Pendekar Setia bab 01 - 16


Pendekar Setia
{Pendekar Kembar 2}
Bab 1 : Rahasia Kitab Pusaka Hian-ku-cip
Tentu saja Yap Jing, Kan Hoay-soan dan Hana merasa kuatir.
Setelah ditunggu lagi sejenak dan Yu Wi tetap tidak ada kabar beritanya, saking cemas Kan Hoay-soan terus melompat bangun dan hendak ikut terjun kedalam laut.
Tapi Giok-bin-sin-po sempat meraihnya sambil membentak, "Mau apa kau?"
Hoay-soan meronta-ronta dan menjawab, "Akan kuperiksa kebawah sana!"
"Keadaan dibawah tidak jelas, didasar laut sering ada pusaran air, jika Toakomu tidak dapat naik kembali, apakah kau sendiri tidak mengantar kematian belaka?"
Tapi Hoay-soan meronta terlebih keras, teriaknya, "Biar kuturun. . . ." Tampaknya dia rada kalap dan sukar diatasi.
Segera Giok-bin-sin-po menutuk Hiat-to kelumpuhannya sehingga Hoay-soan tidak dapat berteriak dan bergerak lagi, tapi air matanya lantas bercucuran.

"Aku mahir berenang, biar aku saja yang turun kebawah untuk memeriksanya," seru Yap Jing sambil menanggalkan baju luar.

"Tidak, jangan!" cegah Giok-bin-sin-po.
"Dibawah belum pasti ada pusaran air," ujar Yap Jing, "sedangkan kedua tangan Toako terikat sehingga kurang bebas bergerak, jika terdapat kesulitan dibawah mungkin dapat kuberi pertolongan, biarlah kuperiksa kebawah sana."
Karena ucapan Yap Jing memang masuk diakal, tampaknya juga sukar dicegah lagi, terpaksa Giok-bin-sin-po berkata, "Baiklah, cuma kau harus hati-hati."

Yap Jing lantas meringkaskan bajunya, lalu terjun kedalam laut. Air laut sangat jernih dan dingin, Yap Jing sudah bermain air laut sejak kecil, maka dengan mahir dia menyelam kedasar laut.

Lebih dalam kebawah, keadaan tambah remang-remang, mungkin lantaran masih pagi, cahaya matahari belum bisa mencapai kedalam laut. Namun Yap Jing masih dapat membedakan arah dan memandang keadaan sekitarnya, namun tidak ditemukan sesuatu jejak Yu Wi.
Mendadak dirasakannya daya pusar yang kuat, diam-diam Yap Jing mengeluh, ia tahu didasar laut itu ternyata benar ada pusaran air yang sangat dahsyat.

Untung dia cukup kenal sifat air, ia sukar melawan daya pusaran air yang kuat itu, akan lebih baik mengikuti arah pusaran dan kemudian mencari kesempatan untuk melepaskan diri.

Maka terbawalah dia oleh pusaran air itu, sampai kedalaman tertentu, mendadak tubuhnya terseret oleh daya hisap yang sangat kuat, ia dapat melihat dengan jelas tubuhnya meluncur kearah batu karang ditepi pulau, dahsyat sekali daya hanyut itu, apabila menumbuk dinding karang, andaikan tidak mati juga akan terluka parah.

Tampaknya sudah hampir menumbuk dinding karang, otomatis Yap Jing menjulurkan tangan untuk menahan kedepan, karena daya tolak tangannya secara kebetulan tubuhnya terus tergeser kebagian bawah dan terhisap lagi kebagian dalam, secara cerdik Yap Jing memegangi dinding karang.

Dinding karang penuh berlmut dan sangat licin, ia merasa tubuhnya terhisap lebih kedalam lagi, tiba-tiba dirasakannya dinding karang itu terputus sampai disitu saja, dibagian tengah terasa kosong sehingga air se-akan2 dituangkan kesitu, makanya menimbulkan daya sedot yang sangat kuat.

Yap Jing tidak kuat lagi memegangi dinding karang, mendadak tubuhnya terhanyut terus mengapung keatas.

Makin terapung keatas makin gelap keadaan didalam air, sampai akhirnya tidak dapat melihat apa2 lagi, mendadak tubuhnya ditolak oleh suatu kekuatan sehingga terpental kepermukaan air, "bluk", ia terlempar keatas dan jatuh dilantai batu karang, cukup keras ia terbanting sehingga sangat sakit, hampir saja patah tulang.

Dilihatnya air bergemuruh mendampar kedepan sana dengan sangat dahsyat dan mengejutkan, begitu keras suara gemuruh air sehingga mirip gemuruh medan perang dan memekak telinga.

Berdasarkan perkiraannya dapatlah Yap Jing meraba keadaan sekitarnya, jelas bagian tengah bawah pulau ini kosong, air laut tertuang kedalam perut pulau melalui mulut Ho-lo yang mencuat kebawah, sebab itulah menimbulkan pusaran air. Setelah air laut tertuang kedalam perut pulau, lalu air mengalir lagi kedepan sana dengan arus yang kuat, entah kemana mengalirnya air.

Sekarang dirinya berada ditengah perut pulau dan terlempar keatas batu karang, didepan jelas arus air mendampar dengan kuatnya, jika dirinya terbawa hanyut lagi, entah sampai kemana dirinya akan terdampar.

Setelah berpikir sebentar, rasa sakit terbanting tadi sudah berkurang, tapi untuk berdiri terasa belum kuat, terpaksa ia merangkak maju dengan memegang dinding karang. Gua didasar laut yang gelap gulita ini ternyata penuh dinding batu yang menonjol dan aneh bentuknya.

Sekian lama Yap Jing merangkak, baju yang tipis sudah robrk, tapi dia tetap tidak berhenti dan masih terus mencari jejak Yu Wi, ia yakin pemuda itu pasti juga terlempar di tepian.

Menurut dugaannya, Yu Wi pasti juga terlempar disini, sebab berdasarkan pengalaman sendiri, sesudah menyelam kebawah, nasib Yu Wi pasti sama seperti apa yang dialaminya sekarang. Cuma tidak ketahui anak muda itu terlempar kemana, tempat ini sangat luas sehingga sukar diraba begitu saja, keadaan gelap pula sehingga tidak terlihat apa pun.

Akhirnya Yap Jing tidak sanggup merangkak lagi, ia berteriak, "Toako, Toako! Dimana kau?"

Setelah berteriak-teriak lagi sejenak, tetap tidak ada jawaban, Yap Jing berhenti sebentar, lalu berteriak pula, kalau letih lantas berhenti, lalu memanggil lagi, sedikitnya hampir satu jam ia berteriak-teriak, pada waktu ia sudah putus asa, tiba-tiba didengarnya suara orang merintih pelahan.

Keruan Yap Jing sangat girang, cepat ia merangkak pula, kearah sana sambil berteriak lagi, "Toako, Toako!. . . ."
Sejenak kemudian terdengar pula suara keluhan, setelah merangkak maju, suara keluhan bertambah jelas, tapi segera diketahuinya didepan adalah arus yang keras, jika merangkak maju lagi bisa ikut terhanyut.

Maka tahulah Yap Jing bahwa Yu Wi pasti terlempar diseberang sana, pantas diraba-raba sekian lama tidak diketemukan.

Yap Jing tidak memanggil lagi, Ia meronta bangun berduduk, dengan semedi ia berusaha menghimpun tenaga.
Cukup lama ia bersemedi, setelah tenaga sudah pulih, ia berdiri dan mendengarkan dengan cermat gemuruh air, dari suara air dapatlah diperkirakan lebar antara kedua tepian, lalu ia melompat kesana dan syukurlah dapat mencapai tepian seberang dengan tepat. Dan begitu dia berjongkok, tidak jauh lantas dapat diraba tubuh Yu Wi.
Didengarnya anak muda itu masih terus merintih, agaknya terluka cukup parah, dengan suara samar-samar ia bertanya, "Apa. . . .apakah Jing-ji adanya. . . . .?"

Yap Jing memberi tanda mengiakan, lalu bertanya dengan suara keras, "Kenapa kau, Toako?"

"Aku. . . aku tertumbuk pada. . . pada dinding karang dan. . . dan terluka parah. . . ." demikian Yu Wi menjawab dengan terputus-putus.

Maka tahulah Yap Jing sebab apa Yu Wi terluka, jelas karena kedua tangan anak muda itu terikat sehingga tidak dapat menahan damparan arus air yang dahsyat, maka ketika terhanyut dan dilemparkan pula keatas, lalu terbanting dengan keras diatas karang.

Jika badan ditumbukkan dan terbanting pula pada batu karang, tentu saja lukanya tidak ringan, malahan lebih berat daripada kena dihantam dua kali oleh jago silat kelas satu.

Suara rintihan Yu Wi seperti menyayat lubuk hati Yap Jing, ia pikir anak muda itu telah menolongnya waktu dirinya sakit keras, sekarang Yu Wi terluka parah, tapi dirinya tidak sanggup menolongnya, sungguh tidak enak perasaannya.

Tampaknya tenaga dalam Yu Wi jadi buyar karena lukanya itu sehingga tidak mampu menahan serangan hawa dingin, dengan menggigil ia berkata, "Ding. . .dingin sekali. . . ." Berbareng terdengar giginya bergemertuk.

Mendadak Yap Jing juga merasakan dingin, tahulah dia hawa dingin yang timbul dari arus air yang dingin, cepat ia merangkul Yu Wi seeratnya, tapi anak muda itu masih mengeluh kedinginan.

Begitu erat Yap Jing merangkul Yu Wi sehingga bernapas saja terasa sesak.

Pelahan hilanglah rasa dingin, tapi dia lupa melepaskan Yu Wi, malahan dia terus mencium bibir anak muda itu, ciuman ini membuat jantungnya berdebur hebat dan tak karuan rasanya.

Yu Wi seperti tidak merasakan apa-apa, ia tertidur dalam pelukan si nona. Rasa sakit sudah membuat beku syarafnya sehingga tidak merasakan hal lain lagi.

Tidak lama kemudian, kembali dingin lagi. Hawa dingin ini datangnya secara mendadak, Yap Jing kuatir Yu Wi tidak tahan, cepat ia merangkulnya pula dengan erat, Sesudah hawa dingin mereda, mendadak dalam pangkuan si nona bertambah dengan dua ekor ikan hidup yang entah cara bagaimana bisa melejit kedalam pangkuannya. Badan ikan itu sangat dingin, jelas tidak sama dengan ikan biasa, begitu dingin sehingga mirip dua potong es.

Perut Yap Jing sudah kelaparan, maka tidak dihiraukannya ikan apa, segera ia pegang seekor dan diganyang mentah-mentah, rasa ikan itu pun sangat dingin, seperti minum es saja.

Ikan itu tidak besar, maka cuma beberapa kali gigit saja sudah dilalapnya habis.

Sisa seekor lagi lantas dijejalkan kemulut Yu Wi. Meski terluka parah, anak muda itu masih sanggup makan, perutnya memang juga sudah lapar, walaupun agak lambat, akhirnya ikan itu juga diganyang habis.

Waktu dimakan ikan itu terasa sedingin es, tapi sesudah masuk perut, pelahan lantas timbul hawa panas seperti api membakar. Karuan Yap Jing terkejut, disangkanya ikan itu beracun, cepat ia mengerahkan tenaga dalam untuk melawan.

Tapi tidak ada gunanya, rasa panas itu lantas mengumpul didalam perut, seluruh badan seperti terbakar, bibir dan mulut terasa kering dan rasanya sangat haus.

Yu Wi yang tidak tahan oleh hawa panas yang membakar didalam badan itu, keluhnya pula, "O, minta. . . minta air. . . ."

Tentu saja ditempat demikian tidak ada air tawar, air laut jelas tidak dapat diminum. Padahal Yap Jing sendiri juga kehausan dan tidak tahan rasanya.

Ia coba meraba kian kemari, kembali dapat diraihnya pula dua ekor ikan, tanpa pikir dia caplok lagi seekor ikan itu, seekor lain dijejalkan kemulut Yu Wi.

Segar sekali rasanya begitu ikan masuk mulut, tapi habis itu tenggorokan terasa panas lagi. Ketika daging ikan aneh itu tertelan, setiap bagian kerongkongan yang terasa panas lantas segar dan nyaman, namun setiba daging ikan didalam perut, segera rasa segar itu berubah lagi menjadi hawa panas seperti api membakar dan menjalar ke sekujur badan.

Dengan demikian jadinya seperti api disiram minyak, hilang rasa segar badan bertambah panas, saking tak tahan Yap Jing terus menarik-narik baju sendiri, meski cuma selapis baju yang tipis, namun terasa menambah rasa panas yang tak tertahankan itu.

Didengarnya Yu Wi juga sedang merobek bajunya, Yap Jing tahu anak muda itu menanggung panas seperti dirinya, tapi entah dari mana datangnya tenaga, mendadak Yu Wi kuat merobek baju sendiri. Akhirnya kedua orang jadi telanjang bulat, namun rasa kegerahan itu tidak berkurang sedikitpun.

Sungguh Yap Jing tidak tahan lagi, kalau bisa ia ingin membeset kulit sendiri yang kepanasan itu. Mendadak Yu Wi mendekapnya dengan erat, begitu kuat tenaganya sehingga sukar terlepas.

"He, kau sudah. . . .sudah sehat, Toako?!" tanya Yap Jing dengan samar-samar.

Sama sekali Yu Wi tidak tahu apa yang diucapkan Yap Jing, yang dirasakannya hanya sekujur badan seperti terbakar, panas dan panas, tidak ada perasaan lain. . . . .

Yang luar biasa adalah anggota tubuh bagian bawah, panasnya terlebih tak tahan, rasanya perlu pelampiasan.
Kedua muda-mudi itu saling dekap dengan erat dalam keadaan telanjang bulat, maka akibatnya mudah dibayangkan, dan terjadilah.

Tanpa permisi dulu meminta persetujuan si gadis, Yu Wi langsung main serobot begitu saja!

Dua jenis manusia itu melanjutkan kegiatan saling menyalurkan kenikmatan ragawinya. Ada saat-saat di mana Yap Jing seperti sedang meluncur cepat di pusaran air yang bergelora, terbawa arus entah ke mana, cepat sekali menggelandang di antara lika-liku kenikmatan yang diberikan secara jelas dan nyata oleh Yu Wi. Ada saat di mana sang gadis bagai melambung di atas bola-bola air, ada kalanya bagai melayang di atas awan yang bergumpal-gumpal.

Seluruh pori-pori tubuhnya dijalari rasa nikmat yang muncul bertubi-tubi ketika kulit mulusnya tersentuh, tertelusur, terjilat, tergigit, tersedot.

"Oh. . . . !"
Yap Jing sungguh tak pernah menyangka bahwa kendali dirinya bisa begitu cepat lepas. Ia membiarkan saja Yu Wi menciumi lembah dangkal di antara dua bukit sekal di dada, membiarkan dua tangannya meremas dan memilin bergantian di ujung-ujung bukit kembarnya.

Yu Wi mendorong tubuh mereka berdua semakin ke pinggir, ke sebuah lokasi yang agak lapang beralaskan batu hitam datar. Di situ Yu Wi mencoba melampiaskan kepanasannya dengan posisi dimana si gadis berbaring terlentang, sementara si laki-laki menindih dan menyerang dari atas dengan senjata pusaka tunggal yang kokoh bagai batu karang.

Yap Jing terus mendesah, menggeliat, terlentang pasrah, dibiarkan pemuda tampan yang juga telanjang bulat itu mengangkat kedua lututnya, menguak sebentuk gerbang istana kenikmatan di antara kedua belah paha.

Dengan lembut, ujung keras tonggak tunggal itu mendekat, berusaha menyelusup masuk dengan pelan namun pasti. Tentu saja Yu Wi sedikit kesulitan. Sebab selain baru pertama kali, senjata pusaka miliknya terlalu besar untuk ukuran gerbang istana kenikmatan Yap Jing yang sempit.
Baru masuk ujungnya saja, Yap Jing sudah meringis.

"Ughh. . . ."

Yu Wi mendorong masuk lebih dalam.
"Oh. . . .!"
Kembali Yap Jing hanya bisa merasakan dirinya terbelah dua dari ujung ke ujung.

Dan kembali pula Yu Wi mendorong masuk lebih dalam lagi. Yap Jing menjerit kecil dan menggigit pundak pemuda yang menindihnya. Terasalah sudah seluruh batang kenyal itu di dalam gerbang istana miliknya, begitu besar dan panjang hingga bergetar menimbulkan rentetan nikmat di sepanjang dinding-dinding lembut bagian dalam istana.

Sambil terus mendorong memaju-mundurkan tonggak tunggal, bibir Yu Wi memagut lembut bibir mungil Yap Jing yang langsung menerima. Lidah saling bertaut di dalam sana, menimbulkan getaran-getaran halus.

"Plukk!"

Ciuman Yu Wi terlepas, bergerak turun menyusuri leher, terus turun ke pundak, bermain sebentar di gundukan daging kenyal yang tegak menantang, kemudian menyambar cepat pada ujung-ujung bukit yang coklat kemerahan.

Setelah selesai dengan yang kiri, Yu Wi berpindah posisi ke yang kanan, sedang tangan kiri yang terikat juga meluncur dan meremas, memilin bagian satunya, dada bulat menggairahkan!

"Hegh. . . heghh. . .mmmh. . .!!"

Suara itu cukup keras terdengar.
Begitulah, entah sudah berapa kali Yap Jing mendaki dan mencapai puncak asmara. Namun anehnya, hingga sekarang ini Yu Wi belum juga memuntahkan lahar panas miliknya sebagai titian puncak asmara seorang pemuda.
Keluhan dan lenguhan datang silih berganti baik dari mulut Yu Wi dan Yap Jing. Saling pagut, saling lilit dan saling raba dilakukan oleh dua insan yang sedang berlayar di tengah samudera.

Beberapa saat kemudian, tiba-tiba Yu Wi menarik mundur seluruh tenaga yang dipakai.

"Srepp!"

Begitu tenaga ditarik, ia mengganti dengan sebuah tarikan napas lembut, mengalir cepat melewati pori-pori bawah perut dan pada akhirnya sebuah denyutan kuat berjalan cepat dari bawah pusar ke ujung tonggak tunggalnya. Lalu Yu Wi menghentak sambil mempercepat gerakan.

Yap Jing sampai terguncang-guncang, tapi justru inilah yang diharapkannya. Ia pun semakin menggerakkan pinggulnya lebih cepat. . . .lebih cepat!

"Aaah!. . .hhh. . . .hehh. . . .ssst. . .ugh. . . ."

Bersamaan dengan itu pula, sebentuk denyutan cepat bergerak pada dinding-dinding gua, menjalar cepat menuju ke ujung. Dan akhirnya. . . . .

"Jrasss. . . .!"
Sebentuk cairan panas menggelegak tersembur keluar diiringi dengan sentakan keras tonggak tunggal hingga melesak ke dalam, menekan erat bagian terujung dari dinding dalam gerbang istana kenikmatan. Dan bersamaan dengan itu pula, Yap Jing mengalami hal yang sama.
"Serr. . .!" Cairan asmara kental memancar kuat, bertemu dengan lahar panas di dalam.

Saling sembur dan saling semprot!
Jika tubuh Yu Wi menegang sambil mendekap erat punggung si gadis hingga dada padat Yap Jing menempel erat dada bidang Yu Wi yang membuat tonggak tunggalnya semakin dalam menekan ke gerbang istana terujung, lain halnya dengan Yap Jing. Tubuhnya melengkung indah ke depan dengan kepala mendongak ke belakang memperlihatkan sebentuk leher jenjang serta sepasang tangan melingkar kuat ke pinggang Yu Wi, seakan dengan begitu, ia bisa memperdalam hunjaman tonggak tunggal si pemuda. Dada kencang gadis itu semakin membusung.

Gemuruh arus air tak dapat menutupi suara napas mereka yang terengah-engah. . . .

Delapan-sembilan helaan napas kemudian, tubuh mereka mulai lemas.

Kegelapan gua didasar laut itu dalam suasana penuh kebahagiaan. . . . .

Setelah mengalami pelampiasan yang dahsyat barulah berkurang siksaan panas tubuh yang sukar ditahan itu.
Sungguh pengalaman yang gaib dan kejadian yang aneh. Kedua orang tetap saling dekap dan tertidur pulas.

Dalam pada itu suhu dingin secara waktu tertentu masih terus menyerang, tapi kedua orang tidak terjaga bangun oleh hawa dingin, keduanya seakan-akan tidak takut lagi pada hawa dingin.

Entah sudah tertidur berapa lama, ketika keduanya mendusin, mereka saling pandang dengan bungkam, terhadap apa yang terjadi tadi kelihatannya tidak membuat Yap Jing menyesal, Yu Wi juga tidak meminta maaf. Apa yang diperbuat mereka seolah-olah memang terjadi sewajarnya karena kedua pihak sama-sama membutuhkannya.

Hawa dingin secara periodik masih terus menyerang, tapi yang dirasakan mereka bukan lagi dingin. Entah sebab apa, bersama datangnya suhu dingin, banyak juga ikan aneh itu melompat ketepian.

Sudah tentu timbul pula rasa lapar mereka, terpaksa mereka menangkap lagi ikan itu untuk tangsal perut walaupun disadari mereka akibatnya pasti akan terjadi begituan pula.

Benarlah, setelah makan dua-tiga ekor ikan, rasa panas yang sukar ditahan itu lantas timbul, begitu panas sehingga rasanya ingin memukuli dirinya sendiri untuk mengurangi siksaan hawa panas itu.

Tapi hasil daripada menggebuki diri sendiri terlalu kecil, sedangkan rasa panas semakin menjadi, tanpa terasa keduanya saling dekap dengan mesranya, lalu terjadi lagi. . . .

Siapakah yang dapat menjelaskan olah raga apa didunia ini yang paling berat?

Betapa kerasnya sesuatu olah-raga juga tak dapat membuat orang kelelahan dan terus pulas. Akan tetapi sekarang keduanya tertidur dengan lelah, begitu nyenyak tidur mereka, ibarat langit ambruk pun tak diketahui mereka.
Padahal gemuruh arus air yang dahsyat itu tiada ubahnya seperti langit ambruk.

Sesudah kenyang tidur, keduanya mendusin dan rasa panasnya terasa hilang. Tapi berikutnya rasa lapar timbul pula, bahkan terasa jauh lebih lapar daripada sebelumnya. Maklumlah, mereka habis "olah-raga" dahsyat.

Saking tak tahan lapar, ketika suhu dingin menyerang dan ikan aneh itu berlompatan lagi ketepian, maka kembali ikan aneh itu menjadi santapan mereka. Setelah makan beberapa ekor, kembali timbul rasa panas luar biasa dalam badan.

Sekarang mereka tahu untuk mengatasi siksaan hawa panas dalam badan itu tidak dapat diselesaikan dengan memukuli diri sendiri melainkan harus melalui persetubuhan, habis melampiaskan hawa napsu, lalu keduanya tertidur pula.
Dan begitulah seterusnya, bila mendusin dan perut lapar, mereka lantas makan ikan, habis makan lantas "olah-raga", habis "olah-raga" berat, lalu tidur. . . . .

Napsu makan mereka pun bertambah setelah sekali makan tiga belas ekor ikan barulah mereka mampu mengatasi gejolak hawa napsu masing-masing dan tidak lagi melakukan "olah-raga" yang dahsyat itu. Dan karena tidak berolah-raga, keduanya tidak lagi lelah dan juga tidak tidur.
Mereka tidak menghitung waktu, dengan sendirinya mereka tidak tahu bahwa sudah dua puluh hari mereka tinggal disitu.

Selama dua puluh hari itu kebanyakan mereka lewatkan untuk tidur, setiap kali tidur lebih dari satu hari. Sekarang mereka tidak tidur lagi, maka sang waktu terasa lalu dengan sangat lambat. Maka sesudah makan ikan, mereka lantas bersemadi untuk menghilangkan serangan hawa panas dalam badan.

Setelah hidup tenang, setiap hari mereka makan belasan ekor ikan, lalu bersemadi, bila terlalu lelah barulah tidur.

Dengan begitu kembali belasan hari telah berlalu pula, kalau dihitung, sudah lebih sebulan mereka berdiam didalam gua bawah laut itu.

Sejak pertama kali makan ikan aneh itu dan terjadi hubungan badan, antara kedua muda-mudi itu lantas tidak saling bicara, seperti juga jaman purba, manusia purba juga tidak bicara.
Pada suatu hari, Yu Wi membuka mulut lebih dulu, "Jing-ji, dapatkah kita pergi dari sini?"

"Badanmu sudah sehat belum?" tanya Yap Jing.

"Bagaimana menurut pendapatmu?" Yu Wi balas bertanya dengan mengandung arti tertentu.

Yap Jing menunduk malu, ia tahu kesehatan Yu Wi telah pulih. Sudah barang tentu semua itu berkat ikan aneh yang mengandung khasiat mukjizat itu.

Kembali satu hari berlalu, Yap Jing coba bertanya, "Toako, apakah kau ingin pergi dari sini?"

"Ingin," jawab Yu Wi.

"Memangnya apa manfaatnya jika pergi dari sini?" ujar Yap Jing.

"Kita kan tidak dapat membikin orang berkuatir!” kata Yu Wi.

"Siapa yang kuatir?" tanya si nona.

Yu Wi menuding keatas tanpa bersuara.

Dengan sendirinya Yap Jing tidak tahu isyarat tangan itu karena dia tidak dapat melihat dalam kegelapan, disangkanya Yap Jing juga dapat melihat, padahal nona itu sama sekali tidak melihat apa-apa, kalau dia dapat melihat dalam kegelapan dan mengetahui keadaan sendiri yang telanjang bersama Yu Wi, mungkin dia akan malu setengah mati.

Dengan menyesal Yap Jing berkata pula, "Jika mereka tidak melihat kita kembali, tentu mereka mengira kita sudah mati dan tidak ada lagi yang perlu kuatir."

Tiga hari kembali berlalu pula dengan cepat, selama tiga hari kedua orang tidak bicara, setiap hari mereka tetap makan ikan aneh itu untuk menghilangkan lapar dan dahaga. Hari ini Yu Wi tidak tahan lagi ngendon ditempat egini, katanya, "Ayolah kita coba pergi kesana mengikuti arah arus!"

Habis berkata ia lantas mendahului berjalan kedepan. Dia dapat memandang dalam kegelapan. maka jalannya cukup mantap, betapapun terjalnya batu-batu karang tak dapat menghalanginya.

Yang payah adalah Yap Jing, dia terpeleset beberapa kali, setelah maju lagi sekian jauhnya, mendadak ia keserimpet dan hampir tidak sanggup bangun.

"He, kau jatuh?" tanya Yu Wi dengan kuatir.

"Toako, sungguh sukar jalan ini, biarlah kita tinggal saja disini," omel Yap Jing.

"Anak bodoh, masakah kita boleh tinggal selamanya disini?" ujar Yu Wi dengan tertawa.

"Mari, biar kupondong kau!"

Segera ia melangkah balik dan memondong si nona. Maka badan berdekapan pula dengan badan dan muka menempel dengan muka.

Sejak mereka dapat makan belasan ekor ikan sekaligus, selama belasan hari terakhir ini mereka tidak pernah saling dekap dan melakukan perbuatan begituan lagi.

Sekarang mendadak keduanya saling dekap pula, Yu Wi tidak merasakan apa-apa, sebaliknya Yap Jing yang tidak tahan, terbayang olehnya kejadian mesra beberapa hari yang lalu, tanpa terasa hatinya terguncang, ia merangkul leher Yu Wi dengan erat sambil mendesis, "O, Toa. . .Toako, aku. . . aku. . . ."

Tapi Yu Wi diam saja dan mempercepat langkahnya.

Gua didasar laut ini ternyata berliku-liku, agak lama juga ia berjalan, tiba-tiba tertampak ada cahaya remang-remang didepan sana.

Yu Wi sangat girang, ia percepat langkahnya kesana, Yap Jing memejamkan mata dengan kepala bersandar didada Yu Wi yang bidang itu dengan pikiran yang melayang-layang.

Setiba diujung arus air sana, cahaya tadi semakin terang, kini terlihat dengan jelas setiba disini arus air itu terus menyusut kebawah dengan cepat sehingga tercipta sebuah pusaran air yang sangat besar dan menakutkan. Pusaran air ini terus berkisar kedasar laut, maka sukar dibayangkan betapa kekuatannya, apabila manusia tersirap kedalam pusaran air ini, mustahil jiwa takkan melayang.

Disebelah pusaran air sana terdapat pula aliran air yang memanjang keluar, aliran air sangat lambat dan tampak mengalir kearah pusaran ini, arah datangnya aliran air ini berada dibagian yang terang sana, Yu Wi yakin ujung sana pastilah bagian pantat Ho-lo-to ini, jadi pulau buli-buli ini boleh dikatakan sebuah buli-buli dengan pantat bocor.

Ia memperkirakan jaraknya sekarang dengan permukaan laut sudah tidak jauh lagi, sebab itulah cahaya terpantul masuk ikut aliran air, jika naik kepantai melalui jalan ini jelas bukan pekerjaan yang sulit. Maka dia tertawa senang, serunya, "Jing-ji, selamatlah kita, sebentar lagi kita bisa keluar dari sini."

Baru sekarang Yap Jing membuka mata, mendadak melihat cahaya terang, matanya menjadi silau. Ia kucek-kucek matanya sejenak, waktu ia memandang lagi kedepan, rasanya tidak silau lagi. Tapi waktu ia menunduk dan melihat badan sendiri dan Yu Wi yang telanjang bulat ini, seketika ia menjerit kaget dan memberosot turun, dengan tersipu-sipu berdiri membelakangi Yu Wi agar anak muda itu tidak melihat bagian depan tubuhnya.

"Kau tunggu disini, akan kuambilkan bajumu!" kata Yu Wi, cepat ia putar balik ketempat semula.
Kebetulan waktu itu suhu dingin menyerang lagi, belasan ekor ikan aneh berloncatan ketepian, ikan-ikan itu lantas ditangkap oleh Yu Wi dan dibungkus dengan bajunya.
Ia tahu pada waktu-waktu tertentu ada sumber air dingin yang menyembur keatas, sebab itulah hawa dingin juga menyerang secara waktu tertentu dan juga membawa datang ikan aneh yang hidup dalam air dingin itu.

Setiba ditempat terang tadi, dilihatnya Yap Jing lagi berjongkok dan sedang meraba-raba tanah.

"Apa yang kau raba?" tegur Yu Wi.

Melihat anak muda itu, Yap Jing terkejut malu dan cepat membalik tubuh.

Yu Wi melemparkan baju si nona sambil berseru, "Pakailah bajumu, mari kita makan ikan lagi."

Selesai memakai bajunya, Yap Jing menjadi tersipu-sipu pula karena bajunya sudah rombeng, disini ditutup, disana terbuka, yang sana dirapatkan, yang sini mengintip pula, jadi serba susah.

Waktu menoleh dan melihat pakaian Yu Wi tidak banyak berbeda dengan keadaan dirinya, keduanya tiada ubahnya seperti dua pengemis, tanpa terasa ia mengikik geli.

"Tertawa apa, ayolah makan ikan," seru Yu Wi.
Yap Jing menerima dua ekor ikan itu, tertampaklah sekarang badan ikan itu putih mulus, matanya sangat kecil, tubuhnya pipih, bentuknya lucu.

"Ikan ini hidup didalam sumber air dingin yang tidak pernah tertimpa cahaya, pantas matanya sekecil ini, padahal mata tiada gunanya bagi mereka." ujar Yu Wi.

Yap Jing hanya mengiakan saja, lalu menggerogoti ikan aneh itu. Terbayang olehnya akibat yang timbul waktu mula-mula makan ikan tersebut, tanpa terasa mukanya menjadi merah sehingga lupa makan lagi melainkan berdiri terkesima.

Yu Wi dapat menduga apa yang sedang dipikir si nona, dengan tertawa ia berkata, "Jangan kuatir, habis makan ikan ini, apa pun juga takkan pula kuperlakukan kau dengan kasar."

Yap Jing menjadi malu, ia lemparkan ikan yang belum termakan, lalu berpaling kearah lain.

Yu Wi mendekatinya dan memegang bahu si nona, ucapnya lirih, "Jing-ji, masa kau marah?"

"Huh, masih tanya lagi," omel si nona dengan mulut menjengkit. "Tak kau pikir tempo hari betapa ganas kau perlakukan diriku?"

"Ganas bagaimana?" tanya Yu Wi.
Yap Jing membalik tubuh lagi kesini dan memukuli dada Yu Wi sambil berteriak, "Kau. . .kau. . . sengaja mengejek. . . ."

"Eh, masakah kau tega memukul diriku?" ucap Yu Wi dengan tertawa. "Ayolah, lebih baik kita mencari akal untuk naik keatas."

Dalam keadaan begini mana dapat kita naik kesana?" ujar Yap Jing dengan menunduk malu.

"Kukira diatas tidak ada orang lagi." kata Yu Wi.

"Dan kalau ada orang, lalu bagaimana?"

"Memang tidak enak hati keadaan kita yang tidak keruan macamnya ini dilihat mereka."

"Bagaimana kalau kutambal baju kita yang robek ini?" kata Yap Jing.

Segera ia membuka baju Yu Wi yang compang-camping dan hakikatnya cuma semampir saja ditubuh anak muda itu, maka sangat mudah dicopot. Segera Yap Jing mengeluarkan bungkusan benang dan jarum dalam sakunya dan mulai menambal baju.

Selesai menambal, karena tangan Yu Wi terikat sehingga sukar berbaju, terpaksa Yap Jing bantu mengenakannya, dia malu memandangi tubuh Yu Wi sehingga membantu dengan mata terpenjam, tentu saja sampai lama baju Yu Wi belum lagi terpakai dengan betul.

"Hubungan kita sudah lain daripada yang lain, apa yang kau malukan lagi?" ujar Yu Wi dengan tertawa.

Yap Jing lantas membuka mata dan tersenyum, ia mengenakan baju Yu Wi bagi tanpa memejamkan mata pula. Habis itu iapun menambal bajunya sendiri.

Selesai si nona bekerja, Yu Wi bertanya, "Apa yang kau raba diatas tanah tadi?"

"Disitu ada tulisan," jawab Yap Jing.

"Oo, apa betul?" Yu Wi terkesiap, cepat ia berjongkok dan memeriksanya, benarlah, pada batu karang ditepi aliran air itu terukir dua huruf sebesar mangkuk. Waktu ia periksa lebih teliti, disebelahnya terdapat lagi tiga huruf lain.
Kelima huruf itu kalau diurut dan dibaca akan berbunyi, "Disini Bu-beng-si wafat."

"Hah, Bu-beng-si (orang tak bernama)?" seru Yu Wi kaget.

"Ternyata ben. . .benar Bu-beng-lojin itu bertempat tinggal dipulau ini."
"Mengapa tidak kelihatan jenazah atau tulang belulangnya?" tanya Yap Jing.

"Jika disini ada tulisan ini, pasti jenazah Bu-beng-lojin itu tadinya berada disini," kata Yu Wi.
"Tapi jelas tiada terlihat sesuatu barang apapun." kata Yap Jing.

Setelah memandang lagi tulisan itu, kemudian Yu Wi berkata pula, "Mungkin waktu Bu-beng-lojin bersemadi disini dahulu belum terdapat aliran air seperti sekarang, setelah berpuluh tahun, karena guyuran arus air, akhirnya jenazahnya terhanyut masuk kepusaran air itu."

Yap Jing mengangguk, "Ya ,betul, jenazahnya pasti lenyap terbawa arus sehingga cuma tersisa tulisan yang diukirnya ini. Jangan-jangan tulisan ini diukirnya dengan jari tangan."
Yu Wi membenarkan, katanya, "Beliau mampu mengukir tulisan pada batu karang, tenaga dalamnya sungguh sangat mengejutkan. Berdasarkan tenaga dalam Bu-beng-lojin ini jelas kungfu dalam Hian-ku-cip sudah berhasil diyakinkannya, akan tetapi ia toh meninggal sebelum mencapai umur satu abad, mungkinkah tidak betul keterangannya bahwa kungfu dalam Hian-ku-cip akan dapat membuat orang panjang umur dan awet muda?"

"Cara bagaimana Toako memastikan Bu-beng-lojin mati sebelum berumur satu abad?" tanya Yap Jing.

Yu Wi menunjuk pada tulisan yang terukir itu, katanya, "Coba kau lihat ukiran huruf ini sudah hampir rata dengan batu karang, jika lewat beberapa puluh tahun lagi tentu huruf ini sukar dibaca lagi. Dari sini dapat diperkirakan sedikitnya sudah 40-50 tahun Bu-beng-lojin menulis lima huruf ini. Jika demikian, pada 40-50 tahun yang lalu umur Bu-beng-lojin kan belum ada satu abad?"
"Aha, betul!" seru Yap Jing sambil berkeplok, "Lantas cara bagaimana kakek itu meninggal dunia? Padahal pernah kudengar cerita ayah, konon orang yang Lwekangnya mencapai tingkatan tertinggi tentu juga akan panjang umur, jika Bu-beng-lojin memiliki Lwekang sehebat ini, tidak seharusnya dia meninggal sebelum berumur satu abad."

Yu Wi termenung sejenak, katanya kemudian sambil menggeleng, "Ya, akupun tidak mengerti apa sebabnya, bisa jadi dia belum berhasil meyakinkan kungfu dalam Hian-ku-cip."

"Apakah artinya Hian-ku-cip, Toako, tampaknya kau sudah kenal Bu-beng-lojin itu?" tanya Yap Jing.

Yu Wi tertawa, jawabnya, "Mana bisa kukenal dia? Pada waktu dia meninggal, aku sendiri mungkin belum menjadi manusia. Hian-ku-cip adalah kitab pusaka pelajaran ilmu silat yang paling gaib didunia. Eh, masa tidak kau dengar pembicaraanku dengan Giok-bin-sin-po tempo hari?"

"Waktu itu aku sudah tidur, dengan sendirinya tidak tahu apa yang telah kalian perbincangkan," jawab Yap Jing.
Maka Yu Wi lantas memberitahukan apa yang telah dibicarakan dengan Giok-bin-sin-po tempo hari.

Habis mendapat keterangan itu, Yap Jing lantas berjalan kian kemari sambil menatap tanah dengan cermat seperti orang yang lagi mencari jarum jatuh.
"Apa yang kau cari?" tanya Yu Wi.
"Apa lagi, tentu saja mencari Hian-ku-cip," jawab Yap Jing dengan serius.

Yu Wi menggeleng, katanya, "Pasti tidak bisa kau temukan."

"Kenapa tidak bisa ketemu?" tanya Yap Jing dengan tak sabar, "Lekas kau ikut cari, bila kitab pusaka itu dapat kita temukan, lalu kau latih kungfunya dan jadilah kau tokoh nomor satu didunia."

Tapi Yu Wi ternyata tidak berminat terhadap predikat "tokoh nomor satu di dunia", ia berdiri disitu tanpa bergerak, katanya, "Apa gunanya andaikan kungfuku dapat terlatih hingga menjadi nomor satu di dunia?"

Sambil terus mencari Yap Jing berkata, "Apabila kau jadi jago nomor satu didunia, tentu tiada seorangpun berani mengganggu Jing-ji."

Yu Wi melengak oleh kata-kata si nona yang tidak sengaja itu, tapi mengandung arti yang dalam. Ia pikir sekarang dirinya dan nona itu sudah ada hubungan suami-isteri, jelas ucapan Yap Jing itu dilontarkan dalam kedudukannya sebagai seorang isteri. Kalau sang suami adalah jago nomor satu didunia, memangnya siapa yang berani mengganggu isterinya?

Pelahan Yap Jing berjalan turun ke air dan asyik mencari didalam air. Air itu mengalir dari dasar Ho-lo-to, meski arusnya tidak keras, tapi kalau kurang hati-hati, bukan mustahil bisa terpeleset dan terhanyut kepusaran air sana.

Maka cepat Yu Wi berseru, "He, lekas naik kemari, tidak perlu dicari lagi, Hian-ku-cip pasti ikut tenggelam kedalam pusaran air bersama tulang belulang Bu-beng-lojin.
Tapi Yap Jing masih terus berjalan maju, meski sudah berada ditepi pusaran air tetap tidak takut, ia malah berkata, "Biar kucari kedasar pusaran air ini."

Yu Wi kuatir si nona benar-benar melakukan apa yang dikatakannya, cepat ia melompat maju dan memondongnya naik keatas, omelnya. "Apakah kau tidak sayang lagi akan jiwamu?"

Tapi Yap Jing tidak rela, katanya, "Bisa jadi Hian-ku-cip tersimpan ditempat lain dan tidak ikut terhanyut kedalam pusaran air."

"Sekalipun kungfuku tidak nomor satu didunia juga takkan kubiarkan kau diganggu orang, untuk apalagi kau cari Hian-ku-cip segala?" ucap Yu Wi dengan gegetun.

"Toako benar-benar akan membela Jing-ji?" tanya Yap Jing dengan tertawa.

"Barang siapa berani mengganggu kau, biar aku mengadu jiwa dengan dia." jawab Yu Wi tegas.

Yap Jing tertawa manis, katanya pelahan, "Bilamana orang yang mengganggu diriku kungfunya lebih tinggi daripada Toako dan kau tidak sanggup melawannya, lalu bagaimana?"

Seketika Yu Wi tidak bisa menjawab.

Maka Yap Jing lantas menyambung, "Kuyakin Toako pasti tidak tinggal diam, dan kalau mengadu jiwa dengan dia, kan jiwamu sendiri pun terancam. Bila kau harus menghadapi bahaya begitu, lebih baik kumati saja daripada ditolong olehmu. Sebaliknya jika kungfu Toako sudah nomor satu didunia, tentu Jing-ji tidak perlu kuatir lagi."

Habis berkata, ia melepaskan pegangan Yu Wi, lalu memandang kian kemari, nyata dia bermaksud mencari lagi dimana beradanya Hian-ku-cip.

"Sudahlah, jangan cari lagi." bujuk Yu Wi. "Bu-beng-lojin memandang Hian-ku-cip sepenting jiwanya sendiri, pada waktu dia meninggal tentu kitab itu terpegang pada tangannya, sekarang jenazahnya tidak kelihatan, tentu pula kitab pusaka itu ikut lenyap bersama tulang belulangnya, tampaknya pasti ikut terhanyut kedalam pusaran air."

Yap Jing pikir keterangan ini memang masuk di akal, tapi ia lantas turun lagi kedalam air dan berkata, "Aku mahir menyelam, biar kuperiksa dasar pusaran air ini, bukan mustahil kitab pusaka itu dapat kutemukan disitu."

"He, jangan, lekas naik!" seru Yu Wi kuatir, "Jika kau tidak menurut, Toako akan marah!"
Yap Jing menjulurkan lidah dan sengaja berucap dengan nakal, "Tidak, aku tidak mau naik."

Untuk menipunya supaya mau naik keatas, Yu Wi sengaja menuding kedepan sana dan berseru dengan lagak kaget, "He, lekas kemari! Lihatlah, apa itu?"

Buru-buru Yap Jing melompat keatas dan memandang kesana mengikuti arah yang ditunjuk, katanya, "Jangan-jangan itulah Hian-ku-cip?"

Padahal dia tidak melihat apa-apa, ia mengira pandangan sendiri kurang tajam ditempat yang remang-remang, ia coba menuju kesana, setiba dikaki dinding karang, dilihatnya disitu benar-benar ada tulisan yang samar-samar, cepat ia berseru, "He, lekas kemari, benar-benar ada disini!"

Yu Wi tahu dirinya cuma berucap sekenanya dan tiak ada apa-apa disitu, maka dengan tertawa ia menjawab, "Sudahlah, jangan main-main, marilah kita naik saja keatas."

Tapi Yap Jing lantas menuding dinding karang dan berseru, "Lekas kemari, lihatlah apa yang tertulis disini, aku tidak dapat membacanya!"

Melihat nona itu bicara dengan tidak sabar, Yu Wi coba mendekatinya dan ternyata benar ada bekas tulisan di dinding karang situ, padahal tadi dia hanya bicara dengan pura-pura, siapa tahu terjadi sungguhan.
Ia coba membaca tulisan itu dari awal hingga akhir, seluruhnya ada ratusan huruf, tulisannya sudah samar-samar dan kurang jelas, ditambah lagi cahaya yang redup sehingga sukar dibaca, untung mata Yu Wi sudah terlatih sejak didalam makam keluarga Kan dahulu sehingga semua tulisan itu dapat dibacanya dengan jelas, sedangkan Yap Jing tidak dapat membacanya sama sekali.

"He, apa yang tertulis disitu?" tanya si nona.
"Tulisan inipun diukir oleh Bu-beng-lojin dengan jari tangan." tutur Yu Wi. "Kejadiannya sudah hampir lima puluh tahun, dinding karang ini berlumut sehingga hampir tidak kelihatan lagi."

"Kutanya, apakah yang tertulis disitu?" omel Yap Jing.
"Sebelum meninggal, Bu-beng-lojin telah menulis kisah hidupnya disini. . . ."

"Hah, apakah betul? Lantas siapa namanya, supaya kita dapat menyebutnya dengan hormat."

"Dia memang tidak bernama. . . ."
"Mana ada orang didunia ini tidak bernama." omel Yap Jing dengan mendongkol. "Jika dia menulis asal-usulnya sendiri, lebih dulu tentu akan dijelaskannya siapa dia sebenarnya."

Yu Wi menggeleng, katanya, "Tapi riwayat hidupnya ini ditulis dengan sangat ringkas dan sederhana, benar-benar tidak ada keterangan lain, hanya dikatakan dia bernama Bu-beng-si, tidak berkeluarga, juga tidak berharta. . . ."
"Ai, sungguh kasihan." ujar Yap Jing dengan menyesal, "Kalau nama sendiri saja tidak tahu, maka hidup orang tua ini pasti sangat kesepian."

Tiba-tiba hati Yu Wi tergerak, tanyanya, "Eh, mungkinkah dia terpengaruh oleh ilmu sihir ayahmu sehingga dia lupa pada she dan nama sendiri?"

Yap Jing menggeleng, sahutnya, "Waktu dia berada dipulau ini, paling tidak ayah kan juga masih anak kecil, mana bisa ayah menggunakan ilmu sihir padanya?"

Diam-diam Yu Wi memaki dirinya sendiri yang bicara ngawur, katanya pula, "Tapi kan juga bisa jadi dilakukan oleh angkatan tua perguruan ayahmu?"

"Entahlah jika terjadi demikian," kata Yap Jing. "Ilmu perguruan ayah memang mengutamakan sihir yang dapat mempengaruhi sukma orang sehingga membuatnya lupa daratan. Apalagi yang ditulis Be-beng-lojin itu, coba ceritakan dengan lebih jelas, ingin kulihat apakah ada hubungannya dengan perguruan ayah."

"Menurut ceritanya, pada waktu dia terdampar kepulau karang ini, dia dalam keadaan terluka parah, ia merasa mati lebih baik daripada hidup, maka ia ingin membunuh diri dengan terjun kelaut, tak tahunya malah terhanyut kesini. . . ."

"Jika demikian, tentunya dia terjun pada ujung pulau sana, jika terjun dibagian depan seperti kita dan terhanyut kesini, dalam keadaan terluka parah tentu jiwanya sudah melayang dulu-dulu."

Yu Wi mengangguk setuju, katanya, "Ya, betul, tentunya dia terjun dari ujung dan terhanyut kemari dalam keadaan tidak sadar, setiba disini dia tidak mati dan siuman kembali."

"Mungkinkah setelah siuman, lalu ditemukannya kitab pusaka?" tanya Yap Jing.

"Betul, yang ditemukannya adalah Hian-ku-cip, dalam keadaan putus asa, secara iseng ia coba-coba membalik halaman kitab berisi ajaran cara bagaimana belajar kungfu, maka dia lantas berlatih menurut petunjuk dalam kitab, jadinya jiwa dapat diselamatkan dan tidak timbul lagi pikiran hendak membunuh diri."
Bab 2 : Auyang Liong-lian menyandera Yap Jing
"Wah, agaknya Hian-ku-cip itu adalah kitab dewa," ujar Yap Jing dengan tertawa.
"Setelah berlatih menurut petunjuk isi kitab, meski pikirannya menjadi terbuka, tapi badan tetap sangat lemah. Kemudian setelah dia makan ikan aneh disumber air dingin itu barulah badan semakin sehat dan kuat."
"Setelah makan ikan aneh itu, cara bagaimana dia melewatkan hari-hari seterusnya?" tanya Yap Jing dengan muka merah.
"Entah, tidak diceritakan olehnya," tutur Yu Wi.
"Menurut Toako, cara bagaimana dia lewatkan kehidupannya disini?"
Yu Wi berpikir sejenak, lalu menggeleng dan menjawab, "Entah, tak dapat kuterka."
"Tolol, masakah perlu diragukan lagi?" ujar Yap Jing tiba-tiba.
Karuan Yu Wi melengak, tanyanya, "Memangnya bagaimana dia lewatkan kehidupannya?"
"Tentu saja disini juga ada orang perempuan," kata Yap Jing dengan menunduk.
Yu Wi tertawa, katanya, "Tapi jelas-jelas dituturkannya bahwa cuma dia sendiri yang terdampar ke pulau ini."
"Ah, aku tidak percaya." ujar Yap Jing tegas.
Diam-diam Yu Wi sependapat dengan si nona, akan tetapi kenyataannya memang tidak ada orang perempuan yang hidup bersama Bu-beng-lojin, maka ia menjadi sangsi jangan-jangan kakek itu malu untuk melukisnya dengan terus terang.
Ia tidak tahu bahwa sesungguhnya hal itu disebabkan Bu-beng-lojin semula tidak paham ilmu silat, makanya dapat terhindar dari reaksi hawa panas akibat makan ikan aneh itu.
Sebab kalau orang yang mahir ilmu silat dan makan ikan aneh itu, ketika terasa timbul hawa panas dalam badan, dengan sendirinya dia akan mengerahkan tenaga dalam untuk melawan, dan sekali dilawan, bekerjanya hawa panas itu bertambah mengganas. Akibatnya menjadi sukar ditahan dan perlu ada perpaduan antara unsur Im dan Yang (positif dan negatif), kalau tidak tetap sukar terhindar dari kebakaran oleh hawa panas. Apabila Yu Wi dan Yap Jing sama-sama tidak mahir ilmu silat, tentu takkan terjadi pelampiasan hawa nafsu diantara mereka.
"Menurut ceritanya," demikian Yu Wi mulai bertutur lebih lanjut, "Sesudah badan sehat, pada waktu iseng ia lantas tekun berlatih kungfu dalam Hian-ku-cip, makin berlatih makin tinggi kungfunya, sang waktu juga berlalu dengan cepat, tanpa terasa sudah tiga puluh tahun dia tinggal disini dan baru mulai timbul hasratnya untuk naik keatas pulau."
"Mengapa setelah tiga puluh tahun baru timbul pikirannya akan naik keatas?" tanya Yap Jing.
"Menurut ceritanya, setelah tiga puluh tahun baru kungfu dalam Hian-ku-cip selesai dilatihnya, saking isengnya, ia menjadi tidak betah lagi tinggal disini," tutur Yu Wi, "Ai, apabila bukan tertarik oleh kungfu didalam Hian-ku-cip, kupercaya dia takkan tahan tinggal disini biarpun cuma sebulan saja."
"Ah, juga belum tentu," ujar Yap Jing, "Umpama aku, biarpun tinggal selama hidup disini juga aku betah."
Yu Wi bermaksud membantah, tapi urung.
"Memangnya kau tidak percaya?" tanya Yap Jing.
"Sungguh, Toako, jika kau minta kutinggal disini selama hidup, pasti aku mau dan kerasan."
Sekali ini Yu Wi hanya tertawa saja tanpa menanggapinya.
Dengan suara lirih Yap Jing menyambung pula, "Akan tetapi kalau. . . kalau tidak di. . .didampingi Toako, sehari pun aku tidak. . . .tidak kerasan."
Yu Wi memegangi tangan si nona, katanya, "Pengalaman Bu-beng-lojin tidak sama dengan kita, dengan sendirinya jalan pikirannya juga berbeda dengan kita. . . ."
Mendengar kata "kita", hati Yap Jing sangat senang, serunya, "Jadi kau pun mau tinggal disini selama hidup?"
“Meski mau, tapi masih banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan, umpama tinggal disini juga hati tidak bisa tenteram."

Yap Jing tertawa, katanya, "Jika begitu, setelah kita naik keatas dan menyelesaikan pekerjaan, lalu kita datang lagi kesini, mau?"
Diam-diam Yu Wi merasa ucapan si nona terlalu muluk-muluk, orang hidup didunia ini mana ada yang dapat menyelesaikan segala urusan, kecuali orang yang sudah meninggalkan rumah dan mengasingkan diri, atau orang yang sudah mati, maka segalanya pun impas.
"Eh, apa yang kau pikirkan, Toako?" tanya Yap Jing.
"Oo, tidak berpikir apa-apa." sahut Yu Wi.
"Apalagi yang dikatakan Bu-beng-lojin?" tanya pula si nona.
"Dia bilang, setelah merasa tidak betah lagi tinggal disini, timbul hasratnya untuk pulang kekampung halaman. Kebetulan juga, suatu hari ada kapal yang lalu disini dan membawanya pulang ke Tionggoan. Akan tetapi setiba didaratan sana, ia merasa tidak ada maksud tujuan apa pun, segalanya terasa asing, seorang kenalan saja tidak ada."
"Ai, kukira bukannya tidak ada kenalan lagi, umpama ada kan juga sudah terlupakan." ujar Yap Jing dengan gegetun, "Kalau she dan nama sendiri saja sudah lupa, apa pula yang dapat diingatnya lagi?"
"Dan karena tidak ada orang yang dikenal, iapun tidak cari sahabat lagi, sebaliknya malah banyak mengikat permusuhan. . . ."
"Mengapa bisa mengikat permusuhan?" tanya Yap Jing.
"Didunia ini memang banyak kejadian yang tidak adil," ujar Yu Wi dengan gegetun, "Selama tiga puluh tahun Bu-beng-lojin tidak bergaul dengan khalayak ramai, kejadian pada masa lampau terlupakan pula, dengan sendirinya benaknya sangat polos, bersih seperti sehelai kertas putih. Maka ketika melihat sesuatu kejadian yang tidak adil, tentulah dia ikut campur. Dan sekali ikut campur, lantaran kungfunya maha tinggi, dengan sendirinya akan banyak mengikat permusuhan"
"Dia sudah menguasai semua kungfu dalam Hian-ku-cip yang maha sakti itu, biarpun mengikat permusuhan juga tidak periu takut." ujar Yap Jing. "Orang jahat didunia ini terlampau banyak, bukankah Bu-beng-lojin merupakan elmaut bagi kaum penjahat?"
"Dalam hal kungfu memang tidak ada seorang pun yang mampu melawannya," kata Yu Wi, "maka terhadap musuh mana pun dia tidak perlu gentar. cuma sayang, penyakit lama yang diidapnya itu masih kuat, berhubung dia terlalu sering bertempur sehingga tak dapat hidup dengan tenang. penyakit lama itu tambah sering kumat."
"Hah, masakah penyakit lama sering kumat lagi, padahal sudah telanjur banyak mengikat permusuhan, lalu bagaimana?" tanya Yap Jing kuatir.
"Untunglah, pada waktu penyakitnya kumat dengan hebatnya, kebetulan dia sampai di Pek-po (benteng putih) tempat kediaman Oh It-to," tutur Yu Wi pula. "pribadi Oh It-to cukup baik, suka menghormati orung tua pula, maka dia menyediakan tempat perawatan bagi Bu-beng-lojin setelah sembuh, karena rasa terima kasih atas budi pertolongan Oh it-to, Bu-beng-lojin lantas mewariskan kedelapan jilid kitab ilmu golok itu kepadanya."
"O,jadi itulah Hai-yan-to-hoat yang terkenal pada pertandingan di Hoa-san itu?" Yap Jin menegas.
"Betul,"jawab Yu Wi "setelah meninggalkan Pek-po, Bu-beng-lojin pikir dunia ini terlalu jahat dan berbahaya. sedangkan penyakit sendiri setiap saat bisa kumat, ia tidak sudi mati di bawah senjata musuh, maka ia lantas pulang ke Ho-lo-to."
"Pantas setelah berhasil menguasai kungfu dalam Hian-ku-cip dan hidupnya ternyata tidak panjang umur, kiranya penyakitnya kumat lagi dan mengakibatkan kematiannya," kata Yap Jing.
"Sepulangnya di Ho-lo-to, ia tahu umur sendiri tidak tahan lama lagi. sebab di ketahuinya ikan aneh itu sudah hilang khasiatnya bagi penyakitnya, sebelum ajal sekuatnya dia meninggalkan pesan berupa ratusan huruf ini."
"Apakah kakek itu tidak menjelaskan di mana beradanya Hian-ku cip?"
"Ada dijelaskannya, dia bilang Hian-ku- cip terpegang di tangannya, yang berjodoh mendapatkannya harus melakukan sesuatu tugas baginya."
"Haya,jadi benar Hian-ku-cip berada padanya, jelas telah ikut hanyut kepusaran air itu, lantas bagaimana?" seru Yap Jing cemas.
"Ikut hanyut ko dalam pusaran air juga baik, agar orang tidak menemukannya, sebab akibatnya toh cuma membikin susah sesamanya."
"Masa Toako juga akan membikin susah sesamanya bilamana mendapatkan kitab pusaka tersebut?" omel Yap Jing.
"Bukan mustahil akan terjadi begitu, maka lebih baik tidak memperolehnya," ujar Yu Wi dengan tertawa.
Yap Jing tahu anak muda itu cuma bergurau, dengan lugu ia berkata, "Biar aku menyelam ke dasar pusaran air itu, bila berhasil menemukan kitab pusaka itu akan kulaksanakan sesuatu tugas bagi Bu-beng-lojin."
"Sudahlah, jangan omong, tindakan yang membahayakan jiwamu tidak dapat kusetujui," kata Yu Wi.
"Mengenai berbuat sesuatu bagi Bu-beng-lojin, sekalipun tidak menemukan Hian-ku-cip juga wajib berbuat baginya."
"Dengan ilmu silat Bu-beng-lojin yang tinggi toh dia minta orang lain yang melakukan sesuatu baginya, maka dapat dibayangkan sesuatu pekerjaan itu pasti sangat sulit diselesaikan, betul tidak menurut pendapatmu?"
"Kukira tidak sulit," ujar Yu Wi. "Dia bilang sampai ajalnya dia tidak tahu asal-usulnya sendiri, maka minta penemu Hian-ku-cip menyelidiki baginya."
"Hal begitu masakah tidak sulit? Dunia sedemikian lebar, memangnya mudah hendak mencari tahu asal-usul seseorang?"
"Tapi dia menyatakan pada dadanya ada sesuatu tanda, yaitu sedikit toh hijau berbentuk bulan sabit, berdasarkan ciri ini tentu tidak sulit untuk menyelidikinya."
"Kukira tetap sulit," kata Yap Jing sambil menggeleng, "bila tidak sulit, ketika dia berada di Tionggoan masakah tidak dapat menyelidikinya sendiri ..." bicara sampai disini, mendadak ia berhenti karena ingin tumpah.
Yu Wi terkejut dan kuatir, serunya, "He, ada apa? Kau sakit?"
"Tidak sakit, hanya ingin tumpah, bila tertumpah baru terasa lega," kata Yap Jing.
"Akan kucarikan air kumur," ujar Yu Wi. Tidak jauh di depan sana ada sebuah dekukan pada batu karang, di situ ada air sumber yang dingin itu, malahan terdapat ikan aneh yang berwarna putih itu, maka Yu Wi lantas berseru, "Lekas kemari"
Sesudah Yap Jing mendekat, Yu Wi meraup air dengan kedua telapak tangannya. Meski kedua pergelangan tangan terikat, tapi telapak tangannya dapat bargerak dalam batas-batas tertentu.
Sesudah mereka makan ikan aneh itu, kekuatan badan mereka sudah berbeda daripada orang biasa sehingga air sumber yang maha dingin itu tidak menjadi soal lagi bagi mereka.
Selesai mengumur mulut, Yu Wi bertanya, "Tiba-tiba kau ingin tumpah, apakah tidak beralangan?"
"Kau sendiri mahir ilmu pertabiban, kan seharusnya kutanya padamu?" ujar Yap Jing dengan tertawa.
Yu Wi garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal, jawabnya serba sulit, "Dalam kitab yang kupelajari tidak tercatat penyakit demikian. Bahwa mendadak kau ingin tumpah, sungguh aneh, mengapa ingin tumpah?"
Hendaklah maklum, kitab pertabiban Pian-sik-sin-bian yang diperoleh Yu Wi dari Yok ong-ya itu memang kitab maha gaib, tapi kitab itu tidak mencatat penyakit-penyakit umum, yang ada cuma ilmu pengobatan penyakit yang spesial, apa lagi Yu Wi belum lama mempelajarinya, dia sanggup mengobati penyakit-penyakit yang aneh dan sulit, sebaliknya penyakit umum malahan tidak tahu.
Yap Jing sendiri sejak kecil sudah ditinggalkan ibunya sehingga pengetahuan umum orang hidup tidak banyak diketahuinya, dengan sendirinya iapun tidak mengerti sebab apa dirinya mendadak ingin tumpah, maka katanya, "sudahlah, tidak perlu memusingkan urusanku, kukira tidak apa- apa."
"Ya, mungkin selama beberapa hari ini kita hanya makan ikan aneh ini, maka seleramu agak terganggu," ujar Yu Wi.
"Memang," ucap Yap Jing dengan gegetun, "selama sebulan ini kita hanya makan ikan mentah melulu, mungkin rasanya barang masak sudah kita lupakan."
"Jika ingin makan barang masak. Lekaslah naik ke sana" sambung Yap Jing dengan tertawa.
"Betul maka sekarang juga marilah kita naik ke sana," kata Yu Wi.
Mereka menuju kemulut gua, tertampak air laut mengalir masuk pelahan melalui mulut gua selebar satu-dua tombak itu, dari sini pula cahaya terang terpantul ke dalam, maka dapat diperkirakan jarak gua dengan permukaan air paling-paling hanya beberapa kaki saja, makanya daya tekanan air sangat kecil, air laut yang mengalir masuk itu tidak menimbulkan arus yang deras.
Untuk keluar dari situ lebih dulu mereka harus terjun ke dalam air, maka Yu Wi lantas mendahului melompat turun disusul oleh Yap Jing.
Setelah menyelam keluar gua, mereka terus mengapung kepermukaan laut, pantat pulau itu lebih tinggi dua tombak di atas permukaan laut, dinding karang cukup licin, dengan tangan memegang pada dinding karang yang berdekuk. sekuatnya Yu Wi meloncat ke atas pulau, lalu Yap Jing dibantunya naik ke atas.
Setiba di atas pulau, mereka melihat di lamping pulau sana berlabuh sebuah kapal besar.
"Hah, ada kapal" seru Yap Jing kegirangan. "Dari mana datangnya kapal, jangan-jangan Giok-bin-sin-po sudah pulang ke daratan sana dan datang lagi kemari dengan membawa kapal?"
"Bukan," ujar Yu Wi, "tidakkah kau kenal kapal ini adalah kapal milik Auyang Liong-lian?"
"Aha, benar," sera Yap Jing kuatir, "kenapa mereka pun dapat menyusul ke sini?"
Pada saat itulah mendadak terdengar suara teriakan dan bentakan, tapi tidak nampak bayangan orang.
Rupanya kapal itu berlabuh pada bagian pinggang Ho-lo-to yang mendekuk sehingga taraling-aling oleh bagian depan pulau, agaknya suara itu berkumandang dari depan sana.
Cepat mereka berlari ke sana, setelah lewat disamping kapal, terlihat lima orang berdiri di ujung pulau sana, Giok-bin-sin-po berdiri berhadapan dengan Auyang Liong-lian, di belakang Giok-bin-sin-po adalah Kan Hoay-soan dan Hana, sedangkan dibelakang Auyang Liong-lian berdiri anaknya, yaitu Auyang Po. "Mereka belum pergi, lekas kita menemui mereka," seru Yap Jing.
"Sabar dulu," kata Yu Wi, "Giok-bin-sin-po dan Auyang Liong-lian lagi bertempur, jangan kita mendekati mereka agar tidak mengganggu perhatian nenek itu."
Kan Hoay-soan, Hana dan Auyang Po tampak asyik mengikuti pertempuran sengit itu, meski sedikit melirik saja mereka dapat melihat Yu Wi dan Yap Jing, tapi ternyata tiada seorang pun mengalihkan pandangannya.
Keadaan diam itu berlangsung agak lama, mendadak terdengar Auyang Liong-lian membentak pula sambil bergerak mendekati Giok-bin-sin-po, berbareng pukulan dahsyat memburu ke arah si nenek.
Giok-bin-sin-po tidak memegang tongkat lagi dan menyambut serangan lawan dengan bertangan kosong. Meski dia bertahan dengan kuat, tapi lantaran serangan Auyang Liong-lian bertambah gencar sehingga nenek itu terdesak mundur terus.
Tiga belas kali Auyang Liong-lian menghantam dan 13 langkah Giok-bin-sin-po menyurut mundur, dengan sendirinya Hana dan Hoay-soan juga ikut mundur sejauh itu.
Selesai meluncarkan ke-13 kali pukulan, segera Auyang Liong-lian berhenti menyerang dan berdiri berhadapan dengan si nenek.
Agak lama kedua orang saling melotot, waktu Auyang Liong-lian membentak dan mulai menyerang lagi, sekali ini serangannya bertambah cepat. tapi pertahanan Giok-bin-sin-po juga bertambah cepat dan rapat, sedikit pun tidak memberi peluang kepada musuh untuk menerjang masuk meski kembali ia terdesak mundur lagi.
"Lekas Toako membantunya, Giok-bin-siu-po tidak sanggup melawannya," seru Yap Jing.
"Jangan kuatir," ujar Yu Wi," pertahanan Giok-bin-sin-po sangat rapat, tentu dia menyimpan langkah maut. Auyang Liong-lian tak bisa mengalahkan dia."
Ia pikir si nenek hanya bertahan saja tanpa menyerang, kalau mulai balas menyerang tentu akan sangat lihai. Ia tidak tahu bahwa sejak tadi Giok-bin-sin-po sudah balas menyerang dan tidak berhasil. sekarang terpaksa hanya bertahan saja dan tidak mampu menyerang.
Dalam waktu tidak terlalu lama, kembali Au-yang Liong-lian menyerang lagi 13 kali, tapi pertahanan Giok-bin-sin-po tetap sangat mantap. tiada, tanda-tanda akan kalah.
Dengan kuatir Yap Jing bergumam sendiri, "Ayolah balas menyerang, lekas serang. . ."
Yu Wi juga heran mengapa si nenek tidak melancarkan serangan balasan. Ada juga maksudnya hendak membantu, tapi Giok-bin-sin-po belum nampak ada tanda akan kalah, jika nenek itu memang menyimpan jurus maut, dirinya ikut maju mungkin akan mengacaukan rencananya malah.
Berdiri saling melotot sekali ini bertahan lebih lama, namun akhirnya tetap Auyang Liong-lian menyerang lebih dulu, bahkan sekaligus menyerang 26 kali dan Giok-bin-sin-po juga terdesak mundur 26 langkah, kini tinggal dua-tiga tombak saja dia berdiri di tepi ujung pulau.
Kan Hoay-soan dan Hana tidak dapat mundur lagi dan terpaksa menyingkir kesamping agar tidak terjerumus kelaut. sebaliknya Auyang Po tampak sangat senang, dengan tersenyum ia ikut mendesak maju bersama ayahnya.
Diam-diam Yap Jing sangat mendongkol melihat sikap jumawa Auyang Po, damperatnya didalam hati, "Memangnya apa yang kau tertawakan sebentar bila Giok-bin-sin-po mulai balas menyerang barulah kau tahu rasa."
Ia percaya kepada komentar Yu Wi tadi bahwa si nenek pasti mempunyai rencana tertentu, sekarang nenek itu hanya pura-pura terdesak saja.
Tapi sekarang Yu Wi sendiri menjadi sangsi terhadap jalan pikirannya tadi, sejauh ini Giok-bin-sia-po ternyata belum juga melancarkan serangan balasan, jangan-jangan memang tidak sanggup balas menyerang?
Ia tidak tahu bahwa sebenarnya Giok-bin-sin-po memang tidak sanggup lagi balas menyerang.
Kiranya sejak Yu Wi dan Yap Jing terisap masuk ke gua di dasar laut oleh pusaran air yang kencang itu, Giok-bin-sin-po bertiga terus menunggu di atas pulau dengan harapan akan timbul sesuatu keajaiban.
Beberapa kali Kan Hoay-soan bermaksud terjun kelaut untuk mencari Yu Wi, tapi selalu dicegah oleh Giok-bin-sin-po. Padahal mereka bertiga sama-sama tidak mahir berenang, kalau terjun kelaut tiada ubahnya seperti membunuh diri belaka.
Semula mereka masih menaruh harapan semoga Yu Wi atau Yap Jing akan timbul kembali, tapi setelah tiga hari berlalu, harapan mereka pun buyar, tujuh hari kamudian keajaiban yang mereka bayangkan pun tidak barani lagi diharapkan. Mereka yakin Yu Wi dan Yap Jing pasti sudah terkubur di dasar laut.
Akan tetapi mereka merasa berat untuk tinggal pergi, Giok-bin-sin-po ingin mendapatkan Hian-ku-cip. sedangkan Kan Hoay-soan dan Hana berharap Yu Wi akan timbul lagi ke atas. Karena itulah sehari demi sehari mereka terus menunggu.
Sisa perbekalan di atas perahu mereka tidak banyak. ingin menangkap ikan, tiada seorangpun di antara mereka yang berani terjun ke laut, juga tidak punya alat penangkap ikan, soal air minum tidak perlu dikuatirkan karena ada sumber air dingin, sebaliknya rangsum yang makin tipis.
Sebulan yang lalu mereka sudah mulai menghemat makan, sudah belasan hari mereka menahan lapar, meski tidak sampai pusing tujuh keliling, tapi tenaga sudah hilang sebagian.
Pagi tadi kapal Auyang Liong-lian menyusul sampai di pulau tandus ini, dan begitu mendarat Auyang Liong-lian lantas bertempur dengan Giok-bin-sin-po.
Auyang Liong-lian mengira si nenek telah menemukan Hian-ku-cip. tanpa tanya segera ia menyerang, ia pikir kalau nenek itu dibinasakan, tentu Hian-ku-cip akan dimilikinya.
Watak Giok-bin-sin-pojuga angkuh, iapun tidak tanya sebab apa Auyang Liong-lian menyerangnya, ia pikir kalau orang mengajaknya berkelahi, kenapa tidak diladeninya. Ia yakin kepandaian sendiri tidak lebih rendah daripada Auyang Liong-lian, kenapa mesti takut?
Tak tahunya setelah bergebrak hingga ribuan jurus, tenaga sendiri tambah lemah, sebaliknya Auyang Liong-lian yang sehat dan kuat itu penuh tenaga. kapalnya cukup perbekalan, setiap hari makan besar sehingga tidak pernah kenal kelaparan, setelah diserangnya sekian lama, dilihatnya Giok-bin-sin-po tidak sanggup balas menyerang lagi.
Akan tetapi si nenek masih teras bertahan sakuatnya, dihadapan beberapa anak muda mana dia mau kehilangan pamor, meski jelas kelihatan akan kalah, sakuatnya ia masih terus bertahan, sebelum kehabisan tenaga benar-benar tidak nanti dia mengaku kalah.
Yu Wi tidak tahu bahwa si nenek hanya ingin jaga pamor saja sehingga masih bertahan sekuatnya, disangkanya nenek itu masih dapat berjaga dengan rapat dan tentu masih menyimpan serangan maut yang belum digunakannya.
Tapi Yu Wi juga bukan orang bodoh, lambat laun dapatjuga dilihatnya gelagat tidak betul, ia pikir bila Auyang Liong-lian menyerang lagi dan si nenek tetap tidak balas menyerang, maka dirinya akan menerjang maju untuk membantunya, soal si nenek mengomel atas tindakannya itu adalah urusan nanti.
Maka pada waktu Auyang Liong-lian mendesak maju pula dan menghantam dengan dahsyat, Giok-bin-sin-po tidak menangkis, tapi mendahului menyurut mundur, peluang ini digunakan Auyang Liong-lian untuk melancarkan serangan susulan lagi.
Agaknya Giok-bin-sin-po menyadari sia-sia saja pertahaaannya, dengan sisa tenaga yang masib ada tetap ditunggunya kesempatan baik untuk melancarkan serangan menentukan, maka kembali ia menyurut mundur satu langkah.
Karena serangannya belum juga mengenai lawan, lama- lama Auyang Liong-lian menjadi gemas, dilihatnya Giok-bin-sin-po sudah makin dekat tepi laut, segera ia menyerang lebih kuat dengan tujuan mendesak nenek itu agar kecebur ke laut.
Giok-bin-sin-po sendiri lagi memikirkan jurus yang menentukan kemenangan terakhir sehingga tidak ingat bahwa di belakangnya adalah tepi laut, bila mundur lagi dua-tiga tindak tentu akan kecebur.
Yap Jing, Hana dan Hoay-soan dapat melihat keadaan yang gawat itu, cepat mereka berseru, "He, awas"
Giok-bin-sin-po jadi terkejut, belum lagi mundur, dilihatnya serangan Auyang Liong-lian tiba pula dengan cepat dan dahsyat.
Diam-diam si nenek mengeluh bisa celaka, sedapatnya ia mengerahkan sisa tenaga untuk menangkis.
Sejauh itu belum dapat diperoleh jurus maut untuk merebut kemenangan terakhir, tenaga tangkisannya ini terlampau lemah, tampaknya bila tangan kedua orang beradu. dirinya pasti tergetar kecebur ke laut dan jiwa pasti melayang.
Pada detik yang gawat itulah, sekonyong-konyong Yu Wi memburu maju, kedua tangan yang terikat sekaligus menyapu ke pinggang Auyang Liong-lian.
Dalam keadaan begitu, apa bila Auyang Liong-lian tetap menyerang Giok-bin-sin-po, maka dia pasti tidak dapat menghindarkan hantaman Yu Wi. Ia tidak sempat memandang siapa penyerang ini, hanya dirasakan tenaga pukulan ini sangat kuat, bila mana kena, pinggang sendiri pasti akan patah .
Padahal dia sudah berada di atas angin, dengan sendirinya sayang untuk gugur bersama dengan Giok-bin-sin-po, cepat ia melompat ke samping.
Saking nafsunya ingin menolong Giok-bin sin-po, sabatan Yu Wi tadi hampir menggunakan segenap tenaganya, dan karena sasarannya mendadak mengelak. seketika Yu Wi tak dapat menahan serangannya, tubuhnya ikut mendoyong kearah depan.
Sungguh tidak kepalang hantaman Yu Wi itu, "blang", batu karang disitu terhantam hingga berlobang, batu krikil muncrat beterbangan.
Setelah pukulannya mengenai tempat keras, dapatlah Yu Wi menahan keseimbangan badannya dan berdiri tegak. dilihatnya Auyang Liong-lian berdiri di samping. segera ia memburu maju dan menghantam pula seperti tadi.
Auyang Liong-lian tidak menyangka tenaga pukulan bocah ini bisa sedemikian lihai, disangkanya Yu Wi telah berhasil meyakinkan kungfu dalam Hian-ku-cip. ia tidak berani menangkis, cepat melompat mundur.
Tambah semangat serangan Yu Wi, iapun tidak menghiraukan keselamatan sendiri, ia pikir jika tidak berhasil merobohkan Auyang Liong-lian, sebentar bila orang balas menyerang dan dirinya tidak sanggup menangkis, tentu dirinya yang akan kecundang. sebab itulah, sekali hantamannya luput segera di susul hantaman berikutnya.
Begitulah susul menyusul ia serang Auyang Liong-lian dengan cara yang sama, tenaga hantamannya sangat kuat, karena tidak jelas betapa kekuatan anak muda itu, sebegitu jauh Auyang Liong-lian tidak berani balas menyerang.
Setiap pukulan Yu Wi ternyata mengenai tempat kosong, batu karang yang terkena angin pukulannya seketika berlubang, keadaannya mirip seorang penggali gunung dengan kapak raksasa, sekali mencangkul segera sepotong batu terbacok pecah.
Sampai ratusan kali Yu Wi memukul dan Auyang Liong-lian menghindar rcausan langkah, dilihatnya sudah ratusan lubang juga batu karang terkena pukulan anak muda itu. Diam-diam Auyang Liong-lian berpikir berapa kuat tenagamu, akhirnya apakah tidak terkuras habis. Karena pikiran ini, ia mau jadi tabah dan coba balas menyerang satu kali.
Pukulannya menuju ke bagian luang di tubuh Yu Wi, tapi lantaran Auyang Liong-lian berprasangka anak muda itu sudah berhasil meyakinkan kungfu dalam Hian-ku-cip. kepandaiannya tentu tidak boleh diremehkan lagi, waktu pukulannya sampai setengah jalan, ia menjadi rada sangsi sejenak.
Pandangan Yu Wi cukup tajam, tindakannya juga sangat cepat. sedikit kesempatan itu segera digunakan untuk menghantam dengan kedua tangannya yang terikat menjadi satu itu.
Auyang Liong-lian tidak sempat lagi menarik kembali serangannya, begitu beradu tangan, dirasakannya tenaga pukulan lawan yang maha dahsyat membanjir tiba. "Celaka" teriaknya, kontan tubuhnya terpental jauh seperti layangan putus.
Yu Wi tidak menyangka kekuatan sendiri maju sepesat ini. dilihatnya Auyang Liong-lian terbanting jauh disana, dengan muka mewek Auyang Po berlari maju hendak membangunkan sang ayah sambil berteriak, "Ayah, ayah. . . ."
Munculnya Yu Wi secara mendadak tadi, sampai sekarang juga Kan Hoay-soan dan Hana masih tidak percaya kepada matanya sendiri. Menyusul Auyang Liong-lian lantas dihantam roboh Yu Wi. semua perubahan ini sungguh terlalu aneh dan luar biasa, seketika kedua nona itu berdiri melenggong dan lupa menyapa anak muda itu.
Sekarang Giok-bin-sin-po sedang berduduk di ujung pulau sana, mata terpejam dan sedang menghimpun tenaga, dia benar-benar terlalu lelah. sejak Yu Wi mulai melabrak Auyang Liong-lian, dia lantas berduduk dengan lemas, apa yang teriadi kemudian tidak lagi diikutinya, dia hanya duduk bersemadi di situ.
Yap Jing mendekati Kan Hoay-soan dan Hana, tanyanya, "Sebulan labih berpisah, baik-baiklah kalian?"
"Apakah . .. apakah betul engkau kakak Jing?" tanya Hoay-soan dengan agak sangsi.
"Memangnya siapa lagi?" jawab Yap Jing dengan tertawa. "Apakah kau sangka aku ini badan halus?"
Hoay-soan kucek kucek matanya, setelah yakin bukan mimpi, segera ia menubruk merangkul Yap Jing sambil berteriak girang, "selama sebulan ini kalian berada di mana?"
"Sangat panjang kalau diceritakan," kata Yap Jing. "Marilah kita lihat dulu keadaan Toako"
"Dia menang, tentu kegirangan," kata Hoay-soan.
Hana mendahului berlari ke samping Yu Wi dan menarik tangannya sambil menegur, "Yu-toako, Yu-toako, masih kenalkah padaku?"
Setelah tenangkan diri dan melihat Hana, si nona kelihatan jauh lebih kurus, mungkin akibat kelaparan. Yu Wi tidak tahu hal ini, disangkanya selama sebulan ini mereka sangat menguatirkan keselamatan dirinya dan Yap Jing sehingga mengakibatkan tubuhnya kurus, segera ia balas pegang tangan si nona dan menjawab, "Tentu saja kenal, memangnya kau kira aku sudah menjadi setan?"
"Semula kusangka kau adalah orang yang mirip kau itu, tapi tidak menganggap kau sebagai setan" kata Hana dengan tertawa.
Melihat Yu Wi berpegangan tangan dengan Hana dengan mesra, mau-tak-mau timbul rasa cemburu Yap Jing, ia sendiri tidak tahu mengapa bisa timbul perasaan demikian.
Padahal cemburu adalah sifat pembawaan kaum wanita, tidak ada seorang perempuan yang suka melihat suami sendiri bersendu gurau dengan perempuan lain, padahal dalam hatinya sekarang Yu Wi tiada bedanya seperti suami sendiri
Yap Jing dan Hoay-soan lantas mendekati Yu Wi, tiba-tiba terdengar teriakan Auyang Po, "Ayah meninggal, ayah meninggal . . . ."
Yu Wi terkejut, cepat ia melepaskan Hana dan berlari ke tempat menggeletak Auyang Liong lian, ia coba periksa kakek itu, dilihatnya mulut Auyang Liong-lian berdarah, setelah meraba denyut nadinya ia berkata, "Ayahmu tidak mati, hanya napasnya tersumbat."
"Wah, lantas bagaimana. bagaimana" seru Auyang Po dengan bingung.
"Kau pondong dia ke atas kapal, setelah kami naik ke kapalmu baru kutolong ayahmu." kata Yu Wi.
Diam-diam Auyang Po memaki Yu Wi, tapi diluar ia tidak berani bersikap kasar, pikirnya, "Baik juga, sebentar bila kau sudah berada di atas kapal, akan kucari akal untuk mencuri Hian--ku-cipmu."
Segera ia mengangkat tubuh ayahnya dan dibawa ke atas kapal.
"Jangan lepaskan dia, Toako," cepat Yap Jing berseru. "Jika kapalnya dijalankan, tentu kita celaka."
"Tidak. jangan kuatir, tak nanti dia meninggalkan kita disini, dia kan memerlukan tenagaku untuk menolong ayahnya," ujar Yu Wi.
Hoay-soan mendekati Yu Wi dan bertanya, "sebulan lebih tidak melihat Toako, di manakah kau tinggal selama ini?"
Yu Wi menuding bawah tanah dan berkata, "Di bawah pulau ini ada sebuah gua besar sehingga persis perut sebuah Ho-lo. setelah kau bicara tentang mulut Ho-lo yang mencuat keatas tempo hari. timbul pikiranku mulut Ho-lo kan juga mungkin mencuat ke bawah? Maka aku lantas menyelam ke dasar laut, benarlah aku terisap kedalam gua di perut pulau ini oleh pusaran air yang berputar di mulut pulau sana."
Hoay-soan tertawa dan berkata, "Malam itu kusangka Toako telah linglung, kiranya gara-gara ucapanku sehingga menimbulkan hasrat Toako untuk menyelidikinya, dan entah apa yang terdapat di dalam gua situ?"
"Kami menemukan di situ memang tempat tinggal Bu-bang-lojin," tutur Yu Wi.
"Hah, betul?" tanya Hoay-soan samhil memandang Yap Jing. Yap Jing mengangguk.
"Pantas sebulan lebih kalian tidak naik ke atas," kata Hoay-soan pula. "Jangan-jangan kalian jadi lupa daratan setelah membaca ilmu yang tercantum di dalam Hian-ku-cip?"
Yu Wi menggeleng, katanya, "Di sana tidak ada Hian-ku cip. juga tidak ditemukan jenazah Bu-beng-lojin, semuanya sudah hilang terhanyut oleh arus."
Keterangan ini bagi orang lain pasti sukar untuk dipercaya dan mengira Yu Wi sengaja berdusta karena kuatir orang mengetahui dia mendapatkan Hian-ku-cip. Tapi Kan Hoay-soan percaya penuh kepada keterangan Yu Wi, ia hanya rada heran, maka tanyanya, " Habis tenaga Toako yang maha kuat itu dari mana datangnya?"
"Mungkin akibat makan sejenis ikan aneh berwarna putih," tutur Yu Wi.
"He, ikan aneh apa itu?" tanya si nona.
"Setelah kami terhanyut kedalam gua di bawah pulau ini, aku terluka parah dan tak bisa berkutik, didalam gua gelap gulita, ikan aneh yang kecil itu melompat keluar dari sumber air dingin, karena lapar, kami makan ikan aneh itu, maka lukaku lantas sembuh. Tadinya kami mengira tidak ada jalan keluar lain dan bermaksud keluar melalui jalan semula, tapi pusaran air itu terlalu kuat sehingga tidak memungkinkan kami menyelam keluar, terpaksa kami tertahan disitu dan setiap hari menggunakan ikan aneh itu untuk tangsal perut. setelah makan ikan aneh itu sebulan lebih, badan kami bertambah kuat dan tidak takut dingin lagi. Dari semua ini dapat kuduga bertambahnya kekuatanku tentu juga akibat makan ikan aneh itu."
Hoay-soan berkeplok senang, katanya, "Padahal air sumber ini dinginnya melebihi es, tapi ikan aneh itu ternyata dapat hidup di dalam air sedingin itu, sungguh ajaib. Eh, Toako, jika begitu besar khasiatnya ikan aneh itu. biarlah akupun menangkapnya beberapa ekor untuk kumakan,"
Cepat Yu Wi menggoyang tangan dan berkata. "He, jangan, tidak boleh kau makan. . . ."
"Kenapa tidak boleh kumakan, Toako boleh mengapa aku tidak boleh?" tanya Hoay-soan dengan tertawa.
Dengan sendirinya Yu Wi rikuh untuk menceritakan apa sebabnya, ia coba pandang Yap Jing, wajah nona itu kelihatan merah dan menunduk.
Maka Yu Wi menjawab dengan agak kikuk.. "Tidak boleh kau makan. sebab . . . sebab memang tidak boleh kau makan . . . ."
Hoay-soan menjadi bingung, ia pandang sang Toako, lalu pandang pula Yap Jing, lamat- lamat ia dapat menduga pertanyaaannya pasti mengenai sesuatu yang tidak dapat dijelaskan, segera ia alihkan pokok pembicaraan, "Ayolah kita periksa keadaan Cio-locianpwe."
"Ya, betul, lekas kita menjenguk Cio-locianpwe." tukas Yu Wi. Maka beramai-ramai mereka lantas mendekati Giok-bin-sin-po.
Setelah bersemadi sekian lama, tenaga Giok-bin-sin-po sudah mulai pulih. Waktu keempat anak muda itu mendekat, ia lantas membuka mata. "Baik-baikkah Locianpwe?" sapa Yu Wi sambil memberi hormat.
Giok-bin-sin-po tampak malu, "Tadi sangat berbahaya. kalau tidak ditolong Hiantit (keponakan yang baik), jiwaku tentu sudah melayang di tangan Auyang Liong-lian."
"Tua bangka yang tidak tahu malu itu telah dipukul mampus oleh Yu-toako," Hana menyela,
"Hah, apa betul?" Giok-bin-sin-po terkejut. " Dengan kekuatan apa kau binasakan dia?"
"Tidak, tidak mati, hanya terluka parah dan napasnya tersumbat," tutur Yu Wi.
"Kau dapat melukai Auyang Liong-lian, nyata kungfumu sudah maju pesat, apakah berhasil kau yakinkan kungfu pada Hian-ku-cip?" tanya si nenek.
Kuatir orang salah paham dan mengira dirinya benar-benar menemukan Hian-ku-cip. maka cepat Yu Wi menuturkan pengalamannya di dalam gua bawah pulau ini. Dengan sendirinya soal hubungan badannya dengan Yap Jing tidak diceritakannya.
Habis bertutur, Giok-bin-sin-po tampak masih sangsi, ia tanya pula, "Apakah betul Hian-ku cip ikut terhanyut ke dalam pusaran air bersama jenazah Bu-beng-lojin?"
"Wanpwe telah menceritakan apa yang sesungguhnya, mana berani kudustai Locianpwe," kata Yu Wi.
Giok-bin-sin-po menghela napas menyesal, katanya, "Ai sayang kitab pusaka maha sakti itu telah kehilangan jejaknya. tempat inipun tiada gunanya untuk ditinggali lagi, marilah kita pulang ke Tionggoan dengan menumpang kapalnya Auyang Liong-lian."
Dari nada ucapan si nenek Yu Wi dapat merasakan orang masih sangsi terhadap keterangannya tentang Hian-ku-cip. diam-diam ia merasa masgul, ia pikir urusan ini kelak pasti akan menimbulkan macam-macam kesulitan.
Setelah berada di atas kapal, segera Yu Wi dapat menyadarkan Auyang Liong-lian. Tapi luka dalamnya seketika sukar disembuhkan.
Selama beberapa hari keadaan aman tenteram, ombak juga tidak besar sehingga kapal laju dengan tenangnya ke arah Tionggoan.
Hari ini kesehatan Auyang Liong-lian sudah lebih baikan, ia mengadakan perjamuan di dalam kabin sendiri untuk menjamu Giok-bin-sin-po, Yu Wi, Yap Jing, Kan Hoay-soan dan Hana.
Di tengah perjamuan, Auyang Liong-lian mengangkat cawan dan berkata, "Pertama-tama ingin kuhormati satu cawan kepada tuan penolong jiwaku"
Semua orang saling pandang, sebab tidak tahu tuan penolong manakah yang dimaksudkannya .
Ketika cawan arak Auyang Liong-lian dihadapkan kearah Yu Wi, cepat anak muda itu berdiri.
"Hm-jangan sungkan, duduk saja, duduk saja" jengek Auyang Liong-lian. Lalu ia menenggak araknya hingga habis.
Yu Wi tidak berani kurang adat, iapun ikut habiskan secawan.
"Meski Yu-heng ini telah melukai diriku, tapi kekuatannya memang lebih hebat dari padaku, harus menyalahkan diriku yang tidak becus dan tak dapat menyesali dia, kemudian dia telah menyembuhkan lukaku,jadi sebutan tuan penolong jiwaku ini pantas kuberikan padanya," demikian Auyang Liong-lian berkata pula sambil menuang cawan arak sendiri, di samping pelayan juga menuangi lagi cawan Yu Wi.
Auyang Liong-lian angkat lagi cawan araknya dan berkata, "Dan cawan yang kedua ini adalah hormatku kepada tokoh nomor satu di dunia ini."
Dengan sendirinya para hadirin tidak tahu siapakah tokoh nomor satu di dunia, terlihat cawan arak Auyang Liong-lian dihadapkan kearah Giok-bin-sin-po, maka nenek itu tampak berkerut kening dan menjengek, "Oh It-to sudah mati, Wi-san-tay hiap juga sudah mati, sedangkan Lau Tiong-cu tidak diketahui jejaknya, kau sendiri hidup dengan segar bugar, tapi sebelum kau dan Lau Tiong-cu mati, betapapun aku tidak berani mengaku sebagai tokoh nomor satu di dunia."
Auyang Liong-lian terbahak-bahak, katanya, "Betul, kau memang tidak dapat menerima predikat sebagai tokoh nomor satu di dunia, akupun tidak. tapi ada seorang yang pantas mendapat gelar tersebut."
"Hm, memangnya siapa?" jengek Giok-bin-sin-po pula.
Cawan arak Auyang Liong-lian lantas beralih kearah Yu Wi, katanya dengan tertawa, "Yu laute, cawan kedua ini tetap kuberikan padamu"
Yu Wi tidak mengangkat cawan araknya melainkan berbangkit dan meninggalkan meja perjamuan, katanya "Wanpwe lebih-lebih tidak berani disebut sebagai tokoh nomor satu di dunia. jika Lo-siansing sengaja menyindir, biarlah Cayhe mohon diri saja."
Auyang Po yang mengiring di samping lantas mendengus, "HHm. sebelum perjamuan ini rampung siapa pun tidak boleh mohon diri"
Tapi mendadak Yap Jing juga berbangkit dan berseru, "Toako, marilah kita pergi"
"Kalian duduk saja," kata Giok-bin-sin-po tiba-tiba,
"dengarkan dulu apa yang hendak diuraikan si tua ini."
"Haha, betul," Auyang Liong-lian terbahak. "umpama tidak mau makan lagi kan perlu dengarkan dulu apa yang hendak dikatakan tuan rumah."
Yu Wi tidak ingin mengecewakan Giok-bin-sin-po, ia duduk kembali di tempat semula barsama Yap Jing.
Auyang Liong-lian berkata pula terhadap Yu Wi dengan tetap angkat cawan arak. "Kau tahu, antara Lau Tiong-cu, nenek Cio ini dan diriku hanya bertempur sama kuatnya ..."
Mendengar ucapan yang tidak tahu malu ini, Giok-bin-sin-po menjengeknya, "ia pikir kalau bertempur sama kuatnya dengan diriku memang betul, tapi kalau bilang sama kuat dengan Lau Tiong-cu. jelas hanya meninggikan derajat sendiri secara tidak tahu malu."
Meski tahu Giok-bin-sin-po lagi mengejeknya tapi Auyang Liong-lian tetap menyambung uraiannya.
"Tentu saja nenek Cio mungkin juga dapat mengalahkan diriku, tapi sayang, sebelum menemukan Hian-ku-cip. kukira dia cuma mimpi saja jika ingin mangalahkan aku. Tapi sekarang bukan saja Yu-heng telah mengalahkan diriku dengan kedua tangan terikat, maka siapa yang membantah bahwa kungfunya ini tidak nomor satu di dunia?"
Sampai di sini ia berpaling dan tanya Giok-bin-sin-po, "Nah, coba katakan, dapatkah kau mengalahkan Yu-heng?"
Giok-bin-sin-po diam saja. Maka Auyang Liong-lian terbahak-bahak pula, katanya, "Tidak berani menjawab berarti membenarkan kau tidak dapat mengalahkan Yu-heng, tidak dapat mengalahkan berarti kau sendiri yang kalah, dan kalau kita berdua bukan tandingannya, jelas Liu Tiong-cu juga tak bisa melawannya, lalu siapa lagi jago nomor satu di dunia ini kalau bukan Yu-heng?"
Selagi Yu Wi hendak mendebatnya, segera Auyang Liong-lian mendahului bicara lagi, " Tapi sebelum berkunjung ke Ho-lo-to, jelas Yu-heng bukan tandinganku, bahkan pernah kututuk Hiat-tonya dan menggeletak tak bisa berkutik. Namun sesudah tinggal satu-dua bulan di Ho-lo-to, mendadak kungfunya bertambah pesat sehingga dapat mengalahkan dan . . .dan melukai diriku. Coba jawab, dari dulu hingga sekarang pernahkah dunia persilatan terjadi peristiwa aneh seperti ini? Bahwa kemajuan kungfu Yu-heng sedemikian pesat, sungguh belum pernah terjadi, lantas apa sebabnya, apakah karena Yu-heng berbakat lain daripada yang lain? Tapi sekalipun berbakat luar biasa kan perlu juga mendapat petunjuk dari seorang ahli, lantas siapakah ahli yang memberi petunjuk ini?Biarpun Oh It-to sendiri yang mengajarnya juga takkan berhasil secepat ini? Namun menurut Oh It-to, katanya di dunia ini ada kitab pusaka yang bernama Hian-ku-cip. kungfu dalam kitab ini sangat sakti, salah satu jenis kungfunya dapat mengalahkan Hai-yan-to-hoatnya. padahal dahulu dia telah mengalahkan beberapa tokoh utama dari berbagai perguruan terkemuka dengan ilmu goloknya itu dan pernah mendapat gelar sebagai jago nomer satu di dunia. . ."
Sampai di sini Giok-bin-sin-po menjadi tidak sabar, desaknya, "sebenarnya apa yang hendak kau katakan, lekas saja jelas kan terus terang dan tidak perlu bicara secara bertele-tele"
Dengan cengar-cengir Auyang Liong-lian mengiakan, lalu sambungnya, "Kita sama-sama belum pernah melihat Hian-ku-cip yang dimaksud sehingga kungfu yang termuat dalam kitab itupun tidak kita ketahui. Tapi kungfu Yu-heng mendadak maju pesat secepat ini, jangan-jangan dia sudah membaca kitab pusaka itu dan berhasil mendapatkan kungfu maha lihai dnri kitab itu?"
Dengan tegas Yu Wi lantas menjawab, "Tidak. tidak pernah kulihat kitab tersebut, bagaimana bentuk Hian-ku-cip hakikatnya aku tidak tahu, hal ini sudah pernah kukatakan kepada Cio-locianpwe. Jika pernah kulihat kitab itu tentu sudah kukatakan terus terang, kenapa kutakut?"
"Tentu saja tidak takut, kau sudah menjadi jago nomor satu di dunia, memangnya siapa pula yang kau takuti?^ sampai di sini Auyang Liong-lian menoleh dan tanya Giok-bin-sin-po, "Betul tidak. Cio-pocu?"
Giok-bin-sin-po hanya mendengus saja tanpa menjawab, air mukanya jelas kelihatan tidak senang.
Diam-diam Auyang Liong-lian bergembira, sebab maksud tujuan perjamuan ini memang sengaja hendak memecah belah hubungan baik antara Giok-bin-sin-po da Yu Wi.
Dengan sendirinya perjamuan bubar dalam suasana tidak enak. Dengan kesal Yu Wi mendahui kembali ke kamarnya.
Yap Jing ikut Giok-bin-sin-po keluar dari kabin Auyang Liong-lian, sampai di dek, karena tertiup angin laut, padahal baru saja dia minum arak. seketika Yap Jing tumpah-tumpah lagi.
Cepat Hoay-soan dan Hana memayangnya dan bertanya dengan kuatir, "HHe, apakah enci Jing sakit?"
Yap Jing sendiri tidak tahu mengapa dirinya sering tumpah, entah sakit apa, maka jawabnya dengan tersenyum getir, "Ah, tidak apa- apa, hanya rasanya ingin tumpah."
"Eh, ingin kutanya padamu, apakah benar Yu Wi tidak menemukan Hian-ku-cip?" tanya Giok-bin-sin-po tiba-tiba.
"Toako orang yang jujur, masakah Cianpwe tidak percaya kepada keterangannya?" ujar Yap Jing.
Mendadak Giok-bin-sin-po menjengek, "Hm, tahukah kau sebab apa kau ingin tumpah?"
"Tidak tahu," jawab Yap Jing sambil menggeleng. "Mungkin sakit."
"Hm. sakit apa?" jengek Giok-hin-sin-po "Kau hamil, tahu tidak?"
Habis berkata, tanpa memandang lagi ia terus menuju ke kabin sendiri.
Yap Jing jadi melenggong. Tidak terkecuali, Hoay-soan dan Hana juga tercengang.
Cuma tidak sama perasaan ketiga nona itu. masing-masing mempunyai pikiran sendiri-sendiri- Yap Jing terkejut dan juga girang, ia bingung dengan cara bagaimana akan memberitahukan kepada sang Toako bahwa dirinya sudah mengandung anaknya. sedangkan Kan Hoay-soan lagi berpikir anak siapakah yang dikandung Yap Jing itu Hana merasa berduka. tiba-tiba ia tanya, "Sudah berapa bulan?"
"Bilamana benar, sudah hampir dua bulan," jawab Yap Jing dengan malu.
Diam-diam Hoay-soan menggerutu, ia pikir "Tentu kau mengandung anak Toako ketika kalian berada di dalam gua bawah pulau ini. la jadi teringat kepada cerita tentang makan ikan aneh itu, persoalannya pasti terletak pada ikan aneh tersebut, pantas ketika bercerita tentang ikan aneh, sikap mereka tampak kikuk."
Secara diam-diam Hana juga jatuh cinta kepada Yu Wi, iapun menyesal, ia pikir jika benar anak Yu-toako yang dikandung Yap Jing maka seterusnya sang Toako takkan berkunjung lagi kenegerinya.
Begitulah kapal itu terus berlayar, tanpa terasa lima hari sudah lalu. selama lima hari ini Yu Wi tidak ada pekerjaan, hanya Yap Jing yang sering datang mengajak bicara padanya. sedangkan Giok-bin-sin-po sama sekali tidak kelihatan sampai-sampai Hana dan Kan Hoay-soan juga tidak terlihat.
Yap Jing belum memberi tahukan tentang kehamilannya, ia rikuh untuk membuka mulut, meski dari pagi hingga malam sedikitnya bertemu enam-tujuh kali, tetap tidak sanggup ia menyinggung urusan perutnya yang berisi itu.
Pagi hari ini sampai Yap Jing juga tidak muncul untuk mengajak bicara padanya, hal ini membuat Yu Wi heran, ia pikir apakah si nona sakit?
Sampai lohor, ia tidak tahan lagi, ia menuju kabin tempat tinggal Yap Jing, Hoay-soan dan Hana bertiga.
Yang berada di dalam kamar hanya Hana dan Hoay-soan, Yap Jing tidak kelihatan-Melihat Yu Wi, Hoay-soan seperti mau bicara apa-apa, tapi urung.
"Mana adik Jing?" tanya Yu Wi.
"Entah, tidak tahu," jawab Hana ketus.
Yu Wi lantas tanya Hoay-soan nona itu juga cuma menjawab singkat, "Entah, sejak pagi sudah tidak tahu ke mana dia?"
Merasakan gelagat tidak enak. segera Yu Wi memburu ketempat Giok-bin-sin-po. tapi nenek itu tidak berada ditempatnya. Cepat ia memburu pula kabin Auyang Liong-lian.
Melihat kegelisahan anak muda itu, dengan terbahak Auyang Liong-lian bertanya, "Kehilangan sesuatu?"
"Betul, di mana?" jawab Yu Wi.
"Haha, kau kehilangan apa, tidak kau jelaskan dari mana kutahu berada di mana?"
Dengan suara bengis Yu Wi berkata, "Kuhormati kau dan menyebut kau Losiansing, hendaknya kita bicara blak-blakan, orangnya hilang di atas kapalmu, lekas kau katakan dimana dia?"
"Hm, memangnya di tempat tidurku?" Auyang Liong-lian sengaja mengejek. "Tapi tempat tidurku selamanya tidak pernah ditiduri perempuan yang tidak tahu malu."
"Siapa yang kau katakan tidak tahu malu?" bentak Yu Wi dengan gusar.
"Hm, siapa yang tidak tahu malu masakah kau tidak tahu?" jengek Auyang Liong-lian. "Belum nikah sudah hamil, coba katakan siapa yang tidak tahu malu?"
Yu Wi terkejut, ia bergumam, "Hamil?"
"Hahahaha, betul, memang hamil" seru Auyang Liong-lian dengan tergelak.
Baru sekarang Yu Wi tahu Yap Jing telah mengandurg anaknya, dirinya sudah akan manjadi ayah, ia menjadi kegirangan dan berteriak. "orangnya dimana sekarang? Di mana?"
Tiba-tiba Auyang Liong-lian mengangsurkan tangannya, katanya dengan ketus dan tegas, "Hian-ku-cip ada, tentu dia juga ada."
Kedua tangan Yu Wi yang terbelenggu itu menyapu sekuatnya.
Jeri juga Auyang Liong-lian, kamar kabin itu tidak besar, bila tidak dapat berkelit dan tersapu oleh hantaman Yu Wi yang dahsyat itu, bukan mustahil bisa terluka parah andaikan tidak mampus.
Maka ia tidak berani berdiam lagi di dalam kamar, cepat ia melompat keluar.
Yu Wi menyangsikan ucapan Auyang Liong-lian tadi dan mengira Yap Jing disambunyikan di dalam kabin, ia coba mencari kian kemari, seluruh kabin diobrak-abrik dan tetap tidak nampak bayangan si nona.
"Tidak berada di situ" teriak Auyang Liong-lian- "setelah kau serahkan Hian-ku-cip, tentu akan kupertemukan dia padamu, Kalau tidak. selamanya jangan harap lagi dapat kau lihat kelahiran anakmu"
Ucapan yang bernada memeras ini makin mengguatirkan Yu Wi, segera ia mengejar ke luar.
Tapi Auyang Liong-lian lantas berlari keatas dek, serunya sambil tertawa, "Kau berani menghajar diriku, tentu juga ada orang akan menghajar adik Jingmu tersayang itu"
Bahwa orang menirukannya memanggil adik Jing, jelas orang pernah mencuri dengar percakapan dirinya dengan Yap Jing, makanya tahu sebutan tersebut, dengan gusar Yu Wi berteriak pula, "Jika kau berani mengganggu seujung rambutnya, pasti kubunuh kau"
Auyang Liong-lian bertolak pinggang jawabnya dengan lagak tengik, "Bila kau bunuh diriku. tentu ada orang akan membunuh juga adik Jingmu. nyawa satu tukar nyawa dua, kan masih untung bagiku."
Dalam keadaan demikian Yu Wi jadi mati kutu dan perlu barpikir sebelum bertindak. la menahan rasa gusarnya dan bertanya, "sesungguhnya apa kehendakmu?"
"Apalagi, Hian-ku-cip" jawab Auyang Liong-lian dengan senang. "singkatnya, asalkan Hian-ku-cip kau serahkan, segera kupertemukan kalian-"
Yu Wi meraung gemas, "Tidak pernah kulihat bagaimana bentuk Hian-ku-cip itu, masakah kau tidak percaya? "
"Setan yang mau percaya bahwa kau tidak pernah melihat Hian-ku-cip." ujar Auyang Liong-lian dengan terkekeh-kekeh.
"Habis cara bagaimana barulah kalian mau percaya kepada keteranganku?" teriak Yu Wi dengan murka.
"Kecuali korek keluar hatimu barulah kami percaya" jengek Auyang Liong-lian.
"Jika demikian, jadi aku harus mati kalau tidak dapat memberikan Hian-ku-cip?" tanya Yu Wi.
"Ya, begitulah," sahut Auyang Liong-lian tegar.
Saking gusarnya, selagi Yu Wi menghimpun tenaga hendak melabrak musuh, tiba-tiba seorang kelasi berlari datang dan memberi lapor, "Dari depan datang tiga buah kapal cepat"
"Kapal apa"? tanya Auyang Liong-lian.
"Menurut bahasa isyarat kapal pendatang, katanya kapal Thi-bang-pang (klik jaring besi)" lapor kelasi itu.
"Thi-bang-pang biasanya bergerak di sepanjang Tiangkang (sungai panjang. Yangt se kiang). untuk apa mereka datang kelautan sini?"
"Menurut keterangan isyarat mereka, katanya puteri sang Pangcu pesiar kelaut dan suruh kita menghindarinya," lapor pula si kelasi.
"Suruh kita menghindar?" Auyang Liong-lian berkaok gusar. "Mereka tahu siapa kita atau tidak?"
"Hamba sudah memberi isyarat pemberitahuan bahwa kapal ini milik Hay-liong-ong"
"Dan apa kata mereka?"
"Katanya, biarpun kapal maharaja juga harus menghindar."
"Wah, terlalu" teriak Auyang Llong-lian dengan menyebul jenggot kumis. "Cara bagaimana harus kita jawab, Losiansing?" tanya si kelasi.
"Tidak perlu jawab, terjang saja dari tengah," seru Auyang Liong-lian. Kelasi itu mengiakan terus mengundurkan diri
Segera laju kapal dipercepat, ketiga kapal juga meluncur dengan cepat dari depan, tidak antara lama kapal kedua pihak sudah mendekat. Ketiga kapal lawan terbentuk dalam formasi dua didepan kanan dan kiri, satu ditengah belakang. Mendadak terjadi hujan panah dari kedua kapal bagian depan itu.
Bab 3 : Putri ketua Thi bang pang pemilik Hian ku cip

Kelasi kapal Auyang Liong-lian seluruhnya ada likuran orang, semuanya anak buah yang sudah belasan tahun ikut Auyang Liong-lian, jadi semuanya sudah terlatih, tangkas dan cekatan, tidak ada seorang pun yang kena panah.
Di bawah hujan panah, terpaksa Yu Wi berkelit juga sambil berteriak, "Mau kau serahkan adik Jing atau tidak?"
sembari menghindari sambaran panah, Auyang Liong-lian menjawab dengan tegas, "Tidak"

"Hm, percuma kau mengaku sebagai seorang tokoh terhormat dari suatu perguruan terkenal, kelakuanmu ternyata kotor dan rendah, tidak tahu malu. sambut seranganku ini"
Sekali melangkah maju, segera Yu Wi mendekati Auyang Liong-lian sambil manghindari sebuah anak panah yang menyambar tiba.

Pada saat yang sama Auyang Liong-lian merasakan beberapa anak panah juga menyambar kearah punggungnya, sedangkan belum lagi Yu Wi mendekat, lebih dulu angin pukulannya yang dahsyat.

