha anak muridnya telah gagal satu per satu.

Di wilayah Siamsay dia bertemu dengan anak muridnya, diketahui ilmu silat murid tertua, Ti-sing-cu, sudah punah dan sepanjang jalan selalu dibuat sasaran ejekan oleh anak murid yang lain. Sementara itu murid kedua, yaitu Si Hidung Singa Gian-ho-cu sudah naik kedudukannya sebagai toasuheng.

Demi bertemu dengan sang guru, sudah tentu anak muridnya ketakutan setengah mati, sebab khawatir diberi hukuman berhubung mereka tidak mampu melaksanakan perintah gurunya. Untung saat itu Sing-siok Lokoay perlu pakai tenaga mereka, maka sementara mereka tak dihukum, tapi mereka harus ikut mencari jejak si A Ci. Dan begitulah mereka lantas datang ke Tionggoan.

Sepanjang jalan mereka mencari kabar tentang Kay-pang. Tapi pertama karena bentuk muka mereka itu rata-rata sangat aneh, tutur kata mereka pun menjemukan orang, maka siapa pun tidak sudi memberitahukan berita yang mereka cari. Apalagi saat itu Siau Hong sudah berada di negeri Liau dengan pangkat Lam-ih-tay-ong, hal ini belum diketahui oleh orang Bu-lim, sebab itulah mereka tidak mendapatkan sesuatu kabar, bahkan di mana markas besar Kay-pang saat itu juga tak diketahui.

Sudah tentu Ting Jun-jiu semakin kelabakan, ia pikir Siau-lim-si adalah pusat persilatan Tionggoan, setiap gerak-gerik orang persilatan tentu akan diketahui oleh padri saleh di situ.

Meski ia tidak ingin terang-terangan bermusuhan dengan Siau-lim-pay, tapi mengingat selamanya ia pun tiada pertengkaran dengan Siau-lim-pay, kalau ia berkunjung ke sana untuk tanya sesuatu berita secara beraturan, boleh jadi ketua Siau-lim-si akan dapat memberi tahu sekadarnya. Maka dengan membawa anak muridnya mereka lantas mendatangi Siau-lim-si di Holam.

Sepanjang jalan bila tiba waktunya mengisi racun, ia lantas menangkap ular berbisa untuk menyedot racunnya.

Ketika rombongan mereka baru masuk wilayah Holam, suatu hari mendadak mereka lihat gerombolan ular berbisa secara besar-besaran. Keruan Sing-siok Lokoay sangat girang, segera ia perintahkan anak muridnya menangkap ular untuk mengisi racun “Hoa-kang-tay-hoat” yang lihai itu.

Sebenarnya ia pun heran melihat ular sebanyak itu, tapi dasarnya memang tinggi hati, sudah biasa ia berkuasa di Sing-siok-hay, terhadap segala apa tidak pernah pusing apakah itu milik orang lain atau bukan. Tak terduga bahwa kawanan ular berbisa itu memang benar ada pemiliknya.

Kiranya sesudah Polo Singh dikirim ke Siau-lim-si untuk mencuri kitab, sampai sekian lama tiada kabar beritanya. Maka gurunya telah mengirim pula 16 padri Thian-tiok untuk memapaknya.

Ilmu silat kawanan padri Thian-tiok itu tidak terlalu tinggi, tapi mereka mahir semacam ilmu, yaitu menggunakan suara seruling untuk menggiring ular. Maka sepanjang jalan sudah banyak sekali ular berbisa yang ikut mereka ke Tionggoan.

Meski banyak juga ular itu mati di tengah jalan karena tidak cocok dengan iklim setempat, tapi setiba di wilayah Holam, toh jumlah ular itu masih sangat banyak. Terutama belasan ekor di antaranya adalah ular sawa raksasa yang mengikuti mereka sejak dari rimba purba di wilayah Thian-tiok, ular-ular sawa itu adalah jenis yang jarang terdapat di Tiongkok.

Rupanya padri Thian-tiok itu tahu ilmu silat mereka tidak mungkin melawan pihak Siau-lim-pay, kalau mereka menyerang secara mendadak dengan barisan ular itu, tentu lawan akan kelabakan, andaikan tak bisa menghancurkan Siau-lim-si, paling sedikit Polo Singh dapat tertolong dan dapat merampas sedikit kitab dalam biara itu.

Begitulah kawanan padri Thian-tiok itu melanjutkan perjalanan pada malam hari, kalau siang hari mereka mengaso, dengan demikian kawanan ular mereka takkan mengejutkan penduduk setempat. Tidak lama sesudah masuk wilayah Holam, mereka mengetahui banyak ular mereka dibunuh orang. Ketika diselidiki, ternyata pembunuh ular itu adalah Sing-siok Lokoay.

Jarak Sing-siok-hay tidak terlalu jauh dengan negeri Thian-tiok, maka tindak tanduk Sing-siok Lokoay yang aneh dan kejam itu juga telah didengar oleh orang persilatan Thian-tiok, sebab itulah para padri Thian-tiok tidak ingin cekcok dengan dia.

Tak terduga makin lama makin menjadi, ular yang dibunuh Sing-siok Lokoay makin banyak dan selalu dipilih yang paling berbisa hingga kekuatan barisan ular yang dikerahkan padri Thian-tiok itu sangat berkurang.

Saking tak tahan lagi, akhirnya tercetuslah pertarungan sengit antara kedua pihak dan berkat bantuan kawanan ular yang hebat itu, pihak padri Thian-tiok telah menang, bahkan Sing-siok Lokoay yang tersohor itu terlilit oleh ular sawa raksasa hingga tak bisa berkutik.

Ketika padri Thian-tiok tanya apa dia membunuh ularnya, maka Ting Jun-jiu menjawab, “Sungguh menggelikan pertanyaanmu ini. Segala binatang buas, terutama ular berbisa yang suka mencelakai manusia, siapa saja yang melihatnya tentu akan membunuhnya. Dari mana kutahu bahwa ular-ular itu adalah piaraanmu?”

“Aku pernah memberi isyarat padamu agar jangan membunuh ular piaraan itu, tapi kau sama sekali tidak ambil pusing, sebab apa?” tanya pula padri asing itu.

“Hehehe!” Ting Jun-jiu tertawa dingin. “Sejak kecil hingga besar, selama hidupku ini hanya aku yang menyuruh orang harus begini dan begitu, tapi tidak pernah ada orang yang dapat memerintah aku harus begini dan begitu. Bahkan guruku sendiri dahulu ketika mengomeli aku sedikit saja lantas kubunuh. Sekarang hanya beberapa hwesio busuk dari negeri asing seperti kalian ini dengan hak apa berani memberi perintah padaku, heeehh?”

Melihat Sing-siok Lokoay sudah tergubat oleh ular, sama sekali tidak bisa berkutik lagi, tapi bicaranya masih sangat angkuh, sedikit pun tidak mau tunduk, maka padri asing itu tahu permusuhan ini sudah telanjur mendalam, jika jiwa Lokoay diampuni, kelak pasti akan mendatangkan bahaya yang tidak habis-habis. Segera katanya, “Nama Sing-siok Lokoay terkenal di seluruh jagat, siapa tahu hanya nama kosong belaka, sampai beberapa ekor ular juga tidak mampu melawan. Nah, maaf, biarlah hari ini kami membasmi racun dunia yang paling dibenci seperti dirimu ini!”

“Huh, soalnya aku kurang hati-hati hingga terjungkal di tangan kawanan binatang berdarah dingin seperti kalian ini, andaikan harus pulang ke nirwana juga tak perlu menyesal....”

Baru sekian ucapan Ting Jun-jiu, tiba-tiba suaranya terputus oleh teriakan seorang muridnya yang juga terlilit oleh ular sawa, “Toasuhu, harap lepaskan aku dan kita akan saling menguntungkan. Guruku itu banyak tipu muslihatnya, sukar bagimu untuk melawannya. Sekali kau lengah, pasti engkau akan diselomoti.”

“Apa untungnya jika kulepaskanmu?” tanya si padri asing dengan dingin.

“Sing-siok-pay kami memiliki tiga macam pusaka yang disebut Sing-siok-sam-po,” tutur orang itu. “Jika jiwaku diampuni, sesudah kau bunuh iblis tua itu nanti, tentu ketiga macam pusaka itu akan kupersembahkan padamu. Sebaliknya bila kau bunuh seluruh orang Sing-siok-pay kami, maka Sing-siok-sam-po itu takkan kau dapatkan untuk selamanya, bukankah sangat sayang?”

Dari tempat sembunyinya Goan-ci lihat pembicara itu adalah seorang laki-laki tegap, meski kena dililit ular sawa, namun semangatnya masih gagah, siapa tahu jiwanya justru begitu kotor dan rendah, demi menyelamatkan diri sendiri tidak segan-segan menjual gurunya sendiri secara terang-terangan.

Dalam pada itu seorang murid Sing-siok-pay yang lain ikut berteriak juga, “Toasuhu, jangan kau percaya padanya. Satu di antara Sing-siok-sam-po kami itu sudah dicuri orang. Lebih baik aku saja yang kalian lepaskan, hanya akulah orang yang paling setia padamu, pasti takkan menipumu.”

Begitulah dalam sekejap itu suasana menjadi ramai oleh teriakan anak murid Sing-siok-pay yang pada pokoknya menjilat dan mengumpak pihak lawan, sebaliknya mengolok-olok guru sendiri. Bahkan banyak di antaranya yang sudah terluka oleh gigitan ular dan terimpit di tengah badan ular sawa yang melilit erat juga tidak mau ketinggalan untuk minta ampun dengan macam-macam janji yang muluk-muluk dan segala macam kata-kata bohong pula.

Sama sekali padri Thian-tiok itu tidak menyangka anak murid Sing-siok-pay sedemikian rendah jiwanya, mereka memandang hina dan heran pula. Mereka sama melangkah maju untuk mendengarkan ocehan murid Sing-siok-pay yang lucu itu.

“Terhadap guru sendiri saja tidak setia, masakah kalian dapat dipercaya akan setia kepada bangsa lain? Hahahaha, bukankah menggelikan bualan kalian ini?” demikian padri Thian-tiok yang merupakan pemimpinnya itu mengejek.

“Bukan begitu halnya, lain soalnya,” seru seorang murid Sing-siok-pay. “Kepandaian Sing-siok Lokoay terlalu cetek, apa gunanya kami ikut padanya? Dan apa faedahnya pula kami setia padanya? Sebaliknya Toasuhu memiliki ilmu silat yang tiada bandingannya di jagat ini, mana Sing-siok Lokoay dapat dinilai sama dengan Toasuhu?”

“Benar, siapakah yang tidak kenal ‘padri saleh’ seperti kalian ini, malahan lebih tepat kalian disebut ‘padri sakti’. Eh, bahkan harus disebut ‘Buddha hidup’!” demikian seru murid Sing-siok-pay yang lain. Lalu kawan-kawannya lantas membumbu-bumbui lagi dengan kata-kata muluk yang menyanjung puji.

“Huh, suara manusia rendah dan pengecut sebagai kalian ini sungguh menjemukan,” kata padri Thian-tiok itu sambil berkerut kening. “Sing-siok Lokoay, mengapa kau begini tak becus, mencari murid saja mengapa cari sebangsa manusia yang tak kenal malu seperti mereka ini? Baiklah akan kuantarkanmu ke nirwana dulu, kemudian murid-muridmu yang memalukan ini juga akan kami susulkan padamu!”

Habis berkata, mendadak lengan bajunya mengebas ke atas kepala Ting Jun-jiu.

Waktu itu Sing-siok Lokoay Ting Jun-jiu tak bisa berkutik sedikit pun karena tergubat oleh ular sawa, kebasan lengan jubah padri Thian-tiok yang kuat itu kalau mengenai sasarannya, andaikan tidak mati juga pasti Ting Jun-jiu akan terluka parah.

Tak terduga serangan itu dianggap sepi saja oleh Ting Jun-jiu, sebaliknya padri Thian-tiok itu tahu-tahu lemas terkulai di tanah dan meringkuk bagai cacing, hanya tampak berkejat dua kali lalu tidak bergerak lagi.

Keruan padri Thian-tiok yang lain sangat terkejut, beramai-ramai mereka berteriak, “Suheng! Suheng!”

Segera dua orang di antaranya mengulur tangan hendak membangunkan kawannya itu.

Tapi baru tangan kedua orang itu menjamah tubuh kawannya, seketika kepala mereka pusing, kaki pun lemas, akhirnya roboh juga.

Dengan sendirinya tiga padri lain yang berdiri di belakang mereka lekas hendak memayang kawan-kawannya. Tapi sekali mereka menyentuh badan kedua orang, lagi-lagi ketiga padri itu pun ikut roboh hingga dalam sekejap saja enam padri asing itu sama roboh tak berkutik.

Melihat gelagat jelek, sisa padri yang lain terkesima, mereka tidak berani menjamah badan kawan yang jatuh itu. Seorang di antaranya lantas membentak dengan gusar, “Ilmu sihir apa yang kau gunakan, Sing-siok Lokoay? Ini rasakan pukulanku!”

Berbareng itu terus menghantam. Tapi Ting Jun-jiu hanya tertawa saja, pukulan padri itu seperti terpental balik dari sasarannya, lalu padri itu melongo lebar dan jatuh terjungkal.

Sisa kesembilan padri yang lain sudah pernah dirobohkan oleh suara suitan Ting Jun-jiu, maka mereka tidak berani sembarangan menyerang, mereka berbisik-bisik dalam bahasa Thian-tiok untuk berunding, sejenak kemudian, sekonyong-konyong mereka menggertak bersama, di mana lengan jubah mereka mengebas, sembilan bilah pisau sekaligus menyambar ke arah Ting Jun-jiu.

Tapi Ting Jun-jiu juga membentak, kepala goyang tiga kali, seketika rambutnya yang putih menegak kaku bagai kawat, maka terdengarlah suara “trang-tring” beberapa kali, kesembilan pisau musuh kena disapu jatuh semua. Sedangkan kesembilan padri Thian-tiok itu tahu-tahu sudah menggeletak binasa semua.

Di tempat sembunyinya Yu Goan-ci dapat mengendus bau amis busuk yang sangat menusuk hidung hingga mata terasa pedas dan mencucurkan air mata. Ia heran sekali, ia tidak tahu dengan ilmu apakah membunuh ke-16 orang musuhnya.
Ketinggalan kawanan ular itu sudah tentu tak tahu tentang membalas sakit hati majikan mereka segala, binatang itu masih terus melilit Ting Jun-jiu dan murid-muridnya untuk menunggu perintah selanjutnya dari majikan mereka. Suasana di tanah pegunungan itu menjadi sunyi senyap. Namun ular adalah makhluk yang bodoh, lama-lama bukan mustahil mereka akan mengganas sendiri tanpa komando.

Di tengah kepungan kawanan ular itu, orang-orang Sing-siok-hay tidak berani sembarangan berkutik, sebab khawatir menimbulkan reaksi ular-ular itu hingga mengamuk dan itu berarti jiwa mereka bisa amblas.

Sesudah tenang sebentar, tampaknya tiada bahaya lain lagi kecuali masih menghadapi kawanan ular itu, segera ada seorang murid Ting Jun-jiu membuka suara, “Suhu, ilmu saktimu tiada tandingannya di jagat ini, hanya sambil bicara dan tertawa saja ke-16 musuh jahanam sudah terbunuh semua olehmu....”

Belum habis ucapannya, tiba-tiba seorang murid lain memotong, “Suhu, jangan kau dengar ocehannya! Justru orang yang memuji-muji ‘padri sakti’ dan ‘Buddha hidup’ kepada musuh tadi adalah dia sendiri!”

Mendadak ada di antara muridnya menangis tergerung-gerung dan bertobat, “Suhu! Ampun! Seribu kali ampun, Suhu! Memang Tecu terlalu bodoh, paling takut mati hingga sudi menyerah kepada musuh, sungguh Tecu merasa menyesal sekali. Kini Tecu lebih suka mati dalam perut ular sawa ini dan tidak berani minta hidup kepada Suhu!”

Mendengar perkataan orang terakhir itu, seketika yang lain-lain sadar. Biasanya Sing-siok Lokoay paling benci bila ada muridnya suka menjilat-jilat dan memuji secara berlebihan, jalan hidup satu-satunya bagi mereka adalah mengakui dosa dan mencaci maki diri sendiri yang tolol, dengan demikian jiwa mereka ada kemungkinan akan diampuni gurunya.

Karena itu, segera semua orang ganti haluan, semuanya menyatakan diri mereka bersalah, berdosa, dan tolol, harus dihukum mati dan macam-macam lagi, sampai Goan-ci yang mendengarkan di tempat sembunyinya itu menjadi bingung dan heran mengapa jiwa anak murid Sing-siok-pay itu sedemikian rendah, bicaranya plintat-plintut seperti kentut.

Begitulah anak murid Sing-siok-pay ramai mengoceh tak keruan, tapi Ting Jun-jiu sama sekali tidak menggubris, diam-diam ia sudah mengerahkan tenaga untuk melepaskan diri dari lilitan ular sawa raksasa. Celakanya ular sawa yang melilit dia itu seluruhnya ada dua ekor, badan ular sawa itu dapat mulur-mengkeret pula hingga untuk melepaskan diri boleh dibilang mahasulit.

Cara yang digunakan Ting Jun-jiu untuk membinasakan lawan-lawannya tadi adalah menggunakan hawa beracun dalam tubuhnya yang terhimpun selama berpuluh tahun itu. Ketika padri Thian-tiok yang pertama menyerangnya, segera ia kerahkan unsur racun itu ke bagian tubuh yang dihantam itu, dan dengan cara “pinjam tenaga untuk memukul kembali lawan”, ia embuskan unsur racun itu pada saat pukulan lawan terpental. Jadi binasanya padri Thian-tiok itu bukan terkena sesuatu ilmu sihir Ting Jun-jiu melainkan disebabkan keracunan.

Sedangkan kulit ular sawa itu sangat tebal lagi licin, kadar racun Ting Jun-jiu tidak dapat menyesap ke badan ular hingga dia tak berdaya lagi.

Ia dengar anak muridnya masih cerewet tak henti-hentinya, segera katanya, “Kita terkurung oleh kawanan ular, kalau ada yang dapat pikirkan suatu akal untuk mengusir ular, segera jiwanya kuampuni. Masakah kalian tidak kenal watakku? Siapa yang berguna bagiku tentu takkan kubunuh. Tapi kalau cuma mengoceh saja tanpa berguna, lebih baik kalian tutup mulut!”

Maka terdiamlah seketika anak muridnya itu. Selang sejenak, tiba-tiba seorang di antaranya berkata, “Asal ada seorang membawakan obor dan menyelomot badan ular sawa ini, tentu binatang ini akan ketakutan dan lari.”

“Kentut makmu!” damprat Ting Jun-jiu. “Di tanah pegunungan yang sepi seperti ini dari mana bisa muncul seorang membawakan obor? Andaikan ada orang lalu di sini, bila melihat ular sebanyak ini juga pasti akan lari terbirit-birit!”

Kemudian anak murid yang lain sama mengemukakan usul lagi, tapi tiada satu pun yang masuk di akal dan berguna. Sebabnya mereka mengoceh terus tidak lain hanya untuk mengambil hati sang guru saja agar kelihatan bahwa mereka benar-benar ikut memeras otak untuk mencari akal.

Maka sang tempo berlalu dengan cepat, dua-tiga jam kemudian, tiba-tiba seorang murid yang dililit ular sawa itu megap-megap, dalam keadaan bingung tanpa terasa ia meronta dan menggigit ular yang melilitnya. Jadi bukan ular menggigit manusia, tapi manusia menggigit ular.

Karena kesakitan, tentu saja ular sawa itu mengamuk, sekali ia memagut, kontan murid Sing-siok-hay itu menjerit dan binasa.

Ting Jun-jiu makin khawatir. Jika dikurung musuh, dalam waktu beberapa jam itu tentu ia dapat mengatasi dengan macam-macam tipu muslihatnya yang licik untuk meloloskan diri. Celakanya kawanan ular ini adalah binatang yang bodoh, jangan-jangan bila ular sawa ini merasa lapar, sekali caplok mungkin dirinya akan ditelan mentah-mentah.

Dan benar juga, apa yang dikhawatirkan itu segera menjadi kenyataan. Karena sudah sekian lama tidak mendengar suara seruling, perut seekor ular sawa di antaranya sudah kelaparan, segera mulutnya terbuka lebar-lebar terus mencaplok murid Sing-siok-pay yang dililitnya itu.

Keruan murid itu menjerit ketakutan. “Tolong, Suhu! Tolong!”

Dan yang dicaplok lebih dulu ternyata bagian kaki hingga tanpa kuasa badan tertelan ke dalam perut ular sawa sedikit demi sedikit, sedangkan murid Sing-siok-pay itu menjerit-jerit.

Gigi ular sawa itu bentuknya mengait ke dalam hingga segala makhluk yang tergigit olehnya tidak mungkin bisa lolos selain perlahan ditelan ke dalam perutnya.

Maka murid Sing-siok-pay yang tertelan itu lambat laun sudah sampai bagian pinggang, lalu dada dan sebentar lagi tentu akan kepalanya. Seketika orang itu tidak mati, ia masih bisa berteriak dan menjerit ngeri hingga ia membikin kawan-kawannya ikut ketakutan setengah mati bila membayangkan nasib mereka sebentar lagi juga akan mengikuti jejak kawannya itu.

Melihat Sing-siok Lokoay sendiri juga tak berdaya sama sekali, segera ada seorang muridnya mulai penasaran dan gemas, terus saja ia mencaci maki sang guru, katanya gara-gara iblis tua yang kejam itu hingga dirinya yang semula hidup aman tenteram menggembala di sekitar Sing-siok-hay tertipu masuk perguruan Sing-siok-pay, tapi hari ini harus mati terkubur dalam perut ular sawa, di akhirat nanti pasti dia akan menagih nyawa kepada Sing-siok Lokoay.

Begitulah seorang mulai memaki, maka yang lain-lain juga tidak mau ketinggalan, segera ramailah suara caci maki mereka. Biasanya mereka sudah kenyang disiksa dan dianiaya Sing-siok Lokoay, kini mereka bakal mati semua, mumpung masih ada kesempatan, maka mereka mencaci maki sepuas-puasnya sekadar melampiaskan rasa dendam kepada guru mereka yang jahat itu.

Seorang di antaranya mungkin terlalu nafsu memaki hingga badannya ikut bergoyang, hal ini membuat ular sawa yang melilitnya itu menjadi gusar, tanpa permisi lagi ular itu menggigit pundaknya. Saking kesakitan orang itu menjerit, “Aduh! Tolong! Tolong!”

Mendengar jeritan minta tolong yang mengerikan itu, Goan-ci tidak tahan lagi, ia terus berbangkit dari tempat sembunyinya dan berseru, “Jangan khawatir, biar kunyalakan api untuk mengusir kawanan ular ini!”

Ketika mendadak melihat muncul seorang dengan kepala bertopi baja yang aneh, semula anak murid Sing-siok-pay itu sama terkejut. Tapi demi mendengar orang aneh itu bersedia menyalakan api untuk mengusir ular, itu berarti ada harapan hidup bagi mereka, keruan mereka sangat senang dan menyatakan terima kasih berbareng.

Kepandaian mencaci maki anak murid Sing-siok-pay itu sangat pintar, boleh dikata kelas pilihan, sebaliknya bakat mereka dalam hal memuji dan mengumpak juga sudah terlatih dan mahapandai. Terus saja mereka memuji Yu Goan-ci sebagai “kesatria besar”, “pendekar besar”, “tuan penolong yang budiman”, “pahlawan yang tiada bandingannya di jagat ini” dan macam-macam sanjungan lain.

Pada umumnya manusia itu senang dipuji, tidak terkecuali pula Goan-ci yang dipuji setinggi langit itu, seketika ia merasa dirinya seakan-akan menjadi orang besar, ia merasa berharga biarpun mesti menyerempet bahaya bagi orang-orang itu.

Segera ia mengeluarkan ketikan api, ia mengepal segebung rumput kering dan dinyalakan sebagai obor. Tapi ia menjadi takut juga melihat kawanan ular sedemikian banyak, terutama ular sawa raksasa yang ganas itu, ia khawatir jangan-jangan kawanan ular itu akan mengamuk, boleh jadi dirinya akan menjadi korban juga.

Ia pikir sejenak, lalu ia kumpulkan sedikit kayu kering dan dinyalakan sebagai api unggun di depannya sebagai aling-aling. Habis itu ia jemput sepotong ranting kayu kering yang sudah terbakar itu dan ditimpukkan ke arah ular yang paling dekat, berbareng itu ia terus bersembunyi di belakang api unggun sambil bersiap-siap bila ular yang ditimpuk itu menerjang ke arahnya, segera ia akan angkat langkah seribu alias kabur, segala gelar “kesatria besar” dan “pendekar besar” tak terpikir lagi olehnya dan lebih baik diretur saja kepada anak muridnya Sing-siok-pay itu.

Di luar dugaan, memang benar juga kawanan ular itu takut kepada api dan demi melihat api membakar tiba, segera ular itu melepaskan mangsa yang dililitnya dan merayap pergi ke dalam semak-semak rumput.

Tampak hasil serangan api itu, di bawah sorak gembira anak murid Sing-siok-pay segera Goan-ci mengulangi perbuatannya, setangkai demi setangkai ia timpukkan ranting kayu berapi itu ke arah ular. Seketika kawanan ular itu ketakutan dan kacau-balau, ramai-ramai mereka melarikan diri, begitu pula ular sawa raksasa itu juga takut pada serangan api, mereka meninggalkan mangsa yang terlilit itu, hanya dalam waktu singkat saja beratus ekor ular itu sama melarikan diri hingga bersih.

Lalu terdengar suara sanjung puji anak murid Sing-siok-hay, “Suhu memang mahapintar, perhitungannya sangat tepat. Dengan serangan api ternyata benar kawanan ular lantas terusir lari semua! Benar, berkat rezeki yang mahabesar dan kekuasaan mahasakti Suhu hingga jiwa kita dapat diselamatkan!”

Begitulah bukan mereka memuji Goan-ci, tapi semua jasa itu kini ditumplak atas diri guru mereka.

Keruan Goan-ci terheran-heran, “Aku yang menolong kalian, mengapa suhu kalian yang dipuji, padahal baru saja kalian mencaci maki gurumu habis-habisan, seakan sepeser pun tidak berharga.”

Ia tidak tahu bahwa sesudah terbebas dari ancaman ular, maka jiwa orang-orang itu kembali tergantung di tangan Sing-siok Lokoay lagi. Kalau mereka tidak mengumpak dan menjilat mati-matian, bukan mustahil jiwa mereka akan melayang dibunuh oleh Ting Jun-jiu. Sedangkan mengenai jasa pertolongan Yu Goan-ci sudah tentu tak terpikir oleh mereka, apa sih artinya seorang keroco bertopi baja bagi mereka?

Demikianlah Ting Jun-jiu lantas memanggil Goan-ci, “He, Thi-thau-siaucu (Bocah Berkepala Besi), coba kemari! Siapa namamu?”

Kurang ajar, pikir Goan-ci, sudah kutolong jiwamu, sama sekali tidak mengucapkan terima kasih, sebaliknya memanggil semaunya. Tapi dia sudah terbiasa dihina orang, meski orang bersikap kasar padanya juga tak menjadi soal baginya. Segera ia menyahut sambil melangkah maju, “Namaku Yu Goan-ci.”

“Apakah padri asing lain sudah mati? Coba kau periksa hidung mereka, apa mereka masih bernapas atau tidak?” kata Ting Jun-jiu tiba-tiba.

Goan-ci mengiakan, lalu berjongkok untuk memeriksa pernapasan salah seorang padri Thian-tiok yang menggeletak di tanah itu. Ia merasa badan orang sudah dingin beku, sejak tadi padri itu sudah mati. Ketika ia periksa padri yang lain, keadaannya serupa. Maka katanya sambil menegak, “Sudah mati semua!”

Dalam sekejap itu, dilihatnya sikap mengejek orang-orang itu lambat laun berubah menjadi terheran-heran, lalu berubah lagi menjadi terkejut tak terkatakan. Begitu pula Ting Jun-jiu tampak heran, katanya, “Coba kau periksa lagi tiap-tiap hwesio itu, adakah di antaranya masih dapat tertolong?”

Goan-ci menurut pula, akhirnya ia periksa semua padri Thian-tiok itu dan melapor, “Sudah mati semuanya, ilmu sakti Losiansing sungguh sangat lihai!”

“Ya, dan ilmu menolak racun yang kau miliki itu juga sangat lihai,” sahut Ting Jun-jiu dengan tertawa dingin.

Sudah tentu Goan-ci merasa bingung. “Ilmu... ilmu menolak racun apa?” tanyanya tak paham.

“Hahahaha! Bagus, bagus!” Ting Jun-jiu bergelak tertawa. “Dari perawakanmu dan suaramu, kukira usiamu masih sangat muda, tapi kepandaianmu ternyata sedemikian hebat, sungguh orang muda yang tak boleh dipandang enteng!”

Goan-ci tambah bingung, ia tidak paham apa yang dimaksudkan orang. Ia tidak tahu bahwa setiap kali ia periksa pernapasan padri Thian-tiok yang sudah mati itu, hal itu berarti tiap kali dia sudah “piknik” ke pintu gerbang akhirat. Jadi memeriksa 16 padri asing itu berarti pula lolos 16 kali dari cengkeraman maut.

Apa sebabnya? Kiranya meski Sing-siok Lokoay dapat diselamatkan oleh Goan-ci, tapi selaku seorang guru besar ilmu persilatan, sedikit pun ia tak bisa berkutik ketika dililit ular, bahkan perlu ditolong seorang pemuda keroco, hal ini kalau tersiar ke dunia Kangouw tentu akan menghilangkan mukanya. Sebab itulah, maka sesudah terlepas dari lilitan ular sawa, segera timbul maksudnya membunuh Goan-ci agar kejadian memalukan itu tak diketahui umum.

Adapun binasanya padri Thian-tiok itu adalah terkena racun yang terembus dari tubuhnya, kini Ting Jun-jiu menyuruh Goan-ci memeriksa pernapasan hidung padri-padri itu, ini berarti pemuda itu dibiarkan juga terkena racunnya yang jahat itu.

Siapa duga secara kebetulan sekali Goan-ci sudah pernah mengisap cairan darah ulat sutra putih yang maha berbisa, dengan lwekang mahatinggi yang dibacanya dari Ih-kin-keng, sesudah mengalami gemblengan selama beberapa bulan ini racun aneh dari ulat sutra yang mengeram dalam tubuh Goan-ci itu sudah terbaur menjadi satu dengan badannya. Jadi sekarang unsur racun yang berada pada tubuh Goan-ci itu adalah racun yang tak bisa dibandingi racun dari makhluk berbisa mana pun juga. Dan dengan sendirinya racun yang dikeluarkan Ting Jun-jiu itu tak dapat mencelakai dia.

Padahal tadi tanpa menggunakan api juga Goan-ci dapat mengalahkan kawanan ular itu, asal dia berjalan berlenggang dengan gaya bebas saja kawanan ular itu akan ketakutan dan bila berani menggigit dia, tentu ular itu akan binasa sendiri terkena racun dalam tubuh Goan-ci yang jauh lebih lihai.

Cuma Goan-ci sama sekali tidak tahu keadaan sendiri itu, dan sudah tentu Sing-siok Lokoay lebih-lebih tidak menyangka akan hal itu. Semula Sing-siok Lokoay berharap sekali Goan-ci menjamah padri Thian-tiok yang pertama tentu akan segera meringkuk binasa, siapa duga meski ke-16 padri Thian-tiok itu diraba, tetap Goan-ci hidup segar bugar tak kurang suatu apa pun. Keruan hal ini menggemparkan Sing-siok Lokoay dan anak muridnya.

Diam-diam Ting Jun-jiu membatin, “Melihat usianya yang masih muda belia ini tentu belum mempunyai kepandaian apa-apa, besar kemungkinan karena dia membawa sesuatu benda mestika antiular atau mungkin sebelumnya dia pernah minum obat mukjizat, maka tidak takut terkena racunku yang lihai itu.”

Maka katanya kemudian, “Eh Saudara Yu, mari kita omong-omong!”

Melihat orang bicara dengan nada yang lebih ramah daripada tadi, pula Goan-ci sudah menyaksikan caranya membinasakan ke-16 padri Thian-tiok secara kejam, juga mendengar pembicaraan kaum Sing-siok-hay mereka yang sebentar menjilat-jilat dan lain saat mencaci maki, betapa pun Goan-ci merasa muak terhadap mereka, ia pikir lebih baik menjauhi manusia rendah seperti mereka ini. Maka ia pun menjawab, “Ah, tak perlu kita omong-omong lagi, aku ada urusan lain, biarlah kumohon diri saja!”

Habis berkata, ia memberi soja, lalu tinggal pergi ke arah timur sana.

Tapi baru dua-tiga langkah ia berjalan, sekonyong-konyong terdengar angin berkesiur di sebelahnya. Tahu-tahu kedua tangannya kena dipegang orang. Datangnya orang sangat cepat hingga sebelum Goan-ci tahu apa yang terjadi, tiba-tiba tangan sudah terpegang.

Ketika Goan-ci berpaling, ia lihat yang menangkap tangannya itu adalah seorang anak murid Sing-siok-pay. Ia tidak tahu apa maksud orang, yang terang orang itu menyeringai, pasti orang tak bermaksud baik. Dalam khawatirnya segera Goan-ci meronta sekerasnya sambil berteriak, “Lepaskan aku!”

Mendadak sosok tubuh yang besar itu mencelat pergi melampaui kepalanya dan tertumbuk dinding batu di depan sana, “prak”, kepala orang itu pecah dan tulang patah. Goan-ci menjadi heran dari mana datangnya orang itu dan siapakah yang melemparkan sekeras itu hingga tertumbuk mati seketika?

Tapi ketika ia perhatikan, ternyata orang itu adalah murid Sing-siok-hay yang barusan memegang kedua tangannya itu. Keruan ia tambah heran, “Barusan saja orang itu memegang tanganku, mengapa mendadak bisa membunuh diri dengan menumbukkan kepalanya ke dinding batu?”

Sama sekali tak terkira olehnya, bahwa sebenarnya laki-laki itu bukan membunuh diri, tapi karena tenaga merontanya tadi yang hebat hingga orang itu kena disengkelit dan terpental serta mati tertumbuk batu karang. Maklum, tentang tenaga dalamnya yang makin hari makin kuat itu memang tidak disadarinya, pula selama ini ia pun tidak pernah berkelahi dengan orang. Semalam waktu ia dicekik Polo Singh, lantaran ketakutan hingga tidak berani melawan, padahal asal dia meronta sekuatnya, pasti Polo Singh tak mampu mencekiknya.

Begitulah, maka anak murid Sing-siok-pay yang lain sama menjerit kaget demi menyaksikan sekali sengkelit saja seorang suheng mereka sudah terbunuh oleh bocah kepala besi itu.

Sing-siok Lokoay adalah seorang tokoh termasyhur, pengalamannya luas dan pengetahuannya tinggi, cara sengkelit Goan-ci yang tidak sengaja itu dapat dilihatnya dengan jelas, ia pikir tenaga pembawaan bocah ini memang luar biasa, tapi ilmu silatnya tiada sesuatu yang istimewa. Maka sekali melompat maju, segera sebelah tangannya memegang topi baja pemuda itu terus ditekan ke bawah.

Karena tidak berjaga-jaga, seketika Goan-ci tertindih hingga tekuk lutut oleh tenaga mahakuat itu, ia hendak menegak lagi, tapi kepalanya serasa menyunggi sebuah gunung hingga tak bisa berkutik sama sekali, terpaksa ia memohon, “Ampun, Losiansing! Ampun!”


Mendengar itu, hati Ting Jun-jiu tambah lega lagi. Katanya segera, “Besar sekali nyalimu ya, berani kau bunuh muridku? Siapakah gurumu, hah?”

“Aku... aku tidak punya guru, aku... aku pun tidak berani membunuh muridmu!” sahut Goan-ci dengan gelagapan.

Ting Jun-jiu pikir orang toh tak mampu berbuat apa-apa lagi, lebih baik dibinasakan saja. Maka ia lantas angkat tangannya, waktu Goan-ci berdiri, terus saja telapak tangannya memukul dada anak muda itu.

Keruan Goan-ci kaget setengah mati, cepat ia menangkis sebisanya, dan karena datangnya pukulan Sing-siok Lokoay itu sangat lambat, maka tangan Goan-ci segera menempel telapak tangan iblis tua itu.

Justru hal inilah yang diinginkan Ting Jun-jiu, segera racun yang sudah terhimpun pada telapak tangan disalurkan melalui arus tenaga dalamnya yang mahakuat.

Itulah “Hoa-kang-tay-hoat” yang terkenal selama berpuluh tahun. Selama hidupnya hanya pernah satu kali dikalahkan orang, biasanya lawan pasti akan binasa seketika di bawah ilmu saktinya yang lihai itu.

Sebenarnya ia tidak perlu menggunakan ilmu sakti itu untuk menghadapi seorang bocah hijau pelonco seperti Goan-ci, terutama mengingat setiap kali ilmu itu digunakan juga akan mengurangi sebagian tenaga murninya dan melemahkan kadar racun yang mengeram dalam tubuhnya itu. Tapi ia menyaksikan sendiri Goan-ci sedikit pun tidak keracunan meski telah meraba ke-16 padri Thian-tiok itu, maka ia tidak berani gegabah dan terpaksa mengeluarkan ilmu saktinya yang khas itu.

Dan begitu kedua tangan beradu, tubuh Goan-ci lantas menggeliat dan tergetar mundur enam atau tujuh langkah. Bahkan tenaga sodokan lawan itu masih belum habis, akhirnya ia jatuh terjungkal, malahan terus berjungkir balik hingga tiga kali, habis itu baru berhenti.

Sebaliknya ketika tangan Ting Jun-jiu kebentur tangan pemuda itu, tiba-tiba dada terasa “nyes” dingin. Menyusul arus tenaga dalam yang tersedia di telapak tangan mendadak membanjir keluar dengan cepat luar biasa. Lekas-lekas ia mengerem sekuatnya, tapi arus tenaga dalam itu masih hendak menuang keluar, terpaksa ia menjungkir, dengan kepala di bawah dan kaki di atas ia putar beberapa kali, ia gunakan cara menguatkan tenaga bertahan dari perguruannya, dengan demikian barulah keluarnya tenaga murni itu dapat dihentikan.

Kemudian ia melompat bangun, seketika rambut dan jenggot menjengkit dan muka pucat pasi, sikapnya sangat menakutkan, sambil pentang kedua tangan yang lebar, segera ia bermaksud menubruk pula ke arah Goan-ci.

Saat itu Goan-ci sedang berlutut sambil menyembah dan berseru, “Ampun, Losiansing! Ampun! Ampun!”

Sesudah gebrakan barusan ini, Ting Jun-jiu merasa apa yang digunakan pemuda itu adalah Hoa-kang-tay-hoat dari perguruannya, malahan dengan latihannya yang sudah berpuluh tahun dan sudah sempurna, kecuali tenaga dalamnya sedikit lebih kuat daripada pemuda itu, kalau bicara tentang lihainya racun dalam tubuh, malah dirinya kalah setingkat, sehingga dalam gebrakan ini dirinya yang kecundang.

Biasanya hubungan persaudaraan dalam Sing-siok-pay hanya mengutamakan kuat dan lemahnya ilmu silat masing-masing, sama sekali tiada persoalan budi kebaikan segala, semakin tinggi kepandaiannya semakin tidak kenal ampun di antara mereka dan pasti saling membunuh. Kalau dikalahkan orang luar, mungkin pihak lawan masih mau mengampuni jiwanya, tapi bila kecundang di tangan saudara seperguruan sendiri pasti jiwa tak berampun.

Dan sekarang sudah terang gamblang Goan-ci berada di pihak yang menang, mengapa malah berteriak minta ampun? Apakah sengaja mempermainkan aku? Dari mana pula pemuda itu berhasil meyakinkan “Hoa-kang-tay-hoat”? Demikianlah Sing-siok Lokoay Ting Jun-jiu merasa heran, curiga, dan malu pula.

Tapi dasar dia memang licik dan licin, lahirnya sedikit pun tidak kentara akan perasaannya itu. Sekali lompat segera ia melayang ke depan Goan-ci dan bertanya, “Kau minta ampun padaku dengan sungguh-sungguh atau pura-pura?”

Berulang-ulang Goan-ci menyembah, sahutnya, “Dengan hati tulus hamba mohon Losiansing suka mengampuni jiwaku!”

“Jadi kau... kau....” tiba-tiba tergerak hati Ting Jun-jiu sebelum lanjut ucapannya. Segera ia ganti suara, “Kau telah mencuri Pek-giok-giok-tingku, sekarang kau sembunyikan di mana barang itu?”

Dasar Sing-siok Lokoay itu memang cerdik, ia pikir orang yang mampu meyakinkan Hoa-kang-tay-hoat, harus menggunakan Pek-giok-giok-ting dan kalau dia tanya di mana beradanya giok-ting itu boleh jadi akan dapat diketahui asal usul bocah bertopi baja ini.

Maka Goan-ci telah menjawab, “Ti... tidak, Siaujin tidak mencuri giok-ting milik Losiansing itu. Setiap kali habis dipakai, selalu Nona sendiri menyimpannya lagi, Siaujin tidak pernah diperbolehkan memegangnya.”

Hanya sekali tanya saja sudah dapat diperoleh berita tentang Pek-giok-giok-ting itu, keruan girang Ting Jun-jiu tidak kepalang. Segera katanya pula, “Hah, kau berani menyangkal? Justru Nona bilang kau yang mencurinya?”

“Ampun, Losiansing, Siaujin benar-benar tidak mencuri!” demikian Goan-ci bertobat. “Malahan sejak Nona selesai melebur ulat sutra itu, lalu Siaujin tidak pernah melihat giok-ting itu lagi, mengapa Siaujin dituduh mencurinya? Jika Losiansing tidak percaya, boleh silakan memanggil Nona untuk ditanyai.”

“Baik, jika begitu pengakuanmu, marilah kita pergi menemui Nona dan kalian berdua boleh membuktikan siapa yang benar,” kata Ting Jun-jiu.

“Men... menemui Nona, kata Losiansing?” Goan-ci menegas.

“Ya,” sahut Ting Jun-jiu. “Sekarang juga kita pergi mencarinya agar perkara yang sebenarnya menjadi jelas. Apakah kau yang mencuri atau bukan tentu hari ini akan ketahuan.”

“Tapi... tapi Nona jauh berada di negeri Liau sana, mana dapat diketemukan hari ini juga?” ujar Goan-ci. “Namun... namun....”

Tanpa sengaja Sing-siok Lokoay dapat mengetahui jejak A Ci, keruan girangnya tidak kepalang. Segera ia tanya, “Namun apa?”

“Namun kalau Losiansing ingin pergi juga ke Lamkhia, dengan sendirinya Siaujin bersedia mengiringi ke sana,” kata Goan-ci.

Sing-siok Lokoay memang benar seorang mahacerdik, biarpun tidak dapat melihat air muka Goan-ci, cukup mendengar ucapannya saja segera ia tahu pemuda itu sangat berharap bertemu dengan A Ci.

Ia kenal watak manusia, siapakah gerangannya yang tidak suka pada wanita cantik. Sedangkan A Ci itu, gadis remaja yang cantik menggiurkan, maka ia duga Thi-thau-jin ini tentu sangat kesengsem kepada anak dara itu.

Tapi dengan sengaja ia coba memancing lagi, “Ah, buat apa jauh-jauh pergi ke Lamkhia sana? Biarlah kukirim beberapa pembantuku yang lihai ke sana untuk membunuh budak itu saja dan merampas kembali giok-ting itu.”

Benar juga Goan-ci menjadi gugup demi mendengar A Ci hendak dibunuh, cepat katanya, “Tidak, tidak! Jangan, jangan....”

Maka makin yakinlah Ting Jun-jiu akan kebenaran dugaannya itu, ia pura-pura tanya, “Jangan apa?”

Wajah Goan-ci menjadi merah, dengan gelagapan ia menjawab, “Ini... ini....”

“Ini apa? Kau ingin memperistrikan si budak A Ci itu, betul tidak?” tanya Ting Jun-jiu dengan terbahak-bahak.

“Memperistrikan A Ci”, hal ini sudah tentu menjadi idam-idaman Goan-ci, cuma ia tidak berani membayangkan kemungkinan itu, hanya diam-diam tersimpan dalam lubuk hatinya.

Ia menghormati A Ci, memuji A Ci, yang dia harapkan asal dapat dijadikan kuda atau budak anak dara itu agar sekadar dapat melihatnya setiap hari dan itu pun sudah puas baginya dan sekali-kali tidak pernah timbul maksudnya yang lebih dari itu.

Kini Ting Jun-jiu tanya secara terang-terangan padanya, seketika ia jadi terkesima, kepala menjadi pusing dan berdirinya limbung, akhirnya ia jawab juga, “O, ti... tidak....”

Melihat sikapnya itu, makin yakinlah Sing-siok Lokoay akan dugaannya. Segera ia mempunyai rekaan, “Entah dengan cara apa dan entah karena kebetulan, maka unsur racun yang tersimpan dalam tubuh bocah ini ternyata jauh lebih hebat daripada diriku. Aku harus menerimanya untuk menyelidiki rahasia ilmunya, kemudian mengisap unsur racun dalam tubuhnya itu, habis itu barulah kubunuh dia.”

Bagi Sing-siok Lokoay, jiwa orang itu dianggapnya tiada bedanya seperti jiwa binatang. Dalam tubuh Yu Goan-ci terdapat racun yang aneh dan hebat, itu berarti suatu mestika yang susah dicari, maka dia bertekad akan menguras racunnya itu, kemudian pemuda itu akan dibunuh.

Menangkap ular atau binatang berbisa harus menggunakan Pek-giok-giok-ting, sekarang untuk memancing “manusia berbisa” sebagai Yu Goan-ci juga diperlukan sesuatu umpan. Dan umpan yang paling baik adalah si A Ci yang sangat dirindukan pemuda itu.

Mendapatkan “manusia berbisa”, menemukan kembali giok-ting, kemudian memberi hukuman setimpal kepada A Ci. Sekali jalan tiga hasil, sungguh hal ini sangat menyenangkan Sing-siok Lokoay Ting Jun-jiu.

Maka ia tanya pula, “Ingin kutanya padamu, jika kujodohkan A Ci sebagai istrimu, kau mau tidak?”

Sudah tentu seribu kali Goan-ci mau, biarpun suruh dia mati mendadak juga mau. Tapi ia tidak berani menjawab terus terang, katanya dengan gugup, “Mana... mana bisa jadi? Siaujin adalah... adalah budaknya Nona, hanya sesuai untuk dimaki dan digebuk olehnya. Mana Siaujin berani mimpi memperistrikan bidadari sebagai... sebagai Nona itu. Harap jangan lagi Losiansing bicara demikian, bila diketahui Nona, wah, tentu... tentu akan celakalah diriku.”

“Celaka apa?” ujar Ting Jun-jiu. “A Ci adalah muridku, dan murid harus turut pada perintah guru. Kalau aku suruh dia menjadi istrimu, masakah dia berani membangkang? Dia mencuri giok-tingku, jika aku tidak membunuh dia itu sudah merupakan kemurahan hatiku, masakah dia berani membantah lagi pada perintahku?”

“Apakah betul Nona itu... murid Losiansing?” tanya Goan-ci ragu.

Tadi di tempat sembunyinya ia dengar tanya-jawab Sing-siok Lokoay dengan anak muridnya dan diketahui A Ci memang betul adalah murid si kakek, cuma ia sangsi gadis yang cantik agung sebagai A Ci itu masakah seperguruan dengan manusia-manusia yang rendah dan pengecut itu, sungguh hal ini sangat janggal.

Maka dengan terbahak Ting Jun-jiu menjawab, “Eh, kau tidak percaya? Hahahaha!”

Lalu ia tuding muridnya si hidung singa dan menyambung pula, “Coba uraikan, bagaimana bentuk gadis itu?”

Segera si hidung singa bercerita, “Tahun ini A Ci berumur 16, muka potongan daun sirih, janggutnya agak lancip, di bawah bibir sebelah kanan terdapat andeng-andeng kecil. Perawakannya lencir, kulitnya putih bersih, ia suka pakai baju warna ungu dan ikat pinggang warna kuning telur.”

Apa yang diuraikan itu memang betul adalah bentuk A Ci, maka setiap kali si hidung singa mengucap satu kalimat, setiap kali pula jantung Goan-ci berdebur. Akhirnya Goan-ci tidak sangsi lagi, katanya dengan suara rendah, “Betul, memang begitulah keadaan Nona.”

“Nah, jika kau ingin mengambil sebagai istri, itulah soal gampang,” kata Ting Jun-jiu. “Cuma dalam perguruan kami ada suatu peraturan, murid perempuan tidak boleh menikah dengan orang luar, tapi harus dengan saudara seperguruannya sendiri. Maka... ya, sudahlah, biarpun macammu ini sangat aneh, mengingat jasamu tadi, jika kau mau mengangkat aku sebagai guru, dapat juga aku menerimamu.”

Tentang “memperistrikan A Ci” sebenarnya tidak berani diharapkan Goan-ci akan menjadi kenyataan, tapi lantas terpikir olehnya, “Ya, jika aku mengangkat Losiansing ini sebagai guru, maka aku akan menjadi saudara seperguruan dengan Nona....”

Melihat pemuda itu masih ragu tanpa memberi reaksi apa-apa, segera Ting Jun-jiu berkata pula, “Si budak cilik A Ci itu sebenarnya cukup cantik juga, banyak sekali di antara saudara seperguruannya ingin memperistrikan dia. Tapi bila kau menjadi muridku, mengingat jasamu tadi, boleh juga akan kuberikan hak istimewa kepadamu.”

Sudah tentu Goan-ci sangat tertarik oleh janji itu, pikirnya, “Kalau aku melepaskan kesempatan baik ini, tentu aku akan menyesal selama hidup. Betapa pun aku... aku tidak ingin Nona diperistri oleh kawanan manusia rendah mirip binatang seperti mereka ini.”

Terdorong oleh pikiran itu, terus saja ia berlutut dan menyembah, “Suhu, Tecu Yu Goan-ci ingin masuk perguruanmu, mohon Suhu suka menerima.”

“Tapi dalam perguruan kami banyak sekali peraturan-peraturan keras, apakah kau sanggup menaati? Jika diperintah guru, apakah kau menurut dengan sungguh hati?” tanya Ting Jun-jiu.

“Tecu akan taat dan akan tunduk pada segala perintah Suhu,” sahut Goan-ci.

“Andaikan guru hendak mengambil nyawamu apakah kau mau mati dengan rela?” tanya pula Ting Jun-jiu.

“Tentang ini... ini....” Goan-ci menjadi ragu.

“Coba pikir dulu, kalau rela bilang rela, kalau tidak katakan tidak,” ujar Sing-siok Lokoay.

“Kalau bisa aku ingin hidup seribu tahun lagi, sudah tentu aku tidak rela jika kau cabut nyawaku,” demikian Goan-ci membatin. “Walaupun begitu, toh bila perlu kelak aku dapat lari, andaikan tidak dapat lari, biarpun tidak rela juga tak dapat berbuat apa-apa bila dia sudah berkeras akan mencabut nyawaku.”

Karena itu, segera ia menjawab, “Atas segala budi kebaikan Suhu, Tecu rela mati demi Suhu.”

“Bagus, bagus!” seru Ting Jun-jiu dengan tertawa. “Nah, kau boleh bersumpah untuk itu.”

Pikiran Goan-ci tergerak, segera katanya, “Tecu Yu Goan-ci kalau tidak memenuhi janji itu, biarlah kelak akan mati di bawah hukuman Suhu yang mengerikan, boleh dicencang hingga hancur luluh dan mayat tak terkubur.”

Ting Jun-jiu terdiam sekejap, segera ia berkata dengan tertawa, “Kau bocah kepala besi ini licin juga. Kau katakan bila tidak turut perintah guru sudah tentu dihukum mati olehku. Maka sumpahmu ini sama saja seperti tidak diucapkan. Tapi biarlah, asal kau ingat baik-baik janjimu ini. Nah, sekarang coba ceritakan pengalaman selama hidupmu, uraikan sejelas-jelasnya.”

Karena tak dapat menolak, terpaksa Goan-ci menceritakan secara ringkas penghidupannya yang sengsara selama ini, tapi ia tidak mau mencemarkan nama baik ayahnya, maka ia tidak mengaku berasal dari keluarga Yu di Cip-hian-ceng, ia hanya mengaku sebagai anak petani yang diculik oleh orang-orang Cidan, di negeri Liau sana bertemu dengan A Ci, lalu diajak si gadis untuk menangkap ular dan binatang berbisa lainnya.

Ketika Goan-ci bercerita tentang menangkap ulat sutra yang aneh itu, tampak Ting Jun-jiu sangat tertarik dan mendengarkan dengan penuh perhatian, bahkan ia tanya pula keadaan dan bentuk ulat sutra itu dengan teliti. Dari air mukanya tertampak iblis tua itu mengiler sekali kepada ulat sutra yang hebat itu.

Diam-diam Goan-ci membatin, “Suhu ini bukan manusia baik-baik, jika aku ceritakan tentang kitab bahasa Sanskerta yang kuperoleh itu tentu akan dirampas olehnya.”

Sebab itulah ketika Ting Jun-jiu berulang-ulang tanya ilmu aneh apakah yang pernah diyakinkan olehnya, tetap Goan-ci tidak cerita tentang kitab Ih-kin-keng itu.

Ting Jun-jiu sendiri tidak kenal ilmu sakti dalam Ih-kin-keng, maka ia cuma menyangka kepandaian yang terdapat pada diri pemuda bertopi baja itu adalah khasiat dari ulat sutra dingin. Dalam hati ia mencaci maki habis-habisan, “Sungguh sayang, makhluk mestika yang susah dicari itu tanpa sengaja dapat disedot ke dalam tubuh setan ini, benar-benar sangat sayang!”

Dan ketika Goan-ci bercerita tentang Sam-ceng dan akhirnya ditawan ke Siau-lim-si, mendadak Ting Jun-jiu menepuk paha dan berseru, “Hah, jadi Sam-ceng Hwesio mengatakan ulat sutra dingin itu diperoleh dari puncak Kun-lun-san? Itulah bagus! Jika ada satu, tentu ada dua dan tiga. Cuma luas pegunungan Kun-lun itu ada beribu-ribu li, jika tiada penunjuk jalan, tentu ulat dingin itu akan sukar ditangkap.”

Karena ia sendiri tadi sudah merasakan betapa mukjizatnya Han-giok-jan, yaitu racun ulat sutra yang terdapat dalam tubuh Goan-ci ketika mereka saling gebrak, maka ia rasa makhluk kecil itu jauh lebih berharga daripada Pek-giok-giok-ting apa segala. Tentang mencari kembali giok-ting dan membunuh A Ci boleh dikesampingkan dahulu, mendapatkan ulat sutra dingin itu lebih penting.

Maka ia lantas tanya, “Sam-ceng Hwesio itu sekarang masih berada di Siau-lim-si, bukan? Hah, bagus, bagus! Boleh kita suruh dia menunjukkan jalan dan membawa kita ke Kun-lun-san untuk menangkap ulat dingin itu.”

“He, tidak bisa jadi!” kata Goan-ci sambil goyang-goyang kepalanya yang berat itu. “Sam-ceng itu sangat galak, belum tentu dia mau pergi bersama kita. Lagi pula dia sedang menjalani hukuman dan dikurung dalam sebuah kamar batu oleh hwesio di Siau-lim-si sana, dia tidak dapat keluar sesukanya.”

“Hahaha, dia galak? Dia tidak mau pergi bersama kita? Kan aneh?” ujar Ting Jun-jiu dengan tertawa, “Baiklah, mari kita pergi ke Siau-lim-si dan mencari akal untuk mengeluarkan dia dari sana!”

Goan-ci tidak menjawab, ia ragu apakah Sam-ceng dapat dibawa lari begitu saja mengingat di Siau-lim-si tidak sedikit hwesio sakti.

“Kenapa diam saja?” tegur Ting Jun-jiu demi tampak pemuda itu tidak bersuara.

“Tecu khawatir para toahwesio Siau-lim-si itu tidak mau melepaskan Sam-ceng,” sahut Goan-ci.

Biarpun Sing-siok Lokoay suka malang melintang dalam segala hal, tapi terhadap Siau-lim-si betapa pun ia tidak berani memandang ringan. Tapi terdorong oleh keinginan menangkap ulat sutra sakti itu, bahaya apa pun juga akan ditempuhnya.

Ia pikir tidak perlu bertempur dengan para kepala gundul Siau-lim-si, cukup asal diam-diam Sam-ceng Hwesio dibawa lari, kan beres urusannya. Masakah untuk menculik seorang hwesio gendut saja Sing-siok Lokoay tidak mampu?

Tapi Goan-ci masih takut-takut.

“Kau didampingi suhumu, apa yang kau takutkan?” tanya Lokoay.

“Tapi... tapi di Siau-lim-si terdapat juga seorang padri dari Se-ek (benua barat), dia... dia akan membunuhku,” tutur Goan-ci.

“Padri dari Se-ek? Bagaimana ilmu silatnya? Apakah lebih tinggi daripada ke-16 padri Se-ek yang sudah mati ini?” tanya Ting Jun-jiu.

“Tecu tidak tahu,” sahut Goan-ci. “Cuma dia berada dalam tahanan hwesio Siau-lim-si, maka dapat diduga ilmu silatnya tidak terlalu tinggi.”

“Dengan mudah saja ke-16 padri asing ini telah kubinasakan, kalau cuma seorang saja masakah aku takut?” demikian Ting Jun-jiu terbahak-bahak. “Marilah sini, hari ini kau telah mengangkat guru padaku, biar Suhu memberi hadiah perkenalan padamu, nah, tempelkan telingamu ke sini!”

Dengan takut-takut Goan-ci mendekati orang dengan perlahan. Lalu Ting Jun-jiu berbisik di telinganya, “Jika kau bertemu dengan hwesio asing itu, asal dalam hati kau berkata ‘Sing-siok Losian, Sing-siok Losian, lindungilah Tecu, atasi musuh dan rebut kemenangan, satu-tiga-lima-tujuh-sembilan.’ Habis itu pukul sekali di tempat ini, di bahu kirinya, dengan demikian meski gurumu berada betapa jauhnya juga akan mengetahui kesukaranmu dan mengeluarkan ilmu saktinya untuk membantumu. Seterusnya hwesio itu pasti akan sangat menghormat padamu, sedikit pun tidak berani membikin susah lagi padamu. Nah, ini adalah ilmu pertama ajaran gurumu ini, harus kau ingat baik-baik.”

“Apakah di tempat ini?” tanya Goan-ci sambil meraba pundak kiri sendiri.

“Benar,” sahut Ting Jun-jiu. “Dan jangan sekali-kali kau beri tahukan kepada orang lain, sebab ini adalah ilmu mukjizat perguruan kita sendiri. Hendaknya ingat dengan baik kalimat mantra tadi.”

Segera Goan-ci menghafalkan sekali lagi dengan suara perlahan. Ting Jun-jiu mengangguk-angguk, katanya, “Ehm, bagus, ingatanmu ternyata tidak jelek. Ayolah sekarang kita berangkat ke Siau-lim-si!”

Goan-ci tidak berani membantah, segera ia bawa rombongan orang-orang itu menuju Siau-lim-si. Waktu magrib, dari jauh sudah kelihatan bangunan biara yang termasyhur itu.

Ting Jun-jiu berkata kepada para muridnya, “Kalian tidak becus apa-apa, kalau ikut ke sana akan mengganggu malah, maka lebih baik kalian sembunyi saja di hutan sini, hanya A Yu saja yang ikut ke sana bersamaku.”

Para muridnya sama mengiakan, bahkan si hidung singa lantas berkata, “Sesudah Suhu bunuh habis keledai gundul Siau-lim-si itu, harap memberi tanda agar Tecu sekalian segera menyusul ke sana untuk memberi selamat pada Suhu.”

Di luar dugaan Sing-siok Lokoay mendelik padanya, semprotnya, “Selamanya hwesio Siau-lim-si tidak berani mengutik seujung rambut pun Sing-siok-pay kita, tanpa sebab buat apa membunuh mereka?”

Mestinya si hidung singa bermaksud menjilat pantat, tapi keliru alamat hingga dipersen dengan dampratan malah. Keruan ia menyengir dan mengiakan berulang-ulang.

Segera Goan-ci ikut sang suhu menuju ke Siau-lim-si. Berjalan di belakang Ting Jun-jiu, dengan jelas Goan-ci melihat lengan baju kakek itu longgar berkibar tertiup angin, langkahnya gesit dan enteng mirip dewa dalam lukisan saja, mau-tak-mau timbul juga semacam rasa hormatnya.

“Dengan mengangkat guru kepada seorang tokoh seperti ini, sengaja dicari pun mungkin sukar didapatkan. Tentang urusan Nona A Ci segala tak perlu dipersoalkan, yang terang dengan sandaran seorang guru sehebat ini, paling tidak aku takkan takut lagi dianiaya orang.”

Dalam pada itu mereka sudah sampai di jalan besar yang menuju ke atas gunung. Ketika mereka hampir sampai di gardu di luar biara, yaitu gardu yang merupakan ruangan tunggu bagi kaum pengunjung, tiba-tiba mereka mendengar suara derapan kaki kuda dari belakang, dua penunggang tampak datang secepat terbang.

Sebagai orang yang kenyang dihajar orang, demi tampak ada kuda lari datang, segera Goan-ci berkata kepada Sing-siok Lokoay, “Suhu, ada kuda lewat! Suhu!”

Berbareng ia lantas menyingkir ke tepi jalan.

Sebaliknya Ting Jun-jiu anggap sepi saja terhadap apa yang dikatakan Goan-ci itu, ia masih berjalan dengan gaya bebas menurut arahnya sendiri. Maka ketika kedua ekor kuda, seekor hitam dan seekor kuning itu kira-kira beberapa meter sampai di belakang Ting Jun-jiu, mendadak kuda-kuda itu menyisih ke samping dan melampauinya dari kanan-kiri.

Tiba-tiba kedua penunggang kuda itu menoleh dan memandang sekejap pada Ting Jun-jiu dan Yu Goan-ci. Ternyata penunggang kuda hitam itu pun berbaju hitam mulus, perawakannya kurus kecil, tapi penuh semangat dan tampak sangat cekatan. Adapun penunggang kuda kuning juga memakai jubah warna kuning, raut mukanya juga sangat kurus, tapi perawakannya jangkung, alisnya panjang, sikapnya agak aneh, usianya lebih tua daripada si baju hitam.

Melihat Goan-ci memakai kerudung besi pada kepalanya, kedua orang itu merasa sangat heran. Tapi segera mereka berpaling kembali, setiba di gardu tunggu, mereka melompat turun dan menambat kuda mereka itu di pilar gardu.

Kemudian si baju kuning mengeluarkan sebuah kotak kecil, ia angkat kotak itu sambil berseru keras-keras, “Pay-san!”

Siau-lim-si adalah pusat persilatan Tionggoan, maka sepanjang tahun tiada sedikit orang gagah dari segenap lapisan yang datang berkunjung, yaitu apa yang biasa disebut “pay-san” (menyembah gunung). Di sebelah gardu tunggu itu ada sebuah rumah kecil, di situ tinggal Ti-khek-ceng atau hwesio penyambut tamu.

Maka demi mendengar suara tadi, segera padri penerima tamu memapak keluar. Katanya sambil memberi hormat, “Silakan mengaso sebentar tuan tamu. Siauceng bernama Hi-hong, terimalah hormatku.”

Si baju kuning balas menghormat sambil mengucapkan kata-kata merendah. Begitu pula si baju hitam juga memberi hormat.

Pada saat itulah Ting Jun-jiu bersama Goan-ci juga sudah sampai di gardu tunggu itu.

Terdengar Hi-hong, si padri penyambut tamu itu sedang tanya, “Numpang tanya siapakah nama tuan-tuan yang mulia?”

“Kanglam Buyung Hok yang datang pay-san!” sahut si baju kuning.

“Lam Buyung, Pak Kiau Hong”, istilah ini boleh dikata terkenal oleh setiap orang Bu-lim. Maka demi mendengar nama Kanglam Buyung Hok, segera hati Ting Jun-jiu tergetar. Ia coba melirik si baju kuning, dilihatnya orang itu tinggi kurus, melihat air mukanya yang pucat itu orang lebih percaya kalau dia pasti seorang penderita tebese, sungguh tidak sesuai dengan nama “Lam Buyung” yang mahasohor di seluruh jagat itu. Maka diam-diam ia merasa sangsi.

Hi-hong juga terkejut, tanyanya segera, “Jadi... jadi tuan sendiri ini Buyung-kongcu?”

Si baju kuning tersenyum, sahutnya, “Bukan! Aku she Pau, bernama Put-tong!”

Lalu ia tunjuk si baju hitam dan menyambung, “Dan dia ini saudara angkat kami It-tin-hong....”

“Hah, kiranya Hong Po-ok, Hong-siya. Kagum, kagum sekali, sudah lama kami kenal nama Hong-siya!” demikian seru si padri penyambut tamu, Hi-hong, sebelum ucapan Pau Put-tong selesai.

Maka tertawalah si baju hitam yang bukan lain adalah Hong Po-ok itu, katanya, “Apakah Hui-jiu Suhu dari biara kalian baik-baik saja?”

“Baik, Hui-jiu Susiok sangat baik,” sahut Hi-hong. “Beliau sering mengatakan bahwa Hong-siya adalah seorang laki-laki sejati, seorang kesatria dengan ilmu silat yang tinggi, Susiok sudah lama merindukan dirimu.”

“Haha, tempatku ini pernah dipukul sekali oleh dia hingga rasa jarum itu tidak hilang selama sebulan,” kata Hong Po-ok dengan tertawa sambil meraba pundak kirinya. “Tapi punggungnya juga kena kutendang, rasanya tendangan itu juga tidak enteng.”

Lalu tertawalah ketiga orang itu bersama.

Seperti sudah dikenal, Hong Po-ok itu seorang yang tangkas dan suka berkelahi, paling suka mencari onar dan bertengkar, sebab itulah beberapa tahun yang lalu pernah ia berkelahi dengan Hui-jiu Siansu dari Siau-lim-si, kesudahannya seri, sama kuat. Dan dari berkelahi akhirnya kedua orang menjadi sahabat baik malah.

Begitulah, kemudian Hi-hong beralih kepada Ting Jun-jiu dan bertanya, “Dan siapakah she yang mulia Losiansing ini?”

“Aku she Ting,” sahut Sing-siok Lokoay dengan angkuh.

Pada saat itu juga kembali dua penunggang kuda datang dengan cepat, mendengar suara lari kuda itu, Hi-hong menoleh, ia lihat seekor kuda itu berwarna merah cokelat, penunggangnya juga memakai jubah panjang warna merah yang sama, itulah seorang laki-laki gagah dan kekar. Sedang kuda yang lain berwarna hijau kelabu, penunggangnya juga memakai jubah dengan warna sama.

Sesudah dekat, kedua orang itu melompat turun dari kuda mereka. Maka jelas kelihatan si jubah merah itu bermuka lebar, telinganya besar, usianya sekitar setengah abad, sikapnya yang berwibawa itu mirip seorang pembesar. Sedangkan si baju hijau tua itu adalah seorang siucay (gelar ujian sastra) berusia sedikit lebih muda daripada si baju merah, kedua matanya redup sepat seperti orang kurang tidur.

Segera Hong Po-ok menyapa, “Toako, Jiko, ini Hi-hong Taysu dari Siau-lim-si!”

Lalu ia pun memperkenalkan mereka kepada Hi-hong, “Dan ini adalah Ting-toako kami, Ting Pek-jwan!”

Menyusul ia tunjuk si siucay dan berkata, “Dan yang itu adalah jiko kami, Kongya Kian.”

Hi-hong memberi hormat dan berkata, “Sudah lama kami dengar nama Ting-toaya dan Kongya-jiya yang terhormat, hari ini sudi berkunjung ke biara kami, sungguh suatu kehormatan besar bagi kami.”

“Ah, Taysu terlalu memuji,” sahut Ting Pek-jwan dan Kongya Kian berbareng.

Mereka hanya bicara satu kalimat saja, tapi suaranya memekak dan mendengung telinga pendengarnya. Kiranya suara Ting Pek-jwan itu sangat lantang, meski bicaranya seperti perlahan saja, tapi sudah cukup memekakkan anak telinga orang lain.

“Sekejap lagi kongcu kami akan tiba, harap Taysu suka melaporkan,” segera Kongya Kian berkata.

“Baik,” sahut Hi-hong. “Silakan kalian tunggu sebentar di sini, segera Siauceng laporkan kepada para Supek dan Susiok agar menyambut kemari.”

“Terima kasih,” kata Ting Pek-jwan sambil melirik ke arah Ting Jun-jiu dan Yu Goan-ci, ia tidak tahu bagaimanakah asal-usul kedua orang ini.

Sementara itu Hi-hong lantas masuk ke Siau-lim-si dengan terburu-buru. Ia tahu belum lama berselang di Siau-lim-si telah berkumpul banyak kesatria Tionggoan untuk berunding cara bagaimana menghadapi Buyung-kongcu yang serbamahir dalam berbagai macam ilmu silat di dunia ini. Tapi tidak lama berunding lantas terjadi peristiwa Kiau Hong membikin rusuh di Siau-lim-si dan menempur para kesatria di Cip-hian-ceng.

Karena itu, perhatian para kesatria lantas berpindah atas diri “Pak Kiau Hong” hingga dengan sendirinya melupakan “Lam Buyung”, banyak perbuatan keji di dunia Kangouw orang sama menyangka dilakukan oleh “Koh-soh Buyung”, tapi karena peristiwa Kiau Hong itu hingga sebagian tuduhan kepada Lam Buyung itu berpindah atas diri Kiau Hong.

Siapa duga dalam keadaan sekarang inilah tahu-tahu Buyung-kongcu datang di sini, keruan hal ini sama sekali tak tersangka oleh ketua Siau-lim-si, Hian-cu Siansu, dan padri sakti lainnya. Segera Tat-mo-ih Siuco, ketua ruang Tat-mo yaitu Hian-lan Taysu diperintahkan menyambut keluar dengan memimpin 15 orang padri saleh yang lain.

Dari Hi-hong mereka mendapat tahu bahwa empat orang yang dikirim datang lebih dulu oleh Buyung-kongcu itu sangat sopan, tampaknya tidak bermaksud jahat, apalagi Hui-jiu Siansu juga memuji Hong Po-ok adalah seorang kawan sejati, maka Hian-lan dan kawannya tidak membawa senjata apa-apa, mereka yakin dengan nama Buyung-kongcu yang termasyhur, sekalipun ingin mencari perkara ke Siau-lim-si juga tidak mungkin datang-datang lantas main hantam begitu saja....

Sementara itu sesudah Hi-hong pergi melapor akan kedatangan Buyung-kongcu, segera Hong Po-ok bertingkah lagi, sesuai wataknya suka cari onar itu. Dengan keheran-heranan ia lantas mengincar dan mengamat-amati kerudung besi di atas kepala Yu Goan-ci.

Makin dilihat makin tertarik, hingga akhirnya ia mengitari Goan-ci, ia lihat kerudung besi itu dilas dengan sangat rapat, untuk membukanya terang sukar. Melihat tingkahnya itu sungguh ia ingin ketok beberapa kali kerudung besi itu.

Ting Pek-jwan sudah kenal watak saudara angkatnya yang suka cari perkara itu, kalau dicegah malah makin menjadi-jadi, maka ia pun tidak ambil pusing padanya.

Dan sesudah Hong Po-ok mengitar sejenak, tiba-tiba ia menegur Goan-ci, “Hai, Sobat, selamat!”

“Ya, aku... aku selamat, kau pun selamat, sama-sama selamat!” sahut Goan-ci dengan takut-takut demi melihat potongan Hong Po-ok yang tangkas, petantang-petenteng dan agresif itu.

“Eh sobat, apa-apaan kerudung besi yang kau pakai ini?” tanya Hong Po-ok pula. “Aku sudah pernah menjelajahi antero dunia, tapi tidak pernah melihat muka orang semacam dirimu ini.”

Goan-ci merasa malu dan menunduk, sahutnya dengan tak lancar, “Ya, aku... aku sendiri tidak kuasa... tidak berdaya....”

Dasar Hong Po-ok memang berjiwa kesatria, suka membela kaum lemah dan mendobrak segala ketidakadilan. Mendengar ucapan Goan-ci yang mengharukan itu, segera ia tanya, “Siapakah orang yang jahil itu hingga membuat kepalamu sedemikian rupa? Coba katakan, aku orang she Hong justru ingin kenal cecongor orang itu?”

Sembari bicara, berulang ia pun melirik ke arah Sing-siok Lokoay, ia sangka apa yang dikeluhkan Goan-ci itu tentulah perbuatan kakek itu.

Namun Ting Jun-jiu hanya tersenyum-senyum saja sambil balas menatap orang dengan sinar mata yang tajam.

“Bu... bukan perbuatan guruku,” demikian Goan-ci menjelaskan.

“Habis siapa? Orang baik-baik kenapa mesti dikerudung selapis besi seperti ini, apa sih maksudnya? Marilah, biar kulepaskan saja!” habis berkata terus saja Po-ok mencabut sebilah belati yang mengilap tajam, lalu hendak membuka kerudung besi di kepala Goan-ci.

Keruan Goan-ci ketakutan, ia tahu kerudung besi itu sudah lengket dengan kulit dagingnya, kalau dibuka secara paksa, itu berarti akan membahayakan jiwanya. Maka cepatan ia goyang-goyang kedua tangannya sambil berseru, “He, jangan, jangan!”

“Tidak perlu takut,” kata Hong Po-ok. “Belatiku ini memotong besi bagaikan memotong sayur saja, akan kukupas kerudung besi itu dan pasti takkan melukai kulitmu.”

Tapi Goan-ci tetap menolak, “Tidak, jangan!”

“O, apa barangkali kau takut kepada orang yang memasang kerudung ini, ya?” tanya Po-ok. “Jangan khawatir, bila ketemu dia, katakan bahwa It-tin-hong yang menanggalkan kerudungmu ini, karena kau tidak berdaya apa-apa, jika dia marah, boleh suruh jahanam itu cari padaku.”

Habis berkata, segera ia pegang tangan kiri Goan-ci.

Melihat belati orang mengilap tajam itu, Goan-ci jadi ketakutan, ia berteriak-teriak, “Suhu! Tolong, Suhu!”

Tapi saat itu Sing-siok Lokoay Ting Jun-jiu lagi enak-enak berjalan santai di luar gardu untuk menikmati pemandangan alam yang indah, terhadap seruan Goan-ci itu ia sengaja pura-pura tidak dengar.

Dalam gugupnya, Goan-ci ingat kepada ilmu membela diri yang pernah diajarkan Ting Jun-jiu, segera ia mengucapkan mantra itu dalam hati, “Sing-siok Losian, Sing-siok Losian, lindungilah muridmu, mengatasi musuh dan rebut kemenangan, satu-tiga-lima-tujuh-sembilan!”

“Plok”, tiba-tiba dengan tangan kanan ia gaplok sekali di belakang bahu kiri Hong Po-ok.

Tak tersangka bahwa tempat yang ditepuknya itu adalah “thian-cong-hiat”, suatu tempat hiat-to penting di punggung orang.

Padahal saat itu Hong Po-ok mencurahkan perhatiannya hendak mengupas kerudung besi Goan-ci, khawatir kalau mengupasnya kurang tepat hingga melukai kepalanya, maka sama sekali tidak menduga akan diserang secara mendadak dari belakang. Bahkan tenaga gaplokan itu kuat luar biasa, tempat yang diarah adalah tempat berbahaya pula di tubuh manusia.

Keruan Hong Po-ok bersuara tertahan sekali, kontan ia roboh terjungkal. Syukur ia seorang cekatan, meski terkena serangan itu, sekuatnya ia masih bertahan, cepat tangan kiri menahan tanah, sekali tolak segera ia lompat bangun, tapi darah segar lantas menyembur juga dari mulutnya.

Tentu saja Ting Pek-jwan, Kongya Kian, dan Pau Put-tong sangat terkejut demi tampak Goan-ci mendadak turun tangan keji dan saudara angkat mereka kecundang, mereka menjadi lebih kaget ketika melihat air muka Hong Po-ok pucat lesi.

Cepat Kongya Kian memegang nadi Hong Po-ok, terasa denyut nadinya sangat cepat dan keras, itulah tanda keracunan hebat. Tergerak pikiran Kongya Kian, segera ia tuding Goan-ci dan memaki, “Anak setan, kiranya kau ini anak murid Sing-siok Lokoay yang celaka itu dan sekali turun tangan lantas melukai orang secara keji!”

Sembari bicara, segera ia keluarkan sebuah botol kecil dan menuang sebiji pil penawar racun dan dijejalkan ke mulut Hong Po-ok.

Sedang Ting Pek-jwan dan Pau Put-tong berbareng melompat maju untuk mengadang di depan Ting Jun-jiu dan Yu Goan-ci.

Sifat Pau Put-tong yang berangasan sesungguhnya tidak di bawah Hong Po-ok, bahkan ia lebih gapah, lebih agresif dan ngotot tidak mau kalah. Saat itu sudah kumpulkan tenaga pada tangan kiri, kelima jari sudah siap mencengkeram dada Goan-ci.

Syukurlah Pek-jwan keburu mencegahnya, “Nanti dulu, Samte!”

Maka Pau Put-tong sempat menahan serangannya, ia berpaling menanti komando saudara angkat itu lebih lanjut.

Tapi Pek-jwan berkata, “Di sini adalah wilayah kekuasaan Siau-lim-si, siapa yang benar dan salah tentu akan diputuskan oleh Hongtiang di sini secara adil dan bijaksana, kalau kita saling gebrak begini saja, ini berarti tidak mengindahkan orang Siau-lim-si.”

Memang tidak salah pikir Pau Put-tong, kalau dia sembarangan bertempur dengan orang di luar Siau-lim-si, tentu dia akan dituduh memandang enteng kepada tuan rumah. Apalagi Siau-lim-pay sudah mempunyai kesan buruk terhadap “Koh-soh Buyung”, lebih baik dirinya jangan membuat onar lagi. Adapun murid Sing-siok-pay itu tampaknya juga tidak seberapa kepandaiannya, tidak perlu khawatir orang akan dapat melarikan diri.

Pula dilihatnya Ting Jun-jiu itu bermuka muda dan berambut tua, sikapnya berwibawa, terang seorang kosen yang berilmu, meski didengarnya Goan-ci memanggil suhu padanya, tapi tampaknya kakek itu seorang baik-baik dari kalangan cing-pay, tidak mungkin orang dari Sing-siok-pay. Kalau dirinya ngotot terus, bukan mustahil akan membuat runyam urusan Kongcu.

Karena itu perlahan Pau Put-tong menurunkan kembali tangannya. Dalam pada itu Kongya Kian telah memayang Hong Po-ok untuk didudukkan ke lantai, tertampak badan adik angkat itu gemetaran dan gigi gemertukan, menggigil kedinginan seperti orang terjeblos dalam jurang es.

Biasanya Hong Po-ok itu sangat tangkas, entah berapa kali ia terluka dalam pertempuran yang pernah dilakukannya. Biarpun terluka parah biasanya juga dapat ditahannya, sedikit pun tidak mau unjuk kelemahan.

Tapi sekali ini, ia benar-benar tidak berkuasa lagi, selang sejenak bahkan bibirnya juga membiru saking kedinginan, mukanya yang pucat tadi juga bersemu hijau.

Mestinya pil penawar racun milik Kongya Kian itu sangat manjur, tapi sesudah diminum Hong Po-ok, hasilnya ternyata nihil, sedikit pun tidak memberi reaksi apa-apa.

Keruan Kongya Kian heran dan khawatir, cepat ia periksa pernapasan saudara angkat itu, tapi mendadak tangan terasa ditiup oleh serangkum angin mahadingin dan merasuk tulang. Lekas ia tarik kembali tangannya dan berseru, “Celaka! Mengapa sedemikian lihai dinginnya?”

Ia pikir jika napas yang diembuskan Hong Po-ok itu sudah sedemikian dinginnya, maka racun dingin yang mengeram dalam tubuhnya terang terlebih bukan main dinginnya.

Ia tahu keadaan sudah sangat mendesak, tidak sempat lagi untuk menunggu datangnya padri Siau-lim-si, segera ia berpaling dan menegur Ting Jun-jiu, “Apakah Anda ini guru si orang bertopi besi ini? Saudara angkatku terkena pukulan kejinya, harap suka memberi obat penawarnya.”

Padahal racun yang mengenai Hong Po-ok itu adalah bisa ulat sutra dingin yang dicurahkan dengan lwekang yang diperoleh Goan-ci dari Ih-kin-keng, jangankan Ting Jun-jiu tidak mungkin memiliki obat penawarnya, andaikan punya juga tidak nanti dia mau kasih.

Dalam pada itu Ting Jun-jiu lihat pintu gerbang Siau-lim-si telah dibuka, berpuluh hwesio berbaris keluar berturut-turut, dipandang dari jauh, terlihat tujuh atau delapan orang yang berjalan di depan itu memakai kasa, terang hwesio tua yang mempunyai kedudukan tinggi dalam Siau-lim-si dan kini keluar hendak menyambut Buyung-kongcu.

Ia pikir jika kawanan hwesio itu sudah datang, untuk meloloskan diri tentu sukar, sebaliknya dengan keluarnya hwesio sebanyak itu, tentu penjagaan dalam biara menjadi kendur dan ada kesempatan baik untuk menyergap dari arah belakang sana untuk menculik Sam-ceng Hwesio.

Karena pikiran itu, segera Sing-siok Lokoay mengebaskan lengan bajunya hingga menjangkitkan serangkum angin keras.

Seketika Ting Pek-jwan dan kawan-kawan merasa sambaran angin itu sangat menusuk mata, segera air mata mereka bercucuran karena terasa pedas dan susah dibuka lagi. Diam-diam mereka mengeluh, “Celaka!”

Mereka tahu lengan baju si kakek itu mengandung bubuk racun yang halus dan ditebarkan dengan lwekang ketika mengebas tadi.

Begitu mereka pikir, tanpa urus musuh lagi segera mereka mengadang di depan Hong Po-ok lebih dulu, sebab khawatir pihak lawan akan turun tangan lebih keji.

Pada saat lain, tiba-tiba Pek-jwan merasa dari samping ada angin berkesiur, tanpa pikir lagi sebelah tangannya menghantam ke depan, maka terdengarlah suara gemuruh, batu pasir berhamburan, kiranya pukulannya tepat mengenai pilar gardu hingga pilar yang cukup besar itu dihantam patah, sebagian gardu itu lantas ambruk hingga genting pecah bertebaran. Ketika mereka membuka mata lagi, sementara itu Ting Jun-jiu dan Yu Goan-ci sudah menghilang entah ke mana.

Melihat Ting Pek-jwan merusak gardu, padri Siau-lim-si yang hendak menyambut itu mengira dia sengaja cari perkara dan mengacau, semuanya menjadi gusar, dengan langkah cepat mereka memapak ke gardu itu.

Saat itu Ting Pek-jwan dan Pau Put-tong sudah mengejar musuh dari dua jurusan, hanya tinggal Kongya Kian saja yang masih menjaga Hong Po-ok di situ.

Melihat keadaan kedua orang itu, Tat-mo-ih Siuco Hian-lan Taysu lantas tahu ada kejadian luar biasa, segera ia tanya, “Apa yang terjadi, para Sicu?”

“Seorang bocah bertopi besi menghantam sekali pada saudara angkat kami ini, pukulannya berbisa lihai, Toako dan Samte sedang mengejar mereka!” sahut Kongya Kian.

Hian-lan melengak oleh keterangan itu, katanya, “Bocah bertopi besi katamu? Orang itu kan tidak tahu ilmu silat! Bukankah dia pekerja kasar di kebun sayur sana?”

Segera seorang hwesio di sebelahnya mengiakan.

Tengah keadaan masih kacau, tiba-tiba terdengar lagi suara derapan kuda lari dari bawah gunung, kembali seorang penunggang kuda datang dengan cepat.

Seketika Kongya Kian berseri-seri girang, katanya, “Itulah dia Kongcu!”

Tapi demi melihat kuda yang datang itu berwarna hijau muda, air mukanya berubah muram lagi.

Mendengar orang menyebut “kongcu”, segera padri-padri Siau-lim-si itu menduga pasti Buyung-kongcu sendiri yang datang, maka mereka sama memerhatikan pendatang itu.

Sejenak kemudian, sampailah penunggang kuda itu di depan gardu. Ternyata penunggang kuda ini seorang gadis cilik berbaju warna hijau muda. Setelah dia melompat turun dari kuda kelihatan tubuhnya langsing, potongannya menggiurkan.

Melihat Kongya Kian, cepat gadis itu berseru, “Jiko, apakah Enci A Cu berada di sini?”

Kiranya gadis cilik yang cantik ini adalah dayang Buyung-kongcu, yaitu pemilik Khim-im-siau-tiok, A Pik adanya.

Tempo hari waktu A Cu berpisah dengan dia dan menyamar sebagai hwesio untuk mencuri kitab ke Siau-lim-si, sudah sekian lama A Cu belum kembali sehingga A Pik sangat khawatir, setiap hari ia mendesak agar Buyung Hok suka mencari A Cu.

Tapi karena Buyung Hok sendiri lagi banyak urusan, ia tidak ingin bercekcok dengan Siau-lim-pay hanya karena membela seorang pelayan nakal. Dan sesudah tertunda sekian lama, mau-tak-mau ia khawatir juga atas keselamatan A Cu, pula setiap hari direcoki oleh A Pik, akhirnya terpaksa ia bawa penggawa-penggawanya datang ke Siau-lim-si.

Kongya Kian tidak menjawab pertanyaan A Pik tadi, sebaliknya ia berseru, “Di manakah Kongcu? Di mana beliau?”

Dengar suara orang yang khawatir dan cemas itu, segera A Pik memburu ke dalam gardu dan berkata, “Di tengah jalan Kongcu melihat seorang hwesio sedang menguber seorang nona, beliau ingin menolong gadis itu untuk membela keadilan, maka aku disuruh berangkat ke sini dulu dan beliau akan segera menyusul.... He, Siko, kenapa engkau?” demikian dengan terkejut ia memburu ke samping Hong Po-ok, ia lihat rambut Hong-siko itu sudah berubah karena terbeku selapis es yang tipis.

Segera A Pik bermaksud menjamah tangan Hong Po-ok, tapi dicegah Kongya Kian dengan berkata, “Site terkena racun yang jahat, jangan kau sentuh dia.”

Di antara penggawa Buyung-kongcu, yaitu Ting Pek-jwan, Kongya Kian, Pau Put-tong, Hong Po-ok, A Cu, dan A Pik, biasanya mereka saling sebut sebagai kakak dan adik, hubungan mereka melebihi saudara sekandung. Maka demi mendengar siko mereka keracunan, A Pik gusar dan terkejut. Seketika ia melototi hwesio-hwesio Siau-lim-si dan berkata, “Apakah kawanan toahwesio ini yang mencelakai Siko? Hei, Toahwesio, lekas serahkan obat penawarnya untuk menolong Siko!”

Tapi Kongya Kian lantas berkata, “Bukan perbuatan mereka!”

Pada saat itulah sekonyong-konyong terdengar suara genta di Siau-lim-si ditabuh bertalu-talu, seketika air muka para hwesio itu berubah.

Bunyi genta yang keras dan gencar itu tak diketahui apa maksudnya oleh Kongya Kian dan A Pik, tapi mereka dapat menduga pasti di biara itu terjadi sesuatu yang gawat.

Maka tertampaklah dari pintu samping Siau-lim-si berlari keluar dua hwesio berjubah kelabu dan menuju ke arah gardu tunggu. Ginkang kedua hwesio itu sangat hebat hingga dalam sekejap saja mereka sudah sampai di depan gardu, segera seorang di antaranya memberi hormat kepada Hian-lan dan berkata, “Lapor Supek, belakang gunung kemasukan musuh. Hian-thong Supek telah terluka!”

Hian-lan mengangguk-angguk tanda tahu, segera ia tanya, “Musuh ada berapa orang? Bagaimana macamnya?”

Ia tanya dengan sikap tenang, tapi sebenarnya sangat terperanjat atas kekuatan musuh, sebab Hian-thong terhitung salah satu jago terkemuka angkatan “Hian” dalam Siau-lim-si, yaitu angkatan yang tertua, betapa lihainya musuh juga Hian-thong mampu melawannya dalam waktu tertentu, siapa duga datang-datang musuh lantas dapat melukainya, hal ini benar-benar sangat luar biasa.

Maka padri tadi melapor lagi, “Entah berjumlah berapa orang musuh itu, juga tak diketahui bagaimana macam mereka.”

Hian-lan berkerut kening dan melirik sekejap ke arah Kongya Kian. Dalam hati ia menduga itu pasti siasat komplotan Koh-soh Buyung yang sengaja hendak menyergap Siau-lim-si dan orang yang sekali gebrak melukai Hian-thong itu pasti Buyung Hok sendiri.

Namun saat itu Kongya Kian lagi sibuk mengawasi keadaan Hong Po-ok, maka ia tidak memerhatikan sikap Hian-lan yang mencurigai pihaknya.

Dalam pada itu para hwesio yang berada di situ sudah lantas terpencar hingga Kongya Kian bertiga terkepung di tengah. Keluarnya padri-padri Siau-lim-si secara besar-besaran itu adalah ingin menyambut kedatangan Buyung Hok, tapi yang akan disambut tidak kelihatan batang hidungnya, hal ini memang sudah menimbulkan rasa curiga mereka, kini mendengar pula suara genta tanda bahaya dan diketahui pula Hian-thong dilukai musuh, sudah tentu mereka menaruh tuduhan keras kepada orang-orangnya Buyung Hok.

Sementara itu suara genta tadi mendadak berhenti, lalu seorang hwesio berlari datang memberi lapor lagi, “Di belakang biara dipergoki dua orang, seorang mengaku she Ting, katanya bawahan Buyung-si dari Koh-soh, seorang lagi menggeletak terluka, sedangkan musuh sudah lari entah ke mana!”

Keruan Kongya Kian terkejut, cepat ia tanya, “Siapakah yang terluka itu? Apakah seorang laki-laki kurus berbaju kuning?”

Hwesio yang melapor itu tidak menjawab pertanyaannya, tapi sinar matanya penuh mengunjuk rasa waspada terhadap musuh, dan dari air mukanya itu dapat terlihat nyata bahwa orang yang terluka itu memang betul seorang lelaki berbaju kuning, yaitu Pau Put-tong.

Sudah tentu Kongya Kian sangat khawatir, tapi demi teringat Hong Po-ok juga terluka, terang dirinya tidak dapat tinggal pergi. Mengenai samte yang juga terluka itu, rasanya takkan beralangan karena didampingi oleh sang toako.

Melihat Kongya Kian tiada maksud jahat dan A Pik juga seorang gadis jelita yang lemah lembut dan tidak membahayakan, maka berkatalah Hian-lan, “Apakah Buyung-kongcu akan segera tiba? Kami siap menyambutnya dengan hormat!”

“Terima kasih,” sahut A Pik sambil memberi hormat. “Cuma baru saja di tengah jalan Kongcu melihat seorang hwesio jahat sedang menguber seorang nona, maka beliau telah tampil untuk menolongnya, terpaksa kedatangan beliau akan sedikit terlambat....”

Hian-lan merasa kurang senang, katanya, “Para padri biara kami biasanya sangat prihatin dan sopan, mana mungkin ada yang membikin susah kaum wanita? Apa yang dikatakan Nona barusan kuanggap saja sebagai ucapan anak kecil, lain kali kalau bicara hendaknya hati-hati.”
“Tapi... tapi memang betul begitu,” ujar A Pik gugup, “dan... dan hwesio itu kan belum tentu dari Siau-lim-si sini.”

“Berpuluh li di sekitar Siau-sit-san ini setiap hwesio tentu ada sangkut pautnya dengan biara kami, tapi nona bicara....” sebenarnya ia hendak mendamprat A Pik, tapi melihat kelemahlembutannya, ia jadi tidak tega dan urung melanjutkan ucapannya.

Sesudah termenung sejenak, ia menduga kedatangan Buyung Hok pasti tidak mengandung maksud baik, tidak perlu ditunggu lagi, maka katanya pula, “Silakan kalian bertiga mengaso dulu ke dalam biara kami untuk menantikan datangnya Buyung-kongcu.”

Dengan ucapan itu, maksudnya adalah untuk menahan Kongya Kian bertiga secara halus, jika Kongya Kian menolak undangan itu, boleh jadi terpaksa akan dipakai kekerasan.

Tak terduga Kongya Kian terus menerimanya dengan baik, katanya, “Terima kasih, kami terpaksa mesti membikin repot Taysu sekalian!”

Lalu ia pondong Hong Po-ok dan mendahului melangkah ke pintu biara dengan cepat.

Sambil berjalan A Pik bertanya juga kepada padri yang melapor tadi, “Thaysuhu, luka samko kami itu berat atau tidak? Yaitu lelaki kurus berbaju kuning yang kumaksudkan. Bagaimana keadaan lukanya, apakah... apakah kawanmu yang melukainya?”

Waktu itu semua orang sedang berjalan dengan langkah cepat, apalagi Hian-lan masih berada di situ, sebenarnya hwesio itu tidak berani bicara, cuma A Pik bertanya dengan ramah tamah, ucapannya enak didengar, hingga mau-tidak-mau hwesio itu menjawabnya dengan suara perlahan, “Sicu berbaju kuning itu....”

Sampai di sini ia tuding Hong Po-ok dan melanjutkan, “lukanya serupa dengan tuan ini, dan bukan kami yang menyerangnya.”

Tapi sesudah merandek sejenak, kembali ia berkata, “Agaknya... agaknya orang dari sia-pay yang menyerangnya.”

Lalu ia pun berpaling dan berkata kepada Hian-lan lagi, “Luka yang dialami Hian-thong Supek itu pun sama seperti mereka.”

Hian-lan melengak kaget. “Jadi Hian-thong Sute juga kedinginan dari menggigil seperti ini?” tanyanya cepat.

“Betul,” sahut hwesio itu.

Hian-lan terheran-heran. Ia bergumam sambil berpikir, “Jadi luka mereka bertiga serupa?”

“Badan Hian-thong Supek terasa dingin sebagai es, maka Hongtiang telah menyalurkan Kim-kong-ciang-lik (tenaga sakti) untuk menolongnya, tapi belum lagi sembuh,” tutur hwesio itu.

Mendengar ucapan “belum lagi sembuh” itu nadanya tidak meyakinkan, segera Hian-lan dapat menduga bahwa murid keponakan itu tidak ingin unjuk kelemahan di hadapan orang luar, maka cuma mengatakan “belum lagi sembuh,” padahal yang benar adalah “sama sekali tidak manjur.”

Hian-lan sudah menyaksikan penderitaan Hong Po-ok akibat serangan racun dingin itu, lalu ia khawatir juga atas diri sang sute, tanpa bicara lagi mendadak ia melayang ke depan, begitu cepat hingga dalam sekejap saja hanya tertampak bayangan merah menyelinap hilang di balik pintu sana.

“Kepandaian yang hebat!” diam-diam Kongya Kian memuji dan tercengang oleh ginkang padri tua itu.

Setelah rombongan mereka sampai ruangan tamu di samping pendopo Tay-hiong-po-tian, karena padri Siau-lim-si memandang Kongya Kian bertiga pasti adalah musuh mereka, maka sikap mereka agak kurang hormat, cuma demi kehormatan mereka sebagai tuan rumah yang ternama, mau-tak-mau mereka menyilakan duduk dan menyuguhkan minuman kepada para tamu.

“Di manakah saudara angkat kami yang terluka itu? Di mana dia?” demikian Kongya Kian lantas tanya dengan tak sabar.

Tiba-tiba dari ruangan belakang ada suara sahutan orang yang keras lantang, “Jite, aku berada di sini! Samte juga kena serangan musuh secara keji!”

Menyusul tertampaklah Ting Pek-jwan masuk ruangan tamu dengan memondong Pau Put-tong, mukanya tampak muram sedih, kemudian Pau Put-tong diletakkannya di kursi.

Segera Kongya Kian menuang tiga butir pil penawar racun dan dijejalkan ke mulut Pau Put-tong.

“Wah, Thi-thau-siaucu (Si Bocah Kepala Besi) itu benar-benar sang... sangat aneh, aku... aku kena....” baru sekian Pau Put-tong bicara atau giginya lantas gemertukan karena menggigil kedinginan hingga tidak sanggup meneruskan.

Segera A Pik mengeluarkan saputangan untuk mengusap keringat di kening kedua saudara angkat itu, tapi lantas diketahuinya bahwa dalam sekejap saja butiran keringat itu sudah membeku menjadi es.

Tengah A Pik merasa bingung dan heran, sementara itu dari ruangan belakang telah masuk empat hwesio tua. Seorang di antaranya lantas berkata kepada Pek-jwan, “Ting-sicu, Hian-thong Suheng kami juga dilukai oleh Thi-thau-jin itu, ilmu sihir bocah itu memang sangat lihai, maka Hongtiang bilang agar kedua saudara angkat tuan yang juga terluka itu harap minum dulu ‘Cing-gi-liok-yang-tan’ buatan biara kami, lalu kami akan memberi bantuan tenaga pula dengan ‘Sun-yang-lo-han-kang’.”

Sungguh girang Ting Pek-jwan tidak kepalang. Ia tahu obat Cing-gi-liok-yang-tan itu adalah obat mujarab Siau-lim-si yang terkenal di seluruh jagat, untuk menyembuhkan racun dingin khasiatnya boleh dikata “cespleng”, sekali minum obat itu pasti akan sembuh.

Sedangkan “Sun-yang-lo-han-kang” adalah semacam lwekang khas yang cuma dimiliki oleh orang Siau-lim-si. Orang yang meyakinkan Sun-yang-lo-han-kang harus masih jejaka, dan sedikitnya harus melatih diri dengan giat selama 40-50 tahun untuk bisa mencapai tingkatan yang sempurna.

Pada umumnya orang yang dapat meyakinkan Sun-yang-lo-han-kang itu adalah padri Siau-lim-si yang menjadi hwesio sejak kanak-kanak hingga tua, makanya masih bertubuh jejaka. Kalau orang biasa yang sudah pernah kawin pasti takkan jadi meyakinkan ilmu sakti itu.

Tahu akan betapa hebatnya lwekang itu, segera Ting Pek-jwan dan Kongya Kian menyatakan terima kasih.

Lalu hwesio tua itu mengeluarkan dua butir pil sebesar biji kelengkeng, warnanya merah tua dan diminumkan kepada Pau Put-tong dan Hong Po-ok. Keempat hwesio tua itu terbagi dalam dua kelompok, dua orang melayani seorang, segera mereka gunakan telapak tangan masing-masing untuk menahan bagian dada dan punggung Pau Put-tong dan Hong Po-ok, mereka menyalurkan lwekang murni ke tubuh penderita.

Selang agak lama, rasa menggigil dingin Pau Put-tong dan Hong Po-ok lantas berhenti, air muka mereka yang pucat kehijau-hijauan itu pun hilang lambat laun.

Akhirnya keempat hwesio tua itu menarik kembali tangan masing-masing. Hwesio yang menjadi tertua tadi berkata, “Kedua Sicu sekarang tak beralangan lagi!”

“Terima kasih atas pertolongan para Taysu, Buyung-kongcu dan kami sekalian merasa utang budi,” kata Ting Pek-jwan dengan rendah hati.

“Ah, hanya urusan kecil saja kenapa mesti dipersoalkan?” sahut si padri tua.

Sebaliknya Pau Put-tong merasa penasaran meski sudah ditolong, omelnya, “Huh, terima kasih? Kita dilukai oleh pekerja kasar di biara ini, ayolah kita mencari ketua mereka untuk membikin perhitungan.”

Pek-jwan kenal perangai saudara angkatnya yang berangasan dan suka ngotot itu, tidak peduli apa yang dikatakan orang, tentu dia debat dan bantah menurut pendiriannya. Apalagi menurut pembicaraan padri Siau-lim-si tadi, katanya bocah bertopi besi itu memang betul adalah pekerja kasar biara mereka sendiri. Jika begitu, apa yang dikatakan Put-tong itu juga bukan tiada beralasan sama sekali. Namun apa pun juga orang sudah menyembuhkan lukanya yang parah tadi, patut juga kalau menyatakan rasa terima kasih kepada mereka.

Maka dengan tertawa Pek-jwan berkata kepada hwesio tua, “Maaf Taysu, saudara kami ini memang demikian wataknya, suka ribut dengan siapa pun juga....”

Belum selesai ia berkata, tertampak Ti-khek-ceng Hi-hong masuk ke situ dan berkata, “Hongtiang mengundang tuan-tuan ke sana!”

Segera Pek-jwan berlima ikut para padri itu menuju ke belakang, lalu keluar biara induk dan menuju ke suatu rumah samping di sebelah barat.

Biasanya hongtiang atau ketua Siau-lim-si kalau menemui tetamu tentu diadakan di ruangan resmi dalam biara induk mereka, tapi sekali ini telah pindah ke rumah samping.

Pek-jwan saling pandang sekejap dengan Kongya Kian, mereka tahu hal ini disebabkan ikut hadirnya A Pik. Sebab selamanya kaum wanita dilarang masuk ke Siau-lim-si, tapi demi menghormati tetamunya, hongtiang mau juga menerima A Pik dan mengalah menemui mereka di ruangan samping. Hal ini boleh dikata suatu kehormatan besar bagi para penggawa Buyung Hok itu.

Sesudah Hi-hong membawa para tamunya masuk ke rumah itu, maka tertampaklah di situ sudah duduk lima hwesio tua. Seorang yang duduk di tengah beralis putih panjang, berwajah welas asih. Segera hwesio tua itu berbangkit menyambut kedatangan tetamunya.

Pek-jwan tahu hwesio itu adalah Hian-cu Taysu, ketua Siau-lim-si yang termasyhur di seluruh jagat itu, cepat ia melangkah maju dan memberi hormat.

Hanya Pau Put-tong saja meski ikut juga memberi hormat, tapi ia mengomel, katanya Siau-lim-si adalah beng-bun-cing-pay (aliran suci dan golongan ternama), tapi dalam biara ternyata ada orang yang mahir menggunakan segala macam ilmu sesat yang jahat, kalau tersiar, tentu Siau-lim-si akan ditertawai kesatria seluruh jagat, dan macam-macam gerundelan lagi.

Hian-lan duduk di ujung pinggir, ia dapat mendengar omelan Pau Put-tong itu, seketika ia menarik muka, ia tuding seorang tua yang berperawakan tinggi besar tapi lesu, katanya, “Hian-thong Sute kami juga kena serangan musuh. Penjahat itu sengaja dikirim oleh orang sia-pay untuk memata-matai Siau-lim-si kami, kenapa kami yang disalahkan?”

Lalu ia berpaling kepada Hi-hong dan berkata pula, “Lekas panggil Sam-ceng, asal-usul Thi-thau-jin itu harus ditanya secara jelas, mengapa sampai dia dapat menyelundup ke dalam biara kita?”

“Lapor Susiokco, Sam-ceng telah dibawa lari orang,” tutur Hi-hong. “Serangan mendadak kawanan penjahat sekali ini agaknya memang bertujuan hendak menolong Sam-ceng.”

Seketika air muka Hian-lan berubah, ia termenung tanpa bicara lagi.

“Sam-ceng sedang dihukum dalam Ciam-hwe-pang, ketika penjahat menyerbu masuk, Hian-thong Susiokco telah berusaha merintangi, dan karena itulah beliau dilukai musuh,” demikian tutur Hi-hong pula.

Sinar mata Hian-lan beralih ke arah Hian-thong dengan penuh tanda tanya.

Segera berceritalah Hian-thong, “Ketika aku lalu di belakang Kay-lut-ih, kebetulan kulihat seorang kakek bermuka merah dan berambut putih sedang berlari keluar sambil menggendong Sam-ceng. Melihat gelagat yang mencurigakan itu, segera aku menegurnya. Tapi mendadak kakek itu melontarkan pukulan ke arahku. Cepat aku menangkis, tak terduga tenaga pukulan kakek itu ternyata sangat aneh, telapak tangannya seperti timbul daya sedot hingga tenaga dalamku terbetot melalui telapak tanganku yang beradu dengan tangannya itu....”

Seketika air muka Hian-lan bertambah gelisah, katanya, “Hah, apakah itu Hoa-kang-sia-sut (Ilmu Pemunah Tenaga) dari Sing-siok-pay?”

“Tatkala itu aku pun berpikir demikian,” kata Hian-thong, “maka lekas kukerahkan tenaga untuk melawannya. Tiba-tiba kakek itu membentak, ‘Lekas turun tangan!’ Dan tahu-tahu seorang mendekati punggungku, tanpa terasakan angin pukulan apa-apa, tahu-tahu bahu kiriku belakang kena digaplok sekali. Pukulan itu menimbulkan rasa dingin yang merasuk tulang dan susah ditahan. Ketika aku menoleh, kiranya yang menyerangku itu adalah Thi-thau-jin yang bekerja dalam biara kita itu.... Kukira... kukira Thi-thau-jin itu mungkin... ooohh!” sampai di sini mendadak tubuhnya tergeliat dan giginya gemertukan.

Dan pada saat itu pula Pau Put-tong dan Hong Po-ok juga kumat racun dingin yang mengeram dalam tubuh mereka. Saking tak tahan kaki mereka jadi lemas dan terkulai ke lantai, cepat mereka mengerahkan tenaga dalam sendiri untuk bertahan sedapatnya.

Pau Put-tong dan Hong Po-ok adalah dua tokoh ternama dalam Bu-lim, biasanya mereka sangat menjaga harga diri, apalagi watak mereka memang angkuh dan tidak sembarangan mau mengaku kalah, kalau tidak terpaksa tidak nanti mereka mau berlaku sesuatu yang memalukan di hadapan padri Siau-lim-si seperti sekarang ini.

Dan selagi semua orang terperanjat oleh kejadian mendadak itu, di sebelah sana Hian-thong lantas memberosot juga ke lantai dari tempat duduknya.

Dengan demikian, mau-tak-mau Hian-cu Hongtiang ikut terkesiap. Ia tahu “Cing-gi-liok-yang-tan” buatan Siau-lim-si mereka adalah semacam obat mujarab yang khusus dapat menyembuhkan keracunan apa pun, ditambah lagi bantuan tenaga murni “Sun-yang-lo-han-kang” para hwesio tua yang berbadan jejaka tadi, sekalipun racun dingin dalam tubuh penderita seketika tidak punah semua, paling tidak juga dapat mencegahnya untuk sementara agar dalam waktu singkat racun dingin itu tidak kumat lagi.

Dengan sendirinya beberapa hwesio tua tadi juga ikut heran dan kehilangan muka. Segera mereka mengulangi lagi membantu dengan lwekang sakti dan sesudah sekian lama barulah ketiga orang itu terhindar dari siksaan racun dingin itu.

“Lohongtiang,” tiba-tiba A Pik membuka suara, “apakah Enci A Cu berbuat sesuatu kesalahan di biara sini hingga kalian mengurungnya sekian lamanya? Kumohon dengan sangat agar sudilah membebaskan dia,” habis berkata, ia memberi hormat dengan sungguh-sungguh.

Hian-cu menjadi bingung, cepat ia membalas hormat dan balas tanya, “Harap nona jangan banyak memakai peradatan. Kau bilang siapa yang kami kurung di sini?”

“A Cu, Enci A Cu,” A Pik menegaskan. “Dia masih sangat muda dan suka sembrono, hendaknya para Suhu dapat memaafkan dia. Sebenarnya aku sudah mohon pada Kongcuya agar suka mengirim surat untuk minta maaf pada Hongtiang atas kesalahan A Cu itu, tapi Kongcu bilang Enci A Cu terlalu nakal, kalau diberi sedikit hukuman oleh para Thaysuhu juga pantas, maka beliau sengaja menunggu setelah A Cu merasakan sedikit kegetiran barulah sekarang beliau berkunjung kemari untuk minta maaf sendiri pada kalian.”

Uraian A Pik itu lancar dan enak didengar, tetapi para hwesio tua itu hanya saling pandang saja, sebab tidak tahu duduknya perkara yang dimaksudkan.

Seperti diketahui, A Cu yang nakal itu telah menyelundup ke Siau-lim-si dengan menyamar sebagai hwesio dan berhasil mencuri kitab Ih-kin-keng edisi aslinya dalam bahasa Hindu kuno. Tapi dia dipergoki oleh Hian-cu Hongtiang hingga terkena pukulan sakti “Tay-pan-yak-kim-kong-ciang” yang hebat itu, untung dia ditolong oleh Siau Hong hingga cuma menderita luka dalam saja, tapi jiwanya tidak sampai melayang.

Ketika Hian-cu menyerang A Cu, sudah tentu ia tidak tahu bahwa hwesio gadungan itu adalah samaran seorang gadis cilik yang bernama A Cu segala.

Kemudian waktu Siau Hong membawa A Cu ke Cip-hian-ceng untuk minta obat pada Sih-sin-ih di sana A Cu berdusta bahwa dia kena dilukai oleh seorang kongcu muda, meski Hian-cit dan Hian-lan tatkala itu juga hadir di Cip-hian-ceng, tapi sekali-kali mereka tidak menyangka bahwa A Cu adalah “hwesio” yang mencuri kitab pusaka mereka dan kena serangan Hian-cu Hongtiang.

Sebab itulah, maka Hian-cu menjadi bingung demi mendengar uraian A Pik yang tak diketahui ujung pangkalnya itu. Padahal di dunia ini yang tahu betul duduk perkaranya hanya Siau Hong seorang.

Begitulah, maka Hian-cu menjawab dengan ramah, “Mungkin kabar bohong yang didengar nona tentang kawanmu ditahan dalam biara kami. Sebagai tempat suci yang bersejarah beribu tahun, tidak nanti ada anak murid kami berani berbuat sewenang-wenang.”

“Aku tidak menuduh kalian berbuat jahat, tapi kukira Enci A Cu yang nakal itulah yang berbuat sesuatu kesalahan pada kalian, sebab itulah hari ini Kongcu sendiri akan datang kemari untuk minta maaf,” demikian sahut A Pik. “Nah, sekali lagi kumohon kemurahan hati Hongtiang, sudilah membebaskan Enci A Cu.”

Ia lihat muka Hian-cu welas asih, sebaliknya Hian-lan berwajah kereng, ia menduga mungkin ada hwesio tua lain sengaja mempersulit pembebasan A Cu itu, maka segera ia berlutut untuk menjura juga kepada Hian-cit, Hian-lan, Hian-thong dan lain-lain.

Tapi mendadak Hian-lan mengebas lengan bajunya, kontan suatu arus tenaga halus tapi mahakuat, menolak ke depan hingga tubuh A Pik tertahan dan tidak dapat berlutut.

Kepandaian Hian-lan itu disebut “Siu-li-kian-gun” atau Jagat Dalam Lengan Baju, adalah ilmu yang tiada bandingannya dari Siau-lim-pay. Keruan A Pik terperanjat juga melihat betapa hebat kepandaian hwesio tua itu.

Dalam pada itu Hian-lan telah berkata, “Menurut peraturan Siau-lim-si, selama ini kami tidak menerima tamu wanita. Tentang Enci nona itu jangankan kami tidak berani menahannya di sini, bahkan masuk ke sini pasti akan kami tolak. Adapun ruangan ini sudah di luar lingkungan biara induk kami, demi nona, maka Hongtiang mau menemui kalian di sini.”

Karena jawaban orang yang sungguh-sungguh itu, A Pik merasa sedih, katanya dengan mewek-mewek, “Jika begitu ke manakah perginya Enci A Cu? Tempo hari dia katakan padaku akan datang ke Siau-lim-si.”

Paras A Pik cantik molek, tutur katanya lemah lembut, berlainan dengan A Cu yang lincah dan nakal. Para padri Siau-lim-si itu sudah tirakat sedikitnya berpuluh tahun lamanya, semuanya sudah jauh daripada rasa hubungan sanak keluarga, tapi kini demi mendengar ucapan A Pik yang merawan hati itu, mau tak mau dalam hati kecil para hwesio tua itu timbul semacam rasa welas asih dan memandang gadis cilik di hadapan mereka itu seakan-akan putri atau cucu perempuan sendiri.

Maka berkatalah Hian-cit akhirnya, “Hi-hong, boleh kau minta Hui-gwat Supek dari ‘Sian-yan-tong’ supaya menyelidiki di mana beradanya enci nona ini, sesudah diperoleh kabarnya supaya segera memberitahukan Buyung-kongcu di Koh-soh.”

Ting Pek-jwan dan A Pik tahu ‘Sian-yan-tong’ (Ruang Penghubung Luar) adalah bagian yang mengurus semua dengan para kesatria Kangouw. Jika Hian-cit sudah memberi perintah begitu, terang A Cu memang betul tidak pernah datang ke Siau-lim-si. Dan sekali Siau-lim-si sudah mau bantu mencari, dengan hubungannya yang luas dengan orang Kangouw, rasanya tidak lama tentu dapat diperoleh kabarnya A Cu. Maka Pek-jwan dan A Pik sama mengucapkan terima kasih.

Kemudian menjadi giliran Pau Put-tong untuk ditanya pengalamannya waktu diserang musuh. Maka dengan mata melotot Put-tong menutur, “Adapun pengalamanku sama saja seperti apa yang dialami Hian-thong Taysu. Sekalipun nama baik keluarga Buyung Koh-soh hari ini jatuh habis-habisan, tapi pamor para padri sakti Siau-lim-si hari ini juga ikut luntur, jadi setali tiga uang, satu nasib sama menderita, tidak perlu kita saling tanya segala.”

Dengan penasaran dan gemas Hong Po-ok ikut bersuara, “Belum berkelahi apa-apa sudah lantas terluka, benar-benar aku penasaran dan tidak puas. Jika sudah bertempur lebih dulu 300 jurus dan akhirnya dirobohkan Thi-thau-jin itu, dengan begitu baru aku tunduk dan rela.”

Lalu beramai-ramai semua orang sama membicarakan asal-usul Yu Goan-ci. Semua orang berpendapat lwekang orang bertopi besi itu tergolong cing-pay murni, tetapi racun dingin pukulannya itu terlalu jahat dan terang dari aliran sia-pay.

Jadi dalam kepandaiannya yang jahat itu juga ada dasar lwekang dari aliran baik, hal ini menimbulkan kesangsian apakah betul dia anak murid Sing-siok-pay?

“Huh, peduli apakah dia berasal dari kaum cing-pay atau sia-pay,” demikian Put-tong menjengek, “yang terang tenaga pukulannya itu berbeda tidak jauh daripada ‘Tat-mo-sin-ciang’ Siau-lim-pay kalian.”

Hian-cu saling pandang sekejap dengan Hian-lan, Hian-cit dan Hian-thong, mereka bungkam saja tanpa menjawab. Memang dalam hati mereka juga sudah memikirkan hal itu. Tenaga pukulan yang digunakan Thi-thau-jin itu memang mirip “Tat-mo-sin-ciang”, bahkan boleh dikata memang Tat-mo-sin-ciang. Cuma saja di hadapan orang luar, sejak tadi mereka tidak enak untuk membicarakannya.

Kini secara blakblakan Pau Put-tong menunjukkan hal itu, betapa pun padri-padri itu menjadi tidak enak buat membantah. Hanya dalam hati mereka berpikir, “Urusan ini agak ruwet, rasanya sergapan secara mendadak ini tidak melulu dilakukan oleh kaum siluman dari Sing-siok-pay saja.”

Agar Pau Put-tong tidak mendesak terus tentang Tat-mo-sin-ciang itu, segera Hian-lan bertanya kepada Pek-jwan, “Ting-sicu, apakah Buyung-kongcu segera akan datang? Sekarang kita berdua pihak sedang menghadapi musuh yang sama, kita harus bersatu untuk melawannya. Jika Buyung-kongcu sudah tiba, tentu beliau akan dapat memberi pandangan luas untuk menghilangkan kesangsian kita.”

Pek-jwan tidak menjawab pertanyaan itu, sebaliknya ia memandang pada A Pik.

Maka berkatalah A Pik, “Sudah kukatakan tadi bahwa di tengah jalan Kongcu teralang oleh karena ingin menolong seorang nona yang sedang diuber-uber seorang hwesio. Nona itu memakai kerudung kain hitam, perawakannya langsing, ilmu silatnya juga tidak lemah, cuma hwesio yang mengubernya itu jauh lebih lihai, dari jauh kulihat hwesio itu seperti Hoat-ong dari negeri Turfan bernama Tay-lun-beng-ong Ciumoti....”

“Hah, Tay-lun-beng-ong dari negeri Turfan datang ke Tionggoan sini?” seru Hian-cit dan Hian-lan berbareng dengan terkejut.

“Begitulah menurut pengakuannya, apakah betul atau tidak, aku pun tidak tahu,” sahut A Pik. “Mereka lari cepat sekali hingga aku tidak jelas melihatnya. Kongcu lantas suruh aku berangkat dulu ke sini dan beliau lantas mengejar ke sana.”

Mendengar jawaban itu, Hian-cu dan Hian-cit kembali saling pandang sekejap lagi. Pikir mereka, “Jika benar Tay-lun-beng-ong Ciumoti dari Turfan telah datang ke Tionggoan, maka akan makin banyaklah keonaran di dunia persilatan. Apakah mungkin Thi-thau-jin ini ada hubungannya dengan Ciumoti? Ilmu silat kalangan Buddha di Turfan juga berasal dari Thian-tiok, kalau mereka mahir Tat-mo-sin-ciang juga tidak mengherankan.”

Walaupun dugaannya itu sama sekali salah, tapi toh masuk akal juga hingga sementara ini dapat membebaskan mereka dari rasa curiga yang tak terjawab.

Lalu Hian-cu berkata, “Para tamu datang dari jauh, harap Hian-cit Sute mewakilkan aku melayani mereka dengan baik, kita akan tunggu kedatangan Buyung-kongcu untuk berunding lebih jauh.”

Dalam hati para hwesio Siau-lim-si itu sebenarnya paling khawatir terhadap Buyung-kongcu. Tahun yang lalu mereka pernah mengundang para kesatria seluruh negeri untuk berunding cara menghadapi Koh-soh Buyung, tapi berhubung pertarungan sengit di Cip-hian-ceng di mana Siau Hong dikeroyok, maka enghiong-tay-hwe atau pertemuan besar para kesatria itu tidak jadi diadakan. Kini melihat Ting Pek-jwan yang merupakan pembantu utama Buyung-kongcu itu bersikap ramah, meski rasa permusuhan telah banyak berkurang, tidak urung tetap harus waspada.

Seperti diketahui salah satu padri saleh Siau-lim-si, yaitu Hian-pi Taysu telah terbunuh di kaki Gunung Siong-san, dan pukulan yang membinasakannya itu justru adalah “Kim-kong-cu” yang merupakan kepandaian Hian-pi sendiri yang paling diandalkan, sebab itu para tokoh Siau-lim-si menyangka keras atas diri Koh-soh Buyung yang suka “menyerang lawan berdasarkan kepandaian lawan” itu.

Kini mendengar orang she Buyung itu akan berkunjung kemari, mereka sudah bertekad akan bertempur mati-matian untuk membalas sakit hati Hian-pi, siapa tahu mendadak terjadi peristiwa lain, Buyung-kongcu belum muncul, sebaliknya dua orang pembantu Buyung-kongcu dan Hian-thong Taysu dari Siau-lim-si telah sama-sama dilukai oleh ilmu silat sia-pay yang lihai.

Dilihatnya pula tingkah laku Ting Pek-jwan sangat agung dan berwibawa, begitu pula kawan-kawannya juga bukan manusia jahat, meski Pau Put-tong agak kasar dan selalu menantang ucapan siapa pun, dan Hong Po-ok lagaknya petantang-petenteng menantang, namun tampaknya juga tidak jahat.

Kalau pembantu-pembantunya baik, rasanya atasannya juga takkan jelek, tapi segala sesuatu terpaksa harus menunggu dulu kedatangan Buyung-kongcu sendiri, setelah bertemu dengan tokoh muda yang selama ini tidak pernah muncul itu barulah dapat ditentukan tindakan selanjutnya.

Maka setelah pesan sang sute agar melayani baik-baik tetamunya lalu Hian-cu hendak melangkah pergi.

Pada saat itulah sekonyong-konyong terdengar suara gedebuk sekali, tahu-tahu Hong Po-ok jatuh terjungkal. Lekas Kongya Kian membangunkannya. Tapi di sebelah sana Hian-thong dan Pau Put-tong juga sama roboh.

Ternyata racun dingin dalam tubuh ketiga orang itu kumat lagi. Padahal “Cing-gi-liok-yang-tan” adalah obat penawar racun yang paling mustajab milik Siau-lim-si, kalau obat itu tidak manjur menyembuhkan penyakit mereka, pula “Sun-yang-lo-han-kang” para hwesio jejaka itu juga tak dapat menyembuhkan, maka jelas tiada obat lain yang bisa menolong lagi.

Maka untuk seterusnya setiap satu jam tentu penyakit ketiga orang itu akan kumat satu kali, kalau habis diberi minum obat, rasa menderita itu lantas hilang, tapi sejam kemudian akan kumat pula penyakit itu. Sampai esok paginya, tetap semua orang tak berdaya, sedangkan Buyung-kongcu masih belum tampak tiba.

Karena itu, ketiga orang itu kembali tersiksa lagi selama satu hari suntuk, kalau terus-menerus begitu, semua orang yakin ketiga orang penderita itu pasti tak tahan.

Maka Ting Pek-jwan lantas mohon diri kepada Hian-lan, “Luka kedua saudara angkat kami ini tidaklah enteng, banyak terima kasih atas segala bantuan dan pertolongan para Taysu yang telah dilakukan ini, tapi melihat penyakitnya toh sukar disembuhkan, maka ada maksudku akan pergi minta tolong kepada Sih-sin-ih saja.”

Sejak tadi memang Hian-lan ada pikiran yang sama, maka jawabnya segera, “Bagus, bagus. Sih-sin-ih kenal baik dengan Lolap, jika mohon pertolongannya, rasanya beliau takkan menolak. Dia tinggal di Liu-cong-tin di barat Lokyang, jaraknya tidak terlalu jauh dari sini, marilah kita segera berangkat saja.”

Pek-jwan sangat girang, katanya, “Dengan bantuan Taysu, tentu kedua saudara kami akan tertolonglah.”

Segera ia minta pinjam pensil dan kertas, buru-buru ia tulis sepucuk surat dan ditinggalkan di Siau-lim-si untuk Buyung-kongcu kalau beliau itu datang.

Sementara itu sudah tersedia tiga kereta dorong, Hian-lan pimpin enam orang murid angkatan “Hui” mengawal ketiga kereta itu. Keenam murid dari angkatan Hui itu usia cukup tua, semuanya ahli dalam ilmu “Sun-yang-lo-han-kang”, dengan demikian mereka akan dapat membantu sepanjang jalan bila diperlukan para penderita.

Mestinya A Pik ingin tinggal di Siau-lim-si untuk menantikan datangnya Buyung-kongcu, tapi demi tampak keadaan Pau Put-tong dan Hong Po-ok sangat payah, ia tidak tega dan ikut bersama rombongan mereka.

Jarak antara Siau-lim-si dan Liu-cong-tin itu hanya beberapa ratus li saja, meski jalan pegunungan berliku-liku, tapi pada hari ketiga mereka sudah sampai di tempat tujuan.

Kediaman Sih-sin-ih itu ternyata terletak 30 li di utara Liu-cong-tin, yaitu di tengah pegunungan, tapi dengan tidak terlalu susah akhirnya rombongan Hian-lan dan Pek-jwan dapat sampai di depan rumah tabib sakti itu.

Hian-lan menunggang kuda berjalan di depan, ia lihat di tepi sungai kecil sana berdiri beberapa gedung dengan dinding terkapur putih dan genting warna hitam gelap. Di depan rumah-rumah itu terdapat sebuah kebun obat-obatan yang luas, ia yakin inilah kediaman Sih-sin-ih.

Segera ia larikan kudanya lebih mendekat, tapi ia jadi terkejut ketika melihat di depan pintu rumah gantung dua buah tanglung (lampion) besar terbuat dari kertas putih, yaitu tanglung yang biasanya tergantung di rumah orang kematian.

Waktu makin mendekat dan memerhatikan lebih teliti, ia lihat di atas pintu terpantek beberapa helai kain belacu, di samping pintu terpancang sehelai panji kertas yang biasa dipakai kias orang mati, nyata benar memang di rumah itu ada kematian orang. Bahkan lantas dapat dibacanya pula di pinggir tanglung kertas yang besar itu tertulis dua baris huruf yang berbunyi, “Sih Boh-hoa, meninggal dalam usia 65 tahun”.

Keruan Hian-lan terkejut, sungguh ia tidak percaya bahwa di rumah Sih-sin-ih ada orang sakit yang tak dapat disembuhkan? Ia tidak tahu apakah “Sih Boh-hoa” itu nama asli Sih-sin-ih? Tapi usianya memang mendekati tabib sakti itu, jika Sih-sin-ih tak mampu mengobati penyakit sendiri hingga sudah meninggal dunia, maka celakalah dan percuma saja perjalanan ini.

Ketika Hian-lan berhentikan kudanya sambil termangu-mangu, sementara itu Ting Pek-jwan dan Kongya Kian juga sudah menyusul tiba dan menyaksikan keadaan di rumah tabib sakti itu, sesaat mereka hanya saling pandang saja dengan ragu.

Mendadak suara tangis berjangkit di dalam gedung itu. Suara seorang wanita sedang sesambatan, “O, Loya! Ilmu pertabibanmu sangat sakti, siapa duga mendadak engkau sendiri terkena penyakit dan meninggalkan kami secepat ini. O, Loya! Engkau berjuluk ‘Giam-ong-tek’, tapi akhirnya engkau tak dapat melawan raja akhirat keparat itu, mungkin setiba di akhirat engkau akan disiksa pula!”

Dalam pada itu ketiga kereta, A Pik dan keenam padri angkatan Hui juga sudah tiba. Ketika mendengar suara orang menangisi kematian Sih-sin-ih, A Pik menjadi pucat, katanya dengan berduka, “Toako, apa benar kita begini sial?”

Ting Pek-jwan tidak menjawab, ia melompat turun dari kuda, lalu berseru, “Hian-lan Taysu dari Siau-lim-si bersama para kawan ada urusan penting ingin mohon pertolongan kepada Sih-sin-ih!”

Suara Pek-jwan sangat lantang, kini berteriak pula, keruan suaranya keras berkumandang hingga jauh. Seketika juga suara tangis di dalam rumah itu berhenti.

Selang sebentar, keluarlah dua orang tua, satu lelaki dan yang lain perempuan, semuanya berdandan sebagai kaum hamba, air mata mereka tertampak masih meleleh dan masih tersedu-sedan dengan sedih.

Begitu keluar, hamba tua itu lantas pukul-pukul dada sendiri sambil sesambatan, “Loya telah meninggal kemarin sore secara mendadak, kalian... kalian takkan dapat menemuinya lagi!”

“Penyakit apakah yang menyebabkan meninggalnya Sih-siansing?” tanya Hian-lan sambil merangkap tangan.

“Hamba sendiri tidak tahu,” sahut hamba tua itu, “mendadak saja Loya mengembuskan napas terakhir. Biasanya badan Loya sangat sehat, usianya juga tidak terlalu lanjut, sungguh tidak nyana, sungguh tidak terduga!”

“Di rumah Sih-siansing masih ada siapa lagi?” tanya Hian-lan pula.

“Tidak ada, tidak ada siapa-siapa lagi,” sahut hamba tua itu.

Kongya Kian saling pandang sekejap dengan Ting Pek-jwan, mereka merasa ucapan orang tua itu agak gugup, nadanya juga tidak wajar.

“Ai, mati atau hidup manusia itu sudah ditakdirkan,” demikian Hian-lan berkata pula. “Bolehkah kami berziarah sejenak di depan layon sobat lama?”

“Tentang ini... tentang ini... ya, ya baiklah....” demikian hamba tua itu menjawab dengan gelagapan. Lalu ia membawa para tamunya masuk ke dalam rumah.

Kongya Kian sengaja berjalan di belakang, diam-diam ia membisiki Ting Pek-jwan, “Toako, agaknya dalam urusan ini ada udang di balik batu, hamba tua ini agak mencurigakan.”

Pek-jwan mengangguk tanda sependapat. Lalu mereka ikut hamba tua itu sampai di ruangan layon. Pepajangan di ruangan itu tertampak sangat sederhana, segalanya kurang lengkap, seperti diadakan dalam keadaan tergesa-gesa.

Pada meja layon terdapat sebuah leng-pay yang bertuliskan, “Layon tuan Sih Boh-hoa.”

Dari tulisan yang kuat dan indah itu terang adalah buah tangan kaum terpelajar, tidak mungkin ditulis oleh hamba tua itu.

Semuanya itu menarik perhatian Kongya Kian, tapi ia diam saja, berturut-turut para tamu lantas memberi hormat kepada layon Sih-sin-ih.

Waktu berpaling, Kongya Kian lihat di pelataran dalam sana ada dua batang bambu dan sedang dijemur belasan helai baju, ada baju kaum wanita dan ada beberapa helai baju kanak-kanak. Pikirnya diam-diam, “Terang Sih-sin-ih mempunyai anggota keluarga lain, mengapa budak tua itu tadi mengatakan tiada orang lain lagi di rumah ini?”

Tapi ia pun tidak membongkar kebohongan orang, ia tetap diam saja.

Kemudian Hian-lan bicara pula, “Kami datang dari Siong-san, Siau-lim-si dengan maksud minta obat kepada Sih-siansing, sungguh tidak tersangka bahwa Sih-siansing ternyata sudah wafat. Kini sudah dekat magrib, terpaksa malam ini mesti mohon memondok di sini.”

Air muka hamba tua itu tampak serbasulit, katanya dengan tergegap, “Soal ini... ini... baiklah! Silakan tuan-tuan duduk dulu di ruangan tamu, biar hamba membuatkan daharan seperlunya.”

“Harap Koankeh (pengurus rumah) jangan repot-repot, cukup sedikit bubur dan sayur saja dan kami sudah merasa terima kasih,” kata Hian-lan.

“Ya, ya, silakan tuan-tuan duduk dulu di ruangan tamu,” sahut si hamba. Lalu ia membawa para tamu ke ruangan tamu bagian depan, kemudian ia tinggal masuk ke dalam bersama kawannya.

Tapi aneh, sampai lama sekali budak tua itu tidak tampak keluar, sudah tentu semua orang sangat mendongkol, lebih-lebih Pau Put-tong, ia jadi tidak sabar lagi, serunya, “Biar kupergi mencari air minum!”

“Jangan!” sela A Pik tiba-tiba. “Engkau mengaso saja Samko, biar aku masuk ke sana untuk membantu bapak tua itu memasak air.”

Habis berkata, segera ia bertindak ke ruangan dalam.

Khawatir kalau terjadi apa-apa atas diri anak dara itu, segera Kongya Kian berbangkit, katanya, “Biar aku mengiringimu!”

Rumah keluarga Sih itu ternyata tidak kecil, seluruhnya terdiri dari lima bagian, tapi dari luar sampai belakang, tetap A Pik dan Kongya Kian tidak melihat bayangan seorang pun. Setiba di dapur, ternyata budak-budak tua lelaki dan wanita itu pun sudah lenyap.

Kongya Kian tahu ada sesuatu yang tidak beres, cepat ia kembali ke ruangan depan dan berkata, “Keadaan di rumah ini memang ada sesuatu yang tidak beres, kukira Sih-sin-ih itu hanya pura-pura mati saja.”

“Hah, apa betul?” tanya Hian-lan dengan heran sambil berbangkit.

“Taysu, coba kita periksa peti mati ini,” ujar Kongya Kian. Dan sekali lompat, segera ia memburu ke depan layon Sih-sin-ih terus hendak mengangkat peti matinya.

Tapi mendadak hatinya tergerak, ia tarik kembali tangannya, ia mengambil sepotong baju yang dijemur di pelataran itu sebagai pembungkus tangan.

“Apa kau khawatir pada peti mati dilumuri racun?” tanya A Pik.

“Hati orang sukar diduga, tiada jeleknya kita berlaku hati-hati,” sahut Kongya Kian. Segera ia coba angkat peti mati itu, terasa sangat berat, dalam peti mati itu pasti bukan berisi jenazah. Maka katanya kepada para kawan, “Ya, memang benar Sih-sin-ih hanya pura-pura mati.”

“Sret,” tiba-tiba Hong Po-ok mencabut golok katanya, “Coba kita buka peti mati ini!”

“Orang ini berjuluk tabib sakti, tentu dia mahir menggunakan racun, hendaknya Site berlaku hati-hati,” pesan Kongya Kian.

“Ya, aku tahu,” sahut Po-ok. Segera ia sisipkan ujung golok ke celah-celah peti mati, terus dicungkil ke atas, maka terdengarlah suara keriang-keriut, tutup peti mati perlahan tersingkap. Hong Po-ok menahan napas khawatir kena bau racun yang teruar dari dalam peti mati.

Melihat kelakuan Po-ok yang lucu dan khawatir pada orang mati itu, salah seorang padri Siau-lim-si yang bernama Hui-te merasa geli dan tertawa.

“Apa yang kau tertawakan?” jengek Pau Put-tong. Mendadak ia lompat ke pelataran, di mana dua ekor ayam betina sedang mencari makan di bawah pohon, sekali raih, Put-tong tangkap kedua ekor ayam itu terus dilemparkan hingga ayam melayang lewat di atas peti mati.

Kedua ekor ayam itu berkotek keras dan jatuh di sebelah sana, lalu berlari-lari lagi ke pelataran. Tapi tidak seberapa jauh, mendadak ayam-ayam itu jatuh terjungkal, kaki berkelojotan beberapa kali, lalu tidak berkutik lagi, kebetulan saat itu ada angin meniup, tahu-tahu bulu kedua ekor ayam itu beterbangan terbawa angin.

Menyaksikan keadaan itu, tentu saja semua orang terkesiap. Maka tahulah Hui-te bahwa dalam peti mati itu memang tertaruh racun yang amat jahat, racun itu tanpa bau dan tanpa wujud hingga sukar diketahui, tapi melihat kematian kedua ekor ayam dan kontan antero bulunya terlepas habis, maka dapat dibayangkan betapa lihainya racun itu.

Nyata dalam hal ini Pau Put-tong dan Hong Po-ok jauh lebih berpengalaman daripada padri Siau-lim-si yang tidak banyak berkecimpung di dunia Kangouw itu.

“Ting-heng, mengapa bisa begini? Apakah benar Sih-sin-ih hanya pura-pura mati saja?” demikian Hian-lan bertanya dengan ragu.

Habis berkata, mendadak ia lompat ke atas, dengan sebelah tangan menggantol di belandar rumah, lalu ia melongok ke bawah, ia melihat isi peti mati itu hanya batu belaka, di bawah batu tertaruh sebuah mangkuk besar yang penuh terisi air jernih. Nyata air dalam mangkuk itulah racun yang mahajahat.

Hian-lan menggeleng-geleng kepala, lalu melayang turun, katanya, “Andaikan Sih-heng tidak mau mengobati kita, rasanya juga tidak perlu memasang perangkap sekeji ini untuk membikin celaka kita. Selamanya Siau-lim-si tiada permusuhan apa-apa dengan dia, perbuatan demikian terang keterlaluan. Jangan-jangan... jangan-jangan....”

Tiba-tiba ia berhenti, dalam hati ia berpikir, “Jangan-jangan Sih-heng mempunyai dendam kesumat kepada Koh-soh Buyung?”

Namun Pau Put-tong lantas berkata, “Engkau tidak perlu menduga yang tidak-tidak, selamanya Buyung-kongcu tidak kenal Sih-sin-ih, apalagi bermusuhan. Jika di antara kami ada sesuatu permusuhan, biarpun penderitaan kami bertambah sepuluh kali lipat juga kami tidak sudi merendah diri datang kemari untuk memohon pertolongan kepada musuh. Memangnya kau kira orang she Pau ini manusia pengecut?”

“Ya, benar, akulah yang sembarangan menduga,” sahut Hian-lan. Sebagai seorang padri saleh, biarpun apa yang dipikirnya itu tak diutarakan, tapi ia pun berani mengaku terus terang akan pikiran yang salah itu.

“Hawa berbisa di sini terlampau jahat, marilah kita ke ruangan depan saja untuk bicara lagi,” kata Pek-jwan.

Sesudah berada di ruangan tamu lagi, maka ramailah saling mengemukakan pendapat masing-masing, namun tetap tidak dapat memecahkan sebab apa Sih-sin-ih memasang perangkap dengan pura-pura mati.

“Tabib setan she Sih ini terlalu menggemaskan, marilah kita bakar saja sarang setannya ini,” ujar Pau Put-tong.

“He, jangan,” cegah Pek-jwan. “Betapa pun Sih-siansing adalah sahabat baik para Taysu dari Siau-lim-si, kita tidak boleh berbuat sembrono padanya.”

Sementara itu hari sudah gelap, di ruangan itu tiada sesuatu penerangan, semua orang merasa lapar lagi haus, tapi tiada seorang pun berani sembarangan menyentuh sesuatu benda dalam rumah ini.

“Marilah kita keluar sana, kita dapat minta bantuan sedikit makanan dan minuman kepada penduduk di sekitar sini,” ujar Hian-lan.

“Ya, tapi dalam jarak 30 li di sekitar sini lebih baik kita jangan minum dan makan apa-apa,” ujar Pek-jwan. “Sih-siansing ini sangat licin, tidak nanti ia cuma pasang perangkap dengan sebuah peti mati saja. Bila para Taysu sampai ikut terembet, sungguh kami akan merasa tidak enak sekali.”

Meski dia dan Kongya Kian tidak paham duduk perkara yang sebenarnya, tapi mereka menduga bisa jadi Koh-soh Buyung yang terkenal dengan “Ih-pi-ci-to, hoan-si-pi-sin” dan telah banyak mengikat permusuhan di kalangan Kangouw, mungkin ada sesuatu sanak famili Sih-sin-ih terbunuh, lalu utang darah itu dicatat atas rekening Koh-soh Buyung.

Begitulah maka semua orang lantas berbangkit, tapi baru saja mereka melangkah keluar pintu sekonyong-konyong di udara sebelah barat-laut sana terlihat terang benderang, menyusul sejalur cahaya api warna merah tersebar luas, lalu cahaya merah itu berubah menjadi hijau dan berhamburan ke bawah bagaikan bunga api yang berwarna-warni dengan indah sekali.

“Hah, indah benar! Siapakah yang sedang main kembang api?” seru A Pik sambil bertepuk tangan.

Padahal waktu itu permulaan musim rontok, Cap-go-meh sudah lama lewat, hari Tiongciu juga masih jauh, mana mungkin ada orang main bunga api?

Selang tak lama, kembali sebuah bunga api warna kuning meluncur lagi ke udara, lalu pecah menjadi beratus ribu buah bintang yang saling berhamburan dengan sangat indah.

Main bunga api adalah sesuatu kesenangan di zaman damai, kini mereka sedang menghadapi urusan penting dengan beberapa kawan menderita sakit aneh, sudah tentu mereka tiada minat buat menikmati kembang api segala. Meski A Pik tergolong paling muda dan masih bersifat kanak-kanak, ia pun prihatin atas penderitaan samko dan sikonya itu. Segera katanya, “Sudahlah, kita lekas berangkat saja!”

“Itu bukan kembang api, tapi tanda serangan total musuh yang akan datang,” kata Kongya Kian tiba-tiba.

“Bagus, bagus! Bisa berkelahi sepuas-puasnya lagi!” teriak Hong Po-ok, lalu ia berlari balik ke dalam ruangan tadi.

Segera Ting Pek-jwan berkata juga, “Samte, Lakmoay, harap kalian juga masuk ke dalam rumah, biar kujaga di depan dan Jite mengawal dari belakang. Hian-lan Taysu, urusan ini terang tiada sangkut pautnya dengan Siau-lim-si, maka silakan kalian diam dan menonton saja, asal kalian tidak membela salah satu pihak, untuk mana Buyung-si sudah berterima kasih.”

Tengah bicara, Kongya Kian, Pau Put-tong, dan A Pik bertiga juga mundur ke dalam menurut perintah Ting Pek-jwan. Meski di pihak Buyung-si cuma terdiri dari tiga orang, malah dua orang sudah terluka, ada pula seorang anak dara, namun sedikit pun Ting Pek-jwan tidak gentar terhadap perbawa musuh yang akan menyerang secara besar-besaran sebagaimana kelihatan dari isyarat bunga api yang dilepaskan di udara itu, bahkan ia tidak minta bantuan kepada Siau-lim-pay.

Maka jawablah Hian-lan, “Kenapa Ting-heng bicara demikian? Kalau penyerang nanti adalah musuh yang dendam kepada kalian, tentang siapa yang benar atau salah juga mesti kita putuskan secara adil, tidak boleh mereka mengandalkan berjumlah lebih banyak untuk menyerang lawan pada saat lagi menderita kesukaran. Sebaliknya jika pendatang nanti adalah komplotan Sih-sin-ih, mereka telah sengaja memasang perangkap dan membikin celaka kita secara keji, maka kita akan sama-sama menghadapi musuh, mana boleh kami tinggal diam tanpa ikut campur tangan? Nah, para Sutit, bersiaplah menghadapi musuh!”

Keenam padri angkatan Hui itu serentak mengiakan.

Lalu Hian-thong juga berkata, “Ting-heng, aku dan para saudara angkatmu senasib sependeritaan, sudah tentu kita harus menghadapi musuh bersama-sama.”

Sedang bicara, kembali ada dua jalur bunga api melayang ke udara lagi, sekali ini jaraknya sudah makin dekat.

Lewat sejenak, lagi-lagi melayang dua buah kembang api, jadi berturut-turut telah dilepaskan enam buah bunga api yang bentuk dan warnanya berbeda-beda, ada yang lurus tinggi terus bertebaran, ada yang terpencar persegi bagaikan papan catur, ada yang mirip kapak, ada pula yang menyerupai sekuntum bunga botan raksasa. Setelah enam buah bunga api itu dilepas, udara kembali gelap gulita dan tiada sesuatu isyarat lagi.

Dalam pada itu Hian-lan telah memberi perintah, ia mengatur anak murid Siau-lim-pay itu bersembunyi di sekeliling rumah untuk menanti serangan musuh. Tapi meski sudah ditunggu sekian lama masih tidak terdengar sesuatu gerak-gerik musuh.

Dengan menahan napas semua orang menunggu dengan sabar. Selang sebentar lagi, tiba-tiba terdengar suara seorang wanita di sebelah timur sana sedang menembang:

Alis lentik lama nian tak terlukis
setangan penuh bedak bercampur air mata
Hati dinda hampa mengiring tangis
dapatkah mutiara sebagai pelipur lara?

Suara nyanyian itu merdu menggiurkan dan sedih merawan.

Hian-lan saling pandang sekejap dengan Ting Pek-jwan, mereka merasa sangat heran.

Dan sehabis menembang, suara tadi lantas berubah menjadi suara orang lelaki dan berkata, “Ai, adindaku, sudah lama aku tidak melihatmu, sungguh hatiku amat merindukan dikau, makanya kuberi hadiah seuntai mutiara ini, harap dinda suka menerimanya.”

Habis itu, lalu suara itu berganti menjadi wanita tadi dan berkata, “Baginda sudah didampingi oleh Nyo-kuihui, bilakah Baginda pernah memikirkan diriku yang bernasib jelek ini. O, Baginda....”

Sampai di sini, menangislah wanita itu.

Para padri Siau-lim-si itu tidak banyak mengenal seluk-beluk kehidupan khalayak ramai, mereka tidak tahu orang yang sebentar menjadi lelaki dan lain saat berubah wanita itu lagi main gila apa, tapi tidak urung mereka ikut terharu juga oleh suara tangisan itu.

Sebaliknya Ting Pek-jwan dan kawan-kawan mengetahui bahwa orang yang tak kelihatan itu sedang main sandiwara dengan lakon “Tong-beng-ong gandrung pada Bwe-kuihui”. Orang itu sebentar sebagai raja Dinasti Tong yang romantis itu, lain saat berganti nada dan memainkan peran sebagai selir kesayangan raja, Bwe-kuihui. Suaranya sangat mirip, lakonnya menarik.

Semua orang menjadi waswas apa maksud kedatangan seorang seniman yang tak diundang pada saat genting itu.

Sementara itu orang tadi berkata lagi dalam nada raja Tong-beng-ong, “Harap dinda jangan menangis, lekas menyiapkan santapan, marilah kita bersenang-senang, dinda meniup suling, biar aku menyanyi untuk menghibur hati dinda nan sedih.”

Lalu orang itu berganti suara wanita, “Siang malam dinda mencuci muka dengan air mata dengan harapan dapat berjumpa dengan Baginda, hari ini dapat bertemu, biar mati pun dinda rela. O, huk-huk-huk....”

Pau Put-tong menjadi tidak sabar, mendadak ia berteriak, “Ini dia An Lok-san berada di sini! Hai, Li Liong-ki Raja Tong, kau seorang raja yang linglung, lekas kau serahkan Nyo Giok-goan padaku!”

Dahulu raja Tong-beng-ong mempunyai dua selir yang cantik dan sangat disayang, yaitu Bwe-kuihui dan Nyo-kuihui (nama lengkapnya Nyo Giok-goan), karena mabuk dalam romannya dengan wanita cantik itu hingga raja itu lupa daratan tanpa mengurus negara lagi. An Lok-san adalah raja pemberontak yang kemudian membunuh Tong-beng-ong dan merampas Nyo-kuihui yang cantik itu, sebab itulah, dalam dongkolnya Pau Put-tong juga menirukan nada seniman itu dan mengaku sebagai An Lok-san.

Mestinya Ting Pek-jwan hendak mencegah, tapi sudah tidak keburu lagi. Dan rupanya orang itu jadi kaget, suara tangisnya dalam peran sebagai wanita mendadak berhenti, seketika suasana berubah menjadi sunyi senyap lagi.

Selang tidak lama, tiba-tiba semua orang mengendus bau harum bunga yang tipis. Cepat Hian-lan berseru, “Awas, musuh memakai gas racun, lekas tahan napas dan siapkan obat penawar!”

Sekonyong-konyong suara seniman tadi berkata lagi, “Jitci, apakah kau sudah tiba? Di rumah Goko ada seorang aneh yang mengaku sebagai An Lok-san.”

Mendengar suara bicaranya itu, baru sekarang Pek-jwan dan lain-lain mengetahui bahwa sebenarnya orang itu adalah lelaki. Dan setelah mengatur pernapasan ternyata tiada sesuatu yang mereka rasakan, bahkan pikiran terasa segar, agaknya bau harum tadi tiada mengandung racun.

Maka terdengarlah suara seorang wanita sedang menjawab si seniman tadi, “Hanya Toako yang belum datang. Nah, Jiko, Samko, Siko, Lakko dan Patte, marilah kita unjuk diri semua!”

Baru selesai ucapannya, pandangan Ting Pek-jwan dan kawan-kawan mendadak terbeliak, keadaan berubah terang benderang hingga menyilaukan mata. Tertampak di depan pintu sana segulung cahaya aneh membungkus lima orang lelaki dan seorang wanita.

Seorang kakek berjenggot hitam di antaranya berseru, “Longo (Si Lima), lekas menggelinding keluar!”

Tangan kanan kakek itu membawa sepotong pelat besi persegi seperti sebuah papan catur. Wanita itu adalah seorang nyonya cantik setengah umur. Keempat orang lainnya, dua di antaranya berdandan sebagai kaum cendekia, seorang lagi seperti tukang kayu, tangan membawa kapak bergagang pendek dan orang terakhir bermuka bengis menakutkan, rambutnya merah dan jenggotnya hijau, daripada dikatakan manusia, muka orang itu lebih tepat dikatakan siluman.

Tapi setelah diperhatikan, segera Hian-lan dapat mengetahui bahwa orang terakhir itu sengaja melukis mukanya sendiri dengan air cat, dirias sebagaimana seniman umumnya tatkala main di atas pentas. Orang yang tadi membawakan lakon Tong-beng-ong dan Bwe-kuihui tentu dia.

Segera Ting Pek-jwan mendahului menegur, “Siapakah nama tuan-tuan yang terhormat, Ting Pek-jwan ingin mohon petunjuk.”

Dan belum lagi pihak sana menjawab, sekonyong-konyong dari dalam menerjang keluar sesosok bayangan, sinar golok berkelebat, sekaligus orang itu membacok tujuh kali kepada pemain sandiwara tadi. Penyerang itu bukan lain adalah It-tin-hong Hong Po-ok.

Karena dilabrak secara mendadak, pemain sandiwara itu jadi kelabakan, ia menghindar ke kanan dan berkelit ke kiri dengan kerepotan. Tapi mulut masih sempat menyanyi pula dalam lakon sebagai Co-pa-ong, itu raja pemberontak yang perkasa musuh Lau Pang.

Tapi karena serangan Hong Po-ok teramat gencar, maka baru setengah jalan tembangnya lantas berhenti.

Si kakek berjenggot hitam di sebelahnya lantas memaki, “Hai, kau ini sungguh tidak tahu aturan, datang-datang lantas main bacok serabutan, coba rasakan ‘kue serabi’ ini!” dan mendadak papan persegi yang dipegangnya mengepruk kepala Hong Po-ok.

Diam-diam Po-ok merasa heran, “Selama hidupku entah sudah berapa ratus kali menghadapi pertempuran, tapi tidak pernah kulihat senjata persegi seperti ini.”

Segera ia menangkis dengan goloknya, maka terdengarlah “creng” sekali, golok tepat membacok tepi papan itu, tapi papan itu sedikit pun tidak lecet. Kiranya papan itu terbuat dari baja, di luarnya dicat dengan kembangan kayu.

Cepat Po-ok bermaksud menarik kembali goloknya untuk menyerang pula, tapi celaka, meski ia tarik sekuatnya, tetap golok bergeming, ternyata tersedot oleh papan baja itu. Keruan ia terkejut, sekuatnya ia memuntir dan membetot, dengan demikian barulah golok dapat dipisahkan dari lengketan papan baja musuh.

“Aneh sekali, apa papan besimu ini terbuat dari besi sembrani?” bentaknya.

Orang tua itu tertawa, sahutnya, “Terima kasih! Ini adalah alat pencari nafkahku!”

Sekilas Po-ok mengamati senjata musuh itu, ia lihat di atas papan terdapat garis malang melintang, nyata adalah sebuah papan catur, segera katanya pula, “Aneh bin ajaib! Mari kutempurmu lagi!”

Maka ia melancarkan serangan lagi, makin lama makin cepat, tapi golok tidak berani membentur lagi dengan papan catur lawan yang terbuat dari besi sembrani itu.

Dengan demikian si pemain sandiwara tadi merasa lega, kembali ia menembang lagi sebagai Co-pa-ong, lalu berganti suara sebagai wanita.

Pau Put-tong mendongkol, tiba-tiba ia membentak, “Hai, Co-pa-ong keparat, lekas kau bunuh diri saja, aku Han Sin adanya!”

Berbareng ia terus menerjang maju, dengan “Kim-liong-jiu” (Ilmu Menangkap Naga), kedua tangan mencengkeram pundak tukang tembang itu.

Dalam cerita sejarah yang sering dipentaskan, Han Sin adalah panglima kepercayaan Raja Han-ko-cou Lau Pang yang menguber-uber Co-pa-ong hingga di tepi Sungai Oh-kang, di situ Co-pa-ong terpaksa membunuh diri.

Tapi pemain sandiwara itu sempat mendakkan tubuh untuk menghindar, lalu hendak menembang lagi, tapi sebelum lanjut, terpaksa ia menjerit, “Haya, aku Han-ko-cou adanya dan akan membunuhmu Han Sin!”

Berbareng tangan kirinya melolos keluar sebatang ruyung lemas terus menyabet pinggang Pau Put-tong.

Melihat pertarungan beberapa orang itu sangat sengit dan lucu pula, tapi kepandaian kedua pihak sama hebatnya, entah pihak musuh akan datang lagi berapa banyak bala bantuan, maka cepat Hian-lan membentak, “Harap semua orang berhenti dulu, marilah kita bikin terang dulu duduknya perkara dan pertarungan dapat dilanjutkan lagi nanti.”

Tapi sekali Hong Po-ok sudah berkelahi mana dapat disuruh berhenti? Apalagi ia tahu tenaga sendiri sudah banyak berkurang setelah keracunan, serangan racun itu pun setiap saat bisa timbul dan membahayakan, maka ia putar golok secepat kitiran dengan maksud selekasnya mengalahkan lawan.

Di tengah pertarungan sengit keempat orang itu, dari dalam kembali melompat keluar seorang dengan sepasang golok terhunus, “creng,” kedua golok saling bentur hingga mengeluarkan suara nyaring.

Orang itu gagah perkasa, kiranya Hian-thong Siansu. Ia berseru, “Kalian kawanan jahanam yang suka meracun orang, hari ini hwesio tua terpaksa melanggar pantangan membunuh!”

Sudah beberapa hari Hian-thong disiksa racun, ia memang sudah gemas, kebetulan musuh datang, maka tanpa banyak bicara lagi ia terus menerjang kedua orang setengah umur yang berdandan sebagai kaum cendekia itu.

Cepat salah seorang sastrawan itu merogoh keluar sebatang senjata yang menyerupai boan-koan-pit, yaitu senjata berbentuk potlot, dengan gesit sekali ia lawan Hian-thong.

Sebaliknya sastrawan yang lain itu berkata dengan tingkah laku yang tengik, “Aneh bin ajaib! Masakah seorang padri juga berangasan seperti ini, entah terdapat dalam kamus mana?”

Lalu ia ulur tangan ke dalam saku untuk merogoh tapi tiba-tiba ia berseru, “He, ke mana perginya?”

Bahkan ia meraba-raba saku yang lain dan merogoh pula saku belakang, lengan baju dikebas-kebaskan, baju bagian dada ditepuk-tepuk pula, tapi tetap tidak menemukan sesuatu.

A Pik heran, ia tanya, “Siansing, apa yang kau cari?”

“Ilmu silat Toahwesio ini sangat tinggi, kami bersaudara terang tak bisa melawannya, maka akan kucari senjataku untuk membantu kawan-kawanku itu. Tapi, he, aneh, di manakah senjataku itu?” demikian sahut si sastrawan. Lalu ia ketuk-ketuk jidat sendiri dan mengingat-ingat sebisanya.

A Pik tertawa geli melihat kelakuan orang, pikirnya, “Sudah di garis depan baru tahu senjatanya hilang, orang linglung begini belum pernah kulihat, orang ketolol-tololan semacam ini tampaknya bukan sengaja pura-pura dungu.”

Maka A Pik coba tanya pula, “Siansing, macam apakah bentuk senjatamu itu?”

“Seorang laki-laki sejati lebih dulu harus berlaku cara halus baru kemudian pakai kekerasan, maka senjataku yang pertama adalah sejilid kitab,” sahut sastrawan itu.

“Kitab apa? Apakah bu-kang-pit-koat (kitab ilmu silat)?” tanya A Pik.

“Bukan, bukan! Tapi sejilid lun-gi (kitab yang berisi kata-kata emas Khonghucu),” sahut sastrawan itu. “Aku akan menginsafkan, pihak lawan dengan ajaran-ajaran nabi.”

Kembali A Pik tertawa geli, katanya, “Kau seorang terpelajar, masakah lun-gi saja tidak hafal, habis kitab apa yang kau baca biasanya?”

“Nona hanya tahu satu, tapi tidak tahu dua,” sahut si sastrawan. “Bicara tentang lun-gi, beng-cu, chun-ciu, dan kitab-kitab nabi yang lain sudah tentu semuanya sudah kuhafalkan di luar kepala. Tapi pihak lawan kan belum tentu pernah membacanya! Bila aku menyebutkan isi kitab itu dan dia tidak tahu, kan percuma? Makanya harus kutunjukkan kitab yang bersangkutan, dengan demikian lawan takkan dapat menyangkal dan mendebat, dan usahaku barulah akan berhasil. Ini namanya bukti menjadi saksi.”

Sembari bicara, ia terus meraba-raba dan merogoh-rogoh saku di sana sini, tapi tetap tiada sesuatu yang ditemukannya.

Sementara itu si orang yang berdandan sebagai tukang kayu menjadi khawatir demi melihat kawannya dicecar secepat kilat oleh goloknya Hian-thong, tampaknya dalam beberapa jurus lagi tentu jiwanya akan terancam, segera ia ayun kapaknya hendak membantu.

Namun Kongya Kian sudah siap siaga, kontan ia menghantam lebih dulu ke arah tukang kayu itu. Jangan kira Kongya Kian lahirnya lemah lembut, ternyata tenaga pukulannya sangat hebat.

Dahulu di atas Ciulau di daerah Kanglam ia pernah berlomba minum arak dan mengadu tenaga pukulan dengan Siau Hong, meski kalah, tapi Siau Hong juga sangat kagum padanya, hal itu menandakan lwekang Kongya Kian bukan golongan lemah.

Begitulah maka si tukang kayu tadi telah mengegos, menyusul kapaknya terus memotong dari samping.

Dalam pada itu si sastrawan tetap tidak menemukan kitab “lun-gi” yang dicari, sebaliknya ia lihat sastrawan kawannya itu sudah terdesak, permainan boan-koan-pitnya sudah kacau, sebaliknya serangan golok Hian-thong masih terus menyambar dengan gencar. Segera ia berkata kepada Hian-thong, “Hai, Toahwesio! Kata Khonghucu, ‘mengekang perasaan sendiri dan membalas orang dengan sopan, bila demikian halnya maka dunia akan aman sentosa,’ — Kata beliau pula, ‘Tidak sopan jangan didengar, tidak sopan jangan bicara, tidak sopan jangan berbuat.’ Tapi kau putar golok ingin membunuh orang, perbuatan demikian sedikit pun tidak dapat mengekang perasaan sendiri dan terlebih ‘tidak sopan’.”

Melihat tingkah laku sastrawan itu, diam-diam A Pik bertanya kepada Ting Pek-jwan, “Toako, orang ini memang seorang sastrawan tolol tulen atau pura-pura dungu saja?”

“Entah, asal waspada saja,” sahut Pek-jwan. “Hati orang Kangouw sukar dijajaki, segala macam perbuatan licik dapat dilakukannya.”

Sementara itu sastrawan tolol itu sedang berkata kepada Hian-thong, “Toahwesio, Nabi Khonghucu bersabda, ‘Orang bijaksana tentu perkasa, orang perkasa belum tentu bijaksana.’ Kau sih memang perkasa, tapi jelas tidak bijaksana, maka tak dapat dianggap sebagai seorang kesatria sejati. Nabi Khonghucu bersabda pula, ‘Apa yang kita sendiri tidak mau, jangan diberikan kepada orang lain.’ Jika orang hendak membunuhmu, sudah tentu engkau tidak mau. Dan kalau kau sendiri tidak mau dibunuh, kenapa kau ingin membunuh orang?”

Begitulah ia terus mengoceh memberi “ceramah” kepada Hian-thong. Anehnya, terang ilmu silat sastrawan tolol ini tidak lemah, buktinya setiap kali Hian-thong dan si sastrawan itu saling gebrak sambil melompat kian-kemari, maka sastrawan tolol ini pun dapat ikut melompat dan selalu berada di samping mereka.

Diam-diam Hian-thong menaruh perhatian, pikirnya, “Orang ini sengaja mengoceh tak keruan, dan kalau ada kesempatan, segera ia akan balas menyerang. Ilmu silat orang ini terang lebih tinggi daripada sastrawan yang kulawan ini.”

Karena itu, maka perhatian Hian-thong menjadi lebih banyak dicurahkan untuk berjaga-jaga kalau disergap si sastrawan tolol itu. Dengan demikian sastrawan bersenjata boan-koan-pit jadi terhindar dari tekanan yang berat dari Hian-thong.

Setelah belasan jurus lagi dan si sastrawan tolol itu masih mengoceh terus, akhirnya Hian-thong menjadi gemas, bentaknya, “Jika kau tidak enyah, jangan kau salahkan aku!”

Mendadak ia gunakan gagang golok untuk menyodok dada sastrawan tolol itu.

“Ai, ai! Kulihat ilmu silat Taysu teramat tinggi, kami berdua belum tentu dapat menang, maka aku ingin menasihatimu agar lebih baik kita sudahi pertempuran ini,” demikian seru sastrawan tolol itu. “Sebagai manusia, kita harus berbudi dan dapat memaafkan sesamanya, janganlah terlalu ngotot dan mau menang sendiri.”

Hian-thong menjadi gusar, “sret”, mendadak ia tebas orang sekali sambil mendamprat, “Kau bicara tentang budi memaafkan apa segala? Kalian sengaja menaruh racun dalam peti mati untuk menjebak orang, apakah itu berbudi, apakah itu bijaksana? Coba kalau kami kurang waspada, tentu saat ini sudah menuju ke nirwana. Huh, masih kau bicara tentang ‘apa yang kita tidak mau jangan diberikan kepada orang lain.’ Coba jawab, kau sendiri mau diracun atau tidak?”

“Ai, ai! Aneh! Siapakah yang menaruh racun di dalam peti mati?” sahut sastrawan tolol itu sambil menyingkir dua tindak. “Peti mati itu tempat jenazah. Kalau dalam peti mati ditaruh racun, bukankah jenazah itu pun akan keracunan? Ai, salah, jenazah itu memang sudah mati!”

Ucapan yang lucu itu membikin A Pik tertawa geli, katanya, “Ya, jenazah dalam peti mati sudah tentu sudah mati. Tapi kalian terlalu licik, peti mati bukan berisi jenazah, tapi ditaruh racun untuk membunuh kami.”

“Bukan, bukan begitu!” sahut sastrawan itu dengan geleng-geleng kepala. “Kau orang perempuan, usiamu masih muda pula, pantas omonganmu berliku-liku.”

“Dia juga wanita, kau anggap dia orang baik atau orang jahat?” ujar A Pik sambil tunjuk si wanita cantik setengah umur, yaitu kawan si sastrawan sendiri.

“Ai, ai! Ucapanmu menyeleweng dari pokok persoalan, maka aku takkan gubris dan tak mau menjawab,” sahut sastrawan tolol.

Karena sastrawan itu bertanya jawab dengan A Pik, Hian-thong menjadi bebas dari gangguan, segera ia putar golok terlebih kencang hingga si sastrawan bersenjata boan-koan-pit itu kewalahan lagi.

Melihat itu, si sastrawan tolol cepat melompat lagi mendekati Hian-thong dan berkata, “Kata Khonghucu, ‘Manusia tidak bijaksana, dapatkah berlaku sopan? Manusia tidak bijaksana dapatkah hidup senang?’ Toahwesio adalah manusia dan tidak bijaksana, ai, sungguh berdosa!”

Dengan gusar Hian-thong menjawab, “Aku adalah murid Buddha, kau mengoceh tentang ajaran Khonghucu apa segala, mana dapat mengetuk hati nuraniku?”

Sastrawan tolol itu ketuk-ketuk pula jidat sendiri, katanya, “Ya, benar, benar! Aku ini mungkin sudah linglung, boleh jadi terlalu banyak baca hingga berubah menjadi orang yang tolol. Toahwesio adalah anak murid Buddha, tapi aku bicara tentang ajaran nabi Khonghucu padamu, sudah barang tentu salah alamat.”

Dalam pada itu Hong Po-ok masih terus bertempur melawan orang yang bersenjatakan papan catur baja itu dan sukar merebut kemenangan, lama-kelamaan perut mulai dingin, itulah tanda serangan racun akan berjangkit lagi.

Di sebelah sana Pau Put-tong juga sedang melabrak si pemain sandiwara tadi, ia merasa ilmu silat lawan tidak terlalu tinggi, cuma gerak perubahannya sangat aneh dan macam-macam variasinya, sebentar ia menembang sebagai Se Si, itu wanita cantik yang termasyhur, ia menirukan suara wanita dengan persis, bahkan lenggak-lenggoknya juga menyerupai wanita cantik. Dan lain saat ia main sebagai Li Thay-pek, itu penyair yang terkenal dengan langkahnya yang sempoyongan tatkala mabuk arak.

Anehnya setiap kali ia ganti peranan, setiap kali pula ia dapat memainkan sejurus ilmu silat yang sesuai dengan pelaku yang dibawakannya itu. Senjata ruyung emas yang dipegangnya itu sebentar digunakan sebagai lengan baju kaum wanita yang panjang, lain saat dipakai sebagai pensil kaum terpelajar. Keruan Pau Put-tong geli-geli dongkol, seketika ia pun tak bisa berbuat apa-apa.