Meski terserang dari muka dan belakang, sedikit pun Auyang Liong-lian tidak gentar. mendadak tubuhnya mendoyong terus meluncur ke samping dengan enteng dan cepat.
Dengan sendirinya hantaman Yu Wi tidak mengenai sasarannya, tapi beberapa anak panah yang menyambar tiba itu terpukul jatuh malah.
"Lari ke mana?" bentak Yu Wi ketika dilihatnya Auyang Liong-lian melompat dua-tiga tombak ke samping sana.
Selagi dia hendak mengejar, sekonyong-konyong terdengar suara "blang" yang keras, kapal ini bertubrukan dengan kapal lawan yang berada di depan kiri, kapal Auyang Liong-lian ini terbuat dengan kukuh seningga tidak mengalami kerusakan, sebaliknya kapal lawan terseruduk hingga badan kapal berlubang, seketika air laut membanjir dan dalam sekejap saja akan tenggelam.
Di atas kapal sana juga cuma ada likuran orang kelasi yang berdandan ringkas dan tangkas, tampaknya adalah anak buah Thi-bang-pang. Serentak mereka melompat ke atas kapal Auyang Liong-lian.

"Bunuh saja kawanan keparat ini" teriak Auyang Liong-lian.
Dalam pada itu Auyang Po telah memimpin anak buahnya mengalangi serbuan musuh. sementara itu kapal lawan di sebelah kanan juga sudah mendekati, anak buah Thi-bang-pang berbondong-bondong menerjang ke atas kapal Auyang Liong-lian. seketika jumlah musuh bertambah satu kali lipat.
Auyang Liong-lian meremehkan musuh, pikirnya, "Apa-apaan Thi-bang-pang? Datang lagi sepuluh kali lipat aku juga tidak takut."

Ia yakin kepada kelasi sendiri yang sudah terlatih belasan tahun, setiap orangnya terhitung jago kelas dua atau tiga sehingga cukup tangguh untuk menghadapi lawan apa pun.
Tak terduga, meski kungfu anak buah Thi-bang-pang tidak tinggi. tapi rata-rata mempunyai satu- dua jurus serangan aneh, melulu dengan jurus serangan aneh meraka sudah dapat membikin anak buah Auyang Liong-lian kalang kabut.
Keruan Auyang Liong-lian sangat heran, ia tidak mengerti dari manakah lawan belajar jurus serangan aneh itu dan dari aliran mana? Ia menjadi sangsi jangan-jangan Thi-bang-pang telah muncul pemimpin kosen?
Waktu itu yang masih mampu merobohkan musuh hanya Auyang Po saja, kelasi yang dikerahkan itu tidak sanggup mengalahkan musuh, sebaliknya dalam waktu beberapa gebrak lagi mungkin akan dirobohkan musuh malah,
Auyang Liong-lian sendiri harus menghadapi Yu Wi, ia tidak berani membagi perhatiannya untuk membantu kelasi sendiri
"Urusan kita boleh kita bereskan nanti, bagaimana kalau sekarang mengenyahkan musuh tangguh lebih dulu?" seru Auyang Liong-lian.
Tapi Yu Wi lantas menjawab, "Aku tidak mempunyai musuh lain kecuali dirimu, lepaskan Yap Jing dan akupun takkan bertempur denganmu."

Dengan gusar Auyang Liong-lian mendamperat "Perempuan jalang itu sudah kubinasakan. tahu"
Yu Wi menjadi murka. kontan ia menghantam ke depan.
Auyang Liong-lian kewalahan dalam hal tenaga meski diketahuinya jurus serangan Yu Wi hanya itu- itu saja, terpaksa ia berkelit kian kemari dengan Ginkang yang gesit.
Tidak berhasil menghantam Auyang Liong-lian. sebaliknya hantaman Yu Wi itu mengenai seorang kelasi dan dua anak buah Thi-bang-pang sehingga dengan sendirinya orang Thi-bang-pang mengira dia adalah musuh, beberapa orang lain segera memburu maju untuk mengerubutnya .
Anak buah Auyang Liong-lian sudah menyaksikan Yu Wi bertempur dengan pimpinannya, tidak perlu disaksikan lagi jelas anak muda itu juga musuhnya, apalagi sekarang seorang temannya juga dibinasakan, serentak beberapa orang di antara mereka juga memburu maju untuk mengeroyok Yu Wi.
Seketika belasan orang menerjang ke arah Yu Wi, kesempatan itu segera digunakan oleh Auyang liong-lian untuk menyerang orang Thi-bang-pang.

Meski setiap anggota Thi-bang-pang rata-rata mempunyai dua-tiga jurus serangan aneh, tapi bagi pandangan Auyang Liong-lian serangan mereka tidak ada artinya. hanya sekejap saja, kemana dia lalu, dengan tangan memukul dan kaki menendang, anak buah Thi-bang-pang satu persatu telah dirobohkan olehnya, semuanya tertutuk Hiat-to kelumpuhannya.
Yu Wi sendiri merasa menyesal karena telah membunuh dua-tiga orang yang tidak berdosa, sekarang dikerubut belasan orang, ia tidak mau menyerang lawan dengan tenaga pukulannya yang dahsyat melainkan cuma menghindar kian kemari.

Tapi orang yang mengerubuti Yu Wi makin lama makin banyak. karena melihat langkah Yu Wi sangat aneh dan sukar diikuti, jelas seorang lawan tangguh, kalau tidak dikerubut orang lebih banyak tentu sukar di atasi.
Namun lambat-laun anak buah Thi-bang-pang semakin sedikit jumlahnya, sudah hampir 30 orang telah ditutuk roboh oleh Auyang Liong-lian, melihat pimpinannya cuma seorang sudah dapat mengatasi orang Thi-bang-pang, para kelasi dibawah pimpinan Auyang Po lantas mengalihkan sasarannya kepada Yu Wi.

Betapa pun Yu Wi menjadi gelisah, ia pikir kalau cuma menghindar saja tentu bukan cara yang baik untuk menyelesaikan pertempuran ini. Mendadak ia membentak. "Minggir"
Berbareng ia terus mengapung ke atas udara dan melancarkan Hui-liong-pai-poh yang lihai.
Kedelapan langkah ajaib ini pernah menendang rontok senjata rahasia ke-15 tokoh andalan Yan su-boh di Pulau Hantu tempo hari, maka dapat dibayangkan betapa lihainya.
Maka ketika Yu Wi turun ke bawah, kedua kakinya bekerja cepat menendang secara berantai, siapa orang yang tidak menyingkir tentu tertendang kepalanya dan roboh pingsan.
Hanya dalam sekejap saja seluruh kelasi dan anggota Thi-bang-pang yang mengerubut Yu Wi itu telah dibikin tunggang-langgang, ada separoh yang terjungkal, sisanya masih bertahan mati-matian.
Yu Wi menjadi murka, kembali ia mengapung lagi ke atas, waktu turun ke bawah, sisa sebagian pengerubut itu dirobohkannya pula, tinggal Auyang Po saja yang menjadi jeri, cepat ia berlari berlindung di belakang sang ayah.
Yu Wi memandang sekelilingnya. dilihatnya di atas dek yang luas itu kini tinggal dirinya dan Auyang Liong-lian serta Auyang Po saja, yang menggaletak di lantai sedikitnya ada 6o orang.
Auyang Liong-lian mengacungkan jari jempolnya dan sengaja memuji, "Hebat, sungguh luar biasa kungfu yang kau peroleh dari Hian-ku-cip."

"Ini bukan kungfu dari Hian-ku-cip." sahut Yu Wi. "Hm, jangan kau sengaja mengacau supaya orang lain menyangka aku menyimpan Hian-ku-cip."

"Kenyataaannya kau memang menyembunyikan kitab pusaka itu," seru Auyang Liong-lian dengan tertawa.

"Omong kosong" bentak Yu Wi.

"Kalau omong kosong, masa Giok-bin-sin-po juga percaya Hian-ku-cip disembunyikan olehmu?" jengek Auyang Liong-lian.
"Apa katamu? Beliau juga menyangka kutipu dia?" saru Yu Wi kaget.

"Ya, memang telah kau tipu dia."

"Oo. Cio-locianpwe . . ." keluh Yu Wi
"Untuk apa berkeluh, sebelum kau serahkan Hian-ku-cip. dia juga tidak sudi bertemu dengan kau," kata Auyang Liong-lian.
"Cio-locianpwe, sekali pun tidak kau percayai omonganku, masakah kau tidak dapat menegakkan keadilan lagi? . . .." kata Yu Wi dengan sedih.

Auyang Liong-lian terkekeh, katanya, "Dibilang sebelum kau serahkan Hian-ku-cip. dia tidak mau ikut campur urusan ini dan semuanya diserahkan kepadaku. Jika kau ingin dia bantu mendesak kuserahkan budak she Yap itu, maka cepat kau serahkan Hian-ku-cip dan segalanya akan beres dengan sendirinya."
"Lantas Hoay-soan? Dan Hana? . . . ." Yu Wi bergumam dengan sedih, ia pikir jangan-jangan kedua nona itu juga mengira dirinya menyembunyikan Hian-ku-cip yang ditemukannya .
Padahal sebetulnya tidak demikian dengan pikiran kedua nona itu, hakikatnya mereka tidak tahu menahu persepakatan antara Auyang Liong-lian dengan Giok-bin-sin-po, sesungguhnya sejak tadi mereka hendak keluar, tapi dicegah oleh Giok bin sin-po, sebab nenek itu sudah berjanji apa yang dilakukan Auyang Liong-lian, asalkan tidak mengganggu Hoay-soan dan Hana, maka mereka bertiga takkan ambil pusing, biarkan Auyang Liong-lian berusaha sendiri memaksa Yu Wi manyerahkan Hian-ku-cip.
Begitulah Auyang Liong-lian lantas berkata pula, "Nah, makanya lekas kau serahkan Hian-ku-cip apabila kau ingin segalanya berjalan seperti semula."

"Baik, baik" seru Yu Wi dengan menyesal sambil menengadah. "Kalian tidak percaya lagi padaku, apa pula yang dapat kukatakan ...."

Auyang Po merasa mendapat angin, segera ia ikut membentak, "Jangan pura-pura hendak mampus lagi, lekas kau serahkan Hian-ku-cip"

" Hian-ku-cip apa?" tiba-tiba suara seorang perempuan menukas.
Dari haluan kapal sana muncul dua orang, yang di depan adaiah seorang gadis cantik berbaju merah berusia antara 18an, dibelakangnya mengikut seorang lelaki tinggi besar dan berewok.
Auyang Liong-lian menoleh, dilihatnya kapal Thi-bang-pang itu berhenti kira-kira belasan tombak di sebelah sana, entah cara bagaimana kedua orang ini datang dan kapan datangnya, ternyata tidak dilihat dan didengarnya sama sekali. Maka dengan heran ia tanya, "siapa kau? Datang dari mana?"

Gadis baju merah mengikik tawa, jawnbnya, "Losiansing, seluruh anak buahku telah kau tutuk roboh, masakah perlu kau tanya pula siapa diriku?"

"Oo, kiranya puteri Thi-bang-pangcu," ucap Auyang Liong-lian. ia pikir orang datang dari kapal yang berada dibelakang itu dan tidak diketahui bila datangnya, maka Ginkangnya sungguh lain daripada yang lain, lawan ini benar-benar tidak boleh diremehkan.

"Losiansing, dapatkah kau kembalikan anak buahku?" tanya si gadis baju merah.

"Tentu, tentu," jawab Auyang Liong-lian.
"Sia siau-mo," seru si nona sambil mengernyitkan kening, "sadarkan kawanan manusia tak becus ini, macam apa tidur di atas kapal orang?" si lelaki tegap berewok tadi menggiakan terus melangkah maju.
Dasar watak Auyang Po memang kurang ajar, mendengar lelaki itu bernama sia siau-mo atau sia si bulu, segera ia bergelak tertawa, tanyanya sambil menuding orang, "eh, namamu sia siau mo? Bulu apa? Ha ha, lucu?"
Sia siau- mo tidak marah, sebaliknya ia menyengir terhadap Auyang Po, tahu-tahu ia melompat maju dan "plak-plok", kontan Anyang Po digamparnya dua kali.
Auyang Po memegangi mukanya yang bengap dengan melongo kaget, lalu di tumpahkannya dua biji gigi berdarah, ia berkaok-kaok kesakitan.

Dengan sendirinya Auyang Liong-lian tidak tinggal diam menyaksikan anaknya dihajar orang, kontan tangannya mencengkeram sia siau- mo.

Perawakan sia siau- mo tinggi besar, tapi lebih gesit dari pada kucing, cengkeraman Auyang Liong-lian mengenai tempat kosong, ujung baju orang saja tidak tersentuh.
Dilihatnya sia siau- mo lantas bergerak cepat di sekitar dek, dimana dia lewat, setiap anggota Thi-bang-pang yang menggeletak tertutuk itu lantas tersadar dan merangkak bangun.
Auyang Liong-lian melenggong, maklumlah, betapa hebat caranya menutuk tadi, satu dan lain tidak sama, berat ringannya juga berbeda, umpama dirinya yang disuruh menyadarkan orang sebanyak itu dalam waktu singkat juga belum tentu bisa, sungguh caranya membuka Hiat-to ini benar-benar sangat mengejutkan.

Semula Auyang Liong-lian bermaksud menangkap sia siau- mo untuk membalas dendam anaknya yang dihajar orang tadi, sekarang dia sendiri jadi jeri dan tidak berani lagi sembarangan bertindak.
Dilihatnya Sia Siau-mo telah menyelesaikan tugasnya, lalu menuju kedepan si nona baju merah ucapnya sambil memberi hormat, "sudah sadar semua siocia, hanya dua orang saja yang tidak dapat disadarkan."

"Mengapa tidak dapat sadar, caramu yang belum cukup mahir?" omel si nona.

"Bukan, soalnya kedua orang itu terpukul mati" tutur siau- mo.
si nona baju merah lantas berpaling kearah Auyang Liong-lian dan hertanya, "siapa yang membunuh aoggota kami?"
Yu Wi melangkah maju dan berseru, "Akulah yang memukulnya mati tanpa sengaja."

"Hm, kau berani membunuh anak buahku, besar amat nyalimu," jengak si nona.

Lalu ia menoleh kepada sia siau-mo dan berkata pula, "Perintahkan seluruh anggota kita kembali kekapal sendiri jangan berdiri disini untuk mengganggu."
Segera sia siau-mo memberi tanda dan bersaru, " Kembali semua"
Tapi salah seorang kepala kelompok lantas memberi lapor, "siocia, kapal kami sudah tenggelam dan tak dapat kembali ke sana."
Dengan gusar sia siau-mo membentak, "Kau-kira siocia tidak tahu? Perlu apa banyak omong, Kembali saja ke kapal yang lain"
Setelah anggota Thi-bang-pang pergi semua, dek kapal Auyang Liong-lian menjadi luang, ia lantas membuka Hiat-to para kelasinya dan menyuruhnya mundur.

Si nona baju merah berkata pula terhadap Auyang Liong-lian, "Bukan kau yang membunuh anak buahku, tapi sebuah kapal nona telah ditubruk tenggelam, hal ini bagaimana menyelesaikannya? "
Agaknya Auyung Liong-lian menjadi jeri oleh cara Sia Siau-mo membuka Hiat-to tadi, ia tidak tahu betapa hebat kungfu nona ini, maka tidak berani cari perkara lagi, dengan tertawa ia menjawab, "Biarlah kuganti sebuah kapalmu."
"Cara bagaimana menggantinya?" desak si nona.

"Berapa harga kapal nona boleh kuganti penuh," sahut Auyang Liong-lian.

"Siapa yang sudi kepada duitmu yang bau, kalau mau ganti, boleh gantilah dengan ini," kata si nona.
Dalam keadaan seperti ini, siapa pun pasti akan terpancing marah oleh sikap si nona yang garang ini. Namun Auyang Liong-lian benar-benar bermuka tebal. dengan cengar-cengir ia berkata, "Boleh, boleh. begitu sampai didaratan Tionggoan segera kuserahkan kapal ini kepada nona."
"Sebenarnya aku tidak sabar menunggu sampai di Tionggoan, tapi juga tak dapat mengusir kalian ke laut sekarang," kata nona baju merah itu. "Baiklah anggap aku lagi sial, boleh kalian menumpang sampai di daratan sana, tapi setiba disana kalian harus segera mendarat, seorang pun dilarang tinggal,"

"Baik, baik, seorang pun takkan tertinggal di sini," sahut Auyang Liong-lian cepat.
Lalu si nona baju merah mendekati Yu Wi dan berkata. "Soal ganti rugi kapalku sudah selesai. sekarang urusan anak buahku yang kau bunuh, bagaimana soal ini akan diselesaikan."
"Kan sudah kukatakan, kubunuh tanpa sengaja," jawab Yu Wi.
"Hmm, peduli sengaja atau tidak. membunuh harus ganti rugi juga," kata si nona.

Yu Wi merasa bersalah, ia pikir memang pantas memberi ganti rugi, maka tanyanya, "Menurut nona, cara bagaimana harus kuganti?" "Ada dua macam cara ganti rugi," ucap si nona dengan tertawa.

"Bagaimana caranya?" tanya Yu Wi.

"Pertama, jiwa diganti dengan jiwa, meski kau pukul mati dua anggota kami, biarlah kau ganti dengan jiwamu dan anggaplah lunas . . . ."
Melengak juga Yu Wi, ia menggeleng dan berkata, "cara ini tidak dapat kupenuhi, jika aku sengaja membunuh anak buahmu, tentu tidak menjadi soal kuganti dengan jiwaku. Tapi aku tidak sengaja, tapi salah membunuh mereka . . . ."
"Jadi cara pertama sudah jelas tidak dapat kau terima?" tanya si nona dengan tertawa.

"Ya, cara pertama ini tidak bisa kuterima."
"Jika begitu, terpaksa harus ditempuh cara kedua. Cara ganti rugi kedua ini adalah, bilamana kau mampu membunuh anggota kami, maka silakan kau bela jiwamu sendiri dengan kemampuanmu, "

"Apa artinya cara kedua ini?" tanya Yu Wi.
Mendadak nona baju merah itu menarik muka, jengeknya, "Akan kusuruh sia siau-mo membalas kedua anggota kami yang mati itu, apabila menandingi siau-mo dengan sama kuat. maka selamatlah jiwamu. Tapi tetap harus kau ganti rugi dengan uang kepada keluarga yang mati. jika tidak dapat kau tandingi siau-mo dengan sama kuat, maka terpaksa harus kau ganti rugi dengan cara pertama tadi."
Yu Wi menjawab dengan tersenyum, "Bila ku kalah di tangan anak buahmu, jelas jiwaku sukar diselamatkan sehingga ganti rugi cara pertama mau tak-mau harus kuturuti. Tapi bila beruntung aku tidak kalah, sebaliknya malah menangkan si siau-mo, lalu bagaimana?"

"Itu tidak mungkin,"jawab si nona dengan pasti.

"Oo,jadi nona yakin aku pasti kalah?" tanya Yu Wi.
"Betul," kata si nona. "Kubilang bila kau dapat menandingi siau-mo dengan sama kuat, hal ini sulit. Padahal pada jaman ini. ada beberapa orang di dunia ini yang mampu menandingi sama kuat terhadap anak buahku si siau-mo ini?"
Karena ucapan orang terlalu latah, seketika terangsang juga keangkuhan Yu Wi, katanya segera, "orang she Yu hanya bertanding sama kuat dengan anak buahmu, biarlah aku yang dianggap kalah."
Nona baju merah itu tertawa terkikik-kikik, katanya, "Eh, kau malah yakin dapat mengalahkan sia siau-mo?"
"Betul," jawab Yu Wi tanpa sungkan lagi.
Sia siau-mo menjadi gusar, segera ia melangkah rnaju dan berteriak. "Keparat, ayolah mulai" Kontan kepalannya lantas menjotos.

"Nanti dulu" bentak si nona.

Dengan cepat siau-mo menarik kembali pukulannya, baik menyerang maupun menarik kembali pukulannya ternyata sama cepatnya, sungguh hebat luar biasa.

"Orang she Yu," ucap si nona dengan tertawa "betapapun nona kagum kepada semangat jantanmu, apa bila benar kau dapat mengalahkan siau-mo. maka aku takkan menuntut ganti rugi apapun padamu, sebaliknya akan kuberi hadiah besar."
"Hadiah sih tidak perlu, cukup lekas kalian pergi dari sini agar tidak mengganggu urusan pribadiku dengan Auyang-siansing," jengek Yu Wi.
"Oya, tadi kulihat kau bergebrak dengan Hay-liong-ong yang pernah merajai empat samudra ini, jangan-jangan ada sesuatu sengketa di antara kalian?"

"Ya, sengketa ini mestinya sudah hampir dibereskan, tapi telanjur dikacau oleh kedatangan kalian, kalau dibicarakan, sebenarnya pihakmu yang bersalah kepadaku."

Nona baju merah itu tidak menjadi marah, sebaliknya malah tertawa dan berkata, "o, jika benar begitu, biarlah kuminta maaf disini. Begini saja, apabila kau dapat mengalahkan sia siau-mo, tentang urusanmu akan kubereskan bagimu, kukira tua bangka itu tidak nanti berani membangkang kapada kehendakku."
Sebutan "tua bangka" ini membikin air muka Auyang Liong-lian berubah. Akan tetapi dia masih tetap bersabar, orang ini benar-benar maha licin dan licik, sebelum jelas mengetahui kekuatan lawan, tidak nanti dia sembarangan bertindak. Ia pikir biarlah lihat dulu hasil pertarungan Yu Wi dengan sia siau-mo, habis itu barulah dapat menentukan arah angin.

"Terima kasih, nona," demikian Yu Wi menanggapi ucapan si nona baju merah tadi, "soal sengketaku dengan Auyang-siansing tentu dapat kuselesaikan sendiri sekarang tidak perlu banyak omong lagi, tampaknya anak buah nona juga tidak menunggu lagi. Boleh silahkan dia mulai saja." Habis berkata ia lantas menghimpun tenaga dan siap siaga. Betapapun ia tidak berani meremehkan musuh. Ia berpandangan sama dengau Auyang Liong-lian, merasa terkejut ketika melihat cara sia siau- mo membuka Hiat-to dengan gerak cepat tadi.
Sia siau-mo terpaksa melaksanakan. perintah sang siocia, tapi ia tidak berani sembarangan menyerang lagi, meski tangan sudah gatal dan tidak sabar manunggu, tapi hanya melototi Yu Wi saja dan tidak berani menyerang lebih dulu.
Dengan tertawa si nona baju merah lantas berkata pula, "Orang she Yu, hendaklah kau jangan latah"

Yu Wi jadi melengak. Ia pikir bilakah aku latah, sebaliknya orang Thi-bang-pang kalian yang tidak memandang sebelah mata kepada lawan dan terlalu sombong.
Gadis baju merah berkata pula, "Beralasan juga jika kau ingin mengalahkan sia siau-mo, tapi sekarang kedua tanganmu terikat, apakah cara begini hendak kau hadapi siau-mo?"
Baru sekarang Yu Wi paham apa yang dimaksudkan si nona, segera ia menjawab, "Bukan maksudku meremehkan lawan, sesungguhnya lantaran tali yang mengikat kedua tanganku ini adalah Hu-liong-soh yang termashur didunia, kecuali orang Mo-kui-to sendiri tidak ada orang lain yang mampu membukanya. Jadi mengenai hal yang terpaksa ini. harap nona suka memakluminya . "
Melihat cara bicara Yu Wi sangat sopan, si baju merah tertawa, katanya. "Hu-liong-soh sudah kudengar dulu dari cerita ayahku, memang benar jarang ada orang yang mampu membukanya. Akan tetapi hal ini belum tentu dapat mempersulit nona."

Yu Wi cukup tahu betapa hebatnya tali Hu liong-soh, ia tidak percaya si nona mampu membukanya, maka air mukanya menampilkan rasa tidak percaya.

Nona baju merah itu berkata pula, "Betapapun anak buahku yang bertanding denganmu tidak boleh menarik keuntungan dari kedua tanganmu yang terikat, Bagaimana kalau sekarang juga nona membuka tali pengikat tanganmu itu, apakah Yu-kongcu mau?"
Sekarang dia menyebut Yu Wi sebagai Yu-kongcu. jelas dia mulai menaruh simpati kepada anak muda itu.
Tentu saja Auyang Liong-lian menjadi kuatir, ia takut si nona benar- benar membuka belenggu Yu wi, maka cepat ia berteriak. "Jangan, orang ini memiliki Hian-ku-cip dengan ilmu saktinya yang sukar diraba, apa bila nona membuka belenggunya, jelas anak buahmu bukan tandingannya."
"Aku tidak percaya dia mempunyai Hian-ku-cip." kata si nona.
"Tapi betul-betul dia memiliki kitab pusaka itu, jika kau tidak percaya dan sembarangan membuka belenggunya. akibatnya pasti tidak menguntungkan nona," teriak Auyang Liaong-lian pula.

"Sekeli aku tidak percaya tetap tidak percaya, untuk apa kau banyak omong?" kata si nona.

"Maksud baik nona biarlah kuterima di dalam hati, tapi nona tidak perlu repot lag" kata Yu Wi.

"Tali ini memang sukar dipotong oleh senjata wasiat apa pun, kungfuku tidaklah tinggi, tapi kalau anak buah nona mampu mengalahkan langkahku, maka aku pun rela mengaku kalah."
Mendengar nona itu menyatakan tidak percaya Hian-ku-cip berada padanya, diam-diam Yu Wi juga menaruh simpati terhadap si nona. Ia pikir sampai Kan Hoay-soan dan Hana juga kena hasutan Auyang Liong-lian dan merasa sangsi padanya, tapi nona yang baru saja kenal Lantas percaya penuh padanya. rata simpatik ini sungguh membuatnya terharu.
Ia tidak ingin mambikin kikuk si nona bila mana nanti tidak mampu membuka Hu-liong-soh. maka ia sengaja menjelaskan bahwa tali itu sukar diputuskan sekalipun dipotong dengan senjata wasiat.
Tapi dia dan Auyang Liong-lian sama tidak tahu berdasarkan apa nona baju merah itu berani menyatakan tidak percaya secara pasti. bahkan dibalik ucapannya itu seakan-akan sebelumnya dia sudah kenal kitab pusaka yang bernama Hian-ku-cip.

Begitulah nona baju merah itu lantas berkata dengan tertawa, "Yu-kongcu, menurut keterangan sekalipun senjata wasiat juga tidak dapat memotong putus Hui-liong-soh itu, tapi senjata nona bukanlah senjata wasiat biasa, kalau senjata wasiat biasa dapat memotong besi seperti memotong sayur, pedangku bahkan dapat menembus batu mestika paling keras sekalipun-"
Ucapan ini membikin orang sama terkejut. Maklumlah, ada beberapa jenis batu mestika yang keras melebihi baja, memotong besi tidak sulit, untuk menembus batu mestika begitulah yang maha sulit apalagi batu mestika pilihan yang lain daripada yang lain. "senjata mestika apakah itu?"
Dengan bangga si nona menjawab, "senjataku ini bernama Hi-jong-kiam"
sembari bicara ia terus mengeluarkan sebilah pedang pendek yang panjangnya cuma satu kaki lebih, sesuai namanya, batang pedang pendek itu kecil dan sempit seperti usus ikan.

"Hah, memang benar Hi-jong-kiam" ucap Auyang Liong-lian terkejut demi nampak senjata wasiat ini.
Hi-jong-kiam adalah pedang wasiat yang diimpi-impikan setiap oraug Bu-lim untuk mendapatkannya, tak tersangka senjata wasiat ini bisa berada di tangan puteri ketua Thi-bang-pang.
Mendadak si nona baju merah melangkah maju, langsung pedangnya menusuk kearah Yu Wi. Anak muda itu tetap berdiri tanpa bergerak. Diam-diam si nona memuji ketabahannya.
Yu Wi percaya si nona hendak membantunya memotong tali belenggu itu, sama sekali tidak menyangsikan orang akan mencelakainya. Bila orang yang bernyali kecil, dalam keadaan kawan atau lawan belum. jelas, tentu akan merasa kuatir ketika ditusuk begitu saja.

Ketika Hi-jong-kiam menyambar sampai di tengah pergelangan tangan Yu wi, sekali nona itu mencungkil, "plok", kontan tali belenggu itu putus.

Mendadak bebas, Yu Wi sangat gembira, pentang kedua tangannya dan mengulet seperti yang baru bangun tidur. Hu-liong-soh itu telah mengekang setengah tahun kebebasannya, selama itu, baik makan, tidur memegang sesuatu dirasakan tidak leluasa, Sewaktu bertempur dengan orang juga tidak leluasa. sekarang belenggu itu telah hilang, tentu saja ia senang.
Segera Yu Wi memberi hormat kepada si nona, "Budi pertolongan nona. selama hidup takkan kulupakan-"
Si nona melangkah pelahan menghindari hormat Yu Wi itu, ucapnya dengar tertawa, "Kubuka belenggumu bukanlah bertujuan baik, maka tidak perlu berterima kasih padaku. Nah, sia Siau-mo sekarang boleh mulai"
Mendengar perintah sang siocia, kontan sia siau- mo lantas menghantam, langsung ia pukul dada Yu wi.

Karena belum siap. hampir saja Yu Wi terpukul, cepat ia manggunakan Hui-liong-poh untuk mengelak.

Sejak mendapat ajaran kungfu tinggi dari sang siocia, sudah lama siau-mo getol mencoba kungfunya, sekarang melihat langkah ajaib Yu Wi itu dapat menghindari pukulan sendiri, ia tahu telah ketemu lawan tangguh, ia menjadi girang. semangatnya terbangkit, menyusul ia melompat maju, kedua tangannya beruntun-runtun menghantam lima kali.
Mestinya Yu Wi hendak mengalah beberapa kali serangan kepada Sia Siau- mo, ia pikir budi kebaikan si nona yang telah memutuskan tali belenggunya harus dibalasnya. Tapi demi melihat pukulan sia siau- mo sangat hebat, kalau tidak menghindar dengan Hui-liong-poh, mungkin satu kali serangan lawan saja tidak dapat dihindarinya.
Setelah kelima kali pukulannya tidak dapat mengenai sasarannya, sia siau-mo lantas berhenti menyerang dan mendamperat, "Hanya main menghindar saja, macam pertandingan apa?, Kalau mampu, Ayolah berdiri berhadapan dan saling labrak. jangan cuma mengelak melulu seperti cucu kura-kura"

Muka Yu wi menjadi merah karena makian orang, segera iapun berdiri tegak dan berkata, "Baiklah, aku takkan mnghindar lagi."

"Bagus, hendaklah berdiri yang kuat" seru Siau-mo dengan gembira. kontan ia menjotos lagi ke dada Yu Wi.
Hantamannya kelihatan biasa saja, tidak ada variasi apa-apa, tapi juga tidak ada peluang bagi lawan, pukulannya seperti disertai sebuah jaring yang mengurung rapat ke depan, lawan hanya dapat menghindar dan tidak dapat balas menyerang. Karena sudah menyatakan takkan menghindar, Yu wi harus pegang janji. Dilihatnya serangan lawan telah tiba, mendadak kedua telapak tangannya ditepuk. serentak berjangkit bayangan telapak tangan yang tak terhitung banyaknya dan memburu kearah sia Siau-mo. nyata Yu Wi telah memainkan Hoa-sin-ciang-hoat ajaran si jubah biru dahulu.
Bila bertemu dengan lawan yang lebih lemah, Hoa-sin-ciang-hoat akan kelihatan daya gunanya yang luar biasa. Namun ilmu pukulan sia siau-mo juga tidak kurang lihainya, dahulu waktu sang siocia mengajarkan ilmu pukulan ini padanya pernah memberi pesan apabila berhadapan dengan musuh, maka pukulan ini langsung dilontarkan saja, betapa pun para musuh akan menangkis atau bertahan. pasti lawan takkan mampu melukaimu.
Berdasarkan pesan sang siocia ini, pukulan siau-mo sekarang tetap diteruskan meski dilihatnya pukulan Yu Wi sangat aneh, tapi ternyata satu kali pun tidak dapat mengenai tubuhnya, sebaliknya pukulan sendiri sudah dekat dada anak muda itu.

Keruan Yu Wi terkejut, untung gerakannya sangat cepat, ia tarik kembali tangannya untuk menjaga dada sendiri.
"Blang", hantaman sia siau-mo tepat mengenai telapak tangan Yu Wi, kontan siau-mo merasakan suatu arus tenaga maha dahsyat membanjir tiba, menyusup masuk lengannya terus menyalur kedalam badan, berdirinya tidak kuat lagi, tubuhnya terus mencelat.
Terkejut juga si nona baju merah, lekas ia melompat maju dan menangkap tubuh sia siau-mo yang hampir mencelat kelaut itu. setelah turun kembali dan sia siau-mo dibiarkan berdiri tegak, lalu ditanyainya, "Terluka tidak?"
Siau-mo menarik napas dalam-dalam dan merasa tidak terganggu apa pun, jawabnya kemudian "Mendingan tidak apa-apa."
"Kau bukan tandingan Yu-kongcu, mundur saja" kata si nona.
Tapi sia siau-mo masih penasaran, teriaknya "Biarkan kucoba lagi, siocia, kulihat ilmu pukulannya tidak luar biasa." ,
"Biarpun ilmu pukulannya tidak luar biasa, tapi tenaga dalamnya pun di atasmu, sukar bagimu untuk mengalahkan dia," jengek si nona.
Sekali pukul sia siau-mo dibikin mencelat, ia merasa tidak enak. tak tersangka olehnya pukulan sendiri sedemikian kuatnya, untung ia digunakan untuk bertahan, kalau menolak sekuatnya dan melukai sia siau mo, tentu tidak enak terhadap nona berbaju merah itu.

Melihat ada kesempatan, segera Auyang Liong-lian mengadu domba, serunya, "Nona, bukan tandingannya, silakan mundur juga"
Si nona tidak menjawabnya melainkan cuma mendelik. Tanpa terasa Auyang Liong-lian mengkeret dan tidak berani bicara lagi.

Setelah menyaksikan serangan sia siau-motadi, Liong-lian pikir biarpun dirinya juga sukar menahan pukulan sia siau- mo tadi, tapi Yu Wi ternyata mampu bertahan. bahkan membikin sia siau-mo terpental sendiri, jelas kungfu anak muda itu maju pesat lantaran mendapatkan Hian-ku-cip.
Ia tidak tahu betapa lebih lihai kungfu si nona baju merah, ia berharap Yu Wi dapat dirobohkan olehnya, kalau bisa dibinasakannya, lalu ia akan menggeledah badan Yu Wi untuk mencari Hian-ku-cip. maka sedapatnya ia tidak ingin bermusuhan dengan si nona baju merah.

Begitulah, didengarnya si nona baju merah lagi berkata, "Yu-kongcu, kau sudah menang, sekarang nona ingin minta petunjuk sejurus dua padamu."
Tanpa menunggu persetujuan Yu Wi, segera ia lolos pedang panjang dan menusuk. Disinilah letak kecerdikannya, ia pikir tenaga pukulan Yu Wi teramat kuat dan sukar dilawan, dilihatnya anak muda itu menyandang pedang (Hian-tiat-po-kiam atau pedang kayu besi), maka dia berharap akan mengalahkan anak muda itu dengan pedang, disangkanya tenaga dalam Yu Wi pasti tidak dapat terus menerus tersalur pada pedangnya. Tapi Yu Wi tidak suka bertempur dengan si nona, mendadak ia melompat mundur.
Namun si nona bertekad ingin bertanding dengan Yu Wi, langkah ajaib anak muda itu tidak membingungkan dia. serentak ia memburu maju mengikuti gerak tubuh Yu Wi.
Tapi selangkah demi selangkah Yu Wi terus main mundur, dan selangkah demi selangkah nona baju merah terus mendesak. Meski Hui-liong-poh sangat hebat, tapi Ginkang si nona seperti hantu yang selalu membayangi Yu wi, pedangnya terus menusuk tiada hentinya.

Selesai Yu Wi memainkan kadelapan langkah ajaib, dia terdesak hingga mandi keringat, ia pikir Hui-liong-pat-poh tidak dapat digunakan lagi untuk terpaksa harus melolos pedang untuk melawan.
Segera ia melangkah mundur lagi lalu melolos pedang kayu besi, dimainkannya Thian sun-kiam-hoat ajaran Ji Pek liong. Cahaya pedang berhamburan, ia jaga rapat sekujur badannya dan tidak memberi peluang bagi serangan lawan.
Yu Wi bermaksud bertahan saja, hal ini ternyata diketahui oleh si nona, diam-diam ia geli, "Betapa lihaynya sesuatu ilmu pedang di dunia ini masakah mampu menahan seranganku?"
"Plak-plak-plak". tiga kali pedang si nona menyampuk bayangan pedang yang dipasang Yu Wi, seketika permainan pedang anak muda itu menjadi kacau, sungguh tak tersangka oleh Yu Wi bahwa ilmu pedang si nona bisa begini ajaib, hanya tiga kali menyampuk sudah dapat mematahkan Thian--sun-kiam-hoat yang sangat rapat pertahanannya itu.
Segera Yu Wi melangkah mundur satu tindak, tapi si nona tidak sungkan lagi, satu tusukan maut mangincar ulu hati Yu Wi.

Serangan ini sangat hebat dan sukar dielak, bilamana kena pasti tamat riwayatnya, tanpa pikir lagi Yu Wi melancarkan jurus Bu-tek kiam pedang tiada tandingannya, jurus ini paling lihai di antara kedelapan jurus Hai-yan-kiam-hoat, pada waktu mengajarkan jurus ini dahulu Ji Pek liong telah memberi pesan wanti-wanti agar jurus serangan ini jangan sembarangan digunakan sebab kuatir dia membunuh orang yang tak berdosa.
Dalam keadaan jiwa terancam, Yu Wi tidak dapat berpikir panjang lagi apakah serangannya akan mencelakai orang atau tidak, yang diharapkannya adalah serangannya dapat memaksa mundur lawan agar dirinya terhindar dari bahaya.
Dilihatnya daya serangan si nona tidak berkurang sedikitpun dan sudah mengancam sampai di depan ulu hati Yu Wi, sebaliknya jurus Bu-tek kiam anak muda itu juga kontan balas menusuk ke ulu hati si nona.
Daya serang kedua jurus masing-masing ini sama lihainya, tampaknya kedua orang pasti akan gugur bersama. Pada detik terakhir itu sekilas Yu Wi teringat kepada budi pertolongan si nona yang telah memotong tali belenggunya, ia pikir daripada keduanya mati bersama, akan lebih baik dirinya saja yang gugur sendirian, untuk apa jiwa si nona juga harus dikorbankan.

Karena itu, tanpa terasa sebelah tangannya tepuk pada batang pedang kayu sendiri dengan gerakan Hoa-sin-ciang-hoat, seketika pedang kayu itu mencelat jauh ke sana, tapi pedang si nona tetap menusuk masuk ulu hati Yu Wi.
Anak muda itu memejamkan mata untuk menanti ajal, ia rela mati sendirian.

Semula si nona baju merah juga sudah nekat tidak ada jalan lain, iapun siap gugur bersama Yu Wi, tak terduga mendadak anak muda itu mencelat pedang sendiri, jelas maksudnya tak ingin membunuhnya.
Bahwa pada detik yang menentukan mati dan hidup itu bisa timbul rasa welas-asih Yu Wi, hal ini sangat mengharukan hati si nona. ia pikir kalau orang berjiwa besar begitu, masa dirinya harus berpikiran sempit dan harus membinasakan lawan?
Karena pikiran itu, pada kesempatan yang masih ada secepat kilat sebelah tangannya melolos Hi jong-kiam terus menabas batang pedang sendiri, "cring," pedang panjang terkutung menjadi dua, pangkal pedang menusuk tempat kosong, tapi ujung tetap menancap di ulu hati Yu Wi.
Kedua tangan Yu Wi terjulur kebawah, ia berdiri dengan mata terpejam, ia pikir jiwanya pasti melayang karena tusukan si nona tepat mengenai hatinya.
Pada pihak lain si nona menjadi sangat menyesal karena tidak berhasil menyelamatkan anak muda itu, Setengah pedang patah tetap menancap di ulu hati Yu Wi dan jelas pasti akan membinasakannya, segera ia merangkul tubuh bagian bawah Yu Wi sambil menjerit, "Oo, tidak, tidak boleh kau mati . . . ."
Tapi segera Yu Wi merasakan napasnya masih segar, tubuh juga tidak ada perasaan hendak roboh, waktu ia membuka mata, dilihatnya dengan jelas setengah potong pedang menancap di ulu hatinya, namun dirinya ternyata tidak mati, keruan ia bersuara heran dan berkata, "He, kenapa jadi begini?"
Si nona merangkul tubuh Yu Wi karena kuatir dia roboh, sekarang Yu Wi tidak roboh, sebaliknya malah bisa bicara, tentu saja ia terkejut dan cepat melompat bangun, teriaknya sambil menuding Yu Wi seperti orang melihat hantu, "He, kau . . . kau tidak mati? ,..."

"Ya, aku tidak mati?" jawab Yu Wi sambil menggeleng.
Ia mencabut kutungan pedang yang menancap di tubuhnya itu, dilihatnya ujung pedang berdarah kira-kira sepanjang satu inci saja. waktu ia meraba dada sendiri, akhirnya baru diketahui apa yang terjadi sesungguhnya.

"Ah. pedang nona hanya menancap sedalam satu inci saja di tubuhku," serunya dengan tertawa, "Untung nona sempat menguntungi pedang ini dengan Hi jong-kiam. kalau tidak, bila tertusuk lebih satu inci lagi tentu jiwaku sudah melayang."
Si nona menggeleng kepala, katanya dengan heran: "Tapi. . . tapi tidak cuma satu inci saja tusukanku itu, sedikitnya tiga inci dalamnya"

"Ya, tapi buku ini teraling di depan dadaku, pedangmu hanya menancap satu inci dalamnya." kata Yu Wi sambil mengeluarkan sejilid buku.
Buku itu tebalnya dua-tiga inci, di tengah buku tertusuk satu lubang. Rupanya kitab Pian-sik-sin-bian pemberian Yok ong-ya itu selalu dibawa oleh Yu Wi, jadi buku inilah yang telah menyelamatkan jiwanya, kalau tidak, bila ulu hati tertusuk pedang tiga inci, jelas dia sudah mati konyol.
Yu Wi lantas membuka baju dan membubuhi dengan obat, ucapnya dengan tertawa, "sudahlah tidak beralangan lagi. Ilmu pedang nona sungguh maha sakti, Cayhe mengaku kalah."
"Tidak, ilmu pedangmu lebih tinggi daripadaku, akulah yang kalah," ujar si nona.
Tadi Siau-mo mengira sang Siocia pasti akan binasa bersama musuh, sekarang ternyata tidak terganggu apa pun, diam-diam ia sangat mengagumi kecepatan bertindak Yu Wi. Ia pikir apa bila dirinya tentu urusan sudah runyam. semula dia tidak tunduk kepada Yu Wi, sekarang dia benar- benar tunduk lahir dan batin, mendadak ia berlutut dan menyembah kepada Yu Wi, katanya, "Budi kebaikan Kongcu, biarlah sia siau- mo mengucapkan terima kasih bagi siocia."
Cepat Yu Wi membangunkannya dan berkata. "Ah, mana Cayhe memberi kebaikan apa segala, sebaliknya Cayhe yang harus berterima kasih kepada Siocia kalian yang telah mengampuni jiwa ku"

Si nona tertawa, katanya, "sudahlah, kalian tidak perlu sungkan lagi. Kalau dibicarakan, akulah yang salah, tanpa sebab timbul ingin menangku, akibatnya hampir membikin urusan menjadi runyam. Pertandingan ini boleh dianggap seri, tapi Yu-kongcu telah mengalahkan sia siau-mo adalah fakta yang tak dapat dibantah, maka tentang kematian dua anak buah kami tidak perlu lagi dipersoalkan."
Cepat Yu Wi menjawab, "Tapi Cayhe telah salah membunuh anggota Pang kalian, secara moril aku harus bertanggung jawab, maka paling tidak harus kuberi ganti rugi kepada anggota keluarga korban."

Habis berkata ia keluarkan sisa uang emas yang berada pada sakunya dan disodorkan. si nona tidak menolak. Ia memberi tanda agar sia siau-mo menerimanya.

"Dan sekarang kami mohon diri saja," kata si nona kemudian, ia memberi tanda agar sia siau-mo kembali dulu ke kapalnya.
Dengan enteng sia siau-mo lantas melayang seperti burung dan turun di kapalnya yang terletak dua puluhan tombak jauhnya.
si nona tidak lantas ikut berangkat, ia mendekati Yu Wi, Hi-jong-kiam disodorkan kepada anak muda itu dan berkata, "Demi menyelamatkan diriku Yu-kongcu telah kehilangan senjata sendiri yang tercemplung kelaut, maka ingin kuganti senjatamu dengan Hi-jong-kiam ini."
Tadi karena terlalu keras Yu Wi menggunakan tenaga sehingga Hian-thi-kiam tersampuk jatuh kelaut, meski pedang itu terbuat dari kayu besi, tapi bobotnya tidak kalah dari pada pedang biasa, sekarang sudah tenggelam kelaut, untuk mencarinya jelas tidak mungkin, mau-tak-mau Yu Wi merasa meski pedang kayu itu tidak bernilai tinggi, tapi adalah tanda mata pemberian Ji Pek liong, pedang kayu itu terdiri sepasang, masih ada sebatang ditinggalnya Yu Wi kapada He Si yang berdiam di daratan sana.
Sekarang si nona baju merah rela menggantinya dengan Hi-jong-kiam yang tak ternilai harganya ini, Yu Wi menjadi rikuh untuk menerimanya, ia menggoyang tangan dan berkata, "Tidak. jangan, pedang itu kusampuk jatuh sendiri masa nona yang memberi ganti malah."

Dengan serius si nona berkata pula, "Jika tidak kau terima berarti kau tidak sudi bersahabat dengan diriku."
Terharu juga Yu Wi melihat ucapan orang yang serius itu, tapi ia tetap tidak mau menerima barang bernilai tinggi itu.
"Jika kau pasti tidak mau terima, barang yang sudah kuberikan tidak dapat kuterima kembali lagi .. . ." habis berkata, mendadak si nona melemparkan Hi-jong-kiam ke laut.
Cepat Yu Wi melayang ke sana menyusul cahaya pedang yang meluncur keluar kapal itu. Gerak tubuh Yu Wi ternyata lebih cepat daripada sambaran pedang pendek itu, Hi-jong-kiam sempat diraihnya, sekali ia menekuk tubuh di udara, segera ia melayang balik ke atas kapal.
Gerak langkah Hui-liong-poh yang tidak ada taranya ini betapapun tidak dapat dilakukan oleh si nona baju merah biarpun Ginkangnya lebih tinggi daripada Yu Wi, mau-tak-mau ia bersorak memuji, katanya, "Barang yang sudah kubuang bukan milikku lagi, hendaklah jangan Kongcu kembalikan padaku."
Setelah berdiri tegak memang Yu wi hendak mengembalikan pedang pendek itu kepada si nona, tapi karena ucapannya, terpaksa ia simpan Hi-jong-kiam, ia pikir watak nona ini benar-benar keras kepala, karena dirinya menolak. kontan pedang wasiat itu dibuangnya begitu saja tanpa pikir, kalau tetap tidak mau terima. bukan mustahil akan menimbulkan kemarahan si nona dan akan membencinya selama hidup.
Ia tidak tahu bahwa si nona sengaja melempar Hi-jong-kiam ke laut, sebab ia yakin Yu Wi mampu menyambar pedang yang dibuang itu, mengingat benda pusaka yang berharga, tentu anak muda itu tidak akan tinggal diam melihat pedang itu akan tenggelam ke laut.

"Meski pendek pedang ini, tapi dapat terbang dan melukai orang dalam jarak jauh, harap Kongcu menjaganya dengan baik, kuyakin dengan tenaga dalam Kongcu serta batang pedang yang ringan. tentu tidak sulit untuk meyakinkan kungfu yang lebih tinggi."
Yu Wi pikir anjuran si nona memang betul, dengan girang ia simpan pedang itu dan berkata, "Terima kasih atas kesudian nona menghadiahkan benda mestika ini."
"Hadiah apa?" ucap si nona, "Kau sendiri yang meraih kembali pedang yang telah kubuang dan tak dapat dikatakan aku yang memberikan padamu. Bicara tentang hadiah, aku memang pantas memberikan sesuatu padamu."
"Mengapa perlu memberikan sesuatu padaku?" tanya Yu Wi heran.

"Kan sudah kukatakan, jika dapat kau kalahkan Sia Siau-mo akan kuberi hadiah." kata si nona. "Tapi hadiah apakah yang pantas? Pendekar besar seperti dirimu tentu juga tidak menghendaki benda yang tak berarti. Ah, betul, biarlah kuberikan jasa baik padamu."

"Jasa baik?" Yu Wi menegas, ia heran jasa baik apa yang hendak diberikan si nona.
"Begini," tutur si nona, "tadi Auyang-siansing sudah menyatakan hendak mengganti rugi padaku dengan kapal ini, tapi rasanya tidak enak bagiku untuk menerima barang yang pernah digunakannya malang melintang di empat samudera ini, maka biarlah kuhadiahkan saja kapal ini kepadamu, kukira kau pun takkan sudi menerima kapal rongsokan ini, maka urusan selanjutnya terserah kepadamu. mau kau serahkan kembali kepadanya juga boleh, bila dia tidak terima jasa baikmu ini, boleh kau lubangi Kapal ini supaya tenggelam ke laut."
Tidak kepalang mendongkol Auyahg Liong-lian demi mendengar ucapan si nona yang menganggap kapalnya sebagai kapal rongsokan, diam-diam ia memaki, "Keparat sekalipun kapal Thi-bang-pang sendiri juga tak dapat menandingi kapalku ini, jika kapal ini dianggap rongsokan, maka tidak ada lagi kapal di dunia ini dapat dianggap baik." Didengarnya Yu Wi lagi menjawab, "Baiklah, kuterima jasa baikmu ini."
Ia pikir jika si tua bangka tetap tidak mau menyerahkan adik Jing, kapal ini akan kuhancurkan lebih dulu, kapal ini sudah menjadi milikku, tentu dia tidak berani merintangi apa yang hendak kulakukan.

"Yu-kongcu," kata pula si nona baju merah, "ada sesuatu permohonanku, entah engkau sudi menerima tidak?"
Yu Wi sangat berterima kasih atas bantuan si nona maka tanpa pikir ia menjawab, "Urusan apa, katakan saja. Asalkan dapat kulaksanakan pasti kuterima."

"Ada sesuatu persoalan sulit ayahku yang sukar diselesaikan, mohon Kongcu sudi berkunjung ketempat kami setahun lagi untuk membantu urusan ayahku itu"
"Baik," dengan ikhlas Yu Wi menjawab, "setahun kemudian pasti akan kukunjungi Pang kalian, cuma tenagaku tidak seberapa, apakah dapat membantu ayahmu atau tidak sukar kukatakan, apabila tiba saatnya nanti tak dapat kubantu, hendaknya nona jangan marah."
"Kukira asalkan Kongcu sudi berkunjung, kesulitan ayahku pasti akan dapat dibereskan dengan mudah." kata si nona dengan tertawa.

"Baiklah, setahun lagi pasti akan kumampir ketempat nona," kata Yu Wi.

"Terima kasih daa sekarang kumohon diri," kata si nona.
sebelum pergi, ia mendekati Auyang Liong-lian dan berkata padanya, "Jangan lupa Auyang-siansing. kapal ini sudah kuhibahkan pada Yu-kongcu, akupun berharap jangan kau persulit lagi Yu-kongcu, kitab pusaka Hian-ku-cip yang kalian katakan itu memang tidak berada padanya. Coba lihat, bukankah ini barang yang dimaksudkan kalian?"
Sembari bicara ia pun mengeluarkan satu jilid buku berkulit hitam, pada sampulnya tertulis tiga huruf kuno.
Auyang Liong-lian dapat membaca tulisan kuno, teriaknya kaget, "Ha, Hian-ku-cip"
Bab 4 : Rahasia si kembar Kan Ciau-bu dan Yu Wi
Secepat terbang ia terus menubruk kearah si nona. Tapi nona berbaju merah itu tenang-tenang saja, ketika tubrukan Auyang Liong-lian sudah dekat, mendadak ia angkat kitab yang dipegangnya dan "plok", dengan tepat pipi kiri Auyang Liong-lian tergampar.
Padahal Auyang Liong-lian adalah seorang maha-guru suatu aliran tersendiri, bukan kitab dapat dirampasnya, sebaliknya muka tergampar oleh si nona tanpa bisa mengelak, sungguh dia kehilangan muka. Hal ini pun memperlihatkan betapa aneh jurus serangan si nona sehingga Auyang Liong-lian tidak bisa berbuat apa-apa.
Segera kedua tangan Auyang Liong-lian meraih lagi, dengan kedua gerakan aneh ini ia yakin pasti dapat merampas kitab yang dipegang si nona.
Tapi kejadian aneh timbul lagi, tahu-tahu jejak si nona sudah hilang, waktu ia berpaling, nona itu sudah berada di atas kapalnya yang berjarak belasan tombak disebelah.
Betapa tinggi Ginkangnya dan betapa aneh gerakannya, tidak ada seorang yang dapat melihat cara bagaimana nona itu meninggalkan kapal ini.
Diam-diam Yu Wi membatin, "Langkah terakhir Hui-liong-pat-poh saja tidak seajaib Ginkang nona baju merah ini."
Begitulah kedua kapal Thi-bang-pang telah berlayar pergi secara beriring, kalau mau kapal Auyang Liong-lian yang cepat ini pasti dapat menyusulnya, tapi dia ternyata tidak memberi perintah mengejar, sebab sekali pun dapat menyusulnya, Auyang Liong-lian merasa tidak mampu merebut Hian-ku-cip itu. Ia pikir, "Kungfu dalam Hian-ku-cip benar-benar ajaib, biarpun Oh It-to hidup lagi juga belum tentu mampu mengalahkan nona tadi."
Auyang Liong-lian berdiri di haluan kapal dengan termangu-mangu, dilihatnya kapal si nona baju merah makin menjauh dan akhirnya menghilang dari permukaan laut, selama itu dia tidak memerintahkan kelasi menjalankan kapalnya.
Sesudah orang berpaling barulah Yu Wi berkata "Sekarang tentu takkan kau curigai kusembunyikan Hian-ku-cip. bukan?"
Auyang Liong-lian mengangguk tanpa menjawab.
"Nah, di mana Yap Jing?" segera Yu Wi bertanya.
"Dia baik-baik saja, asalkan kau jawab suatu pertanyaaaku segera kuberitahukan dimana dia," kata Auyang Liong-lian.
Sedapatnya Yu Wi menahan rasa gusarnya, katanya, "Pertanyaan apa, lekas katakan"
"Jika Hian-ku-cip tidak kau peroleh, mengapa tenaga dalammu mendadak bertambah lipat ganda?" tanya Auyang Liong-lian.
Yu Wi tidak perlu berdusta, dengan terus terang ia menjawab, "sebab kumakan sejenis ikan aneh dan tahu-tahu kekuatanku bertambah banyak."
Seketika timbul ketamakan Auyang Liong-lian, tanyanya pula, "Di mana terdapat ikan aneh begitu?"
"Maaf, tidak dapat kukatakan," jengek Yu Wi.
"Hehe, tidak kau katakan, akupun tidak mau omong," kata Auyang Liong-lian.
Tidak kepalang gusar Yu Wi, bentaknya, "Percumalah kau berumur setua ini, sudah berjanji tidak dapat dipercaya"
"Manusia hidup sudah tentu harus pegang janji" ujar Auyang Liong-lian tanpa kenal malu.
"Bagus, dan pertanyaanmu sudah kujawab, kenapa tidak kau katakan dimana beradanya Yap Jing?" kata Yu Wi.
Masih juga Auyang Liong-lian tidak mau mengaku.
Yu Wi menjadi gusar, katanya, "Jika tetap tidak kau katakan, segera kuhancurkan kapal ini."
Cepat Auyang Liong-lian berkata dengan tertawa, "Boleh juga kukatakan, tapi kapal ini tetap milikku." Ia pikir Giok-bin-sin-po pasti tahu tempat ikan aneh itu, sebentar lagi kan dapat tanya padanya.
"Huh, kau kira kunaksir kapal bobrok ini?" jengek Yu Wi. "Bagiku cukup sebuah perahu saja. bila kau serahkan Jing-ji, segera kupergi bersama dia dengan menumpang perahu."
Diam-diam Auyang Liong-lian bergirang, ia pikir jika orang mau pergi, tentu itu sangat baik. sudah diketahuinya ilmu pedang Yu Wi sangat mirip ilmu golok mendiang Oh It-to, jelas dirinya sukar menandinginya. Bila anak muda ini sudah pergi, kapal akan diputar balik menuju ke pulau tandus itu untuk mencari Ikan aneh, asalkan tenaga dalam sendiri sudah bertambah lipat, biarpun tidak menemukan Hian-ku-cip. tentu juga bukan lagi jago kalahan.
Maka dengan tertawa ia menegas, "Kau benar-benar akan meninggalkan kapal ini?"
"Huh, kau kira caraku bicara hanya kentut belaka seperti kau?" ejek Yu Wi.
Auyang Liong-lian pura-pura tidak mendengar sindiran itu, dengan gembira ia berkata, "Jika kau mau berangkat, akan kuberikan sebuah perahu kecil dengan perbekalan yang lengkap."
Yu Wi tidak sudi banyak omong lagi dengan dia, dengan kening berkerut ia mendesak, "Dimana adik Jing?"
Tiba-tiba Auyapg Liong-lian menuding sebuah tangkuban sekoci yaug terletak di sana dan berkata, "Di dalam situ."
Diam-diam Yu Wi memaki dirinya sendiri yang goblok. masakah tidak pernah berpikir tempat sembunyi yang terlihat di depan mata ini. cepat ia membalik sekoci itu dan benarlah dilihatnya Yap Jing tidur disitu, lekas ia membuka Hiat-to tidur si nona.
Yap Jing menguap. lalu bangun berduduk. ucapnya dengan tertawa, "Wah, lelap benar tidurku ini"
"Jing-ji, marilah kita pergi dari sini," ajak Yu Wi dengan suara lembut.
Kiranya Auyang Liong-lian sudah bersepakat dengan Giok-bin-sin-po, pada waktu subuh sebelum Yap Jing bangun tidur, nenek itu telah menutuk Hiat-to tidur si nona dan dibawa ketempat Auyang Liong-lian. semua ini diatur secara diam-diam sehingga Hana dan Kan Hoay-soan yang tidur bersama satu kabin juga tidak tahu kejadian itu.
Sungguh sayang, nama baik selama hidup Giok-bin-sia-po akhirnya dikorbankan hanya lantaran ingin mandapatkan Hian-ku-cip. sekarang setelah diketahui Hian-ku-cip benar-benar tidak ditemukan Yu Wi, ia menjadi rikuh untuk bertemu dengan anak muda itu, ia sembunyi di dalam kabin dan merasa kebetulan ketika didengarnya Yu Wi hendak meninggalkan kapal Auyang Liong-lian ini.
Kan Hoay-soan dan Hana juga mendengar ribut-ribut di atas, tapi daya pandengaran mereka tidak dapat mencapai jauh, mereka tidak tahu apa yang terjadi, hanya Giok-bin-siu-po saja yang dapat mendengar dengan jelas segala apa yang berlangsung di atas dek.
Setelah Yu Wi menceritakan apa yang terjadi Yap Jing berucap dengan menyesal, "Cio-locianpwe telah membantu kejahatan tua bangka itu, sungguh tidak pantas. Baik juga, biarlah kita pergi dari sini selamanya tidak perlu bertemu lagi dengan mereka."
Di sebelah lain Auyang Liong-lian sudah memerintahkan para kelasi menyediakan air tawar dan rangsum, dia berharap Yu Wi lekas pergi saja dari sini.
Setelah segala sesuatu tersedia lengkap. Yu Wi lantas berseru, "Cio-locianpwe, Wanpwe akan pergi"
Setelah sekian lama tidak melihat nenek itu muncul, tahulah anak muda ini bahwa orang pasti merasa malu. Tapi dia tetap menghormati nenek itu, ia pikir betapapun orang adalah guru Lau Yok-ci.
Di dalam kabin Hoay-soan dan Hana mendengar seruan Yu Wi tersebut, cepat mereka tanya Giok-bin-sin-po, "Toako hendak pergi kemana?"
Dengan sedih si nenek menjawab, "Dia dan budak she Yap itu hendak meninggalkan kapal ini."
Mendengar sang Toako hendak berangkat pergi, serentak Hoay-soan dan Hana memburu ke atas dek. tertampaklah sebuah sekoci sudah meluncur beberapa puluh tombak jauhnya. "Toako, Toako . .." Hoay-soan berteriak-teriak.
Meski dengar, tapi Yu Wi tidak menoleh sama sekali, sampai sekarang ia masih menyangka Hoay-soan dan Hana ikut berkomplot dengan Giok-bin-sin-po dan Auyang Liong-lian, ia pikir kalian toh tidak percaya kepadaku dan lebih percaya kepada Giok-bin-sin-po, maka boleh kau tinggal saja bersama dia.
Tapi alasan lain yang lebih tepat sebabnya Yu Wi tidak mau berpaling adalah karena dia ingin memutuskan hubungan baik dengan kedua nona itu, ia pikir hubunganku dengan Jing-ji sudah sedemikian jauh, selanjutnya tidak boleh lagi bergaul dengan perempuan lain.
Akan tetapi lantas teringat olehnya akan Ko Bok-ya, juga teringat pada Lau Yok-ci, bahkan terkenang kepada Lim Khing-kiok. Mendingan Lim Khing-kiok, asalkan Kan ciau-bu baik-baik terhadapnya, hidup mereka tentu akan beruntung. Tapi bagaimana dengan Ko Bok-ya? Dan bagaimana pula dengan Lau Yok-ci? Betapa pun ia tidak dapat melupakan Ko Bok-ya, lalu bagaimana nanti?
Jika Kan Ciau-bu jadi memperisteri Lim Khing-kiok, lantas bagaimana dengan Lau Yok-ci, si gadis penjinak singa yang pernah menyelamatkannya dan juga membuatnya tidak pernah melupakannya itu?
Sekoci itu terus laju ke depan dan makin jauh, arah yang ditempuh mereka adalah pulang ke Tionggoan, sebaliknya arah kapal Auyang Liong-lian justeru bertolak belakang dengan sekoci ini, mereka tidak pulang ke Tionggoan, tapi menuju ke arah Ho-lo-to.
Yap Jing paham urusan pelayaran, maka tanpa halangan dapatlah sekoci itu mencapai daratan Tionggoan dalam waktu kurang dari sebulan. sang waktu berlalu dengan cepat, tanpa terasa setengah tahun telah lewat.
Selama setengah tahun ini Yu Wi membawa Yap Jing berkelana mencari musuh yang membunuh ayahnya, dari selatan ke utara, beribu li jauhnya dijelajahinya. Tapi musuh ayahnya terlalu banyak, sukar ditemukan satu persatu.
Maklumlah, orang yang mengerubut ayahnya dahulu berjumlah ratusan dan terdiri dari orang berbagai aliran dan perguruan. Umpama ada yang ditemukan Yu Wi juga tidak dapat dibunuhnya begitu saja hanya lantaran mereke pernah ikut mengerubut ayahnya, lebih banyak yang dikalahkan olehnya dan berakhir sampai di situ saja. Dari musuh yang telah ditemukan diketahuinya bahwa musuh yang membunuh ayahnya sesungguhnya ialah Lim sam-han dari Hek-po.
Hal ini memang sudah berada dalam dugaan Yu Wi, ia pikir ayah dikeroyok beratus orang, tentu saja terluka parah dan sukar untuk bertahan, pada kesempatan itulah Lim sam-han telah menambahi sekali pukulan mematikan, maka setelah ayah menerjang keluar dari kepungan, sebelum ajalnya beliau telah menyebut nama Lim sam-han.
Maka untuk menuntut balas sakit hati ayah, orang yang pantas dibunuh hanya Lim sam-han saja seorang. Cuma sejauh ini belum lagi diketahui oleh Yu Wi sebab apa Lim sam-han mencelakai ayahnya, kalau orang lain beramai mengerubut ayahnya adalah karena mereka memang bermusuhan, hal ini masih dapat dimengerti, padahal selama ini diketahui Lim sam-han tidak ada permusuhan apa pun dengan ayah, untuk apa dia juga ikut mengerubuti ayah, malahan menjadi pembunuhnya?
Sudah beberapa kali ia bermaksud mengunjungi Hek-po di soasay untuk membikin perhitungan terakhir dengan Lim sam-han. sebab ia tahu, apabila sudah berhadapan dengan Lim sam-han, jelas orang pasti akan dibunuhnya.
selama setengah tahun, sekalian iapun berusaha mencari Jejak Ko Bak-ya. Tapi meski sudah dijalajahi hampir seluruh negeri, jejak nona Ko itu tetap lenyap tak berbekas, seolah-olah sudah meninggalkan dunia fana ini.
sampai akhirnya Yu Wi jadi putus asa, ia pikir tugasnya yang belum selesai haayalah membunuh Lim sam-han untuk membalas sakit hati ayah, selesai menunaikan tugas itu, dia akan meninggalkan dunia Kangouw dan mengasingkan diri
Tiba-tiba timbul semacam pikirannya, jangan-jangan Ko Bok-ya sengaja meninggalkan dunia Kangouw sehingga sukar untuk mencarinya? Sementara ia ke samping kan pikirannya untuk mencari Ko Bok-ya, ia pikir tugas menuntut balas harus dilaksanakan, sekalipun Lim Khing-kiok adalah puterinya, Lim sam-han tetap harus dibunuhnya.
Tapi sebelum dia menuju ke Soa-say, tiba-tiba suatu peristiwa telah menghalangi keberangkatannya. yaitu anak yang dikandung Yap Jing sudah mencapai sembilan bulan, tampaknya sudah dekat hari kelahiran sijabang bayi.
Ia pikir tugas utama sekarang adalah mengatur tempat bersalin Yap Jing, maka terpikir olehnya perlu satu rumah. Mendirikan rumah tangga memang bukan pekerjaan sederhana. Keadaannya sekarang sangat miskin, makan tiga kali saja menjadi persoalan, mana bisa mendirikan rumah tangga segala.
Tanpa terasa teringatlah olehnya rumahnya yang dibeli di Ji-he-san dahulu, disanalah He si berdiam Jika Yap Jing melahirkan dengan dijaga oleh He si, bukankah semua ini akau lebih baik.
Maka diputuskan berangkat ke sana, beberapa hari kemudian sampailah dia di Ji-he-san. Melihat kedatangannya. He si sangat gembira, dengan suka ria ia memandang Yap Jing sebagai majikan perempuan.
Yu Wi pernah meninggalkan harta benda cukup banyak pada He si, biarpun digunakan selama hidup juga takkan habis.
Sudah dua tahun tidak bertemu, kesehatan He si ternyata sangat terjaga, langkahnya enteng dan gesit, mungkin selama dua tahun ini dia tekun mempelajari kitab pusaka tinggalan Kan Yok-koan. kungfunya pasti banyak lebih maju.
He si tetap bertindak sebagai kaum budak, tapi Yu Wi tidak mau, malahan atas bujukan Yap Jing, akhirnya Yu Wi mengambil He si sebagai gundik agar nona itu tidak mengaku lagi sebagai budak.
Untuk para pembaca pendukung emansipasi dapat dijelaskan bahwa pada jaman feodal dahulu, beristeri banyak adalah jamak bagi lelaki yang mampu, bahkan lebih meninggikan derajatnya di mata masyarakat.
Yu Wi tidak ingin anaknya lahir sebagai anak haram, maka lima hari setiba di Ji-he-san ia lantas melangsungkan pernikahan secara resmi dengan Yap Jing dan sekaligus resmi mengambil He si sebagai isteri muda.
Tidak ada sebulan kemudian, jabang bayi lahir dengan selamat. Seorang anak laki-laki, putih dan montok, Yu Wi memberi nama Yu Ki-ya padanya. Artinya Yu mengenangkan Ya. Yakni sebagai kenang-kenangan terhadap Ke Bok-ya.
Pada waktu selamatan sebulan kelahiran anaknya, Yu Wi mengundang tetangga kanan-kiri sekedar mengadakan kenduri. Perjamuan diadakan belasan meja, lebih meriah daripada waktu pesta nikahnya.
Tengah bersuka ria dalam pesta itu, tiba-tiba pelayan masuk menyerahkan sebuah kotak sebesar satu kaki persegi dengan bungkusan indah. Pengantar kado tidak meninggalkan pesan apa-apa dan terus tinggal pergi.
Yu wi duduk diapit Yap Jing dan He si di kanan-kiri dengan hati gembira dan bahagia, ketika mendengar ada orang mengantarkan kado. tapi tidak meninggalkan sesuatu pesan, ia menjadi heran siapakah yang mengetahui dirinya tinggal mengasingkan diri di tempat ini?
Waktu kotak kado itu dibuka, isinya seekor singa-singaan yang terukir dari batu kemala putih, ukirannya sangat indah mirip singa hidup. Di dalam kotak hanya terdapat secarik kertas durian tulisan: "selamat lahirnya keponakan Ki-ya".
Keterangan lain tidak terdapat di dalam kotak kado itu, siapa pengirimnya juga tidak tertulis.
Tentu saja Yap Jing dan He si sangat heran padahal mainan singa kemala ini bernilai tinggi. jika mengantarkan kado sebagus ini kenapa tidak disertai nama dan alamat si pengirim?
Tapi mereka percaya pengirim kado ini pasti tidak bermaksud jahat. Hanya Yu Wi saja yang dapat menduga siapakah si pengirim kado itu ia yakin pasti Lau Yok-ci adanya, si nona penjinak singa.
Melihat singa kemala ini ia menjadi terkenang kepada Thian-ti-hu. suasana Thian-ti-hu terbayang kembali dalam benaknya, wajah Lau Yok-ci bahkan seolah-olah muncul di depan matanya.
Ia pikir Lau Yok-ci pasti sudah lama tahu dirinya tinggal di sini, kalau tidak masakah bisa menyediakan singa kemala ini dan diantarkan pada waktu kenduri sebulan lahirnya Ki-ya?
Tengah termenung, tiba-tiba terdengar He si berkata dengan tertawa, "Eh, dua hari lagi akan tiba hari Tiongciu (tanggal 15 bulan delapan, hari raya bulan purnama), apakah cici mahir membuat Gwepia (kue bulan)?"
"Aku hanya mahir makan. menanak nasi saja tidak bisa, apalagi membuat Gwepia?" jawab Yap Jing.
"Cici tidak bisa, aku malah pernah membuatnya," ujar He Si. "Dahulu waktu tinggal di Thian-ti-hu, setiap hari Tiongciu kami lantas sibuk membuat Gwepia, macam-macam jenisnya, ada yang berisi kacang hijau diberi kenari. ada kacang hitam diberi telur, ada yang berisi biji teratai yang gurih dan sebagainya . . ."
"Wah, banyak benar macamnya," kata Yap Jing.
"Ya, banyak sekali.sukar disebutkan satu persatu," sahut HeSi, "Biarlah besok juga kubuatkan untuk Cici."
"Tanya dulu kepada Tuan kita, Gwepia berisi apa yang disukainya," ujar Yap Jing dengan tertawa.
Waktu menoleh, dilihatnya sang suami sedang melamun, segera ia menegur, "He, kau suka makan apa?"
Yu Wi seperti tidak mendengar pertanyaan Yap Jing, ia masih termenung.
He Si lantas menarik lengan bajunya dan berkata, "Wi-ko, Cici lagi tanya padamu."
Baru sekarang Yu Wi sadar, tanyanya dengan bingung, "Urusan apa?"
Yap Jing tertawa, katanya, " Kutanya padamu Gwepia isi apa yang kau sukai?"
Yu Wi melangak sejenak. katanya kemudian, " Gwepia? Ah, aku tidak suka. o, tidak. maksudku bukanlah tidak suka makan Gwepia, tapi pada hari Tiongciu nanti aku tidak ada waktu untuk makan Gwepia."
"He, makan Gwepia saja tidak ada tempo, katamu?" tanya He Si heran.
"Ya, sebab tepat pada hari Tiongciu aku tidak dapat berada di rumah, aku harus pergi ke suatu tempat untuk menemui seorang. dan selang beberapa hari lagi baru dapat pulang, bahkan besok juga aku harus berangkat."
Yap Jing menjadi kurang senang, katanya, " Hari raya sepantasnya kita berkumpul bahagia di rumah, tapi kau justeru hendak keluar untuk menemui orang. siapakah yang hendak kau temui, masa tidak dapat dibatalkan atau ganti waktunya?"
"Tidak bisa, harus kutemuinya besok," jawab Yu Wi tegas. "Jika hilang kesempatan hari Tiongciu besok. terpaksa harus tunggu lagi pada hari Tiongciu tahun depan baru ada kesempatan menemuinya lagi,"
"Siapakah dia? Apakah pengantar mainan singa kemala itu?" tanya He Si.
"Bukan," jawab Yu Wi, "yang hendak kutemui bisa jadi ialah ibuku . . . ."
"Hah, ibu?" seru Yap Jing kaget.
Selama ini belum pernah didengarnya Yu Wi menyinggung ibunya, tapi sekarang mandadak sang suami hendak menemui beliau pada hari Tiongciu. sungguh kejadian yang aneh.
"Sebenarnya juga belum pasti ibuku," tutur Yu Wi dengan menyesal, "dari ayah kudengar ibu sudah lama meninggal dunia, kuyakin ayah tidak berdusta padaku. Akan tetapi dari berbagai indikasi yang pernah kulihat, dia terlalu mirip dengan ibuku. Ai, hanya pada hari Tiongciu nanti harus kutanyai dia sejelasnya, ingin kutanya padanya apakah kenal mendiang ayahku, jika kenal, besar kemungkinan dia memang ibuku."
Hari Tiongciu tahun yang lalu Yu Wi berlayar di lautan sana sehingga tidak sempat datang ke makam Thian-ti-hu, tapi tahun ini dia bertekad akan pergi ke sana untuk menemui wanita berbaju hitam yang setiap hari Tiongcu pasti berkunjung ke makam keluarga Kan itu.
Melihat dalam urusan ini masih ada hal-hal yang tersembunyi, selama ini He si sangat penurut kepada setiap kehendak sang suami, maka ia lantas berkata, "semoga orang yang akan ditemui kakak nanti benar-benar Popo (ibu mertua) adanya dan dapatlah kau ajak pulang kemari."
Mendengar ucapan ini. mata Yu Wi menjadi basah, ucapnya dengan lirih, "Dalam hati kuharap dia adalah ibuku, tapi . tapi sebaiknya bukan . . ."
Yap Jing merasa bingung oleh ucapan yang bertentangan itu, mestinya ia hendak tanya sebab musababnya, tapi dilihatnya He Si memberi tanda padanya agar jangan banyak bertanya, maka urunglah dia bicara lagi. Ia pikir sang Toako pasti menyimpan sesuatu yang sukar diceritakan dalam persoalan ini, jika ditanya mungkin akan menimbulkan rasa dukanya, maka iapun mengangguk kepada He Si sebagai tanda mengerti, dan tidak bertanya pula,
Selesai perjamuan, esoknya Yu Wi lantas berangkat meninggalkan rumah, dia hanya bilang akan pulang beberapa hari kemudian dan tidak menjelaskan tempat tujuannya,.
Yap Jing menggendong Ki-ya bersama Hesi mengantar keberangkatan Yu Wi hingga jauh. Maklumlah, sejak mereka menikah, belum pernah berpisah barang sedetik pun, sekarang mereka harus berpisah untuk beberapa hari, tentu saja terasa berat.
Malamnya Yu Wi bermalam di Yan-cu-ki. sebuah tempat pesiar yang terkenal ditepi sungai Yangtze, esok paginya ia membedal kudanya langsung menuju Thian-ti-hu di kota Kim-leng (Nanking sekarang).
Pada malam hari barulah sampai di tempat tujuan. Dia tidak ada waktu untuk mencari keterangan tentang keadaan Thian-ti-hu sekarang, juga tidak tahu apakah Kan Ciau-bu berada di rumah atau tidak. Ia pikir Lim Khing-kiok tinggal bersama disana, kalau Kan Ciau-bu ada tentu Khing-kiok juga ada.
Sebenarnya dia sangat ingin tahu keadaan Khing-kiok sekarang, apakah nona itu akan tetap baik kepada Kan Cau-bu bila diketahuinya anak muda itu ternyata bukan dirinya (Yu Wi) sebagaimana disangkanya semula.
Setiba di depan Ban-siu-ki, waktunya belum lagi tengah malam, tapi cahaya lampu di Ban-siu-ki sudah padam seluruhnya.
Yu Wi pikir Ban-siu-ki sebenarnya adalah tempat kediaman Kan-lohujin, Kan Ciau-geh (adik Ciau-bu) dan Kan Hoay-soan, sekarang Kan-lohujin dan Kan Ciau-geh telah dibunuh oleh Kan ciau-bu dan Hoay-soan berada bersama Giok-bin-sin-po, entah siapa lagi yang tinggal di sini?
Meski Ban-siu-ki berada di depan mata, tapi Yu Wi juga tidak sempat masuk ke situ, langsung ia menuju ke daerah terlarang Thian-ti-hu.
Alat perangkap yang terpasang di sekitar daerah terlarang itu belum berubah, tapi sudah tiga tahun lamanya sejak pertama kali Yu Wi datang ke situ, maka sekarang diperlukan pikiran dan tenaga serta wakiu cukup lama untuk bisa menerobos ke-18 perangkap itu.
Tepat pada malam hari Tiongciu, di bawah cahaya bulan purnama raya terang benderang Yu Wi memasuki tanah pemakaman itu dengan pelahan.
Suasana sunyi senyap. tidak ada suara dan juga sesuatu tanda pernah didatangi seseorang. ia menjadi sangsi apakah tahun ini si perempuan baju hitam tidak datang ke sini, atau mungkin sudah datang dan segera pergi lagi?
Yu Wi memandang sekeliling tempat itu, keadaan di tanah pemakaman itu tidak berubah, tapi mendadak dilihatnya ada sesuatu yang tidak betul, pada kedua sisi makam semula berdiri tiga batu nisan yang tinggi, entah sebab apa kini telah berkurang satu. Batu nisan yang hilang ini berdiri pada makam kedua disebelah kiri, batu nisan kuburan Kan Jun-ki, ayah Kan ciau-bu.
Heran Yu Wi, kemana perginya nisan kuburan Kan Jun-ki? Ia menjadi waswas kalau terjadi sesuatu, pelahan ia mendekat ke sana.
Dilihatnya pondasi batu nisan itu sudah hancur, dari bekasnya terlihat tidak seperti didongkel oleh orang, tapi lebih mirip dibetot secara paksa oleh seorang yang memiliki tenaga dalam yang sangat kuat.
Yu Wi jadi teringat kepada kejadian dahulu, setiap kali datang, perempuan berbaju hitam itu selalu bergumam dan berkomat-kamit di depan kuburan Kan Jun-ki. Apakah mungkin dia yang merusak nisan ini? Tapi mengapa nisan ini dirusaknya?
Jelas perempuan berbaju hitam itu sangat menghormat terhadap makam Kan Jun-ki, sebab itulah satiap hari Tiongciu dia berziarah kesini, jadi tidak mungkin dia merusak makam yang dipujanya sendiri sebab merusak kuburan orang adalah suatu tanda kebrutalan dan sangat tidak hormat terhadap yang mati. Dinilai dari tindak-tanduk Hek-ih-li atau perempuan baju hitam itu, tidak nanti dia melakukan tindakan yang tidak patut ini.
Yu Wi pikir pasti ada sebab lainnya, maka mulailah dia memeriksa lebih teliti. Tiba-tiba dilihatnya tidak jauh didepan sana ada bekas darah, ia terkejut, diikutinya bekas darah itu kebelakang makam, maka tertampaklah adegan yang membuatnya melenggong.
Dilihatnya seorang berjubah panjang telentang di atas tanah berumput, di sekitarnya darah berceceran, tidak perlu disangsikan lagi darah yang ditumpahkan orang berjubah panjang ini.
Begitu banyak dia tumpah darah, mungkin sudah mati. Dalam keadaan sunyi senyap ini Yu Wi tidak mendengar suara napasnya sama sekali.
Anehnya orang itu telentang dengan merangkul sepotong batu besar, batu itu sudah hancur berkeping-keping, salah sepotong batu yang pecah itu menutupi mukanya sehingga Yu Wi tidak dapat melihat jelas wajahnya.
Segera Yu Wi mengenali batu besar itu adalah nisan makam Kan Jun-ki. Ia menjadi heran ada permusuhan apakah antara orang ini dengan Kan Jun-ki, selain batu nisannya didongkel, juga dihancurkan sekalian.
Ia mendekati orang berjubah panjang, ia tidak tega melihat kematian yang mengerikan itu. sepotong demi sepotong pecahan batu nisan yang menimbuni tubuh orang itu disingkirkannya .
Orang berjubah panjang itu seperti sudah mati, tapi kedua tangannya masih merangkul erat-erat batu nisan itu, tampaknya kalau bisa dia ingin menghancurkan nisan itu menjadi bubuk. cuma sayang tenaganya tidak sampai, terlalu bernafsu ia mengeluarkan tenaga dan akhirnya dirinya sendiri tergetar mati.
Demikianlah mati matian orang berjubah panjang itu menurut perkiraan Yu Wi. Tapi pada waktu dia menyingkirkan pecahan batu yang menutupi muka orang itu, ternyata pendapatnya itu salah seluruhnya, bahkan ia melongo kaget.
Sebab orang berjubah panjang ini tenyata sudah dikenalnya, dia tak lain-tak-bukan ialah Su Put-ku, atau si tabib sakti yang berjuluk "Su-put-kiu" alias melihat orang mati pun takkan ditolongnya .
Su Put-ku adalah murid Wi-san-tayhiap Tan It-kong, meski ilmu silatnya tidak setinggi ilmu pertabibannya, hal ini sudah dialami sendiri oleh Yu Wi, namun serendah-rendahnya ilmu silat Su Put-ku juga sudah tergolong jago kelas satu. Dengan kemampuannya tentu tidak sulit untuk menghancurkan batu nisan itu, lebih-lebih tidak mungkin lantaran tidak dapat menghancurkan batu nisan itu. jiwa sendiri berbalik melayang jadi di balik kejadian ini tentu ada sesuatu yang belum terjawab.
Yu Wi coba meraba dada su Put-ku, tarasa masih rada hangat dan belum mati benar-benar. Dasar wataknya memang berbudi, segera timbul pikirannya untuk barusaha menolong su Put-ku sebisanya, Kalau dibicarakan sebenarnya Su Put-ku adalah musuhnya, tabib brengsek inilah yang telah memberi minum racun padanya, racun kronis yang baru akan bekerja dua tahun kemudian, lantaran itu hampir saja jiwa Yu Wi melayang.
Tapi Yu Wi tidak dendam terhadap perbuatan orang, kalau bukan su Put-ku, mana bisa dirinya pergi mencari Yok-ong-ya untuk minta pengobatan padanya, lalu dari mana pula dirinya bisa memperoleh ajaran ilmu. tabib yang maha hebat?
Apalagi jika teringat kedua kaki Ke Bok-ya hampir lumpuh karena racun hantu biru, untung telah ditolong oleh su Put-ku, kalau tidak. tentu jiwa Ke Bok-ya sudah amblas sejak dulu-dulu,
Begitulah yang terus dipikir Yu Wi hanya kebaikan Su Put-ku, makin dipikir makin besar tekadnya untuk menyelamatkan tabib eksentrik itu. Dalam pada itu si perempuan berbaju hitam yang ditunggunya masih juga belum muncul, ia pikir tahun ini mungkin orang takkan datang kemari. Meski dia sangat mengharapkan akan bertemu dengan wanita baju hitam, terpaksa urusan ini harus dikesampingkan untuk semtatara ini. biarlah kelak akan diselidikinya sebab apa tahun ini Hek sih-li tidak berziarah kemakam Thian-ti-hu.
Maka ia lantas mencurahkan perhatiannya untuk menyelamatkan su Put-ku. Ia coba memeriksa keadaan luka su Put-ku, diketahuinya keadaannya memang sangat gawat, napas sudah hampir putus, kalau bukan ketemu dirinya yang telah belajar ilmu pengobatan dari Pian-sek sin-bian, orang lain jelas sulit menyelamatkan dia.
Anehnya luka su Put-ku itu adalah karena pukulan seorang yang memiliki tenaga dalam maha kuat. Pukulan itu mengenai pundak belakang Su Put-ku, meski bukan tempat yang mematikan, tapi lantaran tenaga pukulannya teramat kuat sehingga membikin isi perutnya ikut terluka, untuk menyembuhkannya jadi agak repot dan makan waktu dan tenaga.
Bahwa dengan kepandaian Su Put-ku, bahkan mahir langkah ajaib Leng-po-wi-poh, tapi punggungnya toh terpukul oleh musuh dan terluka parah, maka betapa hebat kungfu musuh dapatlah dibayangkan.
Yu Wi terus berusaha menolong Su Put-ku semalam suntuk. sampai fajar menyingsing barulah jantung Su Put-ku terasa bergerak kembali, cuma denyut jantungnya sangat lemah, setiap saat ada kemungkinan akan berhenti berdenyut.
Apabila denyut jantung berhenti lagi, maka biarpun malaikat dewata juga sukar menolongnya lagi Dengan susah payah Yu Wi menyelamatkan dia, dengan sendirinya dia tidak mau mengalami kegagalan total.
la pikir dengan tenaga dalam dirinya sendiri yang maha kuat sekarang, tentu tidak berhalangan menyembuhkan luka Su Put-ku dengan bantuan tenaga murni.
Begitulah dengan sebelah tangan ia pegang Beng-bun-hiat di uban-ubun su Put-ku, tangan yang lain berturut-turut menutuk berbagai Hiat-to penting seluruh tubuh Su Put-ku. kerja keras hingga petang hari tanpa istirahat sedetik pun.
Sedikitnya sepuluh jam Yu Wi kerja keras, sehingga badan terasa lelah luar biasa seperti kehabisan tenaga, ia tahu bila diteruskan bukan mustahil jiwa sendiri yang akan melayang. Maka dia lantas berhenti, hanya sebentar saja ia lantas tertidur.
Setelah hari sudah terang benderang, Yu Wi terjaga bangun karena dahinya tertetes air dingin. ia mambuka mata dan cepat berduduk. Dilihatnya su Put-ku lagi duduk di sampingnya dengan tangan memegang sapu tangan yang basah, dengan lembut sedang memandangnya.
Melihat jiwa tabib eksentrik itu sudah tidak berhalangan lagi, Yu Wi sangat girang dan bertanya, "sudah sembuh engkau?"
Su Put-ku mencucurkan air mata, dia sangat terharu oleh perbuatan Yu Wi yang mulia itu, ia sendiri ahli pengobatan, dengan sendirinya ia tahu jiwa sendiri telah diselamatkan oleh anak muda itu. Maka dengan suara tersendat ia berkata, "Lekas berbaring saja, istirahat pula sejenak."
"Tidak apa-apa, badanku cukup sehat," ujar Yu Wi.
Tapi segera dirasakan mata berkunang-kunang dan kepala pusing, tubuhnya bergeliat dan hampir jatuh, mukanya menjadi merah, cepat katanya, "Wah, memang perlu berduduk sebentar lagi."
Maka mulailah dia bersemadi untuk mengumpulkan tenaga, sampai magrib barulah ia membuka mata. Dilihatnya Su Put-ku masih tetap berduduk di sebelahnya tanpa bergerak, jelas orang sudah seharian mendampinginya.
"Untuk apa kau menyerempet bahaya dan berusaha menyelamatkan diriku?" tanya su Put-ku.
Yu Wi tidak menjawab pertanyaan orang, tapi berkata dengan tertawa, "Entah bagaimana cara penyambuhanku, apakah terhitung boleh? Bagaimaaa perasaan cianpwe sekarang?"
Su Put-ku mengbela napas menyesal, katanya, "Jiwaku boleh dikatakan direbut kembali dari pintu akhirat olehmu, aku memang sudah sehat. Ai, aku berbuat tidak baik padamu, sebaliknya kau malah menyelamatkan jiwaku, sungguh aku malu hidup di depanku."
Yu Wi menggeleng dan berkata, "Aku sudah belajar ilmu pertabiban dan adalah kewajibanku menolong orang. Lagipula Cianpwe tidak berbuat tidak baik apa-apa padaku, andaikan ada juga harus kutolong, kalau tidak sia-sia belaka maksud tujuan Yok-ong-ya menurunkan Pian-sik-sin-bian kepadaku."
"Semula kudendam kepada susiok karena tidak memberikan kitab pusakanya kepadaku, tapi sekarang tampaknya orang pilihannya memang tepat." kata Su Put-ku. "Apa gunanya kitab pusaka itu diberikan pada ku jika ilmu yang kukuasai tidak kugunakan untuk menolong sesamanya, tapi hanya lantaran sedikit dendam pribadi pada masa lampau aku lantas bersumpah tidak mau menolong orang lagi. sungguh tidak patut perbuatanku ini." Habis berkata berulang-ulang ia menghela napas menyesal.
Jiwanya baru saja direbut kembali dari pintu akhirat, pandangan hidupnya sekarang berubah sama sekali, ia sangat menyesal kepala batunya yang tidak mau menolong orang, lantaran itu orang sama memberikan julukan "mati pun tidak ditolong" padanya. Padahal maksud sang guru mengajarkan ilmu pengobatan padanya adalah supaya ilmu itu digunakan untuk menolong sesamanya dan bukan untuk kepentingan sendiri saja.
Dahulu, apabila ada orang sakit datang minta pengobatan padanya, belum pernah dia memikirkan penderitaan si sakit, sekarang ia mengalaminya sendiri, jiwanya sudah di ambang pintu akhirat dan untung diselamatkan Yu Wi, bilamana dulu dirinya mau menolong orang sakit yang minta disembuhkan, tentu banyak korban yang tidak mati sia-sia. sekarang kalau diingat kembali, ia menjadi malu dan merasa berdosa, seakan-akan semua korban dibunuh olehnya.
Melihat Su Put-ku sangat menyesal, Yu Wi lantas membelokkan pokok pembicaraan. katannya "cianpwe, siapakah yang melukaimu? Apakah orang itu ada permusuhan besar denganmu?"
Su Put-ku menjawab dengan gegetun, "Tidak. dia tidak ada permusuhan apa pun denganku, bahkan kami adalah teman bermain sejak kecil, hubungan kami sangat erat. . . ."
"Hah, jika begitu mengapa dia bertindak keji ini dan tega melukai cianpwe separah ini apakah dia sesungguhnya?" tanya Yu Wi terkejut dan penasaran.
Dengan hati pedih su Put-ku menjawab. " Dia tak-lain-tak-bukan ialah sumoayku sendiri, si perempuan berbaju hitam yang pernah kau lihat di Siau-ngo-tay-san ketika kau bawa Ke Bok-ya meminta pertolonganku dahulu itu. Dan dia juga ibu kandungmu sendiri"
Sekujur badan Yu Wi bergetar seperti kena aliran listrik. seketika ia melonjak dan berteriak, "Apa katamu? Dia ibuku? Dia betul ibu kandungku?"
Su Put-ku menghela napas, katanya sambil mengangguk. "Ya, memang betul dia ibu kandungmu. juga ibu kandung Kan ciau-bu, Toakongcu dari Thian-ti-hu."
Keterangan ini membuat Yu Wi tambah terkejut dan bingung, ia menggeleng kepala dan berteriak. "Tidak. tidak mungkin ... tidak mungkin. . . ."
Betapapun ia tidak percaya Kan ciau-bu adalah saudaranya sendiri, sebab jelas diketahuinya ayah Kan ciau-bu ialah Kan Jun-ki, sedangkan ayahnya sendiri ialah Yu Bun-hu, mustahil ibu bisa mempunyai dua suami sekaligus. Mana mungkin ibunya berbuat poliandri.
Maklumlah, sudah sejak dahulu kala perempuan tidak bersuami dua, tertanam dalam pikiran umum, perempuan yang poliandri dipandang sebagai perempuan yang asusila. Dengan sendirinya Yu Wi tidak percaya ibunya sendiri adalah perempuan tidak baik.
Tapi bila dipikir lebih jauh lagi, apa bila benar Hek-ih-li atau siperempuan berbaju hitam itu memang ibu sendiri, maka dia pasti ada hubungan erat dengan Kan Jun-ki, hal ini terbukti setiap hari Tiongciu dia pasti berziarah ke makam Kan Jun-ki.
Bahwa Kan ciau-bu adalah putera Kan Jun-ki sudah bukan soal lagi, bahwa dia dan dirinya bermuka sangat mirip. bahkan juga serupa dengan Hek-ih-li jelas keduanya dilahirkan dari seorang ibu yang sama.
Semula Yu Wi menganggap persamaan wajah dirinya dengan Hek-ih-li dan Kan ciau-bu hanya secara kebetulan saja, sebab hal kebetulan demikian memang tidak sedikit di dunia ini. Tapi kalau dipikirkan sekarang, jika keduanya dilahirkan oleh satu ibu, pantaslah bila keduanya mirip sang ibu juga.
Makin dipikir Yu Wi tambah percaya dirinya memang bisa jadi bersaudara dengan Kan Cian-bu, maka hati Yu Wijuga tambah pedih, ia tidak tahu apa yang terjadi dahulu, sesungguhnya siapakah suami resmi ibunya?
Su Put-ku termenung sejenak. la memutuskan akan menjelaskan segenap duduk perkara yang sebenarnya kepada Yu Wi agar anak muda ini tidak menyangka ibu kandungnya sudah mati, padahal masih hidup. Maka ia lantas berkata, "Hiantit (keponakan yang baik), duduklah kau, biar kututurkan semua hal ikhwalnya kepadamu."
Panggilan "Hiantit" diucapkannya dengan rada kaku, sebab sebenarnya dia sudah tahu Yu Wi adalah putera sumoaynya sendiri, tapi dia tidak sudi mengakuinya, soalnya dia dan ayah Yu Wi ada sengketa pribadi, tapi sekarang setelah sebutan Hiantit diucapkan. maka sama artinya dendam pribadinya terhadap ayah Yu Wi telah dihapuskan sama sekali.
Meski Yu Wi takut mengetahui kisah hidup ibu sendiri, kuatir Su Put-ku bercerita tentang perbuatan ibunya yang tidak senonoh, namun demi mengetahui segala persoalan dengan sejelas-jelasnya terpaksa ia harus mendengarkan, ia tidak mau tertekan batin selama hidup dan selalu mengira ibu sendiri sudah meninggal. Ia lantas duduk di samping Su Put-ku dan mendengarkan ceritanya.
"Guruku juga kakek luarmu, Wi-san-tayhiap apakah kau tahu?" tanya su Put-ku lebih dulu.
Dari Yok-ong-ya sudah pernah Yu Wi mendengar cerita tentang suka-duka antara saudara seperguruan mereka, juga didengarnya dari Giok-bin-sin-po yang memuji kebijaksanaan Wi-san-tayhiap Tan It-kong, maka diam-diam Yu Wi sendiri juga sangat kagum kepada tokoh besar tersebut, tak disangkanya bahwa pendekar besar itu bukan lain daripada Gwakong atau kakek luar sendiri. Maka dengan menahan air mata terharu ia menjawab, "Ya. pernah kudengar dari Yok-ong-ya tentang Wi-san-tayhiap. tidak tahu beliau adalah Gwakong ku."
Su Put-ku menghela napas pelahan, katanya, "suhu sungguh tokoh yang hebat. Keluhuran budi beliau boleh dikatakan jarang ada bandingannya."
Diam-diam Yu Wi mengangguk setuju atas pujian Su Put-ku itu, ia pikir tidak usah urusan lain, hanya dalam hal kemurnian cinta Gwakong saja harus dipuji, waktu nenek mati, Gwakongnja tidak mau hidup sendirian dan lebih suka memenuhi kehendak Yok-ong-ya daripada membalas dendam.
Kemurnian cinta Gwakong itu hanya dapat dibandingi supek Lau Tiong-cu saja. Lau Tiong-cu menjaga layon sang istri yang sudah meninggal itu dan mengaku sebagai "Hoat-su-jin" atau orang hidup yang sudah mati. kemurnian cintanya itu sungguh jarang ada bandingannya.
Didengarnya Su Put-ku menyambung lagi ceritanya^ "Ilmu silat suhu dan ilmu pertabibannya terkenal sebagai dua macam kungfu yang khas, sayang bakatku kurang, aku hanya berhasil mempelajari ilmu pertabiban suhu, tentang ilmu silatku jelas selisih jauh dibandingkan ibumu, sebab kungfu suhu hampir seluruhnya telah dipahami olehnya."
"Pada waktu suhu wafat, umurku baru 16 dan sumoay cuma 12 tahun. suhu menurunkan kitab pusaka yang terisi kumpulan kungfu yang dipelajarinya kepada sumoay dan tidak kepadaku, tapi aku tak iri sedikit pun, malahan aku merasa kasihan dan sangat sayang kepada sumoay mengingat ayah-bundanya telah meninggal semua."
Yu Wi pikir, Put-ku memang sangat baik kepada ibu, padahal dia pernah cekcok dengan Wi-san-tayhiap berhubung kakek guru sekaligus memberikan padanya kitab pusaka ilmu silat dan pian-sik-sin-bian, akibatnya terjadi perang tanding di antara kedua saudara seperguruan. Tatkala mana bila Su Put-ku mau merebut kitab pusaka ibunya tentu bukan pekerjaan yang sukar mengingat waktu itu ibu baru berumur 12 dan tentu tikak sanggup melawannya.
Didengarnya Su Put-ku bertutur pula, "setelah kami sama-sama menanjak dewasa, sumoay tekun mempelajari kungfu tinggalan suhu, kepandaiannya makin lama makin tinggi, lambat-laun aku bukan tandingannya lagi. Namun hatiku tetap tidak menyesal sedikit pun, sebaliknya diam-diam kupuji bakat sumoay yang tinggi. Tak tahunya tanpa terasa aku sudah jatuh cinta kepada sumoay, makanya aku tidak iri kungfunya yang lebih tinggi dari padaku itu. Waktu sumoay berumur 20, dia tambah cantik molek. lantaran cintaku yang mendalam terhadapnya, kuanggap dia sebagai ratu, dalam segala hal aku suka mengalah padanya. Tak terpikir olehku bahwa lantaran ini sumoay berbalik memandang hina padaku dan meremehkan cintaku padanya. sesungguhnya aku pun tidak sesuai bagi sumoay, wajahku tidak Cakap, kungfuku juga lebih rendah, mana dapat kurebut hatinya. sebaliknya dia serupa kembang yang sedang mekar, akhirnya dia jatuh cinta kepada seorang lain dan meninggalkan tempat kediaman yang sudah 20 tahun kami kumpul bersama itu.”
“Waktu itu aku tidak tahu bahwa dia jatuh cinta kepada seorang, kukira dia menghilang dan berusaha mencarinya di dunia Kangouw, akan tetapi sebegitu jauh usaha pencarianku hanya sia-sia. setahun kemudian, mendadak sumoay pulang dengan wajah pucat dan lesu, setiba di rumah, satu patah kata pun sumoay tidak bicara, kutanya dia juga tidak dijawabnya, setiap hari hanya mengelamun saja seperti orang linglung. Tidak lama lantas kulihat dia sedang hamil. Tentu saja aku sangat masgul, hampir saja aku gila memikirkannya. Kutanya dia mengandung anak siapa, tapi dia tidak menghiraukan pertanyaanku. Lambat-laun pikiranku tenang kembali, kupikir peduli anak siapa, asalkan sumoay tidak menolak diriku dan mau kawin denganku, setelah anak itu lahir akan kuakui sebaggi anak sendiri Tapi ketika kulamar sumoay, dia justeru menolak. jelas dia tidak dapat melupakan ayah si orok dalam kandungan. Terpaksa aku menahan rasa pedih hatiku dan sabar menunggu bila suatu ketika sumoay akan berubah pikiran. Kupikir asalkan cintaku murni dan tulus, pada suatu hari mungkin sumoay akan terharu oleh kesesungguhan hatiku dan mau menikah denganku. Tidak terlalu lama genaplah sembilan bulan sepuluh hari, lahirlah si jabang bayi, Tapi sebelum genap sebulan usia si orok. pada suatu malam diam-diam sumoay meninggalkan rumah lagi. Padahal senantiasa kuawasi dia, kukuatir kehilangan dia lagi, maka begitu dia minggat segera kukuntit di belakangnya. Kuyakin dia pasti akan menyerahkan anak itu kepada ayahnya. Kira-kira hampir sebulan dalam perjalanan dan akhirnya tiba sampai di sini, di Thian-ti-hu yang termashur ini . .. ."
"Apakah anak itu ialah Kan cian-bu sekarang?" tanya Yu Wi.
Dengan rawan su Put-ku mengangguk, sambungnya, "Kulihat Thian-ti-hu sedang pesta pora, dimana-mana dihias dengan tenglong merah, jelas tanda keluarga yang sedang mengadakan pesta nikah. Kuheran siapakah yang menjadi pengantin baru? semula kukira sumoay buru-buru datang ke Thian-ti-hu untuk menikah dengan ayah si orok. tapi ketika kuawasi dia, kulihat air mukanya berubah hebat, dengan beringas dia terjang ke ruangan tengah, dimana upacara nikah sedang berlangsung. cepat kuikut masuk kesitu, betul juga kulihat ada sepasang mempelai sedang bersembahyang kepada langit dan bumi dan kedua orang tua. Yang perempuan berkerudung kain merah sehingga tidak kelihatan mukanya, pengantin lelaki kelihatan sangat gagah dan cakap. Padahal apa gunanya cakap kalau hatinya beracun, suka mempermainkan perempuan, manusia begini justeru pantas mampus."
Bercerita sampai disini, Su Put-ku tampak sangat marah sehingga matanya merah membara, apa yang disaksikannya masa lampau jelas sukar dilupakan olehnya.
Sejenak ia menutur pula, "Kulihat sumoay berdiri terkesima diruangan pendopo itu. Agaknya si pengantin lelaki dapat melihat kedatangan sumoay, air mukanya tampak berubah, cepat ia mendekati sumoay dan bicara padanya. Tapi sumoay tidak mau didekatinya, ia menaruh orok dilantai dan berseru, "Kan Jun-ki, ternyata kau jadi menikah, kau ingkar sumpah setia kita, tapi anak ini tidak boleh kau tolak. .."
Belum habis ucapannya sumoay segera ia berlari pergi dengan mendekap mukanya, Kan Jun-ki ternyata tidak tahu malu, ia berusaha mengejar sumoay. saking gemasku, segera kuhadang dia dan menjotosnya. Kubenci kepada perbuatannya yang telah merusak kesucian Sumoay, lebih kubenci lagi lantaran dia mengingkari janjinya kepada sumoay yang cantik itu, kupikir dalam hal apa sumoay tidak setimpal bagimu? Karena rasa penasaranku itu, aku menyerang dengan nekat, kalau bisa ingin kumampuskan keparat itu. Tak terduga kungfu Kan Jun-ki terlebih tinggi daripada ku, aku tidak mampu memukul dia sebaliknya aku malah tertutuk lumpuh dan ditawan oleh anak buahnya. Tapi aku tidak takut, kucaci-maki kebusukan Kan Jun-ki yang lebih rendah daripada hewan- Mendengar makianku itu, Kan Jun-ki berbalik memerintahkan anak buahnya melepaskan diriku serta menanyai aku, setelah diketahui siapa diriku, dia berusaha memberi penjelasan dengan ramah tamah, ia bilang atas perintah orang tua sehingga terpaksa dia tidak dapat menikah dengan sumoay sekali pun dalam hati sangat mencintai sumoay.
Tentu saja aku tidak percaya kepada ocehannya, apalagi setelah kulihat wajah si pengantin perempuan ternyata sangat cantik melebihi sumoay, pantas Kan Jun-ki berubah pikiran, rupanya dia memilih gadis lain yang lebih cantik, Dengan gusar aku lantas mencaci maki pula. . . ."
Yu Wi menghela napas, ucapnya, "Cianpwe, ayah Kan ciau-bu mempunyai alasan yang sukar dijelaskan waktu itu. Dia memang tidak dapat menikah dengan gadis keluarga lain, Cianpwe telah salah memakinya."
Dengan gusar Su Put-ku berkata, "Kenapa tidak boleh kumaki dia, sumoay telah menjadi korban perbuatannya yang rendah, masa tidak pantas kumaki dia?"
Yu Wi lantas menceritakan persahabatan antara Toa supek Lau Tiong-cu dengan ayah Kan Jun-ki, yaitu Yok-koan, dan di antara keduanya telah ada "janji rahasia" tentang perbesanan antara kedua keluarga.
Mau-tak-mau Su Put-ku jadi terharu oleh persahabatan antara Lau Tiong-cu dan Kan Yok koan itu, katanya, "pantaslah jika begitu, cuma Kan Jun-ki sudah tahu akhirnya pasti akan menikahi puteri keluarga Lau, kenapa dia menipu kesucian sumoay. Betapapun perbuatannya ini tetap harus dimaki."
Yu Wi pikir perbuatan Kan Jun-ki itu memang salah juga, tapi bila teringat perjodohan orang juga tidak dapat dipaksakan, Kan Jun-ki terikat oleh peraturan leluhur, bukan mustahil hatinya juga sangat menderita karena tak dapat menikah dengan gadis yang dicintainya."
Bab 5 : Siapa pembunuh isteri Yu Wi?
Didengarnya Su Put-ku kerkata pula, "Kucaci maki Kan Jun-ki habis-habisan sehingga satu kata saja dia tidak sempat bicara. Tapi dia juga tidak marah, kulihat dia pondong anak yang ditinggalkan sumoay itu dengan penuh kasih sayang, malahan mencucurkan beberapa titik air mata. Mau tak-mau hatiku jadi lunak. terpaksa aku pun minta dia menjaga anak itu dengan baik, lalu kutinggalkan Thian-ti-hu, Cepat kususul sumoay, kukuatir terjadi apa-apa atas dirinya. Di tengah jalan kutemukan seorang pendekar muda yang terluka parah oleh musuhnya dan menggeletak di tengah jalan.
Waktu itu ilmu pertabibanku telah bertambah maju sehingga timbul hasratku untuk menyelamatkan jiwa orang. segera kubawa orang itu pulang kerumah untuk merawat lukanya, sedapatnya aku berusaha berbuat bajik terhadap sesamanya."
Tergerak hati Yu Wi mendengar sampai disini, tanyanya, "Apakah orang yang terluka itu ialah ayahku?"
Su Put-ku mengangguk, sambungnya, "Setiba di rumah, cepat kulari masuk ke kamar Sumoay, ingin kulihat apakah dia sudah pulang belum. Tapi begitu masuk kamar, aku kaget luar biasa, kulihat Sumoay tak sadarkan diri di tempat tidur dengan mulut berbusa. Untung aku langsung pulang ke rumah sehingga masih keburu manyelamatkan jiwa Sumoay. satelah sembuh, berhubung racun sudab meluas, sarafnya jadi terganggu."
"Apakah racun telah menyerang otaknya?" tanya Yu Wi.
Su Put-ku mengangguk, ucapnya dengan sedih, "Ya, aku tidak mampu mengobati gangguan sarafnya, terpaksa kusaksikan hidup Sumoay dalam keadaan linglung. Seterusnya terkadang pikirannya jernih, lain saat linglung lagi. Pada waktu jernih, yang diketahuinya juga sangat sedikit, hanya giat belajar kungfu, tampaknya kejadian masa lampau yang melukai hatinya telah dilupakannya. Kupikir mendingan begitu, asalkan dia tidak berduka, setiap hari dapat kuhibur dia, kupikir pada suatu hari asalkan dia mau, tetap aku mau kawin dengan dia. Tak tersangka maksud baikku menolong orang semula telah mengakibatkan memancing serigala masuk ka rumah sendiri. ..."
Mendadak Su Put-ku merasa ucapan "memancing serigala" itu rada kasar, dengan kikuk ia pandang Yu Wi sekejap, melihat anak muda itu tidak menaruh perhatian dan tetap asyik mendengarkan. maka ia menyambung pula, "Yu Bun-hu .... Ayahmu, setelah lukanya kusembuhkan, dia lantas. tatirah cukup lama di tempat kami serta manjadi sahabat baik, bukan saja antara dia dan diriku, juga bersahabat karib dengan sumoay. Pada waktu pikiran jernih, tampaknya sumoay dapat bicara dengan sangat sepaham dengan dia, Tapi lama-lama kulihat gelagat tidak enak. sinar mata sumoay waktu memandangnya ada kelainan, lalu dapat kuketahui bahwa ada bagian tertentu raut wajah ayahmu rada-rada mirip dengan Kan Jun-ki. Rupanya sumoay belum dapat melupakan Kan Jun-ki, dengan sendirinya dia suka bergaul rapat dengan ayahmu. Kukuatir sumoay akan jatuh cinta kapada ayahmu, maka aku berusaha membuatnya pergi. siapa tahu, sumoay sendiri tidak manjadi soal, ayahmu berbalik jatuh cinta sungguh-sungguh terhadap sumoay, setelah pergi, setiap bulan dia pasti datang lagi untuk menjenguk sumoay. Ai, persoalan asmara di dunia ini sungguh tidak dapat dipaksakan, cinta memang buta Padahal sudah ada seorang nona cantik molek yang tergila-gila kepada ayahmu, tapi dia tidak mau, sebaliknya justeru jatuh cinta kepada sumoay yang linglung itu."
Yu Wi berdehem, lalu bertanya, "Kuku (paman, adik ibu), nona yang tergila-gila kepada ayahku itu apakah Him Kay-hoa adanya?"
Timbul parasaan aneh Su Put-ku karena panggilan "Kuku" itu. jawabnya, "Ya, memang betul Him Kay-hoa, tapi ayahmu tidak suka padanya melainkan cinta kepada sumoay. Beberapa kali aku melamar sumoay dan tidak pernah dihiraukannya, tapi tahun berikutnya ketika ayahmu melamar padanya, dengan gembira dia menerimanya, cuma pada waktu sumoay menerima lamarannya kelihatan sangat aneh sikapnya. Kuberi nasihat kepada ayahmu agar jangan menikahi sumoay ku, antara lain mengingat kebahagiaannya kelak. Dengan sendirinya sebagian juga karena rasa egoisku, dengan terus terang kubeberkan kejadian masa lalu mengenai sumoay, juga kuberitahu tentang penyakit linglungnya. Akan tetapi ayahmu tidak goyah pendiriannya.
Karena ayahmu tidak dapat menerima bujukkanku, saking gemas aku berkelahi dengan dia. siapa tahu kungfunya terlebih tinggi daripada Kan Jun-ki dan tak dapat kutandingi dia. sebulan kamudian ayahmu jadi menikah dengan sumoay. sungguh aku sangat berduka. akupun sangat penasaran. sungguh cari penyakit sendiri, apabila aku tidak menolong ayahmu waktu dia tergeletak di tepi jalan, tentu dia takkan kenal sumoay dan pasti juga takkan timbul peristiwa ini, bisa jadi pada akhirnya sumoay akan kawin denganku. Rupanya terlalu mendalam cintaku kepada sumoay, aku menyatakan pada suatu hari kungfuku akan melebihi ayahmu dan akan kutuntut sakit hati perebutan isteri ini. soalnya waktu itu kudusta pada ayahmu bahwa aku dan sumoay sudah dijodohkan sejak kacil. Habis itu aku lantas mengasingkan diri di siau-ngo-tay-san, aku tidak mau menerima tamu mana pun, lebih-lebih pantang menerima pesien yang minta obat padaku. setiap hari aku giat berlatih, kuyakinpada suatu hari setelah kungfuku jadi, akan kutantang ayahmu untuk duel.
Sebelum kungfuku jadi ternyata ayahmu sudah meninggal. Tempo hari aku menjadi sangat benci padamu ketika kau datang ke siau-ngo-thay-san, sebab kau anak Yu Bun-hu, juga sangat mirip sumoay, melihat dirimu lantas menimbulkan rasa dendamku. Kudengar kau bilang ibumu sudah meninggal, tak tahunya dia masih hidup di dunia, hal ini membuat kuheran dan bertekad akan menyelidiki keadaan sumoay sebab apa dia meninggalkan ayahmu dan mengapa ayahmu juga dikatakan sudah meninggal?
Maklumlah, sejak sumoay menikah dengan ayahmu, lalu tidak pernah kulihat mereka lagi. Kumaklum kungfuku belum dapat menandingi ayahmu, jika kutemui mereka, selain menambah hati duka, bila berkelahi dengan ayahmu juga pasti kalah dan tambah terhina. sebab itulah aku tidak pernah bergerak di dunia Kangouw sehingga apa yang terjadi diluar juga tidak kuketahui. Hanya pada tahun ketiga setelah aku mengasingkan diri kudengar Kan Jun-ki telah mati dibunuh musuhnya, tapi tidak tahu siapa musuh yang membunuhnya itu."
"Apa katamu? Kematian Kan Jun-ki dibunuh oleh musuhnya?" Yu Wi juga kaget.
"Ya, peristiwa ini sangat menggemparkan waktu itu," kata Su Put-ku. "Kemudian urusan ini pun dilupakan oleh orang Kangouw, agaknya keluarga Kan tidak mau memberitahukan kematian Kan Jun-ki itu dibunuh musuh melainkan memberi keterangan bahwa kematiannya adalah karena sakit. Akan tetapi ada orang yang menyaksikan kematian Kan Jun-ki itu adalah dibunuh musuh, hal ini tidak mungkin omong kosong. Malahan kusangsikan orang yang membunuhnya ialah ayahmu."
Yu Wi menggeleng, katanya, "Tidak.. ayah tidak nanti membunuh Kan Jun-ki, sebab . . . sebab tidak ada alasan .. .."
Tapi ia menjadi ragu sendiri ketika menyebutkan tidak ada alasan, diam-diam ia membatin sebab apa terbunuhnya Kan Jun-ki sengaja tidak disiaarkan oleh keluarga Kan? Tentu ada latar belakang yang merugikan nama baik keluarga Kan, hanya ayah yang membunuh Kan Jun-ki, maka keluarga Kan tidak suka menyiarkan kejadian yang sebenarnya, sebab ...."
Berpikir sampai disina, hati Yu Wi menjadi pedih.
Didengarnya Su Put-ku lagi berkata, "Aku memang curiga, tapi sekarang dapat kupastikan orang yang membunuhnya memang ayahmu, kepastian ini meski tanpa bukti, tapi dianalisa dari berbagai kejadian, kuyakin pasti tidak salah".
Sampai disini, Su Put-ku pandang Yu Wi sekejap seakan-akan kuatir anak muda itu akan merasa tidak enak. maka tidak diceritakannya dasar analisanya.
Yu Wi berpikir sejenak, demi mengetahui duduk perkara yang jelas, bertanyalah dia, "Bolehkah pendapat Kuku diceritakan padaku?"
"Kuharap kau jangan sedih setelah mendengar ceritaku," kata Su Put-ku "sebab suka-duka diantara mereka sangat sukar dipastikaa siapa yang benar dan siapa yang salah, betapa pun kita tidak dapat memutuskan begitu saja."
"Hal ini cukup kumaklumi," ujar Yu Wi, "sebagai seorang anak. mana boleh kunilai salah atau benar perbuatan orang tua?"
"Jika demikian, jadi sedikit banyak juga sudah dapat kau raba duduknya perkara, bukan?" tanya Su Put-ku. Yu Wi mengangguk,
Su Put-ku lantas berkata pula, "Ketika di siau-ngo-tay-san dapatlah kupastikan Hek sih-li itu ialah sumoay, tapi kulihat ilmu silatnya telah bertambah tinggi, sebaliknya pikirannya juga tambah keruh, sampai-sampai aku saja tidak dikenalnya lagi. Kau adalah anaknya, waktu mendengar namamu, dia juga tidak kenal, di dunia ini masakah ada ibu yang tidak kenal anaknya sendiri? Hanya kalau bagian otak mengalami gangguan, kalau tidak masakah anak kandung sendiri tidak dikenalnya lagi?"
Tiba-tiba Yu Wi menghela napas dan berkata."Bukan ibuku tidak kenal diriku lagi, soalnya otaknya terganggu sehingga tidak kenal lagi siapa pun, hanya secara naluri ketika melihat diriku, dirasakannya ada hubungan erat dengan diriku, maka beberapa kali dia berusaha menyelamatkan diriku."
"Cara bagaimana ibumu telah menyelamatkan dirimu?" tanya Su Put-ku.
Yu Wi lantas menceritakan pengalamannya ketika bertemu dengan perempuan berbaju hitam itu.
"Jika demikian, pada waktu pertama kali dia memisahkan adu pukulanmu dengan gurumu tentu sudah dirasakannya kau pasti ada hubungan erat dengan dia," kata Su Put-ku.
"Ya, kalau tidak. mustahil bisa terjadi berulang secara kebetulan?" ujar Yu Wi. "Beberapa kali kualami bahaya dan tepat pada waktunya dia datang menolong diriku, seakan-akan sejak pertemuan disini, diam-diam ia lantas selalu menguntit di belakangku."
Su Put-ku manggut-manggut, katanya, "Aku curiga apa sebabnya penyakit sumoay bisa bertambah buruk, pantasnya, setelah menikah mestinya hidup bahagia dan tidak tambah buruk. Lantaran ingin kuselidiki apa yang terjadi, pula demi kepentingan sumoay, maka sering kuturun dari siau-go-tay-san untuk mencari jejak sumoay, siapa tahu jejak sumoay sangat sukar diikuti, terkadang muncul sekejap kemudian lantas menghilang entah mana."
Diam-diam Yu Wi membatin, "Kecuali dalam bulan ketujuh dan kedelapan, waktu selebihnya dia tinggal di Mo-kui-to, tentu saja sukar dicari."
Didengarnya Su Put-ku berkata pula, "Ketika bertemu denganmu di toko obat milik Susiok di Lamleng tempo hari, barkat portolonganmu sehingga puteri Mo-kui-tocu menyuruh anak buahnya menghilangkan obat bius yang dicekokkan padaku. Sesudah kupergi, sambil mencari jejak Sumoay aku pun terus pulang ke Siau-ngo-tay-san. Di tengah jalan kebetulan kutemukan jejak Sumoay, tapi tidak dapat kususul dia. Aku coba tanya seorang teman yang serba tahu dan mendapat keterangan jalan-jalan yang sering dilalui Sumoay pada setiap antara bulan tujuh dan delapan-"
Yu Wi membatin, "Apa yang terjadi ini tentu peristiwa tahun yang lalu, waktu itu aku berada di Mo-kui-to, kalau tidak, tentu hari Tiongciu tahun yang lalu sudah dapat kutemui ibu di sini."
"Sebab itulah dalam bulan enam tahun ini aku lantas datang menunggu di tempat yang biasa dilalui Sumoay," demikian tutur Su Put-ku pula. "Benar juga, pada akhir bulan ketujuh dapat kulihat Sumoay, diam-diam aku lantas mengintil dibelakangnya, tidak berani kutemui dia secara mendadak. Kulihat perjalanannya tidak teratur, tidak menumpang kereta, juga tidak menunggang kuda, ia berjalan sendirian, terkadang berhenti di suatu tempat satu-dua hari, lalu melanjutkan perjalanan lagi ke selatan, jelas kelakuannya masih belum sehat. Baru dua-tiga hari sebelum Tiongciu kami sampai di Kimleng sini, maka pahamlah aku Sumoay pasti akan mengunjungi Thian-ti-hu. Kupikir Kan Jun-ki sudah lama mati, untuk apa pula dia datang ke sini? Tanpa arah tujuan dia bergadang sehari semalam di Kimleng, pada malam Tiongciu, benariah ia datang ke Thian-ti-hu, dengan hati-hati aku terus menguntit dia dan menyusuri hutan yang berbahaya itu. Kupikir tempat ini pasti sangat banyak alat perangkapnya, entah mengapa Sumoay sedemikian apal pada tempat ini, jangan-jangan dahulu sering datang ke sini? Tak kuduga, dibalik hutan sini adalah tempat pemakaman keluarga Kan yang sangat luas, setelah lihat kuburan ini segera kutahu maksud kedatangan sumoay adalah hendak berziarah. Kupikir sumoay benar-benar sangat mencintai keparat Kan Jun-ki. sudah mati sekian tahun, pikiran sumoay juga linglung, tapi belum lagi lupa akan berziarah kemakamnya.
Karena itulah rasa benci dan dengkiku tarhadap Kan Jun-ki bertambah pula, kupikir ada kebaikan apa Kan Jun-ki terhadapmu sehingga tidak dapat kau lupakan dia. Kalau aku jelas tidak masuk hitungan, tapi apakah ayahmu juga tidak melebihi Kan Jun-ki? Kulihat pada waktu berziarah di depan makam, betapa khidmat sumoay berdoa dan betapa besar mencurahkan perasaan cintanya terhadap Kan Jun-ki, sungguh aku tambah gemas dan benci. Kupikir aku masih hidup dengan baik, juga teman bermain sejak kecil dan sesama saudara seperguruan, tapi tidak kau ajak bicara padaku, sebaliknya berkomat-kamit kepada nisan orang mati. Padahal hubungan mereka paling-paling juga cuma setahun lamanya, masakah kebaikan setahun dapat melebihi hubungan kita selama puluhan tahun ini? Makin kupikir makin gemas, saking tak tahan, tanpa terasa kulompat kedepan makam dan berkata kepada sumoay, "Ada urusan apa boleh kau bicarakan saja dengan orang hidup seperti diriku ini, untuk apa bicara dengan batu nisan mampus ini?" -Kulihat dia memandang diriku separti orang yang tidak kenal, katanya, "Siapa kau? Lekas pergi, jangan berdiri di sini, masih banyak urusanku yang belum kuselesaikan" "Urusan apa yang belum selesai? orang sudah mati, apanya yang perlu dipikirkan? orang hidup seperti diriku ini apakah bukan orang? Masakah kalah dibandingkan orang mati? Pikir punya pikir, hatiku tambah panas, sekali depak kurobohkan batu nisan itu, kupikir nisan akan kuhancurkan, ingin kulihat apa yang dapat kau lakukan lagi? Kubenci kepada nisan yang lebih berharga dikenang sumoay daripada orang hidup seperti diriku ini. segera kuangkat nisan itu hendak kubuang ke sungai. sumoay tertegun melihat nisan kudepak roboh. ketika melihat nisan hendak kubawa pergi, segera ia berteriak. "Jangan, jangan dibawa pergi, taruh di sini" -Dari suaranya yang cemas dan penuh rasa khawatir itu, benciku tidak kepalang dan hampir saja tumpah darah. Tekadku tambah besar untuk menghancurkan batu nisan itu untuk menyelamatkan sumoay yang buta itu. Mendadak kurasakan sumoay memburu maju sekali hantam punggungku terpukul olehnya. sungguh lihai tenaga pukulannya, kontan aku roboh terjungkal dan tumpah darah, sambari menyemburkan darah aku berteriak. Bagus, bagus, pukul saja, cintaku pun putus oleh pukulan ini Melihat kutumpah darah, sumoay manyingkap rambut panjang yang menutupi mukanya itu dan kelihatan terkejut luar biasa. tapi mendadak ia berteriak pula, Jangan berkelahi, jangan . ... -Dengan heran kupikir siapakah yang dia minta jangan barkelahi lagi? Kau sendiri yang memukul diriku, bilakah pernah kuberkelahi? Tapi aku tidak sempat berpikir banyak. darah terus tersembur keluar dari mulutku, badanku menjadi lemas dan rasanya sudah setengah mati, Aku tidak sanggup berdiri, aku merangkak dan merangkak lagi, tapi sumoay tidak merintang iku. sebelum mati harus kubuang batu nisan itu. Tapi setelah merangkak sampai dibelakang makam, aku tidak kuat lagi. Kupikir kalau batu nisan ini tidak dapat kubuang kesungai, sedikitnya harus kuhancurkan hingga menjadi bubuk agar selanjutnya sumoay tidak dapat bicara padanya. Tapi kekuatanku sudah buyar, mana dapat kuhancurkan batu nisan sebesar itu menjadi bubuk. aku hanya mampu membuatnya hancur berkeping-keping, dan karena mengeluarkan tenaga pula, kutahu riwayatku pasti tamat, kecuali malaikat dewata sukar lagi jiwaku tertolong. Pada saat jiwaku hampir melayang itulah, tiba-tiba kudengar sumoay menangis tergerung- gerung ingin kulihat apa yang ditanngisinya, tapi tidak dapat kulihat. Kudengar sambil menangis dia juga sambatan seperti anak kecil, katanya, Koh Jun-ki sungguh mengerikan kematianmu, aku akan... akan membalaskan sakit hatimu, tapi...tapi, tidak dapat. Diam-diam aku sangat heran, kupikir sumoay tahu kematian Kan Jun-ki yang mengerikan, tentunya dia menyaksikannya sendiri dan pasti tahu jelas siapa musuh yang membunuh Kan Jun-ki itu. mengapa dia tidak dapat membalaskan sakit hati Kan Jun-ki? Jangan-jangan pembunuh itu adalah seorang familinya yang terdekat sehingga balas dendam tidak dapat dilakukannya? Tapi kecuali diriku dan suaminva, setahuku sumoay tidak mempunyai sanak keluarga lain. Jelas bukan aku yang membunuh Kan Jun-ki, jika begitu pasti suaminya yang membunuh sehingga tidak dapat membalaskan sakit hati Kan Jun-ki. Tapi sebab apakah ayahmu membunuh Kan Jun-ki. sungguh aku tidak mengerti. Kudengar sumoay lagi menangis pula dan berseru, "Kau sudah mati sekarang, aku tidak akan menggubris dia lagi, meski tidak dapat kubalaskan sakit hatimu, tapi selanjutnya dia juga takkan hidup bahagia. . ."
Mendengar sampai di sini, kuyakin pembunuh Kan Jun-ki itu pasti ayahmu adanya. si "dia" yang dimaksudkannya itu pasti ayahmu, berbareng itu akupun paham sebab apa ayahmu bilang padamu bahwa ibumu sudah meninggal karena sakit. Bukan maksud ayahmu sengaja mengutuk ibu mu, soalnya ibumu tidak menghiraukan dia lagi, saking berduka ia anggap ibumu sudah mati, Kutahu ayahmu sangat mencintai sumoay ku, jika ibumu tidak dianggap sudah meninggal, tentu ayahmu tidak tahan hidup lagi menyaksikan ibumu sebenarnya masih hidup. Dalam sekejap itu aku tidak dendam lagi kepada ayahmu, sebaliknya aku masih bersimpati kepadanya. selama hidup sumoay hanya mencintai Kan Jun-ki seorang, sumoay mau menikah dengan ayahmu hanya sebagai pembalasan saja terhadap Kan Jun-ki, sebab Kan Jun-ki tidak menikahi dia melainkan kawin dengan gadis yang lain. Korban pembalasan sumoay itu hanya secara kebetulan terjadi atas diri ayahmu, jika tidak kuselamatkan ayahmu dan kubawa pulang sehingga ayahmu jatuh cinta kepada sumoay, maka korban pembalasan sumoay cepat atau lambat pasti akan terjadi atas diriku. Coba kalau aku tidak menolong ayahmu. dengan Lwekang ayahmu yang tinggi belum tentu dia akan mati dan mungkin dapat menyembuhkan diri sendiri, lalu kawin dengan Siu-lo-giok-li Him Kay-hoa yang mencintainya, maka hidupnya pasti akan bahagia. Tapi akhirnya dia kawin dengan sumoay dan menjadi korban pembalasan sumoay. Padahal korban itu seharusnya diriku, jadinya ayahmu mewakilkan diriku. Rasa dendamku kepada ayahmu sungguh tidak patut, sebaliknya aku harus menyesal dan terharu mengingat nasib ayahmu itu. seorang Kalau menikahi seorang perempuan yang tidak pernah mencintainya. kukira akan lebih baik tidak kawin saja. Kalau tidak. siksaan batin selama hidup pasti sukar terhindarkan."
"Sekalipun begitu ayah rela menanggung penderitaan batin itu," kata Yu Wi tiba-tiba. "Menurut pendapatku, sebelum ayah meninggal, beliau masih juga belum melupakan ibu . . ."
"Dari mana kau tahu ayahmu rela menanggung penderitaan batin?" tanya Su Put-ku.
"Tentang ibu tidak menghiraukan ayah lagi, berita ini dengan cepat dapat didengar oleh Him Kay-hoa, rupanya dia tidak pernah melupakan ayah, maka dari jauh ia berkunjung ketempat ayah dan berusaha menghiburnya," demikian tutur Yu Wi, "Apabila ayah tidak mau menanggung penderitaan batin karena ditinggalkan isteri, tentu dia akan berbaikan dengan Him Kay-hoa. Namun ayah telah berkata kepada Him Kay-hoa bahwa ibu telah meninggal dan bukan meninggalkan ayah. Meski ibu meninggal, tapi cinta ayah kepadanya masih tetap abadi. semua ini menandakan biarpun ayah menganggap ibu sudah meninggal, tapi senantiasa masih memikirkannya . . . ."
"Jika begitu, tindakan sumoay jadi lebih-lebih tidak patut lagi," kata Su Put-ku. "Ayahmu sedemikian cinta padanya, mengapa dia berbuat begitu. Kebahagiaan tidak diterima, sebaliknya mencari cinta yang tidak bisa diperolehnya."
"Di mana perbuatan ibu yang dianggap tidak patut?" tanya Yu Wi.
"Kau tahu, sebelum aku tak sadarkan diri, sempat kudengar sumoay menangis dan berkata, Jun-ki, lihatlah betapa bulat bulan di atas langit. Hari ini adalah hari pertemuan kita, tidak nanti kulupakan hari ini setiap tahun, selanjutnya tetap akan kujenguk kau papa setiap hari Tiongciu ini .... Dalam keadaan sekarat, ternyata benaknya dapat berpikir dengan jernih. Kupikir apa yang dikatakan itu tentu disangkanya Kan Jun-ki baru saja mati seperti kejadian di masa lampau. Karena kudepak roboh batu nisan, maka sumoay mengira Kan Jun-ki telah kubunuh, atau dengan perkataan lain aku telah dipandangnya sebagai ayahmu. Bahwa disinilah ayahmu membunuh Kan Jun-ki, lalu sumoay menyangka batu nisan Kan Jun-ki sebagai orangnya yang masih hidup, ketika kudepak roboh nisan yang dianggapnya orang hidup itu, maka adegan terbunuhuya Kan Jun-ki oleh ayahmu di masa lampau lantas terbayang kembali olehnya. sebab itulah sumoay berteriak jangan berkelahi, jelas ucapan ini diserukan untuk melerai pertarungan ayahmu dengan Kan Jun-ki. Aku memang lagi heran setelah aku dipukul satu kali olehnya, mengapa dia tidak manyerang lebih lanjut untuk merampas kembali batu nisan yang kuat ini. Rupanya dia menganggap diriku sebagai ayahmu, makanya tidak menyerang lagi. Kemudian. ia sesambatan dalam tangisnya. apa yang diucapkannya serupa dengan perkataanya dahulu, setelah dia menyatakan akan tetap menjenguknya pada setiap hari Tiongciu lalu sarafnya terganggu sehingga hilang ingatan, segala kejadian masa lampau terlupakan seluruhnya. Yang teringat hanya setiap hari Tiongciu akan datang menjenguk Kan Jun-ki. Dan setelah dia mengucapkan kata terakhir itu, dia lantas tinggal pergi. aku sendiri juga lantas jatuh pingsan, tak terduga telah dapat diselamatkan olehmu. Kalau sekarang kurenungkan ucapan sumoay itu, jelas kata-kata itulah yang menjadi sumbu pertarungan maut antara ayahmu dengan Kan Jun-ki. Tentu sumoay tidak dapat melupakan Kan Jun-ki, maka meski sudah menikah dengan ayahmu tapi setiap hari Tiongciu diam-diam dia mengadakan pertemuan gelap dengan Kan Jun-ki di sini.
"Ai, prilaku Kan Jun-ki itu sungguh tidak patut, sudah tahu sumoay telah bersuami, tapi masih mengadakan hubungan gelap dengan dia. Lama-lama tentu saja ayahmu merasa curiga, maka diam-diam mengadakan penguntitan, setiba di sini diketahuinya pertemuan gelap kedua orang, saking gusarnya, lalu dia melabrak Kan jun-ki. ilmu silat Kan Jun-ki memang bukan tandingan ayahmu, ditambah perbuatannya memang salah, dengan sendirinya hatinya tambah keder. Meski sumoay berteriak di samping agar keduanya jangan berkelahi, namun ayahmu tidak tahan akan perbuatan isteri yang menyeleweng, saking murkanya Kan Jun-ki telah dibunuhnya. Melihat orang yang dikasihi terbunuh, sumoay terus mendekap mayat Kan Jun-ki dan menangis sedih sambil sesambatan, ketika mendengar ucapan sumoay yang menyatakan takkan menghiraukan ayahmu lagi, hati ayahmu menjadi dingin, ia tahu hubungan suami-isteri sukar diperbaiki lagi, maka diam-diam ia tinggal pergi dan menganggap isterinya sudah mati. Tak diketahuinya bahwa setelah menangis sedih, akhirnya saraf sumoay jadi terganggu, jangankan soal tidak menghiraukan ayahmu, hakikatnya dia tidak ingat apa-apa lagi, Ai, rupanya sumoay benar-benar terlalu cinta pada Kan Jun-ki, segala apa dapat dilupakan, tapi janji pertemuannya dengan Kan Jun-ki pada hari Tiongciu ternyata tidak pernah lupa. Mungkin waktu dia datang lagi kesini dan melihat makam Kan Jun-ki, batu nisannya dianggapnya seperti sang kekasih. Akhirnya batu nisan itu kuhuncurkan, bagi sumoay sama teperti kubunuh Kan Jun-ki, otak sumoay jadi terguncang lagi dan teringat kepada terbunuhnya Kan Jun-ki dahulu, sebab itulah tangisnya dan ucapnya serupa apa yang pernah diucapkannya dahulu."
Entah kapan muka Yu Wi juga penuh air mata, dengan suara tersendat ia berbata, "Jika demikian, jadi ada kemungkinan tahun depan ibu akan datang ke sini lagi?"
"Ya, kukira dia akan datang lagi, dalam hati sumoay senantiasa Kan-Jun-ki dianggapnya belum mati, maka tahun depan dia pasti akan datang kesini untuk mengadakan pertemuan gelap dengan Kan Jun-ki."
Air mata Yu Wi bercucuran. entah untuk siapa dia menangis, apakah menangis lantaran ibunya yang tidak suci, atau menangis karena kemalangan sang ayah?
sekarang dia percaya kepada keterangan su Put ku yang jelas memang benar itu, bahwa ibunya tidak suci memang fakta nyata, ia jadi teringat kepada apa yang dilihatnya sendiri ketika ibunya berkomat-kamit di depan makam Kan Jun-ki, lalu berlatih kungfu didepan nisan seakan-akan nisan itu adalah Kan Jun-ki ....
Lalu teringat juga waktu ibunya menyelamatkan Mo-kui-tocu Yap Su-boh dengan teriakan 'jangan berkelahi', kiranya seruan "jangan berkelahi," itu dimaksudkan pertarungan antara ayah dan Kan Jun-ki. Begitulah pikiran Yu Wijadi bergolak, anehnya dia tidak benci terhadap ketidak sucian sang ibu terhadap ayahnya, tiba-tiba ia berkata, "Marilah kita tegakkan kembali batu nisan ini."
"Mengapa harus kita tegakkan lagi, nisan ini sudah hancur berkeping2, untuk apa didirikan lagi?" ujar su Put- ku.
"Tahun depan bila ibu datang lagi dan tidak melihat nisan ini, tentu hati ibu akan sangat sedih." kata Yu Wi, "Dalam hati ibu disangkanya Kan Jun-ki masih hidup didunia ini, maka biarlah pikiran ini tetap terbayang dalam benaknya."
su Put- ku menggeleng, katanya "Masa kau tidak bersimpati terhadap ayahmu dan sebaliknya cuma bersimpati kepada ibumu?"
Yu Wi mencucurkan air mata, katanya, "Kutahu ibu bersalah, namun beliau sudah tua, masakah kutega membuyarkan khayalan satu2nya itu?"
"Ya, memang harus begitu, Kata Su Put-ku tegas, "Selama pikirannya masih menganggap Kan Jun-ki belum mati, selama itu penyakit sarafnya sukar disembuhkan. Tapi bilamana khayalannya buyar, lalu mulai diobati, kemungkinan besar penyakitnya akan dapat disembuhkan."
Yu Wi pikir betul juga pendapat Su Put-ku itu, katanya, "Tahun depan kita sembunyi dulu di sekitar sini, bila hari Tiongciu tentu ibu akan datang. Pada saat dia sedang berduka dan lengah, kita lantas tutuk Hiat-to kelumpuhannya, dengan kemampuan Kuku kuyakln tidak sulit untuk menyembuhkan penyakit linglung ibu itu."
"Ilmu pertabibanku sekarang tidak lebih tinggi daripada mu, cukup kau sendiri yang datang kemari, kukira aku tidak perlu ikut," kata Su Put-ku.
Yu Wi lantas mengeluarkan Pian-jik-sia-bian dan diberikan kepada Su Put-ku, katanya, "Kemampuan ilmu pertabibanku hanya berdasarkan ajaran kitab ini, mengenai pengalaman masih jauh dibandingkan Kuku. Cukup dalam waktu setahun Kuku mempelajari isi kitab ini, pasti ilmu pertabibanmu akan maju pesat."
Su Put-ku memegangi kitab itu, katanya sambil menggeleng. "Susiok memberikan kitab ini padamu, maka harus kau simpan dengan baik, aku tidak boleh membacanya."
Dengan memelas Yu Wi memohon, "Kuharap Kuku suka mengingat penyakit ibu dan sudilah terima kitab ini. Sudah lebih setahun kupegang buku ini dan tidak banyak mendapat kemajuan, bagi Kuku tentu kitab ini lain artinya. Penyakit ibu tidaklah ringan, kalau tidak ditolong Kuku jelas sangat sulit disembuhkan."
Karena permohonan Yu Wi yang sangat itu, pula mengingat sang Sumoay, meski Sumoay hampir membunuhnya, betapa dia adalah puteri tunggal sang guru, adalah kewajibannya ikut menyembuhkan penyakit sumoay itu.
Maka ia tidak manolak lagi, kitab itu disimpannya, lalu berkata, "Baiklah, akan kubaca kitab ini selama setahun, habis menyembuhkan penyakit ibumu, kitab ini akan kukembalikan padamu. selama setahun ini sebaiknya kita belajar bersama. dengan tenaga dua orang pasti dapat mendapatkan cara penyembuhan penyakit linglung itu."
Yu Wi pikir usul sang paman memang tepat juga, dengan tertawa ia menjawab, "Jika begitu, selama setahun ini harap Kuku tinggal saja di rumahku. Wanpwe sekarang sudah berumah tangga, juga sudah punya anak satu, Kuku sendiri tidak berkeluarga, harap tinggal saja bersama kami sekadar menikmati kerukunan keluarga."
Su Put ku sangat girang, tanyanya, "He, kau sudah berkeluarga? Wah, bagus sekali. Eh, siapakah isterimu?" .
"Isteriku ialah puteri Mo-kui-tocu yang sudah Kuku kenal, yaitu Yap Jing, selain itu Wanpwe juga ambil isteri muda, namanya He si bekas pelayan di Thian-ti-hu."
"Hahahaha," Su Put-ku bergelak tertawa. "Tak tersangka baru setahun berpisah, kini kau sudah berkeluarga dan punya anak. si budak Yap Jing pernah menrekoki aku dengan obat bius sehingga aku tersiksa beberapa hari. sekali ini kedatanganku ke rumahmu akan kujadi orang lebih tua, tentu akan kuhukum dia."
"Harus dihukum, harus ..." seru Yu Wi kegirangan karena Su Put-ku menerima ajakannya.
Begitulah diam-diam kedua orang lantas meninggalkan tanah makam ini.
Yu Wi mencari keterangan dan diketahui Kan ciau-bu belum pulang. Rupanya sejak Kan ciau-bu dan Lim Khing-kiok meninggalkan Mo kui-to, lalu tidak pernah pulang ke rumah.
Esoknya Su Put-ku yang berusaha mencari keterangan, ternyata kaum hamba Thian-ti-hu tidak ada yang tahu kemana perginya sang majikan.
Hari itu juga Su Put-ku dan Yu Wi lantas meninggalkan Kimleng dan dulang ke Ji-he-san-
Yu Wi merasa tidak sabar dan ingin segera berkumpul dengan anak isteri. Maka pada hari kedua mereka sudah tiba dirumah. Belum lagi mengetuk pintu dia lantas, berteriak lebih dulu "Jing-ji, Hesi, inilah aku sudah pulang"
Disangkanya kedua istenaya itu pasti akan berebut membukakan pintu bila mendengar suaranya. siapa tahu, meski dia sudah menunggu sekian lama, keadaan tetap sunyi.
Tentu saja Yu Wi sangat heran. ia pikir andaikan kedua istrinya tidak cepat membukakan pintu, kaum hambanya kan juga harus membuka pintu.
"Mungkin mereka tidak tahu kau akan pulang hari ini, mereka lagi makan siang di belakang," kata Su Put-ku dengan tertawa.
"Sedang makan juga seharusnya mendengar suaraku," ucap Yu Wi dengan kuatir, "halaman belakang tidak terlalu jauh, suara teriakan dari sini dapat terdengar dengan jelas."
Segera ia mengetuk pintu pula dengan lebih keras sambil berteriak. "Buka pintu. . .Buka. . . ."
Setelah menunggu lagi sekian lama dan tetap tidak ada jawaban, mau-tak-mau Su Put-ku ikut cemas, katanya dengan suara berat, "Pasti terjadi apa-apa."
Kata-kata ini seperti godam menghantam dada Yu Wi, dengan bingung ia berkata, "Terjadi apa? Bisa terjadi apa?"
"Mungkh mereka sedang keluar?" ujar Su Put-ku.
Muka Yu Wi tampak pucat, katanya, " Kalau keluar, mengapa pintu terkunci dari dalam?"
Terpikir mungkin terjadi apa-apa, hatinya lantas berdebar, teriaknya, "Biarlah kuperiksa ke dalam"
Segera ia melompat melintasi pagar tembok. Ginkangnya sekarang sudah mencapai jago kelas satu, tapi ketika berdiri diatas pagar tembok kelihatan agak sampoyongan, hal ini manandakan betapa tidak tenteram hatinya.
Diam-diam Su Put-ku menggeleng kapala, segera ia ikut melintasi pagar tembok dan melompat masuk kehalaman dalam.
Di tengah halaman daun rontok berserakan dan menimbulkan suara kresak-krerek ketika tertiup angin- jelas sudah sekian hari tidak pernah disapu. Malihat keadaan demikian. perasaan kedua orang sangat tertekan.
Yu Wi berjalan di depan, padahal halaman ini tidak luas, tapi dia melangkah dengan berat sehingga makan waktu sekian lamanya.
Pintu ruangan tengah hanya dirapatkan begitu saja tanpa terkunci, diam-diam Yu wi merasakan gelagat tidak enak. la menjadi ragu-ragu untuk mendorong pintu.
Sampai agak lama barulah Su Put-ku berkata, "Hiantit, kau harus berani menghadapi kenyataan"
Ia lantas membantu mendorongkan pintu. Begitu pintu terpentang, seketika tertampaklah adegan ngeri, Tertampak dua budak lelaki dan dua pelayan kecil mati menggeletak diruang tengah.
Mata Yu Wi mendelik, ia pandang adegan ngeri itu tanpa bersuara, se-akan2 apa yang terjadi ini tidak ada sangkut-paut dengan dia.
Tapi Su Put-ku tahu bungkamnya Yu Wi itu adalah karena terlampau sedih dan gusar. Pelahan ia berkata, "Mungkin mereka tidak mengalami kemalangan."
"Mereka" yang dimaksud tentu saja anak isteri Yu Wi. Anak muda itu bergumam, "Ya, mungkin mereka tidak mengalami apa-apa. Tidak mungkin, mereka memiliki kungfu yang tinggi, tidak nanti mengalami apa pun. ..."
Dia hanya bergumam, tapi tidak melangkah untuk memeriksa lebih lanjut apa yang terjadi sesungguhnya.
"Di mana letak kamarmu, Hiantit?" tanya Su Put-ku, ia pikir kalau tidak diperiksa, cara bagaimana mengetahui mengalami sesuatu atau tidak.
Yu Wi menuding kamar sebelah kiri dan tetap tidak bergerak. Su Put-ku tahu anak muda itu terlalu berduka dan membayangkan kejadian yang tak diharapkan.
segera Su Put-ku mendekati kamar yang ditunjuk. setelah pintu dibuka, seketika Put-ku terkesiap. tanpa terasa air mata berlinang, sampai sekian lama barulah ia putar balik dan berkata kepada Yu Wi, "Mereka terbunuh"
Tangan itu yang menuding kamar itu baru sekarang diturunkan ia memandang dengan tidak parcaya,
"Benar terbunuh?"
Su Put-ku mengangguk dengan sedih.
" Keduanya terbunuh semua?" kembali Yu Wi menegas.
Tidak terduga juga oleh Su Put-ku bahwa pikiran Yu Wi bisa sedingin ini, sahutnya dengan menyesal, "Ya, keduanya terbunuh semua."
Tambah dingin dan tenang sikap Yu Wi, ia tanya pula sambil memandang kesana, "Dan bagaimana dengan anakku?"
Su Put-ku tidak tahan melihat sikap dingin Yu Wi yang aneh itu, ucapnya dengan agak aseran, "Entah, aku tidak tahu, kau lihat sendiri saja ...."
"Ya, memang harus kulihat sendiri, ingin kutanya mereka sudah selesai membuat Gwepia atau belum?" gumam Yu Wi seperti orang linglung.
Melihat perbuatan Yu Wi yang luar biasa itu, seketika Su Put-ku teringat kepada ibunya, sampai saat ini sumoay menganggap Kan Jun-ki masih hidup di dalam hatinya. Jangan-jangap Yu Wi juga akan berubah seperti ibunya saking berduka otaknya menjadi tidak waras.
Dengan kuatir cepat Su Put-ku memburu maju, "plok-plok", ia gampar pipi Yu Wi dua kali sambil membentak. " orang mati tidak dapat hidup lagi, hal ini harus kaupikirkan dengan jelas"
"Siapa bilang orang mati tidak dapat hidup kembali? Aku tidak percaya" jawab Yu Wi sambil melangkah kearah kamar.
Kuatir anak muda itu tidak tahan menyaksikan adegan ngeri di dalam kamar itu, Su Put-ku merentangkan tangan untuk merintanginya sambil berkata, "Tidak perlu kau lihat mereka lagi, mereka sudah mati"
Yu Wi mendorongnya. saking kuat tenaga dorongannya sehingga Su Put-ku terpental kesamping, cepat ia membentak, "Mereka benar-benar sudah mati, janganlah sembarangan kau pikir."
"Aku tidak percaya, aku tidak percaya" gumam Yu Wi, "Ayah bilang ibu sudah mati, kenyataan ibu masih hidup, Maka mereka juga takkan . . . ." sembari bicara ia terus menuju ke depan kamar.
Su Put-ku tidak dapat merintangi lagi, ia pikir yang mati itu adalah orang kesayangannya, betapapun harus dilihat olehnya, maka ia lantas ikut dibelakang Yu Wi.
Hanya sejenak Yu Wi merandek di depan kamar, lalu melangkah masuk. Meski menyaksikan adegan ngeri itu, tapi sinar matanya biasa saja, hanya wajahnya tampak pucat. Tapi Su Put-ku tetap merasa kuatir.
Di dalam kamar dua sosok mayat tindih menindih, Su Put-ku kenal mayat bagian atas adalah puteri Mo-kui-tocu, yakni Yap Jing, dan tidak perlu diterangkan lagi mayat yang di bawah pastilah He si adanya.
Sekujur badan He si tampak telanjang bulat, darah mengental di mulutnya, jelas dia mati dengan mengertak lidah sendiri.
Yap Jing berbaju sehari-hari dan mati menindih di atas tubuh He si, pada punggungnya menancap sebatang pedang yang menembus kedada He si, jadi kedua mayat itu tersunduk menjadi satu oleh pedang si pembunuh.
Menurut analisa Su Put-ku, kejadian itu adalah mula-mula Hiat-to kedua orang tertutuk. lalu pembunuh itu hendak memperkosa Hesi, baju He si telah dibolejeti, tapi He si tidak sudi ternoda dan mengermus lidah sendiri sehingga mati. Tapi pembunuh masih bermaksud menodai mayat He si, demi mempertahankan kesucian Ho si, Yap Jing merangkak sebisanya dan menengkurap di atas tubuh He si. Hal ini menimbulkan kekalapan si pembunuh dan sekali tusuk membinasakan mereka berdua.
Keadaan tempat tidur morat-marit, mungkin Yap Jing tertutuk waktu berbaring di tempat tidur, meski tak bisa bergerak. tapi dia tidak tega menyaksikan He si akan diperlakukan tidak senonoh, maka sekuatnya ia memberosot kebawah dan menubruk diatas tubuh He si, hal ini terbukti kain seprei yang ikut terseret jatuh kelantai. semua ini membuktikan usaha Yap Jing dengan mati-matian itu.
Berpikir sampai disini, mata Su Put-ku jadi basah pula, samar-samar seperti terbayang adegan Yap Jing yang sedang merangkak sekuatnya, pikirnya, "Isteri tua dan isteri muda bisa akur sebaik ini, sungguh jarang ada di dunia ini. Bahwa Yap Jing berusaha membela mayat He si agar tidak dinodai sipembunuh, kalau kedua orang tidak sangat akrab, tidak mungkin Yang Jing berbuat demkian.
Dilihatnja Yu Wi tidak menitikan air mata tetetes pun, malahan anak muda itu terus mencabut pedang pembunuh itu terus ditekuk patah menjadi beberapa potong, lalu diremasnya sehingga menjadi untaian besi.
Dengan sendirinya tangan Yu Wi terluka oleh mata pedang sehingga mengeluarkan darah, tapi hal ini sama sekali tidak dirasakannya.
Su Put-ku geleng-geleng kepala, ia tidak membujuknya, dibiarkan Yu Wi melampiaskan dendamnya atas senjata sipembunuh, sedikit luka luar saja tentu tidak menjadi soal.
Sehabis melampiaskan perasaan gemasnya. Yu Wi menoleh dan melihat ranjang goyang bayi yang kosong itu, ia berteriak sedih, "Di mana anakku, di mana anakku? . . . ."
"Anak juga hilang, mungkin di bawa sipengganas untuk dijadikan sandera," ujar Su Put-ku.
Yu Wi diam saja, tapi hati menjadi rada tenteram, asalkan anak belum mati dan cuma diculik musuh, akhirnya pssti dapat direbutnya kembali.
Diam-diam Su Put-ku merasa heran, sebenarnya apa maksud tujuan si pembunuh sehingga sekaligus membunuh mati enam orang. selagi Su Put-ku menduga-duga sendiri, dilihatnya Yu Wi tidak menangis lagi, mayat Yap Jing dan Ho si lantas diangkat dan dijajarkan di atas tempat tidur, lalu menanggalkan baju luar sendiri dan ditutupkan di atas tubuh He si.
Su Put-ku mengundurkan diri keluar kamar, dilihatnya Yu Wi duduk termenung di tepi ranjang, ia pikir biarkan saja dia berduka. dirinya akan memeriksa keadaan sekeliling diluar kalau- kalau dapat menemukan sesuatu tanda yang ditinggalkan si pembunuh.
Dengan teliti ia memeriksa sekitar rumah, sampai lama sekali barulah ia kembali ke kamar, dilihatnya. Yu Wi masih duduk termenung di tepi ranjang tanpa bergeser sedikit pun.
"Hiantit," Su Put-ku coba menghiburnya, "yang mati sudahlah, kita harus mengatur penguburan mereka agar arwah yang meninggal dapat merasa tenteram di alam baka."
Yu Wi mengangguk. jawabnya dingin, "Baik, tanam saja di halaman sana."
Bahwa anak muda itu mau bicara, legalah hati Su Put-ku. Ia pikir Yu Wi hanya berduka secara diam dan tidak menangis, bisa jadi nanti akan jatuh sakit.
Ia menuju ke halaman dan mengukur tanah yang diperlukan, lalu ia pergi membelikan enam buah peti mati, ia sendiri lantas mulai menggali liang kubur.
Mendengar suara cangkul, Yu Wi keluar dan berkata, "Kuku, biar aku saja yang menggali."
Ia lantas ambil cangkul dari tangan Su Put-ku dan mencangkul dengan cepat, hanya sebentar saja sebuah liang besar sudah berhasil digalinya, lalu menggali lagi liang yang lain, semua rasa duka nestapa seolah-olah dikuras Yu Wi ke dalam penggalian liang kubur itu. selesai dua liang besar digali ia mandi keringat dan tentu saja cukup lelah. Tapi ia tidak mengaso, lalu persatu ia bawa keluar mayat Yap Jing dan Ho si yang sudah kaku itu dan dimasukkan ke dalam peti mati.
Di sebelah lain su Put- ku juga memasukkan mayat para budak ke dalam peti dan ditutup dan dipaku satu persatu.
Yu Wi ternyata tidak menutup peti mati kedua isterinya, dia duduk dipinggir peti sambil memandang jenazah dalam peti dengan terkesima.
Sementara itu hari sudah gelap. melihat Yu Wi masih merasa berat untuk menutup peti mati, Su Put-ku menggeleng kepala, ia pikir nasib Yu Wi dan ayahnya ternyata tidak banyak berbeda, isteri tak dapat hidup bersama sampai tua, tapi cintanya terhadap isteri sedemikian mendalam.
Su Put-ku sendiri lantas pergi tidur, esok paginya, dilihatnya Yu Wi masih duduk di pinggir peti mati dan tutup peti tetap belum dipaku. Ia lantas berkata dengan menyesal, "Nak. untuk apa sedemikian kau berduka jika peti mati tidak kau tutup, arwah yang meninggal tentu tidak tenteram."
Yu Wi mengangguk dan berkata, "Ya, harus ditutup . . . "
Pelahan ia berbangkit dan menutup peti mati, ia tidak mau dibantu Su Put-ku, pada waktu paku pantek peti dipukul, setiap kali memukul paku itu, air matanya lantas bercucuran bagai hujan.
Selesai kedua peti mati itu ditutup, entah berapa banyak air matanya yang dicucurkan. Tertampak sekujur badannya basah kuyup, entah air mata atau air keringat atau air embun semalam.
Su Put-ku pergi kedapur membuatkan bubur, katanya, "Hiantit, seharian kau tidak makan apa pun, lekas bubur ini kau makan."
Yu Wi tidak dapat menolak. Ia makan sekadarnya, lalu berkata, "Apakah dikubur sekarang?"
"Kalau tidak segera dikukur, janazah akan rusak," jawab Su Put-ku.
Menurut pikiran Su Put-ku, terbunuhnya Yap Jing berenam terjadi sedikitnya tiga hari yang lalu, untung musim rontok berhawa sejuk. kalau tidak tentu mayat sudah membusuk. Pikirnya, Jika Hiantit tidak berusaha menolongku di makam Thian-ti-hu sana, mungkin dia keburu pulang dan menyelamatkan isterinya. Ai, kalau dipikir seakan-akan akulah yang membikin celaka mereka"
Tanpa bicara Yu Wi telah selesai mengubur peti kedua isterinya, Su Put-ku bantu mengubur keempat budak. setelah menguruk liang kubur sehingga berbentuk gundukan kuburan, Yu Wi lantas berseru terhadap kuburan sang isteri, "Pada suatu hari setelah kubalas sakit hati kalian barulah akan kudatang lagi untuk mendirikan batu nisan kalian"
Inilah sumpah, sumpah dengan tekad yang bulat Perasaan Yu Wi sekarang mulai tenang kembali, dalam dan luar rumah dibersihkannya.
"Hiantit," kata Su Put-ku kemudian, "Menurut pendapatmu, apa maksud tujuan si pembunuh merecoki keluargamu?"
"Wanpwe merasa tidak punya musuh, betapa tidak ada alasan harus membunuh isteri dan keluargaku? Apa yang dituju sipembunuh sungguh akupun tidak mengerti."
"Bahwa anakmu juga diculik oleh si pengganas kukira pasti ada maksud tujuannya, jangan-jangan Hiantit memiliki sesuatu benda mestika, tapi tidak dapat ditemukan si pembunuh, lalu mengganas dan akhirnya menggunakan sandera untuk memeras".
"Rasanya Wanpwe juga tidak mempunyai benda mestika apa-apa, kecuali satu jilid Pian-sik-sin-bian, ada lagi pedang mestika Hi-jong-kiam, kedua benda ini kukira tidak dapat dianggap sebagai benda mestika."
"Bahwa pengganas datang ke rumahmu, jelas barang yang dikehendaki tidak kau bawa, sebab kalau kau bawa, tentu mereka akan langsung mencari dirimu dan tidak perlu membunuh orang yang tak berdosa. Agaknya mereka tahu kau tidak dirumah maka merampok kesini. Adakah kau lihat dalam rumah ini kehilangan sesuatu barang?"
"Tidak ada," sahut Yu Wi sambil menggeleng. Tapi lantas ditambahkannya, "Meski ada kehilangan semacam barang, tapi kurasa tidak ada artinya."
Tergetar hati Su Put-ku, cepat ia tanya, "Barang apa itu?"
"Sebuah mainan singa kemala sumbangan seorang kawan pada waktu perayaan sebulan umur anakku," tutur Yu Wi. "Meski tidak besar nilainya, tapi karena barang ukiran indah, maka kuikatpada ranjang goyang bayi sana, dan sekarang tidak terlihat lagi."
Su Put-ku mengira akan mendapatkan petunjuk yang berarti untuk menyelidiki identitas sipembunuh, kini benda yang di maksud ternyata cuma sebuah mainan anak saja, ia pikir mungkin sipembunuh: merasa tertarik oleh mainan itu, maka sekalian diambilnya.
Dengan menyesal ia berkata, "sungguh aneh juga, kalau tujuan si pembunuh bukan barang berharga, apa maksudnya mengganas? Apakah pembunuh itu orang gila dan sembarangan membunuh orang? Ai. jika demikian halnya, pembunuh itu benar-benar terlalu Kejam"
Bila teringat kepada kematian kedua isterinya tercinta yang mengenaskan, sedih Yu Wi sungguh sukar dilukiskan. sedapatnya dia menahan air mata yang hampir bercucuran pula, tanyanya, "Apakah Kuku menemukap suatu yang mencurigakan? saking berduka Wanpwe menjadi tidak memperhatikan urusan lain, tentunya Kuku telah melihat sesuatu?"
"Di halaman kutemukan sepotong sapu tangan, agaknya bukan barang keluargamu," tutur Su Put-ku sambil mengeluarkan sepotong saputangan wanita, setelah menerirma dan memeriksa saputangan itu, Yu Wi berkata, "Ya, memang bukan barang kami."
"Coba kau lihat apa yang bersulam pada ujung saputangan itu?" kata Su Put-ku.
"Apakah setangkai bunga?" tanya Wu Wi.
"Bukan, tapi sebuah jaring ikan."
Setelah diperiksa dengan teliti baru diketahui Yu Wi yang tersulam itu memang betul jaring ikan.
"Tanda apakah ini?" katanya heran.
Su Put-ku berpikir sejenak. tampaknya sedang menimbang apakah harus bicara atau tidak. Akhirnya dia berkata juga, " Inilah tanda pengenal Thi-bang-pang di Tiang kang,"
"Ahh" Yu Wi bersuara kaget, mendadak ia berkata dengan mengertak gigi, "Pasti Thi-bang-pang yang mendalangi perbuatan ini. Ya, betul pembunuhnya adalah orang Thi-bang-pang "
"Mengapa kau merasa yakin pasti perbuatan orang Thi-bang-pang?" tanya Su Put-ku.
Bab 6 : Menantu ketua Thi bang pang..Yu Wi palsu
Maka Yu Wi lantas menceritakan pengalamannya bertemu dengan nona baju merah di atas kapal Auyang Liong-lian serta janji berkunjung setahun kemudian, lalu katanya dengan tegas. "Hanya kungfu aneh dari Thi-bang-pang saja yang dapat membunuh isteriku. Aku memang lagi heran, kungfu Jing-ji dan Ho si sudah tergolong kelas satu, tapi dengan begitu mudah ditutuk oleh pembunuh itu tanpa bisa melawan, maka kungfu pembunuh itu pasti luar biasa. setahuku, jarang ada di dunia ini orang yang memiliki ilmu Tiam-hiat seaneh ini kecuali orang Thi-bang-pang, sebab hanya pada Hian-ku-cip milik mereka itu tercantum pelajaran ilmu silat yang ajaib, asalkan berhasil meyakinkan salah satu macam kungfu dalam kitab itu, maka dapatlah malang melintang di dunia Kangouw juga hanya dengan ilmu Tiam-hiat mereka itu saja dapat mangatasi tokoh persilatan jaman sekarang ini secara cepat dan tak terduga."
Makin bercerita makin berduka Yu Wi, sebab teringat olehnya cara Sia Siau-mo membuka Hiat-to para kawannya yang tertutuk di atas kapal dahulu. Jika seorang bawahan saja sudah begitu lihai, maka di dalam Thi-bang-pang pasti terdapat tokoh lain yang lebih hebat Kalau bukan mereka. siapa lagi yang mampu membunuh Yap Jing dan He Si yang juga tidak lemah itu?
Tapi Su Put-ku tetap bicara dengan kepala dingin, "Hiantit, kau bilang orang Thi-bang-pang yang mengganas, tapi apakah maksud tujuan mareka? orang membunuh kan mesti ada yang dituju?"
"Balas dendam" seru Yu Wi dengan gemas, "Telah kubunuh dua anggota mereka,tentunya mereka tidak terima dan ingin menuntut balas."
Su Put-ku menghela napas dan menggeleng, katanya, "Sejak mula sudah kutemukan saputangan ini di halaman, tapi tidak segera kuperlihatkan padamu, maksudku justeru kuatir kau salah paham terhadap Thi-bang-pang. Kutahu Thi-bang-pang sudah lama berdiri dan termashur, Pangcu Kiu-bun-liong (tato sembilan naga) Le Kun, Le-loenghiong adalah sahabat karibku, cukup kukenal pribadinya dan tahu juga tata tertib Pang mereka yang keras. Asal Thi-bang-pang mereka adalah menolong sesamanya dan membela kaum lemah terhadap kelaliman yang kuat, tidak nanti mereka melakukan perbuatan terkutuk ini ... ."
"Bilamana Kuku bersahabat dengan Le Kun?" tanya Yu Wi.
"Kejadian itu sudah lebih tahun yang yang lalu," jawab su Put-ku dengan gegetun. "setelah aku mengasingkan diri di siau-ngo-tay-san, lalu tidak pernah berjumpa lagi dengan dia."
"Itulah, selama 20 tahun ini masa tidak ada perubahan," ujar Yu Wi dengan tersenyum pedih.
"Pada waktu Kuku kenal Le Kun dahulu mungkin dia adalah seorang pahlawan tua yang berbudi dan bijaksana dengan anggota Pang yang terpuji, tapi selama 20 tahun ini apakah tidak mungkin terjadi perubahan. setahuku. tingkah-laku puterinya agak congkak."
Setelah mendengar cerita Yu Wi tadi tentang kejadian dilautan dulu, su Put-ku pikir tindakan puteri sahabat lama Le Kun itu memang rada-rada berlebihan dan sombong. Ia pikir puteri Le Kun seharusnya tidak terdidik secara begitu? Jangan-jangan selama 20 tahun ini pribadi Le Kun memang sudah berubah.
Tapi bila teringat jiwa kesatria Le Kun itu tidak nanti berubah, ia cukup kenal pribadi Le Kun yang bijak dan teguh pada pendirian sendiri itu, maka ia tetep menggeleng dan berkata, "sifat anak perempuan mungkin akibat terlalu dimanjakan sejak kecil, menurut cerita Hiantit tadi memang tindakan puteri Le Kun itu salah, tapi juga bukan anak perempuan yang kejam dan suka menuruti watak sendiri Coba kau pikir, jika dia ingin menuntut balas, untuk apa dia perlu menapas putus pedang panjang yang sudah menancap di hulu hatimu? Jelas dia tidak berniat membunuhmu, apalagi dia telah bantu memotong tali yang mengikat tanganmu serta menghadiahkan pedang padamu, rasanya tidak mungkin dia melakukan tindakan balas dendam padamu."
Rasa geram Yu Wi belum berkurang, ucapnya, "Puteri Le Kun itu minta aku berkunjung ke Tiang-kang setahun kemudian untuk menyambangi ayahnya, sekarang sudah dekat waktunya untuk berangkat, sedangkan peristiwa pembunuhan ini terjadi setelah kutinggalkan rumah, bukankah maksudnya akan turun tangan pada saat aku tidak berada di rumah."
Karena pemuda itu selalu berpikir kearah yang buruk dan yakin pembunuhnya pasti orang Thi-bang-pang, su Put-ku tertawa dan berkata, " Hiantit, tampaknya pandangamnu terlalu kukuh...."
"Bukan aku terlalu kukuh pada pandangan sendiri, tapi bukti nyata kan tidak dapat dihapus?" seru Yu Wi dengan aseran.
"Bukti, Di mana ada bukti?" ujar su Put-ku dengan terkesiap.
Yu Wi mengangkat sapu tangan warna jambon tadi dan berkata, "sapu tangan anak perempuan ini tersulam tanda pengenal Thi-bang-pang, besar kemungkinan sapu tangan ini milik puteri Le Kun, seandai terjatuh tanpa sengaja sewaktu mengganas, bukankah ini bukti nyata?"
Su Put-ku menghela napas panjang, bukti ini memang sukar dibantahnya, terpaksa ia berkata dengan suara pelahan, "Jadi kau anggap pembunuhnya ialah puteri Le Kun?"
Tanpa pikir Yu Wi mengangguk.
"Jika demikian pikiranmu, sukar bagiku untuk mengatakan dia bukan pembunuhnya," ujar su Put-ku dengan menyesal. "Cuma perlu kuingatkan padamu bahwa dia tidak mempunyai kepentingan untuk membunuh, maksudnya berjanji bertemu lagi setahun kemudian adalah baik,justeru hal ini selalu kau pikirkan kearah yang buruk. Coba kau pikir lagi lebih cermat, setahun yang lalu kau kan masih belum berkeluarga, dari mana dia tahu akan rumah tanggamu?"
Yu Wi jadi melengak. ia pikir keterangan itu memang beralasan, setahun yang lalu nona berbaju merah itu memang tidak tahu bahwa dirinya akan menikah dan berkeluarga, jadi kalau menuduhnya janji bertemu setahun kemudian bertujuan memancingnya pergi dari rumah agar memudahkan si nona mengganas, alasan ini sungguh terlalu janggal dan dicari-cari belaka.
Namun Yu Wi tidak dapat menyebutkan siapakah pembunuh itu, sedangkan satu-satunya bukti menunjukkan bahWa puteri Le Kun itu pernah datang ke sini ketika dirinya meninggalkan rumah. Dengan kepandaian nona berbaju merah yang sangat tinggi itu, siapa lagi yang mampu membunuh Yap Jing dan he si selain dia?
dalam bingungnya hanya petunjuk sapu tangan ini saja yang dipegang Yu Wi, betapa pun takkan dilepaskannya, maka ia berkata pula, "Persoalan ini memang penuh tanda tanya, Wanpwe bertekad akan berkunjung ketempat Thi-bang-pang di Tiang-kang, setiba disana, soal siapa benar dan salah tentu akan menjadi jelas. Kalau puteri Le Kun tidak mengganas, ingin kutanya juga mengapa dia datang kerumahku dan pergi lagi tanpa meninggalkan pesan apa pun."
Su Put-ku pikir ucapan Yu Wi memang beralasan dan tidak lagi memastikan siapa si pembunuhnya secara ngawur seperti pendapatnya tadi, diam-diam lega hatinya. Ia pikir kunjungan Ke Thi-bang-pang memang harus dilaksanakan, kalau tidak, jelas sukar menyelidiki siapa sebenarnya si pembunuh itu.
"Apakah Kuku suka berangkat bersamaku?" tanya Yu Wi.
su Put-ku berpikir sejenak. katanya kemudian "Kau perlu menyelidiki duduk perkara yang sebenarnya, bila aku ikut malah kurang leluasa, maka aku tidak ingin pergi. pula wilayah pengaruh Thi-bang-pang terletak di sekitar oupak dan sujwan. pergi pulang memerlukan waktu bebarapa bulan, padahal kita masih ada urusan penting lain, yaitu menyembuhkan penyakit otak ibumu pada hari Tiong ciu tahun depan. Maka dalam tahun ini aku tidak ingin pergi kemana-mana, akan kucari suatu tempat sunyi untuk mempelajari kitab Pian-sik-sin-pian, waktu tidak boleh terbuang percuma."
Yu Wi pikir ikut perginya Su Put-ku memang kurang leluasa, jika benar orang Thi-bang-pang yang mengganas, demi manuntut balas dirinya tentu akan bertindak. dan su Put-ku menjadi serba susah, membela tidak enak terhadap sahabat lama. tidak membela juga tidak betul. Maka memang lebih baik tidak ikut pergi saja,
Ia merasa sangat berterima kasih mendengar su Put-ku hendak mempelajari isi kitab Pian-sik-sin- bian dalam waktu setahun ini, katanya, "Perawatan ibuku harus manyibukkan Kuku sendiri, sungguh rasaku tidak enak. Mestinya ingin kupelajari bersama Kuku. tapi ai, siapa tahu bencana timbul mendadak . . .."
Su Put-ku berdehem, lalu berkata, "Ah, kenapa kau bicara seperti terhadap orang luar saja. Ibumu adalah sumoayku yang dibesarkan bersamaku sejak kecil, adalah pantas kalau aku berusaha manyembuhkan ibumu, justeru mengenai malapetaka yang mendadak menimpa menantu keponakan ini, aku ikut merasa sedih karena tidak dapat memberi bantuan.
Kepergianmu ke Thi-bang-pang ini perlu kuberi nasihat padamu, menghadapi segala hal hendaklah berpkir dulu sebelum bertindak, sebab kalau sudah telanjur, manyesal pun sudah terlambat."
Yu Wi mengangguk. ucapnya, "Nasihat Kuku akan kuingat dengan baik, kepergianku ini akan kulakukan dengan hati-hati, orang mati tak dapat hidup kembali, bila ku salah membunuh orang yang tak berdosa, tentu akan membuat Jing-ji dan He si yang sudah meninggal itu merasa tidak tenteram dialam baka," Bicara sampai di sini, hati Yu Wi menjadi pedih, hampir saja ia mencucurkan air mata pula.
Legalah hati Su Put-ku, ucapnya dengan tersenyum getir, "Kaupun jangan terlalu berduka, jagalah kesehatan sendiri lebih utama, kepergianmu ke Thi-bang-pang sebaiknya dengan menyamar saja agar dapat kau selidiki dengan lebih objektif"
Yu Wi pikir memang lebih baik menyelidiki urusan ini dengan menyamar saja, kalau tidak. bila orang Thi-bang-pang mengetahui kedatangannya, tentu akan dilaporkan kepada Le Kun dan puterinya, dan penyelidikan selanjutnya tentu akan sukar. Tapi entah cara bagaimana harus menyamar. urusan ini belum pernah dipelajari Yu Wi.
"Dahulu pernah kukenal seorang ahli rias, kepandaiannya merias muka boleh dikatakan tidak ada bandingnya, dia pernah mengajarkan kepadaku beberapa cara menyamar yang paling sederhana, sekarang juga akan kuberi petunjuk padamu. . . ."
Esok paginya, sendirian Yu Wi lantas berangkat, Su Put-ku tidak ingin pergi ketempat lain, dia lantas tinggal di situ. Tempat ini memang indah pemandangannya, suasana juga sunyi, sungguh tempat yang baik untuk belajar ilmu.
Sebulan kemudian, tanpa banyak berhenti dalam perjalanan, tibalah Yu Wi di oupak.
Hari ini dia sampai di Bujiang, salah satu kota diantara tiga kota yang berdekatan yang terkenal sebagai Bu-han.
Ketiga kota Bu-han terpisah oleh sungai Tiang-kang dan Han sui, Bu iang terletak di tepi selatan Tiangkang. Ham kau dan Han yang terletak di tepi utara Tiangkang Di antara kedua kota Han itu hanya dipisahkan oleh sebuah sungai kecil yang lebarnya tidak lebih dari 20 tombak, sungai kecil inilah Hansui. juga disebut siang ho.
Kota Bu-jiang adalah tempat bersejarah yang banyak barang tinggalan jaman kuno.
sekarang Yu Wi berdiri di suatu tempat pesiar yang sangat terkenal di tepi Tiangkang, yaitu Wi-ho-lau, ia asyik memandang Hanyang jauh di seberang sana. Pada ujung selatan kota Hanyang itu terletak Eng-bu-ciu, sebuah semenanjung muara Tiangkang yang menjadi tempat berkumpulnya anggota Thi-bang-pang. Karena jaraknya cukup jauh, keadaan Eng-bu-ciu hanya kalihatan samar-samar saja sehingga menimbulkan pergolakan pikiran Yu Wi.
Bahwa dia tidak segera menyeberang kesana melainkan berdiri di atas Wi-ho-lau dan mengelamun, hal ini memang ada sebabnya. Sepanjang jalan ternyata didengarnya Thi-bang-pang adalah sebuah Pang (perkumpulan) yang baik, tingkah-laku anggota Pang tidak tercela, peraturan Pang juga keras dan tegas, anggota pang tidak ada yang berani menganiaya rakyat jelata.
Dari info yang diperoleh itulah, Yu Wi menjadi ragu apakah mungkin orang Thi-bang-pang membunuh kedua istrinya?
Selagi dia merenungkan apa yang harus dilakukannya setelah menyeberang kesana, tiba-tiba didengarnya dua orang pelancong disebelahnya sedang bicara.
"Bok-loheng," demikian terdengar seorang menegur, "jauh-jauh kau datang kesini untuk menyampaikan selamat ulang tahun kepada Le-loenghiong. maksud baikmu ini jangankan Le-loenghiong. aku saja yang mendengar maksud kedatanganmu ini juga ikut senang bagi Le-loenghiong."
"Ah, hanya datang untuk mengucapkan selamat saja apa artinya," demikian jawab orang she Bok. "kecuali ulang tahun ke-60 Le-loenghiong, mana lagi juga hari bahagia pernikahan Le-siocia, pesta gabungan kedua peristiwa bahagia ini, biarpun jaraknya sekali lipat lebih jauh juga bok-keh-but-ti (perusahaan peternakan keluarga Bok) dari Kwan-gwa harus mangirim anak muridnya untuk hadir.
"Eh, ada hubungan baik apakah antara Bok keh-but-tio dan Thi-bang-pang, kok selama ini tidak pernah kudengar?" tanya pula orang yang pertama.
"Ci-heng orang sibuk, dengan sendirinya tidak tahu hubungan antara Boks keh-but-tio dengan Thi-bang-pang," jawab si orang she Bok. "Persoalan ini sudah terjadi tiga tahun yang lalu. Ketika itu keluarga Bok kami disatroni oleh kawanan begal It-tiu-hong (angin lesus) yang terkenal di Kwan-gwa, selain peternakan kuda kami dirampok habis-habisan, puteri kesayangan kakak kami juga diculik dijadikan sandera. . . ."
"He, ilmu cambuk Kiu-liang-pian-hoat kakakmu si Kiu-liong-pian (cambuk sembilan naga) Bok Cay-jian cukup termashur didaerah Kwan-gwa, kenapa ada kawanan bandit berani merecoki tempat kalian. Apa barang kali kawanan bandit itu telah makan empedu harimau dan tidak gentar terhadap kakakmu?"
Orang she Bok ini adalah adik Bok Cay-sian, namanya Bok Wi-sian, ia menjawab, "It-tin-hong juga bandit terkenal di daerah Kwan-gwa, mestinya dia tidak berani mengincar ladang peternakan kami, tapi dia sangat iri terhadap perusahaan kakakku yang maju pesat dan tambah besar, dia kuatir seluruh Kwan-gwa akan menjadi ladang peternakan keluarga Bok sehingga pekerjaan mereka akan mengalami jalan buntu, maka mereka telah mencari bala bantuan tangguh dan menyatroni tempat kami. Asalkan sekali pukul dan berhasil selanjutnya berarti sumber rejeki merekaakan mengalir tanpa berhenti."
Orang she Ci yang diajak bicara ini adalah kepala Tin-wan-piaukiok. sebuah perusahaan pengawalan terbesar di daerah oupak, hampir setiap hari mereka menerima order pengawalan. bila sebut nama Tiam-jong-cin-kiam Ci Hui-liong, setiap tokoh dunia persilatan sama tahu dia adalah tokoh terkenal Tiam-jong-pay, ilmu pedangnya tidak boleh dibuat main-main, maka jarang ada kawanan bandit berani mengganggu barang kawalannya.
Lima tahun yang lalu pernah juga Tin-wan piaukiok mengawal satu partai barang milik Bo-keh-but-tio ke daerah Tionggoan, waktu itu Ci Hui-liong memerlukan tampil sendiri untuk mengawalnya, sebab itulah dia kenal kedua Bok bersaudara, yaitu Bok Cay-sian dan Bok Wi-sian.
Begitulah Ci Hui-liong lantas bertanya dengan heran. "He, pembantu tangguh macam apa sehingga berhasil membantu kawanan bandit It-tin-hong itu?"
"Pembantu tangguh ini semula kami cuma tahu she Le. kemudian baru diketahui dia adalah keponakan Le-lopangcu dari Thi-bang-pang. Kami pikir Le Kun adalah seorang kesatria berbudi dan terhormat, beliau pasti tidak tahu menahu anak keponakannya membantu kawanan bandit, maka diam-diam kami lantas mengirim orang untuk memberitahukan kepada Le-lopangcu agar suka menyelidik persoalan ini. setelah Le Kun menerima laporan ini, malam itu juga sendirian dia memburu ke Kwan-gwa langaung menuju kesarang It-tin-hong, puteri kakakku diselamatkan, sekaligus It-tin-hong dibunuhnya, juga keponakannya itu tidak diampuni. Lalu Le-lopangcu berkunjung kepada kakakku untuk minta maaf, katanya keponakannya itu memang berkelakuan tidak baik dan diusir, tak tersangka minggat ke Kwan-gwa dan melakukan kejahatan dan mengganggu ladang peternakan kami, Le-lopangcu menyerahkan kepala It-tin-hong dan keponakannya dan minta maaf kepada kakakku, tentu saja kami sangat berterima kasih, kami mengubur baik-baik jenazah keponakannya, mesti kami ingin menahan Le-pangcu agar suka tinggal disana barang sebulan atau setengah bulan, siapa tahu esok paginya beliau lantas pulang tanpa pamit.
Lantaran kejadian itu sehingga Le-pangcu sampai membunuh keponakannya sendiri, sejauh itu kakak tidak berani memberi tanda terima kasih apa pun juga sebab kuatir menimbulkan rasa duka Le-pangcu. sekarang kakak mendengar Thi-bang-pang bakal merayakan dua peristiwa bahagia, maka sebulan yang lalu siaute sudah diutus masuk ke daerah Tionggoan, betapapun kami harus menyampai selamat dan memberi tanda mata selayaknya."
"Wah, kado yang kau antar pasti sangat berharga," kata Ci Hui-liong. "Aneh juga , mengapa sedikit pun tidak kudengar peristiwa yang kau cerita kan ini."
"Dahulu Le-lopangcu keluar Kwan-gwa dan pulang lagi, semua itu dilakukan dengan cepat dan dalam waktu yang singkat, bahkan sebelum dan sesudahnya cuma diketahui oleh seorang. dengan sendirinya beliau tidak mau menyiarkan kejadian itu, apalagi kami yang bersangkutan, tentu lebih- lebih tidak perlu menyiarkannya. sekarang ci-hong bertanya, mengingat kita juga kenalan lama, maka kuceritakan terus terang."
"Pantas aku tidak tahu," kata Ci Hui-liong. "kalau tidak. orang yang bekerja dilapangan seperti kami ini ternyata tidak tahu kejadian besar itu kan lucu. Eh, Bok-lauheng, menurut pendapatmu bagaimana penilaianmu terhadap Le-lopangcu?"
Bok Wi-sian segera mengacungkan ibu jarinya dan memuji, "Tidak perlu urusan lain, melulu peristiwa tiga tahun yang lalu itu, kalau bukan budi luhur Le-lopangcu, siapa yang mau memburu ke Kwan-gwa pada malam itu juga untuk membela Bok-keh-but-tio kami? Bahkan sesudah itu tidak bicara sedikit pun urusan balas jasa. soalnya cuma pembantu It-tin-hong itu menggunakan ilmu silat golongan Le-lopangcu, beliau tidak dapat membiarkan kungfu perguruannya digunakan untuk kejahatan. demi kepentingan umum tanpa memikirkan sanak keluarga sendiri jiwa kesatria yang luhur ini sungguh sangat kukagumi"
Ci Hui-liong juga menghela napas gegetun, ucapnya, "Setiap orang yang kenal Le-lopangcu sama memuji keluhuran budinya, siaute dan Thi-bang-pang sama-sama bertempat tinggal di daerah oupak, tentu saja kulebih tahu kepribadian Le-lopangcu yang mulia, tidak palsu, tidak munafik Tapi akhir-akhir ini kudengar ada orang sengaja berbuat macam-macam kejahatan untuk merusak nama baik Le-lopangcu."
Bok Wi-sian menjadi gusar, tanpa terasa suaranya menjadi keras, tanyanya, "Siapa? siapa yang berani merusak nama baik beliau? Betapapun akan kutemui bangsat itu, coba beritahukan padaku siapa dia?"
Karena Bok Wi-sian bicara dengan suara keras, beberapa pelancong lain sama memandang kearah mereka. Semula Yu Wi hanya mendengarkan saja tanpa memandangnya, sekarang iapun ikut berpaling. Maka terlihatlah orang she Bok itu berusia antara 50 penuh berewok, bermantel bulu yang mahal, perawakannya tinggi besar, sungguh potongan orang gagah dari Kwan-gwa asli.
Sedangkan orang she ci itu berusia 40 lebih berbaju tebal dari kain sutera. juga memakai mantel bertepi tipis. dandanan seorang Tionggoan asli perawakannya sedang, mukanya putih, dengan suara tertahan ia berkata, "Bok-heng, di sini banyak orang, jangan kita bicara urusan ini lagi. setelah pesta Le-lopangcu selesai. kuharap Bok-heng suka mampir ke tempatku sekadar minum dan mengobrol lagi."
Rasa gusar Bok Wi-sian belum lagi reda, dengan suara keras ia menjawab, "Baik, bila mana bangsat itu kepergok olehku, mustahil kalau tidak kuhajar dia."
Para pelancong yang memandang ke arah mereka itu ada yang kenal ci Hui-liong, segera mereka menyapa dengan tersenyum, "Baik-baiklah ci-cong piauthau."
ci Hui-lioag menjawabnya sekadarnya, lalu berkata kepada Bok Wi-sian, "Kapal sudah datang, marilah kita menyeberang" segera ia manarik Bok Wi-sian turun lebih dulu.
Waktu Yu Wi memandang kesana, memang betul ada sebuah kapal tambangan sedang mendekat, segera ia ikut turun ke sana.
Wi-ho-lau adalah bangunan berloteng terletak di dermaga, kapal belum lagi berlabuh, dilihatnya tamu yang hendak menyeberang cukup banyak.
Begitu kapal tambangan merapat, berturut-turut para tamu lantas naik ke atas kapal.
Kapal tambangan ini cukup besar, dapat memuat beberapa puluh penumpang. Yu wi naik ke kapal bersama dengan Bok Wi-sian dan ci Hui-liong.
Selesai para penumpang naik keatas kapal, tukang perahunya lantas angkat galah dan menolak tapian, kapal tambangan pelahan lantas meninggalkan dermaga.
Setiba ditengah sungai, Yu Wi melihat arus sungai cukup deras, pikirannya juga bergolak, "Dari cerita orang she Bok tadi jelas Le Kun adalah seorang kesatria tua yang berbudi luhur, dia tidak memberi ampun kepada keponakan sendiri yang ikut berbuat kejahatan, tentu juga dia takkan mengizinkan puterinya sendiri melakukan keganasan, lebih-lebih takkan membiarkan anggota Thi-bang-pang berbuat kejahatan. Lalu sesungguhnya siapakah pembunuh Yap Jing dan Ho si? juga orang she Ci itu memuji kebaikan Le Kun, rasanya tidak bisa keliru lagi. semua orang pun sama memuji Thi-bang-pang sebagai perkumpulan yang baik, kenapa dirinya masih meragukannya, Ai, lantas siapakah si pembunuhnya? Tampakkya diriku tidak bolah menuruti nafsu, kalau urusan terlanjur runyam, tentu akan ditertawai malah oleh pembunuh yang sebenarnya. Akan tetapi sapu tangan itu jelas membuktikan orang Thi-bang-pang pernah berkunjung kerumahku, kalau bukan puteri Le Kun, juga kejahatan itu bukan dilakukan oleh orang Thi-bang-pang, lantas untuk apa mereka pergi kesana."
Selagi Yu Wi tenggelam dalam pikirannya sendiri, sekonyong-konyong ombak mendampar sehingga kapal tambangan itu berguncang dengan hebat.
Bok Wi-sian duduk disamping Yu wi, dia dibesarkan didaerah Kwan-gwa, tempat yang gurun pasir melulu, mana dia pernah menumpang kapal tambangan, karena itulah ia menjadi kaget dan cepat memegang pundak Yu Wi sambil berseru, "Wah, kapal bisa terbalik, bisa terbalik . . ."
Di belakang Bok Wi-sian berdiri seorang tua kurus kecil, agaknya dia juga tidak tahan oleh oleng kepal tambangan tadi, ia jatuh menubruk di atas tubuh Bok Wi-sian, tapi cepat ia merangkap bangun, dengan muka merah ia berkata. "Ah, tidak apa, jangan kuatir, kapal takkan terbalik"
Dia malahan tepuk-tepuk pundak Bok Wi-sian untuk membesarkan hatinya.
Dengan tertawa Ci Hui-liang juga berkata, "Jangan kuatir Bok-loheng, ombak sekecil ini mana bisa membikin kapal terbalik, kalau ombak begini saja menenggelamkan kapal, setiap hari entah berapa puluh kali kapal akan terbalik di Tiangkaag ini."
"Dan juragan perahu kita mungkin harus makan angin," demikian tukas salah seorang penumpang dengan tertawa. Maka semua orang pun bergelak tertawa.
Tiba-tiba Yu Wi berdiri dan berkata kepada si kakek kurus kecil, "Silakan Lotiang (bapak) duduk disini"
Tanpa menghiraukan orang mau duduk atau tidak, segera Yu Wi menariknya berduduk ditempatnya itu.
Usia kakek kurus kecil itu sudah lebih setengah abad, Yu Wi separoh lebih muda daripada dia, bahwa orang muda memberi tempat duduk kepada orang tua adalah perbuatan sopan pula si kakek tidak tahan oleh oleng kapal tambangan, kalau tidak tertahan oleh tubuh Bok Wi-sian tentu kakek itu sudah tercebur ke sungai. sebenarnya ada penumpang lain akan memberi tempat duduknya pada si kakek. Tapi telah didahului oleh Yu Wi, perbuatannya yang sopan ini sama mendapat pujian para penumpang.
Si kakek kurus kecil itu menyengir, tanpa sungkan dia terus berduduk disamping Bok Wi-sian dengan sikap bangga dan senang, seakan-akan orang lain memberi tempat duduk padanya adalah perbuatan selayaknya.
Pelahan kapal sudah dekat Hanyang, si kakek kecil sengaja hendak bergaul dengan Bok Wi sian, ia mendahului menyapa, "Apakah Anda tidak pernah numpang kapal?"
Bok Wi-sian membenarkan, maka kakek itu mencerocos pula, "Ah. pantas, orang dari Kwan-gwa, tentu saja kuatir kapal terbalik. Ketika untuk pertama ia kunaik kapal juga takut kapal akan tenggelam, akhirnya kapal tidak beralangan, tapi saking ketakutkan sehingga barang bawaanku terlupa dan ketinggalan di atas kapal."
Setiap omong satu kalimat, tentu diselingi gelak tertawanya. Keruan Bok Wi-sian jadi tersipu-sipu, teringat kelakuannya tadi, tidak heran jika orang mentertawakan dia.
Dengan gembira kakek kurus kecil itu terbahak-bahak. Dia mentertawai orang lain, ia tidak tahu diam-diam Yu Wi juga sedang mentertawakan dia.
Kiranya kakek kurus kecil ini adalah seorang pencopet sakti terkenal. orang memberi julukan "sam-jiu-sin-coa" atau si copet sakti bertangan tiga padanya, namanya Tam Yan-jun. Dia ahli mencuri benda mestika atau batu permata yang sukar dicari setiap orang yang pernah tersentuh oleh tangannya, kebanyakan pasti kebobolan hingga habis-habisan.
Waktu berada di Wi-ho-lau tadi, si copet sakti Tam Yan-jun telah mengikuti percakapan antara Bok Wi-sian dan ci Kui-liong dengan jelas, diam-diam ia membatin bahwa Bok Wi-sian adalah adik kandung hartawan nomor satu di Kwan-gwa, yaitu Kiu-liong-pian Bok Cay-sian, kungfunya pasti tidak lemah, kewaspadaannya tentu juga tinggi, malahan disebelahnya berduduk seorang tokoh terkenal sebagai ci Hui-liong, betapapun ia tidak berani sembarangan turun tangan-
Maka ia terus menguntit di belakang Bok Wi-sian, ia pun ikut menumpang kapal tambangan. Ketika kapal oleng terdampar ombak, ia pikir inilah kesempatan paling bagus. segera ia pura-pura jatuh kepangkuan Bok Wi-sian, tapi berbareng itu kado yang tersimpan dalam baju Bok Wi-sian digerayangi dan berpindahlah kesakunya.
Dia pura-pura jatuh, tentu saja lagaknya sangat sesuai dengan usianya sehingga tidak menimbulkan curiga orang. semula Yu Wi mengira dia benar-benar terjatuh, namun mata Yu Wi sudah terlatih memandang di tempat yang gelap. tidak percuma dia berdiam selama setahun didalam makam Thian-ti-hu, ketika benda mustika jatuh ke tangan Tam Yan-jun, cahayanya yang berkilau sekilas dapat dilihat oleh Yu Wi.
Tiba-tiba timbul akal Yu Wi, ia pun pura-pura memberi tempat duduk kepada Tam Yan-jun, tapi pada waktu ia menarik si kakek untuk berduduk. berbareng iapun berhasil memindahknn kado yang dicuri si kakek itu kesakunya sendiri
Hendaklah maklum, Yu Wi telah memperoleh pelajaran 13 jurus pukulan ajaib dari Ji Pek-liong, setiap jurus itu sangat aneh dan ajaib sesuai namanya, meski bukan ilmu pukulan nomor satu di dunia, tapi gerakkannya yang fantastis sungguh sukar dibayangkan orang.
Jurus pertama dari ke 13 jurus ajaib itu bernama "Biau-jiu-khang-khang" atau tangan ajaib membuat kosong, jurus ini adalah gerakan ajaib yang sukar dibayangkan oleh pencopet mana pun. sebabnya Ji Pek-liong memberi nama jenaka pada jurus pertama ini dengan Biau-jiu-khang-khang adalah karena jurus ini memang dapat digunakan menggeranyangi saku tokoh kelas tinggi mana pun.
Yu Wi pernah mendengar cerita Ji Pek-liong tentang dimana letak kehebatan jurus pertama itu, tapi belum pernah dicobanya, sekarang untuk pertama kalinya dia mencoba dan memang benar dengan gampang ia telah berhasil sehingga copet sakti sebagai Tam Yan-jun juga kena dikerjai.
Kapal tambangan sengaja berlabuh dimuara Eng-bu-ciu untuk menurunkan belasan penumpang yang khusus datang buat mengucapkan selamat kepada Le-lopangcu. Berturut-turut Bok Wi-sian, ci Hui-liong, Tam Yan-jun dan lain-lain lantas turun, Yu wi turun paling akhir, ia ikut bersama orang banyak menuju ke markas Thi-bang-pang.
Protokol Thi-bang-pang menyambut kedatangan para tamu keruangan pesta, tertampak diruangan besar itu sudah penuh hadir beberapa ratus tamu terdiri dari berbagai golongan dan kalangan, ada kaum kesatria dunia Kangouw. ada kaum terpelajar, ada hartawan setempat, bahkan bupati kepala daerah oupak juga hadir, ramainya dan meriahnya sungguh jarang tertampak.
Pada meja pertama di ujung ruangan pesta ini kecuali terdapat tuan rumah Le Kun, selebihnya adalah kesatria ternama serta dua-tiga orang hartawan terkemuka, tentu juga sang bupati berduduk pada tempat yang terhormat.
Yu Wi sudah menyamar, mukanya dirias sehingga kelihatan kurus pucat tidak menarik sama sekali, ia ikut di belakang ci Hui-liong dan Bok Wi-sian sehingga para penyambut mengira dia adalah rombongan Bok Wi-sian dan mengantar mereka kemeja yang berdekatan dengan meja ujung sana.
Setelah berduduk, Yu Wi melihat dinding tengah ruangan besar itu tergantung sehelai kain merah bertulis kan "siur (panjang umur), disebelahnya tergantung pula kain dengan tulisan "siang-hi (bahagia).
Diam-diam Yu Wi membatin puteri Le Kun itu entah menikah dengan siapa, sejauh ini calon mempelai lelakinya belum diketahuinya. Dalam pada itu berbondong-bondong datang pula beratus tamu lain sehingga jumlah tamu seluruhnya ada ribuan orang.
Tidak lama terdengarlah kepala protokol berseru, "Pesta ulang tahun dimulai"
Yu Wi pikir kalau perta ulang tahun dimulai lebih dulu, lalu bilakah pesta nikah dimulai lagi?jika kedua pesta ini diadakan secara terpisah dan berturut-turut, tentu para tamu akan kekenyangan makan dua kali.
Habis protokol menyerukan bahwa pesta ulang tahun dimulai. satu persatu para tamu lantas mendekati tuan rumah Le Kun untuk mengucapkan selamat. Tapi belum kelihatan perjamuan akan dimulai.
Rupanya yang dimaksud pesta ulang tahun dimulai hanya pemberitahuan para tamu boleh mulai mengucapkan selamat. Selesai mengucapkan selamat ulang tahun, menyusul adalah upacara pernikahan, selesai upacara nikah barulah kedua macam perjamuan itu dimulai bersama, jadi tidak terpisah dan pesta dua kali.
Beramai-ramai para tamu lantas menyampaikan kado masing-masing dan diterima oleh petugas yang telah siap.
Pada meja Yu Wi ini, selesai Ci Hui-liong mengucapkan selamat kepada tuan rumah, dia lantas memberikan sumbangan 10 tahil emas, yang lain juga berbuat begitu dan tersisa Yu Wi dan Bok Wi-sian saja.
"Bok-loheng, kenapa tidak mengucapkan selamat kepada Le-lopangcu" tanya Ci Hui-liong dengan tertawa.
"Sebentar, sebentar lagi. tidak perlu terburu-buru," jawab Bok Wi-sian.
Pada saat itulah terdengar protokol tadi berteriak pula. "Lok-eng-kiam Ciok Tiang-giok dari Kanglam bersama anak muridnya datang mengucapkan selamat ulang tahun dengan kado sepotong jing-ni-un-giok?"
Jing-ni-un-giok atau batu pualam hangat itu tak ternilai harganya, sekarang barang demikian dijadikan kado, tentu saja hal ini membuat gempar para tamu.
Setiap kali menerima sumbangan, petugas itu lantas berteriak mengumumkan kado yang diterima itu. Bila kadonya sangat berharga, teriakannya sengaja diperkeras sebagai tanda kebanggaan penerima sumbangan-
Maklumlah, semakin berharga kado yang diberikan menandakan semakin hormatnya penyumbang itu kepada tuan rumah, kalau tidak. tak mungkin memberikan kado sedemikian berharga.
Dengan suara pelahan Ci Hui-liong tanya Bok Wi-sian, "Apakah Bok-loheng kenal Lok-eng-kiam ciok Tiang-giok" Bok Wi-sian menggeleng.
"Ciok Tiang-giok adalah pejabat ketua Gan-heng-bun, juga hartawan terkemuka daerah Kang-lam, sekali ini dia memberi kado Jing-ni-un-glok, sungguh tidak rendah nilainya."
"Ada hubungan apa antara Ciok Tiang-giok ini dengan Le-loenghiong sehingga memberi sumbangan sedemikian berharga?" tanya Bok Wi-sian-
"Serupa kakakmu, dia juga pernah mendapat bantuan Le-lopangcu," tutur Ci Hui-liong dengan tertawa. " Kalau Le-lopangcu tidak ikut campur, waktu itu Gan-heng-bun hampir saja disikat habis oleh musuh bebuyutannya Pek-ho-bun, jadi sumbangan ciok Tiong-giok ini boleh dikatakan pantas."
Begitulah protokol terus bcrseru menyebutkan nama pengantar kado dan barang sumbangan yang tidak berharga tidak disebutkan- yang agak berharga segera diteriakkan-Lalu tidak terdengar ada benda mestika lain lagi kecuali emas perak.
Diam-diam Yu Wi membatin sekali mengadakan perayaan ulang tahun berarti Le Kun mengeduk harta karun satu kali.
Maka tanpa terasa timbul kurang puasnya terhadap kepribadian Le Kun ia tidak tahu bahwa biasanya le Kun menolong orang tanpa minta balas jasa, pada kesempatan berulang tahun inilah orang yang pernah mendapat pertolongannya lantas mengantarkan kado secara suka rela dan ini memang pantas dilakukannya. juga pada saat demikian inilah Le Kun tidak enak menolak. Jika sumbangan itu diberikan pada hari-hari biasa selalu ditolaknya.
Terdengar protokol berseru beberapa nama lagi dan tetap tidak kelihatan Bok Wi-sian berbangkit.
Dengan tertawa Ci Hui-liong lantas berkata. "Kado Bok-loheng tentu sangat berharga, sebelum saat terakhir tidak diperlihatkan, betul tidak?"
Bok Wi-sian berwatak lurus jujur, dia memang mempunyai maksud untuk membikin terkejut orang banyak pada waktu kadonya diserahkan terakhir nanti. sekarang ci Hui liong telah membongkar isi hatinya, ia tidak enak lagi untuk berdiam lebih lama, segera ia berbangkit dan menyerahkan kepada pelayan sehelai kartu merah, berbareng itu ia pun maju mengucapkan selamat kepada Le Kun-
setelah menerima kado itu, protokol lantas barseru, "Bok-keh-but-tio dari Kwan-gwa, diwakili Bok Wi-sian atas nama kakaknya Kiu-liong-pian Bok Cay-sian mengucapkan selamat kepada Le-pangcu, kado berupa sepasang Hwe-liong-cu dan emas seribu tahil."
Pengumuman ini memang benar menggemparkan para hadirin- seribu tahil emas saja sudah cukup mengejutkan, apalagi ditambah sepasang Hwe-liong-cu atau mutiara naga api. Nilai satu biji mutiara itu sudah diatas Jing-m-un-giok, apa lagi sepasang, biarpun raja juga tidak memilikinya.
Hwe-liong-cu itu diperoleh Bok Cay-sian secara kebetulan, yaitu ditemukan pada waktu dia sedang menggembala kuda. Mutiara itu lantas disimpannya dan disayang melebihi jiwa sendiri sekali ini demi untuk membalas budi Le Kun, dengan rasa berat ia mengirimkan mutiara sebagai kado.
Pada siang hari Hwe-hong-cu itu tidak kelihatan ada sesuatu yang istimewa, warnanya merah gelap. tapi bila malam tiba, segera mengeluarkan cahaya dan dapat menerangi kamar seperti api. sungguh semacam benda mestika yang sukar dicari.
Mendengar adanya kado sedemikian berharga Le Kun lantas berbangkit dan menyapa Bok Wi-sian- " Kakak Anda mengirimkan kado berharga ini sungguh malu bagiku untuk menerimanya. Biarlah emasnya kuterima, sedang kan sepasang Hwe-liong-cu itu mohon Bok-heng suka membawa pulang dan kembalikan kepada kakak Anda, sampaikanlah rasa terima kasih dan salamku kepada beliau."
Bok Wi-sian membari hormat dan menjawab "silakan Le-lopangcu duduk saja. Lopangcu telah menyelamatkan keluarga Bok kami, budi pertolongan ini setinggi gunung, selama tiga tahun ini kakak tidak pernah lupa dan baru sekarang sempat memperlihatkan sedikit rasa terima kasih kami, Kalau Lopangcu tidak sudi menerima, jangankan kakak. Cayhe juga tidak dapat memberi pentanggunganjawaban kepada kakakku dan akan kurasakan tidak enak". Karena ucapanBok Wi-sian ini, segera timbul bermacam-macam komentar orang.
Banyak yang menduga-duga sebenarnya ketua Thi-bang-pang itu pernah memberi budi pertolongan apa kepada keluarga Bok?
Dengan tartawa Le Kun berkata, "Jika memang begitu maksud baik Anda bersaudara, baiklah kuterima saja."
Rupanya ia kuatir bila menolak lagi mungkin Bok Wi-sian akan menceritakan peristiwa membunuh keponakan sendiri dan menyelamatkan puteri Bok Cay-sian dahulu itu. kejadian itu selama ini dirahasiakan Le KUn dan tidak diketahu orang luar. kalau sampai tersiar, tentu akan menimbulkan macam-macam pendapat orang dan membuatnya menyesal dan berduka.
Kiranya keponakannya itu adalah putera satu-satunya kakak Le Kun, setelah sang kakak wafat, keponakan itu dibesarkan olehnya. siapa tahu setelah dewasa, anak itu tidak beiajar baik, sebaliknya suka berbuat hal-hal yang tidak senonoh. saking tidak tahan, Le Kun mengusirnya.
Mula-mula didengarnya keponakan itu terjerumus ke lembah hitam, lalu lari ke Kwan-gwa dan menggabung diri dengan kawanan bandit It-tin-hong.
Setelah menerima laporan dari Bok Cay-sian- Le Kun menjadi kuatir kalau keponakan itu semakin mengganas dan mencemarkan nama baik keluarga Le, akhirnya ia keraskan hati dan membunuhnya.
Sesudah kejadian itu, betapapun hati kecilnya terasa menyesal juga. Betapa pun jeleknya Keponakan tetap kaponakan dan merupakan anak tunggal kakak sendiri sekarang telah dibunuh olehnya bagaimana dia harus bertanggung iawab terhadap sang kakak dialam baka. Bila mana teringat demikian rasa duka dan menyesalnya sungguh tak terkatakan, begitulah setelah Bok Wi-sian mendengar Le Kun mau menerima kadonya, dengan senang ia merogoh saku hendak mengeluarkan Hwe-liong-cu. siapa tahu mukanya lantas berubah hebat begitu tangan masuk saku. , , .
Ketika Bok Wi-sian hendak mengeluarkan barang sumbangannya, beribu pasang mata para hadirin sama memandangnya dan tiada seorang pun yang bicara, sebab semua orang ingin melihat benda mestika yang termashur sebagai Hwe-liong-cu itu.
Siapa tahu kado yang dimaksud tidak dapat dikeluarkan oleh Bok- Wi-sian- bahkan orangnya seakan-akan menjadi linglung, hanya berdiri melongo dan tangan tetap di dalam saku.
Melihat raut muka Bok Wi-sian yang tidak beres itu, Le Kun cukup cerdik. segera ia berkata, "Baraong hadiah Bok-heng sangat berharga, janganlah dikeluarkan disini, silakan antar saja ke belakang langsung serahkan isteriku."
Sampai sekian lama barulah Bok Wi-sian dapat menjawab, "Le-loenghiong, barang . . .barang. . . sumbanganku telah hilang."
Agaknya dia tidak dapat menangkap maksud Le Kun yang ingin menghindarkan kekikukannya di depan umum, setelah tenang kembali, tanpa terasa ia mengatakan kejadian yang sebenarnya.
Keruan ucapannya itu membikin gempar para hadirin, segera timbul macam-macam komentar, ada yang mengejek, bahkan ada yang bergelak tertawa, mentertawai Bok Wi-sian tidak membawa kado apa- apa, tapi sok omong besar.
Tentu saja muka Bok Wi-sian menjadi merah padam karena sindiran orang banyak itu, mendadak ia berpaling dan membentak. "sahabat Kangouw manakah yang bergurau dengan orang she Bok secara tidak patut ini, silakan tampil ke muka?"
Ia tahu di antara hadirin pasti ada seorang yang telah mencuri Hwe-liong-cu, sebab pada waktu naik kapal tambangan ia telah meraba sakunya satu kali, bila jatuh tidak mungkin jatuh di atas kapal. diruangan pesta ini juga tidak mungkin barang jatuh dengan begitu saja. ia yakin pasti ada pencuri yang telah menggerayangi sakunya.
Bahwa pencuri ini dapat menggerayangi bajunya tentu pencuri ini adalah orang terkenal, bisa juga hadir untuk mengucapkan selamat kepada Le Kun, maka bentakannya ini bukan asal membentak. la yakin si pencuri tidak nanti dapat kabur, sebab bila dalam keadaan demikian ada orang hendak pergi dari ruangan ini pasti akan menimbulkan curiga orang banyak.
Tiba-tiba Ci Hui-liong teringat kepada si kakek kurus kecil yang jatuh menubruk ketubuh Bok Wi-sian karena oleng kapal tambangan tadi, potongan kakek kecil itu serupa sicopet sakti Tam Yan-jun menurut cerita orang, tadinya dia tidak tahu Bok Wi-sian membawa kado berharga begitu besar. kalau tahu tantu gerak-gerik kakek kurus kecil itu sudah diperhatikannya.
Ia pikir si copet sakti bertangan tiga itu memang terkenal suka mencuri benda-benda mestika, bisa jadi kedatangannya ini bukan untuk mengucapkan selamat kepada Le Kun melainkan untuk "bisnis". maka ia lantas mendekati Bok Wi-sian. dengan suara tertahan ia beritahukan prihal si copet sakti itu.
Dalam pada itu Le Kun telah berdiri dan berseru, "Harap Bok-heng duduk saja dengan tenang, tentang sumbangan kakak anda anggaplah sudah kuterima. Bahwa ada bangsat yang berani main gila disini, jelas ingin memusuhi diriku, barang ini pasti akan kucari kembali."
Bok Wi-sian memberi hormat, katanya, "Le-loenghiong merayakan ulang tahun, tapi terjadi hal yang memalukan diriku ini, betapa pun keluarga Bok takkan menyudahi Urusan ini dengan bangsat itu. Mohon Le-loenghiong mengizinkan kuajukan suatu pertanyaan kepada para hadirin-"
Le Kun diam saja, maka Bok Wi-sian lantas menyambung, "ingin kutanya. adakah sam-jiu-sin-coa Tam Yan-jun hadir di sini? Bila hadir silakan tampil kedepan-"
Mendengar disebutnya nama "sam-jiu-sin-coa", para hadirin menjadi geger dan sama bertanya, "Apakah copet sakti ini juga hadir di sini?"
Segera ada orang berseru, "Kok tidak kelihatan, kukenal si tua itu tidak terlihat dia hadir di sini."
"Apabila Sam-jiu-sin-coa datang kesini, memang betul sangat mungkin barang berharga ini telah dicopet olehnya."
"Untung Tam-losiansing tidak hadir, kalau tidak, biarpun mandi tiga tahun di tengah sungai juga sukar mencuci bersih tuduhan ini."
Demikian beramai-ramai para hadirin memberi komentar. orang yang bicara terakhir itu jelas adalah sahabat Tam Yan-jun, ucapannya bernada membela copet sakti itu.
Malahan nadanya juga menuduh Bok Wi-sian sengaja menonjolkan nama sam-jiu-sin-coa agar orang mencurigai copet itulah yang mencuri barangnya, sedikitnya supaya dia tidak sanggup memperlihatkan kado yang dibawanya itu.
Tentu saja Bok Wi-sian dapat merasa kan sindiran itu, ia menyapu pandang sekejap para hadirin dan memang benar tidak terlihat bayangan kakek kurus kecil, ia yakin Hwe-liong-cu pasti dicuri oleh kakek itu. akan tetapi orangnya tidak hadir, cara bagaimana menuduhnya, sungguh ia merasa serba susah. Segera ia berteriak pula, "Adakah diantara hadirin pernah melihat kehadiran sam-jiu-sin-coa, mohon suka menjadi saksi bagiku."
Berulang ia membentak tiga kali, tapi hanya Ci Hui-liong saja yang berdiri di sebelahnya, tidak ada orang lain lagi yang mau menjadi saksi.
Terpaksa Ci Hui-liong buka suara membantunya, "orang she Ci berani menjadi saksi berdasarkan kehormatan pribadiku bahwa sam-jiu-sin-coa itu seperti pernah datang dan berada ber-sama2 kami di atas kapal tambangan- Barang sumbangan Bok- heng pasti dicuri dia."
Mendadak seorang tamu berdiri dan tertawa. katanya, "seperti pernah datang, ucapan Ci-cong-piauthau ini sungguh naif. Urusan ini sangat penting, jika Anda berdua memang bermusuhan dengan Tam-losiansing, lalu sengaja mencemarkan nama baik beliau, jangan-jangan tujuan kalian hendak memancing agar Le-loenghiong suka membela kalian?"
Ucapan ini secara tidak langsung menuduh Bok Wi-sian pura-pura mengaku membawa kado berharga, tapi sengaja main sandiwara bersama Ci Hui-liong untuk memfitnah Tam Yan-jun yang telah mencuri barang sumbangannya. dalam keadaan demikian, tentu Le Kun tidak tinggal diam karena orang berani berbuat kejahatan fatal wilayah kekuasaannya, apa lagi yang dicuri adalah kado yang hendak disumbangkan padanya. Maka Le Kun pasti akan tampil kemuka untuk menghadapi Tam Yan-jun- Bila mana Tam Yan-jun sampai bermusuhan dengan Thi-bang-pang. maka pasti celakalah dia.
Para hadirin memang meragukan kemampuan Bok Wi-sian akan memberikan barang sumbangan berharga begitu, maka beramai-ramai mereka memberi komentar lagi, "Memang betul juga, siapa tahu kalau orang she Bok benar-benar membawa kado berharga itu atau tidak?"
"Apalagi kado untuk Le-loenghiong masa sam-jiu-sin-coa berani mencurinya? Tentu kedua orang ini sengaja hendak memfitnah Tam-losiansing agar Le-lopangcu bermusuhan dengan copet sakti itu."
"Betul Bedebah. Kedua orang ini sengaja bergembar-gembor di ruangan pesta ini, hakikatnya sengaja hendak mengacau kemeriahan perayaan Le-loenghiong ini." begitulah disana-sini sama memberi komentar dan tidak ada yang membela Bok Wi-sian.
Mau-tak-mau Le Kun berkerut kening, ia menjadi rada percaya kepada komentar orang banyak itu dan merasa sangsi Bok Wi-sian memang tidak membawa barang sumbangan, tapi sengaja hendak mencari perkara kepada Tam Yan-jun agar dirinya ikut terseret didalam permusuhan mereka.
Setelah berpikir sejenak, segera ia berkata pula, "Baiklah, Bok-heng dan ci-heng silakan kembali ketempat duduk masing-masing, urusan ini tentu akan kuselidiki dengan jelas. sekarang upacara nikah puteriku segera akan dimulai, kuharap kalian jangan merusak suasana yang riang ini."
Mendengar ucapan Le Kun itu bernada meragukan kebenaran kado yang dibawanya. tubuh Bok Wi-sian sampai gemetar saking gemasnya.
Cepat Ci Hui-liong membujuknya. "Bok-heng. urusan ini sementara ditunda dahulu, marilah kita bicara lagi nanti."
Dengan lesu Bok Wi-sian kembali ketempat duduknya.
Dalam pada itu Le Kun telah berseru pula dengan suara lantang. "Pada hari ulang tahunku ini sampai timbul urusan yang kurang menyenangkan ini. kuharap para hadirin tidak memikirkannya lagi. sekarang hendak kuumumkan kepada para hadirin tentang urusan pernikahan puteriku, setelah berlangsung satu pekan sayembara. akhirnya terpilih seorang kesatria muda, pada kesempatan ulang tahunku ini kulangsungkan pernikahan puteriku dan selesaliah tugasku sebagai orang tua."
Ada seorang tamu mengajukan pertanyaan, "Entah siapakah nama kesatria muda yang beruntung terpilih sebagai menantu Le-lopangcu?"
Dengan tertawa bangga Le Kun menjawab, "Bakal menantu itu she Yu bernama Wi".
"Hah. kiranya putera Ciang-kiam-hui Yu Bunhu" demikian para hadirin sama berseru kaget.
Kiranya nama Yu Wi belakangan telah mulai terkenal berhubung dia mengusut musuh yang membunuh ayahnya menurut buku daftar nama pembunuh itu, tindakannya itu telah tersiar luas sehingga orang Kangouw sama tahu Yu Bun-hu mempunyai keturunan yang cukup lihai.
Tentu saja Yu Wi terkejut mendengar namanya disebut sebagai bakal menantu Le Kun, ia heran bilakah dirinya pernah ikut sayembara memperebutkan gadis orang?
Tapi segera ia paham duduknya perkara demi teringat olehnya akan saudara seibu lain ayah, yaitu Kan ciau-bu, pikirnya, "Pasti dia yang menggunakan namaku untuk ikut sayembara ini, padahal dia sudah punya tunangan seperti Lau Yok ci, juga punya pacar cantik sebagai Lim Khing-kiok. mengapa sekarang dia penujui puteri Le Kun-"
Bab 7 : Ko Bok-cing, kakak Ko Bok-ya lain ibu
Segera wajah si nona baju merah terbayang oleh Yu Wi, ia merasa nona itu tidak lebih cantik daripada Lim Khing-kiok. juga tidak seluwes dan anggun sebagai Lau Yok ci, entah apa yang ditaksir oleh Kan ciau-bu.
Jangan-jangan karena Hian-ku-cip milik nona berbaju merah itu?
Berpikir sampai di sini, diam-diam ia berkata didalam hati, "Ya, betul, pasti Hian-ku-cip yang di incarnya."
Segera ia berdiri dan berseru, "Le-loenghiong, di manakah menantu Anda sekarang berada?"
"Sebentar lagi bakal menantuku akan keluar melangsungkan upacara nikah, sampai saatnya nanti tentu para hadirin dapat melihatnya," jawab Le Kun dengan tertawa. Dalam pada itu protokol di sebelah sana sedang berteriak,
"Pesta nikah dimulai" Segera pemain musik membunyikan alat tetabuhannya.
"Nanti dulu" mendadak Yu Wi membentak keras-keras.
Karuan semua orang sama terkejut, pemain musik juga kaget dan berhenti bermain.
Yu Wi lantas melangkah ketengah ruangan, ia memberi hormat kepada Le Kun, lalu berkata, "Maaf, cayhe ingin bertemu dengan menantu Anda, entah boleh tidak?"
"Untuk apa kau ingin bertemu dengan menantuku? Jika sahabat, silakan tunggu sebentar setelah selesai upacara nikah." jawab Le Kun dengan gusar,
Tapi Yu Wi lantas menggeleng kepala, katanya, "Bila tunggu sampai upacara selesai, mungkin urusan sudah terlambat."
"Terlambat apa segala? Hendaklah Anda tahu diri kalau bicara," seru Le Kun dengan mendongkol.
"Keluhuran budi Le-loenghiong termashur diseluruh dunia," ucap Yu Wi pula dengan pelahan, "Jangan-jangan nanti memancing serigala masuk kerumah sehingga membikin susah puteri kesayangan Anda sendiri, bahkan juga merusak nama baik Le-loenghiong sendiri"
Ketika teringat kepada cerita Ci Hul- liong bahwa akhir-akhir ini ada orang sengaja membikin cemar nama baik Le Kun, segera Yu Wi yakin apa yang terjadi itu pasti juga perbuatan Kan Ciau-bu orang ini berwatak keji dan culas, dia ingin menikahi puteri Le Kun, tujuannya adalah Hian-ku-cip. tidak nanti dia bermaksud baik, dan hanya dia saja yang dapat melakukan hal-hal yang terkutuk itu.
Contoh sudah banyak, seperti Mo-kui-tocu Yap su-boh telah membantu dia merebut Thian-ti-hu, setelah berhasil, dia tidak berterima kasih, sebaliknya membalas air susu dengan air tuba, dia sengaja mengadu domba antara ketujuh perguruan besar agar menyerbu Mo-kui-to. Kalau perbuatan itu dapat dilakukan Kan ciau-bu, mustahil dia tidak cuma pura-pura kawin dengan puteri orang, tapi diam-diam membikin celaka mertua sendiri
Le Kun juga sudah tahu akhir-akhir ini ada orang berbuat hal-hal yang mencemarkan nama baiknya, cuma tidak diketahui siapa yang berbuat. sekarang setelah mendengar ucapan Yu Wi yang jelas menuding sebagai perbuatan bakal menantunya yang telah merusak nama baiknya, tentu saja dia meragukan keterangan Yu Wi itu, segera ia tanya, "Berdasarkan apa Anda bicara demikian dan adakah buktinya? siapa Anda sesungguhnya?"
"Siapa diriku kukira tidak perlu kukatakan, mengenai bukti, yang pasti bukan sengaja kubicara dengan ngawur, asaikan calon mempelai lelaki itu mau keluar untuk bertemu, tentu baik atau busuknya akan ketahuan."
"Hm, hari ini adalah hari babagia kedua mempelai, mana bisa hanya lantaran ocehan seorang yang tidak terkenal lantas melantarkan upacara nikah ini jika Anda masih ingin bicara lagi boleh ditunda dulu, silakan mundur kesamping saja."
Tapi Yu Wi lantas mengeluarkan satu kotak merah kecil.
Mendadak Bok Wi-sian berteriak, "Hah, itulah dia barang sumbanganku yang hilang. Bangsat, kiranya kaulah pencurinya"
Sembari bersuara segera ia hendak menerjang maju, tapi Ci Hui- liong keburu mencegahnya, desisnya, "sssst, sabar dulu Bok-heng, dengarkan apa yang hendak dikatakan bocah itu"
Terdengar Yu Wi berseru pula, "Memang betul, inilah barang sumbangan Bok-keh- but-tio dari Kwin-gwa yang sedianya hendak diserahkan kepada Le-loenghiong"
Dengan tenang Yu Wi buka kotak itu, seketika cahaya merah terpancar keluar dari dalam kotak kecil itu, dikeluarkannya sehelai kertas berwarna putih lalu berteriak lagi, "Inilah Kim-bio (sejenis cek emas yang berlaku dimana pun) dengan nilai nominal seribu tahil emas"
Kemudian dikeluarkan juga dua biji mutiara merah dan berseru pula. "Dan inilah sepasang Hwi- liong- cu, jelas bukan barang imitasi."
Mutiara dan Kim-bio diperlihatkan, semua, orang yang semula mencurigai Bok Wi-sian berpura-pura memberi kado bayangan itu sekarang harus percaya penuh akan kebenarannya, juga tidak percaya lagi ada persekongkolan antara Bok Wi-sian dan ci HHui- liong untuk menfitnah diri si copet sakti Tam Yan-jun. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah siapakah sasungguhnya yang mencuri barang sumbangan itu?
Yu Wi lantas menyodorkan barang sumbangan itu kedepan meja Le Kun, ucapnya dengan hormat,
"Inilah kado dari Bok-kek-but-tio dengan ucapan semoga Le-loenghiong panjang umur, banyak rejeki dan tambah hokkhi."
Melihat tindakan Yu wi itu Bok Wi-sian tidak lagi mencurigai Yu Wi sebagai pencuri barang sumbangannya, diam-diam ia membatin, "Bilamana dia sengaja mencuri barangku, tentu sudah dibawa kabur dan tidak nanti dikeluarkan lagi di sini."
"Barangmu ini pasti dicuri oleh sam-jiu-sin-coa Tam Yan-jun," demikian ci Hui- liong membisiki Bok Wi-sian.
Benar juga, segera didengarnya Yu Wi lagi berkata, "Barang sumbangan ini telah dicuri oleh seorang kakek kurus kecil dari baju Bok-heng ketika bersama-sama menumpang kapal tambangan, tapi cayhe telah berganti mencurinya dari kakek kecil itu. setelah mendarat, kakek itu lantas pergi entah kemana, sebab itulah para hadirin disini tidak ada yang melihat kehadirannya."
Yu Wi tidak menyatakan nama pencurinya, tapi dengan keterangannya itu tahulah semua orang bahwa pencurinya itu jelas sam-jiu-sin-coa Tam Yan-jun, sebab copet sakti itu memang bertubuh kurus kecil, usianya sudah lanjut, hal ini sama diketahui orang.
Ci Hui- liong dan Bok wi-sian sangat berterima kasih atas keterangan Yu wi itu. Tadi sebagian hadirin tidak mengakui sam-jiu-sin-coa pernah datang tapi dengan keterangan Yu Wi itu, hilangnya prasangka orang banyak terhadap Ci dan Bok berdua.
Segara Yu Wi berkata pula, "setalah Le-loenghiong menerima kembali kado yang hilang ini, entah boleh tidak bertemu sebentar dengan bakal menantu Anda?"
Bahwa orang dapat mencuri barang dari baju seorang copet sakti sebagai sam-jiu-sin-coa Tam Yan-jun, jelas ilmu tangan panjangnya ini sangat mengejutkan dan tentu juga kungfunya lain daripada yang lain, asal usulnya pasti juga tidak sederhana, maka Le Kun pikir bila orang berkeras ingin bertemu dengan calon menantu sebelum upacara nikah berlangsung tentu juga ada maksud tujuan tertentu, maka berkatalah dia, "Baik, coba undang keluar si Yu Wi"
Ia tidak tahu bahwa Yu Wi yang tulen justeru adalah anak muda yang berada didepannya sekarang.
Dalam pada itu Kan cian-bu sudah siap diruangan belakang untuk malakukan upacara nikah, tiba-tiba didengarnya sang mertua mengundangnya keruangan depan sendirian. Tentu saja ia merasa heran, terpaksa ia menanggalkan baju pengantin dan menuju kedepan. Dilihatnya di tengah ruangan berdiri seorang lelaki berwajah kuning pucat yang tidak dikenalnya.
Le Kun lantas menunjuk Yu Wi dan berkata kepada Kan cian-bu dengan tertawa, "Hiansai (menantu sayang), apakah kau kenal orang ini?"
"Tidak," jawab Ciau-bu sambil menggeleng.
"Hm, apakah benar kau tidak kenal diriku, orang sho Kan?" jengek Yu Wi.
Keruan tidak kepalang kejut Kan Cian-bu, ia pikir siapakah orang ini? Rasanya sudah kenal benar suaranya, mengapa dia tahu diriku she Kan dan bukan she Yu?
Didengarnya Yu Wi berkata pula, "Tidak menjadi soal jika tidak kau kenal diriku lagi. sekarang ingin kuperlihatkan sesuatu barang, aku tidak kau kenal. barang ini pasti kau kenal"
Yu Wi lantas mengeluarkan saputangan berwarna jambon itu.
seketika air muka Kan cian-bu berubah demi melihat saputangan itu, dengan suara kaget ia tanya.
"Betul, kukenal sapu tangan ini, dari mana kau memperolehnya?"
Mendadak kulit muka Yu Wi berkejang, dengan suara pedih ia bertanya pula, "Sapu tangan ini adalah tanda mata pemberian Le-siocia kepadamu, bukan?"
Kan ciau-bu tidak ingat dimana hilangnya saputangan itu, bicara tentang barang tanda mata,
dengan tertawa bangga ia menjawab. "Betul, saputangan ini memang pemberian Le-siocia."
Mendadak tubuh Yu Wi bergemetar, akhirnya pahamlah dia siapa sesungguhnya pembunuh Yap Jing dan He si. Kepergian Kan ciau-bu ke rumahnya jelas berniat membunuh dirinya, sebab Ciau-bu kuatir kepalsuannya akan terbongkar kelak dan Hian-ku-cip gagal ditipunya.
Agaknya setiba Kan ciau-bu di Ci-he-san setelah tempat kediamannya itu, kebetulan Yu Wi berangkat ke Thian-ti-hu, maka dipergokinya He si yang khianat, pantaslah dia membelejeti baju He si, rupanya dia ingin melampiaskan rasa dongkolnya terhadap bekas budak yang belum sempat dilahapnya dahulu.
Pantas juga Yap Jing dan He si tanpa memberi perlawanan dan dapat tertutuk begitu saja, rupanya dia mengira Yu Wi yang telah pulang, sama sekali mereka tidak mengira yang berhadapan dengan mereka adalah Kan-toa kongcu yang jahat dan keji itu.
Rupanya He si tidak rela dinodai Kan ciau-bu, ia mengerumus lidah sendiri untuk membunuh diri sehingga nafsu binatang Kan ciau-bu tidak mencapai tujuannya bencinya lantas beralih kepada Yap Jing dan dibunuhnya sekalian.
Begitulah makin dipikir makin gemas Yu Wi, diam-diam ia berteriak di dalam hati, "Kan ciau-bu, wahai Kan ciau-bu, Jika kau tidak terburu-buru hendak ikut sayembara cari jodoh keluarga Le ini. tentunya saputangan tanda mata Le-siocia ini takkan kau hilangkan. semua ini menandakan setiap kejahatan pasti tidak terhindar daripada hukum Thian, justeru sapu tanganmu ini jatuh di halaman diluar tahumu sehingga dapat kupastikan siapakah pembunuh yang sebenarnya."
Tubuh Yu Wi bergemetar dengan hebat, timbul pertentangan batinnya, apakah dia harus membunuh saudara seibu lain ayah ini? Bila teringat kepada kematian Yap Jing dan Ho si yang mengenaskan itu, betapapun sakit hati ini harus dibalas.
Terpikir pula oleh Yu Wi. "Kau palsukan aku untuk memikat hati Le-siocia, makanya kau tahu dia memiliki kitab pusaka Hian- ku- cip. demi menipu kitab itu kau palsukan diriku masih dapat dimengerti, biarpun kau palsukan diriku untuk melakukan kejahatan lain juga dapat kumaafkan. tapi tidak seharusnya kau bunuh isteriku, bahkan menculik anakku untuk dijadikan sandera agar kelak aku tidak berani membongkar tipu muslihatmu."
Dengan rasa berat diam-diam Yu Wi berdoa, "o, ibu, janganlah kau salahkan diriku. betapa pun harus kubunuh anakmu yang satu ini, aku harus membalas dendam, dendam berdarah sedalam lautan."
Setelah ambil keputusan tetap sedapatnya Yu Wi tenangkan diri, lalu bertanya, "Tanda mata pemberian Le-siocia ini kenapa tidak kau simpan baik-baik. tapi terjatuh di rumahku?"
"Rumahmu?" Kan ciau-bu menegas dengan kaget. "Kau tinggal di mana?"
Yu Wi tidak menjawab, sebaliknya mendadak bertanya, "Di mana anakku?"
Melihat perubahan sikap orang, heran juga Ciau-bu jawabnya, "Anakmu? Dari mana kutahu di mana anakmu?"
Mendengar jawaban ini, tahulah Yu Wi anaknya tidak diculik olehnya, kalau tidak, pertanyaannya tentu akan memberi petunjuk kepada Ciau-bu untuk mengenali dirinya.
Ia pikir lantas di manakah anakku? Jangan-jangan diselamatkan orang? Tiba-tiba teringat olehnya mainan. singa-singaan yang hilang itu, katanya di dalam hati, "Ah, kiranya dia yang telah menyelamatkan anakku, pantas dia ambil sekalian mainan singa-singaan itu."
"Dia" yang dimaksudkan Yu Wi itu tak lain tak bukan ialah Lau Yok-ci, sebagai diketahui dia pula yang mengirimkan mainan singa-singaan itu tatkala anak Yu Wi berumur sebulan.
"Sesungguhnya siapakah kau?" demikian Kan ciau-bu bertanya pula.
Yu Wi mangira ciau-bu belum lagi mengenali dirinya, ia tidak tabu sebenarnya Ciau-bu sudah tahu siapa dia, sebab Ciau-bu cukup cerdas, ia pikir diseluruh dunia ini hanya Yu Wi seorang yang berani memastikan dirinya bukan Yu Wi melainkan she Kan. maka dia sengaja mengajukan pertanyaan pula agar Yu Wi tidak berjaga-jaga sama sekali, Maka Yu Wi lantas menjengak. "Aku she Yu. . . ."
Belum lanjut ucapannya, terentak Kan ciau-bu menutuknya, serangan ini secepat kilat, gerak tutukannya juga sangat aneh, jangankan Yu wi tidak berjaga-jaga, sekalipun berjaga juga sukar mengelak. Kontan dada Yu Wi tertutup seketika sekujur badan lemas lunglai, segenap tenaga hilang.
Kan ciau-bu tertawa terbahak-bahak, serunya "Hahaha, tidak perlu kau katakan lagi, kutahu dengan pasti kaulah Kan ciau-bu, Toakongcu dari Thian-tihu."
Langkah Kan ciau-bu ini sangat keji, berita tentang Kan ciau-bu membinasakan ibu dan membunuh adik sudah tersiar kedunia Kangouw. setiap orang yang berjiwa kesatria sama tidak dapat menerima perbuatan Kang Ciau-bu yang durhaka itu. sekarang Kan ciau-bu sangaja bilang Yu Wi adalah Kan ciau-bu, tujuannya bila nanti dirinya mambunuhnya supaya tidak ada lagi orang akan membelanya.
Bilamana tindakannya berhasil, tentu umum akan mengira Kan ciau-bu benar-benar telah mati, lalu Kan ciau-bu yang sesungguhnya akan dapat menjadi Yu Wi untuk seterusnya dan tidak ada orang akan meragukan identitasnya lagi, dan nanti bila Hian-ku-cip sudah berada ditangannya, kungfu dalam kitab pusaka itu berhasil diyakinkannya, maka jadilah dia jago nomor satu di dunia ini, tatkala mana dia dapat berbuat apa pun sesuka hatinya tanpa ada orang yang mampu merintanginya.
Begitulah setelah Kan ciau-bu mengatakan Yu Wi adalah Kan ciau-bu, tanpa menunggu jawaban lagi segera ia melancarkan pukulan dahsyat.
Yu Wi sendiri dalam keadaan tak bertenaga lagi, namun ia masih sempat berkelit, sebab Ginkangnya tidak sampai lenyap. meski badan terasa lemas dan tak sanggup mengeluarkan tenaga, tapi kakinya cukup cepat untuk berlari.
Barturut-turut Kan ciau-bu menghantam lima kali dan selalu dapat dihindari Yu Wi. Beribu tamu sama menyaksikan pertarungan mereka tanpa seorang pun berani mencegahnya.
Ada juga beberapa tokoh angkatan tua yang berkepandaian tinggi, mereka mestinya mampu melerai, tapi mereka pikir Toakongcu dari Thian-ti-hu yang telah membunuh ibu dan adik tiri sendiri itu memang pantas mati, maka tidak ada yang mau menolongnya.
Begitulah berulang Kan ciau-bu melancarkan jurus serangan aneh, kelihaiannya sudah jauh berbeda daripada dulu.
Rupanya selama beberapa bulan ini dia memalsukan Yu Wi berhasil menipu Le-siocia, dengan bujuk rayunya ia berusaha memancing ilmu silat puteri keluarga Le itu.
Le-siocia mengira anak muda itu minta petunjuk padanya, maka banyak yang diajarkan kepadanya. Ia pikir adalah suatu kehormatan baginya bahwa seorang Yu Wi yang berkepandaian tidak lebih rendah daripadanya sudi minta belajar padanya sama sekali ia tidak curiga bahwa Kan ciau-bu sengaja hendak mencuri belajar kungfunya, bahkan ingin menipu seluruh kitab Hian-ku-cip.
Karena tertutuk lebih dulu, Yu Wi jadi terdesak oleh jurus serangan aneh Kan ciau-bu itu dan tidak sempat menggunakan Hul-liong-pat-poh padahal untuk memainkan langkah ajaib itu diperlukan tenaga yang cukup agar dapat mengapung di udara, sekarang tenaga untuk melompat saja dirasakan sulit oleh Yu Wi.
Begitulah setiap jurus serangan Kan ciau-bu selalu membuat Yu Wi merasa kelabakan. Mendadak Kan ciau-bu berubah jurus serangan, sekarang ia main pukul, belum lagi Yu Wi dapat mematahkan serangan lawan, tahu-tahu dada sudah kena genjotan Kan ciau-bu. Kontan Yu Wi tumpah darah, tubuhnya mencelat jauh kesana dan terbanting disamping kaki Ci Hui- liong.
Ci Hui- liong menaruh simpati kepada Yu Wi, ia coba meraba dada anak muda itu untuk memeriksa denyut jantungnya sudah berhenti atau tidak, Tiba-tiba teraba olehnya dua potong benda, waktu ia keluarkan, kedua benda itu berbentuk pelat kecil, waktu ia periksa, yang satu adalah pelat emas berwarna-warni, pada sebelahnya terukir satu huruf "leng" atau perintah, sebelah lain adalah cap kebesaran panglima angkatan perang.
Kening Ci Hui- liong berkerut demi melihat pelat emas itu, belum lagi orang lain melihat jelas benda apa yang diambilnya, cepat ia masukkan lagi pelat emas itu kesaku Yu Wi, lalu katanya, " Isi perut orang ini sudah hancur, sudah mati"
Tampaknya Kan ciau-bu tidak percaya, ia melangkah maju dan bertanya, "Apakah benar sudah mati?"
Ci Hui- liong sengaja mendepak mayat Yu Wi sebagai tanda takut sial karena tersentuh oleh tubuh orang mati.
Melihat Yu Wi tidak bergerak sama sekali meski didepak, Kan ciau-bu mengira musuh benar-benar sudah mati.
Selagi dia hendak memeriksa lebih jelas lagi, didengarnya Le Kun berseru dengan kurang senang, "Anak Wi, hari ini adalah hari bahagia mengapa kau bunuh orang dan mengganas sehingga akan mengganggu jalannya upacara ini."
Terpaksa Kan ciau-bu menjawab dengan hormat, " orang ini adalah Toakongcu dari Thian-ti-hu, dia telah membunuh ibu dan membinasakan adiknya, sudah lama menantu merasa penasaran dan baru sekarang kepergok, tak terduga seranganku telah membinasakan dia."
Meski diantara hadirin itu terdapat pula si bupati, tapi dia sengaja tidak mau lihat dan dengar ia tahu urusan bunuh membunuh di dunia Kangouw adalah kejadian biasa, akan labih baik berlagak tidak tahu saja.
Meski merasa kurang senang, tidak enak bagi Le Kun untuk mengomeli Kan ciau-bu pikirnya, "Dia membunuh Toakongcu dari Thian-ti-hu, kebetulan dapat memperlihatkan keperwiranya didepan orang banyak, betapapun Toakongcu dari Thian-ti-hu sudah terkenal jahat, terbunuh juga tidak perlu diherankan-"
Segera ia memberi tanda kepada anak buah agar membawa pergi mayat dan membersihkan ruangan.
Setelah ribut-ribut ini, Kan ciau-bu jadi lupa menyelidiki sesungguhnya Yu Wi sudah mati atau belum. orang lain sama mengira Yu Wi betul-betul sudah terpukul mati, maka tidak ada yang memperhatikannya lagi. Hanya seorang saja yang tahu persis Yu Wi belum mati, maka pada waktu oraug lain tidak menaruh perhatian, diam-diam ia mengeluyur keluar ruangan pesta.
Mayat Tu Wi telah diperintahkan agar ditenggelamkan kedasar sungai. dua anggota Thi-bang-pang menggotong mayat ketepi sungai, setelah diikat dengan sepotong batu besar. Yu Wi diceburkan ke sungai.
Pada saat yang sama, tidak jauh di tepi sungai sana juga seorang menerjun kesungai, dia bukan lain dari pada Ci Hui-liong.
Dengan cepat Ci Hui-liong selulup kedasar sungai, ia memotoog tali pengikat pada tubuh Yu Wi, lalu dibawa naik kedaratan.
setelah terendam oleh air sungai, dengan cepat Yu Wi lantas siuman, dengan suara lemah ia berkata, "Aku . . . akulah Yu Wi . . .." Mendadak Ci Hui-liong berteriak kaget.
Maklumlah. karena tercebur kedalam sungai, obat rias pada muka Yu Wi telah luntur semua sehingga terlihat wajah aslinya yang serupa benar dengan menantu Le Kun itu Ci Hui-liong menjadi heran sesungguhnya yang manakah Yu Wi tulen?
Setelah bersuara tadi. belum lanjut ucapannya Yu Wi lantas pingsan lagi, rupanya lukanya berat karena isi perutnya tergetar hancur oleh pukulan dahsyat Kan ciau-bu itu.
Ketika untuk kedua kalinya ia siuman, ia merasa dirinya berbaring di atas tempat tidur empuk. waktu ia membuka mata, dilihatnya seorang nona cantik berduduk ditepi ranjang.
"He, Ya-ji . . . Ya-ji ..." seru Yu Wi dengan girang, segera ia pegang tangan si rona yang halus.
Nona itu meronta pelahan dan tidak terlepas, ia pandang Yu Wi dengan sorot mata yang lembut dan hangat. "Lep .... lepaskan tanganku, aku. . . aku bukan . . . Mestinya dia hendak bilang "Aku bukan Ya-ji", tapi mendadak tidak dilanjutkannya.
Yu Wi belum dapat menangkap maksud ucapan si nona. dengan tertawa gembira ia berkata "Ya-ji, betapa susah kucari engkau, baik-baikah kau selama ini? Tempat apakah di sini? Mengapa engkau berada di sini, dan cara bagaimana aku datang kemari? Apakah engkau yang menolong diriku?"
Sekaligus ia mengajukan berbagai pertanyaan. tapi nona itu tidak menjawab sama sekali.
Yu Wi coba mamandang sekitarnya, tertampak jelas tempat ini adalah sebuah kamar yang indah dengan macam-macam pajangan, kalau bukan rumah keluarga hartawan dan berkuasa tidak mungkin terdapat kamar mewah begini.
Merasa Ko Bok ya tidak menjawab pertanyaannya, Yu Wi menjadi heran mengapa si nona tidak gembira melihat dirinya? Waktu ia pandang si nona lebih teliti. pandangannya tidak kabur lagi, serunya terkejut, "Ah, kau bukan . . . bukan Ya-ji . . ."Nona itu mengangguk dan berkata, "Ya, aku bukan Ya-ji, apakah kau merasa kecewa?"
Yu Wi menghela napas pelahan, meski dia tidak menyatakan apakah merasa kecewa atau tidak, tapi jelas ia memperlihatkan rasa kecewanya.
Ternyata nona itu juga ikut menghela napas, tanpa bicara lagi lalu berdiri dan melangkah keluar, tertinggal seorang pelayan cilik saja yang masih berdiri di belakang kursi.
"He, siapakah nona tadi?" tanya Yu Wi dengan heran.
Pelayan itu menggeleng, air mukanya tampak kurang senang, seperti mencela ucapan Yu Wi itu. selagi Yu Wi hendak tanya pula, dengan cepat pelayan itu pun melangkah pergi.
Yu Wi jadi bingung sendiri, ia tidak mengerti sebab apa nona itu menghela napas menyesal, apakah mungkin karena dirinya berbuat sesuatu kesalahan? Kalau betul, kesalahan apakah yang dilakukannya? sungguh sukar untuk dimengerti.
Terbayang olehnya wajah si nona tadi yang serupa Ko Bok-ya, pantas dirinya salah mengenalnya. Lantas siapakah nona itu sesungguhnya? Kenapa mirip Ya-ji?
sejak Ko Bok-ya menghilang diculik gurunya. Thio Giok-tin, di Kim-san dahulu, sudah tiga tahun Yu Wi tidak pernah melihat Bok-ya, sekarang bertemu dengan seorang nona yang serupa sehingga menimbulkan rindunya kepada Ya-ji, tanpa terasa terkenang pula asyik masyuk ketika kedua orang masih berkumpul dahulu. seketika pikirannya lantas bergolak dan hampir tak tertahan-
Teringat olehnya pada waktu tidur seperti beberapa kali bertemu dengan Ya-ji, semula disangkanya sedang bermimpi. ternyata bukanlah mimpi melainkan karena berhadapan dengan nona tadi dan disangkanya sebagai Ya-ji,
Entah sudah berapa hari dirinya tak sadarkan diri, selama beberapa hari dirinya telah salah sangka nona itu sebagai Bok-ya, kelakuannya tentu kurang sopan, namun nona itu juga tidak melawan dan membiarkannya salah sangka, mengapa nona itu tidak mau menjelaskan siapa dia, bahkan pada waktu dirinya sudah sadar tadi juga tetap tidak menerangkan bahwa dia bukanlah Ko Bok-ya, baru setelah dirinya menyadari telah mengenalnya, nona itu menghela napas menyesal dan tinggal pergi.
Sungguh Yu Wi tidak dapat mengerti alasan nona tadi rela korban perasaan membiarkan dirinya disangka sebagai Ko Bok-ya, padahal tingkah laku dan dandanan nona itu jelas kelihatan berasal dari keluarga terhormat dan pasti bukan perempuan nakal.
Lantas seorang gadis suci mengapa mau diperlakukan tidak sopan olehnya, jangan-jangan de kesembuhannya. maka nona itu rela terhina?
Berputar pada alasan ini, tanpa terasa timbul rasa terima kasih Yu Wi, entah siapakah she dan nama nona itu, bila datang lagi nanti perlu diucapkan terima kasih padanya atas budi pelayanannya selama dirinya dalam keadaan tidak sadar.
Begitulah selagi dia berpikir, tiba-tiba terdengar suara langkah orang berhenti di luar pintu.
"Siapa itu?" tanya Yu Wi.
Segera orang di luar tertawa dan berkata sebelum masuk. "sakit Hiantit apakah sudah sembuh?"
"He, paman Ko" seru Yu Wi terkejut. segera iapun paham tempat apakah ini.
Kiranya disinilah istana kediaman panglima angkatan perang kerajaan Ko siu. Pantas pajangan dan perlengkapan kamar ini lain daripada yang lain.
Sementara itu Ko Siu telah melangkah masuk, segera Yu Wi hendak bangun untuk manyambut, tapi baru turun dari tempat tidur, kepala lantas terasa pusing dan mata berkunang-kunang, berdiri pun tidak dapat tegak lagi, kontan ia roboh ke belakang.
Cepat Ko siu memburu maju untuk memegangi badan Yu Wi yang roboh itu.
Rupanya luka Yu Wi cukup parah dan belum sembuh seluruhnya, badan belum dapat bergerak sesukanya. Dengan sayang Kosiu mengangkatnya agar berbaring dengan baik di tempat tidur, diselimutinya sendiri anak muda itu tanpa menyuruh pelayan yang berada di belakangnya.
Yu Wi sangat berterima kasih, setelah terhindar dari maut dan bertemu dengan sanak kadang, biasanya emosi mudah terangsang, dengan mata basah ia berkata, "Terima kasih paman. mana Wanpwe berani diladeni sendiri oleh paman."
"Ah, kenapa Hiantit bicara demikian," ujar Ko siu. "Ayahmu pernah berjuang tanpa kenal lelah bagiku, betapa kuladeni kau juga pantas."
Mendengar orang menyinggung ayahnya, Yu Wi menjadi sedih. Teringat olehnya sakit hati ayah belum terbalas sampai sekarang, sungguh dirinya adalah seorang anak yang tak berbakti. Entah kapan baru kewajiban itu dapat terlaksanakan membunuh Hek-po-pocu Lim san-han dengan tangan sendiri Tapi apakah dirinya tega membunuhnya?
Melihat air muka Yu Wi berubah murung, Ko siu tahu ucapannya sendiri tadi telah menimbulkan kesedihan anak muda itu, ia mengenali dirinya sendiri, "Ai, aku memang sudah pikun, masa dalam keadaan demikian menyebut ayahmu sehingga membuat kau berduka."
Ucapan Ko siu ini membikin Yu Wi merasa rikuh, segera ia sapu rasa sedih dari wajahnya dan berkata, "Paman, cara bagaimana Wanpwe bisa sampai disini?"
"Apakah Hiantit kenal orang yang bernama Ci Hui-liong dari Tiam-jong-pay?" tanya Ko siu.
Yu Wi lantas teringat kepada orang yang menyelamatkannya dari sungai itu, serunya, "Ah, apakah dia yang membawaku ke sini?"
Ko siu mengangguk. ucapnya dengan menyesal, "Waktu ci Hui- liong mengantar kau ke sini, kulihat lukamu sangat parah, aku menjadi kelabakan, dan tak berdaya. syukur Ci Hui- liong mengundang lagi gurunya dan memberi obat mujarab Tiam-jong-pay kepadamu, ditambah lagi penyaluran tenaga murni mereka berdua selama tiga hari sehingga jiwamu yang sudah kempas- kempis itu dapat direbut kembali. Ai. kalau tidak ada bantuan mereka berdua, mungkin sekarang kita tak dapat bicara lagi disini."
Yu Wi tahu pukulan Kan Ciau-bu itu tepat mangenai dadanya yang mematikan- hanya berkat Thian-ih-sin-kang yang telah melindungi tubuhnya sehingga tidak mati seketika, tapi kalau tidak ada pertolongan ci Hui- liong dan gurunya, jelas sukar pula untuk disembuhkan. Maka ia menjadi sangat terharu dan terima kasih atas budi pertolongan ci Hui- liong dan gurunya. Cepat ia tanya, "Di manakah Ci-toako? siautit harus mengucapkan terima kasih atas pertolongan mereka guru dan murid."
"Sudah tujuh hari kau pingsan, tiga hari yang lalu karena ada urusan penting Ci Hui- liong telah pulang, sebelum pergi dia bilang lukamu sudah tidak berbahaya lagi, beberapa hari lagi tentu akan siuman dan setelah istirahat sebulan lagi pasti akan sembuh."
Yu Wi berkata pula dengan gegetun, "Padahal siautit sama sekali tidak ada hubungan dengan ci-toako, paling-paling hanya bertemu secara kebetulan saja, tapi dia telah berusaha menyelamatkan jiwaku dengan mati-matian serta mengantarku kesini, bahkan mengundang gurunya untuk menyembuhkan diriku, budi kebaikan ini entah cara bagaimana harus kubalas kelak?"
" Kukira jangan Hiantit pikirkan lagi soal ini, yang penting harus istirahat supaya badanmu sehat kembali, tentang balas budi boleh dibicarakan lagi kelak. seumpama tidak dapat kau balas kebaikannya juga tidak menjadi soal, ketahuilah dahulu paman pernah membantu suatu kesulitannya yang besar, lantaran itulah dia berusaha membalas budi padaku. setelah membawa dirimu kesini dia bilang orang persilatan apabila menerima budi pertolongan orang selalu ingin membalas, sekarang dia membawamu kesini, sedikitnya dia merasa telah membalas budi padaku, maka Hiantit tidak perlu pikirkan lagi."
"O, kiranya dia utang budi kepada paman," kata Yu Wi, "entah bantuan apa yang pernah paman berikan padanya?"
" Waktu itu dia mengalami kesukaran karena satu partai barang upeti kawalannya dirampok kawanan begal, pemerintah menuduhnya menggelapkan barang kawalan itu dia ditahan dan akan dijatuhi hukuman mati. kutahu dia cukup jujur dan tidak mungkin menggelapkan barang kawalan, kuperintahkan pembesar setempat membebaskan dia. Tidak lama kemudian barang kawalan yang hilang itu dapat ditemukan kembali sehingga dia terhindar dari hukuman."
"Tapi dari mana dia tahu siautit ada hubungan dengan paman dan membawaku ke sini?" tanya Yu Wi dengan heran-
Ko siu tertawa, "Masih ingatkah medali emas yang pernah kuberikan padamu dahulu? Mungkin medali emas ini tidak pernah kau gunakan, tapi tanpa sengaja telah dilihat Ci Hui- liong sehingga jiwamu diselamatkan olehnya,"
Lalu diceritakannya kisah Ci Hui-liong menyelamatkannya dari sungai setelah melihat medali emas dalam sakunya ketika dia roboh dihantam oleh Kan ciau-bu, lalu dibawanya ke tempat Ko siu.
Selesai mendengar cerita itu, Yu Wi menjadi terharu, katanya, "Pada waktu paman memberikan medali emas itu padaku, dengan baik adik Bok-ya berada disisi paman. Tapi sekarang, ai, sungguh siautit tidak becus. . . ."
Yu Wi lantas menceritakan kejadian hilangnya Ko Bok-ya dahulu. akhirnya ia berkata dengan menyesal, "Paman menyerahkan adik Bok-ya kepadaku untuk mengantarnya ko siau-ngo-tay-san dan minta pengobatan kepada su Put-ku, tapi tugas itu tidak dapat kulaksanakan dengan baik sehingga adik Bok-ya diculik oleh Nikoh bangsat It-teng. Kemudian dia meninggalkan tempat It-teng dan akupUn tak dapat menemukannya. Entah bagaimana keadaan adik Bok-ya sekarang, sungguh siautit malu terhadap paman, sebaliknya paman ternyata sedemikian baik padaku, sungguh siautit ingin mati saja untuk menebus kesalahanku yang tidak becus melindungi adik Bok-ya itu"
Ko siu jadi teringat kepada Bok-ya dan mencucurkan air mata, katanya, "Janganlah Hiantit bicara demikian, bukan salahmu, tapi nasib Ya-ji sendiri yang tidak baik. Padahal setelah dia meninggalkan tempat gurunya, biarpun kau hendak mencarinya lagi, pasti tak dapat menemukannya."
"Dari mana paman tahu tak dapat menemukannya?" tanya Yu Wi dengan kuatir, "jangan-jangan paman sudah tahu adik Bok-ya telah mengalami sesuatu? ...."
Cepat Ko siu menjawab, "o, tentang ini aku pun tidak jelas, kupikir dunia seluas ini. masa gampang mencari satu orang? Apalagi sejak kecil Ya-ji sudah terbiasa suka menuruti kehendak sendiri, tempat apa pun berani diterobosnya. Coba, cara bagaimana dapat kau temukan dia?"
Yu Wi merasa sangsi, ia pikir sikap sang paman agak janggal, masakah anak perempuan sendiri menghilang tidak menimbulkan rasa kuatirnya, sebaliknya malah seperti tidak diacuhkan. sebagai orang tua, sedikitnya mesti tanya kira-kira dapat ditemukan dimana agar dapat mengirim anak buahnya untuk ikut mencari. Dengan kedudukan dan kekuasaan siu sekarang, rasanya tidak sulit untuk menemukan jejak Ya-ji.
Didengarnya Ko siu berkata pula, "Hendaklah Hiantit istirahat dengan tenang, Ci Hui-liong memberi pesan bila sudah siuman jangan kau banyak berpikir. setelah bicara sekian lama, tentu kau sudah lelah, lekaslah tidur saja, akan kuperintahkan membuat obat kuat bagimu agar kesehatanmu lekas pulih, urusan lain tidak perlu dipikirkan lagi, istirahatlah lebih penting."
Sesudah Ko siau pergi, meski Yu Wi marasa agak lelah, tapi mana dia dapat tidur. Wajah Ko Bok-ya. senantiasa terbayang, pengalaman masa lampau selalu terkenang ....
Entah sudah melamun berapa lama, sampai datangnya si pelayan tadi membawakan daharan barulah terputus lamunannya.
Pelayan itu mendekati tempat tidur dan menyapa dengan tertawa, "Kongcu sudah tidur lelap selama baberapa hari, setelah mendusin sekarang tentu sangat lapar. silakan dahar sekadarnya."
Yu Wi memang merasakan perutnya lagi berkeroncongan, ketika. mencium bau makanan, nafsu makannya tambah berkobar. Begitu si pelayan menyodorkan santapan itu, tanpa sungkan lagi lantas diterimanya.
Dilihatnya santapan yang disediakan adalah satu mangkuk besar bubur dan empat porsi kecil lauk pauk sederhana sebangsa kacang rebus dan asinan.
Karena memang sudah lapar, sambil bersandar diujung tempat tidur, Yu Wi sikat habis mangkuk besar bubur itu.
Melihat nafsu makan anak muda itu, si pelayan tersenyum geli, diam-diam ia merasa kasihan akan kelaparannya, ia coba tanya, "Apakah Kongcu sudah kenyang?"
Hanya semangkuk bubur saja mana kenyang, cuma Yu Wi tidak enak untuk minta tambah, ia mengangguk dan menjawab, " cukup"
Dilihatnya di nampan makanan masih ada sebuah mangkuk kecil pakai tutup indah, ia pikir jangan-jangan isinya adalah makanan yang enak. la coba membukanya. ternyata isinya adalah sebangsa air yang lebih encer daripada bubur. Maka cepat Yu Wi menutupnya kembali tidak mau meminumnya. Tapi si pelayan lantas berkata, "Minumlah, kuah ini buatan siocia sendiri untukmu."
Sebenarnya Yu Wi ingin makan santapan yang keras, kalau sebangsa bubur dan kuah mana bisa membuatnya kenyang. Tapi ia pun tahu orang yang baru sembuh dari sakit tidak boleh makan terlalu kenyang, namun bila terlalu lapar dan cuma minum cairan yang tak dapat membuat kenyang, tentu rasa lapar akan bertambah berkobar.
Melihat Yu Wi masih juga tidak mau minum, si pelayan mengomel, "Eh, bagaimana kau ini? Begitu mendusin siocia lantas kau bikin dongkol dan pergi, tadi dia telah membuatkan sendiri kueh biji teratai jinsom ini dan juga tidak kau minum. masa sama sekali kau tidak punya perasaan."
Mendengar kuah itu adalah kuah biji teratai campur jinsom atau ginseng, Yu Wi tahu minuman ini biasanya diminum oleh keluarga raja, cara membuatnya juga tidak mudah, kalau tidak diminum memang rasanya tidak normal.
Maka tanpa rewel lagi segera ia membuka tutup mangkuk itu, hanya beberana cegukan saja isi mangkuk itu sudah diminumnya habis.
Ia merasa setelah kuah itu masuk perut, terasa hawa hangat mulai muncul dan menyalur keseluruh tubuh sehingga badan terasa segar. sama sekali tidak menimbulkan rasa lapar lagi.
Baru sekarang Yu Wi tahu kuah biji teratai campur jinsom ini mempunyai khasiat menambah semangat dan juga dapat mencegah lapar. Diam-diam ia berterima kasih kepada maksud baik nona tadi, pujinya dengan tertawa, "Ehm. sungguh bagus, bagus. . . ."
"Bagus apa?" tanya sipelayan dengan tertawa. "Apakah bagus karena kuah ini terasa enak?"
Yu Wi bergumam, "Kuah ini sangat enak. nona itu pun baik. ..."
"Kau bilang siapa baik? Kau maksudkan siocia kami?" tanya sipelayan.
Yu Wi mengangguk.
Pelayan itu mendongkol, omelnya, "siocia kami punya she dan bernama, jika kau puji dia baik kenapa tidak kau sebut namanya, tapi cuma bilang nona apa segala, masa kau tidak tahu sopan santun?"
Muka Yu Wi menjadi merah, jawabnya dengan tersipu-sipu, "Tapi. . . tapi aku tidak. . . tidak tahu siapa nama siocia kalian."
Pelayan itu tertawa geli, "Dengan sendirinya siocia kami she Ko, namanya . . . namanya Bok-cing. ..."
"Bok-cing? . . . Bok-cing? . . ." Yu Wi mengulang nama itu. Tiba-tiba ia menengadah dan bertanya, "Apakah dia saudara adik Bok-ya?"
Melihat cara tanya Yu Wi yang ketolol-tololan sipelayan tambah geli, "Masakah perlu kau tanya lagi? Bok-ya Ji siocia (puteri kedua) adalah anak Tuan Besar, siocia kami juga puteri Tuan Besar, kalau mereka bukan saudara habis apa?"
"Aneh, mengapa tidak pernah kudengar adik Bok-ya bercerita dia masih mempunyai seorang kakak?" ujar Yu Wi sambil menggeleng.
Pelayan itu berhenti tertawa, katanya. "Pantas kau tidak tahu siocia kami adalah kakak Ji siocia, sebab terhadap orang luar Ji siocia memang tidak nanti mau memberitahu bahwa dia masih mempunyai seorang kakak."
"Aneh, mengapa bisa begitu? Apakah karena hubungan antara kakak beradik mereka kurang baik?" tanya Yu Wi dengan heran-
"Jangan sembarangan kau terka," ujar si pelayan, "soalnya Toa siocia dan Ji siocia bukan saudara sekandung, nyonya besar dan nyonya muda biasanya juga tidak berhubungan, dengan sendirinya Ji siocia tidak mau menyebut kakaknya ini."
Baru sekarang Yu Wi tahu duduknya perkara. Kiranya ibu Bok-ya dan ibu Bok-cing adalah bini muda dan isteri tua Ko siu. dengan sendirinya antara isteri dan madunya tidak ada kecocokan hidup bersama. Lebih-lebih ibu Bok-ya yang terkenal sebagai Giok-ciang-siancu (si dewi bertangan kemala) yang tergolong tokoh dunia persilatan, tentunya tidak mau menerima cemooh dari isteri tua, maka keduanya tinggal berpisah. Hanya tidak diketahui mengapa Giok-ciang-siancu sudi menjadi madu seorang pembesar negeri?
Tiba-tiba Yu Wi ingat sesuatu, ia coba tanya, "Apakah disini adalah tempat tinggal nyonya besar kalian?" si pelayan mengangguk dengan tertawa.
"Adik Bok-ya pasti tidak pernah datang kemari, bukan?" tanya Yu Wi pula.
"Ji naynay selamanya tidak pernah kemari, tabiat Ji siocia juga sudah kau kenal, tentu saja lebih-lebih tidak mau ke sini." tutur si pelayan. "siocia kami dan Ji siocia hanya pada waktu sama-sama kecil pernah bermain bersama, setelah meningkat besar lantas tidak pernah bertemu lagi."
"Oo" diam-diam Yu Wi merasa tidak enak. la pikir tempat yang enggan didatangi Ya-ji, sekarang dirinya justeru berbaring sekian hari disini, apabila hal ini diketahui Ya-ji tentu nona itu akan marah. Ia pikir bila sakitnya sudah sembuh harus lekas pergi dari sini.
Keinginan lekas pergi dari sini timbul dengan sendirinya dan sukar untuk dijelaskan apa alasannya. seyogianya orang telah merawatnya dengan maksud baik, betapa pun tidak boleh timbul pikiran semacam ini.
Melihat Yu Wi termangu- mangu, sipelayan manegur dengan tertawa, "silakan Kongcu istirahat dulu, ada urusan apa panggil saja diriku, nama aku Gimji, cuma perlu kuberitahukan padamu, badan siocia kami lemah dan tidak tahan dongkol. maka janganlah kau bikin dia marah."
Habis berkata ia berbenah mangkuk piring, lalu pergi.
sejak minum kuah biji teratai campur jinsom itu, Yu Wi tidak merasa lelah lagi. Akan tetapi malam sudah tiba, hawa terasa dingin.
Tenaga dalam Yu Wi belum pulih sehingga tidak tahan dingin, ia coba berselimut dan tetap kedinginan. Ia menjadi heran selimut kapas yang tebal ini mengapa tidak dapat menghangatkan badannya.
Ia tidak tahu bahwa betapa tebalnya selimut, kalau tubuh sendiri tidak mengeluarkan suhu panas untuk menolak dingin, jadinya tidak ada bedanya seperti tidak berselimut. Ia tidak menyadarinya sedemikian parahnya. ia pikir kalau selimut tidak dapat menahan dingin, lebih baik turun saja dan berjalan untuk menghangatkan badan-
Begitulah ia lantas mengenakan baju dan turun dari tempat tidur, tapi rasa dingin semakin hebat sehingga gigi sampai gemertuk.
Dasar watak Yu Wi memang kepala batu, ia tidak percaya rasa dingin bisa tambah hebat, ia coba berjalan mondar mandir didalam kamar. makin cepat jalannya, sampai akhirnya napas pun terengah-engah, tapi rasa dingin tambah hebat menyerangnya, sebenarnya dia belum kuat untuk berjalan, lantaran tekadnya ingin mengusir rasa dingin, akibatnya bukan hilang rasa dinginnya, sebaliknya malah memperburuk penyakitnya.
Setelah berjalan lagi dua putaran, "bluks, mendadak ia jatuh terduduk dan tidak sanggup bangun lagi. sekali dia jatuh berduduk. seketika sekujur badan seperti terjeblos ke dalam liang es, rasanya badan akan beku sehingga bernapas pun susah. Ia tidak mengerti mengapa bisa jadi begini, ia pikir apakah dirinya akan mati?
Diam-diam ia mengerahkan tenaga sakti Thian-ih-sin-kang, tapi tenaga hanya bekerja diperut saja dan sukar dikerahkan. Keadaan ini sebenarnya sudah diketahuinya sejak siuman,
Rupanya Ci Hui- liong dan gurunya hanya bantu menyembuhkan lukanya dengan kemampuan Lwe-kang mereka yang terbatas sehingga belum dapat memulihkan tenaga dalam Yu Wi. Atau dengan perkataan lain, pukulan Kan ciau-bu itu telah membuyarkan tenaga dalam Yu Wi sehingga sukar terhimpun kembali, keadaannya sekarang tiada ubahnya seperti orang biasa.
Sedapatnya Yu Wi mengerahkan tenaga dan tetap tidak berhasil, ia menggeleng kepala dan menyadari apabila tenaga dalam tetap tidak dapat dikeluarkan, malam ini dia pasti akan binasa.
Menghadapi ajalnya, benak Yu Wi terasa kosong blong, apa pun tidak dipikir lagi. Pelahan ia merasa badan mulai kaku, mungkin esok pagi bila Gim-ji membuka pintu dan masuk kesini akan menemukan dirinya sudah mati kaku berduduk di lantai.
Begitulah dalam keadaan mata terpejam untuk menanti ajal Yu Wi mendengar diluar kamar ada dua pelayan sedang lewat sambil bicara mengenai hawa malam yang dingin itu. Kedua pelayan itu tepat lewat diluar kamarnya, apabila Yu Wi bersuara sedikit saja tentu akan didengarnya. Padahal saat ini Yu Wi sangat memerlukan pertolongan. bilamana Ko siu mengetahui keadaannya tentu bisa diusahakan mengundang tabib pandai untuk mengobatinya.
Akan tetapi kerongkongan, Yu Wi rasanya juga sudah kaku dan tidak mau menurut perintah lagi, seperti orang bermimpi buruk. ingin berteriak. tapi tidak bisa. Ingin bergerak. juga tidak sanggup, sekujur badan kaku lumpuh.
Dalam pada itu kedua pelayan itu sudah lalu dan menjauh, diam-diam Yu Wi mengeluh tamatlah riwayatku, pasti matilah aku.
Yu Wi menganggap dirinya pasti akan mati, ia tetap duduk kaku ditempatnya. Entah sudah lewat berapa lama, ketika sukma seakan-akan meninggalkan raganya, tiba-tiba pintu kamar terbuka. menyusul suara seorang anak parempuan lantas menjerit, "Hei, mengapa kau duduk dilantai, hawa sedingin ini?"
Lamat-lamat Yu Wi dapat mengenali suara itu adalah Ko Bok-cing. Ia pikir sudah terlambat baru sekarang kau temukan diriku, aku pasti akan mati, kecuali ....
Belum lenyap pikirannya, mendadak bagian punggung terasa disaluri oleh arus hawa hangat, hanya sebentar saja rasa kaku badan Yu Wi mulai hilang, sungguh girang sekali anak muda itu, pikirnya, " Kecuali ahli Lwekang yang menguasai Hiat-to benar-benar baru dapat menyelamatkan jiwaku, tak tersangka Ko Bok-cing yang lemah itu ternyata juga ahli Tiam-hiat, bahkan Lwekangnya sangat tinggi dan lebih daripada cukup untuk menolong diriku."
Terpikir pula olehnya, "Kepandaian nona ini jelas diatas Bok-ya, paman Ko mempunyai puteri sakti begini, mengapa masih takut pada penyatron lagi? Mungkin Lwekang nona ini sekali lipat di atas dirinya, hanya kekuatan supek Lau Tiong-cu saja yang mungkin dapat mengimbanginya . "
Selagi pikirannya melayang-layang, mendadak didengarnya Bok-cing membentak, "Tenangkan pikiranmu, memangnya kau tidak sayang akan jiwamu?"
Yu Wi terkejut, ia pikir dirinya memang sembrono, dalam keadaan gawat begini bukannya memusatkan pikiran, tapi malah berpikir macam-macam.
Cepat ia memusatkan pikiran dan mengendurkan urat saraf, membiarkan aliran hawa hangat itu tersalur keseluruh tubuhnya. Lambat-laun rasa hangat timbul lagi dalam badannya, nyata jiwanya dapat direnggut kembali dari pintu akhirat.
Cuma sayang, lantaran pukulan Kan ciau-bu itu terlalu lihai. pula terserang oleh hawa dingin tadi, ditambah lagi secara sembrono dirinya sembarang bergerak sehingga membikin parah penyakitnya, tenaga murni sendiri tetap sukar dikerahkan, mendingan tadi dapat dikumpulkan di bagian perut, sekarang malah sama sekali sirna.
Diam-diam Yu Wi berduka, terutama bila teringat tugas yang diembannya, sakit hati ayah dan terbunuhnya kedua isteri, semuanya belum terbalas, sungguh menyesalnya tak terkatakan-
Tiba-tiba didengarnya Ko Bok-cing berkata, "Jangan berduka, untuk memulihkan kekuatanmu tidaklah sulit, cuma setelah kubantu kau pulihkan kekuatanmu, harus kau terima satu syaratku, entah dapat kau sanggupi atau tidak?" selagi Yu Wi hendak tanya apa syaratnya, tiba-tiba Bok-cing berkata pula.
"Awas?" Mendadak Tiong-kak-hiat dibagian punggung terasa kesemutan,
Bab 8 : Panglima Ko Siu ingin Yu Wi jadi menantunya