Sementara itu si sastrawan linglung tadi mendadak menembang lagi, “Jika kuberi obatnya, apakah hatiku lantas tenteram? Bila tidak membawa hasil, sama saja tidak memberi. Omong kosong tak berisi, memang bukan pada tempatnya.... Eh, Toahwesio, dua kalimat selanjutnya bagaimana bunyinya?”

Demikian ia mengoceh beberapa bait sabda padri saleh zaman dahulu, maka Hian-thong menjawab, “Yang bijaksana akan mencapai tujuannya, mohon sudi memberi petunjuk seperlunya.”

Sastrawan linglung itu terbahak-bahak, katanya, “Bagus, bagus! Bukankah kaum Buddha kalian juga bicara tentang ‘bijaksana’ segala? Memang pada hakikatnya segala ajaran nabi di dunia ini sama tujuannya. Maka kunasihatkan lebih baik kau berpaling kembali ke tepian, taruhlah golok jagalmu saja!”

Hian-thong terkesiap, sekonyong-konyong ia sadar dan terbuka pikirannya, katanya segera, “Siancay! Siancay!”

Mendadak ia lemparkan kedua goloknya ke lantai hingga mengeluarkan suara nyaring, lalu ia duduk bersila, dengan wajah tersenyum ia memejamkan mata dan tidak bicara lagi.

Si sastrawan bersenjata boan-koan-pit tadi mestinya lagi sengit menempur Hian-thong, ia jadi heran ketika mendadak melihat kelakuan lawan yang aneh itu. Tapi ia pun tidak melancarkan serangan lagi.

Di pihak lain dua padri angkatan Hui dari Siau-lim-si lantas berseru, “Susiok, apakah penyakitmu kumat lagi?”

Segera mereka bermaksud memburu maju untuk memayang sang susiok.

Namun Hian-lan membentak, “Jangan!”

Waktu ia periksa napas Hian-thong, nyata pernapasan sang sute sudah berhenti, betul-betul sudah wafat dengan tenang. Hian-lan merangkap tangan dan memanjatkan doa.

Para padri angkatan Hui menjadi sedih dan gusar demi mengetahui susiok mereka telah mati, berbareng mereka mengeluarkan senjata terus hendak melabrak kedua susing atau sastrawan tadi.

Tapi Hian-lan mencegahnya, “Jangan! Susiok kalian wafat dengan menemukan ajaran sejati, beliau mangkat ke nirwana dengan sempurna, seharusnya kalian bersyukur baginya.”

Karena kejadian di luar dugaan itu, semua orang yang sedang bertempur itu pun lantas berhenti.

Segera si sastrawan linglung berteriak-teriak lagi, “Longo (Kelima)! Wahai, Sih-longo, lekas keluar, ada orang mati, lekas keluar menolong jiwanya! Ai, kau setan Sih-sin-ih, kalau tidak lekas keluar, wah celakalah aku!”

“Sih-sin-ih rupanya tidak di rumah, apakah saudara ada....” demikian mestinya Ting Pek-jwan hendak minta keterangan.

Tapi sastrawan linglung itu tidak gubris padanya, ia masih terus menggembor, “Wahai, Sih Boh-hoa, Sih-longo, Giam-ong-tek, Sih-sin-ih, lekas menggelinding keluar untuk menolong orang, samkomu ini telah membikin mati orang dan orang hendak minta ganti nyawa pada kita!”

Pau Put-tong menjadi gusar, dampratnya, “Kau sudah menewaskan orang, masih berteriak-teriak seenaknya!”

Kontan ia memukul, menyusul tangan kiri menyusup dari bawah, pukulan itu terus menjambret kumis sastrawan itu dengan tipu “Lau-liong-tam-cu” atau naga tua mengambil mutiara.

Memangnya pertarungan tadi kurang memuaskan selera Hong Po-ok dan Kongya Kian, maka sekarang mereka mencari lawan dan mulai bergebrak lagi.

“Robohlah!” mendadak Ting Pek-jwan membentak, ia juga sudah mendapatkan lawan, yaitu si pemain sandiwara, dan sekali cengkeram, kontan baju leher orang itu kena dipegangnya.

Pek-jwan adalah jago utama di antara empat pembantu Buyung-kongcu, ilmu silatnya tinggi, lwekangnya hebat, meski namanya kurang terkenal di kalangan Kangouw, tapi setiap orang yang kenal dia pasti sangat kagum akan kepandaiannya. Maka begitu si pemain sandiwara kena dicengkeramnya, seketika tak bisa berkutik segera Pek-jwan banting tawanan itu ke tanah.

Pemain sandiwara itu memang sangat gesit dan cekatan, sekali bahunya menyentuh tanah, segera ia putar kaki kanan terus mendepak paha Ting Pek-jwan.

Serangan ini sangat cepat, pula badan Pek-jwan agak gemuk, gerak-geriknya kurang gesit, ia lihat depakan itu sukar dielakkan, segera ia kerahkan tenaga ke bagian bawah, ia terima mentah-mentah depakan itu.
Maka terdengarlah suara “krak” sekali, di antara dua kaki yang terbentur itu ada salah satu yang patah.

Beberapa kali seniman itu terguling-guling di tanah hingga sejauh beberapa meter, lalu ia berseru sebagai peranan dalam sandiwara, “Wahai Mo Yan-siu jahanam, biar kucencangmu... aduh, kakiku!” demikian pada akhirnya mendadak ia menjerit.

Kiranya ketika kedua kaki beradu, tenaga seniman itu kalah kuat hingga tulang kakinya patah.

Wanita cantik setengah umur yang berbaju jambon itu sejak tadi berdiri diam saja di samping tidak membuka suara juga tidak bertindak. Kini demi melihat seniman kawannya itu patah kaki, kawan yang lain juga dicecar musuh dan berbahaya, barulah ia mulai membuka suara, “Hai, kalian ini apa-apaan? Sudah mengangkangi rumah goko kami, datang-datang lantas melabrak orang sesukanya tanpa tanya dulu.”

Dalam pada itu si pemain sandiwara masih jatuh telentang di tanah dan tiba-tiba ia lihat kedua buah tanglung besar yang tergantung di depan pintu itu, ia terkejut dan berteriak, “Apa? Sih Boh-hoa meninggal? Goko sudah wafat?”

Kedua susing dan orang tua yang membawa papan catur, si tukang kayu, wanita cantik itu pun ikut memandang ke arah yang ditunjuk, maka dapatlah mereka membaca semua tulisan pada tanglung putih itu.

Api dalam tanglung sejak tadi sudah padam, begitu datang mereka lantas saling gebrak pula hingga tiada seorang pun menaruh perhatian keadaan di rumah itu, baru sesudah seniman itu menggeletak di tanah, barulah ia dapat melihat tanglung orang mati itu.

Seketika seniman itu menangis dan menembang menurut irama sandiwara, “O, saudaraku tercinta, kita mengangkat saudara di kebun tho, engkau membobol lima benteng, membunuh enam panglima, betapa gagah perkasamu, oi....”

Semula ia menembang dalam lakon “menangisi kematian Kwan Kong”, tapi kemudian ia benar-benar berduka hingga tak keruan lagi suaranya.

Kawan-kawan yang lain segera berteriak juga, “Hai, siapa yang membunuh goko kami? Goko, Goko! Bangsat terkutuk manakah yang membunuhmu? Biarlah hari ini kami mengadu jiwa dengan kalian, keparat!”

Hian-lan dan Pek-jwan saling pandang dengan serbasalah, diri ucapan mereka itu, agaknya mereka adalah saudara angkat Sih-sin-ih.

Pek-jwan lantas berkata, “Sebenarnya kami datang untuk minta pertolongan Sih-sin-ih agar suka mengobati dua-tiga orang kawan kami yang terluka, tak terduga....”

“Tak terduga dia tak mau mengobati dan kalian lantas membunuhnya, begitu bukan?” potong si wanita cantik.

“Ti....” belum lagi ucapan “tidak” tercetus dari mulut Ting Pek-jwan, sekonyong-konyong wanita cantik itu mengebas lengan bajunya, kontan Pek-jwan mengendus bau harum semerbak, kepala lantas pusing dan berdirinya seakan-akan mengambang tak bertenaga.

“Roboh, robohlah!” demikian si wanita cantik berseru.

Pek-jwan menjadi gusar. “Wanita siluman!” dampratnya, berbareng ia terus menghantam ke depan.

Daya guna “Pek-hoa-bi-sian-hiang” (Dupa Pemabuk Dewa Sari Seratus Bunga) yang disebarkan wanita cantik itu sebenarnya sangat keras, betapa pun tinggi kepandaian lawan biasanya juga akan dirobohkannya. Tadi sudah dilihatnya keadaan Ting Pek-jwan agak sempoyongan, terang sudah kena dupa biusnya itu, siapa duga pada saat terakhir masih mampu melontarkan pukulan dahsyat.

Keruan ia tidak sempat menghindar, kontan tubuhnya serasa ditumbuk oleh suatu tenaga bagai gugur gunung dahsyatnya, napas seketika sesak dan tubuh pun terbanting hingga jauh. Bahkan terdengar suara “krak-kruk”, rupanya tulang iga dipatahkan beberapa buah oleh pukulan Ting Pek-jwan, maka sebelum tubuh terbanting lebih dulu orangnya sudah kelengar.

Pek-jwan sendiri lantas merasa pandangan menjadi gelap, akhirnya ia pun jatuh tersungkur.

Kedua pihak sama-sama roboh satu orang, sisanya lantas saling gebrak dengan sengit.

Hian-lan sendiri lagi berpikir, “Di balik semua kejadian ini tentu ada sesuatu yang janggal, kini terpaksa harus kutawan dulu semua lawan, supaya kedua pihak tidak jatuh korban lebih banyak.”

Setelah ambil keputusan itu, segera ia berseru, “Bawakan tongkatku!”

Seorang padri angkatan Hui mengiakan dan segera membawakan sian-theng (tongkat padri) yang disandarkan di samping pintu itu kepada Hian-lan.

Tiba-tiba si sastrawan bersenjata boan-koan-pit itu menerjang maju terus menutuk dada padri Siau-lim-si yang mengambilkan tongkat itu, tapi sebelum tiba, lebih dulu Hian-lan menghantamkan sebelah tangannya, belum lagi tangannya menyentuh tubuh musuh, lebih dulu tenaga pukulan Hian-lan sudah mengenai punggung sastrawan itu, tanpa ampun lagi orang itu roboh tak berkutik.

Hian-lan tertawa panjang, dengan menjinjing tongkat ia maju ke samping, segera tongkatnya mengemplang kepala orang yang bersenjata papan catur itu.

Melihat serangan hebat, orang itu tidak berani gegabah, dengan kedua tangan memegang papan caturnya terus ditangkis ke atas. “Trang”, terdengar suara nyaring keras disertai meletiknya lelatu api. Kontan orang itu merasa tangan linu pegal. Dan ketika Hian-lan mengangkat kembali tongkatnya, tahu-tahu papan catur musuh ikut terangkat.

Kiranya daya sembrani papan catur itu sangat kuat, biasanya digunakan menyedot senjata lawan. Tapi sekarang tenaga lawan lebih kuat, maka berbalik papan catur itu kena disedot oleh tongkat Hian-lan. Setelah berhasil merampas senjata musuh, menyusul tongkat Hian-lan lantas mengemplang lagi.

“Haya, celaka! Hancurlah kepalaku sekali ini!” teriak orang itu dan cepat berlari ke samping.

Mendadak Hian-lan membentak pula, “Su-tay-cu (pelajar tolol), robohlah!”

Tongkat terus menyabet ke samping dengan luar biasa dahsyatnya.

“Ai, ai! Belum waktunya aku disuruh tidur! Ya, apa boleh buat!” seru Su-tay-cu itu dan belum lenyap suaranya orangnya sudah mendahului bertiarap.

Dengan cepat padri Siau-lim-si lantas memburu maju untuk membekuknya.

Nyata siuco dari Tat-mo-ih Siau-lim-si memang bukan jago sembarangan, hanya sekali turun tangan lantas mengalahkan tiga jago musuh yang tangguh, dengan sendirinya kekuatan kedua pihak segera berubah.

Tapi A Pik senang mengkhawatirkan keadaan Ting Pek-jwan, para padri Siau-lim-si juga berduka atas wafatnya Hian-thong, maka mereka tidak menjadi girang karena kemenangan itu.

Sementara itu si tukang kayu yang berkapak sedang dikeroyok Pau Put-tong dan Hong Po-ok, terang sebentar lagi ia pun akan dirobohkan.

Mendadak si orang tua bersenjata papan catur tadi berseru, “Sudahlah! Lakte, kita mengaku kalah saja, tidak perlu bertempur lagi! Toahwesio, aku hanya ingin tanya padamu, sebenarnya apa kesalahan gote kami hingga kalian membunuh dia? Dan mengapa mencuri bunga apinya untuk memancing kedatangan kami ke sini?”

“Dari mana bisa jadi begitu....” baru sekian Hian-lan menjawab, sekonyong-konyong terdengar suara “crang-cring” dua kali, yaitu suara khim (alat musik sejenis kecapi) suaranya nyaring berkumandang dari jauh.

Anehnya, begitu mendengar suara itu, seketika jantung juga terguncang dengan keras. Selagi Hian-lan melengak heran, kembali suara kecapi berbunyi “crang-creng” dua kali lagi. Malahan suaranya bertambah dekat hingga detak jantung semua orang pun tambah keras.

Karena habis diserang racun, diguncang pula suara kecapi yang nyaring itu, seketika Hong Po-ok merasa kusut pikirannya, “trang”, tanpa terasa golok terlepas dari cekalan. Coba kalau Pau Put-tong tidak keburu melindunginya, tentu bahu Po-ok sudah sempal sebelah kena bacokan kapak musuh yang sementara itu telah dilontarkan.

Demi mendengar suara kecapi itu, Su-tay-cu atau si sastrawan tolol tadi menjadi girang, ia berteriak-teriak, “Lekas kemari, Toako, lekas! Segerombolan bangsat ini telah membunuh Gote, kini kami tertawan pula, Jitmoay juga dipukul mati oleh mereka. Wah, celaka, lekas kemari!”

Kembali suara kecapi dalam hutan sana bergema pula, sekali ini berturut-turut dipetik lima kali hingga jantung semua orang terguncang lebih hebat, napas serasa hendak putus.

Keruan Hian-lan sangat heran dan terkesiap, “Ilmu sihir apakah ini? Aku telah menenangkan perasaan dengan lwekang Siau-lim-pay yang tinggi, tapi jantungku tetap berguncang mengikuti irama kecapi. Sungguh lihai sekali pemain kecapi itu.”

Suara kecapi itu makin lama makin cepat, debur jantung semua orang juga makin keras. Hian-lan, Kongya Kian, Pau Put-tong, Hong Po-ok, dan para padri sama duduk di tanah sambil mengerahkan lwekang masing-masing untuk melawan. Tapi hanya Hian-lan dan Kongya Kian saja yang mampu mengatasi getaran jantung, sedang padri Siau-lim-si angkatan Hui sudah tidak tahan lagi, mereka menjerit-jerit dan sangat menderita. Mereka berusaha menutup telinga sendiri dengan kedua tangan, tapi aneh, betapa pun telinga mereka didekap, tetap suara kecapi dapat menyusup ke dalam telinga, dan jantung lantas bergetar menurut irama musik itu.

Bahkan sampai akhirnya, irama kecapi itu bertambah cepat bagaikan lagu orang gila dan jantung semua orang seakan-akan putus terguncang.

Hian-lan tahu tidak boleh tinggal diam saja tapi harus melakukan serangan belasan. Segera ia angkat tongkat dan menerjang ke arah datangnya suara kecapi itu. Tapi aneh, suara kecapi seperti timbul dari bawah tanah saja, meski Hian-lan sudah mengitari hutan itu, tetap tiada bayangan seorang pun yang dilihatnya. Dan baru saja ia kembali, tahu-tahu suara itu bergema pula di sebelah belakang sana.

Mendadak Hong Po-ok berteriak sekali, kedua tangan merobek baju sendiri, dan sesudah bajunya koyak-koyak, lalu mencakar dada sendiri sambil menjerit, “Korek keluar jantung ini, tahan dia, supaya tidak melonjak-lonjak, tidak boleh melonjak-lonjak!”

Hanya sebentar saja dada sendiri sudah penuh guratan kuku dan darah berceceran.

Cepat Kongya Kian pentang kedua tangan dan menyikap kencang saudara angkatnya itu sambil berseru, “Jangan gopoh, Site, kau harus berusaha mematahkan pengaruh suara kecapi setan itu dan menganggap seperti tidak mendengarnya.”

Tapi karena sedikit terpencar perhatiannya, segera jantung Kongya Kian sendiri terguncang hebat.

Anehnya si orang bersenjata papan catur, si sastrawan tolol, orang berkapak, sastrawan bersenjata boan-koan-pit dan si pemain sandiwara, mereka sedikit pun tidak terpengaruh oleh getaran suara kecapi itu, terang mereka mempunyai cara yang mudah untuk melawan suara itu.

“Lakmoay, kau bagaimana? Marilah duduk di sebelahku saja!” demikian Pau Put-tong teringat kepada A Pik. Ia pikir usia anak dara itu terlalu muda, lwekangnya masih cetek, tentu akan lebih menderita daripada orang lain, maka ia merasa kasihan dan ingin membantunya.

Siapa duga mendadak dilihatnya gadis itu lagi duduk bersila, wajahnya berseri-seri, sama saja seperti orang tidak merasakan sesuatu. Keruan kejut Pau Put-tong lebih hebat, pikirnya, “Wah, celaka, jangan-jangan Lakmoay telah meninggal terpengaruh oleh getaran suara kecapi itu? Biasanya ia suka seni musik, suka memetik kecapi dan menyanyi, kepandaiannya dalam hal ini harus dipuji. Dan orang yang paham seni musik tentu akan lebih tajam pula daya tariknya kepada getaran suara kecapi itu.”

Dalam khawatirnya, dengan menahan getaran jantung sendiri, segera Put-tong berlari mendekati A Pik, selagi hendak memeriksa pernapasan hidung anak dara itu, tiba-tiba terlihat tangan A Pik bisa bergerak perlahan.

Put-tong tambah kaget, “Mengapa orang mati bisa bergerak?” demikian pikirnya.

Ia lihat anak dara itu memasukkan tangan ke dalam baju, lalu mengeluarkan sesuatu, karena keadaan gelap gulita, maka tidak jelas benda apakah yang dikeluarkan A Pik.

Tapi segera terdengar suara “tring-tring” dua kali, suara itu timbul dari depan A Pik. Suara nyaring merdu, terang bunyi semacam alat musik kecil. Dan begitu suara itu lenyap, lamban laun suara kecapi dalam hutan sana yang berirama cepat lantas berubah menjadi lambat.

Waktu alat musik di pangkuan A Pik itu berbunyi lagi dua kali, maka suara kecapi pihak sana menjadi lebih lambat pula.

Sungguh girang Kongya Kian, Hian-lan dan lain-lain tak terkatakan, lebih-lebih Pau Put-tong, ia berjingkrak senang. Mereka sama pikir, “Sungguh tidak nyana nona cilik A Pik ini bisa memiliki kepandaian seperti ini, dapat menggunakan suara musik untuk melawan suara musik musuh, dengan suara perlahan melawan suara keras hingga suara kecapi lawan dapat dipengaruhi.”

Dalam pada itu suara kecapi dalam hutan telah berubah lagi iramanya, tiba-tiba bernada tinggi lalu dibunyikan dalam nada rendah. Begitu pula A Pik lantas membunyikan kecapinya mengikuti irama orang.

Dengan demikian, Hong Po-ok dan para padri Siau-lim-si telah terlepas dari siksaan suara kecapi tadi. Setelah menarik napas dalam-dalam, Po-ok berteriak, “Bangsat itu telah bikin susah kita, ayolah kita terjang dia!”

Habis berkata, segera ia mendahului menyerbu ke dalam hutan sana dengan golok terhunus.

Waktu Kongya Kian memondong Ting Pek-jwan, ia merasa napas sang toako sangat lemah, tapi tidak putus, itulah tanda keracunan hawa berbisa yang disebarkan wanita cantik tadi, namun jiwanya sementara ini tidak beralangan. Hanya dikhawatirkan musuh terlalu lihai, Hong Po-ok sudah keracunan, jangan-jangan akan terjebak musuh lagi, maka sesudah meletakkan Pek-jwan, segera Kongya Kian bersama Pau Put-tong menyusul saudara angkat itu.

Begitu pula para padri Siau-lim-si karena tadi telah tersiksa oleh guncangan suara kecapi, dengan menghunus senjata masing-masing segera mereka pun memburu ke dalam hutan.

Tapi aneh bin ajaib, di tengah hutan ternyata tiada bayangan seorang pun, sebaliknya suara kecapi itu selalu berpindah-pindah, sebentar di timur, lain saat di barat, terkadang seperti di depan sana tahu-tahu sudah di belakang, hingga membikin bingung orang bagai digoda setan iblis.

Cuma suara kecapi itu sekarang sudah lambat dan merdu enak didengar serta tidak membikin guncang jantung pendengarnya, sebaliknya membuat orang merasa segar malah.

Karena tidak ketemukan musuh, dengan gemas Hong Po-ok mencaci maki serabutan, kemudian mereka keluar dari hutan. Sementara itu suara kecapi A Pik telah dapat bergabung dengan suara kecapi pihak lawan hingga terjadi perpaduan suara yang sangat indah.

Kongya Kian dan lain-lain cukup berpengalaman, mereka tahu di dunia persilatan ada segolongan orang yang tinggi lwekangnya dapat menggetar sukma pihak lawan dengan berbagai suara yang aneh, lalu membunuh lawan itu. Walaupun sekarang terdengar suara kecapi A Pik tidak mirip sedang bertempur dengan orang melainkan lebih pantas dikatakan sedang latihan, namun kejadian aneh di dunia Kangouw susah diduga, maka mereka tetap waspada, Pau Put-tong dan Hong Po-ok pun berjaga-jaga di depan anak dara itu. Begitu pula Hian-lan siap berdiri di belakang A Pik untuk membantu bilamana perlu.

Selang sejenak, suara kecapi dalam hutan itu mulai cepat, semula A Pik masih bisa mengikutinya, tapi dalam sekejap saja sudah ketinggalan.

“Hahahaha! Nona cilik, kau berani mengadu kecapi dengan Khim-sian Toako (Kakak Dewa Kecapi) kami, itu namanya kau cari penyakit sendiri,” demikian si sastrawan linglung tadi tiba-tiba bergelak tertawa. “Nah, lekas menyerah kalah saja, mengingat usiamu masih muda, mungkin toako kami akan suka mengampuni jiwamu.”

Kongya Kian dan lain-lain juga sudah mendengar suara kecapi A Pik kalah cepat daripada lawan, juga kalah nyaring dan kalah jelas iramanya, tampaknya pertandingan suara kecapi ini A Pik telah dikalahkan. Maka semua orang saling pandang dengan muram.

Selang sejenak lagi, meski A Pik berusaha sebisanya tetap suara kecapinya tak bisa mengikuti irama kecapi lawan. Mendadak ia petik keras dua kali, lalu berhenti dan berseru dengan tertawa, “Suhu, aku tak sanggup lagi mengikutimu!”

Segera suara kecapi dalam hutan juga berhenti, lalu terdengar suara seorang tua bergelak tertawa dan menyahut, “Dara cilik dapat mencapai tingkatan ini sudah lumayanlah!”

Sungguh girang dan kejut sekali semua orang. Dari tanya-jawab mereka itu, agaknya si pemetik kecapi di hutan itu adalah guru A Pik. Hal ini bukan saja membuat Hian-lan terkejut, bahkan Kongya Kian dan si sastrawan linglung dengan kawan-kawannya juga terheran-heran.

Maka tertampaklah dari dalam hutan muncul seorang tua dengan lengan baju yang longgar, wajah orang tua ini sangat aneh, jidatnya nonong, tulang pipinya menonjol, selalu berseri-seri, tampaknya sangat ramah tamah.

Dan demi tampak orang tua aneh, itu, segera A Pik berseru dengan gembira, “Suhu, baik-baikkah engkau!”

Segera ia pun berlari-lari memapak ke sana.

“Toako!” demikian si sastrawan linglung dan kawan-kawannya juga lantas menyapa.

Orang tua itu menjulurkan kedua tangan ke depan, ia pegang tangan A Pik dan berkata dengan tertawa, “A Pik, wah, sudah begini besar kau sekarang!”

Air muka A Pik menjadi kemerah-merahan, dan belum lagi menjawab, tiba-tiba si orang tua berkata kepada Hian-lan sambil soja, “Padri saleh Siau-lim-si manakah yang berada di sini, barusan Siauloji (orang tua) banyak mengganggu, harap maaf.”

“Lolap Hian-lan adanya,” sahut Hian-lan sambil balas hormat.

“Aha, kiranya Hian-lan Suheng,” kata orang tua itu. “Dan Hian-koh Taysu tentu saudara seperguruanmu bukan? Siauloji dulu sering bertemu dengan beliau dan satu sama lain sangat cocok, keadaan beliau tentu sehat-sehat saja, bukan?”

Tapi dengan muram Hian-lan menjawab, “Hian-koh Suheng telah wafat disergap oleh muridnya yang khianat itu.”

Orang tua itu tampak melengak sekejap, mendadak ia meloncat setinggi beberapa meter ke atas, belum lagi turun kembali ia sudah menangis tergerung-gerung di udara.

Hian-lan dan Kongya Kian terperanjat, sama sekali tak mereka duga bahwa watak orang tua itu ternyata mirip anak kecil saja, sesudah turun ke tanah, orang tua itu lantas duduk sambil membubut-bubuti jenggot sendiri dan kedua kaki mengentak tanah serta sesambatan pula, “O, Hian-koh, kau mau mati, kenapa tidak memberitahukan lebih dulu padaku? Ai, terlalu kau! Untuk selanjutnya laguku ‘Hoan-im-bo-ciau’ (Nyanyian Memuji Buddha) takkan ada yang paham lagi, hanya engkau yang mengatakan bahwa laguku ini berisi jiwa Buddha dan dapat menambah kemajuanmu, maka berulang-ulang engkau ingin mendengarkan. Hian-lan sutemu ini belum tentu memiliki kesadaran setinggi dirimu, kepadanya akan sama saja seperti aku memetik kecapi di depan kerbau! O, nasibku ini memang malang!”

Ketika mendengar orang tua itu menangisi kematian suhengnya, semula Hian-lan mengira tentu dia seorang sahabat yang baik, tapi makin didengar makin tak genah, kiranya yang ditangisi orang tua itu adalah karena merasa kehilangan seorang pendengarnya yang dapat menyelami lagu kecapi yang digubahnya, bahkan akhirnya Hian-lan dianggap sebagai kerbau yang bodoh dan tak dapat memahami seni suara.

Tapi Hian-lan adalah seorang padri saleh, ia tidak marah meski mendengar ucapan yang menyinggung martabatnya itu, hanya tersenyum saja dan berkata dalam hati, “Rombongan mereka ini memang orang sinting semua, susah untuk diajak bicara benar. Lwekang orang tua ini sangat tinggi, tapi wataknya juga angin-anginan kawan-kawannya, dasar!”

Dalam pada itu si orang tua lagi menangis pula. “Hian-koh, wahai, Hian-koh, guna membalas kebaikanmu, dengan susah payah aku telah menggubah sebuah lagu baru untukmu, tapi belum lagi sempat mendengar kau sudah keburu mendaftarkan diri ke akhirat!”

Tiba-tiba ia berpaling kepada Hian-lan dan bertanya, “Di manakah letak kuburan Hian-koh Suheng? Lekas membawa aku ke sana, lekas! Makin cepat makin baik. Setiba di sana, aku akan membawakan lagu gubahanku yang baru ini, boleh jadi sesudah mendengar dia akan hidup kembali!”

“Hendaknya Sicu jangan sembarangan bicara,” sahut Hian-lan. “Sesudah Suheng wafat, sudah tentu beliau telah diabukan!”

Orang tua itu tertegun sejenak, mendadak ia melompat bangun dan berseru, “Bagus! Nah, boleh kau serahkan abu tulangnya padaku, akan kubuat menjadi semen dan kulebur pada kecapiku, dengan demikian dia akan selalu mendengar laguku setiap kali kupetik. Nah, caraku sini sangat bagus, bukan? Hahaha!”

Saking senangnya hingga dia lupa daratan, ia bergelak tertawa sambil bertepuk tangan. Tapi mendadak dilihatnya si wanita cantik tadi menggeletak di sebelah sana, ia berseru kaget, “Hai, Jitmoay, kau kenapa? Siapa yang melukaimu?”

“Suhu,” lekas-lekas A Pik menerangkan, “dalam urusan ini telah terjadi sedikit salah paham, syukurlah sekarang Suhu sudah datang, tentu segala sesuatu dapat dibicarakan dengan baik.”

“Salah paham apa? Siapa yang salah paham?” demikian orang tua itu menegas. “Pendek kata, orang yang mencelakai Jitmoay pasti bukan orang baik. Wah, kiranya Patte juga terluka, dan orang yang melukai Patte tentu juga bukan manusia baik-baik. Ayo, siapa itu yang bukan manusia baik-baik, lekas laporkan diri untuk diambil tindakan yang adil. A Pik, coba pergi ke atas pohon sana untuk mengambilkan alat tetabuhanku.”

A Pik mengiakan terus berlari ke tengah hutan tadi. Dari jauh semua orang dapat melihat bayangan A Pik melompat dari satu pohon ke lain pohon, setelah turun ke tanah, lalu melompat lagi ke atas pohon yang lain.

Baru sekarang Hian-lan, Kongya Kian dan lain-lain paham duduknya perkara. Kiranya orang tua itu telah menaruh beberapa buah kecapi di atas pohon, lalu dipetiknya dari jauh dengan tenaga dalam yang kuat, sebab itulah suara harpa tadi bisa mendadak di timur, lalu di barat, tiba-tiba di depan, tahu-tahu di belakang lagi hingga membingungkan mereka yang mencarinya.

Cuma kalau melihat cara A Pik naik-turun pohon itu, jarak di antara pohon-pohon itu sedikitnya ada belasan meter jauhnya, masakah lwekang si orang tua sudah sedemikian tingginya hingga dapat mencapai jarak sejauh itu? Apalagi mesti memetik kecapi menurut irama tertentu sungguh kepandaian sehebat ini sukar untuk dibayangkan.

Dalam pada itu kelihatan A Pik sudah berlari kembali dengan membawa beberapa buah harpa. Sampai di tengah jalan, mendadak gadis itu tergeliat dan jatuh tersungkur.

Keruan si orang tua penabuh harpa, Kongya Kian dan lain-lain terkejut. Cepat Kongya Kian berlari mendekati A Pik. Tapi mendadak di sebelahnya angin berkesiur, si orang tua sudah mendahului melayang ke depan dan A Pik lantas dipondongnya dengan kedua tangan.

Diam-diam Kongya Kian memuji kehebatan ginkang orang tua itu. Ketika ia susul sampai di depan mereka, ia lihat wajah A Pik merah segar, malahan mengulum senyum, maka hilanglah rasa khawatirnya. Katanya menggoda, “Lakmoay, jangan sok manja pada gurumu. Ai, aku benar-benar kaget barusan.”

A Pik ternyata tidak menjawab, sekonyong-konyong ada beberapa tetes air menjatuhi muka A Pik yang ayu itu. Kongya Kian tercengang, waktu ia perhatikan, tiba-tiba dilihatnya wajah si orang tua muram sedih dan air matanya bercucuran. Sudah tentu ia heran, katanya, “Kembali penyakit gila kakek ini angot lagi?”

Tapi si kakek mendadak melotot sekali kepada Kongya Kian sambil membisiki, “Jangan bersuara!”

Lalu ia pondong A Pik dan sepat melangkah ke arah rumah.

“Lakmoay, kenapa kau....” baru sekian ucapan Hong Po-ok yang sementara itu telah memapak, tiba-tiba si kakek memotong ucapannya, “Ssst, jangan bersuara! Bencana tiba, bencana tiba!”

Lalu ia celingukan kian-kemari seperti maling khawatir kepergok, air mukanya tampak penuh rasa khawatir, kemudian ia berkata pula, “Wah, tidak keburu lari lagi! Ayo, lekas masuk ke dalam rumah!”

Dasar Pau Put-tong memang paling suka menyanggah setiap kehendak orang lain, demi mendengar ucapan orang tua itu sampai gemetar suaranya, segera ia berteriak, “Bencana apa? Apakah langit akan ambruk?”

“Lekas, lekas masuk ke dalam sana!” seru orang tua itu.

“Mau masuk, silakan! Aku orang she Pau masih ingin makan angin di sini, Lakmoay....” baru sekian Pau Put-tong menjawab, mendadak orang tua yang memondong A Pik itu menjulurkan sebelah tangannya dan kontan hiat-to di dada Pau Put-tong kena dijambretnya.

Saking cepat serangan si orang tua hingga sedikit pun Pau Put-tong tak bisa berkelit dan tahu-tahu tak bisa berkutik lagi, ia merasa tubuh sendiri terangkat ke atas, kaki terapung di atas tanah, tanpa kuasa ia dicangking masuk ke dalam rumah oleh si orang tua.

Keruan Hian-lan dan Kongya Kian sangat terperanjat. Selagi mereka hendak bicara, namun si orang bersenjata papan catur tadi sudah berkata, “Toasuhu, lekas kita masuk ke dalam rumah, ada seorang iblis raksasa mahalihai sebentar lagi akan datang!”

Ilmu silat Hian-lan sendiri jarang ada tandingannya di dunia persilatan, sudah tentu ia tidak takut kepada segala iblis besar atau kecil. Segera ia tanya, “Iblis raksasa siapa? Apakah Kiau Hong?”

“Bukan, bukan! Jauh lebih lihai daripada Kiau Hong,” sahut orang itu sambil menggeleng kepala. “Ialah Sing-siok Lokoay.”

“Hah, Sing-siok Lokoay?” Hian-lan menegas dengan kaget. “Itulah kebetulan, memang Lolap hendak mencari dia.”

“Ilmu silatmu tinggi, sudah tentu tidak takut padanya,” kata orang itu. “Tapi kalau semua orang yang berada di sini terbunuh dan tinggal kau sendiri yang hidup, wah, engkau ini sungguh seorang welas asih!”

Sindiran terakhir ini ternyata sangat manjur, sebab Hian-lan lantas tercengang, ia pikir ucapan orang memang betul juga, maka katanya, “Baiklah, mari kita masuk semua!”

Dan pada saat itu juga Suhu A Pik setelah meletakkan anak dara itu dan Pau Put-tong di dalam rumah, ia lari keluar lagi sambil mendesak berulang-ulang, “Ayo, lekas, lekas! Tunggu apa lagi!”

Ia lihat di antara orang-orang itu yang paling bandel adalah Hong Po-ok, orangnya petantang-petenteng tak mau menurut, langsung ia tampar mukanya. Meski Po-ok sangat gemar berkelahi dan cekatan pula, tapi sama sekali tak terduga olehnya bahwa guru sang lakmoay tidak segan-segan melabrak dia, sedangkan waktu itu racun dingin dalam tubuhnya terasa akan kumat lagi, maka ketika serangan si orang tua tiba, sedapatnya ia menunduk untuk menghindari. Siapa tahu tangan si orang tua mendadak diturunkan juga hingga tengkuk Hong Po-ok cepat kena dicengkeram.

“Lekas, lekas masuk sana!” demikian seru si orang tua pula. Dan seperti elang mencengkeram anak ayam, Po-ok terus dicangking masuk ke dalam rumah.

Keruan Kongya Kian merasa kehilangan muka, dua orang saudara angkatnya hanya sekali gebrak saja sudah kena dibikin tak berkutik oleh si kakek, meski kakek itu adalah guru A Pik dan tak bisa dikatakan orang luar, tapi betapa gagah dan terkenalnya nama Koh-soh Buyung, masakah anak buah Buyung-kongcu sedemikian tak becus dan terjungkal habis-habisan di hadapan para padri Siau-lim-si.

Hian-lan dapat melihat sikap Kongya Kian yang lesu itu dan dapat pula menerka perasaannya. Ia lihat si orang tua aneh membekuk Pau Put-tong dan Hong Po-ok dengan cara yang sangat cepat sekali, tapi toh begitu ketakutan terhadap Sing-siok Lokoay, hal ini menandakan bahwa gembong iblis itu memang tidak boleh dipandang remeh. Maka katanya segera, “Kongya-sicu, lebih baik masuk saja ke dalam, nanti kita rundingkan lebih jauh lagi.”

Maka para padri Siau-lim-si lantas menggotong jenazah Hian-thong, Kongya Kian pun memondong Ting Pek-jwan dan beramai-ramai masuk ke dalam rumah dengan cepat.

Saat itu guru A Pik sudah keluar lagi untuk mendesak, melihat semua orang sudah masuk rumah, segera ia tutup pintu rapat-rapat dan mestinya akan dipalang sekalian, tapi si orang bersenjata papan catur tadi telah mencegahnya, “Toako, pintu ini lebih baik dibiarkan terbuka saja. Dengan demikian tentu dia akan ragu dan tidak berani sembarangan menerjang masuk.”

“O, begitukah kiranya? Baiklah, kuturut saranmu!” sahut si kakek, namun nadanya jelas meragukan hasilnya.

Sungguh Hian-lan dan Kongya Kian tidak habis heran, ilmu silat si kakek sudah terang sangat tinggi, mengapa menghadapi musuh yang belum kelihatan sudah sedemikian gugupnya? Padahal soal pintu itu ditutup atau tidak apa artinya bagi Sing-siok Lokoay yang mahasakti itu? Mereka menduga kakek ini dahulu pasti pernah mengalami siksaan hebat dari Sing-siok Lokoay hingga sekarang ia kapok benar-benar terhadap iblis itu, makanya begitu mencium bau lantas ketakutan setengah mati.

Begitulah terdengar si kakek berulang-ulang mendesak kawannya si tukang kayu, “Lakte, lekas cari jalan, lekas mencari akal!”

Betapa pun sabarnya Hian-lan, akhirnya menjadi dongkol juga melihat kelakuan si kakek yang penakut itu. Segera katanya, “Lotiang (bapak), andaikan Sing-siok Lokoay itu memang mahajahat dan lihai, kalau kita mau bersatu untuk melawannya juga belum tentu akan kalah, mengapa mesti... mesti begitu hati-hati?”

Sebenarnya ia hendak mengatakan “kenapa mesti ketakutan”, tapi ia khawatir menyinggung perasaan orang hingga kalimat itu digantinya sebelum terucapkan.

Sementara itu di ruangan situ sudah dinyalakan api lilin, di bawah cahaya lilin Hian-lan melihat bukan saja si kakek tadi tampak khawatir bahkan si orang bersenjata papan catur, kedua susing dan lain-lain juga kelihatan sangat takut. Padahal tadi telah disaksikannya ilmu silat orang-orang itu cukup tinggi, apalagi sifat mereka itu semuanya seperti orang sinting, segala urusan dianggap seperti permainan saja, siapa duga kini begitu ketakutan dan berubah menjadi pengecut, sungguh susah untuk dimengerti.

Dalam pada itu si tukang kayu yang diminta mencari akal itu hanya mengangguk saja, lalu ia keluarkan sebuah meteran, ia mengukur-ukur di sudut ruangan, lantas geleng-geleng kepala. Kemudian ia bawa cektay (tatakan lilin) dan menuju ke belakang. Semua orang lantas mengikut di belakangnya.

Sepanjang jalan tukang kayu itu meneliti kian-kemari dan ukur sini dan ukur sana, tapi hasilnya selalu geleng-geleng kepala. Setiba di ruangan dalam, mendadak ia meloncat ke atas dan mengukur belandar rumah, kembali ia geleng-geleng kepala pula dan turun kembali serta melanjutkan ke ruangan lebih belakang lagi.

Setiba di ruangan layon, ia teliti beberapa kali di sekitar peti mati Sih-sin-ih yang kosong itu lalu geleng-geleng kepala pula dan berkata, “Sayang, sayang!”

“Bagaimana? Apa tak berguna?” tanya si kakek penabuh kecapi.

“Ya, tentu akan diketahui Susiok,” sahut si tukang kayu.

“Masih kau panggil dia sebagai... sebagai susiok?” seru si kakek dengan gusar.

Si tukang kayu hanya menggeleng kepala saja lalu berjalan pula ke belakang.

“Selain menggeleng kepala, rupanya orang ini tidak becus apa-apa lagi,” demikian pikir Kongya Kian.

Sepanjang jalan si tukang kayu itu masih terus ukur sini dan ukur sana sambil menghitung-hitung setiap langkah, lagaknya persis seorang arsitek, seorang pemborong lagi merancang bangunan yang akan didirikannya. Dan akhirnya sampailah di tengah taman di belakang rumah.

Sambil memegang tatakan lilin si tukang kayu merenung sejenak, tiba-tiba ia mendekati sederetan lumpang batu yang berjumlah lima buah banyaknya, ia pikir pula sebentar, lalu taruh tatakan lilin di tanah, jalan ke sisi kiri ke samping lumpang batu yang kedua, ia raup beberapa tangkup pasir dan dimasukkan ke dalam lumpang itu, lalu ia angkat sebuah alu batu bertangkai yang terletak di samping lumpang dan mulai ia menumbuk, maka terdengarlah suara “blang-blung” yang keras.

Diam-diam Kongya Kian mengurut dada, pikirnya, “Sialan benar! Dasar orang gila semua, dalam keadaan begini dia masih bisa iseng main tumbuk padi segala. Kalau yang ditumbuk memang padi sih dapat dimengerti, tapi dalam lumpang itu sudah terang cuma pasir belaka, memangnya dia akan makan pasir? Sungguh sialan!”

Syukurlah ia lihat sang toako, yaitu Ting Pek-jwan, keadaannya baik-baik saja, meski tak sadarkan diri, tapi seperti orang tertidur karena mabuk arak dan tiada tanda bahaya.

Dalam pada itu suara “blang-blung-blang-blung” masih terdengar terus, sesudah belasan kali si tukang kayu menumbuk lumpang batu itu, sekonyong-konyong sejauh belasan meter di pojok taman sebelah timur sana terdengar mengeluarkan suara keriang-keriut.

Suara keriang-keriut itu sangat perlahan, tapi betapa tajam telinga Hian-lan dan Kongya Kian sedikit mendengar sesuatu suara yang mencurigakan, segera pandangan mereka beralih ke arah sana. Maka tertampaklah dari arah yang bersuara keriang-keriut itu tumbuh empat batang pohon besar secara berjajar.

Sedangkan suara “blang-blung” masih terus berbunyi karena si tukang kayu tiada hentinya menumbuk lumpang batu itu. Aneh juga, pohon kedua di sebelah timur itu tiba-tiba bisa bergeser memisahkan diri dengan perlahan.

Selang sejenak pula, kini semua orang dapat melihatnya dengan jelas bahwa setiap kali alu di tangan si tukang kayu itu menumbuk lumpang, maka pohon itu lantas bergeser sedikit ke samping.

Mendadak si kakek berjidat nonong itu berseru girang, terus saja ia berlari ke pohon itu, katanya dengan suara perlahan, “Ya, benar, inilah dia!”

Waktu semua orang ikut mendekat, maka tertampaklah tempat pohon bergeser itu kelihatan sepotong papan batu yang besar, di atas papan batu itu terpasang sebuah gelang besi.

Kejut, kagum, dan malu pula Kongya Kian. Katanya dalam hati, “Alat rahasia di bawah tanah ini teratur dengan sangat bagus hingga susah dibayangkan oleh siapa pun juga. Tapi si tukang kayu berkapak ini dalam waktu singkat saja dapat menemukan tempat rahasia ini, betapa pintar dan cerdiknya sungguh tidak di bawah pembuat alat rahasia ini.”

Dan sesudah menumbuk lagi belasan kali, papan besar itu kelihatan seluruhnya. Segera si kakek aneh memegang gelang besi itu dan menariknya, tapi tidak bergerak sedikit pun. Selagi ia hendak menarik lebih kuat lagi, tiba-tiba si tukang kayu berseru, “Nanti dulu, Toako!”

Mendadak ia lompat ke atas lumpang batu ujung kanan sana, ia buka celana terus membuang air sambil berseru, “Ayo, semuanya ke sini, kencinglah beramai-ramai!”

Semula si kakek melengak, tapi segera ia lepaskan gelang besi itu dan memburu ke tempat kawannya. Seketika si orang bersenjata papan catur, kedua susing, ditambah si kakek nonong dan si tukang kayu sendiri beramai-ramai mereka membuang air kecil ke dalam lumpang batu.

Dalam suasana lain mungkin Kongya Kian dan lain-lain akan merasa geli atas tingkah laku orang-orang sinting itu. Tapi hanya sebentar saja semua orang lantas mengendus bau belerang, bau obat pasang. Lalu terdengar si tukang kayu berseru, “Cukuplah sudah, tak berbahaya lagi!”

Kalau kawan-kawannya lantas berhenti kencing, hanya si kakek nonong belum mau sudah, air seninya masih terus mancur bagaikan air leding, bahkan mulutnya ikut mengomel pula, “Sayang, kembali kurusak sebuah perangkap rahasia lagi! Eh, Lakte, untung kau keburu mencegah kalau tidak, wah, tentu sekarang kita sudah menjadi perkedel semua!”

Setelah mencium bau belerang itu, maka Kongya Kian dan lain-lain merasa ngeri juga. Mereka insaf dalam saat sesingkat itu mereka telah lolos dari lubang jarum dan nyaris hancur.

Nyata di bawah gelang besi yang ditarik-tarik si kakek itu tergandeng kabel obat pasang, sekali gelang besi itu terangkat hingga meledak dinamit yang sudah dipendam di situ, maka pasti hancur lebur mereka. Untung si tukang kayu sangat cerdik dan cepat mengajak kawan-kawannya mengencingi sumbu dinamit itu hingga basah, dengan demikian barulah mereka terbebas dari bencana.

Kemudian si tukang layu memutar sekuatnya lumpang ujung kanan itu tiga kali, lalu ia menengadah dan berkomat-kamit entah menghafalkan apa, sesudah berpikir sejenak segera lumpang itu diputar lagi ke arah yang berlawanan, maka terdengarlah suara berkeriut perlahan, tahu-tahu papan batu tadi tertarik masuk ke bawah tanah hingga berwujudlah sebuah lubang.

Sekali ini si kakek nonong tidak berani sembrono lagi, ia memberi tanda agar si tukang kayu berjalan di depan.

Namun si tukang kayu diam saja dan tiba-tiba berjongkok untuk memeriksa lumpang batu pojok kiri. Pada saat lain sekonyong-konyong dari bawah tanah terdengar suara orang memaki, “Sing-siok Lokoay, kakek moyangmu ya! Kau jahanam keparat, haram jadah! Bagus, bagus, akhirnya dapat kau temukan aku. Baiklah, anggaplah kau memang lihai. Kejahatanmu sudah kelewat takaran, pada suatu hari pasti akan kau terima ganjaranmu! Nah, masuklah sini, masuklah untuk membunuh aku!”

Suatu itu dikenal betul Hian-lan adalah suara Sih-sin-ih. Keruan ia sangat girang.

Tapi si kakek nonong tadi lantas berseru, “Gote, akulah adanya! Kami sudah datang dengan komplet!”

Suara di dalam lubang itu berhenti sejenak lalu berseru, “He, apa betul di situ Toako adanya?”

“Ya,” sahut si kakek. “Kalau tiada Lakte, masakah kami mampu membuka kulit kura-kuramu yang keras ini!”

Sekejap kemudian, “siut” mendadak dari bawah tanah menongol keluar seorang, siapa lagi dia kalau bukan Sih-sin-ih? Rupanya ia tidak menduga bahwa selain si kakek nonong dan kawan-kawannya masih terdapat pula Hian-lan dan banyak lagi, maka ia kelihatan tercengang.

Buru-buru si kakek nonong berkata, “Sementara ini tidak sempat buat bicara, ayolah lekas menyusup masuk lagi, bawa serta Jitmoay dan muridku untuk diberi obat. Apa tempat di bawah dapat memuat orang sebanyak ini?”

“Eh, Taysu, engkau juga berada di sini? Beberapa orang ini apa juga kawan sendiri?” segera Sih-sin-ih menyapa Hian-lan.

Untuk sejenak Hian-lan ragu, tapi akhirnya menjawab juga, “Ya, semuanya kawan sendiri!”

Sebenarnya pihak Siau-lim-si sudah anggap Hian-pi Taysu ditewaskan oleh Koh-soh Buyung-si maka orang she Buyung itu dipandang sebagai musuh terbesar. Tapi sekali ini mereka telah mohon obat bersama ke tempat Sih-sin-ih ini, sepanjang jalan Pek-jwan dan Kongya Kian telah memberi penjelasan bahwa sekali-kali Hian-pi Siansu bukan dibunuh oleh Buyung-kongcu, untuk ini Hian-lan sudah percaya sebagian besar, apalagi mereka lalu menghadapi musuh bersama dan senasib seperjuangan, maka sekarang ia pun tidak sangsi lagi untuk mengaku rombongan Kongya Kian sebagai kawan.

Mendengar jawaban Hian-lan itu, Kongya Kian juga balas mengangguk kepada padri itu sebagai tanda terima kasih yang tak terucapkan.

Dalam pada itu Sih-sin-ih telah menyahut pertanyaan si kakek tadi, “Di bawah sana cukup luas, tiga kali jumlah ini juga dapat muat, ayolah masuk semua ke bawah. Silakan Hian-lan Taysu lebih dulu!”

Walaupun begitu katanya, tidak urung ia mendahului menyusup ke bawah. Ia cukup tahu peraturan Kangouw, di tempat yang gelap gulita penuh rahasia itu betapa pun orang tentu merasa sangsi, jika ia sendiri mendahului di depan barulah akan menghindarkan rasa sangsi orang lain.

Dan sesudah Sih-sin-ih menyusup ke bawah, Hian-lan juga tidak sungkan-sungkan lagi, segera ia pun menyusul masuk ke dalam, lalu diikuti yang lain, jenazah Hian-thong juga digotong masuk.

Waktu Sih-sin-ih putar tombol alat rahasia itu maka papan batu besar tadi lantas mumbul ke atas hingga tertutup dengan rapat. Ketika tombol diputar lagi, pohon yang menggeser minggir tadi lantas kembali juga di atas papan batu.

Di dalam situ adalah sebuah lorong batu, semua orang harus berjalan dengan setengah berjongkok. Tak lama kemudian, jalan lorong itu makin naik ke atas, kiranya mereka berada di dalam sebuah terowongan alam yang panjang.

Setelah berjalan puluhan meter jauhnya, akhirnya mereka sampai di suatu gua yang amat luas. Di pojok gua tertampak berkumpul belasan orang, ada tua-muda, laki-perempuan dan anak-anak. Ketika mendengar suara tindakan orang, maka orang-orang itu sama menoleh.

“Mereka ini anggota keluargaku,” tutur Sih-sin-ih. “Dalam keadaan bahaya, tidak sempat untuk diperkenalkan satu per satu. Nah, Toako, Jiko, ceritakanlah cara bagaimana kalian bisa sampai di sini.”

Sebagai seorang tabib ulung, tanpa menunggu jawaban si kakek nonong ia lantas memeriksa keadaan yang terluka. Yang pertama diperiksa adalah Hian-thong.

“Taysu ini wafat dengan sempurna, sungguh harus dibuat girang dan diberi selamat,” katanya kemudian. Dan setelah memeriksa Ting Pek-jwan ia berkata dengan tersenyum, “Serbuk bunga Jitmoay kami hanya membuat orang mabuk saja, sebentar lagi dia akan sadar sendiri dan tak berbahaya.”

Sedangkan luka si wanita cantik dan si pemain sandiwara adalah luka luar, hal ini bagi Sih-sin-ih sudah tentu dianggap perkara kecil saja.

Ketika giliran A Pik diperiksa, sekonyong-konyong Sih-sin-ih berseru, “Hah, Sing-siok... Sing-siok Lokoay benar-benar sudah datang. Wah... racunnya ini aku tidak sanggup menyembuhkannya.”

“Wah, lantas bagaimana baiknya? Harap tabib sakti suka menolongnya sedapat mungkin,” seru Kongya Kian dengan khawatir.

“Uwaaaahh!” tiba-tiba di sebelah sana si kakek nonong menangis seperti anak kecil.

“Toako,” kata Ceng-cu, “‘Manusia zaman purba tidak kenal kegembiraan hidup, dan tidak kenal sedih kalau mati’. Sekarang muridmu terkena racun Susiok jahanam kita itu, jika tak bisa disembuhkan, ya, sudahlah, buat apa mesti menangis segala?” demikian si sastrawan linglung ikut berkata.

“Tapi sudah delapan tahun muridku yang baik ini berpisah dengan aku dan baru saja kami berjumpa kembali, jika dia mati tentu saja aku sedih,” demikian sahut si kakek dengan marah-marah. “O, A Pik, kau tidak boleh mati, seribu kali tidak boleh mati.”

Ketika Kongya Kian, Pau Put-tong dan lain-lain memandang A Pik, tertampak air maka anak dara itu bertambah merah hingga makin cantik menyenangkan. Tapi darah di bawah kakinya seakan-akan merembes keluar.

“Sih-sin-ih, keracunan apakah adik kami ini?” tanya Kongya Kian.

Mendadak si sastrawan linglung menyela, “Nona cilik ini adalah murid Toako kami dan aku terhitung susioknya. Sedang kau adalah saudara angkat si nona cilik, kalau diurutkan terang kau lebih rendah satu angkatan daripada kami. Kata Khonghucu, ‘Sebutan yang tepat harus ditaati’!”

“Pantasnya kau mesti panggil aku sebagai susiok dan juga tidak boleh memanggil Sih-sin-ih secara sembarangan melainkan harus menyebut Sih-susiok, tahu?”

Sementara itu Sih-sin-ih duga sudah memeriksa nadi Pau Put-tong dan Hong Po-ok, sudah diperiksanya pula lidah kedua orang. Lalu memejamkan mata dan memeras otak. Orang lain tidak berani mengganggu renungannya dan tiada seorang pun memedulikan tangisan si kakek dan ocehan si sastrawan linglung yang sok nabi itu.

Selang tak lama, tiba-tiba Sih-sin-ih menggeleng-geleng kepala, katanya, “Aneh, aneh sekali! Siapa orang yang melukai kedua saudara ini?”

“Seorang pemuda berkerudung besi,” tutur Kongya Kian.

“Pemuda? Ah, mustahil masih muda?” kata Sih-sin-ih pula. “Ilmu silat orang ini meliputi golongan cing dan sia yang hebat. Lwekangnya tinggi, sedikitnya sudah melatih diri selama 30 tahun, mana bisa seorang muda?”

“Orang itu pernah menyelundup ke Siau-lim-si dan sama sekali kami tidak mengetahui, sungguh kami harus merasa malu,” ujar Hian-lan.

“Ai, memalukan juga, tentang racun yang mengeram di tubuh kedua saudara ini aku pun tak bisa berbuat apa-apa, sungguh menyesal, gelaran ‘sin-ih’ untuk selanjutnya aku tidak berani terima lagi,” demikian kata Sih-sin-ih akhirnya.

“Sih-siansing, jika begitu, biarlah kami mohon pamit saja,” tiba-tiba suara seorang lantang berseru.

Kiranya Ting Pek-jwan adanya. Dia jatuh pingsan karena ditaburi serbuk bunga si wanita cantik, tapi dasar lwekangnya teramat tinggi, kini sudah siuman kembali.

“Ya, benar!” segera Pau Put-tong menanggapi sang toako. “Buat apa main sembunyi di liang ini? Mati-hidup seorang laki-laki sejati sudah ditakdirkan Ilahi, mana boleh meniru sebangsa kura-kura dan celurut, selalu mengeram di dalam liang saja?”

“Huh, besar amat mulut Sicu ini!” jengek Sih-sin-ih. “Apakah kau tahu siapakah gerangan yang akan datang itu?”

“Sudah tentu kami tahu!” mendadak Po-ok menimbrung. “Kalian takut kepada Sing-siok Lokoay, tidak nanti aku pun takut. Percuma saja kalian sebagai jago silat, sekali mendengar nama Sing-siok Lokoay lantas ketakutan setengah mati seperti ini!”

Di lain pihak si kakek nonong sedang meraba-raba bahu A Pik dengan perlahan, katanya sambil menangis, “A Pik! O, A Pik! Orang yang membunuhmu adalah kau punya susiokco, Suhu sendiri tidak mampu membalaskan sakit hatimu lagi.”

Mendengar orang-orang sinting itu semuanya menyebut Sing-siok Lokoay sebagai susiok (paman guru), diam-diam Kongya Kian sangat heran. Pikirnya, “Sebelum tinggal pergi harus kuselidiki dulu seluk-beluk orang-orang ini, agar ada suatu patokan dalam usaha menolong Lakmoay nanti.”

Karena pikiran segera ia bertanya, “Berulang-ulang kalian menyebut Sing-siok Lokoay sebagai susiok, lalu sebenarnya kalian ini orang dari aliran mana?”

Walaupun sudah beberapa tahun mengabdi kepada Buyung-kongcu dan mengangkat saudara dengan Ting Pek-jwan dan Kongya Kian berempat ditambah pula A Cu, tentang asal-usul anak dara itu, selama ini tidak pernah ditanyakan.

Maka Hian-lan lantas menyokong, “Ya, benar, apa yang kulihat dan dengar hari ini banyak sekali yang membingungkan, memang Lolap ingin minta keterangan kepada Sih-heng sekalian.”

“Kami berdelapan saudara seperguruan dan berjuluk ‘Yu-kok-pat-yu’ (Delapan Sekawan dari Lembah Sunyi),” demikian Sih-sin-ih mulai menutur. Lalu ia tunjuk si kakek nonong penabuh kecapi dan berkata, “Dia ini toasuko kami. Aku sendiri adalah longo (kelima). Cerita tentang kami ini teramat panjang, rasanya juga tidak perlu diketahui orang luar....”

Baru sekian dia bicara, terdengar suara seorang yang halus tajam sedang berseru, “Sih Boh-hoa, kenapa kau tidak keluar menemui aku? Kheng Kong-leng, kenapa kau tidak memetik kecapi?”

Suara itu halus sekali, tapi sekata demi sekata dapat didengar dengan jelas oleh semua orang yang berada di dalam gua, suara itu seakan-akan dapat menyusup melalui permukaan tanah yang tebal dan tersiar ke dalam telinga setiap orang melalui terowongan di bawah tanah yang berliku-liku itu.

Mendengar itu, si kakek nonong berseru kaget sambil melonjak bangun, serunya, “Itu dia Sing-siok Lokoay!”

Segera Hong Po-ok juga melompat bangun, teriaknya, “Toako, Jiko, marilah kita keluar untuk menempurnya mati-matian!”

“Jangan, jangan!” si kakek mencegah. “Sekali kalian keluar pasti jiwa kalian akan melayang percuma. Ini sih tidak menjadi soal, tapi akibatnya tempat rahasia di bawah tanah ini akan ketahuan musuh dan jiwa berpuluh orang di sini juga akan ikut berkorban karena kecerobohanmu ini!”

“Jika suaranya mampu berkumandang sampai di sini, masakah dia tidak tahu tempat sembunyi kita ini?” ujar Pau Put-tong. “Kukira, biar kau sembunyi seperti kura-kura mengkeret juga akhirnya akan diketemukan dia.”

“Dalam waktu sejam dua jam belum tentu ia mampu masuk ke sini,” ujar si kakek. “Marilah lebih baik kita merundingkan suatu cara yang untuk menyelamatkan diri.”

Orang yang membawa kapak dan berdandan sebagai ahli pertukangan itu sejak masuk dalam gua itu hanya diam saja, kini tiba-tiba menceletuk, “Meski kepandaian Susiok sangat tinggi, tapi untuk bisa memecahkan rahasia gua di bawah tanah ini paling sedikit diperlukan dua jam lamanya. Dan untuk mendapatkan cara agar bisa menyerbu masuk kemari, paling sedikit diperlukan pula dua jam lagi.”

“Jika begitu, jadi kita ada tempo untuk berunding selama empat jam, begitu bukan?” kata si kakek.

“Empat setengah jam,” sahut si tukang kayu.

“Lho, dari mana lagi datangnya setengah jam itu?” tanya si kakek.

“Dalam waktu empat jam ini, aku dapat mengatur tiga perangkap rahasia untuk merintangi serbuannya selama setengah jam,” sahut si tukang.

“Ehm, bagus!” kata si kakek. “Hian-lan Taysu, sebentar kalau berhadapan dengan iblis besar itu kami sudah terang sukar lolos dari tangannya. Tapi kalian adalah orang luar, begitu ketemu tentu iblis itu mencurahkan perhatiannya untuk menghadapi kami, dan kalian menjadi ada kesempatan untuk melarikan diri. Hendaklah kalian jangan sok kesatria dan menantang dia. Perlu diketahui bahwa selama ini barang siapa mampu lolos di bawah tangan Sing-siok Lokoay dengan selamat, maka orang itu terhitung seorang kesatria gagah perkasa.”

“Ai, baunya, bacin benar bau ini,” mendadak Pau Put-tong berteriak.

Semua orang melengak, segera mereka mengendus-endus dengan hidung, tapi tak tercium sesuatu bau apa-apa, maka dengan wajah penuh tanda tanya semua orang berpaling kepada Pau Put-tong.

“Bukan gas racun, tapi orang ini baru saja kentut, wah, baunya tak tahan,” kata Pau Put-tong sambil menuding si kakek nonong dan tangan yang lain tetap mendekap hidung.

Tadi hanya sekali gebrak saja Pau Put-tong kena dibekuk orang tua itu, maka sampai sekarang ia masih penasaran. Dasar jiwanya memang gagah berani, tidak takut langit, tidak gentar bumi, biar tahu kepandaian sendiri bukan tandingan lawan juga tidak mau menyerah, maka ia masih terus mencaci maki.

Orang yang bersenjata papan catur melotot sekali pada Pau Put-tong, lalu mengejek, “Huh, untuk lolos dari tangan Toasuheng kami saja kau tidak mampu, apalagi ilmu silat susiok kami itu berpuluh kali lebih lihai daripada Toasuheng. Nah, katakanlah, siapakah sebenarnya yang kentut?”

Diam-diam Ting Pek-jwan berpikir, “Apa yang dikatakan orang-orang ini cukup beralasan juga. Kalau Pau-samte cekcok terus dengan mereka hanya akan membuang waktu saja.”

Maka ia lantas buka suara, “Tentang asal-usul kalian sama sekali kami tidak tahu, tadi telah terjadi salah paham hingga salah melukai nyonya ini, sungguh aku sangat menyesal dan sukalah dimaafkan. Jika sekarang kita harus bersatu untuk melawan musuh, maka kita terhitung orang sendiri. Sebentar bila musuh tiba, meski anak buah Koh-soh Buyung tidak becus juga tidak nanti melarikan diri. Dan kalau betul kita tak dapat melawan musuh, biarlah kita gugur bersama saja di sini.”

“Hui-keng, Hui-si.” demikian Hian-lan lantas memberi pesan kepada dua padri Siau-lim-si, “Ginkang kalian lebih tinggi, sebentar kalian harus mencari kesempatan untuk meloloskan diri dari pulang ke biara untuk memberi lapor kepada Hongtiang Supek. Celakalah kalau kita ditumpas habis oleh musuh hingga berita kematian kita tak diketahui para kawan.”

“Kami akan melaksanakan titah Supek dengan baik,” sahut Hui-keng dan Hui-si sambil memberi hormat.

Mendengar ucapan Ting Pek-jwan dan Hian-lan itu tahulah Sih-sin-ih bahwa mereka sudah bertekad akan gugur bersama dengan orang banyak untuk menghadapi musuh. Sebabnya Hui-keng dan Hui-si disuruh mencari kesempatan untuk meloloskan diri tentu agar supaya Siau-lim-si mengetahui siapakah musuh mereka dan kelak dapat menuntut balas.

Si kakek nonong tampak termangu-mangu sejenak, tiba-tiba ia bertepuk tangan sambil tertawa, katanya, “Memangnya semua orang akan mati, A Pik yang keracunan ini paling-paling juga mati saja kenapa aku mesti berduka segala? Ai, ada orang bilang aku Kheng Kong-leng adalah orang tolol, untuk mana aku tidak dapat terima. Tapi tampaknya sekarang aku memang tolol, andaikan bukan si tolol besar tentu juga si tolol kecil.”

“Memangnya siapa bilang kau pintar?” timbrung Pau Put-tong. “Kau memang orang tolol mahabesar, seorang goblok tulen!”

“Kan tidak lebih tolol daripadamu,” sahut si kakek yang bernama Kheng Kong-leng itu dengan marah.

“Tentu saja lebih tolol, kau lebih tolol sepuluh kali daripadaku,” sahut Put-tong.

“Kau lebih tolol seratus kali daripadaku!” teriak si kakek dengan ganas.

“Dan kau lebih tolol seribu kali daripadaku!” Put-tong juga ngotot.

“Sudahlah, sudahlah! Buat apa kalian ribut urusan yang tak berguna,” sela si Tabib Sakti Sih Boh-hoa. “Bahwasanya bila nanti Hui-keng dan Hui-si kedua Taysu pulang lapor ke Siau-lim-si dan kalian ditanya Hongtiang Taysu, mungkin kalian tak bisa memberi keterangan yang jelas, maka biarlah kuceritakan sedikit.”

“Sebenarnya urusan ini adalah rahasia perguruan kami dan tidak perlu diketahui orang luar, tapi demi untuk membasmi racun dunia persilatan yang terkutuk ini, bila padri sakti Siau-lim-si tidak ikut dalam usaha ini tentu akan sukar dilaksanakan. Sekarang akan kuceritakan seluk-beluk urusan kami ini, cuma diharap dengan hormat agar kalian jangan lagi membocorkan hal ini kepada orang luar selain memberi laporan kepada Hongtiang kalian saja.”

Berbareng Hui-keng dan Hui-si mengiakan dan berjanji takkan menyiarkan rahasia cerita itu.

Lalu Sih Boh-hoa berkata kepada Kheng Kong-leng, “Toasuko, tentang urusan kita dahulu akan Siaute ceritakan, lho!

“Aneh,” sahut Kheng Kong-leng tanpa pikir, “mulutmu tumbuh di kepalamu, mau katakan boleh kau bicara, kenapa mesti tanya padaku?”

Lalu Sih-sin-ih berkata, “Hian-lan Taysu dan Ting-heng sekalian, adapun guru kami namanya di dunia persilatan terkenal sebagai Cong-pian Siansing....”

“Hah, Cong-pian Siansing?” berbareng Hian-lan, Pek-jwan dan lain-lain tercengang dan menegas bersama.

Seperti pernah diceritakan, Cong-pian Siansing adalah sama dengan Liong-ah Lojin. Tokoh ini tuli dan bisu, tapi justru memakai alias “Cong-pian Siansing” atau tajam telinga dan tangkas mulut.

Setiap orang Kangouw mengetahui bahwa semua anak muridnya juga dibikin cacat pula, yaitu ditulikan dan dibisukan. Tapi kini Kheng Kong-leng berdelapan semuanya pandai bicara dan pintar mendengar, sudah tentu hal ini mengherankan jika mereka mengaku sebagai anak murid Liong-ah Lojin.

Dalam pada itu Sih-sin-ih telah melanjutkan ceritanya, “Tentang anak murid perguruan kami semua tuli dan bisu, hal ini adalah kejadian 30 tahun paling akhir ini, dahulu Suhu kami bukan orang tuli, lebih-lebih bukan orang bisu. Beliau hanya dipaksa menjadi tuli dan bisu oleh sutenya sendiri, yaitu Sing-siok Lokoay Ting Jun-jiu.”

Hian-lan dan lain-lain kembali bersuara heran.

Namun Sih Boh-hoa menyambung terus, “Cosuya (kakek guru) seluruhnya cuma menerima dua orang murid, murid pertama she So bernama Sing-ho, yaitu guru kami. Murid kedua adalah Ting Jun-jiu yang sekarang terkenal sebagai Sing-siok Lokoay. Semula ilmu silat mereka berdua setingkat, tapi akhirnya menjadi selisih jauh.”

“Hehe, tak usah diterangkan juga orang akan tahu pasti susiokmu menjadi jauh lebih lihai daripada gurumu,” tiba-tiba Put-tong menyela.

“Bukan begitu soalnya,” kata Boh-hoa. “Sebab Cosuya kami adalah seorang genius, beliau memahami segala ilmu pengetahuan di jagat ini....”

“Ai, ai, masa iya?” Put-tong mengacau pula.

Tapi Sih-sin-ih tak menggubrisnya, ia tahu orang itu memang sok membantah setiap pendapat orang lain. Maka ia tetap melanjutkan ceritanya, “Semula guruku dan Susiok sama-sama mempelajari ilmu silat, tapi kemudian guruku berubah minat dan mempelajari ilmu seni budaya pada Cosuya....”

“Hahaha, kiranya caramu memetik kecapi setan itu diperoleh dari situ,” Put-tong menyela pula, ia maksudkan Kheng Kong-leng.

“Dan kalau Suhu kami melulu mempelajari sejenis ilmu saja, misalnya petik kecapi, tentulah takkan beralangan,” demikian Sih-sin-ih menyambung, “tapi apa yang dimiliki Cosuya itu sungguh terlalu banyak, terlalu luas, baik seni musik, seni catur, seni tulis, seni ukir, seni bunga, pertabiban, ilmu nujum, perbintangan dan macam-macam lagi, pendek kata beliau serbabisa serta pintar.

“Semula guruku hanya mempelajari seni musik saja, tapi kemudian belajar seni catur pula, lalu belajar seni tulis dan seni lukis juga. Coba kalian pikir, setiap ilmu pengetahuan itu sudah barang tentu memakan waktu yang cukup lama. Sebaliknya Ting Jun-jiu itu mula-mula juga pura-pura ikut belajar, tapi lama-kelamaan ia bilang bakatnya terlalu bodoh, susah mempelajari ilmu pengetahuan sebanyak itu, maka yang dipelajarinya benar-benar hanya khusus ilmu silat saja. Dengan begitu, setelah setahun dua tahun dan sepuluh tahun, dengan sendirinya ilmu silat mereka berdua saudara seperguruan menjadi kelihatan berbeda secara mencolok.”

“Ya, melulu semacam ilmu pengetahuan saja sudah makan tenaga dan pikiran setiap orang yang mempelajarinya, tapi Cong-pian Siansing ternyata mahir dan begitu luas pengetahuannya, hal ini benar-benar luar biasa,” demikian kata Hian-lan. “Dan kalau Ting Jun-jiu itu mencurahkan pikirannya dalam satu ilmu khusus saja hingga ilmu silatnya lebih tinggi dari sang suheng, hal ini pun bukan sesuatu yang mengherankan.”

“He, Longo, masih ada yang lebih penting, mengapa tidak kau ceritakan? Ayo, lekas ceritakan, lekas!” demikian Kheng Kong-leng berseru.

Maka Sih-sin-ih menurut pula, “Bahwasanya Ting Jun-jiu itu tekun belajar ilmu silat saja, hal ini boleh dikata ada baiknya juga. Cuma... cuma... ai, urusan ini kalau diceritakan sungguh agak memalukan nama baik guru kami. Pendek kata Ting Jun-jiu telah menggunakan macam-macam cara licik hingga dapat meyakinkan pula beberapa macam ilmu sesat yang lihai dan akhirnya Cosuya kami diserang olehnya hingga terluka parah.

“Maksudnya sebenarnya hendak membunuh Cosuya, tapi apa pun juga Cosuya adalah seorang kosen yang serbalihai, biarpun dalam keadaan tak terduga dan mendadak diserang, namun untuk mengarah jiwanya juga tidak gampang.

“Maka sesudah terluka parah, sekuat mungkin Cosuya bertahan, syukur Suhu kami juga keburu datang menolong. Tapi sebelumnya Ting Jun-jiu juga sudah mengatur rencananya dengan rapi, apa lagi ilmu silat guruku memang kalah kuat, maka setelah terjadi pertarungan sengit akhirnya guruku juga terluka parah, sedangkan Cosuya tergelincir ke dalam jurang dan tak diketahui mati-hidupnya.

“Sebabnya ilmu silat guruku kalah daripada Ting Jun-jiu adalah disebabkan perhatiannya terpencar untuk mempelajari ilmu pengetahuan lain, tapi ilmu pengetahuan yang lain tidak berarti tiada manfaatnya, tatkala terancam bahaya itulah guruku telah keluarkan ilmu pengetahuannya yang luas itu, beliau mengatur jalan ‘Ngo-heng-pat-kwa’ (Lima Unsur dan Delapan Segi) yang aneh dan sudah dipecahkan itu untuk mengacaukan pikiran Ting Jun-jiu dan akhirnya dapat menyelamatkan diri. Tapi Ting Jun-jiu telah mengancam, asalkan sejak itu guruku tidak membuka suara maka untuk selanjutnya beliau takkan diutik-utik.

“Tatkala itu dalam perguruan terdapat kami berdelapan, Suhu lantas menulis pernyataan dan kami dibubarkan serta tak diakui sebagai muridnya lagi. Sejak itu Suhu benar-benar berlagak tuli dan bisu, tidak bicara dan tidak mau mendengar, waktu menerima murid pula semuanya juga dibikin tuli dan bisu hingga terkenal sebagai ‘Liong-ah-bun’ di kalangan Kangouw.

“Menurut hematku boleh jadi Suhu menyesal karena terlalu banyak belajar ilmu pengetahuan lain hingga ilmu silatnya telantar dan dikalahkan Ting Jun-jiu, maka sesudah berlagak tuli dan bisu, beliau tidak mempelajari ilmu pengetahuan lain lagi.

“Tentang kami berdelapan saudara, selain kami belajar silat kepada Suhu, kami masing-masing mempelajari pula sejenis pengetahuan yang lain, hal ini terjadi sebelum Ting Jun-jiu mendurhakai Cosuya dan Suhu kami belum menyadari tentang bahayanya mempelajari ilmu lain sehingga pemusatan pikiran terpencar, maka beliau tidak melarang, bahkan menganjurkan dan memberi pujian pada kami. Adapun kepandaian lain yang dipelajari Kheng-toasuheng adalah memetik kecapi dan....”

Ia menunjuk orang yang bersenjata papan catur itu, “Dan Hoan Pek-ling Hoan-jisuheng, mempelajari seni catur, selama ini beliau belum menemukan tandingan. Hoan-jisuheng boleh dikatakan adalah juara catur pada zaman ini.”

“Pantas makanya kau gunakan papan catur sebagai senjata,” tukas Pau Put-tong sambil memandang Hoan Pek-ling. “Cuma papan caturmu terbuat dari besi sembrani untuk dipakai menyedot senjata musuh, hal ini terus agak licik dan bukan perbuatan seorang kesatria sejati.”

“Ilmu main catur memang baik dilakukan serang-menyerang secara terang-terangan, tapi soal mengatur siasat dan tipu untuk menjebak musuh kan juga tidak dilarang, demikian pula halnya dengan papan caturku ini,” sahut Hoan Pek-ling.

“Sebenarnya maksud tujuan Hoan-jisuko menggunakan papan catur besi sembrani ialah untuk mempelajari ilmu permainan catur setiap saat, baik waktu makan, tatkala berjalan atau pada saat duduk termenung, bila mendadak ia mendapat ilham atau tiba-tiba ingat sesuatu langkah caturnya yang bagus, maka segera papan catur itu lantas digunakan.

“Buah caturnya terbuat dari besi, bila ditaruh di atas papan catur besi sembrani itu akan terkantil, dengan demikian Jisuko dapat menyelami ilmu permainan caturnya di mana dan bilamana pun dia berada,” demikian Sih-sin-ih menerangkan. “Dan Samsuko kami itu she Koh bernama thok (baca), sesuai dengan namanya itu, maka beliau sangat suka membaca, tak peduli kitab apa pun pasti dibacanya, beliau adalah seorang cendekia yang sangat luas pengetahuannya. Hal ini mungkin kalian sudah menyaksikan tadi.”

“Ah, cendekia apa? Lebih mirip badut!” demikian Put-tong berolok-olok.

“Apa? Badut? Memangnya kau sendiri kesatria?” balas si sastrawan linglung alias Kou Thok itu.

Sih-sin-ih tahu watak kedua orang itu, jika mereka dibiarkan berdebat, mungkin tiga hari tiga malam pun takkan habis-habis. Maka cepat ia potong pembicaraan mereka dan memperkenalkan si sastrawan bersenjata boan-koan-pit itu, “Dan ini adalah sisuko kami, beliau mahir melukis, baik lukisan pemandangan alam, binatang atau tumbuh-tumbuhan, semuanya dapat dilukisnya dengan hidup. Dia she Go, sebelum masuk perguruan kami pernah menjadi komandan tentara dalam Kerajaan Song. Sebab itulah orang suka memanggilnya Komandan Go.”

“Komandan tentara yang selalu kalah perang, apa gunanya?” demikian Pau Put-tong berolok-olok lagi.

Tapi sekali ini tiada orang menggubris padanya. Maka Sih-sin-ih melanjutkan ceritanya, “Adapun aku sendiri adalah nomor lima, yang kupelajari adalah ilmu tabib, syukurlah selama ini namaku tidak terlalu jelek di kalangan Kangouw dan tidak sia-siakan ajaran guruku.”

“Ya, kalau cuma batuk pilek sih dapat disembuhkan, tapi bila menghadapi penyakit seperti aku ini lantas tak bisa berbuat apa-apa, ini namanya penyakit besar tak mampu mengobati, penyakit kecil tidak sampai mati. Hehe, gelaran Sih-sin-ih memang tidak bernama kosong!” demikian lagi-lagi Pau Put-tong mengejek.

Kheng Kong-leng menjadi geregetan, ia melirik gemas kepada Put-tong dan menjengek, “Sifat saudara ini benar-benar aneh bin luar biasa, sungguh tidak sama dengan orang lain!”

“Haha, memangnya aku she Pau (tanggung) dan bernama put-tong (tidak sama), dan dengan sendirinya tanggung tidak sama dengan orang lain,” sahut Put-tong dengan tertawa.

“Hahahaha,” Kheng Kong-leng terbahak-bahak. “Kau benar-benar she Pau dan bernama put-tong?”

“Sudah tentu benar, masakan palsu? Kalau palsu uang kembali!” sahut Put-tong, “dan si abang yang pandai membongkar alat rahasia ini apa barangkali murid keturunan Loh Pan?”

Loh Pan adalah seorang arsitek, seorang pencipta di Zaman Ciankok.

Maka Sih-sin-ih menjawab, “Ya, benar, Laksite bernama Thio A Sam, asalnya memang tukang kayu. Sebelum masuk perguruan kami dia sudah terkenal sebagai seorang ahli pertukangan, setelah belajar lagi pada guru kami, kepandaiannya makin tambah hebat. Dan Jitsumoay she Ciok, dia paling suka pada bunga, segala jenis tumbuh-tumbuhan bunga di dunia ini pasti ditanamnya dan dirawat dengan baik.”

“Obat yang menjatuhkan aku yang digunakan nona Ciok tadi tentulah serbuk bunga dan bukan racun,” ujar Ting Pek-jwan.

Wanita cantik she Ciok itu, nama gadisnya adalah Jing-loh, dengan tersenyum ia menyahut, “Ya, tadi banyak membikin susah padamu, harap maaf.”

“Cayhe juga berlaku kasar, harap nona jangan dendam,” sahut Pek-jwan.

Akhirnya Sih-sin-ih menunjuk si pemain sandiwara pula, katanya, “Dan Patsute ini bernama Li Gui-lui (Si Wayang Golek), sesuai dengan namanya, selama hidup ia suka jadi dalang dan membawakan lakon tingkah laku angin-anginan sehingga dalam hal ilmu silat menjadi agak telantar.”

“Oo, aku Li Si-bin adanya, aku tidak suka kerajaan tapi lebih suka main sandiwara, aha, puas sekali hatiku,” demikian seniman sinting itu menembang lagi.

Sih-sin-ih menutur lebih lanjut, “Meski kami berdelapan telah dibubarkan dari perguruan, tapi kami tidak pernah melupakan budi kebaikan Suhu, kami memberi nama sendiri sebagai ‘Yu-kok-pat-yu’ sebagai kenangan tatkala kami belajar pada guru kami yang baik hati di lembah sunyi itu. Bagi orang lalu mungkin akan menyangka kami cuma delapan sekawan yang wataknya cocok satu cuma lain, tapi tidak tahu kami sebenarnya adalah saudara seperguruan.

“Untuk menjaga kemungkinan datangnya Sing-siok Lokoay dan kami akan dihancurkan sekaligus, maka setiap lima tahun kami mengadakan pertemuan satu kali di sini, biasanya kami terpencar tiada tempat tinggal tertentu. Sebab itulah bahwasanya nona A Pik adalah murid Toasuheng hal ini sama sekali tak diketahui oleh kami, kalau tahu tentu takkan terjadi salah paham seperti tadi.”

Mendengar cerita tentang asal-usul kedelapan orang aneh itu, barulah rasa waswas Hian-lan dan lain-lain lenyap sebagian besar.

Lalu Kongya Kian bertanya pula, “Sebabnya Sih-siansing pura-pura meninggal dan menaruh racun dalam peti mati, apakah khusus dipasang untuk menghadapi Sing-siok Lokoay? Dan dari mana Sih-siansing tahu iblis itu akan datang ke sini?”

“Kejadian itu kalau diceritakan memang sangat aneh,” sahut Sih-sin-ih. “Dua hari yang lalu ketika aku duduk iseng dalam rumah, tiba-tiba datang empat orang penumpang kuda minta obat padaku. Soal memberi obat dan menolong orang sakit memang menjadi kewajibanku sebagai tabib dan sangat umum. Yang aneh adalah si penderita sakit. Satu di antaranya adalah seorang hwesio gemuk buntek, tulang iga depan dan belakang patah semua, badannya yang besar bulat itu hampir-hampir menjadi gepeng, jadi mirip habis dipres, ditempa dan digencet dalam suatu benda keras.”
"Memangnya siapa bilang kau pintar?" timbrung Pau Put-tong, "Kamu memang orang tolol maha besar, seorang goblok tulen!"
"Kan tidak lebih tolol dari padamu," sahut sikakek yang bernama Kheng Kong-leng itu dengan marah.
"Tentu saja lebih tolol, kamu lebih tolol sepuluh kali dari padaku," sahut Put-tong.
"Kamu lebih tolol seratus kali dari padaku!" teriak sikakek dengan gemas.
"Dan kamu lebih tolol seribu kali dari padaku!" Put-tong juga ngotot.
"Sudahlah, sudahlah! Buat apa kalian ribut urusan yang tak berguna," sela sitabib sakti Sih Boh-hoa, "Bahwasanya bila nanti Hui-keng dan Hui-si kedua Taisu pulang lapor ke Siau-lim-si, dan kalian ditanya Hongtiang Taisu, mungkin kalian tak bisa memberi keterangan yang jelas, maka biarlah kuceritakan sedikit.
Sebenarnya urusan ini adalah rahasia perguruan kami dan tidak perlu diketahui orang luar, tapi demi untuk membasmi racun dunia persilatan yang terkutuk ini, bila para padri sakti Siau-lim-si tidak ikut dalam usaha ini tentu akan sukar dilaksanakan, Sekarang akan kuceritakan seluk-beluk urusan kami ini, cuma diharap dengan hormat agar kalian jangan lagi membocorkan hal ini kepada orang luar selain memberi laporan kepada Hongtiang kalian saja."
Berbareng Hui-keng dan Hui-si mengiakan dan berjanji takkan menyiarkan rahasia cerita itu.
Lalu Sih Boh-hoa berkata kepada Kheng Kong-leng, "Toasuko, tentang urusan kita dahulu akan Siaute ceritakan, lho!"
"Aneh," sahut Kheng Kong-leng tanpa pikir, "Mulutmu tumbuh dikepalamu, mau katakan boleh kau bicarakan, kenapa mesti tanya padaku?"
Lalu Sih-sin-ih berkata, "Hian-lan Taisu dan Ting-heng sekalian, adapun guru kami namanya didunia persilatan terkenal sebagai Cong-pian Sian-sing. . . . ."
"Hah, Cong-pian Siansing?" berbareng Hian-lan, Pek-jwan dan lain-lain tercengang dan menegas bersama.
Seperti pernah diceritakan Cong-pian Sian-sing adalah sama dengan Liong-ah Lojin, Tokoh ini tuli dan bisu, tapi justru memakai alias 'Cong-pian Sian-sing' atau tajam telinga dan tangkas mulut.
Setiap orang kangouw mengetahui bahwa semua anak muridnya juga dibikin cacat pula, yaitu ditulikan dan dibisukan, Tapi kini Kheng Kong-leng berdelapan semuanya pandai bicara dan pintar mendengar, sudah tentu hal ini mengherankan jika mereka mengaku sebagai anak murid Liong-ah Lojin.
Dalam pada itu Sih-sin-ih telah melanjutkan ceritanya, "Tentang anak murid perguruan kami semua tuli dan bisu, hal ini adalah kejadian tigapuluh tahun paling akhir ini, dahulu Suhu kami bukan orang tuli, lebih-lebih bukan orang bisu, Beliau hanya dipaksa menjadi tuli dan bisu oleh Sutenya
sendiri, yaitu Sing-siok Lokoai Ting Jun-jiu."
Hian-lan dan lain-lain kembali bersuara heran. Namun Sih Boh-hoa menyambung terus; "Cosuya (kakek guru) kami seluruhnya cuma menerima dua orang murid, murid pertama she So bernama Sing-ho, yaitu guru kami, Murid kedua adalah Ting Jun-jiu yang sekarang terkenal sebagai Sing-siok Lokoai, Semula ilmu silat mereka berdua setingkat, tapi akhirnya menjadi selisih jauh."
"Hehe, tak usah diterangkan juga orang akan tahu pasti Susiokmu menjadi jauh lebih lihai daripada gurumu," tiba-tiba Put-tong menyela.
"Bukan begitu soalnya," kata Boh-hoa, "Sebab Cosuya kami adalah seorang jenius, beliau memahami segala ilmu pengetahuan di jagat ini. . . . . ."
"Ai, ai, masa iya?" Put-tong mengacau pula.
Tapi Sih-sin-ih tak menggubrisnya, ia tahu orang itu memang sok membantah setiap pendapat orang lain, Maka ia tetap melanjutkan ceritanya.
"Semula guruku dan Susiok sama-sama mempelajari ilmu silat, tapi kemudian guruku berubah minatnya dan mempelajari ilmu seni budaya pada Cosuya. . . . ."
"Hahaha, kiranya caramu memetik kecapi setan itu diperoleh dari situ," Put-tong menyela pula, ia maksudkan Kheng Kong-leng.
"Dan kalau Suhu kami melulu mempelajari sejenis ilmu saja, misalnya memetik kecapi, tentulah takkan berhalangan," demikian Sih-sin-ih menyambung, "tapi apa yang dimiliki Cosuya itu sungguh terlalu banyak, terlalu luas, baik seni musik, seni catur, seni tulis, seni lukis, seni ukir, seni bunga,
pertabiban, ilmu nujum, perbintangan dan macam-macam lagi, pendek kata beliau serba bisa, serta pintar."
"Semula guruku hanya mempelajari seni musik saja, tapi kemudian belajar seni catur pula, lalu belajar seni tulis dan seni lukis juga, Coba kalian pikir, setiap ilmu pengetahuan itu sudah barang tentu memakan waktu yang cukup lama, Sebaliknya Ting Jun-jiu itu mula-mula juga pura-pura ikut
belajar, tapi lama kelamaan ia bilang bakatnya terlalu bodoh, susah mempelajari ilmu pengetahuan sebanyak itu, maka yang dipelajari benar-benar hanya khusus ilmu silat saja,
Dengan begitu, setelah setahun dua tahun dan sepuluh tahun, dengan sendirinya ilmu silat mereka berdua saudara seperguruan menjadi kelihatan berbeda secara menyolok."
"Ya, melulu semacam ilmu pengetahuan saja sudah makan tenaga dan pikiran setiap orang yang mempelajarinya, tapi Cong-pian Siansing ternyata mahir dan begitu luas pengetahuannya, hal ini benar-benar luar biasa," demikian kata Hian-lan, "Dan kalau Ting Jun-jiu itu mencurahkan pikirannya dalam satu ilmu khusus saja hingga ilmu silatnya lebih tinggi dari sang Suheng, hal ini pun bukan sesuatu yang mengherankan."
"He, Lo-ngo, masih ada yang lebih penting, mengapa tidak kau ceritakan? Ayo, lekas ceritakan lekas!" demikian Kheng Kong-leng berseru.
Maka Sih-sin-ih menurut pula, "Bahwasanya Ting Jun-jiu itu tekun belajar ilmu silat saja, hal ini boleh dikata ada baiknya juga, Cuma. . . .cuma. . . ai, urusan ini kalau diceritakan sungguh agak memalukan nama baik guru kami, Pendek kata Ting Jun-jiu telah menggunakan macam-macam cara licik hingga dapat meyakinkan pula beberapa macam ilmu sesat yang lihai dan akhirnya mendadak Cosuya kami diserang olehnya hingga terluka parah.
"Maksudnya sebenarnya hendak membunuh Cosuya, tapi apa pun juga Cosuya adalah seorang kosen yang serba lihai, biarpun dalam keadaan tak terduga dan mendadak diserang, namun untuk mengarah jiwanya juga tidak gampang. Maka sesudah terluka parah, sekuat mungkin Cosuya bertahan, syukur Suhu kami juga keburu datang menolong, Tapi sebelumnya Ting Jun-jiu juga sudah mengatur rencananya dengan rapi, apa lagi ilmu silat guruku memang kalah kuat, maka setelah terjadi pertarungan sengit akhirnya guruku juga terluka parah, sedangkan Cosuya tergelincir kedalam jurang dan tak diketahui mati-hidupnya."
"Sebabnya ilmu silat guruku kalah dari pada Ting Jun-jiu adalah disebabkan perhatiannya terpencar untuk mempelajari ilmu pengetahuan yang lain, tapi ilmu pengetahuan yang lain tidak berarti tiada manfaatnya, tatkala terancam bahaya itulah guruku telah keluarkan ilmu pengetahuannya yang luas itu, beliau mengatur jalan 'Ngo-heng-pat-kwa'(lima unsur dan delapan segi) yang aneh dan susah dipecahkan itu untuk mengacaukan pikiran Ting Jun-jiu dan akhirnya dapat menyelamatkan diri, Tapi Ting Jun-jiu telah mengancam, asalkan sejak itu guruku tidak membuka suara, maka untuk selanjutnya beliau takkan diutik-utik."
"Tatkala itu dalam perguruan terdapat kami berdelapan, Suhu lantas menulis pernyataan dan kami dibubarkan serta tak diakui sebagai muridnya lagi, Sejak itu Suhu benar-benar berlagak tuli dan bisu, tidak bicara dan tidak mau mendengar, waktu menerima murid pula semuanya juga dibikin tuli dan
bisu hingga terkenal sebagai 'Liong-oh-bun' dikalangan kangouw. Menurut hematku, boleh jadi Suhu menyesal karena beliau terlalu banyak belajar ilmu pengetahuan lain hingga ilmu silatnya terlantar dan dikalahkan Ting Jun-jiu, maka sesudah berlagak tuli dan bisu, beliau tidak mempelajari ilmu pengetahuan lain lagi."
"Tentang kami berdelapan saudara, selain kami belajar silat kepada Suhu, kami masing-masing mempelajari pula sejenis pengetahuan yang lain, hal ini terjadi sebelum Ting Jun-jiu mendurhakai Cosuya dan Suhu kami belum menyadari tentang bahayanya mempelajari ilmu lain sehingga pemusatan pikirannya terpencar, maka beliau tidak melarang, bahkan menganjurkan dan memberi pujian pada kami, Adapun kepandaian lain yang dipelajari Kheng-toasuheng adalah memetik kecapi dan. . ." Ia menunjuk orang yang bersenjata papan catur itu, "Dan Hoan Pek-ling, Hoan-jisuheng mempelajari seni catur, selama ini beliau belum menemukan tandingan, Hoan-jisuheng boleh dikatakan adalah juara catur pada jaman ini."
"Pantas, makanya kau gunakan papan catur sebagai senjata," tukas Pau Put-tong sambil memandang Hoan Pek-liong, "Cuma papan caturmu itu terbuat dari besi sembrani untuk dipakai menyedot senjata musuh, hal ini terasa agak licik dan bukan perbuatan seorang ksatria sejati."
"Ilmu main catur memang baik dilakukan serang menyerang secara terang2an, tapi soal mengatur siasat dan tipu untuk menjebak musuh kan juga tidak dilarang, demikian pula halnya dengan papan caturku ini." sahut Hoan Pek-ling.
"Sebenarnya maksud tujuan Hoan-jisuko menggunakan papan catur besi sembrani ialah untuk mempelajari ilmu permainan catur setiap saat baik waktu makan, tatkala berjalan atau pada saat duduk termenung, Bila mendadak ia mendapat ilham atau tiba-tiba ingat sesuatu langkah caturnya
yang bagus, maka segera papan catur itu lantas digunakan.'
"Buah caturnya terbuat dari besi, bila ditaruh diatas papan catur besi sembrani itu akan terus kantil, dengan demikian Jisuko dapat menyelami ilmu permainan caturnya dimana dan bilamana pun dia berada," demikian Sih-sin-ih menerangkan. "Dan Samsuko kami itu she Kou bernama Thok (baca), sesuai dengan namanya itu, maka beliau sangat suka membaca, tak peduli kitab apa pun pasti dibacanya, beliau adalah seorang cendikia yang sangat luas pengetahuannya, Hal ini mungkin kalian sudah menyaksikan tadi."
"Ah, cendikia apa? Lebih mirip badut!" demikian Put-tong berolok-olok.
"Apa? Badut? Memangnya kamu sendiri kesatria?" balas si sastrawan linglung alias Kou Thok itu.
Sih-sin-ih tahu watak kedua orang itu, jika mereka dibiarkan berdebat, mungkin tiga hari tiga malam pun takkan habis2nya, Maka cepat ia potong pembicaraan mereka dan memperkenalkan si sastrawan bersenjata Boan-koan-pit itu, "Dan ini adalah Sisuko kami, beliau mahir melukis, baik lukisan pemandangan alam, binatang atau tumbuh-tumbuhan, semuanya dapat dilukisnya dengan hidup, Dia she Go, sebelum masuk perguruan kami pernah menjadi komandan tentara dalam kerajaan Song, Sebab itulah orang suka memanggilnya Komandan Go."
"Komandan tentara yang selalu kalah perang, apa gunanya?" demikian Pau Put-tong berolok-olok lagi.
Tapi sekali ini tiada orang menggubris padanya, Maka Sih-sin-ih melanjutkan ceritanya, "Adapun aku sendiri adalah nomor lima, yang kupelajari adalah ilmu tabib, syukurlah selama ini namaku tidak terlalu jelek dikalangan kangouw dan tidak sia-siakan ajaran guruku."
"Ya, kalau cuma batuk pilek sih dapat disembuhkan, tapi bila menghadapi penyakit seperti aku ini lantas tak bisa berbuat apa-apa, ini namanya penyakit besar tak mampu mengobati, penyakit kecil tidak sampai mati, Hehe, gelaran Sih-sin-ih memang tidak bernama kosong!" demikian lagi-lagi
Pau Put-tong mengejek.
Kheng Kong-leng menjadi gregetan, ia melirik gemas kepada Put-tong dan menjengek, "Sifat saudara ini benar-benar aneh bin luar biasa, sungguh tidak sama dengan orang lain!"
"Haha, memangnya aku she Pau (tanggung) dan bernamaPut-tong (tidak sama), dan dengan sendirinya tanggung tidak sama dengan orang lain," sahut Put-tong dengan tertawa.
"Hahahaha," Kheng Kong-leng terbahak-bahak, "Kamu benar-benar she Pau dan bernama Put-tong?"
"Sudah tentu benar, masakah palsu? Kalau palsu uang kembali!" sahut Put-tong, "dan abang yang pandai membongkar alat rahasia ini apa barangkali murid keturunan Loh Pan?"
Loh Pan adalah seorang arsitek, seorang pencipta dijaman Ciankok.
Maka Sih-sin-ih menjawab, "Ya, benar, Lak-sute bernama Thio A Sam, asalnya memang tukang kayu, Sebelum masuk perguruan kami dia sudah terkenal sebagai seorang ahli pertukangan, setelah belajar lagi pada guru kami, kepandaiannya makin tambah hebat, Dan Jit-sumoai she Ciok, dia paling suka pada bunga, segala jenis tumbuh-tumbuhan bunga didunia ini pasti ditanamnya dan dirawat dengan baik."
"Obat yang menjatuhkan aku yang digunakan nona Ciok tadi tentulah serbuk bunga dan bukan racun," ujar Ting Pek-jwan.
Wanita cantik she Ciok itu, nama gadisnya adalah Jing-loh, dengan tersenyum ia menyahut, "Ya, tadi banyak membikin susah padamu harap maaf."
"Caihe juga berlaku kasar, harap nona jangan dendam," sahut Pek-jwan.
Akhirnya Sih-sin-ih menunjuk sipemain sandiwara pula, katanya, "Dan Pat-sute ini bernama Li Gui-in ( si wayang golek), sesuai dengan namanya, selama hidup ia suka jadi dalang dan membawakan lakon tingkah-laku angin2an sehingga dalam hal ilmu silat menjadi agak terlantar."
"Oo, aku Li Si-bin adanya, aku tidak suka kerajaan tapi lebih suka main sandiwara, aha, puas sekali hatiku!" demikian seniman sinting itu menembang lagi.
Sih-sin-ih menutur lebih lanjut, "Meski kami berdelapan telah dibubarkan dari perguruan, tapi kami tidak pernah melupakan budi kebaikan Suhu, kami memberi nama sendiri sebagai 'Yu-kok-pat-yu' sebagai kenangan tatkala kami belajar pada guru kami yang baik hati dilembah sunyi itu, Bagi orang
lain mungkin akan menyangka kami cuma delapan sekawan yang wataknya cocok satu sama lain, tapi tidak tahu kami sebenarnya adalah saudara seperguruan. Untuk menjaga kemungkinan datangnya Sing-siok Lokoai dan kami akan dihancurkan sekaligus, maka setiap lima tahun kami mengadakan pertemuan satu kali disini, biasanya kami terpencar tiada tempat tinggal tertentu, Sebab itulah bahwasanya nona Apik adalah murid Toasuheng hal ini sama
sekali tak diketahui oleh kami, kalau tahu tentu takkan terjadi
salah paham seperti tadi."
Mendengar cerita tentang asal-usul kedelapan orang aneh
itu, barulah rasa was-was Hian-lan dan lain-lain lenyap
sebagian besar.
Lalu Kongya Kian bertanya pula, "Sebabnya Sih-siansing pura-pura meninggal dan menaruh racun dalam peti mati, apakah khusus dipasang untuk menghadapi Sing-siok Lokoai?
Dan dari mana Sih-siansing tahu iblis itu akan datang kesini?"
"Kejadian itu kalau diceritakan memang sangat aneh," sahut Sih-sin-ih. "Dua hari yang lalu, ketika aku duduk iseng dalam rumah, tiba-tiba datang empat orang penumpang kuda minta obat padaku, Soal memberi obat dan menolong orang sakit memang menjadi kewajibanku sebagai tabib dan sangat umum, Yang aneh adalah sipenderita sakit, Satu diantaranya adalah seorang hwesio gemuk buntek, tulang iga depan dan belakang patah semua, badannya yang besar bulat itu hampir2 menjadi gepeng, jadi mirip habis dipres, ditempa dan digencet dalam suatu benda keras."
"Hah, itulah Sam-ceng Hwesio, orang Siau-lim-si kami,"
kata Hian-lan, "Orang ini tidak taat kepada peraturan, makanya dihukum kurung dalam kamar batu, Rupanya badannya kelewat gede hingga dia tergencet gepeng dalam kamar batu itu, Siapakah gerangan yang mengantar dia minta obat pada Sih-siansing?"
"Orang yang datang bersama dia itu, wah, dia lebih-lebih aneh lagi, kepalanya memakai sebuah kerudung besi. . . . ."
Baru sekian Sih-sin-ih menutur lagi, serentak Pau Put-tong dan Hong Po-ok melonjak dan berseru, "Keparat itu dia anak jadah yang kami cari, Syukur alhamdullilah, dia terkena penyakit apakah?"
"Dia tidak sakit, tapi maksudnya ingin melepaskan kerudung besi pada kepalanya itu," tutur Sih-sin-ih, "Tapi setelah kuperiksa, ternyata kerudung besi itu sudah melengket erat dengan kepalanya dan tidak dapat dilepaskan lagi."
"Aha, aneh! Apa mungkin kerudung besi itu sudah tumbuh diatas kepalanya sejak ia jebrol dari kandungan ibunya?" ujar Put-tong.
"Tidak," sahut Sih-sin-ih, "Kerudung besi itu tampaknya sengaja dipasang orang, yaitu ditangkupkan tatkala kerudung besi itu masih panas menganga sehingga kulit dagingnya meleleh, setelah lukanya sembuh, maka kerudung besi itu pun seakan-akan dicor diatas kepalanya dan tak bisa dilepas lagi, Untuk membukanya, hanya bisa dilakukan bila mau hidungnya ikut dikoyak-koyak.
"Dia yang minta kerudungnya dilepaskan, biarpun akibatnya muka hancur semua juga tak dapat
menyalahkanmu," ujar Put-tong dengan dingin.
"Tapi persoalannya tidak begitu mudah," tutur Sih-sin-ih, "Tulang Sam-ceng Hwesio yang patah itu gampang disembuhkan, untuk itu kukira Siau-lim-si juga mampu mengobatinya, Tapi kerudung besi Thi-thau-jin itu tidak mudah dilepas, Dan selagi aku ragu, dua orang kawannya yang mengantar itu menjadi tak sabar, tiba-tiba mereka berteriak-teriak suruh aku lekas bekerja.
"Hendaknya hadirin maklum bahwa orang she Shi ini mempunyai suatu sifat yang jelek, yaitu bila orang minta obat padaku, maka dia harus memohon dengan baik-baik, kalau main gertak dan main paksa, haha, orang she Shi ini lebih suka mati juga tak mau menyembuhkannya. Seperti waktu
pertemuan para ksatria di Cip-hian-ceng dahulu dimana Kiau Hong rela menyerempet bahaya dengan mengantar seorang nona cilik untuk minta obat padaku, Biasanya orang itu sangat ganas dan malang melintang tiada yang berani melawannya, tapi karena dia ingin minta tolong padaku, betapa pun dia harus bicara secara halus dan mohon dengan baik-baik padaku. . .. ."
Bercerita sampai disini, ia jadi teringat ketika ia diselomoti A Cu dan tertutuk tak bisa berkutik serta jenggotnya dicukur hingga kelimis, hal itu adalah kejadian yang paling memalukan selama hidupnya, maka ia tidak jadi meneruskan lagi ceritanya.
Saat itu A Pik masih terpulas karena keracunan, coba kalau dia ikut mendengar cerita Sih-sin-ih tentang Kiau Hong membawa seorang nona cilik segala, tentu ia akan mengusut lebih jauh dan boleh jadi jejak A Cu akan dapat diketahuinya.
Dalam pada itu Pau Put-tong ikut menimbrung pula, "Ah, jangan omong besar? Ini, orang she Pau juga mempunyai suatu sifat yang aneh, kalau ada orang hendak mengobati penyakitku, maka dia harus memohon dengan baik-baik, bahkan perlu berlutut dan menyembah dulu padaku, Tapi kalau dipaksa dan digertak, haha, orang she Pau ini lebih suka mati, aku juga tidak sudi diobati orang."
"Hahaha! Kamu ini mestika juwita apa?" tiba-tiba Kheng Kong-leng ter-bahak2 geli, "Masakah orang hendak menyembuhkan penyakitmu malah diharuskan menyambah dan memohon padamu, hahaha, kecuali. . . . .kecuali. . . . ."
"Kecuali kalau kamu adalah putraku," sambung Put-tong.
Kong-leng melengak, Tapi setelah dipikir-pikir, ia anggap ucapan Pau Put-tong memang ada benarnya juga, Coba, kalau ayah jatuh sakit dan tidak mau diperiksa tabib, dengan sendirinya anak akan terpaksa memohon dengan sangat padanya, Sama sekali tak terpikir olehnya bahwa ucapan Pau-Put-tong itu justru sengaja hendak mengolok-oloknya, Maka ia pun menyahut, "Ya, benar! Tapi aku toh bukan putramu."
"Kamu putraku atau bukan hanya ibumu yang tahu, kau sendiri mana bisa tahu?" kata Put-tong.
Kembali Kong-leng melengak, lalu mengangguk-angguk dan berkata pula, "Ya, benar juga."
"Hahahaha!" Put-tong terbahak-bahak geli, pikirnya dalam hati, "Guru Lak-moai ini sungguh seorang tolol!"
Maka Kongya Kian lantas menyela, "Sin-siansing, jika kedua orang itu main kasar padamu, tentu saja kamu menolak untuk menolong mereka."
"Ya, tatkala itu kontan juga aku menolaknya," sahut Sih-sin-ih. "Tapi Thi-thau-jin itu ternyata sangat menghormat padaku, katanya, "Sih-siansing, kepandaianmu tiada tandingannya didunia ini, orang kangouw menamakanmu 'Giam-ong-dek' tidak sedikit jiwa orang yang telah kau hidupkan kembali, setiap orang Bu-lim sangat kagum dan menghormat padamu, Selamanya hamba juga sangat mengindahkanmu, malahan ayahku juga kenalan lama Sih-siansing, maka mohon engkau sudi menaruh belas kasihan dan tolonglah putra mendiang sobatmu ini."
Asal-usul Thi-thau-jin alias Yu Goan-ci itu memang sangat
menarik perhatian semua orang, maka demi mendengar cerita Sih-sin-ih bahwa bocah berkerudung besi itu mengaku sebagai 'putra mendiang sobatmu itu, segera mereka sama bertanya, "Siapakah ayahnya ?"
"Siapa ayahnya hanya ibunya yang tahu, dia sendiri mana bisa tahu?" tiba-tiba Li Gui-lui alias siwayang golek menukas, Yang ditirukan adalah lagu suara Pau Put-tong dengan persis sekali.
Maka tertawalah Pau Put-tong, katanya, "Bagus, pintar sekali kamu menirukan suaraku, Kamu memang darah daging keturunanku!"
"Pau-siansing ini suka berkelakar, Pat-te tidak perlu bersungguh-sungguh dengan dia," kata Sih-sin-ih sebelum Li Gui-lui membalas olok-olok.
Lalu ia pun menyambung ceritanya, "Demi mendengar Thi-thau-jin itu mengaku sebagai putra mendiang sobatku, segera aku tanya siapakah ayahnya, Tapi dia bilang, 'Nasib Siaujin terlalu jelek dan banyak membikin malu nama baik orang tua, maka tentang nama beliau Siaujin tidak berani menyebutnya lagi, Tapi waktu hidup ayahku memang benar adalah sobat baik Sih-siansing, hal ini seribu kali betul, Siaujin tidak berani memperalat nama mendiang ayahku untuk menipu orang', Kudengar ucapannya sungguh-sungguh, rasanya tidak bohong, Tapi kenalanku terlalu banyak, meski aku sudah mengingat-ingat tetap tidak tahu siapakah ayahnya yang sudah meninggal itu, Kupikir bila kerudung besinya sudah dapat dilepaskan, dari mukanya tentu akan dapat ditaksir siapakah gerangan ayahnya.
"Tengah aku berpikir salah seorang yang mengantar mereka itu sudah berteriak lagi, 'Menurut titah Suhu, yang penting adalah menyembuhkan Sam-ceng Hwesio ini, tentang kerudung besi Thi-thau-jin itu dapat dibuka atau tidak bukan soal', Aku jadi naik darah oleh ucapannya itu, jawabku, 'Siapakah gurumu? Titahnya hanya dapat memerintahmu dan tak dapat memerintah aku, tahu?' Tapi sikap orang itu memang sangat kasar dan se-wenang2, katanya, 'Kalau aku sebut nama guruku, mungkin nyalimu akan pecah ketakutan, Beliau hanya suruh kau lekas menyembuhkan luka Hwesio gendut ini dan habis perkara, kalau terlambat hingga bikin runyam urusan beliau, seketika juga kamu bisa dikirim melaporkan diri kepada Giam-lo-ong (raja akhirat)'.
"Semula gusarku sungguh tidak kepalang, tapi kemudian kudengar logat suaranya agak aneh, rada mirip orang asing yang menirukan bahasa kita, Waktu aku meng-amat2i mukanya, kulihat rambutnya keriting dan matanya cekung, agak berbeda daripada bangsa Han kita, Mendadak aku teringat kepada seorang, segera kutanya dia, 'Apakah kau datang dari Sing-siok-hai?'
"Orang itu agak terkejut dan menjawab, ' Tajam juga matamu, ya? Memang betul aku datang dari Sing-siok-hai, Nah, jika sudah tahu, lekas mengobati hwesio gendut ini sebisanya!' Kupikir sakit hati perguruan belum terbalas, mumpung anak murid Sing-siok Lokoai kupergoki sekarang,
aku harus cari jalan untuk menuntut balas, Maka aku lantas pura-pura takut dan bertanya, 'Sudah lama kukagumi kepandaian Sing-siok Losian yang maha sakti sayang selama ini tidak sempat bertemu entah sekarang Losian (dewa tua) juga datang ke Tionggoan atau tidak?"
"Cis tidak kenal malu!" mendadak Pau Put-tong berolok-olk lagi, "Kau dapat menyebutnya sebagai Sing-siok Lokoai atau Sing-siok Lomo, mengapa begitu pengecut hingga menyebutnya 'Losian' segala! Huh, tidak kenal malu!"
"Teguran Pau-siansing memang betul juga," sahut Sih-sin-ih dengan tenang, "Sebenarnya maksudku hanya untuk memancing pengakuan orang itu saja, tapi dasar aku memang tidak biasa berpura-pura hingga air mukaku kelihatan rasa dendamku, Dan orang itu juga sangat licin, sekilat lihat saja lantas curiga dan segera mendahului mencengkeram pergelangan tanganku sambil membentak, 'Apa maksudmu mencari tahu jejak Suhuku?' Karena urusan sudah runyam, tanpa bicara lagi aku balas menutuk hingga kena hiat-to mematikan ditubuhnya, Segera kawannya mencabut belati
berbisa terus menikam kearahku, waktu itu aku tak bersenjata, ilmu silat jahanam itu cukup lihai pula, untunglah dalam keadaan bahaya itu mendadak Thi-thau-jin memisah, ia
rampas belati kawannya itu dan berkata, Suhu suruh kita kesini untuk minta obat dan tidak suruh kita membunuh orang."
"Capji Sute sudah dibunuh dia, apa kamu tidak lihat?" teriak orang itu dengan gusar. "Apa barangkali kau. . . . .putra mendiang sobatnya, maka kau berani membela orang luar malah? Tapi si Thi-thau-jin menjawab, 'Soal tabib ini akan kau bunuh atau tidak aku tak peduli, yang terang kalau hwesio
gendut ini tak ditolong dulu tentu jiwanya akan melayang, Dan kalau hwesio ini mati, maka tiada orang lagi yang dapat menunjukkan jalan untuk mencari Peng-jan (ulat sutra es),
dan untuk ini kamu harus bertanggung jawab kepada Suhu."
"Thi-thau-jin itu juga murid Sing-siok Lokoai," kata Put-tong. "Mereka bilang Sam-ceng Hwesio akan menunjukkan jalan untuk mencar Peng-jan apa segala?"
"Hanya begitulah kudengar pembicaraan mereka, adapun duduk perkara yang sebenarnya aku sendiri tidak tahu," sahut Sih-sin-ih. "Dan tatkala mereka sedang bertengkar sendiri, segera aku menyiapkan senjata, Tapi rupanya orang itu menjadi keder, lalu katanya, 'Jika begitu, baiklah, tangkaplah sekarang tabib setan ini untuk menghadap Suhu' "Baik!" sahut Thi-thau-jin itu dan mendadak tangan menggaplok dada orang itu hingga terbinasa seketika itu."
Semua orang berseru kaget oleh kejadian tak terduga-duga itu, Hanya Pau Put-tong lantas berkata,
"Itu tidak mengherankan, Thi-thau-jin itu ada kepentingan dan ingin minta pertolonganmu, maka lebih dulu ia membunuh kawan sendiri untuk mengambil hatimu."
Tapi Sih Boh-hoa menghela napas, katanya, "Sesaat itu aku pun tidak paham apa maksud tujuannya itu, entah disebabkan aku adalah sobat baik mendiang ayahnya, atau dia sengaja hendak mengambil hatiku, Selagi aku hendak tanya dia, tiba-tiba dari jauh terdengar suara suitan nyaring, Sekonyong-konyong Thi-thau-jin itu tergetar, katanya, 'Suhuku sedang memanggil, Sih-pekhu, sebaiknya kau suka menyembuhkan hwesio gendut ini, dengan demikian mungkin Suhu takkan mempersoalkan terbunuhnya kedua muridnya ini', Habis berkata, terus saja ia bertindak pergi dengan tergesa-gesa dengan meninggalkan hwesio gendut itu." "Dan dimanakah murid durhaka Sam-ceng itu?" tanya Hian-lan.
"Itu, telentang disana," kata Sih-sin-ih, "Mungkin setengah bulan saja akan dapat sembuh kembali."
"Jika demikian jadi peti mati dan lain-lain yang Sih-siansing pasang itu adalah untuk melayani Susiok kalian?" tanya Hian-lan.
"Benar," sahut Sih-sin-ih, "Jika Sing-siok Lokoai sudah datang ke Tionggoan, dua orang muridnya terbunuh pula dirumahku, Lambat atau cepat pasti dia akan datang kesini, Andaikan Thi-thau-jin itu dapat menutupi kejadian ini juga takkan lama mengelabuhi iblis itu, Sebab itulah aku pura-pura mati dan memasang racun jahat didalam peti mati untuk memancingnya, Lalu aku memboyong segenap anggota keluargaku kedalam goa sini, Dasar memang kebetulan, dua hari lagi adalah waktu pertemuan kami berdelapan saudara yang diadakan tiap-tiap lima tahun satu kali, beramai-ramai
para saudara seperguruan itu sudah berada disekitar sini dan kebetulan pula Hian-lan Taisu dan lain-lain keburu berkunjung kemari, seorang budak tua kurang pintar, ia salah sangka kalian adalah musuh yang kutakuti itu. . . . . ."
"Haha, mungkin dia sangka Hian-lan Taisu adalah Sing-siok Lokoai dan kami ini adalah anak murid Sing-siok-pai," tiba-tiba Put-tong menyela, "Tapi aneh juga, kalau tampangku dan kawan-kawanku ini terlalu jelek dan mirip siluman, maka dapat dimengerti jika kami disangka begundalnya Sing-siok Lokoai, namun Hian-lan Taisu toh kelihatan welas asih, kelihatan alim, kalau beliau disangka sebagai Sing-siok Lokoai, wah, sungguh keterlaluan!"
Semua orang mengangguk-angguk dan dapat menerima ucapan Pau Put-tong itu. Sih-sin-ih juga berkata, "Ya, hal ini memang salah si budak tua itu, Malahan budak itu khawatir kalau kami sekeluarga menjadi korban keganasan Lokoai, maka dia telah melanggar pesanku terus menyalakan 'Liu-sing-hwe-bau'(bunga api bentuk roket) yang biasanya dipakai saling memberi tanda dengan para saudara-seperguruanku. Liu-sing-hwe-bau itu buatan Liok-sute kami, bila dinyalakan segera menjulang kelangit dengan cahaya yang beraneka warna, Kami berdelapan saudara masing-masing mempunyai bunga api tanda pengenal sendiri-sendiri dan segera akan diketahui
siapa yang datang jika bunga api dilepaskan, Kejadian tadi boleh dikata ada untung dan tidak beruntung, Untungnya tatkala terancam bahaya kami berdelapan bisa berkumpul untuk bersama-sama melawan musuh, Tapi karena itu juga dapat dijaring sekaligus oleh Sing-siok Lokoai, maka boleh juga dikatakan tidak beruntung."
"Biarpun kepandaian Sing-siok Lokoai teramat lihai juga belum tentu mampu menandingi padri sakti Siau-lim-si seperti Hian-lan Taisu," kata Pau Put-tong. "Apalagi kalau ditambah dengan kita kaum keroco ini, jika kita melawannya dengan mati-matian, rasanya juga belum tentu akan kalah, mengapa mesti. . . .mesti. . . . ."
Sampai disini ucapannya, mendadak giginya berkerutukan, racun dingin dalam badannya kembali kumat hingga tidak sanggup bicara.
Pada saat itulah suara halus tajam tadi kembali berkumandang masuk kedalam gua, kata suara itu, "Ayo, itu anak murid So Sing-ho, lekas keluar saja dan menyerahkan diri, dengan demikian mungkin jiwa kalian akan dapat diampuni, jika ayal-ayalan, awas jangan menyesal jika aku tidak ingat kepada sesama perguruan lagi!"
"Huh, dia masih punya muka untuk bicara tentang sesama perguruan segala?" jengek Kheng Kong-leng.
Hoan Pek-ling orangnya lebih sabar dan dapat berpikir panjang, katanya, "Thio-lakte, jika kita tinggal diam tidak menggubris dia, kira-kira saja Ting-lokoai dapat menyerbu kesini atau tidak?"
Tapi Thio A Sam tidak menjawab, sebaliknya ia tanya malah kepada Sih-sin-ih, "Goko, kalau melihat batu dalam gua ini, agaknya ini adalah bangunan pada tigaratus tahun yang lalu, entah atas ciptaan arsitek siapakah?"
"Tempat ini adalah warisan leluhurku, turun temurun sudah ada gua pelindung ini, tentang siapa yang membangunnya, aku sendiri tidak tahu," sahut Sih Boh-hoa alias Sih-sih-ih.
"Bagus, kamu mempunyai liang kura-kura sebagus ini, tapi selamanya tidak pernah kau katakan pada kami," seru Kheng Kong-leng.
Sih-sin-ih tampak merasa jengah, katanya, "Harap Toako suka maafkan, Gua semacam ini bukan sesuatu yang dapat dibanggakan, maka tiada harganya untuk dibicarakan. . . . ."
Sampai disini, sekonyong-konyong terdengar suara letusan yang dahsyat bagaikan gempa, Kaki semua orang yang berada dalam gua merasa bumi seolah-olah tergucang hingga berdiri pun tak bisa tegak.
"Celaka! Ting-lokoai menggunakan dinamit untuk meledakkan gua ini, dalam sekejap saja tentu dia akan menyerbu kesini," seru Thio A Sam dengan khawatir.
"Keparat, dasar manusia rendah, iblis laknak!" maki Kheng Kong-leng dengan gusar. "Cosuya dan Suhu kami adalah ahli bangunan dan arsitek terpandai segala ilmu pesawat rahasia bagi beliau-beliau itu adalah kepandaian yang sepele, Tapi Sing-siok Lokoai ini tidak becus memecahkan jalan pesawat rahasia gua ini, dia terus menggunakan obat peledak! Huh, masakah dia ada harganya untuk disebut anak murid perguruan kita?"
Segera Pau Put-tong mengejek, "Dia sudah membunuh guru dan melukai Su-heng, masakah kalian masih mengaku dia sebagai Susiok?"
Belum lagi Kheng Kong-leng menjawab, tiba-tiba terdengar suara ledakan yang hebat hingga debu pasir beterbangan dalam gua dan keadaan menjadi tegang.
"Dari pada mati konyol disini, lebih baik kita serbu keluar untuk mengadu jiwa dengan dia saja," ujar Hian-lan.
Segera Ting Pek-jwan, Kongya Kian, Pau Put-tong dan Hong Po-ok berempat menyatakan akur, Hoan Pek-ling dan kawan-kawannya juga tahu Hian-lan adalah padri terkemuka Siau-lim-pai, kalau dia disuruh sembunyi didalam gua dan tidak berani menghadapi musuh, hal ini sesungguhnya sangat
merugikan nama kebesaran Siau-lim-si, Toh akhirnya juga mesti mati, terang pertarungan sengit tak bisa dihindarkan, maka Pek-ling lantas menanggapi, "Baiklah, jika begitu kita keluar bersama untuk mengadu jiwa dengan Lokoai! Tapi Hian-lan Taisu tiada permusuhan apa-apa dengan Ting-lokoai, lebih baik jangan ikut campur urusan kami, dan para Taisu dari Siau-lim-pai disilakan menonton saja nanti."
"Tidak, setiap urusan dunia persilatan menjadi kewajiban Siau-lim-pai untuk ikut ambil bagian, maka harap maaf, terpaksa Siau-lim-pai nanti juga akan ikut campur," kata Hian-lan.
"Atas budi luhur Taisu yang sudi membantu sudah tentu kami berdelapan saudara sangat berterima kasih." kata Thio A Sam, "Sekarang kita boleh keluar melalui jalan semula saja,
biar Lokoai itu terperanjat diluar dugaan."
Semua orang menyatakan tepat pikiran Thio A Sam itu.
Lalu A Sam berkata lagi, "Adapun anggota keluarga Sih-goko dan kedua saudara Pau dan Hong disilakan tinggal disini saja, rasanya Ting-lokoai tidak sampai menggeledah kedalam sini!"
"Kau sendiri saja yang ditinggalkan disini!" kontan Pau Put-tong menyahut dengan mata melotot.
"Bukannya kupandang rendah kepada saudara berdua,"
lekas A Sam memberi penjelasan, "Cuma kalian sudah menderita keracunan, kalau mesti bertempur lagi tentu akan kurang leluasa."
"Semakin parah aku menderita, semakin bersemangat aku akan bertempur," sahut Put-tong.
Keruan Hoan Pek-ling dan lain-lain berkerut kening, merasa Pau Put-tong ini benar-benar seorang kepala batu dan susah diberi mengerti.
Segera A Sam putar tombol pesawat rahasia, lalu mendahului bertindak keluar dengan cepat, baru saja suara berkeriat-keriut itu berbunyi dan lubang keluar itu baru terbuka sedikit, terus saja Thio A Sam melemparkan dulu tiga buah peluru keluar, maka terdengarlah suara letusan tiga kali
menyusul asap tebal lantas memenuhi udara hingga jalan keluar itu hampir tidak kelihatan.
Maksud Thio A Sam dengan meledakkan granat asap itu adalah supaya Sing-siok Lokoai tidak berani mendekat, sebab kalau iblis itu sampai berjaga dimulut gua itu, maka setiap orang yang baru menongol keluar tentu akan dibekuknya dengan gampang.
Begitulah setelah tiga suara letusan itu lenyap, sementara itu lubang papan batu itu sudah terbuka lebih lebar dan cukup untuk dilalui orang, maka kembali A Sam melemparkan pula tiga buah granat itu, menyusul ia lantas melompat keluar.
Dan belum lagi Thio A Sam berdiri atau mendadak sesosok bayangan orang sudah menyelinap lewat disebelahnya, Dan sekali melompat lagi, terus saja orang itu menerjang kearah gerombolan orang yang berdiri disana sambil berteriak, "Mana Sing-siok Lokoai? Ini, biar orang she Hong berkenalan dengan dia!"
Kiranya orang itu tak-lain-tak-bukan adalah In-tin-hong Hong Po-ok, si-angin puyuh, Ia lihat seorang lelaki berbaju kain belacu sudah menghadang didepannya, segera ia membentak pula, "Meski kamu bukan Sing-siok Lokoai, tapi rasakan juga kepalanku ini!"
Kontan ia menghantam, "Blang", dengan tepat sekali dada orang itu kena digenjotnya.
Lelaki itu adalah murid kesembilan Sing-siok-pai, dalam keadaan tak berjaga-jaga dan tak terduga ia kena dihantam sekali dengan keras, untung ilmu silatnya juga tidak lemah, ia
hanya sempoyongan sedikit saja, lalu balas menjotos, "plok",
serangannya juga tepat kena pundak Hong Po-ok.
Maka terdengarlah suara "plak-plok" berulang-ulang, kedua orang saling genjot kian kemari, setiap hantaman mereka selalu mengenai sasarannya, cuma pukulan dari dekat tidak terlalu hebat, hingga tidak membahayakan jiwa masing- masing.
Dalam pada itu dari bawah tanah terdengar "siat-siut" berulang-ulang, Hian-lan, Ting Pek-jwan, Kheng Kong-leng dan lain-lain berturut-turut juga sudah melompat keluar, Segera mereka melihat ditengah kabut asap yang tebal disebelah sana berdiri seorang kakek berperawakan tinggi besar, di kanan kirinya berdiri pula dua baris orang lelaki yang beraneka ragam bangun tubuhnya, ada yang jangkung dan ada yang pendek.
"Hah, Ting-locat, kiranya kamu belum mati, apa kamu masih kenal padaku?" segera Kong-leng berteriak.
Kakek tinggi besar itu memang betul adalah Sing-siok Lokoai Ting Jun-jiu, Sekilas pandang saja ia sudah dapat mengenali para lawannya itu, Ia tidak menjawab olok-olok Kheng Kong-leng, sebaliknya berkata, ""Boh-hoa Hiantit (keponakan yang baik), apa sudah kau sembuhkan hwesio gendut dari Siau-lim-si itu? Jika sudah, aku akan mengampuni jiwamu asalkan kau mau masuk kedalam perguruan Sing-siok-pai kami."
Rupanya yang dia pikirkan waktu itu adalah secepat mungkin supaya Sih Boh-hoa dapat menyembuhkan Sam-ceng Hwesio, lalu akan suruh padri buntek itu menunjukkan jalan ke Kun-lun-san untuk mencari ulat sutra es.
Melihat lagak Ting-lokoai seakan-akan menganggap sepi semua orang yang berada dihadapannya itu, seolah-olah mati hidup setiap orang yang berada disitu adalah tergantung pada dia, maka diam-diam Sih-sin-ih sangat takut, sebab ia cukup kenal betapa lihainya sang Susiok durhaka itu.
Tapi ia pun menjawab dengan ketus, "Ting-locat, didunia ini hanya ada seorang saja yang mampu memerintah aku, apa yang dia katakan tentu aku akan menurut, Jika kamu hendak membunuh aku, hal ini memang sangat mudah bagimu, Tapi bila kau suruh aku mengobati seorang, tidak nanti aku tunduk padamu, ya, kecuali kau minta izin kepada beliau."
"Hm, kamu hanya tunduk kepada perintah So Sing-ho saja, begitu?" tanya Ting Jun-jiu.
"Memang hanya hewan saja yang berani mendurhakai guru sendiri." sahut Boh-hoa.
Serentak Kheng Kong-leng, Hoan Pek-ling dan kawan-kawannya bersorak memuji atas jawaban Sih-sin-ih yang gagah berani itu.
"Hm, bagus, bagus! Kalian betul-betul murid Si Sing-ho yang baik," kata Ting Jun-jiu, "Tapi So Sing-ho pernah memberi tahu padaku, katanya, "Kalian berdelapan sudah diusir dan tidak diakui sebagai murid lagi, Apa barangkali ucapan So Sing-ho itu hanya kentut belaka dan diam-diam dia masih menganggap kalian sebagai muridnya?"
"Sekali beliau guru kami, tetap beliau adalah guru kami sampai akhir jaman," sahut Hoan Pek-ling, "Memang betul selama ini kami telah diusir keluar dari pintu perguruan oleh guru kami."
Halaman
hilang______________________________________________
____________________________________
"Hah, boleh juga tenaga pukulan keledai gundul ini, kira- kira mencapai sepersepuluh kekuatan Suhu," seru seorang murid Sing-siok-pai.
"Mana bisa, paling-paling hanya seperseratus Suhu saja!" ujar kawannya.
Setelah memadamkan api dibadan Li Gui-lui, menyusul Hian-lan mengerahkan angin pukulannya pula hingga api ditubuh Hoan Pek-ling dan Thio A Sam juga dipadamkan.
Tatkala itu Ting Pek-jwan, Kongya Kian, Kheng Kong-leng dan lain-lain sudah menerjang kearah anak murid Sing-siok-pai dan terjadilah pertarungan sengit.
Ting Jun-jiu mengelus-elus jenggotnya dan berkata, "Ehm, padri sakti Siau-lim-si memang lain dari pada yang lain, hari ini dapatlah kubelajar kenal, mari!"
Ia terus melangkah maju, pukulan pertama dilontarkan dengan enteng sekali kelihatannya kearah Hian-lan.
Meski Hian-lan belum pernah bertempur melawan orang Sing-siok-pai, tapi ia cukup kenal "Hoa-kang-tai-hoat" Ting-lokoai yang lihai, ia tahu ilmu golongan Sia-pai ini dapat menghapus lwekang lawan hingga lawan tak bisa berkutik lagi, dan ilmu silat yang dimilikinya akan musnah seluruhnya.
Karena itu, Hian-lan tidak berani ayal, sekali ia menarik napas panjang-panjang, menyusul kedua tangan terus bergerak sebagai kitiran cepatnya, sekaligus ia lontarkan delapanbelas kali pukulan secara berantai, belum lagi pukulan yang satu ditarik kembali atau pukulan yang lain sudah dilontarkan, dengan demikian, Hoa-kang-tai-hoat yang hendak digunakan Ting Jun-jiu menjadi tidak menemukan sasarannya.
Dan "pukulan kilat" model Siau-lim-si ini ternyata sangat hebat daya tekanannya, hingga Ting Jun-jiu terdesak mundur berulang-ulang, Secepat kilat Hian-lan melontarkan delapanbelas kali pukulan dan Ting Jun-jiu dipaksa mundur delapanbelas tindak.
Habis melontarkan delapanbelas kali pukulan, segera tendangan kedua kaki secara berantai dikeluarkan lagi, kembali tigapuluhenam kali tendangan kilat melayang-layang, bayangan kaki menyambar hingga sukar dilihat kai kanan atau kaki kiri.
Dengan cepat Ting Jun-jiu juga menggeser kian kemari untuk menghindar dan semua tendangan baru saja dapat dielakkan, tahu-tahu terdengar suara "plak-plok" dua kali, pundak kena digebuk oleh kepalan Hian-lan.
Kiranya dalam "Lian-hoan-sah-cap-lak-tui" atau 36 kali tendangan secara berantai itu, tatkala dua kali tendangan terakhir dilontarkan, berbareng Hian-lan juga menghantam, Maka Ting Jun-jiu hanya dapat menghindar tendangannya dan tidak sempat berkelit atas pukulan itu.
"Lihai benar!" teriak Ting Jun-jiu terkena kedua kali pukulan itu dan tubuh pun tergeliat dua kali.
Sebaliknya Hian-lan lantas merasa dada seperti "blong" kosong, seketika terasa seperti hilang sesuatu, Ia insaf gelagat jelek, cepat ia tarik napas panjang-panjang hingga hawa murni dalam tubuh merata lagi, menyusul kepalan menghantam pula. Sekali ini Ting Jun-jiu sengaja membalik tubuhnya, ia sambut pukulan lawan dengan punggung, "bluk", tepat punggung terhantam, menyusul kelima jari Hain-lan sebagai cakar terus mencengkeram kuduknya, Tapi mendadak ia merasa tangan seperti melengket, seperti tersedot dan susah ditarik kembali.
Dalam keadaan demikian mau tidak mau ia harus mengadu tenaga dalam, kalau tidak lantas mengerahkan tenaga sekuatnya, bukan mustahil keadaan akan lebih runyam.
Tak terduga, sekali Hian-lan mengerahkan tenaganya, seketika tenaga murni itu seakan-akan air mencurah kelaut saja, hilang tak berbekas, bahkan terus merembes keluar dan susah ditahan kembali.
Tiada seminuman teh, ketika Ting Jun-jiu bergelak tertawa sekali sambil mengangkat pundak "bluk" tahu-tahu Hian-lan jatuh terkulai tenaganya habis dan lemas tubuhnya, untuk berdiri saja tak bisa lagi.
Setelah menjatuhkan Hian-lan dengan sikapnya yang kereng Ting Jun-jiu memandang sekelilingnya, ia lihat Kongya Kian dan Hoan Pek-ling juga sudah menggeletak ditanah dengan badan menggigil, kiranya terkena pukulan racun dingin Yu Goan-ci.
Sedangkan Ting Pek-jwan, Sih Boh-hoa dan lain-lain masih bertempur dengan sengit melawan murid Sing-siok-pai dan sudah ada empat orang yang dirobohkan juga.
Dengan lengan baju yang komprang Ting Jun-jiu terus mengebas sambil melompat maju, ia menubruk kearah Ting Pek-jwan dan mengadu pukulan dengan dia, sedangkan kaki menyapu kesamping hingga Pau Put-tong didepak terjungkal.
Begitu tangan Ting Pek-jwan beradu dengan tangan Sing-siok Lokoai, seketika ia merasa seperti badan meriang, kaki enteng mengambang, cepat ia bermaksud menenangkan pikiran dan menghimpun tenaga, namun kembali pukulan Ting Jun-jiu yang lain dilontarkan pula, terpaksa Pek-jwan memapak lagi dengan sebelah tangannya, tapi seketika lengan terasa beku, semangat buyar, pandangan kabur.
Ketika seorang murid Sing-siok-pai mendekatinya dan sekali sikut, kontan Pek-jwan jatuh lemas ketanah.
Hanya dalam sekejap saja anak buah Buyung-kongcu, para padri Siau-lim-si dengan Hian-lan sendiri beserta Yu-kok-pat-yu yang dikepalai Kheng Kong-leng telah dirobohkan oleh Ting Jun-jiu dan Yu Goan-ci.
Sebenarnya Goan-ci cuma memiliki tenaga dalam yang maha kuat, sedangkan ilmu silat hanya biasa saja, Namun selama ikut Ting Jun-jiu ia telah banyak mendapat petunjuk iblis tua itu hingga hal tipu pukulan sudah banyak mendapat kemajuan walau pun belum sempurna cara penggunaannya,
tapi untuk mengerahkan Pek-jan-han-tok (racun dingin ulat sutra es) dalam tubuhnya sudah lebih dari cukup. Sebab itulah, ketika Kongya Kian dan lain-lain mengadu tangan dengan dia, meski nyata-nyata ilmu pukulan dan tenaga pukulan mereka jauh lebih hebat dari pada Goan-ci,
tapi setelah tangan membentur tangan, seketika mereka dirobohkan dengan terluka dalam.
Diantara mereka hanya tinggal Sih Boh-hoa alias Sih-sin-ih saja yang tidak diganggu gugat, Beberapa kali ia terjang lawan, tapi anak murid Sing-siok-pai selalu menghindarinya dengan tersenyum dan tidak balas menyerang.
"Sih-hiantit," kata Ting Jun-jiu dengan tertawa, "Diantara kalian berdelapan nyata kepandaianmu yang paling tinggi, apakah kau ingin jajal-jajal juga dengan Susiokmu ini?"
Melihat para saudara seperguruannya menggeletak semua dan hanya dia sendiri tidak diapa-apakan, sudah tentu Sih Boh-hoa tahu pihak lawan sengaja tidak mau mengganggunya, maksud tujuan lawan tidak lain adalah supaya dia menyembuhkan hwesio gendut itu.
Maka berkatalah Sih-sin-ih dengan menghela napas, "Ting-locat, maksudmu memaksa aku mengobati orang, hendaklah jangan kau harap akan dapat memaksa diriku!"
"Coba maju kesini, Sih-hiantit," kata Ting-lokoai.
Sih-sin-ih pikir tiada gunanya buat membangkang, sebab kalau iblis itu hendak mencabut nyawanya boleh dikata segampang mengambil barang dikantung sendiri, Karena itu ia lantas melangkah maju kedepan Sing-siok Lokoai.
Tiba-tiba Ting Jun-jiu mengangsurkan tangan kirinya dan memegang pundak Sih Boh-hoa, lalu katanya dengan tersenyum, "Sih-hiantit, sudah berapa lama kau belajar ilmu silat?"
"Tiga puluh lima tahun," sahut Sih-sin-ih.
"Wah, ketekunan selama tigapuluhlima tahun sesungguhnya tidaklah gampang," ujar iblis tua itu dengan menghela napas, "Kabarnya kau suka menukar ilmu silat orang dengan jasa pengobatanmu, maka sudah tidak sedikit tipu ilmu silat bagus berbagai golongan yang telah kau pelajari betul tidak hal ini?"
"Ya, tapi kepandaian yang tiada artinya ini sudah tentu tak bernilai dalam pandanganmu," sahut si tabib sakti.
"Bukan demikian maksudku," ujar Ting-lokoai sambil geleng kepala. "Meski tenaga dalam merupakan alas dasar dan tipu gerakan cuma ranting dan daunnya saja, namun kalau alas dasarnya kuat, dengan sendirinya ranting dan daunnya juga tumbuh dengan subur, tipu gerakan juga bukannya tiada berguna, Misalnya muridku ini. . . . ."
Ia tunjuk Yu Goan-ci, lalu meneruskan, "Tenaga dalamnya sangat kuat, bila ditambah lagi tipu serangan seluas apa yang dipahami Sih-hiantit, maka miriplah harimau tumbuh sayap
dan akan dapat malang melintang didunia persilatan Tionggoan, Adapun lwekang Sih-hiantit memang agak lemah sedikit, tapi bukannya tidak dapat dipenuhi kekurangan itu dengan tipu serangan yang hebat, Cuma saja kalau tenaga dalam sampai hilang sama sekali, maka itu berarti kelumpuhan, sama saja seperti orang cacat, bukan cuma ilmu silatnya saja yang punah, bahkan ketajaman otak juga akan terganggu, untuk bisa mengobati orang lagi jelas jangan harap. Juga seorang yang mengaku sebagai 'Cong-pian Sian-sing' alias So Sing-ho."
"Kau berani mengganggu seujung rambut guruku? Ting-locat?" teriak Sih-sin-ih dengan murka.
"Kenapa tidak berani?" jawab Ting-lokoai. "Tindak-tanduk Sing-siok Losian selamanya bebas merdeka Apa yang kukatakan sekarang, besok juga boleh kulupakan, Meski aku pernah berjanji kepada So Sing-ho asalkan dia selanjutnya tidak membuka suara, maka aku berjanji takkan membunuh dia, Tapi sekarang kamu membikin marah padaku, akibat perbuatanmu ini akan kuperhitungkan juga atas hutang gurumu, dan kalau kubunuh dia, didunia ini siapa yang berani melarang aku?"
Pikiran Sih Boh-hoa kusut-marut, ia tahu segala perbuatan keji dapat dilakukan Susiok durhaka ini, jika dirinya sekarang berkeras kepala tidak mau mengobati Sam-ceng, terang jiwa ketujuh saudara seperguruannya akan menjadi korban, bahkan keselamatan Suhu mungkin juga tidak terjamin lagi,
Sebaliknya kalau hwesio gendut itu disembuhkan, hal ini berarti membantu kejahatan iblis tua itu, sebab maksud tujuannya menyembuhkan hwesio gendut itu tentu mempunyai rencana keji lain.
Sesudah berpikir, akhirnya Sih-sin-ih menjawab juga, "Baiklah, aku menyerah padamu, Tapi sesudah hwesio gendut ini kusembuhkan, tidak boleh lagi kau bikin susah Suhu dan kawan-kawan yang berada disini."
"Boleh, boleh, boleh!" sahut Ting-lokoai dengan girang, "Aku berjanji akan mengampuni jiwa anjing mereka."
"Siapa sudi diampuni olehmu?" tiba-tiba Pek-jwan menyela. "Seorang laki-laki sejati kenapa mesti takut mati?
Tapi perbuatanmu yang keji ini kelak tentu akan mendapatkan ganjaran yang setimpal."
"Keparat, Sih Boh-hoa, jangan mau tertipu bangsat itu tadi sudah mengaku sendiri bahwa apa yang pernah dikatakan besok juga bisa dilupakan, masakah kamu masih percaya padanya?" segera Pau Put-tong juga menimbrung.
Namun Ting-lokoai tak peduli, ia tanya lagi, "Sih-hiantit, nah, sekarang aku akan mulai tanya padamu, kau mau mengobati hwesio gendut itu tidak?"
Habis berkata, sebelah kakinya terus terangkat dengan ujung kaki mengarah "Thai-yang-hiat", yaitu bagian pelipis kepala Kheng Kong-leng.
Nyata, asal sitabib sakti menjawab tidak, seketika kakinya akan menendang dari jauh dan jiwa Kheng Kong-leng seketika akan melayang.
Menghadapi detik demikian, hati semua orang ikut berdebar-debar, Mendadak terdengar seorang berteriak, "Tidak mau!"
Yang berteriak ini ternyata bukan Sih-sin-ih, tapi Kheng Kong-leng sendiri.
"Hm, ingin sekali tendang kucabut nyawamu? Tidak begitu gampang urusannya?" jengek Ting-lokoai, Lalu ia berpaling kepada Sih-sin-ih dan bertanya lagi, "Apakah kau ingin membunuh Toa-suhengmu melalui kakiku ini ?"
"Ya, sudahlah, aku akan menyembuhkan hwesio gendut itu menurut keinginanmu," sahut Sih-sin-ih akhirnya dengan patah semangat.
"Sih-longo!" segera Kheng Kong-leng memaki, "Kenapa kamu begini pengecut? Ting-locat adalah musuh perguruan kita, tapi kamu kena ditaklukkan dibawah ancamannya?"
"Soal kita berdelapan akan dibunuhnya bukanlah hal yang luar biasa," sahut Sih Boh-hoa, "Tapi kau sendiri kan dengar juga bahwa bangsat tua ini juga akan mengganggu Suhu?"
Demi teringat kepada keselamatan sang guru, Kheng Kong-leng dan lain-lain menjadi tak berani buka suara lagi.
"Penge. . . . ." mendadak Pau Put-tong hendak mengejek, tapi keburu didekap mulutnya oleh Ting Pek-jwan.
"Nah, Ting-locat, akan kuturut keinginanmu untuk menyembuhkan hwesio gendut itu, dan kamu harus ramah-tamah terhadap kawan-kawanku ini." kata Sih-sin-ih.
"Baik, kuturut permintaanmu," sahut Ting-lokoai.
Segera Sih-sin-ih masuk kembali kedalam gua dan suruh centeng2nya menggotong keluar orang-orang terluka, Sam-ceng hwesio yang tubuhnya mirip gentong itu menjadi ketakutan demi melihat Hian-lan juga berada disitu.
Si tabib sakti tidak banyak bicara lagi, segera ia lakukan tugasnya mengobati orang-orang yang terluka itu, ia sambung tulang yang patah, memberi obat yang luka, sampai pagi hari barulah selesai, Orang-orang luka itu dibaringkan diatas daun
pintu atau ditempat tidur, centeng keluarga Sih lantas membuatkan bakmi untuk semua orang.
Setelah sabet dua mangkuk bakmi, dengan tertawa Ting-lokoai berkata kepada Sih Boh-hoa, "Hahaha, kamu cukup tahu gelagat, tidak menaruh racun dalam bakmi ini."
"Bicara tentang pakai racun, didunia ini rasanya tiada yang lebih pandai dari padamu, buat apa aku mesti main kayu terhadap kaum ahli?" sahut sitabib sakti.
"Baiklah, sekarang kau suruh orang menyewakan sepuluh buah kereta keledai," kata Ting-lokoai kemudian.
"Sepuluh buah kereta akan dibuat apa?" tanya Boh-hoa.
Tiba-tiba Ting-lokoai mendelik, katanya, "Urusanku kau berani ikut campur tangan? Nama Sih-sin-ih cukup terkenal disekitar sini, untuk menyewa sepuluh buah kereta tentu bukan sesuatu yang sukar."
Terpaksa Sih Boh-hoa memerintahkan centengnya pergi mencari kereta, Lewat lohor, datanglah kembali centeng itu dengan sepuluh buah kereta kedelai.
Mendadak Ting Jun-jiu memberi perintah, "Bunuh semua kusir kereta itu!"
Keruan Sih Boh-hoa terkejut, ia menegas, "Apa katamu ?"
Dalam pada itu para murid Sing-siok-pai sudah bekerja cepat, dimana tangan mereka naik turun, terdengarlah suara 'plak-plok' berulang-ulang, sepuluh kusir kereta keledai itu kontan menggeletak tak bernyawa lagi.
"Ting-locat?" teriak Sih Boh-hoa dengan gusar, "Dosa apa para kusir ini hingga mesti mem. . . membunuh mereka sekeji ini ?"
"Hah, orang Sing-siok-pai ingin membunuh beberapa orang masakah mesti permisi dan bicara tentang dosa atau tidak?" jengek Ting-lokoai. "Pendek kata, kalian semua lekas naik keatas kereta, satu pun tidak boleh ketinggalan, Nah, Sih-hiantit, apa kamu hendak membawa sedikit kitab dan obat-obatan, kalau ada lekas ambil, segera akan kubakar rumahmu."
Kembali Sih Boh-hoa terperanjat, Tapi ia pikir segala kejahatan dapat diperbuat Susiok durhaka itu, untuk membantahnya juga tak berguna, Tentang kitab pertabiban sudah diapalkannya diluar kepala, maka tidak perlu dibawa, Hanya sedikit obat-obatan yang telah dibuatnya dengan susah payah itu perlu dibawa serta, Maka sambil mencaci maki ia pun bebenah apa yang perlu.
Selesai bebenah, sementara itu murid Sing-siok-pai sudah mulai menyalakan api disana-sini.
Hian-lan, Pek-jwan, Kheng Kong-leng dan lain-lain yang tinggi ilmu silatnya kini sudah tak berdaya semua, kalau bukan lumpuh terkena Hoa-kang-tai-hoat Ting-lokoai, tentu keracunan oleh pukulan Peng-jan-han-tok Yu Goan-ci.
Menurut perintah, Hui-keng dan Hui-si dari Siau-lim-pai mestinya akan kabur pulang ke Siau-lim-si untuk melaporkan peristiwa ini, siapa duga Ting Jun-jiu sudah memasang jaring-jaring dengan sangat rapat, baru saja kedua padri itu memencarkan diri melalui dua arah atau mereka sudah keburu ditangkap kembali.
Jadi diantara tujuh padri Siau-lim-si, yaitu Hian-lan bersama keenam padri lain, A Pik dan Ting Pek-jwan berlima, Yu-kok-pat-yu berdelapan, jumlah seluruhnya dua puluh orang, hanya Sih-sin-ih saja yang tidak terganggu seujung rambutpun, sedangkan sembilanbelas orang yang lain semuanya terluka dan tak berdaya.
Bahkan keadaan A Pik paling payah, namun Ting-lokoai tidak ingin gadis itu mati segera, ia memberinya sedikit obat penawar sehingga keadaan A Pik agak baikan, tidak mati juga tidak hidup.
Selain ke-duapuluh orang itu, ditambah lagi anggota keluarga Sih Boh-hoa, beberapa puluh orang itu dijejalkan kedalam sepuluh buah kereta, Murid-murid Sing-siok-pai ada yang menjadi kusir, ada yang mengawal disamping, kereta-kereta lantas diberangkatkan.
Hian-lan dan lain-lain mempunyai sesuatu pertanyaan yang sama, yaitu 'Kemanakah iblis ini hendak membawa kita?'
Mereka tahu kalau membuka suara dan tanya tentu akan dijawab dengan ejekan dan hinaan belaka, maka mereka pun tidak mau tanya melainkan tunggu dan lihat saja nanti.
Celakanya sesudah mereka berjejal-jejal didalam kereta, segera murid-murid Sing-siok-pai menutup tenda kereta rapat-rapat dan diikat pula dengan tali hingga semua orang tidak dapat melihat keadaan diluar.
Kereta dijalankan terus siang dan malam tanpa berhenti, Hian-lan, Ting Pek-jwan, Kheng Kong-leng dan lain-lain adalah tokoh persilatan terkemuka semua, tapi kini ilmu silat mereka telah punah hingga menjadi tawanan musuh, keruan semangat mereka sama patah.
Semula mereka pikir akan dapat membedakan arah tujuan kereta dengan sinar matahari, namun ketika malam tiba, Ting Jun-jiu lantas suruh murid-muridnya memutar kereta kesana dan kesini untuk membingungkan arah bagi para tawanannya, Dan kalau tiba dikota, Ting-lokoai lantas membeli keledai untuk menggantikan keledai yang sudah letih, Karena itu semua orang hanya dapat membedakan arah yang mereka tuju itu seperti tenggara.
Begitulah berturut-turut delapan hari mereka digiring, sampai pagi hari kesembilan jalan terasa menanjak, agaknya jalan pegunungan yang berliku-liku dan tidak rata hingga semua orang didalam kereta terguncang setengah mati, Masih mendingan bagi Hian-lan dan lain-lain yang kehilangan tenaga dalam, yang paling menderita adalah Pau Put-tong dan Hong Po-ok, karena guncangan itu mereka tersiksa lebih hebat oleh racun dingin dalam tubuh.
Sampai lohor, jalan makin menanjak dan makin tinggi, akhirnya sampai disuatu tempat, kereta tidak dapat naik lagi, Lalu murid-murid Sing-siok-pai menyuruh Hian-lan dan lain-lain turun dari kereta.
Ternyata pegunungan itu penuh pohon bambu yang rindang, pemandangan indah permai, ditepi selat pegunungan itu dibangun sebuah gardu bambu yang artistik, Melihat bangunan gardu yang indah itu, Thio A Sam terpesona dan memuji tak habis-habisnya.
Dan baru semua orang mengambil tempat duduk disekitar gardu bambu, tiba-tiba terlihat empat orang berlari turun dari jalan pegunungan sana, Sesudah dekat, ternyata dua diantaranya adalah murid Sing-siok-pai, mungkin tadi disuruh mendahului naik keatas gunung untuk menyelidiki atau memberi kabar.
Dua orang lagi yang tak dikenal itu adalah pemuda berdandan sebagai petani, Sampai didepan Ting Jun-jiu mereka lantas memberi hormat dan tanpa bicara lalu menyerahkan sepucuk surat.
Setelah Ting-lokoai membaca surat itu, tiba-tiba ia tertawa dingin dan berkata, "Bagus, bagus! Kamu belum kapok dan ingin mengadu jiwa lagi, sudah tentu akan kupenuhi keinginanmu."
Tiba-tiba salah seorang pemuda petani itu mengeluarkan sebuah mercon roket terus dinyalakan dan dilepaskan keudara.
Pada umumnya mercon roket itu mesti berbunyi dulu, menyusul akan meletus lagi diatas tapi mercon yang digunakannya ini agak luar biasa semula tidak berbunyi, setelah menjulang tinggi diangkasa baru meletus tiga kali berturut-turut dengan suara yang keras.
Melihat itu, Thio A Sam tidak sangsi lagi dengan pelahan katanya kepada Kheng Kong-leng, "Toako, inilah barang buatan perguruan kita sendiri."
Dan tidak lama sesudah suara letusan mercon itu, mendadak dari atas gunung berlari datang serombongan orang sejumlah tiga puluhan orang, semuanya berdandan sebagai petani dan membawa senjata panjang.
Sesudah dekat, ternyata yang mereka bawa bukan senjata melainkan gala bambu, setiap dua batang bambu itu terikat jaring tambang yang dapat dipakai sebagai usungan.
"Wah, tuan rumahnya cukup menghormati kita, maka kita pun tidak perlu sungkan-sungkan, marilah naik saja," kata Ting-lokoai dengan tertawa dingin.
Maka Hian-lan dan lain-lain lantas naik keatas usungan jaring tambang itu, para pemuda petani itu lantas membagi tugas, dua orang menggotong satu usungan, dengan cepat mereka berlari pula keatas gunung.
Ting Jun-jiu sendiri mendahului didepan, Tampaknya larinya tidak terlalu cepat, tapi di jalan pegunungan yang terjal dan tidak rata itu ia dapat melesat secepat terbang seakan-akan kaki tidak menyentuh tanah, hanya dalam sekejap saja orangnya sudah menghilang di balik hutam bambu diatas sana.
Selama beberapa hari ini, Hian-lan, Ting Pek-jwan dan lain-lain yang terkena Hoa-kang-tai-hoat atau terkena racun dingin pukulan Yu Goan-ci, selalu merasa penasaran karena menganggap diselomoti ilmu sihir musuh yang jahat dan bukan dikalahkan dengan ilmu sejati, Tapi kini demi menyaksikan betapa hebat ginkang iblis tua itu, kepandaian demikian terang adalah kepandaian sejati, mau tidak mau mereka tunduk dengan rela.
Pikir mereka, "Andaiakan dia tidak memakai ilmu siluman yang jahat juga kami pasti bukan tandingannya."
Sebagai ksatria, Hong Po-ok adalah seorang yang jujur, tanpa tedeng aling-aling lagi ia memuji, "Ya, ginkang iblis tua itu memang sangat hebat, sungguh aku sangat kagum."
Dan sekali ia memuji, serentak anak murid Sing-siok-pai yang mengawal disamping itu terus mengoceh, mereka memuji setinggi langit guru mereka, katanya ilmu silat Ting Jun-jiu tiada tandingannya didunia ini, bahkan dari dahulu kala hingga sekarang tiada seorang sarjana ilmu silat yang mampu melebihi Ting-lokoai.
Dasar murid-murid Sing-siok-pai itu sudah biasa dan terlatih dalam hal memuji dan menjilat, maka cara mereka mendewa-dewakan Ting Jun-jiu sungguh luar biasa dan tidak pernah didengar oleh Hian-lan dan lain-lain.
Pau Put-tong lantas menanggapi, "Hai, para saudara Sing-siok-pai, ilmu silat golongan kalian memang tak bisa ditandingi golongan lain, benar-benar sedari dahulu kala tidak pernah ada dan kelak pun takkan terjadi."
"Emangnya, masakah kami mendustai kalian?" sahut murid-murid Sing-siok-pai dengan senang, Lalu mereka pun tanya, "Dan menurut pendapatmu, ilmu silat kami manakah yang paling lihai?"
"Kukira tidak hanya semacam saja ilmu silat kalian yang lihai, paling sedikit ada tiga macam." sahut Put-tong.
Karuan anak murid Sing-siok-pai tambah girang, "Ketiga macam yang mana?" tanya mereka berbareng.
"Masakah kalian sendiri tidak tahu?" demikian Put-tong sengaja jual mahal.
"Kami? Ya. . . ya, kami tidak tahu, tolonglah suka menjelaskan!" pinta orang2 Sing-siok-pai itu.
"Ini dia, coba pentang telinga kalian dan dengarkan dengan baik," ucap Put-tong dengan sikap sungguh-sungguh.
"Pertama adalah Ma-bi-kang (ilmu menjilat pantat), Menurut pendapatku, Wah! ilmu ini sangat penting, sebab kalau kalian tidak melatihnya dengan masak benar, mungkin akan susah menempatkan diri dalam perguruan, Dan ilmu kedua adalah Hoat-le-kang (ilmu meniup kulit keong, maksudnya omong besar), Ilmu ini juga sangat penting, kalau kalian tidak dapat membual setinggi langit ilmu silat perguruan kalian sendiri, bukan saja kalian akan dipandang rendah oleh gurumu, bahkan kedudukan diantara sesama saudara seperguruan juga akan terdesak, Dan akhirnya ilmu yang ketiga ini adalah Ho-gan-kang (ilmu muka tebal), Ilmu ini terlebih penting lagi, jika kalian tidak berani tutup mata dan bermuka tebal, mana dapat kalian meyakinkan kedua ilmu mujizat Ma-bi-kang dan Hoat-le-kang?"
Habis berkata, Put-tong mengira anak murid Sing-siok-pai pasti akan menghujaninya caci-maki dan pukulan serta tendangan, Eh, siapa tahu tidak demikian halnya, bahkan semuanya tampak mengangguk-angguk seakan-akan membenarkan ucapan Pau Put-tong.
Seorang diantaranya bahkan berkata, "Saudara ini sungguh sangat pintar hingga cukup paham terhadap seluk-beluk golongan kami, Tentang Ma-bi-kang, Hoat-le-kang dan Ho-gan-kang, tiga macam ilmu sakti ini juga sangat susah dipelajari, Pada umumnya orang sok risi dan suka membeda-bedakan apa yang baik dan mana yang jelek. Dan siapa saja kalau sudah cenderung kepada pikiran demikian itu, terang akan susah menyakinkan Ho-gan-kang, andaikan bisa, sampai saat terakhir tentu juga akan gagal."
Sebenarnya ucapan Pau Put-tong tadi hanya sindiran belaka, siapa tahu malah mendapat tanggapan sungguh-sungguh dari orang Sing-siok-pai dan tidak sirik sedikit pun, karuan ia tidak habis heran.
Maka dengan tertawa ia berkata pula, "Wah, rupanya ilmu sakti ajaran golongan kalian teramat luas dan mendalam hingga aku tidak dapat menyelaminya, dengan setulus hati aku ingin mohon Taisian suka memberi petunjuk."
Mendengar kata 'Taisian' atau dewa besar, orang itu benar-benar merasa seolah-olah sudah menjadi dewa sungguhan, Dan dengan lagak 'dewa' ia pun berkata, "Tapi kamu bukan orang golongan kami, dimana letak kunci rahasia ilmu mujizat kami sudah tentu tidak boleh dikatakan padamu, Pendek kata, kunci utama dari ilmu mujizat kami terletak pada diri Suhu yang harus kami junjung sebagai malaikat dewata, biarpun beliau mendadak kentut. . . . . ."
"Tentu berbau wangi juga." sambung Pau Put-tong mendadak.
"Tepat," kata orang itu sambil mengangguk-angguk, "Kamu memang sangat berbakat, tanpa diajar juga sudah tahu, Jika kau mau masuk perguruan kami, kukira akan mencapai tingkatan yang tertinggi, cuma sayang jalanmu tersesat dan telah kesasar kekalangan tak beres, namun juga tidak berhalangan asalkan kamu dapat pegang teguh kepada kunci rahasia tadi."
"Untuk masuk perguruan kami jangan dikira gampang." sela seorang lagi dengan tersenyum, "Melulu ujian penerimaan yang maha sulit itu sudah cukup membikin kamu kapok dan akan mundur teratur."
"Disini terlalu banyak orang, tidak enak untuk dibicarakan dengan dia," demikian seorang kawannya menimbrung, "Pendek kata, hai, orang she Pau, jika kamu sungguh-sungguh ada maksud masuk perguruan kami, boleh juga aku nanti membantu memberi sokongan suara dihadapan Suhu."
Kongya Kian dan Ting Pek-jwan tahu bahwa ucapan Pau Put-tong itu hanya untuk menggoda anak murid Sing-siok-pai saja tak terduga manusia-manusia goblok itu justru menganggapnya sungguh-sungguh, karuan Pek-jwan dan Kongya Kian sangat mendongkol dan geli pula, pikir mereka,
"Didunia ini ternyata ada manusia rendah yang membanggakan kepandaian mengumpak dan menjilat, sungguh tidak kenal malu dan keterlaluan."
Tengah bicara, sementara itu rombongan mereka sudah memasuki sebuah lembah pegunungan, Dilembah itu penuh tumbuh pohon cemara yang rindang, bilamana angin bertiup, terdengarlah suara gemersek daun pohon yang menyerupai lidi itu.
Setelah menyusur hutan sejenak, akhirnya sampailah mereka didepan tiga petak rumah kayu, dibawah sebatang pohon besar didepan rumah tertampak ada dua orang sedang main catur, selain itu ada pula dua orang yang sedang menonton permainan catur mereka.
Sesudah dekat, tiba-tiba Pau Put-tong mendengar Li Gui-lui yang digotong di usungan belakang bersuara, seperti hendak bicara tapi urung karena ditahan kembali, Waktu Put-tong menoleh, ia lihat air muka sianak wayang itu pucat pasi, sikapnya cemas khawatir.
Seketika Put-tong tidak tahu apa sebabnya sianak wayang yang biasanya suka menembang itu kini mendadak berubah ketakutan, Waktu ia berpaling kembali, ia lihat kedua penonton pertandingan catur itu seorang adalah Ting Jun-jiu dan yang lain adalah seorang nona cantik.
Sedangkan kedua pemain catur itu, yang duduk disisi kanan sana adalah seorang tua kurus kecil, dan lawannya adalah seorang Kongcu muda dan cakap.
Put-tong kenal Kongcu itu dan si nona cantik, tanpa terasa ia berseru, "He, nona Ong, mengapa engkau berada disini?
Apa engkau datang bersama orang she Toan ini?"
Kiranya nona cantik itu adalah Ong Giok Yan dan Kongcu muda itu dengan sendirinya Toah Ki adanya.
Tempo dulu waktu dikediaman A Cu, yaitu di papilyun 'Thing-hiang-eing-sik', Pau Put-tong pernah bertemu sekali dengan Toan Ki, malahan tangan Toan Ki hampir dipuntir patah olehnya, Sedangkan Ong Giok-yan adalah adik misan Buyung-kongcu, ternyata sekarang berada bersama pula dengan pemuda cakap itu, karuan Pau Put-tong merasa tidak senang.
Maka Giok-yan mengiakan sekali dengan acuh tak acuh, sama sekali ia tidak menoleh dan masih asyik mengikuti pertandingan catur itu.
Ada pun papan catur yang digunakan itu terukir diatas sepotong batu hijau yang besar, baik biji catur putih maupun hitam, semuanya halus mengkilat, sementara itu kedua belah pihak sudah menjatuhkan ratusan biji catur masing-masing (catur disini serupa permainan damdaman).
Disebelah lain Ting Jun-jiu juga berdiri dekat dibelakang sikakek kurus kecil dan asyik juga mengikuti pertandingan catur itu.
Tatkala itu Toan Ki sedang memegang satu biji catur dan belum dijalankan, tapi lagi berpikir dimana biji catur itu harus dipasang.
Tiba-tiba Pau Put-tong berseru, "Hai, Lo siansing, ada tamu, kenapa engkau diam saja dan masih terus main catur apa segala?"
Dalam pada itu Kheng Kong-leng berdelapan buru-buru meronta turun dari usungan terus berlutut kira-kira dua meter didepan batu hijau tempat papan catur itu.
Karuan Put-tong terkejut, serunya, "He, apa-apaan kalian ini?"
Tapi segera ia paham duduknya perkara, Jelas sikakek kurus kecil itu tak lain tak bukan adalah Liong-ah Lojin alias 'Cong-pian Siansing' yang termashur alias guru Kheng Kong-leng berdelapan.
Sudah terang musuh besar telah berada disebelahnya, mengapa dia masih enak2 main catur dengan orang? Apalagi lawan caturnya juga bukan seorang juara catur atau pemain ternama, tapi seorang pelajar yang ketolol-tololan.
Maka terdengar Kong-leng berkata, "Engkau orang tua masih sehat walafiat melebihi duu, sungguh kami berdelapan girang tak terhingga."
Yu-kok-pat-yu sudah diusir keluar perguruan, maka sekarang mereka tidak berani menyebutnya sebagai Suhu, lalu ia menyambung lagi, "Hian-lan Taisu dari Siau-lim-pai juga berkunjung kemari."
Sebagai Sute ketua Siau-lim-si, sudah tentu kedudukan Hian-lan dalam Bu-lim adalah sangat tinggi dan dihormati, sekarang So Sing-ho tidak menyambutnya sebagaimana mestinya, hal ini sudah kurang sopan, bahkan sang tamu sudah berada didepannya dan dia masih enak-enak main catur, sikap demikian terang kurang menghormati tamunya.
Tapi tertampak badan So Sing-ho tergetar demi mendengar laporan Kong-leng tadi, segera ia berdiri dan memberi hormat kepada para tamunya sambil berkata, "Atas kunjungan Hian-lan Taisu, harap maafkan aku tidak mengadakan penyambutan, maaf!"
Waktu bicara sinar matanya sama sekali tidak memandang kearah Hian-lan, sebaliknya masih terus memperhatikan papan caturnya, dan sehabis berkata, ia duduk kembali menghadapi lawan caturnya.
Keruan semua orang terperanjat demi mendengar Liong-ah Lojin (si kakek tuli dan bisu) ternyata dapat mendengar, bahkan pandai bicara pula.
Maka Hian-lan lantas menjawab, "Terima kasih!"
Ia lihat So Sing-ho sedemikian menitikberatkan permainan catur, diam-diam ia pikir, "Orang ini terlalu banyak memperdalam permainan catur dan lain sebagainya, pantas ilmu silatnya kalah jauh dari pada sang Sute."
Begitulah keadaan menjadi sunyi senyap, mau tidak mau semua orang harus mengikuti pertandingan catur itu.
Tiba-tiba Toan Ki berkata, "Baiklah, disini saja!" Lalu ia taruh satu biji catur hitam diatas papan catur batu itu.
Sebaliknya Si Sing-ho sama sekali tidak berpikir, ia terus menaruh sebiji catur putih dengan cepat, Karena Toan Ki sebelumnya sudah merancangkan balasan langkah caturnya, maka menyusul ia pun menaruh satu biji hitam lagi, lalu So Sing-ho juga menaruh satu biji putih dan begitu seterusnya hingga masing-masing menaruh belasan biji.
Akhirnya terdengarlah Toan Ki berkata dengan gegetun, "Wah, ilmu catur Losiansing memang sangat tinggi dan sukar dijajaki dalamnya, Wanpwe tidak dapat memecahkannya."
Dengan demikian, jadi terang So Sing-ho telah menang, tapi bukannya senang, sebaliknya ia malah mengunjuk rasa sedih, katanya, "Daya pikir Kongcu sebenarnya sangat rapi dan dapat mencapai jauh, belasan langkah caturmu ini sudah mencapai tingkatan teknik yang tinggi, Cuma sayang tak dapat berpikir lebih dalam lagi sedikit, sungguh sayang! Ai, benar-benar sayang!"
Lalu Toan Ki menjemput sumua biji caturnya yang berwarna hitam itu dan dimasukkan kedalam kotak, So Sing-ho juga menjemput kembali belasan biji catur warna putih yang dipasangnya tadi.
Sebagai seorang penggemar dan juara catur, sudah tentu Hoan Pek-ling dari Yu-kok-pai-yu itu sangat tertarik kepada setiap pertandingan catur, Setelah mengikuti dari jauh pertandingan itu, maka tahulah dia bahwa sang 'Suhu' bukan lagi bertanding dengan Kongcu muda yang cakap itu, melainkan membuat sebuah 'problem' dan Kongcu muda itu disuruh coba memecahkan problem catur itu dan ternyata pemuda itu tidak sanggup.
Pek-ling berlutut ditanah, sudah tentu tidak begitu jelas mengikuti "problem catur" itu, sungguh ia ingin berdiri untuk melihatnya, Syukurlah waktu itu So Sing-ho lantas berkata, "Sudahlah, kalian boleh berdiri saja! Pek-ling, 'problem' ini sangat luas tali-temali antara langkah satu dengan langkah
lainnya, Coba kau periksa kesini, kalau kau dapat memecahkannya, siapa tahu ?"
Girang sekali Pek-ling, ia mengiakan dan cepat mendekati papan catur itu serta mempelajari problem catur itu dengan tekun, 'Problem' umumnya hanya pakai belasan biji catur saja paling banyak juga cuma beberapa puluh biji, tapi sekarang ia lihat biji catur yang dipakai ada lebih dua ratus biji banyaknya, dan memang problem yang diatur ini sangat ruwet dan susah dipecahkan.
Sudah berpuluh tahun Pek-ling mempelajari seni catur, tapi kini baru pikir sebentar saja kepalanya sudah pusing dan mata berkunang-kunang, Baru saja ia hendak memecahkan satu langkah disudut kanan atau napasnya lantas sesak, darah seakan-akan bergolak dalam rongga dadanya.
Ia coba tenangkan diri, untuk kedua kalinya ia mengulangi lagi langkah biji hitam disudut kanan itu, semula ia kira langkah itu langkah mati, tapi sebenarnya masih ada jalan hidupnya, untuk itu ternyata harus makan dulu biji putih disebelahnya, tapi sangkut-paut selanjutnya menjadi sangat luas dan ruwet, ia coba menghitung lagi, mendadak matanya menjadi gelap, tenggorokan terasa amis, tahu-tahu darah segar menyembur keluar dari mulutnya.
Dengan dingin saja So Sing-ho menyaksikan keadaan Hoan Pek-ling itu, katanya kemudian, "Problem ini memang sangat sulit, kebetulan hari ini adalah hari pembukaan untuk umum yang diadakan setiap sepuluh tahun satu kali, dan justru sempat hadir juga, Namun kutahu bakatmu terbatas, dua puluh tahun yang lalu aku tidak memberi kesempatan padamu untuk ikut memecahkan problem catur ini, hari ini kebetulan kamu dapat mengikkutinya, apakah kamu akan berpikir lagi untuk memecahkan atau tidak ?"
"Mati atau hidup sudah takdir ilahi, maka Te. . . .aku....bertekad akan berusaha sebisa tenagaku untuk memecahkannya," sahut Pek-ling.
"Jika begitu, semoga kamu berhasil," kata So Sing-ho sambil mengangguk.
Maka Pek-ling mulai lagi peras otak memikirkan problem catur itu, tapi hanya sebentar saja tubuhnya lantas sempoyongan dan kembali muntah darah.