Yu Wi sudah apal membaca Pian-sik-sin-bian. segera ia tahu Ko Bok-cing hendak memulihkan tenaga dalamnya dengan cara menembus Ki-keng-pat-meh, yaitu melancarkan seluruh urat nadi yang terganggu. Cuma cara ini sangat berbahaya. bilamana salah sedikit saja, kalau ringan si penderita akan cacat selama hidup. Jika berat, penderita akan tumpah darah dan binasa.
Malahan orang yang berusaha menyembuhkan juga punya resiko, sebab pada umumnya bila berusaha melancarkan urat nadi orang lain, terkadang si penderita sudah sembuh, dia sendiri akan banyak kehilagan tenaga.
Sebab itulah jarang di dunia persilatan terjadi membantu melancarkan seluruh urat nadi, biarpun sanak famili terdekat juga tidak ada yang berani mencoba. selain kuatir membikin celaka si penderita apabila salah tindak. juga sayang tenaga sendiri akan terbuang percuma.
Tapi Yu Wi justeru tidak takut mati. Ia pikir dirinya dan Ko Bok-cing bukan sanak keluarga, jika nona itu adalah isterinya tentu lain soalnya. Padahal mereka baru kenal dan sekarang nona itu harus menyerempet bahaya untuk menolongnya, sungguh ia merasa tidak enak hati, segera ia bermaksud menolak maksud baik Ko Bok-cing itu. Tak terduga mendadak Ko Bok-cing berkata " Kau takut mati tidak?"
Yu Wi menggeleng, dengan dingin Bok-cing berkata pula. "Baiklah jika begitu. Tidak perlu kau kuatirkan diriku, kuyakin akan kemampuan sendiri baru berani melancarkan segenap urat nadimu. Memangnya kau kira hatiku begitu baik mau memulihkan tenagamu dengan mengorbankan Lwekangku sendiri?"
Diam-diam Yu Wi menyengir, maksud baiknya tidak diterima si nona, sebaliknya malah diejek. sungguh serba salah.
Tapi segera terpikir olehnya ada sesuatu yang tidak betul, ia heran dari mana si nona tahu dirinya hendak menolak pertolongannya padahal niatnya itu belum lagi diungkapkan, tapi orang sudah tahu lebih dulu isi hatinya, bahkan tahu dengan persis dan jelas.
Malahan tadi waktu ia merasa berduka, hal ini juga diketahui oleh si nona. Mengapa bisa terjadi begini? Memangnya nona ini adalah dewa yang tahu perasaan orang lain?" Tengah heran, didengarnya Ko Bok-cing mendengus, "Hm, aku bukan dewa."
Sungguh tidak kepalang kaget Yu Wi, baru saja ia menyangsikan si nona adalah dewa dan seketika diketahuinya. bukanlah terbukti si nona memang dewa benar-benar?
Melihat anak muda itu melenggong, Ko Bok-cing tersenyum, katanya, "Aku menguasai Su-ciau-giu-kong (ilmu sakti empat pancaran), karena tanganku menempel Hiat-to punggungmu, maka dapat kurasakan apa yang terpikir olehmu. jika kutarik tanganku, apa yang kau pikir tentu takkan kuketahui. Jadi aku bukan dewa. Kalau dewa tentu cukup kuberi makan obat mujarab padamu dan tidak periu membuang tenaga untuk melancarkan urat nadimu "
Kiranya tangan Ko Bok-cing yang menempel ditubuh Yu Wi untuk menyalurkan tenaga belum lagi dilepaskan, Lwekang si nona memang sudah cukup sempurna, biarpun sambil bicara juga tetap dapat menyalurkan tenaga.
Diam-diam Yu Wi terkejut dan kagum sekali demi mendengar dalam usia muda belia Ko Bok-cing sudah berhasil menguasai ilmu sakti su-ciau-sin-kang. Dia pernah mendengar cerita gurunya, yaitu Ji Pek-liong. bahwa di dunia ini memang ada semacam ilmu sakti yang disebut su-ciau-sin-kang, cuma ilmu ini terlalu gaib, hanya beritanya terdengar dan belum pernah diketahui ada orang yang berhasil meyakinkannya. sebab orang yang berhasil menguasai ilmu sakti itu konon akan dapat meraba perasaan orang seperti malaikat dewata.
Menurut perkiraan Yu Wi, ilmu sakti itu tentu sangat sulit dilatih. Andaikan berhasil menguasainya. tentu orang itu pun sudah berusia lanjut, sebab mustahil ilmu sakti demikian dapat dicapai hanya dalam waktu sepuluh atau dua puluh tahun saja. Sungguh tak tersangka olehnya bahwa seorang gadis muda belia dan lemah lembut sebagai Ko Bok-cing ternyata dapat menguasai ilmu itu.
Jika tidak disertai bukti betapapun Yu Wi tidak percaya, tapi sekarang Ko Bok-cing benar-benar telah bantu menyalurkan tenaga dalam kepadanya tanpa mengalami kesulitan bagi dirinya sendiri, jelas nona ini memang benar telah menguasai su-ciau-sin-kang dan bukan cuma omong kosong belaka.
Didengarnya Ko Bok-cing lagi berkata, "Kendurkan sekujur badanmu, anggaplah dirimu sudah mati dan jangan berpikir apa pun, kalau tidak, jangan menyalahkan diriku jika usahaku gagal."
Yu Wi tidak sangsi lagi sekarang, ia lantas duduk bersemadi dan memusatkan segenap pikiran, mengendurkan urat saraf dan tidak memikirkan apa pun, ia benar-benar anggap dirinya sudah mati, benaknya terasa kosong melompong.
"Awas" terdengar Ko Bok-cing berseru, mendadak jari telunjuknya menutuk lagi beberapa kali pada Hiat-to yang penting, setelah 24 Hiat-to bagian tangan tertutuk merata, lalu Hiat-to bagian kaki dan begitu seterusnya, lebih dari satu jam Ko Bok-cing menutuk seluruh Hiat-to badan Yu Wi. Saking lelahnya akhirnya Bok-cing duduk lemas dilantai dengan mandi keringat.
Yu Wi juga penuh keringat, namun semangatnya tampak segar, waktu ia membuka mata dan melihat keadaan Bok-cing yang lunglai itu, dalam hati sangat terharu. Ia pikir dengan tenaga sendiri yang sudah pulih ini mungkin dapat bantu menghilangkan kelelahan si nona, tapi baru saja ia menjulurkan tangannya, tiba-tiba Bok-cing mambuka mata dan tersenyum padanya.
Dari sorot matanya yang terang itu jelas tiada rasa lelah sedikitnya dan sama seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Senyumnya seakan-akan lagi mentertawai dia yang belum sehat sudah ingin membantunya.
"Terima kasih atas maksud baikmu," demikian Bok-cing berkata dengan tertawa, "aku tidak apa-apa. Sekarang coba kau kerahkan semangatmu, apakah sudah dapat dipergunakan."
Yu Wi menurut, diam-diam ia mengerahkan tenaga dalam. Siapa tahu, mendadak mukanya menjadi pucat, gigi bergemertuk dan menggigil dengan hebat sambil berteriak. "O, dingin, hujan salju . . . hujan salju. . . ."
Keruan Bok-cing terkejut, ia heran tidak terjadi apa-apa mengapa anak muda itu bilang hujan salju? Apakah sinting?
Selesai berteriak hujan salju. Yu Wi tidak dapat berduduk dan juga tidak bisa berdiri, ia terus meringkuk dilantai dan menggigil tiada hentinya.
Heran dan kuatir Bok-cing, setetah direnungkan barulah ia dapat memperkirakan duduknya perkara. Agaknya setelah urat nadinya dilancarkan, anak muda itu seketika belum dapat menggunakan tenaga dengan bebas, air keringatnya lantas dirasakan dingin luar biasa.
Kiranva Yu Wi belum lagi mampu mengerahkan tenaga dalam yang baru mulai pulih itu setelah semua urat nadi sudah lancar kembali, tapi air keringatnya yang manjadi dingin dan karena daya tahannya masih lemah, maka rasa dingin itu mengakibatkan Yu Wi merasa seperti berada di tengah hujan salju.
Dari apa yang dibacanya, Ko Bok-cing tahu akan timbulnya gejala itu, tapi dia lupa membuat api untuk menghangatkan badan. Ia tahu gejala kedinginan demikian akan berlangsung cukup lama, bilamana tenaga dalam Yu Wi sudah terhimpun lagi baru rasa dingin itu akan hilang. Tapi dalam waktu singkat ini bila anak muda itu tak diberi bantuan menghangatkan badan, saking kedinginan bisa membuatnya tidak tahan dan bukan mustahil lidah pun akan terkerumus hancur.
Dilihatnya Yu Wi telah menggigit bibir dengan menggigil hebat sehingga darah mengucur, gigi pun berbunyi gemertak semakin keras, Bok-cing menjadi kuatir pertolongannya akan sia-sia, sebaliknya malah membikin celaka anak muda itu. Tanpa pikir lagi ia membuka pakaian Yu Wi yang basah kuyup oleh air keringat itu.
Ia pikir bila pakaian Yu Wi yang basah itu dibuka, mungkin rasa dinginnya akan berkurang. Mana tahu setelah baju dibuka dan memang tidak terserang oleh dingin air keringat, tapi hawa dingin dari luar lantas menyerang badan yang tak berbaju itu sehingga rasa dingin Yu Wi bertambah hebat.
Cepat Bok-cing mengangkat tubuh Yu Wi yang telanjang itu dan dimasukkan kedalam selimut. Meski mendingan, tapi juga tidak ada gunanya, Yu Wi masih kedinginan, tampaknya kalau suhu badan Yu Wi tidak dihangatkan, bisa jadi akan mati beku atau cacat untuk selamanya.
Untuk menyalakan api tungku terang tidak keburu lagi. Setelah ragu sejenak. Ko Bok-cing nekat membuka baju sendiri yang juga basah air keringat itu, lalu menyusup kedalam selimut, merangkul erat Yu Wi dan tidur bersama satu bantal.
Keadaan ini mirip sepasang suami isteri di tempat tidur, keruan Ko Bok-cing merasa malu hingga sekujur badan terasa panas. Pikirnya "Kakak Wi, wahai kakak Wi, ayah menghendaki kujadi isterimu, tampaknya badanku ini memang harus menjadi milikmu."
Betapa hebat tenaga dalam Ko Bok-cing, karena rangkulannya yang erat, segera hawa hangat tubuhnya merembes kedalam tubuh Yu Wi, seketika badan anak muda itu tidak menggigil lagi, rasa dingin mulai reda.
Saking kedinginan hingga Yu Wi sudah lupa daratan, meski tubuh halus si nona berada dalam pelukannya juga tidak dirasakan, disangkanya berada dalam dunia lain yang bersuasana nyaman dan harum memabukkan.
Tidak lama kemudian, terasa hawa hangat timbul dari dalam perut dan tersalur keseluruh tubuh. Girang sekali Yu Wi, ia membuka mata dan berseru, "Ah, pulihlah tenagaku, bahkan- . . .".
Belum lanjut ucapannya ketika tiba-tika terlihat wajah si nona yang merah jengah dan cantik memikat itu mendempel di bawah dagu sendiri Bibir yang tipis itu pun dekat dengan bibirnya.
Waktu tangan Yu Wi meraba. Terpeganglah badan Ko Bok-cing yang halus licin dan panas itu, seketika mulut Yu Wi terasa kering, seperti orang yang kehausan di gurun pasir, sedangkan bibir si nona adalah air jernih yang diidam-idamkannya.
Tanpa kuasa mulutnya lantas mengecup, ingin diisapnya air yang jernih itu. Tapi sayang cairan air itu terasa kurang, sehingga tak dapat mengatasi rasa hausnya yang tak tertahankan.
Ko Bok-cing hampir tidak dapat bernapas oleh ciuman Yu Wi yang bernafsu itu, ia tahu bilamana ciuman itu diteruskan, akhirnya gunung api pasti akan meletus. Kedua orang berdekapan dalam keadaan telanjang, akibatnya tentu tidak sulit untuk dibayangkan. segera Bok-cing mengangkat kepalanya dan Bertanya, "Bagaimana keadaanmu sekarang?"
"Tenagaku berlipat ganda, semua ini berkat pertolongan cici," sahut Yu Wi samar-samar.
"Cici apa? Aku lebih kecil dari padamu, kenapa kau panggil diriku Cici?" kata Bok-cing dengan tertawa. "Kusembuhkan kau dan menambah tenagamu. Cara bagaimana kau akan berterima kasih padaku?"
Yu Wi terangsang oleh suara si nona yang mengiurkan itu nafsu birahinya seketika membakar.
Tenaganya baru pulih, mirip orang yang baru sembuh dari sakit berat, dia penuh semangat dan sulit menahan gejolak perasaan sendiri Tanpa terasa ia merangkul Bok-cing erat-erat dan menindihnya tubuh si nona ....
Kejut Bok-cing tak terkatakan, dilihatnya mata Yu Wi merah membara laksana binatang buas hendak menerkam mangsanya. Dalam keadaan demikian, biarpun birahinya juga terangsang, tapi dia tidak hilang pikiran sehatnya seperti Yu Wi, ia tahu bila tidak segera berusaha menahan gejolak nafsu berahi anak muda, akibatnya pasti bisa runyam. Segera ia angkat tanganya "plok". Ia gampar pipi Yu Wi dengan keras. Kontan Yu Wi menjerit kaget dan melonjak bangun.
Kesempatan itu digunakau Bok-cing untuk melompat turun dari tempat tidur dan cepat mengenakan pakaian, Yu Wi termangu-mangu sejenak, mendadak ia tampar muka sendiri dua kali dan berteriak gugup, "o. aku pantas mampus, aku harus mampus .. . ."
Yu Wi menjambak rambut sendiri, pikirnya, " Kenapa aku berbuat tidak senonoh begini, orang masih gadis suci bersih, demi menolong diriku. Orang mau mendekap dan menghangatkan badanku, tapi dirinya telah bertindak lebih rendah daripada hewan. o, Thian, dia kan kakak Ya-ji . . . ."
ooooooo oocoooo
Setelah tenaga dalamnya pulih kembali berkat bantuan Ko Bok-cing, Yu Wi istirahat lagi tiga hari dan mengadakan penyembuhan sendiri, maka dengan cepat kesehatannya dapat pulih kembali.
Semula ia merasa dirinya pasti akan binasa oleh pukulan Kan Ciau-bu yang lihai itu, tak tersangka lantaran bencana malah mendapat untung seluruh urat nadinya malah dilancarkan sama sekali oleh Ko Bok-cing sehingga tenaganya mendadak bertambah lipat ganda.
Dia tidak jadi mati, untuk ini pertama-tama dia harus berterima kasih atas pertolangan ci Hui- liong dan gurunya, kedua orang itulah yang mempertahankan jiwanya. Tapi kalau tidak ada bantuan Ko Bok-cing, biarpun tidak mati, tentu tenaga hilang. Tdak ubahnya seperti orang cacat belaka.
Tapi sekarang dia tidak cacat. Sbaliknya tenaga dalam bertambah lipat, semua ini adalah jasa Ko Bok-cing.
Demikian Yu wi tidak dapat melupakan budi pertolongan Ko Bok-cing, ia ingin menyampaikan rasa terima kasihnya langsung kepadanya. Tapi selama tiga hari ini nona itu tidak pernah muncul.
Selama tiga hari kecuali dilayani Gim ji, hanya Ko siu saja yang datang menjenguknya beberapa kali, setiap kali bila Yu Wi berbicara dengan dia tentang Ko Bok-ya tentu Ko siu menghela napas menyesal. Mestinya Yu Wi bermaksud mau minta sang paman mengirim anak buahnya untuk mencari Ya-ji, tapi sukar untuk membuka mulut.
Ia pikir paman Ko menyerahkan Ya-ji kepadaku, sekarang nona itu hilang, adalah kewajibannya untuk mencarinya sendiri. Jika hal ini sampai merepotkan paman, kan terlihat ketidak mampuan dan ketidak seriusan dirinya. Maka bila tenagaya sudah pulih benar, segera ia akan mengembara dunia kangouw sendirian untuk mencari jejak Bok-ya.
Hari ini dirasakan lukanya sudah tidak berhalangan apa-apa lagi. Ia pikir besok akan berangkat saja. Maka diam-diam ia sudah mengatur rencana perjalanannya, lalu hendak mohon diri lebih dulu kepada paman Ko.
Kebetulan Gimji datang mengantarkan makan siang, sekalian ia beritahukan juga kepada pelayan itu akan keberangkatannya besok.
"Jadi Kong cu pasti akan berangkat besok?" Gimji menegas.
"Ya, aku pasti akan berangkat " jawab Yu Wi. "Dari percakapanku dengan paman Ko, beliau seperti menghendaki kutinggal di sini saja, sebab itulah sukar bagiku untuk mohon diri kepada beliau. Terpaksa minta bantuanmu agar kau singgung dulu akan maksud keberangkatanku, katakan besok juga aku akan pergi."
"Maaf. tak dapat kulakukan permintaanmu." jawab Gim-ji sambil menggeleng. "Kau mau pergi, silakan langsung mohon diri kepada Loya sendiri"
Setelah berpikir, Yu Wi lantas melompat turun dari tempat tidur, katanya, "Betul juga, harus kuberitahukan langsung kupada beliau."
Melihat gerak-gerik anak muda itu lincah dan kuat, Gim-ji terkejut. "Hai, engkau sudah sehat seluruhnya."
"Tentu saja sudah sehat jangan kau kira setiap hari aku cuma berbaring melulu. padahal badanku jauh lebih sehat daripada waktu datang."
"Hm. tentu saja." jengek Gim-ji. " Waktu datang kulihat keadaanmu kempas-kempis malahan kukira jiwamu sukar tertolong."
Yu Wi merasa ucapannya kurang tepat, cepat ia menambahkan. "Maksudku, badanku sekarang jauh lebih sehat daripada waktu sebelum terluka."
"Ah. aku tidak percaya," kata Gim-ji. "sebelum pergi, ci-suhu dari Tin-wan-piaukiok itu pernah menyatakan jiwamu tidak beralangan lagi, tapi untuk pulih sehat seperti semula jelas tidak mungkin terjadi. Malahan dia pesan agar setelah kau siuman supaya banyak diberi minum obat kuat, kalau tidak. Mungkin bisa cacat selamanya. Sekarang meski kesehatanmu sudah pulih. Paling banyak juga serupa dahulu. Kalau bilang lebih kuat daripada dulu, kan berarti ucapan ci-suhu itu hanya omong kosong belaka,"
Yu Wi tertawa, tidak enak untuk diceritakannya tentang bantuan Ko Bok-cing yang telah melancarkan segenap urat nadinya. Sebab ilmu sakti yang dikuasai Bok-cing tampaknya diluar tahu paman Ko dan juga Gim-ji. Maka ia pikir lebih baik tidak mengungkapkan persoalan ini.
"Kau hanya ingin pamit kepada Loya, apakah tidak juga mohon diri kepada siocia?" demikian kata Gim-ji pula.
Yu Wi jadi melengak. la pikir pikir pantas Gim-ji merasa kurang senang ketika mendengar dirinya hendak pergi, agaknya pelayan itu menyesali dia karena tidak berpamitan kepada siocianya. Padahal pada waktu dirinya dalam keadaan tidak sadar, sang siocia yang telah meladeninya dengan rajin, sekarang dirinya mau pergi tanpa pamit, memang terasa tidak pantas.
Akan tetapi Yu Wi hanya menyesal dalam hati saja, ia pikir memang seharusnya mohon diri kepada nona itu dan mengucapkan terima kasih padanya. Tapi apakah dirinya tidak merasa malu untuk bertemu dengan nona itu?
Tiba-tiba Gim-ji mengomel, "Hm, kenapa kau diam saja? Tidak mau pamit juga tidak apa, memangnya kau kira siocia mengharapkan pamitmu?"
Yu Wi tersenyum getir, "sesungguhnya ingin kutemui siocia mu untuk mohon diri dan mengucapkan selamat berjumpa lagi. Cuma kukuatir siocia mu tidak mau lagi menemui orang kasar seperti diriku ini, kan aku bisa malu sendiri?"
"O, kukira kau tidak mau menemui siocia, kiranya kau sendiri yang kuatir mendapat malu," ujar Gim-ji dengan tertawa. "Tapi bolehlah kusampaikan kepada siocia akan maksudmu, kuyakin siocia pasti mau menemuimu."
Habis berkata tanpa menunggu jawaban Yu wi segara pelayan itu melangkah pergi dengan cepat. Kiranya sebabnya Yu Wi sungkan menemui Ko Bok-cing adalah karena mengira nona itu marah pada perbuatannya, hal ini terbukti selama tiga hari nona itu tidak kelihatan sama sekali. Padahal ia pandang Ko Bok-cing bagaikan dewi kayangan, hanya dewi saja yang memiliki kungfu setinggi itu, hanya dewi saja yang rela berkorban bagi orang sakit, tapi dirinya telah bertindak kasar dan mencemarkan maksud suci si nona.
Selagi hati merasa tidak tenteram, entah si nona mau menemuinya tidak setelah dilapori Gim-ji, tiba-tiba terdengar suara langkah orang, belum muncul orangnya sudah terdengar suara Gim-ji berseru diluar kamar, "siocia datang sendiri menjenguk Kongcu"
Tergetar tubuh Yu Wi, sungguh tak tersangka olehnya Ko Bok-cing akan datang menemuinya lagi. Dilihatnya Gim-ji telah mendorong masuk seorang nona, siapa lagi dia kalau bukan Ko Bok-cing.
"Setelah kuundang siocia kemari, cara bagaimana terima kasihmu kepadaku?" terdengar Gim-ji berseru pula dengan tertawa di luar.
"Cara bagaimana terima kasihmu padaku." kata-kata ini membuat muka Ko Bok-cing merah jengah.
Dalam pada itu suara tertawa Gim-ji terdengar sudah menjauh.
Melihat rasa kikuk Bok-cing, Yu Wi jadi teringat kepada waktu keduanya tidur satu bantal tempo hari, waktu itu si nona juga omong "cara bagaimana terima kasihmu padaku", karena rangsangan nafsu birahi, hampir saja dirinya memperlakukan si nona dengan cara tidak senonoh. Karena itu kembali ia menggampar lagi muka sendiri.
Cepat Bok-cing berkata, "sudahlah, jangan kau hajar dirimu sendiri, tempo hari sudah kau gampar muka sendiri dua kali, ditambah satu kali tamparanku, cukup tiga kali hajaran itu saja dan aku tidak marah lagi padamu."
"Terima kasih atas kemurahan hati Cici, budi pertolongan Cici takkan kulupakan selamanya," ucap Yu Wi dengan hormat. "Mustinya ingin kumohon diri kepada cici, tapi kuatir cici marah padaku. Syukurlah sekarang cici sudi memaafkan kesalahan yang sudah kulakukan."
Berulang-ulang Yu Wi memanggil cici atau kakak, Bok-cing tampak kurang senang. ucapnya lirih, "Kan sudah kukatakan, umurku lebih kecil dari pada mu, jangan kau panggil Cici padaku."
Tapi dengan serius Yu Wi menjawab, "Meski usia Cici lebih muda dari padaku, tapi engkau adalah kakak Bok-ya, dengan sendirinya harus kusebut engkau sebagai cici."
Jawaban ini menandakan betapa erat hubungan antara Yu Wi dengan Ko Bok-ya sehingga hubungannya dengan Bok-cing menjadi lebih jauh, seakan lantaran Bok-cing adalah kakak Bok-ya, maka dia ikut memanggil cici padanya.
Karena salah tangkap maksud anak muda itu, Bok-cing menghala napas menyesal, ucapnya pelahan, " Kepergianmu ini tentunya juga akan mencari jejak Jimoayku, bukan?"
Yu Wi mengangguk. Jawabnya, "Ya, paman telah menyerahkan adik Bok-ya kepadaku untuk minta pengobatan kepada su Put-ku di siau-ngo tay-san, tapi adik Bok-ya telah hilang, meski ada sebab musababnya. Tapi kewajiban ini harus kupikul, selama hidupku ini, betapa pun harus berusaha menemukan adik Bok-ya."
"Dunia seluas ini, kemana hendak kau cari dia" ujar Bok-cing.
"Meski dunia sangat luas kuyakin pada suatu hari pasti dapat kutemukan dia,"
"Pada suatu hari akhirnya pasti bertemu. Memang betul asal ada kemauan, apapun pasti akan terkabul. Tapi hendaklah kau pikirkan lagi, apabila Jimoay sudah meninggal dunia, apakah dapat kau temukan dia?"
Tanpa pikir Yu wi menjawab, "Adik Bok-ya takkan meninggal."
"Berdasarkan apa kau yakin dia tidak mati?"
Yu Wi rada mendongkol, dengan suara agak keras ia menjawab, "Memangnya Cici menganggap adik Bok-ya sudah mati?"
Pelahan Bok-cing menjawab, "Aku tidak tahu. . . ."
"Asalkan tidak ada orang menyaksikan sendiri jenazah adik Bok-ya, betapa pun aku tidak percaya dia bisa mati, "jengek Yu Wi. "Dan selama dia tidak mati, kuyakin pasti dapat menemukan dia."
Dengan nada yang aneh Bok-cing berkata pula, " Kukatakan, takkan kau temukan dia lagi. ..."
Yu Wi jadi melengak. Ia pikir setelah dewasa tentu diantara kedua kakak beradik ini tidak terdapat kecocokan. Cara bicara Bok-cing ini seakan-akan tidak mengharapkan Bok-ya masih hidup didunia ini, dengan demikian barulah paman Ko akan tinggal disini hingga akhir hayatnya bersama ibu kandung Bok-cing sendiri
Manusia pada umumnya mamang egois, mementingkan diri sendiri, demi membela ibu kandung sendiri adalah pantas juga jika timbul pikiran sempit Bok-cing.
Meski tidak enak perasaan Yu wi karena ucapan Bok-cing itu, tapi ia tidak bicara lagi, ia berpikir sejenak. Ia marasa tidak pantas memperlakukan dingin si nona, dengan tertawa segera ia berkata pula. "Ai, coba, kau sudah datang sekian lama belum juga kupersilakan duduk"
Setelah Bok-cing berduduk, ia menepuk kursi disebelahnya dan berkata, "Kau pun duduk di situ"
YU Wi lantas duduk disampingnya.
"Apakah benar ayah berharap engkau tinggal seterusnya di sini?" tanya Bok-cing tiba-tiba.
"Memang paman ada maksud demikian," jawab Yu wi. "Beliau mengatakan hidupku sebatang-kara, mendiang ayahku tanpa saudara sekandungnya, setelah ayahku meninggal, beliau berkewajiban menjaga diriku, maka berharap aku mau tinggai disini."
"Dan kau mau tidak?" tanya Bok- cing dengan tertawa.
"Sebenarnya keadaanku sekarang memang sebatang kara, tanpa sanak tiada kadang, daripada terluntang-lantung di dunia Kangouw memang lebih baik tinggal saja di sini. Akan tetapi aku harus menyelesaikan beberapa tugas lain dan tidak dapat menetap dengan tenang."
"Dapatkah kau ceritakan urusan apakah yang masih harus kau selesaikan?" tanya Bok-cing dengan suara lemhut.
Yu Wi lantas bercerita tentang sakit hati ayah terbunuhnya kedua isteri dan juga pergi mencari anaknya yang hilang. Malahan dia harus mencari Bok-ya serta berusaha berkenalan dengan ibu kandung sendiri yang tidak waras itu. Meski Yu Wi hanya bercerita secara ringkas saja, tapi makan waktu cukup lama juga.
Baru pertama kali Bok-cing mendengar kisah itu sehingga dia sangat tertarik oleh pengalaman Yu Wi. Ia sendiri tidak pernah berkelana di dunia Kangouw, maka pengalaman Yu Wi dirasakannya serba baru dan sangat merangsang.
Ketika mendengar Yu Wi sudah pernah kawin dan punya anak. Tanpa terasa Bok cing memandang beberapa kejap kepada anak muda itu. Ia pikir masih semuda ini dia sudah menjadi ayah, sungguh tidak sederhana. Pikir punya pikir, tanpa terasa muka sendiri menjadi merah. Diam-diam ia bersyukur kalau tempo hari dirinya tidak mencegahnya bukan mustahil tidak lama lagi anak muda ini akan menjadi ayah pula.
Berpikir sampai disini, diam-diam ia mengomeli dirinya sendiri yang tidak tahu malu. selalu teringat saja kepada urusan begituan.
Yu Wi sendiri menjadi sedih demi menguraikan Kejadian masa lampau, ia tidak memperhatikan perubahan air muka Bok-cing.
Sejenak kemudian, didengarnya Bok-cing berkata. "Kukira agak sulit membalas sakit hati terbunuhnya ayah dan isterimu, tentang anakmu mungkin telah diselamatkan orang lain dan pada suatu hari kelak pasti akan diantar kembali kepadamu. Hal perkenalan kembali dengan ibumu, kukira juga dapat terlaksana dalam setahun. Hanya urusan mencari Ji-moay saja kukira tak terkabul. Sebab itulah kuharap sementara tetap kau tinggal disini saja dan tidak perlu mencari secara ngawur yang cuma membuang-buang waktu belaka."
Mendadak Yu Wi berdiri dan menjengek. "Hm, siapa bilang tak dapat kutemukan adik Bok-ya? Pasti akan kutemukan dia, jangan lagi kau bujuk diriku, aku tak dapat tinggal disini, selama adik Bok-ya belum kutemukan, selama itu pula aku tak dapat menetap dengan tenteram."
Bok-cing menghela napas pelahan, "jangan kau marah. tentu saja akupun berharap dapat kau temukan Jimoay."
Yu Wi mendengus pula, pikirnya, "Huh, tidak perlu kau pura-pura, hakikatnya tidak kau harapkan Ya-ji hidup di dunia ini. Memangnya kau kira aku tidak tahu."
Didengarnya Bok-cing berkata pula, "sabar, duduklah kembali Coba jawab, untuk mencari Ji-moay, lebih baik kau cari sendirian atau dilakukan dengan orang banyak?"
Betapapun Yu Wi tetap menghormati Ko Bok-cing, ia menurut dan duduk kembali, jawabnya. "Kalau mau mencarinya, dengan sendirinya dilakukan orang banyak akan lebih baik, tapi siapakah yang sudi membantuku untuk mencari adik Bok-ya?"
"Bisa jadi kau kira aku tidak mau ikut mencari, tapi apakah kau pikir ayah juga tidak mau? Padahal ayah berpangkat tinggi dan punya kekuasaan besar, pasukannya tersebar di segenap pelosok negeri, kalau mau mencari jejak satu orang saja kan tidak sulit?"
"Betul juga ucapanmu, tapi entah paman sudah berpikir sampai disitu atau beliau memang tak suka menggunakan kekuasaannya, ketika kusinggung tentang hilangnya Ya-ji, belum pernah beliau menyatakan hendak mencarinya."
"Memangnya kau kira ayah orang bodoh dan tidak memikirkannya? Menggunakan kekuasaan hanya persoalan kecil, tapi ayah tidak melakukannya. apa sebabnya? sebab ayah tahu Jimoay tidak dapat ditemukan lagi."
"Peduli akan kutemukan atau tidak. betapa pun tetap harus kucari," kata Yu Wi dengan mendongkol.
Bok-cing tidak menyangka anak muda ini sedemikian kepala batu, betapa pun dibujuk tetap tidak mau mambatalkan niatnya mencari Bok-ya. Ia pikir biarpun dikatakannya Jimoay sudah meninggal juga takkan dipercaya oleh Yu Wi. Apakah lantaran cintanya kapada Jimoay sudah sedemikian mendalamnya sehingga Jimoay harus ditemukan untuk hidup bersama?
Berpikir demikian, mendadak ia keraskan perasaannya dan berkata, "Ada satu urusan ingin ku mohon padamu, entah dapat kau terima atau tidak?"
"Tempo hari waktu kau bantu melancarkan segenap urat nadiku pernah kau katakan ada syarat yang harus kupenuhi, mestinya waktu itu ingin kutanya apa syaratmu, tapi sebelum kutanya segera kau turun tangan dan memulihkan tenagaku. Kutahu bukan maksudmu hendak memaksa kuterima syaratmu, apakah urusan yang kau maksudkan sekarang ini adalah persoalan sama seperti apa yang hendak kau katakan tempo hari itu?"
"Betul, sama urusannya," jawab Bok-cing. "waktu itu tidak kukatakan, tapi sekarang mau-tak mau harus kukatakan."
"Urusan apa? Asalkan dapat kulaksanakan pasti akan kuterima."
"Syaratku waktu itu mestinya ingin kuminta seterusnya kau lupakan Ji-moay, dan permintaanku sekarang juga tetap supaya kau lupakan Jimoay saja."
Air muka Yu Wi seketika berubah pucat, Ia pikir masakah di dunia ini ada permintaan yang tidak masuk diakal begini? Masakah suatu perbuatan berdosa jika aku tidak dapat melupakan Ya-ji?
"Kutahu permintaanku ini tidak masuk diakal," ucap Bok-cing dengan menyesal. "sekarang ingin kurubah sedikit, sebab kutahu pikiran seorang betapa pun tidak dapat dikekang. Bahwa tak dapat kau lupakan Jimoay, hal ini membuktikan dirimu ini adalah seorang yang berperasaan dan punya iman yang kuat, adalah wajar jika selalu kau ingat kepada Jimoay. Namun kuminta agar jangan kau cari dia, boleh kaupikirkan dia. Tapi tidak boleh lagi mencarinya."
"Hahaha" mendadak Yu Wi bergelak tertawa.
"Apa yang kau tertawakan?" tanya Bok-cing.
"Kugeli bahwa peristiwa lucu di dunia ini sungguh banyak. tapi tidak ada yang lebih lucu daripada hal ini."
Bok-cing kurang senang, "Apanya yang lucu? Kuminta jangan kau cari Jimoay adalah demi kebaikanmu sendiri sebab toh tak dapat kau temukan dia, untuk apa kau bikin susah dirinya sendiri"
"Hm, daripada bilang minta, kan lebih tepat kau katakan memberi perintah padaku," jengek Yu Wi.
Bok-cing menghela napas gegetun, "Kata kan minta boleh, bilang memerintah juga boleh, pendek kata seterusnya tidak perlu lagi kau cari Jimoay."
Mendadak Yu Wi terbahak-bahak pula, "Minta dan perintah tidaklah sama. Ko-toa siocia, kau berhak memberi perintah padaku, sebab kau pernah menolong jiwa ku. Tapi sebentar lagi tak dapat kau beri perintah pula padaku . . . ."
sampai disini, mendadak angkat jari dan menutuk hulu hati sendisi, menutuk Hiat-to yang mematikan.
Karuan Bok-cing terkejut, tampaknya dia tidak bergarak, tapi tahu-tahu dia bertindak sesuai kehendaknya, mendadak ia rangkul tangan Yu Wi dan meratap. "Aku . . . aku tidak memberi perintah padamu, boleh . ^ . boleh kau pergi besok"
Habis berkata, ia lepaskan tangan Yu Wi terus lari pergi sambil mendekap muka sendiri
Yu Wi sempat mendengar suara tangis si nona, ia jadi melengak. la heran sebab apakah nona itu menangis?
Ia coba merenungkan sikap dan tutur kata Ko Bok-cing selama beberapa hari ini, akhirnya ditemukannya sesuatu, yakni si nona sangat tidak suka bila dirinya memikirkan Ya Ji.
Sejak hari pertama dirinya siuman Ko Bok-cing lantas tidak senang karena dirinya menyangka dia sebagai Bok-ya, dan sekarang dia telah menangis lantaran dirinya bertekad akan pergi mencari Ya-ji. semua ini manandakan bahwa Bok-cing tidak suka bayangan Ya-ji selalu terbayang dalam benaknya, sebaiknya supaya melupakannya. Mengapa demikian? sebab apa Bok-cing menghendaki dirinya melupakan Bok-ya? Apakah ada sesuatu sebab di dalam persoalan ini
Yu Wi ingin tanya Ko siu, tapi bila teringat sang paman yang setiap hari selalu sibuk pekerjaan dinas, mana ada waktu untuk mengurusi soal tetek- bengek ini, sebaiknya jangan mengganggu beliau.
Malamnya, selagi Yu Wi bermaksud pergi menemui Ko siu untuk menyatakan niatnya akan berangkat untuk mencari Bok-ya, tiba-tiba dilihatnya Gimji datang dengan tergesa-gesa.
Belum lagi Yu Wi buka suara, pelayan itu sudah mendahului mengomel, "Jangan kau tanya siocia lagi, sampai sekarang dia masih terus menangis"
" Esok pagi-pagi aku akau berangkat, tolong sampaikan kepada siociamu." kata Yu Wi.
"Hm. memangnya siapa yang dapat merintangimu?" jengek Gimji "Apabila aku, persetan dengan kepergianmu. Tapi siocia justeru masih memikirkan dirimu dan hendak memberi barang apa padamu. Ini ambil, coba saja malam nanti apakah dapat kau tidur nyenyak?"
Habis berkata ia taruh sesuatu di atas meja, lalu tinggal pergi.
Yu Wi hanya menggeleng sambil ia nyengir, dilihatnya barang di atas meja itu terbungkus oleh saputangan sutera berbentuk persegi.
Ia mendekat dan memegang barang itu, segera tercium olahnya bau harum yang sedap. bau harum yang sudah dikenalnya, yaitu bau barum yang pernah dicium dari tubuh Ko Bok-cing waktu mereka tidur satu ranjang tempo hari.
Jelas saputangan itu adalah milik Ko Bok-cing. entah apa yang terbungkus. Waktu ia membukanya, kiranya isinya adalah satu buku tua berwarna kuning.
Begitu melihat tanda diatas sampul buku itu, seketika Yu Wi terkejut, “Hei, bukankah inilah tanda pangenal yang terdapat didada Bu-beng-lojin di Ho-lo to itu?"
Kiranya di atas sampul buku terlukis bulan sabit warna hijau, ia masih ingat pesan tinggalan Bu-beng-lojin didasar Ho-lo-to dahulu, katanya barang siapa yang menemukan jenazahnya diminta menyelidiki asal-usul orang tua itu, ada pun rahasia asal-usulnya terletak pada toh hijau berbentuk bulan sabit di atas dadanya.
Peristiwa itu masih teringat baik-baik oleh Yu Wi, kini mendadak dilihatnya tanda bulan sabit separti apa yang ditandaskan oleh Bu-beng-lojin itu, jelas hal ini bukannya kejadian secara kebetulan, tapi kitab ini pasti ada sangkut-pautnya dengan si kakek sakti tak bernama itu.
Yu Wi coba membuka halaman pertama buku itu, di atasnya tertulis tiga huruf kanji kuno, "Goat-heng-bun" atau perguruan bulan sabit.
"Goat-heng-bun? Apakah nama sesuatu perguruan atau aliran?" demikian Yu wi bergumam sendiri. Lalu ia menggeleng kepala dan berkata pula, "Ah, tidak betul, selamanya tidak pernah kudengar ada sesuatu aliran atau perguruan yang bernama Goat-heng-bun?”
Waktu halaman kedua dibuka, terlihat penuh tulisan huruf kecil, Yu wi tertarik oleh empat huruf besar yang ditulis dengan bentuk aneh, yakni "su-ciau-sin-kang".
Berdebar jantung Yu Wi demi melihat nama ilmu sakti ini. Tanpa kuasa ia membaca tulisan yang memenuhi halaman itu . ..
Tapi baru beberapa baris dibacanya, mendadak ia menutup kembali kitab itu dan bergumam pula, "Tidak. tidak boleh kubaca ..."
Ia tahu bilamana kitab itu dibacanya lagi, akibatnya pasti akan tertarik oleh ilmu sakti itu dan hal ini berarti keberangkatannya besok akan gagal, dan selanjutnya juga takkan terpikir lagi akan mencari Bok-ya.
Maklumlah, bilamana seorang ahli silat dapat membaca satu kitab ilmu silat mujizat, jarang yang tidak menjadi tertarik. Semakin gaib sesuatu kitab ilmu silat semakin besar pula daya tariknya. Rasanya takkan berhenti bila belum berhasil meyakinkan ilmu silat yang tercantum dalam kitab itu.
Kini ilmu silat Yu Wi sudah mencapai taraf tertinggi, sekarang diberinya kitab pusaka yang sukar dicari di dunia persilatan ini, tentu saja dia tambah melengket dan sukar melepaskan diri, apabila dia membacanya lagi, memang betul bisa lupa daratan dan urusan Bok-ya bisa dikesampingkannya.
Dan bila ilmu dalam kitab sudah dikuasainya, tentu Yu Wi akan merasa utang budi kepada Ko Bok-cing, dan kalau nona itu minta dia jangan lagi mencari Bok-ya, tekadnya tentu tidak teguh seperti sekarang.
Otak Yu Wi memang encer, demi teringat kepada akibatnya nanti, ia tidak membaca lagi, ia tutup kitab itu dan dimasukkan kedalam baju dengan maksud akan dikembalikan kepada Bok-cing. Pikirnya, "Tidak boleh kuterima barang ini."
Saat ini Ko Bok-cing lagi duduk dikamarnya dengan pikiran kacau, ia tidak tahu apakah waktu itu Yu Wi lagi membaca su-ciau-sin-kang atau tidak.
Ternyata benar dugaan Yu Wi, tujuan pemberian kitab itu memang digunakan Ko Bok-cing untuk menahan Yu Wi tetap tinggal disitu. Ia pikir, "Asalkan dia mau membaca, tidak nanti dia pergi besok. Seperti diriku sendiri, waktu itu aku baru berumur sepuluh, tahun sengaja kubuka kotak rias ibu yang dibawanya dari rumah orang tua, kudapatkan kitab yang dibungkus dengan kertas minyak ini. Karena rasa ingin tahu. Kubaca isinya dan jadinya aku terpikat, selama sepuluh tahun ini hampir setiap hari kuteng gelam dalam membaca isi kitab itu dan giat berlatih, Dia adalah seorang ahli silat. Tentu juga akan terpikat."
Sudah diperhitungkannya Yu Wi pasti akan melengket oleh kitab itu, maka esok akan disiapkannya sebuah kamar yang indah agar anak muda itu dapat mempelajari su-ciau-sin-kang dengan baik. Ia yakin setarusnya Yu Wi takkan meninggalkannya dan juga takkan mencari Jimoay lagi.
Tengah melamun, sekonyong-konyong bayangan orang berkelebat, seorang menyelinap masuk kekamarnya. Siapa lagi kalau bukan Yu Wi.
Dengan sikap dingin Yu Wi mengeluarkan kitab itu dan dikembalikan kepada Bok-cing. Katanya. "Tak dapat kuterima hadiah setinggi ini nilainya, ambil kembali saja."
Hati Bok-cing terluka oleh sikap Yu Wi yang dingin itu, dengan suara pedih ia tanya, "Sudah kau baca tidak? Coba bacalah"
"Kukuatir bila kubaca, maka seterusnya tak dapat pergi lagi, maka tidak kubaca," jawab Yu Wi ketus.
"Jika demikian, jadi kau tahu isi kitab ini adalah su-ciau-sin-kang?" Yu Wi mengangguk.
"Dan kau ternyata mampu mengekang perasaanmu untuk tidak membacanya, hal ini menandakan betapapun tidak dapat kutahan dirimu disini. Baiklah, besok boleh kau pergi. Kuharap semoga Jimoay dapat kau temukan dan dapatlah kalian menikah dengan bahagia."
"Sementara ini kumohon diri dulu, kelak bila Ya-ji kutemukan tentu akan kutemui dirimu," kata Yu wi.
"Pergilah" seru Bok-cing dengan menahan kepedihan.
Bibir Yu wi sudah bergerak lagi hendak omong, tapi lantaran si nona sudah mengusirnya, terpaksa urung bicara dan hendak melangkah pergi. Mendadak Bok-cing bertanya, "Kau mau bicara apa?"
Yu Wi berpaling dan menjura, katanya, "ingin kutanya sesuatu keterangan mengenai kitab tadi."
"Ooo, urusan apa?" tanya Bok-cing.
"Pada halaman pertama kitab itu tertulis tiga huruf "Goat-heng-bun", apakah kau tahu apa artinya?"
"Itulah nama sesuatu aliran yang sangat menonjol pada seratus tahun yang lalu, tapi sekarang sudah dilupakan orang. Aliran itu memakai tanda bulan sabit, setiap anak murid dari perguruan tersebut sama mempunyai tanda pengenal rahasia."
"Apakah toh hijau berbentuk bulan sabit?" tanya Yu Wi.
"Betul," jawab Bok-cing dengau heran. "Dari mana kau tahu?"
Yu Wi lantas mengisahkan pangalaman aneh di dasar Ho-lo-to dahulu.
"Ha h, Bu-beng-lojin itulah Ban put-tong" seru Bok-cing kaget.
"Ban Put-tong?" Yu Wi menegas dengan kejut dan girang. "Haha, Bu-beng-lojin, akhirnya berhasil kuselidiki namamu, bilamana engkau tahu di alam baka tentu kau dapat istirahat dengan tenteram."
"Apabila Ban put-tong betul tahu dialam baka, hakikatnya tidak perlu kau selidiki asal-usulnya, sebab tentu sudah lama ditanyakannya kepada raja akhirat. "Ujar Bok-cing dengan tertawa.
"Tapi dia minta kuselidiki asal-usulnya, sekarang baru diketahui namanya, kalau asal-usulnya bisa ketahuan tentu akan lebih baik."
"Yang ingin tahu dirimu atau dia?"
"Tentu saja dia."
"Lalu cara bagaimana akan kau beritahukan padanya jika berhasil kau selidiki?" tanya Bok-cing dengan tertawa.
Yu Wi menggeleng sambil menyengir, "Ya, terpaksa akan kuberitahukan jika sudah kususul ke akhirat."
"Kutahu asal-usul Ban Put-tong." Tutur Bok-cing, "Bahwa dia minta diselidiki asal-usulnya bukan lantaran dia ingin tahu siapa dia, sebab pada hakikatnya dia tidak tahu lagi siapa dirinya, dia sudah kehilangan ingatan, dia cuma tahu seorang musuh telah membikin nelangsa dia hingga terhanyut ke Ho-lo-to, ia tinggalkan Hian-ku-cip dengan tujuan agar orang yang menemukan kitab pusaka itu dapat mempelajari dengan baik kungfu tinggalannya. Lalu manyelidiki asal-usulnya supaya dapat membalaskan sakit hatinya."
Yu Wi merasakan keterangan si nona cukup masuk di akal, serunya, "Tepat Dan siapakah musuhnya, aku wajib menuntut balas baginya."
"Mengapa kau wajib menuntut balas baginya?" tanya Bok-cing dengan tertawa.
"Sebab akulah orang pertama yang menemukan pesan tinggalannya, meski tidak kutemukan Hian-ku-cip yang ditinggalkannya, asal kutahu siapa musuhnya, pasti akan kubalaskan dendamnya tanpa peduli risiko apa pun."
"Benar kau bertekad akan menuntut balas baginya?" tanya Bok-cing dengan tegas.
"Ya," jawab Yu Wi, "cuma ada satu dasarku, bila musuh memang orang jahat barulah dapat kubalasnya sakit hatinya."
"Baik-jahatnya seseorang sangat sukar untuk ditentukan." ujar Bok-cing, "Jika benar kau bertekad menuntut balas bagi Ban Put-tong. Maka kaulah ahli waris Goat-heng-bun, sebab musuhnya adalah suatu perguruan yang disebut Thay-yang-bun (perguruan matahari)."
"Thay-yang-bun" Yu Wi menegas. "Kembali satu aliran aneh lagi."
"Kitab su-ciau-sin-kang yang kupegang ini kini harus kuserahkan padamu." ujar Bok-cing.
"Tidak, aku tidak mau, sudah kukatakan tak dapat kuterima hadiah sebesar ini."
"Hm, memangnya kau kira aku tidak tahu malu dan tetap ingin memberikan kitab ini padamu?" jengek Bok-cing. "Kau tahu sekarang Thay-yang-bun adalah musuh bebuyutan Goat-heng-bun, jika kau berniat menuntut balas bagi Goat-heng-bun, maka berarti kau sudah mengaku sebagai murid Goat-heng-bun. Selaku murid Goat-heng-bun, masa benda pusaka perguruan sendiri tidak kau terima."
Yu Wi jadi melenggong. Dilihatnya Bok-cing telah menyodorkan kitab itu kepadanya. setelah ragu sejenak. Akhirnya Yu Wi menerimanya.
Dengan gemas Bok-cing lantas berkata, "selanjutnya kau tidak cuma mengemban tugas membalas dendam ayah dan terbunuhnya isteri, kini ditambah lagi satu tugas, yakni menuntut balas bagi perguruan sendiri"
"Dendam sakit hati Permusuhan Wah. takkan habis-habis kubalas dendam selama hidup ini" ujar Yu Wi sambil menyengir.
"Pejabat ketua Goat-heng-bun terakhir adalah ayah Ban put-tong." demikian Bok-cing bertutur pula, "sekarang Goat-heng-bun telah bangkit kembali, bolehlah kau jabat ketua Goat-heng-bun sekarang."
"Baik, sekarang aku adalah pejabat ketua Goat-heng-bun, tapi kau telah belajar su-ciau-sin-kang, kau pun terhitung murid Goat-heng-bun, selanjutnya kau harus tunduk kepada perintah sang ketua."
Bok-cing jadi melengak, tapi segera ia menjawab dengan tertawa, "Aku memang mau tunduk kepada perintahmu,"
Yu Wi merasa ucapannya tadi agak keluar ril, cepat ia menambahkan, "Eh, cara bagaimana Ban-locianpwe sampai terhanyut ke Ho-lo-to, bahkan terluka parah sehingga kehilangan ingatan?"
"Soal ini aku pun tidak jelas," jawab Bok-cing, "Cuma didalam bungkusan kertas minyak telah kubaca sepucuk surat wasiat tinggalan ayah Ban put-tong, surat itu memberi nasihat agar puteranya sadar kembali kejalan yang benar, ditunjukannya bahwa ibu tiri yang dicintai Ban put-tong itu adalah agen yang sengaja dikirim pihak Thay-yang-bun untuk mencuri rahasia Goat-heng-bun, terutama yang diincar adalah kitab pusaka Goat-heng-bun, yaitu Hian-ku-cip.
Waktu kutanya ibuku baru diketahui bungkusan dengan kertas minyak itu termasuk barang bawaan ibu waktu menikah, barang tinggalan leluhur dengan amanat bilamana Ban Put-tong diketemukan, supaya bungkusan itu diserahkan kepadanya. semula aku tidak habis mengerti mengapa ibu tidak tahu leluhurnya she Ban, yang diketahui hanya menyerahkan bungkusan itu kepada Ban put-tong. sekarang dapatlah kupahami hal itu, rupanya Ban Put-tong telah mati di Ho-lo-to sehingga tidak mungkin bungkusan itu dapat diserahkan padanya. Sedangkan barang yang termasuk emas kawin ini hanya diturunkan kepada anak perempuan dan tidak kepada anak lelaki, setelah beberapa turunan, anak perempuan yang membawa barang ini entah telah berganti she beberapa kali."
"Ibumu kawin dengan orang she Ko, bila kemudian bungkusan wasiat ini pun diberikan kepadamu sebagai emas kawin, tentu akan jatuh kepada anakmu yang berganti she lagi, dengan bagitu menjadi semakin jauh dan tidak tahu lagi leluhurnya yang she Ban. Anehnya, mengapa benda pusaka ini hanya diwariskan kepada anak perempuan dan tidak kepada anak lelaki. Sebab apa kitab pusaka ini tidak diwariskan kapada putera keluarga Ban sendiri?"
"Soalnya puteranya menyeleweng," ujar Bok-cing dengan tertawa. "Di dunia ini memang terlalu banyak lelaki busuk. Kan lebih baik diwariskan kepada anak perempuan,""
Yu Wi pikir tidak boleh bergurau lagi, maka dengan serius ia berkata, "Sebenarnya, bagaimana duduk perkaranya?"
"Begini," tutur Bok-cing, "ketua Goat-heng-bun yang terakhir itu mempunyai seorang anak lelaki dan seorang anak perempuan dari isteri tua yang sudah meninggal. Anak lelaki itu ialah Ban put-tong. waktu Ban put-tong sudah dewasa, ayahnya baru menikah lagi, isteri yang masih muda ini ternyata murid Thay-yang-bun. Padahal Thay-yang-bun adalah musuh bebuyutan Goat-heng-bun, tapi selama itu Thay-yang-bun tidak dapat mengalahkan Goat-heng-bun, maka digunakannya Bi-jin-keh (akal wanita cantik) untuk mencuri ilmu silat musuh. Tapi sayang, Goat-heng-bun mempunyai suatu peraturan aneh, ilmu silat perguruan hanya diajarkan kepada lelaki dan tidak kepada perempuan. Dengan sendirinya isteri muda itu tidak berhasil mendapat ajaran kungfu Goat-heng-bun, maka dia lantas mencari jalan lain, digodanya Ban put-tong, setelah anak muda itu terpikat, lalu disuruhnya mencuri kitab pusaka perguruan dan kemudian keduanya minggat bersama.
"Ban put-tong tidak tahan godaan, ia benar2 minggat bersama ibu tiri dengan mengkhianati ayah sendiri, bahkan dibawa minggat pula kitab yang berisi intisari ilmu silat Goat-heng-bun, yaitu kitab yang dikenal sebagai Hian-ku-cip. Demi mengetahui perbuatan anaknya yang durhaka itu, sang ketua menjadi murka dan akhirnya jatuh sakit. Kemudian ia pun menyadari kesalahan terletak pada dirinya sendiri, isteri muda yang dinikahinya ternyata murid Thay-yang-bun. Setelah mengetahui duduk perkaranya, ia tidak lagi menyalahkan anak sendiri, sebelum meninggal dia menyerahkan kepada anak perempuannya kitab su-ciau-sin-kang yang biasanya hanya diturunkan kepada anak lelaki itu dengan pesan agar kelak bila Ban Put-tong diketemukan, hendaknya anak muda itu berlatih dengan baik ilmu sakti su-ciau-sin-kaag agar pihak Goat-heng-bun tidak dihina lagi oleh Thay-yang-bun. Tapi sejak itu puteri sang ketua ternyata tidak pernah bertemu lagi dengan Ban Put-tong, juga tidak didengar berita mati-hidup saudaranya. Karena kehilangan pimpinan, kekuatan Goat-heng-bun makin merosot dan selalu dikalahkan oleh pihak Thay-yang-bun, sampai sekarang, perguruan Goat-heng-bun boleh dikatakan sudah lenyap. Sampai meninggalkan puteri ketua Goat-heng-bun itu tetap tidak tahu dimana Ban put-tong, rupanya dia kuatir kungfu keluarga Ban akan putus turunan, maka kitab su-ciau-sin-kang di bungkusnya dengan kertas minyak bersama surat wasiat sang ayah untuk Ban put-tong dan ditetapkan sebagai emas kawin leluhur agar bilamana kelak Ban put-tong atau keturunannya diketemukan, barang pusaka itu dapat dikembalikan kepada anggota keluarga Ban. Rupanya ia tidak tahu bahwa Ban put-tong sudah mati dan juga tidak meninggalkan keturunan."
"Kukira mungkin Bu-beng-lojin itu terluka parah oleh pukulan ibu tirinya, lalu ditinggalkan di Ho-lo-to," kata Yu Wi dengan menyesal.
"Tidak. menurut dugaanku. mungkin dia sendiri yang kabur ke Ho-lo-to, mungkin diketahuinya tujuan ibu tirinya hanya mengincar Hian-ku-cip. ketika hal ini diketahuinya dia telah terkepung oleh murid Thay-yang-bun, dalam gusar dan menyesalnya, dia melakukan perlawanan dan terluka parah, lalu kabur sekuatnya dengan sebuah sampan sehingga terhanyut ke Ho-lo-to dan akhirnya tenggelam ke dasar pulau tandus itu. Waktu ia siuman di dasar pulau, lantara terluka parah dan kehilangan tenaga, pula akibat jiwanya yang terganggu sehingga kehilangan ingatan namun Hian-ku-cip dapat dipertahankan dan tidak sampai dirampas oleh orang Thay-yang-bun, dalam keadaan linglung ia mengira kitab pusaka itu baru ditemukan olehnya, lalu ia mulai berlatih lagi ilmu dalam kitab itu. Padahal Hian-ku-cip itu adalah kitab pusaka warisan keluarganya. Dan pada waktu kungfu sakti berhasil diyakinkannya, ingatannya tetap tidak dapat pulih, sampai ajalnya dia tetap tidak tahu seluk-seluk dirinya sendiri"

Bab 9 : Antara Ko-Bok-ya dan Ko-Bok-cing
Diam-diam Yu Wi mengangguk, ia pikir analisa Ko Bok-Cing memang masuk di akal seperti
menyaksikan sendiri kejadian yang sebenarnya, diam-diam ia sangat kagum kepada kecerdasan
nona ini, pantas dalam usia sepuluh tahun sudah dapat membaca dan melatih su-ciau-sin-kang,
jika dirinya yang melatihnya entah memerlukan waktu berapa lama?
"Nah, jika kau hendak membalas dendam bagi Ban Put-tong alias Bu-beng-lojin, musuh yang
harus kau cari adalah Thay-yang-bun, setelah Su-ciau-sin-kang berhasil kau kuasai bolehlah kau
pergi mencari mereka," demikian kata Ko Bok-cing.
Tapi Yu Wi lantas menggeleng, katanya, "Agaknya Thay-yang-bun serupa dengan Goat-hengbun,
keduanya sudah musnah semua, kalau tidak, mengapa selama ini tidak pernah kudengar
tentang Thay-yang-bun?"
"Tentang Goat heng-bun saat ini masih ada dua orang pewaris, aliran ini akan punah tapi
belum punah, sedangkan Thay-yang-bun tidak terdengar mengalami sesuatu, kukira tidak sampai
musnah begitu saja, bisa jadi mereka mengasingkan diri di daerah terpencil tapi bila suatu waktu
Thay-yang-bun muncul lagi di dunia Kangouw, kuyakin pasti akan terjadi kekacauan besar, tatkala
mana sebagai ketua Goat-heng-bun tugasmu tidak cuma menuntut balas saja, tapi juga harus
menegakkan keadilan bagi khalayak ramai."
Yu Yi tertawa, "Tampaknya tidak saja pintar, bahkan juga banyak khayalanmu."
Ko Bok-cing merasa kikuk oleh pujIan orang, ia menunduk dan berkata, "Bilakah kau akan
berlatih su-ciau-sin-kang? Kukira boleh mulai berlatih di sini saja."
Mendadak Yu Wi bergelak tertawa, katanya, "Haha, mana aku dapat tertipu, kau menghendaki
aku menjabat ketua Goat-heng-bun dan membujuk kutuntut balas bagi Goat-heng-bun. Memang
pernah kujanji akan membalaskan dendam Bu-beng-lojin, tapi sekarang belum diketahui siapa
musuhnya, andaikan tahu juga dapat kugunakan kepandaianku sendiri untuk membereskannya
dan tidak harus berlatih su-ciau-sin-kang. Maka kitab ini boleh kau simpan kembali saja."
Segera Yu Wi menaruh kitab itu di atas meja, tanpa ragu ia melangkah keluar, setiba diambang
pintu ia berpaling pula dan berkata, "Tentang pejabat ketua Goat-heng-bun, Kukira lebih baik
dipangku oleh murid yang resmi seperti dirimu ini, Nah. sampai bertemu, esok aku tidak datang
pamit lagi."
Mata Ko Bok-cing tampak merah, kembali ia menangis, dengan susah payah ia berusaha, tapi
hasilnya nihil, pikirnya di dalam hati, "Wahai kakak Wi, pada suatu hari kelak kupercaya kau akan
memohon padaku."
Esok paginya Gim-ji melayani Yu Wi bercuci muka, kesempatan itu digunakannya untuk tanya,
"Apakah pagi ini Kongcu pasti akan berangkat, apakah sudah diberitahukan kepada Loya?"
Dengan kesal Yu Wi menjawab, "Semalam ketika meninggaikan tempat siociamu sudah
kuberitahukan paman sekalian. siapa tahu paman melarang keberangkatanku dan berkeras
menahanku tinggal di sini. Namun mana boleh jadi, hari ini juga akan kuberangkat secara diamdiam,
jika kau ditanya, katakan saja kupergi tanpa pamit."
Tiba-tiba Gim-ji menghela napas, ucapnya "Apakah Kongcu tahu sebab apa Loya melarang
bepergianmu dan sebab apa pula tidak menyuruh orang lain melayani dirimu, tapi justeru siocia
dan Gim-ji yang disuruh meladeni engkau?"^
Yu Wi menggeleng, "Entah, aku tidak tahu, tapi bila aku hendak pergi, siapa pun tak dapat
menahan diriku."