“Huh, cari mampus sendiri, apa gunanya?” jengek Ting-lokoay tiba-tiba. “Perangkap yang dipasang Lojat (bangsat tua) ini memang sengaja dipakai untuk menyiksa dan membunuh orang, apa gunanya kau antarkan nyawamu dengan percuma?”

Mendadak So Sing-ho melirik Ting-lokoay, lalu bertanya, “Kau sebut Suhu sebagai apa?”

“Memangnya dia adalah Lojat, maka aku pun panggil dia Lojat!” sahut Ting Jun-jiu.

“Si kakek tuli dan bisu hari ini sudah tidak tuli dan bisu lagi, tentu kau tahu apa sebabnya, bukan?” tanya Sing-ho pula.

“Bagus!” sahut Jun-jiu. “Kau sendiri yang melanggar sumpah dan mencari mampus, maka jangan menyalahkan aku lagi.”

Seketika Kheng Kong-leng cuma saling pandang dengan Sih-sin-ih dan lain-lain. Pikir mereka, “Dahulu iblis ini memaksa Suhu menjadi orang bisu dan tuli, dengan demikian ia berjanji takkan mengganggu Suhu. Tapi kini mendadak Suhu membuka suara, ini berarti beliau sudah bertekad akan menentukan mati-hidup dengan Ting-lokoay.”

Begitulah Kheng Kong-leng dan kawan-kawannya menjadi khawatir, tapi bersemangat juga.

Kemudian So Sing-ho mengangkat sepotong batu besar di sebelahnya dan ditarik ke depan Hian-lan, katanya, “Silakan duduk, Taysu!”

“Terima kasih!” sahut Hian-lan sambil memberi hormat. Diam-diam ia pun terkesiap melihat tenaga orang.

Perawakan So Sing-ho kurus kecil, bobotnya paling-paling cuma 80 kati, tapi dengan mudah ia dapat mengangkat sepotong batu besar yang beratnya ditaksir tidak kurang dari 500 kati, hal ini menandakan kepandaian kakek kecil ini tidak boleh dipandang enteng. Baginya sebenarnya juga tidak sukar mengangkat batu sebesar itu, bilamana ilmu silatnya belum punah, tapi rasanya juga tidak segampang si kakek kecil yang tampaknya seperti mengangkat sebuah dingklik kecil saja.

Lalu terdengar So Sing-ho berkata pula, “Problem catur ini adalah hasil jerih payah pemikiran mendiang guruku selama tiga tahun, beliau mengarang problem catur ini dengan harapan agar ahli catur pada zaman ini ada yang dapat memecahkannya. Aku sendiri sudah mempelajarinya selama 30 tahun dengan tekun, tapi hasilnya tetap nihil dan belum dapat memecahkannya.”

Berkata sampai di sini, ia berhenti, sinar matanya melayang ke arah Hian-lan, Toan Ki, Hoan Pek-ling, dan lain-lain, lalu sambungnya pula, “Sebagai seorang padri berilmu, tentu Hian-lan Taysu paham akan kunci ajaran Buddha terletak pada ‘kesadaran’. Seorang yang tekun belajar belum tentu dapat sadar begitu saja seperti seorang biasa. Begitu pula problem catur ini, seorang anak kecil mungkin akan dapat menangkan ahli catur kelas satu. Aku sendiri tidak dapat memecahkan problem ini, tapi orang berbakat di dunia masih sangat banyak, tentu ada yang dapat memecahkannya. Sewaktu guruku akan wafat dulu, beliau meninggalkan harapan ini, apabila ada orang dapat memecahkan problem catur ini hingga harapan guruku itu terkabul, maka arwah beliau tentu akan merasa senang dan terhibur.”

Diam-diam Hian-lan pikir, “Antara gurunya dan Cong-pian Siansing serta murid-muridnya ini mempunyai banyak persamaan, terhadap seni musik, melukis, catur dan lain-lain, semuanya seperti kesetanan mencurahkan segenap tenaga dan pikiran mereka untuk menyelami permainan-permainan itu sehingga Ting Jun-jiu sempat malang melintang dalam perguruannya tanpa ada yang mampu mengatasinya, sungguh hal ini harus disesalkan.”

“Dan suteku ini,” demikian So Sing-ho melanjutkan bicaranya sambil menuding Ting-lokoay, “dahulu dia mendurhakai perguruan sendiri, membunuh guru dan melukai aku pula. Mestinya aku harus mati menyusul guru, tapi demi mengingat ada sesuatu cita-cita guruku belum terkabul, bila aku tidak mendapatkan orang untuk memecahkan problem catur ciptaannya ini, andaikan aku mati juga malu untuk menemui Suhu di alam baka.

“Sebab itulah aku terima dihina dan mempertahankan hidup sampai sekarang. Selama beberapa tahun ini aku tetap memenuhi janjiku kepada Sute, tidak bicara dan tidak mendengar, bukan saja aku telah menjadi Liong-ah Lojin, bahkan murid-muridku yang baru juga kupaksa menjadi orang tuli dan bisu.

“Ai, selama 30 tahun ini tetap tiada mendapatkan sesuatu kemajuan, problem catur ini tetap tiada seorang pun mampu memecahkannya. Tapi belasan langkah yang dilakukan Toan-kongcu ini sungguh sangat bagus, aku menaruh harapan sangat besar padanya, siapa tahu satu kali keliru, akhirnya gagal jua usahanya.”

Toan Ki kelihatan malu-malu, katanya, “Bakatku terlalu bodoh hingga sangat mengecewakan harapan Lotiang (bapak), sungguh aku merasa malu....”

Belum habis ia berkata, mendadak Hoan Pek-ling menjerit sekali, mulutnya menyemburkan darah dan orangnya terus roboh ke belakang.

Cepat sekali So Sing-ho geraki tangan kirinya sekaligus tiga biji catur menyambar dan mengenai tiga hiat-to di dada Pek-ling untuk menghentikan semburan darahnya.

Selagi semua orang tercengang bingung, tiba-tiba terdengar pula suara “plok” sekali, dari udara tahu-tahu menyambar turun sebiji benda entah apa dan jatuh tepat di atas papan catur.

Waktu So Sing-ho memerhatikan, ia lihat benda itu adalah sepotong kulit pohon cemara yang kehitam-hitaman dan tepat jatuh di bagian “G”, yaitu tempat antara garis silang 8x9. Langkah itu adalah kunci utama memecahkan “problem” yang harus dilakukan setiap pemain.

Ketika Sing-ho mendongak, ia lihat di atas pohon siong (cemara) beberapa meter di sebelah kiri sana terlihat satu bagian jubah panjang orang, terang situ ada orang bersembunyi.

Diam-diam So Sing-ho terkejut dan bergirang pula, pikirnya, “Ada orang bersembunyi di situ, tapi aku sama sekali tidak tahu, hal ini menandakan ilmu silat orang ini sudah mencapai tingkatan yang sukar dibayangkan. Walaupun jarak tempat sembunyinya cukup jauh, aku lagi asyik main catur dengan Toan-kongcu ini dan tidak menaruh perhatian, tapi orang itu mampu menggunakan kulit pohon sebagai biji catur dan disambitkan dari jauh, dan baru sekarang aku dapat mengetahuinya, tentu dia seorang tokoh yang hebat, bilamana ia dapat memecahkan problem catur Suhu ini, maka terima kasihlah kepada langit dan bumi.”

Tadi waktu Toan Ki menjalankan biji caturnya, pertama kali ia pun mengadakan pembukaan pada tempat “G” di garis lintang 8x9 itu. Dan selagi So Sing-ho hendak menaruh biji catur warna putih untuk menyambut biji catur lawan itu, sekonyong-konyong didengarnya suara mendesis perlahan di tepi telinga, tahu-tahu sebiji benda putih menyambar dari belakang dan jatuh di tempat “G” garis lintang 8x8. Tempat ini adalah tempat yang akan ditaruh biji caturnya So Sing-ho.

Keruan semua orang bersuara heran dan berbareng menoleh, tapi tiada bayangan seorang pun yang kelihatan. Pohon-pohon di sebelah sana tidak terlalu besar, kalau di situ bersembunyi orang tentu akan kelihatan. Maka semua orang menjadi heran di manakah orang itu bersembunyi?

Yang paling heran adalah So Sing-ho. Ia lihat benda putih itu adalah cuilan kayu pohon siong yang baru saja dikorek keluar dari batang pohon.

Bahkan setelah “biji catur putih” itu jatuh di atas papan catur, kembali dari pohon sebelah kiri tadi menyambar tiba pula sebiji benda hitam dan jatuh di garis lintang 5x6. Karena itu, pandangan semua orang terarah ke sisi kanan untuk melihat biji putih akan menyambar keluar dari mana?

Mendadak terdengar suara “crit” sekali, sebiji benda putih berputar-putar mumbul ke atas udara, habis itu lantas menurun secara lurus dan dengan tepat jatuh di atas papan catur pada garis lintang 4x5, yaitu tempat yang tepat untuk menghadapi biji catur lawan.

Karena biji putih itu melayang ke udara secara berputar, jadi timbul dari arah mana menjadi susah untuk diketahui orang. Tapi sesudah biji putih itu melayang-layang ke atas secara melingkar-lingkar, dan jatuhnya ternyata masih begitu jitu, maka kepandaian menggunakan am-gi atau senjata gelap si penimpuk sungguh mengejutkan.

Saking kagumnya, tanpa terasa tercetuslah suara sorak puji semua orang. Dan belum lenyap suara sorak pujian itu, tiba-tiba dari balik pohon yang rindang di sebelah kiri tadi berkumandang suara seorang yang lantang, “Ilmu kepandaian am-gi mahasakti Buyung-kongcu sungguh tiada bandingannya di dunia ini, kagum, sungguh kagum!”

Mendengar sebutan “Buyung-kongcu,” seketika Giok-yan berseru, “Piauko, apa engkau berada di sini?”

Dan sekonyong-konyong di samping mereka sudah bertambah seorang.

Orang ini berjubah padri, sikapnya kereng dan gagah, wajahnya bercahaya dan mengulum senyum, cara bagaimana dia melayang turun dari tempat sembunyinya di atas pohon itu ternyata tiada seorang pun yang tahu.

Yang paling terkejut adalah Toan Ki, katanya dalam hati, “Kiranya iblis Ciumoti ini juga datang ke sini?”

Kiranya orang itu memang Tay-lun-beng-ong alias Ciumoti dari Turfan.

Lebih dulu ia memberi hormat kepada So Sing-ho, Ting Jun-jiu, dan Hian-lan, lalu ia mencomot sebiji catur hitam terus ditaruh di atas papan catur.

Di sebelah sana Giok-yan menjadi jengah karena orang yang muncul ini bukan sang piauko yang dirindukannya itu. Tapi ia tetap tidak percaya, ia lari cepat ke belakang batu sisi kanan sana untuk mencari Buyung-kongcu sambil memanggil-manggil, “Piauko, Piauko, di manakah kau?”

Cemas perasaan Toan Ki seakan-akan kehilangan sesuatu menyaksikan kelakuan nona pujaannya itu.

Mendadak terdengar Giok-yan bersorak gembira, “Nah, di sini. Kenapa engkau menjawab panggilanku?”

Menyusul dari balik pohon sana muncul dua orang. Seorang berbaju kuning muda, itulah Giok-yan adanya. Gadis ini menggandeng tangan seorang kongcu muda dan mendatang dengan langkah perlahan.

Kongcu itu berusia antara 27-28 tahun, juga memakai baju kuning, cuma kuning tua sedikit, pedang tergantung di pinggangnya, jalannya ringan tanpa menimbulkan suara, perawakannya gagah, wajahnya cakap, hanya air mukanya kepucat-pucatan, tapi sikap dan tindak tanduknya tampak sangat agung dan ganteng.

Baru sekarang Toan Ki melihat jelas Buyung-kongcu atau lengkapnya Buyung Hok yang didengung-dengungkan dan dipuja seolah-olah malaikat dewata oleh Giok-yan, A Cu, A Pik, Ting Pek-jwan, dan kawan-kawannya. Dan nyatanya memang benar-benar luar biasa.

“Orang bilang Buyung-kongcu adalah naga di antara manusia (orang pilihan), dan memang bukan omong kosong kenyataannya. Pantas Nona Ong begitu kesengsem kepada sang piauko. Maka, ai, hidupku ini sudah terang ditakdirkan akan merana selamanya,” demikian pikir Toan Ki dengan putus asa.

Ia menyesal dan gegetun, berduka dan susah, ia tidak berani memandang Giok-yan. Tapi akhirnya tidak tahan dan diam-diam mengintip sekejap. Ia lihat air muka Giok-yan berseri-seri, penuh gembira, ia belum pernah melihat si nona begitu girang seperti sekarang. Kembali ia pikir, “Memang pada hakikatnya diriku tidak pernah terisi dalam hatinya, hanya bila melihat sang piauko barulah ia merasa gembira benar-benar.”

Sementara itu Buyung Hok telah mendekati papan catur, ia mengangguk-angguk pada semua orang, lalu ia menjemput sebiji catur putih dan ditaruh di atas papan catur batu itu.

Ciumoti tersenyum, katanya, “Buyung-kongcu, meski ilmu silatmu sangat tinggi, tapi dalam hal main catur mungkin hanya kelas menengah saja.”

Berbareng ia pun balas sebiji catur hitam.

“Ya, tapi rasanya toh takkan kalah darimu,” sahut Buyung Hok. Lalu ia pun menaruh biji caturnya lagi.

Dalam pada itu Ting Pek-jwan, Kongya Kian, Pau Put-tong, dan Hong Po-ok sudah lantas berkumpul dan berdiri di belakang sang junjungan. Buyung Hok sendiri lagi tekun memikirkan langkah catur selanjutnya untuk menghadapi Ciumoti yang ternyata tidak lemah dalam ilmu permainan catur itu, maka ia hanya berpaling sekejap saja kepada para penggawanya itu, lalu mencurahkan perhatiannya pada biji caturnya.

Selang agak lama barulah Buyung Hok menjalankan sebiji caturnya lagi, sebaliknya Ciumoti sangat cekatan, tanpa banyak pikir ia taruh pula biji caturnya. Jadi Buyung-kongcu main lambat dan Ciumoti main cepat.

Tidak lama kemudian, masing-masing sudah menjalankan lebih 20 biji catur, tiba-tiba Ciumoti terbahak-bahak dan berkata, “Buyung-kongcu, apakah tidak sebaiknya kita anggap remis saja?”

“Huh, kau sendiri main ngawur, masakah kau sendiri mampu mematahkan seranganku?” sahut Buyung Hok.

“Memangnya problem ini sangat sulit, di dunia ini tiada orang lagi mampu memecahkannya, problem ini hanya digunakan untuk mempermainkan orang, aku-cukup tahu diri, maka tidak mau banyak membuang pikiran percuma,” demikian kata Ciumoti. “Tapi bagimu, Buyung-kongcu, kepungan sudut yang kupasang ini saja tidak mampu kau lepaskan diri, masakah masih kau pikir untuk merebut kemenangan di Tionggoan segala?”

Seketika hati Buyung Hok tergetar, ia merasa ucapan orang itu mempunyai makna berganda, sesaat itu pikirannya menjadi kusut, ucapan Ciumoti itu seakan-akan mendengung terus di telinganya.

Seperti pernah diceritakan oleh Giok-yan kepada Toan Ki, Buyung-kongcu itu bercita-cita menjadi raja dan memerintah di seluruh Tiongkok. Kini ucapan Ciumoti itu kena betul-betul dalam lubuk hatinya, lamat-lamat terbayang olehnya biji catur hitam dan putih di atas papan catur itu seolah-olah berubah menjadi prajurit dan perwiranya, di sana satu pasukan dan di sini satu pangkalan lagi, yang satu dikepung oleh yang lain dan sedang bertempur mati-matian.

Buyung Hok seperti menyaksikan pasukan Kerajaan Yan sendiri terkepung oleh pasukan musuh dan tidak berhasil membobol keluar, meski ia sudah berusaha dengan susah payah tetap tidak dapat menyelamatkan pasukannya. Makin lama ia makin khawatir, pikirnya, “Kerajaan Yan kami sudah ditakdirkan akan tamat sampai di sini, betapa pun tidak dapat dibangun kembali dan perjuangan selama berabad-abad ini akhirnya akan gagal dan lenyap sebagai impian. Jika memang begitulah takdir apa mau dikata lagi?”

Mendadak ia menjerit sekali, ia lolos pedang terus menggorok leher sendiri.

Tatkala Buyung Hok berdiri termangu-mangu dengan sikapnya yang aneh itu, memangnya Giok-yan, Toan Ki, Ting Pek-jwan dan kawan-kawannya juga sudah menaruh perhatian padanya. Tapi mendadak Buyung Hok melolos pedang hendak membunuh diri, hal ini benar-benar tidak pernah terduga oleh mereka. Pek-jwan dan Kongya Kian bermaksud menubruk maju untuk menolong, tapi mereka sendiri sudah kehilangan tenaga, maka tidak berdayalah mereka.

Syukur mendadak Toan Ki berseru, “Eh, jangan begitu!”

Kontan jari telunjuknya terus menuding ke depan, maka terdengarlah suara “crit” sekali, tahu-tahu pedang yang dipegang Buyung Hok itu tergetar jatuh ke lantai hingga menerbitkan suara nyaring.

“Wah, sejurus Lak-meh-sin-kiam yang bagus, Toan-kongcu!” puji Ciumoti dengan tertawa.

Dan karena pedang terlepas dari cekalan, barulah Buyung Hok terkejut dan sadar dari dunia khayalnya.

Dalam pada itu Giok-yan sudah lantas memburu maju sambil memegangi tangan sang piauko, ia menangis dan berkata, “O, Piauko, cuma urusan catur saja masa perlu berpikir pendek hendak menghabiskan jiwa sendiri?”

“Ada apa atas diriku?” demikian Buyung Hok menegas dengan bingung.

“Barusan, ya, untung Toan-kongcu telah menghantam jatuh pedangmu, kalau tidak... kalau tidak, wah....” kata Giok-yan.

“Kongcu,” Kongya Kian ikut bicara, “problem catur ini bisa menyesatkan pikiran orang, kukira di dalamnya tentu mengandung ilmu sihir, hendaklah Kongcu jangan mau banyak pikir lagi.”

Tapi Buyung Hok lantas berpaling kepada Toan Ki dan bertanya, “Apakah benar barusan Saudara telah menggunakan jurus ilmu pedang Lak-meh-sin-kiam? Cuma sayang aku tidak melihatnya. Apakah dapat Saudara mengulanginya lagi sekali agar Cayhe bisa menambah pengalaman?”

“Barusan tidak kau lihat?!” Toan Ki menegas.

Tiba-tiba Buyung Hok merasa malu, sahutnya, “Seketika pikiranku kabur hingga mirip orang linglung dan seperti kena sihir.”

“Ya, tentu Sing-siok Lokoay ini yang diam-diam telah menggunakan ilmu sihirnya yang jahat,” seru Pau Put-tong mendadak. “Awas, Kongcu, harap engkau berlaku hati-hati padanya!”

Pada saat itulah, tiba-tiba dari jauh terdengar suara seruan seorang wanita, “Ooi, Engkoh Jun-jiu tercinta, betapa rindu hatiku padamu, telah kucari dikau sekian lamanya, akhirnya engkau datang juga ke Tionggoan sini. Ya, tentu engkau juga lagi mencari daku, sungguh aku sangat gembira!”

Suara itu kedengaran sayup-sayup terbawa angin, tapi sangat nyaring dan jelas.

“Ah, itu dia Bu-ok-put-cok Yap Ji-nio!” kata Toan Ki.

Ting-lokoay lantas kelihatan kikuk dan serbasalah demi mendengar suara tadi, serentak matanya menyorotkan nafsu membunuh yang kejam.

Dalam pada itu suara Yap Ji-nio berseru lagi, “Ooi, Engkoh Jun-jiu yang baik, mengapa engkau diam saja dan tidak menjawab? Apakah engkau tega membuang diriku, dan tidak pedulikan aku lagi?”

Meski seruannya halus dan enak didengar, tapi karena nadanya terlalu genit hingga menimbulkan rasa muak bagi pendengarnya.

Mendadak Pau Put-tong menanggapi dengan menirukan suara Ting Jun-jiu, “Ooi, adik yang tercinta, inilah dia aku berada di sini! Aku Ting Jun-jiu juga amat merindukan dikau!”

Sekonyong-konyong terdengar pula suara seorang lain di sana sedang berkata, “Ting Jun-jiu berada di sana, aku tidak mau ikut ke situ.”

“Hah, itulah muridku si Lam-hay-gok-sin Gak-losam juga ikut datang!” demikian pikir Toan Ki.

Maka terdengar Yap Ji-nio sedang menjawab, “Kenapa takut? Masakah kau khawatir akan dimakan dia?”

“Bukannya takut,” ujar Lam-hay-gok-sin. “Tapi setiap kali kulihat tampangnya, aku tentu mendongkol sehari suntuk. Nah, buat apa aku mesti menemuinya?”

“Tapi sekali ini Lotoa juga berada bersama kita, masakah kau tetap takut pada Engkoh Jun-jiu,” ujar Ji-nio.

“Eh, Lotoa, engkau bagaimana?” terdengar Lam-hay-gok-sin bertanya.

Diam-diam Toan Ki membatin, “Kiranya Yan-king Taycu juga datang. Biasanya muridku itu tidak takut kepada langit dan tidak gentar kepada bumi, kenapa sekarang begitu ketakutan kepada seorang yang bernama Ting Jun-jiu. Ai, benar-benar tidak becus!”

Dalam pada itu terdengar suara seorang seperti suara ditahan sedang menjawab, “Ting Jun-jiu bukan manusia berkepala tiga dan bertangan enam, aku Toan Yan-king justru ingin bertemu dengan dia.”

Tengah bicara itulah tertampak dari bawah gunung muncul empat orang. Yang jalan paling depan memang benar adalah “Bu-ok-put-cok” Yap Ji-nio, Si Segala Kejahatan Diperbuatnya.

Orang kedua adalah seorang berjubah hijau dan memakai dua tongkat sebagai gantinya kaki, itulah dia “Ok-koan-boan-eng” Toan Yan-king, Si Kejahatan Sudah Melebihi Takaran.

Lalu Lam-hay-gok-sin kelihatan mengikut di belakangnya, jalannya tampak ogah-ogahan dan sangat dipaksakan.

Semula Toan Ki percaya bahwa orang keempat tentu “Kiong-hiong-kek-ok” In Tiong-ho, Si Mahajahat dan Mahaganas. Tak tahunya adalah seorang kepala gundul alias hwesio.

Sesudah dekat barulah kelihatan bahwa hwesio ini berperawakan sedang, usianya baru 23 tahun atau 24 tahun, kedua matanya bersinar, tapi mukanya merah bengep bekas dihajar orang, jubahnya juga terkoyak-koyak, jidat dan matanya tampak matang biru, jalannya juga beringsut pincang, terang lukanya habis dihajar orang itu tidaklah ringan.

Sejak muncul jalan Yap Ji-nio kelihatan dipercepat seperti orang memapak kekasih, bahkan sambil berseru, “Ai, Engkoh tercinta, ternyata engkau makin gagah dan tambah muda. Sekali ini aku tidak mau ditinggalkan olehmu lagi!”

Sambil berkata ia terus memburu lebih mendekati Ting Jun-jiu.

Melihat tingkahnya yang genit itu, semua orang menyangka dia pasti akan terus menjatuhkan diri ke dalam pelukan Ting Jun-jiu, bahkan boleh jadi terus peluk cium. Di luar dugaan sesudah kira-kira dua meter di depan Ting-lokoay, lalu Yap Ji-nio berhenti dan berkata pula dengan tertawa, “He, kekasih, aku hendak bermesra-mesraan denganmu, mengapa engkau tidak memberi sambutan hangat? Apa engkau marah padaku?”

Tapi sikap Ting Jun-jiu masih tetap tenang, kereng dan berwibawa. Ia tidak gubris olok-olok itu, ia berdehem sekali, lalu berkata, “Hari ini Cong-pian Siansing telah mengundang para cerdik pandai dan tokoh-tokoh terkenal zaman ini untuk memecahkan problem catur. Kebetulan Toan-siansing, Yap-kohnio, dan Gak-heng kalian juga datang ke sini, sungguh sangat kebetulan. Dan siapakah Taysu ini?”

Ia maksudkan hwesio yang babak belur habis dihajar orang yang tak dikenalnya itu.

Dan sebelum menjawab, sekonyong-konyong hwesio muda itu berseru, “He, Susiokco (paman kakek guru), kiranya engkau juga berada di sini!”

Segera ia melangkah ke hadapan Hian-lan terus memberi sembah hormat.

Waktu Hian-lan memerhatikan padri muda itu, segera ia kenal orang sebagai murid angkatan ketiga dari biara sendiri. Cuma murid-murid Siau-lim-si angkatan ketiga itu lebih seratus orang, dengan kedudukannya yang tinggi, biasanya Hian-lan jarang bicara dengan mereka kecuali terhadap beberapa orang yang usianya paling tua atau yang ilmu silatnya lebih istimewa daripada yang lain, maka pada umumnya Hian-lan tidak kenal nama anak murid angkatan muda itu.

Sedangkan padri muda di hadapannya sekarang mukanya jelek, kepandaiannya juga tidak menonjol, maka Hian-lan hanya ingat dia adalah anak murid biara sendiri, adapun siapa nama agamanya tak dikenalnya. Tapi ia pun balas tanya, “Dan kau... kenapa kau sampai di sini?”

“Tecu Hi-tiok sedang melakukan tugas Suhu agar menyampaikan sepucuk surat ke Jing-liang-si di Ngo-tay-san,” demikian tutur padri muda yang bernama Hi-tiok itu. “Di tengah jalan Tecu berjumpa dengan ketiga Sicu ini. Tecu melihat Sicu yang ini....”

Jarinya terus menunjuk Yap Ji-nio, lalu menyambung, “Sicu ini sedang memegangi seorang orok dan lagi hendak mengorek hatinya untuk dimakan.”

Hian-lan menggeram sekali, alisnya menegak sikapnya sangat kereng, ia melotot ke arah Yap Ji-nio.

Tapi dengan tertawa Ji-nio berkata, “Setiap orang suka menyebut anak kecil sebagai ‘jantung hati’, maka dapat dibayangkan betapa lezat jantung hati kaum anak-anak. Boleh jadi hwesio dari Siau-lim-si kalian ini sudah banyak merasakan enaknya jantung hati anak kecil bukan?”

“Wah, dosa! Dosa!” kata Hian-lan dengan tenang. Padahal dalam hati ia sangat gusar. Coba kalau ilmu silatnya tidak punah, bukan mustahil segera ia hantam perempuan siluman itu.

Maka dengan tertawa Yap Ji-nio berkata lagi, “Cucu muridmu ini masih sangat muda, tapi sok alim dan sok suci, eh, malahan berani memberi ceramah padaku agar suka membebaskan orok itu. Waktu kutanya dia berdasarkan apa berani ikut campur urusan orang, dia menjawab secara ngawur dan tidak mau mengaku asal-usulnya. Samte menjadi murka terus memberi persen beberapa kali tempelengan. E-eh, nyalinya boleh juga, berani dia melawan. Keruan saja Samte tambah gemas dan mestinya hendak mengorek jantung hatinya untuk dimakan, untung Lotoa mencegahnya, Lotoa menaksir dia mungkin anak murid Siau-lim-pay dan mengatakan jangan mengganggu nyawanya. Maka Samte hanya memberi hajaran setimpal saja padanya dan membawanya serta dalam perjalanan ke sini.”

“Tecu terlalu bodoh, belajar kurang giat sehingga merusak nama kebesaran Siau-lim-si kita, sungguh Tecu harus mendapat hukuman setimpal,” demikian Hi-tiok berkata kepada Hian-lan. “Susiokco, Lisicu ini membelek perut seorang orok montok dan mungil, mengorek jantung hatinya untuk dimakan. Harap Susiokco suka turun tangan untuk membasmi kejahatan di dunia ini.”

Melihat potongan Hian-lan yang kereng, mendengar pula Hi-tiok menyebutnya “susiokco”, segera Yan-king Taycu, Yap Ji-nio, dan Lam-hay-gok-sin tahu dia adalah tokoh terkemuka Siau-lim-pay, maka diam-diam mereka bertiga sudah siap siaga. Mereka tidak tahu bahwa kini lwekang Hian-lan sudah punah, ilmu silatnya tidak lebih hanya seperti orang biasa saja.

Maka dengan tertawa Yap Ji-nio berkata, “Engkoh Jun-jiu, coba lihat, hwesio cilik ini benar-benar seorang yang tidak kenal kebaikan, kita sudah mengampuni jiwanya, tapi dia malah mengadu biru segala.”

Baru habis ucapannya, mendadak terdengar suara, “bret” sekali, menyusul berbunyi “plak” sekali pula. Sekilas bayangan seorang berkelebat, lalu semua orang sama berseru kaget.

Malahan Giok-yan kelihatan merah malu sambil berseru, “Piauko, kenapa engkau....”

Ternyata baju dada Yap Ji-nio telah robek hingga kelihatan dadanya yang putih itu. Kiranya Buyung-kongcu tidak dapat menahan rasa gusarnya demi mendengar cerita Hi-tiok itu, pula dilihatnya Hian-lan tidak lantas ambil tindakan, maka segera ia menggunakan “Hou-jiau-kang” (Ilmu Cakar Harimau), kelima jarinya seperti kuku macan terus mencengkeram dada Yap Ji-nio.

Serangan ini cepat luar biasa, caranya adalah khas Buyung-si dari Koh-soh yang terkenal dengan nama “Ih-pi-ci-to, hoan-si-pi-sin”, dengan cara yang sama untuk digunakan atas dirinya. Karena Yap Ji-nio suka mengorek dada anak bayi untuk mengambil hatinya dan dimakan, maka Buyung Hok juga hendak mengorek keluar jantung hati wanita jahat itu.

Karena serangan kilat itu, tampaknya Yap Ji-nio tidak sempat mengelakkan diri lagi dan dadanya segera akan berlubang. Untung baginya Ting Jun-jiu juga bertindak dengan cepat, mendadak tangan kirinya menghantam pergelangan tangan Buyung Hok.

Dalam keadaan begitu, kalau serangan Buyung Hok diteruskan, meski Yap Ji-nio pasti akan tamat riwayatnya, tapi tangan sendiri juga akan cacat terkena serangan Ting Jun-jiu itu.

Maka mendadak Buyung Hok berganti haluan dari mencengkeram tangan terus dipakai memapak serangan Ting-lokoay hingga kedua telapak tangan saling bentur. Dan karena saat itu tangan Buyung Hok sebenarnya sudah menempel dada Yap Ji-nio, kini mendadak ditarik kembali ke arah lain, baju dada Ji-nio jadi ikut terkait dan sobek sebagian.

“Plak”, kedua orang sama-sama tergetar mundur setindak. Karena dalam keadaan mendadak Ting Jun-jiu tidak sempat menggunakan Hoa-kang-tay-hoat, jadi adu tangan dengan Buyung Hok itu dilakukan dengan keras lawan keras. Maka kedua pihak sama-sama merasakan kepandaian lawan memang sangat hebat dan diam-diam sama mengakui kelihaian masing-masing yang memang tidak bernama kosong.

Serangannya tidak berhasil, sebaliknya tanpa sengaja merobek baju Yap Ji-nio, mau tak mau Buyung Hok merasa rikuh. “Maaf!” katanya.

Sesudah baju robek hingga kelihatan dadanya, semua orang mengira Yap Ji-nio pasti akan merasa malu dan mungkin akan terus menyingkir untuk membetulkan pakaiannya.

Eh, siapa tahu, sama sekali Yap Ji-nio anggap biasa saja, bahkan dengan berseri gembira ia berkata dengan genit, “Ai, orang muda memang kebanyakan mata keranjang, pada siang hari bolong dan di tengah orang banyak juga berani main gila kepada nyonya besar. Tapi kau pun tidak perlu minum cuka (cemburu), Engkoh Jun-jiu! Dalam hatiku ini hanya terisi engkau seorang, tidak nanti aku menyeleweng pada orang lain. Pemuda muka putih (maksudnya hidung belang) begini masakah aku suka main cinta dengan dia?”

Sungguh gusar Giok-yan tidak kepalang hingga air mukanya merah padam, kontan ia menyemprot, “Ken... kenapa kau tidak kenal malu, masakah orang perempuan bicara hal-hal begituan?”

Mendadak Yap Ji-nio malah sengaja pentang baju yang robek itu lebih lebar hingga buah dadanya yang putih montok itu makin mencolok, katanya dengan tertawa, “Ai, nona cilik ini mana tahu seluk-beluk orang hidup. Pemuda muka putih begini tak mungkin suka kepada nona seperti kau ini. Kalau tidak, masakah di hadapanmu terang-terangan dia main raba dan pegang segala padaku?”

“Tidak, dia tidak! Kau ngaco-belo!” seru Giok-yan gusar. Yap Ji-nio masih terus beraksi dengan genit, dan Giok-yan dibikin marah hingga muka marah padam, sebenarnya Toan Ki hendak menghiburnya, tapi ia justru tidak tahu cara bagaimana harus bicara. Sebaliknya Buyung Hok hanya melirik dingin sekali kepada Yap Ji-nio, lalu tidak menggubrisnya lagi, dan mencurahkan perhatiannya kepada Toan Yan-king yang sementara itu sudah mendekati papan catur batu.

Hian-lan, Ciumoti, Ting Jun-jiu, So Sing-ho, dan lain-lain juga sedang mengikuti gerak-gerik Toa-ok itu. Tertampak orang jahat nomor satu sedang memandangi catur dengan mata tak berkedip, rupanya sedang memeras otak memikirkan pemecahannya.

Lama dan lama sekali, tiba-tiba Toa-ok itu menutulkan tongkat bambunya ke kotak catur, ujung tongkatnya seperti mengandung daya sembrani baja, segera satu biji catur hitam tersedot di ujung tongkat, lalu ditaruh di atas papan catur.

“Ilmu silat keluarga Toan dari Tayli menjagoi dunia selatan, nyata memang bukan kabar kosong belaka!” demikian Hian-lan memuji.

Dulu Toan Ki pernah menyaksikan Yan-king Taycu bertanding catur dengan Ui-bi-ceng, maka ia tahu bukan saja lwekang Toa-ok ini sangat hebat, bahkan ilmu caturnya juga sangat tinggi. Bukan mustahil bahwa “problem catur” ini akan dapat dipecahkan olehnya, siapa tahu?

Sebagai pemegang problem catur itu, sudah tentu So Sing-ho sangat hafal terhadap segala perubahan langkah catur lawan yang hendak memecahkan problem itu, maka tanpa pikir segera ia pun menaruh sebiji putih di atas papan catur.

Yan-king Taycu berpikir lagi sejenak, lalu menaruh pula satu biji.

“Ehm, langkah Saudara ini sangat pandai, cobalah, apakah dapat membobol kepungan ini dan mendapatkan jalan keluarnya,” ujar So Sing-ho terus menaruh sebiji putih untuk menutup jalan biji lawan.

Segera Yan-king menaruh lagi satu biji. Tapi mendadak si padri muda dari Siau-lim-si alias Hi-tiok itu berseru, “Hei, salah!”

Lam-hay-gok-sin menjadi gusar, dampratnya, “Kau seorang hwesio cilik ingusan juga berani menyalahkan lotoa kami, hah?”

Sekali pegang, ia cengkeram punggung Hi-tiok terus dijinjing ke samping.

“Hei, muridku yang baik, jangan kau ganggu Siausuhu itu!” tiba-tiba Toan Ki berseru.

Seketika Lam-hay-gok-sin garuk-garuk kepala.

Sejak datangnya tadi dan melihat Toan Ki juga berada di situ, Lam-hay-gok-sin memang sudah merasa serbasalah, ia berharap paling baik kalau Toan Ki diam saja dan tidak bersuara, eh, siapa tahu akhirnya pemuda itu menegurnya juga.

“Jangan ganggu dia juga boleh, apa alangannya?” demikian sahutnya kemudian dengan marah-marah.

Keruan semua orang merasa heran, Lam-hay-gok-sin yang biasanya terkenal galak itu mengapa begitu penurut perintah seorang halus seperti Toan Ki, bahkan dipanggil sebagai “murid” juga tidak membantah?

Dalam pada itu Toan Yan-king masih terus menjalankan biji caturnya, sebiji demi sebiji dan waktu berpikirnya juga makin lama. Kira-kira sudah lebih 20 biji caturnya dijalankan, sementara itu sudah lewat tengah hari dan semua orang sama merasa lapar.

Tiba-tiba Hian-lan berkata, “Toan-sicu, sepuluh langkahmu yang pertama itu adalah langkah yang tepat, tapi mulai langkah kesebelas telah tersesat, makin jalan makin kesasar dan sukar ditolong lagi.”

Air muka Toan Yan-king selalu kaku tanpa perasaan, maka hanya terdengar suara dalam perutnya berkata, “Siau-lim-pay kalian adalah golongan yang jujur dan baik, kalau menurut cara kalian, apakah problem ini dapat dipecahkan?”

Hian-lan menghela napas, sahutnya, “Ya, problem catur ini seperti jujur, tapi tampaknya juga menyesatkan, kalau mesti dipecahkan dengan cara jujur memang susah, tapi bila memecahkannya dengan jalan menyimpang, terang juga tidak dapat.”

Dalam pada itu tongkat bambu Toan Yan-king sedang terangkat ke atas dan rada gemetar, rasanya serbasalah untuk menaruh lagi biji caturnya yang berikut. Selang agak lama, terdengar ia berkata, “Jalan ke depan buntu, mundur ke belakang ada musuh. Jujur salah, sesat lebih celaka. Ai, sulit!”

Ilmu silat keturunan keluarga Toan di Tayli sebenarnya dari golongan cing-pay, tapi kemudian Yan-king Taycu tersesat ke jalan yang tidak benar hingga orang menganggapnya dari golongan sia-pay. Kata-kata Hian-lan tadi rupanya telah menggugah hati nuraninya hingga dia mirip Buyung-kongcu tadi, tanpa terasa kehilangan pegangan dan linglung seperti orang tak sadarkan diri.

Kiranya problem catur itu memang berdaya gaib dan dapat menyesatkan orang menurut kelemahan masing-masing. Orang tamak akan jatuh karena harta, orang pemarah akan celaka karena buru nafsu. Dan selama hidup Toan Yan-king, hal yang menjadi penyesalannya adalah karena dia cacat sehingga terpaksa mesti meninggalkan ilmu silat golongan cing-pay dari leluhur sendiri dan ganti belajar ilmu jahat dari kalangan sia-pay. Karena perhatiannya sekarang terpencar dan pikirannya menyeleweng, maka semangatnya mulai goyah.

Dengan tersenyum simpul Ting Jun-jiu lantas menanggapi, “Benar, seorang dari golongan cing telah sesat ke jalan sia, untuk kembali ke jalan yang benar tidaklah gampang, maka hidupmu ini boleh dikatakan sudah musnah, ya, musnahlah, sungguh sayang, musnahlah! Sekali keperosot, menyesal pun sudah terlambat dan tidak dapat ditarik kembali lagi! Sayang!”

Lagu suara Ting-lokoay itu penuh rasa kasih sayang. Tapi Hian-lan dan tokoh lain tahu bahwa iblis itu tidak bermaksud baik, bahkan ingin mendorong, menjerumuskan Toan Yan-king tersesat lebih jauh dalam lamunannya, dengan demikian akan berkurang seorang lawan lihai baginya.

Benar juga, Yan-king tampak berdiri terpaku, kemudian berkata dengan sedih, “Ya, sebagai putra mahkota negeri Tayli yang diagungkan, hari ini aku terluntang-lantung di Kangouw hingga sedemikian rupa, sungguh aku malu terhadap leluhur.”

“Sesudah meninggal, tentu kau juga tiada muka buat menemui leluhurmu di alam baka, jika kau tahu malu, akan lebih baik kau bunuh diri saja, paling tidak hal ini akan menunjukkan perbuatanmu sebagai seorang kesatria. Ai, lebih baik bunuh diri saja, ya, lebih baik bunuh diri saja!” demikian Ting Jun-jiu mendorong pula dengan suaranya yang lemah lembut enak didengar, tapi penuh daya pengaruh hingga bagi orang yang lwekangnya kurang kuat, langsung terasa mengantuk dan hendak terpulas.

“Ya, lebih baik bunuh diri saja!” demikian Toan Yan-king menirukan suara itu. Lalu ia angkat tongkat bambu sendiri dan perlahan hendak menutuk dadanya sendiri.

Namun betapa pun lwekang Toa-ok itu memang sangat tinggi, biarpun terpengaruh tenaga gaib itu, tapi lamat-lamat dalam hati kecilnya juga merasakan sesuatu yang tidak benar dan menginsafi bila tutukan itu diteruskan, maka celakalah dia. Namun demikian toh tongkat bambu itu masih terus menutuk ke dada sendiri sedikit lebih mendekat.

“Wah, celaka!” diam-diam Hian-lan berkata dalam hati. Ada maksudnya hendak bersuara untuk menyadarkan orang, tapi suara itu harus dilakukan dengan menggertak, untuk mana diperlukan lwekang yang sama kuatnya baru dapat berhasil, kalau tidak, bukan mustahil malah akan bikin celaka dirinya sendiri.

Di antara tokoh-tokoh tertinggi yang berada di situ, selain Hian-lan yang bermaksud menolong tapi yang tenaga kurang, sedangkan So Sing-ho terikat oleh peraturan yang ditetapkan mendiang gurunya yang melarang memberi pertolongan kepada orang yang hendak memecahkan problem catur itu.

Buyung Hok tahu Toan Yan-king bukan manusia baik-baik, jika iblis itu sesat jalan dan mati, hal ini berarti dunia akan kehilangan suatu bencana besar, maka ia tidak sudi menolong. Sebaliknya Ciumoti merasa syukur dan ingin Toan Yan-king mati konyol, maka ia pun berpeluk tangan menyaksikannya dengan tersenyum.

Toan Ki dan Yu Goan-ci memiliki lwekang yang tinggi, tapi mereka tidak paham sebab musabab persoalannya. Adapun Giok-yan meski sangat luas pengetahuannya tentang ilmu silat dari berbagai golongan dan aliran, tapi lwekangnya tiada artinya, terhadap ilmu sesat dari sia-pay ia pun setengah paham setengah tidak.

Yap Ji-nio lagi ingin memikat Ting Jun-jiu, dengan sendirinya ia tidak mau menggagalkan maksud tujuan iblis tua itu. Ting Pek-jwan, Kheng Kong-leng dan lain-lain sudah kehilangan lwekang, andaikan bisa juga mereka tidak sudi menolong.

Di antara orang-orang itu hanya Lam-hay-gok-sin yang merasa gopoh, ia lihat tongkat sang toako sudah hampir menempel dada sendiri, sebentar lagi pasti hiat-to mematikan di dada akan tertutuk. Maka cepat ia cengkeram Hi-tiok sambil berseru, “Lotoa, peganglah kepala gundul ini!”

Sembari berkata, ia terus lemparkan Hi-tiok ke arah Toan Yan-king.

Namun Ting Jun-jiu terus melontarkan sekali pukulan sambil membentak, “Enyahlah! Jangan mengacau!”

Sebenarnya tenaga lemparan Lam-hay-gok-sin itu sangat keras, tapi hanya kena tenaga pukulan Ting-lokoay yang kelihatan lemah itu, mendadak tubuh Hi-tiok mencelat balik dan menerjang ke arah Lam-hay-gok-sin sendiri.

Lekas Lam-hay-gok-sin pasang kuda-kuda dengan kuat, ia pegang Hi-tiok terus hendak dilemparkan kembali ke arah Toan Yan-king. Di luar dugaannya, tenaga pukulan Ting Jun-jiu itu membawa tiga gelombang tenaga susulan.

Ketika Hi-tiok kena dipegangnya, segera Lam-hay-gok-sin mendelik karena tekanan tenaga Ting-lokoay itu hingga terentak mundur tiga tindak. Dan baru saja ia dapat berdiri tegak, gelombang tenaga kedua sudah tiba lagi, sekuatnya Lam-hay-gok-sin bertahan hingga kaki sampai tertekuk dan akhirnya jatuh terduduk.

Dengan demikian ia sangka selesailah sudah perkaranya. Eh, siapa tahu masih ada tenaga gelombang ketiga. Sekali ini Lam-hay-gok-sin tak tahan lagi, ia terentak berjungkir balik dengan kedua tangan tetap mencengkeram kencang tubuh Hi-tiok sehingga tubuh hwesio muda itu tertindih di bawah untuk kemudian berjungkir balik sekali lagi.

Sekali ini Lam-hay-gok-sin sudah kapok, ia sangka Sing-siok Lokoay masih akan melontarkan tenaga lebih keras lagi, ia pikir “sebelum hujan lebih baik sedia payung”, maka lebih dulu ia mendorong tubuh Hi-tiok ke depan sebagai tameng.

Tapi ia kecele, gelombang tenaga lain sudah tidak ada lagi.

Sebaliknya setelah Hi-tiok terlepas dari cengkeraman Lam-hay-gok-sin, ia lantas pandang Hian-lan, ia ingin tahu bagaimana reaksi kakek gurunya itu. Tapi dilihatnya wajah Hian-lan mengunjuk rasa sedih, sikap seorang yang tak bisa berbuat apa-apa.

Di mata anak murid Siau-lim-pay, para padri angkatan “Hian” dipandang seolah-olah Buddha mahasakti, segala kesulitan tentu akan gampang dipecahkan oleh padri angkatan tua itu. Tapi sekarang Hian-lan ternyata tidak berdaya sama sekali, hal ini benar-benar membuat Hi-tiok merasa heran dan bingung.

Tapi meski ilmu silatnya rendah, otaknya ternyata sangat cerdik, walaupun tidak menduga bahwa lwekang sang kakek guru itu sudah hilang semua, tapi ia dapat melihat padri tua itu sangat ingin menyelamatkan Toan Yan-king. Seketika hati Hi-tiok tergerak, segera katanya, “Susiokco, penyakit batin harus disembuhkan dengan obat batin juga. Toan-cianpwe tersesat oleh karena main catur, maka untuk menolongnya perlu hapuskan permainan catur itu.”

“Sudah telat, sudah terlambat!” demikian Ting Jun-jiu berkata. “Nah, Yan-king Taycu, kunasihatkan lebih baik kau bunuh diri saja. Ya, lebih baik bunuh diri saja!”

Tengah bicara, tongkat bambunya sudah tinggal dua-tiga senti saja di atas hiat-to mematikan di dadanya.

Semenjak ditawan dan sepanjang jalan Hi-tiok telah kenyang dihajar dan disiksa oleh Toan Yan-king, Yap Ji-nio dan Lam-hay-gok-sin. Tapi dasar jiwanya memang besar, ia tidak dendam kejadian yang sudah-sudah itu, sebaliknya ia pikir cut-keh-lang (seorang yang sudah meninggalkan rumah, maksudnya sudah menjadi padri) harus mengutamakan kebajikan serta menolong sesamanya.

Ia tahu maksud susiokco hendak menolong orang, ia sendiri juga tidak suka Toan Yan-king mati konyol, tapi untuk menolongnya ia harus pandai main catur, bicara tentang memecahkan problem catur itu, mungkin belajar 30 tahun lagi juga belum tentu mampu. Padahal saat itu, dilihatnya Toan Yan-king masih termangu-mangu memandangi papan catur, jiwanya tinggal sekejap saja.

Mendadak ia mendapat akal, “Untuk memecahkan problem catur ini terang tidak bisa, kalau membikin kacau permainannya setiap orang pun bisa. Dan asal perhatiannya terpencar sejenak saja, tentu dia akan selamat!”

Berpikir begitu cepat Hi-tiok berkata, “Biar kucoba memecahkan problem catur ini.”

Lalu ia mendekati So Sing-ho, terus saja ia comot satu biji catur hitam dari kotak, ia pejamkan mata dan biji catur itu ditaruh di atas papan catur sekenanya, habis itu ia lantas tertawa terbahak-bahak.

Dan belum lagi ia membuka mata, ia dengar So Sing-ho marah-marah dan berkata, “Ngaco, ngaco! Biji caturmu telah bikin buntu dan membunuh satu biji caturnya sendiri, mana ada cara main catur seperti ini?”

Waktu Hi-tiok membuka mata, ia jadi merah jengah. Kiranya biji catur yang ditaruh secara ngawur itu tepat membuntu jalan sebuah biji hitam sendiri yang terkepung rapat oleh biji putih lawan itu.

Mestinya biji hitam yang terkepung itu belum lagi mati, walaupun biji putih setiap saat dapat mencaploknya, tapi asal lawan belum sempat makan, itu berarti biji hitam yang terkepung itu masih bisa bergulat mati-matian untuk mencari jalan hidup.

Tapi sekarang ia bikin buntu satu-satunya jalan bagi biji hitam sendiri, dan ini berarti makan bijinya sendiri, dalam permainan catur selamanya tidak pernah ada cara membunuh diri demikian.

Keruan Ciumoti, Buyung Hok, Toan Ki dan lain-lain merasa geli dan terbahak-bahak. Begitu pula Hoan Pek-ling dalam keadaan payah pun ikut berkata, “Cara demikian bukankah permainan guyon saja?”

Tapi So Sing-ho berkata, “Menurut pesan guruku problem catur ini terbuka untuk umum, siapa pun boleh ikut. Meski langkah Hi-tiok Siausuhu barusan sama sekali menyimpang dari kebiasaan orang bercatur, tapi toh juga terhitung satu langkah.”

Sembari berkata, ia terus ambil biji hitam yang dibunuh sendiri oleh Hi-tiok itu.

Mendadak Toan Yan-king berteriak sekali dan sadar dari dunia khayalnya. Dengan mata melotot ia pandang Ting Jun-jiu dan berkata, “Sing-siok Lokoay, diam-diam kau turun tangan keji pada saat orang lagi menghadapi bahaya, nanti kita mesti bikin perhitungan.”

Ting Jun-jiu tidak menjawab, ia pandang sekejap ke arah Hi-tiok dengan penuh rasa benci.

Yan-king dapat melihat semuanya itu. Waktu ia melongok ke papan catur, ia lihat perubahan yang dilakukan Hi-tiok barusan itu, maka tahulah dia bahwa berhasilnya dia lolos dari renggutan maut adalah berkat pertolongan hwesio muda itu.

Diam-diam ia sangat berterima kasih, ia tahu Ting-lokoay sudah dendam dan setiap saat bisa menggempur Hi-tiok. Tapi ia tidak membuka suara lagi, hanya mengawasi di samping sambil berpikir, “Padri sakti Siau-lim-pay Hian-lan berada di sini, rasanya Sing-siok Lokoay tidak berani mengganggu anak muridnya. Tapi kalau Hian-lan sudah tua dan tidak sanggup melindungi orangnya, tentu tidak boleh kubiarkan hwesio cilik ini gugur disebabkan urusanku.”

Dalam pada itu terdengar So Sing-ho lagi berkata kepada Hi-tiok, “Siausuhu, kau telah membunuh satu biji sendiri, sekarang biji putih mendesak pula, cara bagaimana akan kau lawan?”

Dengan tertawa Hi-tiok menjawab, “Siauceng memang tidak pandai main catur, barusan juga menaruh secara ngawur, maksudku hanya untuk menolong Sicu ini. Maka Siauceng tidak berani melanjutkan permainan ini, harap Locianpwe suka maaf.”

Mendadak Sing-ho menarik muka, katanya dengan suara bengis, “Tujuan guruku mengatur problem catur ini ialah ingin mengundang para ahli dari dunia ini untuk memecahkannya. Kalau tidak dapat juga tidak menjadi soal. Tapi kalau tertimpa akibatnya harus tanggung sendiri. Namun kalau ada orang sengaja hendak mengacaukan permainan ini untuk merusak hasil jerih payah mendiang guruku, hehe, biarpun kalian berjumlah banyak dan aku sudah tua lagi loyo, betapa pun juga aku siap untuk menghadapi sampai detik terakhir.”

Melihat tuan rumah naik darah dan bicara dengan bengis, maka Hi-tiok jadi ketakutan. Dengan memberi hormat ia berkata, “Harap Locianpwe jangan salah paham....”

“Mau main catur lekas main catur, apa gunanya banyak bicara?” bentak lagi So Sing-ho. “Memangnya kau kira datang ke sini hanya untuk piknik saja?”

Habis berkata, mendadak sebelah tangannya menggaplok ke samping. “Blang”, seketika debu pasir bertebaran, tanah di depan Hi-tiok ambrol menjadi sebuah lubang besar. Coba kalau pukulan yang mahahebat itu diarahkan tepat ke tubuh Hi-tiok, tentu padri muda itu sudah remuk dan mati seketika.

Keruan Hi-tiok kebat-kebit, ia coba melirik sang susiokco dengan harapan orang tua itu suka tampil ke muka untuk membebaskan dia dari ancaman bahaya itu. Tapi Hian-lan sendiri tidak tinggi ilmu permainan caturnya, ilmu silatnya sekarang punah lagi. Sudah tentu ia pun tak berdaya.

Setelah suasana hening sejenak, selagi Hian-lan hendak coba-coba mintakan ampun kepada So Sing-ho, tiba-tiba terlihat Hi-tiok mencomot pula sebiji catur hitam dan ditaruh di atas papan catur. Tempat yang ditaruh itu adalah tempat luang biji hitam yang diangkat oleh So Sing-ho tadi.

Langkah ini ternyata cukup memenuhi syarat bercatur.

Selama 30 tahun ini So Sing-ho boleh dikatakan sudah hafal sekali terhadap setiap langkah catur yang mungkin dilakukan lawan, bagaimanapun lawan akan menjalankan biji caturnya pasti sudah terduga olehnya. Eh, siapa duga sekali ini ia benar-benar ketemu batunya. Datang-datang Hi-tiok terus tutup mata dan main secara ngawur hingga satu biji hitam dimakan sendiri.

Cara ini benar-benar sangat berlawanan dengan teori catur, sebab setiap orang yang sedikit paham ilmu catur saja tidak mungkin akan menjalankan caturnya seperti Hi-tiok tadi. Sama halnya setiap orang persilatan tidak mungkin menghunus pedang untuk membunuh diri.

Tak tersangka bahwa setelah makan biji sendiri secara ngawur itu, posisi percaturan itu lantas berubah walaupun pihak putih masih menduduki posisi lebih kuat, tapi pihak hitam sudah ada tempat luang untuk bergerak, tidak seperti tadi selalu terdesak di pihak yang terkepung melulu.

Sudah tentu perubahan demikian mimpi pun pernah terpikir oleh So Sing-ho. Karena itu, sesudah pikir agak lama, akhirnya ia mengimbangi satu biji putih.

Kiranya tadi waktu Hi-tiok digertak So Sing-ho, sedangkan Hian-lan yang diharapkan menolongnya juga tidak memberi reaksi apa-apa, tengah merasa bingung, tiba-tiba didengarnya suatu suara yang sangat halus bergema di tepi telinganya, “Taruh di tempat ‘peng’ pada garis lintang 3x9.”

Tanpa pikir suara siapakah itu dan tepat tidak langkah yang diajarkan, terus saja Hi-tiok mengambil satu biji hitam dan ditaruh pada garis silang 3x9 seperti apa yang dikatakan itu.

Dan setelah So Sing-ho juga balas menjalankan satu biji putih, kembali suara lembut tadi berkata di telinga Hi-tiok, “Sekarang tepat ‘peng’ pada garis silang 2x8.”

Sudah tentu Hi-tiok menurut saja, kembali ia ambil satu biji hitam dan ditaruh di tempat yang dikatakan itu.

Langkah ini ternyata menimbulkan rasa heran pada Ciumoti, Buyung Hok, Toan Ki dan lain-lain. Waktu Hi-tiok mengangkat kepalanya, ia lihat wajah beberapa orang itu penuh mengunjuk rasa heran dan kagum, terang disebabkan langkahnya barusan ini sangat tepat dan bagus. Lalu dilihatnya pula wajah So Sing-ho juga berseri-seri dan gegetun serta khawatir pula, kedua alisnya yang panjang tampak berkerut-kerut.

Diam-diam Hi-tiok merasa curiga, pikirnya, “Aneh, mengapa dia merasa senang? Wah, tentu disebabkan langkahku barusan ini salah?”

Tapi lantas terpikir lagi olehnya, “Ah, peduli salah atau tidak, pendek kata asal aku dapat melayani dia hingga belasan langkah, paling tidak akan menunjukkan bahwa aku juga cukup mahir main catur dan bukan melulu main ngawur belaka. Dengan demikian tentu dia takkan marah-marah lagi padaku.”

Maka setelah So Sing-ho melayani satu biji lagi, segera ia menjalankan satu biji juga sesuai petunjuk suara yang menyusup pula ke telinganya.

Sambil menaruh biji catur Hi-tiok juga mengawasi apakah sang susiokco yang diam-diam mengajarnya atau bukan. Tapi ia lihat sikap Hian-lan sendiri sangat khawatir, terang bukan dia, apalagi mulutnya juga tidak terlihat bergerak.

Nyata suara yang menyusup ke telinganya itu adalah semacam lwekang mahasakti yang disebut “Thoan-im-jip-bit” atau mengirimkan gelombang suara, pembicara itu mengirimkan suaranya dengan lwekang yang tinggi ke telinga pendengarnya, meski banyak orang yang berdiri di samping juga takkan dengar.

Meski bibir semua orang tidak kelihatan bergerak, tapi suara itu masih didengar oleh Hi-tiok, sekarang suara itu suruh dia menaruh biji hitam tempat “G” pada garis silang 5x6 untuk makan tiga biji putih lawan.

Kembali Hi-tiok menurut saja dan menjalankan biji caturnya. Ia pikir, “Orang yang mengajarkan aku ini terang bukan lain daripada Susiokco. Orang lain tiada hubungan apa-apa denganku, mana mungkin mereka mau memberi petunjuk padaku. Di antara mereka ini hanya Susiokco yang belum ikut main catur ini, sedang yang lain-lain sudah mencoba dan dikalahkan. Ilmu sakti Susiokco memang hebat, tanpa gerak bibir beliau dapat mengirimkan suaranya ke telingaku, entah sampai kapan aku baru dapat berlatih hingga tingkat ini?”

Sudah tentu ia tidak tahu bahwa orang yang memberi petunjuk padanya itu tak-lain-tak-bukan adalah Si Durjana Nomor Satu “Ok-koan-boan-eng” Toan Yan-king.

Tadi Toan Yan-king lagi tenggelam dalam lamunannya tatkala menghadapi catur, kesempatan itu digunakan Ting Jun-jiu untuk mendorongnya lebih menuju ke jalan yang sesat hingga pikirannya menyeleweng dan hampir-hampir membunuh diri. Untung Hi-tiok mengacaukan permainan catur itu hingga jiwanya diselamatkan. Kemudian ia lihat So Sing-ho marah-marah pada Hi-tiok dan akan membunuhnya jika permainan catur itu tidak diteruskan, maka diam-diam Yan-king memberi petunjuk dengan maksud membebaskan Hi-tiok dari bencana.

Yan-king Taycu mahir ilmu “bicara dengan perut”, suaranya keluar dari perut tanpa gerak bibir, lalu menggunakan lwekang yang tinggi untuk mengirimkan gelombang suara itu ke telinga Hi-tiok, sebab itulah meski di situ banyak terdapat tokoh lain toh tiada seorang pun yang tahu akan kejadian itu. Dan di luar dugaan, beberapa langkah kemudian, percaturan itu telah mengalami perubahan besar-besaran.

Kiranya kunci daripada “problem catur” itu memang harus demikian, ialah pertama-tama harus membunuh diri satu biji hitam sendiri, habis itu baru akan timbul langkah-langkah lain yang aneh dan bagus. Sudah tentu tindakan “membunuh diri” demikian selamanya tidak dipakai oleh ahli catur yang mana pun juga, apa yang mereka pikir juga tidak mungkin menjurus ke arah demikian.

Coba kalau Hi-tiok tidak memejamkan mata dan menaruh biji caturnya dengan ngawur hingga tanpa sengaja menjalankan bijinya secara bodoh itu, mungkin seribu tahun lagi juga “problem catur” itu tiada orang yang sanggup memecahkannya.

Ilmu main catur Toan Yan-king memang sangat tinggi, dahulu waktu bertanding dengan Ui-bi-ceng di negeri Tayli, padri alis kuning itu juga dicecar hingga kewalahan. Maka kini setelah posisi di atas papan catur berubah, dengan segera pihak hitam dapat bergerak dengan leluasa, menyerang atau bertahan dapat berjalan dengan bebas.

Ciumoti, Buyung Hok dan lain-lain tidak tahu bahwa Toan Yan-king yang diam-diam telah membantu Hi-tiok, mereka hanya melihat hwesio muda itu dapat menjalankan caturnya dengan lancar, setiap langkahnya tepat dan bagus, berulang-ulang dua biji putih dimakan lagi, saking kagumnya mereka bersorak memuji.

Sebaliknya pikiran Toan Ki sendiri lagi melayang-layang. Semula dia juga memerhatikan pertandingan catur itu, tapi kemudian pandangannya menyeleweng, yang ditatap melulu Ong Giok-yan saja, makin memandang makin terpesona, sedangkan sinar mata Ong Giok-yan justru tidak pernah meninggalkan Buyung Hok, dengan kesengsem nona itu sedang memandangi sang piauko.

Diam-diam Toan Ki berduka, pikirnya, “Biarlah kupergi saja. Ya, lebih baik pergi saja! Jika tinggal lebih lama di sini tentu akan menderita lebih hebat, bisa jadi aku akan muntah darah.”

Akan tetapi tidak mudah baginya untuk meninggalkan si nona, makin berpikir makin berat rasanya untuk tinggal pergi. “Jika Nona Ong menoleh padaku, segera aku akan bilang padanya, ‘Nona Ong, engkau sudah ketemu piaukomu, sekarang aku akan pergilah!’ dan kalau dia menjawab, ‘Baiklah, boleh kau pergi!’ maka terpaksa aku harus angkat kaki. Sebaliknya kalau dia berkata, ‘Eh, jangan terburu-buru, aku ingin bicara lagi denganmu,’ maka aku akan menunggunya, ingin kulihat apa yang hendak dia bicarakan padaku.”

Padahal apa yang timbul dari pikiran Toan Ki itu hanya sengaja mencari sesuatu alasan agar dia dapat tinggal lebih lama di situ. Ia cukup jelas bahwa sesudah Ong Giok-yan bertemu dengan sang piauko, maka tidak mungkin lagi berpaling untuk memerhatikan dia.

Tapi mendadak gelung Giok-yan di belakang kepala tampak terguncang sedikit. Hati Toan Ki seketika juga terguncang, diam-diam ia berharap, “Hah, menolehlah! Menolehlah!”

Siapa duga Giok-yan cuma menghela napas dengan perlahan dan menyapa dengan suara lirih, “Piauko!”

Namun Buyung Hok saat itu lagi asyik mengikuti permainan catur, ia lihat biji hitam telah berubah di pihak yang unggul dan sedang mendesak lawannya. Ia sedang berpikir, “Beberapa langkah hitam itu pun dapat kulakukannya. Soalnya hanya langkah permulaan saja, melulu satu langkah yang ajaib itulah yang susah dipecahkan.”

Oleh sebab itulah sama sekali Buyung Hok tidak mendengar suara panggilan Giok-yan tadi. Perlahan si nona menghela napas lagi dengan kecewa dan menoleh perlahan.

Hati Toan Ki berdebar-debar hebat, ia membatin, “Aha, dia menoleh sekarang! Dia menoleh sekarang!”

Benar juga, wajah si nona yang ayu itu perlahan berpaling ke arahnya.

Dengan jelas Toan Ki dapat melihat air muka si nona muram durja, sorot matanya memantulkan rasa hampa dan kecewa. Sejak dia bertemu dengan Buyung Hok ia selalu gembira, mengapa mendadak menjadi sedih?

Selagi Toan Ki merasa heran, ia lihat sinar mata Giok-yan bergeser pula hingga kebentrok dengan sinar matanya. Terus saja Toan Ki melangkah maju satu tindak dan mestinya ingin berkata, “Nona Ong, apa yang hendak kau katakan?”

Tapi ia kecele, perlahan sinar mata si nona berpindah dan memandang jauh ke sana dengan termenung-menung, sejenak kemudian, kembali si nona berpaling lagi ke arah Buyung Hok.

Perasaan Toan Ki benar-benar mencelus, rasanya getir tak terkatakan. Ia pikir, “Dia melihat aku, tapi anggap tidak tahu, hal ini lebih celaka sepuluh kali daripada sama sekali ia tidak memandang padaku. Sudah terang dia melihat aku, tapi bayanganku sama sekali tidak masuk dalam hatinya. Yang dia pikirkan adalah piaukonya saja, sedikit pun aku tidak mendapat tempat dalam benaknya. Ai, lebih baik aku pergi saja, lebih baik aku pergi saja!”

Tapi toh dia tidak lantas pergi.

Dalam pada itu berkat petunjuk Yan-king Taycu, Hi-tiok telah dapat menjalankan biji hitam dengan baik, keadaan sudah memuncak pada detik menentukan, tampaknya pihak putih berbalik kewalahan.

Kalau pihak putih menutup setiap tindakan pihak hitam, maka setiap kali biji putih tentu akan dicaplok satu biji. Bila jalan hitam tidak ditutup, maka pihak hitam akan lebih leluasa menerjang keluar dari kepungan. Dalam keadaan serbasalah begini, pihak putih menjadi tidak berdaya apa-apa lagi.

Saat itu So Sing-ho lagi berpikir, tidak lama kemudian, dengan tersenyum ia menjalankan satu biji putih.

“Pasang di tempat ‘Siang’ di garis silang 7x8!” demikian gelombang suara Toan Yan-king terkirim lagi ke telinga Hi-tiok.

Sudah tentu Hi-tiok hanya menurut saja. Pengetahuannya dalam ilmu catur hanya sedikit saja. Tapi ia pun dapat merasakan dengan langkahnya itu, maka pecahlah problem catur itu. Segera dengan tertawa ia bertanya, “Rupanya sudah berakhir bukan?”

Dengan wajah girang So Sing-ho menjawab sambil kiongchiu, “Selamat bahagia atas bakat Siausinceng (padri cilik sakti) yang luar biasa ini.”

“Ah, mana aku berani terima, ini bukan....” demikian baru Hi-tiok hendak menjelaskan bahwa dia telah mendapat petunjuk dari susiokco, namun suara halus tadi kembali berbunyi lagi di telinganya, “Awas, rahasia ini jangan diungkap. Keadaan bahaya belum lenyap, harus lebih hati-hati terhadap segala kemungkinan.”

Hi-tiok mengira kembali Hian-lan yang telah memberi petunjuk, maka berulang ia mengangguk dan mengiakan.

Maka So Sing-ho lantas berbangkit, katanya, “Sejak Siansu (mendiang guru) memasang problem catur ini, selama tiga puluh tahun belum ada orang mampu memecahkannya. Sekarang Siausinceng telah berhasil memecahkannya secara sempurna, sungguh aku merasa sangat berterima kasih.”

Karena tidak tahu seluk-beluknya, Hi-tiok terpaksa menjawab dengan rendah hati, “Ah, Siauceng hanya bermain secara ngawur dan kebetulan dapat menang, semua berkat Locianpwe suka mengalah, maka atas segala pujian Cianpwe sungguh aku merasa malu untuk menerimanya.”

Namun Sing-ho tidak berkata lagi, ia berjalan ke depan ketiga petak rumah papan kayu itu, ia menjulurkan tangan ke arah rumah dan berkata, “Silakan masuk, Siausinceng!”

Hi-tiok melihat bentuk bangunan ketiga petak rumah papan itu sangat aneh, rapat tidak terdapat pintu, ia tidak tahu cara bagaimana harus masuk, lebih-lebih tidak tahu untuk apa disuruh masuk ke sana. Maka ia hanya terpaku di tempatnya dengan bingung.

Tapi suara halus tadi lantas terdengar lagi, “Kau dapat membobol kepungan catur, hal itu adalah hasil perjuangan mati-matian. Jika rumah papan itu tiada pintu, boleh kau membelahnya saja dengan ilmu silat Siau-lim-pay.”

Maka Hi-tiok menurut, ia berkata, “Maaflah jika begitu!”

Segera ia melangkah maju, ia pasang kuda-kuda, tangan kanan diangkat, terus saja ia membelah papan rumah itu dengan telapak tangan.

Dalam pandangan semua tokoh yang hadir di situ, tenaga pukulan Hi-tiok itu terang tiada nilainya untuk dipuji. Untung papan pintu itu tidak terlalu kuat, maka terdengarlah suara “brak” sekali papan itu lantas pecah merekah. Waktu Hi-tiok menambahi dua kali pukulan lagi, maka bobol juga papan rumah itu, namun tangan juga pedas kesakitan.

Dengan terkekeh-kekeh Lam-hay-gok-sin berolok-olok, “Hah, itu dia ngekang (tenaga luar) dari Siau-lim-pay, kiranya cuma begini saja kekuatannya!”

“Siauceng cuma seorang murid Siau-lim-pay yang paling tidak becus, kepandaianku memang rendah, mana boleh dibanggakan sebagai kepandaian asli perguruanku?” demikian Hi-tiok menjawab sambil menoleh.

Dalam pada itu terdengar suara halus tadi membisikinya lagi, “Lekas masuk ke rumah itu, jangan menoleh lagi, jangan peduli orang lain!”

Hi-tiok mengiakan dan segera ia hendak melangkah masuk ke rumah papan melalui pintu yang dibobolnya itu.

Namun Ting Jun-jiu lantas berteriak, “Di situ adalah pintu perguruan kami, kau hwesio cilik ini mana boleh sembarangan masuk?”

Menyusul lantas terdengar suara “blang-blang” dua kali, serangkum angin menyambar ke arah Hi-tiok untuk menariknya mundur. Tapi menyusul dua arus tenaga besar telah menumbuk punggung dan bokongnya, tanpa kuasa lagi ia terjungkal dan mencelat masuk ke dalam rumah papan itu.

Ia tidak tahu bahwa dalam sekejap itu sebenarnya jiwanya sudah hampir melayang. Barusan Ting Jun-jiu melontarkan pukulan hendak membinasakan dia. Sedangkan Ciumoti telah menggunakan tenaga “Kang-ho-kang” (Ilmu Membekuk Bangau) dan secara paksa hendak menariknya mundur.

Namun Toan Yan-king telah menggunakan tenaga tersembunyi pada tongkatnya untuk menolak sebagian tenaga pukulan Ting-lokoay, sedangkan So Sing-ho yang berdiri di antara Hi-tiok dan Ciumoti telah menghalau tenaga “Kang-ho-kang” padri Turfan itu dengan tangan kiri, menyusul tangan kanan terus menolak ke depan hingga tanpa kuasa Hi-tiok didorong masuk ke dalam rumah papan itu.

Tenaga tolakan So Sing-ho itu sangat hebat hingga Hi-tiok mencelat ke depan, “blang”, selapis dinding papan di bagian dalam rumah kena diterjang bobol, bahkan kembali “blang” lagi sekali, batok kepalanya kebentur pula pada suatu lapis dinding papan lagi. Seketika ia merasa mata berkunang-kunang, pikiran menjadi gelap dan hampir-hampir kelengar.

Selang sebentar barulah ia sanggup berbangkit, ia coba meraba-raba jidat sendiri ternyata sudah benjut dan melepuh. Ia lihat dirinya berada di dalam sebuah kamar yang kosong melompong tiada sesuatu isi.

Ia coba mencari pintu kamar itu, tapi kamar itu ternyata tiada pintu dan tanpa jendela, yang ada cuma lubang papan yang dibenturnya hingga bobol tadi. Dan sesudah termangu-mangu sejenak segera ia bermaksud merangkak keluar melalui lubang papan rusak itu.

Tapi baru saja ia putar tubuh, tiba-tiba terdengar di sebelah sana ada suara seorang yang serak tua sedang berkata, “Jika sudah datang, mengapa hendak keluar lagi?”

Cepat Hi-tiok membalik tubuh, ia tidak melihat sesuatu apa pun. Segera ia menjawab, “Mohon Cianpwe suka memberi petunjuk jalan.”

“Jalannya kau sendiri yang membikin dan akhirnya masuk ke sini, tiada orang lain yang dapat mengajarkan padamu,” demikian kata suara itu. “Problem catur sudah kupasang selama 30 tahun dan tidak pernah dipecahkan orang, tapi akhirnya hari ini dapat dipecahkan olehmu. Nah, kenapa kau belum mau kemari!”

Mendengar itu, seketika Hi-tiok merinding. Dengan suara gemetar ia tanya, “Engkau... kau....”

Tapi ia tidak sanggup meneruskan lagi. Ia ingat So Sing-ho mengatakan problem catur itu adalah ciptaan “Siansu atau mendiang gurunya”. Jika begitu, suara orang tua ini manusia atau setan?

Ia dengar suara itu berkata pula, “Kesempatan dalam sekejap segera akan lalu, aku sudah menunggu selama 30 tahun dan tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Anak baik, marilah lekas masuk ke sini!”

Hi-tiok dengar suara ucapan itu sangat ramah tamah, maka tanpa pikir lagi ia tumbuk papan dinding itu dengan bahunya, “krak”, memangnya papan itu sudah tua maka segera terbobol sebuah lubang, ia terus menerobos ke dalam.

Tapi ia terperanjat ketika dilihatnya di dalam kamar juga kosong melompong, sebaliknya ada seorang yang duduk tergantung di udara. Melihat orang itu duduk dengan terapung di udara, maka pikiran pertama yang timbul adalah dalam benak Hi-tiok adalah “setan”!

Dan saking ketakutan segera ia putar tubuh hendak lari. Namun orang itu sudah berkata lagi, “Ai, kiranya seorang hwesio cilik! Ai, malahan hwesio yang bermuka jelek! Ai, susah, susah, susah!”

Mendengar orang menghela napas dan berulang mengucapkan “susah”, waktu Hi-tiok memerhatikan lebih lanjut, baru sekarang ia dapat melihat jelas.

Kiranya tubuh orang itu hinggap di atas seutas tali warna hitam, ujung tali terikat di belandar sehingga tubuhnya tergantung di udara. Karena dinding di belakangnya bercat hitam, warna tali juga hitam, maka tali itu tidak jelas kelihatan, dipandang sepintas lalu mirip orang duduk terapung di udara.

Adapun muka Hi-tiok memang agak jelek, alisnya ketel, matanya besar, hidungnya pesek pakai mendongak lagi lubang hidungnya, kedua daun kuping berkepak kayak kuping gajah, ketambahan pula bibirnya sangat tebal. Malahan sepanjang jalan ia kenyang dihajar Lam-hay-gok-sin hingga babak belur, waktu menumbuk dinding papan tadi juga terluka lagi, keruan rupanya semakin jelek.

Sejak kecil Hi-tiok sudah yatim piatu dan dipiara oleh hwesio yang menaruh kasihan padanya di Siau-lim-si. Para hwesio di biara itu adalah biksu yang saleh, kalau tidak tekun belajar silat tentu tenggelam di alam keagamaan mereka, maka tiada seorang pun yang perhatikan muka Hi-tiok itu jelek atau bagus.

Menurut Buddha, badan manusia itu adalah sebuah “kantong kulit busuk,” kantong kulit busuk yang jelek atau bagus tidak menjadi soal bagi mereka, jika banyak memikirkannya berarti pikirannya sudah mulai menyeleweng.

Sebab itulah, selama hidup Hi-tiok baru pertama kali ini didengarnya orang mengatakan dia seorang “hwesio cilik yang jelek.”

Waktu dia ditawan Lam-hay-gok-sin sepanjang jalan Yap Ji-nio juga suka menyebutnya sebagai “Ti-pak-kay” (Siluman Babi), “hwesio siluman” dan macam-macam lagi. Tapi ketika itu Hi-tiok lagi tersiksa karena kenyang dihajar, maka ia tidak sempat memerhatikan soal jelek atau bagusnya tampang manusia.

Kini demi mendengar orang itu juga mengatakan dia bermuka jelek, tiba-tiba hatinya tergerak, ia pikir, “Memangnya kau bagus?”

Segera ia mendongak untuk mengamat-amati orang.

Kiranya orang itu sangat tua, jenggotnya ada satu meter panjangnya, anehnya tetap hitam pekat, tiada seujung pun yang ubanan. Mukanya putih bersih, sedikit pun tidak berkerut sebagaimana umumnya terlihat pada muka keriput orang tua. Nyata orang ini berusia tua, tapi bermuka muda, bahkan boleh dikatakan sangat cakap.

Hi-tiok jadi malu, pikirnya, “Bicara tentang muka memang aku dan dia berbeda seperti langit dan bumi.”

Sekarang rasa takutnya sudah hilang, segera ia membungkuk memberi hormat, katanya, “Siauceng Hi-tiok memberi hormat kepada Cianpwe.”

Orang itu manggut-manggut dan bertanya, “Kau she apa?”

Hi-tiok tercengang sejenak, lalu menjawab, “Seorang cut-keh-lang, sudah lama tidak kenal she lagi.”

“Sebelum menjadi hwesio, kau she apa?” tanya pula orang itu.

“Siauceng sejak kecil sudah cut-keh, maka tidak tahu,” sahut Hi-tiok.

Lalu orang itu mengamat-amati Hi-tiok sejenak, tiba-tiba ia menghela napas dan berkata, “Kau dapat memecahkan problem catur yang kupasang itu, tentang kepintaran dan kecerdasan sudah tentu lain daripada yang lain. Tapi mukamu begini, betapa pun tidak bisa jadi. Ai, susah amat. Kukira nanti hanya sia-sia membuang pikiran saja bahkan jiwamu bisa melayang percuma. Baik begini saja, Siauhwesio, akan kuberi semacam hadiah padamu dan boleh kau pergi saja!”

Watak Hi-tiok bukan seorang yang sombong dan tinggi hati, biar orang tua itu mengatakan mukanya jelek juga dia tidak ambil pusing. Tapi dia mempunyai sifat yang keras hati, kemauannya teguh dan tidak kenal apa artinya susah atau sulit, berulang ia dengar orang tua tadi mengatakan “susah”, hal ini membangkitkan semangat jantannya malah.

Maka ia lantas berkata, “Dalam hal main catur sebenarnya pengetahuan Siauceng teramat dangkal, adapun problem catur Locianpwe itu pun bukan Siauceng sendiri yang memecahkannya. Tetapi bila Locianpwe ada urusan sulit apa-apa yang perlu diselesaikan, meski kepandaian Siauceng sangat rendah juga siap untuk melakukannya dengan sebisa tenaga. Sedangkan soal hadiah apa segala Siauceng tidak berani menerimanya.”

“Kau berbudi luhur dan berjiwa kesatria, sungguh harus dipuji,” kata orang tua itu. “Tentang kepandaian main catur dan ilmu silatmu rendah, semuanya tidak menjadi soal. Tapi kau dapat masuk ke sini berarti ada jodoh. Cuma saja... ya, mukamu sesungguhnya terlampau jelek....”

Hi-tiok tersenyum, sahutnya, “Jelek atau bagus muka seseorang adalah pemberian alam, jangankan diri sendiri tak berkuasa, bahkan ayah ibu juga tidak bisa menentukan. Mukaku memang jelek hingga membikin Cianpwe kurang senang, biarlah sekarang kumohon diri saja.”

Habis berkata, ia mundur dua tindak dan hendak membalik tubuh untuk keluar. Namun orang tua itu telah mencegahnya, “Nanti dulu!”

Mendadak lengan bajunya mengebas perlahan dan tersampir di pundak kanan Hi-tiok.

Lengan baju adalah benda yang lemas, tapi sekali menyentuh pundak, seketika Hi-tiok tertahan ke bawah sedikit. Ia merasa lengan baju itu seperti sebuah tangan yang memegang tubuhnya.

Lalu dengan tertawa orang tua itu berkata, “Orang muda mempunyai sifat angkuh begini, sungguh harus dipuji.”

“Siauceng mana berani bersikap angkuh terhadap Cianpwe,” sahut Hi-tiok. “Cuma Siauceng khawatir membikin Locianpwe kurang senang maka lekas pergi saja dari sini.”

Orang tua itu manggut-manggut lagi dan bertanya, “Siapa saja orang-orang yang ikut datang memecahkan problem catur itu?”

Hi-tiok lantas menuturkan satu per satu.

Orang tua itu termenung sejenak, katanya kemudian, “Tokoh-tokoh terkemuka di dunia ini sudah sebagian besar datang kemari. Apakah Koh-eng Taysu dari Tayli Thian-liong-si tidak datang?”

“Selain padri dari biara kami, tidak kulihat ada padri golongan lain,” sahut Hi-tiok.

Terdengar orang tua itu menghela napas, lalu bergumam sendiri, “Aku sudah menunggu selama 30 tahun, andaikan menunggu lagi 30 tahun juga belum tentu dapat menemukan bahan yang serbabagus lahir dan batin. Segala apa di dunia ini memang banyak yang tidak dapat memenuhi harapan orang. Kini terpaksa apa adanya saja.”

Rupanya ia sudah ambil sesuatu ketetapan, lalu ia tanya pula, “Tadi kau bilang problem catur itu bukan kau sendiri yang memecahkannya, habis mengapa Sing-ho memasukkan kau ke sini?”

Maka Hi-tiok bercerita lagi, “Pertama karena Siauceng secara sembrono telah menjalankan satu biji catur dengan mata tertutup, sedangkan langkah-langkah selanjutnya adalah bantuan susiokco kami yang bergelar Hian-lan Taysu, beliau telah memberi petunjuk dengan diam-diam dan mengirimkan bisikan suara ke telinga Siauceng.”

Habis itu, segera ia menguraikan pula gambaran singkat waktu memecahkan problem catur tadi.

“Takdir, takdir,” demikian orang tua itu berkata. Dan mendadak ia berseri-seri, lalu katanya pula, “Jika memang sudah ditakdirkan begitu, secara ngawur dapat kau buka kunci pemecahan problem yang kuatur itu, ini menandakan kau ada jodoh dan mempunyai rezeki yang baik, siapa tahu kalau kau akan dapat melaksanakan tugas yang akan kuberikan padamu. Baik, baik, marilah anak baik, berlututlah dan menyembah padaku.”

Perangai Hi-tiok juga sangat baik, ia suka menghormati siapa pun juga. Kini mendengar orang tua itu menyuruh dia berlutut dan menyembah, meski tidak tahu duduknya perkara, tapi orang itu dianggapnya sebagai kaum angkatan tua Bu-lim, untuk menyembah kepadanya juga pantas, maka tanpa pikir lagi ia lantas berlutut dan dengan penuh hormat, ia menyembah empat kali hingga kepalanya membentur lantai.

Selagi ia hendak berbangkit, tiba-tiba orang tua itu berkata pula dengan tertawa, “Sembah lima kali lagi, ini adalah peraturan perguruan!”

Hi-tiok mengiakan dan tanpa pikir mencukupi lima kali sembah itu.

“Ehm, anak baik, anak baik! Coba, kemarilah!” kata si orang tua.

Menurut saja Hi-tiok, ia berdiri dan mendekati orang.

Kakek itu pegang tangan Hi-tiok dan mengamat-amati perawakannya. Tiba-tiba Hi-tiok merasa urat nadi di pergelangan tangan yang dipegang orang tua itu ada suatu arus hawa hangat dengan cepat sekali telah menerjang ke pusat nadinya. Tanpa pikir ia terus mengerahkan lwekang Siau-lim-si yang dimilikinya yang sedikit itu untuk melawan. Namun tenaga dalam si orang tua lantas ditarik kembali hingga keadaan kembali biasa lagi.

Hi-tiok tahu orang telah menjajal sampai di mana tingkatan lwekangnya sendiri, maka ia menjadi merah jengah, katanya dengan menyengir, “Siauceng biasanya lebih banyak membaca kitab, di waktu kecil juga terlalu malas hingga tidak mempelajari lwekang ajaran guruku dengan baik, harap Cianpwe jangan menertawakan kepandaianku yang cetek ini.”

Di luar dugaan, orang tua itu malah sangat senang, katanya dengan tertawa, “Ehm, bagus, bagus! Lwekangmu dari Siau-lim-pay masih sangat cetek, hal ini akan banyak mengurangi kesukaranku malah.”

Tengah bicara, mendadak Hi-tiok merasa badannya lemas, rasanya hangat-hangat seperti merendam diri di dalam sebuah bak yang berisi air panas, liang roma di seluruh badannya seperti mengeluarkan uap hingga rasanya sangat segar.

Selang sebentar, orang tua itu melepaskan tangan Hi-tiok dan berkata dengan tertawa, “Cukuplah. Aku sudah menggunakan ‘Hoa-kang-tay-hoat’ perguruan sendiri untuk menghapus tenaga dalam Siau-lim-pay yang kau miliki ini!”

Keruan Hi-tiok melonjak kaget, ia menjerit, “Ap... apa katamu?” — tapi mendadak kakinya terasa lemas, ia jatuh terduduk di tanah. Ia merasa tiada memiliki sedikit tenaga pun, pikiran menjadi kacau dan mata berkunang-kunang. Ia tahu apa yang dikatakan orang tua itu pasti tidak bohong.

Sejak kecil Hi-tiok tinggal di Siau-lim-si, untuk pertama kalinya sekarang ia ditugaskan keluar biara, sudah tentu ia belum berpengalaman dan tidak kenal seluk-beluk kalangan Kangouw serta tindak kekejian sesama manusia.

Ia hanya pernah mendengar cerita gurunya bahwa “Hoa-kang-tay-hoat” Sing-siok-pay sangat lihai, asal kedua badan saling tempel, maka lwekang lawan yang terhimpun selama berpuluh tahun juga dapat dipunahkan dalam waktu sekejap. Dan orang tua ini terang adalah tokoh angkatan tua Sing-siok-pay, kenapa aku begini gegabah berdekatan dengan dia? Mengapa tidak sejak tadi aku melarikan diri agar tidak menjadi korban kekejiannya?

Berpikir demikian, seketika Hi-tiok tak bisa menahan rasa menyesal dan sedihnya, air mata terus bercucuran, katanya sambil menangis, “Aku... aku toh tiada permusuhan apa-apa dan juga tidak menyalahimu, mengapa engkau membikin celaka diriku?”

“Hei, cara bicaramu mengapa begini kurang ajar?” sahut orang tua itu dengan tertawa. “Kau tidak panggil ‘Suhu’, sebaliknya menyebut ‘kau aku’ segala, sedikit pun tidak kenal aturan?”

“Apa katamu? Mana boleh jadi engkau adalah guruku?” seru Hi-tiok terkejut.

“Baru saja kau mengangkat guru padaku, masakah sekarang kau sudah lupa,” kata si kakek. “Kau telah menyembah sembilan kali padaku, itu adalah adat pengangkatan guru menurut peraturan perguruan kita.”

“He, tidak, tidak bisa jadi!” teriak Hi-tiok. “Aku adalah murid Siau-lim-pay, mana boleh mengangkatmu lagi sebagai guruku? Apalagi ilmu siluman kalian yang suka membikin celaka orang, biar bagaimanapun aku tidak sudi belajar.”

“Benar-benar kau tidak mau belajar?” kata si orang tua dengan tertawa.

Mendadak kedua lengan bajunya mengebas ke depan hingga tersampir di pundak Hi-tiok. Seketika Hi-tiok merasa pundak dibebani beratus kati beratnya hingga tidak sanggup berdiri tegak lagi, tanpa kuasa ia tekuk lutut dan jatuh terduduk di tanah.

Biarpun sudah tak berdaya, namun Hi-tiok tidak menyerah mentah-mentah, mulut tetap menolak tegas, “Meski kau pukul mati aku juga tetap aku tidak mau belajar.”

Kembali orang itu tertawa, mendadak ia lompat ke atas, sekali jumpalitan di udara, tahu-tahu ikat kepala yang dipakainya mencelat ke sudut ruangan, sedang orangnya terus memancalkan sebelah kakinya pada belandar, lalu dengan terjungkir ia jatuh ke bawah, dengan tepat sekali kepalanya menindih di atas kepala Hi-tiok. Jadi kepala menyunggi kepala.

“He, kau... kau mau apa?” seru Hi-tiok dengan khawatir. Ia goyang-goyang kepala dengan maksud membikin orang tua itu terperosot jatuh.

Tapi aneh, sekali kepala orang tua itu menempel kepala Hi-tiok, maka eratnya seperti dipaku, biarpun Hi-tiok menggeleng kepala sampai leher serasa patah juga tetap tidak terlepas.

Asal kepala Hi-tiok menggeleng ke timur, maka tubuh si orang tua yang terjungkir itu juga mendoyong ke timur, kalau Hi-tiok menggoyang ke barat, tubuh si kakek juga ikut miring ke barat. Jadi kedua kepala mereka seperti sudah melengket.

Keruan Hi-tiok tambah khawatir, dengan kedua tangan ia coba menarik dan mendorong, ia harap dapat menjatuhkan si orang tua yang disungginya itu. Tapi mendadak terasa tangan tak bertenaga sedikit pun, ia menjadi gugup, pikirnya, “Setelah kena Hoa-kang-tay-hoat orang ini, selain punah ilmu silatku, mungkin untuk makan dan pakai baju juga tiada tenaga lagi. Wah, kan celaka! Mati aku!”

Ia merasa kepala makin lama makin panas, dalam sekejap saja kepala sudah terasa pusing dan serasa akan meledak, tapi hawa panas itu masih terus mencurah ke bawah, selang tak lama, Hi-tiok tidak tahan lagi, akhirnya ia pingsan.

Walaupun pingsan, tapi banyak sekali timbul alam khayalan dalam benaknya, terkadang ia merasa seperti naik mega dan terapung di awang-awang, lain saat seperti menyelam ke dasar laut yang hijau permai dan berkawankan ikan, kemudian merasa berada di Siau-lim-si sedang giat belajar silat dan membaca kitab, tapi meski sudah kulatih ke sana ke sini, tetap tidak jadi.

Dan entah lewat berapa lama lagi, tiba-tiba terasa hujan lebat, air hujan menetes di atas badan. Segera Hi-tiok membuka mata, benar juga dilihatnya butiran air yang tak terhitung banyaknya sedang menetes pada mukanya. Tapi waktu diperhatikan, kiranya itu bukan air hujan melainkan air keringat si kakek.

Ternyata seluruh muka, seluruh badan kakek itu basah kuyup dengan air keringat sehingga menetesi badan Hi-tiok.

Saat itu Hi-tiok mendapatkan dirinya menggeletak telentang di tanah, orang tua itu duduk di sampingnya, kedua kepala yang saling lengket tadi sekarang sudah terpisah.

Cepat Hi-tiok merangkak bangun. “Kau....” baru hendak bicara mendadak ia terkejut ketika diketahuinya si kakek sudah berubah menjadi orang lain.

Sebenarnya wajah kakek itu putih bersih dan cakap seperti pemuda, kini mendadak berubah menjadi penuh keriput, yang lebih aneh adalah rambutnya yang semula penuh menutupi kepala itu sekarang sudah rontok semua, sedangkan jenggotnya yang semula hitam pekat sekarang juga berubah menjadi putih semua.

Melihat itu, pikiran yang pertama-tama timbul dalam benak Hi-tiok adalah, “Sebenarnya aku telah pingsan berapa lama? Apa 30 tahun? 50 tahun? Mengapa orang ini mendadak berubah lebih tua beberapa puluh tahun?”

Ia lihat kakek yang berada di depannya sekarang benar-benar sudah sangat tua, sudah loyo, usianya ditaksir kalau tidak 120 tahun tentu juga lebih dari 100 tahun.

“Jadilah sekarang jerih payahku!” demikian kakek itu berkata dengan senyum lemas. “Anak baik, rezekimu teramat bagus, jauh melebihi harapanku. Sekarang coba kau pukul dinding papan itu dari jauh.”

Hi-tiok tak tahu seluk-beluknya, ia hanya menurut saja, dari jauh ia hantamkan sebelah telapak tangannya. Mendadak terdengar suara “krak-brak” yang keras, dinding papan itu ambrol sebagian besar, jauh lebih keras daripada dia menumbuk dengan bahunya belasan kali umpamanya.

Keruan Hi-tiok terkesima, katanya kemudian, “Ken... kenapa bisa begini?”

Dengan wajah berseri-seri si kakek juga berkata dengan sangat girang, “Ya, kenapa bisa begitu?”

“Mengapa mendadak aku... memiliki tenaga sebesar ini?” tanya Hi-tiok dengan ragu.

Dengan tersenyum si kakek memberi tahu, “Kau belum mempelajari ciang-hoat (ilmu pukulan), maka tenaga dalam yang kau lontarkan barusan belum ada satu per sepuluh besarnya dari tenaga yang kau miliki sekarang. Hasil jerih payah gurumu selama 70 tahun ini, sudah tentu lain daripada yang lain!”

“Hah, kau bilang jerih... jerih payah selama 70 tahun apa?” seru Hi-tiok sambil melonjak bangun. Ia tahu tentu ada sesuatu yang tak beres.

“Masakah kau belum paham, berlagak pilon atau memang tidak tahu?” ujar si kakek dengan tersenyum.

Dalam hati Hi-tiok memang sudah merasakan maksud tujuan sebenarnya perbuatan si kakek itu. Cuma kejadian ini terlalu mendadak, juga susah untuk dipercaya bisa terjadi demikian. Maka dengan tergegap ia tanya lagi, “Apakah... apakah Locianpwe telah... telah menurunkan semacam sin-kang (ilmu sakti) kepada Siauceng?”

“Sampai sekarang kau masih tidak sudi menyebut Suhu padaku?” tanya si kakek.

“Siauceng adalah murid Siau-lim-pay,” demikian sahut Hi-tiok sambil menunduk. “Maka Siauceng tidak berani durhaka untuk masuk ke perguruan lain lagi.”

“Di dalam badanmu sudah tiada sedikit pun kepandaian Siau-lim-pay, mengapa kau masih mengaku sebagai murid Siau-lim-pay?” kata si kakek. “Dalam badanmu, sekarang sudah terhimpun ilmu sakti jerih payah 70 tahun dari Siau-yau-pay! Masakah kau tidak mau mengaku sebagai anak murid perguruan kita?”

“Siau-yau-pay?” demikian Hi-tiok menegas. Selamanya ia tidak pernah mendengar nama Siau-yau-pay, atau “golongan bebas merdeka” itu....

“Ya, orang hidup di dunia ini yang dituju adalah hidup bebas merdeka,” sahut si kakek. Lalu ia berkata pula, “Coba sekarang kau lompat sekali ke atas.”

Karena rasa ingin tahu, Hi-tiok lantas menurut saja, ia sedikit tekuk lutut, lalu menggenjot perlahan, eh, tahu-tahu tubuh terus membal ke sana.

“Blang”, kepala menyundul genting hingga kesakitan, mendadak matanya terbeliak, separuh tubuhnya menerobos keluar atap rumah, bahkan rasanya badan masih hendak melayang terus ke atas.

Khawatir kalau-kalau badan “terbang” ke langit, lekas saja Hi-tiok pegang atap rumah sehingga daya mumbulnya itu tertahan. Lalu ia merosot turun, dan begitu kaki menyentuh tanah, badan masih membal beberapa kali mirip bola saja. Ginkang demikian benar-benar susah untuk dibayangkan sebelumnya. Seketika Hi-tiok menjadi bingung malah, ia tidak tahu harus girang atau sedih?

“Bagaimana?” tanya si kakek.

“Apakah... apakah aku kemasukan ilmu sihir?” sahut Hi-tiok.

“Tidak, coba duduk dengan tenang, dengarkan uraianku. Waktunya sudah mendesak, aku tidak dapat banyak bicara, aku hanya mengambil pokok persoalannya saja,” kata si kakek. “Begini, jika kau berkeras tidak mau menyebut aku sebagai Suhu dan tidak suka ganti perguruan, untuk itu aku pun tidak memaksa. Siausuhu, jika kuminta bantuanmu untuk sesuatu urusan besar, apakah dapat kau terima?”

Walaupun bakal untung atau buntung belum diketahui akibat mendadak bertambahnya lwekang yang diperoleh dari orang tua itu, namun paling tidak hal ini sudah berarti dia telah menerima budi kebaikan si orang tua. Kalau orang tua itu sampai membuka mulut meminta bantuannya guna menyelesaikan sesuatu urusan, maka betapa pun dirinya harus mengerjakannya dengan baik.

Hi-tiok lantas menjawab, “Asal Cianpwe mengatakan, sudah tentu akan kulaksanakan dengan sekuat tenaga.”

Sampai di sini, tiba-tiba teringat olehnya orang mahir “Hoa-kang-tay-hoat”, agaknya tergolong kaum Sia-pay, maka segera ia menambahi lagi, “Tetapi bila Cianpwe suruh Siauceng berbuat sesuatu yang tidak baik, maka sekali-kali tidak dapat kuterima permintaan Cianpwe.”

“Apa yang kau maksudkan sebagai ‘sesuatu yang tidak baik’?” tanya si kakek dengan tersenyum getir.

“Siauceng adalah murid Buddha, jadi urusan yang merugikan atau membikin susah orang lain sekali-kali tidak dapat kukerjakan,” sahut Hi-tiok.

“Tetapi jika ada manusia di dunia ini selalu berbuat sesuatu yang merugikan dan membikin susah orang lain, selalu berbuat kejahatan membunuh orang semau-maunya, untuk itu kusuruh kau membasminya, akan kau terima atau tidak?” tanya si kakek.

“Siauceng akan memberi nasihat sedapatnya agar dia suka memperbaiki kesalahannya itu?” kata Hi-tiok.

“Dan kalau dia tetap tidak mau sadar?”

“Itu adalah kewajiban kaum kita untuk membasminya,” sahut Hi-tiok tegas. “Cuma kepandaian Siauceng terlalu rendah, mungkin tidak mampu memenuhi kewajiban berat ini.”

“Jadi tegasnya kau terima permintaanku?” si kakek menegas.

“Ya, kuterima!” sahut Hi-tiok sambil mengangguk.

Si kakek berubah girang, katanya pula, “Bagus, bagus! Nah, maksudku adalah supaya kau bunuh seorang, seorang durjana mahajahat, yaitu muridku sendiri yang bernama Ting Jun-jiu, kini tersohor dalam Bu-lim dengan gelar Sing-siok Lokoay.”

Mendengar itu, barulah Hi-tiok merasa lega. Sudah lama ia dengar nama jahat Sing-siok Lokoay, tidak cuma sekali ia pernah mendengar para angkatan tua dalam Siau-lim-si bicara tentang perbuatan Ting Jun-jiu yang terkutuk, semua orang bertekad akan membasminya dari muka bumi ini.

Maka sahutnya kemudian, “Menumpas Sing-siok Lokoay memang kewajiban setiap orang persilatan, cuma sedikit kepandaian Siauceng ini mana dapat....”

Mendadak ia berhenti, ketika dilihatnya sorot mata si kakek seperti lagi mengejek padanya, ia jadi ingat bahwa “sedikit kepandaian” yang diucapkan itu sekarang memang tidak tepat lagi.

Benar juga, segera orang tua itu berkata, “Sedikit kepandaianmu sekarang sudah tidak di bawah kepandaian Sing-siok Lokoay. Tapi untuk bisa membasminya memang benar belum cukup kuat. Tapi kau pun tidak perlu khawatir, sudah tentu aku akan mengatur apa yang perlu.”

“Jika Locianpwe adalah suhu Sing-siok Lokoay, mengapa dia dibiarkan malang melintang di dunia Kangouw untuk berbuat kejahatan semau-maunya dan tidak dibasmi sejak dulu?” demikian tanya Hi-tiok.

Orang tua itu menghela napas, sahutnya, “Teguranmu memang betul. Hal itu memang salahku. Dahulu murid durhaka itu mendadak menyerangku hingga aku terjerumus ke dalam jurang, hampir jiwaku melayang di tangannya, untung muridku yang tertua, So Sing-ho, pura-pura bisu dan tuli hingga murid durhaka itu kena dikelabui, dengan demikian barulah jiwaku mendapat kesempatan diperpanjang 30 tahun lagi. Tapi dalam 30 tahun ini aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk membuang semua kegemaranku dahulu seperti main catur, seni musik, seni lukis dan lain-lain dan melulu akan memperdalam ilmu silat saja dengan harapan akan menemukan seorang pemuda pintar dan cakap untuk menerima warisan ilmu silat yang kupelajari dan kuselami selama hidup ini.”

Mendengar si kakek bicara tentang pemuda “pintar dan cakap”, diam-diam Hi-tiok mengukur dirinya sendiri, dalam hal bakat dirinya masih boleh juga, tapi bicara tentang “cakap”, terang bagaimanapun dirinya tidak masuk hitungan.

Maka katanya kemudian sambil menunduk, “Bicara tentang orang cakap sebenarnya di dunia ini terlalu banyak, misalnya di luar sana sekarang juga ada dua orang, yang satu adalah Buyung-kongcu dan yang lain pemuda she Toan. Apakah sekiranya perlu Siauceng mengundang mereka ke sini agar dapat ditonton Locianpwe sendiri?”

Si kakek tertawa, katanya, “Setiap tindak tanduk orang Siau-yau-pay selalu mengutamakan soal jodoh. Tentang kejadian Ting Jun-jiu mendurhakai perguruan juga bukan tiada persoalannya. Sekarang aku sudah mencurahkan saripati peyakinanku selama 70 tahun ke dalam tubuhmu, masakah masih dapat diturunkan lagi kepada orang kedua?”

“Apa... apa benar Cianpwe sudah... sudah menurunkan antero saripati peyakinan Cianpwe kepada Siauceng?” Hi-tiok menegas dengan ragu. “Jika... jika begitu cara bagaimana Siauceng harus menerima budi kebaikanmu ini?”

“Tentang ini aku pun tidak tahu apakah akan membawa untung atau celaka bagimu kelak,” sahut si kakek. “Sebab, biarpun memiliki ilmu silat setinggi langit, hal ini pun tidak berarti bahagia bagi orang itu? Coba dahulu bila aku cuma belajar menabuh harpa, main catur dan melukis saja, tapi tidak kemaruk tentang ilmu silat segala, maka dapat dipastikan hidupku ini tentu akan jauh lebih gembira. Ya, anak baik, Ting Jun-jiu itu menyangka jiwaku sudah melayang di tangannya, maka dia dapat berbuat sewenang-wenang tanpa khawatir kepada siapa pun juga. Di sini ada sebuah peta yang melukiskan tempat dahulu aku pernah tirakat, yaitu terletak di Thian-san wilayah barat. Dengan peta ini dapat kau cari tempat simpanan semua kitab ilmu silat yang aku kumpulkan selama ini dan boleh kau pelajari menurut catatan dalam kitab-kitab itu. Tidak sampai setahun pasti ilmu silatmu akan dapat menimpali Ting Jun-jiu.”

Sembari berkata ia terus mengeluarkan sebuah gulungan kertas kecil dan diserahkan kepada Hi-tiok.

Perasaan Hi-tiok rada rikuh, katanya dengan terharu, “Sebenarnya kepandaian Siauceng masih hijau, kali ini ditugaskan guruku untuk mengirimkan surat, maka sekarang seharusnya aku cepat pulang ke gunung untuk memberi laporan. Dan tentang tindakanku selanjutnya harus terserah kepada perintah guruku. Jika nanti Suhu dan Hongtiang kami melarang Siauceng turun gunung lagi maka terpaksa tak dapat melaksanakan pesan Locianpwe ini.”

“Ya, bila memang begitu ditakdirkan sehingga orang jahat mesti dibiarkan tetap malang melintang, ya, apa mau dikata lagi,” demikian kata orang tua itu dengan tersenyum getir. “Dan kau... kau....”

Sampai di sini, mendadak seluruh badannya menggigil, perlahan ia tiarap, dengan kedua tangan ia bertahan di tanah, semangat tampak loyo dan lemas.

Keruan Hi-tiok terkejut, cepat ia pegang badan kakek itu dan berkata, “Ken... kenapa Locianpwe?”

“Jerih payahku selama 30 tahun menunggu saripati peyakinanku selama 70 tahun kini telah seluruhnya kuserahkan padamu, hari ini ajalku sudah tiba,” demikian kata kakek itu dengan suara lemah. “Anak baik, apakah sampai detik terakhir kau tetap tidak sudi memanggil ‘Suhu’ padaku?”

Dasar perangai Hi-tiok memang luhur, melihat si kakek sangat harus dikasihani, terang jiwanya hanya tinggal dalam sekejap saja, apalagi melihat sorot matanya yang penuh rasa memohon itu, hati Hi-tiok menjadi tidak tega, tak tertahan lagi panggilan “Suhu” lantas tercetus dari mulutnya.

Keruan orang tua itu sangat girang, sekuat tenaga ia melepaskan sebuah cincin besi hitam dari jari kiri dan hendak dimasukkan ke jari Hi-tiok, tapi karena tenaga sudah habis, maka tangan Hi-tiok saja hampir tidak kuat dipegangnya.

“Suhu!” kembali Hi-tiok memanggil pula, lalu ia pakai sendiri cincin hitam itu pada jari sendiri.

“Anak baik,” kata pula si kakek dengan sangat lemah. “Sekarang kau terhitung mu... muridku yang ketiga. Bila ketemu So Sing-ho, pang... panggil dia toasuko. Kau... sebenarnya she apa?”

“Sungguh aku tidak tahu,” sahut Hi-tiok.

“Sayang tampangmu kurang bagus, dalam hidupmu ini masih akan banyak mengalami rintangan, tetapi hal itu terpaksa terserah kepada takdir. Ai, sayang, sayang....” makin lama makin lemah dan tambah lirih suaranya, sampai akhirnya menjadi tidak kedengaran lagi dan mendadak tubuhnya roboh ke depan, “bluk”, batok kepalanya membentur lantai, lalu tidak bergerak lagi.

“Suhu, Suhu!” teriak Hi-tiok dan cepat memayangnya bangun, waktu ia periksa pernapasan orang tua itu, namun sudah berhenti, ternyata sudah meninggal dunia.

Belum ada satu jam lamanya, Hi-tiok baru berkenalan dengan si kakek, memangnya tak bisa dikatakan ada sesuatu hubungan baik, tapi dalam tubuhnya telah mengeram ilmu sakti hasil jerih payah si kakek selama 70 tahun, dirasakan orang tua itu seperti sangat erat hubungannya dengan dia, jauh lebih baik daripada orang lain. Maklum, keadaan badan Hi-tiok boleh dikatakan setengah bagian berasal dari si kakek atau separuh bagian tubuh si kakek sekarang sudah berubah menjadi dia.

Kini melihat orang tua itu sudah mati, tanpa terasa ia sangat berduka, maka menangislah dia dengan tergerung-gerung.

Sesudah puas menangis, kemudian ia berbangkit. Pikirnya, “Tentang kejadian ini harus kuberi tahukan kepada So-locianpwe. Losiansing (tuan tua) ini tadi mengharuskan kupanggil Suhu padanya, kalau tidak, matinya takkan tenteram, untuk itu aku terpaksa memanggilnya dua kali, hal ini tidak lebih hanya supaya hatinya terhibur dan lega sebelum meninggal. Padahal aku adalah murid Siau-lim-pay tulen, mana boleh masuk lagi perguruan lain? Untung kejadian tadi hanya aku dan dia yang tahu, sekarang Losiansing ini sudah meninggal, asal aku sendiri tidak katakan kepada orang lain, tentu di dunia ini tak ada lagi orang yang tahu.”

Maka ia berlutut dan memberi sembah hormat beberapa kali kepada jenazah orang tua itu, diam-diam ia memanjatkan doa, “Locianpwe, tadi aku memanggil Suhu padamu, hal itu cuma pura-pura saja, janganlah engkau anggap sungguh-sungguh. Jika engkau mengetahui di alam baka, harap suka memaafkan.”

Selesai berdoa, lalu ia putar tubuh dan keluar dari rumah papan itu. Ia tetap melalui lubang dinding yang dibobolnya itu. Hanya sekali lompat saja, tahu-tahu sudah melayang keluar secepat burung. Tapi ia jadi tercengang begitu berada di luar rumah.

Ternyata di pelataran situ banyak sekali pohon siong sama tumbang. Dilihatnya di atas tanah situ terdapat pula sebuah liang yang sangat dalam. Rupanya selama kurang dari satu jam ia berada dalam rumah dan di luar situ sudah terjadi geger, mungkin pohon-pohon siong itu dirobohkan orang tatkala ia jatuh pingsan dalam rumah tadi, sebab itulah ia sama sekali tidak merasa dan mendengar sesuatu suara.

Dalam pada itu dilihatnya orang yang berada di luar rumah kini telah terbagi menjadi dua kelompok. Liong-ah Lojin So Sing-ho duduk di sisi kanan, di belakangnya berdiri Hian-lan, Kheng Kong-leng, Sih Boh-hoa, dan kawan-kawannya.

Di sebelah lain duduk Sing-siok Lokoay dan yang berdiri di belakangnya adalah Yap Ji-nio, Yu Goan-ci, dan anak murid Sing-siok-pay yang lain.

Sedangkan Buyung Hok, Giok-yan, Toan Ki, Ciumoti, Toan Yan-king dan Lam-hay-gok-sin tampak berdiri terpencar di sana-sini, agaknya mereka adalah pihak yang netral, tidak membantu sesuatu pihak.

Di tengah antara So Sing-ho dan Ting Jun-jiu sedang menyala suatu tiang api dan kedua orang itu lagi mengerahkan tenaga dalam masing-masing untuk mendesak gundukan api itu agar membakar pihak lawan. Tatkala itu tampak ujung api agak miring ke kanan, nyata Ting Jun-jiu sudah berada di atas angin.

Karena semua orang lagi memerhatikan tiang api yang berkobar itu, maka tentang keluarnya Hi-tiok dari rumah papan itu tiada diperhatikan oleh siapa pun.

Sudah tentu yang diperhatikan Giok-yan adalah sang piauko, Buyung Hok, sedangkan Toan Ki juga cuma memerhatikan Giok-yan saja, yang dipandang kedua muda-mudi itu bukanlah tiang api, tapi juga mereka tidak mau memandang sekejap pun kepada Hi-tiok.

Maka dari jauh Hi-tiok mengitar dari belakang semua orang dan memutar ke sisi kanan untuk berdiri di samping supeknya yaitu Hui-bu, murid angkatan “Hui” dari Siau-lim-si.

Dalam pada itu tiang api semakin mendoyong ke kanan, pakaian So Sing-ho melembung seakan-akan layar perahu yang tertiup angin kencang dan kedua tangan berulang menolak ke depan sekuatnya, sebaliknya Ting Jun-jiu tampak enak-enak saja seperti tidak merasakan sesuatu yang berat, ia hanya mengebaskan lengan bajunya dengan enteng tanpa makan tenaga.

Dalam pada itu anak muridnya lantas menghamburkan puja-puji lagi atas nama sang guru, “Nah, biar kalian menyaksikan betapa sakti Sing-siok Losian sekarang, supaya kalian menjadi melek! Suhu kami sengaja hendak memberi hajaran sedikit demi sedikit, makanya beliau cuma mengerahkan ilmu saktinya dengan perlahan. Kalau mau, huh, sekali gebrak saja tua bangka she So itu tentu sudah mampus! Ya, jika ada yang tidak takluk, sebentar boleh maju lagi satu per satu untuk merasakan betapa lihainya ilmu sakti Sing-siok-pay. Dan sudah tentu, jika ada manusia rendah yang tidak kenal malu ingin main keroyok juga boleh! Ilmu sakti Sing-siok-pay sudah ditakdirkan tiada tandingannya di jagat ini, bila ada yang berani coba melawan, itu berarti cari mampus sendiri!”

Sebenarnya kalau Ciumoti, Buyung Hok, Toan Yan-king dan lain-lain mau maju mengerubut Ting Jun-jiu, betapa lihainya Lokoay juga pasti tidak mampu melawan tokoh-tokoh terkemuka itu.

Tapi, pertama karena Ciumoti dan lain-lain itu sok menjaga harga diri, tidak nanti mereka sudi main keroyok. Kedua, mereka tidak mempunyai hubungan baik dengan Liong-ah Lojin dan tiada maksud mereka untuk menolong kesukarannya ini. Ketiga, di antara mereka masing-masing juga saling sirik dan curiga-mencurigai, khawatir kalau mendadak diserang oleh pihak lain.

Sebab itulah biarpun anak murid Sing-siok-pay itu mengobral pujian setinggi langit kepada Sing-siok Lokoay, tetap Ciumoti dan lain-lain mendengarkan dengan tersenyum saja dan tidak ambil pusing.

Sekonyong-konyong tiang api itu menjilat ke depan hingga mencapai tubuh So Sing-ho, sesudah terendus bau sangit, maka tertampaklah jenggot So Sing-ho yang panjang itu sudah terbakar habis bersih.

Sekuat tenaga Sing-ho melawan dan akhirnya dapat menolak kembali tiang api itu. Tapi api itu tetap tidak lebih jauh satu-dua meter dari tubuhnya dan berulang masih menjulur kian-kemari bagaikan seekor ular raksasa hendak memagut mangsanya.

Diam-diam Hi-tiok menjadi khawatir, pikirnya, “Meski aku tidak mengakui orang she So ini sebagai suheng, tapi sedikit banyak aku sudah terhitung mempunyai hubungan dari sumber yang sama. Tampaknya segera ia akan terbakar, lantas bagaimana aku harus bertindak?”

Mendadak terdengar suara “dung-dung” dua kali, menyusul terdengar pula suara “creng-creng-breng”, maka ramailah suara tambur dan gembreng.

Kiranya di antara murid Sing-siok-pay ada yang membawa kecer, tambur, gembreng, sempritan dan alat-alat tabuhan lain. Kini mereka terus mengeluarkan dan ditabuh dengan ramai untuk memamerkan kegagahan guru mereka. Bahkan ada di antaranya terus mengibarkan panji dan diobat-abitkan kian-kemari sambil berteriak-teriak untuk menambah perbawa pihaknya.

Sungguh belum pernah menjadi di dunia ini bahwa pertandingan lwekang di antara kedua jago silat mesti disertai dengan tetabuhan yang riuh ramai. Keruan Ciumoti tertawa geli cekakakan, katanya, “Betapa tebal muka Sing-siok Lokoay sungguh sejak dulu dan sampai sekarang tiada bandingannya!”

Di tengah suara riuh rendah itu, tiba-tiba seorang murid Sing-siok-pay mengeluarkan secarik kertas, ia melangkah maju beberapa tindak dan membentang kertas itu, lalu membacanya dengan suara lantang.

Kiranya itu adalah suatu karangan yang berjudul “Pujian kepada Sing-siok Losian yang mengguncangkan Tionggoan.”

Murid Sing-siok-pay itu entah berhasil minta tolong sastrawan dari mana hingga dapat membuatkan sebuah sanjak yang penuh terisi kata-kata puji sanjung kepada sang guru. Suasana di situ seketika berhamburan “Ma-bi-kang”, “Hoat-le-kang”, dan “Ho-gan-kang” sebagaimana pernah dikatakan Pau Put-tong, yaitu penuh orang menjilat, omong besar dan muka tebal alias tidak kenal malu.

Tapi jangan dikira suara sanjung puji itu tiada gunanya, ternyata itu pun merupakan tenaga dorongan bagi lwekang Sing-siok Lokoay.

Di tengah suara tetabuhan yang keras disertai puja-puji itu, tiang api yang berkobar-kobar itu tambah hebat dan kembali mendesak lebih dekat lagi ke arah So Sing-ho.

Sekonyong-konyong terdengar suara tindakan orang banyak, tahu-tahu lebih 20 orang laki-laki berlari keluar dari belakang rumah sana, mereka terus mengadang di depannya So Sing-ho.

Kiranya mereka adalah para laki-laki tuli bisu yang mengusung Hian-lan dan lain-lain ke atas gunung tadi. Mereka adalah muridnya So Sing-ho.

Waktu Ting Jun-jiu mengerahkan lagi tenaganya, terus saja tiang api itu menjilat tubuh 20-an orang laki-laki itu. Seketika terdengarlah suara mencicit, suara hangusnya kulit dan daging manusia disertai bau sangit.

Tapi orang-orang itu tetap berdiri tegak di tempatnya, meski tubuh mereka sudah terbakar merata, tetap mereka tidak bergerak sedikit pun. Dan karena mereka sudah bisu, maka sikap mereka menjadi lebih perkasa dan mengharukan pula.

Semua orang menjadi gempar menyaksikan sikap para laki-laki bisu tuli yang gagah berani itu, biarpun sudah terbakar, tapi sedikit pun mereka tak bergerak. Saking seram kejadian itu hingga Ong Giok-yan dan Toan Ki mau tak mau juga berpaling.

Maka hanya dalam sekejap saja beberapa orang di antara laki-laki bisu tuli itu sudah terbakar hangus di tengah-tengah lautan api yang terus berkobar-kobar itu.

“He, jangan begitu kejam!” seru Toan Ki mendadak, lalu tangan kanan menuding ke depan, ia bermaksud menusuk Ting Jun-jiu dengan “Lak-meh-sin-kiam”. Tapi dia tidak mahir melontarkan ilmu pedang tanpa wujud itu, tenaga dalamnya memang penuh bergolak di dalam badan, tapi tidak dapat dipantulkan melalui jarinya.

Keruan ia kelabakan dan akhirnya ia berteriak lagi, “Buyung-heng, lekas turun tangan menghentikan perbuatan kejam itu!”

Tadi ketika Buyung Hok tenggelam dalam khayalnya dan hampir membunuh diri, syukur berkat “Lak-meh-sin-kiam” Toan Ki itulah hingga pedangnya dipukul jatuh ke tanah. Cuma saat itu ia lagi hilang ingatan, maka tidak menyaksikan bagaimana gaya “Lak-meh-sin-kiam” itu. Sekarang didengarnya seruan Toan Ki, segera ia menjawab, “Toan-heng sendiri adalah seorang ahli, mana kuberani main pamer di sini? Apakah tidak lebih baik silakan Toan-heng mencoba sekali lagi Lak-meh-sin-kiam!”

Datangnya Toan Yan-king tadi lebih belakang maka tidak melihat Lak-meh-sin-kiam yang dilontarkan Toan Ki. Dia adalah keturunan lurus keluarga Toan di Tayli, sudah tentu ia pun kenal nama ilmu sakti keluarganya sendiri itu. Maka ia tergetar ketika mendengar Buyung Hok menyebut “Lak-meh-sin-kiam.”

Ia coba melirik Toan Ki, ia ingin tahu apa benar pemuda itu mahir ilmu sakti yang cuma dikenal namanya saja itu. Tapi ia lihat jari Toan Ki menuding sini dan menggores ke sana, gayanya memang bukan sembarangan, tapi tenaganya sedikit pun tidak ada.

Sudah tentu Toan Yan-king tidak tahu bahwa Toan Ki sudah mempelajari ilmu pedang itu dengan baik, soalnya cuma tidak dapat menggunakan dengan leluasa. Maka pikirnya, “Hah, Lak-meh-sin-kiam apa? Hanya membikin kaget aku saja. Bocah ini rupanya membual belaka untuk menipu orang. Lak-meh-sin-kiam dari keluarga Toan kami memang terkenal, tapi sejak dulu cuma dikenal namanya saja dan tidak pernah ada orang mampu meyakinkannya.”

Karena melihat Toan Ki tidak mau turun tangan, maka Buyung Hok mengira Toan Ki sengaja bersikap begitu. Sebagai orang yang pintar berpikir, Buyung Hok sendiri tidak mau sembarangan pamer, maka ia pun berdiri di tempatnya saja untuk menyaksikan kejadian selanjutnya.

Selang sebentar saja, sebagian besar laki-laki bisu tuli itu sudah terbakar mati, sisanya juga terluka parah dan setengah mati. Dalam pada itu terdengar suara gembreng dan tambur masih bertalu-talu, mendadak Ting Jun-jiu mengebas lengan jubahnya, tiang api itu melampaui para laki-laki tuli bisu itu terus menyambar ke arah So Sing-ho.

“Jangan mengganggu guruku?” seru Sih-sin-ih terus hendak menubruk maju untuk mengadang di depan sang guru.

Tapi Sing-ho telah menggeraki tangannya untuk menolaknya mundur, berbareng tangan lain menghimpun segenap sisa tenaga terus menghantam ke arah api itu. Tapi karena tenaga dalamnya sekarang sudahi hampir terkuras habis, maka tenaga pukulannya hanya dapat menahan sementara tiang api itu, segera ia merasa tubuh panas, di depan mata hanya api yang merah menganga belaka.

Sungguh tak tersangka olehnya bahwa kemajuan Sing-siok Lokoay selama 30 tahun ini jauh lebih pesat daripada dirinya hingga selisih kekuatan mereka berdua makin jauh. Sekarang tenaga murni dalam tubuhnya sudah mendekat habis seperti pelita yang kehabisan minyak dan susah terhindar dari tangan keji Lokoay.

Teringat olehnya sudah 30 tahun gurunya pura-pura mati, setelah dirinya dibunuh Lokoay, tentu iblis itu akan menyerbu ke dalam rumah dan mungkin nasib gurunya akhirnya akan tetap dicelakai Sing-siok Lokoay.

Begitulah selagi badan tersiksa oleh ancaman api, batinnya jauh lebih menderita pula.

Melihat keadaan So Sing-ho sangat berbahaya, tapi tetap berdiri di tempatnya pantang mundur, Hi-tiok tidak tahan lagi, terus saja ia lari maju, ia pegang punggung So Sing-ho, katanya, “Lekas menyingkir saja, tiada gunanya mati konyol!”

Dan mungkin memang sangat kebetulan, pada saat yang sama So Sing-ho lagi menghantam ke depan dengan sekuatnya. Sebenarnya tenaga pukulannya sangat lemah, boleh dikata takkan ada manfaatnya, tujuannya tidak lebih hanya bertempur sampai titik darah penghabisan saja.

Siapa duga mendadak terasa ada suatu arus tenaga mahakuat menyalur masuk dari punggungnya, bahkan tenaga baru ini serupa dengan ajaran perguruan sendiri sehingga pukulan yang dilontarkan itu seketika bertambah kuat entah berapa kali lipat.

Maka kontan saja jalur api itu menyambar balik hingga menjilat tubuh Ting Jun-jiu sendiri, bahkan masih terus menyambar ke belakang hingga beberapa murid Sing-siok-pay juga terlibat di lautan api itu.

Keruan para murid Sing-siok-pay itu kelabakan, seketika tambur, gembreng, kecer dan alat tetabuhan lain kacau-balau tak keruan, menyusul alat-alat tetabuhan itu lantas dibuang hingga menerbitkan suara gemerantang nyaring, banyak di antara murid Sing-siok-pay itu terguling-guling di tanah sambil menjerit tobat dan minta ampun.

Lokoay terkejut juga. Padahal tenaga Hi-tiok itu ditambah dengan tenaga pukulan So Sing-ho belum tentu mampu mengalahkan Ting Jun-jiu. Soalnya iblis tua itu yakin pasti menang sehingga lupa daratan, maka ketika mendadak mengalami serangan balasan, hal ini sama sekali di luar dugaan dan seketika menjadi bingung pula. Berbareng ia pun merasakan tenaga pukulan balasan lawan itu sangat hebat dan ulet, jauh di atas kekuatan So Sing-ho sendiri, tapi jelas pula adalah kungfu perguruan sendiri, ia jadi ragu jangan-jangan arwah halus sang guru yang telah ditewaskannya itu sedang membantu So Sing-ho dan hendak membikin perhitungan atas dosanya?

Berpikir demikian, sedikit keder saja tenaga dalamnya lantas terhambat hingga ketika api menyambar balik ia tidak dapat menghindarkannya.

Perubahan yang mendadak itu tidak hanya di luar dugaan So Sing-ho dan Sing-siok Lokoay, bahkan Hi-tiok sendiri juga bingung, ia lihat api sudah membungkus Ting-lokoay dan sedang membakar dengan hebat.

“Thi-thau muridku, lekas turun tangan!” seru Lokoay minta tolong kepada Yu Goan-ci.

Seketika itu Goan-ci juga tidak sempat berpikir, segera ia lompat maju dan kedua tangannya terus bekerja, maka terdengarlah suara mencicit berulang-ulang, api yang berkobar-kobar itu tersambar oleh hawa mahadingin pukulannya itu hingga padam seketika, bahkan asap juga lantas buyar tanpa bekas, yang tertinggal hanya beberapa potong kayu yang sudah menjadi arang.

Baju Ting-lokoay sendiri sudah terbakar koyak, alis jenggotnya juga hangus, keadaannya sangat runyam, dalam hatinya masih ketakutan kalau arwah sang guru akan mengganggunya lagi, maka ia tidak berani mengganas lebih lama di situ, segera ia berseru, “Ayolah pergi!”

Sekali melayang, tahu-tahu sudah berada di tempat belasan meter jauhnya.

Segera anak murid Sing-siok-pay ikut melarikan diri dengan ketakutan, seketika terdengar pula suara nyaring jatuhnya gembreng, tambur, trompet dan alat-alat tetabuhan lain yang dibuang memenuhi tanah.

Naskah yang memuat pujian kepada Sing-siok Losian sebelum selesai terbaca juga sudah terbakar sebagian dan menari-nari terbawa angin seakan-akan sedang mengejek Sing-siok Lokoay yang lagaknya seperti “macan kertas”, galak di muka dan ngacir kemudian.

Semua orang menjadi terheran-heran melihat larinya orang-orang Sing-siok-pay itu. Yap Ji-nio lantas berteriak-teriak, “Ooi, Engkoh Jun-jiu, tunggulah daku! Tega amat, kembali kau tinggalkan aku lagi!”

Lalu ia pun berlari pergi secepat terbang.

Toan Yan-king, Lam-hay-gok-sin, Ciumoti dan lain-lain sama mengira apa yang terjadi itu adalah tipu akalnya So Sing-ho, mengalah lebih dulu untuk kemudian memberi gempuran belasan hingga Sing-siok Lokoay dibikin ngacir.

Pada awal pertarungannya melawan Sing-siok Lokoay tadi, saking dahsyatnya pertempuran mereka hingga banyak pohon siong bergelimpangan dirobohkan mereka apalagi Liong-ah Lojin terkenal sangat lihai, kalau akhirnya ia dapat mengalahkan Sing-siok Lokoay juga tidak mustahil. Pula Hi-tiok hanya murid angkatan ketiga dari Siau-lim-pay, ilmu silatnya rendah, dengan sendirinya tiada seorang pun yang menaruh curiga pada Hi-tiok yang telah menolong So Sing-ho.

Padahal Hi-tiok sendiri juga merasa bingung oleh berakhirnya pertempuran sengit itu. Hanya So Sing-ho sendiri paham duduknya perkara ketika sekilas dilihatnya pada jari Hi-tiok memakai cincin besi milik gurunya, diam-diam ia berduka dan bergirang pula.

Kemudian Buyung Hok berkata, “Dengan ilmu sakti Locianpwe telah mengenyahkan Lokoay, rasanya dia pasti pecah nyalinya dan tidak berani menginjak tanah Tionggoan lagi. Sungguh jasa Locianpwe bagi kesejahteraan Bu-lim harus dipuji.”

So Sing-ho sendiri karena melihat anak muridnya sebagian besar mati dan terluka, ia sangat berduka, pula teringat akan keselamatan gurunya, maka ia cuma memberi jawaban sekadarnya, lalu Hi-tiok ditariknya dan berkata, “Siausuhu, marilah ikut aku ke dalam.”

Tapi Hi-tiok memandang Hian-lan dengan ragu untuk menantikan petunjuk orang tua itu.

Maka Hian-lan berkata, “So-cianpwe adalah tokoh terhormat, jika beliau ada pesan apa-apa, hendaklah kau menurut saja.”

Hi-tiok mengiakan, lalu ikut Sing-ho masuk ke rumah itu melalui lubang papan yang bobol tadi. Sekilas So Sing-ho lantas tarik sepotong papan lain untuk menutup lubang itu.

Sebagai orang Kangouw yang banyak berpengalaman, dengan sendirinya semua orang yang berada di luar itu paham maksud So Sing-ho agar orang lain tidak dapat ikut masuk untuk mengintip, dan sudah tentu tiada seorang pun yang suka ikut campur urusan itu. Satu-satunya orang yang tidak berpengalaman adalah Toan Ki saja. Tapi kini perhatikan pemuda itu lagi ditumplakkan kepada Giok-yan seorang, bahkan masuknya So Sing-ho ke dalam rumah juga tak diketahuinya, sudah tentu ia tidak sempat lagi untuk mengurusi kejadian itu.

Setelah So Sing-ho membawa masuk ke dalam rumah dan beruntun menerobos kedua dinding papan, akhirnya tertampaklah si kakek meringkuk di lantai, waktu diperiksa, nyata orangnya sudah diduga meninggal. Hal ini memang sudah diduga sebelumnya tapi toh berduka juga So Sing-ho, ia terus berlutut dan menjura beberapa kali, katanya dengan menangis, “Suhu, engkau telah meninggalkan Tecu untuk selamanya!”

Baru sekarang Hi-tiok percaya penuh bahwa si kakek memang benar adalah guru So Sing-ho.

Lalu Sing-ho berhenti menangis dan berbangkit, ia pondong jenazah gurunya dan membiarkannya duduk bersandar dinding, lalu ia tarik Hi-tiok dan suruh dia juga duduk bersandar dinding sejajar dengan jenazah si kakek.

Diam-diam Hi-tiok heran, “Untuk apa dia suruh aku duduk di samping mayat orang tua ini? Jangan... jangan-jangan dia ingin aku mati bersama dengan gurunya?”

Berpikir begitu, ia merasa ngeri, ia bermaksud berdiri, tapi tidak berani. Ia lihat So Sing-ho lagi membetulkan pakaiannya yang hangus itu, habis itu mendadak berlutut dan menyembah padanya sambil berkata, “Murid Siau-yau-pay yang celaka, So Sing-ho, memberi sembah bakti kepada ciangbunjin baru.”

Keruan Hi-tiok bingung, ia kira orang ini barangkali sudah gila? Maka cepat ia pun berlutut dan balas menjura kepada So Sing-ho dan menjawab, “Ai, kenapa Locianpwe memberi hormat sedemikian rupa kepadaku, sungguh Siauceng tidak berani terima.”

Tapi Sing-ho berkata lagi dengan sungguh-sungguh, “Sute, engkau adalah murid ‘tutup pintu’ (maksudnya murid paling buncit) guruku dan adalah ketua pula dari golongan kita. Meski aku adalah suhengmu, tapi juga mesti menyembah padamu!”

“Ini... ini....” sahut Hi-tiok dengan serbaberabe. Ia tahu sekarang bahwa So Sing-ho cukup waras dan bukan orang gila seperti disangkanya tadi. Ia jadi lebih serbasusah untuk bicara.

“Sute,” kata Sing-ho pula, “jiwaku ini berkat pertolonganmu, cita-cita Suhu juga engkau yang melaksanakannya, maka sudah selayaknya engkau menerima beberapa kali sembahku tadi. Suhu suruh engkau mengangkat guru padanya, untuk itu engkau harus menjura sembilan kali, engkau sudah melakukannya tidak?”

“Menjura memang sudah, cuma waktu itu aku tidak tahu itulah upacara mengangkat guru,” sahut Hi-tiok. “Aku adalah anak murid Siau-lim-pay, aku tidak dapat masuk lagi ke perguruan lain.”

“Kuyakin Suhu juga sudah memikirkan hal ini,” ujar Sing-ho, “maka sebelumnya ilmu silat yang kau miliki pasti sudah dipunahkan oleh beliau dengan Hoa-kang-tay-hoat, lalu mengajarkan kungfu golongan kita sendiri. Suhu sudah menurunkan segenap kekuatan yang diyakinkannya selama hidup kepadamu, betul tidak?”

Terpaksa Hi-tiok mengangguk dan membenarkan.

“Cincin besi tanda pengenal sebagai ciangbunjin golongan kita ini adalah Suhu sendiri yang telah pasang pada jarimu, betul tidak?” tanya Sing-ho lagi.

“Benar,” sahut Hi-tiok. “Tapi... tapi sama sekali aku tidak tahu tanda pengenal ciangbunjin apa cincin ini.”

Segera Sing-ho duduk bersila menghadapi Hi-tiok, katanya, “Sute, rezekimu sungguh mahabesar. Aku dan Ting Jun-jiu sudah mengimpikan cincin besi ini selama beberapa puluh tahun dan tetap tidak berhasil mendapatkannya, sebaliknya hanya dalam waktu tiada satu jam berkumpul dengan Suhu dan beliau sudah penujui dirimu.”

Lekas-lekas Hi-tiok mencopot cincin besi itu dan berkata, “Boleh Cianpwe ambil saja cincin ini, toh bagiku tiada gunanya sedikit pun.”

Ternyata cincin besi itu banyak terukir guratan yang tajam, karena Hi-tiok melepaskannya dengan keras hingga jarinya tergores lecet.

Sing-ho menjadi kurang senang, katanya, “Sute, pesan penting sebelum Suhu wafat itu mana boleh kau hindarkan kewajibanmu itu? Suhu telah menyerahkan cincin ini padamu, ini menandakan beliau menyuruhmu membasmi keparat Ting Jun-jiu, betul tidak?”

“Benar, tapi kepandaianku terlalu rendah, mana dapat memikul kewajiban seberat itu?”

“Tadi sekali turun tangan saja sudah kau bikin Ting Jun-jiu terbakar ngacir, bukti sudah nyata, masakah dapat disangkal lagi?”

“Aku... aku yang turun tangan? Ah, mana... mana bisa jadi?” ujar Hi-tiok dengan heran.

“Sute,” kata Sing-ho dengan menghela napas, “seluk-beluk urusan kita ini banyak yang belum kau ketahui, sekarang biarlah kuceritakan secara ringkas saja. Golongan kita ini bernama Siau-yau-pay, selamanya kita berpegang pada suatu peraturan, yaitu jabatan ciangbunjin kita tidak perlu harus dipegang oleh murid tertua, tapi didasarkan atas ilmu silat masing-masing. Kepandaian siapa paling kuat, dialah yang menjadi ketua.

“Guru kita mempunyai dua orang suheng, tapi pada saat kakek guru hendak meninggal, sesudah tiga muridnya bertanding, Suhu kita keluar sebagai juara dan menjabat sebagai ketua. Kedua supek kita itu merasa penasaran dan masing-masing lantas pergi jauh ke negeri asing.

“Kemudian Suhu menerima aku dan Ting Jun-jiu sebagai murid. Suhu menetapkan suatu aturan karena ilmu yang dipelajari beliau sangat luas, maka barang siapa di antara kami ingin menjadi ciangbunjin diharuskan juga bertanding segala macam ilmu ajaran Suhu itu, tidak cuma bertanding silat saja, tapi juga mesti berlomba tentang seni lukis, segi musik, seni catur, seni tulis dan lain-lain.

“Ting Jun-jiu sendiri selain meyakinkan ilmu silat, ilmu lain-lainnya boleh dikatakan tidak becus, karena merasa tiada harapan untuk menjadi ciangbunjin, ia lantas turun tangan keji lebih dulu. Suhu telah disergapnya hingga terjerumus ke dalam jurang, kemudian aku dilukai pula hingga parah.”

“Waktu itu ternyata Ting Jun-jiu tidak tega membunuhmu,” ujar Hi-tiok.

“Jangan kau kira dia punya rasa kasihan padaku hingga tidak mengganggu jiwaku,” tutur Sing-ho. “Soalnya waktu itu aku telah berkata padanya, ‘Jun-jiu, saat ini ilmu silatmu meski lebih tinggi daripadaku, tapi ilmu silat Siau-yau-pay yang paling mukjizat sedikit pun belum kau temukan. Apakah kau tidak ingin membaca kitab Siau-yau-gi-hong?’

“Sute, hendaklah diketahui bahwa golongan kita disebut ‘Siau-yau-pay’ asalnya adalah karena kitab ‘Siau-yau-gi-hong’ itu. Ilmu silat yang tercantum dalam kitab pusaka itu boleh dikatakan susah dijajaki luasnya. Kitab ini biasanya dipegang oleh ciangbunjin. Tapi ciangbunjin dari setiap angkatan paling-paling juga cuma dapat memahami sebagian kecil saja dari ilmu sakti dalam kitab itu.

“Ketika mendengar ucapan itu, Ting Jun-jiu lantas berkata, ‘Baiklah, boleh kau serahkan kitab itu dan jiwamu akan kuampuni.’

“Tapi aku menjawab, ‘Aku bukan ciangbunjin, dari mana bisa kuserahkan kitab itu padamu? Namun aku tahu di mana Suhu menyimpan kitab itu, kalau ingin kau bunuhku, nah, silakan turun tangan, lekas!’

“Lalu ia main gertak, ‘Hm, kitab itu sudah tentu disimpan di tepi Sing-siok-hay, masakah aku tidak tahu?’

“Kataku, ‘Benar, memang disimpan di sana, kalau kau yakin dapat menemukannya, silakan lekas ke sana.’

“Ia menjadi ragu, ia tahu luas Sing-siok-hay meliputi beberapa ratus li persegi, tempat penyimpanan satu jilid kitab sekecil itu sudah tentu sukar ditemukan. Akhirnya ia menjawab, ‘Baik, aku takkan membunuhmu. Tapi sejak kini kau harus pura-pura tuli dan berlagak bisu, dilarang membocorkan rahasia golongan kita kepada orang luar.’

“Nah, coba dengarkan, sebabnya dia tidak membunuhku adalah karena dia masih mengharapkan akan mendapatkan petunjuk tempat penyimpanan kitab pusaka itu dari mulutku. Kemudian dia menetap di tepi Sing-siok-hay, boleh dikatakan hampir setiap potong batu pun sudah dibalik dan kitab ‘Siau-yau-gi-hong’ tetap tidak ditemukan olehnya. Tapi setiap sepuluh tahun satu kali tentu ia cari perkara padaku, baik minta secara halus maupun main gertak secara kasar, semua akal telah dipakainya. Dan sekali ini kembali dia datang lagi hendak tanya padaku, tampaknya tiada harapan lagi, pula melihat aku telah melanggar sumpah, maka aku lantas hendak dibunuh olehnya.”

“Dan untung Cianpwe....”

“Engkau, adalah ciangbun golongan kita, mengapa memanggilku sebagai cianpwe, harus panggil suko saja,” potong Sing-ho.

Diam-diam Hi-tiok merasa pusing oleh persoalan ciangbunjin segala, maka sahutnya, “Engkau benar suhengku atau bukan sementara ini tak perlu kita bicarakan, andaikan benar suhengku toh juga terhitung ‘cianpwe’.”

“Ya, benar juga,” sahut Sing-ho mengangguk. “Dan, untung tentang apa?”

“Untung Cianpwe dapat menguasai diri, sudah cukup piara tenaga, sampai detik terakhir barulah memberi gempuran dahsyat sehingga Sing-siok Lokoay dibikin ngacir.”

“Sute, engkau salah tentang hal ini,” kata Sing-ho sambil goyang-goyang tangan. “Sudah terang engkau yang membantuku dengan menggunakan ilmu sakti ajaran Suhu kita, maka jiwaku dapat diselamatkan, tapi mengapa engkau masih merendah hati dan tidak mau mengaku? Kita adalah sesama saudara seperguruan, jabatan ciangbun sudah ditetapkan, jiwaku engkau pula yang menolong, betapa pun aku tidak nanti mengincar jabatan ciangbun ini, selanjutnya hendaknya kau anggap saja seperti orang sendiri.”

“Bilakah aku pernah membantumu? Apalagi tentang menolong jiwamu, lebih-lebih aku tidak tahu,” ujar Hi-tiok.

Sing-ho berpikir sejenak, lalu katanya, “Ya, mungkin hal itu terjadi atas ketidaksengajaanmu. Tapi, pendek kata ketika tanganmu memegang punggungku, ilmu sakti perguruan kita lantas menyalur ke badanku dan sebab itulah aku dapat mengalahkan Ting Jun-jiu.”

“O, kiranya begitu. Dan itu pun suhumu yang menolong jiwamu dan bukan aku.”

“Kalau kubilang Suhu yang menolongku dengan melalui tanganmu, dapatkah engkau menyetujui?”

“Ya, jika engkau berkeras ingin aku mengaku bolehlah aku menyetujui,” sahut Hi-tiok terpaksa.

Lalu So Sing-ho bicara pula, “Ting Jun-jiu sebenarnya ingin merampas cincin besi jika Suhu ditewaskan, lalu ia akan minta petunjuk kepada seseorang tentang ilmu silat dalam kitab ‘Siau-yau-gi-hong’. Tak ia duga Suhu jatuh ke jurang dan menghilang untuk seterusnya. Lebih-lebih tak terduga olehnya bahwa Suhu tidak tewas, hanya terluka parah dan kedua kaki patah sebatas lutut. Beberapa tahun kemudian Suhu dapat berjumpa pula dengan aku, beliau lalu memperhitungkan cara untuk mengatasi Ting Jun-jiu, beliau merasa perlu mencari seorang pemuda yang cakap lahir batin, tidak hanya wajahnya bagus, tapi otaknya juga harus tajam....”

Mendengar kata-kata “pemuda”, diam-diam Hi-tiok berkerut kening, pikirnya, “Untuk melatih ilmu silat, apa sangkut pautnya dengan muka bagus atau jelek? Berulang mereka guru dan murid menyebut muka bagus bagi ahli waris yang hendak mereka cari, entah apa sebabnya?”

So Sing-ho melirik sekejap padanya, lalu menghela napas perlahan.

Hi-tiok lantas berkata, “Mukaku jelek, pasti tidak memenuhi syarat untuk menjadi ahli waris gurumu. Locianpwe, lebih baik kau cari lagi seorang pemuda cakap dan ganteng, lalu ilmu sakti gurumu ini akan kuserahkan padanya.”

Sing-ho melengak, sahutnya, “Ilmu sakti golongan kita ini harus sejiwa sedaging dengan orangnya, ilmu ada, orangnya hidup, ilmu lenyap, orangnya mampus. Seperti Suhu, setelah menurunkan ilmu saktinya padamu, lalu beliau wafat, masakah kau tidak menyaksikannya?”

“Ai, celaka, lantas bagaimana baiknya?” seru Hi-tiok sambil mengentak kaki. “Bukankah aku akan bikin runyam urusan gurumu dan Locianpwe ini?”

“Sute, justru itulah tugas yang dibebankan atas pundakmu,” sahut Sing-ho. “Sebabnya Suhu memasang problem catur itu, tujuannya adalah untuk seleksi kepandaian setiap pemain. Beliau berkata padaku, ‘Sing-ho, sudah sekian lamanya kau ikut padaku, biarpun kutahu kau bukan orang yang cocok, tapi aku pun tidak mau pilih kasih, kau juga boleh ikut coba-coba, asal kau mampu memecahkan problem ini, maka aku pun akan menurunkan ilmu sakti dan menyerahkan cincin besi ini padamu.’

“Tapi meski aku sudah peras otak selama 30 tahun tetap tidak sanggup memecahkan problem catur ciptaan Suhu itu. Sute, akhirnya hanya engkau saja yang dapat memecahkannya, tentang kecakapan batin pembawaanmu sudah terang memenuhi syarat.”

“Tidak,” sahut Hi-tiok. “Aku justru tidak memenuhi semua syarat. Sebab problem catur itu pada hakikatnya bukan aku yang memecahkannya.”

Lalu ia ceritakan apa yang terjadi itu, ia katakan Hian-lan yang diam-diam telah membisikinya tentang langkah catur itu.

Sudah tentu So Sing-ho merasa sangsi, katanya, “Tapi kalau melihat keadaan Hian-lan Taysu tampaknya dia sudah terkena tangan keji Ting Jun-jiu, ilmu saktinya sudah punah dan rasanya tidak dapat lagi menggunakannya.”

Sesudah merandek, lalu ia menyambung, “Namun Siau-lim-pay adalah pusatnya dunia persilatan, boleh jadi Hian-lan Taysu memang sengaja pura-pura lemah. Sute, untuk mencari orang agar dapat ikut memecahkan problem catur itu, maka dengan segala daya upaya telah kupancing orang supaya datang kemari. Buyung-kongcu dari Koh-soh itu berwajah bagus, ilmu silatnya serbapintar, sebenarnya dia seorang calon pilihan yang paling baik, tapi dia justru tidak mampu memecahkan problem catur itu.”

“Benar, Buyung-kongcu terang beratus kali lebih hebat daripadaku,” kata Hi-tiok. “Dan ada pula Toan-kongcu dari Tayli, dia juga seorang pemuda tampan.”

“Ai, hal ini jangan disebut lagi,” kata Sing-ho. “Sudah lama aku mendengar bahwa Tin-lam-ong Toan Cing-sun dari Tayli mahir ilmu sakti It-yang-ci, yang paling susah dicari bandingannya adalah kepandaiannya memikat kaum wanita, tak peduli apakah perawan suci atau gadis basi, asal ketemu dia tentu kesengsem dan jatuh hati.

“Dengan susah payah aku mendapat akal untuk memancingnya kemari, kukirim anak muridku ke Tayli, dan mengatakan padanya bahwa Koh-soh Buyung-si telah menciptakan suatu ilmu yang khusus dipakai mengalahkan It-yang-ci. Siapa tahu dia sendiri tidak datang kemari, yang muncul ternyata putranya yang ketolol-tololan.”

“Aku tidak memerhatikan dia, cuma kulihat pandangannya seakan-akan melekat pada diri nona Ong itu,” kata Hi-tiok dengan tersenyum.

Sing-ho goyang-goyang kepala, katanya, “Sialan, Toan Cing-sun itu terkenal sebagai lelaki paling romantis di dunia persilatan, wanita mana pun tentu suka padanya, tapi putranya sedikit pun tidak mirip dia, benar-benar tidak becus dan membikin malu ayahnya. Dengan mati-matian ia hendak merebut hati nona Ong itu, tapi nona Ong justru acuh tak acuh padanya. Ai, sungguh menjengkelkan orang.”

“Cinta Toan-kongcu itu tampak sungguh-sungguh, seharusnya jauh lebih baik daripada kelakuan pemuda bangor umumnya, mengapa Cianpwe bilang ‘sialan’?” ujar Hi-tiok.

“Habis, mukanya memang bagus, tapi otaknya bebal, terhadap kaum wanita sedikit pun tidak berdaya, makanya kita pun tidak bisa memakai dia,” sahut Sing-ho.

“O!” Hi-tiok bersuara singkat. Diam-diam ia girang juga, pikirnya, “Kiranya kalian ingin mencari seorang pemuda cakap untuk melayani kaum wanita. Jika demikian, untunglah aku. Sebab betapa pun juga tidak mungkin hwesio jelek seperti siluman macamku itu akan dapat kau pakai.”

Lalu Sing-ho bertanya pula, “Sute, apa Suhu tidak memberi sesuatu petunjuk jalan supaya kau pergi mencari seseorang? Atau mungkin memberikan sesuatu peta dan benda lainnya?”

Hi-tiok melengak sejenak, ia merasa urusan bisa runyam lagi, hendak dia sangkal, tapi sejak kecil ia digembleng di Siau-lim-si, sebagai seorang padri alim ia tidak suka berdusta, maka akhirnya ia menjawab juga dengan tergegap, “Ya, hanya... hanya ini saja gurumu memberikan padaku.”

Lalu ia mengeluarkan gulungan kertas itu dari dalam bajunya.

Tertampak Sing-ho bersikap sangat menghormat dan tidak berani menyentuh gulungan kertas itu. Maka Hi-tiok lantas membukanya sendiri.

Sesudah gulungan kertas itu terbentang, kedua orang sama-sama kesima dan tanpa terasa bersuara heran berbareng. Kiranya gulungan kertas itu bukan melukiskan sesuatu peta bumi atau pemandangan alam segala, tapi adalah gambar seorang gadis cantik dengan dandanan sebagai putri keraton.

“Hah, kiranya potret nona Ong di luar itu,” ujar Hi-tiok.

Namun lukisan itu tampak sudah sangat tua, kertasnya sudah bersemu kuning, andaikan tidak ratusan tahun, sedikitnya juga ada 30-40 tahun lamanya, begitu pula cat lukisan itu ada sebagian sudah mulai terlepas, terang umur lukisan itu jauh lebih tua daripada Ong Giok-yan, tapi toh ada orang bisa melukis muka Giok-yan pada ratusan atau beberapa puluh tahun yang lalu, sungguh hal ini sukar untuk dimengerti.

Lukisan itu sangat indah, goresannya jelas, orang yang dilukis itu laksana hidup saja, benar-benar seperti Ong Giok-yan yang diperkecil, lalu digepengkan dan diterapkan dalam lukisan itu.

Kalau diam-diam Hi-tiok sangat heran, ketika ia pandang So Sing-ho, tampak orang tua itu lagi corat-coret dengan jarinya untuk menirukan goresan lukisan itu, sesudah memuji dan termangu-mangu sejenak, akhirnya mendadak seperti tersadar dari impian dan berkata, “Sute, maafkan, sifat suhengmu ini telah kumat lagi, asal melihat lukisan indah Suhu, segera aku lupa daratan dan ingin mempelajarinya. Ai, dasar tamak, segalanya aku ingin belajar, sampai akhirnya tiada sesuatu yang dapat kuyakinkan benar-benar dan terpaksa mesti menelan kekalahan besar dari Ting Jun-jiu.”

Sembari bicara, ia terus menggulung kembali lukisan itu dan cepat-cepat diserahkan pada Hi-tiok seperti khawatir akan terpengaruh lagi oleh gaya lukisan itu. Lalu ia pejamkan mata sambil goyang-goyang kepala sekeras-kerasnya seolah-olah hendak membuang lukisan yang telah dilihatnya itu dari ingatannya. Sejenak kemudian, ia membuka mata dan berkata pula, “Dan apa yang dikatakan Suhu ketika menyerahkan lukisan ini padamu?”

“Beliau mengatakan kepandaianku sekarang ini tidak cukup untuk membasmi Ting Jun-jiu, maka harus menuruti petunjuk gulungan lukisan ini dan pergi ke Thian-san wilayah barat untuk mencari kitab pusaka ilmu silat yang disimpannya di sana dahulu. Tapi aneh, beliau mengatakan lukisan menggambarkan tempat semayamnya dahulu, seharusnya kan suatu gambar pemandangan alam di pegunungan yang indah, mengapa adalah potret nona Ong malah? Jangan-jangan beliau salah memberikan lukisan ini padaku?”

“Setiap tindakan Suhu memang susah untuk diperkirakan orang lain, tapi bakatmu sangat tinggi, sampai waktunya nanti tentu kau akan paham sendiri,” ujar So Sing-ho. “Dan kau harus tunduk kepada perintah Suhu, lekas berdaya meyakinkan ilmu yang dimaksudnya itu untuk membunuh Ting Jun-jiu.”

“Tapi... tapi Siauceng adalah murid Siau-lim-si dan harus segera pulang melapor ke sana,” sahut Hi-tiok dengan tergegap. “Dan sepulangnya di sana, aku... aku takkan keluar lagi.”

Keruan Sing-ho terkejut ia melompat bangun sambil menangis, lalu ia berlutut pula di depan Hi-tiok dan menyembah tiada hentinya. Katanya, “Ciangbunjin, jika engkau tidak taat pada pesan Suhu itu, bukankah berarti beliau telah mati sia-sia?”

Cepat Hi-tiok berlutut juga dan balas menyembah, sahutnya, “Siauceng sudah masuk pintu suci, dilarang marah dan pantang membunuh, tadi aku menyanggupi pada gurumu akan membunuh Ting Jun-jiu, tapi sekarang aku merasa menyesal. Peraturan Siau-lim-pay kami sangat keras, betapa pun Siauceng tidak berani menyeleweng dan masuk perguruan lain serta berbuat sembarangan.”

Begitulah meski So Sing-ho telah memohon dengan sangat sambil menangis, membujuk dengan kata-kata manis, bahkan dengan cara menggertak dan mengancam, tapi Hi-tiok tetap tidak mau terima.

Saking tidak berdaya lagi dan merasa putus asa, akhirnya Sing-ho berkata kepada jenazah gurunya, “Suhu, Ciangbunjin tidak mau taat kepada pesan tinggalanmu, aku pun tidak berdaya menyadarkan dia, maka biarlah aku menyusul engkau di alam baka saja.”

Habis berkata, sekali lompat ke atas, dengan kepala di bawah dan kaki di atas ia terus terjun ke bawah dengan maksud membenturkan kepalanya pada lantai batu yang keras itu.

“He, hei! Jangan!” teriak Hi-tiok kaget dan cepat ia sambar tubuh Sing-ho dan dirangkulnya erat-erat. Sekarang tenaga dalamnya sudah sangat kuat, gerak-geriknya juga gesit dan cepat, maka sekali terpegang So Sing-ho lantas tak bisa berkutik lagi.

“Kenapa engkau melarang aku membunuh diri?” tanya Sing-ho.

“Cut-keh-lang mengutamakan welas asih, sudah tentu aku tidak boleh menyaksikan engkau mati tanpa menolong,” sahut Hi-tiok.

“Lepaskan, aku tidak ingin hidup lagi!”

“Tidak, takkan kulepaskan!”

“Habis, apakah selama hidup akan kau pegang aku seperti ini?”

Hi-tiok pikir benar juga teguran ini, maka ia lantas putar tubuh orang hingga kepala ditegakkan ke atas dan taruh kakinya di atas tanah. Lalu katanya, “Baiklah, biar kulepaskan engkau, tapi engkau, tidak boleh membunuh diri.”
Tiba-tiba Sing-ho tergerak kecerdikannya, katanya, “Engkau melarang aku membunuh diri? Baik, sudah seharusnya aku tunduk kepada perintah Ciangbunjin. Haha, bagus, akhirnya engkau sanggup juga menjadi ciangbunjin kita!”

“Tidak, aku tidak mau, bilamana aku menyanggupi?” sahut Hi-tiok sambil menggeleng kepala.

“Hahahaha, tiada gunanya engkau mungkir lagi, Ciangbunjin,” kata Sing-ho dengan tertawa. “Engkau sudah memberi perintah padaku dan aku sudah menuruti perintahmu, selanjutnya aku tidak berani membunuh diri lagi. Hm, aku Cong-pian Siansing ini tokoh macam apa? Kecuali kata-kata Ciangbunjin sendiri, siapa lagi yang berani main perintah padaku? Kalau tidak percaya, boleh kau tanya Hian-lan Taysu, sekalipun ketua Siau-lim-si juga tidak berani memberi perintah padaku.”

Nama Cong-pian Siansing alias Liong-ah Lojin di dunia Kangouw memang sangat tersohor. Bahwasanya tiada orang yang berani main perintah padanya memang bukan omong kosong. Maka Hi-tiok menjawab, “Bukan aku berani memberi perintah padamu, tapi aku cuma menganjurkan supaya sayang pada jiwamu sendiri, itu adalah maksud baikku saja.”

“Aku tidak tanya apakah engkau bermaksud baik atau bermaksud jelek, pendek kata engkau suruh aku mati, segera aku akan mati, jika kau suruh aku hidup, maka aku pun tidak berani tidak hidup. Perintah mati atau hidup ini adalah hak tertinggi di dunia ini, jika engkau bukan ciangbunjin kita, mana boleh sembarangan suruh aku mati atau hidup?”

Karena kewalahan, terpaksa Hi-tiok bilang, “Ya, sudah. Jika begitu, perkataanku tadi kubatalkan saja.”

“Kau batalkan perintah ‘melarang aku bunuh diri’, itu berarti suruh aku membunuh diri. Baik, aku menurut, sekarang juga aku lantas bunuh diri.”

Caranya membunuh diri ternyata sangat istimewa, lebih dulu ia loncat ke atas, lalu dengan terjungkir ia terjun ke bawah.

Tapi segera Hi-tiok merangkulnya, katanya, “Jangan, jangan! Aku tidak minta kau bunuh diri.”

“O, kau melarang aku bunuh diri lagi?” kata Sing-ho. “Baik, aku terima perintah Ciangbunjin ini.”

Hi-tiok lepaskan Sing-ho pula, ia garuk-garuk kepala sendiri yang gundul kelimis itu dan tidak sanggup bicara.

Nyata So Sing-ho memang tidak percuma berjuluk sebagai “Cong-pian Siansing”, si tajam mulut, dia memang seorang yang pandai bicara dan pintar berdebat. Sebaliknya Hi-tiok masih muda, masih hijau pelonco, tidak berpengalaman apa-apa, sudah tentu tidak dapat melayani debatan Sing-ho itu.

Maka sesudah tertegun sejenak, akhirnya ia berkata, “Cianpwe, aku tidak mampu berdebat denganmu. Tapi jika kau ingin aku masuk ke perguruanmu, betapa pun aku tetap keberatan.”

“Waktu kita masuk ke sini tadi, apa yang telah Hian-lan Taysu pesan padamu?” ujar Sing-ho. “Kau tunduk kepada apa yang dikatakan Hian-lan Taysu atau tidak?”

Hi-tiok melengak, sahutnya dengan tergegap, “Su... Susiokco suruh... suruh aku menurut kepada segala ucapanmu.”

“Nah, itu dia!” seru Sing-ho dengan senang. “Hian-lan Taysu suruh kau menurut perkataanku maka kubilang kau harus taat kepada pesan tinggalan Suhu kita dan jadilah ciangbunjin. Tapi sebagai Ciangbunjin Siau-yau-pay, kau pun boleh tidak gubris kepada kata-kata padri Siau-lim-pay itu. Maka bila kau turut pesan Hian-lan Taysu kau harus menjadi Ciangbunjin Siau-yau-pay, dan bila kau tidak tanduk kepada kata-kata Hian-lan Taysu, kau pun Ciangbunjin Siau-yau-pay, sebab hanya sesudah menjadi ciangbunjin barulah boleh kau kesampingkan pesan Hian-lan Taysu itu..”

Uraian Sing-ho ini membikin Hi-tiok termangu-mangu lagi, ia merasa apa yang dikatakan itu bolak-balik memang juga betul.

Lalu Sing-ho melanjutkan, “Sute, Hian-lan Taysu dan beberapa padri Siau-lim-si lain telah terkena tangan jahat Ting Jun-jiu, kalau mereka tidak ditolong, jiwa tentu akan melayang dalam waktu singkat. Di dunia ini sekarang hanya engkau saja seorang yang mampu menolong mereka. Tapi soal apa kau akan menolong mereka atau tidak adalah tergantung kepada keputusanmu.”

“Hah, apa benar Susiokco terkena tangan jahat Ting Jun-jiu?” seru Hi-tiok kaget.

“Masakah aku berani dusta pada Ciangbunjin?” sahut Sing-ho. “Jika Ciangbunjin tidak percaya, silakan coba tanya padanya di luar.”

“Bukan aku tidak percaya, tapi kupikir ilmu sakti Susiokco jarang ada tandingannya di jagat ini, mengapa... mengapa bisa dikalahkan Ting Jun-jiu?”

“Hian-lan Taysu adalah padri saleh zaman ini, tadi waktu aku terancam Ting Jun-jiu, tampaknya Hian-lan Taysu ada maksud buat membantu, cuma sayang kepandaiannya sudah punah, maksud ada tenaga kurang, hingga tidak dapat berbuat apa-apa. Tapi aku tetap sangat terima kasih kepada maksud baiknya.”

Hi-tiok pikir apa yang dikatakan itu memang benar, tatkala berbahaya tadi, tidak mungkin sang susiokco berpeluk tangan tanpa menolong kecuali kalau Susiokco sudah tahu bahwa So Sing-ho sengaja memancing musuh dan yakin pasti akan menang. Dan apakah benar kepandaian orang tua itu sudah punah, sebentar tentu akan dapat diketahui, rasanya So Sing-ho tidak sampai berdusta. Maka ia lantas tanya, “Kau bilang aku dapat menolong dia? Tapi cara bagaimana aku harus menolongnya?”

“Sute,” kata Sing-ho dengan tersenyum, “golongan kita tidak melulu terkenal dalam ilmu silat saja, tapi kepandaian kita meliputi ilmu pertabiban, perbintangan, kesusastraan, pendek kata segala ilmu pengetahuan tentang apa saja. Ada seorang Sutitmu yang bernama Sih Boh-hoa, sebenarnya ilmu pertabiban yang dia pahami cuma sekelumit saja, tapi orang Kangouw sudah lantas menyebutnya sebagai ‘tabib sakti’ dan dijuluki ‘Giam-ong-tek’ (musuh raja akhirat). Haha, sungguh menggelikan! Nah, ketahuilah bahwa Hian-lan Taysu telah kena Hoa-kang-tay-hoat Ting Jun-jiu. Taysu yang bermuka lebar itu terluka oleh pukulan ‘Peng-jan-ciang’ si kepala besi itu dan yang jangkung itu terluka urat nadi di bawah iga kiri karena tendangan Ting Jun-jiu....”

Begitulah ia mencerocos terus menguraikan keadaan luka setiap orang.

Keruan Hi-tiok sangat kagum dan terkejut pula, katanya, “Cianpwe, kulihat tadi engkau asyik benar memerhatikan catur, mengapa kau tahu sedemikian jelas tentang keadaan orang yang terluka itu?”

“Luka yang terjadi dalam pertarungan adalah paling gampang untuk diketahui, sekali lihat saja pasti tahu. Hanya penyakit seperti demam, pilek, menceret, itulah yang sukar diketahui. Sute, sekarang kau memiliki Siau-yau-sin-kang yang dilatih Suhu selama 70 tahun, kalau digunakan untuk menyembuhkan penyakit boleh dikatakan pasti ‘tokcer’, sekali pegang tentu jadi. Misalnya untuk memulihkan tenaga Hian-lan Taysu yang sudah dipunahkan itu memang tidak mudah, tapi untuk menyembuhkan lukanya dan menyelamatkan jiwanya boleh dikata segampang ambil barang di saku sendiri.”

Habis itu ia lantas mengajarkan kepada Hi-tiok cara-cara membuka hiat-to, mengurut, dan mengerahkan tenaga, untuk menawarkan racun dingin yang terkena pukulan Yu Goan-ci itu.

Karena niat Hi-tiok memang ingin menolong sang susiokco dan para paman gurunya, maka ia ingat dengan baik semua ajaran So Sing-ho itu. Cuma, saja praktik ia paham, tapi teori tidak tahu, jadi tahu cara menyembuhkan penderita-penderita itu, tapi tidak tahu sebab apa penderita-penderita bisa disembuhkan.

Sesudah Sing-ho suruh Hi-tiok mencoba beberapa kali apa yang diajarkan itu dan ternyata betul semua, maka dengan tersenyum ia memuji, “Bakat dan daya terima Ciangbunjin benar-benar sangat tinggi, sekali diberi tahu sudah lantas paham.”

Melihat senyuman orang agak aneh dan mencurigakan, seolah-olah tidak mengandung maksud baik, mau tak mau Hi-tiok menjadi sangsi, ia tanya, “Mengapa kau tersenyum?”

Seketika Sing-ho bersikap sungguh-sungguh, dengan penuh hormat ia minta maaf pada sang ciangbunjin.

Karena ingin lekas menolong Hian-lan dan lain-lain, Hi-tiok tidak tanya lebih jauh, katanya, “Marilah kita keluar!”

Sing-ho mengiakan dan lantas ikut keluar bersama Hi-tiok.

Setiba di pekarangan luar, tertampaklah para penderita itu semuanya duduk bersila di atas tanah, mata terpejam dan sedang mengumpulkan tenaga. Buyung Hok tampak lagi menggunakan lwekangnya untuk meringankan penderitaan Hong Po-ok.

A Pik sudah siuman kembali dan sedang merintih-rintih. Sesudah siuman, sudah tentu ia dapat merasakan derita sakit yang lebih hebat daripada waktu pingsan. Khim-sian Kheng Kong-leng, Si Dewa Kecapi, duduk di samping anak dara itu dan sedang menghiburnya dengan kata-kata manis seperti lakunya seorang ayah membujuk anaknya.

Sih Boh-hoa kelihatan mondar-mandir di antara orang-orang terluka itu, sebentar-bentar ia lari ke sana dan lain saat berlari ke sini untuk menolong siapa-siapa yang kelihatan payah. Ketika dilihatnya So Sing-ho sudah keluar, ia merasa lega dan cepat mendekati sang guru, katanya, “Suhu, lekas Suhu menolong mereka!”

Sementara itu Hi-tiok juga mendekati Hian-lan, ia lihat sang susiokco lagi duduk dengan mata tertutup, maka ia tidak berani membuka suara. Sejenak kemudian, perlahan Hian-lan membuka mata ia menghela napas dan berkata, “Susiokcomu tidak becus hingga membikin malu nama baik golongan kita, sungguh harus disesalkan. Pulanglah dan laporkan kepada Hongtiang, katakan... katakan bahwa aku dan Hian-thong Susiokcomu tiada muka untuk pulang lagi.”

Biasanya Hi-tiok selalu melihat Hian-lan dalam keadaan yang kereng dan berwibawa, tapi sekarang padri tua itu ternyata lesu muram, sikap kesatrianya sama sekali lenyap, bahkan nada ucapannya seakan-akan orang yang sudah putus asa, nyata apa yang dikatakan So Sing-ho tadi bahwa sang susiokco itu telah terjungkal di tangan Sing-siok Lokoay memang bukan omong kosong.

Dan selagi Hi-tiok hendak turun tangan menyembuhkan Hian-lan, tiba-tiba teringat olehnya senyuman aneh So Sing-ho tadi, tiba-tiba ia terkesiap dan berpikir, “Dia suruh aku menghantam hiat-to pada ubun-ubun kepala Susiokco, siapa tahu ini bukan tipu muslihatnya? Jangan-jangan sekali pukul kubinasakan Susiokco yang ilmu silatnya sudah punah, kan celaka nanti?”

Melihat sikap Hi-tiok yang ragu-ragu itu, maka Hian-lan berkata pula, “Boleh kau lapor kepada Hongtiang bahwa biara kita masih akan menghadapi malapetaka, hendaknya siap siaga dan waspada.”

“Susiokco,” kata Hi-tiok, “jika biara kita masih akan menghadapi bencana besar, maka engkau orang tua justru harus menjaga badanmu dengan baik agar dapat pulang untuk membantu Hongtiang menghadapi musuh.”

Hian-lan tersenyum getir, sahutnya, “Aku... aku sudah terkena ‘Hoa-kang-tay-hoat’ Ting Jun-jiu, aku sudah menjadi orang cacat, mana bisa kubantu Hongtiang menghadapi musuh?”

Mendengar jawaban itu, Hi-tiok menjadi lebih yakin lagi akan apa yang dikatakan So Sing-ho itu. Tiba-tiba ia mendapat suatu pikiran, katanya, “Susiokco, Cong-pian Siansing telah mengajarkan suatu cara penyembuhan, Tecu secara gegabah ingin coba-coba menyembuhkan Hui-hong Supek, harap Susiokco mengizinkan.”

Ia sengaja bicara dengan suara keras hingga didengar oleh para padri angkatan Hui dari Siau-lim-si itu. Menurut perhitungan Hi-tiok bila Susiokco meluluskan dia menyembuhkan Hui-hong, andaikan terjadi kesalahan juga takkan disangka sengaja membikin celaka supeknya sendiri.

Hian-lan merasa heran oleh permintaan itu, tapi ia tahu Liong-ah Lojin So Sing-ho adalah seorang tokoh luar biasa dan adalah suheng Ting Jun-jiu, Giam-ong-tek Sih Boh-hoa adalah muridnya, jika dia sudah mengajarkan cara penyembuhan kepada Hi-tiok, maka dapat dipercaya tentu ada alasannya, cuma mengapa dia sendiri tidak mau turun tangan, juga tidak mau suruh Sih-sin-ih?

Namun akhirnya Hian-lan berkata, “Jika Cong-pian Siansing yang mengajarkan padamu, sudah pasti akan sangat berguna, maka boleh kau mencobanya.”

Sembari berkata ia pun memandang sekejap ke arah So Sing-ho.

Segera Hi-tiok mendekati Hui-hong, lebih dulu ia minta maaf, “Supek, atas izin Susiokco, Tecu hendak menyembuhkan luka Supek.”

Habis berkata, ia terus melangkah ke samping kiri, lalu tangan kanan menampar balik, “plok”, dengan tepat iga kiri Hui-hong kena dipukulnya. Terdengar Hui-hong bersuara tertahan, tubuh sedikit terguncang, kontan ia merasa di bawah iga seolah-olah berlubang, hawa murni dan darah segar dalam tubuhnya seakan-akan terus-menerus mengalir keluar melalui lubang itu hingga dalam sekejap saja walaupun merasa badan menjadi sangat lemah, tapi rasa pegal linu dan gatal akibat pukulan Han-peng-tok-ciang yang dilontarkan Yu Goan-ci itu seketika lenyap.

Kiranya cara penyembuhan Hi-tiok itu bukan menggunakan tenaga dalam sendiri untuk memunahkan racun dingin dalam tubuh Hui-hong, tapi yang digunakan adalah Siau-yau-sin-kang selama 70 tahun yang diterimanya dari si kakek, sekali ia hantam iga Hui-hong, maka pada bagian itu lantas terbuka suatu jalan untuk mengeluarkan hawa racun yang mahadingin itu. Jadi mirip orang dipagut ular, lalu luka gigitan ular itu dibelek dan upas ular dipencet keluar.

Cuma saja cara Hi-tiok itu sebenarnya sangat sukar, bilamana tempatnya keliru, maka hasilnya nihil, bahkan kalau tenaga dalamnya kurang kuat hingga tenaga hantamannya tidak tembus urat nadi yang dituju, maka hawa beracun itu takkan keluar sebaliknya akan terdesak ke dalam jantung dan si penderita seketika bisa binasa.

Karena itu Hi-tiok juga agak khawatir waktu melontarkan pukulannya tadi, ia lihat tubuh Hui-hong tergeliat lalu tegak kembali, air mukanya yang tadinya tampak menderita itu lantas berubah menjadi lega dan enteng. Walaupun cuma sebentar saja, tapi bagi Hi-tiok rasanya seperti lewat beberapa jam lamanya.

Selang sejenak pula, Hui-hong menghela napas lega, lalu katanya dengan tersenyum, “Sutit yang baik, tenaga pukulanmu ini bukan main hebatnya!”

“Terima kasih atas pujian Supek,” sahut Hi-tiok. Lalu ia berpaling kepada Hian-lan dan tanya, “Susiokco, para paman guru yang lain akan kusembuhkan pula, apakah boleh?”

“Tidak,” sahut Hian-lan, “kau harus menyembuhkan para cianpwe yang lain baru kemudian menolong orang sendiri.”

Hi-tiok terkesiap, tapi ia lantas mengiakan. Ia pikir petunjuk Hian-lan itu memang benar. Siau-lim-si adalah bintang utama di dunia persilatan, sudah seharusnya memikirkan orang lain lebih dulu baru kemudian pihak sendiri, dengan demikian barulah menunjukkan sifat seorang kesatria sejati.

Demikianlah, hanya sepatah ucapan Hian-lan saja sudah menyadarkan seorang padri muda sebagai Hi-tiok agar setiap soal harus memikirkan orang lain lebih dahulu baru kemudian pikirkan awak sendiri. Hanya sekejap saja padri muda yang tadinya masih hijau pelonco itu telah dapat memahami sifat asli seorang pahlawan, seorang laki-laki sejati.

Hi-tiok membusungkan dada dan penuh kepercayaan pada diri sendiri, serunya dengan lantang, “Wahai, para kesatria! Cong-pian Siansing telah mengajarkan cara penyembuhan kepadaku, tapi karena baru saja belajar, tentu Siauceng belum terlalu paham, maka kalau ada sesuatu kekurangan harap sudi memaafkan.”

Sinar mata semua orang seketika tertumplak atas diri Hi-tiok, semuanya merasa ragu apakah betul dia mampu menyembuhkan mereka.

Tanpa bicara lagi Hi-tiok mendekati Pau Put-tong lebih dulu, “blang”, kontan ia hanjut dada orang she Pau itu.

Keruan Pau Put-tong marah-marah dan memaki, “Hwesio kepar....”

Tapi belum lagi kata “keparat” diucapkan, mendadak ia merasa racun dingin yang menyiksanya selama lebih 20 hari itu kini telah membanjir keluar melalui tempat yang baru dihantam itu. Karena itu makian yang hampir diucapkan itu ditelannya kembali mentah-mentah.

Setelah Hi-tiok menyembuhkan racun dingin orang-orang yang terkena pukulan Yu Goan-ci, lalu ia menyembuhkan pula orang-orang yang kena tangan jahat Ting-lokoay. Orang yang dilukai Ting Jun-jiu itu keadaannya tidak sama, ada yang kena Hoa-kang-tay-hoat, untuk ini Hi-tiok cukup menaboknya sekali pada “Pek-hwe-hiat” di ubun-ubun kepala atau “Leng-tay-hiat” bagian dada, lalu penderita itu akan sembuh. Ada pula yang terluka oleh lwekang Sing-siok-pay yang lihai, untuk ini Hi-tiok mesti menutuk hiat-to masing-masing untuk memunahkan tenaga dalam Sing-siok-pay.

Dasar ingatan Hi-tiok cukup bagus, ia dapat ingat dengan jelas cara penyembuhan yang diajarkan So Sing-ho itu hingga setiap orang yang didekati hanya dalam waktu singkat saja sudah disembuhkan.

Paling akhir ia mendekati Hian-lan, katanya sambil memberi hormat, “Susiokco, dengan sembrono Tecu hendak menabok Pek-hwe-hiat Susiokco.”

Hian-lan tersenyum, sahutnya, “Kau telah dipenujui Cong-pian Siansing hingga diajarkan cara penyembuhan sebagus ini, sungguh rezekimu tidaklah kecil. Boleh kau pukul saja Pek-hwe-hiatku.”

“Maaf jika demikian,” ujar Hi-tiok sambil membungkuk tubuh.

Biasanya ia tidak berani dekat-dekat dengan padri tua yang kereng itu. Waktu berada di Siau-lim-si jarang ia berhadapan dengan Hian-lan, jika kebetulan ada sidang, paling-paling Hi-tiok juga cuma berdiri di kejauhan ikut mendengarkan saja dan tidak pernah bicara dengan susiokco itu.

Sekarang ia harus bicara, bahkan akan menabok pula kepala orang tua itu, meski maksudnya menyembuhkan luka, namun tidak urung ia pun agak keder.

Setelah tenangkan diri dan minta maaf pula satu kali, lalu ia melangkah maju, ia angkat tangannya terus menabok Pek-hwe-hiat di atas kepala Hian-lan dengan tidak cepat juga tidak terlalu perlahan.

Siapa sangka, begitu tangannya menyentuh ubun-ubun Hian-lan, sekonyong-konyong padri tua itu menjerit sekali dan mencelat, “bluk”, akhirnya terbanting di tanah beberapa meter jauhnya, dan setelah berkelojotan beberapa kali, lalu meringkuk dan tidak bergerak lagi.

Keruan semua orang terkejut, lebih-lebih Hi-tiok. Cepat ia memburu ke sana untuk membangunkan Hian-lan. Hui-hong dan kawan-kawannya juga cepat merubung maju.

Waktu Hian-lan diperiksa, ternyata kedua matanya mendelik, mukanya mengunjuk rasa murka, tapi napasnya sudah putus, terang sudah binasa.

“Susiokco! Susiokco! Kenapakah engkau?” seru Hi-tiok dengan kaget tak terhingga.

Tiba-tiba sesosok bayangan orang berkelebat, So Sing-ho juga telah memburu tiba dari sebelah sana. Air mukanya tampak merasa bingung, katanya, “Ai, tampaknya seperti ada orang membokong dari belakang sana, tapi gerak tubuh orang itu teramat cepat hingga bayangannya saja tak sempat terlihat!”

Segera ia pegang tangan Hian-lan dan periksa nadinya, ia mengerut kering dan berkata pula, “Tenaga Hian-lan Taysu sudah punah hingga di bawah sergapan musuh sama sekali tak dapat melawan dan sekarang sudah wafat.”

Tiba-tiba Hi-tiok teringat kepada senyuman aneh orang tua itu di dalam rumah kayu tadi, segera ia menegur dengan marah, “Cong-pian Siansing, hendaknya kau bicara terus terang, sebab apakah Susiokco kami bisa tewas? Bukankah engkau sengaja mencelakai beliau?”

Cepat So Sing-ho berlutut dan berkata, “Lapor Ciangbunjin, Sing-ho sekali-kali tidak berani membikin jelek nama baik Ciangbunjin. Sebabnya Hian-lan Taysu mendadak meninggal adalah benar-benar disergap musuh secara diam-diam.”

“Habis mengapa kau bersenyum aneh dalam rumah tadi, apa sebabnya?” tanya Hi-tiok.

“Senyum apa?” sahut Sing-ho dengan terkejut. “Aku tersenyum tadi? Ciangbunjin, hendaklah waspada, ada orang....”

Belum selesai ucapannya, sekonyong-konyong ia berhenti dan kembali wajahnya menampilkan senyuman yang aneh dan mencurigakan.

“Suhu!” teriak Sih Boh-hoa. Cepat ia mengeluarkan sebotol pil penawar racun dan menuang tiga biji terus dijejalkan ke mulut sang guru. Namun lebih dulu napas So Sing-ho sudah putus, obat itu terhenti dalam mulutnya dan tidak tertelan.

Maka menangislah Sih Boh-hoa tergerung-gerung sambil sesambatan, “O, Suhu telah dibunuh Ting Jun-jiu secara keji, bangsat Ting Jun-jiu telah....”

Sampai di sini suaranya menjadi serak dan susah meneruskan lagi.

Tiba-tiba Kheng Kong-leng menubruk maju hendak memegang sang guru, tapi Sih-sin-ih keburu menariknya kembali, katanya sambil menangis, “Jang... jangan menyentuhnya.”

Sebenarnya ilmu silat Kheng Kong-leng jauh lebih tinggi daripada Sih Boh-hoa, tapi di antara “Yu-kok-pat-yu” hanya ketinggalan tabib itu yang tidak terluka apa-apa, maka sekali pegang saja Kheng Kong-leng tidak dapat melawan.

Segera Hoan Pek-ling, Li Gui-lui, A Pik dan lain-lain merubungi So Sing-ho sambil menangis, berduka dan gusar pula.

Sebagai murid tertua dan memahami peraturan perguruan sendiri, semula ketika melihat sang guru berlutut kepada Hi-tiok sambil menyebutnya sebagai “ciangbunjin”, maka diam-diam Kheng Kong-leng sudah dapat menduga apa yang terjadi.

Ketika diperhatikan pula, dilihatnya jari Hi-tiok memang betul memakai sebentuk cincin besi hitam, maka tanpa ragu lagi ia lantas berkata, “Para Sute dan A Pik, marilah kita bersama memberi sembah bakti kepada Ciangbun Susiok!”

Habis berkata, ia terus mendahului berlutut di hadapan Hi-tiok dan menjura.

Semula Hoan Pek-ling dan lain-lain melengak, tapi segera pun sadar, mereka lantas ikut memberi hormat kepada “ciangbunjin” mereka yang baru.

Sebaliknya Hi-tiok menjadi bingung, pikirannya juga lagi kacau, katanya, “Bangsat itu telah membunuh Susiokco dan mencelakai Suhu kalian pula.”

“Urusan membalas dendam ini terserahlah kepada Susiok untuk memberi petunjuk seperlunya,” ujar Kong-leng.

Hi-tiok adalah seorang hwesio keroco dan masih hijau, bicara tentang ilmu silat dan pengalaman, nama dan kedudukan, boleh dikatakan setiap orang yang berlutut di hadapannya itu semuanya lebih tinggi dari dia. Tapi kini ia dihadapkan kepada kejadian yang aneh dan mendadak, ia tidak pikir lagi tentang penolakan jabatan ciangbun segala. Kematian So Sing-ho membuatnya merasa serbasusah, sedangkan wafatnya Hian-lan secara mendadak lebih-lebih membikin dia bingung.

Sungguh celaka, penyergap itu justru sengaja memilih saat yang baik ketika dia menabok ubun-ubun kepala Hian-lan tadi, dengan demikian, bagi orang yang tidak tahu tentu akan menyangka dia sendiri yang membunuh susiokco. Hal ini kalau tidak diselidiki hingga jelas, untuk selanjutnya tentu dirinya akan susah bergaul di kalangan orang Kangouw.

Maka dalam benaknya waktu itu yang terpikir adalah, “Aku harus membalas sakit hati Susiokco, harus membalas dendam Cong-pian Siansing, harus membalas dendam si kakek dalam rumah tadi!”

Begitulah maka tanpa terasa-mulut Hi-tiok berseru, “Aku harus membunuh bangsat tua Ting Jun-jiu!”

Kheng Kong-leng dan lain-lain kembali menjura pula, katanya, “Ciangbun Susiok berjanji hendak membunuh musuh untuk membalas sakit hati Suhu kami, sungguh para Sutit merasa sangat berterima kasih dan utang budi.”

Baru sekarang Hi-tiok mengetahui dirinya telah disembah orang banyak, lekas ia pun berlutut dan membalas hormat, sahutnya, “Ah, tidak berani, tidak berani! Harap kalian lekas bangun!”

“Susiok, Siautit ingin melapor sesuatu, tapi di sini banyak orang luar dan tidak leluasa, harap suka masuk ke dalam rumah saja,” kata Kong-leng.

“Baiklah,” sahut Hi-tiok sambil berbangkit.

Lalu semua orang mengiringi Hi-tiok berjalan ke rumah papan itu. Tapi belum lagi masuk ke sana, tiba-tiba Pek-ling berkata, “Nanti dulu! Suhu terkena tangan keji Ting-lojat dalam rumah ini, jangan-jangan bangsat tua itu masih ada tipu muslihat keji pula, maka lebih baik Ciangbun Susiok dan Toasuheng jangan masuk lagi ke situ.”

“Benar juga,” kata Kong-leng. “Ciangbun Susiok tidak boleh lagi menyerempet bahaya itu.”

“Kalian boleh bicara saja di sini,” ujar Sih-sin-ih. “Biarlah kami menjaga di sekitar sini agar bangsat tua she Ting itu tidak dapat turun tangan keji lagi.”

Habis berkata ia terus mendahului menyingkir begitu pula Thio A Sam, Li Gui-lui dan lain-lain juga lantas memisahkan diri agak jauh untuk berjaga. Padahal keadaan mereka masih lemah, kalau benar-benar diserbu Ting Jun-jiu, paling-paling mereka hanya mampu bersuara memperingatkan saja dan tiada kekuatan buat melawan.

Buyung Hok, Ting Pek-jwan dan lain-lain adalah orang-orang Kangouw kawakan, sudah tentu mereka tidak mungkin mendengarkan pembicaraan rahasia golongan lain, maka tanpa disuruh juga mereka menyingkir sendiri.

Maka Kong-leng lantas mulai bicara, “Susiokco....”

“Aku bukan Susiokmu,” tiba-tiba Hi-tiok memotong, “aku pun bukan ciangbunjin kalian apa segala, tapi aku adalah hwesio Siau-lim-si dan tiada sangkut paut apa-apa dengan Siau-yau-pay kalian.”

“Susiok, mengapa engkau tidak mau mengaku?” kata Kong-leng. “Apabila bukan orang kita sendiri, orang luar sekali-kali tidak mungkin mengenal nama ‘Siau-yau-pay’. Jika orang luar mendengar nama golongan kita ini, baik sengaja atau tidak, maka menurut peraturan yang kita terapkan, orang itu harus dibunuh tanpa ampun, biarpun ke mana orang itu akan lari, ke ujung langit sekalipun juga harus diuber dan dibunuh.”

Keruan Hi-tiok bergidik sendiri, katanya dalam hati, “Wah, peraturan ini benar-benar sangat aneh. Jika demikian, andaikan aku tidak mau masuk perguruan mereka, bukankah aku akan dibunuh juga oleh mereka?”

Dalam pada itu Kong-leng telah berkata pula, “Cara penyembuhan yang digunakan Susiok untuk menolong semua orang tadi memang benar adalah lwekang golongan kita. Cara bagaimana Susiok masuk perguruan kita dan kapan mendapat ajaran asli kakek guru, hal ini Siautit tidak berani banyak bertanya, sebab mungkin juga Suhu yang mewakilkannya menerima murid lagi untuk menyerahkan jabatan ciangbunjin. Pendek kata, yang sudah terang ‘Siau-yau-sin-sian-goan’ (Cincin Dewa Bebas Merdeka) terpakai di jari Susiok, sebelum meninggal Suhu juga menyebut engkau sebagai ‘Ciangbunjin’, maka Susiok tidak perlu main tolak lagi.”

Menurut jalan pikiran Kheng Kong-leng, sudah terang kakek gurunya telah dibunuh Ting Jun-jiu pada 30 tahun yang lalu, sedangkan usia Hi-tiok paling-paling baru 21 atau 22 tahun, betapa pun tidak mungkin adalah murid yang diterima pada masa hidup Thaysuhu (kakek guru), boleh jadi Thaysuhu telah menetapkan peraturan bahwa barang siapa yang dapat memecahkan problem catur itu adalah muridnya. Atau mungkin juga So Sing-ho yang mewakilkan gurunya yang sudah wafat itu untuk menerima murid lagi, hal ini bisa terjadi karena di dunia persilatan memang sudah pernah ada. Dan sebagai angkatan yang lebih muda, maka Kong-leng tidak berani banyak bertanya lagi.

Ketika Hi-tiok memandang sekitarnya, ia lihat di sebelah sana Hui-hong dan kawan-kawannya sedang menggotong jenazah Hian-lan ke samping, sebaliknya mayat So Sing-ho masih tetap kaku berlutut di tempatnya dengan wajah tersenyum aneh itu. Tiba-tiba hati Hi-tiok menjadi pedih, katanya, “Tentang urusan ini sukar untuk dijelaskan dalam waktu singkat. Yang penting sekarang ialah cara bagaimana harus membunuh Ting Jun-jiu untuk membalas sakit hati Suhu kalian dan Susiokcoku. Locianpwe....”

Mendengar dirinya dipanggil sebagai “Locianpwe”, cepat-cepat Kong-leng berlutut lagi dan menutur, “Hendaknya Susiok jangan menyebut Siautit dengan demikian, mana Siautit berani menerimanya!”

“Baiklah, lekas kau bangun!” kata Hi-tiok sambil mengerut kening. Dalam hati ia pun menimbang-nimbang, “Untuk membunuh Ting Jun-jiu, ilmu silat Siau-lim-pay terang tak berguna, biarpun aku berlatih dengan giat, selama hidup ini juga belum tentu mampu mencapai tingkatan seperti Susiokco Hian-lan Taysu. Andaikan dapat mencapai setinggi itu tetap tidak mampu menahan sekali hantaman Sing-siok Lokoay, apalagi untuk mencapai tingkatan setinggi itu diperlukan berpuluh tahun lagi, tatkala mana tentu Ting Jun-jiu juga sudah mati dan tidak mungkin lagi dapat membalas dendam apa segala. Maka untuk bisa membunuh Ting Jun-jiu tiada jalan lain kecuali melatih ilmu silat Siau-yau-pay.”

Maka ia berkata, “Locianpwe....”

Mendengar ucapan ini, “bluk”, kembali Kheng Kong-leng berlutut lagi.

Cepat Hi-tiok berseru, “O, ya, aku lupa, aku takkan menyebut demikian lagi padamu. Lekas bangun!”

Lalu ia keluarkan gulungan lukisan yang diterimanya dari si kakek, ia bentang lukisan itu dan berkata, “Suhumu mengatakan padaku bahwa berdasarkan benda ini aku disuruh berusaha belajar ilmu silat untuk membasmi Ting Jun-jiu kelak.”

Setelah Kheng Kong-leng periksa lukisan wanita cantik berpakaian keraton dalam gambar itu, ia geleng kepala dan berkata, “Siautit tidak paham apa maksud lukisan ini, harap Susiok menyimpannya dengan baik dan jangan sampai dilihat orang luar. Jika Suhu telah memberi pesan begitu, diharap Susiok suka mengingat meninggalnya Suhu yang mengenaskan itu dan sudi melaksanakan pesannya. Yang hendak Siautit lapor kepada Susiok ialah racun yang mengenai Suhu itu disebut ‘Siau-yau-sam-siau-san’ (Puyer Enak Tiga Kali Tersenyum). Racun itu tak berwujud, mula-mula yang terkena racun akan mengunjuk senyuman aneh tanpa dirasakan oleh si penderita racun. Dan bila tersenyum sampai tiga kali, lalu orangnya akan binasa.”

“Ai, benar-benar celaka,” ujar Hi-tiok dengan rasa malu, “justru waktu gurumu mula-mula keracunan, aku salah sangka senyumannya itu bermaksud jelek. Coba kalau tadi kutanya dengan setulus hati dan segera memberi pertolongan, mungkin Suhu kalian takkan telanjur meninggal seperti sekarang.”

“Siapa yang terkena ‘Siau-yau-sam-siau-san’ itu tentu sukar ditolong lagi,” kata Kong-leng sambil goyang kepala. “Sebabnya Ting-lojat bisa malang melintang di dunia persilatan, salah satu gegamannya adalah karena ‘Siau-yau-san’ itu. Orang luar hanya kenal Hoa-kang-tay-hoatnya yang lihai, padahal ‘Siau-yau-san’ jauh lebih lihai karena setiap orang yang kena racun itu pasti binasa.”

“Wah, racun itu benar-benar mahajahat,” kata Hi-tiok. “Tapi tadi aku pun berada di samping gurumu, mengapa aku tidak melihat cara Ting-lojat turun tangan kejinya? Apa lantaran ilmu silatku terlalu rendah dan kurang pengalaman? Pula, mengapa Ting-lojat tidak turun tangan keji padaku, sebaliknya jiwaku diampuni?”

“Ya, mungkin dia anggap kepandaianmu terlalu cetek, maka tidak sudi turun tangan kepada seorang keroco. Ciangbun Susiok, kulihat usiamu memang masih muda, berapa tinggi sih kepandaianmu? Meski cara penyembuhan tadi sangat baik dan juga atas ajaran guruku memang bukan sesuatu yang luar biasa, makanya Ting-lojat pandang sebelah mata padamu,” demikian kata Kong-leng.

Meski dia terhitung kepala “Yu-kok-pat-yu”, umurnya sudah tergolong kakek-kakek, tapi cara bicaranya lebih mirip kanak-kanak. Meski Hi-tiok sudah diakui sebagai Ciangbun Susiok, tapi ia tetap bicara terus terang tanpa rikuh-rikuh.

Sebaliknya Hi-tiok juga tidak pikirkan ucapan orang, sahutnya, “Ya, memang betul apa yang kau katakan, ilmu silatku terlalu rendah, maka Ting-lojat tidak sudi membunuhku. Ai, dosa, dosa! Sebagai murid Buddha, mana boleh aku sembarangan memaki?”

“Susiok, tidak betul ucapanmu,” kata Kong-leng. “Kaum Siau-yau-pay kita tidak tergolong hud (Buddha) atau to (Tao), kita boleh bertindak mana suka, betapa bebas merdeka (siau-yau) hidup kita ini? Engkau adalah ciangbunjin, lebih baik lekas tanggalkan jubahmu dan piara rambut kembali, lalu boleh kawin sepuluh atau lima belas kali, peduli apakah hud atau to segala?”

Setiap kali Kong-leng bicara, setiap kali pula Hi-tiok menyebut “Omitohud”. Dan sesudah Kong-leng selesai berkata, lalu Hi-tiok menjawab, “Di hadapanku jangan lagi kau gunakan kata-kata yang menodai nama Buddha yang maha pengasih. Tadi kau bilang ada sesuatu yang hendak dikatakan padaku, sebenarnya urusan apakah?”

“Ai, celaka!” seru Kong-leng. “Aku memang sudah pikun ini, bicara setengah harian ternyata belum sampai kepada pokok persoalannya. Eh, Ciangbun Susiok, bila engkau sudah tua kelak, jangan sekali-kali meniru penyakitku ini. Thian-san Tong-lo dalam lukisanmu itu paling tidak suka pada orang ceriwis, dahulu Thaysuhu pernah.... Ai, celaka, mulutku telanjur mencerocos hingga hampir-hampir membocorkan rahasia ini. Untung engkau adalah ciangbunjin sendiri dan tidak menjadi soal, kalau orang luar, wah, bisa runyam.”

“Thian-san Tong-lo apa katamu? Apakah wanita cantik dalam lukisan ini bukan nona Ong yang di luar tadi?” Hi-tiok menegas.

“Karena Ciangbunjin tanya, terpaksa Sutit tidak berani berdusta,” tutur Kong-leng. “Wanita cantik dalam lukisan itu she Tong, sudah tentu beliau bukan nona Ong segala. Tong-lolo (Nenek Tong) itu bila bertemu selalu menyebut aku sebagai Siauwawah (anak kecil). Tentang yang lain harap jangan engkau tanya lebih jauh, sebab kalau kau tanya, tentu aku harus menjawab. Dan kalau aku mesti menjawab tentu aku akan serbasusah serbakikuk.”

“Baiklah, aku takkan tanya lagi,” kata Hi-tiok. “Dan apa lagi yang hendak kau katakan?”

“Wah, cialat, bicara sampai sekarang masih belum sampai pada pokok persoalannya, benar-benar cialat,” seru Kong-leng. “Ciangbun Susiok, aku cuma ingin mohon dua hal dan sudilah engkau meluluskan.”

“Urusan apa mesti minta izin padaku?” sahut Hi-tiok. “Mana aku berani terima?”

“Ai, urusan penting golongan kita kalau tidak dimintakan izin Ciangbunjin, habis mesti minta kepada siapa?” ujar Kong-leng. “Urusan pertama, kami berdelapan dahulu telah dikeluarkan dari perguruan, hal ini bukan lantaran kami berbuat dosa melainkan karena Suhu khawatir kami dicelakai Ting-lojat, pula beliau tidak tega membikin tuli dan bisu kami, makanya aku diusir begitu saja. Hari ini Suhu sudah tarik kembali sumpahnya kepada Ting-lokoay dan kami disuruh kembali masuk perguruan, cuma belum lagi dilaporkan kepada Ciangbunjin, pula belum dilakukan upacara, maka belum dapat dianggap resmi sebab itulah perlu dimintakan perkenan Ciangbunjin. Kalau tidak, tentu kami akan menjadi setan gentayangan di dunia persilatan tanpa punya asal-usul.”

Hi-tiok menjadi ragu. Ia pikir jika dirinya tidak mengaku sebagai ciangbunjin, tentu kakek di depannya itu akan bicara terus tidak habis-habis. Terpaksa ia mesti menerima dulu permintaannya dan urusan belakang.

Maka ia lantas menjawab, “Jika gurumu sudah mengizinkan kalian masuk kembali perguruan dengan sendirinya hal itu sudah resmi, kenapa mesti khawatir?”

Kong-leng sangat girang, segera ia berseru kepada kawan-kawannya, “Para Sute dan Sumoay, Ciangbun Susiok sudah meluluskan permintaan kita untuk masuk kembali perguruan!”

Segera Hoan Pek-ling bertujuh beramai-ramai merubung maju dan memberi hormat kepada Ciangbun Susiok untuk menyampaikan terima kasih.

Hi-tiok menjadi serbasalah, menolak salah, tidak menolak, kedudukannya sebagai “ciangbun” menjadi semakin kuat dan susah dielakkan lagi. Sedangkan Hui-hong, Hui-si dan para paman gurunya yang lain masih berada di sebelah sana, dirinya jelas adalah anak murid Siau-lim-si, tapi sekarang telah menjadi ciangbunjin golongan tak keruan itu, bukankah terlalu? Sebaliknya dilihatnya Hoan Pek-ling dan lain-lain teramat girang, kalau sekarang dia mengemukakan soal ciangbunjin tentu akan membikin suasana berubah kurang enak. Maka terpaksa ia hanya tersenyum saja tanpa menjawab.

Sementara itu Kong-leng lantas memanggil pula, “A Pik, kemarilah memberi hormat kepada Susiokco.”

Segera A Pik mendekati Hi-tiok dan memberi hormat dengan lemah lembut.

Berulang Hi-tiok menggoyang tangan dan berkata, “Ai, nona tidak perlu banyak adat.”

Kemudian Kong-leng membuka suara lagi, “Susiok, urusan kedua yang ingin kumohon adalah semoga aku diperbolehkan menerima kembali anak dara ini.”

Hi-tiok menjadi heran, ia menegas, “Menerima kembali anak dara ini apa maksudmu?”

“Begini,” tutur Kong-leng, “tidak lama sesudah anak dara ini menjadi muridku, lalu ia buru-buru melarikan diri atas desakan musuh dan berlindung di tempat kediaman Buyung-kongcu dan menjadi dayangnya. Selama beberapa tahun ini benar-benar telah membikin susah dia. Kini usianya sudah menanjak, pula kami berdelapan saudara sudah berkumpul kembali serta akan mengikut Susiok untuk berusaha membalas sakit hati Thaysuhu dan Suhu, untuk ini A Pik juga perlu ikut mencurahkan sedikit tenaganya. Di samping itu bila musuh berani mencarinya lagi, kini kita pun tidak khawatir apa-apa dan kita dapat bersama-sama melabraknya. Sebab itulah kumohon Susiok suka bicara kepada Buyung-kongcu agar dia mau membebaskan A Pik pulang ke asalnya.”

Hi-tiok merasa ragu. Kemudian ia menegas, “Apakah mesti aku yang bicara padanya?”

“Dengan kedudukan Ciangbun Susiok, asal engkau buka mulut, tentu Buyung-kongcu akan segan menolak,” ujar Kong-leng.

“Dan bagaimana pendapat nona?” tanya Hi-tiok kepada A Pik.

A Pik agak heran, sahutnya kemudian, “Jika demikian kata Suhu, Tecu sudah tentu menurut saja. Selamanya Buyung-kongcu berlaku sangat baik kepadaku dan tidak anggap Tecu sebagai pelayan, maka asal Susiokco mau bicara padanya, pasti Kongcu akan meluluskan.”

“O!” Hi-tiok bersuara. Ketika ia menoleh dan hendak dibicarakannya kepada Buyung Hok, ternyata Buyung Hok, Toan Ki, Ong Giok-yan, Hian-lan dan para padri Siau-lim-si tadi sudah menghilang entah ke mana perginya. Jadi di situ sekarang hanya tertinggal mereka dari Siau-yau-pay sendiri.

“He, ke manakah mereka?” seru Hi-tiok heran.

“Ketika melihat kita bicara terus, maka Buyung-kongcu dan kawan-kawannya beserta para padri Siau-lim-pay sudah pergi semua,” sahut komandan Go.

“Haya! Mereka sudah pergi?” seru Hi-tiok terus mengejar ke bawah gunung. Maksudnya hendak menyusul Hui-keng dan padri lain untuk bersama-sama pulang ke Siau-lim-si dan akan memberi laporan kepada sang guru tentang apa yang terjadi.

Dalam gugupnya, larinya menjadi sangat cepat, sudah hampir setengah jam ia lari dan makin lama makin cepat, tapi bayangan padri angkatan Hui tetap tidak kelihatan.

Keruan ia tambah gugup, dan karena itu larinya tambah cepat. Tak diketahuinya bahwa sesudah dia mendapatkan ilmu sakti peyakinan selama 70 tahun dari Siau-yau Lojin, maka betapa cepat larinya boleh dikata melebihi kuda pacuan. Sebab itulah waktu sampai di bawah gunung, sebenarnya para padri Siau-lim-si yang dicarinya itu malah ketinggalan di bagian belakang. Ia sangka orang yang hendak dicari itu sudah jauh di depan, tak tahunya pada suatu tikungan secara tergesa-gesa ia sudah mendahului Hui-keng dan lain-lain, dan hanya dalam sekejap saja sudah jauh meninggalkan mereka.

Hui-keng berenam menggotong jenazah Hian-lan, sekilas mereka melihat bayangan Hi-tiok melayang lewat di sebelah sana dengan kecepatan luar biasa, keruan mereka saling pandang dengan terperanjat, mereka tidak tahu apa sebabnya mendadak Hi-tiok dapat berlari secepat terbang.

Mereka terus membawa jenazah Hian-lan ke bawah gunung, mereka mencari suatu kelenteng dan membakar mayat Hian-lan, kemudian pergi ke tempat tinggal Sih-sin-ih di Liu-cong-tin untuk memperabukan jenazah Hian-thong, abu tulang kedua padri saleh itu diisi dalam tempurung dan dibawa pulang ke Siau-lim-si.

Sudah tentu biar Hi-tiok berlari-lari sampai dekat magrib juga tetap tidak menemukan jejak Hui-keng berenam. Ia sangat heran ia mengira mungkin dirinya kesasaran, maka ia lari kembali ke arah datangnya tadi sejauh belasan li, tapi tetap tidak diketemukan.

Ia coba tanya orang di tepi jalan, namun juga tiada seorang pun melihat keenam hwesio yang dimaksudkan. Padahal waktu itu hari sudah hampir gelap, perutnya terasa lapar, segera ia menuju ke suatu kota kecil yang tidak jauh dari situ, ia masuk ke suatu warung makan, ia ambil tempat duduk dan pesan dua mangkuk mi sayur.

Karena santapan tidak bisa lantas disediakan, sambil menunggu Hi-tiok terus mengawasi jalan di luar, ia longok sini dan longok sana kalau-kalau melihat kawan yang sedang dicari itu.

“Thaysuhu, apakah engkau sedang menanti seseorang?” demikian tiba-tiba didengarnya suara seorang yang nyaring merdu bertanya.

Waktu Hi-tiok berpaling, ia lihat penegur itu adalah seorang pemuda berbaju hijau yang duduk menyanding meja di dekat jendela sebelah kiri sana. Muka pemuda itu putih bagus dan sedang memandang ke arahnya dengan tersenyum simpul, usianya ditaksir baru 17 atau 18 tahun saja.

Maka Hi-tiok menjawab, “Ya, betul! Eh, Siausiangkong (tuan muda cilik), apa kau lihat enam hwesio berlalu di sini?”

“Enam hwesio sih tidak melihat, kalau seorang hwesio memang kulihatnya,” sahut pemuda itu.

“Hah, seorang hwesio? Di mana Siausiangkong melihatnya?” Hi-tiok menegas.

“Di sini, di warung makan ini,” kata si pemuda.

Diam-diam Hi-tiok pikir seorang hwesio itu tentu bukanlah rombongan paman gurunya, tapi dari seorang padri itu mungkin akan diperoleh sedikit kabar. Maka ia tanya pula, “Bagaimanakah macam hwesio itu? Berapa usianya? Dan menuju ke mana?”

Dengan tersenyum pemuda itu menjawab, “Hwesio itu berjidat lebar, bertelinga besar, bibirnya tebal dan mulutnya lebar, hidungnya pesek, usianya kira-kira dua puluh lebih sedikit, dia lagi tunggu mi yang dipesannya di warung makan ini dan belum pergi.”

“Hahaha! Kiranya yang dimaksudkan Siausiangkong adalah diriku!” demikian Hi-tiok tertawa mengakak.

“Hm, kalau panggil Siangkong ya Siangkong saja, mengapa mesti tambahkan ‘siau’ (kecil) apa segala? Aku kan tidak panggil dirimu sebagai Siauhwesio?” omel pemuda itu dengan suara yang halus merdu dan enak didengar.

“Ya, ya, aku harus panggil Siangkong saja,” sahut Hi-tiok. Dalam pada itu kedua mangkuk mi sayur yang dipesan sudah disuguhkan, maka Hi-tiok berkata pula, “Marilah makan, Siangkong.”

“Ah, hanya air bening dan sayur belaka, sedikit pun tidak pakai bumbu, mi begitu masakah enak dimakan?” demikian pemuda itu menjawab. “Ini, marilah ke sini, duduklah semeja denganku, biar kujamu kau makan daging dan ayam panggang.”

“Ai, dosa, dosa! Selama hidup Siauceng belum pernah merasakan barang berjiwa, harap Siangkong dahar sendiri saja,” kata Hi-tiok. Lalu ia sedikit mungkur serta makan mi pesanan sendiri, tampaknya ia enggan menyaksikan cara si pemuda menggasak daging dan ayam dengan lahapnya itu.

Rupanya Hi-tiok memang sudah lapar, maka hanya beberapa kali seropot saja isi setengah mangkuk mi itu sudah “dilangsir” ke dalam perut.

Waktu Hi-tiok menoleh, ia lihat tangan kanan si pemuda memegangi sendok dan sudah menciduk satu sendok kuah, rupanya baru hendak dituangkan ke mulut, tapi mendadak menemukan sesuatu yang aneh, maka sendok kuah itu terhenti belasan senti di depan mulutnya. Kemudian tangan kiri entah menjemput sesuatu apa dari atas meja, lalu pemuda itu berbangkit dan mendekati Hi-tiok sambil membawa satu sendok kuah itu, katanya, “Hwesio, coba lihatlah! Kutu ini sangat aneh, bukan?”

Waktu Hi-tiok memerhatikan, ia lihat apa yang diremas tangan kiri pemuda itu adalah seekor serangga yang berkulit keras warna hitam. Serangga macam itu terdapat di mana-mana dan sedikit pun tidak mengherankan, diam-diam ia menduga pemuda itu pasti jarang keluar rumah, makanya melihat serangga begitu juga heran setengah mati. Segera ia menjawab, “Di mana letak keanehannya?”

“Coba lihat, kulitnya sekeras ini, warnanya hitam gilap pula, kan aneh?” ujar pemuda itu.

“Ah, pada umumnya serangga berkulit keras memang begitu bentuknya,” sahut Hi-tiok.

“O?” ujar pemuda itu, serangga hitam itu dibantingnya ke tanah, lalu ia kembali ke tempat duduknya.

“Dosa? Dosa!” Hi-tiok menggerundel sambil meneruskan makan mi.

Boleh jadi karena seharian belum makan apa-apa, maka ia sangat lapar, mi itu dirasakan sangat enak hingga mi itu diseropot habis sampai kuahnya setetes pun tidak ketinggalan.

Segera mangkuk kedua diangkatnya terus hendak diseropot lagi, tapi mendadak pemuda tadi bergelak tertawa dan berkata, “Hwesio, kukira kau benar-benar seorang hwesio suci, siapa tahu cuma pura-pura saja.”

“Ada apa?” Hi-tiok melotot.

“Habis, katanya selama hidupmu tidak pernah merasakan barang berjiwa, tapi mi kuah ayam itu mengapa kau seropot sedemikian nikmatnya?”

“Ah, Siangkong suka berkelakar rupanya,” sahut Hi-tiok. “Sudah jelas mi yang kumakan adalah mi sayur saja, dari mana datangnya kuah ayam? Tadi aku sendiri yang pesan pelayan agar dibuatkan mi sayur, sedikit pun tidak boleh diberi bumbu.”

“Ala, pura-pura!” si pemuda berolok-olok dengan tersenyum. “Di mulut kau bilang tidak doyan barang berjiwa, tapi sekali merasakan kuah ayam lantas disapu bersih. Haha, Hwesio, maukah kutambah lagi satu sendok kuali ayam dalam mangkukmu itu?”

Habis berkata ia terus menciduk lagi satu sendok kuah ayam dan berbangkit hendak mendekati Hi-tiok.

Keruan Hi-tiok terperanjat, “Jadi... jadi tadi... kau telah....”

“Ya, tadi aku sudah menambahkan satu sendok kuah ayam di dalam mi yang kau makan, masakah kau tidak melihat? Ai, Hwesio, lekas tutup mata dan pura-pura tidak tahu, biar kutambahi lagi satu sendok kuah ayam supaya lebih enak, lebih lezat. Toh bukan kau yang menambahi sendiri, Buddha tentu takkan menyalahkanmu.”

Hi-tiok terkejut dan gusar. Baru sekarang ia tahu dirinya diselomoti. Pemuda itu pura-pura tanya serangga segala, padahal di luar tahunya lantas menuangkan satu sendok kuah ayam ke dalam mangkuknya. Ia coba bayangkan rasa kuah tadi, ia merasa memang betul jauh lebih lezat. Cuma saja selama hidupnya tidak pernah merasakan kuah ayam, makanya tadi ia tidak tahu itulah rasanya kuah ayam.

Sekarang kuah ayam itu sudah terminum ke dalam perut, lantas bagaimana baiknya? Apakah mesti ditumpahkan kembali? Seketika ia menjadi bingung.

“Hwesio,” kata si pemuda sambil menuding keluar, “itu dia, keenam hwesio yang hendak kau cari itu bukankah sudah datang?”

Hi-tiok menjadi girang, cepat ia memburu keluar untuk melihat, tapi meski ia celingukan kian kemari toh tiada seorang pun yang terlihat. Ia tahu kembali tertipu lagi, dengan mendongkol ia kembali ke tempatnya untuk makan mi lagi. Sebagai orang beragama yang tidak boleh marah, sedapat mungkin ia tahan perasaannya itu.

Selagi ia main “sapu” mi mangkuk kedua itu, baru setengah mangkuk dimakan, sekonyong-konyong mulut terasa mencaplok sepotong benda aneh yang kenyal-kenyal rasanya. Dalam kagetnya segera ia periksa isi mangkuknya, maka tertampaklah di dalam mangkuk terdapat sepotong daging babi, malahan setengah potong sudah tergigit, terang baru saja kena dimakannya.

“Wah, celaka!” seru Hi-tiok mengeluh sambil gabrukkan sumpitnya ke atas meja.

“Ada apa, Hwesio? Apakah daging itu tidak enak, mengapa kau mengeluh?” tanya tiba-tiba si pemuda dengan tertawa.

“Kau tipu aku keluar, lalu menaruh daging ini di dalam mangkukku,” kata Hi-tiok dengan marah-marah. “Padahal aku... aku tidak pernah merasakan sedikit pun barang berjiwa, wah, aku... aku jadi rusak di tanganmu.”

“Rasa daging gemuk itu bukankah jauh lebih lezat daripada sayur dan tahu?” ujar si pemuda dengan tersenyum. “Kalau sejak dahulu kau tak pernah makan barang enak seperti itu, sungguh kau orang bodoh.”

Hi-tiok berbangkit dengan bingung, menyesalnya tak terkatakan. Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara ramai orang banyak sedang menuju ke warung makan ini.

Sekilas Hi-tiok mengenali rombongan orang itu adalah anak murid Sing-siok-pay. Diam-diam ia mengeluh lagi, “Wah, celaka! Kalau sampai ditangkap Sing-siok Lokoay tentu jiwaku bisa melayang!”

Ia pikir jalan paling selamat adalah kabur saja. Maka cepat ia lari ke belakang, ia lihat sebuah pintu, segera ia mendorong dan masuk. Ternyata pintu itu bukan pintu belakang melainkan pintu sebuah kamar. Maklum, warung makan di kota kecil, ruangannya terbatas, maka kamar tidur si pemilik warung itu terletak di sebelah ruangan makan tamu.

Pikir Hi-tiok hendak melangkah keluar kembali, tapi di belakang sudah terdengar suara orang minta pelayan menyediakan arak dan daharan. Terang anak murid Sing-siok-pay itu sudah memasuki ruang makan. Sudah tentu Hi-tiok tidak berani keluar kembali, terpaksa ia tutup pintu kamar itu.

“Tidurkan hwesio gemuk itu di dalam sana!” tiba-tiba terdengar suara seorang memberi perintah. Itulah suara Ting Jun-jiu.

Seorang muridnya mengiakan, lalu terdengar suara tindakan yang berat menuju ke kamar tidur itu.

Keruan Hi-tiok ketakutan, tiada jalan lain, terpaksa ia berjongkok terus menyusup ke kolong ranjang. Tapi baru saja kepalanya menyusup ke dalam, segera terasa kepalanya membentur sesuatu benda dan suara seorang terdengar menjerit tertahan.

Kiranya di kolong ranjang itu lebih dulu sudah bersembunyi seorang lain. Tentu saja Hi-tiok bertambah kaget, maksudnya hendak menyusup keluar lagi, tapi murid Sing-siok-pay tadi sudah mendorong pintu kamar dan melangkah masuk, badan Sam-ceng yang gemuk bagai babi itu dilemparkan ke atas ranjang lalu ditinggal keluar lagi.

“Hwesio, daging tadi enak tidak? Kenapa kau sembunyi di sini?” demikian tiba-tiba suara seorang membisiki Hi-tiok. Kiranya si pemuda tadi.

Diam-diam Hi-tiok harus mengakui kecepatan pemuda itu yang dapat bersembunyi lebih dulu dari dia. Maka dengan bisik-bisik ia pun menjawab, “Rombongan di luar itu adalah orang jahat semua, jangan sekali-kali Siangkong bersuara.”

“Dari mana kau tahu mereka orang jahat?”

“Aku kenal mereka. Orang-orang itu tidak boleh dibuat mainan, mereka sudah biasa membunuh orang tanpa berkedip.”

Selagi pemuda itu hendak mencegahnya agar jangan keras-keras bersuara, mendadak Sam-ceng yang menggeletak di atas ranjang berteriak-teriak, “Di kolong ranjang ada orang! Di kolong ranjang ada orang!”

Keruan Hi-tiok dan pemuda itu terkejut, berbareng mereka merangkak keluar dari kolong ranjang dan hendak lari keluar, namun Ting-lokoay sudah keburu berdiri di depan pintu dengan tersenyum-senyum dingin, air mukanya tampak sangat senang dan sangat kejam pula.

Seketika si pemuda menjadi pucat terus berlutut dan menyapa, “Suhu!”

“Bagus, bagus! Nah, mana, serahkan!” kata Ting-lokoay dengan tertawa.

“Aku tidak membawanya,” sahut si pemuda.

“Tersimpan di mana?” tanya Lokoay.

“Di kota Lamkhia di negeri Liau,” sahut pemuda itu.

Seketika mata Ting Jun-jiu menyorotkan sinar yang buas, katanya, “Kau masih berani menipuku? Apa kau minta dibikin hidup tidak mati pun tidak?”

“Tecu tidak berani menipu Suhu,” sahut si pemuda.

Lokoay melirik sekejap kepada Hi-tiok lalu tanya pemuda itu, “Kenapa kau berada bersama dia?”

“Barusan saja bertemu di warung makan ini,” sahut pemuda itu.

“Hm, bohong!” Lokoay mendengus, dengan gemas ia pandangi sekejap kepada kedua orang itu, lalu kembali ke tempat duduknya.

Segera empat murid Sing-siok-pay menyerbu ke dalam kamar dan mengepung Hi-tiok dan pemuda itu.

Sungguh Hi-tiok sangat kaget dan menyesal pula, semprotnya, “Huh, kiranya kau pun murid Sing-siok-pay!”

“Kau sendiri yang salah, kenapa mengomeli aku?” sahut si pemuda.

“Sumoay, baik-baikkah selama berpisah?” tiba-tiba seorang murid Sing-siok-pay menyapa pemuda itu dengan nada mengejek dan sikap bangor.

Hi-tiok menjadi heran. “He? Jadi kau... kau....”

“Huh, dasar hwesio goblok. Hwesio busuk! Sudah tentu aku orang perempuan, masakah kau tidak tahu sejak tadi?”

Kiranya pemuda itu adalah samaran A Ci.

Dia sudah lama tinggal di Lamkhia, ibu kota negeri Liau. Meski hidupnya serbamewah dan segala apa terpenuhi, tapi dasar wataknya suka bergerak, lama-kelamaan ia merasa bosan. Siau Hong sendiri sibuk dengan urusan dinas hingga tidak dapat mendampingi dia bermain dan berburu setiap hari. Maka pada suatu hari, saking iseng dan kesal ia turun ke Tionggoan lagi tanpa pamit, ia mengembara ke mana-mana dan secara kebetulan hari ini bertemu dengan Hi-tiok, akhirnya dipergoki Ting Jun-jiu pula.

A Ci menyangka gurunya tentu enak-enak bersemayam di Sing-siok-hay dan tidak mungkin menginjak Tionggoan lagi, siapa tahu di kota kecil ini justru kepergok. Meski lahirnya ia bersikap seperti tidak terjadi apa-apa, padahal dalam hati ia ketakutan setengah mati.

Ia duduk di tepi ranjang sambil memikirkan cara meloloskan diri, katanya di dalam hati, “Hanya Cihu yang mampu menolong aku, orang lain terang tiada yang mampu melawan Suhu. Jalan satu-satunya sekarang terpaksa mesti menipu Suhu supaya pergi ke Lamkhia dan mungkin akan dapat menggunakan tangan Cihu untuk membunuh Suhu. Untung Pek-giok-giok-ting itu memang kutinggalkan di Lamkhia, untuk itu Suhu harus menemukannya kembali.”

Berpikir begitu hatinya menjadi agak tenteram, tapi segera terpikir lagi, “Jika Suhu membikin cacat aku lebih dulu dan memunahkan ilmu silatku, lalu aku digiring ke Lamkhia, wah, siksaan demikian mungkin jauh lebih menderita daripada mati saja.”

Karena pikiran wajahnya kembali pucat lagi.

Pada saat itulah seorang murid Sing-siok-pay mendekati dan berkata padanya dengan cengar-cengir, “Toasuci, Suhu memanggilmu.”

Diam-diam Hi-tiok membatin, “Kiranya nona ini bukan saja murid Sing-siok-pay, bahkan adalah murid Ting Jun-jiu yang tertua. Wah, celaka! Dia telah diberikan racun?”

Padahal A Ci sengaja menggodanya melanggar pantangan makan barang berjiwa hanya karena terdorong oleh kenakalan dan kejahilannya saja, kalau orang lain dibuatnya marah-marah dan mendongkol, maka senanglah dia, maksud lain tidak ada. Kini demi mendengar Suhu memanggilnya, keruan ia ketakutan seperti tikus ketemu kucing.

Dengan kebat-kebit ia ikut murid Sing-siok-pay itu keluar kamar. Ia lihat Ting Jun-jiu duduk sendiri menyanding satu meja dengan hidangan dan arak, para muridnya berdiri tegak jauh di sebelah sana, tiada seorang pun berani sembarangan bergerak.

A melangkah maju dan menyapa sambil berlutut, “Suhu!”

“Sebenarnya berada di mana?” tanya Ting-lokoay.

“Mana Tecu berani dustai Suhu, benar-benar berada di Lamkhia, di negeri Liau,” sahut A Ci.

“Di tempat mana di kota itu?” Lokoay menegas.

“Di dalam istana Lam-ih Siau-tay-ong,” sahut A Ci.

“Kenapa bisa jatuh di tangan anjing Cidan itu?” ujar Lokoay sambil berkerut alis.

“Bukan berada di tangannya,” tutur A Ci, “Suatu waktu Tecu sampai di sana, khawatir pusaka Suhu itu kuhilangkan, maka diam-diam Tecu menyembunyikannya di taman bunga Siau-tay-ong. Taman itu sangat sunyi dan sangat luas, kecuali Tecu tentu tiada orang lain lagi yang dapat menemukan giok-ting itu, untuk itu harap Suhu jangan khawatir.”

“Hm, hanya kau sendiri yang dapat menemukannya kembali?” jengek Ting-lokoay. “Lihai juga kau ini! Dengan begitu kau yakin aku tidak berani membunuhmu? Sebab bila kubunuhmu tentu giok-ting itu takkan kutemukan lagi, ya?”

A Ci jadi gemetar, sahutnya dengan ketakutan, “Jika Suhu tidak suka mengampuni kelakuan Tecu yang nakal dan akan memunahkan tenagaku membikin cacat aku, maka lebih baik Tecu mati saja dan tak... takkan mengatakan tempat beradanya giok-ting itu.”

Saking takutnya hingga suaranya makin lemah dan makin lirih.

“Hah, kau setan cilik ini ternyata berani main tawar-menawar denganku,” kata Ting Jun-jiu dengan tersenyum. “Dalam Sing-siok-pay kita terdapat orang lihai seperti kau dan sebelumnya aku sama sekali tidak tahu, sekali ini Sing-siok Losian benar-benar telah salah lihat.”

Mendadak seorang murid Sing-siok-pay berseru, “Sing-siok Losian dapat memandang jauh segala apa yang akan terjadi, karena tahu giok-ting itu akan mengalami alangan demikian, maki sengaja dibiarkan melalui tangan A Ci supaya mestika itu mengalami gemblengan yang lebih baik.”

Segera seorang murid yang lain menanggapi, “Ya, segala apa di dunia ini tiada suatu pun yang meleset dari perhitungan Sing-siok Losian. Ucapan Losian yang rendah diri itu hendaknya para Tecu jangan anggap sungguh-sungguh! Hari ini Losian hanya sedikit menggunakan ilmunya yang sepele saja sudah dapat membunuh tokoh Siau-lim-pay Hian-lan dan membasmi Liong-ah Lojin bersama belasan muridnya, dari zaman dulu hingga sekarang mana ada tokoh mahalihai di dunia persilatan seperti Losian? Nah, A Ci, tak peduli kau main belut bagaimanapun toh takkan dapat lolos dari tangan Sing-siok Losian, maka tiada faedahnya kau kepala batu, lebih baik minta ampun saja.”

Ucapan orang-orang itu cukup keras dan Sing-siok Lokoay hanya tersenyum saja mendengarkan sambil mengelus jenggot.

Hi-tiok yang berada di dalam kamar juga ikut mendengar dengan jelas. Pikirnya, “Susiokco dan Cong-pian Siansing ternyata benar dibinasakan oleh Ting Jun-jiu. Ai, melihat gelagatnya jangankan hendak membalas dendam apa segala, bahkan jiwaku sendiri pun sukar diselamatkan lagi.”

Begitulah terdengar murid Sing-siok-pay ramai berbicara agar A Ci lekas menyerah dan mengaku terus terang saja, dan di tengah kata-kata mereka yang menggertak itu terseling pula suara memuji dan menyanjung setinggi langit keangkeran Ting Jun-jiu.

Watak Ting Jun-jiu memang paling suka diumpak dan dijilat orang. Semakin seram orang menjilatnya, semakin senang hatinya. Sebaliknya kalau anak muridnya itu tidak memujinya setinggi langit, maka ia akan anggap murid itu kurang berbakti padanya.

Karena kenal wataknya itu, maka bila ada kesempatan para muridnya lantas memuji mati-matian demi kepentingan sendiri, sebab kalau tidak disukai sang guru, maka jiwanya setiap saat mungkin bisa melayang.

Sebenarnya tidak seluruh murid Sing-siok-pay berjiwa rendah, soalnya mereka terpaksa, dan lama-kelamaan menjadi biasa dan tidak kenal malu lagi.

Ting Jun-jiu sendiri hanya tersenyum-senyum saja menikmati puja-puji murid-muridnya itu sambil mengelus-elus jenggot yang sudah terbakar sebagian besar waktu bertarung dengan So Sing-ho, jenggot itu sekarang sudah tinggal sedikit saja, tapi akhirnya ia dapat menggunakan “Siau-yau-sam-siau-san” untuk membunuh So Sing-ho, maka pertarungan itu tetap dimenangkan olehnya.

Sesudah puas dari kenyang mendengar puji sanjung anak muridnya itu, akhirnya ia memberi tanda hingga anak muridnya tidak berani bersuara pula, lalu ia berkata kepada A Ci dengan tersenyum, “A, Ci, apa lagi yang hendak kau katakan?”

Tiba-tiba pikiran A Ci tergerak, “Biasanya Suhu sangat sayang padaku, sebab cara kupuji dia jauh lebih pintar dan lebih enak didengar daripada para suheng yang goblok ini, bicara bolak-balik cuma itu-itu saja yang mereka ucapkan.”

Karena itu, segera ia berkata, “Suhu, sebabnya Tecu berani mencuri giok-ting, hal ini bukannya tiada beralasan.”

Ting Jun-jiu mendelik, tanyanya, “Apa alasannya?”

“Waktu Suhu masih muda, ketika kepandaian belum memuncak seperti sekarang, tentu masih perlu menggunakan giok-ting itu untuk dipakai memperdalam ilmu,” ujar A Ci. “Tapi paling akhir ini, setiap orang yang punya mata tentu tahu Suhu memiliki ilmu sakti setinggi langit. Padahal giok-ting itu cuma digunakan untuk mengumpulkan makhluk berbisa saja, dibandingkan ilmu Suhu sudah tentu bukan apa-apa lagi, boleh dikata kunang-kunang berbanding sinar matahari.

“Jika Suhu tidak rela kehilangan giok-ting itu, paling-paling karena merasa sayang saja karena barang simpanan lama. Sebaliknya para Suheng sama ribut dan menyangka Suhu harus memiliki kembali giok-ting itu, katanya giok-ting itu adalah pusaka mahapenting perguruan kita segala, kalau hilang akan celakalah kita. Hah, sungguh terlalu bodoh pendapat mereka itu dan benar-benar terlalu memandang rendah pada ilmu sakti Suhu.”

Senang sekali Ting Jun-jiu mendengarkan uraian A Ci yang empuk itu, berulang-ulang ia memanggut dan berkata, “Ehm, benar, benar!”

Maka A Ci menyambung lagi, “Tecu pikir pula betapa tinggi ilmu silat Sing-siok-pay kita, boleh dikata tiada suatu golongan pun di atas dunia ini dapat menandingi kita. Soalnya Suhu adalah orang tua dan tidak sudi menjelajah Tionggoan lagi untuk memberi hajaran kepada jago silat Tionggoan yang mirip katak di dalam sumur itu.

“Tapi di antara orang Tionggoan itu juga banyak yang sombong, sudah tahu Suhu takkan datang kemari, mereka lantas membual dan pamer setiap orang mengaku dirinya jago kosen, ahli silat dan macam-macam lagi, sebaliknya tiada seorang pun berani datang ke Sing-siok-hay untuk belajar kenal dengan kepandaian Suhu, sebab mereka cukup tahu kepandaian Suhu sukar dijajaki dalamnya.

“Dengan begitu, lalu jago-jago silat di Tionggoan banyak yang menonjolkan diri, seperti Buyung-si dari Koh-soh, namanya menjadi terkenal. Siau-lim-si juga mengaku sebagai bintang cemerlang di dunia persilatan, sampai Liong-ah Siansing dan keluarga Toan di Tayli juga mengaku-aku tokoh sakti. Haha, bukankah sangat lucu perbuatan mereka itu?”

Dasar suara A Ci memang merdu dan enak didengar hingga setiap katanya mengetuk lubuk hati Ting-lokoay, memang jauh lebih menyenangkan daripada puja-puji anak muridnya yang lain. Maka wajah Ting Jun-jiu makin lama makin terang, tampak sekali senangnya tak terkatakan.

Lalu A Ci menyambung pula, “Maka timbul suatu pikiranku yang kekanak-kanakan, bahwasanya Suhu sudah begini sakti, jika tidak datang ke Tionggoan dan memperlihatkan sejurus dua kepada katak-katak di dalam sumur itu, tentu mereka tidak tahu bahwa di luar langit masih ada langit, di atas orang pandai masih ada yang lebih pandai.

“Sebab itu Tecu mendapatkan suatu akal untuk mengundang Suhu ke Tionggoan. Cuma, Suhu bila diundang dengan cara biasa tentu tidak sesuai dengan kedudukan Suhu yang lain daripada yang lain, maka cara mengundang Suhu juga kudu dipakai suatu cara yang luar biasa. Dan sebabnya Tecu meminjam giok-ting itu, maksudnya adalah supaya Suhu sudi datang ke Tionggoan.”

“Haha, jika demikian, jadi maksudmu adalah baik dengan mengambil giok-ting itu,” kata Lokoay sambil terbahak.

“Memang begitulah,” kata A Ci. “Dan sudah tentu, selain maksud baik Tecu itu ada pula maksud tujuan pribadiku.”

“Maksud pribadi apa?” Lokoay menegas sambil berkerut kening.

“Maaf Suhu,” sahut A Ci, “sebagai murid Sing-siok-pay, sudah tentu Tecu berharap agar golongan kita dapat menjagoi jagat ini, agar bilamana dan di mana pun juga Tecu akan selalu dihormati orang, dengan demikian bukankah Tecu akan merasa bangga? Inilah sedikit maksud tujuan pribadiku.”

Kembali Ting Jun-jiu terbahak, katanya, “Bagus, bagus! Sebanyak muridku, tiada seorang pun sepintar dirimu. Kiranya kau curi Pek-giok-giok-ting itu juga bermaksud meninggikan wibawaku di Bu-lim. Haha, mengingat lidahmu yang tajam ini, sayang juga kalau aku membunuhmu, Suhumu akan kehilangan seorang murid yang pintar menghiburnya. Tapi kalau kudiamkan saja tanpa mengusut....”

“Walaupun agak mengenakkan Tecu, tapi setiap murid Suhu pasti akan berterima kasih kepada kebijaksanaan Suhu yang luhur, selanjutnya juga pasti akan berjuang untuk perguruan biarpun badan mesti hancur lebur,” demikian A Ci menyela.

“Huh, ocehanmu itu mungkin dapat menipu orang lain, tapi di hadapanku, apa kau kira aku sudah linglung?” jengek Lokoay. “Maksud tujuanmu ternyata tidak baik. Hm, kau pikir lebih baik kupunahkan, ilmu silatmu atau kuputuskan urat nadimu saja....”

Berkata sampai di sini mendadak terdengar suara seorang yang lantang berseru, “Tiamke (pengurus), bawakan santapan!”

Waktu Lokoay melirik, ternyata seorang pemuda berbaju kuning, pedang bergantung di pinggang dan entah sejak kapan sudah masuk ke warung makan serta duduk di meja sebelah sana. Itulah dia Buyung Hok yang siang tadi pernah bergebrak satu kali dengan dia.

Sungguh kejut Lokoay tak terkatakan. Meski dia asyik mendengarkan omongan A Ci, tapi di sebelah meja mendadak bertambah seorang di luar tahunya, hal ini benar-benar suatu kelengahan besar, bila Buyung Hok tiba-tiba menyerang, mungkin dirinya sudah kecundang. Tapi sebagai seorang tokoh berpengalaman, ia dapat berlaku tenang-tenang saja.

A Ci belum pernah melihat Buyung Hok, diam-diam ia memuji juga demi melihat kecakapan pemuda itu.

Maka tertampak Buyung Hok angkat tangan menyapa Ting Jun-jiu, “Tabik! Orang hidup di mana-mana selalu berjumpa. Baru saja kita berpisah dan dalam sekejap saja sudah bertemu kembali.”

“Ya, rupanya kita ini ada jodoh,” sahut Lokoay.

Sementara itu pelayan telah mendekati Buyung Hok dan bertanya, “Kongcuya ingin makan nasi atau dahar mi saja?”

“Bawakan satu kati arak dan kalau ada masakan enak buatkan beberapa macam sebagai pengiring arak,” pesan Buyung Hok.

Pelayan mengiakan dan meneruskan pesanan itu ke dapur.

Dalam gebrakan siang tadi Ting Jun-jiu tidak keburu menggunakan Hoa-kang-tay-hoat untuk melawan Buyung Hok, tapi ia dapat menguji tenaga dalam pemuda itu sangat kuat dan banyak perubahan pula, ia merasa tiada memperoleh sedikit pun keuntungan. Dengan perangai Lokoay yang tinggi hati seakan-akan dunia ini dia kuasa, sudah tentu ia tidak rela duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan orang lain.

Maka diam-diam ia pikir, “Apa aku harus bergebrak untuk menentukan unggul dan asor dengan dia atau menyelesaikan urusan A Ci lebih dulu? Kabarnya ilmu silat orang Buyung dari Koh-soh ini sukar dijajaki, orang Bu-lim tentu tidak sengaja omong kosong, jangan-jangan Sing-siok Losian yang baru menginjak kaki ke Tionggoan ini akan terjungkal di tangan bocah ini, jika begitu, wah, sialan benar!”

Dasar Ting Jun-jiu memang sangat cerdik dan suka pikir panjang, kalau dalam hal ilmu silat tidak yakin benar akan menang, segera timbul pikirannya untuk menyerang secara menggelap. Begitulah ia lantas berkata kepada A Ci, “Nah, katakan saja sendiri, kau ingin kupunahkan ilmu silatmu, memotong urat nadimu, atau kutebas sebelah tangan atau kakimu saja? Bukankah kau lebih suka mati daripada mengaku di mana beradanya benda itu?”

A Ci ketakutan setengah mati, dengan suara gemetar ia menjawab, “Harap kemurahan hati Suhu, jangan... jangan anggap sungguh-sungguh ucapan seorang anak... anak kecil seperti Tecu.”

“Ting-siansing,” tiba-tiba Buyung Hok menyela dengan tertawa, “usiamu sudah tua, mengapa masih suka bertengkar dengan anak kecil? Mari, marilah kita keringkan tiga cawan bersama, mari kita bicara tentang ilmu silat dan sastra. Di hadapan orang luar mengadakan pembersihan rumah tangga, bukankah agak terlalu?”

Belum lagi Ting Jun-jiu menjawab, tiba-tiba seorang murid Sing-siok-pay membentak dengan gusar, “Kau manusia apa? Suhu kami adalah yang dipertuan agung di dunia persilatan, mana dapat bicara tentang ilmu silat dan sastra apa segala dengan bocah ingusan macam kau? Dan berdasarkan apa kau mengajak bicara dengan suhuku?”

Lalu seorang lagi ikut membentak, “Bila kau menjura dan minta dengan hormat kepada Sing-siok Losian agar suka memberi petunjuk, boleh jadi beliau akan memberi petunjuk sejurus dua kepadamu. Tapi sekarang kau bicara tentang silat apa segala dengan beliau, haha, bukankah sangat menggelikan? Hahaha!”

Ia terbahak beberapa kali dan air mukanya tampak sangat aneh, selang sejenak, kembali ia terbahak dengan suara agak serak, habis itu, lalu mulutnya ternganga tanpa suara sedikit pun, tapi wajah masih menampilkan senyuman aneh dan lucu.

Para murid Sing-siok-pay lantas tahu kawan mereka itu terkena racun “Siau-yau-sam-siau-san” keruan mereka bingung dan takut. Serentak mereka menunduk dan tidak berani bersuara lagi, bahkan memandang sang guru juga tidak berani. Dalam hati mereka cuma berpikir, “Entah ucapan apa yang membikin marah Suhu hingga Suhu membunuhnya dengan cara selihai itu?”

Sebaliknya Ting Jun-jiu merasa gusar dan waswas pula. Kiranya tadi waktu ia bicara dengan A Ci, perlahan ia mengebaskan lengan bajunya dengan lwekang yang tinggi hingga bubuk racun “Siau-yau-sam-siau-san” ditebarkan ke arah Buyung Hok.

Bubuk racun itu tak berwarna dan tak berbau, halusnya luar biasa, di tengah warung makan itu juga remang-remang penerangannya, Lokoay yakin betapa tinggi kepandaian Buyung Hok juga pasti takkan tahu akan serangan itu. Siapa duga entah dengan cara bagaimana tahu-tahu bubuk racun itu diputarbalikkan kepada muridnya itu.

Kematian seorang murid tidak menjadi soal bagi Ting-lokoay, tapi di luar tahunya dan entah cara bagaimana Buyung Hok dapat menghindarkan serangan bubuk racun, bahkan dibelokkan ke tubuh orang lain, kepandaian demikian benar-benar sukar dimengerti.

Dengan pengalaman Ting Jun-jiu yang luas juga seketika tidak paham ilmu apakah yang dipakai Buyung Hok, hanya teringat olehnya istilah terkenal, “Ih-pi-ci-to, hoan-si-pi-sin” dari keluarga Buyung di Koh-soh itu. Terang cara yang digunakan adalah dengan cara lawan untuk menyerang kembali lawan.

Tapi bubuk racun itu sangat halus, masakah tanpa tersentuh lantas dapat dihamburkan kembali? Apalagi kalau memang betul sesuai istilah itu seharusnya serangan kembali itu mesti diarahkan padaku, mengapa muridku yang menjadi korban? Hm, tentu bocah ini merasa jeri juga kepadaku, maka tidak berani sembarangan “pegang-pegang kumis harimau”.

Terpikir tentang “pegang kumis harimau”, tanpa terasa Lokoay lantas mengelus-elus jenggot sendiri yang tinggal tidak seberapa karena habis terbakar itu. Tiba-tiba ia merasa girang malah, pikirnya, “Dengan pengalaman dan kepandaian setinggi So Sing-ho saja akhirnya juga melayang jiwanya di tangan Losian, Buyung Hok hanya bocah yang masih ingusan, apa artinya bagiku?”

Pikiran Lokoay itu berputar dengan cepat, betapa pun ia tidak sudi kelihatan lemah di depan muridnya, segera ia berkata pula, “Buyung-kongcu, kita ini memang ada jodoh. Mari, marilah kusuguh minum satu cawan arak padamu!”

Sembari berkata jarinya terus menyelentik dan cawan arak yang terletak di depannya lantas melayang ke arah Buyung Hok.

Tenaga selentikan itu sungguh sangat hebat dan bagus, cawan arak itu menyambar ke depan dengan tidak berguncang, setetes arak pun tidak tepercik keluar.

Jika dalam keadaan biasa, menyaksikan betapa hebat cara Lokoay menyelentik cawan arak itu, tentu anak murid Sing-siok-pay akan bersorak memuji setinggi langit. Tapi lantaran tadi mereka telah saksikan seorang kawan mati konyol secara aneh, mereka menjadi khawatir bila sembarangan menjilat pantat, jangan-jangan keliru lagi dan akibatnya bisa celaka.

Sebab itulah mereka tidak berani mengoceh seperti biasanya, hanya bersorak saja sekadarnya, sebab kalau tidak bersorak jangan-jangan akan dimarahi sang guru juga, dan ini pun akan membikin celaka mereka.

Dan baru saja cawan arak itu menyambar sampai di depan Buyung Hok, serentak para murid Sing-siok-pay bersorak gemuruh sekali. Ada dua-tiga orang yang bernyali ciut, sorakan itu tidak berani disuarakan, setelah mendengar kawan-kawannya bersorak baru mereka pun ikut-ikutan, tapi sudah ketinggalan hingga kedengaran lucu sekali suara yang tidak seragam itu. Apalagi ketika mereka dipelototi oleh kawan-kawan yang lain, mereka menjadi malu dan takut pula kepada sang guru.

Dalam pada itu Buyung Hok telah berkata, “Ting-siansing adalah kaum cianpwe, mana ada kaum cianpwe menyuguh arak kepada kaum muda? Cawan arak ini tidak berani kuterima, biarlah kusuguhkan kepada muridmu saja!”

Menyusul ia terus meniup satu kali hingga cawan itu mendadak berganti arah dan membelok ke sebelah kiri, menuju arah seorang murid Sing-siok-pay.

Melihat cara Buyung Hok menyebul itu, Jun-jiu tahu ilmu yang dipakai itu adalah cara “empat tahil menyampuk seribu kati”, semacam kepandaian menggunakan tenaga sedikit untuk melawan tenaga raksasa. Apalagi sekali sebul saja cawan arak itu dapat dibelokkan ke arah lain, terang caranya itu lebih susah daripada menyelentik cawan. Jadi jelas kelihatan Ting Jun-jiu telah kalah satu jurus.

Padahal tenaga tiupan Buyung Hok itu tak bisa dibandingkan begitu saja dengan tenaga selentikan Ting Jun-jiu itu. Soalnya cara menyebulnya itu sangat tepat, ia pinjam daya selentikan Ting Jun-jiu untuk membelokkan cawan itu, tapi dalam pandangan orang lain menjadi seperti cawan itu kena ditiup terpental olehnya.

Yang paling sial adalah murid Sing-siok-pay itu, ketika melihat cawan arak menyambar ke arahnya, seketika ia kelabakan, ia bingung apa mesti menghindar atau menyambut cawan itu? Selagi bingung tahu-tahu cawan itu sudah melayang sampai di depan hidungnya.

Tanpa pikir lagi dengan sendirinya ia ulur tangan untuk menangkap cawan itu sembari berkata, “Arak ini suguhan Suhu untukmu, kenapa kau berikan padaku?”

Baru ia hendak tolak kembali cawan arak itu ke arah Buyung Hok, sekonyong-konyong ia menjerit ngeri satu kali, tubuh terus roboh ke belakang dan tak bisa berkutik lagi.

Dalam hati para murid Sing-siok-pay cukup tahu apa sebab musabab kejadian itu. Mereka tahu bahwa sekali guru mereka menyelentik cawan arak, berbareng racun yang selalu menempel pada kuku terus ditaburkan pula di atas cawan, asal jari tangan Buyung Hok menyentuh cawan arak itu, tidak perlu minum araknya, kontan juga akan binasa seperti apa yang terjadi atas diri murid Sing-siok-pay yang sial itu.

Seketika air muka Ting Jun-jiu berubah hebat, tampak sekali rasa murkanya. Ia tahu dengan melesetnya serangan ini, untuk selanjutnya tidak dapat lagi mengelabui mata anak muridnya itu, sebab kini semua orang sudah tahu bahwa baru saja ia hendak menyerang Buyung Hok dengan bubuk racun, tapi malah kena ditiup kembali hingga salah seorang murid sendiri yang menjadi korban.

Waktu pertama kali ia bertemu dengan Buyung Hok sudah pernah saling gebrak sekali dan diketahuinya bahwa tenaga dalam lawan itu memang sangat hebat, kalau bicara tentang kepandaian sejati, dengan keuletan sendiri belum tentu mampu mengalahkan orang she Buyung itu.

Sekilas pikir saja segera Ting-lokoay sudah ambil keputusan, yaitu akan menggunakan “Hoa-kang-tay-hoat” untuk melawan Buyung Hok.

Sekarang ia tidak dapat bersikap acuh tak acuh lagi, dengan kedua tangan ia pegang satu cawan arak lagi dan perlahan ia berbangkit, katanya, “Buyung-kongcu, secawan arak ini betapa pun harus kusuguh padamu.”

Berbareng ia terus mendekati Buyung Hok.

Sepintas pandang saja Buyung Hok melihat arak putih dalam cawan itu bersemu hijau kemilau terang mengandung racun yang mahajahat. Sekarang iblis tua itu telah mendekatinya sendiri dengan membawa cawan arak, untuk mengelak terang susah. Tampaknya Ting Jun-jiu sudah berada di depannya, hanya terpisah oleh meja saja.

Mendadak Buyung Hok menarik napas panjang-panjang dan kontan arak dalam cawan Ting-lokoay itu tiba-tiba tertarik naik hingga berwujud suatu jalur air hijau.

“Lihai benar!” diam-diam Lokoay berseru. Ia tahu habis menarik napas, menyusul lawan tentu akan meniup dan jalur arak itu pasti akan memancur ke arahnya. Walaupun dirinya takkan beralangan terkena arak beracun itu, tapi sedikitnya akan basah kuyup dan hal ini akan kurang sedap dipandang mata.

Karena itu, diam-diam iblis tua itu pun mengerahkan tenaga dalam, “berrr”, sekonyong-konyong ia mendahului meniup jalur air arak itu.

Para murid Sing-siok-pay sudah sering menyaksikan sang guru mengadu ilmu dengan musuh seperti ketika mengadu lwekang dengan So Sing-ho, waktu itu masing-masing telah menggunakan tenaga dalam untuk mendorong gumpalan api ke arah lawan, siapa yang lebih kuat akan menang dan yang lebih lemah akan binasa terbakar.

Kini mereka pun menyaksikan sejalur air arak yang bersemu hijau mendadak timbul dari dalam cawan, lalu ditiup sang guru, maka tahulah mereka bahwa sang guru kembali bertanding tenaga dalam dengan musuh. Pikiran mereka lantas bekerja, semuanya ingin memeras otak untuk mendapatkan kata-kata pujian “gaya baru” yang tepat untuk menyanjung puji kepandaian sang suhu yang mahasakti itu.

Tak terduga bahwa tiupan Ting Jun-jiu yang keras itu sama sekali tak dilawan oleh Buyung Hok sehingga jalur arak itu mancur lurus ke mukanya. Keruan para murid Sing-siok-pay merasa heran, sama sekali tak terduga oleh mereka bahwa sang guru akan menang dengan cara begitu gampang.

Di sebelah sana A Ci sebenarnya sedang girang karena gurunya menemukan lawan tangguh, ia pikir akan ada kesempatan untuk meloloskan diri. Siapa duga lawan ternyata tidak becus, sekali diserang saja tidak mampu menangkis, maka ia sangat kecewa.

Begitulah selagi para murid Sing-siok-pay membuka mulut hendak bersorak, tiba-tiba jalur air yang sudah menyambar kira-kira belasan senti di depan hidung Buyung Hok itu tahu-tahu belok ke kiri dan dengan cepat luar biasa berputar balik terus memancur ke dalam mulut seorang murid Sing-siok-pay.

Murid Sing-siok-pay itu baru membuka mulut hendak bersorak, tapi belum lagi kata-kata “bagus” terucapkan, tahu-tahu “auup”, secawan arak yang tertiup menjadi sejalur air itu tertuang ke dalam perutnya.

Jalur air itu terlalu cepat tibanya hingga dia masih sempat bersorak dengan gembira ria, dan sesudah suara “bagus” tercetus barulah ia terkejut dan menyusul lantas berteriak, “Wah, celaka!” dan kontan ia jatuh terkulai ke tanah, hanya dalam sekejap saja mukanya, kaki dan tangannya lantas membusuk dengan cepat luar biasa, sebentar lagi bahkan pakaiannya juga ikut membusuk hingga hancur luluh, sampai akhirnya hanya ketinggalan beberapa kerat tulang putih saja.

Betapa lihainya racun itu sungguh Buyung Hok juga sangat terkejut, selama berkelana di Kangouw belum pernah dilihatnya racun sejahat ini.

Meski pertarungan mereka belum lagi ketahuan siapa akan unggul dan siapa asor, tapi di pihak Sing-siok-pay berturut-turut sudah terbinasa tiga orang murid, dalam hal ini samar-samar sudah menunjukkan kekalahan pada pihaknya. Keruan Ting Jun-jiu menjadi murka, mendadak ia taruh cawan arak yang dipegangnya itu ke atas meja, menyusul sebelah tangan terus menyodok ke depan.

Sudah lama Buyung Hok mendengar betapa jahatnya “Hoa-kang-tay-hoat” dari Sing-siok-pay, maka sejak mula ia layani orang dengan penuh waspada dan hati-hati. Demi melihat orang memukul, cepat ia berputar seraya balas memukul juga.

Beruntun Ting Jun-jiu melontarkan tiga kali pukulan, tapi selalu dapat dielakkan oleh Buyung Hok dengan cara yang gesit dan gaya yang indah tetap ia hindarkan adu tangan dengan iblis tua itu.

Makin lama makin cepat pertarungan mereka dan bertambah sengit pula. Di ruangan warung makan itu penuh meja kursi, tempatnya sempit, sebenarnya tiada tempat luang bagi medan pertempuran mereka. Tapi mereka justru dapat menyusur kian kemari di antara meja kursi yang berjubel itu tanpa membikin alat perabot itu morat-marit, jadi tangan mereka tidak pernah beradu, bahkan juga tidak pernah menyenggol meja kursi dan menerbitkan sesuatu suara berisik.

Dalam keadaan begitu, para murid Sing-siok-pay tetap berdiri mepet dinding ruangan itu, tiada seorang pun berani keluar warung makan itu, sebab mereka cukup kenal watak sang guru, jika ada murid yang berani menyingkir agak jauh tatkala gurunya sedang bertempur sengit dengan musuh, maka itu berarti menunjukkan ketidakteguhan jiwanya dan tidak setia kepada perguruan dan bukan mustahil nanti akan dijatuhi hukuman berat.

Sebab itulah biarpun semua orang tahu keadaan sangat berbahaya, asal tersampuk angin pukulan sang guru saja mungkin jiwa mereka bisa melayang, tapi mereka toh tidak berani sembarangan bergerak, mereka hanya berdiri semepet mungkin ke tepi dinding, jalan lain tidak ada.

Sementara itu kelihatan Buyung Hok lebih banyak bertahan daripada balas menyerang, meski ilmu pukulannya sangat bagus dan aneh pula, tapi karena tidak berani beradu tangan dengan Ting Jun-jiu, maka gerak-geriknya menjadi terikat dan terdesak di bawah angin.

Sebaliknya Sing-siok Lokoay sudah banyak menghadapi lawan tangguh, pengalamannya sangat luas, dalam waktu singkat saja segera ia tahu bahwa Buyung Hok tidak ingin mengadu tangan dengan dirinya, itu menandakan lawan jeri kepada Hoa-kang-tay-hoatnya. Dan kalau lawan keder terhadap ilmu andalannya itu, dengan sendirinya ilmu inilah yang harus dilancarkan untuk mengalahkan lawan. Cuma saja gerakan Buyung Hok teramat cepat dan gesit, ilmu pukulannya juga banyak perubahannya dan tak menentu arah tujuannya, untuk memaksanya mengadu tangan dengan dirinya juga tidak gampang.

Sesudah bergebrak beberapa jurus lagi, akhirnya Ting Jun-jiu mendapat suatu akal. Sengaja ia mendesak dengan telapak tangan kanan, memukul dan bertahan selalu menggunakan tangan kanan saja, sebaliknya tangan kiri pura-pura agak kaku kurang leluasa bergerak, ia berlagak sengaja hendak menutupi ciri-ciri kelemahan itu agar Buyung Hok tidak mengetahuinya.

Namun Buyung Hok adalah seorang ahli, seorang sarjana ilmu silat, sedikit saja musuh menunjuk kelemahannya segera dapat dilihatnya. Mendadak ia miringkan tubuh dengan setengah putar terus menghantam dua kali susul-menyusul dengan kekuatan penuh mengarah iga kiri Ting Jun-jiu.

Sudah tentu kesempatan itu tidak disia-siakan Lokoay, ia pura-pura bersuara “ngek” tertahan sambil mundur setindak dan tidak berani menangkis dengan tangan kiri.

Maka diam-diam Buyung Hok menduga bagian dada kiri atau iga kiri iblis tua itu tentu menderita luka dalam sehingga tidak berani menangkis serangannya. Ia mendapat hati, kembali ia hantam ke sebelah kanan, tapi yang diincar sebenarnya sebelah kiri.

Setelah bergebrak belasan jurus lagi, tiba-tiba tangan kiri Ting Jun-jiu ditarik dan disembunyikan dalam lengan baju, sebaliknya tangan kanan terus membalik ke atas dan mencakar muka Buyung Hok.

Dengan sendirinya Buyung Hok miringkan tubuh dan putar ke samping berbareng ia pun menjotos iga kiri lawan.

Selama ini yang ditunggu-tunggu Ting-lokoay justru adalah pukulan Buyung Hok ini dan sekarang lawan benar-benar berlaku seperti apa yang diharapkannya, keruan girang Lokoay tak terkatakan. Maka terdengarlah angin berkesiur, lengan baju berkibar, tiba-tiba Ting-lokoay mengebaskan lengan baju kiri untuk membelit tangan Buyung Hok itu.

Diam-diam Buyung Hok membatin, “Biarpun lengan bajumu lebih lihai sepuluh kali lipat juga tidak nanti dapat melukai aku?”

Karena itu ia tidak menarik kembali kepalan hanya tenaga dalamnya dikerahkan dan membiarkan tangan digulung oleh lengan baju musuh.

“Bret”, tiba-tiba terdengar suara kain robek, tahu-tahu lengan baju kanan Buyung Hok sendiri tersobek satu bagian oleh sambaran angin lengan baju Ting Jun-jiu itu hingga kelihatan kulit badannya yang putih bersih, pada lengannya juga lantas terdapat satu jalur merah.

Kiranya angin kebasan lengan baju Lokoay itu memang luar biasa kerasnya, seperti pisau tajamnya lengan Buyung Hok tergores satu jalur, coba kalau sebelumnya ia tidak mengerahkan tenaga dalam, tentu lengannya sudah patah.

Namun begitu jotosan Buyung Hok itu tetap diteruskan dengan sekuat-kuatnya. Tapi ia terkejut ketika mendadak kepalan terasa terjepit oleh sesuatu, tahu-tahu kepalan kena dipegang oleh Ting Jun-jiu, yaitu tangan kiri yang disembunyikan dalam lengan bajunya tadi.

Sudah tentu kejadian ini sama sekali di luar dugaan Buyung Hok, segera ia pun sadar, “Wah, celaka! Iblis tua ini pura-pura lemah di sebelah kiri, tak tahunya cuma tipu muslihatnya untuk memancing aku, sekali ini aku benar-benar masuk perangkapnya!”

Tapi ia pun tahu bila segera ia membetot tangannya, maka racun Ting-lokoay itu pun akan terus ikut menyusup dan merembes ke dalam badan bersama dengan tenaga dalam yang ditarik kembali itu, untuk mana pasti akan berbahaya bagi jiwanya.

Dalam sekejap itu timbul rasa menyesal dalam hati Buyung Hok, “Aku terlalu gegabah dan terlalu menilai rendah Sing-siok Lokoay yang tersohor di seluruh jagat ini, sebelumnya aku tidak merancangkan cara melawannya, tapi mendadak berani menantang dia.”

Tapi urusan sudah kadung terjadi, hendak mundur juga tidak bisa lagi. Maka dengan nekat Buyung Hok mengerahkan segenap tenaga dalam dan dilontarkan melalui kepalan yang dipegang lawan itu.

Telapak tangan Ting-lokoay sangat besar, sekali pegang saja kepalan Buyung Hok itu tergenggam dalam tangannya. Tapi karena reaksi lawan yang teramat cepat itu hingga mau tak mau tubuhnya tergetar hebat, urat-urat nadi serasa hendak putus, lengan kiri pun terasa kesemutan, hampir saja pegangannya terlepas.

Tatkala Ting-lokoay menggunakan “Hoa-kang-tay-hoat” badannya harus bersentuhan dengan badan lawan, jika sekali entak cekalannya kena dipentalkan tenaga lawan maka ilmu pemunah tenaga itu pun tiada manfaatnya lagi.

Karena itu, segera ia pun mengerahkan tenaga dengan maksud memegang kepalan Buyung Hok sekencang-kencangnya. Tapi pada saat itu juga tenaga dalam Buyung Hok mendadak bertambah hebat dan sekali meronta kepalan berhasil dibetot kembali.

Sebenarnya kalau bicara tentang tenaga dalam, jelas Buyung Hok tidak lebih ulet daripada Hian-lan Taysu. Tapi waktu Lokoay mengadu telapak tangan dengan Hian-lan, semakin hebat tenaga tolakan lawan, semakin rapat pula kedua telapak tangan itu melengket. Sebaliknya sekarang ia menggunakan telapak tangan sendiri untuk memegang kepalan Buyung Hok, tenaga cekalan itu dengan sendirinya terbatas dari pihak sendiri saja, maka sekali Buyung Hok meronta sekuatnya, terlepaslah cekalan Ting-lokoay itu.

Tapi kejadian itu juga cuma sekilas saja, sebab begitu kedua tangan masing-masing terlepas, secepat kilat tangan Ting Jun-jiu menyambar pula ke bawah dan kontan kepalan Buyung Hok kena terpegang lagi.

Buyung Hok bersuara “ngek” sekali dan kembali mengerahkan tenaga sekuatnya. Tapi celaka, sekali ini tenaganya terasa mengenai tempat kosong, jadi seperti batu kecemplung laut tanpa wujud tanpa bekas, mirip rem yang mendadak “blong” dan susah dikendalikan lagi.

“Celaka!” diam-diam Buyung Hok mengeluh. Sebelum bergebrak tadi memangnya sudah diperhitungkannya agar jangan sekali-kali sampai terkena Hoa-kang-tay-hoat lawan. Tapi akhirnya toh sukar mengelakkan diri dari serangan ilmu itu.

Dalam keadaan demikian ia jadi serbasusah dan serbasalah. Kalau tetap melawan dengan mengerahkan tenaga dalam, maka betapa pun hebat tenaganya pasti juga akan punah dan hanya dalam waktu singkat saja lwekangnya akan terkuras habis dan menjadi orang lumpuh yang tak berguna. Sebaliknya kalau bertahan sekuatnya dan menarik kembali tenaga dalam sendiri, maka racun iblis tua yang susah dijajaki lihainya itu tentu akan terus ikut meresap masuk melalui hawa murni yang ditarik kembali itu dan sekali racun jahat iblis itu masuk urat nadi akhirnya celaka juga dia.

Selagi Buyung Hok merasa serbasusah dan bingung, tiba-tiba didengarnya di belakang ada seruan seorang, “Suhu telah pasang perangkap bagus dan bocah busuk itu sudah menghadapi jalan buntu sekarang!”

Sekilas hati Buyung Hok tergerak, mendadak tangan kirinya membalik sambil mundur dua tindak ke belakang, dengan ilmu “Thing-sing-pian-heng” (Mendengarkan Suara Membedakan Tempat), di mana tangannya tiba, tahu-tahu dada murid Sing-siok-pay itu kena dicengkeramnya.

Adapun ilmu tunggal keluarga Buyung yang paling lihai adalah semacam cara meminjam tenaga lawan untuk menyerang kembali kepada musuh, yaitu yang disebut “Tau-coan-sing-ih” (Matahari Berputar Bintang Bergeser). Orang luar yang tidak tahu seluk-beluknya sama menganggap kepandaian Buyung-si dari Koh-soh yang terkenal “Ih-pi-ci-to hoan-si-pi-sin” itu meliputi segenap ilmu silat dari golongan dan aliran mana pun dan semuanya telah dipahami dengan baik untuk balas menyerang pecundangnya dengan ilmu andalan masing-masing lawannya.

Padahal ilmu silat di dunia ini terlalu luas dan beraneka macam ragamnya, betapa pintar dan tinggi pengetahuannya juga sukar memahami setiap ilmu silat hingga mahir seluruhnya. Apalagi ilmu andalan, sudah tentu susah dilatih dalam waktu singkat.

Tapi keluarga Buyung itu mempunyai semacam kepandaian yang amat bagus, yaitu apa yang disebut “Tau-coan-sing-ih” tadi, tidak peduli lawan mengeluarkan kepandaian apa pun tentu dapat dielakkan dan tenaga serangan itu berbalik akan menyerang lawan itu sendiri.

Jadi umpama lawan mahir menggunakan tombak dan hendak menusuk tenggorokan Buyung-si, tapi sekali kena diputar dan digeser, kontan tusukan itu mengenai tenggorokan si penyerang sendiri malah, dan cara dan gaya yang dipakai tetap tidak berubah, begitu pula senjatanya juga senjata lawan sendiri.

Karena itulah bila tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri akan kepandaian “Tau-coan-sing-ih” keluarga Buyung itu, tentu tiada seorang pun yang dapat membayangkan kematian sang korban sebenarnya adalah “membunuh diri”. Dan semakin lihai ilmu pukulan lawannya, cara matinya juga semakin hebat.

Namun kalau tidak bertempur satu lawan satu dan tidak yakin pasti akan dapat membinasakan lawan, maka ilmu “Tau-coan-sing-ih” itu pun tidak sembarangan dikeluarkan.

Lantaran itulah nama Koh-soh Buyung lantas mengguncangkan dunia Kangouw, sebaliknya di mana letak kunci kepandaian keluarga Buyung itu juga tiada seorang pun yang tahu dengan jelas.

Cara memutar balik pukulan atas senjata lawan untuk menyerang lawan sendiri soalnya terletak pada tenaga pentalan saja. Misalnya kita menjotos dinding, semakin keras kita memukul semakin keras pula daya pental kembali dan sama saja seperti kita memukul diri sendiri dengan tenaga sekeras itu.

Untuk memutarbalikkan pukulan atau senjata lawan yang berwujud itu jelas lebih gampang, sebaliknya sangat sulit untuk menggeser kembali tenaga dalam pihak musuh yang tak berwujud itu. Dalam hal itu meski Buyung Hok juga cukup lama meyakinkan ilmu ini tapi betapa pun terbatas oleh usianya yang masih muda, maka belum lagi mencapai tingkatan yang paling sempurna sehingga kalau bertemu dengan jago nomor wahid seperti Ting Jun-jiu tentu susah menggunakan “Tau-coan-sing-ih” untuk menghantam lawan, sebab itulah beruntun tiga kali ia bergeser dan mengembalikan serangan Ting-lokoay untuk menghantam anak murid Sing-siok-pay yang sial itu.

Jadi tetap dia geser dan dia putar balikkan serangan itu, cuma saja tidak kepada lawan itu sendiri melainkan kepada pihak ketiga.

Kalau pertama kali dengan gampang saja Buyung Hok mendapatkan ganti korbannya atas serangan bubuk racun Ting-lokoay, tapi sekarang menghadapi “Hoa-kang-tay-hoat”, sebenarnya Buyung Hok tidak mampu menggeser dan memutar balik, kebetulan ada murid Sing-siok-pay yang buru-buru ingin cari muka dan bersorak memuji, karena itu letak tempatnya lantas diketahui Buyung Hok.

Saat itu Buyung Hok sudah kepepet, dalam gugupnya tanpa pikir lagi ia cengkeram murid Sing-siok-pay itu dan segera diputar balik sebagai gantinya. Tak tersangka tindakannya itu ternyata sangat tepat, mestinya tujuan Ting-lokoay hendak memunahkan tenaga Buyung Hok, tapi sekali punah ternyata tenaga muridnya sendiri yang menjadi korban.

Melihat usahanya berhasil, Buyung Hok tidak sia-siakan setiap kesempatan lagi, sebelum Ting Jun-jiu timbul pikiran jahat lain, segera ia mendorong dulu murid Sing-siok-pay itu hingga tubuhnya tertumbuk pada badan seorang murid Sing-siok-pay yang lain. Dengan sendirinya tenaga dalam murid kedua itu pun punah seketika terkena “Hoa-kang-tay-hoat” yang masih dilontarkan Ting-lokoay.

Sambil tetap memegang kencang kepalan Buyung Hok, sungguh gusar Ting Jun-jiu tak terkatakan menyaksikan murid sendiri yang menjadi korban malah. Pikirnya, “Jika aku pikirkan keselamatan murid-murid yang tak becus ini dan melepaskan kepalan lawan, maka untuk memegangnya lagi terang akan mahasulit. Sekali kulepaskan, bocah ini tentu akan terus ngacir dan pertarungan ini akan berakhir dengan jatuhnya korban lima orang muridku, sebaliknya aku cuma berhasil merobek sepotong lengan bajunya, terang Sing-siok-pay telah dikalahkan habis-habisan dan untuk selanjutnya masakan Sing-siok Losian ada muka lagi untuk menjagoi Tionggoan?”

Setelah ambil keputusan, maka tetap ia pegang kepalan Buyung Hok dan tidak dilepaskan.

Dalam pada itu Buyung Hok sudah mundur lagi beberapa tindak dan kembali seorang murid Sing-siok-pay kena ditempel pula hingga tenaga korban baru itu dipunahkan Ting Jun-jiu.

Hanya dalam sekejap saja murid Sing-siok-pay itu pun menggeletak di tanah dalam keadaan lumpuh, ketiga orang itu lengket menjadi satu dan sukar terlepas, darah mereka seperti sudah kering terisap oleh iblis pengisap darah.

Keruan murid Sing-siok-pay yang lain sangat terperanjat. Ketika melihat Buyung Hok mundur lagi ke arah mereka, semuanya menjerit ketakutan dan sama menyingkir.

Ketika Buyung Hok mengangkat tangan, kontan anak murid Sing-siok-pay yang saling lengket itu ikut tertarik naik seperti terbang melayang dan kebetulan seorang murid Sing-siok-pay yang lain tertumbuk lagi. Belum lenyap suara jeritan kaget murid Sing-siok-pay itu, tahu-tahu tubuhnya sudah lemas lunglai dan ikut melengket bersama kawan-kawannya seperti sundukan satai saja.

Keruan murid Sing-siok-pay yang lain tambah ketakutan. Selama Ting Jun-jiu tidak melepaskan tangan Buyung Hok, maka dengan cara Buyung Hok mencari korban pengganti itu, bisa jadi murid Sing-siok-pay sebentar lagi akan disikat habis.

Biasanya anak murid Sing-siok-pay itu pandai mengumpak dan mahir menjilat pantat, tapi sekarang mereka menjadi ketakutan setengah mati siapa tahu kalau berikutnya ia pun akan melengket seperti suheng atau sutenya yang sudah lemas itu. Biarpun ketakutan toh tiada seorang pun berani lari keluar pintu, mereka terpaksa hanya menyingkir ke sini dan menghindar ke sana dalam ruang makan itu.

Dan sudah tentu ruang makan itu terlalu sempit bagi mereka, di mana tangan Buyung Hok bergerak dalam sekejap kembali ada empat-lima orang kena tersedot dan melengket pula. Dengan “senjata” raksasa itu, dengan sendirinya Buyung Hok menjadi lebih gampang lagi mencari korbannya.

Dalam keadaan demikian jelas sekali Buyung Hok telah memperoleh kemenangan total. Tapi hal ini tidak berarti dia sendiri tidak berkhawatir. Sebab, meski anak murid Sing-siok-pay itu cukup banyak, tapi pada akhirnya tentu juga akan habis. Dan bila anak murid Sing-siok-pay telah “dimakan” semua, lalu cara bagaimana dia akan melepaskan diri?

Begitulah, maka berulang-ulang Buyung Hok main lompat dan mengerahkan tenaga dengan maksud melepaskan tangannya dari pegangan Ting-lokoay.

Di lain-pihak Ting Jun-jiu menyaksikan anak muridnya satu per satu melengket seperti sundukan satai di sebelah tangan Buyung Hok yang lain. Sedang murid-murid yang lain sama berlarian menghindarkan diri dengan ketakutan sehingga tiada seorang pun yang ingat memberi sorak puji kepada sang guru.

Gusar dan malu juga Ting-lokoay, ia jadi lebih kencang pula memegang tangan Buyung Hok. Pikirnya, “Murid yang tidak becus ini biarkan saja mampus semua. Asalkan aku dapat memunahkan tenaga Buyung Hok, maka akan berkumandanglah cerita tentang Koh-soh Buyung dikalahkan Sing-siok Losian.”

Maka ia tetap tenang saja, sedikit pun tidak kelihatan marah, sebaliknya tersenyum-senyum malah.

Semula ada juga di antara murid Sing-siok-pay itu berharap sang guru akan menaruh belas kasihan kepada murid sendiri yang menjadi korban itu dan karena itu akan melepaskan cekalannya pada tangan Buyung Hok, tapi sekarang melihat Ting Jun-jiu sedikit pun tidak pikirkan nasib mereka, terang mereka pasti akan mati konyol semua, maka mereka menjadi panik dan sama menjerit-jerit ketakutan, tapi toh tetap tiada seorang pun yang berani melarikan diri keluar rumah makan itu atau memohon sang guru melepaskan Buyung Hok.

Ting Jun-jiu melihat di antara anak muridnya yang berkelit kian kemari itu hanya ada dua orang yang tidak ikut-ikutan menghindar. Yaitu Yu Goan-ci dan A Ci.

Goan-ci tampak berjongkok di pojok ruangan sana, kepalanya yang “berlapis baja” itu disembunyikan di antara tangan dan dengkulnya, tampaknya sangat ketakutan. Sedangkan A Ci kelihatan pucat lesi dan meringkuk juga di pojok ruangan sebelah sana, tapi berulang-ulang memandang ke arah Buyung Hok.

Keruan Lokoay menjadi gusar, bentaknya, “A Ci!”

A Ci terkejut. Ia lagi terpesona atas ketangkasan Buyung Hok yang dapat melawan Hoa-kang-tay-hoat sang guru yang sakti itu. Maka ia menjadi gugup ketika mendengar namanya diteriaki, cepat ia menjawab, “Ya, Suhu....”

Tapi hanya sekian dan tidak dapat melanjutkan lagi melainkan cuma tertawa ewa saja. Rupanya ia ada maksud mengucapkan kata-kata sanjung puji untuk mengumpak sang guru, tapi demi teringat yang menjadi korban pada waktu itu justru adalah anak murid Ting-lokoay sendiri maka ia menjadi serbasusah untuk mencari kata-kata pujian yang tepat.

Maka Ting Jun-jiu bertanya pula, “Kenapa? Apa Sing-siok Losian sekarang dianggap tidak dapat mengguncangkan dunia persilatan dan terkenal di Tionggoan?”

A Ci kebat-kebit mendengar pertanyaan yang bernada kurang senang itu. Ia pikir kalau ucapannya nanti tidak dapat memuaskan sang guru bukan mustahil jiwanya akan segera melayang. Maka cepat ia menjawab, “Sudah tentu! Buyung-siaucu sudah tergenggam di tangan Suhu, dia belum lagi sadar akan nasibnya sebaliknya malah kelihatan senang.”

Mendadak Buyung Hok sedikit bergeser sambil angkat tangannya, maka barisan orang yang melengket di tangannya itu lantas menubruk ke arah A Ci.

Keruan A Ci ketakutan, cepat ia melompat pergi.

Hoa-kang-tay-hoat Ting Jun-jiu itu benar-benar sangat lihai, sekali serangan Buyung Hok luput menempel A Ci, kontan tenaga murni dalam tubuhnya lantas terasa disedot sedikit oleh iblis itu. Diam-diam ia berkhawatir, tidak boleh tidak ia harus mencari korban pengganti di antara anak murid Sing-siok-pay. Maka kembali ia menguber ke arah A Ci.

Dengan muka pucat A Ci berseru, “Suhu, apakah engkau tidak suka mendengarkan ucapanku hingga selesai?”

Sambil membetot kepalan Buyung Hok, sebelah tangan Ting Jun-jiu yang lain mengelus-elus jenggot, jawabnya, “Boleh kau bicara.”

“Tapi aku... aku....” seru A Ci sambil menghindarkan incaran Buyung Hok.

Segera Ting Jun-jiu mengebaskan lengan bajunya, serangkum angin lantas menyambar ke depan hingga barisan orang yang saling lengket dan sedang memburu ke arah A Ci itu ditolak mundur, tapi sial bagi dua murid Sing-siok-pay yang lain, mereka yang ketiban pulung, seketika mereka terlengket lagi menjadi satu dengan kawan-kawannya.

Dengan demikian barulah A Ci dapat menghela nahas lega, katanya, “Suhu, tatkala mengadakan pembersihan perguruan, kebetulan bocah she Buyung ini berani main gila di sini, sekarang Suhu menggunakan dia sebagai senjata hidup untuk membersihkan anak murid sendiri yang tak berguna, pada hakikatnya dia... dia cuma diperalat oleh Suhu saja, hanya Suhu sendirilah benar-benar orang kosen yang mahasakti.”

Sebenarnya Ting Jun-jiu sangat gusar, tapi demi mendengar sanjung puji A Ci itu, maka tertawalah dia.

Segera Buyung Hok angkat tangannya lagi, sekali entak, kembali belasan orang yang terlengket di tangannya itu sempoyongan terus menubruk pula ke arah A Ci.

Saat itu A Ci sudah terdesak di pojok dinding, untuk menghindar lagi jelas tidak bisa. Meski Ting Jun-jiu juga mengebaskan pula lengan bajunya tapi tampaknya sudah terlambat dan A Ci tentu akan ditumbuk oleh murid Sing-siok-pay pada ujung barisan itu. Keruan A Ci ketakutan, tiada jalan lain terpaksa ia hanya pejamkan mata dan menanti ajal saja.

Tak terduga Buyung Hok lantas tertawa terbahak-bahak, mendadak murid Sing-siok-pay yang paling ujung itu terhuyung-huyung ke depan dan menubruk ke arah seorang murid Sing-siok-pay yang lain.

A Ci mandi keringat dingin setelah lolos dari lubang jarum. Waktu ia pandang ke depan, dengan tersenyum Buyung Hok berkata padanya, “Nona cilik, benar juga ucapanmu, ya?”

Setelah tenangkan diri, A Ci tahu Buyung Hok tiada maksud buat mencelakai dia, tanpa terasa ia pun balas tersenyum.

Semua itu dapat dilihat Ting Jun-jiu, ia tambah murka, dengan suara bengis ia membentak, “A Ci, mengapa Buyung-siaucu ini tidak jadi mencelakaimu?”

A Ci terkesiap, ia tahu Ting-lokoay menaruh curiga padanya. Sebisanya ia hendak mengumpak dan memuji sang guru pula, tapi sukar terkabul, sebab ia sudah kehabisan kata muluk-muluk dan enak didengar.

“Hehe!” demikian Ting Jun-jiu tertawa dingin. “Selama kau berada di sampingku dan dapat menyenangkan hatiku, tentu aku takkan mengganggu jiwamu.”

“Terima kasih, Suhu,” cepat A Ci menjawab.

“Kau jangan terburu-buru senang dulu, ini....” mendadak Lokoay mengebaskan lengan bajunya ke muka A Ci.

Saking cepatnya tindakan Ting-lokoay itu sehingga sebelum A Ci sadar apa yang terjadi tahu-tahu kedua matanya terasa “nyes”, lalu kesakitan luar biasa dan pandangannya menjadi gelap pula, pipi lantas berlinang dua titik cairan seperti air mata meleleh.

Nyata Ting Jun-jiu telah mengerahkan tenaga dalamnya pada ujung lengan bajunya dan secepat kilat menyabet buta kedua mata A Ci.

Tatkala melihat lengan baju Ting Jun-jiu bergerak lagi memangnya Buyung Hok sudah menduga iblis itu pasti tidak bermaksud baik. Walaupun ia tahu A Ci adalah murid Sing-siok-pay juga tapi anak dara itu cantik menyenangkan dan berbeda dengan saudara-saudara seperguruannya yang lain, maka diam-diam Buyung Hok juga sangat sayang padanya. Dan selagi ia hendak menolong namun serangan Ting Jun-jiu itu terlalu cepat sehingga tidak keburu dicegah lagi.

Sekarang melihat A Ci tetap berdiri bersandar dinding, dari kedua matanya meneteskan dua titik darah yang mirip air mata, biarpun Buyung Hok sudah banyak menyaksikan perbuatan orang kejam juga belum pernah melihat cara Ting Jun-jiu yang begitu keji, jiwa anak muridnya sedikit pun tidak berharga bagi iblis itu, untuk sedetik Buyung Hok tertegun juga dan karena itu tenaga murninya kembali tersedot sedikit pula.

Sesudah membutakan kedua mata A Ci, lalu berkatalah Ting-lokoay, “Aku tetap membiarkanmu hidup tapi tidak boleh lagi melihat sesuatu agar kau tidak punya pikiran menyeleweng terhadap perguruan. Nah, kau terima tidak hukuman ini?”

Tapi wajah A Ci sudah pucat lesi, bibir agak gemetar dan susah membuka suara lagi.

Selagi Ting Jun-jiu hendak tanya pula, sekonyong-konyong dari pojok ruangan bergema suara suitan orang yang aneh, serangkum angin mahakuat mendadak menyambar tiba hingga semua orang yang berada di dalam rumah menggigil kedinginan.

Kiranya Yu Goan-ci yang sejak tadi meringkuk di pojok ruangan itu sekarang mendadak melompat maju, begitu berada di samping A Ci, segera ia tarik tangan anak dara itu terus diseret keluar dengan cepat.

Ting Jun-jiu membentak satu kali, berbareng sebelah tangan terus memukul. Sudah tentu sekali-kali Yu Goan-ci tidak berani mengadu pukulan dengan Ting-lokoay. Tapi mengingat A Ci harus dilindungi, dalam gugupnya segera ia menangkis ke belakang dengan tujuan agar tenaga pukulan iblis tua itu dipindahkan ke arahnya dan tidak mengenai A Ci.

Melihat Goan-ci berani menangkis, kembali Ting Jun-jiu membentak lebih keras, ia kerahkan tenaga beracun lebih kuat.

“Bluk”, ketika kedua tangan beradu, seketika Goan-ci bersama A Ci terpental ke depan seperti terbang.

Begitu keras mereka terpental ke depan, tampaknya pasti akan menumbuk dinding, tiba-tiba tangan Goan-ci menolak ke depan, “blang”, tahu-tahu dinding itu ambrol menjadi sebuah lubang, sebaliknya Ting Jun-jiu terentak mundur dua-tiga tindak, ia merasa dada dirangsang hawa dingin, tenaga yang dikerahkan tadi hilang sirna tanpa bekas.

Kesempatan itu dipergunakan Buyung Hok dengan baik tatkala Ting Jun-jiu mengadu tangan dengan Yu Goan-ci berbareng ia pun mengerahkan tenaga dan mengipratkan tangan sehingga cekalan Ting-lokoay terentak lepas, cepat ia lompat mundur pula, malahan sebelah tangannya yang menggandeng barisan anak murid Sing-siok-pay yang melengket satu itu terus diputar pula dan satu per satu disodok ke depan untuk menumbuk Ting Jun-jiu.

Sesudah mengadu tangan dengan Goan-ci tadi Ting Jun-jiu merasa tenaga dalamnya merembes keluar dengan sangat cepat, maka segera ia berjungkir dengan kaki di atas dan kepala di bawah terus berputar-putar beberapa kali, ia gunakan ilmu menguatkan tenaga dari perguruannya untuk menahan merembes keluarnya tenaga dalam.

Pada saat itulah belasan anak muridnya yang tadi melengket di tangan Buyung Hok itu menubruk ke arahnya, sedangkan Ting-lokoay sendiri sedang berputar dengan menjungkir, sudah tentu ia tidak dapat menghindar atau menggunakan tangan atau kakinya untuk menangkis, maka terdengarlah suara “blang-blung” beberapa kali, anak murid Sing-siok-pay itu berturut-turut menubruk badan Ting-lokoay, tapi satu per satu lantas terpental pula dan terbanting jatuh ke tanah, ada yang patah kaki dan tangan, ada yang pecah kepalanya dan binasa.

Sungguh gusar Ting Jun-jiu bukan buatan. Sekali membentak segera ia berdiri tegak kembali. Mukanya tampak pucat, tapi beringas menakutkan. Anak muridnya telah mati sebagian besar, sebaliknya Buyung Hok yang tadi sudah terpegang olehnya sedikit pun tidak terganggu, malahan Yu Goan-ci sempat menggondol lari A Ci, kekalahan Sing-siok Losian yang memalukan ini bukankah akan dibuat bahan ejekan di dunia persilatan?

Pada umumnya orang yang suka dipuji, suka dijilat diumpak, manusia demikian tentu juga paling gila hormat dan suka jaga muka, setiap kejadian yang memalukan sedapat mungkin ingin ditutup-tutupi agar tidak diketahui orang luar.

Begitu pula dengan Ting Jun-jiu. Seperti tempo hari ia hampir ditelan ular raksasa yang dikerahkan padri-padri Thian-tiok itu, untung kemudian Goan-ci dapat menolongnya dengan mengusir kawanan ular itu dengan api. Tapi sebagai balas terima kasihnya iblis itu sengaja suruh Goan-ci memeriksa pernapasan padri Thian-tiok yang sudah binasa keracunan itu agar Goan-ci juga ikut mati tujuannya tak lain agar Goan-ci juga terbunuhnya sehingga kejadian yang memalukan baginya itu tidak tersiar.

Coba kalau Goan-ci tidak kebetulan memiliki racun dingin ulat sutra putih yang dapat mengatasi segala macam racun lain, tentu sudah lama jiwa Goan-ci melayang.

Sekarang Ting Jun-jiu melihat Buyung Hok masih berdiri di situ sambil memandang mayat yang bergelimpangan di tanah itu dengan senyuman mengejek, ia tahu bila Buyung Hok sampai lolos dengan selamat, maka nama kebesaran Sing-siok Losian niscaya akan merosot habis-habisan.

Karena itulah, sambil melototi Buyung Hok dengan gusar, diam-diam ia tebarkan tiga jenis bubuk racun yang mahajahat dengan tenaga dalam yang tak kelihatan.

Sisa anak murid Sing-siok-pay yang beruntung tidak mampus itu masih ada tujuh atau delapan orang. Melihat wajah sang guru mengunjuk rasa gusar tak terhingga, kembali mereka obral sanjung puji lagi.

“Betapa pun Sing-siok Losian memang mahasakti! Nah, Buyung-siaucu, apakah kau tidak ingin lekas lari? Apa kau cari mampus? Ya, jika kau tidak lekas ngacir, naga-naganya keluarga Buyung kalian pasti akan putus keturunan! Eh, Buyung Hok, tidak lekas lari dengan mencawat ekor, mau tunggu apa lagi?”

Begitulah karena merasa pertarungan ini lebih banyak memalukan Sing-siok-pay mereka, maka mereka ganti haluan dengan mencaci maki Buyung Hok untuk menaikkan gengsi guru mereka. Harapan mereka adalah Buyung Hok akan lekas pergi dari situ. Sebab kalau Buyung Hok tidak lekas pergi bila sebentar kena dipegang Ting-lokoay lagi maka yang celaka bukanlah orang she Buyung melainkan mereka sendiri yang akan menjadi korban lagi.

Namun Buyung Hok hanya tersenyum-senyum saja dan tidak menggubris caci maki mereka. Berulang tiga kali Ting Jun-jiu menghamburkan bubuk racun ke arahnya, tapi tanpa bicara apa-apa ia tolak kembali bubuk racun itu ke badan anak murid Sing-siok-pay.

Maka terdengarlah suara gedebukan di sana-sini, siapa yang bersuara memaki musuh, kontan terima ganjarannya dengan mati menggeletak. Keruan mereka ketakutan dan tidak berani memaki lagi, ingin memuji sang guru pun sudah kehabisan kata-kata muluk. Terpaksa mereka cuma berdiri terkesima di situ.

Melihat murid-muridnya bungkam, Ting Jun-jiu bertambah marah, ia terkekeh aneh dan berkata, “Buyung Hok, belum ketahuan siapa unggul dan asor, kenapa berhenti?”

Selagi Buyung Hok hendak menjawab, sekonyong-konyong dilihatnya di sebelah sana ada sebuah meja bisa mumbul ke atas.

Meja kursi dalam ruang makan itu sebenarnya sudah morat-marit tak keruan, hanya meja yang terletak di pojok itulah yang tidak terganggu. Kini mendadak meja itu bisa mumbul ke atas tanpa sebab, hal benar-benar aneh luar biasa sehingga menarik perhatian semua orang. Tapi ketika diperhatikan, Buyung Hok lantas tertawa geli.

Kiranya di bawah meja itu terdapat satu orang. Boleh jadi orang itu sangat ketakutan dan sembunyi di kolong meja, sekarang ia berdiri, tapi lupa merangkak keluar dulu dari kolong meja, maka meja itu ikut tersundul ke atas.

Dan sesudah berdiri tegak, orang di bawah meja itu tampak memejamkan mata, tangan terangkap di depan dada, badan masih gemetar, kedengaran sedang berdoa. Kiranya dia adalah Hi-tiok Hwesio.

Ting Jun-jiu semakin murka karena di situ selain Buyung Hok ternyata masih ada seorang lagi. Ia membentak, “Keledai gundul, sejak kapan kau sembunyi di situ?”

Tadi sebenarnya Hi-tiok ingin mengeluyur pergi, tapi ia ketakutan oleh pertarungan sengit itu, maka buru-buru ia sembunyi di kolong meja. Sebagai murid Buddha yang welas asih, ia tidak tega menyaksikan pembunuhan besar-besaran dalam pertempuran itu. Kemudian dilihatnya si “kongcu” muda yang menggodanya itu dalam waktu singkat kedua matanya telah dibutakan, ia tambah takut dan gemetar, berulang ia memanjatkan doa. Dan ketika mendengar Ting Jun-jiu hendak bergebrak pula dengan Buyung Hok, segera ia berdiri dari tempat sembunyinya hendak mencegah. Tapi dalam gugupnya ia lupa di atas kepalanya masih tersunggi sebuah meja.

Waktu ia dibentak Ting Jun-jiu barulah ia sadar bisa celaka, dengan muka pucat dan badan gemetar ia menjawab, “Aku... aku sudah lama berada di sini. Ka... kalian jangan berkelahi lagi.”

Tiba-tiba Ting Jun-jiu sedikit mengebas lengan bajunya, serangkum angin yang lembut tapi tajam menyambar ke arah Hi-tiok.

Diam-diam Buyung Hok gegetun, ia menduga hwesio itu tentu akan celaka, ia hendak menolong tapi terlambat.

Dengan cepat iga Hi-tiok kena disambar tenaga kebasan Ting Jun-jiu itu hingga badan sedikit tergeliat, tapi tidak terganggu apa-apa. Waktu ia berpaling dan melihat muka Ting-lokoay yang beringas menyeramkan itu, ia menjadi takut, sambil masih menyunggi meja ia terus menerjang keluar.

Kembali Ting Jun-jiu melontarkan pukulan lagi, “prak”, meja yang disunggi Hi-tiok itu pecah berantakan menjadi berkeping-keping. Sebaliknya Hi-tiok tetap tidak apa-apa dan masih berlari secepatnya ke depan.

“Berhenti!” bentak Ting Jun-jiu.

Sudah tentu Hi-tiok tidak mau menurut, bahkan berlari lebih cepat.

Seorang murid Sing-siok-pay mendadak mencegatnya dari samping, kelima jarinya yang tajam bagai kait terus mencengkeram pundak Hi-tiok sambil membentak, “Sing-siok Losian menyuruhmu kembali, kau berani....”

Belum habis ucapannya, mendadak ia merasa pundak Hi-tiok yang dicengkeramnya itu mengeluarkan tenaga pentalan yang mahakuat, kontan tubuhnya mencelat sendiri ke belakang dan secara kebetulan menumbuk ke arah Ting Jun-jiu.

Tapi dengan mudah Ting Jun-jiu dapat mencengkeram kuduk muridnya yang sial itu, dalam hati ia pikir, “Hwesio ini agak aneh, tapi tidak nanti ia dapat terbang ke langit, lain kali tentu dapat kutemukan lagi. Sekarang lebih penting harus kuhadapi Buyung Hok saja.”

Dengan pikiran ini, segera murid sendiri yang dicengkeramnya itu dilemparkan ke arah Buyung Hok.

Melihat murid Sing-siok-pay yang dicengkeram Ting Jun-jiu itu mukanya pucat bagai mayat, mata meneteskan darah pula, terang orangnya sudah mati keracunan, sekarang iblis tua itu melemparkan ke arahnya, sudah tentu tidak mengandung maksud baik. Maka Buyung Hok sudah siap, ia tidak bergerak, hanya tangan sedikit ditolak ke depan hingga suatu tenaga mahakuat menyambar ke depan, seketika mayat murid Sing-siok-pay itu kena ditahan di tengah jalan.

Karena kedua pihak sana-sama mengerahkan tenaga dalam yang kuat, maka mayat murid Sing-siok-pay itu tergencet dan terkatung-katung di tengah udara, pemandangan demikian menjadi sangat aneh dan lucu sekali.

Sekonyong-konyong Ting Jun-jiu membentak lagi, “krak-krek”, tahu-tahu kedua tangan murid Sing-siok-pay yang sudah tak bernyawa itu putus sebatas pergelangan tangan, dan kedua tangan yang sudah putus ini terus mencakar ke muka Buyung Hok.

Buyung Hok tidak berani gegabah, cepat ia meniupkan hawa dua kali sehingga kedua potong tangan yang putus itu berputar balik dan saling tepuk sekali di udara, “plak”, lalu terpental ke samping dan kebetulan mengenai badan dua murid Sing-siok-pay yang lain.

Seketika kedua murid Sing-siok-pay itu tertawa terkakah-kakah seperti orang gila, tertawa mereka semakin keras dan semakin geli sehingga menungging dan pegang perut sendiri. Tapi sejenak kemudian mendadak suara tertawa mereka berhenti serentak, namun tetap berdiri sambil pegang perut sendiri, badan kaku bagai mayat. Nyata mereka pun sudah binasa.

Beberapa kali Ting Jun-jiu menggunakan “Hoa-kang-tay-hoat”, tapi bukannya Buyung Hok kena dirobohkan, sebaliknya anak murid sendiri yang jatuh menjadi korban. Keruan ia tambah murka. Tiba-tiba ia tertawa dingin sekali, lengan baju yang lebar itu menyambar ke samping, tubuhnya juga ikut berputar, karena itu, mayat murid Sing-siok-pay yang putus kedua tangan itu lantas jatuh ke tanah.

Tapi Buyung Hok lantas bergerak juga, secepat terbang ia lompat keluar rumah makan itu.

“Lari ke mana?” bentak Ting Jun-jiu, berbareng ia memburu keluar.

Sisa beberapa orang murid Sing-siok-pay yang masih hidup sebisanya masih bersorak memberi pujian kepada kesaktian Ting Jun-jiu, tapi rangkaian kata-kata mereka itu terasa sangat dipaksakan sehingga bagi Ting-lokoay kedengarannya lebih dirasakan sebagai sindiran malah.

Sampai di luar, Lokoay melihat Buyung Hok sudah berdiri di tempat sejauh belasan meter, sikapnya tenang-tenang saja dengan wajah bersenyum.

“Siaucu, jangan lari!” bentak Ting Jun-jiu dengan gusar.

“Bilakah aku lari?” jawab Buyung Hok mengejek.

Selagi Ting Jun-jiu siap hendak menubruk maju tiba-tiba tertampak seorang mendatang dengan cepat, orang itu berjalan dengan kepala menunduk, malahan kedengaran sedang berkomat-kamit entah bergumam apa.

Dari jauh Buyung Hok sudah dapat mengenali pemuda ganteng yang datang ini bukan lain adalah Toan Ki. Anehnya Toan Ki jalan dengan menunduk seperti tidak menghiraukan segala apa di sekitarnya dan entah apa yang sedang dipikirkan, tapi terus menyeruduk ke arah Ting Jun-jiu.

Belum lama Buyung Hok kenal pada Toan Ki, anak muda itu pernah menolongnya, yaitu ketika menggunakan “Lak-meh-sin-kiam” untuk menjatuhkan pedang Buyung Hok yang hendak membunuh diri karena pengaruh gaib problem catur yang tidak mampu dipecahkannya itu. Lantaran itulah Buyung Hok mempunyai kesan baik terhadap Toan Ki.

Ia pikir bila Toan Ki terus menyeruduk ke depan hingga menubruk Ting Jun-jiu, padahal waktu itu iblis itu sedang murka maka Toan Ki tentu yang akan dijadikan sasaran untuk melampiaskan angkara murkanya itu.

Tampaknya saat itu sedikit pun Toan Ki tidak merasakan segala apa pun di sekitarnya, kalau tidak lekas memperingatkan dia tentu anak muda itu akan dimakan mentah oleh Ting-lokoay. Maka cepat Buyung Hok berseru, “Awas, Toan-kongcu!”

Mendadak Toan Ki seperti sadar dari impiannya dan cepat berhenti. Waktu ia angkat kepala dan memandang ke depan, ia lihat wajah Ting Jun-jiu yang beringas menakutkan itu berjarak dengan dirinya cuma dua-tiga meter saja. Keruan Toan Ki terkejut, cepat ia menyurut mundur sambil menuding Ting-lokoay, “Hei, kau... kau....”

Tudingan Toan Ki ini sebenarnya timbul dari rasa kaget dan takutnya, tak terduga justru menimbulkan lwekangnya yang mahakuat itu dan tepat pula penggunaannya, “crit”, hawa pedang “Lak-meh-sin-kiam” yang tak berwujud itu terus menyambar ke depan.

Sama sekali Ting-lokoay tidak menduga akan serangan Toan Ki itu, dengan gugup lekas ia kebaskan lengan bajunya ke atas, “bret”, tahu-tahu Lengan baju berlubang, bahkan tenaga serangan Lak-meh-sin-kiam masih terus menyambar ke depan, kembali terdengar “creng” sekali, Ting Jun-jiu terentak mundur setindak dan dari bajunya jatuh sebuah botol tembaga. Di atas botol tembaga itu tampak sebuah lekuk yang mencolok.

Kiranya tudingan “Lak-meh-sin-kiam” yang dilontarkan Toan Ki dengan tepat mengenai botol tembaga itu, sebab itulah Ting-lokoay, dapat terhindar dari malapetaka.

Menyaksikan itu, segera Buyung Hok bersorak memuji, “Lak-meh-sin-kiam yang hebat!”

Sebaliknya ujung hidung Toan Ki telah keluar keringatnya. Sama sekali tak tersangka olehnya sekali tuding tanpa sengaja dapat melontarkan daya tempur Lak-meh-sin-kiam yang mahasakti itu.

Ada tercatat teori biasa militer bahwa “tahu kekuatan pihak musuh dan kenal kekuatan pihak sendiri, maka seratus kali bertempur seratus kali akan menang”.

Sekarang Toan Ki bukan saja tidak tahu kekuatan musuh, sebaliknya sampai di mana kemampuan diri sendiri juga tidak tahu, jadi “tidak tahu kekuatan musuh dan tidak kenal kepandaian sendiri”, sudah tentu segala kejadian membuatnya terkejut.

Ting Jun-jiu beruntung terlindung oleh botol tembaga yang tersimpan dalam bajunya sehingga tidak sampai terluka oleh tudingan Toan Ki tadi, tapi tidak urung dadanya juga terasa kesakitan, ia menjadi murka, bentaknya dengan bengis, “Kau berani main gila pada Sing-siok Losian, kau ingin dibinasakan dengan cara apa?”

“Ai, jangan, jangan!” demikian berulang Toan Ki menggoyang-goyang tangannya. “Kata Khonghucu, ‘Tidak tahu lahirnya dari mana tahu kapan akan mati,’. Mana kudapat menjawab pertanyaan Losiansing ini?”

Diam-diam Ting Jun-jiu heran dan ragu, pikirnya, “Bocah ini sudah terang mahir menggunakan Lak-meh-sin-kiam mahasakti dari keluarga Toan di Tayli, maka dapat diduga adalah anak-cucu keluarga Toan. Tapi mengapa, tindak tanduknya lebih mirip seorang pelajar ketolol-tololan? Jika dapat kuperalat dia, sedapat mungkin kesempatan ini harus kupergunakan dengan baik.”

Karena itu, sengaja ia tarik muka sehingga tambah bengis dan lebih menakutkan.

Keruan Toan Ki menyurut lagi.

“Siaucu, kau takut tidak padaku?” tanya Ting-lokoay dengan suara galak.

“Takut?” Toan Ki menegas. “Hehe, ‘seorang kuncu (laki-laki sejati) tidak kenal sedih maupun takut’, masakan aku takut padamu?”

Tiba-tiba Ting-lokoay menyeringai, berbareng tangannya terus mencengkeram.

Toan terkejut dan cepat melangkah mundur lagi, segera ia pun menuding-nuding pula.

Tadi Ting Jun-jiu sudah merasakan betapa lihainya tudingan Lak-meh-sin-kiam, maka ia menjadi jeri dan cepat menarik kembali cengkeramannya demi tampak Toan Ki mengangkat jari tangannya.

Namun saat itu Toan Ki dalam keadaan gugup dan pikiran kacau, maksudnya sih ingin mengeluarkan “Lak-meh-sin-kiam” untuk menghalau musuh, tapi celaka, berulang-ulang ia menuding enam-tujuh kali, tapi hasilnya nihil, sedikit pun tak bisa dikeluarkan tenaganya.

Sebagai seorang jago ulung dan licin, meski Ting Jun-jiu juga sudah dapat melihat Toan Ki sebenarnya tidak berdaya lagi, tapi ia tetap khawatir kalau-kalau pemuda itu cuma pura-pura saja untuk memancingnya, maka ia tidak berani mendesak maju.

Dan setelah sekian lama melihat sikap Toan Ki yang serbarunyam dan gugup itu, sedangkan hawa pedang yang hebat itu tetap tidak menyambar tiba, barulah kemudian iblis itu berani menegurnya, “Ayo, mau apa kau sekarang?”

Toan Ki jadi ketakutan, mendadak ia berteriak, “Haya, celaka! Kalau tidak lekas angkat kaki, mungkin mati pun tak terkubur lagi!”

Berbareng ia terus putar tubuh dan melarikan diri dengan cepat.

Sudah tentu Ting-lokoay tidak tinggal diam, lengan bajunya yang gondrong itu lantas mengebas ke Leng-tay-hiat di punggung Toan Ki.

Sementara itu Buyung Hok masih berdiri di samping, ia sangat kagum ketika sekali muncul Toan Ki lantas dapat mengalahkan Ting Jun-jiu dengan “Lak-meh-sin-kiam” yang lihai. Sudah lama ia kenal nama Lak-meh-sin-kiam, konon ilmu itu sudah lama lenyap dari dunia persilatan maka selama ini ia sangat menyesal tidak dapat membuktikan betapa hebatnya ilmu pedang tanpa wujud itu. Tak terduga sekarang ia dapat menyaksikannya dengan jelas, sudah tentu ia sangat senang.

Ia sangka menyusul Toan Ki tentu akan melancarkan serangan lain yang lebih hebat, siapa tahu pemuda itu cuma main tuding saja tanpa membawa hasil apa-apa lalu putar tubuh dan angkat langkah seribu alias kabur.

Diam-diam Buyung Hok ragu apakah mungkin Toan Ki sengaja hendak menggoda Ting Jun-jiu? Tapi iblis tua itu toh bukan tokoh sembarangan, kalau gegabah bukan mustahil akan dimakan olehnya.

Namun apa yang terjadi selanjutnya membuat Buyung Hok terkejut, ketika lengan baju Ting Jun-jiu mengebas ke punggung Toan Ki yang mematikan, sebaliknya pemuda itu sama sekali tidak tahu cara menghindarkannya. Diam-diam Buyung Hok berteriak, “Celaka!”

Cepat ia bertindak dan menghantam iga Ting Jun-jiu.

Segera Ting Jun-jiu membaliki tangan kiri untuk memapak, sedang ujung lengan baju kanan yang mengebas itu tidak menjadi berkurang kekuatannya.

Mendadak Buyung Hok sedikit mendak, ia hindarkan pukulan Ting Jun-jiu, sebaliknya kelima jari yang kuat bagai kait itu terus mencakar lengan baju lawan. “Bret”, lengan baju Ting-lokoay kena dirobek sebagian.

Kebetulan pada saat itu Toan Ki sedang berpaling, demi dilihatnya jarak Ting Jun-jiu dan Buyung Hok sedemikian dekatnya, ia menjadi khawatir. Segera teringat olehnya, “Jika Buyung Hok dilukai Ting Jun-jiu, pasti nona Ong akan sangat berduka. Mana boleh kubiarkan wanita cantik berduka tanpa memberi pertolongan?”

Berpikir begitu, mendadak jarinya menuding lagi ke sana.

Tadi demi untuk menolong diri sendiri ia telah berusaha sedapatnya, tapi gagal karena sedikit pun tenaga tak mau dikeluarkan, sekarang demi teringat kepada Ong Giok-yan, sekali jarinya menuding, kontan “crit”, satu jurus “Lak-meh-sin-kiam” terus menyambar ke depan.

Memangnya Buyung Hok agak jeri kalau bergebrak dengan Ting Jun-jiu dalam jarak terlalu dekat, sebab sedikit ayal saja tentu akan kena dipegang lagi, dan jika demikian, maka sukarlah untuk melawan Hoa-kang-tay-hoat iblis tua itu. Sekarang kembali ia mendengar suara mendesis hawa pedang Lak-meh-sin-kiam sedang menyambar tiba, cepat ujung kakinya menutul tanah dan badan terus melayang ke samping.

Ting Jun-jiu juga sangat terkejut, lekas-lekas kedua lengan bajunya mengebas ke depan, dua rangkum angin keras dilontarkan untuk melawan tenaga Lak-meh-sin-kiam dari Toan Ki. Tapi tidak urung ia pun terentak mundur setindak.

Sekali berhasil, segera Toan Ki hendak mengulangi lagi, tapi celaka, tudingan kedua kalinya kehilangan daya gunanya, sedikit pun tidak bertenaga.

Cepat Buyung Hok menarik tangan Toan Ki sambil berseru, “Lekas lari, Toan-heng!”

Tanpa menunggu jawaban lagi, segera Toan Ki diseretnya dan berlari pergi.

Ting Jun-jiu menjadi gusar, ia membentak sekali sambil pentang kedua tangannya, bagaikan seekor burung raksasa ia menubruk ke depan.

“Celaka, dia datang!” seru Toan Ki.

“Jangan khawatir, ada orang lain lagi yang akan melayani dia!” ujar Buyung Hok.

Baru habis ucapannya, terdengarlah suara tertawa orang berkumandang dari jauh, suara tertawa aneh yang lebih mirip ayam berkotek itu semula kedengaran masih jauh tapi tahu-tahu sudah berada di depan mata. Tertampaklah Toan Yan-king dengan jubahnya yang serbahijau, dengan kedua tongkat yang dipakai sebagai pengganti kaki sedang berjalan secepat terbang ke arah sini.

Melihat “si Jahat yang Melebihi Takaran” (Ok-koan-boan-eng) Toan Yan-king, Toan Ki menjadi ketakutan dan cepat berpaling ke arah lain.

Buyung Hok memberi kiongchiu kepada Yan-king Taycu dan menyapa, “Toan-siansing, iblis tua itu sudah telan pil pahit di tanganku, sekarang biarlah kau beri juga sedikit hajaran padanya, tapi hati-hati, betapa pun dia masih cukup lihai!”

Sembari berkata, berbareng ia terus menarik Toan Ki dan diajak lari ke sana.

Kedatangan Ting Jun-jiu ke daerah Tionggoan ini adalah ingin pamer kepandaian untuk menaikkan pamornya, siapa tahu berulang-ulang malah kecundang, anak muridnya gugur sebagian besar, bahkan diri sendiri juga tidak pernah memperoleh kemenangan, keruan bencinya kepada Buyung Hok merasuk tulang sumsum, maka demi tampak lawan itu hendak kabur, segera ia menubruk maju.

Tapi mendadak sebelah tongkat Toan Yan-king melintang di depannya, katanya dengan nada dingin, “Sing-siok Lokoay, jangan lari! Pada waktu orang lain sedang terancam bahaya, kau sengaja main sergap malah, untuk itu kita harus bikin perhitungan dahulu.”

Karena dirintangi Toan Yan-king, untuk mengejar Buyung Hok terang sukar. Sebagai seorang yang licin, segera Lokoay ganti haluan, ia terbahak-bahak dan menjawab, “Toan Yan-king, hidupmu ini sudah sulit kembali ke jalan yang benar lagi, tapi kalau bicara tentang ilmu kepandaian golongan Sia-pay sebenarnya kau pun belum masuk hitungan, maka ada lebih baik kau menyembah dan angkat aku sebagai gurumu saja, untuk ini mungkin aku akan dapat mengabulkan keinginanmu.”

Toan Yan-king masih tetap mengadang di tengah jalan dengan tongkat melintang, selesai Ting Jun-jiu bicara, mendadak dari dalam perutnya mengeluarkan suara, “kuk” yang aneh, yaitu suara tertawa yang mirip ayam berkotek. Berbareng sebelah tongkatnya terus menutuk ke perut Ting-lokoay.

Mendadak Ting Jun-jiu menyelentik sehingga jari tengahnya tepat menjentik ujung tongkat lawan.

Mestinya tongkat bambu Yan-king Taycu itu hijau segar, tapi sekali kena diselentik jari Ting-lokoay, segera ujung tongkat bambu itu terdapat setitik warna merah, bahkan dengan cepat sekali titik merah itu memanjang ke atas tongkat.

Waktu Yan-king tarik kembali tongkatnya dan hendak melancarkan serangan jurus kedua sekilas dilihatnya pada ujung tongkat sendiri ada jalur merah yang terus menjalar ke atas dan tampaknya segera akan sampai pada tangannya. Ia kaget bila teringat kemahiran Ting-lokoay dalam hal menggunakan racun, cepat ia entak sekali hingga tongkat itu terlempar ke depan.

Tapi Toan Yan-king juga bukan tokoh sembarangan, walaupun terpaksa ia harus melemparkan tongkatnya, tapi ketika tongkat terlepas dari cekalannya ia pun menggunakan tenaga yang istimewa.

Maka waktu tongkat itu terpegang oleh Ting Jun-jiu, mendadak terdengar suara “krak-krek” dua-tiga kali, tahu-tahu tongkat itu patah menjadi beberapa bagian, tongkat yang patah itu bahkan berhamburan ke atas kepala Ting-lokoay.

Coba kalau iblis itu tidak cepat putar lengan bajunya untuk mengebas, tentu ia pun akan terluka oleh tongkat bambu yang patah itu.

Di sebelah sana Buyung Hok dan Toan Ki juga sedang mengikuti pertarungan itu dari jauh. Ketika melihat Toan Yan-king terpaksa melepaskan sebuah tongkatnya, dengan khawatir Toan Ki berkata, “Sialan! Hanya sekali gebrak saja Yan-king Taycu sudah kehilangan sebuah tongkatnya!”

“Ya, Ting Jun-jiu memang benar hebat!” tapi belum habis Buyung Hok berkata, tahu-tahu di sebelah sana tongkat bambu Toan Yan-king sudah patah menjadi beberapa potong dan Ting-lokoay kelabakan mengebaskan lengan bajunya melindungi kepalanya dari hamburan tongkat patah itu.

Maka terbahaklah Buyung Hok dan menyambung ucapannya, “Tapi jangan khawatir, si jahat yang sudah kelewat takarannya itu hari ini belum tiba ajalnya!”

Meski tadi sudah dua kali Toan Ki menyerang dan membikin jeri Sing-siok Lokoay dengan Lak-meh-sin-kiam, tapi dalam hal ilmu silat pada hakikatnya ia masih hijau pelonco. Maka demi mendengar ucapan Buyung Hok itu, ia pun tahu pertarungan Toan Yan-king melawan Ting-lokoay itu dalam waktu singkat takkan bisa ditentukan kalah dan menang, kesempatan ini sebaiknya digunakannya untuk pergi saja.

Maka ia lantas berkata, “Buyung-heng, aku akan pergi saja!”

“Aku pun ada urusan lain, marilah kita pergi bersama,” sahut Buyung Hok.

Lalu mereka putar tubuh dan tinggal pergi. Sesudah beberapa li jauhnya, tiba-tiba dari depan tertampak dua orang sedang lari datang secepat terbang. Terang yang seorang adalah It-tin-hong Hong Po-ok dan yang lain adalah Pau Put-tong.

Begitu melihat Buyung Hok segera mereka berhenti dan menghadapnya dengan sikap sangat menghormat.

“Ada apa?” tanya Buyung Hok.

Dengan gosok-gosok kepalan Hong Po-ok menjawab, “Tadi kami melihat bocah berkepala besi itu sedang berlari ke sana sambil mengempit seorang gadis cilik dan kami sedang memburunya.”

“Di sana tiada orang,” kata Buyung Hok.

Muka Po-ok tampak merah jengah, sahutnya, “Bocah berkepala besi itu terlalu cepat larinya, kami tidak mampu menyusulnya.”

Tatkala Buyung Hok bicara dengan Hong Po-ok, diam-diam Toan Ki mundur dua-tiga langkah ke belakang. Waktu ia perhatikan Buyung Hok, ia lihat sikapnya gagah, tutur katanya agung berwibawa.

Tiba-tiba Toan Ki merasa rendah diri dan tidak dapat membandinginya. Pikirnya, “Hong Po-ok dan Pau Put-tong sudah datang, sebentar nona Ong tentu juga akan menyusul tiba. Dalam pandangan nona Ong hakikatnya tiada manusia seperti aku sini, kalau piaukonya tidak ada mungkin dia masih sudi bicara denganku, tapi sekarang piaukonya sudah diketemukan, dalam matanya hanya terpandang piaukonya seorang, apa gunanya aku tinggal di sini untuk menyaksikan mereka bermesra-mesraan?”

Jilid 56
Begitulah makin dipikir makin pedih perasaan Toan Ki, akhirnya ia berjalan ke depan dengan menunduk seperti orang linglung, dalam hati terpikir pula olehnya, “Ya, asalkan nona Ong merasa senang dan bahagia, apa artinya kalau aku berkorban baginya?”

Melihat Toan Ki mendadak pergi sendiri, cepat Buyung Hok berseru, “Toan-heng, kita baru berkenalan dan belum lagi bicara, mengapa terburu-buru hendak pergi?”

Tapi Toan Ki sendiri sedang melamun, sama sekali ia tidak dengar seruan Buyung Hok itu dan tetap berjalan ke depan dengan kepala menunduk.

Sesudah berseru pula beberapa kali dan tetap tidak dijawab Toan Ki, akhirnya Buyung Hok cuma menghela napas gegetun saja.

“Kongcu, biar kutangkap dia kembali!” teriak Po-ok.

“Jangan main kasar,” cepat Buyung Hok mencegahnya. “Dia adalah Toan-kongcu dari Tayli, lain kali kalau kalian ketemu dia lagi kalian harus menghormatinya seperti kalian menghormati aku.”

Po-ok cuma saling pandang saja dengan Pau Put-tong dan tidak bersuara.

Lalu Buyung Hok berkata pula, “Nona cilik yang ditolong bocah kepala besi itu adalah murid Ting Jun-jiu, urusan yang tiada sangkut pautnya dengan kita jangan kalian ikut campur lagi.”

Tiba-tiba Hong Po-ok mengedipi Pau Put-tong lalu katanya kepada Buyung Hok, “Kongcu, nona Ong sedang menantikan engkau di sana, apa engkau takkan menemuinya?”

Buyung Hok hanya tersenyum tawar saja, katanya, “Kalian masih ingin menguber si bocah kepala besi itu, bukan?”

“Ini... ini....” sahut Po-ok dengan gelagapan.

“Segala apa masakah mampu membohongi Kongcu? Sudahlah katakan terus terang saja!” seru Pau Put-tong.

Maka dengan tertawa kikuk Po-ok bertutur, “Kami masing-masing pernah dihantam sekali oleh Thi-thau-siaucu (bocah kepala besi) itu dan sangat menderita untuk beberapa hari lamanya, sampai sekarang kami masih sangat penasaran, betapa pun kami ingin menanggalkan kerudung besinya itu untuk melihat bagaimana sebenarnya tampang asli bocah itu.”

Buyung Hok berpikir sejenak sambil menengadah, katanya kemudian, “Tapi ilmu silat orang berkepala besi itu sangat aneh, kalian harus hati-hati!”

“Tahu, Kongcu!” sahut Po-ok sambil tepuk tangan, sekali melompat segera ia lari secepat terbang ke depan disusul oleh Pau Put-tong.

Waktu Buyung Hok menoleh, ia lihat Toan Ki sudah agak jauh, untuk menyusulnya tentu dapat, tapi tadi Toan Ki sudah tidak mau menjawab teriakannya, dengan sendirinya ia pun tidak ingin menyusulnya lagi, hanya dalam hati ia agak menyesal.

Di lain pihak Hong Po-ok dan Pau Put-tong sedang menguber secepat terbang ke depan, sesudah tujuh atau delapan li jauhnya, tetap bayangan Thi-thau-jin (orang berkepala besi) itu tidak ditemukan.

Po-ok dan Put-tong berwatak sama, suka berkelahi dan senang cari perkara, kalau bisa biar terjadi “perang dunia” dan mereka akan dapat berkelahi sepuas-puasnya. Meski yang mereka kejar itu tidak diketemukan, tapi mereka masih terus menguber ke depan.

Mereka tidak tahu bahwa lari Yu Goan-ci secepat terbang itu mungkin sudah dua-tiga puluh li lebih jauh di depan mereka.

Sesudah membawa lari A Ci tanpa memikirkan keganasan Ting-lokoay, Goan-ci terus berlari kesetanan ke depan, betapa cepat larinya itu sampai dia sendiri tidak percaya. Yang terpikir olehnya hanya sejauh mungkin meninggalkan Ting-lokoay agar A Ci dapat diselamatkan, pikiran lain tidak ada. Tapi sesudah berpuluh li jauhnya berlari, ketika terbayang olehnya betapa ganas dan kejamnya Ting Jun-jiu, mulailah ia merasa takut. Bukannya ia takut diri sendiri akan dihajar atau dibunuh sekalipun oleh Ting Jun-jiu, ia takut bila Sing-siok Lokoay mengalihkan rasa murkanya kepada A Ci dan menyiksa anak dara itu dengan berlipat ganda lebih kejam.

Dalam takutnya itu tanpa terasa ia menoleh ke belakang untuk melihat apakah Lokoay mengejarnya atau tidak. Tapi sekali ia menoleh, seketika kaki terasa lemas. Sebab sama sekali tak terduga olehnya bahwa larinya bisa sedemikian cepatnya bagaikan terbang.

Dalam kagetnya itu, larinya jadi sedikit meleng, dan ketika ia berpaling ke depan lagi, wah, celaka, tahu-tahu ia sudah hampir menumbuk sebatang pohon besar yang di depannya.

Keruan ia kaget. Sekuatnya ia hendak mengerem, tapi biarpun “rem angin” pada saat itu juga sukar ditahan lagi.

Dalam seribu kali kelabakan Goan-ci masih sempat lemparkan A Ci ke samping dengan perlahan. Menyusul sambil tutup mata dan meringis kuda, terdengarlah suara “blang” yang keras, badannya tertumbuk dengan tepat pada batang pohon besar itu.

Goan-ci terus peluk erat-erat pohon yang ditumbuknya itu sehingga sekian lamanya batu dapat pulih semangatnya. Anehnya ia tidak terluka apa-apa, sebaiknya tiba-tiba daun pohon itu rontok berhamburan, hanya sekejap saja di tanah sekitar pohon itu sudah berlapiskan permadani daun pohon yang tebal.

Diam-diam Goan-ci heran, waktu itu bukan musim rontok, malahan daun pohon itu tadi masih kelihatan menghijau segar, mengapa mendadak bisa layu dan rontok semua?

Ia tidak tahu bahwa karena pelukannya itu, tanpa terasa ia telah salurkan hawa mahadingin dan maha beracun dalam tubuhnya kepada pohon itu sehingga pohon itu mati beku dan kering.

Waktu Goan-ci menoleh pula, ia lihat A Ci sedang duduk di tanah dan lagi menangis tersedu-sedan sambil menutupi mukanya dengan tangan. Karena di sekitar situ sunyi senyap, maka Goan-ci dapat mendengar suara tangisan A Ci yang lirih itu dengan jelas.

Ketika ia turun tangan menolong A Ci, yang terpikir olehnya hanya menyelamatkan anak dara itu dari tangan jahat Ting Jun-jiu, sama sekali tak terpikir olehnya bagaimana urusan selanjutnya atas diri anak dara itu. Sekarang melihat A Ci menangis tersedu-sedan maka bingunglah Goan-ci.

Sesudah ragu-ragu sebentar akhirnya mendekati A Ci dan memanggilnya dengan kikuk, “No... nona....”

Mendadak A Ci berdiri, “plak” kontan ia hantam sekali hingga tepat mengenai dada Goan-ci.

“Kenapa kau selamatkan aku?” teriaknya melengking.

Karena tidak menyangka, Goan-ci hampir jatuh kena genjotan itu. Cepat ia menjawab, “Kalau... kalau aku tidak turun tangan, tentu... tentu waktu itu nona akan... akan menderita hebat.”

“Peduli apa denganmu jika aku menderita?” semprot A Ci.

Goan-ci jadi gelagapan, untuk sejenak ia tertegun kemudian baru berkata, “Nona, maksudku supaya engkau terhindar dari derita dan tiada... tiada maksud jahat. Jika engkau menyalahkan aku dan tidak senang, ai, tahu begitu, tentu... tentu aku tidak perlu ikut campur urusan ini.”

“Sudah tentu aku tidak senang,” kata A Ci sambil menangis. “Bila mendadak kedua matamu buta, apakah kau akan senang?”

“Jika kedua mata nona dapat melihat kembali biarpun aku yang harus buta juga aku suka dan rela,” sahut Goan-ci dengan tersenyum getir.

A Ci termangu-mangu sejenak dan perlahan berhenti menangis. Lalu ia tanya, “Siapakah kau?”

Perasaan Goan-ci seakan dihantam sekali dengan keras oleh pertanyaan itu.

Maklum, ia menghormati A Ci, memuja A Ci meski anak dara itu tiada di dampingnya juga senantiasa ia terkenang padanya. Dahulu ia dianggap sebagai “badut besi” oleh anak dara itu dan hampir setiap hari berkumpul, sekarang sesudah berhadapan, paling tidak ia berharap suaranya akan segera dikenal anak dara itu, siapa duga A Ci bertanya malah, hal ini menandakan sudah lama bayangan “si badut besi” terhapus dalam ingatan anak dara itu.

“Ya, memang. Sebagai seorang tuan putri yang dihormati di Lamkhia, sudah tentu A Ci banyak mempunyai permainan yang serbabaru, hilang seorang badut besi, dengan sendirinya masih banyak badut-badut lainnya yang serbabaru dan serbalucu yang dapat menyenangkan hatinya. Maka rupa “si badut besi” memang sudah lama dilupakannya sama sekali.”

Apalagi waktu Goan-ci menyelamatkannya dari tangan jahat Ting Jun-jiu, yang terpikir oleh A Ci adalah penolongnya itu pasti seorang terkemuka dari dunia persilatan, betapa pun tidak terpikir olehnya akan diri Goan-ci.

Begitulah selagi Goan-ci termangu-mangu tak bisa menjawab, tiba-tiba A Ci tanya pula, “Apakah engkau ini Buyung-kongcu?”

“Buyung-kongcu?” Goan-ci mengulangi nama itu. Seketika di depan matanya terbayang potongan Buyung Hok yang gagah dan cakap itu, biarpun ia tidak memakai topeng besi yang sialan itu juga pasti bukan apa-apa kalau dibandingkan Buyung Hok, apalagi sekarang ia memakai kerudung besi sehingga lebih mirip setan daripada manusia.

Seketika merasa diri sendiri sangat rendah dan jelek, maka dengan suara lirih ia menjawab, “O, bu... bukan, aku bukan Buyung-kongcu.”

Tertampak A Ci miringkan kepala dan berpikir sejenak, lalu berkata pula, “Dari suaramu, agaknya usiamu belum seberapa tua, apakah engkau ini kawan Buyung-kongcu?”

Kiranya kesan A Ci terhadap Buyung Hok sangat mendalam, sekarang meski kedua matanya sudah buta, ia sangka penolongnya itu pasti juga seorang muda yang lemah lembut, ganteng dan cakap, sebab itulah ia tanya Goan-ci apakah kawan Buyung-kongcu.

Melihat sikap A Ci sekarang telah berubah agak riang, Goan-ci lantas menuruti haluan anak dara itu, jawabnya, “Ya, kami memang saling kenal.”

Perlahan A Ci mendongak, lalu katanya, “Jika demikian, tentu... tentu kau pun sama cakapnya seperti Buyung-kongcu?” habis mengeluarkan kata-kata itu, wajahnya yang pucat itu bersemu merah.

Sejak tadi A Ci memejamkan kedua matanya pula sudah mengusap bersih darahnya tadi, maka sekilas pandang takkan ketahuan bila dia gadis buta. Kini pipinya bersemu kemerah-merahan, tampaknya menjadi tambah ayu.

Goan-ci sampai terkesima memandangi gadis cantik itu dan tidak dapat membuka suara.

Selang sejenak, kembali A Ci tanya, “Apa yang sedang kau lakukan?”

“Aku... aku sedang memandangimu,” sahut Goan-ci.

“Memandang aku? Mengapa memandang aku?” tanya A Ci.

“Engkau sangat cantik, aku tidak bermaksud apa-apa melainkan ingin memandangmu saja,” sahut Goan-ci.

Merah muka A Ci semakin merata, katanya pula, “Kau... kau bilang aku cantik?”

Goan-ci menghela napas, sahutnya, “Ya, belum pernah kulihat seorang nona yang lebih cantik daripadamu.”

Sesudah kedua matanya dibutakan Ting Jun-jiu, sebenarnya perasaan A Ci sangat tertekan. Cuma saja ia adalah murid Sing-siok-pay, sudah sering dilihatnya segala macam dan cara siksaan keji. Kalau dibandingkan dosanya yang mencuri kitab pusaka gurunya dan cuma dihukum membutakan mata oleh Sing-siok Lokoay, maka hukuman yang diterimanya itu boleh dikatakan terlalu ringan, sebab itulah ia berduka karena matanya buta, tapi tidak begitu berduka sebagai orang biasa yang mendadak menjadi buta.

Sekarang dalam khayalnya ia kira penolongnya itu adalah seorang pemuda ganteng dan tinggi pula ilmu silatnya, sekali hatinya sudah timbul rasa senang, ditambah lagi pujian Goan-ci tadi, keruan ia tambah gembira, hati pun berdebar-debar juga.

Selamanya tiada orang pernah memerhatikan apakah dia cantik atau jelek, dalam perguruan ia cuma dianggap anak kecil oleh para suhengnya, begitu pula Siau Hong memandangnya sebagai anak dara yang nakal, hanya dahulu Goan-ci pernah memuji kecantikannya. Tapi kedudukan Goan-ci terlalu rendah, pujian itu tidak lebih dianggapnya sebagai pujian seorang hamba kepada junjungannya.

Sekarang A Ci tidak tahu siapakah sebenarnya penolongnya itu, sama-sama pujian dan sama pula orangnya, namun reaksi yang timbul dari perasaan A Ci sekarang jauh berbeda daripada dahulu. Saking senangnya sampai sekian lamanya ia tidak sanggup bersuara.

Agak lama kemudian barulah ia berkata pula, “Kau bilang aku cantik, engkau mengatakan selamanya tidak pernah melihat seorang nona lain yang lebih cantik daripadaku?”

“Ya,” jawab Goan-ci.

“Bukankah engkau cuma... cuma sengaja hendak membikin senang hatiku saja?”

“Tidak, aku... aku berkata dengan sungguh-sungguh. Jika aku mempunyai pikiran palsu dan maksud jahat, biarlah aku mati tak terkubur.”

Betapa hormat dan agungnya A Ci bagi Goan-ci, sudah tentu ucapannya itu dikeluarkan dengan nada setulus hati. Namun pada waktu mengucapkan kata-kata “pikiran” dan “maksud” itu, mau-tidak-mau ia merasa ucapannya itu telah menodai A Ci.

Kembali A Ci termangu-mangu dengan muka muram, katanya kemudian, “Tapi kukira engkau berdusta. Aku... aku sudah buta, andaikan cantik juga terbatas, ya, kecuali... kecuali kaum wanita di dunia ini sudah buta semua barulah aku akan terhitung orang yang paling cantik.”

Goan-ci merasa merinding oleh kata-kata anak dara itu. Sudah tentu di dunia ini tiada seorang pun yang berkuasa membutakan mata seluruh kaum wanita di dunia ini. Tapi ia kenal sifat A Ci, jika anak dara itu mempunyai kemampuan itu, pasti tanpa ragu ia akan berbuat seperti apa yang dikehendaki itu.

Maka cepat ia berkata, “Nona, meski kedua matamu sudah buta, tapi engkau tetap sama cantiknya, hendaknya jangan kau pikir yang tidak-tidak.”

A Ci terdiam.

Maka Goan-ci berkata pula, “Nona, sebelum diriku tentu sudah pernah ada orang memuji akan kecantikanmu.”

A Ci berpikir sejenak, lalu menjawab, “Ya, ada seorang juga pernah mengatakan aku cantik.”

Hati Goan-ci mendebar keras katanya, “Nona, siapakah orang itu?”

Mendadak A Ci tertawa, katanya, “Jika kau lihat orang itu, tentu kau pun akan tertawa terpingkal-pingkal. Dia adalah seorang bocah dungu, aku telah kerudungi dia dengan sebuah topeng besi dan kuberi sebuah nama padanya, yaitu si badut besi. Sungguh lucu rupanya, aku sering menggoda dia sebagai binatang hiburan seperti kucing kesayanganku itu.”

Sebenarnya Goan-ci sengaja memancing A Ci agar membicarakan dirinya untuk menjajaki bagaimana kesan anak dara itu terhadapnya, dengan demikian bila perlu ia dapat bicara terus terang siapa dirinya. Sekarang ternyata A Ci menganggapnya tidak lebih hanya seperti seekor kucing piaraannya saja, keruan kepalanya seperti diguyur air dingin, ia pikir kalau sekarang dia mengaku siapa dirinya, tentu anak dara itu akan sangat kecewa. Maka ia cuma menghela napas panjang saja.

A Ci merasa heran, ia tanya, “Kenapa engkau menghela napas?”

“O, tidak!” sahut Goan-ci gugup. “Kupikir orang... orang itu harus dikasihani!”

“Dia sudah mati,” kata A Ci. “Kalau tidak, tentu aku akan mengelotoki topeng besinya yang sudah melengket dengan mukanya itu, dan tentu akan sangat menarik sekali kelihatannya.”

Kembali Goan-ci merinding mendengar kata-kata itu, tanpa terasa ia mundur setindak, ia meraba kerudung besi di atas kepalanya sendiri. Kerudung itu sudah lengket dengan kulit dagingnya, kalau dibeset mentah-mentah, bukan saja sangat membahayakan jiwanya, yang terang ia pasti akan kesakitan setengah mati lebih dulu.

Goan-ci merasa tidak pernah berbuat salah terhadap A Ci, dahulu malah banyak disiksa olehnya mengapa sampai sekarang dirinya masih belum terhindar dari ancaman anak dara ini? Tapi selama beberapa tahun ini ia sudah kenyang menderita, sudah biasa difitnah dan disiksa orang, maka ia cuma berpikir sejenak lalu menjawab menuruti haluan A Ci, “Ya, kukira pasti sangat menyenangkan!”

A Ci bertambah gembira, mendadak tangannya bergerak dan kebetulan lengan Goan-ci terpegang, katanya, “Kukira engkau serupa dengan aku, juga suka kepada permainan yang aneh-aneh itu.”

Karena lengannya dipegang A Ci, badan Goan-ci menjadi agak gemetar, dan karena itu suaranya menjadi terputus-putus, jawabnya, “Thi-thau-jin... Thi-thau-jin itu....”

“Thi-thau-jin itu kenapa!” A Ci menegas.

“Mestinya kau suruh Thi-thau-jin itu memasukkan kepalanya ke dalam mulut binatang buas sebangsa singa atau harimau, coba apakah gigi binatang buas itu sanggup tidak menggigit kepala besinya itu,” kata Goan-ci.

“Hah, ternyata pikiranmu sama seperti aku,” seru A Ci sambil bertepuk tangan dan tertawa. “Aku justru sudah pernah mencobanya, sudah pernah kusuruh dia masukkan kepalanya ke mulut singa, tapi tidak cedera!”