Gim-ji mendengus. " Kutahu, biarpun raja juga tidak dapat menahan dirimu. Tapi ingin
kukatakan satu hal padamu. sebabnya Loya menahanmu di sini adalah karena beliau bermaksud
mengawinkan siocia padamu, apakah kau tahu?"
Yu Wi jadi gugup, katanya cepat, "He, mana boleh jadi, selagi Ya-ji hilang, mana boleh kukawin
dengan kakaknya?"
Ucap Gim-ji dengan menyesal. "Justeru lantaran Ya-ji menghilang dan tidak dapat ditemukan
kembali mengingat pula kebaikanmu pada Ya-ji maka Loya hendak menikahkan puterinya yang
lain padamu siapa tahu orang tolol seperti dirimu ini justeru tidak mau terima. sebaliknya hendak
pergi mencari Ji siocia yang tidak dapat ditemukan itu."
Yu Wi tidak menyangka sang paman ada maksud memungut menantu padanya. seketika ia jadi
tercengang. ia coba merenungkan kembali beberapa percakapan antara sang paman dengan
dirinya, ternyata memang ada tanda-tanda ingin menyodohkan Ko Bok-cing kepadanya.
Didengarnya Gim ji berkata pula, "sejak kau terluka dan dibawa kesini, waktu itu juga sudah
timbul maksud Loya akan menjodohkan siocia padamu, maka siocia disuruh melayani kau agar
kalian dapat berkenalan lebih akrab lebih dulu. Loya pikir siocia serupa dengan Ji siocia, tentu
kalian cocok juga, siapa tahu, meski siocia kami pribadi sudah mau, kau sendiri justeru berhati
kaku seperti batu dan berkeras mau pergi. sudah kami beritahu Ji siocia tak dapat ditemukan
kembali tetapi tidak kau percayai"
"Mengapa kau pun mengatakan Ya-ji tidak dapat ditemukan, sesungguhnya apa sebabnya?"
tanya Yu Wi mendadak.
"Apa sebabnya, boleh kau pikirkan sendiri," jawab Gim-ji dengan gegetun.
saking gelisahnya sampai urat hijau menonjol di kening Yu Wi, serunya, "Tak dapat kupikirkan,
katakanlah padaku."
Gim-ji menjengek. "Hm, meski derajat Gim-ji cuma seorang babu, tapi tidak takut digertak."
"O, Gim-ji yang kaik, maafkan sikapku yang kasar," terpaksa Yu Wi memohon, "tolong
beritahukan padaku, sesungguhnya apa sebabnya?"
"Ji siocia yang hendak kau cari tidak pergi kemana-mana, dia justeru berdiam di rumah sendiri
di tempat Ji naynay...."
Belum habis ucapan Gim-ji, saking girangnya Yu Wi terus berlari pergi tanpa memakai jubah
luar lagi.
Langsung ia berlari ketempat kediaman Giok-ciang-siancu, ibunda Ko Bok-ya. Pikirnya, "
Kiranya Ya-ji berdiam di rumah sendiri, mengapa mereka sama mengutuki dia sudah tidak dapat
ditemukan kembali? sungguh tidak pantas."
Ia masih ingat rumah Ya-ji, mesti kota Pak-khia sangat luas, hanya sebentar saja sudah
diketahui arahnya dan segera ia berlari ke sana.
orang ramai sama terkejut dan saling padang dengan bingung melihat Yu Wi berlari bagai
diuber setan. Untung hari masih pagi, tidak banyak orang yang berlalu- lalang, kalau tidak- cara
lari Yu Wi tentu menimbulkan kepanikan di tengah kota.
Setiba di istana Panglima Perang, dilihatnya suasana sekeliling istana sunyi senyap. tidak
tertampak orang lalu, hari masih pagi, bisa juga lantaran komplek istana panglima adalah daerah
terlarang untuk dilalui umum.
Ketika menaiki anak tangga atau undak-undakan batu depan istana, Yu Wi melihat keadaan
tempat masih tetap seperti dulu, tapi orang dan persoalannya sudah berubah. Dahulu ia
membawa Bok-ya meninggalkan istana ini, meski jiwa si nona waktu itu sangat menguatirkan, tapi
keduanya selalu berdampingan dengan mesra, kenangan manis itu sukar untuk dilupakan.
sekarang dia kembali ke sini sendirian untuk mencari Ya-ji, hati terasa kesepian dan berduka.

Ia tidak tahu apa yang harus diucapkannya bila bertemu dengan Ya-ji nanti, bila Ya-ji tanya
padanya: "Apa kabar selama berpisah ini? sungguh entah cara bagimana dirinya harus menjawab,
apakah mesti menjawab bahwa aku sudah kawin dan sudah punya anak?"
Lalu bagaimana perasaan Ya-ji setelah mendengar jawabannya? Apakah nona itu takkan marah
kepada cintanya yang tidak setia dan marah padanya karena dirinya tidak berusaha mencari ke
mana perginya, tapi menikah dengan gadis lain, bahkan sudah punya anak?
Namun perkembangan selama beberapa tahun ini sukar untuk diduga oleh siapa pun,
pengalaman sendiri boleh dikatakan terlalu aneh dan gaib, biarpun diceritakan beberapa hari juga
takkan habis, tapi meski sampai pecah bibirnya menceritakan pengalamannya itu untuk memberi
penjelasan kepada Ya-ji, apakah nona itu mau mengerti dan memberi maaf padanya?
Yu Wi ragu-ragu, ia berhenti pada undakan paling atas, ia geleng kepala pelahan dan berpikir,
"Dia takkan memaafkan diriku, dia pasti menganggap kedatanganku ini hanya karena kepepet,
sesudah isteri terbunuh, setelah merasa kesepian barulah teringat kepadanya."
Berpikir sampai di sini, mendadak ia menarik kembali tangan yang sudah siap mengetuk pintu
itu, dia membatin pula. "Masakah aku tidak menemuinya? kan lebih baik jangan menemui dan
pergi saja secara diam-diam"
Tapi baru membalik tubuh, kaki terasa berat untuk turun ke bawah undakan, seketika timbul
pula hasratnya yang kuat, hasrat yang mendorongnya menemui Ya-ji, sebelum bertemu rasanya
tidak rela.
Maka ia membatin pula, "Aku sudah berada disini, biarlah kutemui dia saja, peduli apa yang
dipikir Ya-ji atau diriku. betapa dia benci dan memaki diriku yang pasti akan kuceritakan
pengalamanku selama beberapa tahun ini secara terus terang dan kutanya keadaannya selama ini.
Apabila juga baik-baik, maka puaslah hatiku, sekalipun tetap benci kepada ketidak setiaan dirinya
dan menyatakan takkan bertemu lagi untuk selamanya. asal sudah melihatnya dapatlah kupergi
dengan hati tenteram, sebab apa pun- juga sudah kuceritakan segalanya dengan blak-blakan."
Pertentangan batin Yu Wi sekarang serupa seorang anak yang berbuat salah, betapapun akan
mengaku terus terang kepada ibunda, peduli sang ibu akan menghukumnya atau tidak, yang jelas
ia telah mengakui segalanya, kalau tidak demikian, selamanya hati takkan tenteram.
setelah membulatkan tekad akan menemui Ya-ji, seketika hatinya berdebur lagi, serupa pada
waktu Gim-ji memberitahukan dimana beradanya Ya-ji, sekatika ia kegirangan luar biasa, sampai
jubah luar tidak sempat dipakai dan segera berlari pergi seperti kesetanan.
Ia angkat tangannya yang rada gemetar itu untuk mengetuk pintu dengan gelang baja yang
tergantung di daun pintu. "Trang-trang-trang", terdengar tiga kali suara nyaring keras.
Setelah mengetuk pintu, segera terpikir lagi olehnya, "sekian tahun tidak bertemu, entah
bagaimana wajah Ya-ji, tentu agak lebih kurus? Dia tidak tahu apakah diriku masih hidup tidak
didunia ini. Teringat pada waktu dia meloloskan diri dari tangan gurunya dahulu, dia mengira jiwa
ku paling-paling hanya tahan hidup setengah tahun saja, setengah tahun kemudian aku akan mati
karena bekerjanya racun yang diminumkan pada ku oleh su Put-ku itu. Pantas dia kabur dari Tiamjong-
san, rupanya dia hendak mencari diriku agar waktu setengah tahun itu dapat digunakan
untuk berkumpul denganku. Tapi dia tidak menemukan diriku, aku pun tidak sempat mencarinya,
mungkin dia mengira diriku sudah mati. apabila dia masih memikirkan diriku, mustahil dia tidak
menjadi kurus selama tiga tahun ini?"
Berpikir sampai disini, bergolaklah perasaannya, sungguh ia ingin segera bertemu dengan Bokya
dan berkata padanya bahwa aku belum mati, lihatlah Toako masih hidup segar bugar di dunia
ini
Maka tanpa dipikir lagi mengapa sudah sekian lama pintu belum lagi dibuka orang, segera ia
mendorong pintu. Tak terduga, sekali dorong, kedua sayap daun pintu yang besar itu ternyata
lantas terpentang dengan lebar.

Yu Wi jadi melenggong, pikirnya, "Aneh, mengapa pintu tidak dipalang dari dalam? Padahal
tempat panglima besar ini biasanya dijaga dengan ketat, mengapa tidak dipalang dan penjaga
juga tidak kelihatan? jangan-jangan Ko siu tidak berdiam disini, maka penjagaan telah dihapus?"
Ia melangkah ke dalam, tapi baru beberapa langkah segera dirasakan gelagat tidak beres, ia
heran mengapa suasana sehening ini, terasa seram seperti dikelenteng bobrok yang terpencil,
sama sekali tidak mirip istana seorang pejabat tinggi yang berkuasa.
Ketika ada angin meniup pelahan, sayup,sayup tercium oleh Yu Wi bau anyir darah, seketika
timbul rasa kaget dan takut yang luar biasa. ter-hayang olehnya peristiwa terbunuhnya kedua
isterinya di rumah juga serupa keadaan seperti sekarang ini. Apakah mungkin segenap penghuni
istana ini sama mengalami malapetaka? .. ,
Segera Yu Wi berlari ke dalam, begitu masuk ruangan pendopo, tertampaklah adegan yang
mengerikan, dilihatnya para pangawal satu persatu menggeletak disitu, kematiannya serupa, yakni
kepala pecah entah terpukul oleh benda apa. Ia coba menyapu pandang seluruh ruangan dan
sedikitnya ada 20-an sosok mayat.
Hal ini berarti para pangawal kediaman pribadi Ko siu yang kedua ini sebagian besar terbunuh
diruangan ini.
Sampai melongo Yu Wi menyaksikan keadaan yang luar biasa ini, diam-diam ia menjerit
didalam hati, "Siapa? siapa yang mengganas disini? Ko siu tidak tinggal disini, lalu apa maksud
tujuan si pengganas? Apakah cuma membunuh anak isteri Ko siu saja?"
Saking sedihnya hampir saja Yu Wi berteriak tapi mendadak terpikir bisa jadi pembunuh belum
pergi jauh, jika bersuara mungkin akan menjagetkan musuh malah. Maka sedapatnya ia menahan
peraaaannya dan melangkah ke belakang untuk memeriksa apalagi yang terjadi.
Setiba diluar ruangan belakang, terlihat pula beberapa sosok mayat. Tak tertahan lagi air mata
Yu Wi bercucuran, sebab dikenalnya salah satu mayat itu adalah ibunda Ya-ji, yaitu Giok-ciangsiancu.
Kalau Giok-ciang-siancu saja terbunuh, maka nasib Ya-ji dapat dibayangkan apabila benar nona
itupun tinggal disini. saking cemasnya Yu Wi terus berlari kian kemari untuk memeriksa mayat
yang bergelimpangan itu, ingin diketahuinya adakah jenazah Bok-ya.
Tapi segenap pelosok rumah itu sudah dijelahinya, tetap tidak ditemukan mayat Ya-ji, pikirnya
Janjan-jangan Gim-ji berdusta padaku, sebenarnya Ya-ji tidak tinggal disini. Apabila dia tinggal
disini, tidak nanti dia melarikan diri, kalau tidak mati tentu masih bertempur dengan si
pengganas."
Kesimpulan Yu Wi sangat tepat, sebab kalau Gok-ciang-siancu terbunuh. tidak mungkin Ko Bokya
tinggal lari, tentu nona itu akan bertempur mati-matian dengan musuh.
Terpikir pula oleh Yu Wi kemungkinan dusta Giim-ji sangat kecil, jadi Ya-ji memang benar
tinggal disini. dan kalau tinggal di sini, lalu di mana dia sekarang? sudah mati atau tidak?
Hati Yu Wi diliputi bayangan gelap. secara langsung dirasakannya alamat tidak enak.
Maklumlah, antara dia dan Bok-ya sudah ada jalinan cinta yang mendalam, hanya karena
pengalaman luar biasa yang mengakibatkan dia melupakan nona itu untuk sementara. sekarang
nasib si nona sangat menguatirkan dia sehingga membuat pikirannya kacau, sungguh ia ingin
berteriak-teriak " Ya-ji, di mana kau"
Dia menerjang kesana-sini tanpa arah tujuan sambil mengertak gigi erat-erat, ia kuatir kalau
mendadak menemukan Ya-ji sudah mati. Tapi meski dia sudah berlari kian kemari tetap tidak
ditemukan sesuatu yang tak terduga.
Maka terpikir pula olehnya mungkin Gim-ji sengaja berdusta padanya, Ya-ji memang tidak
tinggal di sini. Maka rasa cemasnya menjadi rada berkurang. Akan tetapi ia tetap merasakan
bimbang yang tak terhingga, juga rada kecewa ....

Perasaannya sekarang sangat kontradiksi, dia sangat berharap Ya-ji berada di rumahnya. tapi
juga, berharap Ya-ji tidak tinggal disini, yang diharapkannya adalah supaya dapat bertemu dengan
si nona untuk bercengkerama mangenai pengalaman masing2 selama berpisah ini, tapi ia kuatir
pula bilamana Ya-ji berada di sini mungkin akan mengalami nasib buruk- maka akan lebih baik bila
nona itu tidak berada disini, lebih baik selama hidup tidak bertemu lagi dengan nona itu asalkan
dia masih hidup dengan baik di dunia ini.
Kenyataannya sekarang Ya-ji memang tidak berada dirumahnya, maka hati Yu Wi menjadi rada
tenteram. Ia coba mendekati jenazah Giok-ciang-siancu dan diangkatnya, ia hendak mewakili Ya-ji
untuk mengubur sementara jenazah sang ibu, ia lihat jenazah Giok-ciang-siancu ternyata serupa
dengan korban yang lain, kepalanya juga pecah terhantam, kalau tidak diperiksa dengan teliti
sukar lagi dikenali. Dengan hormat Yu Wi membawa jenazah itu ke halaman, dicarinya suatu
tempat yang resik dan sejuk untuk dikubur.
Halaman itu masih tampak indah, penuh macam-macam pepohonan dan bunga beraneka
warna, terdengar burung berkicau menarik. Mungkin karena luasnya halaman, maka burung suka
hinggap di pepohonan sini.
Agak jauh kesana Yu Wi mendapatkan suatu tempat yang sunyi dan sejuk. selagi jenazah Giokciang
siancu hendak diturunkan, mendadak didengarnya suara "tok" satu kali, suara benturan dua
benda kayu. Meski kecil suara ini, tapi cukup jelas terdengar oleh Yu Wi suara ini datang dari
sebelah kanan.
Waktu ia memandang kesebelah kanan sana, rupanya karena teraling oleh pepohonan yang
rindang, maka tidak dilihatnya dipojok halaman sana masih ada sebuah rumah.
Rumah ini tidak besar, hanya terdiri dari tiga petak. dibangun seperti biara kaum Nikoh
(pendeta Buddha perempuan).
Diam-diam Yu Wi heran mengapa dipojok halaman terpencil ini terdapat bangunan demikian?
Tiba-tiba terdengar pula suara "tok" satu kali, maka Yu Wi dapat menduga suara itu adalah
suara ketokan "Bok-hi" atau ikan kayu, semacam alat bunyian pemeluk agama Buddha pada waktu
membaca kitab.
Ia menjadi heran siapakah yang beribadat di dalam rumah ini? Apakah si pembunuh tidak
menemukan rumah ini sehingga orang yang bertirakat disini tidak ikut menjadi korban?
Orang yang bertapa disini- juga aneh, mengapa membangun biara di belakang istana panglima
besar dan tirakat disini, dunia seluas ini, tempat tirakat lain yang bagus masih banyak. mengapa
justeru tempat ini yang dipilih?
Yang lebih aneh lagi adalah si pertapa ternyata tidak tahu segenap penghuni istana ini telah
terbunuh habis, kecuali orang tuli mustahil tidak mendengar suara jeritan ngeri para korban
pembunuhan itu.
Apakah karena sipertapa memang sangat saleh, pada waktu membaca kitab telah mencapai
tingkatan yang lupa segalanya sehingga tidak merasakan kejadian disekitarnya.
Jika demikian halnya, sipertapa ini menjadi rada misterius, sebab seorang pertapa yang saleh
ternyata bertirakat di biara yang dibangun dibelakang istana panglima angkatan perang, maka
asal-usul sipertapa ini sungguh sukar untuk dimengerti.
Tengah termenung, tiba-tiba terdengar lagi suara "tok" seperti tadi, cuma ketukan sekali ini
lebih keras sehingga jelas terdengar memang betul suara ketukan bok hi. Maka tidak perlu
disangsikan lagi didalam rumah ini memang betul ada seorang pertapa.
Mestinya Yu Wi ingin mencari tahu lebih jelas apakah benar seorang pertapa yang tirakat di
situ, tapi sekarang kebendak itu dibatalkannya, ia pikir untuk apa mesti mengganggu ketenangan
orang?

segeru ia menaruh jenazah Giok-ciang-siancu ketanah dan hendak dikuburnya agar arwah yang
mati bisa mendapatkan tempat yang tenang. Kemudian akan diberitahukannya kepada Ko siu agar
diadakan pemakaman kembali.
selagi Yu Wi mulai menggali lobang dengan tangan, tiba-tiba terdengar suara "tok" lagi sekali,
suara sekali ini terlebih keras, seperti diketuk oleh sipertapa dalam keadaan marah.
Yu Wi menggeleng kepala dan heran, "Aneh juga pertapa itu, mengapa cara begini dia
mengetuk Bokhi? sudah tidak sama suara ketukannya, jarak waktunya juga tidak sama, pula tidak
terdengar suaranya membaca kitab?
Maklumlah, biasanya pendeta Buddha membaca kitab sembari mengetuk Bokhi secara teratur
dan berirama, kedengarannya sangat menarik.
Tapi ketukan Bokhi yaug didengar Yu Wi sekarang sudah tidak teratur. juga tidak enak
didengar, bahkan boleh dikatakan menusuk telinga. Mau-tak-mau timbul rasa curiga Tu Wi dan
ingin mencari tahu apa yang terjadi.
segera ia berbangkit, pelahan ia mendekati bangunan yang berbentuk biara itu. Ia kuatir
mengganggu ketenangan orang, maka jalannya sangat pelahan tanpa menimbulkan suara.
Setiba di depan rumah kecil itu, dilihatnya pintu bagian tengah hanya setengah dirapatkan
hingga keadaan di dalam dapat diintip.
selagi Yu Wi menimang apakah dirinya harus mengintp atau tidak. mendadak terdengar suara
"tok" yang keras sehingga dia berjingkat kaget. Diam-diam ia membatin sedemikian keras pertapa
itu mengetuk Bokhi, alat itu pasti terketuk pecah.
Benar juga dugaannya, Bokhi itu memang betul terketuk pecah. Didengarnya suara pertapa itu
lagi berkata, "Jika tetap tidak kau serahkan, jiwa ibumu akan serupa Bokhi ini, akan kukatuk
pecah"
Yu Wi melengak. la heran pertapa itu sedang bicara dengan siapa? Mengapa seorang pertapa
bicara segalak itu, kedengarannya seperti lagi mengancam seseorang.
Orang yang diancam lantas menjawab, "suhu, janganlah engkau membunuh ibuku, biarlah
kuserahkan ...." suaranya kedengaran gemetar, jelas karena tidak tahan diancam sehingga
menerima permintaan si pertapa dan mau menyerahkan sesuatu yang dimintanya.
Terdengar sipertapa bergelak tertawa dan berkata, "Ha ha, masakah berani kau tolak
permintaanku. setelah lima kali ketukan Bokhi berbunyi, sedetik pun tidak boleh tertunda. Nah,
lekas katakan di mana kau simpan barangnya, kalau tidak. jangan menyesal bila kubunuh ibumu."
"Suhu," jawab yang diancam, "murid memang tidak pantas mencuri Kiam-boh suhu, sekarang
terserah kepada hukuman yang akan suhu jatuhkan atas diriku."
"Hm, mengingat kau sudah bertobat, katakan saja apa permintaanmu?" jengek sang guru.
"Bila suhu bertemu dengan Yu Wi mohon suhu sudi mengajarkan dua jurus ilmu pedang yang
belum dikuasai Yu Wi itu," demikian kata si murid. "Permintaan murid ini memang tidak pada
tempatnya, namun ... namun murid rela mati asalkan suhu mau memenuhi permintaanku ini .... "
"Rela mati? Memangnya kau kira gurumu akan mcengampuni jiwamu?" jengek sang guru
dengan gusar. "sungguh budak kurang ajar, kau berani mengkhianati guru dan membawa lari Haiyan-
kiam-boh, kabur dari Tiam-jong-san dan hendak mencari murid Ji Pek liong itu. Hm, mulukmuluk
pikiranmu, hendak kau berikan Kiam-boh itu kepada bocah itu agar dia dapat menguasai
kedelapan jurus ilmu pedang itu secara lengkap sehingga dapat menjagoi dunia tanpa tandingan.
Huh, enak benar perhitunganmu. Nah, lekas mengaku di mana kau simpan itu? jika kubunuh
ibumu supaya kau jadi anak yang durhaka...."
Baru sampai disini, sekonyong-konyong bayangan orang berkelebat, tahu-tahu seorang
melayang turun ditengah kedua orang itu, menghadapi sang guru yang berdiri di dekat pintu dan
membelakangi si murid yang berpakaian nikoh.

Pendatang ini memakai kain kedok hitam, dengan suara serak ia berseru, "Ko Bok-ya, ibumu
sudah dibunuh oleh Nikoh bangsat It-teng .... "
seketika Nikoh yang berdiri di belakangnya berubah pucat demi mendengar keterangan ini,
dengan suara gemetar ia tanya, "Jadi ... jadi ibu sudah ... sudah dibunuhnya?" Tanpa menoleh
orang berkedok itu menghela napas menyesal dan pedih tak terhingga.
Orang yang berdiri didekat pintu ternyata It teng Taysu alias Thio Giok-tin, dia sekarang sudah
piara rambut lagi dan disanggul diatas kepala. Maka kurang tepat jika orang menyebutnya sebagai
"Nikoh bangsat", sebab sekarang dia berdandan seperti perempuan biasa, berbedak dan bergincu.
Cuma wajah Thio Giok-tin sekarang sudah tua sehingga dandanannya ini kelihatan berlebihan.
"Siapa kau? Lekas enyah" bentak Thio Giok-tin dengan melotot terhadap orang berkedok itu.
"Aku enyah, kaupun harus enyah, bang..." mendadak orang berkedok itu merandek dan ganti
ucapannya, "Thio Giok-tin, biarlah kita enyah bersama dari sini, jangan membikin kotor tempat
suci ini."
Dia tidak jadi memaki "Nikoh bangsat", sebab sekarang Thio Giok-tin tidak menjadi Nikoh
lagi,justsru Ko Bok-ya sekarang telah cukur rambut dan menjadi Nikoh, maka makiannya itu kalau
jadi di- lontarkan, bukan Thio Giok-tin yang termaki melainkan Ko Bok-ya.
Segera Thio Giok-tin menjengek, "Apakah di antara kita berdua ada permusuhan? Beranikah
kau katakan siapa dirimu?"
suara orang berkedok itu tambah serak dan menjawab, "Jangan kau pancing kukatakan asalusul
ku, tapi dapat kuberitahukan padamu, diantara kita berdua bukan saja ada permusuhan,
bahkan permusuhan yang sangat mendalam."
Thio Giok-tin merasa keder oleh gerak tubuh orang berkedok yang luar biasa tadi, maka dia
tidak berani meremehkannya, ia sengaja menjajaki lagi, "Ada permusuhan apa? Memangnya telah
kubunuh orang tua dan anak isterimu?"
Orang berkedok itu merasa malas untuk banyak bicara, iapun kuatir bila tinggal terlalu lama
disitu akan dikenali oieh si Nikoh muda alias Ko Bok-ya, maka cepat ia berseru pula, "Thio Giok-tin
sesungguhnya kau berani bertempur denganku atau tidak?"
Diam-diam Thia Giok-tin bertekad akan membunuh orang berkedok. bahkan akan digunakanu
cara yang paling keji, tapi ia menjawab dengan tenang, "Jika kau ingin mati di tanganku kan
teramat mudah. Hm, kau tidak berani mengaku siapa dirimu, memangnya kau kira aku tidak tahu?
Nah, keluar dan tunggu saja diluar, sebentar cukup dengan tiga jurus saja dapat kusebutkan siapa
dirimu."
"Mau keluar harus keluar bersama sekarang juga, biarlah kita bertanding di tempat yang tidak
ada orang lain," kata si orang berkedok.
" Ingin mati kan tidak perlu terburu- buru." ujar Thio Giok-tin, " dengan kehormatanku, tidak
nanti kukabur dimedan perang. Boleh kau tunggu saja diluar, turutlah perkataanku, supaya
kematianmu nanti dapat kuberi keringanan. sekarang aku hendak menghukum murid durhaka,
kalau tahu diri lekas kau pergi dulu"
Benci Thio Giok-tin kepada orang berkedok ini tak terkatakan, coba kalau dia tidak datang,
tentu Ko Bok ya sudah menyerahkan Hai-yan-kiam-boh
Kiranya Thio Giok-tin telah menggunakan tipu keji untuk menggertak Ko Bok ya agar
menyerahkan kitab pusaka yang dicurinya itu, kalau tidak Giok-ciang-siancu yang dikatakan sudah
ditawannya akan dibunuh, ia memberi batas waktu lima kali ketukan Bokhi, bila selesai Bokhi
diketuk lima kali dan Kiam-boh tidak diserahkan, segera ibu Bok-ya akan dibunuhnya.
Padahal pada waktu Thio Giok-tin menyerbu ke situ Giok-ciang-siancu sudah dibunuhnya, hal
ini tidak diketahui Bok-ya.

Tiga tahun yang lalu waktu Bok-ya kabur dari Tiam-jong-san, ia telah membawa lari Hai-yankiam
boh, maksudnya hendak mencari Yu Wi dalam waktu setengah tahun dan menyerahkan
Kiam-boh itu kepadanya agar setelah berhasil menguasai kedelapan jurus Hai-yan-kiam-hoat anak
muda itu akan menjadi jago nomor situ di dunia.
Tak terduga selama setengah tahun tiada berita apa pun mengenai Yu Wi yang diperolehnya,
meski dia telah berusaha dengan segala daya upaya tetapi jejak anak muda itu tidak ditemukan.
selewatnya setengah tahun, Bok ya jadi putus asa, disangkanya setelah lewat waktu yang
ditentukan tentu racun yang diminumkan su Put-ku itu telah bekerja dan Yu Wi sudah mati.
Bok ya teramat mencintai Yu Wi, karena menyangka Yu Wi sudah mati, ia merasa hidup ini
sudah tidak ada artinya lagi. maka ia lantas mencukur rambut dan menjadi Nikoh. Tahun yang lalu
dia ditemukan anak buah Ko siu di sebuah biara dipegunungan Hoa-san.
Ketika menerima laporan bahwa puteri kesayangan mereka telah menjadi Nikoh, serentak Ko
siu dan Giok-ciang-siancu menyusul ke Hoa-san dan membujuk agar anak perempuannya mau
kembali ke kehidupan biasa. Namun Bok ya bersumpah takkan kembali lagi ke dunia ramai. tapi ia
pun tidak tega membikin susah orang tua, ia ikut pulang kePak khia bersama ayah ibunya.
Kosiu lantas membangun sebuah biara kecil di belakang taman agar Bok-ya dapat bertapa
dengan tenang di situ, agar dapat pula sering-sering bertemu dengan orang tua.
Sesudah menjadi orang beragama, iman Bok ya sangat teguh. Mestinya orang yang sudah Jutkeh
atau meninggalkan rumah, segala persoalan orang hidup dianggapnya kosong semua. Tapi
pada dasarnya Bok ya memang anak berbakti, dia mau bertapa di rumah, sampai sekarang sudah
tiga tahun ia bertirakat dan asyik menyelami agamanya, namun rasa baktinya kapada orang tua
juga tidak pernah berkurang.
Kini Thio Giok-tin mengancam akan membunuh ibunya, terpaksa Ko Bok-ya harus menyerahkan
Hai-yan-kiam-boh yang dicurinya dahulu.
Tampaknya kitab pusaka itu akan segera kembali padanya, tahu-tahu muncul seorang berkedok
sehingga semua rencananya gagal total, keruan tidak kepalang gemas Thio Giok-tin, apabila tidak
ada pertimbangan lain. sungguh dia ingin mencincang orang berkedok itu
Sambil memandang pemukul Bokhi yang masih dipegang Thio Giok-tin. si orang berkedok
berkata dengan suara parau, "Thio Giok-tin, tadinya kau jadi Nikoh dan sekarang sudah kembali
preman. Tapi muridmu sekarang telah menjadi Nikoh, sebagai orang yang telah barpengalaman
tentu kau tahu betapa pahit getirnya orang yang meninggalkan rumah. Umpama muridmu
bersalah, kalau sekarang dia sudah menjadi Nikoh, segala kesalahan pada masa lampau juga
harus dihapuskan, kau bicara lagi tentang memberi hukuman."
Thio Giok-tin mendengus, "Asalkan dia serahkan kembali Kiam-boh yang dicurinya, soal
hukuman boleh dikesampingkan. Maka sekarang juga harus lekas dia serahkan Kiam-boh, kalau
tidak hukuman sukar terhindar, bahkan jiwa ibunya juga tak tertolong."
Padahal sudah diperhitungkannya, bilamana Kiam-boh sudah kembali di tangan. segera juga
dia akan turun tangan, ia sudah bersumpah takkan membiarkan orang barkedok dan Ko Bok-ya
tetap hidup,
si orang berkedok lantas berkata dengan menyesal, "Wahai Thio Giok-tin, kau sungguh teramat
kejam sudah jelas ibu orang telah kau bunuh. tapi masih kau ancam orang, di mana beradanya
hati nuranimu?"
"Tutup mulut" bentak Thio Giok-tin. "Tiada permusuhan apa pun antara diriku dengan Giokciang-
siancu. mengapa kubunuh dia tanpa sebab?"
"Nah, Ko Bok-ya, lekas kau serahkan Kiam-boh yang kau curi dan akan kuampuni jiwamu, bila
kau tetap bandel dan percaya kepada ocehan keparat ini, jangan menyesal jika aku tidak kenal
ampun lagi."

sebenarnya sejak tadi Ko Bok-ya hendak menyerahkan Hai-yan-kiam-boh, tapi di dalam hati
masih mengharapkan Yu wi belum mati, sebab itulah dia mengajukan syarat agar Thio Giok-tin
mengajarkan dua jurus Hai-yan-kiam hoat kepada Yu Wi, ia tidak tahu siapakah orang berkedok
itu, demi mendengar ibunya sudah terbunuh, ia menjadi ragu dan setengah percaya, ia pikir
masakah suhu begitu bodoh, sebelum mendapatkan Kiam-boh lantas membunuh sanderanya?
Kalau suhu telah mengancam diriku dengan lima kali ketukan Bokhi, tentu ibu belum dibunuhnya,
makanya dia mengancam aku dengan cara demikian.
Padahal ia tidak tahu kekejian Thio Giok-tin, betapa licin akal busuknya, ia sengaja mengancam
Bok- ya dengan batas waktu lima kali ketukan Bokhi agar nona itu merasa gelisah dan tidak
sempat memikirkan keadaan sang ibu yang masih hidup atau sudah mati.
Maka sekarang Bok ya merasa sangsi meski ia mendengar si orang berkedok bilang ibunya
sudah terbunuh, betapa pun ia tidak percaya sang guru telah membunuh ibunya, buktinya justeru
jiwa sang ibu itu digunakan sebagai alat pemeras sang guru kepadanya.
Kuatir sang guru menjadi murka dan benar-benar bertindak keji, cepat Bok-ya berkata "Baiklah
suhu, akan kuserahkan kitab ini, cuma kuharap...."
Thio Giok-tin tahu yang akan diucapkan Bok-ya selanjutnya adalah soal dua jurus ilmu pedang
yang harus diajarkan kepada Yu Wi itu, ia kuatir dikacau lagi oleh orang berkedok dan urung pula
mendapatkan kitab pusakanya, maka cepatja memotong, "Baik, mengingat hubungan baik kita
masa lampau, kuterima permintaanmu untuk mengajarkan anak busuk she Yu itu dengan dua
jurus yang kau maksudkan."
Tujuan Bok-ya mencuri kitab pusaka Itu justeru demi kepentingan Yu Wi dan tiada maksud lain,
sekarang Thio Giok-tin telah manerima permintaannya, kitab pusaka itu tidak perlu ditahan lagi.
Maklumlah, meski kitab itu sudah tiga tahun berada padanya, namun satu halaman saja belum
pernah dibacanya.
selagi ia hendak mengeluarkan kitab yang diminta, mendadak si orang berbedok berseru,
"Nanti dulu"
Suara orang berkedok sekarang tidak lagi dibikin serak seperti tadi, maka Ko Bok-ya jadi
tercengang karena merasa suara orang sudah cukup dikenalnya. seketika ia urung pergi
mengambil kitab yang disembunyikannya itu.
Keruan Thio Giok-tin menjadi gusar, bentaknya kepada orang berkedok. "Keparat, apakah kau
cari mampus?"
"Jika kuberani datang ke sini, jiwaku memang sudah tidak kupikirkan lagi." jengek oreng
berkedok itu, "Thio Giok-tin, kau bilang tidak ada permusuhan apa pun dengan Giok-ciang-siancu
sehingga tidak perlu membunuhnya. sekarang ingin kutanya padamu, Ang-bau-kong dan Lam-sikhek
kan juga tidak ada permusuhan apa pun denganmu, mengapa kau bunuh mereka?
mengapa? Ya, mengapa? Coba sebutkan alasanmu?"
semula si orang berkedok bicara dengan menahan suara, tapi sampai akhirnya, karena rasa
gusarnya yang tak tertahankan- suara aslinya lantas tercetus tanpa sembunyi lagi.
"Sesungguhnya siapa kau? Dari mana kau tahu akulah yang membunuh sijubah merah dan
sijanggut biru?" seru Thio Giok-tin dengan kaget.
Waktu Thio Giok-tin mambunuh kedua orang tersebut di Tiam-jong-san dahulu hanya karena
mereka telah mengajarkan Hui-liong-pat-poh dan Hoa-in-ciang-hoat kepada Yu Wi, waktu Thio
Giok-tin membunuhnya, disana hanya terdapat Lau Tiong-cu, Yu Wi dan Lim Khing-kiok.
Lau Tiong-cu sudah lama tidak berhubungan dengan orang Kangouw, Thio Giok-tin yakin dia
pasti takkan menyiarkan keganasan itu kecuali Yu Wi atau Lim Khing-kiok yang menyiarkan
kejadian itu.
Tiba-tiba si orang berkedok bergelak tertawa saking murkanya, serunya, Jika ingin orang lain
tidak tahu, kecuali diri sendiri tidak berbuat Thio Giok-tin, percuma orang menyebutmu sebagai ItTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
teng sin-ni, kenyataannya kau adalah seorang jagal perempuan. Kau tanya ada permusuhan apa
antara diriku denganmu, ketahuilah, dibunuhnya kedua Cianpwe si jubah merah dan sijanggut biru
itulah merupakan permusuhanmu denganku yang tak terleraikan-"
Mendengar orang berkedok menyebut kedua orang yang terbunuh itu sebagai Cianpwe dan
lantaran itu pula orang berkedok ini mengikat permusuhan dengan dirinya, jejak kedua tokoh yang
sudah terbunuh itu mempunyai hubungan yang erat dengan orang berkedok ini, maka dengan
cepat Thio Giok-tin dapat menduga siapakah gerangan orang berkedok ini.
Segara ia menjengek, "Hm, kukira siapa, rupanya anak busuk she Yu. Muridku sekarang sudah
menjadi Nikoh, coba bagaimana perasaanmu?"
Orang berkedok ini memang betul Yu Wi adanya. Betapa pun tak terpikir olehnya bahwa Bok-ya
yang lincah dan penuh gairah hidup itu bisa putus asa dan rela menjadi Nikoh, tadi ketika
didengarnya Bok-ya meminta Thio Giok-tin suka mengajarkan kedua jurus ilmu pedang padanya,
hati Yu Wi terasa pedih tak terkatakan.
Nyata Bok-ya tidak pernah melupakan dirinya, bahkan demi dirinya rela mendurhakai guru,
akibatnya ibu kandung sendiri terbunuh, sebaliknya bagaimana dengan dirinya. Pernahkah dirinya
memperhatikan nona itu, malahan beberapa tahun terakhir ini sama sekali telah melupakan dia.
Kalau sekali ini dirinya tidak terluka dan dibawa orang kerumah Paman Ko, mungkin juga tetap
tidak ingat kepada Ko Bok-ya.
Yu Wi pikir dirinya adalah seorang yang paling tidak berbudi dan tidak setia, terbunuhnya Giokciang-
siancu, secara langsung pengganasnya ialah Thio Giok-tin, tapi pembunuh secara tidak
langsung adalah dirinya.
Kalau bukan demi dirinya, Bok-ya takkan minggat dari Tinm-jong-san dengan mencuri Kiamboh.
Betapa pun jahatnya Thio Giok-tin juga takkan membunuh ibu muridnya sendiri
Berpikir sampai disini, tidak terkatakan pedih hati Yu Wi, ia membatin, "Thio Giok-tin, wahai
Thio Giok-tin, antara kita telah bertambah lagi permusuhan baru, selama Yu Wi masih hidup
kubersumpah takkan hidup bersama-sama di dunia ini."
Karena sekarang Yu Wi tidak mau bertemu dengan Bok-ya, ia ingin menempur Thio Giok-tin
untuk mengadu jiwa, ia pikir bilamana Ya-ji tahu siapa dirinya, tentu takkan membiarkan dia
berduel dengan Thio Giok-tin.
Maka setelah Thio Giok-tin menyebut namanya, segera ia menjawab dengan suara yang dibikin
serak. "Kau bilang siapa Yu Wi? Huh, aku tidak tahu. Pokoknya kedatanganku ini hendak menuntut
balas bagi kedua Locianpwe yang telah kau bunuh itu. Nah, Thio Giok-tin, apabila kau masih
mengaku sebagai tokoh paling lihai, terimalah tantanganku dan ikut keluar untuk menentukan
siapa lebih unggul denganku"
Setelah menyebutkan si orang berkedok ialah Yu Wi, diam-diam Thio Giok-tin merasa menyesal
juga, sebab ia menjadi kuatir bilamana Bok-ya mengetahui anak muda itu masih hidup, mati pun
kitab pusaka itu takkan dikembalikan lagi kepadanya. Siapa tahu si orang berkedok lantas
manyangkal dirinya sebagai Yu Wi, tentu saja Thio Giok tin merasa girang.
Dengan tertawa cerah Thio Giok-tin lantas bertanya pula, "Apakah Ang-bau-kong adalah
gurumu?"
Untuk menutupi asal usul sendiri, Yu Wi menjawab, "Ya, guruku terbunuh olehmu, sakit hati ini
setinggi langit."
Ia pikir Ang-bau-kong atau si jubah merah memang pernah mengajarkan kungfu padanya,
kalau menganggapnya sebagai guru juga pantas.
Maka Thio Giok-tin bertanya pula dengan tertawa, "Dan kau pun ingin menuntut balas bagi
sijanggut biru, apakah kaupun muridnya?"
Yu Wi mengangguk, teriaknya dengan murka, "Ya, kedua guru yang berbudi itu telah kau
bunuh semua, pendek kata hari ini harus ditentukan mati dan hidup antara aku dan dirimu,
kubersumpah takkan menyudahi urusan ini sebelum ketentuan tersebut terjadi."

Thio Giok-tin merasa kepandaian Yu Wi tidak perlu ditakuti, dengan tertawa ia berkata. "kau
ingin membalas dendam bagi kedua setan tua itu, baik, akan kupenuhi kehendakmu. sekarang kau
keluar dulu, ingin kubicara sebentar dengan muridku yang durhaka ini,"
Yu Wi sendiri menyadari pertarungannya melawan Thio Giok-tin lebih banyak kalah daripada
menangnya, namun dia tidak gentar sedikit pun, ia melangkah keluar, tapi baru dua-tiga tindak ia
berpaling dan berucap dengan suara yang dibikin parau, "Nona Ko...."
"Gelar agamaku ialah so-sim," tukas Ko Bok-ya yang kini mengenakan jubah pertapa itu.
Pedih hati Yu Wi, ia pikir dengan nama "So-sim" (hati suci) jelas segenap pikiran telah kau
serahkan kepada sang Buddha.
Ia lantas menyambung ucapannya, "lbumu memang benar telah dibunuh oleh Thio Giok-tin,
jenazah beliau sekarang berada dihalaman, akan kukubur dulu layon beliau. lalu akan
kuberitahukan kepada ayahmu,"
"Terima kasih atas kebaikan sicu," kata Bok-ya dengan menyesal.
"Anak busuk, tidak perlu cerewet disini" bentak Thio Giok-tin dengan gusar.
"Suhu, tidak perlu lagi engkau menutupi hal ini, kutahu ibu memang sudah kau bunuh," kata
Bok-ya.
"Apakah kau jadi ngambek?" tanya Thio Giok-tin. "Jika kau tidak percaya ibumu masih berada
dalam cengkeramanku, biarlah segera kubawa dia kesini dan akan kubunuh dia di depanmu."
"Satu orang tidak mungkin mati dua kali," ujar Bok-ya. "suhu, tidak perlu kau takut-takuti lagi
diriku. Kiam-boh sudah kuberikan kepada orang lain dan tidak dapat diminta kembali lagi.
sekalipun kau bunuh diriku juga tetap tidak sanggup kukembalikan."
Thio Giok-tin menjadi gusar, ia heran mengapa pikiran Bok-ya berubah secepat ini, tadi percaya
ibunya masih hidup. tapi sekarang menyatakan tidak percaya, jelas sukar untuk memaksanya
mnyerahkan Kiam-boh.
Diam-diam ia menyesal atas kecerobohan sendiri, ketika Giok-ciang-siancu tidak mau
memberitahukan dimana beradanya Bok-ya, dalam gusarnya segera dia membunuhnya. KaLau
Giok-ciang-siancu tidak dibunuhnya, tentu sekarang jiwanya dapat digunakan untuk memeras Bokya.
Lantas apa sebabnya mendadak Ko Bok-ya percaya ibunya sudah terbunuh?
Kiranya sekarang ia pun tahu siapakah gerangan si orang berkedok itu. Yu Wi kuatir Bok-ya
akan mencegahnya mengadu jiwa dengan Thlo Giok-tin, maka sengaja muncul dengan memakai
kedok serta sengaja membikin serak suaranya agar tak dikenali Bok-ya. Tak tahunya, biarpun
suaranya dapat dibuat-buat, tapi tatkala emosi, tanpa terasa suara aslinya lantas sukar ditutupi
lagi.
Padahal Bok-ya dan Yu Wi pernah berkumpul cukup lama, keduanya saling mencintai, mustahil
dia tidak kenal lagi suara Yu Wi. Maka begitu Yu Wi bicara dengan suara yang berganti-ganti,
segera Bok-ya tahu si orang berkedok ialah Yu Wi.
Namun sesudah Jut-keh atau meninggalkan rumah, meninggalkan dunia ramai ini, segenap jiwa
Bok-ya sudah dicurahkan kepada agamanya, meski cinta kasih masa lampau belum lagi dilupakan,
namun ketawakalnya terhadap agama tetap tidak bergoyah dan lebih kuat daripada cinta kasih
yang sukar terlupakan itu.
Ketika mengetahui orang berkedok ialah Yu Wi memang hatinya berguncang hebat dan hampir
saja ia menjerit, hampir saja ia tidak tahan dan ingin menjatuhkan dirinya kepangkuan anak muda
itu untuk menguraikan betapa rasa rindunya selama berpisah ini. Namun dengan kekuatan batin
yang sangat teguh ia menahan perasaannya, diapun diam ia membaca doa penenang sehingga
perasaannya terkendalikan.

Walau jelas terlihat Yu Wi berdiri di depannya. namun ia sengaja berlagak tidak mengenalnya.
Tapi ia pun percaya ibu sudah terbunuh, meski cinta kasihnya dengan Yu Wi sudah terputus oleh
ketawakalnya kepada agamanya, namun dia percaya penuh anak muda itu pasti tidak berdusta
kepadanya.
Betapa pedih dan betapa hancur luluh hatinya sekurang sama seperti tiga tahun yang lalu
ketika dia mengira Yu Wi telah mati lantaran bekerjanya racun yang diminumkan su Put-ku itu
sehingga dia putus asa dan mencukur rambut menjadi Nikoh.
Cintanya terhadap ibunda melebihi cinta kasihnya terhadap Yu Wi, tapi dapatkah dia
membunuh gurunya sendiri untuk membalas dendam?
Terdengar ia berkata dengan air mata berlinang, "suhu, inilah untuk kali terakhir kusebut suhu
pada mu, selanjutnya hubungan kita antara murid dan guru putus dan hapus seluruhnya, tentang
Kiam-boh maaf tak dapat kukembalikan ...."
Melihat cara bicara Bok-ya sedemikian tegas dan pasti, Thio Giok-tin tahu tak dapat
memintanya lagi, tak dapat lagi mengancamnya dengan jiwa Giok-ciang-siancu agar menyerahkan
kembali kitab pusaka yang tercuri itu.
Segera timbul pikirannya akan menggunakan budi kebaikan pada masa lampau untuk menipu
dan membujuk agar Bok-ya mau mengembalikan Kiam-boh, maklumlah kitab itu terlalu penting
baginya, meski dia sendiri tidak dapat melatih ilmu dalam kitab itu, tapi bila sampai orang lain
menguasai ilmu itu akan berarti elmaut pula baginya, betapapun ia tidak menghendaki ada kungfu
orang lain didunia ini lebih tinggi daripadanya. Dia harus memusnahkan kedelapan jilid kitab ilmu
pedang yang dirinya tidak mampu meyakininya itu.
Maka dengan lemah-lembut ia coba membujuk. "Bok-ya, meski huhungan baik kita sebagai
guru dan murid sudah putus, tapi tidakkah kau ingat betapa mula-mula kuterima dirimu menjadi
muridku waktu itu badanmu sangat lemah. demi menyehatkan tubuhmu, jauh-jauh kubawa dirimu
pergi ke siau-ngo tay-san untuk minta pengobatan kepada su Put-ku, dengan segala daya upaya
gurumu berusaha membikin badanmu sehat dan kuat, kalau tidak. waktu itu kau pasti tidak tahan
hidup dua tiga tahun lagi. Nah. apakah kebaikan ini juga akan kau coret begitu saja? Apakah kau
tega membalas budi dengan kejahatan dan mencuri kitab kesayangan gurumu ini?"
Dia bicara dengan lembut, makin lirih dan penuh perasaan, setiap katanya benar-benar
menyentuh hati Ko Bok-ya.
Thio Giok-tin ini memang tidak malu sebagai seorang gembong iblis perempuan, bisa keras
juga bisa lunak. demi menipu kembali kitab pusakanya dia mampu menahan rasa murkanya untuk
sementara, katanya pula, "Bok-ya, kutahu Kiam-boh masih berada padamu, mestinya tadi hendak
kau kembalikan, cuma mendadak kedatangan bangsat keparat itu sehingga segalanya terkacau,
jangan kau percaya ocehan bocah itu. Aku tidak membunuh ibumu. Nah, murid yang baik, lekas
keluarkan Kiam-boh dan kembalikan kepada gurumu."
Bok-ya kerkerut kening, meski ucapan Thio Giok-tin itu sangat menyentuh perasaannya. tapi
sakit hati terbunuhnya ibunda masakah dapat hapus begitu saja.
Semakin ramah bujukan Thio Giok-tin, semakin yakin Bok-ya bahwa ibunya sudah dibunuhnya,
yang dituju sekarang hanya ingin menipu kembali kitab pusaka itu, akal licik ini mustahil tidak
diketahui oleh Bok-ya.
Maka dengan jemu Bok-ya menjawab, " Kutahu budi kebaikanmu pada ku, pada waktu hendak
Jut-keh akupun sangat menyesal tidak dapat membalas kebaikanmu. sekarang soal budi kebaikan
sudah lenyap semuanya. Nah, Thio Giok-tin, soal terbunuhnya ibuku tidak kutuntut balas padamu
adalah karena aku merasa utang budi. Maka sekarang lekas kau pergi saja, jangan sampai kau
bikin pikiranku berubah. Kiam-boh benar-benar sudah kuberikan kepada orang lain,jut-keh-lang
tidak nanti berdusta."

Ucapan terakhir Bok-ya itu membuat Yu Wi merasa heran juga. Ia pikir diberikan kepada
siapakah kitab pusaka itu? Padahal tadi jelas-jelas dia hampir mengambilnya dan dikembalikan
kepada Thio Giok-tin, kalau dirinya tidak mendadak muncul dan mencegahnya. saat ini kitab itu
pasti sudah berada ditangan Thio Giok-tin.
Bab 10 : Keributan di kediaman Panglima Ko
Ia tidak tahu bahwasanya setelah Bok-ya mengenali dia dari suaranya, dalam hati dianggapnya
Kiam-boh sudah diberikan kepadanya dan bukan kepada orang lain. Jalan pikiran anak
perempuan, terutama anak perempuan aneh dan banyak tipu akalnya seperti Ko Bok-ya, kalau di
dalam hati ia anggap kitab sudah diberikan kepada Yu Wi, maka apa pun dianggapnya benar
sudah diberikan padanya. Dengan sendirinya Yu Wi tidak tahu bahwa hanya dalam angan-angan
saja Bok-ya menganggap kitab pusaka itu telah diberikan padanya.
Padahal sejak mula ketika Bok-ya mencuri kitab pusaka itu memang sudah diputuskan akan
diserahkan kepada Yu Wi, biarpun ia sendiri apa lagi orang lain, sekali-kali tidak boleh membaca isi
kitab itu, sekali pun gurunya waktu membunuh dia juga kitab itu takkan dikembalikan padanya.
Menurut tekad Bok-ya, sebelum Yu Wi mati harus berhasil menguasaikan ilmu pedang nomor
satu di dunia ini, apabila benar akhirnya Yu Wi mati karena tak dapat disembuhkan, maka kitab itu
akan dibakarnya didepan makamnya agar anak muda itu dapat mempelajari ilmu pedang itu di
alam baka dan manjagoi dunia akhirat.
Jalan pikiran Bok-ya itu timbul demi membalas budi kebaikan dan cinta kasih Yu Wi yang
pernah menyelamatkan dia tanpa menghiraukan kaselamatan sendiri. Tapi dia gagal menemukan
Yu Wi dalam waktu setengah tahun, juga tidak menemukan makam Yu Wi setelah mati, jadi
rencananya telah gagal totaL
Sekarang diketahuinya Yu Wi masih hidup segar bugar, bahkan berdiri didepannya, meski cinta
kasih masa lampau tak dapat diresapi kembali, namun tekad memberikan kitab pusaka itu tidak
tergoyahkan, sebab ia tahu Hai-yan-kiam-hoat memang ilmu pedang nomor satu di dunia,
bilamana dapat dikuasai Yu Wi sepenuhnya, jadilah anak muda itu jago nomor satu tanpa
tandingan.
Thio Giok-tin tidak tahu persis apakah benar Kiam-boh itu oleh Bok-ya telah diberikan kapada
orang lain atau tidak. ia cuma gusar lantaran Bok-ya sekarang langsung menyebut namanya,
diam-diam ia membatin, "Budak kurang ajar, benar- benar kau tidak mau mengaku guru lagi
padaku. Memangnya kutakut kepada anak didikanku sendiri? Betapa kemampuanmu masakah
tidak kuketahui? Hm, malah kau berani lagi menggertak diriku. Huh, aku justeru tidak mau pergi,
ingin kulihat cara bagaimana akan kau perbuat atas diriku."
Karena cara halus tidak membawa hasil, sekarang tegas-tegas Thio Giok-tin hendak memakai
kekerasan. Apakah Kiam-boh masih ada atau tidak, yang pasti hari ini harus didapatkannya
kembali.
segera ia menanggapi, "Ya. betul, ibumu memang sudah kubunuh. salahmu sendiri, berani
mendurhakai guru dan tidak berbakti kepada orang tua. sekarang sudah kubunuh sagenap
anggota keluargamu, tertinggal tua bangka Ko Siu saja yang lolos, kau tunggu saja disini, akan
kupenggal kepala tua bangka itu dan segera kuperlihatkan kepalanya padamu"
sedapatnya Bok-ya menahan gejolak perasaannya, pikirnya, "So-sim, wahai so-sim, sekarang
kau sudah menyerahkan dirimu dalam agama, kau harus pantang rasa dengki dan marah, apalagi
dia juga guru yang pernah mengajar dan menolong dirimu. Meski hubungan baik sekarang sudah
putus, tetap tidak boleh kau turun tangan kepadanya."

Maka dengan menunduk dan mata terpejam sambil bergumam, "Pergi, pergilah kau. Takkan
kubunuh kau, takkan kubuuuh kau ...."
Tentu saja Yu Wi melongo heran, pikirnya,. "Memangnya kepandaian Ya-ji dapat mengatasi
gurunya sehingga berani bicara demikian? sungguh aneh, apakah selama beberapa tahun ini dia
mendapat penemuan aneh sehingga kungfunya banyak lebih maju?"
Terdengar Thio Giok-tin tertawa terkekeh saking senangnya, ucapnya, "Wah, murid yang baik,
gurumu harus berterima kasih padamu karena kau tidak bertindak padaku. Cuma sayang, meski
tidak kau bunuh diriku. aku justeru akan membunuh ayahmu. Boleh kau tunggu saja di sini,
lihatlah sebentar akan kubawakan kepala tua bangka itu kepadamu ingin kulihat aba abamu nanti"
Habis berkata ia terus melayang keluar. Bok-ya mendengar suara Yu Wi yang mengejar kesana,
tiba-tiba matanya yang terpejam itu mencucurkan beberapa titik air mata, dengan suara pelahan
ia bergumam, "O, Toako, hubungan klta di dunia ramai sudah selesai sampai di sini, kuharap
engkau hidup dengan baik, betapa pun kini hatiku sudah terikat kepada Buddha, bagiku sudah
kuanggap engkau telah lama mati"
Dia melangkah keluar biara kecil itu, tapi tidak menuju kearah perginya Thio Giok-tin dan Yu Wi
melainkan kejurusan lain dengan langkah enteng
Mengapa dia tidak menunggu kedatangan kembali Thio Giok-tin? Mengapa dia juga tidak
menyusul ke sana untuk membela ayahnya? sebab dia tahu kepergian Thio Giok-tin itu pasti tidak
mampu membunuh ayahnya, diantara para pengawal ayahnya itu ada seorang tokoh kelas tinggi
yang diketahuinya pasti tidak bakal dibawah Thio Giok-tin.
Ia tidak ingin melihat Thio Giok-tin lagi, sebab kungfu Bok-ya sekarang memang juga di atas
Thio Giok-tin, ia kuatir bilamana bertemu pula mungkin dia tidak tahan dan akan menuntut balas
padanya atas terbunuhnya ibunda.
Waktu ia melihat jenazah ibunya, ia tidak berhenti, hanya dalam hati berkata, "Oo, ibu, ayah
tentu akan mengubur dirimu dengan baik, semoga arwah ibu mendapatkan tempat tenang di alam
baka, anak akan pergi...."
Ia tidak berani menyentuh jenazah ibunya, ia kuatir akan menimbulkan pergolakan rasa
dendamnya, jika demikian bisa jadi dia akan menyusul kearah Thio Giok-tin untuk menuntut balas,
apabila sampai melanggar pantangan membunuh akan berarti sia-sialah ajaran agamanya selama
ini.
Dengan air mata bercucuran ia meninggalkan rumah yang membesarkannya ini. ibunda sudah
meninggal, ia tidak parlu tinggal lagi disini. sebabnya dia pulang dahulu hanya karena kuatir sang
ibu merindukan dia dan jatuh sakit, tak tersangka pulangnya ini justeru mengakibatkan tewasnya
ibunda.
Padahal seumpama dia tidak dirumah juga Thio Giok-tin dapat membunuh ayah-ibunya, bagi
Thio Giok-tin, jiwa manusia seperti semut, membunuh orang bukan perkara penting baginya.
Kalau Giok-ciang-siancu sudah ditakdirkan mati terbunuh, siapa pun sukar mencegahnya.
Cuma Bok-ya tidak dapat melupakan kematian sang ibu yang mengerikan itu, ia percepat
langkahnya dan makin jauh, ia ingin selekasnya meninggalkan dendam permusuhan ini,
meninggalkan dunia fana yang selalu terjadi bunuh membunuh tiada habis-habis ini. Tapi
dapatkah dia meninggalkan semua itu?
Apakah selanjutnya dia benar- benar dapat mengasingkan diri, menjauhi dunia ramai dan
tirakat dipegunungan sunyi?
000000
Dalam pada itu Thio Giok-tin telah meninggalkan tempat kediaman Ko Siu yang kedua, ia tahu
Ko Siu mempunyai dua isteri, kalau Ko Siu tidak ditemukan disini pasti berada di tempat isteri tua.

Karena gemasnya terhadap Ko Bok-ya, maka dia bertekad harus memenggal kepala Ko siu,
Tadinya hendak dihantamnya dan membinasakan Bok-ya, tapi lantaran ucapan Ko Bok-ya
membuatnya penasaran sehingga dia tidak segera membunuh bekas muridnya, sebaliknva ingin
membunuh ayahnya, coba Bok-ya bisa berbuat apa?
Sambil berlari dengan gemas, diam-diam ia pun bergumam sendiri, "sungguh budak kurang
ajar. Masa berani bilang tidak menuntut balas bagi kematian ibunya adalah karena mengingat
jiwanya pernah kutolong. sekarang akan kubunuh ayahmu sehingga tambah besar sakit hatimu,
coba akan kau balas atau tidak?Justeru ingin kutahu cara bagaimana dapat kau tuntut balas
padaku? Hm, memangnya benar- benar dapat kau bunuh diriku?"
setelah melintasi jalan besar dan sampai di suatu ujung gang yang sepi, tiba-tiba dilihatnya
seorang mengadang disitu, jelas Yu Wi yang telah menyusul tiba, anak muda ini masih memakai
kedok. segera ia membentak, "Berhenti"
Sambil berhenti Thio Giok-tin menjengek. "Hm, anak busuk she Yu, untuk apa kau pakai kedok
segala, memangnya kau kira nyonyamu dapat kau takuti? Buang saja kedokmu, betapa nyonya
sudah tahu siapa dirimu"
Dengan tenang Yu Wi membuka kedoknya dan berkata, "Thio Giok-tin, apakah kau masih ingin
membunuh orang?"
"Betul," jawab Thio Giok-tin dengan bengis, "hidupku memang gemar membunuh. Ang-baukong
Lam-si-khek. keduanya kubunuh, ibu Ya-ji juga aku yang membunuhnya. Dan sekarang
hendak kupergi membunuh ayahnya."
"Kalau Yu Wi berada disini, tidak boleh sembarangan kau bunuh orang yang tak berdosa,"
bentak Yu Wi.
"Hehe. anak busuk" ejek Thio Giok-tin, "Ko siu bukan mertuamu, Untuk apa kau rintangi
maksudku membunuhnya, apakah ingin mengambil hati Ya-ji. Tapi sayang, andaikan ingin kau
bikin senang hatinya juga sudah terlambat, budak itu sudah nekat menjadi Nikoh, tidak nanti dia
kembali hidup bersama anak busuk macam dirimu lagi." Habis berkata ia menengadah dan
bergelak tertawa dengan sangat gembira.
Maklum, dia juga pernah patah hati terhadap Ji Pek-liong, sedangkan Yu Wi adalah murid Ji
Pek-liong, sekarang Yu Wi juga gagal bercinta dengan muridnya, secara ilmu jiwa dirasakannya
sebagai semacam pembalasan- Meski pembalasan seperti ini terjadi secara kebetulan dan lucu,
tapi membuatnya sangat senang.
Inilah semacam kelainan jiwa, lantaran dia sendiri pernah patah hati, maka dia berharap setiap
orang di dunia ini juga gagal bercinta. orang berharap semoga setiap kekasih di dunia ini dapat
hidup bahagia, dia justeru menghendaki setiap kekasih di dunia ini sama menjadi seteru.
Mendengar ejekan Thio Giok-tin itu, hati Yu Wi sangat pedih, pikirnya, "O, Ya-ji, mengapa kau
tinggalkan rumah dan menjadi Nikoh? Ai, engkau ..."
Ia tahu apa sababnya Bok-ya putus asa,justeru hal inilah yang membikin pedih hati Yu Wi. Ia
menyesal mengapa waktu itu dirinya tidak segera mencari Ya-ji lagi. apabila dia dapat
menemukannya sebelum racun bekerja, tentunya Bok-ya takkan cukur rambut dan menjadi Nikoh.
Melihat air muka Yu Wi memperlihatkan rasa duka dan sangat tersiksa, Thio Giok-tin sangat
girang, dengan tertawa ia berkata pula, "Yu Wi, jika Ya-ji sudah meninggalkan dirimu dan hidup
bebas sebagai Nikoh, tapi kau sendiri justeru terjeblos kedalam jurang penderitaan perasaan, akan
lebih baik jika kau ikut padaku untuk membunuh tua bangka Ko siu itu untuk menuntut balas
kepada ketidak setianya kepadamu, agar selama hidupnya tak dapat tirakat dengan tenang."
Gagasan yang kotor dan jahat ini membuat rasa duka dalam hati Yu Wi berubah menjadi rasa
pedih dan gusar yang amat kuat, mendadak ia membentak. "Thio Giok-tin, serahkan jiwamu"
segera sebelah tangannya menghantam dengan angin pukulan yang maha dahsyat.
Keruan Thio Giok-tin terkejut, cepat ia berkelit, pikirnya, "Wah, baru beberapa tahun tidak
bertemu, kenapa tenaga bocah ini sudah tambah sedemikian kuatnya?"

Ia tidak tahu Yu Wi telah makan ikan aneh di dasar pulau Ho-lo sehingga secara mendadak
tenaga dalamnya bertambah lipat, sampai-sampai Giok-bin-sin-po dari Thian-san juga tidak berani
meremehkan dia. Apa lagi belum lama ini segenap urat nadinya telah dilancarkan oleh Ko Bok-cing
sehingga makin menambah tenaga dalamnya. Kini jangankan cuma Thio Giok-tin, sekalipun Lau
Tiong-cu juga belum tentu lebih kuat daripada Yu Wi.
Waktu Yu Wi menghantam lagi untuk kedua kalinya, mendadak telapak tangan kiri menepuk
lengan kanan, seketika telapak tangan kiri berubah menjadi bayangan telapak tangan yang
berhamburan tak terhitung banyaknya sehingga mirip bunga rontok, tapi membawa damparan
tenaga yang kuat.
Thio Giok-tin kenal ilmu pukulan ini, ketika di Tiam-jong-san dahulu dia pernah dipukul mundur
oleh Yu Wi dengan pukulan ini. sekarang meski sama ilmu pukulan yang digunakannya, tapi
tenaganya sudag jauh lebih kuat. Tentu saja Thio Giok-tin tidak berani menangkis, cepat ia
menggunakan langkah ajaib Leng-po-wi-poh untuk mengelak.
Segera Yu Wi mendesak maju, Thio Giok-tin menjadi kelabakan. cuma Yu Wi tidak menyerang
lagi, ia berdiri tegak dengan kedua telapak tangan siap di depan dada, maksudnya seakan-akan
hendak bilang takkan menyerang selagi orang tidak siap biarlah bertanding lagi mulai dari
permulaan.
Thio Giok-tin terkesiap oleh gaya Yu Wi yang gagah perkasa itu, meski diam-diam merasa jeri,
tapi di mulut tidak mau kalah, ucapnya, "Lam-si-khek saja kubunuh, masakah kutakut kepada ilmu
pukulannya Hoa-sin-ciang-hoat segala?"
"Kalau tidak takut boleh coba-coba lagi" jawab Yu Wi dengan gagah.
Sesungguhnya Thio Giok-tin memangnya tidak takut kepada Hoa-sin-ciang-hoat, yang
membuatnya gentar adalah tenaga pukulan Yu wi yang dahsyat itu, tenaga dalam yang
ditambahkan pada Hoa-sin-ciang-hoat inijadinya jauh lebih kuat dari pada lam-si-khek. -.^
pencipta ilmu pukulun itu sendiri.
Belum lagi ditambah dengan langkah ajaib Hui-liong-pat-poh yang labih lihai dari pada Leng-powi-
poh mau Thio Giok-tin harus mengakui sukar baginya untuk memperoleh kemenangan.
Dasar licik, dia tidak mau bertempur yang membawa risiko, maka ia mencari akal lagi, katanya,
"Bocah she Yu, apakah kau tahu sebab apa kubunuh Lam-si-khek?"
Yu Wi menjadi gusar, "Tenju saja kutahu. Makanya hari ini hendak kugUnakan ilmu pukulan
ajaran Lam-locianpwe dan langkah ajaib Yim-locianpwe. dengan kombinasi kedua ilmu ini hendak
kubunuh musuh mereka."
"Hm," jengek Thio Giok-tin, "asal kau tahu saja. Tapi justeru kubilang kematian Ang-bau-kong
dan Lam-si-khek itu tidak berharga, demi membela seorang anak busuk. jiwa sendiri harus
melayang sungguh percuma hidupnya.
Padahal dengan nama kebesaran mereka di dunia Kangouw, apakah begitu saja kubunuh
mereka? Tidak. tidak mungkin. Terutama bila mengingat sama-sama penghuni Tiam-jong-san
selama belasan tahun, betapa pun tidak nanti kubunuh mereka. Kalau ada kesalahan adalah
karena kalian sudah mengajarkan kungfunya kepada anak busuk ini sehingga telah melanggar
sumpah kalian sendiri. Kalian sudah bersumpah bila kungfu kalian tidak dapat menandingi diriku,
maka kalian harus mati. Tapi aku tetap tidak tega membunuh segenap anggota keluargamu.
sungguh penasaran kematian kalian, bukanlah salahku jika kubunuh kalian, yang salah adalah
anak busuk ini, dia yang membikin celaka kalian-"
Melengak juga Yu Wi oleh cerita orang, timbul rasa dukanya, diam-diam ia mengakui, "Betul
juga, akulah yang membikin susah kedua Cianpwe itu. Kalian mengajarkan kungfu padaku,
akibatnya jiwa kalian yang melayang. Aku memang seorang yang tidak membawa berkah,

mengapa kalian mengajarkan kungfu padaku. Cobakalau kalian tidak mengajarkan ilmu padaku,
tentu kalian pun akan hidupaman tenteram."
Melihat anak muda itu termangu-mangu. Thio Giok-tin tahu akalnya telah berhasil, segera ia
berkata pula dengan suara yang lebih menyentuh perasaan. "sebenarnya tidak ingin kubunuh
anggota keluarga kalian, meski dahulu pernah kunyatakan bila mana kalian tetap memusuhi diriku,
pasti akan kubunuh kalian dan seluruh anggota keluargamu. Tapi sekarang hal itu harus
kulakukan, sebab kungfu ciptaan kalian hendak digunakan lagi memusuh diriku, asalkan aku tidak
mati, pernyataanku dahulu pasti akan kulaksanakan. Bila mana kalian mengetabui di akhirat juga
jangan menjesali diriku, kalau mau menyesal harus menyesali diri kalian sendiri yang telah
mengajarkan kungfu kepada anak busuk ini."
Tidak kepalang kuatir Yu wi, pikirnya, "Meski kuyakin takkan dikalahkan oleh Thio Giok-tin tapi
bila sekali hantam tidak dapat kubinasakan dia sehingga sempat kabur, tentu dia akan membikin
susah anggota keluarga kedua Locianpwe itu lalu bagaimana? Betapa tidak boleh kubikin celaka
anggota keluarganya yang tidak berdosa,"
segera Yu Wi barkata, "Thio Giok-tin, jangan kau salahkan kedua Locianpwe itu, cari aku
menuntut balas bagi mereka sekarang takkan kugunakan kungfu ajaran mereka."
Thio Giok-tin tertawa, katanya, "Jika tidak kau gunakan kungfu ajaran mereka, mengingat
hubungan baik masa lampau takkan kubunuh anggota keluarga mereka. Tapi hendak kukatakan
padamu anak busuk. jika tidak kau gunakan kungfu ajar mereka, maka jelas kau pasti akan kalah"
"Ah, belum tentu," seru Yu Wi.
"Masa kau tidak parcaya?" kata Thio Giok-tin mendadak ia tuding kedepan sana dan barseru
"Coba lihat, siapa itu yang datang"
Waktu Yu Wi menoleh dan benar dilihatnya ada seorang sedang berlari kemari, pada saat itu
juga dirasakannya angin pukulan menyambar tiba. Keruan ia terkejut, tanpa terasa langkah ajaib
Hui-liong-poh lantas digunakan untuk menghindar.
Karena sergapannya tidak berhasil, diam-diam Thio Giok-tin merasa gegetun-Dilihatnya
pendatang itu dari ujung jalan sana sudah semakin mendekat, meski belum jelas kelihatan
wajahnya, tapi dari gerak tubuh pendatang ini pasti tidak lemah kungfunya, padahal tidak
diketahui kawan atau lawan. Mendingan kalau kawan, bila musuh, kesempatan membunuh Yu Wi
mungkin akan hilang.
Maka ia lantas menjengak. "Hm, anak busuk. kenapa bicara seperti kentut saja"
Muka Yu Wi menjadi merah, ia tahu orang menyindirnya telah menggunakan langkah ajaib
ajaran Ang-bau-kong untuk menghindarkan pukulannya tadi. Padahal kalau dia tidak
menggunakan langkah ajaib itu, tentu sukar mengelakan sergapan maut Thio Giok-tin itu.
Tapi apakah benar tanpa menggunakan kungfu ajaran kedua Locianpwe itu lantas tiduk mampu
melawan Thio Giok-tin?
Dasar watak Yu Wi mamang keras, apa lagi dia paling taat kepada janji dengan mangertak gigi
ia lantas berkata, "Gebrakan tadi tidak dihitung, boleh kita mulai lagi. pasti tidak kugunakan
kungfu ajaran kedua Locianpwe itu."
"Mulai lagi apa? Aku tidak ada minat lagi" ujar Thio Giok-tin sambil membalik tubuh dan hendak
melangkah pergi.
Yu Wi menjadi gelisah, disangkanya dirinya menggunakan lagi kungfu ajaran Ang-bau-kong,
maka Thio Giok-tin hendak pergi membunuh anggota keluarga orang tua itu, Mana Yu Wi dapat
membiarkan orang mengganas lagi, ia hendak merintanginya tapi kaki yang baru gerak itu segera
ditarik kembali mentah-mentah sebab hampir saja ia menggunakan langkah Hul-liong-poh lagi.
Pada saat itu juga, mendadak Thio Giok-tin melayang pergi, berbareng tangannya menebas
kebelakang, secomot senjata rahasia segera berhamburan kearah Yu Wi.

Di Tiam-jong-san dahulu Thio Giok-tin menggunakan tipu serangan aneh ini, cuma
digunakannya waktu itu adalah kebut sehingga Yu Wi terluka. Tapi sekarang ia menggunakan
senjata rahasia kecil sebagai pengganti kabut, daya serangannya berlipat, senjata rahasia ini tidak
langsung mengarah Yu Wi, tapi anak muda itu tahu punggung sendiri yang terancam bahaya.
Mestinya sekarang ia sudah tahu cara mematahkan serangan musuh, cukup dengan langkah
ajaib Hui-liong-poh yang terakhir dapatlah serangan maut itu dihindari.
Menghadapi serangan aneh ini, dahulu ia tidak tahu cara bagaimana menghindarnya.
Maklumlah, siapa yang percaya senjata rahasia yang jelas-jelas datang dari depan itu bisa
membelok untuk kemudian mengincar punggunguya dengan cara yang aneh.
Walaupun suduh tahu satu-satunya cara untuk mematahkan serangan musuh, tapi Yu Wi tidak
berani menggunakannya, ia kuatir bila Hui-liong-poh digunakan, meski jiwa sendiri dapat
diselamatkan, tapi sukar lagi merintangi kepergian Thio Giok-tin, dan bukankah anggota keluarga
Ang-bau-kong akan menjadi korban atas perbuatan dirinya?
Berpikir demikian, Yu wi jadi lebih suka menyerempet bahaya daripada menggunakan Hui-liongpoh.
Tapi lantaran ragu sejenak itulah, tahu-tahu senjata rahasia musuh sudah menyambar sampai
di belakang punggung.
Diluar dugaan, pada detik berbahaya itu, sekonyong-konyong terdengar suara "trang-trang"
beberapa kali, suara mendering nyaring memekak telinga. Jelas tenaga benturun itu sangat keras.
Tahulah Yu Wi ada orang telah menolongnya dengan menangkiskan senjata rahasia itu dengan
sesuatu benda, kalau tidak mustahil jiwanya takkan melayang bila mana punggung tertembus oleh
senjata rahasia Thio Giak-tin itu.
Hampir pada saat yang sama, Yu Wi dan Thio Giok-tin itu sama2 menoleh, terlihat pendatang
tadi membawa sopotong senjata berbentuk manusia yang terbuat dari batu pualam. orang ini
ternyata bukan lain dari pada Lau Tiong-cu adanya.
Tidak kepalang gemas Thio Giok-tin setelah tahu siapa pendatang ini.
"Kembali kau lagi?" teriak Thio Giok-tin dengan mUrka.
Lau Tiong-cu memegangi senjatanya yang istimewa itu tanpa bersuara. Dipandangnya sekian
lama senjata itu, matanya kelihatan marah dan hampir mancucurkan air mata.
Dengan heran Yu Wi memandang senjata orang, dilihatnya senjata batu pualam berbentuk
manusia itu panjangnya lima-enam kaki, diukir sebagai patung wanita cantik, begitu indah
ukirannya sehingga mirip manusia hidup. Cuma sayang, patung pualam itu sekarang telah
bertambah belasan lubang kecil oleh karena senjata rahasia Thio Giok-tin tadi sehingga merusak
keindahan semula.
Selagi Yu Wi hendak mengecapkan terima kasih kepada Toa supek atas pertolongannya, tibatiba
dilihatnya Lau Tiong-cu menangis, dengan suara sedih lagi bergumam, "Hul, o, Hui-giok telah
melukaimu, betapapUn tak dapat kuampUni dia lagi"
"Orang hidup,mampus, apakah kau sinting, kenapa menangis terhadap sebuah patung?" teriak
Thio Giok-tin dengan gusar.
Yu Wi tahu Toa supek lagi menangisi patung isterinya yang dirusak. ia pikir Toa supek adalah
seorang pencinta besar, pencinta yang tulus dan luhur. Dengan menyesal ia lantas berkata, "Toa
supek maaf, akulah yang salah"
Lau Tiong-cu mengangkat kepalanya, kelihatan sinar mata memenuhi wajahnya, ia menjawab
sambil menggeleng, "Tidak. bukan salahmu"
Lalu ia barpaling kearah Thio Giok-tin, ucapnya dengan gusar, "A Giok. demi suhu, berulangulang
kuampuni perbuatanmu. Apa bila kau tetap tirakat di Tiam-jong-san dan mau memperbaiki
dirimu, tentu aku takkan memusuhi puteri suhu. sekarang bukan saja jenazah isteriku kau curi,

kau lari kebawah gunung dan berbuat macam-macam kejahatan, bahkan kau rusak lagi patung
isteriku. Betapa pun tak dapat ku-ampuni lagi dirimu. o, suhu maafkan apa bila murid tidak
sungkan-sungkan lagi kepada puterimu."
Habis berkata, ia angkat patung itu dan mendesak maju.
Thio Giok-tin siap tempur, tapi segera ia goyangkan sebelah tangannya dan berseru, "Nanti
dulu, aku ingin bicara padamu."
Lau Tiong-cu berhenti dan menjawab, "Apa pula yang akan kau katakan?"
"Hm, kau bilang kucuri jenazah isterimu, itu kulakukan dengan terpaksa, kalau tidak kubawa
lari tulang jenazah isterimu, tentu sukar memaksa dirimu meninggalkan gunung, dan kalau kau
tidak turun gunung, selama hidupku bukankah akan mati tua di Tiam-jong-san?"
"Apa jeleknya mati tua di Tiam-jong-san?" ujar Lau Tiong-cu "Pemandangan Tiam-jong-san
indah permai, disanalah tampat kediaman abadi yang sukar dicari. Memangnya kau lebih suka
berkecimpung di dunia Kangouw dan senantiasa hidup menyerempet bahaya? Ketahuilah di luar
dunia masih ada langit, di atas orang pandai masih ada yang lebih pandai .Jangan kau kira
kungfumu sudah maha tinggi, bila mana pada suatu hari kepergok tokoh sakti, bisa jadi akan kau
terima ganjaran yang setimpal. Daripada kau mati tak terkubur, kan lebih baik hidup aman dan
prihatin di Tiam-jong-san."
"Hm, orang kosen juga tidak banyak. memangnya kutakut kepada siapa? Mati tua di Tiam-jongsan
bukanlah cita-citaku, menjadi Nikoh selama hidup juga bukan niatku. Nah, Hoat-su-jin, demi
diriku sendiri terpaksa kucuri tulang jenazah isterimu, hendaknya jangan kau salahkan diriku."
"Memangnya menyalahkan siapa jika bukan dirimu?" teriak Lau Tiong-cu dengan gusar.
"Selama hidup kutinggal berdampingan dengan isteriku tak terpisahkan, tapi sengaja kau ceraiberaikan
kami sehingga aku hidup merana kesepian- Dengan susah payah dapat kubuat pula
sebuah patung pualam sekedar menghibur hatiku yang rindu, sekarang patung kau rusak lagi.a
giok, apapun juga hari ini tidak dapat kuampuni dirimu."
Thio Giok-tin bergelak tertawa, "Kucerai-beraikan kalian, katamu? Kucuri tulang orang mati hal
ini kau anggap hidupmu tercerai-berai? . Hoat-su-jin, kukira kau sudah kurang waras"
"Omong kosong"^ bentak Lau Tioug-cu. "Aku kan melihat tulang jenazuh isteriku, sama hal
kulihat orangnya. Dalam bayanganku sama hal kau cerai-beraikan kami. o, kau ... kau terlalu keji
dimana dia? Lekas kau kembalikan dia"
"Dia? Dia siapa? Apakah tulang orang mati itu, maksudmu?" tanya Thio Giok-tin dengan
berlagak pilon-
" Lekas kembalikan dia" bentak Lau Tiong- cu pula dengan lebih keras.
"Untuk apa kusimpan tulang orang mati, tulang belulang itu sudah lama kubuang, maka
janganlah kau pikirkan lagi, Hoat-su-jin, jangan terus menerus merecoki diriku."
"Benar tulang jenazah isteriku telah kau buang?" tanya Lau Tiong-cu.
"Masaku dusta?" jawab Thio Giok-tin dengan tertawa, "semua ini adalah demi kebaikanmu,
kalau tulang orang mati itu tetap kau simpan, selama hidup ini kau pun akan menjadi Hoat-su-jin
(orang hidup lama dengan orang mati)."
Mendadak Lau Tiong-cu menangis tergerung-gerung, ia rangkul erat patung pua lam itu dan
berkeluh-kesah, "o, Hui, Hui Kini tertinggal patungmu saja yang masih dapat mendampingi diriku."
"suheng," seru Thio Giok-tin sambil menggeleng kepala, "tampaknya kau sukar lagi diobati,
lekas kau buang patung itu, kalau tidak kau bisa liaglung lagi dan hidup tersiksa. Demi
kebaikanmu, kuharap jangan kau pikirkan lagi isterimu yang sudah mati itu, bangkitlah
semangatmu, tempuhlah hidup baru"
Diam-diam Yu Wi maaggut-manggut atas ucapan Thio Giok-tin itu, memang benar, seorang
pendekar besar sebagai Toa supek harus hidup merana dan putus asa hanya lantaran kematian
isteri, sungguh tidak berharga hidupnya ini jika sekarang harus hidup ling lung lagi demi sebuah

patung pualam, tentu sia-sia belaka hidupnya. Bila mana patung itu dibuang dan buyarkan segala
lamunannya, hidupnya masih dapat melakukan hal-hal yang gemilang.
Namun Lau Tiong-cu benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya, sejak tulang jenazah
isterinya dibawa lari Thio Giok-tin, dengan segala daya upaya ia mengejar Thio Giok-tin untuk
merampas kembali tulang janazah isterinya. Tapi Thio Giok-tin benar-benar sangat licin, selama
beberapa tahun selalu lolos dari kejaran Liu Tiong-cu, selama ini berkat patung pualam itulah Lau
Tiong-cu dapat mempertahankan hidupnya, kalau tidak. tentu dia akan sakit rindu dan mati
ngenas.
Entah bantuan ahli ukir mana telah membUatkan patung pualam isterinya itu, siang dan malam
patung itu tidak pernah berpisah dengan dia. sekarang didengarnya pengakuan Thio Giok-tin
bahwa tulang jenazah isterinya telah dibuang tanpa bekas, patung pualam itu bertambah besar
artinya baginya.
Tapi patung itu benar-benar sudah rusak sehingga wajahnya sukar dikenali lagi, hanya masih
kelihatan patung saorang perempuan, tentu saja hal ini membuat Lau Tiong-cu sangat sedih, ia
terus menangis, akhirnya pikirannya menjadi gelap. mendadak ia berteriak, "A Giok, harus kau
ganti isteriku, jika tidak kau ganti, aku bersumpah akan merenggut nyawamu"
Melihat keadaan Lau Tiong-cu yang kurang waras itu, sikapnya kelihatan beringas, Thio Giok-tin
menjadi takut, tanpa pikir lagi segera ia kabur secepatnya.
Dengan membawa patungnya lau Tiong-cu lantas mengajar sembari berteriak, "Ganti istreriku
Ganti isteriku ...."
Keduanya berlari pergi secepat terbang, Yu wi agak terlambat, apalagi Ginkangnya memang
kalah tinggi dibandingkan Lau Tiong-cu dan Thio Giok-tin. Hanya sekejap saja ia sudah kehilangan
jejak kedua orang itu Hanya suara teriakan Lau Tiong-cu saja yang masih kedengaran
berkumandang dari jauh.
Yu Wi menggeleng kepala. ia pikir orang yang pintar di dunia ini terkadang jutteru sukar
terbuka pikirannya sehingga berduka dan merana selama hidup, akhirnya menjadi linglung.
sebaliknya orang bodoh tidak perlu banyak berpikir, hidupnya selalu tenteram dan bebas sehingga
bahagia sampai tua.
Seperti halnya Lau Tiong-cu, lantaran kematian isteri, hidupnya jadi tersiksa seperti di neraka.
Apabila dia tidak banyak berpikir, isteri mati anggap saja memang sudah takdir ilahi, kan beres
segalanya.
Ia pikir selama hidup Thio Giok-tin mungkin juga tak bisa tenteram, ia telah merusak patung
pualam yang dipandang Lau Tiong-cu serupa membunuh isterinya. Maka selama Lau Tiong-cu
masih hidup, selama itu pula Thio Giok-tin tak dapat tidur nyenyak.
0o0 oooooo OOO
Selama dua-tiga hari ini penduduk kota raja diliputi perasaan was- was, disana-sini kelihatan
bergerombolan rakyat yang kasak-kusak membicarakan sesuatu peristiwa yang sama.
Tamu rumah minum, bila mana bartemu dengan kenalan juga tak terhindar dari
mempergunjingkan kejadian itu. Memangnya apa yang ramai diperjuangkan itu?
Terdengar si A berkata, "Bagaimana, pembunuhnya sudah tertangkap belum?"
"Tertangkap apa? siapa pembunuhnya saja belum diketahui, kemana dapat menangkapnya?"
demikian jawab si B.
Lalu si C ikut nimbrung, "sungguh gemas Lebih 30 orang penghuni istana Tay-ciangkun tidak
ada satu pun terkecuali, samuanya mati dengan mengenaskan. Untung waktu itu Tay-ciangkun
tidak di rumah, kalau tidak. pembesar kerajaan yang paling berjasa itu juga sukar tarhindar dari
kematian"

"Anehnya dalam semalam segenap penghuni istana dibunuh orang tanpa ketahuan, padahal
tidak sedikit pengawal istana yang lihai," demikian si B berujar. "Akan tetapi kabarnya tidak
ditemukan tanda-tanda terjadinya pertarungan, pembunuh itu seperti hantu saja, jangan-jangan
digunakannya ilmu sihir lebih dulu, lalu satu persatu korbannya dibinasakan?"
Si A merinding, katanya, "Bisa ilmu sihir katamu? Wah, jika begitu, barang siapa di incar
pembunuh itu, maka dia pasti akan mati."
seketika si B dan si C menjadi pucat, cepat si B berkata, "Wah, lebih baik kita bicara urusan lain
saja, jangan sampai ketiban pulung"
saat itu tiga hari sudah lalu sejak segenap penghuni istana pang lima terbunuh selama tiga hari
ini peristiwa itu telah menggemparkan setiap pendudUk kota raja.
Sejak peristiwa itu, penjagaan kediaman Ko siu di tempat isteri tua diperketat. Istana dikelilingi
pengawal yang berseragam dan bersenjata lengkap. Bila malam tiba setiap orang yang tidak
berkepentingan dilarang mendekati istana itu.
Padahal Ko siu tidak menaruh harapan kepada barisan pengawal yang berseragam perang itu
untuk melindungi jiwanya. Ia tahu betapa banyak pengawal itu pun tidak berguna dan tidak
mampu merintangi pergi datang pembunuh dari dunia persilatan.
Di dalam istana Ko siu mempunyai pengawal pribadi lagi, pengawal pribadi pilihan ini semuanya
berpakaian preman dan tidak ada bedanya separti orang biasa, namun semuanya berkepandaian
tinggi, kebanyakan adalah jago persilatan terkemuka yang diundang dengan bayaran tinggi.
Menjelang tengah malam, para pengawal pribadi itu lantas terbagi dalam kelompok kecil dan
meronda di sekeliling taman istana. mereka bermata awas dan bertelinga tajam, asalkan
menemukan sesuatu yang tidak beres, segera mereka menyerang dengan senjata rahasia. Hampir
setiap saat pasti ada regu peronda lalu sehingga misalkan seekor tikus saja yang berlari masuk ke
taman itu pasti juga akan dipergoki mereka.
Walaupun begitu, malam ini mereka toh kebobolan juga, ada sesosok bayangan orang
melayang masuk tanpa diketahui kawanan jago pengawal itu.
Betapa cepat gerak tubuh penyatron ini sungguh sukar untuk dibayangkan.
Penyatron ini dengan sendirinya adalah Thio Giok-tin- Kepandaiannya memang jauh lebih tinggi
dari pada para jago pengawal pribadi Ko siu itu.
Tertampak hanya beberapa kali lompatan saja, tanpa menimbulkan suara Thio Giok-tin sudah
menyusup kedalam istana. belasan jago pengawal pribadi yang berjaga di situ sama sekali tidak
tahu akan kedatangannya.
Rupanya Thio Giok-tin dapat meloloskan diri dari kejaran Lau Tiong-cu, lalu ia datang lagi
hendak mambunuh ayah Ko Bok-ya.
Dia berkepandaian tinggi dan bernyali besar, tanpa menghiraukan suasana yang genting dan
penjagaan yang ketat itu dia tetap mendatangi tempat kediaman Ko siu.
Kalau dia sudah bertekad membunuh seseorang. sungguh dia ingin saat itu juga orang itu
dibunuhnya. Lebih-lebih kepala Ko siu, semakin cepat dapat dipenggalnya akan semakin baik,
kalau saja dia dapat meloloskan diri dari kejaran Lau Tiong-cu, mungkin siang hari tadi dia sudah
datang.
Dahulu, waktu Thio Giok-tin mengambil Ko Bok-ya sebagai murid, dia pernah datang ke sini
untuk menemui Ko siu. Maka ia tahu di mana letak kamar tidur panglima angkatan perang itu
Tanpa susah payah dapatlah dia menyusup sampai di depan jendela kamar Ko siu.
Segera ia membasahi kertas penutup jendela dengan air ludah, setelah berlubang, ia intip ke
dalam. Dilihatnya Ko Siu belum tidur, lagi duduk membelakangi jendela dan asyik membaCa.

Karena buru-buru ingin memenggal kepala Ko siu agar dapat diperlihatkan kepada Ko Bok-ya
selekasnya, tanpa pikir Thio Giok-tin lantas mendobrak jendela dan menerjang masuk. dengan
tertawa dingin Thio Giok-tin membentak. "Tua bangka, coba sekarang hendak kau lari kemana?"
Dengan terkejut Ko siu melompat bangun, akan tetapi Thio Giok-tin lantas membentak pula,
"Roboh saja kau"
Secepat kilat pedangnya lantas menabas, belum sempat Ko siu bertindak sesuatu. tahu-tahu
kedua kakinya sudah buntung tertabas pedang Thio Giok-tin dan roboh terjungkal sambil menjerit
ngeri.
Alangkah kejamnya Thio Giok-tin, dengan sebelah kaki menginjak di atas dada Ko siu. segera
pedangnya terangkat hendak memenggal kepala korbannya.
Tapi belum lagi pedang mengenai sasarannya mendadak ia membentak terkejut, "He, siapa
kau?"
Dia kenal Ko siu, tapi yang menggeletak di depannya ini jelas bukan Ko siu, hanya baju Ko siu
saja yang dipakai, tampaknya cuma samaran belaka.
Hanya berpikir sejenak segera Thio Giok-tin tahu dirinya terjebak. Tapi dia tidak gentar, meski
didengarnya di sekitar kamar ramai orang berlari datang, tapi tanpa gugup ia menuding Ko siu
palsu dan membentak, "Di mana tua bangka she Ko itu?"
Ko siu palsu mendelik, sekuatnya ia menahan sakit kedua kaki yang sudah buntung dan
bercucuran darah itu, sahutnya dengan mengertak gigi, "Tidak tahu, pendek kata, tak ... tak dapat
kau lolos dari kematian ..."
Belum habis ucapannya, Thio Giok-tin memperkuat tenaga injakan, seketika isi perut orang itu
hancur, dia menjerit ngeri memecah malam sunyi.
Jeritan ini tentu saja mengejutkan segenap isi istana, segera beberapa orang berteriak. "Ada
pembunuh ... Ada pembunuh ..."
Tertampak bayangan orang yang mengecung tiba makin banyak sehingga kamar Ko siu
terkepung rapat, cahaya obor terang benderang bagai siang.
Thio Giok-tin tidak gentar, ia berdiri di dalam kamar dan menghimpun tenaga. wajahnya
tampak beringas dan siap melakukan pembunuhan besar-besaran.
Tiba-tiba terdengar suara "blang" yang keras, pintu kamar tidur didobrak orang, menyusul tiga
orang menerjang masuk dari pintu kamar dan jendala.
Tapi sekali pedang Thio Giok-tin menyabat, cahaya perak menyambar secepat kilat, kontan
ketiga orang itu tertabas binasa dengan kepala menggelinding kelantai.
Dari belakang segera masuk lagi tiga orang, tapi pedang Thio Giok-tin kembali menabas seperti
tadi, dia tetap berdiri di tempat semula, tapi tiga orang itu segera mati lagi dengan kepala
tertabas, untuk menjerit saja tidak sempat.
Empat kali serbuan menewaskan 12 orang, sisanya menjadi jeri oleh kelihaian jurus serangan
pedang Thio Giok-tin itu dan tidak ada yang berani menerjang lagi. Mereka mengurung di luar
jendela dan pintu, Kelihatan yang berdiri di depan pintu sama melongo kaget dan heran- sebab
tidak diketahui dengan cara bagaimana ke-12 orang kawan meraka terbunuh.
Padahal ilmu silat ke-12 orang yaDg terbunuh itu tidak lemah, sedikitnya tergolong jago kelas
dua, tapi mengapa satu jurus saja tidak sanggup bertahan dan sudah terbunuh.
Kiranya jurus seraagan Thio Giok-tin itu adalah salah satu jurus Hai-yan-kiam-hoat. yaitu satu
diantara dua jurus yang belum dikuasai Yu Wi itu.Jurus itu bernama sat-jin-kiam atau pedang
pembunuh orang.
Nama jurus ini bukan pemberian Thio Giok-tin melainkan oleh si kakek tuli, jurus ini diperoleh
kakek itu dari Thio Giok-tin dengan mengorbankan teliganya. Ia merasa daya serang jurus ini

sangat lihai, dapat digunakan membunuh orang semudah memotong sayur, sebab itulah diberi
nama sat-jin-kiam.
Jurus serangan ini memang sangat mudah digunakan untuk membunuh orang seperti halnya
Thio Giok-tin sekarang.
Thio Giok-tin sudah apal sekali menguasai kedelapan jurus ilmu pedang sakti itu, setiap
jurusnya juga sudah diselami secara mendalam, memang setiap jurusnya memiliki daya serang
yang ampuh cuma sayang dia tidak mampu memainkan kedelapan jurus itu secara sambung
menyambung, dia hanya memainkannya dengan sejurus demi sejurus, sebab kalau sekaligus dia
memainkan kedelapan jurus itu. maka darah dalam dadanya serasa bergolak dan menimbulkan
rasa sakit luar biasa.
Kemudian diketahuinya bahwa orang perempuan tidak cocok berlatih Hai-yan-kiam-hoat,
paling-paling dia hanya sanggup melancarkan daya serang satu jurus saja, untuk mengeluarkan
keampuhan serangkaian Hai-yan-kiam-hoat secara lengkap tidaklah sanggup dikuasainya.
Namun cukup hanya dengan satu jurus saja sudah merupakan kungfu maha lihai, para
pengawal pribadi Ko Siu tergoloug jago pilihan semua. tapi mati kutu juga menghadapi satu jurus
sat-jin-kiam saja, mereka harus terima ajal belaka.
Melihat tidak ada yang berani masuk lagi, dengan senang Thio Giok-tin membersihkan darah
pada pedangnya, dipandangnya senjata yang ampuh itu dan bergumam, "Pedangku sayang, hari
ini boleh kau minum darah sepuasmu"
Habis berkata ia terus melangkah keluar kamar, para pengepung yang berdiri di depan pinta
sama menyurut mundur dengan jeri. setiap kali Thio Giok-tin melangkah maju, setiap kali pula
mereka menyurut mundur. Thio Giok tin melangkah maju delapan langkah, mereka pun menyurut
mundur delapan langkah.
Senang sekali hati Thio Giok-tin, ia tertawa terkekeh, katanya, "Hah, penjaga sewaan tua
bangka she Ko itu semuanya bakul nasi belaka"
Ucapan ini menimbulkan rasa murka berpuluh jago pengawal itu. Padahal mereka umumnya
adalah jago ternama di dunia Kangouw, mereka hanya jeri seketika oleh jurus serangan Thio Gioktin
yang aneh itu sehingga tidak barani sembarangan bergerak. sekarang mereka terpancing
murka, entah yang mana melolos senjata lebih dulu, serentak yang lain juga ikut mengerubut
maju. Terlihat belasan macam senjata sama menyambar kebagian mematikan di tubuh Thio Gioktin.
Tapi sekali Thio Giok-tin mengeluarkan jurus "Put- boh- kiam", jurus yang tak terpatahkan,
terdengarlah serentetan dering nyaring, belasan macam senjata yang menyerangnya sama
tergetar patah.
Hanya dengan sebatang pedang biasa Thio Giok-tin telah mematahkan macam-macam senjata
lawan, kekuatan ini sungguh sangat mengejutkan, selagi lawan yang kehilangan senjata itu masih
merasa jeri, tahu-tahu sinar pedang menyambar lagi, belum sempat mereka menjerit, seketika
leher terasa dingin dan kepalapun putus, nyawa amblas.
Melihat kawannya tewas lagi, jago pengawal yang lain menjadi nekat, sambil berteriak-teriak
serentak belasan orang menerjang maju lagi.
Tampaknya mereka pun akan dibinasakan oleh Thio Giok-tin dengan cara sangat mudah,
mendadak terdengar seorang membentak, "Nanti dulu" suaranya keras dan berat, hati semua
orang sama tergetar, tanpa terasa belasan orang itu sama berhenti di tempat.
Terlihatlah seorang jago pedang muda melangkah tiba dengan tenang, dia mendekati Thio
Giok-tin, lalu memberi tanda kepada para jago pengawal dan berkata, " Kalian mundur saja, kalian
bukan tandingannya, lihat saja kuhadapi dia sendiri."

Dengan kening berkerut belasan jago pengawal itu melangkah mundur, mereka tidak puas
terhadap sikap jago pedang muda yang congkak itu. Tapi terpaksa mereka menurut, sebab jago
muda ini adalah kepala barisan pengawal pribadi Ko siu.
Cukup cakap wajah jago pedang muda ini, tapi sikapnya yang angkuh membuat orang merasa
segan untuk berdekatan dengan dia.
Dengan sombong ia angkat pedangnya lurus ke depan, dengan tak acuh ia berkata, "Layani
dengan baik"
Nadanya serupa orang tua sedang mengajar anak muridnya, menyuruh orang hati-hati sedikit
supaya tidak kalah dengan mudah.
Walaupun mendongkol. tapi Thio Giok-tin juga bisa melihat gelagat, sedapatnya ia bersabar,
jengeknya. "silakan maju dulu"
Dilihatnya gerak pedang anak muda itu lain daripada yang lain, sebab pedang yang diluruskan
ke depan utu kelihatan kuat dan mantap. sungguh seorang lawan tangguh yang jarang ditemunya.
Dia menyuruh anak muda itu maju lebih dulu, sebab dilihatnya ilmu pedang orang sangat kuat
dalam hal bertahan, jika orang disuruh menyerang lebih dulu, hal ini tidak berarti manguntungkan
orang itu sendiri
Betapa pun darah mmda, jago muda itu menjadi gusar karena diremehkan oleh Thio Giok-tin,
segera ia menusuk dengan pedangnya.
Melihat serangan lawan tidak ada sesuatu gerakan yang istimewa, diam-diam Thio Giok-tin
mentertawainya. Ia sangka lawan tidak tahan sekali serang juga, maka dia tidak mau banyak
buang waktu, segera ia keluarkan lagi jurus Put-boh-kiamnya hendak menabas pedang lawan, lalu
memotong kepalanya.
Siapa tahu, dugaannya ternyata keliru. Meski gerak pedang jago muda itu kelihatan biasa tanpa
sesuatu yang istimewa, tapi menghadapi serangan Giok-tin yang lihai itu, mendadak gerak
pedangnya berubah menjadi luar biasa, sekali berputar pedangnya berubah menjadi beratus
bayangan titik perak.
Dipandang dari sebelah Thio Giok-tin sini, bayangan ujung pedang seolah-olah beratus bintang
meteor yang berhamburan menembus tabir cahaya pedangnya.
Betapa hebat jurus Pit-boh-kiam itu tetap juga ada setitik kelemahannya. dan dengan tepat
satu butir meteor itu menyambar masuk ketitik lemah itu sehingga jurus yang tak terpatahkan itu
sekali ini dapat dibobol.
Untung Thio Giok-tin sempat menghindar dengan langkah ajaib Leng-po-wi-poh sehingga tidak
tertusuk oloh pedang lawan yang menembus tabir cahaya pedangnya.
Maka sadarlah Giok-tin bahwa dirinya bukan tandingan anak muda itu, cepat ia melompat
mundur manjauhi lawan dan tidak berani menerjang maju lagi.
Hendaklah diketahui bahwa ilmu silat Thio Giok-tin sangat luas, cuma tidak semuanya
dikuasainya dengan baik. Berbagai macam kungfunya adalah hasil tipuan dengan menggunakan
kecantikannya. seperti kitab pusaka Hai-yan-to-boh juga ditipunja dari oh It-to, tapi lantaran dia
tidak suka main golok melainkan gemar main pedang, maka ia coba meyakinkan Hai-yan-to-hoat
dengan pedang.
Padahal permainan pedang dan golok sama sekali berbeda, meski dia ubah permainan pedang
dengan golok tanpa mengurangi daya serangnya, tapi sayang sukar dilatihnya hingga sempurna.
Yang dapat dipelajari hanya gerakan kedelapan jurus saja, tapi tak dapat terjalin menjadi
serangkaian ilmu pedang yang ampuh.
Walaupun kedelapan jurus ilmu pedang itu sangat lihai, tapi karena tak dapat dimainkan secara
lengkap. bila ketemu jago pedang yang kuat menjadi tidak banyak artinya.

Meski Thio Giok-tin juga bertemu dengan jago pedang seperti Kwe siau-hong, tapi dia tidak
menipu ilmu pedangnya, seterusnya iapun tidak pernah lagi bertemu dengan jago pedang lain,
sehingga sebegitu-jauh dia tetap tak dapat menguasai pedangnya dengan sempurna. Jadi di
antara berbagai macam Kungfu yang dikuasainya, ilmu pedang terhitung kungfunya yang paling
lemah.
Diam-diam Thio Giok-tin jadi menyesal telah datamg dengan membawa pedang, kalau dia
membawa senjata lain, tentu sekarang dapat menghadapi jago muda ini dengan kungfu
andalannya yang lebih tinggi itu. Tapi sekarang, mau-tak-mau dia harus terima nasib. seketika
semangat tempurnya membuyar.
Melihat Thio Giok-tin berdiri lesu, jago pedang muda yang angkuh itu tertawa, serunya,
"Agaknya kau tahu ilmu pedangmu bukan tandinganku, tidak berani maju lagi? Kukira tidak
menjadi soal, bila kau takut kepada ilmu pedangku, boleh kita bertanding ilmu pukulan saja."
Di antara macam-macam kungfu yang dikuasai Ciang-hoat atau ilmu pukulan bertangan kosong
merupakan kungfu andalan Thio Giok-tin , diam-diam ia mendongkol atas sikap jumawa anak
muda itu, pikirnya, "Anak kurang ajar, seb entar nanti baru kau tahu rasa akan kelihaianku"
Tanpa kenal malu segera ia mendahului membuang pedangnya.
Dengan sikap pongah si jago muda itu berpaling menyapu pandang para jago pengawal
seakan-akan hendak bilang, "Coba kalian lihat, hanya satu jurus saja tuanmu sudah membikin
keok dia dan sekarang dia minta bertanding dengan ilmu pukulan."
Lalu dengan sikap angkuh ia mas ukkan pedang kesarungnya dan berkata, "Nah, sekali ini
boleh kau serang lebih dulur
Para jago pengawal sama gusar oleh sikap sombong jago pedang muda itu, meski tidak
diutarakan dengan kata, tapi jelas wajah mereka sama mengunjuk kurang senang, pikir mereka,
"Yang penting sekarang adalah menangkap si pengganas ini, masakah kesempatan ini kau
gunakan untuk pamer kepandaian segala?"
Bab 11 : Ko-Bok-cing yang lihay dan sakti
Thio Giok-tin juga tidak mau banyak omong lagi, segera ia menggunakan langkah Leng-po-wipoh,
ia mendesak maju dan kedua tangannya menghantam sekaligus.
Baru saja jago pedang muda itu sempat menangkis, tahu-tahu bayangan musuh sudah
menghilang. Langkah ajaib Leng-po-wi-poh sungguh hebat, mendadak Thio Gokstin sudah
berputar kebelakang anak muda itu, kembali kedua tangannya menghantam.
kungfu jago muda itu memang patut dibanggakan, sekali berputar, dengan cepat lia
menghadapi lawan, serangan dapat ditangkis pula.
Meski langkah ajaib ditambah Ginkang Thio Giok-tin yang juga tidak kurang lihainya, namun
jago muda itu dapat menangkis dengan baik, bahkan balas menyerang, dia kalah ulet, namun ilmu
pukulannya sangat aneh sehingga dapat melayani Thio Giok-tin dengan sama kuat.
Makin lama makin dahsyat pertarungan kedua orang, para pengawal yang berdiri di sekitar
mereka terdesak mundur jauh oleh angin pukulan mereka. Meski mereka benci kepada
kesombongan anak muda itu, kini mau-tak-mau harus kagum juga terhadap kelihaian kungfunya,
pantaslah kalau Ko SiU menunjuk anak muda itu menjadi komandan mereka.
Sampai ratusan jurus masih belum jelas menang dan kalah, si jago muda menjadi tidak sabar,
jika menangkap seorang penyatron saja tidak becus, tentu akan dipandang rendah oleh Ko Siu.
Dasar watak anak muda Itu memang angkuh, setelah sekian lama lawan tak dapat
ditundukkan- tentu saja ia gelisah.