Saking senangnya sehingga waktu bicara tangan A Ci ikut bergerak-gerak dan tanpa sengaja jarinya menyenggol topeng besi Goan-ci dan mengeluarkan suara “cring” yang nyaring perlahan, keruan Goan-ci kaget dan cepat melompat mundur.

“He, tanganku menyentuh apa barusan ini?” tanya A Ci.

“O, ini, hou-sim-kia (kaca pelindung dada) pada bajuku ini,” cepat Goan-ci berdusta.

“Wah, itu tentu sebuah benda mestika yang tiada taranya,” puji A Ci sambil manggut-manggut.

Karena tahu asal-usul dirinya tidak mungkin dikatakan terus terang lagi, maka Goan-ci sengaja membual sekalian, katanya, “Ya, memang benda ini gemblengan dari besi meteor yang diketemukan di puncak Thian-san, tidak mempan senjata dan dapat menolak segala bahaya.”

“Wah, hebat benar!” demikian kelihatan sekali A Ci sangat kagum. “Sebenarnya siapakah namamu?”

“Aku she Ong bernama Sing-thian,” sahut Goan-ci mengada-ada.

Tapi A Ci percaya saja, tanyanya pula, “Dan ilmu silatmu dari aliran manakah?”

“Tentang asal-usul ilmu silatku ini sungguh luar biasa, yaitu berasal dari warisan Tat-mo Cosu, namanya....” demikian Goan-ci sengaja membesar-besarkan dirinya. Ia pikir jika senantiasa dapat berada bersama dengan A Ci, tentu hidupnya akan sangat gembira, maka ia menyambung, “... namanya Kek-lok-pay, dan aku... aku adalah Ciangbunjin dari Kek-lok-pay (golongan paling gembira).”

Tentu saja A Ci bertambah tertarik, katanya, “Usiamu masih muda, tapi ternyata sudah menjadi ketua sesuatu aliran persilatan yang besar, pantas dengan gampang saja dapat kau selamatkan aku dari tangan jahat Ting Jun-jiu.”

Padahal waktu Goan-ci menolong A Ci tadi, sesungguhnya adalah tindakan yang tidak pernah direncanakan sebelumnya. Coba kalau sekarang dia teringat pada perbuatan itu, biarpun mati pun dia tidak berani lagi. Karena itu dalam hati ia tersenyum getir atas pujian A Ci itu, tapi di mulut tetap ia berkata, “Ya, sudah tentu. Ting Jun-jiu itu terhitung manusia apa? Huh, semua orang takut padanya, hanya aku saja tidak takut!”

A Ci melangkah maju setindak, ia mendongak di hadapan Goan-ci. Maka terenduslah Goan-ci bau harum yang mendebar-debarkan jantungnya. Malahan anak dara itu lantas ulurkan tangannya dan perlahan meraba lengan Goan-ci dari atas ke bawah, lalu ia pegang telapak tangan Goan-ci.

Dengan menahan napas Goan-ci coba memandang tangan A Ci, ia lihat sebuah tangan yang putih bersih laksana salju dan halus sebagai sutra, seketika ia terkesima.

“Kenapa engkau tidak tanya namaku?” tanya A Ci tiba-tiba.

“O, ya, siapa namamu?” tanya Goan-ci dengan kaku.

“Aku she Toan, bernama A Ci.”

“A... A Ci!” untuk sejenak barulah Goan-ci dapat mengucapkan nama itu dengan suara lemah.

“Ya, aku... aku suka kau panggil namaku. Coba panggil lagi sekali!” pinta A Ci dengan berseri-seri.

Maka Goan-ci memanggilnya lagi, “A Ci!”

Selama ini Goan-ci menganggap A Ci seakan-akan bidadari dari kahyangan, sama sekali tak terpikir olehnya bahwa pada suatu hari ia dapat langsung menyebut nama A Ci, bahkan atas permintaan anak dara itu dengan segala senang hati, malahan dapat pegang-pegang tangannya pula.

Begitulah, maka tampak wajah A Ci yang berseri-seri itu tambah manis, katanya, “Apakah engkau sudi mendampingi aku?”

Hati Goan-ci tergetar hebat, sudah tentu seribu kali ia ingin berdampingan dengan A Ci. Tapi ia pun khawatir bila lama berada bersama dengan anak dara itu, jangan-jangan nanti akan ketahuan bahwa dirinya tak-lain-tak-bukan adalah “si badut besi” yang disangkanya sudah mati itu, kan urusan bisa runyam?

Topeng besi yang sebal itu tadi telah tersenggol jari A Ci dan hampir diketahui, ia pegang kerudung besi itu dan dibetot-betot sekuatnya, ia benar-benar ingin mencopot topi besi itu dari kepalanya.

Merasa Goan-ci mendadak melangkah mundur, hati A Ci menjadi pedih, katanya, “O, kiranya engkau tidak sudi berada bersamaku.”

“Tidak, ti... tidak!” cepat Goan-ci menjawab, “Aku... aku khawatir....”

“Khawatir apa?”

“Aku khawatir bila berada di sampingmu, mungkin aku... aku tak dapat membuatmu senang.”

“Salah besar sangkaanmu.” kata A Ci. “Justru kalau engkau berada di sampingku, maka pasti senanglah aku. Jika Sing-siok Lokoay tak mau mengampuni aku dan bila engkau tidak mengawaniku lalu bagaimana jadinya bila aku dipergoki dia?”

Walaupun tahu bahwa ucapan A Ci ini ditujukan kepada “Ong Sing-thian” dan bukan terhadap seorang Yu Goan-ci, tapi hatinya merasakan juga semacam kenikmatan yang sukar dilukiskan. Sejak keluarganya berantakan dan hidup merana penuh siksa derita sungguh mimpi pun Goan-ci tidak pernah menduga dia akan dapat merasakan kenikmatan batin seperti sekarang ini.

A Ci mendongak dan tanya pula, “Bagaimana, apa engkau sudi?”

“Ya, sudah tentu aku sudi cuma....”

“Aku melarang engkau berkata ‘cuma’ apa segala!” cepat A Ci memotongnya.

Sikap anak dara yang mengomel manja itu membuat hati Goan-ci bertambah terombang-ambing, katanya, “Ya, sudah, jika engkau tidak suka mendengarkan, biarlah tidak kukatakan.”

Maka tertawalah A Ci, katanya pula, “Sekarang bawalah aku ke tepi sungai dulu.”

“Ke tepi sungai?” Goan-ci menegas dengan heran.

“Ya, mukaku tentu sangat kotor, aku ingin cuci muka.”

“Meski mukamu masih ada sedikit noda darah tapi engkau tetap sangat manis dipandang.”

Kembali A Ci tertawa, tapi sekali ini tertawa yang memilukan.

Dengan gemetar Goan-ci mengulurkan tangannya, katanya, “Bo... boleh kau pegang tanganku biar kubawamu ke sana.”

A Ci lantas mengulurkan tangannya untuk memegang tangan Goan-ci.

Seketika badan Goan-ci seperti kena setrum dan gemetar. Sungguh mimpi pun tak terpikir olehnya bahwa pada suatu hari A Ci dapat mengulurkan tangan untuk memegang tangannya, dapat mengucapkan kata-kata sedemikian ramah kepadanya. Setindak demi setindak ia bawa A Ci ke depan, ia merasa seperti terbang di awang-awang, semangat serasa kabur.

Selang agak lama barulah A Ci tanya pula, “Apakah di sekitarmu sini tiada sungai kecil?”

Mendadak Goan-ci sadar dari lamunannya, ia dengar jauh di sana ada suara gemerciknya air, maka cepat jawabnya, “Ada, tampaknya di depan sana ada sebuah sungai.”

Benar juga, sesudah menyusur hutan, tertampaklah sebuah sungai kecil dengan airnya yang jernih sedang mengalir dengan tenangnya.

Sesudah membawa A Ci ke tepi sungai, lalu kata Goan-ci, “Nah, A Ci, sekarang engkau sudah berdiri di tepi sungai.”

A Ci berjongkok, ia rendam tangannya sejenak di dalam air sungai, lalu berkata, “Coba kau menyingkir dulu, kalau aku memanggilmu barulah boleh kau kembali ke sini.”

Goan-ci menjadi gugup karena anak dara itu menyuruhnya menyingkir, tanyanya, “Sebab apa?”

Tapi A Ci jadi marah-marah, katanya, “Aku menyuruhmu menyingkir dan kau harus segera menyingkir!”

Dasar sifat A Ci memang manja, ketika hidup dalam istana Lam-ih-tay-ong di Lamkhia ia sudah biasa berkuasa dan main perintah, maka tanpa terasa sifat tuan putrinya itu menonjol lagi.

Tapi sesudah berkata, segera ia ingat, “Wah, sekarang aku tidak boleh main perintah lagi, jika dia sampai marah dan aku ditinggalkan, lantas bagaimana?”

Karena itu, cepat ia berdiri dan berkata pula dengan suara halus, “Perasaanku sedang tertekan sehingga bicaraku agak kasar, harap engkau jangan marah padaku.”

Padahal dahulu Goan-ci sudah kenyang dihajar, dicambuk, dan disiksa oleh A Ci, untuk itu Goan-ci harus bersorak malah sekarang cuma didamprat saja hal ini boleh dikatakan kejadian yang terlalu biasa dan soal kecil.

Sama sekali tak terpikir olehnya bahwa sekarang A Ci berbalik minta maaf padanya dan mohon dia jangan marah. Saking gugupnya lantaran perbedaan yang mencolok itu, cepat Goan-ci menjawab, “Ah, ti... tidak. Asalkan engkau senang boleh kau bicara sesukamu kepadaku.”

Mendengar itu, diam-diam A Ci merasa heran juga. Ia tidak paham mengapa “Ong-kongcu” yang serbajempolan ini sedemikian baik hati dan suka mengalah padanya? Apakah dirinya memang sudah ditakdirkan mempunyai rezeki sebesar ini? Demikian pikir A Ci.

Karena senang, maka ia berkata pula, “Jika demikian, hendaknya menyingkir dulu. Tapi jangan mengintip, lho!”

“Namun... namun aku tetap khawatir bila meninggalkanmu,” kata Goan-ci sambil geleng kepala.

“Tidak apa-apa, lekas pergi!” ujar A Ci dengan tertawa.

Tapi Goan-ci masih merasa berat, setiap melangkah tentu menoleh satu kali. Akhirnya beberapa puluh tindak jauhnya, lalu ia berhenti.

Selang agak lama barulah terdengar suara A Ci yang merdu itu memanggilnya, “Ong-kongcu, di manakah engkau?”

Goan-ci memang sedang menunggu dengan tidak sabar lagi, demi mendengar seruan anak dara itu, terus saja ia melompat ke depan A Ci.

Noda darah di muka A Ci sekarang sudah tercuci bersih, pakaian lelaki yang semula juga sudah berganti dengan baju wanita yang sepan berwarna ungu. Kedua matanya setengah terpejam, wajah tersenyum manis menantikan datangnya “Ong-kongcu”.

Tapi mendadak Goan-ci terpatung di tempatnya, sepatah kata pun tak sanggup diucapkannya.

“Ong-kongcu, coba lihat, sekarang aku tidak sejelek tadi, bukan?” demikian A Ci berkata lagi.

Tetap Goan-ci tidak sanggup bersuara.

Mendadak air muka A Ci mengunjuk rasa cemas dan khawatir, serunya, “Ong-kongcu, apakah... apakah engkau tidak berada di sini?”

Dengan susah payah akhirnya Goan-ci menjawab satu kata tok, “Ada!”

“Kenapa engkau tidak menjawab pertanyaanku?” tegur A Ci.

“Aku... aku tidak tahu cara bagaimana harus bicara,” sahut Goan-ci tergegap.

A Ci melangkah maju dua tindak, mendadak tangan meraba ke atas dan tanpa sengaja menyenggol pula topeng besi Goan-ci.

Keruan Goan-ci kaget dan cepat menyurut mundur.

A Ci tertegun, tampaknya sangat heran, tanyanya kemudian, “Engkau... memakai topi apakah itu?”

Goan-ci sampai keluar keringat dingin, sahutnya dengan gugup, “O, tidak apa-apa, hanya... hanya topi biasa saja.”

“Aku seperti menyentuh sepotong besi?” ujar A Ci.

“O, bukan, bukan!” seru Goan-ci gugup sambil goyang tangan tanpa pikirkan apa A Ci dapat melihatnya atau tidak. “Ini hanya sepotong batu giok hiasan topiku.”

Sambil berkata, ia pun melangkah mundur terus, tiada hentinya ia berpikir, “Bila ingin berada bersama A Ci, maka sekali-kali tidak boleh A Ci mengetahui bahwa diriku adalah si badut besi alias Yu Goan-ci. Tapi kalau topeng besi ini tetap berada pada kepalaku, pada suatu hari akhirnya tentu juga akan diketahui anak dara itu, tatkala mana apakah ia masih akan sedemikian baiknya kepada diriku?”

Begitulah, maka sambil kedua tangan memegangi kerudung besi itu, dalam hati Goan-ci terus menjerit, “Aku harus lepaskan ini, harus lepaskan ini!”

Mendadak ia putar tubuh terus tinggal pergi.

Mendengar langkah orang, A Ci menjadi khawatir, teriaknya, “Ong-kongcu, apakah engkau hendak pergi? Hendak ke mana?”

Mendadak Goan-ci berhenti dan menjawab, “A Ci, tiba-tiba aku teringat kepada sesuatu urusan yang harus kuselesaikan. Hendaknya kau tunggu di sini, bila urusanku sudah beres, segera kukembali ke sini.”

Air muka A Ci berubah sedih, katanya, “Urusan apakah yang harus kau selesaikan, apa sangat penting?”

“Ya, sangat penting,” sahut Goan-ci dengan tersenyum getir. “Jika tidak kuselesaikan, maka... maka aku tidak dapat berada bersamamu lagi.”

Semula A Ci melengak oleh jawaban Goan-ci itu. Tapi segera terpikir olehnya, “Dia masih muda dan ganteng, sudah tentu ia mempunyai kekasih. Sekarang mendadak aku hendak ditinggalkan, boleh jadi dia hendak pergi menceraikan kekasihnya itu untuk kemudian datang kembali untuk berkumpul denganku.”

Berpikir demikian, A Ci menjadi gembira lagi, katanya, “Baiklah, aku akan menunggumu di sini, tapi jangan lama-lama, ya?”

Sebabnya Goan-ci hendak meninggalkan A Ci adalah karena bertekad akan menghilangkan kerudung besi yang membungkus kepalanya itu. Tapi kerudung itu sudah melengket dengan kulit dagingnya, untuk melepaskannya dengan paksa sudah tentu bukan soal mudah, bisa jadi jiwanya akan melayang sekalian. Dan kalau mati, tentu dia tak dapat kembali lagi untuk bertemu dengan A Ci.

Karena itu, Goan-ci menjadi tertegun di situ dan sulit menjawab. Sebaliknya A Ci sedang pikir ke jurusan lain, ia menduga “Ong-kongcu” yang ganteng itu tentu sangat banyak kekasihnya, kalau mesti menceraikan mereka satu per satu tentu juga akan banyak makan tempo. Maka katanya kemudian, “Ya, sudahlah, bolehlah kau pergi dan aku akan tetap menunggu di sini asal engkau pasti kembali ke sini.”

“Aku pasti akan kembali,” sahut Goan-ci.

“Ya, sudahlah, boleh berangkatlah!” kata A Ci sambil menghela napas perlahan.

Goan-ci mundur beberapa tindak, tiba-tiba ia berkata pula, “A Ci, kau sendirian....”

“Aku takkan pergi dari sini, rasanya takkan beralangan, asalkan engkau lekas pergi dan lekas kembali,” sahut A Ci.

Teringat bila nanti kerudung besi sudah dilepaskan, sedangkan mata A Ci sudah buta, tentu tidak dapat mengenali dirinya lagi, selanjutnya akan dapatlah berdampingan dengan anak dara pujaannya itu, hidup di dunia ini masakah ada yang lebih gembira dan bahagia daripada kejadian ini?

Segera Goan-ci putar tubuh dan berlari pergi secepat terbang, ia ingin pergi ke suatu kota dan cari seorang pandai besi untuk membuka topengnya itu secara paksa.

Tapi bila membayangkan betapa akibatnya kalau topeng itu dibeset mentah-mentah dari mukanya, mau tak mau ia sendiri pun merasa ngeri.

Namun demi hidup berdampingan selamanya dengan A Ci, agar anak dara itu percaya dia adalah Ciangbunjin dari Kek-lok-pay, ia harus berani “menyerempet bahaya”, betapa pun siksa derita harus berani dihadapinya. Karena itu, ia tidak gentar lagi, maju terus pantang mundur.

Ia berlari-lari beberapa li jauhnya, tapi sekitarnya adalah hutan belukar belaka, entah kota terletak di mana. Ia menjadi gelisah, ia lari ke atas sebuah bukit kecil dan memandang jauh sekitarnya. Ia lihat di arah timur laut sana ada mengepul asap cerobong dapur, ia pikir di sana tentu ada rumah penduduk, segera lari pula ke arah itu.

Tapi baru satu-dua li jauhnya, tiba-tiba terdengar suara teriakan seorang perempuan, “Ooi, Engkoh Jun-jiu yang tercinta! Lotoa bikin marah padamu, mengapa aku pun tidak digubris lagi olehmu?”

Suara itu sangat halus dan terputus-putus, tapi sangat jelas.

Goan-ci terkesiap, cepat ia menyusup dan sembunyi di tengah semak-semak rumput di tepi jalan, diam-diam ia mengeluh mengapa dunia sesempit ini, di mana-mana selalu kepergok Sing-siok Lokoay.

Maka terdengar Ting Jun-jiu sedang membentak dengan gusar, “Pergi sana, pergi!”

Dari suaranya jelas orangnya sudah sangat dekat dengan tempat sembunyi Goan-ci itu. Keruan Goan-ci tambah takut, sampai bernapas pun tidak berani keras-keras.

Waktu ia mengintip, ia lihat lengan baju Ting Jun-jiu robek sebagian, mukanya merah padam dan sedang berlari ke arahnya, di belakang iblis tua itu menyusul Yap Ji-nio yang genit.

Melihat muka Ting Jun-jiu yang bengis itu saking takutnya sampai Goan-ci memejamkan mata. Ia berharap iblis itu terus lari lewat ke sana dengan demikian tempat sembunyinya itu tidak sampai diketahui.

Ia tidak tahu bahwa sesudah tubuhnya penuh dengan racun dingin peng-jan (ulat sutra es), maka unsur racun yang bersemayam dalam tubuhnya jauh lebih jahat daripada badan Ting Jun-jiu, jadi Goan-ci sesungguhnya sudah berubah menjadi “manusia berbisa.”

Selama hidup Ting Jun-jiu suka berkutatan dengan makhluk-makhluk berbisa, biarpun di semak rumput hanya bersembunyi seekor ular berbisa, bila dia melayang lewat juga dapat diketahuinya, apalagi Goan-ci yang badannya penuh racun ulat sutra es yang mahalihai?

Maka ketika Ting Jun-jiu mendekat dengan tempat sembunyi Goan-ci itu, mendadak ia berhenti, air mukanya menampilkan rasa curiga dan ragu.

Ting Jun-jiu tidak tahu yang sembunyi dalam semak-semak rumput itu adalah Yu Goan-ci, ia cuma merasa ada sesuatu makhluk yang mahadingin dan maha berbisa berada di tempat dekat situ. Ia pun khawatir makhluk maha berbisa itu terkejut dan lari, juga khawatir karena Pek-giok-giok-ting tidak dibawanya sehingga sulit untuk menangkap makhluk maha berbisa itu. Lantaran itulah, maka ia menjadi ragu dan tertegun di tempat.

Karena untuk sekian lamanya tiada terdengar sesuatu suara, Goan-ci lantas membuka matanya, ia lihat jarak Sing-siok Lokoay dengan tempat sembunyinya cuma empat-lima meter jauhnya, keruan ia ketakutan dan gemetar. Dan celaka, karena gemetarnya sehingga rumput di sekitarnya ikut berkeresekan.

Sebaliknya Ting Jun-jiu juga kaget, ia menyangka makhluk maha berbisa itu tentu sangat besar maka ia pun tidak berani sembarangan bertindak.

Melihat Ting Jun-jiu mendadak berhenti, maka Yap Ji-nio ikut berhenti, katanya, “Engkoh Jun-jiu apakah engkau mau rujuk kembali denganku? Ai, dasar tidak punya perasaan, tidak ingat bahwa orang siang-malam senantiasa merindukan dikau!”

Ting Jun-jiu sama sekali tidak menoleh, hanya sinar matanya memandangi ke semak rumput dengan tajam. Selang sejenak mendadak jarinya menyelentik tiga kali, tiga butir obat sebesar gundu berwarna kuning muda terus menyambar ke tengah semak rumput itu.

Melihat tindakan Ting Jun-jiu, air muka Yap Ji-nio berubah, mestinya hendak bicara menjadi urung, lekas ia mundur ke belakang.

Hal itu dapat dilihat Goan-ci dengan jelas, meski ia tidak kenal benda apakah ketiga butir gundu warna kuning itu, tapi ia menduga pasti benda yang sangat berbisa.

Ia menjadi takut dan karena itu badan semakin gemetar. Kebetulan juga, waktu ketiga butir gundu kuning yang diselentikkan Ting Jun-jiu itu jatuh ke bawah, sebutir di antaranya tepat mengenai kepala besi Goan-ci. “Blang”, mendadak gundu itu meletus dan menghamburkan kabut kuning, segera terendus pula bau yang aneh, tapi Goan-ci sendiri tidak merasakan apa-apa.

Sedang gundu yang lain jatuh di sampingnya dan juga meledak, kabut kuning lantas menjalar memenuhi tanah, di mana kabut itu menyambar, segera tetumbuhan yang tadinya menghijau segar itu menjadi layu dan kering.

Selagi Goan-ci merasa bingung sementara itu gundu ketiga telah jatuh tepat di punggung tangannya. Dengan kaget ia kebaskan tangannya, tapi gundu itu sudah keburu pecah, tiba-tiba ia merasa punggung tangan dingin segar, selain itu tiada terasa apa-apa.

Karena itu barulah ia merasa lega. Ia coba mengintip ke sana, ia lihat wajah Ting Jun-jiu tampak merasa kaget dan khawatir.

Dalam pada itu terdengar Yap Ji-nio juga berkata dengan terperanjat, “He, Engkoh Jun-jiu, makhluk aneh apakah yang berada di tengah semak-semak rumput itu? Beruntun kau timpuk tiga butir ‘Hoa-kut-wan’ (pil pemunah tulang), kenapa hasilnya nihil?”

Jun-jiu menoleh dan melototi Yap Ji-nio, semprotnya, “Maksudmu Hoa-kut-wan ini kurang lihai?”

“Eh, Engkoh Jun-jiu, jangan main-main,” sahut Ji-nio sambil mundur lagi beberapa tindak. Ia khawatir jangan-jangan dirinya akan dibuat percobaan dengan gundu berbisa si iblis.

Padahal Ting Jun-jiu sendiri juga sedang heran dan ragu karena ketiga butir Hoa-kut-wan yang ditimpukkan tadi tidak membawa hasil apa-apa. Padahal kabut kuning yang dihamburkan gundu Hoa-kut-wan itu sangat jahat, kalau kena badan orang rasanya seperti dibakar, baik binatang maupun manusia pasti tidak tahan.

Sama sekali tak terduga olehnya bahwa dia justru kebentur Yu Goan-ci yang badannya penuh terisi unsur racun dingin dari ulat sutra es, biarpun makhluk berbisa paling lihai di dunia ini juga tidak dapat mengapa-apakan dia sekarang.

Ting Jun-jiu tidak berani sembarangan menyingkap semak rumput itu untuk memeriksa, sebaliknya ia malah mundur lagi dua langkah. Lalu tangannya bergerak pula, dari dalam lengan baju lantas melayang keluar dua titik api hijau dan terbang ke depan dari kanan dan kiri.

Berulang-ulang Ting Jun-jiu menjentik pula sehingga kedua titik bunga api itu mendadak menyala menjadi dua gumpal api unggun dan jatuh ke tanah, api yang berkobar itu terus menjalar ke depan, lalu kedua ujung api saling sambung menjadi satu hingga berwujud sebuah lingkaran api seluas beberapa meter.

Meski api yang berkobar itu tidak terlalu hebat, namun dalam sekejap saja lingkaran api itu menjadi sangat sempit.

“Hebat benar ilmu ‘Tok-yap-sau-heng’ (api berbisa mencari jejak) yang kau semburkan ini, sungguh banyak menambah pengalamanku, Engkoh Jun-jiu,” demikian Yap Ji-nio memuji dari jauh.

Ting Jun-jiu tampak berseri-seri, sahutnya, “Ya, biarpun makhluk yang sembunyi di semak rumput itu betapa bandelnya, jika apiku sudah membakar, akhirnya dia pasti akan menjadi abu.”

Di lain pihak Goan-ci menjadi ketakutan, karena terkepung di tengah api dan lingkaran api itu makin lama makin sempit, demi mendengar ucapan Ting Jun-jiu itu, ia tambah takut hingga giginya gemertukan.

Suara kertukan gigi itu segera didengar oleh Sing-siok Lokoay dan dikenali adalah suara manusia, segera ia membentak, “Siapa itu? Tidak lekas keluar?!”

Goan-ci pikir urusan sudah begini, untuk sembunyi lagi terang tidak dapat, malah sebentar lagi bisa mati konyol terbakar menjadi abu, bahkan A Ci yang sedang menunggu-nunggu kembalinya itu tentu akan sia-sia.

Maka terpaksa ia berdiri dan berseru dengan ketakutan, “Suhu, akulah yang sembunyi di sini, harap engkau jangan gusar, aku....”

Girang dan kejut pula Ting-lokoay demi melihat yang muncul itu adalah Goan-ci. Cepat ia membentak pula, “Di mana A Ci?”

“Dia... dia entah sudah lari ke mana?” sahut Goan-ci.

Tiba-tiba Ting-lokoay menghantam ke depan, tenaga pukulannya membikin Goan-ci terpental dari lingkaran api yang sementara itu sudah menyempit itu. Sesaat kemudian, mendadak api menjulang tinggi ke atas, lalu menyurut kembali dan sebentar lagi lantas padam.

Segera Jun-jiu membentak Goan-ci, “Mestinya akan kubiarkan kau terbakar menjadi abu, sekarang aku mengampuni jiwamu, kenapa kau tidak lekas menyembah dan berterima kasih?”

Dengan ketakutan Goan-ci berlutut dan menyembah, katanya, “Ya, banyak terima kasih atas budi kebaikan Suhu.”

Pada saat Goan-ci berlutut itulah, sekonyong-konyong Ting Jun-jiu sambar pergelangan tangan Goan-ci dan dipegang erat-erat.

Keruan Goan-ci kaget, serunya, “Suhu, ken... kenapa....”

Sebenarnya tidak nanti Goan-ci berani meronta atau melawan, tapi karena dipegang secara mendadak, dalam kagetnya dengan sendirinya ia pun hendak menarik kembali tangannya. Karena itu suatu arus hawa murni terus menerjang ke arah urat nadi pergelangan tangan yang terpencet itu.

Kontan Ting Jun-jiu merasa tangannya kedinginan, seperti ada arus racun meresap ke tubuhnya. Sungguh kagetnya bukan buatan, lekas ia lepas tangan dan melangkah mundur.

Sebaliknya saking ketakutan kedua kaki Goan-ci menjadi lemas dan kembali ia menyembah-nyembah lagi.

Pada waktu pertama kalinya bertemu dengan Goan-ci memang Ting Jun-jiu sudah merasa dalam tubuh pemuda itu mengeram unsur racun yang jauh lebih hebat dan lebih kuat daripada dirinya.

Apalagi ia habis bertempur dengan Buyung Hok dan Toan Yan-king, banyak tenaganya terbuang tatkala menggunakan “Hoa-kang-tay-hoat”, maka sekarang unsur racun dalam tubuhnya menjadi lebih lemah daripada Goan-ci. Dan sebabnya dia lantas lepas tangan sebenarnya juga lantaran dia merasa takut.

Kini melihat Goan-ci berulang menyembah dan minta ampun, walaupun dalam hati Ting-lokoay sendiri sangat jeri, namun sedikit pun ia tidak perlihatkan perasaannya itu, tiba-tiba ia melangkah maju, bentaknya, “Waktu kau angkat guru padaku kau telah bersumpah setia, tapi sekarang kau berani mendurhakai guru dan membawa lari sumoay sendiri, sekarang kau berani minta ampun padaku?”

Goan-ci tidak menjawab melainkan terus menyembah.

“Baiklah, boleh juga jiwamu kuampuni, tapi selanjutnya kau harus betul-betul setia, tidak boleh main gila lagi,” kata Lokoay.

“Terima kasih, Suhu, Tecu pasti tidak berani lagi,” sahut Goan-ci.

“Nah, sekarang katakan, di mana A Ci?” tanya Jun-jiu.

Jika tanya urusan lain, tentu Goan-ci akan menjawab terus terang. Tapi yang ditanya sekarang adalah di mana beradanya A Ci, sudah tentu ia tidak mau mengaku. Maka ia hanya menunduk sambil berlutut saja dan tidak bersuara.

Ting Jun-jiu menjadi gusar, bentaknya, “Baru saja kau minta ampun, tapi sekarang sudah tidak menurut padaku lagi?”

Mendadak ia angkat sebelah kaki dan menginjak di atas kepala besi Goan-ci sehingga menempel tanah.

Walaupun demikian, tetap Goan-ci tidak mau menjawab.

Yap Ji-nio mengikuti semua kejadian ini, ia lihat api berbisa yang dibakar oleh Ting-lokoay itu tidak mendapatkan sesuatu makhluk berbisa apa-apa, sebaliknya muncul seorang Thi-thau-jin (orang berkepala besi) yang aneh, maka ia pun sangat terkejut.

Ketika dilihatnya Goan-ci berlutut dan menyembah minta ampun kepada Sing-siok Lokoay, segera ia pun melangkah maju, katanya, “Engkoh Jun-jiu, sejak kapan kau menerima murid berkepala besi ini?”

Ting-lokoay hanya berdehem dan tidak gubris padanya.

Saat itu Yap Ji-nio sudah di depan Goan-ci, dengan heran ia menjentik di kerudung besi itu sehingga mengeluarkan suara “plak-plok” dua kali.

Memangnya pinggang Goan-ci sudah pegal karena kepalanya diinjak. Sekarang diselentik oleh Yap Ji-nio, keruan kepala terasa sakit dan mata berkunang-kunang, tanpa kuasa lagi hawa murni lantas bergolak.

Yap Ji-nio kembali ulur tangan untuk meraba kepala besi Goan-ci yang dianggapnya lucu itu.

Tak tersangka olehnya saat itu di atas kerudung besi itu penuh dengan hawa murni yang mahadingin sehingga membeku selapis es yang tipis.

Maka begitu tangan Yap Ji-nio menyentuhnya, seketika ia merasa dingin tak terhingga dan cepat menarik kembali tangannya. Namun sedikit terlambat, “cret”, kulit di telapak tangan sobek sebagian terlengket di kerudung besi itu.

Karena kesakitan Yap Ji-nio menjadi murka, bentaknya, “Thi-thau-siaucu, kau main sihir apa?” menyusul tangannya menabok dari samping.

Melihat Yap Ji-nio hendak menghajar Goan-ci, hal ini kebetulan malah bagi Ting Jun-jiu, segera ia menarik kakinya dan melangkah mundur.

Karena kepala mendadak enteng, Goan-ci menjadi terjengkang ke belakang, kepalanya membentur batu hingga bersuara nyaring, karena jumpalitan yang tak sengaja itu serangan Yap Ji-nio menjadi luput malah.

Sekali luput serangannya, segera Ji-nio melangkah maju dan serangan lain dilontarkan lagi.

Melihat wanita itu sangat genit dan galak, pula menyebut gurunya “Engkoh Jun-jiu”, maka Goan-ci tidak berani melawan, ia hanya melindungi tempat yang berbahaya dengan kedua tangan sambil berteriak-teriak, “Suhu aku benar-benar tidak tahu di mana beradanya A Ci, sungguh tidak tahu!”

Baru habis ucapannya, tahu-tahu tubuhnya kena dihanjut tiga kali oleh Yap Ji-nio sehingga mencelat.

Yap Ji-nio merasa tubuh Thi-thau-jin itu sedingin es, tenaga pukulan yang dilontarkan itu segera hilang sirna tanpa bekas. Mendadak ia ingat Thi-thau-jin itu adalah murid Ting-lokoay, dengan hilangnya tenaga pukulan sendiri secara aneh jangan-jangan kena dimakan oleh “Hoa-kang-tay-hoat” dari Sing-siok-pay yang mahalihai itu?

Dalam pada itu dengan napas terengah-engah Goan-ci berkata, “Suhu, aku benar-benar tidak tahu jejak A Ci.”

Ting Jun-jiu mendengus katanya, “Kau yang membawa lari A Ci, di mana dia, mengapa tidak tahu?”

Goan-ci menjadi bungkam, ia lihat tangan sang guru mulai terangkat lagi, ia ketakutan dan berseru pula, “Ampun Suhu! Tecu benar-benar tidak... tidak tahu di mana A Ci berada!”

Perlahan tangan Ting-lokoay menabok ke depan, kira-kira belasan senti di atas kepala Goan-ci mendadak tangannya membalik dan berganti arah, “blang”, tahu-tahu sebatang pohon di samping sana dihantamnya sehingga patah.

“Jika pukulanku ini mengenai kepalamu, bagaimana jadinya denganmu?” bentak Lokoay.

“Tecu... Tecu tidak sanggup menahan pukulan Suhu ini,” sahut Goan-ci dengan ketakutan dan gelagapan.

“Ya, mungkin kepala besimu ini bisa gepeng kena pukulanku ini,” jengek Lokoay.

“Terima kasih atas kemurahan hati Suhu,” kata Goan-ci.

“Kau tidak mengaku di mana A Ci berada, mana dapat kuampuni jiwamu?” damprat Lokoay.

Goan-ci menghela sahutnya, “Suhu, tampaknya aku sudah ditakdirkan harus mati di bawah pukulanmu. Aku... tidak bisa berkata lain.”

Jun-jiu melengak, tapi lantas tertawa dan berkata, “Kau jujur, rasanya tak nanti mendustai aku.”

Merasa ada harapan buat hidup, cepat Goan-ci menyembah dan berkata pula, “Ya, mana Tecu berani berdusta.”

“Baiklah,” kata Ting-lokoay, “dahulu waktu kau angkat guru padaku, pernah kukatakan akan menjodohkan A Ci padamu. Sekarang dia sudah buta, apakah kau masih mau terima dia?”

Cepat Goan-ci menjawab, “A Ci adalah gadis secantik bidadari, mana Tecu berani mengimpikan hal itu.”

“Ahh, tidak perlu pura-pura,” ujar Lokoay dengan tertawa. “Meski kau durhaka padaku, tetap aku dapat mengampuni dosamu. Sekarang boleh kau bawa aku menemui A Ci, aku pasti akan menjodohkan dia padamu.”

Tapi Goan-ci tahu yang disukai A Ci adalah pemuda ganteng seperti Buyung Hok, jika anak dara itu mengetahui orang yang menyelamatkan dia itu adalah “si badut besi” yang pernah diperbudak olehnya, pasti dia akan sangat kecewa dan tidak nanti mau menjadi istrinya.

Meski tak keruan rasa hatinya pada saat itu tapi ia tetap menjawab, “Tecu benar-benar tidak tahu di mana beradanya A Ci, betapa pun Suhu akan memaksa pengakuan Tecu juga percuma.”

Sungguh gusar Ting Jun-jiu tak terkatakan, coba kalau bukan ingin mencari Pek-giok-giok-ting yang berada pada A Ci itu, tentu sekarang Goan-ci sudah dibunuhnya.

Tapi ia dapat berlaku tenang lagi, dengan tersenyum ia berkata, “Baiklah, berdirilah!”

Goan-ci mendongak ke atas, ia ragu dan tidak berani berdiri.

“Aku bilang berdirilah!” ucap Jun-jiu pula.

Dan barulah Goan-ci berani berdiri.

Mendadak Ting Jun-jiu melengos, katanya, “Sudahlah, lekas enyah! Kau tidak setia padaku, aku pun tidak sudi mempunyai murid seperti dirimu lagi.”

Habis berkata terus saja ia melesat pergi, hanya sekejap saja sudah menghilang di kejauhan sana.

Untuk sekian lama Goan-ci termangu-mangu, ketika sadar ia coba melihat sekitarnya, namun Ting Jun-jiu benar-benar sudah pergi, bahkan Yap Ji-nio juga sudah menghilang, ia sangsi apakah bukan sedang mengimpi.

Waktu ia coba membenturkan kepala pada sepotong batu, “trang”, kepala terasa sakit, terang bukan dalam mimpi.

Ia jalan beberapa tindak ke depan sambil memanggil-manggil, “Suhu! Suhu!”

Tapi keadaan sunyi senyap, tiada seorang pun yang kelihatan. Ia tahu tidak mungkin dirinya diampuni dengan begitu mudah. Maka kembali ia berseru, “Suhu, Tecu akan memberitahukan jejak A Ci.”

Ia pikir kalau sang suhu masih berada di situ pasti akan perlihatkan diri lagi jika mendengar ucapannya itu. Siapa tahu tetap tiada suara jawaban meski dia sudah mengulangi seruannya itu.

Setelah berpikir sejenak, mendadak ia berlari cepat ke depan, namun tetap tiada seorang pun dilihatnya. Baru sekarang ia merasa lega. Ia pikir, barangkali Sing-siok Lokoay menaruh belas kasihan padanya agar bisa hidup bersama dengan A Ci, maka benar-benar mau mengampuninya.

Teringat kerudung besinya itu harus lekas dilepaskan, maka cepat ia lari pula ke depan untuk mencari kota. Sesudah beberapa li lagi, benar juga dari jauh kelihatan di depan ada sebuah kota.

Segera ia menanggalkan bajunya untuk membungkus kepalanya hingga rapat, hanya matanya yang kelihatan.

Setelah setengah li lagi, tiba-tiba dilihatnya ada dua orang sedang datang dari depan, Goan-ci kenal kedua orang itu adalah kameradnya Buyung Hok, yaitu Hong Po-ok dan Pau Put-tong. Keruan ia terkejut dan berhenti lari.

Secepat angin Hong Po-ok dan Pau Put-tong sudah lewat di sampingnya. Baru Goan-ci merasa lega, sekonyong-konyong pundaknya ditepuk sekali.

“He, kenapa kepalamu dibungkus rapat?” itulah suara Pau Put-tong alias si “bukan”.

“O, aku... aku meriang, tidak boleh kena angin,” Goan-ci membohong.

“Samko, buat apa gubris seorang desa, ayolah kita lekas mengejar ke sana!” demikian Po-ok sedang memanggil.

“Bukan, bukan! Dia membungkus kepalanya dengan baju, larinya tadi juga kelihatan sangat cepat, tidak mungkin orang sakit, kukira pasti Thi-thau-siaucu itu!” sahut Put-tong.

Goan-ci menjadi gugup, badan terasa lemas, lekas ia menggoyang-goyang kedua tangannya dan berkata, “Tidak, tidak, aku bukan si Thi-thau-siaucu itu!”

Tapi karena ia menggoyang-goyangkan kedua tangannya, maka baju yang membungkus kepalanya menjadi kendur dan terbuka sehingga kelihatanlah kerudung besinya itu.

Maka tertawalah Pau Put-tong terbahak-bahak, katanya, “Nah, Site, tajam tidak pandangan Samkomu ini?”

“Awas, Samko!” tiba-tiba Po-ok menarik mundur Pau Put-tong.

Meski Put-tong tidak kenal apa artinya takut, tapi derita sengsara sesudah kena pukulan berbisa Goan-ci tempo hari itu masih terasa ngeri bila teringat olehnya, maka ia pun menurut saja ketika ditarik mundur.

Goan-ci masih coba hendak menutupi kepalanya yang khas itu. Namun Pap Put-tong sudah lantas membentaknya, “Hai, Thi-thau-siaucu, sebenarnya kau ini manusia apa?”

“O, aku... aku cuma seorang kecil yang tak berarti, buat apa tuan-tuan mencari perkara padaku?” sahut Goan-ci.

“Bukan, bukan! Pukulanmu yang berbisa itu sampai Hian-thong Taysu dari Siau-lim-si juga tidak tahan, kami berdua saudara justru sangat kagum padamu,” kata Put-tong. “Tampaknya biar betapa pun tinggi kepandaian Ting Jun-jiu juga tidak sesuai menjadi gurumu, entah asal-usulmu sebenarnya dari mana?”

“Aku... aku tidak punya asal-usul apa-apa,” sahut Goan-ci gugup.

Tiba-tiba Pau Put-tong melangkah maju setindak. Begitu pula Hong Po-ok lantas cabut belatinya yang mengilap itu dan melangkah maju.

Melihat belati Po-ok yang tajam itu Goan-ci menjadi girang, cepat katanya, “Eh tuan ini, aku ingin pinjam sesuatu barang padamu, entah boleh tidak?”

Seketika air muka Po-ok berubah hebat.

Maklum, di dunia Kangouw banyak sekali istilah-istilah yang kedengarannya sangat sopan, tapi mengandung arti yang sebaliknya. Misalnya orang berkata “mohon petunjuk”, maka itu berarti ajak berkelahi. Dan bila dipakai kata-kata “pinjam”, maka besar kemungkinan barang yang hendak “dipinjam” itu adalah sebelah tangan, mata atau buah kepala dari lawan itu.

Sebab itulah Hong Po-ok menjadi kaget demi mendengar Goan-ci ingin pinjam sesuatu padanya, cepat ia tanya, “Apa yang hendak kau pinjam?”

Goan-ci tuding Po-ok, tapi susah untuk menerangkan. Keruan sikap Goan-ci ini membikin Hong Po-ok tambah khawatir, cepat ia mundur selangkah lagi.

“Sebenarnya kau mau pinjam apa?....” belum habis Pau Put-tong bertanya, mendadak ia loncat ke samping sana secepat anak panah dan menghilang ke dalam semak-semak rumput. Menyusul segera terdengar dua kali teriakan orang yang aneh tahu-tahu Pau Put-tong sudah melompat balik lagi dengan menjinjing dua orang.

Kedua orang itu tampak meronta-ronta tapi cengkeraman Put-tong seperti kaitan kuatnya, betapa pun sukar terlepas.

Sesudah dekat, Put-tong melemparkan kedua tawanan itu ke tanah, segera ia pun meloncat dan menginjak punggung mereka.

“Sute, lekas turun tangan!” seru kedua orang itu tiba-tiba sambil mengangkat kepalanya.

Baru sekarang Goan-ci dapat melihat jelas bahwa kedua orang ini adalah saudara seperguruannya.

Pau Put-tong bergelak tertawa, katanya, “Kiranya kalian adalah anak murid Sing-siok Lokoay. Kalian main sembunyi di situ ingin berbuat apa?”

“Pau-enghiong, kami diperintahkan Suhu untuk mengawasi jejak Thi-thau-jin ini dan tiada sangkut pautnya denganmu, harap sudilah angkat kakimu!” mohon kedua orang itu.

Put-tong terbahak-bahak lagi, mendadak ia lompat turun dari punggung kedua tawanan itu. Sebagai kesatria, ia tidak sudi banyak tingkah dengan murid Sing-siok-pay yang dianggapnya kaum keroco itu.

Sebaliknya Goan-ci menjadi khawatir, cepat ia berseru, “Pau-enghiong, jangan bebaskan mereka!”

Namun kedua murid Sing-siok-pay sudah merangkak bangun, mereka terus menubruk maju. Selagi Goan-ci tercengang, tahu-tahu kedua lengannya sudah dicengkeram kedua suhengnya itu.

“Ayo, ikut kami menemui Suhu!” bentak kedua orang itu.

“Ai, kenapa kedua Suheng bikin susah padaku? Jika sudi melepaskan diriku, sungguh budi kebaikan kalian takkan kulupakan,” mohon Goan-ci.

“Tidak bisa!” bentak kedua orang itu dengan bengis. Lalu Goan-ci diseret pergi.

Otomatis Goan-ci meronta sebisanya, maksudnya cuma ingin melepaskan diri dari pegangan ke dua orang itu. Tak tersangka, baru saja tangan bergerak, tahu-tahu kedua orang itu sudah lantas mencelat pergi sehingga beberapa meter jauhnya, tulang mereka patah dan kepala pecah, ternyata sudah terbanting mati semua.

Keruan Goan-ci tambah kaget, sesudah tercengang sejenak, segera ia angkat langkah seribu alias kabur.

Menyaksikan kejadian itu, sungguh heran dan kejut Pau Put-tong dan Hong Po-ok tak terkatakan. Melihat Goan-ci lari, berbareng mereka berseru, “Nanti dulu!”

Namun Goan-ci sudah ketakutan, ia lihat kedua suhengnya mendadak terbanting mampus, ia sangka itu perbuatan Pau Put-tong dan Hong Po-ok, maka ia lari terbirit-birit. Apalagi mendengar seruan kedua orang itu, ia jadi makin takut dan ingin lari lebih cepat. Namun kaki menjadi lemas malah dan akhirnya jatuh tersungkur di tanah.

Seperti angin lesus cepatnya Hong Po-ok sudah lantas menyusul sampai di depan Goan-ci, tanyanya, “Tadi sebenarnya kau ingin pinjam apa padaku?”

“Tidak, aku... aku tidak berani pinjam lagi,” sahut Goan-ci dengan takut sambil memandang belati yang masih dipegang Po-ok itu.

Melihat sinar mata orang mengincar belatinya, tiba-tiba Po-ok paham maksudnya, tanyanya pula, “O, apa barangkali kau ingin meminjam belatiku ini?”

“Ya... ya, sebenarnya ada maksudku hendak pinjam, tapi... tapi kalau tuan tidak boleh, ya, sudahlah,” kata Goan-ci dengan tergegap.

“Belatiku ini tajamnya bukan main, dapat memotong besi seperti mengupas mangga, apa kau mau meminjamnya untuk mengupas kerudung besi pada kepalamu ini?” tanya Po-ok.

“Ya, betul,” sahut Goan-ci.

Po-ok tertawa dingin, jengeknya, “Hm, ketika di depan Siau-lim-si aku pernah hendak mengupas topengmu ini, tapi kau tidak mau, bahkan menghantam aku satu kali sehingga aku menderita setengah mati, sekarang... hm....”

Goan-ci menjadi ketakutan, sahutnya, “Aha... tentu Hong-toaya salah paham, mana mampu aku menyerangmu?”

Hong Po-ok adalah seorang laki-laki jujur, melihat Goan-ci menyangkal perbuatannya itu, menjadi gusar, dampratnya, “Bagus, sudah memukul orang dan sekarang berani mungkir. Habis apakah orang yang memukul aku di Siau-lim-si itu adalah tangan babi atau tangan anjing?”

“Bukan, tapi cakar kura-kura,” sambung Put-tong.

“Itu berkat kesaktian Sing-siok Losian dan tiada sangkut pautnya denganku,” kata Goan-ci dengan kikuk.

Mendengar itu, Po-ok dan Put-tong tambah heran dan bingung, sudah terang mereka kena pukulan berbisa Thi-thau-jin ini sehingga menderita sekian lamanya, sampai Sih-sin-ih juga geleng-geleng kepala tak berdaya, coba kalau tidak ditolong oleh hwesio muda itu, mungkin sampai saat ini mereka masih tersiksa, mengapa Thi-thau-jin ini tidak mau mengakui perbuatannya dahulu itu? Tapi kalau melihat sikapnya jelas bukan sengaja pura-pura bodoh?

Maka dengan terheran-heran mereka sama tanya, “Kau bilang itu berkat kesaktian Sing-siok Lokoay?”

“Ya, Sing-siok Losian bilang itu adalah ilmu gaib Sing-siok-pay dan tidak boleh diceritakan kepada orang luar,” sahut Goan-ci sesudah ragu sejenak.

“Ilmu gaib?” Po-ok dan Put-tong menegas dengan heran. “Jadi Sing-siok-pay juga punya ilmu gaib? Eh, sobat kepala besi, cobalah jelaskan!”

Goan-ci memandang belati tajam di tangan Hong Po-ok itu, ia jadi sangsi untuk menceritakan “mantra” ajaran Sing-siok Lokoay itu, ia masih ingat apa yang dikatakan Lokoay bahwa mantra itu sangat manjur, bila ia ucapkan mantra itu, maka dari jauh juga sang guru itu akan dapat membantunya dengan ilmu gaib. Tapi sekarang ia telah membawa lari A Ci, entah mantra itu masih manjur atau tidak.

Melihat Goan-ci lagu-ragu, segera Po-ok menarik Put-tong, katanya, “Samko marilah kita pergi saja. Thi-thau-jin ini adalah musuh kita, buat apa kita meminjamkan belati padanya!”

Goan-ci menjadi gugup karena akan ditinggal pergi, ia tahu belati Hong Po-ok itu sangat tajam dan sukar mencari senjata serupa itu, maka cepat ia berseru, “Nanti dulu, baiklah akan kuterangkan, ilmu gaib itu dimulai dengan membaca mantra yang berbunyi: ‘Sing-siok Losian, Sing-siok Losian, lindungilah muridmu, atasi musuh dan memperoleh kemenangan, satu-tiga-lima-tujuh-sembilan,’ dan sekali aku membaca mantra ini dari jauh segera beliau akan menggunakan ilmu gaibnya untuk menolong aku.”

Semula Po-ok dan Put-tong melengak oleh keterangan itu. Tapi segera mereka merasa geli dan tertawa terpingkal-pingkal, Hong Po-ok sampai menjengking dan Pau Put-tong mendongak sambil memegangi perutnya yang melilit saking gelinya.

“Jangan kalian anggap lucu, justru dengan ilmu gaib itulah telah kulukai kalian dengan sekali pukul saja,” ujar Goan-ci.

Po-ok coba menahan rasa gelinya, lalu berkata, “Sobat kepala besi, meski kami pernah dilukai olehmu, tapi melihat kau dibohongi iblis tua itu secara kelewatan, maka kami sekarang ikut penasaran. Haha, iblis tua itu mahir ilmu gaib kentut! Jika kau dikatakan jago kelas satu di dunia persilatan, inilah yang betul!”

Tapi Goan-ci berulang goyang tangannya, katanya, “Hendaknya tuan jangan berkata demikian, dari mana aku bisa dikatakan jago kelas satu? Hehe, masakah aku jago kelas satu?”

Ia termangu-mangu pula ketika teringat dalam anggapan A Ci ia pun disangka sebagai jago kelas satu, paling baik hal ini akan tetap menjadi impian muluk bagi anak dara itu agar dia selalu merasa gembira.

Melihat Goan-ci tiba-tiba termangu-mangu, maka Po-ok berkata pula, “Malah menurut pendapatku, mungkin ilmu silat Sing-siok Lokoay sendiri juga tidak bisa lebih tinggi daripadamu.”

“Ai, jangan dibicarakan lagi,” demikian Goan-ci berulang menggoyang tangan pula.

“Hong-site," kata Put-tong, “orang ini tampaknya setengah gila, tidak perlu banyak bicara lagi dengan dia.”

Tapi dengan sungguh-sungguh Po-ok berkata pula, “Sobat kepala besi, pada suatu hari nanti tentu kau akan tahu bahwa apa yang kukatakan ini bukanlah omong kosong. Ilmu silatmu sangat tinggi, pukulanmu yang berbisa itu boleh dikata nomor satu di jagat ini, yang kuharap adalah selanjutnya jangan sembarangan kau pukul orang lagi!”

“Sudah tentu,” sahut Goan-ci cepat. “Asal orang tidak memukul aku, tidak nanti kupukul orang.”

Tiba-tiba Po-ok melemparkan belati ke arah Goan-ci setelah digosok-gosok beberapa kali pada kain celananya, katanya, “Baiklah, orang she Hong telah anggap dirimu sebagai kawan, belati ini kuberikan padamu!”

Cepat Goan-ci menyambut belati itu, untuk sejenak ia tertegun, tapi mendadak ia berlutut.

Kepalsuan orang Kangouw sukar diduga, sebagai orang Kangouw kawakan, sudah tentu Hong Po-ok dan Pau Put-tong selalu waspada. Maka demi melihat Goan-ci mendadak berlutut, cepat mereka melangkah mundur ke samping.

Sudah tentu Goan-ci tiada maksud menyerang atau maksud jahat lain tapi dengan menurut aturan ia menjura tiga kali, lalu berkata, “Tuan berdua sudi menganggap aku sebagai kawan, sungguh aku orang she Yu merasa sangat berterima kasih.”

“O, kiranya kau she Yu?” Po-ok menegas.

“Ya,” sahut Goan-ci.

“Yu-keh-siang-hiap dari Cip-hian-ceng yang tersohor itu apakah angkatan tua keluargamu?” tanya Pau Put-tong.

Goan-ci menjadi pilu teringat kepada ayah dan pamannya itu. Sejenak kemudian barulah ia menjawab, “Sudah lama kukagum pada kedua pendekar tua yang tersohor dari Cip-hian-ceng itu, cuma sayang tiada punya rezeki untuk bertemu dengan kedua Yu-loenghiong itu!”

Sembari berkata air matanya lantas bercucuran juga, cuma dia memakai topeng besi sehingga orang lain tidak tahu.

Hong Po-ok saling pandang sekejap dengan Pau Put-tong, mereka tahu Thi-thau-jin ini tentu belum mau menjelaskan asal-usulnya, mereka sekarang sudah berkawan, masakah kelak tiada kesempatan untuk berjumpa pula?

Karena itu mereka lantas memberi salam dan berkata, “Baiklah, sobat Yu, sampai berjumpa pula kelak!”

“Ya, sampai berjumpa,” sahut Goan-ci sambil membalas hormat.

Dan sesudah kedua orang itu pergi, cepat Goan-ci juga lantas berangkat. Tidak lama, sampailah di tepi sebuah sungai kecil.

Sambil bercerminkan air sungai, perlahan Goan-ci mengangkat belatinya, tapi tangan terasa gemetar luar biasa. Maklum, topeng besi itu telah melengket dengan kulit, dagingnya di bagian kepala kalau dibesetnya mentah-mentah bukan mustahil jiwanya akan terancam sudah tentu hal ini membuatnya takut.

Tapi demi teringat bila nanti topeng besi itu sudah dilepaskan, untuk selanjutnya ia akan dapat hidup berdampingan untuk selamanya dengan A Ci dalam kedudukannya sebagai “Ong Sing-thian, Ciangbunjin dari Kek-lok-pay,” maka seketika semangat jantannya timbul lagi, ia pegang kencang belatinya dan perlahan memotong bagian sela-sela sambungan topeng besi bekas las-lasan itu.

Memang belati Hong Po-ok itu sangat tajam maka sekali potong dengan perlahan, seketika tempat las itu terbelah.

Lalu Goan-ci simpan baik-baik belati itu, dengan sebelah tangan pegang belahan topeng besi bagian depan dan tangan lain pegang belahan bagian belakang sambil meringis menahan sakit terus saja ia pentang sekuat-kuatnya.

Dia sudah nekat, maka sekali pentang kulit daging yang melengket pada topeng itu lantas ikut terobek mentah-mentah.

Seketika ia merasa kesakitan luar biasa, pandangannya menjadi gelap, ia menjerit sekali, lalu tak sadarkan diri lagi.

Entah berapa lama kemudian, perlahan ia siuman kembali. Ia merasa kepala sakit luar biasa, sampai mata juga sukar dibuka. Ia hendak merangkak bangun, ketika tangan menahan tanah barulah ia tahu bahwa separuh badannya bagian atas telah terendam dalam air sungai. Cepat ia raba pula kepala sendiri, tapi yang terpegang oleh tangannya itu terasa sangat keras dan dingin.

Kiranya setelah topeng besi itu terbeset dari kepalanya berikut kulit daging yang melengket itu saking sakitnya ia jatuh pingsan dan secara kebetulan bagian kepala itu terendam dalam air sungai sehingga jiwanya tertolong malah.

Maklum, begitu kepalanya terendam air, ketika hawa berbisa mahadingin dari tubuhnya ikut mengalir keluar, segera air sungai di sekeliling kepalanya lantas membeku menjadi es sehingga membungkus kepalanya, darah yang tadinya mengucur lantas mampat, kepalanya sekarang kembali seperti bertopeng lagi, cuma sekali ini topeng es dan bukan topeng besi. Ia sendiri merasa kaget ketika meraba kepalanya dan mengira topeng besi itu belum terlepas, dalam kaget dan kecewanya kembali ia jatuh pingsan lagi.

Jilid 57
Waktu untuk kedua kalinya ia siuman kembali, sementara itu lapisan es yang membungkus kepalanya sudah mulai cair, sekarang tempat luka itu dirasakannya bagai dibakar panasnya.

Sekuatnya ia coba berbangkit, ketika ia berkaca pula pada air sungai kembali ia kaget lagi. Semula ia mengira ada sesuatu makhluk aneh atau siluman yang berdiri di tepi sungai tapi segera diketahuinya bahwa “siluman” itu tak-lain-tak-bukan adalah bayangan sendiri.

Untuk sekian lama ia terkesima. Akhirnya dengan tabahkan diri ia coba berkaca lagi.

Sekarang ia memeriksa mukanya sendiri dengan jelas, kelihatan kulit daging sudah dedel-dowel beberapa bagian, kepalanya sudah botak karena ikut mengelotoknya kulit berambut itu. Hidungnya juga sudah coplok sehingga sekarang dia lebih mirip tengkorak hidup. Pendek kata mukanya sekarang teramat jelek.

Ia sangat berduka, pedih hatinya, perlahan ia pejamkan mata. Ia tahu biarpun nanti lukanya sembuh, namun mukanya yang jelek itu mungkin tiada bandingannya lagi di dunia ini.

Untunglah sekarang A Ci sudah buta, anak dara itu dapat diajak ke suatu tempat yang tiada pernah didatangi orang, di situlah mereka berdua akan dapat hidup aman tenteram dan muka yang jelek tentu takkan menjadi soal.

Segera ia lemparkan topeng besi berikut kulit daging dan rambut yang masih melengket itu ke dalam sungai, sambil menahan rasa sakit ia lari kembali ke hutan sana.

Ketika hampir sampai di tempat tujuan, hati Goan-ci mulai berdebar-debar. Sesudah menyusur hutan itu, tertampaklah seorang wanita duduk di tepi sungai kecil itu. Dari jauh Goan-ci sudah lantas berseru, “A Ci! A Ci!”

Tapi wanita itu tidak menjawab, juga tidak menoleh, hanya diam saja.

Goan-ci menjadi khawatir jangan-jangan kepergiannya yang terlalu lama itu membikin anak dara itu kurang senang. Tapi sesudah dekat barulah ia tahu urusan agak tidak betul, sebab wanita itu tidak memakai baju ungu yang merupakan tanda pengenal A Ci yang khas.

Mendadak wanita itu terkikik-kikik, lalu berpaling dan berkata, “Sudah pulangkah kau? Sudah lama aku menunggumu di sini....”

Goan-ci kaget. Kiranya wanita ini adalah Bu-ok-put-cok Yap Ji-nio, si Durjana Mahajahat.

Sebaliknya Yap Ji-nio juga terperanjat demi melihat muka Goan-ci itu. Dia berjuluk Bu-ok-put-cok, segala kejahatan pernah diperbuatnya, maka kejadian yang bagaimana kejamnya juga pernah dilihatnya. Tapi demi melihat muka Goan-ci yang bonyok itu, mau tidak mau ia pun merasa ngeri.

Dalam pada itu Goan-ci telah melangkah maju dan bertanya, “Di manakah A Ci?”

“Kau cari dia?” tanya Ji-nio sesudah menenangkan diri.

Goan-ci tahu Yap Ji-nio adalah kenalan Ting Jun-jiu dan sama jahatnya, kalau bukan karena A Ci, sejak tadi tentu dia sudah lari terbirit-birit. Tapi sekarang ia malah mendesak maju dan berseru, “A Ci, di mana A Ci?”

Muka Goan-ci masih babak bonyok, sinar matanya mengunjuk rasa tak sabar. Ji-nio menjadi jeri, dengan tersenyum yang dibuat-buat ia tanya, “Apakah A Ci yang kau maksudkan itu si nona baju ungu yang beraut muka bundar telur itu?”

“Ya, benar, di mana dia?” teriak Goan-ci dengan tidak sabar.

“Dia sedang cuci kaki di tepi sungai, buat apa kau gembar-gembor!” sahut Ji-nio sambil tuding semak rumput di tepi sungai.

Goan-ci percaya saja segera ia lari ke sana. Tapi dengan cepat sekali Yap Ji-nio menggeser ke belakangnya terus menghantam.

Sama sekali Goan-ci tidak menduga akan serangan itu sehingga tepat kena digenjot, ia terhuyung-huyung ke depan dan jatuh tersungkur. Dan begitu jatuh di atas tanah, segera ia lihat A Ci juga meringkuk di tengah semak-semak rumput situ entah sudah mati atau masih hidup.

Di lain pihak Yap Ji-nio juga lantas memburu tiba, dengan kaki ia injak punggung Goan-ci dan membentak, “Siapa kau?”

“A Ci! A Ci! Kau telah mengapakan A Ci?” teriak Goan-ci dengan napas terengah karena mengkhawatirkan keselamatan A Ci, tanpa pikir lagi ia terus meronta sekuatnya.

Seketika Ji-nio merasa ditolak suatu arus tenaga yang mahakuat, tanpa kuasa tubuhnya roboh terjengkang.

Sekali melompat bangun, terus saja Goan-ci pegang pundak Yap Ji-nio dan dientak-entak, tanyanya, “Bagaimana keadaan A Ci, kenapa dia?”

Seketika Yap Ji-nio merasa suatu tenaga mahakuat dan mahadingin menerjang ke dalam badannya, saking dinginnya sehingga gigi gemertukan dan mata mendelik, sudah tentu ia tidak sanggup bersuara.

Melihat keadaan perempuan durjana itu, Goan-ci jadi kaget malah. Ia tahu ilmu silat lawan sangat tinggi, kini air mukanya begitu aneh, jangan-jangan sedang mengerahkan sejenis ilmu mahalihai untuk membikin celaka dirinya?

Goan-ci menjadi jeri, pegangannya jadi kendur. Dengan lemas Ji-nio jatuh terkulai ke tanah, tampaknya lebih banyak mengembuskan napas daripada menarik napas, bahkan berkutik pun tidak lagi.

Untuk sejenak Goan-ci terkesima, ia sangka nasibnya sendiri masih mujur, penyakit ayan iblis itu mendadak kumat. Kesempatan bagus ini tidak boleh disia-siakan, cepat ia lari ke arah A Ci. Ia lihat A Ci hanya tertutuk hiat-tonya, ia merasa lega. Kepandaian membuka hiat-to yang tertutuk itu masih dipunyai Goan-ci, maka perlahan ia tepuk beberapa kali tubuh A Ci.

Sesudah menarik napas segar, lalu A Ci merangkak bangun, katanya, “Aku sudah mendengar semuanya!”

Goan-ci tercengang, tanyanya, “Kau dengar apa?”

Dengan wajah berseri-seri A Ci menjawab, “Aku telah mendengar, hanya sekali gebrak saja kau merobohkan ‘Bu-ok-put-cok’ Yap Ji-nio sehingga tak bisa berkutik lagi. Sekarang napasnya sudah putus belum?”

“Bu-ok-put-cok Yap Ji-nio?” Goan-ci menegas.

“Ya, dia sudah mati, bukan?” sahut A Ci dengan tertawa.

Sebagai putra jago silat yang luas pergaulannya, dengan sendirinya waktu di Cip-hian-ceng dahulu sering juga Goan-ci mendengar orang bercerita tentang “Thian-he-su-ok” (empat durjana di dunia), siapa tahu wanita yang menggeletak di depannya sekarang ini adalah si durjana kedua dari Su-ok itu, coba kalau tahu sejak tadi, tidak nanti ia berani main pegang-pegang segala. Seketika ia berkeringat dingin dan tidak dapat bersuara.

“He, kenapakah kau?” tanya A Ci dengan heran.

“O, dia....” sebenarnya Goan-ci hendak menerangkan bahwa penyakit ayan Yap Ji-nio mendadak kumat. Tapi demi terpikir sekarang awak sendiri adalah “Ong Sing-thian, Ciangbunjin Kek-lok-pay”, mana boleh jeri kepada Su-ok apa segala? Maka terpaksa ia menyambung, “Dia sudah menggeletak! Orang macam dia mana sanggup tahan sekali hantamanku. Eh, A Ci, marilah kita pergi saja!”

Sambil mendongak di depan Goan-ci, tampak sekali A Ci sangat kagum kepada pemuda itu. Katanya, “Ilmu silat Bu-ok-put-cok Yap Ji-nio sangat tinggi, sampai Ting-lokoay sendiri juga sering mengatakan demikian pada murid-muridnya, tapi sekarang hanya dalam sekejap saja tenyata sudah kau bereskan dengan sangat mudah. Sesudah kukenal dirimu, untuk selanjutnya aku takkan khawatir dihina orang lagi.”

Saking terharu sampai suaranya menjadi parau dan air mata hampir menetes.

“Ya, sudah tentu takkan ada orang berani menganiayamu lagi, aku akan selalu berada bersamamu,” cepat Goan-ci menghiburnya. Lalu ditambahkan lagi dengan suara perlahan, “Ya, aku akan selalu berada bersamamu.”

Maka tertawalah A Ci dengan senang, pikirnya sejenak, lalu berkata, pula, “Engkau sangat baik padaku, sekarang ada suatu permohonanku lagi.”

“Urusan apa? Silakan bicara saja, tapi... tapi kita harus pergi dulu dari sini,” kata Goan-ci.

Rupanya ia khawatir sebentar Yap Ji-nio akan sembuh kembali dari penyakit ayan yang kumat itu dan tentu dirinya sukar melawannya. Sama sekali tak terpikir olehnya biarpun Yap Ji-nio belum mati juga tidak nanti wanita durjana itu berani sembarangan menyerangnya lagi.

“Tapi kukira engkau takkan meluluskan permintaanku,” ujar A Ci.

Goan-ci membawanya meninggalkan tempat itu sambil menjawabnya, “Aku pasti akan meluluskan permintaanmu.”

“Belum lagi aku menerangkan apa yang kuminta, masakah engkau sudah lantas meluluskan?” A Ci menegas dengan tersenyum.

Goan-ci pikir biarpun apa yang diminta anak dara itu, asal dirinya mampu, biarpun masuk ke lautan api atau terjun ke air mendidih juga akan dilakoni. Maka jawabnya lantas, “Apa yang kau minta, cobalah ceritakan?”

A Ci merandek, perlahan ia mendongak, air mukanya penuh harap, katanya, “Ong-kongcu, kuminta kau suka merebutkan kedudukan Ciangbunjin Sing-siok-pay agar aku dapat menjadi ketua Sing-siok-pay itu.”

“Ap... apa katamu?” Goan-ci menegas dengan mata terbelalak. Sama sekali tak terduga olehnya bahwa apa yang diminta anak dara itu adalah urusan demikian.

“Ya, aku pikir di bawah dukunganmu tentu akan dapat menjadi Ciangbunjin Sing-siok-pay,” sahut A Ci.

“He, A... A Ci, apakah engkau sengaja bergurau?” ujar Goan-ci dengan gemetar.

Bibir A Ci yang merah tipis itu mencibir manja, omelnya, “Baru saja kau bilang akan meluluskan permintaanku, mengapa hanya urusan sekecil ini saja enggan kau terima?”

“Kau... kau bilang ini urusan kecil?” kata Goan-ci dengan menyengir.

“Habis ilmu silatmu begini tinggi, kau pun menyatakan bahwa orang lain takut kepada Ting Jun-jiu hanya engkau yang tidak takut. Jika demikian untuk mengalahkan Ting Jun-jiu bagimu kan bukan soal sulit?”

Terpaksa Goan-ci menjawab, “Ya, sudah tentu bukan... bukan soal sulit.”

A Ci makin senang, serunya, “Itulah bagus! Habis kau kalahkan Ting Jun-jiu, dapat kau angkat aku menjadi Ciangbunjin Sing-siok-pay, malahan Ting Jun-jiu diharuskan mengaku sebagai muridku. Haha, bukankah sangat hebat!”

Seketika Goan-ci tidak sanggup bicara lagi. Bahwasanya Ting Jun-jiu adalah gurunya A Ci, minta bantuan orang luar untuk merebut kedudukan ketua dari tangan sang guru saja sudah merupakan kejadian luar biasa di dunia persilatan, apalagi sang guru diharuskan pula mengaku guru pada sang murid, hal ini benar-benar tidak pernah terjadi dan tidak pernah terdengar.

Tapi Sing-siok-pay adalah golongan jahat yang paling aneh di dunia ini, bagi A Ci hal itu dianggapnya sebagai sesuatu yang menarik dan menyenangkan.

Goan-ci termangu-mangu agak lama, katanya kemudian, “A Ci, nama Sing-siok-pay sudah dibenci orang, lebih baik engkau jangan menjadi ciangbunjinnya.”

“Ehm, emoh!” ucap A Ci dengan manja. “Tadi engkau sudah menyanggupi, sekarang tidak boleh mungkir. Nama Sing-siok-pay sangat disegani, apalagi pusaka Pek-giok-giok-ting juga cuma aku yang tahu tempatnya, maka ciangbunjin seharusnya dijabat olehku.”

“Tidak, aku tidak mungkin cuma untuk mengalahkan Ting Jun-jiu, hal ini....”

Sesungguhnya perasaan Goan-ci sangat bingung. Dia mengaku sebagai ciangbunjin dari apa yang disebut Kek-lok-pay dan mengaku berilmu silat mahatinggi hal ini tidak lebih cuma untuk menyenangkan hati A Ci saja, sama sekali tak terduga olehnya bahwa pikiran anak dara itu memang aneh-aneh dan macam-macam, tahu-tahu timbul keinginannya menjadi Ciangbunjin Sing-siok-pay.

Jangankan pada hakikatnya Goan-ci tidak berani bergebrak melawan Ting Jun-jiu bahkan bertemu saja takut, lalu dengan kemampuan apa ia dapat merebutkan kedudukan ciangbunjin itu bagi A Ci?

Sementara itu A Ci tampak menunduk, lalu berkata, “Ong-kongcu, aku merasa agak kurang sesuai untuk berada, bersamamu....”

Goan-ci terkejut, cepat serunya, “A Ci, kenapa kau bicara demikian?”

“Habis engkau adalah ciangbunjin suatu aliran besar, sebaliknya aku bukan apa-apa, mana aku sesuai menjadi kawanmu?” kata A Ci.

“Ai, aku juga bukan....” hampir saja Goan-ci menjelaskan bahwa dirinya sebenarnya juga bukan ketua Kek-lok-pay apa segala, untung ucapannya tidak jadi diteruskan.

“Engkau bukan apa?” A Ci menegas.

“O, aku... aku bukan menolak permintaanmu itu,” demikian cepat Goan-ci ganti haluan. “Cuma... cuma Sing-siok Lokoay itu entah lari ke mana, cara bagaimana kita dapat menemukan dia?”

“Ini kan gampang,” ujar A Ci dengan tertawa. “Asal aku menyalakan panah isyarat perguruan, segera dapat kupancing dia ke sini.”

“He, jangan, jangan!” cepat Goan-ci mencegah.

Namun A Ci sudah lantas mengeluarkan sebatang panah kecil warna ungu, ia pecahkan ekor panah itu dengan kuku, obat bakar sebangsa belerang bila terkena angin segera menyala dengan sendirinya, “sreng”, panah itu terus meluncur ke udara bagai roket dengan membawa jalur asap ungu.

Melihat itu, saking khawatirnya Goan-ci sampai lemas dan hampir-hampir jatuh terkulai.

“Coba lihatlah, betapa tingginya panah itu?” ujar A Ci.

Terpaksa Goan-ci menengadah, ia lihat asap ungu itu sudah tinggi di udara. Mendadak terdengar suara “dorr”, panah roket itu meletus sehingga terjadi hujan kembang api yang berwarna-warni semua ungu. Bunga api sedemikian dalam jarak belasan li jauhnya juga akan kelihatan.

Keruan kaget Goan-ci bukan buatan, lekas ia tarik tangan A Ci dan berseru, “Lekas lari!”

Karena ditarik tanpa kuasa A Ci terus ikut lari ke depan, serunya, “He, ada apa? Kita tunggu di sini saja, asal melihat api ungu, segera Ting Jun-jiu akan memburu ke sini!”

Tapi Goan-ci tidak sempat bicara lagi, ia lari terus sambil menyeret anak dara itu. Sekaligus berlari sejauh beberapa li barulah berhenti.

“Apakah kau tidak berani bergebrak dengan Ting Jun-jiu?” tanya A Ci sambil mengipratkan tangan Goan-ci.

“Ah, Ting... Ting Jun-jiu itu terhitung apa?” sahut Goan-ci dengan terengah-engah.

“Habis, mengapa lari?”

“Aku bukan lari, tapi kukhawatir pada waktu kuhajar Ting Jun-jiu nanti, tanpa sengaja engkau akan ikut dicelakai olehnya, maka kubawa dirimu menyingkir ke sini.”

“Lalu, sekarang bagaimana?”

“Biarlah kukembali ke sana sendirian untuk menghajar Ting Jun-jiu.”

“Tidak, tadi kau sudah menyatakan takkan meninggalkan aku lagi.”

Sebenarnya Goan-ci cuma ingin pergi ke sana lalu balik lagi dan menyatakan Ting Jun-jiu sudah dibinasakan olehnya, dengan alasan demikian mungkin urusan akan dapat selesai untuk sementara. Tapi sekarang A Ci bertekad ingin ikut, meski anak dara itu sudah buta, untuk membohonginya jelas tidak gampang.

Sudah tentu A Ci tidak tahu Goan-ci sedang kelabakan seperti semut di tengah wajan panas. Maka katanya pula, “Setelah mengalahkan Ting Jun-jiu, nanti ada sesuatu permintaanku lagi.”

“Kau ingin apa lagi?” tanya Goan-ci, hampir-hampir ia menangis.

“Cihuku sebenarnya adalah Pangcu Kay-pang, tapi Pak-kau-pang yang dimilikinya itu telah dirampas oleh kawanan pengemis busuk yang tidak kenal mati-hidup itu sehingga dia kehilangan kedudukannya sebagai pangcu. Jika nanti aku dapat merebut kembali Pak-kau-pang dan kuserahkan kepada Cihu, tentu beliau akan sangat senang dan takkan menganggap aku sebagai anak perempuan nakal lagi.”

Kedua kaki Goan-ci terasa lemas dan duduk mendeprok, katanya, “Engkau ada keinginan apa lagi?”

A Ci tersenyum, sahutnya, “Nanti saja kalau kedua urusan ini sudah selesai.”

Keruan Goan-ci tidak habis mengeluh. Tapi tidak dapat berkata apa-apa.

Dalam pada itu A Ci berkata lagi, “Eh, kenapa kita masih belum mendengar suaranya Ting Jun-jiu, biarlah kulepaskan sebatang panah lagi!”

“A Ci, aku... aku....” sebenarnya Goan-ci hendak menjelaskan kepada A Ci bahwa dirinya sesungguhnya adalah si badut besi yang dungu itu dan Ong Sing-thian yang gagah perkasa hanya khayalan anak dara itu, kalau ketemu Ting Jun-jiu nanti paling-paling lantas berlutut, menyembah, dan minta ampun belaka, masakah berani berebut kedudukan sebagai Ciangbunjin Sing-siok-pay apa segala?

Maka A Ci bertanya, “Apa yang hendak kau katakan? Kedua mataku dibutakan Ting Jun-jiu, dendamku belum lagi terlampias, masakah engkau tidak ingin membalaskan sakit hatiku?”

Goan-ci tahu A Ci sangat cerdik, kalau terus menolak, bukan mustahil akan segera diketahui kepalsuannya, maka cepat ia jawab, “Sudah tentu, ayolah sekarang juga kita pergi mencari Ting-lokoay!”

“Baik, marilah lekas!” sahut A Ci.

Segera Goan-ci menarik A Ci dan diajak berlari lagi ke depan.

Kedua mata A Ci sudah buta, ia sangka arah yang dituju itu adalah tempat tadi, tak tahunya justru arah yang berlawanan. Sesudah beberapa li lagi, A Ci mengira sudah kembali ke tempat semula, padahal jaraknya dengan tempat tadi sudah tambah jauh lagi.

Lalu Goan-ci berhenti, katanya pura-pura, “Eh, mengapa tidak tampak batang hidung Ting-lokoay?”

“Kecuali dia tidak melihat isyarat panahku tadi kalau melihat tentu dia akan memburu sini,” ujar A Ci. “Aku masih ada panah isyarat seperti itu, biarlah kulepaskan lagi sebatang.”

“Jangan!” cepat Goan-ci mencegah.

Tapi tindakan A Ci sangat cepat, tahu-tahu panah roket yang kedua sudah diluncurkan ke udara dengan membawa api ungu.

Keruan Goan-ci berkeringat dingin, hendak mengajak A Ci melarikan diri lagi khawatir anak dara itu gusar, kalau tidak lari, sebentar tentu akan celaka di tangan Ting Jun-jiu.

Tengah Goan-ci merasa bingung, dari jauh sana sudah terdengar suara Ting-lokoay yang terputus-putus tapi cukup jelas, “A Ci, jika kau ingin kembali ke dalam perguruan, aku masih dapat mengampunimu.”

“Ya, Tecu memang ingin masuk kembali ke perguruan Sing-siok-pay!” teriak A Ci. “Suhu, lekas engkau kemari!”

“Ini dia, sudah datang!” demikian jawab Ting Jun-jiu, suaranya dari jauh mendekat dan tahu-tahu orangnya sudah muncul.

Seketika kedua kaki Goan-ci terasa lumpuh, ia duduk di atas sepotong batu dan pasrah nasib. A Ci bersandar di sampingnya, diam-diam ia pun kebat-kebit demi mendengar Sing-siok Lokoay benar-benar telah tiba.

Kedua mata A Ci sudah buta, tapi ia dapat membayangkan sikap Ting Jun-jiu yang sengaja dipancing datang untuk melawan “Ong-kongcu” itu sekarang tentu lagi terkesima dan heran demi melihat dirinya berada bersama dengan seorang “kongcu yang gagah perkasa”.

Saat itu Ting Jun-jiu memang sangat heran, berdiri tertegun dalam jarak beberapa meter jauhnya, dengan sinar mata yang berkilat-kilat ia pandang Goan-ci.

Karena topeng besinya sudah dibeset mentah-mentah dari kepalanya, sekarang luka bekas besetan itu juga sudah kering sehingga muka Goan-ci lebih mirip setan daripada manusia, tampaknya sangat menyeramkan, tapi pemuda itu sedang gemetar duduk di atas batu.

Biarpun Ting Jun-jiu sudah berpengalaman seketika juga tidak dapat meraba orang macam apakah Yu Goan-ci itu. Sesudah mengamat-amati sejenak, kemudian ia menegur, “Siapakah saudara ini?”

Diam-diam A Ci membatin, “Ting Jun-jiu ternyata benar belum pernah kenal Ong Sing-thian. Dari suaranya kedengaran merasa jeri, hal ini menandakan Ong Sing-thian pasti sangat gagah perkasa dan berwibawa.”

Berpikir demikian, ia merasa lega dan tinggal menantikan jawaban Goan-ci saja.

Tapi tunggu punya tunggu, tetap tiada suara sahutan Goan-ci.

Kiranya Goan-ci sendiri lagi lemas demi melihat Ting Jun-jiu benar-benar memburu datang, sampai tenaga untuk membuka suara saja sukar dikeluarkan.

Maka dengan, mengikik tawa A Ci lantas mendahului berkata, “Ting Jun-jiu, apakah kau belum pernah melihat kongcu ini?”

Mendengar A Ci, tiba-tiba langsung memanggil namanya, keruan gusar Ting Jun-jiu tidak kepalang, tapi demi mendengar rada suara anak dara itu agak angkuh seperti tidak takut lagi padanya, maka ia coba bersabar dan menjawab, “Ya, belum pernah kenal. Siapakah dia?”

“Tuan ini adalah Ong Sing-thian, Ciangbunjin Kek-lok-pay, masakah belum pernah kau dengar namanya?” ujar A Ci dengan tertawa.

Sing-siok Lokoay melengak. Banyak sekali aliran dan golongan orang Bu-lim, tapi selama ini belum pernah didengar ada nama “Kek-lok-pay” segala. Mendadak ia membentak, “Kek-lok-pay apa? Ngaco-belo belaka.”

“Huh, kau sendiri mirip kura-kura dalam sumur apa mau dikata lagi?” jengek A Ci. “Ong-kongcu, buat apa banyak bicara dengan dia, boleh kau turun tangan saja.”

Ting Jun-jiu menjadi heran, katanya, “Kau suruh dia turun tangan, turun ke mana?”

“Begini, kurasa sudah terlalu lama kau jabat ketua Sing-siok-pay, tentu kau pun sudah bosan, maka kupikir kini seharusnya diganti oleh orang lain,” kata A Ci.

Ting-lokoay mendongkol dan geli pula, ia coba tanya lagi, “Habis mesti diganti siapa?”

“Sudah tentu aku,” sahut A Ci sambil tuding hidungnya sendiri. “Dan kau boleh menyembah dan menyebut aku sebagai Suhu.”

Rasa gusar Ting Jun-jiu tak tertahankan lagi, sekali membentak mendadak ia menubruk maju, kelima jarinya bagaikan kaitan terus mencakar kepala A Ci, sedangkan tangan lain juga siap di depan dada untuk menjaga kalau Goan-ci mendadak juga menyerangnya.

Sebenarnya Goan-ci tidak berani bersuara, kini demi tampak Ting Jun-jiu menyerang dengan ganas dalam gugupnya mendadak ia berteriak, “Nanti dulu!”

Saking gugupnya sehingga suaranya menjadi gemetar dan lain daripada biasanya.

Ting Jun-jiu adalah tokoh jempolan, begitu Goan-ci membuka suara saja segera dapat didengarnya pihak lawan itu memiliki lwekang yang mahatinggi, terang seorang tokoh yang tidak boleh dipandang enteng, maka cepat ia menggeser dan cengkeramannya tadi berganti arah kepada Goan-ci.

Dalam sekejap itu Goan-ci pikir bila tidak melawan tentu akan mati, daripada mati konyol lebih baik berusaha sebisanya, maka dengan pejamkan mata, kedua tangannya terus menolak ke depan dengan cepat.

Kedua tangannya itu menolak lurus ke depan, sedikit pun tidak bergaya, tapi membawa sambaran angin dingin yang mahakuat. Keruan Sing-siok Lokoay terperanjat, cepat ia tarik kembali serangannya dan melangkah ke samping dua tindak sambil membentak, “Siapakah kau?”

Waktu Goan-ci membuka mata kembali, ia lihat Sing-siok Lokoay sudah menggeser pergi, ternyata dirinya nyaris mati konyol, ia pikir tak mungkin akan terjadi lagi seperti ini, hampir-hampir ia berlutut dan minta ampun.

Namun tiba-tiba terdengar A Ci berseru, “Ong-kongcu, sekali gebrak saja dia sudah terdesak mundur, mengapa engkau tidak menyerang lagi?”

“Dia... dia terdesak mundur?” Goan-ci mengulangi ucapan itu dengan bingung.

Sesudah mengadu tenaga dengan Goan-ci, segera Lokoay dapat mengukur tenaga dalam lawan ternyata sangat aneh, tapi rasanya seperti sudah dikenalnya juga. Mendadak teringat olehnya, maka dengan tertawa ia berkata, “Hehe, kiranya kau ini angkatan tua Thi-thau-siaucu itu?”

Dan belum lagi Goan-ci menjawab, tiba-tiba A Ci bertanya, “Ong-kongcu, Thi-thau-siaucu apa maksudnya?”

Goan-ci menjadi gelagapan, sahutnya dengan tergegap, “O, aku... aku mempunyai seorang murid, kepalanya sangat lihai, tentu Ting Jun-jiu sudah... sudah pernah telan pil pahit dari dia, makanya teringat padanya.”

A Ci menjadi girang, katanya, “Ting Jun-jiu, kiranya dengan muridnya saja kau sudah keok, apalagi sekarang berani melawan Ong-kongcu? Haha, kedudukanku sebagai Ciangbunjin Sing-siok-pay sudah terang tak bisa ditawar-tawar lagi.”

Keruan gusar Ting Jun-jiu bukan buatan sehingga rambut dan jenggotnya seakan-akan tegak melandak.

Melihat sikap Ting Jun-jiu yang menakutkan itu, hampir-hampir Goan-ci angkat langkah seribu alias melarikan diri, cuma ia tak tega meninggalkan A Ci, terpaksa ia kuatkan semangatnya untuk menantikan tindakan Ting-lokoay selanjutnya.

Sementara itu Ting Jun-jiu sudah mengerahkan unsur racun ke telapak tangannya dan setiap saat siap untuk dihantamkan. Tapi karena ia pun merasa jeri maka sebegitu jauh masih belum bertindak. Ia yakin Goan-ci pasti gurunya Thi-thau-siaucu alias si bocah berkepala besi, dahulu ia pernah mengadu tangan satu kali dengan Thi-thau-siaucu itu dan hampir-hampir celaka, sudah tentu sekarang ia lebih-lebih jeri terhadap Goan-ci yang disangka gurunya Thi-thau-siaucu.

Coba kalau A Ci tidak berada di situ, mungkin sejak tadi ia sudah mencari alasan untuk mengeluyur pergi, tapi sekarang A Ci telah membuka suara hendak rebut kedudukan ciangbunjin, bahkan suruh dia berbalik mengangkat guru pada anak dara itu, sedangkan Ting Jun-jiu sendiri memang juga pernah mendurhakai gurunya sendiri.

A Ci adalah murid didiknya, dengan sendirinya ia tahu anak dara itu berani bicara berani berbuat. Karena itulah, dalam keadaan demikian tidak mungkin ia melarikan diri.

Begitulah kedua pihak saling menunggu sekian lamanya, dalam takutnya kaki Goan-ci terasa lemas, beberapa kali hampir saja ia berlutut dan minta ampun. Untung dia masih dapat bertahan mengingat A Ci yang berada di sampingnya. Namun demikian, tidak urung ia menjadi gemetar juga.

Sebaliknya Sing-siok Lokoay menjadi kaget malah. Dia tidak kenal seluk-beluk pihak musuh, maka ragu-ragu untuk menyerang. Sekarang mendadak Goan-ci gemetar lagi, ia menjadi khawatir jangan-jangan pihak lawan sedang menghimpun kekuatan, maka cepat ia mundur selangkah.

Sekejap itu saja entah sudah berapa kali ia berpikir, teringat olehnya kejadian pada waktu pertama kalinya ia mengadu tangan dengan Goan-ci dahulu sudah terang Goan-ci lebih unggul, tapi bocah kepala besi itu berteriak-teriak minta ampun malah. Tatkala itu dirinya pernah curiga jangan-jangan bocah itu sengaja mempermainkannya.

Sekarang guru bocah kepala besi itu mendadak muncul pula di sini, bukan mustahil memang orang inilah yang dahulu sengaja menyuruh bocah kepala besi itu untuk menjajaki kepandaiannya dan pada saat genting A Ci digondol lari, boleh jadi tujuan mereka adalah ingin mendapatkan Pek-giok-giok-ting itu.

Demikianlah karena sejak mula pikiran Sing-siok Lokoay memang sudah jeri dan menjurus ke arah yang sesat sehingga makin dipikir makin jauh dan bertambah ragu.

Melihat Ting-lokoay hanya memandang dirinya dan tidak lantas turun tangan, diam-diam Goan-ci merasa lega. Tapi tetap bergemetar.

A Ci tidak dapat melihat, tapi dapat mendengar. Sesudah sekian lama tidak terdengar pertarungan kedua orang itu, sebaliknya terdengar suara gemetar orang, keruan ia terheran-heran dan segera tanya, “Ong-kongcu, siapakah yang gemetar?”

“Ti... tidak ada....” sahut Goan-ci cepat dengan terputus-putus.

Keruan A Ci tambah kaget, serunya, “Hai, Ong-kongcu, apakah engkau yang gemetar?”

“Mana... mana bisa, aku justru lagi... lagi menghimpun tenaga....” sahut Goan-ci.

“Habis, mengapa engkau tidak lantas turun tangan saja?” desak A Ci.

“Ya, segera aku turun tangan,” sahut Goan-ci sambil telan liur. Sekuatnya ia coba angkat tangan dengan perlahan.

Melihat lawan mulai angkat tangan dan siap menyerang, Ting Jun-jiu menjadi tegang. Segera tangan kirinya siap di depan dada dan tangan kanan membalik ke atas dengan gaya siap melawan musuh.

Dengan susah payah barulah Goan-ci sanggup angkat tangannya ke atas, namun tiada keberanian untuk dipukulkan sehingga telapak tangannya hanya siap menyerang tapi tetap gemetar.

Sungguh kejut Ting Jun-jiu tak terkatakan, ia sudah banyak berpengalaman, tapi belum pernah melihat ilmu pukulan aneh yang gemetar seperti ini. Sekilas pikir ia khawatir bila pukulan lawan telanjur dilontarkan, untuk bicara secara baik-baik tentu tidak mungkin lagi. Maka paling baik jangan sampai bergebrak, kunci daripada semua itu justru terletak pada A Ci.

Maka ia lantas mundur lagi selangkah sambil berseru, “A Ci!”

“Ada apa, Ting Jun-jiu? Apakah kau sudah mau menyembah guru padaku?” sahut A Ci.

“A Ci,” kata Ting Jun-jiu dengan menahan gusar, “tentu kau tahu aku tiada tandingannya di dunia ini, kau berani main gila seperti ini tentu akan kau terima ganjarannya. Tapi kalau kau mau insaf akan dosamu, biarlah aku takkan mengusut kesalahanmu ini.”

Namun A Ci cukup cerdik, ia sudah dapat mendengar suara Ting Jun-jiu yang keder itu, iblis itu sekarang hanya mirip “macan kertas” saja, galak di luar, tapi di dalam hati sebenarnya ketakutan setengah mati.

Maka A Ci tertawa senang, sahutnya, “Haha, jika memang benar kau tiada tandingannya di dunia ini, maka lekas kau binasakan Ong-kongcu dan tangkap aku agar dapat menunjukkan tempat penyimpanan Pek-giok-giok-ting di Lamkhia itu, mengapa kau masih ragu dan sangsi?”

Sungguh dongkol Ting Jun-jiu tidak kepalang tapi tak berdaya, ia hanya melotot sekali kepada Goan-ci.

Sebaliknya Goan-ci juga dapat mendengar suara Ting Jun-jiu yang jeri itu, ia pikir apa barangkali karena mukaku terlalu menyeramkan sehingga Ting-lokoay ketakutan?

Maka dengan tabahkan hati ia berkata dengan harapan dapat menggertak iblis itu, “Ya, A Ci ingin menjadi ketua Sing-siok-pay, kau mau menyerahkan jabatanmu kepadanya atau tidak?”

Sudah tentu Ting Jun-jiu tidak mau menyerah mentah-mentah hanya karena digertak begitu saja, ia pikir paling tidak juga mesti menjajal dulu kepandaian sejati pihak lawan. Bila memang tidak sanggup melawan, rasanya masih belum terlambat untuk melarikan diri.

Maka ia hanya tertawa dingin saja tanpa menjawab, sedangkan tangan perlahan mulai menolak ke depan.

Melihat tangan iblis tua itu sudah mulai bergerak, seketika hati Goan-ci kebat-kebit dan keluar keringat dingin, kedua kaki terasa lemas dan tanpa kuasa terus duduk mendeprok di tanah.

Melihat lawan mendadak duduk, muka gerak tangan Ting Jun-jiu bertambah cepat.

Melihat demikian Goan-ci menjadi ketakutan, ia menjerit sekali sambil berjumpalitan ke sana. Maka terdengarlah suara “blang” sekali, pukulan Ting Jun-jiu mengenai tanah sehingga berwujud sebuah liang kecil.

Mestinya Goan-ci hendak merangkak bangun untuk melarikan diri, tapi demi tampak betapa hebat pukulan Ting Jun-jiu itu kakinya semakin terasa lemas sehingga berdiri pun tidak sanggup.

Dalam pada itu A Ci juga mendengar gelagat tidak enak, cepat ia tanya, “Ong-kongcu, bagaimana kesudahannya?”

“A Ci,” sahut Goan-ci dengan suara yang dibuat-buat, “jabatan ketua Sing-siok-pay kukira....”

Belum lagi Goan-ci selesai bicara mendadak Ting Jun-jiu mendesak maju dan pukulan kedua dilontarkan lagi. Terpaksa Goan-ci menghindar dengan berjumpalitan dan berguling-guling di tanah.

Namun tenaga pukulan Ting Jun-jiu itu belum dikerahkan seluruhnya, mendadak ia membentak, “Kenapa kau tidak balas menyerang?”

“Ya, mengapa engkau tidak balas hantam dia, Ong-kongcu?” cepat A Ci juga berseru.

Tapi Goan-ci sudah lemas sehingga bersuara pun tidak sanggup. Ia lihat pukulan Ting Jun-jiu itu mulai mendekat pula, saking ketakutan nyalinya serasa pecah, tanpa pikir lagi ia meringkuk, ia sembunyikan mukanya ke bawah ketiak.

Sekilas itulah sekonyong-konyong pikirannya tergerak, tiba-tiba teringat olehnya sesuatu gambar dengan gaya yang aneh yang pernah dibacanya dalam kitab berbahasa Sanskerta itu. Dengan sendirinya sebelah tangannya yang lain terus diputar ke belakang, lalu dijulurkan ke depan pula melalui selangkangan.

Pengalaman Ting Jun-jiu terlalu banyak dan pengetahuannya sangat luas, meski dia tidak kenal Ih-kin-keng segala tapi demi melihat gaya aneh yang dipasang Goan-ci itu, segera ia tahu bahwa lawan sedang mengerahkan lwekang yang mahahebat, maka pukulannya lantas dihentikan setengah jalan.

Sesudah meringkuk dengan gaya yang aneh itu, segera Goan-ci merasa hawa murni dalam tubuhnya bergolak dengan cepat dan hebat seakan-akan membanjir ke telapak tangan yang menjulur ke depan melalui selangkangan itu bahkan terus merembes keluar dan menyambar ke depan.

Keruan mendadak Ting Jun-jiu merasa diterjang oleh suatu arus tenaga yang mahakuat, terpaksa ia pun mengerahkan tenaga yang ditahan tadi.

Tapi celaka, sedikit dia keluarkan tenaga, tenaga lawan yang membanjir itu pun segera bertambah kuat. Ketika tangannya tertolak ke depan seluruhnya, maka tenaga lawan yang membanjir itu pun terasa luar biasa kerasnya dan sukar ditolak kembali.

Ting Jun-jiu menjadi gugup dan gusar, ia mendakkan tubuh sedikit dan pasang kuda-kuda lebih kuat, mendadak ia membentak sekali, ia himpun segenap tenaganya pada tangan kanan terus ditolak ke depan sekuatnya.

Dengan pukulan sepenuh tenaga ini ia pikir paling tidak akan dapat mengadu tangan dengan pihak lawan, pada kesempatan mana segera ia dapat salurkan unsur racun.

Tak tersangka justru pada saat pertaruhannya yang terakhir itu, tiba-tiba ia merasa tangannya ditolak kembali oleh suatu arus tenaga yang tak terbendungkan. Tanpa ampun lagi Ting Jun-jiu menjerit, tubuh terpental ke udara dan berjumpalitan sehingga beberapa kali baru kemudian jatuh ke bawah sejauh beberapa meter.

Sesudah berdiri dan tenangkan semangat, ia coba memandang ke arah Goan-ci, sungguh ia tidak percaya dapat bertemu dengan seorang lawan yang sedemikian lihai.

A Ci menjadi girang ketika mendengar jeritan aneh Ting-lokoay, lalu ada suara orang terpental jatuh pula, segera ia berseru, “Ong-kongcu, Ting Jun-jiu sudah mampus belum?”

Keruan Ting-lokoay sangat gusar, teriaknya, “Hendak mampuskan aku? Huh, tidak segampang ini!”

“Ong-kongcu, lekas kau bereskan dia, jangan sampai dia lolos!” seru A Ci pula.

Tenaga dalam yang dikeluarkan Goan-ci dengan gaya aneh yang dipelajarinya menurut gambar dalam kitab Ih-kin-keng itu memang tak terbendungkan. Namun kalau Ting Jun-jiu tidak menyerang dengan sepenuh tenaga tentu tidak sampai terpental, tapi lantaran dia bermaksud menjajal Goan-ci dan kalau dapat akan mengadu tangan dengan lawan.

Siapa duga tenaganya itu jauh kalah kuat daripada tenaga aneh yang dilontarkan Goan-ci itu sehingga sebelum dia sempat menggunakan Hoa-kang-tay-hoat, dia sendiri sudah mencelat ke udara.

Untung dia masih dapat menutup hiat-to pada tubuhnya dan jatuh ke bawah dengan baik, kalau tidak tentu Sing-siok Lokoay sudah tamat riwayatnya.

Di lain pihak Goan-ci juga sangat bersyukur Sing-siok Lokoay mendadak terpental pergi, didengarnya pula A Ci sedang mendesak agar dia turun tangan lebih jauh, maka cepat ia jawab, “Ah, musuh yang sudah ngacir buat apa dikejar? Biarkan dia pergi saja. Dan tentang ketua Sing-siok-pay ini sudah tentu... sudah tentu, menjadi bagianmu untuk menjabatnya.”

Segera A Ci berseru, “Nah, Ting Jun-jiu, kau dengar tidak? Mulai hari ini aku adalah Ciangbunjin Sing-siok-pay.”

“Huh, kau manusia apa, berani mengaku sebagai Ciangbunjin Sing-siok-pay?” sahut Lokoay dengan gusar.

“Hahaha!” A Ci terbahak-bahak. “Kau sudah dikalahkan Ong-kongcu, masakah kau masih berani mengangkangi kedudukan ciangbunjin? Haha, apa kau tidak khawatir ditertawai orang di seluruh jagat?”

“Kau sengaja menggunakan tenaga orang luar, kau dapat dianggap sebagai murid murtad golongan kita, masakah kau berani mengaku-aku pula sebagai ciangbunjin apa segala?” sahut Ting Jun-jiu.

Tapi dengan tertawa A Ci berkata, “Bagaimana hubunganku dengan Ong-kongcu tentu dapat kau saksikan sendiri, dia bukanlah orang luar sebagaimana kau sangka. Segera juga kami akan kembali ke Sing-siok-pay, barang siapa di antara murid Sing-siok-pay berani mengakuimu sebagai ketua segera akan kuhukum mati, sebaliknya yang menyembah padaku sebagai ciangbunjin baru tentu akan kuberi hadiah dan naik pangkat. Huh, percuma saja kau mengaku sebagai bekas ciangbunjin, coba jawab, pusaka Sing-siok-pay kita, yaitu Pek-giok-giok-ting sekarang berada di tangan siapa?”

Dasar mulut A Ci memang tajam, biasanya Ting Jun-jiu paling suka mendengar sanjung pujinya, tapi sekarang ia kalah didebat sehingga tidak dapat menjawab.

Melihat lawannya bungkam, A Ci makin dapat angin, segera ia berseru pula, “Nah, Ting Jun-jiu, lekas menyembah kepada ciangbunjin baru. Kalau tidak menurut, hari ini juga tentu akan kuadili dosamu ini.”

Ting Jun-jiu terperanjat, cepat ia melompat mundur dulu dua tindak, lalu mendamprat dengan suara bengis, “A Ci, jika kau jatuh di tanganku lagi tentu akan kubeset kulitmu dan membetot ototmu.”

Belum habis ucapannya, mendadak A Ci mengikik tawa, sahutnya, “Hihi, boleh kau keluarkan ancaman lebih banyak, apabila kau yang jatuh di tanganku pasti akan kuperlakukan menurut resepmu itu.”

Terpaksa Ting Jun-jiu tutup mulut. Habis dia tidak unggul melawan “Ong Sing-thian”, dengan sendirinya kemungkinan dia akan ditawan A Ci akan lebih besar, maka bukan mustahil ancaman yang dia keluarkan itu akan “senjata makan tuan”.

Tentu saja A Ci tambah senang, ia terbahak-bahak puas, katanya pula, “Nah, Ting Jun-jiu, betapa pun aku masih menaruh belas kasihan padamu, bolehlah lekas enyah. Tapi ingat, selanjutnya kau dilarang menyebut nama Sing-siok-pay dan menginjak Sing-siok-hay dalam jarak seratus li di sekitarnya.”

Saking dongkolnya sampai muka Ting-lokoay pucat pasi, tapi ia masih tidak mau kalah suara, segera ia pun berkata, “Sing-siok Losian adalah ketua Sing-siok-pay, siapa berani tidak mengakui aku?”

“Huh, kau sudah kalah, masih berani mengaku sebagai ketua? Ini, sekarang akulah yang menjadi ‘ketua’,” seru A Ci.

“Kentut, akulah Ciangbunjin resmi Sing-siok-pay, sedangkan kau cuma ciangbunjin palsu, siapa yang mau mengakuimu?” ujar Ting-lokoay.

“Sudahlah, pendek kata bila kau sampai kepergok olehku di sekitar Sing-siok-hay, maka awas jiwa anjingmu, pasti tidak ampun,” ancam A Ci. “Nah, lekas enyah, masih menggonggong terus di sini buat apa?”

Adu sulut kalah, adu tenaga juga keok, keruan Ting Jun-jiu hanya mendelik belaka. Di bawah ejek sindir A Ci itu, akhirnya ia putar tubuh dan mengeluyur pergi dengan cepat.

Sungguh senang A Ci tak terlukiskan, hanya dengan mendamprat Ting Jun-jiu habis-habisan dan secara paksa dapat merebut kedudukan Ciangbunjin Sing-siok-pay hal ini boleh dikatakan merupakan hasil “karya” terbesar selama hidupnya.

Setelah puas tertawa kemudian ia berseru, “Ong-kongcu! Ong-kongcu?”

Sementara itu Goan-ci sudah berbangkit. Ketika mendengar A Ci berkata kepada Ting Jun-jiu tentang “bagaimana hubunganku dengan Ong-kongcu” dan “dia bukanlah orang luar” lagi, tanpa kuasa hatinya berdebar-debar dan semangat seolah-olah melayang-layang di angkasa luar, maka ia hanya memandangi A Ci dengan termangu-mangu sehingga tidak mendengar panggilannya itu.

Yang terpikir olehnya saat itu adalah derita sengsara yang pernah dirasakan selama hidupnya adalah berkat A Ci, tapi bahagia yang dirasakannya juga adalah atas hadiah anak dara itu. Sungguh kejadian aneh di dunia ini sukar dibayangkan oleh siapa pun juga.

Begitulah sesudah A Ci mengulangi panggilannya beberapa kali lagi barulah Goan-ci tersadar dari lamunannya, cepat ia menjawab, “Ya, A Ci, ada urusan apa?”

“Mengapa engkau diam saja?” omel A Ci sambil menjengkitkan bibir. “Kau tidak gubris lagi padaku?”

“Ah, masakah aku tidak gubris lagi padamu, kecuali aku sudah mati,” sahut Goan-ci.

“Wah, ilmu silatmu sungguh mahatinggi dan Ting Jun-jiu benar-benar sudah kau kalahkan,” ujar A Ci dengan tertawa. “Urusan yang masih harus kita kerjakan masih sangat banyak, buat apa kita tinggal lagi di sini?”

Sebenarnya tadi sebab apa Ting Jun-jiu bisa terpental ke udara dan jatuh terus ngacir, hal ini sampai sekarang belum lagi dimengerti Goan-ci. Sekarang mendengar A Ci bilang masih banyak urusan yang harus dikerjakan, ia menjadi gugup dan khawatir, cepat ia tanya, “Kem... kembali ada urusan apa lagi?”

“Sekarang kita pergi mencari orang Kay-pang untuk merebut Pak-kau-pang, masakah kau sudah melupakan perkataanku tadi?” sahut A Ci. “Sesudah mendapatkan Pak-kau-pang, lalu aku akan menemui Cihu. Kukira Cihu yang kini telah menjabat Lam-ih-tay-ong pasti tidak sudi menjadi pangcu kaum jembel itu, bisa jadi dia dengan suka hati, atau kalau perlu akan kugunakan sedikit akal, tentu dia akan menyerahkan Pak-kau-pang kepadaku, dengan demikian aku akan dapat merangkap menjadi Pangcu Kay-pang!”

Berkata sampai di sini, ia tertawa dengan sangat gembira.

Goan-ci sendiri tertegun sejenak, katanya kemudian, “Baiklah, mari kita berangkat!”

Namun dalam hati ia ambil keputusan akan membawa anak dara itu ke tempat yang sepi, tempat yang jauh dari masyarakat, toh A Ci sudah buta dan tentu takkan tahu.

Sebaliknya A Ci mengira Goan-ci sudah menerima permintaannya itu. Dan belum lagi urusan ini selesai, diam-diam ia mulai peras otak pula untuk memikirkan urusan aneh yang akan dilakukan selanjutnya.

Sebagai gadis yang cerdik, diam-diam A Ci merasakan Goan-ci suka menurut kepada segala keinginannya, apa yang diminta tentu takkan ditolak.

Dalam girangnya ia merasa pergaulannya dengan Goan-ci ini jauh lebih menyenangkan daripada waktu berada bersama Siau Hong. Apalagi Siau Hong adalah cihunya, sedangkan Goan-ci dalam anggapannya adalah seorang kongcu muda yang gagah perkasa, dalam lubuk hatinya telah bersemi asmara yang penuh manisnya madu sehingga derita karena matanya buta itu terlupakan sama sekali.

Begitulah Goan-ci membawa A Ci menuju ke depan, tidak lama kemudian mereka sampai di suatu kota. Ketika mereka lalu di jalan besar, terdengarlah suara percakapan orang di tepi jalan dengan rasa menyesal, “Lihatlah orang itu! Ya, mukanya benar-benar luar biasa! Ai, sungguh hebat, selama hidup tidak pernah kulihat orang semacam ini!”

Mendengar bisikan orang-orang itu A Ci menjadi lebih senang. Ia sangka setiap orang sama mengagumi betapa gagah perkasanya pemuda yang mendampinginya itu.

Sebaliknya Goan-ci cukup paham apa artinya kata-kata orang di tepi jalan itu, maka ia hanya berjalan terus dengan cepat sambil menunduk.

Tiba-tiba A Ci ingat sesuatu dan berkata, “Kita masih harus mencari para tertua Kay-pang di berbagai tempat, maka kita tidak boleh tanpa binatang tunggangan. Kota ini agaknya cukup besar, boleh kita beli dua ekor kuda bagus di sini.”

Goan-ci hanya mengiakan saja dan membawanya ke suatu tempat penjual kuda. Melihat muka Goan-ci yang luar biasa itu, penjual kuda ketakutan sehingga minta uang pun tidak berani meski Goan-ci membawa pergi dua ekor kudanya yang paling bagus.

Sesudah dalam perjalanan lagi, dengan tertawa A Ci berkata, “Ong-kongcu, di mana engkau berada, sampai bicara pun orang merasa sungkan, hal ini menandakan engkau pasti sangat berwibawa dan dihormati atau ditakuti.”

“Aku pun tidak sengaja hendak menakuti mereka,” sahut Goan-ci. “A Ci, berada bersamaku, apakah engkau merasa takut?”

“Entah, kalau aku dapat melihat, bisa jadi aku pun akan takut,” kata A Ci.

“Ah, tidak, tentu tidak!” cepat Goan-ci berkata pula.

Dan sesudah mereka keluar dari kota itu segera Goan-ci melarikan kuda mereka ke arah barat. Ia sengaja memilih tempat atau jalan yang sepi, tempat yang dituju makin lama makin sunyi.

Sepanjang jalan mereka banyak bicara dan banyak gembira sehingga tidak merasa kesepian. Selama beberapa hari itu boleh dikatakan adalah saat-saat paling bahagia bagi hidup Goan-ci selama ini.

Beberapa hari kemudian entah sudah sampai di mana, sepanjang mata memandang hanya lereng gunung belaka, sama sekali tidak kelihatan ada penduduk di sekitar situ.

A Ci mulai ribut, ia tanya, “Kita berada di tempat mana ini? Mengapa tiada terdengar suara orang?”

“Di depan sana adalah sebuah kota, cuma hari sudah dekat magrib, jika kita dapat mencapai kota itu tentu juga sudah malam dan tiada sesuatu yang menarik di kota yang sudah sunyi itu,” sahut Goan-ci.

“Mengapa berturut-turut kita selalu lewat di beberapa kota pada waktu malam?” tiba-tiba A Ci berkerut kening. “Sebenarnya ada apa kau dustai aku?”

Air muka Goan-ci berubah, cepat ia jawab, “Aku dustaimu? Buat apa aku berdusta? Ini kan cuma kebetulan saja.”

“Sudah beberapa hari kita tidak mendengar suara seorang pun, jangankan pula hendak mencari orang Kay-pang. Coba, cara bagaimana aku harus pulang ke Lamkhia dan menemui Cihu?”

“Engkau masih akan pulang ke Lamkhia?” tanya Goan-ci.

“Sudah tentu,” sahut A Ci dengan bersitegang. “Aku adalah putri Toan-hok Kuncu kerajaan Liau, Cihuku adalah Lam-ih-tay-ong. Nanti kalau kau bertemu dengan Cihu apa kau mau menjadi Tay-ong juga?”

Teringat siksa derita yang dialaminya di istana Lam-ih-tay-ong dahulu itu, Goan-ci merasa ngeri dan tanpa terasa suaranya menjadi agak gemetaran, “Tidak, aku tidak ingin menjadi Tay-ong segala. A Ci, bukankah kau bilang hendak selalu berdampingan denganku? Untuk itu biarlah kita mencari suatu tempat yang jarang didatangi manusia, kita dapat hidup bahagia bagai dewa kahyangan.”

“Tidak enak, tidak enak,” sahut A Ci sambil goyang-goyang tangan. “Kalau kita cuma hidup berduaan saja siapa lagi yang tahu bahwa aku telah berkenalan dengan seorang kawan yang memiliki kepandaian mahatinggi? Dan cara bagaimana aku dapat terkenal pula di dunia ini?”

Goan-ci tersenyum getir, katanya, “A Ci....”

“Sudahlah jangan bicara lagi,” sela A Ci. “Permainan yang begitu banyak dan menyenangkan di istana Lam-ih-tay-ong saja membosankan aku, masakah aku bisa kerasan tinggal di pegunungan yang sepi? Kau bilang di depan sana ada sebuah kota, nah, lekas cari tahu kita berada di tempat mana dan nanti akan kuberi tahukan selanjutnya kita harus menuju ke mana.”

Diam-diam Goan-ci menghela napas. Sebenarnya ia ingin membawa A Ci meninggalkan Tionggoan dan menuju ke suatu tempat yang jarang didatangi manusia, di situlah mereka berdua dapat hidup berdampingan selamanya tanpa peduli pertengkaran dan saling bunuh di dunia persilatan lagi.

Tapi harapannya ternyata sukar terkabul, sebab A Ci terang masih suka kepada keramaian dan kedudukan, rasanya kelak masih banyak kesulitan yang harus dihadapinya.

Terpaksa Goan-ci hanya mengiakan secara samar-samar saja, lalu melarikan kuda menuju depan.

Makin lama A Ci makin tak sabar lagi, serunya, “Mengapa belum sampai? Kita seperti berjalan di lereng gunung, bukan?”

“Sesudah melintasi pegunungan ini, di depan sana adalah kota,” sahut Goan-ci.

“Ai, kau ini, untuk apa sih kau bawa aku ke tempat sunyi seperti ini?” omel A Ci.

Tengah bicara, tiba-tiba terdengar kumandang suara seruling. Suara seruling itu terputus-putus, tiba-tiba tajam melengking, kadang-kadang merendah, kedengarannya sangat aneh.

Sebenarnya Goan-ci ingin menghindarkan arah datangnya suara seruling itu, tapi saat itu mereka kebetulan berada di tengah-tengah sesuatu sela gunung, jalan di situ hanya satu-satunya, kalau putar balik tentu akan membuat A Ci curiga, maka terpaksa Goan-ci membawanya maju terus.

Sebaliknya A Ci menjadi sangat senang demi mendengar suara seruling itu, katanya, “Wah, sesudah dekat kota keadaan memang sangat berbeda. Siapakah gerangan peniup seruling itu? Apakah ada kawanan ular yang merayap ke sini?”

A Ci sudah biasa main binatang berbisa, ia dengar di antara suara seruling itu tercampur suara mendesis-desis, maka segera ia tahu ada kawanan ular yang merayap ke arah mereka.

Waktu Goan-ci memandang ke depan, benar juga dilihatnya ada dua ekor ular raksasa dengan warna belang-bonteng sedang merayap datang dengan amat cepat, anehnya di atas punggung ular-ular itu berdiri satu orang.

Besar kedua ular ekor itu kira-kira sebulatan paha, panjangnya belasan meter, kedua ular itu merayap berjajar seperti berbaris. Penunggang ular itu berdiri dengan kaki menginjak di atas badan tiap-tiap ular, jadi seperti main ski saja meluncur dengan cepat, walaupun badan ular pada umumnya sangat licin, tapi orang itu dapat berdiri dengan mantap, bahkan sambil meniup seruling lagi.

Keruan Goan-ci terheran-heran, katanya, “Wah, A Ci, ada pemandangan aneh ini!”

“Pemandangan aneh apa? Lekas ceritakan padaku,” pinta A Ci.

“Ada seorang, yaitu seorang padri asing yang kurus kering, kedua kakinya menginjak di atas dua ekor ular dan sedang meluncur kemari,” tutur Goan-ci.

Segala permainan dan segala dolanan yang aneh-aneh tentu pernah dicoba oleh A Ci. Tapi permainan menunggang ular seperti apa yang diceritakan Goan-ci ini belum pernah dicobanya. Maka cepat ia berkata, “Wah, sangat menarik! Lekas kau rampas kedua ekor ular itu, marilah kita juga menunggang ular saja, bukankah jauh lebih menyenangkan daripada menunggang kuda?”

Goan-ci tidak menduga anak dara itu dapat mengeluarkan pikiran yang aneh-aneh, ia jadi ragu dan menyesal telanjur diceritakan padanya.

Selagi ia tidak tahu cara bagaimana harus berbuat, sementara itu kedua ekor ular raksasa itu sudah meluncur tiba, ketika padri asing penunggang ular itu meniup serulingnya dengan suara melengking sekali, kedua ular itu lantas berhenti. Lalu padri itu memandang Goan-ci dan A Ci dengan matanya yang besar melotot itu.

Goan-ci melihat padri jitu berkulit hitam hangus, kepalanya kurus bagai tengkorak, tapi matanya bersinar sehingga membuat siapa yang memandangnya merasa risi.

Tiba-tiba padri itu menunjuk kuda tunggangan Goan-ci berdua, lalu mulutnya mengeluarkan kata-kata yang aneh dan panjang lebar. Tapi Goan-ci lantas dapat memahami bahasa yang digunakan padri itu bukan lain adalah bahasa yang pernah dipelajarinya dari Polo Singh dahulu itu.

Tapi karena dulu dia dipaksa belajar, selalu setiap hari kenyang dihajar, pada hakikatnya ia tidak paham bahasa apa-apaan itu. Maka sekarang ia pun tidak dapat menangkap maksud apa yang diucapkan padri asing itu.

“Ong-kongcu, apa yang dibicarakan orang ini?” tanya A Ci.

“Aku pun tidak paham,” sahut Goan-ci. “Tampaknya dia menghendaki kedua ekor kuda kita.”

“Hah, mungkin dia sudah bosan menunggang ular, maka ingin bertukar dengan kuda kita. Ayolah boleh tukar saja dengan dia, tanya dulu dia berani tambah berapa, namanya tukar-tambah!” kata A Ci.

Goan-ci mengamat-amati pula sikap padri asing itu, lalu sahutnya, “Tapi rasanya bukan begitu maksudnya. Agaknya dia cuma ingin ambil kedua ekor kuda kita untuk tangsel perut kedua ekor ularnya yang tampaknya sudah kelaparan itu.”

“Masa? Mengapa begini kurang ajar hwesio asing ini?” seru A Ci dengan gusar.

Dalam pada itu padri itu masih mengoceh terus, suaranya makin lama makin tajam. Lwekang Goan-ci jauh lebih kuat dan tidak merasakan apa-apa, tapi A Ci lantas merasa perasaannya kacau dan tubuh tergoyang-goyang hampir jatuh dari kudanya.

Cepat Goan-ci mengangkatnya dan dipindahkan di atas kudanya, jadi dua orang menunggang seekor kuda.

Dan baru saja A Ci meninggalkan kudanya, mendadak ular di bawah injakan kaki kanan padri asing itu lantas menubruk maju, secepat kilat leher kuda itu dililit sehingga kuda itu terguling-guling di tanah sambil meringkik ngeri.

“Ada apa? Ada apa?” A Ci tanya berulang-ulang.

Dalam pada itu kepala ular itu mendadak menyusup ke dalam mulut kuda, lalu ringkikan kuda itu makin lama makin lemah dan akhirnya berhenti.

Goan-ci sampai terkesima menyaksikan itu, sesudah A Ci mengulangi pertanyaan baru ia dapat menjawab, “O, seekor ular milik padri itu menggigit mati kudamu.”

A Ci tercengang, tapi segera katanya, “Jangan khawatir, kita suruh dia ganti dengan ularnya saja!”

Sementara itu ular tadi telah menarik kembali kepalanya dari mulut kuda sambil menjulur-julurkan lidahnya yang merah, lalu mengesot di tanah dengan kemalas-malasan bagaikan seorang yang habis makan terlalu kenyang dan ingin mengaso dulu.

Sedang ular yang lain juga mulai mendesis-desis, tampaknya sudah tidak sabar lagi. Padri asing itu pun menuding kuda yang ditunggang Goan-ci bersama A Ci itu sambil membentak-bentak.

Goan-ci pikir padri ini sangat aneh, rasanya sukar dilawan. Paling selamat kuda ini diserahkan saja padanya dan habis perkara.

Maka ia lantas berkata, “Harap Taysu jangan gusar, biarlah kami turun dulu dari kuda ini!”

Lalu ia lompat turun dan memayang A Ci pula ke bawah, kemudian mereka melangkah mundur beberapa tindak.

Dalam sekejap itu ular raksasa itu sudah menyambar maju, sekali gigit kepala kuda itu dicaploknya. Maka terdengarlah suara “siat-siut” yang keras, hanya sekejap saja otak kuda itu telah disedot habis lalu ular itu pun mengesot di tanah dengan kemalas-malasan.

Adapun padri asing itu tenang-tenang saja berjalan mondar-mandir sambil menggendong tangan. Sedangkan Goan-ci merasa bingung, ia berdiri diam di situ tanpa berdaya.

Segera A Ci tanya lagi, “Bagaimana dengan kedua ekor ular itu? Kenapa engkau tidak minta ganti padanya?”

“Bahasa kita dengan padri itu tidak sama, daripada susah-susah, biarkanlah,” ujar Goan-ci.

“Bahasa tidak sama, apa salahnya?” kata A Ci. “Kau gebah dia biar ngacir dan ular-ular itu kan menjadi milik kita?”

Tapi meski Goan-ci sudah peras otak juga tidak ingat cara bagaimana harus mengucapkan kata “ular” sebagaimana dahulu Polo Singh pernah mengajarkannya.

Tapi ia yakin padri ini besar kemungkinan adalah sebangsanya Polo Singh, boleh jadi mereka adalah kenalan pula, kalau ia sebut nama Polo Singh bukan mustahil akan dapat berunding secara baik-baik dengan padri itu. Maka segera ia berkata, “Polo Singh!”

Benar juga padri itu tampak melengak dan memandang ke arahnya.

Maka tertawalah A Ci dengan terkikik geli, serunya, “Hihi, kiranya kau pun mahir bicara dalam bahasanya yang aneh itu.”

“Tidak, aku tidak dapat, Polo Singh adalah nama orang,” sahut Goan-ci.

Tiba-tiba padri itu mendekati Goan-ci dan menegas, “Polo Singh?”

Goan-ci manggut-manggut, “Ya. Polo Singh, Polo Singh!”

Tapi mendadak padri itu menjambret dada Goan-ci dengan lima jarinya yang kurus kering itu sambil diguncang-guncangkan dan mulutnya mengoceh panjang lebar, entah apa yang dimaksudkan.

Keruan Goan-ci terkejut, cepat serunya, “He, apa-apaan ini?”

Dengan mendelik padri itu mengamat-amati Goan-ci sejenak, tampaknya ia agak aseran, tiba-tiba serunya tajam, “Polo Singh?”

Sekarang Goan-ci tahu bahwa maksud baiknya telah mendatangkan celaka malah baginya, terpaksa ia berkata lagi, “Ya, sekali Polo Singh tetap Polo Singh, biarpun kau pegang aku lebih keras juga tiada gunanya.”

Sudah tentu padri itu tidak paham apa yang dikatakan Goan-ci, ia tambah gusar dan mengomel pula panjang lebar sambil mengguncang-guncangkan Goan-ci terlebih keras.

A Ci tidak sabar mendengarkan percekcokan mereka itu, katanya, “Buat apa banyak rewel dengan dia, bereskan dia saja, Ong-kongcu!”

Segera Goan-ci sedikit menarik dirinya dengan maksud meronta. Tak terduga cengkeraman padri itu ternyata sangat kuat, “bret”, tahu-tahu bajunya robek dan sakunya jatuh semua ke tanah. Di antaranya terdapat belati pemberian Hong Po-ok sehingga menerbitkan suara nyaring waktu jatuh dan mengeluarkan sinar kemilau.

Padri itu terus jemput belati itu sambil diobat-abitkan dua-tiga kali ke arah Goan-ci dan mengucapkan dua kalimat entah apa maksudnya.

“Jika Taysu suka pada belati ini, biarlah kuberikan kepadamu,” cepat kata Goan-ci.

“He, mana boleh!” seru A Ci. “Apakah kedua ekor ularnya itu lebih bagus daripada kuda kita, masakah kita harus tambah dengan sebilah belati?”

Goan-ci serbarunyam menghadapi kedua orang di depannya sekarang ini, yang satu tidak dikenal bahasanya, yang lain buta dan bicara asal buka mulut saja. Terpaksa, ia menjawab, “Kau diam saja, A Ci, biar aku yang melayani dia.”

Sesudah memeriksa belati itu, kemudian padri itu mendadak angkat tangannya. Cepat Goan-ci menarik mundur A Ci, ia sangka padri itu hendak menyerang.

“Apakah padri itu hendak menyerang kita?” tanya A Ci.

“Belum, entah dia mau apa,” sahut Goan-ci. Dan sesudah geraki belati itu beberapa kali, kemudian padri itu membuang belati itu ke tanah.

“Eh, kiranya Taysu tidak sudi, ya sudah, kuambil kembali saja,” kata Goan-ci sambil melangkah maju untuk menjemput belati itu.

Kebetulan belati itu jatuh dekat kitab Ih-kin-keng yang tadi ikut jatuh ke tanah, maka Goan-ci lantas sekalian menjemputnya kembali.

Tapi mendadak terdengar padri itu berteriak aneh, sebelum Goan-ci tahu apa yang terjadi mendadak tangannya kena dipegang padri itu dengan kencang sehingga belati dan Ih-kin-keng yang sudah diambilnya itu jatuh pula ke tanah. Tanpa menghiraukan belati itu, padri itu terus jemput Ih-kin-keng.

Goan-ci terkejut, cepat serunya, “He, Taysu, tidak boleh ambil kitab itu!”

Berbareng ia meronta sekuatnya sehingga terlepas dari cekalan padri itu sekalian ia terus mendorong pundak orang.

Yang dipikir padri itu adalah menjemput Ih-kin-keng, maka ia tidak sempat menghindarkan dorongan Goan-ci itu. Kebetulan dorongan itu mengenai “Koh-cing-hiat” di pundaknya, mendadak saja padri itu berteriak aneh sekali terus mencelat bagai terbang.

Keruan Goan-ci tercengang, ia sangka ginkang padri ini benar-benar sangat hebat. Ketika ia perhatikan lebih jauh, ia lihat padri itu terpental belasan meter jauhnya baru turun ke tanah, malahan di atas tanah padri itu masih berjumpalitan lagi beberapa kali.

Goan-ci menjulurkan lidah melihat “ketangkasan” padri itu. Cepat ia jemput kembali belatinya dan siap melawan orang.

Tak terduga sesudah dapat berdiri kembali padri itu cuma melotot saja kepada Goan-ci, lalu ia merogoh keluar serulingnya dan ditiup beberapa kali.

Mendengar suara seruling, kedua ekor ular yang tadinya mengesot di tanah mendadak mengangkat kepala dan menggoyang ekor terus menerjang maju dengan cepat.

Keruan Goan-ci terkejut, cepat serunya, “A Ci, lekas lari!”

“Ada apa?” A Ci juga kaget.

Goan-ci tidak sempat menerangkan lagi, sedangkan kedua ekor ular itu sudah merayap tiba. Meski dia biasa main ular, tapi terhadap ular sebesar itu ia menjadi bingung juga, terpaksa ia hanya pegang tangan A Ci sambil menahan napas.

Anehnya ketika ular-ular itu kira-kira dua-tiga meter di depan Goan-ci, lalu berhenti, bahkan badannya terus melingkar menjadi satu, malahan kepala juga mengkeret.

Melihat kedua ular itu tidak bergerak lagi, legalah hati Goan-ci, ia dengar suara seruling yang ditiup padri asing itu makin lama makin melengking tajam, malahan sambil meniup seruling padri itu pun menari-nari, keringat tampak memenuhi jidatnya, suatu tanda sedang mengerahkan tenaga untuk mendesak ularnya agar menyerang, tapi celaka baginya, kedua ular itu tetap meringkuk saja dan tak mau bergerak.

Suara seruling itu makin lama makin keras dan tinggi, sampai akhirnya, “prak”, mendadak seruling pecah menjadi dua belah. Wajah padri itu tampak berubah pucat, cepat ia kabur dan menghilang di balik lembah sana.

“Bagaimana?” tanya A Ci cepat.

“Padri itu sudah lari, tapi kedua ekor ular raksasa masih meringkuk di sini tanpa bergerak,” sahut Goan-ci.

“Wah, tentu mereka takut padamu, agaknya mereka sudah kenal maksud manusia, coba kau dekati mereka untuk melihat bagaimana reaksinya?”

“Men... mendekati mereka?” Goan-ci menegas dengan khawatir.

“Ya, apa kau takut?” tanya A Ci.

Mendadak Goan-ci membusungkan dada, sahutnya, “Sudah tentu tidak... tidak takut.”

Tapi melihat kedua ekor ular yang luar biasa besarnya itu, mau-tidak-mau ia merasa ngeri juga. Dengan perlahan akhirnya ia mendekati ular-ular itu, ia pentang tangan dan beraksi hendak menyerang sambil mulut mendesis-desis.

Namun kedua ular itu meringkuk semakin erat, tampaknya sangat ketakutan.

“Bagaimana, apa mereka mau tunduk pada perintahmu?” tanya A Ci pula.

“Tampaknya kedua ekor ular ini kurang cerdik, rasanya tidak berguna untuk ditaklukkan,” ujar Goan-ci.

“Habis, kuda kita sudah mati, tanpa kedua ekor ular cara bagaimana kita melanjutkan perjalanan?” omel A Ci.

Terpaksa Goan-ci menjawab, “Baiklah, akan kucoba lagi!”

Lalu perlahan ia mengulur tangan ke depan hendak meraba kepala ular. Melihat kepala ular menunduk di tanah sambil menjulur lidah, kembali Goan-ci ragu dan takut.

Dan selagi ia hendak menarik kembali tangannya, sekonyong-konyong kedua ular itu meloncat ke atas terus memagut lengannya. Kontan saja Goan-ci menjerit.

Keruan A Ci ikut kaget. “Ada apa?” tanyanya cepat.

“Aku... aku digigit ular!” seru Goan-ci sambil meringis. Ia sangka jiwanya pasti akan melayang sehingga suara pun terasa lemas.

Namun kedua ulat itu lantas melepaskan gigitannya, dengan cepat terus merayap pergi dan melilit erat pada suatu batang pohon besar. Makin lama makin keras lilitannya, hanya sekejap saja terdengarlah suara “pletak, pletok,” berat kedua ular raksasa itu pecah dan darah memenuhi tanah di sekitar pohon.

Dengan mata terbelalak Goan-ci memandang bangkai ular-ular itu, hampir-hampir ia mengira di dalam mimpi.

Dalam pada itu A Ci berseru pula, “Ong-kongcu, bagaimana keadaanmu?”

Goan-ci coba angkat tangannya yang digigit ular itu dan digerak-gerakkan, tapi tidak terasa sakit, hanya tempat yang digigit itu terdapat dua baris bekas gigitan. Maka jawabnya, “Aku tidak apa-apa.”

“Dan bagaimana kedua ekor ular itu?” tanya pula A Ci.

“Sudah mati,” sahut Goan-ci.

“Ai, mengapa kau bunuh mereka?” kata A Ci dengan gegetun.

“Aku tidak membunuhnya, tapi mereka mati sendiri,” sahut Goan-ci.

Biarpun A Ci sangat pintar juga tidak dapat mengetahui sebenarnya apa yang menyebabkan kematian ular-ular itu, maka ia hanya menghela napas dan menyatakan rasa sayangnya.

Kiranya unsur racun yang terhimpun dalam tubuh Goan-ci itu jauh lebih lihai daripada ular-ular berbisa itu, maka begitu ular-ular itu menggigit Goan-ci, darah berbisa di badan Goan-ci itu berbalik membinasakan mereka malah.

Ketika Goan-ci memandang ke depan, tiba-tiba dilihatnya ada lagi dua ekor ular yang lain sedang merayap tiba, ia tersenyum getir dan berkata, “Tidak perlu menyesal, A Ci, ada dua ekor ular yang lain sedang mendatang pula, malahan lebih besar daripada tadi.”

“Hah, apa juga dapat dipakai sebagai kendaraan?” seru A Ci dengan girang.

“Ya,” sahut Goan-ci. “Malahan kedua ekor ular ini jauh lebih aneh. Ekor mereka terlibat menjadi satu dan di atasnya duduk seorang padri asing.”

“Wah, apa betul?” seru A Ci sambil bertepuk tangan.

“Buat apa aku dustaimu,” sahut Goan-ci.

Cepat sekali kedua ekor ular itu sudah merayap tiba. Waktu Goan-ci memerhatikan padri yang duduk di atas ekor ular, ia lihat usianya sudah sangat tua, mukanya penuh keriput, tapi sinar matanya tajam.

Goan-ci tahu tidak mungkin lagi untuk melarikan diri, terpaksa ia berdiri di situ dengan harapan akan selamat lagi seperti tadi.

Tiba-tiba A Ci berseru, “He, padri itu, apakah kau mewakili kawanmu tadi hendak memberi ganti kerugian binatang tunggangan kepada kami?”

Padri itu memandang bangkai ular dengan air muka terkejut, lalu membuka suara dan ternyata sangat fasih berbahasa Tionghoa, katanya, “Apa kalian datang dari Siau-lim-si?”

A Ci merasa senang mendengar padri itu mahir bahasa Tionghoa, sahutnya cepat, “Ai, mengapa jawabmu menyimpang seribu derajat? Aku tanya apakah kau datang untuk mengganti kuda kami yang mati digigit ular kalian itu?”

Tapi jawaban padri itu tetap menyimpang, “Yang manakah di antara kalian yang dimintai tolong oleh Polo Singh Sute?”

Goan-ci terperanjat, tanpa terasa ia tanya, “Apakah engkau ini suhengnya Polo Singh?”

“Benar namaku Cilo Singh,” sahut padri itu. “Apakah engkau yang dimintai tolong oleh Suteku itu? Jika begitu barang yang dia minta agar kau sampaikan kepada kami itu boleh kau serahkan padaku saja.”

Jilid 58
“Ong-kongcu, apakah Cilo Singh ini orang gila?” seru A Ci dengan kurang senang karena orang bicara tak keruan juntrungannya.

Sebaliknya Goan-ci sudah kenyang merasakan siksaan Polo Singh di Siau-lim-si dahulu, ia tahu ilmu silatnya sangat tinggi, sekarang diketahui padri ini adalah suheng Polo Singh, keruan ia tambah keder sehingga lupa bahwa A Ci sudah buta, berulang ia goyang tangan memberi tanda agar A Ci jangan bersuara. Lalu katanya, “Taysu ini tentu salah paham, aku tidak datang dari Siau-lim-si, juga tidak pernah melihat... melihat Polo Singh segala.”

Cilo Singh mengunjuk rasa tidak percaya, katanya, “Habis, mengapa tadi kau sebut nama Polo Singh? Dan kitab Ih-kin-keng edisi bahasa Sanskerta yang merupakan pusaka Siau-lim-si itu mengapa bisa berada padamu?”

Pada hakikatnya Goan-ci tidak tahu buku yang jatuh dari saku Siau Hong dan ditemukannya itu buku apa, jangankan soal nama Ih-kin-keng segala, maka jawabnya, “Ah, tentu Taysu salah paham.”

Cilo Singh tampak mulai aseran, katanya, “Apa kau ingin mengangkangi Ih-kin-keng itu? Jika demikian, jangan kau salahkan aku main kasar, ya?”

Goan-ci menjadi gugup, sahutnya, “Bilakah aku mempunyai Ih-kin-keng segala? Ini, yang ada padaku hanya barang-barang seperti ini saja!”

Lalu ia keluarkan seluruh isi saku dan ditunjukkan kepada padri itu. Tapi terang kitab Ih-kin-keng dalam tulisan Sanskerta itu pun terdapat di antaranya.

Cilo Singh menjadi girang, pikirnya, “Waktu Sute menyerahkan kitab pusaka ini kepada bocah ini tentu tidak pernah menerangkan apa-apa padanya, maka bocah ini tidak tahu seluk-beluk tentang Ih-kin-keng ini.”

Segera ia meloncat maju ke depan Goan-ci.

Sebaliknya Goan-ci berkata lagi, “Coba lihat, milikku hanya ini saja. Belati ini memang sangat tajam, jika Taysu suka, boleh....”

Tiba-tiba A Ci mengikik tawa. Ia pikir padri asing ini pasti juga takkan terhindar daripada kekalahan, sebab itulah ia tertawa.

Sebaliknya Goan-ci sedang kelabakan menghadapi Cilo Singh, ia tidak paham mengapa A Ci tertawa, maka ia hanya berdiri tertegun di tempatnya.

Sementara itu Cilo Singh sudah mendekat, matanya menatap belati, di tangan Goan-ci itu dan berkata, “Ai, benar-benar sebuah senjata pusaka yang hebat, apakah Sicu sudi memberikan padaku?”

“Senjata ini memang juga pemberian orang lain, kalau mau silakan Taysu ambil saja,” ujar Goan-ci.

Maka perlahan Cilo Singh mengulurkan tangannya, tampaknya belati itu akan dipegangnya, tapi mendadak tangannya membelok ke samping sehingga kitab Ih-kin-keng yang dipegang Goan-ci pada tangan lain itu disambarnya.

Perubahan gerakan Cilo Singh ini teramat cepat sehingga tahu-tahu Ih-kin-keng itu sudah kena direbut olehnya.

Keruan Goan-ci tercengang, cepat ia berseru, “He, tidak boleh, tidak boleh! Buku kecil itu akan kupakai sendiri.”

Dari pengalamannya sejak berada di kota raja negeri Liau, beberapa kali Goan-ci lolos dari cengkeram maut berkat ajaran gambar dalam Ih-kin-keng itu, maka sudah tentu ia tidak mau kitab itu direbut orang dengan begitu saja.

Namun Cilo Singh sudah lantas melompat mundur, sahutnya, “Kau mau pakai, aku pun hendak memakainya.”

Goan-ci sudah kenyang dianiaya dan didamprat orang, demi mendengar jawaban padri itu, ia tertegun, terpaksa ia berkata, “Tapi... tapi mana boleh begitu? Kau rebut barangku dengan cara sewenang-wenang, hal ini mana boleh?”

“Ong-kongcu, barang apa yang direbut olehnya?” tanya A Ci tiba-tiba.

“O, hanya sejilid buku kecil saja, yaitu....”

“Masakah kau tinggal diam barangmu direbut padri setan itu?” potong A Ci dengan mendongkol dan heran pula.

Tapi Goan-ci sekali-kali tidak berani melawan Cilo Singh, ia lihat padri itu sedang membalik-balik halaman kitab kecil itu, wajahnya menampilkan rasa sangat girang. Maka dengan lagak seorang dermawan segera Goan-ci berkata, “Ya sudahlah. Toh buku itu bukan sesuatu barang penting, jika kau mau boleh ambil saja.”

Tiba-tiba A Ci mengentak kaki, katanya, “Ai, kau ini sungguh sangat aneh. Ilmu silatmu begini tinggi, tapi diam saja meski barangmu dirampas orang!”

Mendadak hati Goan-ci tergerak. Diam-diam ia heran mengapa A Ci, Hong Po-ok, Pau Put-tong dan lain-lain sama mengatakan ilmu silatnya sangat tinggi, apa yang mereka katakan itu tidak mungkin benar, tapi bila teringat pada apa yang dilakukannya paling akhir ini selalu berhasil, setiap tindakannya selalu menguntungkan dirinya, jangan-jangan Tuhan menaruh belas kasihan padaku sehingga diriku benar-benar telah diberkati dengan ilmu silat yang mahatinggi?

Betapa pun Goan-ci bukanlah anak dungu, meski pengalamannya selama ini membuatnya bingung, tapi akhirnya toh terpikir juga akan kemungkinan seperti apa yang dikatakan orang-orang atas ilmu silatnya itu.

Maka dengan membusungkan dada segera ia berkata, “Benar, A Ci, memang tepat katamu, biarlah kurebut kembali barangku itu.”

Lalu dengan langkah lebar ia mendekati Cilo Singh.

Ketika mendadak Cilo Singh mengangkat kepala dan memandang dengan sorot mata yang bersinar tajam, kembali Goan-ci merasa jeri lagi, ia coba menunjuk Ih-kin-keng di tangan padri itu dan berkata, “Buku ini tidak boleh diberikan padamu. Nah, kembalikan padaku!”

“Jika demikian, ambillah kembali!” sahut Cilo Singh.

Goan-ci menjadi girang dan segera hendak mengambil kitab itu. Tak tersangka baru saja tangan diangsurkan tahu-tahu tangan kanan Cilo Singh ditarik sedikit sehingga tangan Goan-ci memegang tempat kosong. Berbareng itu tangan kiri Cilo Singh seperti bisa mulur belasan senti lebih panjang, dan tahu-tahu punggung Goan-ci kena digebuk sekali dengan keras.

Karena tidak berjaga-jaga, hantaman Cilo Singh itu membuat Goan-ci terjungkal ke depan sejauh beberapa meter, darah serasa bergolak dalam rongga dadanya.

Mendengar ada orang terkena pukulan dan kemudian terjungkal jatuh, A Ci mengira setiap orang pasti tidak tahan digebuk oleh “Ong Sing-thian,” maka dengan bertepuk tangan ia berseru girang, “Wah, Ong-kongcu benar-benar sangat hebat!”

Sudah tentu Goan-ci hanya menyengir saja atas pujian itu. Ia merangkak bangun dan merasa menyesal telah sembarangan turun tangan. Tadinya ia sangka awak sendiri memiliki ilmu silat yang tinggi seperti dikatakan A Ci dan lain-lain, siapa tahu sekali maju lantas telan pil pahit sehingga, kehilangan kepercayaan atas diri sendiri.

Ia tidak tahu bahwa lwekangnya sekarang sama sekali tidak di bawah Cilo Singh, soalnya ia tidak tahu cara bagaimana harus menggunakannya untuk melawan musuh, makanya tidak berhasil merebut kembali kitab pusaka, sebaliknya malah kena digebuk sekali oleh “Thong-pi-kang” (ilmu tangan panjang) Cilo Singh.

Waktu ia pandang pula padri itu, ia lihat Cilo Singh sedang memandang A Ci dengan sinar mata keheran-heranan, ia tambah gugup, khawatir Cilo Singh mengatakan dirinya kena digebuk dan terjungkal, hal ini tentu akan sangat mengecewakan A Ci.

Sebab itulah maka berulang Goan-ci menggoyang-goyang tangan sambil mendekati Cilo Singh, katanya dengan suara keras, “Ya, sudah tentu, sekali kuturun tangan, mana dia tahan?”

Sebaliknya Cilo Singh jadi melongo, sebab saat itu Goan-ci sedang memberi hormat padanya sambil memberi tanda agar dia jangan bersuara.

Maka terdengar A Ci bertanya pula, “Apakah barangmu sudah kau rebut kembali?”

“Sudah tentu,” sahut Goan-ci cepat.

Tapi Cilo Singh mendadak acungkan Ih-kin-keng yang dipegangnya itu dan berkata, “Ini....”

Namun cepat Goan-ci memberi tanda tutup mulut padanya, saking gugupnya hampir saja ia berlutut untuk memohon. Lalu teriaknya keras-keras, “A Ci, biar kupergi mengejarnya, kau tunggu saja di sini dan jangan pergi ya!”

Habis berkata, segera Goan-ci lari ke sana sambil menoleh dan menggapai-gapaikan tangan kepada Cilo Singh.

Cilo Singh tahu pasti ada sesuatu yang ganjil maka tanpa bicara ia pun menyusul ke tempat Goan-ci itu. Sesudah belasan meter ia tidak tahan lagi akan rasa herannya, segera ia buka suara, “Kau ini main gila apa?”

“Taysu,” cepat Goan-ci menjawab dengan tersenyum pahit, “barang yang kau inginkan sudah kau peroleh, pula engkau sudah gebuk aku satu kali, sekarang apa salahnya kalau engkau mengalah sedikit kepadaku?”

Cilo Singh memandang sekejap ke arah A Ci, lalu tersenyum penuh licik, katanya, “Ya, pahamlah aku! Kau ingin nona itu mengira kau telah mengalahkan aku, betul tidak?”

“Ya, betul,” sahut Goan-ci. “Jika Taysu suka membantu dalam hal ini, sungguh aku akan sangat berterima kasih.”

Cilo Singh pikir sejenak, lalu berkata, “Aku ingin membantumu, tapi kau pun harus membantuku, yaitu membawaku pergi mencari Suteku, Polo Singh.”

Goan-ci terkejut, sahutnya kemudian, “Tapi... tapi Polo Singh berada di Siau-lim-si, mana aku dapat membawamu ke sana?”

“Kau sudah bertemu dengan dia, tentu tahu dia berada di mana,” ucap Cilo Singh. “Di biara yang besar seperti Siau-lim-si itu, kalau tidak kau beri tahu tempatnya, cara bagaimana aku dapat menemukan dia?”

Tapi Goan-ci menggoyang-goyang tangan, katanya, “Tidak, tidak bisa, aku tidak berani pulang ke Siau-lim-si lagi.”

Mendadak Cilo Singh menjulurkan tangannya, kelima jarinya mirip kaitan terus mencengkeram pundak Goan-ci dengan kencang.

Jika tadi Goan-ci belum merasakan gebukan, tentu sekarang dia berani dan mungkin melawan, dengan demikian dia tentu dapat melepaskan diri dari cengkeraman orang dan mungkin juga Cilo Singh bisa celaka.

Tapi sekarang dia sudah kehilangan kepercayaan atas diri sendiri sehingga untuk meronta saja tidak berani apalagi melawan. Sebaliknya kalau berteriak khawatir didengar oleh A Ci, maka terpaksa ia hanya memohon saja dengan suara lirih, “Taysu, lepas, lepas!”

Namun Cilo Singh tidak mengendurkan cengkeramannya, bahkan diperkeras malah. Dengan demikian ia sangka Goan-ci pasti akan berteriak kesakitan dan minta ampun. Tak terduga lwekang Goan-ci secara otomatis lantas mengeluarkan daya perlawanan, kontan suatu arus tenaga mahakuat menggetar ke atas sehingga cengkeramannya hampir terlepas.

Keruan Cilo Singh kaget. Tapi waktu ia pandang muka Goan-ci, ia lihat pemuda itu tetap mengunjuk rasa khawatir dan gugup.

Dasar Cilo Singh memang licin, segera ia tahu ada sesuatu yang ganjil atas diri pemuda itu, ia berkata dengan suara perlahan, “Aku akan melepaskanmu jika kau berjanji akan membawaku pergi mencari Polo Singh.”

Terpaksa Goan-ci menjawab dengan tersenyum getir, “Baiklah! Tapi aku pun mempunyai suatu syarat.”

“Syarat apa?” tanya Cilo Singh.

“Yaitu, Taysu tidak boleh mengatakan aku tidak mahir ilmu silat di depan A Ci.”

Cilo Singh menjadi heran, katanya, “Kau tidak bisa ilmu silat.... O, ya, kau tidak bisa ilmu silat.”

“Dan Taysu harus pura-pura sudah kukalahkan dan mau ikut ke Siau-lim-si,” kata Goan-ci pula. “Jika kau mau memenuhi permintaanku jangankan membawamu mencari Polo Singh, biar menjadi budakmu juga aku rela.”

“Baiklah, aku terima,” kata Cilo Singh kemudian setelah berpikir sejenak. Lalu ia lepaskan cekalannya atas pundak Goan-ci.

“A Ci,” segera Goan-ci berseru, “Cilo Singh Taysu ini telah... telah kususul kembali!”

Sudah tentu Ai Ci tidak tahu seluk-beluk apa yang terjadi, ia sangka hal itu pasti betul, sebab “Ong-kongcu” mahasakti, segala apa tentu dapat dilakukannya dengan baik. Maka ia pun tanya dari jauh, “Dan di manakah kedua ekor ular yang dapat dikendarai itu?”

“Masih ada di sini,” sahut Goan-ci. “Dia juga boleh membiarkanmu menumpang di atas ular-ular ini,” sembari berkata ia pun pemberi tanda kepada Cilo Singh agar menyatakan setuju.

Maka Cilo Singh mengangguk. Lalu Goan-ci berkata pula, “Cilo Singh Taysu ini cukup kenal gelagat, dia... dia tidak mampu melawan aku, maka terima di bawah perintahku.”

“Wah, bagus!” seru A Ci senang. “Dan di manakah ular-ular itu? Coba naikkan aku ke atas ekor mereka.”

Segera Goan-ci memberi tanda. Dan Cilo Singh lantas bersuit dua kali, lalu kedua ekor ular raksasa itu saling melilit sehingga bagian ekornya terangkat ke atas seperti tempat duduk kereta. Lalu Goan-ci mengangkat A Ci duduk di atasnya. Tentu saja senang anak dara tak terkatakan dan tertawa terus-menerus.

Melihat A Ci sangat gembira, diam-diam Goan-ci bersyukur karena akalnya berhasil dengan baik walaupun untuk selanjutnya ia harus tunduk kepada perintah orang, tapi sementara ini ia sudah dapat membuat senang hati A Ci, pula perjalanan ke Siau-lim-si sangat jauh, di tengah jalan besar kemungkinan masih ada kesempatan untuk melarikan diri.

“Kita akan pergi ke mana ini?” dengan tertawa A Ci tanya.

“Marilah kita pergi ke Siau-lim-si saja, mau?” sahut Goan-ci.

Biarpun A Ci adalah anak dara yang tidak kenal apa artinya takut, tapi Siau-lim-si adalah pusatnya dunia persilatan dan tempat suci agama Buddha, ia terkesiap juga demi mendengar ajakan itu.

“Ada apa pergi ke Siau-lim-si?” tanyanya kemudian.

“Menurut Cilo Singh Taysu ini, katanya dia ada seorang sute terkurung di biara itu, maka... maka aku dimintai bantuan agar pergi menolongnya,” tutur Goan-ci.

“Menolong orang ke Siau-lim-si, apakah kau yakin akan berhasil?” tanya A Ci dengan berkerut kening.

“Sudah tentu,” sahut Goan-ci.

“Jika begitu, ayolah kita berangkat,” kata A Ci. “Eh, cara bagaimana mengendarai ular ini agar mau berjalan?”

Segera Cilo Singh bersuit pula dan kedua ekor ular raksasa itu lantas merayap ke depan.

A Ci merasa kendaraan ular itu sangat “stabil”, saking senangnya sampai dia ngakak terus.

Dasar dia memang gadis yang pintar, maka dalam waktu dua-tiga hari saja ia sudah paham cara bagaimana mengendarai ular-ular itu, baik maju, mundur maupun berhenti atau membelok, semua itu tidak perlu bantuan Cilo Singh lagi.

Melihat A Ci sangat gembira, sudah tentu Goan-ci juga sangat senang. Selama dua-tiga hari itu sebenarnya banyak kesempatan untuk melarikan diri. Tapi Goan-ci merasa berat dan yang dijaga benar-benar oleh Cilo Singh adalah A Ci sehingga Goan-ci tidak dapat kabur.

Jalan yang mereka lalui adalah jalan kecil di pegunungan yang sepi, tapi terkadang juga ketemu orang. Sedangkan mereka bertiga mempunyai corak tersendiri-sendiri. Goan-ci bermuka seperti tengkorak hidup, yang lain seorang padri asing yang kurus kering, sedangkan A Ci cantik molek, tapi buta kedua matanya, apalagi duduk di atas ekor ular.

Pemandangan demikian benar-benar luar biasa, maka orang yang diketemukan di tengah jalan kebanyakan lantas lari terbirit-birit, ada satu-dua orang yang lebih tabah juga cuma menonton saja dari jauh.

Beberapa kali A Ci minta Goan-ci membawanya ke kota, maksudnya hendak mengadakan “pawai” mengendarai ular untuk ditonton orang kota, tapi Goan-ci memberi macam-macam alasan untuk menolak permintaan anak dara itu.

Kalau orang lain, tentu A Ci sudah mendampratnya dan tinggal pergi sendiri dengan mengendarai ularnya. Tapi terhadap “Ong Sing-thian” ini diam-diam sudah bersemi asmaranya, walaupun beberapa kali ia marah-marah, tapi juga tidak tega untuk tinggal pergi sendiri.

Selama atau delapan hari berlalu dengan tiada terjadi apa-apa. Lama-lama A Ci menjadi bosan duduk di atas ekor ular, terkadang ia pun turun untuk jalan berendeng dengan Goan-ci.

Hari itu sudah dekat magrib, Goan-ci dan A Ci jalan di depan dan Cilo Singh bersama ularnya ikut di belakang. Beberapa kali Goan-ci menoleh dan melihat padri itu kira-kira ketinggalan belasan meter jauhnya, kalau dia tarik A Ci terus melarikan diri mungkin dapat lolos, khawatirnya kalau tidak berhasil dan Cilo Singh membongkar guci wasiatnya tentang pembohongannya kepada A Ci, kan bisa runyam?

Karena itulah ia menjadi ragu dan sampai tidak terasa ketika ada seorang berpapasan dengan dia. Sebaliknya A Ci lebih dulu mendengar ada suara tindakan orang lain, lalu ia berhenti dan berkata, “Ong-kongcu, ada orang datang!”

Waktu Goan-ci memandang ke depan, tertampak seorang hwesio dengan jubah kelabu, muka bercahaya dan sikap agung berwibawa, walaupun tampaknya perlahan datangnya, tahu-tahu sudah mendekat dan sekejap saja sudah berselisih lalu di samping mereka.

Sudah beberapa hari A Ci tidak ketemukan orang luar. Cilo Singh itu adalah padri yang tidak suka bicara pula, A Ci memang lagi kesal, maka cepat ia tanya Goan-ci, “Ong-kongcu, macam orang apakah dia itu?”

“Seorang padri suci,” sahut Goan-ci.

“Huh, hanya seorang hwesio biasa, dari mana kau tahu dia suci dan tidak?” kata A Ci.

Waktu Goan-ci menoleh, ia lihat padri yang sudah lalu itu juga sedang berpaling untuk memandangnya. Melihat muka padri yang bercahaya dan agung itu, dengan sendirinya timbul rasa kagum dan suka Goan-ci, maka cepat ia berkata, “Ya, A Ci, memang benar seorang padri suci.”

“Coba kau panggil dia, akan kutanya dia apakah betul dia padri suci atau cuma seorang hwesio sontoloyo?” ujar A Ci dengan tertawa.

Keruan Goan-ci terkejut, katanya, “He, A Ci, Taysu itu tampak sangat agung, mana boleh mengolok-olok dia?”

Namun A Ci sudah lantas berteriak, “Hai, Toahwesio, apa kau dengar ucapanku? Apa kau datang dari Siau-lim-si?”

Diam-diam Goan-ci mengeluh dan tidak sempat mencegah lagi. Cilo Singh yang melihat hwesio itu, air mukanya berubah dan menyapa, “Bilakah Tay-lun-beng-ong berkunjung ke negeri tengah ini?”

Hwesio itu memang Tay-lun-beng-ong alias Ciumoti adanya. Karena disapa, segera ia pun menjawab dengan tertawa, “O, kiranya Cilo Singh Suheng, kenapa engkau juga mengembara ke negeri Song ini?”

Melihat Cilo Singh begitu prihatin terhadap hwesio tak dikenal ini, pula menyebutnya sebagai “Tay-lun-beng-ong” diam-diam Goan-ci pikir orang ini pasti tidak sembarangan asal-usulnya. Karena itu segera ia hendak membawa lari A Ci pada kesempatan kedua hwesio itu sedang bicara.

Tapi A Ci keburu berkata lagi, “Eh, Toahwesio, apakah gelaranmu Tay-lun-beng-ong?”

Sejak mula Ciumoti tidak pernah berpaling ke arah Cilo Singh, juga tidak menaruh perhatian pada A Ci, sebaliknya sinar matanya terus menatap tajam atas diri Goan-ci saja.

Goan-ci merinding sendiri karena dipandang sedemikian rupa, ia menjadi bingung pula.

Segera Ciumoti merangkap tangan memberi hormat dan menyapa, “Numpang tanya siapakah nama Sicu yang mulia ini?”

Nyata, sekali lihat saja ia sudah lantas tahu bahwa sinar mata Goan-ci itu sangat luar biasa. Lwekangnya mahatinggi, tentu seorang kosen yang jarang diketemukan, cuma mukanya sedemikian jeleknya, makanya ia tanya. Bahkan pada kedua tangannya yang terangkap di depan dada itu diam-diam telah dikerahkan tenaga dalamnya untuk menyerang ke depan.

Namun lwekang Goan-ci memang mahatinggi, tenaga dalam Ciumoti yang sangat kuat itu ternyata tidak dirasakan olehnya sama sekali. Ia hanya menjawab, “Aku... aku bernama....”

Ia lihat sinar mata orang berkilat-kilat seakan-akan dapat membaca isi hatinya, maka nama samaran sebagai “Ong Sing-thian” menjadi tidak berani diucapkan.

“Barangkali Sicu ada sesuatu yang susah dikatakan sehingga tidak ingin memberitahukan namamu, bukan?” tanya Ciumoti pula.

“Ya, boleh... boleh dikatakan demikian,” sahut Goan-ci dengan samar-samar.

Memangnya A Ci sedang mendongkol karena hwesio yang disebut “Tay-lun-beng-ong” itu tidak gubris padanya, sekarang dia bertanya kepada Goan-ci, maka hati A Ci menjadi senang lagi, ia pikir pasti potongan Ong Sing-thian yang gagah perkasa itu membikin hwesio ini menjadi gugup sehingga lupa menjawab pertanyaannya tadi.

Demi mendengar Goan-ci enggan mengatakan namanya, segera ia berseru, “Toahwesio, tuan ini adalah Ong Sing-thian, Ong-kongcu, Ciangbunjin Kek-lok-pay di wilayah barat sana, mungkin pengalamanmu terlalu cetek, maka tidak kenal dia.”

Ciumoti menjadi curiga. Meski dia datang dari negeri Turfan yang jauh, tapi ia cukup kenal setiap aliran dan golongan dunia persilatan, dahulu malah pernah bergaul dengan Buyung-siansing dan saling tukar pikiran tentang ilmu silat.

Buyung-siansing itu adalah seorang kosen yang aneh, setiap aliran dan golongan persilatan di dunia ini boleh dikatakan dikenal semua olehnya tapi tidak pernah menyebut tentang “Kek-lok-pay”, sedangkan laki-laki bermuka jelek yang berada di depannya sekarang terang memiliki ilmu silat luar biasa, dengan sendirinya Ciumoti ragu dan curiga.

“Kau bilang Kek-lok-pay?” demikian Ciumoti menegas pula.

“Nah, betul tidak kukatakan pengalamanmu terlalu cetek?” ujar A Ci. “Kek-lok-pay itu adalah perguruan ciptaan Tat-mo Locou sendiri. Jika kau datang dari Siau-lim-si, maka lekas kau pulang ke sana, katakan bahwa Ciangbunjin dari Kek-lok-pay, Ong Sing-thian dan Ciangbunjin dari Sing-siok-pay, Toan A Ci hendak berkunjung ke sana dan suruh hwesio di sana siap-siap menyambut kedatangan kami di kaki gunung Siau-sit-san!”

Sejak A Ci buta dan berada bersama Goan-ci yang dianggapnya sebagai “Ong Sing-thian” yang mahasakti, semenjak itu ia lantas hidup di alam khayal yang dianggapnya sebagai kehidupan nyata, maka setiap tutur katanya sekarang menjadi mirip dengan orang yang mahakuasa dan tak terkalahkan.

Meski luas pengalaman Ciumoti, untuk sejenak ia menjadi bingung juga mendengar ucapan anak dara itu. Kemudian baru ia tanya, “Lisicu, lalu Toan A Ci, Ciangbunjin Sing-siok-pay itu berada di mana?”

A Ci mengikik tawa, sahutnya, “Orangnya sebesar ini dan berdiri di depanmu, masakah tidak kau lihat?”

Ciumoti tambah curiga mendengar itu, katanya, “O, kiranya Lisicu sendiri adalah ketua Sing-siok-pay, habis Ting Jun-jiu itu....”

“Biarlah kuterangkan padamu agar bisa menambah pengetahuanmu tentang perubahan besar di dunia persilatan pada masa akhir-akhir ini,” kata A Ci. “Ting Jun-jiu itu telah dikalahkan olehku bersama Ong-kongcu, sudah lama dia kehilangan mahkotanya sebagai ketua Sing-siok-pay.”

“O, jika demikian ilmu silat Ong-kongcu ini benar-benar luar biasa,” kata Ciumoti sambil mengangguk.

Meski A Ci sengaja menyatakan bahwa dia sendiri dan Ong-kongcu telah mengalahkan Ting Jun-jiu, tapi yang dipuji Ciumoti hanya Goan-ci saja, sebab sekali pandang saja ia sudah tahu ilmu silat A Ci hanya biasa saja, kalau ada yang mampu mengalahkan Sing-siok Lokoay, maka orang itu tentu adalah “Ciangbunjin Kek-lok-pay” ini.

Maka dengan berseri-seri A Ci mengoceh pula, “Sudah tentu luar biasa. Kau lihat padri yang bernama Cilo Singh itu, bukan? Dia datang dari Thian-tiok dan pandai menaklukkan ular, tapi hanya sekali gebrak saja Ong-kongcu sudah mengalahkan dia sehingga sepanjang jalan terpaksa dia menurut segala perintah kami.”

“Kiranya demikian,” kata Ciumoti dengan tersenyum. “Di negeri Thian-tiok sendiri Cilo Singh Suheng juga terhitung seorang jago kelas satu, tapi mengapa begini sial, hanya sekali gebrak saja sudah keok?”

Cilo Singh dapat mendengar nada Ciumoti itu sengaja hendak mengolok-olok padanya, keruan gusarnya tidak kepalang, masakah dia yang menang telah diputarbalikkan A Ci dan diumumkan secara terbuka, kalau Ciumoti nanti menyiarkannya kepada orang lain pula, kan pamor Cilo Singh bisa hilang habis-habisan, apalagi Turfan berdekatan dengan Thian-tiok, kalau berita kekalahannya sampai di negeri asalnya, tentu dia akan kehilangan muka.

Saking gusarnya Cilo Singh tidak hiraukan lagi janjinya kepada Goan-ci yang minta dia pura-pura mengaku telah dikalahkan olehnya, dengan tertawa dingin ia lantas menjawab, “Hehe, memangnya hanya sekali gebrak saja aku sudah dikalahkan Ong-kongcu itu?”

“Ya, paling-paling juga cuma dua kali gebrak, masakah kau sanggup bertahan sampai tiga kali gebrak?” kata A Ci.

Keruan yang kelabakan adalah Goan-ci sehingga berkeringat, serunya, “A Ci, sudahlah, jangan bicara lagi.”

“Tidak bisa, padri ini suka plintat-plintut, kau harus memberi hajaran lagi padanya,” kata A Ci.

“Memberi... memberi hajaran?” Goan-ci sampai berkomat-kamit sendiri.

Dan belum lagi A Ci membuka suara, di sebelah lain Cilo Singh sudah lantas menjengek, “Hm, nona cilik, hendaklah kau jangan mimpi di siang bolong lagi. Ketika dia bertarung dengan aku, hanya sekali gebrak sudah terjungkal, tapi dia khawatir diketahui kau, maka mohon aku pura-pura dikalahkan oleh dia. Ha, cara bagaimana dia berani lagi memberi hajaran padaku?”

Mendengar Cilo Singh telah membongkar semua rahasianya, diam-diam Goan-ci mengeluh, “Wah, celaka! Tamat! Tamatlah riwayatku!” — dan kakinya terasa lemas, dia jatuh mendeprok di atas tanah.

Sebaliknya A Ci telah mencibir dan menjawab Cilo Singh, “Huh, kau sendirilah yang mimpi di siang bolong! Kau ini kutu apa sehingga mampu mengalahkan Ong-kongcu dalam sekali gebrak? Dan buat apa dia mesti minta kau pura-pura kalah apa segala?”

Ciumoti juga tidak memercayai uraian Cilo Singh itu, segera ia pun berkata, “Cilo-suheng, orang beragama tidak boleh berdusta!”

Cilo Singh tertawa dingin, katanya, “Jika aku dapat menangkapnya, tentu Beng-ong akan percaya bukan?”

A Ci menjadi gusar, serunya, “Ong-kongcu, padri ini terlalu kurang ajar, harus kau hajar adat padanya!”

Tapi kepala Goan-ci serasa mendengung-dengung, terhadap ucapan A Ci itu sudah tentu sukar menjawab. Ia sadar meski sementara ini A Ci belum lagi percaya kepada cerita Cilo Singh itu, tapi sebentar lagi bila Cilo Singh dapat menangkapnya, tentu anak dara itu akan percaya, dan segala kebohongan yang dikarangnya secara indah dan muluk-muluk pasti juga akan terbongkar.

Begitulah, maka Goan-ci cuma termangu-mangu duduk di atas tanah, sampai Cilo Singh sudah mendekatinya juga dia tidak tahu.

Melihat Cilo Singh sudah hampir turun tangan segera Ciumoti melangkah maju dan berkata, “Nanti dulu, ilmu silat Ong-sicu ini sangat tinggi, masakah Hud-heng (saudara dalam Buddha) tidak dapat melihatnya?”

Sudah tentu Cilo Singh juga dapat melihat hal itu, tapi ia memang benar sekali hantam saja pernah membuat Goan-ci terjungkal. Sebab itulah ia menjawab dengan mendengus, “Hm, biarpun ilmu silatnya tinggi, tetap tidak melebihiku.”

Mestinya Ciumoti hendak bicara lagi, tapi ia lantas ganti pikiran dan mengundurkan diri.

Segera Cilo Singh membentak, “Ayo, bangun dan bergebrak denganku!”

Tapi Goan-ci cuma menunduk saja dan badan agak gemetar.

“Ong-kongcu tidak perlu berdiri untuk bergebrak denganmu,” segera A Ci berseru. “Biarpun duduk juga dia akan dapat merobohkanmu dengan sangat mudah.”

Cilo Singh tertawa dingin beberapa kali, mendadak tangannya mencengkeram pundak Goan-ci, kelima jarinya yang kurus bagai kaitan itu seakan-akan ambles ke dalam daging Goan-ci. Tapi lwekang Goan-ci teramat tinggi sehingga tidak merasa sakit.

Waktu Cilo Singh angkat tangannya, seketika Goan-ci kena diangkat ke atas.

“Lepas Taysu, lepas!” cepat Goan-ci memohon.

“Hm,” jengek Cilo Singh. “Nah, katakan lekas, kau yang menang atau aku yang menang?”

Tenggorokan Goan-ci terasa kering dan tersumbat. Ketika ia berpaling ke arah A Ci, sekilas dilihatnya anak dara itu sedang menantikan jawab dengan rasa cemas dan tidak sabar. Goan-ci pikir ada baiknya juga rasa kecewa A Ci itu ditunda barang sebentar saja. Maka dengan suara keras ia menjawab, “Sudah tentu kau yang dikalahkan olehku.”

Cilo Singh menjadi, murka, ia angkat tangannya lebih tinggi lagi.

Sebenarnya tubuh Cilo Singh tidak lebih tinggi daripada Goan-ci, tapi ia mahir “Thong-pi-kang”, tangan lain mengkeret makin pendek, sebaliknya tangan yang mengangkat Goan-ci itu mengulur makin panjang sehingga Goan-ci terangkat ke atas dan terkatung-katung di permukaan bumi.

“Nah, bagaimana?” tanya Cilo Singh pula dengan mengekek tawa aneh.

Air muka A Ci tampak mulai sangsi, serunya, “Ong-kongcu, bagaimana dirimu?

Sungguh perasaan Goan-ci sangat sedih, ia pikir tidak dapat bohong lagi, maka dengan tersenyum getir ia menjawab, “A Ci, biarlah kukatakan terus terang padamu, aku sebenarnya....”

Belum selesai ucapannya, tiba-tiba air muka A Ci tampak berubah hebat. Melihat itu, mendadak Goan-ci berhenti bicara.

Maka dengan suara gemetar A Ci bertanya, “Sebe... sebenarnya kenapa?”

Tiba-tiba Goan-ci ganti haluan dan menjawab, “Aku sebenarnya sedang mempermainkan dia. Coba kau pikir, sedangkan Ting Jun-jiu saja bukan... bukan tandinganku, apalagi cuma seorang padri asing, masakah aku takut?”

A Ci tidak dapat melihat keadaan Goan-ci yang terkatung-katung di udara itu, maka ia tertawa senang demi mendengar jawaban itu.

Ciumoti juga sangat heran karena selama itu Goan-ci tetap tidak balas menyerang. Ia pun mengira apa yang dikatakan Goan-ci untuk sekadar menghibur A Ci itu memang sungguhan, maka katanya, “Ong-kongcu memang orang yang kocak dan suka berkelakar.”

Tergerak hati Goan-ci, tiba-tiba ia pikir Tay-lun-beng-ong ini tampaknya pasti seorang jago kelas wahid, mungkin dia akan dapat menolong diriku.

Maka cepat sahutnya, “Eh, Taysu ini, kalau menurut pendapatmu, cara... cara bagaimanakah aku harus bertindak agar bisa mengatasi dia?”

“Buat apa mesti kau tanya orang lain?” sela A Ci.

“Aku sengaja hendak menguji sampai di mana pengetahuan ilmu silat Taysu ini,” ujar Goan-ci.

“O, kiranya demikian,” kata A Ci dengan tertawa.

Seketika Ciumoti juga tidak tahu benar atau tidak ucapan Goan-ci itu, maka dengan tersenyum, ia menjawab, “Jika kau hantam ‘Siau-hay-hiat’ mau-tak-mau dia terpaksa harus melepaskanmu.”

“Tapi terletak di manakah ‘Siau-hay-hiat’ itu?” tanya Goan-ci pula.

Ciumoti mengira Goan-ci sedang mengujinya, tanpa pikir ia pun menjawab lagi, “Terletak sedikit bawah ‘Leng-to-hiat’ dan sedikit di atas ‘Jing-leng-hiat’.”

Keruan Goan-ci menjadi kelabakan. Dahulu ia pernah belajar mengenali tempat hiat-to dengan paman dan ayahnya, tapi dasar anak bambungan, ia lebih suka main ular dan cari jangkrik daripada menghafalkan pelajarannya. Sebab itulah ia sudah lupa hiat-to manakah yang bernama Jing-leng-hiat dan Leng-to-hiat.

Terpaksa ia tanya pula, “Dan terletak di manakah kedua hiat-to itu?”

Tapi sebelum Ciumoti menjawab, segera Cilo Singh menyela dengan suara kurang senang, “Tay-lun-beng-ong, sebenarnya apa maksudmu?”

“Ong-sicu ini sedang menguji kepandaianku, terpaksa mesti kujawab,” sahut Ciumoti dengan tertawa.

“Huh, dia tahu ilmu silat apa?” jengek Cilo Singh gusar. “Jika dia paham ilmu silat mengapa tidak tahu bahwa Siau-hay-hiat itu terletak di lengan?”

Kata-kata Cilo Singh ini lantas menyadarkan Goan-ci malah sehingga mengetahui bahwa hiat-to yang disuruh serang oleh Tay-lun-beng-ong itu terletak di atas lengan. Karena Cilo Singh mencengkeram pundak kanannya sehingga tangan kanannya tidak leluasa bergerak, terpaksa ia angkat tangan kirinya.

Melihat Goan-ci benar-benar hendak menghantamnya, Cilo Singh menjadi gusar, mendadak cengkeramannya diperkeras sehingga jarinya yang kurus kering itu seakan-akan ambles semua ke dalam pundak Goan-ci.

Tapi Goan-ci tetap seperti tidak merasakan apa-apa, sebaliknya Cilo Singh lantas merasa pundak orang timbul suatu daya sedot yang mahakuat, tenaga yang dikerahkannya untuk mencengkeram itu seakan-akan disedot keluar dari tangannya. Dalam kagetnya tanpa menunggu hantaman Goan-ci tiba segera ia angkat tangannya dan Goan-ci dilemparkan hingga jatuh.

Ketika pukulan Goan-ci dilontarkan ia sudah terlempar lebih dahulu sejauh belasan meter. Jatuhnya yang keras itu kalau orang lain tentu tak tahan, tapi Goan-ci anggap seperti tidak terjadi apa-apa, dengan cepat ia merangkak bangun lagi.

“Nah, bagaimana menurut pendapatmu, Beng-ong?” jengek Cilo Singh.

Sebagai seorang cerdas segera Ciumoti dapat melihat tenaga dalam Goan-ci sangat hebat, tapi dalam hal ilmu silat sejati boleh dikatakan tidak becus sama sekali. Jadi mirip sepotong intan yang belum digosok sehingga tidak diketahui bahwa batu itu sebenarnya adalah batu mestika yang jarang terdapat.

Maka ia sengaja menggoyang kepala dan berkata, “Meski dapat kau lemparkan dia, tapi menurut pendapatku, kalau bukan dia sengaja mengalah, tentu dia sengaja hendak mempermainkanmu.”

Sebenarnya Goan-ci sedang lesu, demi mendengar ucapan Tay-lun-beng-ong itu, tiba-tiba ia mendapat akal lagi, cepat serunya, “Ya, memang aku cuma main-main saja denganmu, tapi kau malah anggap sungguhan dan senang setengah mati, hahaha!”

“Hm, jadi sengaja kau permainkan aku maksudmu?” sahut Cilo Singh, saking gusarnya ia tertawa. “Jika demikian, coba jawab, Ih-kin-keng yang mahapenting ini mengapa bisa berada di tanganku?”

“He, Ong-kongcu, ‘keng-keng’ apa yang dia maksudkan? Bukankah kau bilang sudah direbut kembali?” seru A Ci.

“Ya, memang sudah kurebut kembali sejak tadi, jangan kau percaya kepada ocehannya,” sahut Goan-ci cepat.

Cilo Singh jadi naik darah sehingga tanpa pikir ia keluarkan Ih-kin-keng dalam tulisan Sanskerta itu, katanya, “Jika begitu, habis barang apakah ini?”

Baru saja ia keluarkan kitab itu, di sebelah lain tubuh Ciumoti mendadak seperti melembung belasan senti lebih besar sehingga lengan bajunya mirip tertiup angin. Tapi dia cukup cerdik, segera ia tenangkan diri seperti semula sehingga perubahan sikapnya itu tidak diketahui oleh Cilo Singh.

Sebaliknya Goan-ci menjadi serbarunyam ketika Cilo Singh mengeluarkan Ih-kin-keng itu. Tapi ia pikir A Ci toh tidak dapat melihat, asal terus menyangkal saja tentu keadaan masih bisa dikuasai.

Maka ia sengaja terkekeh-kekeh beberapa kali, sahutnya, “Hehe, barang apa yang kau pegang itu? Haha, sungguh menggelikan, benar-benar lucu, hahaha... haha....”

“Apa kau sudah buta sehingga barangmu sendiri tidak kau kenali lagi?” damprat Cilo Singh dengan gusar.

“Hud-heng,” tiba-tiba Ciumoti menyela, “bolehkah kitab itu kupinjam lihat sebentar?”

Waktu bicara, kedua tangan Ciumoti tetap terselubung di tengah lengan bajunya yang longgar, bicaranya dengan tersenyum-senyum, pula sehingga sedikit pun tiada tanda mencurigakan.

Tapi mendadak Cilo Singh terperanjat demi mendengar nada ucapan Ciumoti itu, cepat ia berpaling ke arah Ciumoti, demi tampak air muka orang tersenyum-senyum saja dan kedua tangannya terselip dalam lengan baju, barulah Cilo Singh merasa lega.

Siapa duga pada saat itu juga tiba-tiba dirasakan ada suatu tenaga halus tapi mahakuat sedang menerjang ke urat nadi tangan kanannya. Seketika tangan Cilo Singh terasa kesemutan, cekalannya menjadi kendur, Ih-kin-keng yang dipegangnya itu mendadak meloncat ke atas.

Segera Cilo Singh sadar kena diselomoti Tay-lun-beng-ong. Sekilas ia lihat Ciumoti tetap tersenyum-senyum, bahkan jubahnya juga tidak bergerak sedikit pun, entah dengan cara bagaimana ia mengeluarkan tenaga gaib mahakuat itu.

Maka cepat Cilo Singh mengapung ke atas dengan maksud hendak menyambar kembali Ih-kin-keng itu.

Tapi pada saat tubuhnya terapung di udara itulah, kembali tenaga dalam yang halus tadi sangat kuat itu menyerangnya tanpa bersuara dan tepat mengenai dadanya, ia menjerit sekali terus terpental. Ia berkaok-kaok murka, “Tay-lun-beng-ong, apa maksudmu ini?”

Tapi Ciumoti hanya tersenyum saja, sekali tangan bergerak, tahu-tahu Ih-kin-keng itu terbang ke tangannya, lalu ia berkata, “Ih-kin-keng adalah milik Siau-lim-si, maka kugunakan ilmu silat Siau-lim-pay untuk merebutnya kembali.”

Cilo Singh juga bukan tokoh sembarangan, demi mendengar ucapan Ciumoti itu, tiba-tiba ia ingat sesuatu, katanya segera, “Apakah Bu-siang-jiat-ci?”

Ciumoti hanya tersenyum saja tanpa menjawab.

Keruan Cilo Singh muram dan lesu, sepatah kata pun tidak sanggup bicara lagi.

Baru sekarang Goan-ci yang mengikuti kejadian itu dapat menghela napas lega, katanya, “Wah, kepandaian Taysu ini benar-benar mahasakti!”

Padahal ketika Ciumoti menggunakan “Bu-siang-jiat-ci” (jari maut tanpa wujud) tadi sedikit pun tidak bergerak, tapi tenaga jari itu diam-diam menyambar keluar dari dalam lengan bajunya.

Sebagai serang tokoh besar, sekali omong saja Cilo Singh lantas tahu ilmu yang digunakan Ciumoti itu adalah Bu-siang-jiat-ci, tapi tidak demikian dengan Goan-ci, ia hanya memuji sekadarnya saja.

Lalu Ciumoti menjawab dengan tersenyum, “Ah, hanya sedikit kepandaian tak berarti, semoga tidak ditertawai oleh kaum ahli.”

A Ci tidak dapat melihat. Ia hanya dengar percakapan ketiga orang itu dan sukar memahami apa sebenarnya yang terjadi, maka cepat ia bertanya, “Apa yang terjadi, Ong-kongcu? Apa sudah bergebrak dengan toahwesio itu?”

Belum lagi Goan-ci menjawab, mendadak Ciumoti ulur tangannya untuk menjabat sebelah tangan Goan-ci. Sejak tadi ia sudah tahu lwekang Goan-ci sangat tinggi, tapi dilihatnya pula Goan-ci dibanting terjungkal oleh Cilo Singh dengan sangat mudah, hal ini membuatnya tidak habis mengerti, maka sekarang ia sengaja hendak menjajal sampai di manakah sebenarnya lwekang Goan-ci?

Sebaliknya Goan-ci menjadi tergetar ketika mendadak tangannya digenggam tangan Ciumoti, tenaga dingin dalam tubuhnya otomatis lantas terhimpun ke telapak tangannya itu.

Seketika Ciumoti merasa tenaga yang dikerahkannya tahu-tahu disedot oleh pihak lawan, keruan ia terkejut dan cepat lepas tangan.

Keadaan begitu pernah dialami Ciumoti dahulu ketika mengadu tangan dengan Toan Ki di Thian-liong-si Tayli. Siapa duga hari ini pengalaman itu berulang lagi.

Kalau Toan Ki memiliki ilmu sakti masih dapat dimengerti mengingat keluarga Toan memang terkenal sebagai keluarga jago silat yang disegani, tapi siapakah gerangan Ong Sing-thian yang berada di depannya sekarang ini, mengapa ilmu silatnya juga sedemikian lihai dan aneh?

Tampaknya jago-jago muda di dunia persilatan Tionggoan telah “patah tumbuh hilang berganti”, jago tua hilang lahir jago muda yang lebih sakti, terang harapannya untuk menjagoi dunia persilatan akan sukar tercapai.

Begitulah Ciumoti termangu-mangu sejenak di tempatnya, kemudian ia tertawa dan menjawab pertanyaan A Ci tadi, “Lisicu tidak perlu khawatir, aku justru sangat cocok dengan Ong-sicu, mana bisa saling labrak malah?”

A Ci merasa senang, katanya, “Toahwesio, kau benar-benar licin, sudah tahu takkan mampu melawan Ong-kongcu, lalu kau bicara menurut arah angin.”

“Haha, jika Lisicu adalah ketua Sing-siok-pay tentunya juga pernah mendengar namaku yang rendah,” kata Ciumoti dengan tertawa.

“Itu pun bergantung apakah kau memang terkenal atau tidak,” ujar A Ci. “Di dunia ini jumlah hwesio sebanyak bulu kucing, dari mana dapat kukenal si Anu atau si Badu satu per satu?”

Ciumoti tidak marah, ia tetap mengulum senyum dan berkata, “Siauceng adalah Tay-lun-beng-ong Ciumoti, Koksu kerajaan Turfan.”

Mendengar itu, mendadak badan A Ci bergetar, tanpa terasa wajahnya menjadi pucat. Goan-ci terkejut, cepat ia tanya, “Ada apa A Ci?”

“O, ti... tidak apa-apa,” sahut A Ci setelah terkesima sejenak. Sebabnya dia pucat bukanlah karena takut melainkan karena kegirangan.

Waktu mula-mula ia dengar namanya “Tay-lun-beng-ong”, hal itu tidak berkesan baginya. Tapi demi mendengar nama “Ciumoti, Koksu (imam negara) kerajaan Turfan”, hal inilah yang mengguncangkan perasaannya.

Ia pernah dengar Sing-siok Lokoay menyebut nama Ciumoti dan diketahui adalah jago kelas wahid, sekarang tokoh macam Ciumoti juga begitu jerinya kepada Ong Sing-thian, maka betapa bahagia dirinya yang telah dapat berkenalan dengan Ong-kongcu yang gagah perkasa ini, sungguh ia tidak sanggup melukiskannya.

Dengan girang segera A Ci berkata pula, “O, kiranya Ciumoti Taysu, tadi aku omong kasar, harap dimaafkan.”

Sebaliknya Goan-ci mengira ucapan Ciumoti yang menilai tinggi padanya tadi, sengaja hendak menutupi kepincangannya agar tidak diketahui A Ci, maka Goan-ci merasa sangat berterima kasih. Segera ia tanya A Ci dengan suara perlahan, “A Ci, apakah asal-usul Taysu ini sangat hebat?”

“Sudah tentu,” sahut A Ci. “Dia adalah orang kosen kalangan Buddha, sudah tentu luar biasa.”

Padahal kalau A Ci memuji Ciumoti, ini berarti juga menaikkan gengsi Ong Sing-thian yang dia cintai itu.

Maka Goan-ci lantas memberi hormat kepada Ciumoti, “Taysu, sungguh entah cara bagaimana aku harus berterima kasih padamu.”

Tapi Ciumoti diam-diam saja, ia hanya memberi tanda kepada Goan-ci, lalu tuding ke arah A Ci.

Maka tahulah Goan-ci bahwa padri itu telah paham maksudnya sekarang dia cuma memberi isyarat tangan, hal ini menandakan dia sengaja hendak membantunya agar tidak diketahui A Ci.

Sejak kecil Goan-ci tidak disukai ayah dan pamannya, ketika terlunta-lunta di Kangouw juga kenyang dihina dan dianiaya orang, tiada seorang pun yang mau memahami dan memerhatikan dia seperti Ciumoti sekarang. Saking terharunya terus saja Goan-ci hendak memberi sembah.

Namun lengan jubah Ciumoti telah mengebas, suatu tenaga yang tak kelihatan mengangkatnya bangun, katanya, “Ong-sicu, jika engkau tidak mencela kepada Siauceng, marilah kita mengikat persahabatan saja.”

“He, Taysu, mana... mana aku berani?” sahut Goan-ci gugup.

“Ong-kongcu,” kata A Ci, “meski Ciumoti Taysu adalah Koksu negeri Turfan, tapi nanti bila sudah sampai Lamkhia di negeri Liau, Cihuku adalah Lam-ih-tay-ong di sana, dengan sendirinya kedudukanmu nanti juga takkan rendah, maka sekarang kau pun tidak perlu terlalu merendah diri.”

Ciumoti melengak, ia tahu negeri Liau adalah salah satu negeri yang terkuat pada waktu itu, Lam-ih-tay-ong adalah perdana menteri yang berkuasa penuh, tampaknya nona cilik yang buta ini bukanlah sembarangan putri. Maka katanya, “Ucapan Lisicu ini memang betul, harap Ong-sicu tidak perlu merendah diri.”

Namun Goan-ci masih goyang-goyang tangan dan berkata, “Taysu, aku....”

Tapi mendadak Ciumoti sedikit geraki tangannya, serangkum angin menyambar ke depan sehingga dada Goan-ci terasa sesak, untuk bicara menjadi susah.

Malahan lantas terdengar suara bisikan orang yang sangat halus menyusup telinganya, “Jika kau banyak omong lagi tentu rahasiamu akan diketahui nona itu. Sekarang aku pun tidak mau banyak omong denganmu, nanti malam saja antara tengah malam aku akan datang menemuimu, tatkala mana kita akan dapat bicara dengan lebih jelas.”

Berulang Goan-ci mengangguk. Ia lihat A Ci dan Cilo Singh seperti tidak mendengar apa-apa, tahulah Goan-ci bahwa ucapan Ciumoti itu hanya ditujukan padanya seorang saja. Maka ia pun menjawab, “Baiklah, jika memang Taysu tidak menolak, sudah tentu aku menurut saja.”

Ciumoti terbahak-bahak, katanya, “Sungguh tidak nyana tanpa sengaja dapat berkenalan dengan seorang kesatria gagah perkasa seperti Ong-kongcu, sungguh sangat beruntung.”

Sebaliknya Goan-ci juga menjawab dengan setulus hati, “Jika dapat berkawan dengan Taysu, tentu juga merasa bahagia.”

Lalu Ciumoti berpaling kepada Cilo Singh yang berdiri diam di samping dengan wajah muram itu, katanya, “Hud-heng, kukira Ong-kongcu juga tidak perlu padamu lagi, lebih baik permisi kepada Ong-kongcu dan lekas pulang ke Thian-tiok saja.”

Urusan sudah begini, bukan saja Cilo Singh tidak dapat menyuruh Goan-ci membawanya pergi mencari Polo Singh, bahkan Ih-kin-keng yang mestinya sudah ditemukan itu direbut pula oleh Ciumoti, saking murka dan emas, akhirnya ia menjadi putus asa, katanya kemudian, “Baiklah, Ong-kongcu, aku akan pulang ke Thian-tiok saja.”

“Silakan,” sahut Goan-ci.

“Dan kedua ekor ular itu pun boleh kau bawa pulang sekalian, aku tidak perlu lagi. Awas, lain kali jangan sampai kepergok olehku,” demikian A Ci ikut berkata.

Dengan lesu dan patah semangat Cilo Singh lantas tinggal pergi ke arah barat dengan membawa kedua ekor ularnya.

“Sekarang silakan Ong-kongcu berdua melanjutkan perjalanan, Siauceng ada urusan, semoga kelak berjumpa pula,” kata Ciumoti.

Mendengar Ciumoti akan pergi, seketika Goan-ci merasa seperti akan kehilangan sesuatu. Tapi demi teringat nanti tengah malam padri itu akan datang menemuinya, maka ia pun menjawab, “Baiklah, Taysu, silakan!”

Pada waktu berangkat, kembali Ciumoti berpaling dan tersenyum pada Goan-ci, wajahnya yang agung berwibawa itu membuat orang merasa suka dan hormat pula, sungguh mirip malaikat dewata hidup, Goan-ci sampai termangu-mangu, sesudah didesak A Ci baru ia sadar, lalu mereka melanjutkan perjalanan ke depan.

Sambil berjalan Goan-ci merasa tidak sabar lagi, ia berharap hari lekas gelap dan malam lekas tiba serta lekas tengah malam.

Waktu mereka bermalam di tengah jalan, karena letihnya A Ci lantas tertidur di atas tanah rumput, sebaliknya Goan-ci masih mondar-mandir saja sambil terkadang menengadah memandang langit.

Kira-kira dekat tengah malam, benar juga dilihatnya Ciumoti melayang tiba seperti dewa yang turun dari kahyangan, cepat Goan-ci berlutut memberi hormat.

Ciumoti membangunkannya, katanya, “Kita sudah berkawan, buat apa pakai peradatan seperti ini?”

“Taysu, sekali-kali aku tidak berani mengharapkan sesuatu yang terlalu muluk-muluk, biarpun menjadi budak Taysu juga aku merasa kurang sesuai,” kata Goan-ci.

Ciumoti tersenyum, katanya, “Jangan bikin nona Toan terjaga, marilah kita menyingkir ke sana,” lalu ia tarik tangan Goan-ci dan diajak pergi.

Dalam perjalanan yang tidak terlalu jauh itu berturut-turut Ciumoti menggunakan tujuh macam cara yang berbeda-beda untuk menjajal lwekang Goan-ci, tapi yang dapat disimpulkan adalah kepandaian Goan-ci mirip dengan “Hoa-kang-tay-hoat” Sing-siok-pay, sedangkan tenaga dalamnya sukar dijajaki, pula unsur racun yang mahadingin dan mahajahat di tubuh Goan-ci itu sudah mencapai tingkatan yang sukar diukur.

Memang ada maksud Ciumoti akan memperalat kebodohan Goan-ci itu, sekarang tekadnya itu semakin teguh. Sebaliknya Goan-ci sama sekali tidak tahu.

Tidak lama kemudian sampailah mereka di tengah suatu hutan. Di situ lagi-lagi Goan-ci hendak menyembah, tapi ditahan Ciumoti pula.

Dengan sangat Goan-ci memohon, “Taysu, kepandaianmu begini sakti, engkau sangat baik pula padaku, kalau engkau tidak terima penghormatanku, bagaimana perasaanku bisa tenteram?”

“Sekarang aku cuma kawanmu saja,” sahut Ciumoti dengan tersenyum. “Bila kelak aku ada maksud menerimamu sebagai murid, tatkala itulah baru boleh kau sembah padaku.”

Mendengar demikian, tanpa terasa Goan-ci berjingkrak kegirangan. Dahulu ia angkat guru pada Ting Jun-jiu dan merasa bangga mempunyai seorang suhu yang bergaya dewa, tapi berhubung persoalan A Ci sehingga hubungannya dengan Ting-lokoay menjadi retak, ia memang ingin mencari guru lain lagi.

Meski batin Ciumoti itu sangat licin dan keji, tapi lahirnya tampak agung sehingga membuat siapa yang memandangnya tentu timbul rasa kagum dan hormat. Apalagi Ting Jun-jiu suka main kekerasan terhadap Goan-ci, sebaliknya Ciumoti mau membantu kesukarannya malah, yaitu membantunya membohongi A Ci, sebab itulah ia menjadi sangat senang demi mendengar Ciumoti ada kemungkinan akan menerimanya sebagai murid.

Sesudah berjingkrak senang sebentar, tiba-tiba teringat pula olehnya bahwa Tay-lun-beng-ong adalah seorang hwesio, kalau dirinya mengangkat dia sebagai guru, bukankah juga akan cukur rambut dan menjadi hwesio dan hwesio harus masuk kelenteng dan dilarang kawin, lalu cara bagaimana dirinya dapat berdampingan dengan A Ci untuk selamanya?

Wah, cialat! Ia jadi ragu demi teringat demikian itu.

Rupanya Ciumoti dapat meraba isi hatinya, dengan tersenyum ia berkata, “Kelak bila kau ada maksud menjadi muridku, maka boleh kuanggap dirimu sebagai muridku dari keluarga preman.”

Keruan Goan-ci kegirangan setengah mati, cepat ia jawab, “Taysu, jika demikian, Tecu....”

“Nanti dulu!” tiba-tiba Ciumoti mengebaskan lengan bajunya sehingga ucapan Goan-ci itu tertahan, “aku belum menyanggupi untuk menerimamu sebagai murid, mana boleh kau mengaku Tecu padaku?”

Goan-ci menjadi bingung, ia garuk-garuk kepala dan kukur telinga dengan serbasalah.

“Begini,” ucap Ciumoti lebih lanjut, “bila kau memang benar ingin menjadi muridku, maka kau harus berbuat dulu beberapa hal yang bajik, dengan demikian barulah aku dapat menerimamu.”

“Sudah tentu mau, silakan Taysu memberi petunjuk,” seru Goan-ci cepat.

“Nah, coba dengarkan,” kata Ciumoti dengan tersenyum. “Ada seorang Toa-ok-jin (manusia mahajahat), namanya Toan Ki, apakah pernah kau dengar namanya?”

“Toan Ki, Toan Ki?” demikian Goan-ci mengulangi dua kali nama itu, lalu menjawab, “Belum, belum pernah dengar.”

“Lahirnya orang itu kelihatan sangat alim dan seperti seorang putra bangsawan, tapi sebenarnya seorang mahajahat, mahabusuk. Ketahuilah bahwa Lam-hay-gok-sin, itu durjana ketiga dari Su-ok adalah muridnya.”

Goan-ci terkejut, sahutnya, “Jadi Toan Ki itu adalah guru Gak-losam? Wah, tentu saja jahatnya bukan buatan!”

Dasar pengalaman Goan-ci memang dangkal, maka demi mendengar cerita Ciumoti secara sepihak dan sengaja dibesar-besarkan itu ia lantas percaya penuh bahwa Toan Ki memang benar adalah Toa-ok-jin yang harus diganyang.

Maka Ciumoti meneruskan, “Nah, kalau kau ingin mengumpulkan jasa dan berbuat bajik maka tugasmu yang pertama harus membasmi Toa-ok-jin yang bernama Toan Ki itu.”

Kembali Goan-ci terperanjat, sahutnya, “Taysu, jika... jika Toan Ki adalah Toa-ok-jin macam begitu, ilmu silatnya dengan sendirinya juga sangat tinggi, masakah aku... aku mampu....”

Sampai di sini ia jadi menggigil dan gigi gemertukan, bicaranya menjadi macet.

“Menurut pendapatmu, bagaimana dengan kepandaianku?” tanya Ciumoti.

“Kepandaian Taysu mahasakti, sungguh belum pernah kulihat selama ini,” sahut Goan-ci.

“Nah, baiklah, maka aku akan mengajarkan sejurus ilmu sakti padamu,” kata Ciumoti. “Nanti bila ketemu Toan Ki, asal kau jabat erat tangannya maka kau pasti akan dapat menaklukkan dia.”

Sudah tentu Goan-ci masih ragu, ia hanya pandang Ciumoti dan tidak bicara lagi.

Segera Ciumoti berlagak seperti “dukun klenik” yang sedang beraksi, ia tepuk beberapa kali badan Goan-ci, katanya, “Nah, sekarang sudah kusalurkan ilmu saktiku ke dalam badanmu, sebelum ketemu Toan Ki, sama sekali jangan kau jabat tangan dengan siapa pun juga.”

Goan-ci angguk-angguk tanda tahu, sahutnya, “Jika demikian, berada di manakah Toan Ki itu?”

“Besok pagi boleh kau lanjutkan perjalanan ke timur sana, kira-kira tujuh atau delapan li jauhnya tentu akan kau temukan dia,” tutur Ciumoti. “Dia sedang duduk termenung-menung sendirian di tengah hutan.”

Goan-ci gosok-gosok telapak tangan sendiri lalu dipentang dan dipandang, katanya, “Baiklah, besok pagi-pagi aku lantas berangkat ke sana.”

Melihat tipu muslihatnya sudah dimakan Goan-ci, segera Ciumoti mohon diri, “Sementara ini kita pun berpisah dahulu, nanti bila usahamu sudah berhasil, tentu aku akan datang menjengukmu lagi.”

Ia sengaja hendak pamer, maka begitu selesai berkata, mendadak tubuhnya melayang pergi secepat angin, hanya sekejap saja orangnya sudah menghilang tanpa bekas.

Di samping kagum tak terkatakan, Goan-ci juga girang akan mendapat guru mahasakti.

Padahal maksud tujuan Ciumoti adalah lantaran dia pernah kecundang di tangan orang she Toan dari Tayli, untuk membalas dendam tidak mampu, kini dilihatnya ilmu Goan-ci ini agak mirip dengan kepandaian Toan Ki itu, bedanya cuma yang satu mahakeras, mahapanas, sebaliknya yang lain mahadingin dan maha berbisa. Sebab itulah ia ingin memperalat kebodohan Goan-ci untuk melabrak Toan Ki.

Begitulah, maka kemudian Goan-ci lantas kembali ke tempatnya semula, perlahan ia mendekati A Ci, ia lihat anak dara itu masih tidur sangat nyenyak.

Di bawah sinar bulan dan bintang yang remang-remang ia lihat muka yang cantik itu bertambah menggiurkan. Dilihatnya pula mulut anak dara itu mengulum senyum, seperti sedang mengimpikan sesuatu yang menyenangkan.

Goan-ci termangu-mangu memandangi wajah yang cantik itu, kebetulan angin meniup sehingga rambut A Ci tersebar dan sebagian menutupi mukanya, perlahan Goan-ci membetulkan rambut anak dara itu.

A Ci seperti berasa, ia membalik tubuh sedikit, mulutnya bergumam, “Ong-kongcu, di dunia persilatan hanya dikenal Lam Buyung dan Pak Kiau Hong, tapi tiada orang tahu bahwa masih ada seorang Se-ek Kek-lok Ong (Ong si Mahagembira dari Benua Barat) seperti dirimu.”

Sudah jelas kata-kata itu cuma igauan A Ci saja, tapi Goan-ci merasa nikmat juga mendengarnya. Ia tahu Lam Buyung dan Pak Kiau Hong adalah tokoh tertinggi di dunia persilatan masa kini, sekarang kedudukan dirinya dalam pandangan anak dara itu disejajarkan dengan kedua tokoh ternama itu, hal ini menandakan betapa cinta A Ci kepadanya.

Perlahan Goan-ci meraba muka sendiri yang benjal-benjol bekas luka itu, ia merasa tidak mengecewakan meski dirinya telah menyerempet bahaya dan menahan sakit dengan membeset topeng besi itu. Kelak kalau bisa mengangkat guru pada Tay-lun-beng-ong pula, boleh jadi dirinya akan dapat belajar ilmu silat mahatinggi, tatkala itu tentu takkan khawatir lagi rahasianya diketahui oleh A Ci.

Begitulah Goan-ci lantas rebah di samping A Ci dengan berbantalkan lengan sendiri. Ia terus memandangi wajah yang cantik ayu itu semalam suntuk tanpa tidur.

Ketika fajar menyingsing, perlahan barulah A Ci mendusin, ia mengolet kemalas-malasan, lalu bangun duduk.

Lekas Goan-ci menyapa, “Kau sudah bangun A Ci?”

Tiba-tiba A Ci bertiarap pula ke tanah rumput itu, ia pegang tangan Goan-ci, katanya, “Aku bermimpi.”

“Mimpi tentang apa?” tanya Goan-ci.

“Aku mimpi menyaksikan pertemuan para jago kelas satu di dunia ini, mereka saling bertanding untuk menentukan kepandaian masing-masing.”

“Hasilnya bagaimana, siapa yang menjadi juara?” tanya Goan-ci.

A Ci tertawa, katanya, “Ada seorang kongcu muda tak terkenal, ia robohkan Lam Buyung dan mengalahkan Pak Kiau Hong, para padri Siau-lim-si tidak ada yang berani maju, Sing-siok Lokoay dihajarnya hingga minta ampun. Juara ilmu silat itu dengan sendirinya dipegang oleh kongcu muda itu.”

“Siapakah kongcu muda itu?” tanya Goan-ci.

Air muka A Ci berubah merah, ia cubit perlahan tangan Goan-ci, lalu berkata, “Ialah engkau sendiri. Ai, dasar linglung!”

Goan-ci benar-benar terlena dibuai rayuan A Ci itu sehingga untuk sekian lamanya ia tidak sanggup bersuara.

Akhirnya terdengar A Ci terkikik-kikik, katanya pula, “Kenapa diam saja? Apa kau rasa tidak dapat melawan mereka?”

“Sudahlah A Ci, jangan bicara tentang impian lagi,” cepat Goan-ci menjawab. “Tapi hari ini aku benar-benar hendak pergi melabrak seorang Toa-ok-jin.”

“Toa-ok-jin apa?” tanya A Ci.

Goan-ci ingat A Ci she Toan, sedangkan Toan Ki yang hendak dicarinya itu juga she Toan, jangan-jangan nanti anak dara ini akan kurang senang. Maka ia menjawab, “Entah siapa namanya, yang terang dia adalah seorang mahajahat, maka harus ditumpas. Namun ilmu silat Toa-ok-jin itu sangat hebat pula, maka waktu kulabrak dia, paling baik kau jangan dekat-dekat.”

“Ya, aku tahu,” sahut A Ci. “Padahal engkau sudah pasti akan menang, aku mendekat atau melihat dari jauh juga sama saja.”

“Marilah kita berangkat,” ajak Goan-ci. Segera ia gandeng tangan A Ci dan menuju ke timur.

Kira-kira belasan li jauhnya, benar juga di depan terdapat sebuah hutan lebat. Goan-ci pikir sebentar lagi dirinya akan bertempur melawan seorang jahat yang ilmu silatnya sangat tinggi, meski Tay-lun-beng-ong sudah mengajarkan ilmu sakti padanya, tapi betapa pun ia tetap merasa jeri.

Diam-diam ia coba periksa telapak tangan yang akan dipakai menggenggam tangan Toa-ok-jin nanti, ia lihat tangan sendiri toh sama saja seperti sehari-hari dan tidak ada tanda mempunyai ilmu sakti apa segala. Maka ia tambah kebat-kebit dan tidak tenteram.

Sampai di luar hutan Goan-ci merasa ragu dan berhenti.

“Apa sudah sampai?” tanya A Ci.

“Ya, di sini ada sebuah Heng-lim (hutan pohon apricot), konon Toa-ok-jin itu sembunyi di sini, maka boleh kau tunggu di sini saja,” kata Goan-ci.

Sebenarnya A Ci adalah seorang gadis yang bandel, tapi sekarang ia sangat penurut, sahutnya, “Baiklah, boleh kau pergi melabrak Toa-ok-jin itu dan aku akan menunggu di sini.”

Sesudah mendudukkan A Ci di atas sebuah bongkot pohon, lalu Goan-ci masuk ke hutan yang sangat lebat dan rindang itu sehingga rasanya sangat dingin dan seram.

Sampai sekian lama Goan-ci menyusur hutan itu dan tetap tidak menemukan seorang pun. Ia pikir Toan Ki itu tentu tidak berada di situ lagi, selagi ia hendak putar balik, tiba-tiba terdengar di sebelah timur laut sana ada suara orang menghela napas perlahan.

Goan-ci tercengang, ia coba mencari ke arah suara itu. Sesudah berputar dan membelok beberapa kali, akhirnya dilihatnya ada seorang dengan menggendong tangan sedang berdiri di situ dengan menengadah sambil tiada hatinya berkeluh kesah.

Goan-ci sembunyi di balik pohon. Ia pikir orang ini mungkin bukan Toan Ki, sebab seorang yang mahajahat tidak mungkin berada sendirian di sini sambil berkeluh kesah.

Mendadak terdengar orang itu berkomat-kamit sendiri, “Nona Ong! O, nona Ong. Tahukah dikau ada seorang sedang rindu dan sedih bagimu?”

Mendengar itu, baru sekarang Goan-ci tahu orang ini bahkan adalah seorang yang romantis, tampaknya dia merindukan seorang nona, tapi harapannya tak tercapai, makanya berkeluh kesah. Sambil pikir segera Goan-ci melangkah maju.

Cepat orang itu berpaling demi mendengar suara tindakan Goan-ci. Maka tertampaklah dengan jelas, kiranya orang ini adalah seorang kongcu muda.

Orang ini bukan lain daripada Toan Ki adanya. Sebenarnya ia sedang merindukan Ong Giok-yan, ketika mendadak didengarnya ada suara tindakan orang dari belakang, ia kaget dan cepat berpaling, sebab baru saja kemarin ia ketemu Ciumoti, ia khawatir jangan-jangan akan diserang padri itu dari belakang. Tapi demi tampak orang yang datang ini adalah seorang laki-laki bermuka mahajelek, ia jadi terheran-heran pula.

Sebaliknya Goan-ci juga dapat melihat jelas sikap Toan Ki yang kelihatan linglung itu, tapi usianya masih muda dan wajahnya cakap, jelas bukan Toa-ok-jin sebagaimana disangkanya semula.

Sebelum Toan Ki menegurnya, segera ia mendahului membuka suara, “Sebentar lagi di tengah hutan ini akan terjadi suatu pertempuran dahsyat, maka lebih baik saudara lekas pergi dari sini saja.”

Toan Ki hanya mengiakan sekali dengan acuh tak acuh dan tetap berdiri di situ.

Maka Goan-ci berkata pula, “Tampaknya saudara bukanlah orang persilatan, daripada nanti tersangkut dalam pertempuran yang dahsyat, lebih baik lekas pergi saja, carilah suatu tempat lain jika kau ingin berkeluh kesah lagi.”

Sebenarnya Toan Ki sangat benci kepada ilmu silat, sekarang ia sendiri sudah memiliki kungfu mahatinggi, tapi sifatnya itu masih tetap tidak berubah, maka dengan berkerut kening ia menjawab, “Kusangka tempat inilah paling aman, tenteram dan dapat kugunakan untuk termenung dengan tenang. Kenapa kalian tidak mencari tempat lain untuk bertempur?”

“Ada orang berjanji untuk bertemu dengan aku di tengah hutan ini,” kata Goan-ci.

“Jika begitu, kenapa saudara sendiri tidak takut?” tanya Toan Ki. “Apa barangkali saudara sendiri memiliki kepandaian hebat?”

Goan-ci tersenyum getir, sahutnya, “Biarpun aku ingin menghindari juga tidak dapat lagi.”

“Sebab apa?” tanya Toan Ki dengan heran.

“Habis, aku sendiri adalah salah satu pihak yang akan bertempur di tengah hutan ini, cara bagaimana aku boleh pergi?” kata Goan-ci.

Melihat muka orang meski jeleknya tiada takaran, tapi mempunyai hati nurani yang baik, maka Toan Ki coba memberi nasihat, “Mumpung belum terjadi, jika sekarang kau mau tinggal pergi, bukankah pertarungan dahsyat nanti dapat dihindarkan?”

“Tidak bisa,” sahut Goan-ci. “Justru akulah yang hendak melabrak Toa-ok-jin itu, sebelum bertemu mana boleh kutinggal pergi?”

Toan Ki tahu urusan permusuhan di dunia persilatan biasanya sukar dilerai, maka katanya pula sesudah berpikir sejenak, “Jika demikian, siapakah Toa-ok-jin itu?”

“Toa-ok-jin itu bernama.... Ah, lebih baik saudara jangan mengetahuinya, jangan-jangan engkau akan semaput bila mendengar namanya,” demikian Goan-ci merasa tidak tega menakut-nakuti kongcu yang lemah lembut ini dengan nama Toa-ok-jin.

Sama sekali tak terduga olehnya bahwa orang di hadapannya sekarang ini justru adalah “Toa-ok-jin” itu.

“Aku... aku tidak tahu,” sahut Goan-ci dengan bimbang.

Keruan Toan Ki tambah heran, tanyanya, “Jika kau tidak yakin akan dapat mengalahkan Toa-ok-jin itu, tapi kau datang juga ke sini untuk mencari perkara padanya, masakah di dunia ini ada orang macam dirimu ini?”

Goan-ci hanya tersenyum getir saja, sahutnya, “Meski aku tidak becus apa-apa, tapi ada seorang padri sakti pernah menepuk beberapa kali pada badanku dan telah mengajarkan semacam ilmu padaku, asal aku genggam tangan Toa-ok-jin itu segera aku dapat mengalahkan dia.”

Apa yang dikatakan Goan-ci ini biarpun dia sendiri juga tidak yakin. Untung Toan Ki juga masih hijau dalam hal ilmu silat, ia hanya merasa tertarik oleh cerita itu, maka tanyanya pula, “Apakah telapak tanganmu itu terdapat jimat sehingga begitu sakti?”

“Ini lihat, sama saja seperti biasa,” sahut Goan-ci sambil membuka tangannya.

“Jika demikian, jadi dalam hati sebenarnya kau pun tidak percaya kepada omongan padri itu?” tanya Toan Ki.

Tapi Goan-ci tidak menjawab, ia hanya geleng-geleng kepala. Lalu menghela napas dan berkata, “Sudahlah, saudara tidak perlu urus, lekas pergi dari sini saja!”

“Tidak apa, kepandaian lain aku tidak punya, kalau bicara tentang lari, kuyakin tiada seorang pun mampu memburu aku,” sahut Toan Ki. “Maka biarlah aku nanti menonton saja di pinggir.”

Sebenarnya Toan Ki juga tidak ingin melihat orang bertempur, soalnya ia lihat Goan-ci adalah seorang jujur, tampaknya pasti tidak mampu melawan Toa-ok-jin itu, maka bila perlu ia bermaksud hendak membantunya dengan menyeretnya melarikan diri.

“Apakah saudara tidak khawatir ikut terembet nanti?” tanya Goan-ci.

“Tidak, aku tidak kenal Toa-ok-jin itu, masakah dia akan mengganggu aku?” sahut Toan Ki.

Melihat orang susah disuruh pergi, terpaksa Goan-ci tidak banyak omong lagi, ia terus menuju ke tengah hutan lebih jauh. Tapi di sana keadaan rindang gelap, meski sudah dicari ke sana-sini tetap tiada seorang pun yang diketemukan.

Diam-diam Goan-ci sangat heran, ia pikir mungkin Tay-lun-beng-ong salah duga tentu Toa-ok-jin yang bernama Toan Ki itu sudah keburu pergi dari situ. Ketika ia hendak putar balik, tiba-tiba dilihatnya Toan Ki masih mengikuti di belakangnya.

Sekonyong-konyong hatinya tergerak, teringat apa yang dikatakan Tay-lun-beng-ong bahwa potongan Toan Ki itu sangat mirip seorang putra bangsawan, dan orang yang berada di depannya sekarang bukankah seorang kongcu bangsawan? Jangan-jangan inilah dia....

Goan-ci sampai tercengang memandangi Toan Ki. Selagi ia hendak tanya namanya, tiba-tiba ia ganti pikiran lagi, ia merasa bila kongcu lemah lembut seperti ini adalah seorang Toa-ok-jin, maka di dunia ini tentu tiada orang baik lagi, buat apa dirinya mesti tanya pula?

Jilid 59
Tengah Goan-ci bersangsi, tiba-tiba di luar hutan sana bergema suara orang mengakak tawa, suara tertawa itu sangat nyaring dan lepas. Menyusul berkumandang pula suara tertawa kaum wanita, suaranya genit menggiurkan.

Goan-ci lantas teringat kepada A Ci yang sedang menunggunya di luar hutan itu, kalau ada orang datang, mungkin akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan lagi. Maka cepat ia lari keluar hutan sana.

Dan baru saja tubuhnya bergerak, tahu-tahu di sebelahnya angin berkesiur, gerakan Toan Ki ternyata lebih cepat daripada dia dan tahu-tahu sudah melayang ke depan.

Goan-ci terkesiap dan bersuara kaget, ia pikir orang ternyata memiliki kepandaian setinggi ini. Tapi dilihatnya pula kelakuan Toan Ki seperti orang kesurupan setan, maka ia menjadi tertegun, sementara itu Toan Ki sudah menghilang dari pandangannya.

Waktu Goan-ci pasang telinga, ia dengar di luar hutan sana sayup-sayup ada suara orang bicara, cuma tidak terdengar jelas. Segera ia pun lari ke sana secepat terbang, hanya sekejap saja ia sudah berada di luar hutan. Ia lihat Toan Ki berdiri di tengah jalan sambil terlongong-longong memandang ke depan sana.

Waktu Goan-ci celingukan sekitarnya, ia jadi kelabakan karena A Ci tidak terlihat. Segera ia berteriak-teriak, “A Ci! A Ci! Di mana kau?”

Sungguh rasa khawatir Goan-ci sukar dilukiskan demi tidak diperoleh jawaban A Ci, seketika keringat membasahi tubuhnya dan otot-otot hijau memenuhi jidatnya. Ia coba mendekati Toan Ki dan tanya, “Saudara tadi keluar lebih dulu, apakah kau lihat A Ci?”

Tapi Toan Ki masih meneleng ke depan padahal di jalan sana keadaan sunyi senyap tiada seorang pun dan entah apa yang dia pandang.

Sesudah Goan-ci mengulangi pertanyaannya barulah ia jawab dengan bingung, “Hah, apa? O, A Ci?”

“Ya, seorang gadis cantik berbaju ungu, kedua matanya buta, tentu dia takkan pergi jauh dari sini,” sahut Goan-ci. “Apakah kau lihat dia?”

“Tadi dia sudah pergi!” kata Toan Ki.

“Pergi ke mana?” desak Goan-ci.

Toan Ki tersenyum getir, sahutnya, “Ya, dia sudah pergi. Melirik saja tidak padaku, anggapnya dunia ini seperti tiada terdapat seorang aku ini.”

Goan-ci menjadi khawatir dan tambah gopoh, cepat tanyanya pula, “Apa yang kau ocehkan? Di mana A Ci? Tentu kau lihat dia?”

Sembari berseru, berulang ia goyang-goyangkan bahu Toan Ki.

Karena itu barulah Toan Ki seperti tersadar dari impiannya, dengan kening bekernyit ia tanya, “Ada apa sobat?”

“A Ci! Aku mencari A Ci!” seru Goan-ci, saking gugupnya sampai suaranya serak.

“O, kiranya saudara hendak mencari orang, sayang tidak dapat kubantu apa-apa,” sahut Toan Ki.

“Kentut!” semprot Goan-ci. “Baru saja kau bilang melihat dia. Nah, lekas katakan, telah kau bawa dia ke mana?”

Sebabnya Toad Ki mendadak lari keluar hutan tadi adalah karena tiba-tiba mendengar suara tertawa seorang laki-laki dan seorang wanita yang dikenalnya sebagai suara Buyung Hok dan Ong Giok-yan, sebab itulah ia lari keluar seperti kesetanan. Tapi yang dapat dilihatnya hanya bayangan belakang Giok-yan saja, lantaran itu ia menyesal setengah mati dan merasa kehilangan sesuatu sehingga seperti orang linglung.

Ketika ditanya Goan-ci pada hakikatnya ia tidak mendengarkan, sebaliknya ia berkeluh kesah akan perasaan sendiri. Sekarang didengarnya Goan-ci berkata, “Baru saja kau bilang melihat dia,” ia sangka “dia” yang dimaksudkan itu adalah Ong Giok-yan, maka kembali kumat pula ketolol-tololannya, sahutnya, “Ya, aku memang melihat dia, cuma dia tidak melihat aku.”

“Sudah tentu dia tak dapat melihatmu,” kata Goan-ci cepat.

Yang dimaksudkan Goan-ci adalah karena A Ci sudah buta, sudah tentu tak bisa melihat.

Maka Toan Ki menghela napas, katanya, “Dalam hatinya hanya terisi seorang saja, orang lain hanya terpandang dan tak terlihat olehnya.”

Goan-ci merasa bangga, sahutnya, “Sudah tentu dalam hatinya hanya terdapat seorang saja!”

Nyata terjadi salah wesel antara mereka, yang satu maksudkan Ong Giok-yan, yang lain A Ci, tentu saja tidak kelop.

Lalu Goan-ci berkata lagi, “Dan sekarang ke manakah dia?”

“Entah, aku tidak tahu,” sahut Toan Ki, “wahai Toan Ki! Ke manakah dia pergi, apakah kau tahu?”

Goan-ci berjingkrak kaget demi mendengar nama “Toan Ki” disebut. Beruntun ia mundur tiga langkah, hatinya berdebar-debar, tanyanya, “Kau bilang Toan Ki? Sia... siapakah yang bernama Toan Ki?”

“Aku inilah Toan Ki sendiri,” sahut Toan Ki.

Keruan Goan-ci tambah kaget, serunya, “Jadi kau ini....”

Mendadak ia berhenti, lalu menyambung lagi dengan bentakan bengis, “Di mana A Ci? Lekas katakan!”

Sebenarnya Goan-ci sudah biasa dimaki dan dihajar orang, biarpun dipukul mati juga tidak berani melawan. Tapi sekarang diketahuinya bahwa pemuda di hadapannya ini adalah Toan Ki, ditambah “provokasi” yang telah dicekoki Ciumoti, maka ia anggap Toan Ki benar-benar seorang Toa-ok-jin, apalagi mendadak A Ci menghilang, hal ini digandengkan dengan kejahatan sang Toa-ok-jin pula, maka ia yakin hilangnya A Ci pasti juga permainan Toan Ki.

Soalnya menyangkut keselamatan A Ci, dalam keadaan terpaksa pun ia berani menyelamatkan A Ci di depan hidung Ting Jun-jiu, apalagi sekarang yang dihadapi adalah Toan Ki, si “Toa-ok-jin”.

Dalam keadaan gusar, muka Goan-ci yang babak bundas bekas luka menjadi merah padam, matanya berkilat-kilat, tampaknya sangat seram.

Ketika Toan Ki memandang sekejap padanya ia pun terkesiap dan menyurut mundur selangkah, katanya, “A Ci? A Ci apa?”

“Eh, masih berlagak pilon?” damprat Goan-ci dengan gusar.

“Aku tidak tahu tentang A Ci segala, jangan kau tanya padaku!” ujar Toan Ki sambil goyang-goyang kedua tangannya.

Melihat orang menyangkal, Goan-ci tambah murka sehingga mukanya yang jelek itu tambah beringas, kedua tangannya terus diangkat, dengan kaku ia menubruk ke depan. Meski gerak ilmu silatnya cuma biasa saja, tapi mukanya itulah yang menakutkan.

Toan Ki terkejut, cepat ia keluarkan “Leng-po-wi-poh” yang aneh, sedikit meluncur, segera tubrukan Goan-ci dapat dihindarkannya.

Dengan tubrukan yang kalap itu Goan-ci sangka pasti akan kena sasarannya, siapa tahu mendadak lawan meluncur pergi, sampai ujung bajunya saja tidak tersenggol.

Goan-ci tertegun sejenak, tiba-tiba ia bersuara aneh dan kembali menubruk pula.

Cepat Toan Ki berseru, “Hei, sobat, ada urusan apa hendaknya dibicarakan dengan baik-baik....”

“Kembalikan A Ci-ku!” teriak Goan-ci dengan suara aneh.

“Aku tidak tahu A Ci itu apa?” sahut Toan Ki.

“Kentut, baru saja kau bilang melihat dia!” semprot Goan-ci. Tengah bicara, berulang Goan-ci menubruk lagi beberapa kali.

Meski Toan Ki Tidak balas menyerang namun sama sekali Goan-ci tidak pikirkan lawan itu sebenarnya bukan Toa-ok-jin segala, sebaliknya ia sangka ilmu sakti yang diajarkan Tay-lun-beng-ong padanya teramat lihai sehingga “Toa-ok-jin” tidak berani melawannya. Maka ia makin dapat hati dan menubruk semakin cepat.

Begitulah yang satu menubruk dan yang lain menghindar, kedua orang sama-sama cepat luar biasa. Toan Ki menjadi kebat-kebit, ia merasa kejadian sekarang ini jauh lebih berbahaya daripada dahulu waktu ia mempermainkan Lam-hay-gok-sin. Untunglah gerak langkah “Leng-po-wi-poh” teramat aneh dan bagus sehingga sebegitu jauh Toan Ki selalu dapat terhindar dari bahaya.

Setelah udak-udakan hampir setengah jam, tetap Goan-ci tidak mampu memegang Toan Ki, saking nafsunya sampai matanya merah membara dan menakutkan. Tapi Toan Ki terus tutup mata malah dan anggap tidak melihat, hanya kakinya saja yang bekerja.

Sembari mengudak Toan Ki, diam-diam Goan-ci merasa khawatir juga akan keselamatan A Ci, keringat mengucur dari jidatnya bagai air hujan sehingga menghalangi pandangannya, terpaksa ia mengangkat lengan baju untuk mengusap.

Di luar dugaan, sesudah sekian lama ia menubruk kian kemari, debu pasir ikut bertebaran dan memenuhi lengan bajunya, sekali ia mengusap keringat pada mukanya, seketika matanya kelilipan dan tidak dapat melihat lagi.

Keruan Goan-ci jadi kelabakan, walaupun soal mata kelilipan hanya sekejap saja sudah dapat disembuhkan, tapi menghadapi seorang “Toa-ok-jin”, kalau mendadak diserang, kan bisa celaka? Maka terpaksa tangannya mencakar-cakar dan diobat-abitkan ke depan.

Tak tersangka permainan secara ngawur itu justru mendatangkan hasil di luar dugaan. Pada waktu menggunakan “Leng-po-wi-poh”, yaitu Langkah ajaib andalan Toan Ki, jika musuh mengincar tubuhnya dan menyerang menurut aturan, biarpun berusaha sampai sekarat juga takkan kena. Sebaliknya kalau menyerang secara ngawur dan serabutan hal ini justru berbahaya bagi pemain langkah aneh itu.

Sekarang mata Goan-ci kelilipan sehingga terpaksa ia mencakar dan menjambret sekenanya, tahu-tahu malah Toan Ki kena dipegangnya.

“Nah, kena dia!” seru Goan-ci di dalam hati.

Keruan Toan Ki terkejut, sekuatnya ia mengebaskan tangannya, “bret”, sepotong lengan bajunya terobek dan pegangan Goan-ci juga terlepas.

“Leng-po-wi-poh” yang selama ini menguntungkan itu sekarang mendadak tidak manjur, keruan Toan Ki kaget sehingga langkahnya sedikit terlambat, sedang lawan terlihat menubruk maju lagi, dalam gugupnya terpaksa Toan Ki menggeser mundur sedikit, dan otomatis kedua tangannya digunakan menyambut tubrukan orang. Maka terdengarlah suara “plak-plok” dua kali, empat tangan seketika saling lengket.

Goan-ci masih ingat pesan Tay-lun-beng-ong, maka segera ia kerahkan tenaga. Tubuh kedua orang pun lantas terpaku di tempat masing-masing tanpa bergelak lagi.

Pada saat itulah tiba-tiba Ciumoti tampak melayang tiba. Orang pandai seperti dia ini ternyata juga tercengang demi melihat keadaan kedua orang yang saling dorong dengan kedua tangan masing-masing mirip dua orang pegulat yang sedang mengukur tenaga.

Tertampak muka Toan Ki merah membara, badan menguap mirip kuali panas yang baru ditutupnya. Sebaliknya sekujur badan Goan-ci tampak terbungkus oleh selapis salju putih tipis.

Ciumoti sangat luas pengalamannya, tadinya ia cuma mengetahui ilmu yang dimiliki Toan Ki dan Goan-ci itu yang satu mahakeras dan mahapanas, sebaliknya yang lain mahadingin dan maha berbisa, lebih dari itu ia tidak tahu dari mana datangnya kedua macam ilmu silat yang sangat aneh itu.

Sekarang sesudah kedua orang saling gebrak ia jadi terperanjat pula demi melihat keadaan panas-dingin di antara mereka itu.

Sejak Toan Ki makan katak merah dan tanpa sengaja menggunakan “Cu-hap-sin-kang” untuk menyedot lwekang beberapa jago kelas satu, sebenarnya kekuatannya boleh dikatakan tiada tandingannya lagi di dunia ini. Tapi kebetulan muncul pula seorang Yu Goan-ci yang telah mengisap racun mahadingin dari ulat sutra es dan memperoleh pula Ih-kin-keng yang mukjizat sehingga berhasil memiliki “Peng-jan-ih-kang” (ilmu ajaib ulat sutra es). Ilmu kedua orang itu justru berlawanan sehingga sekali gebrak kedua orang benar-benar ketemu tandingan yang sama kuatnya dan sukar dipisahkan.

Bagi Toan Ki sudah tentu tiada maksud hendak membikin susah orang. Sebaliknya meski Goan-ci ingin merobohkan Toan Ki, hal ini pun tidak mudah, ia pun tidak tahu cara bagaimana harus melaksanakan maksud itu.

Oleh karena itu kepandaian kedua orang sama-sama mahakuat dan hebat, maka begitu tangan saling menempel, secara otomatis tenaga murni kedua orang lantas dikeluarkan untuk menyerang lawan, semakin kuat daya tekanan lawan, dengan sendirinya tenaga perlawanan yang dikeluarkan juga tambah kuat, sebab itulah sekali gebrak mereka lantas mengeluarkan tenaga murni masing-masing sepenuhnya sehingga boleh dikata pertarungan mereka ini adalah pertarungan yang mahadahsyat dan jarang terdapat di dunia persilatan.

Hanya sebentar saja Ciumoti menyaksikan di samping, terlihat sekujur badan Toan Ki sudah terbungkus oleh uap panas hingga mirip sebuah anglo. Sebaliknya badai Goan-ci juga perlahan terbungkus oleh selapis es tipis hingga mirip sebuah lemari es.

Diam-diam Ciumoti sangat senang karena usahanya mengadu domba kedua orang itu telah berhasil. Segera ia melangkah maju dan angkat tangan hendak melontarkan pukulan ke arah Toan Ki. Tapi belum lagi pukulannya terjadi, tiba-tiba dari belakang terdengar teriakan orang yang sangat nyaring, “Jangan, Taysu!”

Cepat Ciumoti menoleh, ia lihat di belakangnya sudah berdiri seorang laki-laki dan seorang perempuan, kiranya Buyung Hok dan Ong Giok-yan berdua.

“Kenapa jangan?” tanya Ciumoti.

Seketika Buyung Hok tak bisa menjawab. Sebabnya dia berseru mencegah adalah lantaran rasa sayangnya kepada kepandaian Toan Ki dan Yu Goan-ci yang luar biasa itu sehingga tanpa terasa ia mencegah serangan gelap Ciumoti itu.

Karena tidak mendapat jawaban, Ciumoti berkata pula, “Dahulu Siauceng bersahabat sangat akrab dengan Buyung-siansing, ketika bicara tentang ilmu pedang di dunia ini, Buyung-siansing menyatakan bahwa Lak-meh-sin-kiam dari Thian-liong-si di Tayli adalah ilmu pedang nomor satu di dunia ini. Cuma sayang beliau tidak pernah menyaksikan sendiri sehingga hal ini sangat disesalkannya. Tatkala itu aku berjanji padanya untuk berusaha melaksanakan cita-cita beliau itu. Kini meski Buyung-siansing sudah wafat, tapi tetap harus kutepati janji, biarpun Lak-meh-sin-kiam-boh (kitab ilmu pedang) sudah musnah, tapi Toan Ki ini sudah menghafalkan seluruh isi kitab ilmu pedang itu di luar kepala sehingga pada hakikatnya dia merupakan kiam-boh hidup, maka hendak kutawan dia ke depan makam Buyung-siansing untuk dibakarnya di sana guna menepati janjiku itu.”

“Taysu,” tiba-tiba Giok-yan berseru, “persahabatanku dengan Toan-kongcu ini belum lama, tapi kami agak cocok satu sama lain. Maka janjimu yang tidak penting itu harap dianggap sebagai kelakar saja dan tak perlu ditepati.”

Tapi Ciumoti melihat Toan Ki sudah tak bisa bergerak lagi, sekali pegang tentu akan dapat ditawannya dengan mudah, sudah tentu ia tidak mau menuruti permintaan Giok-yan itu, katanya dengan terbahak-bahak, “Hahaha, Lisicu anggap aku ini orang apa? Masakah boleh janji tidak ditepati?”

Sembari berkata, terus saja tangannya mencengkeram pundak Toan Ki.

Giok-yan menjerit tertahan sambil menutup mukanya dengan tangan karena tidak tega menyaksikan lebih jauh. Namun Buyung Hok lantas bertindak, ia melayang maju sambil membentak, “Tahan, Taysu!”

Dengan cepat luar biasa ia melayang sampai di samping Ciumoti, jari tengahnya terus menyelentik “Siau-yau-hiat” di pinggang padri itu.

Tapi pada saat itu pula mendadak Ciumoti menjerit aneh sekali, tahu-tahu tubuhnya terpental pergi dengan berjumpalitan. Tutukan Buyung Hok secepat kilat itu ternyata mengenai tempat kosong, segera ia menarik kembali tangannya, sementara itu Ciumoti kelihatan berdiri di tempat sejauh tiga-empat meter sana dengan muka pucat dan badan agak gemetar.

Buyung Hok tidak tahu apa yang telah terjadi dalam sekejap itu, maka ia coba tanya, “Ada apa Taysu?”

Sudah tentu Ciumoti tidak dapat menjelaskan. Yang terang tadi baru saja jarinya menyentuh pundak Toan Ki, mendadak ia merasa yang dipegangnya itu seperti arang yang membara, berbareng terasa dari badan Toan Ki timbul semacam daya sedot yang mahakuat hingga tenaga dalamnya terisap.

Keruan kaget Ciumoti tidak kepalang dan cepat menarik kembali tangannya, untung ia masih dapat melepaskan diri dari sedotan Toan Ki, hal ini boleh dikatakan luar biasa berkat ketangkasan dan kecerdikannya yang dapat bertindak dengan cepat.

Walaupun demikian tidak urung tenaga dalam Ciumoti itu juga sudah tersedot sebagian oleh “Cu-hap-sin-kang”, ilmu sakti katak merah yang dimiliki Toan Ki itu.

Saat itu Toan Ki sedang mengukur tenaga dengan Goan-ci, ketika mendadak mendapat bantuan tenaga segar dari luar, seketika juga Goan-ci kena didesaknya hingga mundur setindak.

Dan sedikit badan Goan-ci bergerak, segera lapisan es yang membungkus tubuhnya itu sama rontok dan jatuh ke tanah. Tapi hanya setindak saja ia terdesak mundur, lalu ia dapat berhenti pula dengan kuat, sedang “Peng-jan-ih-kang” tetap bekerja sehingga dengan cepat badannya kembali terbungkus oleh selapis es tipis yang baru, bahkan makin lama makin tebal lapisan es itu dan mengeluarkan cahaya gemerlapan di bawah sinar sang surya.

Sebaliknya badan Toan Ki tampak menguap lebih keras lagi hingga seperti mengepulkan asap yang tipis. Pemandangan yang berlawanan dengan Goan-ci itu sungguh sangat aneh dan menarik.

Sesudah Ciumoti kaget setengah mati, lekas ia kerahkan tenaga murni untuk menghimpun kembali lwekangnya hingga seketika tidak sanggup bersuara. Sedangkan Buyung Hok juga melongo menyaksikan apa yang terjadi tadi.

“Piauko, apakah dapat kau pisahkan mereka?” tanya Giok-yan kemudian.

Buyung Hok menghela napas panjang, sahutnya, “Hari ini barulah kutahu bahwa ilmu silat sesungguhnya tiada batasnya, mungkin di zaman ini tidak seorang pun yang dapat memisahkan mereka ini.”

Giok-yan merasa khawatir, katanya, “Habis, apakah Toan-kongcu dan laki-laki jelek ini akan....”

“Mereka berdiri terpaku di sini, pada akhirnya tenaga mereka tentu akan habis dan tatkala itu dengan sendirinya mereka akan terpisah,” ujar Buyung Hok.

Walaupun tidak dijelaskan juga Giok-yan tahu bahwa terpisahnya kedua orang itu nanti tentu akan dibarengi dengan kematian mereka. Dalam keadaan demikian, mau tidak mau teringat juga olehnya kebaikan Toan Ki padanya selama ini sehingga sedikit banyak ia pun merasa cemas.

Dengan termangu-mangu Buyung Hok menyaksikan Toan Ki dan Goan-ci yang masih saling pegang tanpa bergerak itu, mendadak ia berteriak, “Piaumoay, selama hidupku terang ilmu silatku tak mungkin mencapai setinggi mereka ini.”

“Pertarungan mereka ini kelak tentu akan dibuat cerita pujian sepanjang masa di dunia persilatan, sebaliknya aku hanya menyaksikan saja tanpa dapat berbuat apa-apa, dalam cerita itu nanti entah diriku akan dijadikan peranan sebagai apa?”

Belum lagi Giok-yan menjawab, tiba-tiba Buyung Hok menyambung dengan menjengek, “Hm, tentu aku akan diceritakan sebagai seorang pengecut yang tiada taranya. Ya, biarpun aku harus binasa tergetar oleh tenaga mereka juga akan kupisahkan mereka agar dapat meninggalkan nama harum di kemudian hari.”

Giok-yan terkejut mendengar tekad sang piauko itu, cepat ia berseru, “Jangan, Piauko!”

Namun sudah terlambat, Buyung Hok telah rangkap kedua tangannya bagaikan orang sembahyang Buddha dan sekaligus terus menerjang ke depan.

Dalam hal pengetahuan, Ong Giok-yan ada lebih tinggi daripada Buyung Hok. Ia tahu sekali sang piauko telah menerjang sepenuh tenaga, andaikan dapat memisahkan kedua orang yang sedang mengadu tenaga itu, tapi sang piauko sendiri tentu juga tidak dapat menahan gencetan dari dua arus tenaga yang berlawanan dan mahahebat itu dan pasti akan binasa seketika. Maka ia menjadi khawatir dan tanpa berdaya, ia hanya bisa menangis saja sambil menekap mukanya sendiri.

Syukurlah pada saat Buyung Hok mulai menerjang itu, sekonyong-konyong dari dua jurusan telah menyambar pula dua rangkum angin yang mahakuat dengan cepat luar biasa. Maka tertampaklah dari sebelah timur telah melayang tiba seorang laki-laki berbaju hitam yang berperawakan tegap, muka berkedok, hanya kelihatan kedua matanya. Sedangkan dari sebelah barat muncul seorang padri berjubah putih, mukanya juga berkedok kain putih dan juga melulu sepasang matanya yang kelihatan.

Datangnya kedua orang itu sedemikian cepat sehingga seakan-akan dua jalur sinar hitam-putih yang mendadak berkelebat melampaui di depan Buyung Hok, berbareng kedua orang itu telah angkat tangannya pula sehingga dua arus tenaga yang sangat kuat menyambar ke arah Buyung Hok, tanpa kuasa lagi Buyung Hok terpental mundur.

Sesudah mendesak mundur Buyung Hok, segera laki-laki baju hitam dan padri berjubah putih bergabung menjadi satu, dengan berjajar mereka terus menerjang ke depan, tenaga pukulan mereka pun terhimpun menjadi satu hingga mendadak Toan Ki dan Goan-ci dapat dipisahkan. Bahkan kedua orang itu sedikit pun tidak berhenti, secepat kilat mereka lantas terpencar pula, seorang ke timur dan yang lain ke barat, hanya dalam sekejap mereka sudah menghilang lagi.

Rupanya kedua orang yang berbaju hitam-putih itu telah menggabungkan tenaga pukulan mereka menjadi suatu jalur tenaga yang sempit untuk menerobos keempat tangan Toan Ki dan Goan-ci yang saling lengket itu sehingga kedua pemuda itu dapat dipisahkan secara mentah-mentah, bahkan tenaga pukulan gabungan itu tidak lantas lenyap, tapi masih terus menyambar ke depan sehingga sebatang pohon besar dengan tepat kena terhantam, maka terdengarlah suara gemuruh, pohon itu seakan-akan terbelah oleh sebuah kapak raksasa yang mahatajam dan tumbang seketika.

Toan Ki dan Goan-ci juga tergetar mundur dua-tiga tindak. Lapisan es di tubuh Goan-ci sama rontok pula, sedang hawa berbisa Toan Ki juga menguap lenyap tanpa bekas.

Waktu Goan-ci terhuyung-huyung mundur, ia masih sempat mengetahui berkelebatnya bayangan si orang berbaju hitam yang melayang ke barat sana. Seketika ia tercengang dan teringat sesuatu.

Dahulu waktu Kiau Hong mengamuk di Cip-hian-ceng, saat itu Goan-ci mengikuti peristiwa itu dengan sembunyi di balik dinding ia menyaksikan para kesatria sama menggeletak mati atau terluka parah, akhirnya Kiau Hong juga tidak tahan, tapi dapat ditolong oleh seorang laki-laki berbaju hitam dengan seutas tambang panjang, sebab itu kesan Goan-ci kepada orang berbaju hitam itu sangat mendalam.

Maka sekarang sekilas lihat saja ia dapat mengenali orang berbaju hitam tadi bukan lain adalah orang yang sama dahulu itu. Sedangkan padri berjubah putih yang melayang ke arah timur itu tidak keburu dilihat oleh Goan-ci.

Sebaliknya arah berdiri Ciumoti dan Buyung Hok kebetulan dapat melihat bayangan tubuh padri berjubah putih itu. Mestinya Ciumoti sudah mulai tenang kembali, tapi demi tampak potongan tubuh padri itu, kembali air mukanya berubah hebat penuh keheranan dan kesangsian. Ia berpaling dan tanya Buyung Hok, “Taysu tadi itu apakah....”

Tapi Buyung Hok lantas menggeleng kepala dan menjawab, “Gerak tubuhnya terlalu cepat, menyesal tidak jelas kulihatnya.”

Ciumoti tercengang sambil bergumam sendiri, “Apakah dia... ah, tentu mataku yang kabur sehingga mengira dia seorang sobatku yang lama.”

Dalam pada itu sesudah terpisah dari Toan Ki segera Goan-ci memeriksa sekitarnya dan tidak mendapatkan A Ci, yang terlihat hanya Ong Giok-yan dan Buyung Hok saja, maka kembali ia berteriak aneh, “Di mana A Ci?” Segera Toan Ki hendak ditubruknya pula.

Tapi baru saja badannya bergerak, tiba-tiba terdengar suara sambutan A Ci dari tempat jauh, “Ong-kongcu, aku berada di sini!”

Sungguh girang Goan-ci melebihi putus lotre 120 juta demi mendengar suara A Ci, sekuatnya ia menahan tubuhnya sehingga terjatuh ke tanah, tapi biarpun dia terbanting lebih keras juga takkan terasa sakit, bahkan segera ia meloncat bangun terus memburu ke arah datangnya suara A Ci.

Maka tertampaklah A Ci sedang mendatang dengan perlahan, bajunya yang berwarna ungu muda itu bergerak-gerak tertiup angin, wajahnya menampilkan senyuman manis.

Saking girangnya Goan-ci sampai berteriak-teriak aneh terus memapak maju, meski ia lewat di samping Giok-yan yang kecantikannya boleh dikata tiada bandingannya di dunia ini, tapi sekejap pun Goan-ci tidak meliriknya, mungkin dalam pandangannya biarpun bidadari yang turun dari kahyangan juga tak dapat membandingi si A Ci kesayangannya itu.

Sesudah dekat, dengan napas memburu ia lantas tanya, “A Ci, ke manakah dikau pergi? Ai... aku... aku sungguh sangat khawatir.”

“Bukankah sekarang aku sudah kembali, khawatir apa?” sahut A Ci.

Tadi Goan-ci memang kelabakan setengah mati dengan hilangnya A Ci, kini demi ditegur oleh anak dara itu, seketika ia merasa rasa khawatirnya itu memang berlebihan, dalam keadaan buta dengan sendirinya A Ci takkan meninggalkan dia, mengapa mesti khawatir?

Sekarang sesudah anak dara itu diketemukan kembali, sungguh girangnya susah dilukiskan, segala apa yang terjadi tadi telah dikesampingkan seluruhnya.

Maka dengan tertawa A Ci tanya, “Apakah kau jadi berkelahi dengan orang?”

Goan-ci hanya memandangi anak dara itu dengan terkesima, pada hakikatnya ia tidak dengar apa yang ditanyakan itu.

Berulang A Ci tanya pula, tapi mendadak Goan-ci malah balas tanya di luar garis, “Kenapa engkau tidak omong dan lantas tinggal pergi begitu saja?”

A Ci tertawa genit, sahutnya, “Aku pergi mencari tahu tentang dirimu.”

“Hah? Kau... kau....” seru Goan-ci terkejut.

“Tadi kudengar Buyung-kongcu dan nona Ong berdua lewat di luar hutan itu, teringat olehku bahwa Buyung-kongcu adalah kawanmu, maka aku lantas berseru memanggilnya dan berbicara tentang dirimu.”

Seketika kepala Goan-ci seperti diguyur air es, keluhnya di dalam hati, “Wah, celaka! Tamat tamatlah riwayatku sekarang!”

“He, kenapa kau? Mengapa diam saja?” tanya A Ci dengan heran.

Belum lagi Goan-ci menjawab, tiba-tiba sebuah tangan orang meraih pundaknya. Cepat Goan-ci menoleh, ia lihat orang itu adalah Buyung Hok yang sedang memandang padanya dengan tertawa. Keruan kejut Goan-ci tambah hebat sehingga mundur setindak.

Tapi dengan tertawa Buyung Hok berkata, “A Ci, sayang kau datang terlambat sedikit, Ong-kongcumu ini sangat mengkhawatirkan dirimu dan dia telah unjuk ilmu saktinya, sehingga kami benar-benar terpesona.”

Dengan girang A Ci menjawab, “Apakah betul? Ah, Buyung-kongcu sendiri terlalu rendah hati.”

“Sekali-kali aku tidak rendah hati,” sahut Buyung Hok. “Betapa tinggi ilmu silat Ong-kongcu sungguh sukar diukur.”

Mendengar ini A Ci tertawa lebih gembira lagi. Sebaliknya Goan-ci berdiri terpaku di tempatnya dengan perasaan bingung.

Sehabis berkata, lalu Buyung Hok lari pergi dengan perlahan, katanya, “Kami masih ada sedikit urusan, sampai bertemu pula!”

Hanya sekejap saja orangnya sudah pergi jauh.

Sesudah termangu-mangu sebentar, kemudian Goan-ci berkata, “A Ci, ketika kau tanya mereka tentang diriku, apa yang dikatakannya padamu?”

“Semula Buyung-kongcu tercengang,” tutur A Ci, “tapi kemudian nona Ong mengingatkan dia, lalu ia mengatakan bahwa engkau sangat mirip dia, bahkan orang lain sering menyangka kalian adalah saudara sekandung!”

Kembali Goan-ci termangu-mangu, sungguh terima kasihnya tak terhingga kepada Buyung Hok dan Ong Giok-yan berdua. Ia tahu kedua orang itu tentu melihat A Ci sudah buta, tatkala membicarakan diriku tampaknya arak dara ini sedemikian mesra, karena tidak ingin A Ci sedih dan kecewa, maka mereka sengaja membohonginya, hal ini tidak ubahnya seperti telah menolong jiwaku.

Sampai sekian lama Goan-ci tertegun, ketika ia menoleh, ia lihat Toan Ki juga sudah pergi, sedang Ciumoti tampak lagi bergerak keluar hutan sana dengan cepat. Segera Goan-ci berteriak-teriak, “Taysu! Taysu!”

Tapi Ciumoti sama sekali tidak menoleh, secepat terbang orangnya menghilang di balik pohon sana.

“Taysu, nanti malam akan kau cari aku lagi tidak?” seru Goan-ci pula.

Dari jauh terdengar Ciumoti menjawab, “Kau tidak dapat membedakan antara yang jahat dan bajik, buat apa aku berhubungan lagi denganmu?”

Goan-ci semakin gugup, serunya pula, “Tapi engkau telah berjanji akan terima aku sebagai murid, apa... apa....”

Tapi segera teringat olehnya bahwa A Ci berada di situ, ucapannya itu tentu akan membikin rahasianya terbongkar, seketika ia berkeringat dingin dan tidak sanggup meneruskan ucapannya.

Sementara itu Ciumoti sudah berada sangat jauh, tapi suaranya masih terdengar, “Jika kau mau taat kepada pesanku dan berdaya untuk membasmi Toa-ok-jin Toan Ki maka harapanmu akan kuterima sebagai murid di kemudian hari mungkin bisa terkabul.”

Saking girangnya Goan-ci menjawab dengan suara keras, “Ya, ya, Taysu! Engkau sendiri jangan lupa ya!”

Habis itu, suasana di tengah hutan lantas sunyi senyap. Sampai agak lama baru terdengar A Ci bersuara, “Ong-kongcu, ilmu silatmu sendiri sudah tergolong kelas wahid, sampai Ting Jun-jiu juga kena kau labrak hingga mengacir, mengapa engkau sedemikian menghormat kepada Tay-lun-beng-ong itu? Bukankah hal ini akan merosotkan harga dirimu?”

Goan-ci merasakan nada ucapan A Ci itu mengandung rasa kecewa, tidak puas dan mendongkol, agaknya menaruh curiga pula kepadanya, maka cepat ia menjawab, “A Ci, rupanya kau... kau tidak tahu bahwa aku hanya pura-pura hendak mengangkat guru padanya, tapi... tapi sebenarnya aku mempunyai maksud tujuan tertentu.”

“Ah, kiranya demikian, jadi engkau hanya pura-pura saja hendak mengangkat guru padanya?” A Ci menegas dengan tertawa.

“Ya, sudah tentu hanya pura-pura saja,” sahut Goan-ci. “Coba pikirkan, aku Ong Sing-thian adalah Ciangbunjin Kek... Kek-lok-pay, masakah aku sudi berguru pula kepada orang lain? Tentang maksudku hendak mengangkat guru padanya sudah tentu cuma pura-pura saja. Bicara tentang ilmu silat sejati, huh, masakah Ciumoti itu....”

Sebenarnya ia hendak mengatakan Ciumoti itu tak mungkin dapat menandingi dirinya, tapi dia adalah seorang jujur, terhadap Ciumoti memang sangat kagum, biarpun di belakang juga tidak mau berlaku kurang sopan, sebab itulah ia urung melanjutkan ucapannya itu.

Maka dengan tertawa A Ci berkata, “Ong-kongcu, jangankan cuma Ciumoti, sedangkan tokoh mahahebat seperti Buyung-kongcu itu juga sedemikian menghormat dan segan padamu, sudah tentu Ciumoti itu sekali-kali bukan tandinganmu. Tapi engkau sengaja pura-pura hendak berguru padanya, sebenarnya apa maksud tujuanmu?”

Goan-ci bukan anak bebal, tapi juga bukan orang pintar dan cerdik, disuruh mencari akal mendadak untuk membohong sekali-kali tak bisa. Maka demi ditanya oleh A Ci terpaksa ia menjawab, “Tentang ini... ini... ehm... ini....”

Seketika A Ci ngambek, dengan mulut menjengkit ia berkata, “Jika engkau tidak sudi menerangkan juga tak apa, memangnya aku juga tidak sesuai untuk ikut mengetahui rahasia dunia persilatan yang mahapenting ini.”

Goan-ci menjadi gugup melihat A Ci kurang senang, cepat katanya, “Ini pun bukan rahasia apa-apa, jika kau ingin tahu, sudah tentu dapat kuterangkan....” Berbareng itu ia coba peras otak dengan harapan dapat menemukan sesuatu akal untuk menjawab pertanyaan A Ci itu, tapi meski sudah dipikir kian kemari tetap tak diperoleh sesuatu akal yang baik.

Karena Goan-ci tergegap-gegap tak bisa menerangkan lebih jauh, A Ci mengira pemuda itu sengaja tidak mau bicara terus terang padanya. Biasanya A Ci terlalu dimanjakan dan tinggi hati, meski sekarang matanya buta tapi dalam waktu singkat sifat-sifatnya itu sukar berubah. Maka dalam gusarnya segera ia membuang muka terus tinggal pergi dengan cepat.

Keruan Goan-ci tambah gugup, cepat ia berseru, “A Ci, A Ci, jangan gusar, biarlah kukatakan padamu sekarang juga.”

“Huh, tidak begini!” jengek A Ci. “Aku tidak suka dengar lagi.”

Mendadak kakinya kesandung sesuatu dan jatuh tersungkur sambil menjerit kaget. Meski nyatanya sudah buta, tapi ilmu silat A Ci masih cukup lihai, sekali tangan kanan menahan tanah, dengan enteng ia melompat bangun lagi.

Segera Goan-ci mendekatinya sambil bertanya, “Engkau tidak apa-apa bukan, A Ci?”

“Biar terbanting mati saja daripada hidup disiksa,” sahut A Ci.

Diam-diam Goan-ci heran bilakah dirinya pernah menyiksa anak dara itu? Selama berkenalan dengan A Ci, yang sudah kenyang dihina dan disiksa ialah Goan-ci sendiri, tapi sekarang anak dara itu mengomeli dia dan memutarbalikkan apa yang terjadi sebenarnya, keruan Goan-ci serbarunyam.

Waktu A Ci berdiri tegak kembali, ketika ia coba meraba barang apa yang menyandung kakinya itu hingga jatuh, ternyata di situ terlintang sebatang pohon tumbang yang sudah terbelah menjadi dua, bagian batang pohon yang terbelah terasa sangat licin dan rajin, rasanya sekali-kali bukan dipotong oleh gergaji dan sebagainya, andai kata dikapak juga tidak mungkin terdapat kapak sebesar itu yang dapat membelahnya dari atas ke bawah dan tidak mungkin pula terdapat manusia raksasa yang mampu membelah sebatang pohon besar dari atas.

Sesudah berpikir sejenak, segera A Ci tahu sebab musababnya, katanya dengan suara terputus-putus, “Ong... Ong-kongcu, tadi engkau telah... telah bertanding dengan orang dan membelah pohon ini menjadi dua, bukan?”

Sebenarnya watak Goan-ci sangat rendah hati dan tidak suka membual serta mengagulkan diri, sebab ia tahu awak sendiri adalah orang bodoh, hendak, membual juga tidak bisa, tapi sekarang di hadapan A Ci, ia menjadi khawatir kalau anak dara itu mengetahui harga dirinya yang tidak laku sepeser pun, sekali guci wasiatnya terbongkar, seketika anak dara itu akan meninggalkan dia.

Sebab itulah, setiap kesempatan yang dapat menaikkan harga diri dan ilmu silatnya tentu tidak disia-siakan olehnya.

Akan tetapi terbelahnya pohon besar ini adalah lantaran gabungan tenaga laki-laki baju hitam dan padri jubah putih yang dilakukannya dalam sekejap setelah memisahkan Goan-ci dan Toan Ki, betapa hebat tenaga gabungan itu mana dapat ditandingi oleh siapa pun juga? Biarpun sekarang Goan-ci hendak membual di hadapan A Ci juga tidak berani mengaku mempunyai kemampuan sehebat itu.

Karena itulah ia hanya menjawab dengan tergegap, “Tentang ini... ini... bukan....”

“Ong-kongcu,” sela A Ci dengan tersenyum, “engkau ini sangat baik, cuma ada sesuatu yang kurang.”

“Kur... kurang apa?” tanya Goan-ci cepat.

“Engkau terlalu rendah hati,” ujar A Ci. “Sudah terang gamblang ilmu silatmu mahatinggi, tapi engkau tidak mau mengaku. Meski orang pandai biasanya memang tidak suka pamer, tapi terhadap... terhadap diriku masakah kau pun anggap seperti orang lain?”

Hati Goan-ci berdebar-debar hebat, dengan suara kikuk ia jawab, “Terhadapmu sudah... sudah tentu lain dari yang lain. Kau bilang apa tentu itu yang kulakukan. A Ci, sejak berjumpa denganmu aku selalu bersikap demikian.”

Perlahan A Ci menghela napas, katanya, “Cuma sayang aku tidak pernah dapat melihat wajahmu. Ya, seumur hidup ini aku takkan dapat melihatmu lagi.”

Seketika anak dara itu menjadi muram durja. Tapi sejurus kemudian ia lantas berkata dengan tertawa lagi, “Menurut Buyung-kongcu itu, katanya orang lain suka anggap mukamu sangat mirip dengan ia, tapi ia sendiri merasa tak dapat membandingimu. Nyata engkau memang seorang yang ganteng bagus, ilmu silatmu sangat tinggi pula, sebaliknya aku... aku hanya seorang nona buta, di manakah letak kebaikanku sehingga berharga mendapatkan perhatianmu?”

Hati Goan-ci sangat terharu, mendadak ia berlutut dan katanya dengan suara gemetar, “No... nona, hendaklah jangan berkata demikian lagi, aku Yu... Ong Sing-thian hanya berharap selama hidup ini senantiasa dapat berdampingan dengan nona, untuk itu biarpun aku menjadi budakmu juga aku rela.”

Sudah tentu A Ci tidak tahu Goan-ci berlutut, tapi dari nada ucapannya itu ia dapat mendengar perasaan pemuda itu sangat terguncang, maka ia sangat girang, katanya, “Ong-kongcu, engkau sedemikian baik padaku, ya, boleh dikata kita ini memang ada jodoh, aku pun berharap dapat berdampingan denganmu untuk selamanya dan takkan berpisah lagi. Cuma... cuma, di kemudian hari nanti kurasakan engkau belum tentu tetap setia padaku seperti sekarang.”

Goan-ci menjadi gugup, cepat ia bersumpah dengan suara keras, “Tuhan menjadi saksi, bila kelak aku berbuat tidak pantas kepada nona A Ci, biarlah Tuhan menghukum aku tersiksa selama hidup dan takkan hidup gembira seperti sekarang ini.”

“Hihi, jadi sekarang engkau sangat gembira?” tanya A Ci dengan tertawa.

“Ya, gembira sekali,” seru Goan-ci sambil berdiri. “Sekarang aku merasa sangat bahagia, mungkin malaikat dewata juga tak dapat melebihiku.”

Tiba-tiba A Ci termenung-menung sambil menengadah, katanya, “Ong-kongcu engkau telah menipu Tay-lun-beng-ong dan pura-pura menyatakan hendak mengangkat guru padanya, sebenarnya apa maksud tujuanmu? Apakah dalam ilmu silatnya itu ada sesuatu yang istimewa yang ingin kau selami dan engkau menipunya untuk mendapatkan kepandaiannya itu, lalu akan kau binasakan dia? Ya, bagus, kukira pasti demikian. Cuma saja Ciumoti itu sangat licin, rasanya tidak mudah untuk mengakali dia.”

Diam-diam Goan-ci terkejut, ia tidak habis mengerti mengapa yang dipikirkan anak dara itu selalu hal-hal yang keji seperti itu? Tapi dengan uraian A Ci itu kini dapat memecahkan kesulitan Goan-ci malah. Sebenarnya ia serbasusah karena tak dapat memberi alasan yang masuk akal untuk membohongi A Ci, sekarang ia tidak perlu cari akal lagi, segera ia mengiakan dan membenarkan saja untuk menuruti jalan pikiran A Ci itu.

Maka A Ci berkata pula, “Ong-kongcu, bahwasanya ilmu silatmu sangat tinggi, rasanya Ciumoti yang cerdik dan pintar itu tidak mungkin tahu dan tentu dia takkan mau mengatakan padamu tentang ilmu sakti andalannya dengan sejujurnya, maka jika kau ingin menipu ilmu silatnya, kukira hanya ada satu jalan.”

“Jalan bagaimana?” tanya Goan-ci.

“Begini,” tutur A Ci, “lebih dulu engkau berjanji dengan dia agar saling mengajarkan kepandaian andalan masing-masing, harus saling tukar kepandaian masing-masing baru akan membawa manfaat bagi kedua pihak, dengan demikian tentu dia akan keluarkan kepandaiannya yang sejati tanpa curiga. Sebaliknya kau pun mesti mengajarkan kepandaianmu yang sejati padanya, sekali-kali tidak boleh main simpan kepandaian. Sebab dengan kecerdikan Ciumoti itu, sedikit kau curang tentu akan diketahui olehnya.”

“Aku... aku harus mengajarkan dia dengan kepandaianku yang sejati?” Goan-ci menegas dengan ragu-ragu. Sedang di dalam hati ia membatin, “Aku mempunyai kepandaian sejati apa? Kalau kepandaian gegares sih aku memang hebat.”

Tapi dengan tersenyum A Ci berkata, “Ya, kau pun harus mengajarkan kepandaianmu yang sejati padanya, kalau tidak, tentu sukar mendapatkan kepandaian Ciumoti yang sejati. Cuma saja harus kau tinggalkan satu-dua jurus terakhir yang paling lihai dan jangan buru-buru diajarkan semua padanya, dengan demikian tentu dia takkan turun tangan lebih dulu untuk membunuhmu.”

Goan-ci terperanjat, serunya, “Apa? Dia akan turun tangan lebih dulu membunuh aku?”

“Ya, kalau dia tidak turun tangan lebih dulu maka engkau yang harus turun tangan lebih dulu,” sahut A Ci. “Ong-kongcu, aku menaksir dia juga mempunyai maksud tujuan yang sama seperti dirimu, tapi hendaklah engkau jangan terlalu tamak, asal sudah dapat menguasai sembilan bagian dari seluruh kepandaiannya yang sejati, sisanya boleh kau tinggalkan saja, yang paling penting turun tangan lebih dulu dan sekali hantam lantas membinasakan dia daripada akhirnya engkau yang akan dibunuh olehnya kan bisa runyam?”

Seketika Goan-ci merinding. Ia sudah kenal watak A Ci yang kejam, asal dapat menyenangkan diri sendiri, tentang mati-hidup orang lain tidak pernah dipikirkan, hal ini Goan-ci sendiri sudah kenyang merasakannya.

Tapi dasar Goan-ci sudah kesengsem benar-benar padanya, mesti merasa seram atas sifat anak dara itu, namun dalam hati ia masih pikir, “Ya, betapa pun yang dipikirkan itu adalah demi kebaikanku, jika aku tidak turun tangan lebih dulu untuk membinasakan Ciumoti, tentu aku sendiri yang akan mampus dibunuh oleh Ciumoti.”

Kalau terang-terangan suruh dia membunuh orang, terutama “padri sakti” yang sangat dipujanya itu betapa pun ia merasa segan. Semula ia berharap Ciumoti lekas datang menemuinya lagi, tapi sekarang ia berbalik berharap semoga padri itu jangan diketemukannya.

Dan karena tidak mendengar jawaban Goan-ci, segera A Ci bertanya lagi, “Kenapa? Apakah perkataanku salah?”

“O, tidak, tidak! Perkataanmu sangat tepat!” cepat Goan-ci menjawab. “Aku sedang berpikir bila kelak Ciumoti itu hendak tukar pikiran tentang ilmu silat denganku, lantas ilmu silat mana yang harus kupakai untuk mengadakan pertukaran dengan dia.”

Diam-diam A Ci pikir, “Ong-kongcu ini sekarang sangat kesengsem padaku, agaknya dia memang sungguh-sungguh, tetapi siapa berani menjamin dia takkan berubah pikiran di kemudian hari? Andaikan kelak mendadak timbul maksud jahatnya dan aku ditinggal pergi begitu saja, sedangkan kedua mataku sudah buta, lantas cara bagaimana aku dapat hidup di dunia ini? Namun kalau aku sudah berhasil memperoleh ilmu saktinya, aku dapat menggunakan telinga sebagai gantinya mata, dalam kedudukanku sebagai ketua Sing-siok-pay, aku dapat menyuruh para murid mengiring di sekelilingku, tatkala itu bila dia berani main gila tentu aku dapat berdaya untuk membunuhnya. Maka hal yang terpenting sekarang adalah belajar ilmu saktinya. Tapi kalau aku bicara terus terang untuk belajar padanya belum tentu dia mau meluluskan, maka lebih baik aku mengakali dia saja.”

Sesudah ambil keputusan demikian, segera ia berkata, “Ong-kongcu, meski kedua mataku sudah buta, tapi pikiranku masih cukup cerdas, bukan?”

“Sudah tentu,” sahut Goan-ci. “Kecerdasanmu bahkan jauh lebih hebat daripadaku, otakmu lebih tajam daripadaku.”

“Itulah susah dipastikan,” ujar A Ci dengan tertawa. “Tapi sebodoh-bodohnya seorang tentu akan menjadi pintar bila dua orang suka berunding. Maka kalau kita berdua mau bersatu padu, kukira cara berpikir kita tentu akan lebih sempurna.”

“Jika begitu, apa pun yang nona hendak katakan padaku boleh silakan bicara terus terang saja, aku pasti akan menurut,” sahut Goan-ci.

“Kupikir Ciumoti itu sangat licin dan licik, sebaliknya engkau ini sangat lugu dan jujur, bila bergebrak dengan dia, mungkin engkau akan tertipu olehnya. Maka lebih baik begini saja, boleh keluarkan segenap ilmu silatmu padaku, nanti aku akan ikut memikirkan bagian-bagian mana yang boleh diajarkan kepada Ciumoti itu dan bagian mana yang harus dirahasiakan.”

Keruan Goan-ci kelabakan oleh permintaan A Ci itu, pikirnya, “Wah, celaka! Apa barangkali dia telah mengetahui rahasiaku yang sebenarnya tidak becus sesuatu ilmu silat apa pun dan sekarang sengaja hendak membikin susah padaku? Wah, lantas bagaimana baiknya ini?”

Karena tidak memperoleh jawaban Goan-ci dasar A Ci memang kelewat pintar, sebaliknya tidak dapat melihat perubahan air muka Goan-ci, maka disangkanya pemuda itu sungkan mengunjukkan ilmu silatnya sendiri. Diam-diam A Ci pikir pula, “Ilmu silat Ong Sing-thian mahasakti, dia adalah seorang ciangbunjin pula, sudah tentu dia bukan orang bodoh dan tidak dapat kutipu dengan begini saja, kulihat dia memang sungkan memamerkan ilmu silatnya padaku.”

Karena gugupnya itu, tanpa terasa menangislah A Ci.

Goan-ci terkejut, cepat serunya, “He, kenapa nona?”

“Sudahlah, lekas... lekas kau pergi saja dan selanjutnya jangan urus diriku pula, aku pun tidak ingin melihatmu lagi,” sahut A Ci sambil terguguk.

Keruan bukan main kejut Goan-ci, sahutnya cepat, “Ai, baru saja kita bicara dengan baik-baik, kenapa mendadak nona berkata demikian?”

Mendengar suara orang agak gemetar, diam-diam A Ci bergirang, pikirnya, “Orang ini ternyata benar-benar telah jatuh hati padaku. Untuk menipu dia terang sangat susah, lebih baik kubicara terus terang dan memohon padanya, mungkin dia akan dapat meluluskan permintaanku.”

Karena itu segera A Ci berkata, “Kukira sepuluh hari atau setengah bulan lagi tentu akan kau tinggalkan diriku, daripada nanti sedih dan berduka, lebih baik sekarang juga kita lekas berpisah saja.”

Goan-ci menjadi girang dan khawatir pula, cepat sahutnya, “Aku sudah menyatakan selama hidup takkan meninggalkan nona, janji sudah kukatakan, sumpah sudah kuucapkan, masakah nona masih tidak percaya?”

“Aku justru tidak percaya,” ujar A Ci sambil goyang kepala.

“Habis bagaimana, apa perlu kukorek hatiku ini supaya nona memeriksanya sendiri, dengan demikian tentu nona akan percaya.”

Tiba-tiba A Ci menangis lagi sambil berkata, “Kau... kau tahu kedua mataku sudah buta, maka... maka sengaja menggunakan kata-kata demikian untuk menyindir aku.”

Goan-ci tambah gugup sehingga keluar keringat, mendadak ia berlutut dan bermaksud merangkul kaki A Ci, tapi sebelum menyentuh kaki anak dara itu, tiba-tiba timbul rasa takutnya dan cepat menarik kembali tangannya dan berkata, “Sekali-kali aku tidak bermaksud begitu, jika aku sengaja, biarlah aku terkutuk.”

A Ci dapat mendengar suara Goan-ci berlutut di hadapannya, diam-diam ia sangat girang, tapi air matanya semakin bercucuran, katanya dengan sesenggukan, “Ya, kecuali kau penuhi sesuatu permintaanku baru aku mau percaya.”

“Jangankan satu, biarpun seratus atau seribu permintaan nona juga akan kuterima,” sahut Goan-ci cepat. “Nah, lekas nona katakan.”

“Tapi... tapi engkau toh tidak bakalan menerima, biar kukatakan juga percuma, paling-paling akan dibuat buah tertawaanmu saja,” ujar A Ci.

Begitulah A Ci sengaja “jual mahal” untuk memancing Goan-ci, semakin dia tak mau bicara, semakin bernafsu Goan-ci memohon.

Akhirnya berkatalah A Ci, “Apabila engkau benar jujur padaku, maka hendaknya kau ajarkan sedikit banyak ilmu saktimu padaku agar kelak bila kau tinggalkan aku, paling tidak aku sudah mempunyai sedikit ilmu penjaga diri.”

Jika Goan-ci benar-benar mempunyai ilmu sakti, sedikit A Ci memohon saja pasti akan diluluskannya.

Akan tetapi pada hakikatnya Goan-ci tidak mahir ilmu silat apa-apa, dibandingkan kepandaian A Ci sendiri bahkan juga selisih sangat jauh, dari mana Goan-ci dapat menerima permintaannya itu?

A Ci menjadi gelisah karena sampai lama tidak mendengar jawaban Goan-ci. Pikirnya, “Mumpung sekarang dia sangat kesengsem padaku, betapa pun aku harus minta dia meluluskan permohonanku.”

Maka sengaja dia menghela napas, lalu berkata, “Ong-kongcu, bahwasanya aku minta kau ajarkan ilmu saktimu, hal ini memang tidak pantas dan tentu sukar diterima olehmu, tapi aku pun tidak menyalahkanmu, maka biarlah kita berpisah saja mulai sekarang.”

Goan-ci menjadi gugup, cepat serunya, “Tidak, tidak! Aku meluluskan permintaanmu, aku akan mengajarkan ilmu sakti padamu.”

A Ci sangat girang, tapi lahirnya ia berlagak anggap sepele dan berkata, “Kau terpaksa menerima permintaanku, andaikan mengajar juga kurang rela dalam hati, buat apa sih begini? Lebih baik kita berpisah saja dan untuk selanjutnya tidak perlu bertemu lagi.”

Dalam gugupnya timbul suatu pikiran pada benak Goan-ci, “Betapa pun harus kualangi kepergiannya. Soal mengajar ilmu juga bukan pekerjaan yang dapat diselesaikan dalam satu-dua hari, paling penting sekarang aku harus menahannya di sini.”

Dalam bingungnya itu tiba-tiba teringat olehnya kejadian di Cip-hian-ceng dahulu, tatkala mana ayahnya minta seorang tokoh persilatan agar sudi memberi petunjuk beberapa jurus padanya. Maka tokoh persilatan itu minta dia mengunjuk dulu apa-apa yang telah pernah dipelajarinya agar dapat diketahui sampai di mana kepandaian yang telah dikuasainya.

Namun Goan-ci sendiri menyadari dalam hal ilmu silat dirinya terlalu tak becus, sekali main tentu akan membikin malu sang ayah dan pamannya, maka biarpun sudah dipaksa-paksa tetap ia tidak mau main, sudah tentu tokoh persilatan itu tidak senang dan karena itu pula lantas tidak jadi memberi petunjuk.

Teringat akan kejadian dahulu itu segera Goan-ci berkata, “Nona, jika engkau hendak mempelajari ilmu saktiku maka kita harus mencari suatu tempat yang sunyi sepi agar tidak diganggu orang luar. Lebih dulu harus kau tunjukkan segenap kepandaian yang pernah kau pelajari dari Sing-siok-pay, dengan demikian barulah aku dapat menilai kepandaianmu dan kemudian mengajarkan ilmu... ilmu sakti padamu.”

“Bagus, memang seharusnya begitu,” seru A Ci dengan girang. “Cuma kita juga tidak perlu mencari tempat yang terlalu sepi, paling baik sembari mengajarkan ilmu padaku, kita sambil mencari markas besar Kay-pang, dengan demikian kita dapat segera merebut kedudukan pangcu dari kaum jembel itu untuk dikembalikan kepada Cihuku di negeri Liau sana. Besar kemungkinan Cihu tak mau terima, dengan demikian aku sendirilah nanti yang akan menjadi pangcu. Wah, sungguh hebat, selain menjadi Ciangbunjin Sing-siok-pay aku pun merangkap menjadi Pangcu Kay-pang, aku akan bekerja sama dengan Ciangbunjin Kek-lok-pay untuk menjagoi dunia persilatan ini, biarpun Siau-lim-pay, Koh-soh Buyung dan lain-lain juga pasti akan keder bila mendengar nama kita. Wah, sungguh bagus sekali, bukan?”

Begitulah makin bicara makin gembira, meski kedua matanya buta, tapi tidak mengurangi kecantikannya tatkala gembira ria demikian sehingga jantung Goan-ci berdebar-debar dibuatnya.

Sesudah A Ci tenang kembali, lalu berkatalah Goan-ci, “Untuk merebut kedudukan Pangcu dari Kay-pang memang juga bukan soal sulit, cuma saja kalau aku yang merebutnya bagimu, hal ini rasanya takkan membikin tokoh Kay-pang itu tunduk benar-benar, lebih baik tunggu saja nanti bila aku sudah mengajarkan ilmu sakti padamu dan kau sendiri dapat menundukkan mereka dengan kepandaianmu sendiri, paling-paling aku cuma mengawalmu dari samping saja untuk menjaga keselamatanmu, dengan demikian bukankah jauh lebih baik.”

“Ya, ya, bagus!” seru A Ci. “Ong-kongcu, sifatku memang terlalu tergesa-gesa. Kita juga tidak perlu mencari tempat sepi lagi, di sini kan tiada orang lain. Nah, biar kupertunjukkan kepandaian Sing-siok-pay yang paling kasar kepadamu agar engkau dapat segera pula mengajarkan ilmu sakti padaku. Nah, kunci dari pengantar ilmu silat Sing-siok-pay adalah begini!”

Lalu ia menguraikan istilah-istilah yang merupakan kunci ilmu silat Sing-siok-pay yang pernah dipelajarinya dari Sing-siok Lokoay, menyusul ia unjukkan pula beberapa jurus permainannya.

Diam-diam Goan-ci berpikir, “Sebenarnya aku telah diterima sebagai murid oleh Sing-siok Lokoay, tapi karena membela A Ci sehingga aku bermusuhan dengan dia, maka sedikit pun aku belum memperoleh kepandaiannya sebaliknya malah banyak mengalami kesukaran selama ini. Sekarang aku mengaku sebagai seorang kosen yang memiliki ilmu sakti segala, padahal kepandaianku hanya gegares belaka, ilmu sakti apa segala sama sekali aku tidak becus. Tapi agar tidak mencurigakan A Ci, terpaksa aku main kayu sekadar mengelabui dia, biarlah kukatakan ilmu silat Sing-siok-pay tidak berguna, selain ini aku tidak punya jalan lain.”

Segera ia berkata, “Nona, kulihat ilmu yang kau pelajari telah tersesat ke jalan yang tidak benar, cuma ilmu silat Sing-siok-pay memang juga tidak terlalu jelek, maka aku harus mempelajarinya dahulu agar dapat memahami di mana letak kesalahannya, dengan demikian barulah aku dapat memberi petunjuk padamu agar kembali ke arah yang benar.”

“Betul,” seru A Ci dengan girang. “Memang guruku, eh, tidak, Ting-lokoay itu memang biasanya tidak suka menerima murid yang sudah pernah belajar silat, sebab katanya orang yang sudah pernah belajar silat bila disuruh ganti berlatih ilmu Sing-siok-pay akan beberapa kali lebih sukar daripada orang yang tadinya sama sekali belum pernah belajar silat. Tapi sekarang, Ong-kongcu, tentu engkau akan banyak lebih susah bila mengajarkan ilmu sakti padaku.”

“Ah, hanya sedikit kesukaran ini apa alangannya?” sahut Goan-ci. “Nah, coba aku akan mulai. Jurus pertama yang kau mainkan tadi adalah begini, dan jurus kedua demikian....”

Begitulah Goan-ci lantas menirukan gaya permainan A Ci tadi dan mulai berlatih.

Ilmu silat Sing-siok-pay itu dasarnya memang berpangkal pada ilmu berbisa, semakin kuat lwekang yang berbisa jahat, semakin lihai pula ilmunya itu.

Dua jurus pertama yang dipertunjukkan A Ci tadi disebut “Kun-goan-bu-kek-sik” (gaya jagat tak berkutub), yaitu jurus permulaan dari kungfu Sing-siok-pay. Bagi yang mulai berlatih biasanya perlu makan waktu sebulan atau dua bulan baru dapat menguasainya betul-betul.

Tapi sekarang Goan-ci sudah memiliki lwekang yang tinggi, racun ulat sutra es yang mahahebat dan mukjizat itu luar biasa kuatnya, sampai Ting Jun-jiu sendiri pun kewalahan.

Kini Goan-ci menirukan gaya permainan A Ci tadi, sekali tangannya bergerak, segera terjadilah jurus pertama itu dengan sempurna, bahkan ketika tangannya menampar ke depan, mendadak terdengar suara gemuruh yang keras, sebatang pohon kecil yang terletak kira-kira dua-tiga meter di depan sana kontan tumbang.

Keruan Goan-ci kaget. Ia coba memainkan jurus kedua dan kembali tangannya menampar lagi ke depan, tapi lagi-lagi sebatang pohon terhantam patah menjadi dua.

Ia bergirang dan terperanjat pula, pikirnya, “Wah, ilmu silat Sing-siok-pay ini ternyata membawa daya sakti sehebat ini. Jangan-jangan dia (A Ci) sengaja hendak mempermainkan aku, dia sendiri mahir ilmu selihai ini, tapi mengapa minta belajar ilmu sakti apa segala padaku?”

A Ci sendiri ketika mendengar suara tumbangnya pohon itu segera berkata, “Wah, benar-benar mahalihai! Ong-kongcu, lekas kau ajarkan padaku, cara bagaimana sekali hantam dapat menumbangkan pohon?”

“Apakah jurus yang kau mainkan tadi tidak dapat menumbangkan pohon?” tanya Goan-ci dengan ragu.

A Ci mengikik tawa, sahutnya, “Jurus ‘Kun-goan-bu-kek-sik’ ini adalah jurus pengantar yang paling kasar dan dipelajari setiap murid Sing-siok-pay yang mulai belajar, kalau sekali hantam dapat tumbangkan pohon, bukankah setiap murid Sing-siok-pay akan menjadi jago yang tiada tandingannya di dunia ini?”

Tapi Goan-ci tetap tidak paham sebab musabab pohon tumbang itu. Segera ia coba menghantam pula, tapi tidak menurut gaya permainan A Ci tadi. Sekarang pohon yang diarah itu ternyata bergoyang sedikit pun tidak, ia coba perkeras tenaganya, tetap pohon itu bergeming. Sebaliknya ketika ia gunakan gaya “Kun-goan-bu-kek-sik” lagi, “blang”, kontan pohon itu patah dan tumbang bagai dipotong dengan sebatang kapak raksasa.

Kiranya setiap jurus dan setiap gaya ilmu silat Sing-siok-pay dapat mengembangkan racun dingin dari tenaga dalam melalui jurus ilmu silat itu. Untuk ini yang lebih penting adalah tenaga dalam dengan racun dingin yang hebat, dengan demikian baru dapat dikerahkan melalui daya serangan yang dilontarkan dengan sepenuhnya.

Untuk belajar jurus ilmu silat Sing-siok-pay itu gampang, yang susah adalah memiliki lwekang yang hebat itu. Pada umumnya murid Sing-siok-pay hanya pandai menggunakan gaya ilmu silat mereka, di antara cuma Ti-sing-cu dan beberapa orang lagi yang cukup tinggi lwekangnya, dan di antara mereka itulah tergolong tokoh pilihan dalam Sing-siok-pay.

Sekarang Goan-ci tidak paham seluk-beluk hal itu, ia pun tidak berani banyak bertanya, sebab khawatir rahasianya diketahui A Ci. Lantaran itu, ia hanya minta agar A Ci mengunjukkan ilmu silatnya yang lain.

A Ci lantas meneruskan permainannya sejurus dan Goan-ci juga lantas menjiplak dengan cara yang sama, tapi pada setiap jurus itu ia dapat mengerahkan tenaga serangan yang mahahebat.

Maka sesudah belasan jurus Goan-ci merasa apa yang dipelajari sudah terlalu banyak dan sukar untuk diingat semua, segera ia minta A Ci berhenti dahulu dan mengulangi lagi dari semula.

Dengan tertawa A Ci berkata, “Ong-kongcu, menurut pendapatmu, tentu ilmu silat Sing-siok-pay ini terlalu dangkal dan menertawakan, bukan?”

“Juga tidak, di antaranya banyak pula yang dapat dipakai, cuma... cuma memang agak kurang bernilai,” ujar Goan-ci dengan lagak mahaguru.

Sembari bicara, ia pun menirukan gaya A Ci sambil sebelah kakinya menendang ke depan sehingga sepotong batu kena disambarnya sehingga mencelat. Sungguh kebetulan juga, ketika batu itu mencelat beberapa meter jauhnya dan waktu turunnya dengan tepat hampir menimpa kepala dua orang yang saat itu sedang berjalan datang dengan cepat.

Melihat batu itu akan menjatuhi kepala orang, Goan-ci menjadi khawatir, cepat ia menjerit, “Wah, celaka! He, awas, ada batu jatuh!”

Seorang di antaranya yang berada di sebelah kiri segera menggeser ke samping, kedua tangannya menolak sekaligus ke atas sehingga batu yang menyambar itu kena ditolak ke samping dan membentur tebing di sisinya sehingga menerbitkan suara keras disertai meletiknya lelatu api.

Orang itu menjadi gusar, dampratnya, “Siapa yang berani main gila dengan tuanmu!”

Dengan cepat sekali mereka lantas melompat ke hadapan Goan-ci dan A Ci.

Melihat kedua orang itu berbaju compang-camping, berdandan sebagai pengemis dengan membawa beberapa buah kantong kain, maka Goan-ci segera tahu kedua orang itu pasti anggota Kay-pang. Lekas ia memberi hormat dan berkata, “Maafkan kedua Toako dari Kay-pang, kami tidak sengaja, sudilah kalian jangan marah.”

Karena Goan-ci cukup sopan dan telah minta maaf, pula dari daya sambaran batu yang keras tadi, kedua orang Kay-pang itu percaya ilmu silat Goan-ci pasti sangat lihai, maka mereka pun tidak ingin cari perkara, segera mereka membalas hormat dan menjawab, “Ah, tidak apa, tidak apa-apa!”

Habis itu segera mereka hendak melanjutkan perjalanan.

Tiba-tiba A Ci berseru, “He, apakah kalian orang Kay-pang? Wah, bagus, sangat kebetulan! Memang aku hendak mencari ke sarangmu untuk merebut kedudukan pangcu kalian, sekarang kalian datang ke sini, eh, di manakah letak markas besar kalian sekarang?”

Mendengar orang hendak merebut kedudukan pangcu organisasi mereka, pula melihat dandanan A Ci itu jelas bukan sesama anggota Kay-pang, terang hal ini merupakan suatu hinaan mahabesar bagi kehormatan Kay-pang mereka, keruan seketika air muka kedua orang Kay-pang itu berubah hebat, berbareng mereka bertanya, “Siapa kau ini? Kenapa sembarangan menghina kami?”

A Ci sengaja mencari alasan untuk cari perkara kepada Kay-pang, sekarang kedua orang itu menanyakan asal-usulnya, keruan hal ini sangat kebetulan baginya, segera ia jawab dengan tersenyum, “Aku ini ketua Sing-siok-pay yang baru, aku she Toan bernama Ci.”

Si pengemis yang pertama dengan badan tinggi kurus itu tampak berkerut kening, katanya, “Pemimpin Sing-siok-pay adalah Ting-lokoay, hal ini diketahui oleh setiap orang Kangouw, mengapa kau budak cilik ini berani sembarangan omong?”

Pengemis yang lain bertubuh sedang, usianya sudah mendekati setengah abad, tapi kedudukannya tampak lebih rendah daripada temannya sehingga segala apa hanya menurut perintah si pengemis kurus saja. Tapi dia dapat berpikir lebih hati-hati, maka dengan suara perlahan ia membisiki kawannya itu, “Tik-hiati, kita masih ada urusan penting, lebih baik jangan menggubris anak kecil yang masih ingusan ini.”

Si pengemis kurus mendengus sekali, katanya, “Hm, seorang budak buta, seorang lagi....”

Sampai di sini ia melirik sekejap ke arah Goan-ci dengan sikap yang jijik dan memandang rendah, nyata bila dia meneruskan ucapannya itu dapat ditaksir apa yang akan dikatakan kalau bukan “jelek seperti siluman” tentu adalah “mirip setan”.

Sudah tentu Goan-ci tidak mau memberi kesempatan padanya untuk mengucapkan kata-kata yang dapat membongkar keburukan wajahnya itu. Maka tanpa bicara lagi tangannya terus bergerak, ia pakai gaya permainan silat A Ci yang disebut “Kun-goan-bu-kek-sik” tadi dan menghantam perlahan ke depan.

Ilmu silat pengemis kurus itu juga sangat hebat, gerak-geriknya juga cepat. Begitu melihat Goan-ci menghantam, meski jarak mereka sebenarnya ada dua-tiga meter jauhnya dan tangan Goan-ci tidak nanti dapat mencapai badannya, namun dia tidak berani gegabah dan lekas menghimpun tenaga untuk menyambut serangan itu.

Maka terdengarlah suara “krak” sekali, mendadak tubuh pengemis kurus itu terjengkang ke belakang, ternyata tulang punggungnya patah sebatas pinggang, orangnya menjadi mirip tertekuk menjadi dua.

Deruan pengemis yang lebih tua tadi terkejut, ia berseru, “He, Tik-hiati, ken... kenapakah? He, engkau sudah meninggal!”

Sebenarnya Goan-ci tiada maksud hendak membunuh orang, tujuannya hanya untuk mencegah agar pengemis kurus itu tidak mengucapkan kata-kata yang akan membongkar rahasia kejelekan mukanya, siapa duga mendadak terdengar pengemis tua itu mengatakan lawannya sudah mati, keruan ia terkejut dan berseru, “He, kenapa dia?”

Segera ia memburu maju, ketika ia periksa pengemis kurus itu, ia lihat kedua biji matanya melotot keluar, mukanya sangat mengerikan. Goan-ci menjadi takut dan menyesal, katanya dengan gelagapan, “O, ini... ini....”

Sebaliknya si pengemis tua menjadi khawatir dirinya juga akan diserang oleh Goan-ci yang mukanya buruk menakutkan itu, ia pikir daripada mati konyol lebih baik turun tangan lebih dulu, maka selagi Goan-ci berjongkok memeriksa si pengemis kurus, segera pengemis tua itu angkat kedua kepalan dan sekuatnya menghantam punggung Goan-ci.

Pertama, Goan-ci memang tidak becus ilmu silat segala, maka tidak dapat berkelit. Kedua, dia telah membinasakan si pengemis kurus secara tidak sengaja, ia merasa menyesal, maka rela digebuk beberapa kali oleh lawan untuk sekadar menebus dosanya itu.

Maka terdengarlah suara “blak-bluk” dua kali, kedua kepalan pengemis tua itu dengan keras mengenai punggung Goan-ci. Akan tetapi yang roboh terpental justru pengemis itu sendiri dengan mulut menyemburkan darah segar.

Goan-ci kaget, serunya, “He, kenapa dia?”

Sebaliknya A Ci memujinya, “Ong-kongcu, ilmu silatmu benar-benar mahahebat, hanya sedia gebrak saja sudah membereskan kedua jago pilihan Kay-pang.”

Melihat darah segar masih terus menyembur keluar dari mulut pengemis tua itu, Goan-ci menjadi takut, segera ia pegang tangan A Ci dan diseretnya lari, katanya, “Marilah kita lekas pergi, lekas!’

Tanpa kuasa A Ci diseret Goan-ci dan ikut lari dengan cepat, ia dengar angin berkesiur di tepi telinga, ia tahu mereka berlari sangat cepat, ia menjadi senang dari berseru, “Wah, sangat enak! Ayolah lari lebih cepat lagi!”

Maka dalam sekejap saja mereka sudah berlari sejauh belasan li. Dari belakang sayup-sayup terdengar suara teriakan orang, “Yu-hianti! Berhenti dulu, Yu-hianti!”

Jelas itu suara Pau Put-tong. Tapi Goan-ci habis membunuh orang, ia khawatir ditangkap oleh Pau Put-tong, maka bukannya dia berhenti, sebaliknya lari terlebih cepat.

Orang yang memanggil itu memang betul Pau Put-tong. Sekarang dia bersama Hong Po-ok, Buyung Hok, Ting Pek-jwan dan Kongya Kian serta Ong Giok-yan telah berkumpul kembali. Mereka telah bicara diri Yu Goan-ci yang aneh itu, karena tertarik, maka Buyung Hok lantas putar balik mencarinya lagi dengan maksud hendak tanya lebih jauh tentang seluk-beluk diri Goan-ci itu.

Dari jauh mereka melihat Goan-ci merobohkan dua orang, lalu melarikan diri dengan menyeret A Ci. Buyung Hok melihat cara lari Goan-ci itu sangat kaku, tampaknya seperti orang yang sama sekali tidak mahir ginkang, tapi betapa pesat larinya itu rasanya tidak di bawah dirinya.

Tatkala itu jarak mereka sudah dua-tiga li jauhnya. Buyung Hok menaksir andaikan mengejar juga susah menyusulnya. Karena itu ia hanya heran dan gegetun saja menyaksikan menghilangnya bayangan Goan-ci dan A Ci.

Ketika mereka sampai di tempat menggeletaknya kedua pengemis tadi, mereka terkesiap menyaksikan keadaan kedua pengemis yang terbinasa dan terluka parah itu. Lebih-lebih pengemis yang mati itu, badannya terlipat ke belakang, keadaannya sangat luar biasa.

Segera Kongya Kian memayang bangun pengemis tua itu, ia keluarkan sebutir pil dan dijejalkan ke mulutnya. Tapi darah segar masih terus mengucur dari mulut pengemis itu sehingga obat luka itu tidak dapat ditelannya.

Cepat Pek-jwan menutuk dua kali pada hiat-to penting di dada pengemis itu. Sebenarnya ilmu menutuk Ting Pek-jwan yang disebut “Cat-hiat-ci” (tutukan menghentikan darah) biasanya sangat manjur, sekali tutuk tentu darah yang mengucur keluar akan mampat. Tapi sekarang darah segar ternyata masih menyembur keluar dari mulut pengemis tua itu. Keruan hal ini membuat Ting Pek-jwan heran.

“Ting-toako, orang ini terluka parah dan terserang pula oleh racun dingin, maka harus kau tutuk hiat-to pada punggungnya,” ujar Giok-yan.

Jilid 60
Pek-jwan tercengang, tapi segera ia menurut dan menutuk dua hiat-to punggung pengemis tua, benar juga darah lantas berhenti menyembur keluar dari mulutnya. Dengan demikian dapatlah Kongya Kian memberikan pil lagi dan dapat ditelan oleh pengemis itu.

Sesudah menarik napas dalam-dalam, dengan suara terputus-putus pengemis tua itu berkata, “Banyak terima kasih atas... atas pertolonganmu. Numpang tanya sia... siapakah nama Inkong (tuan penolong) yang budiman?”

“Membantu sesamanya bagi orang-orang Kangouw adalah soal biasa, kenapa mesti dipikirkan,” sahut Pek-jwan.

Kembali pengemis tua itu menarik napas dalam-dalam lagi, ia merasa tenaganya sudah habis, ada maksudnya hendak mengeluarkan sesuatu dari bajunya, tapi tidak kuat lagi, maka katanya, “To... tolong....”

Kongya Kian tahu maksudnya, katanya, “Apakah engkau hendak mengambil sesuatu barangmu?”

Pengemis itu mengangguk.

Segera Kongya Kian mengeluarkan isi saku pengemis itu, ternyata macam-macam benda yang dibawanya, ada am-gi, ada alat ketikan api, ada obat-obatan, ada makanan kering dan sedikit uang perak.

“Aku... aku tidak kuat lagi,” demikian pengemis itu bicara dengan lemah, “di sini ada sehelai... sehelai maklumat yang sangat... sangat penting, mohon Inkong suka... suka mengingat sesama orang Kangouw dan... dan sudilah menyampaikannya ke... kepada Tianglo Kay-pang kami, untuk itu sungguh aku sangat berterima kasih.”

Habis berkata, sambil terengah-engah ia mengulurkan tangan untuk mengambil satu lipatan kertas kuning yang dipegang Kongya Kian yaitu salah satu isi sakunya yang dikeluarkan Kongya Kian tadi.

“Harap jangan khawatir,” Buyung Hok coba menghiburnya. “Jika keadaanmu sudah ditolong lagi, maka kami berkewajiban menyampaikannya barangmu kepala tianglo dari pang kalian.”

Habis berkata segera ia terima kertas kuning yang dipegang pengemis itu.

“Aku bernama Ih It-jing,” dengan suara lemah pengemis itu berkata lagi. “Mohon tuan suka menyampaikan kepada kawan-kawanku bahwa... bahwa aku baru datang dari negeri Se He, kertas... kertas ini berisi maklumat raja Se He tentang sayembara mencari menantu raja. Urusan... urusan ini mahapenting dan menyangkut jaya dan runtuhnya nasib kerajaan Song kita, maka pang kami... pang kami....”

Sampai di sini ia tidak sanggup bicara lagi, kelihatannya ia sangat bernafsu hendak menghabiskan pembicaraannya, tapi tenggorokan serasa tersumbat, rasanya darah hendak menyembur keluar lagi.

Tiba-tiba ia melihat wajah Buyung Hok yang ganteng itu, teringat sesuatu olehnya, segera ia tanya sekuatnya, “Siapa... siapakah tuan? Apakah... apakah Koh-soh....”

“Benar, aku Buyung Hok dari Koh-soh,” sahut Buyung Hok.

Pengemis tua itu terperanjat, serunya, “He, kau... kau musuh besar kami....”

Mendadak ia rebut kembali kertas kuning tadi.

Namun Buyung Hok tidak mau merebut dengan dia dan membiarkan kertas itu diserobot kembali olehnya. Pikirnya, “Orang Kay-pang masih tetap mencurigai aku sebagai pembunuh Be Tay-goan, wakil pangcu mereka. Paling akhir ini meski kabar bohong itu agak reda, tapi orang ini baru pulang dari Se He, dengan sendirinya belum tahu perkembangan dunia persilatan terakhir ini.”

Sesudah merebut kembali kertas kuning itu, segera si pengemis tua merobeknya menjadi dua dan selagi hendak merobek pula, baru saja tangannya bergerak mendadak tenaganya sudah habis, darah menyembur lagi dari mulutnya, kaki berkelojotan sekali, lalu melayanglah jiwanya.

Hong Po-ok coba mengambil kertas kuning yang sudah terobek menjadi dua itu dan dibentang menjadi satu, ia lihat pada kertas itu banyak tertulis huruf asing yang tak dikenal, pada bawah tulisan itu malah terdapat pula sebuah cap merah.

Kongya Kian paham beberapa tulisan asing, setelah membaca tulisan pada kertas kuning itu, kemudian ia berkata, “Kertas ini memang benar berisi maklumat tentang sayembara mencari menantu raja Se He. Maklumat ini berbunyi: ‘Putri Bun Gi dari kerajaan Se He kini sudah dewasa, maka baginda raja bermaksud mencari menantu yang serbapintar dan gagah perwira. Ditetapkan mulai hari Tiongchiu tahun ini akan diadakan sayembara pemilihan dan dapat diikuti oleh bangsa apa pun juga asalkan merasa cukup memenuhi syarat sayembara. Pada hari memasukkan formulir sayembara para calon akan diterima pula oleh baginda raja sendiri. Andaikan para calon itu akhirnya gagal terpilih, maka mereka juga akan diberi pangkat dan diangkat sebagai panglima menurut kepandaian masing-masing.’.”

Sambil mendengarkan isi maklumat itu, Hong Po-ok tertawa terbahak-bahak, katanya, “Ai, orang Kay-pang ini benar-benar sangat menggelikan, jauh-jauh dia membawa kertas maklumat ini dari Se He, apa barangkali maksudnya hendak diberikan kepada salah seorang tianglo dari kawan mereka agar ikut sayembara untuk dipilih sebagai menantu raja Se He?”

“Bukan, bukan!” demikian seru Pau Put-tong dengan istilahnya yang khas. “Agaknya Site tidak tahu bahwa para Tianglo Kay-pang itu sudah tua lagi jelek, tapi di antara anak murid mereka yang muda, sudah tentu tidak kurang daripada yang serbapintar dan tampan. Kalau salah seorang di antara mereka ada yang terpilih menjadi menantu raja Se He bukankah Kay-pang akan naik pangkat juga seketika?”

“Kabarnya para kesatria Kay-pang biasanya tidak kemaruk kepada kedudukan dan kemewahan hidup, mengapa Ih It-jing ini justru terpengaruh oleh hal-hal demikian itu?” ujar Pek-jwan dengan berkerut kening.

“Toako,” kata Kongya Kian, “pengemis ini tadi mengatakan bahwa ‘urusan ini sangat penting dan menyangkut nasib kerajaan Song’, jika apa yang dikatakan ini benar, maka tujuannya pulang ke sini rasanya tidak mungkin melulu untuk kepentingan Kay-pang mereka saja.”

“Bukan, bukan!” kembali Pau Put-tong berseru sambil geleng kepala.

“Samte mempunyai pendapat apa lagi?” tanya Kongya Kian.

“Kau tanya padaku mempunyai pendapat apa lagi, itu berarti kau anggap aku sudah pernah mengemukakan sesuatu pendapat, padahal aku belum menyatakan apa-apa, hal ini menandakan sebenarnya kau tidak percaya aku mempunyai sesuatu pendapat, sebaliknya sekarang kau justru tanya padaku, dengan demikian bukankah kau maksudkan aku cuma omong kosong saja, betul tidak?”

Sifat Hong Po-ok adalah suka berkelahi, tapi lawannya sudah tentu orang lain, dengan saudara angkat sendiri tidak mungkin berkelahi. Sebaliknya Pau Put-tong suka berdebat, untuk ini sudah tentu tidak peduli dengan kawan atau lawan, asal tidak cocok, terus saja berdebat tidak habis-habis.

Sudah tentu Kongya Kian kenal wataknya, maka dengan tersenyum ia berkata, “Tidak, aku benar-benar mengharapkan pendapatmu yang baik. Biasanya Samte juga sering memberi pendapat yang berguna.”

Dan selagi Put-tong hendak putar lidah lagi, namun Pek-jwan telah menyelanya, “Ya, Samte mempunyai pendapat apa? Apakah kau tahu maksud tujuan Ih It-jing ini dengan membawa formulir tentang sayembara mencari menantu raja Se He ini?”

“Aku bukan Ih It-jing, dari mana kutahu?” sahut Put-tong.

Maka Buyung Hok coba minta pendapat Kongya Kian. Tapi dengan tersenyum Kongya Kian berkata, “Pikiranku pasti tidak sama dengan Samte.”

Ia tahu apa yang dikatakannya nanti pasti akan didebat oleh Pau Put-tong, maka sebelumnya ia sengaja menyatakan hal ini.

Put-tong melototnya sekali, katanya, “Bukan, bukan! Sekali ini Jiko salah terka, apa yang kupikir sekali ini justru serupa dan persis dengan pendapatmu.”

“Terima kasih kepada langit dan bumi, sekali ini benar-benar luar biasa,” ujar Kongya Kian dengan tertawa.

“Jiko, sebenarnya bagaimana pendapatmu?” tanya Buyung Hok.

“Di zaman ini berdiri lima negara, yaitu Liau, Song, Turfan, Se He dan Tayli,” demikian Kongya Kian mulai bicara. “Kecuali kerajaan Tayli yang terpencil di selatan dan tiada maksud berebut pengaruh dengan negara lain, maka keempat negara lain itu semuanya mempunyai nafsu besar untuk mengangkangi dunia ini....”

“Jiko, engkau salah besar,” tiba-tiba Put-tong menyela. “Kerajaan Yan kita meski tidak punya wilayah kekuasaan yang sah, tapi Kongcuya senantiasa berusaha memulihkan wibawa pemerintah kita, siapa tahu kalau kelak kerajaan Yan kita akan berdiri kembali dan berkembang dengan jaya?”

Ketika Pau Put-tong bicara tentang kerajaan Yan mereka, wajah Buyung Hok dan Ting Pek-jwan tampak bersikap serius dan kereng, berbareng mereka menyatakan, “Ya, cita-cita membangun kembali negara kita senantiasa tidak pernah kita lupakan.”

Seperti pernah diceritakan bahwa leluhur Buyung Hok adalah suku bangsa Sianbi (Siberia). Keluarga Buyung dengan negeri Yan yang mereka dirikan pernah juga merajai bagian-bagian wilayah Tiongkok selama beberapa dinasti. Akhirnya keluarga Buyung dapat ditumpas oleh kerajaan Gui sehingga keturunan mereka hidup terpencar di mana-mana, namun begitu keturunan keluarga Buyung selama ini masih bercita-cita membangun kembali kerajaan Yan mereka.

Sampai zaman berakhirnya dinasti Tong, di antara keluarga Buyung itu muncul seorang yang berbakat tinggi namanya Buyung Liong-sia. Orang ini telah melebur berbagai aliran ilmu silat sehingga menjadi suatu aliran tersendiri serta tiada tandingannya di dunia persilatan.

Sudah tentu Buyung Liong-sia tidak pernah melupakan cita-cita leluhurnya untuk membangun kembali kerajaan Yan, maka ia pun mengumpulkan banyak orang-orang gagah untuk persiapan pergerakannya.

Tapi pada waktu itu kebetulan Tio Khong-in sudah berhasil mendirikan kerajaan Song dan dapat menguasai seluruh negeri sepenuhnya sehingga Buyung Liong-sia tidak dapat berbuat apa-apa meski memiliki ilmu silat setinggi langit. Akhirnya ia meninggal dunia dengan masygul tanpa berhasil apa-apa dari segala jerih payahnya itu.

Beberapa keturunan kemudian, akhirnya sampailah di tangan Buyung Hok yang menurunkan segala cita-cita tinggi dan ilmu silat leluhur yang hebat itu. Cuma untuk membangun kembali kerajaan Yan pada waktu itu boleh dikatakan suatu penghinaan dan pemberontakan yang tak bisa diampuni oleh pemerintah Song, maka meski Buyung Hok diam-diam menghimpun kekuatan namun lahirnya sedikit pun tidak kentara, kecuali beberapa orang kepercayaannya seperti Ting Pek-jwan dan lain-lain, orang luar boleh dikatakan tiada seorang pun yang tahu. Orang Bu-lim hanya kenal “Koh-soh Buyung” sebagai suatu keluarga yang memiliki ilmu silat mahatinggi dan mempersamakan mereka dengan aliran dan perkumpulan Kangouw biasa.

Begitulah, maka ketika Pau Put-tong menyebut tentang usaha pergerakan mereka dalam membangun kembali kerajaan Yan, karena di sekitar mereka adalah pegunungan yang sepi, maka dengan penuh semangat serentak mereka melolos senjata sebagai tanda tekad bulat mereka.

Sebaliknya Giok-yan lantas menyingkir pergi menjauhi sang piauko dan kawan-kawannya itu. Maklum, ibunya selalu antiusaha pergerakan keluarga Buyung yang dipandangnya sebagai pemberontakan itu, ia anggap cita-cita keluarga Buyung hendak merajai dunia hanya lamunan belaka dan tiada harapan lagi, sebaliknya besar kemungkinan akan menyeret keluarga mereka ke lembah kehancuran. Sebab itulah maka ibu Giok-yan melarang Buyung Hok berkunjung ke rumahnya dan lebih suka hidup menyepi di perkampungan yang dikelilingi rawa-rawa itu.

Kongya Kian memandang sekejap ke arah Giok-yan yang menyingkir ke samping itu, lalu katanya pula, “Sudah beberapa tahun negeri Liau berperang dengan kerajaan Song, meski Liau agak unggul tapi untuk membasmi Song adalah tidak mungkin. Sebaliknya Se He dan Turfan berdiri tegak di sebelah barat kedua negeri ini memiliki kekuatan yang tidak sedikit, asal salah satu negeri itu mau membantu Liau, pasti Song akan terancam keruntuhan, begitu pula sebaliknya bila Song yang dibantu Se He maka Liau yang akan celaka.”

Mendadak Hong Po-ok menepuk paha dan berkata, “Tepat ucapan Jiko ini. Selamanya Kay-pang sangat setia kepada pemerintah Song, sebabnya Ih It-jing ini membawa pulang formulir sayembara dari Se He ini agaknya dia berharap dari kerajaan Song ada seorang kesatria muda perkasa dapat ikut memperebutkan sayembara itu, bila antara negeri Song dan Se He terikat hubungan keluarga, maka kuatlah kedudukan mereka dan tiada tandingannya lagi di dunia ini.”

Kongya Kian mengangguk-angguk, katanya, “Memang kedudukan akan menjadi kuat, tapi bilang tiada tandingannya, mungkin agak berlebih-lebihan. Cuma dengan kekayaan perbekalan kerajaan Song ditambah dengan kekuatan pasukan Se He, tenaga gabungan mereka ini memang akan sukar dilawan oleh Liau dan Turfan, tentang kerajaan Tayli yang kecil itu sudah tentu jadi tiada artinya. Maka menurut tafsiranku, bila Song dan Se He bersatu, maka tindakan pertama yang akan dilakukan pasti mencaplok Tayli, langkah selanjutnya barulah menyerang Liau.”

“Perhitungan Ih It-jing yang muluk-muluk itu mungkin memang demikian, tapi hubungan keluarga antara Song dan Se He rasanya tidak dapat berjalan selancar itu,” ujar Pek-jwan. “Sebab, kalau negeri Liau, Turfan dan Tayli mengetahui berita itu, tentu mereka akan berusaha untuk menyabot dan menggagalkan maksud itu.”

“Ya, bukan saja akan menyabot, bahan masing-masing negeri itu tentu juga ingin ikut dalam sayembara memperebutkan putri kerajaan Se He itu,” tukas Kongya Kian.

“Dan entah putri Se He itu cantik atau jelek, entah wataknya halus atau kasar,” ujar Pek-jwan.

“Hahaha!” Put-tong terbahak. “Kenapa Toako bersangsi, apakah kau ingin ikut sayembara itu untuk mencalonkan diri sebagai menantu raja Se He?”

“Kalau usia Toakomu ini lebih muda 20 tahun dan ilmu silatnya sepuluh kali lebih lihai, kalau seratus kali lebih cakap mukaku, maka detik ini juga segera aku terbang ke Se He untuk mencalonkan diri sebagai menantu raja,” sahut Pek-jwan. “Samte, usaha membangun kembali kerajaan Yan kita sudah berlangsung selama ratusan tahun dan tetap tinggal cita-cita saja tanpa sesuatu hasil. Kalau dipikirkan benar-benar soalnya adalah karena kurang dukungan yang kuat. Bila Se He dapat menjadi sanak keluarga Buyung kerajaan Yan kita dengan bantuan kekuatan pasukan Se He yang hebat itu, sekali keluarga Buyung bergerak di Tionggoan sini, masakah usaha kita takkan berhasil dengan baik?”

Biasanya segala apa tentu didebat oleh Pau Put-tong, tapi ucapan Ting Pek-jwan sekarang membuatnya mengangguk-angguk, katanya, “Ya, benar! Asal urusan ini berguna bagi membangun kembali kerajaan Yan kita, maka tidak peduli putri Se He itu cantik atau jelek seperti siluman, ya, asalkan dia sudi menjadi biniku, biarpun dia sejelek babi betina juga aku akan menikahinya.”

Mendengar itu, semua orang bergelak tertawa, pandangan mereka sama beralih kepada Buyung Hok seorang.

Sudah tentu Buyung Hok tahu maksud keempat kawanan itu, yaitu dia yang diharapkan pergi ke Se He untuk mengikuti sayembara itu. Kalau bicara tentang kecakapan muka, umur dan kepandaian ilmu silat serta sastra, di zaman ini mungkin tiada seorang pemuda lain yang dapat membandinginya.

Maka kalau dia sendiri mau pergi ke Se He boleh dikatakan 75% usaha mereka akan berhasil. Tapi kalau raja Se He menilai calon menantu dengan asal-usulnya, meski Buyung Hok sendiri adalah keturunan kerajaan Yan, tapi keluarga mereka sudah lama runtuh, sekarang mereka hanya tinggal sebagai keluarga biasa dalam negeri Song, untuk dibandingkan dengan putra bangsawan dari negeri Song, Tayli, Turfan, Liau dan lain-lain, terang Buyung Hok harus mengaku kalah.

Berpikir sampai di sini, Buyung Hok memandang sekejap pada kertas maklumat itu.

Kongya Kian dapat menerka apa yang dipikirkan junjungannya itu, maka katanya, “Di dalam maklumat ini diterangkan dengan jelas tidak memandang kedudukan dan asal-usul keturunan, yang dinilai cuma kepandaian calonnya. Sebab tentang kedudukan akan segera diperoleh bila yang calon sudah terpilih menjadi menantu raja, sebaliknya kepandaian dan ketampanan sang calon tidaklah dapat dianugerahi oleh raja. Kongcuya, cita-cita keluarga Buyung selama beratus tahun ini sekarang bergantung kepada... kepada keputusanmu....”

Bicara sampai di sini, karena guncangan perasaannya sampai suaranya menjadi gemetar.

Wajah Buyung Hok juga tampak pucat, ia tahu sedang menghadapi suatu kesempatan bagus yang sukar dicari, sebab biasanya kalau seorang putri raja mencari jodoh, hal ini selamanya diperintahkan oleh raja kepada salah seorang petugas istana untuk mencarikan calon pemuda bangsawan yang setimpal dan tidak pernah terjadi dengan cara pemilihan terbuka seperti sekarang ini.

Tanpa terasa ia memandang ke arah Ong Giok-yan, ia lihat gadis itu sedang berdiri di bawah pohon sambil memandang jauh ke sana, tampaknya sangat kesepian dan harus dikasihani.

Buyung Hok tahu sang piaumoay itu sejak kecil sudah sangat cinta padanya, meski ayah Buyung Hok dan bibi, yaitu ibu Giok-yan, tidak cocok dan merintangi hubungan baik mereka, tapi akhirnya gadis itu meninggalkan rumah dan berkelana di Kangouw hanya untuk mencari dirinya. Biasanya Buyung Hok tidak terlalu memerhatikan soal asmara, yang dipikirkan hanya usaha membangun kembali kerajaan leluhur saja.

Tapi betapa pun ia adalah manusia yang berperasaan, Giok-yan sedemikian cinta padanya, sudah tentu ia pun dapat merasakan. Sekarang kala mendadak mesti meninggalkan sang piaumoay untuk melamar seorang putri raja bangsa lain yang tak pernah dikenalnya, walaupun tujuannya adalah demi cita-cita membangun kembali negaranya, tapi dalam hati ia benar-benar tidak tega.

Melihat Buyung Hok termenung-menung Kongya Kian berdehem sekali, katanya, “Kongcu, sejak dahulu, seorang besar harus kesampingkan soal kecil, seorang pahlawan, seorang kesatria sejati harus berani menembus rintangan ikatan pribadi.”

“Ya, kalau kerajaan Yan kita dapat dibangun kembali, dengan sendirinya Kongcu adalah rajanya, sebagai seorang raja, punya empat istri dan puluhan selir juga tidak mengherankan,” demikian Pau Put-tong ikut bicara. “Maka nanti putri Se He akan menjadi permaisuri, sedang nona Ong dapatlah diberi gelar sebagai Se-kiong-nionio (permaisuri kedua).”

Diam-diam Buyung Hok mengangguk juga, teringat olehnya pesan mendiang ayahnya yang selalu meminta dia mengutamakan nasib negara daripada urusan pribadi, demi negara urusan asmaranya boleh dikatakan tiada artinya, apalagi selama ini ia pandang Giok-yan hanya sebagai adik cilik saja meski gadis itu cinta benar-benar padanya. Asalkan cita-citanya kelak terkabul, Giok-yan akan diberi gelar kehormatan sebagai selir kesayangan raja, tentu gadis itu juga akan senang.

Sesudah berpikir sejenak, Buyung Hok tidak merisaukan urusan Giok-yan lagi, katanya, “Ucapan saudara-saudara memang beralasan. Sekarang memang terbuka suatu kesempatan bagus untuk membangun kembali kerajaan Yan kita yang jaya. Cuma sebagai seorang kesatria kita harus dapat menepati janji, betapa pun surat maklumat ini harus kita sampaikan kepada orang Kay-pang.”

“Ya, betul,” Pek-jwan menanggapi. “Jangankan Kay-pang tiada seorang pun yang mampu membandingi Kongcu, andaikan ada juga kita tidak boleh menggelapkan maklumat ini sehingga memalukan derajat kita.”

“Betul,” kata Po-ok. “Toako dan Jiko silakan mengawal Kongcu ke Se He, Samko dan aku bertugas mengirim surat maklumat ini kepada Kay-pang. Sampai hari Tiongchiu tahun depan masih ada satu tahun lamanya, jika mereka ingin memilih calon yang akan dikirim juga masih keburu dan kita tak dapat dituduh mengakali mereka.”

“Kita selalu bertindak secara terang-terangan, biarlah kita bersama mengirimkan surat maklumat ini kepada para Tianglo Kay-pang, habis itu barulah kita berangkat ke Se He,” ujar Buyung Hok.

“Ucapan Kongcu ini sangat cocok dengan pendapatku, memang kita tidak boleh menimbulkan prasangka jelek atas diri kita,” kata Pek-jwan.

Serentak Kongya Kian, Pau Put-tong dan Hong Po-ok juga mengangguk setuju. Mereka mengubur kedua anggota Kay-pang tadi dan mengambil dua kantong kain milik anggota-anggota Kay-pang itu sebagai tanda pengenalnya.

Kemudian Buyung Hok memanggil Ong Giok-yan, katanya, “Piaumoay, kedua murid Kay-pang ini telah dibunuh orang, dalam hal ini menyangkut suatu urusan besar, untuk itu aku harus pergi sendiri ke markas besar Kay-pang, kebetulan sekalian dapat mengantar Piaumoay pulang ke Man-to-san-ceng.”

Mendengar nama tempat kediamannya disebut, Giok-yan terkejut, katanya, “Ti... tidak, aku tidak mau pulang, kalau melihat aku, tentu aku akan dibunuh ibu.”

Buyung Hok tertawa, katanya, “Meski watak bibi agak keras, tapi beliau cuma mempunyai seorang putri tunggal, mana beliau tega membunuhmu? Paling-paling cuma akan didampratnya saja.”

“Tidak, aku tak mau pulang, biarlah aku ikut pergi ke Kay-pang,” sahut Giok-yan.

Karena Buyung Hok sudah mengambil keputusan akan pergi ke Se He untuk ikut sayembara memperebutkan putri raja, maka dalam hati ia merasa tidak enak terhadap Giok-yan, ia pikir sementara ini biarlah menuruti permintaan gadis itu saja.

Maka katanya, “Lebih baik begini saja, untuk ikut berkelana di dunia Kangouw terang tidak pantas, maka janganlah kau ikut pergi ke Kay-pang. Tapi karena kau tidak mau pulang, bolehlah tinggal sementara di Yan-cu-oh kediamanku itu, nanti kalau urusanku sudah beres segera aku pulang untuk menemuimu.”

Air muka Giok-yan berubah merah, dalam hati diam-diam ia bergirang. Cita-cita yang diharapkannya selama ini adalah menjadi istri sang piauko dan tinggal bersama di Yan-cu-oh. Sekarang Buyung Hok menyatakan dia boleh tinggal di sana, meski belum secara resmi meminang padanya, namun urusan terang sudah maju selangkah lagi.

Giok-yan tidak enak untuk menyatakan setuju dengan begitu saja, maka perlahan ia menunduk dan matanya memantulkan sinar yang penuh arti.

Kongya Kian saling pandang sekejap dengan Ting Pek-jwan, mereka merasa berdosa karena telah membohongi seorang gadis yang masih polos dan hijau itu. Namun begitu akhirnya mereka melanjutkan juga perjalanan ke selatan.

Sungguh Giok-yan sukar menyembunyikan perasaannya yang girang itu karena sang piauko sudi menerimanya tinggal di Yan-cu-oh. Meski ia pun merasa sikap Buyung Hok, Ting Pek-jwan dan lain agak luar biasa terhadap dia, tapi biasanya Giok-yan memang tidak suka menyangka jelek kepada siapa pun, maka sedikit pun ia tidak curiga.

Hari itu, karena mereka meneruskan perjalanan secara tergesa-gesa sehingga melampaui pos penginapan, maka sampai hari sudah gelap mereka masih berada di jalan pegunungan.

Diam-diam Pek-jwan memikirkan Giok-yan yang tidak biasa berjalan jauh itu, kalau mereka sendiri biarpun melanjutkan perjalanan sepanjang malam juga tidak menjadi soal. Maka katanya, “Marilah kita mencari suatu gua atau kelenteng rusak untuk sekadar menginap semalam.”

“Ya, kita harus memasak sedikit air untuk menyeduh teh dan untuk cuci muka nona Ong,” ujar Pau Put-tong.

Karena mereka sudah bertekad akan pergi ke Se He untuk mencalonkan Buyung Hok sebagai menantu raja maka sepanjang jalan mereka melayani Giok-yan dengan jauh lebih baik daripada biasanya. Sudah tentu Giok-yan tidak tahu bahwa sebabnya mereka berbuat begitu adalah karena rasa tidak enak dalam hati mereka itu, ia sangka mungkin Pek-jwan berempat anggap dia adalah bakal istri junjungan mereka dengan sendirinya sekarang lebih menaruh hormat adanya. Maka dalam senangnya itu terkadang ia pun merasa agak kikuk.

Hong Po-ok berjalan paling depan untuk mencari tempat yang dapat dibuat berteduh. Tapi makin jauh jalan pegunungan makin berliku dan terjal, lebih-lebih tiada sesuatu sungai kecil atau mata air segala. Kalau dia sendiri mestinya tidak susah memikirkan tempat mengaso tapi mencari suatu tempat yang cocok untuk Giok-yan benar-benar sangat sulit.

Sekaligus Po-ok berlari beberapa li jauhnya, selagi ia menggerutu karena belum juga menemukan suatu tempat baik, sesudah melintasi sebuah tanjakan tiba-tiba dilihatnya di lembah sebelah kanan ada setitik sinar lampu.

Sungguh girang Po-ok tidak kepalang, segera ia berpaling ke belakang dan berteriak, “Di sana ada rumah tinggal orang!”

Mendengar itu, dengan cepat Buyung Hok dan lain-lain memburu ke tempat Po-ok itu.

Kata Kongya Kian dengan girang, “Tampaknya rumah tinggal kaum pemburu atau petani gunung, paling tidak kita akan dapat minta numpang semalam bagi nona Ong.”

Segera mereka berenam berjalan ke arah sinar lampu itu dengan cepat. Jarak cahaya itu sangat jauh, sudah sekian lama mereka berjalan, tapi api sinar itu masih kelihatan berkelip-kelip dan tidak tampak sesuatu rumah pun.

Hong Po-ok mulai tak sabar, terus saja ia memaki, “Kurang ajar, tampaknya cahaya itu agak tidak beres.”

“Berhenti dulu!” mendadak Ting Pek-jwan berseru. “Kongcuya, coba lihat, itu adalah cahaya hijau.”

Waktu Buyung Hok memerhatikan, benar juga ia lihat sinar itu hijau gilap, berbeda dengan sinar lampu pada umumnya yang berwarna kemerah-merahan dan kekuning-kuningan.

Kecuali Ong Giok-yan, Buyung Hok dan kawan-kawannya itu adalah tokoh Kangouw ulung, segera mereka mempercepat langkah menuju ke arah sinar lampu lagi. Kira-kira satu li pula, sekarang sinar lampu dapat terlihat lebih jelas.

“Ada golongan Sia-mo-gwa-to (orang-orang jahat dan golongan sesat) yang sedang berkumpul di situ.”

Sebenarnya dengan kepandaian Buyung Hok berlima boleh dikata tidak perlu jeri kepada siapa pun dan golongan apa pun di dunia Kangouw, tapi sekarang mereka harus memikirkan Ong Giok-yan, mereka tidak ingin membikin si nona ikut menghadapi bahaya. Maka meski Pau Put-tong dan Hong Po-ok sudah getol berkelahi, namun sedapatnya mereka harus menahan diri.

Maka Buyung Hok berkata, “Sudahlah, di sana jalannya kurang bersih, marilah kita putar kembali ke jalan yang lain saja.”

Dan baru beberapa langkah mereka putar balik ke arah tadi tiba-tiba suatu suara sayup-sayup berkumandang datang dari arah sinar hijau tadi, “Jika sudah tahu Sia-mo-gwa-to berkumpul di sini, kalian beberapa ekor siluman kecil itu kenapa tidak ikut hadir untuk meramaikan pertemuan ini?”

Suara itu terkadang keras dan terkadang perlahan sehingga membikin pendengarnya merasa tidak enak, tapi setiap kata-katanya terdengar sangat jelas.

Buyung Hok hanya mendengus saja, ia tahu ucapan Pau Put-tong tadi telah didengar pihak lawan. Dari suara yang terputus-putus itu dapat diketahui bahwa lwekang pembicara itu tidaklah cetek, tadi juga belum terhitung kelas satu. Maka ia lantas memberi tanda dan berkata, “Sudahlah, kita tiada waktu buat gubris mereka, marilah pergi saja.”

Tapi suara situ lantas mendamprat, “Binatang kecil, berani omong besar, apa dengan demikian kau mau lari dengan mencawat ekor? Kalau mau lari, paling tidak kalian harus menyembah dulu 300 kali kepada kakekmu ini.”

Sungguh Po-ok tidak tahan lagi, katanya segera dengan suara tertahan, “Kongcu, biarlah aku ke sana untuk memberi hajaran padanya.”

Tapi Buyung Hok menggeleng kepala, katanya, “Dia tidak tahu siapa kita ini, maka tak perlu menggubrisnya.”

Terpaksa Po-ok mengiakan, lalu mereka berjalan lagi belasan tindak, tapi kembali suara orang itu bergema pula, “Yang jantan kalau mau lari juga boleh tapi yang betina harus ditinggalkan di sini untuk menghibur kakekmu.”

Mendengar Ong Giok-yan dihina dengan kata-kata kotor oleh orang itu, seketika Buyung Hok dan lain-lain merandek dan sangat gusar. Ketika mereka berpaling, kembali terdengar suara orang itu, “Bagaimana? Antarkan ke sini yang betina itu agar kakek....”

Baru berkata sampai di sini, mendadak Ting Pek-jwan mengerahkan tenaga dalamnya dan membarengi membentak sekeras-kerasnya, “Kekkk!”

Perpaduan lafal “kek” itu berbarengan dengan suara orang itu, seketika suaranya mengguncang lembah pegunungan itu dan anak telinga semua orang serasa pekak. Serentak terdengarlah suara jeritan ngeri dari arah cahaya hijau sana. Di malam sunyi dan di tengah menggemanya suara “kek” yang mengguncang lembah itu terseling lagi suara jeritan ngeri orang, maka kedengarannya menjadi sangat seram.

Rupanya Ting Pek-jwan telah melukai pihak lawan dengan suara bentakannya yang membawa tenaga dalam mahakuat itu, dari suara jeritan tadi agaknya luka orang itu tidak ringan, bisa jadi sudah tewas malah.

Dan begitu suara jeritan orang tadi lenyap, tiba-tiba terdengar suara mendesing satu kali, sebatang panah berapi hijau meluncur ke udara terus meletus di atas.

“Sekali sudah berbuat, ayolah bereskan sampai akhirnya, biar kita sapu bersih sarang kaum iblis ini,” ajak Hong Po-ok.

“Ya, kita sudah mengalah dengan maksud menghindarkan percekcokan, tapi sekali sudah berbuat, harus dilakukan sampai selesai,” kata Buyung Hok.

Habis berkata, segera mereka berlari cepat ke arah musuh.

Meski Giok-yan sangat luas pengetahuannya terhadap segala macam ilmu silat dari setiap aliran dan setiap golongan, tapi lwekangnya terlalu cetek, pengalamannya juga tidak ada. Karena khawatir gadis itu mendapat cedera, maka Buyung Hok sengaja melambatkan langkahnya untuk mendampingi Giok-yan.

Di bawah cahaya api hijau yang remang-remang sementara itu terdengar suara bentakan Hong Po-ok dan Pau Put-tong, terang mereka sudah mulai bergebrak dengan musuh. Menyusul terdengarlah tiga sosok bayangan orang mencelat ke atas disusul suara “plak-plok” beberapa kali, nyata tiga orang itu telah kena dibereskan oleh Put-tong dan Po-ok sehingga tertumbuk di dinding batu.

Waktu Buyung Hok berlari sampai di bawah sinar hijau, ia lihat Ting Pek-jwan dan Kongya Kian telah berdiri di samping sebuah wajan perunggu yang besar dengan air muka sangat prihatin. Dari dalam wajan kaki tiga bertutup itu tampak mengepulkan asap yang halus dan memantul cepat ke atas bagai panah.

“Rupanya golongan Song Tho-kong dari Pek-lin-tong di Sujwan Barat,” ujar Giok-yan.

“Pengetahuan nona benar-benar sangat luas,” puji Kongya Kian.

Tapi Pau Put-tong lantas menyanggahnya, “Dari mana nona tahu? Cara mengepulkan asal sebagai tanda berita sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu, belum tentu adalah perbuatan orang she Song dari....”

Belum habis ucapannya tiba-tiba Kongya Kian menunjukkan sebelah kaki wajan itu dengan isyarat.

Waktu Pau Put-tong berjongkok dan coba menyalakan ketikan api, ia lihat kaki wajan itu memang benar berukir sebuah huruf “Song”, yaitu ukiran dalam goresan yang melingkar-lingkar mirip ular kecil, wajan itu tampaknya adalah barang antik yang berharga.

Dasar Pau Put-tong memang suka ngotot, meski tahu apa yang dikatakan Ong Giok-yan memang benar, tapi dia tetap menyanggah, “Ya, sekalipun wajan ini milik orang she Song dari Sujwan Barat, tapi siapa berani menjamin bahwa barang ini bukan barang curian? Apalagi wajan begini besar, kemungkinan adalah barang palsu.”

Kiranya orang golongan Song Tho-kong dari Pek-lin-tong di Sujwan Barat itu adalah suku bangsa Biau yang adat istiadatnya sangat berbeda dengan orang persilatan di Tionggoan. Mereka suka memakai racun, kepandaian mereka ini sangat disegani orang-orang Kangouw. Baiknya mereka jarang bermusuhan dengan orang luar, asal orang tidak sembarangan memasuki wilayah kekuasaan mereka, maka mereka pun tidak sembarangan menyerang orang.

Sekarang melihat wajan milik golongan Song Tho-kong itu, diam-diam Buyung Hok dan lain-lain agak ragu-ragu, mereka heran mengapa Song Tho-kong bisa sampai di pegunungan ini, padahal jaraknya dengan Sujwan Barat masih sangat jauh dan rasanya tidak mungkin termasuk wilayah pengaruh Song Tho-kong.

Dengan kepandaian Buyung Hok, Ting Pek-jwan dan lain-lain sudah tentu tidak takut kepada Song Tho-kong apa segala, cuma saja mereka tiada permusuhan apa-apa dengan golongan petualang itu, kalau menang juga kurang gemilang, sebaliknya kalau sampai terlibat permusuhan dengan mereka tentu kelak akan memusingkan kepala. Padahal yang mereka pikirkan sekarang hanya cara bagaimana membangun kembali kerajaan Yan, maka sedapat mungkin mereka tidak ingin bermusuhan dengan orang, apalagi dengan suku bangsa yang tak beradab ini.

Maka sesudah memikir sejenak, tiba-tiba Buyung Hok berkata, “Sudahlah, tempat seperti ini lebih baik kita tinggal pergi saja.” — Ia lihat di tepi wajan perunggu itu menggeletak seorang tua yang sudah kempas-kempis napasnya, berbaju cokelat yang ringkas, pinggangnya terlibat seutas tali rumput, dengan mata mendelik sedang memandangi mereka. Ia menduga orang tua ini pasti orang yang memaki mereka tadi. Maka ia coba memberi isyarat kepada Pau Put-tong.

Put-tong dapat menangkap maksudnya, segera ia pegang galah bambu tempat gantungan pelita hijau itu, ia angkat ujung galah bambu itu, “bles”, ia sambitkan galah itu sehingga menembus dada orang tua yang menggeletak di tanah itu, pelita hijau itu pun lantas padam seketika.

Karena tidak menduga-duga, Giok-yan sampai menjerit kaget.

Kongya Kian lantas berkata, “Orang yang berjiwa kecil bukanlah jantan, kalau tidak keji bukanlah laki-laki sejati! Ini namanya membunuh orang melenyapkan saksi, supaya tidak meninggalkan penyakit di kemudian hari.” — Habis berkata, sekali kakinya bekerja, segera wajan besar itu pun didepaknya hingga roboh.

Segera Buyung Hok gandeng tangan Giok-yan terus diajak melompat ke samping kiri sana. Tapi baru beberapa meter jauhnya, dalam kegelapan tiba-tiba terdengar sambaran angin tajam, sebatang golok dan sebatang pedang telah menyerang berbareng dari samping.

Tapi sekali Buyung Hok mengebaskan lengan bajunya, dengan kepandaian yang khas ia bikin bacokan golok dari sebelah kiri itu mengenai kepala orang di sebelah kanan dan tusukan pedang dari sebelah kanan menembus dada orang di sebelah kiri. Hanya dalam sekejap saja sekaligus dua penyergap itu telah dibereskan, bahkan langkah Buyung Hok sedikit pun tidak berhenti dan hasil terus berlari cepat ke depan.

“Hebat benar, Kongcuya!” puji Kongya Kian.

Buyung Hok hanya tersenyum saja, mendadak ia lompat ke depan, “plok”, ia papak seorang musuh yang menubruk dari depan sehingga orang itu terjungkal ke bawah bukit, menyusul tangan lain menghantam pula, rupanya musuh telah angkat kedua tangannya untuk menahan, tapi lantas terdengar jeritan orang itu dan muntah darah.

Dalam kegelapan Buyung Hok tiba-tiba mencium bau anyir busuk, menyusul terdengar suara mendesis perlahan menyambar dari depan. Cepat Buyung Hok mengerahkan tenaga pada tangan dan memukul ke depan sehingga sebelum mencapai sasarannya senjata gelap yang belum diketahui bagaimana bentuknya itu telah terpental balik ke sana menyusul terdengar pula suara jeritan panjang seorang, rupanya senjata telah makan tuan si penyergap itu.

Terkepung di tengah-tengah musuh dalam malam gelap, hanya sekenanya Buyung Hok membunuh beberapa orang, tapi ilmu silat yang satu makin tinggi daripada yang lain, sesudah merobohkan enam orang diam-diam Hok merasa terkesiap, pikirnya, “Tiga orang yang pertama tadi agaknya orang-orang Song Tho-kong dari Sujwan Barat, tapi tiga orang lagi jelas dari golongan lain. Permusuhan bertambah banyak, sungguh gelagatnya tidak menguntungkan.”

Maka terdengar Ting Pek-jwan berseru, “Ayolah, beramai-ramai kita terjang ke Thing-hiang-siau-tiok!”

Seperti diketahui “Thing-hiang-siau-tiok” adalah sebuah paviliun di perkampungan Yan-cu-oh kediaman Buyung Hok, letaknya di sebelah barat, paviliun itu biasanya ditempati A Cu. Sekarang Pek-jwan mengajak menerjang ke Thing-hiang-siau-tiok, itu berarti ia menganjurkan menerjang ke arah barat, untuk menghindari cegatan musuh yang berjumlah banyak itu ia sengaja menggunakan kata-kata kode itu.

Buyung Hok tahu maksud kawannya itu. Tapi saat itu keadaan gelap gulita dan sukar membedakan arah, ia tidak tahu arah barat terletak di sebelah mana. Ketika ia perhatikan, ia dengar angin pukulan Ting Pek-jwan sedang bergerak di sisi kanan belakangnya, segera ia tarik Giok-yan dan mundur ke samping Pek-jwan.

Tiba-tiba terdengar suara “plak-plok” dua kali, kembali Pek-jwan mengadu tangan dengan musuh. Rupanya orang itu tidak mampu menahan hantaman Pek-jwan yang hebat itu, tiba-tiba terdengar jeritannya, tapi anehnya suaranya makin menjauh ke bawah, menyusul terdengar suara gedebukan jatuhnya batu dan patahnya ranting pohon dan sebagainya.

Diam-diam Buyung Hok terkejut, ia tahu musuh terjerumus ke bawah jurang. Dalam keadaan gelap, ia tidak tahu bahwa di sisi mereka adalah jurang, untung ada musuh yang dihantam terjungkal ke dalam jurang, kalau tidak, bukan mustahil mereka sendiri akan terjerumus juga tanpa sadar.

Pada saat itulah, tiba-tiba dari tempat yang tinggi di sebelah kiri sana terdengar suara seruan orang, “Tokoh kosen dari manakah yang mengacaukan Ban-sian-tay-hwe ini? Apa memang pandang sebelah mata kepada 36 Gua Cinjin dan 72 Pulau Dewa?”

Buyung Hok dan Ting Pek-jwan bersuara heran perlahan. Mereka pernah mendengar tentang “36 Gua Cinjin dan 72 Pulau Dewa” tapi apa yang disebut cinjin (malaikat) dan dewa itu tidak lebih hanya kawanan jago silat yang tidak termasuk sesuatu perkumpulan atau golongan serta tidak berasal dari sesuatu aliran persilatan tertentu.

Mereka hidup bebas dan tinggal di 36 gua dan 72 pulau terpencil, ilmu silat mereka ada yang tinggi dan ada yang rendah, biasanya mereka pun tiada hubungan satu sama lain dan tidak membawa pengaruh apa-apa bagi dunia Kangouw, maka mereka justru berkumpul di pegunungan ini.

Segera Buyung Hok menjawab dengan suara lantang, “Kami berenam sedang menempuh perjalanan pada malam hari dan tidak mengetahui kalian berkumpul di sini maka telah banyak mengganggu, harap dimaafkan. Apa yang terjadi ini hanya salah paham saja, hendaknya jangan dianggap sungguh-sungguh dan sukalah kalian membiarkan kami pergi dari sini.”

Ucapan Buyung Hok ini tidak keras juga tidak merendah, pula tidak memberitahukan siapa dirinya, tapi ia pun minta maaf karena telah telanjur membunuh beberapa orang.

Di luar dugaan, sekonyong-konyong terdengar suara tertawa yang beraneka ragam nadanya, ada yang terbahak-bahak, ada yang terkekeh, ada yang terkikik dan ada yang terhoho, makin lama makin riuh suara tertawa itu.

Semula suara tertawa itu cuma belasan orang saja, tapi akhirnya di delapan penjuru terdengar penuh orang tertawa sehingga kedengarannya tidak kurang dari beberapa ratus orang banyaknya.

Mendengar begitu banyak jumlah orang-orang itu, pula didengarnya istilah “Ban-sian-tay-hwe” (pertemuan besar berlaksa dewa) tadi, maka diam-diam Buyung Hok membatin, “Sialan benar malam ini kejeblos ke dalam pertemuan besar kaum tak keruan ini, baiknya aku sendiri belum memperkenalkan diri, maka lebih baik tinggal pergi saja agar urusan tidak tambah runyam. Apalagi jumlah mereka terlalu banyak, betapa pun enam orang sukar melayani mereka.”

Di tengah tertawa ramai itu, tiba-tiba terdengar seorang yang berada di tempat tinggi sana berkata, “Ucapanmu tadi sungguh seenaknya sendiri saja. Kalian sudah mencelakai beberapa orang saudara kami, kalau sekarang kami membiarkan kalian pergi, lalu ke mana muka para dewa ke-36 gua dan ke-72 pulau ini harus ditaruh?”