Sebaliknya Thio Giok-tin diam-diam terkejut dan bergirang, ia terkejut oleh kelihaian kungfu
jago muda itu, selama ini belum pernah didengarnya ada seorang tokoh muda demikian, mungkin
tokoh terkemuka jaman ini juga sukar mengalahkan dia.
Girangnya karena melihat anak muda itu mulai gelisah, betapa hebat ilmu pukulannya, lamalama
tentu juga akan kacau dan itu berarti tanda akan kalah.
Siapa tahu, sampai lebih dari 150 jurus, mendadak ilmu pukulan jago muda itu berubah,
dimainkannya semacam ilmu pukulan yang aneh.
Ilmu pukulan ini bernama sian-thian-ciang-hoat yang menurut peraturan perguruannya tidak
boleh sembarangan digunakan- sekarang karena ingin cepat menang, tanpa pikir terus dimainkan
oleh jago muda itu.
Dan tidak lebih tiga jurus sian-thian-ciang di- mainkan, sekali hantam pipi Thio Giok-tin telah
kena digampar oleh anak muda itu, menyusul gamparan lain mengenai pipi sebelah lagi.
Betapa pedih hati Thio Giok-tin sukar dilukiskan, setelah mengalami dua kali gamparan. Dia
adalah seorang tokoh termashur, tapi mukanya kena dipukul dua kali oleh seorang anak muda,
tentu saja dirasakan terlebih menderita daripada terbunuh.
sian-thian-ciang anak muda itu dimainkan terus, kini keadaannya tidak serupa bertempur
antara dua orang lagi, tapi lebih mirip orang tua lagi mempermainkan anak kecil, kedua tangannya
menampar kian kemari, berulang-ulang pipi kanan dari Giok tin kena dihajar pula,
Dia sengaja pamer kepandaian, tidak mau melukai Thio Giok-tin dengan pukulan berat, namun
begitu Thio Giok-tin terus menerus terpukul tanpa mampu membalas.
setelah belasan kali tamparan, Thio Giok-tin tidak tahan terhina lagi, teriaknya, "Baiklah, aku
kalah"
Jago muda itu tertawa senang, ucapnya, "Jika kau mau mengaku kalah, aku pun takkan
membikin susah padamu. Nah, lekas kau ikat tangan sendiri dan menyerah."
Sudah tua begini baru mengalami penghinaan sebesar itu, tentu saja. Thio Giok tin sangat sakit
hati, mana dia rela mengikat tangan sendiri dan mandah disembelih orang, tiba-tiba ia mendapat
akal, serunya dengan tertawa, "Numpang tanya siapakah nama saudara cilik ini?"
saking senangnya jago muda itu menjawab tanpa pikir, "Namaku Siau Hong .jika kau masih
penasaran, boleh kita bertanding lagi."
Thio Giok-tin menggeleng kepala, katanya, "Tidak. kuakui ilmu silatmu memang nomor satu di
dunia, biarpun siapa saja bukan tandinganmu."
Pada umumnya orang sombong memang suka disanjung puji orang, makin diumpak makin
sombong dia. Maka umpakan Thio Giok-tin ini membuat jago muda itu lupa daratan dan tidak
ingat lagi lawan adalah penyatron yang harus ditangkapnya, malahan barusan dia harus
menempurnya dengan mati-matian.
Habis bicara. lalu Thio Giok tin membalik tubuh seperti mau pergi.
Lantaran merasa senang terhadap pujian orang, Siau Hong tampaknya tidak bermaksud
mencegahnya. Tapi para pengawal yang masih berada disitu lantas berteriak-teriak. " Lekas
ringkus dia"
Baru sekarang Siau Hong ingat kepada tugas sendiri. katanya, "Eh, kau tidak boleh pergi"
"Aku tidak pergi, boleh kau suruh mereka meringkus diriku," jawab Thio Giok-tin.
Siau Hong pikir terlalu repot meringkusnya ditutuk Hiat-to kelumpuhannya kan sama saja, Ia
mengira Thio Giok-tin sudah menyerah total kepadanya. maka caranya menutuk juga tidak
memakai perhitungan.
Diluar dugaan, mendadak Thio Giok-tin menghantam kebelakang tanpa membalik tubuh.

Caranya menghantam ke belakang juga sangat aneh, sekaligus tubuhnya ikut berputar
kebelakang Siau Hong. Angin pukulan yang lihai segera mengancam bagian maut di punggung
anak muda itu.
sungguh aneh dan lihai pukulan ini, apabila Siau Hong terkena pukulannya dengan tepat, sukar
baginya untuk lolos dari kematian.
Untunglah pada detik yang berbahaya itu, sekonyong-konyong dari atas rumah melayang turun
sesosok bayangan.
Bayangan ini seakan-akan sudah tahu kelihaian pukulan Thio Giok-tin itu, maka begitu tangan
Thio Giok-tin menghantam kebelakang, serentak ia anjlok ke bawah, maka ketika tenaga pukulan
Giok-tin mendakati punggung Siau Hong, dengan tepat dapat dicegat bayangan itu.
Tertampak orang ini mengapung di udara dan menahan serangan Thio Giok-tin dengan sebelah
tangan, ia sambut mentah-mentah pukulan yang dahsyat ini. -"Blang", kedua tangan beradu
dengan keras, karena terapung, bayangan itu tergetar mencelat dua tombak jauhnya, ia
berjumpalitan dan berdiri tegak diatas tanah tanpa cidera apa pun-
Perubahan kejadian ini berlangsung dalam waktu sekejap saja, belum lagi para jago pengawal
sempat berteriak kaget dan gebrakan itu pun sudah berlangsung. Ternyata sebagian besar di
antara mereka kenal bayangan orang itu, sarentak mereka berseru, "Yu-kongcu"
Orang ini memang betul Yu Wi adanya.
Siau Hong juga pernah melihat Yu Wi. prihal Yu Wi merawat lukanya di dalam istana telah
banyak diketahui para pengawal, hanya sebagian tidak pernah melihatnya, tapi lebih banyak yang
pernah melihat dan tahu dia adalah putera sahabat Tay-ciangkun yang sudah wafat, putera Yu
Bun-hu.
setelah sergapannya gagal membunuh Siau Hong, Thio Giok-tin menyadari kesempatan baik
sukar dicari lagi, padahal kepandaian anak muda itu jauh di atas dirinya, jelas sakit hati
penghinaan tadi sukar dibalas, dengan gemas ia lantas menuding Yu Wi dan mendampsrat, "Anak
busuk, kau bikin gagal urusanku" memaki. lalu ia berduduk di tanah.
Ia pikir kepandaian Siau Hong lebih tinggi dari padanya. jangankan hendak kabur, mungkin
dirinya akan dibunuh untuk membalas sergapannya tadi. Belum lagi Yu Wi, anak muda ini pasti
juga. takkan mengampuni dirinya.
Karena itulah ia lantas memejamkan mata dan menunggu ajal. ia tidak ingin bertempur lagi,
sebab hal ini akan berarti dirinya lebih banyak terhina. Ia pikir biarlah salah seorang dari kedua
anak busuk itu boleh berikan suatu pukulan dan mematikan diriku saja.
Akan tetapi sampai sekian lama ia menunggu dan tidak terjadi sesuatu, ia menjadi heran, kalau
Yu Wi yang baik budi itu dapat dimengerti jika dia tidak tega membunuh musuh yang tidak
mengadakan perlawanan, tapi Siau Hong yang angkuh dan keji ini mengapa juga tidak balas
menyerang diriku?
Para jago pengawal juga tidak berani sembarangan bertindak sebelum mendapat perintah Siau
Hong selaku komandan mereka, mereka sama berdiri disekeliling situ dan menanti keputusan Siau
Hong. Mereka tahu meski keadaan Thio Giok-tin sekarang hanya berduduk dengan mata terpejam,
kalau bukan Siau Hong sendiri yang meringkusnya, orang lain sukar untuk membekuknya.
Kedatangan Yu Wi ke tempat kediaman Ko siu ini terjadi waktu Thio Giok-tin kabur dikejar Lau
Tiong-cu, ia tahu Thio Giok-tin hendak membunuh Ko siu, maka diam-diam ia hendak melindungi
Ko siu. Kemudian diketahuinya Ko siu yang sedang membaca di kamarnya itu adalah palsu, namun
dia tidak pergi, ia bersembunyi disitu dan menunggu kedatangan Thio Giok-tin.
sama sekali tak tersangka olehnya bahwa di tengah para jaro pengawal pribadi Ko siu ini
terdapat seorang jago muda yang mampu mengatasi Thio Giok-tin. Diam-diam ia kagum terhadap
Siau Hong. Maka ketika melihat anak muda itu terancam bahaya oleh pukulan membalik Thio

Giok-tin, Yu Wi yang bersembunyi di atas belandar rumah lantas melompat turun untuk
menolongnya.
Kini meski mendapat kesempatan untuk membunuh Thio Giok-tin, namun Yu Wi tidak sudi
melakukannya, pikirnya "Thio Giok-tin memejamkan mata dan menunggu kematian, jelas karena
dia tahu bukan tandingannya Siau Hong. sekarang hanya Siau Hong saja yang berhak menentukan
mati- hidup Thio Giok-tin, apabila dia tidak mati dan berhasil lolos. kelak akan kucari dia pula
untuk menuntut balas."
Semua orang tidak tahu apa sebabnya Siau Hong hanya termenung saja dan tidak lantas
bertindak terhadap Thio Giok-tin, sejenak kemudian agaknya Siau Hong berhasil memacahkan
sesuatu persoalan, ia tmendekati Thio Giok-tin..
Dengan ketus Thio Giok-tin barkata tanpa gentar, "Baik, aku tidak mampu membunuhmu
biarlah kau bunuh diriku saja"
"Aku takkan membunuhmu, aku cuma ingin tanya sesuatu padamu," ujar Siau Hong sambil
menggeleng.
"Setelah kau tanya, lalu bagaimana?"
"Bila sesuai dengan apa yang kupikir, segera kubebaskan kau."
Ucapan Siau Hong membikin gempar para jago pengawal, mereka berteriak-teriak, "Tidak.
jangan lepaskan dia Bunuh saja dia untuk membalas sakit hati saudara kita"
"Hm, jika ada diantara kalian yang berani membunuh dia, silakan maju saja dan
membunuhnya." jengek Siau Hong.
Thio Giok-tin tertawa, katanya, "Aku dikalah olehmu, hanya kau berhak membunuhku. Bila
orang lain tidak tahu diri, boleh dia timbang dulu apakah dia mampu mambunuhku atau tidak."
"seumpama mampu membunuhmu juga perlu tunggu setelah selesai kutanyai dirimu," kata
Siau Hong.
Yu Wi melangkah maju, "Ada soal apa, dapatlah kau tanya dia selekasnya."
"setelah kutanyai dia, apakah hendak kau bunuh dia?" jengek Siau Hong.
Yu Wi jadi melengak, ia heran atas sikap orang yang kasar. Padahal baru saja jiwa orang
diselamatkannya, mengapa membalasnya dengan bersikap tidak sopan begini.
Tanpa menunggu jawaban Yu Wi. segera Siau Hong berkata pula dengan ketus, "setelah
kutanyai dia, bunuh atau tidak adalah bergantung kepadaku, bila ada yang tidak menurut kepada
keputusanku, boleh silakan menantang diriku, kalau dapat mengalahkan aku barulah berhak
mengambil tindakan terhadap perempuan ini." Ucapannya ini sama dengan menantang Yu Wi.
Keruan para jago pengawal sama gusar. mereka sama memaki di dalam hati, "Hm, memangnya
dengan hak apa kau berani. mengambil keputusan mengenai penyatron ini? Tay-ciangkun
menyewa dirimu sebagai komandan pasukan pengawal, kau harus tunduk kapada perintah Tayciangkun,
memangnya apa yang kau andalkan? Huh, lagaknya seperti tuan besar padahal apa
bedanya dirimu dengan kami? Kan sama-sama terima upah orang?"
Meski gusar didalam hati, tapi tidak ada seorangpun bersuara. Maklumlah, Siau Hong terlalu
lihai, mereka menyadari bukan tandingan anak muda itu.
Yu Wi juga tidak suka bertengkar, ia mundur kebelakang ia pikir terserah padamu akan kau
bunuh atau tidak. Pokoknya bila kau bebaskan dia, segera kucari dia untuk menuntut balas.
setelah cukup pamer kekuasaan dan tidak ada yang berani membantah lagi, Siau Hong
bergelak tertawa bangga, lalu ia tanya Thio Giok-tin, "Tadi caramu menghantam kebelakang itu,
apa nama jurus seranganmu itu?"
Giok-tin menggeleng, "Aku cuma dapat memainkannya dan tidak tahu apa namanya."

"Tadi kurasakan jurus seranganmu itu sudah kukenal serupa jurus serangan dari perguruanku,
setelah kurenungkan sekian lama baru kuingat bahwa pukulan ke belakang seperti seranganmu
tadi disebut sat-jiu-ciang (pukulan maut)," kata Siau Hong pula.
"Nama sat-jiu-ciang sama sekali tidak pernah kudengar" ujar Giok-tin.
"Mungkin benar tidak pernah kau dengar, tapi pasti kau tahu orang yang mengajarkan ilmu
pukulan itu bermata satu bukan?" Berubah air muka Thio Giok-tin.
"Betul, kau kenal dia?"
"Dengan sendirinya kukenal, kalau tidak. dari mana kutahu nama kungfu andalannya itu
bernama sam-jiu-sam-ciau (tiga jurus pukulan maut)."
"sat-jiu-sam-ciau?" Thio Giok-tin mendegus dengan kaget.
"Memang betul yang diajarkan orang bermata satu itu kepadaku adalah tiga jurus."
Meski namanya tiga jurus, namun cara memainkan tiga jurus itu sama sekali berlainan.
"Benar" seru Giok-tin.
Siau Hong tambah bangga, ucapnya, "Meski permainan ketiga jurus itu sama sekali berbeda,
tapi berasal dari sumber yang sama Jurus pertama adalah penggunaan senjata rahasia, jurus
kedua mengenai pemakaian senjata dan jurus yang lain lagi adalah ilmu pukulan seperti yang kau
mainkan tadi."
Thio Giok-tin sangat licin, segera ia tahu watak Siau Hong yang suka diumpak ini, maka dia
sengaja berkata, "Wah, berbahaya, sungguh berbahaya. . . ."
"Berbahaya apa?" tanya Siau Hong..
"Sungguh aku tidak tahu diri, padahal Anda sedemikian paham sat-jiu-sam-cian, tapi berani
kusergap Anda, untung bocah she Yu itu menghalangi seranganku, kalau tidak. bukan mustahil
seranganku tidak berhasil dan berbalik akan dibinasakan oleh jarus serangan Anda yang lebih
lihai".
Sanjungan ini membuat hati Siau Hong kegirangan luar biasa. Padahal bilamana tidak dirintangi
oleh Yu Wi, tidak mungkin dia mampu menghindarkan serangan maut Thio Giok-tin tadi.
Tapi dasar orang yang sombong, jelas-jelas Yu Wi telah menyelamatkan dia, sudah tidak
berterima kasih, sebaliknya malah menganggap Yu Wi mengganggu dia.
Sekarang Thio Giok-tin berkata demikian, tanpa malu ia menjawab, "Ah, mana, mana Meski
sam-jiu-sam-ciau itu sangat lihai, tapi akupun mempunyai jurus yang dapat mematahkannya. Akan
tetapi akupun takkan melukaimu. setelah kukenal asal- usul jurus seranganmu, segera kutahu ada
hubungan antara kita berdua, mana boleh sembarangan kulukaimu sehingga dimarahi susiok
nanti."
Yu Wi tidak menduga antara Thio Giok-tin dan Siau Hong bisa mendadak timbul hubungan
perguruan segala. Ia pikir hari ini Thio Giok-tin pasti akan dilepaskan oleh Siau Hong. Hal yang
membuatnya ragu adalah mengenai Siau Hong, pada waktu Thio Giok-tin menyerangnya dengan
pukulan maut tadi, adalah sukar untuk dipercaya bahwa dia sanggup menyelamatkan diri
Maklumiah, Yu Wi cukup kenal betapa lihainya serangan Thio Giok-tin itu, sebab sudah dua kali
dia hampir mati di bawah pukulan maut itu. satu kali terjadi di Tiam-jong-san ketika Thio Giok-tin
menimpukkan kebutnya kebelakang dan tepat mengenai punggungnya. satu kali lagi juga
menyambitkan secara rahasia ke belakang, kalau saja Toa supek tidak keburu menangkiskan
dengan patungnya dia pasti sudah binasa.
Dua kali pengalaman ini meyakinkan dia akan kelihaian serangan membalik Thio Giok-tin itu,
maka tadi tanpa pikir ia terus melompat turun untuk menyelamatkan Siau Hong. Tapi sekarang
Siau Hong menyatakan dia mempunyai kungfu lain yang mampu menangkis serangan Thio Gioktin,
jadi bantuan sendiri tadi tidak ada gunanya, pantas orang tidak berterima kasih padanya.
Pada dasarnya Yu Wi memang lugas, meski meragukan kemampuan Siau Hong akan dapat
menyelamatkan diri dari serangan maut Thio Giok tin tadi, tapi mengingat di dunia ini masih

banyak orang kosen yang sukar diukur kepandaiannya, bukan tidak mungkin Siau Hong memang
betul dapat mematahkan serangan Thio Giok-tin itu.
Begitulah didengarnya Thio Gin-tin lagi berkata, "Apa katamu?Jadi orang bermata satu yang
mengajarkan tiga jurus padaku itu adalah paman gurumu?"
Siau Hong tertawa, "Haha, setelah kau pelajari kungfu andalan susiokku, tapi sampai sekarang
tidak mengetahui asal-usulnya?"
"Dia hanya mengajarkan tiga jurus padaku dan tidak bicara urusan lain, bahkan she dan
namanya saja tidak diberitahukan pada ku."
"Tingkah-laku susiok memang aneh, orang lain jangan harap akan dapat belajar kungfunya,
pernah kuminta belajar juga ditolaknya. Tapi dia justeru suka padamu, sungguh ada jodoh."
Ucapan Siau Hong ini banyak lubang kelemahannya. orang yang mau berpikir sedikit saja pasti
dapat membongkar bualannya. Tadi dia bilang mempunyai kungfu lain yang dapat mematahkan
serangan Thio Giok-tin, tapi sekarang dia mengaku tidak pernah belajar sat-jiu-sam-ciau, jelas dia
cuma omong besar untuk menutupi kelemahan sendiri.
Di antara jago pengawal itu tentu saja ada yang dapat berpikir, diam-diam mereka mengejek.
kalau saja tidak takut tentu mereka sudah tertawa geli.
Dengan sendirinya Thio Giok-tin dapat juga menarik kesimpulan bahwa Siau Hong tidak
mempunyai kungfu yang dapat mematahkan serangannya tadi. Maka sekarang ia tambah benci
kepada Yu Wi, kalau saja anak muda ini tidak merintangi serangannya, tentu saat ini Siau Hong
sudah dibinasakannya dan terlampiaslah sakit hati belasan kali tamparan tadi.
Tapi sekarang ia tambah kenal watak Siau Hong, ia pikir dalam keadaan tidak menguntungkan,
harus lebih banyak kupuji dia agar mau membantu bilamana aku dimusuhi Yu Wi dan para jago
pengawal.
Maka dengan tersenyum genit ia berkata, "Ah, beruntung susiokmu sudi mengajarkan tiga jurus
sakti padakU, padahal hanya beberapa kali saja susiokmu bertemu denganku dan beliau lantas
mengajarkan kungfu andalannya kepadaku, mustahil kalau dia tidak mengajarkan kepada Anda,
kukira mungkin susiokmu menganggap ketiga jurus itu tidak banyak manfaatnya bagimu, maka
tidak diajarkannya padamu. Padahal dengan kepandaian Anda masakah ketiga jurus itu menjadi
soal bagimu?"
Siau Hong merasa senang sekali, ucapnya, "Betul juga perkataanmu, kungfu perguruan kita
sangat luas, meski sat-jiu-sam-ciau merupakan kungfu ciptaan susiok sendiri, tapi belum terhitung
kepandaian luar biasa didalam kungfu perguruan kita. Agaknya susiok kuatir kungfu perguruan
sendiri tidak dapat kupelajari seluruhnya, lalu apa gunanya belajar lagi sat-jiu-sam-ciau. Akan
tetapi kau dapat belajar kungfu susiok itu, sungguh ada jodoh dan kau pun dapat dikatakan
terhitung anak murid perguruan kita."
Tentu saja Thio Giok-tin mengikuti arah angin, katanya cepat, " Wah, jika demikian, harus
kupanggil engkau sebagai suheng"
Padahal usia Thio Giok-tin cukup untuk menjadi ibu Siau Hong, maka para jago pengawal sama
merinding mendengar ucapannya.
sebaliknya Siau Hong tidak merasakan apa-apa, ia menjawab dengan serius, "Karena kau
terhitung juga murid susiok. maka sebutan suheng biarlah kuterima".
"Ya, suheng," kembali Thio Giok-tin memanggil. Akan tetapi dia menggerutu didalam hati,
"Suheng kentut susiokmu memang ada jodoh denganku. cuma jodohnya jodoh ditengah jalan.
Coba kalau setan mata satu itu tidak tergila-gila padaku, mana dia mau mengajarkan tiga jurus
mautnya kepadaku. Dasar anak keparat, masih ingusan masih berani mengaku suheng ku. Yang
benar harus kausebut nenek padaku."

Bahwa dalam keadaan kepepet Thio Giok-tin mau merendahkan diri, disinilah terletak
kelicikannnya. Maka dengan sebutan "Suheng" ini mau-tak-mau Siau Hong harus bicara baginya,
segera ia berpaling dan berkata terhadap para jugo pengawal "Nah, saudara-saudara, perbuatan
orang ini mungkin timbul karena salah paham belaka. sekarang urusan sudah jelas, rupanya dia
adalah orang seperguruanku, maka orang she Siau memutuskan untuk membebaskan dia pergi,
aku yang akan bertanggung jawab terhadap Ciangkun nanti, bilamana ada di antara kalian tidak
dapat menerima keputusanku, boleh berurusan denganku."
Diam-diam para pengawal menjengek. namun mereka hanya marah di dalam hati dan tidak ada
yang berani bersuara. Maklumlah, mereka tidak dapat menandirgi Siau Hong, jika bersuara hanya
akan mendatangkan petaka bagi diri sendiri.
Maka dengan berseri-seri Siau Hong berkata pula kepada Thio Giok-tin, "Nah. sekarang
bolehlah kau pergi Urusan disini serahkan saja padaku, bila bertemu dengan susiok, katakan
guruku "Kun-kiam-bu-siang" (pukulan dan pedang tidak ada bandingan) mengharapkan beliau
pulang ke Tibet untuk menemui suhu."
"Kun-kiam-bu-siang", diam-diam Thio Giok-tin menjengek atas julukan ini, besar amat
suaranya, pantas kau pun tidak pandang sebelah mata kepada orang lain, rupanya guru dan murid
serupa sombongnya.
Namun lahirnya Thio Giok-tin tetap merendah diri, ucapnya dengan tertawa yang dibuat-buat,
"Terima kasih, suheng, kumohon diri . . . ."
"Nanti dulu" mendadak Yu Wi melangkah maju.
"Maksudmu aku?" tanya Giok-tin sambil berpaling dengan tertawa.
Yu Wi menjawab tegas, "setelah kau datang ke sini, kau harus memberi keadilan kepada Ciangkun-"
"Keadilan apa?" jengek Giok-tin-
"Tiga hari yang lalu, segenap penghuni rumah puteri muda Ko- ciangkun telah kau bunuh,
bukan?" tanya Yu Wi dengan mendelik,
seketika para jago pengawal menjadi gempar, "Hah, jadi perempuan bangsat inilah pembunuh
Jihujin? "
"Tangkap dia. Jangan lepaskan dia"
"Lekas undang ciangkun kemari untuk mengadili pembunuh ini. . . ."
Segera ada seorang pengawal yang cekatan berlari pergi.
Tapi Siau Hong lantas membentak, "Berhenti"
Namun orang itu tidak menghiraukan dan tetap berlari ke sana.
Siau Hong menjadi gusar, mendadak ia menuding dari jauh, "crit." angin jari yang tajam
menyambar ke sana, pengawal itu menjerit kaget, lalu berdiri mematung di tempatnya dengan
gaya sedang berlari.
Tutukan dari jarak jauh ini sungguh amat lihai, seketika para jago pengawal menjadi jeri dan
tidak ada yang berani bersuara lagi.
"Nah. siapa lagi berani sembarangan bergerak?" kata Siau Hong dengan pongahnya.
Thio Giok-tin terus menambahkan, "Kalau ingin hidup janganlah bergerak"
Lalu Siau Hong berpaling dan berkata kepada Yu Wi, "Apakah tidak kau dengar perintahku
membebaskan dia pergi?"
sedapatnya Yu Wi bersabar, jawabnya, "Anda bekerja bagi Ciangkun. apa tugasmu
sesungguhnya?"
"Melindungi keselamatan ciangkun-" jawab Siau Hong. "sekarang ciangkun tidak cidera apa pun
dengan sendirinya aku berhak membebaskan dia."
"Dia telah membunuh nyonya muda, tidak kau periksa dan tanyai dia?" kata
Yu Wi dengan mendongkol.
"Tidak. dia tidak membunuhnya, bukan dia pembunuhnya," jawab Siau Hong tegas.
"Dari mana Anda tahu bukan dia pembunuhnya?" tanya Yu Wi.

"Coba jawab dulu, antara dirimu dan dia ada permusuhan atau tidak?"
"Ada, sedalam lautan dendamku padanya," jawab Yu Wi tegas,
"Hahaha, jika begitu kan jelas segalanya," seru Siau Hong dengan tertawa. "Demi kepentingan
pribadimu, sengaja kau fitnah orang. apa yang kau katakan tidak dapat dipercaya."
Dan sebelum Yu Wi bicara pula, segera ia memberi tanda kepada Thio Giok-tin, "Nah, lekas kau
pergi saja"
Thio Giok-tin menyadari keadaan yang berbahaya, kalau sekarang tidak lekas pergi, mau
tunggu kapan lagi? segera ia melompat keatas. Tapi Yu Wi lantas memburu maju lagi.
"Kau berani?" bentak Siau Hong sambil menghadang di depan Yu wi, sebelah tangannya lantas
menghantam.
Cepat Yu Wi menangkis, "blug". Yu Wi tetap berdiri di tempatnya, sebaliknya Siau Hong
tergetar mundur dua-tiga tindak.
Adu pukulan ini memperlihatkan tenaga Siau Hong kalah kuat daripada Yu Wi.
Dalam pada itu Thio Giok-tin sudah kabur, ginkangnya sangat tinggi, Yu wi merasa tidak
sanggup menyusulnya, maka iapun tidak mengejar lagi.
Dari malu Siau Hong me adi gusar, bentaknya, "Kurang ajar Kau berani bergebrak denganku?"
^
Yu Wi menggeleng, ucapnya, "Betapapun engkau adalah pengawal pribadi paman Ko, aku tidak
mau bermusuhan denganmu."
"Kesampingkan tugasku ini, coba kau mau apa?" kata Siau Hong dengan penasaran-
"Antara kita tidak ada permusuhan apa-apa, tidak perlu kita bergebrak dan menjadi musuh
malah," ujar Yu wi.
"Pengecut" ejek Siau Hong. "Tahu begitu, belum tentu kau berani mengejar saudara
seperguruan kami. Huh, hanya tok berlagak saja."
Yu Wi memang tidak ingin bermusuhan dengan pengawal pribadi sang paman, sedapatnya ia
menahan rasa gusarnya. dan tidak menghiraukannya.
Tapi ada sebagian jago pengawal yang biasanya memang benci terhadap sikap sombong Siau
Hong, segera mereka berteriak-teriak, " Yu-kongcu, beri lagi sekali pukulan, hajar adat padanya"
"Huh, pengecut apa? Yang benar Yu-kongcu tidak sudi bertengkar dengan manusia yang tidak
tahu diri"
"Ya, benar, Yu-kongcu memang berbudi luhur, ampuni saja manusia yang tidak tahu tingginya
langit dan tebalnya bumi ini ..."
sindiran itu tentu saja membikin panas telinga Siau Hong, seketika ia berjingkrak. Meski dia
menjabat komandan pasukan pengawal, tapi tidak ada anggota pengawal itu yang condong
padanya.
Namun Yu wi tidak mudah terhasut, ia kuatir bila terjadi bentrokan, yang akan repot adalah
paman Ko sendiri. Maka ia membalik tubuh hendak tinggal pergi. Tak terduga mendadak Siau
Hong membentak "Berhenti"
Dengan sendirinya Yu Wi juga tidak mau dihina, ia berpiling dan menjawab, "Kau mau apa?"
"Orang she Siau ingin berkenalan dengan kepandaianmu, supaya manusia-manusia yang picik
itu tahu siapa yang lebih lihai di antara kita berdua"
"Cayhe mengaku bukan tandinganmu, nah. tentunya Anda tidak perlu marah lagi. bukan?"
jawab Yu Wi dengan rendah hati.
Siau Hong juga menyadari bila bergebrak dengan Yu Wi takkan mendatangkan manfaat,
apalagi dia adalah putera sahabat Ta y- ciangkun. Maka ia lantas mendengus, ia berpaling dan
menyapu pandang para jago pengawal, maksudnya ingin berkata, "Nah kalian sudah dengar
sendiri, dia sudah mengaku bukan tandinganku, tentunya kalian tidak perlu banyak baCot lagi"

Tak diketahui para pengawal itu sangat benci padanya, mereka justeru berharap Yu Wi dapat
menghajar adat terhadap orang sombong ini. segera ada yang menghasut lagi, "Eh, Ting-losam,
menurut pandanganku, jika kalah kuat, paling baik janganlah mencari perkara kepada orang lain-"
"Cari perkara? Dia berani cari perkara? Huh mendingan kalau orang lain tidak cari perkara
padanya." demikian jawab seorang lagi. Dasar jiwa Siau Kong memang sempit, ejekan itu
membuatnyaa tidak tahan, segera ia menghadang lagi di depan Yu Wi, katanya dengan gusar,
"Harus kulayani kau sekarang juga, harus bertempur kita"
"Tidak. aku tidak ingin bertempur denganmu," jawab Yu Wi sambil menggeleng.
Karena ingin melabrak anak muda itu, dengan sombong Siau Hong berteriak, "Akan kuberi
seratus jurus serangan pada mu, jika kau tetap tidak berani, maka kau benar-benar pengecut
besar"
Yu Wi bukan patung, dengan sendirinya ia-pun punya harga diri, lama-lama ia menjadi gusar
juga, serunya, "Baik, justeru akan kulihat cara bagaimana kau beri seratus jurus padaku?"
"Bertanding pukulan atau pedang?" tanya Siau Hong dengan mantap.
"Boleh kau pilih, pukulan atau pedang akan kulayani,"jawab Yu Wi.
Siau-hong tertawa. "Haha, bagus Karena kau anak sahabat Ciangkun- juga sahabat karib sohsim,
supaya tidak menyakiti pihak lain, boleh kita bertanding pukulan saja."
Karena orang menyebut nama agama Ko Bok-ya, cepat Yu Wi tanya, "soh-sim? siapa yang kau
maksudkan sebagai soh-sim?"
"Peduli siapa dia? Pokoknya. mengingat dia takkan kulukai kau" ucap Siau Hong dengan temb
erang.
Yu Wi menjadi gusar karena orang meremehkan dia, tanpa bicara lagi ia lantas menyerang.
Mendadak tangan Siau Hong menangkis dengan gaya memutar, kontan serangan Yu Wi
dipunahkan. Melihat gerak tangan orang sangat aneh, Yu Wi tidak berani ayal, dengan hati-hati ia
memainkan ilmu pukulan ajaran Ji Pek-liong, secara teratur ia melancarkan serangan.
Tapi Siau Hong juga dapat mematahkan setiap sarangannya dengan teratur, setiap pukulan Yu
Wi dipunahkan dengan enteng.
Diam-diam Yu Wi kagum terhadap ilmu pukulaan Siau Hong yang aneh itu. seketika timbul
semangat tempurnya karena dapat berhadapan dengan lawan tangguh yang jarang ditemui. Ia
tidak lagi menyerang dengan teratur melainkan menggunakan ilmu pukulan kombinasi, terkadang
Thian-lo-sam-ciang ciptaan keluarga Kan, lain saat dimainkan ilmu pukulan ajaran Ji Pek-liong, lalu
diselingi pula Hoa-sin-ciang-hoat ajaran si janggut biru.
semula Siau Hong tetap berdiri ditempatnya dan hanya mematahkan serangan lawan dengan
kedua tangannya. sekarang Yu Wi menyerang secara tidak teratur, mau-tak-mau kaki Siau Hong
harus bergeser untuk mengelak.
sekarang tangan dan kaki Siau Hong bergerak semua, ilmu pukulannya semakin hebat. Meski
setiap pukulan Yu wi dilontarkan dengan dahsyat, tapi seluruhnya tidak berhasil, dirasakan ilmu
pukulan Siau Hong mamang lain daripada yang lain, seakan-akan khusus digunakan mematahkan
setiap macam ilmu pukulan, pertahanannya sangat rapat, bahkan lebih hebat dari pada jurus Putboh-
kiam.
Serang menyerang itu terus berlangsung dengan sengit. hanya sekejap saja seratus jurus
sudah selesai.
Melihat Siau Hong benar-benar tahan seratus jurus serangan Yu wi, para jago pengawal sama
terejut, ada yang menyesal kata-kata hasutan tadi, akibatnya Yu Wi mengalami kekalahan dan
tidak bisa menang.
Mereka tidak tahu bahwa meski tenaga dalam Yu Wi sabenarnya jauh di atas Siau Hong, tapi
ilmu pukulannya kalah jauh, mereka mengira Yu Wi pasti dapat mengalahkan Siau Hong, akhirnya
jadi terdesak malah.

Ada beberapa orang yang menguatirkan keadaan Yu Wi dan diam-diam berlari pergi memberi
laporan kepada Ko Siu.
Setelah bertahan seratus jurus, Siau Hong bergelak tertawa dan berkata, "Sayang
kepandaianmu yang kelihatan hebat ini, nyatanya cuma indah dipandang tapi tidak berguna dalam
praktek."
Habis berkata, serentak ia melancarkan serangan balasan- Dan sekali menyerang, yang
dimainkan adalah ilmu pukulan yang paling top, yaitu Sian-thian-ciang. Dengan ilmu pukulan inilah
tadi Thio Giok-tin kena digamparnya belasan kali
Padahal ilmu pukulan Yu Wi masih di bawah Thio Giok-tin, keruan ia juga bukan tandingan Siau
Hong, baru dua-tiga gebrakan sudah disadarinya pasti akan kalah. Waktu Siau Hong menghantam
lagi, mendadak ia berteriak, "Awas pipi kanan"
Watak Yu Wi lunak diluar keras didalam, mana dia rela mukanya digampar orang. Ia tahu Thio
Giok-tin tidak dapat menghindari hinaan tamparan pipi, jelas dirinya juga sukar terhindar.
Tapi lebih dulu ia sudah tahu apa yang akan terjadi, maka sebelumnya ia melindungi muka
sendiri dengan kedua tangan- Ketika mendengar Siau Hong berteriak "pipi kanan," segera ia jaga
mukanya dengan mati-matian supaya tidak tertampar, dan tidak menghiraukan bagian tubuh yang
lain-
Tindakan Yu Wi ini membawa hasil, pukulan Siau Hong yang diarahkan ke pipi itu hanya
mengenai tangan Yu Wi.
Tampaknya Siau Hong rada kecewa karena tamparannya tidak mengenai sasarannya.
Padahal dia sengaja hendak membikin malu Yu Wi di depan orang banyak. segera ia susulkan
lagi tamparan yang lain dan kembali ia berteriak, "Awas pipi kiri"
Biarpun sian-thian-ciang-hoat memang ajaib, tapi Yu Wi sudah nekat, yang dijaga hanya muka
sendiri agar tidak tertampar, maka betapa hebat pukulan Siau Hong itu tetap tidak berhasil.
Sampai tujuh atau delapan kali Siau Hong berteriak "awas pipi", tapi tidak sekalipun berhasil,
semua pukulannya hanya mengenai tangan Yu wi.
Mestinya Siau Hong tidak berani melukai Yu Wi, hanya karena dia memang iri terhadap anak
muda itu, maka dia bermaksud menampar mukanya agar pemuda itu mengalami malu besar.
siapa tahu tanpa menghiraukan jiwa sendiri Yu Wi berjaga rapat mukanya sehingga semua
pukulan Siau Hong gagal total. Tak tersangka oleh Siau Hong akan watak Yu Wi yang keras itu,
lebih baik mati daripada terhina.
Akhirnya Siau Hong menjadi murka, teriaknya. "Jika kau terus bertahan cara begini. terpaksa
aku tidak sungkan lagi"
Yu Wi menahan gusarnya tanpa bicara, sorot matanya menatap Siau Hong dengan tajam, jelas
tekadnya sudah bulat, lebih baik terbunuh daripada muka tertampar.
"Kurang ajar" teriak Siau-hong. "Tampaknya kau memang ingin mampus"
segera ia menggampar muka Yu Wi pula dengan sian-thian-ciang. tapi pukulan tangan lain
justeru mengarah dada Yu Wi dengan dahsyat.
serangan Siau Hong ini sungguh sangat keji, kalau ingin selamat Yu Wi terpaksa harus menjaga
bagian dada, dan ini berarti muka pasti akan tertampar.
Siau Hong bergelak tertawa, ia pikir sekali ini coba saja mukamu akan disembunyikan ke mana?
siapa tahu watak Yu Wi benar-benar kepala batu dan berani mati, ia tetap melindungi mukanya
dengan kedua tangan, lama sekaii ia tidak menghiraukan serangan Siau Hong yang lain, padahal
serangan kehulu hati itu merupakan pukulan maut.
Keruan Siau Hong tambah geram melihat kebandalan Yu Wi, jengeknya, "Hm, bagus, biar kumampuskan
kau"

Tampaknya pukulan Siau Hong itu segera akan membinasakan Yu Wi, syukurlah pada saat itu
juga Ko Bok-cing ikut datang bersama Ko siu. Melihat sang kekasih terancam bahaya, cepat ia
berteriak, "Tahan dulu" Namun Siau Hong sudah kadung gemas, pukulannya sukar lagi ditarik
kembali.
Mendadak Ko Bok-cing bergerak cepat, tahu-tahu ia sudah melayang ketengah-tengah antara
Yu Wi dan Siau Hong.
Terdengar suara "plak", tangan kiri Siau Hong kena gampar tangan Yu Wi pula, tapi pukulan
tangan kanan yang mengarah dada ditahan oleh tubuh Ko Bok-cing.
Yu Wi menyaksikan sendiri Ko Bok-cing mewakilkan dirinya menahan pukulan maut itu, keruan
hatinya sangat berduka, tanpa terasa ia merangkul si nona dan berseru, "o, Cici, ken . . . kenapa
kau? . . ."
Muka Siau Hong juga pucat karena merasa salah pukul, sama sekali tak terpikir olehnya ada
orang rela mewakilkan menerima serangan maut itu, dan orang ini justeru adalah kakak si gadis
yang dikasihinya, yaitu Ko Bok-ya.
Semua orang yang menyaksikan kejadian ini, juga sama melengak, mereka mengira pukulan
Siau Hong itu pasti akan membikin Ko Bok-cing tumpah darah dan binasa.
Akan tetapi apa yang terjadi ternyata sama sekali diluar dugaan, Ko Bok-cing kelihatan masih
berdiri tenang di tempatnya, dengan wajah penuh rasa kuatir ia pandang Yu Wi dan bertanya,
"Apakah kau terluka?"
Pertanyaan ini membikin Yu Wi melenggong, sebab seharusnya dia yang mesti tanya demikian
kepada si nona. siapa tahu nona yang terpukul ini tidak cidera apa pun dan berbalik tanya
keadaannya.
Tiba-tiba Yu Wi menyadari emosi sendiri terlalu menyolok di depan umum, cepat ia melepaskan
rangkulannya pada si nona, dengan kikuk ia menjawab, "o, aku . . . aku . . .. ?"
Dilihatnya Ko Bok-cing tersenyum manis dan menjawab, "Ah. kalau tidak apa-apa, legalah
hatiku,"
Dan seperti tidak pernah mengalami pukulan maut, malahan ia terus berpaling dan menegur
Siau Hong dengan kurang senang, "Mengapa hendak kau- bunuh dia? Tidakkah kau tahu dia
adalah putera sahabat ayahku? Mengapa sembarangan kau bunuh orang yang tidak bersalah."
Teguran ini menimbulkan rasa gusar Siau Hong, dengan ketus ia menjawab. "siocia yang
terhormat, aku bukan pengawal bayaran ayahmu, hendaknya jangan kau bicara sekasar ini
padaku."
Sejak kecil Ko Bok-cing dimanjakan ayah-bunda dan segenap kaum hamba, mana dia pernah
mendapat jawaban orang seketus ini, seketika ia jadi melenggong dan tidak sanggup bicara lagi.
sebaliknya karena macam-macam sebab diam-diam Siau Hong memang benci kepada Yu Wi,
lebih-lebih sikap mesra Ko Bok-cing sekarang kepadanya sama sekali berbeda daripada sikap
kasarnya terhadap dirinya, keruan ia tambah gemas, dengan gregetan ia berkata, "Bocah she Yu,
untunglah ada kaum wanita yang melindungimu sekarang, kapan-kapan bila kepergok sendiri,
bilamana tidak kugambar mukamu seratus kali, selamanya aku tidak mau she Siau"
Mendongkol juga Ko Bok-cing, ia menegur pula dengan kurang senang, "Berdasarkan apa kauberani
menampar mukanya?"
"Kalau Locu (bapak) suka menggamparnya, siapa yang dapat mengurus diriku?" jawab Siau
Hong dengan gusar.
Karena ucapan Siau Hong yang kasar ini, seketika meledak rasa gusar Ko Bok-cing. sebagai
seorang putri panglima besar, damperatnya segera, "Hm, kau ingin menampar muka orang,
biarlah sekarang kau rasakan dulu bagaimana rasanya kalau mukamu ditampar"
Begitu bicara begitu pula bergerak, tidak jelas bagaimana caranya, tahu-tahu ia menubruk
kehadapan Siau Hong dan "plok", kontan muka orang digamparnya satu kali.

Siau Hong ingin menampar Yu Wi dan hendak menghinanya, tapi tindakannya gagal, sekarang
ia sendiri berbalik terhina. maka betapa sedih dan benci perasaannya sukarlah dilukiskan-
Dengan penasaran ia menyurut mundur satu tindak. ucapnya dengan menahan air mata, "Jika
mampu coba kau pukul lagi satu kali"
"Baik," sahut Bok-cing dengan tersenyum "tadi pipi kiri, sekarang kupukul pipi kanan"
Baru lenyap suaranya, secepat terbang ia mendesak maju lagi. orang lain seakan-akan tidak
melihat bagaimana dia bergerak. tapi tahu-tahu ia sudah berada di depan Siau Hong.
Daripada tertampar lagi, Siau Hong menirukan cara Yu Wi tadi, ia melindungi muka sendiri
dengan kedua tangan tanpa menghiraukan bagian tubuh yang lain.
Akan tetapi penjagaan demikian sama sekali tidak efektif di bawah gerak cepat Ko Bok-cing.
tangannya yang putih habis itu tanpa rintangan telah menuju ke pipi kanan Siau Hong.
Pada saat tangan hampir mengenai sasarannya, tiba-tiba Bok-cing melihat genangan air mata
di kelopak mata Siau Hong, hati Bok-cing jadi tidak tega, cepat ia menarik kembali tangannya dan
melompat mundur.
"Jika kau tahu betapa pedihnya muka tertampar, seharusnya kau tahu betapa orang lain akan
merasa sedih oleh tamparanmu," kata si nona.
Waktu ditampar Bok-cing tadi, setelah tangan si nona mengenai mukanya barulah Siau Hong
sempat mengangkat tangannya untuk melindungi mukanya, selisih waktunya cuma beberapa detik
saja, tapi dalam gerakan kedua pihak terasa selisih amat besar. ini berarti kalau Ko Bok-cing ingin
memukulnya adalah tindakan yang sangat mudah, berapa kali si nona ingin menamparnya pasti
akan terjadi sesuai kehendaknya.
Keruan Siau Hong menjadi pucat dan sangat sedih. Teringat olehnya pukulannya yang
mengenai tubuh Ko Bok-cing tadi waktu nona itu membela Yu Wi, tenaga pukulannya serasa
masuk ke laut dan lenyap tanpa bekas, maka sukarlah dibayangkan betapa hebat ilmu sakti Ko
Bok-cing.
Apalagi sekarang terlihat pula betapa tinggi Ginkangnya, Siau Hong yakin ilmu yang diyakinkan
si nona pastilah su-ciau-sin-kang yang merupakan Lwekang tertinggi di dunia persilatan-
Berpikir demikian, Siau Hong benar-benar lemas lunglai, katanya kemudian, "Ko-siocia, aku
menyerah padamu. Hanya saja tidak seharusnya kau bela bocah she Yu itu dan membikin malu
diriku di depan umum."
"Memangnya apa arti ucapanmu ini?" . tanya Bok-cing kurang paham. Siau Hong berpaling
kearah Ko siu dan berseru. "Paman Ko"
Panggilan ini jelas ingin minta Ko siu yang berdiri disamping itu suka tampil kemuka untuk
menjelaskan sesuatu.
Maka berkatalah Ko siu, "Anak Cing, Toako ini adalah sahabat Jimoaymu, secara sukarela dia
datang kemari untuk melindungi ayah, Ya-ji pernah pesan pada ku agar kita melayani dia sebaikbaiknya."
"Melayaninya sebaik-baiknya," tukas Siau Hong dengan tersunyum getir, "untuk ini paman Ko
memang cukup baik padaku, akan tetapi Ko-siocia, hadiah tamparanmu tadi rasanya takkan
kulupakan selamanya."
Keterangan Ko siu itu tidak mengubah pandangaan Bok-cing terhadap perbuatan Siau Hong
yang kejam tadi, sebab disaksikannya ssndiri Siau Hong berniat membunuh calon menantu pilihan
sang ayah, mana dia tahan melihat sang kekasih dicelakai orang, maka ia lantas menjengek. "Hm,
jika kau mampu melindungi ayahku, masa tidak mampu melindungi muka sendiri yang akan ditampar?"
Mendadak Siau Hong mang gampar muka sendiri pula satu kali, lalu tertawa dan berseru, "Ah,
benar, memang orang she Siau yang tidak tahu diri dan mau terima permintaan soh-sim. Paman
Ko, jika engkau mempunyai seorang puteri selihai ini, kan tidak perlu lagi tenaga orang luar yang

cuma mahir gegares saja disini. Biarlah kupulang saja dan akan kukatakan kepeda soh-sim bahwa
urusan di sini tidak membutuhkan tenagaku lagi."
"Nanti dulu," seru Ko siu cepat, "jika kau pergi begini saja, kelak bila ditanya Ya-ji, cara
bagaimana paman harus menjelaskannya?"
Siau Hong tidak benar2 hendak pergi, selagi ia mau mengucapkan beberapa patah kata untuk
menutup rasa malunya tak tersangka Bok-cing sama sekali tidak peduli lagi padanya, katanya,
"Biarkan saja dia pergi, ayah, Jimoay memang suka banyak urusan, untuk apa mengundang dia ke
sini?"
Ucapan ini benar-benar sangat menusuk perasaan Siau Hong, segara ia menoleh dan berkata
dengan penuh rasa dendam, "Selama gunung tetap menghijau, sepanjang air masih mengalir, Kosiocia,
tentang tamparanmu tadi pasti tidak akan kulupakan" Habis berkata ia terus berlari pergi
secepat terbang.
Diam-diam Yu Wi berkuatir bagi Ko Bok-cing, ia anggap nona itu terlalu keras. Tapi apa yang
dapat dikatakannya, betapa pun Bok-cing kan demi membelanya?
Bok-cing tidak paham perkataan Siau Hong sebelum pergi tadi, yaitu kata kiasan yang biasa
diucapkan orang Kangouw bahwa sakit hati pasti akan dibalasnya. Dengan tak acuh ia malah
berkata, "Biarkan saja dia pergi, apa gunanya di antara para penjawal pribadi ayah terdapat
manusia kotor semacam dia ini."
Para jago pengawal biasanya juga benci kepada tingkah- la ku Siau Hong, namun ucapan Bok
cing sekarang mau-tak-mau menimbulkan perasaan, senasib bagi mereka.
Pikir mereka, Jika Siau Hong yang berkepandaian tinggi itu dianggap tidak berguna, lalu
beradanya kami di sini lebih-lebih tidak terpakai lagi."
Begitulah setelah para jago pang awal itu memberi hormat kepada Ko siu, lalu sama
mengundurkan diri dengan lesu,
Setelah menyaksikan betapa tinggi kungfu Ko Bok-cing yang sukar diukur, timbul pikiran para
jaga pengawal untuk mengundurkan diri Maka beberapa hari kemudian, ada sebagian mohon diri
untuk pulang ke kampung halaman atau berkelana pula di dunia Kangouw.
Setelah membereskan jenazah anak buahnya, diam-diam Ko siu merasa menyesal, batapapun
ia merasa sedih melihat para korban itu mati akibat membelanya. Maka ia telah mengomeli Bokcing
karena cara bicaranya telah menyinggung perasaan orang banyak.
Bok-cing tidak pernah berkecimpung di dunia Kangouw, dia tidak banyak tahu seluk beluk
orang hidup, karena omelan sang ayah, dengan mandongkol pulanglah dia ke kamarnya.
Sementara itu fajar sudah hampir menyingsing, Ko siu mengajak Yu Wi kekamarnya untuk
bicara. Menyinggung ilmu sakti Ko Bok-cing, Ko siu menyatakan tidak tahu menahu, baru hari ini
diketahuinya puteri sulungnya yang tidak pernah belajar kepada siapa pun ternyata memiliki
kungfu yang lebih tinggi daripada Bok-ya yang pernah berguru.
Bicara tentaag guru Bok-ya, Yu Wi lantas menceritakan pengalamannya menemukan Giokciang-
siancu terbunuh dan pertemuannya dengan Bok-ya dengan memakai kedok.
"Semua itu tudah kuketahui," kata Ko siu dengan menyesal, "tak tersangka guru Ya-ji tega
membunuh isteriku. Padahal dahulu waktu Thio Giok-tin datang kemari untuk mengambil Ya-ji
sebagai murid dia berdandan sebagai Nikoh, tampaknya sangat prihatin, siapa tahu sesungguhnya
dia seorang iblis yang suka membunuh."
Yu Wi tahu waktu itu Thio Giok-tin terikat oleh sumpah Toa supek sehingga tidak berani
sembarangan berbuat kejahatan. Tapi setelah melanggar janjinya dengan Toa supek, kambuh lagi
jiwa jahatnya hingga jauh lebih kejam daripada dahulu.
Ko siu mencucurkan air mata ketika bicara tentang ibu Ya-ji yang terbunuh itu. jelas kasih
sayangnya kepada Giok-ciang-siancu sangat besar, selama beberapa hari ini Ko siu tenggelam
dalam kedukaan yang tak terkatakanTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
Melihat kesedihan Ko siu, pula melihat pakaiannya yang serba putih, tidak mentereng sebagai
biasanya, Yu Wi tahu sang paman sedang berkabung bagi isteri yang tertimpa malang itu.
Kematian Giok-ciang-siancu secara tidak langsung juga manyangkut diri Yu Wi, mendadak ia
berbangkit dan menyembah kepada Ko siu, katanya, "Meninggalnya bibi adalah kesalahanku."
"Bangun, lekas bangun," seru Ko siu. "Apa salahmu, lekas bangun"
Tapi Yu Wi tetap berlutut dan berkata, "Adik Bok-ya mencuri kitab pusaka Thio Giok-tin bagiku,
laluThio Giok-tin membunuh bibi, meski hal ini disebabkan perbuatan adik Bok-ya, tapi perbuatan
adik Bok-ya adalah karena ingin menyelamatkan diriku.Jadi meninggalnya bibi jelas adalah dosaku,
masa kesalahan orang lain?"
Ko siu mengangkat bangun Yu Wi, ucapnya, "Jangan kau bicara demikian lagi. Kalau diurutkan,
apakah Ya-ji menjadi Nikoh juga akibat dosamu?"
Yu Wi jadi teringat kepada wajah Bok-ya yang kurus pucat itu, hatinya menjadi pedih. ucapnya
dengan mencucurkan air mata, "Bahwa adik Bok-ya sampai putus asa dan meninggalkan dunia
ramai ini, justeru juga akibat kesalahanku yang tidak berbudi."
"Ah, kan lucu. ini salah, itu pun salah, apakah hidup ini hanya kerja salah melulu?" ujar Ko siu
dengan sengaja tertawa. Lalu ia menghela napas dan berkata pula, "Di dunia ini banyak kejadian
yang tak terduga, maka tidak dapat menyalahkan siapa-siapa, semuanya adalah nasib yang sudah
diatur oleh takdir. Kalau ada yang salah, maka takdirlah yang salah, apakah dapat kau salahkan
Thian?"

Pendekar Kembar Bagian II
Karya : Gan KL
Bab 12 : Mengejar Ko-Bok-ya ke Hoa-san
Yu Wi berhenti menangis, katanya, "Apakah paman sudah mendapat kabar tentang adik Bokya?"
"Ah, karena pertanyaanmu, aku jadi teringat pada sesuatu barang yang belum kuserahkan
padamu," seru Ko siu.
"Barang apa? Pemberian siapa?" tanya Yu Wi.
"Tunggu sebentar, akan kuambilkan," kata Ko Siu.
Diam-diam Yu Wi heran siapakah yang hendak memberikan sesuatu padanya?
Tidak lama kemudian Ko Siu keluar lagi dengan membawa sebuah kotak kayu panjang. dan
diserahkan kepada Yu Wi, katanya, "Inilah pemberian Ya-ji"
"Ya-ji?" Yu Wi menegas dengan terkejut. "Di...dimana dia?"
"Aku sendiri tidak tahu." jawab Ko Siu, "Sejak kejadian pembunuhan itu, Ya-ji tidak pernah lagi
menemuiku."
"Lalu dari mana datangnya barang ini?" tanya Yu Wi.
"Entah mengapa Ya-ji tidak mau lagi menamuiku, dia minta badan pemerintah mengantarkan
kotak ini padaku."
Waktu Yu Wi membuka kotak itu, yang menarik perhatiannya seketika adalah seikat rambut
hitam pekat, dibawah rambut tertindih satu jilid kitab kuno yang sudah berwarna kuning,
Yu Wi memang sudah menduga kotak itu tentu berisi Hai-yan-kiam-boh, tapi tak pernah
terbayaag olehnya bahwa di dalam kotak terdapat pula satu ikat rambut Bok-ya yang dipotong
pada waktu digunduli menjadi Nikoh.
Biarpun rambut sudah terpotong, tapi cinta belum lagi putus. Tersimpannya seikat rambut ini
menandakan Ko Bok-ya sampai sekarang masih belum melupakan dia.
Hati Yu Wi yang sudah kering itu seketika terbakar lagi oleh hadiah tinggalan Bok-ya rambut
panjang itu. Percintaan yang sudah lalu itu mestinya tidak mau dipikirkannya lagi.
Ia pikir Ya-ji sudah rela menyerahkan jiwa raganya kepada sang Buddha, untuk apa dirinya
meski menyeretnya kembali ke dunia ramai?
Tapi sekarang demi melihat ikat rambut ini. dalam hati timbul pendapat yang lain, ia pikir Ya-ji
menjadi Nikoh hanya karena mengira dirinya sudah meninggal, tapi cintanya masih belum pernah
dingin dan majih berharap dirinya tetap hidup didunia ini dan bila melihat ikat rambut ini supaya
teringat kepada kekasih yang masih menunggunya.
Yu Wi jadi menyesal tidak menemui si nona dengan wajah aslinya dan memberitahukan
padanya bahwa dirinya masih hidup. Ia jadi benci pada dirinya sendiri yang bodoh, sudah
berhadapan dengan Ya-ji tapi menemuinya dengan berkedok.
Melihat anak muda itu hanya termangu- mangu dami melihat seikat rambut dalam kotak, Kosiu
lantas bertanya, "Apa yang kaupikirkan?"
"Kupikir agaknya Ya-ji juga telah mengenali diriku," jawab Yu Wi.

Jawaban ini tidak keruan juntrungannya, Ko siu jadi heran, tanyanya pula, "Apa katamu?"
Yu Wi seperti bergumam sendiri. "Dia tentu menyesali diriku ketika bertemu mengapa tidak kukatakan
padanya bahwa aku masih hidup. Masa aku sengaja membikin dia menderita sendiri
karena menganggap kekasih sudah meninggal. Ah, aku memang pantas mampus, harus
kukatakan padanya bahwa aku masih hidup... Ya, waktu ku-temui dia drngan berkedok, tentu dia
dapat mengenali diriku, tapi sengaja pura-pura tidak tahu, dia menyangka hatiku sudah berubah,
bila bertemu kembali hanya akan menambah siksa batinnya saja, maka ... maka ...."
Mendadak Yu Wi mengetuk kepala sendiri dan meratap kepada Ko siu dengan menangis, " o,
paman, aku pantas mati. aku pantas mati, aku .... aku terlalu kejam...."
Ko siu dapat meraba arti ucapan Yu Wi itu, ucapnya dengan gegetun, "Bukan salahmu kau
temui Ya-ji dengan berkedok, sebab Ya-ji sudah menyerahkan diri ke dalam agama, sudah
meninggalkan dunia ramai, kalau bertemu kembali hanya akan menambah penderitaanya. Maka
menurut pendapatku, anak Wi, janganlah kau berduka, kutahu cintamu pada Ya-ji sangat
mendalam, sekarang kalian berdua tidak dapat berkumpul lagi seperti biasa, maka lebih baik kau
lupakan dia saja, Ya-ji juga tidak menghendaki kau senantiasa teringat padanya. Tahukah bahwa
anak Cing sangat suka padamu, persahabatanku dengan. ayahmu laksana saudara sekandung
sendiri, kupandang dirimu seperti anakku, kuharap dapat kau nikah dengan anak Cing, jangan lagi
berkecimpung di dunia Kangouw, tinggal saja disini, dengan demikian tidaklah sia-sia
persaudaraanku dengan mendiang ayahmu. Anak Wi, bagaimana dengan pendapatmu akan
maksudku ini?"
Yu Wi seperti tidak mendengar ucapan Ko siu, mendadak ia menepuk paha sendiri dan berseru,
"Ah a, betul Eh, paman, dahulu dimana kau temukan adik Bok-ya?"
"Waktu itu aku telah memerintahkan segenap bawahanku ikut menyelidiki jejakmu dan anak
Bok-ya, tapi yang kuketahui hanya berita mengenai dirimu dan jejak Ya-ji tidak diketahui kemana
perginya. Mendingan Ya-ji sendiri lantas mengirim berita dari Hoa-san ketika mendengar kami
sedang mencarinya, dia memberi kabar bahwa dia sudah menjadi Nikoh di Hoa-san- ..."
Mendengar tempat Bok-ya menjadi Nikoh itu, Yu Wi tidak mendengarkan lebih lanjut penuturan
Ko siu. cepat ia memotong "Jadi dia berdiam di Hoa-san? Baik, sekarang juga kuberangkat ke sana
"
"Ha, untuk apa kau pergi ke Hoa-san?" seru Ko siu terkejut.
Yu Wi tidak bicara lagi, ia ambil ikat rambut itu dan disimpan di dalam baju, lalu melangkah
pergi. setiba di ambang pintu, ia menoleh dan berkata, "Kupergi ke Hoa-san untuk membawa
pulang Ya-ji .... "
Belum lanjut ucapannya dia terus berlari pergi secepat terbang.
"He, jangan pergi" teriak Ko siu. "jangan, jangan pergi ke Hoa-san ...."
Sebab apa tidak boleh pergi ke Hoa-san, karena lari Yu Wi terlalu cepat, ucapan Ko siu itu tidak
sempat didengarnya.
Keruan Ko siu jadi kelabakan sendiri, sungguh tak terpikir olehnya lantaran rambut tinggalan
Bok-ya itu telah mendorong emosi Yu Wi untuk bertindak demikian. Tahu begitu, tentu dia takkan
menyerahkan kotak kayu itu kepada Yu Wi.
Perubahan ini pun tidak pernah terpikir oleh Ke Bok-ya. Kotak kayu itu sudah ditutupnya rapatrapat
sejak ia memotong rambut dan menjadi Nikoh. maksudnya semula bila dapat menemukan
kuburan Yu Wi kotak itu akan dibakarnya di depan makam sang kekasih.
Menurut jalan pikiran Bok-ya. setelah dirinya menjadi Nikoh, artinya sama dengan mati.Jika
rambut dan kitab pusaka tidak dapat diserahkan kepada Yu Wi yang disangkanya sudah mati,
maka benda itu akan dibakarnya di depan kuburannya sekedar pernyataannya bahwa cintanya
yang mendalam itu sudah putus sampai disitu, sisa hidupnya akan dihabiskan dengan membaca
kitab dan bersujud kepada sang Budha ...

Siapa tahu berita kematian Yu Wi tidak pernah diperolehnya, malahan anak muda itu masih
hidup segar bugar, maka kotak kayu cendana itu dikirimm kepadanya, maksudnya supaya Yu Wi
dapat menjadi jago pedang nomor satu, tapi dia lupa bahwa rambutnya juga berada di dalam
kotak sehingga menimbulkan salah paham Yu Wi. Padahal tekad Bok-ya sudah bulat unttuk
bersujud kepada agamanya dan tidak mau memikirkan lagi cinta pada masa lampau.
Begitulah selagi Ko siu berkeluh kesah sendiri. dilihatnya Ke Bok-cing masuk ke kamarnya dan
bertanya dengan suara rada gemetar, "Ayah, kau biarkan dia pergi mencari Jimoay?...."
Ko siu menengadah dan menjawab dengan menggeleng, "Ya, tidak, tidak boleh, dia tidak boleh
pergi ke Hoa-san."
Tiba-tiba dilihatnya muka Bok-cing yang pucat itu dengan air mata bercucuran, jelas karena
mengalami rangsangan perasaan yang hebat, dengan kasih sayang ia bertanya, "Apa yang kau
tangisi, anak Cing?"
Bok-cing mengusap air matanya dan menjawab dengan senyuman yang dibuat2, "Ooo, aku
tidak menangis"
"Sudah ... sudah kau dengar semua?" tanya pula Ko siu dengan menyesal.
Bok-cing mengangguk. " Cintanya sangat mendalam terhadap Jimoay dan tidak mungkin
dicegah maka biarkan saja dia bertemu langsung dengan Jimoay, jika sudah diketahui tekad
Jimoay yang ingin mengabdi pada agamanya, kukira pikirannya akan menjadi baikan."
"Akan tetapi tempat tirakat adikmu itu tidak boleh sembarangan didatangi," kata Ko siu.
"Biarpun tempat suci yang tidak boleh dikunjungi, kukira ayah tidak perlu kuatir," kata Bok-cing,
" Kungfunya tidak lemah, pasti takkan terjadi apa-apa atas dirinya ...."
Tiba-tiba ia melihat kotak kayu itu, "He, barang apakah ini?"
Ia ambil kitab yang sudah lusuh dan berwarna kuning itu dan membalik-balik halaman,
dilihatnya kitab itu mencatat semacam ilmu pedang yang hebat, meski dia tidak belajar ilmu
pedang, tapi dia dapat menilai kehebatan ilmu pedang itu. "He, kenapa kitab ini tidak dibawanya
pergi?" tanyanya.
"Yang diambil hanya rambut adikmu, sama sekali dia tidak membaca kitab ini," tutur Ko siu.
Bok-cing berpikir sejenak. katanya kemudian, "Ayah, biarlah sementara kusimpan kitab ini."
Ko siu tak acuh dan mengiakan-
Yu Wi tidak tahu kitab itu adalah pelajaran ilmu pedang yang digubah Thio Giok-tin dari Hai
Yan-to-boh, yaitu kitab pelajaran ilmu golok maha sakti oh It-to, padahal bila dia berhasil
meyakinkan isi kitab ini, seketika kungfunya akan bertambah maha lihai. Tapi yang dipikirnya
melulu ingin bertemu dengan Bok-ya sehingga lupa membawa serta kitab pusaka yang sangat
berpengaruh terhadap hidupnya di kemudian hari.
Begitulah Yu Wi terus meninggalkan kota raja, ia menyewa sebuah kereta dan langsung
menuju ke siamsay di mana terletak Hoa-san atau pegunungan Hoa.
Hoa-san menjulang tinggi di wilayah kabupaten Hoa-im-koan, terkenal juga dengan gunung
Thay-hoa.
Waktu itu sudah musim dingin, salju turun bertebaran bagaikan kapas.
Hoa-san adalah gunung suci terkenal dijaman dahulu, banyak sekali biara Nikoh, sedikitnya ada
belasan tempat.
Angin pegunungan pada musim dingin sangat dingin, jarang ada peziarah yang mau
bersembahyang ke tempat yang dingin merasuk tulang ini.
Tapi setiba di sini, tanpa berhenti Yu Wi terus naik ke atas gunung. Dengan semangat
bergelora ingin mencari Ke Bok-ya, urusan dingin sama sekali tidak diacuhkannya.

Dia tidak tanya jelas di biara mana Bok-ya bertirakat, maka setiap kali melihat biara ia lantas
mencari keterangan, ia tanya adakah di situ seorang Nikoh bergelar soh-sim?
Hampir seluruh gunung sudah rata dijelajahinya, setiap Nikoh yang membukakan pintu sama
menjawab dengan menggeleng kepala dan menyatakan tidak ada orang bergelar soh-sim
Bunga salju masih berhamburan, makin dingin juga semangatnya untuk menemukan Bok-ya.
sampai akhirnya, biara terakhir yang terdapat di Hoa-san juga telah didatanginya.
Biara ini sangat kecil, letaknya juga sangat terpencil, boleh juga caranya mencari, kalau orang
biasa pasti sangat sulit menemukan biara ini.
Dengan setitik harapan terakhir Yu Wi mengetuk pintu biara, sampai lama barulah pintu
terbuka dan menongol keluar seraut wajah yang tua lagi jelek.
Yu Wi lantas memberi hormat dan bertanya dengan penuh harapan, "numpang tanya, Lo suh
adakah di sini seorang sukoh bergelar soh-sim?"
Biksuni tua itu tampak takut dingin- dengan rada2 menggigil ia mengkeret kedalam, lalu
menjawab dari balik pintu, "soh-sim? Aku sendiri soh-sim."
Mendengar jawaban pertama itu, Yu wi mengira orang tahu di mana beradanya Bok-ya, siapa
tahu yang dimaksudkan soh-sim ialah biksuni tua itu sendiri, keruan Yu wi sangat kecewa.
"Ada urusan apa sicu mencari diriku?" tanya biksuni tua itu.
"Oo. Tidak, bukan engkau yang kucari," jawab Yu Wi dengan gugup,
Watak biksuni tua itu agak kasar, sebera ia mengomel, "Hawa sedingin ini, sembarangan
mengetuk pintu, bikin susah orang saja. Persetan-"Blang", pintu digabrukan-
Yu Wi tidak putus asa, ia tanya pula dengan suara keras, "Losuhu, adakah di biara ini orang lain
yang bergelar soh-sim?^
Tambah marah biksuni tua itu, damperatnya. "Ada setan Kalau ada orang lain lagi di biara ini
maka pastilah ada setan"
Kiranya di seluruh biara kecil ini hanya tinggal biksuni tua ini sendiri, pantas dia marah-marah.
Rupanya wataknya jadi nyentrik karena hidup menderita sendirian di sini, apalagi diganggu oleh
Yu Wi dalam cuaca sedingin ini, tentu saja dia marah. Kalau bukan Nikoh, mungkin sudah
berkelahi.
Ketanggor biksuni tua yang kasar itu, Yu Wi menjadi kesal dan meninggalkan biara kecil itu. Ia
pikir Ya-ji tidak berada di Hoa-san sini, mungkin paman Ke salah alamat.
Dengan lesu ia terus berjalan tanpa arah tujuan- sampai sekian lamanya, tiba-tiba didengarnya
ada orang berdehem pelahan di belakang. Keruan ia kaget dan cepat berpaling, dilihatnya entah
sejak kapan di belakangnya sudah berdiri satu orang.
Badan orang ini sangat gemuk. mukanya kurus bersih dan sudah tua, gemuknya itu bukan
karena banyak makan melainkan karena badan terbungkus baju berlapis kapas dan baju kulit yang
sangat besar dan tebal.-
Yu Wi tidak berani meremehkan orang tua ini, ia pikir orang memakai baju tebal dan berat, tapi
berada dibelakangnya tanpa, diketahuinya, malah tidak diketahui entah sudah berapa lama orang
menguntit di belakangnya. Apabila orang tidak berdehem. mungkin menguntit lebih lama lagi juga
takkan diketahuinya,
Ia coba memandang kearah datangnya tadi, dilihatnya tanah bersalju itu hanya terdapat bekas
tapak kakinya sendiri dan tidak kelihatan tapak kaki si kakek. Karuan ia tambah terkejut, ia pikir
apakah orang ini adalah sedang tanya siluman atau hantu?
Kakek itu mengamat-amati Yu Wi tanpa bersuara, ketika Yu Wi memandangnya dengan sorot
mata penuh tanda tanya barulah ia tersenyum.

Yu Wi juga tersenyum, tapi lantaran dia ada urusan, setelah tersenyum dan si kakek tetap diam
saja, ia kira orang kebetulan lalu di sini, maka ia tidak menghiraukannya dan melanjutkan
perjalanan,
Sembari berjalan Yu Wi terus berkeluh-kesah tiada hentinya, sama sekali lupa kepada kakek
aneh yang dilihatnya barusan. Hatinya benar-benar sangat masgul. yang terus berkecamuk dalam
benaknya hanya bayangan Ko Bok-ya belaka. Terbayang olehnya wajah Bok-ya yang tersenyum
manis dengan dandanan anak gadis yang mengiurkan itu, lain saat terbayang pula sikapnya yang
khidmat dengan baju pertapaannya.
Tidak lama kemudian, tiba-tiba didengarnya pula suara orang berdehem pelahan-sekarang Yu
Wi tidak terkejut lagi, ia tahu Ginkang si kakek sangat hebat, entah ada urusan apa orang tua itu
terus mengintil di belakangnya.
Ia tidak takut si kakek akan berbuat sesuatu padanya, sebab kalau orang mau menyergapnya,
sejak pertama kali orang mengintil di belakangnya dirinya pasti sudah celaka.
Watak Yu Wi memang kepala batu juga, si kakek tidak menegurnya, iapun tidak menyapa.
Maka hanya sebentar si kakek dilupakannya lagi, bayangan Bok-ya kembali terbayang-bayang.
Waktu si kakek berdehem lagi untuk ketiga kalinya, saat itu Yu Wi sedang terkenang kepada
detik yang paling sukar dilupakan ketika berada bersama Bok-ya, yaitu waktu keduanya
berdekapan di tepi danau dan Bok-ya meraup air baginya. Kenangan manis itu terputus oleh
gangguan si kakek- diam-diam Yu Wi jadi mendongkol.
Ia tidak mengerti untuk apakah orang terus menguntit dibelakangnya? Mendadak ia berlari
secepat terbang, hendak melepaskan diri dari penguntitan si kakek.
Benar-senar secepat terbang lari Yu Wi, angin mendesir ditepi telinga, kulit muka pun terasa
pedas.
Setelah berlari sekian lama, ia berhenti dan coba menoleh. Hah, si kakek masih juga berada di
belakangnya dengan tersenyum.
sungguh kaget dan kagum juga Yu Wi, pada waktu berlari tadi tidak dirasakan ada orang
mengikuti di belakang, siapa tahu si kakek tetap membayanginya serupa hantu saja.
Yu Wi tidak percaya si kakek akan mampu Menguntit terus menerus, tiba-tiba timbul rasa ingin
unggulnya, segera ia berlari pula lebih cepat. Akan tetapi si kakek masih juga menyusulnya
dengan sama cepatnya.
Maka tahulah Yu Wi ginkang sendiri tidak dapat menandingi orang, untuk menyusulnya adalah
urusan teramat mudah bagi si kakek. Tiba-tiba timbul pikirannya. untuk berlomba tahan lama,
hendak dikurasnya tenaga si kakek, ia pikir usia orang sudah lanjut. memangnya tahan lari berapa
lama?
Yu Wi yakin lwekang sendiri tidak dibawah si kakek, bila lari jangka panjang lama dengan
mengadu tenaga dalam.
Benar juga, setelah berlari lebih dua jam, Yu Wi merasakan lwekang sendiri memang lebih
unggul setingkat.
Mendadak Yu Wi berhenti, muka tidak merah. napas tidak terengah.
Meski si kakek masih juga mengintil di belakangnya seperti tadi, ginkangnya jelas tidak kalah,
namun napasnya terdengar agak tersenggal, suara napas ini dapat didengar Yu Wi bila
dibelakangnya ada orang mengintil.
Setelah mengaso sejenak. si kakek berkata dengan tertawa, "Dalam hal lwekang, aku
menyerah padamu."
Bahwa orang telah mengaku terus terang, rasa ingin menang Yu Wi lantas lenyap seketika.
cepat ia memberi hormat dan menyapa. " Entah ada keperluan apa Lotiang (bapak) selalu
menguntit di belakangku?"

"Maaf jika adik cilik meragukan perbuatanku." ujar si kakek sambil membalas hormat.
"Maksudku hanya ingin menguji kepandaianmu setelah dicoba, ternyata besar gunanya." Yu Wi
merasa bingung, tanyanya dengan tertawa,
"Besar gunanya bagaimana?"
"Bukankah kau hendak mencari orang?" tanya si kakek.
"Dari mana Lotiang tahu?" Yu Wi heran-
"Di Hoa-san sini seluruhnya ada 17 biara, sejak biara pertama kau datangi sudah kubuntuti
dirimu," tutur si kakek dengan tertawa.
Tanpa menunggu pertanyaan Yu Wi ia lantas menyambung pula, "Hawa sedingin ini, tapi kau
sibuk mencari orang, yang kau cari adalah seorang Nikoh, tentunya Nikoh ini sangat penting
bagimu. Karena heran, aku jadi ingin tahu siapkah Nikoh yang hendak kau cari itu. Ketika biara
terakhir kau datangi, biksuni tua itu marah-marah, kau kecewa, akupun kecewa. Aku sangat
terharu melihat rasa kecewamu, mestinya kecewaku tidak berarti, hanya semacam kecewa karena
rasa ingin tahu hasilnya tidak terkabul, sebaliknya aku ikut penasaran melihat kesusahanmu
setelah gagal menemukan nikoh yang hendak kau cari dengan susah payah itu. Aku menjadi
tambah ingin tahu siapakah Nikoh yang telah membikin merana dirimu itu, demi memenuhi dan
memuaskan rasa ingin tahuku, maka hendak kuberi petunjuk suatu jalan bagimu .... "
Yu Wi sangat girang, cepat ia tanya, "Apakah Lotiang tahu di Hoa-san sini masih ada biara lain
yang sukar ditemukan orang luar?"
si kakek menggeleng, katanya dengan tertawa, "Di seluruh Hoa-san sini hanya ada 17 biara,
biara terkecil dan terakhir saja sudah kau datangi sehingga tidak ada biara lain lagi."
Yu Wi menjadi kecewa, kalau tidak ada biara lain lagi, kemana pula akan mencari Ke Bok-ya.
Agaknya petunjuk yang hendak diberikan si kakek juga belum tentu dapat dipercaya.
Melihat keraguan anak muda itu, si kakek berkata pula dengan tertawa, "jangan kau putus asa,
sebab Hoa-san ada dua...."
"Apa? Masakah masih ada Hoa-san lain?" seru Yu Wi dengan terkejut.
"Apakah kau tahu Thay-hoa adalah nama lain daripada Hoa-san ini?" tutur si kakek dengan
pelahan. Yu Wi mengangguk.
Maka si kakek melanjutkan lagi, "Jika begitu seharusnya kau tahu sebab apa Hoa-san juga
bernama Thay-hoa, sebab di barat Hoa-san ini masih ada lagi gunung...."
"Ah, benar, siau- hoa-san" tukas Tu Wi dengan girang.
"Ya, untuk membedakannya, maka kedua gunung ini diberi nama Thay-hoa dan siau-hoa, jika
cuma menyebutnya Hoa-san saja dapat meliputi kedua gunung ini seluruhnya,"
Saking girangnya Yu Wi garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal, serunya, "Jika demikian,
rupanya aku salah cari. Yang dimaksudkan paman adalah siau-hoa-san ah, Lotiang, tolong tanya.
adakah biara di siau-hoa-san sana?"
Si kakek mengangguk dengan tertawa, "Ada. malahan bila kau cari kesana, tidak perlu kau cari
biara yang laini"
"oo, apakah disana hanya ada sebuah biara?"
"Betul, hanya satu, tapi melulu satu saja cukup merepotkan kau."
"Apakah letak biara itu sukar dicari, mungkin terletak dibagian gunung yang terakhir?" tanya Yu
Wi.
Sekarang ia tidak gelisah lagi, maka ia ingin tanya sejelas-jelasnya agar tidak mencari secara
sia-sia. Coba kalau tempo hari dia tanya dulu kepada sang paman, tentu dia tidak perlu
gentayangan di Thay-hoa-san sini.
Di luar dugaan, si kakek lantas bertutur, "Biara itu tidak sulit dicari, begitu kau naik ke atas
gunung- segera akan kau lihat. sulitnya, bukan soal mencarinya, tapi soal dapatkah kau masuk ke
biara itu untuk bertanya, Numpang tanya adalah disini seorang sukoh bergelar soh-sim? dan
sebagainya."

Muka Yu Wi menjadi merah kalimat pertanyaannya itu boleh dikatakan telah rata diajukan
kepada setiap biara di Thay-hoa-san ini, cara si kakek menirukan suara pertanyaannya itu sangat
persis dan Jenaka. Mungkin dia terus menguntit sehingga suaranya telah apal baginya. Tapi
dirinya ternyata tidak tahu di belakang ada orang menguntit, sungguh memalukan.
"Apakah biara itu tidak menerima peziarah?" tanya Yu Wi kemudian.
"Tidaklah mudah untuk berziarah kesana, sebab mereka tidak menerima tumpangan orang
luar," tutur si kakek dengan tertawa. "Bila kedatanganmu kesana kau katakan hendak mencari
seorang Nikoh, lebih-lebih yang mencari anak muda semacam dirimu, mungkin selama hidup
jangan kau harap dapat masuk ke sana."
Yu Wi menjadi cemas, "seb ...sebab apakah?"
"sebabnya sangat sederhana," tutur si kakek. "Cu-pi-am (biara welas-asih) itu terkenal dengan
peraturannya yang ketat, Nikoh yang tinggal di sana tidak boleh bertemu dengan siapa pun,
terutama kaum lelaki, kecuali ibu kandung sendiri, bahkan ayah sendiri pun dilarang bertemu."
"Wah, lantas.... lantas bagaimana baiknya?" seru Yu Wi gelisah.
"Makanya perlu kucoba dirimu, besar gunanya yang pernah kukatakan adalah karena kulihat
lwekang mu sangat tinggi, tentu- juga kungfumu tidak rendah, bilamana kungfu tidak rendah,
maka urusannya menjadi sederhana ...."
Yu Wi merasa bingung, tanyanya, "Memangnya apa sangkut-pautnya Cu-pi-am itu dengan
kungfuku?"
"Soalnya Cu-pi-am telah menetapkan peraturan yang sangat keras untuk melarang kunjungan
tetamu," tutur si kakek. "Akan tetapi tentu- juga tidak dapat melarang tetamu yang menerobos
masuk dengan paksa. Untuk ini merekapun tidak takut, mereka menetapkan satu peraturan,
asalkan dapat menerobos tiga. rintangan cu-pi-am, boleh kau masuk keluar sesukamu. Namun bila
kau bilang hendak mencari Nikoh muda penghuni biara, biarpun tiga rintangan dapat kau terobos
juga tetap tidak diperbolehkan kau temui Nikoh yang bersangkutan, kecuali seluruh Nikoh
penghuni biara kau bunuh habis, setelah tidak ada yang menghalangi dirimu barulah kalian dapat
bertemu sepuasnya."
Keterangan ini membuat Yu Wi merasa serba susah, ia memberi hormat dan berkata, "Terima
kasih atas petunjuk Lotiang, apabila tidak ada keteranganmu, mungkin cayhe akan main serunduk
dan selama hidup inipun tidak dapat lagi bertemu dengan Ya-ji."
"O, kekasihmu itu bernama Ya-ji?" si kakek tertawa.
Muka Yu Wi menjadi merah pula, ia pikir orang tua ini ternyata dapat meraba isi hatinya dan
mengetahui dirinya hendak mencari kekasih.
Padahal ini tidak sulit untuk diketahui, kalau bukan mencari kekasih, untuk apa anak muda
seperti dia sedemikian cemasnya?
Maka si kakek memberi pesan pula, "Nah, maka hendaknya harus hati-hati, setiba di Cu-pi-am
dan dilarang masuk, boleh kau bilang mau membobol rintangan. Bila rintangan sudah bobol,
bertindaklah menurut keadaan. Ingat baik-baik pesanku ini." Kembali Yu Wi memberi hormat dan
mengucapkan terima kasih.
"Nah, lekas kau berangkat," kata si kakek pula, "semoga usahamu berjalan lancar, berhasil atau
tidak juga tidak perlu patah semanget. Asalkan punya tekad yang bulat, cita-cita apapun pasti
akan terkabul."
Tidak kepalang terima kasih Yu Wi, ia tanya, "bolehkah memberi tahu nama dan she Lotiang
yang mulia?"
"Kubantu dirimu hanya karena rasa ingin tahuku dan tidak mengharapkan balas jasamu, untuk
kau ingat-ingat namaku, lagi pula namaku sudah lama tidak kugunakan, sudah lama terlupa."

Yu Wi tahu banyak orang kosen yang berwatak aneh, maka ia hanya tersenyum dan tidak
tanya lebih lanjut. Ia tidak tahu apakah usahanya berhasil atau tidak. Kalau melihat gelagatnya
sekarang, perkembangan selanjutnya terasa akan lancar.
ooo ooo ooo 000
Siau-hoa-san terletak disebelah barat Thay- hoa-san-
Dimana-mana terdapat tebing terjal dengan batu karang yang tajam, inilah ciri khas siau-hoasansetiba
di atas gunung. hanya sebentar saja sudah dilihatnya tulisan "Cu-pi-am".
Ketiga huruf itu diukir pada dinding tebing, setiap huruf besarnya setinggi manusia, pada
lekukan huruf itu diberi cat emas sehingga kelihatan sangat menyolok.
Yu Wi terkesima memandangi nama biara itu, dilihatnya dinding tebing ini sangat tinggi, tidak
kelihatan apa diatas ada biara atau tidak. Tapi ia yakin Cu-pi-am pasti berada di atas, ia pikir
mungkin untuk naik ke atas sana termasuk juga salah satu ujian bagi si pengunjung.
Yu Wi mendekati dinding tebing itu, dilihatnya dipojok sana ada sebuah barak tempat minum.
setelah berpikir, Yu Wi lantas mendekati barak itu.
Di dalam barak ada sebuah gentong teh dengan tiga mangkuk besar, samuanya tertaruh di atas
meja hitam. Di samping meja kelihatan berduduk seorang nenek yang sudah sangat tua, kulit
mukanya berkeriput, rambutnya putih.
Melihat kedatangan Yu Wi, nenek itu tidak mengacuhkan, seperti tidak tahu menahu.
Yu Wi mendekatinya dan memberi hormat, lalu bertanya, "Numpang tanya, Lopopo (nenek),
apakah Cu-pi-am terletak diatas sana?"
si nenek hanya mendengus saja tanpa menjawab.
Dengan tersenyum Yu Wi berkata pula, "Wanpwe ingin berkunjung ke Cu-pi-am, dapatkah
nenek memberi patunjuk cara bagaimana untuk naik ke atas gunung?"
"Untuk apa kau datangi Cu-pi-am?" tanya si nenek dengan dingin.
Hampir saja Yu Wi menjawab "mau cari orang", untung keburu ditelan kembali, diam-diam ia
bersyukur belum telanjur omong, maka dengan tertawa ia menjawab, "Terjang rintangan"
si nenek menjadi rada bingung, anak muda ini mengucapkan "terjang rintangan" dengan
tersenyum, padahal terjang atau bobol rintangan berarti berkelahi, untuk ini biasanya orang akan
bicara dengan garang, jadi tidak cocok dongan sikap ramah Yu Wi sekarang.
Tentu saja dia tidak tahu maksud tujuan Yu Wi hendak mencari Bok-ya, menerobos rintangan
adalah tindakan yang terpaksa, maka cara bicaranya juga tersenyum simpul, tidak mirip orang
yang datang untuk mencari perkara dan tentu saja bicara dengan kasar,
Sebaliknya si nenek mengira anak muda itu menyepelekan soal menerjang rintangan, makanya
bicara sambil tersenyum. Diam-diam ia mendongkol, segera ia Berkata, "Minum teh"
Dengan rendah hati Yu Wi menjawab, "Terima kasih, Wanpwe tidak haus"
si nenek menjadi gusar, bentaknya, "Kalau datang untuk menerobos rintangan, masa tidak
tahu. minum teh adalah rintangan pertama?"
"Oo?" Yu Wi bersuara heran dan ragu. Ia pandang tebing yang menegak curam itu. Timbul rasa
sedihnya entah cara bagaimana harus mendaki ke atas nanti, jangan- jangan baru rintangan
pertama sudah tidak dapat tembus, kan terlalu bebal.
Karena itu ia tidak menghiraukan urusan minum teh, ia pikir apa halangannya minum teh,
masakah di dalam teh ada racunnya?
Betapapun soal ini tidak merisaukannya, ia yakin tidak nanti di tempat Cu-pi-am yang terkenal
ini ada orang diracunsegera
ia mendekati meja, dilihatnya di atas gentong ada satu lubang, mungkin dari situlah air
teh tertuang keluar. Untuk menuang teh harus mengangkat gentong itu.

Ia kuatir pada gentong itulah terletak hal-hal yang aneh, maka dengan prihatin ia rangkul
gentong itu, benar juga, gentong itu sangat berat, gentong besar saja tidak seberat itu.
Yu Wi dapat menilai keadaan, ia tahu gentong saberat ini pasti terbuat dari kayu besi,
bukankah dua batang pedang kayu besi pemberian Ji Pek-liong dahulu juga luar biasanya
beratnya?
Gentong itu ada satu meter tingginya, penuh terisi air teh pula, hal ini tidak dapat mempersulit
Yu Wi, pelahan ia angkat gentong teh itu dan menuang teh pada mangkuk pertama.
Tiba-tiba si nenek berkata, "Tuang penuh ketiga mangkuk itu, tidak boleh tercecer"
Tanpa disuruh lagi Yu Wi lantas menuangi ketiga mangkuk itu, hanya sekejap saja ketiga
mangkuk sudah terisi penuh air teh tanpa tercecer setetes pun.
Meski cara menuang teh dengan gentong seberat itu memerlukan tenaga dalam yang kuat,
namun Yu wi tidak kelihatan sulit, hal ini disebabkan lwekangnya memang sangat tinggi. Ia tidak
tahu bahwa sudah banyak sekali orang yang jatuh pada rintangan atau ujian pertama ini.
setelah menaruh kembali gentong itu, lalu Yu Wi bertanya, "Bagaimana, lulus?"
Melihat betapa ringan cara Yu Wi menuang teh dengan mengangkat gentong seberat itu, mautak
mau si nenek merasa kagum, tapi segera ia berseru pula, "sekarang minumlah teh itu"
Yu Wi tidak menyangka teh itu benar-benar harus diminumnya, semula disangka ya asalkan
selesai menuang teh, maka sudah lulus ujian, siapa tahu minum teh terlebih sulit daripada
menuang teh, baru saja ia pegang mangkuk pertama, seketika air mukanya berubah kaget.
Kiranya mangkuk itu terbuat dari baja yang melengket dengan meja sehingga sekali pegang
tidak dapat diangkatnya
Tiba-tiba si nenek mendengus, "Tiga mangkuk teh harus diminum dengan tiga cara yang
berlainan, habis minum baru lulus. Tapi ingat, satu tetes saja tidak boleh tercecer, tercecer satu
tetes berarti gagal seluruhnya dan terpaksa kau harus kembali."
Yu Wi dapat meraba mangkuk itu terbuat dari besi, hanya bagian luar dicat sehingga tidak
kelihatan- Padahal ketiga mangkuk itu seluruhnya dicetak bergandengan dengan mejanya.
Yu Wi berpikir sejenak. ia himpun tenaga pada lengan kanan, dengan tenang diam-diam ia
mengerahkan tenaga terus membetot. "Plok", tahu tahu mangkuk pertama sudah berpisah dengan
meja.
Tertampak bagian yang tanggal itu halus rata seperti dipotong dengan pisau, di atas meja
tertinggal bekas lingkaran dan tidak ada tanda-tanda besi patah. Melihat itu, tanpa terasa si nenek
berseru memuji, " Kungfu hebat"
Yu Wi tertawa, ia angkat mangkuk besi itu dan menenggak habis araknya, satu tetes saja tidak
tercecer.
Waktu minum arak mangkuk kedua, Yu Wi tidak menggunakan tenaga apa pun, ia menunduk
dan arak diisapnya hingga habis.
Mangkuk itu sangat besar, isinya ada satu liter, Yu Wi mengisap araknya dengan tenaga dalam
sehingga kepandaian ini tidak lebih jelek daripada cara pertama tadi. si nenek tertawa dingin
berkata, "Bagus, silakan minum mangkuk terakhir"
Yu Wi menurunkan gentong kelantai, lalu berkata dengan tersenyum, " Untuk minum isi
mangkuk yang ketiga ini terpaksa harus kulakukan dengan kasar, harap jangan dijadikan buah
tertawaan nenek"
si nenek hanya mendengus saja. Dilihatnya Yu Wi memegang tepian mangkuk itu dengan
tangan kanan terus diangkat perlahan.
sunggoh luar biasa, ternyata mangkuk berikut mejanya telah diangkatnya sekaligus. Padahal
berat meja itu mungkin ada ribuan kati, tapi Yu Wi dapat mengangkatnya begitu saja, lalu mulut

didekatkan kebibir mangkuk dan isi mangkuk itu dituang ke dalam mulut.
Habis minum, dengan anteng ia taruh kembali meja itu dengan air muka tetap biasa saja,
caranya adem ayem seperti orang biasa minum teh di rumah. Meski caranya tampak kasar, tapi
hasilnya sangat memuaskan. Maka tertawalah Yu Wi sambil memandangi si nenek.
orang tua itu justeru jemu kepada senyum Yu Wi itu, dengan dongkol ia barkata, " jangan
senang dulu, masih ada dua rintangan- silakan naik keatas sana"
"Maaf" ucap Yu Wi, lalu ia meuuju kekaki dinding tebing yang curam itu.
Biarpun dinding itu sangat terjal, tapi tetap ada bagian-bagian yang mendekuk dan tidak rata,
untuk naik ke atas tidak boleh tidak harus menggunakan ginkang yang tinggi. Padahal ginkang Yu
Wi tidak terlalu luar biasa, untuk naik ke atas menjadi tidak mudah.
Tiba-tiba teringat olehnya akan Hui-liong-pat-poh, ia pikir mengapa tidak kucoba dengan
langkah ajaib ini?
Walaupun tidak tahu apakah akan berhasil atau tidak. tapi segera ia berseru. "sampai bertemu
lagi, Lo popo"
Waktu si nenek menengadah, dilihatnya anak muda itu melayang ke atas seperti seekor burung
raksasa, ia menjengek. "Hm, memangnya bisa berapa tinggi kau mampu terbang?"
Ia tidak percaya Yu Wi sekaligus dapat mengapung hingga puncak gunung, sebab tebing itu
tingginya ada 32 tombak. biarpun ahli ginkang paling-paling juga cuma sanggup mengapung limaenam
tombak tingginya, jika sekaligus akan mengapung 32 tombak tingginya, jelas sukar
dilakukan oleh manusia.
Betul juga, Yu Wi hanya mampu melayang setinggi empat tombak. tapi ketika hendak anjlok ke
bawah, langkah kedua Hui-liong-pat-poh Yu Wi sempat hinggap pada satu dekukan dinding. lalu
melejit lebih tinggi ke atas. Ketika kedelapan langkah ajaib itu digunakan seluruhnya, tepat iapun
dapat mencapai puncak tebing.
Waktu ia memandang kebawah, ia menarik napas dingin, rasanya ngeri. Kalau dinding tebing
itu tidak ada lekukan-lekukan, mungkin tidak ada tempat menghinggap baginya dan setiap saat
dia dapat terbanting mampus.
Dilihataya si nenek lagi memandangnya di bawah dan berseru padanya, "Rintangan pertama
sudah lulus"
Semangat Yu Wi seketika terbangkit dan siap menerobos rintangan kedua. Waktu ia
mengamat-amati keadaan sekitarnya, tertampak tempat dirinya berada sekarang adalah tanah
lapang yang luas, tapi tidak kelihatan bangunan biara.
Tengah ragu, tiba-tiba dilihatnya dari bawah pohon yang tumbuh di depan sebuah altar batu
sana muncul tiga orang Nikoh cilik. Umur nikoh cilik itu rata-rata baru lima belasan, tadinya
mereka asyik mengobrol di bawah pohon, ketika mendengar seruan si nanek tadi barulah mereka
muncul.
Meski usia para nikoh itu masih kecil, tapi sikap mereka seperti orang dewasa, dengan koreng
mereka berkata, "silakan sicu menerobos rinttangan kedua."
"Di mana rintangan yang kedua itu?" tanya Yu Wi.
Salah saorang nikoh cilik yang mukanya penuh jerawat memandang Yu Wi dengan heran,
katanya, "jadi kau tidak tahu?"
Nikoh yang paling kecil perawakannya melangkah maju, ucapnya dengan kurang senang, "
Kalau tidak tahu peraturannya, untuk apa kau terobos rintangan segala? Biar kukatakan padamu,
rintangan kedua adalah kami bertiga orang ini. silakan pilih, mana suka, asal kau menang berarti
lulus ujian"

Yu Wi menggeleng, katanya, "Wah, tidak. undang keluar saja orang tua kalian, adik cilik"
"Siapa adik cilikmu?" damperat nikoh cilik itu dengan gusar. "Ayolah, maju saja Kau pasti bukan
tandingan kedua suciku, biarlah kulayani kau, mungkin kau dapat tahan beberapa gebrak."
Yu Wi masih ingin menolak. tapi tiba-tiba dilihatnya kuda-kuda yang dipasang nikoh cilik itu
serupa dengan gaya siau Hong. seketika hati Yu Wi terkesiap, teringat kepada ilmu pukulan siau
Hong yang lihai itu, diam-diam ia mengeluh urusan bisa runyam.
"Ayolah, silakan" seru nikoh cilik tadi. "Kalau tidak berani silakan pulang"
Yu Wi menjadi nekat, peduli ilmu pukulan lihai segala, segera ia menerjang maju. Tapi nikoh
cilik itu segera menyerang, gerak pukulannya memang benar serupa dengan siau Hong, bahkan
terlebih lihai, lebih sedikit titik lemahnya dari pada jurus pukulan siau Hong dahulu. Untuk
menangkis jelas tidak mampu, terpaksa Yu Wi bertindak seperti menghadapi siau Hong dahulu,
kedua tangan menyilang untuk melindungi muka sendiri. "Plaks, benarlah, tangan nikoh cilik itu
tepat mengenai tangannya.
Nikoh cilik itu lantas melompat mundur dan mendengus, "Hm, cerdik juga, kau tahu hendak
kugampar mukamu"
Yu Wi meraba punggung tangan sendiri yang terpukul itu dengan lesu dan sedih, ia pikir kalau
seorang nikoh cilik saja tak dapat menandinginya, mau terobos rintangan apa pula?
Didengarnya si nikoh cilik bermuka penuh jerawat itu berkata dengan suara lembut, "sicu
jangan susah, silakan pulang saja"
Yu Wi menghela napas, memang tidak ada jalan lain kecuali pulang bilamana tidak mampu
menerobos rintangan ketiga nikoh cilik ini. Hatinya memang susah karena hanya satu-dua gebrak
saja dia dikalahkan oleh seorang nikoh cilik. Tapi rasa susahnya itu tidak lebih daripada rasa
kecewa dan menyesalnya di dalam hati.
Tadinya dia mengira untuk menerobos rintangan cu-pi-am, pasti tidak menjadi soal baginya dan
Bok-ya pasti dapat ditemuinya. sama sekali tak tersangka baru ketemu rintangan kedua sudah
lantas keok. hal inilah yang membuatnya sangat kesal.
Melihat kesedihan Yu Wi itu, diam-diam nikoh berjerawat ikut terharu, ia mengira Yu Wi adalah
kesatria dunia Kangouw yang ternama, hanya dua gebrakan saja sudah dikalahkan sumoaynya,
makanya merasa kesal dan sedih. segera ia berkata pula kepada Yu Wi, "sicu telah berhasil
menerobos rintangan pertama, kungfumu sebenarnya jauh di atas kami bertiga, sebabnya kau
kalah tadi...."
"He, suci, buat apa banyak bicara dengan dia?" tiba-tiba si nikoh cilik yang sejak tadi tidak ikut
bicara itu menyela. si nikoh berjerawat urung menetuskan ucapannya.
Yu Wi merasa dirinya tidak mampu berbual apa-apa lagi, segera ia membalik tubuh dan hendak
pergi.
"Hei, kenapa kau turun lagi ke sana?" seru si nikoh cilik berjerawat,
Terdengar si nikoh ketiga tadi berkata pula, "Suci, untuk apa kaupikirkan dia ...."
Yu Wi menuju ketepi tebing, tanpa pikir la terus melompat ke bawah seperti burung saja.
setelah melompat barulah diketahui Yu Wi bukan permainan sembarangan untuk melompat
turun dari tempat setinggi 32 tombak itu. Tampaknya ia tidak sanggup menguasai diri lagi dan
akan menumbuk batu karang di kaki tebing, untunglah si nenek yang selalu berjaga di situ
memburu maju dan menghantam ke atas,
Cepat Yu Wi juga menghantam, benturan angin pukulan dua orang yang keras itu telah
menahan daya anjloknya, maka dapatlah Yu Wi hinggap di tanah dengan aman.
Si nenek lantas mendamperat, "Persetan Kalau mau bunuh diri jangan di sini, hendak kau bikin
susah nenekmu bukan?"

Yu Wi merasa malu. Dia tidak berniat bunuh diri, soalnya dia tidak dapat bertemu dengan Bokya,
pikirannya menjadi limbung dan melompat ke bawah begitu saja. Dalam keadaan biasa betapa
pun dia dapat mengukur kemampuan sendiri apakah dapat melompat turun ketempat setinggi itu
atau tidak.
"Terima kasih atas pertolongan jiwaku, Lo po-po," cepat Yu Wi memberi hormat.
Mestinya si nenek hendak menyindirnya tetapi demi melihat anak muda itu sekarang tidak
dapat tersenyum lagi seperti waktu hendak naik keatas tadi, bahkan sekarang hampir-hampir
menangis, segera ia memberi tanda dan berkata, "Pergilah, kalau sudah mampu mematahkan
sian-thian-ciang baru boleh coba lagi menerobos rintangan di sini"
Untuk pertama kalinya Yu Wi mendengar istilah "sian-thian-ciang", ilmu pukulan sakti Cu-pi-am,
baru sekarang diketahui ilmu pukulan para nikoh ciiik yang serupa dengan gaya silat siau Hong itu
bernama sian-thian-ciang.
Sudah dua kali Yu Wi merasakan betapa lihainya ilmu pukulan itu, diam-diam ia menggerundel,
"Busyet setan mana yang mampu mematahkan sian-thian-ciang"
Ia mengira di dunia ini tidak nanti ada orang yang mampu mematahkan pukulan aneh itu, maka
selama hidup ini jangan harap lagi akan dapat menemui Bok-ya. Yu Wi lantas meninggalkan si
nenek. tanpa arah tujuan ia turun dari siau-hoa-san-
Setiba di kaki gunung, tiba-tiba dilihatnya si kakek yang pernah ditemuinya di Thay-hoa-san
datang dari depan-
Yu Wi merasa malu untuk bertemu dengan orang tua itu, ia pikir orang telah memberi petunjuk
jalan padanya, salahnya sendiri yang tidak becus. Bila orang menanyakan hasilnya, kan malu?
Tapi ketika ia hendak menghindar, si kakek sudah melihatnya dan segera menegur, "Laute
(saudara), Laute"
Karena ditegur lebih dulu, Yu Wi tidak dapat mengelak lagi, terpaksa ia menyengir.
"Bagaimana, berhasil menerobos rintangan tidak?" segera si kakek bertanya setelah
berhadapan.
"Menerobos sih sudah," jawab Yu Wi, "Cuma sayang, kekuatan Wanpwe terlalu rendah." Lalu
iapun menceritakan pengalamannya.
"Wah, sayang, sungguh sayang" si kakek bertepuk tangan dengan gegetun-
"Sedikit pun tidak perlu disayangkan," ujar Yu Wi sambil menggeleng, "Soalnya Wanpwe
memang tidak sanggup melawan pukulan sian-thian-ciang yang hebat itu "
"Dengan lwekang mu yang sudah terlatih sedemikian kuat, jangankan cuma tiga rintangan,
biarpun sepuluh atau dua puluh rintangan juga dapat kau terobos," ucap si kakek dengan yakin.
"Betapa kuat lwekangku, kalau tidak dapat mematahkan ilmu pukulan lawan Kan juga tidak ada
gunanya?" ujar Yu Wi dengan menyesal.
Si kakek berusaha manghiburnya, "Kan sejak mula sudah kukatakan padamu agar jangan patah
semangat, tatkala mana sudah kuduga ada kemungkinan sian-thian-ciang akan sukar kau terobos.
Padahal ilmu pukulan umumnya hanya permainan belaka, kungfu yang sejati tetap terletak pada
tinggi dan rendahnya tenaga dalam. segala permainan umumnya mudah dipelajari, tapi tenaga
dalam harus diyakinkan dengan ketekunan dan keteguhan iman. semula kukira lwekangmu sangat
tinggi dan ilmu pukulan pasti juga tidak rendah, siapa tahu belum cukup kaupahami ilmu pukulan
dan cuma dua gebrakan saja sudah keok."
Dengan malu Yu Wi menunduk. ucapnya lesu, " Wanpwe memang tidak becus, selama hidup ini
takkan bicara lagi tentang kungfu."
si kakek menggeleng kepala, ucapnya, "Kan sudah kukatakan, janganlah patah semangat
seorang lelaki sejati harus berani menghadapi kesulitan, kenapa mesti patah semangat."

Seketika pikiran Yu Wi terbuka, ia memberi hormat dan bertanya, "Mohon Lotiang sudi memberi
petunjuk jalan lain?"
"kau bertekad akan bertemu dengan nikoh yang bernama Ya-ji itu?"
"Ya, harus" jawab Yu Wi tegas.
"Baik, akan kuberi petunjuk satu jalan lagi cuma jangan menyesal bila tertimpa petaka," kata si
kakek.
"Mohon Lotiang memberi petunjuk. biarpun mati Wanpwe takkan menyesal."
"Bagus, jika betul tekadmu sudah bulat. biarlah kuberitahukan padamu untuk mencari satu
orang."
"Mencari siapa?" tanya Yu Wi. "Apakah dia dapat bantu memecahkan persoalanku?"
"Persoalanmu terletak pada sian-thian-ciang dapat kau patahkan atau tidak," ujar si kakek
dengan tertawa. "Asalkan sian-thian-siang dapat kau patahkan, kujamin rintangan ketiga itu masih
dapat kau lalui dengan lancar. Tatkala mana kan dapat kau temui Ya-ji dengan baik?"
Yu Wi merasa ragu, "siapakah yang mampu mematahkan sian-thian-ciang?"
"Tinggi rendahnya ilmu pukulan seorang serupa bagus tidaknya saorang main sunglap, padahal
setiap permainan sunglap di dunia ini pasti ada lubang kelemahannya, seorang ahli sunglap dapat
melihat setiap titik lemah sunglap mana pun, dengan teori yang sama, seorang ahli ilmu pukulan
pasti juga dapat melihat titik lemah ilmu pukulan apapun-"
"Di dunia ini ada orang yang dapat melihat titik lemah setiap macam ilmu pukulan?" tanya Yu
Wi.
Si kakek mengangguk. "Ada asalkan kau beritahukan nama sian-thian-ciang padanya, dalam
waktu singkat dia mampu mengajarkan padamu cara bagaimana mematahkan ilmu pukulan
tersebut."
seketika timbul setitik harapan dalam benak Yu Wi yang sudah putus asa itu, cepat ia tanya
pula, "Dimana orang itu bertempat tinggal?"
"Masih ingat tidak pada biara kecil dan terpencil di Thay-hoa-san itu?" tutur si kakek dengan
tertawa. "Bukankah disana kau temui seorang biksuni tua dan bermuka jelek?"
Yu Wi terkejut, "Masakah biksuni tua itu mampu mematahkan sagala macam ilmu pukulan di
dunia ini?"
"Bukan dia?" ujar si kakek dengan tersenyum, "tapi dia dapat mempertemukan dirimu dengan
seorang ahli ilmu pukulan. Asalkan kau datang kebiara kecil itu dan menemui biksuni tua, katakan
kau ingin bertemu dengan Be-eng-jin (orang pembeli bayangan)"
"Be-eng-jin?" Yu Wi menegas dengan hati berdebar.
"Ya, seluk-beluk orang ini tidak dapat kujelaskan," tutur si kakek dengan misterius, "cukup kau
temui biksuni tua itu dan katakan seperti apa yang kuajarkan tadi, bertindak menurut keadaan,
bilamana perlu harus berani merendah diri, kuyakin cita-citamu pasti akan terkabul."
Ketika melihat sikap Yu Wi yang masih ragu-ragu itu, segera si kakek menyambung, "Ah, aku
harus pergi sekarang, masih ada sedikit urusanku yang perlu kuselesaikan, sampai bertemu lagi,
Laute"
Habis berkata, ia tertawa dan memberi tanda mengobarkan semangat, lalu melangkah pergi.
Yu Wi ingin tanya pula, tapi sebelum terucap si kakek sudah melangkah pergi, terpaksa ia
urung bicara dan berdiri termangu di situ, sampai lama sekali, akhirnya ia memutuskan akan pergi
ke Thay-hoa-san untuk menemui biksuni tua itu.
Ketika tiba di depan biara kecil itu, tertampak daun pintu yang tipis dan lapuk itu tertutup rapat,
rasanya sekali dorong saja pintu itu bisa jebol.
Teringat kepada perangai biksuni tua yang pemarah itu, Yu Wi tidak berani mengetuk pintu
begitu saja, lebin dulu ia merancang apa yang akan diucapkannya nanti, setelah dipikir dan
ditimbang lagi serta diputuskan- akhirnya ia mengetuk pintu pelahan tiga kali.

Baru selesai tiga kali ketukan, serentak pintu pun terbuka. Cepat amat datangnya biksuni tua
itu, seakan-akan sebelum Yu Wi mengetuk pintu dia sudah berdiri di belakang pintu, dan begitu
pintu terkuak. terlihatlah wajah biksuni tua yang kemput dan jelek itu menegur dengan penuh rasa
jemu,
"Kau datang lagi? Mau apa?"
Bab 13 : Bu-eng-bun, perguruan tanpa laki-laki
Yu Wi menjawab dengan hormat, "Ya, kudatang lagi dan membikin repot padamu"
Dengan ketus biksuni tua itu berkata. "Hawa sedingin ini, janganlah sicu mengganggu orang,
kan sudah kukatakan orang yang kau cari tidak kukenal, bila ada urusan lain silakan lekas tanya."
Tapi nikoh tua itu lantas mendelik, jengeknya "Apa yang kau sesalkan? Biarpun aku tidak tahu.
tentu ada orang lain yang tahu."
"Oo, siapakah beliau?" tanya Yu Wi.
"Hm, memangnya siapa yang kau cari?" jengek nikoh tua dengan kurang senang.
"Ooya, Be-eng-jin" jawab Yu Wi.
"Nah jika begitu, kenapa tanya lagi?" omel si nikoh tua. "Jika kau cari Be-eng-jin, masakah
kuatidak dapat belajar cara mematahkan Sian-thian-ciang? IHm, ilmu pukulan apa pun di dunia ini,
tidak ada satu pun yang dapat mempersulit Be-eng-jin."
Girang sekali Yu Wi, cepat ia tanya pula "Justeru akan kuminta belajar kepada cianpwe itu,
numpang tanya di mana tempat tinggal Be-eng-jin?"
"Minta belajar?" biksuni tua itu menegas dengan heran- "Memangnya kau minta belajar apa?"
"Minta belajar cara mematahkan Sian-thian-ciang." jawab Yu Wi dengan hormat.
"Huh, minta belajar segala," jengek si nikoh tua "Eh, siapa namamu, kau tahu tidak aturan
mencari Be-eng-jin?"
Dengan gugup Yu Wi menjawab, "Ah, maaf jika Wanpwe kurang sopan dan belum lagi
memberitahukan namaku. cayhe she Yu bernama Wi, entah ada aturan apa bila ingin mencari Beeng-
lin, mohon diberi tahu."
Melihat sikap Yu Wi sangat sopan, air muka si Nikoh tua berubah tenang pula, ucapnya dengan
tertawa, "Pantaslah jika kau tidak tahu aturan, kusangka kau sengaja main gila. Hendaklah
diketahui, Be-eng-jin tidak kenal urusan minta belajar segala, yang penting harus memenuhi
syarat, bila setuju syaratnya, segera dipenuhinya permintaanmu."
seketika hati Yu Wi diliputi bayangan gelap lagi, cepat ia tanya, "Syarat apa yang harus
dipenuhi pemohon?"
Nikoh tua itu memandang Yu Wi sekejap. ucapnya kemudian sambil menggeleng. "Dari
istilahnya dapat kaupikirkan artinya, sebagai orang cerdik, masakah tidak kau pahami apa arti Beeng-
jin?"
Timbul pula perasaan berdebar seperti waktu mendengar nama Be-eng-jin disebut si nenek itu.
dengan suara parau Yu Wi tanya pula, "Apakah maksudnya Be-eng-jin akan membeli bayangan si
pemohon?"
Nikoh tua itu memandang Yu Wi dengan rasa kasihan, katanya dengan mengangguk. "Ya,
secara garis besar mamang begitulah artinya, jika ada sesuatu permohonanmu kepada Be-eng-jin,
maka harus kau jual bayanganmu kepadanya. Atau dengan perkataan lain, dengan menjual
bayanganmu, kau pun akan mendapatkan apa yang kau perlukan, dan selanjutnya pribadimu akan
menjadi milik Be-eng-jin, segala tindak-tandukmu akan berada dibawah kendali Be-eng-jin.
misalnya ...."
"Baik, tidak perlu kau teruskan, katakan saja di mana tempat tinggal Be-eng-jin" sela Yu Wi.
"Jadi kau terima syarat penjualan bayanganmu?" tanya biksuni tua itu dengan menyeaal.