Buyung Hok coba tenangkan diri dan memerhatikan sekitarnya, ia lihat di mana-mana baik di atas puncak, di lereng, di tanjakan pegunungan itu peluh berdiri orang, ada yang lengan bajunya panjang gondrong, ada yang pakaiannya singsat ringkas, ada kakek yang berjenggot panjang, ada wanita dengan sanggulnya yang menjambul tinggi. Orang-orang itu tadi entah sembunyi di mana, tapi sekarang mendadak seperti muncul dari bawah tanah.

Kini Ting Pek-jwan berempat juga sudah berkumpul di sekitar Buyung Hok dan Giok-yan dalam posisi melindungi. Tapi di tengah kepungan musuh yang berjumlah beratus orang itu mereka hanya mirip sebuah sampan di tengah samudra saja.

Buyung Hok, Ting Pek-jwan dan lain-lain selama hidupnya entah sudah mengalami pertempuran dahsyat berapa kali banyaknya, tapi melihat suasana sekarang, mau tak mau mereka rada khawatir juga. Pikir mereka, “Orang-orang ini semuanya aneh-aneh, kalau cuma sepuluh atau belasan orang saja kita takkan takut, tapi kalau mereka berkumpul menjadi satu, betapa pun sukar dilayani.”

Maka dengan lwekang yang kuat segera Buyung Hok berseru menjawab, “Kata peribahasa, yang tidak tahu tidak dapat disalahkan. Tentang nama kebesaran cinjin ke-36 gua dan para dewa ke-72 pulau memang sudah lama kudengar dan sekali-kali tidak berani sengaja mengacau. Song Tho-kong dari Pek-lin-tong, Hian-hong-cu dari Ca-liong-tong di berbatasan Tibet, Ciang Ciu-hu Siansing, Tocu dari Hian-beng-to di laut utara, para cianpwe ini kukira juga hadir di sini semua. Sungguh kami tidak sengaja mengacau ke sini, untuk ini hendaknya kalian maklum.”

Tiba-tiba terdengar suara seorang tua tertawa terkekeh-kekeh, katanya, “Kau sebut-sebut nama kami lantas ingin mengeloyor pergi begini saja? Hehehe!”

Buyung Hok menjadi dongkol sahutnya, “Kami cuma menghormati kalian adalah orang tua maka ingin berlaku sopan. Hal ini jangan kalian artikan bahwa aku Buyung Hok takut pada kalian.”

Mendengar nama “Buyung Hok”, seketika terdengar suara kaget orang banyak. Suara orang tua tadi lantas bertanya, “Apakah Koh-soh Buyung yang terkenal dengan ‘Ih-pi-ci-to, hoan-si-pi-sin’ itu?”

“Benar, menang akulah adanya,” sahut Buyung Hok.

“Wah, Koh-soh Buyung memang bukan kaum sembarangan. Ayolah para pemegang lampu, marilah kita maju menjumpainya!” demikian seru orang tua itu.

Dan baru habis ucapannya, mendadak dari jurusan tenggara sana menjulang tinggi ke udara sebuah pelita kuning, menyusul sebelah barat dan barat laut juga ada pelita merah yang naik ke angkasa. Dalam sekejap itu dari segenap penjuru menjadi penuh sinar pelita dengan aneka macam ragamnya.

Nyata setiap tokoh tongcu (pemilik gua) dan tocu (pemilik pulau) yang hadir itu masing-masing mempunyai warna dan corak pelita yang berbeda-beda. Sinar pelita itu berkelip-kelip, sebentar terang sebentar guram sehingga wajah semua orang tampaknya menjadi sangat aneh tersorot sinar pelita yang berwarna-warni itu.

Buyung Hok melihat orang-orang itu pun rupa-rupa ragamnya, ada laki-laki, ada wanita, ada yang tampan dan ada yang jelek, ada hwesio, juga ada tocu, sebagian besar menghunus senjata, bentuk senjata mereka pun sangat aneh dan tak terkenal namanya.

“Hai, Buyung Hok,” segera seorang yang berada di sebelah barat mulai bersuara, “keluarga Buyung kalian suka malang melintang di daerah Tionggoan, hal itu pun masa bodoh. Tapi sekarang kau berani main terobos di tengah pertemuan kami ini, bukankah kau terlalu memandang enteng kepada kami? Kau terkenal suka ‘menggunakan kepandaian orang untuk menyerang kembali pada orang itu’. Maka aku ingin tanya padamu, cara bagaimana kau akan menggunakan kepandaianku untuk menyerang padaku?”

Waktu Buyung Hok memandang ke arah suara itu, ia lihat di atas batu padas sana duduk bersila seorang tua berkepala besar. Kepala yang besar itu gundul kelimis tanpa seutas rambut pun, wajahnya merah membara sehingga kalau dipandang dari jauh buah kepalanya mirip sebuah bola merah.

“Terimalah salamku, mohon tanya siapakah nama tuan?” segera Buyung Hok memberi hormat dan bertanya.

Kakek kepala besar itu tertawa sambil pegang perutnya yang buncit, katanya, “Aku justru ingin menguji dirimu, ingin kulihat apakah Buyung-si dari Koh-soh benar-benar mahapintar atau cuma omong kosong belaka. Tadi kutanya padamu cara bagaimana akan kau gunakan kepandaianku untuk menyerang kembali padaku. Bila dapat kau jawab dengan tepat, tentang orang lain aku tidak menjamin, tapi aku sendiri pasti takkan membikin susah padamu, dan ke mana kau mau pergi boleh kau pergi dengan bebas.”

Melihat gelagatnya, Buyung Hok tahu urusan hari ini tentu susah diselesaikan dengan kata-kata saja, tapi mau tak mau ia harus main beberapa jurus dulu. Maka katanya, “Jika demikian, baiklah aku akan mengiringi main beberapa jurus, silakan Cianpwe mulai dulu!”

Kembali orang tua itu tertawa terkekeh-kekeh, katanya, “Aku sedang menguji dirimu dan bukan ingin diuji olehmu. Kalau kau tidak dapat memberi jawaban, maka istilahmu yang terkenal itu hendaknya lekas dihapus saja!”

Diam-diam Buyung Hok sangat mendongkol, orang tua itu hanya duduk nongkrong di tempatnya, tidak dikenal namanya atau dari golongan mana, sudah tentu susah diketahui apa kungfu andalannya, dan kalau tidak tahu apa kepandaiannya, cara bagaimana dapat menyerang kembali dengan kepandaian orang itu?

Selagi Buyung Hong berpikir, di sebelah sana si kakek lantas mengejek, “Kami para kawan dari ke-36 gua dan ke-72 pulau biasanya hidup terpencar dan tidak suka ikut campur tetek bengek di Tionggoan. Kalau gunung tiada harimau, monyet pun akan mengaku sebagai raja. Hah, bocah ingusan macam dirimu ini juga berani mengaku sebagai Lam Buyung dan Pak Kiau Hong apa segala. Haha, sungguh menggelikan, hahaha, benar-benar tidak tahu malu! Dengarkan, jika hari ini kau ingin meloloskan diri, hal ini tidak sulit asalkan kau sembah sepuluh kali kepada tiap-tiap cinjin ke-36 gua dan tiap-tiap dewa ke-72 pulau, jadi total jenderal harus menyembah 1.080 kali, habis itu segera kami melepaskan kalian.”

Memangnya sejak tadi Pau Put-tong sudah tidak sabar, sekarang ia lebih-lebih tidak tahan lagi, segera ia berteriak, “Kau minta Kongcuya kami menggunakan kepandaianmu untuk menyerangmu’, tapi sekarang kau suruh dia menyembah padamu. Tentang kepandaianmu yang khas memang Kongcuya kami tidak dapat menirukannya. Haha, benar-benar menggelikan, haha, benar-benar tidak tahu malu!”

Ia bicara dengan menengadah dan menirukan lagu suara si kakek dengan mirip benar.

Keruan kakek itu sangat gusar, mendadak ia batuk sekali, sekumur riak kental terus menyemprot ke muka Pau Put-tong.

Cepat Put-tong mengegos sehingga riak kental itu menyambar lewat di sisi telinganya, tapi mendadak riak kental itu dapat berputar di udara, “plok”, tahu-tahu menyambar kembali dan tepat mengenai batok kepala Pau Put-tong.

Kekuatan riak kental itu sungguh tidak kecil, seketika Pau Put-tong merasa kepala pening, badan terhuyung-huyung. Kiranya riak kental itu tepat mengenai “Yang-pek-hiat” di tengah-tengah batok kepala.

Buyung Hok terkejut, bahwa riak kental dapat digunakan sebagai senjata adalah tidak mengherankan, tapi riak kental itu dapat berputar di udara, inilah yang luar biasa.

Terdengar kakek itu terbahak-bahak, katanya, “Nah, Buyung Hok, aku pun tidak mau paksa harus kau gunakan kepandaianku untuk menyerang aku, cukup asal dapat kau katakan asal-usul ludahku barusan ini, maka aku akan menyerah padamu.”

Buyung Hok memeras otak dengan cepat, tapi betapa pun tidak ingat siapakah tokoh yang mahir menggunakan ludah sebagai senjata ini. Tiba-tiba dari sebelahnya suara seorang yang nyaring merdu berkata, “Tuanbok-tocu, engkau sudah berhasil meyakinkan ilmu sakti ‘Go-tau-bi-sin-kang’, sungguh tidak mudah latihanmu ini, korban yang telah jatuh di bawah keganasanmu tentu juga tidak sedikit. Kongcu kami mengingat jerih payahmu yang telah berlatih mati-matian, maka tidak mau membongkar asal-usul kepandaianmu ini agar engkau terhindar dari kutukan sesama orang persilatan. Memangnya kau kira Kongcu juga begitu rendah untuk menyerangmu kembali dengan kepandaianmu yang keji ini?”

Dari suaranya saja segera Buyung Hok tahu bahwa pembicara itu adalah Giok-yan, sungguh ia sangat girang dan terperanjat pula. Ia tahu Giok-yan sangat pintar, sekali baca segera dapat mengingatnya di luar kepala, maka segala kitab pusaka ilmu silat yang tersimpan dalam lemari ayahandanya boleh dikata sudah dibacanya dan dapat menghafalkan di luar kepala, segala ilmu silat dari aliran mana pun boleh dikata serbatahu hanya cara menggunakan saja ia tidak dapat. Kungfu “Go-tau-bi-sin-kang” atau ilmu sakti lima gantang beras tidak pernah didengar oleh Buyung Hok, sebaliknya Giok-yan ternyata mengenalnya tapi entah tepat tidak tebakan gadis itu.

Tertampak muka si kakek kepala besar yang tadinya merah membara itu mendadak berubah menjadi pucat, tapi hanya sebentar saja lantas kembali merah lagi. Dengan tertawa ia berkata, “Dara cilik tahu apa, hendaknya jangan sembarang omong. ‘Go-tau-bi-sin-kang’ adalah ilmu yang keji dan membikin celaka orang, masakan orang macam aku sudi melatihnya? Namun begitu kau dapat menyebut she kakekmu ini, boleh dikatakan lumayan juga.”

Mendengar jawaban itu, Giok-yan tahu tebakannya benar, cuma saja kakek itu tidak mau mengaku. Segera ia berkata pula, “Tuanbok-tongcu dari Jik-yam-tong di gunung Ngo-ci-san pulau Haynam, siapakah orang Kangouw yang tidak kenal namamu ini? Kiranya ilmu Tuanbok-tongcu barusan ini bukan ‘Go-tau-bi-sin-kang’, jika begitu tentu adalah semacam ilmu sakti lain perubahan dari Te-hwe-kang.”

“Te-hwe-kang” pemimpin golongan Jik-yam-tong itu selamanya dari keluarga Tuanbok. Kakek tua berkepala besar itu bernama Tuanbok Goan.

Ketika mendengar Giok-yan dapat menyebut asal-usulnya, tapi sengaja menutupi pula kepandaiannya “Go-tau-bi-sin-kang”, maka diam-diam kakek itu merasa berterima kasih, apalagi sebenarnya di kalangan Kangouw Jik-yam-tong adalah suatu golongan keroco yang tak terkenal, tapi di mulut Giok-yan sekarang telah dikatakan sebagai golongan yang tersohor, tentu saja ia tambah senang, dengan tertawa ia berkata, “Ya, memang kepandaianku adalah salah satu bagian dari Te-hwe-kang. Karena sudah kukatakan tadi, sekali dapat kau sebut asal-usulku, maka aku pun takkan mempersulit kalian.”

Pada saat itulah, sekonyong-konyong dari bawah batu padas di depan sana terdengar suara seorang yang sangat halus dengan nada seperti orang menangis terguguk-guguk sedang berkata, “Tuanbok Goan, suamiku dan saudaraku apakah dibunuh olehmu? Jadi kau jahanam ini telah meyakinkan ‘Go-tau-bi-sin-kang’ dan telah membinasakan mereka?”

Orang yang bicara itu teraling-aling oleh bayangan gelap batu padas sehingga tidak jelas bagaimana potongannya, tapi lamat-lamat kelihatan seorang wanita yang berbaju hitam, berbadan jangkung dan lengan bajunya sangat panjang.

Tuanbok Goan tertawa, sahutnya, “Siapakah nyonya? Pada hakikatnya aku tidak kenal apa ‘Go-tau-bi-sin-kang’ itu, jangan kau percaya kepada obrolan nona cilik ini.”

Tiba-tiba wanita itu menggapai Giok-yan dan memanggil, “Nona cilik, marilah sini, aku ingin tanya padamu.”

Sekali wanita itu menggapai, tiba-tiba Giok-yan merasa suatu tenaga tarik yang kuat telah menariknya ke sana sehingga tanpa kuasa ia melangkah satu tindak ke depan.

Ketika wanita itu menggapai lagi, kembali Giok-yan hendak tertarik maju pula, keruan ia menjerit kaget.

Buyung Hok tahu pihak lawan sedang menggunakan “Kim-liong-kong” (ilmu menangkap naga), semacam ilmu menangkap dan mencengkeram yang lihai. Kalau ilmu mencengkeram dan menangkap seperti itu sudah terlatih sempurna, maka sekali menggapai tangan saja segera lawan dapat dipegangnya dari jauh.

Padahal lwekang Giok-yan sangat cetek, sebaliknya wanita itu hanya dapat membikin nona itu tertarik maju satu-dua tindak saja, hal ini menandakan kepandaian wanita itu belum seberapa tinggi.

Sementara itu tertampak si wanita menggapai pula untuk ketiga kalinya, segera Buyung Hok mengebaskan lengan bajunya, ia keluarkan ilmu “Tau-coan-sing-ih”, ilmu andalannya yang lihai, kontan tenaga cengkeraman dari jauh itu menyerang kembali ke arah wanita itu sendiri. Rupanya wanita itu menjadi kaget, ia berteriak sekali sambil sempoyongan ke depan.

Sesudah terhuyung-huyung kira-kira dua-tiga meter berada di depan Buyung Hok barulah wanita itu dapat menahan tubuhnya. Keruan ia kaget setengah mati dan khawatir diserang pula, maka sekuatnya ia melompat mundur untuk kemudian mengamat-amati Buyung Hok dengan melenggong.

“Le-hujin dari Ya-hoa-to di laut selatan, kepandaianmu ‘Jay-yan-kang’ memang sangat hebat, kagum, sungguh kagum,” kata Giok-yan.

Wanita itu tampak sangsi, sahutnya, “Nona cilik, dari... dari mana kau kenal aku? Dan mengapa tahu pula ilmu ‘Jay-yan-kang’ kami?”

Karena sekarang wanita yang dipanggil sebagai Le-hujin atau nyonya Le itu sudah tidak teraling oleh bayangan batu padas, maka semua orang dapat melihat jelas pakaiannya yang hitam mulus itu, tapi di antara warna hitam bajunya itu seperti terdapat macam-macam benang emas, benang perak dan benang yang berwarna-warni lain sehingga di bawah sinar pelita tampaknya menjadi kemilauan.

“Cit-jay-po-ih (baju pusaka tata warna) adalah pusaka Ya-hoa-to (pulau bunga kelapa), siapakah di dunia ini yang tidak tahu?” sahut Giok-yan. “Tadi Le-hujin telah unjuk ilmu sakti yang mahir menangkap dari jauh, sudah tentu kepandaian ini adalah Jay-yan-kang (ilmu menangkap burung) yang terkenal dari Ya-hoa-to.”

Kiranya Ya-hoa-to atau pulau bunga kelapa yang disebut Giok-yan itu terletak di laut selatan yang banyak bukit karangnya dan banyak menghasilkan sarang burung. Cuma sarang burung itu berada di atas karang-karang yang terjal sehingga untuk mengunduhnya tidaklah gampang.

Keluarga Le sudah turun-temurun tinggal di pulau kelapa itu dan dari kebiasaan mereka mengunduh sarang burung itu terlatihlah semacam kungfu “Jay-yan-kang” itu.

Memangnya Le-hujin sudah jeri ketika sekali gapai kena diseret maju oleh Buyung Hok, apalagi asal-usulnya kena dibongkar pula oleh Giok-yan, keruan ia tambah jeri, ia mengira segala kepandaiannya sudah dapat diukur oleh pihak lawan, maka ia menjadi tidak berani main-main lagi. Terpaksa ia berkata kepada Tuanbok Goan, “Tuanbok-loji, seorang laki-laki sejati berani berbuat harus berani bertanggung jawab. Nah, katakan terus terang saja, sebenarnya suamiku dan saudaraku dibunuh olehmu atau bukan?”

Tiba-tiba Tuanbok Goan tertawa pula, katanya, “Maaf, maaf! Kiranya Le-hujin dari Ya-hoa-to, kalau dibicarakan sebenarnya kita adalah tetangga malah. Tapi selamanya aku tidak pernah bertemu dengan suamimu, dari mana bisa dikatakan dia dibunuh olehku?”

Tapi Le-hujin tampak masih sangsi, katanya, “Baiklah, akhirnya urusan pasti akan ketahuan, asalkan memang betul bukan kau yang membunuhnya.”

Habis berkata kembali ia menyingkir dan sembunyi di balik batu padas pula.

Dan baru saja Le-hujin mengundurkan diri, sekonyong-konyong terdengar sesuatu benda berat jatuh dari atas sebatang pohon yang besar, “bluk”, benda itu jatuh di atas batu padas, ketika diperhatikan, kiranya sebuah wajan raksasa dari perunggu.

Buyung Hok terkejut, cepat ia menengadah dulu untuk melihat tokoh macam apakah orang yang sembunyi di pucuk pohon itu sehingga mampu mengangkat suatu benda yang beratnya beratus-ratus kati itu ke atas pohon untuk kemudian dibanting ke bawah? Kalau melihat bentuk wajan itu, tampaknya serupa dengan wajan perunggu dari Pek-lin-tong tadi, cuma bangun wajan itu jauh lebih besar, barangkali Song Tho-kong sendiri yang sembunyi di atas pohon! Tapi waktu ia pandang ke atas toh tiada sesuatu bayangan pun yang terlihat.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara desis angin yang sangat halus dan hampir sukar terdengar. Namun Buyung Hok teramat cerdik cepat ia meloncat ke atas dan kedua lengan bajunya mengebas sehingga menjangkitkan serangkum angin keras yang menghantam kembali ke arah sambaran suara itu, tepat pada saat itu di depannya tertampak gemerdepnya benda-benda halus, beratus-ratus jarum selembut bulu kerbau terpental balik dan bertebaran ke berbagai penjuru.

Menyusul terdengar suara teriakan ramai Kongya Kian, Hong Po-ok dan orang-orang di sekitar situ, “Wah, celaka! Ini jarum berbisa! Jahanam, siapa yang menggunakan senjata sekeji ini? Auh, gatal sekali!”

Dalam keadaan tubuh terapung di udara, sekilas pandang Buyung Hok melihat tutup wajan itu sedikit bergerak seperti ada sesuatu hendak menerobos keluar dari dalam wajan. Dalam keadaan genting demikian tiada sempat buat pikir lagi, segera Buyung Hok lemparkan Giok-yan yang dirangkulnya ketika meloncat ke atas tadi, katanya, “Duduklah di atas pohon!”

Menyusul badannya lautan menurun ke bawah tapi bukan ke tanah melainkan di atas wajan raksasa itu.

Ia merasa tutup wajan masih bergerak-gerak, segera ia gunakan kepandaian membikin antap badannya untuk menindih tutup wajan sekuatnya.

Apa yang terjadi itu berlangsung dalam sekejap saja dan baru Buyung Hok dapat menindih tutup wajan tetap di tempatnya, sementara itu jerit dan bentakan orang di sekitarnya sudah tambah ramai, “Aduh, lekas ambilkan obat penawarnya! Ini jarum berbisa Gu-mo-ciam (jarum bulu kerbau) dari Pek-lin-tong, dalam waktu satu jam dapat membuat nyawa orang melayang, lihainya tidak kepalang! Wah, celaka, di mana bangsat tua Song Tho-kong itu? Di mana dia? Keparat! Ya, lekas seret dia keluar dan paksa dia memberi obat penawarnya! Kurang ajar, bangsat tua ini sembarangan menghamburkan jarumnya, sampai kawan sendiri juga diserang! Song Tho-kong! Song Tho-kong di mana kau keparat! Lekas berikan obat penawarmu!”

Begitulah seketika terjadi riuh rantai makian dan suara orang ingin mencari Song Tho-kong untuk minta obat penawar racun. Orang yang terkena jarum berbisa itu ada yang berjingkrak saking gatal, ada yang memeluk pohon saking tak tahan rasa sakit. Nyata racun Gu-mo-ciam atau jarum bulu kerbau itu luar biasa lihainya sehingga siapa yang terkena akan tersiksa oleh rasa gatal dan sakit yang tak terhingga.

Padahal di antara orang-orang yang kena jarum itu ada ketua dari sesuatu golongan dan ada pemimpin dari sesuatu perkumpulan, tapi dalam keadaan tersiksa mereka menjadi lupa daratan akan kedudukannya sendiri dan tidak kenal malu lagi.

Sebaliknya yang diperhatikan oleh Buyung Hok adalah kawan-kawannya, sekilas ia pun melihat Kongya Kian memegangi dada dan perutnya sedang mengerahkan tenaga dalam, sedang Hong Po-ok tampak melonjak-lonjak sambil mencaci maki kalang kabut. Maka tahulah Buyung Hok bahwa kedua kawan itu telah terkena jarum berbisa tadi, ia menjadi khawatir dan gusar pula.

Terang menghamburnya jarum berbisa bagai hujan tadi dilakukan oleh seorang dengan pesawat rahasia yang mungkin terpasang di dalam wajan raksasa itu, kalau tidak, rasanya tidak mungkin dapat menghamburkan jarum halus dalam sekejap saja.

Yang paling membuatnya gemas adalah kelicikan penyerang tak kelihatan itu, lebih dulu Buyung Hok dipancing supaya menengadah ke atas pohon pada saat itulah jarum berbisa lantas dihamburkan dari dalam wajan. Coba kalau dia kurang cerdik dan tidak tangkas, pasti beratus-ratus atau beribu-ribu jarum berbisa itu sudah bersarang di tubuhnya.

Sebaliknya penyerang itu rupanya bersembunyi di dalam wajan sehingga jarum berbisa yang dihantam kembali oleh Buyung Hok itu hanya mengenai orang-orang di sekitarnya dan tidak mengenai penyerang gelap itu.

Maka terdengarlah suara seorang yang sengaja dibikin-bikin berkata, “Buyung Hok, sekali ini kau telah salah lakon, mengapa berbalik kau gunakan kepandaian orang untuk menyerang dirimu? Bukankah ini sangat tidak cocok dengan kebiasaan Koh-soh Buyung?”

Yang bicara itu kedengaran berada agak jauh dan rupanya terlindung di belakang batu padas sehingga tidak ikut terkena jarum berbisa makanya dia berani mengejek.

Tapi Buyung Hok tidak gubris padanya, ia pikir untuk memunahkan racun jarum itu harus mencari penyerang yang sembunyi di dalam wajan. Ia merasa tutup wajan yang diinjaknya itu bergerak terus, terang orang di dalam wajan itu sedang berusaha menerobos keluar.

Kepandaian Buyung Hok sangat hebat, dengan jarinya ia gantol pada dahan pohon sehingga dia dapat membuat badannya seenteng kapas atau seberat bukit berlaksa kati, bila orang itu ingin menerobos keluar, kalau dia tidak membobol wajan itu dengan pedang mestika, maka dia harus menggunakan tenaga sanggaan punggungnya untuk mengangkat pohon dengan tenaga tindihan Buyung Hok itu.

Sebenarnya orang yang berada di dalam wajan itu memiliki tenaga raksasa, biasanya dengan tenaga punggungnya ia mampu menumbuk roboh seekor banteng, karena itulah dia sekarang berani main sembunyi dalam wajan tanpa khawatir.

Tapi sekali ini dia salah hitung, meski sudah berulang ia menyundul ke atas, tetap tutup wajan itu bergeming seperti tertindih oleh sebuah bukit. Keruan orang itu kelabakan, berulang ia mengerahkan tenaga tapi tetap susah keluar.

Diam-diam Buyung Hok sudah memperhitungkan setiap kali orang di dalam wajan itu menyundul, setiap kali pula tentu akan banyak mengorbankan tenaga dalam, sebab ia sengaja adu tenaga sundulan orang dengan tindihan pohon besar itu.

Maka tertampak pohon yang dipakai sebagai pegangan itu bergoyang-goyang seakan-akan tumbang, tapi untuk menyundul sebatang pohon bersama akar-akarnya memang terlalu sulit, namun akar pohon sedikit demi sedikit juga mulai banyak yang putus, kalau orang di dalam wajan ini menggunakan tenaga lagi beberapa kali, bukan mustahil dia akan dapat menyingkap tutup wajan dan menerobos keluar.

Namun Buyung Hok juga sudah siap sedia, ia menduga begitu orang itu menerobos keluar tentu akan menghamburkan jarum berbisa lagi untuk melindungi tubuhnya, dan sekali ia hantam, serangan jarum orang itu tentu akan dapat dipukul kembali dan mengenai tubuh orang itu sendiri, jika demikian, maka pasti dia akan mengeluarkan obat penawar untuk menyembuhkan lukanya sendiri dan tidak perlu susah lagi berusaha merebutnya.

Tiba-tiba ia merasa tutup wajan berguncang hebat dua kali lagi, habis itu tahu-tahu lantas berhenti dan tiada terdengar sesuatu gerak-gerik orang di dalam wajan.

Buyung Hok menaksir orang itu tentu lagi menghimpun tenaga untuk menyundul sekuatnya buat menerobos keluar dari wajan. Maka ia sengaja mengendurkan tenaga tindihan sedang telapak tangan kanan sudah siap menghantam.

Tak terduga sampai sekian lama orang di dalam wajan itu tidak bergerak lagi, seperti sudah mati sesak di dalam.

Dalam pada itu jerit tangis orang banyak semakin riuh ramai. Beberapa orang yang lebih rendah kepandaiannya saking tak tahan akan derita sakit dan gatal telah berguling-guling di tanah, ada yang membentur-benturkan kepala di atas batu dan ada yang memukul-mukul dada sendiri.

Beramai-ramai mereka berteriak-teriak mencari Song Tho-kong dan ingin menyeretnya keluar untuk mengambil obat penawarnya. Di tengah suara teriakan yang menyeramkan itu ada belasan orang menjadi kalap terus menerjang ke arah Buyung Hok.

Tapi Buyung Hok segera meloncat ke atas dengan enteng, selagi ia hendak duduk di dahan pohon sekonyong-konyong terdengar suara mendesis-desis halus, dari samping menyambar tiba secomot sinar perak gemerdep, kembali beribu jarum berbisa yang halus telah menyambar lagi ke arahnya.

Serangan ini sama sekali di luar dugaan Buyung Hok. Song Tho-kong yang menyerang dengan jarum berbisa itu sudah pasti masih berada di dalam wajan, sedangkan jumlah jarum berbisa yang berhamburan dan keras agaknya bukan dilakukan oleh tenaga manusia melainkan dihamburkan dengan menggunakan sesuatu pesawat tertentu, apa barangkali ada begundal Song Tho-kong yang bersembunyi di samping situ dan sekarang menyerangnya secara keji?

Saat itu Buyung Hok sedang terapung di udara, untuk menghindar terang sangat susah, kalau menghantam kembali jarum berbisa itu dengan tenaga pukulannya yang dahsyat, ia khawatir seperti kejadian tadi, yaitu mengenai kawan sendiri, karena waktu itu Pek-jwan berempat masih berada di bawah.

Tapi Buyung Hok bukan Buyung Hok kalau dia lantas mati kutu begitu saja, gelar “Lam Buyung dan Pak Kiau Hong” memang bukan gelaran kosong belaka.

Ilmu silat keluarga Buyung sebenarnya sangat hebat dan susah diukur, meski Buyung Hok selama ini lebih giat dalam usahanya hendak membangun kembali kerajaannya sehingga tiada sempat meyakinkan ilmu silat leluhurnya dengan tekun tapi sebagai ahli waris Koh-soh Buyung sudah tentu bukanlah tokoh sembarangan.

Ketika lengan bajunya mengebas sekali, bagaikan layar perahu yang tertiup angin dengan tenaga kebasan itu tubuhnya terus melompat ke samping, berbareng itu dari kebasan lengan bajunya lantas terlontar suatu arus kekuatan yang mahakuat sehingga beribu jarum berbisa itu tersampuk terbang ke udara. Habis itu dengan gaya yang indah dengan ringan seperti burung kemudian Buyung Hok meluncur turun.

Tatkala itu udara sebenarnya gelap gulita, tapi di bawah sinar pelita yang terang itu semua orang dapat melihat dengan jelas melayang turunnya Buyung Hok yang indah dan cekatan itu, semua orang tercengang dan kagum luar biasa.

Di tengah suara jerit maki yang menyeramkan itu tiba-tiba bergema pula suara sorak puji yang gemuruh sehingga jerit teriak orang yang tersiksa itu kalah kerasnya.

Tadi waktu ia melayang turun gayanya sangat lambat dan indah, tapi sekarang ia menubruk ke bawah dengan cepat seperti elang menyambar anak ayam, di mana bayangannya tiba, sekonyong-konyong kedua kakinya menginjak kepala seorang yang pendek gemuk di tepi batu padas itu.

Kiranya sesudah mengincar dengan cermat dari atas tiba-tiba ia melihat tangan orang gendut buntak ini memegang sebuah benda yang mirip sebuah wajan kecil dengan gerak-gerik seperti hendak menjepretkan jarum berbisa lagi. Maka segera ia mendahului menyambarnya.

Namun si gendut itu juga sangat gesit, sebelum batok kepalanya terinjak kaki Buyung Hok, dengan cepat sekali ia menjatuhkan diri terus menggelinding pergi seperti bola. Karena itu, Buyung Hok telah menginjak tempat kosong, namun segera ia susuli dengan hantaman keras ke punggung lawan.

Waktu itu si gendut baru saja hendak merangkak bangun karena pukulan Buyung Hok dari jauh itu, “plak”, kembali ia terjungkal lagi terkena pukulan itu.

Tapi sekalian ia terus pentalkan diri beberapa meter jauhnya, habis itu barulah berbangkit.

Namun pukulan Buyung Hok teramat hebat, baru saja si gendut sempat berdiri dengan agak sempoyongan, mendadak badannya tergeliat dan kembali jatuh tersungkur pula.

Serentak terdengar suara teriakan orang ramai, “Song Tho-kong, mana obat penawarmu, lekas keluarkan!”

Berbareng mereka lantas menyerbu ke arah si gendut buntak itu.

“Kiranya si pendek gendut itu adalah Song Tho-kong!” demikian Ting Pek-jwan dan Pau Put-tong sama membatin. Karena mereka juga buru-buru ingin menangkapnya untuk mendapatkan obat penawar guna menyembuhkan luka para saudara angkatnya, maka berbareng mereka pun membentak dan menubruk ke sana.

Sementara itu Song Tho-kong tampak menggunakan tangan menyangga tanah dan bermaksud merangkak bangun, tapi rupanya ia sudah terluka tidak ringan, tenaga sudah tidak mau menuruti kehendak hatinya lagi, baru saja badannya terangkat sedikit, “bluk”, kembali ia jatuh lagi.

Dalam pada itu Pau Put-tong sudah menubruk tiba, sekali cengkeram ia hendak remas pundak Song Tho-kong. Cengkeramannya menggunakan tenaga sekuatnya dengan tujuan agar musuh tak bisa berkutik lagi.

Tak terduga baru saja kelima jarinya memegang pundak orang, tiba-tiba telapak tangannya terasa sakit luar biasa, cepat ia tarik kembali tangannya, ketika diperiksa, ternyata tangan sudah penuh darah.

Kiranya Song Tho-kong itu memakai baju yang penuh dipasang jarum lembut sehingga mirip seekor landak yang berduri tajam.

Jarum-jarum itu juga berbisa, maka dalam sekejap saja Pau Put-tong merasa telapak tangannya pegal linu dan gatal luar biasa, saking gatalnya sehingga hatinya serasa seperti dikilik-kilik, saking tak tahan, sungguh ia ingin potong saja tangannya.

Dalam kejut dan gusarnya, segera sebelah kaki Pau Put-tong melayang hendak menendang pantat Song Tho-kong. Ia lihat orang gendut itu meringkuk di tanah seperti babi, tendangannya itu pasti akan kena sasarannya dengan keras.

Tapi ketika kakinya sudah hampir mengenai pantat orang mendadak Put-tong sadar, “Wah, celaka! Jika pantatnya juga penuh terpasang jarum yang tajam bukankah kakiku ini akan hancur?”

Padahal saat itu kakinya sudah melayang ke depan dan untuk menariknya kembali terang tak bisa lagi, tiada jalan lain terpaksa Pau Put-tong miringkan tendangannya sehingga hanya menyenggol sedikit celana Song Tho-kong, sekalian tubuh Pau Put-tong lantas ikut berputar seperti kitiran.

Dalam pada itu Pek-jwan dan lain-lain juga sudah menubruk tiba, tapi mereka menjadi kaget melihat Pau Put-tong yang jelas dapat menawan Song Tho-kong itu entah mengapa mendadak tangan Put-tong malah terluka sendiri. Mereka melihat Song Tho-kong masih bertiarap di atas tanah tanpa bergerak, seketika itu mereka menjadi tidak berani sembarangan bertindak.

Dasar watak Put-tong memang sangat keras dan tak mau kalah, sekali ia keselomot, sudah tentu ia tidak mau tinggal diam lagi, tanpa pikir segera ia angkat sepotong batu besar sambil berteriak, “Awas, minggir! Biar kugecek mampus kura-kura bangsat ini!”

Tapi segera ada orang mencegahnya, “Jangan, jangan! Kalau digebuk mati, tentu kita takkan mendapatkan obat penawarnya!”

Lalu ada orang lain ikut berteriak, “Obat penawar pasti berada dalam bajunya, ayolah tumbuk mampus dia dulu baru nanti ambil obatnya!”

Rupanya berkumpulnya para petualang yang menyebut dirinya dewa ke-36 gua dan ke-72 pulau itu masing-masing mempunyai maksud tujuan sendiri dan sama sekali tiada rasa persatuan, buktinya ketika Pau Put-tong ingin menggecek mampus Song Tho-kong ternyata ada juga yang menyatakan setuju bahkan beramai-ramai mengemukakan usulnya.

Begitulah di tengah suara orang banyak itu, Put-tong tidak peduli lagi, ia angkat batu besar itu, dengan langkah lebar ia mendekati Song Tho-kong, ia incar punggung orang buntak itu dengan tepat sambil membentak, “Biar kugecek mampus kura-kura berduri ini!”

Tatkala itu Put-tong merasa gatal pegal di tangannya bertambah hebat dan susah ditahan lagi, maka sekali ia ayun tangannya, langsung batu besar itu menghantam punggung Song Tho-kong. “Blang”, terdengar suara gemuruh yang keras dibarengi debu pasir beterbangan.

Orang-orang itu ada yang girang dan ada yang khawatir pula. Mereka menduga Song Tho-kong pasti akan hancur lebur seperti perkedel tertumbuk batu besar itu, tapi mereka menjadi terkejut, karena sama sekali mereka tidak mendengar suara jeritan Song Tho-kong, sebaliknya mengapa debu pasir bisa berhamburan?

Ketika mereka memerhatikan, mereka tambah tercengang. Ternyata batu besar yang dihantamkan Pau Put-tong itu masih tetap di atas tanah, sebaliknya Song Tho-kong sudah menghilang entah ke mana.

Cepat sekali Pau Put-tong berpikir demi melihat keadaan yang ganjil itu, segera ia depak batu besar itu. Maka tertampaklah di bawah tanah situ terdapat sebuah liang, besarnya cuma sebesar 20-an senti saja, padahal badan Song Tho-kong segemuk babi, masakah dia dapat menyusup ke dalam liang sekecil itu seperti kelinci?

Ia tidak tahu bahwa nama Song Tho-kong memakai kata “tho” atau tanah, dengan sendirinya dalam hal menggangsir tanah ia sangat mahir. Ia dapat menggangsir dengan sangat cepat dengan menggunakan tangan dan kaki sesudah itu ia terus menyusup ke dalam liang yang digangsirnya itu.

Tadi waktu Buyung Hok menginjak tutup wajannya sehingga dia tidak dapat keluar, saat itu ia telah membuka pantat wajan dan meloloskan diri ke bawah tanah.

Sesudah tertegun sejenak, segera Pau Put-tong mencari pula tempat sembunyi Song Tho-kong, ia pikir sekali pun dapat menggangsir, toh hanya manusia dan bukan tenggiling, paling banter juga cuma satu-dua meter jauhnya dan hanya dapat sembunyi untuk sementara saja, masakah dapat menghilang?

Tapi selagi ia mencari, tiba-tiba terdengar seruan Buyung Hok, “Ini dia, di sini!”

Berbareng itu lengan bajunya terus mengebas sepotong batu padas. Kiranya batu padas itu sebenarnya bukan batu melainkan punggung Song Tho-kong yang menonjol ke atas. Dasar kelakuan Song Tho-kong itu memang aneh-aneh dan macam-macam caranya mengelabui mata orang, kalau bukan pandangan Buyung Hok yang tajam tentu susah menemukan jejaknya.

Dan sekali angin kebasan lengan baju Buyung Hok tiba, seketika badan Song Tho-kong yang bulat itu mencelat ke udara.

Sejak terkena pukulan Buyung Hok tadi, luka Song Tho-kong sebenarnya cukup parah, sekarang menjadi lebih-lebih tidak sanggup melawan sedikit pun, terpaksa ia berteriak-teriak, “Sabar dulu, jangan menyerang lagi, aku akan memberikan obat penawarnya!”

“Jangan khawatir, aku takkan menyerang lagi,” kata Buyung Hok dengan tersenyum dan mengebaskan lengan baju lagi sehingga Song Tho-kong dapat turun ke bawah dengan enteng tanpa alangan.

Tiba-tiba terdengar suara orang berseru dari jauh, “Koh-soh Buyung benar-benar hebat dan bukan omong kosong belaka!”

“Terima kasih atas pujianmu!” sahut Buyung Hok dengan merendah.

Pada saat itu juga, sekonyong-konyong sejalur sinar emas dan sejalur sinar perak menyambar tiba dari sebelah kiri, begitu hebat sambaran sinar emas perak itu sehingga mengeluarkan suara mendenging.

“Senjata apakah yang lihai ini?” diam-diam Buyung Hok membatin. Ia tidak berani ayal, segera kedua lengan bajunya mengebas pula memapak ke depan.

“Blung,” angin kebasannya tertolak kembali sebaliknya sinar emas dan perak itu pun terpental balik. Dan baru sekarang terlihat dengan jelas, kiranya kedua jalur sinar emas perak itu adalah dua utas selendang yang panjang lagi lebar, yang sebuah berwarna emas dan yang lain berwarna perak.

Dari tenaga benturan tadi Buyung Hok sudah dapat menjajal bahwa tenaga dalam orang yang menggunakan selendang warna emas itu lebih kuat daripada kawannya yang memakai selendang warna perak itu. Tapi terasa juga olehnya bahwa tenaga yang dikeluarkan orang yang menggunakan selendang perak itu belum dikerahkan seluruhnya, sebaliknya orang yang bersenjata selendang emas telah mengeluarkan segenap tenaga dalamnya yang ada.

Maka tertampaklah di depan sana berdiri dua orang, semuanya kakek-kakek, yang bersenjata selendang emas berjubah putih perak dan yang bersenjata selendang perak berjubah warna emas, jadi terbalik warna jubah dan senjata yang mereka pakai itu.

Jubah mereka pun gemerlapan menyilaukan mata, jubah macam begitu pada umumnya tidak ada orang yang mau pakai kecuali pemain sandiwara di atas panggung.

Terdengar si kakek jubah perak berkata, “Hebat, sungguh kagum, marilah terima sekali lagi serangan berdua!”

Menyusul sinar emas berkelebat, selendang emas menyambar pula dari sebelah kiri, sebaliknya selendang perak tiba-tiba menyendal ke atas terus menyambar turun ke bawah untuk menyerang kepala Buyung Hok.

“Kedua Cianpwe....” baru Buyung Hok hendak bicara, mendadak terdengar suara menderu, tiga batang golok panjang membabat pula dari bagian bawah.

Rupanya musuh telah menggunakan “Te-tong-to”, ilmu golok bergelindingan di tanah, tiga orang telah bekerja sama dengan sangat rapat untuk menyerang bagian bawah tubuh Buyung Hok.

Ilmu golok dengan cara bergelindingan di tanah itu sebenarnya jarang digunakan oleh jago silat kelas wahid, sebab yang diarah selalu bagian bawah badan musuh, daya tempurnya terbatas pula dengan main bergulingan di tanah juga merosotkan pamor seorang tokoh ternama.

Tapi terdengar dari suara sambaran golok ketiga penyerang itu, rasanya tenaga dalam mereka pun tidak lemah dan dapat digolongkan jago kelas dua. Apalagi sekarang mereka tiga bergabung menjadi satu, golok mereka menyambar susul-menyusul dengan cepat, kalau lena sedikit tentu sasarannya bisa binasa, maka betapa pun tidak boleh dipandang enteng.

Jadi saat itu Buyung Hok menghadapi serangan dari tiga jurusan, dari atas, samping kiri, dan depan bawah. Diam-diam ia pikir, “Pihak lawan terkenal sebagai Tongcu ke-36 gua dan Tocu ke-72 pulau, jumlah mereka sangat banyak, kalau aku tidak mendahului memberi hajaran pada mereka, tentu urusan sukar diakhiri.”

Waktu itu dilihatnya ketiga golok musuh sedang menyambar tiba pula dari bawah, ia incar dengan tepat dan menendang tiga kali secepat kilat sehingga tiap-tiap tendangannya mengenai pergelangan tangan musuh, tiga batang golok mereka kontan mencelat ke udara.

Ketika Buyung Hok menggeser tubuh ke samping, sedikit ia geraki tangan, dengan ilmu “Tau-coan-sing-ih” yang lihai, tahu-tahu ujung selendang emas diputar balik, “plak”, selendang emas itu saling melilit menjadi satu dengan selendang perak kawannya.

Sementara itu ketiga orang yang memainkan Te-tong-to juga sudah menerjang maju, tiga batang golok mereka mendadak ditimpukkan, bahkan mereka tidak terus mundur, sebaliknya pentang tangan dan hendak merangkul kedua kaki Buyung Hok sambil mengeluarkan suara kalap.

Dalam keadaan berkelahi satu lawan banyak, sudah tentu Buyung Hok tidak mau badan tersentuh lawan, sekali kaki melayang, secepat angin hiat-to penting di dada ketiga orang itu ditendangnya hingga terjungkal.

Pada saat itulah seorang berbaju hitam dengan tangan dan kaki serbapanjang melompat maju, ia pentang tangannya yang lebar itu dan sekali raih segera Song Tho-kong diangkat olehnya ke atas.

Seperti diceritakan, pada badan Song Tho-kong itu penuh berduri sebagai landak, tapi tangan orang berbaju hitam itu entah berkulit setebal badak atau memakai sarung tangan istimewa sehingga tidak takut pada duri di badan Song Tho-kong itu, dan sekali sasarannya diangkat segera ia melompat mundur lagi sejauh beberapa meter.

Melihat gerak-gerik si baju hitam itu sangat gesit dan cekatan, terang kepandaiannya jauh lebih tinggi dari yang lain, diam-diam Buyung Hok berkhawatir, “Kalau Song Tho-kong kena digondol lari orang ini, untuk mencari obat penawarnya pasti akan sangat sulit.”

Berpikir demikian, tanpa ayal lagi segera ia lompat melintasi tiga sosok tubuh yang menggeletak di tanah itu terus menghantam orang berbaju hitam itu.

Mendadak orang itu tertawa panjang, tahu-tahu sebilah golok melintang di depan dadanya, nyata sebatang golok yang sangat tajam dan mengeluarkan sinar berkilauan. Kiranya sebatang kui-thau-to, yaitu ujung golok berbentuk kepala setan dengan punggung golok agak tebal.

Dalam keadaan begitu, kalau pukulan Buyung Hok diteruskan, itu berarti tangan sendiri sengaja disodorkan untuk dimakan senjata musuh.

Namun Buyung Hok bukanlah Buyung Hok jika cuma sekian saja kemampuannya, ia tetap hantamkan tangannya itu, ketika tangan sudah tinggal beberapa senti hampir mengenai golok musuh, mendadak tangannya memotong ke samping mengikuti batang golok lawan, jadi tujuannya hendak memotong jari tangan si baju hitam yang memegang golok itu.

Dengan tenaga dalam Buyung Hok yang hebat, betapa kuat tebasan tangannya itu boleh dikatakan tidak kalah tajamnya dengan kui-thau-to lawan. Karena tidak menyangka akan perubahan serangan Buyung Hok itu, maka terdengar orang berbaju hitam itu bersuara heran perlahan, lekas ia buang goloknya dan menggunakan tangan untuk memapak serangan Buyung Hok.

“Plak”, kedua tangan saling beradu dan kembali si baju hitam bersuara heran pula, badan tergeliat, tapi masih sempat melompat mundur lagi beberapa meter jauhnya dengan tangan kiri tetap mencangking badan Song Tho-kong yang gendut buntak itu.

Ketika tangan Buyung Hok membalik kembali, dengan cepat ia masih sempat menyambar golok kui-thau-to lawan yang dilepaskan itu. Segera hidungnya mencium bau busuk amis yang memualkan. Ia tahu pada golok itu tentu dilumasi racun yang mahajahat.

Walaupun sekali gebrak Buyung Hok dapat merampas senjata lawan, tapi dilihatnya pada pihak musuh sudah ada beberapa orang mengadang di depan si baju hitam dengan senjata lengkap, kalau hendak merampas kembali Song Tho-kong dengan menerjang orang banyak itu terang bukan pekerjaan gampang. Apalagi sesudah mengadu tangan tadi, ia merasa tenaga si baju hitam agak lebih lemah daripada dirinya, namun mempunyai sesuatu kepandaian yang aneh dan istimewa, biarpun bertarung satu lawan satu juga takkan dapat merobohkannya dalam waktu singkat.

Dalam pada itu terdengar teriakan dan caci maki orang banyak yang sudah tak sabar lagi, semua memaki Song Tho-kong dan minta obat penawarnya lekas dikeluarkan untuk menyembuhkan rasa sakit gatal mereka yang tak tertahankan itu.

Di bawah cahaya obor tertampak bayangan orang berlari kian kemari, semuanya sedang minta si baju hitam lekas mengeluarkan obat penawar dari baju Song Tho-kong.

“Baiklah! Nah, Song-gendut, lekas serahkan obat penawarmu,” kata orang berbaju hitam itu.

“Harus kau lepaskan aku dahulu!” seru Song Tho-kong.

Tapi si baju hitam menjawab, “Sekali aku melepaskanmu, tentu kau akan ditawan musuh. Mana boleh kulepaskanmu? Ayolah lekas keluarkan obat penawarmu!”

Serentak orang banyak juga berteriak dan memaki untuk mendesak Song Tho-kong lekas menyerahkan obat penawarnya.

Maka dengan suara yang serak Song Tho-kong berkata, “Obat penawar kupendam di dalam tanah, kalau aku tidak dilepaskan, cara bagaimana aku dapat mengeluarkannya?”

Semua orang melengak oleh keterangan itu. Mereka percaya apa yang dikatakan Song Tho-kong itu pasti betul, sebab Song Tho-kong terkenal suka sembunyi di dalam gua atau liang di bawah tanah, jika dia menyimpan sesuatu di bawah tanah tentu bukan omong kosong.

Meski Buyung Hok tidak mendengar suara teriakan dan rintihan Kongya Kian dan Hong Po-ok, tapi ia dapat membayangkan bila orang lain berteriak-teriak tidak tahan oleh siksaan racun Song Tho-kong itu maka dapat diduga kedua kawannya itu pun pasti juga serupa keadaannya. Jalan satu-satunya sekarang harus berusaha sebisanya merebut kembali Song Tho-kong urusan lain boleh dipikirkan belakang.

Maka sekali berteriak, terus saja ia putar kui-thau-to rampasannya dan menerjang ke tengah-tengah orang banyak.

Ting Pek-jwan dan Pau Put-tong menjaga rapat di samping kedua kawannya, mereka menyaksikan Buyung Hok menerjang ke tengah musuh bagai harimau mengamuk di tengah kawanan kambing, siapa yang berani merintangi segera dirobohkannya.

Melihat terjangan Buyung Hok yang hebat itu, si baju hitam tidak berani memapaknya, sambil membawa Song Tho-kong ia sengaja menyingkir jauh-jauh.

Maka terdengarlah teriakan orang ramai, “Awas, senjata yang dipakai dia adalah ‘Lik-po-hiang-lo-to’, jangan sampai kena dilukai olehnya! Wah, sungguh celaka, Lik-po-hiang-lo-to itu kena direbut olehnya!”

Dan di mana Buyung Hok tiba, ternyata semua orang sama menghindarinya dengan rasa jeri. Maka dapat diduganya kui-thau-to itu pasti bukan senjata sembarangan, padahal golok itu berbau busuk, tapi justru diberi nama “Lik-po-hiang-lo-to” (Golok Harum Sari Wangi) segala, sungguh menggelikan.

Diam-diam ia pikir pula, “Dengan golok berbisa ini tidaklah susah bagiku untuk membunuh sepuluh atau dua puluh tongcu atau tocu mereka ini, tapi selama ini aku tiada permusuhan apa-apa dengan mereka, buat apa mesti banyak menimbulkan korban? Kalau permusuhan ini semakin mendalam dan mereka tidak mau memberikan obat penawarnya, maka keadaan Jiko dan Siko tentu akan payah dan sukar tertolong.”

Karena pikiran itulah, maka tatkala Buyung Hok menerjang dan menyerbu, ia tidak melukai atau membunuh lawan lagi, hanya kalau ada kesempatan segera ia menutuknya hingga roboh atau menendangnya hingga terjungkal.

Semula orang-orang itu sangat panik dan jeri, tapi demi melihat daya guna golok yang diputar Buyung Hok itu tidak membahayakan, maka mereka menjadi tenang kembali, dalam sekejap saja serentak senjata mereka dikeluarkan untuk mengerubut Buyung Hok.

Meski kepandaian Buyung Hok sangat tinggi, tapi dikerubut puluhan orang, seketika ia agak kerepotan juga, apalagi di luar kepungan itu masih ada beratus orang pula, mau tak mau ia agak khawatir juga.

Tidak lama kemudian, Buyung Hok pikir kalau pertarungan begitu diteruskan tentu sukar diakhiri, tampaknya terpaksa ia harus turun tangan keji. Maka sekali goloknya berputar, pada saat lain dua orang musuh kena diketok roboh oleh gagang goloknya.

Tiba-tiba terdengar seruan Ting Pek-jwan, “Manusia rendah, jangan mengganggu nona Ong!”

Ketika Buyung Hok melirik ke sana, dilihatnya ada dua orang sedang melompat ke atas untuk menyerang Giok-yan yang nongkrong di atas pohon itu. Pek-jwan tampak memburu maju dan beruntun melancarkan serangan sehingga seorang musuh kena dicegat olehnya, tapi seorang lagi sempat meloncat ke atas pohon namun segera terdengar suara jeritannya, ternyata orang itu kena didepak oleh Ong Giok-yan.

Buyung Hok agak lega. Tapi segera terlihat ada tiga orang melompat lagi ke atas, maka tahulah dia akan tujuan orang-orang itu, “Tentu mereka ingin menangkap Piaumoay untuk dijadikan sandera, sungguh rendah perbuatan mereka ini.”

Tapi ia sendiri sedang dikeroyok dan sukar melepaskan diri.

Pada saat lain dilihatnya dua orang wanita yang melompat ke atas itu berhasil mencengkeram lengan Giok-yan terus diseret turun ke bawah. Seorang thauto (hwesio berambut) yang memakai gelang emas di atas kepala telah melintangkan goloknya pada leher Giok-yan sambil berteriak, “Buyung-siaucu, kau mau menyerah atau tidak? Kalau tidak, segera akan kupenggal kepala jantung hatimu ini!”

Buyung Hok terkesiap juga oleh ancaman itu, ia tahu orang-orang itu sangat kejam, berani berkata berani berbuat, sungguh celaka kalau Piaumoay benar-benar dibunuh oleh mereka.

Tapi Koh-soh Buyung selama ini malang melintang di Bu-lim, masakah sekarang harus menyerah kepada ancaman orang? Kalau sekarang menyerah, cara bagaimana kelak dapat berkecimpung pula di dunia Kangouw?

Hati berpikir, tapi tangan tidak menjadi kendur, sekali tangan kirinya menampar, kontan dua orang musuh kena dihantam hingga mencelat beberapa meter jauhnya.

“Apa benar-benar kau tidak mau menyerah? Baiklah, biar kupenggal kepala nona jelita ini!” seru pula thauto tadi, dan goloknya yang kemilauan itu terus diangkat ke atas.

“Tahan dulu, jangan sekali-kali mencelakai nona Ong, biarlah aku saja yang menyerah padamu!” demikian tiba-tiba terdengar seruan seorang dari lereng gunung sana.

Saat lain, tertampaklah sesosok bayangan orang sedang datang secepat terbang, beberapa orang yang berdiri di jalanan sana kedengaran membentak-bentak dan hendak merintangi tapi dengan menyelinap ke kanan dan membelok ke kiri, tahu-tahu orang itu sudah menerobos lewat dari rintangan orang banyak dan memburu tiba. Di bawah cahaya obor yang terang dapatlah terlihat dengan jelas, nyata dia bukan lain adalah Toan Ki.

“Untuk menyerah kan urusan panjang, demi nona Ong, kau minta aku menyerah seratus kali atau seribu kali juga jadi,” demikian seru Toan Ki sambil berlari mendekati thauto tadi, lalu katanya lagi, “He, lekas kalian lepas tangan, untuk apa kalian menangkap nona Ong?”

Giok-yan tahu Toan Ki tidak mahir ilmu silat tapi toh berani menolongnya tanpa menghiraukan keselamatan sendiri, sungguh rasa terima kasihnya tak terhingga. Segera serunya, “Toan... Toan-kongcu, kiranya engkau?”

“Ya, ya, aku!” sahut Toan Ki kegirangan.

“Persetan! Kau ini apa?” damprat thauto tadi.

“Aku manusia! Memangnya kau kira apa?” sahut Toan Ki.

“Plak”, mendadak tangan thauto itu membalik dan kena tampar di bawah dagu Toan Ki dan kontan pemuda itu terjungkal ke samping, kebetulan kepalanya membentur sepotong batu, seketika darah bercucuran.

Melihat cara lari Toan Ki tadi terang memiliki ginkang yang sangat tinggi maka thauto itu yakin pemuda itu pasti memiliki ilmu silat yang lihai, pukulannya barusan sebenarnya cuma serangan pura-pura saja, sebaliknya tebasan goloknya yang segera akan dilontarkan bila pemuda itu berkelit barulah benar-benar serangan yang berbahaya.

Siapa duga hantamannya yang tidak sungguh-sungguh itu malah kontan merobohkan Toan Ki, keruan ia terkesima malah. Sementara itu dilihatnya Buyung Hok masih menerjang kian kemari dengan gagahnya, segera ia berteriak, “Sekali lagi kuperingatkan supaya kau menyerah saja, kalau tidak segera kepala nona ini kupenggal sungguh-sungguh, apa yang Hudya (tuan Buddha) katakan selamanya terbukti dan tidak omong kosong. Nah, kau mau menyerah atau tidak? Satu... dua....”

Buyung Hok menjadi serbasulit, bicara tentang hubungan persaudaraan mereka, sudah tentu tidak nanti ia biarkan Giok-yan dibunuh musuh. Tapi nama “Koh-soh Buyung” yang agung itu tidak boleh menyerah di bawah ancaman orang sehingga kelak akan dibuat buah tertawaan orang Kangouw.

Maka ia terus berteriak menjawab, “Thauto bangsat, jangan kau mimpi bahwa Kongcuya mau menyerah padamu. Tapi kalau kau berani mengganggu seujung rambut nona itu, kalau aku tidak mencincangmu hingga hancur luluh aku bersumpah takkan menjadi manusia lagi!”

Sembari berseru ia lantas menerjang ke arah Giok-yan. Tapi dua-tiga puluh orang yang bersenjata lengkap telah mengerubutnya dari muka dan belakang sehingga susah melepaskan diri.

Sebaliknya thauto tadi menjadi gusar, teriaknya, “Aku justru akan bunuh anak dara ini, ingin kulihat kau mampu mengapakan Hudya?”

Habis berkata, goloknya diangkat dan segera diayun ke leher Giok-yan.

Karena khawatir keserempet, maka kedua wanita yang memegangi lengan Giok-yan itu lekas-lekas lepas tangan dan melompat mundur.

Saat itu Toan Ki baru merangkak bangun, dengan tangan kiri mendekap batok kepala yang “bocor” itu ia meringis kesakitan. Tapi demi dilihatnya si thauto benar-benar hendak memenggal kepala Giok-yan dan gadis itu tampak berdiri terpatung di tempatnya seperti ditutuk orang dan sama sekali tak dapat melawan atau menghindar, keruan kejut Toan Ki tidak kepalang, sekali jarinya menuding, “crit-crit”, mendadak lengan si thauto yang memegang golok itu terpotong putus, golok bersama lengan putus yang masih mencengkeram senjata itu jatuh ke tanah.

Kiranya dalam keadaan gugup dan khawatir, secara otomatis tenaga murni di dalam badan Toan Ki bergolak sehingga “Lak-meh-sin-kiam” dapat dikeluarkan dan sekali tuding lengan thauto itu kena dipotong putus olehnya. Menyusul itu Toan Ki terus berlari maju, segera ia tarik Giok-yan ke atas punggungnya dan digendong sambil berseru, “Lari paling perlu!”

Thauto tadi bernama Pa-gan-thauto (Thauto Bermata Harimau), Tocu (penguasa pulau) Yame-san-to, orangnya sangat jahat dan ganas. Biar sebelah lengannya sudah putus dan sangat kesakitan, tapi saking gusarnya ia menjadi kalap pula, segera ia gunakan tangan yang masih hidup itu untuk menyambar lengan sendiri yang putus tadi, ia mengerang keras sekali terus melemparkan lengan putus itu bersama golok yang masih tergenggam ke arah Toan Ki.

Timpukan lengan putus bersenjata itu sangat cepat dan lihai, untung dalam gugupnya Toan Ki masih sempat menuding pula ke belakang. “Crit”, satu jurus “Siau-yang-kiam” dilontarkan dan tepat mengenai golok yang terpegang lengan putus itu.

Seketika golok itu tergetar jatuh dari cekalan lengan putus, sebaliknya lengan putus itu masih tetap menyambar ke depan dan “plok”, pipi Toan Ki tepat terbentur sehingga mirip ditempeleng sekali.

Memangnya batok kepala Toan Ki sudah keluar “kecap” sekarang ditambah puyeng tujuh keliling oleh tempelengan itu, langkahnya menjadi sempoyongan. Tapi ia masih ingat dengan baik bahwa Ong Giok-yan harus diselamatkan. Maka dengan langkah ajaib “Leng-po-wi-poh,” cepat ia menerjang keluar kepungan orang banyak.

Meski kawanan orang-orang itu segera hendak merintangi sambil berteriak-teriak dan membentak-bentak, tapi dengan “Leng-po-wi-poh” yang hebat itu dapatlah Toan Ki menyusup kian kemari dan menerjang keluar kepungan.

Hanya sekejap saja Toan Ki sudah meninggalkan orang banyak dengan menggendong Giok-yan karena khawatir dikejar lagi, ia terus berlari sehingga lebih satu li baru berhenti, setelah menghela napas lega lalu ia turunkan Giok-yan.

Tapi dengan wajah merah Giok-yan berkata, “Tidak, tidak, Toan-kongcu, hiat-to badanku kena ditutuk musuh, aku tidak sanggup berdiri.”

“O, jika begitu, katakanlah tempat hiat-to yang tertutuk itu, biarlah aku membukanya,” kata Toan Ki sambil memegangi bahu nona itu.

“Tidak, tidak perlu,” sahut Giok-yan. “Sebentar lagi hiat-to yang tertutuk akan buyar sendiri, engkau tidak perlu membukanya bagiku.”

Kiranya untuk membuka hiat-to yang tertutuk itu harus memijat “Sin-hong-hiat”, sedangkan Sin-hong-hiat itu terletak di bagian dada, sudah tentu Giok-yan merasa malu mengatakan hal ini.

Sebaliknya Toan Ki tidak tahu hal itu, ia malah berkata lagi, “Di sini sangat berbahaya, lebih baik kubuka hiat-tomu saja agar kita bisa melarikan diri.”

Tapi Giok-yan menggeleng kepala tanda tidak setuju. Ketika ia memandang ke belakang, dilihatnya Buyung Hok dan Ting Pek-jwan masih bertempur di tengah kepungan musuh. Karena khawatirkan keselamatan sang piauko, segera ia berkata, “Toan-kongcu, Piaukoku masih terkepung musuh, kita harus kembali ke sana untuk menolongnya.”

Pedih rasa Toan Ki mendengar ucapan itu. Ia tahu yang dipikir Giok-yan hanya Buyung Hok seorang saja. Seketika Toan Ki merasa putus asa, pikirnya, “Rinduku kepadanya terang takkan terkabul, hari ini biarlah aku membantu dia mencapai cita-citanya dan biarlah aku mati bagi Buyung Hok. Aku tidak mahir ilmu silat, tapi aku akan menerjang lagi ke dalam kepungan musuh dengan segala risiko.”

Karena pikiran itu, segera ia menjawab, “Baiklah, boleh kau tunggu di sini, biar aku menyerbu ke sana untuk menolong Piaukomu.”

Tapi Giok-yan berkata, “Tidak, tidak! Engkau tidak mahir ilmu silat, cara bagaimana hendak kau tolong dia?”

“Bukankah tadi aku pun dapat menggendongmu dan lolos dengan selamat?” sahut Toan Ki tersenyum.

Giok-yan tahu “Lak-meh-sin-kiam” yang menjadi andalan Toan Ki itu terkadang manjur dan terkadang tak berguna, maka ia masih khawatir, katanya pula, “Tadi hanya kebetulan saja, karena... karena kau khawatirkan keselamatanku dan mendadak Lak-meh-sin-kiam dapat dikeluarkan. Tetapi terhadap Piaukoku belum tentu dapat kau lakukan seperti terhadap diriku, mungkin... mungkin....”

“Jangan khawatir, terhadap Piaukomu aku pun akan perlakukan serupa seperti terhadap dirimu,” kata Toan Ki.

Namun Giok-yan tetap geleng kepala, katanya, “Toan-kongcu, kurasa tidak baik, hal itu agak berbahaya bagimu.”

“Nona Ong,” seru Toan Ki dengan membusungkan dada, “pendek kata, asalkan engkau yang minta aku menyerempet bahaya, biarpun mati juga aku tidak menolak.”

Kembali air muka Giok-yan berubah merah, sahutnya lirih, “Engkau sungguh sangat baik terhadapku, aku merasa sangat berterima kasih.”

“Tidak apa-apa, tidak apa-apa,” seru Toan Ki dengan bersemangat dan segera bermaksud menyerbu kembali ke medan pertempuran.

Tapi Giok-yan berkata pula, “Toan-kongcu, aku tak bisa bergerak, jika kau tinggalkan aku, tentu aku bisa celaka bila ada orang jahat datang kemari....”

Toan Ki menjadi bingung, ia garuk-garuk kepala dan berkata, “Ya, bagaimana ini... ini....”

Sebenarnya maksud Giok-yan ingin Toan Ki menggendongnya lagi dan kemudian pergi membantu Buyung Hok, cuma permintaan demikian sukar diucapkannya. Maklum, betapa pun adalah memalukan jika seorang anak perawan minta digendong seorang jejaka.

Karena itu ia bicara secara samar-samar dengan harapan Toan Ki dapat menangkap maksudnya, tapi dasar bebal, Toan Ki justru tidak mengerti, ia hanya garuk-garuk kepala dan kukur-kukur kuping dengan bingung.

Dalam pada itu suara pertempuran di sana terdengar semakin gemuruh, suara benturan senjata juga semakin ramai, nyata Buyung Hok semakin sengit melabrak lawan yang banyak itu.

Giok-yan menginsafi kekuatan musuh yang besar itu, ia menjadi khawatir dan tak menghiraukan rasa malu lagi, segera ia berkata, “Toan-kongcu, tolong suka menggendong aku lagi dan kita bisa lantas pergi membantu Piauko, bukankah cara ini paling baik!”

Toan Ki seperti sadar dari impian, serunya, “Ya, ya, betul! Goblok, mengapa aku tidak dapat memikirkan cara baik ini!”

Segera ia berjongkok dan membiarkan Giok-yan menggemblok di atas punggungnya.

Waktu pertama kali Toan Ki menggendong Giok-yan tadi, yang dipikir olehnya ialah gadis itu harus diselamatkan, lain tidak. Tapi sekarang kembali sesosok tubuh yang halus empuk menggemblok di atas punggungnya, kedua tangannya merangkul pula kedua kaki si nona, meski teralang oleh pakaian, tapi dapat juga dirasakan oleh Toan Ki kehalusan kulit badan nona cantik itu.

Selama ini, siang malam, baik dalam renungan maupun dalam impian, yang selalu terbayang dalam kalbu Toan Ki melulu Ong Giok-yan seorang. Telah diketahuinya bahwa nona itu ikut pergi bersama Buyung Hok, beratus kali, mungkin beribu kali Toan Ki memperingatkan dirinya sendiri agar lekas tinggal pergi ke arah sendiri saja, tapi aneh, kakinya seakan-akan tak berkuasa dan tanpa terasa tetap mengintil jejak nona itu dari jauh.

Sejak ia makan katak merah sehingga memiliki “Cu-hap-sin-kang” yang sakti itu, tanpa merasa ia telah memiliki ginkang yang tinggi, jalannya cepat dan enteng, maka selama dia menguntit di belakang Giok-yan itu sama sekali tak diketahui oleh Buyung Hok. Tentang Giok-yan dinaikkan ke atas pohon dan Buyung Hok melabrak musuh, semuanya itu disaksikan Toan Ki dengan jelas.

Maka ketika si thauto hendak membunuh Giok-yan dan memaksa supaya Buyung Hok menyerah, dengan sukarela Toan Ki terus tampil ke muka dan bersedia mewakilkan Buyung Hok untuk “menyerah”, tapi pihak musuh justru tidak sudi menerima “jasa baik” yang diajukan Toan Ki itu, akibatnya thauto itu mesti mengorbankan sebelah lengannya malah.

Sekarang Toan Ki menggendong Giok-yan lagi, mau tak mau perasaannya berdebar-debar dan pikirannya menyeleweng, namun segera ia mendamprat dirinya sendiri, “Toan Ki, dalam keadaan begini, mengapa kau berani timbul pikiran menyeleweng, kau benar-benar binatang! Orang kan gadis ‘ting-ting’ yang suci bersih dan agung tapi, kau pikirkan hal yang kotor, ini berarti kau telah menodai dia, sungguh kurang ajar dan harus dihajar, ya harus dihajar, ya harus dihajar!”

Terpikir “harus dihajar,” eh, betul-betul Toan Ki angkat tangan terus menampar beberapa kali pada muka sendiri, berbareng ia percepat langkahnya dan berlari ke depan bagai terbang.

Sudah tentu Giok-yan sangat heran atas kelakuan Toan Ki itu, ia tanya, “Ada apa Toan-kongcu?”

Dasar Toan Ki memang jujur, Giok-yan dipujanya sebagai bidadari dari kahyangan, tentu saja ia tidak berani berdusta, maka dengan terus terang ia menjawab, “Sungguh harus dihajar, sebab telah timbul pikiranku yang tidak hormat terhadap nona!”

Giok-yan paham kata-katanya itu sehingga mukanya berubah merah jengah seketika.

Pada saat itu tiba-tiba seorang tosu (imam) dengan pedang terhunus memapak ke arah mereka sambil berteriak, “Keparat, bocah ini berani datang mengacau lagi!”

Dan sekali tusuk, dengan gerak “Tok-liong-cut-tong” (Naga Berbisa Keluar dari Liang), langsung dada Toan Ki hendak diarah.

Dengan sendirinya Toan Ki menggunakan langkah ajaib “Leng-po-wi-poh” untuk menghindar. Tiba-tiba didengarnya bisikan Giok-yan, “Jika dia menusuk lagi dari kiri, cepat kau putar ke sebelah kanan dan tepuk ‘Thian-cong-hiat’ di bawah iganya.”

Benar juga, menyusul tosu itu menusuk pula dari sebelah kiri. Maka dengan cepat Toan Ki menggeser ke sebelah kanan, “plok”, kontan ia tepuk “Thian-cong-hiat” menurut ajaran Giok-yan tadi.

Rupanya hiat-to itu memang merupakan ciri kelemahan imam itu, meski tepukan Toan Ki itu tidak keras, tapi sudah cukup membuat imam itu tumpah darah dan ketakutan setengah mati, segera ia lari terbirit-birit.

Tapi baru saja tosu itu dihalau pergi, segera ada dua orang lelaki kekar menerjang tiba pula. Namun Giok-yan memang serbapintar dan serbapaham segala macam ilmu silat, dengan suara perlahan ia memberi sedikit petunjuk kepada Toan Ki dan segera pemuda itu dapat membereskan pula kedua lawan.

Melihat kemenangan yang diperoleh ternyata sangat gampang, sedang si nona selalu berbisik-bisik di tepi telinganya, hawa mulutnya yang sedap dan bau harum yang keluar dari badan nona itu membuat semangat Toan Ki berkobar-kobar meski pada saat itu jiwanya sedang dipertaruhkan di medan pertempuran.

Ketika ia merobohkan dua musuh pula, sementara itu jaraknya dengan Buyung Hok sudah tinggal beberapa meter saja. Sekonyong-konyong ada angin menyambar, tahu-tahu dua lonjor bayangan hijau seperti cambuk menyabat ke arah Toan Ki. Dan baru saja ia menggeser ke samping tiba-tiba salah satu cambuk itu dapat menegak di udara untuk kemudian menyambar pula dengan cepat dan gesit luar biasa.

Seketika Giok-yan dan Toan Ki menjerit kaget demi mengetahui bahwa kedua lonjor benda lemas itu ternyata bukan senjata melainkan dua ekor ular hidup.

Kalau pembaca tidak lupa, tentu masih ingat permulaan Toan Ki bertemu dengan Ciong Ling tatkala itu gadis cilik itu juga menggunakan ular hidup sebagai senjata, tapi Ciong Ling menggunakan senjata ular untuk mengalahkan musuh, sebaliknya sekarang musuh menggunakan ular hidup untuk menyerang Toan Ki sendiri, jadi keadaannya sama sekali berlainan.

Maka segera Toan Ki mempercepat langkahnya dengan maksud melampaui kedua penyerang itu, tak terduga kedua orang berbaju hijau yang bersenjata ular itu bertubuh pendek kecil dan gerak-gerik mereka pun sangat lincah, beberapa kali Toan Ki menyelinap ke sana dan ke sini selalu kena dicegat mereka. Diam-diam ia mengeluh, segera ia tanya Giok-yan, “Wah, bagaimana ini, nona Ong?”

Dalam hal ilmu silat boleh dikatakan Giok-yan serbatahu, tapi cara menggunakan ular sebagai senjata, terang ini tidak tercatat dalam kitab ilmu silat mana pun. Biasanya tidaklah susah baginya untuk mengenali setiap gerakan atau setiap jurus dari aliran mana pun, tapi untuk menaksir bagaimana serangan ular itu akan dilontarkan musuh sekarang dia boleh dikatakan mati kutu.

Diam-diam Giok-yan pikir, “Untuk menaksir jurus serangan ular hidup terang sangat susah, biasanya menangkap rampok harus menangkap benggolannya, kukira kedua pemain ular ini yang harus dirobohkan dahulu.”

Namun gerakan kedua pemilik ular itu kalau dibilang aneh memang juga aneh, dikatakan tidak aneh, tampaknya memang tidak aneh. Gerak-gerik mereka sangat cepat tapi sangat kaku dan bodoh, terang mereka tidak pernah belajar ginkang apa segala, namun demikian mereka dapat meloncat kian kemari secepat kera.

Karena itu, susah bagi Giok-yan untuk menaksir tipu serangan yang akan dilancarkan mereka, setiap kali ia suruh Toan Ki menyerang suatu tempat, aneh juga, selalu dapat dihindarkan oleh mereka dengan sangat lincah dan cerdik.

Begitulah, sembari berpikir cara untuk mengalahkan musuh Giok-yan terus memerhatikan juga keadaan sang piauko, dalam pada itu riuh ramai pula suara jeritan orang yang kesakitan, berpuluh orang yang terkena jarum berbisa Song Tho-kong tadi sama bergelimpangan di tanah sambil berteriak-teriak tak tahan.

Sedangkan orang berbaju hitam yang menawan Song Tho-kong tadi lagi mendesak agar menyerahkan obat penawar, tapi obat penawar yang dikehendaki itu justru dipendam di sebelah Buyung Hok, karena jeri kepada kelihaian Buyung Hok, si baju hitam tidak berani sembarangan maju, ia hanya berteriak-teriak mendesak kawannya agar menyerang lebih gencar dengan maksud mendapatkan obat penawar untuk menolong kawan-kawannya yang lain. Tapi untuk merobohkan Buyung Hok bukanlah pekerjaan yang gampang.

Tiba-tiba terdengar suara perintah seorang, tiga di antara pengeroyok Buyung Hok itu segera mundur, lalu digantikan oleh tiga orang baru yang terdiri dari tokoh pilihan semua. Lebih-lebih seorang di antaranya yang pendek ternyata memiliki tenaga yang hebat, ia putar sepasang senjata yang berbentuk palu baja. Ketika Buyung Hok menangkis dengan golok, lengannya tergetar sampai pegal, keruan ia terkejut. Maka waktu palu orang menghantam lagi, segera ia berkelit dan tidak mau menangkis pula.

Dalam pertarungan sengit itu, tiba-tiba terdengar seruan Ong Giok-yan, “Piauko, gunakan ‘Gin-ting-ban-cian’, lalu ganti dengan ‘Pi-kim-tang-hong’.”

Buyung Hok kenal kepandaian sang piaumoay dalam teori ilmu silat jauh lebih pintar daripada dia sendiri, cuma nona itu tidak suka berlatih sendiri, tapi untuk mengajar orang lain boleh dikatakan adalah seorang mahaguru yang sukar dicari.

Maka ia pun tidak meragukan petunjuk sang piaumoay itu, segera goloknya berputar hingga mengeluarkan cahaya kemilau dalam jurus “Gin-ting-ban-cian” atau pelita perak berlaksa buah.

Karena serangan yang lihai itu para pengeroyok dipaksa menghindar mundur. Dan pada saat itulah lengan baju kiri Buyung Hok terus mengebas dan dipuntir pula dalam jurus “Pi-kim-tang-hong” atau pentang lengan baju menahan angin.

Kebetulan saat itu si pendek sedang menghantam dengan kedua palunya dari atas dan bawah dalam gerak tipu Khay-thian-pi-te (Membuka Langit Memecahkan Bumi). Tapi mendadak terdengar suara “trang” yang amat keras sehingga memekakkan telinga, dengan tepat kedua palu si pendek saling bentur sendiri dan mencipratkan lelatu api.

Saking kuatnya tenaga si pendek sehingga kedua belah tulang lengan sendiri tergetar patah oleh getaran tenaga sendiri, kontan terjungkal dan tak sadarkan diri.

Kesempatan itu segera digunakan Buyung Hok untuk melontarkan pukulan ke depan untuk membantu Pau Put-tong mendesak mundur dua lawan yang tangguh. Waktu Put-tong memayang bangun Kongya Kian, ia lihat muka sang jiko sudah hitam gelap, tanda keracunan yang sudah kasip, kalau tidak lekas ditolong, tentu jiwa akan melayang dalam waktu singkat.

Di sebelah lain keadaan Toan Ki juga sudah berubah secara aneh. Ketika Giok-yan memberi petunjuk kepada Buyung Hok, dengan sendirinya keadaan Toan Ki tidak dapat diperhatikannya pada saat yang sama.

Bagi Toan Ki yang tiba-tiba mendengar si nona hanya membantu Buyung Hok dan tidak peduli lagi padanya, meski tubuh nona itu berada di atas gendongannya, namun hatinya telah melayang kepada Buyung Hok, hal ini membuat Toan Ki merasa hampa dan pedih, hingga air matanya hampir-hampir menetes.

Pada saat itulah, “crit-crit”, mendadak kedua ekor ular musuh menyambar tiba dan tepat memagut lengan kirinya.

“Aiii!” bukan Toan Ki yang menjerit, tapi Giok-yan yang berteriak kaget, “Toan-kongcu, engkau....”

“Ya, biarlah, biar mati digigit ulat saja,” kata Toan Ki dengan lesu dan bosan hidup.

Melihat warna kedua ekor ular itu belang-bonteng, kepala gepeng bersegitiga, terang ular-ular berbisa jahat, seketika Giok-yan menjadi bingung dan khawatir. Di luar dugaan mendadak kedua ular itu berkelojotan dua kali lalu jatuh ke tanah dan mati semua.

Seketika kedua orang yang memainkan ular itu pucat mukanya, mereka bicara beberapa kalimat dalam bahasa daerah mereka lalu putar tubuh dan melarikan diri.

Kiranya kedua orang itu sudah biasa memiara dan memuja ular, kini melihat Toan Ki tidak mati digigit ular mereka yang berbisa jahat, sebaliknya ular mereka yang mati sendiri, mereka menyangka Toan Ki adalah malaikat ular, rajanya ular, maka mereka ketakutan dan segera ngacir.

Giok-yan juga tidak tahu ilmu Cu-hap-sin-kang yang dimiliki Toan Ki itu, maka ia coba tanya, “Toan-kongcu, bagaimana engkau? Bagaimana?”

Memangnya Toan Ki lagi lesu dan berduka, tiba-tiba mendengar pertanyaan Giok-yan yang berulang-ulang dengan nada penuh perhatian, seketika ia girang kembali dan semangatnya terbangkit lagi.

Terdengar Giok-yan bertanya pula, “Engkau digigit ular-ular itu, bagaimanakah keadaanmu, Toan-kongcu?”

“Ah, tidak apa-apa, tidak apa-apa!” sahut Toan Ki cepat. Pikirnya asal kau mau memerhatikan diriku, biarpun setiap hari aku digigit ular beberapa kali juga tidak menjadi soal.

Segera ia mengangkat langkah dan menerjang ke depan untuk mendekati Buyung Hok.

Pada saat itu juga, tiba-tiba terdengar suara seorang yang sangat lantang berkumandang dari tengah udara, “Buyung-kongcu, para Tocu dan Tongcu! Selamanya kalian tiada permusuhan atau sakit hati apa-apa, buat apa kalian bertempur mati-matian secara demikian?”

Waktu semua orang mendongak ke arah datangnya suara maka terlihatlah di pucuk pohon sana berdiri seorang tojin (imam) berjenggot hitam tangan membawa sebatang hut-tim (kebut), tempat kakinya menginjak tertampak batang pohon itu mentul-mentul naik-turun gaya tojin itu tampak sangat gagah dan indah.

Di bawah sinar obor yang terang itu kelihatan wajah tojin itu putih bersih, usianya kira-kira setengah abad, dengan tersenyum ia berkata pula, “Jiwa orang-orang yang keracunan dalam keadaan berbahaya, maka paling penting harus menyembuhkan mereka dahulu. Hendaklah kalian suka terima usulku, sementara ini berhentilah bertempur, kalau ada perselisihan boleh dibereskan nanti!”

Melihat ginkang imam berjenggot hitam itu sangat hebat, Buyung Hok menduga ilmu silat orang tentu juga sangat lihai, memangnya ia pun sedang mengkhawatirkan keadaan Kongya Kian dan Hong Po-ok, segera ia gunakan kesempatan itu untuk bicara, “Jika tuan sudi memisahkan percekcokan ini sudah tentu kuterima dan aku bersedia berhenti bertempur.”

Habis berkata, ia putar goloknya sehingga berwujud satu lingkaran, lalu ia tarik kembali senjatanya ke depan dada dan berdiri tegak. Tapi dirasakannya pula lengan kanan masih nyeri pegal, nyata itulah akibat tangkisannya atas serangan palu baja si pendek tadi, diam-diam ia gegetun atas tenaga raksasa lawan yang hebat itu.

Dalam pada itu si baju hitam yang masih mencengkeram Song Tho-kong tadi lagi mendongak dan bertanya, “Siapakah nama tuan yang terhormat?”

Dan belum lagi tojin itu menjawab, tiba-tiba di tengah orang banyak terdengar seruan seorang, “Oh-lotoa, asal-usul orang ini tidak boleh dibuat main-main, ia adalah... adalah to... tokoh luar biasa, dia... dia adalah... adalah Kau... Kau....”

Berulang orang itu menyebut “Kau” dan tetap tidak sanggup menyambung seterusnya. Rupanya orang itu mempunyai penyakit bicara gagap, dalam gugupnya cara bicaranya menjadi lebih sulit dan susah diteruskan.

Tapi si baju hitam yang dipanggil sebagai Oh-lotoa itu cukup cerdik, tiba-tiba teringat satu orang olehnya, segera ia berseru, “Apakah dia adalah... adalah Kau-ong ‘Si Raja Ular Naga’, Put-peng Tojin?”

Si gagap menjadi girang, sebab kata-kata yang terhenti di tenggorokannya telah terkorek keluar, cepat ia berkata pula, “Be... betul! Dia... dia adalah... adalah Kau... Kau... Kau....”

Sampai di sini kembali tenggorokannya tersumbat lagi.

Segera Oh-lotoa memberi kiongchiu kepada imam di atas pohon dan berkata, “Apakah tuan ini Put-peng Tojin yang maha tersohor itu? Sudah lama kudengar nama Tojin yang besar, sungguh beruntung hari ini dapat berjumpa di sini.”

Tatkala dia bicara, sementara itu pertempuran sudah berhenti.

Maka dengan tersenyum tojin itu menjawab, “Ah, saudara terlalu memuji saja. Orang Kangouw mengira aku sudah lama meninggal dunia, makanya Oh-siansing merasa sangsi dan tidak percaya, bukan?”

Sambil bicara ia terus melompat turun. Anehnya daya menurunnya itu ternyata sangat perlahan hingga tubuhnya seperti tak berbobot. Rupanya lebih dulu ia telah mengebutkan kebutnya ke tanah, tenaga kebutan yang menimbulkan daya tolak itu menahan tubuhnya sehingga dia dapat turun dengan sangat lambat.

Bagi orang yang tidak tahu tentu mengira hal itu sangat ajaib dan seperti ilmu sihir saja, tapi bagi orang yang berkepandaian tinggi segera mengetahui bahwa kebutnya yang menimbulkan daya tolak dari bawah sehingga tubuhnya tertahan dan dapat menurun dengan perlahan. Tentu saja semua orang kagum tak terkira.

Segera Oh-lotoa bersorak, “Ginkang yang hebat!”

Sementara itu kaki Put-peng Tojin juga sudah menginjak tanah, lalu katanya pula, “Tentang percekcokan kalian, sebagai orang di luar garis tentu aku dapat melihat dengan lebih jelas bahwa pokok pangkalnya adalah lantaran salah paham saja. Sebab itulah bila sudi terima saranku, hendaknya kalian akhiri percekcokan ini secara bersahabat, sekarang boleh minta Song Tho-kong mengeluarkan obat penawar untuk menyembuhkan para kawan yang keracunan.”

Nada ucapan Put-peng Tojin itu sangat ramah tapi berwibawa sehingga orang sungkan menolak permintaannya. Apalagi berpuluh orang yang keracunan dan merintih-rintih di tanah itu memang juga sangat tersiksa sehingga kedua pihak sama-sama ingin bisa lekas menolong kawan mereka itu.

Maka Oh-lotoa lantas melepaskan Song Tho-kong, katanya, “Nah, Lau Song, mengingat maksud baik Put-peng Totiang, biarlah kita menurut saja.”

Song Tho-kong tidak bicara lagi segera ia lari ke sebelah Buyung Hok, kedua tangannya bekerja dengan cepat sehingga dalam sekejap saja tanah di situ telah digangsirnya menjadi sebuah lubang, dari situ dikeluarkan sebuah bungkusan.

Sesudah bungkusan itu dibuka, kiranya isinya adalah sepotong besi hitam. Dengan besi itu segera ia gunakan untuk menyedot jarum lembut yang melukai seorang di sisinya. Kiranya besi hitam itu adalah batu sembrani, agaknya jarum berbisa itu harus dikeluarkan lebih dulu untuk kemudian baru dibubuhi obat.

“Song-siansing,” dengan tertawa Put-peng Tojin berkata, “seorang kesatria harus memikirkan orang lain lebih dulu baru kemudian memikirkan kepentingannya sendiri. Apakah tidak lebih baik kau sembuhkan dulu kawan-kawan Buyung-kongcu itu?”

“Ah, toh akhirnya akan diobati semua, lebih dulu atau tidak juga sama saja,” Song Tho-kong.

Namun begitu tidak urung ia pun menurut kehendak Put-peng Tojin itu. Lebih dulu ia menyembuhkan Kongya Kian dan Hong Po-ok, lalu menyembuhkan pula tangan Pau Put-tong, habis itu barulah ia tolong kawan-kawan sendiri.

Jangan dikira potongan Song Tho-kong itu bundar buntak, tampaknya seperti ketolol-tololan, tapi gerak-geriknya ternyata sangat cepat, kesepuluh jarinya yang pendek gemuk itu bahkan lebih lincah daripada jari kaum gadis yang mahir menyulam. Maka tidak antara lama jarum berbisa pada luka semua orang sudah dikeluarkan serta dibubuhi obat oleh Song Tho-kong. Seketika rasa gatal pegal semua orang lenyap.

Namun demikian, ada juga beberapa orang di antaranya yang berwatak keras dan aseran terus mencaci maki kepada Song Tho-kong yang menggunakan senjata rahasia keji itu, dikutuknya kalau kelak mati tentu bangkainya tak terkubur.

Tapi Song Tho-kong diam saja, ia membungkam dan membudek, segala caci maki orang sama sekali tak digubrisnya.

“Oh-lotoa,” kata Put-peng Tojin dengan tersenyum, “berkumpulnya ke-36 tongcu dan ke-72 tocu di sini apakah berhubung dengan urusan orang di Thian-san itu?”

Oh-lotoa terkejut, tapi lahirnya sama sekali tidak memperlihatkan perasaannya itu, sahutnya, “Apa yang Put-peng Tojin maksudkan, sungguh aku tidak paham. Kami biasanya tinggal terpencar di berbagai penjuru dan jarang sekali berkumpul, hari ini kami saling berjanji untuk mengadakan pertemuan ramah tamah di sini, maksud tujuan lain tidak ada. Soalnya entah mengapa Buyung-kongcu dari Koh-soh menerjang ke sini sehingga terjadi percekcokan seperti tadi.”

“Aku sendiri juga secara kebetulan berlalu di sini, sungguh kami tidak tahu bahwa para tokoh kesatria sedang berkumpul di sini sehingga banyak mengganggu, untuk ini aku minta dimaafkan,” demikian kata Buyung Hok. “Mengenai maksud baik Put-peng Totiang untuk melerai percekcokan ini sehingga urusan tidak jadi meluas, sudah tentu kami juga merasa sangat berterima kasih. Sekarang biarlah kami mohon diri saja dan sampai berjumpa pula?”

Ia tahu berkumpulnya ke-36 tongcu dan ke-72 tocu yang terkenal sebagai tokoh kaum petualangan tentu mempunyai urusan penting yang dirahasiakan dan dengan sendirinya tidak ingin diketahui oleh orang luar. Buktinya barusan Put-peng Tojin menyebut tentang “orang di Thian-san” dan segera Oh-lotoa membelokkan pembicaraannya, terang sekali mereka pantang membicarakan “orang di Thian-san” itu. Kalau sekarang dirinya tidak mengundurkan diri, tentu nanti akan disangka dirinya sengaja hendak mencari tahu rahasia orang. Sebab itulah sesudah memberi hormat ke sekelilingnya, lalu ia ajak Pek-jwan dan lain-lain melangkah pergi.

Oh-lotoa membalas hormat Buyung Hok dan berkata, “Buyung-kongcu, hari aku Oh-lotoa beruntung dapat berkenalan dengan tokoh kesatria tersohor seperti dirimu sungguh merupakan suatu kehormatan besar bagi kami. Gunung selalu menghijau dan air sungai tetap mengalir, selamat berpisah dan sampai berjumpa pula.”

Dari ucapannya itu nyata ia memang tidak ingin Buyung Hok dan kawan-lawannya tinggal lebih lama di situ.

Tapi Put-peng Tojin lantas berkata, “Oh-lotoa, apakah kau tahu Buyung-kongcu ini orang macam apa?”

Oh-lotoa tampak tercengang, sahutnya, “Lam Buyung, Pak Kiau Hong, nama kebesaran Koh-soh Buyung sangat tersohor, masakah tidak tahu?”

“Itulah dia,” ujar Put-peng Tojin dengan tertawa. “Jika tahu ada seorang tokoh besar seperti ini mengapa kalian kesampingkan saja, bukankah sangat sayang? Padahal pada waktu biasa, kalau ada orang mengharapkan bantuan keluarga Buyung, ha, jangan kalian harap dapat menemuinya. Dan sekarang secara beruntung kalian telah dipertemukan dengan Buyung-kongcu di sini, sebaliknya kalian diam saja dan tidak memohon bantuannya, bukankah kalian ini sangat bodoh.”

“Tapi... tapi....” sahut Oh-lotoa dengan ragu.

“Hahaha! Put-peng Tojin tertawa. “Nama kebesaran Buyung-kongcu tersohor di seluruh jagat ini. Kini kalian telah kenyang menderita di bawah perlakuan sewenang-wenang Thian-san Tong-lo....”

Begitu mendengar nama “Thian-san Tong-lo” (Si Nenek Bocah dari Thian-san), seketika semua orang bersuara “haa” sekali. Suara terkejut, heran, takut, gusar dan macam-macam perasaan lain.

Rupanya setiap orang yang bersuara itu mempunyai kesannya sendiri-sendiri terhadap Thian-san Tong-lo yang disebut itu, tanpa terasa di antara orang-orang itu banyak yang gemetar ketakutan.

“Orang macam apakah Thian-san Tong-lo itu sehingga membuat mereka begini takut?” demikian diam-diam Buyung Hok bertanya di dalam hati.

Terdengar Put-peng Tojin menyambung, “Di bawah siksaan kejam dan hinaan Thian-san Tong-lo itu, hidup kalian sudah tentu tidak aman, para kesatria di jagat ini yang tahu nasib kalian ini juga akan menyesal. Sekarang kalian ada maksud berbangkit untuk melawannya, sudah tentu setiap orang ingin memberi bantuan sebisanya. Sedangkan orang yang berkepandaian rendah sebagai diriku juga bersedia mencurahkan sedikit tenaga, apalagi Buyung-kongcu yang sudah terkenal berbudi luhur, masakah beliau hanya berpeluk tangan tanpa ikut campur?”

Tapi dengan tertawa Oh-lotoa menjawab, “Entah Totiang mendapat berita dari mana, kami kira ini hanya kabar bohong saja. Tentang Tong-lo Popo, meski beliau memang agak sedikit keras terhadap kami, tapi semua ini adalah lantaran beliau ingin kami berbuat baik, untuk ini kami justru merasa sangat berterima kasih dan utang budi pada beliau, dari mana bisa dikatakan ‘hendak melawan’ beliau?”

“Hahahaha! Jika demikian, jadi aku sendiri yang salah duga dan suka iseng mencampuri urusan orang lain,” kata Put-peng Tojin. “Baiklah, mari Buyung-kongcu, kita bersama-sama pergi ke Thian-san untuk omong-omong dengan Tong-lo, kita akan sampaikan padanya bahwa para tongcu dan tocu di sini sangat berbakti pada beliau dan sekarang sedang sibuk hendak mengadakan perayaan ulang tahun baginya.”

Habis berkata, terus saja ia mendekati Buyung Hok.

Segera ada orang berteriak khawatir, “Oh-lotoa, jangan sampai dia merat begitu saja, kalau rahasia kita bocor, wah, bisa berabe!”

Lalu ada yang menanggapi, “Ya, orang she Buyung itu juga harus dibekuk sekalian! Bagaimanapun hari ini kita harus bekerja habis-habisan.”

Serentak ramailah suara orang melolos senjata dengan caci maki yang kotor, senjata yang tadinya mereka simpan kembali sekarang disiapkan lagi.

“Hah, apakah kalian bermaksud membunuh orang untuk menghilangkan saksi? Apa kalian kira begitu gampang?” jengek Put-peng Tojin.

Habis ini mendadak ia tarik suara dan berteriak, “Hu-yong Siancu dan Kiam-sin Loheng, di sini ada 36 tongcu dan 72 tocu sedang mengadakan komplotan keji untuk memberontak dan hendak melawan Tong-lolo, tapi rahasia mereka dipergoki olehku, sekarang aku hendak dibunuh mereka agar rahasia mereka tidak bocor. Wah, bisa celaka ini, tolong, lekas tolonglah! Jiwa Put-peng Tojin hari ini mungkin akan melayang ke nirwana!”

Suaranya yang keras itu berkumandang jauh ke lembah gunung sana sehingga dari segenap penjuru menggema suara kumandang yang ramai.

Dan baru lenyap suara Put-peng Tojin itu, dari puncak gunung arah barat sama terdengar suara seorang yang lantang menjawab, “Hidung kerbau (kata olok-olok kepada kaum tosu) Put-peng Tojin, jika kau dapat lari hendaklah lekas lari saja, kalau tak dapat lari boleh menyerahlah kepada nasibmu. Para anak cucu murid Tong-lolo ini susah untuk diajak bicara, untuk menolong jiwamu terus terang saja aku tidak sanggup, paling-paling aku hanya dapat menyampaikan berita tentang dirimu kepada Tong-lolo saja.”

Dari suaranya itu dapat ditaksir sedikitnya orang itu berada di tempat sejauh tiga-empat li.

Dan baru selesai ucapan orang itu, dari puncak sebelah utara berkumandang pula suara seorang wanita yang nyaring, “Hidung kerbau, jika kau mampus, semuanya itu adalah akibat perbuatanmu sendiri yang suka iseng mencampuri urusan orang lain. Habis, mereka sudah mengatur sendiri dengan baik, sekali mereka bergerak, maka Tong-lolo pasti akan celaka. Untuk ini biarlah sekarang juga aku akan berangkat ke Thian-san, ingin kutanya si nenek cara bagaimana dia akan bertindak.”

Dari suara ini, agaknya jarak tempat wanita ini lebih jauh lagi daripada suara orang lelaki yang duluan tadi.

Mendengar itu, seketika air muka Oh-lotoa dan kawan-kawannya berubah hebat. Jarak kedua orang yang bersuara itu ada beberapa li jauhnya untuk mengejar mereka terang tidak mungkin, tampaknya Put-peng Tojin sudah mengatur dengan baik, asal dia dalam keadaan bahaya, segera ia bersuara untuk minta bala bantuan pada kawan-kawannya. Apalagi dari suara kedua orang tadi terang mempunyai lwekang yang lihai, sekalipun Oh-lotoa dan kawan-kawannya dapat mengejarnya juga belum tentu dapat melawan mereka.

Oh-lotoa juga cukup cerdik dan dapat melihat gelagat, segera ia berseru, “Put-peng Totiang, Kiam-sin dan Hu-yong Siancu, jika kalian bertiga sudi membebaskan kami dari derita sengsara, sudah tentu kami sangat berterima kasih. Untuk bicara terus terang pada kalian, jika kalian sudah tahu duduknya perkara, rasanya kami pun tidak perlu berdusta. Maka sudilah kalian ikut hadir di sini untuk berunding bersama?”

“Ah, lebih baik kami berdiri di sisi yang agak jauh saja, agar bila terjadi apa-apa, untuk menyelamatkan jiwa juga lebih cepat,” sahut lelaki yang disebut “Kiam-sin” (Malaikat Pedang) itu. Sesungguhnya kami pun tidak ingin ikut campur urusan kalian ini, habis, apa sih faedahnya?”

“Benar,” sambung yang wanita. “Nah, hidung kerbau, biarlah kami jaga jalan lari bagimu, jika akhirnya kau mampus dicencang orang, sedikitnya kami masih bisa lolos untuk menyampaikan berita kematianmu bagi yang berkepentingan. Kalau tidak, tentu kematianmu nanti akan sia-sia belaka.”

“Ah, kalian suka berkelakar saja,” ujar Oh-lotoa dengan tertawa. “Sesungguhnya lawan terlalu lihai dan kami sudah kapok benar-benar padanya, maka setiap tindak tanduk kami terpaksa harus dilakukan dengan lebih hati-hati. Jika kalian bertiga sudi membantu, sudah tentu kami pun bukan manusia yang tak kenal budi. Adapun kami belum dapat memberi keterangan sejujurnya hal ini memang ada kesulitan kami, untuk ini diharap kalian sudi memaklumi.”

Ucapan Oh-lotoa ini boleh dikata sangat merendah diri dan benar-benar menyerah.

Buyung Hok saling pandang sekejap dengan Ting Pek-jwan, pikir mereka, “Nyata orang-orang ini sedang merencanakan sesuatu usaha yang mahapenting dan terang tidak suka dicampuri orang luar. Sebaliknya Put-peng Tojin dan kedua kawannya itu menyatakan hendak membantu segala, yang benar mereka juga mempunyai maksud tujuan jahat bagi kepentingan mereka sendiri. Untuk ini lebih baik kita jangan ikut campur saja.”

Karena pikiran yang sama itu, kedua orang saling memberi tanda, Pek-jwan juga memberi isyarat lebih baik tinggal pergi saja. Maka berkatalah Buyung Hok, “Tuan-tuan sekalian, andaikan di sini akan terjadi sesuatu betapa pun hebatnya, dengan tuan-tuan yang berkepandaian tinggi tentu cukup untuk mengatasi, apalagi sekarang ditambah pula dengan Put-peng Tojin bertiga, maka urusan betapa besarnya kukira tiada seorang pun yang dapat merintanginya, kukira tidak perlu kami ikut mengganggu di sini sehingga akan mengacaukan urusan kalian malah. Maka biarlah kami mohon diri saja.”

“Nanti dulu,” sahut Oh-lotoa. “Sekali urusan kami sudah diumumkan secara terbuka, maka soal ini berarti menyangkut keselamatan jiwa beberapa ratus kawan kami. Dari para tongcu dan tocu yang berkumpul di sini sekarang, mati hidup dan timbul atau tenggelam nasib kami hanya bergantung di ujung tanduk saja. Maka Buyung-kongcu, sesungguhnya bukan kami tidak memercayai kalian, soalnya urusan ini terlalu besar sehingga kami tidak berani menanggung risiko ini.”

Seketika Buyung Hok paham maksud orang, tanyanya, “Jadi saudara melarang kami pergi dari sini?”

“Sebenarnya bukan begitu maksud kami, tapi... tapi apa boleh buat,” sahut Oh-lotoa.

“Huh, peduli apa dengan Tong-lolo atau Tong-pepek segala, kami sendiri tidak pernah kenal namanya, apalagi orangnya, adapun urusan apa yang hendak kalian lakukan adalah urusanmu, kami jamin takkan membocorkan sepatah kata pun,” seru Pau Put-tong. “Memangnya kau sangka Koh-soh Buyung itu orang macam apa, masakah apa yang sudah kami ucapkan dianggap sebagai kentut saja? Kalau kalian bermaksud menahan kami secara kekerasan, haha, kukira juga belum tentu kalian mampu. Andaikan aku Pau Put-tong dapat kalian tahan, masakah kalian sanggup menahan Buyung-kongcu kami dan Toan-kongcu itu?”

Oh-lotoa percaya apa yang dikatakan Pau Put-tong itu. Memang benar sulit untuk menahan Buyung Hok, lebih-lebih Toan Ki yang mempunyai langkah ajaib itu.

Oh-lotoa coba memandang sekejap pada Put-peng Tojin dengan serbasusah, ia berharap imam itu mau memberi saran cara bagaimana harus diperbuatnya.

Maka berkatalah Put-peng Tojin, “Oh-lotoa, lawanmu itu benar-benar terlalu lihai, jika kau dapat tambah seorang pembantu, kan lebih baik? Ilmu silat Koh-soh Buyung-si siapa yang tidak tahu di dunia ini? Apalagi dia tidak mengharapkan sesuatu balas jasamu, tentu rezeki yang akan kalian peroleh kelak tidak nanti dia minta bagian, untuk ini hendaknya kau jangan khawatir. Yang paling utama ialah lawan kalian itu harus dibunuh. Kalau pergerakan kalian sekali ini tak mampu membunuhnya akan berarti tamatlah riwayat kalian. Nah, dengan adanya bala bantuan lihai sebagai Buyung-kongcu, mengapa kalian tidak mau mohon padanya?”

Sebenarnya Oh-lotoa masih enggan, tapi akhirnya ia tetapkan hati dan mendekati Buyung Hok serta memberi hormat, katanya, “Buyung-kongcu, selama berpuluh tahun ini kami para Tongcu dan Tocu telan kenyang tersiksa dengan penghidupan yang tidak layak bagi manusia, sekali ini kami sudah nekat akan mengadu jiwa dengan iblis tua itu, untuk mana diharapkan bantuanmu, atas budi kebaikanmu sudah tentu selamanya takkan kami lupakan.”

Meski permohonannya kepada Buyung Hok ini sebenarnya terpaksa, bukan timbul dari maksudnya yang sebenarnya, tapi ucapannya itu toh sangat sungguh-sungguh dan tulus ikhlas.

Sebenarnya Buyung Hok hendak menolak, sebab ia tidak ingin terlibat dalam urusan para petualang itu, tapi mendadak pikirannya tergerak, “Oh-lotoa ini menyatakan takkan melupakan budi untuk selamanya, jika demikian, rasanya ada manfaatnya juga bagiku. Di antara mereka ini tentu juga banyak orang pandai. Padahal bila aku hendak membangun kembali kerajaan Yan kami justru sangat membutuhkan tenaga, jika hari ini aku membantu mereka, kelak bila perlu tentu aku pun dapat minta bantuan mereka. Jago silat sebanyak beberapa ratus orang sungguh merupakan suatu pasukan penggempur yang hebat.”

Karena pikiran itu, segera ia berkata, “Tentu membantu, sebagai sesama orang Kangouw memang sudah seharusnya berbuat demikian....”

“Betul, betul!” seru Oh-lotoa dengan girang demi permintaannya diluluskan.

Sebaliknya Ting Pek-jwan berulang-ulang mengedipi Buyung Hok maksudnya agar lebih baik menolak dan tinggal pergi, sebab dilihatnya Oh-lotoa dan begundalnya itu bukan manusia baik-baik, jika bergaul dengan mereka tentu lebih banyak rugi daripada untungnya.

Tapi Buyung Hok hanya balas mengangguk tanda memahami maksudnya, lalu menyambung perkataannya tadi,
“Sebenarnya kepandaian saudara-saudara cukup tinggi, kukira urusan betapa besarnya juga dapat diselesaikan, tapi melihat kejujuran dan kesetiakawanan saudara-saudara, sungguh aku menjadi ingin bersahabat pula dan aku siap untuk mencurahkan sedikit tenagaku ini.”

Selesai Buyung Hok bicara, serentak terdengar sorak gembira semua orang, sungguh tak terduga oleh Oh-lotoa dan kawan-kawannya bahwa Koh-soh Buyung yang termasyur di dunia ini dengan rendah hati mau menerima permintaannya untuk memberi bantuan.

Sebaliknya Ting Pek-jwan, Kongya Kian dan lain-lain merasa bingung. Tapi biasanya mereka taat kepada setiap perintah Buyung Hok, apa yang diputuskan sang junjungan selalu mereka turut. Biarpun Pau Put-tong yang biasanya suka ngotot juga tidak berani membangkang Kongcuya mereka.

Mendengar sang Piauko sudah berkawan dengan lawan-lawan tadi, maka berkatalah Ong Giok-yan kepada Toan Ki, “Toan kongcu, mereka takkan berkelahi lagi, harap kau turunkan aku saja.”
“O, ya, ya,” sahut Toan Ki gugup, cepat ia berjongkok untuk menurunkan Ong Giok-yan ke tanah.

“Terima kasih,” bisik Ong Giok-yan dengan wajah merah.
“Ai, langit tinggi, bumi luas juga ada masanya kiamat, tapi rindu dendam ini selamanya takkan berakhir,” demikian tiba-tiba Toan Ki bergumam sendiri menghela napas.

Rupanya dalam sekejap itu terbayang olehnya bahwa sebentar lagi Ong Giok-yan akan ikut pergi bersama Buyung Hok dan untuk seterusnya susah bertemu pula di dunia seluas ini, sebaliknya ia sendiri akan terlunta-lunta di dunia kangouw dengan menanggung rasa duka dan akhirnya akan meninggal dengan rindu dendam.

Tiba-tiba Ong Giok-yan menegurnya, “Hm, engkau mengomel apa, Toan kongcu?”

Toan Ki kaget dan tersadar dari lamunannya, cepat ia menjawab, “O, tidak apa-apa, aku..aku sedang melamun.”

Dalam pada itu Putpeng Tojin telah berkata, “Oh-lotoa, terimalah ucapan selamat dariku. Buyung kongcu suka memberi bantuan padamu, ini berarti usaha kalian sudah pasti akan berhasil. Jangankan Buyung kongcu sendiri tiada bandingannya, bahkan bawahannya yang bernama Toan kongcu itu pun seorang kosen yang jarang terdapat di dunia persilatan.”

Mungkin karena dia lihat Toan Ki menggendong Ong Giok-yan dengan sikap yang sangat menghormat, maka disangkanya Toan Ki sama seperti Ting Pek-jwan dan lain-lain adalah punggawa Buyung Hok.

Maka Buyung Hok cepat memberi keterangan, “Toan-heng ini adalah keturunan keluarga bangsawan ternama di Taili, aku sendiri sangat menghormat padanya. Eh Toan-heng, marilah kuperkenalkan kepada kawan-kawan.”

Tapi saat itu Toan Ki sedang berdiri di samping Ong Giok-yan sambil kadang-kadang melirik dan mengendus bau harum anak dara itu, meski ia tidak berani secara memandang secara terang-terangan ke muka Ong Giok-yan, tapi ia sudah puas memandangi tangan si nona yang putih bersih dan halus itu. Karena itu pada hakikatnya ia tidak mendengar panggilan Buyung Hok.

Maka Buyung Hok berseru pula, “Toan-heng, silahkan kemari untuk berkenalan dengan sobat-sobat ini.”

Namun Toan Ki tetap tidak mendengar, yang kelihatan baginya pada saat itu melulu tangan Ong Giok-yan yang putih halus itu, lain tidak.

Maka Ong Giok-yan ikut berkata, “Toan kongcu, Piauko memanggil dirimu.”

Aneh juga, jika suara orang lain tak didengarnya, suara Ong Giok-yan itu seketika didengar oleh Toan Ki, cepat ia menjawab, “Oh ya. Ada apa dia panggil aku?”
“Piauko ingin memperkenalkanmu kepada beberapa sobat baru itu,” kata Ong Giok-yan.

Tapi Toan Ki benar-benar berat untuk meninggalkan nona itu, maka tanyanya, “Dan kau sendiri akan menemui mereka tidak?”

Ong Giok-yan menjadi kikuk oleh pertanyaan itu, sahutnya. “Mereka ingin bertemu denganmu dan bukan diriku.”

“Jika engkau tidak ke sana, maka aku pun tidak,” kata Toan Ki.

Putpeng Tojin adalah seorang tokoh terkemuka kaum petualang, biasanya sangat angkuh dan tidak memandang sebelah mata kepada orang lain. Ia hanya melihat langkah Toan Ki sangat aneh tapi juga tidak memandangnya sebagai seorang tokoh. Ia dengar tanya jawab Toan Ki dengan Ong Giok-yan itu, ia salah sangka pemuda itu tidak sudi berkenalan dengan dia, ia tidak tahu bahwa yang terpikir oleh Toan Ki pada saat itu hanya Ong Giok-yan seorang saja, segala urusan lain sudah tak digubris olehnya.

Meski dalam hati sangat mendongkol oleh sikap Toan Ki itu namun Putpeng Tojin adalah seorang yang dapat menahan perasaan, maka lahirnya tetap tenang-tenang saja seperti tidak terjadi apa-apa.

Melihat perhatian semua orang dialihkan kepada dirinya dan Toan Ki, mau tak mau Ong Giok-yan menjadi risi dan kuatir sang Piauko salah paham, maka cepat serunya, “Piauko, harap..harap pegang diriku.”

Tapi Buyung Hok tidak suka mengunjuk kasih mesra muda mudi di depan banyak orang, sahutnya, “Ting toako, harap kau bantu Piaumoi sebentar. Eh Toan-heng, silahkan maju kemari.”

“Toan kongcu,” kata Ong Giok-yan, “Piauko minta engkau ke sana hendaknya engkau suka menurut.”

Mendengar si nona minta dipayang oleh Buyung Hok dan bukan minta padanya, seketika hati Toan Ki terasa pedih, maka dengan limbung ia berjalan ke tempat Buyung Hok.

“Toan-heng,” segera Buyung Hok berkata. “Biarlah kuperkenalkan engkau kepada beberapa orang kosen ini. Yang ini adalah Putpeng Totiang dan itu Oh siansing, yang itu lagi adalah Song kongcu.”

“Ya, ya,” sahut Toan Ki. Tapi yang terpikir olehnya adalah, ‘Sudah terang aku berada di sampingnya, mengapa dia tidak suruh aku memayang dia, sebaliknya minta pada Piaukonya? Dari sini dapat diketahui bahwa tadi dia minta aku menggendongnya hanya terdorong oleh keadaan terpaksa saja, bila waktu itu Piaukonya dapat menggendong dia, tentu dia akan minta tolong pada sang Piauko dan tidak nanti memperbolehkan aku menyentuh badannya.
Bahkan Ting Pek-jwan, Kongya kian dan lain-lain dalam mata si nona juga lebih akrab daripada diriku, padahal mereka adalah punggawa Piaukonya. Sebaliknya diriku? Aku tiada sangkut paut apa-apa dengan dia, bukan sanak bukan kadang, hanya bertemu secara kebetulan, sudah tentu dia tidak menaruh perhatian pada diriku jika selama ini dia mengijinkan aku memandangnya, hal ini sudah terhitung rejekiku yang maha besar.
Dan sekarang, ai, tidak nanti dia sudi memperbolehkan aku memegang dia.’

Melihat kelakuan Toan Ki yang linglung, sinar matanya buram, mukanya menghadap ke tempat lain, terhadap maksud Buyung Hok yang hendak memperkenalkan mereka dianggap seperti tidak tahu, air mukanya tampak muram durja dengan alis berkerut rapat, nyata pemuda itu tidak sudi berkenalan dengan mereka. Keruan Oh-lotoa dan Putpeng Tojin merasa keki.

“Hahaha, selamat berkenalan, selamat berkenalan,” demikian saking mendongkol Putpeng Tojin sengaja tertawa segera ia ulurkan tangan untuk menjabat tangan kanan Toan Ki.
Oh-lotoa paham juga maksud itu, cepat ia ulurkan tangan buat menjabat tangan kiri Toan Ki.

Berbeda dengan Putpeng Tojin yang lebih sabar, begitu turun tangan segera Oh-lotoa mengerahkan tenaga untuk memencet sekuatnya, maksudnya ingin Toan Ki kesakitan dan tahu rasa. Cuma akhirnya ia pun pura-pura ramah sedikit pun tidak memberi tanda yang mencurigakan.

Siapa tahu, begitu tangan mereka memegang tangan Toan Ki, seketika Putpeng Tojin merasa hawa murni dalam tubuhnya menuang keluar. Keruan ia terkejut dan cepat hendak menarik
kembali tangannya, tapi betapa hebat tenaga dalam Toan Ki sekarang sehingga telapak tangan Putpeng Tojin seperti melengket karena tersedot erat oleh Cu-hap-sin-kang yang lihai itu.

Sedangkan Oh-lotoa biasanya suka menggunakan racun maka begitu memegang tangan Toan Ki seketika ia menyalurkan kadar racun dari tangannya. Meski tiada maksudnya hendak membikin celaka nyawa Toan Ki, tapi ia ingin membikin pemuda itu sakit gatal serta akhirnya saking tak tahan tentu akan minta ampun, habis itu barulah ia akan memberi obat penawar racun.

Tak tahunya sejak Toan Ki makan katak merah Bong-koh-cu-hap, segala racun sudah tidak mempan lagi baginya, maka racun yang dikerahkan dari tangan Oh-lotoa itu pun tidak dapat mengganggu apa-apa terhadap Toan Ki, sebaliknya tenaga murni Oh-lotoa yang terus disedot dengan cepat.

Keruan Oh-lotoa juga kelabakan dan berteriak-teriak “Hei, hei! Kau..kau gunakan Hoa-kang-tai-hoat.”

Sebaliknya Toan Ki masih melamun sendiri, dalam benaknya masih tidak habis menyesal dan gegetun. “Dia tidak sudi dipayang olehku, apa artinya hidupku ini? Lebih baik aku pulang ke Taili saja dan untuk seterusnya tidak bertemu lagi dengan dia. Ai, lebih baik pergi ke Thian-liong-si saja, biarlah aku menjadi hwesio dan minta diterima sebagai murid Kho-eng Taisu, untuk selanjutnya aku takkan berkecimpung di dunia ramai lagi..’

Dalam pada itu Buyung Hok menyaksikan Putpeng Tojin dan Oh-lotoa sedang kelabakan, ia tidak tahu seluk beluk kepandaian Toan Ki maka disangkanya Toan Ki sengaja hendak menghajar Putpeng Tojin dan Oh-lotoa, cepat Buyung Hok tarik punggung Putpeng Tojin
dan secepat kilat ia betot sambil mengerahkan tenaga murni sendiri untuk menolak daya sedot Cu-hap-sin-kang. Karena betotan itu mendadak dapatlah Putpeng Tojin ditarik lepas dari tangan Toan Ki, berbareng ia berseru, “Toan-heng, sabar dulu.”

Karena betotan itu, Toan Ki sendiri juga kaget dan tersadar dari lamunannya, sudah beberapa kali ia punya Cu-hap-sin-kang disangka orang sebagai “Hoa-kang-tai-hoat” dari Sing-siok-pai. Tapi sekarang ia dapat menggunakan cara yang diajarkan pamannya, yaitu Toan-cing-beng untuk menghimpun perhatian dan menarik kembali tenaganya. Karena itu segera daya sedotnya kepada Oh-lotoa juga lantas berhenti.

Saat itu Oh-lotoa sedang membetot-betot sekuatnya untuk melepaskan diri, ketika mendadak tangannya terlepas dari daya sedot lawan, saking kuatnya ia menarik, seketika ia sempoyongan dan hampir jatuh terjengkang. Keruan mukanya merah jengah, terkesiap dan gusar pula.

Pengetahuan dan pengalaman Putpeng Tojin lebih luas, ia merasa daya sedot yang timbul dari tangan Toan Ki seperti berbeda dengan Hoa-kang-tai-hoat yang sangat ditakuti di dunia kangouw itu, tapi sebenarnya sama atau tidak karena ia sendiri belum pernah merasakan bagaimana serangan Hoa-kang-tai-hoat, maka susah juga baginya untuk memastikannya.

Sebaliknya Oh-lotoa masih terus berteriak “Hoa-kang-tai-hoat… Hoa-kang-tai-hoat.”

Namun dengan tersenyum Toan Ki berkata, “Huh! kepandaian Sing-siok Lokoai Ting jun-jiu itu teramat rendah dan keji, siapa yang sudi belajar ilmunya itu? Ai, kamu benar-bemar seperti katak dalam sumur., ai…ai.”

Sebenarnya Toan Ki lagi mengolok-olok Oh-lotoa, tapi mendadak teringat pula sikap Ong Giok-yan yang memandang asing kepadanya, maka kembali ia menghela napas gegetun beberapa kali.

Dalam pada itu Buyung Hok juga menjelaskan, “Toan-heng ini adalah keturunan keluarga ternama dari Taili. It-yang-ci dan Lahmeh-sin-kiam keluarganya tiada bandingan di dunia ini, sudah tentu tidak dapat disamakan dengan kepandaian Sing-siok Lokoai itu.”

Bicara sampai disini, mendadak ia merasa tangan dan lengan sendiri kian lama tambah kaku dan bengkak nyata hal ini bukan lantaran getaran palu baja si pendek tadi tapi ada sebab lainnya.

Diam-diam ia terkejut. Waktu ia periksa tangan sendiri, ternyata punggung tangan sudah membiru, hidungnya mengendus bau amis busuk pula, maka tahulah dia seketika. “Ah, tanganku sudah terlalu lama berdekatan dengan Lik-po-hiang-lo-to yang berbisa ini, sehingga hawa racun meresap ke kulit tanganku.”

Segera ia lintang kembali golok rampasannya itu, dengan gagang golok ke depan dan ujung golok terpegang, katanya pada Oh-lotoa,”Oh siansing, terimalah kembali senjatamu ini dan maafkan kelancanganku tadi.”

Segera Oh-lotoa hendak menerima kembali goloknya, namun tangan Buyung Hok ternyata tidak melepaskan cekalannya, Oh-lotoa tercengang, tapi segera ia paham, katanya dengan tertawa, “Ya, golok ini memang sedikit aneh maafkan telah banyak membikin susah padamu.”

Lalu ia mengeluarkan sebuah botol kecil, ia menuang keluar sedikit obat bubuk dan diusapkan pada tangan Buyung Hok.
Seketika Buyung Hok merasa tangannya dingin segar, obat penawar Oh-lotoa ternyata cespleng, hanya sekejap saja sudah kelihatan khasiatnya. Maka dengan tersenyum puas Buyung Hok sodorkan golok rampasannya itu.

Sesudah terima kembali senjatanya, kemudian Oh-lotoa berkata kepada Toan Ki, “Toan-heng ini sebenarnya kawan atau lawan kita? Jika kawan, tentu kami anggap sebagai orang sendiri dan biar kuceritakan duduk perkara yang sebenarnya. Tapi kalau lawan, biarpun kepandaianmu maha tinggi, terpaksa kita harus bertempur mati-matian pula.”
Tatkala bicara sikap Oh-lotoa sangat gagah dan angkuh sambil melirik Toan Ki.

Namun Toan Ki sedang edan kasmaran, sudah tentu ia tiada mempunyai sikap gagah ksatria sebagai Oh-lotoa. Bahkan dengan lesu ia berkata. “Aku sendiri sedang kesal sekali, darimana aku sempat menggubris urusan orang lain? Aku bukan kawanmu dan juga bukan lawanmu, urusan kalian aku tak dapat membantu, tapi aku pun pasti takkan mengganggu. Ai, aku memang seorang malang, sudah suratan nasib harus berduka terus. Tentang urusan tetek bengek di kalangan kangouw, masakan aku Toan Ki mau ikut campur?”

Melihat kelakuan Toan Ki yang angin-anginan dan mengigau sendiri itu, setiap berkata selalu melirik ke arah Ong Giok-yan, maka dapatlah Putpeng Tojin menduga akan duduknya perkara, segera ia berseru kepada si nona, “Ong-kohnio, Piaukomu sudah berjanji akan ikut membantu dan akan berjuang bersama kami, kukira nona sendiri juga akan ikut serta dalam urusan kami ini, bukan?”

“Ya, jika Piauko sudah berjanji akan ikut bersama kalian, dengan sendirinya aku juga siap untuk mengikuti jejaknya di bawah pimpinan totiang.” sahut Ong Giok-yan. “Ah! Nona terlalu merendah hati saja,” kata Putpeng Tojin dengan tersenyum.

Lalu ia berpaling dan berkata kepada Toan Ki, “Buyung kongcu sudah terang akan membantu kami begitu pula Nona Ong juga akan ikut serta bersama kami. Sekarang tinggal Toan kongcu, jika kau pun sudi ikut dalam pergerakan kami ini, sudah tentu kami merasa sangat berterima kasih. Tapi kalau kongcu tiada maksud membantu bolehlah silahkan sesukamu untuk pergi saja.”

Habis berkata ia mengacungkan tangannya sebagai tanda menyilahkan tamunya pergi. Tiba-tiba Oh-lotoa menyela. “Tentang ini…ini.”

Rupanya ia tidak setuju atas ucapan Putpeng Tojin itu, sebab kuatir dengan kepergian Toan Ki nanti rahasia mereka akan bocor.
Sudah tentu ia tidak tahu bahwa sekali Ong Giok-yan sudah menyatakan akan ikut serta tinggal di situ, biarpun Toan Ki sekarang diseret dengan lokomotif juga dia tak mau pergi. Namun begitu Oh-lotoa tetap siapkan goloknya, asal Toan Ki melangkah pergi, segera ia akan merintanginya.

Toan Ki hanya mondar mandi saja sambil berkata. “Engkau menyilahkan aku pergi, tapi aku sendiri tidak tahu harus kemana? Bumi seluas ini bagiku hanya sebesar daun kelor, di manakah aku dapat bernaung? Ai, aku… aku..tiada tempat tujuan lagi.”

“Jika begitu, lebih baik Toan kongcu berada bersama kami saja,” seru Putpeng Tojin dengan tersenyum. “Bila terjadi apa-apa nanti boleh menonton saja di samping, tidak perlu kau bantu pihak mana pun.”

Selagi Oh-lotoa bersangsi Putpeng Tojin lantas mengedipi dia dan berkata, “Oh-lotoa, kerjamu sesungguhnya terlalu melilit, selama ini hanya kukenal nama para Tongcu dan tocu kalian, tapi belum kenal muka mereka. Mumpung sekarang berkumpul semua di sini, seharusnya kau perkenalkan mereka kepada Buyung kongcu dan Toan kongcu sekalian.”

“Ya, ya, memang seharusnya demikian,” sahut Oh-lotoa, lalu ia panggil satu persatu Tongcu atau Tocu untuk diperkenalkan.
Meski ke-72 tocu dan ke-36 Tongcu itu terkenal sebagai suatu komplotan, tapi mereka masing-masing mempunyai pangkalannya sendiri-sendiri dan satu sama lain terpencar jauh. Banyak di antara mereka pun tidak saling kenal muka dan baru malam ini mereka benar-benar kenal secara merata ke-108 tokoh petualang itu.

Di antara mereka ada empat orang telah terbunuh oleh Buyung Hok dalam pertarungan sengit tadi, maka anak buah keempat korban itu masih bersikap menantang dan dendam ketika diperkenalkan kepada Buyung Hok.

Dengan suara lantang Buyung Hok lantas berkata. “Maaf, terpaksa aku mesti mencelakakan beberapa kawan kalian dalam pertarungan tadi, sungguh aku pun merasa tidak enak. Tapi selanjutnya tentu aku akan berbuat sesuatu yang berfaedah bagi kalian untuk mengganti kesalahan ini. Tapi bila masih ada kawan yang benar-benar tidak dapat memaafkanku, biarlah sesudah kita bersama-sama menghadapi musuh besar nanti, kemudian boleh silahkan kalian datang ke kediamanku di Koh-soh untuk mencari penyelesaian denganku.”

“Cara demikian paling bagus,” kata Oh-lotoa. “Buyung kongcu memang seorang yang suka berterus terang. Padahal di antara kami ini satu sama lain juga ada yang bermusuhan, tapi tatkala menghadapi musuh bersama, terpaksa mesti dikesampingkan dulu permusuhan pribadi. Dengan ini aku ingin tanya, jika ada salah seorang kawan yang berpandangan cupat, tidak pikirkan musuh bersama tapi menggunakan kesempatan ini untuk membalas sakit hati seseorang, cara bagaimana harus ditindak terhadap orang demikian ini?”

“Orang begitu berarti penyakit bagi kita semua, maka kita harus membersihkannya dari lingkungan kita,” teriak orang banyak. “Ya, padahal jiwa kita tak terjamin bila tak mampu melawan Lothaipo (nenek reyot) dari Thiansan itu, masakah masih memikirkan urusan pribadi? Untuk itu hendaknya Buyung koncu jangan kuatir, sarang yang terbalik takkan ada telur yang utuh, kami kira tiada seorang pun yang berpikiran sebodoh itu.”

“Jika, demikian, terima dulu salamku,” sahut Buyung Hok. “Dan entah bantuan apa yang dapat kuberikan, harap suka menerangkan.”

“Oh-lotoa,” kata Putpeng Tojin, “Kita sedang menghadapi urusan besar bersama, maka kita harus dapat saling membantu, tentang Thainsan Tonglo itu boleh kau ceritakan kepada orang banyak, agar setiap orang tahu dimana letak kelihaian Lopocu itu supaya kita dapat waspada sebelumnya.”

“Baiklah,” kata Oh-lotoa,”Jika para saudara mendukungku untuk mengatur sementara pergerakan kita, meski kepandainku terlalu dangkal dan tidak pantas memikul tanggung jawab ini, syukur kita dibantu Buyung kongcu, Putpeng Tojin Kiam-sin, Hu-yong siancu dan lain-lain sehingga bebanku menjadi lebih ringan.”

“Hai, hai! Pakai bicara secara pelungkar pelungker apa segala, bicaralah secara cekak-aos, tidak perlu bertele-tele.”

“Benar, kita sudah biasa main senjata pada saat menghadapi urusan besar, buat apa bicara hal-hal kosong?” demikian beramai-ramai para Tongcu dan tocu berteriak.

“Baiklah, memang semangat para kawan harus dipuji,” kata Oh-lotoa, “Sekarang kuminta Kim-tocu dari Hai-ma-to suka menjaga di sebelah tenggara sana, kalau tahu ada musuh mengintai harap segera member isyarat. Hong-tongcu dari Ci-giam-tong silahkan menjaga di sebelah barat dan….”

Begitulah berturut-turut ia perintahkan delapan tokoh pilihan untuk menjaga delapan penjuru dan semuanya menerima dengan baik tugas itu.

Diam-diam Buyung Hok membatin, “Para Tongcu dan tocu ini tampaknya sangat liar dan ganas, tapi hari ini mau tunduk di bawah perintah Oh-lotoa dengan rasa was-was dan prihatin, maka dapat diduga urusan yang akan mereka hadapi ini sangat penting dan lawan mereka juga benar-benar jangat menakutkan mereka, tapi urusan mungkin sangat sukar dihadapi.”

Sesudah mengatur penjagaan seperlunya, kemudian Oh-lotoa berkata pula, “Sekarang silahkan saudara-saudara duduk di tanah, biar kuceritakan kesengsaraan kami selama ini.”

“Kalian adalah orang-orang yang sudah biasa membunuh, membakar, menggarong, meracun, segala kejahatan bagi kalian adalah pekerjaan sehari-hari, mengapa kalian juga kenal arti kata sengsara? Kukira ini agak janggal, ya sungguh janggal,” tiba-tiba Put-tong menyela.

Buyung Hok kenal watak Pau Put-tong, sekali orang terlibat debat dengan dia, maka biarpun tiga hari tiga malam juga takkan habis-habisanya, maka katanya, “Pausamko, hendaknya dengarkan uraian Oh-lotoa, jangan memotong ceritanya.”

Pau Put-tong masih menggerundel, tapi tidak berani membangkang perintah Buyung Hok maka terpaksa tidak berani bicara lagi.

Oh-lotoa tampak tersenyum getir, katanya. “Teguran Pau-heng barusan memang beralasan juga. Sebagai pemimpin dari suatu wilayah kekuasaan masing-masing, biasanya kami tidak kenal apa artinya takut. Biarpun kepandaian orang she Oh terlalu rendah, tapi watakku kepala batu, selama hidup hanya orang lain yang takut padaku dan tidak nanti aku takut pada
orang lain, siapa tahu …ai..”

Oh-lotoa menghela napas, sekonyong-konyong seorang di sebelah sana juga menghela napas panjang dengan rasa duka yang mengharukan. Waktu semua orang memandang ke arah suara itu, kiranya Toan Ki adanya, sambil menyilangkan tangan di punggung belakang, pemuda itu sedang menengadah memandang rembulan sembari bergumam sendiri, “Sinar bulan purnama, si cantik menggetarkan sukma hatiku tak habis duka, dimanakah terdapat pelipur lara!” ia bersajak menuruti perasaan rindunya pada waktu itu, tapi yang berada di situ adalah orang-orang kasar yang tidak tahu tulis, sudah tentu jarang ada yang paham perasaan Toan Ki itu.
Sebaliknya semuanya melotot padanya dengan mendongkol karena dia telah mengacau cerita Oh-lotoa.

Sudah tentu yang paling paham sajak Toan Ki itu adalah Ong Giok-yan. Ia kuatir sang Piauko marah ia coba melirik ke arah Buyung Hok dilihatnya sang Piauko sedang mencurahkan perhatiannya kepada cerita Oh-lotoa tadi dan sama sekali tidak mempedulikan apa yang diucapkan Toan Ki, maka diam-diam legalah hati Ong Giok-yan.

Sementara itu Oh-lotoa telah meneruskan uraiannya. “Buyung kongcu, Putpeng Tojin dan lain-lain sekarang sudah bukan orang luar lagi, maka akupun tidak malu-malu lagi untuk bercerita terus terang. Kami tiga puluh enam Tongcu dan Tujuh puluh dua Tocu selama ini tampaknya hidup bebas merdeka di tempatnya sendiri-sendiri, tapi sebenarnya kami terkekang di bawah keganasan Thiansan Tong-lo atau dapat juga dikatakan hidup kami telah diperbudak olehnya, setiap tahun dia tentu mengirim orang untuk mendamprat kami habis-habisan. Tapi jangan kalian kira kami merasa mendongkol karena didamprat, sebaliknya kami justru merasa senang, semakin kami dimaki, semakin senang kami.”

“Hahaha, sungguh aneh, di dunia ini masakah ada manusia serendah itu, dimaki orang malah merasa senang?” seru Pau Put-tong geli.

”Ya, sebab kalau kami cuma dicaci maki oleh utusan Tonglo itu, maka itu berarti telah bebas dari malapetaka dalam tahun itu dan untuk ini para kawan akan berpesta pora untuk menyatakan syukur kehadirat Tuhan. Ai, menjadi manusia sampai sedemikian rupa, sesungguhnya kami memang terlalu rendah, sebaliknya kalau kami tidak dicaci maki oleh utusan Tong-lo itu, bila kakek moyang delapan belas turunan kami tidak dimaki maka penghidupan kami selanjutnya tentu akan susah. Maklum, kalau kami tidak dicaci maki, maka tentu kami akan dihajar olehnya, bila nasib mujur paling-paling kami hanya dihajar 30 kali pentungan, jika kaki kami tidak patah dihajar, tentu kami akan berpesta pora juga untuk merayakan keselamatan kami.”

Pau Put-tong dan Hong Po ok saling pandang dengan geli.
Sungguh kejadian yang aneh bin ajaib, masakah sudah dicaci maki dan dihajar setengah mati orang masih harus berpesta pora pula untuk merayakannya.. tapi jika melihat ucapan Oh-lotoa yang tegas dan suara caci maki orang banyak dengan penuh rasa dendam, rasanya apa yang diceritakan itu bukan omong kosong.

Dalam pada itu, yang sedang dipikir Toan Ki sebenarnya Cuma Ong Giok-yan seorang, ketika ia lihat nona itu juga asyik mendengarkan uraian Oh-lotoa, mau tak mau ia pun mendengarkan uraian Oh-lotoa itu, kontan saja Toan Ki berteriak-teriak. “Mustahil, mustahil! Masakah di dunia ini bisa terjadi hal demikian itu? Thiansan Tong-lo itu manusia atau dewa? Siluman atau setan? Mengapa begitu sewenang-wenang, sungguh keterlaluan.”

“Ucapan Toan kongcu memang tepat,” sahut Oh-lotoa, “Kami benar-benar tersiksa, kami dianggap lebih rendah daripada binatang oleh nenek keparat itu. Nah, coba Suma-tocu, silahkan perlihatkan bekas luka penderitaanmu kepada para sobat.”

Segera seorang tua yang kurus kering membuka bajunya sehingga kelihatan pada punggungnya banyak jalur-jalur malang melintang bekas luka cambukan yang keras, dari bekas luka ini orang dapat membayangkan betapa hebat penderitaan orang tua itu ketika dihajar.

“Itu belum apa-apa, lihatlah paku di punggungku ini,” tiba-tiba seorang laki-laki hitam berseru, segera ia pun membuka bajunya, maka tertampaklah sebatang paku besar masih menancap di punggungnya, mungkin sudah cukup lama sehingga pangkal paku itu kelihatan sudah berkarat, entah sebab apa laki-laki hitam itu tidak berusaha untuk mencabut paku itu.

Habis itu, kembali ada dua tiga orang memperlihatkan bekas luka mereka yang dihajar utusan Thian-san Tong-lo, semuanya sangat parah dan caranya juga sangat aneh serta menyiksa.

Melihat itu seketika Toan Ki berteriak-teriak lagi. “Wah, wah. Masakah di dunia ini ada manusia begitu kejam. Hai, Oh-lotoa, aku Toan Ki bertekad akan membantumu, marilah kita bersama-sama membasmi penyakit bagi dunia persilatan itu.”

“Terima kasih,” sahut Oh-lotoa. Lalu ia berpaling kepada Buyung Hok. “Di antara kawan-kawan yang hadir di sini sekarang boleh dikata tiada satu pun yang luput dari siksaan nenek jahanam itu. Karena takut kepada keganasannya itu maka kami hanya telan mentah-mentah semua siksaan, syukur, setelah mengganas selama ini akhirnya tiba juga saat naasnya.”

“Kalian disiksa, tapi tidak berani melawan, apakah karena kepandaian nenek itu teramat hebat?” Tanya Buyung Hok.

“Ya, kepandaian nenek bangsat itu memang sangat lihai, sampai dimana kelihaiannya sukar diukur,” sahut Oh-lotoa.

“Kau bilang nenek itu juga menemui saat yang naas, coba ceritakan lagi,” pinta Buyung Hok.

Tiba-tiba Oh-lotoa jadi bersemangat, serunya, “Ya, justru karena itulah maka kami beramai-ramai berkumpul di sini. Bulan tiga tahun ini, aku dan Ho-tongcu bersembilan orang mendapat giliran wajib mengantar upeti. Kami banyak mengumpulkan mutiara, mestika, kain halus dan sutera, bahan makanan yang mahal serta bedak dan gincu, kami mengantar ke Biau-biau-hong di Thian-san.”

“Ha ha, apakah Lothaipo itu berwujud siluman tua? Katanya sudah nenek-nenek, mengapa pakai bedak dan gincu segala?” seru Pau put-tong dengan tertawa.

“Ya, usia nenek bangsat itu sudah tua, tapi tidak sedikit budak dan dayangnya yang masih muda belia dan sudah tentu memerlukan bedak dan gincu,” tutur Oh-lotoa. “Cuma di puncak gunung itu tiada seorang lelaki pun, mereka bersolek entah diperlihatkan kepada siapa?”

“Diperlihatkan kepadamu, barangkali?” ujar Pau put-tong dengan tertawa.

“Pau-heng jangan bergurau,” sahut Oh-lotoa dengan sungguh-sungguh.

Lalu ia melanjutkan ceritanya, “Untuk naik ke atas puncak gunung itu mata kami telah ditutup dengan kain hitam, hanya terdengar suaranya dan tidak dapat terlihat orangnya. Jadi penghuni Biau-biau-hong itu sebenarnya cantik-cantik atau sejelek siluman sudah tua atau masih muda, sama sekali kami tidak tahu.”

“Jika begitu, jadi bagaimana macam Thian-san Tong-lo itu selama ini kalian juga tidak pernah melihatnya?” Tanya Buyung Hok.

“Melihatnya sih sudah pernah,” sahut Oh-lotoa, “tapi itupun berarti maut bagi kawan yang melihatnya. Hal ini terjadi kira-kira belasan tahun yang lalu, ketika seorang kawan dengan nekat membuka kain hitam penutup mata, namun sebelum ia tutup kembali kain hitam itu, perbuatannya sudah diketahui oleh nenek bangsat itu, segera kedua mata kawan itu dicungkil, lidahnya diiris, kedua tangannya dipotong pula.”

“Benar-benar kejam. Mengapa mesti memotong lidah dan kedua tangannya?” ujar Buyung Hok.

“Mungkin agar kawan itu tidak dapat menceritakan tentang rupa nenek bangsat itu kepada orang lain,” kata Oh-lotoa.

“Lidahnya dipotong kan tidak bisa bicara lagi dan tangan juga dipotong supaya tidak dapat menulis.”

“ Keparat, benar-benar lihai,” seru Pau put-tong sambil melelet lidah.

“Dan apa yang kalian dengar ketika bulan tiga tahun ini kalian datang ke Biau-biau-hong sana?” Tanya Buyung Hok.

“Ketika kami bersembilan balik ke Biau-biau-hong, sungguh kami ketakutan setengah mati,” tutur Oh-lotoa. “Soalnya upeti yang kami bawa itu sebenarnya kurang komplit sebagaimana ditentukan nenek bangsat itu, terutama benda-benda aneh seperti telur kura-kura laut berumur tiga ratus tahun, tanduk menjangan yang panjangnya dua meter, sudah tentu sukar untuk dicari, untuk ini kami menjadi kebat-kebit dan menduga pasti akan mendapat hukuman keji. Di luar dugaan, sesudah terima upeti kami, nenek bangsat itu menyuruh dayangnya memberitahukan kepada kami bahwa barang-barang telah diterima dengan baik dan kami disuruh lekas enyah dari situ.
Keruan kami seperti putus lotere 120 juta, cepat saja kami tinggalkan puncak gunung itu. setiba di kaki gunung, setelah membuka kain hitam penutup mata, tiba-tiba terlihat di bawah
gunung situ terbinasa tiga orang, seorang di antaranya dikenal oleh Ho-tongcu sebagai Kiu-ek Tojin, seorang tokoh terkemuka dari negeri Se-he.”

“O, kiranya Kiu-ek Tojin dibinasakan oleh nenek keparat itu, tapi orang kangouw justru mendesas desuskan, katanya dibunuh oleh Koh-soh Buyung,” ujar Put peng Tojin.

“Kentut, kentut busuk,” sela Pau Put-tong tiba-tiba. “Peduli Kiu-ek Tojin ( imam sembilan sayap) atau Pat-bwe Hwesio (padri delapan buntut), yang terang kami tidak pernah kenal manusia-manusia seperti itu, tapi kematian mereka dicatat lagi atas rekening kami.”

Meski kentut-kentut yang diucapkan Pau put-tong itu tidak ditujukan kepada Put peng Tojin, tapi bagi pendengaran orang lain tentu agak menusuk telinga.

Namun Putpeng Tojin juga tidak marah, katanya dengan tersenyum, “Ya, maklumlah nama Koh-soh Buyung terlalu masyur sehingga menimbulkan prasangka jelek orang.”

“Kent…” belum lagi kata ‘tut’ terucapkan, tiba-tiba Pau put-tong melirik ke arah Buyung Hok sehingga ucapannya terhenti.

“Kenapa Pau-heng telan kembali kedalam perut sendiri,” ujar Putpeng Tojin.

Pau put-tong menjadi gusar setelah paham maksud perkataan imam itu, bentaknya. “Keparat, aku kau maki telan kentut sendiri?”

“Mana berani,” sahut Putpeng Tojin, “Pau-heng suka makan apa, boleh terserah.”

Selagi Pau put-tong hendak mendebatnya lagi, tiba-tiba Buyung Hok berkata, “Sudahlah samko tidak perlu berdebat lagi. Kabarnya Kiu-ek Tojin memiliki ginkang yang sangat tinggi, Lui-kong-tang adalah senjata andalannya, selama tiga puluh tahun ini jarang ketemu tandingannya. Jangankan diriku memang tidak pernah bermusuhan dengan dia, andaikata bermusuhan juga belum tentu aku dapat menandingi imam yang tersohor dengan palu geledeknya itu.”

“Ah, Buyung kongcu terlalu merendahkan diri sendiri saja,” ujar Putpeng Tojin dengan tersenyum. “Biarpun Kiu-ek Tojin terkenal dengan Lui-kong-tang (senjata palu dan tatah), tapi kalau Buyung kongcu mau mengembalikannya dengan serangan Lui-kong-tang pula, pasti juga dia akan terima ajalnya.”

“Tapi luka di tubuh Kiu-ek Tojin itu ada dua tempat bekas tusukan pedang,” kata Oh-lotoa.

“Jadi berita tentang pembunuhnya adalah Koh-soh Buyung sebenarnya bohong belaka. Hal ini telah kusaksikan dengan mata kepala sendiri tidak nanti salah. Sebab kalau dia dibunuh Buyung kongcu, tentu senjata yang mencabut nyawa Kiu-ek Tojin itu adalah Lui-kong-tangnya sendiri.”

“Kau bilang ada dua bekas tusukan pedang?” Putpeng Tojin menegas. “Kalau betul ini memang aneh.”

“Putpeng Tojin memang hebat, sekali dengar saja segera tahu ada sesuatu yang ganjil,” seru Oh-lotoa sambil tepuk pahanya sendiri, “Kiu-ek Tojin mati di bawah Biau-biau-hong dengan dua tempat luka pedang, ini benar-benar tidak beres.”

Diam-diam Buyung Hok membatin, ‘Di manakah letak tidak beres? Putpeng Tojin ini tahu ada sesuatu yang ganjil, tapi aku tidak dapat memikirkannya.’

Rupanya Oh-lotoa sengaja hendak menguji Buyung Hok, katanya. “Buyung kongcu, bukankah kematian Kiu-ek Tojin itu sangat ganjil?”

Selagi Buyung Hok hendak menjawab terus terang bahwa dia tidak paham letak keganjilannya, tiba-tiba Ong Giok-yan menimbrung.” Luka Kiu-ek Tojin itu yang satu terletak di tengah-tengah antara Hong-ji-hiat dan Hok-tho-hiat, yang lain di Koai-ki-hiat di atas pundak sehingga tulang patah, betul tidak?”

Oh-lotoa terkejut, serunya, “Hei, apakah waktu itu nona juga berada di sana? Mengapa kami-kami tidak melihat nona?”
Dari suaranya yang terputus-putus ini, nyata ia menjadi ketakutan, ia kuatir jika sampai setiap tindak tanduknya juga diketahui oleh nona itu sehingga tersiar, maka tidak mustahil sebelum gerakan rahasia mereka ini dimulai sudah diketahui lebih dulu oleh Thian-san Tong-lo.

Tiba-tiba suara seseorang lain berkumandang di tengah orang banyak. “Ya dari..dari ..mana kau..kau tahu ken..kenapa aku ti..tidak me.. melihat?”

Rupanya pembicara ini mempunyai penyakit gagap, dalam keadaan gugup, bicaranya menjadi makin tak keruan. Orang gagap ini adalah salah satu di antara kesembilan jago yang ikut Oh-lotoa mengirim upeti ke Biau-biau-hong itu, biarpun orang ini mempunyai penyakit gagap, tapi ilmu silatnya sangat hebat, sebab itu tiada seorang pun yang berani mentertawai cara bicaranya itu.

Maka dengan acuh tak acuh Ong Giok-yan menjawab. “Musim semi tahun ini aku berada di daerah Kanglam, selama hidupku ini tidak pernah ke Thian-san segala.”

Oh-lotoa tambah takut jika nona itu tidak menyaksikan sendiri kematian Kiu-ek Tojin, tapi hanya mendengar dari cerita orang lain saja, inikan menandakan kejadian itu sudah tersebar di kalangan kangouw? Maka cepat ia tanya, “Habis nona mendengar dari siapa?”

“Aku hanya menerka saja,” sahut Ong Giok-yan, “sebab Kiu-ek Tojin adalah tokoh terkenal dari Lui-tian-bun, tatkala bertempur tentu dia menggunakan ginkang, tangan kiri memegang tameng dan tentu bagian dada dan punggung sebelah kiri terjaga rapat, satu-satunya kelemahan yang dapat diincar musuh hanya sebelah kanan, dan lawannya yang menggunakan pedang jika ingin merobohkan dia harus mengincar Hong ji hiat dan Hai tho hiat di paha kanan. Dan
kalau Kiu-ek Tojin menangkis dengan tameng dan hendak balas menyerang dengan Lui-kong-tang dengan sendirinya lawan akan menyerang punggungnya. Sebenarnya musuh tidak gampang menyerang Kiu-ekTojin dengan pedang, paling baik kalau menggunakan Boan koan-pit dan sebangsa alat piranti tiam hiat, jika memakai pedang, kukira kalau tidak menggunakan jurus Pek hong-koan-jit (pelangi putih melingkungi matahari) tentu pakai jurus Pek-te-cam-coan (raja putih memotong ular).”

Baru sekarang Oh-lotoa merasa lega oleh penjelasan Ong Giok-yan itu, selang sejenak barulah ia mengacungkan jempolnya dan memuji. “Hebat, sungguh kagum orang dari keluarga Koh-soh Buyung memang tiada yang lemah. Analisa nona barusan benar-benar seperti menyaksikan sendiri kejadian itu.”

“Nona ini she Ong, dia bukan..bukan…”, demikian Toan Ki ikut berseru.

Namun ong Giok-yan lantas memotong. “Nenekku she Buyung, aku dianggap orang dari keluarga Buyung juga boleh.”

Seketika pandangan Toan Ki serasa gelap, telinganya mendengung oleh ucapan si nona yang menyatakan aku dianggap orang dari keluarga Buyung juga boleh.

Dalam pada itu Tocu yang berpenyakitan gagap tadi telah berkata juga, “O..ki. kiranya be.. begitu.”

Tapi Oh-lotoa itu sangat hati-hati dalam segala hal, ia coba menegas lagi. “Nona Ong, apa yang kau uraikan barusan apa benar berdasarkan analisa menurut teori ilmu silat dan bukan menyaksikan sendiri kejadian itu?”

Ong Giok-yan hanya manggut-manggut dan tidak menjawab.
Tiba-tiba si gagap berseru pula, “Umpamanya bila engkau ha..harus mem..membunuh oh..Oh-lotoa, co-coba bagaimana..bagaimana caranya ?”

“Apa maksud tujuanmu dengan pertanyaan ini?” bentak Oh-lotoa dengan gusar.

Tapi segera timbul pula keragu-raguannya, usia nona ini sangat muda, masakah dia dapat menganalisa kematian Kiu-ek Tojin dengan sangat jitu. Hal ini sungguh sukar dipercaya, besar kemungkinan waktu itu dia sembunyi di bawah puncak Biau-biau-hong dan menyaksikan peristiwa itu urusan ini sangat penting, betapapun harus ditanya dengan lebih jelas.
Maka akhirnya dia pun bertanya, “Ya, coba jika nona hendak membunuh aku bagaimana caranya?”

Ong Giok-yan hanya tersenyum saja dan tidak menjawab, tiba-tiba ia membisiki Buyung Hok. “Piauko, kelemahan orang ini terletak di Thian cong hiat di belakang bahunya dan Ceng ling hiat di balik sikunya, asal kedua tempat ini diserang, tentu dapat kau robohkan dia.”

Dalam hal pengetahuan ilmu silat memang Ong Giok-yan jauh lebih luas daripada Buyung Hok, dahulu tatkala iseng Buyung Hok memang sering minta petunjuk padanya, tapi sekarang di hadapan jago silat sebanyak ini masakah dia sudi diberi petunjuk oleh seorang nona cilik. Maka ia hanya mendengus saja dan tidak mau menurut, serunya “Jika kamu ditanya Oh-tongcu, maka boleh kau jawab terang-terangan saja.”

Ong Giok-yan menjadi merah jengah, di luar dugaannya bahwa maksud baiknya telah menimbulkan reaksi kasar dari sang Piauko, segera katanya, “Piauko, ilmu silat di dunia ini tiada satu pun yang tak dikenal oleh Koh-soh Buyung, boleh kau katakan saja kepada Oh-lotoa.”

Tapi Buyung Hok cukup angkuh dan tinggi hati, ia tidak mau pura-pura, juga tidak mau mendapat petunjuk seorang nona, maka sahutnya, “Ilmu silat Oh-tongcu sangat tinggi, masakah begitu mudah untuk merobohkan dia? sudahlah, Oh-tongcu, tak perlu kita mengurus persoalan di luar pokok pembicaraan, silahkan teruskan ceritamu tentang kejadian di Biau-biau-hong itu.”

Namun Oh-lotoa justru ingin tahu dengan jelas apakah ada orang lain lagi yang menyaksikan kejadian masa dahulu itu, maka katanya pula. “Nona Ong, jika engkau tidak tahu cara untuk membunuh orang she Oh, dengan sendirinya kau pun belum pasti tahu jurus ilmu pedang apa yang menewaskan Kiu-ek Tojin itu. Apa yang kau katakan tadi terang hanya untuk menggoda aku saja. Maka tentang darimana nona mendapat tahu kematian Kiu-ek Tojin itu tidak boleh dibuat main-main, tapi hendaklah terus terang saja.”

Waktu Ong Giok-yan membisiki Buyung Hok tadi, dengan penuh perhatian Toan Ki terus mengikuti apa yang dilakukan nona itu terhadap sang piauko, dengan lwekangnya yang tinggi, apa yang dibisiki Ong Giok-yan kepada Buyung Hok dapat didengarnya dengan jelas. Kini mendengar ada ucapan Oh-lotoa itu pada hakikatnya hendak menuduh Ong Giok-yan berdusta, nona yang dipujanya bagaikan dewi kahyangan itu mana boleh dicerca orang sesukanya.

Maka tanpa berkata lagi, terus saja Toan Ki melakukan langkah ajaib Leng-po-wi-poh, ia menggeser ke kanan dan menyelinap ke kiri dan tahu-tahu sudah sampai di belakang Oh-lotoa.

Oh-lotoa kaget, bentaknya. “Kau mau apa?”

Tapi secepat kilat Toan Ki sudah dapat memegang Thian-conghiat di belakang bahu kanannya sedang tangan lain mencengkeram pula Ceng-ing-hiat di balik siku kiri Oh-lotoa, yaitu kedua hiat-to yang merupakan tempat lemah di badan Oh-lotoa.

Gaya serangan Toan Ki itu sebenarnya sama sekali tidak menurut teori dan sangat kaku sehingga lebih mirip tingkah laku seorang copet yang kuatir konangan. Tapi karena langkahnya yang ajaib itu sehingga tahu-tahu Oh-lotoa didekati olehnya, pula letak kelemahan Oh-lotoa itu memang sangat tepat diketahui oleh Ong Giok-yan, kedua hiat-to yang dikatakan itu memang benar ialah bagian yang merupakan ciri kelemahannya, ia tahu-tahu sekarang kena dicengkeram musuh dan Oh-lotoa tidak berani balas menyerang, dikuatirkan mendadak Toan Ki mengerahkan tenaganya dan seketika dia bisa celaka.

Ia tidak tahu meski Toan Ki memiliki lwekang yang maha hebat, tapi tidak dapat dikerahkan dengan sesuka hati sehingga biarpun kedua tempat kelemahannya dicengkeram, namun sebenarnya pemuda itu sama sekali tidak dapat merobohkan dia.

Cuma dia tadi sudah merasakan kelihaian Toan Ki dengan Cu-hap-sin-kang yang membuatnya ketakutan itu, dengan sendirinya sekarang ia tidak berani melawan. Terpaksa ia berkata dengan tersenyum ewa, “Ilmu silat Toan kongcu memang benar-benar sakti, aku takluk sungguh-sungguh.”

“Aku tidak bisa ilmu silat, semuanya berkat petunjuk Nona Ong,” sahut Toan Ki. Lalu ia melepaskan cengkeramannya dan melangkah kembali ke tempatnya semula dengan perlahan-lahan.

Oh-lotoa menjadi heran dan takut, setelah termangu-mangu sekian lamanya, baru ia berkata lagi, “Hari ini aku baru tahu bahwa dunia seluas ini masih banyak orang kosen.”

“Oh-lotoa, kamu mempunyai kawan kosen sebanyak ini yang siap membantumu, sungguh kamu harus merasa gembira dan bahagia,” seru Put-peng Tojin.

“Benar,” sahut Oh-lotoa. “Seperti juga rasa heran Put-peng Tojin tadi, ketika aku melihat kedua luka Kiu-ek Tojin itu, kontan saja aku ragu-ragu, sebab selama ini cukup satu gebrakan saja orang dari Leng-ciu-kiong (istana elang sakti) di Biau-biau-hong sudah dapat membinasakan lawannya, mengapa sekarang harus berturut-turut melukainya dua kali?”

Diam-diam Buyung Hok terkejut, pikirnya. “Dengan kepandaian Ih-pi-ci-to, hoan-si-pi-sin keluarga Buyung kami selama ini sudah mengguncang Bu lim tapi orang-orang dari Leng-ciu-kiong di Biau-biau-hong itu hanya satu kali gebrak saja sudah cukup untuk membinasakan lawannya, sungguh aku tidak percaya di dunia ini ada ilmu silat selihai itu?”

Walaupun sangsi dalam hati, tapi Buyung Hok adalah seorang yang dapat menahan perasaannya, maka lahirnya ia berlaku tenang-tenang saja.

“Oh-tongcu,” tiba-tiba Pau put-tong menimbrung, “Kau bilang orang-orang Leng-ciu-kiong itu tidak perlu dua kali gebrak untuk membinasakan seorang lawan, hal ini memang tidak sulit terhadap golongan tidak becus, tapi kalau ketemu jago pilihan, apakah juga dalam sejurus dapat membunuh orang? Ha..ha. benar-benar terlalu dilebih-lebihkan, terlalu berlebihan.”

“Jika Pau-heng tidak percaya, habis apa yang dapat kukatakan lagi,” sahut Oh-lotoa. “Namun silahkan pikirlah, jelek-jelek kami 36 Tongcu dan 72 Tocu juga bukan manusia yang dapat ditundukkan oleh siapa pun juga, tapi terhadap nenek bangsat itu tiada seorangpun di antara kami yang berani membantah perintahnya, bahkan selama berpuluh tahun ini sedikit pun tidak timbul maksud untuk melawannya. Coba, kalau dia tidak mempunyai kepandaian yang luar biasa, apakah kami mau tunduk padanya dengan begini saja?”

“Ya, hal ini memang agak aneh, belum tentu kalian rela diperbudak oleh dia”, kata Pau put-tong sambil mengangguk.

Tapi dasar wataknya memang tidak gampang menyetujui pendapat orang lain, maka biarpun merasa ucapan Oh-lotoa itu cukup beralasan toh masih ditambahkannya pula. “Tapi meski kau bilang tidak berani timbul maksud untuk melawan, sekarang bukankah hal itu sudah terjadi dan kalian bermaksud memberontak kepadanya?”

“Dalam urusan ini sudah tentu ada alasannya,” sahut Oh-lotoa.
“Tatkala kulihat kematian Kiu-ek Tojin itu adalah akibat dua tempat luka, aku menjadi curiga. Waktu kuperiksa kedua korban lainnya kematian mereka pun serupa, yaitu tidak terbunuh dalam sekali serang, hal ini menandakan sebelumnya telah terjadi pertarungan sengit. Aku lantas berunding dengan para Tongcu, meski merasa peristiwa itu mencurigakan, apa barangkali kematian Kiu-ek Tjin itu bukan terbunuh oleh orang Lengciu-kiong? Tapi kalau bukan terbunuh oleh orang Leng-ciu-kiong, habis siapa kah yang begitu berani main gila di sekitar puncak gunung yang merupakan wilayah pengaruh Leng-ciu-kiong itu?
Begitulah, dengan penuh curiga kami melanjutkan perjalanan. Tiada seberapa jauh, mendadak Ang-tongcu berkata. ‘Jang….jangan-jangan.. Lo..Lo-hujin (nyonya tua) - Lo-hujin. .sa...sa…”

Mendengar cara Oh-lotoa menirukan dengan tergagap-gagap, maka tahulah Buyung Hok orang yang dimaksud sebagai Ang-tongcu tentu adalah orang yang punya penyakit gagap tadi.
Maka terdengar Oh-lotoa menyambung pula. “Tatkala itu belum seberapa jauh kami meninggalkan Leng-ciu-kiong, padahal berada di manapun juga kalau menyebut nenek bangsat itu tiada seorang di antara kami yang berani kurang ajar padanya dan selalu menyebutnya sebagai Lo hujin. Ketika kami mendengar Ang-tongcu mengatakan, jang..jangan jangan Lo..Lohujin sa..sa, maka segera kami menyambungnya, sakit? Maksudmu?”

“Ya, sebenarnya sudah berapa tua Thian-san Tong-lo itu?” Tanya Putpeng Tojin.

“Itulah tiada seorang pun yang tahu,” sahut Oh-lotoa. “Yang terang di antara kami yang diperbudak olehnya, yang paling lama sedikitnya empat lima puluh tahun lamanya, pendek kata tiada seorang pun yang pernah melihat tampangnya dan tiada seorang pun yang berani tanya umurnya. Maka ketika Ang-tongcu mengemukakan pikirannya, seketika kami pun teringat bahwa manusia pada akhirnya pasti akan mati, betapapun tinggi ilmu`silatnya nenek bangsat itu masakah dia dapat hidup untuk selamanya dan takkan mampus? Sekali ini dia sama sekali tidak memberi hukuman pada kami meski barang upeti kami itu tidak lengkap, hal ini sudah luar biasa, apalagi Kiu-ek Tojin mati di kaki gunung dengan luka yang tidak cuma satu tempat saja, hal ini lebih-lebih mencurigakan lagi.”

“Pendek kata, kami semuanya menganggap dibalik semua kejadian itu tentu ada sesuatu yang tidak beres. Tapi kamu hanya saling pandang satu sama lain, ada yang senang, ada yang kuatir, ada yang sedih, namun tiada seorang pun yang berani mengemukakan pendapat lagi. Kami cukup tahu waktu itu adalah kesempatan satu-satunya untuk melepaskan belenggu dari nenek bangsat itu dan untuk menjadi manusia baru. Tapi selama itu kami telah kenyang disiksa dan dikekang di bawah kekuasaan nenek keparat itu sehingga tiada seorang pun yang berani menyerempet bahaya untuk datang kembali ke Leng-ciu-kiong buat menyelidiki keadaan yang sebenarnya.

“Sesudah agak lama, akhirnya Gim-tongcu berkata. Dugaan Ang-jiko tadi memang cukup beralasan, cuma urusan ini juga sangat berbahaya. Menurut pendapatku, ada lebih baik kita pulang ke tempat masing-masing saja untuk menantikan berita lebih lanjut, bila sudah mendapat kabar yang memastikan, belum terlambat untuk kita bertindak lagi.”

“Usul Gim-tongcu ini memang jauh lebih aman dan lebih baik, namun kami benar-benar tidak dapat bersabar lagi, sebagian besar di antara kami bersembilan orang itu ingin lekas mendapatkan keadaan yang pasti, maka Ang-tongcu berkata, itu Sing-si-hu..Singsi-hu…”

“Tidak perlu dia meneruskan ucapannya juga kami paham maksudnya. Maklum, nenek bangsat itu telah memegang Sing-si-hu (jimat mati hidup) kami sehingga siapa pun tiada yang berani melawannya dan bila dia jatuh sakit dan akhirnya mampus sehingga Sing-si-hu itu jatuh lagi ke tangan orang kedua, maka terang kami akan menjadi budak pula bagi pengganti nenek bangsat itu dan selama hidup kami tiada kesempatan lagi buat hidup sebagai manusia yang layak.”

“Apalagi kalau orang kedua itu lebih jahat dan kejam daripada nenek bangsat itu, maka derita sengsara untuk selanjutnya pasti akan lebih celaka. Dalam keadaan berbuat atau tidak terpaksa kami harus bertindak dan menyelidiki keadaan yang sebenarnya walaupun tahu hal ini berarti kami harus menyerempet bahaya. Dan di antara kami bersembilan itu kalau bicara tentang ilmu silat dan kecerdikan, maka Ang-tongcu boleh kata tiada bandingannya, lebih-lebih ginkangnya, boleh dikatakan jempolan. Tatkala itu keadaan menjadi sunyi, pandangan semua orang terpusat ke arah muka Ang-tongcu.”

Sampai disini, tanpa terasa Buyung Hok, Ong Giok-yan, Toan Ki, Ting Pek-jwan dan lain-lain yang tidak kenal siapakah Ang-tongcu itu, seketika memandang kian kemari di antara orang banyak untuk mencari tokoh yang dimaksudkan dengan ilmu silat yang tinggi tapi mempunyai penyakit gagap itu. Mereka coba mengingat-ingat ketika mereka diperkenalkan kepada para petualang itu agaknya tidak terdapat orang she Ang.

Rupanya Oh-lotoa tahu akan pikiran Buyung Hok dan kawan-kawannya itu, katanya dengan tersenyum, “Ang-tongcu suka pada ketenangan dan tidak suka bergaul, sebab itulah tadi tidak diperkenalkan kepada kalian, harap maaf. Begitulah ketika itu kami semuanya berharap agar Ang-tongcu suka tampil kemuka untuk pergi menyelidiki teka teki yang mencurigakan itu. Maka Ang-tongcu telah berkata jika demikian keputusan saudara-saudara, hal ini memang juga menjadi kewajibanku, sudah tentu aku akan pergi menyelidiki.”

Semua orang tahu cara bicara Ang-tongcu tentu juga tergagap-gagap dan tidak mungkin selancar seperti ucapan Oh-lotoa sekarang, cuma saja Oh-lotoa tidak mau menirukan penyakit gagap menggelikan orang itu.

Lalu Oh-lotoa menyambung, “Setelah Ang-tongcu kembali lagi ke Biau-biau-hong, kami berdelapan menunggu di kaki gunung, sungguh hati kami waktu itu sangat tidak tentram. Satu jam kami rasakan oleh kami seperti setahun lamanya, kami kuatir kalau terjadi apa-apa atas diri Ang-tongcu dan akibatnya kami tentu akan celaka.

Maklum saja, sebab kalau Ang-tongcu benar-benar mengalami nasib malang waktu itu, maka kami takut nenek bangsat itu juga akan membunuh kami semua.”

“Tapi urusan sudah terlanjur, biar bagaimana jadinya harus dihadapi dengan konsekuen-Begitulah kami menunggu dengan kebat-kebit. Kira-kira tiga jam kemudian, akhirnya kelihatan Angtongcu kembali dengan selamat. Kami tidak lantas tanya dia, tapi dari wajahnya yang berseri-seri kami tahu tentu ada kabar baik.”

“Benar juga Ang-tongcu menerangkan kepada kami bahwa Lohujin jatuh sakit dan tidak berada di atas gunung. Berita itu diperoleh Ang-tongcu ketika dia menyelundup lagi ke dalam Leng-ciu-kiong dan mendengar percakapan di antara dayang nenek bangsat itu, diketahui bahwa nenek bangsat itu sedang menderita sakit keras dan waktu itu lagi pergi mencari obat.”

Sampai disini, serentak terdengarlah sorak gembira orang banyak bahwasanya berita sakitnya Thian-san Tong-lo tentu sudah mereka ketahui lebih dulu, dan pokok persoalan yang hendak mereka rundingkan dengan berkumpulnya mereka ini justru adalah tentang sakitnya nenek dari Thian-san itu, namun demi mendengar Oh-lotoa menyebut lagi berita itu tanpa kuasa mereka bersorak gembira pula.

Toan Ki geleng-geleng kepala menyaksikan kelakuan kawanan petualang itu, katanya, “Orang lagi sakit, tapi kalian gembira sungguh tidak punya perasaan.”

Tapi semua orang sedang bersorak-sorai, sudah tentu tiada seorang pun yang memperhatikan ucapannya itu.