"Apabila dapat belajar cara mematahkan Sian-thian-ciang, dan mendapatkan hasil nyata, kurela
terima syaratnya," jawab Yu Wi ikhlas.
Nikoh tua itu kembali menggeleng kepala, "Jika begitu, jangan kuatir, cara mematahkan sian
thian-ciang pasti akan kau kuasai dengan baik. sebabnya kau ingin belajar tentunya untuk
menuntut balas, pasti setelah berhasil menuntut balas, lalu tindak-tandukmu akan berada di
bawah kekuasaan Be-eng-jin. jika hasilnya tidak memuaskan, syarat ini pun batal."
Habis berkata ia lantas berbangkit, ia tuding meja sembahyang yang sempit itu dan berkata,
"Di sini tersimpan rangsum, kupergi selama tiga hari dan segera pulang kesini. tatkala mana dapat
kau temui Be-eng-jin, tapi selama tiga hari ini dilarang kau keluar selangkah pun dari biara ini,
tahu tidak?"
Yu Wi mengangguk dan menjawab, "Baik, akan kutungggu tiga hari disini."
Ketika melangkah keluar biara, nikoh tua itu menoleh dan memandang Yu Wi sekejap. lalu
menghela napas panjang, seperti merasa sayang terhadap Yu Wi yang gagah dan cakap ini, tapi
dia tidak enak bicara lain, hanya memberi lagi pesan, "palang pintunya, orang tidak
berkepentingan dilarang masuk".
Yu Wi mengiakan, segera pintu dipalangnya, lalu duduk kembali di atas kasuran. Pikirannya
bergolak, sebentar terkenang kepada Bok-ya, lain saat teringat kepada si kakek aneh itu. Ketika
terpikir akan Be-eng-jin, seketika timbul perasaan tidak enak. semacam perasaan yang memberi
alamat tidak baik. Hari pertama ia dapat duduk tenang dan bersemadi di atas kasuran.
Pada hari kedua, dalam benaknya selalu ter-ingat kepada Be-eng-jin, pikirnya, "Dengan
keputusanku uutuk menjual bayanganku kepadanya, akibatnya akan untung atau buntung?"
Malam hari kedua, hampir saja ia melepaskan keputusan yang tidak bijaksana ini, pikirnya pula,
"Seorang lelaki sejati masakah boleh membiarkan kebebasannya dikekang orang lain? Apakah
selanjutnya aku harus menuruti segala perintah Be-eng-jin, jika dia suruh aku membakar rumah
dan membunuh orang, apakah semua itu harus kulaksanakan baginya? Bilamana aku disuruh ...."
Kalau dipikirkan terus, akibatnya yang buruk semakin banyak, tentu saja ia tambah sangsi,
segera ia bermaksud berbangkit dan tinggal pergi dan habis perkara. Tapi bila teringat kepada
Bok-ya semangatnya berkobar lagi, "bluk", ia berduduk pula dan bergumam, "Sudahlah, peduli
apa segala demi Ya-ji, urusan lain tidak perlu kupikirkan lagi"
Walaupun demikian, hati nuraninya menggugah lagi, dalam hati kecilnya seperti ada suara yang
berkata, "Wahai Yu Wi, mana boleh kau gegabah, demi memenuhi hasrat pribadi harus kau jual
bayanganmu sendiri, apakah perbuatanmu ini terhitung se-orang lelaki sejati? seorang lelaki sejati
bila menghadapi kesulitan harus diatasinya berdasarkan kemampuan sendiri, tapi kau andalkan
tenaga orang lain dan menjual diri, di mana harga dirimu?...."
Yu Wi mendekap telinganya dengan batin tersiksa, teriaknya dengan histeris, "Tidak, aku tidak
berdaya, aku tidak berdaya, selainjalan ini aku tidak mampu mematahkan sian-thian-ciang .."
jeritan demikian mendatangkan faedah juga, bisikan hatinya lenyap untuk sementara, ia tidak
berani lagi duduk tenang di situ, ia kuatir bila duduk begitu saja akan timbul macam-macam
pikiran, ia lantas berbangkit dan berjalan mengitari ruangan, ia pikir besok sudah genap tiga hari,
entah besok pada waktu apa si biksunitua akan membawa kemari Be-eng-jin yang misterius itu.
Setelah memutar kian kemari baberapa kali, setiap lewat di depan meja sembahyang tentu ia
pandang sekejap pada patung yang dipuja di dalam kotak kayu kecil itu. setelah berputar lagi dua
kali, mendadak ia berhenti di depan meja.
Yu Wi tidak memuja patung, juga tidak takut dikutuk patung, ia jadi ingin tahu patung apakah
yang dipuja itu.

Ia coba mang angkat kotak kecil itu. setelah dipandang dengan cermat, hah, mana ada patung
buddha segala, melainkan sebuah patung orang perempuan berduduk dalam keadaan telanjang
bulat.
Yu Wi jadi geleng-geleng kepala dan bergumam, "Aneh, malaikat apakah yang dipuja ini? Untuk
apa patung begini dipuja?"
Tanpa pikir ia mengeluarkan patung perempuan telanjang itu dari dalam kotak. ketika ia putar
dan balik-balik patung itu, tiba-tiba dilihatnya di bagian punggung patung berduduk itu ada
beberapa baris huruf yang berbunyi: "Bu eng-bun Yu-kun-cu Bu-kun-cu sit-eng-jin".
secara harfiah ke- 12 huruf itu berarti "perguruan tanpa bayangan, tidak ada lelaki, bila ada
lelaki, kehilangan bayangan."
Yu Wi merasa bingung oleh tulisan itu, ia tidak tahu apa artinya keempat kalimat itu. Ia
tersenyum getir terhadap kalimat terakhir itu, gumamnya, "Kalimat ini ada betulnya juga. orang
kehilangan bayangan, tidak lama lagi aku Yu Wi juga akan kehilangan bayangan...."
Istilah "sit-eng-jin" ini terasa sangat menyentuh perasaannya dan menimbulkan macam-macam
pikiran, ia taruh kembali kotak kayu itu, lalu berputar kayun-pula didalam ruangan. terkadang ia
bergumam lagi, "Sit-eng-jin, hm, kalimat yang tepat ... sit-eng-jin .... "
Berulang-ulang ia mendengus dan ketawa getir, tanpa disadarinya subuh sudah tiba, ufuk timur
sudah mulai remang-remang, semalam suntuk sedikitnya ada beberapa ratus kali ia mengitari
ruangan itu.
sebelum hari terang benar. tiba-tiba pintu yang tipis itu diketuk orarg. Yu Wi mengira si nikoh
tua telah pulang dengan membawa Be-eng-jin, cepat ia berbangkit.
Waktu ia lihat bayangan sendiri, terharu sekali hatinya, pikirnya, "O, bayanganku, begitu pintu
terbuka segera akan kujual dirimu. sudah lebih 20 tahun kau ikut majikan dan tidak mendapatkan
manfaat apa pun, sekarang kita harus berpisah, hendaknya jangan kau sesalkan majikanmu"
Agaknya karena tidak ada suara jawaban, terdengar pintu terketuk lagi.
Yu Wi terkejut, diam-diam ia mengomeli dirinya sendiri yang sinting, belum lagi terjadi sesuatu
seakan-akan bayangan sendiri benar-benar sudah terjual.
Cepat ia menuju ke sana dan membuka palang pintu, dilihatnya diluar pintu berdiri seorang
Kongcu berjubah kulit indah dan bukan Be-eng-jin segala, sebab di sampingnya tidak ikut serta si
nikoh tua melainkan berdiri seorang kacung. Apabila orang ini Be-eng-jin, tentu dia akan
didampingi nikoh tua itu.
Sekarang Kongcu yang berdiri di depannya ini jelas seorang anak pelajar, melihat rangsal yang
digendong oleh kacung itu, jelas isinya pasti sebangsa buku, kertas. alat tulis dan sebagainya.
Melihat Yu Wi, segera Kongcu berjubah kulit itu memberi hormat dan berkata, "Apakah boleh
numpang tanya saudara yang mulia ini."
Karena sikap orang sangat sopan, apalagi Kongcu ini berwajah cakap. berpotongan seorang
pelajar. Yu Wi sendiri tidak banyak bersekolah, tapi ia tahu faedahnya orang bersekolah dan
biasanya suka bergaul dengan orang terpelajar, cepat ia balas hormat orang dan menjawab,
"Kongcu ada keperluan apa?"
"Siaute ingin tanya satu orang," kata Kongcu itu.
"Ah, kebetulan," ujar Yu Wi dengan tertawa. Kongcu itu jadi melengak.
Padahal ucapan "kebetulan" itu dimaksudkan Yu Wi karena Kongcu itu juga sedang mencari
orang, jadi sama seperti dirinya.
Tapi segera ia menyadari ucapannya itu kurang tepat, pantas juga orang melenggong, padahal
siapa yang hendak dicari Kongcu itu belum lagi diketuhuinya, masakah dapat dikatakan
"kebetulan"?

Maka cepat ia menambahkan, "Siapa yang hendak dicari Kongcu, asalkan kutahu pasti akan
kuberitahukan-"
Kongcu itu melangkah maju dan berucap dengan suara tertahan, "Yang ingin kutanyakan
bukanlah orang biasa, cuma dikatahui orang ini berasal dari Bu-eng-bun."
"Bu-eng-bun?"
Yu Wi jadi teringat kepada kalimat pertama yang tertulis di punggung patung wanita telanjang
itu, serunya tanpa terasa, "He. kau pun datang untuk menjual bayangan?"
"Menjual bayangan?" Kongcu itu mengulangi dengan bingung. "Menjual bayangan apa?"
Yu Wi jadi bingung sendiri malah, ia pikir kalau kedatanganmu ini bukan untuk menjual
bayangan, lalu mau apa?" Maka ia tanya lagi, "siapa yang suruh kau kesini?"
"o, hal ini ... ini,... kutahu kedatanganku memang telah melanggar pantangan besar Bu-engbun,"
jawab Kongcu itu dengan gelagapan "Akan tetapi karena terpaksa. mau-tak-mau harus
kudatang kemari untuk memohon kepada Bu-eng-bun."
Yu Wi manggut-manggut, pikirnya, "Meski kedatangannya bukan untuk menjual bayangan,
rupa2nya ia pun tahu Be-eng-jin itu serba bisa, maka sama seperti diriku maksud kedatangannya .
"
Walaupun Yu W tidak tahu Kongcu berjubah kulit itu ada kesulitan apa. tapi ia sangat
memahami perasaan orang, ia pikir kesusahan orang pasti juga tidak kurang daripada dirinya,
kalau tidak. siapa yang mau bersusah payah datang kesini dibawah hujan salju dan pagi buta ini?
Maka dengan penuh simpati Yu Wi lantas berkata, "Ya, kutahu, kutahu. Silakan masuk, orang
yang hendak kau cari memang berada disini, sebelum malam nanti dapat kau temui."
Kongcu itu sangat girang, serunya, "Wah, bagus sekali jika begitu. Tak tersangka pencarianku
secara ngawur, main seruduk kesana-sini, akhirnya kena juga kuseruduk. sungguh mujur, tempat
ini benar-benar sangat sulit dicari."
Diam-diam Yu Wi menggeleng kepala, pikirnya, "Mujur? Apa betul mujur sulit untuk dipastikan,
jangan-jangan kemalangan yang akan kutemui nanti, dan mungkin akan menyesal."
Sesudah masuk ke dalam biara, Yu Wi lantas menjadi tuan rumah ad interim dan menyilakan
duduk tetamunya.
Mungkin kacung itu belum pernah masuk biara dan tidak tahu kalau paderi buddha biasanya
cuma duduk di atas kasuran, segera ia berseru, "Kongcu di manakah kita harus berduduk?"
Cepat si kongcu berjubah kulit membentaknya, "Tai Hi. jangan banyak omong"
Lalu ia duduk pada kasuran yang terdekat. Melihat gaya berduduk orang, segera Yu Wi
membatin mata sendiri telah salah lihat, jelas orang ini bukan kaum pelajar biasa, tapi seorang
suseng (pelajar) yang memiliki ilmu silat yang tidak rendah. Yu Wi lantas ikut berduduk.
Kongcu berjubah kulit lantas berkata, "siaute bernama Yau Ce-sing, numpang tanya siapakah
nama Hengtai (saudara) yang mulia?"
Yu Wi lantas memberitahukan namanya dan berkata dengan terharu. "Yau-heng. janganlah
kausesalkan diriku bila kubanyak omong. Menurut pandanganku, kalau Yau-heng dapat berusaha
cara lain, sebaiknya jangan menunggu lagi disini. Hendaknya diketahui orang yang ingin kau temui
itu bukan manusia yang mudah dimintai bantuan, ia baru mau memenuhi permintaanmu apabila
dapat kau beri imbalan yang besar." ,
"Imbalan apa?" tanya Yau Ce-sing tanpa pikir.
Yu Wi menggeleng, katanya, "Aku tidak tahu apakah imbalan setimpal bagimu atau tidak"
Rupanya ia tidak suka membantu bicara bisnis bagi Be-eng-jin, maka ia tidak mau menjelaskan
syarat menjual bayangan itu, ia pikir adalah jasa baik bila sebelum Be-eng-jin atau si pembeli
bayangan itu datang, seorang penjual bayangan dapat ditolaknya pulang. Tapi tak terpikir olehnya

kalau dirinya sendiri saja sukar disuruh pulang, mana Yau Ce-sing yang berpendirian teguh itu
dapat dibujuknya pulang?
Benarlah, segera Yau Ce-sing berkata dengan pasti, "setiap orang memang tidak mau bekerja
tanpa hasil yang setimpal, maksud baik Yu-heng sungguh membuatku sangat berterima kasih.
Tapi kedatanganku ini bertekad cita-cita harus terkabul tanpa menghiraukan pengorbanan apa
pun. Maka soal imbalan setimpal segala tidak kupikirkan."
Diam-diam Yu Wi gegetun, pikirnyn, "Di dunia ini ternyata masih ada orang tolol sarupa diriku,
tanpa menghiraukan akibatnya asalkan cita-cita terkabul. sit-eng-jin, orang kehilangan
bayangan,ai, Yau-heng, tampaknya kita berdua akan mendapat predikat ini."
Di dengarnya Yau Ceng-sing lagi berkata, "Jangan-jangan Yu-heng adalah orang Bu-eng-bun
dan sengaja hendak menguji kesungguhan hatiku?"
"Tidak. akupun senasib denganmu," jawab Yu Wi sambil menyengir.
"Ah, jadi Yu-heng juga ingin menemui orang? Bu-eng-bun itu?" seru Yau Ce-sing.
"Ya, sebelum malam nanti, kita berdua akan dapat melihat orang yang ingin kita temui itu,
sekarang silakan menunggu dulu," kata Yu Wi.
Ia malas untuk bicara lagi, segera ia memejamkan mata dan mengatur pernapasan.
Yau Ce-sing cukup tahu diri, iapun tidak bicara lagi, ia keluarkan satu jilid buku dari rangsel
yang digendong si kacung yang bernama Tai Hi lalu dibacanya dengan asyiknya.
Baru saja lewat lohor, tiba-tiba terdengar suara pintu terketuk. serentak. Yu Wi melompat
bangun dan berseru, "Itu dia"
Melihat anak muda itu agak ragu untuk membuka pintu, segera Yau Ce-sing menampilkan diri
secara sukarela, katanya. "Akan kubukakan pintu"
Melihat orang menuju ke pintu dengan riang gembira, kitab pun dilempar begitu saja ke lantai
diam-diam Yu Wi membatin, "Bila nanti jadi kau minta pertolongan kepada Be-eng-jin, mungkin
tak dapat lagi kau baca buku se- enak sendiri"
Yu Wi memungut kitab yang ditinggalkan itu dilihatnya kitab itu adalah kitab syair kuno, ia
sendiri lantas berduduk malah dan membolak-balik kitab itu. Tidak lama kemudian datanglah dua
orang, Yau Ce-sing telah menyosong kedatangan biksuni tua yang sudah pergi selama tiga hari
itu.
" orang she Yu," segera nikoh tua itu menegur dengan kurang senang, " kenapa tidak kau turut
pesanku dan membiarkan orang tidak berkepentingan masuk ke sini?"
"Apakah Be-eng-jin sudah datang?" tanya Yu Wi.
"Segera datang," jawab si nikoh tua.
"Dia she Yau, juga ingin menemui Be-eng-jin, jadi bukan orang yang tidak berkepantingan. "
Nikoh tua itu mengangguk dan bertanya, "O, kaupun ingin mencari Be-eng-jin?"
Yau Ce-sing belum pernah kenal nama Be-eng-jin, ia menggeleng dan menjawab, "Tidak. aku
cari orang Bu-eng-bun."
Air muka si nikoh tua berubah dingin, tanyanya "Siapa yang menyuruhmu mencari orang Bueng-
bun ke sini?"
"Aku ... aku datang sendiri," jawab Yau Ce-sing dengan terkesiap.
"Tuan rumah disini hanya tahu Be-eng-jin dan tidak terdapat orang Bu-eng-bun," Rengek si
Nikoh tua.
"Tapi ... tapi ..." Yau Ce-sing tergegap.
"Ayahmu yang memberitahukan padamu akan ditemukan orang Bu-eng-bun disini, bukan?"
Rengek si nikoh tua pula.
"Bukan," jawab Yau Ce-sing dengan gugup, "ayahku sudah meninggal dunia."
"oh? Yau Kong- liang sudah mati?" nikoh tua itu menegas.
"Dari... dari mana kau tahu nama almarhum ayahku?" tanya Yau Ce-sing dengan terkejut.

"Tidak perlu kau tanya," sahut si nikoh tua, "jika ayahmu sudah mati, kami tidak perlu mencari
perkara lagi padanya. Akan tetapi, untuk putra Yau Kong- liang, hendaknya kau dengarkan dengan
betul. kedatanganmu ini hanya boleh memohon kepada Be-eng-jin-"
Yau Ce-sing tidak menghiraukan lagi siapa orang Bu-eng-bun dan siapa si Be-eng-jin, ia tanya
"Apakah Be-eng-jin dapat membantuku memecahkan persoalan?"
"Tentu saja bisa," kata si nikoh tua, "Dahulu segala kesulitan ayahmu juga dapat diselesaikan
olehnya, masa persoalanmu tak dapat dipecahkannya."
"Wah, bagus sekali jika begitu," seru Yau Ce-sing dengan gembira. "Pantas Yau Tiong bilang
orang Bu-eng-bun serba pintar. apapun sanggup diselesaikannya."
"Jangan gembira dulu,"jengek pula si nikoh tua. "Dahulu ayahmu yang berkepentingan,
sekarang kau yang datang kemari, meski yang kau minta serupa, tapi imbalannya sama sekali
berbeda.
"Imbalan apa?" tanya Yau Ce-sing seperti tidak merasa keberatan-
"Biarpun kau kaya- raya, jika ingin Be-eng-jin juga harus memenuhi suatu syarat," kata si Nikoh
tua. "Serupa Yu-sicu ini, syaratnya adalah menjual bayanganmu."
"Jadi betul-betul harus menjual bayangan?" seru Yau Ce-sing terkejut.
Waktu datang tadi dia telah mendengar pertanyaan Yu Wi apakah kedatangannya juga hendak
jual bayangan- Ia sangka Yu Wi cuma bergurau saja, mana ada orang menjual bayangan segala.
karuan ia jadi terkejut, cepat ia menjawab sambil menggoyang tangan, "Wah, mana boleh jadi,
tanpa bayangan kan tidak dapat hidup?"
"Pelajar tolol," omel si nikoh tua. "Memangnya siapa yang menghendaki nyawamu?" Lalu ia
menjelaskan artinya menjual bayangan secara ringkas.
Yau Ce-sing merasa lega setelah mendengar penjelasan orang, katanya, "Mendingan kalau
begitu. Baiklah, biarlah satu kali ini kumohon bantuan Be-eng-jin itu."
"Cepat juga keputusanmu," jengek si nikoh tua. "Tapi perlu kujelaskan pula, setelah kaujual
bayanganmu bila majikanku menghendaki harta bendamu, harus kau serahkan seluruh harta
bendamu, bila menyeruhmu tinggal di barat, tidak boleh kau tinggal di timur, singkatnya segala
tindak-tandukmu harus tunduk kepada perintah majikan, Tahu tidak?"
"Wah, ini ... ini ... " Yau Ce-sing manjadi ragu-ragu.
Mestinya dia hendak bilang cara demikian agak kurang layak. tapi segera si nikoh tua
menambahkan- "Apa yang kau minta tidak perlu kau kuatirkan, Be-eng-jin pasti sanggup
menyelesaikannya bagimu.Jika syarat ini tidak dapat kau terima, saat ini masih dapat kau pergi,
kalau tidak. bila majikan datang, mau-tak-mau syarat kedua pihak harus kau terima dengan baik.
Kecuali kalau nanti majikan tidak mampu menunaikan permintaanmu, tatkala mana dengan
sendirinya syarat majikanku juga tidak berlaku dan mengembalikan sebala kebebasanmu."
Baru sekarang Yu Wi tahu Be-eng-jin adalah majikan biksuni tua ini, diam-diam ia menaksir
bagaimaha bentuk Be-eng-jin ini, mengapa menugaskan seorang budaknya tinggal di tempat
terpencil ini dalam kedudukannya sebagai seorang nikoh. malahan tampat ini dijadinya tempat
penghubung antara orang luar dengan Be-eng-jin-
Agaknya Yau Ce-sing terbujuk juga oleh keterangan nikoh tua tadi, ia puas oleh jaminan pihak
Be-eng-jin, maka tanpa menghiraukan akibat daripada syaratjang mengikat itu, dengan ikhlas ia
lantas berkata, "Baiklah kuterima jual- beli ini." Nikoh tua tertawa, seperti merasa senang karena
seekor ikan telah masuk jaringnya.
Pada saat itu juga ruangan biara itu telah bertambah dengan satu orang. Kemunculan orang ini
sangat aneh, pintu tidak terbuka, dengan sendirinya dia melayang masuk dari atas, anehnya tidak
menerbitkan suara sedikit pun.

Diam-diam Yu Wi Wi terkejut akan gerak tubuh orang yang hebat, nyata ginkangnya tidak
dibawah si kakek aneh yang memberi petunjuk kebiara ini. Waktu ia mengamati-amati orang,
ternyata pendatang ini juga seorang tua, berambut dan berjenggot putih, juga berjubah putih.
tampaknya memang rada-rada luar biasa. Rambutnya yang putih mengkilat seperti perak. tidak
serupa rambut orang biasa yang guram tak besinar.
Tidak perlu dijelaskan lagi Yu Wi tahu orang inilah Be-eng-jin, maka ia tunggu akan
diperkenalkannya oleh biksuni tua. siapa tahu nikoh tua itu tidak kelihatan ada maksud hendak
memperkenalkan mereka, ia cuma memandang si kakek berambut putih sekejap. lalu berkata.
"Kau datang"
Kakek itu mengamati-amati Yu Wi dan Yau Ce-sing dengan wajahnya yang kaku, lalu bertanya,
"Kalian berdua ingin menemui diriku?"
Yu Wi tidak berani memastikan kakek ini Be-eng-jin atau bukan, apabila benar, seharusaya si
Nikoh tua berdiri menyambutnya sebagai seorang budak terhadap sang majikan- Tapi nikoh tua itu
tidak berdiri, tentu saja kedudukan pendatang ini sulit untuk diraba.
segera Yau Ce-sing bertanya, "Apakah Lotiang ini Be-eng-jin?"
Tiba-tiba si biksuni tua mendengus, "Hm, kalian ingin menohon bantuannya mengapa tidak
lekas berdiri menyambutnya?"
Mendengar si kakek memang benar Be-eng-jin, cepat Yau Ce-sing berdiri dan memberi hormat.
Sebaliknya Yu Wi tetap duduk diam saja tanpa bergerak. seperti paderi tua yang sedang
bersemadi. sampai si biksuni tua akhirnya juga berdiri, tapi Yu Wi tetap duduk tanpa bergerak.
Nikoh tua itu menjadi gusar, bentaknya, "Yu Wi. lekas berdiri dan menemui majikanku"
"Soh-sim," kata si kakek dengan tertawa. "watak bocah ini kaku dan keras, dia marah padamu
karena cara bicaramu yang kasar, maka sekarang dia sengaja berduduk dan tidak mau berdiri
untuk menyambut kedatanganku."
Yu Wi masih tetap duduk saja, sampai Be-eng-jin selesai bicara, ia malah pejamken mata
sekalian hingga benar-benar mirip orang lagi bersemadi. Maksudnya seakan-akan hendak
menjawab ucapan si kakek alias Be-eng-jin itu, jika engkau bilang watakku keras, maka biarlah
kubikin keras sekalian-
Meski usia Be-eng-jin sudah tua, tapi wataknya ternyata kurang sabar, melihat Yu Wi kurang
sopan, segera ia melangkah maju dan menegurnya dengan mendelik, "Anak bandel, kupuji
watakmu keras, tampaknya kau tambah senang jangankan sekarang ada permohonanmu padaku.
seumpama tidak, berhadapan dengan orang tua kan seharusnya kaupun berdiri untuk
menyambut?"
Yu Wi membuka matanya pelahan, jawabnya dengan tertawa, "Perlu dijelaskan lebih dulu,
apakah Anda ini Be-eng-jin?"
"Tadi kan sudah kukatakan Be-eng-jin segera datang, meski tidak kujelaskan. memangnya
siapa lagi kalau bukan dia?" tukas si nikoh tua.
Yu Wi lantas sedikit membungkuk tubuh dan berucap. "oo,Jadi engkau benar-banar Be-eng-jin?
Maaf jika Yu Wi kurang hormat, Be-eng-jin"
sungguh aneh cara bicara Yu Wi, mana ada orang memanggil orang dengan sebutan demikian-
Betul, kakek berambut putih itu memang betul Be-eng-jin- Tapi istilah Be-eng-jin adalah
menunjukkan profesinya sebagai pembeli bayangan, jadi namanya bukan Be-eng-jin, seumpama
dia tidak mau mang hormati orang yang lebih tua dengan sebuten Lotiang atau bapak, sedikitnya
juga pantas menyebutnya siansing atau tuan- Tapi dia langsung menyebutnya Be-eng-jin,
sungguh terlalu tidak hormat.
Keruan Be-eng-jin menjadi gusar, tapi ia lantas tertawa dan berkata, "Anak tambeng, jika kau
punya kepandaian sendiri, untuk apa kau datang kesini memohon padaku?"

"Cayhe bukan orang latah," jawab Yu Wi pelahan, "juga tidakpunya kepandaian, maka
kedatanganku ini-justeru ingin memohon bantuanmu."
"Baik jika begitu," sahut Be-eng-jin dan hilanglah rasa marahnya, "nah, berdirilah dan kita boleh
mulai bicara bisnis." -
"Sekarang juga kita bicara bisnis?" tanya Yu Wi.
Kembali Be-eng-jin merasa marah oleh ucapan Yu Wi yang bernada mengejek, bentaknya
gemas. "Kalau tidak mau bicara bisnis, silakan ....silakan enyah"
Yu Wi terbahak-bahak. "Hahahaha Be-eng-jin, tampaknya engkau ini terlalu mudah marah. Ada
ucapan Khonghucu bahwa orang tua yang sudah berusia tujuh puluh hampir tidak kenal marah,
Meski engkau kelihatan sudah setua ini, kuyakin lebih dari 70, mengapa sedikit-sedikit suka
marah?"
Be-eng-jin jadi melengak. sungguh tak terpikir olehnya Yu Wi akan omong seperti ini, bahkan
didalam ucapannya itu ada ucapan lain, tidak sederhana maknanya, mau-tak-mau banyak
berubahlah pandangan Be-eng-jin terhadap anak muda itu, ia pikir kalau orang tidak mau berdiri
tentu ada sesuatu alasannya.
Dalam pada itu lenyaplah tertawa pada wajah Yu Wi itu, ucapnya dengan serius, "Be-eng-jin,
bilamana kita harus bicara sungguh-sungguh dan sejujurnya, untuk itu kuharap engkau perlu
menanggalkan dulu penyamaran yang tidak perlu."
Belum bicara Be-eng-jin sudah tertawa lebih dulu, katanya kemudian, "Hah, hebat, sungguh
boleh juga kau Padahal penyamaranku ini baik wajah, tutur- kata. gerak-gerik. semuanya telah
kulakukan dengan sangat wajar dan selama ini belum pernah diketahui orang, siapa tahu sekarang
baru bertemu untuk pertama kali sudah kau bongkar penyamaranku, sungguh hebat."
Sembari bicara ia terus menyingkap kedoknya yang tipis, maka tertampaklah seraut wajah yang
berbeda 180 derajat, ia bukan lagi seorang kakek melainkan seorang pemuda berumur likuran
dengan wajah putih dan cakap.
Be-eng-jin memandangi kedok kulit tipis itu dengan tertawa, lalu barucap pula, "Meski aku
menyaru sebagai orang tua, tapi rambutku yang putih ini adalah asli.Justeru lantaran
pembawaanku berambut putih inilah maka aku sengaja menyamar sebagai orang tua untuk
berkelana kemana-mana. kalau tidak. mana aku mau menyamar sebagai orang tua .Jaman ini
hampir tidak ada anak muda yang mau menghormati orang tua, mana aku mau diperlakukan
kasar dan dingin oleh orang lain?"
Beberapa kata terakhir itu rupanya sengaja dilontarkan untuk mengolok-olok sikap Yu Wi yang
kasar tadi. Apabila Yu Wi tahu sopan santun- berhadapan dengan seorang tua. baik tulen atau
seterusnya dia menyebut orang sebagai Lotiang atau Siansing serta harus menyambutnya dengan
berdiri.
Seperti rada diluar dugaan Yu Wi memandang Be-eng-jin sekejap. tapi hanya sekilas pandang
saja ia memejamkan mata, dia tetap berduduk tidak mau berdiri untuk bicara.
Be-eng-jin kagum kepada ketajaman mata Yu Wi padahal penyamarannya sangat persis dan
sukar dibedakan, namun sekali pandang saja Yu Wi dapat membongkar kepalsuannya, mau-takmau
ia sangat kagum. segera ia duduk diatas kasuran yang lain, lalu berkata dengan tertawa,
"Jika kau ingin dengan berduduk juga boleh, oya, kasuran disini hanya ada dua, terpaksa Kongcu
ini harus disilakan duduk di lantai."
Dengan sangsi dan melengak Yau Ce-sing berduduk, katanya. "Cayhe she Yau, bernama Cesing,
mendiang ayahku sudah pernah ada hubungan dengan perguruan kalian,"
Ia terkejut oleh kemahiran penyamaran Be-eng-jin- ia juga sangsi mengapa usia Be-eng-jin
semuda ini, ternyata serba mahir sehingga membuat orang menyangsikan kemampuannya yang
luar biasa itu.
segera Be-eng-jin berpaling dan memandang soh-sim Nikoh yang berdiri dibelakangnya dengan
sorot mata bertanya.

Biksuni tua itu lantas bertutur, "Dia mengaku sebagai putra Yau Kong- liang."
"Ooo," Be-eng-jin bersuara heran, lalu menyambung dengan tertawa, " Kiranya Yau-heng
adanya, apakah kedatangan Yau-heng ini sudah tahu syarat yang harus dipenuhi bilamana ingin
minta kukerjakan sesuatu?"
Yau Ce-sing mengangguk. jawabnya, "Ya, tahu, tadi sudah dijelaskan oleh Losuhu yang berdiri
di belakangmu itu."
Be-eng-jin lantas berpaling dan berkata kepada Yu Wi, "Tentunya kaupun sudah tahu. Baiklah,
sekarang kita mulai bicara tentang bisnis, silakan bicara dulu apa yang hendak kalian minta
kukerjakan. Yu-heng silakan bicara lebih dulu."
Tapi Yu Wi lantas menggeleng, ucapnya, "Bisnis yang tidak sungguh-sungguh takkan
kurundingkan-"
"Mengapa kau bilang tidak sungguh-sungguh? Bukankah sudah kuperlihatkan wajahku yang
asli?" kata Be-eng-jin dengan heran-
Yu Wi menjengek, "Apakah sekarang ini wajahmu yang asli?"
Air muka Be-eng-jin berubah hebat, "Aneh juga , memangnya ada sesuatu yang tidak betul
wajahku ini?"
"Tentunya Anda ini anak murid Bu-eng-bun?" Tanya Yu Wi.
Cepat Soh-sim Nikoh menyela, "Kedatangan kau kesini adalah untuk mencari orang Bu-engbun,
secara tidak sengaja telah diketuhuinya bahwa kita adalah orang Bu-eng-bun."
Selagi Be-eng-jin hendak mengomeli biksuni tua itu kerena dia telah memberitahukan rahasia
Bu-eng-bun kepada Yu Wi, karena penjelasan ini,ternyata bukan salah soh-sim melainkan karena
kecerobohan Yau Ce-sing.
Dengan kurang senang Be-eng-jin lantas berkata, "Soh-sim, cara bagaimana saudara Yau ini
dapat mencari orang Bu-eng-bun kesini?"
Soh-sim berkerut kening dan menjawab, "ini memang salahku yang kurang hati-hati masa
dahulu, setelah selesai perkaranya Yau Kong- liang , masih kuatir kalau perkaranya diusut, ia
minta nasihat padaku, kukatakan kalau ada kesulitan boleh datang kesini mencari diriku, entah
mengapa, rahasia tempat ini telah diketahui budak Yau Kong- liang yang bernama Yau Tiong,
mungkin karena melihat majikan mudanya selalu dirundung kesedihan, maka dia memberi
petunjuk tempat ini adalah tempat Bu-eng-bun yang dahulu sering bantu memecahkan macammacam
kesulitan ayahnya, sebab itulah saudara Yau ini datang kesini untuk mencari orang Bueng-
bun."
Bu-eng-jin tambah kurang senang, ucapnya, "Kau memang terlalu ceroboh, masakah pekerjaan
yang sudah diselesaikan Bu-eng-bun bisa salah? Jika Yau Kong- liang kuatir perkaranya diusut, dia
sendiri yang kuatir, masakah kaupun tidak percaya kepada kekuatan kita sendiri dan memberi
tahukan tempat penghubung kita ini?"
Tambah rapat kening nikoh tua itu terkejut, jelas ia kurang senang karena Be-eng-jin terangterangan
mencela kesalahannya, padahal kesalahan ini dianggapnya tidak seberapa.
Diam-diam Yu Wi mengikuti percakapan mereka dan memeras otak. akhirnya ia dapat menarik
kesimpulan Bu-eng-jin ini mungkin adalah sebuah sindikat rahasia yang khusus melakukan
pekerjaan berbahaya bagi orang lain dengan pembayaran tinggi. syarat utama untuk menyewa
tenaga mereka adalah mereka yang mencari dirimu, sebalikkya tidak boleh kau cari mereka Jika
kau cari mereka imbalannya tidak sama. seperti halnya sekarang Yau Ce-sing dan dirinya datang
mencari mereka syaratnya hanya satu, yaitu menjual bayangan sendiri kepadanya.
Ayah Yau Ce-sing dahulu justeru pernah didatangi mereka, sedangkan petugas Bu-eng-bun
yang harus melaksanakan pekerjaan penyewa dahulu adalah soh-sim Nikoh sekarang yang waktu
itu masih muda. Karena kurang hati-hati soh-sim memberitahukan tempat mengadakan kontak

dengan pihak Be-eng-jin ini, mungkin ayah Yau dahulu meragukan pekerjaan yang harus
diselesaikan soh-sim, bisa juga pekerjaannya kurang tuntas. maka dia bertanya dengan lebih jelas,
soh-sim merasa mendongkol dan menyatakan bila terjadi sesuatu yang kurang beres boleh datang
mencarinya di biara kecil ini.
Akhirnya perkara yang dimaksud tidak beralangan, namun waktu mau mati Yau Kong- liang
masih juga berkuatir kalau urusannya akan membikin susah keturunannya, sebab itulah dia telah
pesan kepada budak setia yang bernama Yau Tiong bila terjadi sesuatu boleh pergi minta
pertolongan kepada Bu-eng-bun di tempat rahasia yang telah disebutkan soh-sim ini.
Kemudian entah terjadi kesulitan apa. Yau Ce-sing dirundung kedukaan, Yau Tiong kuatirkan,
kesehatan majikan mudanya, ia anggap pekerjaan yang pernah diselesaikan Bu-eng-bun dahulu
tidak terjadi kesulitan apa-apa, jelas kemampuan Bu-eng-bun memang lain daripada yang lain,
maka dengan maksud baik ia beritahukan kepada Yau Ce-sing tempat rahasia Bu eng-bun ini agar
majikan muda itu datang ke sini untuk minta tolong agar kesulitannya itu diselesaikan Bu-eng-bun.
Tak terduga tempat ini mestinya tidak boleh dicari. sekali bertemu ternyata imbalan sudah lain
daripada jumlah uang yang dahulu harus dibayar majikan tua, imbalan yang diminta sekarang
sungguh sangat mengejutkan, yaitu si pemohon harus meniual bayangannya kepada mereka.
setelah merenungkan seluk-bluk ini, Yu Wi rada menyangsikan hubungan majikan dan budak
antara Be-eng-jin dan soh-sim.Jika benar Be-eng-jin adalah majikan nikoh tua itu, mengapa sohsim
tidak memberi hormat sebagaimana lazimnya seorang budak terhadap majikannya melainkan
cuma menghormat dalam sebutan saja.
Jika benar soh-sim adalah budaknya, mengapa dahulu dapat menjadi petugas operasi Bu-engbun
dan menyelesaikan perkara yang diminta Yau Kong- liang jelas soh-sim dan Be-eng-jin samasama
anggota Bu-eng-bun, hanya alasan ini saja soh-sim berhak melaksanakan pekerjaannya bagi
Bu-eng-bun-
Buktinya sekarang, hanya sedikit Be-eng-jin mengomelnya. air muka soh-sim lantas
memperlihatkan rasa kurang senang. Bilamana soh-sim benar2 budak. jelar sikapnya tidak akan
demikian-
Rupanya Bu-eng-jin tahu juga air muka soh-sim yang tidak senang itu, ia tidak banyak bicara,
ia berpaling dan berkata kepada Yu Wi, "Betul, Bu-eng-bun memang sebutan aliran perguruan
kami."
"Dan apa arinya Bu-kun-cu?" Yu Wi tanya pula dengan berlagak tidak paham.
seketika air muka Be-eng-jin berubah lebih hebat. bahkan terus melompat bangun- ia tuding Yu
wi dan bertanya, "Dari ... dari mana kau tahu istilah ini?"
Yu Wi pura-pura dungu dan berucap pula, "Bu-eng-bun, Bu-kun-cu, Yu-kun-cu, sit-eng-jin l-Hm,
Bu-kun cu, kalimat ini memang betul, Bu-kun-cu artinya kan tidak ada lelaki? ,..."
Tiba-tiba Be-eng-jin berduduk dan air mukanya berubah tenang kembali. ia tertawa terkikik dan
berkata, " Yu-kun-cu, sit-eng-jin Ya, Yu-heng memang lihai, sampai seluk-beluk Bu-eng-bun kami
juga sudah kau selidiki dengan jelas. Keempat kalimat itu adalah kunci rahasia perguruan Bu-engbun
kami, entah dari mana kau dapat dengar, untuk ini aku pun tidak perlu mencari tahu. Eh, soh
sim, boleh kau bawa Yau-heng ketempat Jici (kakak kedua), biarlah Jici saja yang membeli
bayangannya."
Mendengar suara Bu-eng-jin sekarang nyaring merdu sebagaimana kaum wanita umumnya,
sama sekali berbeda daripada suara lelaki tadi, Yau Ce-sing menjadi heran, tanyanya, "He, jadi
engkau .... engkau orang perempuan?"
Be-eng-jin tertawa dan berkata, "Baru sekarang kau tahu,padahal Yu-heng ini sudah tahu sejak
tadi."

Yau Ce-sing sangat kagum kepada kecerdasan Yu Wi, ia menyesal akan kebodohan sendiri,
masa sedikit pun tidak tahu menahu, padahal berturut-turut dua kali Yu Wi telah membongkar
kepalsuan Bu-eng-jin-
Sebenarnya bukan lantaran Yu wi terlalu pintar dan dapat melihat kepalsuan Bu-eng-jin,
pertama kali dia kebetulan dapat membongkar usia Bu-eng-jin- kedua kali membongkar jenis
kelaminnya yang palsu. Padahal kalau tidak kedatangan Yau Ce-sing yang hendak mencari orang
Bu-eng-bun sehingga diketahui Bu-eng-jin adalah orang Bu-eng-bun-tidak mungkin dia dapat
memahami arti keempat kalimat yang tertulis di belakang punggung patung telanjang itu.
Setelah diketahui Bu-eng-jin adalah orang Bu-eng-bun maka kedua kalimat pertama "Bu-engbun.
Bu-kun-cu" atau perguruan tanpa bayangan tidak ada lelaki. lantas dapat dipecahkannya
dengan mudah.
Kiranya perguruan Bu-eng-bun seluruhnya kaum wanita tanpa lelaki seorangpun- Atau dengan
perkataan lain Bu-eng-bun hanya menerima murid perempuan dan tidak pernah menerima murid
lelaki.
Setelah memecahkan arti kedua kalimat pertama itu, maka Yu Wi dapat membongkar jenis
kelamin Bu-eng-jin- Tapi kedua kalimat berikutnya berbunyi "Yu-kun-cu, sit-eng-jin" atau punya
bayangan dan orang kehilangan bayangan, apa artinya masih menjadi teka-teki baginya.
Ia pikir Bu-eng-jin tidak mengetahui dari mana dirinya mendapat tahu keempat kalimat itu,
mungkin Bu-eng-jin sendiri juga tidak tahu adanya tulisan di punggung patung telanjang itu.
Bisa jadi keempat kalimat hanya turun temurun diberitahukan kepada setiap anggota, tapi tidak
ada yang tahu bahwa keempat istilah itu justeru terukir di belakang patung yang mereka puja.
Mungkin anggota Bu-eng-bun takut berdosa kepada patung pujaan mereka, maka tidak ada
yang berani menyentuh patung telanjang yang setiap hari disembah mereka itu. Pantaslah patung
itu hitam kotor, kebetulan ketanggor Yu Wi yang tidak takut tahayul, patung itu dipeganginya dan
diperiksa dengan teliti, dari situlah ditemukan keempat kalimat azimat Bu-eng-bun yang sudah
turun temurun itu.
Dalam pada itu soh-sim Nikoh telah berkata, "Yau-kongcu, silakan ikut pergi bersamaku."
"Pergi ke mana?" tanya Yau Ce-sing. "Bukankah kalian hendak membantu memecahkan
persoalanku?"
Be-eng jin tertawa, katanya, "Banyak sekali taci-adik Bu-eng-bun kami, tapi jarang sekali orang
yang sengaja datang menjual bayangan kepada kami. Kebanyakan langganan kami adalah kami
yang pergi mencari mereka. Pada umumnya jarang yang tahu tempat penghubung kami, pula
imbalannya terlalu tinggi, kesempatan terjadinya transaksi sangat sedikit. Tapi sekarang mungkin
nasibku lagi kedatangan kalian berdua yang mengantarkan rejeki. Kukira urusan yang hendak
kalian cerahkan kepadaku itu pasti sangat sulit dikerjakan, kalau tidak mustahil kalian rela menjual
bayangan sendiri Kukuatir sendirian sukar melaksanakan dua pekerjaan yang berat, pula rejeki
juga harus dibagi antar saudara kami. Maka hendak kuserahkan kepada Jici, biarlah bayanganmu
dibeli saja oleh Jici."
Bagi Yau Ce-sing sih tidak soal siapa yang akan membeli bayangannya, yang penting baginya
asalkan urusannya dapat diselesaikan- segera ia berkata, "Akan kujual bayanganku kepada Jicimu,
tapi dapatkah dia bantu memecahkan persoalanku itu?"
Be-eng-jin tertawa dan menjawab, "Untuk ini, jangan kau kuatir, setiap saudaraku dalam Bueng-
bun adalah orang yang serba mahir,"
"Jika begitu baiklah kumohon diri," kata Yau Ce-sing sambil memberi hormat.
Setelah soh-sim membawa pergi Yau Ce-sing kacungnya, Be-eng-jin lantas membalik tubuh dan
menanggalkan jubah putih serta membuka rambut palsunya. Maka terlibatlah di bagian dalam

terpakai baju kulit ringkas berwarna putih dengan gaun putih pula, ditambah lagi kulit badannya
yang putih dan rambutnya juga putih perak, sekujur badanya serba putih, semuanya gilang
gemilang tiada satu bagian yang suram.
Yu Wi tidak pernah melihat perempuan berambut putih perak begini. sampai kesima ia pandang
orang.
Bu-eng-jin tertawa geli, ucapnya, "setelah ku-pulih pada wajahku yang asli, masakah engkau
tetap tidak percaya?"
Yu Wi terkesiap dan menjawab dengan tergegap. "O, percaya, pasti percaya. Baiklah, Bu-engjin,
setelah kita berhadapan dengan jujur bolehlah kita bicara tentang bisnis."
Bu-eng-jin menggeleng, "Aku tidak tahu engkau ini memang tidak tahu sopan santun atau
cuma pura-pura tidak tahu. Padahal aku punya nama dan ada she, mengapa kau sebut Bu-eng-jin
sejak tadi, kan tidak enak didengar."
"Oya, siapakah nama Siocia yang terhormat?" tanya Yu Wi dengan tertawa.
"Nah, begitu, kau harus panggil siocia," ujar Bu eng-jin dengan tertawa. "Aku she.."
Mendadak ia berhenti, rupanya ia terlanjur omong. Memang betul umumnya orang tentu punya
nama dan ada she, tapi Be-eng-jin ini-justeru cuma ada nama dan tidak punya she. Ia sendiri
tidak tahu dirinya she apa, biarpun ibu kandungnya juga tidak jelas.
Yu Wi tidak sengaja berolok-olok.ia memang tidak tahu bahwa Bu-eng-jin benar-benar tidak
punya she atau nama keluarga dari ayah, segera ia tanya pula, "she apa?Jika tidak sudi kau
katakan, janganlah sembarangan mengarang satu she untuk menipu diriku. Marilah kita bicara
tentang bisnis saja."
Air muka Bu-eng-jin tampak memperlihatkan rada pedih, tapi hanya sekejap saja ia tertawa
pula dan berkata, " Waktu kecilku ibu suka bilang setiap perempuan she Bong (kepergok), kelak
kalau sudah dewasa entah akan kepergok lelaki yang mana. oleh karena itu tidak perlu
kusebutkan she, cukup kau panggil aku Pek-yan saja."
"Pek-yan (walet putih)? Ehmm, indah benar nama ini." ujar Yu Wi. "Eh, Pek-yan siocia,
sekarang hendak kukatakan permohonanku. sian-thian- ciang. pernahkah kau dengar nama ilmu
pukulan ini?"
"Sian-thian- ciang?" Pek-yan menegas, lalu menggeleng kepala dan menyambung, "Tidak
pernah kudengar. segala macam llmu pukulan di dunia ini hampir seluruhnya kukenal, tapi sianthian-
ciang ini rasanya tidak pernah kudengar, juga tidak pernah kubaca dalam kitab apa pun-"
"Tapi permohonanku justeru mengenai cara mematahkan ilmu pukulan ini."
"Jangan kuatir," ujarPek-yan dengan tertawa. "meski belum pernah kulihat sian-thian- ciang,
asalkan kau katakan jaman ini siapa yang menguasai ilmu pukulan ini, kujamin dalam waktu
singkat dapat kuberitahukan cara mematahkan ilmu pukulan ini."
Yu Wi lantas ceritakan pengalamannya di Cu-pi-am tempo hari, bicara mengenai kekalahannya
hanya dalam dua jurus saja, ia menyindir dirinya sendiri, "Tadinya kusangka kungfuku tidaklah
rendah, siapa tahu seorang nona cilik saja dapat mengalahkan diriku dengan mudah, apabila dia
main satu jurus lagi, mungkin aku akan terdesak jatuh kebawah jurang."
Pek-yan tidak tanya maksud kedatangan Yu wi ke Cu-pi-am, dengan tertawa ia lantas berkata,
"Cupi-am terletak di puncak gunung seberang sana, sungguh lucu baru sekarang kutahu orang cupi-
am mahir ilmu pukulan aneh ini.Jika demikian tiga hari kemudian akan kuajarkan padamu cara
mematahkan ilmu pukulan itu."
"Tiga hari?" Yu Wi menegas dengan kurang percaya, "Hanya dalam tiga hari sudah dapat kau
kuasai permainan ilmu pukulan yang belum pernah kau lihat sebelum ini?"
"Ya, untuk itu terpaksa kau harus tinggal lagi tiga hari disini." kata Pek-yan dengan penuh
keyakinan, "sekarang juga aku akan berangkat ke siau-hoa-san."

"Jangan-jangan hendak kau hadapi nikoh cilik itu untuk mendapatkan ilham cara mematahkan
ilmu pukulannya setelah bergebrak dengan dia?" tanya Yu Wi.
"Betul, hanya dengan cara demikian dapat kuciptakan cara mematahkan sian-thian-ciang . "
Yu Wi menggeleng. ia tidak percaya Pek-yan mempunyai kemampuan setinggi ini, hanya dari
saling gebrak saja dapat diciptakannya sejurus ilmu pukulan ajaib untuk mematahkan ilmu pukulan
lawan.
Tapi Pek-yan lantas berkata, "Boleh kau tunggu d is ini jika tidak percaya." Habis berkata, tanpa
mengucapkan sampai bertemu lagi segera ia melayang pergi.
Yu Wi menunggu seharian, malamnya Pek-yan pulang, kelihatan lesu dan lemah, mungkin
karena menerjang rintangan kedua dia telah bertemcur sengit dengan ketiga nikoh cilik itu.
Mestinya Yu Wi hendak tanya bagaimana hasil pertarungannya, tapi demi melihat orang tidak
bermaksud bicara, supaya tidak malu sendiri, terpaksa Yu Wi berduduk membaca kitab syair yang
ditinggalkan Yau Ce-sing itu.
Pek-yan duduk di kasuran lain dan memeras otak dengan mata terpejam.
semalam lewat tanpa terjadi apa-apa, hari kedua, pagi-pagi Yu Wi bangun berjalan-jalan dan
makan sedikit rangsum, namun Pek-yan tetap berduduk. Yu Wi tahu orang sedang merenungkan
cara mematahkan sian-thian- ciang. Ia pikir ilmu pukulan nona ini jelas di atasku, dia sanggup
bertempur sengit melawan ketiga nikoh cilik itu sehari suntuk. padahal dirinya tidak sanggup
menahan dua jurus serangannya, sungguh memalukan-
Karena iseng, Yu Wi mengulangi lagi membaca kitab syair itu, sehalaman demi sehalaman ia
membaca, makin lama makin tertarik. sampai malam tiba sudah setengah buku dibacanya, tiga
kali ia makan ransum, sebaliknya Pek-yan tidak makan apapun, bahkan air juga tidak minum, ia
tetap duduk tanpa bergerak.
Yu Wi kuatir nona itu bisa mati kelaparan atau dahaga, maka dia sengaja membaca kitabnya
dengan suara lantang.
Mendadak Pek-yan membuka mata dan memelototinya sekejap. jelas dia tidak senang karena
terganggu oleh suara baca Yu Wi.
Maka Yu Wi lantas berhenti membaca, ia menyengir, selagi hendak bicara, dilihatnya nona itu
memejamkan mata pula.
Bab 14 : Menjual bayangan jiwa
Yu Wi menggeleng dan tersenyum, ia pikir urusan sendiri harus minta tolong kepada seorang
perempuan untuk memeras otak baginya, kalau tersiar kedunia Kang-ouw mustahil kalau tidak di
tertawakan orang.
Namun begitu Pek-yan toh dapat memikirkan cara mematahkan Sian-thian-ciang, sebaliknya
dirinya jangankan memikirkannya, sampai kepala pecah juga tidak mampu. sebab sian-thian-ciang
yang diketahuinya seluruhnya juga cuma tiga jurus. Apalagi melulu tiga jurus itu saja sudah
membuatnya bingung dan tidak ingat lagi meski tempo hari pernah dilihatnya waktu dimainkan
Siau Hong.
Sampai hari ketiga, kitab syair itu sudah hampir terbaca habis oleh Yu Wi, waktu ia membalik
halaman terakhir, tiba-tiba ditemukan sehelai kertas yang terselip di situ.
Kertas itu penuh tertulis huruf kecil, Yu Wi coba memeriksanya, ternyata semua tulisan itu
melulu terdiri dari empat huruf saja, jadi ditulis berulang tetap empat huruf saja yang berbunyi
"kiam-kah-yong-yong", artinya harapan remang-remang.

Tulisan itu ada yang rajin, ada yang asal gores saja, dapat dibayangkan yang menulis itu pasti
lagi kacau pikirannya, sebentar gembira, sebentar sedih.
Goresannya cukup kuat, jelas ditulis oleh orang lelaki. Padahal kitab ini milik Yau ce-sing,
tentulah kertas yang penuh tertulis empat huruf ini- juga ditulis olehnya.
Kini Yu Wi dapat menerka apa yang menjadi sebab kekesalan hati Yau ce-sing, tanpa terasa ia
tertawa geli dan membatin, "Rupanya dia lagi kacau pikiran lantaran urusan cinta."
"Kiam-kah-jong-jong" terdapat dalam syair kuno yang merupakan syair percintaan seorang
pemuda yang merindukan kekasih. Dari keempat huruf ini dapat diperkirakan pikiran Yau Ce-sing,
tentu dia mencintai seorang gadis, tapi gadis itu seperti tidak mau sehingga membuatnya bingung,
hal inilah yang membikin kesal hatinya.
Yu Wi memang cerdas, apa yang telah dibacanya tidak terlupakan lagi, maka belahan ia coba
menghapalkan syair yang baru saja dibacanya ....
Tapi baru beberapa kalimat, mendadak terdengar Pek-yan menegurnya dengan tertawa, "He.
apa yang kau katakan?"
Cepat Yu Wi merapatkan kitab syair itu dan menjawab, "Eh, Pek-yan siocia, engkau sudah
mendusin."
"Aku kan tidak tidur, pakai mendusin apa segala?" omel Pek-yan.
"Ya, kutahu, tentu engkau telah berusaha dengan susah payah demi memenuhi permintaanku.
"
"Susah payah sedikit tidak menjadi soal, yang penting sekarang sudah kudapatkan cara
mematahkan sian-thian-ciang."
"Hah, apa betul?" seru Yu Wi girang.
"Kemarin dulu sudah kupergi ke siau-hoa-san, dengan alasan menerjang rintangan dapat
kutembus dua rintangan mereka, sian-thian-ciang ketiga nikoh cilik itu memang benar ilmu
pukulan paling lihai yang pernah kulihat selama hidup ini, tapi juga tidak dapat merintangi aku.
Demi menyelami letak kebagusan sian-thian-ciang mereka, aku sengaja tidak mengalahkan
mereka, tapi selama sehari suntuk kutempur mereka sehingga seluruh permainan mereka dapat
kuapalkan ..."
Diam-diam Yu Wi terkejut atas bakat Pek-yan yang luar biasa itu, sungguh sukar untuk
dipercaya bahwa nona semuda ini dapat mencuri belajar ilmu pukulan lawan dalam pertarungan
yang berlangsung. Maka dengan sangsi ia coba tanya, "Jika nona sudah apal seluruhnya, dapatkah
kau mainkan sekali bagiku?"
"Tidak kumainkan bisa jadi akan kau sangsikan kemampuanku," kata Pek-yan dengan tertawa.
"Baiklah, boleh kau lihat, sian-thian-ciang seluruhnya terdiri dari 108 jurus...."
Segera ia melompat bangun dari kasuran dan memainkan sian-thian-ciang yang hebat sejurus
demi sejurus dengan sangat terang.
Ilmu pukulan Yu Wi sendiri juga sudah tergolong kelas satu, dengan sendirinya ia dapat
membedakan permainan Pek-yan itu asli atau palsu. Dilihatnya tiga jurus pertama memang benar
serupa permainan siau Hong, bahkan lebih bagus daripada siau-hong, hal ini disebabkan sianthian-
cang yang dikuasai ketiga nikoh cilik itu memang terlebih tinggi daripada siau Hong.
Selesai 108 jurus dimainkan, dengan tenang Pek-yan lantas berdiri dengan tenang. Diam-diam
Yu Wi mengagumi sian-thian-ciang yang luar biasa itu, pantas dua jurus saja dirinya tidak tahan,
kenyataannya memang hebat luar biasa setiap jurusnya.
Ketiga jurus sakti ciptaan Kan Yok-koan, ke-13 jurus ilmu pukulan Ji Pek liong dan Hoa-sinciang
ciptaan Loh Ting-hoa, semuanya boleh dikatakan ilmu pukulan yang sukar ada
bandingannya didunia Kang-ouw, tapi kalau dibandingkan sian-thian-ciang, mau-tidak-mau harus
diakui betapa kecilnya serupa si kerdil berhadapan dengan raksasa.
"Bagaimana, kenapa tidak bicara, apakah ada sesuatu yang tidak betul?" tanya Pek-yan.

"O, tidak." jawab Yu Wi cepat, "lalu bagaimana caranya mematahkan sian-thian-ciang yang
hebat ini?"
"Jika cuma omong saja mungkin tidak kau percayai, sebentar kalau sudah berhasil kau pelajari
caranya, nanti aku yang memainkan sian-thian-ciang dan boleh kau coba mematahkannya, tatkala
mana baru kau tahu tidak sulit untuk mematahkan sian-thian-ciang."
"Bilakah dapat kubelajar?" taaya Yu Wi dengan tertawa.
"Tentu saja makin cepat makin baik," kata Pek-yan.
"Jika demikian bolehlah mulai sekarang?" tanya Yu Wi dengan tidak sabar.
Pek-yan menggelang, "Masa begitu sederhana? Pertama, aku perlu istirahat dulu dan makan..."
Mendadak Yu Wi mengetuk batok kepala sendiri dan berseru, "Ah, sungguh aku terlalu
mementingkan diri sendiri Padahal engkau sudah dua hari dua malam memeras otak tanpa
istirahat dan tidak makan, sekarang kuminta kau ajarkan ilmu pukulan hasil pemikiranmu, jika
kesehatanmu terganggu sungguh tidak sedikit dosaku."
"Ini tidak menjadi soal, hanya sedikit penderitaan ini belum dapat merusak kesehatanku," kata
Pek-yan "Yang penting, sebelum kukerjakan urusanmu, lebih dulu harus kau penuh isyaratnya . "
Mendengar ini seketika hati Yu Wi terasa berat.
"Bagaimana, janganlah bersungut," Pek-yan berseloroh, " memenuhi syarat kan tidak berarti
menghendaki jiwamu?"
Yu Wi merasa kurang senang, ucapnya, " Urusannya entah akan berhasil atau tidak, masakah
harus kupenuhi dulu syaratnya?"
"Memang betul juga, sebelum kau kalahkan sian-thian-ciang, Memang terlalu dini jika harus
bicara tentang penjualan bayanganmu," tanpa menunggu jawaban Yu wi, segera Pek-yan
menyambung, "Tapi aku punya pegangan, setelah kuajarkan caranya, kau pasti mampu
mematahkan sian-thian-ciang. Padahal selama ini pekerjaan Bu-eng-bun selalu lancar dan tidak
pernah gagal, biasanya kami terima bayaran dulu baru mulai bekerja. Tapi akupun tidak mau
memaksa dirimu, hanya saja perlu ada jaminan darirmu, kalau tidak. bilamana kau brhasil lalu
kabur, kan aku jadi bekerja percuma?"
Yu Wi merasa kurang senang. tapi ia pun tidak membantah, tanyanya, " Habis bagaimana
menurut kehendakmu?"
"Kau harus bersumpah kepada patung kami. dengan begitu barulah aku tidak perlu kuatir lagi
akan sia-sia usahaku," kata Pek-yan dengan tertawa.
"Bersumpah dihadapannya?" tanya Yu Wi sambil menuding patung wanita telanjang itu.
Tiba-tiba air muka Pek-yan berubah kereng, ucapnya dengan khidmat, "Beliau adalah cikalbakal
Bu-eng-bun kami, Hiang-sin (malaikat harum). kau bersumpah padanya harus kau lakukan
dengan jujur dan khidmat. apapun pikiranmu tidak beres pasti akan diketahuinya."
Diam-diam Yu Wi tertawa geli. pikirnya sebuah patung telanjang saja masakah punya keramat
apa-apa, huh, memangnya menipu anak kecil?"
Maka dengan tersenyum ia berkata, "Baiklah. boleh aku bersumpah padanya."
Lalu ia berlutut di depan meja sembahyang. tanyanya sambil menoleh, "Apa yang harus kuucapkan?"
Pek-yan berdiri disampingnya dan berkata, "Katakan, Hiang-sin maha sakti, Tecu Yu Wi
bersumpah, apabila Tecu telah mengalahkan sian-thian-ciang, selanjutnya setiap tindak-tandukku
akan tunduk kepada perintah Pek-yan, jika melanggar sumpah, terserah hukuman apa yang akan
dijatuhkan Hiang-sin."
Yu Wi menirukan sumpah itu sekata demi sekata, selesai bersumpah, mendadak terasa
beberapa Hiat-to penting di bagian punggung sama kesemutan, cepat la berpaling dan berseru,
"He, apa yang kau lakukan?"
Pek-yan mendengus, "Telah kutusuk keenam Hiat-to penting itu dengan enam jarum berbisa."

seketika Yu Wi merasa sekujur badan dingin seperti kejeblos ke dalam gua es. keenam berbisa
itu serupa belenggu yang tidak kelihatan, selanjutnya kebebasannya akan terkekang oleh
belenggu ini.
Gemas sekali dia karena merasa dipermainkan Pek-yan, segera ia membentak. "Bukankah kau
suruh aku bersumpah? Kenapa sekarang kau gunakan jarum berbisa secara rendah ini padaku?"
Pek-yan menjengek. "Hm, melihat sikapmu waktu bersumpah, mana aku mau percaya
kesungguhanmu, sudah kukatakan segala apa pun diketahui Hiang-sin, jika aku saja tidak dapat
kau tipu, mustahil Hiang-sin mau percaya kepada sumpahmu."
Saking gusarnya sampai Yu Wi tidak dapat bicara lagi, ia hanya menyalahkan dirinya sendiri
yang tidak percaya kepada malaikat segala, waktu bersumpah kurang khidmat sehingga sekarang
harus menderita oleh enam jarum berbisa ini.
Tapi segera terpikir lagi olehnya dirinya kan bukan orang yang suka ingkar janji, setelah
berhasil menguasai cara mematahkan sian-thian-ciang syarat yang dijanjikan pasti akan
dipenuhinya, jadi keenam jarum berbisa ini tidak perlu dipersoalkan. Apalagi dengan kepandaian
sendiri kan tidak sukar untuk memunahkan racun jarum ini.
Setelah menenangkin diri, segera ia berkata pula, "Baiklah, sekarang sumpah sudah kulakukan.
kapan mulai kubelajar kungfumu?"
Melihat Yu Wi tidak marah lagi atas tidakan keji dirinya, Pek-yan sangat senang, katanya,
"Kutahu hasratmu ingin mematahkan sian-thian-ciang sukar di tunda-tunda lagi, mungkin ada
orang di Cu-pi-am yang perlu kau temui. Hm, tidak perlu kau katakan siapa dia, akupun tidak perlu
tanya. biarlah sekarang juga kuajarkan kungfu anti sian-thian-ciang itu. Uniuk menguasai kungfu
anti sian-thian-ciang ini dengan sendirinya perlu memahami dulu sian-thian-ciang. Nah, akan
kulukiskan gaya ilmu pukulan sian thian-ciang itu, boleh kaubaca sendiri dengan teliti, setelah kau
apal benar, tentu tenagaku juga sudah pulih seluruhnya."
Setelah menerima gambar petunjuk, tiba-tiba Yu Wi merasa mual dan menumpahkan kotoran-
Pek-yan tidak takut kotor, ia memegangi tubuh Yu Wi yang terhuyung-huyung dan berkata,
"Wah, celaka, racunnya bekerja."
Dengan heran Yu wi tanya, "Racun pada jarummu apakah bukan Toan-jong-ang (merah
perantas usus)?"
"Bukan," jawab Pek-yan. "Memang cara bekerjanya racun mirip Toan-jong-ang, tapi Toan-jongang
bekerja satu kali setiap bulan, sedangkan racun jarumku ini setiap hari bekerja satu kali."
Kaget Yu Wi tak terlukiskan, "He, mana ada racun lambat yang bekerja setiap hari."
"Kenapa heran," ujar Pek-yan. "racunku ini memang lain daripada yang lain. Eh, aneh juga,
tampaknya pengetahuanmu tentang racun cukup luas?"
Muka Yu Wi menjadi merah, jawabnya. "O, tidak, hanya tahu sekadarnya racun, yang biasa
digunakan orang Kangouw."
Pek-yan cukup cerdik, katanya, "Ah, hampir tertipu pula. Kebentur ahli racun- kan tidak ada
gunanya kumain tusuk jarum berbisa segala."
Cepat Yu Wi berkata, "Manusia mengutamakan kepercayaan, betapa hebatnya barang beracun
juga takkan lebih kuat daripada kepercayaan."
"Ah, maaf, rupanya aku telah salah menilai dirimu," ujar Pek yan dengan tertawa.
Mendadak Yu Wi merasa mual lagi dan hendak tumpah, rasanya orang tumpah memang tidak
enak, cepat ia berseru, "Lekas berikan obat penawarmu"
"Kupercaya engkau seorang Kun-cu (lelaki), makanya kulayani kau dengan cara Yu-kun-cu (
ada lelaki ) ... "

"Yu-kun-cu?" Yu Wi bergumam. Ia masih ingat istilah ini adalah kalimat ketiga yang terukir
pada patung telanjang itu, tapi dia tidak paham artinya, mengapa Pek-yan melayaninya dengan
cara "Yu-kun-cu".
Di dengarnya Pek-yan berkata pula, "Biarlah sekaligus kuberikan obat penawar untuk
memunahkan seluruh racun dalam tubuhmu,"
Lalu ia mengeluarkan sebuah kotak kecil yang penuh berisi kepingan hitam bundar sebesar
mata uang, jumlahnya ada beberapa puluh biji diserahkannya kepada Yu Wi sambil berkata "Nah,
lekas kau makan seluruhnya."
"Inikah obat penawarnya?" tanya Yu Wi.
"Ehm," Pek-yan mengangguk, "mestinya satu hari makan satu biji, bila satu hari tidak makan
segera racun bekerja lagi. Tapi kalau sekaligus makan 30 biji, racun akan punah untuk selamanya.
Isi kotak ini ada lebih 40 biji, habis kau makan tentu tidak perlu kuatir lagi."
Yu Wi coba mengendusnya, memang betul obat penawar. Tapi ia tidak percaya makan
sebanyak itu takkan mengganggu kesehatan, maka dia hanya makan jumlah yang cukup untuk
menawarkan racun saja, yaitu 30 biji.
Pek-yan tersenyum penuh arti, pikirnya, "Pintar juga kau dan tahu 30 biji sudah cukup,"
Ia terima kembali kotak kecil itu, lalu duduk bersemadi.
Setelah makan kepingan hitam kecil itu Yu Wi tidak merasa mual lagi, ia pikir mungkin racun
sudah punah seluruhnya. Tapi meski keenam jarum itu untuk sementara tidak berbahaya, tapi
terasa seperti duri di punggung, selama jarum tidak dicabut tentu saja tidak aman rasanya.
Mestinya ia hendak minta Pek-yan mencabutkan jarum itu, tapi terlihat nona itu sedang duduk
bersemadi, tidak enak untuk mengganggunya, segera ia membuka lukisan yang menggambarkan
ke-108 jurus sian-thian-ciang itu dan dipelajari dengan tekun.
Saking asyiknya belajar, sang waktu berlalu dengan cepat, pelahan obat kepingan hitam kecil
Itu mulai bekerja di dalam badannya, reaksi obat ini ternyata tak dirasakan oleh Yu Wi dan juga
sukar dipahaminya meski pengetahuannya dalam ilmu pertabiban sudah cukup banyak.
setelah sebagian besar gambar sian-thian-ciang itu dibacanya, tiba-tiba Yu Wi mengendus bau
yang sukar ditahan. cuma kehebatan sian-thian-ciang lagi manarik segenap perhatiannya sehingga
dia tidak sempat memikirkan daripada datangnya bau busuk itu.
Setelah sekian lama pula, dapatlah gambar sian-thian-ciang dibacanya habis, tapi bau busuk itu
seakan-akan memenuhi ruangan sehingga Yu Wi tidak tahan berdiam lebih lama lagi di dalam
biara ini, ia pencet hidung dan lari keluar.
Diluar gumpalan awan hampir menyelimuti seluruh puncak bukit, sejauh mata memandang
hanya lautan awan belaka. Hawa segar yang membawakan air embun membuat Yu Wi menaksir
waktu itu hari masih pagi. Ia menarik napas dalam-dalam sehingga rasa mual tadi lenyap sama
sekali.
Sembari berpikir segera ia coba mainkan sian-thian-ciang yang telah diapalkannya dari gambar
petunjuk tadi, 108 jurus dapat dimainkannya dengan baik. sementara itu hari sudah dekat lohor.
Latihan yang terlalu giat sangat banyak membuang tenaga. Tentu saja Yu Wi merasa
kelaparan, ia barmaksud masuk ke biara untuk makan rangsum, tapi lantas teringat lagi akan bau
busuk yang memuakkan itu, jadinya dia lebih suka berdiri diluar dengan kelaparan daripada masuk
kedalam untuk makan,
Ia sangat heran mengapa Pek-yan tahan bau busuk itu, nona itu berduduk sampai sekarang di
dalam biara, apakah hidungnya buntu sehingga tidak takut bau busuk? Menurut anggapan Yu Wi,
setiap orang yang punya hidung pasti tidak tahan bau bacin itu.

Segera Yu Wi mulai berlatih sian-thian-ciang lagi, dengan hasrat latihan yang menyala-nyala
dilupakannya rasa lapar. Akan tetapi tambah berlatih tambah lapar, sampai hari sudah dekat
magrib, ia benar-benar tidak tahan lagi, ia coba mengelilingi lereng bukit untuk berburu.
Untunglah dapat ditangkap seekor kijang kecil, segera ia membuat api di depan biara untuk
memanggang kijang. Ketika mengendus bau sedap daging panggang, entah berapa puluh kali Yu
Wi menelan air liur. Belum lagi daging panggang masak benar, tanpa sabar lagi ia membeset
sepotong daging paha terus dimakannya dengan lahap.
Selagi ia hendak ganyang paha panggang yang lain, tiba-tiba Pek-yan muncul dan menegur
dengan tertawa, "Ehmm, sedap benar baunya Daging apakah itu?"
Yu Wi mengusap mulutnya yang berlepotan minyak. ia tahu Pek-yan tentu juga lapar setelah
duduk seharian, meski dirinya sendiri belum kenyang, kan sebagian daging panggag ini harus
diberikan kepadanya.
segera ia lemparkan sepotong paha kidang dan berkata, "Coba cicipi"
Pek-yan membeset sebagian, sisanya dilemparkan kembali kepada Yu Wi, sambil makan ia
bekata, "Aku tidak makan sebanyak ini."
Yu Wi pikir kebetulan, segera ia angkat daging panggang yang diterimanya kembali dan
dimakan, tapi baru saja dekat hidung, belum lagi mulutnya menggerogot, sekonyong-konyong
tercium bau busuk yang memualkan.
Karuan ia terheran- heran, "Aneh. mengapa setelah daging panggang ini dipegang Pek-yan
lantas berbau bacin begini?"
Ia tidak berani lagi, daging itu dilemparkannya kesamping, lalu pura-pura berkata, "Akupun
sudah kenyang"
Habis makan, Pek-yan masuk lagi ke dalam biara dan memanggil Yu wi, "Masuklah sini. sudah
kulukis kan pula gambar petunjuk kungfu anti sian-thian-ciang." Dengan girang Yu wi ikut masuk
kesana, seketika terlupa bau bacin di dalam biara.
Tapi begitu masuk segera teringat olehnya, cuma bau busuk sekarang tidak sebau tadi, diamdiam
ia mengomeli dirinya sendiri yang sok.
Dilihatnya di atas kasuran sana ada setumpukan kertas bergambar, agaknya pagi-pagi Pek-yan
telah bangun dan melukisnya. Ia menoleh dan tersenyum terima kasih.
Pek-yan berdiri agak jauh di sana, ucapnya dengan tertawa, "Boleh kau baca dulu, jika tidak
paham baru tanya padaku."
Yu Wi lantas berduduk dan mulai membaca lukisan pertama, ia merasa lukisan ini sangat ruwet
sangat sukar untuk dipahami maksudnya. Tapi dasar wataknya memang keras, ia tidak sudi tanya
Pek-yan, sebisanya ia meraba-raba sendiri
Lambat-laun dapatlah ditemukan titik terangnya. Tapi aneh, mendadak dalam ruangan biara itu
timbul lagi bau bacin yang memuakkan itu. Yu Wi menggoyang kepala. seperti ingin
menghilangkan bau busuk itu Tiba tiba didengarnya suara tertawa Pek-yan.
Yu Wi mengira si nona lagi mentertawakan dirinya, dengan muka merah ia berkata, "Gambar ini
ada yang salah."
"Bagian mana yang salah?" tanya Pek-yan sambil mendekat. Ternyata bau bacin itu tambah
keras mengikut semakin mendekatnya Pek-yan.
"Tendangan ini tidak mungkin mencapai bagian belakang kepala," kata Yu Wi sambil
menunjukkan gambar yang dipegangnya.
Pek-yan berjongkok di sebelahnya, katanya dengan tertawa, "Memangnya kau kira sian-thianciang
dapat kau patahkan dengan mudah?Justeru harus kau serang bagian yang tidak mungkin
tercapai barulah ada daya gunanya."
"Ahh" seru Yu Wi, seketika pikirannya terbuka.

Pek-yan menunjuk gambar lagi dan berkata, "Bilamana tendanganmu dapat mencapai belakang
kepala musuh, maka jurus pertama sian-thian-ciang juga dapat kau patahkan."
Yu Wi mengiakan dengan hormat. Tapi tanpa terasa badan menggeser menjauhi si nona, sebab
dirasakannya bau bacin itu ternyata timbul dari badan Pek-yan, kalau tidak menggeser agak jauh
sungguh tidak tahan rasanya.
Pek-yan justeru tidak tahu diri, ia malah mendekat lagi dan berkata sambil menuujuk gambar,
"Cara tendangan ini ...."
"Ya, kutahu." kata Yu Wi sambil memencet hidung, lalu berbangkit dan lari keluar biara.
Tak dipedulikan lagi apakab Pek-yan akan tersinggung atau tidak. yang jelas kalau dia tidak lari
ke luar biara, segera ia bisa tumpah.
Pek-yan tetap berduduk di atas kasur dan tertawa gembira. Diluar Yu Wi masih kuatir kalau
tindakannya itu akan menyinggung perasaan si nona. slapa tahu kalau Pek-yan justeru lagi
tertawa senang.
Di bawah pantulan cahaya salju Yu Wi terus berlatih jurus tendangan menurut gambar petunjuk
itu, sampai lama barulah ia meraa latihannya ada kemajuannya. Ia lantas duduk istirahat di atas
tanah salju dan berpikir, "Wah, bagaimana baiknya badan Pek-yan begitu bau, malam ini harus
tinggal di mana?"
Untunglah dahulu dia sudah biasa duduk di tanah salju waktu berlatih Hui-liong-pat-poh dengan
Ang-bau-kong di Tiam-jong-san. maka ia ambil keputusan akan berduduk semalam di luar saja.
Tidak seberapa lama ia berduduk. tiba-tiba didengarnya suara orang menangis di dalam biara.
Yu Wi merasa tidak enak. Betapapun ia tidak dapat berlagak tuli dan pura-pura tidak tahu,
serunya. "Nona Pek-yan, kenapa engkau menangis?" Terdengar Pek-yan masih terus menangis
tanpa menjawab.
Yu Wi merasa tidak tenteram, serunya pula "Pek-yan siocia, apakah ...apakah aku berbuat
salah padamu? ...."
Pertanyaan ini membuat tangis Pek-yan bertambah keras.
Diam-diam Yu Wi menghela napas gegetun, ia maklum dirinya memang tidak boleh bertindak
begitu kepada Pek-yan, tiada sebab lain tangis Pek-yan itu hanya karena dirinya telah
menyinggung harga diri si nona.
Dalam keadaan begitu, siapa pun sukar untuk tidak tersinggung perasaannya. Yu Wi ingat
kejadian tadi, waktu dirinya berlari keluar biara dengan memencet hidung, mustahil hati orang
takkan tersinggung.
Yu Wi menggeleng kepala dan menyesal, ia dapat memahami perasaan Pek-yan, tapi tidak
berani masuk ke sana untuk menghiburnya, ia takut mengendus bau bacin itu.
Didengarnya Pek-yan lagi berkata sambil menangis, "Apa yang kau sesalkan, memangnya
belum cukup kau singgung perasaan orang? ...."
"Hei, nona, bilakah kulukai pwrasaanmu?" Yu Wi berlagak bodoh.
"Huh, setan yang tidak punya liangsim," omel Pek-yan dan menangis terlebih keras.
"jangan berteriak. nona, kau bilang siapa tidak punya liangsim?" tanya Yu Wi dengan
mendongkol juga .
Dengan tersendat Pek-yan berkata, "Dengan susah payah kupikirkan cara mematahkan sianthian-
ciang baginya, tapi orang itu justeru memperlakukan diriku dengan sikap kasar, seakan-akan
diriku ini ular berbisa yang hendak menggigitnya sehingga dia ketakutan dan lebih suka duduk di
tanah salju di luar daripada masuk kesini, jika dia punya liangsim tidak seharusnya dia anggap
diriku sebagai ular berbisa." Cepat Yu Wi membantah,
"He, tidak pernah kuanggap engkau sebagai ular"

"Kalau bukan ular tentu juga dianggapnya sebagai binatang buas, mungkin juga aku disangka
hantu pangisap darah," seru Pek-yan.
Yu Wi jadi tertawa malah, katanya, "Tidak pernah kuanggap dirimu sebagai makhluk yang
aneh, engkau kan manusia baik-baik?"
"Bagus jika begitu, sekarang coba masuklah kemari" desak Pek-yan.
"Tapi ... tapi aku tidak , .. tidak berani masuk ke situ ...," jawab Yu Wi dengan gelagapan.
"Apa katamu?" tanya Pek-yan dengan suara keras.
Akhirnya terpaksa Yu Wi mengaku terus terang. "soalnya pada tubuhmu ada bau busuk, maka
aku tidak berani masuk kesitu."
"omong kosong" damperat Pek-yan dengan gusar. "Badanku kering bersih, mana ada bau
busuk sebala?"
"Betu," seru Yu Wi untuk meyakinkan orang, "wah, baunya...."
Mendadak Pek-yan menangis lagi, ucapnya, "Bau busuk apa? Lekas jelaskan, kalau tidak, awas
kau nanti"
Yu Wi lantas jemput daging panggang yang terbuang di tanah tadi, pada daging itu masih
berbau busuk karena terjamah oleh tangan Pek-yan- pikirnya, "Biarlah kau cium sendiri bau busuk
ini, tentu kau tidak sanggup omong lagi,"
Maka dengan memencet hidung ia mendekat kesana, dilihatnya Pek-yan berduduk di situ, mana
dia menangis, setitik air mata saja tidak ada.
Diam-diam Yu Wi mendongkol, pikirnya, "Budak ini benar-benar pandai berpura-pura, kukira dia
hampir mati menangis tadi"
Bukan saja tidak menangis, bahkan Pek-yan lantas tertawa menyambut kedatangan Yu Wi,
tegurnya, " Untuk apa kau pencet hidungmu?"
"Coba kau cium daging ini," kata Yu Wi.
"Aku tidak perlu menciumnya, bau sedap daging itu masakah perlu diragukan lagi?" kata Pekyan.
"Tidak. justru bau daging ini sangat bacin, serupa bau tubuhmu ...."
"Sialan" damperat Pek-yan. "Masakah kau persamakan bau daging itu dengan diriku? Betapapun
sedap bau daging panggang itu juga tidak lebih harum daripada bau tubuhku. Kalau tidak
percaya boleh kemari dan coba mengendus sendiri"
Dengan takut Yu Wi malah menyurut mundur dan menyatakan dengan tegas, "Wah, tidak
perlu"
Tapi Pek-yan terus mendesak maju dan merintangi jalan Yu Wi.
Cepat Yu Wi berkata pula, "Ai, apakah ... apakah engkau sengaja membikin aku tumpah?"
"Jika tidak mau tumpah harus kau makan daging Panggang ini," kata Pek-yan dengan tertawa-
"Tidak berani kumakan " sahut Yu Wi sambil menggeleng.
"Kalau begitu biar aku saja yang makan" kata Pek-yan.
Yu Wi tidak percaya nona itu berani makan daging berbau busuk itu, ia pikir, "Kau sengaja
menyuruh kutumpah, terpaksa kutumpah untuk membuktikan bau badanmu memang busuk dan
membuatku tidak tahan."
segera ia lepaskan tangan yang memencet hidung. Aneh juga, mana ada bau busuk lagi,
malahan tercium bau harum.
Bau busuk yang tadi memenuhi ruangan biara itu kini tidak ada lagi, sebaliknya terendus bau
harum semerbak laksana beribu bunga mekar bersama, setelah mengirup hawa segar. tanpa
terasa Yu Wi menarik napas lebih panjang lagi. Pek-yan bergelak tertawa.
"sekarang masih bau tidak?" tanyanya.

Yu Wi coba mengendus-endus lagi untuk mencari tahu dari mana timbulnya bau harum itu tibatiba
diketahuinya bau harum ini tersiar dari badan Pek-yan, keruan ia terkejut dan berseru, "He
berasal dari badanmu?"
Pek-yan sengaja mendekatkan tubuhnya sehingga mukanya hampir menempel hidung Yu Wi.
bau harum semerbaknya hampir memabukkan Yu Wi, berulang-ulang anak muda itu berseru,
"Ehmm, alangkah harumnya"
Begitu harum baunya, kalau bisa Yu Wi ingin mendekap nona itu dan menciumnya sepanjang
hari.
"Cocok harumnya?" kata Pek-yan dengan gaya yang memikat. "Jika kubuka baju akan lebih
harum lagi"
Ucapan ini sungguh terlalu berani. sebagai lelaki Yu Wi berbalik merah jengah mukanya, tanpa
terasa ia menyurut mundur dan berseru, "Aha, daging ini harus kumakan"
"He, daging apa?" tanya Pek-yan dengan tertawa genit.
Berdebar jantung Yu Wi, katanya sambil menuding sisa daging panggang tadi, "o, dag ...
daging ini?"
Dengan gugup ia pegang daging kijang panggang itu terus digigitnya, tapi baru masuk mulut,
bau busuk yang timbul akibat terjamah tangan Pek-yan tadi segera tercium pula, "uwaak", kontan
ia tumpah,
Terpingkal-pingkal Pek-yan melihat kelakuan anak muda itu, teriaknya, "Ah, siapa yang suruh
kau makan benar-benar?"
"Tadi aku tidak tumpah, kalau kalah harus makan daging ini," kata Yu Wi dengan tersipu-sipu.
"Engkau ternyata bisa pegang janji, jika demikian tidak perlu kusangsikan lagi akan janjimu
setelah berhasil kau belajar kungfu anti sian-thian-ciang."
"Ya, kalau sudah berjanji kan harus dipenuhi?"
Segera Pek-yan merampas sisa daging panggang dari tangan Yu Wi, katanya dangan tertawa,
"Daging inipun tidak perlu kau makan lagi. sudah dingin, tidak enak. Apalagi juga berbau busuk."
"Bagus, ternyata kaupun tahu." seru Yu Wi, "bau busuk pada daging ini justeru ketularan dari
tubuhmu."
Dari sini terbuktilah bahwa badan Pek-yan memang berbau bacin, daging yang sudah
dijamahnya sampai sekarang belum hilang baunya.
"Dengan sendirinya kutahu, harus kuakui memang badanku ada semacam bau busuk," kata
Pek-yan.
Yu Wi merasa tidak mengerti, katanya pula, "Tapi mengapa sekarang bau itu sudah hilang,
bahkan berubah menjadi bau harum yang sangat mempesona?"
"Kau ingat malaikat apa yang kami puja itu?" tanya Pek-yan sambil menunjuk patung wanita
telanjang itu. " Katamu Dewi Harum," jawab Yu Wi.
"Betul, sedangkan diriku ini keturunan Dewi harum, sekarang sudah jelas bukan?" Yu Wi garukgaruk
kepala dan berkata, "Tapi ... tapi apa hubungannya? ...."
"Tolol," omel Pek-yan dengan tertawa genit. "sebagai keturunan Dewi Harum dengan
sendirinya kutahu berbagai macam wewangian, untuk membuat harum apa sulitnya?"
Tapi Ya Wi tetap tidak mangerti, "Dan sebelum badanmu digosok wewangian, mengapa bisa
berbau busuk?"
"Aku kan perempuan, terkadang akan timbul semacam bau tidak enak," kata Pek-yan dengan
tertawa sambil mendekap mulut.
Yu Wi tetap tidak paham, teringat olehnya Yap Jing yang menikah dengan dirinya dan telah
tinggal bersama sekian lama, mengapa tidak pernah tercium sesuatu bau busuk dari tubuh
isterinya itu

"Sudahlah, tidak perlu kita bicara lagi tentang bau busuk atau harum," kata Pek-yan-"sekarang
boleh kau istirahat satu malam, besok pagi pagi kita mulai berlatih kungfu anti sian-thian-ciang."
Malam ini Yu Wi tidak tersiksa lagi, sebaliknya hidungnya terasa nikmat seakan-akan tenggelam
dilautan bunga, tercium macam-macam bau harum yang tidak diketahui namanya.
Esok paginya ia bangun, ternyata entah mulai kapan kasuran sendiri telah bergeser lebih
mendekati Pek-yan, pantas tercium bau harum luar biasa.
Diam-diam ia membatin, "Bilamana setiap malam dapat mendampingi dia, selama hidup ini
tidak perlu mengharapkan apa-apa lagi." Lalu terpikir puia, "Apabila dia menjadi isteriku, kan lebih
baik lagi?"
Baru timbul pikiran ini, mendadak ia ketok kepala sendiri dan memaki diri sendiri dalam hati, "
Wahai Yu Wi, mayat isterimu belum lagi dingin, Ya-ji juga belum ditemukan, masakah sekarang
timbul pikiranmu yang tidak senonoh, sungguh pantas mampus kau"
segera ia memutuskan sedapatnya takkan berdekatan dengan Pek-yan agar dirinya tidak
terpikat oleh bau harumnya. Kalau tidak. pada suatu hari kelak pasti sukar terlepas dari kecanduan
bau harum tubuh Pek-yan itu.
Tapi diluar sadarnya ternyata dia sudah tidak dapat lagi meninggalkan Pek-yan.
Dalam pada itu Pek-yan juga sudah mendusin. Melihat si nona mendusin, cepat Yu Wi
menggeser kasurnya lebih jauh.
Pek-yan tahu semalam Yu Wi tidur berdempetan dengan dirinya, segera ia tertawa dan berkata,
"Bagaimana? Apakah badanku berbau busuk lagi?"
Dengan gelagapan Yu Wi menjawab, "o, ti ...tidak- sebaliknya malah sangat ...sangat
harum...."
"Kaupun takut kepada bau harum?" tanya Pek-yan dengan tertawa.
"Tidak.. tidak takut" jawab Yu Wi sambil menggeleng.
"Jika tidak takut, kenapa kau geser kasuranmu sejauh itu? Ayolah pindah kesini" seru Pek-yan
dengan tersenyum.
Tapi Yu Wi tidak menurut, sebalikrya ia malah menyurut mundur lebih jauh dan berkata dengan
serba susah, "Aku ... aku harus berhasil kungfu anti sian-thian-ciang .... "
Belum selesai ucapannya segera ia berlari keluar biara. Ia comot segumpal salju untuk mencuci
muka dan berkumur, lalu mulailah ia berlatih.
Jurus pertama dapat dilatihnya dengan sangat lancar, sampai sekian lama baru Pek-yan
menyusul keluar, ia bertepuk tangan memuji, "Bagus. jurus pertama ini sudah berhasil kau kuasai,
sekarang berlatihlah jurus kedua."
Yu Wi berhenti bermain, ucapnya dengan sangat gembira, "Apakah betul sudah kukuasai
dengan baik?"
"Masakah guru berdusta pada murid?" ujar Pek-yan " Kata ku, kemarilah muridku."
Sebutan " murid" itu membikin perasaan Yu Wi tidak enak. dengan muka merah ia menjawab, "
Untuk apa ke situ?"
"Guru akan mengajarkan jurus kedua padamu" ucap Pek-yan dengan tertawa.
"Akan kulatih sendiri," kata Yu Wi secara spontan.
Pek-yan mendengus, "Baik, ingin kutahu cara bagaimana akan kau latih."
Baru sekarang Yu Wi ingat gambar petunjuk masih ketinggalan di dalam biara. Tanpa petunjuk
gambar itu, apanya yang bisa dilatihnya. segera ia mengitar kebelakang Pek-yan dan bermaksud
masuk ke biara untuk mengambil gambar Tapi Pek-yan lantas mengangkat tangannya,
"Gambarnya di sini, ambil kemari"
Waktu Yu Wi berpaling, benarlah gambar petunjuk anti sian-thian-ciang itu memang berada
padanya. Tapi ia tidak berani mendekat, ia memberi hormat dari jauh dan berkata, "silakan taruh
saja di tanah"

Pek-yan lantas menaruh gambar itu di sampingnya dan berseru pula dengan tertawa, "Baik,
ambil"
"Mohon ... mohon engkau menyingkir dulu kesana"
"Memangnya kenapa, aku tidak boleh berdiri disini?" Pek-yan pura-pura marah. Yu Wi menjadi
gugup,
"O, tidak ... bukan ..."
"Tidak bukan apa?" Pek-yan melengos kesana, jelas maksudnya gambar mau diambil atau tidak
masa- bodoh, yang jelas aku tetap berdiri di sini.
Terpaksa Yu Wi mendekati si nona, seketika terendus bau harum itu, bau harum itu seperti
telah mengendalikan pernapasannya, seakan-akan telah menguasai sarafnya.
Mendadak ia menarik napas keras-keras beberapa kali, sungguh luar biasa daya pikat bau
harum ini sehingga membuatnya ingin mengendus lebih banyak, bahkan makin terendus makin
harum dan semakin ingin menciumnya.
Yu Wi berjongkok untuk mengambil gambar itu, tapi samphi sekian lama belum lagi berbangkit
kembali.
Kiranya dibagian bawah Pek-yan terasa lebih harum, semerbak itu teruar dari bawah gaunnya
sehingga membikin Yu Wi lupa daratan.
Pek-yan sengaja menarik ujung gaunnya dan setengah menjerit, "He, kau lihat apa?"
Seketika bau harum dari bawah gaunnya ter-suar terlebih keras sehingga hidung Yu Wi hampirhampir
tidak muat.
Melihat Yu Wi terkesima seperti orang linglung, Pek-yan sangat senang, diturunkan ujung
gaunnya dan bau harum itupun lenyap.
Pikiran Yu Wi rada pulih kembali, mendadak ia melompat bangun dan menyurut mundur
dengan takut seperti melihat ular berbisa.
Pek-yan tertawa terkikik-kikik, omelnya, "Tolol, lekas kau latih sendiri, takkan kuganggu dirimu
lagi."
Habis berkata ia terus masuk sendiri ke dalam biara.
Yu Wi berdiri termangu-mangu, mendadak ia menggeleng kepala dan bergumam, "Sialan,
seperti melihat setan"
Ia tidak mengerti mengapa dirinya bisa linglung begitu, diam-diam timbul kewaspadaannya, ia
pikir bau harum ini pasti bukan barang baik, kalau tidak masakah aku kebelinger begini sehingga
sukma serasa terbang keawang-awang.
Meski sudah timbul kewaspadaannya, tapi bila ada bagian latihannya yang tidak dipahaminya,
terpaksa ia harus minta petunjuk kepada Pek-yan, maka setiap hari sedikit banyak dia harus
mencium bau harum itu.
Dan bsgitulah seterusnya tanpa terasa sebulan telah lalu, bau harum itu sudah terasa biasa
baginya, ia tidak lupa daratan lagi bila mencium bau harum itu. selama sebulan dapatlah 108 jurus
kungfu anti sian-thian-ciang itu dipelajarinya secara lengkap.
Setelah tamat belajar, kagum Yu Wi terhadap bakat Pek-yan sungguh tak terperikan-sebab kini
diketahuinya kungfu anti sian-thian-ciang itu memang luar biasa hebatnya dan jauh lebih bagus
daripada sian-thian-ciang.
Hal inipun logis, kalau tidak lebih bagus mana bisa mengalahkan Sian-thian-ciang. Yang
dikagumi Yu Wi adalah kecerdasan Pek-yan yang dapat menciptakan kungfu itu dalam waktu dua
hari saja sedangkan dirinya sekarang harus melatihnya selama sebulan.
Ia tidak tahu kemahiran Pek-yan meliputi segala macam ilmu, tapi untuk menciptakan kungfu
anti sian-thian-ciang itu hampir memeras semua ilmu yang dikuasainya, jika bakat Yu Wi sendiri
tidak tinggi, belum tentu berhasil dikuasainya dalam waktu sebulan.

Selesai menguasai kungfu anti sian-thian-ciang tanpa terasa iapun menguasai sian-thian-ciang
sendiri, jadi sama dengan menambah semacam kungfu lagi. Hari ini Pek-yan berkata padanya,
"sekarang bolehlah kau coba hasil pelajaranmu."
Ucapan ini sama dengan memberitahukan kepada Yu Wi bahwa sekarang dia sudah mampu
mengalahkan sian-thian-ciang.
Demi cepat-cepat bertemu dengan Ko Bok ya, Yu Wi memang sudah tidak sabar lagi dan ingin
selekasnya dapat menguji kungfu baru. Dengan girang ia lantas berseru, "Baik, biarlah
kuberangkat"
Habis berkata, terus saja ia melangkah pergi.
Karuan Pek-yan melenggong, cepat ia berseru, "Hei, hei Untuk apa ter-buru2? sudah sebulan
kau tinggal disini, masakah tidak sabar menunggu lagi sebentar?" Yu Wi memang tidak sabar lagi,
tanyanya sambil berpaling, "Engkau ada pesan apa?"
Berkumpul selama lebih sebulan, Pek-yan merasakan diantara mereka sudah timbul perasaan
akrab, cuma sayang Yu Wi tidak menaruh simpati kepadanya.
Yu Wi menganggap di antara mereka hanya sedang melangsungkan semacam transaksi jualbeli,
sedangkan terjadinya jual- beli ini rada merugikan Yu Wi. memangnya siapa yang mau
menjual bayangan sendiri kepada orang lain. Kalau tidak disebabkan sian-thian-ciang terlalu lihai
dan tidak sanggup diatasinya, tidak nanti Yu Wi mau menerima syarat orang dan menjual
bayangannya.
Melihat sikap Yu Wi yang ketus itu, timbul perasaan pedih dalam hati Pek-yan, ucapnya
kemudian dengan menyesal, "Tidak ada pesan apa-apa. bolehlah kau pergi saja. Cuma harus ingat
setelah selesai urusanmu...."
Yu Wi berkerut kening, katanya, "Ingat, aku pasti ingat, selesai urusanku segera aku akan
kembali ke sini dan menyerahkan jiwaku..."
Dia benar2 tidak sabar lagi, habis berkata ia terus berlari pergi secepat terbang.
Pek-yan menghela napas panjang, semula ada niatnya hendak ikut Yu Wi ke Cu-pi-am, sebab ia
tidak percaya setelah anak muda itu menguasai kungfu anti sian-thian-ciang, lalu dapat masuk Cupi-
am tanpa rintangan lain- Ia tahu berpuluh nikoh penghuni cu-pi-am itu sama mahir sian-thianciang,
bukan mustahil disamping itu masih menguasai kungfu lain yang lebih tinggi.
o0- -0o0-
Begitulah Yu Wi terus berlari pergi secepat terbang, tidak lama kemudian sampailah dia di siauhoa-
san.
Rintangan pertama yang dijaga si nenek masih tetap d itempat semula.
Yu Wi mendekati orang itu, saat itu si nenek sedang mengantuk. Ketika Yu Wi sudah dekat
baru dia terjaga bangun dan membentak. "Siapa?"
Dengan tersenyum Yu Wi memberi hormat, katanya, "Laopopo, kembali kita bertemu lagi"
Nenek itu mendengus kurang senang, katanya. "Bagus pertemuan sekali ini hendaknya jangan
kau bikin repot nenek." .
Kembali Yu Wi memberi hormat dan berkata, "Terima kasih atas bantuan nenek tempo hari."
"Apakah kau sengaja datang nutuk mengucapkan terima kasih?" tanya si nenek.
"Maaf, kudatang untuk menerjang rintangan pula, "jawab Yu Wi.
Melihat Yu Wi tidak kapok dan datang lagi, nenek itu menjadi heran, ucapnya, "Barangkali kau
sudah bosan hidup."
"Sekarang wanpwe datang dengan persiapan yang cukup," jawab Yu Wi dengan tersenyum.
"Sebaiknya pada waktu turun nanti kau tetap tersenyum seperti ini dan jangan seperti tempo
hari..." sampai di sini. si nenek tidak melanjutkan, ia tidak tega mematahkan semangat anak muda
itu, setelah menghela napas, lalu berkata, "Baiklah. rintangan ini tidak perlu diuji lagi, naik saja
kesana."

Yu Wi sangat berterima kasih atas welas-asih hati si nenek. pengalaman yang dahulu sungguh
memalukan, kalau dibicarakan hanya akan mencemarkan harga dirinya.
segera Yu Wi memberi hormat kepada si nenek. dengan cara dahulu ia melayang ke atas
tebing.
Ketika nikoh cilik yang berjaga panggung di atas tebing itu sedang main berlari-larian sambil
mengikik tawa, ketika melihat ada orang naik ke atas, cepat mereka berhenti bermain dan
bersikap kereng.
Nikoh yang paling cilik masih kenal Yu Wi, serunya, "He, datang lagi"
"Siapa yang kau maksudkan?" tanya si nikoh bermuka jerawat.
Yu Wi lantas melompat maju sambil menegur dengan tertawa, "Adik cilik, akulah yang datang
lagi, namaku Yu Wi."
"Sicu yang tidak terpukul mati, jangan sembarangan kau panggil orang" seru nikoh cilik itu
dengan marah.
Agaknya peraturan mereka sangat keras, tidak boleh omong kasar, meski cuma ucapan "tidak
terpukul mati". tapi juga disertai sebutan "sicu" atau tuan dermawan, sebutan yang menghormat.
"Jika sekali ini dapat kau pukul mati diriku, silakan pukul saja, tidak perlu sungkan-sungkan-"
ujar Yu Wi geli.
"Baik" seru nikoh cilik itu, segera ia menghatam. melompat maju, katanya, "Sumoay, sekali ini
biar aku saja yang memberi hajaran padanya."
Di antara ketiga nikoh cilik ini, nikoh yang sedikit bicara ini adalah nomor dua menurut urutan
mereka, wataknya juga agak aneh, nama agamanya ialah soh-gian, sedang nikoh cilik berjerawat
bernama soh-heng dan nikoh paling cilik bernama soh-pek.
Begitu soh-gian mendekat, segera Yu Wi mengendus semacam bau busuk..bau ini sama
busuknya seperti bau yang dicium Yu Wi pada badan Pek-yan- cuma bau busuk sekarang tidak
terlalu keras.
Namun begitu bau ini sudah cukup membuac Yu Wi berkerut kening dan tanpa terasa menyurut
mundur dua tindak.
Hati Soh-heng paling halus, tempo hari ia menaruh kasihan kepada Yu Wi dan diomeli soh-gian,
sekali ini penyakitnya kambuh lagi, demi melihat Yu Wi menyurut mundur, disangkanya anak
muda itu gentar, cepat ia membujuknya, "sicu, sudah pernah kau kalah, untuk apa datang lagi
menyerempet bahaya?"
Soh-pek paling suka berkelahi, segera ia berteriak. "suci jangan urus dia, biar dia rasakan lagi
pukulan soh-gian suci, agar dia kenal kelihaian kita." sok-gian mendengus dan mendesak maju
dua langkah.
Karena tidak tahan bau badan orang, kembali Yu Wi menyurut mundur lagi beberapa langkah.
"He, kau mau berkelahi tidak. kenapa main mundur saja?" seru soh-pek.
Yu Wi meengernyitkan kening dan berkata, "Tentu saja berkelahi, tanpa berkelahi masakah
kalian mau lepaskan diriku lewat ke sana?"
"Ingin lewat kesana? Huh, jangan mimpi"Jengek soh-gian segera ia mengejar maju tanpa
memberi kesempatan mundur lagi bagi Yu Wi.
Cepat soh-heng berseru, "sumoay. cukup asalkan mengalahkan dia, jangan memukulnya
sungguh-sungguh." ^
"Hm, betapa suci memperhatikan dia," ejek soh-gian. "Aku justeru tidak kenal ampun
padanya."
Ia ambil keputusan akan membikin malu Yu Wi, tanpa bicara lagi ia memburu maju terus
melontarkan jurus serangan sian-thian-ciang yang sukar ditangkis. Tujuan serangannya ini
memang sengaja hendak membikin Yu Wi tidak mampu main mundur lagi.
Padahal bukan lantaran gentar sehingga Yu Wi main mundur, jurus serangan lawan dikenalnya
sebagai jurus ke-55 di antara ke-108 jurus sian-thian-ciang itu, serangan ini mengincar beberapa

Hiat-to maut dibelakang musuh meski tampaknya menyerang dari depan-Jika musuh tidak kenal
sian-thian-ciang, satu jurus serangan ini saja sudah cukup membikin jiwanya melayang.
Yu Wi benci kepada ucapan soh-gian yang keji, maka iapun tidak sungkan. segera kedua
tangannya bekerja cepat untuk mematahkan serangan lawan- "Plak-plok", karena dia sudah tahu
kearah mana serangan lawan akan tertuju, maka dengan mudah dapatlah ia mematahkan
serangan soh-gian, berbareng Yu Wi terus melompat keatas dan turun kembali di sebelah sana.
soh-gian berdiri termangu ditempatnya dengan kedua telapak tangan melintang didepan dada.
suara "plak-plok" itu terjadi dengan cepat sekali sehingga soh-heng dan soh-pek yang
menonton di samping tidak tahu siapa yang terkena pukulan- Menurut pikiran soh-pek. karena Yu
Wi melompat mundur, tentu dia yang terkena pukulan.
Tapi soh-heng tidak berpendapat demikian, mundurnya Yu Wi itu terlalu cepat, terlalu ringan
dan gesit, tidak serupa orang yang tergetar mundur.
Dugaannya memang betul, Yu Wi tidak mundur karena kena pukulan, soalnya begitu beradu
tangan, ia tidak tahan bau busuk badan soh-gian, maka cepat ia melompat menjauhinya.
Mendadak soh-gian berteriak, "Ahhh"
Cepat soh-heng dan soh-pek memburu maju dan bertanya, "Ada apa?"
"Aku ... aku kalah ..." seru soh-gian sambil mendekap mukanya.
"Kau kalah?" seru soh-pek terkejut.
soh-heng juga bertanya, "Kau kena pukulannya?
soh-gian mengangguk pelahan sambil menangis.
"Terkena di bagian mana?" tanpa soh-pek.
"Masa tidak kau lihat, siausumoay?" tukas soh-heng.
Tiba-tiba soh-pek menjerit kaget, sebab sekarang dapat dilihatnya bagian tangan soh-gian yang
terkena pukulan itu.
Ternyata pada punggung kedua tangan soh-gian telah berwarna merah hitam. sungguh sukar
dipercaya bahwa soh-gian yang kelihatan menyerang lebih dulu malah punggung tangannya yang
terpukul.
Hendaknya diketahui bagian tubuh yang paling lincah dan peka justeru terletak pada kedua
tangan- bagian tubuh lain kalau terpukul masih dapat dimengerti karena kurang cepat
menghindar, tapi kedua punggung tangannya yang sedang menyerang justeru terpukul lawan,
kejadian ini sungguh sukar untuk dijelaskan, kecuali lawan memang sudah apal betul terhadap
gerak pukulannya sehingga tangan sendiri yang lincah itu sukar menghindarinya,
"sicu silakan lewat kesana" ucap soh-heng kemudian sambil memberi hormat.
Dalam gusarnya Yu Wi telah memukul kedua punggung tangan soh-gian, sesudah terjadi hati
menjadi tidak enak. dengan menyesal ia balas hormat orang terus melompat lewat ke sana.
Soh-pek merasa penasaran, ucapnya, "suci, kita berdua kan belum mengujinya dan kau biarkan
dia lewat begitu saja?""
"siausumoay, apakah kau pikir dapat mengalahkan dia?" sahut soh-heng. soh-pek tidak bicara
lagi. orang yang diam berarti telah mengaku.
Setelah melewati panggung batu sana mulai menuruni tanjakan, tidak jauh ada sebuah tanah
lekukan yang luasnya beberapa ratus tombak persegi, Di tanah lembah ini terdapat sebuah biara
yang sangat megah, inilah Cu-pi-am yang termashur dengan disiplinnya yang ketat.

Bab 15 : Nikoh-nikoh biara Cu-pi-am
Melihat tempat tujuan sudah ditemukan, Yu Wi menghela napas lega. Rintangan kedua telah
dilaluinya dengan lancar, seketika timbul semangatnya, pikirnya dengan senang. "sebulan yang
lalu aku dikalahkan dengan sangat mengenaskan, tapi sakarang ... Haha ."
Ia tertawa sendiri dan terlampiaslah rasa sebalnya yang tertahan selama ini. Tapi tartawanya
tidak lama dan segera berhenti. Padahal tidak ada gangguan apa-apa, sebabnya dia berhenti
tertawa adalah karena mendadak teringat olehnya, "sekarang aku menang, tapi siapa yang
berjaya dan berjasa atas kemenangan ini?"
Dia tidak berani menyatakan sebagai kejayaan sendiri, sekalipun berani mengakuinya juga
kejayaan yang diperolehnya ini harus dibayarnya dengan imbalan yang sangat menyedihkan,
"Menjual bayangan", kata-kata ini merupakan bayangan raksasa yang menghentikan tertawa
latahnya tadi.
Dengan perasaan tertekan Yu Wi lantas turun kebawah bukit sana.
Aneh juga, dalam keadaan dan ditempat ini tiba-tiba timbul pikiran apakah pantas dia datang
kesini untuk menemui Ko Bok-Ya?
Maklumlah, bilamana seorang mendapatkan sesuatu dengan pengorbanan yang sangat besar,
sesudahnya dia akan merasa menyesal. Yu Wi bukan manusia super. sebelum terlaksana usahanya
kini sudah mulai timbul rasa menyesalnya.
Cu-pi-am ternyata dikelilingi tebing yang tinggi dan terjal, hanya arah datangnya lebih lapang,
selain itu sangat sukar untuk mencapai cu-pi-am.Jadi tanpa menerobos kedua rintangan di depan
sana tidak dapat mencapai cu-pi-am.
Dari jauh sudah terdengar sayup-sayup suara orang membaca kitab dan suara bok-hi (alat
ketuk kayu dibuat berbentuk ikan) dari cu-pi-am. Tidak lama setelah Yu Wi berdiri di depan biara
itu. ke-dua sayap pintu tengah yang berlukiskan malaikat pintu itu terpentang pelahan.
Yang muncul dahulu adalah seorang nikoh tua beralis kelabu, dua nikoh muda jelita mengiring
di belakangnya.
Setelah menuruni undak-undakan biara, nikoh tua itu membuka matanya yang welas asih itu
memandang sekejap kearah Yu Wi.
Begitu kebentrok dengan sinar mata nikoh tua itu, hati Yu Wi tergetar. Sinar mata yang
kelihatannya welas asih itu bagi pandangan Yu Wi yang ahli segera dapat dipastikannya lwekang
nikoh tua ini sudah terlatih hingga tingkatan yang sempurna dan tidak tertampak dari lahiriahnya
oleh orang awam, terkecuali orang yang sama-sama menguasai lwekang yang maha tinggi.
Lwekang Yu Wi sekarang juga hampir mencapai tingkatan paling sempurna, sebab itulah sekali
pandang segera dapat dinilainya betapa hebat lwekang si nikoh tua. Menurut perkiraannya,
lwekang nikoh tua ini terlebih tinggi setingkat daripada dirinya, boleh dikatakan sama tingginya
dengan Toa supek atau paman gurunya, yaitu Lau Tiong-cu.
Pada waktu Yu Wi bertemu dengan Ko Bok-cing iapun tidak dapat melihat nona itu menguasai
lwekang yang tinggi, soalnya taraf lwekang Ko Bok-cing memang juga sudah mencapai tingkatan

yang sempurna dan tidak kelihatan. Di dunia ini boleh dikatakan terlalu sedikit orang yang mampu
berlatih lwekang hingga mencapai taraf ini.
Begitulah terdengar si nikoh tua sedang berkata " Hebat benar kungfu sicu dan telah mampu
melalui dua rintangan."
Mendadak semangat Yu Wi terbangkit, dianggapnya nikoh tua ini sebagai penguji rintangan
ketiga, ia pikir nikoh tua ini pasti ketua Cu-pi-am, harus dihadapi dengan segenap kemampuannya.
Kini ia mulai meragukan keterangan si kakek aneh yang menyatakan "bila sian-thian-ciang
dipatahkan, kujamin rintangan ketiga akan kau lalui dengan lancar". sebab dilihatnya lwekang
nikoh tua ini lebih tinggi daripada dirinya, entah kungfu sakti apa yang dikuasainya, sedangkan
dirinya hanya dapat mematahksn sian-thian-ciang, bila nikoh tua ini tidak menggunakan sianthian-
ciang, lalu apa yang dapat diperbuat dirinya?
Didengarnya nikoh tua itu sedang berdehem. lalu berkata dengan suara yang ditarik panjang,
"sicuu..."
Suaranya ini seakan-akan hendak mengingatkan Yu Wi bahwa seharusnya kau bicara.
Maka Yu Wi juga berdehem dulu, lalu memberi hormat dan menjawab, "Terimalah salam
hormatku, Lo suhu. Wanpwe bernama Yu Wi."
Yu Wi menghormat dengan membungkuk badan sehingga kelihatan seakan-akan hendak
menyembah. Nikoh tua tidak berani menerima penghormatan sebesar ini, cepat tangan jubahnya
mengebah, seketika satu arus tenaga yang halus merintangi gerak sembah Yu Wi itu.
Yu Wi memang sengaja. hendak menghormati orang agar mendapat keleluasaan untuk
bertemu dengan Bok-ya. Maka kedua tangannya terpentang kedepan dengan gaya hendak
berjongkok dan menyembah, padahal dia telah menggunakan satu jurus istimewa untuk
menghalau tenaga kebasan lengan jubah si nikoh tua.
Seketika terunjuk rasa kejut dan heran pada wajah nikoh tua itu, berbareng lengan jubahnya
menarik kekiri, tenaga tarikan ini sangat kuat, Yu Wi seakan-akan dibetot oleh satu tangan.
Keruan Yu Wi juga terkejut, cepat digunakan satu jurus Hoa-sin ciang-hoat, "plaks" tangan kiri
menampar tangan kanan, seketika kekuatannya terhimpun pada tangan kanan yang terbetot itu
sehingga tarikan si nikoh tua dapat ditahan-
Yu Wi kuatir ada tenaga getaran yang membalik sehingga tangan sendiri bisa tergetar patah,
maka ia tidak berani berlagak menyembah lagi, cepat ia menyurut mundur.
Gebrakan ini tidak kelihatan dengan jelas sehingga sukar diketahui siapa yang unggul dan siapa
yang asor. Padahal Yu Wi telah kalah satu jurus.
Dia harus manggunakan tenaga dua tangan baru dapat menghalau tenaga kebasan lengan
jubah si nikoh tua.
Tak terduga oleh nikoh tua itu bahwa anak semuda ini mampu menangkis tenaga dalam dirinya
yang sudah terlatih sedikitnya 60 tahun, bila sepuluh tahun yang lalu, mungkin dirinya bukan
tandingan anak muda ini. Maka dalam hatinya sangat mengagumi kehebatan Yu Wi, dengan
tersenyum ia lantas berkata, "sungguh hebat kepandaian sicu silakan masuk"
Yu Wi sangat girang, ia sangka rintangan ketiga ini ternyata dapat ditembus dengan sangat
mudah. setelah rintangan ini tembus dan masuk ke dalam biara, segala urusan tentu akan mudah
diselesaikan, tentu juga Ya-ji dapat ditemukannya.
Begitulah dengan rasa senang ia masuk ke biara itu. Nikoh tua menjadi petunjuk jalannya.
katanya: "Akan kubawa dirimu menemui ketua biara kami, Ji-bong Hoatsu."
Yu Wi jadi melengak. "Jadi engkau... engkau bukan sang ketua?" tanyanya terkejut.
Nikoh tua menggeleng, "Mana berani aku mengaku sebagai ketua. sebelum meninggalkan
rumah aku adalah pelayan Ji-bong Hoatsu, sesudah jut keh majikan membebaskan diriku sebagai
budak dan memberi nama agama sebagai Ji-tiau,"

Sungguh tidak kepalang kaget Yu Wi, bahwa seorang bekas pelayan sang ketua saja
lwekangnya sudah melebihi dirinya, lalu lwekang Ji-bong Hoatsu bukankah akan berlipat lebih
tinggi lagi?
Bilamana orang nanti mengujinya, jelas takkan mendapatkan hasil yang memuaskan. Melihat
gelagatnya, lebih baik tidak jadi menemuinya.
Karena itulah ia lantas menghentikan langkah dan berkata, "Aku sudah melalui tiga rintangan.
entah boleh tidak bertemu dengan pimpinan kalian?"
"Baru dua rintangan yang kau tembus, kenapa kau bilang tiga rintangan?" ujar Ji-tiau dengan
tertawa.
"Ujian yang baru berlangsung diluar apakah tidak terhitung satu rintangan?" tanya Yu Wi.
"Tidak. tidak dihitung," jawab Ji-tia u dengan tertawa. "aku cuma tidak mau menerima
penghormatanmu yang besar itu, mana dapat dianggap sebagai satu rintangan. Rintangan ketiga
justeru akan diuji sendiri oleh Ji-bong Hoatsu, jika kau mau menembus rintangan terakhir itu harus
menemui beliau."
Muka Yu Wi menjadi pucat, "Beliau sendiri akan menguji diriku?"
Ia pikir kalau sang ketua yang mengujinya sendiri, jangan harap akan dapat menembus
rintangannya. Ia coba memandang sekelilingnyg, pikirnya kalau-kalau kebetulan melihat Ya-ji.
siapa tahu tempat seluas itu ternyata tidak nampak seorang nikoh pun, yang ada cuma Ji-tiau
yang berjalan di depan, kedua nikoh cilik yang semula datang bersama Ji-tiau kini juga
menghilang entah ke mana.
Yu Wi tidak percaya takkan bertemu dengan orang. mengapa setiba di dalam malah tidak
kelihatan seorang pun.
Setelah sampai di ujung serambi, akhirnya Yu Wi dapat mengerti duduknya perkara, "Disiplin
Cu-pi-am ternyata benar sangat keras, rupanya karena kedatangan dirinya, maka segenap nikoh di
sini harus menghindari diriku."
Ji-tiau lantas menunjuk sebuah pintu di ujung serambi situ, katanya, " Ketua sudah tahu
kedatanganmu, tidak perlu lapor. silakan masuk saja."
Habis berkata Ji-tiau lantas berdiri disisi pintu. Yu Wi mendorong pintu berbentuk bundar itu, di
dalam adalah jalan kecil yang tidak terlalu panjang, sampai dipojok sana, terlihat di dalam sebuah
kamar yang cuma setombak persegi luasnya berduduk satu orang.
orang itu lantas berbangkit meninggalkan kasurannya. Pada waktu duduk wajahnya tidak
terlihat jelas, setelah berdiri baru terlihat kedua alisnya yang putih panjang melambai ke bawah,
usianya tidak banyak lebih tua dari pada Ji-tiau, berjubah putih semu biru, pada bagian dada
jubahnya tersulam sebuah matahari berwarna emas.
Jubah seorang nikoh bersulam tanda matahari yang mencorong begini, baru pertama kali Yu Wi
melihatnya, keruan hati Yu Wi merasa tidak tenteram, begitu masuk ke dalam ruangan, ia tidak
berani mengamati orang dengan cermat, tapi terus berlutut dan menyembah.
ji- bong membiarkan menyembah padanya, lalu berucap dengan suara dingin ketus, "Bangun"
Baru sekarang Yu Wi mengangkat kepalanya untuk mamandang orang, yang pertama
diperhatikan adalah sinar mata Ji-bong yang tidak ada ubahnya seperti orang biasa itu, kesan
yang segera timbul dalam benak Yu Wi adalah Lwekang Ji-bong benar-benar sudah mencapai
tingkatan yang "tersembunyi dan tidak kelihatan".
Yu Wi lantas merangkak bangun, mendadak Ji-bong membalik tubuh kesana malah dan
bertanya, "siapa yang ingin kau temui?"
sejenak Yu Wi termenung, akhirnya menjawab dengan suara agak gemetar. "Soh-sim."
"Ooo," Ji-bong bersuara pelahan, "Tahulah aku, silakan kau pulang saja."
"Wanpwe ingin bertemu langsung dengan dia" kata Yu Wi.

Dengan suara terlebih dingin Ji-bong menjawab, "Apakah kau tahu. jika ingin bertemu langsung
dengan dia harus kau tembus rintangan ketiga ini?"
"Wanpwe tahu," jawab Yu Wi, "silakan Lo hoatsu memberi petunjuk."
Mendadak Ji bong berpaling kembali, ucapnya dengan air muka tidak tenang, "Rintangan ketiga
ini tidak pernah dicoba orang, jika kau berani mencobanya, tentu ada peganganmu yang
meyakinkan?"
"Wanpwe terlalu sembrono dan ingin mencobanya secara untung-untungan," kata Yu Wi
dengan gugup,
"Hm, untung- untungan?" jengek Ji- bong. "Di dunia ini masakah urusan penting boleh
ditentukan secara untung-untungan. coba katakan- kau ingin bertanding apa denganku?"
Diam-diam Yu Wi bergirang. tak tersangka Ji-bong sangat tinggi hati, ia menurut kepada pesan
si kakek aneh yang menyuruhnya bertindak menurut gelagat, segera ia menjawab, "Ingin kuminta
petunjuk ilmu pukulan kepada Lohoatsu."
"Baik, kita tentukan kalah menang dalam sepuluh jurus." jengek Ji-bong.
"Hanya bertanding jurus pukulan dan tidak bertanding tenaga," kata Yu Wi pula,
"Ya tentu, kalau tidak masakah kutentukan sepuluh jurus," kata Ji-bong.
Hati Yu Wi menjadi mantap setelah Nikoh tua ini menerima permintaannya, segera ia berkata
pula, "Sudah lama kudongar cu-pi-am termashur dengan sian-thian-ciang yang maha sakti, maka
Wanpwe ingin belajar kenal dengan ilmu pukulan ini untuk menambah pengalamanku. "
ji- bong tampak tercengang. katanya, "Usiamu masih muda belia dan sudah tahu ilmu pukulan
tua ini, baiklah, akan kutambah pengalamanmu. Cuma urusan harus dijelaskan sebelumnya,
karena permintaanmu sendiri akan ilmu pukulan ini, bilamana tiga jurus seranganku tidak dapat
kau tahan, segera kau harus angkat kaki dan dilarang tanya apa-apa lagi."
Dengan sungguh-sungguh Yu Wi menjawab, "Dan kalau wanpwe mampu menahan tiga jurus?"
Ji- bong yakin akan kelihaian sian-thian-ciang sendiri, tanpa pikir ia menjawab, "Jika kau tahan
tiga jurus, anggap kau yang menang."^
sedapatnya Yu Wi berusaha menutupi rasa girangnya yang luar biasa, cepat ia berkata pula,
"Jika demikian, maaf kuserang dulu, Lo hoatsu"
Kontan ia melancarkan satu jurus serangan ajaran Ji Pek-liong.
"Pukulan bagus" puji Ji-bong, ia tunggu setelah tangan Yu Wi sudah mendekat barulah
mendadak tangan kirinya mencengkeram dari samping.
Cengkeraman ini seketika mengunci jurus serangan Yu Wi yang lihai itu.
Namun Yu Wi sudah mempunyai perhitungan, ia tahu cengkeraman Ji- bong itu adalah jurus
kelima sian-thian-ciang yang disebut "Jing-liong-tam-jiau" atau Naga hijau manjalarkan cakar,
cengkeraman itu hanya serangan pancingan saja, berikutnya adalah tangan kanan segara
menyodok kedepan, dalam keadaan tidak terduga lawan pasti akan terhantam dadanya.
Yu Wi berlagak seperti tidak tahan oleh cengkeraman lawan dan mendoyong ke belakang,
berbareng kaki kirinya lantas menendang memapak tangan Ji-bong itu, karena tidak terduga
telapak tangan kanan Ji-bong yang hendak mencengkeram itu terasa kesemutan- Ia terkejut dan
cepat menarik tangan-
Untung cukup cepat gerak perubahannya, kalau tidak. bilamana siau-hu-hiat pada telapak
tangan tertendang dengan tepat, seketika dia akan lumpuh setengah badan dan hal ini berarti
kekalahan baginya.
Melihat cara mengelak Yu Wi yang istimewa itu, diam-diam Ji- bong terkejut, tahulah dia
sekarang kedatangan Yu Wi ini sengaja hendak mengalahkan sian-thian-ciang, padahal selama ini
dia yakin sian-thian-ciang tidak ada titik lemah yang dapat dipatahkan lawan, sama sekali tak
terduga olehnya pihak lawan yang mendoyong ke belakang itu dapat mengayun kakinya untuk
menendang, dan gerak ini memang tepat untuk mematahkan jurus serangan "Jing-liong-tam-jiau"
yang hebat itu.

Setelah menendang, menyusul kaki lain juga mendepak pula. dengan gerakan ini dia terus
menerjang maju sekalian- kedua tangannya melancarkan jurus serangan ajaran Kan Yok-koan dan
Ji Pek-liong yang maha sakti.
ji- bong mengincar baik-baik serangan lawan- sesegera ia gunakan satu jurus sian-thian-ciang
yang tidak ada titik lemah sama sekali, yaitu jurus "Kiu-kui-poat-to" atau sembilan setan mencabut
belati. dengan jurus inilah dia gagalkan kedua serangan Yu Wi itu.
Dan sekali menggeser, dapatlah Ji-bong memutar ke belakang Yu Wi, dengan gerakan yang
aneh menikam, kedua tangannya berturut-turut memotong kearah Yu Wi.
Betapapun tangkasnya Yu Wi seharusnya takkan mampu menghindarkan tiga kaii serangan
lawan- Cuma sebelumnya ia sudah tahu bagaimana gerakan jurus "Kui-ciu-poat-to", sebab itulah
tanpa berpaling ia justeru membungkuk ke depan seperti mau lari, tapi kedua kakinya terus
mendepak ke belakang secara bergantian, setiap depakan mengincar leher Ji-bong.
Dengan demikian, serangan Ji-bong belum lagi mengenai sasaran, sebaliknya depakan Yu Wi
kembali memapak tangannya, Ji-bong tidak sempat menarik kembali serangannya dan tangan
terdepak oleh kaki Yu Wi, tangan terasa kesemutan, untung tidak kena dengan tepat. Akan tetapi
kejadian ini sudah cukup besar artinya.
Ji-bong tidak ingin bertempur lagi, ia melompat mundur dan berseru, "Cukup, tidak perlu
diteruskan"
Ucapan ini sama dengan mengaku kalah, padahal Ji-bong belum kalah benar-benar, soalnya
gerak tubuh Yu Wi yang dapat mematahkan jurus "Kiu-kui-poat-to" itu terlalu aneh sehingga
membuat Ji-bong percaya biarpun 108jurus sian thian-ciang dimainkan seluruhnya juga takkan
mendatangkan hasil apapun, sebaliknya diri sendiri pasti akan kalah.
Yu Wi sangat girang, katanya, "Sekarang apakah Wanpwe boleh bertemu langsung dengan
soh-sim?"
Ji-bong merasa jemu terhadap sikap Yu Wi yang kegirangan itu, jawabnya kemudian, "Tentu
saja boleh setelah kau tembus tiga rintangan-"
Lalu ia mendekati dipan, ia menjentik sebuah bok-hi tembaga di pojok dipan, maka
terdengarlah "ting" yang nyaring. sejenak kemudian dari serambi tadi berlari datang dua nikoh
berjubah hitam dan masuk kekamar, setelah memberi hormat. tanya mereka, "Ada pesan apa
suhu memanggil Tecu?"
Kedua nikoh baju hitam ini berwajah kurus dan hitam, sikapnya kereng, tangan masing-masing
memegang tasbih hitam terbuat dari besi sehingga menimbulkan perasaan seram bagi yang
memandangnya.
Usia kedua nikoh berbaju hitam ini menurut perkiraan Yu Wi sedikitnya sudah diatas setengah
abad, kalau murid Ji-bong saja sudah berusia begini tua, Ji-bong sendiri sedikitnya berusia 80
tahun- Padahal usia Ji-bong yang sesungguhnya sukar diketahui siapa pun-
Dengan muka kelam Ji- bong lantas berkata.."Bawa soh-sim ke sini"
Air muka kedua nikoh berbaju hitam itu tampak mengunjuk rasa kaget, keduanya saling
pandang sekejap. seperti saling berjanji, lalu tanya bersama, "suhu, jika boleh bertanya, dapatkah
suhu menerangkan kesalahan apa yang dilanggar soh-sim?"
Ji-bong menjawab, "orang ini ingin bicara berhadapan dengan dia, tidak perlu banyak tanya."
Kedua nikoh berbaju hitam itu jelas penegak hukum Cu-pi-am. biasanya bertindak adil tanpa
pandang bulu, mungkin di antara mereka ada hubungan yang akrab sehingga sekarang agak
enggan memanggilkan soh-sim untuk diperiksa kesalahannya, rupanya mereka tidak percaya sohsim
bisa berbuat sesuatu yang melanggar peraturan, maka berbareng mereka tanya kepada Yu
Wi, "sicu, apakah engkau akan menuduh kesalahan soh-sim di depan suhu kami?"
Yu Wi menjadi gugup, cepat ia menjawab, "o, tidak. tidak. kalian salah paham."

"salah paham bagaimana?" tanya salah seorang nikoh berbaju hitam itu.
"siapa bilang kuminta Ketua kalian mengadili Soh-sim di depanku?" jawab Yu Wi. "Pada
hakikatnya dia tidak... tidak berbuat sesuatu kesalahan, dari mana bisa berdosa?"
Nikoh berbaju hitam yang lain berkata, "Apakah sicu tahu bahwa anggota biara kami tidak
boleh menemui tamu dari luar?" Yu Wi menganggak.
Nikoh itu berkata pula, "Setiap tahun anak murid biara kami ditugaskan berkelana di dunia luar,
suhu kuatir tindak-tanduk anak murid tidak disiplin dan berbuat sesuatu yang tidak patut, tentunya
suhu tidak dapat melarang orang Kangouw mengadu ke sini, maka suhu menetapkan peraturan,
pendatang harus menerobos dua rintangan, lalu boleh melaporkan kepada suhu kesalahan yang
diperbuat anak murid Cu-pi-am kami, kemudian kami akan melakukan pengusutan untuk
menentukan kesalahannya Jika murid yang kurang disiplin itu benar melakukan sesuatu kejahatan
dan pendatang ingin menyaksikan dia dijatuhi hukuman, maka pendatang harus menerjang
rintangan ketiga. Tadi sicu sudah berhasil membobol tiga rintangan, maka suhu menyuruh kami
mengundang soh-sim untuk diadili didepanmu."
Karena penjelasan ini barulah Yu Wi tahu apa sebabnya si nenek pada rintangan pertama itu
merasa tidak senang akan kedatangannya. Rupanya menerobos rintangan berarti pendatang akan
mengadilkan kesalahan anak murid Cu-pi-am, dengan sendirinya setiap anggota Cu-pi-am merasa
tidak senang
Tapi Yu Wi tidak tahu hal ini, yang diharapkan cuma menemui Bok ya selekasnya, tentu saja
sikapnya itu menimbulkan rasa tidak senang si nenek.
Peraturan tiga rintangan yang ditetapkan Ji-bong ini memang agak janggal dan terasa ingin
menang sendiri, mana orang yang ingin mengadukan muridnya diharuskan melalui tiga rintangan
lebih dulu. Apabila pengadu tidak mampu menerobos dua rintangan pertama, bukankah berarti
Cu-pi-am sengaja membela muridnya yang salah itu?
Namun Ji-bong juga mempunyai alasan- Ia yakin peraturan cu-pi-am sangat ketat dan
berdisiplin sangat keras, setiap murid Cu-pi-am tidak nanti melanggar peraturan, sama sekali ia
tidak percaya orang luar akan menuduh muridnya berbuat salah. aadaikan ada tuduhan
kebanyakan juga timbul dan salah paham.
Untuk menghindarkan gangguan, maka Ji-bong menetapkan peraturan tiga rintangan ini,
maksudnya, hanya orang yang mempunyai kungfu sejati yang berhak mengadukan kesalahan
murid Cu-pi-am.
sama sekali Yu Wi tidak menduga petunjuk si kakek aneh yang menyuruhnya menerjang tiga
rintangan ini telah mendatangkan kesulitan baginya sekarang. Padahal Bok-ya jelas suci bersih,
mana bisa berbuat dosa?
Ia pikir tujuannya membobol tiga rintangnn hanya ingin bertemu dengan Ya-ji, bila benar
datang untuk mengadu, peraturan tiga rintangan ini juga tidak layak. Maka ia lantas berkata,
"Dengan menerjang rintangan disebabkan Wanpwe kurang pengertian, untuk ini mohon para
Cianpwe sudi memberi maaf, adapun kedatanganku ini sesungguhnya ada persoalan yaag
menyedihkan-"
"Bok-tin dan Boh-pi, mundur saja kalian" kata Ji-bong memberi tanda.
Mendengar ucapan sang guru ini, kedua nikoh berbaju hitam itu tahu soh-sim tidak perlu lagi di
undang, mereka memang tidak percaya soh-sim yang baik itu bisa berbuat sesuatu yang
melanggar peraturan, setelah terbukti memang betul keyakinan mereka, maka pergilah mereka
dengan senang hati.
Selagi Yu Wi hendak bicara untuk mengutarakan perasaannya, tiba-tiba ji- bong mengebas
lengan bajunya dan berkata, "Sekarang pergilah, urusan yang menyedihkan segala tidak perlu kau
katakan."

"Dapatkah Wanpwe diberi kesempatan dan bertemu dengan soh-sim?" pinta Yu Wi dengan
hormat.
"Tidak boleh," jawab Ji-bong tegas. "Bukankah sudah kau dengar ucapan muridku si Boh-pi tadi
bahwa anggota biara ini tidak boleh menemui tamu dari luar?"
"Mohon Tayhoatsu suka mengingat kesungguhan Wanpwe menerjang tiga rintangan ini hanya
untuk menemui murid biara kalian ini," Yu Wi memohon pula.
Dengan kurang senang Ji- bong menjawab "Ketiga rintangan ini diadakan bagi orang yang
merasa dirugikan oleh perbuatan murid biara kami dan bukan diadakan bagi anak muda bangor
yang cuma menimbulkan urusan menyedihkan seperti dirimu ini. Nah, pergilah"
Namun Yu Wi masih ngotot dan berkata "Tayhoatsu, Wanpwe sama, sama sekali bukan anak
muda bangor, soh-sim adalah sahabat karibku, kutemui dia hanya untuk bicara satu kalimat saja."
"Ji-tiau, masuk sini" seru ji- bong sambil tepuk tangan. Ji-tiau lantas masuk ke ruangan itu.
Dengan sorot mata yang minta dikasihani Yu Wi mamandangnya sekejap. Melihat sikap anak
muda yang memelas itu, diam-diam Ji-tiau menyesal.
Ji-bong juga dapat melihat wajah Yu Wi yang pantas dikasihani itu, tapi ia tidak terpengaruh,
disiplin Cu-pi-am tidak boleh dilanggar lantaran anak muda ini, segera ia berkata pula dengan
dingin. "Ji-tiau, antar sicu ini keluar"
Ji-tiau tidak dapat memberi bantuan kepada Yu Wi, terpaksa ia berkata, "Silakan sicu"
Sampai disini barulah Yu Wi ingat kepada ucapan si kakek aneh itu. Tampaknya memang betul,
kalau dirinya ingin menemui Ya-ji harus membunuh dulu para nikoh ini, jika tidak ada yang
merintangnya baru dapat bertemu dengan Ya-ji. Akan tetapi dapatkah dirinya berbuat demikian?
Andaikan tanpa menghiraukan resiko yang mungkin timbul juga belum tentu dirinya mampu
membunuh mereka.
Yu Wi cukup jelas, Jika Ji- bong benar-benar mau bertempur dengan dirinya, tidak perlu sampai
sepuluh jurus dirinya pasti akan kalah, jadi main kekerasan bukan cara yang tepat. Ia coba
mencairkan hati Ji-bong yang keras itu, katanya, "Wanpwe ingin tanya sesuatu."
Ji-tiau menaruh simpati kepada Yu Wi, tidak mendesaknya agar lekas pergi, ia malah
menjawab, " Urusan apa, silakan- bicara."
YU Wi menjura kepada Ji-tiau, katanya, "Wanpwee ingin tanya, kata Cu-pi itu apa maksudnya?"
"Cu artinya kasih, pi artinva duka," jawab Ji-tiau.
Belum lagi Yu Wi bicara lagi. tiba-tiba ji- bong menyela, "Meski biara ini disebut Cu-pi-am, cuma
sayang latihan kami belum sempurna, belum dapat kami melaksanakan ajaran Buddha secara
tuntas mungkin perlu sekian tahun lagi . Ji-tiau. antar tamu"
Ji-tiau menghela napas menyesal, katanya, "sicu, tidak perlu bicara lagi, silakan berangkat"
Diam-diam Yu Wi mendongkol karena usahanya tetap gagal, serunya dengan gusar, "Jika kalian
tidak sanggup berbuat welas-asih, Tay hoatsu, kukira nama biara kalian harus diganti supaya
cocok dengan kenyataannya."
Air muka Ji-bong agak berubah, bentaknya pelahan, "Antar pergi dia"
Cepat Ji-tiau berucap dengan suara pelahan "jika sicu tidak berangkat, terpaksa aku harus
bertindak kasar."
Yu Wi tidak berani main kekerasan disini, betapapun ia harus memikirkan keselamatan Bok-ya.
terpaksa ia membalik tubuh dan melangkah pergi.
Ji-tiau mangantarnya ke luar, setiba di luar pintu tembus bundaran. Nikoh tua itu lantas
menggeleng kepala dan berkata. "sungguh sicu terlalu berani, Cu-pi-am bersejarah puluhan tahun.
kau minta biara kami ganti nama, bukankah kau sengaja memusuhi biara kami?"
"Kalian melarang kutemui Ya-ji, memangnya kenapa kalau bermusuhan?" demikian Yu Wi
berkata di dalam hati.

Setelah berjalan sejenak pula, kembali Ji-tiau berkata, "sicu, jangan timbul pikiranmu akan main
gila lagi. Hendaklah kau tahu setelah menerjang tiga rintangan, maka Ketua memperlakukan
dirimu sebagai tamu terhormat, akupun disuruh mengantar dirimu, jika lain kali engkau berani
datang secara diam-diam dan bila kepergok. tentu takkan kami lepaskan kau."
Apa yang dikatakan Ji-tiau tepat mengenai isi hati Yu Wi, dia memang bermaksud malam nanti
diam-diam menyusup ke Cu-pi-am untuk mencari Ya-ji. Maka iapun tidak perlu menutupi
pikirannya, ucapnya, "Kalian menghalang-halangi pertemuan dengan Ya-ji, selanjutnya aku pasti
akan sering datang kemari, sampai satu hari kami dapat bertemu."
Dari sikap Yu Wi yang tegas itu, Ji-tiau dapat merasakan anak muda ini berani bicara juga
berani berbuat, maka percuma saja dia memberi nasihat, dia hanya berucap. "Hendaklah hati-hati
saja."
Di balik ucapannya itu seakan-akan hendak bilang boleh saja kau datang secara diam-diam,
cuma harus berhati-hati.
Yu Wi sangat berterima kasih atas maksud baik Ji-tiau, pikirnya, "Alangkah baiknya apabila Jitiau
ini yang menjadi ketua Cu-pi-am, segala urusan tentu mudah diselesaikan."
Ia tidak tahu bilamana Ji-tiau ini yang menjadi ketua Cu-pi-am, demi menegakkan disiplin keras
biara itu, sikapnya pasti juga tegas serupa Ji- bong sekarang. Kini dia bukan ketuanya,
kedudukannya berbeda. makanya dia berani memberi isyarat agar Yu Wi boleh datang menemui
Ya-ji secara diam-diam.
Biasanya kalau kedudukan seseorang berubah, sikapnya terhadap sesuatu juga tidak sama.
Begitulah mereka terus menyusuri serambi panjang itu, tiba-tiba terlihat seekor burung merpati
terbang lewat, pada kaki burung merpati itu terikat kelentingan kecil yang menimbulkan bunyi
nyaring ketika terbang.
Ji-tiau tampak kaget demi mendengar suara keleningan burung, serunya, "Hah, kembali ada
orang menerobos dua rintangan"
Padahal sudah hampir 20 tahun tidak ada orang yang pernah menerobos dua rintangan di Cupiam,
sekarang terturut-turut dua orang telah menerjang dua rintangan dalam satu hari, kejadian ini
sungguh sangat kebetulan, pantaslah Ji-tiau merasa terkejut.
Suara keleningan burung merpati juga mengagetkan para nikoh di dalam biara, kedua nikoh
jelita yang sudah dilihat Yu Wi tadi juga berlari keluar untuk membuka pintu tengah.
"Aneh," gumam Ji-tiau, "jangan-jangan memang betul ada anggota biara kami yang berbuat
melanggar disiplin diluar?"
Ia berpaling dan memandang Yu Wi, maksudnya ingin tanya, "Apakah orang yang menerjang
dua rintangan ini ada hubungannya denganmu?"
Namun Yu Wi diam saja, hakikatnya dia memang tidak mempedulikan siapa yang datang, yang
dipikirnya adalah cara bagaimana malam nanti akan nyelundup kedalam biara ini untuk mencari Ko
Bok-ya.
Setelah mereka keluar pintu tengah, tiba-tiba muncul seorang kakek berdandan aneh. Kakek ini
dikenal Yu Wi sebagai orang yang memberi petunjuk padanya cara menerjang rintang Cu-pi-am
itu. Maka dia bersuara heran demi melihatnya.
"Kau kenal dia?" tanya Ji-tiau.
"Kenal," jawab Yu Wi. "Apakah Lohoatsu mengenalnya?"
Ji-tiau menggeleng sejenak kemudian kakek itu sudah tampak di-undak2an- ia menjura dan
menyapa,
"Ji-tiau Taysu"
Ji-tiau terkejut.

Dengan tertawa Yu Wi lantas berkata, "Lo- hoatsu bilang tidak kenal dia, tapi dia ternyata kenal
dirimu."
"Selamat saudara cilik" terus si kakek terhadap Yu Wi dengan tertawa,
"Numpang tanya, siapakah nama sicu yang mulia," tanya Ji-tiau.
"Rupanya Taysu sudah lupa bahwa orang she Cin pernah datang satu kali pada waktu 20 tahun
yang lalu," kata si kakek dengan tertawa.
Ji-tiau terkejut, "Ah, kau ini Cin Pek-ling?"
Selama 20 tahun ini, kecuali Yu Wi sekarang hanya Cin Pek-ling yang pernah menerjang lewat
dua rintangan, dia juga orang pertama yang berhasil lewat kedua rintangan sejak Cu-pi-am
didirikan.
Cin Pek-ling menghela napas, katanya, "sang waktu tidak kenal ampun, dalam sekejap saja 20
tahun sudah lalu, masa Taysu sudah pangling kepada orang she Cin?"
Ji-tiau menggeleng, ucapnya, "Cin Pek ling, kau kelihatan sangat tua. "^
Cin Pek ling juga tahu dirinya sudah berubah tua sekali, maka ia cuma tersenyum getir tanpa
menjawab.
Yu Wi lantas menjura dan berkata, "Cin-lotiang, banyak terima kasih atas patunjukmu berulangulang.
"
"Saudara cilik sudah bertemu dengan soh-sim belum?" tanya Cin Pek-ling.
Yu Wi menghela napas menyesal, "Terpaksa kukatakan terus terang hendak menemui soh-sim,
dan seperti dugaanmu, Cu-pi-am melarang orang luar mencari nikoh penghuni biaranya."
"Sudah tiga rintangan berhasil kau terobos. seharusnya dapat kau temui dia?" ucap cik Pek-ling
dengan lagak simpati.
"Masa Gin-lotiang tidak tahu peraturan menerobos tiga rintangan cu-pi-am?" tanya Yu Wi.
"Hanya tahu sekadarnya," sahut si kakek.
"Meski dapat kutemui dia, tapi soh-sim tidak buat dosa, mana boleh kutuduh dia agar
maksudku menemui dia tercapai?" kata Yu Wi.
Namun cin Pek-ling tidak sependapat, katanya, "Asalkan dapat kau temui dia, kan dapat kau
lakukan menurut keadaan-"
"Cayhe memang bodoh dan tidak dapat bertindak menurut keadaan, daripada berbuat
demikian, baik kucari jalan lain saja," ujar Yu Wi.
"cin Pek-ling" tegur Ji-tiau tiba-tiba, "apa maksud kedatanganmu kali ini?"
"Ingin kuminta Kim-kong-kian dengan hormat," jawab Cin Pek-ling.
"Kau yakin mampu menerobos tiga rintangan?" tanya Ji-tiau.
Dengan tertawa bangga Cin Pek- ling menjawab, "sekali ini tidak perlu kuterjang ketiga
rintangan segala"
"Cin-lotiang," sela Yu Wi, "kau datang untuk itu Kim-kong-kian apa?"
"Hahaha, itulah rahasiaku, saudara cilik," seru Pek-ling dengan bergelak tertawa.
"Eh, sudah waktunya kau harus pergi. sampai berjumpa pula"
Terpaksa Yu Wi meninggalkan cu-pi-am dengan penuh tanda tanya.
setelah turun dari siau-hoa-san, pikir Yu Wi, "Tujuanku mematahkan sian-thian-ciang sudah
tercapai, akan tetapi cita-cita menemui Ya-ji belum terkabul. Wahai Yu Wi, sungguh sial kau,
pengorbananmu dengan menjual bayangan ternyata sia-sia belaka."
Dia seorang yang pegang janji, meski belum berhasil bertemu dengan Ko Boks ya, ia merasa
wajib menemui dulu Pek-yan untuk memohon padanya agar soal jual- beli bayangan itu dapatlah
ditunda untuk sementara waktu.
setiba di Tay-hoa-san, dilihatnya pintu biara kecil itu tertutup tanpa terpalang, ia masuk ke situ
tapi Pek-yan tidak berada di tempat. Ia tunggu sendirian di situ, sampai magrib Pek-yan belum
juga pulang.

Dilihatnya bhari sudah mulai gelap. sudah waktunya untuk berangkat ke Cu-pi-am jika ingin
mencari Boks ya. segera ia menanggalkan jubah luar dan berdandan dengan ringkas, pedang
sempit Hi-jong-kiam diselipkan pada ikat pinggang, ia siap melakukan perjalanan malam.
Pada saat itulah tiba-tiba Pek-yan pulang. Begitu masuk segera nona itu menegur. "He, hendak
kemana lagi?"
"Cu-pi-am," jawab Yu Wi.
Pek-yan duduk di atas kasurnya dan mendengus, "kau ingin antar nyawa?"
Yu Wi mendongkol, ucapnya dengan ketus, "Apa artinya mati?"
"Bagimu tidak ada artinya, tapi bila kau mati, syarat perjanjian kita menjadi batal, aku yang
rugi." kata Pek-yan.
Karena kesal, cara bicara Yu Wi menjadi kasar, "Yang kaupikirkan hanya keuntunganmu semata
tanpa menghiraukan cita-cita orang lain."
"Apa cita-citamu?" tanya Pek-yan dengan tertawa.
"Mengunjungi cu-pi-am," jawab Yu Wi singkat.
"Apakah kau tahu bagaimana akibatnya orang yang menyusup ke Cu-pi-am?"
"Cu-pi-am kan bukan sarang harimau atau kubangan naga?"
"Tapi kukira tidak banyak bedanya dengan sarang harimau."
"Hm, dalam pandanganmu masakah di dunia ada tempat yang sukar didatangi?"jengek Yu Wi
Pek-yan menghela napas gegetun, "Aku Pek-yan memang tidak memandang sebelah mata
terhadap tokoh Bu-lim mana pun, tapi setelah seharianku-periksa dengan teliti keadaan Cu-pi-am,
ternyata setiap penghuni biara itu sama memiliki kungfu istimewa" sekarang Pek-yan tidak lagi
berani meremehkan Cu-pi-am.
"Tadi kaupun mengunjungi Cu-pi-am?" tanya Yu Wi dengan heran.
Pek-yan mengangguk. "Betul, makanya kupulang agak terlambat, tapi sedikitnya dapat juga
kuselidiki sesuatu rahasianya."
"Rahasia apa?" tanya Yu Wi cepat.
"Kau bilang aku cuma memikirkan keuntungan sendiri dtngan memperalat orang lain, padahal
belum sampai kuperalat dirimu, sebaliknya Cin Pek-ling sudah sempat memperalat dirimu."
"Masa aku dapat diperalat olehnya?" ucap Yu-Wi dengan tidak percaya.
"Coba katakan, bukankah Cin Pek ling yang memberi petunjuk padamu agar datang kemari
mencari diriku?"
"Betul," jawab Yu Wi.
"Kau kira petunjuknya itu bertujuan baik bagimu? Huh, salah besar, tolol" jengek Pek-yan-
"Dia telah memperalat hasratmu yang ingin bertemu dengan soh-sim."
Siapa pun, terutama anak muda, tentu tidak mau disebut tolol oleh kaum wanita, kecuali yang
kecerdasannya memang melebihi orang biasa seperti Pek-yan ini, Yu Wi sendiri memang merasa
rendah didepan si nona, kini sebutan tolol itu tampak menyinggung perasaannya, dengan gusar ia
menjawab. "Aku memang tidak pintar, soal aku diperalat oleh Cin Pek-ling atau tidak hendaknya
jangan kau ikut kuatir, siocia" Habis berkata Tu Wi lantas berbangkit dan pergi.
"Hm, untuk apa terburu-buru, waktunya masih cukup banyak untuk menyatroni cu-pi-am,"
Rengek Pek-yan. Yu Wi berhenti melangkah.
Pek-yan lantas berkata pula, "Memang tidak ada sangkut-pautnya denganku, soal Cin Pek-ling
peralat dirimu atau tidak, tapi apakah kau tahu tindakanmu itu berarti telah menanam suatu bibit
bencana besar di dunia Kang-ouw."
Ucapan terakhir itu menarik perhatian Yu wi, ia membalik dan duduk kembali, lalu tanya, "Bibit
bencana apa yang kutimbulkan, coba jelaskan."^
"Hm," Pek-yan menjengek, sejenak kemudian baru berkata pula, "Setahuku, Cin Pek-ling
mewakili sesuatu organisasi rahasia tertentu, agaknya organisasi ini sudah lama sekali menghilang
dari dunia Kangouw."

Perasaan Yu wi rada tergetar, gumamnya, "organisasi yang sudah lama menghilang dari dunia
Kangouw?"
"Jangan memotong ceritaku, coba dengarkan dengan baik," omel Pek-yan.
"Bicara saja, akan kudengarkan," jawab Yu wi dengan kurang senang.
"Kau tahu, sebabnya golongan Cin Pek-ing ini menghilang dari dunia Kangouw adalah karena
terkekang oleh satu orang, dan orang ini ialah ketua cu-pi-am Ji-bong Taysu.
Yang lebih aneh lagi adalah Ji-bong seperti seorang cianpwe yang berkedudukan sangat tinggi
dari golongan mereka itu."
"Thay-yang bun (perguruan matahari)" seru Yu Wi mendadak sambil berteplok tangan.
"Kenapa kau potong lagi penuturanku," omel Pek yan.
"Ceritalah." kata Yu Wi ketus.
Pek-yan tidak senang terhadap sikap bicara Yu Wi itu, tapi dia meneruskan juga ceritanya,
"Thay yang-bun katamu? Ya, Ji-bong seperti pernah menyebutnya, anggaplah aliran mereka
memang betul Thay- yang- bun- Tadi setelah kau tinggalkan cu-pi-am rase tua Cin Pek-ling itu
lantas menghadap moyangnya...."
"Kiranya diam-diam kau ikut dibelakangku ke Cu-pi-am, memangnya apa tujuanmu, kuatir aku
kabur?" sela Yu Wi pula.
Pek-yan melototinya sekejap dan menganggap anak muda itu tidak tahu maksud baiknya,
katanya pula, "Justeru lantaran aku merasa kuatir makanya aku ikut pergi, setelah kau tinggalkan
Cu-pi-am. timbul ingin tahuku apa yang akan diperbuat Cin Pek-ling. maka diam-diam kukuntit
dibelakangnya."
Pek-yan berhenti sejenak, lalu meneruskan, "Kulihat Cin Pek-ling menyembah kepada Ji-bong
dengan sangat khidmat sambil berkata, Nenek yang terhormat, cucu menyampaikan salam hormat
kepadamu"
Yu Wi merasa geli melihat cara Pek-yan menirukan suara Cin Pek-ling yang sangat persis itu,
Pikirnya, "Pantas jubah Ji- bong bersulam matahari emas. kiranya dia adalah ahli waris Thayyang-
bun. jelas sakit hati Ban put-tong Locianpwe sukar terbalas." Mendadak Pek-yan
mendorongnya dan menegur, "He, kau dengarkan ceritaku tidak?"
"Aku selalu pasang kuping mendengarkan, "jawab Yu Wi terkejut.
Dengan tertawa Pek-yan lantas menyambung, "Coba kau terka apa yang dikatakan makhluk tua
itu kepada Cin Pek-ling"" Katanya, "Huh, siapa nenekmu? sudah lama aku tak mengaku sebagai
orang Thay-yang-bun Perguruan ini sekarang cuma tersisa sebangsa tukang gegares melulu,
seperti dirimu Cin Pek-ing terhitung salah satu di antaranya."
Yu Wi terbahak-bahak, "Hahaha, makhluk tua itu telah memaki dirinya sendiri, dia memakai
jubah bersulam gambar matahari, tapi mengaku tidak sudi menjadi murid Thay- yang bun,
padahal jelas-jelas dia memberitahukan kepada orang bahwa dia adalah orang Thay- yang bun.
Jika Thay-yang-bun benar-benar cuma tersisa anggota sebangsa tukang gegares, tentu di
antaranya juga termasuk dia."
Terhadap sebutan " makhluk tua" oleh Pek-yan terhadap Ji-bong, Yu Wi merasa cocok dan ikutikutan
menyebutnya demikian,
"Tapi tidak kuanggap makhluk tua itu sebagai tukang gegares belaka," kata Pek-yan pula.
"Coba kau lihat bukti ini"
segera ia menyodorkan tangannya kedepan, maka terlihatlah telapak tangannya biru hitam.
"He, kau terluka oleh senjata rahasia apa? Berbisa tidak?" seru Yu Wi kuatir.
"Ehm, sedikitnya kau punya perasaan dan menaruh perhatian kepada keselamatanku," kata Pek
-yan. "Biar kujelaskan, tanganku tidak terluka oleh senjata rahasia melainkan terserang oleh
serangkum angin tajam yang menyambar tiba pada waktu kudengarkan percakapan mereka
berdua. Untung kutahu gelagat jelek. tapi juga terlambat untuk menghindar, kukuatir yang
menyambar tiba ini senjata rahasia berbisa, jika mengenai sudah pasti sukar tertolong lagi. Maka

kugunakan telapak tangan untuk menyampuk, kupikir andaikan terkena senjata rahasia berbisa
masih sempat kutahan dengan tenaga dalamku, jika tetap tidak berguna, biarlah kupotong
tanganku ini. siapa tahu yang menyambar tiba bukan senjata rahasia melainkan cuma serangkum
angin tajam yang dilentikkan dengan jari tangan-"
Diam-diam Yu Wi melelet lidah. Ia membayangkan jarak tempat Pek-yan mengintip dengan
tempat duduk Ji-bong di dalam kamar sedikitnya lebih setombak, dari jarak sejauh itu Ji bong
sanggup melancarkam tenaga murni untuk melukai tangan Pek-yan, sungguh lihainya sukar
dilukiskan, kalau tubuh yang terkena, mustahil takkan berlubang dan terkapar.
Tampaknya Pek-yan juga masih terbayang kejadian yang mengerikan itu, tuturnya pula,
"Melihat kekuatan Ji-bong Taysu yang luar biasa itu, kuyakin di dunia ini tidak ada yang mampu
menandingi dia, cepat kularikan diri dan tidak berani cari gara-gara lagi. Kudengar Ji bong berkata,
"Sudah sekian lama kau dengarkan, sudah waktunya mengaso dulu." Mungkin dia yakin dapat
merobohkan diriku dengan tenaga selentikan itu, tak diketahuinya aku sempat menahan dengan
telapak tangan, setelah ku- kabur, umpama dia ingin mengejar juga tidak mampu lagi
menyusulku."
"Apakah Cin Pek ling juga tidak mampu menyusulmu?" tanya Yu Wi.
"Huh, hanya sedikit kepandaian ginkang cin Pek-ling itu terhitung apa?" jengek Pek-yan. " Kukira
di dunia ini hanya Ji- bong yang dapat mengadu ginkang denganku. Akan tetapi dia
melangkah belakangan, jangan harap akan dapat menyusulku."
Sebelum ini Yu Wi mengira ginkang Cin Pekling terhitung top di dunia persilatan, tak tersangka
ginkang Pek-yan masih lebih unggul daripada Cin Pek-ling, maka dalam. hati ia merasa sangsi,
harus dilihatnya sendiri barulah dapat memastikan di dunia ini masih ada orang yang ginkangnya
melebihi Cin Pek-ling.
Tiba-tiba Pek-yan bertanya, "Coba terka sebab apa kubilang kau telah menimbulkan bibit
bencana?"
"Sudah setengah hari kau bicara, tapi belum juga mengenai pokok persoalannya, mana dapat
kuterka," jawab Yu Wi.
Dengan wajah bersungut Pek-yan bertutur, "Meski Ji-bong menyelentik diriku satu kali, tapi
kulihat dia bukan orang jahat, sebaliknya Cin Pek-ling adalah telur busuk sungguh-sungguh. Dia
telah memperalat keberhasilanmu dan ikut menerjang ke Cu-pi-am untuk minta Kim-kong kian?"
"Apa itu Kim-kong- kian?" tanya Yu Wi, dia muiai tidak sabar lagi.
"Kim-kong-kian adalah sejenis mutiara bagi pemeluk agama Buddha, juga disebut sebagai Ji-ihcu
(tasbih)."
"Ah, hanya serenceng mutiara saja, kenapa di ributkan?" ujar Yu Wi.
"Meski cuma mutiara yang tidak berharga, tapi barang yang tersimpan di dalam mutiara itulah
sukar dinilai." jengek Pek yan.
"Apa yang tersembunyi di dalamnya?" tanya Yu Wi.
"Menurut perkiraanku, di dalam mutiara itu tersimpan ilmu sakti perguruan mereka, juga tanda
kebesaran pimpinan Thay- yang- bun. Ji-bong sengaja menyembunyikan Kim-kong-kian, tapi anak
murid Thay- yang- bun tidak mau kesepian, berulang-ulang mereka mendesak kepada nenek
perguruan untuk memperlihatkan tanda kebesaran itu sebab dengan mutiara itu, kungfu Thayyang-
bun akan dapat dibangkitkan kembali, selain itu, berdasarkan tanda kebesaran itu Thay
yang-bun dapat muncul lagi di dunia Kangouw, serupa Giok-ji-ih yang merupakan tanda kebesaran
Siau-lim-si, tanpa Giok-ji-ih tak ada yang mau mengakui siapakah ketua Siau-lim-pay."
"Dua puluh lima tahun yang lalu Cin Pek-ling sudah pernah menerobos dua rintangan Cu-pi-am
dan minta Kim-kong-kian kepada Ji-bong. tapi dia tidak mampu menembus rintangan ketiga.
Waktu itu Ji-bong berkata kepada Cin Pek-ling bahwa kungfu Thay- yang-bun terlalu hebat bagi
dunia Kangouw sebagai contoh dikemukakannya sian-thian-ciang, maka anak murid Thay- yang
bun tidak perlu lagi terlalu menonjolkan diri"

"Mungkin Cin Pek-ling masih terus mendesak. maka Ji- bong lantai menyatakan bilamana ada
orang yang mampu mematahkan Sian-thian-ciang, itu berarti dunia Kangouw telah muncul orang
kosen, tatkala mana barulah Thay- yang- bun akan muncul juga di di dunia Kangouw. Karena
itulah Cin Pek-ling lantas mencari akal, dan kebetulan bertemu dengan orang tolol macammu ini,
dia membujuk agar kau datang ke sini menjual bayanganmu padaku untuk memperoleh kungfu
yang dapat mematahkan sian-thian-ciang. Dan kebetulan kau masuk perangkapnya sehingga
segala urusan menjadi berjalan menurut kehendaknya. Dengan demikian cin Pek-ling dapat
bertemu lagi dengan Ji-bong Thaysu untuk memohon Kim-keng-kiau, malahan ia memberitahukan,
katanya Goat-heng-bun juga sudah lahir kembali. Lantaran tidak mau menelan kembali janji
sendiri, pula mendapat kabar lahir kembalinya Goat-heng-bun, tergerak juga hati Ji-bong, tanpa
pikir lagi ia telah memberikan Kim-kong- kian yang diminta Cin Pek ling. selanjutnya, Thay-yangbun
akan lahir juga, coba bayangkan, apabila Thay-yang-bun dipimpin oleh Cin Pek-ling yang licin
dan licik, mustahil dunia Kangouw takkan geger."
Keterangan ini membikin hati Yu Wi merasa tidak enak. serunya dengan menyesal, "Wah,
celaka Cin Pek ling sialan, dia pura-pura bermaksud baik padaku, tak tahunya sengaja memperalat
diriku. Ai. aku memang bodoh, telah diperalat orang tanpa sadar."
"Apa yang hendak kau kerjakan jika Thay-yang bun lahir kembali?" tanya Pek-yan-
"Mendingan jika Thay-yang-bun tidak muncul, sekali muncul pasti akan menghanapi lawan
setimpal," seru Yu Wi dengan bersemangat.
"Lawan setimpal dari mana? Apakah Goat-heng-bun?" tanya Pek-yan-
"Betul, Goat-heng-bun adalah musuh bebuyutan Thay-yang-bun, asalkan Goat-heng-bun ada,
tidak boleh Thay-yang-bun berbuat sewenang-wenang di dunia Kangouw."
"Tapi setahuku, Goat-heng-bun juga bukan barang baik."
"Siapa bilang?" tanya Yu Wi dengan kurang senang.
"Menurut keterangan Cin Pek-ling kepada Ji-bong Taysu, katanya Goat-heng-bun telah
berbangkit di sekitar lembah Tiangkang dan mendapat dukungan Thi-bang-pang, disana. Akhirakhir
ini Pangcu Thi-bang-pang telah mati dan pengaruh Thi-bang-pang banyak menurun,
menurut berita yang tersiar di dunia Kangouw, nama Thi-bang-pang sangat tercemar, jika Goatheng-
bun didukung oleh Thi-bang-pang tentu juga dapat dibayangkan betapa keadaan Goat-hengbun,
andaikan baik juga terbatas."
Seketika Yu Wi teringat kepada Kan ciau-bu, pasti dia yang main gila dan merusak nama baik
Thi-bang-pang. Hanya dalam waktu beberapa bulan saja dia sudah membinasakan Le Kun. Ya,
pasti dia yang membunuh Le Kun.
Melihat Yu Wi termangu-mangu, Pek yan lantas tanya, "Apa yang kau pikirkan?"
"Pejabat Pangcu Thi-bang-pang sekarang apakah she Kan?" tanya Yu Wi dengan gregetan.
"Agaknya bukan," sahut Pek-yan, "Pang cu digantikan oleh puterinya, suaminya seperti she Kan
kah, salah, mungkin yang benar she Yu."
"Dia memang she Kan, keluarga Yu takkan mengeluarkan sampah masyarakat seperti dia" seru
Yu Wi dengan gusar.
Bab 16 : Thay-yang-bun dan Goat-Heng-bun
"Eh, jangan marah, aku tidak sengaja memaki keluarga Yu kalian," kata Pek-yan dengan
tertawa, "Kutahu keluarga Yu kalian semuanya orang baik. Menurut dugaanku, orang she Kan itu
mungkin ialah ahli waris Goat-heng-bun-"
"Huh, masa dia sesuai?" ejek Yu Wi. "Kukenal ahli waris Goat-heng- bun, kungfunya terlebih,
tinggi dari padamu."
"Oya? Siapa dia? Aku justeru ingin menemui dia," tanya Pek-yan dengan tidak terima.

Yu Wi memandang cuaca, serunya terkejut. "Wah, hari sudah gelap. aku harus berangkat."
"Kau tetap hendak pergi ke Cu-pi-am?" tanya Pek-yan-
"Setelah bicara sekian lama denganmu, semakin besar hasratku hendak pergi kesana, mungkin
dapat kutemui Soh-sim untuk bertanya kemana perginya cin Pek-ling, harus kutemui keparat itu
untuk ditanyai."
Pek-yan kurang senang, omelnya, "Baik, boleh kau pergL lekas pergi, kalau mati jangan
mencari diriku."
"Mati- juga tidak menjadi soal," ujar Yu Wi dengan tertawa, "bila kepergianku ini benar
berbahaya, tidak nanti kujadi setan dan mencari dirimu. Engkau telah menolongku dan tiada
permusuhan denganku, buat apa kucari perkara padamu." Habis berkata, sambil tertawa ia terus
berlari pergi.
Ketika sampai di bawah tebing Siau-hoa-san, dalam kegelapan, tebing curam itu kelihatan
seperti setan iblis yang menegak seram menghadang di depannya.
Dengan sendirinya si nenek penjaga di bawah tebing itu tidak lagi disitu, namun siapakah yang
tidak kenal nama Cu-pi-am dan berani melanggar peraturannya serta sembarangan menerjang ke
atas gunung tanpa melalui prosedur yang ditentukan?
Tidak adanya si nenek penjaga tebing itu menghemat tenaga juga bagi Yu Wi, tanpa pikir ia
terus melayang ke atas. Di atas sana juga tidak ada penjaga, tentu saja lebih leluasa bagi Yu Wi.
Padabal tanpa penjaga biasanya juga jarang ada yang mampu mendaki tebing curam itu. Ujian
mendaki tebing dengan ginkang yang tinggi ini, kalau bukan jago kelas wahid jangan harap akan
dapat terlaksana dengan lancar.
Dilihatnya Cu-pi-am sudah di depan mata, jantung Yu wi berdebar keras, ia tahu untuk datang
kesini memang mudah, tapi ingin menyusup ke dalam biara jelas tidak gampang. Di dalam biara
pasti ada nikoh penjaga, padahal setiap nikoh penghuni biara itu sangat lihai, salah seorang saja
sudah cukup untuk menggemparkan Bu- lim bilamana berkelana di dunia Kangouw.
Maka dapat-dibayangkan betapa sulitnya ingin mencari Ko Bok ya di dalam Cu-pi-am yang
penuh jago kelas tinggi itu. sungguh Yu Wi berharap Bok ya mengetahui kedatangannya dan
diam-diam ke luar menemuinya.
Dengan sendirinya hal ini tidak mungkln terjadi, sebab dari mana Bok ya mengetahui akan
kedatangannya?
Namun seperti terjadi keajaiban saja, mendadak dari balik sebatang pohon besar muncul satu
orang dan memanggilnya dengan suara tertahan, "Yu-toako?"
Sama sekali Yu Wi tidak menyangka ada orang bersembunyi dibalik pohon di depan cu-pi-am.
mestinya ia terkejut, tapi demi mengenali suara Bok ya, ia menjadi kegirangan luar biasa, hampir
saja ia bersorak.
Yang menegurnya ini memang betul Bok ya, ia bekata pula, "siang tadi Boh-tin dan Boh-pi
susiok memberitahukan padaku tentang kedatanganmu yang ingin mencari diriku. Kedua susiok itu
sangat baik padaku, mereka tidak merahasiakan tentang kedatanganmu. Ji-tiau suco bahkan
mengatakan padaku engkau masih akan datang lagi dan menyuruhku menaruh perhatian. Beliau
malah titip pesan padamu, katanya terbatas oleh peraturan biara, kita hanya diperbolehkan
bertemu satu kali saja, izin khusus ini dia pernah menyanggupi padamu .. . ."
Saking girangnya sampai badan Yu wi gemetar seluruhnya, ucapnya dengan suara terputusputu.
"Ya, ya,. . . beliau sangat baik, dan memberi kesempatan kepada kita untuk bertemu. Ya-ji,
dengarkan, kuharap engkau.."
Karena teraling-aling oleh pohon, wajah si nona tidak kelihatan- ia tahu Yu Wi hendak
membujuknya pulang ke rumah, maka cepat ia memotong. "Toako, hendaknya jangan kau
bicarakan hal-hal yang mencemarkan nama Buddha, aku. . . ." tiba-tiba ia menghela napas, lalu
menyambung dengan suara lembut. "Toako menurut Ji-tiau suco, katanya engkau akan datang

lagi, kukenal watakmu yang tidak sabar dan yakin yakin malam ini pasti akan kemari, maka habis
sembahyang aku lantas menunggu di sini. Kukira menjelang tengah malam baru akan muncul,
siapa tahu sekarang juga engkau sudah datang, tampaknya watakmu semakin tidak sabaran ..."
Betapa mesra ucapan ini, bilamana didengar orang, tentu mengira kedua muda-mudi ini sedang
memadu cinta, siapa pun takkan percaya jarak antara mereka sekarang ada beberapa meter
jauhnya, yang satu orang biasa, yang lain adalah paderi.
Yu Wi sangat girang, ia merasa kaki menjadi lemas sehingga lupa memburu maju, terdengar
suara Bok ya yang lembut seperti masa lampau dengan rayuan yang muluk-muluk, tanpa terasa
Yu Wi lantas memohon, "Ya-ji, sudilah engkau berdiri maju sini, tidak kelihatan wajahmu."
Dengan menurut si nona melangkah maju sehingga wajahnya terlihat jelas dibawah cahaya
rembulan, wajah Bok ya yang cantik manis, tampak agak kurus, jauh lebih kurus daripada sebulan
yang lalu waktu Yu Wi menemuinya dengan berkedok.
Sedemikian banyak susut badannya selama sebulan ini, maka dalam waktu sekian puluh hari
dapat dibayangkan betapa pedih perasaannya.
Yu Wi adalah seorang pemuda emosional, dan wajah Ya-ji yang kurus itu seketika teringat
macam-macam hal olehnya, ia pikir tentu si nona masih marah kepadaku karena telah malupakan
dia, masih hidup di dunia ini, tapi tidak memberi kabar padanya. Menyalahkan dirinya yang kejam
ketika menemuinya dengan berkedok ....
Karena menanggung berbagai kepedihan itu, tentu saja pucat dan kurus, dan semua ini garagara
perbuatannya. seketika Yu Wi sangat terharu, dan dadanya bergolak seperti membakar, ia
menjadi lupa kepada jubah dan topi paderi yang dipakai Bok ya, yang terlihat olehnya seakanakan
Ya-ji yang berada dalam pangkuannya ketika dia membawanya mencari pengobatan kepada
su Put-ku dahulu. waktu itu bukankah si nona juga pucat dan kurus seperti ini?
Maka kakinya yang terasa lemas itu mendadak bertenaga kembali, ia lalu maju dan Bok ya
terus dirangkulnya erat-erat. Dia terlalu emosi, yang terbayang olehnya adalah keadaan waktu dia
memondong Bok ya untuk mencari pengobatan, sama sekali lupa bahwa keadaan sekarang sama
sekali berbeda daripada dahulu.
Dengan sendirinya Ya-ji atua soh-sim sekarang tidak dapat menerima kasih mesra seperti ini,
meski kenangan mencari pengobatan dengan perjalanan beribu li jauhnya dahulu itu sukar
terlupakan, tapi orang yang sudah menyerahkan dirinya kepada agamanya harus teguh imamnya.
maka soh-sim berusaha meronta dan mendorong rangkulan Yu Wi itu.
Mestinya Yu Wi tidak mau melepaskannya, juga berat untuk melepaskannya. Akan tetapi
keadaan aneh lantas timbul. Mendadak Yu Wi melepaskan Bok ya, seperti yang dipegangnya
barusan adalah ular berbisa atau makhlum berbisa lain, dengan takut ia menyurut mundur
beberapa tindak,
Soh-sim juga melenggong oleh sikap Yu Wi yang aneh itu. cara anak muda itu melepaskan
dirinya terlalu kasar, dilepaskan begitu saja seperti orang melepaskan sepotong batu yang
dipegangnya, Kalau Bok ya tidak memiliki kepandaian, tentu terbanting dengan berat.
Malahan Yu Wi terus menudingnya dengan air muka seperti orang kesakitan, serunya, "Kau . .
.kau. . ." tidak di teruskan ucapannya dia terus berlari pergi seperti melihat setansoh-
sim terkesima, sampai lama ia berdiri bingung. Pada pertemuan ini mestinya ia bermaksud
minta agar Yu Wi melupakan dia, sudah bulat tekadnya menyerahkan dirinya kepada agama. Tak
tersangka belum lagi ia bicara anak muda itu sudah lari begitu saja, bahkan begitu cepat larinya,
dirinya dianggap seperti perempuan yang paling hina di dunia ini, harus ditinggalkan secepatnya
dan sejauhnya.

Pedih hati soh-sim ia berdiri berjam-jam disitu, sukar dipahami apa yang menyebabkan
perubahan mendadak Yu Wi itu. Dia berdiri seperti patung, embun sudah membasahi jubahnya,
ufuk timur mulai remang, fajar sudah menyingsing.
Akhirnya ia bergerak. sudah waktunya ia pulang kebiara, semalam suntuk ia berdiri disitu tanpa
mengeluarkan suara. apa pun- waktu melangkah pulang kebiara, suara hati terus menerus
berbisiki, "Toako, tidak boleh kau tinggalkan diriku hanya karena aku tidak mau dirangkul olehmu,
kau harus tahu aku adalah Jut-keh-lang . . . ."
Setelah berpikir semalam suntuk. dia menarik kesimpulan sebabnya Yu Wi tinggal pergi itu
adalah karena dirinya meronta untuk melepaskan diri ketika anak muda itu merangkulnya .
sudah barang tentu jalan pikirannya ini keliru besar.
Sesudah Yu Wi berlari turun dari tebing, mendadak ia keserimpet dan jatuh terduduk ditanah,
sampai disini dia tidak tahan lagi rasa unek-uneknya, ia terus menumpahkan air kuning kecut.
seharian dia menyiapkan diri, dengan penuh semangat ditunggunya malam untuk menemui Ya-ji.
sedikitpun dia tidak mengisi perut, maka apa yang ditumpahkan hanya air kuning kecut belaka.
Setelah tumpah barulah Yu Wi merasa agak lega, ia tidak mengerti apa sebabnya pada tubuh
Bok ya bisa timbul bau busuk yang menakutkan itu, bau busuknya lebih keras daripada bau busuk
yang terdapat pada tubuh Pek-yan dan jauh lebih sukar ditahan.
Semalaman Yu Wi berduduk ditanah, sedangkan soh-sim berdiri semalam di atas tebing, kedua
orang sama-sama berpikir dengan bingung, sampai fajar tiba soh-sim dapat menarik kesimpulan
yang keliru, sebaliknya Yu Wi tidak menghasilkan kesimpulan apa-apa, kesimpulan yang keliru
juga tidak.
Tidak ada hasratnya lagi untuk bertemu dengan Ko Bok ya, hal ini bukan karena terlalu cepat
perubahan pikirannya, tapi dia takut mengendus bau busuk pada tubuh Bok ya yang sukar
dijelaskan itu-
Betapapun ia tidak tahan bau busuk itu. Maklumlah, hidung manusia memang ajaib. Bila terlalu
banyak mengendus bau harum, maka lama-lama hidung akan kebal dan takkan merasakan bau
harum itu
Tapi bau busuk yang dicium Yu Wi itu tidak mungkin dapat diterimanya, makin tercium makin
bacin sehingga akhirnya terpaksa ia tinggal pergi.
sebelum Yu Wi merangkul Bok ya, sayup,sayup sudah terendus juga bau busuk itu dari jauh
padahal dia sangat apal terhadap bau badan Bok ya, tentu saja ia tidak percaya bau busuk itu
timbul dari tubuh si gadis.
Tapi ketika dia kegirangan dan berkobar kasih mesranya terus memburu maju dan merangkul
Bok ya, seketika bau busuk itu menyerang hidungnya, segera pula timbul reaksi ingin tumpah
Jelas bau busuk itu timbul dari tubuh Bok ya dan tidak mungkin keliru, Sungguh tak tersangka
olehnya Ko Bok ya yang yang dipandangnya suci bersih itu bisa timbul bau busuk yang
memuakkan seperti ini.
Bau busuk ini mengakibatkan gerak-geriknya tidak terkontrol dan tidak ingat sopan-santun lagi,
secara kasar ia lepaskan Bok ya dan tinggal pergi. Kemudian disadarinya perbuatannya itu pasti
sangat menyinggung perasaan Bok ya, tapi tak dapat dia memberi penjelasan, sedapatnya ia
menahan rasa ingin tumpahnya, mestinya ia ingin tanya Bok ya mengapa pada tubuhnya bisa
terdapat bau bacin begitu, tapi baru saja dia berucap "Kau", mendadak air kecut dalam perut
dalam perut mau tumpah keluar, dia tidak mau mendapat malu dengan tumpah-tumpah didepan
Bok ya, maka cepat dia kabur sejauhnya. setiba di bawah tebing, setelah suara Ya-ji tidak
terdengar, barulah ia tumpah-tumpah.
Hari sudah terang, Yu Wi kuatir dirinya akan dilihat si nenek penjaga tebing, terpaksa ia
meninggalkan siau-hoa-san dengan badan yang penat dan penuh tanda tanya yang sukar
dipecahkanTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
Hoa-im-koan, sebuah kota kabupaten, terletak diantara Thay-hoa-san dan siau-hoa-san-Dengan
langkah berat Yu Wi masuk kekota itu.
Waktu itu sudah dekat lohor, perut terasa sangat lapar. Yu Wi mencari sebuah rumah makan,
selagi hendak masuk kesitu, tiba-tiba dilihatnya seorang lalu diseberang sana, cepat ia berterak,
"Cin Pek ling . . . Cin Pek ling. . . ."
Orang itu memang betul Cin Pek ling adanya, karena suara teriakan Yu Wi itu, orang yang
berlalu- lalang sama menoleh dengan kaget. Tapi Yu Wi tidak peduli, buru-buru ia mengejar
kesana, ternyata Cin Pek ling sudah menghilang di tengah orang berlalu- lalang.
Mana Yu Wi mau tinggal diam, bila teringat kepada kelicikan orang ini dengan intrik busuknya,
walaupun dirinya sukarela mau terpancing, tapi orang telah memperalat dirinya untuk menerjang
rintangan cu-pi-am dan dia ikut mambonceng masuk kesana, kelicikann itu sungguh sangat
menggemaskan.
Jika orang tua itu benar-benar ingin menolongnya. seharusnya dia menjelaskan akibat yang
akan timbul bilamana Yu Wi menerjang ke Cu-pi-am, tapi dia tidak memberitahukan pun, kalau
tidak ada bantuan Boh-tin dan oh-pi yang merasa kasihan kepada Bok ya, bukankah Bok ya yang
akan tertimpa akibatnya dihukum Ji-bong Taysu tanpa berdosa.
Begitulah Yu Wi terus mangejar ke arah Cin Pek ling, sampai di luar kota, tahu-tahu dia
kehilanganjejak orang tua itu. padahal dari jauh masih kelihatan bayangannya.
selagi Yu Wi merasa heran, tiba-tiba seorang menegurnya dengan tertawa dari belakang.
"saudara cilik, apakah kau cari diriku?"
Yu Wi terkejut dan cepat berpaling, siapa lagi orang yang berdiri dibelakangnya kalau bukan cin
Pek ling. Ginkang tua bangka ini sungguh terlalu tinggi.
Melihat orang. seketika berkobar rasa murka Yu Wi, sikapnya jelas memperlihatkan rasa benci
seperti berhadapan dengan musuh, tapi sedapatnya ia berlagak tenang dan berkata, "Memang ada
sesuatu urusan ingin kutanya padamu."
"Baik, baik, marilah kita mencari suatu tempat tenang untuk bicara," kata Cin Pek ling dengan
tertawa.
Ia membalik tubuh seperti mau mencari tempat yang dimaksud, tapi mendadak jarinya lantas
menjentik.
Karena tidak berjaga-jaga, kontan Yu Wi terselentik Hiat-to kelumpuhannya sehingga roboh
terkulai.
Cin Pek ling lantas mengangkatnya, katanya dengan senang, "Dengan demikian barulah aku
tidak perlu kuatir untuk berbicara denganmu."
Ia membawa Yu Wi kesuatu tempat teduh didalam hutan dan menurunkan anak muda itu
menggeletak di atas tanah rumput, sungguh perut Yu Wi hampir meledak saking gusarnya, segera
ia tanya, "Antara kita tidak pernah bermusuhan apapun, mengapa kau sergap diriku secara
rendah?"
"Hahaha. kita memang tidak pernah bermusuhan," sahut Cin Pek ling dengan gelak tertawa.
"Tapi air mukamu memberitahukan padaku bahwa saudara cilik menaruh prasangka apa-apa
terhadapku.Jika sudah ada pikiran tidak senang, waktu bicara tentu akan cepat marah. kalau
marah, urusan menjadi runyam. Tapi kalau terjadi seperti sekarang, ingin marah juga sulit, tentu
dapat kita bicara dengan baik dan segala persoalan juga mudah dijelaskan- Nah, betul tidak,
saudara cilik?"
Diam-diam Yu Wi mengomeli diri sendiri yang kurang sabar. Dari sini pula dapat diketahui
betapa licik dan licinnya Cin Pek ling. Bilamana orang ini beraksi, sungguh dunia Kangouw bisa
diaduknya hingga kacau-balau dan menimbulkan huru-hara.
Cin Pek ling lantas duduk didepan Yu Wi, lalu berkata dengan tertawa. " Entah, ada urusan apa,
boleh kau tanya padaku."

Dengan gemas Yu Wi lantas buka kartu, makinya, "Cin Pek ling, sebenarnya aku sangat kagum
dan menghormat dirimu, tapi sekarang harus kusebut dirimu ini manusia rendah dan kotor"
orang yang polos dan jujur, biarpun tertawan juga tidak sudi menyerah. Memangnya Yu Wi
hendak mengumpat orang, maka sekarang dilontarkan caci- makinya sekaligus.
Cin Pek ling bergelak tertawa, "Haha, apa kataku, cocok bukan? Ternyata betul engkau
berprasangka padaku. Untuk ini harus kukatakan dirimu yang salah. Memangnya belum cukup
banyak bantuanku padamu? Mengapa tidak berterima kasih, tapi malah kau maki diriku?
Betapapun kan tidak patut?"
saking gusar Yu Wi menjadi tertawa, "Haha, kenapa tidak bicara terus terang saja. kau sengaja
membantu memberi petunjuk jalan padaku atau cuma memperalat diriku untuk membuka jalan
bagimu?"
Seketika senyuman munafik Cin Pek ling tadi lenyap. ucapnya dengan culas, "Saudara cilik,
rupanya rahasiaku telah kau ketahui. Wah, bisa runyam. Eh, siapakah yang bilang padamu bahwa
aku memperalat dirimu?"
Tapi setelah berpikir sejenak, mendadak ia bertepuk tangan dan berseru, "Aha, betul pasti
orang yang mencuri dengar percakapanku dengan Ji-bong Taysu itu. Lekas katakan, siapa dia?"
"Otakmu yang penuh akal licik itu masakah tidak dapat menerka siapa dia?" jawab Yu Wi.
Senyuman munafik Cin Pek ling lenyap seketika, ucapnya dengan kurang senang, "Adik cilik,
jadi sudah kau ketahui rahasiaku? Wah, tidak enak jadinya. Eh, siapakah yang memberitahukan
padamu bahwa sengaja kuperalat dirimu?"
"Mm, benakmu. yang licin itu masakah tidak dapat menerka siapa dia?" jengek Yu Wi.
Cin Pek ling menganggap dirinya maha cerdik, ia tidak bertanya lagi, tapi bergumam, "Di dunia
ini, orang yang mampu menguntit dibelakangku dan ikut menyusup masuk ke Cu-pi-am, boleh
dikatakan dapat dihitung dengan jari. Bahwa ginkang orang itu lebih tinggi daripadaku? Dan, juga
jatuh hati padamu, jelas dia . . . ."
Mendadak teringat olehnya waktu Ji-bong Tay-su mengejar keluar, bayangan orang yang
mencuri dengar itu tampaknya berpotongan kaum wanita, segera ia tahu siapakah dia, ia
berkeplok dan berseru. "Aha, betul, di dunia ini hanya ginkang Bu-eng-bun yang dapat melebihi
diriku. Nah, saudara cilik, tidak kau katakan juga sudah kukatahui. Dia adalah kekasihmu, juga
majikanmu. salah seorang pembeli bayangan, yaitu Pek yan. betul tidak?"
Dengan gusar Yu Wi menjawab, "Mulut Anda hendaknya tahu diri sedikit, memangnya
kekasihku apa?"
"Hahaha, didepanku masakah perlu menyangkal segala?" ujar cin Pek ling dengan tertawa.
"Seluk beluk orang Bu-eng-bun cukup kuketahui dengan jelas. Kekasih adalah istilah yang halus,
jika mau kasar, katakanlah gendakmu. Nah, saudara cilik, kungfu gendakmu ditempat tidur tentu
hebat bukan?"
Dengan gusar Yu Wi mendamperat, "Dasar mulut kotor, bila kau sembarangan omong lagi.
pada suatu hari tentu akan kau rasakan gamparanku."
"Hal ini memang bisa terjadi," ujar Cin Pek ling sambil meraba pipi sendiri. "Ai, setelah kau
punya beking yang kuat, tentu aku tidak berani main kasar lagi padamu. sayang aku sudah lanjut
usia, kalau tidak. anak cakap saperti dirimu tentu kusimpan sendiri dan tidak nanti kuberitahukan
tempat para pembeli bayangan itu. Ya, meski kau jual bayanganmu dan sudah kehilangan
kebebasan, tapi sebagai imbalannya kau dapatkan beking yang kuat, juga punya pacar cantik,
mustahil tidak kau nikmati"
"Cis, rendah dan kotor," damperat Yu Wi.
Cin Pek ling menggeleng, "Caci- makimu itu harus kau tujukan kepada dirimu sendiri. Aku
paling-paling cuma omong saja, tapi kau sendiri benar-benar telah berbuat, bayangan sendiri pun
kau jual, apakah perbuatanmu ini terhormat. Tampaknya sementara ini belum sempat kau rasakan
si cantik. Tapi tidak perlu terburu-buru, Pek-yan tidak nanti meninggalkan dirimu. Pinjam bibit

adalah langkah yang harus ditempuh oleh setiap anak murid Bu-eng-bun mereka, tanpa dirimu,
kemana Pek yan yang masih perawan itu akan dapat meminjam bibitnya?"
"Apa yang kau maksudkan dengan pinjam bibit segala?"
Cin Pek ling tertawa misterius, ucapnya, " Cerita ini sangat panjang, biarlah kujelaskan, cuma
jangan kau lupa pada kebaikanku ini, kelak bila saudara cilik sudah jaya, jangan kau lupakan
diriku, tentu masih banyak juga yang perlu kuminta bantuanmu."
Belum lagi Yu Wi menanggapi, sakonyong-konyong di ujung hutan sana ada suara jeritan orang
perempuan, lalu terdengar teriakannya, "Tidak. jangan Tolong . . . tolong"
"Ah, ada tontonan menarik, saudara cilik," seru Cin Pek ling dengan tertawa. "Marilah kita coba
melihatnya."
Segera ia kempit Yu Wi dan dibawa lari kearah datangnya suara.
Yu Wi berjiwa luhur, ia berharap Cin Pek ling dapat berlari lebih cepat agar perempuan yang
tertimpa bahaya itu dapat tertolong.
Dilihatnya ginkang Cin Pek ling memang sangat tinggi, cepat sekali larinya. Akan tetapi rupanya
dia cuma ingin menonton pertunjukan saja. dia melompat keatas pohon untuk mengintip ke
bawah, jelas tidak ada maksud untuk menolong.
Suara jeritan perempuan tadi semakin keras dan melengking, tampaknya keadaan sudah
sangat mendesak tapi cin Pek ling tetap tersenyum dan menonton belaka, seakan-akan orang
yang sedang menonton sandiwara yang menarik dan tidak peduli mati hidup orang lain.
Yu Wi dikempit dengan membalik kebelakang sehingga tidak dapat melihat apa yang terjadi
meski urusannya tidak menyangkut kepentingan sendiri, tapi didengarnya suara jeritan si
perempuan yang minta tolong itu semakin memelas, sedangkan Cin Pek ling sama sekali tidak ada
tanda mau menolong, segera ia memaki,
"Orang she Cin, jika tidak lekas kau turun tangan menolongnya, segera kumaki kau"
"Sandiwaranya belum mencapai klimaksnya, untuk apa terburu-buru?" ujar Cin Pek ling sambil
memutar arah kempitan Yu Wi sehingga anak muda itu dapat melihat keadaan tempat kejadian
itu.
Maka dapatlah Yu Wi melihat dengan jelas ada tiga lelaki berbaju hitam dengan dandanan
kaum hamba, dengan golok terhunus sedang menyerang seorang perempuan.
Perempuan itu membopong seorang bayi sembari berkelit kian kemari terhadap serangan golok
lawan, begitu melihat wajah perempuan itu dan si bayi, seketika hati Yu Wi tergetar hebat.
Pada saat itulah mendadak punggung golok seorang lelaki baju hitam itu kena mengetuk
lengan si perempuan. Rupanya dia tidak mau melukai perempuan itu, hanya mengetuk lengannya
sehingga kaku dan kesakitan. segera seorang budak tangkas yang lain menubruk maju dan
sempat merampas bayi yang dibawa perempuan itu.
Budak ketiga tidak tinggal diam, iapun menubruk maju dan merangkul perempuan itu dengan
dua tangan.
Gerak ketiga budak tangkas itu cukup hebat, perempuan itu tampaknya sangat lemah, hanya
mengandalkan kegesitan saja untuk menghindar kian kemari, namun begitu juga tidak mudah bagi
mereka untuk membekuk perempuan itu.
Cin Pek-ling tertawa gembira dan berkata, "Aha, sandiwara sudah mulat main, lekas lihat,
saudara cilik."
Tiba-tiba dirasakannya Yu Wi yang terkempit diawah ketiaknya itu bergemetar keras, ia
menunduk dan bertanya, "He, kenapa kau?" Wajah Yu Wi tampak pucat. serunya, "Lep... lepaskan
aku ...."
"Eh, ada apakah?" tanya Cin Pek-ling dengan heran. "Apakah kau kenal perempuan itu?"

Dalam pada itu keadaan di bawah sana sudah berubah lagi, ternyata bukan perbuatan kotor
sebagaimana dibayangkan oleh Cin Pek- ling, dia mengira ketiga budak tangkas itu hendak
memperkosa perempuan itu.
Terdengar perempuan itu sedang berteriak kuatir, "Lepaskan anakku, jika kalian berani
mengganggu dla, ayahnya pasti takkan mengampuni kalian . . . ."
Budak tangkas yang membopong bayi itu berseru dengan tertawa, "Haha, jelas engkau masih
perawan asli, dari mana datangnya anak? Agaknya perkataan Kongcu kami memang betul, anak
ini pasti anak haram yang kau lahirkan dengan gendakmu, jika anak ini dibunuh, tentu tidak perlu
lagi kaupikirkan dia."
Budak yang berdiri disamping segera angkat goloknya dan bertceiak. "Yau Lip. lekas sodorkan
kepala anak haram itu, biar kucoba golokku cukup tajam atau tidak. He he, masakah kutakut
kepada ayahnya? Umpama sekarang ayahnya muncul juga kuberi sekali bacok."
Budak yang membopong anak itu benar-benar menyodorkan kepala anak yang baru berumur
antara satu tahun itu. Tertampak wajah bayi yang gemuk dan cakap menarik itu, mesliknya ia
pentang matanya yang jeli dan memandang Yau Lip tanpa berkedip. Melihat keberanian anak bayi
itu. tanpa terasa Cin Pek ling memuji, "Anak hebat"
Tapi Yu Wi tidak tahan- dengan suara gemetar keluhnya, "O, dia . . dia anakku, lekas .. . lekas
kau lepaskan diriku"
Cin Pek ling jadi melengak. sungguh tak pernah terbayang olehnya bahwa anak bayi yang
pemberani dan tidak menangis dan ribut itu adalah anak Yu Wi. semula dia cuma menduga Yu Wi
kenal perempuan itu, sebab itulah biarpun diketahui anak muda itu kelihatan gelisah, tidak segera
ia membuka Hiat-to yang ditutuknya, ia sengaja membiarkan Yu Wi kelabakan dan akhirnya
memohon pertolongannya barulah akan dibebaskannya.
Sekarang setelah mengetahui anak bayi itu adalah anak Yu Wi, seketika otaknya bekerja lagi,
ucapnya dengan tertawa, " Untuk melepaskan dirimu kan tidak sulit, cuma cara bagaimana akan
berterima kasih setelah kuselamatkan mereka?"
Dalam pada itu si budak yang bernama Yau Tong menjadi murka melihat anak bayi itu
memandangnya dengan berani, dengan gemas ia mendekat dengan golok terhunus, ucapnya
dengan gregetan, "Anak haram, lihatlah yang jelas tampang tuanmu"
Melihat anaknya terancam babaya, dalam keadaan terpaksa tanpa pikir Yu Wi lantas berkata
"sesudah kau pimpin Thay- yang- bun nanti, aku berjanji takkan mempersulit dirimu."
Cin Pek-ling menggeleng, "Hal ini tidak berarti bagiku, aku menghendaki kemudian hari harus
kau bantu diriku, mau tidak?"
Sementara itu Yau Tong sudah mengangkat goloknya, asalkan goloknya menabas kebawah,
jiwa anak bayi bernama Yu Ki-ya itu pasti akan segera melayang. Karena tidak ada jalan lain,
terpaksa Yu Wi berteriak "Baik"
Suaranya yang keras ini mengejutkan ketiga budak jahat yang sedang beraksi itu, mastinya
mereka tidak mendengar percakapan cin Pek-ling dan Yu Wi di atas pohon. Mereka tidak
menyangka perbuatan jahat mereka akan dipergoki orang, ketika budak jahat bernama Yau sin
yang merangkul tubuh perempuan itu terkejut sehingga pegangannya menjadi kendur.
Kesempatan itu segera digunakan oleh perempuan muda itu untuk menggigit tangan Yau sin.
saking kesakitan Yau sin berteriak dan lepas tangan, terus melompat mundur.
Karena teriakan Yau sin. Yau Tiong menjadi gugup, sebenarnya mereka bukan kaum panjahat,
biasanya mereka cukup tenang menghadapi sesuatu. tapi lantaran gugup, golok Yau Tiong yang
terangkat lalu tanpa terasa membacok kebawah.

Melihat golok berkelebat, saking kuatirnya perempuan itu menjerit pula sehingga lupa pada
bahaya yang juga bisa mengancamnya, tanpa pikir ia menubruk maju dan mengadu jiwa dengan
Yau Tiong.
Bacokan Yau Tiong itu ternyata mencong dan tidak mengenai Yu Ki-ya, namun serangan ini
juga lantas menimbulkan nafsu jahatnya untuk membunuh orang. Maka begitu melihat si
perempuan menubruk tiba, tanpa pikir goloknya terus membacok.
Karena cemasnya. perempuan itu sampai lupa gerak llmu silat yang dikuasainya. Terlihat golok
yang mengkilap itu sedang membacok batok kepalanya, tiba-tiba Yau Lip yang membopong Yu Kiya berteriak. "Hei, Yau Tiong, apa kau gila? Tidak boleh membunuh dia"
Teriakannya tidak sempat lagi mencegah tindakan buas Yau Tiong, untuk bisa menyetopnya
harus merebut goloknya itu.
Syukurlah pada detik yang berbahaya itu, tahu-tahu Yu Wi melayang turun dari udara. Dia baru
bebas dari Hiat-to yang tertutuk. belum sempat mengatur tenaga untuk memulihkan aliran
darahnya sehingga gerak-geriknya belum leluasa, sukar baginya untuk merampas golok Yau Tiong itu. Maka begitu berdiri di atas tanah, segera ia rangkul si perempuan muda itu terus
menggelinding kesamping.
Dengan sendirinya bacokan Yau Tiong itu mengenai tempat kosong, waktu dia hendak
menyerang pula, namun Yu Wi telah mendahului menendang, kontan golok Yau Tiong terdepak
lepas, menyusul Yu Wi menghamtam dan tepat mengenai dada Yau Tiong.
Mana Yau Tiong sanggup menahan pukulan Yu Wi itu, ia menjerit ngeri, tubuhnya mencelat
jauh dan jatuh terbanting dengan tumpah darah dan binasa.
Pukulan Yu Wi yang hebat ini membikin Yau Lip dan Yau sin ketakutan setengah mati, tanpa
pikir lagi mereka terus kabur.
"Tinggalkan anakku" teriak Yu Wi.
Ucapan ini dapat didengar dengan baik oleh perempuan muda tadi, ia menengadah dan dapat
melihat Yu Wi dengan jelas, serunya girang "He, engkau . . . engkau Yu .... "
Karena suara perempuan muda yang terputus-putus ini Yu Wi jadi tidak segera mengejar Yau
Lip untuk merampas kembali anaknya, ia berpaling dan menjura kepada perempuan muda itu,
katanya, "Nona Lau, baik- baikkah. selama berpisah?"
Kiranya perempuan muda ini ialah si gadis penjinak singa alias Lau Yok-ci. sejak berpisah
diThian-ti-hu dahulu, belum pernah lagi Yu Wi bertemu dengan dia. Meski secara diam-diam Lau
Yok-ci pernah melihat Yu Wi beberapa kali, tapi berhadapan empat mata seperti sekarang ini
membuat mereka merasa sudah berada di jelmaan hidup yang lain. Mendadak Lau Yok-ci berseru
cemas. "He, lekas kau rebut kembali Ki-ya"
Belum lama dia berkumpul dengan Yu Ki-ya, tapi perhatiannya terhadap anak itu tidak kurang
daripada ayah-ibu kandungnya.
Hal ini cukup dimengerti oleh Yu Wi, dari cara Lau Yok-ci yang berusaha mati-matian membela
anaknya itu sudah kelihatan betapa kasih sayangnya terhadap Ki-ya.
Dan hanya tertunda sejenak saja, Yau Lip dan Yau sin sudah kabur tanpa kelihatan
bayanjannya lagi. Keruan Yu Wi menjadi gugup, ia meraung sekerasnya, "Ayo berhenti"
Karena suara raungan yang menggelegar ini, biarpun didengar dari jarak ratusan tombak
kedengarannya juga seperti orang membentak dibelakang. Apabila saat itu Yau Lip dan Yau sing
sadang berlari, mungkin mereka juga akan berhenti ketakutan-
Belum lagi Yu Wi mengambil keputusan akan mengejar kejurusan mana. tiba-tiba dilihatnya
dari dalam hutan yang lebat sana melayang tiba dua sosok bayangan, "bluk. Bluk., dua mayat
terbanting didepan Yu Wi.
Kedua mayat ini ternyata bukan lain daripada Yau Lip dan Yau sin yang kabur itu. Tapi Yu Ki-ya
tidak diketahui berada dimana.
Selagi Yu Wi merasa kuatir. tertampaklah Cin Pek ling muncul dari arah datangnya kedua sosok
mayat itu, siapa lagi bayi dalam pangkuannya itu kalau bukan Yu Ki-ya.
Girang sekali Yu Wi, diam-diam iapun kagum terhadap kehebatan ginkang Cin Pek ling, dalam
waktu sesingkat itu dapat menyusul dua budak jahat yang berlari terpencar kedua jurusan, untuk
itu Yu Wi sendiri merasa tidak sanggup,
Segera ia mamapak kedepan dan menjura, ucapnya, "Terima kasih atas bantuan Cin-siansing
yang telah menyelamatkan putraku."
Segera ia menjulurkan kedua tangannya dengan maksud hendak menggendong kambali Yu Kiya.
Dalam benak kecil anak bayi itu agaknya juga masih ingat pada wajah sang ayah, segera Ki-ya
mengangkat tangannya yang kecil dan bercelotek dengan gembira.
Tapi Cin Pek ling lantas mengegos kesamping dan menampilkan senyuman yang licik, ucapnya.
"saudara cilik, anak ini sangat menyenangkan, baiklah kugendong sebentar."
Sembari menggendong Ki-ya dengan sebelah tangan- sebelah tangan yang lain segera
digunakan untuk menimang. Ki-ya ternyata tidak takut kepada orang yang belum dikenalnya,
tangannya yang kecil itu mencakar-cakar jenggot Cin Pek ling dan kelihatan sangat
menyenangkan.
Meski tahu Cin Pek-ling tidak bermaksud baik, terpaksa Yu Wi tidak dapat memperlihatkan rasa
tidak senang, jika anak bayi itu sudah berada ditangan orang, terpaksa ia tidak berani
sembarangan bertindak.
Dalam pada itu Lau Yok ci telah merangkak bangun dan mendekati Yu Wi. Tindakan ini
sebenarnya sangat wajar, tapi ketika nona itu sudah dekat, mendadak Yu Wi menggeser
kesamping.
Rupanya Lau Yok-ci tidak memperhatikan sikap Yu Wi itu, dengan tertawa ia berkata, "Ki-ya
sungguh anak yang baik, selama beberapa bulan berada bersamaku belum pernah dia menangis."
Yu Wi menghela napas, ucapnya, "sejak dilahirkan Ki-ya memang tidak pernah menangis.
Pernah satu kali tanpa sengaja ibunya menjatuhkan dia, selagi orang tua merasa kuatir kalaukalau
dia terluka, siapa tahu, meski kepalanya benjut, tapi dia tidak menangis, sebaliknya terus
merangkak dan bermain seperti biasa. ibunya mengira anak ini terjatuh pingsan dan tidak bisa
menangis, padahal..,." makin lama makin lirih suaranya dan akhirnya dia berhenti bertutur.
Lau Yok-ci cukup memahami perasaan Yu Wi sekarang, pantas juga bicaranya terputus
sebelum selesai, tentu karena, terkenang kepada kematian Yap jing yang mengenaskan dan baru
berselang beberapa bulan itu
suasana hening sejenak, kemudian Yok-ci berkata, "Jarang juga anak bayi tidak menangis,
kelak kalau sudah besarnya pasti seorang lelaki keras yang tidak kenal menyerah."
Yu Wi masih juga berduka. Tapi lelaki tetap lelaki, tidak lama dapatlah dia pulih seperti biasa,
segera ia berseru, "Hilangnya Ki-ya waktu itu kusangka diculik musuh, tapi kemudian setelah
kuperiksa keadaan setempat baru kutahu anak ini telah diselamatkan oleh nona Lau."
"Siapa pembunuhnya, apakah sudah kau ketahui?" tanya Yok-ci. Dengan sedih Yu Wi mang
angguk.
Yok-ci berkata pula dengan berduka cita, "Kan ciau-bu banyak melakukan kejahatan . . . Ai,
tempo hnri kebetulan kulewat ditempat tinggalmu, kudengar suara jeritan, diam-diam kumasuk
kesana untuk memeriksanya, kulihat . . . kulihat ..."
Ternyata sukar baginya untuk melukiskan kejadian waktu itu, ia menggeleng kepala dengan
sedih, lalu menyambung, "Kedatanganku ternyata terlambat dan tidak dapat menyelamatkan
kedua isterimu. setelah mengganas, Kan cian-bu berdiri termangu di depan kedua sosok mayat
dan lupa dibelakangnya masih ada ranjang goyang, dimana Ki-ya sedang tidur nyenyak. Demi
menolong jiwa Ki-ya, aku tidak berani kepergok dengan dia. Maka pada waktu dia termangu
setelah melakukan keganasan itulah, diam-diam aku menyusup kedalam untuk membawa lari Kiya, sekalian kuambil juga singa kemala yang terikat ditempat tidurnya . . . ."
Yu Wi jadi teringat kepada kematian Yap Jing dan He si yang mengenaskan itu, tak tertahan
lagi air matanya bercucuran.
Tapi segera ia membangkitkan semangat dan berucap. "Terima kasih atas pertolongan nona,
jika tidak kebetulan engkau lalu ditempat kediamanku, tentu jiwa Ki-ya sukar diselamatkan-
Kutahu sekali-sekali bukan Kan ciau-bu berhati baik dan tidak tega membunuh anakku. Kelak
bilamana Ki-ya sudah besar, selain budi orang tua yang telah membesarkan dia, pasti akan
kusuruh dia selalu ingat kepada pertolongan jiwa nona Lau."
"Ah, kenapa kau omong seperti orang luar saja," ujar Yok-ci. "Kalau waktu itu aku tidak datang
terlambat, sedikitnya dapat kucegah tindakan Kan ciau-bu yang jahat itu. Engkau tidak menyesali
diriku yang tidak dapat menolong dengan baik, kemurahan hatimu sudah cukup membuatku
berterima kasih."
"Mati dan hidup sudah takdir, masa dapat kusalahkan orang lain," kata Yu Wi, Jika ada yang
salah, maka salahku sendiri yang telah meninggalkan rumah. Kalau tidak, mana bisa terjadi drama
ini. Aku harus berterima kasih atas pertolonganmu kepada Ki-ya. Ai, biarlah jangan kita bicarakan
urusan ini, kalau disinggung hanya akan menambah rasa duka saja. Justeru mengenai malapetaka
yang menimpa nona sekarang ini perlu kuketahui, entah mengapa nona Lau berubah menjadi
lemah sehingga tiga budak jahat itu saja tidak dapat kau tandingi?"
Dengan sangat berduka Lau Yok-ci bertutur "Ai, aku ... aku telah bertemu dengan seorang
lelaki yang berhati keji, dia telah menaruh semacam obat didalam makanan diluar tahuku dan
telah kumakan setiap hari, pelahan kurasakan seluruh kekuatanku telah dipunahkan oleh obat
yang di taruhnya itu, keadaanku sekarang lemah tidak ada ubahnya seperti perempuan biasa,
dengan sendirinya aku tidak sanggup melawan ...."
"Hah, siapakah lelaki itu?" tanya Yu Wi dengan gusar. "Racun yang ditaruhnya dalam
makananmu itu bernama Hoa-goat-yau (siluman bunga bulan), jenis tumbuhan ini sangat jahat,
tidak berwarna, tidak berbau, tapi merangsang nafsu birahi, bila banyak makan bisa berubah
menjadi sinting, bagi orang yang bertenaga dalam kuat juga musnah tenaganya secara berangsur
dan akhirnya akan berubah menjadi linglung. sungguh keji amat orang ini, entah apa maksud
tujuannya sehingga meracuni dirimu dengan obat ini?"
Lau Yok-ci cuma tahu tenaga sendiri hilang akibat obat itu, tak diketahuinya obat itu, bahwa
obat itu juga berkhasiat membangkitkan nafsu iblis segala, keruan ia terkejut dan kuatir. "Wah, ....
keji amat dia . . . ."
"Siapakah dia?" segera Yu Wi tanya pula.
Mendadak Lau Yok-ci menggigit bibir, sedapatnya ia menahan rasa murka hatinya, jawabnya
dengan pelahan, "sudahlah, selanjutnya budi dan dendam ini kuhapus sama sakali, Toa . ..Toako
tidak . . . tidak perlu lagi kita membicarakan dia...."
"Apakah kau utang budi padanya?" tanya Yu Wi pula.
Yok-ci menghela napas perlahan, "sejak kubawa diri Ki-ya, mestinya hendak kucari dirimu agar
engkau tidak menguatirkan keselamatan anakmu. Pula engkau tidak tahu siapa pembunuhnya,
bukan mustahil engkau bisa salah menuduh orang baik sehingga menimbulkan permusuhan, akan kutemukan dirimu untuk menceritakan apa yang terjadi..."
"Waktu itu aku pergi ke Thian-ti-hu, tiga hari kemudian baru pulang," kata Yu Wi.
"Akan tetapi aku tidak tahu." kata Yok ci, "kusangka engkau pergi jauh berkelana, maka aku
tidak sabar menunggu kepulanganmu disekitar tempat kediamanmu. Kupikir dapat kutemukan
engkau di dunia Kongouw. kuyakin namamu sudah terkenal dan tidak sulit mencari jejakmu. Siapa tahu jejakmu tidak kutemukan, sebaliknya kepergok suhu dan dia tahu aku sedang mencari
dirimu."
"Sepulangnya Giok-bin-sin-po di Tionggoan, bukankah dia membawa serta Hoay-soan dan
seorang gadis negeri asing?" tanya Yu Wi.
Yok-ci mengangguk. "Memang betul, Dari suhu dan Hoay-soan kudengar pengalaman kalian di
Ho-lo-to, Meski Kai-liong-ong Auyang Liong-lian tidak cocok dengan suhu, tapi setelah mengetahui kitab pusaka Hian-ku-cip telah diperoleh orang Thi-bang-pang, rasa iri antara mereka berdua lantas hilang, suhu telah diantar dengan selamat kedaratan Tiong-goan- Kalau kuceritakan, suhu juga bersalah, beliau tahu Hian-ku-cip berada pada tangan orang Thi-bang-pang, tapi tidak berani mendatanginya untuk merebut kitab itu, namun beliau tidak pernah melupakan kitab pusaka itu, setiap kesempatan memperoleh kitab itu pasti tidak disia-siakannya. Maka ketika mengetahui sebab musababnya dirimu, dia lantas memaksa diriku agar gunakan Ki-ya sebagai sandera untuk memeras dirimu agar mau pergi ke Thi-bang-pang untuk Hian-ku-cip. Menurut suhu, katanya bila engkau yang mengunjungi Thi-bang-pang pasti dapat memperoleh Hian-ku-cip yang diimpikannya itu melalui puteri ketua Thi bang-pang, seluk-beluk hal ini aku tidak tahu, tapi suhu merasa yakin engkau pasti dapat melakukan apa yang dikehendakinya."
Mendadak Yu Wi menjengek, "Hm, sekalipun kutipu kitab itu juga aku tidak sudi, jelek-jelek Yu
Wi tidak nanti melakukan perbuatan menipu, biarpun Giok-bi-sin-po mengancam akan membunuh anakku juga takkan kuterima."
Walaupun demikian, bahwa Yu Wi memang tidak nanti melakukan tindak penipuan terhadap
wanita, namun diluar tahunya perbuatan demikian telah dilakukan Kan ciau-bu yang memalsukan
namanya, sehingga mendapatkan nona cantik dan kitab pula sehingga kelak akan banyak
menimbulkan huru-hara.
Maka Yok-ci bertutur lebih lanjut, "Setelah Ki-ya kuselamatkan, dengan sendirinya kupandang
dia sebagai keponakan, maka kehendak suhu itu tidak dapat kuterima. Meski suhu mengawasi
diriku dengan ketat, akhirnya dapat juga kukabur bersama Ki-ya di tengah malam buta, aku
berdoa semoga Thian memberkahi Ki-ya supaya dapat selamat kembali kepangkuanmu. Tapi
akhirnya meski dapat kuloloskan diri bersama Ki-ya, ditengah jalan dapat disusul oleh suhu dan
terkena satu pukulannya. Untung ditengah malam gelap. pandangan suhu agak terganggu
sehingga kami sempat menyelinap kesemak-semak. akhirnya kami dapat melarikan diri meski aku terluka cukup parah ..."
Mendengar cerita Yok-ci itu, tiba-tiba Cin Pek ling menimbrung, "Percuma Giok-bin-sin-po
dipandang sebagai tokoh kalangan Pek-to (golongan putih), ternyata demi mendapatkan sejilid
Hian-ku-cip dia tidak sayang mencelakai murid sendiri He-he, tampaknya Hian ku-cip yang
dimaksud pasti tulen-"
"Tentu saja tulen" kata Yu Wi. "Cin-siansing, tentunya kaupun tahu Hian-ku-cip adalah ilmu
sakti andalan Goat-heng-bun yang merupakan musuh bebuyutan Thay-yang-bun kalian-"
Air muka Cin Pek ling berubah, ucapnya, "Oo. tahu Hian-ku-cip adalah ilmu sakti andalan Goatheng
bun? jika demikian tentu juga kau tahu Thi-bang-pang sekarang apakah benar ada ahli-waris
dari Goat-heng-bun?"
"Mendingan kalau ahli waris Goat-heng-bun tidak muncul lagi, kalau muncul mana bisa dia
bersembunyi ditengah Thi-bang-pang segala," ujar Yu Wi, "Cin sian-sing, masa kau nilai Thi-bangpang setinggi itu. Coba pikir, apakah Thay- yang- bun kalian mau membonceng dibelakang sebuah gerombolan bajak yang tidak ada artinya itu?"
“Sudah ratusan tahun ,Goat-heng-bun tidak muncul di dunia Kang-ouw sehingga tidak banyak
dikenal orang, tapi tampaknya kau sangat paham seluk- beluk perguruan mereka, bahkan
mengetahui musuh bebuyutannya adalah Thay-yang-bun-"
Lau Yok-ci hanya mendengarkan percakapan mereka, setelah melihat mereka tidak melanjutkan
pembicaraan, segera ia sambung penuturannya tadi, "Dengan menanggung luka kulari terus
hingga sangat jauh, akhirnya aku tidak tahan dan jatuh pingsan- Ki-ya ternyata sangat pendiam. dia tidak menangis dan ribut, dia hanya duduk menunggu disampingku. Waktu aku siuman
kembali, kurasakan berbaring di suatu kamar, baju juga sudah berganti, diatas meja disamping
tempat tidur ada semangkuk obat, tapi Ki-ya tidak kelihatan lagi. Kukuatir terjadi apa-apa atas diri
Ki-ya, aku berteriak kuatir pada saat itulah masuk seorang Kongcu. . . ."
"Apakah dia yang menolong dirimu itu?" tanya Yu Wi.
Dengan gemas Yok-ci menjawab. "Meski dia penolong jiwaku, tapi dia juga meracuni aku, jadi
budi dan dendam ini kuanggap lunas. Toa . . .Toako, bahwa tidak kukatakan namanya, apakah
kau tahu maksudku?"
Dua kali dia memanggil "Toako", tapi rasanya kikuk. Maklumlah, bilamana seorang gadis lagi
kasmaran, perasaannya juga cepat tersinggung. Bilamana tidak terdapat perasaan apa-apa
terhadap Yu Wi, dia tidak perlu merasa kikuk memanggilnya Toako.
Padahal sudah lama Yok-ci jatuh hati kapada Yu Wi, cuma dia sudah dijodohkan kepada Kan
ciau-bu, maka rasa cintanya itu tidak berani diperlihatkannya. sekarang perjodohannya dengan
Kan ciau-bu boleh dikatakan sudah batal, maka cintanya kepada Yu Wi lantas diperlihatkannya
secara halus.
Bukankah dahulu Yu Wi pernah berteriak-teriak memanggil " nona penjinak singa" di bukit
Thian-ti-hu tatkala mana Yu Wi juga sangat menyukai Lau Yok-ci, sebaliknya Yok-ci terpaksa
bersikap dingin padanya. Kemudian Yu Wi berumah tangga dan berdiam di ci-he-san, untuk
mengobati rasa rindunya, pernah beberapa kali Yok-ci berkunjung kesana, cuma selalu diluar tahu Yu Wi.
Padahal kalau Yu Wi mau berpikir lebih cermat masakah bisa terjadi secara kebetulan Yok-ci
berada disana, ketika Kan ciau-bu membunuh Yap Jing dan Ho si, lalu Ki-ya berhasil diselamatkan oleh Lau Yok-ci, jika nona itu tidak sering datang kesana mustahil bisa memergoki peristiwa itu secara kebetulan?
Waktu mengetahui Yu Wi sudah menikah punya anak, diam-diam Yok-ci pernah berduka,
Waktu Ki-ya berumur sebulan, pernah dia mengirimkan singa kemala, arti yang terkandung dalam kado yang dikirimnya itu mungkin cuma diketahui oleh Yu Wi saja seorang.
Lantaran hilangnya singa kemala itu bersama Ki-ya, Yu Wi sudah memperkirakan anak itu
mungkin diselamatkan oleh Lau Yok-ci. Ternyata betul dugaannya. Ki-ya memang dibawa lari oleh Yok-ci, perasaan Yok-ci yang istimewa itu juga tidak diketahuinya, ia anggap pertemuannya
dengan Lau Yok-ci sebagai kejadian yang wajar, dia tidak bersikap terlalu mesra.
Maka ketika Yok-ci bertanya tadi. Yu Wi menjawab dengan hambar, "Apakah kau kuatir akan
kucari perkara padanya? Tidak. jangan kuatir, karena engkau utang budi padanya. meski diamdiam dia juga meracuni dirimu. kedua urusan jadi lunas. Pula Hoa-goat-yau yang diminumkan padamu cuma merusak lwekangmusaja dan belum lagi mempengaruhi jiwamu, masih dapat disembuhkan dengan mudah."
"Apakah betul dapat disembuhkan dengan mudah?" tanya Yok-ci dengan girang. "Jika . . jika
begitu, jadi lwekangku dapat pulih kembali?"
"Tidak sulit untuk memulihkan lwekangmu," kata Yu Wi. "Nanti kuberi satu resep setelah kau
minum obat ini, racun Hoa-goat-yau dalam tubuhmu dapat dipunahkannya."
"Ah, kenapa aku lupa bahwa engkau adalah murid Yok-ong-ya," seru Yok-ci. "Setelah kau
pelajari kitab Pian-sik sin-bian, tentu engkau sudah menjadi tabib sakti, jika engkau bilang mudah disembuhkan pasti dapat sembuh."
Yu Wi tidak heran mengapa Lau Yok-ci mengetahui dirinya mendapatkan kitab Pian-sik-sin-bian
dari Yok-ong-ya, sebab dahulu waktu Kan Hoay-soan kehilangan ingatan, secara diam-diam Lau
Yok-ci selalu menguntit dibelakang untuk melindunginya. Waktu dirinya kebetulan bertemu dengan Kan Hoay-soan di Lam-keng dahulu, kejadian itu juga dapat dilihat oleh Yok-ci.

     

Posted by Admin