Maka Oh-lotoa melanjutkan. “Dengan sendirinya girang para kawan tak terkatakan demi mendapat berita baik itu, tapi kami kuatir pula kalau-kalau hal itu cuma tipu muslihat si nenek bangsat yang sengaja hendak menguji kesetiaan kami saja. Maka sesudah kami berunding lagi, selang dua hari kemudian segera kami beramai-ramai menyelidiki pula ke atas gunung. Sekali ini aku mendengar dengan telingaku sendiri bahwa si nenek bangsat memang benar-benar jatuh sakit. Cuma saja dimana tempat penyimpanan Sing-si-hu itu tetap tidak dapat kami temukan.”

“Hai, Oh-lotoa, benda apakah sebenarnya Sing-si-hu yang kau katakan itu?” tiba-tiba Pat put tong menyela.

“Hal ini terlalu panjang untuk diceritakan,” sahut Oh-lotoa dengan menghela napas. “Pendek kata, dengan memegang Sing-si-hu itu, maka nenek bangsat itu dapat membinasakan kami setiap saat.”

“Wah, apakah semacam jimat yang maha lihai?” Put tong menegas.

“Ya, boleh juga dikatakan demikian,” sahut Oh-lotoa dengan tersenyum getir. Rupanya ia tidak suka banyak menyinggung tentang Sing-si-hu, maka ia berpaling dan berkata kepada orang banyak. “Dan urusan kita sekarang ialah sakitnya nenek bangsat itu memang sudah terang dan pasti, kalau kita ingin melepaskan diri dari belenggu siksaan, maka kini sudah tiba waktunya, kita harus berani bertindak sebisanya. Cuma saja saat ini apa nenek bangsat itu sudah kembali ke Leng-ciu-kiong atau belum, hal ini kita tidak tahu. Dan bagaimana tindakan kita selanjutnya diharap saudara-saudara ikut memberi usul. Lebih-lebih Buyung kongcu, Toan kongcu dan Putpeng Tojin bertiga, mohon sudi memberi nasihat yang berharga.”

“Membikin celaka orang lain selagi dia dalam keadaan susah, hal ini tidak boleh diperbuat oleh seorang laki-laki sejati,” kata Toan Ki.“Jangankan aku tidak mempunyai saran-saran yang baik andaikan ada juga aku tidak sudi mengemukakan.”

Seketika air muka Oh-lotoa berubah hebat, tapi sebelum ia buka suara, Putpeng Tojin telah mengedipi dia, kata imam itu dengan tertawa, “Toan-heng memang sudah menyatakan takkan membantu pihak manapun dan cuma akan menonton saja, maka kalau dia tak mau memberi saran yang berharga juga kita tak dapat memaksanya untuk menyerang Biau-biau-hong, sekarang paling perlu hendaklah Oh-lotoa menerangkan dulu bagaimana kekuatan Leng-ciu-kiong yang sebenarnya. Ketika Angtongcu dan Oh-heng bersembilan menyelidiki kesana lagi, sebenarnya selain si nenek bangsat masih ada tokoh-tokoh siapa lagi dan bagaimana pertahanan yang teratur di istana itu? Biarpun Oh-heng tak dapat mengetahui seluruhnya, paling sedikit tentu dapat memberi gambaran sekadarnya untuk kita rundingkan bersama.”

“Sungguh memalukan kalau kuceritakan,” tutur Oh-lotoa. “Ketika kami meyelidiki lagi ke Leng-ciu-kiong. sebenarnya kami sangat ketakutan, sedapatnya kami main sembunyi-sembunyi dan kuatir dipergoki. Namun begitu akhirnya di taman bunga belakang istana itu toh aku kepergok juga oleh seorang anak dara. Melihat dandanan anak perempuan itu tampaknya adalah kaum hamba. Karena tidak sempat menyingkir sehingga jejakku dapat dilihatnya, syukur pada saat itu pikranku dapat bekerja cepat, kuatir rahasia perbuatanku bocor, terus saja aku melompat maju, dengan Kim-na-jiu-hoat segera aku bermaksud menangkap dayang cilik itu.”

“Seranganku itu kulontarkan dengan mati-matian, maklum setiap orang di Leng-ciu-kiong itu tidak boleh dipandang enteng, biarpun seorang anak kecil juga bukan mustahil memiliki ilmu sakti yang susah dijajaki. Maka sekali aku menerjang maju, aku insyaf perbuatanku itu lebih banyak mendatangkan celaka daripada selamat bagiku..”

Bicara sampai disini suara Oh-lotoa kedengaran agak gemetar, agaknya masih mengerikan bila dia mengenang saat-saat yang sangat bahaya ketika itu.

Begitu pula semua orang juga mendengarkan uraian Oh-lotoa dengan cermat dan sunyi. Bila teringat kepada Thian-san Tong-lo, sebenarnya semua orang sangat ketakutan. Tapi Oh-lotoa ternyata berani menggerayangi Biau-biau-hong, walaupun hal itu dilakukan karena terpaksa, namun betapapun harus diakui sebagai seorang pemberani dan nekat.

Maka terdengar Oh-lotoa melanjutkan, “Sekali aku menubruk maju, segera kugunakan ilmu Hou-jiau-kang (cengkeraman sepenuh tenaga). Tatkala itu terkilas juga suatu keputusan dalam benakku, bila sekali tubruk aku tak mampu menawan anak dara itu sehingga dia sempat berteriak minta tolong, maka segera aku akan terjun ke bawah puncak gunung yang curam itu, lebih baik aku bunuh diri saja daripada mati konyol disiksa oleh nenek bangsat itu.”

“Siapa duga…siapa duga ketika tanganku tepat mencengkeram pundak anak dara itu, ternyata sedikitpun ia tak melawan, bahkan ia kelihatan ketakutan dan segera roboh dengan lemas. Ternyata sama sekali ia tak paham ilmu silat, saking girangnya saat itu aku sendiri sampai terkesima, kakiku terasa lemas. Ya, bicara terus terang, waktu itu aku pun hampir-hampir roboh dengan lemas.”

Maka tertawalah semua orang sehingga melonggarkan semua urat-urat yang tegang.
Oh-lotoa menyindir dirinya sendiri juga hampir roboh ketakutan, tapi semua cukup tahu sebenarnya Oh-lotoa sangat tangkas dan pemberani, buktinya ia berani menangkap orang dari Biau-biauhong, hal ini sudah terang tidak sanggup dilakukan oleh orang lain.

Oh-lotoa memberi tanda sekali, seorang anak buahnya lantas maju dengan mengangkat sebuah karung warna hitam dan ditaruh di depan Oh-lotoa. Sesudah Oh-lotoa membuka tali pengikat karung itu dan dibelejeti ke bawah, tiba-tiba dari dalam karung menongol keluar kepala satu orang.

Semua orang sampai berseru kaget, waktu diperhatikan perawakan orang di dalam karung tampak pendek kecil, terang seorang anak perempuan.

“Nah, inilah dia anak dara yang kutawan dari Biau-biau-hong itu,” dengan berseri-seri Oh-lotoa memperlihatkan hasil operasinya.

Serentak semua orang bersorak memuji akan ketangkasan Oh-lotoa, tentang keberaniannya dan menganggap dia sebagai pahlawan nomor satu di antara para Tongcu dan tocu. Di tengah sorak gembira orang banyak, anak perempuan itu tampak mewek-mewek dan akhirnya menangis dengan sedih.

“Sesudah kami dapat menawan anak dara ini,” demikian Oh-lotoa menyambung, “Karena kuatir terjadi apa-apa yang tidak menguntungkan, maka cepat kami turun gunung. Ketika kami
periksa anak dara itu, sungguh sayang, ternyata bocah ini seorang gagu.”

“Semula kami kira dia sengaja pura-pura tuli dan berlagak bisu, maka berulang-ulang kami mencari akal untuk mencobanya.Terkadang kami sengaja membentak mendadak di belakangnya, ingin kami lihat apakah dia kaget atau tidak. Tapi meski sudah dicoba beberapa kali, ternyata dia memang benar gagu.”

Untuk sejenak pandangan semua orang di alihkan pada kepala anak perempuan di luar karung itu, kedengaran suara tangisan bocah itu agak serak, tampaknya memang benar seorang bisu.

Tiba-tiba seroang di antara para Tongcu itu bertanya, “Oh-lotoa, apa dia tidak dapat menulis?”

“Ya, tidak dapat,” sahut Oh-lotoa. “Kami sudah memaksanya dengan macam-macam jalan, kami sudah merangket dia, sudah merendam dia dalam air, menyelomot dia dengan api, membiarkan dia kelaparan dan siksaan lain, tapi tetap tak berhasil. Tampaknya bukan karena dia kepala batu tapi memang benar-benar tidak dapat.”

“Huh, menyiksa seorang nona cilik dengan cara-cara demikian rendah dan keji, sungguh tidak tahu malu,” jengek Toan Ki tiba-tiba saking tak tahan atas perbuatan kejam yang diceritakan Oh-lotoa itu.

Tapi Oh-lotoa menjawab, “Siksaan yang kami rasakan dari nenek bangsat itu berpuluh kali lebih kejam daripada yang kami perbuat itu, balas membalas, kenapa kami mesti merasa malu?”

“Jika hendak membalas dendam, seharusnya kalian tujukan kepada Thian-san Tang lo itu, apa gunanya kalian bertindak terhadap terhadap seorang pelayan cilik yang tak berdosa,” ujar Toan Ki.

“Sudah tentu ada gunanya,” sahut Oh-lotoa. Lalu ia keraskan suaranya dan berpaling kepada orang banyak. “Saudara-saudara sekalian, hari ini kita sudah bertekad akan memberontak kepada Biau-biau-hong dengan bersatu padu, selanjutnya kita harus senasib sepenanggungan, ada rejeki dirasakan bersama, ada kesusahan kita pikul beramai kita akan bersumpah setia dengan darah bagi perjuangan kita ini. Adakah di antara saudara-saudara yang merasa tidak setuju?”

Berulang Oh-lotoa bertanya, sampai pertanyaan ketiga kalinya, mendadak seorang laki-laki tinggi besar berputar tubuh terus melarikan diri ke arah barat tanpa permisi.

“Hai, Kiam-hi Tocu, hendak kemana?” seru Oh-lotoa.
Namun laki-laki itu tidak menjawab, bahkan tancap gas lebih kencang sehingga dalam sekejap saja sudah menghilang di balik lereng gunung sana.

“Pengecut itu melarikan diri di garis depan lekas dicegat,” teriak orang banyak. Serentak ada belasan orang lantas mengejar, namun jaraknya sudah agak jauh, sukar untuk dipastikan apakah mereka dapat menyusul Kiam-hi Tocu atau tidak.

Tapi sejenak kemudian, sekonyong-konyong terdengar suara jeritan ngeri yang panjang dari balik lereng sana. Semua orang terkejut dan saling sandang dengan bingung. Belasan orang yang sedang mengejar tadi juga serentak berhenti di tengah jalan. Pada saat lain tiba-tiba terdengar angin berkesiur, sebuah benda bundar tampak melayang tiba dari jauh sana dan jatuh di tengah orang banyak. Cepat Oh-lotoa melompat maju untuk menyambar benda bundar itu. Di bawah cahaya obor tertampak benda itu berdarah, kiranya sebuah kepala manusia. Ketika diperhatikan, tampak muka kepala manusia itu sangat beringas, mata mendelik dan jenggot menjingkrak, ternyata buah kepala Kiam-hi Tocu yang baru saja melarikan diri.

Untuk sejenak Oh-lotoa tertegun, ia tidak tahu mengapa Kiam-hi Tocu (pemilik pulau ikan pedang) itu dapat melayang jiwanya sedemikian cepat ? Lamat-lamat dalam hati kecilnya timbul perasaan yang seram jangan-jangan Thian-san Tang lo telah datang?

Terdengar Put peng Tojin sedang bergelak tertawa dan berkata, “Kiam-sin, benar-benar tidak bernama kosong. Kiam-sin Loheng, penjagaanmu benar-benar sangat ketat.”

Lalu dari balik gunung sana berkumandang suara sahutan orang. “Melarikan diri di garis depan, pengecut seperti ini boleh dibunuh oleh siapa pun juga, untuk ini harap para Tongcu dan tocu sudi memaafkan.”

Sesudah tenang kembali, bukannya marah pada Kiam-sin yang telah membunuh kawan mereka, bahkan para Tongcu dan tocu itu menyatakan rasa syukur mereka, “Untung Kiam-sin membantu kami membasmi penghianat ini, sehingga tidak merusak pergerakan kami.”

Diam-diam Buyung Hok, Ting Pek-jwan dan lain-lain merasa orang yang bergelar Kiam-sin (dewa pedang) itu agak terlalu sombong.
Biarpun ilmu pedangnya tinggi juga tak boleh mengaku sebagai dewa. Mereka merasa tidak pernah mendengar tokoh kangouw yang bergelar demikian itu, entah bagaimana ilmu pedangnya yang sejati?

Diam-diam Oh-lotoa mentertawai dirinya sendiri yang menyangsikan kedatangan Thian-san Tong lo tadi, segera ia berseru, “Saudara-saudara sekalian, marilah kita masing-masing membacok sekali badan anak dara itu. Meski gagu, tapi dia orang Biau-biau-hong, marilah kita minum darahnya sebagai tanda tekad kita akan melawan Biau-biau-hong. Sesudah sumpah setia ini, jangan lagi di antara kita saudara-saudara yang merasa takut-takut lagi, kita harus maju terus pantang mundur.”

Sehabis bicara, segera ia mendahului meloloskan golok, sinar hijau berkelebat, seketika semua orang mengendus bau amis dari senjatanya yang berbisa itu.

“Ya, benar,” serentak sahut orang banyak. “Marilah kita bersumpah setia dengan minum darah korban kita dan untuk selanjutnya kita harus maju terus tanpa gentar.”

Diam-diam Buyung Hok berkerut kening, ia tahu politik Oh-lotoa itu ingin kawan-kawannya terikat oleh sumpah setia dan tak berani berkhianat pula. Meski tindakan mereka dengan membunuh anak perempuan kecil itu agak terlalu kejam, tapi Buyung Hok sudah berpengalaman luas kejadian yang lebih kejam pun sering dilihatnya, maka sekarang ia pun tidak terlalu menaruh perhatian.

Berbeda dengan Toan Ki, segera pemuda ini berteriak-teriak.
“Hehe, ini tidak boleh terjadi, tidak boleh terjadi. Mana boleh membunuh seorang anak perempuan tak berdosa? He, Buyung-heng, engkau harus mencegah perbuatan kejam mereka ini.”

Tapi Buyung Hok menggeleng kepala, sahutnya, “Toan-heng, keselamatan mereka sendiri juga bergantung dalam tindakan mereka ini, kita adalah orang luar, lebih baik tidak ikut campur.”

Terdorong oleh jiwa kesatrianya segera Toan Ki berseru pula, “Seorang laki-laki sejati mana boleh berpeluk tangan saja bila melihat ada ketidak adilan? Nona Ong, biarpun engkau nanti akan mencaci maki padaku juga akan kutolong anak itu. Cuma saja aku….aku sama sekali tidak paham ilmu silat, untuk menolong nona cilik itu memang agak sulit. Eh, ya, Ting-heng, Kongya-heng, Hong-heng, biarlah kuterjang masuk untuk menolong nona itu dan kalian nanti membantuku dari belakang ya?”

Tapi Ting Pek-jwan berempat biasanya melulu tunduk kepada perintah Buyung Hok saja, sekarang junjungan mereka tidak mau ikut campur dengan sendirinya mereka pun tidak mau sembarangan bertindak, mereka hanya menggeleng kepala saja sebagai tanda penyesalan kepada Toan Ki. ===========
Kemana Hi tiok hendak membawa lari anak perempuan di dalam karung itu? siapakah anak perempuan itu? siapa lagi kalau bukan Thian-san Tang lo
Cara bagaimana Buyung Hok dan lain-lain akan membantu Oh-lotoa dan kawan-kawannya untuk menghadapi. Thian-san Tang lo yang maha sakti itu? Bacalah julid ke 63
===========

Mendengar gembar-gembor Toan Ki itu, Oh-lotoa menjadi kuatir kalau pemuda yang berkepandaian sangat aneh itu nanti benar-benar mencari perkara sehingga urusan bisa
runyam, maka segera ia mendahului bertindak, ia angkat goloknya dan berseru. “Biarlah Oh-lotoa turun tangan nomor satu.”

Kontan golok terus membacok ke arah anak perempuan yang tubuhnya masih terselongsong karung itu.

“Celaka!” seru Toan Ki, jarinya lantas menunding, dengan Tiong-ciong-kiam segera ia tusuk golok Oh-lotoa.

Di luar tahunya bahwa Lak-meh-sin-kiam yang dia miliki itu masih belum dapat digunakan dengan sesuka hatinya, tatkala hawa murni dalam tubuhnya bergolak ia dapat mainkan ilmu
pedang tanpa wujud itu dengan daya serang yang lihai, tapi lebih sering ia tak dapat mengerahkan tenaga dalam sehingga Lak-meh-sin-kiam yang dimilikinya itu kehilangan dayaa
gunanya dan begitu pula halnya sekarang.

Maka tertampaklah golok Oh-lotoa itu menyambar ke atas kepala anak dara itu, bukan mustahil dalam sekejap lagi kepala bocah itu akan terbelah menjadi dua.

Pada saat menentukan itulah sekonyong-konyong dari belakang sepotong batu padas melompat keluar sesosok bayangan orang, sekali tangannya bergerak, kontan Oh-lotoa tertumbuk mundur oleh serangkum angin yang kuat.
Berbareng tangan orang lain itu terus menyambar karung hitam yang berisi anak dara itu dan di gendong di atas punggung, lalu dibawa lari secepat terbang ke arah barat.

Serentak orang banyak sama berteriak-teriak dan membentak-bentak berbareng terus mengejar juga. Tapi lari orang itu teramat cepat sehingga tiada seorang pun yang mampu menyusulnya.

Yang paling girang adalah Toan Ki, dengan matanya yang tajam segera ia kenal siapa gerangan orang yang membawa lari karung berisi anak dara itu, segera ia berteriak, “Itulah dia Hi-tiok Hwesio dari Siau-lim-si. Wahai, Hi-tiok suheng, terimalah puji hormat dariku. Perbuatanmu ini sangat mulia. Nama baik Siau-lim-si di dunia persilatan memang bukan omong kosong belaka.”

Ternyata orang yang menyerobot dan membawa lari karung berisi anak perempuan itu memang betul adalah Hi-tiok Hwesio.

Sesudah menyaksikan pertarungan sengit antara Buyung Hok lawan Ting jun-jiu di rumah makan itu dimana ia sembunyi di kolong meja dan meja dimana ia sembunyi itu digempur hancur oleh pukulan Ting jun-jiu, saking ketakutan Hi-tiok lari terbirit-birit menyelamatkan diri

Sepanjang jalan ia ingin mencari paman gurunya untuk minta nasihat seperlunya. Maklum, sesudah menggebuk mati susiokcouw, yaitu Hian lan Taisu, sungguh Hi-tiok merasa bingung dan sedih. Pengalamannya di dunia kangouw teramat hijau dan tidak kenal jalan pula, untuk masuk rumah makan atau rumah penginapan kuatir kepergok orang sebangsa Ting Lokoai, maka yang dituju selalu jalan kecil dan lereng pegunungan yang sepi saja.

Selagi Hi-tiok Hwesio menyingkir ke tempat yang sunyi dan terpencil di lereng gunung itulah, kebetulan ke tiga puluh enam Tongcu dan ke tujuh puluh dua Tocu juga sedang berkumpul mengadakan musyawarah di lembah gunung situ, saking banyak jumlah anak buah masing-masing tokoh yang hadir dalam pertemuan itu, dengan sendirinya banyak juga yang berjumpa dengan Hi-tiok di tengah jalan.

Karena melihat potongan orang-orang itu agak aneh, tindak-tanduk mereka pun mencurigakan maka timbul rasa heran dalam hati kecil Hi-tiok. Diam-diam ia lantas mengintil di belakang orang banyak untuk menyelidiki duduknya perkara, sebab itulah segala apa yang terjadi telah didengar dan dilihatnya.

Terhadap dendam permusuhan di kalangan kangouw sama sekali dia tidak paham, tapi dasar jiwanya memang welas asih dan berbudi luhur, maka ketika dilihatnya Oh-lotoa mengacungkan golok hendak membacok mati seorang anak dan yang sedikitpun tidak mampu melawan, tanpa peduli apa-apa lagi segera ia terjang keluar dari tempat sembunyinya, ia serobot karung yang berisi anak dara itu terus digondol lari.

Ilmu silat Hi-tiok mestinya sangat rendah tapi sejak si kakek Siau-yau-pai mencurahkan tenaga murni yang dihimpunya selama tujuh puluh tahun ke dalam tubuh Hi-tiok, maka kekuatan lwekang Hi-tiok sekarang bukan main hebatnya, begitu karung itu berada di punggungnya, terus saja ia lari secepat terbang ke atas gunung dan hanya sekejap saja sudah menghilang di dalam hutan yang lebat. Macam-macam amgi yang dihamburkan para Tongcu dan tocu itu menjadi
luput seluruhnya.

Waktu semua orang melihat langkah Hi-tiok begitu enteng dan cepat, sekali maju Oh-lotoa lantas dibikin terpental, terang ilmu silatnya sangat lihai, apalagi terdengar pula Toan Ki mengatakan dia adalah padri Siau-lim-si, itu biara yang mempunyai nama dan wibawa yang membuat setiap orang merasa jeri, maka mereka menjadi tidak berani terlalu mendesak.

Cuma urusannya sangat penting, dengan digondolnya anak perempuan itu, bila usaha pergerakan mereka sampai bocor maka itu berarti akan mendatangkan malapetaka bagi mereka, sebab itulah semua orang lantas terus mengejar sambil membentak-bentak dan berteriak-teriak.

Puncak gunung yang tak dikenal namanya itu menjulang tinggi ke tengah awan, penuh pula dengan salju, untuk bisa mendaki sampai puncaknya sekalipun orang yang memiliki ginkang maha tinggi juga diperlukan beberapa hari lamanya.

Sebab itulah Putpeng Tojin lantas berseru, “Para saudara jangan kuatir, Hwesio itu berlari ke atas gunung, itu berarti menuju jalan buntu tidak nanti dia mampu terbang ke langit.
Asalkan kita beramai-ramai menjaga rapat jalanan di sekitar puncak ini, pasti dia takkan dapat lolos.”

Mendengar itu semua orang merasa agak lega. segera Oh-lotoa mengatur kawan-kawannya mengepung rapat segenap jalan di bawah gunung itu. Kuatir kalau diterjang Hi-tiok dari atas, maka tiap-tiap jalan diadakan tiga pos penjagaan ditambah belasan jago pilihan yang selalu meronda silih berganti.

Selesai mengatur, lalu Oh-lotoa bersama Putpeng Tojin, Song Tho-kong, Hong-tongcu, Gim tocu dan lain-lain yang seluruhnya berjumlah belasan orang terus naik ke atas gunung untuk menggerebek. Mereka bertekad harus melenyapkan jiwa padri itu supaya tidak mendatangkan
bahaya di kemudian hari.

Adapun Buyung Hok dan rombongannya disuruh menjaga di sebelah timur. Resminya mereka diminta menjaga, tapi sebenarnya mereka sengaja disingkirkan ke tempat terpencil agar tidak langsung ikut campur urusan.

Sudah tentu Buyung Hok tahu Oh-lotoa dan lain-lain masih mencurigai dirinya, maka ia hanya tersenyum saja dan membawa kawan-kawan menuju ke tempat yang ditunjuk untuk menjaga, sebaliknya Toan Ki masih terus memuji keperkasaan dan kesatriaan Hi-tiok tanpa peduli apakah orang lain setuju atau tidak atas pujiannya itu.

Dalam pada itu Hi-tiok masih terus lari ke atas, makin lama hutan yang disusupi itu semakin lebat. Tapi suara teriakan para pengejarnya juga makin menjauh.

Waktu ia turun tangan menolong orang adalah karena terdorong oleh keluhuran budinya yang ingin membela si lemah tapi sekarang bila dipikir para pengejarnya itu semuanya berkepandaian sangat tinggi dan kejam pula, salah seorang di antara mereka sekali hantam sudah cukup untuk
membinasakan dirinya, maka Hi-tiok menjadi ketakutan, pikirnya. Paling baik harus kucarikan suatu tempat tersembunyi yang takkan ditemukan mereka, dengan demikian barulah anak dara ini dan jiwaku bisa selamat.

Saat itu Hi-tiok boleh dikatakan lupa lapar dan lupa letih, dimana hutan yang paling lebat ke situlah lantas disusupi. Baiknya dia mempunyai lwekang yang kuat sehingga sedikitpun tidak merasa payah meski sudah dua jam ia berlari.

Setelah berlari-lari lagi tak lama, hari sudah terang, kakinya sudah mulai menginjak lapisan salju yang tipis.
Kiranya dia sudah sampai di pinggang gunung, di tempat itu sinar matahari tak sampai, maka di situlah terdapat salju yang tak mencair, ia coba menenangkan diri dan mengawasi sekelilingnya dengan hati masih kebat kebit. ia bergumam sendiri. “Wah, harus lari kemana sekarang?”

Di luar dugaan, mendadak terdengar suara orang berkata di belakangnya, “Setan penakut yang dipikir hanya lari terbirit-birit saja, sungguh aku pun ikut malu.”

“Haya..” teriak Hi-tiok dengan kaget, langsung ia lari pula ke atas gunung seperti diuber setan.

Sesudah beberapa li, ia coba menoleh ternyata tak terlihat seorang pun, maka ia bergumam lagi, “Untung tiada orang mengejar….”

Tapi baru ia selesai bicara, kembali di belakang ada orang bersuara. “Pengecut seorang laki-laki sejati masakah ketakutan seperti celurut? Sungguh goblok,” Keruan kejut Hi-tiok melebihi tadi, segera ia angkat langkah lari pula.

Dalam pada itu terdengar suara tadi berkata pula di
belakangnya, “Sudah penakut, tolol pula, sungguh menggelikan.”

Kalau didengar dari suara itu terang hanya belasan senti jauhnya di belakangnya, boleh dikata sekali ulur tangan saja pasti Hi-tiok akan terpegang. Maka diam-diam ia menjerit di dalam hati. “Wah, celaka. Kepandaian orang ini sedemikian tinggi, sekali ini riwayatku pasti akan tamat.”

Segera ia tancap gas sepenuhnya lari semakin cepat.
Tapi suara itu kembali berkata, “Jika takut mestinya jangan sok gagah seperti pahlawan. Sekarang ingin kutanya padamu, sebenarnya kamu hendak lari kemana?”

Mendengar suara itu hanya di tepi telinganya saking gugupnya kaki Hi-tiok serasa lemas semua dan hampir saja terbanting jatuh, untung dia hanya sempoyongan saja. Habis itu cepat ia putar tubuh ke belakang, namun tiada bayangan seorang pun yang terlihat. Ia sangka orang itu sembunyi di balik pohon, maka dengan penuh hormat ia berkata, “Siauceng melihat orang-orang jahat hendak membunuh seorang dara cilik, maka dengan tidak tahu diri telah menolongnya, sama sekali tiada maksud buat berlagak sebagai pahlawan.”

“Huh, berani berbuat tapi tidak tahu kekuatan sendiri, pasti akan kau rasakan hasilnya nanti,” jengek suara itu yang tetap berjangkit di belakang telinganya.

Keruan Hi-tiok tambah kaget, cepat ia berpaling lagi, tapi di bawah sinar matahari yang sementara itu sudah terang benderang menembus celah-celah hutan yang lebat, jelas tidak kelihatan bayangan setan pun, jangankan manusia.

Ia tahu kepandaian orang yang bersuara itu pasti berpuluh kali lipat lebih tinggi daripadanya, jika orang bermaksud jahat, biarpun sepuluh Hi-tiokjuga sudah melayang jiwanya.

Namun didengar dari nadanya, orang itu hanya memakinya sebagai pengecut, penakut, agaknya orang itu bukan sekomplotan dengan Oh-lotoa. Keruan Hi-tiok dapat menenangkan diri, lalu katanya, “Ya, siauceng memang tidak becus, harap cianpwe suka memberi petunjuk.”

“Hm, kamu bukan cucu muridku, buat apa mesti kuberi petunjuk padamu?” demikian suara itu menjengek.

“Ya, ya,” sahut Hi-tiok dengan gugup, “Memang siauceng salah omong, harap cianpwe suka maafkan, soalnya jumlah musuh terlalu banyak siauceng bukan tandingan mereka.
Seka…sekarang aku harus melarikan diri lagi.”

Habis berkata, kembali ia lari kencang ke atas gunung.
“Puncak gunung itu adalah jalan buntu,jika mereka berjaga rapat di sekeliling puncak itu, cara bagaimana kamu dapat meloloskan diri?” kata suara di belakangnya itu.

Hi-tiok tertegun oleh pertanyaan itu dan berhenti lari, sahutnya. “Hal itu tidak..tidak kupikirkan, sukalah Cianpwe menaruh belas kasihan sudilah memberi petunjuk jalan yang baik padaku.”

“He he he he,”, suara itu tertawa dingin, “Sekarang hanya ada dua jalan bagimu, pertama, putar balik ke sana dan tempur mereka, bunuh semua setan iblis keroco itu.”

“Sulit,” sahut Hi-tiok, “Pertama, karena siauceng memang tidak becus, pula tidak suka membunuh orang.”

“Jika begitu boleh ambil jalan kedua”, kata suara itu, “Terjunlah ke jurang yang beratus meter dalamnya itu sehingga badanmu akan hancur lebur dan habis perkara seluruhnya.”

“Tentang ini…ini.” ia tidak melanjutkan, tapi coba berpaling, ia lihat di belakangnya hanya salju belaka, di atas salju kecuali bekas tapak kaki sendiri toh tiada bekas kaki orang lain.

Diam-diam ia membatin. “Wah, kepandaian orang itu benar-benar sudah mencapai tingkatan menginjak salju tanpa meninggalkan bekas, suatu tingkatan yang sukar diukur.”

Rupanya orang itu menjadi tidak sabar, maka terdengar suara orang itu berkata pula, “Ini dan itu apa segala, apa yang hendak kau katakan, ayo lekas?”

“Kalau terjun kejurang sudah tentu akan mati tapi sekaligus juga akan membikin anak dara yang kutolong ini ikut menjadi korban, hal inilah yang membuatku keberatan,” kata Hi-tiok.

“Sebenarnya apa hubunganmu dengan Biau-biau-hong, sehingga tanpa pikir keselamatan jiwa sendiri kau berani menyerempet bahaya untuk menolong dia?” Tanya suara itu.

Sambil berlari ke atas gunung Hi-tiok menjawab. “Tentang Biau-biau-hong dan Leng-ciu-kiong baru untuk pertama kalinya kudengar tadi. Aku adalah murid Siau-lim-si, sekali ini mendapat tugas ke luar, sama sekali tiada sangkut paut dan hubungan apa-apa dengan golongan dan aliran lain di kangouw.”

“Jika begitu, rupanya kamu ini seorang hwesio cilik yang gagah ksatria,” jengek suara itu.

“Hwesio cilik sih memang betul, gagah ksatria mungkin tidak,” sahut Hi-tiok. “Pengalamanku terlalu cetek sehingga banyak berbuat secara gegabah, sekarang telah banyak mengalami kesulitan, sungguh aku menjadi bingung.”

“Tenaga dalam yang kau miliki sangat hebat tapi kepandaian ini terang bukan berasal dari Siau-lim-pai, apakah sebabnya?” Tanya suara itu.

“Hal ini terlalu penjang kalau diceritakan, justru inilah salah satu kesulitan yang sedang dihadapi diriku,” sahut Hi-tiok.

“Terlalu panjang atau terlalu pendek apa segala, pokoknya jangan banyak alasan, lekas kau ceritakan,” semprot suara itu dengan kencang.

Tapi Hi-tiok lantas ingat pada pesan So-sing-ho yang menyatakan bahwa nama Siau-yau-pai adalah suatu rahasia dan sekali-kali tidak boleh didengar orang luar. Apalagi orang yang bersuara di belakangnya ini bagaimana tampangnya sampai sekarang belum lagi diketahuinya, sudah tentu ia merasa sangsi untuk menceritakan rahasia besar itu. Maka jawabnya “Untuk itu harap cianpwe suka maaf. Sesungguhnya ada kesulitanku sehingga tidak dapat kuberitahukan dengan terus terang.”

“Hm, jika begitu, ayo lekas turunkan aku saja,” kata suara itu dengan kurang senang.

“Ha..ah? Ap..apa katamu?” teriak Hi-tiok kaget.

“Lekas turunkan aku… apa-apa segala, cerewet.” sahut suara itu.

Dengan jelas Hi-tiok dapat membedakan suara itu bukan suara kaum pria atau wanita, suara banci juga bukan, tapi suara serak-serak tua. Sungguh ia tidak paham apa maksud perkataan suara itu yang minta lekas turunkan aku, padahal belum lagi naik dari mana bisa turun.

Segera ia berhenti dan cepat putar tubuh, tapi tetap tidak tampak seorang pun di belakangnya.

Tengah Hi-tiok merasa bingung, tiba-tiba suara itu memaki pula, “Hwesio goblok lekas turunkan aku. Aku berada di dalam karung ini, memangnya kau kira aku siapa?”

Keruan Hi-tiok tambah kaget, sehingga pegangannya menjadi kendur dan bluk karung yang digendongnya itu terbanting ke tanah dan terdengar suara jeritan “aduh” dari dalam karung.

Dari suara jeritan yang serak tua itu terang sama dengan suara yang terdengar tadi.

Hi-tiok juga berteriak kaget dan cepat berkata, “Ai, nona cilik, kiranya dirimu. mengapa suaramu berubah sedemikian tua?”

Cepat ia buka karung itu dan memapah keluar satu orang.
Orang itu jelas kelihatan pendek kecil, terang seorang anak perempuan yang berumur delapan sembilan tahun, mukanya putih halus dan tidak terlalu cantik, tapi jelas terang dan nyata memang benar-benar seorang dara cilik. Pakaiannya juga pakaian anak kecil yang umum, rambutnya digelung seolah menjadi dua, bahkan memakai sebuah kalung dengan mainan yang indah. Tapi sinar matanya tajam berkilat-kilat penuh wibawa.

Melihat sikap anak dara yang aneh luar biasa itu, seketika mulut Hi-tiok ternganga dan tidak sanggup bicara.

Anak dara itu berkata. “Ketemu sama orang tua juga tidak memberi hormat, dasar tidak punya aturan.”

Suaranya tetap serak-serak tua, malahan lagaknya melebihi nyonya besar.

“No…nona cilik.”

“Hus, nona cilik atau nona besar apa segala. Aku ini nenekmu, tahu?” bentak anak dara itu sebelum lanjut ucapan Hi-tiok.

Hi-tiok melengak sekejap. Ia tersenyum, katanya, “Sudahlah, jangan berkelakar lagi, kita masih dalam keadaan bahaya. Marilah lekas masuk ke dalam karung lagi dan kita lari ke atas gunung, sebentar musuh tentu akan mengejar kemari.”

Sekilas mendadak anak dara itu melihat tangan kiri Hi-tiok memakai sebentuk cincin besi, segera ia berseru, “Hei, apa….apa..itu? Coba kulihat.”

Sebenarnya Hi-tiok tidak suka memakai cincin besi itu.
Cuma diketahuinya bahwa cincin itu adalah benda penting, kalau disimpan didalam saku kuatir akan hilang, maka terpaksa dipakainya juga pada jari. Mendengar pertanyaan anak dara itu, dengan tertawa ia menjawab. “Ah, hanya benda yang tidak berharga dan bukan suatu mainan yang menarik.”

Sekonyong-konyong anak dara itu pegang tangan kiri Hi-tiok dan memeriksa cincin besi itu dengan teliti.
Baru sekarang Hi-tiok dapat melihat jelas bahwa telapak tangan anak dara itu ternyata sangat besar dan sangat tidak seimbang dengan bentuk tubuhnya yang pendek kecil itu.
Bahkan telapak tangannya kelihatan kurus kering, otot hijau menonjol, kulit kisut sehingga mirip tangan kaum nenek-nenek yang berusia delapan sembilan puluh tahun, sedikitpun tidak pantas sebagai tangan seorang dara cilik, saking kagetnya cepat Hi-tiok membetot tangannya sehingga terlepas dari pegangan orang.

“Cincin ini kau dapat mencuri dari mana?” bentak anak dara itu dengan suara kereng seperti jaksa yang sedang menghardik penjahat.

Hi-tiok merasa tidak senang, sahutnya, “Orang beragama harus taat kepada ajaran-ajaran suci, mana boleh melakukan pencurian atau perampokan, apalagi membunuh. Cincin ini adalah pemberian orang, mengapa kau bilang aku mencuri?”

“Omong kosong,” semprot anak dara itu. “Kamu mengaku sebagai murid Siau-lim-si, mana mungkin orang memberikan cincin ini padamu. Ayo, jika tidak mengaku terus terang, maka
hari ini sudah pasti kamu akan kusiksa kubeset kulitmu dan kubetot ototmu.”

Diam-diam Hi-tiok tertawa geli, “Pikirnya jika aku tidak melihat potonganmu dengan mata kepala sendiri, tentu aku akan mati kaku digertak oleh suaramu yang galak ini.”

Maka ia menjawab.” Nona cilik..”

“Plak” belum lanjut ucapannya, tahu-tahu pipi kirinya dipersen sekali tamparan, untung tenaga anak dara itu tidak besar sehingga tidak terlalu sakit.

Dengan bersungut Hi-tiok mengomel, “Hei, mengapa kau pukul orang? Masih kecil sudah begini galak?”

Anak dara itu berkata. “Kamu bernama Hi-tiok? Ehm, Leng, Hian, Hui, Hi, Jika begitu kamu adalah anak murid Siau-lim-si angkatan ke delapan puluh tujuh, hwesio-hwesio cilik seperti
Hian cu, Hian pi, Hian lan dan lain-lain tentu adalah kakek gurumu, bukan?”

Hi-tiok sampai melangkah mundur saking herannya, sungguh susah dipercaya bahwa seorang dara cilik ternyata mengetahui angkatan perguruannya, bahkan para kakek gurunya seperti Hian cu dan lain-lain disebutnya sebagai Hwesio cilik, nada ini terang tidak mirip seorang anak
perempuan kecil.

Tiba-tiba Hi-tiok teringat kepada dongeng tentang arwah halus yang hidup kembali dengan masuk ke mayat orang lain. Ia menjadi sangsi jangan-jangan ada arwah setan tua yang
hinggap pada badan si nona cilik ini?

Dalam pada itu terdengar anak dara itu berkata pula. “Aku tanya padamu, kalau betul bilang betul, kalau tidak katakan tidak mengapa diam saja?”

“Apa yang kau katakan memang betul,” sahut Hi-tiok. “Cuma agak keterlaluan jika kau sebut Hongtiang dan para kakek guru kami sebagai Hwesio-hwesio cilik.”

“Kenapa bukan hwesio-hwesio cilik?” ujar anak dara itu. “Sedangkan aku dan guru mereka adalah satu angkatan dan setingkat, bila ketemu tentu juga Hian cu menyebut aku sebagai cianpwe yang terhormat. Sudah puluhan tahun aku menyebut dia sebagai hwesio cilik, masakah sekarang kau anggap aku keterlaluan segala?”

Keruan Hi-tiok tambah terkejut, guru Hian cu adalah Leng bud siansu, yaitu padri saleh yang jarang terdapat pada murid siau-lim-si angkatan ke delapan puluh empat, hal ini cukup
diketahui oleh Hi-tiok sendiri. Karena itu, ia tambah yakin bahwa anak dara ini pasti kesurupan arwah halus setan tua.

Maka dengan suara terputus-putus ia coba tanya lagi. “Lantas, sia….siapakah kau?”

Tiba-tiba anak dara itu marah, dampratnya. “Tadi kau sebut aku sebagai Cianpwe dan memberi hormat pula, mengapa sekarang kamu hanya panggil aku dengan kau saja?
Hm, jika tidak mengingat jasamu telah menyelamatkan aku, tentu sekali hantam saja nenek sudah cabut jiwa anjingmu.”

Mendengar anak dara itu menyebut diri sebagai nenek keruan Hi-tiok merasa takut, katanya, “Ya, nenek numpang tanya siapakah nama nenek yang mulia?”

“Nah, mesti begini,” ujar anak dara itu dengan senang. “Aku ingin tanya dulu, dari mana kau peroleh cincin besi itu?”

“Sungguh mati, cincin ini adalah pemberian seorang Losiansing (tuan tua),” sahut Hi-tiok dengan sungguh-sungguh.
“Sebenarnya aku tidak mau terima pemberian ini, maklum aku adalah murid Siau lim dan tidak nanti menerima pemberian sesuatu dari luar. Tapi jiwa Losiansing itu dalam keadaan gawat, tanpa peduli dia terus saja.”

“Hah! kau bilang jiwa Losiansing itu dalam keadaan gawat? Apa dia sudah mati?” demikian tiba-tiba anak dara itu memegang tangan Hi-tiok dengan erat dan bertanya dengan suara gemetar, “Tidak..tidak coba ceritakan dulu, bagaimana bentuk wajah Losiansing itu?”

“Dia berjenggot sangat panjang, mukanya putih bersih, orangnya sangat tampan dan bagus,” sahut Hi-tiok

“Dan kenapa jiwanya bisa dalam keadaan gawat?” Tanya anak dara itu dengan suara makin gemetar. “Padahal dia mememiliki ilmu silat maha tinggi..”

Tapi pada saat lain mendadak anak dara itu berubah menjadi gusar dan mendamprat Hi-tiok. “Hwesio busuk, ilmu silat Bu-gai-cu maha tinggi, jika dia tidak membuyarkan tenaganya mana bisa dia mati? Kematiannya masakah begini gampang?”

“Ya, ya,” sahut Hi-tiok sambil mengangguk.

Meski usia anak dara di hadapannya itu kelihatan sangat muda, tapi wibawanya ternyata membuat Hi-tiok merasa jeri dan hormat sehingga tidak berani membantah ucapannya,
meski dalam hati tidak habis mengerti tentang apa yang disebut membuyarkan tenaga dalam segala, kalau orang mau mati apa sih kesukarannya? Mengapa dikatakan tidak begitu gampang?

Dalam pada itu si anak dara bertanya pula, “Dimanakah kamu bertemu dengan Bu-gai-cu?”

“Yang kau maksudkan apakah Losiansing yang mukanya tampan, gurunya Cong pian siansing So-sing-ho itu?” Hi-tiok menegas.

“Ya, siapa lagi kalau bukan dia?” bentak anak dara itu. “Hm, sampai namanya saja tidak kau kenal tapi kau berani berdusta dan mengatakan dia memberikan cincin besi itu padamu. Kamu benar-benar berani mati dan tidak tahu malu.”

“Apakah kau juga kenal Bu-gai-cu Losiansing itu?” Tanya Hitiok.

“Aku yang tanya padamu dan bukan kamu yang harus tanya padaku,” bentak anak dara itu dengan gusar. “Aku tanya padamu dimanakah kamu bertemu dengan Bu-gai-cu, ayo lekas jawab.”

“O, hal itu terjadi di atas suatu puncak gunung,” tutur Hitiok. “Secara tidak sengaja aku memecahkan suatu problem catur sehingga aku bertemu dengan Losiansing itu.”

Karena jawaban yang dianggapnya tidak masuk akal itu, agaknya anak dara itu ingin menampar Hi-tiok lagi, tapi sekarang mereka berdiri tegak berhadapan, sedangkan perawakan anak dara itu pendek kecil, untuk memukul muka Hi-tiok tentu tak sampai, maka tangannya yang sudah
terangkat urung dihantamkan.

Dengan gusar ia mendamprat.
“Kamu benar-benar ngaco belo. Selama beberapa puluh tahun entah berapa banyak kaum cerdik pandai yang dijatuhkan oleh problem catur itu, masakah hwesio cilik tolol dan dogol macam dirimu malahan mampu memecahkannya? He, kau berani membual lagi, apa kau minta kugampar mulutmu?”

“Kalau melulu kepandaianku sendiri memang tidak sanggup memecahkan problem catur itu,” kata Hi-tiok. “Tapi waktu itu sudah terlanjur Cong pian siansing memaksaku harus menjalankan biji catur yang kupegang, maka terpaksa sembarangan kujalankan sebiji caturku dengan mata tertutup, siapa tahu permainan secara ngawur itu berbalik menemukan jalan keluarnya, ditambah lagi ada orang kosen diam-diam membantuku sehingga problem catur itu akhirnya dapat
kupecahkan. semuanya itu hanya secara kebetulan saja, tapi karena kekhilafanku itu sehingga banyak terjadi perbuatan dosa lainnya, sungguh tobat, omitohud...omitohud..”

Demikian akhirnya Hitiok berulang-ulang menyebut Buddha.

Anak dara itu tampak setengah percaya dan setengah tidak katanya, “Jika begitu duduknya perkara masih masuk akal.”
Belum habis ucapannya, sekonyong-konyong terdengar suara suitan dan tindakan orang banyak di bawah gunung yang cukup jelas.

Hi-tiok menjerit kuatir, ia buka karung terus jejalkan anak dara itu ke dalam karung dan segera digendong untuk dibawa lari pula ke atas gunung. Sesudah berlari-lari sebentar, suara para pengejar itu kembali ketinggalan jauh lagi.

Waktu Hi-tiok menoleh, tanpa terasa ia berteriak, “Wah, celaka.”

“Kenapa celaka?” Tanya si anak dara di dalam karung.

“Aku telah meninggalkan bekas tapak kaki di atas salju, kemana pun kita lari pasti juga akan ditemukan mereka,” sahut Hi-tiok.

“Terbang saja di atas pohon tentu tak akan meninggalkan bekas,” kata anak dara itu. “Cuma sayang ilmu silatmu terlalu rendah ginkang yang sepele saja kamu tidak bisa. Eh hwesio cilik kulihat tenaga dalammu tidak lemah boleh juga kamu coba-coba.”

“Baiklah coba ini.” Kata Hi-tiok dan segera ia meloncat tinggi ke atas. Dan ternyata sekali loncat saja tingginya melebihi pohon. Waktu turun ia julurkan kaki hendak hinggap di suatu dahan, tak terduga injakannya terlalu berat,”krak” dahan itu patah sehingga Hi-tiok kejeblos berikut dahan pohon yang patah itu.

Jatuhnya Hi-tiok dengan badan terlentang sehingga kalau terbanting ke tanah tentu karung yang berisi anak dara itu akan tertindih. Dasar hati Hi-tiok memang welas asih kuatir anak dara itu akan tertindih mati, dengan segala kemampuan ia coba membalik tubuh di udara sehingga menjadi tengkurap jatuhnya, “bluk” ia terbanting keras, batok kepalanya membentur sepotong batu dan kontan bocor.

Hi-tiok merintih-rintih kesakitan dan meronta bangun dengan malu katanya kemudian, “Ai, aku terlalu bodoh, tidak dapat.”

“Kamu lebih suka terluka sendiri daripada menindih aku, betapapun kamu ternyata cukup menghormati nenek,” ujar anak dara itu. “Karena nenek ingin menggunakan tenagamu pula, sebagai tanda jasa, biarlah kuajarkan sejurus lompatan terbang padamu. Nah, dengarkan dengan baik, tatkala melompat ke atas, kedua lutut sedikit di tekuk, tenaga dalam kau himpun di bagian pusat, ketika badan terapung ke atas, lantas…”

Begitulah satu persatu ia memberi penjelasan dan mengajarkan pula cara berputar dan membelok di udara, cara melompat ke samping atau mundur ke belakang. Selesai itu, lalu katanya. “Nah, sekarang boleh coba melompat lagi seperti apa yang kuajarkan ini.”

“Baiklah,” sahut Hi-tiok. “Dan lebih baik kucoba sendirian saja supaya kalau gagal tidak membikin susah padamu.” Lalu ia bermaksud menaruh karung itu ke tanah.

Tapi anak dara itu menjadi gusar, dampratnya.
“Kepandaian yang nenek ajarkan padamu masakah bisa keliru? Kenapa mesti pakai coba-coba segala? Jika sekali ini kamu terbanting lagi seketika juga nenek akan menyembelihmu.”

Hi-tiok merasa mengkirik bila teringat punggungnya menggendong mayat hidup yang setiap saat bisa mencekik lehernya, ia ingin melemparkan jauh-jauh karung itu, tapi tidak berani. Terpaksa ia tabahkan hatinya, ia turut apa yang diajarkan anak dara itu.

Ia tahan napas dan menghimpun tenaga, lutut sedikit tertekuk lalu meloncat perlahan ke atas.
Benar juga sekali ini tubuhnya seakan-akan bisa terapung sendiri keatas dengan perlahan, meski tiada sesuatu pegangan di udara toh ia dapat berputar dan membelok dengan sesuka hati.

Saking girangnya Hi-tiok berteriak-teriak. “Hah! Jadilah sekarang, jadi..”

Tak terduga karena mulutnya terbuka sehingga hawa murni yang bekerja dalam badan lantas gembos sehingga ia jatuh kebawah lagi. Untung jatuhnya sekarang menegak dan tidak keras, maka tidak sampai terbanting, hanya kedua kakinya yang yang terbentur dan kesakitan.

“Tolol!,” damprat si anak dara, “Jika mau bicara lebih dulu harus mengatur pernapasan supaya tidak jatuh ke bawah. Langkah pertama saja belum bisa sudah ingin langkah kelima dan keenam.”

“Ya, ya memang salahku,” sahut Hi-tiok.

Maka ketika ia meloncat lagi dengan ringan ia dapat hinggap di pucuk pohon, ranting pohon itu hanya mentul-mentul saja dan tidak patah, girang Hi-tiok tak terhingga, tapi dia tidak berani bersuara lagi, ia menuruti apa yang diajarkan anak dara tadi dan melompat ke depan, ternyata sekali lompat saja sudah beberapa meter jauhnya dan dapat mendarat di ranting yang lain, ketika ranting pohon itu menyendal sekali, kembali ia melompat ke atas pohon berikutnya. Dan sekali sudah lancar, ia merasa badan enteng dan tenaga penuh makin melompat semakin jauh, sampai akhirnya sekali lompat dapat melampaui dua pohon jauhnya, di tengah udara ia dapat bergerak bebas seperti ’superman”, keruan ia terkejut dan bergirang.

Puncak gunung itu lebat dan rindang dengan pepohonan, Hi-tiok melayang di atas pohon bagai terbang, dengan sendirinya tidak meninggalkan sesuatu bekas di atas tanah.
Maka hanya sebentar saja ia sudah jauh berada di tengah-tengah hutan yang lebat itu.

“Cukuplah! sekarang boleh turun saja,” kata si anak dara.

Sekarang Hi-tiok sudah menaruh hormat dan segan kepada anak dara itu, sambil mengiyakan ia lompat turun dengan perlahan, kemudian memapah anak dara itu keluar dari dalam karung.

Melihat roman Hi-tiok berseri-seri penuh kegirangan seperti orang baru putus lotere, kontan anak dara itu memaki, “Hwesio cilik kere, baru dapat belajar sedikit kepandaian kasaran saja sudah kegirangan setengah mati.”

“Ya, ya, sebab ilmu yang diajarkan nenek ternyata sangat berguna,” sahut Hi-tiok.

“Sekali tunjuk saja kamu lantas bisa, suatu tanda pandangan nenek memang tiada keliru, bahwa lwekangmu itu bukan berasal dari Siau-lim-si,” kata anak dara itu, “Sebenarnya lwekangmu kau belajar dari siapa? Mengapa dalam usiamu yang masih semuda ini sudah mempunyai lwekang sedemikian tinggi.”

Hi-tiok menjadi pedih teringat kepada kejadian tempo hari, sahutnya. “Ini adalah perbuatan Bu-gai-cu Losiansing yang telah…telah mencurahkan segenap tenaga murni yang dilatihnya selama lebih tujuh puluh tahun, ke dalam tubuhku pada saat beliau akan wafat, sesungguhnya siauceng tidak berani berhianat pada Siau-lim-si dan berguru pada aliran lain.
Tapi waktu itu tanpa peduli Bu-gai-cu Losiansing lantas memunahkan kepandaian yang kuperoleh dari Siau-lim-si lalu beliau mencurahkan segenap tenaga murninya padaku, siauceng sendiri tidak tahu apakah ini pantas diterima atau tidak dan entah untung atau akan bunting. Ai, pendek kata, bila kelak siauceng pulang ke Siau-lim-si, pendek kata…pendek kata..”

Berulang-ulang ia bilang pendek kata, tapi entah apa yang harus di pendek katakan.

Sekali ini anak dara itu ternyata diam saja dengan termangu-mangu, ia menggelar karung di atas batu padas, lalu bersandar dan termenung dengan bertopang dagu. Katanya kemudian dengan perlahan “Jika begitu, jadi memang benar Bu-gai-cu telah mewariskan kedudukan ciangbunjin siau-yaupai kepadamu.”

“Eh, kiranya kaupun kenal nama Siau-yau-pai?” Tanya Hi-tiok dengan heran.

Sebegitu jauh Hi-tiok masih tidak berani menyebut nama Siau-yau-pai karena teringat kepada pesan So-sing-ho yang menyatakan bahwa kecuali orang dari golongan sendiri, bila ada orang luar yang mendengar nama Siau-yau-pai, maka orang itu tidak boleh dibiarkan hidup di dunia ini. sekarang ia dengar anak dara itu menyebut dulu Siau-yau-pai, makanya ia berani menyambung.

Terdengar anak dara itu menjawab dengan marah-marah.
“Sudah tentu aku tahu siau-yau-pai. Bahkan ketika nenek kenal Siau-yau-pai, saat itu Bu-gai-cu sendiri belum lagi tahu.”

Hi-tiok hanya mengiyakan saja dan tidak berani membantah. Pikirnya, “Boleh jadi kamu kesurupan arwah setan tua dari beberapa ratus tahun yang lalu, sudah tentu kamu lebih tahu daripada Bu-gai-cu.”

Dalam pada itu tampak anak dara itu menjemput sebatang kayu kering dan sedang menggores-gores di atas tanah salju, sejenak kemudian sebuah papan catur telah selesai.

“Wah, celaka, dia akan paksa aku main catur,” diam-diam Hitiok mengeluh.

Sesudah menggambar papan catur, anak dara itu tampak memasang biji catur pula dengan tanda-tanda garis bundar kosong sebagai biji putih dan garis blok bundar dianggap sebagai hitam.

Baru separuh saja anak dara itu memasang biji catur, segera Hi-tiok dapat mengenali apa yang dilukiskan itu adalah problem catur yang dikarang Bu-gai-cu itu. Ia menjadi heran darimana anak dara ini tahu akan problem catur itu. Pikirnya, jangan-jangan dahulu kaupun pernah berusaha memecahkan problem catur itu, tapi gagal sehingga kamu mati konyol saking dongkolnya?

Berpikir demikian, kembali ia merinding menghadapi anak dara yang disangkanya kesurupan setan itu.

Sejenak kemudian, terdengar anak dara itu berkata. “Nah, katanya kamu pernah memecahkan problem catur ini, sekarang coba kau jalankan langkahnya yang pertama, ingin kulihat betul tidak apa yang kau katakan itu.”

Hi-tiok mengiyakan dan segera menjalankan satu biji catur hitam, lalu dilanjutkannya dengan langkah-langkah menurut apa yang didengar dari bisikan Toan yan khing tempo hari dan
akhirnya pecahlah problem catur itu.

Seketika keringat tampak berketes-ketes dari dahi anak dara itu, terdengar ia bergumam sendiri. “Takdir, takdir sungguh tiada seorang pun yang dapat berpikir permainan aneh yang harus membunuh diri dulu untuk kemudian baru menyerang?”

Sesudah termangu-mangu sejenak kemudian anak dara itu berkata “jika demikian, tampaknya hwesio cilik tidak omong kosong belaka. Tapi bagaimana Bu-gai-cu menyerahkan cincin besi itu padamu, coba tuturkan pada ku sejelas-jelasnya sedikitpun tidak boleh bohong.”

Hi-tiok mengiyakan, lalu berceritalah pengalamannya sejak dia ditugaskan turun gunung sehingga memecahkan problem catur mendapat lwekang dan cincin besi dari Bu-gai-cu,
menyaksikan Ting jun-jiu meracun dan membunuh So-sing-ho dan Hian lan, akhirnya dirinya melarikan diri dengan ketakutan, semuanya ia ceritakan dengan jelas.

“Jika begitu terang Bu-gai-cu adalah gurumu, mengapa kamu tidak memanggilnya sebagai suhu, sebaliknya menyebutnya Bu-gai-cu Losiansing apa segala?” Tanya si anak dara.

Hi-tiok menjadi serba susah sahutnya, “Sebab siauceng tetap padri Siau-lim-si dan tidak boleh masuk lagi ke perguruan lain.”

“Apa kamu sudah bertekad dan pasti tidak mau menjadi Ciangbunjin Siau-yau-pai?” anak dara itu menegas.

Hi-tiok geleng-geleng kepala dan menjawab, “Ya, tidak… pasti tidak.”

“Jika begitu kan gampang,” ujar anak dara itu. “Kau berikan cincin besi itu padaku. Biarlah aku mewakilimu menjadi Ciangbunjin Siau-yau-pai, mau?”

“Bagus, itulah yang kuharap,” seru Hi-tiok dengan girang, segera ia lepaskan cincin besi yang dipakainya dan diserahkan kepada anak dara itu.

Wajah anak dara itu tampak menampilkan rasa girang dan gusar pula, segera cincin itu hendak dipakai pada jarinya, tapi jarinya ternyata sangat kasar dan besar sehingga jari tengah dan jari manis tidak dapat dimasuki cincin akhirnya cincin itu dipakai pada jari kecil secara paksa.

Dengan suara mendongkol kemudian anak dara itu berkata pula. “Kau bilang Bu-gai-cu memberikan lukisan padamu dan kamu disuruh pergi ke Thian san untuk mencari orang dalam
lukisan itu, coba, dimanakah lukisan itu?”

Segera Hi-tiok mengeluarkan lukisan yang dimaksudkan.
Ketika anak dara itu membentang lukisan dan melihat wanita cantik berdandan secara puteri keraton dalam gambar itu, seketika air mukanya berubah hebat, kontan ia mencaci maki.

“Jadi dia ingin budak hina dina ini mengajarkan kepandaian padamu? Dia-dia tetap tidak lupa kepada budak hina dina ini dan melukisnya sebagus ini.”

Saking murka dan cemburunya, terus saja dia banting lukisan itu ke tanah dan diinjak-injak lukisan wanita cantik itu seketika menjadi kotor dan konyol.

“He, jangan,” seru Hi-tiok dan cepat jemput kembali lukisan yang telah tak keruan macamnya itu.

“Apa yang disayang?” bentak anak dara itu dengan gusar.

“Lukisan sebagus ini kan sayang kalau diinjak-injak,” sahut Hi-tiok.

“Apakah bangsat Bu-gai-cu itu mengatakan padamu tentang siapa budak hina dina ini?” Tanya si anak dara.

“Tidak,” sahut Hi-tiok sambil menggeleng kepala, ia menjadi heran mengapa sekarang Bu-gai-cu dimaki sebagai bangsat?.

“Hm, bangsat itu sedang mimpi barangkali, masakah sesudah berpuluh tahun budak hina dina itu masih sedemikian rupa? Huh! biarpun dulu juga tampangnya tidak sebagus ini,” demikian anak dara itu marah-marah lagi, saking murkanya kembali lukisan itu hendak direbutnya pula untuk dirobek-robek.

Tapi Hi-tiok keburu mengangkat tangannya ke atas dan kemudian menyimpannya di dalam baju.

Dengan marah-marah anak dara itu masih terus memaki.
“Bangsat Bu-gai-cu, yang tidak punya perasaan, dasar budak hina dina.”

Sudah tentu Hi-tiok merasa bingung atas pengakuan orang, ia menduga setan yang selurup di badan anak dara ini tentu kenal wanita cantik dalam gambar itu dan kedua orang pernah bermusuhan, sebab itulah si anak dara mencaci maki tidak habis-habisnya demi melihat gambarnya.

Begitulah selagi anak dara itu masih terus mengumpat, sementara itu Hi-tiok merasa perutnya berkeruyukan. Nyata sesudah berlari-lari semalam suntuk sebegitu jauh ia tidak makan minum apa pun, maka sekarang ia kelaparan.

Kemudian anak dara itu tanya, “Apa kau lapar?”

“Ya,” sahut Hi-tiok. “Di puncak gunung yang penuh salju melulu ini mungkin tiada sesuatu makanan apa-apa.”

“Kenapa tidak ada?” ujar anak itu. “Di puncak salju ini sangat banyak ayam juga banyak menjangan dan kambing liar. Mari sini, biar kuajarkan suatu ilmu lari cepat di tanah datar, lalu akan kuajarkan pula cara menyambit ayam menangkap kambing..”

Tapi Hi-tiok lantas goyang-goyang tangan sebelum ucapan anak dara itu habis, katanya. “Wah, orang beragama mana boleh membunuh. Aku lebih suka mati lapar daripada makan barang berjiwa.”

“Hwesio busuk! Hwesio goblok! Apakah selama hidupmu ini tidak pernah makan daging segala?” damprat anak dara itu.

Hi-tiok jadi teringat kejadian di rumah makan tempo hari, waktu itu dia digoda dan ditipu A Ci sehingga terlanjur makan sepotong daging gemuk serta minum satu mangkuk kuah
ayam.

Maka dengan muka bersungut ia menjawab, “Ya, pernah aku ditipu orang satu kali sehingga terlanjur makan barang berjiwa, tapi kejadian itu tidak disengaja, rasanya Buddha juga
takkan menyalahkan aku. Tapi kalau aku disuruh membunuh mahluk berjiwa, minta ampun, tidak nanti mau kulakukan.”

“Kamu tidak mau menyembelih ayam dan memotong kambing, tapi mau membunuh manusia, dosamu tentu berlipat ganda, ujar anak dara itu.”

“Aneh bilakah aku membunuh manusia?” Tanya Hi-tiok dengan heran, “Omitohud Dosa, dosa..”

“Aaaa, pakai dosa segala, sungguh menggelikan,” kata anak dara itu. “Kalau kamu tidak mau menangkap ayam untuk makanku, selang dua jam lagi tentu aku akan mati, ini kan berarti kamu yang membunuh diriku?”

Hi-tiok menjadi serba runyam, ia garuk-garuk kepala, katanya kemudian “Jika engkau merasa lapar, di puncak gunung ini tentu banyak rebung dan sayur-sayuran, biarlah kucarikan untukmu.”

Mendadak anak dara itu menarik muka, ia menunjuk matahari dan berkata. “Sang surya sudah bergeser sampai di atas, bila aku tidak minum darah segar, aku pasti akan mati. Hal ini sekali-kali tidak kubohongimu.”

Hi-tiok menjadi ketakutan, tanyanya, “Orang baik-baik kenapa mesti minum darah segar?”

Teringat olehnya bahwa iblis yang suka isap darah adalah sebangsa drakula, maka ia jadi mengkirik lagi.

Maka terdengar anak dara itu berkata pula, “Aku mempunyai semacam penyakit aneh, tiap-tiap hari waktu lohor bila tidak minum darah segar, maka hawa murni dalam tubuhku akan bergolak dan akibatnya bisa membakar mati diriku, sebelum mati tentu aku akan menjadi gila, hal mana tentu juga takkan menguntungkanmu.”

Tapi Hi-tiok masih terus menggeleng kepala katanya, “Biar bagaimana pun juga sebagai murid Buddha aku harus patuh pada ajaran agama dan taat pada setiap larangannya.
Jangankan aku sendiri tidak mau disuruh membunuh makluk berjiwa, sekali pun melihat engkau hendak membunuh juga pasti akan kucegah sebisanya.”

Anak dara itu memandang tajam pada Hi-tiok, dilihatnya padri dogol itu agak takut-takut tapi jelas tekadnya sangat teguh rasanya sukar disuruh menurut, sesudah tertawa dingin beberapa kali, lalu ia tanya pula. “Kamu mengaku sebagai murid Buddha dan taat pada pelajaran agama. Coba katakan apa sih larangan dan pantangan agama kalian?”

“Larangan dan pantangan agama Buddha sudah tentu banyak,” sahut Hi-tiok, “Pendek kata, dilarang membunuh adalah larangan pertama agama Buddha.”

“Katanya dalam kitab Buddha ada disebut tentang memotong daging sendiri untuk makanan elang dapatkah kau ceritakan kisahnya,” kata anak dara itu.

“Dahulu sang Buddha sakyamuni waktu melihat seekor elang lapar sedang memburu seekor burung merpati, beliau merasa tidak tega dan menyembunyikan merpati itu dalam bajunya. Elang lapar itu berkata pada sang Buddha, ‘Engkau menolong jiwa merpati itu tapi aku yang akan mati kelaparan’. Karena, itulah sang Buddha lantas memotong daging sendiri untuk makanan elang lapar itu,” demikian tutur Hi-tiok.

“Bagus,” seru si anak dara, “Sekarang kalau kamu tidak mau menangkap kambing atau mencari ayam bagiku, maka kamu harus meniru kebijakan sakyamuni dengan memotong daging sendiri untuk makananku. Kalau tidak itu berarti kamu bukan murid Buddha lagi.”

Sembari bicara ia singkap lengan baju kiri Hi-tiok sehingga kelihatan lengannya yang putih gemuk. Lalu sambungnya lagi dengan tertawa, “Setelah makan lenganmu yang gemuk itu tentu cukup untuk tahan lapar selama satu hari.”

Sekilas Hi-tiok melihat gigi anak dara itu panjang lagi lancip, terang bukan gigi kaum kanak-kanak, melihat lagaknya itu seperti ingin sekali gigit terus mengunyah daging lengannya.

Sebenarnya Hi-tiok tidak perlu takut kepada anak dara yang kecil dan lemah itu, tapi sejak tadi ia menduga anak dara itu tentu keselurupan setan, maka begitu melihat kelakuannya yang luar biasa itu, ia jadi merinding dan ketakutan.

Mendadak ia menjerit keras-keras satu kali, ia kipatkan tangan anak dara itu terus berlari kembali ke bawah gunung.

Saking takutnya maka jeritan Hi-tiok itu sangat keras dan nyaring sekonyong-konyong terdengar seruan orang di pinggang gunung sana, “Itulah dia, disana. Marilah kita beramai-ramai menggerebeknya.” Nyata itulah suara Putpeng Tojin.

Karena itulah Hi-tiok lantas berhenti lari, pikirnya, “Wah! Celaka. Karena jeritanku barusan sehingga tempat sembunyi diketahui, lantas bagaimana baiknya sekarang?”

Mestinya ia hendak lari kembali untuk menggendong anak dara itu, tapi ia masih takut, jika ditinggal sendiri ia merasa tidak tega pula.

Dalam keadaan ragu-ragu ia coba melongok ke bawah gunung, ia lihat beberapa titik hitam sedang merayap ke atas meski jaraknya masih jauh tapi akhirnya pasti akan disusul mereka. Dan sekali anak dara itu tertangkap mereka pasti tak berampun lagi.

Karena itu, akhirnya Hi-tiok putar balik, dari jauh ia berkata kepada si anak dara, “Hei, asal kamu bersumpah takkan menggigit aku, segera akan kugendong dirimu untuk melarikan diri lagi.”

Anak dara itu tampak tertawa, sahutnya, “Marilah sini, akan kukatakan padamu, orang-orang yang sedang merayap ke atas itu seluruhnya berjumlah lima orang, yang pertama adalah Put-peng Tojin, kedua Oh-lotoa, ketiga orang she Ang, dua orang lagi she Lo dan Lai. Biarlah kuajarkan beberapa jurus kepandaian, lebih dulu Putpeng Tojin harus kau robohkan.”

Sesudah merandek sejenak lalu sambungnya pula dengan tersenyum, “Ya, hanya robohkan dia saja agar dia tak bisa berkutik, tapi jangan kau bunuh dia dengan demikian tidak berarti kamu membunuh dan melanggar pantangan.”

Tapi Hi-tiok merasa ragu, sahutnya, “Ilmu silat Putpeng Tojin dan Oh-lotoa sangat tinggi cara bagaimana dapat kurobohkan mereka? Biar pun kepandaianmu sangat bagus juga tak mungkin mengajarkan padaku dalam waktu sesingkat ini.”

“Goblok! Dasar goblok,” semprot anak dara itu. “Bu-gai-cu adalah ketua Siau-yau-pai, dia adalah guru So-sing-ho dan Ting jun-jiu. Tentang kepandaian So-sing-ho dan Ting jun-jiu
sudah kau saksikan sendiri, maka dapat kau bayangkan bagaimana dengan kepandaian guru mereka, sekarang dia sudah mencurahkan seantero tenaga yang dilatihnya selama tujuh puluh tahun kepadamu, dengan kekuatanmu ini masakah kaum keroco sebangsa Putpeng Tojin dan Oh-lotoa itu mampu melawanmu? Soalnya kamu terlalu goblok dan tak dapat menggunakan kekuatanmu, sekarang coba ambil karung itu tarik napas dalam-dalam dan mengerahkan tenaga pada lengan kanan, pentang mulut karung itu, lalu tangan kiri gaplok sekali pada pinggang belakang musuh.”

Hi-tiok menuruti setiap gerakan yang diajarkan itu tapi dia tetap tidak percaya hanya dengan beberapa gerakan itu mampu merobohkan jago-jago silat terkemuka itu.

“Habis itu jari telunjuk kiri tutuk bagian ini di tubuh musuh, salah.. salah.. naik sedikit ..ya betul, itulah tempatnya. Harus mengerahkan tenaga dan jangan keliru tempat yang harus ditutuk itu.”

Begitulah anak dara itu melanjutkan petunjuknya.
Hi-tiok menirukan semua petunjuk itu dan mengingatnya dengan baik. Meski yang diajarkan itu kelihatannya cuma lima enam gerakan saja, tapi setiap gerakan itu ternyata meliputi macam-macam gaya yang sangat aneh dan ruwet sehingga Hi-tiok melatihnya sampai setengah hari masih tetap tidak tepat dengan ajaran si anak dara.

Untung ingatan Hi-tiok cukup baik, ia dapat ingat setiap kalimat kungfu dasar yang diajarkan anak dara itu cuma saja kalau dia disuruh memainkan secara sekaligus seluruh ajakan
itu tetap dia tidak becus.

Berulang-ulang anak dara itu memperbaiki kesalahan Hitiok, ia pun tidak habis-habis memaki “Goblok, dasar goblok.! Bu-gai-cu benar-benar buta sehingga mencari seorang ahli waris semacam dirimu, jika kamu seorang pemuda tampan masih dapat dimengerti, tapi kamu justru seorang hwesio cilik yang bermuka jelek dan goblok pula, entah cara bagaimana Bu-gai-cu dapat penujuimu.”

Hi-tiok menjadi heran, tapi mendongkol karena olok-olok anak dara itu, sahutnya, “Ya. Bu-gai-cu Losiansing juga pernah menyatakan lagi mencari seorang ahliwaris berupa pemuda tampan. Peraturan Siau-yau-pai itu benar-benar sangat aneh. Dan sekarang ketua Siau yau pai kan dijabat olehmu, tapi..”

Ia tidak melanjutkan lagi, sebenarnya ia ingin berkata.
“Tapi nona cilik yang diselurupi setan tua seperti dirimu juga tidak seberapa cantik.”

Hi-tiok melatih lagi beberapa kali dengan tekun, meski setiap kali masih salah. Tiba-tiba terdengar suara orang berlari secepat terbang, Putpeng Tojin memburu tiba sambil berseru
dengan tertawa dan segera menerjang ke arah Hi-tiok,

“Sungguh cepat benar larimu, ya hwesio cilik.”

Hi-tiok insyaf tak mampu melawan, segera ia putar tubuh hendak angkat langkah seribu, Tapi si anak dara keburu membentaknya. “Lakukan menurut ajaran tadi, jangan takut.”

Karena tak sempat banyak berpikir lagi, segera Hi-tiok pentang mulut karung, ia kerahkan tenaga pada lengan kanan terus menghantam ke arah Put-peng Tojin.

“Setan alas, berani, kau lawan Toaya (tuan besar),” damprat Put-peng Tojin sambil menangkis.

Aneh juga, imam yang ditakuti 36 Tongcu dan 72 Tocu itu ternyata tidak tahan sekali hantam, sedikit tubuhnya terhuyung-huyung, terus saja kepala Put-peng Tojin menyusup ke dalam karung yang dipantang Hi-tiok.

Girang Hi-tiok tidak kepalang, menyusul ia menutuk pula "Ih-sik-hiat" menurut ajaran si anak dara tadi.
"Ih-sik-hiat" itu terletak di kanan-kiri tulang punggung, tapi Hi-tiok tidak mahir ilmu Tiam-hiat, dalam keadaan gugup tutukannya menjadi melenceng sehingga kena "Yang-kang-hiat", suatu hiat-to yang terletak di atas Ih-sik-hiat.

Rupanya Put-peng Tojin menjadi kesakitan, ia menjerit dan menerobos keluar lagi dari dalam karung terus menjatuhkan diri ke depan sana dan tergelinding ke bawah gunung.

"Sayang, sayang," demikian terdengar si anak dara berseru gegetun. Lalu ia memaki Hi-tiok pula, "Goblok, suruh kau tutuk Ih-sik-hiat supaya dia roboh tak berkutik, kenapa, kau
tutuk Yang-kang-hiatnya?"

Sebaliknya Hi-tiok tampak kaget dan bergirang pula, serunya "Wah, ajaranmu ini boleh juga, biarpun salah tutuk, tapi sudah membuatnya ketakutan setengah mati!"

Sementara itu Oh-lotoa telah menerjang maju untuk menggantikan. Put-peng Tojin.

Segera Hi-tiok memapaknya dengan menjinjing karung katanya, "Oh-lotoa, marilah jika kaupun mau coba-coba!"

Melihat sekali gebrak Put-peng Tojin lantas dikalahkan, maka Oh-lotoa sangat waspada dan tidak mau main seruduk.

Ia angkat golok "Lok-po-hiang-lot-to" yang berbisa itu dan menabas dari samping.

"Haya, celaka," teriak Hi-tiok. "Dia pakai senjata, aku tidak sanggup melawannya! Tadi tidak kauajarkan cara melawan golok padaku, sekarang aku tidak keburu minta petunjuk lagi
padamu.”

"Lekas pondong aku dan meloncat ke atas pohon sana!" seru si anak dara.

Dalam pada itu Oh-lotoa telah menyerang tiga kali kepada Hi-tiok, untung Oh-lotoa sudah jeri lebih dulu padanya sehingga tidak berani terlalu mendesak, serangan yang dilancarkan itu lebih bersifat menggertak saja. Tapi hal ini sudah cukup membuat Hi-tiok kelabakan dan terancam bahaya.
Maka demi mendengar seruan si anak dara , ia menjadi girang, pikirnya, "Ya, betul, menyelamatkan diri dengan meloncat ke atas pohon adalah kemahiranku!"

Tapi sebelum ia lari ke arah si anak dara tau-tau golok Oh-lotoa sudah berulang-ulang menyerangnya pula. "Sret..sret", dua kali tabasan selalu mengarah tempat yang mematikan di
tubuh Hi-tiok.

" Haya , celaka!" teriak Hi-tiok gugup. Cepat ia loncat ke atas melambung tinggi ke atas pohon cemara yang besar.

Pohon cemara itu empat-lima meter tapi sekaligus Hi-tiok dapat mencapainya dengan mudah keruan hal ini membuat Oh-lotoa terkejut.

Meski ilmu silat Oh-lotoa sangat tinggi, tapi dalam hal ginkang ia hanya biasa saja. Pohon setinggi itu tidak mampu dicapainya. Tapi sasaran utamanya memang bukan Hi-tiok melainkan anak dara maka ia lantas memaki, "Hwesio setan jika memang pintar boleh berdiri saja selama di atas pohon dan jangan turun!"

\Habis berkata ia terus lari ke arah si anak dara, sekali pegang segera leher baju anak dara itu dicengkeramnya dan diangkat ke atas. Rupanya dia masih hendak menawan kembali anak dara itu agar kawan-kawannya dapat ikut membacoknya masing-masing satu kali dan minum darahnya sebagai sumpah.
Hi-tiok menjadi kuatir demi nampak si anak dara kena ditawan musuh pikirnya, "Dia suruh aku membawanya ke atas pohon , tapi aku melarikan diri lebih dulu ke sini. Padahal ilmu ginkang ini kubelajar dari dia, bukankah aku akan dikatakan manusia yang lupa budi dan tidak kenal kebaikan orang?"

Karena pikiran demikian, segera ia lompat turun lagi.
Dia masih memegang karung kosong itu, waktu melompat turun kebetulan mulut karung itu menghadap ke bawah dan terbuka lebar, dalam gugupnya karena ingin menolong si anak
dara, tanpa pikir lagi Hi-tiok terus mengerudungkan karung itu pada kepada Oh-lotoa, menyusul ia menutuk pula punggung lawan. Tapi tutukan ini tetap tak bisa tepat seperti ajaran si
anak dara tadi, yaitu yang diincar mestinya Ih-sik hiat, tapi yang kena adalah sebelah bawah tempat "Wi-jong-hiat”.

Oh-lotoa sendiri hanya mendengar ada angin menyambar dari atas menyusul pandangannya menjadi gelap, apapun tidak kelihatan lagi. Dalam kagetnya, goloknya terus membacok ke depan, tapi mengenai tempat kosong. Kebetulan saat itu Wi-jong-hiatnya ditutuk Hitiok.

Namun Oh-lotoa tidak lantas roboh. Hanya kedua lengannya terasa kesemutan, "trang", golok jatuh ke tanah cengkeramannya kepada, anak dara itu pun menjadi kendur, dan terpaksa dilepaskan.

Dalam gugupnya karena ingin melepaskan diri dari kerudungan karung, cepat ia mengelinding pergi.

Kesempatan itu digunakan Hi-tiok untuk memondong si anak dara lalu ia meloncat lagi ke atas pohon sambil berkata.

"Wah, hampir saja! Hampir saja!"

Air muka anak dara itu tampak pucat pasi, dampratnya,
"Dasar goblok nenek mengajarkan ilmu sakti padamu, tapi dua kali gebrak dua kali salah menggunakan."

Hi-tiok menjadi malu, sahutnya, "Ya, ya.. Aku salah menutuk tempatnya."

"Lihatlah, kembali mereka datang lagi!" kata si anak dara.

Waktu Hi-tiok memandang ke bawah, benar juga, selain Put-peng Tojin dan Oh-lotoa berdua bahkan tambah lagi tiga orang lain. Cuma mereka tidak berani sembarangan maju lagi, mereka hanya bicara dan tuding-tuding dari jauh.

Seorang di antaranya yang pendek gemuk mendadak berteriak satu kali terus menjatuhkan diri ke atas tanah, lalu badannya yang bergelindingan itu tampak memancarkan sinar putih yang gemerlapan. Kiranya dia telah putar dua batang kampak pendek yang tajam dan menerjang ke bawah pohon, menyusul terdengarlah suara "crat..crat" berulang-ulang, kampaknya bekerja dengan cepat untuk menebang pohon.

Saking tajamnya kampak orang ini, tenaganya besar pula, tampaknya cukup belasan kali tabasan lagi tentu pohon Siong itu akan tumbang. Keruan Hi-tiok kelabakan dan berulang-ulang berkata, "Wah, celaka. Bagaimana ini?"

Dengan sikap dingin si anak dara berkata. "Gurumu Bu-gai-cu menyuruhmu minta belajar ilmu silat kepada budak hina-dina dalam lukisan itu, nah, boleh kau pergi memohon padanya! Jika budak-hina-dina itu sudi mengajarkan ilmu padamu, tentu sekaligus akan dapat kau bereskan lima ekor babi di bawah pohon itu."

Diam-diam Hi-liok sangat mendongkol, keadaan sudah kepepet, tapi anak dara ini masih mengejeknya.
Namun ia tidak berani membantah, hanya menghela napas putus asa.

Dalam pada itu kapak si pendek gemuk di bawah pohon masih bekerja terus dengan cepat dan pohon cemara itu mulai bergoyang-goyang, lidi cemara juga rontok bagi hujan.

Tiba-tiba anak dara itu memberi petunjuk, " Kerahkan hawa murni dan pusat ke Ki-kut-hiat di pundak, lalu salurkan ke Thian-cing-hiat di siku dan teruskan ke Yang-ti-hat di pergelangan tangan. Putarlah tenagamu di antara ketiga hiat-to itu sehingga tiga kali, lalu kerahkan ke Koan-ciong-hiat di jari manis. Nah , sudah mulai belum?"

Begitulah sambil mengajar ditunjukkan pula tempat hiat-to yang dikatakan itu ditubuh Hi-tiok,

Ia tahu Hi-tiok sendiri tidak paham di mana letak hiat-to yang dimaksudkan, maka harus ditunjuk secara jelas dengan memegang tempatnya.

Sejak mendapat saluran tenaga murni dari Bu-gai-cu, dapatlah Hi-tiok mengerahkan tenaga dalamm yang hebat itu ke bagian mana pun sesukanya.

Demi mendengar petunjuk si anak dara, maka ia lantas menurut, terasa pohon sudah mulai miring dan akan tumbang, cepat ia berseru,

"Ya, sudah, tenagaku sudah siap!''

Maka berkatalah anak dara itu, "Boleh petik berapa biji cemara dan incar baik-baik si pendek gemuk itu, boleh kepalanya atau dadanya, gunakan tenaga yang terhimpun di jari manis dan kelentikan biji cemara itu ."

Hi-tiok mengiyakan dan segera memetik biji cemara serta dijepit di antara dua, jarinya.

"Lekas selentik!" seru si anak dara.

Segera Hi-tiok kerjakan jarinya dan biji cemara itu terus menyambar ke bawah secepat anak panah, cuma sayang, selamanya, Hi-tiok tidak pernah belajar ilmu menggunakan Amgi atau senjata rahasia sehingga serangan itu melenceng agak jauh, "pluk", biji cemara itu mengenai tanah dan ambles tanpa bekas.

Si pendek gemuk itu kaget juga oleh timpukan itu, tapi hanya tertegun sejenak, lalu kapak nya menebang lagi lebih cepat.

"Hwesio goblok, ayo coba sekali lagi," seru si anak dara.

Dengan rasa malu Hi-tiok menurut. Tapi karena gemetar, sekali ini jaraknya menjadi lebih jauh daripada sasarannya.

"Untuk melompat ke pohon di depan sana jaraknya terlalu jauh , dengan membawa diriku mungkin sukar untuk mencapainya, keadaan sudah bahaya, lebih baik kamu menyelamatkan dirimu sendiri saja," kata si anak dara.

"Mana boleh jadi," sahut Hi-tiok. "Aku bukan manusia yang lupa pada budi orang. Biar bagaimana pun juga aku pasti akan menolongmu sebisanya. Jika benar-benar sudah tak berdaya,
biaraku mati bersamamu saja."

"Hwesio bodoh, aku bukan sanak bukan kadangmu, buat apa kamu ikut mati bersamaku!" kata anak dara itu. "Tapi, hm, kan juga tidak gampang bila mereka hendak membunuh kita berdua. Boleh petik 12 biji cemara, pegang di tanganmu masing-masing enam biji, kerahkan tenagamu dan siap untuk menimpuk.”

Lalu ia pun mengajarkan cara mengerahkan tenaga dan cara menimpuk.

Hi-tiok ingat baik-baik ajaran itu. Dalam pada itu pohon, cemara itu sudah mulai tumbang ke bawah dengan membawa suara "kraak" dan akhirnya Oh-lotoa, si pendek gemuk dan
kedua kawannya sama bersorak gembira sambil memburu maju.

"Lekas hamburkan biji-biji cemara!" bentak si anak dara.

Tatkala itu tenaga murni yang dikerahkan Hi-tiok sedang bergolak, maka sekali kedua tangannya bergerak, 12 biji cemara lantas bertebaran bagai hujan terdengarlah suara "plak-plok" beberapa kali kontan empat orang roboh terjungkal.

Yang luput tertimpuk biji cemara hanya si pendek gemuk saja, ia sempat menjerit kaget, lalu membuang kedua kapaknya dan lari ke bawah gunung dengan terbirit-birit. Maka tertampaklah di tanah salju situ darah berceceran, darah yang mengucur dari keempat korban yang menggeletak tak berkutik itu.

Sehabis menghamburkan biji cemara, Hi-tiok kuatir kalau anak dara itu jatuh terbanting maka ia sempat merangkulnya untuk kemudian dibawa loncat turun dengan pelahan. Ketika melihat luka keempat orang itu sangat parah , ia sendiri menjadi terkesima.

Sebaliknya si anak dara lantas bersorak gembira , cepat ia meronta lepas dari rangkulan Hi-tiok dan, segera menubruk ke atas badan Put-peng Tojin, ia tempelkan mulutnya di jidat Put-peng Tojin dan menghirup darah segar yang mengucur keluar itu.

"He , apa yang kau lakukan ?" teriak Hi-tiok kaget. Cepat ia pegang leher baju anak dara itu dan diangkat ke atas.

"Kamu sudah membunuh dia sekarang aku mengisap darahnya sebagai obat, kenapa tidak boleh?" kata anak dara itu.

Melihat mulut anak dara itu penuh berlepotan darah, apalagi meringis-ringis ketika bicara, Hi-tiok menjadi takut, perlahan ia turunkan badan orang dan berkata, "Kau bilang aku sudah . . . sudah membunuhnya ?”

"Memangnya apa dia masih hidup?" sahut anak dara itu dan kembali berjongkok untuk menghirup darah lagi.

Melihat jidat Put-peng Tojin berlubang sebesar telur, Hi-tiok terkesiap, pikirnya, "Wah, celaka! Biji cemara yang kusambitkan tadi telah bersarang di batok kepalanya. Padahal biji cemara itu adalah benda lemas, ken . . kenapa dapat menembus tulang kepalanya?"

Ketika ia periksa lagi korban yang lain, ia lihat seorang terkena dadanva, seorang lagi tenggorokan dan bagian hidung masing-masing kena satu biji cemara, semuanya sudah mati,
hanya Oh-lotoa yang perutnya juga kena dua biji cemara tampak masih kembang-kempis dan merintih-rintih, namun belum mati.

Hi-tiok mendekati Oh-lotoa dan memberi hormat padanya, katanya, "Oh-siansing, tanpa sengaja telah kulukaimu, dosa kuterlalu besar, sungguh aku sangat menyesal."

"Huh, buat apa kamu bergurau lagi padaku?" kata Oh-lotoa dengan gusar. "Ayolah boleh lekas. . . lekas bunuh aku saja dan habis perkara!"

"Ah, mana aku berani bergurau dengan cian-pwe," sahut Hi-tiok. "Sungguh aku. . aku . . . . "

Mendadak teringat olehnya sekaligus dirinya telah membunuh tiga orang, tampaknya jiwa Oh-lotoa ini juga susah dipertahankan lagi. Terang dirinya telah melanggar larangan membunuh dari ajaran Budha, seketika ia sangat menyesal dan sedih, tanpa terasa air mata bercucuran.

Sehabis kenyang mengisap darah, perlahan anak dara itu berdiri kembali. Dilihatnya Hi-tiok lagi sibuk membalut luka Oh-lotoa, sebaliknya badan Oh-lotoa tak bisa berkutik, namun mulutnya terus menerus menghamburkan caci makian yang kotor dan keji luar biasa, dari kakek-moyang sampai bapak-ibu Hi-tiok juga dimaki habis-habisan.

Namun Hi-tiok masih terus minta maaf, katanya "Ya, ya, memang aku yang salah. Sungguh aku menyesal. Tapi tiada gunanya kau maki bapak-ibuku, sebab sejak kecil aku sudah yatim piatu, bahkan siapa bapak-ibuku yang sebenarnya juga tidak tahu, maka percuma biarpun engkau memakinya. Kutahu perutmu tentu sangat sakit sehingga marah-marah, aku maklum dan tidak menyalahkanmu. Sungguh aku tidak menduga timpukan biji cemara akan begini lihai, Ai, biji-biji cemara itu sungguh sangat aneh, mungkin biji cemara itu adalah sejenis yang istimewa dan tidak sama dengan biji cemara biasa."

"Kakek-moyangmu! Apa bedanya biji cemara ini dengan biji cemara biasa?" rnaki Oh-lotoa. "Pendek kata, kelak kalau kamu mati tentu akan masuk neraka dan dihukum masuk dalam wajan minyak mendidih dan dipanggang di tungku membara. Dasar hwesio bangsat, lwekangmu tinggi dan dapat rnembinasakan aku, biarpun mati aku pun takkan menyesal karena memang kepandaianku kalah jauh. Tapi buat apa kamu mesti pentang bacot seenaknya, sudah melukai orang, yang disalahkan biji cemaranya. Hm, mentang-mentang kamu sudah berhasil menyakinkan Pak-beng-cin-gi dan mestinya juga tidak perlu main menang-menangan."

Hi-tiok menjadi heran oleh dampratan Oh-lotoa itu, sahutnya, "He, kau bilang Pak . . . Pak..”

"Ya, hari ini memang mujur keledai gundul kecil ini," kata si anak dara dengan tertawa, "Sebenarnya ilmu sakti nenek
'Pakbeng-cin-gi' ini adalah ilmu yang dirahasiakan dan tak
diajarkan pada siapa pun juga. Tapi kamu berhati sangat tulus, benar-benar rela mati bagi nenek, kelakuanmu ini sudah memenuhi syarat untuk menerima ajaranku. Apalagi dalam keadaan kepepet ketika nenek perlu bantuanmu. Eh, Oh-lotoa, boleh juga pandanganmu ya, ternyata kaupun kenal nama ilmu yang digunakan hwesio cilik ini."

Kedua mata Oh-lotoa sampai melotot saking herannya, agak lama barulah ia berkata, "Sia ....siapakah kau? Tadi engkau bisu, kenapa sekarang dapat bicara?"

"Hm, berdasar apa kau berani tanya siapa diriku?" jengek si anak dara. Lalu ia keluarkan sebuah botol porselen kecil, ia tuang dua butir pil kuning dan diserahkan kepada Hi-tiok serta
berkata, "Minumkan dia!''

Hi-tiok mengiyakan tanpa banyak bicara ia terima kedua pil itu dan disodorkan ke mulut Oh-lotoa.

Seketika Oh-lotoa mengendus bau pedas yang sangat menusuk hidung sehingga dia bersin beberapa kali. Ia girang-girang kejut, katanya, "Bukan..kah ini Kiu . . . Kiu-coan-him-coa-wan?" --------------
Cara bagaimana Hi-tiok akan menyelamatkan "anak dara" itu?
Sesungguhnya siapakah "anak dara" yang ternyata memiliki ilmu sakti ini?
— Bacalah jilid ke-64 —
--------------

Jilid 64
"Benar, luas juga pengetahuanmu ya, kamu tidak kecewa sebagai pemimpin para Tocu," sahut si anak dara. "Pil Kiu-coan-him-coa-wan ini sangat manjur untuk mengobati segala macam luka dan menyambung nyawa, lekas minum,"
"Kenapa engkau menolong jiwaku?" tanya Oh-lotoa. Ia kuatir kehilangan kesempatan baik maka tanpa menunggu jawaban si anak dara segera ia pentang mulut dan telan kedua biji pil kuning itu.
Maka si anak dara menjawab, "Pertama aku merasa terima kasih atas pertolonganmu, kedua, di kemudian hari aku masih membutuhkan tenagamu."
Oh-lotoa semakin heran, katanya, "Berterima kasih kepada pertolonganku? Padahal sudah terang aku hendak membunuhmu, bilamana aku pernah bermaksud baik padamu?"
"Bicaramu ternyata sangat jujur dan terus terang, kamu tidak kecewa sebagai seorang jantan. . . . " jengek si anak dara.
Tiba-tiba ia mendongak ke langit, ia melihat sang surya sudah berada tepat di atas kepala. Segera katanya kepada Hi-tiok, "Hwesio cilik, aku akan melatih ilmu, kamu harus menjaga diriku di samping sini. Jika ada orang datang hendak mengganggu, boleh kaugunakan 'Pak-beng-cin-gi' yang kuajarkan padamu itu, dengan segenggam pasir atau sambar sepotong batu dan sambitkan saja pada musuh."
"Tapi kalau aku menewaskan orang lagi, lantas bagaimana?" ujar Hi-tiok sambil geleng-geleng kepala. 'Tidak . . . aku . . aku tak mau."
Anak dara itu pun tidak memaksa ia mendekati tepi puncak dan memandang ke bawah, lalu katanya. "Sementara ini juga takkan kedatangan orang, kalau tidak mau juga tak apa."
Kemudian ia duduk bersila, in rangkap kedua tangan di depan dada, lalu jari telunjuk kanan mengacung.ke langit dan jari telunjuk kiri menuding ke bumi, ketika ia bersuara mendengus sekali, dari lubang hidungnya lantas memancur keluar dua jalur hawa putih halus.
"Hei, ini . . . ini 'Thian-siang-te-he-wi-ngo-tok-cun-kang' . . . . " seru Oh-lotoa dengan terperanjat,
Hi-tiok tidak peduli apa yang diserukan orang sebaliknya ia tanya, "Oh-siansing, sesudah makan obat, lukamu sudah baikan tidak?"
Namun Oh-lotoa lantas mencaci-maki, "Keledai gundul keparat, hwesio bangsat, lukaku akan sembuh atau tidak peduli apa denganmu? Buat apa pura-pura tanya,"
Namun sebenarnya luka di perutnya itu memang sudah berkurang rasa sakitnya.
Oh-lotoa tahu Kiu-coan-him-coa-wan adalah obat mujarab milik leng-ciu-kiong di puncak Biau-biau-hong, Thian-san, sesudah minum obat itu boleh dikata jiwanya dapat direnggut kembali dari tangan elmaut. Tapi ia menjadi sangat terperanjat ketika melihat anak dara itu dapat melatih ilmu yang hebat itu, Ia pemah mendengar cerita orang bahwa "Thian-siang-te-he-wi-ngo-tok-cun-kang' (ilmu maha agung, di atas langit dan di seluruh jagat) itu adalah semacam ilmu yang tak ternilai milik Leng-ciu-kiong, kalau tidak mempunyai dasar lwekang beberapa puluh tahun tidak mungkin dapat melatihnya. Tapi anak dara yang diculiknya dari Leng-ciu-kiong ini usianya paling-paling cuma sembilan atau sepuluh tahun saja, mengapa juga dapat melatih ilmu sakti itu?
Dalam pada itu kelihatan kabut putih yang terembus keluar dari lubang hidung sianak dan telah menyelubungi sekitar kepalanya, makin lama makin tebal kabut itu sehingga akhirnya wajah anak dara itu tertutup semua. Menyusul terdengar ruas tulang anak dara itu berkerotokan, bunyinya seperti kacang digoreng.
Hi-tiok saling pandang dengan Oh-lotoa dengan bingung. Cuma Oh-lotoa sedikit- sedikit tahu tentang "Tok-cun-kang" itu, tapi sampai dimana cara berlatih ilmu itu tidaklah diketahuinya,
Sementara itu suara "pletak-pletok" seperti kacang digoreng itu mulai mereda, menyusul kabut putih pun buyar, lalu jalur-jalur hawa putih menyusup kembali ke dalam lubang hidung si anak dara. Habis itu, perlahan si anak dara membuka mata dan berbangkit.
Hi-tiok dan Oh-lotoa sama kucek-kucek matanya sendiri, mereka merasa mata sendiri sudah kabur, mereka merasa sesudah melatih ilmu itu air muka si anak dara itu menjadi agak aneh, tapi dimana letak perbedaannya dengan tadi mereka tidak dapat mengatakannya.
Anak dara itu tampak mengawasi Oh-lotoa, katanya kemudian, "Pengetahuanmu ternyata cukup luas sehingga kenal juga Tok-cun-kang yang kumiliki ini."
"Sia . . . siapakah kau'" tanya Oh-Iotoa dengan takut-takut.
"Ha , nyalimu sungguh besar sekali,” kata anak dara itu dan tidak menjawab pertanyaan Oh-lotoa, sebaliknya ia lantas berkata pada Hi-tiok,
"Sekarang boleh kaurangkul aku dengan tangan kiri, tangan kanan pegang pinggang belakang Oh-lotoa. kerahkan Pak-heng-cin-gi yang telah kaupahami itu dan loncat ke atas bohon, lari ke atas puncak sana, hari ini kita dapat mencapai 500 kali lebih tinggi lagi."
"Mungkin Siauceng tidak mempunyai tenaga sekuat itu," ujar Hi-tiok. Tapi ia pun menuruti apa yang dikatakan anak dara itu dan merangkulnya, sedang tangan kanan lantas mencengkeram pinggang belakang Oh-lotoa, terasa agak berat dan sukar meloncat ke atas pohon.
"Lekas mengerahkan tenaga dalam!" bentak si anak dara.
"Ya, ya! Dalam bingungnya aku menjadi lupa," sahut Hi-tiok dengan tertawa. Dan segera ia kerahkan hawa murni di dalam tubuh.
Aneh juga, seketika badan Oh-lotoa yang besar itu menjadi ringan seperti kapas, apalagi badan sianak dara yang kecil itu, boleh dikata tidak tersisa apa-apa.
Dan sekali loncat .segera Hi-tiok mencapai pucuk pohon, menyusul ia lantasmelayang ke depan menurut ajaran si anak dara, ternyata jalannya dari atas satu pohon ke pohon yang lain sama saja seperti dia jalan di tanah datar saja, sedikitpun tidak sukar.
Suatu kali ia melangkah terlalu cepat sehingga melampaui ranting pohon yang harus dihinggapinya itu, maka ia kejeblos ke bawah. Keruan ia kaget, untung pegangannya atas si anak dara dan Oh-lotoa tidak sampai terlepas, lekas-lekas ia kerahkan tenaga dan meloncat lagi ke atas.
Ia kuatir didamprat si anak dara, maka tanpa berkata ia, terus lari terlebih cepat ke atas puncak gunung sana.
Lama kelamaan cara melayangnya itu menjadi biasa dan lancar, maka larinya semakin kencang sehingga sama-sekaili tak dirasakan bahwa saat itu dia sedang mendaki puncak gunung, sebaliknya tiada ubah seperti orang sedang turun ke bawah gunung.
"Kamu baru saja belajar Pak-beng-cin-gi', tidak boleh digunakan dengan terlalu berat, jika mau selamat, hendaknya berhenti saja," kata si anak dara.
Hi-tiok mengiakan, dan sesudah melayang lagi beberapa, meter jauhnya, lalu ia "lepas gas" dan melompat turun ke bawah, beban muatannya juga diturunkan.
Sungguh kejut, dan kagum Oh-lotoa tak terhingga, katanya kepada anak dara itu, 'Pak ....Pak-beng-cin-gi ini baru kauajarkan padanya hari ini dan ternyata, sudah begini hebat. Ilmu sakti orang Leng-ciu-kiong sungguh sukar untuk dijajaki”.
Anak dara itu tak gubris padanya, ia mendekati sebatang pohon, dilihatnya disekeliling situ hutan sangat lebat, maka katanya dengan tertawa dingin, "Hm, dalam tiga hari, rasanya kawanan keroco kalian itu belum tentu mampu mencari kesini."
"Kami sudah kalah habis-habisan. Sedang hwesio cilik ini memiliki tenaga sakti Pak-beng-cin-gi pula, andaikan para kawan dapat menemukan jejakmu juga tak mampu melawan," kata Oh-lotoa dengan putus asa.
Si anak dara tertawa dingin saja dan tidak berkata pula, ia pejamkan mata dan bersandar di batang pohon untuk tidur.
Sesudah berlari-lari perut Hi-tiok menjadi semakin lapar, ia pandang si anak dara, lalu memandang Oh-lotoa pula, katanya kemudian, "Aku hendak pergi mencari makanan.
Tapi kamu berhati jahat, mungkin akan membikin celaka kawan cilik ini, lebih baik kubawa serta dirimu saja."
Lalu ia cengkeram lagi punggung Oh-lotoa dan hendak dibawa pergi.
Tiba-tiba si anak dara membuka mata dan berkata, "Goblok, aku sudah mengajarkan cara tiam-hiat padamu, sekarang dia sudah tak bisa berkutik dan kamu masih tak dapat menutuknya dengan tepat"
"Justru kuatir tutukanku salah dan dia masih dapat bergerak," kata Hi-tiok.
'”Aku sudah pegang dia punya 'sing-si-hu', masakah dia berani sembarangan bergerak?" kata si anak dara.
Mendengar istilah 'Sing-si-hu' itu, seketika Oh-lotoa berteriak kaget, "Hah, kau .'. . kau "
“Tadi kau makan berapa biji obatku?" tanya si anak dara.
"Dua biji," sahut Oh-loto;..
"Hm, khasiat Kiu-Coan-him-coa-wan keluaran Leng-ciu-kiong sangat cespleng, masakah sekali pakai perlu dua biji?" ujar si anak dara. "Lagi pula binatang yang lebih rendah daripada babi dan anjing seperti dirimu masakah ada harganya untuk makan dua biji pil mujarabku?"
Seketika jidat Oh-lotoa keluar butir keringat sebesar kedelai, tanyanya dangau suara gemetar,
"Jadi yang satu biji itu adalah , . . adalah . . . . "
"Coba periksa kaupunya ‘Thian-ti-hiat'" potong si anak dara.
Dengan gemetar Oit-lotoa coba membuka baju, benar juga ia lihat Thian-ti-hiat ditepi kelek kirinya terdapat satu titik merah seperti andeng-andeng. Seketika ia berteriak kaget dan hampir-hampir jatuh kelengsr, serunya, "Sebenarnya engkau ini . . . ini siapa?
Da . , . dari mana kau tahu letak tempat Sing-si-hu ku? Jadi aku telah minum Toan-kin-hu-kut-wan?"
Anak dara itu tersenyum, sahutnya, "Aku masih memerlukan tenagamu, tidak nanti aku cabut nyawamu, maka tidak perlu takut."
Namun kedua mata Oh-lotoa tampak melotot lebar-lebar, betapa rasa takutnya sungguh sukar dilukiskan.
Sudah beberapa kali Hi-tiok melihat wajah Oh-lotoa yang ketakutan, tapi sekali ini tampak luar biasa. Maka ia coba tanya, "Toan-kin-hu-kut-wan (pil peluluh tulang dan pemutus otot) itu barang apa-apaan? Apakah racun?"
Muka Oh-lotoa tampak berkerut-kerut dan untuk sekian lamanya tidak dapat buka suara.
Sekonyong-konyong ia tuding Hi-tiok dan mendamprat, "Kamu padri bangsat, hwesio keparat, keledai gundul sialan! Kakek moyangmu delapan belas keturunan tentu haram jadah semua! Kelak kamu pasti akan putus anak.putus cucu, kalau punya putra tentu juga cacat, kalau punya putri tentu tidak laku kawin…”
Begitulah makin memaki makin aneh-aneh, sungguh murkanya tidak alang kepalang.
Lama sekali ia mengutuk Hi-tiok habis-habisan, sampai akhirnya mungkin ia letih sendiri, lalu berhenti..
Hi-tiok hanya menghela napas belaka, sahutnya."Aku adalah hwesio, dengan sendirinya tidak kawin, kalau tak kawin sudah tentu takkan punya anak dan cucu."
"Huh, kamu bangsat gundul ini apa mengira akan putus turunan dengan aman?
Tidak, aku justru doakan kamu akan kawin dan kelak melahirkan dua puluh putra dan tiga puluh putri, semuanya makan Toan-kin-hu-kut-wan, semuanya akan merintih-rintih.
dihadapanmu, mati tidak dan hidup tidak, akhirnya kau sendiri juga telan Toan-kin-hu-kut-wan dan rasakan siksaan obat itu."
"Hah, apakah pil itu sedemikian kejinya?" seru Hi-tiok kaget.
"Keparat, kelak kau sendiri tentu akan tersiksa, ototmu akan putus semua, dan mulutmu tak bisa terbuka, lidahmu akan kaku, lalu . . . lalu . . . . " demikian Oh-lotoa mengutuk terus, ia sendiri pun mengkirik bila teringat betapa sengsaranya akan tersiksa bila obat itu sudah mulai bekerja. Terbayang akan kemungkinan-kemungkinan itu sungguh ia ingin sekarang juga membunuh diri saja.
Maka terdengar si anak dara berkata dengan tersenyum, "Asal kau turut segala perintahku, tentu aku takkan mengerahkan daya kerja obat itu, kenapa kamu mesti takut? Hwesio cilik, boleh kau tutuk dia agar dia tak bisa berkutik, jangan-jangan nanti dia menjadi gila dan benturkan kepalanya pada batang pohon."
Hi-tiok mengiakan dan mendekati Oh-lotoa ia raba betul tempat ih-sik-hiat, lalu menutuknya. Kontan Oh-lotoa roboh dan pingsan, Kiranya saat itu Hi-tiok sudah berhasil meyakinkan "Pak-beng-cin-gi" yang sakti, sebenarnya tidak peduli dia tutuk bagian mana pun sudah cukup membuat lawan terluka parah. Tapi demi nampak. Oh-lotoa semaput, "Hi-tiok menjadi kelabakan malah,
cepat ia pijat-pijat gitok Oh-lotoa dan urut dadanya, sampai sekian lama barulah Oh-lotoa siuman kembali. Namun keadaannya sudah sangat lemah, hanya bisa bernapas saja dan tak mampu memaki lagi,
Melihat Oh-lotoa sudah siuman barulah Hi~tiok pergi mencari makanan.
Meski di hutan situ banyak hewan sebangsa ayam alas, kelinci, menjangan dan kambing liar, tapi biarpun mati kelaparan juga Hi-tiok tidak mau membunuh, makluk berjiwa. Ia mencari sampai lama dan tidak mendapatkan sesuatu tetumbuhan yang bisa dimakan. Terpaksa ia lompat ke atas pohon Siang untuk memetik biji cemara ia kupas kulitnya dan makan isinya sekadar tangsal perut.
Biji cemara itu agak gurih dan enak, cuma bijinya terlalu kecil, sekaligus makan beratus-ratus biji juga belum terasa kenyang. Namun begitu Hi-tiok juga tidak rakus, setelah isi perut sekadarnya, lalu ia kumpulkan isi biji cemara itu sehingga penuh dua saku, ia bawa kembali untuk makanan si anak dara dan Oh-lotoa.
Sudah tentu si anak dara marah-marah karena makanan yang tidak digemari itu, katanya, "Sudahlah, lekas kau buka hiat-to Oh-lotoa, biar dia yang mencarikan makanan bagiku."
Lalu ia pun mengajarkan caranya membuka hiat-to yang tertutuk tadi.
"Ya, Oh-lotoa tentu juga sudah kelaparan," ujar Hi-tiok. Lalu ia buka Hiat-to dan meraup segenggam biji cemara untuk Oh-lotoa, katanya, "Oh-siansing, makanlah kacang ini sedikit."
Dengan gemas Oh-lotoa melotot sekali pada Hi-tiok, lalu ia comot biji cemara itu dan dimakan, Setiap jejalkan satu biji kacang cemara ke mulut segera ia memaki satu kali "Hwesio jahanam!" Setelah makan lagi satu biji, ia maki pula. "Kepala gundul keparat!"
Namun Hi-tiok juga tidak marah, ia maklum orang mencaci-maki padanya adalah karena dia telah melukainya.
"Sehabis makan, lekas tidur, dilarang bersuara lagi!" kata si anak dara On-lotoa tidak berani membantah dan cepat mengiakan. Dengan cepat ia makan biji cemara itu, lalu rebah dan tidur.
Hi-tiok sendiri juga sangat letih, ia duduk bersila di sebelah si anak dara, tidak lama kemudian ia pun terpulas.
Esok paginya cuaca ternyata mendung, awan hitam penuh menutupi puncak gunung dan tampaknya akan hujan.
“Oh-lotoa," kata si anak dara. "Lekas pergi menangkap seekor menjangan atau kambing, sebelum lohor kamu harus kembali."
Oh-lotoa mengiakan dan berbangkit dengan sempoyongan. Ia jemput sebatang ranting kayu untuk dipakai sebagai tongkat. Lalu melangkah pergi dengan berincang- incut.
Mestinya Hi-tiok merasa kasihan dan ingin memayangnya sebentar, tapi demi ingat Oh-lotoa hendak pergi berburu dan membunuh, segera Hi-tiok berdoa lagi, lalu katanya, "Wahai, menjangan, ayam alas, kelinci dan sekalian makluk alam hendaklah menjauh dan jangan sampai kena ditangkap Oh-lotoa."
Si anak dara hanya mendengus saja melihat kelakuan Hi-tiok yang ketolol-tololan itu.
Siapa duga, biarpun dalam keadaan terluka, entah dengan cara bagaimana, akhirnya Oh-lotoa dapat kembali sebelum lohor dengan hasil buruannya seekok anak menjangan.
Melihat bakal korban itu, kembali Hi-tiok berdoa berulang-ulang.
Menjangan kecil itu tampaknya belum ada setahun umurnya dan masih bersuara mengembik mencari induknya, Lalu Oh-lotoa berkata, "Hwesio cilik, lekas menyalakan api, sebentar kita dapat makan daging panggang menjangan."
"Ampun, dosa, dosa! Siauceng sekali-kali takkan membantu perbuatanmu yang jahat ini," kata Hi-tiok.
Namun Oh-lotoa tak peduli lagi, segera ia mencabut belatinya terus hendak menyembelih menjangan itu.
"Nanti dulu," tiba-tiba si anak dara mencegahnya.
Oh-lotoa menurut saja dan menarik kembali belatinya.
Hi-tiok menjadi girang, serunya, "Ya, betul! Nona cilik memang welas-asih, kelak pasti akan mendapat ganjaran yang baik."
Namun si anak dara hanya tertawa dingin saja dan tidak gubris padanya.
Dalam pada itu bayangan orang semakin mengkeret, hari tetap mendung sehingga bayangan hampir tak kelihatan. Akhirnya si anak dara berkata "Sudah waktu lohor sekarang!"
Segera ia angkat menjangan kecil itu dari pegangan Oh-lotoa, sesudah pentang kepala menjangan itu, lalu tenggorokan binatang itu digigitnya.
Saking kesakitan menjangan itu meronta-ronta sambil bersuara keras, namun gigitan anak dara itu sangat kencang, mulutnya mengeluarkan suara "krok-krok", darah menjangan tiada hentinya disedot.
Keruan Oh-lotoa terperanjat, teriaknya, "Hei, hei! Kau . . . kau terlalu kejam ini!"
Namun anak dara itu tetap tidak peduli dan misih terus sedot darah sekuatnya, rontaan menjangan itu makin lama makin kendur, ahirnya berkdojotan beberapa kali dan tak bergerak lagi, sudah mati.
Sesudah kenyang minum darah menjangan, hal ini kentara dari perutnya yang agak gembung, lalu anak dara itu melemparkan bangkai menjangan dan duduk bersila lagi untuk melatih "Tok-cun-kang" dengan mengembuskan hawa putih, dari hidungnya.
Pada saat itulah sinar kilat tampak berkelebat dan guntur, berbunyi menyusul air hujan mulai mencurah dengan derasnya. Tapi anak dara itu tetap berlatih tanpa bergerak, kabut putih semakin tebal membungkus kepalanya, sedikit pun tidak terganggu oleh air hujan.
Hi-tiok dan Oh-lotoa berteduh di bawah pohon besar itu. Selang agak lama barulah tampak anak dara itu selesai berlatih dan berbangkit. Sudah tentu pakaian anak dara itu basah kuyup. Katanya, "Sesudah hujan berhenti, boleh daging menjangan itu dipanggang . . . "
Esok paginya kembali Oh-lotoa berburu dan mendapat seekor kambing, caranya tetap sama, sehabis darah disedot anak dara itu dan selesai berlatih ilmu, lalu makan daging kambing panggang alias sate kambing,
Sudah tentu Hi-tiok merasa muak, katanya, "Nona cilik, sekarang Oh-lotoa telah tunduk kepada segala perintahmu dan dapat melayanimu dengan baik tanpa berani membangkang. Maka biarlah Siauceng mohon diri sekarang juga "
"Tidak, aku melarangmu pergi," kata anak dara itu.
"Siauceng harus cepat pulang ke Siau-lim-si untuk melaporkan hasil tugasku, maka tidak dapat tertahan lebih lama lagi di sini," ujar Hi-tiok.
"Jadi kamu tidak mau menurut kata-kataku dan mau tinggal pergi begini saja?" si anak dara menegas.
“Tapi nona jangan kuatir," ujar Hi-tiok. "Aku sudah mendapat akal, Jubahku akan kuisi dengan rumput dan dedaunan sehingga berwujud sebuah karung, lalu aku pura-pura membawamu lari dan sengaja diperlihatkan kepada orang di bawah gunung itu.
Dengan demikian mereka pasti akan mengejarku karena mengira dirimu berada di dalam karung yang kugendong. Sesudah Siauceng memancing kawanan pengejar itu
sampai jauh, lalu engkau dan Oh-lotoa dapat turun gunung dengan aman dan pulang ke Biau-biau-hong kalian."
"Akalmu ini boleh juga, tapi aku tidak mau lari" seru si anak dara.
"Jika tak mau, ya, boleh juga kau sembunyi saja di sini," kata Hi-tiok "Di tengah hutan lebat penuh salju ini tentu mereka pun sukar menemukanmu. Sesudah 8 atau 10 hari, tanpa alangan kaupun dapat pergi dengan bebas."
"Jika lewat 8 atau 10 hari lagi, aku pun akan pulih kepada kekuatanku antara usia 18 atau 19 tahun, tatkala itu akulah yang tak mau memberi ampun kepada mereka," kata si anak dara.
"Ha, apa katamu?" Hi-tiok menegas dengan heran.
"Coba periksa yang betul, apakah wajahku tiada sesuatu perbedaan dibanding tiga hari yang lampau" kata anak dara itu
Waktu Hi-tiok mengamat-amati, ia lihat roman anak dara itu seperti tambah tua beberapa tahun, sekarang mirip dengan anak perempuan umur belasan dan tidak lagi delapan atau sembilan tahun, maka katanya dengan setengah bergurau.
"Ya engkau seperti . . . seperti sudah lebih tua beberapa tahun selama tiga hari ini. Cuma . ..cuma badanmu tidak bertambah besar."
Anak dara itu tampak sangat girang, sahutnya, "Hehe, boleh juga pandanganmu sehingga dapat melihat aku sudah tambah tua beberapa tahun. Dasar hwesio tolol, perawakan Thian-san Tong-lo sudah tentu mirip anak perempuan kecil, selamanya tak bisa tumbuh lebih besar lagi."
"Hah, Thian-san Tong-lo! Engkau, Thian san Tong-lo?'' teriak Hi-tiok dan Oh-lotoa berbareng saking terperanjat.
"Memangnya kalian sangka aku siapa?” jengek anak dara itu dengan gusar.
"Nenekmu selamanya berbadan anak kecil, masakah kalian sudah buta semua sehingga, tidak tahu?"
Dengan mata terbelalak Oh-lotoa mengawasi si anak dara alias Thian-san Tong-lo, mulut komat kamit seperti ingin omong apa-apa, tapi sukar diluapkan.
Selang agak lama, mendadak ia berlutut dan berkata dengan tcrguguk-guguk, "Oo, seharusnya aku sudah tahu sejak mula, aku . . . aku benar-benar orang paling goblok di dunia ini, sebaliknya kusangka engkau adalah seorang dayang cilik yang tiada artinya diLeng-ciu-hong, siapa tahu . . . .siapa tahu engkau . . . engkau adalah Thian-san Tong-lo sendiri!"
"Dan tadinya kausangka aku ini siapa?" tanya nenek berbadan kerdil itu kepada Hi-tiok,
Sahut Hi-tiok dengan tenang dan sewajarnya, ''Aku sangka dirimu adalah, anak dara yang kesurupan setan tua!".
"Ngaco-belo!” semprot Thian-san Tong-lo.
"Apa-apaan setan tua yang selurup di badan anak perempuan segala?"
"Habis, bangun tubuhmu sama dengan anak kecil, tapi pikiranmu dan suara mu serupa nenek-nenek jompo, kau sendiri mengaku sebagai nenek pula, jika bukan arwah halus wanita tua yang selurup di badan anak kecil, masakah bisa terjadi begitu?"
Thian-san Tong-lo terkekeh geli katanya, "Dasar hwesio cilik tolol,"
Lalu ia berpaling kepada Oh-lotoa dan berkata, "Ketika aku ditawan olehmu, selama itu kamu tidak membinasakan aku, sekarang kamu tentu menyesal bukan?"
"Benar," mendadak Oh-lotoa berbangkit. "Pernah tiga kali aku berkunjung ke Biau-biau-hong dan mendengar suaramu, cuma kedua mataku ditutup sehingga tidak tahu mukamu. Sungguh aku Oh-lotoa memang goblok sehingga menganggap dirimu sebagai . . . sebagai anak bisu,"
"Bukan cuma kamu saja, tapi di antara ke-36 Tongcu dan ke 72 Tocu juga banyak yang pernah mendengar suaraku," kata Tong-lo. "Dan kalau nenekmu tidak berlagak bisu, bukankah rahasiaku akan konangan dan berbahaya?"
Berulang Oh-lotoa menghela napas gegetun katanya, "Konon Thian-san Tong-lo memiliki ilmu sakti, membunuh orang tidak pernah dua kali serangan. Tapi mengapa dapat kulawan dengan sangat mudah tanpa melawan sedikit pun?"'
Thian-san Tong-lo terbahak bahak, katanya, "Aku pernah meiyatakan terima kasih atas pertoloiganmu, dan di situlah letak persoalannya. Hari itu kebetulan aku akan kedalangan seorang musuh tangguh, sedangkan kesehatanku terganggu dan sukar melawannya. Kebetulan kamu menculik aku sehingga nenek terhindar dari bencana, bukankah aku harus berterima kasih padamu?"
Sampai di sini, mendadak sorot matanya berubah bengis dan sambungnya pula, Tapi sesudah kamu tawan diriku, kamu tuduh aku bisu pula dan menyiksa aku dengan macam-macam aniaya keji, dosamu sungguh keliwat takaran, kalau tidak sebenarnya aku dapat mengampuni jiwamu."
Cepat Oh-lotoa menjura, katanyu, "Lolo, kata peribahasa: yang tidak tahu tak dapat disalahkan. Jika waktu itu Oh-lotoa mengetahui engkau adalah Thian-san Tong lo yang sangat kuhormati dan kutakuti, biarpun nyaliku sebesar gunung juga tidak berani main gila padamu."
"Hm, takut sih memang, tapi belum tentu kamu menghormati diriku," jengek Tong-lo.
''Kamu telah kumpulkan 36 Tongcu dan 72 Tocu untuk mengadakan komplotan khianat padaku. Nah, bagaimana kamu akan bicara?"
Keringat Oh-lotoa mengucur sebagai hujan dan tiada hentinya menjura sehingga batok kepalanya membentur batu, akhirnya sampai keluar darah.
Diam-diam Hi-tiok membatin. ''Kiranya nona cilik adalah Thian-san Tong-lo, Tong-lo,
Tong-lo, tadinya kusangka dia she Tong, siapa tahu Tong artinya anak. Jadi Tong-lo benar-benar artinya nenek berwujud bocah dan tidak berayi nenek she Tong. Ilmu silatnya terang luar biasa dan banyak tipu akalnya pula, setiap orang sangat takut padanja, sebaliknya selama beberapa hari ini aku telah bantu dia, dalam hati diam-diam tentu dia mentertawakan aku tidak tahu diri. Ai, Hi-tiok, wahai Hi-tiok engkau benar- benar seorang hwesio tolol!”
la lihat Oh-lotoa masih terus menjura, segera ia tinggal pergi tanpa pamit.
"Hendak ke mana kau? Berhenti!" bentak Tong-lo mendadak.
Hi-tiok membalik tubuh dan memberi hormat, katanya, ''Selama tiga hari ini Hi-tiok telah berbuat macam-macam kebodohan, sekarang aku hendak mohon diri saja!"
"Kebodohan apa?" tanya Tong-lo.
"Habis ilmu silat Lisicu sendiri sangat sakti dan mengguncangkan dunia, tapi Hi-tiok sendiri buta dan tidak kenal dirimu, sebaliknya berani menolongmu segala. Kalau Lisicu tidak mengolok-olok saja aku sudah merasa berterima kasih, aku sendiri makin pikir semakin malu, maka lebih baik mohon diri saja," demikian, sahut Hi-tiok.
Nenek bocah itu mendekati Hi-tiok, katanya kepada Oh-lotoa, "Aku ingin bicara dengan hwesio cilik, lekas menyingkir yang jauh."
Berulang Oh-Iotoa mengiakan dan cepat berbangkit serta menyingkir ke sana.
"Siauhwesio (padri kecil), selama tiga hari ini kamu benar-benar telah menyelamatkan jiwaku dan bukan berbuat kebodohan," kata Tong-lo kepada Hi-tiok.
"Selama hidup Thian-san Tong-lo tidak pernah menguapkan terima kasih kepada orang tapi kau telah menolong jiwaku, kelak nenek pasti akan membalas kebaikanmu ini."
"Ah, kepandaian mu maha tinggi, masakah perli pertolonganku? Terang engkau hanya berolok-olok saja," ujar Hi-tiok.
Tong-lo menjadi kurang senang, katanya, “Jika aku bilang kamu telah menolong jiwaku, maka hal itu memang benar telah terjadi. Selama hidupku tidak suka bila ada orang berani membantahku. Iwekang yang nenek yakinkan ini memang betul bernama 'Thian-siang-te-he-wi-ngo-tok-sinkang’. Ilmu ini maha sakti, tapi ada suatu ciri kelemahannya, yaitu setiap 30 tahun tentu dari tua akan kembali muda" .
"Dari tua kembali muda?" Hi-tiok nenegas dengan terheran-hcran. "Wah, jika begitu, bukankah sangat baik? Siapa di dunia ini yang tidak ingin, kembali muda?"
"Ai, kamu hwesio cilik ini sangat jujur, kamu telah menolong jiwaku pula, maka tiada alangannya kuceritakan padamu," kala Tong-lo dengan menghela napas. "Sejak berusia lima tahun aku sudah berlatih ilmu sakti itu, ketika berumur 36 tahun aku telah 'dari tua kembali muda' satu kali dan tempo yang kukorbankan adalah 30 hari, Ketika berumur 66 tahun kembali muda lagi dan makan waktu 60 hari. Dan tahun ini aku berumur 96 tahun dan kembali muda lagi, maka aku harus korbankan tempo 90 hari untuk memulihkan tenaga sakti."
"Haa? Sekarang engkau . . . engkau berumur 96 tahun?"' Hi-tiok menegas dengan mata terbelalak sebesar gundu.
"Aku adalah Suci gurumu, Bu-gai-cu, jika Bugai-cu tidak mampus, maka tahun ini dia sudah berumur 93 tahun. Aku lebih tua tiga tahun dari dia, bukankah umurku 96 tahun sekarang?"
Mata Hi-tiok terbelalak lebih lebar lagi. Sungguh susah untuk dipercaya bahwa Thian-san Tong-lo itu sudah berumur 96 tahun jika dilihat dari perawakan dan wajahnya.
Maka nenek itu berkata pula, “Ilmu 'Tok-cun-kang' ini adalah semacam Iwekang yang sangat aneh dan sakti. Cuma sayang aku terlalu cepat melatihnya, baru berumur lima tahun aku sudah mulai berlatih dan tiga tahun kemudian daya sakti ilmu ini pun tampak jelas, yaitu aku selalu awet muda dan tidak bisa tua lagi, badanku juga tidak dapat tumbuh pula dan selamanya berwujud seperti anak perempuan berumur delapan atau sembilan tahun."
"O, kiranya begitu," kata Hi-tiok. Sekarang ia percaya penuh bahwa "anak dara" itu benar-benar adalah Thian-san Tong-lo. Kemudian ia, tanya pula, "Dan ada apa lagi ketika engkau kembali muda pula pada tahun ini?"
"Pada saat mulai kembali muda, seluruh tenaga sakti akan punah," tutur Tong-lo.
"Dan untuk seterusnya setiap aku berlatih satu hari, tenagaku lantas pulih seperti waktu berumur lima tahun satu hari lagi, tenagaku pulih seperti waktu berumur enam tahun dan hari ketiga pulih seperti umur tujuh tahun. Jadi latihan setiap hari sama dengan satu tahun. Cuma untuk berlatih diperlukan minum darah segar pada waktu lohor tiap hari,
"Waktu aku diculik Oh-lotoa, tatkala itu aku baru berlatih sampai hari keempat, maka dengan mudah dapat diculik olehnya. Maklum waktu itu tenagaku baru-pulih seperti ketika berumur 8 tahun, dengan sendirinya tidak dapat melawan. Terpaksa aku pura-pura bisu dan berlagak gagu serta dimasukkan karung oleh Oh-lotoa dan dibawa lari”
''Sejak itu aku tidak dapat minum darah segar dan tetap berkekuatan seperti anak berumur delapan tahun saja. Dari tua kembali muda adalah seperti ular yang mengelungsungi, setiap kali ganti kulit baru menjadi tambah tua satu tahun, Tapi kalau ditangkap pada waktu ganti kulit, maka celakalah”.
"Bila dalam dua-tiga hari lagi aku tidak dapat minum darah segar sehingga tidak bisa berlatih, jika hawa mumi dalam tubuhku meledak, maka jiwaku pasti akan melayang.
Sebab itulah kubilang kamu sudah menolong jiwaku, hal ini sedikitpun tidak salah."
"Jika begitu, sekarang engkau baru pulih seperti anak berumur belasan tahun, untuk bisa pulih sampai usia 96 tahun bukankah masih perlu waktu lebih dan 80 hari dan itu berarti akan minta korban jiwa menjangan atau kelinci sebanyak berpuluh ekor?''
'Thian-san' Tong-lo tersenyum, sahutnya, "Ha, hwesio cilik sekarang rupanya sudah tambah pintar. Cuma saja dalam waktu 80 an hari ini tenagaku masih belum dapat pulih dengan sekaligus, kalau menghadapi kaum keroco sebangsa Oh-lotoa, Putpeng Tojin dan lain-lain masih gampang dibereskan, tapi bila musihku yang utama mendapat tahu jejakku dan memburu kemari, maka susahlah, bagi nenek untuk melawannya, untuk itu diperlukan perlindunganmu."
"Tapi kepandaianku terlalu rendah! Dalam pandangan Cianpwe boleh dikata tiada nilainya," sahut Hi-tiok. "Jika Cianpwe sendiri tidak sanggup melawan musuh itu, apalagi diriku yang tak becus. Maka menurut pendapatku akan lebih baik bila Cianpwe menghindar saja sejauh mungkin, nanti sesudah 80-an hari lagi, kalau tenaga sakti Cianpwe sudah pulih kembali tentu tidak perlu takut lagi kepada musuh mana pun."
''Meski kepandaian mu rendah, tapi tenaga murni himpunan Bu-gai-cu selama 70 tahun sudah di curahkan seluruhnya ke dalam tubuhmu, asal kaupaham cara mengarahkannya, tentu masih cukup untuk menandingi sekadarnya terhadap musuh utamaku itu," kata Tong-!o. ''Baik, begini saja, marilah kita mengadakan 'barter' Aku nanti mengajarkan" ilmu silat sakti padamu, kemudian kau gunakan ilmu silat ajaranku itu untuk melindungiku menghadapi musuh, ini namanya saling menguntungkan.''.
Dasar Thian-san tong-lo sudah biasa main perintah, setiap kata-katanya tidak pernah dibantah oleh siapa pun juga, maka tanpa menunggu jawaban Hi-tiok segera ia melanjutkan lagi, "Sebenarnya kaupun tidak terlalu bodoh. Kamu mirip anak kaum hartawan, ya, boleh dikatakan putra kaum milyarder, kamu mendapat warisan yang berlimpah-limpah, jadi tidak perlu mengumpulkan kekayaan lagi, tapi sebaliknya kamu tidak dapat menggunakan uang, maka boleh belajar cara berfoya-foya menghamburkan uang? Maka asal kamu melatih selama sebulan saja tentu akan kelihatan hasilnya, dua bulan kemudian kamu sudah cukup kuat untuk sekadar menandingi musuhku it.u. Nah, ingat dengan baik, langkah pertama adalah . . . . "
"Jangan, Ciaupwe!" berulang Hi-tiok menggoyang tangannya. "Siauceng adalah murid Siaulimpai, biarpun kepandaian Cianpwe maha sakti, tapi Siauceng sekali-kali tidak boleh mempelajarinya. Maaf, hendaknya jangan marah. Maaf!"
Thian-san Tong-lo menjadi gusar, semprotnya, "Kepandaianmu dari Siau-lim-pai itu sudah dipunahkan habis oleh Bu-gai-cu, mengapa kamu masih mengaku sebagai murid Siau-lim-pai segala?"
"Ya, apa boleh buat, terpaksa Siauceng akan pulang ke Siau-lim-si dan mulai belajar lagi dari semula," kata Hi-tiok.
Tong-lo tambah marah, "Jadi kamu anggap golongan kami adalah oarng jahat dan kamu tidak sudi belajar ilmu kami?”
“Bukan begitu maksudku," sahut Hi-tiok. "Orang beragama harus welas-asih dan mengutamakan menolong sesamanya. Tentang ilmu silat kalau bisa melatihnya hingga tinggi memang baik juga, tapi kalau tidak mahir juga tidak menjadi soal."
Melatih Hi-tiok bicara dengan penuh hikmat seperti padri saleh, diam-diam Tong-lo merasa dongkol, ia pikir padri cilik ini sangat kepala batu kalau dipaksa tentu akan gagal. Tiba-tiba ia mendapat akal, segera ia berseru, "Oh-lotoa, lekas pergi menangkap dua ekor menjangan dan segera disembelih!"
Waktu itu Oh-lotoa lelah menyingkir agak jauh, karena tenaga Thian-san Tong-lo masih lemah, maka suaranya tak didengar Oh lotoa. Sesudah diulangi menggembor dua-tiga kali, akhirnya baru terdengar Oh-lotoa mengiakan.
"He, kenapa engkau hendak menyembelih menjangan lagi?" seru Hi-tiok kaget. "Hari ini bukankah engkau sudah minum darah segar?"
"Habis, kamu yang memaksa aku menyembelih kenapa banyak omong pula?" sahut Tong-lo dengan tertawa.
Hi-tiok menjadi heran, katanya, "Bi . . . bilakah aku memaksamu menyembelih menjangan ?”.
"Kamu tidak mau membantu aku melawan musuh, maka akhirnya aku pasti akan dianiaya dan dibunuh musuh. Karena itu, coba kalau kamu menjadi aku, apa kamu tidak merasa masgul? Dan untuk melampiaskan rasa dendamku terpaksa aku ambil korban atas hewan saja."
"Omituhud'. Ampun! Ampuun" sahut Hi-tiok.
"Cianpwe, kawanan hewan itu sesungguhnya juga sangat kasihan. Hendaklah mengampuni jiwa mereka saja."
"Hm, sedangkan jiwaku sendiri sebentar lagi juga mungkin akan melayang, lantas siapa yang pernah menaruh belas kasihan padaku?" jengek Thian-san Tong-lo. Lalu ia berteriak keras-keras
"Oh-lotoa, lekas pergi, dua ekor, tidak boleh kurang"
Dan dari jauh terdengar Oh-lotoa mengiakan.
Hi-tiok menjadi bingung dan tak berdaya. Jika ia tinggal psrgi begitu' saja, maka entah berapa banyak kambing dan menjangan tak berdosa yang akan dibunuh Thian-san Tong-lo. Sebaliknya kalau suruh dia tinggal terus di situ untuk belajar ilmu silatnya Toug-lo, Hi-tiok merasa enggan juga.
Cara Oh-lotoa menangkap menjangan rupanya sangat pintar, sebab tidak terlalu lama ia sudah kembali dengan menyeret dua ekor menjangan hidup. Ia tahu Thian-san Tong-lo perlu darah yang segar, maka ia tidak lantas menyembelihnya.
"Darah segar yang kuperlukan hari ini sudah cukup, boleh kau potong menjangan itu dan buang saja ke selokan sana," kata Tong-lo dengan tak acuh.
Oh-lotoa mengiakan, sekali belatihnya bekerja "kuik", kontan seekor menjangan dijagalnya. Ketika ia hendak potong lagi menjangan yang lain, tiba-tiba Hi-tiok berteriak, "Nanti dulu, berhenti!"
"Jika kamu menurut kepada perintahku, maka boleh kuampuni jiwa menjangan ini,"
kata Tonglo, "Tapi kalau kamu tetap mau tinggal pergi, maka setiap hari tentu akan kusembelih sepuluh ekor menjangan, dan 20 ekor ayam alas, 30 ekor kambing, Banyak sedikit korban nanti bergantung kepada keputusanmu ini. Dahulu sang Budha rela mengorbankan diri sendiri bagi sesamanya, beliau bilang “Kalau aku sendiri tidak masuk neraka siapa yang mau masuk neraka?" Dan sekarang nenek cuma minta kamu tinggal di sini buat beberapa hari lagi dan tidak menyuruhmu masuk neraka, namun kamu tetap tidak mau dan tega membiarkan jiwa kawanan hewan menjadi korban, apakah caramu ini ada setitik rasa sebagai murid Budha ?"
Hi-tiok sampai berkeringat dingin mendengar "kotbah"' itu, cepat sahutnya, "kritik Cianpwe memang benar. Baiklah, harap lepaskan menjangan itu dan aku pasti akan menurut kepada peminataanmu,"
Tong-lo sangat girang, segera ia berkata kepada Oh-lotoa, “Nah, lekas lepaskan menjangan hidup itu! Lalu kau sendiri lekas menyingkir yang jauh “
Sesudah Oh-lotoa menyingkir agak jauh lalu Thian-san, Tong-lo mengajarkan istilah-istilah dan rahasia-rahasia ilmu cara bersemadi dan mengerahkan hawa murni dalam tubuh.
Thian-san Tong-lo adalah saudara seperguruan dengan Bu gai-cu, dangan sendirinya ilmu silat yang diajarkan itu sangat gampang diterima oleh Hi-tiok yang telah mempunyai dasar iwekang yang sama. Sedikit latihan saja kemajuannya sudah maju dengan pesat
Besoknya ketika Thian-san To-ig-lo mengisap darah menjangan lagi untuk melatih "Tok-cun-kang" sekali ini ia tidak membinasakan korbannya, ia bubuhi obat pada luka tempat gigitan, lalu binatang itu dilepaskan. Katanya kepada Oh-lotoa, "Karena Siausuhu" ini tidak suka orang membunuh mahluk berjiwa, maka selanjutnya kau pun tidak boleh, makan barang berjiwa, hanya boleh makan biji cemara saja. Jika kutahu kamu makan daging menjangan atau kambing, hm, segara kusembelih dirimu untuk mengganti jiwa binatang yang kau bunuh itu."
Sudah tentu Oh-lotoa tidak berani membantah di mulut ia menyatakan tunduk, tapi. dalam hati ia mengumpat Hi-tiok, sedari kakek-moyang ke 16 keturunan sehingga bapak-biyungnya juga ikut dicaci-maki habis-habisan. Tapi ia tahu sekarang Hi-tiok adalah "anak mas" Thian-san Tong-lo, betapapun ia tidak berani sembarangan mengeluarkan kata-kata kotor.
Keadaan begitu telah berjalan beberapa hari, bukan saja Thian-san Tong-lo tidak membunuh lagi, bahkan Oh-lotoa juga ikut-ikutan puasa. Tentu saja Hi-tiok sangat senang, pikirnya, "Orang sudah menepati janji padaku, betapapun aku juga harus berbuat sepenuh tenaga baginya."
Maka setiap hari ia berlatih dengan lebih giat, sedikit pun tidak berani malas.
Selama beberapa hari, yang paling aneh adalah perubahan wajah Thian-san Tong-lo, hanya dalam, waktu lima-enam hari saja dari wajah anak dara berusia 11 atau 12 tahun sekarang sudah berubah menjadi 17 atau 18 tahun. Yang tidak berubah hanya perawakannya, masih tetap pendek dan kecil, kerdil atau mini.
Hari itu lewat lohor, sesudah Thian-san Tong-lo habis melatih Tok-cun-kang", lalu katanya kepada Hi-tiok dan Oh-lotoa, "Sudah cukup lama kita tinggal di sini, rasanya binatang iblis itu pun akan dapat menyusul tiba. maka hwesio cilik boleh gendong aku dan lari ke puncak yang lebih tinggi sana, sebelah tanganmu tetap mencangking Oh-lotoa dan melayang di atas pohon agar tidak meninggalkan bekas di tanah salju."
Hi-tiok mengiakan saja, tapi ketika dia hendak angkat Thian-san Tong-lo ke atas punggungnya, sekonyong-konyong dilihatnya air muka "anak dara" itu sangat cantik, ia menjadi kaget dan menarik kembali tangannya, katanya dengan suara ragu, "Siau , . . Siauceng tidak berani mengganggu"
"Tidak berani mengganggu apa?" tanya Tong-lo dengan heran.
“Cianpwe sudah pulih kembali menjadi seorang nona dewasa dan bukan lagi anak dara cilik, maka orang beragama lebih-lebih harus patuh, pada larangan antara kaum pria dan wanita,"sahut Hi-tiok.
Tiba-tiba Tong-lo mengikik tawa sehingga pipinya bersemu merah dan tambah cantik, katanya,
"Siauhwesio suka ngaco-belo! Lolo (nenek) adalah nini-nini yang sudah berusia 96 tahun, apa alangannya kamu menggendong aku?"
Habis berkata, segera ia hendak menggemblok di atas punggung Hi-tiok. .
"He. jangan, jangan.!” cepat Hi-tiok berseru dan segera lari.
Dengan menggunakan ginkangnya segera Thian-san Tong-lo mengejar dari belakang.
Saat itu "Pak-beng-cin-gi" yang dilatih Hi-tiok sudah mencapai tiga perempat masak, sebaliknya Thian-san Tong-lo baru pulih kekuatannya antara umur 18 tahun, melulu ginkang saja ia sudah kalah jauh daripada Hi-tiok. Maka hanya sebentar saja ia sudah ketinggalan jauh. "
"Siauhwesio, berhenti, berhenti!" cepat Tong-lo berseru.
Hi-tiok menurut, ia berhenti dan berkata,
"Biar kugandeng tanganmu dan kita melompat bersama ku atas pohon!"
Tong-lo menjadi gusar, katanya, "Dasar goblok, sedikit pun tidak bisa berpikir, rasanya selama hidupmu pun sukar menguasai ilmu mujizad"
Pada saat itulah tiba-tiba Hi-tiok melihat di belakang Thian-san Tong-lo ada berkelebatnya bayangan orang. Bayangan itu seperti ada dan seperti tidak ada, rupanya orang itu berpakaian putih mulus sehingga susah dibedakan antara tanah salju yang putih dengan bayangan orang itu.
Hi-tiok terkejut dan segera memapak maju. Mendadak terdengar teriakan Thian-san Tong-Io yang terus berlari ka arah Hi-tiok.
Tiba-tiba terdengar bayangan orang tadi berkata "Suci, senang benar engkau tinggal di sini!"
Ternyata suara seorang wanita yang halus merdu.
Waktu Hi-tiok melangkah maju dua-tiga tindak lagi dan mengawasi, ternyata orang berbaju putih itu berpotongan langsing menggiurkan, terang adalah kaum wanita, tapi mukanya berkerudung kain sutra sehingga tidak kelihatan wajahnya.
Mendengar wanita itu menyebut Tong-lo sebagai "Suci" (kakak perguruan), maka Hi-tiok berpendapat dirinya tentu takkan repot-repot lagi mengawal nenek itu karena sekarang Tong-lo sudah kedatangan bala bantuan orang sendiri.
Tapi ketika ia lirik Thian-san Tong-lo, ia lihat air muka nenek itu sangat aneh, tampaknya sangat heran, jeri dan gusar, bahkan bersikap setengah mengejek pula.
Tiba-tiba nenek itu melompat ke samping Hi-tiok dan berseru "Lekas gendong aku dan lari ke atas puncak sana!"
Tapi Hi-tiok masih ragu, katanya, "Tentang ini . , , ini agak tidak pantas!"
Tong-lo menjadi gusar, "plok", mendadak ia gampar Hi-tiok sekali sambil berteriak, "Perempuan hina-dina itu sudah menyusul kemari dan aku terancam bahaya, apa kamu tidak lihat?”
Karena tenaga Tong-lo sekarang sudah pulih sebagian, maka tamparan itu cukup keras, kontan pipi Hi-tiok merah bengkak.
"Suci," terdengar wanita baju putih itu berkata, "Sampai tua tabiatmu ternyata tetap tidak berubah selalu ingin memaksakan keinginanmu pada orang lain dan suka memukul dan memaki orang""
Mendengar ucapan wanita berbaju putih itu, seketika timbul rasa suka pada diri Hi-tiok, pikirnya, "Jika orang ini betul-betul adalah sesama perguruan dengan Tong-lo dan Bu-gai-cu, maka tabiatnya terang sangat berbeda, lebih halus, lebih sopan dan tahu aturan."
Dalam pada itu Tong-lo masih terus mendesak Hi-tiok, "Lekas gendong aku dan melarikan diri, makin jauh makin baik, bantuanmu ini tentu takkan kulupakan dan akan kubalas sebaik-baiknya."
Sebaliknya wanita baju putih itu berdiri disamping dengan tenang-tenang saja, gayanya indah menarik.
Diam-diam Hi-tiok merasa nona yang tak dikenal itu benar-benar sangat sopan-santun, mengapa Tong-lo menjadi ketakutan dan benci padanya "Suci, kita sudah 20 tahun tidak berjumpa, dan baru sekarang kita bertemu kenapa lantas terburu-buru hendak pergi?'' terdengar wanita baju putih itu berkata, "Siaumoai telah menghitung bahwa dalam beberapa hari ini adalah hari bahagiamu karena dari tua telah kembali muda. Kabarnya paling akhir ini engkau tidak sedikit mengangkat anak buah yang tak senonoh. Siaumoai kuatir mereka akan berbuat tidak menguntungkan Suci, maka sengaja berkunjung ke Biau-biau-hong dengan maksud hendak membantumu untuk melawan serangan dari luar, tapi justru tidak dapat bertemu denganmu."
Karena Hi-tiok tetap tidak mau menggendong dia dan lari dalam keadaan tak berdaya terpaksa Tong-lo menjawab dengan marah-marah, "Hm terima kasih atas maksud baikmu! Kamu sengaja datang ke Biau-biau-hong sewaktu kau tahu aku sedang lemah, apa kamu bermaksud membalas dendammu masa dahulu? Hah, mungkin di luar dugaan mu bahwa tanpa sengaja aku telah diculik orang dan dilarikan sehingga kamu.
Menubruk tempat kosong dau sangat kecewa, bukan? Li Jiu-sui, meski hari ini kamu tetap dapat menemukan aku, namun sayang kamu sudah terlambat beberapa hari, sudah tentu aku tetap bukan tandinganmu, tapi tujuan mu hendak mengurus tenaga sakti yang kuhimpun selama hidup ini jelas tidak bisa lagi."
"Ai, mengapa Suci berkata demikian?'" sahut wanita baju putih. "Sejak Siaumoai berpisah dengan Suci, sungguh Siaumoai senantiasa terkenang padamu, sering kuingin berkunjung pada Suci, tapi sejak Suci pernah salah paham kepada Siaumoai dan setiap bertemu pasti Suci mendampratku, sebab itulah supaya tidak membikin marah Suci dan agar tidak dihajar Suci, maka selama ini aku tidak berani berkunjung ke Leng-ciu-kiong.
Jika sekarang Suci menganggap Siaumoai mempunyai tujuan jahat, ucapan Suci ini sungguh agak berlebih-lebihan.'"
Begitulah berulang-ulang wanita baju putih itu menyebut "Suci" dengan penuh hormat dan mesra, sebaliknya watak Thiau-san Tong-lo dikenal Hi-tiok agak galak. Maka ia menduga permusuhan diantara kedua wanita yang baik dan jahat ini pasti Thian-san Tong-lo adalah pihak yang salah.
Maka terdengar Tong-lo menjawap dengan gusar, "Li Jiu-sui, pendek kata, kamu tidak perlu putar lidah lagi. Lebih baik lihatlah, apa ini dan segera ia julurkan tangannya dan perlihatkan cincin besi yang dipakainya pada jari kecil tangan kiri itu.
Wanita baju putih itu tampak tergetar dan berseru, "Hah, Ciangbun-tiat-goan (cicin tanda ketua)! Kau . . . kau dapatkan dari mana?".
"Sudah tentu dia yang memberi. Sudah tahu kenapa pura-pura tanya?" sahut Tong-lo dengan tertawa dingin.
Wanita baju putih itu tampak rnelengak tapi segera ia berkata, "Hm, mana bisa dia. .. memberikan padamu. Jika bukan mencuri, tentu kau merampas dari dia."
"Dengarkan, Li Jiu-sui!" tiba-riba Thian-san Tong-lo berseru. "Ciangbunjin dari Siau-yan-pai memberi perintah supaya kamu lekas berlutut untuk terima perintah."
"Hm, siapakah yang mengangkat kamu sebagai Ciangbunjin?" sahut wanita baju putih alias Li Jiu-sui itu. "Kutaksir cincin itu besar kemungkinan kau rampas dari dia setelah lebih dulu kaucelakai dia."
Sejak tadi sikap Li Jiu-sui tenang-tenang saja tapi demi melihat cincin besi itu, bicaranya mulai aseran dan tidak sabaran lagi.
"Kamu tidak mau tunduk pada perintah Ciangbunjin dan bermaksud memberontak, ya?" kata Tong-lo pula.
Mendadak sinar putih berkelebat, pada detik lain terdengar suara "bluk" sekali tahu-tahu tubuh Thian-sau Tong-lo mencelat pergi dan terbanting sejauh beberapa meter, "He, ada apa" teriak Hi-tiok kaget. Segera dilihatnya di atas tanah salju itu terdapat sejalur garis merah, ternyata jari kecil Thian-san Tong-lo telah jatuh terputus di atas salju dan cincin besi itu sudah berada di tangan Li Jiu-sui.
Kiranya dengan cepat luar biasa Li Jiu Sui telah menabas jari kecil Thian-san Tong-lo dan merebut cincinnya, lalu menghantamnya pula sehingga mencelat. Sedangkan senjata apa yang digunakan untuk menabas jari, karena saking cepatnya sehingga Hi-tiok sama sekali tidak melihatnya.
Maka terdengar Li Jiu-sui berkata, "Suci, sebenarnya cara bagaimana kau celakai dia, hendaknya katakan pada Siaumoai saja. Selamanya Siaumoai sangat hormat dan cinta padamu, Siaumoai pun takkan membikinmu terlalu susah."
Setelah memegang cincin besi itu, maka ucapanya mulai berubah lagi menjadi halus dan sopan.
Karena tidak tega, Hi-tiok ikut berkata, "He, kalian adalah saudara seperguruan, buat apa saling aniaya sekeji itu? Bu-gai-cu Losiansing sekali-kali bukan ditewaskan oleh Tong-lo, Orang beragama tidak boleh dusta, aku tidak bohong padamu,"
"Numpang tanya siapakah gelaran Taisu? Di mana Taisu bersemayam ? Kenapa kenal nama Suhengku?"" tanya Li Jiu-sui kepada Hi-tiok.
"Siauceng bergelar Hi-tiok. murid Siau-lim-si. Tentang Bu-gai-cu Losiansing . . . . ai, urusan ini sangat panjang kalau diceritakan . . . . "
Belum lanjut ucapan Hi-tiok, sekonyong-konyong Li Jiu-sui mengebaskan lengan bajunya dan tiba-tiba Hi-liok merasa kedua dengkulnya kesemutan, seketika jatuh terkulai ke tanah,
"Siausuhu adalah padri saleh Siau-lim-pai, maka aku cuma sekadar menjajal kepandaianmu saja," kata Li Jiu-sui dengan tersenyum. "Hah, meski nama Siau-lim-pai sangat gemilang di dunia kangouw, ternyata anak muridnya juga cuma begini saja."
Samar-samar Hi-tiok dapat melihat wajah di balik kerudung kain sutra tipis itu agaknya sangat cantik, usianya kurang lebih 40-an tahun, tapi pada muka yang molek itu seperti ada beberapa jalur bekas darah atau bekas luka, karena tidak jelas kelihatan sehingga membuat orang yang memandangnya merasa seram.
Lalu Hi-tiok menjawabnya, "Aku adalah hwesio paling tidak becus dari Siau-lirn-si, harap Cianpwe jangan pandang seorang tak becus seperti aku ini untuk menilai seluruh orang Siua-lim-piu."
Namun Li Jiu sui tidak gubris padanya, perlahan ia mendekati Thian-san Tong-lo, katanya, "Suci, selama ini sungguh Siaumoai sangat rnerindakan dirimu. Syukur Thian maha adil dan akhirnya Siaumoai dapat bertemu lagi denganmu. Suci, berbagai kebaikan yang kauberikan padaku pada masa dahulu itu, siang dan malam selalu kuingat dengan baik.
Sampai di sini sekonyong-konyong sinar putih berkelebat pula terdengar Thian-san Tong-lo menjerit ngeri, di atas tanah salju yang putih bersih itu seketika berlumuran darah segar. Kaki kiri Tong-lo ternyata sudah berpisah dengan tubuhnya.
Kejut Hi-tiok sungguh bukan buatan, dengan gusar ia membentak, "Sesama saudara seperguruan kenapa kamu sedemikian kejamnya? Kau . . kau . . . sungguh lebih buas daripada binatang'"
Pelahan Li Jiu-sui menoleh ke arah Hi-tiok dan menyingkap kain sutra yang menutup mukanya itu sehingga kelihatan raut mukanya yang bundar telur dan putih bersih.
Tapi mendadak Hi-tiok menjerit kaget sekali. Ternyata di atas muka Li jiu-sui yang cantik itu terdapat empat jalur bekas goresan senjata tajam, keempat julur bekas luka itu silang melintang hingga berbentuk dua " X " . Karena luka itu maka mata kanan tampak melotot keluar seperti biji mata ikan mas, ujung mulut sisi kiri menjadi merot dan sumbing, sehingga wajah yang ayu itu berubah menjadi jelek seperti siluman.
"Nah, lihatlah Taisuhu dari Siau-lim-si, dahulu aku dilukai orang sedemikian rupa dan sekarang aku harus menuntut balas atau tidak ?" tanya Li Jiu-sui. Habis itu ia tutup kembali kerudung mukanya, "Apakah . . . apakah itu perbuatan Tong-!o dahulu?" tanya Hi-tiok.
"Hm, boleh kautanya sendiri padanya," jawab Li Jiu-sui.
"Benar, memang akulah yang merusak mukanya," sambung Thian-san Tong-lo. Meski kakinya sudah kutung dan mengucurkan darah seperti air ledeng, tapi dia tidak jatuh pingsan, "waktu aku berusia 26 tahun, dengan ilmu . , . ilmu yang berhasil kulatih itu mestinya tubuhku dapat tumbuh seperti wanita dewasa umumnya. Tapi diam-diam dia membikin celaka aku sehingga latihanku tersesait dan akibatnya badanku tak bisa tumbuh lebih besar lagi, coba katakan, dendam kesumat ini pantas dibalas atau tidak?"
Hi-tiok memandang ke arah Li Jiu-sui, pikirnya, "Jika apa yang dikatakannya itu betul, maka yang lebih dulu berlaku kejam adalah, kau sendiri."
Dalam pada itu Tong-lo berkata pula "Dan bila hari ini aku jatuh di tanganmu, ya, apa mau dikatakan lagi? Siauhwesio ini adalah sobat baikku hendaknya jangan kau ganggu. Kalau tidak, pasti 'dia' takkan mengampunimu.''
Habis berkata ia terus pejamkan mata dan pasrah nasib untuk disembelih atau digorok oleh lawannya
"Suci," terdengar Li Jiu-sui menghela napas, "usiamu lebih tua dari ku, kau pun lebih pintar, tapi kalau sekarang kamu hendak menipu Siaumoai lagi mungkin tidak gampang.
Kau bilang 'dia’, hm, jika dia . . . dia masih hidup di dunia ini, kenapa cincin besi ini bisa jatuh ke tanganmu? Baiklah, Siaumoai memang juga tiada permusuhan apa-apa dengan Siausuhu ini, apalagi dasarnya Siaumoai memang penakut dan sekali-kali tidak berani bermusuhan dengan Siau-lim-pai yang rnerupakan golongan terpuja di dunia persilatan, maka aku pasti takkan mengganggu Siausuhu ini. Di sini Siaumoai sudah sediakan dua butir Kiu-coan-him-coa-wan harap Suci lekas minum supaya darah tidak mengucur terus dari pahamu yang terkutung itu."
"Jika hendak kau bunuh diriku boleh lekas lakukan, bila ingin aku makan Toan-kin-bu-kut-wan itu untuk disiksa dan dipermainkan olehmu, hm, jangan harap," jengek Thian-san Tong-lo,
"Ai maksud baikku selalu disalah paham Suci” kata Li jiu-sui. "Kulihat darah mengalir terlalu banyak dari pahamu yang terkutung dan ini akan sangat mengganggu kesehatan Suci sendiri, maka lebih baik Suci minum saja kedua pil ini."
Hi-tiok melihat di tangan Li Jiu-sui yang putih halus itu terdapat dua butir pil kuning yang serupa dangan pil pemberian Thian-san Tong-lo kepada Oh-lotoa itu, diam-diam ia merasa ngeri dan membatin "Dasar ketulah, tadi kau beri obat jahat itu kepada orang dan sekarang kontan kau pun dibayar kembali."
Dalam pada itu terdengar Thian-san Tong-lo lagi berseru, ''Siauhwesio, lekas kepruk balok kepalaku agar nenek lekas pulang ke nirwana daripada mati dihina dan dianiaya perempuan rendah ini."
Tapi dengan tertawa Li Jiu-sui menanggapinya "Mana bisa? Siauhwesio sendiri sudah letih dan ingin istirahat dulu di situ."
Baru sekarang Tong-lo ingat bahwa Hi-tiok telah tertutuk tak berkutik oleh kebasan lengan baju Li Jiu-sui tadi. Saking gusarnya sampai wajahnya merah padam.
"Suci, kakimu sekarang menjadi ganjil, satu panjang dan satu pendek, kalau dilihat si'dia’ kan malu?" ejek Li jin-sui pula. "Ai, seorang wanita kecil yang cantik molek sekarang berubah menjadi si cantik yang pincang, sungguh harus disayangkan. Ai, lebih baik Siaumoai menyempurnakanmu saja."
Habis berkata, sokonyong-konyong sinar putih berkelebat dan tahu-tahu ditangannya sudah bertambah sebuah senjata,
Sekali ini Hi-tiok dapat melihat dengan jelas senjata yang dipegang Li Jin siu itu kiranya adalah sebilah belati yang panjangnya cuma belasan sentib Belati itu sangat tipis dan tajam
Rupanya Li Jui-sui sengaja hendak menakut-nakuti Thian-san Tong-lo. maka dia tidak lantas menyerangnya, belati itu hanya di obat-abitkan saja di depan kaki kanan Tong-lo yang tidak terkutung itu.
Hi-tiok menjadi gusar melihat kekejaman Li Jiu-sui. Karena itu hawa murni Pak-beng-cin-gi dalam tubuhnya segera bergolak sehingga hiat-to bagian dengkul yang tertutuk itu tertembus, seketika ia dapat bergerak lagi dengan bebas. Tanpa pikir, segera ia menerjang maju, ia rangkul Thian-san Tong-lo terus dibawa lari secepat terbang ke atas puncak.
Waktu Li Jiu-sui mengebas hiat-to Hi-tiok tadi, ia mengira kepandaian padri kecil itu sangat rendah, maka sedikit pun ia tidak meuaruh perhatian padanya.
Sebaliknya ia sengaja hendak menyiksa Thian-san Tong-lo dengan disaksikan Hi-tiok, ia merasa akan lebih menyenangkan bila perbuatannya itu ditonton oleh orang. Siapa duga mendadak Hi-tiok dapat menembus jalan darah sendiri yang tertuluk itu.
Kejadian yang mendadak itu membuat Jiu-sui agak tercengang, dan ketika dia mengejar, namun sudah ketinggalan beberapa meter jauhnya. Dengan tertawa ia berseru, "He, Siauhwesio, apa kau pun kena dipelet oleh Suciku? Jangan kau kira dia sangat cantik molek, sesungguhnya dia adalah seorang nenek jompo berusia 96 tahun dan bukan gadis remaja lagi.''
Karena tetap memandang enteng pada Hi-tiok, ia yakin sebentar saja pasti dapat menyusulnya.
Di luar dugaan lari Hi-tiok semakin lama semakin cepat, dan semakin cepat aliran darahnya jadi tambah gencar dan Pak-beng-cin-gi dapat bekerja lebih hebat. Maka biarpun Li Jin-sui mengejar mati-matian jaraknya tetap beberapa meter di belakang Hi-tiok dan tidak dapat menyusulnya
Dalam sekejap saja kejar-mengejar mereka sudah lebih satu li jauhnya, Li Jiu-sui mulai gopoh dan terkejut, cepat serunya, "Siausuhu, jika tidak lekas berhenti terpaksa akan kuserang dengan tenaga pukulanku"
Tong-lo tahu betapa hebat tenaga pukulan sang Sumoai yang banyak pula gaya perubahannya, hal ini sekali-kali tak dapat dilawan oleh Hi-tiok. Asal sang Sumoai melancarkan beberapa kali pukulan, pasti jiwa Hi-tiok akan melayang dan dirinya tetap akan jatuh ke dalam cengkeraman Sumoai yang kejam itu. Maka katanya kepada Hi-tiok, "Siausuhu, banyak terima kasih atas pertolonganmu. Tapi perempuan hina-dina ini memang sangal lihai dan kita tidak mampu melawannya, lebih baik . . . kau lemparkan aku ke jurang saja dan mungkin dia takkan mengganggu dirimu."
"He.. mana . . mana boleh begitu” sahut Hi-tiok. Dan karena dia buka mulut sehingga tenaga yang sedang bekerja itu sedikit macet. Dalam pada itu Li Jiu-sui sudah lantas melompat maju, tahu-tahu Hi-tiok merasa punggungnya di sodok oleh serangkum tenaga yang kuat dan terasa "nyes" dingin, menyusul tubuhnya terus melayang turun ke dalam jurang tanpa kuasa lagi.
Hi-tiok tahu telah kena dihantam oleh tenaga pukulan Li Jiu-sui yang maha dingin, namun kerena tangannya tetap merangkul Thian-san Tong-lo dengan erat sambil anjlok ke bawah. Tak sempat berpikir pula, "Sekali ini aku pasti akan terbanting hancur lebur."
Ketika Hi tiok mulai kejeblos ke dalam jurang yang tak terkira dalamnya itu, sayup-sayup terdengar suara Li Jiu-sui di atas puncak "Ai, terlalu keras aku memukulnya sehingga mengenakkan dia malah!"
Rupanya di atas puncak itu ada sebuah celah yang tertimbun oleh salju tebal sehingga sedikit pun tidak kentara dari atas. Ketika Li Jiu-sui melontarkan pukulannya dengan maksud merobohkan Hi-tiok untuk kemudian dapat menawan kembali Thian-san Tong-lo dan akan disiksanya secara keji sebelum membunuhnya.
Tak terduga saat itu Hi-tiok sedang berada di atas celah-celah puncak gunung yang tertimbun salju itu, karena getaran pukulan Li Jiu-sui yang keras itu, salju longsor dan Hi-tiok bersama Thian-san Tong-lo ikut kejeblos ke bawah. Walaupun hal ini berarti Li Jiu-sui telah menewaskan Thian-san Tong-lo, tapi dia merasa tidak puas cara membalas sakit hatinya itu
Begitulah Hi-tiok kejeblos ke dalam lembah gunung yang curam itu, ia merasa badannya terapung di tempat kosong dan sedikit pun tak kuasa, cuma jatuhnya itu tegak ke bawah, telinga mendengar suara angin yang menderu, meski kejadian itu hanya dalam waktu singkat saja, tapi ia merasa jatuhnya itu seperti tidak habis-habis dan tidak sampai-sampai ke dasar.
Ia lihat di bawah adalah lereng gunung penuh salju yang sedang menantikan dia, asal keduanya sudah bergabung, maka tamatlah kelakonnya.
Tiba-tiba pandangannya serasa kabur, tahu-tahu tanah salju di bawah itu ada beberapa titik hitam yang sedang bergerak-gerak. Sebelum dia sempat membedakan benda apakah . . . hitam itu, sementara itu tubuhnya sudah terjun ke lereng gunung itu secepat elang menyambar anak ayam.
Pada saat itu pula sekonyong-konyong terdengar bentakan seorang, "Siapa itu" dan tahu-tahu terasa serangkura tenaga maha kuat menolaknya dari samping sehingga tepat mengenai, pinggang Hi-tiok yang hampir menyentuh tanah itu.
Lantaran itu, tubuh Hi-tiok terus mencelat kesamping. Dan sekilas itu ternyata Buyung Kok adanya.
"Sambutlah ini!" cepat Hi-tiok berteriak.
Maksudnya Thian-san Tong-lo hendak dilemparkan sekuatnya kepada Buyung Hok.
Maklum, ia merasa jiwa sendiri pasti sukar tertolong karena terbanting dari puncak gunung setinggi itu, oleh karena itu demi tiba-tiba nampak Buyung Hok berada di situ, segera ia hendak melemparkan Thian-sin Tong-lo ke arahnya agar nenek itu disambut Buyung Hok dan tidak ikut terbanting mati.
Tak diketahuinya bahwa baru saja Buyung Hok telah menggunakan gayanya yang khas, yaitu ilmu "Tau-coan-sing-ih" (memutar bintang dan menggeser rembulan), daya turun Hi-tiok berdua telah berkurang separuh karena ditolak oleh tenaga geseran yang istimewa itu sehingga dari anjlok ke bawah Hi-tiok berdua tertolak mencelat ke samping.
Betapa hebat tenaga tolakan Buyung Hok itu sehingga sama sekali Hi-tiok tidak sempat lagi mengerahkan tenaga untuk melemparkan Thian-san Toug lo. Dan sedikit ayal itulah tahu-tahu mereka sudah mencelat belasan meter jauhnya untuk kemudian anjlok ke bawah pula.
Di luar dugaan mendadak kedua kaki Hi-tiok seakan-akan menginjak sesuatu yang lunak dan berdaya pegas. "Bluk", tahu-tahu Hi-tiok membal lagi ke atas. Keruan kejutnya tak terkira dan menjerit, "He, apa itu?''
Sekilas dapatlah dilihatnya di tanah salju itu menggeletak searang Hwesio yang sangat gemuk seperti bola raksasa. Kiranya dia bukan lain adalah Sam-ceng. Hwesio.
Hwesio yang berpotongan aneh dengan perut sebagai genta raksasa itu sering kali melanggar peraturan Siau-lim-si dan dihukum, maka boleh dikata setiap orang tentu mengenalnya.
Sungguh sangat kebetulan juga ketika Hi-tiok anjlok ke bawah, dengan tepat kakinya menginjak perut Sam-ceng yang besar itu, kontan saja perut pecah dan usus keluar dan binasa seketika. Untung juga berkat daya pental perutnya yang besar itu sehingga kaki Hi-tiok tidak sampai patah.
Begitulah Hi-tiok kembali membal lagi ke sana tanpa kuasa. Tiba-tiba terdengar pula seorang sedang berkata, "Cumoti, sambutlah bola manusia ini!"
Waktu Hi-tiok memandang ke arah suara itu seketika ia kaget setengah mati. Kiranya pembicara itu tak lain tak bukan adalah Sing-siok Lokoai Ting Jun-jiu yang ditakutinya itu.
Demi ingat dirinya sendiri pasti akan, di bunuh oleh Ting-lokoai, Hi-tiok menjadi gugup, cepat ia rangkul Tong-lo dengan tangan kiri, telapak tangan kanan siap di depan dada untuk menjaga diri.
Pada saat itulah pukulan Ting Jun-jiu sudah dilancarkan. Lekas Hi-tiok menangkis.
Saat itu Pak-beng-cin-gi sudah cukup masak, maka begitu telapak kedua tangan kebentur, kontan Ting Jun-jui tergetar mundur setindak. Ia sampai bersuara heran karena tenaga pukulannya yang maha kuat itu ternyata tidak dapat melukai Hi-tiok sedikit pun.
Cuma Hi-tiok lagi terapung di udara, karena tenaga pukulan Ting Jun-jiu itu, ditambah daya pental kembali dari tenaga pukulan sendiri, maka tubuhnya lantas melayang pergi lagi seperti anak panah terlepas dari busurnya.
Tiba-tiba terdengar suara seorang yang lemah lembut lagi berkata, "Omitohud. Harap Toan-sicu suka menyambutnya!"
Sekilas Hi-tiok melihat seorang Hwesio yang berwajah welas-asih dan sikapnya angker sedang angkat tangan dan menghantam ke arahnya. Sebagai murid Budha yang sujud, meski badan terapung di udara toh Hi-tiok masih sempat membalas salam kawan seagama itu, "Omitohud! A